P. 1
KEKUASAAN EKSEKUTIF, LEGILATIF DAN YUDIKATIF POWER

KEKUASAAN EKSEKUTIF, LEGILATIF DAN YUDIKATIF POWER

|Views: 6,314|Likes:

More info:

Categories:Types, Business/Law
Published by: ShidDiq Surya Pratama on Jun 10, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as TXT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/26/2013

pdf

text

original

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR.................................................................. .............................................i DAFTAR ISI...................................................................... ....................................

...................ii BAB I PENDAHULUAN I. Latar belakang BAB II PEMBAHASAN I. Eksekutif power II. Legislatif power III. Yudikatif power BAB III KESIMPULAN DAFTAR PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Kekuasaan negara adalah kekuasaan mengatur, menertibkan , dan memajukan kepentingan umum dalam rangka mencapai tujuannya. Kekuasaan itu biasanya di sera hkan kepada lembaga negara yang bekerja, baik sendiri maupun berhubungan. Penyer ahan kekuasaan kepada lembaga negara di maksudkan agara tujuan nasional lebih ef isien, karena hal itu memberi perlindungan dan jamnan hak asasi manusia, yaitu w arga negara selain di atur juga di beri kesempatan mengenai haknya (misalnya ber bicara, mencari nafkah, dan persamaan dalam hukum). Kekuasaan kelembagaan negar a umumnya berpedoman pada Trias Politica dari Montesquieu tentang pemisahan keku asaan atau dari John Lock tentang pembagian kekuasaan. Kita ketahui saat ini negara kita memakai asas trias politica tidak murn i. Artinya pembagian kekuasaan antara eksekutif, legislatif, dan yudikatif tidak mengikuti asas Montesquieu secara penuh, jadi masih ada interperensi dari lemba ga-lembaga ekskutif, legislatif, dan yudikatif itu sendiri. Jika adanya interper ensi berarti kita dapat menemukan adanya hubungan lembaga-lembaga eksekutif, yud ikatif, maupun legislatif. Untuk membahas hal tersebut akan di jelaskan lebih rinci pada pembahasan . Semoga makalah ini menjadi ilmu bagi pembaca maupun penulis. Dalam pembahasaan tersebut akan di bahas mengenai hubungan eksekutif, legislatif, dan yudikatif d alam prespektif ketata negaraan.

BAB II PEMBAHASAN I. Eksekutif power Badan pelaksana UU yang dibuat oleh badan legislatif bersama dengan Pemerintah. Memiliki ruang lingkup tugas dan fungsi yang luas serta perangkat institusi pend

ukung dalam berbagai aspek dan keahlian yang dapat memberikan dukugan (support) bagi percepatan pelayanan masyarakat (publik service) dan pencapaian tujuan pemb angunan nasional. Dikepalai Raja atau Presiden, dalam pelaksanaan tugas dan fung si dibantu para Kabinet (Menteri) Tugas badan eksekutif • Tugas badan eksekutif menurut tafsiran tradisional asas Trias Politica, hanya me laksanakan kebijaksanaan yang telah ditetapkan oleh badan legislatif serta menye lenggarakan UU yang dibuat oleh badan legislatif • Negara modern à badan eksekutif sudah mengganti badan legislatif sebagai pembuat k ebijaksanaan yang utama Wewenang, kewajiban, dan hak eksekutif antara lain: • Memegang kekuasaan pemerintahan menurut UUD • Memegang kekuasaan yang tertinggi atas Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkat an Udara • Mengajukan Rancangan Undang-Undang kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Preside n melakukan pembahasan dan pemberian persetujuan atas RUU bersama DPR serta meng esahkan RUU menjadi UU. • Menetapkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (dalam kegentingan yang memaksa) • Menetapkan Peraturan Pemerintah • Mengangkat dan memberhentikan menteri-menteri • Menyatakan perang, membuat perdamaian dan perjanjian dengan negara lain dengan p ersetujuan DPR • Membuat perjanjian internasional lainnya dengan persetujuan DPR • Menyatakan keadaan bahaya. • Mengangkat duta dan konsul. Dalam mengangkat duta, Presiden memperhatikan pertim bangan DPR • Menerima penempatan duta negara lain dengan memperhatikan pertimbangan DPR. • Memberi grasi, rehabilitasi dengan memperhatikan pertimbangan Mahkamah Agung • Memberi amnesti dan abolisi dengan memperhatikan pertimbangan DPR • Memberi gelar, tanda jasa, dan tanda kehormatan lainnya yang diatur dengan UU • Meresmikan anggota Badan Pemeriksa Keuangan yang dipilih oleh DPR dengan memperh atikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah • Menetapkan hakim agung dari calon yang diusulkan oleh Komisi Yudisial dan disetu jui DPR • Menetapkan hakim konstitusi dari calon yang diusulkan Presiden, DPR, dan Mahkama h Agung • Mengangkat dan memberhentikan anggota Komisi Yudisial dengan persetujuan DPR. Sistem pemerintahan Berdasarkan undang – undang dasar 1945 sistem pemerintahan Negara Republik Indones ia adalah sebagai berikut : 1. Negara Indonesia berdasarkan atas hukum, tidak berdasarkan kekuasaan bel aka. 2. Pemerintahan berdasarkan atas sistem konstitusi (hukum dasar) tidak bers ifat absolutisme (kekuasaan yang tidak terbatas) 3. Kekuasaan Negara yang tertinggi berada di tangan majelis permusyawaratan rakyat. 4. Presiden adalah penyelenggara pemerintah Negara yang tertinggi dibawah M PR. Dalam menjalankan pemerintahan Negara kekuasaan dan tanggung jawab adalah di tangan prsiden. 5. Presiden tidak bertanggung jawab kepada DPR. Presiden harus mendapat per setujuan dewan perwakilan rakyat dalam membentuk undang – undang dan untuk menetap kan anggaran dan belanja Negara. 6. Menteri Negara adalah pembantu presiden yang mengangkat dan memberhentik an mentri Negara. Menteri Negara tidak bertanggung jawab kepada DPR. 7. Kekuasaan kepala Negara tidak terbatas. presiden harus memperhatikan den gan sungguh – sungguh usaha DPR. Kekuasaan pemerintahan Negara Indonesia menurut undang–undang dasar 1 sampai denga n pasal 16. pasal 19 sampai dengan pasal 23 ayat (1) dan ayat (5), serta pasal 2

4 adalah: 1. Kekuasaan menjalan perundang – undangan Negara atau kekuasaan eksekutif ya ng dilakukan oleh pemerintah. 2. Kekuasaan memberikan pertimbangan kenegaraan kepada pemerintah atau kek uasaan konsultatif yang dilakukan oleh DPA. 3. Kekuasaan membentuk perundang – undang Negara atau kekuasaan legislatif ya ng dilakukan oleh DPR. 4. Kekuasaan mengadakan pemeriksaan keuangan Negara atau kekuasaan eksamina tif atau kekuasaan inspektif yang dilakukan oleh BPK. 5. Kekuasaan mempertahankan perundang – undangan Negara atau kekuasaan yudika tif yang dilakukan oleh MA. I. Pengertian Sistem Pemerintahan Istilah sistem pemerintahan berasal dari gabungan dua kata system dan pemerintah an. Kata system merupakan terjemahan dari kata system (bahasa Inggris) yang bera rti susunan, tatanan, jaringan, atau cara. Sedangkan Pemerintahan berasal dari k ata pemerintah, dan yang berasal dari kata perintah. Dan dalam Kamus Bahasa Indo nesia, kata-kata itu berarti: a) Perintah adalah perkataan yang bermakna menyuruh melakukan sesuatau b) Pemerintah adalah kekuasaan yang memerintah suatu wilayah, daerah, atau, Negara. c) Pemerintahan adalaha perbuatan, cara, hal, urusan dalam memerintah Maka dalam arti yang luas, pemerintahan adalah perbuatan memerintah yang dilakuk an oleh badan-badan legislative, eksekutif, dan yudikatif di suatu Negara dalam rangka mencapai tujuan penyelenggaraan negara. Dalam arti yang sempit, pemerinta ha adalah perbuatan memerintah yang dilakukan oleh badan eksekutif beserta jajar annya dalam rangka mencapai tujuan penyelenggaraan negara. Sistem pemerintaha di artikan sebagai suatu tatanan utuh yang terdiri atas berbagai komponen pemerinta han yang bekerja saling bergantungan dan memengaruhi dalam mencapaian tujuan dan fungsi pemerintahan. Kekuasaan dalam suatu Negara menurut Montesquieu diklasifi kasikan menjadi tiga, yaitu Kekuasaan Eksekutif yang berarti kekuasaan menjalank an undang-undang atau kekuasaan menjalankan pemerintahan; Kekuasaan Legislatif y ang berate kekuasaan membentuk undang-undang; Dan Kekuasaan Yudiskatif yang bera te kekuasaan mengadili terhadap pelanggaran atas undang-undang. Komponen-kompone n tersebut secara garis besar meliputi lembaga eksekutif, legislative dan yudika tif. Jadi, system pemerintaha negara menggambarkan adanya lembaga-lembaga negara , hubungan antarlembaga negara, dan bekerjanya lembaga negara dalam mencapai tuj uan pemerintahan negara yang bersangkutan. Tujuan pemerintahan negara pada umumnya didasarkan pada cita-cita atau tujuan ne gara. Misalnya, tujuan pemerintahan negara Indonesia adalah melindungi segenap b angsa Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan b angsa, serta ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, pe rdamaian abadi dan keadilan social. Lembaga-lembaga yang berada dalam satu syste m pemerintahan Indonesia bekerja secara bersama dan saling menunjang untuk terwu judnya tujuan dari pemerintahan di negara Indonesia. Dalam suatu negara yang bentuk pemerintahannya republik, presiden adalah kepala negaranya dan berkewajiban membentuk departemen-departemen yang akan melaksakan kekuasaan eksekutif dan melaksakan undang-undang. Setiap departemen akan dipimpi n oleh seorang menteri. Apabile semua menteri yang ada tersebut dikoordinir oleh seorang perdana menteri maka dapat disebut dewan menteri/cabinet. Kabinet dapat berbentuk presidensial, dan kabinet ministrial. a. Kabinet Presidensial Kabinet presidensial adalah suatu kabinet dimana pertanggungjawaban atas kebijak sanaan pemerintah dipegang oleh presiden. Presiden merangkap jabatan sebagai per dana menteri sehingga para menteri tidak bertanggung jawab kepada perlemen/DPR m elainkan kepada presiden. Contoh negara yang menggunakan sistem kabinet presiden sial adalah Amarika Serikat dan Indonesia b. Kabinet Ministrial Kabinet ministrial adalah suatu kabinet yang dalam menjalankan kebijaksaan pemer intan, baik seorang menteri secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama seluruh a

nggota kebinet bertanggung jawab kepada parlemen/DPR. Contoh negara yang menggun akan sistem kabinet ini adalah negara-negara di Eropa Barat. Apabila dilihat dari cara pembentukannya, cabinet ministrial dapat dibagi menjad i dua, yaitu cabinet parlementer dan cabinet ekstraparlementer. Kabinet parlementer adalah suatu kabinet yang dibentuk dengan memperhatikan dan memperhitungkan suara-suara yang ada didalam parlemen. Jika dilihat dari komposi si (susunan keanggotaannya), cabinet parlementer dibagi menjadi tiga, yaitu kabi net koalisi, kabinet nasional, dan kabinet partai. Kabinet Ekstraparlementer adalah kebinet yang pembentukannya tidak memperhatikan dan memperhitungkan suara-suara serta keadaan dalam parlemen/DPR. II. Sistem Pemerintahan Parlementer Dan Presidensial Sistem pemerintahan negara dibagi menjadi dua klasifikasi besar, yaitu: 1. sistem pemerintahan presidensial; 2. sistem pemerintahan parlementer. Pada umumnya, negara-negara didunia menganut salah satu dari sistem pemerintahan tersebut. Adanya sistem pemerintahan lain dianggap sebagai variasi atau kombina si dari dua sistem pemerintahan diatas. Negara Inggris dianggap sebagai tipe ide al dari negara yang menganut sistem pemerintahan parlemen. Bhakan, Inggris diseb ut sebagai Mother of Parliaments (induk parlemen), sedangkan Amerika Serikat mer upakan tipe ideal dari negara dengan sistem pemerintahan presidensial. Kedua negara tersebut disebut sebagai tipe ideal karena menerapkan ciri-ciri yan g dijalankannya. Inggris adalah negara pertama yang menjalankan model pemerintah an parlementer. Amerika Serikat juga sebagai pelopor dalam sistem pemerintahan p residensial. Kedua negara tersebut sampai sekarang tetap konsisten dalam menjala nkan prinsip-prinsip dari sistem pemerintahannya. Dari dua negara tersebut, kemu dian sistem pemerintahan diadopsi oleh negara-negara lain dibelahan dunia. Klasifikasi sistem pemerintahan presidensial dan parlementer didasarkan pada hub ungan antara kekuasaan eksekutif dan legislatif. Sistem pemerintahan disebut par lementer apabila badan eksekutif sebagai pelaksana kekuasaan eksekutif mendapat pengawasan langsung dari badan legislatif. Sistem pemerintahan disebut presidens ial apabila badan eksekutif berada di luar pengawasan langsung badan legislatif. Untuk lebih jelasnya, berikut ini ciri-ciri, kelebihan serta kekurangan dari sis tem pemerintahan parlementer. Ciri-ciri dari sistem pemerintahan parlementer adalah sebagai berikut : 1. Badan legislatif atau parlemen adalah satu-satunya badan yang anggotanya dipilih langsung oleh rakyat melalui pemilihan umum. Parlemen memiliki kekuasaa n besar sebagai badan perwakilan dan lembaga legislatif. 2. Anggota parlemen terdiri atas orang-orang dari partai politik yang memen angkan pemiihan umum. Partai politik yang menang dalam pemilihan umum memiliki p eluang besar menjadi mayoritas dan memiliki kekuasaan besar di parlemen. 3. Pemerintah atau kabinet terdiri dari atas para menteri dan perdana mente ri sebagai pemimpin kabinet. Perdana menteri dipilih oleh parlemen untuk melaksa kan kekuasaan eksekutif. Dalam sistem ini, kekuasaan eksekutif berada pada perda na menteri sebagai kepala pemerintahan. Anggota kabinet umumnya berasal dari par lemen. 4. Kabinet bertanggung jawab kepada parlemen dan dapat bertahan sepanjang m endapat dukungan mayoritas anggota parlemen. Hal ini berarti bahwa sewaktu-waktu parlemen dapat menjatuhkan kabinet jika mayoritas anggota parlemen menyampaikan mosi tidak percaya kepada kabinet. 5. Kepala negara tidak sekaligus sebagai kepala pemerintahan. Kepala pemeri ntahan adalah perdana menteri, sedangkan kepala negara adalah presiden dalam neg ara republik atau raja/sultan dalam negara monarki. Kepala negara tidak memiliki kekuasaan pemerintahan. Ia hanya berperan sebgai symbol kedaulatan dan keutuhan negara. 6. Sebagai imbangan parlemen dapat menjatuhkan kabinet maka presiden atau r aja atas saran dari perdana menteri dapat membubarkan parlemen. Selanjutnya, dia dakan pemilihan umum lagi untuk membentukan parlemen baru. Kelebihan Sistem Pemerintahan Parlementer:

• Pembuat kebijakan dapat ditangani secara cepat karena mudah terjadi penyesuaian pendapat antara eksekutif dan legislatif. Hal ini karena kekuasaan eksekutif dan legislatif berada pada satu partai atau koalisi partai. • Garis tanggung jawab dalam pembuatan dan pelaksanaan kebijakan public jelas. • Adanya pengawasan yang kuat dari parlemen terhadap kabinet sehingga kabinet menj adi barhati-hati dalam menjalankan pemerintahan. Kekurangan Sistem Pemerintahan Parlementer : • Kedudukan badan eksekutif/kabinet sangat tergantung pada mayoritas dukungan parl emen sehingga sewaktu-waktu kabinet dapat dijatuhkan oleh parlemen. • Kelangsungan kedudukan badan eksekutif atau kabinet tidak bias ditentukan berakh ir sesuai dengan masa jabatannya karena sewaktu-waktu kabinet dapat bubar. • Kabinet dapat mengendalikan parlemen. Hal itu terjadi apabila para anggota kabin et adalah anggota parlemen dan berasal dari partai meyoritas. Karena pengaruh me reka yang besar diparlemen dan partai, anggota kabinet dapat mengusai parlemen. • Parlemen menjadi tempat kaderisasi bagi jabatan-jabatan eksekutif. Pengalaman me reka menjadi anggota parlemen dimanfaatkan dan manjadi bekal penting untuk menja di menteri atau jabatan eksekutif lainnya. Dalam sistem pemerintahan presidensial, badan eksekutif dan legislatif memiliki kedudukan yang independen. Kedua badan tersebut tidak berhubungan secara langsun g seperti dalam sistem pemerintahan parlementer. Mereka dipilih oleh rakyat seca ra terpisah. Untuk lebih jelasnya, berikut ini ciri-ciri, kelebihan serta kekurangan dari sis tem pemerintahan presidensial. Ciri-ciri dari sistem pemerintaha presidensial adalah sebagai berikut. 1. Penyelenggara negara berada ditangan presiden. Presiden adalah kepala ne gara sekaligus kepala pemerintahan. Presiden tidak dipilih oleh parlemen, tetapi dipilih langsung oleh rakyat atau suatu dewan majelis. 2. Kabinet (dewan menteri) dibentuk oleh presiden. Kabinet bertangungjawab kepada presiden dan tidak bertanggung jawab kepada parlemen atau legislatif. 3. Presiden tidak bertanggungjawab kepada parlemen. Hal itu dikarenakan pre siden tidak dipilih oleh parlemen. 4. Presiden tidak dapat membubarkan parlemen seperti dalam sistem parlement er. 5. Parlemen memiliki kekuasaan legislatif dan sebagai lembaga perwakilan. A nggota parlemen dipilih oleh rakyat. 6. Presiden tidak berada dibawah pengawasan langsung parlemen. Kelebihan Sistem Pemerintahan Presidensial : • Badan eksekutif lebih stabil kedudukannya karena tidak tergantung pada parlemen. • Masa jabatan badan eksekutif lebih jelas dengan jangka waktu tertentu. Misalnya, masa jabatan Presiden Amerika Serikat adalah empat tahun, Presiden Indonesia ad alah lima tahun. • Penyusun program kerja kabinet mudah disesuaikan dengan jangka waktu masa jabata nnya. • Legislatif bukan tempat kaderisasi untuk jabatan-jabatan eksekutif karena dapat diisi oleh orang luar termasuk anggota parlemen sendiri. Kekurangan Sistem Pemerintahan Presidensial : • Kekuasaan eksekutif diluar pengawasan langsung legislatif sehingga dapat mencipt akan kekuasaan mutlak. • Sistem pertanggungjawaban kurang jelas. • Pembuatan keputusan atau kebijakan publik umumnya hasil tawar-menawar antara eks ekutif dan legislatif sehingga dapat terjadi keputusan tidak tegas dan memakan w aktu yang lama. II. Legislatif power Legislatif sering disebut Dewan Perwakilan Rakyat (disingkat DPR-RI atau DPR) ad alah salah satu lembaga tinggi negara dalam sistem ketatanegaraan Indonesia yang merupakan lembaga perwakilan rakyat. DPR terdiri atas anggota partai politik pe serta pemilihan umum yang dipilih melalui pemilihan umum.

Fungsi Legislatif DPR mempunyai fungsi ; legislasi, anggaran, dan pengawasan yang dijalankan dalam kerangka representasi rakyat. Legislasi : Fungsi legislasi dilaksanakan sebagai perwujudan DPR selaku pemegang kekuasaan membentuk undang-undang. Anggaran : Fungsi anggaran dilaksanakan untuk membahas dan memberikan persetujua n atau tidak memberikan persetujuan terhadap rancangan undang-undang tentang APB N yang diajukan oleh Presiden. Pengawasan : Fungsi pengawasan dilaksanakan melalui pengawasan atas pelaksanaan undang-undang dan APBN. Tugas dan wewenang Tugas dan wewenang DPR antara lain: • Membentuk Undang-Undang yang dibahas dengan Presiden untuk mendapat persetujuan bersama • Membahas dan memberikan persetujuan atau tidak memberikan persetujuan terhadap P eraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang yang diajukan oleh Presiden untuk me njadi undang-undang • Menerima rancangan undang-undang yang diajukan oleh DPD berkaitan dengan otonomi daerah, hubungan pusat dan daerah, pembentukan dan pemekaran serta penggabungan daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, serta yan g berkaitan dengan perimbangan keuangan pusat dan daerah serta membahas membahas rancangan undang-undang tersebut bersama Presiden dan DPD sebelum diambil perse tujuan bersama antara DPR dan Presiden • Membahas rancangan undang-undang yang diajukan oleh Presiden atau DPR yang berka itan dengan otonomi daerah, hubungan pusat dan daerah, pembentukan dan pemekaran serta penggabungan daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, serta perimbangan keuangan pusat dan daerah, dengan mengikutsertakan D PD sebelum diambil persetujuan bersama antara DPR dan Presiden • Memperhatikan pertimbangan DPD atas rancangan undang-undang tentang APBN dan ran cangan undang-undang yang berkaitan dengan pajak, pendidikan, dan agama • Membahas bersama Presiden dengan memperhatikan pertimbangan DPD dan memberikan p ersetujuan atas rancangan undang-undang tentang APBN yang diajukan oleh Presiden • Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan undang-undang dan APBN • Membahas dan menindaklanjuti hasil pengawasan yang disampaikan oleh DPD terhadap pelaksanaan undang-undang mengenai otonomi daerah, pembentukan, pemekaran, dan penggabungan daerah, hubungan pusat dan daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, pelaksanaan APBN, pajak, pendidikan, dan agama • Memberikan persetujuan kepada Presiden untuk menyatakan perang, membuat perdamai an dan perjanjian dengan negara lain, serta membuat perjanjian internasional lai nnya yang menimbulkan akibat yang luas dan mendasar bagi kehidupan rakyat yang t erkait dengan beban keuangan negara dan/atau mengharuskan perubahan atau pembent ukan undang-undang • Memberikan pertimbangan kepada Presiden dalam pemberian amnesti dan abolisi • Memberikan pertimbangan kepada Presiden dalam hal mengangkat duta besar dan mene rima penempatan duta besar negara lain • Memilih anggota BPK dengan memperhatikan pertimbangan DPD • Membahas dan menindaklanjuti hasil pemeriksaan atas pertanggungjawaban keuangan negara yang disampaikan oleh BPK • Memberikan persetujuan kepada Presiden atas pengangkatan dan pemberhentian anggo ta KY • Memberikan persetujuan calon hakim agung yang diusulkan Komisi Yudisial untuk di tetapkan sebagai hakim agung oleh Presiden • Memilih 3 (tiga) orang hakim konstitusi dan mengajukannya kepada Presiden untuk diresmikan dengan keputusan Presiden • Memberikan persetujuan terhadap pemindahtanganan aset negara yang menjadi kewena ngannya berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan dan terhadap perjanji an yang berakibat luas dan mendasar bagi kehidupan rakyat yang terkait dengan be ban keuangan Negara • Memberikan persetujuan kepada Presiden untuk menyatakan perang, membuat perdamai an, dan perjanjian dengan negara lain

• Menyerap, menghimpun, menampung dan menindaklanjuti aspirasi masyarakat • Melaksanakan tugas dan wewenang lain yang diatur dalam undang-undang DPR dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya berhak meminta pejabat negara, peja bat pemerintah, badan hukum, atau warga masyarakat untuk memberikan keterangan t entang suatu hal yang perlu ditangani demi kepentingan bangsa dan negara. Setiap pejabat negara, pejabat pemerintah, badan hukum, atau warga masyarakat wajib me menuhi permintaan DPR tersebut. Setiap pejabat negara, pejabat pemerintah, badan hukum, atau warga masyarakat yang melanggar ketentuan tersebut dikenakan panggi lan paksa sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Dalam hal panggi lan paksa tidak dipenuhi tanpa alasan yang sah, yang bersangkutan dapat disander a paling lama 15 (lima belas) hari sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-u ndangan. Dalam hal pejabat yang disandera habis masa jabatannya atau berhenti da ri jabatannya, yang bersangkutan dilepas dari penyanderaan demi hukum. DPR mempunyai bebrapa hak, yaitu; hak interpelasi, hak angket, dan hak menyataka n pendapat. Hak DPR 1. Hak interplasi Hak interpelasi adalah hak DPR untuk meminta keterangan kepada Pemerintah mengen ai kebijakan Pemerintah yang penting dan strategis serta berdampak luas pada keh idupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. 2. Hak angket Hak angket adalah hak DPR untuk melakukan penyelidikan terhadap pelaksanaan suat u undang-undang dan/atau kebijakan Pemerintah yang berkaitan dengan hal penting, strategis, dan berdampak luas pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bern egara yang diduga bertentangan dengan peraturan perundang-undangan 3. Hak menyatakan pendapat Hak menyatakan pendapat adalah hak DPR untuk menyatakan pendapat atas: • Kebijakan Pemerintah atau mengenai kejadian luar biasa yang terjadi di tanah air atau di dunia internasional • Tindak lanjut pelaksanaan hak interpelasi dan hak angket • Dugaan bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden melakukan pelanggaran hukum baik b erupa pengkhianatan terhadap negara, korupsi, penyuapan, tindak pidana berat lai nnya, maupun perbuatan tercela, dan/atau Presiden dan/atau Wakil Presiden tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil Presiden. Sistem satu kamar Sistem satu kamar adalah sistem pemerintahan yang hanya memiliki satu kamar pada parlemen atau lembaga legislatif. Banyak negara yang menggunakan sistem satu ka mar seringkali adalah negara kesatuan yang kecil dan homogen dan menganggap sebu ah majelis tinggi atau kamar kedua tidak perlu. Dukungan terhadap sistem satu kamar ini didasarkan pada pemikiran bahwa apabila majelis tingginya demokratis, hal itu semata-mata mencerminkan majelis rendah ya ng juga demokratis, dan karenanya hanya merupakan duplikasi saja. Teori yang men dukung pandangan ini berpendapat bahwa fungsi kamar kedua, misalnya meninjau ata u merevisi undang-undang, dapat dilakukan oleh komisi-komisi parlementer, sement ara upaya menjaga konstitusi selanjutnya dapat dilakukan melalui Konstitusi yang tertulis. Banyak negara yang kini mempunyai parlemen dengan sistem satu kamar dulunya meng anut sistem dua kamar, dan belakangan menghapuskan majelis tingginya. Salah satu alasannya ialah karena majelis tinggi yang dipilih hanya bertumpang tindih deng an majelis rendah dan menghalangi disetujuinya rancangan undang-undang. Contohny a adalah kasus Landsting di Denmark (dihapuskan pada 1953). Alasan lainnya adala h karena majelis yang diangkat terbukti tidak efektif. Contohnya adalah kasus De wan Legislatif di Selandia Baru (dihapuskan pada 1951). Para pendukung sistem satu kamar mencatat perlunya pengendalian atas pengeluaran pemerintah dan dihapuskannya pekerjaan yang berganda yang dilakukan oleh kedua kamar. Para pengkritik sistem satu kamar menunjukkan bahwa pemeriksaan dan pengi mbangan ganda yang diberikan oleh sistem dua kamar dapat menambah tingkat konsen sus dalam masalah-masalah legislatif. Kelemahan lain dari sistem satu kamar iala

h bahwa wilayah-wilayah urban yang memiliki penduduk yang besar akan mempunyai p engaruh yang lebih besar daripada wilayah-wilayah pedesaan yang penduduknya lebi h sedikit. Satu-satunya cara untuk membuat wilayah yang penduduknya lebih sediki t terwakili dalam pemerintahan kesatuan adalah menerapkan sebuah sistem dua kama r (seperti misalnya pada periode awal Amerika Serikat). Beberapa pemerintahan sub-nasional yang menggunakan sistem legislatif satu kamar antara lain adalah negara bagian Nebraska di Amerika Serikat, Queensland di Aus tralia, semua provinsi dan wilayah di Kanada, dan Bundesländer Jerman (Bavaria men ghapuskan Senatnya pada 1999). Semua dewan legislatif kota praktis juga satu kamar dalam pengertian bahwa dewan perwakilan rakyat daerah tidak dibagi menjadi dua kamar. Hingga awal abad ke-20 , dewan-dewan kota yang dua kamar lazim ditemukan di Amerika Serikat. Sistem dua kamar Sistem dua kamar adalah praktik pemerintahan yang menggunakan dua kamar legislat if atau parlemen. Jadi, parlemen dua kamar (bikameral) adalah parlemen atau lemb aga legistlatif yang terdiri atas dua kamar. Di Britania Raya sistem dua kamar i ni dipraktikkan dengan menggunakan Majelis Tinggi (House of Lords) dan Majelis R endah (House of Commons). Di Amerika Serikat sistem ini diterapkan melalui kehad iran Senat dan Dewan Perwakilan Rakyat. Indonesia juga menggunakan sistem yang agak mendekati sistem dua kamar melalui k ehadiran Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) yang terdiri dari Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Dewan Perwakilan Daerah (DPD), meskipun dalam praktiknya siste m ini tidak sempurna karena masih terbatasnya peran DPD dalam sistem politik di Indonesia. III. Yudikatif power Badan Yudikatif Indonesia berfungsi menyelenggarakan kekuasaan kehakiman. Di Ind onesia, kini dikenal adanya 3 badan yang berkaitan dengan penyelenggaraan kekuas aan tersebut. Badan-badan itu adalah Mahkamah Agung, Mahkamah Konstitusi, dan Ko misi Yudisial. Mahkamah Agung, sesuai Pasal 24 A UUD 1945, memiliki kew enangan mengadili kasus hukum pada tingkat kasasi, menguji peraturan perundang-u ndangan di bawah undang-undang terhadap undang-undang, dan mempunyai wewenang la in yang diberikan oleh undang-undang. Mahkamah Konstitusi, sesuai Pasal 24C UUD 1945, berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji undang-undang terhadap Undang-undang Dasar, memutuskan sengketa kewenangan lembaga negara yan g kewenangannya diberikan oleh Undang-undang Dasar, memutus pembubaran partai po litik, dan memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum. Komisi Yudisial, sesuai pasal 24B UUD 1945, bersifat mandiri dan berwenang mengu sulkan pengangkatan hakim agung dan mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan, keluruhan martabat, serta perilaku hakim. Mahkamah Agung Sebagai sebuah lembaga yudikatif, Mahkamah Agung memiliki beberapa fungsi. Fungs i-fungsi tersebut adalah : 1. Fungsi Peradilan • membina keseragaman dalam penerapan hukum melalui putusan kasasi dan peninjauan kembali • memeriksa dan memutuskan perkara tingkat pertama dan terakhir semua sengketa ten tang kewenangan mengadili, permohonan peninjauan kembali putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap, sengketa akibat perampasan kapal asing dan muatannya o leh kapal perang RI • hak uji materiil, yaitu menguji/menilai peraturan perundangan di bawah undang-un dang apakah bertentangan dengan peraturan dari tingkat yang lebih tinggi 2. Fungsi Pengawasan • pengawas tertinggi terhadap jalannya peradilan di semua lingkungan peradilan • pengawas pekerjaan pengadilan dan tingkah laku para hakim dan perbuatan pejabat pengadilan dalam menjalankan tugas yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas pokok kekuasaan kehakiman, yaitu menerima, memeriksa, mengadili, dan menyelesaikan se tiap perkara yang diajukan. • pengawas Penasehat Hukum (Advokat) dan Notaris sepanjang yang menyangkut peradil an, sesuai Pasal 36 Undang-undang Mahkamah Agung nomor 14 tahun 1985).

3. Fungsi Mengatur Mengatur lebih lanjut hal-hal yang diperlukan bagi kelancaran penyelenggaraan pe radilan apabila terdapat hal-hal yang belum diatur dalam Undang-undang tentang M ahkamah Agung 4. Fungsi Nasehat • memberikan nasehat/pertimbangan dalam bidang hukum kepada Lembaga Tinggi Negara lain • memberi nasehat kepada Presiden selaku Kepala Negara dalam rangka pemberian/peno lakan Grasi dan Rehabilitasi 5. Fungsi Administratif • mengatur badan-badan Peradilan (Peradilan Umum, Peradilan Agama, Peradilan Milit er, dan Peradilan Tata Usaha Negara) sesuai pasal 11 ayat 1 Undang-undang nomor 35 tahun 1999. • mengatur tugas dan tanggung jawab, susunan organisasi dan tata kerja Kepaniteraa n Pengadilan Saat ini, Mahkamah Agung memiliki sebuah sekretariat yang membawahi Direktorat J enderal Badan Peradilan Umum, Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama, Direkto rat Jenderal Badan Peradilan Tata Usaha Negara, Badan Pengawasan, Badan Peneliti an dan Pelatihan dan Pendidikan, serta Badan Urusan Administrasi. Badan Peradila n Militer kini berada di bawah pengaturan Direktorat Jenderal Badan Peradilan Ta ta Usaha Negara. Mahkamah Agung memiliki 11 orang pimpinan yang masing-masing memegang tugas tert entu. Daftar tugas pimpinan tersebut tergambar melalui jabatan yang diembannya, yaitu : • ketua • wakil ketua bidang yudisial • wakil ketua bidang non yudisial • ketua muda urusan lingkungan peradilan militer/TNI • ketua muda urusan lingkungan peradilan tata usaha Negara • ketua muda pidana mahkamah agung RI • ketua muda pembinaan mahkamah agung RI • ketua muda perdata niaga mahkamah agung RI • ketua muda pidana khusus mahkamah agung RI • ketua muda perdata mahkamah agung RI Selain para pimpinan, kini Mahkamah Agung memiliki 37 orang Hakim Agung. Mahkamah Konstitusi Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir atas p engujian undang-undang terhadap UUD 1945, memutus sengketa kewenangan lembaga ne gara yang kewenangannya diberikan oleh UUD 1945, memutus pembubaran partai polit ik, dan memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum. Mahkamah Konstitusi juga wajib memberikan putusan atas pendapat DPR bahwa Presid en/Wapres diduga telah melakukan pelanggaran hukum berupa penkhianatan terhadap negara, koruspsi, tindak penyuapan, tindak pidana berat atau perbuatan tercela. Atau, seputar Presiden/Wapres tidak lagi memenuhi syarat untuk melanjutkan jabat annya. Susunan Mahkamah Konstitusi terdiri atas 9 orang anggota hakim konstitusi yang d itetapkan dengan Keputusan Presiden. Dari 9 orang tersebut, 1 orang menjabat Ket ua sekaligus anggota, dan 1 orang menjabat wakil ketua merangkap anggota. Ketua dan Wakil Ketua menjabat selama 3 tahun. Selama menjabat sebagai anggota Mahkamah Konstitusi, para hakim tidak diperkenan kan merangkap profesi sebagai pejabat negara, anggota partai politik, pengusaha, advokat, ataupun pegawai negeri. Hakim Konstitusi diajukan 3 oleh Mahkamah Agun g, 3 oleh DPR, dan 3 oleh Presiden. Seorang hakim konstitusi menjabat selama 5 t ahun dan dapat dipilih kembali hanya untuk 1 kali masa jabatan lagi. Hingga kini, beberapa perkara telah diperiksa oleh Mahkamah Konstitusi. Perkaraperkara tersebut misalnya Pengujian Undang-undang Nomor 11 tahun 2008 tetang Inf ormasi dan Transaksi Elektronik dengan Pemohon Edy Cahyono, et.al. Perkara lainn

ya misalnya Pengujian Undang-undang Nomor 36 tahun 2008 tentang Perubahan Keempa t Atas Undang-undang nomor 8 tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan. Atau, yang be rsangkutan dengan hasil pemilu seperti Permohonan Keberatan terhadap Penetapan P erhitungan Suara Hasil Pemilukada Kabupaten Belu Putaran II tahun 2008. Komisi Yudisial Komisi Yudisial merupakan lembaga tinggi negara yang bersifat independen dan rel atif baru. Lembaga ini banyak berkaitan dengan struktur yudikatif oleh sebab ia bertugas menseleksi calon-calon hakim. Peraturan mengenai Komisi Yudisial terdap at di dalam Undang-undang nomor 22 tahun 2004 tentang Komisi Yudisial. Komisi Yudisial memiliki wewenang mengusulkan pengangkatan Hakim Agung kepada DP R dan menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat serta menjaga perilaku hakim. Dalam melakukan tugasnya, Komisi Yudisial bekerja : 1. melakukan pendaftaran calon Hakim Agung 2. melakukan seleksi terhadap calon Hakim Agung 3. menetapkan calon Hakim Agung, dan 4. mengajukan calon Hakim Agung ke DPR. Di sisi lain, Mahkamah Agung, Pemerintah, dan masyarakat dapat pula mengajukan c alon Hakim Agung kepada Komisi Yudisial. Dalam melakukan pengawasan terhadap Hakim Agung, Komisi Yudisial dapat menerima laporan masyarakat tentang perilaku hakim, meminta laporan berkala kepada badan peradilan berkaitan dengan perilaku hakim, melakukan pemeriksaan terhadap dugaan pelanggaran perilaku hakim, memanggil dan meminta keterangan dari hakim yang di duga melanggar kode etik perilaku hakim, dan membuat laporan hasil pemeriksaan y ang berupa rekomendasi dan disampaikan kepada Mahkamah Agung dan atau Mahkamah K onstitusi serta tindasannya disampaikan kepada Presiden dan DPR. Anggota Komisi Yudisial diangkat oleh Presiden dengan persetujuan DPR. Sebelum m engangkat, Presiden membentuk Panitia Seleksi Pemilihan Anggota Komisi Yudisial yang terdiri atas unsur pemerintah, praktisi hukum, akademisi hukum, dan anggota masyarakat. Seorang anggota Komisi Yudisial yang terpilih, bertugas selama 5 ta hun dan dapat dipilih kembali untuk 1 periode. Selama melaksanakan tugasnya, ang gota Komisi Yudisial tidak boleh merangkap pekerjaan sebagai pejabat negara lain , hakim, advokat, notaris/PPAT, pengusaha/pengurus/karyawan BUMN atau BUMS, pega wai negeri, ataupun pengurus partai politik.

BAB III PENUTUP Kesimpulan Dari pembahasan di ats dapat di simpulkan bahwa pembagian kekuasaan atau kita ke nal dengan trias politica terdapat di berbagai macam negara yang memakainya, ter masuk Indonesia. Setiap negara memiliki gaya dan sistem pemerintahan yang berbed a-beda. Di Indonesia memakai trias politica tidak murni, karena masih ada interp erensi dari lembaga-lembaga eksekutif dengan lembaga yudikatif maupun legislatif . Lembaga eksekutif di Indonesia adalah presiden dan wakil presiden, sedangkan leg islatif adalah DPR, serta lembaga yudikatif adalah MA dan MK. Menurut hukum tata negara, lembaga-lembaga atau pembagian kekuasaan tersebut memiliki hubungan yan g sangat erat. Misalnya presiden di beri kewenangan untuk membuat UU bersama bad an legislati, dari sana dapat kita simpulkan bahwa ada hubungan antara lembaga-l embaga tinggi negara.

Daftar Pustaka Wikipedia insiklopedia bebas Undang-undang Dasar 1945 amandemen Keempat. Undang-undang No.22 tahun 2004 tentang Komisi Yudisial Undang-undang No.24 tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi www.mahkamahagung.go.id www.mahkamahkonstitusi.go.id/registrasi_perkara.php Jimly Asshiddiqie, Struktur Ketatanegaraan Indonesia setelah Perubahan K eempat UUD tahun 1945, Makalah Seminar Pembangunan Hukum Nasional VII, (Denpasar : Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia RI, 14-18 Juli 2003) aswardi Rauf, Perkembangan UU Bidang Politik Pasca Amandemen UUD 1945, ( Pembanding Tulisan makalah Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie.SH berjudul “Struktur Ketat anegaraan Indonesia Setelah Perubahan Keempat UUD Tahun 1945” yang disajikan dalam Seminar dan Lokakarya Pembangunan Hukum Nasional VIII yang diselenggarakan oleh Badan Pembinaan Hukum Nasional di Denpasar, Bali, pada tanggal l4-18 Juli 2003. ) Undang-undang Dasar 1945, Amandemen ke-4. Undang-undang Nomor 22 tahun 2003 tentang Susunan dan Kedudukan MajelisP ermusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daer ah www.dpr.go.id. Tata Tertib www.mpr.go.id www.transparansi.or.id

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->