P. 1
PTK Upaya Peningkatan Kemampuan Baca

PTK Upaya Peningkatan Kemampuan Baca

|Views: 5,888|Likes:
Published by Ibah Someday

More info:

Published by: Ibah Someday on Jun 10, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/28/2014

pdf

text

original

1

SKRIPSI PENELITIAN TINDAKAN KELAS UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA PERMULAAN MELALUI MEDIA BERMAIN LEMPAR DADU HURUF PADA ANAK TUNAGRAHITA KELAS B SEMESTER I DI TAMAN KANAK-KANAK ELIM SRAGEN TAHUN PELAJARAN 2010/2011

Disusun Oleh : SRI MULYATI NIM X 5108526

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KHUSUS FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2010

2

UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA PERMULAAN MELALUI MEDIA BERMAIN LEMPAR DADU HURUF PADA ANAK TUNAGRAHITA KELAS B SEMESTER I DI TAMAN KANAK-KANAK ELIM SRAGEN TAHUN PELAJARAN 2010/2011

OLEH: SRI MULYATI NIM: X5108526

SKRIPSI

Ditulis dan diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan Mendapat gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Khusus Jurusan Ilmu Pendidikan

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KHUSUS FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2010 ii

3

PERSETUJUAN

Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahan dihadapan tim penguji skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta

Persetujuan pembimbing,

Pembimbing I

Pembimbing II

Drs. A.Salim Choiri, M.Kes NIP. 195709011982031002

Drs. Subagya,M.Si NIP.19601001012

iii

4

PENGESAHAN Skripsi ini telah dipertahankan dihadapan Tim Penguji Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta dan diterima untuk memenuhi peryaratan mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan. Pada hari Tanggal : Rabu : 13 Oktober 2010

Tim Penguji Skripsi Ketua Sekretaris Anggota I Anggota II : Drs. Maryadi, M.Ag : Dra.B. Sunarti, M.Pd : Drs. Abdul Salim, M.Kes : Drs. Subagya, M.Si

Tanda tangan ............................................ ............................................ ............................................ ............................................

Disyahkan oleh Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Dekan,

Prof.Dr. M. Furgon Hidayatullah, M.Pd NIP.19600727 1987021001

iv

5

ABSTRAK Sri Mulyati, UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA PERMULAAN MELALUI MEDIA BERMAIN LEMPAR DADU HURUF PADA ANAK TUNAGRAHITA KELAS B SEMESTER I DI TAMAN KANAK-KANAK ELIM SRAGEN TAHUN PELAJARAN 2010/2011 Skripsi, Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret, September 2010. Penelitian ini bertujuan untuk untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan pada anak yang mengalami keterlambatan berpikir/ tunagrahita pada kelas B Taman Kanak-Kanak Elim tahun pelajaran 2010/2011. Metode penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yaitu penelitian yang dilakukan oleh guru di kelas tempat mengajar, dengan menggunakan media bermain lempar dadu huruf yang mampu meningkatkan kegairahan dalam mengikuti pembelajaran membaca, mampu memotivasi anak sehingga anak tidak merasa jenuh dalam belajar. Teknik analisis data digunakan analisis perbandingan, artinya hasil prestasi kemampuan membaca anak dibandingkan, kemudian dideskripsikan ke dalam suatu bentuk data penilaian yang berupa nilai. Dari prosentase dideskripsikan kearah kecenderungan tindakan guru dan reaksi serta hasil belajar siswa. Penelitian tindakan kelas yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa Pembelajaran dengan mengggunakan media bermain lempar dadu huruf dapat meningkatkan kemampuan anak dalam membaca permulaan, pada Anak Tunagrahita Kelas B semester I di Taman Kanak-Kanak Elim tahun pelajaran 2010/2011. . Kata kunci : Anak Tunagrahita, pembelajaran membaca, media lempar dadu huruf, meningkatkan kemampuan membaca permulaan.

v

6

ABSTRACT Sri Mulyati, THE ATTEMPT OF IMPROVING THE BEGINNING READING COMPETENCY USING LETTER DICE THROWING GAME MEDIA IN THE MENTAL RETARDED B GRADERS OF SEMESTER I IN SRAGEN ELIM KINDERGARTEN IN THE SCHOOL YEAR OF 2010/2011. Thesis, Surakarta: Teacher Training and Education Faculty, Sebelas Maret University, September 2010. This research aims to improve the beginning reading competency using letter dice throwing game media in the mental retarded B graders of semester I in Sragen Elim Kindergarten in the school year 2010/2011. The research method used was Classroom Action Research (CAR), the one conducted by the teacher in my class, using the letter dice throwing game media that can improve excitement in following the reading learning, can motivate children so that the children are not bored in learning. Technique of the analyzing data used was comparative analysis, meaning that the children’s reading competency achievement were compared, and then were described into a form of assessment data namely score. From the percentage described into teacher’s action predisposition and students’ reaction as well as learning achievement. From the classroom action research conducted, it can be concluded that learning using the letter dice throwing game media, it can improve the children’s competency in the beginning reading, for the mental retarded B graders of semester I in Sragen Elim Kindergarten in the school year of 2010/2011. Key word : Mental retarded, reading learning, letter dice throwing game media, improve the competency in the beginning reading.

vi

Kitab Injil Lukas. Isa almasih. vii .7 MOTTO: “Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang berbuat kepadamu. perbuatlah juga demikian kepada mereka”.

8 HALAMAN PERSEMBAHAN Keluargaku tercinta Ayah dan Ibunda yang aku banggakan Saudara-saudaraku yang telah mendukungku Rekan-rekan di Taman Kanak-Kanak Elim yang memotivasiku FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta yang tercinta viii .

ix . Drs.9 KATA PENGANTAR Segala puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa. Jurusan Ilmu Pendidikan. karena keterbatasan pengetahuan yang ada dan tentu hasilnya juga masih jauh dari kesempurnaan. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta. M. atas segala bentuk bantuan yang telah diberikan.Kes Ketua Program Studi Pendidikan Khusus sekaligus selaku pembimbing I yang telah memberikan petunjuk kepada penulis sehingga skripsi ini dapat diselesaikan. Indianto. selaku Kepala Taman Kanak-Kanak Elim Sragen yang telah memberikan ijin tempat penelitian dan informasi yang dibutuhkan penulis. M. Drs. 6. namun berkat bantuan dari berbagai pihak akhirnya kesulitan-kesulitan yang timbul dapat diatasi.Pd Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah memberi ijin kepada penulis untuk melaksanakan penelitian. Prof. Drs. Furqon Hidayatullah.A. H. 5. M. R. M. 2. Subagya M. Banyak hambatan yang menimbulkan kesulitan dalam penyelesaian penulisan penelitian tindakan kelas ini. Oleh karena itu segala saran dan kritik yang bersifat membangun sangat penulis harapkan. Salim Choiri.Si selaku pembimbing II yang telah memberikan petunjuk kepada penulis selama melaksanakan penelitian tindakan kelas. penulis menyadari masih ada kekurangan.Pd Ketua Jurusan Ilmu Pendidikan telah memberikan bimbingan dan pengarahan sehingga skripsi ini dapat terselesaikan. sehingga penulis dapat menyelesaikan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Luar Biasa. atas kebaikan-Nya. Dr. Dalam penyusunan skripsi ini. Untuk itu. 4. Semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan penelitian tindakan kelas ini. penulis mengucapkan terima kasih kepada yang terhormat: 1. 3. Dobirson S.

Ibu. September 2010 Penulis x . Surakarta. dan menjadi amal kebaikan yang tiada putus-putusnya dan semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan.10 Semoga kebaikan Bapak. mendapat pahala dari Tuhan Yang Maha Esa.

......................................................... A.................................... A......................................................... Pembelajaran Anak Tunagrahita Pada kelas Inklusif.... Kajian teori....... C............................ ................. BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS TINDAKAN...... KATA PENGANTAR............... 17 xi ........................................................................................ MOTTO............ 4 6 8 i ii iii iv v vii viii ix xi 1 1 3 3 3 4 4 DAFTAR LAMPIRAN..... ..... c.. a............... ............ Klasifikasi Anak Tunagrahita.....11 DAFTAR ISI Halaman JUDUL.... 10 e............... B...................................... Pengertian Membaca........... Karakteristik Anak Tunagrahita............................... ............................... Tujuan Membaca.......... 12 f... ............................ PERSEMBAHAN................................ PERSETUJUAN....................................................................................................................................................................... Latar Belakang Masalah............. ABSTRAK..................... Manfaat Hasil Penelitian........................................................................................................ Pengertian Anak Tunagrahita............................................................................................................................................ Faktor Penyebab Anak Tunagrahita..................... 16 b.......................xiv d..................................... 16 a... BAB I PENDAHULUAN................................ Pendidikan Anak Tunagrahita... Rumusan Masalah.... PENGESAHAN.................................... Anak Tunagrahita............... 14 2......................................................... Tujuan Penelitian.................... b...................................................................................................... PENGAJUAN......................................................................... DAFTAR ISI.................................................. .............. D............................................................................................................................................................................................................................................... 1.................... Tinjauan Tentang Membaca Permulaan............ .......................................................................................

............................................. 22 3....................................................... b...................................................... C........... F.................................................. B........................................................................................................................................... Pengertian Media ................. Pelaksanaan Penelitian............................................12 c....................................................................... Data dan Sumber Data... E......................................... Langkah-langkah Pengajaran dengan Menggunakan Media Permainan Lempar Dadu Huruf..................................................... Validitas Data.................. Prosedur Penelitian................. Subyek Penelitian.... d..................... Pengertian Membaca Permulaan....... Pengertian Media Lempar Dadu Huruf..... ................. Validitas dan Reliabilitas Instrumens............. Kelemahan dan Kelebihan Permainan Lempar Dadu Huruf............................................ Teknik Pengumpulan Data........ D...... 24 c................................................................. ............... BAB IV: HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN........................................................................................ 19 e............................................. Tinjauan tentang Media Permainan Lempar Dadu Huruf..48 1......... Pembelajaran Membaca Anak Tunagrahita............................... B................. Deskripsi Kondisi Awal.. Fungsi Media Permainan Lempar Dadu Huruf........ A.... Setting Penelitian...... e.................................... a........ C. Indikator Kinerja.. I.. H................................... Kerangka Berfikir.... Tehnik Analisis Data............. G....................... BAB III METODOLOGI PENELITIAN................ A................. xii 48 30 31 33 34 34 34 35 36 41 42 43 43 44 47 29 27 25 23 23 21 ................................ Metode Pengajaran Membaca .................... 18 d................. Penerapan Pembelajaran dengan Menggunakan Media Lempar Dadu Huruf pada Anak Tunagrahita.............................................................. f................................... f............... Hipotesis Tindakan ...................... Tahap pelaksanaan Membaca Permulaan.......

........................................ Pengamatan.................................................... 66 B.. Pelaksanaan Siklus I.............................................. Pelaksanaan Siklus II. 60 C............................................ SARAN................................................. Tindakan...... Tindakan ........................................................................................... Refleksi. 63 BAB V..13 2................................. 56 a.......................................................................................................... Hasil Penelitian....... 68 LAMPIRAN ........... 52 52 b........................ 53 d..................................................................... 57 c........ SIMPULAN. Perencanaan............................................................ 56 b. Pembahasan hasil Penelitian....................................................................................................................... 56 3. 60 B........................................................ a........................... 58 d.......... 52 c.......................................... Perencanaan............................................................................................... 66 DAFTAR PUSTAKA............................................................................................................ 66 A....................................................................................... SIMPULAN DAN SARAN... Pengamatan...... 71 xiii .. Refleksi ..................................................................................................

.

Mereka dapat belajar bersama-sama dengan anak normal seusianya dalam satu sekolah yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Setiap anak mampu menerima satu dengan yang lain tanpa saling merendahkan atau mengejek. Pelaksanaan pendidikan inklusif diharapkan mampu membawa dampak yang positif bagi anak berkebutuhan khusus. baik bagi anak normal maupun anak yang mengalami kelainan atau berkebutuhan khusus. Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) memperoleh kesempatan yang lebih luas dalam memperoleh layanan pendidikan. Latar Belakang Masalah Setiap anak memiliki hak untuk memperoleh pendidikan. Pelayanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus dewasa ini mengalami kemajuan yang baik. Pelaksanaan pendidikan inklusi merupakan jawaban dari kebutuhan pelayanan pendidikan bagi anak yang berkebutuhan khusus. Mereka tidak harus menempuh jarak yang lumayan jauh dari tempat tinggalnya menuju ke Sekolah Luar Biasa (SLB) yang biasanya terdapat di kota kabupaten. mampu belajar kelebihan orang lain. mengucap syukur karena Tuhan menciptakan dirinya dengan keadaan normal. Demikian juga bagi anak normal. mental maupun sosial. Taman Kanak-Kanak Elim merupakan salah satu lembaga pendidikan yang menampung anak normal maupun anak berkebutuhan khusus untuk belajar bersama-sama dalam satu kelas. Dewasa ini pelayanan pendidikan bagi anak berkelainan sudah mulai masuk ke desa-desa. Dua belas persen dari siswa Taman Kanak-Kanak Elim adalah Anak Berkebutuhan Khusus ABK). baik segi akademik. Keberadaan anak yang berkebutuhan khusus ini tidak membuat teman normal lainnya tergannggu. dengan adanya sekolah inklusif diharapkan mampu belajar menerima dan memahami keadaan sesamanya yang berkekurangan sebagai bagian ciptaan Tuhan.1 BAB I PENDAHULUAN A. karena anak berkebutuhan khusus tidak jarang memiliki kelebihan atau bakat yang tidak dimiliki anak normal lainnya. . Penanaman karakter sangat ditekankan pada setiap pembelajaran.

m dengan n dan lain sebagainya. kadang keliru membaca dengan huruf yang bentuknya hampir sama. Untuk mengatasi hal tersebut perlu diadakan tindakan untuk menolong kedua anak tersebut. sehingga anak mengalami perkembangan yang sangat baik. lupa. perilaku. . Hasil penilaian dalam belajar anak-anak rata-rata menunjukan nilai bintang 5 ataupun bintang 4. yaitu memperbaiki proses pembelajaran yang membuat anak menjadi tertarik. Anak sangat sulit dalam membaca kata. Bintang 5 memiliki bobot nilai 9-10 baik dalam kognitif.2 Kegiatan bermain sambil belajar pada Taman Kanak-kanak Elim Sragen berjalan sangat antusias dan sangat baik. bahkan beberapa huruf masih sering salah dibacanya. anak memiliki nila rata-rata bintang 1 atau 2. Untuk itu . kadang belum mengerti. malu. kedua siswa ini mengalami ketertinggalan yang sangat jauh dengan siswa yang lain. d dengan b.KANAK ELIM SRAGEN TAHUN PELAJARAN 2010/2011”. termasuk dalam membaca. Contohnya: u dangan v. Hasil penilaian untuk kemampuan membacanya. tidak jenuh sehingga anak ingin terus dan terus melakukan hingga anak mampu membaca dengan baik dan lancar seperti teman-teman yang lainnya. Hal tersebut juga mempengaruhi kepercayaan diri yang kurang terhadap anak. psikomotor maupun seni. Dua diantara 16 dari siswa di Taman Kanak-kanak Elim mengalami keterlambatan di dalam berbagai kegiatan bermain dan belajar. maka penulis berusaha untuk mencari dan menemukan solusi dengan mengadakan penelitian tindakan kelas dengan Judul “UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA PERMULAAN MELALUI MEDIA BERMAIN LEMPAR DADU HURUF PADA ANAK TUNAGRAHITA KELAS B SEMESTER I DI TAMAN KANAK. Anak sering merasa minder. yaitu dengan bobot nilai 1 – 2 untuk bintang 1 dan 3 -4 untuk bintang 2. Dalam hal kognitif yakni kemampuan membaca permulaan juga menunjukkan hal sangat menggembirakan bahkan banyak diantara siswa di Taman Kanak-kanak Elim rata-rata sudah mampu membaca dengan lancar. bahkan menangis saat teman-temannya mengolok-olok.

2. Tujuan Penelitian Berdasarkan perumusan masalah tersebut di atas maka tujuan penulis mengadakan penelitian adalah sebagai berikut: Untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan anak tunagrahita (ATG). b. motivasi. Penelitian ini dapat meningkatkan keaktifan. Penelitian ini dapat menumbuhkan motivasi untuk lebih kreatif menggunakan pembelajaran. Bagi Guru a. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang terjadi di kelas B Taman Kanak-kanak Elim Sragen. b. minat dan partisipasi anak dalam kegiatan pembelajaran. Manfaat Hasil Penelitian 1.3 A. C. berbagai metode guna meningkatkan kualitas . Penelitian ini dapat memberikan suasana yang menyenangkan. Penelitian ini dapat menjadi wawasan bagi guru dalam menggunakan media bermain lempar dadu huruf pada pembelajaran membaca permulaan. yakni belum tercapainya nilai maksimum membaca permulaan pada 2 anak yang mengalami keterlambatan maka penulis dapat merumuskan masalah. sehingga anak dapat belajar seraya bermain. Bagi Siswa a. melalui media bermain lempar dadu huruf pada kelas B semester I di Taman kanak-Kanak Elim Sragen. yaitu “apakah penggunaan media bermain lempar dadu huruf dalam pembelajaran dapat meningkatkan kemampuan membaca permulaan pada kelas B Taman Kanak-kanak Elim Sragen?” B.

demikian juga dalam hal kemampuan berpikir. a.rata yang ditandai oleh keterbatasan intelegensi dan ketidak cakapan dalam interaksi sosial. Anak tunagrahita adalah merupakan individu yang utuh dan unik.” Anak yang kecerdasannya di bawah rata-rata dikenal juga dengan anak keterbelakangan mental. Kelemahan dan kelebihan dimiliki setiap anak. yang ditandai oleh keterbatasan intelegensi dan ketidakcakapan dalam interaksi sosial.4 BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS TINDAKAN A. Anak yang memiliki kecerdasan di bawah garis normal perlu suatu penanganan yang khusus. Anak Tunagrahita Keadaan setiap manusia berbeda satu dengan yang lain. Mereka seperti anak-anak normal lainnya. Sutjihati Somantri (1996:83) menyatakan “Anak Tunagrahita adalah anak yang kecerdasannya jauh di bawah rata-rata. Anak yang mengalami kelemahan atau kelainan dalam berpikir secara umum sering disebut dengan anak di bawah normal atau tunagrahita. masingmasing anak terlahir dalam keadaan yang berbeda. memiliki hak untuk memperoleh pendidikan sesuai dengan kebutuhan mereka. karena mereka memiliki keterlambatan didalam berpikir. sukar untuk mengikuti program pendidikan di . Pemahaman secara teoritis maupun praktis sangat diperlukan supaya guru ataupun para propesional dapat memberikan layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Kajian Teori 1. masing-masing memiliki keunikan. Pengertian Anak Tunagrahita Tunagrahita menjelaskan tentang kondisi anak yang kecerdasannya dibawah rata. karena anak mengalami keterbatasan dalam kemampuan berpikirnya.

artinya anak usia enam tahun memiliki MA enam tahun. yakni pertama fungsi intelektual secara nyata berada di bawah rata-rata. anak yang berusia enam tahun akan memiliki kemampuan yang sepadan dengan anak usai enam tahun pada umumnya. Sebagai contoh. Pengajaran sistem klasikal memberikan masalah bagi anak karena kemampuan berpikirnya tidak seperti teman-teman lain yang cerdas ataupun yang normal. Keadaan ini nampak sebelum usia 18 Tahun. Jadi dikatakan tunagrahita jika memenuhi dua komponen tersebut”. fungsi akademis. Waktu terjadinya sebelum usia perkembangan yaitu 18 tahun. Intellectual Disability Perspective & Challenges. merawat diri sendiri. Sebaliknya jika MA anak lebih rendah dari umurnya. yang mencakup fungsi intelektual yang dibawah rata-rata. dimana berkaitan dengan keterbatasan pada dua atau lebih keterampilan adaptif seperti komunikasi. Untuk mendeteksi anak tunagrahita atau keterbelakangan mental ada baiknya memahami konsep Mental Age (MA). Berdasarkan pendapat di atas. keterampilan social. AAMD (America Association of Mental Deficiency) dalam Anggie Sa’adah (2009) menjelaskan bahwa: “Tunagrahita menunjukkan adanya keterbatasan dalam fungsi. AFMR dalam Astati (2010) menyatakan: “Seseorang dikatakan tunagrahita apabila memiliki 2 kriteria yang penting. dan waktu luang. sehingga kecerdasannya berada jauh di bawah rata-rata yang ditandai oleh keterbatasan intelegensi sehingga kurang/tidak mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan. . Mental Age adalah kemampuan mental oleh seorang anak pada usia tertentu. lingkungan dan psikososial”. maka penulis dapat menegaskan bahwa anak tunagrahita adalah anak yang mengalami hambatan dalam kecerdasannya. maka anak tersebut memiliki kecerdasan di atas rata-rata.5 sekolah. Jika seorang anak memiliki MA lebih tinggi. kedua adanya ketidakmampuan dalam menyesuaikan diri dengan norma dan tuntutan yang berlaku dalam masyarakat. kesehatan dan keamanan. Gangguan dipengaruhi oleh faktor genetik.

Sindrom Down atau down sindrom memiliki karakter mata sipit.” Faktor internal adalah faktor yang erat hubungannya dengan keadaan bayi selama masih ada dalam kandungan. hidung pesek. MA yang sedikit saja kurang dari umur tidak termasuk tunagrahita. MA dipandang sebagai indeks dari perkembangan kognitif seorang anak. jika selama mengandung ibu dalam keadaan sakit. sehingga jumlah kromosom tidak 46 tetapi 47. Anak yang memiliki tingkat kecerdasan di bawah rata-rata namun memilki kemampuan menyesuaikan diri dengan normal dan tuntutan yang berlaku dalam masyarakat tidak disebut anak tunagrahita. 3) Kondisi ibu saat hamil Kondisi ibu saat hamil mempengaruhi keadaan bayi yang dikandungnya. Hal ini bisa menyebabkan penderitanya mengalami kelainan fisik. kekurangan gizi dan sebagainya akan berpengaruh kurang baik pada bayi yang . totalnya adalah 46. otot-otot melemah dan retardasi mental yakni hambatan perkembangan kecerdasan dan psikomotor. strees. yaitu faktor internal dan eksternal.6 maka anak tersebut memiliki kecerdasan di bawah rata-rata. daya ingat. seperti kelainan jantung bawaan. diantaranya seperti yang diungkapkan Sutjihati Somantri (1996:53) bahwa “penyebab tunagrahita ada 2 faktor. Kelainan Sindrom Down terjadi karena kelebihan jumlah kromosom pada kromosom no 21 yang seharusnya dua menjadi tiga. Anak tunagrahita selalu memiliki MA lebih rendah daripada umurnya secara jelas. ketrampilan merawat diri dan memecahkan masalah. 2) Faktor keturunan Sifat menurun yang dibawa dari orang tua kepada anak. Faktor internal penyebab terjadinya kelainan diantaranya adalah: 1) Kelainan pada kromosom Inti sel manusia terdapat 23 pasang kromosom. b. menunjukkan pemburukan yang jelas dalam bahasa. Faktor Penyebab Anak Tunagrahita Ketunagrahitaan dapat terjadi karena berbagai faktor.

kecelakaan. Metabolisme dan gizi sangat penting peranannya bagi pertumbuhan dan perkembangan individu. . dan sebagainya. 3) Kecelakaan Kecelakaan dapat mengakibatkan terjadinya kecacatan pada baik pisik maupan psikis. penyakit. misalnya penyakit yang timbul karena virul rubella syphilis. Faktor penyebab terjadinya tunagrahita saat anak lahir misalnya: pemakaian alat bantu pada saat melahirkan. Zat radioaktif saat penyinaran semasa bayi dapat mengakibatkan tunagrahita microcephaly. kekurangan oksigen. kegagalan dalam mengadakan interaksi yang terjadi selama perkembangan menjadi salah satu penyebab ketunagrahitaan. dan lain-lain. Faktor eksternal adalah faktor yang terjadi pada saat melahirkan dan setelah anak lahir. obat-obatan atau narkotika. Trauma yang terjadi pada saat kelahiran dapat dialami ketika proses kelahiran yang sulit sehingga harus dibantu dengan alat (tang). 4) Infeksi dan keracunan Infeksi dan keracunan yang terjadi selama janin dalam kandungan. kurang gizi. keracunan alkohol. infeksi dan keracunan ini dialami lewat penyakit-penyakit yang diderita oleh ibu. Faktor penyebab tunagrahita setelah anak lahir adalah. 4) Faktor Lingkungan atau sosial budaya Lingkungan berperan terhadap fungsi intelek anak. Faktor eksternal yang menyebabkan terjadinya kelainan adalah: 1) Gangguan metabolisme dan kekurangan gizi.7 dikandungnya. Konsumsi obat yang tidak sesuai petunjuk dokter dapat mengakibatkan kecacatan. toxoplasma. Gangguan pada metabolisme dan kekurangan gizi dapat menyebabkan terjadinya gangguan fisik maupun mental pada individu. 2) Trauma dan Zat Radioaktif Benturan atau tekanan pada kepala dapat menyebabkan kecacatan pada otak.

2). Berdasar kedua pendapat di atas penulis menyimpulkan bahwa banyak faktor yang dapat menyebabkan terjadinya kelainan atau ketunaan. Sebab-sebab masa prenatal. berbagai pendapat mengklasifikasikan anak tunagrahita sebagai berikut: Klasifikasi anak tunagrahita untuk keperluan pembelajaran menurut America Associationon Mental Retardation dalam Anggie (http://saunganggie. 2) faktor eksogen Yaitu faktor penyebab ketunaan diluar keturunan/ bawaan atau pengaruh yang datang dari luar setelah anak lahir. misalnya keturunan/ bawaan dari dalam kandungan. bahkan prestasi belajarnya semakin berkurang dengan meningkatnya usia. sangat terbatas untuk kemampuan pendidikan akademik.8 Berbagai penelitian melaporkan bahwa anak tunagrahita banyak ditemukan pada daerah yang tingkat sosial ekonominya rendah. sebab-sebab pada saat pos natal. 2010) menunjukkan bahwa anak yang berasal dari keluarga kurang mampu memiliki kecenderungan untuk mempertahankan mentalnya pada taraf yang sama. hal ini disebabkan oleh ketidakmampuan lingkungan dalam memberikan stimulus pada masa perkembangan. Trainable Mempunyai kemampuan dalam mengurus diri sendiri.com/2009) : 1). menyatakan “penyebab tunagrahita ada 5 hal: genetik atau keturunan. Mulyono Abdurrahman (2003:24). yakni: 1) faktor endogen Yaitu faktor penyebab ketunaan yang datang dari dalam. Pertahanan diri dan penyesuaian sosial. Educable Anak pada kelompok ini masih mempunyai kemampuan dalam akademik setara dengan anak reguler pada kelas 5 sekolah dasar. misalnya studi yang dilakukan oleh Kirk (Astati. sebab-sebab pada masa perinatal atau saat lahir. Penulis mengelompokkan faktor penyebab ketunaan dalam dua kelompok. . penyebab karena deprivasi lingkungan”. c. Klasifikasi Anak Tunagrahita Anak tunagrahita dapat diklasifikasikan sesuai dengan keberadaannya. blogspot.

Klasifikasi anak tunagrahita/ retardasi mental secara Sosial-Psikologis terbagi menjadi 2. Retardasi mental secara psikometrik menurut skala intelegensi Wechsler dalam Astati (2010) ada 4 taraf. dan berhitung. Mereka biasanya menyelesaikan pendidikan setingkat kelas III SD umum. klasifikasi anak tunagrahita: 1) Anak tunagrahita ringan IQ 50 – 70 Mampu dididik diajarkan membaca. Retardasi mental sedang (mild mental retardation) dengan IQ 40-54.kebawah Tidak mampu menerima pendidikan secara akademis. yaitu Psikometrik dan perilaku adaptif. 2) Tunagrahita sedang IQ 25 – 49 Termasuk mampu latih. Klasifikasi dari segi keperluan pendidikan sebagai berikut: . Custodial Dengan pemberian latihan yang terus menerus dan khusus. Kegiatan sehari-hari membutuhkan bantuan orang lain. Termasuk mampu rawat. yaitu: 1) 2) 3) 4) Retardasi mental ringan (mild mental retardation) dengan IQ 55-69. Menurut Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa (2007:4) dalam buku Pedoman Penyelenggaraan Pendididkan Inklusif. yaitu: 1) Ringan 2) Sedang 3) Berat 4) Sangat berat Berdasarkan pendapat di atas penulis menyimpulkan bahwa anak tunagrahita dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kelompok menurut kepentingannya. Biasanya bisa menyelesaikan pendidikan setingkat kelas IV SD umum. Retardasi mental menurut kriteria perilaku adaptif tidak berdasarkan taraf intelegensi. 3) Tunagrahita berat IQ 24. Retardasi mental berat (sever mental retardation) dengan IQ 20-39. Retardasi mental sangat berat (profound mental retardation) dengan IQ 20 kebawah. Hal ini biasanya memerlukan pengawasan dan dukungan terus menerus. tetapi berdasarkan kematangan sosial. dapat melatih tentang dasar-dasar cara menolong diri sendiri dan kemampuan yang bersifat komunikatif. Hal ini juga mempunyai 4 taraf.9 3). menulis.

mampu berlindung dari bahaya karena itu anak tunagrahita ringan tidak memerlukan pengawasan ekstra. berhitung. mereka mampu bekerja di lapangan namun perlu sedikit pengawasan. Sedikit perhatian dan pengawasan diperlukan untuk perkembangan mental dan sosial anak tunagrahita sedang. misalnya membaca. misalnya: sekolah menengah umum. Mereka membutuhkan pengawasan. b) Kematangan motorik lambat c) Koordinasi gerak kurang 2) Intelektual . Karakteristik Anak Tunagrahita Defli (2009) menyebutkan bahwa karakteristik anak tunagrahita dapat dilihat dari segi: 1) Fisik (penampilan) a) Untuk tunagrahita ringan hampir sama dengan anak normal. kondisi fisik mereka tidak begitu berbeda dengan anak normal lainnnya. Anak tunagrahita sedang memiliki IQ antara 30 s/d 50. untuk tunagrahita berat dapat kelihatan. d. berhitung. menulis. Mereka memiliki IQ antara 50 s/d 70. Anak tunagrahita ringan lebih mudah diajak komunikasi. Mereka mampu menolong diri sendiri. bimbingan aktivitas sehari-hari. menjahit bahkan bisa dilatih untuk berjualan. untuk mengurangi ketergantungan kepada orang lain.10 1) Anak mampu didik (tunagrahita ringan/ debil) Anak mampu dididik dan dilatih. 3) Anak mampu rawat (tunagrahita berat/ Idiot) Anak tidak mampu menerima pendidikan secara akademis. Anak mampu mengikuti pendidikan walaupun tidak mencapai tingkat yang tinggi. kuliah. menulis . anak tidak dapat mengurus dirinya sendiri apalagi berlindung dari bahaya. perhatian bahkan pelayanan. Mampu dilatih ketrampilan-ketrampilan sederhana. 2) Anak mampu latih (tunagrahita sedang/ Embisil) Anak tunagrahita sedang mampu diajarkan membaca. memasak. Anak tunagrahita berat memiliki IQ 29 kebawah.

p.485-486.11 a) Sulit mempelajari hal-hal akademik b) Anak tunagrahita ringan kemampuannya setaraf anak normal usia 12 tahun (IQ 50 – 70) c) Klasifikasi sedang setaraf dengan usia 7 – 8 tahun (IQ 30 – 50) d) Berat. Banyak anak tunagrahita berat bertingkah laku tanpa tujuan yang jelas. Berdasarkan pendapat di atas. Mereka lambat dalam mengerjakan tugas-tugas yang sangatsederhana. tidak dapat berdiri atau bangun tanpa bantuan. penulis menyimpulkan bahwa anak tunagrahita memiliki karakteristik sebagai berikut: pada Exceptional dalam Angie Siti Sa’adah . Hal itu mungkin disebabkan kesulitan bagi anak tunagrahita dalam memberikan perhatian terhadap lawan main. mempunyai kesulitan dalam mempelajari pengetahuan abstrak atau yang berkaitan. mudah dipengaruhi g) Dapat memimpin diri sendiri maupun orang lain Karakteristik anak tunagrahita menurut Brown Children. Mereka selalu memerlukan latihan khusus untuk mempelajari kemampuan dasar. dan selalu cepat lupa apa yang dia pelajari tanpa latihan yang terus menerus. 1996 (http://saunganggie. dan mengurus kebersihan diri. 7) Tingkah laku kurang wajar yang terus menerus. misalnya: menggigit diri sendiri.com/2009) menyatakan: 1) Lamban dalam mempelajari hal-hal yang baru. misalnya: memutar-mutar jari di depan wajahnya dan melakukan hal-hal yang membahayakan diri sendiri. 4) Cacat fisik dan perkembangan gerak. seperti: berpakaian. setaraf dengan anak usia 3 – 4 tahun (IQ 30 kebawah) 3) Sosial dan emosi a) Bergaul dengan anak yang lebih muda b) Suka menyendiri c) Mudah dipengaruhi d) Kurang dinamis e) Kurang pertimbangan/ kontrol diri f) Kurang konsentrasi. membentur-beturkan kepala. fifth edition. makan. Sebagian dari anak tunagrahita berat sangat sulit untuk mengurus diri sendiri. 5) Kurang dalam kemampuan menolong diri sendiri. Anak tunagrahta ringan dapat bermain bersama dengan anak reguler. tetapi anak yang mempunyai tunagrahita berat tidak meakukan hal tersebut. 3) Kemampuan bicaranya sangat kurang bagi anak tunagrahita berat. Kebanyakan anak denga tunagrahita berat mempunyai ketebatasab dalam gerak fisik. dll.blogspot. Kegiatan mereka seperti ritual. 2) Kesulitan dalam menggeneralisasi dan mempelajari hal-hal yang baru. sulit menjangkau sesuatu . dan mendongakkan kepala. ada yang tidak dapat berjalan. 6) Tingkah laku dan interaksi yang tidak lazim.

adalah: 1) Sistem pendidikan segregasi Sistem pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) secara khusus dan terpisah dari anak-anak normal. b) Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB). Contohnya: Sekolah reguler . Pendidikan Anak Tunagrahita Bentuk-bentuk penyelenggaraan pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus. e. Contohnya: a) Sekolah Luar Biasa (SLB).12 1) Memiliki kemampuan berpikir yang rendah 2) Emosi yang labil bahkan kurang wajar 3) Sulit bersosialisasi 4) Kemampuan motorik yang kurang 5) Mengalami gangguan dalam berkomunikasi. Keuntungan sekolah segregrasi: a) Rasa ketenangan pada anak luar biasa b) Komunikasi yang mudah dan lancar c) Metode pembelajaran yang khusus sesuai dengan kondisi dan kemampuan anak d) Guru dengan latar belakang pendidikan luar biasa e) Sarana dan prasarana yang sesuai Kelemahan sekolah segregasi: a) Sosialisasi terbatas b) Biaya mahal 2) Sistem pendidikan integrasi Sistem pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) yang memungkinkan anak luar biasa memperoleh kesempatan mengikuti proses pendidikan bersama dengan siswa normal lainnya.

Program penuntasan wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun diharapkan berhasil dengan baik. terutama ekonomi lemah yang berada di pedesaan. Hal ini disebabkan karena pelayanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus biasanya berada di kota-kota kabupaten. b) Pelayanan pendidikan kurang memadai. Kelemahan: e) Memerlukan banyak tenaga pengajar maupun pendamping f) Memerlukan banyak sarana dan prasarana Pendidikan inklusif muncul dilatar belakangi oleh kurang meratanya pendidikan bagi anak-anak yang berkebutuhan khusus. Keuntungan: a) Lokasi berada dekat dengan anak.13 Keuntungan: a) Merasa diakui kesamaan haknya dengan anak normal terutama dalam memperoleh pendidikan b) Bakat dapat berkembang dengan optimal c) Mempunyai kesempatan untuk melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi d) Harga diri bisa meningkat Kelemahan: a) Kurangnya tenaga ahli atau sumber daya yang memiliki pengetahuan yang cukup tentang anak disability. b) Biaya relatif murah c) Sosialisasi berkembang dengan baik d) Belajar sesuai dengan kebutuhan anak. 3) Sistem Pendidikan inklusi Sekolah reguler yang menerima anak berkebutuhan khusus (ABK) dengan kurikulum dan sistem pendidikan sesuai dengan kebutuhan ABK di sekolah reguler tersebut. Program ini dilandaskan pada UndangUndang Dasar 1945 pasal 31 tentang hak setiap warga negara untuk .

Landasan paedagogis. yang disebut Bhinneka Tunggal Ika (Mulyono Abdulrahman dalam Direktorat Pendidikan Luar Biasa. demikian juga halnya dengan anak yang mengalami kekurangan. . penerapan pendidikan inklusif dijamin oleh UndangUndang nomor 20/2003 tentang sistem pendidikan nasional yang dalam penjelasannya menyebutkan bahwa penyelenggaraan pendidikan untuk peserta didik berkelainan atau memiliki kecerdasan luar biasa diselenggarakan secara inklusif atau berupa sekolah khusus. yakni education for all. Anak dapat memiliki kepercayaan diri yang lebih baik. mandiri. Landasan yuridis internasional penerapan pendidikan inklusif adalah Deklarasi Salamanca semua (UNESCO. kreatif. mereka merasa diterima dan dapat hidup bersama-sama dengan anak normal lainnya. sehingga motivasi untuk belajar dan berkarya menjadi lebih baik. Hal ini dilandasi pernyataan Salamanca yang merupakan perluasan dari program UNESCO. dan empiris yang kuat. Akan tetapi pendidikan inklusif berdampak positif. Penerapan pendidikan inklusif mempunyai landasan fisiologis. Di Indonesia. paedagogis. sehat. berilmu. 2004). Teknis penyelenggaraannya tentunya akan diatur dalam bentuk operasional. cakap. Landasan filosofis utama penerapan pendidikan inklusif di Indonesia adalah Pancasila yang merupakan lima pilar sekaligus cita-cita yang didirikan atas fondasi yang lebih mendasar lagi. Jadi melalui pendidikan peserta didik berkelainan dibentuk menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.14 memperoleh pendidikan. baik terhadap perkembangan akademik dan sosial. tujuan pendidikan nasional adalah berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. anak 1994) menekankan berlajar bahwa selama tanpa memungkinkan. seyogyanya bersama-sama memandang kesulitan ataupun perbedaan yang mungkin ada pada mereka. yuridis. dan bertanggung jawab. Landasan empiris. penelitian menunjukkan bahwa penempatan anak berkelainan di tempat khusus tidak efektif dan diskriminatif. berakhlak mulia.

Alat Bantu pelajaran penting diperhatikan dalam mengajar anak tunagrahita. mereka membutuhkan hal-hal kongkrit. maka pembelajaran bagi anak tunagrahita pun . hal ini dikarenakan anak tunagrahita kurang mampu berfikir abstrak. Pelayanan Khusus tersebut meliputi penanganan kepeserta didikan. Hal ini disebabkan anak tunagrahita kurang mampu berfikir abstrak. Penanganan kepeserta didikan meliputi perencanaan dan pelaksanaan assesmen. Profile sangat berguna yntuk memahami kebutuhan khusus anak dalam rangka penyusunan kebutuhan pembelajaran secara individu. tenaga kependidikan. Tenaga kependidikan. Pembelajaran Anak Tunagrahita pada kelas Inklusif Pelaksanaan pembelajaran anak tunagrahita pada kelas inklusif adalah anak berkebutuhan khusus belajar bersama-sama dengan anak normal sebaya dengan kurikulum dan sistem pendidikan yang berbeda satu sama lain yang disesuaikan dengan kebutuhan anak. Hal ini dimaksudkan dalam rangka membuat profile anak. seperti dalam pembelajaran anak-anak pada umumnya . maka dibutuhkan alat pelajaran yang memadai. sarana prasarana. pendanaan dan lingkungan.. kurikulum. dalam menangani anak yang memerlukan pelayanan khusus. Pelaksanaan pembelajaran anak tunagrahita pada kelas inklusif pada dasarnya adalah memperhatikan atau memberikan pelayanan khusus kepada setiap individu sebagai peserta didik. dengan demikian keperluan-keperluan anak berkebutuhan khusus tidak terabaikan dalam proses pembelajaran. namun bagi anak yang berkebutuhan . diperlukan tenaga-tenaga yang mampu menangani anak berkebutuhan/ profesional.15 f. Agar terjadinya tanggapan tentang obyek yang dipelajari. Saran dan prasarana. Pelaksanaan pembelajaran anak tunagrahita di Taman Kanak-kanak Elim adalah belajar bersama-sama dengan anak normal lainnya dalam satu kelas/ kelompok dengan kurikulum yang sama. media pembelajaran dan Alat Bantu pelajaran memegang peranan penting . Kurikulum disusun berdasarkan kebutuhan anak sesuai profile tiap peserta didik yang membutuhkan pelayanan khusus.

Dikatakan kegiatan mental karena bagian-bagian mengalami dalam anggie (http://saunganggie. (4) membaca luas dan (5) membaca yang sesungguhnya. Membaca bukan hanya mengucapkan bahasa tulis tetapi juga memahami maknanya.com/2009) “membaca pada hakekatnya adalah kegiatan fisik dan mental untuk menemukan . maka anak akan dalam beberapa bidang studi.” Menurut Tampubolon makna dari tulisan”. (3) ketrampilan membaca cepat. Dikatakan kegiatan fisik karena bagian tubuh khususnya mata beraktifitas dalam kegiatan membaca. Bagi siswa membaca juga menjadi modal agar dapat mengikuti kegiatan pembelajaran. 2.blogspot. penulis dapat menyimpulkan bahwa membaca merupakan kegiatan yang sangat kompleks yang mencakup aktifitas fisik dan mental untuk mengenal. memahami makna dari suatu simbol atau tulisan. Tinjauan Tentang Membaca Permulaan a. Penambahan pelayanan pendidikan (membaca. Jika dirasa perlu anak yang berkebutuhan khusus diberikan penambahan jam belajar saat istirahat atau setelah jam pelajaran selesai. Kemampuan membaca merupakan suatu kemampuan untuk memahami informasi atau wacana yang disampaikan oleh pihak lain melalui tulisan. (2) membaca permulaan.menulis) diberikan saat pelajaran berlangsung dilakukan Oleh guru pendamping. Jika anak pada usia sekolah tidak segera banyak memiliki kesulitan kemampuan membaca. Berdasarkan pendapat di atas. Pengertian Membaca Membaca merupakan modal bagi seseorang untuk mempelajari buku dan mencari informasi tertulis. Oleh karena itu. Ada lima tahapan perkembangan membaca yaitu : (1) kesiapan membaca. Menurut Munawir Yusuf (2005:134) “membaca merupakan aktifitas auditif dan visual untuk memperoleh makna dari simbol berupa huruf atau kata. anak harus belajar membaca agar dapat belajar.16 khusus kurikulum disesuaikan dengan kondisi anak. Kemampuan membaca merupakan dasar untuk menguasai berbagai bidang studis.

Menurut Stauffer dalam Mathedu (2009) tujuan membaca membangun konsep. Sejono (dalam Devid Haryalesmana. yaitu pengertian yang memandang membaca sebagai proses mengolah bacaan yaitu proses memaknai bacaan secara mendalam. . Berdasarkan subtansinya pengertian membaca dapat diklasifikasikan menjadi tiga golongan. mengembangkan perbendaharaan kata. 3) Pengertian luas. Strategis maksudnya membaca yang efektif menggunakan berbagai strategi yang sesuai dengan teks yang dibaca.17 pikiran khususnya persepsi yaitu kemampuan untuk menafsirkan apa yang dilihat sebagai simbol atau kata dan ingatan terlibat didalam kegiatan ini. Dalam membaca kita mempunyai banyak tujuan. tergantung pada situasi dan kondisi si pembaca. Interaktif maksudnya keterlibatan pembaca dengan teks tergantung pada konteks. 2) Pengertian agak luas. memberi pengetahuan. yaitu pengertian yang memandang membaca sebagai proses memahami bacaan.2009) mengemukakan bahwa tujuan membaca dan menulis permulaan ialah “mengenalkan kepada siswa hurufhuruf abjad sebagai tanda suara dan melatih kecakapan anak untuk mengubah huruf menjadi suara dalam kata. yaitu: 1) Pengertian sederhana. Beberapa hal yang tercakup dalam pengertian membaca yaitu: membaca merupakan suatu proses. interaktif.kata sebagai pengertian”. b. strategis. menemukan makna dari bacaan atau tulisan bukan mengenali huruf-huruf”. Membaca merupakan suatu proses maksudnya adalah informasi dari teks dan pengetahuan yang dimiliki oleh pembaca mempunyai peran utama dalam membentuk makna. Tujuan Membaca Membaca adalah gerbang menuju penguasaan ilmu pengetahuan. Betapa pentingnya peranan membaca bagi kita semua. Tujuan membaca menurut Smith (Tampubolon. yaitu pengertian yang memandang membacac sebagai proses pengenalan simbol-simbol tertulis bermakna. 2009) “membangun pemahaman dari teks yang tertulis.

mengembangkan konsep diri dan sebagai suatu kesenangan. karena dengan membaca pengetahuan seseorang akan bertambah.com/2009/06) membaca permulaan adalah “tahapan proses belajar membaca bagi siswa untuk memperoleh kemampuan dan menguasai teknik-teknik membaca dan menangkap isi bacaan dengan baik. Membaca mampu mengembangkan intelektualitas seseorang.” Permulaan mengandung makna “awal”. “membaca permulaan adalah tahap awal anak belajar membaca dengan fokus pada pengenalan simbol-simbol huruf dan aspek-aspek yang mendukung pada kegiatan membaca lanjut”. bahkan keputusasaan 5) Membaca karena hoby c. Menurut M. yakni kecakapan atau ketrampilan mengenal tulisan sebagai lambang atau simbol bahasa. Menurut Tarmizi (http://tarmizi. Pengertian Membaca Permulaan Membaca permulaan merupakan tahapan anak dalam ketrampilan membaca yang lebih tinggi. Brata (http://Mbahbrata-edu. Seseorang yang gemar membaca akan nampak berbeda dengan orang yang tidak suka membaca saat mengemukakan pendapat atau berargumentasi terhadap suatu masalah.wordpress. banyak halhal positif yang dapat kita ambil melalui membaca. sehingga anak dapat menyuarakan tulisan tersebut. Berdasarkan pendapat diatas penulis menyimpulkan bahwa tujuan membaca diantaranya: 1) Mengembangkan intelektualitas/ melatih kecakapan 2) Mendapatkan informasi 3) Membangun konsep diri 4) Melepaskan diri dari kejenuhan. membaca permulaan dapat diartikan suatu tahapan awal yang dilakukan oleh anak untuk memperoleh kecakapan dalam membaca. kesedihan. mengembangkan intelektualitas. Membaca membuat pengetahuan semakin bertambah.com/2008/12/02).18 menambahkan proses pengayaan pribadi. karena ilmu atau pengalaman nya yang didapat melalui membaca. . Ilmu yang tidak kita mengerti akan kita mengerti lewat membaca. mengerti dan memahami problem orang lain.blogspot.

ada dua. Syarat-syarat yang diperlukan untuk memperoleh kemampuan membaca adalah: 1) Kemampuan membunyikan lambang-lambang tulis 2) Penguasaan kosakata untuk memberi arti 3) Kemampuan memasukkan makna. rangkaian tulisan yang dibacanya menjadi suatu rangkaian bunyi dalam kombinasi kata. Membaca permulaan yang menjadi acuan adalah membaca merupakan proses recoding dan decoding. yakni : 1) Pembelajaran membaca tanpa buku . Membaca pada tingkatan ini merupakan kegiatan kegiatan belajar mengenal bahasa tulis. Proses decoding merupakan proses psikologis berupa kegiatan berpikir dalam mengolah informasi. pembaca belum memiliki ketrampilan kemampuan membaca yang sesungguhnya tetapi masih dalam tahap belajar untuk memperoleh ketrampilan/ kemampuan membaca. Brata (http://Mbahbrata-edu. Proses recoding yaitu proses fisik yang berupa kegiatan mengamati tulisan secara visual. mengenali dan membedakan gambar-gambar bunyi serta kombinasinya. d. Tahap-tahap pelaksanaan membaca permulaan yang dikemukakan oleh M. Melalui tulisan itulah siswa dituntut dapat menyuarakan lambang-lambang bunyi bahasa tersebut.com/2009).blogspot. Dengan proses tersebut. Pada tingkatan membaca permulaan. melalui proses decoding gambar bunyi dan kombinasinya diidentifikasikan. kelompok kata dan kalimat bermakna. sebagai dasar anak dalam pembelajaran membaca berikutnya. diuraikan kemudian diberi makna.19 Berdasarkan pendapat di atas penulis dapat simpulkan bahwa membaca permulaan adalah tahap awal anak belajar mengenal huruf atau symbol bunyi dan menyuarakannya. Tahap Pelaksanaan Membaca Permulaan Pembelajaran membaca perlu melalui tahap-tahap yang sesuai dengan perkembangan dan kemampuan anak.

. 1) Membaca tanpa buku meliputi: merekam bahasa siswa. sehingga tahap pembelajaran seperti ini membuat anak bersemangat dan antusias. membaca gambar dan sebagainya. kartu kata. Menurut Darmiyati Zuhdi (2001:4). dan sebagainya. Pada tahap ini anak perlu bantuan seperlunya selama membaca. Berdasarkan pendapat di atas penulis simpulkan bahwa tahap membaca permulaan adalah tahap membaca tanpa buku. anak diperhadapkan dengan gambar-gambar yang telah diketahui anak sehingga anak tertarik. Misalnya : kartu gambar. “Dalam pelaksanaan metode SAS. dan tahap menggunakan buku yakni setelah anak mengenal atau paham tentang simbolsimbol bunyi atau huruf-huruf. penguasaan pada abjad belum sepenuhnya dikuasai. Cara ini menyenangkan untuk anak usia dini sesuai dengan karakteristiknya yaitu masa bermain. anak dihadapkan pada tulisan-tulisan yang ada di buku. Buku bergambar. kartu huruf. Hal ini sangat baik bagi anak untuk dapat memahami arti dari suatu bacaan dalam bentuk sederhana. dengan kalimat sederhana dapat memotivasi anak untuk membacanya. 2) Pembelajaran membaca dengan buku Pembelajaran dengan kegiatan membaca dengan menggunakan buku sebagai bahan pelajaran. Baik kegiatan membaca buku pelajaran. Membaca cerita sederhana. Pada tahap ini penguasaan kosa kata pada anak masih sangat terbatas.20 Dilakukan dengan cara mengajar dengan menggunakan media atau alat peraga selain buku. anak diperhadapkan dengan bacaan. Tahap membaca permulaan umumnya pada masa peka yaitu usia enam atau tujuh tahun pada anak normal umunya. dadu huruf. Misalnya ketika anak membaca “baju” ditunjukkan gambar baju atau bendanya. Bantuan yang diberikan umumnya berupa konkretisasi kata yang dibaca. kartu kalimat. 2) Membaca dengan menggunakan buku. jadi masih ada huruf yang sulit diucapkan dan sering salah dibaca. menampilkan gambar sambil bercerita. pelaksanaan membaca permulaan dibagi menjadi 2 tahap. dan yang lainnya. yakni: membaca tanpa buku dan membaca menggunakan buku”. Anak terkadang ingin mengetahui cerita tentang gambar tersebut. dan pada usia sembilan atau sepuluh tahun pada anak tunagrahita.

21 Pengembangan yang tepat pada tahap membaca permulaan perlu sekali. Tarmizi (http://tarmizi. kemudian diajak memecahkan kode tulisan menjadi bunyi percakapan. biasanya yang paling cocok dan sesuai alam anak yaitu membaca sambil bermain. 2) Metode fonik Pemahaman pada pengenalan kata melalui proses mendengarkan bunyi huruf 3) Metode linguistik Anak diberikan suatu bentuk kata yang terdiri dari konsonan-vokal atau konsonan-vokal-konsonan. e. menawarkan berbagai metode yang dipergunakan bagi bunyi. 2) Metode Kata lembaga Metode kata lembaga menggunakan pendekatan kata. Kemudian menguraikan kata tersebut menjadi suku kata dan huruf kemudian merangkai lagi. . 3) Metode Global Metode Global menggunakan pendekatan kalimat.wordpress. Pendekatan yang dipakai dalam metode eja adalah pendekatan harfiah : dalam metode ini kita memperkenalkan abjad a sampai z beserta bunyi huruf atau fenom kepada anak. Sedangkan pada metode SAS hanya menggunakan satu kata saja. misalnya membaca menggunakan media kartu bergambar. media lempar dadu huruf dan media yang menarik lainnya. Dalam metode ini kita mengajarkan membaca dengan menggunakan kata yang telah di kenal anak. perlu menggunakan metode yang menarik. mengenal kata. Kita bedakan kata-kata tersebut. Abdurrahman (2003:214) mengemukakan metode pengajaran membaca bagi anak pada umumnya: 1) Metode membaca dasar Menggabungkan berbagai prosedur untuk mengajarkan kesiapan. 4) Metode SAS (Struktural Analisis Sintesis) Metode global kata yang dikenalkan kepada anak sudah berbentuk kalimat sederhana.com/2008/12/08). Metode Pengajaran Membaca Agar pembelajaran membaca berhasil dengan baik. dan metode SAS 1) Metode eja / bunyi Adalah belajar membaca yang dimulai dari mengeja huruf demi huruf. metode global. perbendaharaan kata. huruf dan bunyi huruf. kita kenalkan kepada anak suku kata. pemahaman dan kesenangan membaca. Metode kata lembaga.

cuaca. (2) Faktor Fisiologis .faktor yang kemampuan membaca adalah sebagai berikut: 1) Faktor yang berasal dari luar individu a) Faktor non sosial seperti: keadaan udara .faktor yang mempengaruhi kemampuan membaca yang dikemukakan oleh beberapa ahli: Menurut Slameto (1993:249). Dari pendapat di atas penulis menyimpulkan bahwa ada berbagai macam metode didalam pembelajaran membaca yang masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. waktu. (1) Keadaan jasmani seperti lelah. yaitu (1) Sifat ingin tahu. Guru hendaknya memilih metode yang cocok dan sesuai dengan situasi dan kondisinya. alat peraga ). Pembelajaran Membaca Anak Tunagrahita Untuk mencapai prestasi belajar yang optimal. a) Faktor Fisiologis. faktor.22 4) Metode SAS Memecahkan kode tulisan yang berupa kalimat sederhana 5) Metode Alfabetik Mengenalkan huruf. Pemilihan metode pembelajaran sebaiknya dipergunakan dengan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut: 1) Menyenangkan bagi anak 2) Tidak menyulitkan anak untuk mengikuti/ menerima 3) Efektif dan efisien f. (3) simpati kepada orang lain . suhu udara .batuk. (4) memperbaiki kegagalan. b) Faktor sosial adalah gangguan yang terjadi pada proses belajar. ngantuk. akan tetapi semua merupakan alat untuk membimbing anak-anak dalam keberhasilan belajar umumnya dan membaca khususnya. letak tempat tinggal alat belajar ( alat tulis. bercakap-cakap. lesu. b) Faktor Psikologis. sakit gigi. (2) Kreativitas . Merangkai huruf 6) Metode pengalaman bahasa Mendengar.keadaan fungsi jasmani terutama fungsi panca indra. Metode pembelajaran di atas dapat diterapkan dalam pembelajaran membaca permulaan. seperti keadaan lingkungan kelas. 2) Faktor yang berasal dari dalam individu. mempengaruhi . maka perlu memperhatikan faktor. menulis.

Metode yang digunakan metode eja. (5) ketrampilan berpikir kematangan mental. (4) memperhatikan. Menunut Kirk. Kliebhan dan Lerner seperti dikutip oleh Mercer (dalam Mulyono Abdurrahman. suku kata. Anak tunagrahita adalah anak yang mengalami gangguan dalam kematangan berpikirnya untuk itu pembelajaran membaca bagi anak tunagrahita dilakukan dengan menggunakan metode dan media yang sesuai dengan karakteristik dan kemampuan anak. . (7) kematangan sosial dan emosional. Video dan sabagainya. kata-kata sederhana. motivasi maupun minat. anak belajar mulai dari pengenalan huruf demi huruf. (3) kemampuan mendengarkan. gambar. (2) kematangan visual. kartu huruf.23 (5) rasa aman . Penggunaan metode eja ini dikombinasikan dengan berbagai alat peraga yang menarik perhatian anak. termasuk keadaan fungsi jasmani. Berdasarkan pendapat di atas penulis simpulkan bahwa banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan membaca. 2003 : 201) ada delapan faktor yang (1) dan memberikan sumbangan bagi keberhasilan belajar membaca yaitu: perkembangan wicara dan bahasa. sehingga mampu menimbulkan motivasi belajar membaca pada anak untuk tercapainya tujuan. keadaan atau fungsi mental. Pelaksanaan pembelajaran membaca bagi anak tunagrahita di Taman Kanak-Kanak Elim dilakukan dengan memperhatikan kemampuan anak serta pemilihan berbagai macam metode dan berbagai media yang tepat. (6) perkembangan motorik. Peneliti mencoba untuk menggunakan media lempar dadu huruf dalam pembelajaran membaca permulaan yang bertujuan memberi model lain yang dapat membangkitkan minat anak dalam membaca. (6) adanya ganjaran atau hukuman. (8) motivasi dan minat. misalnya dengan puzle. kematangan berpikir.

dkk. Pengertian Media Lempar Dadu Huruf Dadu adalah bentuk dari suatu benda yang biasanya kita gunakan dalam permainan. media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyampaikan pesan dari pengirim pesan kepada penerima pesan sehingga dapat merangsang pikiran . Pengertian Media Media berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari kata medium yang secara harfiah mempunyai arti antara. Menurut Gagne (dalam Arief S. b.24 3. perantara atau pengantar. media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari guru ke siswa sehingga dapat merangsang pikiran. Sadiman. Dari pendapat tersebut diatas dapat disimpulkan. Dalam Wikipedia menyebutkan “kata Dadu berasal dari bahasa latin “datum” yang berarti suatu yang diberikan atau dimainkan.Media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim pesan ke penerima pesan. “Media pendidikan ialah segala bentuk saluran yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan / informasi”. 2003 : 6) “media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk belajarnya”. Tinjauan tentang Media Permainan Lempar Dadu Huruf a. perasaan. Menurut Association for Educational Communications Teahnology (AECT) di Amerika yang dikutip oleh Wikipedia (2009). “ kata media berasal dari bahasa latin medium adalah sesuatu terletak ditengah (antara dua kutub atau antara dua pihak) atau suatu alat “. Terkait dengan pembelajaran . perhatian dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses pembelajaran terjadi dan berlangsung lebih efisien. adalah sebuah . perasaan dan perhatian anak didik untuk mencapai tujuan pendidikan Menurut Wijaya Kusumah (2008).

Dadu adalah sebuah benda yang berbentuk kubus. b) Obyek yang kecil – dibantu dengan proyektor mikro. Pada keenam sisisisinya biasanya tertera gambar lubang-lubang yang berbeda jumlahnya. waktu dan daya indra seperti : a ) Obyek terlalu besar . film bingkai. . Menurut Arief S. film dan model. Gambar lubang atau lingkaran satu pada satu sisi. untuk keperluan meningkatkan kemampuan anak dalam membaca permulaan. Penulis menggunakan dadu yang dirancang dengan simbol huruf pada setiap sisi-sisnya sebagai media pembelajaran dalam rangka pengenalan huruf. ataupun dengan ketentuan tertentu yang disepakati dalam permainan tersebut. 3) Dengan menggunakan media pendidikan secara tepat dan bervariasi dapat diatasi sikap pasif anak didik dalam hal ini media berguna untuk: a) Menimbulkan kegairahan belajar. film bingkai . dkk. merangkai huruf menjadi suku kata. lingkaran atau lubang dua pada satu sisi demikian seterusnya pada sisi-sisi yang lainnya. Dadu biasanya digunakan sebagai alat untuk berjudi. Fungsi Media Permainan Lempar Dadu Huruf Media bermain lempar dadu huruf memiliki fungsi untuk memotivasi anak dalam belajar lewat bermain.bisa digantikan dengan realitas gambar. dengan menebak sisi yang muncul pada setiap lemparan.25 obyek kecil yang umumnya berbentuk kubus yang digunakan untuk menghasilkan angka atau simbol acak”. Tujuan pembelajaran ini untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan pada anak. seperti media dalam pendidikan lainnya. Sadiman . film dan gambar c) Gerak yang terlalu lambat atau dapat dibantu high speed photography atau low speed photography. 2) Mengatasi keterbatasan ruang . c. kata dan kalimat sederhana. (2003 : 16-17) media dalam pendidikan mempunyai fungsi sebagai berikut: 1) Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalistik (dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan belaka).

sedang kurikulum. media dapat mempertinggi proses belajar siswa dalam gilirannya dapat mempertinggi hasil belajar yang tercapai. 2) Bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh siswa. dan memungkinkan siswa menguasai materi lebih baik. gempabumi. Menurut Wijaya Kusumah (2008). dan materi pendidikan ditentukan sama untuk setiap siswa. iklim dan divisualisasikan dalam bentuk film . film bingkai. waktu. video. . film bingkai. c) Memungkinkan anak didik belajar sendiri menurut kemampuan dan minatnya. misalnya obyek yang besar diganti gambar. obyek yang terlalu kecil bisa diganti proyektor mikro. 3) Menggunakan media pembelajaran secara tepat dan bervariasi akan dapat diatasi sikap fasif anak didik atau siswa.lapse atau high. Dalam situasi demikian media pembelajaran dapat menimbulkan kegaerahan belajar dan memungkinkan terjadinya interaksi secara langsung antara anak didik dengan lingkungan serta memungkinkan anak didik belajar sendiri menurut kemampuan dan minatnya.gambar. 4) Dengan sifat yang unik pada setiap siswa ditambah lagi dengan lingkungandan pengalaman yang berbeda . terakhir konsep yang sangat luas seperti gunung berapi. artinya hanya berbentuk kata-kata tertulis atau tulisan. maka guru akan banyak mengalami kesulitan bilaman latar belakang guru dan siswa sangat berbeda. Ada beberapa alasan diantaranya yang berkenan dengan manfaat media pengajaran dalam proses belajar siswa antara lain: 1) Pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar. tentang kejadian masa lalu dapat ditampilkan kembali lewat rekaman film. sedang gerak yang lambat atau cepat bisa dibantu dengan time . kemudian obyek yang terlalu komplek bisa dibantu dengan modul. masalah ini dapat diatasi dengan media pendidikan.diagram. dan daya indra. 3) Metode mengajajar akan lebih bervariasi. Menurut Oemar Hamalik (2005: 19) manfaat secara umum media pembelajaran memiliki fungsi seperti berikut: 1) Memperjelas penyajian pesan agar tidak bersifat verbalistik. film bingkai.speed phography.26 b) Memungkinkan interaksi yang lebih langsung antara anak didik dengan lingkungan. gambar dan lain sebagainya. foto. 2) Mengatasi keterbatasan ruang.

d. Demikian dan mengaktifkan siswa . kata atau kalimat-kalimat sederhana. Berdasarkan pendapat di atas fungsi media dapat penulis simpulkan sebagai berikut: 1) adanya media penyajian pesan tidak terlalu bersifat verbalistik. sebab tidak hanya mendengarkan uraian guru. Selanjutnya menyusun sisi-sisi yang muncul atau yang telah disepakati menjadi susku kata. Media ini berfungsi sebagai sarana mengenalkan atau mengingatkan kembali pada anak pada huruf-huruf. Anak membaca dari hasil permainan tersebut. merangakai menjadi suku kata. 2) Objek terlalu luas atau sempit yang sebenarnya tidak dapat ditampilkan akirnya dapat ditampilkan. kata dan kalimat sederhana untuk meningkatkan kemampuan membaca mereka. tetapi juga aktifitas lain seperti mengamati. media ini jaga berfungsi untuk meningkatkan aktifitas fisik dan motorik lainnya. Selain fungsi utama yang disebutkan di atas. semua metode pembelajaran memiliki kelemahan dan kelebihan. Anak lebih terampil dalam motorik halusnya maupun motorik kasarnya berkembang dan anak semakin sehat. atau penyajian menjadi lebih jelas. mendemostrasikan dan sebagainya. dengan bimbingan guru bagi mereka yang belum atau kurang mampu. 5) Utuk memutivasi siswa belajar sendiri Media ini merupakan alat peraga yang setiap sisinya memiliki simbol huruf. Fungsi dari dadu huruf ini adalah untuk menebak huruf yang akan keluar pada sisi yang muncul/posisi atas atau menurut kesepakatan dalam permainan ini. Kelemahan dan Kelebihan Permainan Lempar Dadu Huruf Tidak ada satupun metode pengajaran yang tidak memiliki kekurangan.27 4) Siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar. 3) Memfariasikan penyajian pendidikan dalam penyajian pendidikan 4) Untuk menarik perhatian siswa dan memutivasi siswa. melakukan.

Pemberian kesempatan kepada anak untuk menentukan . diliempar. kadangkadang vokal yang muncul setelah digabung dengan konsonan tidak membentuk kata yang memiliki arti. ada kelemahan dan kelebihannya.lemparan kedua vokal yang muncul adalah i . Dadu harus dipersiapkan dalam jumlah yang banyak. Untuk membaca suku kata memerlukan waktu yang agak lama karena harus melempar dua atau tiga huruf kemudian disusun dan dibaca. disusun kemudian dibaca. karena anak harus melempar terlebih dahulu sebuah dadu kemudian memperhatikan untuk dibaca. Kelemahan dari pembelajarandengan mempergunakan media lempar dadu huruf adalah: 1) Menyita banyak waktu Untuk membaca satu huruf memerlukan banyak waktu.lemparan keempat vokal yang muncul adalah u Kata yang muncul setela dadu disusun adalah b i l u 3) Memerlukan banyak sekali dadu. lalu mengambil dadu pada kelompok konsonan dan dilemparkan. tidak hanya sebanyak jumlah huruf dalam satu abjad akan tetapi lebih dari itu. agar kata-kata yang dapat disusun oleh anak dalam jumlah yang banyak dan bervariasi. Contoh: .28 juga dengan pembelajaran dalam bentuk permainan lempar dadu huruf ini. Misalnya anak mengambil dadu pada kelompok vokal dan dilemparkan. Untuk membaca suku kata anak harus mengambil empat dadu (KVKV).lemparan pertama konsonan yang muncul adalah b . Kelebihan dari pembelajaran membaca permulaan lewat bermain lempar dadu huruf ini adalah : 1) Anak memilih sendiri dadu huruf yang dilemparnya sehingga anak bersemangat.lemparan ketiga konsonan yang muncul adalah l . 2) Kadang-kadang huruf yang muncul tidak membentuk kata yang punya arti.

e. Anak ingin segera membaca dari hasil lemparan yang telah disusun tadi dengan mengaktifitaskan aspek kognitifnya. bahwa dadu memiliki 6 . motorik halusnya juga bekerja. dalam hal ini. menyusun dan membacanya.29 pilihan merupakan hal yang menyenangkan bagi anak. Langkah-langkah Pengajaran dengan Menggunakan Media Permainan Lempar Dadu Huruf Dalam pembelajaran melalui media bermain lempar dadu huruf ini terlebih dahulu diperkenalkan kepada anak. melempar dadu dengan antusias. Saat menyusun aktifitas dalam kognitifnya bekerja. Anak akan merasa bangga jika huruf yang dilemparnya dapat membentuk suatu kata yang memiliki arti. alat permainan yang akan kita pakai sebagai media pembelajaran. Anak diberi kesempatan untuk mengambil/memilih. Komentar apa yang diberikan anak tentang benda ini. memotivasi anak untuk mengambil. saat anak melempar ada aktifitas dalam motorik kasarnya. lalu kita jelaskan kepada anak informasi seputar dadu sesuai dengan tingkat kemampuan berpikir anak. Saat anak memilih ada aktifitas dalam segi kognitif dan motorik halus. Anak yang belum dapat menyusun huruf menjadi kata akan berusaha mencoba lagi sehingga mereka memiliki keinginan untuk mencoba dan mencoba lagi. Guru berperan sebagai motivator. yakni dadu. anak merasa bersemangat dan kepercayaan dirinya tumbuh. Setelah melempar anak dengan senangnya cepatcepat ingin mengetahui apa isi/ bacaan dari lemparan yang akan disusunnya. sehingga anak aktif. 3) Anak tertarik untuk mengetahui huruf apa yang keluar dan kata apa yang muncul dari setiap lemparan yang dibuatnya sendiri. Dijelaskan kepada anak. 2) Tidak mengantuk dan bosan karena anak beraktifitas dengan aktif. Setelah anak memberikan pendapatnya tentang dadu. Pemberian reward atau penghargaan setiap keberhasilan anak akan membuat anak lebih bersemangat dan merasa dihargai. menebak huruf yang muncul dan menyusun serta membacanya. melempar.

Anak ditunjukkan lambang-lambang dari setiap . dari satu lubang. Setelah empat kali lemparan anak memperhatikan dan membaca huruf yang telah terkumpul dan tersusun. membaca suku kata. kemudian mengambil dan melempar dadu dari kelompok huruf konsonan sesuai pilihan anak. Jika anak telah melakukan berkali-kali dan telah paham atau mampu membaca huruf yang ada pada posisi atas. Anak tunagrahita memiliki kemampuan berpikir di bawah temanteman normal lainnya.30 sisi. Dadu dikelompokkan menjadi 2. sehingga tercapai tujuan pembelajaran. merasa senang sehingga kemampuan membaca permulaan pada anak mengalami peningkatan f. Permainan ini dilakukan berulang-ulang sehingga anak aktif dalam pembelajaran. masing-masing sisi terdapat satu simbol huruf. Dadu yang sering kita lihat setiap sisinya terdapat lubang yang setiap sisinya berbeda jumlahnya satu dengan sisi yang lain.. Penerapan Pembelajaran dengan Menggunakan Media Bermain Lempar Dadu Huruf pada Anak Tunagrahita Anak tunagrahita dalam belajar perlu ditunjukkan dengan benda kongkrit (simbol bunyi. Anak disuruh mengamati dan menyebutkan huruf apa yang muncul atau yang berada pada posisi atas. dua lubang hingga enam lubang. Anak mengambil 1 kali dan melempar dadu dari kelompok satu/huruf vokal. dalam pembelajaran membaca) secara kongkrit lewat tulisan. dilanjutkan dengan mengambil dadu bergantian dari kelompok satu dan dua selama empat kali. Penerapan permainan lempar dadu huruf bertujuan untuk memotivasi anak dalam mengikuti pelajaran. Melaksanakan pembelajaran yang menyenangkan bagi anak tunagrahita adalah salah satu cara untuk membangkitkan motivasi anak dalam pembelajaran. Penerapan permainan lempar dadu huruf adalah sebagai media serta alat peraga yang digunakan dalam pembelaran pengenalan huruf. membaca kata-kata sederhana. Hal ini dilakukan untuk mengenal huruf. Kelompok 1 adalah dadu dengan huruf vokal kelompok 2 dadu dengan huruf konsonan. Pada pembelajaran ini dadu setiap sisinya diberi simbol huruf.

Memperoleh informasi-informasi dan menjadikan seseorang . termasuk anak tunagrahita. Demikian juga pengaruhnya terhadap anak tunagrahita yang bersama-sama belajar dengan anak normal lainnya sangat kelihatan. Usia dini adalah masa bermain. dilempar lalu keduanya disusun sehingga muncul suku kata. Kerangka Berfikir Membaca merupakan salah satu bidang akademik yang harus segera dimiliki oleh siswa termasuk anak tunagrahita ringan. Untuk membaca suku kata anak diberi kesempatan mengambil satu dadu kelompok konsonan. hal ini dibuktikan lewat pengamatan yang dilaksanan dan hasil nilai yang diperoleh siswa tunagrahita pada pembelajaran membaca permulaan. Penerapan pembelajaran dengan menggunakan berbagai media yang variatif akan tidak membuat anak menjadi bosan. kemudian dilempar dan satu dadu kelompok vokal. Karena manfaat membaca mampu meningkatkan belajar pada bidang akademik yang lain. bersemangat dan ingin mengetahui leebih banyak lagi. melempar dan membacanya. yang mampu merangsang sel otak sehingga anak memiliki perkembangan dan pertumbuhan yang baik secara optimal. kemudian disusun sehingga membentuk kata yang dapat dibaca anak. B. karena membaca mampu meningkatkan prestasi belajar pada bidang akademik lainnya. Dengan membaca seseorang mengerti banyak hal. Untuk membaca kata dilakukan empat kali lemparan dari dadu KVKV. tidak membebani sehingga anak merasakan belajar seraya bermain. Membaca merupakan salah satu bidang akademik yang harus segera dimiliki siswa. Pembelajaran membaca permulaan di Taman Kanak-Kanak dapat diberikan lewat suatu permainan yang menyenangkan anak. kemudian disuruh mengambil. Penggunaan media bermain lempar dadu huruf pada Taman KanakKanak Elim menjadikan suana penuh dengan semangat dan antusias.31 huruf yang ada dalam dadu. sesuai dengan karakteristik anak pembelajaran yang diberikan hendaknya dikemas dalam bentuk permainan yang mendidik.

Membaca bukanlah suatu kegiatan yang mudah. yaitu enam tahun atau tujuh tahun bagi anak normal atau sembialn atau sepuluh tahun. mengembangkan intelektualitas Membaca mempunyai nilai besar untuk orang dewasa karena berkontribusi pada perkembangan. kemudian dapat dilanjutkan dengan kata-kata yang sangat sederhana sesuai dengan usia dan kemampuan anak. siswa. Aktifitas mental mencakup ingatan dan pemahaman.J. materi pelajaran.32 bertambah luas wawasannya. seperti dapat membebaskan dari tekanan. untuk itu segala pembelajaran yang diberikan kepada anak harus dalam bentuk bermain. Tahap membaca permulaan umumnya diajarkan pada saat tibanya masa peka. Membaca merupakan kata kerja dengan kata dasar “baca” yang memiliki arti melihat tulisan dan megerti atau dapat melisankan apa yang tertulis (W. kondisi lingkungan. Usia peka atau usia dini merupakan fase anak bermain. serta tehnik mempelajari materi pelajaran. Secara umum faktorfaktor tersebut dapat diidentifikasi seperti guru. mendapatkan informasi untuk memecahkan konflik dan mengenali dan lain sebagainya. Membaca merupakan kegiatan fisik dan mental untuk menemukan makna dari tulisan aktifitas fisik yang berkait dengan membaca adalah gerak mata dan ketajaman penglihatan. Permainan dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk mengetahui huruf-huruf yang ada. Sehingga anak merasakan sesuatu kesenangan didalam belajar bukan suatu beban atau tekanan. Membaca dapat digunakan untuk mengembangkan perbendaharaan kata. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan siswa dalam membaca. bekerja dengan penuh inisiatif. Poerwadarminta 1984 : 71). Membaca permulaan merupakan tahapan proses belajar membaca. Demikian juga dalam belajar membaca permulaan. anak belajar memperoleh kemampuan dan cara-cara dalam membaca dan menangkap isi bacaan. . menambah proses pengayaan pribadi.S. bentuk permainan dapat menarik anak untuk belajar dengan tanpa beban.

kecakapan untuk melakukan sesuatu.33 Kata “kemampuan” berasal dari kata dasar “mampu” yang berarti mengandung makna yang sama dengan kata “bisa atau sanggup melakukan sesuatu”. Sedangkan kemampuan diartikan kesanggupan. Untuk itu perlu dilakukan suatu strategi untuk membuat anak tertarik pada membaca yaitu dengan pembelajaran melalui media bermain lempar dadu huruf. Pemberian reward pada setiap kata yang memiliki makna akan lebih meningkatkan antusias anak sehingga anak terangsang terus pada akhirnya anak memperoleh pengetahuan dan pemahaman konsep lebih mendalam terhadap materi yang diajarkan dengan menggunakan media permainan lempar dadu huruf dalam membaca permulaan untuk anak tunagrahita ringan diharapkan prestasi belajarnya meningkat. Media ini melibatkan siswa secara aktif. Adapun kerangka berpikir pembelajaran dengan menggunakan media bermain lempar dadu huruf adalah sebagai berikut : . Permainan yang dilakukan sesuai peraturan yang telah ditetapkan membuat anak belajar untuk berdisiplin.

Hipotesis Tindakan Adapun hipotesis dalam penelitian ini adalah “melalui pembelajaran dengan menggunakan media lempar dadu huruf. maka kemampuan membaca permulaan siswa tunagrahita kelas B Taman Kanak-kanak Elim Sragen meningkat”. yaitu pelaksanaan pembelajaran membaca permulaan dengan menggunakan media lempar dadu huruf. C.34 Kondisi awal kemampuan membaca sebelum Pembelajaran menggunakan media Bermain lempar dadu huruf Tindakan Pembelajaran menggunakan media bermain lempar dadu huruf Kemampuan membaca permulaan Kondisi Akhir setelah menggunakan media bermain lempar dadu huruf Keterangan: Kondisis awal adalah kondisi anak sebelum pembelajaran dengan menggunakan media lempar dadu huruf dilaksanakan. Tindakan adalah melaksanakan apa yang telah direncanakan sebelumnya. yakni kemampuan membaca permulaan sangat rendah. Kondisi akhir adalah kondisi setelah pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan media bermain lempar dadu huruf. .

Setting Penelitian Tempat penelitian tindakan kelas adalah Kelas B Taman Kanak-kanak Elim Sragen. Penelitian dilakukan di kelas B Taman Kanak-Kanak Elim Sragen didasarkan pada pertimbangan : 1. Mengenal huruf tertentu saja 4. tindakan. Di kelas tersebut terdapat dua anak sebagai subyek penelitian yaitu Farel dan Ian Rudianto. Pengamatan terhadap hasil pembelajaran membaca permulaan adalah selama dimulainya semester II TK A. evaluasi dan refleksi).Melihat adanya perbedaan yang sangat signifikan pada kedua siswa yang mengalami keterlambatan didalam kemampuan membaca permulaan dibandingkan dengan empat belas murid yang lainnya. Penyusunan laporan pendidikan. Anak cenderung pendiam 2.35 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. 3. Penelitian berlangsung selama bulan Juli sampai september 2010. Subjek Penelitian Subjek penelitian Tindakan kelas ini adalah siswa tunagrahita kelas B Taman Kanak-kanak Elim Sragen. Penggandaan dan pengiriman laporan pendidikan. koordinator persiapan tindakan pelaksanaan (perencanaan. B. monitoring. persiapan penelitian. Belum dapat membaca . Taman Kanak-Kanak Elim adalah tempat dimana penulis mengajar dan juga sebagai wali kelas.80 Sragen. Raya Sukowati no. 2. Rincian kegiatan penelitian tersebut adalah. penyempurnaan berdasarkan saran dari dosen pembimbing dan pihak lain yang dirasa perlu. Farel memiliki karekteristik sebagai berikut: 1. Kurang semangat dalam mengikuti kegiatan belajar namun dalam bermain sangat bersemangat melebihi teman-temannya. Jln.

Suka mengganggu.3 5 Nilai 85 80 80 85 30 35 85 90 95 90 90 85 90 85 95 95 Ket √ √ √ √ .5 5 6 5 5.5 5 5. Tidak peduli. C.7 5. No A AK AR EN F IR JG KN LT LR RW SP TL TA Y YK Nama Jenis kelamin L P P L P P L P p L p L p p L p L Usia 5 5. kata sederhana jika dibantu.36 5.7 5.(Subjek) √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 .3 5.2 5 5.(Subjek) .4 5. 5. Lambat dalam menjawab pertanyaan.2 5. Mampu membaca suku kata. Sulit berkonsentrasi 3. Data dan Sumber Data Data Penelitian yang dikumpulkan berupa informasi tentang kemampuan membaca khususnya dan kemampuan menulis serta kemampuan lain umumnya. Nilai yang dicapai siswa selama pembelajaran di kelas A. cenderung hiperaktif 2. jika ditanya tidak memberikan respon jika pertanyaan tidak diulangUlang 4. Anak sangat banyak bergerak. Ian Rudianto memiliki karakter sebagai berikut: 1.

37

Nilai di Taman Kanak-kanak adalah berupa simbol yang memiliki bobot tertentu, demikian juga di taman kanak-kanak Elim Sragen menggunakan simbol bintang yang memiliki bobot nilai 2,5. Nilai tertinggi adalah bintang 4 (****) yang memiliki bobot nilai 10. Rata-rata nilai yang dicapai kedua subjek tersebut adalah bintang 1 dan bintang 2. Jika dibandingkan keduanya anak ian sering memperoleh nilai lebih tinggi dari pada farel, yaitu bintang 2. Ian lebih sedikit mampu membaca suku kata dan kata–kata sederhana daripada Farel. Metode-metode yang digunakan guru yang tepat sesuai dengan kondisi anak akan mampu meningkatkan kemampuan membaca pada anak, hanya penerapan metode yang kurang menarik membuat anak menjadi jenuh dan tidak bersemangat khususnya bagi Farel dan Ian, untuk itu peneliti mencoba menggunakan media bermain lempar dadu huruf agar anak tertarik. Sumber data dari dari penelitian ini adalah siswa dan guru. Peristiwa yang terjadi selama pembelajaran berlangsung. Dokumen atau arsip yang berupa kurikulum kurikulum, rencana pelaksanaan pembelajaran, hasil kegiatan anak dan buku penilaian. D. Teknik Pengumpulan Data Tehnik pengumpulan data data adalah yang suatu prosedur yang sitematik diperlukan. Oleh karena itu dan standar untuk memperoleh

kualitas data sangat ditentukan oleh alat pengumpul data atau alat ukuran, sehingga data benar-benar valid dan reliable. Adapun tehnik pengumpulan data yang digunakan adalah dengan tes, observasi, dokumentasi. 1. Tes a. Pengertian test Untuk mengetahui kemampuan anak diperlukan alat untuk mengukur. Alat ukur kemampuan terseburt adalah test. Menurut Suharsimi Arikunto (2005:127) test adalah “serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk mengukur, ketrampilan.

38

pengetahuan intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki individu atau kelompok”. Menurut Baitul Alim (http://www.psikologzone.com/2006) “Suatu tes dapat didefinisikan sebagai suatu tugas atau serangkaian tugas- tugas yang digunakan untuk memperoleh tentang suatu atribut atau hasil pendidikan yang representative”. Berdasarkan dua pendapat diatas dapat penulis simpulkan bahwa tes adalah serangkaian pertanyaan yang harus dijawab untuk mengukur kemampuan atau bakat yang dimiliki individu atau kelompok. Tujuannya . pretest. Kegiatan pembelajaran dilaksanakan, pada akhir pembelajaran diadakan postest untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan yang dicapai dalam membaca permulaan dengan menggunakan media bermain lempar dadu huruf. b. Jenis – Jenis tes Ada beberapa jenis tes yang dapat dipergunakan untuk mengukur kemampuan seseorang adalah sebagai berikut: Menurut Baitul Alim (2006). Jenis tes dikelompokkan menjadi : “ Tes intelegensi, tes bakat, tes hasil belajar, dan tes kepribadian “. Menurut Pandit, PL (2010:12) Jenis tes dikempokkan menjadi: 1 ) Tes Intelegensi Tes kemampuan intelektual, mengukur taraf kemampuan berpikir, terutama berkaitan dengan potensi untuk mencapai taraf prestasi tertentu dalam belajar di sekolah ( Mental ability Test ; Intelegence Test; Academic Ability test; Scholastic Aptitude Test ). Jenis data yang dapat diambil dari tes ini adalah kemampuam intelektual atau kemampuan akademik. 2 ) Tes Bakat Tes kemampuan bakat, mengatur taraf kemampuan seseorang untuk berhasil dalam studi tertentu, program pendidikan vokasional tertentu atau bidang pekerjaan tertentu, lingkupnya lebih terbatas dari tes kemampuan intelektual (Test of Specific Ability ; Aptitude Test ). tes adalah : untuk sejauh mengukur mana kemampuan kemampuan ketrampilam, anak sebelum kemampuan, kecerdasan dan bakat yang dimiliki anak atau seseorang. Untuk mengukur pembelajaran melalui media lempar dadu huruf dilakukan, yaitu melalui

39

Kemampuan khusus yang diteliti itu mencakup unsure-unsur intelegensi, hasil belajar, minat dan kepribadian yang bersama-sama memungkinkan untuk maju dan berhasil dalam suatu bidang tertentu dan mengambil manfaat dari pengalaman belajar dibidang itu 3 ) Tes Minat Tes minat, mengatur kegiatan–kegiatan macam apa paling disukai seseorang. Tes macam ini bertujuan membuat orang mudah dalam memilih macam pekerjaan yang kiranya paling sesuai baginya (Test of Vocational Interest ). 4 ) Tes Kepribadian Tes kepribadian, mengatur ciri-ciri kepribadian yang bukan khas bersifat kognitif, seperti sifat karakter, sifat temperamen, corak kehidupan emosional, kesehatan mental, relasi-relasi sosial dengan orang lain, serta bidang-bidang kehidupan yang menimbulkan kesukaran dalam penyesuaian diri. Tes proyektif, meneliti sifat-sifat kepribadian seseorang melalui reaksi –reaksinya terhadap suatu kisah, suatu gambar atau suatu kata; angket kepribadian, meneliti berbagai ciri kepribadian seseorang dengan menganalisa jawaban-jawaban tertulis atas sejumlah pertanyaan untuk menemukan suatu pola bersikap, bermotivasi atau bereaksi emosional, yang khas untuk orang lain itu. Kelemahan Tes proyektif hanya diadministrasi oleh seorang psikolog yang berpengalaman dalam menggunakan alat itu dan ahli dalam menafsirkannya. 5 ) Tes Perkembangan Vocasional Tes vocasional, mengukur taraf perkembangan orang muda dalam hal kesadaran kelak akan memangku suatu pekerjaan atau jabatan ( vocation ) dalam memikirkan hubungan antara memangku suatu jabatan dan cirriciri kepribadian serta tuntunan-tuntunan sosial ekonamis; dan dalam menyusun serta mengimplementasikan rencana pembangunan masa depannya sendiri. Kelebihan tes semacam ini meneliti taraf kedewasaan orang muda dalam mempersiapkan diri bagi partisipasinya dalam dunia pekerjaannya ( career maturity ) 6 ) Tes Hasil Belajar (Achievement Test) Tes yang mengukur apa yang telah dipelajari pada berbagai bidang studi, jenis data yang dapat diambil menggunakan tes hasil belajar (Achievement Tes ) ini adalah taraf prestasi dalam belajar. Berdasarkan beberapa pendapat tentang jenis tes, penulis simpulkan yaitu tes tertulis, tes lesan, tes bakat, tes kepribadian dan tes perkembangan vocasional.

2 ) Obsevasi sistematis yaitu observasi yang dilakukan oleh menggunakan pedoman sebagai instrumen pengamatan. Tujuannya adalah untuk mengetahui kemampuan membaca siswa sebelum dan setelah diberi tindakan. b. Pengamatan / Observasi a.40 Penelitian ini. pengamat dengan yaitu obsevasi partisipan (aktif) dan yang meliputi kegiatan pemusatan perhatian terhadap suatu pengamat dengan . Berdasarkan pendapat diatas penulis simpulkan: observasi adalah suatu tindakan pengamatan dan pencatatan yang dilaksanakan secara langsung. Menurut Muhammad Idrus (2007 : 129) “observasi atau pengamatan merupakan aktivitas pencatatan fenomena yang dilakukan secara sistematis”. Sedang observasi penulis gunakan sistematis. Pengertian Observasi. Menurut Suharsimi Arikunto (2005 : 145) “observasi adalah pengamatan objek dengan menggunakan seluruh alat indra”. Jenis Observasi Observasi ada beberapa macam atau jenis. dan tes perbuatan. 2. jenis tes yang penulis gunakan adalah: tes lisan. yaitu: 1 ) Observasi nonsistematis . Menurut Suharsimi Arikunto (2005 : 147) observasi ditinjau dari jenisnya ada dua macam . yaitu Observasi yang dilakukan oleh tidak menggunakan instrumen. partisipan dan sistimatis terhadap suatu obyak dengan menggunakan seluruh alat indra.

Menurut Suharsimi Arikunto (2005 : 206) ”Dokumen merupakan salah satu media yang digunakan untuk melengkapi data mengenai hal – hal yang berupa catatan. sebuah e. yang dirasa kurang lengkap dokumen. 3 ) Obsevasi Eksperimental . sistematis dan eksperimen.Obsevasi Noneksperimental.150) dibedakan atas : jenis observasi 1 ) Observasi Partisipan . pada umumnya berisi teks. transkip. surat kabar. untuk melengkapi data. 2 ) Obsevasi sistematis Observasi nonsistematis Obsevasi sistematis yaitu dimana obseever menggunakan kerangka materi atau instrumen untuk memudahkan dalam malakukan observasi. tetapi mengandung bentuk lain seperti gambar.Observasi Nonpartisipan. 3.Dokumen bisa pula dikategorikan menurut bentuk fisiknya . sebuah berkas. Menurut Pandit P L (2010:12) Istilah dokumen dipakai untuk satu informasi tunggal . agenda. dan sebagainya”.mail. notulen rapat. Sedang observasi nonpartisipan justru sebaliknya. prasasti. buku. Obsevasi Eksperimental yaitu dimana observer oran yang didikte oleh jalannya arus peristiwa . Sedang observasi nonsistematis justru sebaliknya. sebuah halaman Web. atau kurang yakin bila tidak didukung dengan . Berdasarkan pendapat tentang jenis observasi penulis simpulkan yaitu: observasi partisipan .suara hidup (moving images ). a single unit of information (setunggal informasi).41 Sedang menurut Sutrisno Hadi (2000 :141. Adapun dalam penelitian ini jenis obsevasi/pengamatan yang penulis gunakan adalah observasi atau pengamatan partisipan dan sistematis. Dokumentasi a. Pengertian Dokumen adalah salah satu alat pengumpul data . misalnya sebuah buku. Observasi Partisipan yaitu jika orang mengadakan observasi turut ambil dalam kehidupan orang yang diobsevasi. majalah .

Jenis Dokumentasi Untuk melengkapi data dalam penelitian. jenis dokumen penulis simpulkan yaitu dokumen catatan kesiswaan. dokumen adalah pengumpulan data melalui peninggalan tertulis bisa surat kabar. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang dibuat guru. buku atau materi pelajaran. latar keluarga. majalah. daftar nilai. berkas. catatan atau buku ulangan harian siswa. keadaan dan perkembangan pribadi atau siswa. prasasti. . dukumen pelengkap dokumen sebagai pelengkap penelitian ini adalah: Menurut Fu’adz Al-Gharuty (2009). Berdasarkan pendapat diatas. isinya tentang hasil atau prestasi belajar. aktivitas arsip terdiri merupakan salah satu diantara data – data yang telah ada. Jenis dokumen penulis gunakan adalah jenis dokumen catatan kesiswaan. dan kemampuan membaca permulaan khususnya. b. dokumen nilai yang diberikan guru. notulen rapat. dokumen hasil karya siswa. Menurut Sawarji Suwandi (2008 : 68) dokumen dari: Kurikulum. untuk mengetahui kemampuan siswa pada umumnya. dokumen catatan kesiswaan yang berada belakang disetiap sekolah. sebuah e-mail dan arsip – arsip lain yang ada kaitannya dengan prestasi keadaan siswa. dokumen Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang dibuat guru. buku. Adapun jenis disekolah dan di luar sekolah. Dokumen yang penulis gunakan adalah raport.42 Berdasarkan pendapat di atas penulis simpulkan. hasil tulisan atau karangan siswa. dan nilai yang diberikan guru. terutama kemampuan membaca anak tunagrahita sebelum menggunakan media bermain lempar dadu huruf. agenda. transkrip.

maka tes tersebut harus memenuhi syarat sebagai tes yang baik. Penulis dalam penelitian ini menggunakan uji validitas conten validity. Jenis-jenis validitas tes menurut Sutrisno Hadi (2000:111) antara lain: “facer validity. Tes yang disusun harus sesuai dengan materi yang pernah diajarkan dan mempunyai taraf kesukaran yang sama dengan kemampuan peserta didik. yakni validitas.43 E. yang reliable akan menghasilkan data yang dapat dipercaya juga. Instrumen yang sudah dapat dipercaya . Teknik yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah riview informasi kunci dan triangulasi. 2005:142). . factorial validity. Validitas dan Reliabilitas Instrumen Tes adalah alat pengukur prestasi belajar anak didik. Tehnik reliabilitas menggunakan standar isi berdasarkan standar standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam pembelajaran membaca sesuai dengan KTSP. internal validity dan empirical validity”. external validity. tes cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut sudah baik. agar tes dapat digunakan sebagai alat pengukur prestasi belajar yang baik. Tes harus reliabel. Tes valid artinya tes yang dibuat hendaknya dapat mengukur apa yang dapat diukur. logical validity. Validitas data adalah data yang sesuai dengan apa yang akan diukur. F. Validitas Data Agar penelitian dapat dipertanggungjawabkan diperlukan adanya validitas sehingga data tersebut dapat dijadikan dasar yang kuat untuk menarik kesimpulan. Instrumen yang baik tidak akan bersifat tendensius mengarahkan responden untuk memilih jawabanjawaban tertentu (Suharsini Arikuntoro. yaitu instrumen dari beberapa butir tes yang mencerminkan suatu faktor yang tidak menyimpang dari fungsi instrumen berupa kisi-kisi buatan guru berdasarkan KTSP. conten validity.

kebiasaan anak yang diamatinya dalam lingkungan sekolah umumnya dan saat pengamatan dalam kegiatan belajar khususnya. Menurut Sarwiji Suwardi. membaca di depan kelas. “Review informasi kunci adalah mengkonfirmasikan data atau interprestasi temuan kepada informasi kunci sehingga diperoleh kesepakatan anatar peneliti dan informan tentang data atau informasi temuan tersebut. Tugas membaca. Kesimpulan penulis data dianggap valid apabila data itu dapat mengungkap kebenaran dan dapat digunakan dengan mudah serta dapat digunakan siapa saja. Review informasi kunci. Data dari raport semester II kelas A. nilai rata-rata 45 2.44 “Triangulasi adalah teknik pemeriksaan validitas data dengan memanfaatkan sarana di luar data itu untuk keperluan pengecekkan atau pembandingan data itu. Diskusi dengan teman sejawat tentang fasilitas/ media pembelajaran di sekolah. sikap anak.” Lexy Moelong dalam Sarwiji Suwandi (2008 : 69). Wawancara dengan orang tua siswa tentang belajar anak di rumah. mengadakan diskusi dengan kolaburator tentang kondisi anak.” (Sarwiji Suwandi 2008 : 69). membaca huruf awal kartu bergambar: b. Triangulasi Pengumpulan data a. Teknik triangulasi digunakan sumber data sebagai berikut: 1. Triangulasi sumber data a. b. siswa mengalami kesulitan . Pemberian tes.(2008:69). c.”data dianggap valid apabila setelah melakukan kegiatan pengamatan maupun kajian dokumen diperiksa kembali oleh peneliti sehingga data tersebut valit”.

H. Prosedur Penelitian Penelitian ini dilakukan dalam 2 siklus. pelaksanaan. membandingkan nilai post tes I dengan nilai post tes II. Indikator Kinerja Indikator sebagai tolak ukur keberhasilan dalam penelitian tindakan kelas ini menggunakan KKM yang telah ditetapkan oleh sekolah. Teknik Analisis Data Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian untuk hipotesis mengenai “Upaya Peningkatan Kemampuan Membaca Permulaan Melalui Media Bermain Lempar Dadu Huruf pada Anak Tunagrahita Kelas B Semester II di Taman Kanak-Kanak Elim Sragen Tahun Pelajaran 2010/2011”. Prosedur ini secara garis besar dapat digambarkan dengan skema sebagai berikut : Perencanaan Refleksi Perencanaan Refleksi Pelaksanaan Pengamatan Pengamatan Pelaksanaan .45 G. artinya seorang anak telah dinyatakan melampaui ketuntasan belajar jika telah memperoleh nilai 70. Jika nilai yang diperoleh anak di bawah 70. penulis menggunakan tehnik deskriptif komparatif dan tehnik analisis kritis. yaitu membandingkan nilai awal dengan post tes I. maka belum dapat dinyatakan tuntas. pengamatan dan refleksi. Tehnik deskriptif komparatif digunakan untuk data kuantitatif. I. masing-masing siklus dengan tahapan: perencanaan. adapun nilai KKM untuk bidang pengembangan bahasa yakni membaca permulaan adalah 70.

Membuat lembar pengamatan. Guru meminta siswa menanyakan huruf yang belum dipahami. Guru memberi penjelasan kepada siswa tentang materi yang akan dipelajari dengan menggunakan media lempara dadu huruf. yaitu dadu yang bertuliskan huruf. Observasi ini untuk memperoleh . Menentukan dan menyiapkan materi. 3. Menyiapkan media pembelajaran. Mengenal huruf. 4. 3. Tindakan 5. 2. 4. Aktivitas menerapkan media lempar dadu huruf dalam meningkatkan kemampuan membaca permulaan. Observasi Dilakukan dengan mengamati : 1. Guru meminta murid mengambil dadu huruf. melempar dan membaca huruf yang muncul di posisi atas. merangkai menjadi kata. Guru meminta siswa untuk menyanyikan lagu a b c c d e f g dengan menunjuk huruf yang ada di papan tulis. Membuat rencana pembelajaran.46 Rancangan prosedur penelitian : Siklus I Perencanaan Kegiatan : 1. Menganalisis materi pelajaran 2. 2. 1.

Data yang diperoleh pada tahap observasi dianalisis. Setelah data tentang membaca permulaan dengan media bermain lempar dadu huruf diperoleh. Kegiatan : 1. Hasil yang diperoleh dapat disimpulkan hasil kemampuan membaca selama 2 siklus . Siswa menjawab dengan membaca dadu yang dilempar oleh guru baik Observasi huruf maupun kata. 2. dianalisa untuk mengetahui kelemahan yang Refleksi mungkin ada. Siswa memainkan media lempar dadu huruf diawasi guru. Menarik anak tunagrahita untuk Tindakan bermain lempar dadu huruf 1. Memperbaiki kesalahan / kekurangan pada siklus II 3.47 data tentang kemampuan membaca Refleksi permulaan. Apresiasi untuk perbaikan materi yang telah diajukan pada siklus I 2. Menganalisa hasil observasi untuk memperoleh kesimpulan bagian mana yang perlu di sempurnakan untuk Siklus II Perencanaan siklus berikutnya.

Berdasarkan pada permasalahan yang dihadapi oleh siswa kelas B Taman kanak-Kanak Elim Sragen. Hal ini dilakukan seperti yang telah dikemukakan bahwa penggunaan media lempar dadu huruf dirasa tepat dalam upaya untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan anak tunagrahita kelas B Taman Kana-Kanak Elim Sragen. agar semua dapat berjalan dengan teratur dan lancar sesuai dengan yang diharapkan. kaitannya dengan kemampuan membaca yang masih kurang. (3) pengamatan dan (4) refleksi (reflecting). maka dilakukan serangkaian tindakan guna mengatasi permasalahan tersebut.48 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Membaca merupakan hal yang sangat mendukung anak dalam memperoleh informasi. Kemampuan membaca berpengaruh pada anak dalam mengikuti pembelajaran. sarana maupun prasarana yang diperlukan dalam pelaksanaan penelitian baik siklus I dan II. (2) tindakan (acting). Perencanaan yang terdiri dari: Menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan dalam pelaksanaan tindakan yaitu materi. Terkait dengan perencanaan maka peneliti membuat jadwal pelaksanaan rangkaian (observing). Prosedur penelitian dilaksanakan dua siklus yang masing – masing terdiri empat tahapan (1) perencanaan (planning). karena selama ini belum pernah dicobakan pembelajaran dengan menggunakan media lempar dadu huruf sebagai sarana pembelajaran dalam bentuk permainan yang menarik. .

2. Keterangan Perbaikan dan penggandaan hasil penelitian. 2 II-IV Juli 2010 Melaksanakan pre test. Pelaksanaan tindakan siklus I. Deskripsi Kondisi Awal Pelaksanaan Penelitian Berdasarkan hasil pengamatan /observasi yang dilakukan. keadaan kelas B Taman Kanak-Kanak Elim Sragen.49 penelitian yang akan dilakukan. 3. Pelaksanaan siklus II 1. termasuk . Evaluai 3 4 5 I Agustus 2010 II-IV Agustus 2010 I-IV September 2010 Menyiapkan Instrument pelaksanaan siklus II Melaksanakan pre test. Penulisan laporan hasil penelitian dan pembahasan. yakni 5 anak laki-laki dan 11 perempuan. Siswa di Kelas B Taman Kanak-Kanak Elim terdiri dari 16 siswa. 1 Minggu Ke/Bulan I Juli 2010 Kegiatan Melakukan observasi ke kelas Pembuatan kisi-kisi. lembar pengamatan. Mereka memilik kemampuan yang sangat baik dalam setiap pembelajaran. berikut: Jadwal kegiatan penelitian adalah sebagai Jadwal Kegiatan Penelitian No. 1. Penyelesaian skripsi. A. Penulisan Bab V. item soal.

sehingga sekolah menetapkan Kriteria Ketuntasan Maksimal (KKM) membaca 70. Ada beberapa anak yang memiliki kemampuan membaca yang sangat lancar sehingga anak telah mampu membaca buku-buku di ruang perpustakaan. Dalam hal membaca anak selalu memperoleh nilai jauh di bawah nilai teman-temannya.(Subjek) .3 5 85 80 80 85 30 35 85 90 95 90 90 85 90 85 95 95 √ √ √ √ .2 5 5.5 5 5.7 5. Akan tetapi dari hasil pengamatan/observasi menunjukkan bahwa terdapat dua dari enam belas murid kelas B Taman Kanak-Kanak Elim Sragen yang terdiri dari dua anak laki-laki. Hal ini dapat dilihat dari laporan nilai ulangan yang diperoleh selama semester II di kelas A tahun pelajaran 2009/2010 dalam pembelajaran membaca permulaan. belum dapat membaca khususnya dan sangat tertinggal pada mata pelajaran yang lain umumnya.(Subjek) √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ .4 5.7 5. bahkan membaca surat kabar. sebagai berikut: Tabel I Nilai awal sebelum pelaksanaan siklus I (Nilai Subjek Dibandingkan dengan Nilai Siswa lain) dalam Membaca Permulaan Semester II Kelas A Taman Kanak-Kanak Elim Sragen Tahun Pelajaran 2009/2010 No Kode Jenis kelamin L P P L P P L P p L p L p p L p L Usia Nilai Keterangan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 A AK AR EN F IR JG KN LT LR RW SP TL TA Y YK 5 5. demikian juga dalam kegiatan pembelajaran yang lainnya.50 dalam hal membaca.3 5.2 5.5 5 6 5 5.

Data nilai yang diperoleh kedua anak tersebut dibandingkan dengan nilai yang diperoleh teman-teman sekelasnya dapat kami tampilkan dalam suatu grafik sebagai berikut di bawah ini: Grafik Nilai Membaca Permulaan Sebelum Siklus I (Nilai Subjek dibandingkan dengan Nilai Siswa lain) Keterangan: Subjek adalah no 5 dan 6. dengan menggunakan media lempar dadu huruf. Berdasar kondisi tersebut peneliti ingin berupaya untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan pada kedua anak yang mengalami keterlambatan didalam membaca permulaan tersebut. karena nilai yang diperoleh anak sangat jauh dari kriteria ketuntasan minimal yang ditetapkan di Taman Kanak-Kanak yaitu 70.51 * Keterangan: √ = Mampu = Belum Berdasar hasil prestasi belajar di atas menunjukkan bahwa 2 dari 16 anak atau 12% siswa kelas B Taman Kanak-Kanak Elim belum dapat membaca permulaan. .

maka peneliti melakukan pre test terhadap kemampuan siswa sebagai acuan untuk menentukan keberhasilan dari tindakan yang akan dilakukan selanjutnya. Dengan tujuan materi membaca dapat lebih diminati dan lebih digemari oleh siswa. dalam hal ini penulis menggunakan medialempar dadu huruf. kemudian memperoleh nilai sebagai berikut: Tabel 2 Hasil Perolehan Kemampuan Membaca Awal/ pre Test Kode Nilai Semester I Nilai Pre test N0 Keterangan 1 2 F IR 30 35 27 30 Turun 10% Turun 15% Berdasar keadaan tersebut. Salah satunya dengan mempergunakan media sebagai sarana meningkatkan kemampuan membaca siswa.. Grafik Hasil Perolehan Nilai Kemampuan Membaca Awal/ Pre Test . guru hendaknya berusaha merenovasi model pembelajaran yang telah dilakukan.52 Melihat hal tersebut.

b. (2)Tindakan atau Pelaksanaan . Adapun tahap perencanaan tindakan siklus I adalah sebagai berikut: 1) Menganalisa materi pelajaran Mengkaji materi yang sesuai dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan anak.53 2. (4) Refleksi atau . 7) Menentukan jadwal pelaksanaan tindakan. 4) Menyiapkan media pembelajaran yaitu dadu yang bersimbolkan huruf. Pengamatan . Tindakan (Acting) Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar guru memberikan apersepsi dengan membuka percakapan tentang nama benda di sekitar siswa. Perencanaan (Planning). 12 Juli 2010 di ruang kelas B Taman Kanak-Kanak Elim Sragen dan di lingkungan sekolah. membuat intrumen tes dan lembar tugas siswa. Instrumen tes ini digunakan untuk meneliti kemampuan membaca permulaan pada anak. Kegiatan perencanaan tindakan I dilaksanakan pada hari Senin. 5) Membuat lembar penelitian siswa yaitu berupa tes. Sedangkan rencana pelaksanaan tindakan dilaksanakan siklus I pada hari Jumat. (3) Observasi atau Evaluasi. Pelaksanaan Siklus I Siklus pertama terdiri dari 4 tahap yaitu : (1) Perencanaan . 2) Menentukan dan menyiapkan materi pengenalan huruf kepada anak. 6) Membuat lembar pengamatan. yaitu meja. serta menyiapkan peralatan yang dibutuhkan dalam pembelajaran membaca melalui media lempar dadu huruf. 3) Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran untuk siklus I. 16 Juli 2010. Membuat rencana pembelajaran. a.

dapat diambil kesimpulan bahwa dalam pelaksanaan pembelajaran muncul semangat terhadap minat belajar pada anak tunagrahita di kelas B Taman Kanak-Kanak Elim Sragen. Guru memberikan beberapa soal kepada anak sebagai pre test. menyusun dan membacanya. Selanjutnya anak disuruh menyebutkan huruf-huruf yang ada dalam abjad dan diteruskan lagu “ abcdefg“. melempar dan membaca huruf belum begitu tertib. Walaupun dalam siklus I ini dalm melakukan tugas yakni mengambil. belum terlihat keinginan anak untuk mengetahui atau dapat membaca huruf . mengambil lagi satu dadu pada kotak vokal. kemudian keduanya disusun dan dibaca. Kelompok konsonan berada pada kotak satu atau kelompok satu. kecenderungan bermain tanpa tujuan masih dominan. dengan menggunakan instrument observasi yang disiapkan peneliti. Guru memberi kesempatan kepada siswa mengambil satu dadu . suku kata dan kata. Kelompok vokal berada pada kotak dua atau kelompok dua. 16 Juli 2010 terhadap kegiatan pembelajaran membaca permulaan melalui media lempar dadu huruf dari awal sampai akhir. untuk mengetahui sejauhmana anak menagalami kemajuan setelah pembelajaran berlangsung. melempar. Guru mem beri kesempatan kepada siswa mengambil empat dadu dengan urutan KVKV melempar. Semua nama-nama benda tadi dapat di tulis dengan huruf-huruf yang terdapat dalam abjad. Selanjutnya guru memberi kesempatan kepada siswa mengambil satu dadu pada kotak konsonan. Guru menunjukkan dadu huruf kepada siswa yang berisi simbulsimbul huruf yang ada pada setiap sisinya. yaitu membaca huruf. c. melempar. baju. Pengamatan (Observing) Pelaksanaan observasi pada hari Jumat. Guru menjelaskan dan menyebutkan kelompok vokal atau huruf hidup dan konsonan atau huruf mati kepada siswa.54 buku. melempar dan membacanya. suku kata dan kata. Guru memberikan beberapa soal kepada anak sebagai post test yaitu membaca huruf.

melalui lembar pengamatan. Hasil pengamatan dapat dilihat pada lembar pengamatan seperti di bawah ini: Lembar Pengamatan Kemampuan Membaca Permulaan Anak Tunagrahita Kelas B Taman Kanak-Kanak Elim Sragen No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Aspek yang diamati Frekuensi kesalahan dalam membaca Kesalahan membedakan huruf b dengan d Kesalahan membedakan huruf p dengan q Kesalahan membedakan huruf m dengan n Kesalahan membedakan huruf s dengan z Kesalahan membedakan huruf v dengan u Membaca terlalu lama Tidak Tiduran Tidak mengerjakan tugas Mengganggu teman-teman Berceritera atau berteriak-teriak saat pelajaran berlangsung mengikuti pelajaran sungguh-sungguh √ √ Farel Ya Tidak √ √ √ √ √ √ √ dengan √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Ian Ya Tidak √ √ √ √ √ . Semangat yang timbul adalah semangat hanya untuk bermain. Nilai setelah pelaksanaan siklus I dan grafik nilai perolehan anak pada siklus I. Di bawah ini kami sajikan hasil pengamatan yang penulis lakukan.55 atau tulisan yang muncul.

6% Belum tuntas 2 IR 30 55 83.56 Hasil dari evaluasi membaca pada akhir siklus I menunjukkan adanya peningkatan sebagai berikut: Tabel 3 Nilai setelah pelaksanaan siklus I Nilai Ulangan Membaca Permulaan Anak Tunagrahita Semester I Kelas B Taman Kanak-Kanak Elim Sragen Tahun Pelajaran 2010/2011 No Kode Pre test Post test Kemajuan Keterangan 1 F 27 45 66.3% Belum tuntas Dari nilai yang diperoleh anak setelah pelaksanaan siklus I dapat dibuat grafik sebagai berikut: Grafik Hasil Perolehan Nilai Kemampuan Membaca Setelah Siklus I 606162 .

6% bagi Farel dan 83. maka diperlukan lagi perencanaan pada siklus berikutnya. ada beberapa hal yang penulis sampaikan. Peningkatan prestasi belajar kedua subjek tersebut dibandingkan dengan KKM yang ditetapkan masih jauh dari harapan. ss 70 45 70 x100 = 64% bagi Farel x100 = 79% . Sedangkan rencana pelaksanaan tindakan dilaksanakan siklus II pada hari Selasa. artinya masih di bawah KKM yang . 2) Hasil belajar membaca permulaan kedua subjek tersebut jika dibandingkan dengan KKM yang ditentukan baru mencapai dan Ian baru mencapai telah ditentukan oleh sekolah. Perbaikan pada siklus II mengacu pada kekurangan-kekurangan yang telah disebutkan di atas. 9 Agustus 2010 di ruang kelas B Taman Kanak-Kanak Elim Sragen dan di lingkungan sekolah. atau meningkat 66. Refleksi ( Reflecting) Hasil dari proses pembelajaran dalam siklus I dari perencanaan sampai pada kegiatan evaluasi. yakni: 1) Hasil tindakan pada siklus I telah menunjukkan kenaikan yang berarti.57 d. Frekuensi lemparan. 3. atau belum tuntas.3 % bagi Ian. Pelaksanaan Siklus II Kegiatan perencanaan tindakan II dilaksanakan pada hari Senin. menyusun dan membaca perlu ditingkatkan. 20 Juli 2010. Memfokuskan perhatian anak kepada hasil yang akan dicapai harus lebih ditekankan. 3) Kesimpulan dari siklus I adalah tindakan yang dilaksanakan belum dapat meningkatkan prestasi belajar membaca permulaan terhadap keadaan subjek.

bola. 6) Membuat lembar penelitian siswa yaitu berupa tes. Guru memberikan beberapa soal kepada anak sebagai pre test. 8) Menentukan jadwal pelaksanaan tindakan. Guru menunjukkan dadu huruf kepada siswa yang berisi simbulsimbul huruf yang ada pada setiap sisinya. guru memberikan apersepsi dengan membuka percakapan tentang nama benda di sekitar siswa.mata. Perencanaan Rancangan prosedur penelitian dalam kegiatan perencanaan adalah: 1) Menganalisa kembali hal. yaitu membaca huruf. . Instrumen tes ini digunakan untuk meneliti kemampuan membaca permulaan pada anak. Semua nama-nama benda tadi dapat di tulis dengan huruf-huruf yang terdapat dalam abjad. Kelompok vokal berada pada kotak dua atau kelompok dua. 7) Membuat lembar pengamatan. Kelompok konsonan berada pada kotak satu atau kelompok satu. suku kata dan kata. Selanjutnya anak disuruh menyebutkan huruf-huruf yang ada dalam abjad dan diteruskan lagu “ abcdefg“. sehingga hal-hal yang ingin dicapai dalam upaya meningkatkan kemampuan membaca permulaan pada siswa kelas B Taman Kanak-Kanak Elim tercapai. yaitu kaca. kaki. 4) Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran untuk siklus II 5) Menyiapkan media pembelajaran yaitu dadu yang bersimbolkan huruf. Siklus II terdiri dari : a. Tindakan (Acting) Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar. Guru menjelaskan dan menyebutkan kelompok vokal atau huruf hidup dan konsonan atau huruf mati kepada siswa.58 Siklus II dimaksudkan untuk mengadakan perbaikan pada siklus I. b.hal yang telah dievaluasi pada siklus I 2) Memperbaiki kesalahan/ kekurangan pada siklus I 3) Menentukan dan menyiapkan materi pengenalan huruf kepada anak.

Semangat tersebut dapat terlihat dari keceriaan anak dalam mengikuti pembelajaran. terhadap minat belajar pada anak tunagrahita di kelas B Taman Kanak-Kanak Elim Sragen. menyusun dan membacanya sebanyak lima kali. melempar dan membacanya sebanyak sepuluh kali. yakni kurang penguasaan guru terhadap murid dan pengarahan terhadap tujuan penelitian dan tidak diberikannya reward atau penghargaan pada siklus I. . Pemberian hadiah/ penghargaan pada setiap keberhasilan yang dicapai anak. Setelah diadakan perbaikan dalam penanganan anak atau pengkondusifan kondisi dalam pembelajaran dan pemberian hadiah/ reward pada siklus II ternyata mampu meningkatkan motivasi anak. suku kata dan kata. Guru memberikan beberapa soal kepada anak sebagai post test yaitu membaca huruf. tidak terjadi kejenuhan sampai selesainya kegiatan pembelajaran. mudah diatur dan diarahkan serta semangat yang tinggi muncul pada siklus II. sehingga pada siklus II anak nampak lebih tertib. Pemberian hadiah/ penghargaan pada setiap keberhasilan yang dicapai anak. melempar.59 Guru memberi tugas kepada siswa untuk mengambil dadu huruf. Pemberian hadiah/ penghargaan pada setiap keberhasilan yang dicapai anak. Pengamatan (observing) Hasil observasi terhadap kegiatan pembelajaran membaca permulaan melalui media lempar dadu huruf pada siklus II menunjukkan bahwa dalam pelaksanaan pembelajaran muncul semangat yang lebih besar dibanding dengan siklus I. untuk mengetahui sejauhmana anak menagalami kemajuan setelah pembelajaran berlangsung c. Guru memberi tugas kepada siswa untuk mengambil dua dadu huruf (KV). melempar dan membacanya sebanyak sepuluh kali. Hal ini disebabkan telah diperbaikinya kekurangan-kekurangan yang muncul pada siklus I. Pemberian tugas kepada siswa mengambil empat dadu (KVKV).

60 Di bawah adalah hasil pengamatan yang penulis lakukan. melalui lembar pengamatan. Hasil pengamatan dapat dilihat pada lembar pengamatan seperti di bawah ini: Lembar Pengamatan Kemampuan Membaca Permulaan pada Siklus II Anak Tunagrahita Kelas B Taman Kanak-Kanak Elim Sragen Aspek yang diamati Farel Ian Ya Tidak Ya Tidak √ Frekuensi kesalahan dalam membaca √ √ Kesalahan membedakan huruf b dengan d √ √ Kesalahan membedakan huruf p dengan q √ √ Kesalahan membedakan huruf m dengan n √ √ Kesalahan membedakan huruf s dengan z √ √ Kesalahan membedakan huruf v dengan u √ √ Membaca terlalu lama √ √ Tidak mengikuti pelajaran dengan √ sungguh-sungguh √ Tiduran √ √ Tidak mengerjakan tugas √ √ Mengganggu teman-teman √ Berceritera atau berteriak-teriak √ √ saat pelajaran berlangsung √ No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Hasil dari evaluasi membaca pada akhir siklus II menunjukkan adanya peningkatan sebagai berikut: . Nilai setelah pelaksanaan siklus II dan grafik nilai perolehan anak pada siklus II.

terdapat peningkatan kognitif pada anak yaitu peningkatan kemampuan membaca permulaan anak Farel dan Ian.5% 36.6% Tuntas Tuntas Dari nilai yang diperoleh anak setelah pelaksanaan siklus II dapat dibuat grafik sebagai berikut: d. yakni: Hasil belajar membaca Farel menunjukkan peningkatan dari siklus I yaitu dari nilai 45 menjadi 70. Refleksi Hasil dari proses pembelajaran dalam siklus II dari perencanaan sampai pada kegiatan evaluasi.61 Tabel 4 Nilai setelah pelaksanaan siklus II Nilai Ulangan Membaca Permulaan Anak Tunagrahita Semester I Kelas B Taman Kanak-Kanak Elim Sragen Tahun Pelajaran 2010/2011 No Kode Pre test Post test Kemajuan Keterangan 1 2 F IR 45 55 70 75 55. Farel mengalami kenaikan nilai sebesar 45 70 x100 = 55.5% .

Ian mengalami kenaikan nilai sebesar 55 70 x100 = 36. Anak mampu membaca lebih lancar. mengikuti pembelajaran dengan sungguh-sungguh. Perubahan sikap dalam pembelajaran pada anak Ian.62 pada siklus II. Anak mampu membaca lebih lancar. Hasil belajar membaca Ian menunjukkan peningkatan dari siklus I yait dari nilai 55 menjadi 75. mengikuti pembelajaran dengan sungguhsungguh. Namun masih sering keliru membedakan huruf n dengan m. yang berarti telah berhasil melampaui KKM yang ditetapkan sekola yaitu 70. namun seperti kebiasaan sebelumnya anak Ian suka mengganggu teman-temannya dan suka berteriak-teriak saat mengikuti pelajaran. . yang berarti telah berhasil mencapai KKM yang ditetapkan sekolah. yaitu: Mengalami penurunan frekuensi kesalahan dalam membaca. Hasil Penelitian Berdasarkan tindakan yang dilakukan pada setiap siklus. sudah mampu membedakam huruf b dengan b. v dengan u.mampu membedakan huruf m dengan n.6% pada siklus II. mengerjakan tugas dengan baik. sudah mampu membedakam huruf b dengan b. yaitu: Mengalami penurunan frekuensi kesalahan dalam membaca. 2. Perubahan sikap dalam pembelajaran pada anak Farel. s dengan z. yaitu 70. mengerjakan tugas dengan baik. s dengan z. dapat dihasilkan tindakan antar siklus sebagai berikut: 1. p dengan q. v dengan u. p dengan q. tidak tiduran saat mengikuti pelajaran. tidak tiduran saat mengikuti pelajaran. B.

Siklus I. dapat dilihat dalam grafik di bawah ini: Grafik Perolehan Nilai kemampuan Membaca Pre test.63 Tabel 5 Nilai kemampuan yang dicapai anak No Kode Peningkatan yang dicapai Pre test Siklus I Siklus II 1 2 F IR 27 30 45 55 70 75 Hasil perkembangan/ kemajuan dicapai oleh subjek. Siklus II .

dan sesuai . Peningkatan yang dicapai anak dari awal sampai akhir dapat dilihat dalam tabel di bawah ini: Tabel 6 Nilai Kemampuan membaca yang di peroleh anak selama kegiatan penelitian No 1 2 Kode F IR Kondisi Awal 27 30 Siklus I 45 55 Siklus II 70 75 Rata . melalui media yang sesuai dengan karakter anak pada umumnya yakni bermain. Kesimpulan Setelah dilakukan pembelajaran dengan menggunakan media lempar dadu huruf.5 Dari hasil kegiatan penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa anak mengalami peningkatan kemampuan dalam membaca permulaan.64 3. Pembahasan Kemampuan membaca memiliki peran yang sangat besar dalam kema-juan anak didalam proses belajar khususnya dan pada perkembangan umumnya. Sehingga anak mampu membaca permulaan dengan lebih lancar. C. Kemampuan membaca anak tunagrahita kelas B Taman Kanak-kanak Elim Sragen perlu ditingkatkan semaksimal mungkin. anak mengalami peningkatan dalam kemampuan membaca permulaan pada tiap siklus yang diksanakan.Rata 28. Anak tunagrahita umumnya mengalami keterlambatan atau tertinggal dalam kemampuan membacanya dibanding dengan teman normal yang sebayanya.5 50 72.

Kelemahan-kelemahan media bermain lempar dadu huruf diantaranya adalah: a.ran membaca yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan membaca permu-laan pada anak. Media bermain lempar dadu huruf sangat menarik dalam pembelajaran. Contoh: 1) lemparan pertama konsonan yang muncul adalah b . karena anak harus melempar terlebih dahulu sebuah dadu kemudian memperhatikan untuk dibaca. kadang-kadang vokal yang muncul setelah digabung dengan konsonan tidak membentuk kata yang memiliki arti. Menyita banyak waktu Untuk membaca satu huruf memerlukan banyak waktu. Media bermain lempar dadu huruf dalam penelitian ini penulis gunakan sebagai sarana dalam pembelaja. Keyakinan peneliti akan adanya kemajuan dalam setiap usaha. b.65 dengan karakter anak tunagrahita khususnya yakni belajar dengan hal-hal yang kongkrit agar mu-dah dimengerti anak. disusun kemudian dibaca. Untuk membaca suku kata memerlukan waktu yang agak lama karena harus melempar dua atau tiga huruf kemudian disusun dan dibaca. Media bermain lempar dadu huruf adalah bentuk permainan yang dapat digunakan sebagai sarana pembelajaran anak dalam berbagai hal. 1. lalu mengambil dadu pada kelompok konsonan dan dilemparkan. Kadang-kadang huruf yang muncul tidak membentuk kata yang punya arti. Misalnya anak mengambil dadu pada kelompok vokal dan dilemparkan. mendorong peneliti untuk mencobakan media yang menarik minat anak dalam belajar membaca yakni media bermain lempar dadu huruf. warna dan lain sebagainya. Untuk membaca suku kata anak harus mengambil empat dadu (KVKV). diliempar. pengenalan bentuk. misalnya berhitung. sehimgga mampu membangkitkan motivasi bagi anak serta mendorong anak agar belajar lebih giat lagi. walaupun memiliki kelemahan.

Cara mengatasi kelemahan-kelemahan dalam pembelajaran melalui media bermain lempar dadu huruf adalah: a. Kelebihan dari pembelajaran membaca permulaan lewat bermain lempar dadu huruf ini adalah : a. Untuk menyingkat waktu. diadakan kerjasama dengan teman atau guru dalam menyusun urutan lemparan. Lakukan dengan menyusun satu atau dua kata kemudian dibaca. teruskan saja anak membaca kemudian diberi pujian saat dia sudah berusaha melempar dan membaca. Saat anak memilih . c. anak merasa bersemangat dan kepercayaan dirinya tumbuh. Dadu harus dipersiapkan dalam jumlah yang banyak. Tidak mengantuk dan bosan karena anak beraktifitas dengan aktif. b. Jangan menyusun terlalu banyak kata sekaligus yang memerlukan terlalu banyak dadu. Pemberian kesempatan kepada anak untuk menentukan pilihan merupakan hal yang menyenangkan bagi anak. tidak hanya sebanyak jumlah huruf dalam satu abjad akan tetapi lebih dari itu. agar kata-kata yang dapat disusun oleh anak dalam jumlah yang banyak dan bervariasi. melempar.66 2) lemparan kedua vokal yang muncul adalah i 3) lemparan ketiga konsonan yang muncul adalah m 4) lemparan keempat vokal yang muncul adalah u Kata yang muncul setela dadu disusun adalah b i m u c. Memerlukan banyak sekali dadu. menyusun dan membacanya. jadi anak yang melempar tidak harus bolak-balik menyusun huruf yang dilemparnya. Anak memilih sendiri dadu huruf yang dilemparnya sehingga anak bersemangat. 1. Beri penjelasan kalau kata tersebut tidak memiliki arti. 2. akan tetapi anak telah bagus dalam melaksanakan tugasnya. b. sehingga anak aktif. Jika anak menghasilkan lemparan yang setelah disusun ternyata kata tersebut tidak memiliki arti. Anak diberi kesempatan untuk mengambil/memilih.

Anak yang belum dapat menyusun huruf menjadi kata akan berusaha mencoba lagi sehingga mereka memiliki keinginan untuk mencoba dan mencoba lagi. c. Anak ingin segera membaca dari hasil lemparan yang telah disusun tadi dengan mengaktifitaskan aspek kognitifnya. saat anak melempar ada aktifitas dalam motorik kasarnya. motorik halusnya juga bekerja. Media bermain lempar dadu huruf sangat membantu anak dalam pembelajaran. Anak tertarik untuk mengetahui huruf apa yang keluar dan kata apa yang muncul dari setiap lemparan yang dibuatnya sendiri. . Setelah melempar anak dengan senangnya cepat-cepat ingin mengetahui apa isi/ bacaan dari lemparan yang akan disusunnya. Anak akan merasa bangga jika huruf yang dilemparnya dapat membentuk suatu kata yang memiliki arti. Saat menyusun aktifitas dalam kognitifnya bekerja. termasuk dalam meningkatkan kemampuan membaca anak.67 ada aktifitas dalam segi kognitif dan motorik halus. sehingga tercapai tujuan pembelajaran. Untuk itu perlu dipergunakan sebagai media pembelajaran sehari-hari guna membantu anak dalam meningkatkan minat belajarnya.

B. Hasil penelitian ini hendaknya dipergunakan sebagai sarana pembelajaran yang menarik dan mampu memotivasi semangat belajar sehingga dapat tercapai perkembangan yang optimal. Bagi Siswa a. b. maka diajukan saran sebagai berikut: 1. bahwa pembelajaran dengan media bermain lempar dadu huruf Sragen tahun pelajaran 2010/2011. Kesimpulan Hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut. 2. Guru-guru hendaknya kreatif menggunakan media lempar dadu huruf sebagai sarana yang bervariasi dalam pembelajaran agar mampu membangkitkan minat belajar pada anak. Bagi Guru a. Berkreatifitas untuk menggunakan sesuatu yang ada di sekitarmu bagi peningkatan kemampuan yang kalian miliki. karena media tersebut ternyata efektif digunakan sebagai sarana untuk meningkatakan kemampuan membaca permulaan pada anak. Guru Taman Kanak-Kanak Elim hendaknya menerapkan pembelajaran dengan menggunakan media bermain lempar dadu huruf pada pelajaran membaca permulaan. sehingga pertumbuhan dan perkembangan anak berjalan dengan maksimal dapat meningkatkan kemampuan membaca permulaan pada anak tunagrahita kelas B Taman Kanak-kanak Elim . Saran Sehubungan dengan kesimpulan penelitian di atas.68 BAB V SIMPULAN DAN SARAN A. b.

com/pengertiandefinisi-tes-dalam-psikologi. Jakarta. http://Mbahbrataedu. Psikologi Perkembangan Anak I. Graha Mulyono Abdurrahman. Hj. Indonesia Metode Penelitian Ilmu .html Fu’adz Al-gharuty. 2006.psikologzone. Pengembangan . http://www.com/2009/10/pengertian- Mbahbrata. Membaca permulaan dan permainan bahasa. http://guruit07. 2009.wordpress. Jakarta : PT Raja Gravindo Persada Astati. Munawir Yusuf. .. Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Perguruan Tinggi. PengertianMembaca. Pendidikan bagi anak berkesulitan belajar. 2005. http://adzeglar.html http://mathedu-unila.com/2009/02/02/studidokumen-dalam-penelitian-kualitatif. Pengertian Tes. Direktorat Pendidikan Luar Biasa. 2009. http://r. FKIP Surakarta.ilmu Sosial.com/2009/06/membaca-permulaan-permainan-bahasa.wordpress.blogspot. dan Pemanfaatan ) .com/blog/entry. 2007. Chasiyah.com/2009/01/pengertian-membaca.yuwie. 2004. Media Pendidikan ( Pengertian . Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi. 2009. Pendidikan bagi Anak dengan Problema Belajar.69 DAFTAR PUSTAKA Anggie Siti Sa’adah. 2009. dkk.com/2010/05/02/tunagrahita/ Dounloud 21 Juni 2010 Baitul Alim. 2007. 2003. Departemen Pendidikan Nasional. membaca. Pengertian Anak Tunagrahita. Karakteristik Anak Tunagrahita http://saunganggie. Duonloud 10 juni 2010. 2009. Defli.html. 2009. Muhammad Idrus.com/2009/07/karakteristik-anaktunagrahita. Dounloud 21 juni 2010 Arif Sadiman S. Rineka cipta.2010.blogspot. Mengenal Pendidikan Terpadu. Dounload 12 April 2010. http://astati. indonesia/article/view/272/0 Mathedu.blogspot. 2003.asp?id=932768 & eid=602755 Devid Haryalesmana.blogspot. Tunagrahita. Jakarta.

Wijaya Kusumah. Penilaian Sertifikasi Guru Rayon 13. Penerapan Metode Pembelajaran Membaca Permulaan. Jakarta.2009. Metodologi Research Jilid 1. Sarwiji Suwandi. Proyek Pendidikan Tenaga Akademik. Jakarta. Direktorat Jedral Pendidikan Tinggi.um. Dounloud 17 juni 2010. http://media-grafika.com/2008/12/02 penerapan-metode pembelajaran permulaan. 2008. Difinisi media http://mataharieducare. Dounload 12 April 2010. Sutjihati Somantri. PL 2010. 1996. 2 dan 3 Yogyakarta: Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi UGM. Pendit. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta.html. 1993. 2008.com/pengertian-mediapembelajaran. Makalah Simposium dan Temu Ilmiah Nasional.ac. Belajar dan Faktor – Faktor yang Mempengarui. 2008. 2009. WJS 1984. Mengelola Kurikulum pada Pendidikan Inklusi. Tarmizi.id/index. 2007. Psikologi Anak Luar Biasa.com/ Dounload 2010 Mei 12. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi. http://tarmizi. Wikipedia.wordpress. Jakarta : Rineka Cipta Sunardi.Jakarta : Bumi Aksara. Suharsimi Arikunto.70 Oemar Hamalik. Balai Pustaka. http://karya-ilmiah. Seva Andini Kusnawanto. Jakarta : Dirjen Dikti Depdiknas.php/sastraIndonesia/article/view/272/0 Slameto. perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem. Kamus Umum Bahasa Indonesia. _______________ Kecenderungan dalam Pendidikan Luar Biasa. . 2007. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek ( Edisi Revisi IV ). Jenis Data Dan Metode Pengumpulan Data . Sutrisno Hadi. 2005. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dan penulisan Karya Ilmiah. 2005. Surakarta. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.wordpress. Proyek Pendidikan Tenaga Guru. Jakarta Bumi Aksara Purwodarminto. 2000.

2007. http://media-grafika.html. .com/pengertian-mediapembelajaran. Wijaya Kusumah.com/2008/12/02 permulaan. Dounload 12 April 2010. pembelajaran Wikipedia.com/ Dounload 2010 Mei 12.71 Metode Pembelajaran http://tarmizi. Membaca penerapan-metode Permulaan.wordpress. Difinisi media http://mataharieducare.2009. Dounloud 17 juni 2010.wordpress.

72 LAMPIRAN .

Nama anak 2. Berat badan 7.73 DATA ANAK A. Sekolah B. Agama 5. Jenis Kelamin 3. Tinggi badan 6. Tempat/tgl lahir 4. Jenis Kelamin 3. Tinggi badan 6. Tempat/tgl lahir 4. Kelas 8. 1. 6 Juli 2005 : Kristen : 119 Cm : 18 Kg :B : Taman Kanak-Kanak Elim. Sekolah : Ian Rudyanto : Laki-laki : Sragen. Agama 5. Kelas 8. Sragen 2. 1. Sragen . Berat badan 7. 17 September 2005 : Kristen : 123 Cm : 20 Kg :B : Taman Kanak-Kanak Elim. Nama anak : Farel : Laki-laki : Sragen.

Penulisan laporan hasil penelitian dan pembahasan. Pelaksanaan tindakan siklus I.74 Lampiran 1 Jadwal Kegiatan Penelitian No. item soal. . Penyelesaian skripsi. 1 Minggu Ke/Bulan I Juli 2010 Kegiatan Melakukan observasi ke kelas Pembuatan kisi-kisi. Pelaksanaan siklus II 5 I-IV September 2010 4. Evaluai 3 I Agustus 2010 Menyiapkan Instrument pelaksanaan siklus II 4 II-IV Agustus 2010 Melaksanakan pre test. Perbaikan dan penggandaan hasil penelitian. Keterangan 2 II-IV Juli 2010 Melaksanakan pre test. 5. Penulisan Bab V. 6. lembar pengamatan.

Dapat menulis kata sederhana 10 9 8 7 3-4 5-6 N0 Item 1-2 . Dapat menempel suku kata yang kurang pada tengah kata dengan bantuan gambar 6.3 Menulis kata sederhana dengan benar Jumlah 10 7. Dapat menyebut kata dibantu gambar 1. Dapat menempel suku kata yang kurang pada awal kata dengan bantuan gambar 5. Pembentukan Perilaku melalui Pembiasaan Kompetensi Dasar 1. Dapat menempel kata sesuai gambar 2. Dapat menempel suku kata yang kurang di belakang kata dengan bantuan gambar 1.2 Membaca Mengungkapkan isi syair 4.75 Lampiran 2 Kisi – kisi instrumen N0 Standar Kompetensi 1.1 Mendengarkan Bacaan/ syair bernafaskan agama Indikator 1. Dapat menempel gambar sesuai kata 3.

76 Cara Penilaian Jawaban benar nilainya Jawaban salah nilainya Nilai akhir = Skor 1 =1 =0 = 10 Skor total jika benar semua nilainya .

Mawar a....... ........ Jeruk c... Nanas b.. c.. b.. a.....77 Lampiran 3 SOAL TRY OUT Nama : Kelas : Test tertulis I.. .... . Nanas a. c pada jawaban yang benar ! 1.. Pisang 2...... ..... Berilah tanda silang ( X ) huruf a.. Pisang 3. b.. b..... Jeruk c.

.... ............ 7. ra b.. 5...... c..... ru .78 4....... mah . ......................... Lengkapilah a.. ... Gambar apakah ini.... . 6........... Gajah b..... ri c.... a. Gambar apakah ini....

.. a. Elim Sragen Sragen. ruk c. . Sri Mulyati . a. rik b.... lo Te.79 8 .....nga 9.... Mengetahui Ka TK. .. rak * Tulislah nama gambar di bawah ini 10..... 14 Juli 2010 Guru kelas B. li c...... .. la b. je . . TK Elim Sragen Dobirson S..

Indikator : : 1. Taman Kanak-Kanak / I : 1 : 1 x 30 menit A. Mengelompokkan kata-kata yang sejenis 6. Kompetensi Dasar 1.12 Mengelompokkan kata-kata yang sejenis C.14 Bercerita Menyebutkan nama tokoh dalam cerita 1.80 Lampiran 4 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ( RPP ) SIKLUS I Pengembangan Tema Kelas / Semester Pertemuan Alokasi Waktu : Bahasa Indonesia : Tanaman : B. Menghubungkan tulisan dengan gambar 5. Pembentukan perilaku melalui pembiasaan B. Menyebutkan nama tokoh dalam cerita 2. Standar Kompetensi : 1. Membaca sederhana 4.16 Menghubungkan tulisan dengan gambar 1. Menyusun huruf menjadi kata . Menceritakan gambar tanaman 3.

Anak dapat menghubungkan tulisan dengan gambar secara tepat. Nanas. Anak dapat membaca peristiwa dalam cerita melalui tulisan yang ada dalam Gambar. 2. Pisang. Mangga dan masih banyak lagi buah yang lainnya. Anak dapat menceritakan kembali cerita dari gambar seri dengan bahasanya sendiri.81 D. 3. 5. sepeda motor. E. Anak dapat membaca nama tokoh-tokoh dalam cerita. Ia menanam buah-buahan Jeruk. Anak dapat menyusun huruf menjadi kata. ia sangat rajin. 4. 6. 7. Anak dapat mengelompokkan kata-kata yang sejenis. Materi Pelajaran * Tanaman Pak Sardi finggal di desa. Pak Sardi pergi kota naik kuda. Pak Sardi menjual hasil kebunnya ke kota. mobil dan . Di kota terdapat banyak kendaraan ada becak. Anak dapat menyebutkan tokoh-tokoh dalam cerita. Tujuan Pembelajaran : 1.

2. 1.82 Kendaraan yang lain-lainnya. demonstrasi dengan gambar dan dadu. Metode Pembelajaran 1. Anak diajak duduk dalam suasana belajar . Pemberian tugas. Langkah – langkah Kegiatan Pembelajaran. f. Kegiatan Inti. Sepeda motor Mobil 4. Tanya jawab. 3. Anak mendengarkan guru tentang cerita dari gambar b. Anak menyusun huruf menjadi kata dengan menggunakan dadu huruf . berdoa dan presensi b. Kegiatan awal a. Becal F. Anak menyebutkan nama tokoh yang ada dalam cerita c. a. Ceramah. Anak membaca tulisan yang ditunjukkan guru e. Anak mengerjakan tugas menghubungkan gambar dengan tulisan yang sesuai. Anak menceritakan kembali dengan bahasanya sendiri d. G. Apersepsi 2.

Guru menilai hasil pekerjaan siswa dan menyimpulkannya. Guru memberi pekerjaan untuk dikerjakan dirumah d. Dadu huruf : Kreasi guru : Buku PAUD. menempel kata sesuai dengan gambar. Siswa diberi tugas guru untuk dikerjakan c. Penerbit Makmur Jaya Seri 5. Sumber Bahan : Kartu bergambar. Kegiatan Akhir a. Guru menyimpulkan materi yang telah disajikan b. Penilaian / Evaluasi 1. menyusun dan membaca Kreteria Penilaian Kenerja. Test perbuatan dan lesan : a. H. Test Lisan : dilaksanakan pada proses pembelajaran berlangsung. Menempel suku kata yang kurang sesuai gambar d. Melempar dadu huruf. 2. Alat dan Sumber Bahan 1. Alat / media Pelajaran 2. I. halaman 5-6. menempel gambar sesuai kata yang tertulis. Mampu melakukan sendiri dengan baik dan benar diberi sekor 4 Mampu melakukan dengan sedikit bantuan diberi sekor Mampu melakukan dengan banyak bantuan diberi sekor Belum mampu melakukan diberi skor 3 2 1 .83 3. b. c.

. Menempel suku kata yang kurang sesuai gambar Menyusun huruf dengan lemparan dadu dan membacanya. 2 3 4 Aspek yang dinilai Menempel kata sesuai gambar yang tertulis Menempel gambar sesuai dengan kata.84 Skor perolehan 4 3 2 1 N0 1. 16 x 10 = = NA = -------------- ... Jumlah Skor maksimum 4 4 4 4 16 Jumlah skor yang diperoleh x 10 Nilai Akhir = Skor maksimum = .

.. ...... Jeruk c.. b. .. . Test tertulis I. .. Mawar a. Nanas 3..... c.... Nanas 2. a. Pisang b. b..85 J.......... Berilah tanda silang ( X ) huruf a. a............ Jeruk c... Pisang b. c pada jawaban yang benar ! 1...

.. 5....... ri c.......86 4...... c........... mah b..... 7.... ra ................... ... ....... Lengkapilah a. .. Gambar apakah ini.. Gajah a... ru . 6............ b... Gambar apakah ini.. ..

a.. rik b. la b. TK Elim Sragen Dobirson S. .. Sri Mulyati ..... Elim Sragen Sragen.. li c. Mengetahui Ka TK... ruk c...nga 9..... . rak * Tulislah nama gambar di bawah ini 10.. a... lo Te.. . . je ....87 8 ... 16 Juli 2010 Guru kelas B.

16 Juli 2010 Pengamat / Teman Sejawat ( SRI MULYATI ) ( IRA MUTIARANI ) .88 Lampiran 5 Lembar Pengamatan Aktivitas dan Kemampuan Membaca Permulaan Siklus I N o 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Frekuensi kesalahan dalam membaca Kesalahan membedakan huruf b dengan d Kesalahan membedakan huruf p dengan q Kesalahan membedakan huruf m dengan n Kesalahan membedakan huruf s dengan z Kesalahan membedakan huruf v dengan u Membaca terlalu lama Tidak Tiduran Tidak mengerjakan tugas Mengganggu teman-teman Berceritera atau berteriak-teriak saat pelajaran berlangsung mengikuti pelajaran sungguh-sungguh √ √ Aspek yang diamati Farel Ya Tidak √ √ √ √ √ √ √ dengan √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Ian Ya Tidak √ √ √ Guru / Peneliti Sragen.

Menyiapkan ruangan. isyarat.5. 2.2. Menjawab pertanyaan dari respon siswa 3.4. Melaksanakan kegiatan pembelajaran secara individual. memicu dan memelihara ketertiban siswa 3.1.89 Lampiran 6 Lembar Pengamatan Kegiatan Guru dalam Pembelajaran Siklus I N0 1. Menggunakan ekspresi lisan. dan Gerakan badan 3.4.2. Melaksanakan tugas harian kelas 2. kelompok atau efiensi. alat bantu dan sumber belajar 1.1 Melaksanakan jenis kegiatan yang sesuai dengan Tujuan.3.2. Aspek yang dinilai Mengelola ruang dan fasilitas pembelajaran 1. Melaksanakan kegiatan pembelajaran 2. terkait dengan isi pembelajaran 3. Mengelola pembelajaran waktu secara klasikal 3.Menggunakan alat Bantu ( media ) pembelajaran yang sesuai dengan tujuan. Memantapkan penguasaan materi v v v v v v v v v Ya v v Tdk . situasi dan sesuai lingkungan 2. Memberikan petunjuk dan penjelasan yang b.3. situasi dan sesuai lingkungan 2. Mengelola interaksi kelas a. tulisan .

Menunjukkan sikap ramah.1. Membantu siswa menumbuhkan kepercayaan diri Melaksanakan evaluasi proses hasil belajar 5.2.90 4.4. penuh pengertian dan sabar terhadap siswa. 4. terbuka.5. Membantu siswa menyadari kelebihan dan kekurangannya 4. 16 Juli 2010 Pengamat / Teman Sejawat ( SRI MULYATI ) ( IRA MUTIARANI ) .1. Mengembangkan hubungan antara pribadi yang sehat dan serasi 4.3.2. Melaksanakan penilaian selama pembelajaran 5. Menunjukkan kegairahan mengajar 4. v v Guru / Peneliti Sragen. hangat luwes. Melaksanakan penilaian pada pembelajaran proses akhir v v v v v 5. Bersikap terbuka dan luwes serta membantu mengembangkan sikap positip siswa terhadap merespon materi 4.

14 Bercerita Menyebutkan nama tokoh dalam cerita 1. Indikator : : 1. Menghubungkan tulisan dengan gambar 5. Taman Kanak-Kanak / I : 1 : 1 x 30 menit A. Mengelompokkan kata-kata yang sejenis 6. Menyusun huruf menjadi kata . Menceritakan gambar tanaman 3. Membaca sederhana 4. Pembentukan perilaku melalui pembiasaan B. Menyebutkan nama tokoh dalam cerita 2.12 Mengelompokkan kata-kata yang sejenis C.91 Lampiran 7 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ( RPP ) SIKLUS II Pengembangan Tema Kelas / Semester Pertemuan Alokasi Waktu : Bahasa Indonesia : Tanaman : B. Kompetensi Dasar 1.16 Menghubungkan tulisan dengan gambar 1. Standar Kompetensi : 1.

Mangga dan masih banyak lagi buah yang lainnya. Anak dapat menyusun huruf menjadi kata. 7. ia sangat rajin. Anak dapat menceritakan kembali cerita dari gambar seri dengan bahasanya sendiri. 3. E. Pak Sardi menjual hasil kebunnya ke kota. 4. Ia menanam buah-buahan Jeruk. Materi Pelajaran * Tanaman Pak Sardi finggal di desa. Anak dapat menyebutkan tokoh-tokoh dalam cerita. Nanas. 5. . Anak dapat menghubungkan tulisan dengan gambar secara tepat. 6. Tujuan Pembelajaran : 1. 2. Pisang. Anak dapat mengelompokkan kata-kata yang sejenis. Anak dapat membaca peristiwa dalam cerita melalui tulisan yang ada dalam Gambar.92 D. Anak dapat membaca nama tokoh-tokoh dalam cerita. Pak Sardi pergi kota naik kuda.

Pemberian tugas. Kegiatan awal a. Anak menceritakan kembali dengan bahasanya sendiri d. Anak menyusun huruf menjadi kata dengan menggunakan dadu huruf . Langkah – langkah Kegiatan Pembelajaran. Becak F. 3. 1. Apersepsi 2. mobil dan Kendaraan yang lain-lainnya. berdoa dan presensi b. Metode Pembelajaran 1. Anak diajak duduk dalam suasana belajar . Anak mengerjakan tugas menghubungkan gambar dengan tulisan yang sesuai. Sepeda motor Mobil 4. Tanya jawab. demonstrasi dengan gambar dan dadu.93 Di kota terdapat banyak kendaraan ada becak. Anak membaca tulisan yang ditunjukkan guru e. sepeda motor. Ceramah. a. f. Anak menyebutkan nama tokoh yang ada dalam cerita c. Anak mendengarkan guru tentang cerita dari gambar b. 2. G. Kegiatan Inti.

Menempel suku kata yang kurang sesuai gambar d. Penilaian / Evaluasi 1. Alat dan Sumber Bahan 1. b. Alat / media Pelajaran 2. halaman 5-6. I. Penerbit Makmur Jaya Seri 5. Guru menilai hasil pekerjaan siswa dan menyimpulkannya. H. menempel gambar sesuai kata yang tertulis. Siswa diberi tugas guru untuk dikerjakan c. Melempar dadu huruf. Guru memberi pekerjaan untuk dikerjakan dirumah d. Sumber Bahan : Kartu bergambar. Test perbuatan dan lesan : a. menyusun dan membaca Kreteria Penilaian Kenerja. Guru menyimpulkan materi yang telah disajikan b. Dadu huruf : Kreasi guru : Buku PAUD. 2. menempel kata sesuai dengan gambar. Test Lisan : dilaksanakan pada proses pembelajaran berlangsung.94 3. c. Mampu melakukan sendiri dengan baik dan benar diberi sekor 4 Mampu melakukan dengan sedikit bantuan diberi sekor Mampu melakukan dengan banyak bantuan diberi sekor Belum mampu melakukan diberi skor 3 2 1 . Kegiatan Akhir a.

2 3 4 Aspek yang dinilai Menempel kata sesuai gambar yang tertulis Menempel gambar sesuai dengan kata.. Jumlah Skor maksimum 4 4 4 4 16 Jumlah skor yang diperoleh x 10 Nilai Akhir = Skor maksimum = .95 Skor perolehan 4 3 2 1 N0 1.. 16 x 10 = = NA = -------------- . Menempel suku kata yang kurang sesuai gambar Menyusun huruf dengan lemparan dadu dan membacanya..

. c pada jawaban yang benar ! 1. Pisang b.96 J. Berilah tanda silang ( X ) huruf a.. a. Nanas 2....... b. ...... Pisang b. Jeruk c.... ..... a.. Jeruk c.. b.... ...... Test tertulis I..... c..... ... Nanas 3. Mawar a...

Gambar apakah ini....... Lengkapilah a. b.. ra . ........... Gajah a......... ru ....... 6...... Gambar apakah ini.... 5........ .... ................. . c. mah b.97 4............ ri c. 7......

98 8 .. TK Elim Sragen Dobirson S.nga 9... rak * Tulislah nama gambar di bawah ini 10.... ....... la b. b... . a. rik je . Sri Mulyati ... li c. ruk c. 9 Agustus 2010 Guru kelas B... .. Mengetahui Ka TK.... lo Te. ... Elim Sragen Sragen. a.

9 Agustus 2010 Pengamat / Teman Sejawat ( SRI MULYATI ) ( IRA MUTIARANI) .99 Lampiran 8 Lembar Pengamatan Aktivitas dan Kemampuan Membaca Permulaan Siklus II No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Aspek yang diamati Frekuensi kesalahan dalam membaca Kesalahan membedakan huruf b dengan d Kesalahan membedakan huruf p dengan q Kesalahan membedakan huruf m dengan n Kesalahan membedakan huruf s dengan z Kesalahan membedakan huruf v dengan u Membaca terlalu lama Tidak Tiduran Tidak mengerjakan tugas Mengganggu teman-teman Berceritera atau berteriak-teriak saat pelajaran berlangsung √ mengikuti pelajaran dengan sungguh-sungguh √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Farel Ya Tidak √ √ √ Ian Tidak √ √ √ √ √ √ √ √ Ya Guru / Peneliti Sragen.

4.5. situasi dan sesuai lingkungan 2.1. Menggunakan alat Bantu ( media ) pembelajaran yang sesuai dengan tujuan.3.5. Mengembangkan hubungan antara pribadi yang sehat dan serasi 4. hangat luwes.1.1. Menunjukkan kegairahan mengajar 4. Melaksanakan penilaian selama proses pembelajaran 5. dan Gerakan badan 3.1. Membantu siswa menyadari kelebihan dan kekurangannya 4. Membantu siswa menumbuhkan kepercayaan diri 5. alat bantu dan sumber belajar v 1. Memantapkan penguasaan materi Bersikap terbuka dan luwes serta membantu mengembangkan sikap positip siswa terhadap merespon materi 4.1 Melaksanakan jenis kegiatan yang sesuai dengan Tujuan. 3. situasi dan sesuai lingkungan 2.2. terbuka. Menggunakan ekspresi lisan.2. kelompok atau efiensi. .100 Lampiran 9 LEMBAR OBSERVASI KEGIATAN GURU DALAM PEMBELAJARAN SIKLUS II Aspek yang dinilai Ya Mengelola ruang dan fasilitas pembelajaran 1.2. Tdk 2.4. memicu dan memelihara ketertiban siswa 3. Melaksanakan penilaian pada akhir pembelajaran v v v v v v v v v v v v v v v v N0 1. Melaksanakan tugas harian kelas v Melaksanakan kegiatan pembelajaran 2. Melaksanakan kegiatan pembelajaran secara individual.3.2.3. Menyiapkan ruangan. 4. 2. Menunjukkan sikap ramah. Menjawab pertanyaan dari respon siswa 3.4. Melaksanakan evaluasi proses hasil belajar 5.2. Memberikan petunjuk dan penjelasan yang terkait dengan isi pembelajaran 3. Mengelola pembelajaran waktu secara klasikal Mengelola interaksi kelas 3. tulisan . isyarat. penuh pengertian dan sabar terhadap siswa.4.

101 Pengamat/Teman Sejawat ( SRI MULYATI ) ( IRA MUTIARANI ) Kegiatan Pembelajaran dengan Media Lempar Dadu Huruf .

102 .

103 .

104 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->