1

SKRIPSI PENELITIAN TINDAKAN KELAS UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA PERMULAAN MELALUI MEDIA BERMAIN LEMPAR DADU HURUF PADA ANAK TUNAGRAHITA KELAS B SEMESTER I DI TAMAN KANAK-KANAK ELIM SRAGEN TAHUN PELAJARAN 2010/2011

Disusun Oleh : SRI MULYATI NIM X 5108526

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KHUSUS FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2010

2

UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA PERMULAAN MELALUI MEDIA BERMAIN LEMPAR DADU HURUF PADA ANAK TUNAGRAHITA KELAS B SEMESTER I DI TAMAN KANAK-KANAK ELIM SRAGEN TAHUN PELAJARAN 2010/2011

OLEH: SRI MULYATI NIM: X5108526

SKRIPSI

Ditulis dan diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan Mendapat gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Khusus Jurusan Ilmu Pendidikan

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KHUSUS FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2010 ii

3

PERSETUJUAN

Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahan dihadapan tim penguji skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta

Persetujuan pembimbing,

Pembimbing I

Pembimbing II

Drs. A.Salim Choiri, M.Kes NIP. 195709011982031002

Drs. Subagya,M.Si NIP.19601001012

iii

4

PENGESAHAN Skripsi ini telah dipertahankan dihadapan Tim Penguji Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta dan diterima untuk memenuhi peryaratan mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan. Pada hari Tanggal : Rabu : 13 Oktober 2010

Tim Penguji Skripsi Ketua Sekretaris Anggota I Anggota II : Drs. Maryadi, M.Ag : Dra.B. Sunarti, M.Pd : Drs. Abdul Salim, M.Kes : Drs. Subagya, M.Si

Tanda tangan ............................................ ............................................ ............................................ ............................................

Disyahkan oleh Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Dekan,

Prof.Dr. M. Furgon Hidayatullah, M.Pd NIP.19600727 1987021001

iv

5

ABSTRAK Sri Mulyati, UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA PERMULAAN MELALUI MEDIA BERMAIN LEMPAR DADU HURUF PADA ANAK TUNAGRAHITA KELAS B SEMESTER I DI TAMAN KANAK-KANAK ELIM SRAGEN TAHUN PELAJARAN 2010/2011 Skripsi, Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret, September 2010. Penelitian ini bertujuan untuk untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan pada anak yang mengalami keterlambatan berpikir/ tunagrahita pada kelas B Taman Kanak-Kanak Elim tahun pelajaran 2010/2011. Metode penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yaitu penelitian yang dilakukan oleh guru di kelas tempat mengajar, dengan menggunakan media bermain lempar dadu huruf yang mampu meningkatkan kegairahan dalam mengikuti pembelajaran membaca, mampu memotivasi anak sehingga anak tidak merasa jenuh dalam belajar. Teknik analisis data digunakan analisis perbandingan, artinya hasil prestasi kemampuan membaca anak dibandingkan, kemudian dideskripsikan ke dalam suatu bentuk data penilaian yang berupa nilai. Dari prosentase dideskripsikan kearah kecenderungan tindakan guru dan reaksi serta hasil belajar siswa. Penelitian tindakan kelas yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa Pembelajaran dengan mengggunakan media bermain lempar dadu huruf dapat meningkatkan kemampuan anak dalam membaca permulaan, pada Anak Tunagrahita Kelas B semester I di Taman Kanak-Kanak Elim tahun pelajaran 2010/2011. . Kata kunci : Anak Tunagrahita, pembelajaran membaca, media lempar dadu huruf, meningkatkan kemampuan membaca permulaan.

v

6

ABSTRACT Sri Mulyati, THE ATTEMPT OF IMPROVING THE BEGINNING READING COMPETENCY USING LETTER DICE THROWING GAME MEDIA IN THE MENTAL RETARDED B GRADERS OF SEMESTER I IN SRAGEN ELIM KINDERGARTEN IN THE SCHOOL YEAR OF 2010/2011. Thesis, Surakarta: Teacher Training and Education Faculty, Sebelas Maret University, September 2010. This research aims to improve the beginning reading competency using letter dice throwing game media in the mental retarded B graders of semester I in Sragen Elim Kindergarten in the school year 2010/2011. The research method used was Classroom Action Research (CAR), the one conducted by the teacher in my class, using the letter dice throwing game media that can improve excitement in following the reading learning, can motivate children so that the children are not bored in learning. Technique of the analyzing data used was comparative analysis, meaning that the children’s reading competency achievement were compared, and then were described into a form of assessment data namely score. From the percentage described into teacher’s action predisposition and students’ reaction as well as learning achievement. From the classroom action research conducted, it can be concluded that learning using the letter dice throwing game media, it can improve the children’s competency in the beginning reading, for the mental retarded B graders of semester I in Sragen Elim Kindergarten in the school year of 2010/2011. Key word : Mental retarded, reading learning, letter dice throwing game media, improve the competency in the beginning reading.

vi

Isa almasih. perbuatlah juga demikian kepada mereka”. Kitab Injil Lukas.7 MOTTO: “Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang berbuat kepadamu. vii .

8 HALAMAN PERSEMBAHAN Keluargaku tercinta Ayah dan Ibunda yang aku banggakan Saudara-saudaraku yang telah mendukungku Rekan-rekan di Taman Kanak-Kanak Elim yang memotivasiku FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta yang tercinta viii .

Si selaku pembimbing II yang telah memberikan petunjuk kepada penulis selama melaksanakan penelitian tindakan kelas.A. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta. M. Salim Choiri. Indianto. Dobirson S. Drs. Prof. 5.Pd Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah memberi ijin kepada penulis untuk melaksanakan penelitian. M. M.Pd Ketua Jurusan Ilmu Pendidikan telah memberikan bimbingan dan pengarahan sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.Kes Ketua Program Studi Pendidikan Khusus sekaligus selaku pembimbing I yang telah memberikan petunjuk kepada penulis sehingga skripsi ini dapat diselesaikan. R. penulis menyadari masih ada kekurangan. Dalam penyusunan skripsi ini. Dr. selaku Kepala Taman Kanak-Kanak Elim Sragen yang telah memberikan ijin tempat penelitian dan informasi yang dibutuhkan penulis. Drs. penulis mengucapkan terima kasih kepada yang terhormat: 1. Subagya M. karena keterbatasan pengetahuan yang ada dan tentu hasilnya juga masih jauh dari kesempurnaan. 2. Untuk itu. 6.9 KATA PENGANTAR Segala puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa. 4. Semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan penelitian tindakan kelas ini. atas segala bentuk bantuan yang telah diberikan. H. Furqon Hidayatullah. Drs. namun berkat bantuan dari berbagai pihak akhirnya kesulitan-kesulitan yang timbul dapat diatasi. 3. atas kebaikan-Nya. ix . Oleh karena itu segala saran dan kritik yang bersifat membangun sangat penulis harapkan. M. Banyak hambatan yang menimbulkan kesulitan dalam penyelesaian penulisan penelitian tindakan kelas ini. sehingga penulis dapat menyelesaikan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Luar Biasa. Jurusan Ilmu Pendidikan.

Ibu. Surakarta. September 2010 Penulis x .10 Semoga kebaikan Bapak. mendapat pahala dari Tuhan Yang Maha Esa. dan menjadi amal kebaikan yang tiada putus-putusnya dan semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan.

... .. ............................. Kajian teori........... Karakteristik Anak Tunagrahita...................... BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS TINDAKAN..................................... Pembelajaran Anak Tunagrahita Pada kelas Inklusif. c. 12 f................ b.....................................................11 DAFTAR ISI Halaman JUDUL......................................xiv d........................................................... PERSETUJUAN.......... Latar Belakang Masalah.................................................................................... Tujuan Membaca............. C.... 17 xi ........................................... PERSEMBAHAN........... ................... KATA PENGANTAR........ DAFTAR ISI............... 16 a............................................................................................................................................ ................................................................................ ABSTRAK.... MOTTO............................................ A.............................................. 10 e........... D............................ Pengertian Anak Tunagrahita.......... B............................................................. 1............................................................. ....................................................... PENGAJUAN....................................... a. .................................................................................................................................. Rumusan Masalah.............. 16 b....................... Pengertian Membaca... 4 6 8 i ii iii iv v vii viii ix xi 1 1 3 3 3 4 4 DAFTAR LAMPIRAN......................................... Manfaat Hasil Penelitian........................... Anak Tunagrahita.......... BAB I PENDAHULUAN............................ Klasifikasi Anak Tunagrahita........................ Tujuan Penelitian........................................................................................................................ 14 2.................................................................................................................. Pendidikan Anak Tunagrahita...................... Faktor Penyebab Anak Tunagrahita................... A............................ Tinjauan Tentang Membaca Permulaan..................... PENGESAHAN............................................................................................................................................... .........................................

... Tehnik Analisis Data.......................................... G.....................48 1............. A................... A........................... 22 3................................. BAB IV: HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN........ BAB III METODOLOGI PENELITIAN............................................................................... Deskripsi Kondisi Awal................. a..................... C........... E...................................................... Fungsi Media Permainan Lempar Dadu Huruf.................. Tahap pelaksanaan Membaca Permulaan............. Prosedur Penelitian...................................... B.......................... Kelemahan dan Kelebihan Permainan Lempar Dadu Huruf.................. Tinjauan tentang Media Permainan Lempar Dadu Huruf........ Pelaksanaan Penelitian....................... f...................... ... Kerangka Berfikir... Pembelajaran Membaca Anak Tunagrahita.............. e.... Pengertian Membaca Permulaan........ d................. Penerapan Pembelajaran dengan Menggunakan Media Lempar Dadu Huruf pada Anak Tunagrahita....... H........................................................................................................................ Langkah-langkah Pengajaran dengan Menggunakan Media Permainan Lempar Dadu Huruf....... ......... 24 c......................................................................................................................................... b........................... Pengertian Media .... Metode Pengajaran Membaca ...................................... f...................... Validitas dan Reliabilitas Instrumens.............................. I..................... Teknik Pengumpulan Data........................................... xii 48 30 31 33 34 34 34 35 36 41 42 43 43 44 47 29 27 25 23 23 21 ... Hipotesis Tindakan ............... Indikator Kinerja................... Pengertian Media Lempar Dadu Huruf.............. B............................................ 19 e....... Subyek Penelitian......................................... F................... C... D................................12 c. Setting Penelitian............................................................................................................................................................ Validitas Data.. Data dan Sumber Data........ 18 d..........

................................................... Pengamatan..................... 63 BAB V.......... Perencanaan........ 71 xiii ......... a........... Hasil Penelitian............... 52 c.......................... 56 3.............. Pelaksanaan Siklus II................................................................ 56 b....................................... 68 LAMPIRAN .............................................................................................................................................................................................................. 60 C.................. SARAN.................................................... 56 a... Refleksi....... Refleksi .................13 2.......................... SIMPULAN................................................. 53 d......................... 58 d........ 66 B...................................................... Pengamatan.................................................................................................................................................................... Tindakan .............. 66 DAFTAR PUSTAKA.................... 57 c............................... SIMPULAN DAN SARAN................................................................................. 52 52 b........ Tindakan........................... Perencanaan................................................................... 60 B........................................... Pelaksanaan Siklus I...................... 66 A......................... Pembahasan hasil Penelitian.........................................................................

.

mental maupun sosial. Pelaksanaan pendidikan inklusi merupakan jawaban dari kebutuhan pelayanan pendidikan bagi anak yang berkebutuhan khusus. Demikian juga bagi anak normal. Penanaman karakter sangat ditekankan pada setiap pembelajaran. baik bagi anak normal maupun anak yang mengalami kelainan atau berkebutuhan khusus. Pelayanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus dewasa ini mengalami kemajuan yang baik. . Pelaksanaan pendidikan inklusif diharapkan mampu membawa dampak yang positif bagi anak berkebutuhan khusus. Setiap anak mampu menerima satu dengan yang lain tanpa saling merendahkan atau mengejek. Dua belas persen dari siswa Taman Kanak-Kanak Elim adalah Anak Berkebutuhan Khusus ABK). mengucap syukur karena Tuhan menciptakan dirinya dengan keadaan normal. Taman Kanak-Kanak Elim merupakan salah satu lembaga pendidikan yang menampung anak normal maupun anak berkebutuhan khusus untuk belajar bersama-sama dalam satu kelas. dengan adanya sekolah inklusif diharapkan mampu belajar menerima dan memahami keadaan sesamanya yang berkekurangan sebagai bagian ciptaan Tuhan. mampu belajar kelebihan orang lain. Latar Belakang Masalah Setiap anak memiliki hak untuk memperoleh pendidikan.1 BAB I PENDAHULUAN A. baik segi akademik. Mereka dapat belajar bersama-sama dengan anak normal seusianya dalam satu sekolah yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Mereka tidak harus menempuh jarak yang lumayan jauh dari tempat tinggalnya menuju ke Sekolah Luar Biasa (SLB) yang biasanya terdapat di kota kabupaten. Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) memperoleh kesempatan yang lebih luas dalam memperoleh layanan pendidikan. Dewasa ini pelayanan pendidikan bagi anak berkelainan sudah mulai masuk ke desa-desa. Keberadaan anak yang berkebutuhan khusus ini tidak membuat teman normal lainnya tergannggu. karena anak berkebutuhan khusus tidak jarang memiliki kelebihan atau bakat yang tidak dimiliki anak normal lainnya.

kadang keliru membaca dengan huruf yang bentuknya hampir sama. Hal tersebut juga mempengaruhi kepercayaan diri yang kurang terhadap anak. Dua diantara 16 dari siswa di Taman Kanak-kanak Elim mengalami keterlambatan di dalam berbagai kegiatan bermain dan belajar. bahkan beberapa huruf masih sering salah dibacanya. . Dalam hal kognitif yakni kemampuan membaca permulaan juga menunjukkan hal sangat menggembirakan bahkan banyak diantara siswa di Taman Kanak-kanak Elim rata-rata sudah mampu membaca dengan lancar. m dengan n dan lain sebagainya. maka penulis berusaha untuk mencari dan menemukan solusi dengan mengadakan penelitian tindakan kelas dengan Judul “UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA PERMULAAN MELALUI MEDIA BERMAIN LEMPAR DADU HURUF PADA ANAK TUNAGRAHITA KELAS B SEMESTER I DI TAMAN KANAK. perilaku. malu. yaitu dengan bobot nilai 1 – 2 untuk bintang 1 dan 3 -4 untuk bintang 2.2 Kegiatan bermain sambil belajar pada Taman Kanak-kanak Elim Sragen berjalan sangat antusias dan sangat baik. Contohnya: u dangan v. Bintang 5 memiliki bobot nilai 9-10 baik dalam kognitif.KANAK ELIM SRAGEN TAHUN PELAJARAN 2010/2011”. psikomotor maupun seni. tidak jenuh sehingga anak ingin terus dan terus melakukan hingga anak mampu membaca dengan baik dan lancar seperti teman-teman yang lainnya. kedua siswa ini mengalami ketertinggalan yang sangat jauh dengan siswa yang lain. sehingga anak mengalami perkembangan yang sangat baik. lupa. Anak sering merasa minder. Hasil penilaian dalam belajar anak-anak rata-rata menunjukan nilai bintang 5 ataupun bintang 4. bahkan menangis saat teman-temannya mengolok-olok. yaitu memperbaiki proses pembelajaran yang membuat anak menjadi tertarik. termasuk dalam membaca. Hasil penilaian untuk kemampuan membacanya. Untuk mengatasi hal tersebut perlu diadakan tindakan untuk menolong kedua anak tersebut. d dengan b. anak memiliki nila rata-rata bintang 1 atau 2. Anak sangat sulit dalam membaca kata. kadang belum mengerti. Untuk itu .

b. motivasi. minat dan partisipasi anak dalam kegiatan pembelajaran. yakni belum tercapainya nilai maksimum membaca permulaan pada 2 anak yang mengalami keterlambatan maka penulis dapat merumuskan masalah. yaitu “apakah penggunaan media bermain lempar dadu huruf dalam pembelajaran dapat meningkatkan kemampuan membaca permulaan pada kelas B Taman Kanak-kanak Elim Sragen?” B. Tujuan Penelitian Berdasarkan perumusan masalah tersebut di atas maka tujuan penulis mengadakan penelitian adalah sebagai berikut: Untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan anak tunagrahita (ATG). Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang terjadi di kelas B Taman Kanak-kanak Elim Sragen. Bagi Siswa a. Manfaat Hasil Penelitian 1. Penelitian ini dapat meningkatkan keaktifan. Penelitian ini dapat menumbuhkan motivasi untuk lebih kreatif menggunakan pembelajaran. Penelitian ini dapat memberikan suasana yang menyenangkan. b. 2. melalui media bermain lempar dadu huruf pada kelas B semester I di Taman kanak-Kanak Elim Sragen. sehingga anak dapat belajar seraya bermain. Bagi Guru a.3 A. C. berbagai metode guna meningkatkan kualitas . Penelitian ini dapat menjadi wawasan bagi guru dalam menggunakan media bermain lempar dadu huruf pada pembelajaran membaca permulaan.

Anak yang memiliki kecerdasan di bawah garis normal perlu suatu penanganan yang khusus. Anak yang mengalami kelemahan atau kelainan dalam berpikir secara umum sering disebut dengan anak di bawah normal atau tunagrahita. sukar untuk mengikuti program pendidikan di . Pemahaman secara teoritis maupun praktis sangat diperlukan supaya guru ataupun para propesional dapat memberikan layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan mereka. demikian juga dalam hal kemampuan berpikir. Mereka seperti anak-anak normal lainnya. masing-masing memiliki keunikan. Pengertian Anak Tunagrahita Tunagrahita menjelaskan tentang kondisi anak yang kecerdasannya dibawah rata. yang ditandai oleh keterbatasan intelegensi dan ketidakcakapan dalam interaksi sosial. Kelemahan dan kelebihan dimiliki setiap anak. a. karena anak mengalami keterbatasan dalam kemampuan berpikirnya.4 BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS TINDAKAN A. Sutjihati Somantri (1996:83) menyatakan “Anak Tunagrahita adalah anak yang kecerdasannya jauh di bawah rata-rata. memiliki hak untuk memperoleh pendidikan sesuai dengan kebutuhan mereka. Kajian Teori 1. Anak Tunagrahita Keadaan setiap manusia berbeda satu dengan yang lain.rata yang ditandai oleh keterbatasan intelegensi dan ketidak cakapan dalam interaksi sosial. karena mereka memiliki keterlambatan didalam berpikir. Anak tunagrahita adalah merupakan individu yang utuh dan unik. masingmasing anak terlahir dalam keadaan yang berbeda.” Anak yang kecerdasannya di bawah rata-rata dikenal juga dengan anak keterbelakangan mental.

Sebagai contoh. . Waktu terjadinya sebelum usia perkembangan yaitu 18 tahun. Berdasarkan pendapat di atas. Keadaan ini nampak sebelum usia 18 Tahun. Jadi dikatakan tunagrahita jika memenuhi dua komponen tersebut”. maka penulis dapat menegaskan bahwa anak tunagrahita adalah anak yang mengalami hambatan dalam kecerdasannya. maka anak tersebut memiliki kecerdasan di atas rata-rata. yang mencakup fungsi intelektual yang dibawah rata-rata. Untuk mendeteksi anak tunagrahita atau keterbelakangan mental ada baiknya memahami konsep Mental Age (MA). yakni pertama fungsi intelektual secara nyata berada di bawah rata-rata. sehingga kecerdasannya berada jauh di bawah rata-rata yang ditandai oleh keterbatasan intelegensi sehingga kurang/tidak mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan. Gangguan dipengaruhi oleh faktor genetik. anak yang berusia enam tahun akan memiliki kemampuan yang sepadan dengan anak usai enam tahun pada umumnya. Jika seorang anak memiliki MA lebih tinggi. AAMD (America Association of Mental Deficiency) dalam Anggie Sa’adah (2009) menjelaskan bahwa: “Tunagrahita menunjukkan adanya keterbatasan dalam fungsi.5 sekolah. dimana berkaitan dengan keterbatasan pada dua atau lebih keterampilan adaptif seperti komunikasi. dan waktu luang. kesehatan dan keamanan. Mental Age adalah kemampuan mental oleh seorang anak pada usia tertentu. Intellectual Disability Perspective & Challenges. fungsi akademis. merawat diri sendiri. artinya anak usia enam tahun memiliki MA enam tahun. keterampilan social. Pengajaran sistem klasikal memberikan masalah bagi anak karena kemampuan berpikirnya tidak seperti teman-teman lain yang cerdas ataupun yang normal. Sebaliknya jika MA anak lebih rendah dari umurnya. kedua adanya ketidakmampuan dalam menyesuaikan diri dengan norma dan tuntutan yang berlaku dalam masyarakat. AFMR dalam Astati (2010) menyatakan: “Seseorang dikatakan tunagrahita apabila memiliki 2 kriteria yang penting. lingkungan dan psikososial”.

sehingga jumlah kromosom tidak 46 tetapi 47. daya ingat. 2) Faktor keturunan Sifat menurun yang dibawa dari orang tua kepada anak.” Faktor internal adalah faktor yang erat hubungannya dengan keadaan bayi selama masih ada dalam kandungan. Anak tunagrahita selalu memiliki MA lebih rendah daripada umurnya secara jelas. MA yang sedikit saja kurang dari umur tidak termasuk tunagrahita. diantaranya seperti yang diungkapkan Sutjihati Somantri (1996:53) bahwa “penyebab tunagrahita ada 2 faktor. b. yaitu faktor internal dan eksternal. Sindrom Down atau down sindrom memiliki karakter mata sipit. strees. kekurangan gizi dan sebagainya akan berpengaruh kurang baik pada bayi yang . ketrampilan merawat diri dan memecahkan masalah. menunjukkan pemburukan yang jelas dalam bahasa. seperti kelainan jantung bawaan. 3) Kondisi ibu saat hamil Kondisi ibu saat hamil mempengaruhi keadaan bayi yang dikandungnya. totalnya adalah 46. Faktor Penyebab Anak Tunagrahita Ketunagrahitaan dapat terjadi karena berbagai faktor. Faktor internal penyebab terjadinya kelainan diantaranya adalah: 1) Kelainan pada kromosom Inti sel manusia terdapat 23 pasang kromosom. Anak yang memiliki tingkat kecerdasan di bawah rata-rata namun memilki kemampuan menyesuaikan diri dengan normal dan tuntutan yang berlaku dalam masyarakat tidak disebut anak tunagrahita. jika selama mengandung ibu dalam keadaan sakit. MA dipandang sebagai indeks dari perkembangan kognitif seorang anak.6 maka anak tersebut memiliki kecerdasan di bawah rata-rata. Hal ini bisa menyebabkan penderitanya mengalami kelainan fisik. otot-otot melemah dan retardasi mental yakni hambatan perkembangan kecerdasan dan psikomotor. hidung pesek. Kelainan Sindrom Down terjadi karena kelebihan jumlah kromosom pada kromosom no 21 yang seharusnya dua menjadi tiga.

Faktor eksternal adalah faktor yang terjadi pada saat melahirkan dan setelah anak lahir. Metabolisme dan gizi sangat penting peranannya bagi pertumbuhan dan perkembangan individu. . penyakit. Konsumsi obat yang tidak sesuai petunjuk dokter dapat mengakibatkan kecacatan. Trauma yang terjadi pada saat kelahiran dapat dialami ketika proses kelahiran yang sulit sehingga harus dibantu dengan alat (tang). Faktor penyebab tunagrahita setelah anak lahir adalah. Faktor penyebab terjadinya tunagrahita saat anak lahir misalnya: pemakaian alat bantu pada saat melahirkan. infeksi dan keracunan ini dialami lewat penyakit-penyakit yang diderita oleh ibu. kurang gizi. obat-obatan atau narkotika. 4) Infeksi dan keracunan Infeksi dan keracunan yang terjadi selama janin dalam kandungan. dan lain-lain. Faktor eksternal yang menyebabkan terjadinya kelainan adalah: 1) Gangguan metabolisme dan kekurangan gizi. kecelakaan. 4) Faktor Lingkungan atau sosial budaya Lingkungan berperan terhadap fungsi intelek anak. misalnya penyakit yang timbul karena virul rubella syphilis. keracunan alkohol. kegagalan dalam mengadakan interaksi yang terjadi selama perkembangan menjadi salah satu penyebab ketunagrahitaan. toxoplasma. Zat radioaktif saat penyinaran semasa bayi dapat mengakibatkan tunagrahita microcephaly. kekurangan oksigen. Gangguan pada metabolisme dan kekurangan gizi dapat menyebabkan terjadinya gangguan fisik maupun mental pada individu. 3) Kecelakaan Kecelakaan dapat mengakibatkan terjadinya kecacatan pada baik pisik maupan psikis.7 dikandungnya. 2) Trauma dan Zat Radioaktif Benturan atau tekanan pada kepala dapat menyebabkan kecacatan pada otak. dan sebagainya.

berbagai pendapat mengklasifikasikan anak tunagrahita sebagai berikut: Klasifikasi anak tunagrahita untuk keperluan pembelajaran menurut America Associationon Mental Retardation dalam Anggie (http://saunganggie. . Mulyono Abdurrahman (2003:24). penyebab karena deprivasi lingkungan”.8 Berbagai penelitian melaporkan bahwa anak tunagrahita banyak ditemukan pada daerah yang tingkat sosial ekonominya rendah. c. misalnya studi yang dilakukan oleh Kirk (Astati. yakni: 1) faktor endogen Yaitu faktor penyebab ketunaan yang datang dari dalam. sangat terbatas untuk kemampuan pendidikan akademik. menyatakan “penyebab tunagrahita ada 5 hal: genetik atau keturunan. 2) faktor eksogen Yaitu faktor penyebab ketunaan diluar keturunan/ bawaan atau pengaruh yang datang dari luar setelah anak lahir. misalnya keturunan/ bawaan dari dalam kandungan.com/2009) : 1). sebab-sebab pada masa perinatal atau saat lahir. hal ini disebabkan oleh ketidakmampuan lingkungan dalam memberikan stimulus pada masa perkembangan. blogspot. 2010) menunjukkan bahwa anak yang berasal dari keluarga kurang mampu memiliki kecenderungan untuk mempertahankan mentalnya pada taraf yang sama. bahkan prestasi belajarnya semakin berkurang dengan meningkatnya usia. Educable Anak pada kelompok ini masih mempunyai kemampuan dalam akademik setara dengan anak reguler pada kelas 5 sekolah dasar. Klasifikasi Anak Tunagrahita Anak tunagrahita dapat diklasifikasikan sesuai dengan keberadaannya. Pertahanan diri dan penyesuaian sosial. Penulis mengelompokkan faktor penyebab ketunaan dalam dua kelompok. sebab-sebab pada saat pos natal. Trainable Mempunyai kemampuan dalam mengurus diri sendiri. 2). Berdasar kedua pendapat di atas penulis menyimpulkan bahwa banyak faktor yang dapat menyebabkan terjadinya kelainan atau ketunaan. Sebab-sebab masa prenatal.

2) Tunagrahita sedang IQ 25 – 49 Termasuk mampu latih. yaitu: 1) 2) 3) 4) Retardasi mental ringan (mild mental retardation) dengan IQ 55-69. Menurut Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa (2007:4) dalam buku Pedoman Penyelenggaraan Pendididkan Inklusif. Retardasi mental berat (sever mental retardation) dengan IQ 20-39. menulis. yaitu: 1) Ringan 2) Sedang 3) Berat 4) Sangat berat Berdasarkan pendapat di atas penulis menyimpulkan bahwa anak tunagrahita dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kelompok menurut kepentingannya. klasifikasi anak tunagrahita: 1) Anak tunagrahita ringan IQ 50 – 70 Mampu dididik diajarkan membaca. 3) Tunagrahita berat IQ 24. tetapi berdasarkan kematangan sosial. Termasuk mampu rawat.kebawah Tidak mampu menerima pendidikan secara akademis. dapat melatih tentang dasar-dasar cara menolong diri sendiri dan kemampuan yang bersifat komunikatif. yaitu Psikometrik dan perilaku adaptif. Mereka biasanya menyelesaikan pendidikan setingkat kelas III SD umum. Kegiatan sehari-hari membutuhkan bantuan orang lain. Klasifikasi dari segi keperluan pendidikan sebagai berikut: . Retardasi mental sangat berat (profound mental retardation) dengan IQ 20 kebawah. Hal ini juga mempunyai 4 taraf. Retardasi mental secara psikometrik menurut skala intelegensi Wechsler dalam Astati (2010) ada 4 taraf. Retardasi mental sedang (mild mental retardation) dengan IQ 40-54.9 3). dan berhitung. Retardasi mental menurut kriteria perilaku adaptif tidak berdasarkan taraf intelegensi. Custodial Dengan pemberian latihan yang terus menerus dan khusus. Klasifikasi anak tunagrahita/ retardasi mental secara Sosial-Psikologis terbagi menjadi 2. Biasanya bisa menyelesaikan pendidikan setingkat kelas IV SD umum. Hal ini biasanya memerlukan pengawasan dan dukungan terus menerus.

untuk mengurangi ketergantungan kepada orang lain. kuliah. Anak tunagrahita berat memiliki IQ 29 kebawah. menulis. menulis . bimbingan aktivitas sehari-hari. anak tidak dapat mengurus dirinya sendiri apalagi berlindung dari bahaya. Anak tunagrahita ringan lebih mudah diajak komunikasi. untuk tunagrahita berat dapat kelihatan.10 1) Anak mampu didik (tunagrahita ringan/ debil) Anak mampu dididik dan dilatih. b) Kematangan motorik lambat c) Koordinasi gerak kurang 2) Intelektual . 3) Anak mampu rawat (tunagrahita berat/ Idiot) Anak tidak mampu menerima pendidikan secara akademis. perhatian bahkan pelayanan. Anak mampu mengikuti pendidikan walaupun tidak mencapai tingkat yang tinggi. menjahit bahkan bisa dilatih untuk berjualan. Mereka membutuhkan pengawasan. Mereka mampu menolong diri sendiri. Mereka memiliki IQ antara 50 s/d 70. mampu berlindung dari bahaya karena itu anak tunagrahita ringan tidak memerlukan pengawasan ekstra. berhitung. Sedikit perhatian dan pengawasan diperlukan untuk perkembangan mental dan sosial anak tunagrahita sedang. mereka mampu bekerja di lapangan namun perlu sedikit pengawasan. Karakteristik Anak Tunagrahita Defli (2009) menyebutkan bahwa karakteristik anak tunagrahita dapat dilihat dari segi: 1) Fisik (penampilan) a) Untuk tunagrahita ringan hampir sama dengan anak normal. Mampu dilatih ketrampilan-ketrampilan sederhana. Anak tunagrahita sedang memiliki IQ antara 30 s/d 50. memasak. misalnya membaca. berhitung. d. misalnya: sekolah menengah umum. kondisi fisik mereka tidak begitu berbeda dengan anak normal lainnnya. 2) Anak mampu latih (tunagrahita sedang/ Embisil) Anak tunagrahita sedang mampu diajarkan membaca.

Sebagian dari anak tunagrahita berat sangat sulit untuk mengurus diri sendiri. fifth edition. membentur-beturkan kepala. sulit menjangkau sesuatu . Berdasarkan pendapat di atas.485-486. 4) Cacat fisik dan perkembangan gerak. p. Mereka lambat dalam mengerjakan tugas-tugas yang sangatsederhana. dan mendongakkan kepala. Anak tunagrahta ringan dapat bermain bersama dengan anak reguler. tidak dapat berdiri atau bangun tanpa bantuan. dan selalu cepat lupa apa yang dia pelajari tanpa latihan yang terus menerus. tetapi anak yang mempunyai tunagrahita berat tidak meakukan hal tersebut. misalnya: memutar-mutar jari di depan wajahnya dan melakukan hal-hal yang membahayakan diri sendiri. 6) Tingkah laku dan interaksi yang tidak lazim.11 a) Sulit mempelajari hal-hal akademik b) Anak tunagrahita ringan kemampuannya setaraf anak normal usia 12 tahun (IQ 50 – 70) c) Klasifikasi sedang setaraf dengan usia 7 – 8 tahun (IQ 30 – 50) d) Berat. 5) Kurang dalam kemampuan menolong diri sendiri. 2) Kesulitan dalam menggeneralisasi dan mempelajari hal-hal yang baru. misalnya: menggigit diri sendiri. makan. Kebanyakan anak denga tunagrahita berat mempunyai ketebatasab dalam gerak fisik. 1996 (http://saunganggie. dll. 7) Tingkah laku kurang wajar yang terus menerus. setaraf dengan anak usia 3 – 4 tahun (IQ 30 kebawah) 3) Sosial dan emosi a) Bergaul dengan anak yang lebih muda b) Suka menyendiri c) Mudah dipengaruhi d) Kurang dinamis e) Kurang pertimbangan/ kontrol diri f) Kurang konsentrasi. Banyak anak tunagrahita berat bertingkah laku tanpa tujuan yang jelas. mudah dipengaruhi g) Dapat memimpin diri sendiri maupun orang lain Karakteristik anak tunagrahita menurut Brown Children. penulis menyimpulkan bahwa anak tunagrahita memiliki karakteristik sebagai berikut: pada Exceptional dalam Angie Siti Sa’adah .com/2009) menyatakan: 1) Lamban dalam mempelajari hal-hal yang baru. ada yang tidak dapat berjalan. Mereka selalu memerlukan latihan khusus untuk mempelajari kemampuan dasar. mempunyai kesulitan dalam mempelajari pengetahuan abstrak atau yang berkaitan. seperti: berpakaian. 3) Kemampuan bicaranya sangat kurang bagi anak tunagrahita berat. Hal itu mungkin disebabkan kesulitan bagi anak tunagrahita dalam memberikan perhatian terhadap lawan main. Kegiatan mereka seperti ritual.blogspot. dan mengurus kebersihan diri.

b) Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB). e.12 1) Memiliki kemampuan berpikir yang rendah 2) Emosi yang labil bahkan kurang wajar 3) Sulit bersosialisasi 4) Kemampuan motorik yang kurang 5) Mengalami gangguan dalam berkomunikasi. Pendidikan Anak Tunagrahita Bentuk-bentuk penyelenggaraan pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus. Keuntungan sekolah segregrasi: a) Rasa ketenangan pada anak luar biasa b) Komunikasi yang mudah dan lancar c) Metode pembelajaran yang khusus sesuai dengan kondisi dan kemampuan anak d) Guru dengan latar belakang pendidikan luar biasa e) Sarana dan prasarana yang sesuai Kelemahan sekolah segregasi: a) Sosialisasi terbatas b) Biaya mahal 2) Sistem pendidikan integrasi Sistem pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) yang memungkinkan anak luar biasa memperoleh kesempatan mengikuti proses pendidikan bersama dengan siswa normal lainnya. Contohnya: a) Sekolah Luar Biasa (SLB). adalah: 1) Sistem pendidikan segregasi Sistem pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) secara khusus dan terpisah dari anak-anak normal. Contohnya: Sekolah reguler .

terutama ekonomi lemah yang berada di pedesaan.13 Keuntungan: a) Merasa diakui kesamaan haknya dengan anak normal terutama dalam memperoleh pendidikan b) Bakat dapat berkembang dengan optimal c) Mempunyai kesempatan untuk melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi d) Harga diri bisa meningkat Kelemahan: a) Kurangnya tenaga ahli atau sumber daya yang memiliki pengetahuan yang cukup tentang anak disability. Program penuntasan wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun diharapkan berhasil dengan baik. 3) Sistem Pendidikan inklusi Sekolah reguler yang menerima anak berkebutuhan khusus (ABK) dengan kurikulum dan sistem pendidikan sesuai dengan kebutuhan ABK di sekolah reguler tersebut. b) Pelayanan pendidikan kurang memadai. Hal ini disebabkan karena pelayanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus biasanya berada di kota-kota kabupaten. Keuntungan: a) Lokasi berada dekat dengan anak. Kelemahan: e) Memerlukan banyak tenaga pengajar maupun pendamping f) Memerlukan banyak sarana dan prasarana Pendidikan inklusif muncul dilatar belakangi oleh kurang meratanya pendidikan bagi anak-anak yang berkebutuhan khusus. b) Biaya relatif murah c) Sosialisasi berkembang dengan baik d) Belajar sesuai dengan kebutuhan anak. Program ini dilandaskan pada UndangUndang Dasar 1945 pasal 31 tentang hak setiap warga negara untuk .

. tujuan pendidikan nasional adalah berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. dan empiris yang kuat. Anak dapat memiliki kepercayaan diri yang lebih baik. Landasan filosofis utama penerapan pendidikan inklusif di Indonesia adalah Pancasila yang merupakan lima pilar sekaligus cita-cita yang didirikan atas fondasi yang lebih mendasar lagi. baik terhadap perkembangan akademik dan sosial. penelitian menunjukkan bahwa penempatan anak berkelainan di tempat khusus tidak efektif dan diskriminatif. penerapan pendidikan inklusif dijamin oleh UndangUndang nomor 20/2003 tentang sistem pendidikan nasional yang dalam penjelasannya menyebutkan bahwa penyelenggaraan pendidikan untuk peserta didik berkelainan atau memiliki kecerdasan luar biasa diselenggarakan secara inklusif atau berupa sekolah khusus. sehingga motivasi untuk belajar dan berkarya menjadi lebih baik. 2004). demikian juga halnya dengan anak yang mengalami kekurangan. berilmu. yakni education for all. berakhlak mulia. cakap. mereka merasa diterima dan dapat hidup bersama-sama dengan anak normal lainnya. dan bertanggung jawab.14 memperoleh pendidikan. Landasan yuridis internasional penerapan pendidikan inklusif adalah Deklarasi Salamanca semua (UNESCO. mandiri. Landasan empiris. Penerapan pendidikan inklusif mempunyai landasan fisiologis. yuridis. yang disebut Bhinneka Tunggal Ika (Mulyono Abdulrahman dalam Direktorat Pendidikan Luar Biasa. paedagogis. seyogyanya bersama-sama memandang kesulitan ataupun perbedaan yang mungkin ada pada mereka. Hal ini dilandasi pernyataan Salamanca yang merupakan perluasan dari program UNESCO. Teknis penyelenggaraannya tentunya akan diatur dalam bentuk operasional. anak 1994) menekankan berlajar bahwa selama tanpa memungkinkan. Jadi melalui pendidikan peserta didik berkelainan dibentuk menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. kreatif. Landasan paedagogis. Di Indonesia. Akan tetapi pendidikan inklusif berdampak positif. sehat.

sarana prasarana. namun bagi anak yang berkebutuhan . Agar terjadinya tanggapan tentang obyek yang dipelajari. Pelaksanaan pembelajaran anak tunagrahita pada kelas inklusif pada dasarnya adalah memperhatikan atau memberikan pelayanan khusus kepada setiap individu sebagai peserta didik. pendanaan dan lingkungan. Tenaga kependidikan. tenaga kependidikan. seperti dalam pembelajaran anak-anak pada umumnya . Penanganan kepeserta didikan meliputi perencanaan dan pelaksanaan assesmen. Kurikulum disusun berdasarkan kebutuhan anak sesuai profile tiap peserta didik yang membutuhkan pelayanan khusus. Saran dan prasarana. hal ini dikarenakan anak tunagrahita kurang mampu berfikir abstrak. dalam menangani anak yang memerlukan pelayanan khusus. kurikulum. maka dibutuhkan alat pelajaran yang memadai. media pembelajaran dan Alat Bantu pelajaran memegang peranan penting . diperlukan tenaga-tenaga yang mampu menangani anak berkebutuhan/ profesional. Pelayanan Khusus tersebut meliputi penanganan kepeserta didikan. Hal ini dimaksudkan dalam rangka membuat profile anak. mereka membutuhkan hal-hal kongkrit.15 f. Pelaksanaan pembelajaran anak tunagrahita di Taman Kanak-kanak Elim adalah belajar bersama-sama dengan anak normal lainnya dalam satu kelas/ kelompok dengan kurikulum yang sama. Pembelajaran Anak Tunagrahita pada kelas Inklusif Pelaksanaan pembelajaran anak tunagrahita pada kelas inklusif adalah anak berkebutuhan khusus belajar bersama-sama dengan anak normal sebaya dengan kurikulum dan sistem pendidikan yang berbeda satu sama lain yang disesuaikan dengan kebutuhan anak. maka pembelajaran bagi anak tunagrahita pun . dengan demikian keperluan-keperluan anak berkebutuhan khusus tidak terabaikan dalam proses pembelajaran. Profile sangat berguna yntuk memahami kebutuhan khusus anak dalam rangka penyusunan kebutuhan pembelajaran secara individu.. Hal ini disebabkan anak tunagrahita kurang mampu berfikir abstrak. Alat Bantu pelajaran penting diperhatikan dalam mengajar anak tunagrahita.

16 khusus kurikulum disesuaikan dengan kondisi anak. Membaca bukan hanya mengucapkan bahasa tulis tetapi juga memahami maknanya. Jika anak pada usia sekolah tidak segera banyak memiliki kesulitan kemampuan membaca. Dikatakan kegiatan fisik karena bagian tubuh khususnya mata beraktifitas dalam kegiatan membaca. 2. penulis dapat menyimpulkan bahwa membaca merupakan kegiatan yang sangat kompleks yang mencakup aktifitas fisik dan mental untuk mengenal. maka anak akan dalam beberapa bidang studi. Ada lima tahapan perkembangan membaca yaitu : (1) kesiapan membaca. Bagi siswa membaca juga menjadi modal agar dapat mengikuti kegiatan pembelajaran.com/2009) “membaca pada hakekatnya adalah kegiatan fisik dan mental untuk menemukan . Tinjauan Tentang Membaca Permulaan a. (2) membaca permulaan.blogspot.menulis) diberikan saat pelajaran berlangsung dilakukan Oleh guru pendamping. Jika dirasa perlu anak yang berkebutuhan khusus diberikan penambahan jam belajar saat istirahat atau setelah jam pelajaran selesai. Menurut Munawir Yusuf (2005:134) “membaca merupakan aktifitas auditif dan visual untuk memperoleh makna dari simbol berupa huruf atau kata. Pengertian Membaca Membaca merupakan modal bagi seseorang untuk mempelajari buku dan mencari informasi tertulis. (3) ketrampilan membaca cepat. memahami makna dari suatu simbol atau tulisan. Oleh karena itu. Penambahan pelayanan pendidikan (membaca. Dikatakan kegiatan mental karena bagian-bagian mengalami dalam anggie (http://saunganggie.” Menurut Tampubolon makna dari tulisan”. anak harus belajar membaca agar dapat belajar. (4) membaca luas dan (5) membaca yang sesungguhnya. Kemampuan membaca merupakan dasar untuk menguasai berbagai bidang studis. Kemampuan membaca merupakan suatu kemampuan untuk memahami informasi atau wacana yang disampaikan oleh pihak lain melalui tulisan. Berdasarkan pendapat di atas.

memberi pengetahuan. Beberapa hal yang tercakup dalam pengertian membaca yaitu: membaca merupakan suatu proses. 2009) “membangun pemahaman dari teks yang tertulis.kata sebagai pengertian”. menemukan makna dari bacaan atau tulisan bukan mengenali huruf-huruf”. strategis. Dalam membaca kita mempunyai banyak tujuan. Menurut Stauffer dalam Mathedu (2009) tujuan membaca membangun konsep. 3) Pengertian luas. Sejono (dalam Devid Haryalesmana.17 pikiran khususnya persepsi yaitu kemampuan untuk menafsirkan apa yang dilihat sebagai simbol atau kata dan ingatan terlibat didalam kegiatan ini. tergantung pada situasi dan kondisi si pembaca. Tujuan Membaca Membaca adalah gerbang menuju penguasaan ilmu pengetahuan. yaitu pengertian yang memandang membaca sebagai proses mengolah bacaan yaitu proses memaknai bacaan secara mendalam. Berdasarkan subtansinya pengertian membaca dapat diklasifikasikan menjadi tiga golongan. b. yaitu pengertian yang memandang membaca sebagai proses memahami bacaan. Membaca merupakan suatu proses maksudnya adalah informasi dari teks dan pengetahuan yang dimiliki oleh pembaca mempunyai peran utama dalam membentuk makna. yaitu pengertian yang memandang membacac sebagai proses pengenalan simbol-simbol tertulis bermakna.2009) mengemukakan bahwa tujuan membaca dan menulis permulaan ialah “mengenalkan kepada siswa hurufhuruf abjad sebagai tanda suara dan melatih kecakapan anak untuk mengubah huruf menjadi suara dalam kata. yaitu: 1) Pengertian sederhana. Strategis maksudnya membaca yang efektif menggunakan berbagai strategi yang sesuai dengan teks yang dibaca. Betapa pentingnya peranan membaca bagi kita semua. 2) Pengertian agak luas. interaktif. Interaktif maksudnya keterlibatan pembaca dengan teks tergantung pada konteks. mengembangkan perbendaharaan kata. . Tujuan membaca menurut Smith (Tampubolon.

. yakni kecakapan atau ketrampilan mengenal tulisan sebagai lambang atau simbol bahasa.com/2008/12/02). Berdasarkan pendapat diatas penulis menyimpulkan bahwa tujuan membaca diantaranya: 1) Mengembangkan intelektualitas/ melatih kecakapan 2) Mendapatkan informasi 3) Membangun konsep diri 4) Melepaskan diri dari kejenuhan.com/2009/06) membaca permulaan adalah “tahapan proses belajar membaca bagi siswa untuk memperoleh kemampuan dan menguasai teknik-teknik membaca dan menangkap isi bacaan dengan baik. sehingga anak dapat menyuarakan tulisan tersebut. Seseorang yang gemar membaca akan nampak berbeda dengan orang yang tidak suka membaca saat mengemukakan pendapat atau berargumentasi terhadap suatu masalah. Membaca mampu mengembangkan intelektualitas seseorang. mengembangkan intelektualitas. karena ilmu atau pengalaman nya yang didapat melalui membaca. mengerti dan memahami problem orang lain. Menurut M. banyak halhal positif yang dapat kita ambil melalui membaca. Ilmu yang tidak kita mengerti akan kita mengerti lewat membaca.” Permulaan mengandung makna “awal”.18 menambahkan proses pengayaan pribadi. Menurut Tarmizi (http://tarmizi. Membaca membuat pengetahuan semakin bertambah.wordpress. membaca permulaan dapat diartikan suatu tahapan awal yang dilakukan oleh anak untuk memperoleh kecakapan dalam membaca. “membaca permulaan adalah tahap awal anak belajar membaca dengan fokus pada pengenalan simbol-simbol huruf dan aspek-aspek yang mendukung pada kegiatan membaca lanjut”. karena dengan membaca pengetahuan seseorang akan bertambah. bahkan keputusasaan 5) Membaca karena hoby c. mengembangkan konsep diri dan sebagai suatu kesenangan. Brata (http://Mbahbrata-edu. kesedihan. Pengertian Membaca Permulaan Membaca permulaan merupakan tahapan anak dalam ketrampilan membaca yang lebih tinggi.blogspot.

Pada tingkatan membaca permulaan.com/2009). Brata (http://Mbahbrata-edu. Membaca pada tingkatan ini merupakan kegiatan kegiatan belajar mengenal bahasa tulis. Membaca permulaan yang menjadi acuan adalah membaca merupakan proses recoding dan decoding. melalui proses decoding gambar bunyi dan kombinasinya diidentifikasikan. Dengan proses tersebut. Tahap Pelaksanaan Membaca Permulaan Pembelajaran membaca perlu melalui tahap-tahap yang sesuai dengan perkembangan dan kemampuan anak. kelompok kata dan kalimat bermakna. rangkaian tulisan yang dibacanya menjadi suatu rangkaian bunyi dalam kombinasi kata.19 Berdasarkan pendapat di atas penulis dapat simpulkan bahwa membaca permulaan adalah tahap awal anak belajar mengenal huruf atau symbol bunyi dan menyuarakannya. Syarat-syarat yang diperlukan untuk memperoleh kemampuan membaca adalah: 1) Kemampuan membunyikan lambang-lambang tulis 2) Penguasaan kosakata untuk memberi arti 3) Kemampuan memasukkan makna. yakni : 1) Pembelajaran membaca tanpa buku .blogspot. Melalui tulisan itulah siswa dituntut dapat menyuarakan lambang-lambang bunyi bahasa tersebut. Proses recoding yaitu proses fisik yang berupa kegiatan mengamati tulisan secara visual. mengenali dan membedakan gambar-gambar bunyi serta kombinasinya. Proses decoding merupakan proses psikologis berupa kegiatan berpikir dalam mengolah informasi. ada dua. pembaca belum memiliki ketrampilan kemampuan membaca yang sesungguhnya tetapi masih dalam tahap belajar untuk memperoleh ketrampilan/ kemampuan membaca. d. Tahap-tahap pelaksanaan membaca permulaan yang dikemukakan oleh M. sebagai dasar anak dalam pembelajaran membaca berikutnya. diuraikan kemudian diberi makna.

1) Membaca tanpa buku meliputi: merekam bahasa siswa. Cara ini menyenangkan untuk anak usia dini sesuai dengan karakteristiknya yaitu masa bermain. 2) Pembelajaran membaca dengan buku Pembelajaran dengan kegiatan membaca dengan menggunakan buku sebagai bahan pelajaran. menampilkan gambar sambil bercerita. dengan kalimat sederhana dapat memotivasi anak untuk membacanya. Baik kegiatan membaca buku pelajaran. Anak terkadang ingin mengetahui cerita tentang gambar tersebut. Membaca cerita sederhana. anak dihadapkan pada tulisan-tulisan yang ada di buku. Tahap membaca permulaan umumnya pada masa peka yaitu usia enam atau tujuh tahun pada anak normal umunya. kartu kalimat. Misalnya : kartu gambar. dan tahap menggunakan buku yakni setelah anak mengenal atau paham tentang simbolsimbol bunyi atau huruf-huruf. dan yang lainnya. kartu kata. . 2) Membaca dengan menggunakan buku. penguasaan pada abjad belum sepenuhnya dikuasai. Bantuan yang diberikan umumnya berupa konkretisasi kata yang dibaca. dadu huruf. membaca gambar dan sebagainya. anak diperhadapkan dengan gambar-gambar yang telah diketahui anak sehingga anak tertarik. Menurut Darmiyati Zuhdi (2001:4). “Dalam pelaksanaan metode SAS. Hal ini sangat baik bagi anak untuk dapat memahami arti dari suatu bacaan dalam bentuk sederhana. Pada tahap ini penguasaan kosa kata pada anak masih sangat terbatas. sehingga tahap pembelajaran seperti ini membuat anak bersemangat dan antusias.20 Dilakukan dengan cara mengajar dengan menggunakan media atau alat peraga selain buku. Pada tahap ini anak perlu bantuan seperlunya selama membaca. Berdasarkan pendapat di atas penulis simpulkan bahwa tahap membaca permulaan adalah tahap membaca tanpa buku. dan sebagainya. pelaksanaan membaca permulaan dibagi menjadi 2 tahap. anak diperhadapkan dengan bacaan. Misalnya ketika anak membaca “baju” ditunjukkan gambar baju atau bendanya. dan pada usia sembilan atau sepuluh tahun pada anak tunagrahita. yakni: membaca tanpa buku dan membaca menggunakan buku”. Buku bergambar. kartu huruf. jadi masih ada huruf yang sulit diucapkan dan sering salah dibaca.

menawarkan berbagai metode yang dipergunakan bagi bunyi.com/2008/12/08). kita kenalkan kepada anak suku kata. Dalam metode ini kita mengajarkan membaca dengan menggunakan kata yang telah di kenal anak. metode global. dan metode SAS 1) Metode eja / bunyi Adalah belajar membaca yang dimulai dari mengeja huruf demi huruf. Tarmizi (http://tarmizi. pemahaman dan kesenangan membaca. media lempar dadu huruf dan media yang menarik lainnya. 4) Metode SAS (Struktural Analisis Sintesis) Metode global kata yang dikenalkan kepada anak sudah berbentuk kalimat sederhana. 2) Metode fonik Pemahaman pada pengenalan kata melalui proses mendengarkan bunyi huruf 3) Metode linguistik Anak diberikan suatu bentuk kata yang terdiri dari konsonan-vokal atau konsonan-vokal-konsonan. 2) Metode Kata lembaga Metode kata lembaga menggunakan pendekatan kata. 3) Metode Global Metode Global menggunakan pendekatan kalimat. kemudian diajak memecahkan kode tulisan menjadi bunyi percakapan. e.21 Pengembangan yang tepat pada tahap membaca permulaan perlu sekali. perbendaharaan kata. Pendekatan yang dipakai dalam metode eja adalah pendekatan harfiah : dalam metode ini kita memperkenalkan abjad a sampai z beserta bunyi huruf atau fenom kepada anak. mengenal kata. Metode Pengajaran Membaca Agar pembelajaran membaca berhasil dengan baik. Sedangkan pada metode SAS hanya menggunakan satu kata saja. Metode kata lembaga. perlu menggunakan metode yang menarik.wordpress. huruf dan bunyi huruf. Kita bedakan kata-kata tersebut. misalnya membaca menggunakan media kartu bergambar. Kemudian menguraikan kata tersebut menjadi suku kata dan huruf kemudian merangkai lagi. Abdurrahman (2003:214) mengemukakan metode pengajaran membaca bagi anak pada umumnya: 1) Metode membaca dasar Menggabungkan berbagai prosedur untuk mengajarkan kesiapan. . biasanya yang paling cocok dan sesuai alam anak yaitu membaca sambil bermain.

faktor. Merangkai huruf 6) Metode pengalaman bahasa Mendengar. lesu. seperti keadaan lingkungan kelas. akan tetapi semua merupakan alat untuk membimbing anak-anak dalam keberhasilan belajar umumnya dan membaca khususnya. (2) Kreativitas .faktor yang mempengaruhi kemampuan membaca yang dikemukakan oleh beberapa ahli: Menurut Slameto (1993:249). mempengaruhi . suhu udara . Pemilihan metode pembelajaran sebaiknya dipergunakan dengan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut: 1) Menyenangkan bagi anak 2) Tidak menyulitkan anak untuk mengikuti/ menerima 3) Efektif dan efisien f.batuk. ngantuk. Dari pendapat di atas penulis menyimpulkan bahwa ada berbagai macam metode didalam pembelajaran membaca yang masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Metode pembelajaran di atas dapat diterapkan dalam pembelajaran membaca permulaan. letak tempat tinggal alat belajar ( alat tulis. (4) memperbaiki kegagalan. Pembelajaran Membaca Anak Tunagrahita Untuk mencapai prestasi belajar yang optimal. menulis.faktor yang kemampuan membaca adalah sebagai berikut: 1) Faktor yang berasal dari luar individu a) Faktor non sosial seperti: keadaan udara . yaitu (1) Sifat ingin tahu. cuaca. (1) Keadaan jasmani seperti lelah. sakit gigi. Guru hendaknya memilih metode yang cocok dan sesuai dengan situasi dan kondisinya. (3) simpati kepada orang lain . waktu. b) Faktor sosial adalah gangguan yang terjadi pada proses belajar. 2) Faktor yang berasal dari dalam individu. alat peraga ). (2) Faktor Fisiologis .22 4) Metode SAS Memecahkan kode tulisan yang berupa kalimat sederhana 5) Metode Alfabetik Mengenalkan huruf.keadaan fungsi jasmani terutama fungsi panca indra. maka perlu memperhatikan faktor. bercakap-cakap. b) Faktor Psikologis. a) Faktor Fisiologis.

suku kata. (3) kemampuan mendengarkan. kematangan berpikir. (8) motivasi dan minat. gambar. (2) kematangan visual. (6) perkembangan motorik. Peneliti mencoba untuk menggunakan media lempar dadu huruf dalam pembelajaran membaca permulaan yang bertujuan memberi model lain yang dapat membangkitkan minat anak dalam membaca. (4) memperhatikan. Anak tunagrahita adalah anak yang mengalami gangguan dalam kematangan berpikirnya untuk itu pembelajaran membaca bagi anak tunagrahita dilakukan dengan menggunakan metode dan media yang sesuai dengan karakteristik dan kemampuan anak.23 (5) rasa aman . (6) adanya ganjaran atau hukuman. sehingga mampu menimbulkan motivasi belajar membaca pada anak untuk tercapainya tujuan. Penggunaan metode eja ini dikombinasikan dengan berbagai alat peraga yang menarik perhatian anak. Metode yang digunakan metode eja. Kliebhan dan Lerner seperti dikutip oleh Mercer (dalam Mulyono Abdurrahman. Video dan sabagainya. (5) ketrampilan berpikir kematangan mental. Berdasarkan pendapat di atas penulis simpulkan bahwa banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan membaca. kata-kata sederhana. . (7) kematangan sosial dan emosional. keadaan atau fungsi mental. kartu huruf. Pelaksanaan pembelajaran membaca bagi anak tunagrahita di Taman Kanak-Kanak Elim dilakukan dengan memperhatikan kemampuan anak serta pemilihan berbagai macam metode dan berbagai media yang tepat. misalnya dengan puzle. motivasi maupun minat. 2003 : 201) ada delapan faktor yang (1) dan memberikan sumbangan bagi keberhasilan belajar membaca yaitu: perkembangan wicara dan bahasa. Menunut Kirk. termasuk keadaan fungsi jasmani. anak belajar mulai dari pengenalan huruf demi huruf.

perasaan dan perhatian anak didik untuk mencapai tujuan pendidikan Menurut Wijaya Kusumah (2008). perantara atau pengantar. Pengertian Media Media berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari kata medium yang secara harfiah mempunyai arti antara. Menurut Gagne (dalam Arief S. media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari guru ke siswa sehingga dapat merangsang pikiran. adalah sebuah .Media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim pesan ke penerima pesan. perhatian dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses pembelajaran terjadi dan berlangsung lebih efisien. 2003 : 6) “media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk belajarnya”. “Media pendidikan ialah segala bentuk saluran yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan / informasi”. Tinjauan tentang Media Permainan Lempar Dadu Huruf a. b. Menurut Association for Educational Communications Teahnology (AECT) di Amerika yang dikutip oleh Wikipedia (2009). Pengertian Media Lempar Dadu Huruf Dadu adalah bentuk dari suatu benda yang biasanya kita gunakan dalam permainan. dkk. perasaan. Dari pendapat tersebut diatas dapat disimpulkan.24 3. Sadiman. Terkait dengan pembelajaran . media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyampaikan pesan dari pengirim pesan kepada penerima pesan sehingga dapat merangsang pikiran . Dalam Wikipedia menyebutkan “kata Dadu berasal dari bahasa latin “datum” yang berarti suatu yang diberikan atau dimainkan. “ kata media berasal dari bahasa latin medium adalah sesuatu terletak ditengah (antara dua kutub atau antara dua pihak) atau suatu alat “.

dengan menebak sisi yang muncul pada setiap lemparan. (2003 : 16-17) media dalam pendidikan mempunyai fungsi sebagai berikut: 1) Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalistik (dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan belaka). Penulis menggunakan dadu yang dirancang dengan simbol huruf pada setiap sisi-sisnya sebagai media pembelajaran dalam rangka pengenalan huruf. Sadiman . kata dan kalimat sederhana. film dan model. Menurut Arief S. Dadu adalah sebuah benda yang berbentuk kubus. . film bingkai.bisa digantikan dengan realitas gambar. merangkai huruf menjadi suku kata. Gambar lubang atau lingkaran satu pada satu sisi. b) Obyek yang kecil – dibantu dengan proyektor mikro. film dan gambar c) Gerak yang terlalu lambat atau dapat dibantu high speed photography atau low speed photography. Fungsi Media Permainan Lempar Dadu Huruf Media bermain lempar dadu huruf memiliki fungsi untuk memotivasi anak dalam belajar lewat bermain. untuk keperluan meningkatkan kemampuan anak dalam membaca permulaan. dkk. ataupun dengan ketentuan tertentu yang disepakati dalam permainan tersebut. seperti media dalam pendidikan lainnya.25 obyek kecil yang umumnya berbentuk kubus yang digunakan untuk menghasilkan angka atau simbol acak”. film bingkai . 2) Mengatasi keterbatasan ruang . c. Tujuan pembelajaran ini untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan pada anak. waktu dan daya indra seperti : a ) Obyek terlalu besar . Pada keenam sisisisinya biasanya tertera gambar lubang-lubang yang berbeda jumlahnya. lingkaran atau lubang dua pada satu sisi demikian seterusnya pada sisi-sisi yang lainnya. 3) Dengan menggunakan media pendidikan secara tepat dan bervariasi dapat diatasi sikap pasif anak didik dalam hal ini media berguna untuk: a) Menimbulkan kegairahan belajar. Dadu biasanya digunakan sebagai alat untuk berjudi.

sedang kurikulum. gambar dan lain sebagainya. video. Dalam situasi demikian media pembelajaran dapat menimbulkan kegaerahan belajar dan memungkinkan terjadinya interaksi secara langsung antara anak didik dengan lingkungan serta memungkinkan anak didik belajar sendiri menurut kemampuan dan minatnya. c) Memungkinkan anak didik belajar sendiri menurut kemampuan dan minatnya. gempabumi. tentang kejadian masa lalu dapat ditampilkan kembali lewat rekaman film.speed phography. terakhir konsep yang sangat luas seperti gunung berapi. sedang gerak yang lambat atau cepat bisa dibantu dengan time .diagram. waktu. kemudian obyek yang terlalu komplek bisa dibantu dengan modul.lapse atau high. dan memungkinkan siswa menguasai materi lebih baik. media dapat mempertinggi proses belajar siswa dalam gilirannya dapat mempertinggi hasil belajar yang tercapai. masalah ini dapat diatasi dengan media pendidikan. iklim dan divisualisasikan dalam bentuk film . film bingkai. Menurut Oemar Hamalik (2005: 19) manfaat secara umum media pembelajaran memiliki fungsi seperti berikut: 1) Memperjelas penyajian pesan agar tidak bersifat verbalistik. foto. 4) Dengan sifat yang unik pada setiap siswa ditambah lagi dengan lingkungandan pengalaman yang berbeda .gambar. misalnya obyek yang besar diganti gambar. 3) Metode mengajajar akan lebih bervariasi. maka guru akan banyak mengalami kesulitan bilaman latar belakang guru dan siswa sangat berbeda. obyek yang terlalu kecil bisa diganti proyektor mikro. Menurut Wijaya Kusumah (2008). 3) Menggunakan media pembelajaran secara tepat dan bervariasi akan dapat diatasi sikap fasif anak didik atau siswa. dan daya indra. artinya hanya berbentuk kata-kata tertulis atau tulisan. film bingkai. 2) Mengatasi keterbatasan ruang. dan materi pendidikan ditentukan sama untuk setiap siswa.26 b) Memungkinkan interaksi yang lebih langsung antara anak didik dengan lingkungan. film bingkai. Ada beberapa alasan diantaranya yang berkenan dengan manfaat media pengajaran dalam proses belajar siswa antara lain: 1) Pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar. 2) Bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh siswa. .

Anak membaca dari hasil permainan tersebut. Anak lebih terampil dalam motorik halusnya maupun motorik kasarnya berkembang dan anak semakin sehat. Selain fungsi utama yang disebutkan di atas. kata dan kalimat sederhana untuk meningkatkan kemampuan membaca mereka. Selanjutnya menyusun sisi-sisi yang muncul atau yang telah disepakati menjadi susku kata. Kelemahan dan Kelebihan Permainan Lempar Dadu Huruf Tidak ada satupun metode pengajaran yang tidak memiliki kekurangan. melakukan. Berdasarkan pendapat di atas fungsi media dapat penulis simpulkan sebagai berikut: 1) adanya media penyajian pesan tidak terlalu bersifat verbalistik. 2) Objek terlalu luas atau sempit yang sebenarnya tidak dapat ditampilkan akirnya dapat ditampilkan. dengan bimbingan guru bagi mereka yang belum atau kurang mampu. sebab tidak hanya mendengarkan uraian guru. Fungsi dari dadu huruf ini adalah untuk menebak huruf yang akan keluar pada sisi yang muncul/posisi atas atau menurut kesepakatan dalam permainan ini.27 4) Siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar. Demikian dan mengaktifkan siswa . semua metode pembelajaran memiliki kelemahan dan kelebihan. atau penyajian menjadi lebih jelas. d. 5) Utuk memutivasi siswa belajar sendiri Media ini merupakan alat peraga yang setiap sisinya memiliki simbol huruf. merangakai menjadi suku kata. kata atau kalimat-kalimat sederhana. media ini jaga berfungsi untuk meningkatkan aktifitas fisik dan motorik lainnya. Media ini berfungsi sebagai sarana mengenalkan atau mengingatkan kembali pada anak pada huruf-huruf. mendemostrasikan dan sebagainya. 3) Memfariasikan penyajian pendidikan dalam penyajian pendidikan 4) Untuk menarik perhatian siswa dan memutivasi siswa. tetapi juga aktifitas lain seperti mengamati.

kadangkadang vokal yang muncul setelah digabung dengan konsonan tidak membentuk kata yang memiliki arti. Misalnya anak mengambil dadu pada kelompok vokal dan dilemparkan. tidak hanya sebanyak jumlah huruf dalam satu abjad akan tetapi lebih dari itu. diliempar.lemparan ketiga konsonan yang muncul adalah l . Contoh: .lemparan kedua vokal yang muncul adalah i . Kelebihan dari pembelajaran membaca permulaan lewat bermain lempar dadu huruf ini adalah : 1) Anak memilih sendiri dadu huruf yang dilemparnya sehingga anak bersemangat. karena anak harus melempar terlebih dahulu sebuah dadu kemudian memperhatikan untuk dibaca.lemparan pertama konsonan yang muncul adalah b .lemparan keempat vokal yang muncul adalah u Kata yang muncul setela dadu disusun adalah b i l u 3) Memerlukan banyak sekali dadu. 2) Kadang-kadang huruf yang muncul tidak membentuk kata yang punya arti. Pemberian kesempatan kepada anak untuk menentukan . Untuk membaca suku kata anak harus mengambil empat dadu (KVKV). disusun kemudian dibaca. Untuk membaca suku kata memerlukan waktu yang agak lama karena harus melempar dua atau tiga huruf kemudian disusun dan dibaca. ada kelemahan dan kelebihannya. Dadu harus dipersiapkan dalam jumlah yang banyak. Kelemahan dari pembelajarandengan mempergunakan media lempar dadu huruf adalah: 1) Menyita banyak waktu Untuk membaca satu huruf memerlukan banyak waktu.28 juga dengan pembelajaran dalam bentuk permainan lempar dadu huruf ini. lalu mengambil dadu pada kelompok konsonan dan dilemparkan. agar kata-kata yang dapat disusun oleh anak dalam jumlah yang banyak dan bervariasi.

dalam hal ini. Dijelaskan kepada anak. 2) Tidak mengantuk dan bosan karena anak beraktifitas dengan aktif. melempar dadu dengan antusias. Pemberian reward atau penghargaan setiap keberhasilan anak akan membuat anak lebih bersemangat dan merasa dihargai. Saat anak memilih ada aktifitas dalam segi kognitif dan motorik halus. yakni dadu. bahwa dadu memiliki 6 . saat anak melempar ada aktifitas dalam motorik kasarnya. menebak huruf yang muncul dan menyusun serta membacanya. menyusun dan membacanya. Anak yang belum dapat menyusun huruf menjadi kata akan berusaha mencoba lagi sehingga mereka memiliki keinginan untuk mencoba dan mencoba lagi.29 pilihan merupakan hal yang menyenangkan bagi anak. e. Saat menyusun aktifitas dalam kognitifnya bekerja. Langkah-langkah Pengajaran dengan Menggunakan Media Permainan Lempar Dadu Huruf Dalam pembelajaran melalui media bermain lempar dadu huruf ini terlebih dahulu diperkenalkan kepada anak. melempar. Anak akan merasa bangga jika huruf yang dilemparnya dapat membentuk suatu kata yang memiliki arti. Setelah anak memberikan pendapatnya tentang dadu. Guru berperan sebagai motivator. alat permainan yang akan kita pakai sebagai media pembelajaran. Setelah melempar anak dengan senangnya cepatcepat ingin mengetahui apa isi/ bacaan dari lemparan yang akan disusunnya. 3) Anak tertarik untuk mengetahui huruf apa yang keluar dan kata apa yang muncul dari setiap lemparan yang dibuatnya sendiri. Anak diberi kesempatan untuk mengambil/memilih. memotivasi anak untuk mengambil. anak merasa bersemangat dan kepercayaan dirinya tumbuh. lalu kita jelaskan kepada anak informasi seputar dadu sesuai dengan tingkat kemampuan berpikir anak. sehingga anak aktif. Anak ingin segera membaca dari hasil lemparan yang telah disusun tadi dengan mengaktifitaskan aspek kognitifnya. Komentar apa yang diberikan anak tentang benda ini. motorik halusnya juga bekerja.

Kelompok 1 adalah dadu dengan huruf vokal kelompok 2 dadu dengan huruf konsonan. Pada pembelajaran ini dadu setiap sisinya diberi simbol huruf.30 sisi. masing-masing sisi terdapat satu simbol huruf. Penerapan permainan lempar dadu huruf adalah sebagai media serta alat peraga yang digunakan dalam pembelaran pengenalan huruf. Melaksanakan pembelajaran yang menyenangkan bagi anak tunagrahita adalah salah satu cara untuk membangkitkan motivasi anak dalam pembelajaran. kemudian mengambil dan melempar dadu dari kelompok huruf konsonan sesuai pilihan anak. Anak disuruh mengamati dan menyebutkan huruf apa yang muncul atau yang berada pada posisi atas. dua lubang hingga enam lubang. dalam pembelajaran membaca) secara kongkrit lewat tulisan. sehingga tercapai tujuan pembelajaran. Dadu dikelompokkan menjadi 2. Jika anak telah melakukan berkali-kali dan telah paham atau mampu membaca huruf yang ada pada posisi atas. Dadu yang sering kita lihat setiap sisinya terdapat lubang yang setiap sisinya berbeda jumlahnya satu dengan sisi yang lain. Penerapan Pembelajaran dengan Menggunakan Media Bermain Lempar Dadu Huruf pada Anak Tunagrahita Anak tunagrahita dalam belajar perlu ditunjukkan dengan benda kongkrit (simbol bunyi. membaca kata-kata sederhana. dari satu lubang. dilanjutkan dengan mengambil dadu bergantian dari kelompok satu dan dua selama empat kali. Anak ditunjukkan lambang-lambang dari setiap . Anak tunagrahita memiliki kemampuan berpikir di bawah temanteman normal lainnya. Permainan ini dilakukan berulang-ulang sehingga anak aktif dalam pembelajaran. Anak mengambil 1 kali dan melempar dadu dari kelompok satu/huruf vokal. Penerapan permainan lempar dadu huruf bertujuan untuk memotivasi anak dalam mengikuti pelajaran.. Hal ini dilakukan untuk mengenal huruf. merasa senang sehingga kemampuan membaca permulaan pada anak mengalami peningkatan f. membaca suku kata. Setelah empat kali lemparan anak memperhatikan dan membaca huruf yang telah terkumpul dan tersusun.

Membaca merupakan salah satu bidang akademik yang harus segera dimiliki siswa. Dengan membaca seseorang mengerti banyak hal. dilempar lalu keduanya disusun sehingga muncul suku kata. Penggunaan media bermain lempar dadu huruf pada Taman KanakKanak Elim menjadikan suana penuh dengan semangat dan antusias. Karena manfaat membaca mampu meningkatkan belajar pada bidang akademik yang lain. tidak membebani sehingga anak merasakan belajar seraya bermain. sesuai dengan karakteristik anak pembelajaran yang diberikan hendaknya dikemas dalam bentuk permainan yang mendidik. Kerangka Berfikir Membaca merupakan salah satu bidang akademik yang harus segera dimiliki oleh siswa termasuk anak tunagrahita ringan.31 huruf yang ada dalam dadu. melempar dan membacanya. Usia dini adalah masa bermain. Demikian juga pengaruhnya terhadap anak tunagrahita yang bersama-sama belajar dengan anak normal lainnya sangat kelihatan. termasuk anak tunagrahita. Untuk membaca suku kata anak diberi kesempatan mengambil satu dadu kelompok konsonan. Memperoleh informasi-informasi dan menjadikan seseorang . bersemangat dan ingin mengetahui leebih banyak lagi. Pembelajaran membaca permulaan di Taman Kanak-Kanak dapat diberikan lewat suatu permainan yang menyenangkan anak. Untuk membaca kata dilakukan empat kali lemparan dari dadu KVKV. B. kemudian dilempar dan satu dadu kelompok vokal. Penerapan pembelajaran dengan menggunakan berbagai media yang variatif akan tidak membuat anak menjadi bosan. karena membaca mampu meningkatkan prestasi belajar pada bidang akademik lainnya. kemudian disusun sehingga membentuk kata yang dapat dibaca anak. kemudian disuruh mengambil. yang mampu merangsang sel otak sehingga anak memiliki perkembangan dan pertumbuhan yang baik secara optimal. hal ini dibuktikan lewat pengamatan yang dilaksanan dan hasil nilai yang diperoleh siswa tunagrahita pada pembelajaran membaca permulaan.

Tahap membaca permulaan umumnya diajarkan pada saat tibanya masa peka. kondisi lingkungan. materi pelajaran. anak belajar memperoleh kemampuan dan cara-cara dalam membaca dan menangkap isi bacaan. Membaca merupakan kegiatan fisik dan mental untuk menemukan makna dari tulisan aktifitas fisik yang berkait dengan membaca adalah gerak mata dan ketajaman penglihatan. serta tehnik mempelajari materi pelajaran. siswa. . Permainan dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk mengetahui huruf-huruf yang ada.32 bertambah luas wawasannya. Demikian juga dalam belajar membaca permulaan. Secara umum faktorfaktor tersebut dapat diidentifikasi seperti guru. kemudian dapat dilanjutkan dengan kata-kata yang sangat sederhana sesuai dengan usia dan kemampuan anak. Usia peka atau usia dini merupakan fase anak bermain. Aktifitas mental mencakup ingatan dan pemahaman.J. mengembangkan intelektualitas Membaca mempunyai nilai besar untuk orang dewasa karena berkontribusi pada perkembangan. bentuk permainan dapat menarik anak untuk belajar dengan tanpa beban. Membaca dapat digunakan untuk mengembangkan perbendaharaan kata. Membaca bukanlah suatu kegiatan yang mudah. Membaca permulaan merupakan tahapan proses belajar membaca. seperti dapat membebaskan dari tekanan. mendapatkan informasi untuk memecahkan konflik dan mengenali dan lain sebagainya. untuk itu segala pembelajaran yang diberikan kepada anak harus dalam bentuk bermain. yaitu enam tahun atau tujuh tahun bagi anak normal atau sembialn atau sepuluh tahun. menambah proses pengayaan pribadi.S. Membaca merupakan kata kerja dengan kata dasar “baca” yang memiliki arti melihat tulisan dan megerti atau dapat melisankan apa yang tertulis (W. Sehingga anak merasakan sesuatu kesenangan didalam belajar bukan suatu beban atau tekanan. bekerja dengan penuh inisiatif. Poerwadarminta 1984 : 71). Banyak faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan siswa dalam membaca.

33 Kata “kemampuan” berasal dari kata dasar “mampu” yang berarti mengandung makna yang sama dengan kata “bisa atau sanggup melakukan sesuatu”. Media ini melibatkan siswa secara aktif. kecakapan untuk melakukan sesuatu. Adapun kerangka berpikir pembelajaran dengan menggunakan media bermain lempar dadu huruf adalah sebagai berikut : . Permainan yang dilakukan sesuai peraturan yang telah ditetapkan membuat anak belajar untuk berdisiplin. Untuk itu perlu dilakukan suatu strategi untuk membuat anak tertarik pada membaca yaitu dengan pembelajaran melalui media bermain lempar dadu huruf. Pemberian reward pada setiap kata yang memiliki makna akan lebih meningkatkan antusias anak sehingga anak terangsang terus pada akhirnya anak memperoleh pengetahuan dan pemahaman konsep lebih mendalam terhadap materi yang diajarkan dengan menggunakan media permainan lempar dadu huruf dalam membaca permulaan untuk anak tunagrahita ringan diharapkan prestasi belajarnya meningkat. Sedangkan kemampuan diartikan kesanggupan.

yakni kemampuan membaca permulaan sangat rendah. yaitu pelaksanaan pembelajaran membaca permulaan dengan menggunakan media lempar dadu huruf. Hipotesis Tindakan Adapun hipotesis dalam penelitian ini adalah “melalui pembelajaran dengan menggunakan media lempar dadu huruf. maka kemampuan membaca permulaan siswa tunagrahita kelas B Taman Kanak-kanak Elim Sragen meningkat”. . Tindakan adalah melaksanakan apa yang telah direncanakan sebelumnya. Kondisi akhir adalah kondisi setelah pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan media bermain lempar dadu huruf. C.34 Kondisi awal kemampuan membaca sebelum Pembelajaran menggunakan media Bermain lempar dadu huruf Tindakan Pembelajaran menggunakan media bermain lempar dadu huruf Kemampuan membaca permulaan Kondisi Akhir setelah menggunakan media bermain lempar dadu huruf Keterangan: Kondisis awal adalah kondisi anak sebelum pembelajaran dengan menggunakan media lempar dadu huruf dilaksanakan.

B.Melihat adanya perbedaan yang sangat signifikan pada kedua siswa yang mengalami keterlambatan didalam kemampuan membaca permulaan dibandingkan dengan empat belas murid yang lainnya. Taman Kanak-Kanak Elim adalah tempat dimana penulis mengajar dan juga sebagai wali kelas. Anak cenderung pendiam 2.35 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Kurang semangat dalam mengikuti kegiatan belajar namun dalam bermain sangat bersemangat melebihi teman-temannya. Penyusunan laporan pendidikan. Belum dapat membaca . penyempurnaan berdasarkan saran dari dosen pembimbing dan pihak lain yang dirasa perlu. Farel memiliki karekteristik sebagai berikut: 1.80 Sragen. tindakan. koordinator persiapan tindakan pelaksanaan (perencanaan. evaluasi dan refleksi). Rincian kegiatan penelitian tersebut adalah. Penggandaan dan pengiriman laporan pendidikan. Mengenal huruf tertentu saja 4. monitoring. Raya Sukowati no. Di kelas tersebut terdapat dua anak sebagai subyek penelitian yaitu Farel dan Ian Rudianto. persiapan penelitian. Pengamatan terhadap hasil pembelajaran membaca permulaan adalah selama dimulainya semester II TK A. Subjek Penelitian Subjek penelitian Tindakan kelas ini adalah siswa tunagrahita kelas B Taman Kanak-kanak Elim Sragen. Jln. Penelitian dilakukan di kelas B Taman Kanak-Kanak Elim Sragen didasarkan pada pertimbangan : 1. 2. Penelitian berlangsung selama bulan Juli sampai september 2010. Setting Penelitian Tempat penelitian tindakan kelas adalah Kelas B Taman Kanak-kanak Elim Sragen. 3.

36 5.2 5 5.3 5. Ian Rudianto memiliki karakter sebagai berikut: 1.(Subjek) .5 5 6 5 5. Data dan Sumber Data Data Penelitian yang dikumpulkan berupa informasi tentang kemampuan membaca khususnya dan kemampuan menulis serta kemampuan lain umumnya. 5. Mampu membaca suku kata. kata sederhana jika dibantu.2 5. Tidak peduli. No A AK AR EN F IR JG KN LT LR RW SP TL TA Y YK Nama Jenis kelamin L P P L P P L P p L p L p p L p L Usia 5 5.(Subjek) √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 . Anak sangat banyak bergerak. cenderung hiperaktif 2.4 5.7 5. Lambat dalam menjawab pertanyaan. jika ditanya tidak memberikan respon jika pertanyaan tidak diulangUlang 4. C.7 5. Sulit berkonsentrasi 3. Nilai yang dicapai siswa selama pembelajaran di kelas A. Suka mengganggu.5 5 5.3 5 Nilai 85 80 80 85 30 35 85 90 95 90 90 85 90 85 95 95 Ket √ √ √ √ .

37

Nilai di Taman Kanak-kanak adalah berupa simbol yang memiliki bobot tertentu, demikian juga di taman kanak-kanak Elim Sragen menggunakan simbol bintang yang memiliki bobot nilai 2,5. Nilai tertinggi adalah bintang 4 (****) yang memiliki bobot nilai 10. Rata-rata nilai yang dicapai kedua subjek tersebut adalah bintang 1 dan bintang 2. Jika dibandingkan keduanya anak ian sering memperoleh nilai lebih tinggi dari pada farel, yaitu bintang 2. Ian lebih sedikit mampu membaca suku kata dan kata–kata sederhana daripada Farel. Metode-metode yang digunakan guru yang tepat sesuai dengan kondisi anak akan mampu meningkatkan kemampuan membaca pada anak, hanya penerapan metode yang kurang menarik membuat anak menjadi jenuh dan tidak bersemangat khususnya bagi Farel dan Ian, untuk itu peneliti mencoba menggunakan media bermain lempar dadu huruf agar anak tertarik. Sumber data dari dari penelitian ini adalah siswa dan guru. Peristiwa yang terjadi selama pembelajaran berlangsung. Dokumen atau arsip yang berupa kurikulum kurikulum, rencana pelaksanaan pembelajaran, hasil kegiatan anak dan buku penilaian. D. Teknik Pengumpulan Data Tehnik pengumpulan data data adalah yang suatu prosedur yang sitematik diperlukan. Oleh karena itu dan standar untuk memperoleh

kualitas data sangat ditentukan oleh alat pengumpul data atau alat ukuran, sehingga data benar-benar valid dan reliable. Adapun tehnik pengumpulan data yang digunakan adalah dengan tes, observasi, dokumentasi. 1. Tes a. Pengertian test Untuk mengetahui kemampuan anak diperlukan alat untuk mengukur. Alat ukur kemampuan terseburt adalah test. Menurut Suharsimi Arikunto (2005:127) test adalah “serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk mengukur, ketrampilan.

38

pengetahuan intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki individu atau kelompok”. Menurut Baitul Alim (http://www.psikologzone.com/2006) “Suatu tes dapat didefinisikan sebagai suatu tugas atau serangkaian tugas- tugas yang digunakan untuk memperoleh tentang suatu atribut atau hasil pendidikan yang representative”. Berdasarkan dua pendapat diatas dapat penulis simpulkan bahwa tes adalah serangkaian pertanyaan yang harus dijawab untuk mengukur kemampuan atau bakat yang dimiliki individu atau kelompok. Tujuannya . pretest. Kegiatan pembelajaran dilaksanakan, pada akhir pembelajaran diadakan postest untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan yang dicapai dalam membaca permulaan dengan menggunakan media bermain lempar dadu huruf. b. Jenis – Jenis tes Ada beberapa jenis tes yang dapat dipergunakan untuk mengukur kemampuan seseorang adalah sebagai berikut: Menurut Baitul Alim (2006). Jenis tes dikelompokkan menjadi : “ Tes intelegensi, tes bakat, tes hasil belajar, dan tes kepribadian “. Menurut Pandit, PL (2010:12) Jenis tes dikempokkan menjadi: 1 ) Tes Intelegensi Tes kemampuan intelektual, mengukur taraf kemampuan berpikir, terutama berkaitan dengan potensi untuk mencapai taraf prestasi tertentu dalam belajar di sekolah ( Mental ability Test ; Intelegence Test; Academic Ability test; Scholastic Aptitude Test ). Jenis data yang dapat diambil dari tes ini adalah kemampuam intelektual atau kemampuan akademik. 2 ) Tes Bakat Tes kemampuan bakat, mengatur taraf kemampuan seseorang untuk berhasil dalam studi tertentu, program pendidikan vokasional tertentu atau bidang pekerjaan tertentu, lingkupnya lebih terbatas dari tes kemampuan intelektual (Test of Specific Ability ; Aptitude Test ). tes adalah : untuk sejauh mengukur mana kemampuan kemampuan ketrampilam, anak sebelum kemampuan, kecerdasan dan bakat yang dimiliki anak atau seseorang. Untuk mengukur pembelajaran melalui media lempar dadu huruf dilakukan, yaitu melalui

39

Kemampuan khusus yang diteliti itu mencakup unsure-unsur intelegensi, hasil belajar, minat dan kepribadian yang bersama-sama memungkinkan untuk maju dan berhasil dalam suatu bidang tertentu dan mengambil manfaat dari pengalaman belajar dibidang itu 3 ) Tes Minat Tes minat, mengatur kegiatan–kegiatan macam apa paling disukai seseorang. Tes macam ini bertujuan membuat orang mudah dalam memilih macam pekerjaan yang kiranya paling sesuai baginya (Test of Vocational Interest ). 4 ) Tes Kepribadian Tes kepribadian, mengatur ciri-ciri kepribadian yang bukan khas bersifat kognitif, seperti sifat karakter, sifat temperamen, corak kehidupan emosional, kesehatan mental, relasi-relasi sosial dengan orang lain, serta bidang-bidang kehidupan yang menimbulkan kesukaran dalam penyesuaian diri. Tes proyektif, meneliti sifat-sifat kepribadian seseorang melalui reaksi –reaksinya terhadap suatu kisah, suatu gambar atau suatu kata; angket kepribadian, meneliti berbagai ciri kepribadian seseorang dengan menganalisa jawaban-jawaban tertulis atas sejumlah pertanyaan untuk menemukan suatu pola bersikap, bermotivasi atau bereaksi emosional, yang khas untuk orang lain itu. Kelemahan Tes proyektif hanya diadministrasi oleh seorang psikolog yang berpengalaman dalam menggunakan alat itu dan ahli dalam menafsirkannya. 5 ) Tes Perkembangan Vocasional Tes vocasional, mengukur taraf perkembangan orang muda dalam hal kesadaran kelak akan memangku suatu pekerjaan atau jabatan ( vocation ) dalam memikirkan hubungan antara memangku suatu jabatan dan cirriciri kepribadian serta tuntunan-tuntunan sosial ekonamis; dan dalam menyusun serta mengimplementasikan rencana pembangunan masa depannya sendiri. Kelebihan tes semacam ini meneliti taraf kedewasaan orang muda dalam mempersiapkan diri bagi partisipasinya dalam dunia pekerjaannya ( career maturity ) 6 ) Tes Hasil Belajar (Achievement Test) Tes yang mengukur apa yang telah dipelajari pada berbagai bidang studi, jenis data yang dapat diambil menggunakan tes hasil belajar (Achievement Tes ) ini adalah taraf prestasi dalam belajar. Berdasarkan beberapa pendapat tentang jenis tes, penulis simpulkan yaitu tes tertulis, tes lesan, tes bakat, tes kepribadian dan tes perkembangan vocasional.

pengamat dengan yaitu obsevasi partisipan (aktif) dan yang meliputi kegiatan pemusatan perhatian terhadap suatu pengamat dengan . 2 ) Obsevasi sistematis yaitu observasi yang dilakukan oleh menggunakan pedoman sebagai instrumen pengamatan. b. Menurut Suharsimi Arikunto (2005 : 145) “observasi adalah pengamatan objek dengan menggunakan seluruh alat indra”. Berdasarkan pendapat diatas penulis simpulkan: observasi adalah suatu tindakan pengamatan dan pencatatan yang dilaksanakan secara langsung. Tujuannya adalah untuk mengetahui kemampuan membaca siswa sebelum dan setelah diberi tindakan. Pengertian Observasi. jenis tes yang penulis gunakan adalah: tes lisan. Pengamatan / Observasi a. partisipan dan sistimatis terhadap suatu obyak dengan menggunakan seluruh alat indra. Menurut Suharsimi Arikunto (2005 : 147) observasi ditinjau dari jenisnya ada dua macam . dan tes perbuatan. yaitu: 1 ) Observasi nonsistematis . 2. yaitu Observasi yang dilakukan oleh tidak menggunakan instrumen. Sedang observasi penulis gunakan sistematis. Menurut Muhammad Idrus (2007 : 129) “observasi atau pengamatan merupakan aktivitas pencatatan fenomena yang dilakukan secara sistematis”. Jenis Observasi Observasi ada beberapa macam atau jenis.40 Penelitian ini.

Sedang observasi nonpartisipan justru sebaliknya. 3.mail. untuk melengkapi data.150) dibedakan atas : jenis observasi 1 ) Observasi Partisipan . 2 ) Obsevasi sistematis Observasi nonsistematis Obsevasi sistematis yaitu dimana obseever menggunakan kerangka materi atau instrumen untuk memudahkan dalam malakukan observasi. agenda.suara hidup (moving images ). yang dirasa kurang lengkap dokumen. sebuah e. sistematis dan eksperimen. notulen rapat. Observasi Partisipan yaitu jika orang mengadakan observasi turut ambil dalam kehidupan orang yang diobsevasi. Adapun dalam penelitian ini jenis obsevasi/pengamatan yang penulis gunakan adalah observasi atau pengamatan partisipan dan sistematis. Menurut Suharsimi Arikunto (2005 : 206) ”Dokumen merupakan salah satu media yang digunakan untuk melengkapi data mengenai hal – hal yang berupa catatan.Dokumen bisa pula dikategorikan menurut bentuk fisiknya .Obsevasi Noneksperimental. Dokumentasi a. transkip. misalnya sebuah buku.41 Sedang menurut Sutrisno Hadi (2000 :141. 3 ) Obsevasi Eksperimental . sebuah berkas. Menurut Pandit P L (2010:12) Istilah dokumen dipakai untuk satu informasi tunggal . Berdasarkan pendapat tentang jenis observasi penulis simpulkan yaitu: observasi partisipan . atau kurang yakin bila tidak didukung dengan . Pengertian Dokumen adalah salah satu alat pengumpul data . buku. Sedang observasi nonsistematis justru sebaliknya. majalah .Observasi Nonpartisipan. surat kabar. tetapi mengandung bentuk lain seperti gambar. dan sebagainya”. Obsevasi Eksperimental yaitu dimana observer oran yang didikte oleh jalannya arus peristiwa . sebuah halaman Web. pada umumnya berisi teks. a single unit of information (setunggal informasi). prasasti.

untuk mengetahui kemampuan siswa pada umumnya. dan nilai yang diberikan guru. transkrip. prasasti. . Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang dibuat guru. buku. dokumen Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang dibuat guru. isinya tentang hasil atau prestasi belajar. dan kemampuan membaca permulaan khususnya. Jenis dokumen penulis gunakan adalah jenis dokumen catatan kesiswaan. dokumen adalah pengumpulan data melalui peninggalan tertulis bisa surat kabar. Menurut Sawarji Suwandi (2008 : 68) dokumen dari: Kurikulum. sebuah e-mail dan arsip – arsip lain yang ada kaitannya dengan prestasi keadaan siswa. Berdasarkan pendapat diatas. majalah. Jenis Dokumentasi Untuk melengkapi data dalam penelitian. agenda. buku atau materi pelajaran. terutama kemampuan membaca anak tunagrahita sebelum menggunakan media bermain lempar dadu huruf. Dokumen yang penulis gunakan adalah raport.42 Berdasarkan pendapat di atas penulis simpulkan. dokumen catatan kesiswaan yang berada belakang disetiap sekolah. daftar nilai. jenis dokumen penulis simpulkan yaitu dokumen catatan kesiswaan. Adapun jenis disekolah dan di luar sekolah. b. notulen rapat. aktivitas arsip terdiri merupakan salah satu diantara data – data yang telah ada. dokumen nilai yang diberikan guru. catatan atau buku ulangan harian siswa. hasil tulisan atau karangan siswa. dokumen hasil karya siswa. dukumen pelengkap dokumen sebagai pelengkap penelitian ini adalah: Menurut Fu’adz Al-Gharuty (2009). keadaan dan perkembangan pribadi atau siswa. latar keluarga. berkas.

yang reliable akan menghasilkan data yang dapat dipercaya juga. factorial validity. conten validity.43 E. yaitu instrumen dari beberapa butir tes yang mencerminkan suatu faktor yang tidak menyimpang dari fungsi instrumen berupa kisi-kisi buatan guru berdasarkan KTSP. Teknik yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah riview informasi kunci dan triangulasi. Validitas data adalah data yang sesuai dengan apa yang akan diukur. Instrumen yang sudah dapat dipercaya . Tes harus reliabel. Jenis-jenis validitas tes menurut Sutrisno Hadi (2000:111) antara lain: “facer validity. maka tes tersebut harus memenuhi syarat sebagai tes yang baik. yakni validitas. Instrumen yang baik tidak akan bersifat tendensius mengarahkan responden untuk memilih jawabanjawaban tertentu (Suharsini Arikuntoro. . internal validity dan empirical validity”. Validitas Data Agar penelitian dapat dipertanggungjawabkan diperlukan adanya validitas sehingga data tersebut dapat dijadikan dasar yang kuat untuk menarik kesimpulan. Tehnik reliabilitas menggunakan standar isi berdasarkan standar standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam pembelajaran membaca sesuai dengan KTSP. 2005:142). F. external validity. tes cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut sudah baik. Tes valid artinya tes yang dibuat hendaknya dapat mengukur apa yang dapat diukur. Validitas dan Reliabilitas Instrumen Tes adalah alat pengukur prestasi belajar anak didik. Tes yang disusun harus sesuai dengan materi yang pernah diajarkan dan mempunyai taraf kesukaran yang sama dengan kemampuan peserta didik. agar tes dapat digunakan sebagai alat pengukur prestasi belajar yang baik. logical validity. Penulis dalam penelitian ini menggunakan uji validitas conten validity.

sikap anak. membaca huruf awal kartu bergambar: b. b. kebiasaan anak yang diamatinya dalam lingkungan sekolah umumnya dan saat pengamatan dalam kegiatan belajar khususnya. Menurut Sarwiji Suwardi. Triangulasi sumber data a. “Review informasi kunci adalah mengkonfirmasikan data atau interprestasi temuan kepada informasi kunci sehingga diperoleh kesepakatan anatar peneliti dan informan tentang data atau informasi temuan tersebut. Data dari raport semester II kelas A. c. nilai rata-rata 45 2. Teknik triangulasi digunakan sumber data sebagai berikut: 1. Triangulasi Pengumpulan data a. Pemberian tes. Wawancara dengan orang tua siswa tentang belajar anak di rumah.(2008:69). Tugas membaca. mengadakan diskusi dengan kolaburator tentang kondisi anak.” Lexy Moelong dalam Sarwiji Suwandi (2008 : 69). Diskusi dengan teman sejawat tentang fasilitas/ media pembelajaran di sekolah.44 “Triangulasi adalah teknik pemeriksaan validitas data dengan memanfaatkan sarana di luar data itu untuk keperluan pengecekkan atau pembandingan data itu. Review informasi kunci. Kesimpulan penulis data dianggap valid apabila data itu dapat mengungkap kebenaran dan dapat digunakan dengan mudah serta dapat digunakan siapa saja. siswa mengalami kesulitan .” (Sarwiji Suwandi 2008 : 69).”data dianggap valid apabila setelah melakukan kegiatan pengamatan maupun kajian dokumen diperiksa kembali oleh peneliti sehingga data tersebut valit”. membaca di depan kelas.

Teknik Analisis Data Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian untuk hipotesis mengenai “Upaya Peningkatan Kemampuan Membaca Permulaan Melalui Media Bermain Lempar Dadu Huruf pada Anak Tunagrahita Kelas B Semester II di Taman Kanak-Kanak Elim Sragen Tahun Pelajaran 2010/2011”. Prosedur ini secara garis besar dapat digambarkan dengan skema sebagai berikut : Perencanaan Refleksi Perencanaan Refleksi Pelaksanaan Pengamatan Pengamatan Pelaksanaan . pengamatan dan refleksi. Jika nilai yang diperoleh anak di bawah 70. pelaksanaan. artinya seorang anak telah dinyatakan melampaui ketuntasan belajar jika telah memperoleh nilai 70. I. Indikator Kinerja Indikator sebagai tolak ukur keberhasilan dalam penelitian tindakan kelas ini menggunakan KKM yang telah ditetapkan oleh sekolah. Tehnik deskriptif komparatif digunakan untuk data kuantitatif. H.45 G. Prosedur Penelitian Penelitian ini dilakukan dalam 2 siklus. membandingkan nilai post tes I dengan nilai post tes II. adapun nilai KKM untuk bidang pengembangan bahasa yakni membaca permulaan adalah 70. yaitu membandingkan nilai awal dengan post tes I. penulis menggunakan tehnik deskriptif komparatif dan tehnik analisis kritis. masing-masing siklus dengan tahapan: perencanaan. maka belum dapat dinyatakan tuntas.

2. Observasi Dilakukan dengan mengamati : 1. Mengenal huruf. Tindakan 5. Observasi ini untuk memperoleh . Menyiapkan media pembelajaran. Guru meminta siswa menanyakan huruf yang belum dipahami. melempar dan membaca huruf yang muncul di posisi atas. Aktivitas menerapkan media lempar dadu huruf dalam meningkatkan kemampuan membaca permulaan. 1. Guru meminta murid mengambil dadu huruf. yaitu dadu yang bertuliskan huruf. 3. 3. Guru memberi penjelasan kepada siswa tentang materi yang akan dipelajari dengan menggunakan media lempara dadu huruf. 2. Menentukan dan menyiapkan materi. Guru meminta siswa untuk menyanyikan lagu a b c c d e f g dengan menunjuk huruf yang ada di papan tulis.46 Rancangan prosedur penelitian : Siklus I Perencanaan Kegiatan : 1. Menganalisis materi pelajaran 2. merangkai menjadi kata. 4. 4. Membuat rencana pembelajaran. Membuat lembar pengamatan.

Data yang diperoleh pada tahap observasi dianalisis. Siswa memainkan media lempar dadu huruf diawasi guru. dianalisa untuk mengetahui kelemahan yang Refleksi mungkin ada. Menarik anak tunagrahita untuk Tindakan bermain lempar dadu huruf 1. 2. Setelah data tentang membaca permulaan dengan media bermain lempar dadu huruf diperoleh. Apresiasi untuk perbaikan materi yang telah diajukan pada siklus I 2. Siswa menjawab dengan membaca dadu yang dilempar oleh guru baik Observasi huruf maupun kata. Hasil yang diperoleh dapat disimpulkan hasil kemampuan membaca selama 2 siklus . Menganalisa hasil observasi untuk memperoleh kesimpulan bagian mana yang perlu di sempurnakan untuk Siklus II Perencanaan siklus berikutnya. Memperbaiki kesalahan / kekurangan pada siklus II 3.47 data tentang kemampuan membaca Refleksi permulaan. Kegiatan : 1.

(3) pengamatan dan (4) refleksi (reflecting). maka dilakukan serangkaian tindakan guna mengatasi permasalahan tersebut. Perencanaan yang terdiri dari: Menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan dalam pelaksanaan tindakan yaitu materi. karena selama ini belum pernah dicobakan pembelajaran dengan menggunakan media lempar dadu huruf sebagai sarana pembelajaran dalam bentuk permainan yang menarik. kaitannya dengan kemampuan membaca yang masih kurang. Berdasarkan pada permasalahan yang dihadapi oleh siswa kelas B Taman kanak-Kanak Elim Sragen.48 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Membaca merupakan hal yang sangat mendukung anak dalam memperoleh informasi. (2) tindakan (acting). Terkait dengan perencanaan maka peneliti membuat jadwal pelaksanaan rangkaian (observing). Hal ini dilakukan seperti yang telah dikemukakan bahwa penggunaan media lempar dadu huruf dirasa tepat dalam upaya untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan anak tunagrahita kelas B Taman Kana-Kanak Elim Sragen. Prosedur penelitian dilaksanakan dua siklus yang masing – masing terdiri empat tahapan (1) perencanaan (planning). sarana maupun prasarana yang diperlukan dalam pelaksanaan penelitian baik siklus I dan II. . agar semua dapat berjalan dengan teratur dan lancar sesuai dengan yang diharapkan. Kemampuan membaca berpengaruh pada anak dalam mengikuti pembelajaran.

Penulisan laporan hasil penelitian dan pembahasan. Penyelesaian skripsi. A. termasuk . Evaluai 3 4 5 I Agustus 2010 II-IV Agustus 2010 I-IV September 2010 Menyiapkan Instrument pelaksanaan siklus II Melaksanakan pre test. keadaan kelas B Taman Kanak-Kanak Elim Sragen. 2 II-IV Juli 2010 Melaksanakan pre test. Keterangan Perbaikan dan penggandaan hasil penelitian. Siswa di Kelas B Taman Kanak-Kanak Elim terdiri dari 16 siswa. 3. yakni 5 anak laki-laki dan 11 perempuan. 1 Minggu Ke/Bulan I Juli 2010 Kegiatan Melakukan observasi ke kelas Pembuatan kisi-kisi. 1. Mereka memilik kemampuan yang sangat baik dalam setiap pembelajaran. 2. lembar pengamatan. berikut: Jadwal kegiatan penelitian adalah sebagai Jadwal Kegiatan Penelitian No. Pelaksanaan tindakan siklus I. Deskripsi Kondisi Awal Pelaksanaan Penelitian Berdasarkan hasil pengamatan /observasi yang dilakukan.49 penelitian yang akan dilakukan. item soal. Pelaksanaan siklus II 1. Penulisan Bab V.

(Subjek) √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ . Dalam hal membaca anak selalu memperoleh nilai jauh di bawah nilai teman-temannya. belum dapat membaca khususnya dan sangat tertinggal pada mata pelajaran yang lain umumnya.(Subjek) .2 5 5.5 5 5.3 5.3 5 85 80 80 85 30 35 85 90 95 90 90 85 90 85 95 95 √ √ √ √ . bahkan membaca surat kabar.4 5.50 dalam hal membaca. Ada beberapa anak yang memiliki kemampuan membaca yang sangat lancar sehingga anak telah mampu membaca buku-buku di ruang perpustakaan.7 5.7 5. sebagai berikut: Tabel I Nilai awal sebelum pelaksanaan siklus I (Nilai Subjek Dibandingkan dengan Nilai Siswa lain) dalam Membaca Permulaan Semester II Kelas A Taman Kanak-Kanak Elim Sragen Tahun Pelajaran 2009/2010 No Kode Jenis kelamin L P P L P P L P p L p L p p L p L Usia Nilai Keterangan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 A AK AR EN F IR JG KN LT LR RW SP TL TA Y YK 5 5. sehingga sekolah menetapkan Kriteria Ketuntasan Maksimal (KKM) membaca 70. Hal ini dapat dilihat dari laporan nilai ulangan yang diperoleh selama semester II di kelas A tahun pelajaran 2009/2010 dalam pembelajaran membaca permulaan.2 5. demikian juga dalam kegiatan pembelajaran yang lainnya. Akan tetapi dari hasil pengamatan/observasi menunjukkan bahwa terdapat dua dari enam belas murid kelas B Taman Kanak-Kanak Elim Sragen yang terdiri dari dua anak laki-laki.5 5 6 5 5.

. karena nilai yang diperoleh anak sangat jauh dari kriteria ketuntasan minimal yang ditetapkan di Taman Kanak-Kanak yaitu 70. Berdasar kondisi tersebut peneliti ingin berupaya untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan pada kedua anak yang mengalami keterlambatan didalam membaca permulaan tersebut. dengan menggunakan media lempar dadu huruf.51 * Keterangan: √ = Mampu = Belum Berdasar hasil prestasi belajar di atas menunjukkan bahwa 2 dari 16 anak atau 12% siswa kelas B Taman Kanak-Kanak Elim belum dapat membaca permulaan. Data nilai yang diperoleh kedua anak tersebut dibandingkan dengan nilai yang diperoleh teman-teman sekelasnya dapat kami tampilkan dalam suatu grafik sebagai berikut di bawah ini: Grafik Nilai Membaca Permulaan Sebelum Siklus I (Nilai Subjek dibandingkan dengan Nilai Siswa lain) Keterangan: Subjek adalah no 5 dan 6.

Grafik Hasil Perolehan Nilai Kemampuan Membaca Awal/ Pre Test . guru hendaknya berusaha merenovasi model pembelajaran yang telah dilakukan.52 Melihat hal tersebut. kemudian memperoleh nilai sebagai berikut: Tabel 2 Hasil Perolehan Kemampuan Membaca Awal/ pre Test Kode Nilai Semester I Nilai Pre test N0 Keterangan 1 2 F IR 30 35 27 30 Turun 10% Turun 15% Berdasar keadaan tersebut. Dengan tujuan materi membaca dapat lebih diminati dan lebih digemari oleh siswa. Salah satunya dengan mempergunakan media sebagai sarana meningkatkan kemampuan membaca siswa.. dalam hal ini penulis menggunakan medialempar dadu huruf. maka peneliti melakukan pre test terhadap kemampuan siswa sebagai acuan untuk menentukan keberhasilan dari tindakan yang akan dilakukan selanjutnya.

5) Membuat lembar penelitian siswa yaitu berupa tes. Instrumen tes ini digunakan untuk meneliti kemampuan membaca permulaan pada anak. 2) Menentukan dan menyiapkan materi pengenalan huruf kepada anak. 4) Menyiapkan media pembelajaran yaitu dadu yang bersimbolkan huruf. 16 Juli 2010. yaitu meja. membuat intrumen tes dan lembar tugas siswa. Membuat rencana pembelajaran. Pengamatan . 6) Membuat lembar pengamatan. Kegiatan perencanaan tindakan I dilaksanakan pada hari Senin.53 2. Sedangkan rencana pelaksanaan tindakan dilaksanakan siklus I pada hari Jumat. serta menyiapkan peralatan yang dibutuhkan dalam pembelajaran membaca melalui media lempar dadu huruf. (2)Tindakan atau Pelaksanaan . b. a. Tindakan (Acting) Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar guru memberikan apersepsi dengan membuka percakapan tentang nama benda di sekitar siswa. (3) Observasi atau Evaluasi. Adapun tahap perencanaan tindakan siklus I adalah sebagai berikut: 1) Menganalisa materi pelajaran Mengkaji materi yang sesuai dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan anak. 12 Juli 2010 di ruang kelas B Taman Kanak-Kanak Elim Sragen dan di lingkungan sekolah. (4) Refleksi atau . 7) Menentukan jadwal pelaksanaan tindakan. 3) Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran untuk siklus I. Perencanaan (Planning). Pelaksanaan Siklus I Siklus pertama terdiri dari 4 tahap yaitu : (1) Perencanaan .

melempar dan membacanya. Guru memberikan beberapa soal kepada anak sebagai pre test. melempar. untuk mengetahui sejauhmana anak menagalami kemajuan setelah pembelajaran berlangsung. Walaupun dalam siklus I ini dalm melakukan tugas yakni mengambil. c. Selanjutnya anak disuruh menyebutkan huruf-huruf yang ada dalam abjad dan diteruskan lagu “ abcdefg“. 16 Juli 2010 terhadap kegiatan pembelajaran membaca permulaan melalui media lempar dadu huruf dari awal sampai akhir. kemudian keduanya disusun dan dibaca. yaitu membaca huruf. melempar dan membaca huruf belum begitu tertib. kecenderungan bermain tanpa tujuan masih dominan.54 buku. suku kata dan kata. Semua nama-nama benda tadi dapat di tulis dengan huruf-huruf yang terdapat dalam abjad. dengan menggunakan instrument observasi yang disiapkan peneliti. baju. belum terlihat keinginan anak untuk mengetahui atau dapat membaca huruf . Guru menjelaskan dan menyebutkan kelompok vokal atau huruf hidup dan konsonan atau huruf mati kepada siswa. dapat diambil kesimpulan bahwa dalam pelaksanaan pembelajaran muncul semangat terhadap minat belajar pada anak tunagrahita di kelas B Taman Kanak-Kanak Elim Sragen. Guru memberikan beberapa soal kepada anak sebagai post test yaitu membaca huruf. mengambil lagi satu dadu pada kotak vokal. Pengamatan (Observing) Pelaksanaan observasi pada hari Jumat. suku kata dan kata. Guru memberi kesempatan kepada siswa mengambil satu dadu . Guru menunjukkan dadu huruf kepada siswa yang berisi simbulsimbul huruf yang ada pada setiap sisinya. Guru mem beri kesempatan kepada siswa mengambil empat dadu dengan urutan KVKV melempar. menyusun dan membacanya. Kelompok vokal berada pada kotak dua atau kelompok dua. Selanjutnya guru memberi kesempatan kepada siswa mengambil satu dadu pada kotak konsonan. Kelompok konsonan berada pada kotak satu atau kelompok satu. melempar.

Semangat yang timbul adalah semangat hanya untuk bermain. Nilai setelah pelaksanaan siklus I dan grafik nilai perolehan anak pada siklus I. Hasil pengamatan dapat dilihat pada lembar pengamatan seperti di bawah ini: Lembar Pengamatan Kemampuan Membaca Permulaan Anak Tunagrahita Kelas B Taman Kanak-Kanak Elim Sragen No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Aspek yang diamati Frekuensi kesalahan dalam membaca Kesalahan membedakan huruf b dengan d Kesalahan membedakan huruf p dengan q Kesalahan membedakan huruf m dengan n Kesalahan membedakan huruf s dengan z Kesalahan membedakan huruf v dengan u Membaca terlalu lama Tidak Tiduran Tidak mengerjakan tugas Mengganggu teman-teman Berceritera atau berteriak-teriak saat pelajaran berlangsung mengikuti pelajaran sungguh-sungguh √ √ Farel Ya Tidak √ √ √ √ √ √ √ dengan √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Ian Ya Tidak √ √ √ √ √ .55 atau tulisan yang muncul. melalui lembar pengamatan. Di bawah ini kami sajikan hasil pengamatan yang penulis lakukan.

6% Belum tuntas 2 IR 30 55 83.3% Belum tuntas Dari nilai yang diperoleh anak setelah pelaksanaan siklus I dapat dibuat grafik sebagai berikut: Grafik Hasil Perolehan Nilai Kemampuan Membaca Setelah Siklus I 606162 .56 Hasil dari evaluasi membaca pada akhir siklus I menunjukkan adanya peningkatan sebagai berikut: Tabel 3 Nilai setelah pelaksanaan siklus I Nilai Ulangan Membaca Permulaan Anak Tunagrahita Semester I Kelas B Taman Kanak-Kanak Elim Sragen Tahun Pelajaran 2010/2011 No Kode Pre test Post test Kemajuan Keterangan 1 F 27 45 66.

menyusun dan membaca perlu ditingkatkan. 20 Juli 2010.6% bagi Farel dan 83.3 % bagi Ian. Frekuensi lemparan. Memfokuskan perhatian anak kepada hasil yang akan dicapai harus lebih ditekankan. atau meningkat 66. atau belum tuntas. ss 70 45 70 x100 = 64% bagi Farel x100 = 79% . artinya masih di bawah KKM yang . 3. yakni: 1) Hasil tindakan pada siklus I telah menunjukkan kenaikan yang berarti. Perbaikan pada siklus II mengacu pada kekurangan-kekurangan yang telah disebutkan di atas. Refleksi ( Reflecting) Hasil dari proses pembelajaran dalam siklus I dari perencanaan sampai pada kegiatan evaluasi. 2) Hasil belajar membaca permulaan kedua subjek tersebut jika dibandingkan dengan KKM yang ditentukan baru mencapai dan Ian baru mencapai telah ditentukan oleh sekolah. Sedangkan rencana pelaksanaan tindakan dilaksanakan siklus II pada hari Selasa. maka diperlukan lagi perencanaan pada siklus berikutnya. Pelaksanaan Siklus II Kegiatan perencanaan tindakan II dilaksanakan pada hari Senin. 3) Kesimpulan dari siklus I adalah tindakan yang dilaksanakan belum dapat meningkatkan prestasi belajar membaca permulaan terhadap keadaan subjek. Peningkatan prestasi belajar kedua subjek tersebut dibandingkan dengan KKM yang ditetapkan masih jauh dari harapan.57 d. ada beberapa hal yang penulis sampaikan. 9 Agustus 2010 di ruang kelas B Taman Kanak-Kanak Elim Sragen dan di lingkungan sekolah.

Siklus II terdiri dari : a.mata. bola. Kelompok konsonan berada pada kotak satu atau kelompok satu. Tindakan (Acting) Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar. sehingga hal-hal yang ingin dicapai dalam upaya meningkatkan kemampuan membaca permulaan pada siswa kelas B Taman Kanak-Kanak Elim tercapai. b. yaitu membaca huruf. Semua nama-nama benda tadi dapat di tulis dengan huruf-huruf yang terdapat dalam abjad. Guru menunjukkan dadu huruf kepada siswa yang berisi simbulsimbul huruf yang ada pada setiap sisinya. . Selanjutnya anak disuruh menyebutkan huruf-huruf yang ada dalam abjad dan diteruskan lagu “ abcdefg“. Kelompok vokal berada pada kotak dua atau kelompok dua. 4) Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran untuk siklus II 5) Menyiapkan media pembelajaran yaitu dadu yang bersimbolkan huruf. Guru memberikan beberapa soal kepada anak sebagai pre test. 6) Membuat lembar penelitian siswa yaitu berupa tes. 7) Membuat lembar pengamatan. guru memberikan apersepsi dengan membuka percakapan tentang nama benda di sekitar siswa. 8) Menentukan jadwal pelaksanaan tindakan. Guru menjelaskan dan menyebutkan kelompok vokal atau huruf hidup dan konsonan atau huruf mati kepada siswa. kaki. Perencanaan Rancangan prosedur penelitian dalam kegiatan perencanaan adalah: 1) Menganalisa kembali hal. suku kata dan kata.hal yang telah dievaluasi pada siklus I 2) Memperbaiki kesalahan/ kekurangan pada siklus I 3) Menentukan dan menyiapkan materi pengenalan huruf kepada anak. yaitu kaca. Instrumen tes ini digunakan untuk meneliti kemampuan membaca permulaan pada anak.58 Siklus II dimaksudkan untuk mengadakan perbaikan pada siklus I.

Pemberian hadiah/ penghargaan pada setiap keberhasilan yang dicapai anak. Guru memberi tugas kepada siswa untuk mengambil dua dadu huruf (KV). melempar dan membacanya sebanyak sepuluh kali. Semangat tersebut dapat terlihat dari keceriaan anak dalam mengikuti pembelajaran. suku kata dan kata. Pengamatan (observing) Hasil observasi terhadap kegiatan pembelajaran membaca permulaan melalui media lempar dadu huruf pada siklus II menunjukkan bahwa dalam pelaksanaan pembelajaran muncul semangat yang lebih besar dibanding dengan siklus I. Pemberian tugas kepada siswa mengambil empat dadu (KVKV). Guru memberikan beberapa soal kepada anak sebagai post test yaitu membaca huruf. . menyusun dan membacanya sebanyak lima kali. terhadap minat belajar pada anak tunagrahita di kelas B Taman Kanak-Kanak Elim Sragen. untuk mengetahui sejauhmana anak menagalami kemajuan setelah pembelajaran berlangsung c. melempar dan membacanya sebanyak sepuluh kali. sehingga pada siklus II anak nampak lebih tertib. Pemberian hadiah/ penghargaan pada setiap keberhasilan yang dicapai anak. Hal ini disebabkan telah diperbaikinya kekurangan-kekurangan yang muncul pada siklus I. mudah diatur dan diarahkan serta semangat yang tinggi muncul pada siklus II. Pemberian hadiah/ penghargaan pada setiap keberhasilan yang dicapai anak. tidak terjadi kejenuhan sampai selesainya kegiatan pembelajaran.59 Guru memberi tugas kepada siswa untuk mengambil dadu huruf. yakni kurang penguasaan guru terhadap murid dan pengarahan terhadap tujuan penelitian dan tidak diberikannya reward atau penghargaan pada siklus I. Setelah diadakan perbaikan dalam penanganan anak atau pengkondusifan kondisi dalam pembelajaran dan pemberian hadiah/ reward pada siklus II ternyata mampu meningkatkan motivasi anak. melempar.

Nilai setelah pelaksanaan siklus II dan grafik nilai perolehan anak pada siklus II. melalui lembar pengamatan. Hasil pengamatan dapat dilihat pada lembar pengamatan seperti di bawah ini: Lembar Pengamatan Kemampuan Membaca Permulaan pada Siklus II Anak Tunagrahita Kelas B Taman Kanak-Kanak Elim Sragen Aspek yang diamati Farel Ian Ya Tidak Ya Tidak √ Frekuensi kesalahan dalam membaca √ √ Kesalahan membedakan huruf b dengan d √ √ Kesalahan membedakan huruf p dengan q √ √ Kesalahan membedakan huruf m dengan n √ √ Kesalahan membedakan huruf s dengan z √ √ Kesalahan membedakan huruf v dengan u √ √ Membaca terlalu lama √ √ Tidak mengikuti pelajaran dengan √ sungguh-sungguh √ Tiduran √ √ Tidak mengerjakan tugas √ √ Mengganggu teman-teman √ Berceritera atau berteriak-teriak √ √ saat pelajaran berlangsung √ No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Hasil dari evaluasi membaca pada akhir siklus II menunjukkan adanya peningkatan sebagai berikut: .60 Di bawah adalah hasil pengamatan yang penulis lakukan.

yakni: Hasil belajar membaca Farel menunjukkan peningkatan dari siklus I yaitu dari nilai 45 menjadi 70. terdapat peningkatan kognitif pada anak yaitu peningkatan kemampuan membaca permulaan anak Farel dan Ian.6% Tuntas Tuntas Dari nilai yang diperoleh anak setelah pelaksanaan siklus II dapat dibuat grafik sebagai berikut: d. Refleksi Hasil dari proses pembelajaran dalam siklus II dari perencanaan sampai pada kegiatan evaluasi.5% .5% 36. Farel mengalami kenaikan nilai sebesar 45 70 x100 = 55.61 Tabel 4 Nilai setelah pelaksanaan siklus II Nilai Ulangan Membaca Permulaan Anak Tunagrahita Semester I Kelas B Taman Kanak-Kanak Elim Sragen Tahun Pelajaran 2010/2011 No Kode Pre test Post test Kemajuan Keterangan 1 2 F IR 45 55 70 75 55.

yaitu: Mengalami penurunan frekuensi kesalahan dalam membaca. yaitu 70.mampu membedakan huruf m dengan n. p dengan q. dapat dihasilkan tindakan antar siklus sebagai berikut: 1. Ian mengalami kenaikan nilai sebesar 55 70 x100 = 36. yaitu: Mengalami penurunan frekuensi kesalahan dalam membaca. p dengan q. namun seperti kebiasaan sebelumnya anak Ian suka mengganggu teman-temannya dan suka berteriak-teriak saat mengikuti pelajaran.62 pada siklus II. 2. Hasil Penelitian Berdasarkan tindakan yang dilakukan pada setiap siklus. tidak tiduran saat mengikuti pelajaran. Perubahan sikap dalam pembelajaran pada anak Farel. mengikuti pembelajaran dengan sungguh-sungguh. tidak tiduran saat mengikuti pelajaran. sudah mampu membedakam huruf b dengan b. s dengan z. Anak mampu membaca lebih lancar. yang berarti telah berhasil melampaui KKM yang ditetapkan sekola yaitu 70. Hasil belajar membaca Ian menunjukkan peningkatan dari siklus I yait dari nilai 55 menjadi 75. sudah mampu membedakam huruf b dengan b.6% pada siklus II. Namun masih sering keliru membedakan huruf n dengan m. mengerjakan tugas dengan baik. yang berarti telah berhasil mencapai KKM yang ditetapkan sekolah. . v dengan u. B. v dengan u. mengerjakan tugas dengan baik. s dengan z. mengikuti pembelajaran dengan sungguhsungguh. Perubahan sikap dalam pembelajaran pada anak Ian. Anak mampu membaca lebih lancar.

Siklus I. dapat dilihat dalam grafik di bawah ini: Grafik Perolehan Nilai kemampuan Membaca Pre test. Siklus II .63 Tabel 5 Nilai kemampuan yang dicapai anak No Kode Peningkatan yang dicapai Pre test Siklus I Siklus II 1 2 F IR 27 30 45 55 70 75 Hasil perkembangan/ kemajuan dicapai oleh subjek.

dan sesuai . melalui media yang sesuai dengan karakter anak pada umumnya yakni bermain. Sehingga anak mampu membaca permulaan dengan lebih lancar. Kesimpulan Setelah dilakukan pembelajaran dengan menggunakan media lempar dadu huruf. Kemampuan membaca anak tunagrahita kelas B Taman Kanak-kanak Elim Sragen perlu ditingkatkan semaksimal mungkin. anak mengalami peningkatan dalam kemampuan membaca permulaan pada tiap siklus yang diksanakan.Rata 28.64 3. Peningkatan yang dicapai anak dari awal sampai akhir dapat dilihat dalam tabel di bawah ini: Tabel 6 Nilai Kemampuan membaca yang di peroleh anak selama kegiatan penelitian No 1 2 Kode F IR Kondisi Awal 27 30 Siklus I 45 55 Siklus II 70 75 Rata . C. Anak tunagrahita umumnya mengalami keterlambatan atau tertinggal dalam kemampuan membacanya dibanding dengan teman normal yang sebayanya.5 Dari hasil kegiatan penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa anak mengalami peningkatan kemampuan dalam membaca permulaan.5 50 72. Pembahasan Kemampuan membaca memiliki peran yang sangat besar dalam kema-juan anak didalam proses belajar khususnya dan pada perkembangan umumnya.

Kadang-kadang huruf yang muncul tidak membentuk kata yang punya arti. Keyakinan peneliti akan adanya kemajuan dalam setiap usaha. Media bermain lempar dadu huruf sangat menarik dalam pembelajaran. lalu mengambil dadu pada kelompok konsonan dan dilemparkan. b.65 dengan karakter anak tunagrahita khususnya yakni belajar dengan hal-hal yang kongkrit agar mu-dah dimengerti anak. sehimgga mampu membangkitkan motivasi bagi anak serta mendorong anak agar belajar lebih giat lagi. Misalnya anak mengambil dadu pada kelompok vokal dan dilemparkan. misalnya berhitung. mendorong peneliti untuk mencobakan media yang menarik minat anak dalam belajar membaca yakni media bermain lempar dadu huruf. Media bermain lempar dadu huruf adalah bentuk permainan yang dapat digunakan sebagai sarana pembelajaran anak dalam berbagai hal. Contoh: 1) lemparan pertama konsonan yang muncul adalah b .ran membaca yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan membaca permu-laan pada anak. walaupun memiliki kelemahan. karena anak harus melempar terlebih dahulu sebuah dadu kemudian memperhatikan untuk dibaca. kadang-kadang vokal yang muncul setelah digabung dengan konsonan tidak membentuk kata yang memiliki arti. Media bermain lempar dadu huruf dalam penelitian ini penulis gunakan sebagai sarana dalam pembelaja. Menyita banyak waktu Untuk membaca satu huruf memerlukan banyak waktu. pengenalan bentuk. warna dan lain sebagainya. diliempar. Untuk membaca suku kata anak harus mengambil empat dadu (KVKV). Untuk membaca suku kata memerlukan waktu yang agak lama karena harus melempar dua atau tiga huruf kemudian disusun dan dibaca. disusun kemudian dibaca. Kelemahan-kelemahan media bermain lempar dadu huruf diantaranya adalah: a. 1.

Memerlukan banyak sekali dadu. Jangan menyusun terlalu banyak kata sekaligus yang memerlukan terlalu banyak dadu. menyusun dan membacanya. Untuk menyingkat waktu. 1. Lakukan dengan menyusun satu atau dua kata kemudian dibaca. akan tetapi anak telah bagus dalam melaksanakan tugasnya. Anak memilih sendiri dadu huruf yang dilemparnya sehingga anak bersemangat. Saat anak memilih . b. agar kata-kata yang dapat disusun oleh anak dalam jumlah yang banyak dan bervariasi. Pemberian kesempatan kepada anak untuk menentukan pilihan merupakan hal yang menyenangkan bagi anak.66 2) lemparan kedua vokal yang muncul adalah i 3) lemparan ketiga konsonan yang muncul adalah m 4) lemparan keempat vokal yang muncul adalah u Kata yang muncul setela dadu disusun adalah b i m u c. melempar. jadi anak yang melempar tidak harus bolak-balik menyusun huruf yang dilemparnya. Beri penjelasan kalau kata tersebut tidak memiliki arti. Cara mengatasi kelemahan-kelemahan dalam pembelajaran melalui media bermain lempar dadu huruf adalah: a. teruskan saja anak membaca kemudian diberi pujian saat dia sudah berusaha melempar dan membaca. Jika anak menghasilkan lemparan yang setelah disusun ternyata kata tersebut tidak memiliki arti. Dadu harus dipersiapkan dalam jumlah yang banyak. b. Tidak mengantuk dan bosan karena anak beraktifitas dengan aktif. diadakan kerjasama dengan teman atau guru dalam menyusun urutan lemparan. tidak hanya sebanyak jumlah huruf dalam satu abjad akan tetapi lebih dari itu. anak merasa bersemangat dan kepercayaan dirinya tumbuh. 2. sehingga anak aktif. Kelebihan dari pembelajaran membaca permulaan lewat bermain lempar dadu huruf ini adalah : a. c. Anak diberi kesempatan untuk mengambil/memilih.

Media bermain lempar dadu huruf sangat membantu anak dalam pembelajaran. . Saat menyusun aktifitas dalam kognitifnya bekerja. saat anak melempar ada aktifitas dalam motorik kasarnya. sehingga tercapai tujuan pembelajaran. termasuk dalam meningkatkan kemampuan membaca anak. Anak tertarik untuk mengetahui huruf apa yang keluar dan kata apa yang muncul dari setiap lemparan yang dibuatnya sendiri. motorik halusnya juga bekerja. c. Anak akan merasa bangga jika huruf yang dilemparnya dapat membentuk suatu kata yang memiliki arti.67 ada aktifitas dalam segi kognitif dan motorik halus. Anak yang belum dapat menyusun huruf menjadi kata akan berusaha mencoba lagi sehingga mereka memiliki keinginan untuk mencoba dan mencoba lagi. Anak ingin segera membaca dari hasil lemparan yang telah disusun tadi dengan mengaktifitaskan aspek kognitifnya. Untuk itu perlu dipergunakan sebagai media pembelajaran sehari-hari guna membantu anak dalam meningkatkan minat belajarnya. Setelah melempar anak dengan senangnya cepat-cepat ingin mengetahui apa isi/ bacaan dari lemparan yang akan disusunnya.

sehingga pertumbuhan dan perkembangan anak berjalan dengan maksimal dapat meningkatkan kemampuan membaca permulaan pada anak tunagrahita kelas B Taman Kanak-kanak Elim . Guru Taman Kanak-Kanak Elim hendaknya menerapkan pembelajaran dengan menggunakan media bermain lempar dadu huruf pada pelajaran membaca permulaan. Saran Sehubungan dengan kesimpulan penelitian di atas. bahwa pembelajaran dengan media bermain lempar dadu huruf Sragen tahun pelajaran 2010/2011. Berkreatifitas untuk menggunakan sesuatu yang ada di sekitarmu bagi peningkatan kemampuan yang kalian miliki. Hasil penelitian ini hendaknya dipergunakan sebagai sarana pembelajaran yang menarik dan mampu memotivasi semangat belajar sehingga dapat tercapai perkembangan yang optimal. 2. b. Bagi Siswa a. Guru-guru hendaknya kreatif menggunakan media lempar dadu huruf sebagai sarana yang bervariasi dalam pembelajaran agar mampu membangkitkan minat belajar pada anak. Bagi Guru a. maka diajukan saran sebagai berikut: 1. B. b. karena media tersebut ternyata efektif digunakan sebagai sarana untuk meningkatakan kemampuan membaca permulaan pada anak.68 BAB V SIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut.

indonesia/article/view/272/0 Mathedu.html http://mathedu-unila. Karakteristik Anak Tunagrahita http://saunganggie. Munawir Yusuf. Graha Mulyono Abdurrahman. 2009. Hj. 2006.com/2009/10/pengertian- Mbahbrata.html Fu’adz Al-gharuty. 2009. Muhammad Idrus. Defli. Jakarta : PT Raja Gravindo Persada Astati. Direktorat Pendidikan Luar Biasa. Rineka cipta.com/pengertiandefinisi-tes-dalam-psikologi. Indonesia Metode Penelitian Ilmu . Pendidikan bagi Anak dengan Problema Belajar. http://adzeglar.psikologzone.com/2010/05/02/tunagrahita/ Dounloud 21 Juni 2010 Baitul Alim.asp?id=932768 & eid=602755 Devid Haryalesmana. Pengembangan . Mengenal Pendidikan Terpadu.2010. 2009. 2005. Departemen Pendidikan Nasional.ilmu Sosial.com/2009/06/membaca-permulaan-permainan-bahasa. Pengertian Tes. 2003. Tunagrahita.html. 2009. Jakarta.blogspot. 2009.blogspot. Pendidikan bagi anak berkesulitan belajar. Dounloud 21 juni 2010 Arif Sadiman S. Pengertian Anak Tunagrahita. http://guruit07. 2004.69 DAFTAR PUSTAKA Anggie Siti Sa’adah. dan Pemanfaatan ) ..yuwie. PengertianMembaca. Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi. http://r.blogspot. Membaca permulaan dan permainan bahasa. Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Perguruan Tinggi. Jakarta.com/blog/entry.com/2009/07/karakteristik-anaktunagrahita. 2003. membaca. 2007.com/2009/02/02/studidokumen-dalam-penelitian-kualitatif. http://Mbahbrataedu. 2007. Dounload 12 April 2010. Media Pendidikan ( Pengertian . FKIP Surakarta. Psikologi Perkembangan Anak I. dkk. Chasiyah. http://astati.wordpress.blogspot. . 2009. http://www.com/2009/01/pengertian-membaca.wordpress. Duonloud 10 juni 2010.

Jakarta : Rineka Cipta Sunardi.com/ Dounload 2010 Mei 12.2009. 2009. Jakarta : Dirjen Dikti Depdiknas. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek ( Edisi Revisi IV ). perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem. Penilaian Sertifikasi Guru Rayon 13. 2000. Metodologi Research Jilid 1. 2008.Jakarta : Bumi Aksara. 2005.com/2008/12/02 penerapan-metode pembelajaran permulaan. WJS 1984. Jakarta.html. Proyek Pendidikan Tenaga Akademik. 2 dan 3 Yogyakarta: Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi UGM. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Penerapan Metode Pembelajaran Membaca Permulaan. http://media-grafika. Mengelola Kurikulum pada Pendidikan Inklusi. Wijaya Kusumah. Jenis Data Dan Metode Pengumpulan Data . Tarmizi. 2008.id/index.ac. 1993.wordpress. Proyek Pendidikan Tenaga Guru. 1996. PL 2010. Seva Andini Kusnawanto. Sutrisno Hadi.wordpress. Surakarta. Direktorat Jedral Pendidikan Tinggi. Psikologi Anak Luar Biasa. Dounloud 17 juni 2010. 2007. Wikipedia. Suharsimi Arikunto.70 Oemar Hamalik. http://tarmizi. _______________ Kecenderungan dalam Pendidikan Luar Biasa. Sutjihati Somantri. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dan penulisan Karya Ilmiah. Jakarta Bumi Aksara Purwodarminto. . Jakarta. 2005. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 2007. Pendit. 2008. Balai Pustaka. Makalah Simposium dan Temu Ilmiah Nasional. Difinisi media http://mataharieducare. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi. Dounload 12 April 2010.um. http://karya-ilmiah.php/sastraIndonesia/article/view/272/0 Slameto. Jakarta. Belajar dan Faktor – Faktor yang Mempengarui. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.com/pengertian-mediapembelajaran. Sarwiji Suwandi.

com/2008/12/02 permulaan. pembelajaran Wikipedia.html.2009. Wijaya Kusumah. 2007. .wordpress.71 Metode Pembelajaran http://tarmizi. Dounload 12 April 2010. http://media-grafika.wordpress. Difinisi media http://mataharieducare. Dounloud 17 juni 2010.com/pengertian-mediapembelajaran. Membaca penerapan-metode Permulaan.com/ Dounload 2010 Mei 12.

72 LAMPIRAN .

Jenis Kelamin 3. Sekolah : Ian Rudyanto : Laki-laki : Sragen. Agama 5. Tinggi badan 6. Sekolah B. Kelas 8. Nama anak : Farel : Laki-laki : Sragen. 1. Nama anak 2. Tempat/tgl lahir 4. 17 September 2005 : Kristen : 123 Cm : 20 Kg :B : Taman Kanak-Kanak Elim. 6 Juli 2005 : Kristen : 119 Cm : 18 Kg :B : Taman Kanak-Kanak Elim. Berat badan 7. Sragen . 1.73 DATA ANAK A. Agama 5. Tempat/tgl lahir 4. Kelas 8. Tinggi badan 6. Berat badan 7. Jenis Kelamin 3. Sragen 2.

Penulisan laporan hasil penelitian dan pembahasan. Evaluai 3 I Agustus 2010 Menyiapkan Instrument pelaksanaan siklus II 4 II-IV Agustus 2010 Melaksanakan pre test. Pelaksanaan tindakan siklus I. 5. 1 Minggu Ke/Bulan I Juli 2010 Kegiatan Melakukan observasi ke kelas Pembuatan kisi-kisi. Pelaksanaan siklus II 5 I-IV September 2010 4. . Penulisan Bab V. lembar pengamatan. 6. item soal. Keterangan 2 II-IV Juli 2010 Melaksanakan pre test. Perbaikan dan penggandaan hasil penelitian.74 Lampiran 1 Jadwal Kegiatan Penelitian No. Penyelesaian skripsi.

3 Menulis kata sederhana dengan benar Jumlah 10 7. Pembentukan Perilaku melalui Pembiasaan Kompetensi Dasar 1. Dapat menulis kata sederhana 10 9 8 7 3-4 5-6 N0 Item 1-2 . Dapat menempel suku kata yang kurang pada awal kata dengan bantuan gambar 5.1 Mendengarkan Bacaan/ syair bernafaskan agama Indikator 1.2 Membaca Mengungkapkan isi syair 4. Dapat menempel kata sesuai gambar 2.75 Lampiran 2 Kisi – kisi instrumen N0 Standar Kompetensi 1. Dapat menyebut kata dibantu gambar 1. Dapat menempel gambar sesuai kata 3. Dapat menempel suku kata yang kurang di belakang kata dengan bantuan gambar 1. Dapat menempel suku kata yang kurang pada tengah kata dengan bantuan gambar 6.

76 Cara Penilaian Jawaban benar nilainya Jawaban salah nilainya Nilai akhir = Skor 1 =1 =0 = 10 Skor total jika benar semua nilainya .

Jeruk c.. Nanas b.77 Lampiran 3 SOAL TRY OUT Nama : Kelas : Test tertulis I...... . b... b.. Mawar a... c pada jawaban yang benar ! 1..... c. Pisang 3...... b.... Berilah tanda silang ( X ) huruf a... . Pisang 2........ a.. ......... .. Nanas a. Jeruk c.

ru .... ra b................. Gambar apakah ini........ .. ...... .. 5. Gajah b. c..................... ri c........ Gambar apakah ini.. a. mah .78 4...... 7........ ..... 6... Lengkapilah a...

... li c. lo Te.. rik b. TK Elim Sragen Dobirson S.. la b. Mengetahui Ka TK.. a.... ruk c...nga 9. 14 Juli 2010 Guru kelas B... ... ...... rak * Tulislah nama gambar di bawah ini 10.. Sri Mulyati .. je .. Elim Sragen Sragen... . a.79 8 .

80 Lampiran 4 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ( RPP ) SIKLUS I Pengembangan Tema Kelas / Semester Pertemuan Alokasi Waktu : Bahasa Indonesia : Tanaman : B. Pembentukan perilaku melalui pembiasaan B. Membaca sederhana 4.16 Menghubungkan tulisan dengan gambar 1. Indikator : : 1.12 Mengelompokkan kata-kata yang sejenis C. Taman Kanak-Kanak / I : 1 : 1 x 30 menit A. Menyusun huruf menjadi kata . Menyebutkan nama tokoh dalam cerita 2. Menceritakan gambar tanaman 3.14 Bercerita Menyebutkan nama tokoh dalam cerita 1. Mengelompokkan kata-kata yang sejenis 6. Kompetensi Dasar 1. Menghubungkan tulisan dengan gambar 5. Standar Kompetensi : 1.

Anak dapat menceritakan kembali cerita dari gambar seri dengan bahasanya sendiri. Materi Pelajaran * Tanaman Pak Sardi finggal di desa. Anak dapat mengelompokkan kata-kata yang sejenis. Tujuan Pembelajaran : 1. Ia menanam buah-buahan Jeruk. Di kota terdapat banyak kendaraan ada becak. Pisang. 7. Anak dapat membaca nama tokoh-tokoh dalam cerita. Anak dapat menghubungkan tulisan dengan gambar secara tepat. E. Pak Sardi menjual hasil kebunnya ke kota. Mangga dan masih banyak lagi buah yang lainnya. 6. Nanas.81 D. mobil dan . ia sangat rajin. 2. 4. Anak dapat menyebutkan tokoh-tokoh dalam cerita. sepeda motor. Pak Sardi pergi kota naik kuda. 3. 5. Anak dapat menyusun huruf menjadi kata. Anak dapat membaca peristiwa dalam cerita melalui tulisan yang ada dalam Gambar.

demonstrasi dengan gambar dan dadu. Tanya jawab. a. f. Langkah – langkah Kegiatan Pembelajaran. Anak mengerjakan tugas menghubungkan gambar dengan tulisan yang sesuai. Anak mendengarkan guru tentang cerita dari gambar b. Anak menyebutkan nama tokoh yang ada dalam cerita c.82 Kendaraan yang lain-lainnya. Anak diajak duduk dalam suasana belajar . Ceramah. Anak membaca tulisan yang ditunjukkan guru e. Metode Pembelajaran 1. Anak menyusun huruf menjadi kata dengan menggunakan dadu huruf . Anak menceritakan kembali dengan bahasanya sendiri d. berdoa dan presensi b. Becal F. 2. Apersepsi 2. Kegiatan awal a. Pemberian tugas. 1. Sepeda motor Mobil 4. 3. G. Kegiatan Inti.

Guru memberi pekerjaan untuk dikerjakan dirumah d. Penilaian / Evaluasi 1. Guru menilai hasil pekerjaan siswa dan menyimpulkannya. Guru menyimpulkan materi yang telah disajikan b. b. Kegiatan Akhir a. Penerbit Makmur Jaya Seri 5. 2. Melempar dadu huruf. halaman 5-6. Test perbuatan dan lesan : a. Dadu huruf : Kreasi guru : Buku PAUD. I. Menempel suku kata yang kurang sesuai gambar d. Siswa diberi tugas guru untuk dikerjakan c. menyusun dan membaca Kreteria Penilaian Kenerja. menempel gambar sesuai kata yang tertulis. menempel kata sesuai dengan gambar. Alat / media Pelajaran 2. c. Mampu melakukan sendiri dengan baik dan benar diberi sekor 4 Mampu melakukan dengan sedikit bantuan diberi sekor Mampu melakukan dengan banyak bantuan diberi sekor Belum mampu melakukan diberi skor 3 2 1 . Sumber Bahan : Kartu bergambar. H. Test Lisan : dilaksanakan pada proses pembelajaran berlangsung.83 3. Alat dan Sumber Bahan 1.

.84 Skor perolehan 4 3 2 1 N0 1.. 2 3 4 Aspek yang dinilai Menempel kata sesuai gambar yang tertulis Menempel gambar sesuai dengan kata. Menempel suku kata yang kurang sesuai gambar Menyusun huruf dengan lemparan dadu dan membacanya. Jumlah Skor maksimum 4 4 4 4 16 Jumlah skor yang diperoleh x 10 Nilai Akhir = Skor maksimum = . 16 x 10 = = NA = -------------- ..

Berilah tanda silang ( X ) huruf a. Mawar a.. a. Jeruk c.. . c pada jawaban yang benar ! 1........... a........ Nanas 2. Test tertulis I... . b... Jeruk c. Pisang b... Pisang b.. b.. ...85 J.... Nanas 3.... c. ........

. 5.. Gambar apakah ini... ra .. Gajah a... mah b. ................ Lengkapilah a........ ..... 7.... c. b. Gambar apakah ini............... 6....... ...... ri c.... ru .. ....86 4..............

..nga 9..... . a..... la b. Sri Mulyati . ruk c. a. Mengetahui Ka TK. .... li c..87 8 . TK Elim Sragen Dobirson S. rik b..... 16 Juli 2010 Guru kelas B. je .. lo Te...... Elim Sragen Sragen. rak * Tulislah nama gambar di bawah ini 10. . .

16 Juli 2010 Pengamat / Teman Sejawat ( SRI MULYATI ) ( IRA MUTIARANI ) .88 Lampiran 5 Lembar Pengamatan Aktivitas dan Kemampuan Membaca Permulaan Siklus I N o 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Frekuensi kesalahan dalam membaca Kesalahan membedakan huruf b dengan d Kesalahan membedakan huruf p dengan q Kesalahan membedakan huruf m dengan n Kesalahan membedakan huruf s dengan z Kesalahan membedakan huruf v dengan u Membaca terlalu lama Tidak Tiduran Tidak mengerjakan tugas Mengganggu teman-teman Berceritera atau berteriak-teriak saat pelajaran berlangsung mengikuti pelajaran sungguh-sungguh √ √ Aspek yang diamati Farel Ya Tidak √ √ √ √ √ √ √ dengan √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Ian Ya Tidak √ √ √ Guru / Peneliti Sragen.

Mengelola pembelajaran waktu secara klasikal 3. terkait dengan isi pembelajaran 3.1. Melaksanakan tugas harian kelas 2.89 Lampiran 6 Lembar Pengamatan Kegiatan Guru dalam Pembelajaran Siklus I N0 1.2.3. alat bantu dan sumber belajar 1.4. situasi dan sesuai lingkungan 2.4. situasi dan sesuai lingkungan 2. dan Gerakan badan 3. Menjawab pertanyaan dari respon siswa 3.2. Mengelola interaksi kelas a. Memantapkan penguasaan materi v v v v v v v v v Ya v v Tdk . isyarat.Menggunakan alat Bantu ( media ) pembelajaran yang sesuai dengan tujuan. 2.1 Melaksanakan jenis kegiatan yang sesuai dengan Tujuan. Memberikan petunjuk dan penjelasan yang b. memicu dan memelihara ketertiban siswa 3. kelompok atau efiensi. Melaksanakan kegiatan pembelajaran secara individual.5.3.2. tulisan . Melaksanakan kegiatan pembelajaran 2. Menyiapkan ruangan. Aspek yang dinilai Mengelola ruang dan fasilitas pembelajaran 1. Menggunakan ekspresi lisan.

Melaksanakan penilaian pada pembelajaran proses akhir v v v v v 5.2.3. hangat luwes. 16 Juli 2010 Pengamat / Teman Sejawat ( SRI MULYATI ) ( IRA MUTIARANI ) . Membantu siswa menyadari kelebihan dan kekurangannya 4.2.1. Menunjukkan kegairahan mengajar 4. Menunjukkan sikap ramah. Membantu siswa menumbuhkan kepercayaan diri Melaksanakan evaluasi proses hasil belajar 5. Mengembangkan hubungan antara pribadi yang sehat dan serasi 4. penuh pengertian dan sabar terhadap siswa. v v Guru / Peneliti Sragen.4. 4. Bersikap terbuka dan luwes serta membantu mengembangkan sikap positip siswa terhadap merespon materi 4. Melaksanakan penilaian selama pembelajaran 5.1.90 4. terbuka.5.

Menyebutkan nama tokoh dalam cerita 2. Indikator : : 1. Standar Kompetensi : 1.16 Menghubungkan tulisan dengan gambar 1.91 Lampiran 7 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ( RPP ) SIKLUS II Pengembangan Tema Kelas / Semester Pertemuan Alokasi Waktu : Bahasa Indonesia : Tanaman : B. Menghubungkan tulisan dengan gambar 5. Membaca sederhana 4. Pembentukan perilaku melalui pembiasaan B. Kompetensi Dasar 1. Menyusun huruf menjadi kata .12 Mengelompokkan kata-kata yang sejenis C. Taman Kanak-Kanak / I : 1 : 1 x 30 menit A. Mengelompokkan kata-kata yang sejenis 6. Menceritakan gambar tanaman 3.14 Bercerita Menyebutkan nama tokoh dalam cerita 1.

Pisang. Materi Pelajaran * Tanaman Pak Sardi finggal di desa. 4.92 D. Pak Sardi pergi kota naik kuda. Anak dapat membaca nama tokoh-tokoh dalam cerita. Pak Sardi menjual hasil kebunnya ke kota. Anak dapat menghubungkan tulisan dengan gambar secara tepat. 2. Anak dapat menyusun huruf menjadi kata. Mangga dan masih banyak lagi buah yang lainnya. Anak dapat membaca peristiwa dalam cerita melalui tulisan yang ada dalam Gambar. E. Nanas. ia sangat rajin. Anak dapat menyebutkan tokoh-tokoh dalam cerita. . Ia menanam buah-buahan Jeruk. 3. Tujuan Pembelajaran : 1. Anak dapat menceritakan kembali cerita dari gambar seri dengan bahasanya sendiri. 5. 7. Anak dapat mengelompokkan kata-kata yang sejenis. 6.

f. Anak menyusun huruf menjadi kata dengan menggunakan dadu huruf . Becak F. Sepeda motor Mobil 4. Pemberian tugas. Kegiatan Inti. Metode Pembelajaran 1. Anak diajak duduk dalam suasana belajar . sepeda motor.93 Di kota terdapat banyak kendaraan ada becak. berdoa dan presensi b. Anak menceritakan kembali dengan bahasanya sendiri d. mobil dan Kendaraan yang lain-lainnya. Kegiatan awal a. Anak menyebutkan nama tokoh yang ada dalam cerita c. Apersepsi 2. Anak mengerjakan tugas menghubungkan gambar dengan tulisan yang sesuai. Tanya jawab. Ceramah. demonstrasi dengan gambar dan dadu. G. Anak membaca tulisan yang ditunjukkan guru e. a. Langkah – langkah Kegiatan Pembelajaran. 2. 1. 3. Anak mendengarkan guru tentang cerita dari gambar b.

Test perbuatan dan lesan : a. Guru memberi pekerjaan untuk dikerjakan dirumah d. Test Lisan : dilaksanakan pada proses pembelajaran berlangsung. Siswa diberi tugas guru untuk dikerjakan c. Alat / media Pelajaran 2. Melempar dadu huruf. Menempel suku kata yang kurang sesuai gambar d. Dadu huruf : Kreasi guru : Buku PAUD. Guru menilai hasil pekerjaan siswa dan menyimpulkannya. halaman 5-6. Penerbit Makmur Jaya Seri 5. H. Sumber Bahan : Kartu bergambar. menyusun dan membaca Kreteria Penilaian Kenerja. c. I.94 3. Alat dan Sumber Bahan 1. Guru menyimpulkan materi yang telah disajikan b. menempel kata sesuai dengan gambar. b. Mampu melakukan sendiri dengan baik dan benar diberi sekor 4 Mampu melakukan dengan sedikit bantuan diberi sekor Mampu melakukan dengan banyak bantuan diberi sekor Belum mampu melakukan diberi skor 3 2 1 . Kegiatan Akhir a. 2. menempel gambar sesuai kata yang tertulis. Penilaian / Evaluasi 1.

Menempel suku kata yang kurang sesuai gambar Menyusun huruf dengan lemparan dadu dan membacanya. 16 x 10 = = NA = -------------- ...95 Skor perolehan 4 3 2 1 N0 1. 2 3 4 Aspek yang dinilai Menempel kata sesuai gambar yang tertulis Menempel gambar sesuai dengan kata.. Jumlah Skor maksimum 4 4 4 4 16 Jumlah skor yang diperoleh x 10 Nilai Akhir = Skor maksimum = .

.. c....... a... .. a.. Nanas 2... Nanas 3...96 J. ....... c pada jawaban yang benar ! 1... Jeruk c.. Jeruk c.. ....... Pisang b.... Mawar a. .... b. b.. Pisang b... Test tertulis I.. Berilah tanda silang ( X ) huruf a.

.97 4.......... Gambar apakah ini. c... .. ra . Gajah a.... 7. b.... 5. mah b.. ........... 6... Lengkapilah a..... ............ ri c...... ........................... Gambar apakah ini... ru ..

Elim Sragen Sragen. ... la b... 9 Agustus 2010 Guru kelas B. ruk c......nga 9.. . ..... Mengetahui Ka TK. a..98 8 .. TK Elim Sragen Dobirson S... a.. lo Te..... . b. rak * Tulislah nama gambar di bawah ini 10. Sri Mulyati .. rik je . li c.

99 Lampiran 8 Lembar Pengamatan Aktivitas dan Kemampuan Membaca Permulaan Siklus II No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Aspek yang diamati Frekuensi kesalahan dalam membaca Kesalahan membedakan huruf b dengan d Kesalahan membedakan huruf p dengan q Kesalahan membedakan huruf m dengan n Kesalahan membedakan huruf s dengan z Kesalahan membedakan huruf v dengan u Membaca terlalu lama Tidak Tiduran Tidak mengerjakan tugas Mengganggu teman-teman Berceritera atau berteriak-teriak saat pelajaran berlangsung √ mengikuti pelajaran dengan sungguh-sungguh √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Farel Ya Tidak √ √ √ Ian Tidak √ √ √ √ √ √ √ √ Ya Guru / Peneliti Sragen. 9 Agustus 2010 Pengamat / Teman Sejawat ( SRI MULYATI ) ( IRA MUTIARANI) .

2. Melaksanakan penilaian pada akhir pembelajaran v v v v v v v v v v v v v v v v N0 1. Menunjukkan sikap ramah. Menggunakan ekspresi lisan.3. Melaksanakan penilaian selama proses pembelajaran 5.4. .4. Membantu siswa menyadari kelebihan dan kekurangannya 4.1.1. kelompok atau efiensi. situasi dan sesuai lingkungan 2.4. Menunjukkan kegairahan mengajar 4.2.3. 3.5. dan Gerakan badan 3.2. isyarat. 4. Memberikan petunjuk dan penjelasan yang terkait dengan isi pembelajaran 3.3. Melaksanakan evaluasi proses hasil belajar 5.1. hangat luwes. alat bantu dan sumber belajar v 1.2. Mengelola pembelajaran waktu secara klasikal Mengelola interaksi kelas 3. 2. Memantapkan penguasaan materi Bersikap terbuka dan luwes serta membantu mengembangkan sikap positip siswa terhadap merespon materi 4. memicu dan memelihara ketertiban siswa 3.2. tulisan .1 Melaksanakan jenis kegiatan yang sesuai dengan Tujuan.100 Lampiran 9 LEMBAR OBSERVASI KEGIATAN GURU DALAM PEMBELAJARAN SIKLUS II Aspek yang dinilai Ya Mengelola ruang dan fasilitas pembelajaran 1.1. Melaksanakan kegiatan pembelajaran secara individual. Melaksanakan tugas harian kelas v Melaksanakan kegiatan pembelajaran 2. Menjawab pertanyaan dari respon siswa 3.5. terbuka. Menggunakan alat Bantu ( media ) pembelajaran yang sesuai dengan tujuan. situasi dan sesuai lingkungan 2. penuh pengertian dan sabar terhadap siswa. Mengembangkan hubungan antara pribadi yang sehat dan serasi 4. Menyiapkan ruangan. Membantu siswa menumbuhkan kepercayaan diri 5. 4. Tdk 2.

101 Pengamat/Teman Sejawat ( SRI MULYATI ) ( IRA MUTIARANI ) Kegiatan Pembelajaran dengan Media Lempar Dadu Huruf .

102 .

103 .

104 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful