1

SKRIPSI PENELITIAN TINDAKAN KELAS UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA PERMULAAN MELALUI MEDIA BERMAIN LEMPAR DADU HURUF PADA ANAK TUNAGRAHITA KELAS B SEMESTER I DI TAMAN KANAK-KANAK ELIM SRAGEN TAHUN PELAJARAN 2010/2011

Disusun Oleh : SRI MULYATI NIM X 5108526

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KHUSUS FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2010

2

UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA PERMULAAN MELALUI MEDIA BERMAIN LEMPAR DADU HURUF PADA ANAK TUNAGRAHITA KELAS B SEMESTER I DI TAMAN KANAK-KANAK ELIM SRAGEN TAHUN PELAJARAN 2010/2011

OLEH: SRI MULYATI NIM: X5108526

SKRIPSI

Ditulis dan diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan Mendapat gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Khusus Jurusan Ilmu Pendidikan

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KHUSUS FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2010 ii

3

PERSETUJUAN

Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahan dihadapan tim penguji skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta

Persetujuan pembimbing,

Pembimbing I

Pembimbing II

Drs. A.Salim Choiri, M.Kes NIP. 195709011982031002

Drs. Subagya,M.Si NIP.19601001012

iii

4

PENGESAHAN Skripsi ini telah dipertahankan dihadapan Tim Penguji Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta dan diterima untuk memenuhi peryaratan mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan. Pada hari Tanggal : Rabu : 13 Oktober 2010

Tim Penguji Skripsi Ketua Sekretaris Anggota I Anggota II : Drs. Maryadi, M.Ag : Dra.B. Sunarti, M.Pd : Drs. Abdul Salim, M.Kes : Drs. Subagya, M.Si

Tanda tangan ............................................ ............................................ ............................................ ............................................

Disyahkan oleh Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Dekan,

Prof.Dr. M. Furgon Hidayatullah, M.Pd NIP.19600727 1987021001

iv

5

ABSTRAK Sri Mulyati, UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA PERMULAAN MELALUI MEDIA BERMAIN LEMPAR DADU HURUF PADA ANAK TUNAGRAHITA KELAS B SEMESTER I DI TAMAN KANAK-KANAK ELIM SRAGEN TAHUN PELAJARAN 2010/2011 Skripsi, Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret, September 2010. Penelitian ini bertujuan untuk untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan pada anak yang mengalami keterlambatan berpikir/ tunagrahita pada kelas B Taman Kanak-Kanak Elim tahun pelajaran 2010/2011. Metode penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yaitu penelitian yang dilakukan oleh guru di kelas tempat mengajar, dengan menggunakan media bermain lempar dadu huruf yang mampu meningkatkan kegairahan dalam mengikuti pembelajaran membaca, mampu memotivasi anak sehingga anak tidak merasa jenuh dalam belajar. Teknik analisis data digunakan analisis perbandingan, artinya hasil prestasi kemampuan membaca anak dibandingkan, kemudian dideskripsikan ke dalam suatu bentuk data penilaian yang berupa nilai. Dari prosentase dideskripsikan kearah kecenderungan tindakan guru dan reaksi serta hasil belajar siswa. Penelitian tindakan kelas yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa Pembelajaran dengan mengggunakan media bermain lempar dadu huruf dapat meningkatkan kemampuan anak dalam membaca permulaan, pada Anak Tunagrahita Kelas B semester I di Taman Kanak-Kanak Elim tahun pelajaran 2010/2011. . Kata kunci : Anak Tunagrahita, pembelajaran membaca, media lempar dadu huruf, meningkatkan kemampuan membaca permulaan.

v

6

ABSTRACT Sri Mulyati, THE ATTEMPT OF IMPROVING THE BEGINNING READING COMPETENCY USING LETTER DICE THROWING GAME MEDIA IN THE MENTAL RETARDED B GRADERS OF SEMESTER I IN SRAGEN ELIM KINDERGARTEN IN THE SCHOOL YEAR OF 2010/2011. Thesis, Surakarta: Teacher Training and Education Faculty, Sebelas Maret University, September 2010. This research aims to improve the beginning reading competency using letter dice throwing game media in the mental retarded B graders of semester I in Sragen Elim Kindergarten in the school year 2010/2011. The research method used was Classroom Action Research (CAR), the one conducted by the teacher in my class, using the letter dice throwing game media that can improve excitement in following the reading learning, can motivate children so that the children are not bored in learning. Technique of the analyzing data used was comparative analysis, meaning that the children’s reading competency achievement were compared, and then were described into a form of assessment data namely score. From the percentage described into teacher’s action predisposition and students’ reaction as well as learning achievement. From the classroom action research conducted, it can be concluded that learning using the letter dice throwing game media, it can improve the children’s competency in the beginning reading, for the mental retarded B graders of semester I in Sragen Elim Kindergarten in the school year of 2010/2011. Key word : Mental retarded, reading learning, letter dice throwing game media, improve the competency in the beginning reading.

vi

Isa almasih. Kitab Injil Lukas. vii .7 MOTTO: “Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang berbuat kepadamu. perbuatlah juga demikian kepada mereka”.

8 HALAMAN PERSEMBAHAN Keluargaku tercinta Ayah dan Ibunda yang aku banggakan Saudara-saudaraku yang telah mendukungku Rekan-rekan di Taman Kanak-Kanak Elim yang memotivasiku FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta yang tercinta viii .

A. R. selaku Kepala Taman Kanak-Kanak Elim Sragen yang telah memberikan ijin tempat penelitian dan informasi yang dibutuhkan penulis. namun berkat bantuan dari berbagai pihak akhirnya kesulitan-kesulitan yang timbul dapat diatasi. 3.9 KATA PENGANTAR Segala puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa. Drs. Oleh karena itu segala saran dan kritik yang bersifat membangun sangat penulis harapkan. karena keterbatasan pengetahuan yang ada dan tentu hasilnya juga masih jauh dari kesempurnaan. Banyak hambatan yang menimbulkan kesulitan dalam penyelesaian penulisan penelitian tindakan kelas ini.Si selaku pembimbing II yang telah memberikan petunjuk kepada penulis selama melaksanakan penelitian tindakan kelas. Jurusan Ilmu Pendidikan. Prof. penulis menyadari masih ada kekurangan. Drs. 6. H.Pd Ketua Jurusan Ilmu Pendidikan telah memberikan bimbingan dan pengarahan sehingga skripsi ini dapat terselesaikan. Drs. M.Kes Ketua Program Studi Pendidikan Khusus sekaligus selaku pembimbing I yang telah memberikan petunjuk kepada penulis sehingga skripsi ini dapat diselesaikan. Indianto. Dr. Furqon Hidayatullah. Dalam penyusunan skripsi ini. penulis mengucapkan terima kasih kepada yang terhormat: 1. Semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan penelitian tindakan kelas ini. ix . Subagya M. 4. Dobirson S. Salim Choiri. M. M. atas kebaikan-Nya.Pd Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah memberi ijin kepada penulis untuk melaksanakan penelitian. Untuk itu. atas segala bentuk bantuan yang telah diberikan. 2. 5. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta. M. sehingga penulis dapat menyelesaikan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Luar Biasa.

September 2010 Penulis x . mendapat pahala dari Tuhan Yang Maha Esa. Surakarta.10 Semoga kebaikan Bapak. Ibu. dan menjadi amal kebaikan yang tiada putus-putusnya dan semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan.

........................ Pendidikan Anak Tunagrahita..................... ABSTRAK...................................... .......... Klasifikasi Anak Tunagrahita.............. .................... Pengertian Anak Tunagrahita........... D....... B................... DAFTAR ISI................................................................. C......................... Karakteristik Anak Tunagrahita................ PENGESAHAN................ PENGAJUAN...................................................... a.................................................................................................................. c........ 12 f... BAB I PENDAHULUAN............................ ................................................... MOTTO............... .......... PERSETUJUAN.................... 1..................................xiv d....................................................................................................................... 10 e...................... Tujuan Penelitian................................................ 16 b.................................................................................. Tinjauan Tentang Membaca Permulaan............................. A.............................................................................. .... Rumusan Masalah........................... PERSEMBAHAN.................................. ............... Anak Tunagrahita..11 DAFTAR ISI Halaman JUDUL.......... A........................................................................... Pembelajaran Anak Tunagrahita Pada kelas Inklusif..... Faktor Penyebab Anak Tunagrahita...................................................................................................... BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS TINDAKAN................................................................................................................... Kajian teori...................................................... Tujuan Membaca.. .................................................................... 14 2........ Manfaat Hasil Penelitian................. KATA PENGANTAR....... Latar Belakang Masalah........ 4 6 8 i ii iii iv v vii viii ix xi 1 1 3 3 3 4 4 DAFTAR LAMPIRAN........................................ 16 a................................ 17 xi ..................................................................... Pengertian Membaca.................................................................................. b..........................................................................................

............................. Pelaksanaan Penelitian.................................................. Hipotesis Tindakan .............................................................................. Indikator Kinerja................. ...... 22 3..........12 c.......................... d............ 18 d............................ Tahap pelaksanaan Membaca Permulaan....................................................... Validitas Data.... e....... Tehnik Analisis Data.......................... BAB IV: HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN............................. Langkah-langkah Pengajaran dengan Menggunakan Media Permainan Lempar Dadu Huruf........ xii 48 30 31 33 34 34 34 35 36 41 42 43 43 44 47 29 27 25 23 23 21 ........ H............ Fungsi Media Permainan Lempar Dadu Huruf......... Setting Penelitian..48 1...................................................................................................... f......................................... BAB III METODOLOGI PENELITIAN........ Pengertian Membaca Permulaan............................................ Prosedur Penelitian....................... Kerangka Berfikir....... b.................................................... D...... 19 e.......................................................................................... B.............. Teknik Pengumpulan Data........ Metode Pengajaran Membaca ................................................................ Data dan Sumber Data.. Subyek Penelitian.......... A................................... f.................................................................. Pengertian Media ...................... Pembelajaran Membaca Anak Tunagrahita... Kelemahan dan Kelebihan Permainan Lempar Dadu Huruf..... B....................... 24 c...................... a.... F.............. G.................................. C..................... C........ Validitas dan Reliabilitas Instrumens......................................... ......................................... E.............................. Tinjauan tentang Media Permainan Lempar Dadu Huruf....................................... A............. Deskripsi Kondisi Awal.................... Pengertian Media Lempar Dadu Huruf.... Penerapan Pembelajaran dengan Menggunakan Media Lempar Dadu Huruf pada Anak Tunagrahita................................. I.....................................

.................................................................... 63 BAB V......................................................... SIMPULAN DAN SARAN................................................................................................................................................ 57 c..................... 68 LAMPIRAN ... 52 52 b.... 58 d........................ 56 b.............................................................. Tindakan......................... 60 C........................... 71 xiii ........ a............................................................. 60 B.................................................... SIMPULAN.......................... Pembahasan hasil Penelitian....................................................................... 66 A............................ Hasil Penelitian.......................................................... Perencanaan....................................................... Pengamatan.... Pengamatan........................................................................................... SARAN............ 53 d......................................... Pelaksanaan Siklus II.... Refleksi .. Refleksi............................. 56 a........................ 52 c...................................... 66 DAFTAR PUSTAKA............... Perencanaan................13 2....... 66 B................... Tindakan ............................................... Pelaksanaan Siklus I................................................................................................................................................. 56 3....................

.

Dua belas persen dari siswa Taman Kanak-Kanak Elim adalah Anak Berkebutuhan Khusus ABK). Pelayanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus dewasa ini mengalami kemajuan yang baik. karena anak berkebutuhan khusus tidak jarang memiliki kelebihan atau bakat yang tidak dimiliki anak normal lainnya. Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) memperoleh kesempatan yang lebih luas dalam memperoleh layanan pendidikan. Penanaman karakter sangat ditekankan pada setiap pembelajaran. baik bagi anak normal maupun anak yang mengalami kelainan atau berkebutuhan khusus. . mengucap syukur karena Tuhan menciptakan dirinya dengan keadaan normal.1 BAB I PENDAHULUAN A. Pelaksanaan pendidikan inklusif diharapkan mampu membawa dampak yang positif bagi anak berkebutuhan khusus. mampu belajar kelebihan orang lain. Setiap anak mampu menerima satu dengan yang lain tanpa saling merendahkan atau mengejek. Keberadaan anak yang berkebutuhan khusus ini tidak membuat teman normal lainnya tergannggu. Demikian juga bagi anak normal. baik segi akademik. Latar Belakang Masalah Setiap anak memiliki hak untuk memperoleh pendidikan. Mereka dapat belajar bersama-sama dengan anak normal seusianya dalam satu sekolah yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Taman Kanak-Kanak Elim merupakan salah satu lembaga pendidikan yang menampung anak normal maupun anak berkebutuhan khusus untuk belajar bersama-sama dalam satu kelas. mental maupun sosial. Mereka tidak harus menempuh jarak yang lumayan jauh dari tempat tinggalnya menuju ke Sekolah Luar Biasa (SLB) yang biasanya terdapat di kota kabupaten. dengan adanya sekolah inklusif diharapkan mampu belajar menerima dan memahami keadaan sesamanya yang berkekurangan sebagai bagian ciptaan Tuhan. Pelaksanaan pendidikan inklusi merupakan jawaban dari kebutuhan pelayanan pendidikan bagi anak yang berkebutuhan khusus. Dewasa ini pelayanan pendidikan bagi anak berkelainan sudah mulai masuk ke desa-desa.

anak memiliki nila rata-rata bintang 1 atau 2. perilaku.2 Kegiatan bermain sambil belajar pada Taman Kanak-kanak Elim Sragen berjalan sangat antusias dan sangat baik. termasuk dalam membaca. Contohnya: u dangan v. bahkan menangis saat teman-temannya mengolok-olok. Anak sering merasa minder. kedua siswa ini mengalami ketertinggalan yang sangat jauh dengan siswa yang lain. Dua diantara 16 dari siswa di Taman Kanak-kanak Elim mengalami keterlambatan di dalam berbagai kegiatan bermain dan belajar. lupa. tidak jenuh sehingga anak ingin terus dan terus melakukan hingga anak mampu membaca dengan baik dan lancar seperti teman-teman yang lainnya. kadang belum mengerti. Untuk mengatasi hal tersebut perlu diadakan tindakan untuk menolong kedua anak tersebut. d dengan b. Anak sangat sulit dalam membaca kata. yaitu memperbaiki proses pembelajaran yang membuat anak menjadi tertarik. psikomotor maupun seni. malu. Hal tersebut juga mempengaruhi kepercayaan diri yang kurang terhadap anak. m dengan n dan lain sebagainya. sehingga anak mengalami perkembangan yang sangat baik. bahkan beberapa huruf masih sering salah dibacanya. Untuk itu . maka penulis berusaha untuk mencari dan menemukan solusi dengan mengadakan penelitian tindakan kelas dengan Judul “UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA PERMULAAN MELALUI MEDIA BERMAIN LEMPAR DADU HURUF PADA ANAK TUNAGRAHITA KELAS B SEMESTER I DI TAMAN KANAK. . yaitu dengan bobot nilai 1 – 2 untuk bintang 1 dan 3 -4 untuk bintang 2. Hasil penilaian dalam belajar anak-anak rata-rata menunjukan nilai bintang 5 ataupun bintang 4.KANAK ELIM SRAGEN TAHUN PELAJARAN 2010/2011”. Hasil penilaian untuk kemampuan membacanya. Dalam hal kognitif yakni kemampuan membaca permulaan juga menunjukkan hal sangat menggembirakan bahkan banyak diantara siswa di Taman Kanak-kanak Elim rata-rata sudah mampu membaca dengan lancar. Bintang 5 memiliki bobot nilai 9-10 baik dalam kognitif. kadang keliru membaca dengan huruf yang bentuknya hampir sama.

b. Penelitian ini dapat menumbuhkan motivasi untuk lebih kreatif menggunakan pembelajaran. yakni belum tercapainya nilai maksimum membaca permulaan pada 2 anak yang mengalami keterlambatan maka penulis dapat merumuskan masalah. C. berbagai metode guna meningkatkan kualitas . Tujuan Penelitian Berdasarkan perumusan masalah tersebut di atas maka tujuan penulis mengadakan penelitian adalah sebagai berikut: Untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan anak tunagrahita (ATG). Bagi Guru a. Penelitian ini dapat menjadi wawasan bagi guru dalam menggunakan media bermain lempar dadu huruf pada pembelajaran membaca permulaan. Penelitian ini dapat memberikan suasana yang menyenangkan. Bagi Siswa a. minat dan partisipasi anak dalam kegiatan pembelajaran.3 A. sehingga anak dapat belajar seraya bermain. Penelitian ini dapat meningkatkan keaktifan. Manfaat Hasil Penelitian 1. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang terjadi di kelas B Taman Kanak-kanak Elim Sragen. melalui media bermain lempar dadu huruf pada kelas B semester I di Taman kanak-Kanak Elim Sragen. b. yaitu “apakah penggunaan media bermain lempar dadu huruf dalam pembelajaran dapat meningkatkan kemampuan membaca permulaan pada kelas B Taman Kanak-kanak Elim Sragen?” B. motivasi. 2.

masingmasing anak terlahir dalam keadaan yang berbeda. Anak Tunagrahita Keadaan setiap manusia berbeda satu dengan yang lain. masing-masing memiliki keunikan. Sutjihati Somantri (1996:83) menyatakan “Anak Tunagrahita adalah anak yang kecerdasannya jauh di bawah rata-rata. memiliki hak untuk memperoleh pendidikan sesuai dengan kebutuhan mereka. karena mereka memiliki keterlambatan didalam berpikir.4 BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS TINDAKAN A. karena anak mengalami keterbatasan dalam kemampuan berpikirnya. Anak yang mengalami kelemahan atau kelainan dalam berpikir secara umum sering disebut dengan anak di bawah normal atau tunagrahita.” Anak yang kecerdasannya di bawah rata-rata dikenal juga dengan anak keterbelakangan mental. Kajian Teori 1. yang ditandai oleh keterbatasan intelegensi dan ketidakcakapan dalam interaksi sosial. Mereka seperti anak-anak normal lainnya. Anak tunagrahita adalah merupakan individu yang utuh dan unik. Anak yang memiliki kecerdasan di bawah garis normal perlu suatu penanganan yang khusus. sukar untuk mengikuti program pendidikan di .rata yang ditandai oleh keterbatasan intelegensi dan ketidak cakapan dalam interaksi sosial. Pemahaman secara teoritis maupun praktis sangat diperlukan supaya guru ataupun para propesional dapat memberikan layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Kelemahan dan kelebihan dimiliki setiap anak. a. Pengertian Anak Tunagrahita Tunagrahita menjelaskan tentang kondisi anak yang kecerdasannya dibawah rata. demikian juga dalam hal kemampuan berpikir.

Jika seorang anak memiliki MA lebih tinggi. keterampilan social. Intellectual Disability Perspective & Challenges. dan waktu luang. maka penulis dapat menegaskan bahwa anak tunagrahita adalah anak yang mengalami hambatan dalam kecerdasannya. AAMD (America Association of Mental Deficiency) dalam Anggie Sa’adah (2009) menjelaskan bahwa: “Tunagrahita menunjukkan adanya keterbatasan dalam fungsi. Sebagai contoh.5 sekolah. merawat diri sendiri. Berdasarkan pendapat di atas. . yakni pertama fungsi intelektual secara nyata berada di bawah rata-rata. yang mencakup fungsi intelektual yang dibawah rata-rata. Pengajaran sistem klasikal memberikan masalah bagi anak karena kemampuan berpikirnya tidak seperti teman-teman lain yang cerdas ataupun yang normal. dimana berkaitan dengan keterbatasan pada dua atau lebih keterampilan adaptif seperti komunikasi. artinya anak usia enam tahun memiliki MA enam tahun. Keadaan ini nampak sebelum usia 18 Tahun. sehingga kecerdasannya berada jauh di bawah rata-rata yang ditandai oleh keterbatasan intelegensi sehingga kurang/tidak mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan. anak yang berusia enam tahun akan memiliki kemampuan yang sepadan dengan anak usai enam tahun pada umumnya. Untuk mendeteksi anak tunagrahita atau keterbelakangan mental ada baiknya memahami konsep Mental Age (MA). AFMR dalam Astati (2010) menyatakan: “Seseorang dikatakan tunagrahita apabila memiliki 2 kriteria yang penting. Gangguan dipengaruhi oleh faktor genetik. kesehatan dan keamanan. Jadi dikatakan tunagrahita jika memenuhi dua komponen tersebut”. Sebaliknya jika MA anak lebih rendah dari umurnya. Mental Age adalah kemampuan mental oleh seorang anak pada usia tertentu. fungsi akademis. maka anak tersebut memiliki kecerdasan di atas rata-rata. kedua adanya ketidakmampuan dalam menyesuaikan diri dengan norma dan tuntutan yang berlaku dalam masyarakat. lingkungan dan psikososial”. Waktu terjadinya sebelum usia perkembangan yaitu 18 tahun.

3) Kondisi ibu saat hamil Kondisi ibu saat hamil mempengaruhi keadaan bayi yang dikandungnya. b. kekurangan gizi dan sebagainya akan berpengaruh kurang baik pada bayi yang .” Faktor internal adalah faktor yang erat hubungannya dengan keadaan bayi selama masih ada dalam kandungan. daya ingat. ketrampilan merawat diri dan memecahkan masalah. jika selama mengandung ibu dalam keadaan sakit. Kelainan Sindrom Down terjadi karena kelebihan jumlah kromosom pada kromosom no 21 yang seharusnya dua menjadi tiga. Sindrom Down atau down sindrom memiliki karakter mata sipit. MA dipandang sebagai indeks dari perkembangan kognitif seorang anak. Anak tunagrahita selalu memiliki MA lebih rendah daripada umurnya secara jelas. MA yang sedikit saja kurang dari umur tidak termasuk tunagrahita. Faktor internal penyebab terjadinya kelainan diantaranya adalah: 1) Kelainan pada kromosom Inti sel manusia terdapat 23 pasang kromosom. sehingga jumlah kromosom tidak 46 tetapi 47. Anak yang memiliki tingkat kecerdasan di bawah rata-rata namun memilki kemampuan menyesuaikan diri dengan normal dan tuntutan yang berlaku dalam masyarakat tidak disebut anak tunagrahita. Faktor Penyebab Anak Tunagrahita Ketunagrahitaan dapat terjadi karena berbagai faktor. diantaranya seperti yang diungkapkan Sutjihati Somantri (1996:53) bahwa “penyebab tunagrahita ada 2 faktor. yaitu faktor internal dan eksternal. Hal ini bisa menyebabkan penderitanya mengalami kelainan fisik. 2) Faktor keturunan Sifat menurun yang dibawa dari orang tua kepada anak. seperti kelainan jantung bawaan. otot-otot melemah dan retardasi mental yakni hambatan perkembangan kecerdasan dan psikomotor. menunjukkan pemburukan yang jelas dalam bahasa. totalnya adalah 46. strees. hidung pesek.6 maka anak tersebut memiliki kecerdasan di bawah rata-rata.

Metabolisme dan gizi sangat penting peranannya bagi pertumbuhan dan perkembangan individu. dan lain-lain. Konsumsi obat yang tidak sesuai petunjuk dokter dapat mengakibatkan kecacatan. . penyakit. kegagalan dalam mengadakan interaksi yang terjadi selama perkembangan menjadi salah satu penyebab ketunagrahitaan. Faktor penyebab terjadinya tunagrahita saat anak lahir misalnya: pemakaian alat bantu pada saat melahirkan. kekurangan oksigen. 4) Infeksi dan keracunan Infeksi dan keracunan yang terjadi selama janin dalam kandungan. kecelakaan. infeksi dan keracunan ini dialami lewat penyakit-penyakit yang diderita oleh ibu. Trauma yang terjadi pada saat kelahiran dapat dialami ketika proses kelahiran yang sulit sehingga harus dibantu dengan alat (tang). obat-obatan atau narkotika. 3) Kecelakaan Kecelakaan dapat mengakibatkan terjadinya kecacatan pada baik pisik maupan psikis. Zat radioaktif saat penyinaran semasa bayi dapat mengakibatkan tunagrahita microcephaly. Faktor eksternal adalah faktor yang terjadi pada saat melahirkan dan setelah anak lahir. misalnya penyakit yang timbul karena virul rubella syphilis. Gangguan pada metabolisme dan kekurangan gizi dapat menyebabkan terjadinya gangguan fisik maupun mental pada individu.7 dikandungnya. 4) Faktor Lingkungan atau sosial budaya Lingkungan berperan terhadap fungsi intelek anak. toxoplasma. Faktor eksternal yang menyebabkan terjadinya kelainan adalah: 1) Gangguan metabolisme dan kekurangan gizi. 2) Trauma dan Zat Radioaktif Benturan atau tekanan pada kepala dapat menyebabkan kecacatan pada otak. kurang gizi. dan sebagainya. keracunan alkohol. Faktor penyebab tunagrahita setelah anak lahir adalah.

2). blogspot. sangat terbatas untuk kemampuan pendidikan akademik. sebab-sebab pada masa perinatal atau saat lahir. menyatakan “penyebab tunagrahita ada 5 hal: genetik atau keturunan.com/2009) : 1). Pertahanan diri dan penyesuaian sosial. misalnya studi yang dilakukan oleh Kirk (Astati. Educable Anak pada kelompok ini masih mempunyai kemampuan dalam akademik setara dengan anak reguler pada kelas 5 sekolah dasar. penyebab karena deprivasi lingkungan”. . 2010) menunjukkan bahwa anak yang berasal dari keluarga kurang mampu memiliki kecenderungan untuk mempertahankan mentalnya pada taraf yang sama. Sebab-sebab masa prenatal. Penulis mengelompokkan faktor penyebab ketunaan dalam dua kelompok. yakni: 1) faktor endogen Yaitu faktor penyebab ketunaan yang datang dari dalam. 2) faktor eksogen Yaitu faktor penyebab ketunaan diluar keturunan/ bawaan atau pengaruh yang datang dari luar setelah anak lahir. berbagai pendapat mengklasifikasikan anak tunagrahita sebagai berikut: Klasifikasi anak tunagrahita untuk keperluan pembelajaran menurut America Associationon Mental Retardation dalam Anggie (http://saunganggie. c. bahkan prestasi belajarnya semakin berkurang dengan meningkatnya usia.8 Berbagai penelitian melaporkan bahwa anak tunagrahita banyak ditemukan pada daerah yang tingkat sosial ekonominya rendah. sebab-sebab pada saat pos natal. Berdasar kedua pendapat di atas penulis menyimpulkan bahwa banyak faktor yang dapat menyebabkan terjadinya kelainan atau ketunaan. hal ini disebabkan oleh ketidakmampuan lingkungan dalam memberikan stimulus pada masa perkembangan. Trainable Mempunyai kemampuan dalam mengurus diri sendiri. Mulyono Abdurrahman (2003:24). misalnya keturunan/ bawaan dari dalam kandungan. Klasifikasi Anak Tunagrahita Anak tunagrahita dapat diklasifikasikan sesuai dengan keberadaannya.

dapat melatih tentang dasar-dasar cara menolong diri sendiri dan kemampuan yang bersifat komunikatif. Retardasi mental sangat berat (profound mental retardation) dengan IQ 20 kebawah.kebawah Tidak mampu menerima pendidikan secara akademis. Hal ini biasanya memerlukan pengawasan dan dukungan terus menerus. Custodial Dengan pemberian latihan yang terus menerus dan khusus. Hal ini juga mempunyai 4 taraf. Menurut Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa (2007:4) dalam buku Pedoman Penyelenggaraan Pendididkan Inklusif. menulis. Klasifikasi dari segi keperluan pendidikan sebagai berikut: .9 3). Retardasi mental berat (sever mental retardation) dengan IQ 20-39. yaitu: 1) Ringan 2) Sedang 3) Berat 4) Sangat berat Berdasarkan pendapat di atas penulis menyimpulkan bahwa anak tunagrahita dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kelompok menurut kepentingannya. tetapi berdasarkan kematangan sosial. Retardasi mental menurut kriteria perilaku adaptif tidak berdasarkan taraf intelegensi. klasifikasi anak tunagrahita: 1) Anak tunagrahita ringan IQ 50 – 70 Mampu dididik diajarkan membaca. Klasifikasi anak tunagrahita/ retardasi mental secara Sosial-Psikologis terbagi menjadi 2. 2) Tunagrahita sedang IQ 25 – 49 Termasuk mampu latih. Retardasi mental sedang (mild mental retardation) dengan IQ 40-54. Termasuk mampu rawat. Retardasi mental secara psikometrik menurut skala intelegensi Wechsler dalam Astati (2010) ada 4 taraf. yaitu: 1) 2) 3) 4) Retardasi mental ringan (mild mental retardation) dengan IQ 55-69. Kegiatan sehari-hari membutuhkan bantuan orang lain. yaitu Psikometrik dan perilaku adaptif. Mereka biasanya menyelesaikan pendidikan setingkat kelas III SD umum. 3) Tunagrahita berat IQ 24. Biasanya bisa menyelesaikan pendidikan setingkat kelas IV SD umum. dan berhitung.

kuliah. d. berhitung. perhatian bahkan pelayanan. Mereka mampu menolong diri sendiri. menulis . mampu berlindung dari bahaya karena itu anak tunagrahita ringan tidak memerlukan pengawasan ekstra. Anak tunagrahita sedang memiliki IQ antara 30 s/d 50. bimbingan aktivitas sehari-hari. 3) Anak mampu rawat (tunagrahita berat/ Idiot) Anak tidak mampu menerima pendidikan secara akademis. Karakteristik Anak Tunagrahita Defli (2009) menyebutkan bahwa karakteristik anak tunagrahita dapat dilihat dari segi: 1) Fisik (penampilan) a) Untuk tunagrahita ringan hampir sama dengan anak normal. berhitung. untuk tunagrahita berat dapat kelihatan. Mampu dilatih ketrampilan-ketrampilan sederhana. untuk mengurangi ketergantungan kepada orang lain. 2) Anak mampu latih (tunagrahita sedang/ Embisil) Anak tunagrahita sedang mampu diajarkan membaca. misalnya: sekolah menengah umum. Mereka membutuhkan pengawasan. misalnya membaca. mereka mampu bekerja di lapangan namun perlu sedikit pengawasan.10 1) Anak mampu didik (tunagrahita ringan/ debil) Anak mampu dididik dan dilatih. b) Kematangan motorik lambat c) Koordinasi gerak kurang 2) Intelektual . kondisi fisik mereka tidak begitu berbeda dengan anak normal lainnnya. menulis. menjahit bahkan bisa dilatih untuk berjualan. Anak tunagrahita berat memiliki IQ 29 kebawah. anak tidak dapat mengurus dirinya sendiri apalagi berlindung dari bahaya. Anak tunagrahita ringan lebih mudah diajak komunikasi. Sedikit perhatian dan pengawasan diperlukan untuk perkembangan mental dan sosial anak tunagrahita sedang. memasak. Anak mampu mengikuti pendidikan walaupun tidak mencapai tingkat yang tinggi. Mereka memiliki IQ antara 50 s/d 70.

mudah dipengaruhi g) Dapat memimpin diri sendiri maupun orang lain Karakteristik anak tunagrahita menurut Brown Children. Hal itu mungkin disebabkan kesulitan bagi anak tunagrahita dalam memberikan perhatian terhadap lawan main. sulit menjangkau sesuatu .blogspot. 6) Tingkah laku dan interaksi yang tidak lazim. p. Kebanyakan anak denga tunagrahita berat mempunyai ketebatasab dalam gerak fisik.11 a) Sulit mempelajari hal-hal akademik b) Anak tunagrahita ringan kemampuannya setaraf anak normal usia 12 tahun (IQ 50 – 70) c) Klasifikasi sedang setaraf dengan usia 7 – 8 tahun (IQ 30 – 50) d) Berat. Anak tunagrahta ringan dapat bermain bersama dengan anak reguler. mempunyai kesulitan dalam mempelajari pengetahuan abstrak atau yang berkaitan. Mereka lambat dalam mengerjakan tugas-tugas yang sangatsederhana. misalnya: memutar-mutar jari di depan wajahnya dan melakukan hal-hal yang membahayakan diri sendiri. 7) Tingkah laku kurang wajar yang terus menerus. 3) Kemampuan bicaranya sangat kurang bagi anak tunagrahita berat. 1996 (http://saunganggie. Banyak anak tunagrahita berat bertingkah laku tanpa tujuan yang jelas. misalnya: menggigit diri sendiri.485-486. seperti: berpakaian. 2) Kesulitan dalam menggeneralisasi dan mempelajari hal-hal yang baru. penulis menyimpulkan bahwa anak tunagrahita memiliki karakteristik sebagai berikut: pada Exceptional dalam Angie Siti Sa’adah . Sebagian dari anak tunagrahita berat sangat sulit untuk mengurus diri sendiri. ada yang tidak dapat berjalan. makan.com/2009) menyatakan: 1) Lamban dalam mempelajari hal-hal yang baru. tetapi anak yang mempunyai tunagrahita berat tidak meakukan hal tersebut. Kegiatan mereka seperti ritual. 5) Kurang dalam kemampuan menolong diri sendiri. dan selalu cepat lupa apa yang dia pelajari tanpa latihan yang terus menerus. dan mendongakkan kepala. 4) Cacat fisik dan perkembangan gerak. setaraf dengan anak usia 3 – 4 tahun (IQ 30 kebawah) 3) Sosial dan emosi a) Bergaul dengan anak yang lebih muda b) Suka menyendiri c) Mudah dipengaruhi d) Kurang dinamis e) Kurang pertimbangan/ kontrol diri f) Kurang konsentrasi. Mereka selalu memerlukan latihan khusus untuk mempelajari kemampuan dasar. dan mengurus kebersihan diri. dll. membentur-beturkan kepala. tidak dapat berdiri atau bangun tanpa bantuan. fifth edition. Berdasarkan pendapat di atas.

b) Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB). Pendidikan Anak Tunagrahita Bentuk-bentuk penyelenggaraan pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus. e. Contohnya: a) Sekolah Luar Biasa (SLB). adalah: 1) Sistem pendidikan segregasi Sistem pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) secara khusus dan terpisah dari anak-anak normal.12 1) Memiliki kemampuan berpikir yang rendah 2) Emosi yang labil bahkan kurang wajar 3) Sulit bersosialisasi 4) Kemampuan motorik yang kurang 5) Mengalami gangguan dalam berkomunikasi. Contohnya: Sekolah reguler . Keuntungan sekolah segregrasi: a) Rasa ketenangan pada anak luar biasa b) Komunikasi yang mudah dan lancar c) Metode pembelajaran yang khusus sesuai dengan kondisi dan kemampuan anak d) Guru dengan latar belakang pendidikan luar biasa e) Sarana dan prasarana yang sesuai Kelemahan sekolah segregasi: a) Sosialisasi terbatas b) Biaya mahal 2) Sistem pendidikan integrasi Sistem pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) yang memungkinkan anak luar biasa memperoleh kesempatan mengikuti proses pendidikan bersama dengan siswa normal lainnya.

Kelemahan: e) Memerlukan banyak tenaga pengajar maupun pendamping f) Memerlukan banyak sarana dan prasarana Pendidikan inklusif muncul dilatar belakangi oleh kurang meratanya pendidikan bagi anak-anak yang berkebutuhan khusus. Hal ini disebabkan karena pelayanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus biasanya berada di kota-kota kabupaten. Keuntungan: a) Lokasi berada dekat dengan anak. Program ini dilandaskan pada UndangUndang Dasar 1945 pasal 31 tentang hak setiap warga negara untuk . b) Pelayanan pendidikan kurang memadai. Program penuntasan wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun diharapkan berhasil dengan baik.13 Keuntungan: a) Merasa diakui kesamaan haknya dengan anak normal terutama dalam memperoleh pendidikan b) Bakat dapat berkembang dengan optimal c) Mempunyai kesempatan untuk melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi d) Harga diri bisa meningkat Kelemahan: a) Kurangnya tenaga ahli atau sumber daya yang memiliki pengetahuan yang cukup tentang anak disability. b) Biaya relatif murah c) Sosialisasi berkembang dengan baik d) Belajar sesuai dengan kebutuhan anak. 3) Sistem Pendidikan inklusi Sekolah reguler yang menerima anak berkebutuhan khusus (ABK) dengan kurikulum dan sistem pendidikan sesuai dengan kebutuhan ABK di sekolah reguler tersebut. terutama ekonomi lemah yang berada di pedesaan.

cakap. yuridis. kreatif. Teknis penyelenggaraannya tentunya akan diatur dalam bentuk operasional. Landasan empiris. Hal ini dilandasi pernyataan Salamanca yang merupakan perluasan dari program UNESCO. sehat. Penerapan pendidikan inklusif mempunyai landasan fisiologis. sehingga motivasi untuk belajar dan berkarya menjadi lebih baik. . berakhlak mulia. paedagogis. anak 1994) menekankan berlajar bahwa selama tanpa memungkinkan. demikian juga halnya dengan anak yang mengalami kekurangan. Di Indonesia. mereka merasa diterima dan dapat hidup bersama-sama dengan anak normal lainnya. penelitian menunjukkan bahwa penempatan anak berkelainan di tempat khusus tidak efektif dan diskriminatif. yakni education for all. Anak dapat memiliki kepercayaan diri yang lebih baik. Landasan filosofis utama penerapan pendidikan inklusif di Indonesia adalah Pancasila yang merupakan lima pilar sekaligus cita-cita yang didirikan atas fondasi yang lebih mendasar lagi. yang disebut Bhinneka Tunggal Ika (Mulyono Abdulrahman dalam Direktorat Pendidikan Luar Biasa. Akan tetapi pendidikan inklusif berdampak positif. tujuan pendidikan nasional adalah berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.14 memperoleh pendidikan. mandiri. Landasan yuridis internasional penerapan pendidikan inklusif adalah Deklarasi Salamanca semua (UNESCO. seyogyanya bersama-sama memandang kesulitan ataupun perbedaan yang mungkin ada pada mereka. baik terhadap perkembangan akademik dan sosial. berilmu. Landasan paedagogis. dan empiris yang kuat. 2004). penerapan pendidikan inklusif dijamin oleh UndangUndang nomor 20/2003 tentang sistem pendidikan nasional yang dalam penjelasannya menyebutkan bahwa penyelenggaraan pendidikan untuk peserta didik berkelainan atau memiliki kecerdasan luar biasa diselenggarakan secara inklusif atau berupa sekolah khusus. Jadi melalui pendidikan peserta didik berkelainan dibentuk menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. dan bertanggung jawab.

maka dibutuhkan alat pelajaran yang memadai. Hal ini disebabkan anak tunagrahita kurang mampu berfikir abstrak. mereka membutuhkan hal-hal kongkrit. Hal ini dimaksudkan dalam rangka membuat profile anak. diperlukan tenaga-tenaga yang mampu menangani anak berkebutuhan/ profesional. namun bagi anak yang berkebutuhan . seperti dalam pembelajaran anak-anak pada umumnya . Penanganan kepeserta didikan meliputi perencanaan dan pelaksanaan assesmen. Agar terjadinya tanggapan tentang obyek yang dipelajari. Pelayanan Khusus tersebut meliputi penanganan kepeserta didikan. Alat Bantu pelajaran penting diperhatikan dalam mengajar anak tunagrahita. dalam menangani anak yang memerlukan pelayanan khusus. Profile sangat berguna yntuk memahami kebutuhan khusus anak dalam rangka penyusunan kebutuhan pembelajaran secara individu. hal ini dikarenakan anak tunagrahita kurang mampu berfikir abstrak. pendanaan dan lingkungan. media pembelajaran dan Alat Bantu pelajaran memegang peranan penting . Saran dan prasarana. Kurikulum disusun berdasarkan kebutuhan anak sesuai profile tiap peserta didik yang membutuhkan pelayanan khusus. sarana prasarana. dengan demikian keperluan-keperluan anak berkebutuhan khusus tidak terabaikan dalam proses pembelajaran. Pelaksanaan pembelajaran anak tunagrahita di Taman Kanak-kanak Elim adalah belajar bersama-sama dengan anak normal lainnya dalam satu kelas/ kelompok dengan kurikulum yang sama. Tenaga kependidikan. Pelaksanaan pembelajaran anak tunagrahita pada kelas inklusif pada dasarnya adalah memperhatikan atau memberikan pelayanan khusus kepada setiap individu sebagai peserta didik. kurikulum. maka pembelajaran bagi anak tunagrahita pun ..15 f. tenaga kependidikan. Pembelajaran Anak Tunagrahita pada kelas Inklusif Pelaksanaan pembelajaran anak tunagrahita pada kelas inklusif adalah anak berkebutuhan khusus belajar bersama-sama dengan anak normal sebaya dengan kurikulum dan sistem pendidikan yang berbeda satu sama lain yang disesuaikan dengan kebutuhan anak.

Penambahan pelayanan pendidikan (membaca. anak harus belajar membaca agar dapat belajar. Kemampuan membaca merupakan dasar untuk menguasai berbagai bidang studis. Bagi siswa membaca juga menjadi modal agar dapat mengikuti kegiatan pembelajaran. Jika dirasa perlu anak yang berkebutuhan khusus diberikan penambahan jam belajar saat istirahat atau setelah jam pelajaran selesai.menulis) diberikan saat pelajaran berlangsung dilakukan Oleh guru pendamping.16 khusus kurikulum disesuaikan dengan kondisi anak. memahami makna dari suatu simbol atau tulisan. Oleh karena itu. penulis dapat menyimpulkan bahwa membaca merupakan kegiatan yang sangat kompleks yang mencakup aktifitas fisik dan mental untuk mengenal. Pengertian Membaca Membaca merupakan modal bagi seseorang untuk mempelajari buku dan mencari informasi tertulis.” Menurut Tampubolon makna dari tulisan”. Jika anak pada usia sekolah tidak segera banyak memiliki kesulitan kemampuan membaca. 2. Kemampuan membaca merupakan suatu kemampuan untuk memahami informasi atau wacana yang disampaikan oleh pihak lain melalui tulisan. Tinjauan Tentang Membaca Permulaan a.com/2009) “membaca pada hakekatnya adalah kegiatan fisik dan mental untuk menemukan . Dikatakan kegiatan mental karena bagian-bagian mengalami dalam anggie (http://saunganggie. Membaca bukan hanya mengucapkan bahasa tulis tetapi juga memahami maknanya. Dikatakan kegiatan fisik karena bagian tubuh khususnya mata beraktifitas dalam kegiatan membaca. Berdasarkan pendapat di atas.blogspot. Menurut Munawir Yusuf (2005:134) “membaca merupakan aktifitas auditif dan visual untuk memperoleh makna dari simbol berupa huruf atau kata. (2) membaca permulaan. Ada lima tahapan perkembangan membaca yaitu : (1) kesiapan membaca. maka anak akan dalam beberapa bidang studi. (4) membaca luas dan (5) membaca yang sesungguhnya. (3) ketrampilan membaca cepat.

Berdasarkan subtansinya pengertian membaca dapat diklasifikasikan menjadi tiga golongan. Betapa pentingnya peranan membaca bagi kita semua. interaktif. Tujuan membaca menurut Smith (Tampubolon. Strategis maksudnya membaca yang efektif menggunakan berbagai strategi yang sesuai dengan teks yang dibaca. b. Sejono (dalam Devid Haryalesmana. memberi pengetahuan.2009) mengemukakan bahwa tujuan membaca dan menulis permulaan ialah “mengenalkan kepada siswa hurufhuruf abjad sebagai tanda suara dan melatih kecakapan anak untuk mengubah huruf menjadi suara dalam kata.17 pikiran khususnya persepsi yaitu kemampuan untuk menafsirkan apa yang dilihat sebagai simbol atau kata dan ingatan terlibat didalam kegiatan ini. Beberapa hal yang tercakup dalam pengertian membaca yaitu: membaca merupakan suatu proses. yaitu pengertian yang memandang membaca sebagai proses mengolah bacaan yaitu proses memaknai bacaan secara mendalam. . Membaca merupakan suatu proses maksudnya adalah informasi dari teks dan pengetahuan yang dimiliki oleh pembaca mempunyai peran utama dalam membentuk makna. yaitu pengertian yang memandang membacac sebagai proses pengenalan simbol-simbol tertulis bermakna. Menurut Stauffer dalam Mathedu (2009) tujuan membaca membangun konsep. 2) Pengertian agak luas. mengembangkan perbendaharaan kata. strategis. yaitu: 1) Pengertian sederhana. tergantung pada situasi dan kondisi si pembaca. menemukan makna dari bacaan atau tulisan bukan mengenali huruf-huruf”.kata sebagai pengertian”. Tujuan Membaca Membaca adalah gerbang menuju penguasaan ilmu pengetahuan. yaitu pengertian yang memandang membaca sebagai proses memahami bacaan. Dalam membaca kita mempunyai banyak tujuan. Interaktif maksudnya keterlibatan pembaca dengan teks tergantung pada konteks. 3) Pengertian luas. 2009) “membangun pemahaman dari teks yang tertulis.

blogspot. .com/2008/12/02).18 menambahkan proses pengayaan pribadi.com/2009/06) membaca permulaan adalah “tahapan proses belajar membaca bagi siswa untuk memperoleh kemampuan dan menguasai teknik-teknik membaca dan menangkap isi bacaan dengan baik. Pengertian Membaca Permulaan Membaca permulaan merupakan tahapan anak dalam ketrampilan membaca yang lebih tinggi. mengembangkan intelektualitas. mengerti dan memahami problem orang lain. mengembangkan konsep diri dan sebagai suatu kesenangan. Membaca mampu mengembangkan intelektualitas seseorang. karena dengan membaca pengetahuan seseorang akan bertambah. Menurut M. karena ilmu atau pengalaman nya yang didapat melalui membaca. yakni kecakapan atau ketrampilan mengenal tulisan sebagai lambang atau simbol bahasa. Berdasarkan pendapat diatas penulis menyimpulkan bahwa tujuan membaca diantaranya: 1) Mengembangkan intelektualitas/ melatih kecakapan 2) Mendapatkan informasi 3) Membangun konsep diri 4) Melepaskan diri dari kejenuhan. Brata (http://Mbahbrata-edu. kesedihan. Membaca membuat pengetahuan semakin bertambah. “membaca permulaan adalah tahap awal anak belajar membaca dengan fokus pada pengenalan simbol-simbol huruf dan aspek-aspek yang mendukung pada kegiatan membaca lanjut”.wordpress. sehingga anak dapat menyuarakan tulisan tersebut. bahkan keputusasaan 5) Membaca karena hoby c. banyak halhal positif yang dapat kita ambil melalui membaca.” Permulaan mengandung makna “awal”. membaca permulaan dapat diartikan suatu tahapan awal yang dilakukan oleh anak untuk memperoleh kecakapan dalam membaca. Seseorang yang gemar membaca akan nampak berbeda dengan orang yang tidak suka membaca saat mengemukakan pendapat atau berargumentasi terhadap suatu masalah. Menurut Tarmizi (http://tarmizi. Ilmu yang tidak kita mengerti akan kita mengerti lewat membaca.

Syarat-syarat yang diperlukan untuk memperoleh kemampuan membaca adalah: 1) Kemampuan membunyikan lambang-lambang tulis 2) Penguasaan kosakata untuk memberi arti 3) Kemampuan memasukkan makna. sebagai dasar anak dalam pembelajaran membaca berikutnya. diuraikan kemudian diberi makna. ada dua. Pada tingkatan membaca permulaan.19 Berdasarkan pendapat di atas penulis dapat simpulkan bahwa membaca permulaan adalah tahap awal anak belajar mengenal huruf atau symbol bunyi dan menyuarakannya. yakni : 1) Pembelajaran membaca tanpa buku . kelompok kata dan kalimat bermakna. melalui proses decoding gambar bunyi dan kombinasinya diidentifikasikan. mengenali dan membedakan gambar-gambar bunyi serta kombinasinya. Brata (http://Mbahbrata-edu. Membaca permulaan yang menjadi acuan adalah membaca merupakan proses recoding dan decoding.com/2009). pembaca belum memiliki ketrampilan kemampuan membaca yang sesungguhnya tetapi masih dalam tahap belajar untuk memperoleh ketrampilan/ kemampuan membaca. Dengan proses tersebut. Tahap-tahap pelaksanaan membaca permulaan yang dikemukakan oleh M. Proses recoding yaitu proses fisik yang berupa kegiatan mengamati tulisan secara visual. d. rangkaian tulisan yang dibacanya menjadi suatu rangkaian bunyi dalam kombinasi kata. Tahap Pelaksanaan Membaca Permulaan Pembelajaran membaca perlu melalui tahap-tahap yang sesuai dengan perkembangan dan kemampuan anak. Proses decoding merupakan proses psikologis berupa kegiatan berpikir dalam mengolah informasi. Membaca pada tingkatan ini merupakan kegiatan kegiatan belajar mengenal bahasa tulis. Melalui tulisan itulah siswa dituntut dapat menyuarakan lambang-lambang bunyi bahasa tersebut.blogspot.

. Baik kegiatan membaca buku pelajaran. 2) Pembelajaran membaca dengan buku Pembelajaran dengan kegiatan membaca dengan menggunakan buku sebagai bahan pelajaran. kartu kalimat. jadi masih ada huruf yang sulit diucapkan dan sering salah dibaca. anak dihadapkan pada tulisan-tulisan yang ada di buku. Cara ini menyenangkan untuk anak usia dini sesuai dengan karakteristiknya yaitu masa bermain. Misalnya : kartu gambar. 1) Membaca tanpa buku meliputi: merekam bahasa siswa. penguasaan pada abjad belum sepenuhnya dikuasai. Misalnya ketika anak membaca “baju” ditunjukkan gambar baju atau bendanya.20 Dilakukan dengan cara mengajar dengan menggunakan media atau alat peraga selain buku. Pada tahap ini anak perlu bantuan seperlunya selama membaca. Pada tahap ini penguasaan kosa kata pada anak masih sangat terbatas. sehingga tahap pembelajaran seperti ini membuat anak bersemangat dan antusias. yakni: membaca tanpa buku dan membaca menggunakan buku”. dan pada usia sembilan atau sepuluh tahun pada anak tunagrahita. kartu kata. Membaca cerita sederhana. Berdasarkan pendapat di atas penulis simpulkan bahwa tahap membaca permulaan adalah tahap membaca tanpa buku. “Dalam pelaksanaan metode SAS. Hal ini sangat baik bagi anak untuk dapat memahami arti dari suatu bacaan dalam bentuk sederhana. pelaksanaan membaca permulaan dibagi menjadi 2 tahap. dan tahap menggunakan buku yakni setelah anak mengenal atau paham tentang simbolsimbol bunyi atau huruf-huruf. kartu huruf. Buku bergambar. dadu huruf. anak diperhadapkan dengan gambar-gambar yang telah diketahui anak sehingga anak tertarik. Tahap membaca permulaan umumnya pada masa peka yaitu usia enam atau tujuh tahun pada anak normal umunya. menampilkan gambar sambil bercerita. dan sebagainya. Bantuan yang diberikan umumnya berupa konkretisasi kata yang dibaca. Anak terkadang ingin mengetahui cerita tentang gambar tersebut. anak diperhadapkan dengan bacaan. dengan kalimat sederhana dapat memotivasi anak untuk membacanya. membaca gambar dan sebagainya. Menurut Darmiyati Zuhdi (2001:4). dan yang lainnya. 2) Membaca dengan menggunakan buku.

kemudian diajak memecahkan kode tulisan menjadi bunyi percakapan. mengenal kata. Metode Pengajaran Membaca Agar pembelajaran membaca berhasil dengan baik. Abdurrahman (2003:214) mengemukakan metode pengajaran membaca bagi anak pada umumnya: 1) Metode membaca dasar Menggabungkan berbagai prosedur untuk mengajarkan kesiapan. media lempar dadu huruf dan media yang menarik lainnya. . huruf dan bunyi huruf. Pendekatan yang dipakai dalam metode eja adalah pendekatan harfiah : dalam metode ini kita memperkenalkan abjad a sampai z beserta bunyi huruf atau fenom kepada anak. 4) Metode SAS (Struktural Analisis Sintesis) Metode global kata yang dikenalkan kepada anak sudah berbentuk kalimat sederhana. Dalam metode ini kita mengajarkan membaca dengan menggunakan kata yang telah di kenal anak. biasanya yang paling cocok dan sesuai alam anak yaitu membaca sambil bermain.com/2008/12/08). 3) Metode Global Metode Global menggunakan pendekatan kalimat. kita kenalkan kepada anak suku kata. Kemudian menguraikan kata tersebut menjadi suku kata dan huruf kemudian merangkai lagi. perbendaharaan kata. pemahaman dan kesenangan membaca.wordpress. misalnya membaca menggunakan media kartu bergambar. metode global. Metode kata lembaga. 2) Metode fonik Pemahaman pada pengenalan kata melalui proses mendengarkan bunyi huruf 3) Metode linguistik Anak diberikan suatu bentuk kata yang terdiri dari konsonan-vokal atau konsonan-vokal-konsonan. menawarkan berbagai metode yang dipergunakan bagi bunyi. e. dan metode SAS 1) Metode eja / bunyi Adalah belajar membaca yang dimulai dari mengeja huruf demi huruf. 2) Metode Kata lembaga Metode kata lembaga menggunakan pendekatan kata. Kita bedakan kata-kata tersebut. Tarmizi (http://tarmizi.21 Pengembangan yang tepat pada tahap membaca permulaan perlu sekali. perlu menggunakan metode yang menarik. Sedangkan pada metode SAS hanya menggunakan satu kata saja.

seperti keadaan lingkungan kelas. 2) Faktor yang berasal dari dalam individu. b) Faktor Psikologis. Guru hendaknya memilih metode yang cocok dan sesuai dengan situasi dan kondisinya.keadaan fungsi jasmani terutama fungsi panca indra. (4) memperbaiki kegagalan. maka perlu memperhatikan faktor. sakit gigi. b) Faktor sosial adalah gangguan yang terjadi pada proses belajar. Metode pembelajaran di atas dapat diterapkan dalam pembelajaran membaca permulaan. (1) Keadaan jasmani seperti lelah. akan tetapi semua merupakan alat untuk membimbing anak-anak dalam keberhasilan belajar umumnya dan membaca khususnya. (3) simpati kepada orang lain . a) Faktor Fisiologis. waktu. letak tempat tinggal alat belajar ( alat tulis.batuk. cuaca. (2) Kreativitas . Pembelajaran Membaca Anak Tunagrahita Untuk mencapai prestasi belajar yang optimal. faktor. (2) Faktor Fisiologis . ngantuk. Dari pendapat di atas penulis menyimpulkan bahwa ada berbagai macam metode didalam pembelajaran membaca yang masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. menulis.faktor yang kemampuan membaca adalah sebagai berikut: 1) Faktor yang berasal dari luar individu a) Faktor non sosial seperti: keadaan udara . yaitu (1) Sifat ingin tahu. Pemilihan metode pembelajaran sebaiknya dipergunakan dengan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut: 1) Menyenangkan bagi anak 2) Tidak menyulitkan anak untuk mengikuti/ menerima 3) Efektif dan efisien f. bercakap-cakap. suhu udara . lesu.faktor yang mempengaruhi kemampuan membaca yang dikemukakan oleh beberapa ahli: Menurut Slameto (1993:249). mempengaruhi . alat peraga ). Merangkai huruf 6) Metode pengalaman bahasa Mendengar.22 4) Metode SAS Memecahkan kode tulisan yang berupa kalimat sederhana 5) Metode Alfabetik Mengenalkan huruf.

(6) perkembangan motorik. (7) kematangan sosial dan emosional. keadaan atau fungsi mental. motivasi maupun minat. Anak tunagrahita adalah anak yang mengalami gangguan dalam kematangan berpikirnya untuk itu pembelajaran membaca bagi anak tunagrahita dilakukan dengan menggunakan metode dan media yang sesuai dengan karakteristik dan kemampuan anak.23 (5) rasa aman . (8) motivasi dan minat. misalnya dengan puzle. kartu huruf. sehingga mampu menimbulkan motivasi belajar membaca pada anak untuk tercapainya tujuan. termasuk keadaan fungsi jasmani. (3) kemampuan mendengarkan. Peneliti mencoba untuk menggunakan media lempar dadu huruf dalam pembelajaran membaca permulaan yang bertujuan memberi model lain yang dapat membangkitkan minat anak dalam membaca. Pelaksanaan pembelajaran membaca bagi anak tunagrahita di Taman Kanak-Kanak Elim dilakukan dengan memperhatikan kemampuan anak serta pemilihan berbagai macam metode dan berbagai media yang tepat. (4) memperhatikan. Metode yang digunakan metode eja. . gambar. suku kata. Berdasarkan pendapat di atas penulis simpulkan bahwa banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan membaca. (5) ketrampilan berpikir kematangan mental. (2) kematangan visual. Kliebhan dan Lerner seperti dikutip oleh Mercer (dalam Mulyono Abdurrahman. Video dan sabagainya. kata-kata sederhana. Penggunaan metode eja ini dikombinasikan dengan berbagai alat peraga yang menarik perhatian anak. anak belajar mulai dari pengenalan huruf demi huruf. Menunut Kirk. (6) adanya ganjaran atau hukuman. kematangan berpikir. 2003 : 201) ada delapan faktor yang (1) dan memberikan sumbangan bagi keberhasilan belajar membaca yaitu: perkembangan wicara dan bahasa.

“Media pendidikan ialah segala bentuk saluran yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan / informasi”.24 3. media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyampaikan pesan dari pengirim pesan kepada penerima pesan sehingga dapat merangsang pikiran . dkk. Pengertian Media Media berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari kata medium yang secara harfiah mempunyai arti antara. Menurut Gagne (dalam Arief S. Terkait dengan pembelajaran . Tinjauan tentang Media Permainan Lempar Dadu Huruf a. media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari guru ke siswa sehingga dapat merangsang pikiran.Media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim pesan ke penerima pesan. perhatian dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses pembelajaran terjadi dan berlangsung lebih efisien. b. Pengertian Media Lempar Dadu Huruf Dadu adalah bentuk dari suatu benda yang biasanya kita gunakan dalam permainan. perasaan dan perhatian anak didik untuk mencapai tujuan pendidikan Menurut Wijaya Kusumah (2008). Menurut Association for Educational Communications Teahnology (AECT) di Amerika yang dikutip oleh Wikipedia (2009). Dari pendapat tersebut diatas dapat disimpulkan. adalah sebuah . perantara atau pengantar. “ kata media berasal dari bahasa latin medium adalah sesuatu terletak ditengah (antara dua kutub atau antara dua pihak) atau suatu alat “. Dalam Wikipedia menyebutkan “kata Dadu berasal dari bahasa latin “datum” yang berarti suatu yang diberikan atau dimainkan. 2003 : 6) “media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk belajarnya”. perasaan. Sadiman.

dkk. . (2003 : 16-17) media dalam pendidikan mempunyai fungsi sebagai berikut: 1) Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalistik (dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan belaka). Penulis menggunakan dadu yang dirancang dengan simbol huruf pada setiap sisi-sisnya sebagai media pembelajaran dalam rangka pengenalan huruf. film dan model. waktu dan daya indra seperti : a ) Obyek terlalu besar . Pada keenam sisisisinya biasanya tertera gambar lubang-lubang yang berbeda jumlahnya. ataupun dengan ketentuan tertentu yang disepakati dalam permainan tersebut. kata dan kalimat sederhana. Menurut Arief S. 2) Mengatasi keterbatasan ruang . film bingkai . dengan menebak sisi yang muncul pada setiap lemparan. Fungsi Media Permainan Lempar Dadu Huruf Media bermain lempar dadu huruf memiliki fungsi untuk memotivasi anak dalam belajar lewat bermain. c.25 obyek kecil yang umumnya berbentuk kubus yang digunakan untuk menghasilkan angka atau simbol acak”. 3) Dengan menggunakan media pendidikan secara tepat dan bervariasi dapat diatasi sikap pasif anak didik dalam hal ini media berguna untuk: a) Menimbulkan kegairahan belajar. lingkaran atau lubang dua pada satu sisi demikian seterusnya pada sisi-sisi yang lainnya.bisa digantikan dengan realitas gambar. untuk keperluan meningkatkan kemampuan anak dalam membaca permulaan. merangkai huruf menjadi suku kata. b) Obyek yang kecil – dibantu dengan proyektor mikro. film bingkai. Dadu adalah sebuah benda yang berbentuk kubus. film dan gambar c) Gerak yang terlalu lambat atau dapat dibantu high speed photography atau low speed photography. seperti media dalam pendidikan lainnya. Dadu biasanya digunakan sebagai alat untuk berjudi. Gambar lubang atau lingkaran satu pada satu sisi. Sadiman . Tujuan pembelajaran ini untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan pada anak.

gambar. Dalam situasi demikian media pembelajaran dapat menimbulkan kegaerahan belajar dan memungkinkan terjadinya interaksi secara langsung antara anak didik dengan lingkungan serta memungkinkan anak didik belajar sendiri menurut kemampuan dan minatnya. dan materi pendidikan ditentukan sama untuk setiap siswa. kemudian obyek yang terlalu komplek bisa dibantu dengan modul. terakhir konsep yang sangat luas seperti gunung berapi. sedang kurikulum. iklim dan divisualisasikan dalam bentuk film . 2) Bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh siswa. dan daya indra.26 b) Memungkinkan interaksi yang lebih langsung antara anak didik dengan lingkungan. c) Memungkinkan anak didik belajar sendiri menurut kemampuan dan minatnya. dan memungkinkan siswa menguasai materi lebih baik. artinya hanya berbentuk kata-kata tertulis atau tulisan. waktu. film bingkai. film bingkai. maka guru akan banyak mengalami kesulitan bilaman latar belakang guru dan siswa sangat berbeda.lapse atau high. media dapat mempertinggi proses belajar siswa dalam gilirannya dapat mempertinggi hasil belajar yang tercapai. . obyek yang terlalu kecil bisa diganti proyektor mikro. gempabumi. foto. 2) Mengatasi keterbatasan ruang. 3) Metode mengajajar akan lebih bervariasi. tentang kejadian masa lalu dapat ditampilkan kembali lewat rekaman film. Menurut Oemar Hamalik (2005: 19) manfaat secara umum media pembelajaran memiliki fungsi seperti berikut: 1) Memperjelas penyajian pesan agar tidak bersifat verbalistik. misalnya obyek yang besar diganti gambar. film bingkai. video.diagram. Ada beberapa alasan diantaranya yang berkenan dengan manfaat media pengajaran dalam proses belajar siswa antara lain: 1) Pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar. Menurut Wijaya Kusumah (2008). sedang gerak yang lambat atau cepat bisa dibantu dengan time . gambar dan lain sebagainya. masalah ini dapat diatasi dengan media pendidikan. 3) Menggunakan media pembelajaran secara tepat dan bervariasi akan dapat diatasi sikap fasif anak didik atau siswa.speed phography. 4) Dengan sifat yang unik pada setiap siswa ditambah lagi dengan lingkungandan pengalaman yang berbeda .

Demikian dan mengaktifkan siswa . media ini jaga berfungsi untuk meningkatkan aktifitas fisik dan motorik lainnya. Anak membaca dari hasil permainan tersebut. 5) Utuk memutivasi siswa belajar sendiri Media ini merupakan alat peraga yang setiap sisinya memiliki simbol huruf. Kelemahan dan Kelebihan Permainan Lempar Dadu Huruf Tidak ada satupun metode pengajaran yang tidak memiliki kekurangan. mendemostrasikan dan sebagainya. atau penyajian menjadi lebih jelas. Fungsi dari dadu huruf ini adalah untuk menebak huruf yang akan keluar pada sisi yang muncul/posisi atas atau menurut kesepakatan dalam permainan ini. merangakai menjadi suku kata.27 4) Siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar. Selain fungsi utama yang disebutkan di atas. tetapi juga aktifitas lain seperti mengamati. d. semua metode pembelajaran memiliki kelemahan dan kelebihan. 3) Memfariasikan penyajian pendidikan dalam penyajian pendidikan 4) Untuk menarik perhatian siswa dan memutivasi siswa. dengan bimbingan guru bagi mereka yang belum atau kurang mampu. Berdasarkan pendapat di atas fungsi media dapat penulis simpulkan sebagai berikut: 1) adanya media penyajian pesan tidak terlalu bersifat verbalistik. kata dan kalimat sederhana untuk meningkatkan kemampuan membaca mereka. sebab tidak hanya mendengarkan uraian guru. 2) Objek terlalu luas atau sempit yang sebenarnya tidak dapat ditampilkan akirnya dapat ditampilkan. Selanjutnya menyusun sisi-sisi yang muncul atau yang telah disepakati menjadi susku kata. melakukan. Media ini berfungsi sebagai sarana mengenalkan atau mengingatkan kembali pada anak pada huruf-huruf. kata atau kalimat-kalimat sederhana. Anak lebih terampil dalam motorik halusnya maupun motorik kasarnya berkembang dan anak semakin sehat.

28 juga dengan pembelajaran dalam bentuk permainan lempar dadu huruf ini. ada kelemahan dan kelebihannya.lemparan pertama konsonan yang muncul adalah b . agar kata-kata yang dapat disusun oleh anak dalam jumlah yang banyak dan bervariasi. disusun kemudian dibaca. tidak hanya sebanyak jumlah huruf dalam satu abjad akan tetapi lebih dari itu. Kelebihan dari pembelajaran membaca permulaan lewat bermain lempar dadu huruf ini adalah : 1) Anak memilih sendiri dadu huruf yang dilemparnya sehingga anak bersemangat. Dadu harus dipersiapkan dalam jumlah yang banyak.lemparan kedua vokal yang muncul adalah i .lemparan keempat vokal yang muncul adalah u Kata yang muncul setela dadu disusun adalah b i l u 3) Memerlukan banyak sekali dadu. Misalnya anak mengambil dadu pada kelompok vokal dan dilemparkan. Untuk membaca suku kata memerlukan waktu yang agak lama karena harus melempar dua atau tiga huruf kemudian disusun dan dibaca. Pemberian kesempatan kepada anak untuk menentukan . Kelemahan dari pembelajarandengan mempergunakan media lempar dadu huruf adalah: 1) Menyita banyak waktu Untuk membaca satu huruf memerlukan banyak waktu.lemparan ketiga konsonan yang muncul adalah l . 2) Kadang-kadang huruf yang muncul tidak membentuk kata yang punya arti. lalu mengambil dadu pada kelompok konsonan dan dilemparkan. Untuk membaca suku kata anak harus mengambil empat dadu (KVKV). karena anak harus melempar terlebih dahulu sebuah dadu kemudian memperhatikan untuk dibaca. diliempar. Contoh: . kadangkadang vokal yang muncul setelah digabung dengan konsonan tidak membentuk kata yang memiliki arti.

Anak ingin segera membaca dari hasil lemparan yang telah disusun tadi dengan mengaktifitaskan aspek kognitifnya. Guru berperan sebagai motivator. dalam hal ini. 2) Tidak mengantuk dan bosan karena anak beraktifitas dengan aktif. memotivasi anak untuk mengambil. saat anak melempar ada aktifitas dalam motorik kasarnya. 3) Anak tertarik untuk mengetahui huruf apa yang keluar dan kata apa yang muncul dari setiap lemparan yang dibuatnya sendiri. melempar dadu dengan antusias. Komentar apa yang diberikan anak tentang benda ini. anak merasa bersemangat dan kepercayaan dirinya tumbuh. menebak huruf yang muncul dan menyusun serta membacanya. Langkah-langkah Pengajaran dengan Menggunakan Media Permainan Lempar Dadu Huruf Dalam pembelajaran melalui media bermain lempar dadu huruf ini terlebih dahulu diperkenalkan kepada anak. motorik halusnya juga bekerja. yakni dadu. Anak yang belum dapat menyusun huruf menjadi kata akan berusaha mencoba lagi sehingga mereka memiliki keinginan untuk mencoba dan mencoba lagi. Pemberian reward atau penghargaan setiap keberhasilan anak akan membuat anak lebih bersemangat dan merasa dihargai. Dijelaskan kepada anak. sehingga anak aktif. Saat anak memilih ada aktifitas dalam segi kognitif dan motorik halus.29 pilihan merupakan hal yang menyenangkan bagi anak. lalu kita jelaskan kepada anak informasi seputar dadu sesuai dengan tingkat kemampuan berpikir anak. Anak akan merasa bangga jika huruf yang dilemparnya dapat membentuk suatu kata yang memiliki arti. e. menyusun dan membacanya. Anak diberi kesempatan untuk mengambil/memilih. Saat menyusun aktifitas dalam kognitifnya bekerja. Setelah anak memberikan pendapatnya tentang dadu. melempar. alat permainan yang akan kita pakai sebagai media pembelajaran. Setelah melempar anak dengan senangnya cepatcepat ingin mengetahui apa isi/ bacaan dari lemparan yang akan disusunnya. bahwa dadu memiliki 6 .

Jika anak telah melakukan berkali-kali dan telah paham atau mampu membaca huruf yang ada pada posisi atas. membaca suku kata. Anak mengambil 1 kali dan melempar dadu dari kelompok satu/huruf vokal. Anak tunagrahita memiliki kemampuan berpikir di bawah temanteman normal lainnya. kemudian mengambil dan melempar dadu dari kelompok huruf konsonan sesuai pilihan anak. dua lubang hingga enam lubang. merasa senang sehingga kemampuan membaca permulaan pada anak mengalami peningkatan f.. Penerapan Pembelajaran dengan Menggunakan Media Bermain Lempar Dadu Huruf pada Anak Tunagrahita Anak tunagrahita dalam belajar perlu ditunjukkan dengan benda kongkrit (simbol bunyi.30 sisi. Kelompok 1 adalah dadu dengan huruf vokal kelompok 2 dadu dengan huruf konsonan. Melaksanakan pembelajaran yang menyenangkan bagi anak tunagrahita adalah salah satu cara untuk membangkitkan motivasi anak dalam pembelajaran. sehingga tercapai tujuan pembelajaran. Dadu dikelompokkan menjadi 2. Pada pembelajaran ini dadu setiap sisinya diberi simbol huruf. Permainan ini dilakukan berulang-ulang sehingga anak aktif dalam pembelajaran. Penerapan permainan lempar dadu huruf adalah sebagai media serta alat peraga yang digunakan dalam pembelaran pengenalan huruf. Anak disuruh mengamati dan menyebutkan huruf apa yang muncul atau yang berada pada posisi atas. Anak ditunjukkan lambang-lambang dari setiap . dari satu lubang. Setelah empat kali lemparan anak memperhatikan dan membaca huruf yang telah terkumpul dan tersusun. dilanjutkan dengan mengambil dadu bergantian dari kelompok satu dan dua selama empat kali. masing-masing sisi terdapat satu simbol huruf. membaca kata-kata sederhana. dalam pembelajaran membaca) secara kongkrit lewat tulisan. Penerapan permainan lempar dadu huruf bertujuan untuk memotivasi anak dalam mengikuti pelajaran. Hal ini dilakukan untuk mengenal huruf. Dadu yang sering kita lihat setiap sisinya terdapat lubang yang setiap sisinya berbeda jumlahnya satu dengan sisi yang lain.

31 huruf yang ada dalam dadu. dilempar lalu keduanya disusun sehingga muncul suku kata. melempar dan membacanya. Memperoleh informasi-informasi dan menjadikan seseorang . Usia dini adalah masa bermain. Pembelajaran membaca permulaan di Taman Kanak-Kanak dapat diberikan lewat suatu permainan yang menyenangkan anak. yang mampu merangsang sel otak sehingga anak memiliki perkembangan dan pertumbuhan yang baik secara optimal. sesuai dengan karakteristik anak pembelajaran yang diberikan hendaknya dikemas dalam bentuk permainan yang mendidik. Demikian juga pengaruhnya terhadap anak tunagrahita yang bersama-sama belajar dengan anak normal lainnya sangat kelihatan. Penerapan pembelajaran dengan menggunakan berbagai media yang variatif akan tidak membuat anak menjadi bosan. Karena manfaat membaca mampu meningkatkan belajar pada bidang akademik yang lain. kemudian dilempar dan satu dadu kelompok vokal. Dengan membaca seseorang mengerti banyak hal. Untuk membaca suku kata anak diberi kesempatan mengambil satu dadu kelompok konsonan. kemudian disusun sehingga membentuk kata yang dapat dibaca anak. hal ini dibuktikan lewat pengamatan yang dilaksanan dan hasil nilai yang diperoleh siswa tunagrahita pada pembelajaran membaca permulaan. Untuk membaca kata dilakukan empat kali lemparan dari dadu KVKV. termasuk anak tunagrahita. kemudian disuruh mengambil. bersemangat dan ingin mengetahui leebih banyak lagi. Penggunaan media bermain lempar dadu huruf pada Taman KanakKanak Elim menjadikan suana penuh dengan semangat dan antusias. karena membaca mampu meningkatkan prestasi belajar pada bidang akademik lainnya. B. Kerangka Berfikir Membaca merupakan salah satu bidang akademik yang harus segera dimiliki oleh siswa termasuk anak tunagrahita ringan. Membaca merupakan salah satu bidang akademik yang harus segera dimiliki siswa. tidak membebani sehingga anak merasakan belajar seraya bermain.

serta tehnik mempelajari materi pelajaran. Membaca dapat digunakan untuk mengembangkan perbendaharaan kata. Demikian juga dalam belajar membaca permulaan. bentuk permainan dapat menarik anak untuk belajar dengan tanpa beban. bekerja dengan penuh inisiatif. Tahap membaca permulaan umumnya diajarkan pada saat tibanya masa peka. mengembangkan intelektualitas Membaca mempunyai nilai besar untuk orang dewasa karena berkontribusi pada perkembangan. kemudian dapat dilanjutkan dengan kata-kata yang sangat sederhana sesuai dengan usia dan kemampuan anak. Aktifitas mental mencakup ingatan dan pemahaman. Permainan dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk mengetahui huruf-huruf yang ada. Poerwadarminta 1984 : 71).32 bertambah luas wawasannya. menambah proses pengayaan pribadi. . Membaca bukanlah suatu kegiatan yang mudah. kondisi lingkungan. Secara umum faktorfaktor tersebut dapat diidentifikasi seperti guru. Membaca merupakan kata kerja dengan kata dasar “baca” yang memiliki arti melihat tulisan dan megerti atau dapat melisankan apa yang tertulis (W. seperti dapat membebaskan dari tekanan. Sehingga anak merasakan sesuatu kesenangan didalam belajar bukan suatu beban atau tekanan. Membaca permulaan merupakan tahapan proses belajar membaca. untuk itu segala pembelajaran yang diberikan kepada anak harus dalam bentuk bermain. Membaca merupakan kegiatan fisik dan mental untuk menemukan makna dari tulisan aktifitas fisik yang berkait dengan membaca adalah gerak mata dan ketajaman penglihatan. anak belajar memperoleh kemampuan dan cara-cara dalam membaca dan menangkap isi bacaan. yaitu enam tahun atau tujuh tahun bagi anak normal atau sembialn atau sepuluh tahun. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan siswa dalam membaca. Usia peka atau usia dini merupakan fase anak bermain.S. materi pelajaran. mendapatkan informasi untuk memecahkan konflik dan mengenali dan lain sebagainya. siswa.J.

33 Kata “kemampuan” berasal dari kata dasar “mampu” yang berarti mengandung makna yang sama dengan kata “bisa atau sanggup melakukan sesuatu”. Pemberian reward pada setiap kata yang memiliki makna akan lebih meningkatkan antusias anak sehingga anak terangsang terus pada akhirnya anak memperoleh pengetahuan dan pemahaman konsep lebih mendalam terhadap materi yang diajarkan dengan menggunakan media permainan lempar dadu huruf dalam membaca permulaan untuk anak tunagrahita ringan diharapkan prestasi belajarnya meningkat. Permainan yang dilakukan sesuai peraturan yang telah ditetapkan membuat anak belajar untuk berdisiplin. kecakapan untuk melakukan sesuatu. Sedangkan kemampuan diartikan kesanggupan. Media ini melibatkan siswa secara aktif. Untuk itu perlu dilakukan suatu strategi untuk membuat anak tertarik pada membaca yaitu dengan pembelajaran melalui media bermain lempar dadu huruf. Adapun kerangka berpikir pembelajaran dengan menggunakan media bermain lempar dadu huruf adalah sebagai berikut : .

34 Kondisi awal kemampuan membaca sebelum Pembelajaran menggunakan media Bermain lempar dadu huruf Tindakan Pembelajaran menggunakan media bermain lempar dadu huruf Kemampuan membaca permulaan Kondisi Akhir setelah menggunakan media bermain lempar dadu huruf Keterangan: Kondisis awal adalah kondisi anak sebelum pembelajaran dengan menggunakan media lempar dadu huruf dilaksanakan. Kondisi akhir adalah kondisi setelah pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan media bermain lempar dadu huruf. yaitu pelaksanaan pembelajaran membaca permulaan dengan menggunakan media lempar dadu huruf. C. Hipotesis Tindakan Adapun hipotesis dalam penelitian ini adalah “melalui pembelajaran dengan menggunakan media lempar dadu huruf. Tindakan adalah melaksanakan apa yang telah direncanakan sebelumnya. yakni kemampuan membaca permulaan sangat rendah. . maka kemampuan membaca permulaan siswa tunagrahita kelas B Taman Kanak-kanak Elim Sragen meningkat”.

koordinator persiapan tindakan pelaksanaan (perencanaan. Anak cenderung pendiam 2.Melihat adanya perbedaan yang sangat signifikan pada kedua siswa yang mengalami keterlambatan didalam kemampuan membaca permulaan dibandingkan dengan empat belas murid yang lainnya. Rincian kegiatan penelitian tersebut adalah. Pengamatan terhadap hasil pembelajaran membaca permulaan adalah selama dimulainya semester II TK A. Jln. 2. penyempurnaan berdasarkan saran dari dosen pembimbing dan pihak lain yang dirasa perlu. Raya Sukowati no. Di kelas tersebut terdapat dua anak sebagai subyek penelitian yaitu Farel dan Ian Rudianto. monitoring. Penyusunan laporan pendidikan. persiapan penelitian. Farel memiliki karekteristik sebagai berikut: 1. Belum dapat membaca . Mengenal huruf tertentu saja 4. Subjek Penelitian Subjek penelitian Tindakan kelas ini adalah siswa tunagrahita kelas B Taman Kanak-kanak Elim Sragen. tindakan. Penggandaan dan pengiriman laporan pendidikan. Setting Penelitian Tempat penelitian tindakan kelas adalah Kelas B Taman Kanak-kanak Elim Sragen. Penelitian berlangsung selama bulan Juli sampai september 2010. evaluasi dan refleksi). B. 3. Kurang semangat dalam mengikuti kegiatan belajar namun dalam bermain sangat bersemangat melebihi teman-temannya. Taman Kanak-Kanak Elim adalah tempat dimana penulis mengajar dan juga sebagai wali kelas. Penelitian dilakukan di kelas B Taman Kanak-Kanak Elim Sragen didasarkan pada pertimbangan : 1.35 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A.80 Sragen.

3 5 Nilai 85 80 80 85 30 35 85 90 95 90 90 85 90 85 95 95 Ket √ √ √ √ . jika ditanya tidak memberikan respon jika pertanyaan tidak diulangUlang 4. Nilai yang dicapai siswa selama pembelajaran di kelas A. C. Suka mengganggu.(Subjek) √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 . Anak sangat banyak bergerak. Sulit berkonsentrasi 3.4 5. Mampu membaca suku kata. Tidak peduli. kata sederhana jika dibantu.2 5. Ian Rudianto memiliki karakter sebagai berikut: 1.(Subjek) .7 5. Lambat dalam menjawab pertanyaan. No A AK AR EN F IR JG KN LT LR RW SP TL TA Y YK Nama Jenis kelamin L P P L P P L P p L p L p p L p L Usia 5 5.36 5.7 5.2 5 5.5 5 6 5 5. cenderung hiperaktif 2. 5. Data dan Sumber Data Data Penelitian yang dikumpulkan berupa informasi tentang kemampuan membaca khususnya dan kemampuan menulis serta kemampuan lain umumnya.3 5.5 5 5.

37

Nilai di Taman Kanak-kanak adalah berupa simbol yang memiliki bobot tertentu, demikian juga di taman kanak-kanak Elim Sragen menggunakan simbol bintang yang memiliki bobot nilai 2,5. Nilai tertinggi adalah bintang 4 (****) yang memiliki bobot nilai 10. Rata-rata nilai yang dicapai kedua subjek tersebut adalah bintang 1 dan bintang 2. Jika dibandingkan keduanya anak ian sering memperoleh nilai lebih tinggi dari pada farel, yaitu bintang 2. Ian lebih sedikit mampu membaca suku kata dan kata–kata sederhana daripada Farel. Metode-metode yang digunakan guru yang tepat sesuai dengan kondisi anak akan mampu meningkatkan kemampuan membaca pada anak, hanya penerapan metode yang kurang menarik membuat anak menjadi jenuh dan tidak bersemangat khususnya bagi Farel dan Ian, untuk itu peneliti mencoba menggunakan media bermain lempar dadu huruf agar anak tertarik. Sumber data dari dari penelitian ini adalah siswa dan guru. Peristiwa yang terjadi selama pembelajaran berlangsung. Dokumen atau arsip yang berupa kurikulum kurikulum, rencana pelaksanaan pembelajaran, hasil kegiatan anak dan buku penilaian. D. Teknik Pengumpulan Data Tehnik pengumpulan data data adalah yang suatu prosedur yang sitematik diperlukan. Oleh karena itu dan standar untuk memperoleh

kualitas data sangat ditentukan oleh alat pengumpul data atau alat ukuran, sehingga data benar-benar valid dan reliable. Adapun tehnik pengumpulan data yang digunakan adalah dengan tes, observasi, dokumentasi. 1. Tes a. Pengertian test Untuk mengetahui kemampuan anak diperlukan alat untuk mengukur. Alat ukur kemampuan terseburt adalah test. Menurut Suharsimi Arikunto (2005:127) test adalah “serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk mengukur, ketrampilan.

38

pengetahuan intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki individu atau kelompok”. Menurut Baitul Alim (http://www.psikologzone.com/2006) “Suatu tes dapat didefinisikan sebagai suatu tugas atau serangkaian tugas- tugas yang digunakan untuk memperoleh tentang suatu atribut atau hasil pendidikan yang representative”. Berdasarkan dua pendapat diatas dapat penulis simpulkan bahwa tes adalah serangkaian pertanyaan yang harus dijawab untuk mengukur kemampuan atau bakat yang dimiliki individu atau kelompok. Tujuannya . pretest. Kegiatan pembelajaran dilaksanakan, pada akhir pembelajaran diadakan postest untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan yang dicapai dalam membaca permulaan dengan menggunakan media bermain lempar dadu huruf. b. Jenis – Jenis tes Ada beberapa jenis tes yang dapat dipergunakan untuk mengukur kemampuan seseorang adalah sebagai berikut: Menurut Baitul Alim (2006). Jenis tes dikelompokkan menjadi : “ Tes intelegensi, tes bakat, tes hasil belajar, dan tes kepribadian “. Menurut Pandit, PL (2010:12) Jenis tes dikempokkan menjadi: 1 ) Tes Intelegensi Tes kemampuan intelektual, mengukur taraf kemampuan berpikir, terutama berkaitan dengan potensi untuk mencapai taraf prestasi tertentu dalam belajar di sekolah ( Mental ability Test ; Intelegence Test; Academic Ability test; Scholastic Aptitude Test ). Jenis data yang dapat diambil dari tes ini adalah kemampuam intelektual atau kemampuan akademik. 2 ) Tes Bakat Tes kemampuan bakat, mengatur taraf kemampuan seseorang untuk berhasil dalam studi tertentu, program pendidikan vokasional tertentu atau bidang pekerjaan tertentu, lingkupnya lebih terbatas dari tes kemampuan intelektual (Test of Specific Ability ; Aptitude Test ). tes adalah : untuk sejauh mengukur mana kemampuan kemampuan ketrampilam, anak sebelum kemampuan, kecerdasan dan bakat yang dimiliki anak atau seseorang. Untuk mengukur pembelajaran melalui media lempar dadu huruf dilakukan, yaitu melalui

39

Kemampuan khusus yang diteliti itu mencakup unsure-unsur intelegensi, hasil belajar, minat dan kepribadian yang bersama-sama memungkinkan untuk maju dan berhasil dalam suatu bidang tertentu dan mengambil manfaat dari pengalaman belajar dibidang itu 3 ) Tes Minat Tes minat, mengatur kegiatan–kegiatan macam apa paling disukai seseorang. Tes macam ini bertujuan membuat orang mudah dalam memilih macam pekerjaan yang kiranya paling sesuai baginya (Test of Vocational Interest ). 4 ) Tes Kepribadian Tes kepribadian, mengatur ciri-ciri kepribadian yang bukan khas bersifat kognitif, seperti sifat karakter, sifat temperamen, corak kehidupan emosional, kesehatan mental, relasi-relasi sosial dengan orang lain, serta bidang-bidang kehidupan yang menimbulkan kesukaran dalam penyesuaian diri. Tes proyektif, meneliti sifat-sifat kepribadian seseorang melalui reaksi –reaksinya terhadap suatu kisah, suatu gambar atau suatu kata; angket kepribadian, meneliti berbagai ciri kepribadian seseorang dengan menganalisa jawaban-jawaban tertulis atas sejumlah pertanyaan untuk menemukan suatu pola bersikap, bermotivasi atau bereaksi emosional, yang khas untuk orang lain itu. Kelemahan Tes proyektif hanya diadministrasi oleh seorang psikolog yang berpengalaman dalam menggunakan alat itu dan ahli dalam menafsirkannya. 5 ) Tes Perkembangan Vocasional Tes vocasional, mengukur taraf perkembangan orang muda dalam hal kesadaran kelak akan memangku suatu pekerjaan atau jabatan ( vocation ) dalam memikirkan hubungan antara memangku suatu jabatan dan cirriciri kepribadian serta tuntunan-tuntunan sosial ekonamis; dan dalam menyusun serta mengimplementasikan rencana pembangunan masa depannya sendiri. Kelebihan tes semacam ini meneliti taraf kedewasaan orang muda dalam mempersiapkan diri bagi partisipasinya dalam dunia pekerjaannya ( career maturity ) 6 ) Tes Hasil Belajar (Achievement Test) Tes yang mengukur apa yang telah dipelajari pada berbagai bidang studi, jenis data yang dapat diambil menggunakan tes hasil belajar (Achievement Tes ) ini adalah taraf prestasi dalam belajar. Berdasarkan beberapa pendapat tentang jenis tes, penulis simpulkan yaitu tes tertulis, tes lesan, tes bakat, tes kepribadian dan tes perkembangan vocasional.

2. Pengamatan / Observasi a. Sedang observasi penulis gunakan sistematis. Berdasarkan pendapat diatas penulis simpulkan: observasi adalah suatu tindakan pengamatan dan pencatatan yang dilaksanakan secara langsung. pengamat dengan yaitu obsevasi partisipan (aktif) dan yang meliputi kegiatan pemusatan perhatian terhadap suatu pengamat dengan .40 Penelitian ini. Menurut Suharsimi Arikunto (2005 : 147) observasi ditinjau dari jenisnya ada dua macam . yaitu: 1 ) Observasi nonsistematis . b. Menurut Muhammad Idrus (2007 : 129) “observasi atau pengamatan merupakan aktivitas pencatatan fenomena yang dilakukan secara sistematis”. jenis tes yang penulis gunakan adalah: tes lisan. Jenis Observasi Observasi ada beberapa macam atau jenis. partisipan dan sistimatis terhadap suatu obyak dengan menggunakan seluruh alat indra. Menurut Suharsimi Arikunto (2005 : 145) “observasi adalah pengamatan objek dengan menggunakan seluruh alat indra”. yaitu Observasi yang dilakukan oleh tidak menggunakan instrumen. Tujuannya adalah untuk mengetahui kemampuan membaca siswa sebelum dan setelah diberi tindakan. 2 ) Obsevasi sistematis yaitu observasi yang dilakukan oleh menggunakan pedoman sebagai instrumen pengamatan. Pengertian Observasi. dan tes perbuatan.

yang dirasa kurang lengkap dokumen. a single unit of information (setunggal informasi). majalah . sebuah berkas. sebuah halaman Web. dan sebagainya”.Observasi Nonpartisipan. 2 ) Obsevasi sistematis Observasi nonsistematis Obsevasi sistematis yaitu dimana obseever menggunakan kerangka materi atau instrumen untuk memudahkan dalam malakukan observasi. Observasi Partisipan yaitu jika orang mengadakan observasi turut ambil dalam kehidupan orang yang diobsevasi. atau kurang yakin bila tidak didukung dengan . Sedang observasi nonsistematis justru sebaliknya.Obsevasi Noneksperimental. Menurut Pandit P L (2010:12) Istilah dokumen dipakai untuk satu informasi tunggal .mail. agenda.suara hidup (moving images ). pada umumnya berisi teks. sistematis dan eksperimen. Menurut Suharsimi Arikunto (2005 : 206) ”Dokumen merupakan salah satu media yang digunakan untuk melengkapi data mengenai hal – hal yang berupa catatan. sebuah e. Obsevasi Eksperimental yaitu dimana observer oran yang didikte oleh jalannya arus peristiwa . buku. Adapun dalam penelitian ini jenis obsevasi/pengamatan yang penulis gunakan adalah observasi atau pengamatan partisipan dan sistematis. 3 ) Obsevasi Eksperimental .150) dibedakan atas : jenis observasi 1 ) Observasi Partisipan . Berdasarkan pendapat tentang jenis observasi penulis simpulkan yaitu: observasi partisipan . prasasti.Dokumen bisa pula dikategorikan menurut bentuk fisiknya . surat kabar. Sedang observasi nonpartisipan justru sebaliknya. Dokumentasi a.41 Sedang menurut Sutrisno Hadi (2000 :141. notulen rapat. 3. Pengertian Dokumen adalah salah satu alat pengumpul data . tetapi mengandung bentuk lain seperti gambar. untuk melengkapi data. transkip. misalnya sebuah buku.

dokumen nilai yang diberikan guru. b. notulen rapat. dokumen hasil karya siswa. hasil tulisan atau karangan siswa. buku atau materi pelajaran. Adapun jenis disekolah dan di luar sekolah. catatan atau buku ulangan harian siswa. buku. jenis dokumen penulis simpulkan yaitu dokumen catatan kesiswaan. agenda. sebuah e-mail dan arsip – arsip lain yang ada kaitannya dengan prestasi keadaan siswa. aktivitas arsip terdiri merupakan salah satu diantara data – data yang telah ada. Berdasarkan pendapat diatas. transkrip. terutama kemampuan membaca anak tunagrahita sebelum menggunakan media bermain lempar dadu huruf. dokumen Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang dibuat guru. berkas. prasasti. dukumen pelengkap dokumen sebagai pelengkap penelitian ini adalah: Menurut Fu’adz Al-Gharuty (2009). keadaan dan perkembangan pribadi atau siswa. majalah. untuk mengetahui kemampuan siswa pada umumnya. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang dibuat guru. dokumen adalah pengumpulan data melalui peninggalan tertulis bisa surat kabar. Dokumen yang penulis gunakan adalah raport. dan nilai yang diberikan guru. Jenis dokumen penulis gunakan adalah jenis dokumen catatan kesiswaan. dokumen catatan kesiswaan yang berada belakang disetiap sekolah. Menurut Sawarji Suwandi (2008 : 68) dokumen dari: Kurikulum. isinya tentang hasil atau prestasi belajar. daftar nilai. dan kemampuan membaca permulaan khususnya. . latar keluarga.42 Berdasarkan pendapat di atas penulis simpulkan. Jenis Dokumentasi Untuk melengkapi data dalam penelitian.

yakni validitas. internal validity dan empirical validity”. Instrumen yang sudah dapat dipercaya . Instrumen yang baik tidak akan bersifat tendensius mengarahkan responden untuk memilih jawabanjawaban tertentu (Suharsini Arikuntoro. Jenis-jenis validitas tes menurut Sutrisno Hadi (2000:111) antara lain: “facer validity. conten validity. yang reliable akan menghasilkan data yang dapat dipercaya juga. logical validity. Tes valid artinya tes yang dibuat hendaknya dapat mengukur apa yang dapat diukur. external validity. Teknik yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah riview informasi kunci dan triangulasi. yaitu instrumen dari beberapa butir tes yang mencerminkan suatu faktor yang tidak menyimpang dari fungsi instrumen berupa kisi-kisi buatan guru berdasarkan KTSP. Validitas dan Reliabilitas Instrumen Tes adalah alat pengukur prestasi belajar anak didik. factorial validity. Validitas Data Agar penelitian dapat dipertanggungjawabkan diperlukan adanya validitas sehingga data tersebut dapat dijadikan dasar yang kuat untuk menarik kesimpulan. Tes harus reliabel. agar tes dapat digunakan sebagai alat pengukur prestasi belajar yang baik. maka tes tersebut harus memenuhi syarat sebagai tes yang baik. tes cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut sudah baik. Tes yang disusun harus sesuai dengan materi yang pernah diajarkan dan mempunyai taraf kesukaran yang sama dengan kemampuan peserta didik. Penulis dalam penelitian ini menggunakan uji validitas conten validity. . 2005:142). Validitas data adalah data yang sesuai dengan apa yang akan diukur. Tehnik reliabilitas menggunakan standar isi berdasarkan standar standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam pembelajaran membaca sesuai dengan KTSP. F.43 E.

siswa mengalami kesulitan . Teknik triangulasi digunakan sumber data sebagai berikut: 1. mengadakan diskusi dengan kolaburator tentang kondisi anak. kebiasaan anak yang diamatinya dalam lingkungan sekolah umumnya dan saat pengamatan dalam kegiatan belajar khususnya.(2008:69). Review informasi kunci. membaca di depan kelas. Triangulasi sumber data a.44 “Triangulasi adalah teknik pemeriksaan validitas data dengan memanfaatkan sarana di luar data itu untuk keperluan pengecekkan atau pembandingan data itu.” Lexy Moelong dalam Sarwiji Suwandi (2008 : 69). Diskusi dengan teman sejawat tentang fasilitas/ media pembelajaran di sekolah. b. nilai rata-rata 45 2. “Review informasi kunci adalah mengkonfirmasikan data atau interprestasi temuan kepada informasi kunci sehingga diperoleh kesepakatan anatar peneliti dan informan tentang data atau informasi temuan tersebut. sikap anak.”data dianggap valid apabila setelah melakukan kegiatan pengamatan maupun kajian dokumen diperiksa kembali oleh peneliti sehingga data tersebut valit”. Tugas membaca. membaca huruf awal kartu bergambar: b. c. Pemberian tes. Triangulasi Pengumpulan data a. Wawancara dengan orang tua siswa tentang belajar anak di rumah. Data dari raport semester II kelas A. Kesimpulan penulis data dianggap valid apabila data itu dapat mengungkap kebenaran dan dapat digunakan dengan mudah serta dapat digunakan siapa saja. Menurut Sarwiji Suwardi.” (Sarwiji Suwandi 2008 : 69).

penulis menggunakan tehnik deskriptif komparatif dan tehnik analisis kritis. H. Prosedur Penelitian Penelitian ini dilakukan dalam 2 siklus. Tehnik deskriptif komparatif digunakan untuk data kuantitatif. yaitu membandingkan nilai awal dengan post tes I. membandingkan nilai post tes I dengan nilai post tes II. pengamatan dan refleksi. I. masing-masing siklus dengan tahapan: perencanaan. Teknik Analisis Data Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian untuk hipotesis mengenai “Upaya Peningkatan Kemampuan Membaca Permulaan Melalui Media Bermain Lempar Dadu Huruf pada Anak Tunagrahita Kelas B Semester II di Taman Kanak-Kanak Elim Sragen Tahun Pelajaran 2010/2011”. adapun nilai KKM untuk bidang pengembangan bahasa yakni membaca permulaan adalah 70. artinya seorang anak telah dinyatakan melampaui ketuntasan belajar jika telah memperoleh nilai 70. maka belum dapat dinyatakan tuntas. Indikator Kinerja Indikator sebagai tolak ukur keberhasilan dalam penelitian tindakan kelas ini menggunakan KKM yang telah ditetapkan oleh sekolah. Prosedur ini secara garis besar dapat digambarkan dengan skema sebagai berikut : Perencanaan Refleksi Perencanaan Refleksi Pelaksanaan Pengamatan Pengamatan Pelaksanaan .45 G. Jika nilai yang diperoleh anak di bawah 70. pelaksanaan.

1. yaitu dadu yang bertuliskan huruf. 3. Menentukan dan menyiapkan materi. 4. Menganalisis materi pelajaran 2.46 Rancangan prosedur penelitian : Siklus I Perencanaan Kegiatan : 1. merangkai menjadi kata. Guru meminta siswa untuk menyanyikan lagu a b c c d e f g dengan menunjuk huruf yang ada di papan tulis. Observasi ini untuk memperoleh . 2. Aktivitas menerapkan media lempar dadu huruf dalam meningkatkan kemampuan membaca permulaan. 3. Membuat lembar pengamatan. Guru meminta murid mengambil dadu huruf. Membuat rencana pembelajaran. Menyiapkan media pembelajaran. Guru memberi penjelasan kepada siswa tentang materi yang akan dipelajari dengan menggunakan media lempara dadu huruf. Guru meminta siswa menanyakan huruf yang belum dipahami. Observasi Dilakukan dengan mengamati : 1. Mengenal huruf. Tindakan 5. 2. melempar dan membaca huruf yang muncul di posisi atas. 4.

Data yang diperoleh pada tahap observasi dianalisis. Apresiasi untuk perbaikan materi yang telah diajukan pada siklus I 2.47 data tentang kemampuan membaca Refleksi permulaan. Menganalisa hasil observasi untuk memperoleh kesimpulan bagian mana yang perlu di sempurnakan untuk Siklus II Perencanaan siklus berikutnya. Memperbaiki kesalahan / kekurangan pada siklus II 3. Kegiatan : 1. 2. dianalisa untuk mengetahui kelemahan yang Refleksi mungkin ada. Setelah data tentang membaca permulaan dengan media bermain lempar dadu huruf diperoleh. Hasil yang diperoleh dapat disimpulkan hasil kemampuan membaca selama 2 siklus . Siswa memainkan media lempar dadu huruf diawasi guru. Siswa menjawab dengan membaca dadu yang dilempar oleh guru baik Observasi huruf maupun kata. Menarik anak tunagrahita untuk Tindakan bermain lempar dadu huruf 1.

Kemampuan membaca berpengaruh pada anak dalam mengikuti pembelajaran. Berdasarkan pada permasalahan yang dihadapi oleh siswa kelas B Taman kanak-Kanak Elim Sragen. Prosedur penelitian dilaksanakan dua siklus yang masing – masing terdiri empat tahapan (1) perencanaan (planning). sarana maupun prasarana yang diperlukan dalam pelaksanaan penelitian baik siklus I dan II. kaitannya dengan kemampuan membaca yang masih kurang. agar semua dapat berjalan dengan teratur dan lancar sesuai dengan yang diharapkan. karena selama ini belum pernah dicobakan pembelajaran dengan menggunakan media lempar dadu huruf sebagai sarana pembelajaran dalam bentuk permainan yang menarik. Terkait dengan perencanaan maka peneliti membuat jadwal pelaksanaan rangkaian (observing). (2) tindakan (acting). maka dilakukan serangkaian tindakan guna mengatasi permasalahan tersebut.48 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Membaca merupakan hal yang sangat mendukung anak dalam memperoleh informasi. Perencanaan yang terdiri dari: Menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan dalam pelaksanaan tindakan yaitu materi. Hal ini dilakukan seperti yang telah dikemukakan bahwa penggunaan media lempar dadu huruf dirasa tepat dalam upaya untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan anak tunagrahita kelas B Taman Kana-Kanak Elim Sragen. (3) pengamatan dan (4) refleksi (reflecting). .

2. Penyelesaian skripsi. Deskripsi Kondisi Awal Pelaksanaan Penelitian Berdasarkan hasil pengamatan /observasi yang dilakukan. yakni 5 anak laki-laki dan 11 perempuan. Penulisan Bab V. A. 3. 1. lembar pengamatan. Evaluai 3 4 5 I Agustus 2010 II-IV Agustus 2010 I-IV September 2010 Menyiapkan Instrument pelaksanaan siklus II Melaksanakan pre test. keadaan kelas B Taman Kanak-Kanak Elim Sragen. 1 Minggu Ke/Bulan I Juli 2010 Kegiatan Melakukan observasi ke kelas Pembuatan kisi-kisi. Mereka memilik kemampuan yang sangat baik dalam setiap pembelajaran. Penulisan laporan hasil penelitian dan pembahasan. berikut: Jadwal kegiatan penelitian adalah sebagai Jadwal Kegiatan Penelitian No. Pelaksanaan tindakan siklus I. 2 II-IV Juli 2010 Melaksanakan pre test. Pelaksanaan siklus II 1. Siswa di Kelas B Taman Kanak-Kanak Elim terdiri dari 16 siswa.49 penelitian yang akan dilakukan. termasuk . item soal. Keterangan Perbaikan dan penggandaan hasil penelitian.

sehingga sekolah menetapkan Kriteria Ketuntasan Maksimal (KKM) membaca 70.7 5. belum dapat membaca khususnya dan sangat tertinggal pada mata pelajaran yang lain umumnya.7 5.2 5 5. demikian juga dalam kegiatan pembelajaran yang lainnya.(Subjek) √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ .3 5. bahkan membaca surat kabar.(Subjek) .3 5 85 80 80 85 30 35 85 90 95 90 90 85 90 85 95 95 √ √ √ √ . Dalam hal membaca anak selalu memperoleh nilai jauh di bawah nilai teman-temannya.5 5 5. Akan tetapi dari hasil pengamatan/observasi menunjukkan bahwa terdapat dua dari enam belas murid kelas B Taman Kanak-Kanak Elim Sragen yang terdiri dari dua anak laki-laki.4 5.2 5.5 5 6 5 5.50 dalam hal membaca. Ada beberapa anak yang memiliki kemampuan membaca yang sangat lancar sehingga anak telah mampu membaca buku-buku di ruang perpustakaan. sebagai berikut: Tabel I Nilai awal sebelum pelaksanaan siklus I (Nilai Subjek Dibandingkan dengan Nilai Siswa lain) dalam Membaca Permulaan Semester II Kelas A Taman Kanak-Kanak Elim Sragen Tahun Pelajaran 2009/2010 No Kode Jenis kelamin L P P L P P L P p L p L p p L p L Usia Nilai Keterangan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 A AK AR EN F IR JG KN LT LR RW SP TL TA Y YK 5 5. Hal ini dapat dilihat dari laporan nilai ulangan yang diperoleh selama semester II di kelas A tahun pelajaran 2009/2010 dalam pembelajaran membaca permulaan.

Berdasar kondisi tersebut peneliti ingin berupaya untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan pada kedua anak yang mengalami keterlambatan didalam membaca permulaan tersebut. dengan menggunakan media lempar dadu huruf. . karena nilai yang diperoleh anak sangat jauh dari kriteria ketuntasan minimal yang ditetapkan di Taman Kanak-Kanak yaitu 70.51 * Keterangan: √ = Mampu = Belum Berdasar hasil prestasi belajar di atas menunjukkan bahwa 2 dari 16 anak atau 12% siswa kelas B Taman Kanak-Kanak Elim belum dapat membaca permulaan. Data nilai yang diperoleh kedua anak tersebut dibandingkan dengan nilai yang diperoleh teman-teman sekelasnya dapat kami tampilkan dalam suatu grafik sebagai berikut di bawah ini: Grafik Nilai Membaca Permulaan Sebelum Siklus I (Nilai Subjek dibandingkan dengan Nilai Siswa lain) Keterangan: Subjek adalah no 5 dan 6.

. Grafik Hasil Perolehan Nilai Kemampuan Membaca Awal/ Pre Test . dalam hal ini penulis menggunakan medialempar dadu huruf.52 Melihat hal tersebut. maka peneliti melakukan pre test terhadap kemampuan siswa sebagai acuan untuk menentukan keberhasilan dari tindakan yang akan dilakukan selanjutnya. Salah satunya dengan mempergunakan media sebagai sarana meningkatkan kemampuan membaca siswa. kemudian memperoleh nilai sebagai berikut: Tabel 2 Hasil Perolehan Kemampuan Membaca Awal/ pre Test Kode Nilai Semester I Nilai Pre test N0 Keterangan 1 2 F IR 30 35 27 30 Turun 10% Turun 15% Berdasar keadaan tersebut. guru hendaknya berusaha merenovasi model pembelajaran yang telah dilakukan. Dengan tujuan materi membaca dapat lebih diminati dan lebih digemari oleh siswa.

yaitu meja.53 2. 2) Menentukan dan menyiapkan materi pengenalan huruf kepada anak. (2)Tindakan atau Pelaksanaan . membuat intrumen tes dan lembar tugas siswa. Adapun tahap perencanaan tindakan siklus I adalah sebagai berikut: 1) Menganalisa materi pelajaran Mengkaji materi yang sesuai dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan anak. (4) Refleksi atau . a. Tindakan (Acting) Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar guru memberikan apersepsi dengan membuka percakapan tentang nama benda di sekitar siswa. 16 Juli 2010. 12 Juli 2010 di ruang kelas B Taman Kanak-Kanak Elim Sragen dan di lingkungan sekolah. Membuat rencana pembelajaran. Kegiatan perencanaan tindakan I dilaksanakan pada hari Senin. Pelaksanaan Siklus I Siklus pertama terdiri dari 4 tahap yaitu : (1) Perencanaan . 4) Menyiapkan media pembelajaran yaitu dadu yang bersimbolkan huruf. 7) Menentukan jadwal pelaksanaan tindakan. Pengamatan . Sedangkan rencana pelaksanaan tindakan dilaksanakan siklus I pada hari Jumat. 3) Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran untuk siklus I. 5) Membuat lembar penelitian siswa yaitu berupa tes. serta menyiapkan peralatan yang dibutuhkan dalam pembelajaran membaca melalui media lempar dadu huruf. Perencanaan (Planning). Instrumen tes ini digunakan untuk meneliti kemampuan membaca permulaan pada anak. (3) Observasi atau Evaluasi. 6) Membuat lembar pengamatan. b.

melempar dan membaca huruf belum begitu tertib. Guru menunjukkan dadu huruf kepada siswa yang berisi simbulsimbul huruf yang ada pada setiap sisinya. melempar. Selanjutnya guru memberi kesempatan kepada siswa mengambil satu dadu pada kotak konsonan. Guru memberikan beberapa soal kepada anak sebagai pre test. dengan menggunakan instrument observasi yang disiapkan peneliti. baju. Kelompok vokal berada pada kotak dua atau kelompok dua. kecenderungan bermain tanpa tujuan masih dominan. yaitu membaca huruf. Selanjutnya anak disuruh menyebutkan huruf-huruf yang ada dalam abjad dan diteruskan lagu “ abcdefg“. kemudian keduanya disusun dan dibaca. Walaupun dalam siklus I ini dalm melakukan tugas yakni mengambil. untuk mengetahui sejauhmana anak menagalami kemajuan setelah pembelajaran berlangsung. dapat diambil kesimpulan bahwa dalam pelaksanaan pembelajaran muncul semangat terhadap minat belajar pada anak tunagrahita di kelas B Taman Kanak-Kanak Elim Sragen. Pengamatan (Observing) Pelaksanaan observasi pada hari Jumat. Guru memberikan beberapa soal kepada anak sebagai post test yaitu membaca huruf. melempar. Kelompok konsonan berada pada kotak satu atau kelompok satu.54 buku. Guru mem beri kesempatan kepada siswa mengambil empat dadu dengan urutan KVKV melempar. suku kata dan kata. c. 16 Juli 2010 terhadap kegiatan pembelajaran membaca permulaan melalui media lempar dadu huruf dari awal sampai akhir. suku kata dan kata. Semua nama-nama benda tadi dapat di tulis dengan huruf-huruf yang terdapat dalam abjad. Guru memberi kesempatan kepada siswa mengambil satu dadu . menyusun dan membacanya. Guru menjelaskan dan menyebutkan kelompok vokal atau huruf hidup dan konsonan atau huruf mati kepada siswa. belum terlihat keinginan anak untuk mengetahui atau dapat membaca huruf . melempar dan membacanya. mengambil lagi satu dadu pada kotak vokal.

melalui lembar pengamatan. Hasil pengamatan dapat dilihat pada lembar pengamatan seperti di bawah ini: Lembar Pengamatan Kemampuan Membaca Permulaan Anak Tunagrahita Kelas B Taman Kanak-Kanak Elim Sragen No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Aspek yang diamati Frekuensi kesalahan dalam membaca Kesalahan membedakan huruf b dengan d Kesalahan membedakan huruf p dengan q Kesalahan membedakan huruf m dengan n Kesalahan membedakan huruf s dengan z Kesalahan membedakan huruf v dengan u Membaca terlalu lama Tidak Tiduran Tidak mengerjakan tugas Mengganggu teman-teman Berceritera atau berteriak-teriak saat pelajaran berlangsung mengikuti pelajaran sungguh-sungguh √ √ Farel Ya Tidak √ √ √ √ √ √ √ dengan √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Ian Ya Tidak √ √ √ √ √ . Semangat yang timbul adalah semangat hanya untuk bermain. Di bawah ini kami sajikan hasil pengamatan yang penulis lakukan. Nilai setelah pelaksanaan siklus I dan grafik nilai perolehan anak pada siklus I.55 atau tulisan yang muncul.

6% Belum tuntas 2 IR 30 55 83.56 Hasil dari evaluasi membaca pada akhir siklus I menunjukkan adanya peningkatan sebagai berikut: Tabel 3 Nilai setelah pelaksanaan siklus I Nilai Ulangan Membaca Permulaan Anak Tunagrahita Semester I Kelas B Taman Kanak-Kanak Elim Sragen Tahun Pelajaran 2010/2011 No Kode Pre test Post test Kemajuan Keterangan 1 F 27 45 66.3% Belum tuntas Dari nilai yang diperoleh anak setelah pelaksanaan siklus I dapat dibuat grafik sebagai berikut: Grafik Hasil Perolehan Nilai Kemampuan Membaca Setelah Siklus I 606162 .

atau meningkat 66. Perbaikan pada siklus II mengacu pada kekurangan-kekurangan yang telah disebutkan di atas. 2) Hasil belajar membaca permulaan kedua subjek tersebut jika dibandingkan dengan KKM yang ditentukan baru mencapai dan Ian baru mencapai telah ditentukan oleh sekolah. ss 70 45 70 x100 = 64% bagi Farel x100 = 79% .3 % bagi Ian.57 d. 20 Juli 2010. 3. 3) Kesimpulan dari siklus I adalah tindakan yang dilaksanakan belum dapat meningkatkan prestasi belajar membaca permulaan terhadap keadaan subjek. Peningkatan prestasi belajar kedua subjek tersebut dibandingkan dengan KKM yang ditetapkan masih jauh dari harapan. yakni: 1) Hasil tindakan pada siklus I telah menunjukkan kenaikan yang berarti. artinya masih di bawah KKM yang .6% bagi Farel dan 83. Memfokuskan perhatian anak kepada hasil yang akan dicapai harus lebih ditekankan. Sedangkan rencana pelaksanaan tindakan dilaksanakan siklus II pada hari Selasa. Pelaksanaan Siklus II Kegiatan perencanaan tindakan II dilaksanakan pada hari Senin. Frekuensi lemparan. maka diperlukan lagi perencanaan pada siklus berikutnya. menyusun dan membaca perlu ditingkatkan. ada beberapa hal yang penulis sampaikan. atau belum tuntas. Refleksi ( Reflecting) Hasil dari proses pembelajaran dalam siklus I dari perencanaan sampai pada kegiatan evaluasi. 9 Agustus 2010 di ruang kelas B Taman Kanak-Kanak Elim Sragen dan di lingkungan sekolah.

Guru menjelaskan dan menyebutkan kelompok vokal atau huruf hidup dan konsonan atau huruf mati kepada siswa.mata. 7) Membuat lembar pengamatan. Selanjutnya anak disuruh menyebutkan huruf-huruf yang ada dalam abjad dan diteruskan lagu “ abcdefg“. . 6) Membuat lembar penelitian siswa yaitu berupa tes. Kelompok konsonan berada pada kotak satu atau kelompok satu. Siklus II terdiri dari : a. 4) Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran untuk siklus II 5) Menyiapkan media pembelajaran yaitu dadu yang bersimbolkan huruf. guru memberikan apersepsi dengan membuka percakapan tentang nama benda di sekitar siswa.58 Siklus II dimaksudkan untuk mengadakan perbaikan pada siklus I. kaki. 8) Menentukan jadwal pelaksanaan tindakan. Kelompok vokal berada pada kotak dua atau kelompok dua. Perencanaan Rancangan prosedur penelitian dalam kegiatan perencanaan adalah: 1) Menganalisa kembali hal. sehingga hal-hal yang ingin dicapai dalam upaya meningkatkan kemampuan membaca permulaan pada siswa kelas B Taman Kanak-Kanak Elim tercapai. Tindakan (Acting) Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar. Semua nama-nama benda tadi dapat di tulis dengan huruf-huruf yang terdapat dalam abjad. bola. yaitu membaca huruf. b. Guru memberikan beberapa soal kepada anak sebagai pre test. Instrumen tes ini digunakan untuk meneliti kemampuan membaca permulaan pada anak. yaitu kaca. suku kata dan kata. Guru menunjukkan dadu huruf kepada siswa yang berisi simbulsimbul huruf yang ada pada setiap sisinya.hal yang telah dievaluasi pada siklus I 2) Memperbaiki kesalahan/ kekurangan pada siklus I 3) Menentukan dan menyiapkan materi pengenalan huruf kepada anak.

59 Guru memberi tugas kepada siswa untuk mengambil dadu huruf. Pengamatan (observing) Hasil observasi terhadap kegiatan pembelajaran membaca permulaan melalui media lempar dadu huruf pada siklus II menunjukkan bahwa dalam pelaksanaan pembelajaran muncul semangat yang lebih besar dibanding dengan siklus I. Pemberian hadiah/ penghargaan pada setiap keberhasilan yang dicapai anak. Semangat tersebut dapat terlihat dari keceriaan anak dalam mengikuti pembelajaran. suku kata dan kata. Hal ini disebabkan telah diperbaikinya kekurangan-kekurangan yang muncul pada siklus I. terhadap minat belajar pada anak tunagrahita di kelas B Taman Kanak-Kanak Elim Sragen. . untuk mengetahui sejauhmana anak menagalami kemajuan setelah pembelajaran berlangsung c. melempar dan membacanya sebanyak sepuluh kali. menyusun dan membacanya sebanyak lima kali. yakni kurang penguasaan guru terhadap murid dan pengarahan terhadap tujuan penelitian dan tidak diberikannya reward atau penghargaan pada siklus I. Setelah diadakan perbaikan dalam penanganan anak atau pengkondusifan kondisi dalam pembelajaran dan pemberian hadiah/ reward pada siklus II ternyata mampu meningkatkan motivasi anak. melempar dan membacanya sebanyak sepuluh kali. Guru memberi tugas kepada siswa untuk mengambil dua dadu huruf (KV). Pemberian tugas kepada siswa mengambil empat dadu (KVKV). Guru memberikan beberapa soal kepada anak sebagai post test yaitu membaca huruf. sehingga pada siklus II anak nampak lebih tertib. Pemberian hadiah/ penghargaan pada setiap keberhasilan yang dicapai anak. melempar. mudah diatur dan diarahkan serta semangat yang tinggi muncul pada siklus II. Pemberian hadiah/ penghargaan pada setiap keberhasilan yang dicapai anak. tidak terjadi kejenuhan sampai selesainya kegiatan pembelajaran.

melalui lembar pengamatan. Hasil pengamatan dapat dilihat pada lembar pengamatan seperti di bawah ini: Lembar Pengamatan Kemampuan Membaca Permulaan pada Siklus II Anak Tunagrahita Kelas B Taman Kanak-Kanak Elim Sragen Aspek yang diamati Farel Ian Ya Tidak Ya Tidak √ Frekuensi kesalahan dalam membaca √ √ Kesalahan membedakan huruf b dengan d √ √ Kesalahan membedakan huruf p dengan q √ √ Kesalahan membedakan huruf m dengan n √ √ Kesalahan membedakan huruf s dengan z √ √ Kesalahan membedakan huruf v dengan u √ √ Membaca terlalu lama √ √ Tidak mengikuti pelajaran dengan √ sungguh-sungguh √ Tiduran √ √ Tidak mengerjakan tugas √ √ Mengganggu teman-teman √ Berceritera atau berteriak-teriak √ √ saat pelajaran berlangsung √ No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Hasil dari evaluasi membaca pada akhir siklus II menunjukkan adanya peningkatan sebagai berikut: .60 Di bawah adalah hasil pengamatan yang penulis lakukan. Nilai setelah pelaksanaan siklus II dan grafik nilai perolehan anak pada siklus II.

6% Tuntas Tuntas Dari nilai yang diperoleh anak setelah pelaksanaan siklus II dapat dibuat grafik sebagai berikut: d.5% 36. Refleksi Hasil dari proses pembelajaran dalam siklus II dari perencanaan sampai pada kegiatan evaluasi. Farel mengalami kenaikan nilai sebesar 45 70 x100 = 55.5% .61 Tabel 4 Nilai setelah pelaksanaan siklus II Nilai Ulangan Membaca Permulaan Anak Tunagrahita Semester I Kelas B Taman Kanak-Kanak Elim Sragen Tahun Pelajaran 2010/2011 No Kode Pre test Post test Kemajuan Keterangan 1 2 F IR 45 55 70 75 55. terdapat peningkatan kognitif pada anak yaitu peningkatan kemampuan membaca permulaan anak Farel dan Ian. yakni: Hasil belajar membaca Farel menunjukkan peningkatan dari siklus I yaitu dari nilai 45 menjadi 70.

yang berarti telah berhasil melampaui KKM yang ditetapkan sekola yaitu 70. v dengan u. Perubahan sikap dalam pembelajaran pada anak Ian. B. tidak tiduran saat mengikuti pelajaran. 2. p dengan q. v dengan u. Perubahan sikap dalam pembelajaran pada anak Farel. mengikuti pembelajaran dengan sungguh-sungguh. tidak tiduran saat mengikuti pelajaran. namun seperti kebiasaan sebelumnya anak Ian suka mengganggu teman-temannya dan suka berteriak-teriak saat mengikuti pelajaran. mengerjakan tugas dengan baik. Namun masih sering keliru membedakan huruf n dengan m. mengerjakan tugas dengan baik. yaitu: Mengalami penurunan frekuensi kesalahan dalam membaca. Hasil belajar membaca Ian menunjukkan peningkatan dari siklus I yait dari nilai 55 menjadi 75. .mampu membedakan huruf m dengan n. Anak mampu membaca lebih lancar. yang berarti telah berhasil mencapai KKM yang ditetapkan sekolah. s dengan z. Hasil Penelitian Berdasarkan tindakan yang dilakukan pada setiap siklus. s dengan z. dapat dihasilkan tindakan antar siklus sebagai berikut: 1. yaitu: Mengalami penurunan frekuensi kesalahan dalam membaca. Ian mengalami kenaikan nilai sebesar 55 70 x100 = 36. mengikuti pembelajaran dengan sungguhsungguh.6% pada siklus II. sudah mampu membedakam huruf b dengan b. yaitu 70. p dengan q. Anak mampu membaca lebih lancar. sudah mampu membedakam huruf b dengan b.62 pada siklus II.

dapat dilihat dalam grafik di bawah ini: Grafik Perolehan Nilai kemampuan Membaca Pre test.63 Tabel 5 Nilai kemampuan yang dicapai anak No Kode Peningkatan yang dicapai Pre test Siklus I Siklus II 1 2 F IR 27 30 45 55 70 75 Hasil perkembangan/ kemajuan dicapai oleh subjek. Siklus II . Siklus I.

Anak tunagrahita umumnya mengalami keterlambatan atau tertinggal dalam kemampuan membacanya dibanding dengan teman normal yang sebayanya. Pembahasan Kemampuan membaca memiliki peran yang sangat besar dalam kema-juan anak didalam proses belajar khususnya dan pada perkembangan umumnya. Peningkatan yang dicapai anak dari awal sampai akhir dapat dilihat dalam tabel di bawah ini: Tabel 6 Nilai Kemampuan membaca yang di peroleh anak selama kegiatan penelitian No 1 2 Kode F IR Kondisi Awal 27 30 Siklus I 45 55 Siklus II 70 75 Rata . anak mengalami peningkatan dalam kemampuan membaca permulaan pada tiap siklus yang diksanakan.Rata 28. dan sesuai .5 50 72. C.64 3.5 Dari hasil kegiatan penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa anak mengalami peningkatan kemampuan dalam membaca permulaan. Kesimpulan Setelah dilakukan pembelajaran dengan menggunakan media lempar dadu huruf. Sehingga anak mampu membaca permulaan dengan lebih lancar. melalui media yang sesuai dengan karakter anak pada umumnya yakni bermain. Kemampuan membaca anak tunagrahita kelas B Taman Kanak-kanak Elim Sragen perlu ditingkatkan semaksimal mungkin.

Untuk membaca suku kata memerlukan waktu yang agak lama karena harus melempar dua atau tiga huruf kemudian disusun dan dibaca. misalnya berhitung. Contoh: 1) lemparan pertama konsonan yang muncul adalah b . lalu mengambil dadu pada kelompok konsonan dan dilemparkan. kadang-kadang vokal yang muncul setelah digabung dengan konsonan tidak membentuk kata yang memiliki arti. Menyita banyak waktu Untuk membaca satu huruf memerlukan banyak waktu. warna dan lain sebagainya. Media bermain lempar dadu huruf adalah bentuk permainan yang dapat digunakan sebagai sarana pembelajaran anak dalam berbagai hal. 1. Misalnya anak mengambil dadu pada kelompok vokal dan dilemparkan. disusun kemudian dibaca. Media bermain lempar dadu huruf sangat menarik dalam pembelajaran. Kelemahan-kelemahan media bermain lempar dadu huruf diantaranya adalah: a. Kadang-kadang huruf yang muncul tidak membentuk kata yang punya arti.65 dengan karakter anak tunagrahita khususnya yakni belajar dengan hal-hal yang kongkrit agar mu-dah dimengerti anak. Media bermain lempar dadu huruf dalam penelitian ini penulis gunakan sebagai sarana dalam pembelaja. mendorong peneliti untuk mencobakan media yang menarik minat anak dalam belajar membaca yakni media bermain lempar dadu huruf. Untuk membaca suku kata anak harus mengambil empat dadu (KVKV). walaupun memiliki kelemahan. Keyakinan peneliti akan adanya kemajuan dalam setiap usaha. diliempar. karena anak harus melempar terlebih dahulu sebuah dadu kemudian memperhatikan untuk dibaca. b. sehimgga mampu membangkitkan motivasi bagi anak serta mendorong anak agar belajar lebih giat lagi.ran membaca yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan membaca permu-laan pada anak. pengenalan bentuk.

Tidak mengantuk dan bosan karena anak beraktifitas dengan aktif. melempar. jadi anak yang melempar tidak harus bolak-balik menyusun huruf yang dilemparnya. b. diadakan kerjasama dengan teman atau guru dalam menyusun urutan lemparan. menyusun dan membacanya. Dadu harus dipersiapkan dalam jumlah yang banyak. Beri penjelasan kalau kata tersebut tidak memiliki arti. c. Jangan menyusun terlalu banyak kata sekaligus yang memerlukan terlalu banyak dadu. Lakukan dengan menyusun satu atau dua kata kemudian dibaca. Anak diberi kesempatan untuk mengambil/memilih. teruskan saja anak membaca kemudian diberi pujian saat dia sudah berusaha melempar dan membaca. Cara mengatasi kelemahan-kelemahan dalam pembelajaran melalui media bermain lempar dadu huruf adalah: a. b. 2. Untuk menyingkat waktu. Jika anak menghasilkan lemparan yang setelah disusun ternyata kata tersebut tidak memiliki arti. 1. akan tetapi anak telah bagus dalam melaksanakan tugasnya. Saat anak memilih .66 2) lemparan kedua vokal yang muncul adalah i 3) lemparan ketiga konsonan yang muncul adalah m 4) lemparan keempat vokal yang muncul adalah u Kata yang muncul setela dadu disusun adalah b i m u c. anak merasa bersemangat dan kepercayaan dirinya tumbuh. Memerlukan banyak sekali dadu. tidak hanya sebanyak jumlah huruf dalam satu abjad akan tetapi lebih dari itu. agar kata-kata yang dapat disusun oleh anak dalam jumlah yang banyak dan bervariasi. Anak memilih sendiri dadu huruf yang dilemparnya sehingga anak bersemangat. Kelebihan dari pembelajaran membaca permulaan lewat bermain lempar dadu huruf ini adalah : a. sehingga anak aktif. Pemberian kesempatan kepada anak untuk menentukan pilihan merupakan hal yang menyenangkan bagi anak.

Saat menyusun aktifitas dalam kognitifnya bekerja. Anak ingin segera membaca dari hasil lemparan yang telah disusun tadi dengan mengaktifitaskan aspek kognitifnya. . Setelah melempar anak dengan senangnya cepat-cepat ingin mengetahui apa isi/ bacaan dari lemparan yang akan disusunnya. termasuk dalam meningkatkan kemampuan membaca anak.67 ada aktifitas dalam segi kognitif dan motorik halus. Anak tertarik untuk mengetahui huruf apa yang keluar dan kata apa yang muncul dari setiap lemparan yang dibuatnya sendiri. sehingga tercapai tujuan pembelajaran. Untuk itu perlu dipergunakan sebagai media pembelajaran sehari-hari guna membantu anak dalam meningkatkan minat belajarnya. c. Anak akan merasa bangga jika huruf yang dilemparnya dapat membentuk suatu kata yang memiliki arti. Media bermain lempar dadu huruf sangat membantu anak dalam pembelajaran. Anak yang belum dapat menyusun huruf menjadi kata akan berusaha mencoba lagi sehingga mereka memiliki keinginan untuk mencoba dan mencoba lagi. motorik halusnya juga bekerja. saat anak melempar ada aktifitas dalam motorik kasarnya.

maka diajukan saran sebagai berikut: 1.68 BAB V SIMPULAN DAN SARAN A. Saran Sehubungan dengan kesimpulan penelitian di atas. B. Kesimpulan Hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut. Berkreatifitas untuk menggunakan sesuatu yang ada di sekitarmu bagi peningkatan kemampuan yang kalian miliki. Hasil penelitian ini hendaknya dipergunakan sebagai sarana pembelajaran yang menarik dan mampu memotivasi semangat belajar sehingga dapat tercapai perkembangan yang optimal. b. 2. Guru Taman Kanak-Kanak Elim hendaknya menerapkan pembelajaran dengan menggunakan media bermain lempar dadu huruf pada pelajaran membaca permulaan. Bagi Guru a. karena media tersebut ternyata efektif digunakan sebagai sarana untuk meningkatakan kemampuan membaca permulaan pada anak. sehingga pertumbuhan dan perkembangan anak berjalan dengan maksimal dapat meningkatkan kemampuan membaca permulaan pada anak tunagrahita kelas B Taman Kanak-kanak Elim . Guru-guru hendaknya kreatif menggunakan media lempar dadu huruf sebagai sarana yang bervariasi dalam pembelajaran agar mampu membangkitkan minat belajar pada anak. b. Bagi Siswa a. bahwa pembelajaran dengan media bermain lempar dadu huruf Sragen tahun pelajaran 2010/2011.

Karakteristik Anak Tunagrahita http://saunganggie.blogspot.2010.com/2009/10/pengertian- Mbahbrata.wordpress. 2009. Rineka cipta.html Fu’adz Al-gharuty. Pengembangan .html http://mathedu-unila. Dounload 12 April 2010. PengertianMembaca. Pendidikan bagi Anak dengan Problema Belajar. 2009.blogspot. 2003.com/blog/entry..com/2009/01/pengertian-membaca. Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi. 2009. Media Pendidikan ( Pengertian . dkk. Jakarta.com/2009/06/membaca-permulaan-permainan-bahasa. 2007. Defli. 2005. 2009. http://Mbahbrataedu.69 DAFTAR PUSTAKA Anggie Siti Sa’adah. Direktorat Pendidikan Luar Biasa. Chasiyah. FKIP Surakarta. http://www. Jakarta. Duonloud 10 juni 2010. Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Perguruan Tinggi. dan Pemanfaatan ) .yuwie. Departemen Pendidikan Nasional. Psikologi Perkembangan Anak I. Graha Mulyono Abdurrahman. indonesia/article/view/272/0 Mathedu. 2009. Dounloud 21 juni 2010 Arif Sadiman S.psikologzone. Indonesia Metode Penelitian Ilmu . http://r. membaca. Tunagrahita. 2009. 2003. http://guruit07. 2004. Mengenal Pendidikan Terpadu. . Jakarta : PT Raja Gravindo Persada Astati.asp?id=932768 & eid=602755 Devid Haryalesmana. Munawir Yusuf. Pengertian Tes. Pendidikan bagi anak berkesulitan belajar.com/2010/05/02/tunagrahita/ Dounloud 21 Juni 2010 Baitul Alim.blogspot.com/2009/07/karakteristik-anaktunagrahita. Hj.html. Membaca permulaan dan permainan bahasa. 2006. http://adzeglar. http://astati. 2007. Pengertian Anak Tunagrahita.com/2009/02/02/studidokumen-dalam-penelitian-kualitatif.com/pengertiandefinisi-tes-dalam-psikologi.wordpress.blogspot.ilmu Sosial. Muhammad Idrus.

2009.com/2008/12/02 penerapan-metode pembelajaran permulaan. Dounloud 17 juni 2010. WJS 1984. 2005. Tarmizi. 2000. _______________ Kecenderungan dalam Pendidikan Luar Biasa. Proyek Pendidikan Tenaga Guru. Jakarta : Dirjen Dikti Depdiknas. Jakarta. Wijaya Kusumah. 2007. perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem.html.Jakarta : Bumi Aksara. 2 dan 3 Yogyakarta: Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi UGM.php/sastraIndonesia/article/view/272/0 Slameto. Jakarta : Rineka Cipta Sunardi.ac. Jenis Data Dan Metode Pengumpulan Data . Proyek Pendidikan Tenaga Akademik. Belajar dan Faktor – Faktor yang Mempengarui. http://media-grafika. Makalah Simposium dan Temu Ilmiah Nasional. Jakarta.com/pengertian-mediapembelajaran. Direktorat Jedral Pendidikan Tinggi. 2009. Wikipedia. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Kamus Umum Bahasa Indonesia.wordpress. 2007. PL 2010. http://tarmizi. Sutjihati Somantri.wordpress.um.id/index. Seva Andini Kusnawanto. Psikologi Anak Luar Biasa. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dan penulisan Karya Ilmiah. Surakarta.com/ Dounload 2010 Mei 12. 2008. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi. Balai Pustaka. Sarwiji Suwandi. Penerapan Metode Pembelajaran Membaca Permulaan. Suharsimi Arikunto. http://karya-ilmiah. 2005. Dounload 12 April 2010. Mengelola Kurikulum pada Pendidikan Inklusi. Penilaian Sertifikasi Guru Rayon 13. Difinisi media http://mataharieducare. 1993. 2008. Jakarta. Metodologi Research Jilid 1. . 2008. Sutrisno Hadi. Jakarta Bumi Aksara Purwodarminto.70 Oemar Hamalik. Pendit. 1996. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek ( Edisi Revisi IV ). Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

.com/pengertian-mediapembelajaran.com/ Dounload 2010 Mei 12.71 Metode Pembelajaran http://tarmizi.com/2008/12/02 permulaan. Dounloud 17 juni 2010. 2007.wordpress. Dounload 12 April 2010.html. Membaca penerapan-metode Permulaan.2009.wordpress. Difinisi media http://mataharieducare. pembelajaran Wikipedia. Wijaya Kusumah. http://media-grafika.

72 LAMPIRAN .

Berat badan 7. 6 Juli 2005 : Kristen : 119 Cm : 18 Kg :B : Taman Kanak-Kanak Elim. Tempat/tgl lahir 4. 1. 1. Berat badan 7. Nama anak 2. Agama 5.73 DATA ANAK A. Jenis Kelamin 3. Sekolah B. Tinggi badan 6. 17 September 2005 : Kristen : 123 Cm : 20 Kg :B : Taman Kanak-Kanak Elim. Tempat/tgl lahir 4. Sragen 2. Kelas 8. Sekolah : Ian Rudyanto : Laki-laki : Sragen. Kelas 8. Sragen . Jenis Kelamin 3. Agama 5. Nama anak : Farel : Laki-laki : Sragen. Tinggi badan 6.

6. Evaluai 3 I Agustus 2010 Menyiapkan Instrument pelaksanaan siklus II 4 II-IV Agustus 2010 Melaksanakan pre test. Penulisan Bab V. item soal. 5. . Pelaksanaan siklus II 5 I-IV September 2010 4. 1 Minggu Ke/Bulan I Juli 2010 Kegiatan Melakukan observasi ke kelas Pembuatan kisi-kisi.74 Lampiran 1 Jadwal Kegiatan Penelitian No. lembar pengamatan. Keterangan 2 II-IV Juli 2010 Melaksanakan pre test. Penyelesaian skripsi. Pelaksanaan tindakan siklus I. Perbaikan dan penggandaan hasil penelitian. Penulisan laporan hasil penelitian dan pembahasan.

1 Mendengarkan Bacaan/ syair bernafaskan agama Indikator 1. Dapat menempel gambar sesuai kata 3. Dapat menempel suku kata yang kurang di belakang kata dengan bantuan gambar 1. Dapat menempel kata sesuai gambar 2. Dapat menempel suku kata yang kurang pada awal kata dengan bantuan gambar 5. Dapat menempel suku kata yang kurang pada tengah kata dengan bantuan gambar 6.75 Lampiran 2 Kisi – kisi instrumen N0 Standar Kompetensi 1. Dapat menulis kata sederhana 10 9 8 7 3-4 5-6 N0 Item 1-2 .2 Membaca Mengungkapkan isi syair 4.3 Menulis kata sederhana dengan benar Jumlah 10 7. Pembentukan Perilaku melalui Pembiasaan Kompetensi Dasar 1. Dapat menyebut kata dibantu gambar 1.

76 Cara Penilaian Jawaban benar nilainya Jawaban salah nilainya Nilai akhir = Skor 1 =1 =0 = 10 Skor total jika benar semua nilainya .

..... Nanas b.... Jeruk c.......... b.... c pada jawaban yang benar ! 1...... Mawar a.. Berilah tanda silang ( X ) huruf a. b... Pisang 2..... Nanas a..... a. .....77 Lampiran 3 SOAL TRY OUT Nama : Kelas : Test tertulis I. b.. . Pisang 3. c. .. Jeruk c..

.......78 4....... Gajah b.. a... 5... 6..................... ra b..... ........... .. Gambar apakah ini.. .... ri c.. 7... ...... c......... Gambar apakah ini.. mah ....... Lengkapilah a. ru ..

......79 8 .. 14 Juli 2010 Guru kelas B. a. Sri Mulyati .. rak * Tulislah nama gambar di bawah ini 10. a. . Elim Sragen Sragen.. TK Elim Sragen Dobirson S.nga 9.. la b. .. .... lo Te... .... je .... li c. ruk c.. rik b.. Mengetahui Ka TK.

Mengelompokkan kata-kata yang sejenis 6. Menceritakan gambar tanaman 3. Menghubungkan tulisan dengan gambar 5.80 Lampiran 4 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ( RPP ) SIKLUS I Pengembangan Tema Kelas / Semester Pertemuan Alokasi Waktu : Bahasa Indonesia : Tanaman : B. Menyusun huruf menjadi kata . Membaca sederhana 4.14 Bercerita Menyebutkan nama tokoh dalam cerita 1.12 Mengelompokkan kata-kata yang sejenis C. Standar Kompetensi : 1. Kompetensi Dasar 1. Menyebutkan nama tokoh dalam cerita 2. Pembentukan perilaku melalui pembiasaan B.16 Menghubungkan tulisan dengan gambar 1. Taman Kanak-Kanak / I : 1 : 1 x 30 menit A. Indikator : : 1.

81 D. Anak dapat menyusun huruf menjadi kata. Pisang. Anak dapat menyebutkan tokoh-tokoh dalam cerita. Materi Pelajaran * Tanaman Pak Sardi finggal di desa. 5. sepeda motor. Anak dapat membaca nama tokoh-tokoh dalam cerita. 4. mobil dan . Di kota terdapat banyak kendaraan ada becak. Ia menanam buah-buahan Jeruk. 3. Pak Sardi pergi kota naik kuda. ia sangat rajin. 6. Tujuan Pembelajaran : 1. Anak dapat mengelompokkan kata-kata yang sejenis. Pak Sardi menjual hasil kebunnya ke kota. Anak dapat menghubungkan tulisan dengan gambar secara tepat. Anak dapat menceritakan kembali cerita dari gambar seri dengan bahasanya sendiri. Anak dapat membaca peristiwa dalam cerita melalui tulisan yang ada dalam Gambar. Mangga dan masih banyak lagi buah yang lainnya. 7. 2. E. Nanas.

Kegiatan awal a. Becal F. G. Anak menyebutkan nama tokoh yang ada dalam cerita c. Anak diajak duduk dalam suasana belajar . Langkah – langkah Kegiatan Pembelajaran. a. Sepeda motor Mobil 4. Anak mendengarkan guru tentang cerita dari gambar b. 3.82 Kendaraan yang lain-lainnya. Anak menceritakan kembali dengan bahasanya sendiri d. Apersepsi 2. demonstrasi dengan gambar dan dadu. Tanya jawab. Anak membaca tulisan yang ditunjukkan guru e. Kegiatan Inti. Anak mengerjakan tugas menghubungkan gambar dengan tulisan yang sesuai. 2. Metode Pembelajaran 1. berdoa dan presensi b. Pemberian tugas. 1. Anak menyusun huruf menjadi kata dengan menggunakan dadu huruf . f. Ceramah.

Guru menyimpulkan materi yang telah disajikan b. Mampu melakukan sendiri dengan baik dan benar diberi sekor 4 Mampu melakukan dengan sedikit bantuan diberi sekor Mampu melakukan dengan banyak bantuan diberi sekor Belum mampu melakukan diberi skor 3 2 1 . c. Menempel suku kata yang kurang sesuai gambar d. Siswa diberi tugas guru untuk dikerjakan c. H. Penerbit Makmur Jaya Seri 5. menyusun dan membaca Kreteria Penilaian Kenerja. Alat dan Sumber Bahan 1. Guru memberi pekerjaan untuk dikerjakan dirumah d. Dadu huruf : Kreasi guru : Buku PAUD. Penilaian / Evaluasi 1. Test Lisan : dilaksanakan pada proses pembelajaran berlangsung. Alat / media Pelajaran 2. I. Test perbuatan dan lesan : a. halaman 5-6. Guru menilai hasil pekerjaan siswa dan menyimpulkannya. 2.83 3. Melempar dadu huruf. menempel gambar sesuai kata yang tertulis. Kegiatan Akhir a. b. Sumber Bahan : Kartu bergambar. menempel kata sesuai dengan gambar.

84 Skor perolehan 4 3 2 1 N0 1.. 16 x 10 = = NA = -------------- .. Menempel suku kata yang kurang sesuai gambar Menyusun huruf dengan lemparan dadu dan membacanya. 2 3 4 Aspek yang dinilai Menempel kata sesuai gambar yang tertulis Menempel gambar sesuai dengan kata. Jumlah Skor maksimum 4 4 4 4 16 Jumlah skor yang diperoleh x 10 Nilai Akhir = Skor maksimum = ..

.. ... a. Berilah tanda silang ( X ) huruf a.... . Test tertulis I..... Nanas 2. Nanas 3. c.. b. Pisang b. ........85 J... a....... . Mawar a... Jeruk c..... c pada jawaban yang benar ! 1. Jeruk c.... b.. Pisang b......

.. ..... ri c...... .. ra ...86 4.......... Gambar apakah ini.... b............. 7... 6...... c. . mah b. ru ........ Gajah a. 5...... .............. Gambar apakah ini....... Lengkapilah a......

... a. je . ... Elim Sragen Sragen.nga 9.. rak * Tulislah nama gambar di bawah ini 10..... la b.. Sri Mulyati .. Mengetahui Ka TK... .. lo Te. 16 Juli 2010 Guru kelas B. a...... . TK Elim Sragen Dobirson S.. .87 8 . li c.. ruk c.. rik b..

88 Lampiran 5 Lembar Pengamatan Aktivitas dan Kemampuan Membaca Permulaan Siklus I N o 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Frekuensi kesalahan dalam membaca Kesalahan membedakan huruf b dengan d Kesalahan membedakan huruf p dengan q Kesalahan membedakan huruf m dengan n Kesalahan membedakan huruf s dengan z Kesalahan membedakan huruf v dengan u Membaca terlalu lama Tidak Tiduran Tidak mengerjakan tugas Mengganggu teman-teman Berceritera atau berteriak-teriak saat pelajaran berlangsung mengikuti pelajaran sungguh-sungguh √ √ Aspek yang diamati Farel Ya Tidak √ √ √ √ √ √ √ dengan √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Ian Ya Tidak √ √ √ Guru / Peneliti Sragen. 16 Juli 2010 Pengamat / Teman Sejawat ( SRI MULYATI ) ( IRA MUTIARANI ) .

situasi dan sesuai lingkungan 2.2. isyarat. dan Gerakan badan 3.1. Menjawab pertanyaan dari respon siswa 3.1 Melaksanakan jenis kegiatan yang sesuai dengan Tujuan. Menyiapkan ruangan.5.3.2. alat bantu dan sumber belajar 1. memicu dan memelihara ketertiban siswa 3. situasi dan sesuai lingkungan 2. 2.Menggunakan alat Bantu ( media ) pembelajaran yang sesuai dengan tujuan. terkait dengan isi pembelajaran 3. Memberikan petunjuk dan penjelasan yang b. Melaksanakan tugas harian kelas 2.3.2. Aspek yang dinilai Mengelola ruang dan fasilitas pembelajaran 1. kelompok atau efiensi. Mengelola interaksi kelas a.4.4. Menggunakan ekspresi lisan. Melaksanakan kegiatan pembelajaran secara individual. Memantapkan penguasaan materi v v v v v v v v v Ya v v Tdk . tulisan . Melaksanakan kegiatan pembelajaran 2.89 Lampiran 6 Lembar Pengamatan Kegiatan Guru dalam Pembelajaran Siklus I N0 1. Mengelola pembelajaran waktu secara klasikal 3.

Menunjukkan sikap ramah. terbuka. penuh pengertian dan sabar terhadap siswa. Membantu siswa menumbuhkan kepercayaan diri Melaksanakan evaluasi proses hasil belajar 5. Membantu siswa menyadari kelebihan dan kekurangannya 4.2.5. Menunjukkan kegairahan mengajar 4. hangat luwes. v v Guru / Peneliti Sragen. Mengembangkan hubungan antara pribadi yang sehat dan serasi 4.3.2. Melaksanakan penilaian pada pembelajaran proses akhir v v v v v 5. Melaksanakan penilaian selama pembelajaran 5. 4. Bersikap terbuka dan luwes serta membantu mengembangkan sikap positip siswa terhadap merespon materi 4.1.90 4.4.1. 16 Juli 2010 Pengamat / Teman Sejawat ( SRI MULYATI ) ( IRA MUTIARANI ) .

Standar Kompetensi : 1.91 Lampiran 7 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ( RPP ) SIKLUS II Pengembangan Tema Kelas / Semester Pertemuan Alokasi Waktu : Bahasa Indonesia : Tanaman : B. Menyusun huruf menjadi kata . Taman Kanak-Kanak / I : 1 : 1 x 30 menit A. Indikator : : 1.12 Mengelompokkan kata-kata yang sejenis C.16 Menghubungkan tulisan dengan gambar 1. Membaca sederhana 4. Menyebutkan nama tokoh dalam cerita 2. Kompetensi Dasar 1. Mengelompokkan kata-kata yang sejenis 6. Pembentukan perilaku melalui pembiasaan B. Menghubungkan tulisan dengan gambar 5. Menceritakan gambar tanaman 3.14 Bercerita Menyebutkan nama tokoh dalam cerita 1.

92 D. 6. Anak dapat menceritakan kembali cerita dari gambar seri dengan bahasanya sendiri. Anak dapat membaca nama tokoh-tokoh dalam cerita. Pak Sardi pergi kota naik kuda. Ia menanam buah-buahan Jeruk. Pak Sardi menjual hasil kebunnya ke kota. Anak dapat menghubungkan tulisan dengan gambar secara tepat. 7. 3. Tujuan Pembelajaran : 1. Anak dapat membaca peristiwa dalam cerita melalui tulisan yang ada dalam Gambar. . Anak dapat menyusun huruf menjadi kata. 2. 5. Materi Pelajaran * Tanaman Pak Sardi finggal di desa. E. Nanas. ia sangat rajin. Pisang. Anak dapat mengelompokkan kata-kata yang sejenis. Mangga dan masih banyak lagi buah yang lainnya. Anak dapat menyebutkan tokoh-tokoh dalam cerita. 4.

Langkah – langkah Kegiatan Pembelajaran. Tanya jawab. f. Anak diajak duduk dalam suasana belajar . 1. Ceramah. Anak mendengarkan guru tentang cerita dari gambar b. Kegiatan Inti.93 Di kota terdapat banyak kendaraan ada becak. G. mobil dan Kendaraan yang lain-lainnya. Anak membaca tulisan yang ditunjukkan guru e. Sepeda motor Mobil 4. Anak menyusun huruf menjadi kata dengan menggunakan dadu huruf . sepeda motor. Metode Pembelajaran 1. Anak menceritakan kembali dengan bahasanya sendiri d. Anak mengerjakan tugas menghubungkan gambar dengan tulisan yang sesuai. Becak F. 2. Pemberian tugas. demonstrasi dengan gambar dan dadu. Kegiatan awal a. Anak menyebutkan nama tokoh yang ada dalam cerita c. 3. berdoa dan presensi b. a. Apersepsi 2.

b. Kegiatan Akhir a. Mampu melakukan sendiri dengan baik dan benar diberi sekor 4 Mampu melakukan dengan sedikit bantuan diberi sekor Mampu melakukan dengan banyak bantuan diberi sekor Belum mampu melakukan diberi skor 3 2 1 . Dadu huruf : Kreasi guru : Buku PAUD. menyusun dan membaca Kreteria Penilaian Kenerja. Test perbuatan dan lesan : a. Guru menyimpulkan materi yang telah disajikan b. Siswa diberi tugas guru untuk dikerjakan c. menempel gambar sesuai kata yang tertulis. Penerbit Makmur Jaya Seri 5.94 3. Guru menilai hasil pekerjaan siswa dan menyimpulkannya. Guru memberi pekerjaan untuk dikerjakan dirumah d. Penilaian / Evaluasi 1. c. Sumber Bahan : Kartu bergambar. I. Alat dan Sumber Bahan 1. Menempel suku kata yang kurang sesuai gambar d. Melempar dadu huruf. menempel kata sesuai dengan gambar. halaman 5-6. Alat / media Pelajaran 2. H. Test Lisan : dilaksanakan pada proses pembelajaran berlangsung. 2.

Menempel suku kata yang kurang sesuai gambar Menyusun huruf dengan lemparan dadu dan membacanya. Jumlah Skor maksimum 4 4 4 4 16 Jumlah skor yang diperoleh x 10 Nilai Akhir = Skor maksimum = .. 16 x 10 = = NA = -------------- .. 2 3 4 Aspek yang dinilai Menempel kata sesuai gambar yang tertulis Menempel gambar sesuai dengan kata..95 Skor perolehan 4 3 2 1 N0 1.

. . Nanas 2.. Jeruk c.. Jeruk c..96 J. Nanas 3.... .... Mawar a....... Pisang b.... . b.. c pada jawaban yang benar ! 1.. .... Test tertulis I......... c.. a... b.... a. Pisang b... Berilah tanda silang ( X ) huruf a...

Gambar apakah ini...... ru ...... ... ra ................. ... 7..... . Lengkapilah a. b... mah b.... 5... Gambar apakah ini. c...... ri c..... . 6.................. Gajah a.........97 4.......

... Sri Mulyati . . a.. rik je . b...98 8 .. a. la b.. .. TK Elim Sragen Dobirson S..... ruk c.. rak * Tulislah nama gambar di bawah ini 10. lo Te... li c.... .. 9 Agustus 2010 Guru kelas B.. Mengetahui Ka TK.. Elim Sragen Sragen....nga 9.

9 Agustus 2010 Pengamat / Teman Sejawat ( SRI MULYATI ) ( IRA MUTIARANI) .99 Lampiran 8 Lembar Pengamatan Aktivitas dan Kemampuan Membaca Permulaan Siklus II No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Aspek yang diamati Frekuensi kesalahan dalam membaca Kesalahan membedakan huruf b dengan d Kesalahan membedakan huruf p dengan q Kesalahan membedakan huruf m dengan n Kesalahan membedakan huruf s dengan z Kesalahan membedakan huruf v dengan u Membaca terlalu lama Tidak Tiduran Tidak mengerjakan tugas Mengganggu teman-teman Berceritera atau berteriak-teriak saat pelajaran berlangsung √ mengikuti pelajaran dengan sungguh-sungguh √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Farel Ya Tidak √ √ √ Ian Tidak √ √ √ √ √ √ √ √ Ya Guru / Peneliti Sragen.

4. Menggunakan alat Bantu ( media ) pembelajaran yang sesuai dengan tujuan.1. Melaksanakan evaluasi proses hasil belajar 5.5.2. Melaksanakan penilaian pada akhir pembelajaran v v v v v v v v v v v v v v v v N0 1.1 Melaksanakan jenis kegiatan yang sesuai dengan Tujuan. Menunjukkan sikap ramah. .4.2. Membantu siswa menumbuhkan kepercayaan diri 5. 2. Melaksanakan kegiatan pembelajaran secara individual. Melaksanakan tugas harian kelas v Melaksanakan kegiatan pembelajaran 2. Mengelola pembelajaran waktu secara klasikal Mengelola interaksi kelas 3. kelompok atau efiensi.3. memicu dan memelihara ketertiban siswa 3. 3.5.2. hangat luwes. Melaksanakan penilaian selama proses pembelajaran 5. Mengembangkan hubungan antara pribadi yang sehat dan serasi 4. situasi dan sesuai lingkungan 2.1.2. situasi dan sesuai lingkungan 2. Menjawab pertanyaan dari respon siswa 3. dan Gerakan badan 3.3. 4. isyarat. tulisan . Memberikan petunjuk dan penjelasan yang terkait dengan isi pembelajaran 3. Menunjukkan kegairahan mengajar 4. terbuka. penuh pengertian dan sabar terhadap siswa. 4. Tdk 2.1. Membantu siswa menyadari kelebihan dan kekurangannya 4.2.100 Lampiran 9 LEMBAR OBSERVASI KEGIATAN GURU DALAM PEMBELAJARAN SIKLUS II Aspek yang dinilai Ya Mengelola ruang dan fasilitas pembelajaran 1.1.3.4. Menyiapkan ruangan. alat bantu dan sumber belajar v 1. Memantapkan penguasaan materi Bersikap terbuka dan luwes serta membantu mengembangkan sikap positip siswa terhadap merespon materi 4. Menggunakan ekspresi lisan.

101 Pengamat/Teman Sejawat ( SRI MULYATI ) ( IRA MUTIARANI ) Kegiatan Pembelajaran dengan Media Lempar Dadu Huruf .

102 .

103 .

104 .