1

SKRIPSI PENELITIAN TINDAKAN KELAS UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA PERMULAAN MELALUI MEDIA BERMAIN LEMPAR DADU HURUF PADA ANAK TUNAGRAHITA KELAS B SEMESTER I DI TAMAN KANAK-KANAK ELIM SRAGEN TAHUN PELAJARAN 2010/2011

Disusun Oleh : SRI MULYATI NIM X 5108526

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KHUSUS FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2010

2

UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA PERMULAAN MELALUI MEDIA BERMAIN LEMPAR DADU HURUF PADA ANAK TUNAGRAHITA KELAS B SEMESTER I DI TAMAN KANAK-KANAK ELIM SRAGEN TAHUN PELAJARAN 2010/2011

OLEH: SRI MULYATI NIM: X5108526

SKRIPSI

Ditulis dan diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan Mendapat gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Khusus Jurusan Ilmu Pendidikan

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KHUSUS FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2010 ii

3

PERSETUJUAN

Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahan dihadapan tim penguji skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta

Persetujuan pembimbing,

Pembimbing I

Pembimbing II

Drs. A.Salim Choiri, M.Kes NIP. 195709011982031002

Drs. Subagya,M.Si NIP.19601001012

iii

4

PENGESAHAN Skripsi ini telah dipertahankan dihadapan Tim Penguji Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta dan diterima untuk memenuhi peryaratan mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan. Pada hari Tanggal : Rabu : 13 Oktober 2010

Tim Penguji Skripsi Ketua Sekretaris Anggota I Anggota II : Drs. Maryadi, M.Ag : Dra.B. Sunarti, M.Pd : Drs. Abdul Salim, M.Kes : Drs. Subagya, M.Si

Tanda tangan ............................................ ............................................ ............................................ ............................................

Disyahkan oleh Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Dekan,

Prof.Dr. M. Furgon Hidayatullah, M.Pd NIP.19600727 1987021001

iv

5

ABSTRAK Sri Mulyati, UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA PERMULAAN MELALUI MEDIA BERMAIN LEMPAR DADU HURUF PADA ANAK TUNAGRAHITA KELAS B SEMESTER I DI TAMAN KANAK-KANAK ELIM SRAGEN TAHUN PELAJARAN 2010/2011 Skripsi, Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret, September 2010. Penelitian ini bertujuan untuk untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan pada anak yang mengalami keterlambatan berpikir/ tunagrahita pada kelas B Taman Kanak-Kanak Elim tahun pelajaran 2010/2011. Metode penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yaitu penelitian yang dilakukan oleh guru di kelas tempat mengajar, dengan menggunakan media bermain lempar dadu huruf yang mampu meningkatkan kegairahan dalam mengikuti pembelajaran membaca, mampu memotivasi anak sehingga anak tidak merasa jenuh dalam belajar. Teknik analisis data digunakan analisis perbandingan, artinya hasil prestasi kemampuan membaca anak dibandingkan, kemudian dideskripsikan ke dalam suatu bentuk data penilaian yang berupa nilai. Dari prosentase dideskripsikan kearah kecenderungan tindakan guru dan reaksi serta hasil belajar siswa. Penelitian tindakan kelas yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa Pembelajaran dengan mengggunakan media bermain lempar dadu huruf dapat meningkatkan kemampuan anak dalam membaca permulaan, pada Anak Tunagrahita Kelas B semester I di Taman Kanak-Kanak Elim tahun pelajaran 2010/2011. . Kata kunci : Anak Tunagrahita, pembelajaran membaca, media lempar dadu huruf, meningkatkan kemampuan membaca permulaan.

v

6

ABSTRACT Sri Mulyati, THE ATTEMPT OF IMPROVING THE BEGINNING READING COMPETENCY USING LETTER DICE THROWING GAME MEDIA IN THE MENTAL RETARDED B GRADERS OF SEMESTER I IN SRAGEN ELIM KINDERGARTEN IN THE SCHOOL YEAR OF 2010/2011. Thesis, Surakarta: Teacher Training and Education Faculty, Sebelas Maret University, September 2010. This research aims to improve the beginning reading competency using letter dice throwing game media in the mental retarded B graders of semester I in Sragen Elim Kindergarten in the school year 2010/2011. The research method used was Classroom Action Research (CAR), the one conducted by the teacher in my class, using the letter dice throwing game media that can improve excitement in following the reading learning, can motivate children so that the children are not bored in learning. Technique of the analyzing data used was comparative analysis, meaning that the children’s reading competency achievement were compared, and then were described into a form of assessment data namely score. From the percentage described into teacher’s action predisposition and students’ reaction as well as learning achievement. From the classroom action research conducted, it can be concluded that learning using the letter dice throwing game media, it can improve the children’s competency in the beginning reading, for the mental retarded B graders of semester I in Sragen Elim Kindergarten in the school year of 2010/2011. Key word : Mental retarded, reading learning, letter dice throwing game media, improve the competency in the beginning reading.

vi

vii . Isa almasih. Kitab Injil Lukas.7 MOTTO: “Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang berbuat kepadamu. perbuatlah juga demikian kepada mereka”.

8 HALAMAN PERSEMBAHAN Keluargaku tercinta Ayah dan Ibunda yang aku banggakan Saudara-saudaraku yang telah mendukungku Rekan-rekan di Taman Kanak-Kanak Elim yang memotivasiku FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta yang tercinta viii .

Pd Ketua Jurusan Ilmu Pendidikan telah memberikan bimbingan dan pengarahan sehingga skripsi ini dapat terselesaikan. 3. Furqon Hidayatullah. Drs. M. R. atas kebaikan-Nya. Oleh karena itu segala saran dan kritik yang bersifat membangun sangat penulis harapkan. 2. Dr. M. ix .A. 4. Drs. 5. Indianto. 6. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta. Dalam penyusunan skripsi ini. Semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan penelitian tindakan kelas ini. Salim Choiri.Pd Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah memberi ijin kepada penulis untuk melaksanakan penelitian. Drs. Untuk itu.9 KATA PENGANTAR Segala puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa. Prof. penulis mengucapkan terima kasih kepada yang terhormat: 1. atas segala bentuk bantuan yang telah diberikan. penulis menyadari masih ada kekurangan. Subagya M. Dobirson S. selaku Kepala Taman Kanak-Kanak Elim Sragen yang telah memberikan ijin tempat penelitian dan informasi yang dibutuhkan penulis. H. sehingga penulis dapat menyelesaikan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Luar Biasa. M. M. Jurusan Ilmu Pendidikan. karena keterbatasan pengetahuan yang ada dan tentu hasilnya juga masih jauh dari kesempurnaan.Kes Ketua Program Studi Pendidikan Khusus sekaligus selaku pembimbing I yang telah memberikan petunjuk kepada penulis sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.Si selaku pembimbing II yang telah memberikan petunjuk kepada penulis selama melaksanakan penelitian tindakan kelas. Banyak hambatan yang menimbulkan kesulitan dalam penyelesaian penulisan penelitian tindakan kelas ini. namun berkat bantuan dari berbagai pihak akhirnya kesulitan-kesulitan yang timbul dapat diatasi.

Surakarta. Ibu. mendapat pahala dari Tuhan Yang Maha Esa. dan menjadi amal kebaikan yang tiada putus-putusnya dan semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan. September 2010 Penulis x .10 Semoga kebaikan Bapak.

................................................. D......................................................................................... BAB I PENDAHULUAN......................................................................... ..11 DAFTAR ISI Halaman JUDUL............................ . 17 xi . PENGESAHAN............................................................xiv d........... Pendidikan Anak Tunagrahita............... BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS TINDAKAN................... A............ b........................................................................................................... a......... ..................... B.................................. 10 e............................................................ Faktor Penyebab Anak Tunagrahita................................................. Tujuan Penelitian................................... ............................................................. 16 a.................................................................... DAFTAR ISI.. Pengertian Membaca.............................................................................................. PERSETUJUAN............... Pembelajaran Anak Tunagrahita Pada kelas Inklusif.. Rumusan Masalah................. 4 6 8 i ii iii iv v vii viii ix xi 1 1 3 3 3 4 4 DAFTAR LAMPIRAN........... . 16 b............................................... C........................ Pengertian Anak Tunagrahita....................................... KATA PENGANTAR...................................... MOTTO........................... c............. Tinjauan Tentang Membaca Permulaan..................................... PERSEMBAHAN..................................... ABSTRAK.. 1................................................................................................ PENGAJUAN................. A.... Kajian teori....... Klasifikasi Anak Tunagrahita................................................................................................................... Manfaat Hasil Penelitian.................. ............ Anak Tunagrahita........... Tujuan Membaca................................................................................................... Karakteristik Anak Tunagrahita........................................................................................................................ 14 2........................... ............... 12 f..................................... Latar Belakang Masalah...............................................................................

...................................... 24 c............................. Penerapan Pembelajaran dengan Menggunakan Media Lempar Dadu Huruf pada Anak Tunagrahita............................48 1......................... ......................... Kerangka Berfikir............................................................................... Prosedur Penelitian............... D............. Indikator Kinerja................ E.............................................................................................................................................. I.................................................................................................... Deskripsi Kondisi Awal............. Pengertian Media ............... BAB IV: HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN.................. 18 d................................. Metode Pengajaran Membaca .............................................. B............. e................................................................... G....... Pembelajaran Membaca Anak Tunagrahita.................... ....... Teknik Pengumpulan Data......... f.............. C............................................................... d........................................ A........................................ 22 3........ Fungsi Media Permainan Lempar Dadu Huruf........... Pengertian Media Lempar Dadu Huruf.................................. C............... Hipotesis Tindakan .. A...... a............ Setting Penelitian...................................... H.... Tahap pelaksanaan Membaca Permulaan...... 19 e. Tinjauan tentang Media Permainan Lempar Dadu Huruf.. Validitas dan Reliabilitas Instrumens............................. Kelemahan dan Kelebihan Permainan Lempar Dadu Huruf......... xii 48 30 31 33 34 34 34 35 36 41 42 43 43 44 47 29 27 25 23 23 21 ....................................................................... Pengertian Membaca Permulaan.......... Data dan Sumber Data... b..................................... Subyek Penelitian............................... f...................... Tehnik Analisis Data......................... B...................... F......12 c............... BAB III METODOLOGI PENELITIAN.. Validitas Data. Langkah-langkah Pengajaran dengan Menggunakan Media Permainan Lempar Dadu Huruf............................................... Pelaksanaan Penelitian..................

a.... SIMPULAN DAN SARAN............................................................................ 66 B................................................................. Pelaksanaan Siklus II..... Perencanaan........................................................................................................................13 2.... SARAN............. 71 xiii .......................................................... 60 B.............................................. 60 C.......................................... Pembahasan hasil Penelitian........................................................................... Tindakan............... Pengamatan................. 63 BAB V....................................................... 52 c....................................... 56 3........................... 66 A.. Hasil Penelitian.......................... Pengamatan......................... 52 52 b........................ Pelaksanaan Siklus I.............................................................................................................................................................................. 53 d.............. 68 LAMPIRAN ... 56 a............................................ Perencanaan......................................... 66 DAFTAR PUSTAKA.............................................................. SIMPULAN............. 56 b........................ Refleksi...................................................................... Tindakan .................... Refleksi ...... 58 d.................................................. 57 c.................................................

.

1 BAB I PENDAHULUAN A. Mereka tidak harus menempuh jarak yang lumayan jauh dari tempat tinggalnya menuju ke Sekolah Luar Biasa (SLB) yang biasanya terdapat di kota kabupaten. Pelayanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus dewasa ini mengalami kemajuan yang baik. Dua belas persen dari siswa Taman Kanak-Kanak Elim adalah Anak Berkebutuhan Khusus ABK). mental maupun sosial. mampu belajar kelebihan orang lain. Mereka dapat belajar bersama-sama dengan anak normal seusianya dalam satu sekolah yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Demikian juga bagi anak normal. Dewasa ini pelayanan pendidikan bagi anak berkelainan sudah mulai masuk ke desa-desa. baik segi akademik. Keberadaan anak yang berkebutuhan khusus ini tidak membuat teman normal lainnya tergannggu. . Latar Belakang Masalah Setiap anak memiliki hak untuk memperoleh pendidikan. dengan adanya sekolah inklusif diharapkan mampu belajar menerima dan memahami keadaan sesamanya yang berkekurangan sebagai bagian ciptaan Tuhan. mengucap syukur karena Tuhan menciptakan dirinya dengan keadaan normal. karena anak berkebutuhan khusus tidak jarang memiliki kelebihan atau bakat yang tidak dimiliki anak normal lainnya. Setiap anak mampu menerima satu dengan yang lain tanpa saling merendahkan atau mengejek. baik bagi anak normal maupun anak yang mengalami kelainan atau berkebutuhan khusus. Taman Kanak-Kanak Elim merupakan salah satu lembaga pendidikan yang menampung anak normal maupun anak berkebutuhan khusus untuk belajar bersama-sama dalam satu kelas. Pelaksanaan pendidikan inklusif diharapkan mampu membawa dampak yang positif bagi anak berkebutuhan khusus. Pelaksanaan pendidikan inklusi merupakan jawaban dari kebutuhan pelayanan pendidikan bagi anak yang berkebutuhan khusus. Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) memperoleh kesempatan yang lebih luas dalam memperoleh layanan pendidikan. Penanaman karakter sangat ditekankan pada setiap pembelajaran.

bahkan beberapa huruf masih sering salah dibacanya. bahkan menangis saat teman-temannya mengolok-olok. yaitu dengan bobot nilai 1 – 2 untuk bintang 1 dan 3 -4 untuk bintang 2. perilaku. lupa. Hal tersebut juga mempengaruhi kepercayaan diri yang kurang terhadap anak. sehingga anak mengalami perkembangan yang sangat baik. Anak sangat sulit dalam membaca kata. malu.2 Kegiatan bermain sambil belajar pada Taman Kanak-kanak Elim Sragen berjalan sangat antusias dan sangat baik. termasuk dalam membaca. Untuk mengatasi hal tersebut perlu diadakan tindakan untuk menolong kedua anak tersebut. maka penulis berusaha untuk mencari dan menemukan solusi dengan mengadakan penelitian tindakan kelas dengan Judul “UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA PERMULAAN MELALUI MEDIA BERMAIN LEMPAR DADU HURUF PADA ANAK TUNAGRAHITA KELAS B SEMESTER I DI TAMAN KANAK. . m dengan n dan lain sebagainya. anak memiliki nila rata-rata bintang 1 atau 2. tidak jenuh sehingga anak ingin terus dan terus melakukan hingga anak mampu membaca dengan baik dan lancar seperti teman-teman yang lainnya. Dua diantara 16 dari siswa di Taman Kanak-kanak Elim mengalami keterlambatan di dalam berbagai kegiatan bermain dan belajar. psikomotor maupun seni. Anak sering merasa minder. kadang belum mengerti. Untuk itu . kedua siswa ini mengalami ketertinggalan yang sangat jauh dengan siswa yang lain. d dengan b. yaitu memperbaiki proses pembelajaran yang membuat anak menjadi tertarik.KANAK ELIM SRAGEN TAHUN PELAJARAN 2010/2011”. kadang keliru membaca dengan huruf yang bentuknya hampir sama. Hasil penilaian dalam belajar anak-anak rata-rata menunjukan nilai bintang 5 ataupun bintang 4. Bintang 5 memiliki bobot nilai 9-10 baik dalam kognitif. Hasil penilaian untuk kemampuan membacanya. Contohnya: u dangan v. Dalam hal kognitif yakni kemampuan membaca permulaan juga menunjukkan hal sangat menggembirakan bahkan banyak diantara siswa di Taman Kanak-kanak Elim rata-rata sudah mampu membaca dengan lancar.

Penelitian ini dapat meningkatkan keaktifan. yakni belum tercapainya nilai maksimum membaca permulaan pada 2 anak yang mengalami keterlambatan maka penulis dapat merumuskan masalah. yaitu “apakah penggunaan media bermain lempar dadu huruf dalam pembelajaran dapat meningkatkan kemampuan membaca permulaan pada kelas B Taman Kanak-kanak Elim Sragen?” B. Penelitian ini dapat menjadi wawasan bagi guru dalam menggunakan media bermain lempar dadu huruf pada pembelajaran membaca permulaan. Bagi Siswa a. b. Bagi Guru a.3 A. motivasi. Tujuan Penelitian Berdasarkan perumusan masalah tersebut di atas maka tujuan penulis mengadakan penelitian adalah sebagai berikut: Untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan anak tunagrahita (ATG). 2. C. Penelitian ini dapat menumbuhkan motivasi untuk lebih kreatif menggunakan pembelajaran. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang terjadi di kelas B Taman Kanak-kanak Elim Sragen. minat dan partisipasi anak dalam kegiatan pembelajaran. berbagai metode guna meningkatkan kualitas . sehingga anak dapat belajar seraya bermain. melalui media bermain lempar dadu huruf pada kelas B semester I di Taman kanak-Kanak Elim Sragen. Manfaat Hasil Penelitian 1. b. Penelitian ini dapat memberikan suasana yang menyenangkan.

memiliki hak untuk memperoleh pendidikan sesuai dengan kebutuhan mereka. Kelemahan dan kelebihan dimiliki setiap anak. Anak yang mengalami kelemahan atau kelainan dalam berpikir secara umum sering disebut dengan anak di bawah normal atau tunagrahita. Pemahaman secara teoritis maupun praktis sangat diperlukan supaya guru ataupun para propesional dapat memberikan layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan mereka. masingmasing anak terlahir dalam keadaan yang berbeda. Mereka seperti anak-anak normal lainnya. Anak Tunagrahita Keadaan setiap manusia berbeda satu dengan yang lain. Kajian Teori 1. demikian juga dalam hal kemampuan berpikir.rata yang ditandai oleh keterbatasan intelegensi dan ketidak cakapan dalam interaksi sosial. masing-masing memiliki keunikan.4 BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS TINDAKAN A. a. Anak tunagrahita adalah merupakan individu yang utuh dan unik. Pengertian Anak Tunagrahita Tunagrahita menjelaskan tentang kondisi anak yang kecerdasannya dibawah rata. karena mereka memiliki keterlambatan didalam berpikir. yang ditandai oleh keterbatasan intelegensi dan ketidakcakapan dalam interaksi sosial.” Anak yang kecerdasannya di bawah rata-rata dikenal juga dengan anak keterbelakangan mental. Anak yang memiliki kecerdasan di bawah garis normal perlu suatu penanganan yang khusus. karena anak mengalami keterbatasan dalam kemampuan berpikirnya. Sutjihati Somantri (1996:83) menyatakan “Anak Tunagrahita adalah anak yang kecerdasannya jauh di bawah rata-rata. sukar untuk mengikuti program pendidikan di .

AAMD (America Association of Mental Deficiency) dalam Anggie Sa’adah (2009) menjelaskan bahwa: “Tunagrahita menunjukkan adanya keterbatasan dalam fungsi. Waktu terjadinya sebelum usia perkembangan yaitu 18 tahun. . keterampilan social. yakni pertama fungsi intelektual secara nyata berada di bawah rata-rata. maka penulis dapat menegaskan bahwa anak tunagrahita adalah anak yang mengalami hambatan dalam kecerdasannya. Sebagai contoh. dan waktu luang. Sebaliknya jika MA anak lebih rendah dari umurnya. artinya anak usia enam tahun memiliki MA enam tahun. yang mencakup fungsi intelektual yang dibawah rata-rata. fungsi akademis. maka anak tersebut memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Mental Age adalah kemampuan mental oleh seorang anak pada usia tertentu. lingkungan dan psikososial”. Untuk mendeteksi anak tunagrahita atau keterbelakangan mental ada baiknya memahami konsep Mental Age (MA). dimana berkaitan dengan keterbatasan pada dua atau lebih keterampilan adaptif seperti komunikasi. Pengajaran sistem klasikal memberikan masalah bagi anak karena kemampuan berpikirnya tidak seperti teman-teman lain yang cerdas ataupun yang normal. kedua adanya ketidakmampuan dalam menyesuaikan diri dengan norma dan tuntutan yang berlaku dalam masyarakat.5 sekolah. Keadaan ini nampak sebelum usia 18 Tahun. merawat diri sendiri. Gangguan dipengaruhi oleh faktor genetik. sehingga kecerdasannya berada jauh di bawah rata-rata yang ditandai oleh keterbatasan intelegensi sehingga kurang/tidak mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan. Berdasarkan pendapat di atas. Jika seorang anak memiliki MA lebih tinggi. Intellectual Disability Perspective & Challenges. AFMR dalam Astati (2010) menyatakan: “Seseorang dikatakan tunagrahita apabila memiliki 2 kriteria yang penting. anak yang berusia enam tahun akan memiliki kemampuan yang sepadan dengan anak usai enam tahun pada umumnya. Jadi dikatakan tunagrahita jika memenuhi dua komponen tersebut”. kesehatan dan keamanan.

Kelainan Sindrom Down terjadi karena kelebihan jumlah kromosom pada kromosom no 21 yang seharusnya dua menjadi tiga. Anak tunagrahita selalu memiliki MA lebih rendah daripada umurnya secara jelas. 3) Kondisi ibu saat hamil Kondisi ibu saat hamil mempengaruhi keadaan bayi yang dikandungnya. Hal ini bisa menyebabkan penderitanya mengalami kelainan fisik. Sindrom Down atau down sindrom memiliki karakter mata sipit. ketrampilan merawat diri dan memecahkan masalah. otot-otot melemah dan retardasi mental yakni hambatan perkembangan kecerdasan dan psikomotor. diantaranya seperti yang diungkapkan Sutjihati Somantri (1996:53) bahwa “penyebab tunagrahita ada 2 faktor. kekurangan gizi dan sebagainya akan berpengaruh kurang baik pada bayi yang . MA yang sedikit saja kurang dari umur tidak termasuk tunagrahita. jika selama mengandung ibu dalam keadaan sakit. hidung pesek. daya ingat. 2) Faktor keturunan Sifat menurun yang dibawa dari orang tua kepada anak.6 maka anak tersebut memiliki kecerdasan di bawah rata-rata. menunjukkan pemburukan yang jelas dalam bahasa. b. MA dipandang sebagai indeks dari perkembangan kognitif seorang anak. Faktor Penyebab Anak Tunagrahita Ketunagrahitaan dapat terjadi karena berbagai faktor. seperti kelainan jantung bawaan. yaitu faktor internal dan eksternal. sehingga jumlah kromosom tidak 46 tetapi 47. Faktor internal penyebab terjadinya kelainan diantaranya adalah: 1) Kelainan pada kromosom Inti sel manusia terdapat 23 pasang kromosom. totalnya adalah 46.” Faktor internal adalah faktor yang erat hubungannya dengan keadaan bayi selama masih ada dalam kandungan. strees. Anak yang memiliki tingkat kecerdasan di bawah rata-rata namun memilki kemampuan menyesuaikan diri dengan normal dan tuntutan yang berlaku dalam masyarakat tidak disebut anak tunagrahita.

3) Kecelakaan Kecelakaan dapat mengakibatkan terjadinya kecacatan pada baik pisik maupan psikis. kekurangan oksigen. obat-obatan atau narkotika. Trauma yang terjadi pada saat kelahiran dapat dialami ketika proses kelahiran yang sulit sehingga harus dibantu dengan alat (tang). infeksi dan keracunan ini dialami lewat penyakit-penyakit yang diderita oleh ibu. Konsumsi obat yang tidak sesuai petunjuk dokter dapat mengakibatkan kecacatan. Faktor penyebab terjadinya tunagrahita saat anak lahir misalnya: pemakaian alat bantu pada saat melahirkan. Gangguan pada metabolisme dan kekurangan gizi dapat menyebabkan terjadinya gangguan fisik maupun mental pada individu. Zat radioaktif saat penyinaran semasa bayi dapat mengakibatkan tunagrahita microcephaly. 4) Infeksi dan keracunan Infeksi dan keracunan yang terjadi selama janin dalam kandungan. toxoplasma. Metabolisme dan gizi sangat penting peranannya bagi pertumbuhan dan perkembangan individu. Faktor penyebab tunagrahita setelah anak lahir adalah. .7 dikandungnya. 4) Faktor Lingkungan atau sosial budaya Lingkungan berperan terhadap fungsi intelek anak. Faktor eksternal yang menyebabkan terjadinya kelainan adalah: 1) Gangguan metabolisme dan kekurangan gizi. kurang gizi. keracunan alkohol. penyakit. 2) Trauma dan Zat Radioaktif Benturan atau tekanan pada kepala dapat menyebabkan kecacatan pada otak. misalnya penyakit yang timbul karena virul rubella syphilis. kecelakaan. dan sebagainya. Faktor eksternal adalah faktor yang terjadi pada saat melahirkan dan setelah anak lahir. dan lain-lain. kegagalan dalam mengadakan interaksi yang terjadi selama perkembangan menjadi salah satu penyebab ketunagrahitaan.

Penulis mengelompokkan faktor penyebab ketunaan dalam dua kelompok. penyebab karena deprivasi lingkungan”. . Sebab-sebab masa prenatal. Klasifikasi Anak Tunagrahita Anak tunagrahita dapat diklasifikasikan sesuai dengan keberadaannya. Trainable Mempunyai kemampuan dalam mengurus diri sendiri. 2) faktor eksogen Yaitu faktor penyebab ketunaan diluar keturunan/ bawaan atau pengaruh yang datang dari luar setelah anak lahir. c. Educable Anak pada kelompok ini masih mempunyai kemampuan dalam akademik setara dengan anak reguler pada kelas 5 sekolah dasar. hal ini disebabkan oleh ketidakmampuan lingkungan dalam memberikan stimulus pada masa perkembangan.com/2009) : 1). sebab-sebab pada masa perinatal atau saat lahir. 2010) menunjukkan bahwa anak yang berasal dari keluarga kurang mampu memiliki kecenderungan untuk mempertahankan mentalnya pada taraf yang sama. Pertahanan diri dan penyesuaian sosial. Mulyono Abdurrahman (2003:24). menyatakan “penyebab tunagrahita ada 5 hal: genetik atau keturunan. yakni: 1) faktor endogen Yaitu faktor penyebab ketunaan yang datang dari dalam. sangat terbatas untuk kemampuan pendidikan akademik. 2). berbagai pendapat mengklasifikasikan anak tunagrahita sebagai berikut: Klasifikasi anak tunagrahita untuk keperluan pembelajaran menurut America Associationon Mental Retardation dalam Anggie (http://saunganggie. sebab-sebab pada saat pos natal.8 Berbagai penelitian melaporkan bahwa anak tunagrahita banyak ditemukan pada daerah yang tingkat sosial ekonominya rendah. blogspot. misalnya keturunan/ bawaan dari dalam kandungan. misalnya studi yang dilakukan oleh Kirk (Astati. bahkan prestasi belajarnya semakin berkurang dengan meningkatnya usia. Berdasar kedua pendapat di atas penulis menyimpulkan bahwa banyak faktor yang dapat menyebabkan terjadinya kelainan atau ketunaan.

Hal ini biasanya memerlukan pengawasan dan dukungan terus menerus. Biasanya bisa menyelesaikan pendidikan setingkat kelas IV SD umum. yaitu: 1) Ringan 2) Sedang 3) Berat 4) Sangat berat Berdasarkan pendapat di atas penulis menyimpulkan bahwa anak tunagrahita dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kelompok menurut kepentingannya. klasifikasi anak tunagrahita: 1) Anak tunagrahita ringan IQ 50 – 70 Mampu dididik diajarkan membaca. dapat melatih tentang dasar-dasar cara menolong diri sendiri dan kemampuan yang bersifat komunikatif. Termasuk mampu rawat. Kegiatan sehari-hari membutuhkan bantuan orang lain. Custodial Dengan pemberian latihan yang terus menerus dan khusus. tetapi berdasarkan kematangan sosial. Retardasi mental secara psikometrik menurut skala intelegensi Wechsler dalam Astati (2010) ada 4 taraf. yaitu Psikometrik dan perilaku adaptif. Hal ini juga mempunyai 4 taraf. Retardasi mental menurut kriteria perilaku adaptif tidak berdasarkan taraf intelegensi. Menurut Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa (2007:4) dalam buku Pedoman Penyelenggaraan Pendididkan Inklusif. dan berhitung. 2) Tunagrahita sedang IQ 25 – 49 Termasuk mampu latih. Klasifikasi dari segi keperluan pendidikan sebagai berikut: . Retardasi mental sangat berat (profound mental retardation) dengan IQ 20 kebawah. menulis.kebawah Tidak mampu menerima pendidikan secara akademis. Mereka biasanya menyelesaikan pendidikan setingkat kelas III SD umum. Retardasi mental sedang (mild mental retardation) dengan IQ 40-54.9 3). 3) Tunagrahita berat IQ 24. Klasifikasi anak tunagrahita/ retardasi mental secara Sosial-Psikologis terbagi menjadi 2. yaitu: 1) 2) 3) 4) Retardasi mental ringan (mild mental retardation) dengan IQ 55-69. Retardasi mental berat (sever mental retardation) dengan IQ 20-39.

menjahit bahkan bisa dilatih untuk berjualan. 2) Anak mampu latih (tunagrahita sedang/ Embisil) Anak tunagrahita sedang mampu diajarkan membaca. mampu berlindung dari bahaya karena itu anak tunagrahita ringan tidak memerlukan pengawasan ekstra. berhitung. berhitung. Mereka membutuhkan pengawasan. mereka mampu bekerja di lapangan namun perlu sedikit pengawasan. b) Kematangan motorik lambat c) Koordinasi gerak kurang 2) Intelektual . Anak tunagrahita sedang memiliki IQ antara 30 s/d 50. bimbingan aktivitas sehari-hari. Anak mampu mengikuti pendidikan walaupun tidak mencapai tingkat yang tinggi. untuk tunagrahita berat dapat kelihatan. Mereka memiliki IQ antara 50 s/d 70. misalnya membaca. menulis. Karakteristik Anak Tunagrahita Defli (2009) menyebutkan bahwa karakteristik anak tunagrahita dapat dilihat dari segi: 1) Fisik (penampilan) a) Untuk tunagrahita ringan hampir sama dengan anak normal. kondisi fisik mereka tidak begitu berbeda dengan anak normal lainnnya. kuliah. perhatian bahkan pelayanan. d. Mereka mampu menolong diri sendiri. 3) Anak mampu rawat (tunagrahita berat/ Idiot) Anak tidak mampu menerima pendidikan secara akademis. menulis .10 1) Anak mampu didik (tunagrahita ringan/ debil) Anak mampu dididik dan dilatih. Mampu dilatih ketrampilan-ketrampilan sederhana. anak tidak dapat mengurus dirinya sendiri apalagi berlindung dari bahaya. untuk mengurangi ketergantungan kepada orang lain. memasak. misalnya: sekolah menengah umum. Sedikit perhatian dan pengawasan diperlukan untuk perkembangan mental dan sosial anak tunagrahita sedang. Anak tunagrahita ringan lebih mudah diajak komunikasi. Anak tunagrahita berat memiliki IQ 29 kebawah.

p. Hal itu mungkin disebabkan kesulitan bagi anak tunagrahita dalam memberikan perhatian terhadap lawan main. 2) Kesulitan dalam menggeneralisasi dan mempelajari hal-hal yang baru. 5) Kurang dalam kemampuan menolong diri sendiri. 4) Cacat fisik dan perkembangan gerak. Mereka lambat dalam mengerjakan tugas-tugas yang sangatsederhana. penulis menyimpulkan bahwa anak tunagrahita memiliki karakteristik sebagai berikut: pada Exceptional dalam Angie Siti Sa’adah . mempunyai kesulitan dalam mempelajari pengetahuan abstrak atau yang berkaitan.11 a) Sulit mempelajari hal-hal akademik b) Anak tunagrahita ringan kemampuannya setaraf anak normal usia 12 tahun (IQ 50 – 70) c) Klasifikasi sedang setaraf dengan usia 7 – 8 tahun (IQ 30 – 50) d) Berat. 1996 (http://saunganggie. 6) Tingkah laku dan interaksi yang tidak lazim. fifth edition. Mereka selalu memerlukan latihan khusus untuk mempelajari kemampuan dasar. sulit menjangkau sesuatu .485-486. tetapi anak yang mempunyai tunagrahita berat tidak meakukan hal tersebut. Kebanyakan anak denga tunagrahita berat mempunyai ketebatasab dalam gerak fisik. Anak tunagrahta ringan dapat bermain bersama dengan anak reguler. 3) Kemampuan bicaranya sangat kurang bagi anak tunagrahita berat. dan mengurus kebersihan diri. membentur-beturkan kepala. Berdasarkan pendapat di atas. setaraf dengan anak usia 3 – 4 tahun (IQ 30 kebawah) 3) Sosial dan emosi a) Bergaul dengan anak yang lebih muda b) Suka menyendiri c) Mudah dipengaruhi d) Kurang dinamis e) Kurang pertimbangan/ kontrol diri f) Kurang konsentrasi. makan. misalnya: menggigit diri sendiri. Banyak anak tunagrahita berat bertingkah laku tanpa tujuan yang jelas. mudah dipengaruhi g) Dapat memimpin diri sendiri maupun orang lain Karakteristik anak tunagrahita menurut Brown Children. Kegiatan mereka seperti ritual.com/2009) menyatakan: 1) Lamban dalam mempelajari hal-hal yang baru. ada yang tidak dapat berjalan. dan mendongakkan kepala. 7) Tingkah laku kurang wajar yang terus menerus. dan selalu cepat lupa apa yang dia pelajari tanpa latihan yang terus menerus. seperti: berpakaian. misalnya: memutar-mutar jari di depan wajahnya dan melakukan hal-hal yang membahayakan diri sendiri. tidak dapat berdiri atau bangun tanpa bantuan.blogspot. Sebagian dari anak tunagrahita berat sangat sulit untuk mengurus diri sendiri. dll.

Contohnya: Sekolah reguler . e. adalah: 1) Sistem pendidikan segregasi Sistem pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) secara khusus dan terpisah dari anak-anak normal. b) Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB). Pendidikan Anak Tunagrahita Bentuk-bentuk penyelenggaraan pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus.12 1) Memiliki kemampuan berpikir yang rendah 2) Emosi yang labil bahkan kurang wajar 3) Sulit bersosialisasi 4) Kemampuan motorik yang kurang 5) Mengalami gangguan dalam berkomunikasi. Keuntungan sekolah segregrasi: a) Rasa ketenangan pada anak luar biasa b) Komunikasi yang mudah dan lancar c) Metode pembelajaran yang khusus sesuai dengan kondisi dan kemampuan anak d) Guru dengan latar belakang pendidikan luar biasa e) Sarana dan prasarana yang sesuai Kelemahan sekolah segregasi: a) Sosialisasi terbatas b) Biaya mahal 2) Sistem pendidikan integrasi Sistem pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) yang memungkinkan anak luar biasa memperoleh kesempatan mengikuti proses pendidikan bersama dengan siswa normal lainnya. Contohnya: a) Sekolah Luar Biasa (SLB).

3) Sistem Pendidikan inklusi Sekolah reguler yang menerima anak berkebutuhan khusus (ABK) dengan kurikulum dan sistem pendidikan sesuai dengan kebutuhan ABK di sekolah reguler tersebut. b) Pelayanan pendidikan kurang memadai. b) Biaya relatif murah c) Sosialisasi berkembang dengan baik d) Belajar sesuai dengan kebutuhan anak. Kelemahan: e) Memerlukan banyak tenaga pengajar maupun pendamping f) Memerlukan banyak sarana dan prasarana Pendidikan inklusif muncul dilatar belakangi oleh kurang meratanya pendidikan bagi anak-anak yang berkebutuhan khusus. Hal ini disebabkan karena pelayanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus biasanya berada di kota-kota kabupaten. Program ini dilandaskan pada UndangUndang Dasar 1945 pasal 31 tentang hak setiap warga negara untuk . Program penuntasan wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun diharapkan berhasil dengan baik. terutama ekonomi lemah yang berada di pedesaan. Keuntungan: a) Lokasi berada dekat dengan anak.13 Keuntungan: a) Merasa diakui kesamaan haknya dengan anak normal terutama dalam memperoleh pendidikan b) Bakat dapat berkembang dengan optimal c) Mempunyai kesempatan untuk melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi d) Harga diri bisa meningkat Kelemahan: a) Kurangnya tenaga ahli atau sumber daya yang memiliki pengetahuan yang cukup tentang anak disability.

anak 1994) menekankan berlajar bahwa selama tanpa memungkinkan. paedagogis. 2004). tujuan pendidikan nasional adalah berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Teknis penyelenggaraannya tentunya akan diatur dalam bentuk operasional. mandiri. kreatif. Landasan filosofis utama penerapan pendidikan inklusif di Indonesia adalah Pancasila yang merupakan lima pilar sekaligus cita-cita yang didirikan atas fondasi yang lebih mendasar lagi. sehingga motivasi untuk belajar dan berkarya menjadi lebih baik. . seyogyanya bersama-sama memandang kesulitan ataupun perbedaan yang mungkin ada pada mereka. dan empiris yang kuat. yang disebut Bhinneka Tunggal Ika (Mulyono Abdulrahman dalam Direktorat Pendidikan Luar Biasa. demikian juga halnya dengan anak yang mengalami kekurangan. penerapan pendidikan inklusif dijamin oleh UndangUndang nomor 20/2003 tentang sistem pendidikan nasional yang dalam penjelasannya menyebutkan bahwa penyelenggaraan pendidikan untuk peserta didik berkelainan atau memiliki kecerdasan luar biasa diselenggarakan secara inklusif atau berupa sekolah khusus. cakap. Landasan empiris. berakhlak mulia. Jadi melalui pendidikan peserta didik berkelainan dibentuk menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Anak dapat memiliki kepercayaan diri yang lebih baik. berilmu. yuridis. Landasan yuridis internasional penerapan pendidikan inklusif adalah Deklarasi Salamanca semua (UNESCO. Landasan paedagogis. yakni education for all. Akan tetapi pendidikan inklusif berdampak positif.14 memperoleh pendidikan. dan bertanggung jawab. Hal ini dilandasi pernyataan Salamanca yang merupakan perluasan dari program UNESCO. Penerapan pendidikan inklusif mempunyai landasan fisiologis. baik terhadap perkembangan akademik dan sosial. Di Indonesia. sehat. penelitian menunjukkan bahwa penempatan anak berkelainan di tempat khusus tidak efektif dan diskriminatif. mereka merasa diterima dan dapat hidup bersama-sama dengan anak normal lainnya.

Pembelajaran Anak Tunagrahita pada kelas Inklusif Pelaksanaan pembelajaran anak tunagrahita pada kelas inklusif adalah anak berkebutuhan khusus belajar bersama-sama dengan anak normal sebaya dengan kurikulum dan sistem pendidikan yang berbeda satu sama lain yang disesuaikan dengan kebutuhan anak. Profile sangat berguna yntuk memahami kebutuhan khusus anak dalam rangka penyusunan kebutuhan pembelajaran secara individu. sarana prasarana. Hal ini disebabkan anak tunagrahita kurang mampu berfikir abstrak. pendanaan dan lingkungan. dalam menangani anak yang memerlukan pelayanan khusus. media pembelajaran dan Alat Bantu pelajaran memegang peranan penting . Hal ini dimaksudkan dalam rangka membuat profile anak. Pelaksanaan pembelajaran anak tunagrahita di Taman Kanak-kanak Elim adalah belajar bersama-sama dengan anak normal lainnya dalam satu kelas/ kelompok dengan kurikulum yang sama. dengan demikian keperluan-keperluan anak berkebutuhan khusus tidak terabaikan dalam proses pembelajaran. Tenaga kependidikan. Penanganan kepeserta didikan meliputi perencanaan dan pelaksanaan assesmen. maka dibutuhkan alat pelajaran yang memadai. maka pembelajaran bagi anak tunagrahita pun .15 f. hal ini dikarenakan anak tunagrahita kurang mampu berfikir abstrak. Pelaksanaan pembelajaran anak tunagrahita pada kelas inklusif pada dasarnya adalah memperhatikan atau memberikan pelayanan khusus kepada setiap individu sebagai peserta didik. seperti dalam pembelajaran anak-anak pada umumnya .. diperlukan tenaga-tenaga yang mampu menangani anak berkebutuhan/ profesional. mereka membutuhkan hal-hal kongkrit. Pelayanan Khusus tersebut meliputi penanganan kepeserta didikan. tenaga kependidikan. Saran dan prasarana. namun bagi anak yang berkebutuhan . Alat Bantu pelajaran penting diperhatikan dalam mengajar anak tunagrahita. Kurikulum disusun berdasarkan kebutuhan anak sesuai profile tiap peserta didik yang membutuhkan pelayanan khusus. kurikulum. Agar terjadinya tanggapan tentang obyek yang dipelajari.

Tinjauan Tentang Membaca Permulaan a. Oleh karena itu.com/2009) “membaca pada hakekatnya adalah kegiatan fisik dan mental untuk menemukan .blogspot. Berdasarkan pendapat di atas. Dikatakan kegiatan fisik karena bagian tubuh khususnya mata beraktifitas dalam kegiatan membaca. 2. Dikatakan kegiatan mental karena bagian-bagian mengalami dalam anggie (http://saunganggie. Kemampuan membaca merupakan suatu kemampuan untuk memahami informasi atau wacana yang disampaikan oleh pihak lain melalui tulisan. (3) ketrampilan membaca cepat. Ada lima tahapan perkembangan membaca yaitu : (1) kesiapan membaca. memahami makna dari suatu simbol atau tulisan.16 khusus kurikulum disesuaikan dengan kondisi anak. penulis dapat menyimpulkan bahwa membaca merupakan kegiatan yang sangat kompleks yang mencakup aktifitas fisik dan mental untuk mengenal. Kemampuan membaca merupakan dasar untuk menguasai berbagai bidang studis. Jika anak pada usia sekolah tidak segera banyak memiliki kesulitan kemampuan membaca. maka anak akan dalam beberapa bidang studi. anak harus belajar membaca agar dapat belajar. Bagi siswa membaca juga menjadi modal agar dapat mengikuti kegiatan pembelajaran. Jika dirasa perlu anak yang berkebutuhan khusus diberikan penambahan jam belajar saat istirahat atau setelah jam pelajaran selesai. (2) membaca permulaan. (4) membaca luas dan (5) membaca yang sesungguhnya. Menurut Munawir Yusuf (2005:134) “membaca merupakan aktifitas auditif dan visual untuk memperoleh makna dari simbol berupa huruf atau kata. Membaca bukan hanya mengucapkan bahasa tulis tetapi juga memahami maknanya.” Menurut Tampubolon makna dari tulisan”. Penambahan pelayanan pendidikan (membaca.menulis) diberikan saat pelajaran berlangsung dilakukan Oleh guru pendamping. Pengertian Membaca Membaca merupakan modal bagi seseorang untuk mempelajari buku dan mencari informasi tertulis.

strategis.17 pikiran khususnya persepsi yaitu kemampuan untuk menafsirkan apa yang dilihat sebagai simbol atau kata dan ingatan terlibat didalam kegiatan ini. mengembangkan perbendaharaan kata. 3) Pengertian luas. Dalam membaca kita mempunyai banyak tujuan. Sejono (dalam Devid Haryalesmana. yaitu: 1) Pengertian sederhana. Interaktif maksudnya keterlibatan pembaca dengan teks tergantung pada konteks. 2009) “membangun pemahaman dari teks yang tertulis. Menurut Stauffer dalam Mathedu (2009) tujuan membaca membangun konsep.kata sebagai pengertian”. . yaitu pengertian yang memandang membaca sebagai proses memahami bacaan. Betapa pentingnya peranan membaca bagi kita semua. Tujuan membaca menurut Smith (Tampubolon. Membaca merupakan suatu proses maksudnya adalah informasi dari teks dan pengetahuan yang dimiliki oleh pembaca mempunyai peran utama dalam membentuk makna. b. Tujuan Membaca Membaca adalah gerbang menuju penguasaan ilmu pengetahuan. Berdasarkan subtansinya pengertian membaca dapat diklasifikasikan menjadi tiga golongan. menemukan makna dari bacaan atau tulisan bukan mengenali huruf-huruf”.2009) mengemukakan bahwa tujuan membaca dan menulis permulaan ialah “mengenalkan kepada siswa hurufhuruf abjad sebagai tanda suara dan melatih kecakapan anak untuk mengubah huruf menjadi suara dalam kata. tergantung pada situasi dan kondisi si pembaca. interaktif. Strategis maksudnya membaca yang efektif menggunakan berbagai strategi yang sesuai dengan teks yang dibaca. memberi pengetahuan. yaitu pengertian yang memandang membaca sebagai proses mengolah bacaan yaitu proses memaknai bacaan secara mendalam. yaitu pengertian yang memandang membacac sebagai proses pengenalan simbol-simbol tertulis bermakna. Beberapa hal yang tercakup dalam pengertian membaca yaitu: membaca merupakan suatu proses. 2) Pengertian agak luas.

Membaca membuat pengetahuan semakin bertambah. Pengertian Membaca Permulaan Membaca permulaan merupakan tahapan anak dalam ketrampilan membaca yang lebih tinggi. karena ilmu atau pengalaman nya yang didapat melalui membaca. “membaca permulaan adalah tahap awal anak belajar membaca dengan fokus pada pengenalan simbol-simbol huruf dan aspek-aspek yang mendukung pada kegiatan membaca lanjut”. Menurut Tarmizi (http://tarmizi. Membaca mampu mengembangkan intelektualitas seseorang.com/2009/06) membaca permulaan adalah “tahapan proses belajar membaca bagi siswa untuk memperoleh kemampuan dan menguasai teknik-teknik membaca dan menangkap isi bacaan dengan baik.18 menambahkan proses pengayaan pribadi.” Permulaan mengandung makna “awal”.com/2008/12/02). Seseorang yang gemar membaca akan nampak berbeda dengan orang yang tidak suka membaca saat mengemukakan pendapat atau berargumentasi terhadap suatu masalah. mengembangkan intelektualitas. banyak halhal positif yang dapat kita ambil melalui membaca. kesedihan. karena dengan membaca pengetahuan seseorang akan bertambah. sehingga anak dapat menyuarakan tulisan tersebut.wordpress. Berdasarkan pendapat diatas penulis menyimpulkan bahwa tujuan membaca diantaranya: 1) Mengembangkan intelektualitas/ melatih kecakapan 2) Mendapatkan informasi 3) Membangun konsep diri 4) Melepaskan diri dari kejenuhan. mengembangkan konsep diri dan sebagai suatu kesenangan. Menurut M. yakni kecakapan atau ketrampilan mengenal tulisan sebagai lambang atau simbol bahasa. membaca permulaan dapat diartikan suatu tahapan awal yang dilakukan oleh anak untuk memperoleh kecakapan dalam membaca. bahkan keputusasaan 5) Membaca karena hoby c. Brata (http://Mbahbrata-edu. Ilmu yang tidak kita mengerti akan kita mengerti lewat membaca. . mengerti dan memahami problem orang lain.blogspot.

pembaca belum memiliki ketrampilan kemampuan membaca yang sesungguhnya tetapi masih dalam tahap belajar untuk memperoleh ketrampilan/ kemampuan membaca. d. Tahap Pelaksanaan Membaca Permulaan Pembelajaran membaca perlu melalui tahap-tahap yang sesuai dengan perkembangan dan kemampuan anak. mengenali dan membedakan gambar-gambar bunyi serta kombinasinya. diuraikan kemudian diberi makna. rangkaian tulisan yang dibacanya menjadi suatu rangkaian bunyi dalam kombinasi kata. Brata (http://Mbahbrata-edu. Syarat-syarat yang diperlukan untuk memperoleh kemampuan membaca adalah: 1) Kemampuan membunyikan lambang-lambang tulis 2) Penguasaan kosakata untuk memberi arti 3) Kemampuan memasukkan makna. sebagai dasar anak dalam pembelajaran membaca berikutnya.com/2009). Membaca permulaan yang menjadi acuan adalah membaca merupakan proses recoding dan decoding. Membaca pada tingkatan ini merupakan kegiatan kegiatan belajar mengenal bahasa tulis. Tahap-tahap pelaksanaan membaca permulaan yang dikemukakan oleh M. Melalui tulisan itulah siswa dituntut dapat menyuarakan lambang-lambang bunyi bahasa tersebut. Pada tingkatan membaca permulaan. kelompok kata dan kalimat bermakna.blogspot. yakni : 1) Pembelajaran membaca tanpa buku . ada dua. melalui proses decoding gambar bunyi dan kombinasinya diidentifikasikan. Dengan proses tersebut. Proses decoding merupakan proses psikologis berupa kegiatan berpikir dalam mengolah informasi.19 Berdasarkan pendapat di atas penulis dapat simpulkan bahwa membaca permulaan adalah tahap awal anak belajar mengenal huruf atau symbol bunyi dan menyuarakannya. Proses recoding yaitu proses fisik yang berupa kegiatan mengamati tulisan secara visual.

1) Membaca tanpa buku meliputi: merekam bahasa siswa. Misalnya : kartu gambar. dan tahap menggunakan buku yakni setelah anak mengenal atau paham tentang simbolsimbol bunyi atau huruf-huruf. dan sebagainya. Berdasarkan pendapat di atas penulis simpulkan bahwa tahap membaca permulaan adalah tahap membaca tanpa buku. 2) Membaca dengan menggunakan buku. dadu huruf. penguasaan pada abjad belum sepenuhnya dikuasai. anak diperhadapkan dengan gambar-gambar yang telah diketahui anak sehingga anak tertarik. Buku bergambar. jadi masih ada huruf yang sulit diucapkan dan sering salah dibaca. membaca gambar dan sebagainya. kartu huruf. anak dihadapkan pada tulisan-tulisan yang ada di buku. Anak terkadang ingin mengetahui cerita tentang gambar tersebut. Tahap membaca permulaan umumnya pada masa peka yaitu usia enam atau tujuh tahun pada anak normal umunya. 2) Pembelajaran membaca dengan buku Pembelajaran dengan kegiatan membaca dengan menggunakan buku sebagai bahan pelajaran. Membaca cerita sederhana. Misalnya ketika anak membaca “baju” ditunjukkan gambar baju atau bendanya. yakni: membaca tanpa buku dan membaca menggunakan buku”. Bantuan yang diberikan umumnya berupa konkretisasi kata yang dibaca. Cara ini menyenangkan untuk anak usia dini sesuai dengan karakteristiknya yaitu masa bermain. . kartu kalimat. “Dalam pelaksanaan metode SAS. dan yang lainnya. Hal ini sangat baik bagi anak untuk dapat memahami arti dari suatu bacaan dalam bentuk sederhana. Pada tahap ini anak perlu bantuan seperlunya selama membaca. menampilkan gambar sambil bercerita. Menurut Darmiyati Zuhdi (2001:4). Baik kegiatan membaca buku pelajaran. pelaksanaan membaca permulaan dibagi menjadi 2 tahap. dan pada usia sembilan atau sepuluh tahun pada anak tunagrahita. kartu kata. sehingga tahap pembelajaran seperti ini membuat anak bersemangat dan antusias. Pada tahap ini penguasaan kosa kata pada anak masih sangat terbatas.20 Dilakukan dengan cara mengajar dengan menggunakan media atau alat peraga selain buku. anak diperhadapkan dengan bacaan. dengan kalimat sederhana dapat memotivasi anak untuk membacanya.

e. Tarmizi (http://tarmizi. Metode kata lembaga. 2) Metode Kata lembaga Metode kata lembaga menggunakan pendekatan kata. media lempar dadu huruf dan media yang menarik lainnya. misalnya membaca menggunakan media kartu bergambar. perbendaharaan kata. Kita bedakan kata-kata tersebut. Pendekatan yang dipakai dalam metode eja adalah pendekatan harfiah : dalam metode ini kita memperkenalkan abjad a sampai z beserta bunyi huruf atau fenom kepada anak. Metode Pengajaran Membaca Agar pembelajaran membaca berhasil dengan baik. 4) Metode SAS (Struktural Analisis Sintesis) Metode global kata yang dikenalkan kepada anak sudah berbentuk kalimat sederhana. dan metode SAS 1) Metode eja / bunyi Adalah belajar membaca yang dimulai dari mengeja huruf demi huruf. Kemudian menguraikan kata tersebut menjadi suku kata dan huruf kemudian merangkai lagi. mengenal kata. menawarkan berbagai metode yang dipergunakan bagi bunyi. pemahaman dan kesenangan membaca.com/2008/12/08). 3) Metode Global Metode Global menggunakan pendekatan kalimat. perlu menggunakan metode yang menarik. Abdurrahman (2003:214) mengemukakan metode pengajaran membaca bagi anak pada umumnya: 1) Metode membaca dasar Menggabungkan berbagai prosedur untuk mengajarkan kesiapan. kita kenalkan kepada anak suku kata. metode global. huruf dan bunyi huruf. .21 Pengembangan yang tepat pada tahap membaca permulaan perlu sekali. Dalam metode ini kita mengajarkan membaca dengan menggunakan kata yang telah di kenal anak. biasanya yang paling cocok dan sesuai alam anak yaitu membaca sambil bermain. 2) Metode fonik Pemahaman pada pengenalan kata melalui proses mendengarkan bunyi huruf 3) Metode linguistik Anak diberikan suatu bentuk kata yang terdiri dari konsonan-vokal atau konsonan-vokal-konsonan. kemudian diajak memecahkan kode tulisan menjadi bunyi percakapan.wordpress. Sedangkan pada metode SAS hanya menggunakan satu kata saja.

(2) Kreativitas . waktu. yaitu (1) Sifat ingin tahu. bercakap-cakap. faktor. suhu udara .batuk. sakit gigi.keadaan fungsi jasmani terutama fungsi panca indra. (2) Faktor Fisiologis . cuaca. (1) Keadaan jasmani seperti lelah. b) Faktor sosial adalah gangguan yang terjadi pada proses belajar. (3) simpati kepada orang lain .faktor yang kemampuan membaca adalah sebagai berikut: 1) Faktor yang berasal dari luar individu a) Faktor non sosial seperti: keadaan udara . a) Faktor Fisiologis. akan tetapi semua merupakan alat untuk membimbing anak-anak dalam keberhasilan belajar umumnya dan membaca khususnya. Pembelajaran Membaca Anak Tunagrahita Untuk mencapai prestasi belajar yang optimal. alat peraga ). Metode pembelajaran di atas dapat diterapkan dalam pembelajaran membaca permulaan. maka perlu memperhatikan faktor. Guru hendaknya memilih metode yang cocok dan sesuai dengan situasi dan kondisinya. Dari pendapat di atas penulis menyimpulkan bahwa ada berbagai macam metode didalam pembelajaran membaca yang masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. b) Faktor Psikologis.22 4) Metode SAS Memecahkan kode tulisan yang berupa kalimat sederhana 5) Metode Alfabetik Mengenalkan huruf.faktor yang mempengaruhi kemampuan membaca yang dikemukakan oleh beberapa ahli: Menurut Slameto (1993:249). ngantuk. lesu. Pemilihan metode pembelajaran sebaiknya dipergunakan dengan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut: 1) Menyenangkan bagi anak 2) Tidak menyulitkan anak untuk mengikuti/ menerima 3) Efektif dan efisien f. seperti keadaan lingkungan kelas. (4) memperbaiki kegagalan. menulis. letak tempat tinggal alat belajar ( alat tulis. Merangkai huruf 6) Metode pengalaman bahasa Mendengar. 2) Faktor yang berasal dari dalam individu. mempengaruhi .

kata-kata sederhana. Penggunaan metode eja ini dikombinasikan dengan berbagai alat peraga yang menarik perhatian anak. kartu huruf.23 (5) rasa aman . termasuk keadaan fungsi jasmani. Video dan sabagainya. (5) ketrampilan berpikir kematangan mental. gambar. Anak tunagrahita adalah anak yang mengalami gangguan dalam kematangan berpikirnya untuk itu pembelajaran membaca bagi anak tunagrahita dilakukan dengan menggunakan metode dan media yang sesuai dengan karakteristik dan kemampuan anak. keadaan atau fungsi mental. Metode yang digunakan metode eja. suku kata. (2) kematangan visual. Peneliti mencoba untuk menggunakan media lempar dadu huruf dalam pembelajaran membaca permulaan yang bertujuan memberi model lain yang dapat membangkitkan minat anak dalam membaca. kematangan berpikir. (6) adanya ganjaran atau hukuman. motivasi maupun minat. (3) kemampuan mendengarkan. (6) perkembangan motorik. (7) kematangan sosial dan emosional. Menunut Kirk. (8) motivasi dan minat. Kliebhan dan Lerner seperti dikutip oleh Mercer (dalam Mulyono Abdurrahman. sehingga mampu menimbulkan motivasi belajar membaca pada anak untuk tercapainya tujuan. Berdasarkan pendapat di atas penulis simpulkan bahwa banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan membaca. anak belajar mulai dari pengenalan huruf demi huruf. 2003 : 201) ada delapan faktor yang (1) dan memberikan sumbangan bagi keberhasilan belajar membaca yaitu: perkembangan wicara dan bahasa. Pelaksanaan pembelajaran membaca bagi anak tunagrahita di Taman Kanak-Kanak Elim dilakukan dengan memperhatikan kemampuan anak serta pemilihan berbagai macam metode dan berbagai media yang tepat. . (4) memperhatikan. misalnya dengan puzle.

“ kata media berasal dari bahasa latin medium adalah sesuatu terletak ditengah (antara dua kutub atau antara dua pihak) atau suatu alat “. b. dkk. Menurut Association for Educational Communications Teahnology (AECT) di Amerika yang dikutip oleh Wikipedia (2009). Terkait dengan pembelajaran . 2003 : 6) “media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk belajarnya”.Media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim pesan ke penerima pesan. perhatian dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses pembelajaran terjadi dan berlangsung lebih efisien. Tinjauan tentang Media Permainan Lempar Dadu Huruf a. media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari guru ke siswa sehingga dapat merangsang pikiran. perasaan dan perhatian anak didik untuk mencapai tujuan pendidikan Menurut Wijaya Kusumah (2008). “Media pendidikan ialah segala bentuk saluran yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan / informasi”. adalah sebuah . Pengertian Media Media berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari kata medium yang secara harfiah mempunyai arti antara. Menurut Gagne (dalam Arief S. media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyampaikan pesan dari pengirim pesan kepada penerima pesan sehingga dapat merangsang pikiran . Dalam Wikipedia menyebutkan “kata Dadu berasal dari bahasa latin “datum” yang berarti suatu yang diberikan atau dimainkan. Sadiman. perantara atau pengantar. Dari pendapat tersebut diatas dapat disimpulkan. Pengertian Media Lempar Dadu Huruf Dadu adalah bentuk dari suatu benda yang biasanya kita gunakan dalam permainan. perasaan.24 3.

b) Obyek yang kecil – dibantu dengan proyektor mikro. waktu dan daya indra seperti : a ) Obyek terlalu besar . kata dan kalimat sederhana. Tujuan pembelajaran ini untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan pada anak. seperti media dalam pendidikan lainnya. untuk keperluan meningkatkan kemampuan anak dalam membaca permulaan. dkk. film dan gambar c) Gerak yang terlalu lambat atau dapat dibantu high speed photography atau low speed photography. c. . lingkaran atau lubang dua pada satu sisi demikian seterusnya pada sisi-sisi yang lainnya. Sadiman . (2003 : 16-17) media dalam pendidikan mempunyai fungsi sebagai berikut: 1) Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalistik (dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan belaka). dengan menebak sisi yang muncul pada setiap lemparan.25 obyek kecil yang umumnya berbentuk kubus yang digunakan untuk menghasilkan angka atau simbol acak”. film bingkai . Pada keenam sisisisinya biasanya tertera gambar lubang-lubang yang berbeda jumlahnya. Menurut Arief S. 3) Dengan menggunakan media pendidikan secara tepat dan bervariasi dapat diatasi sikap pasif anak didik dalam hal ini media berguna untuk: a) Menimbulkan kegairahan belajar. Dadu adalah sebuah benda yang berbentuk kubus. merangkai huruf menjadi suku kata. Fungsi Media Permainan Lempar Dadu Huruf Media bermain lempar dadu huruf memiliki fungsi untuk memotivasi anak dalam belajar lewat bermain. ataupun dengan ketentuan tertentu yang disepakati dalam permainan tersebut. Dadu biasanya digunakan sebagai alat untuk berjudi. Penulis menggunakan dadu yang dirancang dengan simbol huruf pada setiap sisi-sisnya sebagai media pembelajaran dalam rangka pengenalan huruf. film bingkai. Gambar lubang atau lingkaran satu pada satu sisi. 2) Mengatasi keterbatasan ruang .bisa digantikan dengan realitas gambar. film dan model.

speed phography. Menurut Oemar Hamalik (2005: 19) manfaat secara umum media pembelajaran memiliki fungsi seperti berikut: 1) Memperjelas penyajian pesan agar tidak bersifat verbalistik.lapse atau high. c) Memungkinkan anak didik belajar sendiri menurut kemampuan dan minatnya. dan memungkinkan siswa menguasai materi lebih baik.diagram. maka guru akan banyak mengalami kesulitan bilaman latar belakang guru dan siswa sangat berbeda. dan daya indra. foto. gambar dan lain sebagainya.gambar. Dalam situasi demikian media pembelajaran dapat menimbulkan kegaerahan belajar dan memungkinkan terjadinya interaksi secara langsung antara anak didik dengan lingkungan serta memungkinkan anak didik belajar sendiri menurut kemampuan dan minatnya. Menurut Wijaya Kusumah (2008). sedang kurikulum. 3) Menggunakan media pembelajaran secara tepat dan bervariasi akan dapat diatasi sikap fasif anak didik atau siswa. masalah ini dapat diatasi dengan media pendidikan.26 b) Memungkinkan interaksi yang lebih langsung antara anak didik dengan lingkungan. terakhir konsep yang sangat luas seperti gunung berapi. 2) Bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh siswa. dan materi pendidikan ditentukan sama untuk setiap siswa. 4) Dengan sifat yang unik pada setiap siswa ditambah lagi dengan lingkungandan pengalaman yang berbeda . sedang gerak yang lambat atau cepat bisa dibantu dengan time . film bingkai. iklim dan divisualisasikan dalam bentuk film . obyek yang terlalu kecil bisa diganti proyektor mikro. 3) Metode mengajajar akan lebih bervariasi. film bingkai. waktu. 2) Mengatasi keterbatasan ruang. video. kemudian obyek yang terlalu komplek bisa dibantu dengan modul. film bingkai. artinya hanya berbentuk kata-kata tertulis atau tulisan. tentang kejadian masa lalu dapat ditampilkan kembali lewat rekaman film. gempabumi. . media dapat mempertinggi proses belajar siswa dalam gilirannya dapat mempertinggi hasil belajar yang tercapai. misalnya obyek yang besar diganti gambar. Ada beberapa alasan diantaranya yang berkenan dengan manfaat media pengajaran dalam proses belajar siswa antara lain: 1) Pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar.

Berdasarkan pendapat di atas fungsi media dapat penulis simpulkan sebagai berikut: 1) adanya media penyajian pesan tidak terlalu bersifat verbalistik. Fungsi dari dadu huruf ini adalah untuk menebak huruf yang akan keluar pada sisi yang muncul/posisi atas atau menurut kesepakatan dalam permainan ini. 2) Objek terlalu luas atau sempit yang sebenarnya tidak dapat ditampilkan akirnya dapat ditampilkan. Kelemahan dan Kelebihan Permainan Lempar Dadu Huruf Tidak ada satupun metode pengajaran yang tidak memiliki kekurangan. 5) Utuk memutivasi siswa belajar sendiri Media ini merupakan alat peraga yang setiap sisinya memiliki simbol huruf. Anak membaca dari hasil permainan tersebut. Demikian dan mengaktifkan siswa . Anak lebih terampil dalam motorik halusnya maupun motorik kasarnya berkembang dan anak semakin sehat. d.27 4) Siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar. Selain fungsi utama yang disebutkan di atas. Selanjutnya menyusun sisi-sisi yang muncul atau yang telah disepakati menjadi susku kata. media ini jaga berfungsi untuk meningkatkan aktifitas fisik dan motorik lainnya. semua metode pembelajaran memiliki kelemahan dan kelebihan. mendemostrasikan dan sebagainya. merangakai menjadi suku kata. dengan bimbingan guru bagi mereka yang belum atau kurang mampu. sebab tidak hanya mendengarkan uraian guru. atau penyajian menjadi lebih jelas. tetapi juga aktifitas lain seperti mengamati. Media ini berfungsi sebagai sarana mengenalkan atau mengingatkan kembali pada anak pada huruf-huruf. kata dan kalimat sederhana untuk meningkatkan kemampuan membaca mereka. kata atau kalimat-kalimat sederhana. melakukan. 3) Memfariasikan penyajian pendidikan dalam penyajian pendidikan 4) Untuk menarik perhatian siswa dan memutivasi siswa.

lemparan keempat vokal yang muncul adalah u Kata yang muncul setela dadu disusun adalah b i l u 3) Memerlukan banyak sekali dadu. kadangkadang vokal yang muncul setelah digabung dengan konsonan tidak membentuk kata yang memiliki arti. disusun kemudian dibaca. karena anak harus melempar terlebih dahulu sebuah dadu kemudian memperhatikan untuk dibaca. tidak hanya sebanyak jumlah huruf dalam satu abjad akan tetapi lebih dari itu. ada kelemahan dan kelebihannya.28 juga dengan pembelajaran dalam bentuk permainan lempar dadu huruf ini.lemparan pertama konsonan yang muncul adalah b . Kelebihan dari pembelajaran membaca permulaan lewat bermain lempar dadu huruf ini adalah : 1) Anak memilih sendiri dadu huruf yang dilemparnya sehingga anak bersemangat.lemparan kedua vokal yang muncul adalah i . agar kata-kata yang dapat disusun oleh anak dalam jumlah yang banyak dan bervariasi. Kelemahan dari pembelajarandengan mempergunakan media lempar dadu huruf adalah: 1) Menyita banyak waktu Untuk membaca satu huruf memerlukan banyak waktu. diliempar.lemparan ketiga konsonan yang muncul adalah l . Untuk membaca suku kata memerlukan waktu yang agak lama karena harus melempar dua atau tiga huruf kemudian disusun dan dibaca. Untuk membaca suku kata anak harus mengambil empat dadu (KVKV). 2) Kadang-kadang huruf yang muncul tidak membentuk kata yang punya arti. Pemberian kesempatan kepada anak untuk menentukan . Contoh: . lalu mengambil dadu pada kelompok konsonan dan dilemparkan. Misalnya anak mengambil dadu pada kelompok vokal dan dilemparkan. Dadu harus dipersiapkan dalam jumlah yang banyak.

Pemberian reward atau penghargaan setiap keberhasilan anak akan membuat anak lebih bersemangat dan merasa dihargai. melempar. Saat anak memilih ada aktifitas dalam segi kognitif dan motorik halus. Anak yang belum dapat menyusun huruf menjadi kata akan berusaha mencoba lagi sehingga mereka memiliki keinginan untuk mencoba dan mencoba lagi. motorik halusnya juga bekerja. Guru berperan sebagai motivator. 3) Anak tertarik untuk mengetahui huruf apa yang keluar dan kata apa yang muncul dari setiap lemparan yang dibuatnya sendiri. anak merasa bersemangat dan kepercayaan dirinya tumbuh. Saat menyusun aktifitas dalam kognitifnya bekerja. lalu kita jelaskan kepada anak informasi seputar dadu sesuai dengan tingkat kemampuan berpikir anak. menebak huruf yang muncul dan menyusun serta membacanya. e. Anak akan merasa bangga jika huruf yang dilemparnya dapat membentuk suatu kata yang memiliki arti. Komentar apa yang diberikan anak tentang benda ini. alat permainan yang akan kita pakai sebagai media pembelajaran. Anak ingin segera membaca dari hasil lemparan yang telah disusun tadi dengan mengaktifitaskan aspek kognitifnya. melempar dadu dengan antusias. Langkah-langkah Pengajaran dengan Menggunakan Media Permainan Lempar Dadu Huruf Dalam pembelajaran melalui media bermain lempar dadu huruf ini terlebih dahulu diperkenalkan kepada anak. sehingga anak aktif. yakni dadu. dalam hal ini. memotivasi anak untuk mengambil. saat anak melempar ada aktifitas dalam motorik kasarnya. menyusun dan membacanya. bahwa dadu memiliki 6 . Dijelaskan kepada anak. 2) Tidak mengantuk dan bosan karena anak beraktifitas dengan aktif. Setelah anak memberikan pendapatnya tentang dadu.29 pilihan merupakan hal yang menyenangkan bagi anak. Setelah melempar anak dengan senangnya cepatcepat ingin mengetahui apa isi/ bacaan dari lemparan yang akan disusunnya. Anak diberi kesempatan untuk mengambil/memilih.

Penerapan Pembelajaran dengan Menggunakan Media Bermain Lempar Dadu Huruf pada Anak Tunagrahita Anak tunagrahita dalam belajar perlu ditunjukkan dengan benda kongkrit (simbol bunyi. dua lubang hingga enam lubang. Dadu yang sering kita lihat setiap sisinya terdapat lubang yang setiap sisinya berbeda jumlahnya satu dengan sisi yang lain. Dadu dikelompokkan menjadi 2. Permainan ini dilakukan berulang-ulang sehingga anak aktif dalam pembelajaran. dari satu lubang. Kelompok 1 adalah dadu dengan huruf vokal kelompok 2 dadu dengan huruf konsonan. masing-masing sisi terdapat satu simbol huruf. merasa senang sehingga kemampuan membaca permulaan pada anak mengalami peningkatan f. Penerapan permainan lempar dadu huruf bertujuan untuk memotivasi anak dalam mengikuti pelajaran. Anak disuruh mengamati dan menyebutkan huruf apa yang muncul atau yang berada pada posisi atas. Anak mengambil 1 kali dan melempar dadu dari kelompok satu/huruf vokal. sehingga tercapai tujuan pembelajaran. Hal ini dilakukan untuk mengenal huruf. Anak tunagrahita memiliki kemampuan berpikir di bawah temanteman normal lainnya. Setelah empat kali lemparan anak memperhatikan dan membaca huruf yang telah terkumpul dan tersusun.. dilanjutkan dengan mengambil dadu bergantian dari kelompok satu dan dua selama empat kali. membaca kata-kata sederhana. Penerapan permainan lempar dadu huruf adalah sebagai media serta alat peraga yang digunakan dalam pembelaran pengenalan huruf. Pada pembelajaran ini dadu setiap sisinya diberi simbol huruf.30 sisi. Jika anak telah melakukan berkali-kali dan telah paham atau mampu membaca huruf yang ada pada posisi atas. Melaksanakan pembelajaran yang menyenangkan bagi anak tunagrahita adalah salah satu cara untuk membangkitkan motivasi anak dalam pembelajaran. membaca suku kata. kemudian mengambil dan melempar dadu dari kelompok huruf konsonan sesuai pilihan anak. dalam pembelajaran membaca) secara kongkrit lewat tulisan. Anak ditunjukkan lambang-lambang dari setiap .

dilempar lalu keduanya disusun sehingga muncul suku kata. sesuai dengan karakteristik anak pembelajaran yang diberikan hendaknya dikemas dalam bentuk permainan yang mendidik. Penerapan pembelajaran dengan menggunakan berbagai media yang variatif akan tidak membuat anak menjadi bosan. Dengan membaca seseorang mengerti banyak hal. Kerangka Berfikir Membaca merupakan salah satu bidang akademik yang harus segera dimiliki oleh siswa termasuk anak tunagrahita ringan. Demikian juga pengaruhnya terhadap anak tunagrahita yang bersama-sama belajar dengan anak normal lainnya sangat kelihatan. termasuk anak tunagrahita. Untuk membaca kata dilakukan empat kali lemparan dari dadu KVKV. Karena manfaat membaca mampu meningkatkan belajar pada bidang akademik yang lain. Untuk membaca suku kata anak diberi kesempatan mengambil satu dadu kelompok konsonan. B. Usia dini adalah masa bermain. yang mampu merangsang sel otak sehingga anak memiliki perkembangan dan pertumbuhan yang baik secara optimal. Pembelajaran membaca permulaan di Taman Kanak-Kanak dapat diberikan lewat suatu permainan yang menyenangkan anak.31 huruf yang ada dalam dadu. melempar dan membacanya. hal ini dibuktikan lewat pengamatan yang dilaksanan dan hasil nilai yang diperoleh siswa tunagrahita pada pembelajaran membaca permulaan. karena membaca mampu meningkatkan prestasi belajar pada bidang akademik lainnya. Penggunaan media bermain lempar dadu huruf pada Taman KanakKanak Elim menjadikan suana penuh dengan semangat dan antusias. kemudian dilempar dan satu dadu kelompok vokal. kemudian disuruh mengambil. Memperoleh informasi-informasi dan menjadikan seseorang . Membaca merupakan salah satu bidang akademik yang harus segera dimiliki siswa. tidak membebani sehingga anak merasakan belajar seraya bermain. kemudian disusun sehingga membentuk kata yang dapat dibaca anak. bersemangat dan ingin mengetahui leebih banyak lagi.

Permainan dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk mengetahui huruf-huruf yang ada. Secara umum faktorfaktor tersebut dapat diidentifikasi seperti guru. siswa. bentuk permainan dapat menarik anak untuk belajar dengan tanpa beban. Tahap membaca permulaan umumnya diajarkan pada saat tibanya masa peka. anak belajar memperoleh kemampuan dan cara-cara dalam membaca dan menangkap isi bacaan. bekerja dengan penuh inisiatif. mengembangkan intelektualitas Membaca mempunyai nilai besar untuk orang dewasa karena berkontribusi pada perkembangan. Aktifitas mental mencakup ingatan dan pemahaman. Membaca permulaan merupakan tahapan proses belajar membaca.S. mendapatkan informasi untuk memecahkan konflik dan mengenali dan lain sebagainya. serta tehnik mempelajari materi pelajaran. menambah proses pengayaan pribadi. Sehingga anak merasakan sesuatu kesenangan didalam belajar bukan suatu beban atau tekanan. materi pelajaran. Membaca merupakan kata kerja dengan kata dasar “baca” yang memiliki arti melihat tulisan dan megerti atau dapat melisankan apa yang tertulis (W. Usia peka atau usia dini merupakan fase anak bermain. Membaca dapat digunakan untuk mengembangkan perbendaharaan kata. seperti dapat membebaskan dari tekanan. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan siswa dalam membaca. kondisi lingkungan. untuk itu segala pembelajaran yang diberikan kepada anak harus dalam bentuk bermain. . Membaca merupakan kegiatan fisik dan mental untuk menemukan makna dari tulisan aktifitas fisik yang berkait dengan membaca adalah gerak mata dan ketajaman penglihatan. Poerwadarminta 1984 : 71). Demikian juga dalam belajar membaca permulaan.32 bertambah luas wawasannya. Membaca bukanlah suatu kegiatan yang mudah. yaitu enam tahun atau tujuh tahun bagi anak normal atau sembialn atau sepuluh tahun.J. kemudian dapat dilanjutkan dengan kata-kata yang sangat sederhana sesuai dengan usia dan kemampuan anak.

Media ini melibatkan siswa secara aktif. Adapun kerangka berpikir pembelajaran dengan menggunakan media bermain lempar dadu huruf adalah sebagai berikut : . Untuk itu perlu dilakukan suatu strategi untuk membuat anak tertarik pada membaca yaitu dengan pembelajaran melalui media bermain lempar dadu huruf. Pemberian reward pada setiap kata yang memiliki makna akan lebih meningkatkan antusias anak sehingga anak terangsang terus pada akhirnya anak memperoleh pengetahuan dan pemahaman konsep lebih mendalam terhadap materi yang diajarkan dengan menggunakan media permainan lempar dadu huruf dalam membaca permulaan untuk anak tunagrahita ringan diharapkan prestasi belajarnya meningkat. kecakapan untuk melakukan sesuatu.33 Kata “kemampuan” berasal dari kata dasar “mampu” yang berarti mengandung makna yang sama dengan kata “bisa atau sanggup melakukan sesuatu”. Permainan yang dilakukan sesuai peraturan yang telah ditetapkan membuat anak belajar untuk berdisiplin. Sedangkan kemampuan diartikan kesanggupan.

maka kemampuan membaca permulaan siswa tunagrahita kelas B Taman Kanak-kanak Elim Sragen meningkat”.34 Kondisi awal kemampuan membaca sebelum Pembelajaran menggunakan media Bermain lempar dadu huruf Tindakan Pembelajaran menggunakan media bermain lempar dadu huruf Kemampuan membaca permulaan Kondisi Akhir setelah menggunakan media bermain lempar dadu huruf Keterangan: Kondisis awal adalah kondisi anak sebelum pembelajaran dengan menggunakan media lempar dadu huruf dilaksanakan. Kondisi akhir adalah kondisi setelah pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan media bermain lempar dadu huruf. yaitu pelaksanaan pembelajaran membaca permulaan dengan menggunakan media lempar dadu huruf. Hipotesis Tindakan Adapun hipotesis dalam penelitian ini adalah “melalui pembelajaran dengan menggunakan media lempar dadu huruf. C. . Tindakan adalah melaksanakan apa yang telah direncanakan sebelumnya. yakni kemampuan membaca permulaan sangat rendah.

Penggandaan dan pengiriman laporan pendidikan. persiapan penelitian. Mengenal huruf tertentu saja 4. penyempurnaan berdasarkan saran dari dosen pembimbing dan pihak lain yang dirasa perlu. B.Melihat adanya perbedaan yang sangat signifikan pada kedua siswa yang mengalami keterlambatan didalam kemampuan membaca permulaan dibandingkan dengan empat belas murid yang lainnya. Penyusunan laporan pendidikan. Di kelas tersebut terdapat dua anak sebagai subyek penelitian yaitu Farel dan Ian Rudianto.35 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Kurang semangat dalam mengikuti kegiatan belajar namun dalam bermain sangat bersemangat melebihi teman-temannya. evaluasi dan refleksi). 3. tindakan. Penelitian dilakukan di kelas B Taman Kanak-Kanak Elim Sragen didasarkan pada pertimbangan : 1. Setting Penelitian Tempat penelitian tindakan kelas adalah Kelas B Taman Kanak-kanak Elim Sragen. Raya Sukowati no. Taman Kanak-Kanak Elim adalah tempat dimana penulis mengajar dan juga sebagai wali kelas. koordinator persiapan tindakan pelaksanaan (perencanaan. Rincian kegiatan penelitian tersebut adalah. Anak cenderung pendiam 2. monitoring. Subjek Penelitian Subjek penelitian Tindakan kelas ini adalah siswa tunagrahita kelas B Taman Kanak-kanak Elim Sragen. Jln. Pengamatan terhadap hasil pembelajaran membaca permulaan adalah selama dimulainya semester II TK A.80 Sragen. Belum dapat membaca . 2. Penelitian berlangsung selama bulan Juli sampai september 2010. Farel memiliki karekteristik sebagai berikut: 1.

36 5.5 5 6 5 5. Nilai yang dicapai siswa selama pembelajaran di kelas A. jika ditanya tidak memberikan respon jika pertanyaan tidak diulangUlang 4.2 5. Tidak peduli.4 5. Suka mengganggu.2 5 5. Ian Rudianto memiliki karakter sebagai berikut: 1. Anak sangat banyak bergerak. Sulit berkonsentrasi 3. 5. C.5 5 5. Lambat dalam menjawab pertanyaan. Data dan Sumber Data Data Penelitian yang dikumpulkan berupa informasi tentang kemampuan membaca khususnya dan kemampuan menulis serta kemampuan lain umumnya. No A AK AR EN F IR JG KN LT LR RW SP TL TA Y YK Nama Jenis kelamin L P P L P P L P p L p L p p L p L Usia 5 5.7 5. Mampu membaca suku kata.7 5.(Subjek) √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 .3 5.3 5 Nilai 85 80 80 85 30 35 85 90 95 90 90 85 90 85 95 95 Ket √ √ √ √ . kata sederhana jika dibantu. cenderung hiperaktif 2.(Subjek) .

37

Nilai di Taman Kanak-kanak adalah berupa simbol yang memiliki bobot tertentu, demikian juga di taman kanak-kanak Elim Sragen menggunakan simbol bintang yang memiliki bobot nilai 2,5. Nilai tertinggi adalah bintang 4 (****) yang memiliki bobot nilai 10. Rata-rata nilai yang dicapai kedua subjek tersebut adalah bintang 1 dan bintang 2. Jika dibandingkan keduanya anak ian sering memperoleh nilai lebih tinggi dari pada farel, yaitu bintang 2. Ian lebih sedikit mampu membaca suku kata dan kata–kata sederhana daripada Farel. Metode-metode yang digunakan guru yang tepat sesuai dengan kondisi anak akan mampu meningkatkan kemampuan membaca pada anak, hanya penerapan metode yang kurang menarik membuat anak menjadi jenuh dan tidak bersemangat khususnya bagi Farel dan Ian, untuk itu peneliti mencoba menggunakan media bermain lempar dadu huruf agar anak tertarik. Sumber data dari dari penelitian ini adalah siswa dan guru. Peristiwa yang terjadi selama pembelajaran berlangsung. Dokumen atau arsip yang berupa kurikulum kurikulum, rencana pelaksanaan pembelajaran, hasil kegiatan anak dan buku penilaian. D. Teknik Pengumpulan Data Tehnik pengumpulan data data adalah yang suatu prosedur yang sitematik diperlukan. Oleh karena itu dan standar untuk memperoleh

kualitas data sangat ditentukan oleh alat pengumpul data atau alat ukuran, sehingga data benar-benar valid dan reliable. Adapun tehnik pengumpulan data yang digunakan adalah dengan tes, observasi, dokumentasi. 1. Tes a. Pengertian test Untuk mengetahui kemampuan anak diperlukan alat untuk mengukur. Alat ukur kemampuan terseburt adalah test. Menurut Suharsimi Arikunto (2005:127) test adalah “serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk mengukur, ketrampilan.

38

pengetahuan intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki individu atau kelompok”. Menurut Baitul Alim (http://www.psikologzone.com/2006) “Suatu tes dapat didefinisikan sebagai suatu tugas atau serangkaian tugas- tugas yang digunakan untuk memperoleh tentang suatu atribut atau hasil pendidikan yang representative”. Berdasarkan dua pendapat diatas dapat penulis simpulkan bahwa tes adalah serangkaian pertanyaan yang harus dijawab untuk mengukur kemampuan atau bakat yang dimiliki individu atau kelompok. Tujuannya . pretest. Kegiatan pembelajaran dilaksanakan, pada akhir pembelajaran diadakan postest untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan yang dicapai dalam membaca permulaan dengan menggunakan media bermain lempar dadu huruf. b. Jenis – Jenis tes Ada beberapa jenis tes yang dapat dipergunakan untuk mengukur kemampuan seseorang adalah sebagai berikut: Menurut Baitul Alim (2006). Jenis tes dikelompokkan menjadi : “ Tes intelegensi, tes bakat, tes hasil belajar, dan tes kepribadian “. Menurut Pandit, PL (2010:12) Jenis tes dikempokkan menjadi: 1 ) Tes Intelegensi Tes kemampuan intelektual, mengukur taraf kemampuan berpikir, terutama berkaitan dengan potensi untuk mencapai taraf prestasi tertentu dalam belajar di sekolah ( Mental ability Test ; Intelegence Test; Academic Ability test; Scholastic Aptitude Test ). Jenis data yang dapat diambil dari tes ini adalah kemampuam intelektual atau kemampuan akademik. 2 ) Tes Bakat Tes kemampuan bakat, mengatur taraf kemampuan seseorang untuk berhasil dalam studi tertentu, program pendidikan vokasional tertentu atau bidang pekerjaan tertentu, lingkupnya lebih terbatas dari tes kemampuan intelektual (Test of Specific Ability ; Aptitude Test ). tes adalah : untuk sejauh mengukur mana kemampuan kemampuan ketrampilam, anak sebelum kemampuan, kecerdasan dan bakat yang dimiliki anak atau seseorang. Untuk mengukur pembelajaran melalui media lempar dadu huruf dilakukan, yaitu melalui

39

Kemampuan khusus yang diteliti itu mencakup unsure-unsur intelegensi, hasil belajar, minat dan kepribadian yang bersama-sama memungkinkan untuk maju dan berhasil dalam suatu bidang tertentu dan mengambil manfaat dari pengalaman belajar dibidang itu 3 ) Tes Minat Tes minat, mengatur kegiatan–kegiatan macam apa paling disukai seseorang. Tes macam ini bertujuan membuat orang mudah dalam memilih macam pekerjaan yang kiranya paling sesuai baginya (Test of Vocational Interest ). 4 ) Tes Kepribadian Tes kepribadian, mengatur ciri-ciri kepribadian yang bukan khas bersifat kognitif, seperti sifat karakter, sifat temperamen, corak kehidupan emosional, kesehatan mental, relasi-relasi sosial dengan orang lain, serta bidang-bidang kehidupan yang menimbulkan kesukaran dalam penyesuaian diri. Tes proyektif, meneliti sifat-sifat kepribadian seseorang melalui reaksi –reaksinya terhadap suatu kisah, suatu gambar atau suatu kata; angket kepribadian, meneliti berbagai ciri kepribadian seseorang dengan menganalisa jawaban-jawaban tertulis atas sejumlah pertanyaan untuk menemukan suatu pola bersikap, bermotivasi atau bereaksi emosional, yang khas untuk orang lain itu. Kelemahan Tes proyektif hanya diadministrasi oleh seorang psikolog yang berpengalaman dalam menggunakan alat itu dan ahli dalam menafsirkannya. 5 ) Tes Perkembangan Vocasional Tes vocasional, mengukur taraf perkembangan orang muda dalam hal kesadaran kelak akan memangku suatu pekerjaan atau jabatan ( vocation ) dalam memikirkan hubungan antara memangku suatu jabatan dan cirriciri kepribadian serta tuntunan-tuntunan sosial ekonamis; dan dalam menyusun serta mengimplementasikan rencana pembangunan masa depannya sendiri. Kelebihan tes semacam ini meneliti taraf kedewasaan orang muda dalam mempersiapkan diri bagi partisipasinya dalam dunia pekerjaannya ( career maturity ) 6 ) Tes Hasil Belajar (Achievement Test) Tes yang mengukur apa yang telah dipelajari pada berbagai bidang studi, jenis data yang dapat diambil menggunakan tes hasil belajar (Achievement Tes ) ini adalah taraf prestasi dalam belajar. Berdasarkan beberapa pendapat tentang jenis tes, penulis simpulkan yaitu tes tertulis, tes lesan, tes bakat, tes kepribadian dan tes perkembangan vocasional.

Pengamatan / Observasi a. Pengertian Observasi. yaitu: 1 ) Observasi nonsistematis . jenis tes yang penulis gunakan adalah: tes lisan. pengamat dengan yaitu obsevasi partisipan (aktif) dan yang meliputi kegiatan pemusatan perhatian terhadap suatu pengamat dengan .40 Penelitian ini. Menurut Muhammad Idrus (2007 : 129) “observasi atau pengamatan merupakan aktivitas pencatatan fenomena yang dilakukan secara sistematis”. 2 ) Obsevasi sistematis yaitu observasi yang dilakukan oleh menggunakan pedoman sebagai instrumen pengamatan. Jenis Observasi Observasi ada beberapa macam atau jenis. 2. b. Menurut Suharsimi Arikunto (2005 : 145) “observasi adalah pengamatan objek dengan menggunakan seluruh alat indra”. Berdasarkan pendapat diatas penulis simpulkan: observasi adalah suatu tindakan pengamatan dan pencatatan yang dilaksanakan secara langsung. Sedang observasi penulis gunakan sistematis. Tujuannya adalah untuk mengetahui kemampuan membaca siswa sebelum dan setelah diberi tindakan. partisipan dan sistimatis terhadap suatu obyak dengan menggunakan seluruh alat indra. yaitu Observasi yang dilakukan oleh tidak menggunakan instrumen. Menurut Suharsimi Arikunto (2005 : 147) observasi ditinjau dari jenisnya ada dua macam . dan tes perbuatan.

transkip. Obsevasi Eksperimental yaitu dimana observer oran yang didikte oleh jalannya arus peristiwa . surat kabar. Observasi Partisipan yaitu jika orang mengadakan observasi turut ambil dalam kehidupan orang yang diobsevasi. 3 ) Obsevasi Eksperimental .mail. dan sebagainya”.suara hidup (moving images ). 2 ) Obsevasi sistematis Observasi nonsistematis Obsevasi sistematis yaitu dimana obseever menggunakan kerangka materi atau instrumen untuk memudahkan dalam malakukan observasi. Sedang observasi nonsistematis justru sebaliknya. Menurut Suharsimi Arikunto (2005 : 206) ”Dokumen merupakan salah satu media yang digunakan untuk melengkapi data mengenai hal – hal yang berupa catatan. Sedang observasi nonpartisipan justru sebaliknya. Adapun dalam penelitian ini jenis obsevasi/pengamatan yang penulis gunakan adalah observasi atau pengamatan partisipan dan sistematis. a single unit of information (setunggal informasi). untuk melengkapi data.Dokumen bisa pula dikategorikan menurut bentuk fisiknya . majalah . 3. yang dirasa kurang lengkap dokumen. Menurut Pandit P L (2010:12) Istilah dokumen dipakai untuk satu informasi tunggal .Observasi Nonpartisipan. tetapi mengandung bentuk lain seperti gambar. sebuah e.Obsevasi Noneksperimental. sebuah halaman Web.150) dibedakan atas : jenis observasi 1 ) Observasi Partisipan . Dokumentasi a.41 Sedang menurut Sutrisno Hadi (2000 :141. notulen rapat. sebuah berkas. atau kurang yakin bila tidak didukung dengan . Berdasarkan pendapat tentang jenis observasi penulis simpulkan yaitu: observasi partisipan . buku. prasasti. sistematis dan eksperimen. Pengertian Dokumen adalah salah satu alat pengumpul data . pada umumnya berisi teks. agenda. misalnya sebuah buku.

daftar nilai. aktivitas arsip terdiri merupakan salah satu diantara data – data yang telah ada. prasasti. sebuah e-mail dan arsip – arsip lain yang ada kaitannya dengan prestasi keadaan siswa. . dokumen nilai yang diberikan guru. dan nilai yang diberikan guru. b. Menurut Sawarji Suwandi (2008 : 68) dokumen dari: Kurikulum.42 Berdasarkan pendapat di atas penulis simpulkan. terutama kemampuan membaca anak tunagrahita sebelum menggunakan media bermain lempar dadu huruf. untuk mengetahui kemampuan siswa pada umumnya. hasil tulisan atau karangan siswa. dukumen pelengkap dokumen sebagai pelengkap penelitian ini adalah: Menurut Fu’adz Al-Gharuty (2009). majalah. isinya tentang hasil atau prestasi belajar. buku. Jenis Dokumentasi Untuk melengkapi data dalam penelitian. buku atau materi pelajaran. dokumen Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang dibuat guru. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang dibuat guru. keadaan dan perkembangan pribadi atau siswa. dokumen adalah pengumpulan data melalui peninggalan tertulis bisa surat kabar. berkas. dan kemampuan membaca permulaan khususnya. Dokumen yang penulis gunakan adalah raport. Jenis dokumen penulis gunakan adalah jenis dokumen catatan kesiswaan. latar keluarga. notulen rapat. jenis dokumen penulis simpulkan yaitu dokumen catatan kesiswaan. dokumen hasil karya siswa. Berdasarkan pendapat diatas. Adapun jenis disekolah dan di luar sekolah. catatan atau buku ulangan harian siswa. agenda. transkrip. dokumen catatan kesiswaan yang berada belakang disetiap sekolah.

Penulis dalam penelitian ini menggunakan uji validitas conten validity.43 E. agar tes dapat digunakan sebagai alat pengukur prestasi belajar yang baik. Tehnik reliabilitas menggunakan standar isi berdasarkan standar standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam pembelajaran membaca sesuai dengan KTSP. Validitas Data Agar penelitian dapat dipertanggungjawabkan diperlukan adanya validitas sehingga data tersebut dapat dijadikan dasar yang kuat untuk menarik kesimpulan. yaitu instrumen dari beberapa butir tes yang mencerminkan suatu faktor yang tidak menyimpang dari fungsi instrumen berupa kisi-kisi buatan guru berdasarkan KTSP. tes cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut sudah baik. maka tes tersebut harus memenuhi syarat sebagai tes yang baik. logical validity. Tes harus reliabel. Validitas data adalah data yang sesuai dengan apa yang akan diukur. Tes yang disusun harus sesuai dengan materi yang pernah diajarkan dan mempunyai taraf kesukaran yang sama dengan kemampuan peserta didik. Instrumen yang sudah dapat dipercaya . yakni validitas. conten validity. Instrumen yang baik tidak akan bersifat tendensius mengarahkan responden untuk memilih jawabanjawaban tertentu (Suharsini Arikuntoro. Jenis-jenis validitas tes menurut Sutrisno Hadi (2000:111) antara lain: “facer validity. Teknik yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah riview informasi kunci dan triangulasi. Tes valid artinya tes yang dibuat hendaknya dapat mengukur apa yang dapat diukur. factorial validity. F. Validitas dan Reliabilitas Instrumen Tes adalah alat pengukur prestasi belajar anak didik. 2005:142). external validity. yang reliable akan menghasilkan data yang dapat dipercaya juga. . internal validity dan empirical validity”.

Menurut Sarwiji Suwardi. Tugas membaca. Triangulasi Pengumpulan data a.” (Sarwiji Suwandi 2008 : 69). kebiasaan anak yang diamatinya dalam lingkungan sekolah umumnya dan saat pengamatan dalam kegiatan belajar khususnya. mengadakan diskusi dengan kolaburator tentang kondisi anak. Review informasi kunci.” Lexy Moelong dalam Sarwiji Suwandi (2008 : 69). siswa mengalami kesulitan . membaca huruf awal kartu bergambar: b.(2008:69). Diskusi dengan teman sejawat tentang fasilitas/ media pembelajaran di sekolah. b. Kesimpulan penulis data dianggap valid apabila data itu dapat mengungkap kebenaran dan dapat digunakan dengan mudah serta dapat digunakan siapa saja. membaca di depan kelas.”data dianggap valid apabila setelah melakukan kegiatan pengamatan maupun kajian dokumen diperiksa kembali oleh peneliti sehingga data tersebut valit”. Data dari raport semester II kelas A. nilai rata-rata 45 2. sikap anak. Triangulasi sumber data a. Teknik triangulasi digunakan sumber data sebagai berikut: 1.44 “Triangulasi adalah teknik pemeriksaan validitas data dengan memanfaatkan sarana di luar data itu untuk keperluan pengecekkan atau pembandingan data itu. “Review informasi kunci adalah mengkonfirmasikan data atau interprestasi temuan kepada informasi kunci sehingga diperoleh kesepakatan anatar peneliti dan informan tentang data atau informasi temuan tersebut. Wawancara dengan orang tua siswa tentang belajar anak di rumah. c. Pemberian tes.

Prosedur Penelitian Penelitian ini dilakukan dalam 2 siklus. Tehnik deskriptif komparatif digunakan untuk data kuantitatif. penulis menggunakan tehnik deskriptif komparatif dan tehnik analisis kritis. Indikator Kinerja Indikator sebagai tolak ukur keberhasilan dalam penelitian tindakan kelas ini menggunakan KKM yang telah ditetapkan oleh sekolah. Jika nilai yang diperoleh anak di bawah 70. Prosedur ini secara garis besar dapat digambarkan dengan skema sebagai berikut : Perencanaan Refleksi Perencanaan Refleksi Pelaksanaan Pengamatan Pengamatan Pelaksanaan . masing-masing siklus dengan tahapan: perencanaan. I. pengamatan dan refleksi. artinya seorang anak telah dinyatakan melampaui ketuntasan belajar jika telah memperoleh nilai 70. yaitu membandingkan nilai awal dengan post tes I. maka belum dapat dinyatakan tuntas. pelaksanaan. membandingkan nilai post tes I dengan nilai post tes II. adapun nilai KKM untuk bidang pengembangan bahasa yakni membaca permulaan adalah 70. Teknik Analisis Data Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian untuk hipotesis mengenai “Upaya Peningkatan Kemampuan Membaca Permulaan Melalui Media Bermain Lempar Dadu Huruf pada Anak Tunagrahita Kelas B Semester II di Taman Kanak-Kanak Elim Sragen Tahun Pelajaran 2010/2011”.45 G. H.

3. Observasi ini untuk memperoleh . 3. melempar dan membaca huruf yang muncul di posisi atas. 2. Guru meminta siswa menanyakan huruf yang belum dipahami. Membuat rencana pembelajaran.46 Rancangan prosedur penelitian : Siklus I Perencanaan Kegiatan : 1. Observasi Dilakukan dengan mengamati : 1. Aktivitas menerapkan media lempar dadu huruf dalam meningkatkan kemampuan membaca permulaan. Tindakan 5. Mengenal huruf. merangkai menjadi kata. 4. Membuat lembar pengamatan. Guru memberi penjelasan kepada siswa tentang materi yang akan dipelajari dengan menggunakan media lempara dadu huruf. Menentukan dan menyiapkan materi. yaitu dadu yang bertuliskan huruf. 2. 4. 1. Guru meminta murid mengambil dadu huruf. Guru meminta siswa untuk menyanyikan lagu a b c c d e f g dengan menunjuk huruf yang ada di papan tulis. Menganalisis materi pelajaran 2. Menyiapkan media pembelajaran.

Siswa memainkan media lempar dadu huruf diawasi guru. dianalisa untuk mengetahui kelemahan yang Refleksi mungkin ada. Hasil yang diperoleh dapat disimpulkan hasil kemampuan membaca selama 2 siklus . Data yang diperoleh pada tahap observasi dianalisis. Setelah data tentang membaca permulaan dengan media bermain lempar dadu huruf diperoleh. 2. Memperbaiki kesalahan / kekurangan pada siklus II 3. Siswa menjawab dengan membaca dadu yang dilempar oleh guru baik Observasi huruf maupun kata.47 data tentang kemampuan membaca Refleksi permulaan. Menganalisa hasil observasi untuk memperoleh kesimpulan bagian mana yang perlu di sempurnakan untuk Siklus II Perencanaan siklus berikutnya. Apresiasi untuk perbaikan materi yang telah diajukan pada siklus I 2. Kegiatan : 1. Menarik anak tunagrahita untuk Tindakan bermain lempar dadu huruf 1.

Berdasarkan pada permasalahan yang dihadapi oleh siswa kelas B Taman kanak-Kanak Elim Sragen. agar semua dapat berjalan dengan teratur dan lancar sesuai dengan yang diharapkan.48 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Membaca merupakan hal yang sangat mendukung anak dalam memperoleh informasi. (2) tindakan (acting). Prosedur penelitian dilaksanakan dua siklus yang masing – masing terdiri empat tahapan (1) perencanaan (planning). Kemampuan membaca berpengaruh pada anak dalam mengikuti pembelajaran. maka dilakukan serangkaian tindakan guna mengatasi permasalahan tersebut. (3) pengamatan dan (4) refleksi (reflecting). karena selama ini belum pernah dicobakan pembelajaran dengan menggunakan media lempar dadu huruf sebagai sarana pembelajaran dalam bentuk permainan yang menarik. Perencanaan yang terdiri dari: Menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan dalam pelaksanaan tindakan yaitu materi. kaitannya dengan kemampuan membaca yang masih kurang. sarana maupun prasarana yang diperlukan dalam pelaksanaan penelitian baik siklus I dan II. . Terkait dengan perencanaan maka peneliti membuat jadwal pelaksanaan rangkaian (observing). Hal ini dilakukan seperti yang telah dikemukakan bahwa penggunaan media lempar dadu huruf dirasa tepat dalam upaya untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan anak tunagrahita kelas B Taman Kana-Kanak Elim Sragen.

1. Mereka memilik kemampuan yang sangat baik dalam setiap pembelajaran.49 penelitian yang akan dilakukan. Penulisan Bab V. Pelaksanaan tindakan siklus I. Pelaksanaan siklus II 1. Siswa di Kelas B Taman Kanak-Kanak Elim terdiri dari 16 siswa. A. item soal. 2 II-IV Juli 2010 Melaksanakan pre test. lembar pengamatan. yakni 5 anak laki-laki dan 11 perempuan. 2. 3. Penyelesaian skripsi. Penulisan laporan hasil penelitian dan pembahasan. berikut: Jadwal kegiatan penelitian adalah sebagai Jadwal Kegiatan Penelitian No. 1 Minggu Ke/Bulan I Juli 2010 Kegiatan Melakukan observasi ke kelas Pembuatan kisi-kisi. Evaluai 3 4 5 I Agustus 2010 II-IV Agustus 2010 I-IV September 2010 Menyiapkan Instrument pelaksanaan siklus II Melaksanakan pre test. keadaan kelas B Taman Kanak-Kanak Elim Sragen. Deskripsi Kondisi Awal Pelaksanaan Penelitian Berdasarkan hasil pengamatan /observasi yang dilakukan. Keterangan Perbaikan dan penggandaan hasil penelitian. termasuk .

7 5. Ada beberapa anak yang memiliki kemampuan membaca yang sangat lancar sehingga anak telah mampu membaca buku-buku di ruang perpustakaan. belum dapat membaca khususnya dan sangat tertinggal pada mata pelajaran yang lain umumnya. sebagai berikut: Tabel I Nilai awal sebelum pelaksanaan siklus I (Nilai Subjek Dibandingkan dengan Nilai Siswa lain) dalam Membaca Permulaan Semester II Kelas A Taman Kanak-Kanak Elim Sragen Tahun Pelajaran 2009/2010 No Kode Jenis kelamin L P P L P P L P p L p L p p L p L Usia Nilai Keterangan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 A AK AR EN F IR JG KN LT LR RW SP TL TA Y YK 5 5. Dalam hal membaca anak selalu memperoleh nilai jauh di bawah nilai teman-temannya. demikian juga dalam kegiatan pembelajaran yang lainnya. bahkan membaca surat kabar.5 5 6 5 5.(Subjek) . sehingga sekolah menetapkan Kriteria Ketuntasan Maksimal (KKM) membaca 70.50 dalam hal membaca.2 5. Hal ini dapat dilihat dari laporan nilai ulangan yang diperoleh selama semester II di kelas A tahun pelajaran 2009/2010 dalam pembelajaran membaca permulaan.3 5.7 5.(Subjek) √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ .3 5 85 80 80 85 30 35 85 90 95 90 90 85 90 85 95 95 √ √ √ √ . Akan tetapi dari hasil pengamatan/observasi menunjukkan bahwa terdapat dua dari enam belas murid kelas B Taman Kanak-Kanak Elim Sragen yang terdiri dari dua anak laki-laki.4 5.2 5 5.5 5 5.

karena nilai yang diperoleh anak sangat jauh dari kriteria ketuntasan minimal yang ditetapkan di Taman Kanak-Kanak yaitu 70. Data nilai yang diperoleh kedua anak tersebut dibandingkan dengan nilai yang diperoleh teman-teman sekelasnya dapat kami tampilkan dalam suatu grafik sebagai berikut di bawah ini: Grafik Nilai Membaca Permulaan Sebelum Siklus I (Nilai Subjek dibandingkan dengan Nilai Siswa lain) Keterangan: Subjek adalah no 5 dan 6. . Berdasar kondisi tersebut peneliti ingin berupaya untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan pada kedua anak yang mengalami keterlambatan didalam membaca permulaan tersebut. dengan menggunakan media lempar dadu huruf.51 * Keterangan: √ = Mampu = Belum Berdasar hasil prestasi belajar di atas menunjukkan bahwa 2 dari 16 anak atau 12% siswa kelas B Taman Kanak-Kanak Elim belum dapat membaca permulaan.

guru hendaknya berusaha merenovasi model pembelajaran yang telah dilakukan. Grafik Hasil Perolehan Nilai Kemampuan Membaca Awal/ Pre Test . Salah satunya dengan mempergunakan media sebagai sarana meningkatkan kemampuan membaca siswa. Dengan tujuan materi membaca dapat lebih diminati dan lebih digemari oleh siswa.52 Melihat hal tersebut. maka peneliti melakukan pre test terhadap kemampuan siswa sebagai acuan untuk menentukan keberhasilan dari tindakan yang akan dilakukan selanjutnya. kemudian memperoleh nilai sebagai berikut: Tabel 2 Hasil Perolehan Kemampuan Membaca Awal/ pre Test Kode Nilai Semester I Nilai Pre test N0 Keterangan 1 2 F IR 30 35 27 30 Turun 10% Turun 15% Berdasar keadaan tersebut. dalam hal ini penulis menggunakan medialempar dadu huruf..

53 2. a. b. Pelaksanaan Siklus I Siklus pertama terdiri dari 4 tahap yaitu : (1) Perencanaan . (4) Refleksi atau . Adapun tahap perencanaan tindakan siklus I adalah sebagai berikut: 1) Menganalisa materi pelajaran Mengkaji materi yang sesuai dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan anak. 12 Juli 2010 di ruang kelas B Taman Kanak-Kanak Elim Sragen dan di lingkungan sekolah. 5) Membuat lembar penelitian siswa yaitu berupa tes. yaitu meja. Kegiatan perencanaan tindakan I dilaksanakan pada hari Senin. serta menyiapkan peralatan yang dibutuhkan dalam pembelajaran membaca melalui media lempar dadu huruf. 4) Menyiapkan media pembelajaran yaitu dadu yang bersimbolkan huruf. 7) Menentukan jadwal pelaksanaan tindakan. (3) Observasi atau Evaluasi. (2)Tindakan atau Pelaksanaan . 16 Juli 2010. 3) Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran untuk siklus I. 2) Menentukan dan menyiapkan materi pengenalan huruf kepada anak. Tindakan (Acting) Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar guru memberikan apersepsi dengan membuka percakapan tentang nama benda di sekitar siswa. Membuat rencana pembelajaran. Perencanaan (Planning). membuat intrumen tes dan lembar tugas siswa. Sedangkan rencana pelaksanaan tindakan dilaksanakan siklus I pada hari Jumat. 6) Membuat lembar pengamatan. Instrumen tes ini digunakan untuk meneliti kemampuan membaca permulaan pada anak. Pengamatan .

melempar dan membacanya. suku kata dan kata. menyusun dan membacanya. melempar dan membaca huruf belum begitu tertib. c. melempar. Kelompok vokal berada pada kotak dua atau kelompok dua. kemudian keduanya disusun dan dibaca. Selanjutnya guru memberi kesempatan kepada siswa mengambil satu dadu pada kotak konsonan. mengambil lagi satu dadu pada kotak vokal. Kelompok konsonan berada pada kotak satu atau kelompok satu. kecenderungan bermain tanpa tujuan masih dominan. untuk mengetahui sejauhmana anak menagalami kemajuan setelah pembelajaran berlangsung. Selanjutnya anak disuruh menyebutkan huruf-huruf yang ada dalam abjad dan diteruskan lagu “ abcdefg“. Guru menunjukkan dadu huruf kepada siswa yang berisi simbulsimbul huruf yang ada pada setiap sisinya. Guru menjelaskan dan menyebutkan kelompok vokal atau huruf hidup dan konsonan atau huruf mati kepada siswa. Guru memberi kesempatan kepada siswa mengambil satu dadu . Guru memberikan beberapa soal kepada anak sebagai post test yaitu membaca huruf. Guru mem beri kesempatan kepada siswa mengambil empat dadu dengan urutan KVKV melempar. melempar. Guru memberikan beberapa soal kepada anak sebagai pre test. yaitu membaca huruf. baju. dengan menggunakan instrument observasi yang disiapkan peneliti. dapat diambil kesimpulan bahwa dalam pelaksanaan pembelajaran muncul semangat terhadap minat belajar pada anak tunagrahita di kelas B Taman Kanak-Kanak Elim Sragen. 16 Juli 2010 terhadap kegiatan pembelajaran membaca permulaan melalui media lempar dadu huruf dari awal sampai akhir. Pengamatan (Observing) Pelaksanaan observasi pada hari Jumat. Semua nama-nama benda tadi dapat di tulis dengan huruf-huruf yang terdapat dalam abjad. Walaupun dalam siklus I ini dalm melakukan tugas yakni mengambil. belum terlihat keinginan anak untuk mengetahui atau dapat membaca huruf . suku kata dan kata.54 buku.

Nilai setelah pelaksanaan siklus I dan grafik nilai perolehan anak pada siklus I. Hasil pengamatan dapat dilihat pada lembar pengamatan seperti di bawah ini: Lembar Pengamatan Kemampuan Membaca Permulaan Anak Tunagrahita Kelas B Taman Kanak-Kanak Elim Sragen No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Aspek yang diamati Frekuensi kesalahan dalam membaca Kesalahan membedakan huruf b dengan d Kesalahan membedakan huruf p dengan q Kesalahan membedakan huruf m dengan n Kesalahan membedakan huruf s dengan z Kesalahan membedakan huruf v dengan u Membaca terlalu lama Tidak Tiduran Tidak mengerjakan tugas Mengganggu teman-teman Berceritera atau berteriak-teriak saat pelajaran berlangsung mengikuti pelajaran sungguh-sungguh √ √ Farel Ya Tidak √ √ √ √ √ √ √ dengan √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Ian Ya Tidak √ √ √ √ √ . Di bawah ini kami sajikan hasil pengamatan yang penulis lakukan.55 atau tulisan yang muncul. melalui lembar pengamatan. Semangat yang timbul adalah semangat hanya untuk bermain.

3% Belum tuntas Dari nilai yang diperoleh anak setelah pelaksanaan siklus I dapat dibuat grafik sebagai berikut: Grafik Hasil Perolehan Nilai Kemampuan Membaca Setelah Siklus I 606162 .56 Hasil dari evaluasi membaca pada akhir siklus I menunjukkan adanya peningkatan sebagai berikut: Tabel 3 Nilai setelah pelaksanaan siklus I Nilai Ulangan Membaca Permulaan Anak Tunagrahita Semester I Kelas B Taman Kanak-Kanak Elim Sragen Tahun Pelajaran 2010/2011 No Kode Pre test Post test Kemajuan Keterangan 1 F 27 45 66.6% Belum tuntas 2 IR 30 55 83.

20 Juli 2010. Perbaikan pada siklus II mengacu pada kekurangan-kekurangan yang telah disebutkan di atas. ss 70 45 70 x100 = 64% bagi Farel x100 = 79% . 3) Kesimpulan dari siklus I adalah tindakan yang dilaksanakan belum dapat meningkatkan prestasi belajar membaca permulaan terhadap keadaan subjek. ada beberapa hal yang penulis sampaikan. 2) Hasil belajar membaca permulaan kedua subjek tersebut jika dibandingkan dengan KKM yang ditentukan baru mencapai dan Ian baru mencapai telah ditentukan oleh sekolah. Frekuensi lemparan.3 % bagi Ian. Refleksi ( Reflecting) Hasil dari proses pembelajaran dalam siklus I dari perencanaan sampai pada kegiatan evaluasi. Sedangkan rencana pelaksanaan tindakan dilaksanakan siklus II pada hari Selasa.57 d. Peningkatan prestasi belajar kedua subjek tersebut dibandingkan dengan KKM yang ditetapkan masih jauh dari harapan. atau meningkat 66. 3. Pelaksanaan Siklus II Kegiatan perencanaan tindakan II dilaksanakan pada hari Senin. yakni: 1) Hasil tindakan pada siklus I telah menunjukkan kenaikan yang berarti. artinya masih di bawah KKM yang .6% bagi Farel dan 83. maka diperlukan lagi perencanaan pada siklus berikutnya. Memfokuskan perhatian anak kepada hasil yang akan dicapai harus lebih ditekankan. atau belum tuntas. menyusun dan membaca perlu ditingkatkan. 9 Agustus 2010 di ruang kelas B Taman Kanak-Kanak Elim Sragen dan di lingkungan sekolah.

yaitu kaca. suku kata dan kata. Semua nama-nama benda tadi dapat di tulis dengan huruf-huruf yang terdapat dalam abjad. Instrumen tes ini digunakan untuk meneliti kemampuan membaca permulaan pada anak. Guru menjelaskan dan menyebutkan kelompok vokal atau huruf hidup dan konsonan atau huruf mati kepada siswa. Guru memberikan beberapa soal kepada anak sebagai pre test. . 8) Menentukan jadwal pelaksanaan tindakan.58 Siklus II dimaksudkan untuk mengadakan perbaikan pada siklus I. Kelompok konsonan berada pada kotak satu atau kelompok satu. Perencanaan Rancangan prosedur penelitian dalam kegiatan perencanaan adalah: 1) Menganalisa kembali hal. b. Selanjutnya anak disuruh menyebutkan huruf-huruf yang ada dalam abjad dan diteruskan lagu “ abcdefg“.mata. bola. 7) Membuat lembar pengamatan. yaitu membaca huruf. 6) Membuat lembar penelitian siswa yaitu berupa tes. Kelompok vokal berada pada kotak dua atau kelompok dua. guru memberikan apersepsi dengan membuka percakapan tentang nama benda di sekitar siswa. Tindakan (Acting) Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar. sehingga hal-hal yang ingin dicapai dalam upaya meningkatkan kemampuan membaca permulaan pada siswa kelas B Taman Kanak-Kanak Elim tercapai. 4) Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran untuk siklus II 5) Menyiapkan media pembelajaran yaitu dadu yang bersimbolkan huruf. Siklus II terdiri dari : a. Guru menunjukkan dadu huruf kepada siswa yang berisi simbulsimbul huruf yang ada pada setiap sisinya. kaki.hal yang telah dievaluasi pada siklus I 2) Memperbaiki kesalahan/ kekurangan pada siklus I 3) Menentukan dan menyiapkan materi pengenalan huruf kepada anak.

melempar. menyusun dan membacanya sebanyak lima kali. suku kata dan kata. mudah diatur dan diarahkan serta semangat yang tinggi muncul pada siklus II. Setelah diadakan perbaikan dalam penanganan anak atau pengkondusifan kondisi dalam pembelajaran dan pemberian hadiah/ reward pada siklus II ternyata mampu meningkatkan motivasi anak.59 Guru memberi tugas kepada siswa untuk mengambil dadu huruf. sehingga pada siklus II anak nampak lebih tertib. Guru memberikan beberapa soal kepada anak sebagai post test yaitu membaca huruf. Semangat tersebut dapat terlihat dari keceriaan anak dalam mengikuti pembelajaran. Pengamatan (observing) Hasil observasi terhadap kegiatan pembelajaran membaca permulaan melalui media lempar dadu huruf pada siklus II menunjukkan bahwa dalam pelaksanaan pembelajaran muncul semangat yang lebih besar dibanding dengan siklus I. terhadap minat belajar pada anak tunagrahita di kelas B Taman Kanak-Kanak Elim Sragen. Hal ini disebabkan telah diperbaikinya kekurangan-kekurangan yang muncul pada siklus I. Guru memberi tugas kepada siswa untuk mengambil dua dadu huruf (KV). Pemberian hadiah/ penghargaan pada setiap keberhasilan yang dicapai anak. Pemberian tugas kepada siswa mengambil empat dadu (KVKV). yakni kurang penguasaan guru terhadap murid dan pengarahan terhadap tujuan penelitian dan tidak diberikannya reward atau penghargaan pada siklus I. . melempar dan membacanya sebanyak sepuluh kali. tidak terjadi kejenuhan sampai selesainya kegiatan pembelajaran. melempar dan membacanya sebanyak sepuluh kali. untuk mengetahui sejauhmana anak menagalami kemajuan setelah pembelajaran berlangsung c. Pemberian hadiah/ penghargaan pada setiap keberhasilan yang dicapai anak. Pemberian hadiah/ penghargaan pada setiap keberhasilan yang dicapai anak.

60 Di bawah adalah hasil pengamatan yang penulis lakukan. melalui lembar pengamatan. Nilai setelah pelaksanaan siklus II dan grafik nilai perolehan anak pada siklus II. Hasil pengamatan dapat dilihat pada lembar pengamatan seperti di bawah ini: Lembar Pengamatan Kemampuan Membaca Permulaan pada Siklus II Anak Tunagrahita Kelas B Taman Kanak-Kanak Elim Sragen Aspek yang diamati Farel Ian Ya Tidak Ya Tidak √ Frekuensi kesalahan dalam membaca √ √ Kesalahan membedakan huruf b dengan d √ √ Kesalahan membedakan huruf p dengan q √ √ Kesalahan membedakan huruf m dengan n √ √ Kesalahan membedakan huruf s dengan z √ √ Kesalahan membedakan huruf v dengan u √ √ Membaca terlalu lama √ √ Tidak mengikuti pelajaran dengan √ sungguh-sungguh √ Tiduran √ √ Tidak mengerjakan tugas √ √ Mengganggu teman-teman √ Berceritera atau berteriak-teriak √ √ saat pelajaran berlangsung √ No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Hasil dari evaluasi membaca pada akhir siklus II menunjukkan adanya peningkatan sebagai berikut: .

terdapat peningkatan kognitif pada anak yaitu peningkatan kemampuan membaca permulaan anak Farel dan Ian.5% .5% 36.6% Tuntas Tuntas Dari nilai yang diperoleh anak setelah pelaksanaan siklus II dapat dibuat grafik sebagai berikut: d.61 Tabel 4 Nilai setelah pelaksanaan siklus II Nilai Ulangan Membaca Permulaan Anak Tunagrahita Semester I Kelas B Taman Kanak-Kanak Elim Sragen Tahun Pelajaran 2010/2011 No Kode Pre test Post test Kemajuan Keterangan 1 2 F IR 45 55 70 75 55. Farel mengalami kenaikan nilai sebesar 45 70 x100 = 55. Refleksi Hasil dari proses pembelajaran dalam siklus II dari perencanaan sampai pada kegiatan evaluasi. yakni: Hasil belajar membaca Farel menunjukkan peningkatan dari siklus I yaitu dari nilai 45 menjadi 70.

dapat dihasilkan tindakan antar siklus sebagai berikut: 1.6% pada siklus II. yaitu: Mengalami penurunan frekuensi kesalahan dalam membaca. B. Anak mampu membaca lebih lancar. Namun masih sering keliru membedakan huruf n dengan m. Hasil Penelitian Berdasarkan tindakan yang dilakukan pada setiap siklus. v dengan u. mengerjakan tugas dengan baik. s dengan z. mengikuti pembelajaran dengan sungguhsungguh. . namun seperti kebiasaan sebelumnya anak Ian suka mengganggu teman-temannya dan suka berteriak-teriak saat mengikuti pelajaran. sudah mampu membedakam huruf b dengan b. Perubahan sikap dalam pembelajaran pada anak Farel. s dengan z. tidak tiduran saat mengikuti pelajaran. yaitu: Mengalami penurunan frekuensi kesalahan dalam membaca. tidak tiduran saat mengikuti pelajaran. mengikuti pembelajaran dengan sungguh-sungguh. Perubahan sikap dalam pembelajaran pada anak Ian. yang berarti telah berhasil melampaui KKM yang ditetapkan sekola yaitu 70. Anak mampu membaca lebih lancar. mengerjakan tugas dengan baik. 2. v dengan u. sudah mampu membedakam huruf b dengan b. yaitu 70. Hasil belajar membaca Ian menunjukkan peningkatan dari siklus I yait dari nilai 55 menjadi 75.mampu membedakan huruf m dengan n. p dengan q. yang berarti telah berhasil mencapai KKM yang ditetapkan sekolah. p dengan q.62 pada siklus II. Ian mengalami kenaikan nilai sebesar 55 70 x100 = 36.

63 Tabel 5 Nilai kemampuan yang dicapai anak No Kode Peningkatan yang dicapai Pre test Siklus I Siklus II 1 2 F IR 27 30 45 55 70 75 Hasil perkembangan/ kemajuan dicapai oleh subjek. dapat dilihat dalam grafik di bawah ini: Grafik Perolehan Nilai kemampuan Membaca Pre test. Siklus I. Siklus II .

Kemampuan membaca anak tunagrahita kelas B Taman Kanak-kanak Elim Sragen perlu ditingkatkan semaksimal mungkin. Kesimpulan Setelah dilakukan pembelajaran dengan menggunakan media lempar dadu huruf. Sehingga anak mampu membaca permulaan dengan lebih lancar. C.5 Dari hasil kegiatan penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa anak mengalami peningkatan kemampuan dalam membaca permulaan.64 3. Peningkatan yang dicapai anak dari awal sampai akhir dapat dilihat dalam tabel di bawah ini: Tabel 6 Nilai Kemampuan membaca yang di peroleh anak selama kegiatan penelitian No 1 2 Kode F IR Kondisi Awal 27 30 Siklus I 45 55 Siklus II 70 75 Rata . anak mengalami peningkatan dalam kemampuan membaca permulaan pada tiap siklus yang diksanakan. Pembahasan Kemampuan membaca memiliki peran yang sangat besar dalam kema-juan anak didalam proses belajar khususnya dan pada perkembangan umumnya. dan sesuai . Anak tunagrahita umumnya mengalami keterlambatan atau tertinggal dalam kemampuan membacanya dibanding dengan teman normal yang sebayanya.5 50 72.Rata 28. melalui media yang sesuai dengan karakter anak pada umumnya yakni bermain.

misalnya berhitung. b. Contoh: 1) lemparan pertama konsonan yang muncul adalah b . Media bermain lempar dadu huruf adalah bentuk permainan yang dapat digunakan sebagai sarana pembelajaran anak dalam berbagai hal. Untuk membaca suku kata memerlukan waktu yang agak lama karena harus melempar dua atau tiga huruf kemudian disusun dan dibaca. disusun kemudian dibaca. warna dan lain sebagainya. walaupun memiliki kelemahan. lalu mengambil dadu pada kelompok konsonan dan dilemparkan. mendorong peneliti untuk mencobakan media yang menarik minat anak dalam belajar membaca yakni media bermain lempar dadu huruf. Keyakinan peneliti akan adanya kemajuan dalam setiap usaha. Media bermain lempar dadu huruf dalam penelitian ini penulis gunakan sebagai sarana dalam pembelaja. Kadang-kadang huruf yang muncul tidak membentuk kata yang punya arti. Untuk membaca suku kata anak harus mengambil empat dadu (KVKV). diliempar. 1.65 dengan karakter anak tunagrahita khususnya yakni belajar dengan hal-hal yang kongkrit agar mu-dah dimengerti anak. Kelemahan-kelemahan media bermain lempar dadu huruf diantaranya adalah: a. karena anak harus melempar terlebih dahulu sebuah dadu kemudian memperhatikan untuk dibaca. kadang-kadang vokal yang muncul setelah digabung dengan konsonan tidak membentuk kata yang memiliki arti. sehimgga mampu membangkitkan motivasi bagi anak serta mendorong anak agar belajar lebih giat lagi. Misalnya anak mengambil dadu pada kelompok vokal dan dilemparkan. Menyita banyak waktu Untuk membaca satu huruf memerlukan banyak waktu.ran membaca yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan membaca permu-laan pada anak. Media bermain lempar dadu huruf sangat menarik dalam pembelajaran. pengenalan bentuk.

teruskan saja anak membaca kemudian diberi pujian saat dia sudah berusaha melempar dan membaca. Beri penjelasan kalau kata tersebut tidak memiliki arti. Memerlukan banyak sekali dadu. sehingga anak aktif. Jangan menyusun terlalu banyak kata sekaligus yang memerlukan terlalu banyak dadu. b. Tidak mengantuk dan bosan karena anak beraktifitas dengan aktif. 1. Cara mengatasi kelemahan-kelemahan dalam pembelajaran melalui media bermain lempar dadu huruf adalah: a.66 2) lemparan kedua vokal yang muncul adalah i 3) lemparan ketiga konsonan yang muncul adalah m 4) lemparan keempat vokal yang muncul adalah u Kata yang muncul setela dadu disusun adalah b i m u c. Saat anak memilih . 2. b. Dadu harus dipersiapkan dalam jumlah yang banyak. Anak memilih sendiri dadu huruf yang dilemparnya sehingga anak bersemangat. anak merasa bersemangat dan kepercayaan dirinya tumbuh. Pemberian kesempatan kepada anak untuk menentukan pilihan merupakan hal yang menyenangkan bagi anak. Jika anak menghasilkan lemparan yang setelah disusun ternyata kata tersebut tidak memiliki arti. c. tidak hanya sebanyak jumlah huruf dalam satu abjad akan tetapi lebih dari itu. diadakan kerjasama dengan teman atau guru dalam menyusun urutan lemparan. melempar. Anak diberi kesempatan untuk mengambil/memilih. agar kata-kata yang dapat disusun oleh anak dalam jumlah yang banyak dan bervariasi. Lakukan dengan menyusun satu atau dua kata kemudian dibaca. Kelebihan dari pembelajaran membaca permulaan lewat bermain lempar dadu huruf ini adalah : a. jadi anak yang melempar tidak harus bolak-balik menyusun huruf yang dilemparnya. akan tetapi anak telah bagus dalam melaksanakan tugasnya. menyusun dan membacanya. Untuk menyingkat waktu.

67 ada aktifitas dalam segi kognitif dan motorik halus. Saat menyusun aktifitas dalam kognitifnya bekerja. . Anak yang belum dapat menyusun huruf menjadi kata akan berusaha mencoba lagi sehingga mereka memiliki keinginan untuk mencoba dan mencoba lagi. c. termasuk dalam meningkatkan kemampuan membaca anak. Anak akan merasa bangga jika huruf yang dilemparnya dapat membentuk suatu kata yang memiliki arti. motorik halusnya juga bekerja. sehingga tercapai tujuan pembelajaran. Media bermain lempar dadu huruf sangat membantu anak dalam pembelajaran. Untuk itu perlu dipergunakan sebagai media pembelajaran sehari-hari guna membantu anak dalam meningkatkan minat belajarnya. Setelah melempar anak dengan senangnya cepat-cepat ingin mengetahui apa isi/ bacaan dari lemparan yang akan disusunnya. Anak tertarik untuk mengetahui huruf apa yang keluar dan kata apa yang muncul dari setiap lemparan yang dibuatnya sendiri. Anak ingin segera membaca dari hasil lemparan yang telah disusun tadi dengan mengaktifitaskan aspek kognitifnya. saat anak melempar ada aktifitas dalam motorik kasarnya.

Hasil penelitian ini hendaknya dipergunakan sebagai sarana pembelajaran yang menarik dan mampu memotivasi semangat belajar sehingga dapat tercapai perkembangan yang optimal.68 BAB V SIMPULAN DAN SARAN A. Guru-guru hendaknya kreatif menggunakan media lempar dadu huruf sebagai sarana yang bervariasi dalam pembelajaran agar mampu membangkitkan minat belajar pada anak. b. karena media tersebut ternyata efektif digunakan sebagai sarana untuk meningkatakan kemampuan membaca permulaan pada anak. B. Kesimpulan Hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut. Bagi Guru a. Berkreatifitas untuk menggunakan sesuatu yang ada di sekitarmu bagi peningkatan kemampuan yang kalian miliki. bahwa pembelajaran dengan media bermain lempar dadu huruf Sragen tahun pelajaran 2010/2011. Saran Sehubungan dengan kesimpulan penelitian di atas. Bagi Siswa a. b. 2. maka diajukan saran sebagai berikut: 1. sehingga pertumbuhan dan perkembangan anak berjalan dengan maksimal dapat meningkatkan kemampuan membaca permulaan pada anak tunagrahita kelas B Taman Kanak-kanak Elim . Guru Taman Kanak-Kanak Elim hendaknya menerapkan pembelajaran dengan menggunakan media bermain lempar dadu huruf pada pelajaran membaca permulaan.

com/pengertiandefinisi-tes-dalam-psikologi. Rineka cipta. Indonesia Metode Penelitian Ilmu . Pendidikan bagi Anak dengan Problema Belajar. Jakarta. Pendidikan bagi anak berkesulitan belajar. Psikologi Perkembangan Anak I.com/2009/01/pengertian-membaca.html. membaca.psikologzone. Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi. http://Mbahbrataedu.wordpress. Pengembangan . 2007. Jakarta. Direktorat Pendidikan Luar Biasa. indonesia/article/view/272/0 Mathedu. Defli.com/blog/entry. Pengertian Tes.html http://mathedu-unila. Jakarta : PT Raja Gravindo Persada Astati.blogspot. http://adzeglar. dan Pemanfaatan ) . 2009. Chasiyah. Pengertian Anak Tunagrahita. http://www. Tunagrahita.69 DAFTAR PUSTAKA Anggie Siti Sa’adah. 2009. http://r.com/2009/07/karakteristik-anaktunagrahita. 2006. 2009.com/2009/10/pengertian- Mbahbrata. http://astati. 2005.wordpress. dkk.asp?id=932768 & eid=602755 Devid Haryalesmana. 2009. 2009. 2003.yuwie. Departemen Pendidikan Nasional. 2003. FKIP Surakarta. http://guruit07.com/2009/02/02/studidokumen-dalam-penelitian-kualitatif. Muhammad Idrus.blogspot. Membaca permulaan dan permainan bahasa. Dounload 12 April 2010.com/2009/06/membaca-permulaan-permainan-bahasa. Duonloud 10 juni 2010.blogspot. PengertianMembaca. Mengenal Pendidikan Terpadu. 2007.2010.blogspot. Media Pendidikan ( Pengertian . Dounloud 21 juni 2010 Arif Sadiman S.. Karakteristik Anak Tunagrahita http://saunganggie. 2009. Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Perguruan Tinggi. . Hj.ilmu Sosial.com/2010/05/02/tunagrahita/ Dounloud 21 Juni 2010 Baitul Alim. Munawir Yusuf. 2004.html Fu’adz Al-gharuty. Graha Mulyono Abdurrahman.

Jenis Data Dan Metode Pengumpulan Data .com/pengertian-mediapembelajaran. Wijaya Kusumah. 2007. Jakarta : Dirjen Dikti Depdiknas. http://tarmizi. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Sutjihati Somantri. 2008. Dounloud 17 juni 2010. Tarmizi. 2007. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Surakarta. _______________ Kecenderungan dalam Pendidikan Luar Biasa. Pendit.wordpress. 2000. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek ( Edisi Revisi IV ).com/2008/12/02 penerapan-metode pembelajaran permulaan. 1993. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi.70 Oemar Hamalik. 2008. Jakarta. 2008.ac. Penilaian Sertifikasi Guru Rayon 13. Balai Pustaka.php/sastraIndonesia/article/view/272/0 Slameto.um. Jakarta. Suharsimi Arikunto. http://media-grafika.html. Difinisi media http://mataharieducare. 1996. WJS 1984. .id/index. Metodologi Research Jilid 1. Jakarta : Rineka Cipta Sunardi.2009. Belajar dan Faktor – Faktor yang Mempengarui. Jakarta.com/ Dounload 2010 Mei 12. Sutrisno Hadi. Sarwiji Suwandi. 2005. perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem. Psikologi Anak Luar Biasa. Mengelola Kurikulum pada Pendidikan Inklusi. Penerapan Metode Pembelajaran Membaca Permulaan. 2 dan 3 Yogyakarta: Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi UGM. Makalah Simposium dan Temu Ilmiah Nasional.Jakarta : Bumi Aksara.wordpress. Jakarta Bumi Aksara Purwodarminto. Wikipedia. Direktorat Jedral Pendidikan Tinggi. Proyek Pendidikan Tenaga Guru. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 2005. PL 2010. Seva Andini Kusnawanto. Dounload 12 April 2010. Proyek Pendidikan Tenaga Akademik. http://karya-ilmiah. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dan penulisan Karya Ilmiah. 2009.

pembelajaran Wikipedia.71 Metode Pembelajaran http://tarmizi. http://media-grafika.com/ Dounload 2010 Mei 12. Dounload 12 April 2010.wordpress.com/pengertian-mediapembelajaran. Membaca penerapan-metode Permulaan. Wijaya Kusumah. Dounloud 17 juni 2010. .com/2008/12/02 permulaan. 2007.wordpress.2009.html. Difinisi media http://mataharieducare.

72 LAMPIRAN .

Jenis Kelamin 3. Nama anak 2. Sragen . Sekolah B. Berat badan 7. 6 Juli 2005 : Kristen : 119 Cm : 18 Kg :B : Taman Kanak-Kanak Elim. Tempat/tgl lahir 4.73 DATA ANAK A. 17 September 2005 : Kristen : 123 Cm : 20 Kg :B : Taman Kanak-Kanak Elim. Tempat/tgl lahir 4. Sekolah : Ian Rudyanto : Laki-laki : Sragen. 1. Agama 5. Kelas 8. Jenis Kelamin 3. 1. Tinggi badan 6. Sragen 2. Agama 5. Berat badan 7. Kelas 8. Tinggi badan 6. Nama anak : Farel : Laki-laki : Sragen.

1 Minggu Ke/Bulan I Juli 2010 Kegiatan Melakukan observasi ke kelas Pembuatan kisi-kisi. 6. . lembar pengamatan. 5. Penulisan Bab V.74 Lampiran 1 Jadwal Kegiatan Penelitian No. Pelaksanaan siklus II 5 I-IV September 2010 4. Pelaksanaan tindakan siklus I. Penyelesaian skripsi. Penulisan laporan hasil penelitian dan pembahasan. item soal. Perbaikan dan penggandaan hasil penelitian. Evaluai 3 I Agustus 2010 Menyiapkan Instrument pelaksanaan siklus II 4 II-IV Agustus 2010 Melaksanakan pre test. Keterangan 2 II-IV Juli 2010 Melaksanakan pre test.

3 Menulis kata sederhana dengan benar Jumlah 10 7. Dapat menempel suku kata yang kurang pada awal kata dengan bantuan gambar 5. Dapat menempel kata sesuai gambar 2. Dapat menempel suku kata yang kurang pada tengah kata dengan bantuan gambar 6. Pembentukan Perilaku melalui Pembiasaan Kompetensi Dasar 1. Dapat menulis kata sederhana 10 9 8 7 3-4 5-6 N0 Item 1-2 . Dapat menempel gambar sesuai kata 3.2 Membaca Mengungkapkan isi syair 4. Dapat menempel suku kata yang kurang di belakang kata dengan bantuan gambar 1. Dapat menyebut kata dibantu gambar 1.1 Mendengarkan Bacaan/ syair bernafaskan agama Indikator 1.75 Lampiran 2 Kisi – kisi instrumen N0 Standar Kompetensi 1.

76 Cara Penilaian Jawaban benar nilainya Jawaban salah nilainya Nilai akhir = Skor 1 =1 =0 = 10 Skor total jika benar semua nilainya .

.... Pisang 2.. c... Jeruk c. Mawar a.. Nanas a.. b.. a..... ... Nanas b.. b.77 Lampiran 3 SOAL TRY OUT Nama : Kelas : Test tertulis I....... ... Berilah tanda silang ( X ) huruf a. b. .............. c pada jawaban yang benar ! 1. . Pisang 3... Jeruk c...

.78 4... Gambar apakah ini........... a. 7....... .. .............. . Gajah b... ri c... 5. mah ...... ......... Gambar apakah ini... c. ra b... ru ..... Lengkapilah a..................... 6....

... je .. ..nga 9. rak * Tulislah nama gambar di bawah ini 10. .. rik b.. 14 Juli 2010 Guru kelas B...79 8 . TK Elim Sragen Dobirson S. Sri Mulyati . a. ruk c. . li c.. lo Te... Mengetahui Ka TK.... la b..... Elim Sragen Sragen. .... a...

Membaca sederhana 4.80 Lampiran 4 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ( RPP ) SIKLUS I Pengembangan Tema Kelas / Semester Pertemuan Alokasi Waktu : Bahasa Indonesia : Tanaman : B.14 Bercerita Menyebutkan nama tokoh dalam cerita 1. Taman Kanak-Kanak / I : 1 : 1 x 30 menit A. Standar Kompetensi : 1. Mengelompokkan kata-kata yang sejenis 6.16 Menghubungkan tulisan dengan gambar 1. Menyusun huruf menjadi kata . Menyebutkan nama tokoh dalam cerita 2. Kompetensi Dasar 1. Indikator : : 1. Menghubungkan tulisan dengan gambar 5.12 Mengelompokkan kata-kata yang sejenis C. Pembentukan perilaku melalui pembiasaan B. Menceritakan gambar tanaman 3.

Nanas. 4. Materi Pelajaran * Tanaman Pak Sardi finggal di desa. Pak Sardi menjual hasil kebunnya ke kota. Anak dapat menghubungkan tulisan dengan gambar secara tepat. mobil dan . Anak dapat membaca nama tokoh-tokoh dalam cerita. 7. ia sangat rajin. Anak dapat menyusun huruf menjadi kata. Ia menanam buah-buahan Jeruk. Anak dapat mengelompokkan kata-kata yang sejenis.81 D. Tujuan Pembelajaran : 1. 5. E. Anak dapat membaca peristiwa dalam cerita melalui tulisan yang ada dalam Gambar. Di kota terdapat banyak kendaraan ada becak. sepeda motor. Pak Sardi pergi kota naik kuda. Anak dapat menyebutkan tokoh-tokoh dalam cerita. Pisang. Mangga dan masih banyak lagi buah yang lainnya. Anak dapat menceritakan kembali cerita dari gambar seri dengan bahasanya sendiri. 3. 2. 6.

Ceramah. Metode Pembelajaran 1. demonstrasi dengan gambar dan dadu. Anak membaca tulisan yang ditunjukkan guru e. Kegiatan awal a. Anak menyebutkan nama tokoh yang ada dalam cerita c. Kegiatan Inti. Sepeda motor Mobil 4. Tanya jawab. Anak menyusun huruf menjadi kata dengan menggunakan dadu huruf . Anak menceritakan kembali dengan bahasanya sendiri d. Langkah – langkah Kegiatan Pembelajaran. Anak diajak duduk dalam suasana belajar . Anak mengerjakan tugas menghubungkan gambar dengan tulisan yang sesuai. a. berdoa dan presensi b. 2.82 Kendaraan yang lain-lainnya. Apersepsi 2. f. Pemberian tugas. 1. Anak mendengarkan guru tentang cerita dari gambar b. 3. Becal F. G.

Mampu melakukan sendiri dengan baik dan benar diberi sekor 4 Mampu melakukan dengan sedikit bantuan diberi sekor Mampu melakukan dengan banyak bantuan diberi sekor Belum mampu melakukan diberi skor 3 2 1 . Penerbit Makmur Jaya Seri 5. 2. menyusun dan membaca Kreteria Penilaian Kenerja. Alat dan Sumber Bahan 1. Melempar dadu huruf. Penilaian / Evaluasi 1. Test perbuatan dan lesan : a. Menempel suku kata yang kurang sesuai gambar d. Sumber Bahan : Kartu bergambar. c. Alat / media Pelajaran 2. Guru menilai hasil pekerjaan siswa dan menyimpulkannya. Test Lisan : dilaksanakan pada proses pembelajaran berlangsung. Siswa diberi tugas guru untuk dikerjakan c. Dadu huruf : Kreasi guru : Buku PAUD. Guru menyimpulkan materi yang telah disajikan b. I. Guru memberi pekerjaan untuk dikerjakan dirumah d. b.83 3. halaman 5-6. menempel kata sesuai dengan gambar. menempel gambar sesuai kata yang tertulis. Kegiatan Akhir a. H.

16 x 10 = = NA = -------------- .84 Skor perolehan 4 3 2 1 N0 1... 2 3 4 Aspek yang dinilai Menempel kata sesuai gambar yang tertulis Menempel gambar sesuai dengan kata.. Menempel suku kata yang kurang sesuai gambar Menyusun huruf dengan lemparan dadu dan membacanya. Jumlah Skor maksimum 4 4 4 4 16 Jumlah skor yang diperoleh x 10 Nilai Akhir = Skor maksimum = .

Mawar a.. Pisang b. ....... Nanas 2. a... a. c..... Jeruk c.. Test tertulis I.. Nanas 3...85 J. b. c pada jawaban yang benar ! 1...... Berilah tanda silang ( X ) huruf a.. b.. ... . . Jeruk c... Pisang b...............

... 5.... ra .. c. ...................... b....... Gambar apakah ini. Lengkapilah a.... . ..... ri c.... Gajah a....... 7. Gambar apakah ini....86 4. ......... 6............ mah b........ ru ...

87 8 ........... Sri Mulyati .nga 9. li c.... Mengetahui Ka TK. a. . Elim Sragen Sragen. ruk c. rak * Tulislah nama gambar di bawah ini 10. 16 Juli 2010 Guru kelas B... TK Elim Sragen Dobirson S. rik b.. je ..... a. lo Te... . la b. .. ..

16 Juli 2010 Pengamat / Teman Sejawat ( SRI MULYATI ) ( IRA MUTIARANI ) .88 Lampiran 5 Lembar Pengamatan Aktivitas dan Kemampuan Membaca Permulaan Siklus I N o 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Frekuensi kesalahan dalam membaca Kesalahan membedakan huruf b dengan d Kesalahan membedakan huruf p dengan q Kesalahan membedakan huruf m dengan n Kesalahan membedakan huruf s dengan z Kesalahan membedakan huruf v dengan u Membaca terlalu lama Tidak Tiduran Tidak mengerjakan tugas Mengganggu teman-teman Berceritera atau berteriak-teriak saat pelajaran berlangsung mengikuti pelajaran sungguh-sungguh √ √ Aspek yang diamati Farel Ya Tidak √ √ √ √ √ √ √ dengan √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Ian Ya Tidak √ √ √ Guru / Peneliti Sragen.

3.5. Menggunakan ekspresi lisan.Menggunakan alat Bantu ( media ) pembelajaran yang sesuai dengan tujuan. dan Gerakan badan 3. Memantapkan penguasaan materi v v v v v v v v v Ya v v Tdk . Aspek yang dinilai Mengelola ruang dan fasilitas pembelajaran 1. Melaksanakan kegiatan pembelajaran secara individual. situasi dan sesuai lingkungan 2.2. Memberikan petunjuk dan penjelasan yang b. Menyiapkan ruangan.2.1 Melaksanakan jenis kegiatan yang sesuai dengan Tujuan. memicu dan memelihara ketertiban siswa 3. kelompok atau efiensi. Mengelola pembelajaran waktu secara klasikal 3.4. alat bantu dan sumber belajar 1.89 Lampiran 6 Lembar Pengamatan Kegiatan Guru dalam Pembelajaran Siklus I N0 1.4. 2. tulisan . terkait dengan isi pembelajaran 3.3. Melaksanakan kegiatan pembelajaran 2. Melaksanakan tugas harian kelas 2.1. Mengelola interaksi kelas a. situasi dan sesuai lingkungan 2.2. Menjawab pertanyaan dari respon siswa 3. isyarat.

1. v v Guru / Peneliti Sragen.1. terbuka.5. Mengembangkan hubungan antara pribadi yang sehat dan serasi 4.90 4.4. 16 Juli 2010 Pengamat / Teman Sejawat ( SRI MULYATI ) ( IRA MUTIARANI ) . Bersikap terbuka dan luwes serta membantu mengembangkan sikap positip siswa terhadap merespon materi 4.2. Membantu siswa menumbuhkan kepercayaan diri Melaksanakan evaluasi proses hasil belajar 5. Menunjukkan kegairahan mengajar 4. Melaksanakan penilaian selama pembelajaran 5.2.3. Menunjukkan sikap ramah. Melaksanakan penilaian pada pembelajaran proses akhir v v v v v 5. penuh pengertian dan sabar terhadap siswa. hangat luwes. Membantu siswa menyadari kelebihan dan kekurangannya 4. 4.

Standar Kompetensi : 1. Menceritakan gambar tanaman 3.16 Menghubungkan tulisan dengan gambar 1. Menyusun huruf menjadi kata .91 Lampiran 7 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ( RPP ) SIKLUS II Pengembangan Tema Kelas / Semester Pertemuan Alokasi Waktu : Bahasa Indonesia : Tanaman : B. Membaca sederhana 4. Indikator : : 1. Pembentukan perilaku melalui pembiasaan B. Menyebutkan nama tokoh dalam cerita 2. Kompetensi Dasar 1. Taman Kanak-Kanak / I : 1 : 1 x 30 menit A. Menghubungkan tulisan dengan gambar 5.12 Mengelompokkan kata-kata yang sejenis C.14 Bercerita Menyebutkan nama tokoh dalam cerita 1. Mengelompokkan kata-kata yang sejenis 6.

6. 4.92 D. Anak dapat menghubungkan tulisan dengan gambar secara tepat. Pak Sardi pergi kota naik kuda. Anak dapat menceritakan kembali cerita dari gambar seri dengan bahasanya sendiri. Mangga dan masih banyak lagi buah yang lainnya. 7. 3. . Anak dapat membaca peristiwa dalam cerita melalui tulisan yang ada dalam Gambar. E. Materi Pelajaran * Tanaman Pak Sardi finggal di desa. Anak dapat mengelompokkan kata-kata yang sejenis. Ia menanam buah-buahan Jeruk. ia sangat rajin. Anak dapat menyebutkan tokoh-tokoh dalam cerita. Pisang. Nanas. 5. Pak Sardi menjual hasil kebunnya ke kota. 2. Anak dapat menyusun huruf menjadi kata. Anak dapat membaca nama tokoh-tokoh dalam cerita. Tujuan Pembelajaran : 1.

Anak diajak duduk dalam suasana belajar . Anak menyebutkan nama tokoh yang ada dalam cerita c. a. Kegiatan Inti. Apersepsi 2. f. Tanya jawab. Langkah – langkah Kegiatan Pembelajaran. 2. Becak F.93 Di kota terdapat banyak kendaraan ada becak. Anak mengerjakan tugas menghubungkan gambar dengan tulisan yang sesuai. Sepeda motor Mobil 4. sepeda motor. Anak mendengarkan guru tentang cerita dari gambar b. Anak menceritakan kembali dengan bahasanya sendiri d. 1. 3. Ceramah. Kegiatan awal a. Metode Pembelajaran 1. Anak membaca tulisan yang ditunjukkan guru e. berdoa dan presensi b. G. mobil dan Kendaraan yang lain-lainnya. demonstrasi dengan gambar dan dadu. Anak menyusun huruf menjadi kata dengan menggunakan dadu huruf . Pemberian tugas.

Test perbuatan dan lesan : a. H. Penerbit Makmur Jaya Seri 5. Alat dan Sumber Bahan 1. menempel gambar sesuai kata yang tertulis. Dadu huruf : Kreasi guru : Buku PAUD. Test Lisan : dilaksanakan pada proses pembelajaran berlangsung. Mampu melakukan sendiri dengan baik dan benar diberi sekor 4 Mampu melakukan dengan sedikit bantuan diberi sekor Mampu melakukan dengan banyak bantuan diberi sekor Belum mampu melakukan diberi skor 3 2 1 . Melempar dadu huruf. Kegiatan Akhir a. Penilaian / Evaluasi 1. Alat / media Pelajaran 2. Guru menilai hasil pekerjaan siswa dan menyimpulkannya. Guru memberi pekerjaan untuk dikerjakan dirumah d. menyusun dan membaca Kreteria Penilaian Kenerja. Guru menyimpulkan materi yang telah disajikan b. Siswa diberi tugas guru untuk dikerjakan c. c. 2. I. Sumber Bahan : Kartu bergambar. b.94 3. Menempel suku kata yang kurang sesuai gambar d. menempel kata sesuai dengan gambar. halaman 5-6.

16 x 10 = = NA = -------------- . Jumlah Skor maksimum 4 4 4 4 16 Jumlah skor yang diperoleh x 10 Nilai Akhir = Skor maksimum = .95 Skor perolehan 4 3 2 1 N0 1. 2 3 4 Aspek yang dinilai Menempel kata sesuai gambar yang tertulis Menempel gambar sesuai dengan kata. Menempel suku kata yang kurang sesuai gambar Menyusun huruf dengan lemparan dadu dan membacanya....

.... Jeruk c. ... .. b..96 J.. c pada jawaban yang benar ! 1.. Nanas 2. Test tertulis I..... Jeruk c..... c.. Pisang b.... Berilah tanda silang ( X ) huruf a. a. Pisang b.... ......... Mawar a... b..... Nanas 3.. a... .

..... ra .............. ru ... 6... Gajah a........... c..... .............. .. .. Lengkapilah a..... ..... mah b..... 5.. ri c... Gambar apakah ini. Gambar apakah ini.. 7........ b.....97 4....

.. ..... ... b. rik je . Mengetahui Ka TK....98 8 ..... ruk c. li c. la b. TK Elim Sragen Dobirson S. lo Te... ..nga 9. . Elim Sragen Sragen.. a. rak * Tulislah nama gambar di bawah ini 10..... 9 Agustus 2010 Guru kelas B. a. Sri Mulyati ..

99 Lampiran 8 Lembar Pengamatan Aktivitas dan Kemampuan Membaca Permulaan Siklus II No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Aspek yang diamati Frekuensi kesalahan dalam membaca Kesalahan membedakan huruf b dengan d Kesalahan membedakan huruf p dengan q Kesalahan membedakan huruf m dengan n Kesalahan membedakan huruf s dengan z Kesalahan membedakan huruf v dengan u Membaca terlalu lama Tidak Tiduran Tidak mengerjakan tugas Mengganggu teman-teman Berceritera atau berteriak-teriak saat pelajaran berlangsung √ mengikuti pelajaran dengan sungguh-sungguh √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Farel Ya Tidak √ √ √ Ian Tidak √ √ √ √ √ √ √ √ Ya Guru / Peneliti Sragen. 9 Agustus 2010 Pengamat / Teman Sejawat ( SRI MULYATI ) ( IRA MUTIARANI) .

isyarat.1 Melaksanakan jenis kegiatan yang sesuai dengan Tujuan.2.2. dan Gerakan badan 3.3. Menggunakan ekspresi lisan.2. Memberikan petunjuk dan penjelasan yang terkait dengan isi pembelajaran 3.1. Melaksanakan evaluasi proses hasil belajar 5. penuh pengertian dan sabar terhadap siswa. Menunjukkan kegairahan mengajar 4. situasi dan sesuai lingkungan 2.2. terbuka.4.5. Melaksanakan penilaian selama proses pembelajaran 5. Mengembangkan hubungan antara pribadi yang sehat dan serasi 4.1. 3. Melaksanakan penilaian pada akhir pembelajaran v v v v v v v v v v v v v v v v N0 1. situasi dan sesuai lingkungan 2. hangat luwes.4. .3. 2. Tdk 2. Membantu siswa menyadari kelebihan dan kekurangannya 4. Melaksanakan kegiatan pembelajaran secara individual.2.1. Menyiapkan ruangan. Memantapkan penguasaan materi Bersikap terbuka dan luwes serta membantu mengembangkan sikap positip siswa terhadap merespon materi 4.1. Menggunakan alat Bantu ( media ) pembelajaran yang sesuai dengan tujuan. alat bantu dan sumber belajar v 1. Membantu siswa menumbuhkan kepercayaan diri 5. Menunjukkan sikap ramah. memicu dan memelihara ketertiban siswa 3. 4. Melaksanakan tugas harian kelas v Melaksanakan kegiatan pembelajaran 2.3.4. tulisan .5. kelompok atau efiensi. Mengelola pembelajaran waktu secara klasikal Mengelola interaksi kelas 3. 4. Menjawab pertanyaan dari respon siswa 3.100 Lampiran 9 LEMBAR OBSERVASI KEGIATAN GURU DALAM PEMBELAJARAN SIKLUS II Aspek yang dinilai Ya Mengelola ruang dan fasilitas pembelajaran 1.

101 Pengamat/Teman Sejawat ( SRI MULYATI ) ( IRA MUTIARANI ) Kegiatan Pembelajaran dengan Media Lempar Dadu Huruf .

102 .

103 .

104 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful