1

SKRIPSI PENELITIAN TINDAKAN KELAS UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA PERMULAAN MELALUI MEDIA BERMAIN LEMPAR DADU HURUF PADA ANAK TUNAGRAHITA KELAS B SEMESTER I DI TAMAN KANAK-KANAK ELIM SRAGEN TAHUN PELAJARAN 2010/2011

Disusun Oleh : SRI MULYATI NIM X 5108526

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KHUSUS FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2010

2

UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA PERMULAAN MELALUI MEDIA BERMAIN LEMPAR DADU HURUF PADA ANAK TUNAGRAHITA KELAS B SEMESTER I DI TAMAN KANAK-KANAK ELIM SRAGEN TAHUN PELAJARAN 2010/2011

OLEH: SRI MULYATI NIM: X5108526

SKRIPSI

Ditulis dan diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan Mendapat gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Khusus Jurusan Ilmu Pendidikan

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KHUSUS FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2010 ii

3

PERSETUJUAN

Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahan dihadapan tim penguji skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta

Persetujuan pembimbing,

Pembimbing I

Pembimbing II

Drs. A.Salim Choiri, M.Kes NIP. 195709011982031002

Drs. Subagya,M.Si NIP.19601001012

iii

4

PENGESAHAN Skripsi ini telah dipertahankan dihadapan Tim Penguji Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta dan diterima untuk memenuhi peryaratan mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan. Pada hari Tanggal : Rabu : 13 Oktober 2010

Tim Penguji Skripsi Ketua Sekretaris Anggota I Anggota II : Drs. Maryadi, M.Ag : Dra.B. Sunarti, M.Pd : Drs. Abdul Salim, M.Kes : Drs. Subagya, M.Si

Tanda tangan ............................................ ............................................ ............................................ ............................................

Disyahkan oleh Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Dekan,

Prof.Dr. M. Furgon Hidayatullah, M.Pd NIP.19600727 1987021001

iv

5

ABSTRAK Sri Mulyati, UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA PERMULAAN MELALUI MEDIA BERMAIN LEMPAR DADU HURUF PADA ANAK TUNAGRAHITA KELAS B SEMESTER I DI TAMAN KANAK-KANAK ELIM SRAGEN TAHUN PELAJARAN 2010/2011 Skripsi, Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret, September 2010. Penelitian ini bertujuan untuk untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan pada anak yang mengalami keterlambatan berpikir/ tunagrahita pada kelas B Taman Kanak-Kanak Elim tahun pelajaran 2010/2011. Metode penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yaitu penelitian yang dilakukan oleh guru di kelas tempat mengajar, dengan menggunakan media bermain lempar dadu huruf yang mampu meningkatkan kegairahan dalam mengikuti pembelajaran membaca, mampu memotivasi anak sehingga anak tidak merasa jenuh dalam belajar. Teknik analisis data digunakan analisis perbandingan, artinya hasil prestasi kemampuan membaca anak dibandingkan, kemudian dideskripsikan ke dalam suatu bentuk data penilaian yang berupa nilai. Dari prosentase dideskripsikan kearah kecenderungan tindakan guru dan reaksi serta hasil belajar siswa. Penelitian tindakan kelas yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa Pembelajaran dengan mengggunakan media bermain lempar dadu huruf dapat meningkatkan kemampuan anak dalam membaca permulaan, pada Anak Tunagrahita Kelas B semester I di Taman Kanak-Kanak Elim tahun pelajaran 2010/2011. . Kata kunci : Anak Tunagrahita, pembelajaran membaca, media lempar dadu huruf, meningkatkan kemampuan membaca permulaan.

v

6

ABSTRACT Sri Mulyati, THE ATTEMPT OF IMPROVING THE BEGINNING READING COMPETENCY USING LETTER DICE THROWING GAME MEDIA IN THE MENTAL RETARDED B GRADERS OF SEMESTER I IN SRAGEN ELIM KINDERGARTEN IN THE SCHOOL YEAR OF 2010/2011. Thesis, Surakarta: Teacher Training and Education Faculty, Sebelas Maret University, September 2010. This research aims to improve the beginning reading competency using letter dice throwing game media in the mental retarded B graders of semester I in Sragen Elim Kindergarten in the school year 2010/2011. The research method used was Classroom Action Research (CAR), the one conducted by the teacher in my class, using the letter dice throwing game media that can improve excitement in following the reading learning, can motivate children so that the children are not bored in learning. Technique of the analyzing data used was comparative analysis, meaning that the children’s reading competency achievement were compared, and then were described into a form of assessment data namely score. From the percentage described into teacher’s action predisposition and students’ reaction as well as learning achievement. From the classroom action research conducted, it can be concluded that learning using the letter dice throwing game media, it can improve the children’s competency in the beginning reading, for the mental retarded B graders of semester I in Sragen Elim Kindergarten in the school year of 2010/2011. Key word : Mental retarded, reading learning, letter dice throwing game media, improve the competency in the beginning reading.

vi

Isa almasih. vii . Kitab Injil Lukas.7 MOTTO: “Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang berbuat kepadamu. perbuatlah juga demikian kepada mereka”.

8 HALAMAN PERSEMBAHAN Keluargaku tercinta Ayah dan Ibunda yang aku banggakan Saudara-saudaraku yang telah mendukungku Rekan-rekan di Taman Kanak-Kanak Elim yang memotivasiku FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta yang tercinta viii .

6. ix . 2. Drs. M. Drs. Salim Choiri. sehingga penulis dapat menyelesaikan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Luar Biasa. Drs. Prof. Dobirson S.Si selaku pembimbing II yang telah memberikan petunjuk kepada penulis selama melaksanakan penelitian tindakan kelas. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta. Untuk itu. R. Indianto. Dr. Jurusan Ilmu Pendidikan. 4. Subagya M.Pd Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah memberi ijin kepada penulis untuk melaksanakan penelitian. M. penulis menyadari masih ada kekurangan. namun berkat bantuan dari berbagai pihak akhirnya kesulitan-kesulitan yang timbul dapat diatasi. Dalam penyusunan skripsi ini. M. 5. penulis mengucapkan terima kasih kepada yang terhormat: 1. atas kebaikan-Nya. Semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan penelitian tindakan kelas ini. Banyak hambatan yang menimbulkan kesulitan dalam penyelesaian penulisan penelitian tindakan kelas ini.Pd Ketua Jurusan Ilmu Pendidikan telah memberikan bimbingan dan pengarahan sehingga skripsi ini dapat terselesaikan. M. karena keterbatasan pengetahuan yang ada dan tentu hasilnya juga masih jauh dari kesempurnaan. Furqon Hidayatullah.9 KATA PENGANTAR Segala puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa. H.Kes Ketua Program Studi Pendidikan Khusus sekaligus selaku pembimbing I yang telah memberikan petunjuk kepada penulis sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.A. selaku Kepala Taman Kanak-Kanak Elim Sragen yang telah memberikan ijin tempat penelitian dan informasi yang dibutuhkan penulis. atas segala bentuk bantuan yang telah diberikan. Oleh karena itu segala saran dan kritik yang bersifat membangun sangat penulis harapkan. 3.

Surakarta.10 Semoga kebaikan Bapak. Ibu. mendapat pahala dari Tuhan Yang Maha Esa. dan menjadi amal kebaikan yang tiada putus-putusnya dan semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan. September 2010 Penulis x .

......... Pengertian Anak Tunagrahita................................... BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS TINDAKAN...................................................... 10 e............... ..................... PERSETUJUAN................ ........................................ Karakteristik Anak Tunagrahita..................... 14 2.. Faktor Penyebab Anak Tunagrahita...................................................................... ........ Tujuan Membaca.. ..................................... Pendidikan Anak Tunagrahita.....................................................................................11 DAFTAR ISI Halaman JUDUL... A....... B... Rumusan Masalah.................................. Anak Tunagrahita............ KATA PENGANTAR..............xiv d......... Kajian teori......................................................................................................... ................................................................................................................................... 12 f..................................................................................................... ABSTRAK....................... DAFTAR ISI.... PENGESAHAN. C....................................................... D........................................ 1...................................................................................................... ...... a.......................................... Latar Belakang Masalah................................... 4 6 8 i ii iii iv v vii viii ix xi 1 1 3 3 3 4 4 DAFTAR LAMPIRAN.................................. Klasifikasi Anak Tunagrahita.................................................................................... 16 a...... Pengertian Membaca.................................................................................................................................. 16 b........................................................................................................ 17 xi ..... Tinjauan Tentang Membaca Permulaan..................... PENGAJUAN........................... Tujuan Penelitian................. c... b........................................ PERSEMBAHAN........................ ........... A.................................................................................................................................................. Manfaat Hasil Penelitian................................ MOTTO.. Pembelajaran Anak Tunagrahita Pada kelas Inklusif............... BAB I PENDAHULUAN........................

........................................ BAB III METODOLOGI PENELITIAN............................. Fungsi Media Permainan Lempar Dadu Huruf.......................... Teknik Pengumpulan Data........ C................................................................................................. BAB IV: HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN............................. f. A.......................... 24 c.. Tinjauan tentang Media Permainan Lempar Dadu Huruf.......................................................................... 19 e............................................................ f............. I.............. Subyek Penelitian....................................... Metode Pengajaran Membaca ......................... Pengertian Membaca Permulaan........... Hipotesis Tindakan ............. 18 d......... Tehnik Analisis Data...... F....................................................... a............................. Pembelajaran Membaca Anak Tunagrahita................................................. 22 3......... Pengertian Media .......................................................................................................................... Setting Penelitian................................ Indikator Kinerja... B......................... Langkah-langkah Pengajaran dengan Menggunakan Media Permainan Lempar Dadu Huruf.. b....................................... D.............. Kelemahan dan Kelebihan Permainan Lempar Dadu Huruf.................................... B..................48 1.................. Kerangka Berfikir......................................... .... Tahap pelaksanaan Membaca Permulaan.................... Pengertian Media Lempar Dadu Huruf. G......................................................... Pelaksanaan Penelitian.................................. Data dan Sumber Data. Prosedur Penelitian............................................... Deskripsi Kondisi Awal............................................................ ............... Validitas dan Reliabilitas Instrumens... Validitas Data.. E.......................................... xii 48 30 31 33 34 34 34 35 36 41 42 43 43 44 47 29 27 25 23 23 21 ........................ A... Penerapan Pembelajaran dengan Menggunakan Media Lempar Dadu Huruf pada Anak Tunagrahita................. d....................12 c.... C...... e.................... H........

... Refleksi......................................13 2.... 66 A............. Pembahasan hasil Penelitian.................................................. Tindakan............................. 63 BAB V.. 52 c............................................................... 66 DAFTAR PUSTAKA.................. 52 52 b.................................................................................................................................................. Tindakan ...................................... SIMPULAN.............................. Pengamatan............................................................................................................................ Refleksi ................................................................................................................. 56 b....................... 56 3..................................... 71 xiii ...... Hasil Penelitian....................... 56 a...................... SARAN................................... 66 B.................. Perencanaan........................................................................ SIMPULAN DAN SARAN......... 60 C............................................................................................ 57 c.......... Pelaksanaan Siklus I....................... a...... Perencanaan........................................ 58 d............ 53 d...................................... Pelaksanaan Siklus II........................................................................ Pengamatan.................................................. 68 LAMPIRAN . 60 B................................................

.

baik bagi anak normal maupun anak yang mengalami kelainan atau berkebutuhan khusus. Pelaksanaan pendidikan inklusif diharapkan mampu membawa dampak yang positif bagi anak berkebutuhan khusus. mengucap syukur karena Tuhan menciptakan dirinya dengan keadaan normal. Mereka tidak harus menempuh jarak yang lumayan jauh dari tempat tinggalnya menuju ke Sekolah Luar Biasa (SLB) yang biasanya terdapat di kota kabupaten. Keberadaan anak yang berkebutuhan khusus ini tidak membuat teman normal lainnya tergannggu. dengan adanya sekolah inklusif diharapkan mampu belajar menerima dan memahami keadaan sesamanya yang berkekurangan sebagai bagian ciptaan Tuhan. Demikian juga bagi anak normal. Latar Belakang Masalah Setiap anak memiliki hak untuk memperoleh pendidikan. Pelaksanaan pendidikan inklusi merupakan jawaban dari kebutuhan pelayanan pendidikan bagi anak yang berkebutuhan khusus. karena anak berkebutuhan khusus tidak jarang memiliki kelebihan atau bakat yang tidak dimiliki anak normal lainnya. Pelayanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus dewasa ini mengalami kemajuan yang baik. Dua belas persen dari siswa Taman Kanak-Kanak Elim adalah Anak Berkebutuhan Khusus ABK). baik segi akademik. Penanaman karakter sangat ditekankan pada setiap pembelajaran. mampu belajar kelebihan orang lain. Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) memperoleh kesempatan yang lebih luas dalam memperoleh layanan pendidikan. Mereka dapat belajar bersama-sama dengan anak normal seusianya dalam satu sekolah yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Taman Kanak-Kanak Elim merupakan salah satu lembaga pendidikan yang menampung anak normal maupun anak berkebutuhan khusus untuk belajar bersama-sama dalam satu kelas. Setiap anak mampu menerima satu dengan yang lain tanpa saling merendahkan atau mengejek. mental maupun sosial.1 BAB I PENDAHULUAN A. Dewasa ini pelayanan pendidikan bagi anak berkelainan sudah mulai masuk ke desa-desa. .

lupa. termasuk dalam membaca. anak memiliki nila rata-rata bintang 1 atau 2. Untuk itu . kedua siswa ini mengalami ketertinggalan yang sangat jauh dengan siswa yang lain. kadang keliru membaca dengan huruf yang bentuknya hampir sama. perilaku. malu. bahkan beberapa huruf masih sering salah dibacanya. Untuk mengatasi hal tersebut perlu diadakan tindakan untuk menolong kedua anak tersebut. yaitu dengan bobot nilai 1 – 2 untuk bintang 1 dan 3 -4 untuk bintang 2. Dalam hal kognitif yakni kemampuan membaca permulaan juga menunjukkan hal sangat menggembirakan bahkan banyak diantara siswa di Taman Kanak-kanak Elim rata-rata sudah mampu membaca dengan lancar. m dengan n dan lain sebagainya. bahkan menangis saat teman-temannya mengolok-olok. Hasil penilaian untuk kemampuan membacanya. Contohnya: u dangan v.KANAK ELIM SRAGEN TAHUN PELAJARAN 2010/2011”. Dua diantara 16 dari siswa di Taman Kanak-kanak Elim mengalami keterlambatan di dalam berbagai kegiatan bermain dan belajar. yaitu memperbaiki proses pembelajaran yang membuat anak menjadi tertarik. .2 Kegiatan bermain sambil belajar pada Taman Kanak-kanak Elim Sragen berjalan sangat antusias dan sangat baik. sehingga anak mengalami perkembangan yang sangat baik. Anak sangat sulit dalam membaca kata. d dengan b. Hal tersebut juga mempengaruhi kepercayaan diri yang kurang terhadap anak. tidak jenuh sehingga anak ingin terus dan terus melakukan hingga anak mampu membaca dengan baik dan lancar seperti teman-teman yang lainnya. Hasil penilaian dalam belajar anak-anak rata-rata menunjukan nilai bintang 5 ataupun bintang 4. Anak sering merasa minder. psikomotor maupun seni. Bintang 5 memiliki bobot nilai 9-10 baik dalam kognitif. maka penulis berusaha untuk mencari dan menemukan solusi dengan mengadakan penelitian tindakan kelas dengan Judul “UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA PERMULAAN MELALUI MEDIA BERMAIN LEMPAR DADU HURUF PADA ANAK TUNAGRAHITA KELAS B SEMESTER I DI TAMAN KANAK. kadang belum mengerti.

b. Bagi Guru a. sehingga anak dapat belajar seraya bermain. Penelitian ini dapat menjadi wawasan bagi guru dalam menggunakan media bermain lempar dadu huruf pada pembelajaran membaca permulaan. Bagi Siswa a. Manfaat Hasil Penelitian 1. motivasi. C. Penelitian ini dapat meningkatkan keaktifan. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang terjadi di kelas B Taman Kanak-kanak Elim Sragen.3 A. yaitu “apakah penggunaan media bermain lempar dadu huruf dalam pembelajaran dapat meningkatkan kemampuan membaca permulaan pada kelas B Taman Kanak-kanak Elim Sragen?” B. melalui media bermain lempar dadu huruf pada kelas B semester I di Taman kanak-Kanak Elim Sragen. Tujuan Penelitian Berdasarkan perumusan masalah tersebut di atas maka tujuan penulis mengadakan penelitian adalah sebagai berikut: Untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan anak tunagrahita (ATG). berbagai metode guna meningkatkan kualitas . Penelitian ini dapat memberikan suasana yang menyenangkan. yakni belum tercapainya nilai maksimum membaca permulaan pada 2 anak yang mengalami keterlambatan maka penulis dapat merumuskan masalah. b. 2. minat dan partisipasi anak dalam kegiatan pembelajaran. Penelitian ini dapat menumbuhkan motivasi untuk lebih kreatif menggunakan pembelajaran.

demikian juga dalam hal kemampuan berpikir. masing-masing memiliki keunikan. Pengertian Anak Tunagrahita Tunagrahita menjelaskan tentang kondisi anak yang kecerdasannya dibawah rata. Kajian Teori 1.” Anak yang kecerdasannya di bawah rata-rata dikenal juga dengan anak keterbelakangan mental.4 BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS TINDAKAN A. Sutjihati Somantri (1996:83) menyatakan “Anak Tunagrahita adalah anak yang kecerdasannya jauh di bawah rata-rata. Pemahaman secara teoritis maupun praktis sangat diperlukan supaya guru ataupun para propesional dapat memberikan layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan mereka. yang ditandai oleh keterbatasan intelegensi dan ketidakcakapan dalam interaksi sosial. memiliki hak untuk memperoleh pendidikan sesuai dengan kebutuhan mereka. a. Anak Tunagrahita Keadaan setiap manusia berbeda satu dengan yang lain. karena mereka memiliki keterlambatan didalam berpikir. sukar untuk mengikuti program pendidikan di . karena anak mengalami keterbatasan dalam kemampuan berpikirnya. Mereka seperti anak-anak normal lainnya. Anak tunagrahita adalah merupakan individu yang utuh dan unik.rata yang ditandai oleh keterbatasan intelegensi dan ketidak cakapan dalam interaksi sosial. masingmasing anak terlahir dalam keadaan yang berbeda. Kelemahan dan kelebihan dimiliki setiap anak. Anak yang mengalami kelemahan atau kelainan dalam berpikir secara umum sering disebut dengan anak di bawah normal atau tunagrahita. Anak yang memiliki kecerdasan di bawah garis normal perlu suatu penanganan yang khusus.

artinya anak usia enam tahun memiliki MA enam tahun. yang mencakup fungsi intelektual yang dibawah rata-rata. . AFMR dalam Astati (2010) menyatakan: “Seseorang dikatakan tunagrahita apabila memiliki 2 kriteria yang penting. yakni pertama fungsi intelektual secara nyata berada di bawah rata-rata. Jadi dikatakan tunagrahita jika memenuhi dua komponen tersebut”. AAMD (America Association of Mental Deficiency) dalam Anggie Sa’adah (2009) menjelaskan bahwa: “Tunagrahita menunjukkan adanya keterbatasan dalam fungsi. kesehatan dan keamanan. Gangguan dipengaruhi oleh faktor genetik. lingkungan dan psikososial”. Berdasarkan pendapat di atas. keterampilan social. Untuk mendeteksi anak tunagrahita atau keterbelakangan mental ada baiknya memahami konsep Mental Age (MA). Sebagai contoh. Pengajaran sistem klasikal memberikan masalah bagi anak karena kemampuan berpikirnya tidak seperti teman-teman lain yang cerdas ataupun yang normal. merawat diri sendiri. Keadaan ini nampak sebelum usia 18 Tahun. maka anak tersebut memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Waktu terjadinya sebelum usia perkembangan yaitu 18 tahun. sehingga kecerdasannya berada jauh di bawah rata-rata yang ditandai oleh keterbatasan intelegensi sehingga kurang/tidak mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan. dimana berkaitan dengan keterbatasan pada dua atau lebih keterampilan adaptif seperti komunikasi. kedua adanya ketidakmampuan dalam menyesuaikan diri dengan norma dan tuntutan yang berlaku dalam masyarakat.5 sekolah. Jika seorang anak memiliki MA lebih tinggi. anak yang berusia enam tahun akan memiliki kemampuan yang sepadan dengan anak usai enam tahun pada umumnya. maka penulis dapat menegaskan bahwa anak tunagrahita adalah anak yang mengalami hambatan dalam kecerdasannya. Mental Age adalah kemampuan mental oleh seorang anak pada usia tertentu. dan waktu luang. fungsi akademis. Intellectual Disability Perspective & Challenges. Sebaliknya jika MA anak lebih rendah dari umurnya.

2) Faktor keturunan Sifat menurun yang dibawa dari orang tua kepada anak. totalnya adalah 46. Anak tunagrahita selalu memiliki MA lebih rendah daripada umurnya secara jelas. ketrampilan merawat diri dan memecahkan masalah.” Faktor internal adalah faktor yang erat hubungannya dengan keadaan bayi selama masih ada dalam kandungan. kekurangan gizi dan sebagainya akan berpengaruh kurang baik pada bayi yang . yaitu faktor internal dan eksternal. MA yang sedikit saja kurang dari umur tidak termasuk tunagrahita. sehingga jumlah kromosom tidak 46 tetapi 47. menunjukkan pemburukan yang jelas dalam bahasa.6 maka anak tersebut memiliki kecerdasan di bawah rata-rata. 3) Kondisi ibu saat hamil Kondisi ibu saat hamil mempengaruhi keadaan bayi yang dikandungnya. jika selama mengandung ibu dalam keadaan sakit. daya ingat. Kelainan Sindrom Down terjadi karena kelebihan jumlah kromosom pada kromosom no 21 yang seharusnya dua menjadi tiga. seperti kelainan jantung bawaan. diantaranya seperti yang diungkapkan Sutjihati Somantri (1996:53) bahwa “penyebab tunagrahita ada 2 faktor. MA dipandang sebagai indeks dari perkembangan kognitif seorang anak. Faktor internal penyebab terjadinya kelainan diantaranya adalah: 1) Kelainan pada kromosom Inti sel manusia terdapat 23 pasang kromosom. hidung pesek. Anak yang memiliki tingkat kecerdasan di bawah rata-rata namun memilki kemampuan menyesuaikan diri dengan normal dan tuntutan yang berlaku dalam masyarakat tidak disebut anak tunagrahita. b. Hal ini bisa menyebabkan penderitanya mengalami kelainan fisik. Sindrom Down atau down sindrom memiliki karakter mata sipit. strees. otot-otot melemah dan retardasi mental yakni hambatan perkembangan kecerdasan dan psikomotor. Faktor Penyebab Anak Tunagrahita Ketunagrahitaan dapat terjadi karena berbagai faktor.

kekurangan oksigen. penyakit. 4) Infeksi dan keracunan Infeksi dan keracunan yang terjadi selama janin dalam kandungan. Zat radioaktif saat penyinaran semasa bayi dapat mengakibatkan tunagrahita microcephaly. Konsumsi obat yang tidak sesuai petunjuk dokter dapat mengakibatkan kecacatan. . Faktor penyebab terjadinya tunagrahita saat anak lahir misalnya: pemakaian alat bantu pada saat melahirkan. Metabolisme dan gizi sangat penting peranannya bagi pertumbuhan dan perkembangan individu. kegagalan dalam mengadakan interaksi yang terjadi selama perkembangan menjadi salah satu penyebab ketunagrahitaan. obat-obatan atau narkotika. 3) Kecelakaan Kecelakaan dapat mengakibatkan terjadinya kecacatan pada baik pisik maupan psikis. toxoplasma. infeksi dan keracunan ini dialami lewat penyakit-penyakit yang diderita oleh ibu. Faktor eksternal yang menyebabkan terjadinya kelainan adalah: 1) Gangguan metabolisme dan kekurangan gizi. kurang gizi. 4) Faktor Lingkungan atau sosial budaya Lingkungan berperan terhadap fungsi intelek anak. Trauma yang terjadi pada saat kelahiran dapat dialami ketika proses kelahiran yang sulit sehingga harus dibantu dengan alat (tang). dan sebagainya. dan lain-lain. 2) Trauma dan Zat Radioaktif Benturan atau tekanan pada kepala dapat menyebabkan kecacatan pada otak. misalnya penyakit yang timbul karena virul rubella syphilis. Faktor penyebab tunagrahita setelah anak lahir adalah. kecelakaan. Faktor eksternal adalah faktor yang terjadi pada saat melahirkan dan setelah anak lahir. keracunan alkohol. Gangguan pada metabolisme dan kekurangan gizi dapat menyebabkan terjadinya gangguan fisik maupun mental pada individu.7 dikandungnya.

sebab-sebab pada masa perinatal atau saat lahir. misalnya studi yang dilakukan oleh Kirk (Astati.com/2009) : 1). penyebab karena deprivasi lingkungan”. c. 2). Trainable Mempunyai kemampuan dalam mengurus diri sendiri. sebab-sebab pada saat pos natal. Klasifikasi Anak Tunagrahita Anak tunagrahita dapat diklasifikasikan sesuai dengan keberadaannya.8 Berbagai penelitian melaporkan bahwa anak tunagrahita banyak ditemukan pada daerah yang tingkat sosial ekonominya rendah. misalnya keturunan/ bawaan dari dalam kandungan. menyatakan “penyebab tunagrahita ada 5 hal: genetik atau keturunan. hal ini disebabkan oleh ketidakmampuan lingkungan dalam memberikan stimulus pada masa perkembangan. 2) faktor eksogen Yaitu faktor penyebab ketunaan diluar keturunan/ bawaan atau pengaruh yang datang dari luar setelah anak lahir. berbagai pendapat mengklasifikasikan anak tunagrahita sebagai berikut: Klasifikasi anak tunagrahita untuk keperluan pembelajaran menurut America Associationon Mental Retardation dalam Anggie (http://saunganggie. 2010) menunjukkan bahwa anak yang berasal dari keluarga kurang mampu memiliki kecenderungan untuk mempertahankan mentalnya pada taraf yang sama. blogspot. . bahkan prestasi belajarnya semakin berkurang dengan meningkatnya usia. Pertahanan diri dan penyesuaian sosial. yakni: 1) faktor endogen Yaitu faktor penyebab ketunaan yang datang dari dalam. Berdasar kedua pendapat di atas penulis menyimpulkan bahwa banyak faktor yang dapat menyebabkan terjadinya kelainan atau ketunaan. Mulyono Abdurrahman (2003:24). Penulis mengelompokkan faktor penyebab ketunaan dalam dua kelompok. Sebab-sebab masa prenatal. Educable Anak pada kelompok ini masih mempunyai kemampuan dalam akademik setara dengan anak reguler pada kelas 5 sekolah dasar. sangat terbatas untuk kemampuan pendidikan akademik.

Hal ini biasanya memerlukan pengawasan dan dukungan terus menerus. yaitu Psikometrik dan perilaku adaptif. Retardasi mental secara psikometrik menurut skala intelegensi Wechsler dalam Astati (2010) ada 4 taraf. yaitu: 1) 2) 3) 4) Retardasi mental ringan (mild mental retardation) dengan IQ 55-69. Retardasi mental sangat berat (profound mental retardation) dengan IQ 20 kebawah. Retardasi mental menurut kriteria perilaku adaptif tidak berdasarkan taraf intelegensi.kebawah Tidak mampu menerima pendidikan secara akademis. menulis. dapat melatih tentang dasar-dasar cara menolong diri sendiri dan kemampuan yang bersifat komunikatif. Klasifikasi dari segi keperluan pendidikan sebagai berikut: . Custodial Dengan pemberian latihan yang terus menerus dan khusus. yaitu: 1) Ringan 2) Sedang 3) Berat 4) Sangat berat Berdasarkan pendapat di atas penulis menyimpulkan bahwa anak tunagrahita dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kelompok menurut kepentingannya. Klasifikasi anak tunagrahita/ retardasi mental secara Sosial-Psikologis terbagi menjadi 2. klasifikasi anak tunagrahita: 1) Anak tunagrahita ringan IQ 50 – 70 Mampu dididik diajarkan membaca. tetapi berdasarkan kematangan sosial.9 3). Retardasi mental sedang (mild mental retardation) dengan IQ 40-54. dan berhitung. 3) Tunagrahita berat IQ 24. Termasuk mampu rawat. 2) Tunagrahita sedang IQ 25 – 49 Termasuk mampu latih. Kegiatan sehari-hari membutuhkan bantuan orang lain. Retardasi mental berat (sever mental retardation) dengan IQ 20-39. Hal ini juga mempunyai 4 taraf. Biasanya bisa menyelesaikan pendidikan setingkat kelas IV SD umum. Mereka biasanya menyelesaikan pendidikan setingkat kelas III SD umum. Menurut Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa (2007:4) dalam buku Pedoman Penyelenggaraan Pendididkan Inklusif.

Mereka membutuhkan pengawasan. d. berhitung. Mereka memiliki IQ antara 50 s/d 70. menjahit bahkan bisa dilatih untuk berjualan. perhatian bahkan pelayanan. 3) Anak mampu rawat (tunagrahita berat/ Idiot) Anak tidak mampu menerima pendidikan secara akademis. memasak. misalnya membaca. 2) Anak mampu latih (tunagrahita sedang/ Embisil) Anak tunagrahita sedang mampu diajarkan membaca. untuk tunagrahita berat dapat kelihatan. mampu berlindung dari bahaya karena itu anak tunagrahita ringan tidak memerlukan pengawasan ekstra. Karakteristik Anak Tunagrahita Defli (2009) menyebutkan bahwa karakteristik anak tunagrahita dapat dilihat dari segi: 1) Fisik (penampilan) a) Untuk tunagrahita ringan hampir sama dengan anak normal. Anak tunagrahita sedang memiliki IQ antara 30 s/d 50. Sedikit perhatian dan pengawasan diperlukan untuk perkembangan mental dan sosial anak tunagrahita sedang. berhitung. b) Kematangan motorik lambat c) Koordinasi gerak kurang 2) Intelektual . untuk mengurangi ketergantungan kepada orang lain. mereka mampu bekerja di lapangan namun perlu sedikit pengawasan. kondisi fisik mereka tidak begitu berbeda dengan anak normal lainnnya. Mereka mampu menolong diri sendiri. Anak tunagrahita ringan lebih mudah diajak komunikasi. menulis . bimbingan aktivitas sehari-hari. kuliah. misalnya: sekolah menengah umum. Mampu dilatih ketrampilan-ketrampilan sederhana.10 1) Anak mampu didik (tunagrahita ringan/ debil) Anak mampu dididik dan dilatih. Anak tunagrahita berat memiliki IQ 29 kebawah. menulis. Anak mampu mengikuti pendidikan walaupun tidak mencapai tingkat yang tinggi. anak tidak dapat mengurus dirinya sendiri apalagi berlindung dari bahaya.

Mereka lambat dalam mengerjakan tugas-tugas yang sangatsederhana. Sebagian dari anak tunagrahita berat sangat sulit untuk mengurus diri sendiri. dan mengurus kebersihan diri. Kegiatan mereka seperti ritual. 2) Kesulitan dalam menggeneralisasi dan mempelajari hal-hal yang baru.485-486. mempunyai kesulitan dalam mempelajari pengetahuan abstrak atau yang berkaitan. 1996 (http://saunganggie. penulis menyimpulkan bahwa anak tunagrahita memiliki karakteristik sebagai berikut: pada Exceptional dalam Angie Siti Sa’adah . dan mendongakkan kepala. makan. Banyak anak tunagrahita berat bertingkah laku tanpa tujuan yang jelas. setaraf dengan anak usia 3 – 4 tahun (IQ 30 kebawah) 3) Sosial dan emosi a) Bergaul dengan anak yang lebih muda b) Suka menyendiri c) Mudah dipengaruhi d) Kurang dinamis e) Kurang pertimbangan/ kontrol diri f) Kurang konsentrasi. mudah dipengaruhi g) Dapat memimpin diri sendiri maupun orang lain Karakteristik anak tunagrahita menurut Brown Children. Kebanyakan anak denga tunagrahita berat mempunyai ketebatasab dalam gerak fisik. membentur-beturkan kepala. 3) Kemampuan bicaranya sangat kurang bagi anak tunagrahita berat. Hal itu mungkin disebabkan kesulitan bagi anak tunagrahita dalam memberikan perhatian terhadap lawan main. sulit menjangkau sesuatu . dan selalu cepat lupa apa yang dia pelajari tanpa latihan yang terus menerus. fifth edition.com/2009) menyatakan: 1) Lamban dalam mempelajari hal-hal yang baru. misalnya: memutar-mutar jari di depan wajahnya dan melakukan hal-hal yang membahayakan diri sendiri. 4) Cacat fisik dan perkembangan gerak. Mereka selalu memerlukan latihan khusus untuk mempelajari kemampuan dasar. dll. tidak dapat berdiri atau bangun tanpa bantuan. Anak tunagrahta ringan dapat bermain bersama dengan anak reguler. tetapi anak yang mempunyai tunagrahita berat tidak meakukan hal tersebut.11 a) Sulit mempelajari hal-hal akademik b) Anak tunagrahita ringan kemampuannya setaraf anak normal usia 12 tahun (IQ 50 – 70) c) Klasifikasi sedang setaraf dengan usia 7 – 8 tahun (IQ 30 – 50) d) Berat. seperti: berpakaian. 6) Tingkah laku dan interaksi yang tidak lazim. p. 7) Tingkah laku kurang wajar yang terus menerus. Berdasarkan pendapat di atas.blogspot. 5) Kurang dalam kemampuan menolong diri sendiri. misalnya: menggigit diri sendiri. ada yang tidak dapat berjalan.

e. Pendidikan Anak Tunagrahita Bentuk-bentuk penyelenggaraan pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus.12 1) Memiliki kemampuan berpikir yang rendah 2) Emosi yang labil bahkan kurang wajar 3) Sulit bersosialisasi 4) Kemampuan motorik yang kurang 5) Mengalami gangguan dalam berkomunikasi. Contohnya: a) Sekolah Luar Biasa (SLB). Contohnya: Sekolah reguler . b) Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB). Keuntungan sekolah segregrasi: a) Rasa ketenangan pada anak luar biasa b) Komunikasi yang mudah dan lancar c) Metode pembelajaran yang khusus sesuai dengan kondisi dan kemampuan anak d) Guru dengan latar belakang pendidikan luar biasa e) Sarana dan prasarana yang sesuai Kelemahan sekolah segregasi: a) Sosialisasi terbatas b) Biaya mahal 2) Sistem pendidikan integrasi Sistem pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) yang memungkinkan anak luar biasa memperoleh kesempatan mengikuti proses pendidikan bersama dengan siswa normal lainnya. adalah: 1) Sistem pendidikan segregasi Sistem pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) secara khusus dan terpisah dari anak-anak normal.

b) Pelayanan pendidikan kurang memadai. 3) Sistem Pendidikan inklusi Sekolah reguler yang menerima anak berkebutuhan khusus (ABK) dengan kurikulum dan sistem pendidikan sesuai dengan kebutuhan ABK di sekolah reguler tersebut.13 Keuntungan: a) Merasa diakui kesamaan haknya dengan anak normal terutama dalam memperoleh pendidikan b) Bakat dapat berkembang dengan optimal c) Mempunyai kesempatan untuk melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi d) Harga diri bisa meningkat Kelemahan: a) Kurangnya tenaga ahli atau sumber daya yang memiliki pengetahuan yang cukup tentang anak disability. Hal ini disebabkan karena pelayanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus biasanya berada di kota-kota kabupaten. Program penuntasan wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun diharapkan berhasil dengan baik. Kelemahan: e) Memerlukan banyak tenaga pengajar maupun pendamping f) Memerlukan banyak sarana dan prasarana Pendidikan inklusif muncul dilatar belakangi oleh kurang meratanya pendidikan bagi anak-anak yang berkebutuhan khusus. terutama ekonomi lemah yang berada di pedesaan. Program ini dilandaskan pada UndangUndang Dasar 1945 pasal 31 tentang hak setiap warga negara untuk . b) Biaya relatif murah c) Sosialisasi berkembang dengan baik d) Belajar sesuai dengan kebutuhan anak. Keuntungan: a) Lokasi berada dekat dengan anak.

tujuan pendidikan nasional adalah berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. berilmu. penerapan pendidikan inklusif dijamin oleh UndangUndang nomor 20/2003 tentang sistem pendidikan nasional yang dalam penjelasannya menyebutkan bahwa penyelenggaraan pendidikan untuk peserta didik berkelainan atau memiliki kecerdasan luar biasa diselenggarakan secara inklusif atau berupa sekolah khusus. 2004). baik terhadap perkembangan akademik dan sosial. Landasan paedagogis. Akan tetapi pendidikan inklusif berdampak positif. Di Indonesia. sehat. yuridis. mandiri. Hal ini dilandasi pernyataan Salamanca yang merupakan perluasan dari program UNESCO. Landasan yuridis internasional penerapan pendidikan inklusif adalah Deklarasi Salamanca semua (UNESCO. penelitian menunjukkan bahwa penempatan anak berkelainan di tempat khusus tidak efektif dan diskriminatif.14 memperoleh pendidikan. yakni education for all. Penerapan pendidikan inklusif mempunyai landasan fisiologis. dan bertanggung jawab. seyogyanya bersama-sama memandang kesulitan ataupun perbedaan yang mungkin ada pada mereka. demikian juga halnya dengan anak yang mengalami kekurangan. kreatif. berakhlak mulia. mereka merasa diterima dan dapat hidup bersama-sama dengan anak normal lainnya. Anak dapat memiliki kepercayaan diri yang lebih baik. Landasan filosofis utama penerapan pendidikan inklusif di Indonesia adalah Pancasila yang merupakan lima pilar sekaligus cita-cita yang didirikan atas fondasi yang lebih mendasar lagi. yang disebut Bhinneka Tunggal Ika (Mulyono Abdulrahman dalam Direktorat Pendidikan Luar Biasa. Jadi melalui pendidikan peserta didik berkelainan dibentuk menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. paedagogis. cakap. sehingga motivasi untuk belajar dan berkarya menjadi lebih baik. . anak 1994) menekankan berlajar bahwa selama tanpa memungkinkan. Teknis penyelenggaraannya tentunya akan diatur dalam bentuk operasional. Landasan empiris. dan empiris yang kuat.

namun bagi anak yang berkebutuhan . Profile sangat berguna yntuk memahami kebutuhan khusus anak dalam rangka penyusunan kebutuhan pembelajaran secara individu. diperlukan tenaga-tenaga yang mampu menangani anak berkebutuhan/ profesional. tenaga kependidikan. hal ini dikarenakan anak tunagrahita kurang mampu berfikir abstrak. maka pembelajaran bagi anak tunagrahita pun . kurikulum. Pembelajaran Anak Tunagrahita pada kelas Inklusif Pelaksanaan pembelajaran anak tunagrahita pada kelas inklusif adalah anak berkebutuhan khusus belajar bersama-sama dengan anak normal sebaya dengan kurikulum dan sistem pendidikan yang berbeda satu sama lain yang disesuaikan dengan kebutuhan anak. Hal ini disebabkan anak tunagrahita kurang mampu berfikir abstrak. seperti dalam pembelajaran anak-anak pada umumnya . Penanganan kepeserta didikan meliputi perencanaan dan pelaksanaan assesmen. Pelaksanaan pembelajaran anak tunagrahita di Taman Kanak-kanak Elim adalah belajar bersama-sama dengan anak normal lainnya dalam satu kelas/ kelompok dengan kurikulum yang sama. maka dibutuhkan alat pelajaran yang memadai. dengan demikian keperluan-keperluan anak berkebutuhan khusus tidak terabaikan dalam proses pembelajaran. Pelayanan Khusus tersebut meliputi penanganan kepeserta didikan. sarana prasarana. dalam menangani anak yang memerlukan pelayanan khusus. media pembelajaran dan Alat Bantu pelajaran memegang peranan penting .. Tenaga kependidikan. pendanaan dan lingkungan. Saran dan prasarana. mereka membutuhkan hal-hal kongkrit. Kurikulum disusun berdasarkan kebutuhan anak sesuai profile tiap peserta didik yang membutuhkan pelayanan khusus. Alat Bantu pelajaran penting diperhatikan dalam mengajar anak tunagrahita. Pelaksanaan pembelajaran anak tunagrahita pada kelas inklusif pada dasarnya adalah memperhatikan atau memberikan pelayanan khusus kepada setiap individu sebagai peserta didik. Agar terjadinya tanggapan tentang obyek yang dipelajari. Hal ini dimaksudkan dalam rangka membuat profile anak.15 f.

16 khusus kurikulum disesuaikan dengan kondisi anak. Kemampuan membaca merupakan suatu kemampuan untuk memahami informasi atau wacana yang disampaikan oleh pihak lain melalui tulisan. Berdasarkan pendapat di atas. (4) membaca luas dan (5) membaca yang sesungguhnya.menulis) diberikan saat pelajaran berlangsung dilakukan Oleh guru pendamping. Dikatakan kegiatan mental karena bagian-bagian mengalami dalam anggie (http://saunganggie. Ada lima tahapan perkembangan membaca yaitu : (1) kesiapan membaca. Jika dirasa perlu anak yang berkebutuhan khusus diberikan penambahan jam belajar saat istirahat atau setelah jam pelajaran selesai. Dikatakan kegiatan fisik karena bagian tubuh khususnya mata beraktifitas dalam kegiatan membaca. 2. Bagi siswa membaca juga menjadi modal agar dapat mengikuti kegiatan pembelajaran.blogspot. (2) membaca permulaan. Membaca bukan hanya mengucapkan bahasa tulis tetapi juga memahami maknanya. Pengertian Membaca Membaca merupakan modal bagi seseorang untuk mempelajari buku dan mencari informasi tertulis. memahami makna dari suatu simbol atau tulisan. penulis dapat menyimpulkan bahwa membaca merupakan kegiatan yang sangat kompleks yang mencakup aktifitas fisik dan mental untuk mengenal.” Menurut Tampubolon makna dari tulisan”. Menurut Munawir Yusuf (2005:134) “membaca merupakan aktifitas auditif dan visual untuk memperoleh makna dari simbol berupa huruf atau kata. Kemampuan membaca merupakan dasar untuk menguasai berbagai bidang studis. anak harus belajar membaca agar dapat belajar. maka anak akan dalam beberapa bidang studi. (3) ketrampilan membaca cepat. Penambahan pelayanan pendidikan (membaca. Tinjauan Tentang Membaca Permulaan a. Jika anak pada usia sekolah tidak segera banyak memiliki kesulitan kemampuan membaca. Oleh karena itu.com/2009) “membaca pada hakekatnya adalah kegiatan fisik dan mental untuk menemukan .

Interaktif maksudnya keterlibatan pembaca dengan teks tergantung pada konteks.2009) mengemukakan bahwa tujuan membaca dan menulis permulaan ialah “mengenalkan kepada siswa hurufhuruf abjad sebagai tanda suara dan melatih kecakapan anak untuk mengubah huruf menjadi suara dalam kata. interaktif.kata sebagai pengertian”. yaitu pengertian yang memandang membaca sebagai proses memahami bacaan. strategis. 2009) “membangun pemahaman dari teks yang tertulis. 2) Pengertian agak luas. mengembangkan perbendaharaan kata. Betapa pentingnya peranan membaca bagi kita semua. yaitu: 1) Pengertian sederhana. Strategis maksudnya membaca yang efektif menggunakan berbagai strategi yang sesuai dengan teks yang dibaca. yaitu pengertian yang memandang membaca sebagai proses mengolah bacaan yaitu proses memaknai bacaan secara mendalam. menemukan makna dari bacaan atau tulisan bukan mengenali huruf-huruf”. Membaca merupakan suatu proses maksudnya adalah informasi dari teks dan pengetahuan yang dimiliki oleh pembaca mempunyai peran utama dalam membentuk makna. yaitu pengertian yang memandang membacac sebagai proses pengenalan simbol-simbol tertulis bermakna. 3) Pengertian luas. . Menurut Stauffer dalam Mathedu (2009) tujuan membaca membangun konsep. Sejono (dalam Devid Haryalesmana. memberi pengetahuan. Berdasarkan subtansinya pengertian membaca dapat diklasifikasikan menjadi tiga golongan. b. Tujuan membaca menurut Smith (Tampubolon. Tujuan Membaca Membaca adalah gerbang menuju penguasaan ilmu pengetahuan. Beberapa hal yang tercakup dalam pengertian membaca yaitu: membaca merupakan suatu proses. Dalam membaca kita mempunyai banyak tujuan. tergantung pada situasi dan kondisi si pembaca.17 pikiran khususnya persepsi yaitu kemampuan untuk menafsirkan apa yang dilihat sebagai simbol atau kata dan ingatan terlibat didalam kegiatan ini.

Brata (http://Mbahbrata-edu. karena dengan membaca pengetahuan seseorang akan bertambah. mengerti dan memahami problem orang lain.18 menambahkan proses pengayaan pribadi.com/2009/06) membaca permulaan adalah “tahapan proses belajar membaca bagi siswa untuk memperoleh kemampuan dan menguasai teknik-teknik membaca dan menangkap isi bacaan dengan baik. kesedihan. karena ilmu atau pengalaman nya yang didapat melalui membaca. membaca permulaan dapat diartikan suatu tahapan awal yang dilakukan oleh anak untuk memperoleh kecakapan dalam membaca. mengembangkan intelektualitas.com/2008/12/02). Ilmu yang tidak kita mengerti akan kita mengerti lewat membaca. Menurut M.blogspot. mengembangkan konsep diri dan sebagai suatu kesenangan. Menurut Tarmizi (http://tarmizi. sehingga anak dapat menyuarakan tulisan tersebut. Membaca mampu mengembangkan intelektualitas seseorang. Pengertian Membaca Permulaan Membaca permulaan merupakan tahapan anak dalam ketrampilan membaca yang lebih tinggi.” Permulaan mengandung makna “awal”. Seseorang yang gemar membaca akan nampak berbeda dengan orang yang tidak suka membaca saat mengemukakan pendapat atau berargumentasi terhadap suatu masalah. bahkan keputusasaan 5) Membaca karena hoby c. banyak halhal positif yang dapat kita ambil melalui membaca.wordpress. Berdasarkan pendapat diatas penulis menyimpulkan bahwa tujuan membaca diantaranya: 1) Mengembangkan intelektualitas/ melatih kecakapan 2) Mendapatkan informasi 3) Membangun konsep diri 4) Melepaskan diri dari kejenuhan. . “membaca permulaan adalah tahap awal anak belajar membaca dengan fokus pada pengenalan simbol-simbol huruf dan aspek-aspek yang mendukung pada kegiatan membaca lanjut”. yakni kecakapan atau ketrampilan mengenal tulisan sebagai lambang atau simbol bahasa. Membaca membuat pengetahuan semakin bertambah.

yakni : 1) Pembelajaran membaca tanpa buku . Proses recoding yaitu proses fisik yang berupa kegiatan mengamati tulisan secara visual. pembaca belum memiliki ketrampilan kemampuan membaca yang sesungguhnya tetapi masih dalam tahap belajar untuk memperoleh ketrampilan/ kemampuan membaca. melalui proses decoding gambar bunyi dan kombinasinya diidentifikasikan. d. Pada tingkatan membaca permulaan.com/2009). Membaca pada tingkatan ini merupakan kegiatan kegiatan belajar mengenal bahasa tulis. rangkaian tulisan yang dibacanya menjadi suatu rangkaian bunyi dalam kombinasi kata.blogspot. Membaca permulaan yang menjadi acuan adalah membaca merupakan proses recoding dan decoding. sebagai dasar anak dalam pembelajaran membaca berikutnya. Syarat-syarat yang diperlukan untuk memperoleh kemampuan membaca adalah: 1) Kemampuan membunyikan lambang-lambang tulis 2) Penguasaan kosakata untuk memberi arti 3) Kemampuan memasukkan makna. Dengan proses tersebut. diuraikan kemudian diberi makna. Proses decoding merupakan proses psikologis berupa kegiatan berpikir dalam mengolah informasi. Brata (http://Mbahbrata-edu.19 Berdasarkan pendapat di atas penulis dapat simpulkan bahwa membaca permulaan adalah tahap awal anak belajar mengenal huruf atau symbol bunyi dan menyuarakannya. Tahap Pelaksanaan Membaca Permulaan Pembelajaran membaca perlu melalui tahap-tahap yang sesuai dengan perkembangan dan kemampuan anak. mengenali dan membedakan gambar-gambar bunyi serta kombinasinya. Tahap-tahap pelaksanaan membaca permulaan yang dikemukakan oleh M. Melalui tulisan itulah siswa dituntut dapat menyuarakan lambang-lambang bunyi bahasa tersebut. ada dua. kelompok kata dan kalimat bermakna.

dan tahap menggunakan buku yakni setelah anak mengenal atau paham tentang simbolsimbol bunyi atau huruf-huruf.20 Dilakukan dengan cara mengajar dengan menggunakan media atau alat peraga selain buku. 2) Membaca dengan menggunakan buku. anak diperhadapkan dengan bacaan. yakni: membaca tanpa buku dan membaca menggunakan buku”. Menurut Darmiyati Zuhdi (2001:4). Pada tahap ini anak perlu bantuan seperlunya selama membaca. jadi masih ada huruf yang sulit diucapkan dan sering salah dibaca. Baik kegiatan membaca buku pelajaran. dengan kalimat sederhana dapat memotivasi anak untuk membacanya. menampilkan gambar sambil bercerita. anak diperhadapkan dengan gambar-gambar yang telah diketahui anak sehingga anak tertarik. Buku bergambar. Tahap membaca permulaan umumnya pada masa peka yaitu usia enam atau tujuh tahun pada anak normal umunya. kartu huruf. dadu huruf. Cara ini menyenangkan untuk anak usia dini sesuai dengan karakteristiknya yaitu masa bermain. Berdasarkan pendapat di atas penulis simpulkan bahwa tahap membaca permulaan adalah tahap membaca tanpa buku. Membaca cerita sederhana. Misalnya : kartu gambar. Misalnya ketika anak membaca “baju” ditunjukkan gambar baju atau bendanya. sehingga tahap pembelajaran seperti ini membuat anak bersemangat dan antusias. kartu kata. Hal ini sangat baik bagi anak untuk dapat memahami arti dari suatu bacaan dalam bentuk sederhana. dan pada usia sembilan atau sepuluh tahun pada anak tunagrahita. “Dalam pelaksanaan metode SAS. dan sebagainya. Anak terkadang ingin mengetahui cerita tentang gambar tersebut. kartu kalimat. 1) Membaca tanpa buku meliputi: merekam bahasa siswa. penguasaan pada abjad belum sepenuhnya dikuasai. . anak dihadapkan pada tulisan-tulisan yang ada di buku. Bantuan yang diberikan umumnya berupa konkretisasi kata yang dibaca. 2) Pembelajaran membaca dengan buku Pembelajaran dengan kegiatan membaca dengan menggunakan buku sebagai bahan pelajaran. pelaksanaan membaca permulaan dibagi menjadi 2 tahap. dan yang lainnya. membaca gambar dan sebagainya. Pada tahap ini penguasaan kosa kata pada anak masih sangat terbatas.

Tarmizi (http://tarmizi. mengenal kata. metode global. 2) Metode Kata lembaga Metode kata lembaga menggunakan pendekatan kata. menawarkan berbagai metode yang dipergunakan bagi bunyi. media lempar dadu huruf dan media yang menarik lainnya.wordpress. huruf dan bunyi huruf. Kemudian menguraikan kata tersebut menjadi suku kata dan huruf kemudian merangkai lagi. kita kenalkan kepada anak suku kata. pemahaman dan kesenangan membaca. 3) Metode Global Metode Global menggunakan pendekatan kalimat. perbendaharaan kata.com/2008/12/08). . Pendekatan yang dipakai dalam metode eja adalah pendekatan harfiah : dalam metode ini kita memperkenalkan abjad a sampai z beserta bunyi huruf atau fenom kepada anak. biasanya yang paling cocok dan sesuai alam anak yaitu membaca sambil bermain. Dalam metode ini kita mengajarkan membaca dengan menggunakan kata yang telah di kenal anak.21 Pengembangan yang tepat pada tahap membaca permulaan perlu sekali. 4) Metode SAS (Struktural Analisis Sintesis) Metode global kata yang dikenalkan kepada anak sudah berbentuk kalimat sederhana. e. dan metode SAS 1) Metode eja / bunyi Adalah belajar membaca yang dimulai dari mengeja huruf demi huruf. Metode kata lembaga. kemudian diajak memecahkan kode tulisan menjadi bunyi percakapan. Sedangkan pada metode SAS hanya menggunakan satu kata saja. perlu menggunakan metode yang menarik. Kita bedakan kata-kata tersebut. Metode Pengajaran Membaca Agar pembelajaran membaca berhasil dengan baik. misalnya membaca menggunakan media kartu bergambar. 2) Metode fonik Pemahaman pada pengenalan kata melalui proses mendengarkan bunyi huruf 3) Metode linguistik Anak diberikan suatu bentuk kata yang terdiri dari konsonan-vokal atau konsonan-vokal-konsonan. Abdurrahman (2003:214) mengemukakan metode pengajaran membaca bagi anak pada umumnya: 1) Metode membaca dasar Menggabungkan berbagai prosedur untuk mengajarkan kesiapan.

yaitu (1) Sifat ingin tahu.faktor yang kemampuan membaca adalah sebagai berikut: 1) Faktor yang berasal dari luar individu a) Faktor non sosial seperti: keadaan udara . (3) simpati kepada orang lain . ngantuk. menulis. akan tetapi semua merupakan alat untuk membimbing anak-anak dalam keberhasilan belajar umumnya dan membaca khususnya. mempengaruhi . b) Faktor sosial adalah gangguan yang terjadi pada proses belajar. (2) Kreativitas . suhu udara . Merangkai huruf 6) Metode pengalaman bahasa Mendengar. cuaca.faktor yang mempengaruhi kemampuan membaca yang dikemukakan oleh beberapa ahli: Menurut Slameto (1993:249). Pembelajaran Membaca Anak Tunagrahita Untuk mencapai prestasi belajar yang optimal. (2) Faktor Fisiologis .keadaan fungsi jasmani terutama fungsi panca indra. seperti keadaan lingkungan kelas. b) Faktor Psikologis. a) Faktor Fisiologis.22 4) Metode SAS Memecahkan kode tulisan yang berupa kalimat sederhana 5) Metode Alfabetik Mengenalkan huruf.batuk. 2) Faktor yang berasal dari dalam individu. maka perlu memperhatikan faktor. lesu. Guru hendaknya memilih metode yang cocok dan sesuai dengan situasi dan kondisinya. sakit gigi. bercakap-cakap. Pemilihan metode pembelajaran sebaiknya dipergunakan dengan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut: 1) Menyenangkan bagi anak 2) Tidak menyulitkan anak untuk mengikuti/ menerima 3) Efektif dan efisien f. (4) memperbaiki kegagalan. waktu. Dari pendapat di atas penulis menyimpulkan bahwa ada berbagai macam metode didalam pembelajaran membaca yang masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. (1) Keadaan jasmani seperti lelah. faktor. Metode pembelajaran di atas dapat diterapkan dalam pembelajaran membaca permulaan. alat peraga ). letak tempat tinggal alat belajar ( alat tulis.

(7) kematangan sosial dan emosional. (8) motivasi dan minat. motivasi maupun minat. kartu huruf. Video dan sabagainya. Anak tunagrahita adalah anak yang mengalami gangguan dalam kematangan berpikirnya untuk itu pembelajaran membaca bagi anak tunagrahita dilakukan dengan menggunakan metode dan media yang sesuai dengan karakteristik dan kemampuan anak. Menunut Kirk. Kliebhan dan Lerner seperti dikutip oleh Mercer (dalam Mulyono Abdurrahman. (5) ketrampilan berpikir kematangan mental. (6) perkembangan motorik. misalnya dengan puzle. suku kata. Pelaksanaan pembelajaran membaca bagi anak tunagrahita di Taman Kanak-Kanak Elim dilakukan dengan memperhatikan kemampuan anak serta pemilihan berbagai macam metode dan berbagai media yang tepat. gambar.23 (5) rasa aman . Peneliti mencoba untuk menggunakan media lempar dadu huruf dalam pembelajaran membaca permulaan yang bertujuan memberi model lain yang dapat membangkitkan minat anak dalam membaca. Penggunaan metode eja ini dikombinasikan dengan berbagai alat peraga yang menarik perhatian anak. 2003 : 201) ada delapan faktor yang (1) dan memberikan sumbangan bagi keberhasilan belajar membaca yaitu: perkembangan wicara dan bahasa. . termasuk keadaan fungsi jasmani. kata-kata sederhana. (2) kematangan visual. Berdasarkan pendapat di atas penulis simpulkan bahwa banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan membaca. sehingga mampu menimbulkan motivasi belajar membaca pada anak untuk tercapainya tujuan. anak belajar mulai dari pengenalan huruf demi huruf. Metode yang digunakan metode eja. (3) kemampuan mendengarkan. keadaan atau fungsi mental. (4) memperhatikan. (6) adanya ganjaran atau hukuman. kematangan berpikir.

perhatian dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses pembelajaran terjadi dan berlangsung lebih efisien. Tinjauan tentang Media Permainan Lempar Dadu Huruf a. perasaan dan perhatian anak didik untuk mencapai tujuan pendidikan Menurut Wijaya Kusumah (2008). Sadiman. Dalam Wikipedia menyebutkan “kata Dadu berasal dari bahasa latin “datum” yang berarti suatu yang diberikan atau dimainkan.Media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim pesan ke penerima pesan. Dari pendapat tersebut diatas dapat disimpulkan. media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyampaikan pesan dari pengirim pesan kepada penerima pesan sehingga dapat merangsang pikiran . Pengertian Media Media berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari kata medium yang secara harfiah mempunyai arti antara. media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari guru ke siswa sehingga dapat merangsang pikiran.24 3. Menurut Association for Educational Communications Teahnology (AECT) di Amerika yang dikutip oleh Wikipedia (2009). perasaan. “Media pendidikan ialah segala bentuk saluran yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan / informasi”. adalah sebuah . b. “ kata media berasal dari bahasa latin medium adalah sesuatu terletak ditengah (antara dua kutub atau antara dua pihak) atau suatu alat “. perantara atau pengantar. 2003 : 6) “media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk belajarnya”. dkk. Pengertian Media Lempar Dadu Huruf Dadu adalah bentuk dari suatu benda yang biasanya kita gunakan dalam permainan. Terkait dengan pembelajaran . Menurut Gagne (dalam Arief S.

b) Obyek yang kecil – dibantu dengan proyektor mikro. waktu dan daya indra seperti : a ) Obyek terlalu besar . 2) Mengatasi keterbatasan ruang .25 obyek kecil yang umumnya berbentuk kubus yang digunakan untuk menghasilkan angka atau simbol acak”. merangkai huruf menjadi suku kata. untuk keperluan meningkatkan kemampuan anak dalam membaca permulaan. Dadu adalah sebuah benda yang berbentuk kubus. dkk. film dan model. film bingkai . Gambar lubang atau lingkaran satu pada satu sisi. dengan menebak sisi yang muncul pada setiap lemparan. c. kata dan kalimat sederhana. Pada keenam sisisisinya biasanya tertera gambar lubang-lubang yang berbeda jumlahnya. lingkaran atau lubang dua pada satu sisi demikian seterusnya pada sisi-sisi yang lainnya. Menurut Arief S. Sadiman . film bingkai. Dadu biasanya digunakan sebagai alat untuk berjudi. Fungsi Media Permainan Lempar Dadu Huruf Media bermain lempar dadu huruf memiliki fungsi untuk memotivasi anak dalam belajar lewat bermain. 3) Dengan menggunakan media pendidikan secara tepat dan bervariasi dapat diatasi sikap pasif anak didik dalam hal ini media berguna untuk: a) Menimbulkan kegairahan belajar.bisa digantikan dengan realitas gambar. seperti media dalam pendidikan lainnya. Tujuan pembelajaran ini untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan pada anak. . (2003 : 16-17) media dalam pendidikan mempunyai fungsi sebagai berikut: 1) Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalistik (dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan belaka). Penulis menggunakan dadu yang dirancang dengan simbol huruf pada setiap sisi-sisnya sebagai media pembelajaran dalam rangka pengenalan huruf. ataupun dengan ketentuan tertentu yang disepakati dalam permainan tersebut. film dan gambar c) Gerak yang terlalu lambat atau dapat dibantu high speed photography atau low speed photography.

media dapat mempertinggi proses belajar siswa dalam gilirannya dapat mempertinggi hasil belajar yang tercapai.lapse atau high. waktu. sedang kurikulum. misalnya obyek yang besar diganti gambar. dan daya indra. terakhir konsep yang sangat luas seperti gunung berapi. iklim dan divisualisasikan dalam bentuk film . masalah ini dapat diatasi dengan media pendidikan. Ada beberapa alasan diantaranya yang berkenan dengan manfaat media pengajaran dalam proses belajar siswa antara lain: 1) Pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar. video. film bingkai.speed phography. tentang kejadian masa lalu dapat ditampilkan kembali lewat rekaman film. 3) Metode mengajajar akan lebih bervariasi. . dan materi pendidikan ditentukan sama untuk setiap siswa. kemudian obyek yang terlalu komplek bisa dibantu dengan modul. foto. dan memungkinkan siswa menguasai materi lebih baik. 4) Dengan sifat yang unik pada setiap siswa ditambah lagi dengan lingkungandan pengalaman yang berbeda . artinya hanya berbentuk kata-kata tertulis atau tulisan. Menurut Oemar Hamalik (2005: 19) manfaat secara umum media pembelajaran memiliki fungsi seperti berikut: 1) Memperjelas penyajian pesan agar tidak bersifat verbalistik. maka guru akan banyak mengalami kesulitan bilaman latar belakang guru dan siswa sangat berbeda. 2) Mengatasi keterbatasan ruang. film bingkai. 2) Bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh siswa. obyek yang terlalu kecil bisa diganti proyektor mikro.diagram. sedang gerak yang lambat atau cepat bisa dibantu dengan time . Menurut Wijaya Kusumah (2008).26 b) Memungkinkan interaksi yang lebih langsung antara anak didik dengan lingkungan. film bingkai. gempabumi. 3) Menggunakan media pembelajaran secara tepat dan bervariasi akan dapat diatasi sikap fasif anak didik atau siswa. gambar dan lain sebagainya. c) Memungkinkan anak didik belajar sendiri menurut kemampuan dan minatnya. Dalam situasi demikian media pembelajaran dapat menimbulkan kegaerahan belajar dan memungkinkan terjadinya interaksi secara langsung antara anak didik dengan lingkungan serta memungkinkan anak didik belajar sendiri menurut kemampuan dan minatnya.gambar.

d. Berdasarkan pendapat di atas fungsi media dapat penulis simpulkan sebagai berikut: 1) adanya media penyajian pesan tidak terlalu bersifat verbalistik. kata atau kalimat-kalimat sederhana. Anak membaca dari hasil permainan tersebut.27 4) Siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar. melakukan. atau penyajian menjadi lebih jelas. dengan bimbingan guru bagi mereka yang belum atau kurang mampu. Anak lebih terampil dalam motorik halusnya maupun motorik kasarnya berkembang dan anak semakin sehat. 2) Objek terlalu luas atau sempit yang sebenarnya tidak dapat ditampilkan akirnya dapat ditampilkan. Kelemahan dan Kelebihan Permainan Lempar Dadu Huruf Tidak ada satupun metode pengajaran yang tidak memiliki kekurangan. semua metode pembelajaran memiliki kelemahan dan kelebihan. Fungsi dari dadu huruf ini adalah untuk menebak huruf yang akan keluar pada sisi yang muncul/posisi atas atau menurut kesepakatan dalam permainan ini. sebab tidak hanya mendengarkan uraian guru. merangakai menjadi suku kata. Selain fungsi utama yang disebutkan di atas. Demikian dan mengaktifkan siswa . 5) Utuk memutivasi siswa belajar sendiri Media ini merupakan alat peraga yang setiap sisinya memiliki simbol huruf. Selanjutnya menyusun sisi-sisi yang muncul atau yang telah disepakati menjadi susku kata. mendemostrasikan dan sebagainya. kata dan kalimat sederhana untuk meningkatkan kemampuan membaca mereka. media ini jaga berfungsi untuk meningkatkan aktifitas fisik dan motorik lainnya. 3) Memfariasikan penyajian pendidikan dalam penyajian pendidikan 4) Untuk menarik perhatian siswa dan memutivasi siswa. Media ini berfungsi sebagai sarana mengenalkan atau mengingatkan kembali pada anak pada huruf-huruf. tetapi juga aktifitas lain seperti mengamati.

disusun kemudian dibaca. Dadu harus dipersiapkan dalam jumlah yang banyak. Kelebihan dari pembelajaran membaca permulaan lewat bermain lempar dadu huruf ini adalah : 1) Anak memilih sendiri dadu huruf yang dilemparnya sehingga anak bersemangat. lalu mengambil dadu pada kelompok konsonan dan dilemparkan.lemparan keempat vokal yang muncul adalah u Kata yang muncul setela dadu disusun adalah b i l u 3) Memerlukan banyak sekali dadu. Untuk membaca suku kata memerlukan waktu yang agak lama karena harus melempar dua atau tiga huruf kemudian disusun dan dibaca. ada kelemahan dan kelebihannya. karena anak harus melempar terlebih dahulu sebuah dadu kemudian memperhatikan untuk dibaca. diliempar.lemparan kedua vokal yang muncul adalah i .28 juga dengan pembelajaran dalam bentuk permainan lempar dadu huruf ini. tidak hanya sebanyak jumlah huruf dalam satu abjad akan tetapi lebih dari itu. Misalnya anak mengambil dadu pada kelompok vokal dan dilemparkan. agar kata-kata yang dapat disusun oleh anak dalam jumlah yang banyak dan bervariasi. 2) Kadang-kadang huruf yang muncul tidak membentuk kata yang punya arti.lemparan ketiga konsonan yang muncul adalah l . Kelemahan dari pembelajarandengan mempergunakan media lempar dadu huruf adalah: 1) Menyita banyak waktu Untuk membaca satu huruf memerlukan banyak waktu.lemparan pertama konsonan yang muncul adalah b . kadangkadang vokal yang muncul setelah digabung dengan konsonan tidak membentuk kata yang memiliki arti. Pemberian kesempatan kepada anak untuk menentukan . Untuk membaca suku kata anak harus mengambil empat dadu (KVKV). Contoh: .

yakni dadu. memotivasi anak untuk mengambil. melempar. Anak akan merasa bangga jika huruf yang dilemparnya dapat membentuk suatu kata yang memiliki arti. Saat anak memilih ada aktifitas dalam segi kognitif dan motorik halus. sehingga anak aktif. Anak diberi kesempatan untuk mengambil/memilih. Anak yang belum dapat menyusun huruf menjadi kata akan berusaha mencoba lagi sehingga mereka memiliki keinginan untuk mencoba dan mencoba lagi. Guru berperan sebagai motivator. 2) Tidak mengantuk dan bosan karena anak beraktifitas dengan aktif. dalam hal ini. melempar dadu dengan antusias. e.29 pilihan merupakan hal yang menyenangkan bagi anak. menebak huruf yang muncul dan menyusun serta membacanya. saat anak melempar ada aktifitas dalam motorik kasarnya. Anak ingin segera membaca dari hasil lemparan yang telah disusun tadi dengan mengaktifitaskan aspek kognitifnya. Langkah-langkah Pengajaran dengan Menggunakan Media Permainan Lempar Dadu Huruf Dalam pembelajaran melalui media bermain lempar dadu huruf ini terlebih dahulu diperkenalkan kepada anak. Setelah melempar anak dengan senangnya cepatcepat ingin mengetahui apa isi/ bacaan dari lemparan yang akan disusunnya. 3) Anak tertarik untuk mengetahui huruf apa yang keluar dan kata apa yang muncul dari setiap lemparan yang dibuatnya sendiri. Pemberian reward atau penghargaan setiap keberhasilan anak akan membuat anak lebih bersemangat dan merasa dihargai. anak merasa bersemangat dan kepercayaan dirinya tumbuh. Komentar apa yang diberikan anak tentang benda ini. Dijelaskan kepada anak. Setelah anak memberikan pendapatnya tentang dadu. bahwa dadu memiliki 6 . lalu kita jelaskan kepada anak informasi seputar dadu sesuai dengan tingkat kemampuan berpikir anak. menyusun dan membacanya. Saat menyusun aktifitas dalam kognitifnya bekerja. motorik halusnya juga bekerja. alat permainan yang akan kita pakai sebagai media pembelajaran.

Dadu dikelompokkan menjadi 2. Hal ini dilakukan untuk mengenal huruf.30 sisi. Anak mengambil 1 kali dan melempar dadu dari kelompok satu/huruf vokal. Anak ditunjukkan lambang-lambang dari setiap . merasa senang sehingga kemampuan membaca permulaan pada anak mengalami peningkatan f. Anak disuruh mengamati dan menyebutkan huruf apa yang muncul atau yang berada pada posisi atas. Melaksanakan pembelajaran yang menyenangkan bagi anak tunagrahita adalah salah satu cara untuk membangkitkan motivasi anak dalam pembelajaran. Penerapan permainan lempar dadu huruf bertujuan untuk memotivasi anak dalam mengikuti pelajaran. kemudian mengambil dan melempar dadu dari kelompok huruf konsonan sesuai pilihan anak. Dadu yang sering kita lihat setiap sisinya terdapat lubang yang setiap sisinya berbeda jumlahnya satu dengan sisi yang lain. dalam pembelajaran membaca) secara kongkrit lewat tulisan. Penerapan Pembelajaran dengan Menggunakan Media Bermain Lempar Dadu Huruf pada Anak Tunagrahita Anak tunagrahita dalam belajar perlu ditunjukkan dengan benda kongkrit (simbol bunyi. Kelompok 1 adalah dadu dengan huruf vokal kelompok 2 dadu dengan huruf konsonan. masing-masing sisi terdapat satu simbol huruf. Jika anak telah melakukan berkali-kali dan telah paham atau mampu membaca huruf yang ada pada posisi atas. Setelah empat kali lemparan anak memperhatikan dan membaca huruf yang telah terkumpul dan tersusun. membaca suku kata. Anak tunagrahita memiliki kemampuan berpikir di bawah temanteman normal lainnya. Pada pembelajaran ini dadu setiap sisinya diberi simbol huruf. dari satu lubang. Permainan ini dilakukan berulang-ulang sehingga anak aktif dalam pembelajaran. dilanjutkan dengan mengambil dadu bergantian dari kelompok satu dan dua selama empat kali. membaca kata-kata sederhana. sehingga tercapai tujuan pembelajaran.. dua lubang hingga enam lubang. Penerapan permainan lempar dadu huruf adalah sebagai media serta alat peraga yang digunakan dalam pembelaran pengenalan huruf.

Karena manfaat membaca mampu meningkatkan belajar pada bidang akademik yang lain. melempar dan membacanya. Untuk membaca kata dilakukan empat kali lemparan dari dadu KVKV. B. kemudian disusun sehingga membentuk kata yang dapat dibaca anak. termasuk anak tunagrahita. Penggunaan media bermain lempar dadu huruf pada Taman KanakKanak Elim menjadikan suana penuh dengan semangat dan antusias. kemudian dilempar dan satu dadu kelompok vokal. Penerapan pembelajaran dengan menggunakan berbagai media yang variatif akan tidak membuat anak menjadi bosan. dilempar lalu keduanya disusun sehingga muncul suku kata. Untuk membaca suku kata anak diberi kesempatan mengambil satu dadu kelompok konsonan. yang mampu merangsang sel otak sehingga anak memiliki perkembangan dan pertumbuhan yang baik secara optimal. sesuai dengan karakteristik anak pembelajaran yang diberikan hendaknya dikemas dalam bentuk permainan yang mendidik. kemudian disuruh mengambil. bersemangat dan ingin mengetahui leebih banyak lagi. tidak membebani sehingga anak merasakan belajar seraya bermain. Pembelajaran membaca permulaan di Taman Kanak-Kanak dapat diberikan lewat suatu permainan yang menyenangkan anak. Memperoleh informasi-informasi dan menjadikan seseorang .31 huruf yang ada dalam dadu. Membaca merupakan salah satu bidang akademik yang harus segera dimiliki siswa. Demikian juga pengaruhnya terhadap anak tunagrahita yang bersama-sama belajar dengan anak normal lainnya sangat kelihatan. karena membaca mampu meningkatkan prestasi belajar pada bidang akademik lainnya. Dengan membaca seseorang mengerti banyak hal. hal ini dibuktikan lewat pengamatan yang dilaksanan dan hasil nilai yang diperoleh siswa tunagrahita pada pembelajaran membaca permulaan. Kerangka Berfikir Membaca merupakan salah satu bidang akademik yang harus segera dimiliki oleh siswa termasuk anak tunagrahita ringan. Usia dini adalah masa bermain.

Membaca dapat digunakan untuk mengembangkan perbendaharaan kata. serta tehnik mempelajari materi pelajaran. Aktifitas mental mencakup ingatan dan pemahaman. yaitu enam tahun atau tujuh tahun bagi anak normal atau sembialn atau sepuluh tahun. bentuk permainan dapat menarik anak untuk belajar dengan tanpa beban. kemudian dapat dilanjutkan dengan kata-kata yang sangat sederhana sesuai dengan usia dan kemampuan anak. seperti dapat membebaskan dari tekanan. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan siswa dalam membaca. materi pelajaran. Secara umum faktorfaktor tersebut dapat diidentifikasi seperti guru. kondisi lingkungan. mendapatkan informasi untuk memecahkan konflik dan mengenali dan lain sebagainya. Usia peka atau usia dini merupakan fase anak bermain. Membaca bukanlah suatu kegiatan yang mudah.32 bertambah luas wawasannya. Permainan dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk mengetahui huruf-huruf yang ada. . Sehingga anak merasakan sesuatu kesenangan didalam belajar bukan suatu beban atau tekanan. Membaca permulaan merupakan tahapan proses belajar membaca. Tahap membaca permulaan umumnya diajarkan pada saat tibanya masa peka. siswa.J. Membaca merupakan kegiatan fisik dan mental untuk menemukan makna dari tulisan aktifitas fisik yang berkait dengan membaca adalah gerak mata dan ketajaman penglihatan. Poerwadarminta 1984 : 71).S. mengembangkan intelektualitas Membaca mempunyai nilai besar untuk orang dewasa karena berkontribusi pada perkembangan. bekerja dengan penuh inisiatif. menambah proses pengayaan pribadi. Demikian juga dalam belajar membaca permulaan. Membaca merupakan kata kerja dengan kata dasar “baca” yang memiliki arti melihat tulisan dan megerti atau dapat melisankan apa yang tertulis (W. anak belajar memperoleh kemampuan dan cara-cara dalam membaca dan menangkap isi bacaan. untuk itu segala pembelajaran yang diberikan kepada anak harus dalam bentuk bermain.

Adapun kerangka berpikir pembelajaran dengan menggunakan media bermain lempar dadu huruf adalah sebagai berikut : . kecakapan untuk melakukan sesuatu. Untuk itu perlu dilakukan suatu strategi untuk membuat anak tertarik pada membaca yaitu dengan pembelajaran melalui media bermain lempar dadu huruf. Media ini melibatkan siswa secara aktif. Sedangkan kemampuan diartikan kesanggupan. Permainan yang dilakukan sesuai peraturan yang telah ditetapkan membuat anak belajar untuk berdisiplin. Pemberian reward pada setiap kata yang memiliki makna akan lebih meningkatkan antusias anak sehingga anak terangsang terus pada akhirnya anak memperoleh pengetahuan dan pemahaman konsep lebih mendalam terhadap materi yang diajarkan dengan menggunakan media permainan lempar dadu huruf dalam membaca permulaan untuk anak tunagrahita ringan diharapkan prestasi belajarnya meningkat.33 Kata “kemampuan” berasal dari kata dasar “mampu” yang berarti mengandung makna yang sama dengan kata “bisa atau sanggup melakukan sesuatu”.

Tindakan adalah melaksanakan apa yang telah direncanakan sebelumnya. C. . yaitu pelaksanaan pembelajaran membaca permulaan dengan menggunakan media lempar dadu huruf.34 Kondisi awal kemampuan membaca sebelum Pembelajaran menggunakan media Bermain lempar dadu huruf Tindakan Pembelajaran menggunakan media bermain lempar dadu huruf Kemampuan membaca permulaan Kondisi Akhir setelah menggunakan media bermain lempar dadu huruf Keterangan: Kondisis awal adalah kondisi anak sebelum pembelajaran dengan menggunakan media lempar dadu huruf dilaksanakan. maka kemampuan membaca permulaan siswa tunagrahita kelas B Taman Kanak-kanak Elim Sragen meningkat”. Hipotesis Tindakan Adapun hipotesis dalam penelitian ini adalah “melalui pembelajaran dengan menggunakan media lempar dadu huruf. yakni kemampuan membaca permulaan sangat rendah. Kondisi akhir adalah kondisi setelah pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan media bermain lempar dadu huruf.

Mengenal huruf tertentu saja 4. Penyusunan laporan pendidikan. 2. Jln. Pengamatan terhadap hasil pembelajaran membaca permulaan adalah selama dimulainya semester II TK A. Penelitian berlangsung selama bulan Juli sampai september 2010. Setting Penelitian Tempat penelitian tindakan kelas adalah Kelas B Taman Kanak-kanak Elim Sragen. Di kelas tersebut terdapat dua anak sebagai subyek penelitian yaitu Farel dan Ian Rudianto. persiapan penelitian. Anak cenderung pendiam 2. Taman Kanak-Kanak Elim adalah tempat dimana penulis mengajar dan juga sebagai wali kelas. koordinator persiapan tindakan pelaksanaan (perencanaan. Farel memiliki karekteristik sebagai berikut: 1. evaluasi dan refleksi). penyempurnaan berdasarkan saran dari dosen pembimbing dan pihak lain yang dirasa perlu. Raya Sukowati no. monitoring.Melihat adanya perbedaan yang sangat signifikan pada kedua siswa yang mengalami keterlambatan didalam kemampuan membaca permulaan dibandingkan dengan empat belas murid yang lainnya. Penelitian dilakukan di kelas B Taman Kanak-Kanak Elim Sragen didasarkan pada pertimbangan : 1. tindakan. 3.80 Sragen. Penggandaan dan pengiriman laporan pendidikan. Belum dapat membaca . Rincian kegiatan penelitian tersebut adalah. B.35 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Subjek Penelitian Subjek penelitian Tindakan kelas ini adalah siswa tunagrahita kelas B Taman Kanak-kanak Elim Sragen. Kurang semangat dalam mengikuti kegiatan belajar namun dalam bermain sangat bersemangat melebihi teman-temannya.

Anak sangat banyak bergerak. Mampu membaca suku kata. kata sederhana jika dibantu.3 5. Data dan Sumber Data Data Penelitian yang dikumpulkan berupa informasi tentang kemampuan membaca khususnya dan kemampuan menulis serta kemampuan lain umumnya.7 5. Nilai yang dicapai siswa selama pembelajaran di kelas A. jika ditanya tidak memberikan respon jika pertanyaan tidak diulangUlang 4.5 5 5.4 5. Sulit berkonsentrasi 3. cenderung hiperaktif 2.7 5.(Subjek) √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 . Lambat dalam menjawab pertanyaan.36 5.2 5 5. C.(Subjek) . Ian Rudianto memiliki karakter sebagai berikut: 1. Tidak peduli. Suka mengganggu. No A AK AR EN F IR JG KN LT LR RW SP TL TA Y YK Nama Jenis kelamin L P P L P P L P p L p L p p L p L Usia 5 5.2 5. 5.3 5 Nilai 85 80 80 85 30 35 85 90 95 90 90 85 90 85 95 95 Ket √ √ √ √ .5 5 6 5 5.

37

Nilai di Taman Kanak-kanak adalah berupa simbol yang memiliki bobot tertentu, demikian juga di taman kanak-kanak Elim Sragen menggunakan simbol bintang yang memiliki bobot nilai 2,5. Nilai tertinggi adalah bintang 4 (****) yang memiliki bobot nilai 10. Rata-rata nilai yang dicapai kedua subjek tersebut adalah bintang 1 dan bintang 2. Jika dibandingkan keduanya anak ian sering memperoleh nilai lebih tinggi dari pada farel, yaitu bintang 2. Ian lebih sedikit mampu membaca suku kata dan kata–kata sederhana daripada Farel. Metode-metode yang digunakan guru yang tepat sesuai dengan kondisi anak akan mampu meningkatkan kemampuan membaca pada anak, hanya penerapan metode yang kurang menarik membuat anak menjadi jenuh dan tidak bersemangat khususnya bagi Farel dan Ian, untuk itu peneliti mencoba menggunakan media bermain lempar dadu huruf agar anak tertarik. Sumber data dari dari penelitian ini adalah siswa dan guru. Peristiwa yang terjadi selama pembelajaran berlangsung. Dokumen atau arsip yang berupa kurikulum kurikulum, rencana pelaksanaan pembelajaran, hasil kegiatan anak dan buku penilaian. D. Teknik Pengumpulan Data Tehnik pengumpulan data data adalah yang suatu prosedur yang sitematik diperlukan. Oleh karena itu dan standar untuk memperoleh

kualitas data sangat ditentukan oleh alat pengumpul data atau alat ukuran, sehingga data benar-benar valid dan reliable. Adapun tehnik pengumpulan data yang digunakan adalah dengan tes, observasi, dokumentasi. 1. Tes a. Pengertian test Untuk mengetahui kemampuan anak diperlukan alat untuk mengukur. Alat ukur kemampuan terseburt adalah test. Menurut Suharsimi Arikunto (2005:127) test adalah “serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk mengukur, ketrampilan.

38

pengetahuan intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki individu atau kelompok”. Menurut Baitul Alim (http://www.psikologzone.com/2006) “Suatu tes dapat didefinisikan sebagai suatu tugas atau serangkaian tugas- tugas yang digunakan untuk memperoleh tentang suatu atribut atau hasil pendidikan yang representative”. Berdasarkan dua pendapat diatas dapat penulis simpulkan bahwa tes adalah serangkaian pertanyaan yang harus dijawab untuk mengukur kemampuan atau bakat yang dimiliki individu atau kelompok. Tujuannya . pretest. Kegiatan pembelajaran dilaksanakan, pada akhir pembelajaran diadakan postest untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan yang dicapai dalam membaca permulaan dengan menggunakan media bermain lempar dadu huruf. b. Jenis – Jenis tes Ada beberapa jenis tes yang dapat dipergunakan untuk mengukur kemampuan seseorang adalah sebagai berikut: Menurut Baitul Alim (2006). Jenis tes dikelompokkan menjadi : “ Tes intelegensi, tes bakat, tes hasil belajar, dan tes kepribadian “. Menurut Pandit, PL (2010:12) Jenis tes dikempokkan menjadi: 1 ) Tes Intelegensi Tes kemampuan intelektual, mengukur taraf kemampuan berpikir, terutama berkaitan dengan potensi untuk mencapai taraf prestasi tertentu dalam belajar di sekolah ( Mental ability Test ; Intelegence Test; Academic Ability test; Scholastic Aptitude Test ). Jenis data yang dapat diambil dari tes ini adalah kemampuam intelektual atau kemampuan akademik. 2 ) Tes Bakat Tes kemampuan bakat, mengatur taraf kemampuan seseorang untuk berhasil dalam studi tertentu, program pendidikan vokasional tertentu atau bidang pekerjaan tertentu, lingkupnya lebih terbatas dari tes kemampuan intelektual (Test of Specific Ability ; Aptitude Test ). tes adalah : untuk sejauh mengukur mana kemampuan kemampuan ketrampilam, anak sebelum kemampuan, kecerdasan dan bakat yang dimiliki anak atau seseorang. Untuk mengukur pembelajaran melalui media lempar dadu huruf dilakukan, yaitu melalui

39

Kemampuan khusus yang diteliti itu mencakup unsure-unsur intelegensi, hasil belajar, minat dan kepribadian yang bersama-sama memungkinkan untuk maju dan berhasil dalam suatu bidang tertentu dan mengambil manfaat dari pengalaman belajar dibidang itu 3 ) Tes Minat Tes minat, mengatur kegiatan–kegiatan macam apa paling disukai seseorang. Tes macam ini bertujuan membuat orang mudah dalam memilih macam pekerjaan yang kiranya paling sesuai baginya (Test of Vocational Interest ). 4 ) Tes Kepribadian Tes kepribadian, mengatur ciri-ciri kepribadian yang bukan khas bersifat kognitif, seperti sifat karakter, sifat temperamen, corak kehidupan emosional, kesehatan mental, relasi-relasi sosial dengan orang lain, serta bidang-bidang kehidupan yang menimbulkan kesukaran dalam penyesuaian diri. Tes proyektif, meneliti sifat-sifat kepribadian seseorang melalui reaksi –reaksinya terhadap suatu kisah, suatu gambar atau suatu kata; angket kepribadian, meneliti berbagai ciri kepribadian seseorang dengan menganalisa jawaban-jawaban tertulis atas sejumlah pertanyaan untuk menemukan suatu pola bersikap, bermotivasi atau bereaksi emosional, yang khas untuk orang lain itu. Kelemahan Tes proyektif hanya diadministrasi oleh seorang psikolog yang berpengalaman dalam menggunakan alat itu dan ahli dalam menafsirkannya. 5 ) Tes Perkembangan Vocasional Tes vocasional, mengukur taraf perkembangan orang muda dalam hal kesadaran kelak akan memangku suatu pekerjaan atau jabatan ( vocation ) dalam memikirkan hubungan antara memangku suatu jabatan dan cirriciri kepribadian serta tuntunan-tuntunan sosial ekonamis; dan dalam menyusun serta mengimplementasikan rencana pembangunan masa depannya sendiri. Kelebihan tes semacam ini meneliti taraf kedewasaan orang muda dalam mempersiapkan diri bagi partisipasinya dalam dunia pekerjaannya ( career maturity ) 6 ) Tes Hasil Belajar (Achievement Test) Tes yang mengukur apa yang telah dipelajari pada berbagai bidang studi, jenis data yang dapat diambil menggunakan tes hasil belajar (Achievement Tes ) ini adalah taraf prestasi dalam belajar. Berdasarkan beberapa pendapat tentang jenis tes, penulis simpulkan yaitu tes tertulis, tes lesan, tes bakat, tes kepribadian dan tes perkembangan vocasional.

Menurut Suharsimi Arikunto (2005 : 147) observasi ditinjau dari jenisnya ada dua macam . Menurut Suharsimi Arikunto (2005 : 145) “observasi adalah pengamatan objek dengan menggunakan seluruh alat indra”. 2.40 Penelitian ini. 2 ) Obsevasi sistematis yaitu observasi yang dilakukan oleh menggunakan pedoman sebagai instrumen pengamatan. pengamat dengan yaitu obsevasi partisipan (aktif) dan yang meliputi kegiatan pemusatan perhatian terhadap suatu pengamat dengan . Tujuannya adalah untuk mengetahui kemampuan membaca siswa sebelum dan setelah diberi tindakan. yaitu: 1 ) Observasi nonsistematis . Sedang observasi penulis gunakan sistematis. Pengertian Observasi. jenis tes yang penulis gunakan adalah: tes lisan. partisipan dan sistimatis terhadap suatu obyak dengan menggunakan seluruh alat indra. dan tes perbuatan. Menurut Muhammad Idrus (2007 : 129) “observasi atau pengamatan merupakan aktivitas pencatatan fenomena yang dilakukan secara sistematis”. Pengamatan / Observasi a. Jenis Observasi Observasi ada beberapa macam atau jenis. Berdasarkan pendapat diatas penulis simpulkan: observasi adalah suatu tindakan pengamatan dan pencatatan yang dilaksanakan secara langsung. yaitu Observasi yang dilakukan oleh tidak menggunakan instrumen. b.

Menurut Pandit P L (2010:12) Istilah dokumen dipakai untuk satu informasi tunggal . dan sebagainya”. majalah . agenda.41 Sedang menurut Sutrisno Hadi (2000 :141. Sedang observasi nonpartisipan justru sebaliknya.150) dibedakan atas : jenis observasi 1 ) Observasi Partisipan .Obsevasi Noneksperimental. Adapun dalam penelitian ini jenis obsevasi/pengamatan yang penulis gunakan adalah observasi atau pengamatan partisipan dan sistematis. Pengertian Dokumen adalah salah satu alat pengumpul data . sebuah berkas. notulen rapat. prasasti. sebuah e. Berdasarkan pendapat tentang jenis observasi penulis simpulkan yaitu: observasi partisipan . 3. 3 ) Obsevasi Eksperimental . surat kabar. a single unit of information (setunggal informasi).mail. tetapi mengandung bentuk lain seperti gambar. Dokumentasi a.suara hidup (moving images ). yang dirasa kurang lengkap dokumen. untuk melengkapi data. sistematis dan eksperimen. pada umumnya berisi teks.Observasi Nonpartisipan. buku. Obsevasi Eksperimental yaitu dimana observer oran yang didikte oleh jalannya arus peristiwa . atau kurang yakin bila tidak didukung dengan . 2 ) Obsevasi sistematis Observasi nonsistematis Obsevasi sistematis yaitu dimana obseever menggunakan kerangka materi atau instrumen untuk memudahkan dalam malakukan observasi. Sedang observasi nonsistematis justru sebaliknya.Dokumen bisa pula dikategorikan menurut bentuk fisiknya . misalnya sebuah buku. Observasi Partisipan yaitu jika orang mengadakan observasi turut ambil dalam kehidupan orang yang diobsevasi. transkip. Menurut Suharsimi Arikunto (2005 : 206) ”Dokumen merupakan salah satu media yang digunakan untuk melengkapi data mengenai hal – hal yang berupa catatan. sebuah halaman Web.

42 Berdasarkan pendapat di atas penulis simpulkan. jenis dokumen penulis simpulkan yaitu dokumen catatan kesiswaan. isinya tentang hasil atau prestasi belajar. dokumen catatan kesiswaan yang berada belakang disetiap sekolah. prasasti. Menurut Sawarji Suwandi (2008 : 68) dokumen dari: Kurikulum. dokumen Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang dibuat guru. majalah. Adapun jenis disekolah dan di luar sekolah. buku atau materi pelajaran. buku. agenda. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang dibuat guru. . sebuah e-mail dan arsip – arsip lain yang ada kaitannya dengan prestasi keadaan siswa. hasil tulisan atau karangan siswa. latar keluarga. Berdasarkan pendapat diatas. keadaan dan perkembangan pribadi atau siswa. terutama kemampuan membaca anak tunagrahita sebelum menggunakan media bermain lempar dadu huruf. Jenis Dokumentasi Untuk melengkapi data dalam penelitian. berkas. b. dan kemampuan membaca permulaan khususnya. transkrip. Dokumen yang penulis gunakan adalah raport. notulen rapat. dokumen nilai yang diberikan guru. daftar nilai. aktivitas arsip terdiri merupakan salah satu diantara data – data yang telah ada. catatan atau buku ulangan harian siswa. dukumen pelengkap dokumen sebagai pelengkap penelitian ini adalah: Menurut Fu’adz Al-Gharuty (2009). Jenis dokumen penulis gunakan adalah jenis dokumen catatan kesiswaan. dokumen hasil karya siswa. dokumen adalah pengumpulan data melalui peninggalan tertulis bisa surat kabar. untuk mengetahui kemampuan siswa pada umumnya. dan nilai yang diberikan guru.

tes cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut sudah baik. Validitas data adalah data yang sesuai dengan apa yang akan diukur. Teknik yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah riview informasi kunci dan triangulasi. external validity. agar tes dapat digunakan sebagai alat pengukur prestasi belajar yang baik. Tes harus reliabel. Jenis-jenis validitas tes menurut Sutrisno Hadi (2000:111) antara lain: “facer validity. yaitu instrumen dari beberapa butir tes yang mencerminkan suatu faktor yang tidak menyimpang dari fungsi instrumen berupa kisi-kisi buatan guru berdasarkan KTSP. Tes yang disusun harus sesuai dengan materi yang pernah diajarkan dan mempunyai taraf kesukaran yang sama dengan kemampuan peserta didik. . Instrumen yang sudah dapat dipercaya . Validitas dan Reliabilitas Instrumen Tes adalah alat pengukur prestasi belajar anak didik. F. Instrumen yang baik tidak akan bersifat tendensius mengarahkan responden untuk memilih jawabanjawaban tertentu (Suharsini Arikuntoro. internal validity dan empirical validity”. Validitas Data Agar penelitian dapat dipertanggungjawabkan diperlukan adanya validitas sehingga data tersebut dapat dijadikan dasar yang kuat untuk menarik kesimpulan. Tes valid artinya tes yang dibuat hendaknya dapat mengukur apa yang dapat diukur.43 E. Penulis dalam penelitian ini menggunakan uji validitas conten validity. maka tes tersebut harus memenuhi syarat sebagai tes yang baik. factorial validity. 2005:142). logical validity. Tehnik reliabilitas menggunakan standar isi berdasarkan standar standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam pembelajaran membaca sesuai dengan KTSP. yakni validitas. conten validity. yang reliable akan menghasilkan data yang dapat dipercaya juga.

Tugas membaca. “Review informasi kunci adalah mengkonfirmasikan data atau interprestasi temuan kepada informasi kunci sehingga diperoleh kesepakatan anatar peneliti dan informan tentang data atau informasi temuan tersebut. Teknik triangulasi digunakan sumber data sebagai berikut: 1. kebiasaan anak yang diamatinya dalam lingkungan sekolah umumnya dan saat pengamatan dalam kegiatan belajar khususnya. Data dari raport semester II kelas A. Kesimpulan penulis data dianggap valid apabila data itu dapat mengungkap kebenaran dan dapat digunakan dengan mudah serta dapat digunakan siapa saja. sikap anak. Menurut Sarwiji Suwardi. Diskusi dengan teman sejawat tentang fasilitas/ media pembelajaran di sekolah. membaca di depan kelas. Wawancara dengan orang tua siswa tentang belajar anak di rumah. siswa mengalami kesulitan . Review informasi kunci.” Lexy Moelong dalam Sarwiji Suwandi (2008 : 69). Pemberian tes. membaca huruf awal kartu bergambar: b. b.(2008:69). mengadakan diskusi dengan kolaburator tentang kondisi anak. Triangulasi Pengumpulan data a.”data dianggap valid apabila setelah melakukan kegiatan pengamatan maupun kajian dokumen diperiksa kembali oleh peneliti sehingga data tersebut valit”. c.” (Sarwiji Suwandi 2008 : 69). nilai rata-rata 45 2.44 “Triangulasi adalah teknik pemeriksaan validitas data dengan memanfaatkan sarana di luar data itu untuk keperluan pengecekkan atau pembandingan data itu. Triangulasi sumber data a.

Prosedur Penelitian Penelitian ini dilakukan dalam 2 siklus. Jika nilai yang diperoleh anak di bawah 70. masing-masing siklus dengan tahapan: perencanaan. maka belum dapat dinyatakan tuntas. adapun nilai KKM untuk bidang pengembangan bahasa yakni membaca permulaan adalah 70. Indikator Kinerja Indikator sebagai tolak ukur keberhasilan dalam penelitian tindakan kelas ini menggunakan KKM yang telah ditetapkan oleh sekolah. H. artinya seorang anak telah dinyatakan melampaui ketuntasan belajar jika telah memperoleh nilai 70. Prosedur ini secara garis besar dapat digambarkan dengan skema sebagai berikut : Perencanaan Refleksi Perencanaan Refleksi Pelaksanaan Pengamatan Pengamatan Pelaksanaan . Tehnik deskriptif komparatif digunakan untuk data kuantitatif. Teknik Analisis Data Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian untuk hipotesis mengenai “Upaya Peningkatan Kemampuan Membaca Permulaan Melalui Media Bermain Lempar Dadu Huruf pada Anak Tunagrahita Kelas B Semester II di Taman Kanak-Kanak Elim Sragen Tahun Pelajaran 2010/2011”. yaitu membandingkan nilai awal dengan post tes I. pengamatan dan refleksi. pelaksanaan. penulis menggunakan tehnik deskriptif komparatif dan tehnik analisis kritis. I.45 G. membandingkan nilai post tes I dengan nilai post tes II.

Guru meminta murid mengambil dadu huruf. 1. 2. melempar dan membaca huruf yang muncul di posisi atas. Menentukan dan menyiapkan materi. 3. Guru memberi penjelasan kepada siswa tentang materi yang akan dipelajari dengan menggunakan media lempara dadu huruf. 3. Membuat lembar pengamatan. Observasi ini untuk memperoleh . merangkai menjadi kata. Mengenal huruf. yaitu dadu yang bertuliskan huruf. Menganalisis materi pelajaran 2. Aktivitas menerapkan media lempar dadu huruf dalam meningkatkan kemampuan membaca permulaan. Guru meminta siswa untuk menyanyikan lagu a b c c d e f g dengan menunjuk huruf yang ada di papan tulis. Guru meminta siswa menanyakan huruf yang belum dipahami.46 Rancangan prosedur penelitian : Siklus I Perencanaan Kegiatan : 1. 2. Observasi Dilakukan dengan mengamati : 1. Tindakan 5. Membuat rencana pembelajaran. 4. Menyiapkan media pembelajaran. 4.

Menganalisa hasil observasi untuk memperoleh kesimpulan bagian mana yang perlu di sempurnakan untuk Siklus II Perencanaan siklus berikutnya. Data yang diperoleh pada tahap observasi dianalisis.47 data tentang kemampuan membaca Refleksi permulaan. Menarik anak tunagrahita untuk Tindakan bermain lempar dadu huruf 1. Siswa memainkan media lempar dadu huruf diawasi guru. Memperbaiki kesalahan / kekurangan pada siklus II 3. Setelah data tentang membaca permulaan dengan media bermain lempar dadu huruf diperoleh. 2. dianalisa untuk mengetahui kelemahan yang Refleksi mungkin ada. Hasil yang diperoleh dapat disimpulkan hasil kemampuan membaca selama 2 siklus . Kegiatan : 1. Siswa menjawab dengan membaca dadu yang dilempar oleh guru baik Observasi huruf maupun kata. Apresiasi untuk perbaikan materi yang telah diajukan pada siklus I 2.

48 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Membaca merupakan hal yang sangat mendukung anak dalam memperoleh informasi. Berdasarkan pada permasalahan yang dihadapi oleh siswa kelas B Taman kanak-Kanak Elim Sragen. kaitannya dengan kemampuan membaca yang masih kurang. Hal ini dilakukan seperti yang telah dikemukakan bahwa penggunaan media lempar dadu huruf dirasa tepat dalam upaya untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan anak tunagrahita kelas B Taman Kana-Kanak Elim Sragen. . sarana maupun prasarana yang diperlukan dalam pelaksanaan penelitian baik siklus I dan II. Prosedur penelitian dilaksanakan dua siklus yang masing – masing terdiri empat tahapan (1) perencanaan (planning). Kemampuan membaca berpengaruh pada anak dalam mengikuti pembelajaran. Perencanaan yang terdiri dari: Menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan dalam pelaksanaan tindakan yaitu materi. (3) pengamatan dan (4) refleksi (reflecting). Terkait dengan perencanaan maka peneliti membuat jadwal pelaksanaan rangkaian (observing). agar semua dapat berjalan dengan teratur dan lancar sesuai dengan yang diharapkan. maka dilakukan serangkaian tindakan guna mengatasi permasalahan tersebut. karena selama ini belum pernah dicobakan pembelajaran dengan menggunakan media lempar dadu huruf sebagai sarana pembelajaran dalam bentuk permainan yang menarik. (2) tindakan (acting).

Penulisan Bab V. 1 Minggu Ke/Bulan I Juli 2010 Kegiatan Melakukan observasi ke kelas Pembuatan kisi-kisi. item soal. Pelaksanaan tindakan siklus I. Siswa di Kelas B Taman Kanak-Kanak Elim terdiri dari 16 siswa. keadaan kelas B Taman Kanak-Kanak Elim Sragen. 2. termasuk . Deskripsi Kondisi Awal Pelaksanaan Penelitian Berdasarkan hasil pengamatan /observasi yang dilakukan. 3. Evaluai 3 4 5 I Agustus 2010 II-IV Agustus 2010 I-IV September 2010 Menyiapkan Instrument pelaksanaan siklus II Melaksanakan pre test. 1. 2 II-IV Juli 2010 Melaksanakan pre test. Penyelesaian skripsi. berikut: Jadwal kegiatan penelitian adalah sebagai Jadwal Kegiatan Penelitian No. yakni 5 anak laki-laki dan 11 perempuan.49 penelitian yang akan dilakukan. Pelaksanaan siklus II 1. A. lembar pengamatan. Penulisan laporan hasil penelitian dan pembahasan. Keterangan Perbaikan dan penggandaan hasil penelitian. Mereka memilik kemampuan yang sangat baik dalam setiap pembelajaran.

demikian juga dalam kegiatan pembelajaran yang lainnya.2 5 5.(Subjek) . Hal ini dapat dilihat dari laporan nilai ulangan yang diperoleh selama semester II di kelas A tahun pelajaran 2009/2010 dalam pembelajaran membaca permulaan.(Subjek) √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ .7 5.3 5. sehingga sekolah menetapkan Kriteria Ketuntasan Maksimal (KKM) membaca 70.50 dalam hal membaca.5 5 6 5 5. bahkan membaca surat kabar. Dalam hal membaca anak selalu memperoleh nilai jauh di bawah nilai teman-temannya. Akan tetapi dari hasil pengamatan/observasi menunjukkan bahwa terdapat dua dari enam belas murid kelas B Taman Kanak-Kanak Elim Sragen yang terdiri dari dua anak laki-laki.5 5 5. Ada beberapa anak yang memiliki kemampuan membaca yang sangat lancar sehingga anak telah mampu membaca buku-buku di ruang perpustakaan.7 5.2 5. sebagai berikut: Tabel I Nilai awal sebelum pelaksanaan siklus I (Nilai Subjek Dibandingkan dengan Nilai Siswa lain) dalam Membaca Permulaan Semester II Kelas A Taman Kanak-Kanak Elim Sragen Tahun Pelajaran 2009/2010 No Kode Jenis kelamin L P P L P P L P p L p L p p L p L Usia Nilai Keterangan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 A AK AR EN F IR JG KN LT LR RW SP TL TA Y YK 5 5.4 5.3 5 85 80 80 85 30 35 85 90 95 90 90 85 90 85 95 95 √ √ √ √ . belum dapat membaca khususnya dan sangat tertinggal pada mata pelajaran yang lain umumnya.

Berdasar kondisi tersebut peneliti ingin berupaya untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan pada kedua anak yang mengalami keterlambatan didalam membaca permulaan tersebut. karena nilai yang diperoleh anak sangat jauh dari kriteria ketuntasan minimal yang ditetapkan di Taman Kanak-Kanak yaitu 70. Data nilai yang diperoleh kedua anak tersebut dibandingkan dengan nilai yang diperoleh teman-teman sekelasnya dapat kami tampilkan dalam suatu grafik sebagai berikut di bawah ini: Grafik Nilai Membaca Permulaan Sebelum Siklus I (Nilai Subjek dibandingkan dengan Nilai Siswa lain) Keterangan: Subjek adalah no 5 dan 6.51 * Keterangan: √ = Mampu = Belum Berdasar hasil prestasi belajar di atas menunjukkan bahwa 2 dari 16 anak atau 12% siswa kelas B Taman Kanak-Kanak Elim belum dapat membaca permulaan. dengan menggunakan media lempar dadu huruf. .

Dengan tujuan materi membaca dapat lebih diminati dan lebih digemari oleh siswa. kemudian memperoleh nilai sebagai berikut: Tabel 2 Hasil Perolehan Kemampuan Membaca Awal/ pre Test Kode Nilai Semester I Nilai Pre test N0 Keterangan 1 2 F IR 30 35 27 30 Turun 10% Turun 15% Berdasar keadaan tersebut. Salah satunya dengan mempergunakan media sebagai sarana meningkatkan kemampuan membaca siswa.52 Melihat hal tersebut.. guru hendaknya berusaha merenovasi model pembelajaran yang telah dilakukan. Grafik Hasil Perolehan Nilai Kemampuan Membaca Awal/ Pre Test . dalam hal ini penulis menggunakan medialempar dadu huruf. maka peneliti melakukan pre test terhadap kemampuan siswa sebagai acuan untuk menentukan keberhasilan dari tindakan yang akan dilakukan selanjutnya.

6) Membuat lembar pengamatan. (4) Refleksi atau . a. yaitu meja. 12 Juli 2010 di ruang kelas B Taman Kanak-Kanak Elim Sragen dan di lingkungan sekolah. 16 Juli 2010. Pelaksanaan Siklus I Siklus pertama terdiri dari 4 tahap yaitu : (1) Perencanaan . (2)Tindakan atau Pelaksanaan . Sedangkan rencana pelaksanaan tindakan dilaksanakan siklus I pada hari Jumat. Pengamatan . 7) Menentukan jadwal pelaksanaan tindakan. 5) Membuat lembar penelitian siswa yaitu berupa tes. 3) Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran untuk siklus I. b.53 2. Instrumen tes ini digunakan untuk meneliti kemampuan membaca permulaan pada anak. Membuat rencana pembelajaran. Perencanaan (Planning). serta menyiapkan peralatan yang dibutuhkan dalam pembelajaran membaca melalui media lempar dadu huruf. membuat intrumen tes dan lembar tugas siswa. 2) Menentukan dan menyiapkan materi pengenalan huruf kepada anak. Tindakan (Acting) Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar guru memberikan apersepsi dengan membuka percakapan tentang nama benda di sekitar siswa. 4) Menyiapkan media pembelajaran yaitu dadu yang bersimbolkan huruf. (3) Observasi atau Evaluasi. Kegiatan perencanaan tindakan I dilaksanakan pada hari Senin. Adapun tahap perencanaan tindakan siklus I adalah sebagai berikut: 1) Menganalisa materi pelajaran Mengkaji materi yang sesuai dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan anak.

Guru memberikan beberapa soal kepada anak sebagai post test yaitu membaca huruf. menyusun dan membacanya. suku kata dan kata. Walaupun dalam siklus I ini dalm melakukan tugas yakni mengambil. Guru memberi kesempatan kepada siswa mengambil satu dadu . dengan menggunakan instrument observasi yang disiapkan peneliti. dapat diambil kesimpulan bahwa dalam pelaksanaan pembelajaran muncul semangat terhadap minat belajar pada anak tunagrahita di kelas B Taman Kanak-Kanak Elim Sragen. Semua nama-nama benda tadi dapat di tulis dengan huruf-huruf yang terdapat dalam abjad. melempar. Selanjutnya anak disuruh menyebutkan huruf-huruf yang ada dalam abjad dan diteruskan lagu “ abcdefg“. untuk mengetahui sejauhmana anak menagalami kemajuan setelah pembelajaran berlangsung. 16 Juli 2010 terhadap kegiatan pembelajaran membaca permulaan melalui media lempar dadu huruf dari awal sampai akhir. mengambil lagi satu dadu pada kotak vokal. yaitu membaca huruf. Kelompok vokal berada pada kotak dua atau kelompok dua. Selanjutnya guru memberi kesempatan kepada siswa mengambil satu dadu pada kotak konsonan. suku kata dan kata. Guru memberikan beberapa soal kepada anak sebagai pre test. melempar dan membaca huruf belum begitu tertib.54 buku. kemudian keduanya disusun dan dibaca. baju. Kelompok konsonan berada pada kotak satu atau kelompok satu. c. Pengamatan (Observing) Pelaksanaan observasi pada hari Jumat. kecenderungan bermain tanpa tujuan masih dominan. Guru menjelaskan dan menyebutkan kelompok vokal atau huruf hidup dan konsonan atau huruf mati kepada siswa. melempar. belum terlihat keinginan anak untuk mengetahui atau dapat membaca huruf . Guru menunjukkan dadu huruf kepada siswa yang berisi simbulsimbul huruf yang ada pada setiap sisinya. Guru mem beri kesempatan kepada siswa mengambil empat dadu dengan urutan KVKV melempar. melempar dan membacanya.

55 atau tulisan yang muncul. Semangat yang timbul adalah semangat hanya untuk bermain. Nilai setelah pelaksanaan siklus I dan grafik nilai perolehan anak pada siklus I. melalui lembar pengamatan. Di bawah ini kami sajikan hasil pengamatan yang penulis lakukan. Hasil pengamatan dapat dilihat pada lembar pengamatan seperti di bawah ini: Lembar Pengamatan Kemampuan Membaca Permulaan Anak Tunagrahita Kelas B Taman Kanak-Kanak Elim Sragen No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Aspek yang diamati Frekuensi kesalahan dalam membaca Kesalahan membedakan huruf b dengan d Kesalahan membedakan huruf p dengan q Kesalahan membedakan huruf m dengan n Kesalahan membedakan huruf s dengan z Kesalahan membedakan huruf v dengan u Membaca terlalu lama Tidak Tiduran Tidak mengerjakan tugas Mengganggu teman-teman Berceritera atau berteriak-teriak saat pelajaran berlangsung mengikuti pelajaran sungguh-sungguh √ √ Farel Ya Tidak √ √ √ √ √ √ √ dengan √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Ian Ya Tidak √ √ √ √ √ .

56 Hasil dari evaluasi membaca pada akhir siklus I menunjukkan adanya peningkatan sebagai berikut: Tabel 3 Nilai setelah pelaksanaan siklus I Nilai Ulangan Membaca Permulaan Anak Tunagrahita Semester I Kelas B Taman Kanak-Kanak Elim Sragen Tahun Pelajaran 2010/2011 No Kode Pre test Post test Kemajuan Keterangan 1 F 27 45 66.3% Belum tuntas Dari nilai yang diperoleh anak setelah pelaksanaan siklus I dapat dibuat grafik sebagai berikut: Grafik Hasil Perolehan Nilai Kemampuan Membaca Setelah Siklus I 606162 .6% Belum tuntas 2 IR 30 55 83.

Memfokuskan perhatian anak kepada hasil yang akan dicapai harus lebih ditekankan. atau meningkat 66. maka diperlukan lagi perencanaan pada siklus berikutnya.3 % bagi Ian. atau belum tuntas. Sedangkan rencana pelaksanaan tindakan dilaksanakan siklus II pada hari Selasa. 3) Kesimpulan dari siklus I adalah tindakan yang dilaksanakan belum dapat meningkatkan prestasi belajar membaca permulaan terhadap keadaan subjek. Peningkatan prestasi belajar kedua subjek tersebut dibandingkan dengan KKM yang ditetapkan masih jauh dari harapan. artinya masih di bawah KKM yang . ss 70 45 70 x100 = 64% bagi Farel x100 = 79% . ada beberapa hal yang penulis sampaikan.6% bagi Farel dan 83. menyusun dan membaca perlu ditingkatkan. 20 Juli 2010. Perbaikan pada siklus II mengacu pada kekurangan-kekurangan yang telah disebutkan di atas. Pelaksanaan Siklus II Kegiatan perencanaan tindakan II dilaksanakan pada hari Senin. 3. Frekuensi lemparan.57 d. yakni: 1) Hasil tindakan pada siklus I telah menunjukkan kenaikan yang berarti. 9 Agustus 2010 di ruang kelas B Taman Kanak-Kanak Elim Sragen dan di lingkungan sekolah. 2) Hasil belajar membaca permulaan kedua subjek tersebut jika dibandingkan dengan KKM yang ditentukan baru mencapai dan Ian baru mencapai telah ditentukan oleh sekolah. Refleksi ( Reflecting) Hasil dari proses pembelajaran dalam siklus I dari perencanaan sampai pada kegiatan evaluasi.

6) Membuat lembar penelitian siswa yaitu berupa tes. . yaitu membaca huruf. Perencanaan Rancangan prosedur penelitian dalam kegiatan perencanaan adalah: 1) Menganalisa kembali hal. Siklus II terdiri dari : a. Kelompok konsonan berada pada kotak satu atau kelompok satu. Instrumen tes ini digunakan untuk meneliti kemampuan membaca permulaan pada anak. 7) Membuat lembar pengamatan. Semua nama-nama benda tadi dapat di tulis dengan huruf-huruf yang terdapat dalam abjad. sehingga hal-hal yang ingin dicapai dalam upaya meningkatkan kemampuan membaca permulaan pada siswa kelas B Taman Kanak-Kanak Elim tercapai. b. guru memberikan apersepsi dengan membuka percakapan tentang nama benda di sekitar siswa. Tindakan (Acting) Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar. 4) Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran untuk siklus II 5) Menyiapkan media pembelajaran yaitu dadu yang bersimbolkan huruf. yaitu kaca. Kelompok vokal berada pada kotak dua atau kelompok dua. Guru menjelaskan dan menyebutkan kelompok vokal atau huruf hidup dan konsonan atau huruf mati kepada siswa. suku kata dan kata. bola. 8) Menentukan jadwal pelaksanaan tindakan. Guru menunjukkan dadu huruf kepada siswa yang berisi simbulsimbul huruf yang ada pada setiap sisinya. kaki. Selanjutnya anak disuruh menyebutkan huruf-huruf yang ada dalam abjad dan diteruskan lagu “ abcdefg“.58 Siklus II dimaksudkan untuk mengadakan perbaikan pada siklus I.hal yang telah dievaluasi pada siklus I 2) Memperbaiki kesalahan/ kekurangan pada siklus I 3) Menentukan dan menyiapkan materi pengenalan huruf kepada anak.mata. Guru memberikan beberapa soal kepada anak sebagai pre test.

yakni kurang penguasaan guru terhadap murid dan pengarahan terhadap tujuan penelitian dan tidak diberikannya reward atau penghargaan pada siklus I. melempar. Guru memberikan beberapa soal kepada anak sebagai post test yaitu membaca huruf. terhadap minat belajar pada anak tunagrahita di kelas B Taman Kanak-Kanak Elim Sragen. Semangat tersebut dapat terlihat dari keceriaan anak dalam mengikuti pembelajaran. Pengamatan (observing) Hasil observasi terhadap kegiatan pembelajaran membaca permulaan melalui media lempar dadu huruf pada siklus II menunjukkan bahwa dalam pelaksanaan pembelajaran muncul semangat yang lebih besar dibanding dengan siklus I. Pemberian hadiah/ penghargaan pada setiap keberhasilan yang dicapai anak. Pemberian hadiah/ penghargaan pada setiap keberhasilan yang dicapai anak. mudah diatur dan diarahkan serta semangat yang tinggi muncul pada siklus II. suku kata dan kata.59 Guru memberi tugas kepada siswa untuk mengambil dadu huruf. melempar dan membacanya sebanyak sepuluh kali. melempar dan membacanya sebanyak sepuluh kali. tidak terjadi kejenuhan sampai selesainya kegiatan pembelajaran. sehingga pada siklus II anak nampak lebih tertib. Setelah diadakan perbaikan dalam penanganan anak atau pengkondusifan kondisi dalam pembelajaran dan pemberian hadiah/ reward pada siklus II ternyata mampu meningkatkan motivasi anak. menyusun dan membacanya sebanyak lima kali. untuk mengetahui sejauhmana anak menagalami kemajuan setelah pembelajaran berlangsung c. Pemberian hadiah/ penghargaan pada setiap keberhasilan yang dicapai anak. . Guru memberi tugas kepada siswa untuk mengambil dua dadu huruf (KV). Pemberian tugas kepada siswa mengambil empat dadu (KVKV). Hal ini disebabkan telah diperbaikinya kekurangan-kekurangan yang muncul pada siklus I.

Hasil pengamatan dapat dilihat pada lembar pengamatan seperti di bawah ini: Lembar Pengamatan Kemampuan Membaca Permulaan pada Siklus II Anak Tunagrahita Kelas B Taman Kanak-Kanak Elim Sragen Aspek yang diamati Farel Ian Ya Tidak Ya Tidak √ Frekuensi kesalahan dalam membaca √ √ Kesalahan membedakan huruf b dengan d √ √ Kesalahan membedakan huruf p dengan q √ √ Kesalahan membedakan huruf m dengan n √ √ Kesalahan membedakan huruf s dengan z √ √ Kesalahan membedakan huruf v dengan u √ √ Membaca terlalu lama √ √ Tidak mengikuti pelajaran dengan √ sungguh-sungguh √ Tiduran √ √ Tidak mengerjakan tugas √ √ Mengganggu teman-teman √ Berceritera atau berteriak-teriak √ √ saat pelajaran berlangsung √ No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Hasil dari evaluasi membaca pada akhir siklus II menunjukkan adanya peningkatan sebagai berikut: .60 Di bawah adalah hasil pengamatan yang penulis lakukan. melalui lembar pengamatan. Nilai setelah pelaksanaan siklus II dan grafik nilai perolehan anak pada siklus II.

Refleksi Hasil dari proses pembelajaran dalam siklus II dari perencanaan sampai pada kegiatan evaluasi.5% 36. yakni: Hasil belajar membaca Farel menunjukkan peningkatan dari siklus I yaitu dari nilai 45 menjadi 70.5% .61 Tabel 4 Nilai setelah pelaksanaan siklus II Nilai Ulangan Membaca Permulaan Anak Tunagrahita Semester I Kelas B Taman Kanak-Kanak Elim Sragen Tahun Pelajaran 2010/2011 No Kode Pre test Post test Kemajuan Keterangan 1 2 F IR 45 55 70 75 55.6% Tuntas Tuntas Dari nilai yang diperoleh anak setelah pelaksanaan siklus II dapat dibuat grafik sebagai berikut: d. Farel mengalami kenaikan nilai sebesar 45 70 x100 = 55. terdapat peningkatan kognitif pada anak yaitu peningkatan kemampuan membaca permulaan anak Farel dan Ian.

v dengan u. mengikuti pembelajaran dengan sungguhsungguh. sudah mampu membedakam huruf b dengan b. p dengan q. Hasil Penelitian Berdasarkan tindakan yang dilakukan pada setiap siklus. Ian mengalami kenaikan nilai sebesar 55 70 x100 = 36. yaitu: Mengalami penurunan frekuensi kesalahan dalam membaca. tidak tiduran saat mengikuti pelajaran. dapat dihasilkan tindakan antar siklus sebagai berikut: 1. Hasil belajar membaca Ian menunjukkan peningkatan dari siklus I yait dari nilai 55 menjadi 75. yaitu: Mengalami penurunan frekuensi kesalahan dalam membaca. B. s dengan z. p dengan q. tidak tiduran saat mengikuti pelajaran. mengikuti pembelajaran dengan sungguh-sungguh. s dengan z. 2. . namun seperti kebiasaan sebelumnya anak Ian suka mengganggu teman-temannya dan suka berteriak-teriak saat mengikuti pelajaran. yaitu 70. Namun masih sering keliru membedakan huruf n dengan m.6% pada siklus II. sudah mampu membedakam huruf b dengan b. v dengan u.mampu membedakan huruf m dengan n. mengerjakan tugas dengan baik. yang berarti telah berhasil mencapai KKM yang ditetapkan sekolah. mengerjakan tugas dengan baik. yang berarti telah berhasil melampaui KKM yang ditetapkan sekola yaitu 70.62 pada siklus II. Anak mampu membaca lebih lancar. Anak mampu membaca lebih lancar. Perubahan sikap dalam pembelajaran pada anak Farel. Perubahan sikap dalam pembelajaran pada anak Ian.

Siklus I. Siklus II .63 Tabel 5 Nilai kemampuan yang dicapai anak No Kode Peningkatan yang dicapai Pre test Siklus I Siklus II 1 2 F IR 27 30 45 55 70 75 Hasil perkembangan/ kemajuan dicapai oleh subjek. dapat dilihat dalam grafik di bawah ini: Grafik Perolehan Nilai kemampuan Membaca Pre test.

Anak tunagrahita umumnya mengalami keterlambatan atau tertinggal dalam kemampuan membacanya dibanding dengan teman normal yang sebayanya. Sehingga anak mampu membaca permulaan dengan lebih lancar. anak mengalami peningkatan dalam kemampuan membaca permulaan pada tiap siklus yang diksanakan.5 Dari hasil kegiatan penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa anak mengalami peningkatan kemampuan dalam membaca permulaan. melalui media yang sesuai dengan karakter anak pada umumnya yakni bermain. Kemampuan membaca anak tunagrahita kelas B Taman Kanak-kanak Elim Sragen perlu ditingkatkan semaksimal mungkin.5 50 72. C. dan sesuai .64 3.Rata 28. Kesimpulan Setelah dilakukan pembelajaran dengan menggunakan media lempar dadu huruf. Pembahasan Kemampuan membaca memiliki peran yang sangat besar dalam kema-juan anak didalam proses belajar khususnya dan pada perkembangan umumnya. Peningkatan yang dicapai anak dari awal sampai akhir dapat dilihat dalam tabel di bawah ini: Tabel 6 Nilai Kemampuan membaca yang di peroleh anak selama kegiatan penelitian No 1 2 Kode F IR Kondisi Awal 27 30 Siklus I 45 55 Siklus II 70 75 Rata .

b. disusun kemudian dibaca. lalu mengambil dadu pada kelompok konsonan dan dilemparkan. Misalnya anak mengambil dadu pada kelompok vokal dan dilemparkan. Untuk membaca suku kata memerlukan waktu yang agak lama karena harus melempar dua atau tiga huruf kemudian disusun dan dibaca. karena anak harus melempar terlebih dahulu sebuah dadu kemudian memperhatikan untuk dibaca.65 dengan karakter anak tunagrahita khususnya yakni belajar dengan hal-hal yang kongkrit agar mu-dah dimengerti anak. misalnya berhitung. Kelemahan-kelemahan media bermain lempar dadu huruf diantaranya adalah: a. Keyakinan peneliti akan adanya kemajuan dalam setiap usaha. walaupun memiliki kelemahan. Media bermain lempar dadu huruf adalah bentuk permainan yang dapat digunakan sebagai sarana pembelajaran anak dalam berbagai hal. Media bermain lempar dadu huruf sangat menarik dalam pembelajaran. Untuk membaca suku kata anak harus mengambil empat dadu (KVKV).ran membaca yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan membaca permu-laan pada anak. 1. sehimgga mampu membangkitkan motivasi bagi anak serta mendorong anak agar belajar lebih giat lagi. Kadang-kadang huruf yang muncul tidak membentuk kata yang punya arti. mendorong peneliti untuk mencobakan media yang menarik minat anak dalam belajar membaca yakni media bermain lempar dadu huruf. kadang-kadang vokal yang muncul setelah digabung dengan konsonan tidak membentuk kata yang memiliki arti. Media bermain lempar dadu huruf dalam penelitian ini penulis gunakan sebagai sarana dalam pembelaja. pengenalan bentuk. Contoh: 1) lemparan pertama konsonan yang muncul adalah b . warna dan lain sebagainya. diliempar. Menyita banyak waktu Untuk membaca satu huruf memerlukan banyak waktu.

tidak hanya sebanyak jumlah huruf dalam satu abjad akan tetapi lebih dari itu.66 2) lemparan kedua vokal yang muncul adalah i 3) lemparan ketiga konsonan yang muncul adalah m 4) lemparan keempat vokal yang muncul adalah u Kata yang muncul setela dadu disusun adalah b i m u c. 2. anak merasa bersemangat dan kepercayaan dirinya tumbuh. Dadu harus dipersiapkan dalam jumlah yang banyak. b. 1. sehingga anak aktif. Memerlukan banyak sekali dadu. Jangan menyusun terlalu banyak kata sekaligus yang memerlukan terlalu banyak dadu. menyusun dan membacanya. jadi anak yang melempar tidak harus bolak-balik menyusun huruf yang dilemparnya. Cara mengatasi kelemahan-kelemahan dalam pembelajaran melalui media bermain lempar dadu huruf adalah: a. akan tetapi anak telah bagus dalam melaksanakan tugasnya. Kelebihan dari pembelajaran membaca permulaan lewat bermain lempar dadu huruf ini adalah : a. Jika anak menghasilkan lemparan yang setelah disusun ternyata kata tersebut tidak memiliki arti. b. Anak memilih sendiri dadu huruf yang dilemparnya sehingga anak bersemangat. Pemberian kesempatan kepada anak untuk menentukan pilihan merupakan hal yang menyenangkan bagi anak. Anak diberi kesempatan untuk mengambil/memilih. Beri penjelasan kalau kata tersebut tidak memiliki arti. Saat anak memilih . teruskan saja anak membaca kemudian diberi pujian saat dia sudah berusaha melempar dan membaca. c. diadakan kerjasama dengan teman atau guru dalam menyusun urutan lemparan. Tidak mengantuk dan bosan karena anak beraktifitas dengan aktif. Lakukan dengan menyusun satu atau dua kata kemudian dibaca. melempar. Untuk menyingkat waktu. agar kata-kata yang dapat disusun oleh anak dalam jumlah yang banyak dan bervariasi.

Anak yang belum dapat menyusun huruf menjadi kata akan berusaha mencoba lagi sehingga mereka memiliki keinginan untuk mencoba dan mencoba lagi. Untuk itu perlu dipergunakan sebagai media pembelajaran sehari-hari guna membantu anak dalam meningkatkan minat belajarnya. . Setelah melempar anak dengan senangnya cepat-cepat ingin mengetahui apa isi/ bacaan dari lemparan yang akan disusunnya. Anak akan merasa bangga jika huruf yang dilemparnya dapat membentuk suatu kata yang memiliki arti.67 ada aktifitas dalam segi kognitif dan motorik halus. Anak ingin segera membaca dari hasil lemparan yang telah disusun tadi dengan mengaktifitaskan aspek kognitifnya. termasuk dalam meningkatkan kemampuan membaca anak. sehingga tercapai tujuan pembelajaran. Saat menyusun aktifitas dalam kognitifnya bekerja. motorik halusnya juga bekerja. Media bermain lempar dadu huruf sangat membantu anak dalam pembelajaran. c. saat anak melempar ada aktifitas dalam motorik kasarnya. Anak tertarik untuk mengetahui huruf apa yang keluar dan kata apa yang muncul dari setiap lemparan yang dibuatnya sendiri.

Kesimpulan Hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut. sehingga pertumbuhan dan perkembangan anak berjalan dengan maksimal dapat meningkatkan kemampuan membaca permulaan pada anak tunagrahita kelas B Taman Kanak-kanak Elim . b. B. Guru Taman Kanak-Kanak Elim hendaknya menerapkan pembelajaran dengan menggunakan media bermain lempar dadu huruf pada pelajaran membaca permulaan. karena media tersebut ternyata efektif digunakan sebagai sarana untuk meningkatakan kemampuan membaca permulaan pada anak. Guru-guru hendaknya kreatif menggunakan media lempar dadu huruf sebagai sarana yang bervariasi dalam pembelajaran agar mampu membangkitkan minat belajar pada anak. Berkreatifitas untuk menggunakan sesuatu yang ada di sekitarmu bagi peningkatan kemampuan yang kalian miliki. maka diajukan saran sebagai berikut: 1. b.68 BAB V SIMPULAN DAN SARAN A. bahwa pembelajaran dengan media bermain lempar dadu huruf Sragen tahun pelajaran 2010/2011. Bagi Guru a. Bagi Siswa a. 2. Hasil penelitian ini hendaknya dipergunakan sebagai sarana pembelajaran yang menarik dan mampu memotivasi semangat belajar sehingga dapat tercapai perkembangan yang optimal. Saran Sehubungan dengan kesimpulan penelitian di atas.

. Departemen Pendidikan Nasional. Direktorat Pendidikan Luar Biasa. Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi. 2009. FKIP Surakarta. Pengembangan .psikologzone.blogspot. 2009. Munawir Yusuf. Indonesia Metode Penelitian Ilmu .com/2009/02/02/studidokumen-dalam-penelitian-kualitatif. Pendidikan bagi Anak dengan Problema Belajar.wordpress. PengertianMembaca. http://www. Pengertian Tes. 2004. Duonloud 10 juni 2010. Psikologi Perkembangan Anak I. 2009.html http://mathedu-unila. 2007. http://adzeglar.com/2010/05/02/tunagrahita/ Dounloud 21 Juni 2010 Baitul Alim. http://r. 2009.com/2009/01/pengertian-membaca.com/2009/10/pengertian- Mbahbrata. Graha Mulyono Abdurrahman.yuwie.blogspot.blogspot. 2009.blogspot. . 2009. 2003. 2007.ilmu Sosial. 2006. Rineka cipta.html. dan Pemanfaatan ) . dkk. Mengenal Pendidikan Terpadu. Pendidikan bagi anak berkesulitan belajar. Muhammad Idrus. http://astati. Defli. indonesia/article/view/272/0 Mathedu.2010. Karakteristik Anak Tunagrahita http://saunganggie.asp?id=932768 & eid=602755 Devid Haryalesmana.com/pengertiandefinisi-tes-dalam-psikologi. http://Mbahbrataedu. Chasiyah. Pengertian Anak Tunagrahita. Jakarta : PT Raja Gravindo Persada Astati.com/blog/entry. Media Pendidikan ( Pengertian .com/2009/06/membaca-permulaan-permainan-bahasa. Hj. Jakarta.html Fu’adz Al-gharuty. membaca. Tunagrahita. 2005. Jakarta. 2003.69 DAFTAR PUSTAKA Anggie Siti Sa’adah. Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Perguruan Tinggi. Dounloud 21 juni 2010 Arif Sadiman S.wordpress. http://guruit07. Membaca permulaan dan permainan bahasa.com/2009/07/karakteristik-anaktunagrahita. Dounload 12 April 2010.

Difinisi media http://mataharieducare. Seva Andini Kusnawanto. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi. Mengelola Kurikulum pada Pendidikan Inklusi. perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem.70 Oemar Hamalik. 1996. WJS 1984. Psikologi Anak Luar Biasa. Proyek Pendidikan Tenaga Guru. Dounload 12 April 2010. Sutjihati Somantri. PL 2010. Metodologi Research Jilid 1. 2008.Jakarta : Bumi Aksara. Makalah Simposium dan Temu Ilmiah Nasional. 2008. Jakarta.com/ Dounload 2010 Mei 12.2009.um. Jakarta. Surakarta.com/2008/12/02 penerapan-metode pembelajaran permulaan. Wikipedia. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dan penulisan Karya Ilmiah.wordpress. Penerapan Metode Pembelajaran Membaca Permulaan. Proyek Pendidikan Tenaga Akademik. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Sarwiji Suwandi. Direktorat Jedral Pendidikan Tinggi. Dounloud 17 juni 2010.php/sastraIndonesia/article/view/272/0 Slameto. 2007. Suharsimi Arikunto.com/pengertian-mediapembelajaran. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek ( Edisi Revisi IV ). 2008. http://karya-ilmiah. Jakarta : Rineka Cipta Sunardi. Jakarta : Dirjen Dikti Depdiknas. 2 dan 3 Yogyakarta: Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi UGM. Jakarta. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.id/index.ac. 2000. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Pendit. 2009. 2007. 2005. 1993. Jakarta Bumi Aksara Purwodarminto. http://tarmizi. 2005. _______________ Kecenderungan dalam Pendidikan Luar Biasa. Tarmizi. Belajar dan Faktor – Faktor yang Mempengarui. Penilaian Sertifikasi Guru Rayon 13. Sutrisno Hadi. Balai Pustaka.html. Jenis Data Dan Metode Pengumpulan Data .wordpress. . Wijaya Kusumah. http://media-grafika.

wordpress.html. Membaca penerapan-metode Permulaan. http://media-grafika. Wijaya Kusumah. Dounload 12 April 2010.71 Metode Pembelajaran http://tarmizi.2009. pembelajaran Wikipedia.com/pengertian-mediapembelajaran.com/2008/12/02 permulaan. 2007.wordpress. Difinisi media http://mataharieducare. . Dounloud 17 juni 2010.com/ Dounload 2010 Mei 12.

72 LAMPIRAN .

Agama 5. Agama 5. Berat badan 7. Kelas 8. Sekolah : Ian Rudyanto : Laki-laki : Sragen. Tinggi badan 6. Jenis Kelamin 3. Jenis Kelamin 3. 1. Tempat/tgl lahir 4. Tempat/tgl lahir 4. Kelas 8. Sragen 2. 17 September 2005 : Kristen : 123 Cm : 20 Kg :B : Taman Kanak-Kanak Elim. Nama anak 2. 6 Juli 2005 : Kristen : 119 Cm : 18 Kg :B : Taman Kanak-Kanak Elim.73 DATA ANAK A. Berat badan 7. 1. Sekolah B. Nama anak : Farel : Laki-laki : Sragen. Tinggi badan 6. Sragen .

Pelaksanaan siklus II 5 I-IV September 2010 4. Penulisan laporan hasil penelitian dan pembahasan. Keterangan 2 II-IV Juli 2010 Melaksanakan pre test. 1 Minggu Ke/Bulan I Juli 2010 Kegiatan Melakukan observasi ke kelas Pembuatan kisi-kisi. Evaluai 3 I Agustus 2010 Menyiapkan Instrument pelaksanaan siklus II 4 II-IV Agustus 2010 Melaksanakan pre test. Penulisan Bab V.74 Lampiran 1 Jadwal Kegiatan Penelitian No. Pelaksanaan tindakan siklus I. 6. 5. lembar pengamatan. Perbaikan dan penggandaan hasil penelitian. . Penyelesaian skripsi. item soal.

Dapat menempel gambar sesuai kata 3. Dapat menulis kata sederhana 10 9 8 7 3-4 5-6 N0 Item 1-2 . Dapat menempel suku kata yang kurang di belakang kata dengan bantuan gambar 1. Dapat menempel suku kata yang kurang pada awal kata dengan bantuan gambar 5. Dapat menempel suku kata yang kurang pada tengah kata dengan bantuan gambar 6. Pembentukan Perilaku melalui Pembiasaan Kompetensi Dasar 1. Dapat menempel kata sesuai gambar 2.2 Membaca Mengungkapkan isi syair 4.75 Lampiran 2 Kisi – kisi instrumen N0 Standar Kompetensi 1.1 Mendengarkan Bacaan/ syair bernafaskan agama Indikator 1. Dapat menyebut kata dibantu gambar 1.3 Menulis kata sederhana dengan benar Jumlah 10 7.

76 Cara Penilaian Jawaban benar nilainya Jawaban salah nilainya Nilai akhir = Skor 1 =1 =0 = 10 Skor total jika benar semua nilainya .

. Berilah tanda silang ( X ) huruf a... Pisang 3.77 Lampiran 3 SOAL TRY OUT Nama : Kelas : Test tertulis I..... b... Mawar a. ... Jeruk c...... Nanas a. Nanas b... b.... Jeruk c........ Pisang 2.... c. c pada jawaban yang benar ! 1.. a.. b. .. ....... ...

Gambar apakah ini..... 6... a... ra b... ru .... mah .78 4............. 5... c... Gajah b........ . ................. Gambar apakah ini.. Lengkapilah a... ri c. ............. .......... 7......

li c... je ....... .. 14 Juli 2010 Guru kelas B..nga 9.... .. a. Mengetahui Ka TK. Sri Mulyati ... lo Te. . ruk c.79 8 . Elim Sragen Sragen... rak * Tulislah nama gambar di bawah ini 10.... TK Elim Sragen Dobirson S. a... .. rik b. la b.

Menghubungkan tulisan dengan gambar 5. Standar Kompetensi : 1. Taman Kanak-Kanak / I : 1 : 1 x 30 menit A.80 Lampiran 4 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ( RPP ) SIKLUS I Pengembangan Tema Kelas / Semester Pertemuan Alokasi Waktu : Bahasa Indonesia : Tanaman : B. Kompetensi Dasar 1. Indikator : : 1.14 Bercerita Menyebutkan nama tokoh dalam cerita 1. Menyusun huruf menjadi kata .16 Menghubungkan tulisan dengan gambar 1. Pembentukan perilaku melalui pembiasaan B. Menyebutkan nama tokoh dalam cerita 2. Mengelompokkan kata-kata yang sejenis 6. Menceritakan gambar tanaman 3. Membaca sederhana 4.12 Mengelompokkan kata-kata yang sejenis C.

2. Pisang. Anak dapat menyebutkan tokoh-tokoh dalam cerita. Mangga dan masih banyak lagi buah yang lainnya. Di kota terdapat banyak kendaraan ada becak. Anak dapat membaca peristiwa dalam cerita melalui tulisan yang ada dalam Gambar. Anak dapat menyusun huruf menjadi kata.81 D. 3. Anak dapat membaca nama tokoh-tokoh dalam cerita. E. 4. Anak dapat mengelompokkan kata-kata yang sejenis. Materi Pelajaran * Tanaman Pak Sardi finggal di desa. mobil dan . Ia menanam buah-buahan Jeruk. Anak dapat menceritakan kembali cerita dari gambar seri dengan bahasanya sendiri. sepeda motor. 7. ia sangat rajin. Tujuan Pembelajaran : 1. Pak Sardi menjual hasil kebunnya ke kota. 5. Pak Sardi pergi kota naik kuda. Anak dapat menghubungkan tulisan dengan gambar secara tepat. 6. Nanas.

Anak mendengarkan guru tentang cerita dari gambar b. Becal F. 1. Anak menyusun huruf menjadi kata dengan menggunakan dadu huruf . G. Tanya jawab. Pemberian tugas.82 Kendaraan yang lain-lainnya. Metode Pembelajaran 1. 2. Anak membaca tulisan yang ditunjukkan guru e. f. Kegiatan awal a. Ceramah. Anak menceritakan kembali dengan bahasanya sendiri d. Kegiatan Inti. Anak menyebutkan nama tokoh yang ada dalam cerita c. Sepeda motor Mobil 4. Anak diajak duduk dalam suasana belajar . Apersepsi 2. Langkah – langkah Kegiatan Pembelajaran. a. Anak mengerjakan tugas menghubungkan gambar dengan tulisan yang sesuai. 3. berdoa dan presensi b. demonstrasi dengan gambar dan dadu.

b. menempel gambar sesuai kata yang tertulis. Menempel suku kata yang kurang sesuai gambar d.83 3. menyusun dan membaca Kreteria Penilaian Kenerja. Test Lisan : dilaksanakan pada proses pembelajaran berlangsung. I. Alat / media Pelajaran 2. 2. Penerbit Makmur Jaya Seri 5. Dadu huruf : Kreasi guru : Buku PAUD. halaman 5-6. Penilaian / Evaluasi 1. menempel kata sesuai dengan gambar. Guru menyimpulkan materi yang telah disajikan b. Siswa diberi tugas guru untuk dikerjakan c. Melempar dadu huruf. Kegiatan Akhir a. Alat dan Sumber Bahan 1. Guru memberi pekerjaan untuk dikerjakan dirumah d. Guru menilai hasil pekerjaan siswa dan menyimpulkannya. Sumber Bahan : Kartu bergambar. Test perbuatan dan lesan : a. H. Mampu melakukan sendiri dengan baik dan benar diberi sekor 4 Mampu melakukan dengan sedikit bantuan diberi sekor Mampu melakukan dengan banyak bantuan diberi sekor Belum mampu melakukan diberi skor 3 2 1 . c.

. Jumlah Skor maksimum 4 4 4 4 16 Jumlah skor yang diperoleh x 10 Nilai Akhir = Skor maksimum = .84 Skor perolehan 4 3 2 1 N0 1. 2 3 4 Aspek yang dinilai Menempel kata sesuai gambar yang tertulis Menempel gambar sesuai dengan kata... Menempel suku kata yang kurang sesuai gambar Menyusun huruf dengan lemparan dadu dan membacanya. 16 x 10 = = NA = -------------- .

. Jeruk c. c....... c pada jawaban yang benar ! 1............ b. Pisang b... Berilah tanda silang ( X ) huruf a. .. a......... Nanas 2. Jeruk c.... Pisang b. .. a... Test tertulis I. .... . b... Nanas 3. Mawar a.85 J...

.......86 4. ..... ri c................ .... Gambar apakah ini... 5. mah b...... 6.......... b... Lengkapilah a. 7... ru . ra ... Gambar apakah ini... ............. ...... c. Gajah a............

lo Te..nga 9........ ruk c. rik b. la b. li c.. . rak * Tulislah nama gambar di bawah ini 10. .. TK Elim Sragen Dobirson S. a. Sri Mulyati ... Mengetahui Ka TK.87 8 ... . .. 16 Juli 2010 Guru kelas B..... je . a..... Elim Sragen Sragen..

88 Lampiran 5 Lembar Pengamatan Aktivitas dan Kemampuan Membaca Permulaan Siklus I N o 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Frekuensi kesalahan dalam membaca Kesalahan membedakan huruf b dengan d Kesalahan membedakan huruf p dengan q Kesalahan membedakan huruf m dengan n Kesalahan membedakan huruf s dengan z Kesalahan membedakan huruf v dengan u Membaca terlalu lama Tidak Tiduran Tidak mengerjakan tugas Mengganggu teman-teman Berceritera atau berteriak-teriak saat pelajaran berlangsung mengikuti pelajaran sungguh-sungguh √ √ Aspek yang diamati Farel Ya Tidak √ √ √ √ √ √ √ dengan √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Ian Ya Tidak √ √ √ Guru / Peneliti Sragen. 16 Juli 2010 Pengamat / Teman Sejawat ( SRI MULYATI ) ( IRA MUTIARANI ) .

isyarat. memicu dan memelihara ketertiban siswa 3.4.2.4. Aspek yang dinilai Mengelola ruang dan fasilitas pembelajaran 1. Memberikan petunjuk dan penjelasan yang b. Melaksanakan kegiatan pembelajaran 2. Mengelola pembelajaran waktu secara klasikal 3. kelompok atau efiensi. tulisan .Menggunakan alat Bantu ( media ) pembelajaran yang sesuai dengan tujuan. situasi dan sesuai lingkungan 2. 2. dan Gerakan badan 3.89 Lampiran 6 Lembar Pengamatan Kegiatan Guru dalam Pembelajaran Siklus I N0 1. alat bantu dan sumber belajar 1. Menjawab pertanyaan dari respon siswa 3.3. Melaksanakan kegiatan pembelajaran secara individual. situasi dan sesuai lingkungan 2.3. Menyiapkan ruangan. Memantapkan penguasaan materi v v v v v v v v v Ya v v Tdk . Melaksanakan tugas harian kelas 2.5.2. Mengelola interaksi kelas a.1 Melaksanakan jenis kegiatan yang sesuai dengan Tujuan.1. terkait dengan isi pembelajaran 3.2. Menggunakan ekspresi lisan.

Bersikap terbuka dan luwes serta membantu mengembangkan sikap positip siswa terhadap merespon materi 4. terbuka. penuh pengertian dan sabar terhadap siswa.1.3.90 4. Mengembangkan hubungan antara pribadi yang sehat dan serasi 4. Membantu siswa menyadari kelebihan dan kekurangannya 4. Membantu siswa menumbuhkan kepercayaan diri Melaksanakan evaluasi proses hasil belajar 5.4. v v Guru / Peneliti Sragen. Melaksanakan penilaian pada pembelajaran proses akhir v v v v v 5. Menunjukkan sikap ramah. 16 Juli 2010 Pengamat / Teman Sejawat ( SRI MULYATI ) ( IRA MUTIARANI ) .2.1.2.5. Menunjukkan kegairahan mengajar 4. Melaksanakan penilaian selama pembelajaran 5. 4. hangat luwes.

Menghubungkan tulisan dengan gambar 5.91 Lampiran 7 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ( RPP ) SIKLUS II Pengembangan Tema Kelas / Semester Pertemuan Alokasi Waktu : Bahasa Indonesia : Tanaman : B. Pembentukan perilaku melalui pembiasaan B.16 Menghubungkan tulisan dengan gambar 1. Standar Kompetensi : 1. Menceritakan gambar tanaman 3. Menyusun huruf menjadi kata . Menyebutkan nama tokoh dalam cerita 2. Mengelompokkan kata-kata yang sejenis 6.14 Bercerita Menyebutkan nama tokoh dalam cerita 1. Taman Kanak-Kanak / I : 1 : 1 x 30 menit A. Indikator : : 1.12 Mengelompokkan kata-kata yang sejenis C. Membaca sederhana 4. Kompetensi Dasar 1.

92 D. Pak Sardi pergi kota naik kuda. 7. . Anak dapat membaca peristiwa dalam cerita melalui tulisan yang ada dalam Gambar. Anak dapat membaca nama tokoh-tokoh dalam cerita. Anak dapat mengelompokkan kata-kata yang sejenis. 3. Anak dapat menceritakan kembali cerita dari gambar seri dengan bahasanya sendiri. Ia menanam buah-buahan Jeruk. 5. Pisang. 4. Nanas. Tujuan Pembelajaran : 1. Anak dapat menghubungkan tulisan dengan gambar secara tepat. Mangga dan masih banyak lagi buah yang lainnya. Anak dapat menyusun huruf menjadi kata. Materi Pelajaran * Tanaman Pak Sardi finggal di desa. 6. Anak dapat menyebutkan tokoh-tokoh dalam cerita. E. Pak Sardi menjual hasil kebunnya ke kota. ia sangat rajin. 2.

93 Di kota terdapat banyak kendaraan ada becak. Kegiatan awal a. Ceramah. Anak mengerjakan tugas menghubungkan gambar dengan tulisan yang sesuai. Metode Pembelajaran 1. mobil dan Kendaraan yang lain-lainnya. Anak menceritakan kembali dengan bahasanya sendiri d. Anak menyusun huruf menjadi kata dengan menggunakan dadu huruf . sepeda motor. Pemberian tugas. Anak diajak duduk dalam suasana belajar . Tanya jawab. Becak F. G. berdoa dan presensi b. Apersepsi 2. a. Anak menyebutkan nama tokoh yang ada dalam cerita c. 3. demonstrasi dengan gambar dan dadu. Langkah – langkah Kegiatan Pembelajaran. Anak mendengarkan guru tentang cerita dari gambar b. Anak membaca tulisan yang ditunjukkan guru e. 2. f. Sepeda motor Mobil 4. Kegiatan Inti. 1.

menempel kata sesuai dengan gambar.94 3. Guru menyimpulkan materi yang telah disajikan b. Siswa diberi tugas guru untuk dikerjakan c. Menempel suku kata yang kurang sesuai gambar d. Kegiatan Akhir a. menempel gambar sesuai kata yang tertulis. Penilaian / Evaluasi 1. Alat / media Pelajaran 2. Guru menilai hasil pekerjaan siswa dan menyimpulkannya. Penerbit Makmur Jaya Seri 5. Mampu melakukan sendiri dengan baik dan benar diberi sekor 4 Mampu melakukan dengan sedikit bantuan diberi sekor Mampu melakukan dengan banyak bantuan diberi sekor Belum mampu melakukan diberi skor 3 2 1 . 2. Test perbuatan dan lesan : a. Test Lisan : dilaksanakan pada proses pembelajaran berlangsung. Sumber Bahan : Kartu bergambar. menyusun dan membaca Kreteria Penilaian Kenerja. Alat dan Sumber Bahan 1. I. Melempar dadu huruf. Guru memberi pekerjaan untuk dikerjakan dirumah d. H. c. b. Dadu huruf : Kreasi guru : Buku PAUD. halaman 5-6.

.. Jumlah Skor maksimum 4 4 4 4 16 Jumlah skor yang diperoleh x 10 Nilai Akhir = Skor maksimum = . Menempel suku kata yang kurang sesuai gambar Menyusun huruf dengan lemparan dadu dan membacanya. 2 3 4 Aspek yang dinilai Menempel kata sesuai gambar yang tertulis Menempel gambar sesuai dengan kata.95 Skor perolehan 4 3 2 1 N0 1.. 16 x 10 = = NA = -------------- .

a.. b... . Mawar a.. a...96 J......... Jeruk c.. Berilah tanda silang ( X ) huruf a.. c pada jawaban yang benar ! 1.. .. ... Nanas 2. Pisang b....... .. Test tertulis I.. b........ Nanas 3.. Jeruk c...... c. Pisang b..

. Gambar apakah ini.... b.. ri c.. Gajah a.... ..... 7..... mah b......... 5. ra .......... ...... 6.. Lengkapilah a... .....97 4............. .................. c.. ru .... Gambar apakah ini...

... rak * Tulislah nama gambar di bawah ini 10.. .... .. a.. Sri Mulyati . li c.. ... lo Te. . rik je .. Elim Sragen Sragen..nga 9... b. TK Elim Sragen Dobirson S.... ruk c. Mengetahui Ka TK. a...98 8 .. la b... 9 Agustus 2010 Guru kelas B.

9 Agustus 2010 Pengamat / Teman Sejawat ( SRI MULYATI ) ( IRA MUTIARANI) .99 Lampiran 8 Lembar Pengamatan Aktivitas dan Kemampuan Membaca Permulaan Siklus II No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Aspek yang diamati Frekuensi kesalahan dalam membaca Kesalahan membedakan huruf b dengan d Kesalahan membedakan huruf p dengan q Kesalahan membedakan huruf m dengan n Kesalahan membedakan huruf s dengan z Kesalahan membedakan huruf v dengan u Membaca terlalu lama Tidak Tiduran Tidak mengerjakan tugas Mengganggu teman-teman Berceritera atau berteriak-teriak saat pelajaran berlangsung √ mengikuti pelajaran dengan sungguh-sungguh √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Farel Ya Tidak √ √ √ Ian Tidak √ √ √ √ √ √ √ √ Ya Guru / Peneliti Sragen.

Melaksanakan evaluasi proses hasil belajar 5. Tdk 2. 2.4. 3.4. situasi dan sesuai lingkungan 2.2. terbuka.2.1.2.3.2. alat bantu dan sumber belajar v 1. Menggunakan ekspresi lisan.100 Lampiran 9 LEMBAR OBSERVASI KEGIATAN GURU DALAM PEMBELAJARAN SIKLUS II Aspek yang dinilai Ya Mengelola ruang dan fasilitas pembelajaran 1. Melaksanakan tugas harian kelas v Melaksanakan kegiatan pembelajaran 2. 4.3. Melaksanakan penilaian pada akhir pembelajaran v v v v v v v v v v v v v v v v N0 1. situasi dan sesuai lingkungan 2. Menyiapkan ruangan. Menunjukkan kegairahan mengajar 4. isyarat. 4. Membantu siswa menumbuhkan kepercayaan diri 5. Memantapkan penguasaan materi Bersikap terbuka dan luwes serta membantu mengembangkan sikap positip siswa terhadap merespon materi 4.3. Menjawab pertanyaan dari respon siswa 3.4. hangat luwes. Menggunakan alat Bantu ( media ) pembelajaran yang sesuai dengan tujuan.1. Melaksanakan penilaian selama proses pembelajaran 5. Memberikan petunjuk dan penjelasan yang terkait dengan isi pembelajaran 3. . Mengembangkan hubungan antara pribadi yang sehat dan serasi 4. Menunjukkan sikap ramah. memicu dan memelihara ketertiban siswa 3.1. kelompok atau efiensi. dan Gerakan badan 3.5. Melaksanakan kegiatan pembelajaran secara individual.5. Mengelola pembelajaran waktu secara klasikal Mengelola interaksi kelas 3. Membantu siswa menyadari kelebihan dan kekurangannya 4.1.1 Melaksanakan jenis kegiatan yang sesuai dengan Tujuan.2. penuh pengertian dan sabar terhadap siswa. tulisan .

101 Pengamat/Teman Sejawat ( SRI MULYATI ) ( IRA MUTIARANI ) Kegiatan Pembelajaran dengan Media Lempar Dadu Huruf .

102 .

103 .

104 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful