1

SKRIPSI PENELITIAN TINDAKAN KELAS UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA PERMULAAN MELALUI MEDIA BERMAIN LEMPAR DADU HURUF PADA ANAK TUNAGRAHITA KELAS B SEMESTER I DI TAMAN KANAK-KANAK ELIM SRAGEN TAHUN PELAJARAN 2010/2011

Disusun Oleh : SRI MULYATI NIM X 5108526

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KHUSUS FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2010

2

UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA PERMULAAN MELALUI MEDIA BERMAIN LEMPAR DADU HURUF PADA ANAK TUNAGRAHITA KELAS B SEMESTER I DI TAMAN KANAK-KANAK ELIM SRAGEN TAHUN PELAJARAN 2010/2011

OLEH: SRI MULYATI NIM: X5108526

SKRIPSI

Ditulis dan diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan Mendapat gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Khusus Jurusan Ilmu Pendidikan

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KHUSUS FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2010 ii

3

PERSETUJUAN

Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahan dihadapan tim penguji skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta

Persetujuan pembimbing,

Pembimbing I

Pembimbing II

Drs. A.Salim Choiri, M.Kes NIP. 195709011982031002

Drs. Subagya,M.Si NIP.19601001012

iii

4

PENGESAHAN Skripsi ini telah dipertahankan dihadapan Tim Penguji Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta dan diterima untuk memenuhi peryaratan mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan. Pada hari Tanggal : Rabu : 13 Oktober 2010

Tim Penguji Skripsi Ketua Sekretaris Anggota I Anggota II : Drs. Maryadi, M.Ag : Dra.B. Sunarti, M.Pd : Drs. Abdul Salim, M.Kes : Drs. Subagya, M.Si

Tanda tangan ............................................ ............................................ ............................................ ............................................

Disyahkan oleh Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Dekan,

Prof.Dr. M. Furgon Hidayatullah, M.Pd NIP.19600727 1987021001

iv

5

ABSTRAK Sri Mulyati, UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA PERMULAAN MELALUI MEDIA BERMAIN LEMPAR DADU HURUF PADA ANAK TUNAGRAHITA KELAS B SEMESTER I DI TAMAN KANAK-KANAK ELIM SRAGEN TAHUN PELAJARAN 2010/2011 Skripsi, Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret, September 2010. Penelitian ini bertujuan untuk untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan pada anak yang mengalami keterlambatan berpikir/ tunagrahita pada kelas B Taman Kanak-Kanak Elim tahun pelajaran 2010/2011. Metode penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yaitu penelitian yang dilakukan oleh guru di kelas tempat mengajar, dengan menggunakan media bermain lempar dadu huruf yang mampu meningkatkan kegairahan dalam mengikuti pembelajaran membaca, mampu memotivasi anak sehingga anak tidak merasa jenuh dalam belajar. Teknik analisis data digunakan analisis perbandingan, artinya hasil prestasi kemampuan membaca anak dibandingkan, kemudian dideskripsikan ke dalam suatu bentuk data penilaian yang berupa nilai. Dari prosentase dideskripsikan kearah kecenderungan tindakan guru dan reaksi serta hasil belajar siswa. Penelitian tindakan kelas yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa Pembelajaran dengan mengggunakan media bermain lempar dadu huruf dapat meningkatkan kemampuan anak dalam membaca permulaan, pada Anak Tunagrahita Kelas B semester I di Taman Kanak-Kanak Elim tahun pelajaran 2010/2011. . Kata kunci : Anak Tunagrahita, pembelajaran membaca, media lempar dadu huruf, meningkatkan kemampuan membaca permulaan.

v

6

ABSTRACT Sri Mulyati, THE ATTEMPT OF IMPROVING THE BEGINNING READING COMPETENCY USING LETTER DICE THROWING GAME MEDIA IN THE MENTAL RETARDED B GRADERS OF SEMESTER I IN SRAGEN ELIM KINDERGARTEN IN THE SCHOOL YEAR OF 2010/2011. Thesis, Surakarta: Teacher Training and Education Faculty, Sebelas Maret University, September 2010. This research aims to improve the beginning reading competency using letter dice throwing game media in the mental retarded B graders of semester I in Sragen Elim Kindergarten in the school year 2010/2011. The research method used was Classroom Action Research (CAR), the one conducted by the teacher in my class, using the letter dice throwing game media that can improve excitement in following the reading learning, can motivate children so that the children are not bored in learning. Technique of the analyzing data used was comparative analysis, meaning that the children’s reading competency achievement were compared, and then were described into a form of assessment data namely score. From the percentage described into teacher’s action predisposition and students’ reaction as well as learning achievement. From the classroom action research conducted, it can be concluded that learning using the letter dice throwing game media, it can improve the children’s competency in the beginning reading, for the mental retarded B graders of semester I in Sragen Elim Kindergarten in the school year of 2010/2011. Key word : Mental retarded, reading learning, letter dice throwing game media, improve the competency in the beginning reading.

vi

7 MOTTO: “Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang berbuat kepadamu. vii . Kitab Injil Lukas. perbuatlah juga demikian kepada mereka”. Isa almasih.

8 HALAMAN PERSEMBAHAN Keluargaku tercinta Ayah dan Ibunda yang aku banggakan Saudara-saudaraku yang telah mendukungku Rekan-rekan di Taman Kanak-Kanak Elim yang memotivasiku FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta yang tercinta viii .

3. Oleh karena itu segala saran dan kritik yang bersifat membangun sangat penulis harapkan. R. Salim Choiri. Indianto. Drs. selaku Kepala Taman Kanak-Kanak Elim Sragen yang telah memberikan ijin tempat penelitian dan informasi yang dibutuhkan penulis. Dr. 6. Untuk itu. Drs.Pd Ketua Jurusan Ilmu Pendidikan telah memberikan bimbingan dan pengarahan sehingga skripsi ini dapat terselesaikan. penulis menyadari masih ada kekurangan. atas segala bentuk bantuan yang telah diberikan. 4. sehingga penulis dapat menyelesaikan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Luar Biasa. Jurusan Ilmu Pendidikan. M. Dalam penyusunan skripsi ini. 2. Subagya M. Semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan penelitian tindakan kelas ini. penulis mengucapkan terima kasih kepada yang terhormat: 1.Pd Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah memberi ijin kepada penulis untuk melaksanakan penelitian. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta. karena keterbatasan pengetahuan yang ada dan tentu hasilnya juga masih jauh dari kesempurnaan.A.9 KATA PENGANTAR Segala puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa. Furqon Hidayatullah. M. 5. ix . M.Si selaku pembimbing II yang telah memberikan petunjuk kepada penulis selama melaksanakan penelitian tindakan kelas. Prof. Dobirson S. atas kebaikan-Nya. M.Kes Ketua Program Studi Pendidikan Khusus sekaligus selaku pembimbing I yang telah memberikan petunjuk kepada penulis sehingga skripsi ini dapat diselesaikan. H. namun berkat bantuan dari berbagai pihak akhirnya kesulitan-kesulitan yang timbul dapat diatasi. Drs. Banyak hambatan yang menimbulkan kesulitan dalam penyelesaian penulisan penelitian tindakan kelas ini.

September 2010 Penulis x . Surakarta.10 Semoga kebaikan Bapak. Ibu. mendapat pahala dari Tuhan Yang Maha Esa. dan menjadi amal kebaikan yang tiada putus-putusnya dan semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan.

..................................................... Pembelajaran Anak Tunagrahita Pada kelas Inklusif............................... .......................................................................................................................................... Klasifikasi Anak Tunagrahita........................................................................................................ ..................................... MOTTO............... A.....xiv d.................................................. Latar Belakang Masalah.......... ...................................... Pengertian Anak Tunagrahita..................................................................... Manfaat Hasil Penelitian..................... 10 e.................................. ABSTRAK..................................... BAB I PENDAHULUAN................. B................................................................................................ a.................................................... Tujuan Penelitian.................. 1.... Karakteristik Anak Tunagrahita......................................... Pengertian Membaca.................... C..................................................................................................... 12 f... 14 2....................................................................................................................... Anak Tunagrahita......... Tujuan Membaca. 4 6 8 i ii iii iv v vii viii ix xi 1 1 3 3 3 4 4 DAFTAR LAMPIRAN... PENGAJUAN................................................................................. .... Kajian teori...................................................... 16 a... PENGESAHAN..... DAFTAR ISI.................................................................. D............................................................................................................................................. ....................................... BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS TINDAKAN....................................................... PERSEMBAHAN.... c........... 16 b...... A.11 DAFTAR ISI Halaman JUDUL............................ b...... PERSETUJUAN............................................... .. Pendidikan Anak Tunagrahita....... Rumusan Masalah...... .................................... 17 xi ..................................................................................................... Faktor Penyebab Anak Tunagrahita... KATA PENGANTAR. Tinjauan Tentang Membaca Permulaan..................................

Pembelajaran Membaca Anak Tunagrahita............................ Kelemahan dan Kelebihan Permainan Lempar Dadu Huruf..........12 c................ Indikator Kinerja........................ b.................................................................. Hipotesis Tindakan ...................................................... Pengertian Media Lempar Dadu Huruf................................................. E..................... Data dan Sumber Data........ F................. Pengertian Media ................ G................................................................................................. BAB IV: HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN............ Tahap pelaksanaan Membaca Permulaan................................. Pengertian Membaca Permulaan. B..................... Validitas Data..................................................... A.......... 18 d......... H...... A..... Kerangka Berfikir..................................... Validitas dan Reliabilitas Instrumens.......................... Penerapan Pembelajaran dengan Menggunakan Media Lempar Dadu Huruf pada Anak Tunagrahita. B............................................................. Setting Penelitian...................................................... Subyek Penelitian... Tinjauan tentang Media Permainan Lempar Dadu Huruf...................................... d............. a........... Pelaksanaan Penelitian........... ............ f... xii 48 30 31 33 34 34 34 35 36 41 42 43 43 44 47 29 27 25 23 23 21 ..................... Deskripsi Kondisi Awal............................... Metode Pengajaran Membaca ................... C......................... .......................... C................................................................................................................................. Langkah-langkah Pengajaran dengan Menggunakan Media Permainan Lempar Dadu Huruf... BAB III METODOLOGI PENELITIAN....... Tehnik Analisis Data................ Prosedur Penelitian...48 1.............. D.......................................... e................................................ 19 e...... 24 c............................................... Teknik Pengumpulan Data...................... Fungsi Media Permainan Lempar Dadu Huruf.............................. I............................................... f...................................... 22 3..

................................................. SIMPULAN DAN SARAN...... Tindakan.... 66 B......... Refleksi............13 2............ Pelaksanaan Siklus I............................. 60 C....................................................................................... 66 A....................... 63 BAB V...... Refleksi ...... 52 c............................ 56 a............................. 71 xiii .................................................................................................................................................................................... Pengamatan.................................................................. 53 d........ Perencanaan................................................................................... 60 B.................... SIMPULAN.......... Pembahasan hasil Penelitian................ 58 d.............. 66 DAFTAR PUSTAKA............................................................................... Pengamatan.... SARAN.............................. a....... Hasil Penelitian........................................................................................................................................................................................ Pelaksanaan Siklus II............ Tindakan ...................... 56 b........... 68 LAMPIRAN ............................................................................................. 56 3..... Perencanaan.......................................... 57 c................................... 52 52 b.......................................................................................

.

karena anak berkebutuhan khusus tidak jarang memiliki kelebihan atau bakat yang tidak dimiliki anak normal lainnya. Setiap anak mampu menerima satu dengan yang lain tanpa saling merendahkan atau mengejek. . Dua belas persen dari siswa Taman Kanak-Kanak Elim adalah Anak Berkebutuhan Khusus ABK).1 BAB I PENDAHULUAN A. Mereka dapat belajar bersama-sama dengan anak normal seusianya dalam satu sekolah yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Keberadaan anak yang berkebutuhan khusus ini tidak membuat teman normal lainnya tergannggu. mampu belajar kelebihan orang lain. Penanaman karakter sangat ditekankan pada setiap pembelajaran. mental maupun sosial. Pelayanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus dewasa ini mengalami kemajuan yang baik. Latar Belakang Masalah Setiap anak memiliki hak untuk memperoleh pendidikan. Pelaksanaan pendidikan inklusi merupakan jawaban dari kebutuhan pelayanan pendidikan bagi anak yang berkebutuhan khusus. baik segi akademik. baik bagi anak normal maupun anak yang mengalami kelainan atau berkebutuhan khusus. Demikian juga bagi anak normal. mengucap syukur karena Tuhan menciptakan dirinya dengan keadaan normal. Dewasa ini pelayanan pendidikan bagi anak berkelainan sudah mulai masuk ke desa-desa. dengan adanya sekolah inklusif diharapkan mampu belajar menerima dan memahami keadaan sesamanya yang berkekurangan sebagai bagian ciptaan Tuhan. Mereka tidak harus menempuh jarak yang lumayan jauh dari tempat tinggalnya menuju ke Sekolah Luar Biasa (SLB) yang biasanya terdapat di kota kabupaten. Pelaksanaan pendidikan inklusif diharapkan mampu membawa dampak yang positif bagi anak berkebutuhan khusus. Taman Kanak-Kanak Elim merupakan salah satu lembaga pendidikan yang menampung anak normal maupun anak berkebutuhan khusus untuk belajar bersama-sama dalam satu kelas. Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) memperoleh kesempatan yang lebih luas dalam memperoleh layanan pendidikan.

kadang belum mengerti. Untuk itu . Hal tersebut juga mempengaruhi kepercayaan diri yang kurang terhadap anak. yaitu dengan bobot nilai 1 – 2 untuk bintang 1 dan 3 -4 untuk bintang 2. Bintang 5 memiliki bobot nilai 9-10 baik dalam kognitif. kadang keliru membaca dengan huruf yang bentuknya hampir sama. . yaitu memperbaiki proses pembelajaran yang membuat anak menjadi tertarik. maka penulis berusaha untuk mencari dan menemukan solusi dengan mengadakan penelitian tindakan kelas dengan Judul “UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA PERMULAAN MELALUI MEDIA BERMAIN LEMPAR DADU HURUF PADA ANAK TUNAGRAHITA KELAS B SEMESTER I DI TAMAN KANAK. tidak jenuh sehingga anak ingin terus dan terus melakukan hingga anak mampu membaca dengan baik dan lancar seperti teman-teman yang lainnya. Untuk mengatasi hal tersebut perlu diadakan tindakan untuk menolong kedua anak tersebut. psikomotor maupun seni. lupa. sehingga anak mengalami perkembangan yang sangat baik. Dalam hal kognitif yakni kemampuan membaca permulaan juga menunjukkan hal sangat menggembirakan bahkan banyak diantara siswa di Taman Kanak-kanak Elim rata-rata sudah mampu membaca dengan lancar. bahkan menangis saat teman-temannya mengolok-olok. Hasil penilaian dalam belajar anak-anak rata-rata menunjukan nilai bintang 5 ataupun bintang 4. Anak sangat sulit dalam membaca kata. kedua siswa ini mengalami ketertinggalan yang sangat jauh dengan siswa yang lain.KANAK ELIM SRAGEN TAHUN PELAJARAN 2010/2011”. anak memiliki nila rata-rata bintang 1 atau 2. bahkan beberapa huruf masih sering salah dibacanya. d dengan b. termasuk dalam membaca. malu. perilaku. Dua diantara 16 dari siswa di Taman Kanak-kanak Elim mengalami keterlambatan di dalam berbagai kegiatan bermain dan belajar.2 Kegiatan bermain sambil belajar pada Taman Kanak-kanak Elim Sragen berjalan sangat antusias dan sangat baik. Hasil penilaian untuk kemampuan membacanya. m dengan n dan lain sebagainya. Contohnya: u dangan v. Anak sering merasa minder.

Penelitian ini dapat menumbuhkan motivasi untuk lebih kreatif menggunakan pembelajaran.3 A. 2. Bagi Guru a. Penelitian ini dapat meningkatkan keaktifan. motivasi. minat dan partisipasi anak dalam kegiatan pembelajaran. Manfaat Hasil Penelitian 1. sehingga anak dapat belajar seraya bermain. yakni belum tercapainya nilai maksimum membaca permulaan pada 2 anak yang mengalami keterlambatan maka penulis dapat merumuskan masalah. Bagi Siswa a. berbagai metode guna meningkatkan kualitas . b. Penelitian ini dapat menjadi wawasan bagi guru dalam menggunakan media bermain lempar dadu huruf pada pembelajaran membaca permulaan. C. melalui media bermain lempar dadu huruf pada kelas B semester I di Taman kanak-Kanak Elim Sragen. Penelitian ini dapat memberikan suasana yang menyenangkan. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang terjadi di kelas B Taman Kanak-kanak Elim Sragen. yaitu “apakah penggunaan media bermain lempar dadu huruf dalam pembelajaran dapat meningkatkan kemampuan membaca permulaan pada kelas B Taman Kanak-kanak Elim Sragen?” B. Tujuan Penelitian Berdasarkan perumusan masalah tersebut di atas maka tujuan penulis mengadakan penelitian adalah sebagai berikut: Untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan anak tunagrahita (ATG). b.

Anak yang mengalami kelemahan atau kelainan dalam berpikir secara umum sering disebut dengan anak di bawah normal atau tunagrahita. Kajian Teori 1. Mereka seperti anak-anak normal lainnya. Pemahaman secara teoritis maupun praktis sangat diperlukan supaya guru ataupun para propesional dapat memberikan layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan mereka. karena anak mengalami keterbatasan dalam kemampuan berpikirnya. Sutjihati Somantri (1996:83) menyatakan “Anak Tunagrahita adalah anak yang kecerdasannya jauh di bawah rata-rata. masingmasing anak terlahir dalam keadaan yang berbeda. Anak tunagrahita adalah merupakan individu yang utuh dan unik. masing-masing memiliki keunikan. demikian juga dalam hal kemampuan berpikir. yang ditandai oleh keterbatasan intelegensi dan ketidakcakapan dalam interaksi sosial. Pengertian Anak Tunagrahita Tunagrahita menjelaskan tentang kondisi anak yang kecerdasannya dibawah rata. Kelemahan dan kelebihan dimiliki setiap anak. Anak yang memiliki kecerdasan di bawah garis normal perlu suatu penanganan yang khusus. a.rata yang ditandai oleh keterbatasan intelegensi dan ketidak cakapan dalam interaksi sosial.4 BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS TINDAKAN A. memiliki hak untuk memperoleh pendidikan sesuai dengan kebutuhan mereka. sukar untuk mengikuti program pendidikan di . karena mereka memiliki keterlambatan didalam berpikir. Anak Tunagrahita Keadaan setiap manusia berbeda satu dengan yang lain.” Anak yang kecerdasannya di bawah rata-rata dikenal juga dengan anak keterbelakangan mental.

Keadaan ini nampak sebelum usia 18 Tahun. yakni pertama fungsi intelektual secara nyata berada di bawah rata-rata. Intellectual Disability Perspective & Challenges. artinya anak usia enam tahun memiliki MA enam tahun. maka penulis dapat menegaskan bahwa anak tunagrahita adalah anak yang mengalami hambatan dalam kecerdasannya. merawat diri sendiri. anak yang berusia enam tahun akan memiliki kemampuan yang sepadan dengan anak usai enam tahun pada umumnya. Sebaliknya jika MA anak lebih rendah dari umurnya. Mental Age adalah kemampuan mental oleh seorang anak pada usia tertentu. AAMD (America Association of Mental Deficiency) dalam Anggie Sa’adah (2009) menjelaskan bahwa: “Tunagrahita menunjukkan adanya keterbatasan dalam fungsi. yang mencakup fungsi intelektual yang dibawah rata-rata. Pengajaran sistem klasikal memberikan masalah bagi anak karena kemampuan berpikirnya tidak seperti teman-teman lain yang cerdas ataupun yang normal. fungsi akademis. maka anak tersebut memiliki kecerdasan di atas rata-rata. keterampilan social. kedua adanya ketidakmampuan dalam menyesuaikan diri dengan norma dan tuntutan yang berlaku dalam masyarakat. dan waktu luang. Jadi dikatakan tunagrahita jika memenuhi dua komponen tersebut”. Jika seorang anak memiliki MA lebih tinggi. AFMR dalam Astati (2010) menyatakan: “Seseorang dikatakan tunagrahita apabila memiliki 2 kriteria yang penting. . lingkungan dan psikososial”.5 sekolah. Untuk mendeteksi anak tunagrahita atau keterbelakangan mental ada baiknya memahami konsep Mental Age (MA). Gangguan dipengaruhi oleh faktor genetik. Berdasarkan pendapat di atas. Sebagai contoh. Waktu terjadinya sebelum usia perkembangan yaitu 18 tahun. dimana berkaitan dengan keterbatasan pada dua atau lebih keterampilan adaptif seperti komunikasi. kesehatan dan keamanan. sehingga kecerdasannya berada jauh di bawah rata-rata yang ditandai oleh keterbatasan intelegensi sehingga kurang/tidak mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan.

menunjukkan pemburukan yang jelas dalam bahasa. Faktor internal penyebab terjadinya kelainan diantaranya adalah: 1) Kelainan pada kromosom Inti sel manusia terdapat 23 pasang kromosom. 2) Faktor keturunan Sifat menurun yang dibawa dari orang tua kepada anak. daya ingat. ketrampilan merawat diri dan memecahkan masalah.” Faktor internal adalah faktor yang erat hubungannya dengan keadaan bayi selama masih ada dalam kandungan. MA dipandang sebagai indeks dari perkembangan kognitif seorang anak. totalnya adalah 46. sehingga jumlah kromosom tidak 46 tetapi 47.6 maka anak tersebut memiliki kecerdasan di bawah rata-rata. b. MA yang sedikit saja kurang dari umur tidak termasuk tunagrahita. Anak yang memiliki tingkat kecerdasan di bawah rata-rata namun memilki kemampuan menyesuaikan diri dengan normal dan tuntutan yang berlaku dalam masyarakat tidak disebut anak tunagrahita. otot-otot melemah dan retardasi mental yakni hambatan perkembangan kecerdasan dan psikomotor. strees. diantaranya seperti yang diungkapkan Sutjihati Somantri (1996:53) bahwa “penyebab tunagrahita ada 2 faktor. Anak tunagrahita selalu memiliki MA lebih rendah daripada umurnya secara jelas. 3) Kondisi ibu saat hamil Kondisi ibu saat hamil mempengaruhi keadaan bayi yang dikandungnya. yaitu faktor internal dan eksternal. seperti kelainan jantung bawaan. hidung pesek. jika selama mengandung ibu dalam keadaan sakit. Kelainan Sindrom Down terjadi karena kelebihan jumlah kromosom pada kromosom no 21 yang seharusnya dua menjadi tiga. kekurangan gizi dan sebagainya akan berpengaruh kurang baik pada bayi yang . Faktor Penyebab Anak Tunagrahita Ketunagrahitaan dapat terjadi karena berbagai faktor. Hal ini bisa menyebabkan penderitanya mengalami kelainan fisik. Sindrom Down atau down sindrom memiliki karakter mata sipit.

Faktor eksternal yang menyebabkan terjadinya kelainan adalah: 1) Gangguan metabolisme dan kekurangan gizi.7 dikandungnya. Faktor eksternal adalah faktor yang terjadi pada saat melahirkan dan setelah anak lahir. misalnya penyakit yang timbul karena virul rubella syphilis. Faktor penyebab terjadinya tunagrahita saat anak lahir misalnya: pemakaian alat bantu pada saat melahirkan. kecelakaan. dan lain-lain. 4) Infeksi dan keracunan Infeksi dan keracunan yang terjadi selama janin dalam kandungan. penyakit. 2) Trauma dan Zat Radioaktif Benturan atau tekanan pada kepala dapat menyebabkan kecacatan pada otak. kegagalan dalam mengadakan interaksi yang terjadi selama perkembangan menjadi salah satu penyebab ketunagrahitaan. Faktor penyebab tunagrahita setelah anak lahir adalah. obat-obatan atau narkotika. Konsumsi obat yang tidak sesuai petunjuk dokter dapat mengakibatkan kecacatan. 4) Faktor Lingkungan atau sosial budaya Lingkungan berperan terhadap fungsi intelek anak. dan sebagainya. 3) Kecelakaan Kecelakaan dapat mengakibatkan terjadinya kecacatan pada baik pisik maupan psikis. kurang gizi. . Metabolisme dan gizi sangat penting peranannya bagi pertumbuhan dan perkembangan individu. Trauma yang terjadi pada saat kelahiran dapat dialami ketika proses kelahiran yang sulit sehingga harus dibantu dengan alat (tang). keracunan alkohol. toxoplasma. infeksi dan keracunan ini dialami lewat penyakit-penyakit yang diderita oleh ibu. Zat radioaktif saat penyinaran semasa bayi dapat mengakibatkan tunagrahita microcephaly. kekurangan oksigen. Gangguan pada metabolisme dan kekurangan gizi dapat menyebabkan terjadinya gangguan fisik maupun mental pada individu.

Mulyono Abdurrahman (2003:24). 2010) menunjukkan bahwa anak yang berasal dari keluarga kurang mampu memiliki kecenderungan untuk mempertahankan mentalnya pada taraf yang sama. yakni: 1) faktor endogen Yaitu faktor penyebab ketunaan yang datang dari dalam. Pertahanan diri dan penyesuaian sosial.com/2009) : 1). sebab-sebab pada saat pos natal. misalnya studi yang dilakukan oleh Kirk (Astati. sebab-sebab pada masa perinatal atau saat lahir. Berdasar kedua pendapat di atas penulis menyimpulkan bahwa banyak faktor yang dapat menyebabkan terjadinya kelainan atau ketunaan. hal ini disebabkan oleh ketidakmampuan lingkungan dalam memberikan stimulus pada masa perkembangan. Trainable Mempunyai kemampuan dalam mengurus diri sendiri. c. 2). sangat terbatas untuk kemampuan pendidikan akademik. 2) faktor eksogen Yaitu faktor penyebab ketunaan diluar keturunan/ bawaan atau pengaruh yang datang dari luar setelah anak lahir. berbagai pendapat mengklasifikasikan anak tunagrahita sebagai berikut: Klasifikasi anak tunagrahita untuk keperluan pembelajaran menurut America Associationon Mental Retardation dalam Anggie (http://saunganggie.8 Berbagai penelitian melaporkan bahwa anak tunagrahita banyak ditemukan pada daerah yang tingkat sosial ekonominya rendah. Sebab-sebab masa prenatal. Penulis mengelompokkan faktor penyebab ketunaan dalam dua kelompok. misalnya keturunan/ bawaan dari dalam kandungan. . Klasifikasi Anak Tunagrahita Anak tunagrahita dapat diklasifikasikan sesuai dengan keberadaannya. bahkan prestasi belajarnya semakin berkurang dengan meningkatnya usia. penyebab karena deprivasi lingkungan”. menyatakan “penyebab tunagrahita ada 5 hal: genetik atau keturunan. blogspot. Educable Anak pada kelompok ini masih mempunyai kemampuan dalam akademik setara dengan anak reguler pada kelas 5 sekolah dasar.

Retardasi mental secara psikometrik menurut skala intelegensi Wechsler dalam Astati (2010) ada 4 taraf. Kegiatan sehari-hari membutuhkan bantuan orang lain. Mereka biasanya menyelesaikan pendidikan setingkat kelas III SD umum.9 3). Retardasi mental sedang (mild mental retardation) dengan IQ 40-54. Retardasi mental sangat berat (profound mental retardation) dengan IQ 20 kebawah. dapat melatih tentang dasar-dasar cara menolong diri sendiri dan kemampuan yang bersifat komunikatif. dan berhitung. Klasifikasi dari segi keperluan pendidikan sebagai berikut: . 3) Tunagrahita berat IQ 24. Hal ini biasanya memerlukan pengawasan dan dukungan terus menerus. menulis. Termasuk mampu rawat. 2) Tunagrahita sedang IQ 25 – 49 Termasuk mampu latih. Hal ini juga mempunyai 4 taraf. Klasifikasi anak tunagrahita/ retardasi mental secara Sosial-Psikologis terbagi menjadi 2. Custodial Dengan pemberian latihan yang terus menerus dan khusus. klasifikasi anak tunagrahita: 1) Anak tunagrahita ringan IQ 50 – 70 Mampu dididik diajarkan membaca. tetapi berdasarkan kematangan sosial. Biasanya bisa menyelesaikan pendidikan setingkat kelas IV SD umum. Menurut Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa (2007:4) dalam buku Pedoman Penyelenggaraan Pendididkan Inklusif. yaitu Psikometrik dan perilaku adaptif. yaitu: 1) 2) 3) 4) Retardasi mental ringan (mild mental retardation) dengan IQ 55-69. yaitu: 1) Ringan 2) Sedang 3) Berat 4) Sangat berat Berdasarkan pendapat di atas penulis menyimpulkan bahwa anak tunagrahita dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kelompok menurut kepentingannya.kebawah Tidak mampu menerima pendidikan secara akademis. Retardasi mental berat (sever mental retardation) dengan IQ 20-39. Retardasi mental menurut kriteria perilaku adaptif tidak berdasarkan taraf intelegensi.

berhitung. untuk mengurangi ketergantungan kepada orang lain. 2) Anak mampu latih (tunagrahita sedang/ Embisil) Anak tunagrahita sedang mampu diajarkan membaca. mampu berlindung dari bahaya karena itu anak tunagrahita ringan tidak memerlukan pengawasan ekstra. memasak. Anak tunagrahita ringan lebih mudah diajak komunikasi. menulis . perhatian bahkan pelayanan. bimbingan aktivitas sehari-hari. berhitung. Anak tunagrahita sedang memiliki IQ antara 30 s/d 50. misalnya membaca. menulis. Karakteristik Anak Tunagrahita Defli (2009) menyebutkan bahwa karakteristik anak tunagrahita dapat dilihat dari segi: 1) Fisik (penampilan) a) Untuk tunagrahita ringan hampir sama dengan anak normal. Anak tunagrahita berat memiliki IQ 29 kebawah. anak tidak dapat mengurus dirinya sendiri apalagi berlindung dari bahaya. untuk tunagrahita berat dapat kelihatan. Mereka memiliki IQ antara 50 s/d 70. menjahit bahkan bisa dilatih untuk berjualan. Anak mampu mengikuti pendidikan walaupun tidak mencapai tingkat yang tinggi. Mereka mampu menolong diri sendiri. Mereka membutuhkan pengawasan. kondisi fisik mereka tidak begitu berbeda dengan anak normal lainnnya. Mampu dilatih ketrampilan-ketrampilan sederhana. misalnya: sekolah menengah umum. b) Kematangan motorik lambat c) Koordinasi gerak kurang 2) Intelektual . mereka mampu bekerja di lapangan namun perlu sedikit pengawasan. Sedikit perhatian dan pengawasan diperlukan untuk perkembangan mental dan sosial anak tunagrahita sedang.10 1) Anak mampu didik (tunagrahita ringan/ debil) Anak mampu dididik dan dilatih. kuliah. 3) Anak mampu rawat (tunagrahita berat/ Idiot) Anak tidak mampu menerima pendidikan secara akademis. d.

ada yang tidak dapat berjalan.blogspot. Sebagian dari anak tunagrahita berat sangat sulit untuk mengurus diri sendiri. 3) Kemampuan bicaranya sangat kurang bagi anak tunagrahita berat. setaraf dengan anak usia 3 – 4 tahun (IQ 30 kebawah) 3) Sosial dan emosi a) Bergaul dengan anak yang lebih muda b) Suka menyendiri c) Mudah dipengaruhi d) Kurang dinamis e) Kurang pertimbangan/ kontrol diri f) Kurang konsentrasi. dll. Mereka selalu memerlukan latihan khusus untuk mempelajari kemampuan dasar. dan selalu cepat lupa apa yang dia pelajari tanpa latihan yang terus menerus.485-486. dan mengurus kebersihan diri.11 a) Sulit mempelajari hal-hal akademik b) Anak tunagrahita ringan kemampuannya setaraf anak normal usia 12 tahun (IQ 50 – 70) c) Klasifikasi sedang setaraf dengan usia 7 – 8 tahun (IQ 30 – 50) d) Berat. membentur-beturkan kepala. tetapi anak yang mempunyai tunagrahita berat tidak meakukan hal tersebut. p. seperti: berpakaian. Berdasarkan pendapat di atas. Banyak anak tunagrahita berat bertingkah laku tanpa tujuan yang jelas.com/2009) menyatakan: 1) Lamban dalam mempelajari hal-hal yang baru. Anak tunagrahta ringan dapat bermain bersama dengan anak reguler. sulit menjangkau sesuatu . mudah dipengaruhi g) Dapat memimpin diri sendiri maupun orang lain Karakteristik anak tunagrahita menurut Brown Children. misalnya: memutar-mutar jari di depan wajahnya dan melakukan hal-hal yang membahayakan diri sendiri. Kebanyakan anak denga tunagrahita berat mempunyai ketebatasab dalam gerak fisik. Hal itu mungkin disebabkan kesulitan bagi anak tunagrahita dalam memberikan perhatian terhadap lawan main. penulis menyimpulkan bahwa anak tunagrahita memiliki karakteristik sebagai berikut: pada Exceptional dalam Angie Siti Sa’adah . makan. fifth edition. misalnya: menggigit diri sendiri. 1996 (http://saunganggie. 2) Kesulitan dalam menggeneralisasi dan mempelajari hal-hal yang baru. 6) Tingkah laku dan interaksi yang tidak lazim. Kegiatan mereka seperti ritual. dan mendongakkan kepala. 5) Kurang dalam kemampuan menolong diri sendiri. tidak dapat berdiri atau bangun tanpa bantuan. Mereka lambat dalam mengerjakan tugas-tugas yang sangatsederhana. 7) Tingkah laku kurang wajar yang terus menerus. mempunyai kesulitan dalam mempelajari pengetahuan abstrak atau yang berkaitan. 4) Cacat fisik dan perkembangan gerak.

Contohnya: a) Sekolah Luar Biasa (SLB). Contohnya: Sekolah reguler . e. b) Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB). adalah: 1) Sistem pendidikan segregasi Sistem pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) secara khusus dan terpisah dari anak-anak normal. Keuntungan sekolah segregrasi: a) Rasa ketenangan pada anak luar biasa b) Komunikasi yang mudah dan lancar c) Metode pembelajaran yang khusus sesuai dengan kondisi dan kemampuan anak d) Guru dengan latar belakang pendidikan luar biasa e) Sarana dan prasarana yang sesuai Kelemahan sekolah segregasi: a) Sosialisasi terbatas b) Biaya mahal 2) Sistem pendidikan integrasi Sistem pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) yang memungkinkan anak luar biasa memperoleh kesempatan mengikuti proses pendidikan bersama dengan siswa normal lainnya. Pendidikan Anak Tunagrahita Bentuk-bentuk penyelenggaraan pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus.12 1) Memiliki kemampuan berpikir yang rendah 2) Emosi yang labil bahkan kurang wajar 3) Sulit bersosialisasi 4) Kemampuan motorik yang kurang 5) Mengalami gangguan dalam berkomunikasi.

terutama ekonomi lemah yang berada di pedesaan. 3) Sistem Pendidikan inklusi Sekolah reguler yang menerima anak berkebutuhan khusus (ABK) dengan kurikulum dan sistem pendidikan sesuai dengan kebutuhan ABK di sekolah reguler tersebut. Program ini dilandaskan pada UndangUndang Dasar 1945 pasal 31 tentang hak setiap warga negara untuk .13 Keuntungan: a) Merasa diakui kesamaan haknya dengan anak normal terutama dalam memperoleh pendidikan b) Bakat dapat berkembang dengan optimal c) Mempunyai kesempatan untuk melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi d) Harga diri bisa meningkat Kelemahan: a) Kurangnya tenaga ahli atau sumber daya yang memiliki pengetahuan yang cukup tentang anak disability. b) Pelayanan pendidikan kurang memadai. Hal ini disebabkan karena pelayanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus biasanya berada di kota-kota kabupaten. b) Biaya relatif murah c) Sosialisasi berkembang dengan baik d) Belajar sesuai dengan kebutuhan anak. Kelemahan: e) Memerlukan banyak tenaga pengajar maupun pendamping f) Memerlukan banyak sarana dan prasarana Pendidikan inklusif muncul dilatar belakangi oleh kurang meratanya pendidikan bagi anak-anak yang berkebutuhan khusus. Keuntungan: a) Lokasi berada dekat dengan anak. Program penuntasan wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun diharapkan berhasil dengan baik.

cakap. dan bertanggung jawab. Landasan yuridis internasional penerapan pendidikan inklusif adalah Deklarasi Salamanca semua (UNESCO. Penerapan pendidikan inklusif mempunyai landasan fisiologis. berilmu. 2004). yang disebut Bhinneka Tunggal Ika (Mulyono Abdulrahman dalam Direktorat Pendidikan Luar Biasa. seyogyanya bersama-sama memandang kesulitan ataupun perbedaan yang mungkin ada pada mereka. Landasan filosofis utama penerapan pendidikan inklusif di Indonesia adalah Pancasila yang merupakan lima pilar sekaligus cita-cita yang didirikan atas fondasi yang lebih mendasar lagi. kreatif. baik terhadap perkembangan akademik dan sosial. mandiri. paedagogis. Akan tetapi pendidikan inklusif berdampak positif. yuridis. penelitian menunjukkan bahwa penempatan anak berkelainan di tempat khusus tidak efektif dan diskriminatif. Landasan empiris. Landasan paedagogis. Hal ini dilandasi pernyataan Salamanca yang merupakan perluasan dari program UNESCO. demikian juga halnya dengan anak yang mengalami kekurangan. sehingga motivasi untuk belajar dan berkarya menjadi lebih baik. mereka merasa diterima dan dapat hidup bersama-sama dengan anak normal lainnya. tujuan pendidikan nasional adalah berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Anak dapat memiliki kepercayaan diri yang lebih baik. anak 1994) menekankan berlajar bahwa selama tanpa memungkinkan. sehat. dan empiris yang kuat. . berakhlak mulia. yakni education for all. Di Indonesia. penerapan pendidikan inklusif dijamin oleh UndangUndang nomor 20/2003 tentang sistem pendidikan nasional yang dalam penjelasannya menyebutkan bahwa penyelenggaraan pendidikan untuk peserta didik berkelainan atau memiliki kecerdasan luar biasa diselenggarakan secara inklusif atau berupa sekolah khusus.14 memperoleh pendidikan. Jadi melalui pendidikan peserta didik berkelainan dibentuk menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Teknis penyelenggaraannya tentunya akan diatur dalam bentuk operasional.

Hal ini dimaksudkan dalam rangka membuat profile anak. tenaga kependidikan. Hal ini disebabkan anak tunagrahita kurang mampu berfikir abstrak. Pelayanan Khusus tersebut meliputi penanganan kepeserta didikan.15 f. mereka membutuhkan hal-hal kongkrit. sarana prasarana. media pembelajaran dan Alat Bantu pelajaran memegang peranan penting . Penanganan kepeserta didikan meliputi perencanaan dan pelaksanaan assesmen. maka dibutuhkan alat pelajaran yang memadai.. Profile sangat berguna yntuk memahami kebutuhan khusus anak dalam rangka penyusunan kebutuhan pembelajaran secara individu. Kurikulum disusun berdasarkan kebutuhan anak sesuai profile tiap peserta didik yang membutuhkan pelayanan khusus. dengan demikian keperluan-keperluan anak berkebutuhan khusus tidak terabaikan dalam proses pembelajaran. dalam menangani anak yang memerlukan pelayanan khusus. kurikulum. pendanaan dan lingkungan. Pelaksanaan pembelajaran anak tunagrahita di Taman Kanak-kanak Elim adalah belajar bersama-sama dengan anak normal lainnya dalam satu kelas/ kelompok dengan kurikulum yang sama. Saran dan prasarana. seperti dalam pembelajaran anak-anak pada umumnya . namun bagi anak yang berkebutuhan . hal ini dikarenakan anak tunagrahita kurang mampu berfikir abstrak. Alat Bantu pelajaran penting diperhatikan dalam mengajar anak tunagrahita. diperlukan tenaga-tenaga yang mampu menangani anak berkebutuhan/ profesional. Agar terjadinya tanggapan tentang obyek yang dipelajari. Pembelajaran Anak Tunagrahita pada kelas Inklusif Pelaksanaan pembelajaran anak tunagrahita pada kelas inklusif adalah anak berkebutuhan khusus belajar bersama-sama dengan anak normal sebaya dengan kurikulum dan sistem pendidikan yang berbeda satu sama lain yang disesuaikan dengan kebutuhan anak. Tenaga kependidikan. Pelaksanaan pembelajaran anak tunagrahita pada kelas inklusif pada dasarnya adalah memperhatikan atau memberikan pelayanan khusus kepada setiap individu sebagai peserta didik. maka pembelajaran bagi anak tunagrahita pun .

anak harus belajar membaca agar dapat belajar. Kemampuan membaca merupakan dasar untuk menguasai berbagai bidang studis. Dikatakan kegiatan fisik karena bagian tubuh khususnya mata beraktifitas dalam kegiatan membaca. Dikatakan kegiatan mental karena bagian-bagian mengalami dalam anggie (http://saunganggie. memahami makna dari suatu simbol atau tulisan. Ada lima tahapan perkembangan membaca yaitu : (1) kesiapan membaca. Menurut Munawir Yusuf (2005:134) “membaca merupakan aktifitas auditif dan visual untuk memperoleh makna dari simbol berupa huruf atau kata. (3) ketrampilan membaca cepat. 2. Pengertian Membaca Membaca merupakan modal bagi seseorang untuk mempelajari buku dan mencari informasi tertulis.com/2009) “membaca pada hakekatnya adalah kegiatan fisik dan mental untuk menemukan . Jika dirasa perlu anak yang berkebutuhan khusus diberikan penambahan jam belajar saat istirahat atau setelah jam pelajaran selesai.” Menurut Tampubolon makna dari tulisan”. maka anak akan dalam beberapa bidang studi. Berdasarkan pendapat di atas. Jika anak pada usia sekolah tidak segera banyak memiliki kesulitan kemampuan membaca. Tinjauan Tentang Membaca Permulaan a. penulis dapat menyimpulkan bahwa membaca merupakan kegiatan yang sangat kompleks yang mencakup aktifitas fisik dan mental untuk mengenal. (4) membaca luas dan (5) membaca yang sesungguhnya. Oleh karena itu. Membaca bukan hanya mengucapkan bahasa tulis tetapi juga memahami maknanya. (2) membaca permulaan.16 khusus kurikulum disesuaikan dengan kondisi anak. Bagi siswa membaca juga menjadi modal agar dapat mengikuti kegiatan pembelajaran. Penambahan pelayanan pendidikan (membaca. Kemampuan membaca merupakan suatu kemampuan untuk memahami informasi atau wacana yang disampaikan oleh pihak lain melalui tulisan.menulis) diberikan saat pelajaran berlangsung dilakukan Oleh guru pendamping.blogspot.

strategis. Menurut Stauffer dalam Mathedu (2009) tujuan membaca membangun konsep. Strategis maksudnya membaca yang efektif menggunakan berbagai strategi yang sesuai dengan teks yang dibaca. b. Membaca merupakan suatu proses maksudnya adalah informasi dari teks dan pengetahuan yang dimiliki oleh pembaca mempunyai peran utama dalam membentuk makna. .17 pikiran khususnya persepsi yaitu kemampuan untuk menafsirkan apa yang dilihat sebagai simbol atau kata dan ingatan terlibat didalam kegiatan ini. Interaktif maksudnya keterlibatan pembaca dengan teks tergantung pada konteks.kata sebagai pengertian”. mengembangkan perbendaharaan kata.2009) mengemukakan bahwa tujuan membaca dan menulis permulaan ialah “mengenalkan kepada siswa hurufhuruf abjad sebagai tanda suara dan melatih kecakapan anak untuk mengubah huruf menjadi suara dalam kata. 3) Pengertian luas. yaitu: 1) Pengertian sederhana. yaitu pengertian yang memandang membaca sebagai proses memahami bacaan. Betapa pentingnya peranan membaca bagi kita semua. Berdasarkan subtansinya pengertian membaca dapat diklasifikasikan menjadi tiga golongan. 2) Pengertian agak luas. menemukan makna dari bacaan atau tulisan bukan mengenali huruf-huruf”. 2009) “membangun pemahaman dari teks yang tertulis. Dalam membaca kita mempunyai banyak tujuan. Tujuan Membaca Membaca adalah gerbang menuju penguasaan ilmu pengetahuan. yaitu pengertian yang memandang membacac sebagai proses pengenalan simbol-simbol tertulis bermakna. memberi pengetahuan. Sejono (dalam Devid Haryalesmana. interaktif. yaitu pengertian yang memandang membaca sebagai proses mengolah bacaan yaitu proses memaknai bacaan secara mendalam. tergantung pada situasi dan kondisi si pembaca. Beberapa hal yang tercakup dalam pengertian membaca yaitu: membaca merupakan suatu proses. Tujuan membaca menurut Smith (Tampubolon.

mengembangkan konsep diri dan sebagai suatu kesenangan.com/2008/12/02). karena dengan membaca pengetahuan seseorang akan bertambah. “membaca permulaan adalah tahap awal anak belajar membaca dengan fokus pada pengenalan simbol-simbol huruf dan aspek-aspek yang mendukung pada kegiatan membaca lanjut”. banyak halhal positif yang dapat kita ambil melalui membaca. mengerti dan memahami problem orang lain.wordpress. Membaca mampu mengembangkan intelektualitas seseorang. Seseorang yang gemar membaca akan nampak berbeda dengan orang yang tidak suka membaca saat mengemukakan pendapat atau berargumentasi terhadap suatu masalah. membaca permulaan dapat diartikan suatu tahapan awal yang dilakukan oleh anak untuk memperoleh kecakapan dalam membaca.” Permulaan mengandung makna “awal”. yakni kecakapan atau ketrampilan mengenal tulisan sebagai lambang atau simbol bahasa.18 menambahkan proses pengayaan pribadi. Brata (http://Mbahbrata-edu. Pengertian Membaca Permulaan Membaca permulaan merupakan tahapan anak dalam ketrampilan membaca yang lebih tinggi. Menurut M.com/2009/06) membaca permulaan adalah “tahapan proses belajar membaca bagi siswa untuk memperoleh kemampuan dan menguasai teknik-teknik membaca dan menangkap isi bacaan dengan baik. kesedihan. . mengembangkan intelektualitas. sehingga anak dapat menyuarakan tulisan tersebut. bahkan keputusasaan 5) Membaca karena hoby c.blogspot. Berdasarkan pendapat diatas penulis menyimpulkan bahwa tujuan membaca diantaranya: 1) Mengembangkan intelektualitas/ melatih kecakapan 2) Mendapatkan informasi 3) Membangun konsep diri 4) Melepaskan diri dari kejenuhan. Membaca membuat pengetahuan semakin bertambah. karena ilmu atau pengalaman nya yang didapat melalui membaca. Ilmu yang tidak kita mengerti akan kita mengerti lewat membaca. Menurut Tarmizi (http://tarmizi.

Membaca pada tingkatan ini merupakan kegiatan kegiatan belajar mengenal bahasa tulis. rangkaian tulisan yang dibacanya menjadi suatu rangkaian bunyi dalam kombinasi kata. yakni : 1) Pembelajaran membaca tanpa buku . Tahap Pelaksanaan Membaca Permulaan Pembelajaran membaca perlu melalui tahap-tahap yang sesuai dengan perkembangan dan kemampuan anak. Proses recoding yaitu proses fisik yang berupa kegiatan mengamati tulisan secara visual. melalui proses decoding gambar bunyi dan kombinasinya diidentifikasikan. Syarat-syarat yang diperlukan untuk memperoleh kemampuan membaca adalah: 1) Kemampuan membunyikan lambang-lambang tulis 2) Penguasaan kosakata untuk memberi arti 3) Kemampuan memasukkan makna. Membaca permulaan yang menjadi acuan adalah membaca merupakan proses recoding dan decoding. Melalui tulisan itulah siswa dituntut dapat menyuarakan lambang-lambang bunyi bahasa tersebut.19 Berdasarkan pendapat di atas penulis dapat simpulkan bahwa membaca permulaan adalah tahap awal anak belajar mengenal huruf atau symbol bunyi dan menyuarakannya. ada dua. pembaca belum memiliki ketrampilan kemampuan membaca yang sesungguhnya tetapi masih dalam tahap belajar untuk memperoleh ketrampilan/ kemampuan membaca. Dengan proses tersebut.com/2009). Pada tingkatan membaca permulaan.blogspot. kelompok kata dan kalimat bermakna. Proses decoding merupakan proses psikologis berupa kegiatan berpikir dalam mengolah informasi. d. Brata (http://Mbahbrata-edu. diuraikan kemudian diberi makna. Tahap-tahap pelaksanaan membaca permulaan yang dikemukakan oleh M. mengenali dan membedakan gambar-gambar bunyi serta kombinasinya. sebagai dasar anak dalam pembelajaran membaca berikutnya.

penguasaan pada abjad belum sepenuhnya dikuasai. Membaca cerita sederhana. menampilkan gambar sambil bercerita. Pada tahap ini penguasaan kosa kata pada anak masih sangat terbatas. dan tahap menggunakan buku yakni setelah anak mengenal atau paham tentang simbolsimbol bunyi atau huruf-huruf. Pada tahap ini anak perlu bantuan seperlunya selama membaca. kartu kata. pelaksanaan membaca permulaan dibagi menjadi 2 tahap. Anak terkadang ingin mengetahui cerita tentang gambar tersebut. Baik kegiatan membaca buku pelajaran. yakni: membaca tanpa buku dan membaca menggunakan buku”. anak diperhadapkan dengan gambar-gambar yang telah diketahui anak sehingga anak tertarik. dengan kalimat sederhana dapat memotivasi anak untuk membacanya. dan sebagainya. kartu huruf. kartu kalimat. “Dalam pelaksanaan metode SAS. Hal ini sangat baik bagi anak untuk dapat memahami arti dari suatu bacaan dalam bentuk sederhana. dan pada usia sembilan atau sepuluh tahun pada anak tunagrahita. anak dihadapkan pada tulisan-tulisan yang ada di buku. Bantuan yang diberikan umumnya berupa konkretisasi kata yang dibaca. Buku bergambar. Cara ini menyenangkan untuk anak usia dini sesuai dengan karakteristiknya yaitu masa bermain. dadu huruf. anak diperhadapkan dengan bacaan. . Tahap membaca permulaan umumnya pada masa peka yaitu usia enam atau tujuh tahun pada anak normal umunya. jadi masih ada huruf yang sulit diucapkan dan sering salah dibaca.20 Dilakukan dengan cara mengajar dengan menggunakan media atau alat peraga selain buku. 1) Membaca tanpa buku meliputi: merekam bahasa siswa. 2) Pembelajaran membaca dengan buku Pembelajaran dengan kegiatan membaca dengan menggunakan buku sebagai bahan pelajaran. 2) Membaca dengan menggunakan buku. Menurut Darmiyati Zuhdi (2001:4). Berdasarkan pendapat di atas penulis simpulkan bahwa tahap membaca permulaan adalah tahap membaca tanpa buku. Misalnya : kartu gambar. sehingga tahap pembelajaran seperti ini membuat anak bersemangat dan antusias. Misalnya ketika anak membaca “baju” ditunjukkan gambar baju atau bendanya. dan yang lainnya. membaca gambar dan sebagainya.

menawarkan berbagai metode yang dipergunakan bagi bunyi. Abdurrahman (2003:214) mengemukakan metode pengajaran membaca bagi anak pada umumnya: 1) Metode membaca dasar Menggabungkan berbagai prosedur untuk mengajarkan kesiapan. Sedangkan pada metode SAS hanya menggunakan satu kata saja. Kita bedakan kata-kata tersebut. huruf dan bunyi huruf.21 Pengembangan yang tepat pada tahap membaca permulaan perlu sekali. biasanya yang paling cocok dan sesuai alam anak yaitu membaca sambil bermain. Dalam metode ini kita mengajarkan membaca dengan menggunakan kata yang telah di kenal anak. 3) Metode Global Metode Global menggunakan pendekatan kalimat. 2) Metode fonik Pemahaman pada pengenalan kata melalui proses mendengarkan bunyi huruf 3) Metode linguistik Anak diberikan suatu bentuk kata yang terdiri dari konsonan-vokal atau konsonan-vokal-konsonan. metode global. Pendekatan yang dipakai dalam metode eja adalah pendekatan harfiah : dalam metode ini kita memperkenalkan abjad a sampai z beserta bunyi huruf atau fenom kepada anak. kemudian diajak memecahkan kode tulisan menjadi bunyi percakapan. 2) Metode Kata lembaga Metode kata lembaga menggunakan pendekatan kata. dan metode SAS 1) Metode eja / bunyi Adalah belajar membaca yang dimulai dari mengeja huruf demi huruf. perbendaharaan kata.com/2008/12/08). 4) Metode SAS (Struktural Analisis Sintesis) Metode global kata yang dikenalkan kepada anak sudah berbentuk kalimat sederhana. mengenal kata. misalnya membaca menggunakan media kartu bergambar. Tarmizi (http://tarmizi. kita kenalkan kepada anak suku kata. Metode Pengajaran Membaca Agar pembelajaran membaca berhasil dengan baik. media lempar dadu huruf dan media yang menarik lainnya. . pemahaman dan kesenangan membaca. Kemudian menguraikan kata tersebut menjadi suku kata dan huruf kemudian merangkai lagi. perlu menggunakan metode yang menarik.wordpress. e. Metode kata lembaga.

(2) Faktor Fisiologis . b) Faktor sosial adalah gangguan yang terjadi pada proses belajar. menulis. Guru hendaknya memilih metode yang cocok dan sesuai dengan situasi dan kondisinya. (4) memperbaiki kegagalan. (1) Keadaan jasmani seperti lelah. (2) Kreativitas . b) Faktor Psikologis. waktu. (3) simpati kepada orang lain . Pembelajaran Membaca Anak Tunagrahita Untuk mencapai prestasi belajar yang optimal. Dari pendapat di atas penulis menyimpulkan bahwa ada berbagai macam metode didalam pembelajaran membaca yang masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. faktor.batuk. Pemilihan metode pembelajaran sebaiknya dipergunakan dengan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut: 1) Menyenangkan bagi anak 2) Tidak menyulitkan anak untuk mengikuti/ menerima 3) Efektif dan efisien f. letak tempat tinggal alat belajar ( alat tulis. akan tetapi semua merupakan alat untuk membimbing anak-anak dalam keberhasilan belajar umumnya dan membaca khususnya.22 4) Metode SAS Memecahkan kode tulisan yang berupa kalimat sederhana 5) Metode Alfabetik Mengenalkan huruf. 2) Faktor yang berasal dari dalam individu. mempengaruhi . alat peraga ). sakit gigi. maka perlu memperhatikan faktor. cuaca.faktor yang kemampuan membaca adalah sebagai berikut: 1) Faktor yang berasal dari luar individu a) Faktor non sosial seperti: keadaan udara .keadaan fungsi jasmani terutama fungsi panca indra. Merangkai huruf 6) Metode pengalaman bahasa Mendengar.faktor yang mempengaruhi kemampuan membaca yang dikemukakan oleh beberapa ahli: Menurut Slameto (1993:249). bercakap-cakap. lesu. yaitu (1) Sifat ingin tahu. Metode pembelajaran di atas dapat diterapkan dalam pembelajaran membaca permulaan. suhu udara . ngantuk. seperti keadaan lingkungan kelas. a) Faktor Fisiologis.

(4) memperhatikan. Video dan sabagainya. Penggunaan metode eja ini dikombinasikan dengan berbagai alat peraga yang menarik perhatian anak. sehingga mampu menimbulkan motivasi belajar membaca pada anak untuk tercapainya tujuan. (6) perkembangan motorik. keadaan atau fungsi mental. Anak tunagrahita adalah anak yang mengalami gangguan dalam kematangan berpikirnya untuk itu pembelajaran membaca bagi anak tunagrahita dilakukan dengan menggunakan metode dan media yang sesuai dengan karakteristik dan kemampuan anak. . termasuk keadaan fungsi jasmani. Metode yang digunakan metode eja. (7) kematangan sosial dan emosional. Kliebhan dan Lerner seperti dikutip oleh Mercer (dalam Mulyono Abdurrahman. anak belajar mulai dari pengenalan huruf demi huruf. Pelaksanaan pembelajaran membaca bagi anak tunagrahita di Taman Kanak-Kanak Elim dilakukan dengan memperhatikan kemampuan anak serta pemilihan berbagai macam metode dan berbagai media yang tepat. suku kata. kata-kata sederhana. (2) kematangan visual. (3) kemampuan mendengarkan. kematangan berpikir. (5) ketrampilan berpikir kematangan mental. Berdasarkan pendapat di atas penulis simpulkan bahwa banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan membaca. kartu huruf.23 (5) rasa aman . Peneliti mencoba untuk menggunakan media lempar dadu huruf dalam pembelajaran membaca permulaan yang bertujuan memberi model lain yang dapat membangkitkan minat anak dalam membaca. misalnya dengan puzle. 2003 : 201) ada delapan faktor yang (1) dan memberikan sumbangan bagi keberhasilan belajar membaca yaitu: perkembangan wicara dan bahasa. (8) motivasi dan minat. motivasi maupun minat. gambar. (6) adanya ganjaran atau hukuman. Menunut Kirk.

Pengertian Media Lempar Dadu Huruf Dadu adalah bentuk dari suatu benda yang biasanya kita gunakan dalam permainan. adalah sebuah . perhatian dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses pembelajaran terjadi dan berlangsung lebih efisien. Terkait dengan pembelajaran . media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyampaikan pesan dari pengirim pesan kepada penerima pesan sehingga dapat merangsang pikiran . Dari pendapat tersebut diatas dapat disimpulkan. dkk. “Media pendidikan ialah segala bentuk saluran yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan / informasi”. Pengertian Media Media berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari kata medium yang secara harfiah mempunyai arti antara. Sadiman. Dalam Wikipedia menyebutkan “kata Dadu berasal dari bahasa latin “datum” yang berarti suatu yang diberikan atau dimainkan. Menurut Association for Educational Communications Teahnology (AECT) di Amerika yang dikutip oleh Wikipedia (2009). “ kata media berasal dari bahasa latin medium adalah sesuatu terletak ditengah (antara dua kutub atau antara dua pihak) atau suatu alat “. perasaan dan perhatian anak didik untuk mencapai tujuan pendidikan Menurut Wijaya Kusumah (2008). b. Tinjauan tentang Media Permainan Lempar Dadu Huruf a.Media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim pesan ke penerima pesan. perantara atau pengantar. perasaan.24 3. media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari guru ke siswa sehingga dapat merangsang pikiran. 2003 : 6) “media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk belajarnya”. Menurut Gagne (dalam Arief S.

merangkai huruf menjadi suku kata. Sadiman . Penulis menggunakan dadu yang dirancang dengan simbol huruf pada setiap sisi-sisnya sebagai media pembelajaran dalam rangka pengenalan huruf. Menurut Arief S. b) Obyek yang kecil – dibantu dengan proyektor mikro. c. seperti media dalam pendidikan lainnya. untuk keperluan meningkatkan kemampuan anak dalam membaca permulaan. film bingkai. dkk. Dadu biasanya digunakan sebagai alat untuk berjudi. (2003 : 16-17) media dalam pendidikan mempunyai fungsi sebagai berikut: 1) Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalistik (dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan belaka). Fungsi Media Permainan Lempar Dadu Huruf Media bermain lempar dadu huruf memiliki fungsi untuk memotivasi anak dalam belajar lewat bermain. waktu dan daya indra seperti : a ) Obyek terlalu besar . . dengan menebak sisi yang muncul pada setiap lemparan.25 obyek kecil yang umumnya berbentuk kubus yang digunakan untuk menghasilkan angka atau simbol acak”. film dan gambar c) Gerak yang terlalu lambat atau dapat dibantu high speed photography atau low speed photography. Tujuan pembelajaran ini untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan pada anak. Gambar lubang atau lingkaran satu pada satu sisi. film dan model. 2) Mengatasi keterbatasan ruang . Dadu adalah sebuah benda yang berbentuk kubus. ataupun dengan ketentuan tertentu yang disepakati dalam permainan tersebut. film bingkai . kata dan kalimat sederhana. Pada keenam sisisisinya biasanya tertera gambar lubang-lubang yang berbeda jumlahnya. 3) Dengan menggunakan media pendidikan secara tepat dan bervariasi dapat diatasi sikap pasif anak didik dalam hal ini media berguna untuk: a) Menimbulkan kegairahan belajar.bisa digantikan dengan realitas gambar. lingkaran atau lubang dua pada satu sisi demikian seterusnya pada sisi-sisi yang lainnya.

c) Memungkinkan anak didik belajar sendiri menurut kemampuan dan minatnya. dan memungkinkan siswa menguasai materi lebih baik. Menurut Oemar Hamalik (2005: 19) manfaat secara umum media pembelajaran memiliki fungsi seperti berikut: 1) Memperjelas penyajian pesan agar tidak bersifat verbalistik. maka guru akan banyak mengalami kesulitan bilaman latar belakang guru dan siswa sangat berbeda. misalnya obyek yang besar diganti gambar. sedang gerak yang lambat atau cepat bisa dibantu dengan time . iklim dan divisualisasikan dalam bentuk film . 3) Menggunakan media pembelajaran secara tepat dan bervariasi akan dapat diatasi sikap fasif anak didik atau siswa. film bingkai. tentang kejadian masa lalu dapat ditampilkan kembali lewat rekaman film.diagram. obyek yang terlalu kecil bisa diganti proyektor mikro. terakhir konsep yang sangat luas seperti gunung berapi. masalah ini dapat diatasi dengan media pendidikan. 3) Metode mengajajar akan lebih bervariasi. 2) Mengatasi keterbatasan ruang. dan materi pendidikan ditentukan sama untuk setiap siswa. film bingkai. film bingkai. gempabumi. artinya hanya berbentuk kata-kata tertulis atau tulisan. Dalam situasi demikian media pembelajaran dapat menimbulkan kegaerahan belajar dan memungkinkan terjadinya interaksi secara langsung antara anak didik dengan lingkungan serta memungkinkan anak didik belajar sendiri menurut kemampuan dan minatnya.speed phography. kemudian obyek yang terlalu komplek bisa dibantu dengan modul. sedang kurikulum. video. foto. Ada beberapa alasan diantaranya yang berkenan dengan manfaat media pengajaran dalam proses belajar siswa antara lain: 1) Pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar. media dapat mempertinggi proses belajar siswa dalam gilirannya dapat mempertinggi hasil belajar yang tercapai. 4) Dengan sifat yang unik pada setiap siswa ditambah lagi dengan lingkungandan pengalaman yang berbeda .lapse atau high. gambar dan lain sebagainya. 2) Bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh siswa.26 b) Memungkinkan interaksi yang lebih langsung antara anak didik dengan lingkungan. waktu.gambar. Menurut Wijaya Kusumah (2008). dan daya indra. .

Kelemahan dan Kelebihan Permainan Lempar Dadu Huruf Tidak ada satupun metode pengajaran yang tidak memiliki kekurangan. dengan bimbingan guru bagi mereka yang belum atau kurang mampu. Anak lebih terampil dalam motorik halusnya maupun motorik kasarnya berkembang dan anak semakin sehat. merangakai menjadi suku kata. Anak membaca dari hasil permainan tersebut. media ini jaga berfungsi untuk meningkatkan aktifitas fisik dan motorik lainnya. Selain fungsi utama yang disebutkan di atas. tetapi juga aktifitas lain seperti mengamati. kata dan kalimat sederhana untuk meningkatkan kemampuan membaca mereka. 5) Utuk memutivasi siswa belajar sendiri Media ini merupakan alat peraga yang setiap sisinya memiliki simbol huruf. Demikian dan mengaktifkan siswa . sebab tidak hanya mendengarkan uraian guru. 2) Objek terlalu luas atau sempit yang sebenarnya tidak dapat ditampilkan akirnya dapat ditampilkan. mendemostrasikan dan sebagainya. Fungsi dari dadu huruf ini adalah untuk menebak huruf yang akan keluar pada sisi yang muncul/posisi atas atau menurut kesepakatan dalam permainan ini. Berdasarkan pendapat di atas fungsi media dapat penulis simpulkan sebagai berikut: 1) adanya media penyajian pesan tidak terlalu bersifat verbalistik. atau penyajian menjadi lebih jelas. melakukan. d. Media ini berfungsi sebagai sarana mengenalkan atau mengingatkan kembali pada anak pada huruf-huruf. kata atau kalimat-kalimat sederhana.27 4) Siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar. Selanjutnya menyusun sisi-sisi yang muncul atau yang telah disepakati menjadi susku kata. semua metode pembelajaran memiliki kelemahan dan kelebihan. 3) Memfariasikan penyajian pendidikan dalam penyajian pendidikan 4) Untuk menarik perhatian siswa dan memutivasi siswa.

Contoh: . diliempar. tidak hanya sebanyak jumlah huruf dalam satu abjad akan tetapi lebih dari itu. agar kata-kata yang dapat disusun oleh anak dalam jumlah yang banyak dan bervariasi.lemparan keempat vokal yang muncul adalah u Kata yang muncul setela dadu disusun adalah b i l u 3) Memerlukan banyak sekali dadu. ada kelemahan dan kelebihannya. lalu mengambil dadu pada kelompok konsonan dan dilemparkan. Untuk membaca suku kata memerlukan waktu yang agak lama karena harus melempar dua atau tiga huruf kemudian disusun dan dibaca.lemparan ketiga konsonan yang muncul adalah l . 2) Kadang-kadang huruf yang muncul tidak membentuk kata yang punya arti. disusun kemudian dibaca. Pemberian kesempatan kepada anak untuk menentukan .lemparan pertama konsonan yang muncul adalah b . Kelebihan dari pembelajaran membaca permulaan lewat bermain lempar dadu huruf ini adalah : 1) Anak memilih sendiri dadu huruf yang dilemparnya sehingga anak bersemangat. Dadu harus dipersiapkan dalam jumlah yang banyak. karena anak harus melempar terlebih dahulu sebuah dadu kemudian memperhatikan untuk dibaca. Kelemahan dari pembelajarandengan mempergunakan media lempar dadu huruf adalah: 1) Menyita banyak waktu Untuk membaca satu huruf memerlukan banyak waktu.lemparan kedua vokal yang muncul adalah i . kadangkadang vokal yang muncul setelah digabung dengan konsonan tidak membentuk kata yang memiliki arti. Untuk membaca suku kata anak harus mengambil empat dadu (KVKV). Misalnya anak mengambil dadu pada kelompok vokal dan dilemparkan.28 juga dengan pembelajaran dalam bentuk permainan lempar dadu huruf ini.

menebak huruf yang muncul dan menyusun serta membacanya. Pemberian reward atau penghargaan setiap keberhasilan anak akan membuat anak lebih bersemangat dan merasa dihargai. 2) Tidak mengantuk dan bosan karena anak beraktifitas dengan aktif. menyusun dan membacanya. memotivasi anak untuk mengambil. 3) Anak tertarik untuk mengetahui huruf apa yang keluar dan kata apa yang muncul dari setiap lemparan yang dibuatnya sendiri.29 pilihan merupakan hal yang menyenangkan bagi anak. bahwa dadu memiliki 6 . Setelah anak memberikan pendapatnya tentang dadu. Saat anak memilih ada aktifitas dalam segi kognitif dan motorik halus. Anak diberi kesempatan untuk mengambil/memilih. yakni dadu. Komentar apa yang diberikan anak tentang benda ini. Setelah melempar anak dengan senangnya cepatcepat ingin mengetahui apa isi/ bacaan dari lemparan yang akan disusunnya. anak merasa bersemangat dan kepercayaan dirinya tumbuh. melempar dadu dengan antusias. melempar. lalu kita jelaskan kepada anak informasi seputar dadu sesuai dengan tingkat kemampuan berpikir anak. Anak akan merasa bangga jika huruf yang dilemparnya dapat membentuk suatu kata yang memiliki arti. Anak yang belum dapat menyusun huruf menjadi kata akan berusaha mencoba lagi sehingga mereka memiliki keinginan untuk mencoba dan mencoba lagi. e. dalam hal ini. Saat menyusun aktifitas dalam kognitifnya bekerja. alat permainan yang akan kita pakai sebagai media pembelajaran. Anak ingin segera membaca dari hasil lemparan yang telah disusun tadi dengan mengaktifitaskan aspek kognitifnya. motorik halusnya juga bekerja. saat anak melempar ada aktifitas dalam motorik kasarnya. sehingga anak aktif. Guru berperan sebagai motivator. Langkah-langkah Pengajaran dengan Menggunakan Media Permainan Lempar Dadu Huruf Dalam pembelajaran melalui media bermain lempar dadu huruf ini terlebih dahulu diperkenalkan kepada anak. Dijelaskan kepada anak.

dalam pembelajaran membaca) secara kongkrit lewat tulisan. kemudian mengambil dan melempar dadu dari kelompok huruf konsonan sesuai pilihan anak.30 sisi. membaca kata-kata sederhana. Pada pembelajaran ini dadu setiap sisinya diberi simbol huruf. Kelompok 1 adalah dadu dengan huruf vokal kelompok 2 dadu dengan huruf konsonan. Penerapan permainan lempar dadu huruf adalah sebagai media serta alat peraga yang digunakan dalam pembelaran pengenalan huruf. Anak tunagrahita memiliki kemampuan berpikir di bawah temanteman normal lainnya. Penerapan Pembelajaran dengan Menggunakan Media Bermain Lempar Dadu Huruf pada Anak Tunagrahita Anak tunagrahita dalam belajar perlu ditunjukkan dengan benda kongkrit (simbol bunyi. sehingga tercapai tujuan pembelajaran. masing-masing sisi terdapat satu simbol huruf. Permainan ini dilakukan berulang-ulang sehingga anak aktif dalam pembelajaran. merasa senang sehingga kemampuan membaca permulaan pada anak mengalami peningkatan f.. Hal ini dilakukan untuk mengenal huruf. Anak ditunjukkan lambang-lambang dari setiap . Melaksanakan pembelajaran yang menyenangkan bagi anak tunagrahita adalah salah satu cara untuk membangkitkan motivasi anak dalam pembelajaran. dari satu lubang. Anak disuruh mengamati dan menyebutkan huruf apa yang muncul atau yang berada pada posisi atas. Dadu yang sering kita lihat setiap sisinya terdapat lubang yang setiap sisinya berbeda jumlahnya satu dengan sisi yang lain. Setelah empat kali lemparan anak memperhatikan dan membaca huruf yang telah terkumpul dan tersusun. Dadu dikelompokkan menjadi 2. Penerapan permainan lempar dadu huruf bertujuan untuk memotivasi anak dalam mengikuti pelajaran. dilanjutkan dengan mengambil dadu bergantian dari kelompok satu dan dua selama empat kali. Anak mengambil 1 kali dan melempar dadu dari kelompok satu/huruf vokal. Jika anak telah melakukan berkali-kali dan telah paham atau mampu membaca huruf yang ada pada posisi atas. dua lubang hingga enam lubang. membaca suku kata.

hal ini dibuktikan lewat pengamatan yang dilaksanan dan hasil nilai yang diperoleh siswa tunagrahita pada pembelajaran membaca permulaan. kemudian disusun sehingga membentuk kata yang dapat dibaca anak. Memperoleh informasi-informasi dan menjadikan seseorang . Untuk membaca suku kata anak diberi kesempatan mengambil satu dadu kelompok konsonan. melempar dan membacanya. Untuk membaca kata dilakukan empat kali lemparan dari dadu KVKV. karena membaca mampu meningkatkan prestasi belajar pada bidang akademik lainnya. kemudian dilempar dan satu dadu kelompok vokal. yang mampu merangsang sel otak sehingga anak memiliki perkembangan dan pertumbuhan yang baik secara optimal. Kerangka Berfikir Membaca merupakan salah satu bidang akademik yang harus segera dimiliki oleh siswa termasuk anak tunagrahita ringan. tidak membebani sehingga anak merasakan belajar seraya bermain.31 huruf yang ada dalam dadu. Membaca merupakan salah satu bidang akademik yang harus segera dimiliki siswa. Pembelajaran membaca permulaan di Taman Kanak-Kanak dapat diberikan lewat suatu permainan yang menyenangkan anak. Penerapan pembelajaran dengan menggunakan berbagai media yang variatif akan tidak membuat anak menjadi bosan. bersemangat dan ingin mengetahui leebih banyak lagi. Penggunaan media bermain lempar dadu huruf pada Taman KanakKanak Elim menjadikan suana penuh dengan semangat dan antusias. Karena manfaat membaca mampu meningkatkan belajar pada bidang akademik yang lain. B. kemudian disuruh mengambil. Demikian juga pengaruhnya terhadap anak tunagrahita yang bersama-sama belajar dengan anak normal lainnya sangat kelihatan. dilempar lalu keduanya disusun sehingga muncul suku kata. Dengan membaca seseorang mengerti banyak hal. termasuk anak tunagrahita. sesuai dengan karakteristik anak pembelajaran yang diberikan hendaknya dikemas dalam bentuk permainan yang mendidik. Usia dini adalah masa bermain.

kemudian dapat dilanjutkan dengan kata-kata yang sangat sederhana sesuai dengan usia dan kemampuan anak. Membaca dapat digunakan untuk mengembangkan perbendaharaan kata. Membaca permulaan merupakan tahapan proses belajar membaca.32 bertambah luas wawasannya. siswa.S. Membaca merupakan kata kerja dengan kata dasar “baca” yang memiliki arti melihat tulisan dan megerti atau dapat melisankan apa yang tertulis (W. Tahap membaca permulaan umumnya diajarkan pada saat tibanya masa peka. menambah proses pengayaan pribadi. Secara umum faktorfaktor tersebut dapat diidentifikasi seperti guru. bekerja dengan penuh inisiatif. Membaca merupakan kegiatan fisik dan mental untuk menemukan makna dari tulisan aktifitas fisik yang berkait dengan membaca adalah gerak mata dan ketajaman penglihatan. kondisi lingkungan. Sehingga anak merasakan sesuatu kesenangan didalam belajar bukan suatu beban atau tekanan. Membaca bukanlah suatu kegiatan yang mudah. Usia peka atau usia dini merupakan fase anak bermain. yaitu enam tahun atau tujuh tahun bagi anak normal atau sembialn atau sepuluh tahun. Aktifitas mental mencakup ingatan dan pemahaman. Permainan dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk mengetahui huruf-huruf yang ada. mendapatkan informasi untuk memecahkan konflik dan mengenali dan lain sebagainya. seperti dapat membebaskan dari tekanan. bentuk permainan dapat menarik anak untuk belajar dengan tanpa beban. untuk itu segala pembelajaran yang diberikan kepada anak harus dalam bentuk bermain. . serta tehnik mempelajari materi pelajaran. Poerwadarminta 1984 : 71). Banyak faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan siswa dalam membaca. anak belajar memperoleh kemampuan dan cara-cara dalam membaca dan menangkap isi bacaan.J. mengembangkan intelektualitas Membaca mempunyai nilai besar untuk orang dewasa karena berkontribusi pada perkembangan. Demikian juga dalam belajar membaca permulaan. materi pelajaran.

Adapun kerangka berpikir pembelajaran dengan menggunakan media bermain lempar dadu huruf adalah sebagai berikut : . Sedangkan kemampuan diartikan kesanggupan. Media ini melibatkan siswa secara aktif. Permainan yang dilakukan sesuai peraturan yang telah ditetapkan membuat anak belajar untuk berdisiplin. Untuk itu perlu dilakukan suatu strategi untuk membuat anak tertarik pada membaca yaitu dengan pembelajaran melalui media bermain lempar dadu huruf.33 Kata “kemampuan” berasal dari kata dasar “mampu” yang berarti mengandung makna yang sama dengan kata “bisa atau sanggup melakukan sesuatu”. Pemberian reward pada setiap kata yang memiliki makna akan lebih meningkatkan antusias anak sehingga anak terangsang terus pada akhirnya anak memperoleh pengetahuan dan pemahaman konsep lebih mendalam terhadap materi yang diajarkan dengan menggunakan media permainan lempar dadu huruf dalam membaca permulaan untuk anak tunagrahita ringan diharapkan prestasi belajarnya meningkat. kecakapan untuk melakukan sesuatu.

maka kemampuan membaca permulaan siswa tunagrahita kelas B Taman Kanak-kanak Elim Sragen meningkat”. Hipotesis Tindakan Adapun hipotesis dalam penelitian ini adalah “melalui pembelajaran dengan menggunakan media lempar dadu huruf. C. .34 Kondisi awal kemampuan membaca sebelum Pembelajaran menggunakan media Bermain lempar dadu huruf Tindakan Pembelajaran menggunakan media bermain lempar dadu huruf Kemampuan membaca permulaan Kondisi Akhir setelah menggunakan media bermain lempar dadu huruf Keterangan: Kondisis awal adalah kondisi anak sebelum pembelajaran dengan menggunakan media lempar dadu huruf dilaksanakan. Kondisi akhir adalah kondisi setelah pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan media bermain lempar dadu huruf. yaitu pelaksanaan pembelajaran membaca permulaan dengan menggunakan media lempar dadu huruf. Tindakan adalah melaksanakan apa yang telah direncanakan sebelumnya. yakni kemampuan membaca permulaan sangat rendah.

Mengenal huruf tertentu saja 4. monitoring. 2. koordinator persiapan tindakan pelaksanaan (perencanaan. penyempurnaan berdasarkan saran dari dosen pembimbing dan pihak lain yang dirasa perlu. Setting Penelitian Tempat penelitian tindakan kelas adalah Kelas B Taman Kanak-kanak Elim Sragen. Jln. Taman Kanak-Kanak Elim adalah tempat dimana penulis mengajar dan juga sebagai wali kelas. Anak cenderung pendiam 2. Belum dapat membaca . Di kelas tersebut terdapat dua anak sebagai subyek penelitian yaitu Farel dan Ian Rudianto.35 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A.80 Sragen. tindakan. Rincian kegiatan penelitian tersebut adalah. Penelitian dilakukan di kelas B Taman Kanak-Kanak Elim Sragen didasarkan pada pertimbangan : 1. persiapan penelitian. Farel memiliki karekteristik sebagai berikut: 1. Penyusunan laporan pendidikan. Penelitian berlangsung selama bulan Juli sampai september 2010. Subjek Penelitian Subjek penelitian Tindakan kelas ini adalah siswa tunagrahita kelas B Taman Kanak-kanak Elim Sragen. Kurang semangat dalam mengikuti kegiatan belajar namun dalam bermain sangat bersemangat melebihi teman-temannya. Raya Sukowati no.Melihat adanya perbedaan yang sangat signifikan pada kedua siswa yang mengalami keterlambatan didalam kemampuan membaca permulaan dibandingkan dengan empat belas murid yang lainnya. 3. evaluasi dan refleksi). Penggandaan dan pengiriman laporan pendidikan. Pengamatan terhadap hasil pembelajaran membaca permulaan adalah selama dimulainya semester II TK A. B.

2 5 5.36 5.2 5. C. Tidak peduli.5 5 6 5 5.3 5. Suka mengganggu.7 5.5 5 5. No A AK AR EN F IR JG KN LT LR RW SP TL TA Y YK Nama Jenis kelamin L P P L P P L P p L p L p p L p L Usia 5 5. Ian Rudianto memiliki karakter sebagai berikut: 1. Sulit berkonsentrasi 3.(Subjek) √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 .3 5 Nilai 85 80 80 85 30 35 85 90 95 90 90 85 90 85 95 95 Ket √ √ √ √ . jika ditanya tidak memberikan respon jika pertanyaan tidak diulangUlang 4. Data dan Sumber Data Data Penelitian yang dikumpulkan berupa informasi tentang kemampuan membaca khususnya dan kemampuan menulis serta kemampuan lain umumnya. cenderung hiperaktif 2. Mampu membaca suku kata. 5.4 5. Lambat dalam menjawab pertanyaan.(Subjek) .7 5. Anak sangat banyak bergerak. kata sederhana jika dibantu. Nilai yang dicapai siswa selama pembelajaran di kelas A.

37

Nilai di Taman Kanak-kanak adalah berupa simbol yang memiliki bobot tertentu, demikian juga di taman kanak-kanak Elim Sragen menggunakan simbol bintang yang memiliki bobot nilai 2,5. Nilai tertinggi adalah bintang 4 (****) yang memiliki bobot nilai 10. Rata-rata nilai yang dicapai kedua subjek tersebut adalah bintang 1 dan bintang 2. Jika dibandingkan keduanya anak ian sering memperoleh nilai lebih tinggi dari pada farel, yaitu bintang 2. Ian lebih sedikit mampu membaca suku kata dan kata–kata sederhana daripada Farel. Metode-metode yang digunakan guru yang tepat sesuai dengan kondisi anak akan mampu meningkatkan kemampuan membaca pada anak, hanya penerapan metode yang kurang menarik membuat anak menjadi jenuh dan tidak bersemangat khususnya bagi Farel dan Ian, untuk itu peneliti mencoba menggunakan media bermain lempar dadu huruf agar anak tertarik. Sumber data dari dari penelitian ini adalah siswa dan guru. Peristiwa yang terjadi selama pembelajaran berlangsung. Dokumen atau arsip yang berupa kurikulum kurikulum, rencana pelaksanaan pembelajaran, hasil kegiatan anak dan buku penilaian. D. Teknik Pengumpulan Data Tehnik pengumpulan data data adalah yang suatu prosedur yang sitematik diperlukan. Oleh karena itu dan standar untuk memperoleh

kualitas data sangat ditentukan oleh alat pengumpul data atau alat ukuran, sehingga data benar-benar valid dan reliable. Adapun tehnik pengumpulan data yang digunakan adalah dengan tes, observasi, dokumentasi. 1. Tes a. Pengertian test Untuk mengetahui kemampuan anak diperlukan alat untuk mengukur. Alat ukur kemampuan terseburt adalah test. Menurut Suharsimi Arikunto (2005:127) test adalah “serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk mengukur, ketrampilan.

38

pengetahuan intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki individu atau kelompok”. Menurut Baitul Alim (http://www.psikologzone.com/2006) “Suatu tes dapat didefinisikan sebagai suatu tugas atau serangkaian tugas- tugas yang digunakan untuk memperoleh tentang suatu atribut atau hasil pendidikan yang representative”. Berdasarkan dua pendapat diatas dapat penulis simpulkan bahwa tes adalah serangkaian pertanyaan yang harus dijawab untuk mengukur kemampuan atau bakat yang dimiliki individu atau kelompok. Tujuannya . pretest. Kegiatan pembelajaran dilaksanakan, pada akhir pembelajaran diadakan postest untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan yang dicapai dalam membaca permulaan dengan menggunakan media bermain lempar dadu huruf. b. Jenis – Jenis tes Ada beberapa jenis tes yang dapat dipergunakan untuk mengukur kemampuan seseorang adalah sebagai berikut: Menurut Baitul Alim (2006). Jenis tes dikelompokkan menjadi : “ Tes intelegensi, tes bakat, tes hasil belajar, dan tes kepribadian “. Menurut Pandit, PL (2010:12) Jenis tes dikempokkan menjadi: 1 ) Tes Intelegensi Tes kemampuan intelektual, mengukur taraf kemampuan berpikir, terutama berkaitan dengan potensi untuk mencapai taraf prestasi tertentu dalam belajar di sekolah ( Mental ability Test ; Intelegence Test; Academic Ability test; Scholastic Aptitude Test ). Jenis data yang dapat diambil dari tes ini adalah kemampuam intelektual atau kemampuan akademik. 2 ) Tes Bakat Tes kemampuan bakat, mengatur taraf kemampuan seseorang untuk berhasil dalam studi tertentu, program pendidikan vokasional tertentu atau bidang pekerjaan tertentu, lingkupnya lebih terbatas dari tes kemampuan intelektual (Test of Specific Ability ; Aptitude Test ). tes adalah : untuk sejauh mengukur mana kemampuan kemampuan ketrampilam, anak sebelum kemampuan, kecerdasan dan bakat yang dimiliki anak atau seseorang. Untuk mengukur pembelajaran melalui media lempar dadu huruf dilakukan, yaitu melalui

39

Kemampuan khusus yang diteliti itu mencakup unsure-unsur intelegensi, hasil belajar, minat dan kepribadian yang bersama-sama memungkinkan untuk maju dan berhasil dalam suatu bidang tertentu dan mengambil manfaat dari pengalaman belajar dibidang itu 3 ) Tes Minat Tes minat, mengatur kegiatan–kegiatan macam apa paling disukai seseorang. Tes macam ini bertujuan membuat orang mudah dalam memilih macam pekerjaan yang kiranya paling sesuai baginya (Test of Vocational Interest ). 4 ) Tes Kepribadian Tes kepribadian, mengatur ciri-ciri kepribadian yang bukan khas bersifat kognitif, seperti sifat karakter, sifat temperamen, corak kehidupan emosional, kesehatan mental, relasi-relasi sosial dengan orang lain, serta bidang-bidang kehidupan yang menimbulkan kesukaran dalam penyesuaian diri. Tes proyektif, meneliti sifat-sifat kepribadian seseorang melalui reaksi –reaksinya terhadap suatu kisah, suatu gambar atau suatu kata; angket kepribadian, meneliti berbagai ciri kepribadian seseorang dengan menganalisa jawaban-jawaban tertulis atas sejumlah pertanyaan untuk menemukan suatu pola bersikap, bermotivasi atau bereaksi emosional, yang khas untuk orang lain itu. Kelemahan Tes proyektif hanya diadministrasi oleh seorang psikolog yang berpengalaman dalam menggunakan alat itu dan ahli dalam menafsirkannya. 5 ) Tes Perkembangan Vocasional Tes vocasional, mengukur taraf perkembangan orang muda dalam hal kesadaran kelak akan memangku suatu pekerjaan atau jabatan ( vocation ) dalam memikirkan hubungan antara memangku suatu jabatan dan cirriciri kepribadian serta tuntunan-tuntunan sosial ekonamis; dan dalam menyusun serta mengimplementasikan rencana pembangunan masa depannya sendiri. Kelebihan tes semacam ini meneliti taraf kedewasaan orang muda dalam mempersiapkan diri bagi partisipasinya dalam dunia pekerjaannya ( career maturity ) 6 ) Tes Hasil Belajar (Achievement Test) Tes yang mengukur apa yang telah dipelajari pada berbagai bidang studi, jenis data yang dapat diambil menggunakan tes hasil belajar (Achievement Tes ) ini adalah taraf prestasi dalam belajar. Berdasarkan beberapa pendapat tentang jenis tes, penulis simpulkan yaitu tes tertulis, tes lesan, tes bakat, tes kepribadian dan tes perkembangan vocasional.

dan tes perbuatan. b. Menurut Muhammad Idrus (2007 : 129) “observasi atau pengamatan merupakan aktivitas pencatatan fenomena yang dilakukan secara sistematis”. Tujuannya adalah untuk mengetahui kemampuan membaca siswa sebelum dan setelah diberi tindakan. yaitu Observasi yang dilakukan oleh tidak menggunakan instrumen.40 Penelitian ini. pengamat dengan yaitu obsevasi partisipan (aktif) dan yang meliputi kegiatan pemusatan perhatian terhadap suatu pengamat dengan . Berdasarkan pendapat diatas penulis simpulkan: observasi adalah suatu tindakan pengamatan dan pencatatan yang dilaksanakan secara langsung. yaitu: 1 ) Observasi nonsistematis . jenis tes yang penulis gunakan adalah: tes lisan. partisipan dan sistimatis terhadap suatu obyak dengan menggunakan seluruh alat indra. Sedang observasi penulis gunakan sistematis. 2. Pengamatan / Observasi a. Jenis Observasi Observasi ada beberapa macam atau jenis. Menurut Suharsimi Arikunto (2005 : 145) “observasi adalah pengamatan objek dengan menggunakan seluruh alat indra”. 2 ) Obsevasi sistematis yaitu observasi yang dilakukan oleh menggunakan pedoman sebagai instrumen pengamatan. Pengertian Observasi. Menurut Suharsimi Arikunto (2005 : 147) observasi ditinjau dari jenisnya ada dua macam .

Berdasarkan pendapat tentang jenis observasi penulis simpulkan yaitu: observasi partisipan . atau kurang yakin bila tidak didukung dengan .Dokumen bisa pula dikategorikan menurut bentuk fisiknya . notulen rapat. sebuah berkas.150) dibedakan atas : jenis observasi 1 ) Observasi Partisipan . Dokumentasi a. sistematis dan eksperimen. buku. Pengertian Dokumen adalah salah satu alat pengumpul data . surat kabar. Menurut Pandit P L (2010:12) Istilah dokumen dipakai untuk satu informasi tunggal . agenda. 3 ) Obsevasi Eksperimental . a single unit of information (setunggal informasi). Observasi Partisipan yaitu jika orang mengadakan observasi turut ambil dalam kehidupan orang yang diobsevasi. yang dirasa kurang lengkap dokumen. dan sebagainya”. Sedang observasi nonpartisipan justru sebaliknya. sebuah halaman Web.Obsevasi Noneksperimental. tetapi mengandung bentuk lain seperti gambar. Obsevasi Eksperimental yaitu dimana observer oran yang didikte oleh jalannya arus peristiwa . sebuah e. prasasti. 2 ) Obsevasi sistematis Observasi nonsistematis Obsevasi sistematis yaitu dimana obseever menggunakan kerangka materi atau instrumen untuk memudahkan dalam malakukan observasi. transkip.41 Sedang menurut Sutrisno Hadi (2000 :141. misalnya sebuah buku. untuk melengkapi data. majalah . Menurut Suharsimi Arikunto (2005 : 206) ”Dokumen merupakan salah satu media yang digunakan untuk melengkapi data mengenai hal – hal yang berupa catatan.mail. 3.suara hidup (moving images ).Observasi Nonpartisipan. Sedang observasi nonsistematis justru sebaliknya. Adapun dalam penelitian ini jenis obsevasi/pengamatan yang penulis gunakan adalah observasi atau pengamatan partisipan dan sistematis. pada umumnya berisi teks.

sebuah e-mail dan arsip – arsip lain yang ada kaitannya dengan prestasi keadaan siswa. Menurut Sawarji Suwandi (2008 : 68) dokumen dari: Kurikulum. buku. aktivitas arsip terdiri merupakan salah satu diantara data – data yang telah ada. buku atau materi pelajaran. isinya tentang hasil atau prestasi belajar. dokumen catatan kesiswaan yang berada belakang disetiap sekolah. dan kemampuan membaca permulaan khususnya. jenis dokumen penulis simpulkan yaitu dokumen catatan kesiswaan. hasil tulisan atau karangan siswa. Dokumen yang penulis gunakan adalah raport. dokumen adalah pengumpulan data melalui peninggalan tertulis bisa surat kabar. latar keluarga. dokumen nilai yang diberikan guru. keadaan dan perkembangan pribadi atau siswa. untuk mengetahui kemampuan siswa pada umumnya. . notulen rapat. dan nilai yang diberikan guru. majalah. catatan atau buku ulangan harian siswa. Jenis Dokumentasi Untuk melengkapi data dalam penelitian. Adapun jenis disekolah dan di luar sekolah. b.42 Berdasarkan pendapat di atas penulis simpulkan. berkas. terutama kemampuan membaca anak tunagrahita sebelum menggunakan media bermain lempar dadu huruf. daftar nilai. dukumen pelengkap dokumen sebagai pelengkap penelitian ini adalah: Menurut Fu’adz Al-Gharuty (2009). Berdasarkan pendapat diatas. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang dibuat guru. Jenis dokumen penulis gunakan adalah jenis dokumen catatan kesiswaan. dokumen hasil karya siswa. prasasti. dokumen Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang dibuat guru. transkrip. agenda.

Jenis-jenis validitas tes menurut Sutrisno Hadi (2000:111) antara lain: “facer validity. yang reliable akan menghasilkan data yang dapat dipercaya juga.43 E. Validitas dan Reliabilitas Instrumen Tes adalah alat pengukur prestasi belajar anak didik. Tes yang disusun harus sesuai dengan materi yang pernah diajarkan dan mempunyai taraf kesukaran yang sama dengan kemampuan peserta didik. Teknik yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah riview informasi kunci dan triangulasi. conten validity. maka tes tersebut harus memenuhi syarat sebagai tes yang baik. agar tes dapat digunakan sebagai alat pengukur prestasi belajar yang baik. 2005:142). Instrumen yang baik tidak akan bersifat tendensius mengarahkan responden untuk memilih jawabanjawaban tertentu (Suharsini Arikuntoro. factorial validity. external validity. Validitas Data Agar penelitian dapat dipertanggungjawabkan diperlukan adanya validitas sehingga data tersebut dapat dijadikan dasar yang kuat untuk menarik kesimpulan. yakni validitas. F. internal validity dan empirical validity”. Instrumen yang sudah dapat dipercaya . tes cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut sudah baik. Validitas data adalah data yang sesuai dengan apa yang akan diukur. Tes valid artinya tes yang dibuat hendaknya dapat mengukur apa yang dapat diukur. yaitu instrumen dari beberapa butir tes yang mencerminkan suatu faktor yang tidak menyimpang dari fungsi instrumen berupa kisi-kisi buatan guru berdasarkan KTSP. Tehnik reliabilitas menggunakan standar isi berdasarkan standar standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam pembelajaran membaca sesuai dengan KTSP. Tes harus reliabel. logical validity. . Penulis dalam penelitian ini menggunakan uji validitas conten validity.

b. Menurut Sarwiji Suwardi. mengadakan diskusi dengan kolaburator tentang kondisi anak. Wawancara dengan orang tua siswa tentang belajar anak di rumah. Teknik triangulasi digunakan sumber data sebagai berikut: 1.”data dianggap valid apabila setelah melakukan kegiatan pengamatan maupun kajian dokumen diperiksa kembali oleh peneliti sehingga data tersebut valit”. membaca di depan kelas. nilai rata-rata 45 2. siswa mengalami kesulitan . Triangulasi sumber data a. Review informasi kunci. Triangulasi Pengumpulan data a.(2008:69).” Lexy Moelong dalam Sarwiji Suwandi (2008 : 69). “Review informasi kunci adalah mengkonfirmasikan data atau interprestasi temuan kepada informasi kunci sehingga diperoleh kesepakatan anatar peneliti dan informan tentang data atau informasi temuan tersebut.” (Sarwiji Suwandi 2008 : 69). Pemberian tes. Data dari raport semester II kelas A. Kesimpulan penulis data dianggap valid apabila data itu dapat mengungkap kebenaran dan dapat digunakan dengan mudah serta dapat digunakan siapa saja. kebiasaan anak yang diamatinya dalam lingkungan sekolah umumnya dan saat pengamatan dalam kegiatan belajar khususnya. membaca huruf awal kartu bergambar: b.44 “Triangulasi adalah teknik pemeriksaan validitas data dengan memanfaatkan sarana di luar data itu untuk keperluan pengecekkan atau pembandingan data itu. Diskusi dengan teman sejawat tentang fasilitas/ media pembelajaran di sekolah. sikap anak. c. Tugas membaca.

I.45 G. Jika nilai yang diperoleh anak di bawah 70. adapun nilai KKM untuk bidang pengembangan bahasa yakni membaca permulaan adalah 70. pelaksanaan. masing-masing siklus dengan tahapan: perencanaan. penulis menggunakan tehnik deskriptif komparatif dan tehnik analisis kritis. artinya seorang anak telah dinyatakan melampaui ketuntasan belajar jika telah memperoleh nilai 70. Indikator Kinerja Indikator sebagai tolak ukur keberhasilan dalam penelitian tindakan kelas ini menggunakan KKM yang telah ditetapkan oleh sekolah. Teknik Analisis Data Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian untuk hipotesis mengenai “Upaya Peningkatan Kemampuan Membaca Permulaan Melalui Media Bermain Lempar Dadu Huruf pada Anak Tunagrahita Kelas B Semester II di Taman Kanak-Kanak Elim Sragen Tahun Pelajaran 2010/2011”. H. Prosedur ini secara garis besar dapat digambarkan dengan skema sebagai berikut : Perencanaan Refleksi Perencanaan Refleksi Pelaksanaan Pengamatan Pengamatan Pelaksanaan . pengamatan dan refleksi. maka belum dapat dinyatakan tuntas. yaitu membandingkan nilai awal dengan post tes I. membandingkan nilai post tes I dengan nilai post tes II. Tehnik deskriptif komparatif digunakan untuk data kuantitatif. Prosedur Penelitian Penelitian ini dilakukan dalam 2 siklus.

Aktivitas menerapkan media lempar dadu huruf dalam meningkatkan kemampuan membaca permulaan. 4. 3. merangkai menjadi kata. Mengenal huruf. Membuat rencana pembelajaran. melempar dan membaca huruf yang muncul di posisi atas. yaitu dadu yang bertuliskan huruf. Menyiapkan media pembelajaran. Guru meminta murid mengambil dadu huruf. Guru memberi penjelasan kepada siswa tentang materi yang akan dipelajari dengan menggunakan media lempara dadu huruf.46 Rancangan prosedur penelitian : Siklus I Perencanaan Kegiatan : 1. 4. Observasi ini untuk memperoleh . Guru meminta siswa untuk menyanyikan lagu a b c c d e f g dengan menunjuk huruf yang ada di papan tulis. Observasi Dilakukan dengan mengamati : 1. 2. 2. 3. Menganalisis materi pelajaran 2. Tindakan 5. 1. Membuat lembar pengamatan. Menentukan dan menyiapkan materi. Guru meminta siswa menanyakan huruf yang belum dipahami.

Siswa memainkan media lempar dadu huruf diawasi guru. Setelah data tentang membaca permulaan dengan media bermain lempar dadu huruf diperoleh. Apresiasi untuk perbaikan materi yang telah diajukan pada siklus I 2. Menarik anak tunagrahita untuk Tindakan bermain lempar dadu huruf 1. Hasil yang diperoleh dapat disimpulkan hasil kemampuan membaca selama 2 siklus . Memperbaiki kesalahan / kekurangan pada siklus II 3. dianalisa untuk mengetahui kelemahan yang Refleksi mungkin ada. 2.47 data tentang kemampuan membaca Refleksi permulaan. Data yang diperoleh pada tahap observasi dianalisis. Siswa menjawab dengan membaca dadu yang dilempar oleh guru baik Observasi huruf maupun kata. Kegiatan : 1. Menganalisa hasil observasi untuk memperoleh kesimpulan bagian mana yang perlu di sempurnakan untuk Siklus II Perencanaan siklus berikutnya.

kaitannya dengan kemampuan membaca yang masih kurang. Perencanaan yang terdiri dari: Menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan dalam pelaksanaan tindakan yaitu materi. Terkait dengan perencanaan maka peneliti membuat jadwal pelaksanaan rangkaian (observing). Berdasarkan pada permasalahan yang dihadapi oleh siswa kelas B Taman kanak-Kanak Elim Sragen. (3) pengamatan dan (4) refleksi (reflecting). Prosedur penelitian dilaksanakan dua siklus yang masing – masing terdiri empat tahapan (1) perencanaan (planning). Kemampuan membaca berpengaruh pada anak dalam mengikuti pembelajaran. agar semua dapat berjalan dengan teratur dan lancar sesuai dengan yang diharapkan. Hal ini dilakukan seperti yang telah dikemukakan bahwa penggunaan media lempar dadu huruf dirasa tepat dalam upaya untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan anak tunagrahita kelas B Taman Kana-Kanak Elim Sragen. maka dilakukan serangkaian tindakan guna mengatasi permasalahan tersebut. karena selama ini belum pernah dicobakan pembelajaran dengan menggunakan media lempar dadu huruf sebagai sarana pembelajaran dalam bentuk permainan yang menarik. . (2) tindakan (acting). sarana maupun prasarana yang diperlukan dalam pelaksanaan penelitian baik siklus I dan II.48 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Membaca merupakan hal yang sangat mendukung anak dalam memperoleh informasi.

lembar pengamatan. Penyelesaian skripsi. termasuk . Penulisan laporan hasil penelitian dan pembahasan. Penulisan Bab V. 2 II-IV Juli 2010 Melaksanakan pre test. yakni 5 anak laki-laki dan 11 perempuan. Keterangan Perbaikan dan penggandaan hasil penelitian. Mereka memilik kemampuan yang sangat baik dalam setiap pembelajaran. 3. keadaan kelas B Taman Kanak-Kanak Elim Sragen. A. 1. Deskripsi Kondisi Awal Pelaksanaan Penelitian Berdasarkan hasil pengamatan /observasi yang dilakukan. berikut: Jadwal kegiatan penelitian adalah sebagai Jadwal Kegiatan Penelitian No. Pelaksanaan siklus II 1. item soal. Siswa di Kelas B Taman Kanak-Kanak Elim terdiri dari 16 siswa. Pelaksanaan tindakan siklus I.49 penelitian yang akan dilakukan. 2. 1 Minggu Ke/Bulan I Juli 2010 Kegiatan Melakukan observasi ke kelas Pembuatan kisi-kisi. Evaluai 3 4 5 I Agustus 2010 II-IV Agustus 2010 I-IV September 2010 Menyiapkan Instrument pelaksanaan siklus II Melaksanakan pre test.

50 dalam hal membaca. demikian juga dalam kegiatan pembelajaran yang lainnya.5 5 5. belum dapat membaca khususnya dan sangat tertinggal pada mata pelajaran yang lain umumnya. bahkan membaca surat kabar. sebagai berikut: Tabel I Nilai awal sebelum pelaksanaan siklus I (Nilai Subjek Dibandingkan dengan Nilai Siswa lain) dalam Membaca Permulaan Semester II Kelas A Taman Kanak-Kanak Elim Sragen Tahun Pelajaran 2009/2010 No Kode Jenis kelamin L P P L P P L P p L p L p p L p L Usia Nilai Keterangan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 A AK AR EN F IR JG KN LT LR RW SP TL TA Y YK 5 5. Akan tetapi dari hasil pengamatan/observasi menunjukkan bahwa terdapat dua dari enam belas murid kelas B Taman Kanak-Kanak Elim Sragen yang terdiri dari dua anak laki-laki.5 5 6 5 5.2 5 5.3 5 85 80 80 85 30 35 85 90 95 90 90 85 90 85 95 95 √ √ √ √ . Ada beberapa anak yang memiliki kemampuan membaca yang sangat lancar sehingga anak telah mampu membaca buku-buku di ruang perpustakaan.4 5.3 5. Dalam hal membaca anak selalu memperoleh nilai jauh di bawah nilai teman-temannya.(Subjek) √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ . Hal ini dapat dilihat dari laporan nilai ulangan yang diperoleh selama semester II di kelas A tahun pelajaran 2009/2010 dalam pembelajaran membaca permulaan.7 5. sehingga sekolah menetapkan Kriteria Ketuntasan Maksimal (KKM) membaca 70.2 5.(Subjek) .7 5.

dengan menggunakan media lempar dadu huruf. . Data nilai yang diperoleh kedua anak tersebut dibandingkan dengan nilai yang diperoleh teman-teman sekelasnya dapat kami tampilkan dalam suatu grafik sebagai berikut di bawah ini: Grafik Nilai Membaca Permulaan Sebelum Siklus I (Nilai Subjek dibandingkan dengan Nilai Siswa lain) Keterangan: Subjek adalah no 5 dan 6. Berdasar kondisi tersebut peneliti ingin berupaya untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan pada kedua anak yang mengalami keterlambatan didalam membaca permulaan tersebut. karena nilai yang diperoleh anak sangat jauh dari kriteria ketuntasan minimal yang ditetapkan di Taman Kanak-Kanak yaitu 70.51 * Keterangan: √ = Mampu = Belum Berdasar hasil prestasi belajar di atas menunjukkan bahwa 2 dari 16 anak atau 12% siswa kelas B Taman Kanak-Kanak Elim belum dapat membaca permulaan.

guru hendaknya berusaha merenovasi model pembelajaran yang telah dilakukan.. maka peneliti melakukan pre test terhadap kemampuan siswa sebagai acuan untuk menentukan keberhasilan dari tindakan yang akan dilakukan selanjutnya. Salah satunya dengan mempergunakan media sebagai sarana meningkatkan kemampuan membaca siswa.52 Melihat hal tersebut. Dengan tujuan materi membaca dapat lebih diminati dan lebih digemari oleh siswa. dalam hal ini penulis menggunakan medialempar dadu huruf. Grafik Hasil Perolehan Nilai Kemampuan Membaca Awal/ Pre Test . kemudian memperoleh nilai sebagai berikut: Tabel 2 Hasil Perolehan Kemampuan Membaca Awal/ pre Test Kode Nilai Semester I Nilai Pre test N0 Keterangan 1 2 F IR 30 35 27 30 Turun 10% Turun 15% Berdasar keadaan tersebut.

Instrumen tes ini digunakan untuk meneliti kemampuan membaca permulaan pada anak. 3) Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran untuk siklus I. b. (3) Observasi atau Evaluasi. serta menyiapkan peralatan yang dibutuhkan dalam pembelajaran membaca melalui media lempar dadu huruf. 12 Juli 2010 di ruang kelas B Taman Kanak-Kanak Elim Sragen dan di lingkungan sekolah. 2) Menentukan dan menyiapkan materi pengenalan huruf kepada anak. 6) Membuat lembar pengamatan. 16 Juli 2010. membuat intrumen tes dan lembar tugas siswa. yaitu meja. Pelaksanaan Siklus I Siklus pertama terdiri dari 4 tahap yaitu : (1) Perencanaan . Tindakan (Acting) Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar guru memberikan apersepsi dengan membuka percakapan tentang nama benda di sekitar siswa. 5) Membuat lembar penelitian siswa yaitu berupa tes. Sedangkan rencana pelaksanaan tindakan dilaksanakan siklus I pada hari Jumat.53 2. Perencanaan (Planning). Pengamatan . 7) Menentukan jadwal pelaksanaan tindakan. Membuat rencana pembelajaran. Kegiatan perencanaan tindakan I dilaksanakan pada hari Senin. 4) Menyiapkan media pembelajaran yaitu dadu yang bersimbolkan huruf. (2)Tindakan atau Pelaksanaan . Adapun tahap perencanaan tindakan siklus I adalah sebagai berikut: 1) Menganalisa materi pelajaran Mengkaji materi yang sesuai dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan anak. a. (4) Refleksi atau .

54 buku. belum terlihat keinginan anak untuk mengetahui atau dapat membaca huruf . kemudian keduanya disusun dan dibaca. mengambil lagi satu dadu pada kotak vokal. untuk mengetahui sejauhmana anak menagalami kemajuan setelah pembelajaran berlangsung. kecenderungan bermain tanpa tujuan masih dominan. melempar dan membaca huruf belum begitu tertib. Guru menjelaskan dan menyebutkan kelompok vokal atau huruf hidup dan konsonan atau huruf mati kepada siswa. menyusun dan membacanya. Kelompok vokal berada pada kotak dua atau kelompok dua. Guru menunjukkan dadu huruf kepada siswa yang berisi simbulsimbul huruf yang ada pada setiap sisinya. Selanjutnya anak disuruh menyebutkan huruf-huruf yang ada dalam abjad dan diteruskan lagu “ abcdefg“. dapat diambil kesimpulan bahwa dalam pelaksanaan pembelajaran muncul semangat terhadap minat belajar pada anak tunagrahita di kelas B Taman Kanak-Kanak Elim Sragen. dengan menggunakan instrument observasi yang disiapkan peneliti. Guru memberi kesempatan kepada siswa mengambil satu dadu . Pengamatan (Observing) Pelaksanaan observasi pada hari Jumat. Selanjutnya guru memberi kesempatan kepada siswa mengambil satu dadu pada kotak konsonan. melempar dan membacanya. baju. suku kata dan kata. 16 Juli 2010 terhadap kegiatan pembelajaran membaca permulaan melalui media lempar dadu huruf dari awal sampai akhir. melempar. suku kata dan kata. Walaupun dalam siklus I ini dalm melakukan tugas yakni mengambil. Guru mem beri kesempatan kepada siswa mengambil empat dadu dengan urutan KVKV melempar. Guru memberikan beberapa soal kepada anak sebagai post test yaitu membaca huruf. c. melempar. Semua nama-nama benda tadi dapat di tulis dengan huruf-huruf yang terdapat dalam abjad. Kelompok konsonan berada pada kotak satu atau kelompok satu. yaitu membaca huruf. Guru memberikan beberapa soal kepada anak sebagai pre test.

Hasil pengamatan dapat dilihat pada lembar pengamatan seperti di bawah ini: Lembar Pengamatan Kemampuan Membaca Permulaan Anak Tunagrahita Kelas B Taman Kanak-Kanak Elim Sragen No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Aspek yang diamati Frekuensi kesalahan dalam membaca Kesalahan membedakan huruf b dengan d Kesalahan membedakan huruf p dengan q Kesalahan membedakan huruf m dengan n Kesalahan membedakan huruf s dengan z Kesalahan membedakan huruf v dengan u Membaca terlalu lama Tidak Tiduran Tidak mengerjakan tugas Mengganggu teman-teman Berceritera atau berteriak-teriak saat pelajaran berlangsung mengikuti pelajaran sungguh-sungguh √ √ Farel Ya Tidak √ √ √ √ √ √ √ dengan √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Ian Ya Tidak √ √ √ √ √ . melalui lembar pengamatan. Di bawah ini kami sajikan hasil pengamatan yang penulis lakukan.55 atau tulisan yang muncul. Nilai setelah pelaksanaan siklus I dan grafik nilai perolehan anak pada siklus I. Semangat yang timbul adalah semangat hanya untuk bermain.

56 Hasil dari evaluasi membaca pada akhir siklus I menunjukkan adanya peningkatan sebagai berikut: Tabel 3 Nilai setelah pelaksanaan siklus I Nilai Ulangan Membaca Permulaan Anak Tunagrahita Semester I Kelas B Taman Kanak-Kanak Elim Sragen Tahun Pelajaran 2010/2011 No Kode Pre test Post test Kemajuan Keterangan 1 F 27 45 66.6% Belum tuntas 2 IR 30 55 83.3% Belum tuntas Dari nilai yang diperoleh anak setelah pelaksanaan siklus I dapat dibuat grafik sebagai berikut: Grafik Hasil Perolehan Nilai Kemampuan Membaca Setelah Siklus I 606162 .

menyusun dan membaca perlu ditingkatkan. Pelaksanaan Siklus II Kegiatan perencanaan tindakan II dilaksanakan pada hari Senin. Peningkatan prestasi belajar kedua subjek tersebut dibandingkan dengan KKM yang ditetapkan masih jauh dari harapan. atau meningkat 66. 2) Hasil belajar membaca permulaan kedua subjek tersebut jika dibandingkan dengan KKM yang ditentukan baru mencapai dan Ian baru mencapai telah ditentukan oleh sekolah. Memfokuskan perhatian anak kepada hasil yang akan dicapai harus lebih ditekankan. 9 Agustus 2010 di ruang kelas B Taman Kanak-Kanak Elim Sragen dan di lingkungan sekolah. Perbaikan pada siklus II mengacu pada kekurangan-kekurangan yang telah disebutkan di atas. atau belum tuntas. Frekuensi lemparan. ada beberapa hal yang penulis sampaikan. ss 70 45 70 x100 = 64% bagi Farel x100 = 79% . 3) Kesimpulan dari siklus I adalah tindakan yang dilaksanakan belum dapat meningkatkan prestasi belajar membaca permulaan terhadap keadaan subjek. 3. Refleksi ( Reflecting) Hasil dari proses pembelajaran dalam siklus I dari perencanaan sampai pada kegiatan evaluasi. maka diperlukan lagi perencanaan pada siklus berikutnya.57 d. yakni: 1) Hasil tindakan pada siklus I telah menunjukkan kenaikan yang berarti. 20 Juli 2010. Sedangkan rencana pelaksanaan tindakan dilaksanakan siklus II pada hari Selasa.3 % bagi Ian.6% bagi Farel dan 83. artinya masih di bawah KKM yang .

7) Membuat lembar pengamatan. 4) Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran untuk siklus II 5) Menyiapkan media pembelajaran yaitu dadu yang bersimbolkan huruf. 6) Membuat lembar penelitian siswa yaitu berupa tes. Instrumen tes ini digunakan untuk meneliti kemampuan membaca permulaan pada anak. Kelompok vokal berada pada kotak dua atau kelompok dua. Guru memberikan beberapa soal kepada anak sebagai pre test. kaki. Tindakan (Acting) Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar.mata. yaitu membaca huruf. b. 8) Menentukan jadwal pelaksanaan tindakan. Perencanaan Rancangan prosedur penelitian dalam kegiatan perencanaan adalah: 1) Menganalisa kembali hal. . guru memberikan apersepsi dengan membuka percakapan tentang nama benda di sekitar siswa.58 Siklus II dimaksudkan untuk mengadakan perbaikan pada siklus I. Semua nama-nama benda tadi dapat di tulis dengan huruf-huruf yang terdapat dalam abjad. Selanjutnya anak disuruh menyebutkan huruf-huruf yang ada dalam abjad dan diteruskan lagu “ abcdefg“. Guru menunjukkan dadu huruf kepada siswa yang berisi simbulsimbul huruf yang ada pada setiap sisinya. bola. suku kata dan kata. Siklus II terdiri dari : a.hal yang telah dievaluasi pada siklus I 2) Memperbaiki kesalahan/ kekurangan pada siklus I 3) Menentukan dan menyiapkan materi pengenalan huruf kepada anak. Kelompok konsonan berada pada kotak satu atau kelompok satu. sehingga hal-hal yang ingin dicapai dalam upaya meningkatkan kemampuan membaca permulaan pada siswa kelas B Taman Kanak-Kanak Elim tercapai. yaitu kaca. Guru menjelaskan dan menyebutkan kelompok vokal atau huruf hidup dan konsonan atau huruf mati kepada siswa.

.59 Guru memberi tugas kepada siswa untuk mengambil dadu huruf. Guru memberikan beberapa soal kepada anak sebagai post test yaitu membaca huruf. sehingga pada siklus II anak nampak lebih tertib. Guru memberi tugas kepada siswa untuk mengambil dua dadu huruf (KV). melempar dan membacanya sebanyak sepuluh kali. Pemberian hadiah/ penghargaan pada setiap keberhasilan yang dicapai anak. suku kata dan kata. Pemberian tugas kepada siswa mengambil empat dadu (KVKV). mudah diatur dan diarahkan serta semangat yang tinggi muncul pada siklus II. Setelah diadakan perbaikan dalam penanganan anak atau pengkondusifan kondisi dalam pembelajaran dan pemberian hadiah/ reward pada siklus II ternyata mampu meningkatkan motivasi anak. Semangat tersebut dapat terlihat dari keceriaan anak dalam mengikuti pembelajaran. terhadap minat belajar pada anak tunagrahita di kelas B Taman Kanak-Kanak Elim Sragen. tidak terjadi kejenuhan sampai selesainya kegiatan pembelajaran. menyusun dan membacanya sebanyak lima kali. melempar. Pengamatan (observing) Hasil observasi terhadap kegiatan pembelajaran membaca permulaan melalui media lempar dadu huruf pada siklus II menunjukkan bahwa dalam pelaksanaan pembelajaran muncul semangat yang lebih besar dibanding dengan siklus I. untuk mengetahui sejauhmana anak menagalami kemajuan setelah pembelajaran berlangsung c. Pemberian hadiah/ penghargaan pada setiap keberhasilan yang dicapai anak. melempar dan membacanya sebanyak sepuluh kali. Pemberian hadiah/ penghargaan pada setiap keberhasilan yang dicapai anak. Hal ini disebabkan telah diperbaikinya kekurangan-kekurangan yang muncul pada siklus I. yakni kurang penguasaan guru terhadap murid dan pengarahan terhadap tujuan penelitian dan tidak diberikannya reward atau penghargaan pada siklus I.

Hasil pengamatan dapat dilihat pada lembar pengamatan seperti di bawah ini: Lembar Pengamatan Kemampuan Membaca Permulaan pada Siklus II Anak Tunagrahita Kelas B Taman Kanak-Kanak Elim Sragen Aspek yang diamati Farel Ian Ya Tidak Ya Tidak √ Frekuensi kesalahan dalam membaca √ √ Kesalahan membedakan huruf b dengan d √ √ Kesalahan membedakan huruf p dengan q √ √ Kesalahan membedakan huruf m dengan n √ √ Kesalahan membedakan huruf s dengan z √ √ Kesalahan membedakan huruf v dengan u √ √ Membaca terlalu lama √ √ Tidak mengikuti pelajaran dengan √ sungguh-sungguh √ Tiduran √ √ Tidak mengerjakan tugas √ √ Mengganggu teman-teman √ Berceritera atau berteriak-teriak √ √ saat pelajaran berlangsung √ No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Hasil dari evaluasi membaca pada akhir siklus II menunjukkan adanya peningkatan sebagai berikut: .60 Di bawah adalah hasil pengamatan yang penulis lakukan. Nilai setelah pelaksanaan siklus II dan grafik nilai perolehan anak pada siklus II. melalui lembar pengamatan.

Refleksi Hasil dari proses pembelajaran dalam siklus II dari perencanaan sampai pada kegiatan evaluasi.61 Tabel 4 Nilai setelah pelaksanaan siklus II Nilai Ulangan Membaca Permulaan Anak Tunagrahita Semester I Kelas B Taman Kanak-Kanak Elim Sragen Tahun Pelajaran 2010/2011 No Kode Pre test Post test Kemajuan Keterangan 1 2 F IR 45 55 70 75 55.6% Tuntas Tuntas Dari nilai yang diperoleh anak setelah pelaksanaan siklus II dapat dibuat grafik sebagai berikut: d. yakni: Hasil belajar membaca Farel menunjukkan peningkatan dari siklus I yaitu dari nilai 45 menjadi 70. terdapat peningkatan kognitif pada anak yaitu peningkatan kemampuan membaca permulaan anak Farel dan Ian.5% 36. Farel mengalami kenaikan nilai sebesar 45 70 x100 = 55.5% .

B. Namun masih sering keliru membedakan huruf n dengan m. Hasil Penelitian Berdasarkan tindakan yang dilakukan pada setiap siklus.62 pada siklus II. yang berarti telah berhasil mencapai KKM yang ditetapkan sekolah. Perubahan sikap dalam pembelajaran pada anak Farel. Hasil belajar membaca Ian menunjukkan peningkatan dari siklus I yait dari nilai 55 menjadi 75.6% pada siklus II. sudah mampu membedakam huruf b dengan b. mengerjakan tugas dengan baik. yaitu: Mengalami penurunan frekuensi kesalahan dalam membaca. namun seperti kebiasaan sebelumnya anak Ian suka mengganggu teman-temannya dan suka berteriak-teriak saat mengikuti pelajaran. Anak mampu membaca lebih lancar. yang berarti telah berhasil melampaui KKM yang ditetapkan sekola yaitu 70. mengikuti pembelajaran dengan sungguh-sungguh. 2. v dengan u. s dengan z. yaitu 70. .mampu membedakan huruf m dengan n. Perubahan sikap dalam pembelajaran pada anak Ian. sudah mampu membedakam huruf b dengan b. yaitu: Mengalami penurunan frekuensi kesalahan dalam membaca. tidak tiduran saat mengikuti pelajaran. mengikuti pembelajaran dengan sungguhsungguh. s dengan z. Ian mengalami kenaikan nilai sebesar 55 70 x100 = 36. dapat dihasilkan tindakan antar siklus sebagai berikut: 1. tidak tiduran saat mengikuti pelajaran. mengerjakan tugas dengan baik. v dengan u. p dengan q. p dengan q. Anak mampu membaca lebih lancar.

dapat dilihat dalam grafik di bawah ini: Grafik Perolehan Nilai kemampuan Membaca Pre test. Siklus I. Siklus II .63 Tabel 5 Nilai kemampuan yang dicapai anak No Kode Peningkatan yang dicapai Pre test Siklus I Siklus II 1 2 F IR 27 30 45 55 70 75 Hasil perkembangan/ kemajuan dicapai oleh subjek.

5 Dari hasil kegiatan penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa anak mengalami peningkatan kemampuan dalam membaca permulaan.Rata 28.5 50 72. melalui media yang sesuai dengan karakter anak pada umumnya yakni bermain. Anak tunagrahita umumnya mengalami keterlambatan atau tertinggal dalam kemampuan membacanya dibanding dengan teman normal yang sebayanya. dan sesuai .64 3. Kesimpulan Setelah dilakukan pembelajaran dengan menggunakan media lempar dadu huruf. C. Kemampuan membaca anak tunagrahita kelas B Taman Kanak-kanak Elim Sragen perlu ditingkatkan semaksimal mungkin. Pembahasan Kemampuan membaca memiliki peran yang sangat besar dalam kema-juan anak didalam proses belajar khususnya dan pada perkembangan umumnya. anak mengalami peningkatan dalam kemampuan membaca permulaan pada tiap siklus yang diksanakan. Peningkatan yang dicapai anak dari awal sampai akhir dapat dilihat dalam tabel di bawah ini: Tabel 6 Nilai Kemampuan membaca yang di peroleh anak selama kegiatan penelitian No 1 2 Kode F IR Kondisi Awal 27 30 Siklus I 45 55 Siklus II 70 75 Rata . Sehingga anak mampu membaca permulaan dengan lebih lancar.

Kelemahan-kelemahan media bermain lempar dadu huruf diantaranya adalah: a. Untuk membaca suku kata memerlukan waktu yang agak lama karena harus melempar dua atau tiga huruf kemudian disusun dan dibaca. Untuk membaca suku kata anak harus mengambil empat dadu (KVKV). misalnya berhitung. karena anak harus melempar terlebih dahulu sebuah dadu kemudian memperhatikan untuk dibaca. walaupun memiliki kelemahan. mendorong peneliti untuk mencobakan media yang menarik minat anak dalam belajar membaca yakni media bermain lempar dadu huruf. Keyakinan peneliti akan adanya kemajuan dalam setiap usaha. kadang-kadang vokal yang muncul setelah digabung dengan konsonan tidak membentuk kata yang memiliki arti. lalu mengambil dadu pada kelompok konsonan dan dilemparkan. sehimgga mampu membangkitkan motivasi bagi anak serta mendorong anak agar belajar lebih giat lagi. Kadang-kadang huruf yang muncul tidak membentuk kata yang punya arti. warna dan lain sebagainya.ran membaca yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan membaca permu-laan pada anak. Media bermain lempar dadu huruf sangat menarik dalam pembelajaran. pengenalan bentuk. Contoh: 1) lemparan pertama konsonan yang muncul adalah b . Media bermain lempar dadu huruf dalam penelitian ini penulis gunakan sebagai sarana dalam pembelaja. 1. diliempar. disusun kemudian dibaca. b. Media bermain lempar dadu huruf adalah bentuk permainan yang dapat digunakan sebagai sarana pembelajaran anak dalam berbagai hal. Misalnya anak mengambil dadu pada kelompok vokal dan dilemparkan.65 dengan karakter anak tunagrahita khususnya yakni belajar dengan hal-hal yang kongkrit agar mu-dah dimengerti anak. Menyita banyak waktu Untuk membaca satu huruf memerlukan banyak waktu.

anak merasa bersemangat dan kepercayaan dirinya tumbuh. 2. Jika anak menghasilkan lemparan yang setelah disusun ternyata kata tersebut tidak memiliki arti. b. tidak hanya sebanyak jumlah huruf dalam satu abjad akan tetapi lebih dari itu. Saat anak memilih . teruskan saja anak membaca kemudian diberi pujian saat dia sudah berusaha melempar dan membaca. diadakan kerjasama dengan teman atau guru dalam menyusun urutan lemparan. sehingga anak aktif. menyusun dan membacanya. Memerlukan banyak sekali dadu. Kelebihan dari pembelajaran membaca permulaan lewat bermain lempar dadu huruf ini adalah : a. Anak diberi kesempatan untuk mengambil/memilih. agar kata-kata yang dapat disusun oleh anak dalam jumlah yang banyak dan bervariasi. Beri penjelasan kalau kata tersebut tidak memiliki arti. Pemberian kesempatan kepada anak untuk menentukan pilihan merupakan hal yang menyenangkan bagi anak. Tidak mengantuk dan bosan karena anak beraktifitas dengan aktif. Anak memilih sendiri dadu huruf yang dilemparnya sehingga anak bersemangat. b. 1. Untuk menyingkat waktu. c. Dadu harus dipersiapkan dalam jumlah yang banyak. Jangan menyusun terlalu banyak kata sekaligus yang memerlukan terlalu banyak dadu. Lakukan dengan menyusun satu atau dua kata kemudian dibaca.66 2) lemparan kedua vokal yang muncul adalah i 3) lemparan ketiga konsonan yang muncul adalah m 4) lemparan keempat vokal yang muncul adalah u Kata yang muncul setela dadu disusun adalah b i m u c. melempar. jadi anak yang melempar tidak harus bolak-balik menyusun huruf yang dilemparnya. Cara mengatasi kelemahan-kelemahan dalam pembelajaran melalui media bermain lempar dadu huruf adalah: a. akan tetapi anak telah bagus dalam melaksanakan tugasnya.

Anak yang belum dapat menyusun huruf menjadi kata akan berusaha mencoba lagi sehingga mereka memiliki keinginan untuk mencoba dan mencoba lagi. Setelah melempar anak dengan senangnya cepat-cepat ingin mengetahui apa isi/ bacaan dari lemparan yang akan disusunnya. Anak tertarik untuk mengetahui huruf apa yang keluar dan kata apa yang muncul dari setiap lemparan yang dibuatnya sendiri. Anak ingin segera membaca dari hasil lemparan yang telah disusun tadi dengan mengaktifitaskan aspek kognitifnya. Media bermain lempar dadu huruf sangat membantu anak dalam pembelajaran. sehingga tercapai tujuan pembelajaran.67 ada aktifitas dalam segi kognitif dan motorik halus. saat anak melempar ada aktifitas dalam motorik kasarnya. Untuk itu perlu dipergunakan sebagai media pembelajaran sehari-hari guna membantu anak dalam meningkatkan minat belajarnya. . c. termasuk dalam meningkatkan kemampuan membaca anak. Anak akan merasa bangga jika huruf yang dilemparnya dapat membentuk suatu kata yang memiliki arti. Saat menyusun aktifitas dalam kognitifnya bekerja. motorik halusnya juga bekerja.

Hasil penelitian ini hendaknya dipergunakan sebagai sarana pembelajaran yang menarik dan mampu memotivasi semangat belajar sehingga dapat tercapai perkembangan yang optimal. Saran Sehubungan dengan kesimpulan penelitian di atas. Bagi Guru a. b. Berkreatifitas untuk menggunakan sesuatu yang ada di sekitarmu bagi peningkatan kemampuan yang kalian miliki. Bagi Siswa a. B. 2. Guru Taman Kanak-Kanak Elim hendaknya menerapkan pembelajaran dengan menggunakan media bermain lempar dadu huruf pada pelajaran membaca permulaan. bahwa pembelajaran dengan media bermain lempar dadu huruf Sragen tahun pelajaran 2010/2011. b. karena media tersebut ternyata efektif digunakan sebagai sarana untuk meningkatakan kemampuan membaca permulaan pada anak.68 BAB V SIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut. sehingga pertumbuhan dan perkembangan anak berjalan dengan maksimal dapat meningkatkan kemampuan membaca permulaan pada anak tunagrahita kelas B Taman Kanak-kanak Elim . Guru-guru hendaknya kreatif menggunakan media lempar dadu huruf sebagai sarana yang bervariasi dalam pembelajaran agar mampu membangkitkan minat belajar pada anak. maka diajukan saran sebagai berikut: 1.

com/2009/01/pengertian-membaca. Pengertian Tes. Muhammad Idrus. Rineka cipta. Mengenal Pendidikan Terpadu. 2009. Tunagrahita. dkk.com/2009/07/karakteristik-anaktunagrahita.html http://mathedu-unila. 2009.yuwie.. Jakarta.blogspot. Direktorat Pendidikan Luar Biasa. Pendidikan bagi anak berkesulitan belajar.asp?id=932768 & eid=602755 Devid Haryalesmana. http://r.wordpress. Psikologi Perkembangan Anak I. 2006.com/pengertiandefinisi-tes-dalam-psikologi. http://astati. dan Pemanfaatan ) . Munawir Yusuf.blogspot. Indonesia Metode Penelitian Ilmu . FKIP Surakarta.psikologzone.html. Pengembangan . Media Pendidikan ( Pengertian . http://Mbahbrataedu. PengertianMembaca. 2007. http://guruit07. 2009. 2004. Pendidikan bagi Anak dengan Problema Belajar. Hj. Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi.com/2009/06/membaca-permulaan-permainan-bahasa. 2009.com/2009/10/pengertian- Mbahbrata. 2009. 2007.com/2010/05/02/tunagrahita/ Dounloud 21 Juni 2010 Baitul Alim. Dounload 12 April 2010. Jakarta. Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Perguruan Tinggi.2010. . Departemen Pendidikan Nasional. Membaca permulaan dan permainan bahasa.com/blog/entry.blogspot.html Fu’adz Al-gharuty.com/2009/02/02/studidokumen-dalam-penelitian-kualitatif. indonesia/article/view/272/0 Mathedu. 2003. Graha Mulyono Abdurrahman. Defli. 2005.ilmu Sosial. 2009. http://adzeglar. membaca. Dounloud 21 juni 2010 Arif Sadiman S. http://www. Chasiyah.blogspot.wordpress.69 DAFTAR PUSTAKA Anggie Siti Sa’adah. Karakteristik Anak Tunagrahita http://saunganggie. Duonloud 10 juni 2010. Jakarta : PT Raja Gravindo Persada Astati. 2003. Pengertian Anak Tunagrahita.

http://media-grafika.id/index. 2009. Suharsimi Arikunto. 2005. Jakarta Bumi Aksara Purwodarminto. http://karya-ilmiah. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Surakarta. Proyek Pendidikan Tenaga Akademik. Seva Andini Kusnawanto. Penilaian Sertifikasi Guru Rayon 13. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek ( Edisi Revisi IV ). 2 dan 3 Yogyakarta: Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi UGM. Jakarta. Penerapan Metode Pembelajaran Membaca Permulaan. 2000. 1993. 2008. Jakarta. Direktorat Jedral Pendidikan Tinggi. 2008.um.com/pengertian-mediapembelajaran. _______________ Kecenderungan dalam Pendidikan Luar Biasa. Dounload 12 April 2010. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi.70 Oemar Hamalik.com/2008/12/02 penerapan-metode pembelajaran permulaan. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dan penulisan Karya Ilmiah. Mengelola Kurikulum pada Pendidikan Inklusi. Sutjihati Somantri. Makalah Simposium dan Temu Ilmiah Nasional. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Dounloud 17 juni 2010. 2007. Pendit. Jenis Data Dan Metode Pengumpulan Data . PL 2010. 1996. Sutrisno Hadi. . Belajar dan Faktor – Faktor yang Mempengarui. Wikipedia.Jakarta : Bumi Aksara. 2008.com/ Dounload 2010 Mei 12. perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. http://tarmizi.html. Psikologi Anak Luar Biasa.2009. Tarmizi.php/sastraIndonesia/article/view/272/0 Slameto. Difinisi media http://mataharieducare. Sarwiji Suwandi.wordpress. Jakarta : Dirjen Dikti Depdiknas. 2005. Jakarta. Wijaya Kusumah. Jakarta : Rineka Cipta Sunardi. 2007.ac.wordpress. Proyek Pendidikan Tenaga Guru. Balai Pustaka. Metodologi Research Jilid 1. WJS 1984.

71 Metode Pembelajaran http://tarmizi. Difinisi media http://mataharieducare. Dounloud 17 juni 2010. 2007.wordpress.com/pengertian-mediapembelajaran.html.com/2008/12/02 permulaan.com/ Dounload 2010 Mei 12. Membaca penerapan-metode Permulaan. Wijaya Kusumah. Dounload 12 April 2010.2009.wordpress. . http://media-grafika. pembelajaran Wikipedia.

72 LAMPIRAN .

Berat badan 7.73 DATA ANAK A. Tempat/tgl lahir 4. Jenis Kelamin 3. Sragen 2. Berat badan 7. Sekolah B. Tempat/tgl lahir 4. Agama 5. Sragen . Sekolah : Ian Rudyanto : Laki-laki : Sragen. Kelas 8. 1. Agama 5. 6 Juli 2005 : Kristen : 119 Cm : 18 Kg :B : Taman Kanak-Kanak Elim. 1. 17 September 2005 : Kristen : 123 Cm : 20 Kg :B : Taman Kanak-Kanak Elim. Tinggi badan 6. Jenis Kelamin 3. Kelas 8. Nama anak : Farel : Laki-laki : Sragen. Nama anak 2. Tinggi badan 6.

Perbaikan dan penggandaan hasil penelitian. 6. Penulisan Bab V. Keterangan 2 II-IV Juli 2010 Melaksanakan pre test. item soal. 1 Minggu Ke/Bulan I Juli 2010 Kegiatan Melakukan observasi ke kelas Pembuatan kisi-kisi. Pelaksanaan siklus II 5 I-IV September 2010 4. Pelaksanaan tindakan siklus I. Penyelesaian skripsi. Evaluai 3 I Agustus 2010 Menyiapkan Instrument pelaksanaan siklus II 4 II-IV Agustus 2010 Melaksanakan pre test. 5.74 Lampiran 1 Jadwal Kegiatan Penelitian No. Penulisan laporan hasil penelitian dan pembahasan. lembar pengamatan. .

Dapat menyebut kata dibantu gambar 1. Dapat menempel suku kata yang kurang pada tengah kata dengan bantuan gambar 6.75 Lampiran 2 Kisi – kisi instrumen N0 Standar Kompetensi 1. Dapat menempel gambar sesuai kata 3. Dapat menempel suku kata yang kurang pada awal kata dengan bantuan gambar 5.3 Menulis kata sederhana dengan benar Jumlah 10 7. Pembentukan Perilaku melalui Pembiasaan Kompetensi Dasar 1. Dapat menempel suku kata yang kurang di belakang kata dengan bantuan gambar 1.1 Mendengarkan Bacaan/ syair bernafaskan agama Indikator 1. Dapat menempel kata sesuai gambar 2.2 Membaca Mengungkapkan isi syair 4. Dapat menulis kata sederhana 10 9 8 7 3-4 5-6 N0 Item 1-2 .

76 Cara Penilaian Jawaban benar nilainya Jawaban salah nilainya Nilai akhir = Skor 1 =1 =0 = 10 Skor total jika benar semua nilainya .

..... Nanas a. Pisang 3.... c pada jawaban yang benar ! 1...... Nanas b. c...... .. Berilah tanda silang ( X ) huruf a. Mawar a.. Jeruk c.. .... Pisang 2.... b.... a. Jeruk c........ b....77 Lampiran 3 SOAL TRY OUT Nama : Kelas : Test tertulis I.. .. . b.

.. a....... Lengkapilah a. ru ....... ................ ....78 4. 5. c............. 7... ra b......... Gambar apakah ini. mah . Gambar apakah ini................ Gajah b.. .. 6.... ... ri c......

. Sri Mulyati .79 8 . . la b...nga 9.. rik b. rak * Tulislah nama gambar di bawah ini 10...... Elim Sragen Sragen.. ruk c. .. lo Te... a.... Mengetahui Ka TK. . ... 14 Juli 2010 Guru kelas B.. je .. TK Elim Sragen Dobirson S. a.. li c....

Menyusun huruf menjadi kata . Taman Kanak-Kanak / I : 1 : 1 x 30 menit A. Membaca sederhana 4.80 Lampiran 4 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ( RPP ) SIKLUS I Pengembangan Tema Kelas / Semester Pertemuan Alokasi Waktu : Bahasa Indonesia : Tanaman : B. Indikator : : 1.14 Bercerita Menyebutkan nama tokoh dalam cerita 1. Standar Kompetensi : 1.12 Mengelompokkan kata-kata yang sejenis C. Menceritakan gambar tanaman 3. Kompetensi Dasar 1. Mengelompokkan kata-kata yang sejenis 6.16 Menghubungkan tulisan dengan gambar 1. Pembentukan perilaku melalui pembiasaan B. Menghubungkan tulisan dengan gambar 5. Menyebutkan nama tokoh dalam cerita 2.

Pak Sardi pergi kota naik kuda. Pisang. Anak dapat menyusun huruf menjadi kata. Anak dapat menyebutkan tokoh-tokoh dalam cerita. 6. mobil dan . sepeda motor. Pak Sardi menjual hasil kebunnya ke kota. Anak dapat membaca nama tokoh-tokoh dalam cerita. Anak dapat menceritakan kembali cerita dari gambar seri dengan bahasanya sendiri. 3. Ia menanam buah-buahan Jeruk.81 D. Anak dapat mengelompokkan kata-kata yang sejenis. Tujuan Pembelajaran : 1. E. 2. 7. Mangga dan masih banyak lagi buah yang lainnya. ia sangat rajin. 5. Di kota terdapat banyak kendaraan ada becak. Anak dapat menghubungkan tulisan dengan gambar secara tepat. Nanas. Materi Pelajaran * Tanaman Pak Sardi finggal di desa. Anak dapat membaca peristiwa dalam cerita melalui tulisan yang ada dalam Gambar. 4.

3. Langkah – langkah Kegiatan Pembelajaran. Kegiatan awal a. Anak menyusun huruf menjadi kata dengan menggunakan dadu huruf . Becal F. Anak diajak duduk dalam suasana belajar . Sepeda motor Mobil 4. berdoa dan presensi b. Metode Pembelajaran 1. Pemberian tugas. f. demonstrasi dengan gambar dan dadu. Ceramah. 1. a. Anak mendengarkan guru tentang cerita dari gambar b. Anak menyebutkan nama tokoh yang ada dalam cerita c. G. Anak mengerjakan tugas menghubungkan gambar dengan tulisan yang sesuai. Tanya jawab. Anak menceritakan kembali dengan bahasanya sendiri d. Apersepsi 2. Kegiatan Inti. 2.82 Kendaraan yang lain-lainnya. Anak membaca tulisan yang ditunjukkan guru e.

Test Lisan : dilaksanakan pada proses pembelajaran berlangsung. Siswa diberi tugas guru untuk dikerjakan c. Dadu huruf : Kreasi guru : Buku PAUD. Sumber Bahan : Kartu bergambar. Penerbit Makmur Jaya Seri 5. Melempar dadu huruf. Guru memberi pekerjaan untuk dikerjakan dirumah d. Penilaian / Evaluasi 1. Guru menyimpulkan materi yang telah disajikan b. menempel gambar sesuai kata yang tertulis. 2. halaman 5-6. Alat dan Sumber Bahan 1. menempel kata sesuai dengan gambar. Alat / media Pelajaran 2. Test perbuatan dan lesan : a. Mampu melakukan sendiri dengan baik dan benar diberi sekor 4 Mampu melakukan dengan sedikit bantuan diberi sekor Mampu melakukan dengan banyak bantuan diberi sekor Belum mampu melakukan diberi skor 3 2 1 . Menempel suku kata yang kurang sesuai gambar d. Kegiatan Akhir a. c. H. b. I.83 3. Guru menilai hasil pekerjaan siswa dan menyimpulkannya. menyusun dan membaca Kreteria Penilaian Kenerja.

.. 2 3 4 Aspek yang dinilai Menempel kata sesuai gambar yang tertulis Menempel gambar sesuai dengan kata.84 Skor perolehan 4 3 2 1 N0 1. 16 x 10 = = NA = -------------- .. Jumlah Skor maksimum 4 4 4 4 16 Jumlah skor yang diperoleh x 10 Nilai Akhir = Skor maksimum = . Menempel suku kata yang kurang sesuai gambar Menyusun huruf dengan lemparan dadu dan membacanya.

Berilah tanda silang ( X ) huruf a.... b... b.......85 J..... a.......... c.... Pisang b. . Pisang b... a. Mawar a. .. Test tertulis I..... c pada jawaban yang benar ! 1.... Jeruk c. Nanas 3. Nanas 2... Jeruk c.. ... .

Gajah a....... 5........................ ...... b.......... Lengkapilah a......86 4............... c.. . 7. ra . Gambar apakah ini. ........ ru . . ri c.... Gambar apakah ini........ mah b.. 6.

..... a... rik b. Mengetahui Ka TK... TK Elim Sragen Dobirson S..... rak * Tulislah nama gambar di bawah ini 10. ruk c...nga 9. . Elim Sragen Sragen. . Sri Mulyati ...87 8 . .. li c. a.. je . lo Te. 16 Juli 2010 Guru kelas B. la b.... ...

88 Lampiran 5 Lembar Pengamatan Aktivitas dan Kemampuan Membaca Permulaan Siklus I N o 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Frekuensi kesalahan dalam membaca Kesalahan membedakan huruf b dengan d Kesalahan membedakan huruf p dengan q Kesalahan membedakan huruf m dengan n Kesalahan membedakan huruf s dengan z Kesalahan membedakan huruf v dengan u Membaca terlalu lama Tidak Tiduran Tidak mengerjakan tugas Mengganggu teman-teman Berceritera atau berteriak-teriak saat pelajaran berlangsung mengikuti pelajaran sungguh-sungguh √ √ Aspek yang diamati Farel Ya Tidak √ √ √ √ √ √ √ dengan √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Ian Ya Tidak √ √ √ Guru / Peneliti Sragen. 16 Juli 2010 Pengamat / Teman Sejawat ( SRI MULYATI ) ( IRA MUTIARANI ) .

3. memicu dan memelihara ketertiban siswa 3. Menjawab pertanyaan dari respon siswa 3. Menggunakan ekspresi lisan.2. situasi dan sesuai lingkungan 2.3. terkait dengan isi pembelajaran 3.Menggunakan alat Bantu ( media ) pembelajaran yang sesuai dengan tujuan. isyarat. dan Gerakan badan 3.1.2. situasi dan sesuai lingkungan 2. Melaksanakan tugas harian kelas 2.89 Lampiran 6 Lembar Pengamatan Kegiatan Guru dalam Pembelajaran Siklus I N0 1. Melaksanakan kegiatan pembelajaran secara individual. Aspek yang dinilai Mengelola ruang dan fasilitas pembelajaran 1.2. Mengelola interaksi kelas a. alat bantu dan sumber belajar 1. Mengelola pembelajaran waktu secara klasikal 3. Memberikan petunjuk dan penjelasan yang b.4.5. 2. Memantapkan penguasaan materi v v v v v v v v v Ya v v Tdk . Melaksanakan kegiatan pembelajaran 2. kelompok atau efiensi. tulisan .4. Menyiapkan ruangan.1 Melaksanakan jenis kegiatan yang sesuai dengan Tujuan.

Membantu siswa menyadari kelebihan dan kekurangannya 4. penuh pengertian dan sabar terhadap siswa. Menunjukkan kegairahan mengajar 4. hangat luwes.4. Bersikap terbuka dan luwes serta membantu mengembangkan sikap positip siswa terhadap merespon materi 4. Membantu siswa menumbuhkan kepercayaan diri Melaksanakan evaluasi proses hasil belajar 5. terbuka. v v Guru / Peneliti Sragen.5. Melaksanakan penilaian selama pembelajaran 5. 16 Juli 2010 Pengamat / Teman Sejawat ( SRI MULYATI ) ( IRA MUTIARANI ) .3.1.2. 4. Melaksanakan penilaian pada pembelajaran proses akhir v v v v v 5. Mengembangkan hubungan antara pribadi yang sehat dan serasi 4.2.90 4. Menunjukkan sikap ramah.1.

16 Menghubungkan tulisan dengan gambar 1. Taman Kanak-Kanak / I : 1 : 1 x 30 menit A. Standar Kompetensi : 1. Menyusun huruf menjadi kata . Indikator : : 1. Kompetensi Dasar 1. Menceritakan gambar tanaman 3. Menghubungkan tulisan dengan gambar 5. Mengelompokkan kata-kata yang sejenis 6. Membaca sederhana 4.91 Lampiran 7 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ( RPP ) SIKLUS II Pengembangan Tema Kelas / Semester Pertemuan Alokasi Waktu : Bahasa Indonesia : Tanaman : B. Menyebutkan nama tokoh dalam cerita 2. Pembentukan perilaku melalui pembiasaan B.12 Mengelompokkan kata-kata yang sejenis C.14 Bercerita Menyebutkan nama tokoh dalam cerita 1.

Mangga dan masih banyak lagi buah yang lainnya. 5.92 D. ia sangat rajin. . Anak dapat menceritakan kembali cerita dari gambar seri dengan bahasanya sendiri. 6. Pak Sardi pergi kota naik kuda. 2. Nanas. Tujuan Pembelajaran : 1. Anak dapat mengelompokkan kata-kata yang sejenis. Pisang. 3. Pak Sardi menjual hasil kebunnya ke kota. Ia menanam buah-buahan Jeruk. 4. Anak dapat menghubungkan tulisan dengan gambar secara tepat. Anak dapat menyebutkan tokoh-tokoh dalam cerita. Anak dapat menyusun huruf menjadi kata. 7. Anak dapat membaca peristiwa dalam cerita melalui tulisan yang ada dalam Gambar. Materi Pelajaran * Tanaman Pak Sardi finggal di desa. E. Anak dapat membaca nama tokoh-tokoh dalam cerita.

sepeda motor. Apersepsi 2. Becak F. Anak diajak duduk dalam suasana belajar .93 Di kota terdapat banyak kendaraan ada becak. demonstrasi dengan gambar dan dadu. a. 2. Anak menceritakan kembali dengan bahasanya sendiri d. f. Sepeda motor Mobil 4. Tanya jawab. Langkah – langkah Kegiatan Pembelajaran. Anak mendengarkan guru tentang cerita dari gambar b. G. Pemberian tugas. Anak menyebutkan nama tokoh yang ada dalam cerita c. 1. Anak membaca tulisan yang ditunjukkan guru e. Kegiatan awal a. Kegiatan Inti. Ceramah. mobil dan Kendaraan yang lain-lainnya. Metode Pembelajaran 1. berdoa dan presensi b. Anak mengerjakan tugas menghubungkan gambar dengan tulisan yang sesuai. 3. Anak menyusun huruf menjadi kata dengan menggunakan dadu huruf .

Test perbuatan dan lesan : a.94 3. c. Kegiatan Akhir a. Dadu huruf : Kreasi guru : Buku PAUD. Alat / media Pelajaran 2. Guru menyimpulkan materi yang telah disajikan b. 2. I. H. Menempel suku kata yang kurang sesuai gambar d. menyusun dan membaca Kreteria Penilaian Kenerja. Penerbit Makmur Jaya Seri 5. halaman 5-6. menempel gambar sesuai kata yang tertulis. Mampu melakukan sendiri dengan baik dan benar diberi sekor 4 Mampu melakukan dengan sedikit bantuan diberi sekor Mampu melakukan dengan banyak bantuan diberi sekor Belum mampu melakukan diberi skor 3 2 1 . Guru memberi pekerjaan untuk dikerjakan dirumah d. Siswa diberi tugas guru untuk dikerjakan c. Guru menilai hasil pekerjaan siswa dan menyimpulkannya. Test Lisan : dilaksanakan pada proses pembelajaran berlangsung. menempel kata sesuai dengan gambar. Alat dan Sumber Bahan 1. b. Melempar dadu huruf. Sumber Bahan : Kartu bergambar. Penilaian / Evaluasi 1.

95 Skor perolehan 4 3 2 1 N0 1. Jumlah Skor maksimum 4 4 4 4 16 Jumlah skor yang diperoleh x 10 Nilai Akhir = Skor maksimum = .. 16 x 10 = = NA = -------------- ... 2 3 4 Aspek yang dinilai Menempel kata sesuai gambar yang tertulis Menempel gambar sesuai dengan kata. Menempel suku kata yang kurang sesuai gambar Menyusun huruf dengan lemparan dadu dan membacanya.

. .............96 J. .... Jeruk c. a..... Nanas 3.... .. a... Pisang b. Berilah tanda silang ( X ) huruf a... Mawar a. . Test tertulis I. c. c pada jawaban yang benar ! 1... Nanas 2.... Jeruk c. b... Pisang b.. b.......

......... b......... Gambar apakah ini... ru .... ra ... 5..... Lengkapilah a.. Gajah a....... 7.............................. Gambar apakah ini.. 6... .....97 4....... mah b. .... ri c. c.. . .

... ...... la b.nga 9. a.98 8 .. . . 9 Agustus 2010 Guru kelas B.. a. ruk c. . lo Te..... rik je . Sri Mulyati .. b.... rak * Tulislah nama gambar di bawah ini 10. li c. Mengetahui Ka TK... Elim Sragen Sragen. TK Elim Sragen Dobirson S.....

99 Lampiran 8 Lembar Pengamatan Aktivitas dan Kemampuan Membaca Permulaan Siklus II No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Aspek yang diamati Frekuensi kesalahan dalam membaca Kesalahan membedakan huruf b dengan d Kesalahan membedakan huruf p dengan q Kesalahan membedakan huruf m dengan n Kesalahan membedakan huruf s dengan z Kesalahan membedakan huruf v dengan u Membaca terlalu lama Tidak Tiduran Tidak mengerjakan tugas Mengganggu teman-teman Berceritera atau berteriak-teriak saat pelajaran berlangsung √ mengikuti pelajaran dengan sungguh-sungguh √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Farel Ya Tidak √ √ √ Ian Tidak √ √ √ √ √ √ √ √ Ya Guru / Peneliti Sragen. 9 Agustus 2010 Pengamat / Teman Sejawat ( SRI MULYATI ) ( IRA MUTIARANI) .

5. 2. tulisan . Menjawab pertanyaan dari respon siswa 3. Menggunakan alat Bantu ( media ) pembelajaran yang sesuai dengan tujuan. Menunjukkan kegairahan mengajar 4.1.2. Memantapkan penguasaan materi Bersikap terbuka dan luwes serta membantu mengembangkan sikap positip siswa terhadap merespon materi 4.5.100 Lampiran 9 LEMBAR OBSERVASI KEGIATAN GURU DALAM PEMBELAJARAN SIKLUS II Aspek yang dinilai Ya Mengelola ruang dan fasilitas pembelajaran 1. Tdk 2. situasi dan sesuai lingkungan 2. alat bantu dan sumber belajar v 1.4.2.1 Melaksanakan jenis kegiatan yang sesuai dengan Tujuan.2.1. Memberikan petunjuk dan penjelasan yang terkait dengan isi pembelajaran 3.1. Menyiapkan ruangan.2. dan Gerakan badan 3. 4. Menunjukkan sikap ramah. 4. kelompok atau efiensi. Mengembangkan hubungan antara pribadi yang sehat dan serasi 4. Melaksanakan evaluasi proses hasil belajar 5. 3. Melaksanakan kegiatan pembelajaran secara individual. penuh pengertian dan sabar terhadap siswa. Membantu siswa menumbuhkan kepercayaan diri 5. .1. Melaksanakan penilaian selama proses pembelajaran 5.3. Menggunakan ekspresi lisan.4. terbuka. Melaksanakan penilaian pada akhir pembelajaran v v v v v v v v v v v v v v v v N0 1. hangat luwes.2. memicu dan memelihara ketertiban siswa 3. Melaksanakan tugas harian kelas v Melaksanakan kegiatan pembelajaran 2. Mengelola pembelajaran waktu secara klasikal Mengelola interaksi kelas 3. situasi dan sesuai lingkungan 2.3. isyarat.3.4. Membantu siswa menyadari kelebihan dan kekurangannya 4.

101 Pengamat/Teman Sejawat ( SRI MULYATI ) ( IRA MUTIARANI ) Kegiatan Pembelajaran dengan Media Lempar Dadu Huruf .

102 .

103 .

104 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful