1

SKRIPSI PENELITIAN TINDAKAN KELAS UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA PERMULAAN MELALUI MEDIA BERMAIN LEMPAR DADU HURUF PADA ANAK TUNAGRAHITA KELAS B SEMESTER I DI TAMAN KANAK-KANAK ELIM SRAGEN TAHUN PELAJARAN 2010/2011

Disusun Oleh : SRI MULYATI NIM X 5108526

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KHUSUS FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2010

2

UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA PERMULAAN MELALUI MEDIA BERMAIN LEMPAR DADU HURUF PADA ANAK TUNAGRAHITA KELAS B SEMESTER I DI TAMAN KANAK-KANAK ELIM SRAGEN TAHUN PELAJARAN 2010/2011

OLEH: SRI MULYATI NIM: X5108526

SKRIPSI

Ditulis dan diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan Mendapat gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Khusus Jurusan Ilmu Pendidikan

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KHUSUS FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2010 ii

3

PERSETUJUAN

Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahan dihadapan tim penguji skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta

Persetujuan pembimbing,

Pembimbing I

Pembimbing II

Drs. A.Salim Choiri, M.Kes NIP. 195709011982031002

Drs. Subagya,M.Si NIP.19601001012

iii

4

PENGESAHAN Skripsi ini telah dipertahankan dihadapan Tim Penguji Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta dan diterima untuk memenuhi peryaratan mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan. Pada hari Tanggal : Rabu : 13 Oktober 2010

Tim Penguji Skripsi Ketua Sekretaris Anggota I Anggota II : Drs. Maryadi, M.Ag : Dra.B. Sunarti, M.Pd : Drs. Abdul Salim, M.Kes : Drs. Subagya, M.Si

Tanda tangan ............................................ ............................................ ............................................ ............................................

Disyahkan oleh Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Dekan,

Prof.Dr. M. Furgon Hidayatullah, M.Pd NIP.19600727 1987021001

iv

5

ABSTRAK Sri Mulyati, UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA PERMULAAN MELALUI MEDIA BERMAIN LEMPAR DADU HURUF PADA ANAK TUNAGRAHITA KELAS B SEMESTER I DI TAMAN KANAK-KANAK ELIM SRAGEN TAHUN PELAJARAN 2010/2011 Skripsi, Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret, September 2010. Penelitian ini bertujuan untuk untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan pada anak yang mengalami keterlambatan berpikir/ tunagrahita pada kelas B Taman Kanak-Kanak Elim tahun pelajaran 2010/2011. Metode penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yaitu penelitian yang dilakukan oleh guru di kelas tempat mengajar, dengan menggunakan media bermain lempar dadu huruf yang mampu meningkatkan kegairahan dalam mengikuti pembelajaran membaca, mampu memotivasi anak sehingga anak tidak merasa jenuh dalam belajar. Teknik analisis data digunakan analisis perbandingan, artinya hasil prestasi kemampuan membaca anak dibandingkan, kemudian dideskripsikan ke dalam suatu bentuk data penilaian yang berupa nilai. Dari prosentase dideskripsikan kearah kecenderungan tindakan guru dan reaksi serta hasil belajar siswa. Penelitian tindakan kelas yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa Pembelajaran dengan mengggunakan media bermain lempar dadu huruf dapat meningkatkan kemampuan anak dalam membaca permulaan, pada Anak Tunagrahita Kelas B semester I di Taman Kanak-Kanak Elim tahun pelajaran 2010/2011. . Kata kunci : Anak Tunagrahita, pembelajaran membaca, media lempar dadu huruf, meningkatkan kemampuan membaca permulaan.

v

6

ABSTRACT Sri Mulyati, THE ATTEMPT OF IMPROVING THE BEGINNING READING COMPETENCY USING LETTER DICE THROWING GAME MEDIA IN THE MENTAL RETARDED B GRADERS OF SEMESTER I IN SRAGEN ELIM KINDERGARTEN IN THE SCHOOL YEAR OF 2010/2011. Thesis, Surakarta: Teacher Training and Education Faculty, Sebelas Maret University, September 2010. This research aims to improve the beginning reading competency using letter dice throwing game media in the mental retarded B graders of semester I in Sragen Elim Kindergarten in the school year 2010/2011. The research method used was Classroom Action Research (CAR), the one conducted by the teacher in my class, using the letter dice throwing game media that can improve excitement in following the reading learning, can motivate children so that the children are not bored in learning. Technique of the analyzing data used was comparative analysis, meaning that the children’s reading competency achievement were compared, and then were described into a form of assessment data namely score. From the percentage described into teacher’s action predisposition and students’ reaction as well as learning achievement. From the classroom action research conducted, it can be concluded that learning using the letter dice throwing game media, it can improve the children’s competency in the beginning reading, for the mental retarded B graders of semester I in Sragen Elim Kindergarten in the school year of 2010/2011. Key word : Mental retarded, reading learning, letter dice throwing game media, improve the competency in the beginning reading.

vi

7 MOTTO: “Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang berbuat kepadamu. vii . Kitab Injil Lukas. perbuatlah juga demikian kepada mereka”. Isa almasih.

8 HALAMAN PERSEMBAHAN Keluargaku tercinta Ayah dan Ibunda yang aku banggakan Saudara-saudaraku yang telah mendukungku Rekan-rekan di Taman Kanak-Kanak Elim yang memotivasiku FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta yang tercinta viii .

selaku Kepala Taman Kanak-Kanak Elim Sragen yang telah memberikan ijin tempat penelitian dan informasi yang dibutuhkan penulis. Indianto.9 KATA PENGANTAR Segala puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa. R. 3. Untuk itu. Semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan penelitian tindakan kelas ini. M. atas segala bentuk bantuan yang telah diberikan. atas kebaikan-Nya. Dalam penyusunan skripsi ini.Si selaku pembimbing II yang telah memberikan petunjuk kepada penulis selama melaksanakan penelitian tindakan kelas.A. Dr. Drs. 6. H. Furqon Hidayatullah. Salim Choiri. karena keterbatasan pengetahuan yang ada dan tentu hasilnya juga masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu segala saran dan kritik yang bersifat membangun sangat penulis harapkan.Kes Ketua Program Studi Pendidikan Khusus sekaligus selaku pembimbing I yang telah memberikan petunjuk kepada penulis sehingga skripsi ini dapat diselesaikan. Prof. M. Banyak hambatan yang menimbulkan kesulitan dalam penyelesaian penulisan penelitian tindakan kelas ini. ix . Drs. 5. Subagya M.Pd Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah memberi ijin kepada penulis untuk melaksanakan penelitian. Drs. Jurusan Ilmu Pendidikan. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta. 4. namun berkat bantuan dari berbagai pihak akhirnya kesulitan-kesulitan yang timbul dapat diatasi. Dobirson S. M. sehingga penulis dapat menyelesaikan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Luar Biasa. 2. M. penulis menyadari masih ada kekurangan.Pd Ketua Jurusan Ilmu Pendidikan telah memberikan bimbingan dan pengarahan sehingga skripsi ini dapat terselesaikan. penulis mengucapkan terima kasih kepada yang terhormat: 1.

Ibu. mendapat pahala dari Tuhan Yang Maha Esa.10 Semoga kebaikan Bapak. Surakarta. September 2010 Penulis x . dan menjadi amal kebaikan yang tiada putus-putusnya dan semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan.

... Tujuan Membaca................................................................................................ Faktor Penyebab Anak Tunagrahita....................................................11 DAFTAR ISI Halaman JUDUL........... PENGESAHAN............... Tujuan Penelitian.................................................................. Pendidikan Anak Tunagrahita.. C.................................... 4 6 8 i ii iii iv v vii viii ix xi 1 1 3 3 3 4 4 DAFTAR LAMPIRAN.................... 16 b...... Tinjauan Tentang Membaca Permulaan....................................................................................... PENGAJUAN......................................................................................................................................................... D........... MOTTO... PERSEMBAHAN.................... a... ........................................................... ...................................................................................................................... Pembelajaran Anak Tunagrahita Pada kelas Inklusif........................................................ ..................................................... KATA PENGANTAR................ Kajian teori......................... 12 f................................................. ........................................................... BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS TINDAKAN.................................................................. 14 2.........xiv d.......... Klasifikasi Anak Tunagrahita...................................................... B........................... ABSTRAK.............................................. Manfaat Hasil Penelitian......................................... Latar Belakang Masalah.................................................... c........... 17 xi ................................................................ DAFTAR ISI.. ............................................................................................................. 10 e....... PERSETUJUAN....................... A.... Pengertian Anak Tunagrahita............ A. ................. BAB I PENDAHULUAN.......... ... Rumusan Masalah............................. Karakteristik Anak Tunagrahita................................. Anak Tunagrahita...................................................................................... 16 a................ 1........ Pengertian Membaca...................... b......................................................................................

......... BAB III METODOLOGI PENELITIAN....................... Subyek Penelitian.............................................................. d. Kelemahan dan Kelebihan Permainan Lempar Dadu Huruf.............................. Tahap pelaksanaan Membaca Permulaan............................ Metode Pengajaran Membaca ....... 24 c.............. Fungsi Media Permainan Lempar Dadu Huruf............................................... C.... Hipotesis Tindakan ..................................... xii 48 30 31 33 34 34 34 35 36 41 42 43 43 44 47 29 27 25 23 23 21 .. Prosedur Penelitian........... e...............................................................................................................48 1...... F................ Data dan Sumber Data..................................................................... Teknik Pengumpulan Data................. Kerangka Berfikir........... f........... Deskripsi Kondisi Awal.......................................... Pelaksanaan Penelitian..................... Pengertian Membaca Permulaan.................................................................. Indikator Kinerja................... D.................................... 19 e........................................................... B..... Setting Penelitian............................. A....... G..................................................... E....................... ...... Pengertian Media Lempar Dadu Huruf................... Tinjauan tentang Media Permainan Lempar Dadu Huruf............. Pembelajaran Membaca Anak Tunagrahita.......................................... Penerapan Pembelajaran dengan Menggunakan Media Lempar Dadu Huruf pada Anak Tunagrahita............. A.................................................. Validitas Data........ C........ a............................................ Tehnik Analisis Data............................. Langkah-langkah Pengajaran dengan Menggunakan Media Permainan Lempar Dadu Huruf... H.............................12 c.... 22 3......................................... b...................................................................................... B.................... BAB IV: HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN...... Pengertian Media ......... I............ ..... 18 d............................ f........................ Validitas dan Reliabilitas Instrumens...........................

.......... SIMPULAN.............................................. Pembahasan hasil Penelitian.......................................................................................................................................... 52 52 b..................... 53 d............. 52 c....................................... Tindakan................ Refleksi......................................................... 56 a................. Pelaksanaan Siklus II............................................................................. Pengamatan............... 66 A.......................................................... 58 d........................................................................................... 56 3.. 57 c................................................................................................................................................................................................................................................ SARAN.......................... 68 LAMPIRAN ....................................... Pelaksanaan Siklus I.............. Refleksi ............. Pengamatan........... 63 BAB V..13 2.............................. a.......................................... 66 DAFTAR PUSTAKA............................. Perencanaan....................................................... 66 B......................... 71 xiii ................. Hasil Penelitian.... SIMPULAN DAN SARAN...... 56 b........................................................ 60 C............. Perencanaan................................... Tindakan .......... 60 B.........................................

.

Penanaman karakter sangat ditekankan pada setiap pembelajaran. baik bagi anak normal maupun anak yang mengalami kelainan atau berkebutuhan khusus. Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) memperoleh kesempatan yang lebih luas dalam memperoleh layanan pendidikan. Keberadaan anak yang berkebutuhan khusus ini tidak membuat teman normal lainnya tergannggu. Taman Kanak-Kanak Elim merupakan salah satu lembaga pendidikan yang menampung anak normal maupun anak berkebutuhan khusus untuk belajar bersama-sama dalam satu kelas. Demikian juga bagi anak normal. karena anak berkebutuhan khusus tidak jarang memiliki kelebihan atau bakat yang tidak dimiliki anak normal lainnya. Pelaksanaan pendidikan inklusif diharapkan mampu membawa dampak yang positif bagi anak berkebutuhan khusus. mental maupun sosial. Dewasa ini pelayanan pendidikan bagi anak berkelainan sudah mulai masuk ke desa-desa. baik segi akademik. mampu belajar kelebihan orang lain. Dua belas persen dari siswa Taman Kanak-Kanak Elim adalah Anak Berkebutuhan Khusus ABK). . Mereka dapat belajar bersama-sama dengan anak normal seusianya dalam satu sekolah yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Mereka tidak harus menempuh jarak yang lumayan jauh dari tempat tinggalnya menuju ke Sekolah Luar Biasa (SLB) yang biasanya terdapat di kota kabupaten. mengucap syukur karena Tuhan menciptakan dirinya dengan keadaan normal. Pelaksanaan pendidikan inklusi merupakan jawaban dari kebutuhan pelayanan pendidikan bagi anak yang berkebutuhan khusus. dengan adanya sekolah inklusif diharapkan mampu belajar menerima dan memahami keadaan sesamanya yang berkekurangan sebagai bagian ciptaan Tuhan. Latar Belakang Masalah Setiap anak memiliki hak untuk memperoleh pendidikan.1 BAB I PENDAHULUAN A. Pelayanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus dewasa ini mengalami kemajuan yang baik. Setiap anak mampu menerima satu dengan yang lain tanpa saling merendahkan atau mengejek.

Dua diantara 16 dari siswa di Taman Kanak-kanak Elim mengalami keterlambatan di dalam berbagai kegiatan bermain dan belajar. Hal tersebut juga mempengaruhi kepercayaan diri yang kurang terhadap anak. Anak sering merasa minder. yaitu dengan bobot nilai 1 – 2 untuk bintang 1 dan 3 -4 untuk bintang 2. maka penulis berusaha untuk mencari dan menemukan solusi dengan mengadakan penelitian tindakan kelas dengan Judul “UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA PERMULAAN MELALUI MEDIA BERMAIN LEMPAR DADU HURUF PADA ANAK TUNAGRAHITA KELAS B SEMESTER I DI TAMAN KANAK. m dengan n dan lain sebagainya. perilaku. kedua siswa ini mengalami ketertinggalan yang sangat jauh dengan siswa yang lain. psikomotor maupun seni. Hasil penilaian untuk kemampuan membacanya.KANAK ELIM SRAGEN TAHUN PELAJARAN 2010/2011”. Bintang 5 memiliki bobot nilai 9-10 baik dalam kognitif. Untuk mengatasi hal tersebut perlu diadakan tindakan untuk menolong kedua anak tersebut. termasuk dalam membaca. Contohnya: u dangan v. lupa. d dengan b. malu.2 Kegiatan bermain sambil belajar pada Taman Kanak-kanak Elim Sragen berjalan sangat antusias dan sangat baik. . yaitu memperbaiki proses pembelajaran yang membuat anak menjadi tertarik. tidak jenuh sehingga anak ingin terus dan terus melakukan hingga anak mampu membaca dengan baik dan lancar seperti teman-teman yang lainnya. bahkan beberapa huruf masih sering salah dibacanya. Hasil penilaian dalam belajar anak-anak rata-rata menunjukan nilai bintang 5 ataupun bintang 4. kadang belum mengerti. Dalam hal kognitif yakni kemampuan membaca permulaan juga menunjukkan hal sangat menggembirakan bahkan banyak diantara siswa di Taman Kanak-kanak Elim rata-rata sudah mampu membaca dengan lancar. Anak sangat sulit dalam membaca kata. Untuk itu . sehingga anak mengalami perkembangan yang sangat baik. kadang keliru membaca dengan huruf yang bentuknya hampir sama. bahkan menangis saat teman-temannya mengolok-olok. anak memiliki nila rata-rata bintang 1 atau 2.

yakni belum tercapainya nilai maksimum membaca permulaan pada 2 anak yang mengalami keterlambatan maka penulis dapat merumuskan masalah. sehingga anak dapat belajar seraya bermain. Penelitian ini dapat menjadi wawasan bagi guru dalam menggunakan media bermain lempar dadu huruf pada pembelajaran membaca permulaan. Penelitian ini dapat meningkatkan keaktifan. yaitu “apakah penggunaan media bermain lempar dadu huruf dalam pembelajaran dapat meningkatkan kemampuan membaca permulaan pada kelas B Taman Kanak-kanak Elim Sragen?” B.3 A. b. minat dan partisipasi anak dalam kegiatan pembelajaran. b. Manfaat Hasil Penelitian 1. motivasi. Penelitian ini dapat menumbuhkan motivasi untuk lebih kreatif menggunakan pembelajaran. berbagai metode guna meningkatkan kualitas . 2. Bagi Guru a. Tujuan Penelitian Berdasarkan perumusan masalah tersebut di atas maka tujuan penulis mengadakan penelitian adalah sebagai berikut: Untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan anak tunagrahita (ATG). Penelitian ini dapat memberikan suasana yang menyenangkan. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang terjadi di kelas B Taman Kanak-kanak Elim Sragen. C. melalui media bermain lempar dadu huruf pada kelas B semester I di Taman kanak-Kanak Elim Sragen. Bagi Siswa a.

Pengertian Anak Tunagrahita Tunagrahita menjelaskan tentang kondisi anak yang kecerdasannya dibawah rata. masing-masing memiliki keunikan. Mereka seperti anak-anak normal lainnya. Anak yang mengalami kelemahan atau kelainan dalam berpikir secara umum sering disebut dengan anak di bawah normal atau tunagrahita.” Anak yang kecerdasannya di bawah rata-rata dikenal juga dengan anak keterbelakangan mental. Pemahaman secara teoritis maupun praktis sangat diperlukan supaya guru ataupun para propesional dapat memberikan layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan mereka. karena mereka memiliki keterlambatan didalam berpikir.rata yang ditandai oleh keterbatasan intelegensi dan ketidak cakapan dalam interaksi sosial.4 BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS TINDAKAN A. Kajian Teori 1. Kelemahan dan kelebihan dimiliki setiap anak. Sutjihati Somantri (1996:83) menyatakan “Anak Tunagrahita adalah anak yang kecerdasannya jauh di bawah rata-rata. a. yang ditandai oleh keterbatasan intelegensi dan ketidakcakapan dalam interaksi sosial. memiliki hak untuk memperoleh pendidikan sesuai dengan kebutuhan mereka. Anak Tunagrahita Keadaan setiap manusia berbeda satu dengan yang lain. masingmasing anak terlahir dalam keadaan yang berbeda. Anak tunagrahita adalah merupakan individu yang utuh dan unik. Anak yang memiliki kecerdasan di bawah garis normal perlu suatu penanganan yang khusus. sukar untuk mengikuti program pendidikan di . demikian juga dalam hal kemampuan berpikir. karena anak mengalami keterbatasan dalam kemampuan berpikirnya.

anak yang berusia enam tahun akan memiliki kemampuan yang sepadan dengan anak usai enam tahun pada umumnya. maka anak tersebut memiliki kecerdasan di atas rata-rata. artinya anak usia enam tahun memiliki MA enam tahun. AFMR dalam Astati (2010) menyatakan: “Seseorang dikatakan tunagrahita apabila memiliki 2 kriteria yang penting. maka penulis dapat menegaskan bahwa anak tunagrahita adalah anak yang mengalami hambatan dalam kecerdasannya. Sebagai contoh. Gangguan dipengaruhi oleh faktor genetik. lingkungan dan psikososial”. keterampilan social. . Pengajaran sistem klasikal memberikan masalah bagi anak karena kemampuan berpikirnya tidak seperti teman-teman lain yang cerdas ataupun yang normal. Mental Age adalah kemampuan mental oleh seorang anak pada usia tertentu. yang mencakup fungsi intelektual yang dibawah rata-rata. dimana berkaitan dengan keterbatasan pada dua atau lebih keterampilan adaptif seperti komunikasi. kedua adanya ketidakmampuan dalam menyesuaikan diri dengan norma dan tuntutan yang berlaku dalam masyarakat. AAMD (America Association of Mental Deficiency) dalam Anggie Sa’adah (2009) menjelaskan bahwa: “Tunagrahita menunjukkan adanya keterbatasan dalam fungsi. Keadaan ini nampak sebelum usia 18 Tahun. sehingga kecerdasannya berada jauh di bawah rata-rata yang ditandai oleh keterbatasan intelegensi sehingga kurang/tidak mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan. Waktu terjadinya sebelum usia perkembangan yaitu 18 tahun. Jika seorang anak memiliki MA lebih tinggi. dan waktu luang. Jadi dikatakan tunagrahita jika memenuhi dua komponen tersebut”. yakni pertama fungsi intelektual secara nyata berada di bawah rata-rata.5 sekolah. Berdasarkan pendapat di atas. kesehatan dan keamanan. Untuk mendeteksi anak tunagrahita atau keterbelakangan mental ada baiknya memahami konsep Mental Age (MA). Intellectual Disability Perspective & Challenges. fungsi akademis. merawat diri sendiri. Sebaliknya jika MA anak lebih rendah dari umurnya.

Hal ini bisa menyebabkan penderitanya mengalami kelainan fisik.6 maka anak tersebut memiliki kecerdasan di bawah rata-rata. Faktor internal penyebab terjadinya kelainan diantaranya adalah: 1) Kelainan pada kromosom Inti sel manusia terdapat 23 pasang kromosom. strees. 2) Faktor keturunan Sifat menurun yang dibawa dari orang tua kepada anak. totalnya adalah 46. diantaranya seperti yang diungkapkan Sutjihati Somantri (1996:53) bahwa “penyebab tunagrahita ada 2 faktor. sehingga jumlah kromosom tidak 46 tetapi 47. Kelainan Sindrom Down terjadi karena kelebihan jumlah kromosom pada kromosom no 21 yang seharusnya dua menjadi tiga. kekurangan gizi dan sebagainya akan berpengaruh kurang baik pada bayi yang . 3) Kondisi ibu saat hamil Kondisi ibu saat hamil mempengaruhi keadaan bayi yang dikandungnya.” Faktor internal adalah faktor yang erat hubungannya dengan keadaan bayi selama masih ada dalam kandungan. Anak yang memiliki tingkat kecerdasan di bawah rata-rata namun memilki kemampuan menyesuaikan diri dengan normal dan tuntutan yang berlaku dalam masyarakat tidak disebut anak tunagrahita. menunjukkan pemburukan yang jelas dalam bahasa. otot-otot melemah dan retardasi mental yakni hambatan perkembangan kecerdasan dan psikomotor. MA dipandang sebagai indeks dari perkembangan kognitif seorang anak. b. Sindrom Down atau down sindrom memiliki karakter mata sipit. MA yang sedikit saja kurang dari umur tidak termasuk tunagrahita. seperti kelainan jantung bawaan. daya ingat. Anak tunagrahita selalu memiliki MA lebih rendah daripada umurnya secara jelas. jika selama mengandung ibu dalam keadaan sakit. ketrampilan merawat diri dan memecahkan masalah. yaitu faktor internal dan eksternal. hidung pesek. Faktor Penyebab Anak Tunagrahita Ketunagrahitaan dapat terjadi karena berbagai faktor.

Faktor penyebab tunagrahita setelah anak lahir adalah. Faktor penyebab terjadinya tunagrahita saat anak lahir misalnya: pemakaian alat bantu pada saat melahirkan. 4) Infeksi dan keracunan Infeksi dan keracunan yang terjadi selama janin dalam kandungan. dan lain-lain. Faktor eksternal adalah faktor yang terjadi pada saat melahirkan dan setelah anak lahir. 3) Kecelakaan Kecelakaan dapat mengakibatkan terjadinya kecacatan pada baik pisik maupan psikis. kekurangan oksigen. Trauma yang terjadi pada saat kelahiran dapat dialami ketika proses kelahiran yang sulit sehingga harus dibantu dengan alat (tang). Zat radioaktif saat penyinaran semasa bayi dapat mengakibatkan tunagrahita microcephaly. penyakit. 4) Faktor Lingkungan atau sosial budaya Lingkungan berperan terhadap fungsi intelek anak. kurang gizi. misalnya penyakit yang timbul karena virul rubella syphilis. kegagalan dalam mengadakan interaksi yang terjadi selama perkembangan menjadi salah satu penyebab ketunagrahitaan.7 dikandungnya. obat-obatan atau narkotika. . Konsumsi obat yang tidak sesuai petunjuk dokter dapat mengakibatkan kecacatan. Gangguan pada metabolisme dan kekurangan gizi dapat menyebabkan terjadinya gangguan fisik maupun mental pada individu. kecelakaan. 2) Trauma dan Zat Radioaktif Benturan atau tekanan pada kepala dapat menyebabkan kecacatan pada otak. infeksi dan keracunan ini dialami lewat penyakit-penyakit yang diderita oleh ibu. toxoplasma. Faktor eksternal yang menyebabkan terjadinya kelainan adalah: 1) Gangguan metabolisme dan kekurangan gizi. dan sebagainya. Metabolisme dan gizi sangat penting peranannya bagi pertumbuhan dan perkembangan individu. keracunan alkohol.

Penulis mengelompokkan faktor penyebab ketunaan dalam dua kelompok. Educable Anak pada kelompok ini masih mempunyai kemampuan dalam akademik setara dengan anak reguler pada kelas 5 sekolah dasar. Sebab-sebab masa prenatal. Mulyono Abdurrahman (2003:24). yakni: 1) faktor endogen Yaitu faktor penyebab ketunaan yang datang dari dalam. misalnya studi yang dilakukan oleh Kirk (Astati.com/2009) : 1). Trainable Mempunyai kemampuan dalam mengurus diri sendiri. c. . menyatakan “penyebab tunagrahita ada 5 hal: genetik atau keturunan. 2) faktor eksogen Yaitu faktor penyebab ketunaan diluar keturunan/ bawaan atau pengaruh yang datang dari luar setelah anak lahir. 2). Pertahanan diri dan penyesuaian sosial. misalnya keturunan/ bawaan dari dalam kandungan. blogspot. 2010) menunjukkan bahwa anak yang berasal dari keluarga kurang mampu memiliki kecenderungan untuk mempertahankan mentalnya pada taraf yang sama. sebab-sebab pada saat pos natal. hal ini disebabkan oleh ketidakmampuan lingkungan dalam memberikan stimulus pada masa perkembangan.8 Berbagai penelitian melaporkan bahwa anak tunagrahita banyak ditemukan pada daerah yang tingkat sosial ekonominya rendah. sebab-sebab pada masa perinatal atau saat lahir. Berdasar kedua pendapat di atas penulis menyimpulkan bahwa banyak faktor yang dapat menyebabkan terjadinya kelainan atau ketunaan. Klasifikasi Anak Tunagrahita Anak tunagrahita dapat diklasifikasikan sesuai dengan keberadaannya. penyebab karena deprivasi lingkungan”. berbagai pendapat mengklasifikasikan anak tunagrahita sebagai berikut: Klasifikasi anak tunagrahita untuk keperluan pembelajaran menurut America Associationon Mental Retardation dalam Anggie (http://saunganggie. sangat terbatas untuk kemampuan pendidikan akademik. bahkan prestasi belajarnya semakin berkurang dengan meningkatnya usia.

Retardasi mental sangat berat (profound mental retardation) dengan IQ 20 kebawah. Termasuk mampu rawat. Mereka biasanya menyelesaikan pendidikan setingkat kelas III SD umum. Menurut Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa (2007:4) dalam buku Pedoman Penyelenggaraan Pendididkan Inklusif.9 3).kebawah Tidak mampu menerima pendidikan secara akademis. yaitu: 1) 2) 3) 4) Retardasi mental ringan (mild mental retardation) dengan IQ 55-69. Custodial Dengan pemberian latihan yang terus menerus dan khusus. klasifikasi anak tunagrahita: 1) Anak tunagrahita ringan IQ 50 – 70 Mampu dididik diajarkan membaca. yaitu Psikometrik dan perilaku adaptif. tetapi berdasarkan kematangan sosial. Kegiatan sehari-hari membutuhkan bantuan orang lain. Retardasi mental berat (sever mental retardation) dengan IQ 20-39. 2) Tunagrahita sedang IQ 25 – 49 Termasuk mampu latih. Retardasi mental menurut kriteria perilaku adaptif tidak berdasarkan taraf intelegensi. Klasifikasi anak tunagrahita/ retardasi mental secara Sosial-Psikologis terbagi menjadi 2. dapat melatih tentang dasar-dasar cara menolong diri sendiri dan kemampuan yang bersifat komunikatif. 3) Tunagrahita berat IQ 24. Hal ini biasanya memerlukan pengawasan dan dukungan terus menerus. Biasanya bisa menyelesaikan pendidikan setingkat kelas IV SD umum. dan berhitung. Hal ini juga mempunyai 4 taraf. Retardasi mental sedang (mild mental retardation) dengan IQ 40-54. yaitu: 1) Ringan 2) Sedang 3) Berat 4) Sangat berat Berdasarkan pendapat di atas penulis menyimpulkan bahwa anak tunagrahita dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kelompok menurut kepentingannya. menulis. Klasifikasi dari segi keperluan pendidikan sebagai berikut: . Retardasi mental secara psikometrik menurut skala intelegensi Wechsler dalam Astati (2010) ada 4 taraf.

10 1) Anak mampu didik (tunagrahita ringan/ debil) Anak mampu dididik dan dilatih. Anak mampu mengikuti pendidikan walaupun tidak mencapai tingkat yang tinggi. b) Kematangan motorik lambat c) Koordinasi gerak kurang 2) Intelektual . memasak. 3) Anak mampu rawat (tunagrahita berat/ Idiot) Anak tidak mampu menerima pendidikan secara akademis. mereka mampu bekerja di lapangan namun perlu sedikit pengawasan. perhatian bahkan pelayanan. Karakteristik Anak Tunagrahita Defli (2009) menyebutkan bahwa karakteristik anak tunagrahita dapat dilihat dari segi: 1) Fisik (penampilan) a) Untuk tunagrahita ringan hampir sama dengan anak normal. anak tidak dapat mengurus dirinya sendiri apalagi berlindung dari bahaya. menulis. Anak tunagrahita sedang memiliki IQ antara 30 s/d 50. Mereka mampu menolong diri sendiri. d. Mampu dilatih ketrampilan-ketrampilan sederhana. bimbingan aktivitas sehari-hari. Anak tunagrahita berat memiliki IQ 29 kebawah. untuk mengurangi ketergantungan kepada orang lain. 2) Anak mampu latih (tunagrahita sedang/ Embisil) Anak tunagrahita sedang mampu diajarkan membaca. menulis . Mereka memiliki IQ antara 50 s/d 70. kuliah. mampu berlindung dari bahaya karena itu anak tunagrahita ringan tidak memerlukan pengawasan ekstra. misalnya: sekolah menengah umum. Mereka membutuhkan pengawasan. menjahit bahkan bisa dilatih untuk berjualan. untuk tunagrahita berat dapat kelihatan. Sedikit perhatian dan pengawasan diperlukan untuk perkembangan mental dan sosial anak tunagrahita sedang. berhitung. Anak tunagrahita ringan lebih mudah diajak komunikasi. misalnya membaca. kondisi fisik mereka tidak begitu berbeda dengan anak normal lainnnya. berhitung.

dan mendongakkan kepala. 2) Kesulitan dalam menggeneralisasi dan mempelajari hal-hal yang baru. tidak dapat berdiri atau bangun tanpa bantuan. 3) Kemampuan bicaranya sangat kurang bagi anak tunagrahita berat. tetapi anak yang mempunyai tunagrahita berat tidak meakukan hal tersebut.485-486. Mereka selalu memerlukan latihan khusus untuk mempelajari kemampuan dasar. Banyak anak tunagrahita berat bertingkah laku tanpa tujuan yang jelas. Kegiatan mereka seperti ritual. Anak tunagrahta ringan dapat bermain bersama dengan anak reguler. Kebanyakan anak denga tunagrahita berat mempunyai ketebatasab dalam gerak fisik. 4) Cacat fisik dan perkembangan gerak.11 a) Sulit mempelajari hal-hal akademik b) Anak tunagrahita ringan kemampuannya setaraf anak normal usia 12 tahun (IQ 50 – 70) c) Klasifikasi sedang setaraf dengan usia 7 – 8 tahun (IQ 30 – 50) d) Berat. mempunyai kesulitan dalam mempelajari pengetahuan abstrak atau yang berkaitan. ada yang tidak dapat berjalan. Mereka lambat dalam mengerjakan tugas-tugas yang sangatsederhana. setaraf dengan anak usia 3 – 4 tahun (IQ 30 kebawah) 3) Sosial dan emosi a) Bergaul dengan anak yang lebih muda b) Suka menyendiri c) Mudah dipengaruhi d) Kurang dinamis e) Kurang pertimbangan/ kontrol diri f) Kurang konsentrasi. makan. misalnya: menggigit diri sendiri. p. 6) Tingkah laku dan interaksi yang tidak lazim. sulit menjangkau sesuatu .blogspot. 1996 (http://saunganggie.com/2009) menyatakan: 1) Lamban dalam mempelajari hal-hal yang baru. dan mengurus kebersihan diri. mudah dipengaruhi g) Dapat memimpin diri sendiri maupun orang lain Karakteristik anak tunagrahita menurut Brown Children. 5) Kurang dalam kemampuan menolong diri sendiri. misalnya: memutar-mutar jari di depan wajahnya dan melakukan hal-hal yang membahayakan diri sendiri. Sebagian dari anak tunagrahita berat sangat sulit untuk mengurus diri sendiri. Berdasarkan pendapat di atas. Hal itu mungkin disebabkan kesulitan bagi anak tunagrahita dalam memberikan perhatian terhadap lawan main. dan selalu cepat lupa apa yang dia pelajari tanpa latihan yang terus menerus. fifth edition. dll. membentur-beturkan kepala. seperti: berpakaian. penulis menyimpulkan bahwa anak tunagrahita memiliki karakteristik sebagai berikut: pada Exceptional dalam Angie Siti Sa’adah . 7) Tingkah laku kurang wajar yang terus menerus.

Contohnya: Sekolah reguler . Contohnya: a) Sekolah Luar Biasa (SLB). Keuntungan sekolah segregrasi: a) Rasa ketenangan pada anak luar biasa b) Komunikasi yang mudah dan lancar c) Metode pembelajaran yang khusus sesuai dengan kondisi dan kemampuan anak d) Guru dengan latar belakang pendidikan luar biasa e) Sarana dan prasarana yang sesuai Kelemahan sekolah segregasi: a) Sosialisasi terbatas b) Biaya mahal 2) Sistem pendidikan integrasi Sistem pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) yang memungkinkan anak luar biasa memperoleh kesempatan mengikuti proses pendidikan bersama dengan siswa normal lainnya.12 1) Memiliki kemampuan berpikir yang rendah 2) Emosi yang labil bahkan kurang wajar 3) Sulit bersosialisasi 4) Kemampuan motorik yang kurang 5) Mengalami gangguan dalam berkomunikasi. adalah: 1) Sistem pendidikan segregasi Sistem pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) secara khusus dan terpisah dari anak-anak normal. b) Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB). Pendidikan Anak Tunagrahita Bentuk-bentuk penyelenggaraan pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus. e.

b) Biaya relatif murah c) Sosialisasi berkembang dengan baik d) Belajar sesuai dengan kebutuhan anak. b) Pelayanan pendidikan kurang memadai.13 Keuntungan: a) Merasa diakui kesamaan haknya dengan anak normal terutama dalam memperoleh pendidikan b) Bakat dapat berkembang dengan optimal c) Mempunyai kesempatan untuk melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi d) Harga diri bisa meningkat Kelemahan: a) Kurangnya tenaga ahli atau sumber daya yang memiliki pengetahuan yang cukup tentang anak disability. Hal ini disebabkan karena pelayanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus biasanya berada di kota-kota kabupaten. Keuntungan: a) Lokasi berada dekat dengan anak. Kelemahan: e) Memerlukan banyak tenaga pengajar maupun pendamping f) Memerlukan banyak sarana dan prasarana Pendidikan inklusif muncul dilatar belakangi oleh kurang meratanya pendidikan bagi anak-anak yang berkebutuhan khusus. 3) Sistem Pendidikan inklusi Sekolah reguler yang menerima anak berkebutuhan khusus (ABK) dengan kurikulum dan sistem pendidikan sesuai dengan kebutuhan ABK di sekolah reguler tersebut. Program penuntasan wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun diharapkan berhasil dengan baik. terutama ekonomi lemah yang berada di pedesaan. Program ini dilandaskan pada UndangUndang Dasar 1945 pasal 31 tentang hak setiap warga negara untuk .

Anak dapat memiliki kepercayaan diri yang lebih baik. Landasan paedagogis. dan empiris yang kuat. Landasan empiris. Di Indonesia. Landasan yuridis internasional penerapan pendidikan inklusif adalah Deklarasi Salamanca semua (UNESCO. cakap. Landasan filosofis utama penerapan pendidikan inklusif di Indonesia adalah Pancasila yang merupakan lima pilar sekaligus cita-cita yang didirikan atas fondasi yang lebih mendasar lagi. . sehat. yakni education for all. Hal ini dilandasi pernyataan Salamanca yang merupakan perluasan dari program UNESCO. dan bertanggung jawab. Akan tetapi pendidikan inklusif berdampak positif. penerapan pendidikan inklusif dijamin oleh UndangUndang nomor 20/2003 tentang sistem pendidikan nasional yang dalam penjelasannya menyebutkan bahwa penyelenggaraan pendidikan untuk peserta didik berkelainan atau memiliki kecerdasan luar biasa diselenggarakan secara inklusif atau berupa sekolah khusus. mereka merasa diterima dan dapat hidup bersama-sama dengan anak normal lainnya. mandiri. yang disebut Bhinneka Tunggal Ika (Mulyono Abdulrahman dalam Direktorat Pendidikan Luar Biasa. kreatif. yuridis. tujuan pendidikan nasional adalah berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. paedagogis. seyogyanya bersama-sama memandang kesulitan ataupun perbedaan yang mungkin ada pada mereka. anak 1994) menekankan berlajar bahwa selama tanpa memungkinkan. baik terhadap perkembangan akademik dan sosial. penelitian menunjukkan bahwa penempatan anak berkelainan di tempat khusus tidak efektif dan diskriminatif. Teknis penyelenggaraannya tentunya akan diatur dalam bentuk operasional. demikian juga halnya dengan anak yang mengalami kekurangan. Penerapan pendidikan inklusif mempunyai landasan fisiologis. berilmu. Jadi melalui pendidikan peserta didik berkelainan dibentuk menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.14 memperoleh pendidikan. 2004). sehingga motivasi untuk belajar dan berkarya menjadi lebih baik. berakhlak mulia.

Pelayanan Khusus tersebut meliputi penanganan kepeserta didikan. Penanganan kepeserta didikan meliputi perencanaan dan pelaksanaan assesmen. kurikulum. Alat Bantu pelajaran penting diperhatikan dalam mengajar anak tunagrahita. maka dibutuhkan alat pelajaran yang memadai. Saran dan prasarana. sarana prasarana. Kurikulum disusun berdasarkan kebutuhan anak sesuai profile tiap peserta didik yang membutuhkan pelayanan khusus. diperlukan tenaga-tenaga yang mampu menangani anak berkebutuhan/ profesional. Profile sangat berguna yntuk memahami kebutuhan khusus anak dalam rangka penyusunan kebutuhan pembelajaran secara individu..15 f. dengan demikian keperluan-keperluan anak berkebutuhan khusus tidak terabaikan dalam proses pembelajaran. hal ini dikarenakan anak tunagrahita kurang mampu berfikir abstrak. Pelaksanaan pembelajaran anak tunagrahita pada kelas inklusif pada dasarnya adalah memperhatikan atau memberikan pelayanan khusus kepada setiap individu sebagai peserta didik. Pembelajaran Anak Tunagrahita pada kelas Inklusif Pelaksanaan pembelajaran anak tunagrahita pada kelas inklusif adalah anak berkebutuhan khusus belajar bersama-sama dengan anak normal sebaya dengan kurikulum dan sistem pendidikan yang berbeda satu sama lain yang disesuaikan dengan kebutuhan anak. Hal ini dimaksudkan dalam rangka membuat profile anak. Tenaga kependidikan. Hal ini disebabkan anak tunagrahita kurang mampu berfikir abstrak. media pembelajaran dan Alat Bantu pelajaran memegang peranan penting . seperti dalam pembelajaran anak-anak pada umumnya . pendanaan dan lingkungan. Pelaksanaan pembelajaran anak tunagrahita di Taman Kanak-kanak Elim adalah belajar bersama-sama dengan anak normal lainnya dalam satu kelas/ kelompok dengan kurikulum yang sama. namun bagi anak yang berkebutuhan . mereka membutuhkan hal-hal kongkrit. maka pembelajaran bagi anak tunagrahita pun . dalam menangani anak yang memerlukan pelayanan khusus. tenaga kependidikan. Agar terjadinya tanggapan tentang obyek yang dipelajari.

” Menurut Tampubolon makna dari tulisan”. (4) membaca luas dan (5) membaca yang sesungguhnya. Penambahan pelayanan pendidikan (membaca.com/2009) “membaca pada hakekatnya adalah kegiatan fisik dan mental untuk menemukan . (3) ketrampilan membaca cepat. Jika anak pada usia sekolah tidak segera banyak memiliki kesulitan kemampuan membaca. Berdasarkan pendapat di atas. Menurut Munawir Yusuf (2005:134) “membaca merupakan aktifitas auditif dan visual untuk memperoleh makna dari simbol berupa huruf atau kata.menulis) diberikan saat pelajaran berlangsung dilakukan Oleh guru pendamping. anak harus belajar membaca agar dapat belajar. Dikatakan kegiatan mental karena bagian-bagian mengalami dalam anggie (http://saunganggie. Membaca bukan hanya mengucapkan bahasa tulis tetapi juga memahami maknanya. Jika dirasa perlu anak yang berkebutuhan khusus diberikan penambahan jam belajar saat istirahat atau setelah jam pelajaran selesai. Kemampuan membaca merupakan dasar untuk menguasai berbagai bidang studis. Dikatakan kegiatan fisik karena bagian tubuh khususnya mata beraktifitas dalam kegiatan membaca. (2) membaca permulaan. Tinjauan Tentang Membaca Permulaan a. Pengertian Membaca Membaca merupakan modal bagi seseorang untuk mempelajari buku dan mencari informasi tertulis. Bagi siswa membaca juga menjadi modal agar dapat mengikuti kegiatan pembelajaran. penulis dapat menyimpulkan bahwa membaca merupakan kegiatan yang sangat kompleks yang mencakup aktifitas fisik dan mental untuk mengenal.16 khusus kurikulum disesuaikan dengan kondisi anak. maka anak akan dalam beberapa bidang studi. Kemampuan membaca merupakan suatu kemampuan untuk memahami informasi atau wacana yang disampaikan oleh pihak lain melalui tulisan. Oleh karena itu. Ada lima tahapan perkembangan membaca yaitu : (1) kesiapan membaca.blogspot. 2. memahami makna dari suatu simbol atau tulisan.

memberi pengetahuan. Tujuan Membaca Membaca adalah gerbang menuju penguasaan ilmu pengetahuan. tergantung pada situasi dan kondisi si pembaca. interaktif. strategis. yaitu pengertian yang memandang membacac sebagai proses pengenalan simbol-simbol tertulis bermakna. 2009) “membangun pemahaman dari teks yang tertulis. Sejono (dalam Devid Haryalesmana. Betapa pentingnya peranan membaca bagi kita semua. Membaca merupakan suatu proses maksudnya adalah informasi dari teks dan pengetahuan yang dimiliki oleh pembaca mempunyai peran utama dalam membentuk makna. mengembangkan perbendaharaan kata. . Interaktif maksudnya keterlibatan pembaca dengan teks tergantung pada konteks.17 pikiran khususnya persepsi yaitu kemampuan untuk menafsirkan apa yang dilihat sebagai simbol atau kata dan ingatan terlibat didalam kegiatan ini. yaitu pengertian yang memandang membaca sebagai proses mengolah bacaan yaitu proses memaknai bacaan secara mendalam. 2) Pengertian agak luas.2009) mengemukakan bahwa tujuan membaca dan menulis permulaan ialah “mengenalkan kepada siswa hurufhuruf abjad sebagai tanda suara dan melatih kecakapan anak untuk mengubah huruf menjadi suara dalam kata. menemukan makna dari bacaan atau tulisan bukan mengenali huruf-huruf”. yaitu pengertian yang memandang membaca sebagai proses memahami bacaan. b. Berdasarkan subtansinya pengertian membaca dapat diklasifikasikan menjadi tiga golongan. Beberapa hal yang tercakup dalam pengertian membaca yaitu: membaca merupakan suatu proses. Dalam membaca kita mempunyai banyak tujuan. Strategis maksudnya membaca yang efektif menggunakan berbagai strategi yang sesuai dengan teks yang dibaca. Tujuan membaca menurut Smith (Tampubolon. yaitu: 1) Pengertian sederhana. Menurut Stauffer dalam Mathedu (2009) tujuan membaca membangun konsep.kata sebagai pengertian”. 3) Pengertian luas.

mengembangkan konsep diri dan sebagai suatu kesenangan. karena dengan membaca pengetahuan seseorang akan bertambah.blogspot.” Permulaan mengandung makna “awal”. Pengertian Membaca Permulaan Membaca permulaan merupakan tahapan anak dalam ketrampilan membaca yang lebih tinggi. Seseorang yang gemar membaca akan nampak berbeda dengan orang yang tidak suka membaca saat mengemukakan pendapat atau berargumentasi terhadap suatu masalah. Berdasarkan pendapat diatas penulis menyimpulkan bahwa tujuan membaca diantaranya: 1) Mengembangkan intelektualitas/ melatih kecakapan 2) Mendapatkan informasi 3) Membangun konsep diri 4) Melepaskan diri dari kejenuhan. yakni kecakapan atau ketrampilan mengenal tulisan sebagai lambang atau simbol bahasa. sehingga anak dapat menyuarakan tulisan tersebut. “membaca permulaan adalah tahap awal anak belajar membaca dengan fokus pada pengenalan simbol-simbol huruf dan aspek-aspek yang mendukung pada kegiatan membaca lanjut”. mengerti dan memahami problem orang lain. Ilmu yang tidak kita mengerti akan kita mengerti lewat membaca. kesedihan. Membaca membuat pengetahuan semakin bertambah. Membaca mampu mengembangkan intelektualitas seseorang.wordpress. Brata (http://Mbahbrata-edu. karena ilmu atau pengalaman nya yang didapat melalui membaca. Menurut Tarmizi (http://tarmizi. . membaca permulaan dapat diartikan suatu tahapan awal yang dilakukan oleh anak untuk memperoleh kecakapan dalam membaca.com/2008/12/02).18 menambahkan proses pengayaan pribadi. bahkan keputusasaan 5) Membaca karena hoby c. banyak halhal positif yang dapat kita ambil melalui membaca.com/2009/06) membaca permulaan adalah “tahapan proses belajar membaca bagi siswa untuk memperoleh kemampuan dan menguasai teknik-teknik membaca dan menangkap isi bacaan dengan baik. mengembangkan intelektualitas. Menurut M.

Membaca pada tingkatan ini merupakan kegiatan kegiatan belajar mengenal bahasa tulis. Proses decoding merupakan proses psikologis berupa kegiatan berpikir dalam mengolah informasi. pembaca belum memiliki ketrampilan kemampuan membaca yang sesungguhnya tetapi masih dalam tahap belajar untuk memperoleh ketrampilan/ kemampuan membaca. melalui proses decoding gambar bunyi dan kombinasinya diidentifikasikan. sebagai dasar anak dalam pembelajaran membaca berikutnya. yakni : 1) Pembelajaran membaca tanpa buku .19 Berdasarkan pendapat di atas penulis dapat simpulkan bahwa membaca permulaan adalah tahap awal anak belajar mengenal huruf atau symbol bunyi dan menyuarakannya. Dengan proses tersebut. mengenali dan membedakan gambar-gambar bunyi serta kombinasinya. Pada tingkatan membaca permulaan. d. Membaca permulaan yang menjadi acuan adalah membaca merupakan proses recoding dan decoding. Brata (http://Mbahbrata-edu. diuraikan kemudian diberi makna. kelompok kata dan kalimat bermakna. rangkaian tulisan yang dibacanya menjadi suatu rangkaian bunyi dalam kombinasi kata. Melalui tulisan itulah siswa dituntut dapat menyuarakan lambang-lambang bunyi bahasa tersebut. Tahap Pelaksanaan Membaca Permulaan Pembelajaran membaca perlu melalui tahap-tahap yang sesuai dengan perkembangan dan kemampuan anak.blogspot. Proses recoding yaitu proses fisik yang berupa kegiatan mengamati tulisan secara visual. Syarat-syarat yang diperlukan untuk memperoleh kemampuan membaca adalah: 1) Kemampuan membunyikan lambang-lambang tulis 2) Penguasaan kosakata untuk memberi arti 3) Kemampuan memasukkan makna.com/2009). Tahap-tahap pelaksanaan membaca permulaan yang dikemukakan oleh M. ada dua.

Misalnya : kartu gambar. Misalnya ketika anak membaca “baju” ditunjukkan gambar baju atau bendanya. 2) Membaca dengan menggunakan buku. menampilkan gambar sambil bercerita. . jadi masih ada huruf yang sulit diucapkan dan sering salah dibaca. Buku bergambar. “Dalam pelaksanaan metode SAS. penguasaan pada abjad belum sepenuhnya dikuasai. Cara ini menyenangkan untuk anak usia dini sesuai dengan karakteristiknya yaitu masa bermain. dadu huruf. Menurut Darmiyati Zuhdi (2001:4). Berdasarkan pendapat di atas penulis simpulkan bahwa tahap membaca permulaan adalah tahap membaca tanpa buku. Pada tahap ini anak perlu bantuan seperlunya selama membaca. 2) Pembelajaran membaca dengan buku Pembelajaran dengan kegiatan membaca dengan menggunakan buku sebagai bahan pelajaran. membaca gambar dan sebagainya. Anak terkadang ingin mengetahui cerita tentang gambar tersebut. Hal ini sangat baik bagi anak untuk dapat memahami arti dari suatu bacaan dalam bentuk sederhana. Membaca cerita sederhana.20 Dilakukan dengan cara mengajar dengan menggunakan media atau alat peraga selain buku. kartu kata. kartu kalimat. kartu huruf. dengan kalimat sederhana dapat memotivasi anak untuk membacanya. anak dihadapkan pada tulisan-tulisan yang ada di buku. dan yang lainnya. Baik kegiatan membaca buku pelajaran. Tahap membaca permulaan umumnya pada masa peka yaitu usia enam atau tujuh tahun pada anak normal umunya. dan tahap menggunakan buku yakni setelah anak mengenal atau paham tentang simbolsimbol bunyi atau huruf-huruf. yakni: membaca tanpa buku dan membaca menggunakan buku”. anak diperhadapkan dengan bacaan. dan sebagainya. Bantuan yang diberikan umumnya berupa konkretisasi kata yang dibaca. Pada tahap ini penguasaan kosa kata pada anak masih sangat terbatas. 1) Membaca tanpa buku meliputi: merekam bahasa siswa. pelaksanaan membaca permulaan dibagi menjadi 2 tahap. dan pada usia sembilan atau sepuluh tahun pada anak tunagrahita. anak diperhadapkan dengan gambar-gambar yang telah diketahui anak sehingga anak tertarik. sehingga tahap pembelajaran seperti ini membuat anak bersemangat dan antusias.

Kita bedakan kata-kata tersebut. mengenal kata. Pendekatan yang dipakai dalam metode eja adalah pendekatan harfiah : dalam metode ini kita memperkenalkan abjad a sampai z beserta bunyi huruf atau fenom kepada anak.wordpress. perlu menggunakan metode yang menarik. 4) Metode SAS (Struktural Analisis Sintesis) Metode global kata yang dikenalkan kepada anak sudah berbentuk kalimat sederhana. e. kita kenalkan kepada anak suku kata. misalnya membaca menggunakan media kartu bergambar. Metode Pengajaran Membaca Agar pembelajaran membaca berhasil dengan baik.21 Pengembangan yang tepat pada tahap membaca permulaan perlu sekali. dan metode SAS 1) Metode eja / bunyi Adalah belajar membaca yang dimulai dari mengeja huruf demi huruf. metode global. pemahaman dan kesenangan membaca. Abdurrahman (2003:214) mengemukakan metode pengajaran membaca bagi anak pada umumnya: 1) Metode membaca dasar Menggabungkan berbagai prosedur untuk mengajarkan kesiapan. . Sedangkan pada metode SAS hanya menggunakan satu kata saja. kemudian diajak memecahkan kode tulisan menjadi bunyi percakapan. Metode kata lembaga. perbendaharaan kata. media lempar dadu huruf dan media yang menarik lainnya. huruf dan bunyi huruf. Kemudian menguraikan kata tersebut menjadi suku kata dan huruf kemudian merangkai lagi. biasanya yang paling cocok dan sesuai alam anak yaitu membaca sambil bermain. menawarkan berbagai metode yang dipergunakan bagi bunyi.com/2008/12/08). Dalam metode ini kita mengajarkan membaca dengan menggunakan kata yang telah di kenal anak. 3) Metode Global Metode Global menggunakan pendekatan kalimat. Tarmizi (http://tarmizi. 2) Metode fonik Pemahaman pada pengenalan kata melalui proses mendengarkan bunyi huruf 3) Metode linguistik Anak diberikan suatu bentuk kata yang terdiri dari konsonan-vokal atau konsonan-vokal-konsonan. 2) Metode Kata lembaga Metode kata lembaga menggunakan pendekatan kata.

waktu. Pemilihan metode pembelajaran sebaiknya dipergunakan dengan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut: 1) Menyenangkan bagi anak 2) Tidak menyulitkan anak untuk mengikuti/ menerima 3) Efektif dan efisien f. lesu. Guru hendaknya memilih metode yang cocok dan sesuai dengan situasi dan kondisinya. Pembelajaran Membaca Anak Tunagrahita Untuk mencapai prestasi belajar yang optimal. cuaca. (2) Kreativitas . (4) memperbaiki kegagalan. akan tetapi semua merupakan alat untuk membimbing anak-anak dalam keberhasilan belajar umumnya dan membaca khususnya. a) Faktor Fisiologis. Dari pendapat di atas penulis menyimpulkan bahwa ada berbagai macam metode didalam pembelajaran membaca yang masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. yaitu (1) Sifat ingin tahu. Metode pembelajaran di atas dapat diterapkan dalam pembelajaran membaca permulaan. suhu udara . ngantuk. b) Faktor sosial adalah gangguan yang terjadi pada proses belajar. Merangkai huruf 6) Metode pengalaman bahasa Mendengar. (3) simpati kepada orang lain .22 4) Metode SAS Memecahkan kode tulisan yang berupa kalimat sederhana 5) Metode Alfabetik Mengenalkan huruf.faktor yang mempengaruhi kemampuan membaca yang dikemukakan oleh beberapa ahli: Menurut Slameto (1993:249). (1) Keadaan jasmani seperti lelah.keadaan fungsi jasmani terutama fungsi panca indra. faktor.faktor yang kemampuan membaca adalah sebagai berikut: 1) Faktor yang berasal dari luar individu a) Faktor non sosial seperti: keadaan udara . b) Faktor Psikologis. letak tempat tinggal alat belajar ( alat tulis. bercakap-cakap. menulis. (2) Faktor Fisiologis . mempengaruhi . seperti keadaan lingkungan kelas. maka perlu memperhatikan faktor.batuk. alat peraga ). 2) Faktor yang berasal dari dalam individu. sakit gigi.

(6) adanya ganjaran atau hukuman. (7) kematangan sosial dan emosional. (5) ketrampilan berpikir kematangan mental. Anak tunagrahita adalah anak yang mengalami gangguan dalam kematangan berpikirnya untuk itu pembelajaran membaca bagi anak tunagrahita dilakukan dengan menggunakan metode dan media yang sesuai dengan karakteristik dan kemampuan anak. . Kliebhan dan Lerner seperti dikutip oleh Mercer (dalam Mulyono Abdurrahman. Berdasarkan pendapat di atas penulis simpulkan bahwa banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan membaca.23 (5) rasa aman . keadaan atau fungsi mental. (6) perkembangan motorik. (2) kematangan visual. kematangan berpikir. Metode yang digunakan metode eja. Pelaksanaan pembelajaran membaca bagi anak tunagrahita di Taman Kanak-Kanak Elim dilakukan dengan memperhatikan kemampuan anak serta pemilihan berbagai macam metode dan berbagai media yang tepat. Penggunaan metode eja ini dikombinasikan dengan berbagai alat peraga yang menarik perhatian anak. kartu huruf. (4) memperhatikan. (3) kemampuan mendengarkan. kata-kata sederhana. termasuk keadaan fungsi jasmani. Menunut Kirk. suku kata. sehingga mampu menimbulkan motivasi belajar membaca pada anak untuk tercapainya tujuan. (8) motivasi dan minat. 2003 : 201) ada delapan faktor yang (1) dan memberikan sumbangan bagi keberhasilan belajar membaca yaitu: perkembangan wicara dan bahasa. motivasi maupun minat. Video dan sabagainya. Peneliti mencoba untuk menggunakan media lempar dadu huruf dalam pembelajaran membaca permulaan yang bertujuan memberi model lain yang dapat membangkitkan minat anak dalam membaca. anak belajar mulai dari pengenalan huruf demi huruf. gambar. misalnya dengan puzle.

perasaan. Tinjauan tentang Media Permainan Lempar Dadu Huruf a. perhatian dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses pembelajaran terjadi dan berlangsung lebih efisien. Menurut Gagne (dalam Arief S. perasaan dan perhatian anak didik untuk mencapai tujuan pendidikan Menurut Wijaya Kusumah (2008). Terkait dengan pembelajaran .24 3. Pengertian Media Media berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari kata medium yang secara harfiah mempunyai arti antara. adalah sebuah . Dalam Wikipedia menyebutkan “kata Dadu berasal dari bahasa latin “datum” yang berarti suatu yang diberikan atau dimainkan. “ kata media berasal dari bahasa latin medium adalah sesuatu terletak ditengah (antara dua kutub atau antara dua pihak) atau suatu alat “. b.Media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim pesan ke penerima pesan. media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari guru ke siswa sehingga dapat merangsang pikiran. Sadiman. Menurut Association for Educational Communications Teahnology (AECT) di Amerika yang dikutip oleh Wikipedia (2009). Dari pendapat tersebut diatas dapat disimpulkan. perantara atau pengantar. Pengertian Media Lempar Dadu Huruf Dadu adalah bentuk dari suatu benda yang biasanya kita gunakan dalam permainan. “Media pendidikan ialah segala bentuk saluran yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan / informasi”. media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyampaikan pesan dari pengirim pesan kepada penerima pesan sehingga dapat merangsang pikiran . 2003 : 6) “media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk belajarnya”. dkk.

waktu dan daya indra seperti : a ) Obyek terlalu besar . (2003 : 16-17) media dalam pendidikan mempunyai fungsi sebagai berikut: 1) Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalistik (dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan belaka). film dan gambar c) Gerak yang terlalu lambat atau dapat dibantu high speed photography atau low speed photography. Dadu biasanya digunakan sebagai alat untuk berjudi. dkk. kata dan kalimat sederhana. ataupun dengan ketentuan tertentu yang disepakati dalam permainan tersebut. b) Obyek yang kecil – dibantu dengan proyektor mikro. lingkaran atau lubang dua pada satu sisi demikian seterusnya pada sisi-sisi yang lainnya. merangkai huruf menjadi suku kata. film dan model. untuk keperluan meningkatkan kemampuan anak dalam membaca permulaan. Penulis menggunakan dadu yang dirancang dengan simbol huruf pada setiap sisi-sisnya sebagai media pembelajaran dalam rangka pengenalan huruf. Tujuan pembelajaran ini untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan pada anak. Gambar lubang atau lingkaran satu pada satu sisi.25 obyek kecil yang umumnya berbentuk kubus yang digunakan untuk menghasilkan angka atau simbol acak”. Fungsi Media Permainan Lempar Dadu Huruf Media bermain lempar dadu huruf memiliki fungsi untuk memotivasi anak dalam belajar lewat bermain. seperti media dalam pendidikan lainnya. . dengan menebak sisi yang muncul pada setiap lemparan. 2) Mengatasi keterbatasan ruang . Pada keenam sisisisinya biasanya tertera gambar lubang-lubang yang berbeda jumlahnya.bisa digantikan dengan realitas gambar. Menurut Arief S. c. Sadiman . Dadu adalah sebuah benda yang berbentuk kubus. film bingkai. film bingkai . 3) Dengan menggunakan media pendidikan secara tepat dan bervariasi dapat diatasi sikap pasif anak didik dalam hal ini media berguna untuk: a) Menimbulkan kegairahan belajar.

tentang kejadian masa lalu dapat ditampilkan kembali lewat rekaman film. masalah ini dapat diatasi dengan media pendidikan. . dan materi pendidikan ditentukan sama untuk setiap siswa. obyek yang terlalu kecil bisa diganti proyektor mikro.speed phography. sedang kurikulum. artinya hanya berbentuk kata-kata tertulis atau tulisan. 2) Bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh siswa. film bingkai. 3) Metode mengajajar akan lebih bervariasi. 4) Dengan sifat yang unik pada setiap siswa ditambah lagi dengan lingkungandan pengalaman yang berbeda . foto.26 b) Memungkinkan interaksi yang lebih langsung antara anak didik dengan lingkungan.gambar. Menurut Oemar Hamalik (2005: 19) manfaat secara umum media pembelajaran memiliki fungsi seperti berikut: 1) Memperjelas penyajian pesan agar tidak bersifat verbalistik. dan daya indra. c) Memungkinkan anak didik belajar sendiri menurut kemampuan dan minatnya. Dalam situasi demikian media pembelajaran dapat menimbulkan kegaerahan belajar dan memungkinkan terjadinya interaksi secara langsung antara anak didik dengan lingkungan serta memungkinkan anak didik belajar sendiri menurut kemampuan dan minatnya. film bingkai. gempabumi. iklim dan divisualisasikan dalam bentuk film . maka guru akan banyak mengalami kesulitan bilaman latar belakang guru dan siswa sangat berbeda. film bingkai. sedang gerak yang lambat atau cepat bisa dibantu dengan time . Ada beberapa alasan diantaranya yang berkenan dengan manfaat media pengajaran dalam proses belajar siswa antara lain: 1) Pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar. video. 3) Menggunakan media pembelajaran secara tepat dan bervariasi akan dapat diatasi sikap fasif anak didik atau siswa. gambar dan lain sebagainya. kemudian obyek yang terlalu komplek bisa dibantu dengan modul.diagram. Menurut Wijaya Kusumah (2008). 2) Mengatasi keterbatasan ruang. misalnya obyek yang besar diganti gambar.lapse atau high. terakhir konsep yang sangat luas seperti gunung berapi. dan memungkinkan siswa menguasai materi lebih baik. waktu. media dapat mempertinggi proses belajar siswa dalam gilirannya dapat mempertinggi hasil belajar yang tercapai.

d. Kelemahan dan Kelebihan Permainan Lempar Dadu Huruf Tidak ada satupun metode pengajaran yang tidak memiliki kekurangan. dengan bimbingan guru bagi mereka yang belum atau kurang mampu. Anak membaca dari hasil permainan tersebut. Anak lebih terampil dalam motorik halusnya maupun motorik kasarnya berkembang dan anak semakin sehat. 3) Memfariasikan penyajian pendidikan dalam penyajian pendidikan 4) Untuk menarik perhatian siswa dan memutivasi siswa. Fungsi dari dadu huruf ini adalah untuk menebak huruf yang akan keluar pada sisi yang muncul/posisi atas atau menurut kesepakatan dalam permainan ini. 2) Objek terlalu luas atau sempit yang sebenarnya tidak dapat ditampilkan akirnya dapat ditampilkan. atau penyajian menjadi lebih jelas. media ini jaga berfungsi untuk meningkatkan aktifitas fisik dan motorik lainnya. semua metode pembelajaran memiliki kelemahan dan kelebihan.27 4) Siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar. Berdasarkan pendapat di atas fungsi media dapat penulis simpulkan sebagai berikut: 1) adanya media penyajian pesan tidak terlalu bersifat verbalistik. mendemostrasikan dan sebagainya. sebab tidak hanya mendengarkan uraian guru. melakukan. Selain fungsi utama yang disebutkan di atas. kata dan kalimat sederhana untuk meningkatkan kemampuan membaca mereka. tetapi juga aktifitas lain seperti mengamati. merangakai menjadi suku kata. Media ini berfungsi sebagai sarana mengenalkan atau mengingatkan kembali pada anak pada huruf-huruf. kata atau kalimat-kalimat sederhana. Selanjutnya menyusun sisi-sisi yang muncul atau yang telah disepakati menjadi susku kata. Demikian dan mengaktifkan siswa . 5) Utuk memutivasi siswa belajar sendiri Media ini merupakan alat peraga yang setiap sisinya memiliki simbol huruf.

Misalnya anak mengambil dadu pada kelompok vokal dan dilemparkan. Kelemahan dari pembelajarandengan mempergunakan media lempar dadu huruf adalah: 1) Menyita banyak waktu Untuk membaca satu huruf memerlukan banyak waktu.lemparan kedua vokal yang muncul adalah i . tidak hanya sebanyak jumlah huruf dalam satu abjad akan tetapi lebih dari itu.lemparan ketiga konsonan yang muncul adalah l . karena anak harus melempar terlebih dahulu sebuah dadu kemudian memperhatikan untuk dibaca. kadangkadang vokal yang muncul setelah digabung dengan konsonan tidak membentuk kata yang memiliki arti.lemparan keempat vokal yang muncul adalah u Kata yang muncul setela dadu disusun adalah b i l u 3) Memerlukan banyak sekali dadu. Contoh: . disusun kemudian dibaca. Dadu harus dipersiapkan dalam jumlah yang banyak. Untuk membaca suku kata memerlukan waktu yang agak lama karena harus melempar dua atau tiga huruf kemudian disusun dan dibaca. ada kelemahan dan kelebihannya.28 juga dengan pembelajaran dalam bentuk permainan lempar dadu huruf ini. Pemberian kesempatan kepada anak untuk menentukan . agar kata-kata yang dapat disusun oleh anak dalam jumlah yang banyak dan bervariasi. Kelebihan dari pembelajaran membaca permulaan lewat bermain lempar dadu huruf ini adalah : 1) Anak memilih sendiri dadu huruf yang dilemparnya sehingga anak bersemangat. lalu mengambil dadu pada kelompok konsonan dan dilemparkan.lemparan pertama konsonan yang muncul adalah b . 2) Kadang-kadang huruf yang muncul tidak membentuk kata yang punya arti. diliempar. Untuk membaca suku kata anak harus mengambil empat dadu (KVKV).

lalu kita jelaskan kepada anak informasi seputar dadu sesuai dengan tingkat kemampuan berpikir anak. Anak yang belum dapat menyusun huruf menjadi kata akan berusaha mencoba lagi sehingga mereka memiliki keinginan untuk mencoba dan mencoba lagi. Langkah-langkah Pengajaran dengan Menggunakan Media Permainan Lempar Dadu Huruf Dalam pembelajaran melalui media bermain lempar dadu huruf ini terlebih dahulu diperkenalkan kepada anak. sehingga anak aktif.29 pilihan merupakan hal yang menyenangkan bagi anak. yakni dadu. e. Komentar apa yang diberikan anak tentang benda ini. Guru berperan sebagai motivator. Saat anak memilih ada aktifitas dalam segi kognitif dan motorik halus. alat permainan yang akan kita pakai sebagai media pembelajaran. menebak huruf yang muncul dan menyusun serta membacanya. anak merasa bersemangat dan kepercayaan dirinya tumbuh. memotivasi anak untuk mengambil. 2) Tidak mengantuk dan bosan karena anak beraktifitas dengan aktif. Setelah melempar anak dengan senangnya cepatcepat ingin mengetahui apa isi/ bacaan dari lemparan yang akan disusunnya. Saat menyusun aktifitas dalam kognitifnya bekerja. Pemberian reward atau penghargaan setiap keberhasilan anak akan membuat anak lebih bersemangat dan merasa dihargai. Anak akan merasa bangga jika huruf yang dilemparnya dapat membentuk suatu kata yang memiliki arti. melempar dadu dengan antusias. Anak diberi kesempatan untuk mengambil/memilih. menyusun dan membacanya. dalam hal ini. saat anak melempar ada aktifitas dalam motorik kasarnya. Setelah anak memberikan pendapatnya tentang dadu. bahwa dadu memiliki 6 . motorik halusnya juga bekerja. melempar. Dijelaskan kepada anak. 3) Anak tertarik untuk mengetahui huruf apa yang keluar dan kata apa yang muncul dari setiap lemparan yang dibuatnya sendiri. Anak ingin segera membaca dari hasil lemparan yang telah disusun tadi dengan mengaktifitaskan aspek kognitifnya.

membaca kata-kata sederhana. Melaksanakan pembelajaran yang menyenangkan bagi anak tunagrahita adalah salah satu cara untuk membangkitkan motivasi anak dalam pembelajaran. Permainan ini dilakukan berulang-ulang sehingga anak aktif dalam pembelajaran. sehingga tercapai tujuan pembelajaran. Anak mengambil 1 kali dan melempar dadu dari kelompok satu/huruf vokal. dua lubang hingga enam lubang. Anak ditunjukkan lambang-lambang dari setiap . Penerapan Pembelajaran dengan Menggunakan Media Bermain Lempar Dadu Huruf pada Anak Tunagrahita Anak tunagrahita dalam belajar perlu ditunjukkan dengan benda kongkrit (simbol bunyi. merasa senang sehingga kemampuan membaca permulaan pada anak mengalami peningkatan f.. Setelah empat kali lemparan anak memperhatikan dan membaca huruf yang telah terkumpul dan tersusun. dilanjutkan dengan mengambil dadu bergantian dari kelompok satu dan dua selama empat kali. Kelompok 1 adalah dadu dengan huruf vokal kelompok 2 dadu dengan huruf konsonan. kemudian mengambil dan melempar dadu dari kelompok huruf konsonan sesuai pilihan anak. Dadu yang sering kita lihat setiap sisinya terdapat lubang yang setiap sisinya berbeda jumlahnya satu dengan sisi yang lain. Pada pembelajaran ini dadu setiap sisinya diberi simbol huruf. dalam pembelajaran membaca) secara kongkrit lewat tulisan. Penerapan permainan lempar dadu huruf adalah sebagai media serta alat peraga yang digunakan dalam pembelaran pengenalan huruf. Anak disuruh mengamati dan menyebutkan huruf apa yang muncul atau yang berada pada posisi atas. Jika anak telah melakukan berkali-kali dan telah paham atau mampu membaca huruf yang ada pada posisi atas. Dadu dikelompokkan menjadi 2. Anak tunagrahita memiliki kemampuan berpikir di bawah temanteman normal lainnya.30 sisi. Penerapan permainan lempar dadu huruf bertujuan untuk memotivasi anak dalam mengikuti pelajaran. masing-masing sisi terdapat satu simbol huruf. Hal ini dilakukan untuk mengenal huruf. membaca suku kata. dari satu lubang.

Memperoleh informasi-informasi dan menjadikan seseorang . Kerangka Berfikir Membaca merupakan salah satu bidang akademik yang harus segera dimiliki oleh siswa termasuk anak tunagrahita ringan. kemudian disusun sehingga membentuk kata yang dapat dibaca anak. kemudian dilempar dan satu dadu kelompok vokal. B. kemudian disuruh mengambil. Usia dini adalah masa bermain. Untuk membaca suku kata anak diberi kesempatan mengambil satu dadu kelompok konsonan. sesuai dengan karakteristik anak pembelajaran yang diberikan hendaknya dikemas dalam bentuk permainan yang mendidik. Membaca merupakan salah satu bidang akademik yang harus segera dimiliki siswa. yang mampu merangsang sel otak sehingga anak memiliki perkembangan dan pertumbuhan yang baik secara optimal. Dengan membaca seseorang mengerti banyak hal. tidak membebani sehingga anak merasakan belajar seraya bermain. dilempar lalu keduanya disusun sehingga muncul suku kata. Karena manfaat membaca mampu meningkatkan belajar pada bidang akademik yang lain. Demikian juga pengaruhnya terhadap anak tunagrahita yang bersama-sama belajar dengan anak normal lainnya sangat kelihatan. bersemangat dan ingin mengetahui leebih banyak lagi. termasuk anak tunagrahita. Penggunaan media bermain lempar dadu huruf pada Taman KanakKanak Elim menjadikan suana penuh dengan semangat dan antusias. Pembelajaran membaca permulaan di Taman Kanak-Kanak dapat diberikan lewat suatu permainan yang menyenangkan anak.31 huruf yang ada dalam dadu. karena membaca mampu meningkatkan prestasi belajar pada bidang akademik lainnya. hal ini dibuktikan lewat pengamatan yang dilaksanan dan hasil nilai yang diperoleh siswa tunagrahita pada pembelajaran membaca permulaan. Untuk membaca kata dilakukan empat kali lemparan dari dadu KVKV. Penerapan pembelajaran dengan menggunakan berbagai media yang variatif akan tidak membuat anak menjadi bosan. melempar dan membacanya.

Membaca permulaan merupakan tahapan proses belajar membaca. materi pelajaran. anak belajar memperoleh kemampuan dan cara-cara dalam membaca dan menangkap isi bacaan. . Banyak faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan siswa dalam membaca.J. kemudian dapat dilanjutkan dengan kata-kata yang sangat sederhana sesuai dengan usia dan kemampuan anak.32 bertambah luas wawasannya. Sehingga anak merasakan sesuatu kesenangan didalam belajar bukan suatu beban atau tekanan. Demikian juga dalam belajar membaca permulaan. bekerja dengan penuh inisiatif. Usia peka atau usia dini merupakan fase anak bermain. serta tehnik mempelajari materi pelajaran. menambah proses pengayaan pribadi. Membaca merupakan kata kerja dengan kata dasar “baca” yang memiliki arti melihat tulisan dan megerti atau dapat melisankan apa yang tertulis (W. mendapatkan informasi untuk memecahkan konflik dan mengenali dan lain sebagainya. untuk itu segala pembelajaran yang diberikan kepada anak harus dalam bentuk bermain. yaitu enam tahun atau tujuh tahun bagi anak normal atau sembialn atau sepuluh tahun. bentuk permainan dapat menarik anak untuk belajar dengan tanpa beban. Secara umum faktorfaktor tersebut dapat diidentifikasi seperti guru. Tahap membaca permulaan umumnya diajarkan pada saat tibanya masa peka. Membaca dapat digunakan untuk mengembangkan perbendaharaan kata. Permainan dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk mengetahui huruf-huruf yang ada. siswa. Aktifitas mental mencakup ingatan dan pemahaman. Membaca bukanlah suatu kegiatan yang mudah. Membaca merupakan kegiatan fisik dan mental untuk menemukan makna dari tulisan aktifitas fisik yang berkait dengan membaca adalah gerak mata dan ketajaman penglihatan. kondisi lingkungan. seperti dapat membebaskan dari tekanan.S. Poerwadarminta 1984 : 71). mengembangkan intelektualitas Membaca mempunyai nilai besar untuk orang dewasa karena berkontribusi pada perkembangan.

Media ini melibatkan siswa secara aktif. Permainan yang dilakukan sesuai peraturan yang telah ditetapkan membuat anak belajar untuk berdisiplin. Sedangkan kemampuan diartikan kesanggupan.33 Kata “kemampuan” berasal dari kata dasar “mampu” yang berarti mengandung makna yang sama dengan kata “bisa atau sanggup melakukan sesuatu”. Pemberian reward pada setiap kata yang memiliki makna akan lebih meningkatkan antusias anak sehingga anak terangsang terus pada akhirnya anak memperoleh pengetahuan dan pemahaman konsep lebih mendalam terhadap materi yang diajarkan dengan menggunakan media permainan lempar dadu huruf dalam membaca permulaan untuk anak tunagrahita ringan diharapkan prestasi belajarnya meningkat. Untuk itu perlu dilakukan suatu strategi untuk membuat anak tertarik pada membaca yaitu dengan pembelajaran melalui media bermain lempar dadu huruf. kecakapan untuk melakukan sesuatu. Adapun kerangka berpikir pembelajaran dengan menggunakan media bermain lempar dadu huruf adalah sebagai berikut : .

Tindakan adalah melaksanakan apa yang telah direncanakan sebelumnya. C.34 Kondisi awal kemampuan membaca sebelum Pembelajaran menggunakan media Bermain lempar dadu huruf Tindakan Pembelajaran menggunakan media bermain lempar dadu huruf Kemampuan membaca permulaan Kondisi Akhir setelah menggunakan media bermain lempar dadu huruf Keterangan: Kondisis awal adalah kondisi anak sebelum pembelajaran dengan menggunakan media lempar dadu huruf dilaksanakan. Kondisi akhir adalah kondisi setelah pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan media bermain lempar dadu huruf. maka kemampuan membaca permulaan siswa tunagrahita kelas B Taman Kanak-kanak Elim Sragen meningkat”. yakni kemampuan membaca permulaan sangat rendah. yaitu pelaksanaan pembelajaran membaca permulaan dengan menggunakan media lempar dadu huruf. Hipotesis Tindakan Adapun hipotesis dalam penelitian ini adalah “melalui pembelajaran dengan menggunakan media lempar dadu huruf. .

Mengenal huruf tertentu saja 4. B. Penelitian berlangsung selama bulan Juli sampai september 2010. Di kelas tersebut terdapat dua anak sebagai subyek penelitian yaitu Farel dan Ian Rudianto.80 Sragen. Setting Penelitian Tempat penelitian tindakan kelas adalah Kelas B Taman Kanak-kanak Elim Sragen. tindakan.Melihat adanya perbedaan yang sangat signifikan pada kedua siswa yang mengalami keterlambatan didalam kemampuan membaca permulaan dibandingkan dengan empat belas murid yang lainnya. Subjek Penelitian Subjek penelitian Tindakan kelas ini adalah siswa tunagrahita kelas B Taman Kanak-kanak Elim Sragen. Belum dapat membaca . 3. Penggandaan dan pengiriman laporan pendidikan. penyempurnaan berdasarkan saran dari dosen pembimbing dan pihak lain yang dirasa perlu. evaluasi dan refleksi). Kurang semangat dalam mengikuti kegiatan belajar namun dalam bermain sangat bersemangat melebihi teman-temannya. Penelitian dilakukan di kelas B Taman Kanak-Kanak Elim Sragen didasarkan pada pertimbangan : 1. Penyusunan laporan pendidikan. Pengamatan terhadap hasil pembelajaran membaca permulaan adalah selama dimulainya semester II TK A. Raya Sukowati no. Rincian kegiatan penelitian tersebut adalah. Jln. persiapan penelitian.35 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. koordinator persiapan tindakan pelaksanaan (perencanaan. Anak cenderung pendiam 2. Taman Kanak-Kanak Elim adalah tempat dimana penulis mengajar dan juga sebagai wali kelas. 2. monitoring. Farel memiliki karekteristik sebagai berikut: 1.

(Subjek) . Sulit berkonsentrasi 3.5 5 5.4 5. Suka mengganggu.(Subjek) √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 . Tidak peduli. jika ditanya tidak memberikan respon jika pertanyaan tidak diulangUlang 4. No A AK AR EN F IR JG KN LT LR RW SP TL TA Y YK Nama Jenis kelamin L P P L P P L P p L p L p p L p L Usia 5 5. 5. C.7 5.3 5. Mampu membaca suku kata. kata sederhana jika dibantu.5 5 6 5 5. Data dan Sumber Data Data Penelitian yang dikumpulkan berupa informasi tentang kemampuan membaca khususnya dan kemampuan menulis serta kemampuan lain umumnya. cenderung hiperaktif 2.3 5 Nilai 85 80 80 85 30 35 85 90 95 90 90 85 90 85 95 95 Ket √ √ √ √ . Anak sangat banyak bergerak. Nilai yang dicapai siswa selama pembelajaran di kelas A.2 5. Ian Rudianto memiliki karakter sebagai berikut: 1. Lambat dalam menjawab pertanyaan.7 5.36 5.2 5 5.

37

Nilai di Taman Kanak-kanak adalah berupa simbol yang memiliki bobot tertentu, demikian juga di taman kanak-kanak Elim Sragen menggunakan simbol bintang yang memiliki bobot nilai 2,5. Nilai tertinggi adalah bintang 4 (****) yang memiliki bobot nilai 10. Rata-rata nilai yang dicapai kedua subjek tersebut adalah bintang 1 dan bintang 2. Jika dibandingkan keduanya anak ian sering memperoleh nilai lebih tinggi dari pada farel, yaitu bintang 2. Ian lebih sedikit mampu membaca suku kata dan kata–kata sederhana daripada Farel. Metode-metode yang digunakan guru yang tepat sesuai dengan kondisi anak akan mampu meningkatkan kemampuan membaca pada anak, hanya penerapan metode yang kurang menarik membuat anak menjadi jenuh dan tidak bersemangat khususnya bagi Farel dan Ian, untuk itu peneliti mencoba menggunakan media bermain lempar dadu huruf agar anak tertarik. Sumber data dari dari penelitian ini adalah siswa dan guru. Peristiwa yang terjadi selama pembelajaran berlangsung. Dokumen atau arsip yang berupa kurikulum kurikulum, rencana pelaksanaan pembelajaran, hasil kegiatan anak dan buku penilaian. D. Teknik Pengumpulan Data Tehnik pengumpulan data data adalah yang suatu prosedur yang sitematik diperlukan. Oleh karena itu dan standar untuk memperoleh

kualitas data sangat ditentukan oleh alat pengumpul data atau alat ukuran, sehingga data benar-benar valid dan reliable. Adapun tehnik pengumpulan data yang digunakan adalah dengan tes, observasi, dokumentasi. 1. Tes a. Pengertian test Untuk mengetahui kemampuan anak diperlukan alat untuk mengukur. Alat ukur kemampuan terseburt adalah test. Menurut Suharsimi Arikunto (2005:127) test adalah “serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk mengukur, ketrampilan.

38

pengetahuan intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki individu atau kelompok”. Menurut Baitul Alim (http://www.psikologzone.com/2006) “Suatu tes dapat didefinisikan sebagai suatu tugas atau serangkaian tugas- tugas yang digunakan untuk memperoleh tentang suatu atribut atau hasil pendidikan yang representative”. Berdasarkan dua pendapat diatas dapat penulis simpulkan bahwa tes adalah serangkaian pertanyaan yang harus dijawab untuk mengukur kemampuan atau bakat yang dimiliki individu atau kelompok. Tujuannya . pretest. Kegiatan pembelajaran dilaksanakan, pada akhir pembelajaran diadakan postest untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan yang dicapai dalam membaca permulaan dengan menggunakan media bermain lempar dadu huruf. b. Jenis – Jenis tes Ada beberapa jenis tes yang dapat dipergunakan untuk mengukur kemampuan seseorang adalah sebagai berikut: Menurut Baitul Alim (2006). Jenis tes dikelompokkan menjadi : “ Tes intelegensi, tes bakat, tes hasil belajar, dan tes kepribadian “. Menurut Pandit, PL (2010:12) Jenis tes dikempokkan menjadi: 1 ) Tes Intelegensi Tes kemampuan intelektual, mengukur taraf kemampuan berpikir, terutama berkaitan dengan potensi untuk mencapai taraf prestasi tertentu dalam belajar di sekolah ( Mental ability Test ; Intelegence Test; Academic Ability test; Scholastic Aptitude Test ). Jenis data yang dapat diambil dari tes ini adalah kemampuam intelektual atau kemampuan akademik. 2 ) Tes Bakat Tes kemampuan bakat, mengatur taraf kemampuan seseorang untuk berhasil dalam studi tertentu, program pendidikan vokasional tertentu atau bidang pekerjaan tertentu, lingkupnya lebih terbatas dari tes kemampuan intelektual (Test of Specific Ability ; Aptitude Test ). tes adalah : untuk sejauh mengukur mana kemampuan kemampuan ketrampilam, anak sebelum kemampuan, kecerdasan dan bakat yang dimiliki anak atau seseorang. Untuk mengukur pembelajaran melalui media lempar dadu huruf dilakukan, yaitu melalui

39

Kemampuan khusus yang diteliti itu mencakup unsure-unsur intelegensi, hasil belajar, minat dan kepribadian yang bersama-sama memungkinkan untuk maju dan berhasil dalam suatu bidang tertentu dan mengambil manfaat dari pengalaman belajar dibidang itu 3 ) Tes Minat Tes minat, mengatur kegiatan–kegiatan macam apa paling disukai seseorang. Tes macam ini bertujuan membuat orang mudah dalam memilih macam pekerjaan yang kiranya paling sesuai baginya (Test of Vocational Interest ). 4 ) Tes Kepribadian Tes kepribadian, mengatur ciri-ciri kepribadian yang bukan khas bersifat kognitif, seperti sifat karakter, sifat temperamen, corak kehidupan emosional, kesehatan mental, relasi-relasi sosial dengan orang lain, serta bidang-bidang kehidupan yang menimbulkan kesukaran dalam penyesuaian diri. Tes proyektif, meneliti sifat-sifat kepribadian seseorang melalui reaksi –reaksinya terhadap suatu kisah, suatu gambar atau suatu kata; angket kepribadian, meneliti berbagai ciri kepribadian seseorang dengan menganalisa jawaban-jawaban tertulis atas sejumlah pertanyaan untuk menemukan suatu pola bersikap, bermotivasi atau bereaksi emosional, yang khas untuk orang lain itu. Kelemahan Tes proyektif hanya diadministrasi oleh seorang psikolog yang berpengalaman dalam menggunakan alat itu dan ahli dalam menafsirkannya. 5 ) Tes Perkembangan Vocasional Tes vocasional, mengukur taraf perkembangan orang muda dalam hal kesadaran kelak akan memangku suatu pekerjaan atau jabatan ( vocation ) dalam memikirkan hubungan antara memangku suatu jabatan dan cirriciri kepribadian serta tuntunan-tuntunan sosial ekonamis; dan dalam menyusun serta mengimplementasikan rencana pembangunan masa depannya sendiri. Kelebihan tes semacam ini meneliti taraf kedewasaan orang muda dalam mempersiapkan diri bagi partisipasinya dalam dunia pekerjaannya ( career maturity ) 6 ) Tes Hasil Belajar (Achievement Test) Tes yang mengukur apa yang telah dipelajari pada berbagai bidang studi, jenis data yang dapat diambil menggunakan tes hasil belajar (Achievement Tes ) ini adalah taraf prestasi dalam belajar. Berdasarkan beberapa pendapat tentang jenis tes, penulis simpulkan yaitu tes tertulis, tes lesan, tes bakat, tes kepribadian dan tes perkembangan vocasional.

40 Penelitian ini. yaitu: 1 ) Observasi nonsistematis . Berdasarkan pendapat diatas penulis simpulkan: observasi adalah suatu tindakan pengamatan dan pencatatan yang dilaksanakan secara langsung. b. Menurut Muhammad Idrus (2007 : 129) “observasi atau pengamatan merupakan aktivitas pencatatan fenomena yang dilakukan secara sistematis”. jenis tes yang penulis gunakan adalah: tes lisan. dan tes perbuatan. partisipan dan sistimatis terhadap suatu obyak dengan menggunakan seluruh alat indra. 2 ) Obsevasi sistematis yaitu observasi yang dilakukan oleh menggunakan pedoman sebagai instrumen pengamatan. Sedang observasi penulis gunakan sistematis. yaitu Observasi yang dilakukan oleh tidak menggunakan instrumen. Jenis Observasi Observasi ada beberapa macam atau jenis. Pengertian Observasi. Pengamatan / Observasi a. Menurut Suharsimi Arikunto (2005 : 147) observasi ditinjau dari jenisnya ada dua macam . pengamat dengan yaitu obsevasi partisipan (aktif) dan yang meliputi kegiatan pemusatan perhatian terhadap suatu pengamat dengan . 2. Tujuannya adalah untuk mengetahui kemampuan membaca siswa sebelum dan setelah diberi tindakan. Menurut Suharsimi Arikunto (2005 : 145) “observasi adalah pengamatan objek dengan menggunakan seluruh alat indra”.

Menurut Suharsimi Arikunto (2005 : 206) ”Dokumen merupakan salah satu media yang digunakan untuk melengkapi data mengenai hal – hal yang berupa catatan. 3. a single unit of information (setunggal informasi). yang dirasa kurang lengkap dokumen.suara hidup (moving images ). 2 ) Obsevasi sistematis Observasi nonsistematis Obsevasi sistematis yaitu dimana obseever menggunakan kerangka materi atau instrumen untuk memudahkan dalam malakukan observasi. prasasti.mail. Dokumentasi a. dan sebagainya”. surat kabar. atau kurang yakin bila tidak didukung dengan . pada umumnya berisi teks.Observasi Nonpartisipan. agenda. misalnya sebuah buku. majalah .150) dibedakan atas : jenis observasi 1 ) Observasi Partisipan . Sedang observasi nonpartisipan justru sebaliknya.Obsevasi Noneksperimental. Adapun dalam penelitian ini jenis obsevasi/pengamatan yang penulis gunakan adalah observasi atau pengamatan partisipan dan sistematis. untuk melengkapi data. notulen rapat. tetapi mengandung bentuk lain seperti gambar. transkip.41 Sedang menurut Sutrisno Hadi (2000 :141. Pengertian Dokumen adalah salah satu alat pengumpul data . sebuah e. sebuah berkas. 3 ) Obsevasi Eksperimental . Observasi Partisipan yaitu jika orang mengadakan observasi turut ambil dalam kehidupan orang yang diobsevasi.Dokumen bisa pula dikategorikan menurut bentuk fisiknya . sistematis dan eksperimen. Obsevasi Eksperimental yaitu dimana observer oran yang didikte oleh jalannya arus peristiwa . Berdasarkan pendapat tentang jenis observasi penulis simpulkan yaitu: observasi partisipan . Menurut Pandit P L (2010:12) Istilah dokumen dipakai untuk satu informasi tunggal . sebuah halaman Web. buku. Sedang observasi nonsistematis justru sebaliknya.

dokumen Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang dibuat guru. hasil tulisan atau karangan siswa. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang dibuat guru. prasasti. agenda. b. transkrip. sebuah e-mail dan arsip – arsip lain yang ada kaitannya dengan prestasi keadaan siswa. dan kemampuan membaca permulaan khususnya. dokumen adalah pengumpulan data melalui peninggalan tertulis bisa surat kabar. dan nilai yang diberikan guru. buku atau materi pelajaran. jenis dokumen penulis simpulkan yaitu dokumen catatan kesiswaan. Adapun jenis disekolah dan di luar sekolah. isinya tentang hasil atau prestasi belajar.42 Berdasarkan pendapat di atas penulis simpulkan. keadaan dan perkembangan pribadi atau siswa. Jenis Dokumentasi Untuk melengkapi data dalam penelitian. dokumen hasil karya siswa. dokumen catatan kesiswaan yang berada belakang disetiap sekolah. latar keluarga. . terutama kemampuan membaca anak tunagrahita sebelum menggunakan media bermain lempar dadu huruf. buku. dukumen pelengkap dokumen sebagai pelengkap penelitian ini adalah: Menurut Fu’adz Al-Gharuty (2009). Dokumen yang penulis gunakan adalah raport. aktivitas arsip terdiri merupakan salah satu diantara data – data yang telah ada. untuk mengetahui kemampuan siswa pada umumnya. catatan atau buku ulangan harian siswa. Jenis dokumen penulis gunakan adalah jenis dokumen catatan kesiswaan. Menurut Sawarji Suwandi (2008 : 68) dokumen dari: Kurikulum. daftar nilai. berkas. Berdasarkan pendapat diatas. notulen rapat. dokumen nilai yang diberikan guru. majalah.

yang reliable akan menghasilkan data yang dapat dipercaya juga. conten validity. Instrumen yang baik tidak akan bersifat tendensius mengarahkan responden untuk memilih jawabanjawaban tertentu (Suharsini Arikuntoro. Penulis dalam penelitian ini menggunakan uji validitas conten validity. Teknik yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah riview informasi kunci dan triangulasi. internal validity dan empirical validity”. Instrumen yang sudah dapat dipercaya . external validity. Validitas dan Reliabilitas Instrumen Tes adalah alat pengukur prestasi belajar anak didik. F. Tes valid artinya tes yang dibuat hendaknya dapat mengukur apa yang dapat diukur. . tes cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut sudah baik.43 E. Tes harus reliabel. yakni validitas. Validitas Data Agar penelitian dapat dipertanggungjawabkan diperlukan adanya validitas sehingga data tersebut dapat dijadikan dasar yang kuat untuk menarik kesimpulan. maka tes tersebut harus memenuhi syarat sebagai tes yang baik. 2005:142). factorial validity. Tes yang disusun harus sesuai dengan materi yang pernah diajarkan dan mempunyai taraf kesukaran yang sama dengan kemampuan peserta didik. Validitas data adalah data yang sesuai dengan apa yang akan diukur. Tehnik reliabilitas menggunakan standar isi berdasarkan standar standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam pembelajaran membaca sesuai dengan KTSP. Jenis-jenis validitas tes menurut Sutrisno Hadi (2000:111) antara lain: “facer validity. yaitu instrumen dari beberapa butir tes yang mencerminkan suatu faktor yang tidak menyimpang dari fungsi instrumen berupa kisi-kisi buatan guru berdasarkan KTSP. agar tes dapat digunakan sebagai alat pengukur prestasi belajar yang baik. logical validity.

Kesimpulan penulis data dianggap valid apabila data itu dapat mengungkap kebenaran dan dapat digunakan dengan mudah serta dapat digunakan siapa saja.” Lexy Moelong dalam Sarwiji Suwandi (2008 : 69). membaca di depan kelas. Triangulasi sumber data a. Tugas membaca. “Review informasi kunci adalah mengkonfirmasikan data atau interprestasi temuan kepada informasi kunci sehingga diperoleh kesepakatan anatar peneliti dan informan tentang data atau informasi temuan tersebut. Data dari raport semester II kelas A. Wawancara dengan orang tua siswa tentang belajar anak di rumah. Menurut Sarwiji Suwardi. mengadakan diskusi dengan kolaburator tentang kondisi anak. Pemberian tes.” (Sarwiji Suwandi 2008 : 69). siswa mengalami kesulitan . Triangulasi Pengumpulan data a. Diskusi dengan teman sejawat tentang fasilitas/ media pembelajaran di sekolah. c. Review informasi kunci. Teknik triangulasi digunakan sumber data sebagai berikut: 1.”data dianggap valid apabila setelah melakukan kegiatan pengamatan maupun kajian dokumen diperiksa kembali oleh peneliti sehingga data tersebut valit”. membaca huruf awal kartu bergambar: b. b. nilai rata-rata 45 2.(2008:69). kebiasaan anak yang diamatinya dalam lingkungan sekolah umumnya dan saat pengamatan dalam kegiatan belajar khususnya. sikap anak.44 “Triangulasi adalah teknik pemeriksaan validitas data dengan memanfaatkan sarana di luar data itu untuk keperluan pengecekkan atau pembandingan data itu.

yaitu membandingkan nilai awal dengan post tes I. Prosedur ini secara garis besar dapat digambarkan dengan skema sebagai berikut : Perencanaan Refleksi Perencanaan Refleksi Pelaksanaan Pengamatan Pengamatan Pelaksanaan . membandingkan nilai post tes I dengan nilai post tes II. Tehnik deskriptif komparatif digunakan untuk data kuantitatif. pelaksanaan. H. masing-masing siklus dengan tahapan: perencanaan. Indikator Kinerja Indikator sebagai tolak ukur keberhasilan dalam penelitian tindakan kelas ini menggunakan KKM yang telah ditetapkan oleh sekolah.45 G. Jika nilai yang diperoleh anak di bawah 70. adapun nilai KKM untuk bidang pengembangan bahasa yakni membaca permulaan adalah 70. maka belum dapat dinyatakan tuntas. Teknik Analisis Data Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian untuk hipotesis mengenai “Upaya Peningkatan Kemampuan Membaca Permulaan Melalui Media Bermain Lempar Dadu Huruf pada Anak Tunagrahita Kelas B Semester II di Taman Kanak-Kanak Elim Sragen Tahun Pelajaran 2010/2011”. I. Prosedur Penelitian Penelitian ini dilakukan dalam 2 siklus. penulis menggunakan tehnik deskriptif komparatif dan tehnik analisis kritis. artinya seorang anak telah dinyatakan melampaui ketuntasan belajar jika telah memperoleh nilai 70. pengamatan dan refleksi.

Menyiapkan media pembelajaran. Guru memberi penjelasan kepada siswa tentang materi yang akan dipelajari dengan menggunakan media lempara dadu huruf. Guru meminta siswa menanyakan huruf yang belum dipahami. Observasi Dilakukan dengan mengamati : 1. melempar dan membaca huruf yang muncul di posisi atas. yaitu dadu yang bertuliskan huruf. Membuat rencana pembelajaran. Menentukan dan menyiapkan materi. Tindakan 5. 4.46 Rancangan prosedur penelitian : Siklus I Perencanaan Kegiatan : 1. Guru meminta murid mengambil dadu huruf. 3. Guru meminta siswa untuk menyanyikan lagu a b c c d e f g dengan menunjuk huruf yang ada di papan tulis. Membuat lembar pengamatan. 3. Mengenal huruf. 2. Observasi ini untuk memperoleh . Menganalisis materi pelajaran 2. 1. 4. Aktivitas menerapkan media lempar dadu huruf dalam meningkatkan kemampuan membaca permulaan. merangkai menjadi kata. 2.

Apresiasi untuk perbaikan materi yang telah diajukan pada siklus I 2. Hasil yang diperoleh dapat disimpulkan hasil kemampuan membaca selama 2 siklus .47 data tentang kemampuan membaca Refleksi permulaan. Data yang diperoleh pada tahap observasi dianalisis. Siswa memainkan media lempar dadu huruf diawasi guru. Memperbaiki kesalahan / kekurangan pada siklus II 3. Menarik anak tunagrahita untuk Tindakan bermain lempar dadu huruf 1. 2. dianalisa untuk mengetahui kelemahan yang Refleksi mungkin ada. Setelah data tentang membaca permulaan dengan media bermain lempar dadu huruf diperoleh. Menganalisa hasil observasi untuk memperoleh kesimpulan bagian mana yang perlu di sempurnakan untuk Siklus II Perencanaan siklus berikutnya. Siswa menjawab dengan membaca dadu yang dilempar oleh guru baik Observasi huruf maupun kata. Kegiatan : 1.

agar semua dapat berjalan dengan teratur dan lancar sesuai dengan yang diharapkan.48 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Membaca merupakan hal yang sangat mendukung anak dalam memperoleh informasi. kaitannya dengan kemampuan membaca yang masih kurang. Kemampuan membaca berpengaruh pada anak dalam mengikuti pembelajaran. maka dilakukan serangkaian tindakan guna mengatasi permasalahan tersebut. Hal ini dilakukan seperti yang telah dikemukakan bahwa penggunaan media lempar dadu huruf dirasa tepat dalam upaya untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan anak tunagrahita kelas B Taman Kana-Kanak Elim Sragen. Perencanaan yang terdiri dari: Menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan dalam pelaksanaan tindakan yaitu materi. Terkait dengan perencanaan maka peneliti membuat jadwal pelaksanaan rangkaian (observing). karena selama ini belum pernah dicobakan pembelajaran dengan menggunakan media lempar dadu huruf sebagai sarana pembelajaran dalam bentuk permainan yang menarik. sarana maupun prasarana yang diperlukan dalam pelaksanaan penelitian baik siklus I dan II. (2) tindakan (acting). Berdasarkan pada permasalahan yang dihadapi oleh siswa kelas B Taman kanak-Kanak Elim Sragen. Prosedur penelitian dilaksanakan dua siklus yang masing – masing terdiri empat tahapan (1) perencanaan (planning). (3) pengamatan dan (4) refleksi (reflecting). .

1. lembar pengamatan. Penulisan laporan hasil penelitian dan pembahasan. keadaan kelas B Taman Kanak-Kanak Elim Sragen. Pelaksanaan tindakan siklus I. Pelaksanaan siklus II 1. Deskripsi Kondisi Awal Pelaksanaan Penelitian Berdasarkan hasil pengamatan /observasi yang dilakukan. 3. Siswa di Kelas B Taman Kanak-Kanak Elim terdiri dari 16 siswa. Keterangan Perbaikan dan penggandaan hasil penelitian. Evaluai 3 4 5 I Agustus 2010 II-IV Agustus 2010 I-IV September 2010 Menyiapkan Instrument pelaksanaan siklus II Melaksanakan pre test. Penulisan Bab V. yakni 5 anak laki-laki dan 11 perempuan. berikut: Jadwal kegiatan penelitian adalah sebagai Jadwal Kegiatan Penelitian No. Penyelesaian skripsi. termasuk . 2 II-IV Juli 2010 Melaksanakan pre test.49 penelitian yang akan dilakukan. Mereka memilik kemampuan yang sangat baik dalam setiap pembelajaran. item soal. A. 2. 1 Minggu Ke/Bulan I Juli 2010 Kegiatan Melakukan observasi ke kelas Pembuatan kisi-kisi.

5 5 6 5 5. Ada beberapa anak yang memiliki kemampuan membaca yang sangat lancar sehingga anak telah mampu membaca buku-buku di ruang perpustakaan.7 5.(Subjek) √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ .5 5 5.2 5.3 5 85 80 80 85 30 35 85 90 95 90 90 85 90 85 95 95 √ √ √ √ . sehingga sekolah menetapkan Kriteria Ketuntasan Maksimal (KKM) membaca 70.4 5.2 5 5.(Subjek) . sebagai berikut: Tabel I Nilai awal sebelum pelaksanaan siklus I (Nilai Subjek Dibandingkan dengan Nilai Siswa lain) dalam Membaca Permulaan Semester II Kelas A Taman Kanak-Kanak Elim Sragen Tahun Pelajaran 2009/2010 No Kode Jenis kelamin L P P L P P L P p L p L p p L p L Usia Nilai Keterangan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 A AK AR EN F IR JG KN LT LR RW SP TL TA Y YK 5 5. Akan tetapi dari hasil pengamatan/observasi menunjukkan bahwa terdapat dua dari enam belas murid kelas B Taman Kanak-Kanak Elim Sragen yang terdiri dari dua anak laki-laki. bahkan membaca surat kabar.3 5.50 dalam hal membaca. demikian juga dalam kegiatan pembelajaran yang lainnya. belum dapat membaca khususnya dan sangat tertinggal pada mata pelajaran yang lain umumnya.7 5. Dalam hal membaca anak selalu memperoleh nilai jauh di bawah nilai teman-temannya. Hal ini dapat dilihat dari laporan nilai ulangan yang diperoleh selama semester II di kelas A tahun pelajaran 2009/2010 dalam pembelajaran membaca permulaan.

51 * Keterangan: √ = Mampu = Belum Berdasar hasil prestasi belajar di atas menunjukkan bahwa 2 dari 16 anak atau 12% siswa kelas B Taman Kanak-Kanak Elim belum dapat membaca permulaan. dengan menggunakan media lempar dadu huruf. . Berdasar kondisi tersebut peneliti ingin berupaya untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan pada kedua anak yang mengalami keterlambatan didalam membaca permulaan tersebut. karena nilai yang diperoleh anak sangat jauh dari kriteria ketuntasan minimal yang ditetapkan di Taman Kanak-Kanak yaitu 70. Data nilai yang diperoleh kedua anak tersebut dibandingkan dengan nilai yang diperoleh teman-teman sekelasnya dapat kami tampilkan dalam suatu grafik sebagai berikut di bawah ini: Grafik Nilai Membaca Permulaan Sebelum Siklus I (Nilai Subjek dibandingkan dengan Nilai Siswa lain) Keterangan: Subjek adalah no 5 dan 6.

Salah satunya dengan mempergunakan media sebagai sarana meningkatkan kemampuan membaca siswa.52 Melihat hal tersebut. dalam hal ini penulis menggunakan medialempar dadu huruf.. kemudian memperoleh nilai sebagai berikut: Tabel 2 Hasil Perolehan Kemampuan Membaca Awal/ pre Test Kode Nilai Semester I Nilai Pre test N0 Keterangan 1 2 F IR 30 35 27 30 Turun 10% Turun 15% Berdasar keadaan tersebut. Grafik Hasil Perolehan Nilai Kemampuan Membaca Awal/ Pre Test . Dengan tujuan materi membaca dapat lebih diminati dan lebih digemari oleh siswa. guru hendaknya berusaha merenovasi model pembelajaran yang telah dilakukan. maka peneliti melakukan pre test terhadap kemampuan siswa sebagai acuan untuk menentukan keberhasilan dari tindakan yang akan dilakukan selanjutnya.

Membuat rencana pembelajaran. Perencanaan (Planning). 12 Juli 2010 di ruang kelas B Taman Kanak-Kanak Elim Sragen dan di lingkungan sekolah. Instrumen tes ini digunakan untuk meneliti kemampuan membaca permulaan pada anak. (2)Tindakan atau Pelaksanaan . Adapun tahap perencanaan tindakan siklus I adalah sebagai berikut: 1) Menganalisa materi pelajaran Mengkaji materi yang sesuai dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan anak. yaitu meja.53 2. 7) Menentukan jadwal pelaksanaan tindakan. Sedangkan rencana pelaksanaan tindakan dilaksanakan siklus I pada hari Jumat. a. Tindakan (Acting) Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar guru memberikan apersepsi dengan membuka percakapan tentang nama benda di sekitar siswa. b. 6) Membuat lembar pengamatan. 16 Juli 2010. Pengamatan . 5) Membuat lembar penelitian siswa yaitu berupa tes. (4) Refleksi atau . membuat intrumen tes dan lembar tugas siswa. 3) Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran untuk siklus I. Kegiatan perencanaan tindakan I dilaksanakan pada hari Senin. 2) Menentukan dan menyiapkan materi pengenalan huruf kepada anak. serta menyiapkan peralatan yang dibutuhkan dalam pembelajaran membaca melalui media lempar dadu huruf. (3) Observasi atau Evaluasi. Pelaksanaan Siklus I Siklus pertama terdiri dari 4 tahap yaitu : (1) Perencanaan . 4) Menyiapkan media pembelajaran yaitu dadu yang bersimbolkan huruf.

16 Juli 2010 terhadap kegiatan pembelajaran membaca permulaan melalui media lempar dadu huruf dari awal sampai akhir. suku kata dan kata. melempar dan membaca huruf belum begitu tertib. kecenderungan bermain tanpa tujuan masih dominan. Pengamatan (Observing) Pelaksanaan observasi pada hari Jumat. Selanjutnya guru memberi kesempatan kepada siswa mengambil satu dadu pada kotak konsonan. c. menyusun dan membacanya. Guru mem beri kesempatan kepada siswa mengambil empat dadu dengan urutan KVKV melempar. baju. Selanjutnya anak disuruh menyebutkan huruf-huruf yang ada dalam abjad dan diteruskan lagu “ abcdefg“. Kelompok konsonan berada pada kotak satu atau kelompok satu. Kelompok vokal berada pada kotak dua atau kelompok dua. Guru memberi kesempatan kepada siswa mengambil satu dadu . Guru memberikan beberapa soal kepada anak sebagai post test yaitu membaca huruf. melempar dan membacanya. melempar. Walaupun dalam siklus I ini dalm melakukan tugas yakni mengambil. yaitu membaca huruf. melempar. dengan menggunakan instrument observasi yang disiapkan peneliti. Guru menunjukkan dadu huruf kepada siswa yang berisi simbulsimbul huruf yang ada pada setiap sisinya. Semua nama-nama benda tadi dapat di tulis dengan huruf-huruf yang terdapat dalam abjad. Guru memberikan beberapa soal kepada anak sebagai pre test. suku kata dan kata. Guru menjelaskan dan menyebutkan kelompok vokal atau huruf hidup dan konsonan atau huruf mati kepada siswa. dapat diambil kesimpulan bahwa dalam pelaksanaan pembelajaran muncul semangat terhadap minat belajar pada anak tunagrahita di kelas B Taman Kanak-Kanak Elim Sragen. belum terlihat keinginan anak untuk mengetahui atau dapat membaca huruf . kemudian keduanya disusun dan dibaca. untuk mengetahui sejauhmana anak menagalami kemajuan setelah pembelajaran berlangsung.54 buku. mengambil lagi satu dadu pada kotak vokal.

Hasil pengamatan dapat dilihat pada lembar pengamatan seperti di bawah ini: Lembar Pengamatan Kemampuan Membaca Permulaan Anak Tunagrahita Kelas B Taman Kanak-Kanak Elim Sragen No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Aspek yang diamati Frekuensi kesalahan dalam membaca Kesalahan membedakan huruf b dengan d Kesalahan membedakan huruf p dengan q Kesalahan membedakan huruf m dengan n Kesalahan membedakan huruf s dengan z Kesalahan membedakan huruf v dengan u Membaca terlalu lama Tidak Tiduran Tidak mengerjakan tugas Mengganggu teman-teman Berceritera atau berteriak-teriak saat pelajaran berlangsung mengikuti pelajaran sungguh-sungguh √ √ Farel Ya Tidak √ √ √ √ √ √ √ dengan √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Ian Ya Tidak √ √ √ √ √ . Nilai setelah pelaksanaan siklus I dan grafik nilai perolehan anak pada siklus I. Semangat yang timbul adalah semangat hanya untuk bermain. Di bawah ini kami sajikan hasil pengamatan yang penulis lakukan.55 atau tulisan yang muncul. melalui lembar pengamatan.

3% Belum tuntas Dari nilai yang diperoleh anak setelah pelaksanaan siklus I dapat dibuat grafik sebagai berikut: Grafik Hasil Perolehan Nilai Kemampuan Membaca Setelah Siklus I 606162 .6% Belum tuntas 2 IR 30 55 83.56 Hasil dari evaluasi membaca pada akhir siklus I menunjukkan adanya peningkatan sebagai berikut: Tabel 3 Nilai setelah pelaksanaan siklus I Nilai Ulangan Membaca Permulaan Anak Tunagrahita Semester I Kelas B Taman Kanak-Kanak Elim Sragen Tahun Pelajaran 2010/2011 No Kode Pre test Post test Kemajuan Keterangan 1 F 27 45 66.

9 Agustus 2010 di ruang kelas B Taman Kanak-Kanak Elim Sragen dan di lingkungan sekolah. Sedangkan rencana pelaksanaan tindakan dilaksanakan siklus II pada hari Selasa. atau belum tuntas.57 d.3 % bagi Ian. 2) Hasil belajar membaca permulaan kedua subjek tersebut jika dibandingkan dengan KKM yang ditentukan baru mencapai dan Ian baru mencapai telah ditentukan oleh sekolah. ada beberapa hal yang penulis sampaikan. Pelaksanaan Siklus II Kegiatan perencanaan tindakan II dilaksanakan pada hari Senin. Memfokuskan perhatian anak kepada hasil yang akan dicapai harus lebih ditekankan. Peningkatan prestasi belajar kedua subjek tersebut dibandingkan dengan KKM yang ditetapkan masih jauh dari harapan. Perbaikan pada siklus II mengacu pada kekurangan-kekurangan yang telah disebutkan di atas. 3) Kesimpulan dari siklus I adalah tindakan yang dilaksanakan belum dapat meningkatkan prestasi belajar membaca permulaan terhadap keadaan subjek. ss 70 45 70 x100 = 64% bagi Farel x100 = 79% . 3. 20 Juli 2010. yakni: 1) Hasil tindakan pada siklus I telah menunjukkan kenaikan yang berarti. Frekuensi lemparan. maka diperlukan lagi perencanaan pada siklus berikutnya. menyusun dan membaca perlu ditingkatkan. Refleksi ( Reflecting) Hasil dari proses pembelajaran dalam siklus I dari perencanaan sampai pada kegiatan evaluasi. artinya masih di bawah KKM yang . atau meningkat 66.6% bagi Farel dan 83.

Perencanaan Rancangan prosedur penelitian dalam kegiatan perencanaan adalah: 1) Menganalisa kembali hal.hal yang telah dievaluasi pada siklus I 2) Memperbaiki kesalahan/ kekurangan pada siklus I 3) Menentukan dan menyiapkan materi pengenalan huruf kepada anak. Guru menunjukkan dadu huruf kepada siswa yang berisi simbulsimbul huruf yang ada pada setiap sisinya. Tindakan (Acting) Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar. sehingga hal-hal yang ingin dicapai dalam upaya meningkatkan kemampuan membaca permulaan pada siswa kelas B Taman Kanak-Kanak Elim tercapai. guru memberikan apersepsi dengan membuka percakapan tentang nama benda di sekitar siswa. . Guru menjelaskan dan menyebutkan kelompok vokal atau huruf hidup dan konsonan atau huruf mati kepada siswa. bola. Instrumen tes ini digunakan untuk meneliti kemampuan membaca permulaan pada anak. kaki.58 Siklus II dimaksudkan untuk mengadakan perbaikan pada siklus I. Kelompok konsonan berada pada kotak satu atau kelompok satu.mata. b. 4) Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran untuk siklus II 5) Menyiapkan media pembelajaran yaitu dadu yang bersimbolkan huruf. yaitu kaca. Selanjutnya anak disuruh menyebutkan huruf-huruf yang ada dalam abjad dan diteruskan lagu “ abcdefg“. Semua nama-nama benda tadi dapat di tulis dengan huruf-huruf yang terdapat dalam abjad. Kelompok vokal berada pada kotak dua atau kelompok dua. 6) Membuat lembar penelitian siswa yaitu berupa tes. yaitu membaca huruf. Siklus II terdiri dari : a. 7) Membuat lembar pengamatan. 8) Menentukan jadwal pelaksanaan tindakan. Guru memberikan beberapa soal kepada anak sebagai pre test. suku kata dan kata.

Pemberian hadiah/ penghargaan pada setiap keberhasilan yang dicapai anak. Hal ini disebabkan telah diperbaikinya kekurangan-kekurangan yang muncul pada siklus I. menyusun dan membacanya sebanyak lima kali. melempar dan membacanya sebanyak sepuluh kali. melempar dan membacanya sebanyak sepuluh kali. Pemberian hadiah/ penghargaan pada setiap keberhasilan yang dicapai anak. sehingga pada siklus II anak nampak lebih tertib. . melempar. Pengamatan (observing) Hasil observasi terhadap kegiatan pembelajaran membaca permulaan melalui media lempar dadu huruf pada siklus II menunjukkan bahwa dalam pelaksanaan pembelajaran muncul semangat yang lebih besar dibanding dengan siklus I. mudah diatur dan diarahkan serta semangat yang tinggi muncul pada siklus II. yakni kurang penguasaan guru terhadap murid dan pengarahan terhadap tujuan penelitian dan tidak diberikannya reward atau penghargaan pada siklus I.59 Guru memberi tugas kepada siswa untuk mengambil dadu huruf. Pemberian hadiah/ penghargaan pada setiap keberhasilan yang dicapai anak. Pemberian tugas kepada siswa mengambil empat dadu (KVKV). terhadap minat belajar pada anak tunagrahita di kelas B Taman Kanak-Kanak Elim Sragen. tidak terjadi kejenuhan sampai selesainya kegiatan pembelajaran. Guru memberikan beberapa soal kepada anak sebagai post test yaitu membaca huruf. Semangat tersebut dapat terlihat dari keceriaan anak dalam mengikuti pembelajaran. untuk mengetahui sejauhmana anak menagalami kemajuan setelah pembelajaran berlangsung c. suku kata dan kata. Setelah diadakan perbaikan dalam penanganan anak atau pengkondusifan kondisi dalam pembelajaran dan pemberian hadiah/ reward pada siklus II ternyata mampu meningkatkan motivasi anak. Guru memberi tugas kepada siswa untuk mengambil dua dadu huruf (KV).

Nilai setelah pelaksanaan siklus II dan grafik nilai perolehan anak pada siklus II. Hasil pengamatan dapat dilihat pada lembar pengamatan seperti di bawah ini: Lembar Pengamatan Kemampuan Membaca Permulaan pada Siklus II Anak Tunagrahita Kelas B Taman Kanak-Kanak Elim Sragen Aspek yang diamati Farel Ian Ya Tidak Ya Tidak √ Frekuensi kesalahan dalam membaca √ √ Kesalahan membedakan huruf b dengan d √ √ Kesalahan membedakan huruf p dengan q √ √ Kesalahan membedakan huruf m dengan n √ √ Kesalahan membedakan huruf s dengan z √ √ Kesalahan membedakan huruf v dengan u √ √ Membaca terlalu lama √ √ Tidak mengikuti pelajaran dengan √ sungguh-sungguh √ Tiduran √ √ Tidak mengerjakan tugas √ √ Mengganggu teman-teman √ Berceritera atau berteriak-teriak √ √ saat pelajaran berlangsung √ No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Hasil dari evaluasi membaca pada akhir siklus II menunjukkan adanya peningkatan sebagai berikut: . melalui lembar pengamatan.60 Di bawah adalah hasil pengamatan yang penulis lakukan.

6% Tuntas Tuntas Dari nilai yang diperoleh anak setelah pelaksanaan siklus II dapat dibuat grafik sebagai berikut: d. terdapat peningkatan kognitif pada anak yaitu peningkatan kemampuan membaca permulaan anak Farel dan Ian. Refleksi Hasil dari proses pembelajaran dalam siklus II dari perencanaan sampai pada kegiatan evaluasi.5% 36.5% . yakni: Hasil belajar membaca Farel menunjukkan peningkatan dari siklus I yaitu dari nilai 45 menjadi 70. Farel mengalami kenaikan nilai sebesar 45 70 x100 = 55.61 Tabel 4 Nilai setelah pelaksanaan siklus II Nilai Ulangan Membaca Permulaan Anak Tunagrahita Semester I Kelas B Taman Kanak-Kanak Elim Sragen Tahun Pelajaran 2010/2011 No Kode Pre test Post test Kemajuan Keterangan 1 2 F IR 45 55 70 75 55.

sudah mampu membedakam huruf b dengan b. mengerjakan tugas dengan baik. B. Anak mampu membaca lebih lancar. Perubahan sikap dalam pembelajaran pada anak Farel. sudah mampu membedakam huruf b dengan b. v dengan u. p dengan q. Anak mampu membaca lebih lancar. mengikuti pembelajaran dengan sungguhsungguh.mampu membedakan huruf m dengan n. s dengan z. yang berarti telah berhasil mencapai KKM yang ditetapkan sekolah. Namun masih sering keliru membedakan huruf n dengan m. s dengan z. namun seperti kebiasaan sebelumnya anak Ian suka mengganggu teman-temannya dan suka berteriak-teriak saat mengikuti pelajaran. Hasil Penelitian Berdasarkan tindakan yang dilakukan pada setiap siklus. Perubahan sikap dalam pembelajaran pada anak Ian. yaitu 70. mengikuti pembelajaran dengan sungguh-sungguh. p dengan q. yaitu: Mengalami penurunan frekuensi kesalahan dalam membaca. Hasil belajar membaca Ian menunjukkan peningkatan dari siklus I yait dari nilai 55 menjadi 75. yang berarti telah berhasil melampaui KKM yang ditetapkan sekola yaitu 70.6% pada siklus II. 2. dapat dihasilkan tindakan antar siklus sebagai berikut: 1. v dengan u. tidak tiduran saat mengikuti pelajaran. mengerjakan tugas dengan baik. Ian mengalami kenaikan nilai sebesar 55 70 x100 = 36. tidak tiduran saat mengikuti pelajaran. . yaitu: Mengalami penurunan frekuensi kesalahan dalam membaca.62 pada siklus II.

Siklus II . dapat dilihat dalam grafik di bawah ini: Grafik Perolehan Nilai kemampuan Membaca Pre test.63 Tabel 5 Nilai kemampuan yang dicapai anak No Kode Peningkatan yang dicapai Pre test Siklus I Siklus II 1 2 F IR 27 30 45 55 70 75 Hasil perkembangan/ kemajuan dicapai oleh subjek. Siklus I.

Pembahasan Kemampuan membaca memiliki peran yang sangat besar dalam kema-juan anak didalam proses belajar khususnya dan pada perkembangan umumnya.Rata 28.64 3. C. Peningkatan yang dicapai anak dari awal sampai akhir dapat dilihat dalam tabel di bawah ini: Tabel 6 Nilai Kemampuan membaca yang di peroleh anak selama kegiatan penelitian No 1 2 Kode F IR Kondisi Awal 27 30 Siklus I 45 55 Siklus II 70 75 Rata . Sehingga anak mampu membaca permulaan dengan lebih lancar. Kemampuan membaca anak tunagrahita kelas B Taman Kanak-kanak Elim Sragen perlu ditingkatkan semaksimal mungkin.5 50 72. anak mengalami peningkatan dalam kemampuan membaca permulaan pada tiap siklus yang diksanakan. dan sesuai . Anak tunagrahita umumnya mengalami keterlambatan atau tertinggal dalam kemampuan membacanya dibanding dengan teman normal yang sebayanya. Kesimpulan Setelah dilakukan pembelajaran dengan menggunakan media lempar dadu huruf. melalui media yang sesuai dengan karakter anak pada umumnya yakni bermain.5 Dari hasil kegiatan penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa anak mengalami peningkatan kemampuan dalam membaca permulaan.

Keyakinan peneliti akan adanya kemajuan dalam setiap usaha. Untuk membaca suku kata anak harus mengambil empat dadu (KVKV).65 dengan karakter anak tunagrahita khususnya yakni belajar dengan hal-hal yang kongkrit agar mu-dah dimengerti anak. Media bermain lempar dadu huruf dalam penelitian ini penulis gunakan sebagai sarana dalam pembelaja. Media bermain lempar dadu huruf adalah bentuk permainan yang dapat digunakan sebagai sarana pembelajaran anak dalam berbagai hal. warna dan lain sebagainya.ran membaca yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan membaca permu-laan pada anak. disusun kemudian dibaca. Kadang-kadang huruf yang muncul tidak membentuk kata yang punya arti. Media bermain lempar dadu huruf sangat menarik dalam pembelajaran. walaupun memiliki kelemahan. lalu mengambil dadu pada kelompok konsonan dan dilemparkan. Misalnya anak mengambil dadu pada kelompok vokal dan dilemparkan. diliempar. 1. kadang-kadang vokal yang muncul setelah digabung dengan konsonan tidak membentuk kata yang memiliki arti. pengenalan bentuk. Menyita banyak waktu Untuk membaca satu huruf memerlukan banyak waktu. Untuk membaca suku kata memerlukan waktu yang agak lama karena harus melempar dua atau tiga huruf kemudian disusun dan dibaca. Contoh: 1) lemparan pertama konsonan yang muncul adalah b . mendorong peneliti untuk mencobakan media yang menarik minat anak dalam belajar membaca yakni media bermain lempar dadu huruf. b. Kelemahan-kelemahan media bermain lempar dadu huruf diantaranya adalah: a. sehimgga mampu membangkitkan motivasi bagi anak serta mendorong anak agar belajar lebih giat lagi. misalnya berhitung. karena anak harus melempar terlebih dahulu sebuah dadu kemudian memperhatikan untuk dibaca.

Beri penjelasan kalau kata tersebut tidak memiliki arti. Cara mengatasi kelemahan-kelemahan dalam pembelajaran melalui media bermain lempar dadu huruf adalah: a.66 2) lemparan kedua vokal yang muncul adalah i 3) lemparan ketiga konsonan yang muncul adalah m 4) lemparan keempat vokal yang muncul adalah u Kata yang muncul setela dadu disusun adalah b i m u c. b. Anak memilih sendiri dadu huruf yang dilemparnya sehingga anak bersemangat. jadi anak yang melempar tidak harus bolak-balik menyusun huruf yang dilemparnya. 2. Kelebihan dari pembelajaran membaca permulaan lewat bermain lempar dadu huruf ini adalah : a. Memerlukan banyak sekali dadu. c. 1. teruskan saja anak membaca kemudian diberi pujian saat dia sudah berusaha melempar dan membaca. b. agar kata-kata yang dapat disusun oleh anak dalam jumlah yang banyak dan bervariasi. Pemberian kesempatan kepada anak untuk menentukan pilihan merupakan hal yang menyenangkan bagi anak. tidak hanya sebanyak jumlah huruf dalam satu abjad akan tetapi lebih dari itu. sehingga anak aktif. anak merasa bersemangat dan kepercayaan dirinya tumbuh. melempar. diadakan kerjasama dengan teman atau guru dalam menyusun urutan lemparan. Anak diberi kesempatan untuk mengambil/memilih. Jangan menyusun terlalu banyak kata sekaligus yang memerlukan terlalu banyak dadu. Lakukan dengan menyusun satu atau dua kata kemudian dibaca. Dadu harus dipersiapkan dalam jumlah yang banyak. akan tetapi anak telah bagus dalam melaksanakan tugasnya. Jika anak menghasilkan lemparan yang setelah disusun ternyata kata tersebut tidak memiliki arti. menyusun dan membacanya. Untuk menyingkat waktu. Tidak mengantuk dan bosan karena anak beraktifitas dengan aktif. Saat anak memilih .

Media bermain lempar dadu huruf sangat membantu anak dalam pembelajaran. sehingga tercapai tujuan pembelajaran. Anak akan merasa bangga jika huruf yang dilemparnya dapat membentuk suatu kata yang memiliki arti. Setelah melempar anak dengan senangnya cepat-cepat ingin mengetahui apa isi/ bacaan dari lemparan yang akan disusunnya. Anak yang belum dapat menyusun huruf menjadi kata akan berusaha mencoba lagi sehingga mereka memiliki keinginan untuk mencoba dan mencoba lagi.67 ada aktifitas dalam segi kognitif dan motorik halus. Untuk itu perlu dipergunakan sebagai media pembelajaran sehari-hari guna membantu anak dalam meningkatkan minat belajarnya. Anak tertarik untuk mengetahui huruf apa yang keluar dan kata apa yang muncul dari setiap lemparan yang dibuatnya sendiri. . Saat menyusun aktifitas dalam kognitifnya bekerja. termasuk dalam meningkatkan kemampuan membaca anak. motorik halusnya juga bekerja. Anak ingin segera membaca dari hasil lemparan yang telah disusun tadi dengan mengaktifitaskan aspek kognitifnya. saat anak melempar ada aktifitas dalam motorik kasarnya. c.

b. B. Guru Taman Kanak-Kanak Elim hendaknya menerapkan pembelajaran dengan menggunakan media bermain lempar dadu huruf pada pelajaran membaca permulaan. Hasil penelitian ini hendaknya dipergunakan sebagai sarana pembelajaran yang menarik dan mampu memotivasi semangat belajar sehingga dapat tercapai perkembangan yang optimal.68 BAB V SIMPULAN DAN SARAN A. karena media tersebut ternyata efektif digunakan sebagai sarana untuk meningkatakan kemampuan membaca permulaan pada anak. Berkreatifitas untuk menggunakan sesuatu yang ada di sekitarmu bagi peningkatan kemampuan yang kalian miliki. Bagi Siswa a. maka diajukan saran sebagai berikut: 1. Saran Sehubungan dengan kesimpulan penelitian di atas. bahwa pembelajaran dengan media bermain lempar dadu huruf Sragen tahun pelajaran 2010/2011. Kesimpulan Hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut. sehingga pertumbuhan dan perkembangan anak berjalan dengan maksimal dapat meningkatkan kemampuan membaca permulaan pada anak tunagrahita kelas B Taman Kanak-kanak Elim . Guru-guru hendaknya kreatif menggunakan media lempar dadu huruf sebagai sarana yang bervariasi dalam pembelajaran agar mampu membangkitkan minat belajar pada anak. Bagi Guru a. 2. b.

Karakteristik Anak Tunagrahita http://saunganggie. http://guruit07. http://r. Graha Mulyono Abdurrahman. Psikologi Perkembangan Anak I. Rineka cipta. Muhammad Idrus. Jakarta. 2009.69 DAFTAR PUSTAKA Anggie Siti Sa’adah.wordpress.blogspot.com/2010/05/02/tunagrahita/ Dounloud 21 Juni 2010 Baitul Alim.. 2004.com/2009/06/membaca-permulaan-permainan-bahasa. Jakarta : PT Raja Gravindo Persada Astati.html http://mathedu-unila. 2006.yuwie. 2009. http://www. 2007. FKIP Surakarta. 2009.wordpress.psikologzone.html. http://adzeglar.com/2009/02/02/studidokumen-dalam-penelitian-kualitatif. 2003. membaca.com/2009/07/karakteristik-anaktunagrahita. 2009. Pengertian Tes.asp?id=932768 & eid=602755 Devid Haryalesmana. 2005.2010.blogspot. Defli.com/2009/01/pengertian-membaca. Jakarta. Pengertian Anak Tunagrahita. Membaca permulaan dan permainan bahasa. Dounloud 21 juni 2010 Arif Sadiman S. 2007. . Tunagrahita.ilmu Sosial. http://Mbahbrataedu. 2009. Departemen Pendidikan Nasional. Hj. dan Pemanfaatan ) . Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi. Media Pendidikan ( Pengertian .com/pengertiandefinisi-tes-dalam-psikologi. http://astati. Dounload 12 April 2010.com/blog/entry. Munawir Yusuf. Direktorat Pendidikan Luar Biasa.blogspot. Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Perguruan Tinggi. Pendidikan bagi Anak dengan Problema Belajar.com/2009/10/pengertian- Mbahbrata. indonesia/article/view/272/0 Mathedu. Duonloud 10 juni 2010. Chasiyah. Indonesia Metode Penelitian Ilmu . 2003. Mengenal Pendidikan Terpadu.blogspot. 2009. dkk. Pendidikan bagi anak berkesulitan belajar.html Fu’adz Al-gharuty. PengertianMembaca. Pengembangan .

Metodologi Research Jilid 1. WJS 1984.id/index. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dan penulisan Karya Ilmiah. Difinisi media http://mataharieducare. http://tarmizi. 2009. Wikipedia. 2008. Jakarta.um. 2008. Surakarta. _______________ Kecenderungan dalam Pendidikan Luar Biasa. 2007. Suharsimi Arikunto.com/2008/12/02 penerapan-metode pembelajaran permulaan. Sutjihati Somantri. . Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek ( Edisi Revisi IV ). Jenis Data Dan Metode Pengumpulan Data . 2 dan 3 Yogyakarta: Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi UGM. 2005. 2005. Pendit. Proyek Pendidikan Tenaga Akademik. Tarmizi.wordpress. perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem. Penerapan Metode Pembelajaran Membaca Permulaan.com/ Dounload 2010 Mei 12. Dounloud 17 juni 2010.wordpress.html.70 Oemar Hamalik. 1996. Balai Pustaka. Wijaya Kusumah. Jakarta. Seva Andini Kusnawanto. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi. Jakarta.ac. Belajar dan Faktor – Faktor yang Mempengarui. PL 2010. Penilaian Sertifikasi Guru Rayon 13. Makalah Simposium dan Temu Ilmiah Nasional. Kamus Umum Bahasa Indonesia. 2007.php/sastraIndonesia/article/view/272/0 Slameto. Psikologi Anak Luar Biasa.com/pengertian-mediapembelajaran. Sutrisno Hadi. http://karya-ilmiah. http://media-grafika.2009. Jakarta : Dirjen Dikti Depdiknas. Jakarta Bumi Aksara Purwodarminto. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1993. Direktorat Jedral Pendidikan Tinggi. Mengelola Kurikulum pada Pendidikan Inklusi. Proyek Pendidikan Tenaga Guru. 2000. Sarwiji Suwandi. 2008. Jakarta : Rineka Cipta Sunardi. Dounload 12 April 2010.Jakarta : Bumi Aksara.

wordpress. 2007. Wijaya Kusumah.2009. http://media-grafika.html. pembelajaran Wikipedia. Membaca penerapan-metode Permulaan.com/2008/12/02 permulaan.com/ Dounload 2010 Mei 12.71 Metode Pembelajaran http://tarmizi.com/pengertian-mediapembelajaran.wordpress. Difinisi media http://mataharieducare. Dounload 12 April 2010. Dounloud 17 juni 2010. .

72 LAMPIRAN .

Nama anak 2. Sragen 2.73 DATA ANAK A. Berat badan 7. Agama 5. 1. Nama anak : Farel : Laki-laki : Sragen. Sekolah B. Kelas 8. Tinggi badan 6. Berat badan 7. 1. Jenis Kelamin 3. Jenis Kelamin 3. 6 Juli 2005 : Kristen : 119 Cm : 18 Kg :B : Taman Kanak-Kanak Elim. Tinggi badan 6. Agama 5. 17 September 2005 : Kristen : 123 Cm : 20 Kg :B : Taman Kanak-Kanak Elim. Sekolah : Ian Rudyanto : Laki-laki : Sragen. Tempat/tgl lahir 4. Kelas 8. Sragen . Tempat/tgl lahir 4.

item soal. Penulisan Bab V. Pelaksanaan tindakan siklus I. Perbaikan dan penggandaan hasil penelitian. Evaluai 3 I Agustus 2010 Menyiapkan Instrument pelaksanaan siklus II 4 II-IV Agustus 2010 Melaksanakan pre test. 6. 1 Minggu Ke/Bulan I Juli 2010 Kegiatan Melakukan observasi ke kelas Pembuatan kisi-kisi.74 Lampiran 1 Jadwal Kegiatan Penelitian No. Penyelesaian skripsi. . Keterangan 2 II-IV Juli 2010 Melaksanakan pre test. Pelaksanaan siklus II 5 I-IV September 2010 4. lembar pengamatan. 5. Penulisan laporan hasil penelitian dan pembahasan.

Dapat menulis kata sederhana 10 9 8 7 3-4 5-6 N0 Item 1-2 .2 Membaca Mengungkapkan isi syair 4. Dapat menempel suku kata yang kurang pada tengah kata dengan bantuan gambar 6.75 Lampiran 2 Kisi – kisi instrumen N0 Standar Kompetensi 1. Dapat menyebut kata dibantu gambar 1. Dapat menempel suku kata yang kurang di belakang kata dengan bantuan gambar 1.3 Menulis kata sederhana dengan benar Jumlah 10 7.1 Mendengarkan Bacaan/ syair bernafaskan agama Indikator 1. Dapat menempel gambar sesuai kata 3. Dapat menempel kata sesuai gambar 2. Dapat menempel suku kata yang kurang pada awal kata dengan bantuan gambar 5. Pembentukan Perilaku melalui Pembiasaan Kompetensi Dasar 1.

76 Cara Penilaian Jawaban benar nilainya Jawaban salah nilainya Nilai akhir = Skor 1 =1 =0 = 10 Skor total jika benar semua nilainya .

c. Berilah tanda silang ( X ) huruf a. b. . .. Jeruk c... b.... . Jeruk c... Nanas a............. . c pada jawaban yang benar ! 1.... b. Mawar a...... Pisang 3.... Nanas b.. Pisang 2.......77 Lampiran 3 SOAL TRY OUT Nama : Kelas : Test tertulis I.... a..

.......... a. ........ ru ... ra b. Gambar apakah ini. Gambar apakah ini.......................... .......... mah . Lengkapilah a. .... Gajah b.... 6....... 7....... .... c. 5. ri c..78 4.......

... Mengetahui Ka TK... li c. Sri Mulyati ..nga 9.. ruk c..79 8 ... a.. Elim Sragen Sragen. . rik b..... 14 Juli 2010 Guru kelas B. TK Elim Sragen Dobirson S.. ..... . rak * Tulislah nama gambar di bawah ini 10.. a. la b.. je .. lo Te.. .

16 Menghubungkan tulisan dengan gambar 1.12 Mengelompokkan kata-kata yang sejenis C. Menceritakan gambar tanaman 3. Mengelompokkan kata-kata yang sejenis 6. Menghubungkan tulisan dengan gambar 5. Menyebutkan nama tokoh dalam cerita 2. Indikator : : 1. Kompetensi Dasar 1. Menyusun huruf menjadi kata .80 Lampiran 4 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ( RPP ) SIKLUS I Pengembangan Tema Kelas / Semester Pertemuan Alokasi Waktu : Bahasa Indonesia : Tanaman : B. Taman Kanak-Kanak / I : 1 : 1 x 30 menit A. Standar Kompetensi : 1.14 Bercerita Menyebutkan nama tokoh dalam cerita 1. Membaca sederhana 4. Pembentukan perilaku melalui pembiasaan B.

Pak Sardi pergi kota naik kuda. Pak Sardi menjual hasil kebunnya ke kota. Pisang. Di kota terdapat banyak kendaraan ada becak. Tujuan Pembelajaran : 1. Anak dapat menghubungkan tulisan dengan gambar secara tepat. sepeda motor. 7. mobil dan . 4. Anak dapat menyusun huruf menjadi kata. 5. 2. Anak dapat membaca nama tokoh-tokoh dalam cerita.81 D. Anak dapat membaca peristiwa dalam cerita melalui tulisan yang ada dalam Gambar. Nanas. Mangga dan masih banyak lagi buah yang lainnya. Anak dapat menceritakan kembali cerita dari gambar seri dengan bahasanya sendiri. Anak dapat mengelompokkan kata-kata yang sejenis. Materi Pelajaran * Tanaman Pak Sardi finggal di desa. 6. 3. E. Anak dapat menyebutkan tokoh-tokoh dalam cerita. ia sangat rajin. Ia menanam buah-buahan Jeruk.

2. Pemberian tugas.82 Kendaraan yang lain-lainnya. a. Anak mengerjakan tugas menghubungkan gambar dengan tulisan yang sesuai. 1. Metode Pembelajaran 1. Tanya jawab. Langkah – langkah Kegiatan Pembelajaran. Anak mendengarkan guru tentang cerita dari gambar b. Sepeda motor Mobil 4. Kegiatan awal a. demonstrasi dengan gambar dan dadu. Anak menyebutkan nama tokoh yang ada dalam cerita c. f. Ceramah. Kegiatan Inti. Anak membaca tulisan yang ditunjukkan guru e. Anak menceritakan kembali dengan bahasanya sendiri d. 3. Anak menyusun huruf menjadi kata dengan menggunakan dadu huruf . G. Anak diajak duduk dalam suasana belajar . Apersepsi 2. berdoa dan presensi b. Becal F.

Mampu melakukan sendiri dengan baik dan benar diberi sekor 4 Mampu melakukan dengan sedikit bantuan diberi sekor Mampu melakukan dengan banyak bantuan diberi sekor Belum mampu melakukan diberi skor 3 2 1 . 2. Kegiatan Akhir a. Dadu huruf : Kreasi guru : Buku PAUD. menempel gambar sesuai kata yang tertulis. Alat / media Pelajaran 2. Guru menilai hasil pekerjaan siswa dan menyimpulkannya. Siswa diberi tugas guru untuk dikerjakan c. Alat dan Sumber Bahan 1. Sumber Bahan : Kartu bergambar. Guru memberi pekerjaan untuk dikerjakan dirumah d. menyusun dan membaca Kreteria Penilaian Kenerja. H. halaman 5-6. Test perbuatan dan lesan : a. Guru menyimpulkan materi yang telah disajikan b. Penerbit Makmur Jaya Seri 5. Menempel suku kata yang kurang sesuai gambar d.83 3. Melempar dadu huruf. Penilaian / Evaluasi 1. Test Lisan : dilaksanakan pada proses pembelajaran berlangsung. c. menempel kata sesuai dengan gambar. b. I.

Menempel suku kata yang kurang sesuai gambar Menyusun huruf dengan lemparan dadu dan membacanya.. 2 3 4 Aspek yang dinilai Menempel kata sesuai gambar yang tertulis Menempel gambar sesuai dengan kata. Jumlah Skor maksimum 4 4 4 4 16 Jumlah skor yang diperoleh x 10 Nilai Akhir = Skor maksimum = . 16 x 10 = = NA = -------------- ...84 Skor perolehan 4 3 2 1 N0 1.

. c pada jawaban yang benar ! 1.... Test tertulis I... b.. . b.......... . a. c.... Mawar a... Nanas 3........ .. Pisang b... Berilah tanda silang ( X ) huruf a... a... Nanas 2. Jeruk c. .85 J.. Pisang b... Jeruk c.....

.. mah b..... .. ra ............. 6... .... 5............ c.. Lengkapilah a...... 7.. ..... ri c...... . Gambar apakah ini..86 4................ Gambar apakah ini..... Gajah a.. ru ... b........

..87 8 . . li c. lo Te.. . rik b...nga 9. Sri Mulyati .... Elim Sragen Sragen. TK Elim Sragen Dobirson S. Mengetahui Ka TK... je .. ruk c.. ...... la b.. .. 16 Juli 2010 Guru kelas B. a. rak * Tulislah nama gambar di bawah ini 10... a....

88 Lampiran 5 Lembar Pengamatan Aktivitas dan Kemampuan Membaca Permulaan Siklus I N o 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Frekuensi kesalahan dalam membaca Kesalahan membedakan huruf b dengan d Kesalahan membedakan huruf p dengan q Kesalahan membedakan huruf m dengan n Kesalahan membedakan huruf s dengan z Kesalahan membedakan huruf v dengan u Membaca terlalu lama Tidak Tiduran Tidak mengerjakan tugas Mengganggu teman-teman Berceritera atau berteriak-teriak saat pelajaran berlangsung mengikuti pelajaran sungguh-sungguh √ √ Aspek yang diamati Farel Ya Tidak √ √ √ √ √ √ √ dengan √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Ian Ya Tidak √ √ √ Guru / Peneliti Sragen. 16 Juli 2010 Pengamat / Teman Sejawat ( SRI MULYATI ) ( IRA MUTIARANI ) .

situasi dan sesuai lingkungan 2.4.2.2.89 Lampiran 6 Lembar Pengamatan Kegiatan Guru dalam Pembelajaran Siklus I N0 1.Menggunakan alat Bantu ( media ) pembelajaran yang sesuai dengan tujuan. Menjawab pertanyaan dari respon siswa 3.3. Memberikan petunjuk dan penjelasan yang b. tulisan . Menggunakan ekspresi lisan. Melaksanakan kegiatan pembelajaran 2. Memantapkan penguasaan materi v v v v v v v v v Ya v v Tdk . terkait dengan isi pembelajaran 3.2. memicu dan memelihara ketertiban siswa 3. alat bantu dan sumber belajar 1. Mengelola interaksi kelas a. isyarat.1 Melaksanakan jenis kegiatan yang sesuai dengan Tujuan. Melaksanakan tugas harian kelas 2. 2.5.3. kelompok atau efiensi. Menyiapkan ruangan. Aspek yang dinilai Mengelola ruang dan fasilitas pembelajaran 1. dan Gerakan badan 3. Mengelola pembelajaran waktu secara klasikal 3.1. situasi dan sesuai lingkungan 2.4. Melaksanakan kegiatan pembelajaran secara individual.

2. Menunjukkan sikap ramah.1. penuh pengertian dan sabar terhadap siswa. v v Guru / Peneliti Sragen. Melaksanakan penilaian selama pembelajaran 5. Membantu siswa menumbuhkan kepercayaan diri Melaksanakan evaluasi proses hasil belajar 5. Melaksanakan penilaian pada pembelajaran proses akhir v v v v v 5. 16 Juli 2010 Pengamat / Teman Sejawat ( SRI MULYATI ) ( IRA MUTIARANI ) . Bersikap terbuka dan luwes serta membantu mengembangkan sikap positip siswa terhadap merespon materi 4.2. Menunjukkan kegairahan mengajar 4.4.5.90 4. hangat luwes.1. Mengembangkan hubungan antara pribadi yang sehat dan serasi 4. Membantu siswa menyadari kelebihan dan kekurangannya 4. terbuka. 4.3.

Mengelompokkan kata-kata yang sejenis 6. Kompetensi Dasar 1. Pembentukan perilaku melalui pembiasaan B. Taman Kanak-Kanak / I : 1 : 1 x 30 menit A.14 Bercerita Menyebutkan nama tokoh dalam cerita 1. Menyebutkan nama tokoh dalam cerita 2. Indikator : : 1. Menceritakan gambar tanaman 3. Membaca sederhana 4. Menghubungkan tulisan dengan gambar 5.16 Menghubungkan tulisan dengan gambar 1.12 Mengelompokkan kata-kata yang sejenis C. Menyusun huruf menjadi kata .91 Lampiran 7 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ( RPP ) SIKLUS II Pengembangan Tema Kelas / Semester Pertemuan Alokasi Waktu : Bahasa Indonesia : Tanaman : B. Standar Kompetensi : 1.

6. Nanas. 2. Anak dapat mengelompokkan kata-kata yang sejenis. ia sangat rajin. Mangga dan masih banyak lagi buah yang lainnya. . Pak Sardi pergi kota naik kuda. 4. Materi Pelajaran * Tanaman Pak Sardi finggal di desa. Anak dapat menceritakan kembali cerita dari gambar seri dengan bahasanya sendiri. 5. Ia menanam buah-buahan Jeruk. Anak dapat membaca nama tokoh-tokoh dalam cerita.92 D. Tujuan Pembelajaran : 1. 3. Anak dapat membaca peristiwa dalam cerita melalui tulisan yang ada dalam Gambar. Pisang. Anak dapat menyebutkan tokoh-tokoh dalam cerita. Anak dapat menghubungkan tulisan dengan gambar secara tepat. E. 7. Pak Sardi menjual hasil kebunnya ke kota. Anak dapat menyusun huruf menjadi kata.

f. demonstrasi dengan gambar dan dadu. sepeda motor. Pemberian tugas. Metode Pembelajaran 1. Kegiatan awal a. Anak menyebutkan nama tokoh yang ada dalam cerita c. a.93 Di kota terdapat banyak kendaraan ada becak. 1. Kegiatan Inti. 2. mobil dan Kendaraan yang lain-lainnya. Anak menyusun huruf menjadi kata dengan menggunakan dadu huruf . Sepeda motor Mobil 4. G. berdoa dan presensi b. Langkah – langkah Kegiatan Pembelajaran. Anak membaca tulisan yang ditunjukkan guru e. Anak mendengarkan guru tentang cerita dari gambar b. Apersepsi 2. Anak mengerjakan tugas menghubungkan gambar dengan tulisan yang sesuai. Tanya jawab. Becak F. 3. Anak diajak duduk dalam suasana belajar . Ceramah. Anak menceritakan kembali dengan bahasanya sendiri d.

Menempel suku kata yang kurang sesuai gambar d. 2. Penerbit Makmur Jaya Seri 5. Guru menilai hasil pekerjaan siswa dan menyimpulkannya. halaman 5-6. H. Mampu melakukan sendiri dengan baik dan benar diberi sekor 4 Mampu melakukan dengan sedikit bantuan diberi sekor Mampu melakukan dengan banyak bantuan diberi sekor Belum mampu melakukan diberi skor 3 2 1 . menempel kata sesuai dengan gambar. Dadu huruf : Kreasi guru : Buku PAUD. Penilaian / Evaluasi 1. Sumber Bahan : Kartu bergambar. Alat / media Pelajaran 2. Melempar dadu huruf. Siswa diberi tugas guru untuk dikerjakan c.94 3. Alat dan Sumber Bahan 1. c. menyusun dan membaca Kreteria Penilaian Kenerja. menempel gambar sesuai kata yang tertulis. I. Test perbuatan dan lesan : a. Guru menyimpulkan materi yang telah disajikan b. Kegiatan Akhir a. Guru memberi pekerjaan untuk dikerjakan dirumah d. Test Lisan : dilaksanakan pada proses pembelajaran berlangsung. b.

Jumlah Skor maksimum 4 4 4 4 16 Jumlah skor yang diperoleh x 10 Nilai Akhir = Skor maksimum = .. Menempel suku kata yang kurang sesuai gambar Menyusun huruf dengan lemparan dadu dan membacanya. 2 3 4 Aspek yang dinilai Menempel kata sesuai gambar yang tertulis Menempel gambar sesuai dengan kata.. 16 x 10 = = NA = -------------- ..95 Skor perolehan 4 3 2 1 N0 1.

...... . Jeruk c. . Jeruk c.. Pisang b. Nanas 2.... a.. Berilah tanda silang ( X ) huruf a...96 J..... a... Test tertulis I. b.. Nanas 3. ...... Pisang b.. Mawar a.. c pada jawaban yang benar ! 1. c.......... b........

.... mah b.......... c..... 6... ........ .. 5.. 7.. Lengkapilah a........... b. .. .... ra ..97 4......... Gajah a..... Gambar apakah ini............... Gambar apakah ini......... ru .. ri c...

la b....... .... b..98 8 .. li c. a. 9 Agustus 2010 Guru kelas B... . ruk c. Mengetahui Ka TK. Elim Sragen Sragen. rik je . a. . rak * Tulislah nama gambar di bawah ini 10..nga 9. Sri Mulyati ........ .... lo Te. TK Elim Sragen Dobirson S.

99 Lampiran 8 Lembar Pengamatan Aktivitas dan Kemampuan Membaca Permulaan Siklus II No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Aspek yang diamati Frekuensi kesalahan dalam membaca Kesalahan membedakan huruf b dengan d Kesalahan membedakan huruf p dengan q Kesalahan membedakan huruf m dengan n Kesalahan membedakan huruf s dengan z Kesalahan membedakan huruf v dengan u Membaca terlalu lama Tidak Tiduran Tidak mengerjakan tugas Mengganggu teman-teman Berceritera atau berteriak-teriak saat pelajaran berlangsung √ mengikuti pelajaran dengan sungguh-sungguh √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Farel Ya Tidak √ √ √ Ian Tidak √ √ √ √ √ √ √ √ Ya Guru / Peneliti Sragen. 9 Agustus 2010 Pengamat / Teman Sejawat ( SRI MULYATI ) ( IRA MUTIARANI) .

3. Membantu siswa menyadari kelebihan dan kekurangannya 4.2. situasi dan sesuai lingkungan 2. tulisan .2. Mengembangkan hubungan antara pribadi yang sehat dan serasi 4. dan Gerakan badan 3.4.2. 2. terbuka. isyarat. situasi dan sesuai lingkungan 2. 4.4. Menggunakan ekspresi lisan.4. hangat luwes. kelompok atau efiensi. Menggunakan alat Bantu ( media ) pembelajaran yang sesuai dengan tujuan. Memantapkan penguasaan materi Bersikap terbuka dan luwes serta membantu mengembangkan sikap positip siswa terhadap merespon materi 4. Menyiapkan ruangan. Menjawab pertanyaan dari respon siswa 3. Melaksanakan penilaian selama proses pembelajaran 5. Melaksanakan kegiatan pembelajaran secara individual.2. 3.1. penuh pengertian dan sabar terhadap siswa.3. Memberikan petunjuk dan penjelasan yang terkait dengan isi pembelajaran 3. Melaksanakan evaluasi proses hasil belajar 5.2.1.5. alat bantu dan sumber belajar v 1. Membantu siswa menumbuhkan kepercayaan diri 5. Tdk 2.3.100 Lampiran 9 LEMBAR OBSERVASI KEGIATAN GURU DALAM PEMBELAJARAN SIKLUS II Aspek yang dinilai Ya Mengelola ruang dan fasilitas pembelajaran 1. 4. Menunjukkan kegairahan mengajar 4. memicu dan memelihara ketertiban siswa 3. Menunjukkan sikap ramah. Melaksanakan tugas harian kelas v Melaksanakan kegiatan pembelajaran 2.1. Melaksanakan penilaian pada akhir pembelajaran v v v v v v v v v v v v v v v v N0 1.5.1 Melaksanakan jenis kegiatan yang sesuai dengan Tujuan. Mengelola pembelajaran waktu secara klasikal Mengelola interaksi kelas 3. .1.

101 Pengamat/Teman Sejawat ( SRI MULYATI ) ( IRA MUTIARANI ) Kegiatan Pembelajaran dengan Media Lempar Dadu Huruf .

102 .

103 .

104 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful