P. 1
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Usaha Kesejahteraan Sosial (Vol 11, No. 03, 2006)

Jurnal Penelitian dan Pengembangan Usaha Kesejahteraan Sosial (Vol 11, No. 03, 2006)

|Views: 1,034|Likes:
Jurnal Litbang Kesejahteraan Sosial sebagai media ekspose hasil-hasil penelitian bidang
kesejahteraan sosial, dalam terbitan kali ini merupakan edisi ketiga pada tahun 2006. Pada edisi
kali ini menyajikan hasil-hasil penelitian tentang organisasi sosial, pranata sosial, permasalahan
sosial Tenaga Kerja Wanita (TKW), perlindungan anak, permasalahan ODHA, dan Pemberdayaan
Fakir Miskin
Jurnal Litbang Kesejahteraan Sosial sebagai media ekspose hasil-hasil penelitian bidang
kesejahteraan sosial, dalam terbitan kali ini merupakan edisi ketiga pada tahun 2006. Pada edisi
kali ini menyajikan hasil-hasil penelitian tentang organisasi sosial, pranata sosial, permasalahan
sosial Tenaga Kerja Wanita (TKW), perlindungan anak, permasalahan ODHA, dan Pemberdayaan
Fakir Miskin

More info:

Categories:Types, Research, Science
Published by: Rm Ksatria Bhumi Persada on Jun 10, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/27/2012

pdf

text

original

Sections

Data anak pada Nusa Tenggara Barat
Dalam Angka (BPS Prov, NTB, 2005), tidak
dapat diketahui secara pasti, karena ada
kategori kelompok anak (17 tahun) yang
disajikan pada kelompok umur 15-19 tahun.
Data anak umur 0-18 tahun berjumlah
1.800.380 anak atau 43,45 persen dari
populasi penduduk. Dari jumlah tersebut
sebanyak 911.949 anak atau 50,65 persen
adalah laki-laki dan sebanyak 888.381 anak
atau 49,35 persen adalah perempuan.

Kemudian populasi anak umur 7-18 tahun
menurut tingkat pendidikan, sebanyak 573.875
orang berpendidikan Sekolah Dasar, 282.317
orang berpendidikan SLTP dan 261.643 orang
berpendidikan SLTA. Data populasi anak
menurut tingkat pendidikan dapat dilihat pada
diagram 1.

4

Dari jumlah populasi tersebut, sebanyak
50 persen anak tinggal di perdesaan dengan
rincian 49,66 persen laki-laki dan 50,34 persen
perempuan. Kemudian 50 persen anak tinggal
di perkotaan dengan rincian 51,21 persen laki-
laki dan 48,79 persen perempuan.

Hubungan antara anak dengan Kepala
Rumah Tangga dicermati dari posisi anak
terhadap Kepala Rumah tangga, yaitu anak
(kandung, tiri, angkat), lainnya (cucu, famili)
dan sebagai Kepala Rumah Tangga. Menurut
Profil Anak Nusa Tenggara Barat (BPS, 2004)
sebanyak 88,83 persen anak memiliki
hubungan dengan Kepala Rumahtangga
sebagai anak, baik anak kandung, tiri maupun
anak angkat, sebagaimana tampak pada
diagram 2. Data tersebut menggambarkan,
bahwa sebagian besar anak-anak di Nusa
Tenggara Barat memperoleh pengasuhan dari
orang-orang dewasa terdekat dalam sebuah
keluarga. Meskipun angkanya tidak signifikan,
terdapat anak-anak yang menjadi Kepala
Rumah Tangga. Mereka tentu saja menghadapi
berbagai masalah yang berkaitan dengan
proses pertumbuhan dan perkembangannya,
karena terbebani oleh tugas dalam keluarga
yang selayaknya dikerjakan orang dewasa.

Kemudian menurut kegiatannya, terdapat
berbagai jenis aktivitas yang dilakukan anak,
yaitu sekolah, bekerja, menganggur, mengurus
rumah tangga dan lainnya. Data jenis kegiatan
anak dapat dilipat pada tabel 1.

Tabel 1

PERSENTASE ANAK 7-18 MENURUT

KEGIATAN

573,975

282,317

261,643

-

200,000

400,000 600,000

SD

SLTA

DIAGRAM 1:
TINGKAT PENDIDIKAN ANAK
7-18 TAHUN

DIAGRAM 2 :
HUBUNGAN ANAK DGN KEPALA RUMAH
TANGGA

88.83

10.63

0.34

ANAK
LAINNYA
KRT

NO

JENIS KEGIATAN

PERSENTASE

1 SEKOLAH

61.76

2 BEKERJA

21.11

3 MENGANGGUR

10.18

4 MENGURUS RT

2.64

5 LAINNYA

4.30

Sumber : BPS, Profil Anak Prov. NTB, 2004.

Sebagian besar atau 61,76 persen anak
di Nusa Tenggara Barat melakukan kegiatan
sekolah. Kemudian sebesar 21,11 persen anak-
anak sudah tidak sekolah lagi dan mereka
memiliki kegiatan bekerja atau menjadi pekerja
anak. Mereka tentu mengalami berbagai
masalah, baik secara pribadi yaitu yang terkait
dengan proses tumbuh kembang; maupun
berbagai resiko yang dihadapi di tempat kerja.
Selain itu, mereka juga merupakan kelompok
yang potensial menghadapi tindak kekerasan
ataupun dieksploitasi secara ekonomi oleh
orang dewasa.

Sebagimana disajikan dalam data pada
tabel 1 di atas, di Nusa Tenggara Barat terdapat
anak umur 7-18 tahun yang bekerja sebanyak
21,11 persen atau berkisar 380.000 orang.
Anak yang bekerja tersebut tersebar di seluruh
kabupaten/kota di Provinsi Nusa Tenggara
Barat.

Dari sembilan kabupaten/kota tersebut,
Lombok Barat dan Kota Mataram merupakan
daerah yang memiliki data signifikan untuk anak
yang berusaha dan sebagai buruh/karyawan.
Hal ini berhubungan dengan status kedua kota
tersebut, yaitu sebagai kota pariwisata yang
banyak menawarkan lapangan pekerjaan bagi
anak-anak. Berbagai jenis usaha anak-anak
tersebut seperti membuat kerajinan tangan dan
menjajakannya di daerah-daerah wisata,
menjadi pemulung, dan kusir cidomo. Berbagai

Jurnal Penelitian dan Pengembangan Usaha Kesejahteraan Sosial, Vol 11, No. 03, 2006 : 1-17

5

jenis usaha anak-anak tersebut pada umumnya
dilakukan jauh dari pantauan orang tuanya.
Oleh karena itu, mereka potensial mengalami
eksploitasi secara ekonomi, seksual maupun
tindak kekerasan dari orang dewasa.

C.Anak Yang Memerlukan

Perlindungan

1.Korban Eksploitasi

Hasil studi LPA Provinsi Nusa
Tenggara Barat (2003) menemukan anak
yang mengalami eksploitasi berjumlah
373 orang. Anak perempuan berjumlah
225 orang dan anak laki-laki berjumlah
148 anak. Kemudian menurut umur, pada
kategori umur 5-12 tahun berjumlah 93
anak; umur 13-15 tahun berjumlah 133
anak dan umur 15-18 tahun berjumlah
147 anak. Berdasarkan kelompok umur
ini, maka kelompok remaja (13-18 tahun)
lebih banyak menjadi korban eksploitasi
dibandingkan dengan kelompok anak-
anak. Sebagaimana dikemukakan
sebelumnya, bahwa jumlah anak yang
bekerja dan sebagai buruh/karyawan
sebagian besar terdapat di Kabupaten
Lombok Barat dan Kota Mataram,
dimana kedua kota ini sebagai daerah
pariwisata.

Terdapat lima lokasi wisata yang
menurut temuan LPA Provinsi Nusa
Tenggara Barat sebagai lokasi terjadinya
eksploitasi anak, yaitu Bayu Molek terjadi
115 kasus, Otak Kokok 14 kasus, Sade
56 kasus, Gili 118 kasus dan Senggigi 70
kasus. Berdasarkan data tersebut ada
korelasi antara tingkat keramaian dan
tersedianya fasilitas wisata dengan jumlah
kasus eksploitasi. Semakin ramai lokasi
wisata, semakin tinggi jumlah kasus
eksploitasi. Hal ini menunjukkan lemahnya
kontrol sosial masyarakat, dan terjadinya
penguatan orientasi kehidupan ekonomis
masyarakat. Akibat dari orientasi ekonomi
masyarakat yang kuat ini, maka anak-
anak ditarik ke dalam dunia usaha, tanpa
mempertimbangkan hak-hak mereka. Hal
ini juga menunjukkan lemahnya sistem
pengawasan dan perlindungan sosial

oleh pemerintah daerah terhadap
anak-anak, khususnya mereka yang
menjalankan usaha di lokasi wisata.
Korban eksploitasi menurut lokasi dan jenis
kelamin ini dapat dilihat pada tabel 2.

Tabel 2

KORBAN EKSPLOITASI MENURUT LOKASI

DAN JENIS KELAMIN

JENIS KELAMIN

LAKI-LAKI PEREMPUAN

NO

LOKASI

F

%

F

%

JMLH

1 BAYU MOLEK

100 86,96 15 13,64 115

2 OTAK KOKOK 2 14,29 12 85,71 14

3 SADE

33 58,93 23 41,07 56

4 GILI

58 49,15 60 51,85 118

5 SENGGIGI

32 45,71 38 54,29 70

JUMLAH

225 60,32 148 39,68 373

Sumber : LPA Provinsi NTB, 2003.

DIAGRAM 3 :
INISIATOR TERJADINYA EKSPLOITASI

60%

20%

12%

5%

3%

SENDIRI

BAPAK

IBU

FAMILI

ORANG LAIN

Di lima lokasi eksploitasi tersebut
ditemukan 17 jenis tindakan yang
dikategorikan sebagai eksploitasi ekonomi
dan eksploitasi seksual. Pada kasus
eksploitasi ekonomi, pengrajin sebanyak
115 kasus, pedagang souvenir 59 kasus,
pedagang asongan 39 kasus, pelayan ho-
tel 35 kasus dan nelayan 29 kasus.
Kemudian pada kasus eksploitasi seksual,
anak yang dilacurkan dengan 16 kasus ,
dijual dan disodomi masing-masing
dengan 3 kasus.

Terjadinya kasus eksploitasi tersebut
dipicu oleh inisiator. Berdasarkan hasil
studi LPA Provinsi Nusa Tenggara Barat,
sebagai inisiator terjadinya eksploitasi
terhadap anak adalah diri anak sendiri,
bapak, ibu, famili dan orang lain. Data
inisiator tersebut dapat dilihat pada
diagram 3.

Perlindungan Anak di Nusa Tenggara Barat (Suradi)

6

Inisiatif dari diri anak sendiri
sebanyak 155 kasus (60 %), Bapak 32
kasus (12 %), Ibu 53 kasus (20 %), famili
7 kasus (3 %) dan orang lain 12 kasus (5
%). Dalam kasus eksploitasi ini, selain
berasal dari diri sendiri, orang terdekat,
yaitu bapak, ibu dan famili juga menjadi
inisitator yang cukup besar yaitu 35 persen.
Data ini menggambarkan bahwa fungsi
ekonomi keluarga tidak dapat dilak-
sanakan dengan baik, terutama oleh ayah
sebagai pencari nafkah utama. Hasil studi
LPA Provinsi Nusa Tenggara Barat (2003)
berhasil menghimpun informasi, bahwa
faktor ekonomi ini tidak hanya menjadi
penyebab terjadinya eksploitasi ekonomi
terhadap anak-anak, akan tetapi juga
sebagai faktor penyebab terjadinya
eksploitasi seksual. Selain itu, terjadinya
eksploitasi seksual terhadap anak
disebabkan adanya penipuan yang
dilakukan oleh oknum. Seperti yang terjadi
pada kasus penipuan terhadap anak
perempuan dari Pulau Jawa, dimana
dijanjikan bekerja sebagai penjaga wartel,
pelayan toko dan restoran dengan
gaji besar di Pulau Lombok. Pada
kenyataannya mereka dipekerjakan di
Pulau Lombok di tempat-tempat hiburan
dan dilacurkan.

2.Korban Tindak Kekerasan

Hasil LPA Provinsi Nusa Tenggara
Barat (2003) menemukan kasus tindak
kekerasan terhadap anak dengan korban
sebanyak 125 orang. Berdasarkan jenis
kelamin, korban tindak kekerasan
terhadap anak laki-laki berjumlah 79 or-
ang (63,20 %) dan anak perempuan
berjumlah 46 orang (36,80 %).

Kemudian menurut umur, pada
kelompok umur 7-12 tahun maupun pada
kelompok umur 13-18 tahun jumlah
korban sama banyak, yaitu masing-
masing 61 orang atau 48,8 persen.
Sedangkan pada kelompok umur 0-6
tahun sebanyak 3 orang atau 2,4 persen.

Berdasarkan status pendidikan,
sebagian besar termasuk kategori rendah,
yaitu mulai dari tidak pernah sekolah
sampai dengan putus sekolah (dropout)
pada tingkat SLTA. Data tentang status
pendidikan korban tindak kekerasan
dapat dilihat pada tabel 3.

Tabel 3

STATUS PENDIDIKAN KORBAN KEKERASAN

STATUS PENDIDIKAN

TDK PERNAH

SEKOLAH

DO

SD

SD

DO

SMP SMP

DO

SMA

SMA

8

(6,40%)

3

(2,40%)

22

(17,60%)

22

(17,60%)

15

(12%)

38

(30,40%)

17

(13,60%)

Sumber : LPA Provinsi NTB, 2003.

Berbagai bentuk tindak kekerasan
terhadap anak ditemukan di Provinsi Nusa
Tenggara Barat, mulai dari kekerasan fisik,
psikis hingga menghilangkan nyawa. LPA
Provinsi Nusa Tenggara Barat berhasil
mengidentifikasi 11 jenis tindak kekerasan
terhadap anak, yaitu penipuan, ancaman,
pemukulan, pencabulan perkosaan,
pembunuhan, pembuangan, penjualan,
penelantaran, deskriminasi dan eksploitasi.
Dari berbagai jenis tindak kekerasan
tersebut, kasus yang cukup mencolok yaitu
ancaman (34 kasus), pemukulan (66
kasus), eksploitasi (36 kasus), penipuan (14
kasus) dan perkosaan (12 kasus).

Selain data hasil studi LPA Provinsi
(2003), LPA juga menghimpun data dari
berbagai media massa lokal, antara lain
Lombok Post. Ada tiga jenis bentuk tindak
kekerasan yang berhasil dihimpun oleh
media massa lokal, yaitu kekerasan fisik,
seksual dan fisik bersama-sama
dengan seksual. Tindak kekerasan fisik
yaitu penganiayaan, pembunuhan,
pembuangan bayi dan pembunuhan
disertai dengan pembuangan. Tindak
kekerasan seksual, yaitu pemerkosaan,

Jurnal Penelitian dan Pengembangan Usaha Kesejahteraan Sosial, Vol 11, No. 03, 2006 : 1-17

7

pencabulan dan sodomi. Sedangkan
tindak kekerasan fisik bersamaan dengan
seksual, yaitu pemerkosaan yang diikuti
dengan pembunuhan.

Meskipun secara kuantitas jumlah
kasus tahun 2004 meningkat dibanding-
kan dengan tahun 2003, yaitu dari 36
kasus menjadi 59 kasus, namun terdapat
kasus kekerasan yang mengalami
penurunan, yaitu pembuangan bayi,
pembunuhan dan pembuangan, serta
pencabulan. Kasus penganiayaan dan
pembunuhan yang terjadi pada tahun
2003, tidak terjadi lagi pada tahun 2004.
Sebaliknya muncul kasus baru yang pada
tahun 2003 tidak ada, tetapi muncul pada
tahun 2004 yaitu, sodomi dan pemer-
kosaan yang diikuti dengan pembunuhan.

Tindak kekerasan menimbulkan
penderitaan bagi para korbannya.
Penderitaan yang dirasakan oleh korban,
selain secara fisik, psikis dan sosial, bahkan
menghilangkan nyawa. Pen-deritaan fisik
seperti luka ringan/memar/lecet, luka
berat dan cacat. Sedangkan penderitaan
psikis dan sosial seperti strees, malu dan
kehilangan kesempatan untuk bermain
serta sekolah. Berdasarkan jenis
penderitaan ini dapat diketahui lamanya
korban menderita akibat tindak kekerasan.
Penderitaan fisik, tentu tidak memerlukan
waktu yang lama untuk pemulihannya,
kecuali luka berat atau cacat permanen.
Sedangkan penderitaan psikis dan sosial,
proses penyembuhannya biasanya
memerlukan waktu lama, terlebih pada
korban yang terenggut kehormatannya.
Data tentang jenis penderitaan korban
tindak kekerasan dapat dilihat pada
tabel 4.

Pelaku tindak kekerasan terhadap
anak, bukanlah orang yang secara sosial
jauh dari anak. Pelakunya adalah orang
dewasa yang kenal akrab dengan anak,
dan bahkan tinggal dalam satu rumah.
Kenyataan ini menunjukkan kondisi
kontradiksi, dimana semestinya anak
memperoleh perlakuan baik di dalam
lingkungan rumah tangga, justru yang
terjadi malah sebaliknya. Mereka menjadi
korban tindak kekerasan yang me-
nimbulkan penderitaan fisik, psikis dan
sosial. Berdasarkan studi LPA Provinsi Nusa
Tenggara Barat (2003), terdapat 12
kelompok yang menjadi pelaku tindak
kekerasan terhadap anak, yaitu ayah dan
ibu kandung, ayah dan ibu tiri, saudara
lain (kakek, paman, bibi, kerabat), guru
(sekolah, mengaji), tetangga, atasan dan
orang tidak dikenal.

Data tentang hubungan pelaku
tindak kekerasan dengan korban dapat
dilihat pada tabel 5. Pada tabel tersebut,
hubungan pelaku dengan korban yang
frekuensinya menyolok yaitu dilakukan
oleh ibu dan ayah kandung, masing-
masing 34 kasus, guru sekolah 26 kasus

Tabel 4

JENIS-JENIS PENDERITAAN KORBAN

TINDAK KEKERASAN

NO

JENIS PENDERITAAN

F

%

1 Strees

46 23,47

2 Merasa dipermainkan

39 19,90

3 Luka ringan/memar/lecet

35 17,86

4 Luka berat

5

2,55

5 Cacat permanen

1

0,51

6 Terbunuh

1

0,51

7 Terenggut kehormatannya

7

3,57

8 Kehilangan waktu bermain 24 12,24

9 Kehilangan waktu sekolah 31 15,82

10 Penderitaan lainnya

7

3,57

Ket : Jawaban lebih dari 1

Perlindungan Anak di Nusa Tenggara Barat (Suradi)

8

dan orang tidak dikenal 19 kasus. Pelaku
mulai nomor 1 sampai dengan nomor 10
adalah orang-orang yang masih punya
hubungan kekerabatan dan ikatan
emosional. Situasi ini menunjukkan,
bahwa lingkungan keluarga merupakan
lingkungan sosial yang potensial
melakukan tindak kekerasan terhadap
anak.

Tabel 5

HUBUNGAN PELAKU DENGAN KORBAN

TINDAK KEKERASAN

(dua) kasus dilakukan oleh orang lokal
yang kasusnya telah ditangani oleh pihak
berwajib. Pada tahun 2006 terjadi kasus
sodomi terhadap seorang anak yang
dilakukan oleh empat orang Australia.
Saat ini korban memperoleh advokasi
sosial dari LPA provinsi maupun LPA
Kabupaten Lombok Barat. Selain itu LPA
juga memberikan pendampingan kepada
korban dalam proses peradilan di
Pengadilan Tinggi Nusa Tenggara Barat.

4. Wabah Incest

Tim penelitian Lembaga Perlin-
dungan Anak Provinsi pada tahun 2003
mencatat, terdapat 23 kasus dari 35 kasus
kekerasan seksual terhadap anak,
dilakukan oleh orang-orang yang masih
memiliki hubungan darah dengan korban.
Pada tahun 2006 terjadi kasus
pemerkosaan, yaitu antara anak dengan
ayah kandung. Pada saat ini korban
sedang hamil 6 bulan dan dititipkan oleh
LPA di Panti Sosial Tresna Werdha
Mataram. Secara intensif ia memperoleh
pelayanan pendampingan dari tenaga
LPA provinsi maupun LPA Kabupaten
Lombok Barat.

5.Anak Berkonflik dengan Hukum

Selain sebagai korban dari eks-
ploitasi, tindak kekerasan, phaedophilia
dan incest, pada kenyataannya anak-anak
juga dapat sebagai pelaku. Bahkan
terjadinya beberapa kasus tindak kriminal
pelakunya adalah anak-anak. Data yang
dihimpun oleh LPA Nusa Tenggara Barat
dari Bapas Mataram menyebutkan ada
11 jenis kasus yang dilakukan anak-anak,
sehingga mereka disebut sebagai anak
yang berkonflik dengan hukum. Beberapa
jenis kasus tersebut dapat dilihat pada
tabel 6. Data pada tabel tersebut
menunjukkan jenis kasus hukum yang
frekuensinya sangat menyolok adalah
pencurian dengan 25 kasus dan menyusul
narkotika dengan 8 kasus. Kasus-kasus
tersebut ditangani penegak hukum dalam
hal ini Kepolisian Daerah (Polda NTB) dan
Kepolisian Resort (Polres kabupaten/ kota
lokasi kejadian).

NO

HUBUNGAN DG PELAKU

F

%

1 Ayah kandung

34 22,52

2 Ibu kandung

34 22,52

3 Ayah tiri

4

2,65

4 Ibu tiri

2

1,32

5 Kakek

4

2,65

6 Saudara/Misan

2

1,32

7 Paman/bibi/kerabat lain

8

5,30

8 Guru sekolah

26 17,22

9 Guru mengaji

9

5,96

10 Tetangga

4

2,65

11 Atasan/pengawas tempat bekerja 5

3,31

12 Orang lain tidak dikenal

19 12,58

Sumber : LPA Provinsi NTB, 2003.

Keluarga yang mestinya menjadi
tempat pertama dan utama bagi anak
untuk memperoleh pemenuhan kebutuhan
sosial dasar, hak-hak dan perlindungan,
sebaliknya menjadi tempat penyiksaan
dan penjara bagi anak-anak. Ayah dan
ibu kandung yang berfungsi memberikan
perlindungan terhadap anak-anaknya,
justru sebaliknya. Mereka bagaikan “mon-
ster” yang menakutkan dan mengancam
kehidupan anak-anaknya. Demikian pula
ayah dan ibu tiri, kakek, paman, bibi dan
kerabat, dimana keberadaanya dapat
mendukung anak untuk memperoleh
kebutuhan, hak dan perlindungan, justru
sebaliknya menjadi ancaman terhadap
kelangsungan pertumbuhan dan per-
kembangan anak tersebut.

3. Phaedophilia

Tim Peneliti Lembaga Perlindungan
Anak Provinsi Nusa Tenggara Barat tahun
2003 menemukan 7 kasus phaedophilia
yang dilakukan oleh orang asing, dan 2

Jurnal Penelitian dan Pengembangan Usaha Kesejahteraan Sosial, Vol 11, No. 03, 2006 : 1-17

9

Polda dan Polres di wilayah Nusa
Tenggara Barat mencatat secara kumulatif
terjadinya peningkatan jumlah kasus anak
yang berkonflik dengan hukum pada tahun
2003 dibandingkan tahun 2004. Kasus
yang mengalami peningkatan adalah
penganiayaan,

pemerkosaan,
pembunuhan dan penculikan. Sedangkan
kasus yang mengalami penurunan adalah
aborsi, pencabulan, incest, melarikan
anak, dan pencemaran nama baik.

6.Anak dengan Status Gizi Buruk

Permasalahan yang terkait dengan
pemenuhan kebutuhan sosial dasar anak
adalah status gizi balita. Dinas Kesehatan
Provinsi Nusa Tenggara Barat (2005)
menyajikan data mengenai status gizi
balita, yang dikategorikan ke dalam Gizi
Buruk, Gizi Kurang, Gizi Baik dan Gizi
Lebih. Data mengenai status gizi balita di
Nusa Tenggara Barat ini secara umum
dapat dilihat pada diagram 4.

Dalam upaya mengetahui status gizi
balita, balita (0-59 bulan) yang menjadi
sampel pendataan sebanyak 498.095
anak. Balita yang memiliki status gizi buruk
berjumlah 6,58 persen, gizi kurang 2,62
persen, gizi normal 68,56 persen dan gizi
lebih 2,24 persen. Artinya, balita yang
menghadapi masalah status gizi tidak nor-
mal berjumlah 31,44 persen. Persoalan
status gizi balita sangat berkaitan dengan
proses pertumbuhan dan perkembangan
anak selanjutnya, baik terkait dengan
aspek fisik, mental dan kecerdasan.
Kondisi ini perlu penanganan secara
komprehensif, yang tujuan jangka
pendeknya agar anak-anak segera
tercukupi asupan/kebutuhan gizinya.
Tujuan jangka menengah supaya anak
tumbuh kembang secara normal sesuai
dengan fase-fase kehidupannya.
Sedangkan tujuan jangka panjang
merupakan sebuah upaya untuk
menyelamatkan generasi muda sebagai
sumber daya pembangunan di masa
depan.

7.Anak Penyandang Masalah Kesejahteraan
Sosial

Berdasarkan data pada Profil Anak
Nusa Tenggara Barat ( 2004), anak umur
0-18 tahun di provinsi Nusa Tenggara
Barat berjumlah 1.800.380 orang.
Sebagian dari jumlah tersebut hidupnya
tidak beruntung, sehingga mereka
termasuk kelompok Penyandang Masalah
Kesejahteraan Sosial (PMKS). Tidak
tercukupi kebutuhan sosial dasar dan
hak-haknya sebagaimana anak-anak
umumnya.

Tabel 6

JENIS KASUS ANAK YANG BERKONFLIK

DENGAN HUKUM

NO

JENIS KASUS

JUMLAH

1 Pencurian

25

2 Penganiayaan

2

3 Pemerkosaan/kesusilaan

3

4 Kecelakaan lalu lintas

3

5 Penggelapan

3

6 UU Darurat

3

7 Pembunuhan

-

8 Pengeroyokan

3

9 Pengedaran uang palsu

2

10 Pemalsuan mata uang

1

11 Narkotika

8

JUMLAH

55

Sumber : LPA Provinsi NTB, 2003.

DIAGRAM 4 :
STATUS GIZI BALITA

22.62

6.58

2.24

68.56

GIZI BURUK

GIZI KURANG

GIZI NORMAL

GIZI LEBIH

Perlindungan Anak di Nusa Tenggara Barat (Suradi)

10

Dinas Sosial dan Pemberdayaan
Perempuan Provinsi Nusa Tenggara Barat
(2005) mencacat jumlah anak-anak yang
termasuk ke dalam PMKS sebanyak
277.147 anak (minus Kabupaten
Sumbawa Barat), yang terdiri dari balita
telantar 27.903 anak, anak telantar
231.160 anak, anak korban tindak
kekerasan 195 anak, anak nakal 8.473
anak, anak jalanan 8.041 anak dan anak
cacat 277 anak. Dari data tersebut PMKS
rumpun ketelantaran (neglected children)
yang terdiri dari balita telantar, anak
telantar, dan anak jalanan jumlahnya
sangat dominan yaitu sebesar 267.104
anak. Data PMKS anak tampak pada
tabel 7.

Tabel 7

PMKS MENURUT KABUPATEN/KOTA

Khusus PMKS anak yang termasuk
rumpun ketelantaran, pada umumnya
berasal dari rumah tangga miskin.
Kemiskinan menyebabkan rumah tangga
tersebut tidak mampu memenuhi
kebutuhan sosial dasar, hak dan
perlindungan kepada anak-anak mereka.
Bahkan di antara mereka mendorong
anak-anaknya menjalankan kegiatan
ekonomi di jalanan atau yang kemudian
dikenal dengan anak jalanan (street
children).

8.Partisipasi Sekolah Anak

Dinas Pendidikan, Pemuda dan
Olahraga (2005) mencatat, bahwa dari
siswa SD yang berjumlah 5.485 anak,
angka putus sekolah sebesar 1.00 persen,
siswa SLTP berjumlah 3.901 anak, angka
putus sekolah sebesar 2.73 persen, siswa
SMA berjumlah 3.190 anak angka putus
sekolah sebesar 4.61 persen dan siswa
SMK 1.401 anak, angka putus sekolah
sebesar 7.87 persen. Semakin tinggi
tingkat pendidikan, semakin tinggi pula
angka putus sekolah penduduk. Angka
tersebut memperkuat data sebelumnya,
bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan,
angka melanjutkan semakin rendah dan
angka putus sekolah semakin tinggi.

NO

KABUPATEN/KOTA

JUMLAH

1 LOMBOK BARAT

103,267

2 LOMBOK TENGAH

51,830

3 LOMBOK TIMUR

89,401

4 SUMBAWA

1,503

5 DOMPU

10,728

6 BIMA

12,166

7 KOTA MATARAM

3,893

8 KOTA BIMA

4,359

9 SUMBAWA BARAT

0

JUMLAH

277,147

Sumber : Dinas Sosial dan PP Provinsi NTB, 2005.

Tabel 8

PMKS MENURUT JENIS KELAMIN

JENIS KELAMIN

NO JENIS
PMKS

LAKI-LAKI PERMP

JML

1 BT

20,885 7,018 27,903

2 AT

116,203 114,957 231,160

3 AKK

44 151 195

4 AN

5,163 3,310 8,473

5 ANJAL 5,528 3,611 9,139

6. PACA

-

-

277

JUMLAH

147,823 129,047 277,147

Sumber : Dinas Sosial dan PP , NTB, 2005.

Data sebagaimana menunjukkan
jumlah PMKS anak di Nusa Tenggara
Barat, yaitu sebesar 15.38 persen dari
populasi anak. PMKS paling menyolok
terdapat di Kabupaten Lombok Barat,
Kabupaten Lombok Tengah dan Lombok
Timur.

Dilihat dari kategori jenis kelamin,
PMKS anak laki-laki lebih besar
dibandingkan dengan PMKS anak
perempuan, sebagaimana terlihat pada
tabel 8.

Jurnal Penelitian dan Pengembangan Usaha Kesejahteraan Sosial, Vol 11, No. 03, 2006 : 1-17

11

Angka Partisipasi Murni (APM) dan
Angka Partisipasi Kasar (APK) merupakan
indikator yang juga menunjukkan
kemajuan bidang pendidikan penduduk
Provinsi Nusa Tenggara Barat. Angka
Partisipasi Murni (APM) adalah jumlah
siswa usia tertentu dibandingkan dengan
jumlah penduduk usia tertentu pada
jenjang pendidikan tertentu. Sebagai
contoh rumus untuk menentukan APM SD
adalah :

Siswa SD usia 7-12 tahun X 100 %
Penduduk usia 7-12 tahun

Rumus tersebut berlaku juga untuk
menentukan APM SLTP maupun APM SLTA.
Sedangkan Angka Partisipasi Murni (APK)
adalah jumlah seluruh anak yang sekolah
dibandingkan dengan jumlah penduduk
usia tertentu. Sebagai contoh rumus untuk
menentukan APM SD adalah :

APK SD = Seluruh siswa SD x 100%
Penduduk usia 7-12 tahun

Kemudian diiketahui, bahwa anak
usia 7-12 tahun (SD) berjumlah 573.975
anak, usia 13-15 tahun (SLTP) berjumlah
282.317 anak dan usia 16-18 tahun
(SLTA) berjumlah 261.643 anak.
Berdasarkan data penduduk pada
usia sekolah dan jumlah siswa, maka
APK dan APM untuk masing-masing
tingkat pendidikan dapat dilihat pada
diagram 5.

Data pada diagram 5 tersebut
menunjukkan, bahwa semakin tinggi
tingkat pendidikan, APK maupun APM
semakin menurun yang berarti angka
partisipasi sekolah semakin rendah.
Rendahnya angka partisipasi sekolah
pada tingkat pendidikan SLTA tersebut
diduga terkait dengan ketidakmampuan
orang tua membiayai pendidikan
anaknya. Hal ini berkaitan dengan
mata pencaharian penduduk, dimana
prosentase terbesar di sektor pertanian,
dan cukup tingginya rumah tangga miskin,
yaitu 327.565 KK (1.637.825 jiwa) atau
39.53 persen (Dinkesos dan Pember-
dayaan Perempuan Provinsi NTB, 2005).

Berbagai permasalahan anak yang
terjadi di Provinsi Nusa Tenggara Barat
tersebut sudah kompleks, baik dilihat dari
kondisi yang melatarbelakangi maupun
dampaknya bagi korban dan masyarakat
pada umumnya. Nusa Tenggara Barat di
satu sisi sebagai daerah wisata yang
sangat terbuka terhadap masuknya gaya
hidup kekotaan, dan di sisi lain masih
tingginya keluarga miskin, merupakan
kondisi yang potensial mendorong
terjadinya berbagai permasalahan anak.
Kondisi ini dapat menjadi dasar dalam
menentukan bentuk-bentuk pelayanan
dalam upaya perlindungan anak.

D.Upaya Perlindungan Anak

1.Pelayanan Sosial Anak dalam Panti Sosial

Panti milik masyarakat yang
mengasuh anak telantar tersebar di
delapan dari sembilan kabupaten/kota di
seluruh Nusa Tenggara Barat. Dari
delapan kabupaten/kota, jumlah panti
asuhan adalah 200 unit yang mengasuh
10.191 anak atau 36,52 persen dari
populasi anak telantar di seluruh Provinsi
Nusa Tenggara Barat yang berjumlah
27.095 anak. Selain panti masyarakat
yang mengasuh anak telantar, di Nusa
Tenggara Barat juga terdapat 3 panti cacat
milik masyarakat yang mengasuh 95 anak.

107,4

96,65

83,04

66,08

48,61

38,84

0

50

100

150

SD

SLTP

SLTA

DIAGRAM 5 :
APK DAN APM SD, SLTP DAN SLTA

APK

APM

Perlindungan Anak di Nusa Tenggara Barat (Suradi)

12

Sedangkan panti milik pemerintah
daerah yang mengasuh anak ada tiga
jenis panti, yaitu panti asuhan bagi anak
telantar, panti anak yang mengalami
hambatan dalam sekolahnya dan panti
bagi anak putus sekolah.

Kemudian panti milik pemerintah
pusat yang mengasuh anak adalah Panti
Sosial Marsudi Putra Paramita Mataram.
Panti ini mengasuh anak nakal sebanyak
100 anak yang seluruhnya laki-laki.

Dari ketiga kategori panti sosial yaitu
miliki masyarakat, pemerintah daerah dan
pemerintah pusat, anak yang diasuh
seluruhnya berjumlah 10.646 anak atau
38.45 persen. Dengan demikian masih
terdapat 17.041 anak atau 61.55 persen
anak penyandang masalah kesejahteraan
sosial di Nusa Tenggara Barat tidak
terjangkau pelayanan panti sosial.
Sebagian dari mereka itu ditangani oleh
LPA dan pemerintah melalui sistem non
panti.

2.Program Bantuan Sosial bagi Anak

Sebagai wujud tanggung jawab
negara terhadap anak, pemerintah cq
Departemen Sosial memberikan bantuan
kepada panti melalui Dinas Sosial dan
Pemberdayaan Perempuan Provinsi Nusa
Tenggara Barat bagi anak penyandang
masalah sosial, baik panti sosial milik
masyarakat maupun pemerintah daerah.
Melalui bantuan ini diharapkan panti
sosial mampu bertahan dan mening-
katkan jangkauan serta kualitas
pelayanannya, sebagai bagian dari upaya
perlindungan anak.

a.Bantuan Subsidi Panti/BBM

Subsisi Panti di Nusa Tenggara Barat
menjangkau 203 panti asuhan dan panti
anak cacat. Namun demikian subsidi
tersebut pada praktiknya hanya
menjangkau sebagian dari jumlah klien
panti sosial. Dari jumlah panti 203 unit
dengan jumlah klien 10.286 anak, yang
memperoleh subsidi sebanyak 6.712 anak
atau 65.25 persen dengan alokasi subsidi
dihitung per anak sebesar Rp. 2.250 x 30
hari x 12 bulan. Artinya, sebanyak 34,66
persen anak kebutuhan makanannya

ditanggung oleh pihak panti sosial sendiri.
Berdasarkan hasil monitoring yang
dilakukan oleh petugas pelaksana subsidi
panti, pada praktiknya subsidi yang
diterima oleh panti dimanfaatkan oleh
seluruh anak panti dalam upaya
meningkatkan kualitas makanan dan
pemberian makanan tambahan.

Untuk mengetahui pemanfaatan
subsidi panti tersebut, pihak panti setiap
bulan membuat laporan secara tertulis
yang disampaikan kepada petugas
pelaksana subsidi panti pada Seksi
Pelayanan Anak. Berdasarkan laporan
tertulis, seluruh panti penerima subsidi telah
menerima dan memanfaatkan subsidi
sesuai dengan pedoman yang telah
ditentukan. Namun disinyalir ada indikasi
penyalahgunaan pemanfaatan subsidi
panti tersebut.

b.Bantuan Usaha Ekonomis Produktif

Terbatasnya daya panti sosial
menyebabkan tidak semua anak telantar
memperoleh pelayanan melalui sistem
panti sosial. Menyadari keterbatasan
tersebut, pemerintah cq Departemen Sosial
melalui Dinas Sosial dan Pemberdayaan
Perempuan Provinsi Nusa Tenggara Barat
menyalurkan bantuan bagi anak telantar
melalui sistem non panti. Melalui bantuan
ini anak telantar putus sekolah diarahkan
agar mampu mengelola usaha ekonomi
produktif.

Bantuan yang disalurkan dalam
satuan paket usaha seluruhnya berjumlah
214 paket yang menjangkau 1.200 anak
telantar. Adapun bentuk paket yang
dikelola oleh anak berupa dagang
sembako, peternakan dan perbengkelan.
Perkembangan dari bantuan berupa
paket UEP ini tidak diperoleh, disebabkan
masih terbatasnya sistem administrasi.

3.Bantuan Pendidikan bagi Anak

Bantuan pendidikan anak merupa-
kan program yang diselenggarakan oleh
pemerintah cq Departemen Pendidikan
Nasional yang didekonsentrasikan melalui
Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga
Provinsi Nusa Tengagra Barat. Program ini
dilaksanakan dengan tujuan agar anak

Jurnal Penelitian dan Pengembangan Usaha Kesejahteraan Sosial, Vol 11, No. 03, 2006 : 1-17

13

pada usia sekolah (7-18 tahun), terutama
dari keluarga tidak mampu dapat
bersekolah. Bentuk-bentuk program yang
dilaksanakan adalah :

a.BOS ( Bantuan Operasional Sekolah)

Program ini sasarannya adalah
siswa SD/MI sederajat termasuk SLB
setingkat SD dan SLTP (sederajat). Pada
tahun 2006, jumlah siswa SD (sederajat)
yang memperoleh BOS sebanyak
606.171 anak dengan jumlah dana
sebesar Rp. 141.829.550.000.
Sedangkan jumlah siswa SLTP (sederajat)
yang memperoleh BOS sebanyak
224.492 anak dengan jumlah dana
sebesar Rp. 74.326.400.000. Dana BOS
tersebut turun ke sekolah-sekolah melalui
rekening sekolah, dan bukan rekening
pribadi kepala sekolah.

Apabila dana BOS tidak mencukupi
RAPBS (Rencana Anggaran dan
Pendapatan Belanja Sekolah), maka
sekolah dapat memungut dana dari
Komite Sekolah berdasarkan rapat antara
sekolah, Komite Sekolah beserta orang tua
murid.

Pemantauan dilakukan setiap enam
bulan, untuk mengetahui ketepatan waktu
pencairan dana, dan penggunaannya.
Sampai saat ini (sejak 2004) belum
ditemukan kasus penyalahgunaan dana
BOS tersebut.

b.Bantuan Khusus Murid (BKM)

BKM diberikan kepada siswa SLTA
yang dilaporkan oleh sekolah yang
bersangkutan sebagai siswa tidak mampu.
Pada tahun 2006 siswa yang memperoleh
dana BKM sebanyak 22.640 anak
dengan total dana sebesar
Rp. 17.659.200.000 yang bersumber dari
dana APBN.

c. Retrival

Bantuan yang diberikan kepada
siswa yang putus sekolah, agar mereka
mau sekolah kembali. Pada tahun 2006,
siswa SLTP yang menerima program retrival
sebanyak 1.500 anak dengan jumlah
bantuan Rp. 500.000 per anak, dan

mereka bebas biaya sekolah sampai lulus
SLTP.

d.Transisi

Program ini diberikan bagi anak/
siswa SD yang akan melanjutkan ke SLTP,
dan berdasarkan keterangan sekolah
mereka tidak mampu. Pada tahun 2006,
siswa yang menerima program transisi
sebanyak 1.500 anak dengan jumlah
bantuan sebesar Rp. 500.000 per anak.

e.Beasiswa

Program bantuan ini diberikan
kepada siswa SD dan SLTP yang menurut
sekolah dinilai berprestasi. Beasiswa untuk
siswa SD langsung dikelola oleh Pusat
(Diknas) yang disalurkan kepada 1.600
anak. Besarnya beasiswa Rp. 25.000 per
anak per bulan. Kemudian beasiswa untuk
siswa SLTP dikelola daerah (Dekon) yang
disalurkan kepada 500 anak dengan
besar beasiswa Rp. 50.000 per anak per
bulan selama 1 tahun.

Dari lima program yang diseleng-
garakan oleh Dinas Pendidikan, Pemuda
dan Olahraga Provinsi Nusa Tenggara
Barat, telah terjangkau sebanyak 858.403
anak atau 76.81 persen dari total anak
usia sekolah SD – SLTA yang berjumlah
1.117.935 anak. Angka ini menunjukkan
bahwa peran pemerintah daerah yang
didukung oleh Pusat masih cukup besar.
Meskipun demikian program ini
tampaknya belum cukup efektif, apabila
dikaitkan dengan angka melanjutkan dan
partisipasi sekolah yang cenderung terus
menurun secara signifikan, serta angka
putus sekolah yang cukup tinggi pada
siswa SLTP dan siswa SLTA.

4.Bantuan Kesehatan dan Gizi bagi Anak

Dalam upaya mewujudkan masya-
rakat sehat, terutama dalam hal ini
pemeliharaan kesehatan anak-anak
balita, pemerintah cq Departemen
Kesehatan yang didekonsentrasikan
melalui Dinas Kesehatan Provinsi Nusa
Tenggara Barat menyelenggarakan
berbagai program yang dibagi ke dalam
tahapan kegiatan, yaitu :

Perlindungan Anak di Nusa Tenggara Barat (Suradi)

14

a.Langkah Cepat Tanggap (LCT)
1).Pekan penimbangan. Kegiatan ini
dilakukan di Posyandu untuk
mengetahui status gizi balita
sekaligus mengidentifikasi kasus
gizi buruk yang tidak dilaporkan.
2).Pendistribusian Makanan Pen-
damping Air Susu Ibu (MP-ASI).
3).Penanganan kasus. Kasus gizi
buruk yang dijumpai ditangani
sesuai dengan kondisinya
yaitu diupayakan memberikan
makanan tambahan untuk
pemulihan selama 90 hari dan
memberikan pengobatan sesuai
dengan indikasinya.

b.Jangka Menengah dan Panjang
(JMP)

Untuk jangka menengah dan jangka
panjang dilaksanakan melalui pe-
ningkatan kegiatan : Revitalisasi Posyandu,
Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi
(SKPG) dan Pemantapan Sistem Ke-
waspadaan Dini Kejadian Luar Biasa
(SKD-KLB) Gizi buruk, serta revitalisasi
Puskesmas.

c.Audit Kasus Gizi Buruk (AKGB)

Setiap kasus gizi buruk yang
ditemukan, diupayakan untuk diikuti
dengan pelaksanaan Audit oleh Petugas
Gizi Puskesmas meliputi hal-hal sebagai
berikut (1) Faktor non kesehatan yang
meliputi pendidikan dan pekerjaan orang
tua, (2) jumlah anak/anak ke berapa, (3)
tanda-tanda klinis, (4) riwayat penyakit
yang pernah diderita, (5) keadaan klinis
gizi buruk yang ditemukan, (6) tanda
Xerophalmia, (7) faktor gizi yang meliputi
faktor yang mempengaruhi terjadinya gizi
buruk dan pemahaman terhadap
makanan gizi dan manfaatnya.

5.Advokasi dan Pendampingan Sosial

Program ini diselenggarakan oleh
lembaga perlindungan anak, lembaga
swadaya masyarakat dan lembaga
pelayanan sosial lainnya yang dikelola
masyarakat. Anak-anak korban tindak
kekerasan, dieksploitasi baik secara
ekonomi maupun seksual dan anak-anak

yang diperdagangkan memperoleh
bantuan advokasi dan pendampingan
sosial. Lembaga perlindungan anak
dan lembaga swadaya masyarakat
membantu anak ketika dalam proses
peradilan, dan memberikan bimbingan
konseling bagi anak yang mengalami
stress akibat tindak kekerasan. Kemudian
lembaga pelayanan sosial memberikan
penampungan sementara bagi anak yang
mengalami masalah dengan keluarga-
nya. Namun demikian, lembaga per-
lindungan masih belum proaktif terhadap
isu-isu perlindungan anak. Hal ini dapat
diamati dari masih terbatasnya jaringan
kerja yang dibangun oleh lembaga
perlindungan anak dengan instansi atau
lembaga yang menyelenggarakan
program kesejahteraan dan perlindungan
anak.

Berbagai program, baik yang
diselenggarakan oleh instansi pemerintah,
lembaga perlindungan anak dan
lembaga pelayanan sosial anak dapat
dipahami sebagai upaya untuk me-
wujudkan kesejahteraan dan perlindungan
anak di Nusa Tenggara Barat. Namun
demikian masih diperlukan upaya lebih
optimal melalui pengembangan jaringan
kerja dari berbagai pihak, baik pe-
merintah maupun masyarakat. Melalui
jaringan kerja yang baik, maka upaya
perlindungan anak dapat dimulai dari
tahap pencegahan terjadinya tindak
kekerasan, eksploitasi dan perdagangan
anak. Berkaitan dengan itu diperlukan
komitmen dari pemerintah dalam bentuk
legislasi sebagai landasan operasional
bagi siapapun yang menyelenggarakan
program perlindungan anak.

IV. ANALISIS

Analisis tentang perlindungan anak dalam
penelitian ini mendasarkan pada pengertian
perlindungan anak, yang di dalamnya
mencakup aspek pemenuhan hak anak,
kelangsungan hidup, terlindungi dari kondisi
yang tidak menguntungkan, dan berkem-
bangnya potensi anak. Sebagaimana diuraikan
terdahulu, bahwa instansi pemerintah dan
masyarakat di Nusa Tenggara Barat telah

Jurnal Penelitian dan Pengembangan Usaha Kesejahteraan Sosial, Vol 11, No. 03, 2006 : 1-17

15

menyelenggarakan program sosial dalam
upaya perlindungan anak. Panti sosial, baik
yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun
masyarakat, memberikan pemenuhan hak dan
kebutuhan sosial dasar anak yang tujuannya
untuk kelangsungan hidup dan tumbuh
kembang mereka, sehingga anak-anak tersebut
dapat hidup secara wajar. Hidup secara wajar
ini ditandai dengan cerdas, kreatif, mandiri,
setia kawan dan berakhlak mulia.

Berdasarkan data pada Dinas Sosial dan
Pemberdayaan Perempuan Provinsi Nusa
Tenggara Barat, pada tahun 2005 PMKS anak
berjumlah 277.147 orang. Mereka terdiri dari
balita telantar, anak telantar, penyandang
cacat, anak jalanan dan korban tindak
kekerasan. Dari jumlah tersebut, anak yang
memperoleh pelayanan melalui panti berjumlah
10.191 orang atau 3,68 persen dari populasi
penyandang masalah kesejahteraan sosial
anak. Berdasarkan data tersebut, kapasitas
panti masih relatif kecil dibandingkan dengan
jumlah PMKS anak. Meskipun demikian upaya
tersebut perlu memperoleh apresiasi, karena
panti telah memberikan kontribusi yang nyata
dalam upaya perlindungan anak.

Selain dilakukan melalui sistem panti, Dinas
Sosial dan Pemberdayaan Perempuan Provinsi
Nusa Tenggara Barat menyelenggarakan
program perlindungan anak melalui sistem non
panti. Program ini ditujukan untuk mengem-
bangkan potensi diri anak, terutama diarahkan
pada penguatan ekonomi mereka melalui
pengelolaan usaha ekonomis produktif (UEP).
Pada program ini diluncurkan 214 paket yang
menjangkau 1.200 anak telantar atau 0,52
persen dari jumlah anak telantar yang berjumlah
231.160 orang. Berdasarkan data tersebut,
pada tahun 2005 sebanyak 11.391 anak
sudah memperoleh pelayanan atau program
perlindungan.

Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga
Provinsi Nusa Tenggara Barat mengembangkan
program perlindungan anak, terutama
berkaitan dengan kelangsungan pendidikan
anak sebagai upaya pemenuhan hak dan
kebutuhan sosial dasar. Program yang
dikembangkan, yaitu Bantuan Operasional
Sekolah (BOS), Bantuan Khusus Murid (BKM),
Retrival, Transisi dan Beasiswa. Program bagi
anak-anak dari keluarga tidak mampu tersebut
telah menjangkau sebanyak 858.403 anak.

Berdasarkan data tersebut, program pendidikan
telah memberikan kontribusi yang nyata dalam
upaya memenuhi hak dan pelayanan sosial
dasar anak. Melalui program bantuan
pendidikan ini, berarti Dinas Pendidikan,
Pemuda dan Olahraga telah melakukan upaya
perlindungan anak.

Status gizi balita dan anak merupakan
kondisi yang terkait dengan upaya per-
lindungan anak. Pada tahun 2005, anak
dengan status gizi normal berjumlah 31,44
persen dari populasi anak yang berjumlah
498.095 orang. Berdasarkan data tersebut,
berarti anak dengan status gizi tidak normal
berjumlah 68,56 persen. Data ini meng-
gambarkan, bahwa balita dan anak-anak di
NTB yang mengalami gangguan tumbuh
kembangnya sangat signifikan, dan kondisi ini
menggambarkan permasalahan yang serius
pada kualitas sumber daya manusia di masa
depan. Untuk mengatasi masalah ini, Dinas
Kesehatan telah mengembangkan sejumlah
program Posyandu, Makanan Pendamping Air
Susu Ibu, memberikan makanan tambahan dan
pengobatan sesuai dengan indikasinya,
Pemantapan Sistem Kewaspadaan Dini
Kejadian Luar Biasa (SKD-KLB) Gizi buruk, serta
revitalisasi Puskesmas dan Audit Kasus Gizi
Buruk (AKGB). Program yang dikembangkan
oleh Dinas Kesehatan dalam mengatasi status
gizi buruk pada balita dan anak tersebut
merupakan salah satu upaya perlindungan
anak, karena maslah status gizi berkaitan
dengan hak kelangsungan hidup dan
pemenuhan kebutuhan sosial dasar anak.

Selain instansi pemerintah, masyarakat
melalui Lembaga Perlindungan Anak (LPA) telah
menyelenggarakan program dalam upaya
perlindungan anak. LPA tersebut aktif
melakukan studi tentang permasalahan anak,
pendampingan dan advokasi terhadap anak
korban tindak kekerasan dan eksploitasi yang
dilakukan bersama-sama dengan lembaga
penegak hukum setempat.

Berdasarkan hasil penelitian ini, upaya
perlindungan anak di Nusa Tenggara Barat
telah dilakukan oleh instansi pemerintah
maupun masyarakat melalui Lembaga
Perlindungan Anak (LPA) dan organisasi sosial
(panti-panti sosial). Upaya yang dilakukan
melalui program-program sosial tersebut telah
menjangkau aspek-aspek yang terdapat

Perlindungan Anak di Nusa Tenggara Barat (Suradi)

16

di dalam konsep perlindungan anak, yaitu terkait
dengan pemenuhan hak, kelangsungan hidup
dan tumbuh kembang anak. Meskipun
prorgam-prorgam tersebut masih menjangkau
sebagian kecil dari populasi, namun upaya ini
telah memberikan kontribusi dan menjadi
rintisan yang akan berkelanjutan dalam upaya
perlindungan anak di Provinsi Nusa Tengga
Barat.

Mencermati program yang dilaksanakan
oleh instansi pemerintah, panti milik masyarakat
dan Lembaga Perlindungan Anak (LPA), maka
upaya perlindungan anak di Nusa Tenggara
Barat diwujudkan dalam pemenuhan
kebutuhan dasar (kelangsungan hidup),
kebutuhan psikososial melalui bimbingan sosial
dan psikis, perbaikan ekonomi, pendidikan for-
mal maupun non formal, perbaikan gizi,
pendampingan dan advokasi sosial. Akan
tetapi upaya tersebut masih dilakukan secara
sektoral, belum ada sinergi dari penyelenggara
program tersebut, sehingga tingkat
keterjangkuan program relatif terbatas.

V. PENUTUP

Berbagai permasalahan dihadapi oleh
anak-anak di Nusa Tenggara Barat menye-
babkan mereka memerlukan perlindungan
khusus, yaitu korban eksploitasi, korban tindak
kekerasan, phaedophilia, Incest, berkonflik
dengan hukum, status gizi buruk, Penyandang
Masalah Kesejahteraan Sosial (balita dan anak
telantar, anak jalanan dan anak cacat) dan
rendahnya partisipasi sekolah. Permasalahan
tersebut menggambarkan, bahwa sejumlah
anak di Provinsi Nusa Tenggara Barat
menghadapi ancaman untuk pertumbuhan dan
perkembangnya sebagai sumberdaya manusia
pembangunan.

Dalam upaya mengatasi permasalahan
tersebut, instansi pemerintah, masyarakat melalui
Panti Sosial dan Lembaga Perlindungan Anak
menyelenggarakan program-prorgam yang
langsung ditujukan kepada anak, yaitu
pelayanan sosial dalam Panti Sosial, program
bantuan sosial bagi anak yang disalurkan
dalam bentuk bantuan permakanan bagi anak
dalam panti dan bantuan usaha ekonomis
produktif (UEP) bagi anak-anak di luar panti,
bantuan pendidikan bagi anak tidak mampu
melalui program BOS ( Bantuan Operasional
Sekolah), Bantuan Khusus Murid (BKM), retrival,
transisi dan beasiswa, bantuan kesehatan untuk
mengatasi masalah gizi gizi anak dan advokasi
serta pendampingan sosial. Upaya per-
lindungan anak melalui berbagai program
pemerintah dan organisasi sosial kemasya-
rakatan tersebut telah mengurangi per-
masalahan yang dihadapi anak. Namun
demikian, upaya tersebut belum menjangkau
sebagian besar permasalahan anak. Artinya,
masih banyak anak-anak di Provinsi Nusa
Tenggara Barat yang memerlukan per-
lindungan.

Berdasarkan hasil penelitian, diajukan sa-
ran-saran untuk peningkatan kesejahteraan dan
perlindungan anak. Saran ini ditujukan kepada
pemerintah daerah provinsi dan kabupaten/
kota, yaitu terbentuknya Kelompok Kerja
Perlindungan Anak (POKJA-PA) pada tingkat
propinsi maupun kabupaten/kota. POKJA ini
anggotanya terdiri dari unsur pemerintah
maupun masyarakat yang ditetapkan melalui
Keputusan Gubernur maupun Bupati/walikota.
Adapun tugas dari POKJA ini adalah advokasi,
riset, penguatan organisasi dan kediklatan yang
kesemuanya berkaitan dengan upaya
kesejahteraan dan perlindungan anak di Provinsi
Nusa Tenggara Barat.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, Kekerasan Terhadap Anak, Societa Tahun 4, edisi 35, 2006.

————————, Perlindungan Anak Agak Terancam, Societa Tahun 4, edisi 35, 2006.

Arikunto, Suharsimi, 1987. Prosedur Penelitian, Jakarta : Bina Aksara.

Biro Pusat Statistik, 2005. Nusa Tenggara Barat dalam Angka, BPS Propinsi Nusa Tanggara Barat.

————————, 2005. “Lombok Barat dalam Angka”, BPS Kabupaten Lombok Barat.

Jurnal Penelitian dan Pengembangan Usaha Kesejahteraan Sosial, Vol 11, No. 03, 2006 : 1-17

17

————————, 2005. Lombok Timur dalam Angka, BPS Kabupaten Lombok Timur.

————————, 2005. Kota Mataram dalam Angka, BPS Kota Mataram.

————————, 2005. Lombok Tengah dalam Angka, BPS Lombok Tengah Barat.

————————, Indikator KesejahteraanAnak Provinsi Nusa Tenggara Barat, BPS Provinsi Nusa
Tenggara Barat, 2004.

————————, 2003. Laporan Sosial Indonesia Tahun 2003 : Status Gizi Balita dan Ibu Hamil
Provinsi Nusa Tenggara Barat”, BPS Provinsi Nusa Tenggara Barat.

————————, 2005. Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS), Biro Pusat Statistik.

Dinas Kesejahteraan Sosial dan Pemberdayaan Perempuan, 2005. Data Penyandang Masalah
Kesejahteraan Sosial Provinsi Nusa Tenggara Barat
, Dinas Kesejahteraan Sosial dan Pemberdayaan
Perempuan Provinsi Nusa Tenggara Barat.

————————, 2004. Data Organisasi Sosial Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Dinas Kesehatan, 2005. Balita Gizi Buruk dan Program Penangannya, Dinas Kesehatan Provinsi Nusa
Tenggara Barat.

Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga, 2005. Data Pendidikan Penduduk Provinsi Nusa Tenggara
Barat
, Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Provinsi Nusa Tenggara Barat.

————————, 2005. Program Bantuan Pendidikan bagi KeluargaTidak Mampu, Dinas Pendidikan,
Pemuda dan Olahraga Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Kartono, Kartini, 1990. Psikologi Perkembangan, Jakarta : CV. Rajawali.

Konvensi Hak Anak tahun 1999.

Munandar, SC Utami, 1995. Meningkatan Kecerdasan, Kreativitas dan Kemandirian Anak, Informasi
tentang Anak Nomor 23 Tahun 1995, Jakarta.

Lembaga Perlindungan Anak, 2003. Hasil Penelitian tentang Perlindungan Anak” LPA Provinsi Nusa
Tenggara Barat.

————————, 2005. Data Kasus yang Dibantu Penanganannya oleh LPA NTB Tahun 2002 –
2005
”, LPA Provinsi Nusa Tenggara Barat.

————————, 2004. Laporan Kegiatan, LPA Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Singgih D. Gunarso, 1992. Psikologi Perkembangan, Jakarta : PT. BPK Gumung Mulia.

Soehartono, Irawan, 1997. Peranan Profesi Pekerja Sosial dalam Perlindungan Anak, Majalah Penyuluh
Sosial, Edisi Khusus Hari Anak Nasional, Ditjen Bina Kesejahteraan Sosial, Dep. Sosial, Jakarta.

Soetarso, 1997, Soetarso. Perlindungan Anak Ditinjau dari Aspek Kesejahteraan Sosial, Jurnal Litbang
Kesos, Nomor 40, Badan Litbang Kesejahteraan Sosial, Dep. Sosial, Jakarta.

Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak.

BIODATA PENULIS :

Suradi, Ajun Peneliti Madya Bidang Kebijakan Sosial di Pusat Penelitian dan Pengembangan
Kesejahteraan Sosial, Badan Pendidikan dan Penelitian Kesejahteraan Sosial, Departemen Sosial
RI.

Perlindungan Anak di Nusa Tenggara Barat (Suradi)

18

DINAMIKA JARINGAN PRANATA SOSIAL

DALAM KETAHANAN SOSIAL PADA KELOMPOK

PEDAGANG BERSKALA KECIL

(Kasus Di Kelurahan Pahandut, Kecamatan Pahandut Palangka Raya)

Mochamad Syawie

ABSTRAK

Kajian ini bertujuan untuk mendiskripsikan tentang pentingnya jaringan pranata sosial komunitas
lokal, sebuah kajian mengenai kelompok pedagang berskala kecil di Kelurahan Pahandut. Dalam kajian ini
digunakan pendekatan kualitatif dengan memanfaatkan metode pengumpulan data observasi, indepth in-
terview, dan focus group discussions (FGD).
Hasil kajian menunjukkan: pertama komunitas memandang pentingnya keberadaan jaringan antar
pranata sebagai wadah untuk mempersatukan kemampuan dalam menangani persoalan yang muncul di
wilayahnya, khususnya para pedagang berskala kecil. Kedua, pedagang berskala kecil menunjukkan
kemandiriannya, hal ini dilihat dari kemampuannya untuk survive yang diperlihatkan dari modal usaha
dan pendapatan yang relatif kecil, juga menunjukkan kemampuannya untuk dapat menciptakan lapangan
pekerjaan dan tetap bertahan dalam waktu yang relatif cukup lama. Pengalaman ini menunjukkan indikasi
kuat bahwa keluarga kurang mampu/keluarga miskin tidak memerlukan belas kasihan. Mereka memerlukan
akses untuk dapat memanfaatkan kesempatan yang tersedia.

I. PENDAHULUAN

Ekonom Banglades, Dr Muhammad
Yunus, dinilai berhasil mengembangkan status
sosial ekonomi kelompok miskin, mulai dari
bawah. Dr Yunus dengan ‘Grameen Bank’nya
(bank desa) memilih sasaran penerima
pinjaman dalam skala kecil kelompok
masyarakat paling rentan, yakni perempuan
miskin. Ia mengamati, perempuan miskin
adalah penduduk paling marginal dan rentan
terhadap kekerasan. Mereka tidak hanya miskin
secara ekonomi, tetapi juga miskin bila ditinjau
dari pemenuhan kebutuhan dasarnya, seperti
status kesehatan dan tingkat pendidikannya
yang rendah, serta ketrampilannya yang minim
sehingga secara ekonomis tidak bisa melakukan
pekerjaan produktif (dalam ukuran ekonomi)
(Saparinah Sadli,2006).

Dalam kondisi serba kekurangan, mereka
tetap hamil dan melahirkan, merawat dan
memenuhi kebutuhan fisik dan emosional
anggota keluarganya. Karena kondisi fisik dan
sosial ekonominya, perempuan miskin tidak
mudah berpindah tempat tinggal. Sebaliknya,
mereka lebih bertanggung jawab dalam
membelanjakan uangnya untuk keperluan
keluarga.

Asumsi ekonomi yang mendasari pilihan
Dr Yunus adalah perempuan dianggap sebagai
peminjam low risk dalam mengembalikan
pinjaman bila dibandingkan dengan laki-laki.

Sejalan dengan pandangan Dr Yunus,
karya CK Prahalad, The Fortune at the Bottom
of the Pyramid
, cukup penting dalam
menunjukkan keterlibatan golongan miskin
dalam kegiatan yang profitable di tengah
perekonomian pasar. Argumentasi utamanya
adalah golongan miskin menjadi pasar
menguntungkan untuk produk dan jasa
perusahaan besar sekalipun. Golongan miskin
juga dapat melakukan bisnis produktif untuk
meningkatkan kesejahteraannya sendiri (dalam
Umar Juoro, 2006).

Untuk melibatkan golongan miskin dalam
bisnis yang menguntungkan, diperlukan
penyesuaian khusus dengan karakteristik
ekonomi golongan miskin itu sendiri. Untuk
mengembangkan kegiatan ekonomi dan bisnis
golongan miskin, dibutuhkan kelembagaan
yang mendukung dengan menekankan
pentingnya kepastian, terutama yang terkait
dengan kontrak, serta menempatkan
masyarakat bukan pemerintah sebagai pusat
good governance.

19

Pembangunan fisik yang dilakukan oleh
pemerintah merupakan sesuatu yang penting
dan bahkan sesuatu yang mendesak dilakukan.
Dengan adanya prasarana dan sarana fisik,
maka permaslahan yang dihadapi masyarakat
cenderung dapat diatasi. Akan tetapi
pembangunan fisik yang dilakukan sebaiknya
diimbangi dengan pembangunan non-fisik,
seperti pembangunan lingkungan sosial yang
kondusif. Untuk menciptakan kondisi sosial yang
kondusif maka partisipasi masyarakat
merupakan sesuatu yang penting dan harus
ada (Ali Wafa, 2003).

Sebuah kajian yang sangat berpengaruh
pada akhir tahun 1970-an, mendefinisikan
partisipasi sebagai upaya terorganisasi untuk
meningkatkan pengawasan terhadap sumber
daya dan lembaga pengatur dalam keadaan
sosial tertentu, oleh pelbagai kelompok dan
gerakan yang sampai sekarang dikesamping-
kan dari fungsi pengawasan semacam itu (Stiefel
dan Wolfe, 1994, dalam Wafa, 2003). Dalam
hal ini, partisipasi ditempatkan di luar negara,
di luar lembaga-lembaga yang ada.

Peran yang dapat dilakukan oleh
masyarakat adalah dengan mempelopori
berdirinya kelompok sosial yang menggerakkan
pembangunan di wilayahnya, sehingga
beberapa permasalahan yang ada dapat
diatasi sendiri tanpa menggantungkan uluran
tangan dari pihak lain.

Prahalad juga menunjukkan studi kasus
yang beragam di negara berkembang terkait
keberhasilan melibatkan golongan miskin ke
dalam kegiatan bisnis yang menguntungkan.

Mengentaskan perempuan dari ke-
miskinan melalui partisipasi dalam kegiatan
eknomi produktif berarti mengangkat
kesejahteraan sosial ekonomi perempuan dan
keluarga miskin.

Menurut Vandana Siva (2005), rakyat
miskin tidak mati karena minimnya pendapatan
di bawah satu atau dua dollar AS per hari, tetapi
mereka sekarat karena tidak memiliki akses
terhadap sumber daya. Seseorang menjadi
miskin karena tidak mendapat hak-haknya
sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan
hidup yang paling mendasar (basic need).
Mereka tidak memiliki akses terhadap sumber
daya utama kehidupan , seperti air dan tanah
yang dikuasai mega korporasi (dalam Cahyono,
2006).

Dari berbagai pandangan-pandangan
atau pemikiran-pemikiran tersebut di atas,
kiranya menjadi menarik untuk sebuah kajian
tentang peran kelompok pedagang berskala
kecil dalam mempertahankan keberlanjutan
usahanya di tengah kesulitan akses untuk
mendapatkan akses sumber daya melalui
jaringan dari beberapa unsur pranata lokal
yang ada di wilayahnya.

Dalam kajian ini digunakan pendekatan
kualitatif dengan memanfaatkan metode
pengumpulan data observasi, indepth interview,
dan focus group discussion (FGD). Responden
dalam kajian ini sebanyak 30 orang, yang
meliputi dari berbagai unsur perwakilan pranata
atau kelompok-kelompok sosial lokal dan tokoh
masyarakat lokal.

Adapun lokasi kajian adalah Kelurahan
Pahandut, Kecamatan Pahandut, Kota Palangka
Raya, Kalimantan Tengah.

Kelurahan Pahandut dijadikan lokasi kajian
atas dasar pertimbangan bahwa sebagian
besar penduduknya bermata percaharian
sebagai pedagang cukup besar, dari jumlah
tersebut sebagian sebagai pedagang berskala
kecil. Berdasarkan pertimbangan ini dan pada
penjajagan awal ada kecenderungan terdapat
data yang dibutuhkan dalam kajian ini.

Kajian ini bertujuan untuk mengetahui
bagaimana kelompok pedagang berskala kecil
dapat bertahan, dan jaringan sosial apa yang
dilakukan agar memiliki daya tahan.

II. DASAR PEMIKIRAN

Berdasarkan kajian tentang pengem-
bangan jaringan pranata sosial dalam
ketahanan sosial masyarakat (2004) yang telah
dilakukan oleh Pusat Pengembangan Ketahanan
Sosial Masyarakat di empat lokasi (Nusa
Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Bangka
Belitung dan Jawa Barat) menunjukkan bahwa
jaringan kepranataan atau kelembagaan yang
dimaksud sebenarnya sudah ada dan
berkembang dalam kehidupan komunitas lokal
walaupun belum maksimal. Secara umum boleh
dikatakan jaringan tersebut sifatnya cenderung
belum permanen dan masih sementara.

Heyzer (1986) dalam penelitiannya di Asia
Tenggara menemukan bahwa pekerja wanita
kebanyakan menetap di sekitar tempat mereka

Dinamika Jaringan Pranata Sosial dalam Ketahanan Sosial (Mochamad Syawie)

20

bekerja dengan membentuk suatu komunitas
tersendiri serta membentuk suatu jaringan sosial
yang unik, baik dengan kerabatnya maupun
dengan tetangganya, sebagai salah satu usaha
untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya
(Heyzer, 1986, dalam Sutinah, 1992).

Jaringan sosial menurut Heyzer dalam
berbagai penelitian di negara-negara Asia
Tenggara menunjukkan adanya tiga pola, yaitu:

1.Jaringan sosial yang didasarkan pada
sistem kekerabatan dan kekeluargaan.
Jaringan semacam ini dibentuk secara
sengaja oleh wanita dalam usaha untuk
mengatasi masalah kemiskinan dan
mempertahankan hidupnya

2.Kelompok-kelompok sosial baru yang
dibentuk guna saling memenuhi kebutuhan
diantara mereka. Kelompok sosial ini bisa
bermacam-macam bentuknya, seperti
kelompok ketetanggaan, kelompok orang
yang tinggal bersama, kelompok orang
dengan nilai-nilai baru yang muncul di kota
atau kelompok-kelompok yang terjadi
karena persamaan agama, dan lain-lain.

3.Kelompok-kelompok sosial dengan pola
hubungan yang vertikal, yang kebanyakan
dengan orang-orang yang kondisi
keuangannya lebih mantap (mapan atau
stabil). Bentuk hubungan sosial semacam
ini merupakan hubungan patron klien.

Ketahanan sosial masyarakat adalah
kemampuan komunitas-komunitas atau
lembaga-lembaga dalam mengembangkan
keberfungsian sosial secara dinamis dari modal
sosial yang dimilikinya, dalam memberikan
perlindungan bagi kelompok rentan,
memberikan dukungan bagi kelompok kurang
mampu, mengembangkan partisipasi politik
anggota, mengelola konflik, dan melestarikan
sumber daya alam (Nuryana, 2005).

Masih menurut pandangan Nuryana,
bahwa karena perbedaan kemampuan dan
penjangkauan, menyebabkan manusia
berkelompok-kelompok membentuk sistem
sosial. Sebuah sistem sosial (social system)
adalah suatu keseluruhan yang teroganisasi,
terbentuk dari komponen-komponen yang

berinteraksi dengan suatu cara yang berbeda
dari interaksi mereka dengan entitas-entitas
lainnya sehingga mampu bertahan menerobos
lorong waktu.

Secara sederhana, sistem sosial
merupakan struktur-struktur dari orang-orang
yang memiliki inter-reliance. Karena manusia
saling tergantung satu sama lain, mereka
kemudian membentuk jejaring kerja (networks)
untuk menjalin social relations, lalu kesamaan
dan kebedaan mendorong terbentuknya
norma-norma dan nilai-nilai agar hubungan
tersebut teratur dan tertib, kemudian direkat oleh
social bond yang disebut trust untuk menjamin
konsistensi dalam struktur sosial yang lebih luas.
Itu sebabnya maka terbentuk komunitas-
komunitas dan lembaga-lembaga dalam
masyarakat.

Menurut Fukuyama (2002), modal sosial
adalah serangkaian nilai atau norma-norma
informal yang dimiliki bersama diantara para
anggota suatu kelompok yang memungkinkan
terjadinya kerjasama diantara mereka.

Dengan demikian, jika mengikuti
pemikiran Fukuyama dan Nuryana tersebut, ada
kecenderungan aktivitas untuk menemukenali
nilai-nilai dan norma-norma komunitas,
membangun jaringan antar pranata atas dasar
saling percaya, penting dilakukan untuk
kepentingan penguatan kapital sosial. Pranata
sosial diharapkan lebih responsif dan mampu
mengantisipasi berbagai permasalahan sosial.
Secara khusus pranata sosial dengan kekuatan
kapital sosialnya, akan mendorong ber-
kembangnya respon komunitas lokal terhadap
masalah-masalah yang muncul dari per-
kembangan perubahan sosial yang semakin
kompleks. Pada gilirannya kapital sosial dapat
diandalkan untuk membentuk atau memperkuat
ketahanan sosial suatu masyarakat.

Selain kapital sosial, jenis kapital lainnya
yang akan mendukung pencapaian ketahanan
sosial adalah kapital budaya dan ekonomi.
Sistem ekonomi yang tangguh akan
menciptakan kemakmuran bagi masya-
rakatnya. Ekonomi cenderung mengakarkan
dirinya dalam kehidupan sosial. Adalah sebuah
kemustahilan memahami ekonomi terpisah dari
persoalan masyarakat dan nilai-nilai budaya.

Jurnal Penelitian dan Pengembangan Usaha Kesejahteraan Sosial, Vol 11, No. 03, 2006 : 18-25

21

III. HASIL KAJIAN DAN

PEMBAHASAN

Hasil kajian ini dirumuskan ke dalam
tema-tema sebagai berikut:

A.Gambaran Umum

Kelurahan Pahandut merupakan unit
organisasi pemerintah yang berada di bawah
Kecamatan Pahandut Kota Palangka Raya
Provinsi Kalimantan Tengah.

Kelurahan Pahandut berasal dari sebuah
dukuh yang didiami oleh Pak Handut sekeluarga
dan selanjutnya nama Pahandut itu lebih dikenal
dengan nama dukuh Pahandut. Sejak
tahun1884 sesuai dengan perkembangan
zaman, selanjutnya dukuh Pahandut pun
semakin berkembang menjadi kampung.

Nama dukuh Pahandut semakin dikenal
setelah adanya peresmian provinsi ke 17 yaitu
Provinsi Kalimantan Tengah yang diresmikan
pada tanggal 17 Juli 1957 sesuai dengan
Kepmendagri No. 502 tanggal 22 September
1980 dan No. 140.135 pada tanggal 14
Pebruari 1980 tentang penetapan desa menjadi
kelurahan, surat keputusan Walikota Madya
Kepala daerah Tingkat II Palangka Raya No.
335/Pemerintah/III-A/1981, maka desa
Pahandut berubah menjadi Kelurahan
Pahandut.

Bila kita lihat perkembangan kota
Palangka Raya, maka Kelurahan Pahandut
merupakan embrio Kota Palangka Raya yang
juga merupakan ibu kota Provinsi Kalimantan
Tengah.

Kelurahan Pahandut mempunyai luas
wilayah 950 ha (SK Walikota No. 31 Tahun
2004 tanggal 27 Pebruari 2004) terdiri dari
beberapa kondisi alam, antara lain sebagian

berawa-rawa, hutan-hutan kecil serta semak
belukar dan perkampungan.

Sedangkan struktur tanahnya pada
umumnya lebih banyak mengandung pasir,
dengan demikian keadaan itu kurang
menguntungkan bila dipergunakan sebagai
lahan pertanian.

Seperti daerah-daerah lainnya di
Kalimantan Tengah suhu berkisar antara
30 – 40 derajat C, dengan iklim tropis, hutan
kecil dan berawa-rawa, keadaan udara
termasuk lembab dan tanah terdiri dari daratan
dan rawa.

Penduduk Kelurahan Pahandut saat ini ber-
jumlah 20.769 jiwa dengan jumlah Kepala
Keluarga sebanyak : 5.451 KK yang tersebar
di 26 Rukun Warga (RW) dan 88 Rukun
Tetangga (RT), dengan perincian sebagai
berikut :

-

Laki-laki: 10.368 jiwa

-

Perempuan: 10.401 jiwa

Pertambahan penduduk Pahandut
diantaranya adalah dari kelahiran, per-
tambahan permukiman baru, pendatang dan
anak-anak sekolah dari luar daerah.

Penduduk di Kelurahan Pahandut cukup
bervariasi dalam pekerjaan/mata pencaharian,
diantaranya sebagai pedagang berjumlah
1.438 orang, sebagai Pegawai Negeri Sipil
(PNS) ada 650 orang. Bergerak di bidang
swasta berjumlah 5.193 orang, sebagai buruh
534 orang, bekerja sebagai tukang ada 587
orang, sebagai petani 210 dan sebagai
nelayan ada 131 orang (Monografi, 2003).
Selain itu, ada juga penduduk yang bekerja
sebagai pengrajin berjumlah 217 orang dan
di bidang jasa ada 320 orang.

Umur dalam tahun

Jenis

Kelamin

0 - 5 6 – 17 18 - 25 26 - 46 47 - 59 60 ke atas

Laki-laki

1286 2514

1469

2734

1936

429

Perempuan 1320 2550

1452

2705

1996

378

Jumlah

2606 5064

2921

5439

3932

807

Sumber : Monografi Kelurahan Pahandut (2003).

Jumlah Penduduk

Menurut Umur dan Jenis Kelamin

Dinamika Jaringan Pranata Sosial dalam Ketahanan Sosial (Mochamad Syawie)

22

Berdasarkan tabel penduduk menurut
umur di atas menunjukkan bahwa jumlah
penduduk terbesar berkisar antara usia 26-46
berjumlah 5439 jiwa. Pada usia ini boleh
dikatakan tergolong usia yang cukup produktif
atau usia kerja. Dengan jumlah penduduk pada
kategori produktif ini merupakan potensi bagi
Kelurahan Pahandut.

Apabila dikaitkan dengan jumlah
penduduk berdasarkan tingkat pendidikan di
Kelurahan Pahandut, terlihat bahwa sebagian
besar warga Pahandut berpendidikan tingkat
SLTA/Sederajat sebesar 3650 jiwa. Tingkat
Perguruan Tinggi berjumlah 560, hal ini
menunjukkan gambaran adanya potensi yang
mendukung untuk berusaha meningkatkan
kesejahteraan komunitas di wilayah Pahandut.
Ada kecenderungan secara konseptual semakin
tinggi tingkat pendidikan atau kualitas
pendidikan semakin tinggi pula tingkat
produktifitas. Semakin tinggi tingkat produktifitas
ada kecenderungan semakin tinggi pula tingkat
pertumbuhan (ekonomi) suatu komunitas.
Dengan baiknya tingkat pertumbuhan ekonomi
ada indikasi bahwa tingkat kesejahteraan suatu
komunitas juga akan lebih baik.

B.Faktor Jaringan dan Forum

Pahandut

Forum Pahandut merupakan wadah atau
forum yang muncul atas prakarsa beberapa
anggota kelompok yang juga menjadi
responden dalam kajian ini, yang dimaksudkan
untuk membentuk dan memperkuat jaringan
antar anggota forum/kelompok dan di-
harapkan menjalin jaringan dengan pihak-pihak
yang mendukung kegiatan forum.

Selanjutnya kelompok “Forum Pahandut”
ini merencanakan beberapa rencana kegiatan

yang dianggap cukup penting dan perlu
memperoleh perhatian bersama. Berdasarkan
hasil diskusi dan dialog, forum sepakat
menyusun rencana kegiatan, yaitu : pertama,
membantu meningkatkan modal usaha bagi
keluarga kurang mampu; kedua mengadakan
pelayanan kepada anak-anak putus sekolah;
ketiga, pelayanan kepada lanjut usia dan anak
balita; dan Keempat, penanganan kenakalan
remaja .

Mencermati rencana kegiatan yang
diprakarsai oleh anggota forum, cenderung
ada beberapa sasaran yang ingin dicapai,
antara lain meningkatkan usaha kelompok kecil
yang diusahakan oleh anggota forum, memberi
pelayan kepada lansia dan anak balita yang
ada di wilayah Pahandut agar lebih sehat dan
sejahtera. Selain itu, bagaimana mengatasi
kenakalan remaja sebagai akibat dari
banyaknya penganggur di wilayah peng-kajian.

Dalam proses pelaksanaan kegiatan yang
diprogramkan “Forum Pahandut” memperoleh
rangsangan dana/stimulan untuk biaya
operasional kegiatan forum tersebut. Dana itu
sebesar Rp. 10.000.000,- yang diberikan
dalam dua tahap. Tahap pertama sebesar
Rp. 5.000.000,- diberikan pada waktu anggota
kelompok membentuk forum yang digunakan
dalam rangka pelaksanaan kegiatan dan
juga untuk membangun jaringan sebagai-
mana diharapkan oleh forum. Sedangkan
Rp. 5.000.000,- sisanya diberikan pada tahap
kedua setelah proses program kegiatan forum
berjalan selang beberapa bulan. Adapun dana
stimulan tersebut diberikan oleh Pusat
Pengembangan Ketahanan Sosial Masyarakat
Badiklit Depsos dalam rangka terwujudnya
jaringan pranata sosial yang ada di wilayah
kajian, selain untuk biaya operasional kegiatan
yang sudah diprogramkan oleh forum.

Dalam proses pelaksanaannya, kegiatan
jaringan sosial lebih banyak terjadi pada
lingkungan intern anggota, khususnya para
pedagang kecil yang menjadi anggota forum.
Adapun dengan pihak lain jaringan (kerja sama)
terjadi antara forum dengan Puskesmas
setempat dalam program perbaikan gizi balita
dan lanjut usia, dalam bantuan per makanan.

Yang menarik dari temuan lapangan
beberapa rencana kegiatan yang diprogram-
kan, ada indikasi kuat yang relatif dapat
bertahan adalah kelompok usaha/pedagang

No

Pendidikan

Jumlah (jiwa)

1 Belum sekolah

1.465

2 TK

487

3 SD/Sederajat

2.358

4 SLTP/Sederajat

1.759

5 SLTA/Sederajat

3.650

6 Akademi/D III

320

7 Sarjana

540

8 Lain-lain

10.199

Sumber : Monografi Kelurahan Pahandut (2003).

Jumlah Penduduk Berdasarkan Pendidikan

Jurnal Penelitian dan Pengembangan Usaha Kesejahteraan Sosial, Vol 11, No. 03, 2006 : 18-25

23

berskala kecil. Yang dimaksud kelompok usaha/
pedagang berskala kecil adalah para
pedagang yang berusaha di bidang warung
minum, sembako, jualan kue, es dan jualan
lontong. Dengan modal usaha di bawah
Rp. 500.000,-. Dan dikerjakan sendiri oleh
anggota kelompok dengan melibatkan
anggota keluarga.

Dengan demikian, nampaklah bahwa
kemunculan pedagang berskala kecil atau biasa
disebut sektor informal yang berawal dari
ketidakberdayaan sektor formal menyediakan
pekerjaan untuk mereka, namun dengan inisiatif
sendiri bekerja apa adanya dengan sikap coba-
coba dan tanpa melalui banyak prosedur
mereka dapat menciptakan lapangan kerja
secara mandiri.

Berdasarkan penelitiannya di Lima,
Hernando de Soto (1991), telah berhasil
menunjukkan bahwa sektor informal ternyata
justru memiliki kekuatan wirausaha yang tinggi,
mampu membangun lembaga demokrasi dan
tatanan ekonomi pasar yang tidak diskriminatif.

Demikian pula halnya dengan forum
Pahandut boleh dikatakan merupakan
manifestasi dari kemunculan suatu pranata di
lokasi kajian. Disebut pranata karena memiliki
nilai-nilai atau norma-norma yang disepakati
bersama, khususnya bagi kelompok anggota
pedagang berkala kecil. Pranata sosial di sini
merupakan sistem nilai dan norma yang
berwujud organisasi, dan juga bisa
dimaksudkan sebagai pranata sosial yang
betul-betul muncul dari masyarakat (local
wisdom
).

Selain itu, pranata tersebut cenderung
melihat juga aspek kehidupan yang menyangkut
bidang ekonomi dan sosial budaya.
Sebagaimana terlihat dari pokok kajian/judul
kajian lebih menekankan pada kelompok-
kelompok pedagang berskala kecil, sehingga
boleh dikatakan lebih menjurus ke aspek
pranata ekonomi.

Kenyataan yang rupanya kurang
diperhitungkan ahli ekonomi ialah rendahnya
mobilitas tenaga kerja antar sektor dan
kekenyalan daya serap sektoral, khususnya
sektor tradisional dan informal dalam menyerap
luberan tenaga kerja. Semua tambahan tenaga
kerja dan bahkan luberan tenaga kerja hampir
selalu dapat ditampung di sektor tradisional
dan sektor informal.

Kemudian anggota kelompok forum atau
pranata bekerjasama dengan Posyandu
setempat melaksanakan kegiatan dengan
membantu Posyandu Balita dan Ibu hamil serta
lansia dalam meningkatkan gizi dalam bentuk
bantuan permakanan, yang beralamat di Jl.
Muryani, Gg.Hijrah. Adapun bantuan tahap
awal yang diberikan kepada Posyandu Balita
dan ibu hamil dan Posyandu lansia masing-
masing sebesar Rp. 100.000,-

Adapun rencana kegiatan yang belum
terealisir adalah dalam penanganan kenakalan
remaja dan masalah pengangguran yang ada
di wilayah lokasi kajian.

Sehubungan dengan hal ini, forum
mengagendakan untuk mengadakan pelatihan
ketrampilan bagi remaja yamg masih
menganggur dengan bekerja sama dengan
Dinas terkait, seperti Dinas Sosial Kota dan
Dinas Tenaga Kerja.

C.Keberadaan Kelompok Pedagang

Berskala Kecil

Menurut Hernando de Soto (1991),
semakin banyak orang turut serta dalam
kegiatan ekonomi dan meraih peluang, maka
semakin besar potensi pembangunan. Salah
satu strategi yang memungkinkan dapat
memberikan banyak peluang kesempatan kerja
yaitu sektor tradisional yang padat karya dan
sektor informal (pedagang berskala kecil).

Demikian juga halnya yang terjadi di lokasi
pengkajian, setelah proses pelaksanan kegiatan
yang diprogramkan oleh kelompok forum
Pahandut, ternyata kelompok pedagang
berskala kecil yang cukup berjalan adalah para
pedagang warung minum yang dilakukan oleh
Ibu Heni; penjual sembako oleh Ibu Aminah dan
Simai yang berjualan kue, serta Darman yang
berdagang lontong. Ada juga Samiati dan Sani
yang berjualan es, dan Ibu Rosita yang
berdagang sembako. Bagi yang berjualan
sembako menggunakan kios-kios kecil,
sedangkan yang berjualan kue menggunakan
meja di lingkungan tempat tinggal. Besarnya
pinjaman modal usaha mereka rata-rata
Rp. 250.000,- sampai Rp. 400.000,.

Kegunaan pinjaman modal usaha tersebut
digunakan untuk modal usaha menambah
barang dagangan yang hendak dijual. Apabila
sudah lunas, maka dapat meminjam kembali.

Dinamika Jaringan Pranata Sosial dalam Ketahanan Sosial (Mochamad Syawie)

24

Sistem pinjaman ada yang mingguan dan
bulanan, untuk cicilan pengembalian dalam
selang waktu tiga bulanan.

Dari informasi mereka, dengan adanya
pinjaman modal usaha tersebut cukup
membantu, walaupun hasilnya belum bisa
terlihat dalam waktu yang singkat. Namun
mereka minimal dapat bertahan untuk
berjualan, sehingga ada kegiatan bagi
keluarga tersebut.

Selain kegiatan tersebut, anggota
kelompok diusahakan bisa mengadakan
pertemuan kelompok untuk membahas
permasalahan yang dihadapi, disamping
sebagai wadah silaturahmi antar anggota
forum.

IV. PENUTUP

A.Kesimpulan

Berdasarkan temuan dari kajian tentang
kelompok pedagang berskala kecil dan
kaitannya dengan keberadaan jaringan
pranata, terungkap bahwa pada dasarnya
komunitas di lokasi kajian memandang
pentingnya (urgensi) keberadaan jaringan antar
pranata sosial sebagai sarana/wadah untuk
mempersatukan kemampuan dalam menangani
persoalan yang muncul di wilayahnya,
khususnya para pedagang berskala kecil,
walaupun jaringan tersebut masih bersifat in-
ternal dan sederhana.

Pedagang berskala kecil relatif
menunjukkan kemandiriannya, hal ini dapat
dilihat dari kemampuan survive yang
diperlihatkan dari modal usaha dan
pendapatan yang relatif kecil, namun
menunjukkan kemampuannya untuk dapat
menciptakan lapangan pekerjaan dan tetap
bertahan dalam waktu yang relatif cukup lama.
Selain itu, adanya usaha bagaimana mengatasi
persaingan sesama pedagang serta
pengembangan usaha, yang kesemuanya
dilakukan sendiri oleh sebagian besar
pedagang berskala kecil dalam kelompok
forum di lokasi kajian.

Penglaman ini menunjukkan indikasi kuat
bahwa keluarga kurang mampu (golongan
miskin) tidak memerlukan belas kasihan. Mereka
memerlukan akses untuk dapat memanfaatkan
kesempatan yang tersedia.

B.Saran

Dari hasil kesimpulan ini, saran yang
diajukan adalah sebaiknya perlu ditanamkan
kepada aparat tentang pentingnya keber-
samaan dalam membangun ekonomi lokal
untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Dengan sejahteranya masyarakat ada
kecenderungan akan muncul dengan sendirinya
ketahanan sosial masyarakat.

Sehubungan dengan ini, diperlukan model
ekonomi yang dapat menyediakan akses yang
diperlukan kelompok pedagang berskala kecil
agar dapat bangkit.

DAFTAR PUSTAKA

Cahyono, H. Imam. Mengentaskan Kemiskinan, dalam Kompas, 8 Juli 2006.

Fukuyama, Francis. 2002. Trust, Kebijakan Sosial dan Penciptaan Kemakmuran. Yogyakarta: Qalam.

Juoro, Umar. Kemiskinan, Usaha, dan Program Pemerintah. dalam Kompas. 2 November 2006.

Nuryana, Mu’man. Ketahanan Sosial Masyarakat Konsep, Definisi dan Pengertian, dalam Jurnal Sistem
Informasi Komunitas Adat Terpencil
, Edisi II. 2005.

Sadli, Saparinah. Ekonomi, Perempuan, dan Nobel, dalam Kompas. 30 Oktober 2006.

Soto, Hernando De. 1991. Masih Ada Jalan Lain. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Jurnal Penelitian dan Pengembangan Usaha Kesejahteraan Sosial, Vol 11, No. 03, 2006 : 18-25

25

Sutinah. 1992. Industri dan Wanita, Studi Tentang Strategi Kelangsungan Hidup Buruh Wanita Di
Kotamadya Surabaya
. Tesis S2, Program Pasca Sarjana, UGM. Yogyakarta.

Wafa, Ali. 2003. Urgensi Keberadaan Social Capital dalam Kelompok-kelompok Sosial: Kajian Mengenai
Social Capital Pada Kelompok Tani ‘Mardi Utomo’ dan Kelompok PKK di Desa Bakalan, Kecamatan
Jumapolo, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah
, dalam Masyarakat, Jurnal Sosiologi. No. 12.
Jakarta: Labsosio FISIP-UI.

BIODATA PENULIS :

Mochamad Syawie, Alumnus Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada, Program Studi Sosiologi.
Peneliti pada Pusat Pengembangan Ketahanan Sosial Masyarakat dan Dosen Luar Biasa Fakultas
Ekonomi Universitas Trisakti Jakarta.

Dinamika Jaringan Pranata Sosial dalam Ketahanan Sosial (Mochamad Syawie)

26

PROFIL PRANATA SOSIAL DI DAERAH

KOMUNITAS ADAT TERPENCIL

(Studi Kehidupan Sosial Budaya di Provinsi Nusa Tenggara Timur)

Suyanto

ABSTRAK

Pranata sosial adalah kumpulan nilai dan norma yang mengatur kehidupan manusia. Kebudayaan
yang didalamnya terdapat nilai, norma dan perasaan juga merupakan pola bagi tindakan dan tingkah laku
manusia yang diperoleh melalui proses belajar dalam kehidupan sosialnya. Dalam kehidupan yang nyata,
kebudayaan digunakan secara selektif oleh para pendukungnya, tergantung pada situasi dan kondisi, serta
arena sosial tempat para pendukung kebudayaan tersebut melakukan kegiatannya. Pengetahuan yang
kompleks bagi kegiatan tertentu tersebut dikenal sebagai pranata-pranata kebudayaan atau cultural institu-
tions.

Pendekatan yang digunakan dalam studi sosial budaya adalah pendekatan kebudayaan yang dalam
ilmu antropologi digolongkan sebagai pendekatan Ethnoscience atau cognitive anthropology. Dalam
pendekatan semacam ini warga masyarakat terasing yang menjadi sasaran studi sosial budaya akan dilihat
sebagai individu-individu yang aktif memahami, memanipulasi atau memanfaatkan berbagai sumber daya
yang ada di lingkungan hidup sosialnya dengan cara menggunakan dan berpedoman pada kebudayaan
yang dimilikinya, agar supaya mereka tetap dapat mempertahankan dan meningkatkan kesejahteraan
hidupnya (Achadiyat, 1994). Dengan demikian pranata sosial memiliki status dan peran, peran disini
berujud aturan yang berlalu untuk mengatur tingkah laku manusia dalam bertindak, dimana dalam setiap
tindakan selalu dilakukan berdasarkan pertimbangan norma dan nilai yang hidup. Pranata sosial bersifat
non formal karena tidak memiliki struktur aturan yang tidak tertulis, terbentuk karena kesepakatan kebutuhan
suatu komunitas dan diakui keberadaannya dan dipertahankan pada komunitas tertentu.
Dari hasil kajian diketahui bahwa pengaruh kepala adat (Raja Biboki) di Kampung Tamkesi sangat
kuat. Hal tersebut ditunjukkan dengan adanya kesetiaan rakyatnya terhadap berbagai pranata yang masih
berlaku di masyarakat pedalaman terutama di kampung adat Tamkesi wilayah desa Tautpah, pranata
tersebut antara lain; Pranata keagamaan atau kepercayaan, pranata pendidikan, pranata ekonomi, pranata
sosial dan pranata keturunan. Namun karena Raja Biboki memiliki wawasan yang luas dan menginginkan
adanya perubahan kehidupan bagi rakyatnya, dengan cara mereka menyerahkan sebagian wilayahnya
untuk dijadikan sebagai sarana program pemberdayaan yang dimulai melalui program pemukiman di
Kampung Tautpah. Tujuan Raja Biboki tersebut adalah dengan berhasilnya program pemberdayaan yang
dilakukan Pemerintah diharapkan budaya masyarakat pedalaman yang masih bermukim di hutan-hutan
pedalaman wilayah desa Tautpah dan desa Tokbesi bisa merobah sebagian adat kebiasaan yang ada kearah
kehidupan yang lebih baik. Secara rinci terdeskripsi dalam hasil penelitian ini.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->