PENGANTAR REDAKSI

Jurnal Litbang Kesejahteraan Sosial sebagai media ekspose hasil-hasil penelitian bidang kesejahteraan sosial, dalam terbitan kali ini merupakan edisi ketiga pada tahun 2006. Pada edisi kali ini menyajikan hasil-hasil penelitian tentang organisasi sosial, pranata sosial, permasalahan sosial Tenaga Kerja Wanita (TKW), perlindungan anak, permasalahan ODHA, dan Pemberdayaan Fakir Miskin Dalam perkembangannya, salah satu proses pembangunan kesejahteraan sosial perlu dukungan dari berbagai pihak. Dalam hal ini Mohamad Syawie menyatakan bahwa pentingnya jaringan pranata sosial komunitas lokal dalam proses pembangunan kesejahteraan sosial. Hasil kajian mengungkapakan, pertama komunitas memandang pentingnya keberadaan jaringan antar pranata sebagai wadah untuk mempersatukan kemampuan dalam menangani persoalan yang muncul di wilayahnya, khususnya para pedagang berskala kecil. Kedua, pedagang berskala kecil menunjukkan kemandiriannya, hal ini dilihat dari kemampuannya untuk survive yang diperlihatkan dari modal usaha dan pendapatan yang relatif kecil, juga menunjukkan kemampuannya untuk dapat menciptakan lapangan pekerjaan dan tetap bertahan dalam waktu yang relatif cukup lama. Hal ini juga didukung oleh Suyanto, yang membahas tentang profil Pranata Sosial pada Komunitas Adat Terpencil di Kabupaten Timur Tengah Utara Propinsi NTT. Alit Kurniasari, juga membahas tentang pentingnya partisipasi organisasi lokal dalam pembangunan kesejahteraan sosial. Organisasi lokal di kelurahan Rijali dan Waihaong kota Ambon provinsi Maluku dapat berfungsi sebagai self help organization, yang selanjutnya dapat didayagunakan dalam pembangunan kesejahteraan sosial. Organisasi lokal yang ada di kedua kelurahan dapat berkolaborasi untuk mengatasi permasalahan sosial yang mendesak perlu ditangani. Dengan segala kendala dan potensi yang dimiliki seperti kehidupan beragama serta budaya pelagandong yang masih tersisa diharapkan mampu mempererat kolaborasi organisasi atau kelompok, dengan membentuk Forum atau kelompok kerja. Sutaat membahas tentang permasalahan sosial Tenaga Kerja Wanita (TKW) dari waktu ke waktu terus mengalami peningkatan baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Hal ini juga disebabkan karena potensi sumber daya TKW relatif rendah baik dari segi pendidikan maupun pengetahuan dan kesiapannya bekerja di luar negeri. Hal ini antara lain juga terkait dengan masih minimnya pembekalan kepada TKW sebelum diberangkatkan ke luar negeri. Di samping itu juga adanya praktek-praktek pengiriman tenaga kerja secara ilegal yang lebih mengutamakan pada keuntungan ekonomi semata. Pada sisi lain negara tujuan kurang memberikan perlindungan terhadap tenaga kerja asing (termasuk TKW). Sementara itu KBRI banyak dibebani dengan berbagai tugas penyelesaian kasus tenaga kerja bermasalah yang jumlahnya cukup besar. Sehingga sangat penting memberikan upaya pelayanan sosial TKW di negara-negara tujuan yang lebih profesional, dengan cara melibatkan para Pekerja Sosial profesional dalam penyelesaian masalah TKW di negara tujuan.Sedangkan Suradi mengangkat issue tentang perlindungan anak dewasa ini semakin memprihatinkan berbagai pihak, sejalan dengan meningkatknya kasus tindak kekerasan, eksploitasi dan perdagangan anak di Nusa Tenggara Barat.

i

Persoalan HIV/AIDS semakin hari terus merebak, dan jumlahnya juga terus meningkat bak fenomena gunung es. Kissumi Diyanayati menemukan bahwa permasalahan yang dihadapi ODHA dapat dikategorikan dalam permasalahan fisik, pskis, dan sosial ekonomi. Secara fisik, penyandang virus HIV tidak jauh berbeda dengan orang sehat pada umumnya. Jika kondisi stamina menurun mereka baru merasakan penderitaan seperti demam dan lemas. Dalam kondisi seperti ini, penyandang dengan mudah terinfeksi berbagai penyakit yang menjadikannya sebagai penyandang AIDS. Pendataan fakir miskin dan PMKS (Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial) lainnya menjadi ujung tombak dalam pelaksanaan program pemberdayaan Fakir Miskin. Haryati Roebyantho mencoba memaparkan tentang metode pendataan Fakir Miskin melalui teknik Pemeringkatan Keluarga menurut kondisi sosial ekonomi. Pendekatan yang digunakan bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi sosial ekonomi seseorang/keluarga secara relatif dalam suatu masyarakat. Teknik yang digunakan adalah metode partisipatori dengan tujuan menemukan siapa orang termiskin di suatu masyarakat dengan pengetahuan mereka sendiri. Selain itu metode ini diharapkan dapat digunakan sebagai metode alternatif dalam menentukan sasaran program dan sasaran lokasi pelaksanaan program pemerintah di bidang kesejahteraan sosial.

REDAKSI

ii

PERLINDUNGAN ANAK DI NUSA TENGGARA BARAT
Suradi

ABSTRAK
Isu tentang perlindungan anak semakin memprihatinkan, sejalan dengan meningkatnya kasus tindak kekerasan, eksploitasi dan perdagangan anak. Khusus di NTB isu itu dikaitkan dengan jenis Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) anak seperti, anak telantar, anak jalanan, balita telantar dan balita status gizi buruk yang saat ini jumlahnya cukup tingggi. Pemerintah provinsi dan kabupaten/kota serta masyarakat telah berupaya menangani permasalahan tersebut. Namun demikian, dari hasil penelitian menunjukkan upaya tadi belum optimal disebabkan belum sinerginya segenap sumber daya yang ada pada berbagai sektor.

I.

PENDAHULUAN

Anak merupakan aset dan generasi penerus bagi keluarga, masyarakat maupun suatu bangsa. Bagaimana kondisi anak pada saat ini, sangat menentukan kondisi keluarga, masyarakat dan bangsa di masa depan. Dengan demikian, apabila anak hidup serba berkecukupan, baik secara fisik-organis maupun psiko-sosialnya, maka SDM di masa depan dapat dipastikan cukup berkualitas. Manusia yang berkualitas, antara lain memiliki kriteria : cerdas, kreatif, mandiri, berakhlak mulia dan setia kawan. Hanya dengan SDM yang demikian itu suatu bangsa akan mampu bersaing dengan bangsa lain dalam era kehidupan global. Anak akan tumbuh dan berkembang menjadi SDM yang berkualitas, apabila berbagai kebutuhannya dapat dipenuhi dengan wajar, baik kebutuhan fisik, emosional maupun sosial. Singgih D. Gunarso (1992) membagi jenis kebutuhan dasar anak menjadi dua, yaitu kebutuhan fisiologis-organis dan kebutuhan psikis dan sosial. Kebutuhan fisiologis-organis adalah kebutuhan pokok, karena terkait langsung dengan pertumbuhan fisik dan kelangsungan hidup anak. Termasuk ke dalam jenis kebutuhan ini adalah makan, pakaian, tempat tinggal dan kesehatan. Apabila kebutuhan ini tidak dapat dipenuhi, maka akan menyebabkan terjadinya gangguan pada kondisi fisik dan kesehatan anak. Menurut S.C. Utami Munandar (1995), perkembangan kecerdasan, kreativitas dan kemandirian berkaitan erat dan saling menguatkan, yang

akan menentukan kualitas manusia pembangunan di masa depan. Dengan demikian, dampak dari tidak terpenuhinya kebutuhan fisiologis-organis anak ditandai dengan buruknya kualitas SDM masa depan, baik secara fisik maupun tingkat kecerdasannya. Kemudian psikis dan sosial adalah jenis kebutuhan yang berkaitan dengan perkembangan emosional dan kepribadian anak. Termasuk ke dalam kebutuhan psikis dan sosial adalah kebutuhan kasih sayang, rasa aman, perlindungan, jauh dari perasaan takut, kecemasan, kebebasan menyatakan diri, mengadakan hubungan dengan sesama teman, pergaulan dan harga diri. Terkait dengan konsep kebutuhan anak tersebut, Child Welfare League of America, Standards for Child Protective Services, New York (Soetarso, 1997), mengemukakan bahwa pertumbuhan dan kesejahteraan fisik, emosional dan intelektual anak akan mengalami hambatan apabila ia: (a) kekurangan gizi dan tanpa perumahan yang layak, (b) tanpa bimbingan dan asuhan, (c) sakit dan tanpa perawatan medis yang tepat, (d) diperlakukan salah secara fisik, (e) diperlakukan salah dan dieksploitasi secara seksual, (f) tidak memperoleh pengalaman normal yang menumbuhkan perasaan dicintai, diinginkan, aman dan bermanfaat, (g) terganggu secara emosional karena pertengkaran keluarga yang terus menerus, perceraian dan mempunyai orangtua yang menderita gangguan atau penyakit jiwa, dan (h) dieksploitasi, bekerja berlebihan, terpengaruh oleh kondisi yang tidak sehat dan demoralisasi.

1

Jurnal Penelitian dan Pengembangan Usaha Kesejahteraan Sosial, Vol 11, No. 03, 2006 : 1-17

Berkaitan dengan upaya mewujudkan tumbuh kembang anak secara wajar, Konvensi Hak Anak tahun 1989 menegaskan, bahwa setiap negara perlu memiliki komitmen tinggi dalam upaya perlindungan anak. Dalam konvensi tersebut dijelaskan, termasuk ke dalam hak anak adalah hak akan kelangsungan hidup, perlindungan, pertumbuhan dan perkembangan serta berpartisipasi. Unsur-unsur hak anak tersebut perlu dipahami sebagai satu kesatuan yang utuh, karena dalam implementasinya saling terkait. Artinya, di dalam kelangsungan hidup, juga mencakup perlindungan, pengembangan dan partisipasi dan begitu seterusnya. Dalam pembahasan terdahulu, dikemukakan ada dua kategori kebutuhan anak, yaitu fisiologis – organis dan psikis – sosial. Apabila dua kategori kebutuhan tersebut dijabarkan lebih lanjut, maka akan diperoleh sejumlah hak anak yang memerlukan pemenuhan agar mereka dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Hak anak ini secara rinci dapat ditemukan di dalam UndangUndang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak, yaitu (1) hak atas kesejahteraan, perawatan, asuhan dan bimbingan berdasarkan kasih sayang, baik dalam keluarganya maupun di dalam asuhan khusus untuk tumbuh dan berkembang dengan wajar, (2) hak atas pelayanan untuk mengembangkan kemampuan dan kehidupan sosialnya, sesuai dengan kebudayaan dan kepribadian bangsa, untuk menjadi warga negara yang baik dan berguna, (3) hak atas pemeliharaan dan perlindungan, baik selama dalam kandungan maupun sesudah dilahirkan, dan (4) hak atas perlindungan terhadap lingkungan hidup yang dapat membahayakan atau menghambat pertumbuhan dan perkembangannya dengan wajar. Berdasarkan uraian tersebut di atas, upaya perlindungan anak dapat dipahami sebagai serangkaian kegiatan yang dilaksanakan untuk memenuhi sejumlah hak anak, agar terjamin kelangsungan hidupnya, terlindungi dari berbagai kondisi yang tidak menguntungkan, berkembangnya potensi diri anak dan berkembangnya partisipasi dalam pengambilan keputusan menyangkut pribadi mereka. Atas dasar itu, maka upaya perlindungan anak dilaksanakan dengan berorientasi pada sejumlah unsur tersebut, agar upaya yang dilakukan sesuai dengan yang diharapkan.

Upaya perlindungan anak dewasa ini perlu terus ditingkatkan, seiring terjadinya perkembangan masyarakat dengan segala dampaknya yang tidak menguntungkan bagi kehidupan keluarga dan anak. Meskipun belum ada data pasti tentang permasalahan anak Indonesia, namun media massa dan beberapa penelitian telah mempublikasikan kasus per kasus permasalahan yang dihadapi oleh anak, baik di dalam maupun di luar lingkungan keluarga. Kasus tindak kekerasan terhadap anak, eksploitasi ekonomi maupun seksual terhadap anak, dan perdagangan anak adalah kasus yang dewasa ini seringkali terjadi (Societa, 2006). Kondisi ini sangat mengancam kelangsungan hidup dan tumbuh kembang anak secara wajar sebagai generasi penerus dan sumber daya manusia di masa depan. Bahkan para pengamat kesejahteraan anak mengkhawatirkan kondisi ini sebagai ancaman terjadinya lose generation. Sehubungan dengan permasalahan tersebut, penelitian ini dilakukan dalam upaya mengetahui permasalahan dan upaya perlindungan anak, khususnya di Nusa Tenggara Barat. Penelitian ini bersifat kasus, sehingga penentuan lokasi bersifat purposive dengan pertimbangan bahwa, di provinsi ini terdapat berbagai isu tentang perlindungan anak. Hasil penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi secara teoritis maupun praktis terkait dengan upaya perlindungan anak di Indonesia.

II. METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini bersifat deskriptif, mendeskripsi permasalahan anak dan upaya perlindungan yang dilakukan pada mereka oleh instansi pemerintah maupun masyarakat di Nusa Tenggara Barat. Informan dalam penelitian ini adalah petugas instansi pemerintah yang menyelenggarakan program pelayanan sosial anak di provinsi maupun kabupaten kota, pengelola panti sosial dan petugas pada Lembaga Perlindungan Anak (LPA) provinsi maupun kabupaten/kota serta Badan Pusat Statistik. Informan tersebut ditentukan secara purposive dengan mempertimbangkan ketersediaan data dan informasi tentang permasalahan dan program-program perlindungan anak di Nusa Tenggara Barat.

2

Perlindungan Anak di Nusa Tenggara Barat

(Suradi)

Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah (a) studi dokumentasi terhadap dokumen tertulis, hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan, perundang-undangan dan literatur lainnya yang mendukung tujuan penelitian, (b) wawancara mendalam yang dilakukan untuk memperoleh informasi yang obyektif dan mendalam tentang permasalahan dan program perlindungan anak. Data yang telah dikumpulkan, kemudian diolah berdasarkan kategori data yang telah ditentukan. Kemudian dianalisis dengan teknik analisa kualitatif, yaitu menguraikan esensi dan substansi yang tertuang dalam konsep-konsep, sebagai hasil penelitian, yaitu (1) identifikasi permasalahan anak, (2) identifikasi programprogram perlindungan anak yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun masyarakat, dan (3) faktor-faktor yang mendukung konsepkonsep temuan lapangan.

lanjut usia. Berdasarkan data tersebut, maka struktur penduduk Provinsi NTB sebagian besar termasuk pada usia produktif. Persoalan pada data tersebut adalah adanya kategori umur 15 – 19 tahun yang di dalamnya termasuk umur anak. Sehubungan dengan itu, populasi anak secara pasti tidak dapat ditemukan pada hasil SUSENAS tersebut. Lapangan usaha penduduk Nusa Tenggara Barat bervariasi. Menurut BPS Provinsi Nusa Tenggara Barat (2005) penduduk 15 tahun ke atas memiliki jenis usaha pertanian, pertambangan dan galian, industri, listrik, gas dan air; konstruksi, perdagangan, angkutan dan komunikasi; keuangan dan jasa. Dari berbagai jenis usaha tersebut, jenis usaha yang persentasenya menonjol yaitu usaha pertanian sebesar 48,11 persen. Tingkat pendidikan sebagian besar (76,71 %) penduduk Nusa Tenggara Barat relatif rendah, dimana mereka tidak pernah sekolah dan hanya menamatkan SD. Kemudian bedasarkan Indikator Kesejahteraan Anak Provinsi Nusa Tenggara Barat (2003), diperoleh informasi, bahwa tingkat partisipasi sekolah penduduk usia 7 – 18 tahun dikelompokkan menjadi tiga, yaitu kelompok usia 7-12 tahun (setingkat SD) sebesar 94,68 persen, kelompok usia 13-15 tahun (setingkat SLTP) sebesar 72,33 persen dan kelompok usia 16-18 tahun (setingkat SLTA) sebesar 42,96 persen. B. Gambaran Umum Populasi anak

III. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Kondisi Umum Geografi dan Demografi

Nusa Tenggara Barat terdiri dari Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa, dengan luas wilayah 20.153,15 km2. Batas wilayah sebelah utara dengan Laut Jawa dan Laut Flores; sebelah selatan dengan Samudera Indonesia; sebelah barat dengan Selat Lombok/Provinsi Bali; dan sebelah timur dengan Selat Sape/ Provinsi Nusa Tenggara Timur. Nusa Tenggara Barat terdiri dari dua kota dan tujuh kabupaten, yaitu Kabupaten Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Timur, Sumbawa, Dompu, Bima Sumbawa Barat, Kota Mataram dan Kota Bima. Berdasarkan data hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) Biro Pusat Statistik (2005), penduduk Nusa Tenggara Barat pada tahun 2005 berjumlah 4.143.292, dengan rincian 1.099.820 laki-laki dan 2.143.472. Dari hasil SUSENAS itu pula diketahui persentase penduduk umur 0 – 14 tahun sebesar 32.52 persen, dan penduduk umur 15 – 64 tahun sebesar 68,47 persen dan penduduk umur di atas 65 tahun sebesar 4.37 persen. Kelompok terakhir ini dikategorikan kelompok

Data anak pada Nusa Tenggara Barat Dalam Angka (BPS Prov, NTB, 2005), tidak dapat diketahui secara pasti, karena ada kategori kelompok anak (17 tahun) yang disajikan pada kelompok umur 15-19 tahun. Data anak umur 0-18 tahun berjumlah 1.800.380 anak atau 43,45 persen dari populasi penduduk. Dari jumlah tersebut sebanyak 911.949 anak atau 50,65 persen adalah laki-laki dan sebanyak 888.381 anak atau 49,35 persen adalah perempuan. Kemudian populasi anak umur 7-18 tahun menurut tingkat pendidikan, sebanyak 573.875 orang berpendidikan Sekolah Dasar, 282.317 orang berpendidikan SLTP dan 261.643 orang berpendidikan SLTA. Data populasi anak menurut tingkat pendidikan dapat dilihat pada diagram 1.

3

Jurnal Penelitian dan Pengembangan Usaha Kesejahteraan Sosial, Vol 11, No. 03, 2006 : 1-17

DIAGRAM 1: TINGKAT PENDIDIKAN ANAK 7-18 TAHUN
SLTA

261,643
282,317 573,975

Kemudian menurut kegiatannya, terdapat berbagai jenis aktivitas yang dilakukan anak, yaitu sekolah, bekerja, menganggur, mengurus rumah tangga dan lainnya. Data jenis kegiatan anak dapat dilipat pada tabel 1. Tabel 1 PERSENTASE ANAK 7-18 MENURUT KEGIATAN
NO JENIS KEGIATAN SEKOLAH BEKERJA MENGANGGUR MENGURUS RT LAINNYA PERSENTASE 61.76 21.11 10.18 2.64 4.30

SD 200,000 400,000 600,000

Dari jumlah populasi tersebut, sebanyak 50 persen anak tinggal di perdesaan dengan rincian 49,66 persen laki-laki dan 50,34 persen perempuan. Kemudian 50 persen anak tinggal di perkotaan dengan rincian 51,21 persen lakilaki dan 48,79 persen perempuan. Hubungan antara anak dengan Kepala Rumah Tangga dicermati dari posisi anak terhadap Kepala Rumah tangga, yaitu anak (kandung, tiri, angkat), lainnya (cucu, famili) dan sebagai Kepala Rumah Tangga. Menurut Profil Anak Nusa Tenggara Barat (BPS, 2004) sebanyak 88,83 persen anak memiliki hubungan dengan Kepala Rumahtangga sebagai anak, baik anak kandung, tiri maupun anak angkat, sebagaimana tampak pada diagram 2. Data tersebut menggambarkan, bahwa sebagian besar anak-anak di Nusa Tenggara Barat memperoleh pengasuhan dari orang-orang dewasa terdekat dalam sebuah keluarga. Meskipun angkanya tidak signifikan, terdapat anak-anak yang menjadi Kepala Rumah Tangga. Mereka tentu saja menghadapi berbagai masalah yang berkaitan dengan proses pertumbuhan dan perkembangannya, karena terbebani oleh tugas dalam keluarga yang selayaknya dikerjakan orang dewasa.
DIAGRAM 2 : HUBUNGAN ANAK DGN KEPALA RUMAH TANGGA ANAK 0.34 10.63 LAINNYA KRT

1 2 3 4 5

Sumber : BPS, Profil Anak Prov. NTB, 2004.

Sebagian besar atau 61,76 persen anak di Nusa Tenggara Barat melakukan kegiatan sekolah. Kemudian sebesar 21,11 persen anakanak sudah tidak sekolah lagi dan mereka memiliki kegiatan bekerja atau menjadi pekerja anak. Mereka tentu mengalami berbagai masalah, baik secara pribadi yaitu yang terkait dengan proses tumbuh kembang; maupun berbagai resiko yang dihadapi di tempat kerja. Selain itu, mereka juga merupakan kelompok yang potensial menghadapi tindak kekerasan ataupun dieksploitasi secara ekonomi oleh orang dewasa. Sebagimana disajikan dalam data pada tabel 1 di atas, di Nusa Tenggara Barat terdapat anak umur 7-18 tahun yang bekerja sebanyak 21,11 persen atau berkisar 380.000 orang. Anak yang bekerja tersebut tersebar di seluruh kabupaten/kota di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Dari sembilan kabupaten/kota tersebut, Lombok Barat dan Kota Mataram merupakan daerah yang memiliki data signifikan untuk anak yang berusaha dan sebagai buruh/karyawan. Hal ini berhubungan dengan status kedua kota tersebut, yaitu sebagai kota pariwisata yang banyak menawarkan lapangan pekerjaan bagi anak-anak. Berbagai jenis usaha anak-anak tersebut seperti membuat kerajinan tangan dan menjajakannya di daerah-daerah wisata, menjadi pemulung, dan kusir cidomo. Berbagai

88.83

4

Perlindungan Anak di Nusa Tenggara Barat

(Suradi)

jenis usaha anak-anak tersebut pada umumnya dilakukan jauh dari pantauan orang tuanya. Oleh karena itu, mereka potensial mengalami eksploitasi secara ekonomi, seksual maupun tindak kekerasan dari orang dewasa. C. 1. Anak Yang Memerlukan Perlindungan Korban Eksploitasi Hasil studi LPA Provinsi Nusa Tenggara Barat (2003) menemukan anak yang mengalami eksploitasi berjumlah 373 orang. Anak perempuan berjumlah 225 orang dan anak laki-laki berjumlah 148 anak. Kemudian menurut umur, pada kategori umur 5-12 tahun berjumlah 93 anak; umur 13-15 tahun berjumlah 133 anak dan umur 15-18 tahun berjumlah 147 anak. Berdasarkan kelompok umur ini, maka kelompok remaja (13-18 tahun) lebih banyak menjadi korban eksploitasi dibandingkan dengan kelompok anakanak. Sebagaimana dikemukakan sebelumnya, bahwa jumlah anak yang bekerja dan sebagai buruh/karyawan sebagian besar terdapat di Kabupaten Lombok Barat dan Kota Mataram, dimana kedua kota ini sebagai daerah pariwisata. Terdapat lima lokasi wisata yang menurut temuan LPA Provinsi Nusa Tenggara Barat sebagai lokasi terjadinya eksploitasi anak, yaitu Bayu Molek terjadi 115 kasus, Otak Kokok 14 kasus, Sade 56 kasus, Gili 118 kasus dan Senggigi 70 kasus. Berdasarkan data tersebut ada korelasi antara tingkat keramaian dan tersedianya fasilitas wisata dengan jumlah kasus eksploitasi. Semakin ramai lokasi wisata, semakin tinggi jumlah kasus eksploitasi. Hal ini menunjukkan lemahnya kontrol sosial masyarakat, dan terjadinya penguatan orientasi kehidupan ekonomis masyarakat. Akibat dari orientasi ekonomi masyarakat yang kuat ini, maka anakanak ditarik ke dalam dunia usaha, tanpa mempertimbangkan hak-hak mereka. Hal ini juga menunjukkan lemahnya sistem pengawasan dan perlindungan sosial

oleh pemerintah daerah terhadap anak-anak, khususnya mereka yang menjalankan usaha di lokasi wisata. Korban eksploitasi menurut lokasi dan jenis kelamin ini dapat dilihat pada tabel 2. Tabel 2
KORBAN EKSPLOITASI MENURUT LOKASI DAN JENIS KELAMIN
JENIS KELAMIN LAKI-LAKI PEREMPUAN F % F % 1 BAYU MOLEK 100 86,96 15 13,64 2 OTAK KOKOK 2 14,29 12 85,71 3 SADE 33 58,93 23 41,07 4 GILI 58 49,15 60 51,85 5 SENGGIGI 32 45,71 38 54,29 JUMLAH 225 60,32 148 39,68 Sumber : LPA Provinsi NTB, 2003. NO LOKASI JMLH 115 14 56 118 70 373

Di lima lokasi eksploitasi tersebut ditemukan 17 jenis tindakan yang dikategorikan sebagai eksploitasi ekonomi dan eksploitasi seksual. Pada kasus eksploitasi ekonomi, pengrajin sebanyak 115 kasus, pedagang souvenir 59 kasus, pedagang asongan 39 kasus, pelayan hotel 35 kasus dan nelayan 29 kasus. Kemudian pada kasus eksploitasi seksual, anak yang dilacurkan dengan 16 kasus , dijual dan disodomi masing-masing dengan 3 kasus. Terjadinya kasus eksploitasi tersebut dipicu oleh inisiator. Berdasarkan hasil studi LPA Provinsi Nusa Tenggara Barat, sebagai inisiator terjadinya eksploitasi terhadap anak adalah diri anak sendiri, bapak, ibu, famili dan orang lain. Data inisiator tersebut dapat dilihat pada diagram 3.
DIAGRAM 3 : INISIATOR TERJADINYA EKSPLOITASI

3% 20%

5%

12%

60%

SENDIRI IBU ORANG LAIN

BAPAK FAMILI

5

Jurnal Penelitian dan Pengembangan Usaha Kesejahteraan Sosial, Vol 11, No. 03, 2006 : 1-17

Inisiatif dari diri anak sendiri sebanyak 155 kasus (60 %), Bapak 32 kasus (12 %), Ibu 53 kasus (20 %), famili 7 kasus (3 %) dan orang lain 12 kasus (5 %). Dalam kasus eksploitasi ini, selain berasal dari diri sendiri, orang terdekat, yaitu bapak, ibu dan famili juga menjadi inisitator yang cukup besar yaitu 35 persen. Data ini menggambarkan bahwa fungsi ekonomi keluarga tidak dapat dilaksanakan dengan baik, terutama oleh ayah sebagai pencari nafkah utama. Hasil studi LPA Provinsi Nusa Tenggara Barat (2003) berhasil menghimpun informasi, bahwa faktor ekonomi ini tidak hanya menjadi penyebab terjadinya eksploitasi ekonomi terhadap anak-anak, akan tetapi juga sebagai faktor penyebab terjadinya eksploitasi seksual. Selain itu, terjadinya eksploitasi seksual terhadap anak disebabkan adanya penipuan yang dilakukan oleh oknum. Seperti yang terjadi pada kasus penipuan terhadap anak perempuan dari Pulau Jawa, dimana dijanjikan bekerja sebagai penjaga wartel, pelayan toko dan restoran dengan gaji besar di Pulau Lombok. Pada kenyataannya mereka dipekerjakan di Pulau Lombok di tempat-tempat hiburan dan dilacurkan. 2. Korban Tindak Kekerasan Hasil LPA Provinsi Nusa Tenggara Barat (2003) menemukan kasus tindak kekerasan terhadap anak dengan korban sebanyak 125 orang. Berdasarkan jenis kelamin, korban tindak kekerasan terhadap anak laki-laki berjumlah 79 orang (63,20 %) dan anak perempuan berjumlah 46 orang (36,80 %). Kemudian menurut umur, pada kelompok umur 7-12 tahun maupun pada kelompok umur 13-18 tahun jumlah korban sama banyak, yaitu masingmasing 61 orang atau 48,8 persen. Sedangkan pada kelompok umur 0-6 tahun sebanyak 3 orang atau 2,4 persen.

Berdasarkan status pendidikan, sebagian besar termasuk kategori rendah, yaitu mulai dari tidak pernah sekolah sampai dengan putus sekolah (dropout) pada tingkat SLTA. Data tentang status pendidikan korban tindak kekerasan dapat dilihat pada tabel 3. Tabel 3
STATUS PENDIDIKAN KORBAN KEKERASAN
STATUS PENDIDIKAN TDK PERNAH SEKOLAH 8 (6,40%) DO SD SD DO SMP SMP DO SMA SMA

3 22 22 15 38 17 (2,40%) (17,60%) (17,60%) (12%) (30,40%) (13,60%)

Sumber : LPA Provinsi NTB, 2003.

Berbagai bentuk tindak kekerasan terhadap anak ditemukan di Provinsi Nusa Tenggara Barat, mulai dari kekerasan fisik, psikis hingga menghilangkan nyawa. LPA Provinsi Nusa Tenggara Barat berhasil mengidentifikasi 11 jenis tindak kekerasan terhadap anak, yaitu penipuan, ancaman, pemukulan, pencabulan perkosaan, pembunuhan, pembuangan, penjualan, penelantaran, deskriminasi dan eksploitasi. Dari berbagai jenis tindak kekerasan tersebut, kasus yang cukup mencolok yaitu ancaman (34 kasus), pemukulan (66 kasus), eksploitasi (36 kasus), penipuan (14 kasus) dan perkosaan (12 kasus). Selain data hasil studi LPA Provinsi (2003), LPA juga menghimpun data dari berbagai media massa lokal, antara lain Lombok Post. Ada tiga jenis bentuk tindak kekerasan yang berhasil dihimpun oleh media massa lokal, yaitu kekerasan fisik, seksual dan fisik bersama-sama dengan seksual. Tindak kekerasan fisik yaitu penganiayaan, pembunuhan, pembuangan bayi dan pembunuhan disertai dengan pembuangan. Tindak kekerasan seksual, yaitu pemerkosaan,

6

Perlindungan Anak di Nusa Tenggara Barat

(Suradi)

pencabulan dan sodomi. Sedangkan tindak kekerasan fisik bersamaan dengan seksual, yaitu pemerkosaan yang diikuti dengan pembunuhan. Meskipun secara kuantitas jumlah kasus tahun 2004 meningkat dibandingkan dengan tahun 2003, yaitu dari 36 kasus menjadi 59 kasus, namun terdapat kasus kekerasan yang mengalami penurunan, yaitu pembuangan bayi, pembunuhan dan pembuangan, serta pencabulan. Kasus penganiayaan dan pembunuhan yang terjadi pada tahun 2003, tidak terjadi lagi pada tahun 2004. Sebaliknya muncul kasus baru yang pada tahun 2003 tidak ada, tetapi muncul pada tahun 2004 yaitu, sodomi dan pemerkosaan yang diikuti dengan pembunuhan. Tindak kekerasan menimbulkan penderitaan bagi para korbannya. Penderitaan yang dirasakan oleh korban, selain secara fisik, psikis dan sosial, bahkan menghilangkan nyawa. Pen-deritaan fisik seperti luka ringan/memar/lecet, luka berat dan cacat. Sedangkan penderitaan psikis dan sosial seperti strees, malu dan kehilangan kesempatan untuk bermain serta sekolah. Berdasarkan jenis penderitaan ini dapat diketahui lamanya korban menderita akibat tindak kekerasan. Penderitaan fisik, tentu tidak memerlukan waktu yang lama untuk pemulihannya, kecuali luka berat atau cacat permanen. Sedangkan penderitaan psikis dan sosial, proses penyembuhannya biasanya memerlukan waktu lama, terlebih pada korban yang terenggut kehormatannya. Data tentang jenis penderitaan korban tindak kekerasan dapat dilihat pada tabel 4.

Tabel 4
JENIS-JENIS PENDERITAAN KORBAN TINDAK KEKERASAN
NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 JENIS PENDERITAAN Strees Merasa dipermainkan Luka ringan/memar/lecet Luka berat Cacat permanen Terbunuh Terenggut kehormatannya Kehilangan waktu bermain Kehilangan waktu sekolah F 46 39 35 5 1 1 7 24 31 7 % 23,47 19,90 17,86 2,55 0,51 0,51 3,57 12,24 15,82 3,57

10 Penderitaan lainnya Ket : Jawaban lebih dari 1

Pelaku tindak kekerasan terhadap anak, bukanlah orang yang secara sosial jauh dari anak. Pelakunya adalah orang dewasa yang kenal akrab dengan anak, dan bahkan tinggal dalam satu rumah. Kenyataan ini menunjukkan kondisi kontradiksi, dimana semestinya anak memperoleh perlakuan baik di dalam lingkungan rumah tangga, justru yang terjadi malah sebaliknya. Mereka menjadi korban tindak kekerasan yang menimbulkan penderitaan fisik, psikis dan sosial. Berdasarkan studi LPA Provinsi Nusa Tenggara Barat (2003), terdapat 12 kelompok yang menjadi pelaku tindak kekerasan terhadap anak, yaitu ayah dan ibu kandung, ayah dan ibu tiri, saudara lain (kakek, paman, bibi, kerabat), guru (sekolah, mengaji), tetangga, atasan dan orang tidak dikenal. Data tentang hubungan pelaku tindak kekerasan dengan korban dapat dilihat pada tabel 5. Pada tabel tersebut, hubungan pelaku dengan korban yang frekuensinya menyolok yaitu dilakukan oleh ibu dan ayah kandung, masingmasing 34 kasus, guru sekolah 26 kasus

7

Jurnal Penelitian dan Pengembangan Usaha Kesejahteraan Sosial, Vol 11, No. 03, 2006 : 1-17

dan orang tidak dikenal 19 kasus. Pelaku mulai nomor 1 sampai dengan nomor 10 adalah orang-orang yang masih punya hubungan kekerabatan dan ikatan emosional. Situasi ini menunjukkan, bahwa lingkungan keluarga merupakan lingkungan sosial yang potensial melakukan tindak kekerasan terhadap anak. Tabel 5
HUBUNGAN PELAKU DENGAN KORBAN TINDAK KEKERASAN
NO HUBUNGAN DG PELAKU F 34 34 4 2 4 2 8 26 9 4 5 19 % 22,52 22,52 2,65 1,32 2,65 1,32 5,30 17,22 5,96 2,65 3,31 12,58

(dua) kasus dilakukan oleh orang lokal yang kasusnya telah ditangani oleh pihak berwajib. Pada tahun 2006 terjadi kasus sodomi terhadap seorang anak yang dilakukan oleh empat orang Australia. Saat ini korban memperoleh advokasi sosial dari LPA provinsi maupun LPA Kabupaten Lombok Barat. Selain itu LPA juga memberikan pendampingan kepada korban dalam proses peradilan di Pengadilan Tinggi Nusa Tenggara Barat. 4. Wabah Incest Tim penelitian Lembaga Perlindungan Anak Provinsi pada tahun 2003 mencatat, terdapat 23 kasus dari 35 kasus kekerasan seksual terhadap anak, dilakukan oleh orang-orang yang masih memiliki hubungan darah dengan korban. Pada tahun 2006 terjadi kasus pemerkosaan, yaitu antara anak dengan ayah kandung. Pada saat ini korban sedang hamil 6 bulan dan dititipkan oleh LPA di Panti Sosial Tresna Werdha Mataram. Secara intensif ia memperoleh pelayanan pendampingan dari tenaga LPA provinsi maupun LPA Kabupaten Lombok Barat. Anak Berkonflik dengan Hukum Selain sebagai korban dari eksploitasi, tindak kekerasan, phaedophilia dan incest, pada kenyataannya anak-anak juga dapat sebagai pelaku. Bahkan terjadinya beberapa kasus tindak kriminal pelakunya adalah anak-anak. Data yang dihimpun oleh LPA Nusa Tenggara Barat dari Bapas Mataram menyebutkan ada 11 jenis kasus yang dilakukan anak-anak, sehingga mereka disebut sebagai anak yang berkonflik dengan hukum. Beberapa jenis kasus tersebut dapat dilihat pada tabel 6. Data pada tabel tersebut menunjukkan jenis kasus hukum yang frekuensinya sangat menyolok adalah pencurian dengan 25 kasus dan menyusul narkotika dengan 8 kasus. Kasus-kasus tersebut ditangani penegak hukum dalam hal ini Kepolisian Daerah (Polda NTB) dan Kepolisian Resort (Polres kabupaten/ kota lokasi kejadian).

1 Ayah kandung 2 Ibu kandung 3 Ayah tiri 4 Ibu tiri 5 Kakek 6 Saudara/Misan 7 Paman/bibi/kerabat lain 8 Guru sekolah 9 Guru mengaji 10 Tetangga 11 Atasan/pengawas tempat bekerja 12 Orang lain tidak dikenal Sumber : LPA Provinsi NTB, 2003.

Keluarga yang mestinya menjadi tempat pertama dan utama bagi anak untuk memperoleh pemenuhan kebutuhan sosial dasar, hak-hak dan perlindungan, sebaliknya menjadi tempat penyiksaan dan penjara bagi anak-anak. Ayah dan ibu kandung yang berfungsi memberikan perlindungan terhadap anak-anaknya, justru sebaliknya. Mereka bagaikan “monster” yang menakutkan dan mengancam kehidupan anak-anaknya. Demikian pula ayah dan ibu tiri, kakek, paman, bibi dan kerabat, dimana keberadaanya dapat mendukung anak untuk memperoleh kebutuhan, hak dan perlindungan, justru sebaliknya menjadi ancaman terhadap kelangsungan pertumbuhan dan perkembangan anak tersebut. 3. Phaedophilia Tim Peneliti Lembaga Perlindungan Anak Provinsi Nusa Tenggara Barat tahun 2003 menemukan 7 kasus phaedophilia yang dilakukan oleh orang asing, dan 2

5.

8

Perlindungan Anak di Nusa Tenggara Barat

(Suradi)

Tabel 6
JENIS KASUS ANAK YANG BERKONFLIK DENGAN HUKUM

DIAGRAM 4 : STATUS GIZI BALITA 2.24 6.58 22.62

JENIS KASUS JUMLAH Pencurian 25 Penganiayaan 2 Pemerkosaan/kesusilaan 3 Kecelakaan lalu lintas 3 Penggelapan 3 UU Darurat 3 Pembunuhan Pengeroyokan 3 Pengedaran uang palsu 2 Pemalsuan mata uang 1 Narkotika 8 JUMLAH 55 Sumber : LPA Provinsi NTB, 2003.

NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

68.56 GIZI BURUK GIZI NORMAL GIZI KURANG GIZI LEBIH

Polda dan Polres di wilayah Nusa Tenggara Barat mencatat secara kumulatif terjadinya peningkatan jumlah kasus anak yang berkonflik dengan hukum pada tahun 2003 dibandingkan tahun 2004. Kasus yang mengalami peningkatan adalah penganiayaan, pemerkosaan, pembunuhan dan penculikan. Sedangkan kasus yang mengalami penurunan adalah aborsi, pencabulan, incest, melarikan anak, dan pencemaran nama baik. 6. Anak dengan Status Gizi Buruk Permasalahan yang terkait dengan pemenuhan kebutuhan sosial dasar anak adalah status gizi balita. Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Barat (2005) menyajikan data mengenai status gizi balita, yang dikategorikan ke dalam Gizi Buruk, Gizi Kurang, Gizi Baik dan Gizi Lebih. Data mengenai status gizi balita di Nusa Tenggara Barat ini secara umum dapat dilihat pada diagram 4.

Dalam upaya mengetahui status gizi balita, balita (0-59 bulan) yang menjadi sampel pendataan sebanyak 498.095 anak. Balita yang memiliki status gizi buruk berjumlah 6,58 persen, gizi kurang 2,62 persen, gizi normal 68,56 persen dan gizi lebih 2,24 persen. Artinya, balita yang menghadapi masalah status gizi tidak normal berjumlah 31,44 persen. Persoalan status gizi balita sangat berkaitan dengan proses pertumbuhan dan perkembangan anak selanjutnya, baik terkait dengan aspek fisik, mental dan kecerdasan. Kondisi ini perlu penanganan secara komprehensif, yang tujuan jangka pendeknya agar anak-anak segera tercukupi asupan/kebutuhan gizinya. Tujuan jangka menengah supaya anak tumbuh kembang secara normal sesuai dengan fase-fase kehidupannya. Sedangkan tujuan jangka panjang merupakan sebuah upaya untuk menyelamatkan generasi muda sebagai sumber daya pembangunan di masa depan. 7. Anak Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial Berdasarkan data pada Profil Anak Nusa Tenggara Barat ( 2004), anak umur 0-18 tahun di provinsi Nusa Tenggara Barat berjumlah 1.800.380 orang. Sebagian dari jumlah tersebut hidupnya tidak beruntung, sehingga mereka termasuk kelompok Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS). Tidak tercukupi kebutuhan sosial dasar dan hak-haknya sebagaimana anak-anak umumnya.

9

Jurnal Penelitian dan Pengembangan Usaha Kesejahteraan Sosial, Vol 11, No. 03, 2006 : 1-17

Dinas Sosial dan Pemberdayaan Perempuan Provinsi Nusa Tenggara Barat (2005) mencacat jumlah anak-anak yang termasuk ke dalam PMKS sebanyak 277.147 anak (minus Kabupaten Sumbawa Barat), yang terdiri dari balita telantar 27.903 anak, anak telantar 231.160 anak, anak korban tindak kekerasan 195 anak, anak nakal 8.473 anak, anak jalanan 8.041 anak dan anak cacat 277 anak. Dari data tersebut PMKS rumpun ketelantaran (neglected children) yang terdiri dari balita telantar, anak telantar, dan anak jalanan jumlahnya sangat dominan yaitu sebesar 267.104 anak. Data PMKS anak tampak pada tabel 7. Tabel 7
PMKS MENURUT KABUPATEN/KOTA

Tabel 8 PMKS MENURUT JENIS KELAMIN
NO 1 2 3 4 5 6. JENIS PMKS JENIS KELAMIN LAKI-LAKI PERMP 20,885 116,203 44 5,163 5,528 7,018 114,957 151 3,310 3,611 JML 27,903 231,160 195 8,473 9,139 277

BT AT AKK AN ANJAL PACA

JUMLAH 147,823 129,047 277,147 Sumber : Dinas Sosial dan PP , NTB, 2005.

NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9

KABUPATEN/KOTA LOMBOK BARAT LOMBOK TENGAH LOMBOK TIMUR SUMBAWA DOMPU BIMA KOTA MATARAM KOTA BIMA SUMBAWA BARAT JUMLAH

JUMLAH 103,267 51,830 89,401 1,503 10,728 12,166 3,893 4,359 0 277,147

Khusus PMKS anak yang termasuk rumpun ketelantaran, pada umumnya berasal dari rumah tangga miskin. Kemiskinan menyebabkan rumah tangga tersebut tidak mampu memenuhi kebutuhan sosial dasar, hak dan perlindungan kepada anak-anak mereka. Bahkan di antara mereka mendorong anak-anaknya menjalankan kegiatan ekonomi di jalanan atau yang kemudian dikenal dengan anak jalanan (street children). 8. Partisipasi Sekolah Anak Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (2005) mencatat, bahwa dari siswa SD yang berjumlah 5.485 anak, angka putus sekolah sebesar 1.00 persen, siswa SLTP berjumlah 3.901 anak, angka putus sekolah sebesar 2.73 persen, siswa SMA berjumlah 3.190 anak angka putus sekolah sebesar 4.61 persen dan siswa SMK 1.401 anak, angka putus sekolah sebesar 7.87 persen. Semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin tinggi pula angka putus sekolah penduduk. Angka tersebut memperkuat data sebelumnya, bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan, angka melanjutkan semakin rendah dan angka putus sekolah semakin tinggi.

Sumber : Dinas Sosial dan PP Provinsi NTB, 2005.

Data sebagaimana menunjukkan jumlah PMKS anak di Nusa Tenggara Barat, yaitu sebesar 15.38 persen dari populasi anak. PMKS paling menyolok terdapat di Kabupaten Lombok Barat, Kabupaten Lombok Tengah dan Lombok Timur. Dilihat dari kategori jenis kelamin, PMKS anak laki-laki lebih besar dibandingkan dengan PMKS anak perempuan, sebagaimana terlihat pada tabel 8.

10

Perlindungan Anak di Nusa Tenggara Barat

(Suradi)

Angka Partisipasi Murni (APM) dan Angka Partisipasi Kasar (APK) merupakan indikator yang juga menunjukkan kemajuan bidang pendidikan penduduk Provinsi Nusa Tenggara Barat. Angka Partisipasi Murni (APM) adalah jumlah siswa usia tertentu dibandingkan dengan jumlah penduduk usia tertentu pada jenjang pendidikan tertentu. Sebagai contoh rumus untuk menentukan APM SD adalah : Siswa SD usia 7-12 tahun X 100 % Penduduk usia 7-12 tahun Rumus tersebut berlaku juga untuk menentukan APM SLTP maupun APM SLTA. Sedangkan Angka Partisipasi Murni (APK) adalah jumlah seluruh anak yang sekolah dibandingkan dengan jumlah penduduk usia tertentu. Sebagai contoh rumus untuk menentukan APM SD adalah : APK SD = Seluruh siswa SD x 100% Penduduk usia 7-12 tahun Kemudian diiketahui, bahwa anak usia 7-12 tahun (SD) berjumlah 573.975 anak, usia 13-15 tahun (SLTP) berjumlah 282.317 anak dan usia 16-18 tahun (SLTA) berjumlah 261.643 anak. Berdasarkan data penduduk pada usia sekolah dan jumlah siswa, maka APK dan APM untuk masing-masing tingkat pendidikan dapat dilihat pada diagram 5.
DIAGRAM 5 : APK DAN APM SD, SLTP DAN SLTA 150 100 50 0 SD
APK

Data pada diagram 5 tersebut menunjukkan, bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan, APK maupun APM semakin menurun yang berarti angka partisipasi sekolah semakin rendah. Rendahnya angka partisipasi sekolah pada tingkat pendidikan SLTA tersebut diduga terkait dengan ketidakmampuan orang tua membiayai pendidikan anaknya. Hal ini berkaitan dengan mata pencaharian penduduk, dimana prosentase terbesar di sektor pertanian, dan cukup tingginya rumah tangga miskin, yaitu 327.565 KK (1.637.825 jiwa) atau 39.53 persen (Dinkesos dan Pemberdayaan Perempuan Provinsi NTB, 2005). Berbagai permasalahan anak yang terjadi di Provinsi Nusa Tenggara Barat tersebut sudah kompleks, baik dilihat dari kondisi yang melatarbelakangi maupun dampaknya bagi korban dan masyarakat pada umumnya. Nusa Tenggara Barat di satu sisi sebagai daerah wisata yang sangat terbuka terhadap masuknya gaya hidup kekotaan, dan di sisi lain masih tingginya keluarga miskin, merupakan kondisi yang potensial mendorong terjadinya berbagai permasalahan anak. Kondisi ini dapat menjadi dasar dalam menentukan bentuk-bentuk pelayanan dalam upaya perlindungan anak. D. 1. Upaya Perlindungan Anak Pelayanan Sosial Anak dalam Panti Sosial Panti milik masyarakat yang mengasuh anak telantar tersebar di delapan dari sembilan kabupaten/kota di seluruh Nusa Tenggara Barat. Dari delapan kabupaten/kota, jumlah panti asuhan adalah 200 unit yang mengasuh 10.191 anak atau 36,52 persen dari populasi anak telantar di seluruh Provinsi Nusa Tenggara Barat yang berjumlah 27.095 anak. Selain panti masyarakat yang mengasuh anak telantar, di Nusa Tenggara Barat juga terdapat 3 panti cacat milik masyarakat yang mengasuh 95 anak.

107,4 83,04 48,61 96,65 66,08 38,84 SLTA
APM

SLTP

11

Jurnal Penelitian dan Pengembangan Usaha Kesejahteraan Sosial, Vol 11, No. 03, 2006 : 1-17

Sedangkan panti milik pemerintah daerah yang mengasuh anak ada tiga jenis panti, yaitu panti asuhan bagi anak telantar, panti anak yang mengalami hambatan dalam sekolahnya dan panti bagi anak putus sekolah. Kemudian panti milik pemerintah pusat yang mengasuh anak adalah Panti Sosial Marsudi Putra Paramita Mataram. Panti ini mengasuh anak nakal sebanyak 100 anak yang seluruhnya laki-laki. Dari ketiga kategori panti sosial yaitu miliki masyarakat, pemerintah daerah dan pemerintah pusat, anak yang diasuh seluruhnya berjumlah 10.646 anak atau 38.45 persen. Dengan demikian masih terdapat 17.041 anak atau 61.55 persen anak penyandang masalah kesejahteraan sosial di Nusa Tenggara Barat tidak terjangkau pelayanan panti sosial. Sebagian dari mereka itu ditangani oleh LPA dan pemerintah melalui sistem non panti. 2. Program Bantuan Sosial bagi Anak Sebagai wujud tanggung jawab negara terhadap anak, pemerintah cq Departemen Sosial memberikan bantuan kepada panti melalui Dinas Sosial dan Pemberdayaan Perempuan Provinsi Nusa Tenggara Barat bagi anak penyandang masalah sosial, baik panti sosial milik masyarakat maupun pemerintah daerah. Melalui bantuan ini diharapkan panti sosial mampu bertahan dan meningkatkan jangkauan serta kualitas pelayanannya, sebagai bagian dari upaya perlindungan anak. a. Bantuan Subsidi Panti/BBM Subsisi Panti di Nusa Tenggara Barat menjangkau 203 panti asuhan dan panti anak cacat. Namun demikian subsidi tersebut pada praktiknya hanya menjangkau sebagian dari jumlah klien panti sosial. Dari jumlah panti 203 unit dengan jumlah klien 10.286 anak, yang memperoleh subsidi sebanyak 6.712 anak atau 65.25 persen dengan alokasi subsidi dihitung per anak sebesar Rp. 2.250 x 30 hari x 12 bulan. Artinya, sebanyak 34,66 persen anak kebutuhan makanannya

ditanggung oleh pihak panti sosial sendiri. Berdasarkan hasil monitoring yang dilakukan oleh petugas pelaksana subsidi panti, pada praktiknya subsidi yang diterima oleh panti dimanfaatkan oleh seluruh anak panti dalam upaya meningkatkan kualitas makanan dan pemberian makanan tambahan. Untuk mengetahui pemanfaatan subsidi panti tersebut, pihak panti setiap bulan membuat laporan secara tertulis yang disampaikan kepada petugas pelaksana subsidi panti pada Seksi Pelayanan Anak. Berdasarkan laporan tertulis, seluruh panti penerima subsidi telah menerima dan memanfaatkan subsidi sesuai dengan pedoman yang telah ditentukan. Namun disinyalir ada indikasi penyalahgunaan pemanfaatan subsidi panti tersebut. b. Bantuan Usaha Ekonomis Produktif Terbatasnya daya panti sosial menyebabkan tidak semua anak telantar memperoleh pelayanan melalui sistem panti sosial. Menyadari keterbatasan tersebut, pemerintah cq Departemen Sosial melalui Dinas Sosial dan Pemberdayaan Perempuan Provinsi Nusa Tenggara Barat menyalurkan bantuan bagi anak telantar melalui sistem non panti. Melalui bantuan ini anak telantar putus sekolah diarahkan agar mampu mengelola usaha ekonomi produktif. Bantuan yang disalurkan dalam satuan paket usaha seluruhnya berjumlah 214 paket yang menjangkau 1.200 anak telantar. Adapun bentuk paket yang dikelola oleh anak berupa dagang sembako, peternakan dan perbengkelan. Perkembangan dari bantuan berupa paket UEP ini tidak diperoleh, disebabkan masih terbatasnya sistem administrasi. 3. Bantuan Pendidikan bagi Anak Bantuan pendidikan anak merupakan program yang diselenggarakan oleh pemerintah cq Departemen Pendidikan Nasional yang didekonsentrasikan melalui Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Provinsi Nusa Tengagra Barat. Program ini dilaksanakan dengan tujuan agar anak

12

Perlindungan Anak di Nusa Tenggara Barat

(Suradi)

pada usia sekolah (7-18 tahun), terutama dari keluarga tidak mampu dapat bersekolah. Bentuk-bentuk program yang dilaksanakan adalah : a. BOS ( Bantuan Operasional Sekolah) Program ini sasarannya adalah siswa SD/MI sederajat termasuk SLB setingkat SD dan SLTP (sederajat). Pada tahun 2006, jumlah siswa SD (sederajat) yang memperoleh BOS sebanyak 606.171 anak dengan jumlah dana sebesar Rp. 141.829.550.000. Sedangkan jumlah siswa SLTP (sederajat) yang memperoleh BOS sebanyak 224.492 anak dengan jumlah dana sebesar Rp. 74.326.400.000. Dana BOS tersebut turun ke sekolah-sekolah melalui rekening sekolah, dan bukan rekening pribadi kepala sekolah. Apabila dana BOS tidak mencukupi RAPBS (Rencana Anggaran dan Pendapatan Belanja Sekolah), maka sekolah dapat memungut dana dari Komite Sekolah berdasarkan rapat antara sekolah, Komite Sekolah beserta orang tua murid. Pemantauan dilakukan setiap enam bulan, untuk mengetahui ketepatan waktu pencairan dana, dan penggunaannya. Sampai saat ini (sejak 2004) belum ditemukan kasus penyalahgunaan dana BOS tersebut. b. Bantuan Khusus Murid (BKM) BKM diberikan kepada siswa SLTA yang dilaporkan oleh sekolah yang bersangkutan sebagai siswa tidak mampu. Pada tahun 2006 siswa yang memperoleh dana BKM sebanyak 22.640 anak dengan total dana sebesar Rp. 17.659.200.000 yang bersumber dari dana APBN. c. Retrival Bantuan yang diberikan kepada siswa yang putus sekolah, agar mereka mau sekolah kembali. Pada tahun 2006, siswa SLTP yang menerima program retrival sebanyak 1.500 anak dengan jumlah bantuan Rp. 500.000 per anak, dan

mereka bebas biaya sekolah sampai lulus SLTP . d. Transisi Program ini diberikan bagi anak/ siswa SD yang akan melanjutkan ke SLTP , dan berdasarkan keterangan sekolah mereka tidak mampu. Pada tahun 2006, siswa yang menerima program transisi sebanyak 1.500 anak dengan jumlah bantuan sebesar Rp. 500.000 per anak.

e.

Beasiswa Program bantuan ini diberikan kepada siswa SD dan SLTP yang menurut sekolah dinilai berprestasi. Beasiswa untuk siswa SD langsung dikelola oleh Pusat (Diknas) yang disalurkan kepada 1.600 anak. Besarnya beasiswa Rp. 25.000 per anak per bulan. Kemudian beasiswa untuk siswa SLTP dikelola daerah (Dekon) yang disalurkan kepada 500 anak dengan besar beasiswa Rp. 50.000 per anak per bulan selama 1 tahun. Dari lima program yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Provinsi Nusa Tenggara Barat, telah terjangkau sebanyak 858.403 anak atau 76.81 persen dari total anak usia sekolah SD – SLTA yang berjumlah 1.117.935 anak. Angka ini menunjukkan bahwa peran pemerintah daerah yang didukung oleh Pusat masih cukup besar. Meskipun demikian program ini tampaknya belum cukup efektif, apabila dikaitkan dengan angka melanjutkan dan partisipasi sekolah yang cenderung terus menurun secara signifikan, serta angka putus sekolah yang cukup tinggi pada siswa SLTP dan siswa SLTA.

4.

Bantuan Kesehatan dan Gizi bagi Anak Dalam upaya mewujudkan masyarakat sehat, terutama dalam hal ini pemeliharaan kesehatan anak-anak balita, pemerintah cq Departemen Kesehatan yang didekonsentrasikan melalui Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Barat menyelenggarakan berbagai program yang dibagi ke dalam tahapan kegiatan, yaitu :

13

Jurnal Penelitian dan Pengembangan Usaha Kesejahteraan Sosial, Vol 11, No. 03, 2006 : 1-17

a.

Langkah Cepat Tanggap (LCT) 1). Pekan penimbangan. Kegiatan ini dilakukan di Posyandu untuk mengetahui status gizi balita sekaligus mengidentifikasi kasus gizi buruk yang tidak dilaporkan. 2). Pendistribusian Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI). 3). Penanganan kasus. Kasus gizi buruk yang dijumpai ditangani sesuai dengan kondisinya yaitu diupayakan memberikan makanan tambahan untuk pemulihan selama 90 hari dan memberikan pengobatan sesuai dengan indikasinya.

b.

Jangka Menengah dan Panjang (JMP) Untuk jangka menengah dan jangka panjang dilaksanakan melalui peningkatan kegiatan : Revitalisasi Posyandu, Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG) dan Pemantapan Sistem Kewaspadaan Dini Kejadian Luar Biasa (SKD-KLB) Gizi buruk, serta revitalisasi Puskesmas. c. Audit Kasus Gizi Buruk (AKGB) Setiap kasus gizi buruk yang ditemukan, diupayakan untuk diikuti dengan pelaksanaan Audit oleh Petugas Gizi Puskesmas meliputi hal-hal sebagai berikut (1) Faktor non kesehatan yang meliputi pendidikan dan pekerjaan orang tua, (2) jumlah anak/anak ke berapa, (3) tanda-tanda klinis, (4) riwayat penyakit yang pernah diderita, (5) keadaan klinis gizi buruk yang ditemukan, (6) tanda Xerophalmia, (7) faktor gizi yang meliputi faktor yang mempengaruhi terjadinya gizi buruk dan pemahaman terhadap makanan gizi dan manfaatnya. 5. Advokasi dan Pendampingan Sosial Program ini diselenggarakan oleh lembaga perlindungan anak, lembaga swadaya masyarakat dan lembaga pelayanan sosial lainnya yang dikelola masyarakat. Anak-anak korban tindak kekerasan, dieksploitasi baik secara ekonomi maupun seksual dan anak-anak

yang diperdagangkan memperoleh bantuan advokasi dan pendampingan sosial. Lembaga perlindungan anak dan lembaga swadaya masyarakat membantu anak ketika dalam proses peradilan, dan memberikan bimbingan konseling bagi anak yang mengalami stress akibat tindak kekerasan. Kemudian lembaga pelayanan sosial memberikan penampungan sementara bagi anak yang mengalami masalah dengan keluarganya. Namun demikian, lembaga perlindungan masih belum proaktif terhadap isu-isu perlindungan anak. Hal ini dapat diamati dari masih terbatasnya jaringan kerja yang dibangun oleh lembaga perlindungan anak dengan instansi atau lembaga yang menyelenggarakan program kesejahteraan dan perlindungan anak. Berbagai program, baik yang diselenggarakan oleh instansi pemerintah, lembaga perlindungan anak dan lembaga pelayanan sosial anak dapat dipahami sebagai upaya untuk mewujudkan kesejahteraan dan perlindungan anak di Nusa Tenggara Barat. Namun demikian masih diperlukan upaya lebih optimal melalui pengembangan jaringan kerja dari berbagai pihak, baik pemerintah maupun masyarakat. Melalui jaringan kerja yang baik, maka upaya perlindungan anak dapat dimulai dari tahap pencegahan terjadinya tindak kekerasan, eksploitasi dan perdagangan anak. Berkaitan dengan itu diperlukan komitmen dari pemerintah dalam bentuk legislasi sebagai landasan operasional bagi siapapun yang menyelenggarakan program perlindungan anak.

IV. ANALISIS
Analisis tentang perlindungan anak dalam penelitian ini mendasarkan pada pengertian perlindungan anak, yang di dalamnya mencakup aspek pemenuhan hak anak, kelangsungan hidup, terlindungi dari kondisi yang tidak menguntungkan, dan berkembangnya potensi anak. Sebagaimana diuraikan terdahulu, bahwa instansi pemerintah dan masyarakat di Nusa Tenggara Barat telah

14

Perlindungan Anak di Nusa Tenggara Barat

(Suradi)

menyelenggarakan program sosial dalam upaya perlindungan anak. Panti sosial, baik yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun masyarakat, memberikan pemenuhan hak dan kebutuhan sosial dasar anak yang tujuannya untuk kelangsungan hidup dan tumbuh kembang mereka, sehingga anak-anak tersebut dapat hidup secara wajar. Hidup secara wajar ini ditandai dengan cerdas, kreatif, mandiri, setia kawan dan berakhlak mulia. Berdasarkan data pada Dinas Sosial dan Pemberdayaan Perempuan Provinsi Nusa Tenggara Barat, pada tahun 2005 PMKS anak berjumlah 277.147 orang. Mereka terdiri dari balita telantar, anak telantar, penyandang cacat, anak jalanan dan korban tindak kekerasan. Dari jumlah tersebut, anak yang memperoleh pelayanan melalui panti berjumlah 10.191 orang atau 3,68 persen dari populasi penyandang masalah kesejahteraan sosial anak. Berdasarkan data tersebut, kapasitas panti masih relatif kecil dibandingkan dengan jumlah PMKS anak. Meskipun demikian upaya tersebut perlu memperoleh apresiasi, karena panti telah memberikan kontribusi yang nyata dalam upaya perlindungan anak. Selain dilakukan melalui sistem panti, Dinas Sosial dan Pemberdayaan Perempuan Provinsi Nusa Tenggara Barat menyelenggarakan program perlindungan anak melalui sistem non panti. Program ini ditujukan untuk mengembangkan potensi diri anak, terutama diarahkan pada penguatan ekonomi mereka melalui pengelolaan usaha ekonomis produktif (UEP). Pada program ini diluncurkan 214 paket yang menjangkau 1.200 anak telantar atau 0,52 persen dari jumlah anak telantar yang berjumlah 231.160 orang. Berdasarkan data tersebut, pada tahun 2005 sebanyak 11.391 anak sudah memperoleh pelayanan atau program perlindungan. Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Provinsi Nusa Tenggara Barat mengembangkan program perlindungan anak, terutama berkaitan dengan kelangsungan pendidikan anak sebagai upaya pemenuhan hak dan kebutuhan sosial dasar. Program yang dikembangkan, yaitu Bantuan Operasional Sekolah (BOS), Bantuan Khusus Murid (BKM), Retrival, Transisi dan Beasiswa. Program bagi anak-anak dari keluarga tidak mampu tersebut telah menjangkau sebanyak 858.403 anak.

Berdasarkan data tersebut, program pendidikan telah memberikan kontribusi yang nyata dalam upaya memenuhi hak dan pelayanan sosial dasar anak. Melalui program bantuan pendidikan ini, berarti Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga telah melakukan upaya perlindungan anak. Status gizi balita dan anak merupakan kondisi yang terkait dengan upaya perlindungan anak. Pada tahun 2005, anak dengan status gizi normal berjumlah 31,44 persen dari populasi anak yang berjumlah 498.095 orang. Berdasarkan data tersebut, berarti anak dengan status gizi tidak normal berjumlah 68,56 persen. Data ini menggambarkan, bahwa balita dan anak-anak di NTB yang mengalami gangguan tumbuh kembangnya sangat signifikan, dan kondisi ini menggambarkan permasalahan yang serius pada kualitas sumber daya manusia di masa depan. Untuk mengatasi masalah ini, Dinas Kesehatan telah mengembangkan sejumlah program Posyandu, Makanan Pendamping Air Susu Ibu, memberikan makanan tambahan dan pengobatan sesuai dengan indikasinya, Pemantapan Sistem Kewaspadaan Dini Kejadian Luar Biasa (SKD-KLB) Gizi buruk, serta revitalisasi Puskesmas dan Audit Kasus Gizi Buruk (AKGB). Program yang dikembangkan oleh Dinas Kesehatan dalam mengatasi status gizi buruk pada balita dan anak tersebut merupakan salah satu upaya perlindungan anak, karena maslah status gizi berkaitan dengan hak kelangsungan hidup dan pemenuhan kebutuhan sosial dasar anak. Selain instansi pemerintah, masyarakat melalui Lembaga Perlindungan Anak (LPA) telah menyelenggarakan program dalam upaya perlindungan anak. LPA tersebut aktif melakukan studi tentang permasalahan anak, pendampingan dan advokasi terhadap anak korban tindak kekerasan dan eksploitasi yang dilakukan bersama-sama dengan lembaga penegak hukum setempat. Berdasarkan hasil penelitian ini, upaya perlindungan anak di Nusa Tenggara Barat telah dilakukan oleh instansi pemerintah maupun masyarakat melalui Lembaga Perlindungan Anak (LPA) dan organisasi sosial (panti-panti sosial). Upaya yang dilakukan melalui program-program sosial tersebut telah menjangkau aspek-aspek yang terdapat

15

Jurnal Penelitian dan Pengembangan Usaha Kesejahteraan Sosial, Vol 11, No. 03, 2006 : 1-17

di dalam konsep perlindungan anak, yaitu terkait dengan pemenuhan hak, kelangsungan hidup dan tumbuh kembang anak. Meskipun prorgam-prorgam tersebut masih menjangkau sebagian kecil dari populasi, namun upaya ini telah memberikan kontribusi dan menjadi rintisan yang akan berkelanjutan dalam upaya perlindungan anak di Provinsi Nusa Tengga Barat. Mencermati program yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah, panti milik masyarakat dan Lembaga Perlindungan Anak (LPA), maka upaya perlindungan anak di Nusa Tenggara Barat diwujudkan dalam pemenuhan kebutuhan dasar (kelangsungan hidup), kebutuhan psikososial melalui bimbingan sosial dan psikis, perbaikan ekonomi, pendidikan formal maupun non formal, perbaikan gizi, pendampingan dan advokasi sosial. Akan tetapi upaya tersebut masih dilakukan secara sektoral, belum ada sinergi dari penyelenggara program tersebut, sehingga tingkat keterjangkuan program relatif terbatas.

V.

PENUTUP

Dalam upaya mengatasi permasalahan tersebut, instansi pemerintah, masyarakat melalui Panti Sosial dan Lembaga Perlindungan Anak menyelenggarakan program-prorgam yang langsung ditujukan kepada anak, yaitu pelayanan sosial dalam Panti Sosial, program bantuan sosial bagi anak yang disalurkan dalam bentuk bantuan permakanan bagi anak dalam panti dan bantuan usaha ekonomis produktif (UEP) bagi anak-anak di luar panti, bantuan pendidikan bagi anak tidak mampu melalui program BOS ( Bantuan Operasional Sekolah), Bantuan Khusus Murid (BKM), retrival, transisi dan beasiswa, bantuan kesehatan untuk mengatasi masalah gizi gizi anak dan advokasi serta pendampingan sosial. Upaya perlindungan anak melalui berbagai program pemerintah dan organisasi sosial kemasyarakatan tersebut telah mengurangi permasalahan yang dihadapi anak. Namun demikian, upaya tersebut belum menjangkau sebagian besar permasalahan anak. Artinya, masih banyak anak-anak di Provinsi Nusa Tenggara Barat yang memerlukan perlindungan. Berdasarkan hasil penelitian, diajukan saran-saran untuk peningkatan kesejahteraan dan perlindungan anak. Saran ini ditujukan kepada pemerintah daerah provinsi dan kabupaten/ kota, yaitu terbentuknya Kelompok Kerja Perlindungan Anak (POKJA-PA) pada tingkat propinsi maupun kabupaten/kota. POKJA ini anggotanya terdiri dari unsur pemerintah maupun masyarakat yang ditetapkan melalui Keputusan Gubernur maupun Bupati/walikota. Adapun tugas dari POKJA ini adalah advokasi, riset, penguatan organisasi dan kediklatan yang kesemuanya berkaitan dengan upaya kesejahteraan dan perlindungan anak di Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Berbagai permasalahan dihadapi oleh anak-anak di Nusa Tenggara Barat menyebabkan mereka memerlukan perlindungan khusus, yaitu korban eksploitasi, korban tindak kekerasan, phaedophilia, Incest, berkonflik dengan hukum, status gizi buruk, Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (balita dan anak telantar, anak jalanan dan anak cacat) dan rendahnya partisipasi sekolah. Permasalahan tersebut menggambarkan, bahwa sejumlah anak di Provinsi Nusa Tenggara Barat menghadapi ancaman untuk pertumbuhan dan perkembangnya sebagai sumberdaya manusia pembangunan.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, Kekerasan Terhadap Anak, Societa Tahun 4, edisi 35, 2006. ————————, Perlindungan Anak Agak Terancam, Societa Tahun 4, edisi 35, 2006. Arikunto, Suharsimi, 1987. Prosedur Penelitian, Jakarta : Bina Aksara. Biro Pusat Statistik, 2005. Nusa Tenggara Barat dalam Angka, BPS Propinsi Nusa Tanggara Barat. ————————, 2005. “Lombok Barat dalam Angka”, BPS Kabupaten Lombok Barat.

16

Perlindungan Anak di Nusa Tenggara Barat

(Suradi)

————————, 2005. Lombok Timur dalam Angka, BPS Kabupaten Lombok Timur. ————————, 2005. Kota Mataram dalam Angka, BPS Kota Mataram. ————————, 2005. Lombok Tengah dalam Angka, BPS Lombok Tengah Barat. ————————, Indikator KesejahteraanAnak Provinsi Nusa Tenggara Barat, BPS Provinsi Nusa Tenggara Barat, 2004. ————————, 2003. Laporan Sosial Indonesia Tahun 2003 : Status Gizi Balita dan Ibu Hamil Provinsi Nusa Tenggara Barat”, BPS Provinsi Nusa Tenggara Barat. ————————, 2005. Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS), Biro Pusat Statistik. Dinas Kesejahteraan Sosial dan Pemberdayaan Perempuan, 2005. Data Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial Provinsi Nusa Tenggara Barat, Dinas Kesejahteraan Sosial dan Pemberdayaan Perempuan Provinsi Nusa Tenggara Barat. ————————, 2004. Data Organisasi Sosial Provinsi Nusa Tenggara Barat. Dinas Kesehatan, 2005. Balita Gizi Buruk dan Program Penangannya, Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Barat. Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga, 2005. Data Pendidikan Penduduk Provinsi Nusa Tenggara Barat, Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Provinsi Nusa Tenggara Barat. ————————, 2005. Program Bantuan Pendidikan bagi KeluargaTidak Mampu, Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Provinsi Nusa Tenggara Barat. Kartono, Kartini, 1990. Psikologi Perkembangan, Jakarta : CV. Rajawali. Konvensi Hak Anak tahun 1999. Munandar, SC Utami, 1995. Meningkatan Kecerdasan, Kreativitas dan Kemandirian Anak, Informasi tentang Anak Nomor 23 Tahun 1995, Jakarta. Lembaga Perlindungan Anak, 2003. Hasil Penelitian tentang Perlindungan Anak” LPA Provinsi Nusa Tenggara Barat. ————————, 2005. Data Kasus yang Dibantu Penanganannya oleh LPA NTB Tahun 2002 – 2005”, LPA Provinsi Nusa Tenggara Barat. ————————, 2004. Laporan Kegiatan, LPA Provinsi Nusa Tenggara Barat. Singgih D. Gunarso, 1992. Psikologi Perkembangan, Jakarta : PT. BPK Gumung Mulia. Soehartono, Irawan, 1997. Peranan Profesi Pekerja Sosial dalam Perlindungan Anak, Majalah Penyuluh Sosial, Edisi Khusus Hari Anak Nasional, Ditjen Bina Kesejahteraan Sosial, Dep. Sosial, Jakarta. Soetarso, 1997, Soetarso. Perlindungan Anak Ditinjau dari Aspek Kesejahteraan Sosial, Jurnal Litbang Kesos, Nomor 40, Badan Litbang Kesejahteraan Sosial, Dep. Sosial, Jakarta. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak.

BIODATA PENULIS : Suradi, Ajun Peneliti Madya Bidang Kebijakan Sosial di Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial, Badan Pendidikan dan Penelitian Kesejahteraan Sosial, Departemen Sosial RI.

17

DINAMIKA JARINGAN PRANATA SOSIAL DALAM KETAHANAN SOSIAL PADA KELOMPOK PEDAGANG BERSKALA KECIL
(Kasus Di Kelurahan Pahandut, Kecamatan Pahandut Palangka Raya)
Mochamad Syawie

ABSTRAK
Kajian ini bertujuan untuk mendiskripsikan tentang pentingnya jaringan pranata sosial komunitas lokal, sebuah kajian mengenai kelompok pedagang berskala kecil di Kelurahan Pahandut. Dalam kajian ini digunakan pendekatan kualitatif dengan memanfaatkan metode pengumpulan data observasi, indepth interview, dan focus group discussions (FGD). Hasil kajian menunjukkan: pertama komunitas memandang pentingnya keberadaan jaringan antar pranata sebagai wadah untuk mempersatukan kemampuan dalam menangani persoalan yang muncul di wilayahnya, khususnya para pedagang berskala kecil. Kedua, pedagang berskala kecil menunjukkan kemandiriannya, hal ini dilihat dari kemampuannya untuk survive yang diperlihatkan dari modal usaha dan pendapatan yang relatif kecil, juga menunjukkan kemampuannya untuk dapat menciptakan lapangan pekerjaan dan tetap bertahan dalam waktu yang relatif cukup lama. Pengalaman ini menunjukkan indikasi kuat bahwa keluarga kurang mampu/keluarga miskin tidak memerlukan belas kasihan. Mereka memerlukan akses untuk dapat memanfaatkan kesempatan yang tersedia.

I.

PENDAHULUAN

Ekonom Banglades, Dr Muhammad Yunus, dinilai berhasil mengembangkan status sosial ekonomi kelompok miskin, mulai dari bawah. Dr Yunus dengan ‘Grameen Bank’nya (bank desa) memilih sasaran penerima pinjaman dalam skala kecil kelompok masyarakat paling rentan, yakni perempuan miskin. Ia mengamati, perempuan miskin adalah penduduk paling marginal dan rentan terhadap kekerasan. Mereka tidak hanya miskin secara ekonomi, tetapi juga miskin bila ditinjau dari pemenuhan kebutuhan dasarnya, seperti status kesehatan dan tingkat pendidikannya yang rendah, serta ketrampilannya yang minim sehingga secara ekonomis tidak bisa melakukan pekerjaan produktif (dalam ukuran ekonomi) (Saparinah Sadli,2006). Dalam kondisi serba kekurangan, mereka tetap hamil dan melahirkan, merawat dan memenuhi kebutuhan fisik dan emosional anggota keluarganya. Karena kondisi fisik dan sosial ekonominya, perempuan miskin tidak mudah berpindah tempat tinggal. Sebaliknya, mereka lebih bertanggung jawab dalam membelanjakan uangnya untuk keperluan keluarga.

Asumsi ekonomi yang mendasari pilihan Dr Yunus adalah perempuan dianggap sebagai peminjam low risk dalam mengembalikan pinjaman bila dibandingkan dengan laki-laki. Sejalan dengan pandangan Dr Yunus, karya CK Prahalad, The Fortune at the Bottom of the Pyramid, cukup penting dalam menunjukkan keterlibatan golongan miskin dalam kegiatan yang profitable di tengah perekonomian pasar. Argumentasi utamanya adalah golongan miskin menjadi pasar menguntungkan untuk produk dan jasa perusahaan besar sekalipun. Golongan miskin juga dapat melakukan bisnis produktif untuk meningkatkan kesejahteraannya sendiri (dalam Umar Juoro, 2006). Untuk melibatkan golongan miskin dalam bisnis yang menguntungkan, diperlukan penyesuaian khusus dengan karakteristik ekonomi golongan miskin itu sendiri. Untuk mengembangkan kegiatan ekonomi dan bisnis golongan miskin, dibutuhkan kelembagaan yang mendukung dengan menekankan pentingnya kepastian, terutama yang terkait dengan kontrak, serta menempatkan masyarakat bukan pemerintah sebagai pusat good governance.

18

Dinamika Jaringan Pranata Sosial dalam Ketahanan Sosial

(Mochamad Syawie)

Pembangunan fisik yang dilakukan oleh pemerintah merupakan sesuatu yang penting dan bahkan sesuatu yang mendesak dilakukan. Dengan adanya prasarana dan sarana fisik, maka permaslahan yang dihadapi masyarakat cenderung dapat diatasi. Akan tetapi pembangunan fisik yang dilakukan sebaiknya diimbangi dengan pembangunan non-fisik, seperti pembangunan lingkungan sosial yang kondusif. Untuk menciptakan kondisi sosial yang kondusif maka partisipasi masyarakat merupakan sesuatu yang penting dan harus ada (Ali Wafa, 2003). Sebuah kajian yang sangat berpengaruh pada akhir tahun 1970-an, mendefinisikan partisipasi sebagai upaya terorganisasi untuk meningkatkan pengawasan terhadap sumber daya dan lembaga pengatur dalam keadaan sosial tertentu, oleh pelbagai kelompok dan gerakan yang sampai sekarang dikesampingkan dari fungsi pengawasan semacam itu (Stiefel dan Wolfe, 1994, dalam Wafa, 2003). Dalam hal ini, partisipasi ditempatkan di luar negara, di luar lembaga-lembaga yang ada. Peran yang dapat dilakukan oleh masyarakat adalah dengan mempelopori berdirinya kelompok sosial yang menggerakkan pembangunan di wilayahnya, sehingga beberapa permasalahan yang ada dapat diatasi sendiri tanpa menggantungkan uluran tangan dari pihak lain. Prahalad juga menunjukkan studi kasus yang beragam di negara berkembang terkait keberhasilan melibatkan golongan miskin ke dalam kegiatan bisnis yang menguntungkan. Mengentaskan perempuan dari kemiskinan melalui partisipasi dalam kegiatan eknomi produktif berarti mengangkat kesejahteraan sosial ekonomi perempuan dan keluarga miskin. Menurut Vandana Siva (2005), rakyat miskin tidak mati karena minimnya pendapatan di bawah satu atau dua dollar AS per hari, tetapi mereka sekarat karena tidak memiliki akses terhadap sumber daya. Seseorang menjadi miskin karena tidak mendapat hak-haknya sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup yang paling mendasar (basic need). Mereka tidak memiliki akses terhadap sumber daya utama kehidupan , seperti air dan tanah yang dikuasai mega korporasi (dalam Cahyono, 2006).

Dari berbagai pandangan-pandangan atau pemikiran-pemikiran tersebut di atas, kiranya menjadi menarik untuk sebuah kajian tentang peran kelompok pedagang berskala kecil dalam mempertahankan keberlanjutan usahanya di tengah kesulitan akses untuk mendapatkan akses sumber daya melalui jaringan dari beberapa unsur pranata lokal yang ada di wilayahnya. Dalam kajian ini digunakan pendekatan kualitatif dengan memanfaatkan metode pengumpulan data observasi, indepth interview, dan focus group discussion (FGD). Responden dalam kajian ini sebanyak 30 orang, yang meliputi dari berbagai unsur perwakilan pranata atau kelompok-kelompok sosial lokal dan tokoh masyarakat lokal. Adapun lokasi kajian adalah Kelurahan Pahandut, Kecamatan Pahandut, Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Kelurahan Pahandut dijadikan lokasi kajian atas dasar pertimbangan bahwa sebagian besar penduduknya bermata percaharian sebagai pedagang cukup besar, dari jumlah tersebut sebagian sebagai pedagang berskala kecil. Berdasarkan pertimbangan ini dan pada penjajagan awal ada kecenderungan terdapat data yang dibutuhkan dalam kajian ini. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kelompok pedagang berskala kecil dapat bertahan, dan jaringan sosial apa yang dilakukan agar memiliki daya tahan.

II. DASAR PEMIKIRAN
Berdasarkan kajian tentang pengembangan jaringan pranata sosial dalam ketahanan sosial masyarakat (2004) yang telah dilakukan oleh Pusat Pengembangan Ketahanan Sosial Masyarakat di empat lokasi (Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Bangka Belitung dan Jawa Barat) menunjukkan bahwa jaringan kepranataan atau kelembagaan yang dimaksud sebenarnya sudah ada dan berkembang dalam kehidupan komunitas lokal walaupun belum maksimal. Secara umum boleh dikatakan jaringan tersebut sifatnya cenderung belum permanen dan masih sementara. Heyzer (1986) dalam penelitiannya di Asia Tenggara menemukan bahwa pekerja wanita kebanyakan menetap di sekitar tempat mereka

19

Jurnal Penelitian dan Pengembangan Usaha Kesejahteraan Sosial, Vol 11, No. 03, 2006 : 18-25

bekerja dengan membentuk suatu komunitas tersendiri serta membentuk suatu jaringan sosial yang unik, baik dengan kerabatnya maupun dengan tetangganya, sebagai salah satu usaha untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya (Heyzer, 1986, dalam Sutinah, 1992). Jaringan sosial menurut Heyzer dalam berbagai penelitian di negara-negara Asia Tenggara menunjukkan adanya tiga pola, yaitu: 1. Jaringan sosial yang didasarkan pada sistem kekerabatan dan kekeluargaan. Jaringan semacam ini dibentuk secara sengaja oleh wanita dalam usaha untuk mengatasi masalah kemiskinan dan mempertahankan hidupnya Kelompok-kelompok sosial baru yang dibentuk guna saling memenuhi kebutuhan diantara mereka. Kelompok sosial ini bisa bermacam-macam bentuknya, seperti kelompok ketetanggaan, kelompok orang yang tinggal bersama, kelompok orang dengan nilai-nilai baru yang muncul di kota atau kelompok-kelompok yang terjadi karena persamaan agama, dan lain-lain. Kelompok-kelompok sosial dengan pola hubungan yang vertikal, yang kebanyakan dengan orang-orang yang kondisi keuangannya lebih mantap (mapan atau stabil). Bentuk hubungan sosial semacam ini merupakan hubungan patron klien.

berinteraksi dengan suatu cara yang berbeda dari interaksi mereka dengan entitas-entitas lainnya sehingga mampu bertahan menerobos lorong waktu. Secara sederhana, sistem sosial merupakan struktur-struktur dari orang-orang yang memiliki inter-reliance. Karena manusia saling tergantung satu sama lain, mereka kemudian membentuk jejaring kerja (networks) untuk menjalin social relations, lalu kesamaan dan kebedaan mendorong terbentuknya norma-norma dan nilai-nilai agar hubungan tersebut teratur dan tertib, kemudian direkat oleh social bond yang disebut trust untuk menjamin konsistensi dalam struktur sosial yang lebih luas. Itu sebabnya maka terbentuk komunitaskomunitas dan lembaga-lembaga dalam masyarakat. Menurut Fukuyama (2002), modal sosial adalah serangkaian nilai atau norma-norma informal yang dimiliki bersama diantara para anggota suatu kelompok yang memungkinkan terjadinya kerjasama diantara mereka. Dengan demikian, jika mengikuti pemikiran Fukuyama dan Nuryana tersebut, ada kecenderungan aktivitas untuk menemukenali nilai-nilai dan norma-norma komunitas, membangun jaringan antar pranata atas dasar saling percaya, penting dilakukan untuk kepentingan penguatan kapital sosial. Pranata sosial diharapkan lebih responsif dan mampu mengantisipasi berbagai permasalahan sosial. Secara khusus pranata sosial dengan kekuatan kapital sosialnya, akan mendorong berkembangnya respon komunitas lokal terhadap masalah-masalah yang muncul dari perkembangan perubahan sosial yang semakin kompleks. Pada gilirannya kapital sosial dapat diandalkan untuk membentuk atau memperkuat ketahanan sosial suatu masyarakat. Selain kapital sosial, jenis kapital lainnya yang akan mendukung pencapaian ketahanan sosial adalah kapital budaya dan ekonomi. Sistem ekonomi yang tangguh akan menciptakan kemakmuran bagi masyarakatnya. Ekonomi cenderung mengakarkan dirinya dalam kehidupan sosial. Adalah sebuah kemustahilan memahami ekonomi terpisah dari persoalan masyarakat dan nilai-nilai budaya.

2.

3.

Ketahanan sosial masyarakat adalah kemampuan komunitas-komunitas atau lembaga-lembaga dalam mengembangkan keberfungsian sosial secara dinamis dari modal sosial yang dimilikinya, dalam memberikan perlindungan bagi kelompok rentan, memberikan dukungan bagi kelompok kurang mampu, mengembangkan partisipasi politik anggota, mengelola konflik, dan melestarikan sumber daya alam (Nuryana, 2005). Masih menurut pandangan Nuryana, bahwa karena perbedaan kemampuan dan penjangkauan, menyebabkan manusia berkelompok-kelompok membentuk sistem sosial. Sebuah sistem sosial (social system) adalah suatu keseluruhan yang teroganisasi, terbentuk dari komponen-komponen yang

20

Dinamika Jaringan Pranata Sosial dalam Ketahanan Sosial

(Mochamad Syawie)

III. HASIL KAJIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil kajian ini dirumuskan ke dalam tema-tema sebagai berikut: A. Gambaran Umum

berawa-rawa, hutan-hutan kecil serta semak belukar dan perkampungan. Sedangkan struktur tanahnya pada umumnya lebih banyak mengandung pasir, dengan demikian keadaan itu kurang menguntungkan bila dipergunakan sebagai lahan pertanian. Seperti daerah-daerah lainnya di Kalimantan Tengah suhu berkisar antara 30 – 40 derajat C, dengan iklim tropis, hutan kecil dan berawa-rawa, keadaan udara termasuk lembab dan tanah terdiri dari daratan dan rawa. Penduduk Kelurahan Pahandut saat ini berjumlah 20.769 jiwa dengan jumlah Kepala Keluarga sebanyak : 5.451 KK yang tersebar di 26 Rukun Warga (RW) dan 88 Rukun Tetangga (RT), dengan perincian sebagai berikut : Laki-laki : 10.368 jiwa Perempuan: 10.401 jiwa

Kelurahan Pahandut merupakan unit organisasi pemerintah yang berada di bawah Kecamatan Pahandut Kota Palangka Raya Provinsi Kalimantan Tengah. Kelurahan Pahandut berasal dari sebuah dukuh yang didiami oleh Pak Handut sekeluarga dan selanjutnya nama Pahandut itu lebih dikenal dengan nama dukuh Pahandut. Sejak tahun1884 sesuai dengan perkembangan zaman, selanjutnya dukuh Pahandut pun semakin berkembang menjadi kampung. Nama dukuh Pahandut semakin dikenal setelah adanya peresmian provinsi ke 17 yaitu Provinsi Kalimantan Tengah yang diresmikan pada tanggal 17 Juli 1957 sesuai dengan Kepmendagri No. 502 tanggal 22 September 1980 dan No. 140.135 pada tanggal 14 Pebruari 1980 tentang penetapan desa menjadi kelurahan, surat keputusan Walikota Madya Kepala daerah Tingkat II Palangka Raya No. 335/Pemerintah/III-A/1981, maka desa Pahandut berubah menjadi Kelurahan Pahandut. Bila kita lihat perkembangan kota Palangka Raya, maka Kelurahan Pahandut merupakan embrio Kota Palangka Raya yang juga merupakan ibu kota Provinsi Kalimantan Tengah. Kelurahan Pahandut mempunyai luas wilayah 950 ha (SK Walikota No. 31 Tahun 2004 tanggal 27 Pebruari 2004) terdiri dari beberapa kondisi alam, antara lain sebagian

Pertambahan penduduk Pahandut diantaranya adalah dari kelahiran, pertambahan permukiman baru, pendatang dan anak-anak sekolah dari luar daerah. Penduduk di Kelurahan Pahandut cukup bervariasi dalam pekerjaan/mata pencaharian, diantaranya sebagai pedagang berjumlah 1.438 orang, sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) ada 650 orang. Bergerak di bidang swasta berjumlah 5.193 orang, sebagai buruh 534 orang, bekerja sebagai tukang ada 587 orang, sebagai petani 210 dan sebagai nelayan ada 131 orang (Monografi, 2003). Selain itu, ada juga penduduk yang bekerja sebagai pengrajin berjumlah 217 orang dan di bidang jasa ada 320 orang.

Jumlah Penduduk Menurut Umur dan Jenis Kelamin
Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Jumlah 0-5 1286 1320 2606 6 – 17 2514 2550 5064 Umur dalam tahun 18 - 25 26 - 46 47 - 59 1469 2734 1936 1452 2705 1996 2921 5439 3932 60 ke atas 429 378 807

Sumber : Monografi Kelurahan Pahandut (2003).

21

Jurnal Penelitian dan Pengembangan Usaha Kesejahteraan Sosial, Vol 11, No. 03, 2006 : 18-25

Jumlah Penduduk Berdasarkan Pendidikan

No 1 2 3 4 5 6 7 8

Pendidikan Belum sekolah TK SD/Sederajat SLTP/Sederajat SLTA/Sederajat Akademi/D III Sarjana Lain-lain

Jumlah (jiwa) 1.465 487 2.358 1.759 3.650 320 540 10.199

yang dianggap cukup penting dan perlu memperoleh perhatian bersama. Berdasarkan hasil diskusi dan dialog, forum sepakat menyusun rencana kegiatan, yaitu : pertama, membantu meningkatkan modal usaha bagi keluarga kurang mampu; kedua mengadakan pelayanan kepada anak-anak putus sekolah; ketiga, pelayanan kepada lanjut usia dan anak balita; dan Keempat, penanganan kenakalan remaja . Mencermati rencana kegiatan yang diprakarsai oleh anggota forum, cenderung ada beberapa sasaran yang ingin dicapai, antara lain meningkatkan usaha kelompok kecil yang diusahakan oleh anggota forum, memberi pelayan kepada lansia dan anak balita yang ada di wilayah Pahandut agar lebih sehat dan sejahtera. Selain itu, bagaimana mengatasi kenakalan remaja sebagai akibat dari banyaknya penganggur di wilayah peng-kajian. Dalam proses pelaksanaan kegiatan yang diprogramkan “Forum Pahandut” memperoleh rangsangan dana/stimulan untuk biaya operasional kegiatan forum tersebut. Dana itu sebesar Rp. 10.000.000,- yang diberikan dalam dua tahap. Tahap pertama sebesar Rp. 5.000.000,- diberikan pada waktu anggota kelompok membentuk forum yang digunakan dalam rangka pelaksanaan kegiatan dan juga untuk membangun jaringan sebagaimana diharapkan oleh forum. Sedangkan Rp. 5.000.000,- sisanya diberikan pada tahap kedua setelah proses program kegiatan forum berjalan selang beberapa bulan. Adapun dana stimulan tersebut diberikan oleh Pusat Pengembangan Ketahanan Sosial Masyarakat Badiklit Depsos dalam rangka terwujudnya jaringan pranata sosial yang ada di wilayah kajian, selain untuk biaya operasional kegiatan yang sudah diprogramkan oleh forum. Dalam proses pelaksanaannya, kegiatan jaringan sosial lebih banyak terjadi pada lingkungan intern anggota, khususnya para pedagang kecil yang menjadi anggota forum. Adapun dengan pihak lain jaringan (kerja sama) terjadi antara forum dengan Puskesmas setempat dalam program perbaikan gizi balita dan lanjut usia, dalam bantuan per makanan. Yang menarik dari temuan lapangan beberapa rencana kegiatan yang diprogramkan, ada indikasi kuat yang relatif dapat bertahan adalah kelompok usaha/pedagang

Sumber : Monografi Kelurahan Pahandut (2003).

Berdasarkan tabel penduduk menurut umur di atas menunjukkan bahwa jumlah penduduk terbesar berkisar antara usia 26-46 berjumlah 5439 jiwa. Pada usia ini boleh dikatakan tergolong usia yang cukup produktif atau usia kerja. Dengan jumlah penduduk pada kategori produktif ini merupakan potensi bagi Kelurahan Pahandut. Apabila dikaitkan dengan jumlah penduduk berdasarkan tingkat pendidikan di Kelurahan Pahandut, terlihat bahwa sebagian besar warga Pahandut berpendidikan tingkat SLTA/Sederajat sebesar 3650 jiwa. Tingkat Perguruan Tinggi berjumlah 560, hal ini menunjukkan gambaran adanya potensi yang mendukung untuk berusaha meningkatkan kesejahteraan komunitas di wilayah Pahandut. Ada kecenderungan secara konseptual semakin tinggi tingkat pendidikan atau kualitas pendidikan semakin tinggi pula tingkat produktifitas. Semakin tinggi tingkat produktifitas ada kecenderungan semakin tinggi pula tingkat pertumbuhan (ekonomi) suatu komunitas. Dengan baiknya tingkat pertumbuhan ekonomi ada indikasi bahwa tingkat kesejahteraan suatu komunitas juga akan lebih baik. B. Faktor Jaringan dan Forum Pahandut

Forum Pahandut merupakan wadah atau forum yang muncul atas prakarsa beberapa anggota kelompok yang juga menjadi responden dalam kajian ini, yang dimaksudkan untuk membentuk dan memperkuat jaringan antar anggota forum/kelompok dan diharapkan menjalin jaringan dengan pihak-pihak yang mendukung kegiatan forum. Selanjutnya kelompok “Forum Pahandut” ini merencanakan beberapa rencana kegiatan

22

Dinamika Jaringan Pranata Sosial dalam Ketahanan Sosial

(Mochamad Syawie)

berskala kecil. Yang dimaksud kelompok usaha/ pedagang berskala kecil adalah para pedagang yang berusaha di bidang warung minum, sembako, jualan kue, es dan jualan lontong. Dengan modal usaha di bawah Rp. 500.000,-. Dan dikerjakan sendiri oleh anggota kelompok dengan melibatkan anggota keluarga. Dengan demikian, nampaklah bahwa kemunculan pedagang berskala kecil atau biasa disebut sektor informal yang berawal dari ketidakberdayaan sektor formal menyediakan pekerjaan untuk mereka, namun dengan inisiatif sendiri bekerja apa adanya dengan sikap cobacoba dan tanpa melalui banyak prosedur mereka dapat menciptakan lapangan kerja secara mandiri. Berdasarkan penelitiannya di Lima, Hernando de Soto (1991), telah berhasil menunjukkan bahwa sektor informal ternyata justru memiliki kekuatan wirausaha yang tinggi, mampu membangun lembaga demokrasi dan tatanan ekonomi pasar yang tidak diskriminatif. Demikian pula halnya dengan forum Pahandut boleh dikatakan merupakan manifestasi dari kemunculan suatu pranata di lokasi kajian. Disebut pranata karena memiliki nilai-nilai atau norma-norma yang disepakati bersama, khususnya bagi kelompok anggota pedagang berkala kecil. Pranata sosial di sini merupakan sistem nilai dan norma yang berwujud organisasi, dan juga bisa dimaksudkan sebagai pranata sosial yang betul-betul muncul dari masyarakat (local wisdom). Selain itu, pranata tersebut cenderung melihat juga aspek kehidupan yang menyangkut bidang ekonomi dan sosial budaya. Sebagaimana terlihat dari pokok kajian/judul kajian lebih menekankan pada kelompokkelompok pedagang berskala kecil, sehingga boleh dikatakan lebih menjurus ke aspek pranata ekonomi. Kenyataan yang rupanya kurang diperhitungkan ahli ekonomi ialah rendahnya mobilitas tenaga kerja antar sektor dan kekenyalan daya serap sektoral, khususnya sektor tradisional dan informal dalam menyerap luberan tenaga kerja. Semua tambahan tenaga kerja dan bahkan luberan tenaga kerja hampir selalu dapat ditampung di sektor tradisional dan sektor informal.

Kemudian anggota kelompok forum atau pranata bekerjasama dengan Posyandu setempat melaksanakan kegiatan dengan membantu Posyandu Balita dan Ibu hamil serta lansia dalam meningkatkan gizi dalam bentuk bantuan permakanan, yang beralamat di Jl. Muryani, Gg.Hijrah. Adapun bantuan tahap awal yang diberikan kepada Posyandu Balita dan ibu hamil dan Posyandu lansia masingmasing sebesar Rp. 100.000,Adapun rencana kegiatan yang belum terealisir adalah dalam penanganan kenakalan remaja dan masalah pengangguran yang ada di wilayah lokasi kajian. Sehubungan dengan hal ini, forum mengagendakan untuk mengadakan pelatihan ketrampilan bagi remaja yamg masih menganggur dengan bekerja sama dengan Dinas terkait, seperti Dinas Sosial Kota dan Dinas Tenaga Kerja. C. Keberadaan Kelompok Pedagang Berskala Kecil

Menurut Hernando de Soto (1991), semakin banyak orang turut serta dalam kegiatan ekonomi dan meraih peluang, maka semakin besar potensi pembangunan. Salah satu strategi yang memungkinkan dapat memberikan banyak peluang kesempatan kerja yaitu sektor tradisional yang padat karya dan sektor informal (pedagang berskala kecil). Demikian juga halnya yang terjadi di lokasi pengkajian, setelah proses pelaksanan kegiatan yang diprogramkan oleh kelompok forum Pahandut, ternyata kelompok pedagang berskala kecil yang cukup berjalan adalah para pedagang warung minum yang dilakukan oleh Ibu Heni; penjual sembako oleh Ibu Aminah dan Simai yang berjualan kue, serta Darman yang berdagang lontong. Ada juga Samiati dan Sani yang berjualan es, dan Ibu Rosita yang berdagang sembako. Bagi yang berjualan sembako menggunakan kios-kios kecil, sedangkan yang berjualan kue menggunakan meja di lingkungan tempat tinggal. Besarnya pinjaman modal usaha mereka rata-rata Rp. 250.000,- sampai Rp. 400.000,. Kegunaan pinjaman modal usaha tersebut digunakan untuk modal usaha menambah barang dagangan yang hendak dijual. Apabila sudah lunas, maka dapat meminjam kembali.

23

Jurnal Penelitian dan Pengembangan Usaha Kesejahteraan Sosial, Vol 11, No. 03, 2006 : 18-25

Sistem pinjaman ada yang mingguan dan bulanan, untuk cicilan pengembalian dalam selang waktu tiga bulanan. Dari informasi mereka, dengan adanya pinjaman modal usaha tersebut cukup membantu, walaupun hasilnya belum bisa terlihat dalam waktu yang singkat. Namun mereka minimal dapat bertahan untuk berjualan, sehingga ada kegiatan bagi keluarga tersebut. Selain kegiatan tersebut, anggota kelompok diusahakan bisa mengadakan pertemuan kelompok untuk membahas permasalahan yang dihadapi, disamping sebagai wadah silaturahmi antar anggota forum.

Pedagang berskala kecil relatif menunjukkan kemandiriannya, hal ini dapat dilihat dari kemampuan survive yang diperlihatkan dari modal usaha dan pendapatan yang relatif kecil, namun menunjukkan kemampuannya untuk dapat menciptakan lapangan pekerjaan dan tetap bertahan dalam waktu yang relatif cukup lama. Selain itu, adanya usaha bagaimana mengatasi persaingan sesama pedagang serta pengembangan usaha, yang kesemuanya dilakukan sendiri oleh sebagian besar pedagang berskala kecil dalam kelompok forum di lokasi kajian. Penglaman ini menunjukkan indikasi kuat bahwa keluarga kurang mampu (golongan miskin) tidak memerlukan belas kasihan. Mereka memerlukan akses untuk dapat memanfaatkan kesempatan yang tersedia. B. Saran

IV. PENUTUP
A. Kesimpulan Berdasarkan temuan dari kajian tentang kelompok pedagang berskala kecil dan kaitannya dengan keberadaan jaringan pranata, terungkap bahwa pada dasarnya komunitas di lokasi kajian memandang pentingnya (urgensi) keberadaan jaringan antar pranata sosial sebagai sarana/wadah untuk mempersatukan kemampuan dalam menangani persoalan yang muncul di wilayahnya, khususnya para pedagang berskala kecil, walaupun jaringan tersebut masih bersifat internal dan sederhana.

Dari hasil kesimpulan ini, saran yang diajukan adalah sebaiknya perlu ditanamkan kepada aparat tentang pentingnya kebersamaan dalam membangun ekonomi lokal untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dengan sejahteranya masyarakat ada kecenderungan akan muncul dengan sendirinya ketahanan sosial masyarakat. Sehubungan dengan ini, diperlukan model ekonomi yang dapat menyediakan akses yang diperlukan kelompok pedagang berskala kecil agar dapat bangkit.

DAFTAR PUSTAKA
Cahyono, H. Imam. Mengentaskan Kemiskinan, dalam Kompas, 8 Juli 2006. Fukuyama, Francis. 2002. Trust, Kebijakan Sosial dan Penciptaan Kemakmuran. Yogyakarta: Qalam. Juoro, Umar. Kemiskinan, Usaha, dan Program Pemerintah. dalam Kompas. 2 November 2006. Nuryana, Mu’man. Ketahanan Sosial Masyarakat Konsep, Definisi dan Pengertian, dalam Jurnal Sistem Informasi Komunitas Adat Terpencil, Edisi II. 2005. Sadli, Saparinah. Ekonomi, Perempuan, dan Nobel, dalam Kompas. 30 Oktober 2006. Soto, Hernando De. 1991. Masih Ada Jalan Lain. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

24

Dinamika Jaringan Pranata Sosial dalam Ketahanan Sosial

(Mochamad Syawie)

Sutinah. 1992. Industri dan Wanita, Studi Tentang Strategi Kelangsungan Hidup Buruh Wanita Di Kotamadya Surabaya. Tesis S2, Program Pasca Sarjana, UGM. Yogyakarta. Wafa, Ali. 2003. Urgensi Keberadaan Social Capital dalam Kelompok-kelompok Sosial: Kajian Mengenai Social Capital Pada Kelompok Tani ‘Mardi Utomo’ dan Kelompok PKK di Desa Bakalan, Kecamatan Jumapolo, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, dalam Masyarakat, Jurnal Sosiologi. No. 12. Jakarta: Labsosio FISIP-UI.

BIODATA PENULIS : Mochamad Syawie, Alumnus Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada, Program Studi Sosiologi. Peneliti pada Pusat Pengembangan Ketahanan Sosial Masyarakat dan Dosen Luar Biasa Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti Jakarta.

25

PROFIL PRANATA SOSIAL DI DAERAH KOMUNITAS ADAT TERPENCIL
(Studi Kehidupan Sosial Budaya di Provinsi Nusa Tenggara Timur)
Suyanto

ABSTRAK
Pranata sosial adalah kumpulan nilai dan norma yang mengatur kehidupan manusia. Kebudayaan yang didalamnya terdapat nilai, norma dan perasaan juga merupakan pola bagi tindakan dan tingkah laku manusia yang diperoleh melalui proses belajar dalam kehidupan sosialnya. Dalam kehidupan yang nyata, kebudayaan digunakan secara selektif oleh para pendukungnya, tergantung pada situasi dan kondisi, serta arena sosial tempat para pendukung kebudayaan tersebut melakukan kegiatannya. Pengetahuan yang kompleks bagi kegiatan tertentu tersebut dikenal sebagai pranata-pranata kebudayaan atau cultural institutions. Pendekatan yang digunakan dalam studi sosial budaya adalah pendekatan kebudayaan yang dalam ilmu antropologi digolongkan sebagai pendekatan Ethnoscience atau cognitive anthropology. Dalam pendekatan semacam ini warga masyarakat terasing yang menjadi sasaran studi sosial budaya akan dilihat sebagai individu-individu yang aktif memahami, memanipulasi atau memanfaatkan berbagai sumber daya yang ada di lingkungan hidup sosialnya dengan cara menggunakan dan berpedoman pada kebudayaan yang dimilikinya, agar supaya mereka tetap dapat mempertahankan dan meningkatkan kesejahteraan hidupnya (Achadiyat, 1994). Dengan demikian pranata sosial memiliki status dan peran, peran disini berujud aturan yang berlalu untuk mengatur tingkah laku manusia dalam bertindak, dimana dalam setiap tindakan selalu dilakukan berdasarkan pertimbangan norma dan nilai yang hidup. Pranata sosial bersifat non formal karena tidak memiliki struktur aturan yang tidak tertulis, terbentuk karena kesepakatan kebutuhan suatu komunitas dan diakui keberadaannya dan dipertahankan pada komunitas tertentu. Dari hasil kajian diketahui bahwa pengaruh kepala adat (Raja Biboki) di Kampung Tamkesi sangat kuat. Hal tersebut ditunjukkan dengan adanya kesetiaan rakyatnya terhadap berbagai pranata yang masih berlaku di masyarakat pedalaman terutama di kampung adat Tamkesi wilayah desa Tautpah, pranata tersebut antara lain; Pranata keagamaan atau kepercayaan, pranata pendidikan, pranata ekonomi, pranata sosial dan pranata keturunan. Namun karena Raja Biboki memiliki wawasan yang luas dan menginginkan adanya perubahan kehidupan bagi rakyatnya, dengan cara mereka menyerahkan sebagian wilayahnya untuk dijadikan sebagai sarana program pemberdayaan yang dimulai melalui program pemukiman di Kampung Tautpah. Tujuan Raja Biboki tersebut adalah dengan berhasilnya program pemberdayaan yang dilakukan Pemerintah diharapkan budaya masyarakat pedalaman yang masih bermukim di hutan-hutan pedalaman wilayah desa Tautpah dan desa Tokbesi bisa merobah sebagian adat kebiasaan yang ada kearah kehidupan yang lebih baik. Secara rinci terdeskripsi dalam hasil penelitian ini.

I.
A.

PENDAHULUAN
Latar Belakang

Pranata sosial adalah kelembagaan masyarakat yang diprediksikan semakin banyak jumlah dan ragamnya sesuai dengan kebutuhan komunitas lokal yang mem-bentuknya. Dibentuk atas prakarsa warga masyarakat setempat atau etnis tertentu, misalnya didasarkan atas agama, sosial maupun ekonomi. Sebenarnya pranata sosial juga ada yang telah terdaftar di instansi

pemerintah namun terbatas di instansi pemerintah setempat. Pranata inilah yang diperkirakan cukup banyak jumlahnya di masyarakat dan keberadaannya dibutuhkan masyarakat atau komunitas lokal. Pranata pada komunitas adat tertentu selanjutnya disebut dengan kearifan lokal. Kemudian dilihat dari geografis dimana komunitas tersebut berdomisili berada dapat dibedakan berdasarkan daerah perkotaan, pinggiran kota, perdesaan, pegunungan, pesisir

26

Profil Pranata Sosial di Daerah Kmunitas Adat Terpencil

(Suyanto)

pantai, pertanian (perkebunan) dan komunitas adat terpencil (masyarakat terasing). Keberadaan pranata sosial secara geografis tentunya memiliki perbedaan, sesuai dengan kebutuhan, lokasi masyarakat atau komunitas lokalnya. Seiring dengan perkembangan pembangunan dan perubahan sosial ekonomi dan politik yang tengah terjadi di Indonesia, tidak tertutup kemungkinan berpengaruh pula pada keberadaan pranata sosial tersebut. Adanya desentralisasi atau yang dikenal dengan otonomi daerah, banyak program-program pembangunan yang telah menyentuh sendi kehidupan dan penghidupan masyarakat di era reformasi dan globalisasi. Sentuhan program pembangunan tersebut tentunya secara langsung maupun tidak langsung berpengaruh terhadap keberadaan dan eksistensi kelembagan atau pranata sosial di masyarakat, termasuk kearifan lokal yang selama ini secara turun temurun dipatuhi dan dijadikan pedoman hidup bagi warga masyarakat tertentu di pedalaman. Perubahan pola dan gaya hidup kearah modernisasi merupakan salah satu contoh yang tidak dapat dihindari kehadirannya ditengah-tengah masyarakat. Pusat Pengembangan Ketahanan Sosial Masyarakat Departemen Sosial yang memiliki tugas pokok dan fungsi mengembangkan ketahanan sosial masyarakat sebagai salah satu elemen untuk memperkokoh ketahanan nasional, pranata sosial merupakan salah satu wadah untuk mencapai tujuan tersebut. Ketahanan sosial masyarakatpun dapat diwujudkan ditengah semakin menyusutnya keberadaan pekerja sosial masyarakat. Sesuai dengan Indikator Ketahanan Sosial Masyarakat yaitu perlindungan sosial terhadap kelompok rentan, miskin dan penyandang masalah sosial, partisipasi sosial masyarakat dalam organisasi sosial, pengendalian terhadap konflik sosial dan kearifan lokal dalam memelihara sumber daya alam dan sosial, program pengembangan ketahanan sosial masyarakat difokuskan. Pranata sosial dalam hal ini cukup berperan penting untuk mensukseskan program ketahanan sosial masyarakat tersebut. Untuk lebih memudahkan dan mengefektifkan program tersebut, sebaiknya mengetahui keberadaan pranata sosial yang ada di masyarakat, terutama pada komunitas

lokal. Data dan informasi mengenai keberadaan pranata sosial ternyata belum tersedia secara memuaskan. Oleh karena itu, Pusat Pengembangan Ketahanan Sosial Masyarakat, Departemen Sosial pada tahun 2006 melakukan kajian untuk mengidentifikasi pranata sosial pada komunitas lokal di daerah terpencil. Sentuhan program pembangunan berpengaruh pada keberadaan dan eksistensi pranata sosial. Diperkirakan cukup besar pengaruh program pembangunan tersebut terhadap penghidupan warga masyarakat lokal. Daerah perdesaan yang masih memegang tradisi paguyuban atau kebersamaan, sudah bergeser kearah individualistik yang dicirikan daerah perkotan. Termasuk pula pada komunitas adat terpencil, tradisi dan adat istiadatnya sebagian telah bergeser kearah kekotaan karena perubahan sosial, ekonomi dan politik. Saat ini cukup sulit menemui lumbung padi yang dijadikan ketahanan pangan warga masyarakat lokal. Pertanian sawah yang menggunakan pupuk kimia dengan alasan mendongkrak hasil panen, mengakibatkan matinya ikan, belut dan pemangsa hama. Padahal lumbung padi dan atau pertanian padi sawah dengan pupuk kandang, merupakan kearifan lokal yang diciptakan para pendahulu untuk menjaga ketahanan pangan dan ketersediaan ikan sawah dan segala isinya untuk kebutuhan konsumsi lauk pauk. Memperhatikan uraian di atas, kiranya perlu diketahui keberadaan pranata sosial di masyarakat pada komunitas lokal, agar dapat diketahui data dan informasinya untuk kepentingan pusat pengembangan ketahanan masyarakat, khususnya untuk unit terkait dalam merealisasikan programnya, mulai dari mengidentifikasi keberadaan pranata sosial pada komunitas lokal di daerah komunitas adat terpencil. B. Kerangka Konsep

Menurut Direktorat Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil (Dirt.PKAT, 2003) Pemetaan Sosial merupakan suatu kegiatan awal untuk menemukenali komunitas adat terpencil dan permasalahannya pada beberapa lokasi di wilayah desa maupun kecamatan.

27

Jurnal Penelitian dan Pengembangan Usaha Kesejahteraan Sosial, Vol 11, No. 03, 2006 : 26-39

Keberadaan pranata sosial sampai saat ini masih eksis dalam kehidupan masyarakat. Pranata sosial menurut Paulus Wirotomo (2004) mengutip definisi Selo Soemarjan adalah sebagai kumpulan nilai dan norma yang mengatur suatu bidang kehidupan manusia. Pranata sosial yang merupakan kumpulan nilai dan norma yang mengatur kehidupan manusia juga merupakan kebudayaan. Karena kebudayaan didalamnya juga terdapat nilai, norma dan perasaan juga merupakan pola bagi tindakan dan tingkah laku manusia yang diperoleh melalui proses belajar dalam kehidupan sosialnya. Dalam kehidupan yang nyata kebudayaan digunakan secara selektif oleh para pendukungnya, tergantung pada situasi dan kondisi, serta arena sosial tempat para pendukung kebudayaan tersebut melakukan kegiatannya. Sebagai suatu sistem pengetahuan, pola dan corak suatu kebudayaan ditentukan oleh keadaan lingkungan dan kebutuhan dasar dari para pendukungnya. Setiap masyarakat dengan sendirinya akan memiliki kebudayaan sesuai dengan keadaan lingkungan hidup tempat mereka bermukim dan bertempat tinggal. Sebagai suatu kebudayaan dengan semua pranatanya dapat saja berubah-ubah bahkan selalu berubah secara dinamis, karena tidak ada kebudayaaan yang sifatnya statis dan tertutup. Perubahan kebudayan dapat terjadi karena adanya faktor dari dalam kebudayaan itu sendiri dalam arti para pendukungnya merasa bahwa beberapa pranata harus dirubah dan disesuaikan dengan perkembangan obyektif yang terdapat di dalam kehidupan sosialnya. Perubahan kebudayaan dapat pula terjadi dari luar kebudayaan itu, yaitu karena adanya faktor pengaruh kebudayaan lain yang secara lambat atau cepat mempengaruhi kebudayaan tersebut. Kebudayaan dalam pendekatan ethnoscience atau cognitive anthropology diartikan sebagai pola bagi tindakan dan tingkah laku manusia. Dengan demikian, pengertian kebudayaan adalah seperangkat pengetahuan manusia yang berisikan sistem nilai-nilai, resepresep, blue-print, dan norma-norma serta aturan-aturan yang terdapat di dalam kepala manusia sebagai pengetahuan kebudayaan, yang diperoleh melalui proses belajar dalam kehidupan sosialnya, dan digunakan serta

dijadikan pedoman tindakan tingkah lakunya, dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, serta digunakan untuk memahami, memanipulasi dan memanfaatkan sumber daya yang ada di lingkungan hidupnya. Dalam kehidupan komunitas, kebudayaan digunakan secara selektif oleh para pendukungnya, tergantung pada situasi dan kondisi, serta arena sosial tempat para pendukung kebudayaan tersebut melakukan kegiatannya. Kebudayaan sebagai suatu sistem pengetahuan manusia dapat digolongkan dalam konteks pengetahuan yang khusus, yang dikaitkan dengan kegiatan-kegiatan tertentu dalam kehidupan manusia pendukung suatu kebudayaan tertentu. Pengetahuan yang kompleks bagi kegiatan tertentu tersebut dikenal sebagai pranata-pranata kebudayaan atau cultural institutions. Besar kecilnya serta kompleksitas pranata yang dimiliki dan dikembangkan oleh suatu masyarakat, tergantung dari kompleksitas masyarakat itu sendiri. Secara operasional dalam kehidupan dan kegiatan sosial yang nyata, pranata-pranata yang berlaku dan diterapkan tidaklah berdiri sendiri, tetapi merupakan satu kesatuan yang saling terkait menjadi suatu sistem yang utuh. Dengan demikian walaupun pranata kebudayaan tertentu merupakan suatu kegiatan, tindakan dan perilaku tertentu dari seseorang atau sekelompok warga masyarakat, namun sebenarnya dasar kegiatan, tindakan dan perilaku sosial tersebut, dipengaruhi dan ditentukan oleh pranata-pranata kebudayan lain yang relevan dengan dasar pranata utamanya. Dengan kata lain, setiap pranata sebagai sub sistem kebudayaan, mempunyai fungsi bagi pranata-pranata lainnya dalam kebudayaan tersebut. Pranata sosial suatu konsep memang masih diperdebatkan oleh para pakar ilmu sosial. Untuk menyiasati perbedaan pandangan mengenai pranata sosial, Soetarso (2002) menyikapi bahwa terlepas apakah pranata sosial, association atau institution atau social organization atau istilah lainnya. Untuk keperluan sosialisasi program pengembangan ketahanan sosial masyarakat, kita tidak perlu terlibat dalam diskusi akademis tentang pengertian pranata sosial, yang dibutuhkan adalah bentuk-bentuk pranata sosial yang dapat kita perankan dalam

28

Profil Pranata Sosial di Daerah Kmunitas Adat Terpencil

(Suyanto)

pengembangan ketahanan sosial masyarakat di daerah, hal ini disebabkan antara lain karena kemampuan maupun jangkauan pelayanannya sangat dibutuhkan masyarakat. Dengan demikian pranata sosial adalah sistem nilai dan norma yang tersentral pada keorganisasian sebagai wadah bagi warga masyarakat menjalankan peran, fungsi. Hal lainnya kewajibannya masyarakat sebagai ekspresi pelaksanaan nilai dan norma tersebut (Rusmin Tumanggor, 2006). Dengan demikian, pranata sosial dapat berupa instansi pemerintah (Dinas Sosial di daerah, Polri, TNI, instansi lainnya yang memberikan pelayanan kepada masyarakat), organisasi sosial tertentu, lembaga swadaya masyarakat, organisasi pendidikan, organisasi profesi/disiplin tertentu, perusahaan, pabrik, industri dan lain-lain. Menurut Bambang Rudito, kearifan lokal merupakan: (1) proses pengetahuan manusia dalam kedudukannya di lingkungan tertentu dan tertuang dalam pola hidup dan cara berfikir; (2) Keseluruhan kehidupan termasuk yang supra natural dan natural yang menjadi inti dari usaha menjaga keberlanjutan lingkungan hidup bersifat unik serta spesifik; (3) Sering ditanggapi hanya dipunyai oleh masyarakat komunitas tertentu di daerah pedalaman. Kearifan lokal adalah kematangan masyarakat ditingkat komunitas lokal yang tercermin dalam sikap, perilaku dan cara pandang masyarakat yang kondusif di dalam mengembangkan potensi dan sumber lokal (material maupun non material) yang dapat dijadikan sebagai kekuatan di dalam mewujudkan perubahan kearah yang lebih baik atau positif (Pusbangtansosmas, Balatbangsos, Departemen Sosial RI Tahun 2004). Lingkup kearifan lokal meliputi dimensi-dimensi pengetahuan lokal, budaya lokal, keterampilan lokal, sumber daya lokal, mekanisme pengambilan keputusan lokal, solidaritas lokal, solidaritas kelompok (Jim Ife: 2002). Pada komunitas adat terpencil, kearifan lokal diperkirakan lebih menonjol keberadaannya dibandingkan dengan pranata sosial. Hal ini mungkin karena masih dianutnya paham, nilai/norma, budaya lokal yang merupakan warisan nenek moyang mereka dan sampai saat ini masih dipegang teguh oleh adat serta adanya pengaruh atau peran ketua adat dalam dimensi kehidupan mereka.

Bila disepakati mengenai pranata sosial seperti yang diungkap di atas, menurut Sirojudin Abbas (dalam James Midgley 2005) bahwa usaha-usaha untuk memadukan pembangunan ekonomi dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat secara luas sesungguhnya sudah dimulai dilakukan pada awal tahun 1970-an bersamaan dengan kemunculan organisasiorganisasi non pemerintah (ornop) atau yang dikenal dengan Lembaga Swadaya masyarakat (LSM). Kalangan LSM, dalam beberapa segi mengisi salah satu aspek pembangunan yang kurang memperoleh perhatian pemerintah, yakni pembangunan ekonomi yang berorientasi pada pemerataan dan dalam skala mikro untuk masyarakat pedesaan dan kelompok-kelompok masyarakat miskin lainnya. Namun tidaklah demikian dengan pembangunan di wilayah pedalaman yang dikenal dengan sebutan Komunitas Adat Terpencil (masyarakat terasing). Sebenarnya penanganan permasalahan komunitas adat terpencil sudah dimulai sejak tahun 1973 melalui Pilot Project yang pelaksanaannya dilakukan di beberapa propinsi. Kemudian dilanjutkan penanganannya secara instensif melalui program-program tahunan dengan cara melalui sistem dekonsentrasi. Pada tahun 2003 melalui dana dekonsentrasi Direktorat Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil (PKAT) telah melakukan Pemetaan Sosial di 27 Propinsi. Berdasarkan dari hasil pemetaan sosial tersebut telah terhimpun jumlah populasi Komunitas Adat Terpencil (KAT) yaitu sebanyak 205.029 KK belum diberdayakan dan 11.101 KK yang sedang diberdayakan. Dari 205.029 KK tersebut menurut data yang telah ada sebanyak 51.712 KK yang berada di 27 Provinsi telah diberdayakan namun hasilnya belum diperoleh data yang memadai. Kalangan Ornop/LSM mendefinisikan pembangunan sosial sebagai pendekatan yang holistik, tidak hanya memperhatikan aspek pendapatan ekonomi dan produktivitas kerja melainkan dilihat dari pembangunan manusia secara keseluruhan mencapai aspek pendidikan, kesehatan dan penguatan interaksi sosial (Corten, 1988). Berbeda dengan strategi modernisasi dan program pembangunan ekonomi yang diusung pemerintah, kalangan LSM mengutamakan kesejahteraan masyarakat perdesaan; kalangan miskin perkotan dan

29

Jurnal Penelitian dan Pengembangan Usaha Kesejahteraan Sosial, Vol 11, No. 03, 2006 : 26-39

masyarakat terpencil melalui penyediaan layanan kesehatan, pendidikan dan aktifitas ekonomi mikro. Gagasan-gagasan pengembangan keswadayaan (self-reliance) dan pemberdayaan (empowerment) masyarakat, dibingkai di dalam kerangka pembangunan sosial. Korten (1982) mengatakan bahwa pembangunan mampu mengembangkan keswadayaan masyarakat apabila pembangunan itu berorientasi pada kebutuhan masyarakat (people centered development). Pembangunan yang berpusat pada masyarakat dapat direalisasikan apabila memanfaatkan organisasi lokal yang ada di masyarakat. Dalam perspektif pekerjaan sosial, nilai sosial budaya dan organisasi lokal merupakan potensi dan sumber kesejahteraan sosial atau modal sosial (social capital) dalam rangka pembangunan masyarakat. C. Metodologi

II. HASIL KAJIAN
A. Gambaran Umum Lokasi Kajian Komunitas Adat Terpencil (KAT) di Kampung Tamkesi merupakan KAT yang memiliki Tipologi KAT Pegunungan. Karena komunitas tersebut bermukim di Kampung Tamkesi dan terletak di bawah dua buah gunung kembar, yaitu Gunung Oepuah dan Gunung Tapengah yang merupakan pusat Pemerintahan Kerajaan Biboki pada masa lalu. Jarak dari KAT Kampung Tamkesi ke pusat desa Tautpah kurang lebih 3 km dengan melewati jalan setapak yang hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki dengan lama perjalanan antara satu jam sampai dua jam. Bila menggunakan kendaraan bermotor harus melalui jalan melingkar dan medan yang sulit, hanya bisa dilakukan apabila kondisi jalan tidak becek/ musim kemarau. B. Gambaran Umum Komunitas Adat Terpencil di Lokasi Kajian

Kajian ini bersifat deskriptif, yaitu menggambarkan identitas, sumber daya dan program kerja Komunitas Adat Terpencil. Penentuan lokasi ditetapkan secara purposive, yakni ditetapkan oleh pemerintah daerah yang mengetahui wilayah atau daerah yang dianggap memiliki pranata sosial di pedalaman (komunitas adat terpencil). Untuk itu penetapan lokasi ditetapkan satu Kabupaten TTU yang diambil satu Kecamatan, yakni Kecamatan Biboki Selatan Desa Tautpah– Kampung Tamkesi. Penetapan responden dalam kajian ditetapkan secara purposive, yaitu terhadap Pejabat instansi Dinas Sosial dan Instansi terkait yang mengetahui tentang keadaan dan kondisi pranata sosial yang ada di lokasi Komunitas Adat Terpencil. Tehnik pengumpulan data menggunakan wawancara dengan menggunakan pedoman wawancara yang telah dipersiapkan. Disamping itu untuk melengkapi data dan informasi diadakan Focus Group Discussion (FGD). Dengan FGD diharapkan dapat diperoleh data sekunder dan informasi yang sangat diperlukan. Analisa data dilakukan dengan cara analisa kualitatif.

KAT di Kampung Tamkesi adalah merupakan komunitas kecil pada sebagian besar wilayah desa Tautpah dan sebagian kecil wilayah Desa Tokbesi. Kelompok kecil masyarakat itu bertempat tinggal pada daerah pegunungan atau daerah pedalaman pada masa lalu dikenal sebagai wilayah Kerajaan Biboki. Dimana sekarang masuk wilayah administrasi Kabupaten TTU yang terbagi menjadi tiga kecamatan yakni, Kecamatan Biboki Selatan, Kecamatan Biboki Utara dan Kecamatan Biboki Anleu (BPS, TTU Dalam Angka, 2005). Tamkesi oleh pemerintah daerah, ditetapkan menjadi desa adat. Tamkesi sendiri secara administrasi bagian dari Desa Tautpah, masuk dalam wilayah Dusun III Usboko, dan merupakan kampung kecil di puncak gunung dengan jumlah Kepala Keluarga 18 KK. Kampung Tamkesi merupakan kampung tradisional/adat, dihuni oleh sekelompok masyarakat kecil dari berbagai suku, hanya oleh karena rasa tanggung jawab, mereka akan kelestarian adat istiadat suku bangsa Usboko, Amfotis di Kerajaan Biboki. Desa Tautpah dan Desa Tokbesi sudah cukup terbuka di dalam pergaulan dengan masyarakat luar, karena dibukanya jalur

30

Profil Pranata Sosial di Daerah Kmunitas Adat Terpencil

(Suyanto)

transportasi jalan yang menjangkau desa ini baik dari wilayah Kabupaten TTU maupun dari Kabupaten Belu pada tahun 1983. Jalur jalan yang menghubungi Desa Tautpah dari wilayah Kabupaten Belu sudah beraspal kasar namun sudah rusak. Sedangkan dari arah Kabupaten TTU 9 km menjelang Desa Tokbesi dan 13 km menjelang Desa Tautpah masih dalam bentuk tanah, jika hujan tidak bisa dilewati kendaraan, karena medannya yang sulit dan licin. Desa Tautpah dan Tokbesi sendiri berada dalam kawasan hutan produksi terbatas. Wilayah kawasan dominan berbukit, dengan salah satu puncaknya adalah Kampung Tamkesi. Puncak dengan dua bukit batu yang menjulang tinggi yang salah satunya adalah tempat upacara adat. Vegetasi yang dominan dalam kawasan ini adalah padang rumput, yang sudah sejak tahun 1950-an dijadikan padang penggembalaan, dengan ternak unggulan sapi bali. Kawasan cagar budaya Kampung Tamkesi berada dalam wilayah RT2 Usboko. RT2 sendiri memiliki 47 KK; sedangkan dikawasan Kampung Tamkesi memiliki 18 KK. Mereka tinggal di rumah-rumah adat yang berbentuk bulat yang atapnya terbuat dari rumput ilalang dan berjuntai ke tanah. Rumah-rumah adat itu dibangun pada lereng bukit, dengan terlebih dahulu tanahnya diratakan, agar tebing tidak longsor maka disusun batu-batu kecil dan besar pada dinding tebing. Dinding tebing yang tersusun dari bebatuan yang rapi, dibuat sudah ratusan tahun yang lalu. Pemukiman Tamkesi dikelilingi benteng lapis tiga. Pembuatan benteng untuk mempertahankan keser/raja mereka dari jangkauan musuh (Belanda dan Jepang). Di lokasi ini terdapat banyak tempat yang masih keramat, digunakan untuk upacara adat dan religi. Menurut mereka tempat yang paling keramat adalah rumah raja dan yang boleh masuk ke rumah raja hanyalah raja sendiri, yang lainnya amat tabu untuk diizinkan masuk ke rumah raja. Di dalam rumah keser ada “Tateot Na Uisneno” orang yang menjaga rumah keser dan rumah tersebut hanya sebagai tempat Uisneno saja. Menurut kepercayaan mereka keser adalah Tuhan yang menjelma menjadi manusia. Selain rumah keser ada juga rumah suku dimana pada setiap rumah suku (rumah adat/

rumah besar) terdapat Bahane, yaitu altar kecil yang berfungsi untuk menaruh sesajen. Altar ini terbuat dari pohon kayu yang dipipih dengan ukuran tinggi 1,5 M. Pada bagian atasnya ditaruh kayu pipihan berukuran 25 x 30 cm dan di atas kayu pipihan tersebut dibuatkan sebuah rumah kecil yang berfungsi untuk menaruh sesajen. C. Sejarah Perkembangan Komunitas Adat Terpencil

Pada masa lalu, upacara adat masih sangat intensif dan selalu saja diikuti dengan adanya persembahan berupa seorang wanita cantik. Pada perkembangan selanjutnya, persembahan ini kemudian menjadi sumber konflik yang berujung pada munculnya pihak ke tiga, yaitu bertahtanya raja dari Malaka. Suku Usboko, Amfotis yang berdiam di Kampung Tamkesi berupa komunitas kecil di sebagian besar wilayah hutan produksi terbatas desa Tautpah dan wilayah hutan produksi terbatas yang berada di wilayah Desa Tokbesi. Kelompok kecil masyarakat itu bertempat tinggal di daerah pegunungan atau daerah/wilayah pedalaman, pada masa lalu daerah tersebut dikenal sebagai wilayah Kerajaan Biboki. Menurut sejarahnya, sebelum Indonesia merdeka atau pada masa Hindia Belanda, Wilayah Kabupaten TTU, secara administrasi terbagi tiga kekuasaan kerajaan, yakni Kerajaan Miomafo, Insana dan Biboki. Dari tiga kerajaan tersebut yang masih bertahan sampai sekarang hanyalah kerajaan Biboki dengan ibu kota kerajaan di Kampung Tamkesi. Lokasi Kampung Tamkesi adalah pusat kerajaan Biboki yang keberadaannya sampai sekarang masih lestari. Sebelum Kampung Tamkesi sebagai pusat Kerajaan (Sonaf) Biboki, Sonaf Biboki berpusat di Desa Oepuah (daerah Wini) yang bernama “Kolan Ha Siun Ha”. Menurut penuturan Amaf Belsikone (juru bicara Sonaf Tamkesi), sudah enam orang raja yang menempati Sonaf Tamkesi. Dua raja yang terakhir sudah tidak menempati Sonaf Tamkesi. Hal ini terjadi setelah kemerdekaan Indonesia dan sistem Pemerintahan Swapraja diganti dengan sistem pemerintahan yang baru. Meskipun raja sudah tidak menempati Sonaf Tamkesi namun sistem pemerintahan

31

Jurnal Penelitian dan Pengembangan Usaha Kesejahteraan Sosial, Vol 11, No. 03, 2006 : 26-39

Keraton Tamkesi masih berlangsung sampai sekarang. Di dalam sistem pemerintah Sonaf Tamkesi, Raja dalam melaksanakan pemerintahannya dibantu oleh “Maen Leun Atoin Leun” yang bertugas sebagai pembantu raja. Sedangkan dalam proses pengambilan keputusan, Raja dibantu oleh dua Amaf yaitu Amaf Belsikone yang menjaga wilayah Pintu Sonaf Bagian Timur dan bertempat tinggal di Desa Tokbesi serta Amaf Paisanaunu yang menjaga Pintu wilayah Sonaf Bagian Barat. Setiap perkara yang ada di Sonaf Tamkesi diputuskan oleh dua orang Amaf ini dan raja hanya mengukuhkan keputusan yang sudah dibuat. Penghormatan kepada raja oleh masyarakat yang mendiami daerah kekuasaan Raja Biboki masih berlangsung sampai saat ini. Pengaruh pimpinan puncak (Raja Biboki) masih sangat kuat. Pimpinan puncak wilayahpun sudah memiliki wawasan yang luas, dan menginginkan adanya perubahan di wilayahnya. Pada bulan Nopember setiap tahunnya masyarakat menghantarkan upeti kepada raja berupa jagung dan padi. Menurut kepercayaan masyarakat, hujan turun setelah proses penyerahan upeti kepada raja berlangsung. Penyerahan upeti diatur oleh kepala suku bersama dua amaf yang ada di Sonaf Tamkesi. Pada setiap bulan Nopember, sisa upeti dari tahun lalu diturunkan dari lopo akan diganti dengan upeti yang baru. Sisa upeti dibagikan kepada masyarakat yang bertempat tinggal disekitar Sonaf Tamkesi. Kampung Tamkesi, oleh pemerintah daerah dikembangkan menjadi desa adat. Tamkesi secara administrasi adalah bagian dari desa Tautpah yang masuk wilayah dusun III Usboko dan merupakan kampung kecil yang letaknya di puncak gunung yang dihuni 18 KK. D. Pranata Ekonomi dan Sistem Mata Pencaharian

Untuk mengetahui mata pencaharian dan sistem perekonomian yang ada di lokasi ke dua dusun tersebut dapat diuraikan sebagai berikut: 1. Ladang Berpindah Masyarakat di Kabupaten TTU, berladang secara berpindah merupakan mata pencaharian pokok penduduk yang biasanya dilakukan sekali dalam setahun. Tahapan pengolahan lahan untuk berladang adalah sebagai berikut: pemilihan lokasi lahan; menebas; menebang; membakar; menanam; merumput; memanen jagung dan menyimpan hasil panen. Perkebunan Perkebunan yang ada di lokasi kajian adalah kemiri dan mente yang dimulai pada tahun 1983. Namun kedua tanaman ini kurang diminati petani lokal, karena mente rendah produktifitasnya, sementara kemiri adalah tanaman yang dianggap tabu. Padahal kemiri tumbuh subur di wilayah kajian dengan produksi yang tinggi di atas 15 kg perpohon. Namun karena tanaman kemiri dianggap tabu maka warga KAT terlambat menanam kemiri di kebun mereka, kalau ada yang menanam hanya ada 1–2 pohon yang sudah berbuah untuk satu Kepala Keluarga. Peternakan Orang Kampung Tamkesi tidak asing dengan ayam kampung, babi, kambing dan sapi. Karena jenis binatang ini terlihat banyak berkeliaran di desa-desa yang menuju daerah pemukiman kampung Tamkesi. Jenis ternak tersebut merupakan jenis ternak yang umum dipelihara oleh orang di lokasi kajian. Perdagangan Penduduk dusun ini mempunyai kecenderungan untuk tidak bergerak (mobilitas) ke pusat perdagangan, faktor utamanya adalah biaya yang mahal. Perdagangan yang bisa mereka lakukan adalah menjual hasil pertanian dan peternakan ke pasar tradisional yang ada

2.

3.

4.

Masyarakat Kawasan Tamkesi berprofesi sebagai petani polifalen, artinya petani yang mengusahakan lebih dari satu jenis kegiatan pertanian. Mereka sebagai petani tanaman pangan, tanaman keras atau tanaman tahunan dan peternak. Sistem perekonomian umumnya masih sub sistem, mereka bekerja hanya untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.

32

Profil Pranata Sosial di Daerah Kmunitas Adat Terpencil

(Suyanto)

di Desa Tautpah setiap hari Jum’at dan Ibu kota Kecamatan Setiap Hari Minggu. Kemiri dan mente yang di jual belum dikupas. Karena penduduk belum memiliki ketrampilan untuk memecah kemiri dan mengupas Mente. Kemiri berpolang (masih ada kulit lengkap) dijual dengan harga Rp.250,-/kg. Padahal di Naukae yang masuk wilayah Kabupaten TTU kemiri dijual dengan harga Rp.1.500,-/kg, Ubi jalar dijual dengan harga Rp.10.000,- Rp.15.000,- per karung, dan jagung dijual dengan harga Rp.500,- per kg. Jagung dijual hanya untuk memenuhi kebutuhan yang sangat mendesak. E. 1. Pranata Politik, Kelembagaan Sosial dan Kepemimpinan Struktur dan personil kelembagaan adat Di Wilayah Kefamenanu Kabupaten TTU dahulu terdapat tiga orang bersaudara, yaitu: Mafotaek, yang cucunya adalah Suku Miamafo dengan Raja Uskono; Sinataek yang cucunya adalah Suku Insana dengan Rajanya Taolin dan Boki Taek yang anak cucunya adalah Suku Biboki. Pada masa Hindia Belanda, Wilayah Kabupaten TTU, secara tradisional terbagi atas tiga kerajaan, yakni Kerajan Miomafo, Insana dan Kerajaan Biboki. Kerajaan Biboki terdiri dari tiga suku besar, yakni Amaf Usboko; Usboko membawahi dua suku besar lainnya yakni, Suku (Amaf) Bersikone dan Suku (Amaf) Paisanaunu, kedua suku tersebut membawahi kelompok-kelompok kecil yang bermukim dan memencar di wilayah Biboki, dimana kelompok kecil tersebut juga dipimpin oleh kepala suku. Usboko adalah keser atau raja di kerajaan Biboki berasal dari suku Usboko. Usboko tinggal di rumah adat Tamkesi yang merupakan pemukiman desa adat. Amaf diakui keberadaannya karena kemampuannya memimpin kelompok kecil suku (klonin) baru. Kemampuan itu ditentukan oleh keberhasilan Amaf baru sebagai pemimpin petani, peternak, menyelesaikan masalah sengketa atau perkara di dalam

kelompoknya, bijaksana, adil dan jujur. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Struktur Pemerintahan Adat di Kampung Adat Tamkesi sebagai berikut:
Keser/Usboko/Raja Uskenaf/Jubir raja Amaf Bersikone Amaf Paisanaunu

Amaf Amaf Amaf

Amaf Amaf Amaf

Gambar tersebut merupakan struktur Pemerintahan Kerajan Biboki pada saat masih dijajah oleh Hindia Belanda, sampai dengan tahun 1942.

Untuk masuk ke Desa Adat Tamkesi, orang-orang Biboki dapat melalui tiga pintu, yaitu Eno Oebnah yang terletak di sebelah timur dan dihuni oleh suku (Amaf) Paisanaunu. Sedangkan pintu masuk wilayah selatan ditempati Suku (Amaf) Bersikone melalui pintu Eno Am Unah. Sedangkan pintu Eno Naikah (pintu gerbang kerajaan) adalah ditempati khusus untuk keturunan Usboko/raja. Raja dalam pemahaman masyarakat Biboki menempati posisi yang amat sakral. Dalam memimpin dan memerintah rakyat dikuasakan kepada para Amaf (ketua kelompok). Para Amaf bertanggung jawab kepada rakyatnya atau kelompoknya. Menurut masyarakat Biboki raja yang sakral adalah sumber kesejahteraan, ketentraman dan kedamaian. Raja adalah kekuatan pengendali alam karena raja dianggap bisa mengendalikan hujan, penyakit, kesuburan tanah, populasi hewan dan nasib hidup rakyat. KAT Tamkesi masih taat kepada pimpinannya (raja) sehingga harapan dari Raja Biboki agar terjadinya perubahan di wilayah ini pasti akan diikuti dengan baik oleh warganya.

33

Jurnal Penelitian dan Pengembangan Usaha Kesejahteraan Sosial, Vol 11, No. 03, 2006 : 26-39

Menurut masyarakat raja yang sakral, tabu untuk dilihat oleh rakyat di sembarang tempat. Ia hanya boleh menampakkan diri kepada rakyat, pada waktu dan di tempat tertentu saja. Selain itu raja hanya ada di dalam rumah dan dijaga dengan sangat ketat oleh para Maob atau jabatan panglima perang kerajaan Biboki. Dewasa ini sudah banyak berubah, ditandai dengan adanya kebiasaan raja memilih tinggal di daerah persawahan untuk mengerjakan sawah dan menggembalakan sapi. Pada masa yang lalu raja/keser sangat tabu menyentuh tanah (bekerja). Raja hanya tahu makan yang diberikan rakyatnya melalui upeti dan juga mendapatkan sumbangan tenaga sebagai abdi raja yang setia. Raja hanya bisa berkomunikasi dengan Amaf, itupun hanya satu kali dalam satu tahun dan yang menyangkut hal-hal yang sangat penting dan hanya dapat dilakukan dalam tempat-tempat yang tertentu. Selain itu komunikasi antara Amaf dengan raja diatur oleh Uskenaf (juru bicara raja). Tugas Uskenaf adalah menyampaikan pesan atau titah raja kepada Amaf untuk selanjutnya disampaikan kepada rakyat (klonin) atau pengikut dari masing-masing Amaf. Raja Biboki yang masih hidup bernama Nesi Iba yang tinggal diluar Kampung Adat Tamkesi, mengikuti lahan sawah yang dimilikinya. Untuk menjaga rumah adat yang ada di Kampung Tamkesi dipercayakan kepada Ignatius Taek Usboko.

2.

Struktur dan personil kelembagaan formal. Pada zaman pendudukan Jepang, Biboki mulai mengikuti struktur pemerintahan yang ditetapkan Jepang. Pada waktu pemerintahan Jepang, Kerajaan Biboki di pimpin oleh 5 orang Vetor, yaitu Vetor Oetasi, Ustetu, Bulifani, dan Herneno (Mamnen) dan Taito. Setelah Indonesia merdeka pimpinan yang ada di Desa Adat Tambesi mengikuti struktur pemerintahan yang ada dan masuk wilayah Usboko III Desa Tautpah yang merupakan wilayah pengkajian dan memiliki struktur pemerintahan yang terdiri dari Kepala Desa, Sekretaris Desa, Kepala Urusan Pembangunan, Kepala Urusan Umum, Kepala Urusan Pemerintahan, Kepala Urusan Kesejahteraan Masyarakat, Kepala Urusan Keuangan dan Ketua RT/ RW. Struktur Pemerintahan di Kerajaan Biboki pada waktu Pendudukan Jepang adalah terdiri dari Keser atau Usboko atau raja. Menurut sejarahnya setelah Indonesia merdeka wilayah kerajaan Biboki merupkan cikal bakalnya wilayah yang sekarang merupakan wilayah kecamatan. Sedangkan dibawah kerajaan Biboki ada Vetor. Wilayah yang dipegang seorang vetor setelah Indonesia merdeka menjadi wilayah desa yang sekarang dipegang oleh seorang kepala desa/ kelurahan. Selanjutnya dibawah vetor ada temukung yang sekarang merupakan wilayah Rukun warga dan dibawah temukung ada nakaf yang merupakan wilayah rukun tetangga, untuk lebih jelasnya dapat digambarkan sebagai berikut:

Struktur Pemerintahan di Kerajaan Biboki pada waktu Pendudukan Jepang
Keser/Usboko/Raja

Vetor
Temukung2

Vetor
Temukung2

Vetor
Temukung2

Vetor
Temukung2

Vetor
Temukung2

Vetor
Temukung2

Nakaf2

Nakaf2

Nakaf2

Nakaf2

Nakaf2

Nakaf2

34

Profil Pranata Sosial di Daerah Kmunitas Adat Terpencil

(Suyanto)

Gambar tersebut menunjukkan perubahan struktur pemerintahan Kerajaan Biboki pada waktu penjajahan Jepang di Indonesia. Dimana pada waktu tersebut Kerajaan Biboki adalah cikal bakalnya kecamatan-kecamatan, sedangkan Vetor adalah cikal bakalnya desa dan temukung adalah merupakan cikal bakalnya Rukun Warga dan nakaf adalah cikal bakalnya Rukun Tetangga. Secara administrasi dalam melaksanakan tugasnya sehari-hari, kepala desa dibantu oleh sekretaris desa, sedangkan untuk tugas lainnya yang berhubungan dengan masyarakat, pembangunan, keamanan dan ketertiban diserahkan kepada para kepala urusan. Sebagaimana tercantum dalam peraturan Menteri Dalam Negeri No.5 tahun 1974, disebutkan bahwa Kepala Desa menjalankan hak, wewenang dan kewajiban sebagai pimpinan pemerintahan desa yaitu menyelenggarakan rumah tangganya sendiri dan merupakan penyelenggaraan dan penanggung jawab utama di bidang pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan dalam rangka penyelenggaraan urusan pemerintahan desa, urusan umum termasuk pembinaan ketentraman dan ketertiban sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan menumbuh kembangkan jiwa gotong royong masyarakat sebagai sendi utama pelaksanaan pemerintahan desa. Di desa ini kepala merupakan jabatan terhormat, tanpa ada imbalan materiil, tidak ada hak dimana penduduk menyisihkan waktu untuk mengerjakan pekerjaan kepala desa dan suka rela ikut turun tangan membantu meringankan tugas-tugas kepala desa, bahkan membantu urusan rumahtangga terutama dalam mengerjakan kegiatan sehari-hari. Kepala desa tidak memperoleh penghasilan yang dapat menunjang hidupnya dari jabatan yang disandangnya. Karena sampai saat ini honorarium para perangkat desa adalah sebagai berikut:

a. b. c. F.

Kepala Desa/Pambekal : Rp.350.000,Sekretaris Desa : Rp.300.000,Kaur : Rp.250.000,-

Pranata Agama, Religi dan Kepercayaan

Di Desa Tautpah juga termasuk Kampung Desa Adat Tamkesi penduduknya 100 persen beragama Katholik, dan telah dibangun tempat Ibadah yakni dua Kapel semuanya atas usaha swadaya masyarakat. Pelaksanaan ibadah umat Katholik dilaksanakan setiap hari Minggu di Kapel-kapel yang telah ada. Selain itu juga dilakukan melalui kegiatan membaca doa-doa yang dilaksanakan kegiatan di rumah-rumah penduduk sekali setiap minggu. Selain menjalankan ibadah sesuai ajaran agama, Suku Usboko, Amfotis di Tamkesi masih mengembangkan religi asli dari warisan nenek moyang mereka yang diselenggarakan setiap setahun sekali pada bulan Oktober atau Nopember yang dinamakan upacara Tatamamaus. Pada kesempatan upacara Tatamamaus semua anggota suku dibawah pimpinan kepala sukunya (Amaf) datang ke Kampung Tamkesi membawa upeti, berupa hasil pertanian (padi, jagung dan umbi-umbian) dan hasil ternak untuk dipersembahkan kepada raja. Upacara didahului doa, menurut sistem kepercayaan orang Tamkesi, yang dipimpin oleh penjaga rumah adat. Selain upacara adat seperti tersebut di atas orang suku di lokasi kajian juga masih mempercayai adanya roh halus yang mendiami batu dan pohon besar dan menjaga laut. Hal ini terlihat dengan adanya kegiatan yang dilakukan oleh Komunitas Adat Terpencil di Tamkesi, yakni berupa upacara unik yang dilakukan di dalam Sonaf Tamkesi yaitu persembahan kepada Tuhan Yang Kuasa yang dilakukan pada bulan September atau Oktober setiap tahunnya. Persembahan ini berupa persembahan satu ekor kambing jantan dan satu ekor ayam jantan berbulu cerah bisa berwarna merah maupun berwarna putih yang di antar oleh seorang petugas khusus yang

35

Jurnal Penelitian dan Pengembangan Usaha Kesejahteraan Sosial, Vol 11, No. 03, 2006 : 26-39

bernama “Ustetu”. Ustetu membawa kambing dan ayam ke atas puncak Gunung Tapenpah yang cukup tinggi dengan cara dipikul. Upacara Tatamamaus ini ditandai dengan membawa persembahan yang berupa seekor kambing merah yang dibawa oleh lelaki dari Suku Ustetu. Setelah mendapatkan restu dari raja/keser dengan meletakkan tangan diatas kepala, lelaki yang membawa persembahan tersebut memanjati bukit batu dengan tebing yang amat curam dengan kemiringan di atas 90 derajat. Selanjutnya dilakukan oleh orang / para pembawa persembahan dengan jumlah kelipatan 7 dimana jumlah anggota pembawa persembahan bisa hanya 7 orang lelaki, 14 orang lelaki atau 21 orang lelaki. Para pembawa persembahan dengan jumlah kelipatan 7 orang lelaki tersebut membawa hewan yang dibawa adalah seekor ayam jantan. Setelah mendapatkan restu dan doa dari keser/raja para pembawa persembahan yang terdiri dari kelipatan 7 orang lelaki tersebut membawa ayam jantan ke puncak bukit yang kemudian ayam jantan tersebut ditambatkan di puncak bukit dan dibiarkan sampai mati sendiri. Suku yang membawa persembahan ke puncak bukit batu itu juga adalah Suku Ustetu. Karena secara adat yang membawa persembahan ke puncak bukit batu itu harus Suku Ustetu, tidak boleh digantikan dari suku lain. Di puncak bukit batu keramat itu kambing disembelih di atas altar batu dengan permukaan yang datar. Kambing kemudian dipotongpotong dan dimasak atau dibakar kemudian dimakan secara beramai-ramai, dan tabu membawa kembali daging dari puncak bukit batu. Di puncak bukit tersedia air atau ada sumber air yang diberi nama “Tapempah” dan biasa digunakan untuk memasak daging kambing. Di tempat ini tersedia pula sumber air, kayu bakar, periuk tanah, piring batu dan sendok. Di bukit ini kambing disembelih di atas mebah, dikuliti, dipotong-potong, direbus lalu setelah masak dimakan bersama-sama sampai habis. Daging kambing tidak boleh dibawa kembali ke pemukiman. Ayam berwarna cerah (merah dan putih)yang dibawa ketika itu diikatkan pada sebatang kayu dan dibiarkan sampai mati sendiri.

G. Pranata Kesehatan dan Pengobatan Untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di lokasi Komunitas Adat Terpencil ini sudah ada Puskesmas Pembantu sebagai tempat berobat bagi masyarakat yang bermukim di Kawasan Tamkesi. Puskesmas Pembantu tersebut dilayani oleh seorang perawat dan seorang bidan. Puskesmas Pembantu tersebut letaknya di Desa Sufa dengan jarak tempuh sekitar 6 km dari kawasan Tamkesi H. 1. Pranata Pendidikan, Pengetahuan dan Teknologi Pranata Pendidikan. Untuk menunjang kegiatan di bidang pendidikan, di Desa Tautpah telah dibangun 1 buah Sekolah Dasar Katholik (SDK). Murid sekolah ini pada tahun 2005 sebanyak 182 orang, tenaga guru 6 orang. Anak-anak yang tamat dari SDK ini kebanyakan tidak melanjutkan ke SMP karena jauh dari desa dan keadaan ekonomi orang tua mereka yang tidak mampu membiayai anak-anaknya hingga ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Proses pembinaan untuk mentaati keharusan berbuat atau tidak berbuat menuntut keharusan tata nilai atau norma yang lazim dianut dalam masyarakat. Dalam menerapkan disiplin pengendalian sosial dan sopan santun dalam bergaul khususnya kepada orang yang lebih tua, orang tua mengajarkan anaknya sejumlah kata yang seharusnya diucapkan pada orang yang lebih tua sebagai rasa hormat. Selain itu juga dalam bertingkah laku diajarkan hal-hal yang seharusnya dilakukan, diharapkan orang yang sedang berbincang atau duduk-duduk harus berjalan menundukkan badan atau lebih baik berjalan dibelakangnya. Bila ketentuan ini tidak ditaati oleh si anak, maka secara langsung akan ditegur dan diberi nasehat tentang apa yang seharusnya dilakukan anak.

36

Profil Pranata Sosial di Daerah Kmunitas Adat Terpencil

(Suyanto)

2.

Sistem Tehnologi (Tempat Perlindungan, Alat Transportasi, Senjata, Alat-alat Produksi). Masyarakat yang menempati Kawasan Tamkesi masih jauh dari sentuhan teknologi, unsur modern yang masuk di wilayah Kawasan Tamkesi hanya berupa perlengkapan dapur, pakaian serta sabun mandi dan sabun cuci. Sedangkan perlengkapan dan peralatan modern seperti bahan bangunan (seng, paku, semen, besi beton) tidak diper-bolehkan masuk ke dalam lingkungan Kawasan Desa Adat Tamkesi. Dalam bidang pertanian, mereka juga masih sangat sederhana, jauh dari penggunaan alat dan sistem pertanian modern, seperti memakai traktor, pupuk kimia, pestisida dan adanya benih unggul. Petani di lokasi kajian pada umumnya hanya menggunakan parang dan linggis. Bibit tanaman yang dapat disediakan hanyalah bibit tanaman yang berasal dari sisa panen tahun lalu yang sengaja disisakan/disimpan sebagai benih. Dalam pemeliharaan tanaman, para petani hanya membersihkan tanam-tanaman pengganggu (gulma) dan tidak pernah memberikan pupuk atau pestisida kalau tanaman terserang hama atau penyakit.

sukunya/penduduk di luar dusun dianggap suatu hal pelanggaran adat. Akan tetapi perkawinan yang berasal dari kalangan mereka sendiri merupakan perkawinan yang diidealkan. J. Pranata Hubungan Sosial dan Jaringan Kerja

Hubungan dengan masyarakat sekitar dusun sangat baik, intensitas hubungan dengan masyarakat yang paling sering adalah dengan masyarakat Desa Tautpah. Kontak dengan pemerintah dan intensitas kehadiran orang luar biasanya terjadi karena urusan ekonomi atau urusan jual beli hasil pertanian dan pemenuhan kebutuhan pokok. Untuk pemenuhan kebutuhan sandang dan keseluruhan bahan pangan diperoleh dari luar dusun, selain belanja langsung di pasar yang ada di desa tersebut, dengan cara menjual hasil ladang, ternak dan kebun, hasil dari penjualan tersebut dimanfaatkan untuk membeli bahan kebutuhan pokok. Dengan demikian dari hasil kajian di lokasi dapat dikatakan belum tampak adanya jaringan kerja antar kelompok/perkumpulan sosial yang ada, kecuali kelompok-kelompok yang terbentuk karena adanya kebutuhan yang sama yang sebagian telah membentuk jaringan kerja, namun jaringan kerja itu masih terbatas dengan kelompok sejenis dan bersifat kekeluargaan. Dari hasil kajian jaringan kerja terbentuk karena adanya kelompok atau lembaga lain atau merupakan kegiatan perdagangan dan profesi pekerjaan. Sedangkan jaringan kerja bentukan pemerintah berupa jaringan sejenis vertikal (berjenjang) seperti kelompok RT/RW dan Komunitas Adat Terpencil di Kawasan Tamkesi. Sedangkan yang horizontal yang ada kelompok upacara adat dan kelompok Rukun Tetangga. Sebagian kegiatan bertumpu pada sumber-sumber lokal maka keberadaan kelompok-kelompok bentukan masyarakat lebih diwarnai dengan dukungan lokal dan kebanyakan sumber-sumber yang digalipun lebih banyak pada intern anggota mereka atau donatur yang merasa terikat oleh kewajiban moral. Dukungan dari pemerintah terhadap perkumpulan sosial masih sangat terbatas bahkan dapat dikatakan belum ada.

I.

Pranata Keturunan dan Sistem Kekerabatan

Dalam urusan perkawinan prinsip kekerabatan di lokasi kajian adalah patriarkat, artinya dimana pihak laki-laki memberikan belis (pembelian atau mas kawin) berupa ternak, lempengan perak, dan uang tunai kepada pihak perempuan dan perempuan akan masuk dalam marga laki-laki (suaminya) dan pindah ke rumah keluarga laki-laki. Sedangkan untuk penyelenggaraan pesta perkawinan akan ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan antara kedua keluarga besar. Pada dasarnya masyarakat di lokasi kajian sudah bersikap kurang/tidak terbuka terutama dalam hal memilih jodoh, artinya masyarakatnya masih terpaku dalam perkawinan endogamy saja, salah satu warga/ sanak keluarga yang memilih jodoh di luar dari

37

Jurnal Penelitian dan Pengembangan Usaha Kesejahteraan Sosial, Vol 11, No. 03, 2006 : 26-39

III. PENUTUP
A. Kesimpulan Pengaruh kepala adat sekarang adalah Nesi Iba Usboko (Raja Biboki) sangat kuat dalam Komunitas Adat Terpencil Kampung Tamkesi, Desa Tautpah, Kecamatan Biboki Selatan, Kabupaten Timor Tengah Utara, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Hal tersebut ditunjukkan dengan adanya kesetiaan rakyatnya dalam menjalankan pranata-pranata yang masih berlaku di masyarakat pedalaman, yaitu pranata keagamaan (religi), pranata pendidikan, pranata ekonomi, pranata sosial dan lainnya. Namun karena Raja Biboki juga memiliki wawasan yang luas dan menginginkan adanya perubahan bagi rakyatnya, sebagian wilayah mereka diserahkan kepada pengembang untuk dijadikan program pemberdayaan yang dimulai melalui program pemukiman di Kampung Tautpah dan diharapkan dapat berhasil. Dengan berhasilnya program pemberdayaan tersebut kelak akan diikuti masyarakat lainnya yang masih bermukim di pedalaman yang masuk wilayah Desa Tautpah dan Desa Tokbesi.

B.

Rekomendasi

Rencana pengembangan Kawasan Tamkesi oleh pemerintah daerah Kabupaten TTU adalah menjadikan kawasan Tamkesi sebagai desa adat (cagar budaya) dengan pusat pemerintahan desa adalah di Sonaf Tamkesi. Rencana ini menurut informasi dari Camat Biboki Selatan realisasinya hanya menunggu turunnya Perda tentang pembentukan desa adat tersebut. Dengan demikian perlu diapresiasi secara hati-hati. Sedangkan menurut skenario Dinas Sosial Kabupaten TTU KAT Tamkesi diusulkan untuk diberdayakan sebanyak 265 KK (termasuk 18 KK yang ada dalam kawasan Tamkesi). Kepala keluarga sebanyak 265 teresebut tersebar di kampung dan dusun di Desa Tautpah dan Tokbesi. Untuk itu diharapkan program tersebut dapat segera terlaksana baik melalui program pemukiman/relokasi KAT, pemberdayaan KUBE dan melalui pembinaan pertanian. Sekalipun Desa Tokbesi dan Desa Tautpah penduduknya sudah bermukim secara terkonsentrasi di sepanjang jalan raya, namun masih banyak ditemukan komunitas yang bermukim secara terpencar pada beberapa tempat yang sulit dijangkau dan sulit pula untuk bercocok tanam dan beternak. Warga dari dusun yang berada di kedua desa tersebut memberikan respon yang sangat positif untuk dimukimkan di lokasi baru yang merupakan binaan Departemen Sosial. Disini memerlukan penelitian kelayakan agar sesuai sasaran.

DAFTAR PUSTAKA
Abdullah Syarwani dan Meuthia Gani Rochman. 1992. Pembangunan Swadaya Nasional, Jakarta, LP3ES. Anonim. 1997. Peranan Program Kesejahteraan Sosial Dalam Penanggulangan Kemiskinan Melalui KUBE, Jakarta, Dit. Bin Bansos. …………………… 1998. Menteri Sosial RI Pada Sidang Kabinet terbatas Memantapkan Program Menghapus Kemiskinan, Jakarta. …………………… 2003. Pola Penanggulangan Kesejahteraan Sosial Menteri Sosial RI, Jakarta. Dorojatun Kuntjoro-Yakti. 1996. Kemiskinan di Indonesia. Jakarta, Yayasan Obor Indonesia. Florus, Paulus, et.al. 1994. Kebudayan Dayak Aktualisasi dan Transpormasi, Jakarta. LP3S-IDRD dengan PT.Grasindo.

38

Profil Pranata Sosial di Daerah Kmunitas Adat Terpencil

(Suyanto)

Larso, Wursito. 1995. Pemerataan Pembangunan Antara Harapan dan Kenyataan, Solo. Bergetar. Sutopo HB. 1993. Konsep Pembangunan Swadaya Masyarakat Dalam Pembangunan Pedesaan Ditinjau Dari Sudut Sosiologi Pembangunan Antara Peluang dan Tantangan, Solo. Bergetar. Twikromo, Argo. 1993. Pembangunan Masyarakat dan Pembangunan Kepemimpinan Kelompok. Solo. Bergetar. Prastiwi, Etty. 1993. Wanita Dalam Peranannya Sebagai Kader Pembangunan dan Ibu Rumah Tangga. Solo. Bergetar. Maryanto, 1996. Peran Masyarakat Dalam Mewujudkan Ekonomi Rakyat Lewat Jaringan. Solo. Bergetar. Muhammd, Rusdin. 1993. Kelembagaan Desa Sebagai Wadah Partisipasi Masyarakat. Solo. Bergetar. Wardani, Nila. 1993. Sebuah Bentuk Dampingan Bagi Wanita Pekerja Industri Rumah Tangga. Solo. Bergetar. Midgley, James, 2005. Pembangunan Sosial Perspektif Pembangunan Dalam Kesejahteraan Sosial, Jakarta. Diperta Islam Departemen Agama. Nurdin dan Suradi, 2004. Penelitian Peranan Organisasi Lokal Dalam Pengembangan Masyarakat, Jurnal Penelitian dan Pengembangan Usaha Kesejahteraan Sosial, Vol.9, No.01, Pusbang UKS, Balatbang, Departemen Sosial. Korten, David.C, 1982. Pembangunan Berpusat Pada Rakyat. Jakarta, Yayasan Obor Indonesia. Wirotomo, Paulus, 2004. Makalah Kontruksi Jaring Pranata Sosial Untuk Penguatan Ketahanan Sosial (Kerangka Konseptual), Jakarta.

BIODATA PENULIS : Suyanto, Alumnus Universitas Muhammadiyah Jakarta, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial Tahun 1989. Kini Ajun Peneliti Madya pada Pusat Pengembangan Ketahanan Sosial Masyarakat, Badan Pendidikan dan Penelitian Kesejahteraan Sosial, Departemen Sosial RI.

39

PARTISIPASI ORGANISASI SOSIAL LOKAL DALAM PEMBANGUNAN KESEJAHTERAAN SOSIAL
(Studi di Kelurahan Rijali dan Waihaong Kota Ambon)
Alit Kurniasari

ABSTRAK
Organisasi lokal di Kelurahan Rijali dan Waihaong Kota Ambon provinsi Maluku dapat berfungsi sebagai self help organization, yang selanjutnya didayagunakan dalam pembangunan kesejahteraan sosial. Organisasi lokal yang ada di kedua kelurahan berkolaborasi untuk mengatasi permasalahan sosial yang mendesak ditangani. Dengan segala kendala dan potensi yang dimiliki seperti kehidupan beragama serta budaya pelagandong yang masih tersisa mampu mempererat kolaborasi organisasi atau kelompok, dengan membentuk Forum atau Kelompok Kerja. Perbedaan latar belakang agama (Islam & Kristen) memotivasi kedua kelurahan untuk bangkit dari keterpurukan pasca kerusuhan. Prinsip kolaborasi seperti kesetaraan dan tranparansi dalam forum tetap dijalankan. Pengelolaan masalah keluarga pra sejahtera, dengan menggunakan pendekatan partisipatif mulai dari pendataan, assesment sampai pada perencanaan program, pelaksanaan pemberdayaan, dilakukan melalui Forum bentukan masyarakat. Sambil terus berkoordinasi baik secara vertikal maupun horizontal. Pemerintah dalam hal ini berfungsi sebagai fasilitator, pengendali dan evaluator terhadap pelaksanaan program. Agar program kerja mencapai hasil optimal maka pendekatan bottom up dengan memfasiltasi aspirasi dari akar rumput, menciptakan kepercayaan (trust) diantara keduanya perlu diciptakan. Pendampingan secara profesional perlu dilakukan terutama selama proses pelaksanaan program pemberdayaan berlangsung.

I.
A.

PENDAHULUAN
Latar belakang

Pembangunan kesejahteraan sosial yang dilaksanakan oleh Departemen Sosial pada dasarnya merupakan pelaksanaan amanat UUD 1945 yang diarahkan untuk mewujudkan masyarakat sejahtera. UU No 6 tahun 1974, diantaranya menyatakan bahwa masyarakat berkesempatan seluas-luasnya untuk mengadakan usaha kesejahteraan sosial (UKS) dengan tetap mengindahkan garis-garis kebijakan dan peraturan yang telah ditetapkan. Semangat masyarakat untuk menyelenggarakan UKS sosial perlu mendapat dukungan. Dalam hal ini masyarakat tidak dapat melakukannya secara perorangan namun perlu mengorganisir ke dalam suatu kelompok atau melalui organisasi sosial. Data Pusdatin (2005) menunjukkan bahwa terdapat 17.620 buah Organisasi Sosial yang bergerak dalam bidang UKS dan terdaftar di Departemen Sosial. Organisasi sosial dimaksud telah berbadan hukum dan melaksanakan usaha kesejahteraan sosial. Namun ditengah masyarakat perkotaan

maupun pedesaan, tidak sedikit ditemukan kelompok masyarakat yang melakukan kegiatan pada bidang pelayanan sosial. Seperti kelompok-kelompok yang didasari oleh agama maupun kekerabatan, dikelola untuk memecahkan masalah-masalah sosial melalui kegiatan sosial. Kegiatan kelompok bisa berupa mengatasi kematian warga, gotong royong membantu anak yatim, mengintensifkan pengajian dan membantu anggotanya mengatasi masalah keluarga pra sejahtera atau anak-anak terlantar. Semangat berkelompok dan nilai sosial budaya yang mengikat kelompok, memunculkan kepedulian dan jiwa saling menolong terhadap masyarakat yang kurang beruntung. Kemampuan dan kemauan sebagai kekuatan yang dimiliki oleh masing-masing kelompok perlu diberi kesempatan lebih luas lagi dalam penanganan masalah yang ada disekitarnya. Jika kelompok tersebut dikonstruksi berlandaskan faktor budaya dari lingkungan seperti kepercayaan serta berdasarkan aspek sosial berupa peran yang mempengaruhi perilaku dalam rangka pemenuhan kebutuhan,

40

Partisipasi Organisasi Sosial Lokal dalam Pembangunan Kesejahteraan Sosial

(Alit Kurniasari)

maka kelompok atau paguyuban pada tingkat komunitas akan memberi pengaruh pada kehidupan masyarakat setempat.(Tony, 2003). Kelompok dimaksud selanjutnya dapat disebut sebagai organisasi lokal, yang merupakan aktualisasi dari kelembagaan sosial. Jika kekuatan kelompok dapat berkolaborasi dan diarahkan untuk penyelenggaraan program UKS di wilayah sekitar, maka kegiatan kelompok menjadi lebih optimal, sekaligus penanganan masalah menjadi lebih efektif. Kondisi ini menjadi modal sosial dan selanjutnya dapat berperan sebagai wujud partisipasi masyarakat dalam pembangunan kesejahteraan sosial. B. Permasalahan

wilayah sekitar. Secara rinci tujuan dimaksud adalah : 1. 2. Mengidentifikasi kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh organisasi lokal. Mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi organisasi sosial lokal dalam kegiatan pelayanan. Mengetahui upaya organisasi sosial lokal berpartisipasi pada penanganan masalah sosial di sekitarnya. Manfaat

3.

D.

Keberadaan organisasi sosial lokal yang banyak berkembang di wilayah setempat, pada kenyataannya langsung dapat dimanfaatkan bagi masyarakat yang membutuhkan. Misalnya kelompok-kelompok agama, secara langsung mampu memberikan pemenuhan kebutuhan spiritual bagi anggota masyarakat sekitarnya, sambil tetap memberikan penyantunan terhadap anak dan keluarga pra sejahtera. Kelompok dimaksud telah berfungsi sebagai wadah bagi anggota masyarakat untuk memenuhi kebutuhan anggotanya. Namun permasalahannya kelompok-kelompok tersebut masih bekerja secara sendiri-sendiri dengan sasaran yang sama menyebabkan kurang optimal dan tidak efektifnya kelompok dalam menangani masalah. Seandainya organisasi lokal mampu berkolaborasi dalam melaksanakan pelayanan UKS, maka masyarakat dapat memperoleh pelayanan secara komprehensif dengan hasil yang optimal. Dalam upaya menciptakan kolaborasi maka langkah awal perlu mengetahui “bagaimana kegiatan dan bentuk pelayanan apa yang dilakukan oleh masing-masing organisasi lokal ?, selain itu perlu diketahui faktor-faktor apa yang mempengaruhi pelaksanaan kegiatan organisasi lokal ? Selanjutnya perlu diketahui cara yang dapat dilakukan organisasi lokal untuk meningkatkan partisipasinya dalam penanganan masalah ?” C. Tujuan

Penelitian ini diharapkan akan bermanfaat bagi: 1. Pemerintah daerah Provinsi Maluku maupun bagi Kota Ambon, sebagai bahan perumusan kebijakan tentang pemberdayaan organisasi sosial lokal. Organisasi sosial, sebagai bahan penyadaran atas permasalahan sosial dan potensi yang dimiliki untuk berperan pada pembangunan kesejahteraan sosial. Metodologi

2.

E.

Penelitian ini bersifat deskriptif dengan pendekatan data kualitatif dilengkapi data kuantitatif. Lokasi penelitian di lakukan di Provinsi Maluku, dengan lokus di tingkat kelurahan. Dipilihnya Provinsi Maluku khususnya Kota Ambon, kelurahan Waihaong dan Rijali, karena kedua lokasi tersebut mewakili wilayah berpenduduk mayoritas muslim dan kristen. Dipilihnya lokasi di Kota Ambon sebagai upaya mendukung terbitnya Inpres RI No. 6 tahun 2003, tentang Percepatan Pemulihan Pembangunan di Provinsi Maluku dan Provinsi Maluku Utara pasca konflik. Khususnya pada bidang politik dan keamanan dengan melakukan program sosialisasi dan peningkatan kesadaran budaya hukum dan wawasan kebangsaan. Kegiatan dilakukan melalui revitalisasi dan pemberdayaan organisasi sosial kepemudaan desa dan organisasi sosial lainnya. Unit kasus adalah organisasi sosial lokal dengan kriteria yaitu a) merupakan perkumpulan masyarakat, b) bentuk informal/ formal, c) melakukan kegiatan UKS. Sumber

Tujuan penelitian ini adalah untuk menggambarkan partisipasi organisasi sosial lokal dalam penanganan masalah sosial di

41

Jurnal Penelitian dan Pengembangan Usaha Kesejahteraan Sosial, Vol 11, No. 03, 2006 : 40-54

informasi diperoleh dari Pengurus Organisasi, aparat pemerintahan Kota/Kabupaten/ Kelurahan serta Tokoh Masyarakat. Tehnik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, diskusi kelompok terfokus, observasi, dan penelusuran dokumen. Tehnik analisa data dilakukan dengan tehnik analisa kualitatif, disandingkan dengan teori yang ada kemudian dibandingkan dan dideskripsikan. Data kuantitatif dihubungkan dengan data kualitatif yang ditelusuri.

bawah-atas (bottom-top approach); b) keorganisasiannya lebih bersifat informal atau paguyuban; c) tujuan-tujuannya bersifat fleksibel; d) ketua dan anggotanya lebih banyak kelompok lapisan bawah yang didasari oleh hubungan interpersonal; e) aktivitasnya berkaitan dengan kegiatan dan kebutuhan sehari-hari para anggotanya. Sebagaimana diketahui bahwa tumbuh kembangnya organisasi sosial dapat mengalami berbagai kendala baik yang berasal dari dalam (internal) maupun dari luar (external). Kendala Internal dapat disebut sebagai hambatan, rintangan bahkan ancaman yang datangnya dari tubuh organisasi sosial itu sendiri, berupa: 1. Hambatan Struktural ; a) Hakekat organisasi sosial yang non profit, tidak meraih simpatik dan dukungan masyarakat. b) Organisasi sosial yang tumbuh dari lingkungan orang-orang yang peduli, umumnya kekurangan dana, daya dan kemampuan politisi. c) Organisasi sosial berfungsi sebagai tempat mencari nafkah bukan tempat pengabdian dan pengorbanan bagi pengurusnya. d) Ketidaktersediaan sumber tetap untuk mendukung operasional organisasi sosial. Hambatan Operasional ; a) Kurangnya pengenalan terhadap berbagai peraturan organisasi sosial, seperti UU maupun peraturan perUU tentang organisasi sosial. b) Kualitas pemimpin yang kurang mendukung. c) Pembagian kerja yang kurang memadai diantara pelaksana. d) Kurangnya tenaga pelaksana baik dalam jumlah maupun kualitasnya. e) Kurangannya dana dan peralatan yang memadai. f) Kurangnya hubungan dan komunikasi yang efektif, baik ke dalam maupun keluar.

II. KERANGKA KONSEP
A. Organisasi Sosial Lokal Organisasi sosial adalah perkumpulan sosial yang dibentuk oleh masyarakat baik berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum yang berfungsi sebagai sarana partisipasi masyarakat dalam melaksanakan UKS. (Kep Mensos RI no 40 tahun 1980). Dalam pedoman Klasifikasi Orsos/LSM menyebutkan bahwa Organisasi sosial adalah lembaga yang didirikan oleh masyarakat secara swadaya yang bergerak dalam pemberian pelayanan kepada masyarakat bidang UKS serta telah tercatat di instansi sosial dalam wilayah kerjanya. Menurut Korten, Karamoy dan Dias dalam Edi (1997), organisasi sosial lokal sering disebut kelompok kemasyarakatan (community group) oleh Bank Dunia; atau disebut organisasi pedesaan (rural organization ) dan oleh FAO; organisasi rakyat (people’s organization) oleh UNDP disebutkan organisasi kemasyarakatan (community organization). Sedangkan UNDP mendefenisikan organisasi rakyat sebagai “democratic organization that represents of their members and are accountable to them. They are formed by people who know each other, or who share a common experience, and their continued existence does not depen upon outside initiative or funding”. FAO membedakan organisasi sosial lokal dalam dua tipe, yaitu: 1) semi govermental organization (organisasi semi pemerintah) ; dan 2) self-help organization (organisasi swadaya masyarakat). Karakteristik self help organization yang dimaksud yaitu; a) dibentuk dan atau didukung oleh masyarakat sendiri, bukan oleh pihak luar atau pemerintah dengan pendekatan

2.

42

Partisipasi Organisasi Sosial Lokal dalam Pembangunan Kesejahteraan Sosial

(Alit Kurniasari)

g)

Kelemahan administratif baik secara umum maupun teknis, berupa pencatatan, pelaporan yang dapat digunakan untuk publikasi dan kehumasan. Kurangnya pembinaan lanjut dan evaluasi terhadap perkembangan organisasi sosial.

komunitas masyarakat dengan menjunjung tinggi hak azasi manusia serta nilai sosial budaya setempat. Ruang lingkup Pembangunan Kesejahteraan Sosial mencakup upaya: 1) Menumbuh kembangkan kesadaran, kepedulian, dan tanggung jawab sosial masyarakat, termasuk dunia usaha; 2) Penggalian dan peningkatan potensi dan sumber kehidupan penyandang masalah kesejahteraan sosial; dan 3) Pelembagaan sistem kesejahteraan sosial nasional. Dalam hal ini pembangunan kesejahteraan sosial pada kebijakan pola operasional Depsos, diantaranya adalah: Pemberdayaan Organisasi Sosial/Lembaga Swadaya Masyarakat. Fungsi pembangunan Kesejahteraan Sosial dilaksanakan melalui Usaha Kesejahteraan Sosial; yang mencakup pada kegiatan: 1. Pencegahan, mencakup kegiatan mencegah timbul, meluas, serta kambuhnya permasalahan Kesejahteraan Sosial dalam kehidupan perorangan, keluarga, kelompok, dan komunitas masyarakat. Rehabilitasi, merupakan proses refungsionalisasi dan pemantapan taraf Kesejahteraan Sosial untuk memungkinkan para Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) mampu melaksanakan kembali fungsi sosialnya dalam tata kehidupan dan penghidupan bermasyarakat dan bernegara. Pengembangan, merupakan upaya pemeliharaan dan peningkatan taraf Kesejahteraan Sosial para PMKS melalui penggalian dan pendayagunaan potensi dirinya. Penunjang, merupakan fungsi pendorong dan pendukung yang turut menentukan keberhasilan pembangunan nasional.

h)

3.

Hambatan fungsional a) Sulitnya pengurus menterjemahkan gagasan dan cita-cita idealnya dalam suatu konsepsi operasional yang praktis. Sulitnya pengurus memelihara kesinambungan antara kepentingan organisasi dengan kepentingan para individu pengurus dan anggotanya. Lemahnya kemampuan membina sikap profesional dari anggota yang masih amatir. Ketiadaan tenaga manajemen, tenaga pelaksana profesional dan tenaga administratif yang dapat diandalkan.

b)

c)

d)

2.

Sementara itu kendala external, terjadi dari dua sisi karena timbulnya tantangan-tantangan baru berupa masalah-masalah kesejahteraan sosial yang berkembang dan adanya penyalahgunaan Organisasi dan Usaha kesejahteraan sosial, misalnya sebagai tempat mencari nafkah. B. Pembangunan Kesejahteraan Sosial 3.

Pembangunan Kesejahteraan Sosial bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan nasional. Diselenggarakan sebagai bagian dari upaya mewujudkan integrasi sosial melalui peningkatan ketahanan sosial dalam tata kehidupan dan penghidupan bangsa di dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia. (Poldas Pembangunan Kesejahteraan Sosial, Kep.Mensos RI Nomor 25/HUK/2003; Balatbangsos, Jakarta, 2003). Bertujuan untuk mewujudkan tata kehidupan dan penghidupan yang memungkinkan bagi setiap warga negara untuk mengadakan usaha dan memenuhi kebutuhan dasar hidupnya, baik perorangan, keluarga, kelompok dan

4.

Berdasarkan kutipan di atas, dapat dipahami bahwa hakekat pembangunan kesejahteraan sosial yang dimaksud merupakan upaya peningkatan kualitas kesejahteraan sosial perorangan, keluarga, kelompok dan komunitas masyarakat yang memiliki harkat dan martabat, dimana setiap orang mampu

43

Jurnal Penelitian dan Pengembangan Usaha Kesejahteraan Sosial, Vol 11, No. 03, 2006 : 40-54

mengambil peran dan menjalankan fungsinya dalam kehidupan. Keempat fungsi pembangunan kesejahteraan sosial dimaksud mencakup upaya pemberdayaan dan perlindungan sosial melalui peningkatan kemampuan, kesadaran dan tanggung jawab sosial untuk berperan aktif dalam tata penghidupan dan kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Midgley dalam Adi (2002) menyebutkan batasan kesejahteraan sosial sebagai suatu kondisi sosial dan bukan sekedar kegiatan amal ataupun bantuan sosial yang diberikan oleh pemerintah. Sebagai suatu kondisi kesejahteraan sosial dapat dilihat dari 3 (tiga) unsur utamanya, yaitu (a) sampai dimana tingkatan (derajat) permasalahan sosial yang ada di masyarakat dapat dikelola, (b) seberapa banyak kebutuhan masyarakat dapat dipenuhi dan (c) seberapa besar kesempatan untuk meningkatkan taraf hidup dapat diperluas pada berbagai lapisan masyarakat. Pembangunan Kesejahteraan Sosial secara luas, pada hakekatnya adalah sebagai upaya peningkatan kualitas kesejahteraan sosial baik pada perorangan, keluarga, kelompok dan komunitas masyarakat agar memiliki harkat dan martabat, di mana setiap orang mampu mengambil peran dan menjalankan fungsinya dalam kehidupan. Paradigma kesejahteraan itu adalah : (1) paradigma residual; (2) paradigma institusional dan (3) paradigma developmental. Dari paradigma tersebut Elliot, menekankan bahwa pembangunan sosial (developmental) pada intinya bersifat proaktif, menghindari ’victim blamming’ dengan melakukan perencanaan preventif guna mengembangkan dan memberdayakan berbagai potensi yang ada di masyarakat serta melakukan strategi intervensi (perubahan sosial terencana) yang bersifat multi sistem atau multi level yaitu pada tingkat mikro, mezo, makro. Seperti juga Gray (1997) dalam Adi ((2002) menggambarkan tentang level pembangunan (level of development) sosial menjadi empat level. Keempat level tersebut adalah : Pembangunan pada tingkat mikro (individual level) ini lebih bersifat rehabilitatif dan remedial (penyembuhan) dimana fokus penanganan pada individu atau keluarga yang bermasalah. Fungsi ini diperlukan, terutama untuk mereka yang perlu mendapatkan bantuan

dengan segera.Usaha kesejahteraan sosial yang dilakukan masyarakat bisa berasal dari organisasi non pemerintah yang memfokuskan pada intervensi terhadap individu dan keluarga ataupun kelompok kecil yang berada di lingkungan tersebut. Tetapi juga bisa berasal dari individu-individu di masyarakat tersebut yang secara bersama-sama membentuk organisasi sosial guna menangani permasalahan di tingkat mikro yang ada di masyarakat. Pembangunan pada tingkat Mezzo (community level). Pembangunan dilakukan di level organisasi dan komunitas, dimana pelaku perubahan mencoba mengembangkan program yang bersifat preventif, proaktif dan kreatif bersama masyarakat melalui pengembangan masyarakat (Community Development) dengan pendekatan pelayanan masyarakat (Community Service Approach) dan pendidikan masyarakat (Community Education). Pembangunan pada tingkat ini dilakukan melalui perubahan di tingkat organisasional. Pembangunan mengarah pada peran sebagai entrepreneur, yaitu peran pelaku perubahan dalam menyediakan beberapa bentuk layanan yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat. Pada masyarakat dunia industri, penyediaan layanan ini dikaitkan juga dengan biaya yang harus dibayar masyarakat. Pembangunan di tingkat makro (national level). Pada dasarnya pembangunan di level normatif, dimana agen perubahan berusaha melibatkan diri pada upaya perencanaan dan pembuatan kebijakan sosial. Pembangunan lebih diarahkan pada bagaimana seorang pakar kesejahteraan sosial berusaha mempengaruhi proses pembuatan kebijakan dan pengambilan keputusan di level yang lebih makro dari komunitas lokal, sehingga warna proses perencanaan dan pembuatan kebijakan yang dilahirkan tidak bersifat instruktif, sentralistik dan otoriter. Tetapi lebih mengarahkan pada pembuatan kebijakan yang lebih memperhatikan unsur partisipasi publik, desentralisasi dan demokratis. Pembangunan di tingkat global (international level). Pendekatan ini menitikberatkan pada peran agen perubahan (Agent of Change) dalam mempengaruhi kebijakan di tingkat antar negara. Misalnya dalam agenda pengembangan partisipasi masyarakat dan

44

Partisipasi Organisasi Sosial Lokal dalam Pembangunan Kesejahteraan Sosial

(Alit Kurniasari)

pemerintahan yang baik dan bersih (good and clean governance) baik pelaku perubahan pada organisasi pemerintah dan organisasi non pemerintah keduanya berusaha aktif terlibat dalam beberapa pertemuan dan studi perbandingan antar negara. Masing-masing agen perubahan tidak hanya berusaha untuk dapat mempengaruhi kebijakan di tingkat nasional tetapi juga mempengaruhi perubahan di tingkat internasional. Berdasarkan ESCAP tujuan pembangunan sosial pada dasarnya adalah untuk membangun dan mengembangkan taraf hidup manusia, dengan pendekatan pembangunan yang berpusat pada manusia (people centered development). Pendekatan tersebut pada dasarnya berupaya untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat dengan memfokuskan pada pemberdayaan dan pembangunan manusia. C. Partisipasi Orsos dalam Pembangunan Kesos

Partisipasi organisasi sosial lokal dilakukan melalui proses keterlibatan aktif setiap anggota mulai dari perencanaan program, pengambilan keputusan, pelaksanaan kegiatan serta melakukan evaluasi. Jika proses ini dapat berlangsung maka setiap anggota masyarakat dapat menikmati hasilnya atas suatu usaha perubahan yang terencana, sehingga tujuan tercapai. Selanjutnya program akan berdampak positif dan menjadi lebih efisien dan efektif sebaliknya masyarakat setempat menjadi lebih bertanggung jawab dan menumbuhkan rasa memiliki terhadap program pembangunan yang akan dilaksanakan. Partisipasi masyarakat melalui kelompok, bisa berupa pikiran, tenaga/waktu dan sarana material lainnya ataupun kemauan berupa minat dan sikap. Untuk itu masyarakat perlu diberi kesempatan agar dapat memotivasi untuk berpartisipasi dalam program pembangunan kesejahteraan sosial. Konsep peran serta atau partisipasi masyarakat memiliki prinsip inisiatif dari masyarakat (komunitas), dikerjakan oleh masyarakat dan untuk kepentingan masyarakat tidak dimanipulasi lagi oleh Pemerintah. Mengawali proses keterlibatan masyarakat, maka pendekatan berdasarkan pada kebutuhan yang dirasakan (felt need) oleh masyarakat perlu dilakukan. Selanjutnya berupaya mengembangkan keterlibatan warga sebanyak mungkin dalam upaya memecahkan masalah kebutuhan yang mereka rasakan. Karakteristik taktik dan teknik perubahan yang dilakukan adalah melalui konsensus, komunikasi antar kelompok dan kelompok kepentingan dalam masyarakat, serta diskusi kelompok. Apabila kebutuhan sudah dapat dirasakan oleh masyarakat, maka akan mendorong masyarakat untuk memenuhi kebutuhan tersebut untuk menggali dan mengaktualisasikan kebutuhan riil (real need) karena telah menjadi kekuatan internal dalam pembangunan masyarakat. Selain itu perlunya mengidentifikasi potensi, masalah dan kebutuhan pembangunan, meliputi : (a) kualitas dan kuantitas potensi sosial, (b) Permasalahan sosial dalam pembangunan masyarakat, (c) kondisi-kondisi yang menyebabkan terjadinya permasalahan sosial, (d) tingkat kebutuhan dasar masyarakat.

Organisasi sosial sebagai sarana partisipasi masyarakat dalam melaksanakan UKS, perlu memiliki kemampuan, kemauan dan diberi kesempatan untuk berperan serta dalam pelayanan sosial. Pengertian patisipasi dalam hal ini sebagai keterlibatan diri atau masyarakat/ komunitas tidak semata secara fisik namun secara psikologis (emosional) yang mendorong kesadaran disertai tanggung jawab untuk mencapai tujuan bersama dari kelompok. Partisipasi berperan sebagai alat (instumental) pada pelaksanaan program agar menjadi efisien. Dalam konteks sebab akibat dari logika efisiensi menyebutkan bahwa partisipasi masyarakat berdampak positif terhadap suatu program dan sebaliknya program menjadi positif bila ada partisipasi masyarakat. Pendekatan partisipasi terhadap kegiatan proyek adalah untuk menjawab kebutuhan yang dinyatakan oleh masyarakat dan atas permintaan masyarakat setempat. Partisipasi akan lebih efektif jika inisiatif datangnya dari masyarakat sendiri, sehingga dalam partisipasi masyarakat terkandung unsur kemampuan swadaya dari kelompok masyarakat yang dengan kesadaran dan inisiatif sendiri berupaya untuk memenuhi kebutuhan bersama yang sekaligus dapat memandirikan masyarakat (social sustainable).

45

Jurnal Penelitian dan Pengembangan Usaha Kesejahteraan Sosial, Vol 11, No. 03, 2006 : 40-54

Setelah memahami potensi yang ada, maka selanjutnya dapat mengkondisikan masyarakat untuk secara bersama-sama memahami: (a) berbagai permasalahan sosial yang menonjol, (b) menyusun urutan prioritas masalah yang harus segera ditangani, (c) memahami potensi dan sumberdaya sosial yang dapat dimanfaatkan dalam program pembangunan masyarakat. Selama proses berlangsung sebenarnya telah berkembang kesadaran dan persepsi masyarakat tentang sistematika dan kerangka logis proses terjadinya (causality) antar masalah yang ada serta menumbuhkan upaya mengatasi permasalahan. Dengan menciptakan jejaring kelembagaan kolaboratif maka kegiatan organisasi lokal menjadi lebih efektif, yaitu dengan mengembangkan kelembagaan-kelembagaan tersebut. Sistem jejaring kolaboratif yang terbentuk pada prinsipnya harus mampu menjalin hubungan berdasarkan prinsip kesetaraan diantara organisasi yang ada, dengan tetap mempertimbangkan mekanisme sistem lokal yang berlaku. Dalam pengembangan jejaring antar lembaga secara kolaboratif, memiliki prinsip-prinsip (a) berdasarkan aktifitas di tingkat komunitas, (b) informal, (c) kesetaraan, (d) mengutamakan keikutsertakan semua pihak, (e) komitmen, (f) sinergi, (g) mengembangkan relasi horizontal dan vertikal, (h) sarana mengembangkan kesadaran kritis. Dengan prinsip-prinsip tersebut jejaring akan mampu mengkombinasikan fungsi-fungsi yang diperlukan bagi penyelesaian masalah komunitas melalui pertukaran informasi, pengalaman dan pengetahuan serta penyediaan sumber daya yang berasal dari tingkat komunitas, maupun tingkat diatasnya. Oleh karena itu, dalam upaya peningkatan mutu kehidupan komunitas, diperlukan kesediaan atau kerelaan pihak-pihak lain untuk melibatkan diri sesuai dengan fungsinya masing-masing. Forum yang diadakan merupakan forum kemitraan, bukan milik satu stakeholder semata. Tidak ada sub ordinasi artinya forum ini forum kesetaraan. Untuk kelancaran forum diperlukan sekretariat yang berfungsi menggambarkan potensi, aktivitas, realitas dan permasalahan, termasuk deskripsi kebutuhan dan keinginan masyarakat setempat. Dengan demikian partisipasi masyarakat merupakan alat efektif untuk memobilisasasi sumber-sumber setempat dalam melaksanakan

suatu program. Berbagai hambatan perlu dipertimbangkan bila saja partisipasi masyarakat dalam melaksanakan program berkurang, seperti (1) terjadinya penolakan internal dikalangan anggota masyarakat, (2) hambatan-hambatan structural, berupa status sosial, jenis kelamin dan umur. Sebagai suatu metode, maka faktor pendukung dalam partisipasi masyarakat seperti motivasi tetap diperlukan dan fungsi pemerintah adalah untuk memobilisasi sumber-sumbernya.

III. KERANGKA MODEL TEORITIS
Pembangunan Kesejahteraan Sosial secara luas, pada hakekatnya adalah sebagai upaya peningkatan kualitas kesejahteraan sosial baik pada perorangan, keluarga, kelompok dan komunitas masyarakat agar memiliki harkat dan martabat, dimana setiap orang mampu mengambil peran dan menjalankan fungsinya dalam kehidupan. Pembangunan kesejahteraan sosial dapat dilakukan melalui level institusional atau level Mezo, yaitu melalui organisasi sosial (lokal). Sebagai pelaku perubahan, kemampuan, kemauan yang dimiliki organisasi lokal perlu diberi kesempatan lebih berperan serta dalam pelayanan sosial. Agar hasilnya efektif maka masing-masing organisasi lokal (lokal) perlu berkolaborasi. Dengan memperhatikan hubungan berdasarkan prinsip kesetaraan diantara organisasi yang ada, sambil tetap mempertimbangkan mekanisme pada sistem lokal yang berlaku. Dalam hal ini penting dilakukan pendekatan partisipatif. Tehnik yang digunakan dari pendekatan ini berawal pada kebutuhan yang (felt need) oleh masyarakat. Upaya ini dilakukan dengan melibatkan warga sebanyak mungkin dalam upaya memecahkan masalah kebutuhan yang riil. Apabila kebutuhan, masalah dan potensi masyarakat telah teridentifikasi, selanjutnya perlu diketahui kondisi yang menyebabkan terjadinya permasalahan sosial. Taktik dan tehnik yang dilakukan melalui konsensus, komunikasi antar kelompok dan kelompok kepentingan dalam masyarakat, serta diskusi kelompok. Kondisi ini akan menjadi kekuatan internal, karena organisasi lokal dengan kemampuan, kemauan yang dimiliki telah diberi kesempatan untuk terlibat dalam salah satu unsur pembangunan kesejahteraan sosial yaitu

46

Partisipasi Organisasi Sosial Lokal dalam Pembangunan Kesejahteraan Sosial

(Alit Kurniasari)

mampu mengelola permasalahan sosial yang dihadapi masyarakat sekitarnya. Manfaat yang diperoleh tidak semata secara fisik namun secara psikis dan sosial akan mendorong kesadaran disertai tanggung jawab untuk mencapai tujuan bersama. Jika diskemakan terlihat sebagai berikut:
Pembangunan Kesejahteraan Sosial Pembangunan Tingkat Mezo

Pengelolaan Permasalahan Sosial

Pendekatan Partisipasi

Kolaborasi Organisasi Lokal

Organisasi Sosial(Lokal)

- Kendala - Pendukung (Kemampuankemampuan)

Pembangunan kesejahteraan sosial pada tingkat mezzo, dapat dilakukan melalui organisasi sosial lokal. Dalam hal ini, organisasi sosial lokal perlu berkolaborasi serta dilakukan dengan pendekatan partisipatif dalam mengelola permasalahan yang dihadapi masyarakat. Semua ini menjadi kekuatan internal masyarakat, untuk melaksanakan kegiatan pelayanan sosial sehingga hasilnya menjadi optimal, efisien dan efektif.

IV. HASIL PENELITIAN
Kecamatan Sirimau Kelurahan Rijali dan Waihaong berada di kota Ambon. Kelurahan Rijali berpenduduk 3.332 jiwa terdiri dari 1.556 laki-laki dan 1.777 perempuan. Berdasarkan dari segi usia penduduk cukup merata jumlahnya, walaupun yang paling banyak berusia antara 15- 30 tahun (1.519 jiwa) disusul oleh penduduk berusia dibawah 0-14 tahun (921 jiwa). Latar belakang pendidikan mayoritas adalah SLTA, dengan latar belakang pekerjaan dalam sektor informal pada bidang jasa, dagang dan tukang ojek. Mayoritas penduduknya beragama Kristen Protestan yaitu sebanyak 2.564 jiwa. Kelurahan Waihaong berpenduduk 6.235 jiwa terdiri dari 3.087 lakilaki dan 3.148 perempuan. Tingkat pendidikan cukup merata dari tingkat SD, SLTP dan SLTA, , dengan mata pencaharian mayoritas adalah swasta, sebagai pedagang (163 jiwa) disusul sebagai nelayan (120 jiwa) dan PNS (107 jiwa). Jika dibandingkan dengan Kelurahan Rijali,

maka Kelurahan Waihaong penduduknya lebih banyak yang memiliki pekerjaan tetap. Mayoritas penduduknya beragama Islam yaitu sebanyak 6.038 jiwa. Kehidupan kemasyarakatan di Ambon, dilatarbelakangi oleh budaya pelagandong; (pela artinya persatuan atau persahabatan antar warga dari dua desa atau negeri dan gandong artinya sekandung). Kehidupan masyarakat sebelum kerusuhan saling menghormati dan mengasihi, tolong menolong (baku masuk). Walau berbeda agama dan suku mereka saling membantu (masohi) baik berupa dana, tenaga dalam pembuatan rumah ibadah maupun saling berkunjung dalam perayaan hari besar. Demikian juga halnya kumpul-kumpul (panasbela) mampu merekatkan antar desa yang tergantung pada keputusan desa. Walaupun diakui oleh beberapa informan bahwa budaya tersebut, sudah mulai luntur terlebih setelah terjadinya kerusuhan, seperti timbulnya rasa curiga diantara warga berlainan agama. Kehidupan serta permasalahan penduduk yang cukup dinamis, serta lokasinya sangat dekat dengan pusat awal terjadinya kerusuhan yaitu Batu Merah. Organisasi keagamaan diwakili oleh kelompok Pengajian, Majelis Taklim, Kelompok Muhabet, Angkatan Muda. Sedangkan organisasi berbadan hukum diwakili oleh Yayasan Micromap. Kelompok masyarakat diwakili oleh PKK dan kelompok arisan. Kelompok pemuda diwakili oleh kelompok karang taruna. A. Kegiatan organisasi dapat diidentifikasi sebagai berikut: Yayasan Micromap Sebagai organisasi berbadan hukum, sejak tahun 2002 memiliki kegiatan mengembangkan dan memberdayakan sumber daya manusia dengan spesifikasi pada IPTEK. Namun juga memiliki program usaha kesejah-teraan sosial, yaitu pembinaan anak jalanan, melalui rumah singgah “Sinar Harapan”. Selain itu memberdayakan keluarga nelayan miskin di pesisir kota Ambon serta di Pulau Anyu-Anyu, memberikan kartu bebas biaya berobat dan bantuan usaha ekonomis produktif bagi keluarga miskin.

1.

47

Jurnal Penelitian dan Pengembangan Usaha Kesejahteraan Sosial, Vol 11, No. 03, 2006 : 40-54

Faktor pendukung organisasi ini yaitu adanya akses dengan instansi pemerintah seperti Depsos, Depkes serta Universitas Pattimura dan dengan LSM asing. Selain itu memiliki SDM yang memadai terutama dari pelatihan bagi pengurus dalam keterampilan life skill, pemetaan, pengelolaan keuangan, perencanaan program secara bottom up serta kemampuan pendampingan (advocad) di lapangan. Kemampuan pendampingan seperti memperkuat nilai-nilai keagamaan dan merubah pola pikir pemuda dalam memandang agama dengan konsep kerukunan, kemampuan memotivasi pemuda untuk memanfaatkan bantuan dengan tidak mengharapkan bantuan semata serta kemampuan mengalihkan suasana traumatic dari masyarakat. Sumber dana diperoleh dari pemerintah, project pemetaan, akademisi, warga masyarakat dan LSM asing seperti CARDI dan World Vision. 2. Majelis Ta’lim Al Gufhron Organisasi Majelis Taklim ini dibentuk pada tahun 2004 atas keinginan para kaum ibu Kelurahan Waihaong. Aktif dalam kegiatan keagamaan yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat khususnya kaum ibu, anak-anak dan para muallaf. Tujuan perkumpulan ini diharapkan oleh pendirinya, dapat menarik masyarakat Islam untuk lebih mengetahui dan memahami agama yang dianutnya melalui berbagai kegiatan yang ada. Kegiatan sosial yang dilakukan, seperti menyantuni anak yatim, kaum dhuafa, lansia, menyelenggarakan khitanan massal bagi anak kurang mampu dan santunan kematian bagi keluarga anggota Majelis Ta’lim. Sumber dana diperoleh dari anggota pengajian dan donatur tetap. Keberhasilan organisasi dalam melaksanakan kegiatan tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak seperti unsur masyarakat, aparat kelurahan, organisasi lain, seperti Bhayangkari selain dari pimpinan dan partisipasi peserta

pengajian yang hampir diikuti oleh kaum perempuan di kelurahan Waihaong. Kendala yang dihadapi organisasi untuk mewujudkan kegiatan yaitu terbatasnya sumber dana, kemampuan ekonomi masyarakat, khususnya untuk menyantuni fakir miskin dan warga masyarakat yang menjadi korban kerusuhan. Dana yang tersedia tidak sebanding dengan korban kerusuhan beragama Islam dan permasalahan sosial lainnya, yang diketahui oleh Majelis Ta’lim. 3. Kelompok Muhabet Pengasihan Kelompok ini terbentuk sejak tahun 1953, berawal dari kumpulan rutin beribadah diantara warga di wilayah Rijali. Bertujuan untuk melayani warga masyarakat yang mengalami musibah kematian. Misinya adalah untuk meringankan dan membantu orang yang sedang mengalami musibah kematian. Jumlah anggota saat ini 158 orang. Kegiatan yang dilakukan tidak terbatas pada pemberian santunan kematian maupun menolong bagi warga yang terkena musibah, namun juga melakukan dukungan moril bagi keluarga yang mengalami korban kerusuhan. Perhatiannya terhadap keluarga kurang mampu, khususnya pada anggota Muhabeth cukup besar. Diketahui bahwa masih terdapat 10% dari jumlah anggota Muhabeth adalah keluarga prasejahtera. Perannya pada saat terjadi kerusuhan, perkumpulan ini mampu melindungi warga masyarakat yang menjadi sasaran perusuh, tanpa memandang perbedaan agama. Mereka berpandangan bahwa korban kerusuhan memerlukan dukungan lebih dibandingkan keluarga yang mengalami musibah kematian atau sakit. Faktor pendukung kelompok ini adalah ikatan kekerabatan Pelagandong yang masih mewarnai serta faktor agama yang cukup kuat. Dukungan moral yang diberikan oleh kelompok ini mampu menenangkan warga masyarakat yang sedang dilanda musibah kerusuhan. Jangkauan kegiatan yang dilakukan

48

Partisipasi Organisasi Sosial Lokal dalam Pembangunan Kesejahteraan Sosial

(Alit Kurniasari)

kelompok ini tidak terbatas bagi wilayah Rijali namun mampu menjangkau masyarakat atau keluarga yang berada diluar wilayah kelurahan. Jumlah anggota semakin meningkat seiring dengan banyaknya masyarakat yang membutuhkan. Sumber dana selama ini menggantungkan pada iuran wajib anggota, sehingga faktor dana menjadi kendala dalam penanganan masalah yang dihadapi masyarakat sekitarnya. Jumlah dana tersedia tidak sesuai dengan jumlah korban kerusuhan maupun warga masyarakat sekitar yang menjadi perhatian kelompok. 4. Kelompok Angkatan Muda Kelompok ini sebagai ranting ke 14 dari kelompok Angkatan Muda Gereja, memiliki tujuan untuk memberdayakan pemuda-pemudi yang ada di lingkungan Rijali. Anggotanya berusia antara 17-45 tahun, berjumlah sampai 56 orang. Kegiatan kelompok tidak hanya menyelenggarakan kebaktian namun juga mengikutsertakan anggota dalam berbagai pelatihan ketrampilan. Pelatihan yang pernah diikuti seperti (1) kepemimpinan pemuda Gereja (PKPG); (2) keterampilan membuat kue; (3) membuka modal usaha ; (4) keterampilan tarik suara/menyanyi dan tari-tarian. Walaupun dana menjadi kendala dalam penyelenggaraan kegiatan, akan tetapi kelompok mampu menyelenggarakan kegiatan dengan swadaya, berusaha mandiri dalam penyelenggaraan kegiatan. Potensi yang dimiliki yaitu mampu menampung pemuda sekitarnya dalam organisasi keagamaan, maupun pemberian kegiatan kete-rampilan. Mampu bekerja sama dalam berbagai penyelenggaraan kegiatan untuk meningkatkan kemampuan anggota. Kelompok Arisan/PKK Kelompok ini terdiri dari ibu-ibu sekitar Kelurahan Rijali dengan berbagai suku bangsa dan agama. Sebelum terjadinya kerusuhan, kelompok ini mampu

menggalang berbagai kegiatan ibu-ibu di wilayahnya, meliputi pe-ngelolaan dana bergulir, membantu kegiatan Posyandu, PIN maupun kegiatan tingkat kelurahan lainnya. Disamping itu aktif melakukan kegiatan sosial, seperti mengunjungi warga yang mengalami kesulitan atau musibah, maupun membantu ekonomi rumah tangga anggotanya. Sejak terjadi kerusuhan kegiatan ini tidak dapat berlangsung lagi, mengingat beberapa warga masih dalam pengungsian. Potensi yang dimiliki dari kelompok ini adalah kepedulian pada warga yang mengalami masalah serta hubungan sosial atas dasar ketetanggaan yang dijalin oleh anggotanya masih tetap berlangsung, meskipun berada ditempat pengungsian. Kondisi pasca kerusuhan belum memungkinkan warga muslim yang mengungsi menempati kembali rumahnya. B. Faktor Pendukung dan Penghambat Kegiatan Organisasi Lokal

Beberapa faktor yang mendukung dan menghambat kegiatan organisasi lokal : 1. Faktor pendukung; a) adanya figur kepemimpinan kharismatik dari setiap kelompok, sebagai tokoh masyarakat maupun keagamaan. Sekaligus dapat mengikat anggotanya dalam kegiatan kemasyarakatan. b) kepedulian seluruh organisasi lokal terhadap berbagai permasalahan sosial sekitarnya, seperti terhadap anak-anak terlantar, pemuda pengangguran, wanita dan keluarga yang kurang beruntung, lansia. Dengan berusaha semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan yang dimiliki untuk memberi dukungan moril maupun materil. c) Ikatan kekerabatan, hubungan ketetanggaan dan ikatan agama yang mewarnai organisasi lokal mampu mengikat perilaku warga masyarakat untuk terlibat dalam kegiatan organisasi lokal.

5.

49

Jurnal Penelitian dan Pengembangan Usaha Kesejahteraan Sosial, Vol 11, No. 03, 2006 : 40-54

d)

Adanya organisasi berbadan hukum yang memiliki jaringan luas dan sumber daya manusia yang cukup memadai bagi proses pendampingan.

2.

Faktor penghambat dari organisasi; a) terbatasnya dana dan sarana, dimana target sasaran penanganan lebih besar daripada dana yang tersedia. b) Sikap mental yang dimiliki warga masyarakat, khususnya “orang Ambon” yang cenderung malas, masa bodoh, hidup konsumtif. Faktor penghambat secara struktural yaitu : a) Terbatasnya data keluarga pra sejahtera. b) Lemahnya pengawasan atau monitoring terhadap pemberian bantuan bagi keluarga yang membutuhkan. c) Kurangnya tenaga pendampingan sehingga sulit memantau penggunaan bantuan dan pembinaan bagi keluarga pra sejahtera. d) Kondisi alam dan geografis, dengan penyebaran penduduk yang bermukim di pelosok yang sulit terjangkau pembinaan. e) Belum adanya pembinaan khususnya bagi organisasi sosial lokal. Upaya Organisasi Sosial Lokal Berpartisipasi Terhadap Penanganan Masalah

C.

Keterlibatan organisasi lokal, dalam penanganan masalah, perlu ditelusuri terlebih dahulu dari pemahamannya terhadap problematika sosial yang ada. Permasalahan apa yang paling dirasakan oleh warga masyarakat yang diwakili oleh organisasi lokal. Melalui diskusi kelompok antar organisasi lokal, diketahui bahwa permasalahan sosial yang banyak dihadapi oleh masyarakat yaitu ; masalah keluarga pra sejahtera, masalah pengungsi dan banyaknya pemuda yang menganggur, masalah pengungsi korban kerusuhan. Adapun kebutuhan yang paling dirasakan (felt need) berkaitan dengan

permasalahan yang akrab oleh hampir seluruh kelompok yaitu penanganan pada keluarga pra sejahtera. Masalah ini menjadi hal yang perlu ditangani, mengingat dampaknya akan turun temurun pada anak-anaknya. Sedangkan masalah korban kerusuhan dipahami sebagai masalah yang perlu penanganan secara menyeluruh dan berada di tingkat pemerintah. Sehingga masalah keluarga pra sejahtera menjadi prioritas utama karena dirasakan dan berada dekat dengan kehidupan mereka. Dari hasil diskusi kelompok, diperoleh gambaran bahwa penyebab timbulnya masalah tersebut bersumber dari sikap mental warganya selain terbatasnya pendidikan serta keterampilan yang dimiliki oleh pemuda. Namun penyebab paling utama adalah faktor sikap mental, seperti hidup malas, gaya hidup konsumtif dari warga masyarakat. Sedangkan faktor pendidikan tidak menjadi penyebab utama, karena kenyataannya pendidikan tinggi tidak menjamin sikap mentalnya. Demikian juga halnya dengan kondisi kerusuhan bukan menjadi penyebab keluarga pra sejahtera, bisa saja tidak sejahtera sejak sebelum kerusuhan. Diyakini oleh tokoh masyarakat seandainya anggota masyarakat memiliki kemauan untuk bekerja, tidak konsumtif dalam kehidupan sehari-hari, maka keluarga tersebut tidak semakin hidup pra sejahtera. Peran organisasi lokal selama ini masih bersifat sektoral dalam penanganan masalah, sehingga dinilai kurang efektif. Berbagai kendala ditangani sendiri-sendiri tanpa adanya saling mendukung, sehingga hasilnya menjadi kurang optimal. Oleh karena itu, perubahan sistem pembinaan bagi penanganan keluarga pra sejahtera perlu segera dilakukan. Melalui diskusi kelompok antar organisasi sosial lokal, memberikan saran untuk membentuk koordinator diantara organisasi sosial. Artinya membentuk sistem koordinasi diantara organisasi sosial maupun organisasi lokal. Sistem koordinasi yang dimaksudkan yaitu: melakukan koordinasi di tingkat instansi, kelembagaan dan di tingkat kelurahan. Artinya, bentuk koordinasi tersebut merupakan wujud kolaborasi organisasi sosial lokal. Dalam hal ini, koordinator di tingkat kelurahan, harus berasal dari masyarakat, bukan bentukkan pemerintah. Dalam hal ini, masyarakatlah yang diberi kesempatan untuk mengelola dan menentukan kepengurusannya, sehingga perlu

50

Partisipasi Organisasi Sosial Lokal dalam Pembangunan Kesejahteraan Sosial

(Alit Kurniasari)

dibedakan dengan LKMD. Hal tersebut diungkapkan bahwa LKMD adalah bentukkan pemerintah, yang dinilai tidak mewakili kebutuhan masyarakat. Perubahan sistem pembinaan yang dimaksud, pada dasarnya bertujuan untuk merubah pola pikir sekaligus sikap mental penyandang masalah. Langkahlangkah yang disarankan kelompok yaitu : 1. Membentuk kelompok kerja; pemberian nama kelompok kerja tergantung pada kebutuhan masyarakat, misalnya: kelompok kerja ekonomi, karena masalah peningkatan ekonomi yang menjadi kebutuhan masyarakat. Melakukan pendataan keluarga pra sejahtera; adapun petugas pendataan bisa dilakukan oleh anggota Karang taruna, PKK maupun PSM. Melakukan assessment, untuk menggali keinginan dan kebutuhan masyarakat, sehingga dapat memberi sumbangan bagi perencanaan program apa yang sebenarnya dibutuhkan warga masyarakat, sehingga perencanaan berlangsung secara bottom up. Melakukan pemberdayaan pada kelompok kerja melalui bimbingan pelatihan dan pemberian stimulan, termasuk memberikan pendampingan bagi penyandang masalah. Melakukan koordinasi dalam pelaksanaan program, baik dengan tingkat vertikal maupun horizontal. Monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan kerja

2.

Pelaksana kelompok kerja terdiri dari: Lurah sebagai koordinator, anggotanya RW-RT, tokoh pemuda, tokoh masyarakat, tokoh agama, kelompok masyarakat, kelompok agama, tokoh adat, tokoh perempuan. Dalam hal ini aparat pemerintah hanya berfungsi sebagai fasilitator dalam pelaksanaan program. Pendampingan dapat dilakukan oleh LSM yang memiliki keahlian untuk itu terutama selama proses assesment maupun selama pelaksanaan melalui konseling. Selalu melakukan koordinasi baik lintas sektoral antar organisasi dan aparat pemerintah setempat maupun secara vertikal dengan instansi pemerintah yang berwenang seperti Dinsos, ataupun dengan sumber-sumber lain yang dimiliki masing-masing organisasi lokal.

3.

4.

2.

3.

V.

ANALISIS TEMUAN PENELITIAN

4.

5.

6.

Dalam pelaksanaannya perlu memperhatikan beberapa faktor meliputi ; 1. Perlu adanya trust atau saling percaya. Kepercayaan akan timbul jika pelaksananya adalah orang-orang yang memiliki perasaan senasib dan adanya ikatan emosional diantara warganya. Hal ini hanya bisa berlangsung bila pelaksana adalah warga masyarakat pilihan yang sudah diketahui kredibilitasnya dan telah dipercaya. Seandainya tidak ada lagi kepercayaan maka pekerjaan yang akan dilakukan menjadi sia-sia.

Dalam konteks pembangunan kesejahteraan sosial, organisasi sosial lokal yang eksis di kedua wilayah tersebut dapat disebut sebagai self help organization. Bentuk organisasi atas dasar kekeluargaan, suku, agama, maupun budaya yang eksis di kelurahan Rijali dan Waihaong telah berupaya memenuhi kebutuhan dan menangani masalah yang dihadapi, seperti menghadapi musibah kematian, maupun kerusuhan yang secara tidak langsung berdampak pada kehidupan masyarakat. Sejalan dengan meningkatnya permasalahan yang dihadapi baik pada anak-anak terlantar sebagai korban kerusuhan, maupun keluarga yang kurang beruntung, menuntut untuk melakukan kegiatan sosial selain kegiatan utama. Kegiatan bernuansa agama seperti kelompok Majelis Ta’lim Al Gufhron dan Angkatan Muda, serta kelompok atas kekerabatan yaitu Muhabeth dan hubungan ketetanggaan yang dijalin melalui kegiatan arisan maupun kelompok lainnya, telah mampu menggerakkan kelompok untuk peduli terhadap berbagai permasalahan yang ada di sekitarnya. Artinya kegiatan yang ditampilkan organisasi sosial lokal mampu memberikan pemenuhan

51

Jurnal Penelitian dan Pengembangan Usaha Kesejahteraan Sosial, Vol 11, No. 03, 2006 : 40-54

kebutuhan spiritual maupun sosial walau hanya sedikit yang menyentuh pada kebutuhan ekonomi. Terpenting dalam hal ini kelompok tesebut mampu melibatkan berbagai unsur dalam masyarakat, seperti kalangan pemuda, perempuan, agamawan dan budaya setempat. Kondisi ini menunjukkan bukan hanya kegiatan bersifat amal semata namun juga adanya tanggung jawab sosial masyarakat terhadap permasalahan yang dihadapi. Hubungan silaturahmi diantara anggota atas dasar hubungan kekerabatan, budaya pelagandong, kehidupan beragama menjadi potensi yang mempersatukan anggota masyarakat dalam suatu kegiatan. Ditinjau dari segi fungsi, kegiatan yang dilakukan masih terbatas pada fungsi pencegahan (Preventif) terhadap masalah yang dihadapi masyarakat setempat. Walaupun penanganan masalah yang dilakukan masih bersifat sementara seperti membantu keluarga kurang mampu, anak terlantar dan keluarga yang terkena musibah seperti sakit, meninggal. Kenyataannya upaya yang dilakukan oleh masing-masing organisasi sosial lokal mampu meringankan masalah, yang dihadapi anggota masyarakat, agar tidak semakin terpuruk. Memahami potensi yang dimiliki organisasi sosial lokal, serta kebutuhan dasar dari masyarakat, maka selanjutnya dapat diberi kesempatan untuk menangani permasalahan yang dihadapi. Berbagai kendala organisasi sosial lokal seperti terbatasnya dana dan sarana dalam pelaksanaan kegiatan, dapat dihadapi seandainya kegiatan dilakukan secara kolaborasi. Dengan memanfaatkan potensi yang dimiliki masing-masing organisasi sosial lokal, seperti adanya figur kharismatik dari masing-masing organisasi serta kekuatan internal lainnya. Seperti kekuatan yang telah terbangun melalui kepeduliannya ketika ada anggota masyarakat yang terkena musibah, mengalami keterlantaran. Selain itu memanfaatkan jaringan kerja yang telah terbangun dari organisasi berbadan hukum yang ada di wilayah tersebut. Tanggung jawab sosial dan kemampuan swadaya dari kelompok selanjutnya dibangun menuju perubahan yang dilakukan melalui konsensus, diskusi kelompok. Dalam diskusi kelompok terungkap bahwa permasalahan

yang perlu segera ditangani adalah masalah keluarga pra sejahtera. Dari diskusi itu pula muncul pentingnya berkolaborasi diantara organisasi lokal yang ada, dengan tetap memperhatikan mekanisme yang telah berlangsung. Semua organisasi sosial lokal merencanakan langkah-langkah yang perlu ditempuh dalam penanganan masalah. Langkah yang dimaksud seperti melalui pembentukkan forum. Forum dimaksud berupa kelompok kerja yang disesuaikan dengan permasalahan yang akan ditangani. Langkahlangkah yang dilakukan mulai dari tahap pendataan, assessment, terhadap kebutuhan masyarakat yang melibatkan seluruh anggota organisasi lokal. Hal ini dimaksudkan sebagai bentuk pendekatan partisipatif dimana masingmasing organisasi lokal diberi kesempatan untuk berperan sesuai dengan kemauan dan kemampuan yang dimiliki. Agar semua aspirasi dan kemauan masyarakat termasuk penyandang masalah itu sendiri dapat terakomodasikan. Dalam proses selanjutnya perlu dilakukan pelatihan keterampilan sebagai modal dasar keluar dari masalahnya serta memberikan bantuan stimulan. Untuk hal ini Forum atau Kelompok Kerja tidak dapat melaksanakan sendiri namun perlu adanya keterlibatan tenaga profesional dari pemerintah maupun swasta atau dunia usaha untuk memonitor dan mendampingi keberlangsungannya. Peran pemerintah dalam hal ini berfungsi sebagai fasilitator, controler maupun tehnikal assisten. Catatan dari analisis tersebut yaitu inisiatif yang muncul dari hasil diskusi kelompok, sebagai aspirasi yang muncul dari lapisan bawah, perlu diakomodasi kedalam perencanaan program penanganan fakirt miskin diwilayahnya. Terpenting adalah dalam pelaksanaannya perlu melibatkan unsur pemerintah maupun sektor swasta lainnya seperti perguruan tinggi atau dunia usaha.

VI. PENUTUP
A. Kesimpulan Partisipasi organisasi lokal dalam pembangunan kesejahteraan sosial, dapat berperan melalui pengelolaan masalah sosial yang ada di sekitarnya. Permasalahan yang dihadapi di Kelurahan Waihaong dan Rijali

52

Partisipasi Organisasi Sosial Lokal dalam Pembangunan Kesejahteraan Sosial

(Alit Kurniasari)

adalah keluarga pra sejahtera. Bagaimana organisasi sosial lokal di kedua wilayah tersebut mengelola permasalahan, dapat diberi kesempatan untuk terlibat lebih banyak lagi. Dalam hal ini organisasi lokal perlu berkolaborasi. Kelompok keagamaan seperti Majelis Taqlim, Muhabeth, kelompok pemuda melalui Karang Taruna, Angkatan Muda, serta Yayasan Micromap dapat merencanakan program penanganan masalah secara bersamasama. Kedudukan dari masing-masing kelompok perlu setara, dengan memegang teguh kejujuran dan transparansi serta berfungsi sesuai dengan kemampuan dan potensi yang dimiliki. Bentuk kolaborasi yang disarankan adalah berupa kelompok kerja atau forum, yang benar-benar bentukkan masyarakat bukan bentukkan pemerintah. Dalam hal ini pemerintah berfungsi sebagai fasilitator atau berfungsi sebagai tehnikal asistensi. Penentuan program kegiatan dapat direncanakan terlebih dahulu melalui musyawarah bersama, dimulai dari pendataan dan assesment terhadap berbagai kebutuhan yang dirasakan keluarga pra sejahtera. Jika memahami penyebab keluarga pra sejahtera yang dikemukakan pada diskusi kelompok yaitu faktor mental atau sikap malas dan hidup konsumtif dari warga masyarakat, namun hal ini masih dilihat dari sudut pandang orang luar, sehingga perlunya memahami dari sudut pandang penyandang masalah itu sendiri. Oleh karenanya assesment terhadap terhadap keluarga pra sejahtera menjadi penting dilakukan. Sebagai pertimbangan untuk memberdayakan penyandang masalah. Dalam rencana pelatihan keterampilan dan pemberian stimulan tentunya perlu melibatkan pemerintah sebagai penyandang dana. Peran lembaga non pemerintah seperti LSM asing, dunia usaha atau perguruan tinggi berfungsi sebagai pendamping atau partner dalam pelaksanaannya. Fungsi pemerintah selain sebagai fasilitator, juga sebagai berperan sebagai pengendali dan evaluator bagi keberlangsungan pelaksanaan program.

B.

Rekomendasi

Untuk melengkapi proses dimaksud, perlu mempertimbangkan beberapa rekomendasi berikut ini : a. Seiring dengan menjamurnya organisasi sosial dengan munculnya berbagai permasalahan sosial sebagai dampak dari kerusuhan, maka perlu dilakukan seleksi terhadap organisasi sosial yang menangani masalah keluarga pra sejahtera, anak terlantar maupun pengungsi. Khususnya organisasi sosial yang menangani keluarga pra sejahtera perlu diseleksi lebih mendalam agar bantuan dan stimulan menjadi tepat sasaran. Perlunya sistem pengendalian dan monitoring agar pelayanan yang diberikan tepat sasaran atau penerima pelayanan benar-benar memperoleh pelayanan yang disesuaikan dengan kebutuhannya. Dalam hal ini dilakukan pembinaan terhadap organisasi sosial lokal yang menangani permasalahan kesejahteraan sosial serta memberdayakan organisasi sosial lokal sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Sistem pendampingan menjadi penting, mengingat forum atau kelompok kerja yang dibentuk tidak dapat berjalan sendiri, sehingga fungsi kontrol dapat berjalan. Perlunya proses pembangunan yang berpusat pada manusia yang dilakukan dengan pendekatan partisipatif, dalam hal ini Organisasi sosial lokal sebagai wadah partisipasi masyarakat perlu dioptimalkan peranannya, dimulai dengan memfasilitasi gagasan atau ideide yang muncul dari aras bawah. Mengingat pelaksananya di tingkat grass root, maka perlu menciptakan trust dari penyandang dana dengan pelaksana program, demikian sebaliknya.

b.

c.

d.

53

Jurnal Penelitian dan Pengembangan Usaha Kesejahteraan Sosial, Vol 11, No. 03, 2006 : 40-54

e.

Mengingat adanya Wahana Kesejahteraan Sosial Berbasis Masyarakat (WKSBM) dalam konteks kebijaksanaan pembangunan kesejahteraan sosial di Indonesia. Perlu dirumuskan alat, wadah, sarana maupun media yang efektif digunakan masyarakat untuk melaksanakan UKS secara berkelanjutan. Sebagai jaringan kerja kelembagaan sosial komunitas lokal baik yang tumbuh

melalui proses alamiah dan tradisional maupun lembaga yang sengaja dibentuk untuk mensinergikan pelaksanaan tugas di bidang usaha kesejahteraan sosial seperti kelompok arisan, kelompok usaha bersama, lumbung desa dan nilai budaya lokal. Maka spirit yang terkandung dalam pembentukkan WKSBM tetap mengedepankan pendekatan partisipatoris.

DAFTAR PUSTAKA
Adi, Isbandi Rukminto, 2002. Pemikiran-pemikiran dalam Pembangunan Kesejahteraan Sosial. Jakarta; LPEUI. Anonim, 2004. Monografi Kelurahan Sirimau. Ambon. ............., 1995. “Adat Pela Gandong. Ambon Dapat Tantangan” Suara Merdeka, 25 Januari. .............., 2004. Pedoman Kasifikasi Orsos/LSM. Jakarta; Direktorat PPKSMK Chamsyah, Bachtiar; 2002. Kebijakan dan Strategi Pembangunan Kesejahteraan Sosial. Jakarta; Balatbangsos. Departemen Pendidikan Nasional RI, 2000. Lembaga Budaya Pela dan Gandong di Maluku. Jakarta; Ditjen Kebudayaan. Departemen Sosial RI, 2003. Panduan Umum Penyelenggara Organisasi Sosial/Lembaga Swadaya Masyarakat. Jakarta; Direktorat PPKSMK. Horton, Paul B dan Chester L Hunt, 1987. Sosiologi (Terjemahan : Aminuddin Ram dan Tita Sobari). Jakarta; Erlangga. Nazir, M, 1988. Matode Research. Jakarta; Ghalia. Suharto, Edi, 1997. Pembangunan, Kebijakan Sosial dan Pekerjaan Sosial. Bandung; LSP STKS. Sumarjo dan Saharudin, 2003. Modul Metode-Metode Partisipatif dalam Pembangunan Masyarakat. Bogor; Fakultas Pertanian IPB. Tonny, Fredian & Bambang S. Utomo, 2003. Modul Pengembangan Kelembagaan dan Modal Sosial. Bogor; Fakultas Pertanian IPB.

BIODATA PENULIS : Alit Kurniasari, alumni strata satu dari UNPAD Bandung Fakultas Psikologi Perkembangan, dan Magister IPB Program Studi Pengembangan Masyarakat. Saat ini menjabat sebagai Ajun Peneliti Madya pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial, Badan Pendidikan dan Penelitian Kesejahteraan Sosial, Departemen Sosial RI.

54

PERMASALAHAN SOSIAL TENAGA KERJA WANITA DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PELAYANAN SOSIAL
(Studi Kasus di Daerah Asal, Daerah Transit, dan Daerah Tujuan TKW)
Sutaat

ABSTRAK
Studi ini dilakukan guna mengidentifikasi potensi, masalah, dan kebutuhan pelayanan sosial bagi Tenaga Kerja Wanita (TKW). Hal ini dimaksudkan sebagai input bagi perumusan kebijakan dan program penanganan masalah sosial TKW secara profesional. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa potensi sumber daya TKW relatif rendah baik dari segi pengetahuan maupun kesiapan untuk bekerja di luar negeri. Hal ini terkait dengan masih minimnya persiapan pada TKW sebelum diberangkatkan ke luar negeri. Di samping itu juga adanya praktek-praktek pengiriman tenaga kerja secara ilegal yang lebih mengutamakan pada keuntungan ekonomi semata, negara tujuan kurang memberikan perlindungan terhadap tenaga kerja asing (TKW). Pada akhirnya KBRI banyak dihadapkan pada berbagai masalah yang terkait dengan penyelesaian kasus tenaga kerja bermasalah, baik yang menyangkut legalitas sebagai TKW, tindak kekerasan maupun masalah-masalah lainnya. Penelitian ini merekomendasikan perlunya pelayanan sosial TKW mulai dari pemberangkatan sampai di negara-negara tujuan, dengan cara melibatkan para Pekerja Sosial profesional dalam penyelesaian masalah TKW.

I.

PENDAHULUAN

Menurut informasi di berbagai media masa, saat ini Indonesia masih banyak mengirim tenaga kerja ke beberapa negara, baik di Asia, Eropa dan Amerika. Pengiriman TKW ke Luar Negeri menjadi salah satu alternatif untuk mengatasi masalah pengangguran, karena adanya keterbatasan lapangan kerja di Indonesia. Disamping itu bagi pemerintah, pengiriman TKI/TKW mendatangkan devisa. Sampai bulan September 2004 sumbangan devisa tenaga kerja Indonesia mencapai US $170,87 juta. Sebagian besar dari devisa tersebut berasal dari TKW, khususnya dari sektor informal (Media Indonesia, 2005). Di satu sisi pemerintah memberikan julukan kepada Tenaga Kerja Indonesia sebagai “Pahlawan Devisa”; pada sisi lain pengiriman tenaga kerja ke luar negeri khususnya TKW mempunyai akibat sampingan yang menyangkut masalah kesejahteraan – tindak kekerasan, pelecehan seksual dan sebagainya sebagaimana banyak diekspose di berbagai media cetak maupun elektronik.

Data resmi yang dihimpun oleh Depnakertrans Indonesia (Ditjen, PPTKLN, 2004) jumlah kedatangan TKI bermasalah dari tahun 2002-2004 di kawasan Asia-Pasifik seluruhnya mencapai 14.372 orang. Dari sejumlah TKI tersebut yang terbanyak berada di Singapura (5.793 orang). Sementara itu data penempatan TKI formal dan informal untuk Malaysia mencapai 20.007 orang (16.050 orang di antaranya TKW), dan Singapura mencapai 3.966 orang (seluruhnya TKW). Sebagian besar TKW tersebut dan bahkan untuk Singapura seluruhnya bekerja pada sektor informal (sektor domestik). Salah satu kasus TKW yang sudah pulang ke daerah asal, tercatat bekerja sebagai Pekerja Seks Komersial (PSK) pada tahun 2004 sebanyak 1.954 orang. TKI/ TKW yang dipulangkan dari Serawak melalui Gate Entikong tahun 2003 sebanyak 12.726 orang (dideportasi 2.817 orang, pulang bermasalah 3.551 orang, dan pulang normal 6.358 orang) (Nuryana, 2004). Realitas seperti diuraikan di atas, menunjukkan TKW banyak dihadapkan pada berbagai masalah yang merugikan/

55

Jurnal Penelitian dan Pengembangan Usaha Kesejahteraan Sosial, Vol 11, No. 03, 2006 : 55-66

membahayakan dirinya. Identifikasi pihak-pihak terkait, pengiriman TKW ke luar negeri kurang memperhatikan kebutuhan kesejahteraan sosial TKI/TKW. Berdasarkan fenomena tersebut diatas maka Pusat Penelitian Permasalahan Kesejahteraan Sosial mengadakan kajian yang lebih mendalam melalui penelitian tentang permasalah TKW di enam lokasi dalam negeri (yakni Sumatera Utara, Kalimantan Barat, Jawa Timur, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, dan Batam), dan dua lokasi luar negeri (Malaysia dan Singapura). Selanjutnya dari hasil analisis temuan penelitian ini dikemukakan implikasinya terhadap program penanganan masalah sosial TKW, baik di dalam negeri maupun di negara tujuan. Pertanyaan penelitian ini dirumuskan seperti berikut: Permasalahan sosial apa saja yang dihadapi TKW Indonesia? Bagaimana pelayanan sosial terhadap TKW sejak pemberangkatan sampai di negara tujuan? Berpijak pada rumusan masalah penelitian ini, maka tujuan penelitian dapat dirumuskan sebagai berikut: (1) Teridentifikasinya permasalahan sosial yang dialami Tenaga Kerja Wanita (TKW) sejak keberangkatan sampai di negara tujuan; (2) Teridentifikasinya pelayanan sosial yang dibutuhkan TKW di tempat penampungan sementara (di tempat pemberangkatan dan atau transit serta di negara tujuan/shelter KBRI). Metode yang digunakan penelitian ini adalah deskriptif, yaitu menyajikan gambaran permasalahan sosial dan pelayanan sosial terhadap TKW. Sedangkan pendekatan penelitian ini adalah kualitatif, yaitu data yang dikumpulkan umumya berbentuk kata-kata, gambar dan bukan angka-angka, kalaupun ada angka-angka sifatnya hanya sebagai penunjang. Teknik yang digunakan interview, studi dokumentasi, observasi, dan diskusi (focus group discussion). Informan penelitian ini terdiri dari TKW (di penampungan PJTKI, di Shelter KBRI Kuala Lumpur dan Singapura), Pengurus PJTKI, Instansi tenaga Kerja, Instansi Sosial, Atase Tenaga Kerja, Bidang Konsuler KBRI Kuala Lumpur dan Singapura, Agency, dan Orsos/LSM.

II. TINJAUAN PUSTAKA
Fenomena pengerahan tenaga kerja Indonesia ke luar negeri yang diatur Pemerintah sebenarnya telah dimulai sejak jaman kolonial Belanda, yaitu pengiriman tenaga kerja Indonesia ke daerah koloni seperti ke Suriname, di Amerika Latin. Pengiriman tenaga kerja Indonesia waktu itu merupakan kebijakan Pemerintah Kolonial Belanda dalam rangka pengembangan daerah koloni untuk kepentingan eksistensi jajahan di negara koloni. Sementara itu, migrasi penduduk Indonesia ke luar negeri, atau pengerahan tenaga kerja Indonesia ke luar negeri saat ini tidak hanya kepentingan negara pengguna, tetapi juga kepentingan tenaga kerja Indonesia sendiri sebagai upaya meningkatkan penghasilan. Pengerahan tenaga kerja Indonesia (termasuk Tenaga Kerja Wanita/TKW) ke luar negeri mengalami booming pada tahun 1990an dan terus berlanjut hingga saat ini. Bahkan, pengiriman tenaga kerja menunjukkan kecenderungan adanya dominasi tenaga kerja wanita dengan jumlah lebih besar dibandingkan dengan tenaga kerja laki-laki. Kondisi yang demikian antara lain dipengaruhi oleh terjadinya krisis ekonomi di dalam negeri, dan makin sempitnya lapangan pekerjaan yang tersedia. Meningkatnya arus tenaga kerja wanita Indonesia ke luar negeri juga dipengaruhi oleh meningkatnya partisipasi wanita dalam pasar kerja, dan semakin meningkatnya kebutuhan hidup. Sementara itu di beberapa negara terutama negara berkembang yang sedang mengalami tingkat pertumbuhan ekonomi tinggi seperti Malaysia dan Singapura, pada sektor formal dan informal tertentu memerlukan tenaga kerja dari negara lain dalam jumlah yang cukup banyak. Mobilitas pekerja migran Indonesia ini terus berkembang sejalan dengan perkembangan ekonomi dunia yang semakin terbuka dan saling membutuhkan. Dengan kata lain, kemajuan ekonomi di suatu negara membutuhkan dukungan tenaga kerja bukan saja dari dalam negeri tetapi dari luar negeri. Keberadaan pekerja migran di suatu negara

56

Pemasalahan Sosial TKW dan Implikasinya terhadap Pelayanan Sosial

(Sutaat)

merupakan jawaban atas perkembangan saling-ketergantungan ekonomi tersebut. Makin tinggi intensitas hubungan yang terjalin antarnegara dalam berbagai kehidupan, makin tinggi ketergantungan antar-negara, dan pada gilirannya makin meningkatkan arus migrasi dalam berbagai bentuk (Kritz dan Zlotnik, 1992; Lohrmann, 1989). Tekanan kebutuhan lapangan kerja serta keinginan untuk meningkatkan perekonomian keluarga dan melepaskan diri dari jeratan kemiskinan, kadang-kadang membuat segala pertimbangan rasional dikesampingkan oleh para calon tenaga kerja Indonesia. Rendahnya pendidikan dan rendahnya keterampilan yang dimiliki calon tenaga kerja Indonesia, menjadikan mereka kurang memiliki kekuatan tawar terhadap pengguna tenaga kerja. Di dalam teori ekonomi sering terjadi seperti itu: bila pasokan tenaga kerja berlebih, maka upah akan rendah, dan kalau sudah terjadi kesepakatan, maka sering terjadi pihak majikan memanfaatkan kesempatan untuk mengeksploitasi pekerja migran. Oleh karena itu muncul berbagai permasalahan sosial sekitar pekerja migran Indonesia di luar negeri, terutama di kalangan tenaga kerja wanita yang berada di sektor informal. Hal lain yang juga menimbulkan permasalahan adalah makin banyaknya pengiriman tenaga kerja secara ilegal, dan terjadinya berbagai kasus trafficking. Terkait dengan permasalahan tersebut, berbagai upaya telah dilakukan oleh Pemerintah Indonesia untuk melindungi pekerja migran Indonesia di Malaysia. Untuk ini kesepakatan sebenarnya telah dibuat oleh Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Malaysia, antara lain dalam kesempatan pertemuan antara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan Perdana Menteri Abdullah Ahmad Badawi dalam tanggal 14 Februari 2005 di Kuala Lumpur, Malaysia. Kedua pemimpin itu menyepakati akan menekan jumlah tenaga kerja ilegal di Indonesia hingga mencapai nol persen. Bahkan, Pemerintah Malaysia telah menyediakan sistem matriks yang merekam semua pendatang asing melalui sidik jari. Menurut mereka, sistem tersebut diyakini tidak akan lagi memberi ruang dan peluang bagi pendatang haram (tanpa izin) di negara itu. Meskipun demikian, kenyataan menunjukkan bahwa permasalahan tidak hanya terjadi pada tenaga

kerja ilegal tetapi juga mereka yang tergolong legal. Menurut Soejono pelayanan adalah usaha pemberian bantuan atau pertolongan kepada orang lain, baik materi maupun non materi agar orang itu dapat mengatasi masalahnya sendiri. Pelayanan kesejahteraan sosial (social welfare services) merupakan suatu program ataupun kegiatan yang dirancang untuk menjawab permasalahan yang muncul, kebutuhan masyarakat, ataupun meningkatkan taraf hidup masyarakat. Pelayanan kesejahteraan sosial itu sendiri dapat ditujukan pada individu, keluarga, kelompok-kelompok dalam komunitas, ataupun komunitas secara keseluruhan (baik komunitas lokal, regional, nasional, maupun internasional) (dalam media informasi, 2005). Pelayanan kesejahteraan sosial dalam konsep pekerjaan sosial selalu terkait dengan praktek pekerjaan sosial, yaitu berbagai kegiatan yang melibatkan pekerja-pekerja sosial yang bekerja secara profesional. Hal ini sesuai dengan tujuan dari praktek pekerjaan sosial yaitu mencegah dan menyembuhkan kerusakan hubungan di antara perorangan dengan keluarganya atau persekutuan lainnya. Praktek pekerjaan sosial membantu orang-orang untuk mengidentifikasi dan memecahkan masalah dalam hubungan-hubungan antar mereka atau paling tidak untuk meminimalkan akibat-akibat kerusakan hubungan tersebut (Skidmore Rex, A,1994). Khan melihat pelayanan sosial sebagai general social services, dimana programprogramnya ditujukan untuk membantu, melindungi, dan memulihkan kehidupan keluarga, membantu individu guna mengatasi masalah yang diakibatkan oleh proses perkembangan, dan mengembangkan kemampuan orang untuk memahami, menjangkau, serta menggunakan pelayananpelayanan sosial yang tersedia (Khan, Alfred, 1973). Pelayanan sosial TKW dalam konteks penelitian ini adalah program-program sosial yang dirancang oleh pemerintah maupun masyarakat, yang ditujukan untuk membantu, melindungi, dan memulihkan kehidupan TKW. Pelayanan ini dimaksudkan guna mengatasi masalah-masalah yang diakibatkan oleh faktor internal dan external, serta mengembangkan kemampuan TKW untuk memahami,

57

Jurnal Penelitian dan Pengembangan Usaha Kesejahteraan Sosial, Vol 11, No. 03, 2006 : 55-66

menjangkau, dan menggunakan pelayananpelayanan sosial yang tersedia. Bentuk-bentuk layanan sosial antara lain berupa pendidikan publik, peningkatan SDM, keamanan, kesehatan, tempat tinggal, bantuan advokasi, konsultasi psikologis, dan berbagai layanan sosial lainnya (Midgley, 1995).

III. HASIL PENELITIAN
Setidaknya terdapat empat komponen utama terkait dengan permasalahan tenaga kerja wanita (TKW), yaitu: Perusahaan Pengerah Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI), Agency di negara tujuan, pengguna tenaga kerja (majikan/perusahaan), dan TKW sendiri. PJTKI sebagai lembaga pengirim TKW ke luar negeri mempunyai peran yang cukup besar terhadap kesiapan mental maupun performa TKW dalam pekerjaan di luar negeri. Ketidaksiapan mental dan performa TKW yang rendah dapat memunculkan berbagai masalah dalam pekerjaan, karena TKW akan berada pada posisi saing dan tawar yang rendah. Dengan demikian mereka hanya dapat memasuki lapangan pekerjaan pada level bawah, misalnya pembantu rumah tangga (sektor informal), dan buruh. Pada posisi seperti ini TKW rawan terhadap perlakuan semena-mena dari para majikan, terutama bila tidak ada perlindungan hukum yang memadai. Agency di negara tujuan sebagai partner PJTKI merupakan pintu terakhir bagi TKW sebelum berhubungan dengan majikan. Oleh karena itu peran Agency dalam penyaluran TKW cukup besar. Agency bisa memilih majikan mana yang cocok dan dapat memberikan jaminan pekerjaan, penghasilan, dan kehidupan yang cukup baik bagi TKW. Sebagai badan usaha, secara alamiah setiap Agency berorientasi pada keuntungan ekonomi. Dengan demikian TKW bisa dipandang sebagai obyek yang dapat menghasilkan uang. Konsekuensinya adalah adanya kecenderungan Agency kurang memperhatikan kepentingan TKW yang disalurkannya. Pada gilirannya TKW sendiri akan berada pada lapangan pekerjaan yang belum tentu menjamin keamanan dan kesejahteraan hidupnya. TKW dapat lebih terjamin bila ada perjanjian kesepakatan kerja yang jelas dan saling menguntungkan antara TKW, Agency dan majikan.

Pengguna tenaga kerja wanita atau majikan semestinya mempunyai kewajiban memenuhi kebutuhan pekerja, sesuai dengan hak-haknya sebagai manusia dan sebagai pekerja untuk memperoleh imbalan yang memadai. Pada umumnya secara logis pengguna tenaga kerja (majikan) cenderung lebih mementingkan terselesaikannya pekerjaan dengan baik, daripada mementingkan kondisi kesejahteraan pekerja itu sendiri. Dengan demikian kedudukan pekerja seperti TKW dalam kehidupan majikan adalah sebagai alat yang dapat digunakan sesuai dengan kehendaknya. Besar kecilnya perhatian majikan terhadap kesejahteraan pekerja, akan tergantung pada seberapa besar majikan menunjung tinggi nilai kemanusiaan, dan bagaimana ia menilai pekerja itu cukup baik dan menguntungkan baginya. Berdasarkan hasil penelitian di beberapa daerah penelitian dalam negeri (Sumatera Utara, Batam, Kalimantan Barat, Jawa Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara), termasuk negara tujuan (Malaysia dan Singapura), dapat diidentifikasi beberapa permasalahan sosial TKW, yakni: • Permasalahan sosial psikologis yang muncul di tempat penampungan (di daerah asal maupun transit) antara lain kebosanan/kejenuhan TKW terutama bila mereka tidak segera disalurkan pada lapangan kerja yang diharapkan. Banyak TKW yang mengalami tekanan mental dan fisik, karena beberapa hal, antara lain: 1) TKW mengalami hambatan dalam beradaptasi dengan lingkungan sosial budaya yang jauh berbeda dengan daerah asal; 2) perlakuan sebagian majikan yang kurang manusiawi, tindak kekerasan, dan pelecehan seks/ perkosaan. Sehingga banyak di antara TKW yang lari dari majikan sebelum selesai kontraknya. Hal ini menyebabkan TKW harus kehilangan dokumen yang dibutuhkan, dan akibatnya mereka menghadapi masalah dengan kepolisian dan imigrasi negara setempat, terutama menyangkut legalitasnya untuk tinggal dan bekerja di luar negeri.

58

Pemasalahan Sosial TKW dan Implikasinya terhadap Pelayanan Sosial

(Sutaat)

Kurangnya perlindungan TKW dari tindak kekerasan majikan dan legalitasnya TKW di luar negeri. Masalah legalitas TKW tinggal dan bekerja di luar negeri ini terutama di sebabkan oleh perilaku perorangan atau kelompok orang yang mengirim TKW melalui jalur ilegal. Kurangnya kesempatan untuk bersosialisasi dan dan kurang memperoleh berbagai informasi yang dibutuhkan, sebagai akibat keterbatasan ruang gerak dan kurangnya perhatian para majikan menjadikan TKW tertutup dari dunia luar. Sementara itu hingga kini baik di Malaysia maupun Singapura belum ada hari libur bagi TKW. Ada kecenderungan para majikan over proteksi terhadap TKW, dengan alasan khawatir TKW akan meninggalkan pekerjaan sebelum kontrak selesai. TKW yang ada di penampungan (shelter KBRI) banyak yang mengalami berbagai masalah sosial psikologis. Masalah sosial psikologis ini terutama sering dialami oleh TKW korban tindak kekerasan dan pelecehan seksual atau perkosaan. Beberapa TKW korban perkosaan menunjukkan gejala depresi mental. Sementara itu hingga kini belum ada pelayanan kesejahteraan sosial khusus yang terkait dengan penanganan masalah sosial psikologis.

jaringan pengirim tenaga kerja yang kurang bertanggungjawab, seperti misalnya ulah para calo yang banyak beroperasi sampai ke desadesa. Mereka sering lebih mempropagandakan hal-hal yang menggiurkan seputar pekerjaan di luar negeri, daripada konsekuensi negatif yang mungkin terjadi. Faktor eksternal yang juga ikut mendorong timbulnya permasalahan adalah: a. Di daerah asal (Jawa Timur, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Utara): • Kurangnya informasi tentang prosedur pemberangkatan TKW ke luar negeri. Hal ini menyebabkan TKW mudah dipermainkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab, baik perorangan maupun kelompok-kelompok atau lembaga yang melakukan pengiriman TKW ke luar negeri. Kurang ketatnya pengawasan dalam penerapan peraturan pengiriman tenaga kerja Indonesia ke luar negeri, memberi peluang terhadap para pelaku pengirim TKI/TKW untuk melakukan penyimpangan yang menguntungkan bagi dirinya, daripada untuk kepentingan TKW. Masih minimnya pembekalan (keterampilan teknis, dan pengetahuan) yang diberikan oleh PJTKI kepada calon TKW. Hal ini menjadikan TKW kurang mempunyai kesiapan mental maupun keterampilan yang memadai, sehingga performa TKW di negara tujuan cenderung rendah. Iming-iming keuntungan bekerja di luar negeri tanpa melihat konsekuensi-konsekuensi lainnya, mendorong masyarakat untuk berlomba-lomba mencari lowongan sebagai pekerja di luar negeri tanpa memperhatikan konsekuensi negatifnya. Sering terjadi waktu tinggal dalam penampungan PJTKI cukup lama, karena lambatnya untuk memperoleh “clling visa”.

Permasalahan sosial tersebut dipengaruhi oleh kondisi intern TKW maupun ekstern (di luar TKW). Hasil identifikasi di berbagai lokasi penelitian menunjukkan bahwa sumber daya TKW pada umumnya dapat dikatakan relatif rendah. Hal ini terlihat dari status pendidikan mereka yang rata-rata antara SD SLTP, mayoritas berasal dari perdesaan, dan usia muda/belasan tahun (faktor internal TKW). Faktor internal ini terutama rendahnya pendidikan, menjadikan mereka kurang mampu bersaing dan kurang mampu membela hak-haknya, sehingga memunculkan berbagai permasalahan. Hal lain yang berpengaruh adalah kekurangmampuan mereka memahami berbagai informasi terkait dengan pekerjaan di luar negeri dan berbagai konsekuensinya. Oleh karena itu mereka mudah terlibat dalam

59

Jurnal Penelitian dan Pengembangan Usaha Kesejahteraan Sosial, Vol 11, No. 03, 2006 : 55-66

b.

Didaerah transit (Sumatera Utara, Batam, dan Kalimantan Barat): • Secara geografis di daerah perbatasan/transit banyak jalan tembus yang memudahkan TKW untuk masuk ke negara lain tanpa melalui jalur resmi (terutama jalur ke Malaysia). Hal ini memudahkan bagi para pengirim tenaga kerja untuk melakukan pengiriman TKW secara ilegal. Longgarnya sistem administrasi kependudukan di daerah transit, sehingga memudahkan penyamaran identitas calon TKW. Untuk jangka pendek hal ini tampaknya memberikan keuntungan bagi TKW, karena mudahnya masuk ke negara tujuan. Tetapi untuk jangka panjang bila TKW dihadapkan pada kasuskasus yang merugikan dirinya, akan menyulitkan bagi perorangan atau lembaga untuk memberikan bantuan. Hal ini terutama terjadi bila TKW dihadapkan pada penyelesaian kasus yang memerlukan kontak dengan keluarganya di tanah air (daerah asal).

hubungan kerja. Bagi TKW terutama sulit dalam menuntut hak-haknya, baik hak gaji maupun hak-hak lainnya sebagai pekerja. Kondisi demikian juga memberikan peluang bagi terjadinya pemutusan hubungan kerja yang sepihak tanpa konsekuensi hukum. • Upaya perlindungan dan pembinaan agency kepada TKW masih sangat minim. Agency masih lebih banyak berorientasi pada kepentingan ekonomi, dan cenderung kurang memenuhi perjanjian kerja dengan PJTKI dan TKW. Dalam kondisi yang demikian berarti TKW kehilangan hak untuk memperoleh layanan dan perlindungan secara memadai. Dampak dari kondisi ini adalah sulitnya pihak KBRI dalam memberikan perlindungan kepada TKW, terutama bagi mereka yang menghadapi kasus dan perlu dipulangkan ke tanah air. Terhadap beberapa kasus yang terjadi, para agency cenderung banyak menyalahkan pihak pengirim (PJTKI dan Instansi terkait di Indonesia). Mereka beranggapan bahwa masalah pemalsuan identitas dan ketidaksiapan TKW merupakan urusan PJTKI dan pemerintah Indonesia. Dokumen TKW selama bekerja di luar negeri dipegang oleh majikan/ perusahaan, dengan alasan sebagai jaminan. Dengan demikian TKW kurang mempunyai kebebasan untuk bergerak. Apalagi bila TKW keluar sebelum masa kontrak berakhir (lari atau pindah majikan/perusahaan), mereka bisa kehilangan dokumen yang dibutuhkan. Hal ini memposisikan TKW pada kondisi rawan terhadap tindakan kepolisian atau imigrasi negara setempat. Mereka dapat dituduh sebagai pendatang gelap, dengan kosekuensi dideportasi atau menjalani hukuman penjara sesuai dengan hukum yang berlaku di negara yang bersangkutan.

c.

Di negara tujuan (Malaysia dan Singapura) Hasil wawancara dan diskusi dengan berbagai informan di situs KBRI Kuala Lumpur dan Singapura diperoleh informasi berbagai permasalahan TKW di negara tujuan, yakni: • Penyalahgunaan visa kunjungan oleh TKW untuk bekerja di luar negeri. Hal ini akan menyulitkan bagi pihak KBRI untuk memberikan pembinaan, dan perlindungan terhadap WNI di luar negeri. • Tidak adanya keharusan di negara tujuan (Malaysia dan Singapura) untuk membuat perjanjian (kontrak kerja) secara resmi antara majikan dan TKW (khususnya TKW sektor informal atau pembantu rumah tangga). Hal ini menjadikan kurang jelasnya hak dan kewajiban masingmasing pihak yang terkait dalam

60

Pemasalahan Sosial TKW dan Implikasinya terhadap Pelayanan Sosial

(Sutaat)

Lambatnya penyelesaian masalah, dan sulitnya untuk mendapatkan ”Checkout Memo” bagi TKW (ijin keluar dari imigrasi di negara tujuan). Sehingga TKW harus tinggal di penampungan (shelter) KBRI dalam waktu cukup lama. Sementara itu sarana dan prasarana serta kapasitas tampung shelter sangat terbatas. Hal ini memunculkan permasalahan tersendiri bagi TKW selama di penampungan, antara lain stress, kebosanan, sulit tidur dan sebagainya. TKW yang berada di Shelter KBRI terutama mereka yang merupakan korban tindak kekerasan atau pelecehan seksual/perkosaan banyak mengalami masalah sosial psikologis, antara lain depresi mental.

IV. IMPLIKASI PERMASALAHAN TKW TERHADAP PELAYANAN SOSIAL
Pelayanan terhadap tenaga kerja wanita selama ini melibatkan berbagai instansi, perusahaan pengerah tenaga kerja Indonesia (PJTKI), beberapa Agency (di negara tujuan), dan ORSOS/LSM. Pelayanan oleh instansi antara lain terkait dengan masalah administrasi, dokumen, perlindungan dan penyelesaian masalah yang dihadapi TKW. Pelayanan oleh PJTKI dan agency berkaitan dengan penampungan, pelatihan, dan pengiriman TKW ke majikan dan negara tujuan. Sedangkan pelayanan oleh ORSOS/LSM terutama ditujukan kepada para TKW/TKI yang bermasalah, baik berupa perlindungan maupun penyelesaian masalah dengan berbagai pihak terkait. A. 1. Pelayanan yang ada saat ini Pelayanan TKW di daerah asal Pada saat persiapan pemberangkatan TKW, berbagai pihak (terutama Instansi Naker dan PJTKI) mempunyai kewajiban pemberian pelayanan sesuai dengan tugas dan fungsinya masingmasing. Rekruitmen calon TKW di daerah asal biasanya dilakukan oleh para Sponsor. Sponsor ini adalah orang yang

ditunjuk dan ditugaskan oleh PJTKI untuk menjaring calon TKW di beberapa daerah. Sebagai perusahaan pengirim tenaga kerja ke luar negeri, PJTKI di berbagai daerah memberikan layanan yang bervariasi, yakni: 1) Terdapat PJTKI yang memberikan layanan penampungan sementara sebelum pengiriman calon TKW; 2) PJTKI yang memberikan layanan penampungan, dan pembinaan pelatihan sampai calon TKW dianggap siap, dan calon pengguna siap menerima mereka; 3) PJTKI hanya menyiapkan kelengkapan administrasi dan mengirim calon TKW ke PJKTI pusat atau mengirim ke luar negeri, tanpa memberikan layanan penampungan maupun layanan lainnya. Sementara itu pembinaan pelatihan keterampilan dilakukan oleh PJTKI yang berstatus pusat. Lama calon TKW di penampungan bervariasi tergantung cepat tidaknya pengguna tenaga kerja memberikan “calling visa”. Sering terjadi TKW harus tinggal lama di penampungan karena belum memperoleh calling visa. Sarana penampungan yang disediakan oleh PJTKI ada dua bentuk, yakni bentuk rumah/cottage dan bentuk asrama/barak. Setiap rumah terdiri dari beberapa kamar yang masing-masing kamar dihuni sekitar 5 orang calon TKW. Sebuah asrama atau barak rata-rata dihuni sekitar 40 s/d 70 orang. Penyediaan makan selama dalam penampungan dilakukan melalui cara: 1) penyediaan makan seluruhnya disiapkan oleh PJTKI; dan 2) bahan baku disiapkan oleh PJTKI tetapi pengolahan dan penyiapan makan dilakukan oleh calon pekerja (TKW) sendiri, dengan alasan sekaligus untuk praktek memasak. Pelayanan kesehatan bagi yang sakit ringan disediakan obat-obatan. Bagi yang mengalami sakit yang cukup serius akan dirujuk pada rumah sakit yang telah ditunjuk PJTKI. Pembinaan pelatihan yang diberikan selama di penampungan disesuaikan dengan kebutuhan pangguna tenaga kerja. Untuk TKW yang akan mengisi lapangan kerja pembantu rumah tangga

61

Jurnal Penelitian dan Pengembangan Usaha Kesejahteraan Sosial, Vol 11, No. 03, 2006 : 55-66

diberikan pelatihan kerumah-tanggaan, antara lain penggunaan alat-alat elektronik, perawatan bayi, dan perawatan lanjut usia. Bagi TKW yang akan mengisi lapangan kerja di perusahaan diberikan pelatihan dasar sesuai dengan kebutuhan perusahan. Lapangan kerja yang diisi oleh TKW umumnya pada level terbawah yang kurang membutuhkan skill tinggi, oleh karena itu persyaratan pendidikan tidak terlalu ketat. Pada akhir pembinaan, yakni saat sebelum TKW diberangkatkan ke luar negeri, diadakan kegiatan Pembekalan Akhir Pemberangkatan (PAP) yang dilaksanakan PJTKI dalam kerjasama dengan (Balai Pelayanan Penempatan Tenaga Kerja Indonesia (BP2TKI). Kegiatan ini secara formal dilaksanakan dalam 2 (dua) hari kegiatan. Pembekalan antara lain meliputi pengetahuan tentang bahaya perdagangan perempuan dan anak, bahaya perdagangan napza dan tindak kriminal lainnya, pengetahuan tentang sosial-budaya, adat istiadat dan kondisi negara tujuan, serta pengetahuan tentang peraturan perundangan di negara tujuan. Terkait dengan tempat kerja, TKW juga diberikan pembekalan tentang perjanjian penempatan TKW dan perjanjian kerja. Pembiayaan mulai dari rekruitmen sampai dengan penempatan, ditanggung oleh PJTKI. Dalam hal ini TKW berkewajiban membayar semua biaya setelah mereka bekerja, yakni dengan cara pemotongan gaji (biasanya selama 3 – 4 bulan, dengan besar potongan bervariasi sesuai dengan kesepakatan). Instansi terkait yang selama ini banyak terlibat dalam pelayanan TKW adalah Dinas Nakertrans. Dinas Nakertrans memberikan pelayanan yang terkait dengan pembinaan dan pengawasan kepada PJTKI dalam memberikan layanan kepada TKW, dan pemberian pembekalan akhir (PAP) sebelum TKW diberangkatkan. Tugas

layanan ini terutama menjadi kewajiban BP2TKI di masing-masing daerah. Dalam hal TKW bermasalah, Nakertrans bekerjasama dengan PJTKI membantu penyelesaiannya, terutama yang terkait dengan sengketa dengan majikan, baik masalah gaji maupun hak kewajiban lainnya. 2. Pelayanan di daerah transit Pada daerah transit, proses pengiriman TKW ke negara tujuan ada dua bentuk, yakni bentuk pertama PJTKI menerima calon TKW dari Sponsor, menampung dan memberikan pelatihan/ pembinaan, dan setelah siap kemudian calon TKW dikirim ke negara tujuan; bentuk kedua PJTKI menerima TKW dari Sponsor, dan segera dikirim ke perusahaan atau agency negara tujuan. Biaya TKW sampai ke PJTKI biasanya ditanggung oleh Sponsor, dan akan diganti oleh PJTKI sesuai dengan jumlah TKW yang diserahkan. Untuk kasus di Kalimantan Barat, PJTKI memberikan ganti biaya sebesar 800 ribu rupiah untuk tiap TKW yang dibawa oleh Sponsor. Selanjutnya PJTKI akan memotong semua biaya yang telah dikeluarkan dari gaji yang akan diterima TKW. Besarnya potongan maupun waktu pemotongan bervariasi sesuai dengan kesepakatan PJTKI dengan TKW yang bersangkutan. Lalulintas TKW di daerah transit ini tidak hanya lalulintas masuk ke negara tujuan, tetapi juga masuknya kembali TKW (pemulangan ke tanah air). Masuknya kembali TKW ini ada yang karena habis kontrak, maupun karena terjadi berbagai masalah misalnya lari dari majikan, dipulangkan majikan atau masalah lainnya. Dalam kasus ini Instansi Nakertrans maupun PJTKI memberikan layanan pemulangan dan penyelesaian masalah TKW dengan majikan. Sebelum TKW dipulangkan ke daerah asal, dibeberapa daerah misalnya kasus Batam, ada semacam penampungan sementara bagi eks TKW bermasalah yang dikelola oleh Dinas Sosial Batam. Terkait dengan penampungan ini, kendala yang selama

62

Pemasalahan Sosial TKW dan Implikasinya terhadap Pelayanan Sosial

(Sutaat)

ini dialami adalah terbatasnya sarana dan prasarana maupun terbatasnya anggaran yang tersedia. 3. Pelayanan TKW di negara tujuan 1) Pelayanan oleh KBRI Hasil wawancara dan diskusi dengan beberapa petugas di KBRI di Kuala Lumpur dan Singapura (bidang Konsuler dan Atase Ketenagakerjaan) menunjukkan bahwa perhatian KBRI terhadap permasalahan TKW cukup besar. Banyak TKW yang berhasil dipulangkan dan banyak kasus TKW yang dapat diselesaikan, antara terkait dengan perselisihan TKW dengan majikan, tindak kekerasan oleh majikan, pelecehan seksual/perkosaan, dan korban trafiking (pekerja seks komersial). Pelayanan yang selama ini telah diberikan KBRI terhadap TKW bermasalah meliputi: a) Perlindungan dan penyelesaian masalah. KBRI memberikan perlindungan kepada TKW dalam penyelesaian masalah yang timbul baik dengan majikan/perusahaan atau dengan Agency. Bidang Konsuler berfungsi sebagai tempat mengadu dan tempat meminta bantuan penyelesaian masalah. Langkah penyelesaian masalah yang ditempuh adalah melalui pendekatan musyawarah dan kekeluargaan dengan majikan, Agency, dan TKW. Sedangkan dalam kasus tertentu penyelesaian melalui pengadilan. Untuk kasus-kasus berat dan serius, KBRI menyediakan pengacara yang kompeten. Dalam hal ini Bidang Konsuler melakukan koordinasi dengan aparat hukum setempat dalam upaya bantuan hukum. b) Penampungan sementara. Dalam rangka memberikan pelayanan sosial dan perlindungan hukum terhadap TKW bermasalah, KBRI menyediakan penampungan (shelter) di wilayah akreditasi KBRI. TKW yang berada di penampungan adalah mereka yang

menunggu penyelesaian kasus baik dengan Kepolisian, Pengadilan, ataupun dengan Majikan. Pada saat dilakukan studi ini (2005), di KBRI Singapura terdapat 57-an orang TKW bermasalah yang sedang menunggu penyelesaian masalah mereka. Sementara itu di KBRI Kuala Lumpur terdapat 205 orang TKW bermasalah yang berada di penampungan (data bulan Oktober 2005). Sering terjadi penyelesaian kasus TKW memerlukan waktu yang lama, dan hal ini menjadi masalah tersendiri bagi pihak KBRI. Jumlah TKW sering melebihi daya tampung shelter. Sementara ini dukungan anggaran masih belum memadai bila dibandingkan dengan jumlah TKW yang ditampung. Oleh karena itu bila dilihat pada pemenuhan kebutuhan tempat tinggal, maupun kebutuhan lainnya sebagian besar kurang terpenuhi secara memadai. Pada kasuskasus tertentu yang membutuhkan biaya, para staf KBRI kadang-kadang terpaksa menghimpun dana dengan cara iuran dari uang pribadi. c) Peningkatan kesejahteraan TKW. Dalam upaya meningkatkan kesejahteraan TKW, sejak November 2004 KBRI Singapura telah melakukan pendekatan dengan asosiasi Agency di Singapura. Hasilnya adalah sejak 1 Januari 2005 gaji minimum TKW informal naik dari $Sin 230/bulan menjadi $Sin 280/bulan. KBRI juga telah menyampaikan kepada PJTKI di Indonesia agar menetapkan gaji/upah minimum TKW disesuaikan dengan kesepakatan KBRI dengan asosiasi Agency di Singapura tersebut. Permasalahan yang masih dihadapi KBRI selama ini, terutama dalam hal pemulangan TKW di Malaysia adalah sulitnya untuk mendapatkan ”Checkout Memo” bagi TKW (ijin keluar dari Imigrasi Malaysia). Sementara ini ”checkout memo” biasanya lebih mudah diperoleh bagi TKW yang berstatus pekerja seks (terutama korban trafficking) daripada TKW yang berstatus pembantu rumah tangga.

63

Jurnal Penelitian dan Pengembangan Usaha Kesejahteraan Sosial, Vol 11, No. 03, 2006 : 55-66

2)

Pelayanan oleh Agency

1.

Pelayanan yang diberikan Agency di Kuala Lumpur, khususnya dalam penyiapan TKW sebelum disalurkan, berupa penampungan sementara. Selama dalam penampungan sementara, para TKW diberi pelatihan tambahan sesuai dengan kebutuhan calon majikan, misalnya dalam hal penggunaan alat-alat elektronik. Latihan ini dilakukan secara sangat praktis dan singkat, karena lama calon TKW di penampungan agency berarti memperbesar beban biaya yang ditanggung agency. Mereka umumnya berpendapat makin cepat disalurkan akan makin baik. Bagi calon TKW yang akan dipekerjakan di ”Kilang” (perusahaan), biasanya calon TKW harus sudah dipersiapkan oleh PJTKI di Indonesia sesuai dengan lapangan pekerjaan yang akan diisi. Upaya perlindungan dan pembinaan oleh Agency di Kuala Lumpur kepada TKW dapat dikatakan masih sangat minim. Selama ini setiap TKW diberikan nomor kontak yang sewaktu-waktu dapat dihubungi, terutama bila TKW merasa perlu mengadukan permasalahnya. Namun demikian beberapa kasus yang terjadi para TKW sering menghilang dari majikan tanpa sepengetahuan Agency, kecuali ada laporan dari majikan. Kondisi yang demikian menurut pengalaman beberapa TKW yang diwawancarai, ternyata oleh majikan dibatasi ruang geraknya, apalagi dengan ditahannya dokumen, menjadikan mereka tidak dapat pergi/keluar tanpa majikan. Dengan demikian para TKW kurang mempunyai kesem-patan untuk mengadakan kontak dengan pihak Agency. B. Program Pelayanan Sosial yang Dibutuhkan

Perlunya pemberian pengetahuan secara memadai kepada para calon TKW sebelum diberangkatkan. Dalam hal ini Departemen Sosial bersama lembaga terkait dapat memberikan pembekalan tentang bagaimana cara menghadapi dan menyikapi masalah, bagaimana mengelola masalah, dan bagaimana beradaptasi dengan lingkungan baru, dan lain sebagainya yang terkait dengan kesiapan bekerja di luar negeri. Bidang Konsuler di KBRI yang selama ini lebih banyak melaksanakan perlindungan dalam koridor fungsi dan tugas kekonsuleran, perlu mendapatkan dukungan bidang kesejahteraan sosial. Hal ini terkait dengan perlunya fungsifungsi kesejahteraan sosial terhadap TKW di shelter/penampungan, antara lain pelayanan konseling, mediator, pendampingan, bantuan sosial (khususnya tempat dan kebutuhan makan), dan fungsi pekerjaan sosial lainnya. Untuk ini pelaksanaannya dapat dikoordinasikan dengan pihak Departemen Luar Negeri, Departemen Tenaga Kerja, dan KBRI di luar negeri dalam bentuk joint programe. Mengingat bahwa kapasitas petugas KBRI masih banyak berfokus pada masalah kekonsuleran, maka bila mungkin ada semacam program kerjasama antara Pusdiklat Departemen Sosial dengan Pusdiklat Departemen Luar Negeri dalam hal pembekalan kepada para calon Diplomat, khususnya pembekalan materi tentang kesejahteraan sosial dan atau pekerjaan sosial. Upaya jangka panjang yang perlu dilakukan, adalah dengan memperbaiki sistem yang ada terkait dengan pengiriman TKI/TKW ke luar negeri. Untuk ini perlu dirumuskan kebijakan-kebijakan yang mendorong terciptanya kepengelolaan tenaga kerja yang baik, dengan tetap menjunjung tinggi asas keadilan dan kebenaran. Integritas moral dan keprofesionalan aparat pelaksana di lapangan perlu ditingkatkan melalui

2.

3.

4.

Memperhatikan berbagai permasalahan TKW dan pelayanan yang ada, maka diajukan beberapa pemikiran tentang program pelayanan sosial yang dibutuhkan TKW seperti berikut:

64

Pemasalahan Sosial TKW dan Implikasinya terhadap Pelayanan Sosial

(Sutaat)

peningkatan kesejahteraan, dukungan sarana dan prasarana hukum, pendidikan, serta pengawasan yang efektif. Dalam hubungannya dengan negara pengguna TKI/TKW diperlukan suatu kesepakatan (agreement), agar keberadaan TKI/TKW di negara tujuan mendapatkan perlindungan yang memadai. 5. Upaya pencegahan di daerah asal bisa dilakukan melalui program perluasan lapangan kerja dan perbaikan ekonomi masyarakat. Program ini dapat dilakukan dengan memberi keterampilan produktif dan bantuan dana stimulan melalui koordinasi instansi-instansi terkait, untuk menjamin bahwa program yang dilaksanakan berjalan sesuai rencana dan semangat pembangunan daerah.

tentang berbagai hal yang terkait dengan keuntungan dan resiko bekerja di luar negeri. 2. Permasalahan TKW di negara tujuan berkaitan dengan peran PJTKI dan Instansi terkait yang belum mempersiapkan TKW secara matang dan memadai sesuai dengan tuntutan pengguna TKW di negara tujuan. Sementara itu pihak agency dan pemerintah di negara tujuan tampaknya kurang peduli dengan kesejahteraan pekerja asing, terutama pekerja di sektor informal. Misalnya di Malaysia perundangan tenaga kerja masih terbatas pada pekerja formal, dan belum menjangkau pada pekerja informal. Oleh karena itu pekerja informal tidak mendapat perlindungan secara memadai. Upaya yang perlu dilakukan pemerintah Indonesia khususnya Departemen Sosial adalah dengan mengembangkan berbagai program bagi penanggulangan masalah sosial TKW: a) Di negara tujuan, perlunya program perlindungan dan pelayanan kesejahteraan sosial bagi TKW bermasalah. Dalam hal ini koordinasi dan kerjasama dengan instansi terkait, serta dengan pihak Departemen Luar Negeri (KBRI di negara-negara tujuan TKI/TKW). Sejalan dengan upaya tersebut diperlukan pula program pemberdayaan masyarakat kurang mampu di daerah asal TKI/TKW.

3.

V.

KESIMPULAN

Berdasarkan kajian terhadap berbagai informasi tentang permasalahan TKW, dapat disimpulkan bahwa: 1. Munculnya permasalahan TKW di negara tujuan disebabkan oleh berbagai faktor, baik yang berasal dari TKW sendiri (antara lain kurang siap bekerja di luar negeri, dan skill yang rendah), maupun yang berasal dari luar TKW (antara lain Sponsor, PJTKI, Agency dan majikan yang kurang memperhatikan kepentingan TKW; dan jaminan hukum yang kurang memadai). Tidak dilakukannya sosialisasi oleh instansi berwewenang kepada masyarakat di daerah asal TKW, telah menimbulkan kekurangpahaman TKW

b)

65

Jurnal Penelitian dan Pengembangan Usaha Kesejahteraan Sosial, Vol 11, No. 03, 2006 : 55-66

DAFTAR PUSTAKA
Kahn, Alfred. 1973. Social Policy and Social Services, Random House, New York. Kritz, Mary M and Hania Zlotnik, 1992, Global Interactions, Migration System, Processes and Policies dalam International Migration System, A Global Approach, Edited by Mary M. Kritz et al, Oxford Clerandom Press. Lohrman, Reinhard, 1989, An Emerging Issues in Developing Countries, dalam Reginald Appleyard (ed), The Impact of International Migration on Developing Countries, OCDE, Paris, 129-140. Midgley, James. 1995. Social Development, The Developmental Perspective in Social Welfare. Publication Ltd. London, SAGE. Nuryana, Mu’man dkk, 2000, Faktor-Faktor Terkait dengan Perdagangan Orang di Idonesia, Jakarta, Puslit PKS Balatbang Sosial. Sutaat, Dkk. 2000. Pelayanan Kesejahteraan Sosial Tenaga Kerja di Sektor Industri. Puslit PKS, Balatbangsos, Jakarta, Depsos R.I.

BIODATA PENULIS : Sutaat, alumni STKS Bandung tahun 1984. Saat ini sebagai Peneliti Madya pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial, Badan Pendidikan dan Penelitian Kesejahteraan Sosial Departemen Sosial RI.

66

PERMASALAHAN PENYANDANG HIV/AIDS
Kissumi Diyanayati

ABSTRAK
Penelitian ini dilaksanakan bekerja sama dengan Yayasan Abdi Asih, Surabaya. Sumber data 2 orang ODHA, 3 orang pengurus yayasan dan 2 orang relawan pendamping. Pengumpulan data menggunakan teknik FGD, dan telaah dokumen. Data yang terkumpul di analisis secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menemukan bahwa permasalahan yang dihadapi ODHA dapat dikategorikan dalam permasalahan fisik, psikis, dan sosial ekonomi. Secara fisik, penyandang mudah terinfeksi berbagai penyakit. Permasalahan psikis, seperti tertekan, stress, dan tidak punya semangat hidup lebih disebabkan karena gonjangan jiwa atas vonis bahwa dirinya mengidap virus HIV/AIDS. Sementara permasalahan sosial yang dihadapi ODHA lebih karena adanya stigma negatif yang selama ini berkembang di masyarakat yang menyebabkan ODHA dikucilkan, bahkan diasingkan oleh masyarakat dan keluarganya. Akses pendidikan dan pekerjaan menjadi sangat terbatas bahkan dalam banyak kasus tertutup sama sekali. Pelayanan sosial yang dibutuhkan ODHA meliputi semua bentuk pelayanan sosial. Mereka membutuhkan pelayanan akses yang mencakup pelayanan informasi, rujukan, advokasi dan partisipasi. Juga dibutuhkan pelayanan yang bertujuan pertolongan dan rehabilitasi yang dikenal sebagai pelayanan terapi baik fisik, psikis maupun sosial. Untuk menunjang kehidupan ODHA, mereka juga memerlukan pelayanan yang bertujuan pengembangan seperti pemberikan bimbingan keterampilan.

I.

LATAR BELAKANG

1. 2. 3. 4. 5. 6.

Industri seks komersial yang meluas Prevelensi penyakit kelamin yang tinggi Proses urbanisasi yang berlangsung cepat Migran penduduk yang tinggi Hubungan seksual premarital dan ekstramarital Sarana kesehatan yang tidak selalu melakukan prosedur yang steril dengan jarum dan peralatan lain yang invantif Tes darah transfusi yang belum memenuhi persyaratan di beberapa daerah (Slamet Sabrawi, 1999:66-67).

Menurut UNAIDS (Program Bimbingan PBB untuk HIV/AIDS) pada akhir 2005 terdapat 40,3 juta orang dengan HIV/AIDS di seluruh dunia. Sebanyak 17,5 juta (43%) diantaranya perempuan dan 2,3 juta (13%) anak-anak berusia kurang dari 15 tahun. Di Indonesia, HIV/AIDS ditemukan pertama kali pada tahun 1987 di Bali. Hingga akhir Juni 2006, tercatat 10.859 kasus HIV/AIDS terbagi dalam 4.527 HIV dan 6.332 kasus AIDS. Dari jumlah tersebut 73% diantaranya laki-laki. Sejak tahun 2000 Indonesia termasuk negara dengan tingkat epidemi terkonsentrasi, yakin terdapat wilayah yang merupakan kantong-kantong dengan prevalansi HIV lebih dari 5%. Wilayah tersebut terdiri atas 7 propinsi, yakin DKI jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Papua, Riau, dan Bali (Kedaulatan Rakyat, 2-8-2006). Cepatnya penyebaran HIV/AIDS di Indonesia karena kurangnya pendidikan seks, ketimpangan jender, dan maraknya kasus narkotika serta obat-obat terlarang (KR,3 Mei 2004). Sementara Sabrawi menengarai beberapa kondisi yang mempermudah penyebaran HIV/AIDS di Indonesia antara lain:

7.

Penyandang HIV/AIDS (ODHA) selain merasakan penderitaan secara fisik karena serangan berbagai penyakit akibat lemahnya dan atau rusaknya sistem kekebalan tubuh juga menderita secara psikis dan sosial. Penderitaan secara psikis lebih dikarenakan merasakan penderitaan yang tak kunjung usai dan goncangan keimanan akibat rasa bersalah dan berdosa. Sedangkan penderitaan sosial antara lain karena adanya prasangka buruk dan stigma, sikap tidak peduli, penolakan bahkan

67

Jurnal Penelitian dan Pengembangan Usaha Kesejahteraan Sosial, Vol 11, No. 03, 2006 : 67-73

pengucilan dari masyarakat, perlakuan diskriminatif baik di sektor pendidikan, kesehatan maupun ekonomi dalam arti kesempatan memperoleh penghasilan. Pandangan, sikap dan perlakuan diskriminatif yang dialami ODHA merupakan permasalah sosial yang memerlukan penyelesaian. Penelitian ini bermaksud untuk memperoleh gambaran tentang permasalahan-permasalahan yang dialami ODHA, sekaligus menggali bentuk-bentuk pelayanan yang mereka butuhkan.

c. d.

Penampilannya berubah secara drastis. Kondisi badan lesu/lemah (Susanto, 2004:2).

II. TUJUAN DAN MANFAAT
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah diketahuinya permasalahan yang dihadapi oleh ODHA sekaligus pelayanan kesejahteraan sosial yang mereka harapkan. Dari hasil penelitian ini akan ditarik manfaat, yakni sebagai masukkan bagi Departemen Sosial maupun instansi terkait dalam merumuskan kebijakan maupun penyediaan pelayanan bagi ODHA.

Serangan berbagai penyakit dalam tubuh membuat ODHA merasakan penderitaan berat dan berkepanjangan. Gejala awal penyakit AIDS mirip dengan penyakit biasa seperti demam, batuk berkepanjangan dan flu. Bedanya, pada penderita AIDS gejala tersebut lebih parah dan berlangsung dalam waktu yang lama. Beban penderitaan secara fisik yang tak kunjung selesai ini memicu ODHA mengalami permasalahan pada aspek psikis, dan sosial ekonomi. B. Masalah Psikis

III. KAJIAN PUSTAKA
ODHA selain merasakan penderitaan fisik juga mengalami penderitaan psikis, dan sosial ekonomi. Permasalahan dan bentuk-bentuk pelayanan sosial akan diuraikan sebagai berikut. A. Masalah Fisik

Deraan berbagai penyakit yang silih berganti, berlangsung lama, dan terutama adanya vonis terjangkit virus HIV mengakibatkan gonjangan mental psikologis ODHA. Mereka menjadi down, tidak stabil, gelisah, ketakutan, putus asa, dan merasa bersalah atau berdosa. Perasaan bersalah dan berdosa lebih dirasakan oleh ODHA yang penderitaannya didapat dari aktivitas menyimpang seperti seks bebas, homoseksual dan IDU (injection Drug User). Beberapa dampak negatif HIV/AIDS terhadap kejiwaan penyandangnya dikemukakan oleh Susanto sebagai berikut. a. b. c. d. e. Kecewa secara berlebihan bahkan mengalami stres. Perasaan gelisah memikirkan perjalanan penyakit yang diderita. Merasa tidak bertenaga dan kehilangan kontrol. Kebingungan sehingga tidak mengerti apa yang harus diperbuat. Mengalami perubahan kepribadian, kehilangan ingatan, depresi serta kecemasan dan ketakutan (2004:3). Vonis bahwa penyakit AIDS sangat berbahaya dan menakutkan bahkan penyandangnya dipastikan akan segera meninggal tentu akan memperparah beban mental psikologis penyandang HIV/AIDS.

Seseorang menderita AIDS diawali oleh melemahnya sistem kekebalan tubuh karena serangan virus HIV. Hingga saat ini belum ada obat yang dapat menghancurkan virus tersebut dan memulihkan kembali sistem kekebalan tubuhnya. Akibat dari melemahnya dan atau rusaknya sistem kekebalan tubuh menjadikan rentan terhadap berbagai penyakit. Beberapa permasalahan fisik yang dialami ODHA antara lain. a. Timbul berbagai penyakit seperti diare, kanker, infeksi saluran pernafasan dan peradangan, misalnya paru-paru, telinga, hidung dan tenggorokan. Terjadi penurunan berat badan secara berlebihan.

b.

68

Pemasalahan Penyandang HIV/AIDS

(Kissumi Diyanayati)

C.

Masalah sosial dan ekonomi

HIV/AIDS juga berdampak secara sosial dan ekonomi, yakni penyandangnya mengalami masalah yang cukup berat dalam bersosialisasi baik di lingkungan tempat tinggal, sekolah ataupun pekerjaan. Permasalahan sosial yang dialami dan dirasakan ODHA terutama dalam menghadapi sikap ataupun perlakuan sebagian besar masyarakat termasuk keluarganya yang sampai saat ini masih cenderung diskriminatif seperti tak acuh, curiga, stigma/cap yang negatif, manghindar bahkan mengucilkan. Bagi penyandang yang disebabkan oleh pergaulan yang salah seperti seks bebas dan pemakaian IDU, lebih merasa tertekan karena rasa sesal berkepanjangan atas kesalahan dan dosa yang diperbuatnya. Sedangkan bagi yang terkena karena kesalahan pihak lain, misal tertular pasangannya dan atau transfusi darah, kadang menyisakan dendam kenapa dia harus menerima resiko tersebut. Berbagai sikap atau pelakuan diskriminatif masyarakat yang selama ini sering dialami ODHA mengakibatkan terganggunya aktivitas sehari-hari terutama dalam upaya mereka memenuhi kebutuhan hidupnya. HIV/AIDS selain menyebabkan permasalahan bagi penyandangnya juga berdampak pada masyarakat, sebagaimana dikemukakan oleh Susanto ”dampak negatif HIV/AIDS disamping penyandangnya menjadi sangat tergantung pada orang lain dan penyingkiran (isolasi diri) sebagi akibat ketakutan ataupun kecurigaan orang lain, juga berdampak pada masyarakat luas yaitu terjadi prasangka buruk, sikap/ perlakuan diskriminasi dan keresahan masyarakat. Secara ekonomi, permasalahan yang dirasakan oleh ODHA disamping biaya hidup sehari-hari juga perlu mencukupi kebutuhan biaya perawatan dan pengobatan sepanjang sisa hidupnya. Sementara dalam mempertahankan dan atau memperoleh pekerjaan, mereka mengalami kesulitan sebagai akibat dari sikap dan perlakuan diskriminatif masyarakat selama ini. ”Mereka yang telah ketahuan mengidap virus HIV atau yang jelas telah menjadi penderita AIDS dikucilkan dari keluarga, dipecat dari pekerjaannya dan dijauhi oleh kawan-kawan mereka” (Gde Muninjaya, 1999:56).

Berdasar uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa masalah sosial ekonomi yang dialami penyandang HIV/AIDS terkait dengan pemenuhan kebutuhan sehari-hari dan tuntutan biaya perawatan ataupun pengobatan medis yang relatif mahal dan perlu dilakukan secara terus-menerus. Sementara di sisi lain, penyandang mengalami kesulitan dalam memperolah sumber penghasilan (pekerjaan) akibat dari sikap dan perlakuan masyarakat yang masih diskriminatif. D. Bentuk-bentuk pelayanan sosial

Pelayanan sosial merupakan kegiatan yang dilaksanakan secara langsung dan terorganisasi yang terutama bertujuan membantu individu atau kelompok dan lingkungan sosial dalam upaya mencapai saling penyesuaian. Dalam pengertian yang lebih luas, Romanyshyn menyatakan bahwa ”pelayanan sosial bukan hanya sebagai usaha memulihkan, memelihara, dan meningkatkan kemampuan berfungsi sosial individu-individu dan keluarga-keluarga, melainkan juga sebagai usaha untuk menjamin bergungsinya konektivitas-konektivitas seperti kelompokkelompok sosial (small social group), organisasiorganisasi, serta masyarakat (Achlis, 1982:8). Disamping menyediakan sumber-sumber yang dibutuhkan untuk membantu individuindividu memperbaiki kemampuan sosialnya, mempengaruhi dan mengubah tingkah laku, serta memecahkan permasalahan penyesuaian diri, pelayanan sosial juga menghubungkan sumber-sumber yang tersedia dengan orangorang yang membutuhkan. Pelayanan sosial secara langsung dapat mendukung, menyempurnakan, hukum, kesehatan dan sebagainya. Ditinjau dari segi tujuan pelaksanaannya, pelayanan sosial mempunyai bermacam bentuk, yaitu : 1. Untuk tujuan membantu orang agar dapat mencapai/menggunakan pelayananpelayanan yang tersedia, dikenal bentuk pelayanan sosial yang disebut pelayanan akses (acces service), mencakup pelayanan informasi, rujukan (referral), advocasy, partisipasi.

69

Jurnal Penelitian dan Pengembangan Usaha Kesejahteraan Sosial, Vol 11, No. 03, 2006 : 67-73

2.

Untuk tujuan pertolongan dan rehabilitasi, dikenal adanya pelayanan terapi, termasuk didalamnya perlindungan dan perawatan seperti misalnya pelayanan yang diberikan oleh badan-badan yang menyediakan counseling, pelayanan kesejahteraan anak, pelayanan pekerjaan sosial medik dan sekolah, program-program koreksional, perawatan bagi orangorang lanjut usia/jompo dan sebagainya. Untuk tujuan pengembangan, dikenal pelayanan sosialisasi dan pengembangan seperti taman penitipan bayi/anak, keluarga berencana, pendidikan keluarga, pelayanan rekreasi bagi pemuda, pusat kegiatan masyarakat dan sebagainya.

Selain itu, juga dilakukan telaah dokumen untuk menunjang data-data yang diperolah dari FGD. Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif kualitatif yang bermaksud untuk memahami fenomena yang diteliti yaitu permasalahan dan kebutuhan pelayanan sosial yang diperlukan oleh ODHA.

V.
A.

HASIL PENELITIAN
Permasalahan Penyandang HIV/AIDS

3.

Selain ketiga fungsi tersebut di atas, pelayanan sosial mempunyai fungsi tambahan yakni menciptakan partisipasi anggota masyarakat untuk mengatasi masalah-masalah sosial. Tujuan dapat berupa terapi individu dan sosial untuk mengatasi hambatan-hambatan sosial dalam pembagian politis, yaitu untuk mendistribusikan sumber-sumber dan kekuasaan (Syarif Muhidin, 1992:43-44). Sedangkan metode yang dipergunakan untuk membentuk individu-individu dan keluargakeluarga melalui penggunaan kombinasi pelayanan-pelayanan sosial yang dikenal sebagai penyembuhan sosial (social tretment) atau bimbingan sosial perseorangan (social casework). Metode lainnya adalah group work atau group development untuk pengembangan organisasi dan community development untuk pembangunan masyarakat.

Dari FGD yang dilaksanakan sekitar 3 jam di Yayasan Abdi Asih dapat disimpulkan beberapa permasalahan yang dihadapi oleh ODHA dan pelayanan sosial yang mereka butuhkan. Seperti yang diungkapkan oleh dua orang penyandang HIV, mereka sering didera rasa lemas, tidak bertenaga dan demam jika stamina tubuh menurun. Namun apabila stamina mereka terjaga, secara fisik keadaannya tidak berbeda dengan orang sehat pada umumnya. ”Kami gak merasakan sakit apaapa, seperti ibu lihat tadi kami kesini naik sepeda motor sendiri dan terlihat bugarkan?” Mereka divonis positif HIV kurang lebih 8 bulan yang lalu. Virus tersebut masuk melalui IDU dan memang diakui bahwa mereka berdua merupakan pemakai narkoba. Setelah mendapat vonis HIV, dengan kesadaran sendiri berhenti sebagai pemakaian narkoba dan rutin melakukan pemeriksaan darah serta minum ARV. Penampilannya memang tidak berbeda dengan pemuda kebanyakkan, terlihat sehat, bersih dan smart. Ternyata keduanya pernah kuliah di fakultas ekonomi menejemen sebuah PTS di Surabaya. Bagi penyandang HIV memang secara fisik belum begitu terlihat penderitaannya, lain halnya dengan yang sudah AIDS. Mereka sudah tidak berdaya mengurus diri mereka sendiri, berbagai penyakit menggerogoti tubuhnya seperti paru-paru, saluran pernafasan, gagal ginjal, terganggunya fungsi hati dan lain sebagainya. Tekanan masyarakat mulai dirasakan setelah sebuah media massa menulis tentang kasus mereka, seperti diungkapkan oleh salah satu ODHA. Sehari setelah saya periksa rutin dan ambil obat ARV di RS. Dr. Sutomo, kasus saya masuk menjadi berita di sebuah harian. Walaupun

IV. METODE PENELITIAN
Populasi ODHA relatif tersembunyi dan data tentang mereka umumnya hanya diketahui oleh pihak Rumah Sakit, Dinas Kesehatan dan LSM yang khusus menangani permasalahan HIV/AIDS. Menyadari keterbatasan tersebut, maka penelitian dilakukan bekerja sama dengan Yayasan Abdi Asih, LSM yang mempunyai bidang garapan pemberdayaan ODHA dan PSK. Pengumpulan data dilakukan dengan Focus Group Discussion (FGD) dengan 2 orang penyandang HIV, 3 orang pengurus yayasan dan 2 orang relawan pendamping.

70

Pemasalahan Penyandang HIV/AIDS

(Kissumi Diyanayati)

identitas saya ditulis dengan inisial tetapi daerah tempat tinggal dan tempat kuliah ditulis lengkap. Ironisnya, saya tidak pernah merasa dimintai ijin untuk ditulis di media. Hasil penelusuran yang saya lakukan, si wartawan memperoleh data tentang diri saya melalui suster yang jaga pada hari itu. Kelalaian suster yang memberikan data pasiennya dan ulah wartawan dalam menulis tanpa konfirmasi ulang pada sumber data berakibat pada kehidupan sosial ODHA dan seluruh anggota keluarganya. Mereka dikucilkan oleh lingkungan, terpaksa menjual rumah dan pindah ke daerah lain. Di lingkungan kampus pun ODHA merasa tidak nyaman sehingga dengan terpaksa berhenti kuliah. Karena masih bujang kebutuhan seharihari masih menjadi tanggungan orang tua. Hal yang dirasa sangat memberatkan adalah biaya periksa di laboratorium. Memang selama ini ARV diberikan secara gratis tetapi pemeriksaan laboratorium dan obat lain yang non askes harus dibayar. Setelah tidak kuliah lagi, seorang menyediakan diri sebagai relawan di Yayasan Abdi Asih, dengan tugas memotivasi orang-orang yang baru dinyatakan penyandang HIV agar mau secara rutin periksa darah dan meminum ARV. Sumber data satunya bekerja sebagai sopir mobil sewaan/rental milik pribadi, tetapi juga selalu menyediakan waktu jika diajak membicarakan masalah ODHA. Sangat memprihatinkan saat keduanya mengemukakan keinginan untuk berpacaran dan menikah ”seperti umumnya anak muda kami juga pingin punya pacar dan kalau bisa sembuh pingin menikah, tapi apa mungkin?”. Kegamangan mereka bisa dimengerti dan sangat manusiawi. Pihak yayasan memberikan pengertian bahwa dalam setiap pergaulan mereka haruslah selalu jujur tentang status mereka sebagai ODHA dan siap resiko atas kejujuran tersebut. Sementara pengurus yayasan menengarai beberapa permasalahan yang dialami ODHA antara lain. 1. Jika penyandang virus HIV rajin dan rutin periksa darah dan minum ARV, stamina tubuhnya bisa terjaga dan mampu menangkal brbagai virus/bakteri penyakit. Tetapi harus disadari bahwa sangat manusiawi jika orang seringkali bosan jika harus meminum obat tiap hari, sementara

dirinya merasa sehat dan baik-baik saja. Hal inilah menjadi kewajiban relawan dan petugas medis untuk menyadarkan si pasien. 2. Mahalnya biaya periksa laboratorium dan obat-obat non Askes menjadi beban keluarga dan atau yayasan sosial yang concern pada permasalahan HIV/AIDS. Bagi penyandang HIV belum seberapa besar biaya yang mesti dikeluarkan. Tetapi yang telah masuk kategori AIDS dan terkapar tidak berdaya, sangat banyak biaya yang diperlukan, atara lain biaya opname, pemeriksaan laboratorium, obat-obatan non askes, darah, dan pampers. Pihak rumah sakit hanya memberikan fasilitas kamar dan obat-obatan Askes, sementara perawatan (makan dan mandi) dilakukan oleh keluarga atau relawan. Stigma yang melekat sebagai penyakit kotor dan penyakit pendosa berakibat pada sikap penolakan, pengucilan, dan diskriminatif masyarakat. Sikap ini tidak berlaku hanya pada yang masih hidup, pada penderita yang sudah meninggalpun banyak kasus keluarga dan warga kampung tidak mau menerima jenazahnya untuk disemayamkan dan dimakamkan di lingkungan tempat tinggalnya. Sangat diperlukan adanya sosialisasi tentang HIV/AIDS secara menyeluruh dan melibatkan semua unsur baik instansi sosial, lembaga sosial, dan media massa serta memanfaatkan momen-momen seperti arisan, pengajian yang langsung bisa didengar dan dicerna oleh masyarakat. Kebutuhan Pelayanan Sosial

3.

B.

Pelayanan sosial merupakan kegiatan yang dilaksanakan secara langsung dan terorganisasi terutama bertujuan untuk membantu individu atau kelompok dan lingkungan sosial dalam upaya mencapai saling penyesuaian. Pelayanan sosial bagi ODHA adalah upaya dalam memulihkan dan memelihara kesehatannya, meningkatkan kemampuan fungsi sosialnya, mempengaruhi dan mengubah tingkah lakunya, memecahkan permasalahan penyesuaian diri baik atas

71

Jurnal Penelitian dan Pengembangan Usaha Kesejahteraan Sosial, Vol 11, No. 03, 2006 : 67-73

keadaan yang dialami maupun dengan lingkungan sosialnya, dan menghubungkan sumber-sumber palayanan yang tersedia dengan mereka. Di atas telah dikemukakan berbagai permasalahan yang dirasakan oleh ODHA. Berikut akan dirangkum pelayanan sosial yang mereka butuhkan. 1. Pelayanan sosial langsung/direct. Pelayanan sosial ini untuk mengatasi permasalahan fisik dan psikis yang dirasakan ODHA, yakni berupa : Pemeriksaan dan pengambilan obat dapat dilakukan di semua rumah sakit rujukan yang mempunyai layanan ARV dan dibebaskan biayanya. Bimbingan mental kerohanian untuk menguatkan keimanan dan menghilangkan hambatan-hambatan psikologis. 2. Pelayanan sosial tidak langsung/indirect. Pelayanan ini lebih untuk menjawab permasalahan sosial yang dialami ODHA, antara lain : Adanya political will pemerintah, dunia pendidikan dan duania usaha agar bisa menerima, tidak mengeluarkan dan atau memecat ODHA dalam pendidikan maupun pekerjaan. Sosialisasi pada semua lapisan masyarakat tentang HIV/AIDS termasuk cara-cara penularannya agar masyarakat faham betul dan tidak memberikan stigma negatif dan mengucilkan ODHA. Kelompok ODHA dalam KUBE sesuai jenis kelamin dan keterampilan yang dimiliki. Harapannya agar mereka bisa mempunyai penghasilan dan membentuk koperasi untuk menunjang kebutuhannya. Sehubungan sangat terbatasnya lapangan pekerjaan yang mau menerima penyandang HIV/AIDS

yang berakibat sulitnya mereka memenuhi kebutuhan hidupnya, diharapkan pelayanan medis berupa periksa laboratorium, obat, dan biaya opname agar dibebaskan dari pembayaran. Pihak Rumah Sakit, Dinas Kesehatan maupun Instansi dan Lembagalembaga terkait agar bisa menjaga kerahasiaan privacy atas status mereka. Dari harapan-harapan tersebut dapat disimpulkan bahwa ODHA sangat membutuhkan semua bentuk pelayanan sosial. Pelayanan rehabilitasi medis, dibutuhkan untuk penyembuhan atau meminimalisir masuknya berbagai virus dan bakteri dalam tubuh ODHA. Pelayanan rehabilitasi sosial, lebih untuk mengembalikan rasa percaya diri mereka. Pelayanan akses, adalah kemudahan bagi ODHA dalam mendapatkan pelayananpelayanan sosial yang ada, seperti pelayanan medis, pendidikan dan lapangan kerja. Sedangkan bentuk pelayanan sosialisasi berupa terbukanya kesempatan yang sama di semua lingkup pergaulan termasuk lingkungan pendidikan dan pekerjaan. Sementara pelayanan sosial pengembangan berupa kesempatan bagi ODHA untuk mengaktualisasikan kemampuan, dan terbukanya peluang untuk pengembangan kompetensi diri.

VI. PENUTUP A . Kesimpulan
Permasalahan yang dihadapi ODHA dapat dikategorikan dalam permasalahan fisik, psikis, dan sosial. Permasalahan fisik sangat berkaitan dengan stamina tubuh dan kerajinan ODHA melakukan pemeriksaan dan meminum ARV. Bagi penyandang HIV apabila rajin melakukan pemeriksaan dan meminum ARV, masih terbuka peluang tidak terjangkit AIDS. Permasalahan psikis, berupa rasa tertekan, depresi, dan putus asa lebih dikarenakan stigma yang ada bahwa HIV/AIDS merupakan penyakit kotor dan pendosa. Perasaan menyesal dan berdosa lebih dirasakan pada ODHA dengan penyebab perilaku sosial yang menyimpang seperti seks

72

Pemasalahan Penyandang HIV/AIDS

(Kissumi Diyanayati)

bebas dan IDU. Sedangkan permasalahan sosial yang dihadapi ODHA adalah sikap penolakan, pengucilan dan diskriminatif dari masyarakat. Termasuk di dalamnya lingkungan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan dirinya melalui pendidikan formal, dan kehilangan kesempatan untuk memperoleh penghasilan untuk menopang penghidupannya. B. Rekomendasi Rekomendasi yang diajukan berupa : 1. Sosialisasi tentang HIV/AIDS lebih digiatkan melalui media massa baik cetak maupun elektronik, dan melalui penyuluhan langsung pada akar rumput/ masyarakat umum dengan memanfaatkan pranata-pranata sosial beserta kegiatan-kegiatan yang telah ada seperti pengajian, kebaktian, arisan dan sebagainya. Tujuannya agar masyarakat semakin faham tentang HIV/AIDS sehingga stigma yang melekat sebagai penyakit kotor dan pendosa bisa luntur dan terjadi perubahan sikap masyarakat yang positif pada ODHA.

2.

Penyuluhan dan bimbingan sosial pada ODHA diberikan bekerja sama dengan lembaga-lembaga sosial yang selama ini telah menangani permasalahan HIV/AIDS. Tujuannya agar PBS yang diberikan sesuai dengan apa yang ODHA butuhkan. Bimbingan keterampilan kerja lebih ditekankan pda keterampilan usaha mandiri atau kelompok melalui KUBE. Untuk menunjang akseptabilitas ODHA terutama dalam mobilitasnya, perlu kiranya diterbitkan ID Card dengan status identitas dan medis yang tercatat secara terpusat dan bisa on line di semua rumah sakit rujukan bagi penderita HIV/AIDS. Hal ini untuk memudahkan ODHA dalam melakukan pemeriksaan dan pengambilan ARV, tanpa pembatasan harus disatu rumah sakit.

3.

DAFTAR PUSTAKA
A A Gde Muninjaya, 1999, AIDS di Indonesia, Masalah dan Kebijakan Penanggulangannya, Jakarta, EGC. Achlis, 1982, Pekerjaan Sosial Sebagai Profesi dan Praktek Pertolongan, Bandung, STKS. Alizar Isna dkk, 2005, Penanggulangan PMS dan HIV/AIDS pada Era Otonomi Daerah, Yogyakarta, PSKK UGM bekerjasa dengan Ford Foundation. Slamet Riyadi Sabrawi, 1999, Sebelas Langkah Memahami AIDS, Yogyakarta, LP3Y dan PKBI DIY. Susanto, 2004, Dampak HIV/AIDS Terhadap Kehidupan Sosial Masyarakat, Yogyakarta, UPN Veteran. Syarif Muhidin, 1992, Penganar Kesejahteraan Sosial, Bandung, STKS. Zubairi Djoerban, 1999, Membidik AIDS, Ikhtiar Memahami HIV dan ODHA, Yogyakarta, Galang Press.

BIODATA PENULIS : Kissumi Diyanayati, Alumnus Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Fakultas ilmu Sosial dan Politik, Jurusan Hubungan Internasional tahun 1983, kini sebagai Peneliti Muda pada B2P3KS Yogyakarta.

73

UJICOBA MODEL PEMERINGKATAN KELUARGA DI DUSUN PLASA JENAR DESA KENTENG, KECAMATAN PRUWANTORO, KABUPATEN WONOGIRI, PROVINSI JAWA TENGAH
Haryati Roebyantho

ABSTRAK
Masih ditemukan kendala dalam program penanganan kemiskinan terutama pada tahapan sosialisasi program, mekanisme pelaksanaan, efektifitas, kemanfaatan dan dampak. Di sisi lain ditemukan penyebab ketidakpuasan masyarakat karena pemilihan program tidak sesuai dengan kenyataan (belum terjaminnya akurasi data). Hal tersebut disebabkan proses pendataan masih bersifat top down dengan metode pengumpulan data survey. Dikaitkan dengan paradigma yang berkembangan yaitu memprioritaskan pemberdayaan masyarakat maka muncul asumsi bahwa apabila pemilihan sasaran program melibatkan partisipasi masyarakat maka manfaat dan keberhasilan program akan optimal. Oleh karena untuk melaksanakan seleksi sasaran program yang tepat dan sesuai dengan keinginan dan pengetahuan masyarakat maka pada tahun 2006 dilakukan ujicoba “Model Pemeringkatan Keluarga” di kabupaten Wonogiri. Dasar pemikiran metode ini disarankan sebagai metode seleksi sasaran program adalah dengan melibatkan masyarakat akan menumbuhkan kemampuan dan aktualisasi masyarakat sehingga meningkatkan kemampuan masyarakat untuk mengelola program. Penentuan lokasi secara purposive berdasar pertimbangan lokasi tersebut merupakan lokasi pelaksanaan KUBE-SKPA tahun 2007 dan merupakan lokasi prioritas Pembangunan Kesejahteraan Sosial tahun 2007. Oleh sebab itu berdasarkan kesepakatan tim dengan instansi terkait maka ditentukan Dusun Plasa Jenar berdasarkan pertimbangan dusun tersebut memiliki jumlah penduduk antara 150-200 Kepala Keluarga yang bermukim di tujuh (7) RT dan dua (2) RW. Tujuan ujicoba model adalah untuk melihat sejauhmana model ini dipahami masyarakat dan dilaksanakan sesuai dengan pentahapan, mendifinisikan konsep miskin sesuai pendapat dan pandangan lokal/masyarakat, menganalisis mekanisme pelaksanaan ujicoba Model. Indikator keberhasilan : masyarakat memahami konsep ujicoba apabila masyarakat dapat membuat pemetaan keluarga berdasar kondisi sosial ekonomi, menyusun konsep miskin, dan masyarakat mampu menyimpulkan apa manfaat kegiatan ujicoba model Pembahasan analisis ujicoba model menunjukkan bahwa: Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa Model pemeringkatan ini aplikatif dalam arti Penjelasan dan pelatihan tim fasilitator mudah dipahami masyarakat dengan dibuktikan Tim Pemeringkat (perwakilan masyarakat) mampu melaksanakan tahapan model Pemeringkatan sesuai dengan modul. Tim Pemringkat mampu membuat pemetaan keluarga berdasarkan kondisi sosial ekonomi,mampu menyusun konsep miskin berdasarkan pendapat mereka sendiri, menghitung nilai dan memperingkatkan keluarga berdasarkan hasil perhitungan nilai rata-rata.

I.

LATAR BELAKANG

Upaya penanganan Kemiskinan di Indonesia telah banyak dilakukan baik oleh pemerintah maupun swasta. Namun hasil penelitian beberapa pakar menyebutkan bahwa penanggulangan kemiskinan mengalami beberapa kendala antara lain : (1) Orientasi pembangunan menekankan pertum-

buhan ekonomi sehingga belum mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat berbagai lapisan; (2) Kebijakan terpusat dan bersifat top down dengan metode trickle down effect sehingga pembangunan dan pertumbuhan ekonomi berputar pada golongan ekonomi tertentu; (3) Memposisikan masyarakat sebagai obyek sehingga tidak menyentuh

74

Ujicoba Model Pemeringatan Keluarga di Dusun Plasa Jenar

(Haryati Roebyantho)

kemampuan masyarakat untuk mengembangkan potensi yang dimiliki; (4) Kemiskinan mempunyai karakter yang berbeda antar wilayah satu dengan lain sehingga asumsi permasalahan kemiskinan tidak boleh dianggap sama dan berlaku bagi semua. Mengacu dari beberapa kendala di atas, maka perlu adanya suatu perombakan dalam penanggulangan kemiskinan. Salah satunya adalah pemberlakuan otonomi dalam penanggulangan kemiskinan dengan acuan Strategi Penanggulangan Kemiskinan Nasional (SPKN) sebagai penyelesaian masalah, yang disesuaikan dengan karakter dan kondisi wilayah masyarakat tersebut. Juga menyikapi tuntutan globalisasi khususnya peningkatan pengelolaan Sumber Daya Alam dan Sumber Daya Inisiatif. Hasil evaluasi Subsidi Langsung Tunai (SLT) kerjasama antara Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (PPPSDM) LPPM-Universitas Sebelas Maret Surakarta dengan Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat R.I menemukan salah satu faktor penting dalam Penanganan Program Kemiskinan adalah masih ditemukannya kendala dalam mengimplementasikan kebijakan Penanganan Kemiskinan terutama pada tahapan: Sosialisasi Program, Mekanisme Pelaksanaan, Efektifitas, Kemanfaatan dan Dampak. Isue yang berkembang di masyarakat sebagai dampak pelaksanaan program Bantuan Langsung Tunai (BLT) dan Subsidi Langsung Tunai (SLT) adalah bentuk perilaku kekerasan fisik terhadap pelaksanaan program karena ketidakpuasan masyarakat, khususnya dalam penentuan dan pemilihan sasaran program (masyarakat miskin). Mencermati penyebab ketidakpuasan masyarakat salah satunya adalah kurang tepatnya sasaran program dan masih diragukannya akurasi data kelompok miskin yang akan diberdayakan. Selama ini proses pendataan yang dilakukan lebih bersifat top down dengan metoda pengumpulan data secara survey. Sehingga seringkali muncul berbagai persoalan yang menyebabkan ketidak sesuaian antara data dengan kondisi riil di masyarakat. Hal tersebut menimbulkan suatu asumsi bahwa upaya mencapai keberhasilan penanganan kemiskinan di Indonesia salah satunya adalah

menyediakan data yang akurat dan menentukan metode yang tepat dalam pemilihan sasaran program. Menurut Tuhana, dkk (2006) terdapat enam (6) pendekatan dalam program penanganan kemiskinan yakni : (1) Keterpaduan; (2) Kegotong-royongan;(3) Keswadayaan; (4) Pemberdayaan ;(5) Desentralisasi dan (6) Masyarakat sasaran. Adapun paradigma yang sedang berkembang adalah Paradigma Pemberdayaan sehingga hampir semua kebijakan dan Program Penanganan Kemiskinan menggunakan pendekatan pemberdayaan. Oleh karena itu terdapat asumsi Keberhasilan Program Penanganan Kemiskinan adalah dengan pemberdayaan masyarakat miskin artinya masyarakat ikut terlibat langsung dari awal kegiatan sampai akhir secara berkesinambungan (suiatanabilit) . Oleh karena itu, maka pada tahun 2006 akan diujicobakan “Model Pemeringkatan Keluarga Menurut Kondisi Sosial Ekonomi”. Model Pemeringkatan Keluarga Menurut Kondisi Sosial Ekonomi merupakan suatu metode atau teknik dalam menentukan sasaran progam Penanganan Kemiskinan yang melibatkan masyarakat dalam menentukan kelompok/golongan warga miskin sesuai persepsi dan pendapat masyarakat tersebut atau lebih tepatnya model ini digunakan sebagai tahapan pelaksanaan seleksi calon kelompok binaan dan seleksi lokasi pelaksanaan Kelompok Usaha Bersama (KUBE)-Fakir Miskin. Model Pemeringkatan Keluarga Menurut Kondisi Sosial Ekonomi mengadopsi dari Participatory Wealth Ranking (PWR). PWR merupakan salah satu metode pendekatan yang dikembangkan oleh The Small Enterprise Foundation (SEF) dan Credit and Saving for the Hard – Core Poor (CASHPOR) untuk melakukan pemeringkatan keluarga menurut kondisi sosial ekonominya. Metode ini digunakan bersifat participatory yakni suatu metode pendekatan yang mengakui hubungan sosial dan nilai realitas pengalaman, pikiran dan perasaan masyarakat. Pokok pikiran penting yang terkandung dalam pendekatan ini adalah: (1) Adanya keterlibatan dari warga masyarakat; (2) Mengutamakan kebijakan lokal (local wisdom) dalam menentukan sasaran program; (3) Adanya kesepakatan bersama dalam

75

Jurnal Penelitian dan Pengembangan Usaha Kesejahteraan Sosial, Vol 11, No. 03, 2006 : 74-86

mengadakan pemeringkatan keluarga menurut kondisi sosial ekonominya. Dasar pemikiran mengajukan “Model Pemeringkatan Keluarga Menurut Kondisi Sosial Ekonomi” sebagai tahapan seleksi sasaran program dan seleksi lokasi mengacu dari tulisan Mulyanto tentang alasan melibatkan partisipasi masyarakat antara lain : (1) Akan menumbuhkan rasa harga diri dan kemampuan pribadi untuk dapat turut serta dalam keputusan penting yang menyangkut masyarakat; (2) Meningkatkan tersedianya lingkungan yang kondusif bagi aktualisasi potensi dan pertumbuhan manusia; (3) Merupakan cara yang efektif membangun kemampuan masyarakat untuk pengelolaan program pembangunan guna memenuhi kebutuhan khas daerah; (4) Sebagai pencerminan hak-hak demokratis. Individu hendaknya dilibatkan dalam pembangunan. Pemilihan lokasi secara metodologis menggunakan cara purposive sampling berdasarkan wilayah yang dijadikan (1) Lokasi KUBE dengan sistem Surat Kuasa Pengguna Anggaran (SKPA) tahun 2007, (2) Lokasi prioritas bagi Pembangunan Kesejahteraan Sosial Provinsi Jawa Tengah, (3) Wilayah pemukiman yang memiliki jumlah penduduk antara 150 – 200 Kepala Keluarga, (4) Desa miskin, (5) Belum pernah dilakukan pemeringkatan keluarga oleh LSM atau NGOS. Berdasarkan ketentuan di atas maka atas dasar kesepakatan tim fasilitator (Tim Peneliti Puslitbang Kesos, Badiklit, Departemen Sosial), tim pendamping Daerah (staf Bina Program Dinas Kesejahteraan Sosial Porvinsi Jawa Tengah dan Kabupaten Wonogiri), Staf Kecamatan, Petugas Sosial Kecamatan (PSK) Purwantoro, kepala–kepala dusun dari Kecamatan Purwantoro maka dipilih Desa Kenteng (KUBE-SKPA 2007) di dusun Plasa Jenar (hanya dilaksanakan di tujuh (7) RT atau dua (2) RW–01/05; 02/05; 03/05; 04/ 05; 01/06; 02/06/03/06 ). Pelaksana Ujicoba “Model Pemeringkatan Keluarga Menurut Kondisi Sosial Ekonomi” terdiri dari Tiga (3 ) komponen yaitu : Tim Fasilitator (dua orang peneliti Puslitbang Kesos, Badiklit, Departemen Sosial); Tim Pendamping terdiri satu orang Staf Bina Program Dinas Kesejahteraan Sosial Provinsi Jawa Tengah, Staf tata Usaha Dinas Kesejahteraan Sosial Kabupaten Wonogiri, Petugas Sosial Kecamatan Purwantoro); Tim Pemeringkat (10

orang perwakilan 7 RT 2 RW). Pelaksanaan “Model Pemeringkatan Keluarga Menurut Kondisi Sosial Ekonomi” dibagi menjadi 4 tahapan yakni : (1) Persiapan; (2) Pelaksanaan (3) Penghitungan Nilai (4) Workshop/diskusi. Tujuan “Model Pemeringkatan Keluarga Menurut Kondisi Sosial Ekonomi” adalah: (1) Menganalisis sejauhmana metode ini dapat dipahami oleh Tim Pemeringkat/masyarakat; (2) Mendifinisikan konsep miskin berdasarkan persepsi atau pandangan masyarakat setempat; (3) Menganalisis mekanisme pelaksanaan ujicoba model. Manfaat yang diharapkan adalah metode dengan pendekatan partisipatori sebagaimana uraian di atas dapat dijadikan sebagai metode dasar/tahapan awal pelaksanaan Pemberdayaan Masyarakat Miskin sesuai dengan kondisi masing-masing wilayah. Indikator keberhasilan sebagai dasar analisis adalah ujicoba “Model Pemeringkatan Keluarga Menurut Kondisi Sosial Ekonomi”antara lain : 1. Pelaksana Daerah/Pendamping daerah (petugas Dinas Kesejahteraan Sosial Provinsi, Dinas Kesejahteraan Sosial Kabupaten Wonogiri, Petugas Sosial Kecamatan Purwantoro), memahami mekanisme pelaksanaan ujicoba “Model Pemeringkatan Keluarga Menurut Kondisi Sosial Ekonomi” terutama memahami tugas dan fungsi sebagai pengarah dan fasilitator, mengamati dan mengobservasi jalannya tahapan ujicoba sesuai dengan modul serta mencatat permasalahan sebagai bahan diskusi/workshop. Tim Pemeringkat (perwakilan masyarakat) memahami penjelasan tentang modul/ acuan “Model Pemeringkatan Keluarga Menurut Kondisi Sosial Ekonomi”

2.

Dan melaksanakan tahapan sesuai urutan sebagai berikut: membuat kartu dan nomor urut keluarga; pemetaan keluarga, menyusun konsep miskin, menyortir kartu serta memberikan nilai; menghitung rata-rata dan menentukan pemeringkatan keluarga; memperingkatkan keluarga sesuai dengan konsep miskin yang sudah mereka susun, menyimpulkan manfaat pelaksanaan ujicoba bagi kepentingan masyarakat dan instansi daerah.

76

Ujicoba Model Pemeringatan Keluarga di Dusun Plasa Jenar

(Haryati Roebyantho)

Mekanisme Pelaksanaan: pelaksanaan pembuatan kartu, pemetaan, penyusunan konsep miskin dilaksanakan oleh seluruh tim pemeringkat (10 orang) secara bersama-sama. Kemudian ditentukan skor tertinggi 100 diberikan pada kelompok masyarakat yang paling kaya/ berada/mampu dan skor 1 diberikan pada kelompok termiskin/paling miskin. Dalam menentukan skor dan menghitung nilai (Pelaksanaan penyortiran kartu) tim pemeringkat dibagi 3 kelompok dan setiap keluarga dinilai oleh ketiga kelompok tadi sehingga obyektifitas penilaian dapat dicapai. Dampak pelaksanaan ujicoba konsep “Model Pemeringkatan Keluarga Menurut Kondisi Sosial Ekonomi” dianalisis dari bahan sekunder dan hasil workshop/diskusi antara Tim Fasilitator, Tim Pendamping Daerah, Tim Pemeringkat, Instansi Pemda terkait dan Lembaga Sosial Masyarakat yang menangani Program Kemiskinan.

pelaksanaan ujicoba), memonitoring Pendamping daerah dan tim Pemeringkat, menganalisis dan memberikan rekomendasi tentang pelaksanaan ujicoba (Peneliti Puslitbang Kesos, Badiklit Kesos, Departemen Sosial R.I. 2. Pendamping daerah Petugas yang mendampingi Tim fasilitator, memberikan pengarahan kepada masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam pelaksanaan ujicoba, menfasilitasi pelaksanaan koordinasi dan konsultasi antara tim fasilitator dengan instansi terkait di tingkat Provinsi, Kabupaten, Kecamatan dan Desa, menfasilitasi pelaksanaan workshop/diskusi di tingkat kecamatan/ kabupaten/provinsi. Tim Pemeringkat Perwakilan dari masyarakat berdasarkan kriteria : (1) penduduk yang telah bertempat tinggal minimum 5 tahun berturut-turut; (2) mengenal kondisi seluruh desa dan aktif dalam kegiatan masyarakat; (3) keterwakilan dari semua wilayah, usia, status ekonomi , kelompok masyarakat. Model Pemeringkatan Keluarga menurut Kondisi Sosial Ekonomi Tahap persiapan : a. Pertemuan koordinasi dan konsultasi di tingkat provinsi untuk menyampaikan tujuan penelitian; menentukan lokasi ujicoba; mengumpulkan data sekunder (desa miskin, program penanganan kemiskinan, di tingkat provinsi dan menentukan 1 orang tim pendamping daerah. Pertemuan koordinasi dan konsultasi di tingkat kabupaten, untuk menentukan lokasi berdasar kebijakan pemerintah kabupaten dan menentukan 1 orang pendamping. Menyusun jadwal kegiatan dan konsultasi rencana adanya workshop. Mengidentifikasi desa miskin dan menentukan wilayah yang ber-

3.

II. MODEL PEMERINGKATAN KELUARGA MENURUT KONDISI SOSIAL EKONOMI
Model Pemeringkatan Keluarga Menurut Kondisi Sosial Ekonomi adalah suatu konsep model pendekatan yang bersifat partisipatori untuk mengidentifikasi kondisi sosial ekonomi keluarga menurut pendapat dan persepsi masyarakat yang bersangkutan. Program ini diharapkan menjadi replikasi yang nantinya dapat digunakan sebagai metode penentuan sasaran program. Untuk mengetahui sejauhmana model tersebut dapat diaplikasikan maka pada tulisan ini dibatasi pada pembahasan tentang pemahaman pelaksanaan dalam implementasi modul dan pelaksanaan model beserta dampak dan kendala sebagai berikut : A. Pelaksanaan Ujicoba Model Pemeringkatan Keluarga menurut Kondisi Sosial Ekonomi

B. 1.

b.

Pelaksana ujicoba model dibedakan menjadi tiga komponen yakni : 1. Fasilitator Petugas yang menyusun konsep model, menyusun modul (pedoman c.

77

Jurnal Penelitian dan Pengembangan Usaha Kesejahteraan Sosial, Vol 11, No. 03, 2006 : 74-86

penduduk sekitar 150-200 Kepala Keluarga. 2. Tahap Pelaksanaan a. Diskusi/pertemuan di tingkat kecamatan: untuk memperkenalkan diri (instansi peneliti bekerja); menyampaikan maksud dan tujuan ujicoba model; memilih tim pemeringkat sesuai kriteria, menyusun jadwal kegiatan. Pertemuan dengan tim pemeringkat dan staf kelurahan/desa untuk memperkenalkan diri, menjelaskan tentang tujuan diujicobakan model pemeringkatan keluarga, dijelaskan tahapan dan mekanisme pelaksanaan pemeringkatan keluarga berdasarkan sosial ekonominya, persiapan alat tulis seperti: spidol berwarna kecil dan besar, kertas plano, selotip, pulpen, penghapus, stapler dan lain-lain. Pembuatan kartu berisi nama kepala keluarga, isteri, pekerjaan dan nomor ( mengisi form 1). Pemetaan berdasarkan tempat kepala keluarga yakni menggambarkan kotak sebagai simbol rumah dari keluarga tersebut. Penyusunan konsep miskin dan mengisi form 2. Mensortir kartu dan dikategorisasikan ( mengisi form 3). Cara sortir, diskusi dengan kelompok (3-4 orang) untuk menentukan kategorisasi kepala keluarga dan memberikan alasan dalam menempatkan kartu di dalam tumpukan (Form 3) Melakukan cross chek apakah kategorisasi kartu sesuai konsep miskin, perbedaan penilaian antara kelompok satu dengan lainnya, (mengisi form 4) . Pedoman konsistensi penghitungan: jika maksimum skor berbeda 25 maka unreliable dan di coba didiskusikan dan apa alasannya, dan jika skor yang unreliable kurang dari 10% diabaikan 3. a.

tetapi kalau lebih didiskusikan dan ditiadakan apabila skor masih belum berubah. Menghitung hasil Memasukkan skor (mengisi form 5). Berdasarkan buku panduan PWR, untuk menentukan nilai dilihat terlebih dahulu berapa jumlah tumpukan dihasilkan. Ditentukan bahwa nilai 100 diberikan pada kelompok masyarakat yang sangat miskin. Dan nilai 1 diberikan pada kelompok kaya. Untuk menentukan skor dihitung dengan cara: Tumpukan X = 100 : tumpukan X x jumlah tumpukan yang dihasilkan = nilai Misal tumpukan ada 5 dengan demikian nilai : Tumpukan 5 = 100 : 5 x 5 = 100 Tumpukan 4 = 100 : 5 x 4 = Tumpukan 3 = 100 : 5 x 3 = Tumpukan 2 = 100 : 5 x 2 = Tumpukan 1 = 100 : 5 x 1 = 80 60 40 20

b.

c.

d.

Dengan demikian tumpukan 5 nilainya 100. b. Menghitung rata-rata skor akhir. Menghitung rata-rata skor adalah untuk menetapkan peringkat keluarga. Rumus yang digunakan untuk menghitung caranya : Nilai skor terendah + nilai skor diatasnya 2 Cara menghitung : Tumpukan ada 5 maka skor terendah 20 dan skor tertinggi 100. Untuk menghitung rata-rata skor akhir yaitu: Peringkat 1 = 20 + 40 : 2 Peringkat 2 = 40 + 60 : 2 = 30 = 50

e. f.

g.

Peringkat 3 = 60 + 80 : 2 = 70 Peringkat 4 = 80 + 100 : 2 = 90 Peringkat 5 = 90 >

78

Ujicoba Model Pemeringatan Keluarga di Dusun Plasa Jenar

(Haryati Roebyantho)

c.

Menetapkan pemeringkatan keluarga Dalam menetapkan peringkat keluarga dihitung terlebih dahulu hasil ratarata penilaian 3 kelompok Tim pemeringkat. Dasar yang digunakan pemeringkatan keluarga ditentukan sebagai berikut: Peringkat I = keluarga yang mendapat nilai 20 - 30 Peringkat II = keluarga yang mendapat nilai 31 - 50 Peringkat III = keluarga yang mendapat nilai 51 - 70 Peringkat IV = keluarga yang mendapat nilai 71 - 90 Peringkat V = keluarga yang mendapat nilai 91 > 4. 3. 2.

tahun 2006 maka Kabupaten Wonogiri sesuai dengan kriteria (Lokasi Prioritas Pembangunan Kesejahteraan Sosial di Provinsi Jawa Tengah , lokasi KUBE-SKPA 2007 dan belum pernah ada program penanganan kemiskinan oleh NGOS Asing) maka dijadikan lokasi ujicoba “Model Pemeringkatan Keluarga Menurut Kondisi Sosial Ekonominya”. Menyampaikan tujuan kegiatan ujicoba dan menjelaskan konsep model yang akan di ujicobakan serta menyusun konsep miskin sesuai dengan persepsi dan pandangan masyarakat. Berdasarkan pedoman buku manual PWR lokasi yang akan dijadikan lokasi adalah desa miskin, berpenduduk sekitar l50-200 Kepala Keluarga. Bersama-sama dengan masyarakat mengidentifikasi seluruh keluarga serta membuat pemetaan tempat tinggal masyarakat, memperingkatkan keluarga berdasar kondisi sosial ekonomi.

III. PELAKSANAAN UJICOBA MODEL PEMERINGKATAN KELUARGA MENURUT KONDISI SOSIAL EKONOMI
Pelaksanaan ujicoba Model Pemeringkatan Keluarga Menurut Kondisi Sosial Ekonominya di Provinsi Jawa Tengah dilaksanakan secara keseluruhan di Dusun Plasa Jenar, Desa Kenteng, Kecamatan Purwantoro, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah. Pelaksanaan ujicoba dilakukan selama 10 hari (1 hari konsultasi di Provinsi, 1 hari konsultasi di Kabupaten Wonogiri, Konsultasi di Kecamatan Purwantoro, 1 hari persiapan pertemuan di Kecamatan Purwantoro dan memilih desa , 1 hari persiapan, 1 pembuatan kartu dan pemetaan, 2 hari mengisi form 3, menyusun konsep miskin penyortiran, 2 hari penghitungan nilai dan pemeringkatan; 1 workshop/ diskusi di kecamatan. A. Persiapan

Berdasarkan kriteria di atas maka di antara 24 kecamatan di wilayah Kabupaten Wonogiri dipilih satu yakni Kecamatan Purwantoro yang merupakan lokasi prioritas Pembangunan Kesejahteraan Sosial untuk tahun 2007. Kecamatan Purwantoro terdiri dari 13 desa/ kelurahan , meliputi 62 dusun/lingkungan, 101 RW atau 355 RT. Selanjutnya Tim fasilitator dan pendamping daerah menuju ke kantor kecamatan Purwantoro yang diterima oleh Petugas Sosial Kecamatan sebagai wakil Bapak Camat. Disaat pertemuan dijelaskan tujuan dari kedatangan tim antara lain: a. Mengidentifikasi seluruh keluarga yang bermukim di satuan wilayah dusun dan menggolongkan ke dalam peringkat sesuai kondisi sosial ekonominya; Mendiskripsikan konsep miskin sesuai pendapat dan pengetahuan masyarakat; Mengidentifikasi permasalahan kesejahteraan sosial.

Tim Fasilitator melaksanakan koordinasi dan konsultasi dengan Kepala Dinas Provinsi Kesejahteraan Sosial yang diterima oleh Kepala Bagian Bina Program untuk menyampaikan beberapa hal : 1. Sesuai dengan kesepakatan pada saat pelaksanaan penjajagan lokasi (advance)

b. c.

79

Jurnal Penelitian dan Pengembangan Usaha Kesejahteraan Sosial, Vol 11, No. 03, 2006 : 74-86

Adapun manfaat kegiatan ini bagi dusun Plasa Jenar antara lain : a. Warga masyarakat memiliki pengetahuan tentang cara pendataan Kepala Keluarga sesuai kenyataan yang ada Warga secara bersama-sama mendifinisikan konsep miskin Melalui kegiatan ini kemungkinan ditemukan permasalahan kesejahteran sosial dan potensi kesejahteraan sosial yang belum tercatat oleh petugas Badan Pusat Statistik Sosial.

yang diberi tugas untuk melaksanan suatu kegiatan, dimana kegaitan tersebut akan dilakukan secara bersama-sama oleh Tim Pemeringkat yang telah ditunjuk. 2. Menjelaskan bahwa penentuan dusun Plasa Jenar dipilih tidak ada kaitannya dengan program Bantuan Departemen Sosial namun bersifat acak dengan memilih lokasi program Dinas Kesejahteraan Sosial Provinsi Jawa Tengah. Kegiatan ini merupakan kegiatan ujicoba suatu metode untuk menentukan sasaran program sesuai dengan kenyataan yang ada di masyarakat, sehingga kegiatan ini tidak berlanjut dengan pemberian bantuan tetapi memberikan pengetahuan kepada masyarakat untuk melaksanakan pendataan dan pemetaan. Dilakukan cross chek maka Tim pemeringkat terdiri dari: (1) penduduk yang telah bertempat tinggal minimum 5 tahun berturutturut; (2) mengenal kondisi seluruh desa dan aktif dalam kegiatan masyarakat; (3) keterwakilan dari semua wilayah, usia,status ekonomi, kelompok masyarakat.

b. c.

3.

Pendekatan yang digunakan bersifat participatory yakni melibatkan partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan pemeringkatan. Selanjutnya dibentuk tim pemeringkat yang terdiri dari tokoh masyarakat, dukuh, petugas BKKBN, guru dan masyarakat yang mewakili keluarga miskin, dan pengusaha home industri. Pertemuan dilanjutkan untuk memilih dusun yang akan dijadikan lokasi. Staf desa Kenteng memberikan informasi bahwa Desa Kenteng terdiri dari 4 dusun. Salah satunya adalah dusun Plasa Jenar memiliki penduduk sekitar 205 Kepala Keluarga. Dusun Plasa Jenar meliputi 7 RT atau 2 RW. Informasi lainnya yang digunakan untuk lokasi SKPA adalah dusun Kenteng. Namun jumlah penduduk sekitar 250300 Kepala Keluarga. Hasil kesepakatan berdasarkan beberapa usulan akhirnya menyetujui ditetapkan dusun Plasa Jenar akan dijadikan lokasi. Dan menetapkan tim pemeringkat yaitu: Kinto, Purwanto, Paryono, Sarsito, Jaimin, Ripjiati, Jokoastomo, Parmin, Siswoyo dan Winarni. B. Pelaksanaan ujicoba model Pelaksanaan ujicoba model diawali dengan pertemuan antara tim fasilitator, Tim Pendamping Daerah dan Tim Pemeringkat dilaksanakan pada hari ke tiga. Dalam kesempatan itu fasilitator mengemukakan beberapa hal : 1. Menjelaskan bahwa Tim Fasilitator merupakan Tim Peneliti dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial, Badan Pendidikan dan Penelitian Kesejahteraan Sosial, Departemen Sosial

d.

e.

Diberikan penjelasan tentang tahapan kegiatan dan sebelumnya akan di susun terlebih dahulu jadwal dan menentukan tempat untuk pelaksanaan kegiatan. Belum selesai menjelaskan keseluruhan tahapan ada beberapa anggota tim pemeringkat mengusulkan bahwa tempat diadakan di rumah Bapak Kepala Dusun ( di sana disebut Pak Pala) dan karena bulan puasa maka jadwal dimulai jam 14.00 sampai 16.30 (di akhiri dengan buka bersama) dan setelah sholat Taraweh dilanjutkan yakni jam 20.00 – 23.00 WIB. Pendamping daerah juga menyetujui hal tersebut. Menurut mereka untuk tidak membuang waktu penjelasan tentang tahapan pelaksanaan model tidak perlu

80

Ujicoba Model Pemeringatan Keluarga di Dusun Plasa Jenar

(Haryati Roebyantho)

namun kini dijelaskan saja satu persatu apa yang harus dikerjakan. Tim Fasilitator mencoba mengarahkan dengan menjelaskan bahwa semua Tim Pemeringkat dan Pendamping Daerah harus mengetahui secara keseluruhan tahapan model yang akan diujicobakan. Pekerjaan ini membutuhkan ketekunan dan ketelitian serta mekanisme tahapan harus jelas. Karena suara terbanyak menyetujui cara yang diusulkan maka tim fasilitator menyetujui dengan menjelaskan pertama kali yang harus dilakukan adalah membuat daftar nama Kepala Keluarga sesuai dengan form 1. Setelah mengisi form 1 maka dibuat pemetaan berdasarkan form 1. Setelah disetujui maka pimpinan rapat diprakarsai oleh seorang warga yang berstatus guru, menjelaskan bahwa setiap RT membuat daftar nama sesuai form 1. Sementara itu bapak sekretaris desa membuat peta dusun Plasa Jenar sesuai hasil tim KKNUGM 2 bulan yang lalu. Akhirnya salah seorang tim pemeringkat berinisiatif bahwa setiap RT membuat daftar nama keluarga. Setelah selesai masing-masing RT menyalin daftar nama yang di kertas ke kertas plano dengan diberi kotak untuk satu kepala keluarga. Fasilitator menjelaskan pemetaan adalah menggambarkan letak tempat tinggal warga di kertas plano. Setiap kotak untuk satu Kepala Keluarga. Namun apabila dalam satu rumah ada dua atau lebih Kepala Keluarga maka kotak harus dibagi dua atau tiga dan diberi nomor urut semua. Contoh Bapak Kepala Dusun memiliki anak yang sudah menikah dan masih tinggal dalam satu rumah maka gambar kotak dibagi 2 dan diberi nomor urut 1 dan 2, demikian seterusnya. Setelah mendapat penjelasan tersebut, ternyata kelompok yang lain juga mengerjakan hal sama, sehingga diputuskan untuk mengulang kembali penyusunan nomor urut dan Daftar Kepala Keluarga. Pada saat pemetaan terjadi permasalahan. Ketika pemetaan tiba di

dusun yang berada ditengah-tengah, nomor urut yang sudah dibikin berdasar RT tidak bisa diteruskan karena nomor urut di daftar form 1 dengan ruang peta yang disediakan tidak cukup dan nomor urut jadi berantakan. Padahal pemetaan telah dilaksanakan oleh 3 RT satu RW. Demikian pula saat dilakukan cross chek dalam menggambar tempat tinggal. Gambar peta hanya untuk keluarga yang memiliki Kartu Kepala Keluarga sedangkan menurut peserta yang lain di rumah tersebut ada seorang janda (mertua) dari Kepala keluarga. Fasilitator lalu mengarahkan dan menjelaskan bahwa itu diberi tanda sendiri dan memiliki Kartu Keluarga sendiri. Ketika dilakukan wawancara mendalam pada warga dan aparat desa, disebutkan bahwa biasanya bila ada Kepala Keluarga tambahan pada Kartu Kepala Keluarga yang lama, aparat belum mengubah dan memberikan Kartu Kepala Keluarga baru, sehingga pada saat pemetaan pemetaan hampir selesai separuh, terdapat beberapa kepala keluarga yang tidak terdaftar. Oleh karena itu berdasarkan kesepakatan pembuatan peta diulang lagi dengan cara membuatan daftar nama dan nomor urut Kepala Keluarga, selanjutnya mengambarkan letak tempat tinggal Kepala Keluarga di atas kertas plano (sesuai arahan fasilitator) dengan dimulai dari tempat kegiatan dilaksanakan. Akhirnya pemetaan keluarga dimulai dari RT 01 RW 05. Satu orang (ketua RT) membuat kotak pada kertas plano,satu lainnya membacakan nama Kepala Keluarga dan lainnya membuat kartu berisi nama Kepala Keluarga dan nomor urut. Pada saat pemetaan selesai, beberapa anggota tim pemeringkat mengusulkan untuk memberikan warna pada kotak seusai dengan tingkat peringkatan keluarga. Selanjutnya disepakati untuk mendiskusikan konsep “miskin” menurut pandangan dan persepsi warga dusun Plasa Jenar. Hasil diskusi tentang konsep miskin menurut masyarakat adalah melihat

81

Jurnal Penelitian dan Pengembangan Usaha Kesejahteraan Sosial, Vol 11, No. 03, 2006 : 74-86

siapakah yang dimaksud dengan orang miskin, bagaimana kondisi rumah mereka, bagaimana cara mereka memutuskan untuk menjaga kesehatan keluarga, pekerjaan, pemilikan rumah dan biaya sekolah anak. Menurut warga Plasa Jenar untuk pengisian form 6 (kategori/klasifikasi keluarga berdasarkan konsep miskin) nilai terendah (nilai 1) diberikan pada keluarga yang paling miskin dan nilai tertinggi (nilai 5) diberikan pada keluarga yang dianggap kaya. Hal ini bertentangan dengan ketentuan pada modul PWR. Namun karena ini merupakan kesepakatan dan kehendak masyarakat maka kategori warga desa yang akan digunakan. Berdasarkan kesepakatan dalam diskusi tentang konsep “miskin” sebagaimana pengisian form 6 maka diketahui bahwa: Tumpukan 1 : disebut sangat miskin, kriteria yang masuk adalah janda tidak punya rumah atau punya rumah, tidak punya pekerjaan dan masih punya anak kecil. Tumpukan 2 : disebut miskin, adalah warga yang memiliki pekerjaan tidak tetap, ikut orang tua, mertua, memiliki rumah tetapi tidak punya pekerjaan dan masih punya anak kecil. Tumpukan 3 : disebut cukup mampu dengan ketentuan mereka adalah masyarakat yang memiliki lahan, anak sudah berumah tangga atau janda ikut anak tetapi tidak punya pekerjaan tetap, atau kelompok masyarakat yang memiliki rumah tanpa mampu menyekolahkan anak. Tumpukan 4 : disebut mampu, warga yang memiliki pekerjaan tetap/ pengusaha tahu atau pematung, mempunyai motor, mobil, memiliki lahan, bisa menyekolahkan anak sampai SMA serta janda pensiunan atau duda produktif. Tumpukan 5 : disebut sangat mampu adalah warga yang memiliki rumah, memiliki tanah, mobil mempunyai penghasilan tetap, bisa menye-

kolahkan anak sampai SLTA/PT, status pekerjaan sebagai PNS, memiliki usaha toko, tahu, patung, dan home industries. Penyortiran/pemilahan kartu berdasarkan kriteria miskin menurut masyarakat dilaksanakan bersama-sama. Tim Pemeringkat (10 orang) berdasarkan keterwakilan tempat tinggal, status ekonomi, kegiatan dalam masyarakat dibagi menjadi 3 kelompok kecil (Kelompok A = 4 orang; kelomok B = 4 orang dan kelompok C = 3 orang). Proses penyortiran kartu, satu orang menulis dan mengisi form 3 (menulis nomor urut berdasarkan pemetaan, nama dan termasuk dalam tumpukan mana serta menuliskan alasan penempatan keluarga pada tumpukan tersebut), satu orang mengambil dua kartu untuk didiskusikan bersama dan menumpuk kartu berdasarkan kriteria yang sama. Pelaksanaan penyortiran kartu dilakukan tiga (3) kali artinya setiap kelmpok menyortir 343 warga dusun Plasa Jenar. Alasan pemberian nilai pada keluarga sebanyak tiga (3) kali diperuntukkan setiap keluarga mendapatkan penilaian seobyektif mungkin. C. Penghitungan nilai/score dan melakukan pemeringkatan

Proses perhitungan nilai dilaksanakan oleh masing-masing kelompok di tempat yang berbeda dan waktu yang berbeda dengan mengisi form 5 (Form daftar nilai keluarga) dengan urutan nomor urut sesuai pemetaan keluarga, nama lengkap, nama pangilan, hasil penilaian kelompok, jumlah penilaian dari ketiga kelompok dan penghitungan nilai ratarata. Tahap awal perhitungan nilai dimulai dengan setiap kelompok mengisi form 5 yakni mengkategorikan keluarga berdasarkan kriteria keluarga yang sudah disepakati warga dusun Plasa Jenar. Berdasarkan kesepakatan semua kelompok kategorisasi keluarga di dusun Plasa Jenar dibedakan dalam lima (5) kelompok. Kelompok sangat miskin di nilai 1 dan kelompok sangat mampu di nilai 5.

82

Ujicoba Model Pemeringatan Keluarga di Dusun Plasa Jenar

(Haryati Roebyantho)

Pada saat penyortiran kartu terdapat perbedaan sebutan. Setiap kelompok memiliki sebutan berbeda, terutama untuk sebutan nilai 3, nilai 4 dan nilai 5. Melihat kenyataan tersebut maka dilakukan diskusi dan dicapai kesepakatan sebutan yang akan digunakan sama untuk setiap kelompok yakni : Nilai 1 sangat miskin; nilai 2 miskin; nilai 3 cukup; nilai 4 mampu dan nilai 5 sangat mampu. Selain itu diketahui juga bahwa dalam menentukan kategorisasi keluarga tidak sepenuhnya berdasarkan konsep yang sudah disepakati semula ( form 2). Hasil wawancara mendalam diketahui bahwa dalam penentuan kriteria keluarga masih dipengaruhi kepentingan kelompok, dipengaruhi pemikiran bahwa penentuan kriteria ini akan digunakan untuk menentukan program pemerintah tahun 2007 terutama penanganan kemiskinan. Pelaksanaan tahap perhitungan dilakukan dengan memasukkan score terlebih dahulu ke kolom nilai 5. Skor ditentukan nilai terendah 1

miskin, nilai 60 untuk keluarga dengan kategori cukup , nilai 80 untuk kategori keluarga kaya dan nilai 100 untuk kategori keluarga sangat kaya. Selanjutnya setiap kelompok mengisi kolom nilai pada form 7. Caranya memindahkan nilai tumpukan ke skor. Perhitungan skor akhir dilakukan dengan cara membandingkan apakah ketiga kelompok yang melaksanakan penilaian sudah konsisten artinya tidak ada perbedaan penilaian lebih dari 25. Apabila dalam penilaian terdapat nilai lebih dari 25 akan dicoba didiskusikan kembali dan apabila jumlah nilai yang berbeda lebih dari 10% maka penilaian keluarga tersebut dianggap tidak konsisten dan keluarga dikeluarkan dari daftar. Hal tersebut dlakukan untuk memastikan keakuratan data keluarga. Hasil penentuan score di dusun Plasa Jenar digambarkan per dusun sebagaimana tabel 1 berikut ini:

Tabel 1
Distribusi score berdasarkan lokasi

Sumber : Data primer 2006.

Score Sama Beda satu Beda dua Jumlah

RT I/5 16 40 7 63

RT II/5 16 26 1 43

RT III/5 14 29 6 49

RT IV/5 18 33 10 61

RT I/6 18 22 7 47

RT II/6 15 25 1 41

RT III/6 11 25 3 39

Total 102 200 35 343

dan nilai tertinggi 100. Dalam menentukan skor berdasarkan kesepakatan mereka nilai paling rendah diberikan pada keluarga yang termasuk kategori miskin dan nilai tertinggi diberikan pada keluarga kaya. Hasil perhitungan sesuai kategorisasi diketahui bahwa warga dusun Plasa Jenar dikelompokkan menjadi 5 sehingga didapat rincian nilainya sebagai berikut: Tumpukan 5 = 100 : 5 x 5 = 100 Tumpukan 4 = 100 : 5 x 4 = Tumpukan 3 = 100 : 5 x 3 = Tumpukan 2 = 100 : 5 x 2 = Tumpukan 1 = 100 : 5 x 1 = 80 60 40 20

Dalam diskusi untuk menentukan skor pada setiap kategorisasi keluarga, diperoleh suara terbanyak menyetujui bahwa untuk nilai 20 diberikan pada keluarga yang masuk kategori sangat miskin, nilai 40 pada kategori keluarga

Dari tabel berikut dapat diketahui bahwa ketiga kelompok tim pemeringkat menilai sama terhadap 102 Kepala keluarga atau 29,73% . sedang hasil penilaian kelompok beda satu nilai ada 200 Kepala Keluarga atau 58,30%. Dengan demikian perbedaan penilaian dua kelompok ada 11,07% atau terdapat dua kelompok menilai beda terhadap 35 Kepala Keluarga. Sebagaimana terlihat tabel 1 di atas, penilaian terhadap Kepala Keluarga RT IV/5; RT I/5; RT I/6 dan RT III/5 berbeda oleh dua kelompok dari tiga kelompok kecil yang dibentuk mengisyaratkan bahwa dalam penilaian terhadap kepala keluarga masih dipengaruhi oleh kepentingan kelompok. Ketika dilakukan wawancara mendalam dan dicermati hasil penilaian yang berbeda tersebut menunjukkan bahwa perbedaan nilai dilakukan dengan menempatkan keluarga pada kategori lebih rendah dari yang seharusnya. Hal ini dipengaruhi adanya pemikiran bahwa apabila

83

Jurnal Penelitian dan Pengembangan Usaha Kesejahteraan Sosial, Vol 11, No. 03, 2006 : 74-86

mereka berada di tingkat rendah maka mereka akan mendapatkan bantuan pemerintah dimasa mendatang. Padahal setelah di observasi langsung ke lapangan terdapat beberapa orang memiliki usaha tahu atau tempe/patung. Perhitungan rata-rata score akhir dalam menetapkan peringkat keluarga dengan menggunakan perhitungan : Nilai skor terendah + Nilai skor diatasnya 2 Diketahui bahwa hasil kategorisasi terhadap warga dusun Plasa Jenar ada 5 kategori dengan demikian hasil peringkat terhadapkeluarga nilainya adalah : Peringkat I = 30; Peringkat II = 50 Peringkat III = 70 Peringkat IV = 90 ; Peringkat V = 91 atau lebih. Mengacu dari hasil pemeringkatan maka ratarata score hasil perhitungan terhadap Keluarga Dusun Plasa Jenar adalah : Peringkat I Peringkat II = 10 - 30 = 31 - 50

Peringkat III = 51 - 70 Peringkat IV = 71 - 90 Peringkat V = 91 >

Dari hasil perhitungan rata-rata maka dapat diketahui kondisi sosial ekonomi warga dusun Plasa Jenar sebagai berikut: Terdapat 70 Kepala Keluarga atau 20,41% termasuk peringkat I atau sangat miskin. Mereka terdiri dari janda memiliki rumah atau numpang di rumah anak/menantu; serta tidak memiliki pekerjaan tetap. 150 Kepala Keluarga atau 43,73% termasuk peringkat II atau miskin. Mereka adalah warga yang tidak memiliki pekerjaan tetap, tidak memiliki rumah/ menumpang di tumah anak/mertua/orang tua dan memiliki anak kecil. Ada 89 Kepala Keluarga atau 0,25% termasuk peringkat Cukup yakni mereka yang memiliki lahan, anak-anak sudah berumah tangga, atau janda ikut anak tetapi tidak punya pekerjaan tetap, memiliki rumah dan mampu menyekolahkan anak. 27 Kepala Keluarga lainnya terdapat dalam peringkat IV yakni kategori Mampu. Mereka memiliki pekerjaan tetap sebagai pengusaha patung, pengusaha tahu, memiliki rumah, motor, memiliki lahan, bisa menyekolahkan anak sampai SLTA serta janda pensiunan atau duda produktif. Kelompok masyarakat yang termasuk dalam kategori V yakni dianggap sangat mampu (hanya ada di RW 5- 4 RT) yakni mereka yang memiliki rumah, memiliki tanah, memiliki mobil, mempunyai penghasilan tetap, bisa menyekolahkan anak sampai tingkat SLTA/ PT, status Pegawai Negeri Sipil, memiliki usaha toko/tahu/patung/home industries.

Tabel 2
Hasil Pemeringkatan Keluarga berdasar score rata-rata
Peringkat I II III IV V Jumlah RT I/5 14 21 18 9 1 63 RT II/5 RT III/5 RT IV/5 10 8 10 14 23 24 15 13 17 3 4 7 1 1 3 43 49 61 RT I/6 11 25 9 1 1 47 RT II/6 11 21 8 1 0 41 RT III/6 6 22 9 2 0 39 Total 70 150 89 27 7 343

Sumber : Data primer 2006.

84

Ujicoba Model Pemeringatan Keluarga di Dusun Plasa Jenar

(Haryati Roebyantho)

IV. PENUTUP
A. Kesimpulan Berdasarkan uraian dan gambaran pelaksanaan ujicoba “Model Pemeringkatan Keluarga Menurut Kondisi Sosial dan Ekonomi” di dusun Plasa Jenar, Desa Kenteng, Kecamatan Pruwantoro, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah secara garis besar dapat disimpulkan : 1. Model yang diujicobakan aplikatif dalam arti proses pelaksanaan dari tahap persiapan sampai penghitungan nilai dengan mudah dikerjakan oleh penduduk setempat dengan arahan fasilitator dan pendamping daerah. Tim Pemeringkat (perwakilan warga dusun) mampu memahami dan mengerti penjelasan dari fasilitator. Implementasi tahapan model sudah mengikutsertakan partisipasi perwakilan warga, sehingga setiap ada kendala atau permasalahan dalam pelaksanaan tahapan model selalu didiskusikan dan diambil keputusan yang berdasarkan kesepakatan bersama. Metode dalam seleksi sasaran program dengan menggunakan “Model Pemeringkatan Keluarga Menurut Kondisi Sosial dan Ekonomi” dalam kenyataan memperoleh data akurat tentang kondisi masyarakat dan jumlah nyata Kepala Keluarga. Hal ini dibuktikan bahwa pada saat persiapan yakni dalam penentuan lokasi, dikatakan oleh aparat desa bahwa penduduk dusun Plasa Jenar ada 205 namun ketika di daftar dengan menggunakan “Model Pemeringkatan Keluarga Menurut Kondisi Sosial dan Ekonomi” diketahui bahwa jumlah Kepala Keluarga di dusun Plasa Jenar ada 343.

4.

Pada saat workshop di Kecamatan, Tim pemeringkat (perwakilan warga) menyatakan bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat bagi warga dusun Plasa Jenar. Karena dengan adanya pemetaan keluarga maka akan diketahui data yang benar tentang kondisi sosial ekonomi warga dan bila ada program bantuan pemerintah maka tidak akan salah sasaran karena kita mengetahui kondisi setiap warganya. Saran

B.

Berdasarkan kesimpulan di atas maka disarankan beberapa hal : 1. Dalam pelaksanaannya harus dipertegas dan diperjelas tugas dan peran antara Tim Fasilitator, Tim Pendamping dan Tim Pemeringkat. Hal ini penting karena untuk melaksanakan secara benar metode partisipatif, yaitu melibatkan warga masyarakat dan Tim Fasilitator dan Tim Pendamping tidak boleh ikut terlibat dalam diskusi. Apabila Model ini akan dijadikan Replikasi maka harus diperhatikan beberapa hal yakni: a. Fokus arahan dalam menyusun konsep harus dikaitkan dengan program yang akan dilaksanakan; Dalam pemilihan tim pendamping daerah harus benar-benar orang yang memiliki pemahaman dan pengetahuan metode participatory; Dalam pemilihan Tim pemeringkat harus betul-betul memperhatikan kriteria yang sudah dikemukakan.

2.

3.

2

b.

c.

85

Jurnal Penelitian dan Pengembangan Usaha Kesejahteraan Sosial, Vol 11, No. 03, 2006 : 74-86

DAFTAR PUSTAKA
Alam azis, Nazru, Kemiskinan dan kegelisahan Sayogyo, Sosok, Harian Kompas, 23 Mei 2006. Agusta.Ivannovich, Kelemahan metode Survey, Artikel, Harian Kompas,11maret 2006. Anonim , 2005, Panduan Penyusunan Database Pragram Pemberdayaan Fakir Miskin (DP2FM), Jakarta, Departemen Sosial R.I. Anonim, 2005, Modul Pelatihan Konsep dan Strategi Penanggulangan Kemiskinan, Jakarta, Departemen Sosial. Anonim, 2005 Strategi Penanggulangan Kemiskinan Nasional, Jakarta, TKP3KPK Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat. David S Gibbon dkk., 1999, Cashpor self Operational Manual : Cost Effectiveness targeting, the Small Enterprise Foundation, South Africa. Hartiningsih, Maria, 2004, Solusi Birokrat Membiayai Pembangunan Manusia, Kompas, 9 September 2005. Mudiyono dkk, 2005, Dimensi Masalah Sosial dan Pemberdayaan Masyaraakt, APMD Press Yogyakarta. Moelyarto Tjokrowinoto, 2002, Pembangunan Dilema dan Tantangan, Pustaka Pelajar ,Yogyakarta. Wisnu Hidayat dkk., Kebijakan dan manajemen, Pembangunan Partisipatif, Penerbit YPAPI, Yogyakarta. BIODATA PENULIS :

Haryati Roebyantho, Alumnus Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Jurusan Sosiatri. Kini Ajun Peneliti Madya pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial, Badan Pendidikan dan Penelitian Kesejahteraan Sosial, Departemen Sosial RI.

86

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful