Nama: Nur Maslahatul U. NIM : 5.08.06.13.0.

022

Kedudukan Wacana dalam Satuan Linguistik
Wacana merupakan satuan bahasa di atas tataran kalimat yang digunakan untuk berkomunikasi dalam konteks sosial. Satuan bahasa itu dapat berupa rangkaian kalimat atau ujaran. Wacana dapat berbentuk lisan atau tulis dan dapat bersifat transaksional atau interaksional. Dalam peristiwa komunikasi secara lisan, dapat dilihat bahwa wacana sebagai proses komunikasi antarpenyapa dan pesapa, sedangkan dalam komunikasi secara tulis, wacana terlihat sebagai hasil dari pengungkapan ide/gagasan penyapa. Disiplin ilmu yang mempelajari wacana disebut dengan analisis wacana. Analisis wacana merupakan suatu kajian yang meneliti atau menganalisis bahasa yang digunakan secara alamiah, baik dalam bentuk tulis maupun lisan. Sebagai peristilahan lingistik, oleh Hartman (1976: 69) dikatakan bahwa wacana bertalian dengan tuturan yang beruntun, yang diucapkan oleh seorang penutur kepada lawan tutur untuk menyampaikan pesan. Wacana dihasilkan oleh proses komunikasi yang berkesinambungan. Dengan demikian, wacana itu ada, karena adanya tindak tutur atau tindak perbuatan berbahasa. ( Speech act)

Ketiga. kalimat. dsb). Dalam kaitannya dengan hal ini. kalimat. Dalam hierarki gramatikal wacana merupakan satuan gramatikal tertinggi dan terbesar. Kontruksi wacana dibentuk atas dasar jaringan unsur. Dari uraian tersebut dapat ditunjukkan beberapa hal yang menandai satuan wacana linguistik. wacana adalah satuan lingual terlengkap dan merupakan perwujudan pemakaian bahasa yang utuh. kata.komponennya (Bell 1976: 203) Dari sudut keutuhannya.unsur diluar unsur kebahasaan seperti penutur. wacana itu merupakan satuan lingual yang terlengkap. buku.kalimat adalah komponen kontruksi wacana.kompenen . paragraf. lawan tutur.kalimat sebagai komponen. (novel.unsur linguistik. konstruksi wacana dibangun atas dasar hubungan unsur. Kedua. morfem. kalimat atau kata yang membawa amanat yang lengkap (Kridalaksana 1982: 179) Ditinjau dari unsur pembentuknya. tujuan pembicara dan sebagainya. frasa. kontruksi wacana juga dipengaruhi oleh unsur.Dilihat dari kedudukan dalam tataran lingual. Wacana dapat dikatakan sebagai kontruksi kebahasaan yang dibangun atas dasar tenunan atau jaringan kalimat. wacana merupakan satuan lingual yang dihasilkan oleh tindak tutur yang berkesinambungan. wacana merupakan wujud pemakaian bahasa yang melampaui tataran kalimat.unsur linguistik dan non linguistik. situasi. Wacana biasanya terealisasikan dalam bentuk karangan yang utuh. wacana itu dibangun oleh jaringan bukan hanya komponen. Disamping itu. yang utuh. seri ensiklopedi. seperti fonem. Pertama.

dan kalimat serta unsur makna (semantik). Linguistik modern. Akibatnya. wacana berada pada tataran lingual tertinggi. yang dipelopori oleh Ferdinand de Saussure pada akhir abad ke19. maka akan mudah ditentukan satuan lingual mana yang dapat disebut sebagai wacana. . dari sudut posisinya dalam satuan lingual. mengkaji bahasa secara ilmiah. Kajian linguistik rupanya belum memuaskan. misalnya faktor budaya masyarakat pemakai bahasa. Dengan cirri. Pada mulanya linguistik merupakan bagian dari filsafat. Analisis wacana menginterpretasi makna sebuah ujaran dengan memperhatikan konteks. sebab konteks menentukan makna ujaran. frase. Keempat. seperti bunyi. Manfaat melakukan kegiatan analisis wacana adalah memahami hakikat bahasa. memahami proses belajar bahasa dan perilaku berbahasa. sedangkan konteks etnografi berbentuk serangkaian ciri faktor etnografi yang melingkupinya. para ahli mencoba untuk mengembangkan disiplin kajian baru yang disebut analisis wacana. Banyak permasalahan bahasa yang belum dapat diselesaikan.cirri tersebut. Kajian lingusitik modern pada umumnya terbatas pada masalah unsur-unsur bahasa.nonlinguistik. Konteks linguistik berupa rangkaian kata-kata yang mendahului atau yang mengikuti. kata. Konteks meliputi konteks linguistik dan konteks etnografi.

Yogyakarta: Masyarakat Linguistik Indonesia Komisariat UGM. Dictionary of London: Applied Science Publishers LTD.K. Bambang. Stork.C . 1987. R. Kaswanti Purwo. London. dan F. ³Pragmatik dan Linguistik´. . Jakarta: PT Gramedia.R. Harimurti. No 36. Linguistics. Kridalaksana. 1986. Kelas kata dalam Bahasa Indonesia. 1976. dalam Bacaan Linguistik.DAFTAR PUSTAKA Hartman.

Namun. bahkan mungkin tidak berbentuk kalimat. misalnya) kata merupakan bagian dari kalimat karena sebuah kalimat bisa terdiri atas beberapa kata yang membentuk satu pengertian yang utuh dan selesai jika dilisankan. sebuah kalimat diakhiri dengan intonasi final. Padahal.Unsur-unsur Internal Wacana (Kata dan Kalimat serta Teks dan Konteks) Unsur internal wacana terdiri atas satuan kata atau kalimat. bisa saja sebuah kalimat hanya terdiri atas satu kata. ya? B: Enggak. Untuk menjadi susunan wacana yang lebih besar. . satuan kata atau kalimat tersebut akan bertalian dan bergabung (Mulyana. mau ke rumah teman. Kalimat pendek seperti itu sering terdapat pada dialog atau percakapan karena pada tempat dan situasi tertentu orang cenderung bertanya jawab dengan kalimat pendek. informasi dan konteksnya jelas uuntuk mendukung sebuah tuturan yang utuh. 1. Kata dan Kalimat Jika dilihat di dalam struktur yang lebih besar (di dalam kalimat. Kata atau kalimat yang berkedudukan sebagai wacana harus memiliki makna yang lengkap. Contoh: Ketika pulang dari sekolah si A bertemu dengan si B: A: Kemana? Kuliah. 2005 : 9). Kalimat sering diandaikan seperti sebuah ³bangunan´ yang terdiri atas beberapa ruang. ngerjakan tugas bersama. kalimat satu kata itu harus merupakan pengungkapan atau tuturan pendek yang memiliki esensi sebagai kalimat (³bangunan´ satu ruang itu harus dianggap sebuah rumah). Yang dimaksud satuan kata ialah tuturan yang berwujud satu kata.

Perpaduan teks dan konteks disebut wacana. kode. dan sebagainya. iklan. Dengan demikian memahami makna suatu teks itu. kode. ideologi. adegan. dan sarana. kepentingan-kepentingan. namun juga harus memahami tentang konteks yang menyertai teks tersebut. Tiga unsur yang terakhir. Berdasarkan pengertian tersebut. sebuah kalimat dapat dipahami karena adanya makna kalimatyang menjadi bandingannya itu. Bentuk amanat dapat berupa surat. sebuah teks disebut wacana berkat adanya konteks Pada pihak lain. Contoh: ³Saya lapar´ Kalimat itu dapat dipahami pendengar atau pembaca karena diandalkan adanya unsur lain.Pada dasarnya. . maka konteks wacana secara garis besar dapat dibedakan menjadi dua kelompok yaitu konteks bahasa dan konteks luar bahasa. topik. peristiwa. Teks merupakan hasil proses wacana. emosi. Kode ialah ragam bahasa yang dipakai. bahasa indonesia ligat daerah. terdapat nilainilai. atau bahasa daerah. pemberitahuan. seperti saya tidak lapar atau saya mau makan. bentuk amanat. Sumarlam (2005: 47) menyatakan bahwa konteks wacana adalah aspek internal wacana dan segala sesuatu yang secara eksternal melingkupi sebuah wacana. Artinya. Jadi. sebuah kata atau kalimat menjadi bermakna karena selalu diandalkan adanya unsur lain yang menjadi pasangannya. Jika salah dalam menafsirkan konteksnya maka pemahaman makna dan pesan teks akan terhambat. esai. Halliday dan Hasan (1992: 14) menandai konteks bahasa / koteks itu sebagai konteks internal wacana (internal discourse context). pendengar. waktu. yaitu bentuk amanat. dan sarana perlu mendapat penjelasan. pengumuman. Di dalam proses tersebut. dan lain-lain. tempat. misalnya bahasa indonesia baku. tidak bisa dilepaskan dari hanya pemahaman tentang teks itu tersendiri. Konteks wacana terdiri atas berbagai unsur seperti situasi. pembicara.

.

DAFTAR PUSTAKA Mulyana. Keutuhan Wacana : Unsur. 2010.unsur Internal Wacana. Metode dan Aplikasi Prinsip-Prinsip Analisis Wacana. . Kajian Wacana : Teori. Arifin Zaenal. Yogyakarta: Tiara Wacana. 2005.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful