NASKAH AKADEMIK KAJIAN KEBIJAKAN KURIKULUM PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

PUSAT KURIKULUM BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL 2007

ABSTRAK Program pendidikan nasional diharapkan dapat menjawab tantangan harapan dan tantangan yang akan dihadapi oleh anak bangsa baik pasa masa kini maupun masa yang akan datang. Kajian kebijakan kurikulum Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) bertujuan untuk memberikan masukan kepada BSNP terkait dengan penyempurnaan dokumen standar isi dan pelaksanaannnya serta pengembangan kurikulum PKn di masa depan. Ruang lingkup kajian ini adalah standar kompetensi dan kompetensi mata pelajaran PKn. Naskah akademik ini tersusun berdasarkan hasil sintesis dari rangkaian kegiatan yang meliputi penyusunan desain untuk menetapkan fokus kajian, kajian dokumen Standar Isi, kajian pelaksanaan standar isi, diskusi hasil kajian dokumen standar isi, diskusi hasil kajian pelaksanaan stadar isi, studi dokumentasi standar isi, analisis data hasil kajian, penyusunan hasil kajian, presentasi hasil kajian, dan penyusunan laporan. Peserta kegiatan ini terdiri atas unsur perguruan tinggi (UNJ dan UNP), praktisi pendidikan (guru-guru berpengalaman), dan Pusat Kurikulum. Kajian ini dilakukan melalui seminar, diskusi fokus, kajian dokumen., dan rapat kerja/workshop. Hasil kajian ini menghasilkan beberapa temuan, yaitu: Berkaitan dengan beban belajar, maka komposisi jumlah SK dan KD untuk tiap semester baik untuk SD, SMP maupun SMA dinilai cukup memadai. Aspek sikap dan perilaku yang menjadi ”stressing” PKn proporsinya hanya 12 % KD, 20,17% aspek perilaku, dan aspek pengetahuan 69,43 %. Overlapping (tumpang tindih) ditemukan pada KD 4.2 Kelas I dengan KD 2.4 Kelas III. Untuk SMP kelas VII ditemukan SK 3 dan 4 Kelas VII, sehingga disarankan untuk digabung. Untuk SMA misalnya KD 2.3 Kelas XI dengan KD 2.2 Kelas XII dan KD 3.3 Kelas X dengan KD 5.2 Kelas XI. Ada cakupan KD yang lebih luas dari SK. Adanya anggapan ketidakruntutan pendekatan berpikir pada KD jenjang SD, yaitu KD 3.1, 3.2, dan 3.3 Kelas III; dan KD 4.3 yang terhalang oleh KD 4.2 pada Kelas IV. Selain itu, Ditemukan adanya istilah yang tidak benar secara konsep keilmuan, yaitu penggunaan istilah bentuk-bentuk kenegaraan pada KD 1.2 Kelas X SMA. Dalam konteks ilmu negara tidak ada istilah bentuk-bentuk kenegaraan, yang ada ialah bentuk-bentuk negara yang sering dibahas secara bersama dengan bentuk pemerintahan dan sistem pemerintahan. Ada rumusan KD yang dianggap terlalu berat untuk ukuran siswa, Hasil kajian kebijakan kurikulum PKn berupa rekomendasi, yaitu untuk jangka pendek antara lain: Perlu penghalusan rumusan KD sehingga tidak dikesankan tumpang tindah dan memberi batas-batas yang jelas antar KD. Perlu penyesuaian urutan KD dalam beberapa SK dengan memperhatikan logika penyajian deduktif atau induktif. Perlu penyesuaian penggunaan kata kerja operasional (kko) dalam beberapa KD sesuai dengan tingkat perkembangan siswa. Perlu dilakukan kegiatan penyerasian antar KD antarmatapelajaran. Perlu Panduan Khusus yang menuntun guru SD kelas 1 – 3 dalam menyusun dan melaksanakan program secara praktis. Perlu segera menerbitkan buku teks pelajaran atau buku sumber/pendukung yang sesuai dengan SI PKn. Untuk jangka panjang antara lain: Perlu kajian yang lebih mendalam dan komprehensif untuk memantapkan cakupan kompetensi dan konten PKn agar sesuai dengan misi utama PKn dan SKL mata pelajaran PKn. Untuk kelas 1 – 3 SD yang menggunakan pendekatan tematik, perlu penyesuaian dan pengkajian Standar Isi secara bersama pada seluruh mata pelajaran yang disajikan di kelas 1 hingga kelas 3. Sehingga tidak terjadi kesulitan bagi bagi guru untuk mengembangkan silabus dan RPP tematik bagi kelas 1 hingga kelas 3. Bila perlu bahkan untuk kelas 1 – 3 SD perlu disusun Kurikulum Integratif atau Kurikulum Terpadu.

Naskah Akademik Kajian Kurikulum PKn – 2007

i

KATA PENGANTAR Pemberlakuann UU Republik Indonesia No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Peraturan Pemerintah No.19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, dan Peraturan Pemerintah No. 22 tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah menuntut cara pandang yang berbeda tentang pengembangan dan pelaksanaan kurikulum. Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) mengacu pada standar nasional pendidikan, standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pmbiayaan, dan standar penilaian pendidikan. Dari kedelapan standar isi tersebut, standar isi dan standar kompetensi lulusan merupakan acuan utama dalam pengembangan KTSP. Standar isi adalah ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam kriteria tentang kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian, kompetensi mata pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi oleh peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan . Pengembangan kurikulum telah dilakukan oleh sebagian satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dengan mengacu pada standar isi. Pengembangan kurikulum tersebut perlu ditelaah untuk mendapatkan informasi tentang permasalahan yang dihadapi berkaitan dengan pelaksanaan standar isi tersebut. Hasil pengkajian antara lain berupa naskah akademik : 1. Kajian Kebijakan Kurikulum SD 2. Kajian Kebijakan Kurikulum SMP 3. Kajian Kebijakan Kurikulum SMA 4. Kajian Kebijakan Kurikulum SMK 5. Kajian Kebijakan Kesetaraan Dikdas 6. Kajian Kebijakan Kurikulum Mata Pelajaran Agama 7. Kajian Kebijakan Kurikulum Mata Pelajaran Kewarganegaraan 8. Kajian Kebijakan Kurikulum Mata Pelajaran Bahasa 9. Kajian Kebijakan Kurikulum Mata Pelajaran Matematika 10. Kajian Kebijakan Kurikulum Mata Pelajaran IPA 11. Kajian Kebijakan Kurikulum Mata Pelajaran IPS 12. Kajian Kebijakan Kurikulum Mata Pelajaran Keterampilan 13. Kajian Kebijakan Kurikulum Mata Pelajaran Kesenian 14. Kajian Kebijakan Kurikulum Mata Pelajaran TIK 15. Kajian Kebijakan Kurikulum Mata Pendidikan Jasmani Salah satu hasil kajian di atas adalah Naskah Akademik Kebijakan Kurikulum Pendidikan Kewarganegaraan. Naskah akademik ini memberikan gambaran tentang kajian pelaksanaan standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran PKn dan permasalahannya yang digunakan sebagai masukan bagi para pengambil kebijakan. Pusat Kurikulum menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih kepada berbagai pihak yaitu Perguruan Tinggi, Direktorat di lingkungan Depdiknas, Dinas Pendidikan, dan praktisi pendidikan yang telah membantu Pusat Kurikulum dalam menghasilkan naskah akademik ini. Kepala Pusat Kurikulum Badan Penelitian dan Pengembangan Depdiknas,

Diah Harianti NIP. 131286957

Naskah Akademik Kajian Kurikulum PKn – 2007

ii

DAFTAR ISI DAFTAR ISI Abstrak Kata Pengantar Bab I Pendahuluan A. Landasan Yuridis C. Metode dan tahapan kajian Bab II Kajian Teoretis Bab III Temuan Kajian dan Pembahasan A. Tujuan D. Kajian Pelaksanaan D. Pembahasan Temuan Kajian Dokumen dan Lapangan Bab IV Kesimpulan dan Rekomensasi A. Kesimpulan B. Ruang Lingkup Kajian E. Deskripsi Hasil Kajian Dokumen Standar isi PKn C. Latar Belakang B. Rekomendasi Jangka Pendek C. Rekomendasi Jangka Panjang Daftar Pustaka Naskah Akademik Kajian Kurikulum PKn – 2007 iii . Deskripsi Responden B. Ringkasan Temuan Kajian Dokumen dan Lapangan E.

Dalam kerangka itu Permendiknas No. 23. Rencana Strategis Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia Tahun 2005-2009. Selain itu dikeluarkan pula Permendiknas No. 3. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2006 Tentang Pelaksanaan Peraturan Menteri Nomor 22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2006 Tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk Pendidikan Dasar dan Menengah. dan pendidikan menengah serta kejuruan. Salah satu yang menjadi bagian dari kajian tersebut adalah melakukan kajian kurikulum dari berbagai mata pelajaran pada jenjang pendidikan dasar dan menengah yang dijadikan sebagai dasar untuk melakukan pengembangan model-model kurikulum yang menjadi tanggung jawab Pusat Kurikulum. 2. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan. Setelah diterapkan selama lebih kurang satu tahun. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2006 Tentang Standar Kompetensi Lulusan Untuk Pendidikan Dasar dan Menengah. B. Dalam Permendiknas tersebut ditegaskan bahwa salah satu Tugas Pokok dan Fungsi (TUPOKSI) Pusat Kurikulum adalah melaksanakan pengkajian Standar Isi dalam pengembangan kurikulum untuk pendidikan anak usia dini. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 37 ayat (1). 23 Tentang Standar Kompetensi Lulusan. Berdasarkan ketentuan-ketentuan tersebut maka mulai diterapkanlah Stándar Isi dan Stándar Kompetensi Lulusan pada beberapa sekolah di seluruh Indonesia. 24 telah menegaskan paranan Balitbang. Undang-Undang Republik Indonesia No. Landasan Yuridis Kegiatan kajian ini dilaksanakan berdasarkan landasan yuridis sebagai berikut: 1. maka perlu dilakukan pemantauan atau bahkan pengkajian terhadap dokumen dan pelaksanaan Stándar Isi. khususnya mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah.BAB I PENDAHULUAN A. pendidikan dasar. 6. 22 dan No. 5. Untuk melaksanakan kegiatan tersebut perlu dilakukan serangkaian kegiatan analisis dan kajian kurikulum. khususnya Pusat Kurikulum dalam kegiatan pengkajian dalam rangka pengembangan modelmodel kurikulum. Latar Belakang Pada Tahun 2005 telah dikeluarkan Permendiknas No. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 22 Tentang Standar Isi dan No. C. 4. 24 yang mengatur tentang Pelaksanaan Permendiknas No. Tujuan Secara umum kegiatan ini bertujuan untuk melakukan kajian terhadap dokumen dan pelaksanaan Standar Isi Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan untuk Naskah Akademik Kajian Kurikulum PKn – 2007 1 . khususnya pada sekolah-sekolah yang telah memiliki kesiapan untuk melaksanakannya.

sosio-cultural.pengembangan kurikulum mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan secara terusmenerus dan berkesinambungan. khususnya tentang Kurikulum Pendidikan Kewarganegaraan. (3) Kajian pelaksanaan standar isi. mengkaji keluasan dan kedalaman cakupan materi dalam Standar Isi sesuai level perkembangan peserta didik dan jumlah jam pelajaran yang tersedia. Kegiatan kajian ini dilakukan dalam beberapa tahapan sebagai berikut: (1) Penyusunan desain untuk menetapkan fokus kajian. 3. Ruang Lingkup Kajian Ruang lingkup kegiatan kajian ini terdiri dari: 1. (2) Studi dokumen. Pendidikan Menengah terdiri atas: Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah dan Sekolah Menengah Kejuruan/Madrasah Aliyah Kejuruan. b. memberikan masukan kepada BSNP dalam rangka perbaikan implementasi dan penyempurnaan Standar Isi. 4. dan Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah. (4) Diskusi hasil kajian dokumen standar isi. dan perkembangan keilmuan terkini. dan (10) Penyusunan laporan. mengkaji keterlaksanaan Standar Isi dalam praktik pembelajaran. (5) Diskusi hasil kajian pelaksanaan stadar isi. baik oleh guru (khususnya dalam mengembangkan silabus dan RPP) maupun oleh siswa dalam proses pembelajaran. khususnya pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (3) Studi lapangan. 5. D. Naskah Akademik Kajian Kurikulum PKn – 2007 2 . yuridis. 2. Lingkup Mata Pelajaran: Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Pendidikan Kewarganegaran. Metode dan Tahapan Kajian Metode yang digunakan dalam kegiatan kajian ini adalah: (1) Seminar. (4) FGD (Focus Group of Discussion). mengkaji sekuensa atau keruntutan antarkonsep yang terdapat pada Standar Isi. (8) Penyusunan hasil kajian. yaitu untuk mengkaji dokumen Standar Isi. (7) Analisis data hasil kajian. Pendidikan Dasar terdiri atas :Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah. yang dimaksudkan untuk mengetahui kurikulum dan model kurikulum masa depan. Secara khusus tujuan kegiatan kajian ini adalah untuk: 1. 2. (2) Melakukan kajian dokumen Standar Isi. sosio-pedagogis. (6) Studi dokumentasi standar isi. yaitu meminta para guru PKn untuk memberikan analisis dan tanggapan terhadap keterlaksanaan Standar Isi dalam pembelajaran di sekolah. (9) Presentasi hasil kajian. E. dengan melibatkan para pakar dan stakeholders terkait dengan Pendidikan Kewarganegaraan untuk menetapkan fokus kajian. mengkaji kebenaran dan relevansi konsep dalam Standar Isi dengan tujuan dan landasan filosofis. menganalisis hasil-hasil seminar dan temuan kajian dan merumuskan hasil akhir kajian. Lingkup Jenis dan Jenjang Pendidikan: a.

pendidikan Pancasila perlu dilihat dalam tiga tataran. yakni pada pasal 37 menggariskan program kurikuler pendidikan kewarganegaraan sebagai muatan wajib kurikulum pendidikan dasar dan pendidikan menengah serta pendidikan tinggi. tercatat adanya berbagai nomenklatuur untuk itu. sebagai proses pendidikan (praksis pembelajaran). Winataputra:2001). Sebelumnya. Pendidikan Pancasila dan Pendidikan Kewiraan tahun 1985. Secara konseptualepistemologis. dan Pendidikan Kewarganegaraan tahun 2003. Pendidikan Moral Pancasila tahun 1975. 2001. atau “Civics and moral education” (Singapore) (Kerr: 1999. Apakah makna pendidikan Pancasila dalam pembangunan watak dan peradaban bangsa yang bermartabat? Untuk menjawab pertanyaan ini. Pendidikan Pancasila sebagai kemasan kurikuler Kemasan kurikuler pendidikan Pancasila secara historis-kurikuler telah mengalami pasang surut (Winataputra:2001). Dalam kurikulum sekolah sudah dikenal. 2006). bangsa. mulai dari Civics tahun 1962. berdasarkan UndangUndang Nomor 2 tahun 1989 tentang Sisdiknas dikenal dua muatan wajib yakni Naskah Akademik Kajian Kurikulum PKn – 2007 3 . Sebagaimana berkembang di berbagai belahan dunia. Pendidikan Kewarganegaraan sebagai Wahana Pembangunan Watak dan Peradaban bangsa Indonesia Sebagaimana diketahui bahwa Pendidikan Kewarganegaraan pada hakikatnya merupakan pendidikan yang mengarah pada terbentuknya warga negara yang baik dan bertanggung jawab berdasarkan nilai-nilai dan dasar negara Pancasila.BAB II TINJAUAN TEORITIS A. pendidikan Pancasila dapat dilihat sebagai suatu integrated knowledge system (Hartonian: 1996. Untuk Indonesia pada saat ini. yakni: “Citizenship education” (UK). Semua itu merupakan wahana pendidikan karakter ( character education) yang bersifat multidimensional (Cogan and Derricott: 1998) yang dimiliki oleh kebanyakan negara di dunia. Winataputra:2001) yang memiliki misi menumbuhkan potensi peserta didik agar memiliki "civic intelligence" dan "civic participation" serta "civic responsibility" sebagai warga negara Indonesia dalam konteks watak dan peradaban bangsa Indonesia yang ber-Pancasila (Winataputra. dan negara Kesatuan Republik Indonesia ke depan (proses nation’s character building). 1. termasuk di dalamnya “civic education” (USA) atau disebut juga pendidikan kewarganegaraan (Indonesia). yakni: pendidikan Pancasila sebagai kemasan kurikuler (mata pelajaran atau mata kuliah). Sementara itu di perguruan tinggi sudah dikenal Pancasila dan Kewiraan Nasional tahun 1960-an. Pendidikan Pencasila dan Kewarganegaraan tahun 1994. Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas. atau “ta’limatul muwwatanah/at tarbiyatul al watoniyah (Timur Tengah) atau “educacion civicas” (Mexico). atau “Sachunterricht” (Jerman) atau “civics” (Australia) atau “social studies” (New Zealand) atau “Life Orientation (Afrika Selatan) atau “People and society” (Hungary). dan Pendidikan Kewarganegaraan tahun 2003. Pendidikan Kewargaan Negara dan Kewargaan Negara tahun 1968. dan sebagai upaya sistemik membangun kehidupan masyarakat. Atau dengan perkataan lain merupakan pendidikan Pancasila dalam praktek. Di negara lain kemasan kurikuler serupa itu dikenal sebagai civic education dalam konteks wacana pendidikan untuk kewarganegaraan yang demokratis menurut konstitusi negaranya masing-masing.

pendidikan Pancasila. bila kita kembali pada konsepsi bahwa setiap negara memerlukan wahana edukatif untuk mencerdaskan kehidupan bangsanya dan menjamin kelanggengan kehidupan negaranya. ditegaskan bahwa core dari pendidikan kewarganegaraan untuk Indonesia adalah Pancasila. Pada tahun 1985 mata kuliah Pendidikan Kewiraan berubah menjadi Pendidikan Kewarganegaraan. namun dalam pengorganisasian isi dan pengalaman belajar hendaknya ditempatkan sebagai core atau concerto dalam orkestrasi kesemua aspek untuk mencapai tujuan akhir dari pendidikan Pancasila secara generik. dan globalisasi. merupakan pendidikan untuk memfasilitasi perkembangan pribadi peserta didik agar menjadi warga negara Indonesia yang religius. kemudian disepakati sebagai kesimpulan Seminar tersebut. Dengan kata lain dapat dirumuskan bahwa pendidikan kewarganegaraan untuk Indonesia secara filosofik dan substantifpedagogis/andragogis. Pendidikan Pancasila dianggap sebagai kemasan kurikuler untuk pendidikan nilai-nilai Pancasila. Dualisme ini masih menyisakan kontroversi tentang perlu tidaknya di perguruan tinggi ada dua mata kuliah Pendidikan Pancasila dan Pendidikan Kewarganegaraan yang sama-sama merupakan wahana kurikuler pendidikan nilai-nilai Pancasila. Dengan demikian untuk pendidikan dasar dan pendidikan menengah dapat Naskah Akademik Kajian Kurikulum PKn – 2007 4 . dan berkeadilan. mencakup persatuan dan kesatuan bangsa. Adanya dua persepsi ini ternyata masih terbawa sampai saat ini. Pancasila. hak azasi manusia. yakni Pendidikan Pancasila dan Pendidikan Kewiraan. maka dualisme persepsi antara Pendidikan Pancasila dan Pendidikan Kewarganegaraan tidak perlu terjadi. Perubahan ini ternyata menimbulkan kesan di kalangan komunitas dosen pengasuh kedua mata kuliah itu bahwa Pendidikan Pancasila dan Pendidikan Kewarganegaraan merupakan dua kemasan kurikuler yang berbeda. kekuasaaan dan politik. ketika memahami konsepsi muatan pendidikan kewarganegaraan menurut UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas. sedang di Perguruan Tinggi dirumuskan menjadi dua mata kuliah. berjiwa persatuan Indonesia. pendidikan kewarganegaraan untuk Indonesia adalah pendidikan Pancasila. Oleh karena itu dengan cara berfikir konsistensi dan keherensi. atau Menurut Heri Ahmadi yang bersama dengan Noor Syam dan penulis menjadi pembicara dalam Seminar Pendidikan dan Pembudayaan Nilai-Nilai Pancasila pada tanggal 8 Juni 2006 di Jakarta. pendidikan kewarganegaraan itu adalah pendidikan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. bahwa Pendidikan Kewarganegaraan merupakan mata pelajaran wajib pada semua satuan pendidikan dasar dan pendidikan menengah. dan pendidikan kewarganegaraan. Telah dikemukakan di atas bahwa pada dasarnya untuk Indonesia. sedangkan Pendidikan Kewarganegaraan merupakan kemasan kurikuler pendidikan kewiraan dan pendidikan pendahuluan bela negara. berkeadaban. konstitusi negara. Aspek-aspek yang menjadi lingkup mata pelajaran ini. Pada pendidikan dasar dan pendidikan menengah dua muatan wajib ini dirumuskan menjadi mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn). norma hukum dan peraturan. yang secara filosofik dan substantif-pedagogis merupakan pendidikan kewarganegaraan ala Indonesia. Walaupun dalam enumerasinya Pancasila ditempatkan sejajar dengan aspek lain. Untuk pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Sesungguhnya. demokratis dan bertanggung jawab. kebutuhan warga negara. komitmen utuh telah dicapai sesuai dengan legal framework yang ada.

(b) Pancasila pada tataran instrumentalsociokultural. the development of the skills of government and politics. Sebagai benchmark. and conflict resolution. dan (c) Pancasila pada tataran psikososial-individual dan kolektif. marilah kita lihat konsep civic education secara generikakademik. yakni Pendidikan Pancasila. Dalam konteks ini Pancasila harus dilihat sebagai sistem nilai dan moral yang melandasi kelembagaan. ketiga tataran pendidikan Pancasila (filosofik-ideologik. Dalam konteks ini Pancasila harus dilihat sebagai ideologi terbuka untuk pengembangan secara keilmuan. yakni (a) Pancasila pada tataran filosofik-ideologik. dan bernegara Indonesia. issues of human rights and intergroup relations. epistemologi. secara kurikuler. dan mekanisme kehidupan bermasyarakat. yang seyogyanya dikaji secara akademik/ilmiyah.20 tahun 2003 tentang Sisdiknas. sikap. Karena itu Pancasila harus diperlakukan sebagai parameter untuk menakar nilai substatif dari keseluruhan instrumentasi kehidupan kebernegaraan Indonesia. Mata kuliah Kajian Pancasila yang dikembangkan sebagai program kurikuler yang mewadahi pendidikan Pancasila pada tataran filosofik-ideologik dan instrumental-sosiokiltural. Adalah CIVITAS International (2006) yang merumuskan kosep tersebut secara lebih luas seperti berikut. pendidikan Pancasila dikemas dalam dua mata kuliah. bukan anak usia sekolah yang secara psikologis masih dalam proses perkembangan menuju kematangan. Dengan argumen tersebut. kini menjadi konsep yang lebih multifaset. dan Pendidikan Kewarganegaraan dengan beban belajar masing-masing 2 sks. konsisten dengan pasal 37 UU No.instruction in the values and attitudes of good citizenship. dengan beban belajar 3-4 sks.Civic education is Naskah Akademik Kajian Kurikulum PKn – 2007 5 . dan warga negara Indonesia. yang di Indonesia disebut pendidikan kewarganegaraan dalam makna generik pendidikan Pancasila.dikembangkan pendidikan kewarganegaraan yang koheren dengan pendidikan nilai-nilai Pancasila. tataran instrumental-sociokultural dan psikososial-individual dan kolektif) dikemas utuh dalam mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan. Pada tataran filosofik-ideologik Pancasila perlu dilihat sebagai integrated knowledge system yang memiliki dimensi ontologi. the rule of law and the operations of public institutions. Untuk pendidikan tinggi sebaiknya bagaimana? Peserta didik di perguruan tinggi adalah pemuda dan orang dewasa yang mulai matang. the study of electoral processes. yang seyogyanya dikaji secara normatif-inferensial. ada dua alternatif pengemasan pendidikan Pancasila di perguruan tinggi. Pancasila harus dilihat sebagai sistem nilai moral yang seyogyanya diwujudkan dalam pengetahuan. komponen bangsa. norma. Pada tataran psikososial-individual dan kolektif. Secara multidimensional Pancasila dapat kita bagi dalam tiga tataran. dan keterampilan sosial-kultural individu dalam keseharian kehidupan bermasyarakat. dan bernegara Indonesia. Kedua. “Civic education involves many things: the study of constitutions. dan aksiologi. Pada tataran instrumental-sociokultural Pancasila merupakan sistem nilai yang menjadi ingredient dan spirit/ethos dari keseluruhan sistem konstitusi dan kehidupan berkonstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia. berbangsa. sedangkan mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan dikembangkan sebagai program kurikuler yang mewadahi pendidikan Pancasila pada tataran psikososial individual dan kolektif. Karena itu Pancasila harus diperlakukan sebagai sumber rujukan prilaku yang perlu diinternalisasi oleh individu dalam perannya sebagai anggota masyarakat. berbangsa. Pertama.

SMA/MA. 3. SMK/MAK. Dalam kontes itu. encompassing education and training of both youths and adults in and outside of schools. bukan hanya dalam pembelajaran mata pelajaran/mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan dan Kajian Pancasila. institut. Bangsa. Civic education can also take place through radio and televition broadcasting and othr means. dan universitas) merupakan suatu lingkungan belajar pendidikan formal yang terorganisasikan mengikuti legal framework yang ada. termasuk pendidikan Pancasila adalah belajar atau learning. Dalam konteks pendidikan formal dan nonformal. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas. Secara normatif. dan Negara Kesatuan Republik Indonesia ke depan: Proses nation’s character building. Dalam konteks itu maka satuan pendidikan seyogyanya dikembangkan sebagai satuan sosiokultural-edukatif yang mewujudkan nilai-nilai Pancasila dalam praksis kehidupan satuan pendidikan yang membudayakan dan mencerdaskan. yang mengantarkan Susilo Bambang Yudoyono (SBY) dan Mohamad Jusuf Kala (MJK) sebagai Presiden dan Wakil Presiden. 2. Oleh karena itu proses belajar dan pembelajaran harus diartikan sebagai proses interaksi sosiokultural-edukatif dalam konteks satuan pendidikan. particularly in the developing world. dirumuskan bahwa ”Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar”. Pendidikan Pancasila sebagai Upaya Sistemik Membangun Kehidupan Masyarakat. bukan hanya dibatasi pada konteks klasikal mata pelajaran atau mata kuliah. Atas dasar UUD 1945 yang telah diamandemen ini untuk pertamakalinya diselenggarakan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden secara langsung. Dengan Pancasila seperti tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 dan Perubahannya atas batang tubuh UUD 1945 kehidupan berkonstitusi mengalami banyak perubahan baik pada tataran instrumental maupun pada tataran praksis. Dengan naiknya Presiden Megawati Soekarnoputri (Mbak Mega) reformasi demokrasi terus bergulir. proses belajar merupakan misi utama darai proses pembelajaran atau instruction. Karena itu konsep pembudayaan Pancasila yang menjadi tema sandingan pendidikan Pancasila. maka pendidikan Pancasila dalam pengertian generik. adil. Satuan pendidikan (SD/MI. Distance learning techniques are increasingly important. Lalu terpilihnya Presiden Abdurahman Wahid (Gus Dur) telah memungkinkan reformasi demokrasi terus berlanjut. sekolah tinggi. harus diwujudkan dalam keseluruhan proses pembelajaran. menjadi sangat relevan dalam upaya menjadikan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila sebagai ingredient pembangunan watak dan peradaban Indonesia yang bermartabat.pedagogy. SMP/MTs. telah berujung dengan jatuhnya Presiden Soeharto selaku penguasa Orde Baru. Pemilu yang jujur. Gerakan reformasi yang masif di Indonesia pada akhir dasawarsa 1990-an. Pada kurun waktu tiga Presiden pasca Soeharto inilah dihasilkan Perubahan ke 1 sampai ke 4 atas UUD 1945 yang secara konseptual dan normatif diyakini merupakan konstitusi yang lebih mewadahi cita-cita dan demokrasi yang tepat untuk Indonesia. Karena itu inti dari pendidikan. Proses demokratisasi di Indonesia yang Naskah Akademik Kajian Kurikulum PKn – 2007 6 . dalam Pasal 1 butir 20 UU No. Pendidikan Pancasila sebagai Proses Pendidikan: Praksis Pembelajaran Semua proses pendidikan pada akhirnya harus menghasilkan perubahan prilaku yang lebih matang secara psikologis dan sosiokultural. dan transparan. Kemudian naiknya Presiden Habibie telah berhasil memancangkan tonggak awal demokratisasi berupa kebebasan pers yang bertambah luas.

dan pengalaman sejarah serta budaya kewarganegaraan merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan demokrasi suatu negara. dan semangat kemasyarakatan. and implementation of the new form of civic education to develop smart and good citizens”. Dengan kata lain tumbuh dan berkembangnya masyarakat madaniPancasila bersifat interaktif dengan tumbuh dan berkembangnya akhlak kewarganegaraan (civic virtue) yang merupakan unsur utama dari budaya kewarganegaraan yang ber-Pancasila (civic culture). enforcement of rule of law. hubungan kesejajaran/egaliter. yaitu: “…the degree of economic development. seperti disharmoni antar peraturan perundang-undangan pada tataran instrumental. respect for human rights. solidaritas. perlu dipatri oleh kualitas pribadi “…true belief and sacrifice for God. Namun demikian ternyata semakin banyak pula anomalinya pada semua tataran. dan fenomena proses demokrasi yang cenderung anarkhis. Keadaan ini memang benar-benar menyedihkan. Semua unsur akhlak kewarganegaraan itu diyakini akan saling memupuk dengan kehidupan “civic community” atau “civil society” atau masyarakat madani untuk Indonesia yang berdasarkan Pancasila. atau tokoh masyarakat yang malu-malu kucing menyebut Pancasila. Sangat banyak faktor yang mempengaruhi tumbuh dan berkembangnya demokrasi dalam suatu negara. Inilah tantangan konseptual dan operasional bagi pendidikan Pancasila untuk membangun demokrasi konstitusional di Indonesia.(Sudarsono. Dalam waktu bersamaan proses pendidikan tersebut harus mampu memberi kontribusi terhadap berkembangnya budaya Pacasila yang menjadi inti dari masyarakat madani-pancasila yang demokratis. Oleh karena itu diperlukan adanya dan berperannya pendidikan pancasila yang menghasilkan demokrasi konstitusional yang mampu mengembangkan akhlak kewarganegaraanPancasilais. penghormatan terhadap hak azasi manusia.” Maksudnya adalah bahwa tingkat perkembangan ekonomi. perwujudan negara hukum. kehidupan yang kooperatif. Maksudnya adalah bahwa dalam kehidupan masyarakat madani tersebut harus terwujudkan kualitas pribadi yang ditandai oleh keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Salah satu unsur dari budaya kewarganegaraan adalah “civic virtue” atau kebajikan atau akhlak kewarganegaraan yang terpancar dari nilai-nilai Pancasila mencakup keterlibatan aktif warganegara. …historical experience and elements of civic culture. dosen. memberi ilustrasi bahwa ternyata untuk membangun kehidupan berdemokrasi konstitusional yang berdasarkan Pancasila itu tidaklah semudah yang diduga kebanyakan orang. Selain dalam Upacara dimana Pancasila dibaca serempak dibawah pemandu Pembina Upacara. …a sense of national identity.berdasarkan Pancasila telah menjadi semakin luas jangkauannya dan semakin tinggi intensitasnya. Bahmuller (1996:216-221) menidentifikasi sejumlah faktor yang berpengaruh terhadap perkembangan demokrasi suatu negara. tampaknya banyak pejabat. extension participation of citizens in public decision making at various levels. kesadaran identitas nasional.1999:2). Apakah hal ini mencerminkan bahwa telah terjadinya inkonsistensi dan disharmoni dari instrumentasi dengan idea dan sistem nilai Pancasila? Fenomena tersebut di atas. Masyarakat madani-Pancasila atau “civic community” atau “civil society” yang ditandai oleh berkembangnya peran organisasi kewarganegaraan di luar organisasi kenegaraan dalam mencapai keadilan dan kesejahteraan sosial sesuai Pancasila. saling percaya dan toleran. partisipasi warganegara yang luas dalam pengambilan kebijakan Naskah Akademik Kajian Kurikulum PKn – 2007 7 . karena memang kehidupan demokrasi konstitusional tidak bisa dibangun seketika atau dalam waktu singkat.

dalam masyarakat. Perbedaannya adalah dalam hal civic culture berkenaan dengan proses adaptasi psikososial individu dari ikatan budaya komuniter (keluarga. political culture memberi kontribusi dalam membangun konteks sosial. politik.socialstudies help.civsoc. Dari kedua pengertian tentang civic culture dan political culture dapat dikatakan bahwa civic culture berada dalam domain sosiokultural yang berorientasi pada pembentukan kualitas personalindividual warga negara. Dari situ dapat ditangkap tantangan bagi pendidikan demokrasi konstitusional di Indonesia adalah bersistemnya pendidikan Pancasila dengan keseluruhan upaya pengembangan kualitas warganegara dan kualitas kehidupan ber-Pancasila dan berkonstitusi UUD 1945.publik dalam berbagai tingkatan. Secara spesifik civic culture merupakan budaya yang menopang kewarganegaraan yang berisikan …a set of ideas that can be embodied effectively in cultural representations for the purpose of shaping civic identities. termasuk para pelaku politik dalam berbagai latar. dan pelaksanaan paradigma baru pendidikan kewarganegaraan untuk mengembangkan warganegara (Indonesia) yang cerdas dan baik.com/ APGOV _Notes_WeekFour. Keduanya memiliki kesamaan yakni sebagai hasil pemikiran yakni civic culture sebagai perangkat gagasan atau set of ideas sedangkan political culture sebagai perangkat pemikiran atau distinctive and patterned way of thinking. Karena itu pula negara harus mempunyai komitmen untuk memperlakukan semua wara negara sebagai individu dan memperlakukan semua individu secara sama. dalam pengertian diwujudkan (http://www. Sedangkan political culture berada dalam domain makro masyarakat negara. jadi bersifat psikososial.atau seperangkat ide-ide yang dapat diwujudkan secara efektif dalam representasi kebudayaan untuk tujuan pembentukan identitas warganegara. Secara konseptrual antara civic culture dengan political culture satu sama lain memiliki saling ketergantungan (interdependence). Naskah Akademik Kajian Kurikulum PKn – 2007 8 . dalam pengertian setiap orang harus belajar bagaimana melihat dirinya dan orang lain sebagai individu yang merdeka dan sama tidak lagi terikat oleh atribut-atribut khusus dalam konteks etnis. suku. atau kelas dalam masyarakat. Secara teoritik. Sementara itu budaya politik atau political culture diartikan sebagai Distinctive and patterned way of thinking about how political and economic life ought to be carried out. bukan karakter komunitarian suku. Di lain pihak. para pejabat negara dan organisasi non-pemerintah secara substantif dan praksis menggambarkan karakter ke Indonesiaan.). agama. masyarakat lokal) ke dalam ikatan budaya kewargaan suatu negara/ kewarganegaraan. atau pemikiran yang khas dan terpolakan tentang bagaimana kehidupan politik dan ekonomi seharusnya diselenggarakan. Di satu pihak civic culture memberi kontribusi dalam membangun identitas kewarganegaraan atau keIndonesiaan setiap warga negara. Dengan demikian prilaku politik dari para pelaku politik seperti anggota dewan perwakilan rakyat.com/nature/nature1). agama. Oleh karena itu Civic culture merupakan salah satu sumber yang sangat bermakna bagi pengembangan dan perwujudan civic education (http://www. jadi bersifat sosiopolitis dalam konteks kehidupan demokrasi. golongan dan partai politik. konsep civic culture atau budaya Pancasila terkait erat pada perkembangan democratic civil society atau masyarakat madani-Pancasila yang mempersyaratkan warganya untuk melakukan proses individualisasi. Masyarakat sivil yang demokratis tidak mungkin berkembang tanpa perangkat budaya yang diperlukan untuk melahirkan warganya. bangsa dan negara Indonesia.

disiplin diri. Elemen civic culture yang paling sentral dan sangat perlu dikembangkan adalah civic virtue. tanggungjawab individual. keharuan. Kesemua itu. mengenal ambiguitas). and loyalty to the nation and its priciples atau kesetiaan pada bangsa dan segala aturannya. Yang dimaksud dengan civic virtue adalah …the willingness of the citizen to set aside private interests and personal concerns for the sake of the common good (Quigley. toleration of diversity atau toleransi atas keberagaman. Kedua unsur dari civic virtue tersebut diyakini akan mampu menjadikan proses politik berjalan secara efektif untuk memajukan the common good atau kemaslahatan umum dan memberi kontribusi terhadapperwujudan ide fundamental dari system politik termasuk …protection of the rights of the individual” atau pelindungan hak-hak azasi manusia (Quigley. yaitu civic dispositions dan civic commitments. kepedulian terhadap masyarakat. skeptis. skeptisisme. compassion atau keterharuan . dkk. kesabaran dan keajekan. generosity atau kemurahan hati.ekonomi. dan kesetiaan terhadap bangsa dan segala prinsipnya merupakan karakter intrinsik dari sikap warganegara. Sebagaimana dirumuskan oleh Quigley. dan kultural yang memungkinkan warga negara baik secara perseorangan maupun kelompok mau dan mampu berpartisipasi secara cerdas (intelligent) dan bertanggungjawab (responsible) dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. toleransi pada keragaaman.dkk (1991:11) yang dimaksud dengan civic dispositions adalah …those attitudes and habit of mind of the citizen that are conducive to the healthy functioning and common good of the democratic system atau sikap dan kebiasaan berpikir warganegara yang menopang berkembangnya fungsi sosial yang sehat dan jaminan kepentingan umum dari sistem demokrasi. keterbukaan pikiran yang mencakup keterbukaan. reasoned committments of the citizen to the fundamental values and principles of constitusional democracy atau komitmen warganegara yang bernalar dan diterima dengan sadar terhadap nilai dan prinsip demokrasi konstitusional. individual responsibility atau tanggung jawab individual. open-mindedness (terbuka. kemurahan hati. Identitas pribadi warganegara yang bersumber dari civic culture perlu dikembangkan melalui pendidikan kewarganegaraan dalam berbagai bentuk dan latar.1991:11).1991:11) Proses politik yang berjalan dengan efektif untuk memajukan kepentingan umum dan memberi kontribusi berarti terhadap perwujudan ide fundamental dari sistem politik termasuk di dalamnya perlindungan terhadap hak-hak individu itu adalah ciri kehidupan politik yang ditopang kuat oleh civic culture. Sedangkan civic commitments adalah kesediaan warga negara untuk mengikatkan diri dengan sadar kepada ide dan prinsip serta nilai Naskah Akademik Kajian Kurikulum PKn – 2007 9 . Secara konseptual civic dispositions meliputi sejumlah karakteristik kepribadian. patience and persistence atau kesabaran dan ketaatan. civic-mindednes atau kepekaan terhadap masalah kewargaan. compromise (prinsip konflik dan batas-batas kompromi).atau kemauan dari warganegara untuk menempatkan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi. dkk. Civic virtue merupakan domain psikososial individu yang secara substantif memiliki dua unsur. Sedangkan civic committments adalah …the freely-given.1991:13-14). self-discipline atau disiplin diri.dkk. sikap kompromi yang mencakup prinsip-prinsip konflik dan batas-batas kompromi. (Quigley. pengenalan terhadap kemenduaan. yakni civility atau keadaban (hormat pada orang lain dan partisipatif dalam kehidupan masyarakat). yakni keadaban yang mencakup penghormatan dan interaksi manusiawi.

dkk. dan mengembangkan pengertian tentang pentingnya peranserta aktif warganegara.…practical experience in participation designed to foster among students a sense of competence and efficacy dan mengembangkan … an understanding of the importance of citizen participation (Quigley. 1. common good. (Quigley. and a commitment to the realization of the fundamental values and principles. hak kebebasan (pribadi. Pengembangan dimensi civic virtue merupakan landasan bagi pengembangan civic participation yang memang merupakan tujuan akhir dari civic education. kekuasaan anggaran belanja. equality (political. a disposition to act in accord with the traits of civic characters. 22 tahun 2006 secara normatif dikemukakan bahwa ”Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan warganegara yang memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi warganegara Indonesia yang cerdas. “adalah agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut. politik. yang dalam konteks Indonesia harus ditempatkan dalam konteks nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945. legal. separation of powers. berbangsa. pemisahan negara dan agama.1991:39). civilian control of the military. Untuk dapat berperan secara aktif tersebut diperlukan A knowledge of the fundamental concepts. dan fakta yang berkaitan dengan subsantsi dan kemampuan untuk menerapkan pengetahuan itu secara kontekstual. sosial. liberty: personal. atau pendidikan Pancasila untuk Indonesia. ekonomi). digariskan dengan dengan tegas. pemisahan kekuasaan. dan cinta tanah air. serta antikorupsi Naskah Akademik Kajian Kurikulum PKn – 2007 10 . dkk. ekonomi. federalism. dkk.fundamental demokrasi konstitusional. issues. federalisme. (Quigley. terampil. social. sejarah. individual rights (life. checks and balances. and patriotism.1991:14-16). kepentingan umum. justice. Berpikir secara kritis. rasional.” Sedangkan tujuannya. kebhinekaan. Kesemua itu adalah kedaulatan rakyat. economic). history. Tentu saja tidak semua hal tersebut berlaku untuk Indonesia. the rule of law. persamaan (dalam bidang politik. hukum. Yang dimaksud dengan semua hal tersebut di muka adalah pengetahuan tentang konsep fundamental. 1991:39).dan kebahagiaan). power of the purse. political. diversity. hak-hak minoritas. and facts related to the matter and the capacity to apply this knowledge to the situation. keadilan. yakni pengetahuan dan ketrampilan yang diperlukan untuk berperanserta secara efektif dalam masyarakat. dan bertindak secara cerdas dalam kegiatan bermasyarakat. separation of church and state. kebenaran. isu dan peristiwa aktual. pengalaman berperanserta yang dirancang untuk memperkuat kesadaran berkemampuan dan berprestasi unggul dari siswa. prinsip negara hukum. Dalam Lampiran Permendiknas No. Dimensi civic participation dikembangkan dengan tujuan untuk memberikan …the knowledge and skills required to participate effectively. and the pursuit of happiness). dan kreatif dalam menanggapi isu kewarganegaraan 2. pemerintahan konstitusional. kontrol dan penyeimbangan. kontrol masyarakat terhadap meliter. contemporary events. economic. dan kecenderungan untuk bertindak sesuai dengan watak dari warganegara. truth. Berpartisipasi secara aktif dan bertanggung jawab. yang meliputi…popular souvereignty. dan berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945. minority rights. dan bernegara. constitutional government. hak-hak individual yang mencakup hak hidup. dalam hal ini di Amerika.

Konstitusi-konstitusi yang pernah digunakan di Indonesia. Konstitusi Negara meliputi: Proklamasi kemerdekaan dan konstitusi yang pertama. Norma. Sistem pemerintahan. Pemajuan. Pancasila sebagai ideologi terbuka 8. Politik luar negeri Indonesia di era globalisasi. Sikap positif terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia. 1. Hak asasi manusia meliputi: Hak dan kewajiban anak. Hubungan dasar negara dengan konstitusi 6. Tata tertib di sekolah. Keterbukaan dan jaminan keadilan 2. Sumpah Pemuda. Demokrasi dan sistem politik. Instrumen nasional dan internasional HAM. Hak dan kewajiban anggota masyarakat. Berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri berdasarkan karakter-karakter masyarakat Indonesia agar dapat hidup bersama dengan bangsa-bangsa lainnya 4.” Sementara itu ditetapkan pula bahwa ”Kedalaman muatan kurikulum pada setiap mata pelajaran pada setiap satuan pendidikan dituangkan dalam kompetensi yang harus dikuasai peserta didik sesuai dengan beban belajar yang tercantum dalam struktur kurikulum. Kompetensi yang dimaksud terdiri atas standar kompetensi dan kompetensi dasar yang dikembangkan berdasarkan standar kompetensi lulusan. Pancasila meliputi: kedudukan Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi negara. Pengamalan nilainilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Persamaan kedudukan warga negara 5.3. Budaya politik. Norma yang berlaku di masyarakat.” Berdasarkan Permendiknas N0. Menghargai keputusan bersama. meliputi: Tertib dalam kehidupan keluarga. Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Proses perumusan Pancasila sebagai dasar negara. Hubungan internasional dan organisasi internasional. Budaya demokrasi menuju masyarakat madani. dan peraturan. Kemerdekaan mengeluarkan pendapat. penghormatan dan perlindungan HAM 4. Pemerintah pusat. Partisipasi dalam pembelaan negara. Pemerintahan daerah dan otonomi. Cinta lingkungan. meliputi: Hidup rukun dalam perbedaan. Kebutuhan warga negara meliputi: Hidup gotong royong. Kekuasan dan Politik. Dampak globalisasi. Kebanggaan sebagai bangsa Indonesia. Kebebasan berorganisasi. hukum. Peraturan-peraturan daerah.” Naskah Akademik Kajian Kurikulum PKn – 2007 11 . Globalisasi meliputi: Globalisasi di lingkungannya. Harga diri sebagai warga masyarakat. Norma-norma dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sistim hukum dan peradilan nasional. 22 tahun 2006 Ruang lingkup mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan untuk pendidikan dasar dan menengah secara umum meliputi aspek-aspek sebagai berikut. meliputi: Pemerintahan desa dan kecamatan. Prestasi diri . dan Mengevaluasi globalisasi. Muatan lokal dan kegiatan pengembangan diri merupakan bagian integral dari struktur kurikulum pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Pers dalam masyarakat demokrasi 7. Persatuan dan Kesatuan bangsa. Hukum dan peradilan internasional 3. Berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain dalam percaturan dunia secara langsung atau tidak langsung dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi.

literary stories. Oleh karena itu sesungguhnya substansi Pancasila harus menjadi core dari ke 7 (tujuh) butir substansi lainnya itu. 2. dalam pandangan Lickona (1992) disebut "educating for character" atau "pendidikan watak". Alasannya antara lain sebagai berikut. and moral behavior atau konsep moral. and persons of common sense down through history. 3. Oleh karena itu Lichona (1992. rasa dan sikap moral dan perilaku moral. Nilai tidak bisa diajarkan atau pun ditangkap sendiri tetapi dicerna melalui proses belajar. dan hubungan sosial guru-murid yang kohesif. Sasaran belajar akhir PKn adalah perwujudan nilai-nilai tersebut dalam perilaku nyata kehidupan sehari-hari. Proses pendidikan yang dituntut dan menjadi kepedulian PKn adalah proses pendidikan yang terpadu utuh. yakni Compatible mix of all those virtues identified by religions traditions. sikap moral. pendidikan sosial. Tuntutan pedagogis ini memerlukan persiapan mental. pendidikan moral. Oleh karena itu nilai harus termuat dalam materi pelajaran PKn. intelektual. profesionalitas. pendidikan nilai dan moral sebagaimana dicakup dalam PKn tersebut. Proses pembelajarannya menuntut terlibatnya emosional. sastra. Bila buah pemikiran Lickona (1992) tersebut kita kaitkan dengan karakteristik PKn SD. Guru seyogyanya siap memberi contoh dan menjadi contoh. Artinya suatu perpaduan yang harmonis dari berbagai kebajikan yang tertuang dalam keagamaan. termasuk di dalamnya terdapat Pancasila. Lickona mengartikan watak atau karakter sesuai dengan pandangan filosof Michael Novak (Lickona 1992 : 50-51). the sages. Materi PPKn adalah konsep-konsep nilai Pancasila dan UUD 45 beserta dinamika perwujudan dalam kehidupan masyarakat negara Indonesia. Setiap nilai Pancasila yang telah dirumuskan sebagai butir materi PKn pada dasarnya harus memiliki aspek konsep moral. nampaknya kita dapat menggunakan model Lickona itu sebagai kerangka pikir dalam melihat sasaran belajar dan isi PKn. Sebagai pengayaan teoritik. PKn merupakan mata pelajaran dengan visi utama sebagai pendidikan demokrasi yang bersifat multidimensional. 1. Namun yang paling menonjol adalah sebagai pendidikan nilai dan pendidikan moral. Contohnya. Kesadaran perlunya kejujuran 2. dan masalah pendidikan politik. moral feeling. untuk menanamkan nilai kejujuran dalam pembelajaran PKn harus menyentuh ketiga aspek seperti berikut: Konsep Moral 1.Namun demikian perlu diberi catatan bahwa enumerasi ke 8 (delapan) substansi. Ia merupakan pendidikan nilai demokrasi. dan sosial dari peserta didik dan guru sehingga nilai-nilai itu bukan hanya dipahami (bersifat kognitif) tetapi dihayati (bersifat afektif) dan dilaksanakan (bersifat perilaku). dan perilaku moral. Oleh karena itu secara singkat PKn dinilai sebagai mata pelajaran yang mengusung misi pendidikan nilai dan moral. memberi kesan yang kuat bahwa Pancasila belum menjadi core-nya PKn. Ingatlah pada postulat bahwa Value is neither tought now cought. Manfaat kejujuran di masa depan Naskah Akademik Kajian Kurikulum PKn – 2007 12 . 51) memandang karakter atau watak itu memiliki tiga unsur yang saling berkaitan yakni moral knowing. Pemahaman tentang kejujuran 3. it is learned (Herman 1966). yang juga disebut sebagai bentuk confluent education (McNeil:1981). pandangan kaum cerdik-pandai dan manusia pada umumnya sepanjang zaman.

tidak akan berubah karena diterima sebagai inti komitmen nasional kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia. 2. Cinta kita terhadap kejujuran 5. dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan bentuk final ketatanegaran RI. Bahwa Pembukaan UUD 1945. sikap moral. Kemauan untuk senantiasa berusaha jujur 3. Nilai dan moral Pancasila dan UUD 45 dapat dikembangkan dalam diri peserta didik melalui pengembangan konsep moral. strategi. Kata hati kita tentang kejujuran 2. Naskah Akademik Kajian Kurikulum PKn – 2007 13 . Empati kita terhadap orang yang jujur 4. Kebijakan Kurikulum PKn untuk Masa Depan Ada beberapa asumsi normatif dan asumsi positif mengenai PKn masa depan. Penilaian diri sendiri mengenai kejujuran Sikap Moral 1. sebagai berikut. Oleh karena itu bagi pendidikan di Indonesia PKn merupakan program pembelajaran nilai dan moral Pancasila dan UUD 45 yang bermuara pada terbentuknya watak Pancasila dan UUD 45 dalam diri perserta didik. sebagaimana hal itu menjadi komitmen MPR. PKn sebagai mata pelajaran yang memiliki aspek utama sebagai pendidikan nilai dan moral pada akhirnya akan bermuara pada pengembangan watak atau karakter peserta didik sesuai dengan dan merujuk kepada nilai-nilai dan moral Pancasila. 2. Kebiasaan untuk selalu bersikap dan berbuat jujur Dari pembahasan kita mengenai PKn sebagai pendidikan nilai dan moral dikaitkan dengan konsep pendidikan watak kiranya kita dapat mencatat hal-hal sebagai berikut: 1. Bahwa tatanan kehidupan demokrasi Indonesia pada dasarnya merupakan sistem kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia yang bersumber dari dasar negara Pancasila sebagaimana tersurat pada alinea keempat Pembukaan UUD 1945. Kemampuan bersikap dan berlaku jujur 2. Pendidikan yang memusatkan perhatian pada pengembangan manusia Indonesia seutuhnya. Alasan perlunya kejujuran 5. Watak ini pembentukannya harus dirancang sedemikian rupa sehingga terjadi keterpaduan konsep moral. 1. Pengendalian diri kita untuk selalu berlaku jujur 6. sikap moral dan perilaku moral Pancasila dan UUD 45. dan perilaku moral setiap rumusan butir nilai yang telah dipilih sebagai materi PPKn. Dengan demikian pula kita dapat menegaskan kembali bahwa PKn merupakan suatu bentuk mata pelajaran yang mencerminkan konsep. B. Rasa hormat kita kepada orang lain yang berlaku jujur Perilaku Moral 1. Rasa percaya diri kita untuk senantiasa berlaku jujur pada orang lain 3.4. dan nuansa confluent education. Bagaimana cara menerapkan kejujuran 6.

dan pola tindak yang koheren dari konsepsi pendidikan tentang demokrasi. dan bertanggung jawab sekaligus menjadi warga dunia yang toleran. Demokrasi konstitusional dapat diartikan sebagai demokrasi yang berlandaskan pada prinsip negara hukum. Naskah Akademik Kajian Kurikulum PKn – 2007 14 . dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan bentuk final ketatanegaran RI. nilai. 7. Bahwa pembangunan demokrasi konstitusional Indonesia mengandung missi pembangunan ide. tidak bersifat chauvinistik. Sebagai instrumentasi dari ide dan norma inti Pancasila dan UUD 1945. Bahwa sebagai wahana pendidikan demokrasi. yang di dalamnya terkandung kehidupan berdasar pada rule of law yang memberikan implikasi pada pentingnya pendidikan kewarganegaraan untuk menumbuhkan kesadaran hukum warga negara. 4. dalam pendidikan demokrasi konstitusional Indonesia. prinsip dan konsep demokrasi Pancasila. 2. partisipatif. 3. cerdas. 6. dan diwujudkan sebagai praksis pendidikan yang konsisten dan koheren dengan komitmen kebangsaan Indonesia pada tingkat satuan pendidikan. prinsip dan konsep demokrasi melalui instrumentasi demokrasi dalam berbagai latar kehidupan dan pendidikan demokrasi untuk generasi muda sebagai pewaris bangsa di masa depan yang berdasarkan konstitusi. dalam konteks historis dan sosio-politis tumbuh dan berkembangnya komitmen nasional kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia. Bahwa pendidikan untuk kewarganegaraan Indonesia yang demokratis yang menjadi missi PKn. perlu kajian mendalam terhadap ide dan nilai yang secara substantif terkandung dalam Pembukaan UUD 1945. melainkan berwawasan kosmopolit guna menghasilkan warganegara Indonesia yang baik. pendidikan melalui demokrasi. dan reaktualisasi pendidikan kewarganegaraan sebagai wahana: psiko-pedagogis pada domain kurikuler. rekonseptualisasi. ada beberapa substansi kebijakan nasional tentang Kurikulum PKn Masa depan sebagai berikut. Bertolak dari ke 7 asumsi tersebut. dan epistemologis pada domain akademik. pendidikan kewarganegaraan berfungsi mewujudkan kesatuan pola pikir. 4. perlu kajian mendalam secara komprehensif terhadap visi dan missi nasional dari instrumentasi demokrasi dalam berbagai latar kehidupan dan aras pendidikan demokrasi untuk generasi muda sebagai pewaris bangsa di masa depan. memiliki fungsi sebagai pendidikan untuk membangun karakter bangsa. nilai. yang secara substansial dirancang secara nasional. 1. 5. sosio-andragogis pada domain sosial-kultural. dan epistemologis pada domain akademik dalam pendidikan demokrasi konstitusional Indonesia agar lebih efektif dan mampu diimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat sesuai tuntutan zaman.3. Bahwa pendidikan kewarganegaraan merupakan wahana psiko-pedagogis pada domain kurikuler. Dalam rangka pembangunan demokrasi konstitusional Indonesia yang mengandung missi pembangunan ide. perlu kajian mendalam secara komprehensif terhadap tatanan kehidupan demokrasi Indonesia sebagai sistem kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia yang bersumber dari dasar negara Pancasila dan UUD 1945. Diperlukan reposisi. pola sikap. Bahwa pendidikan kewarganegaraan sebagai muatan wajib kurikulum pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan tinggi. pendidikan untuk membangun demokrasi. sosio-andragogis pada domain sosial-kultural. Sebagai sumber ide dan norma inti dari PKn.

jenjang. Kerangka sistemik asesmen dalam pendidikan kewarganegaraan untuk berbagai jalur. dan secara psiko-pedagogis dan sosio-andragogis layak bagi pengembangan dan perwujudan pendidikan kewarganegaraan Indonesia. pendidikan untuk membangun demokrasi. antara lain: 1. secara sosio-politis dan sosiokultural akseptabel. dan bertanggungjawab dan sekaligus menjadi warga dunia yang toleran. Naskah Akademik Kajian Kurikulum PKn – 2007 15 . pendidikan melalui demokrasi. 2. Kerangka sistemik dan programatik pendidikan dan pelatihan guru/tutor pendidikan kewarganegaraan untuk berbagai jalur. jenjang. dan jenis pendidikan.5. jenjang. Pendidikan kewarganegaraan sebagai muatan wajib kurikulum pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan tinggi. jenjang. 6. perlu difungsikan sebagai wahana pendidikan yang mampu mewujudkan kesatuan pola pikir. 7. Elemen pendidikan kewarganegaraan yang memerlukan reposisi. yang secara substansialnasional dapat diwujudkan sebagai praksis pendidikan yang konsisten dan koheren dengan komitmen kebangsaan Indonesia pada tingkat satuan pendidikan. 4. yang dapat memberi masukan yang secara akademik valid. Kerangka akademik penelitian dan pengembangan pendidikan kewarganegaraan untuk berbagai jalur. 6. pola sikap. Pendidikan kewarganegaraan sebagai wahana pendidikan demokrasi. perlu dirancang secara sistematis dan sistemik untuk membangun karakter bangsa. dan pola tindak semua unsur bangsa Indonesia secara koheren dengan konsepsi pendidikan tentang demokrasi. dan jenis pendidikan. Kerangka sistemik kompetensi kewarganegaraan lulusan pada berbagai jalur. rekonseptualisasi. tidak bersifat chauvinistik. cerdas. Ke 7 (tujuh) substansi kebijakan kurikulum tersebut merupakan kebijakan dasar yang diharapkan menghasilkan pemikiran komprehensif tentang pendidikan demokrasi konstitusional Indonesia untuk berbagai domain. dan jenis pendidikan. melainkan berwawasan kosmopolit dalam menghasilkan warganegara Indonesia yang baik. Perlu dilakukan antisipasi yang komprehensif agar pendidikan untuk kewarganegaraan Indonesia yang demokratis melalui PKn. dan jenis pendidikan. jenjang. dan reaktualisasi untuk masa depan. dan jenis pendidikan. Kerangka sistemik proses pendidikan kewarganegaraan untuk berbagai jalur. 3. Grand design pendidikan kewarganegaraan sebagai wahana pendidikan demokrasi konstitusional Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. dan jenis pendidikan. 5. jenjang. partisipatif. 7. Kerangka sistemik isi pendidikan kewarganegaraan untuk berbagai jalur.

Hasil Kajian Dokumen Tahap Pertama Dokumen Standar Isi PKn SD/MI Untuk kajian dokumen Standar Isi PKn SD diperoleh beberapa temuan sebagai berikut: Kelas I 1) KD 1. B. Hasil kajian dikelompokkan ke dalam satuan pendidikan SD.3 tidak runtut 3) KD 3. SMP dan SMA yang rangkumannya seperti terlihat pada tabel dan uraian di bawah ini. 3. 1. bukan hanya keluarga dan sekolah Kelas II KD 3. yaitu dosen perguruan tinggi. KD ini terasa agak berat untuk dilaksanakan di kelas 2 Kelas III 1) KD 2. DPR. dan suku bangsa”.2 yang rumusannya ”Melaksanakan aturan yang berlaku di masyarakat” terdapat juga pada kelas 3 (KD 2. Responden yang dimaksud berasal dari berbagai wilayah Indonesia yang terdiri atas: 1) akademisi. Kepada seluruh responden ini diberikan instrumen analisis dokumen dan pelaksanaan Stándar Isi yang hasilnya terlihat pada paparan berikut. Untuk mengkaji dokumen dan pelaksanaannya telah dihadirkan beberapa responden sebagai pengkaji.3 Menampilkan sikap mau menerima kekalahan. 2) KD 4.3) 3) SK 4. MK dan BPK Kata kerja operasional ”mengenal” mengarah pada muatan materi yang terlalu tinggi sehingga sulit diserap oleh siswa 2) KD 3. SMP dan SMA dari beberapa wilayah Indonesia. hanya terbatas pada lingkup rumah dan sekolah. MA. sedangkan pada KD 4. Deskripsi Hasil Kajian Dokumen Standar Isi PKn Kajian dokumen dilakukan baik oleh akademisi maupun praktisi.3 Melaksanakan aturan-aturan yang berlaku di lingkungan masyarakat * KD ini sama dengan KD 4. dan 2) praktisi yang berkait langsung dengan pembelajaran PKn. Presiden. agama.1.2 kompetensi yang dituntut sudah sampai pada lingkup masyarakat.3 (Susunan KD dianggap tidak runtut) .1 yang rumusannya adalah ”Menjelaskan perbedaan jenis kelamin.2 di kelas I semester 2 2) Susunan KD 3.BAB III TEMUAN KAJIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Responden Kajian ini dilakukan baik terhadap dokumen maupun pelaksanaan Standar Isi dalam kegiatan pembelajaran.2 dan 3. yaitu guru-guru yang berasal dari SD.1 Mengenal lembaga negara dalam susunan pemerintah tingkat pusat seperti MPR.3 Menampilkan perilaku yang mencerminkan harga diri * KD ini sulit terukur pada proses belajar Kelas IV 1) KD 3.memberi contoh pengaruh globalisasi Naskah Akademik Kajian Kurikulum PKn – 2007 16 . dinilai memiliki kemiripan materi dengan materi IPS.

Menjelaskan Pancasila sebagai dasar negara dan deologi negara Terdapat pengertian/ perintah ganda dalam satu KD. KD 3. KD.: Menganalisis hubungan proklamasi dengan UUD 1945 Materi ini masih sangat berat untuk konsumsi Kelas VII. apalagi mereka dituntut untuk menganalisa proses terbentuknya konstitusi pertama. komunikasi dan trasnportasi) 4) Penulisan SK mengenal sistem pemerintahan tingkat pusat di kelas IV redanden dengan SK kelas VI smt 1 5) Materi globalisasi terlalu dini dimasukan di kelas IV Kelas V dan Kelas VI Untuk krelas V dan VI pada kajian tahap I dipandang tidak ada masalah Dokumen Standar Isi PKn SMP/MTs Kelas VII Materi sangat berat seperti: a). d). KD 3. 1. Menguraikan nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi negara Terdapat pengertian ganda dalam satu KD c). Menganalisis penyimpangan penyimpangan terhadap konstitusi yang berlaku di Indonesia - Naskah Akademik Kajian Kurikulum PKn – 2007 17 . Kata menghargai sebaiknya diganti dengan mengidentifikasi karena sulit diukur.3. Menguraikan hakikat. 2. b). sehingga KD-nya menjadi “Mendiskripsikan hakikat hukum dan kelembagaan HAM” Kelas VIII Materi berat a).: Menghargai upaya perlindungan HAM. 1. sehingga KD tersebut berubah menjadi “ Mengidentifikasi hubungan proklamasi dengan UUD 1945” c). Mendeskripsikan suasana kebatinan konstitusi pertama.2. hukum dan kelembagaan HAM.1. KD. Kalau memang harus diajarkan di Kelas VII. Sebaiknya bobot Kompetensi diturunkan dari “ Menganalisis menjadi “Mengidentifikasi” saja.Kira-kira KD tersebut berubah menjadi “ Mendiskripsikan proses terbentuknya konstitusi pertama”.1. Sebaiknya istilah suasana kebatinan dihilangkan saja atau dicarikan istilah yang mudah dipahami (familier). b).Menentukan sikap terhadap pengaruh globalisasi 3) SK 4: Menunjukkan sikap terhadap Globalisasi di lingkungan Muatan materinya mirip dengan muatan materi yang terdapat pada mata pelajaran IPS kelas IV (perkembangan teknologi produksi.Jenis budaya Indonesia yang pernah ditampilkan dalam misi kebudayaan Internasional . KD 2.2. Kata menguraikan terlalu dalam maknanya. Istilah semacam ini masih sangat awam bagi siswa kelas VII. karena anak Kelas VII merupakan transisi dari SD ke SMP sehingga sangat berat dituntut menganalisis hubungan Pancasila dengan UUD 1945. KD. Siswa Kelas VII terasa berat dalam membuat persepsi dari kata menghargai upaya perlindungan HAM. Kata ”menguraikan” sebaiknya diganti dengan mendiskripsikan. sehingga KD berubah menjadi: “Mengidentifikasi upaya-upaya perlindungan HAM”. KD 2.2.3.

Jadi kalau dibahas dalam bab yang berbeda akhirnya jika membahas sitem politik akan membahas budaya politik dan demikian sebaliknya.3 (Menganalisis pelaksanaan Demokrasi di Indonesia sejak orde lama. Budaya politik dan sistem politik adalah dua hal yang sulit untuk dipisahkan.1.3 Membandingkan pelaksanaan sistem pemerintahan yang berlaku di Indonesia dengan negara lain. (materi ini terlalu luas karena tidak jelas Indonesia saat kapan dan dengan negara mana) 2. Materi Kelas X Semester 2 K. Karena berbagai negara terlalu banyak.1.D. Tumpang tindih materi: a) Materi kelas X semester 2 : (Menganalisis sistem politik di Indonesia) Dengan materi kelas XI sem 1: (Menganalisis budaya politik di Indonesia).XII 1.Menjelaskan pentingnya pembelaan negara.1 dan 1. b). Karena berbagai negara terlalu banyak. 2 . Naskah Akademik Kajian Kurikulum PKn – 2007 18 .1 Menganalisis sistem pemerintahan di berbagai negara. e) Materi Kelas XI Sm 1 .2. b). 1. Kd.D 6: Mendeskripsikan perbedaan sistem politik di berbagai negara. 1. Menjelaskan pengertian dan pentingnya globalisasi bagi Indonesia Ada dualisme dalam satu masalah Dokumen Standar Isi PKn SMA/MA Kelas X . Materi Kelas XII Sm 1 K. (Menjelaskan penyebab timbulnya sengketa internasional dan cara penyelesaian oleh Mahkamah Internasional). c). 3. Materi Kl.2 “Menganalisis pelaksanaan sistem pemerintahan negara Indonesia”. X Sem 1 KD. KD. Pelaksanaan Demokrasi tidak terlepas dari sistem pemerintahan yang diterapkan suatu negara. 2: 2. dan reformasi) dengan materi kls XII Sm 1 KD. KD 2. 5. 2. 1. Materi kelas XI Sm. Menjelaskan kurang mewakili kedalaman materi yang diharapkan b). 3. jika jika tidak ada batasan justru tujuan mendiskripsikan menjadi kabur.2.D.Kelas IX Materi kurang sesuai: a). K. jika jika tidak ada batasan justru tujuan menganalisis menjadi kabur). Materi kelas X (Hubungan dasar negara dan Konstitusi) dengan Materi XII (Menampilkan sikap positif terhadap Pancasila sebagai ideologi terbuka) d). orde baru.3 peradilan internasional HAM) (mendiskripsikan instrumen hukum dan Dengan materi kls XI sm 2. Tentang Tipe dan macam budaya politik. KD. Masalah internasional tidak dapat dipisahlan dari pelanggaran HAM. Materi terlalu luas: a).

agar utuh pemahaman terhadap konsep aturan tersebut. 4.3 tidak terpisah-pisah melainkan tergabung dengan nilai keutamaan yang lain seperti gotong royong diajarkan di kelas III.2. oleh karena itu sebaiknya diberikan di kelas VI Kelas V SK 3/V dan SK 4/V.1. SK 2/II KD 2.12 sebaiknya digabungkan dengan nilai keutamaan Musyawarah (sikap demokratis) dan diberikan dikelas III. SK 3 /I KD 3.1.3.1 tidak dipisahkan melainkan satukesatuan.2.2 harus diberikan dengan konsep sederhana yang dapat dipahami dan sesuai konten siswa itu sendiri.1.2 harus ditanamkan sejak dini bukan dikelas dua melainkan di kelas 1 pada semester 2. beserta Kdnya sebainya digabung menjadi satu. Kelas VIII SK 2 dan 3 / VIII.2. SK 3/III dan SK4/III beserta KD nya sebaiknya digabung agar bermakna.2 dan SK 4/I KD 4.2.2 tidak untuk diajarkan pada semester 1 melainkan di semester 2 dengan menggabungkan SK 1 dan 2 menjadi 1 SK. SK 3/II KD 3.1. Hasil Kajian Dokumen Tahap Kedua Dokumen Standar Isi PKn SD/MI Kelas I SK 1 / I KD 1. karena merupakan bagian dari HAM agar utuh dalam memehami konsep HAM.1. Penanaman konsep pada SK 2/III beserta KD nya harus dimulai dari yang paling sederhana yang ada disekitar kehidupan peserta didik.3. beserta Kdnya sebaiknya dirumuskan dalam satu SK agar utuh dalam mememahami kosepnya. 2. Kelas III Materi dari SK 1/III . Dokumen Standar Isi PKn SMP/MTs Kelas VII Materi pada SK 1 / VII beserta KD nya sebaiknya diberikan setelah penjelasan SK 2 / VII agar lebih sistematis dalam memahami konsep bernegara yang dimulai dari Proklamasi. SK 3 dan SK 4 / VII beserta KD nya sebaiknya di gabung. Materi pada SK 4 /II KD 4.1.3 dan SK 2/ I KD 2. karena merupakan satu kesatuan antara sejarah dengan kebanggaan yang harus dimiliki siswa.1.1. Sebaiknya konsep dari SK 4 dan SK 5 / VIII beserta KD nya dijadikan satu khusus mengenai Sistem pemerintahan Indonesia digabung dengan Otonomi dan diberikan di kelas IX Kelas IX SK 1 / IX beserta KD nya sebaiknya diberikan disemsester 2 Kelas VIII Naskah Akademik Kajian Kurikulum PKn – 2007 19 . Materi pada SK 1 / VII beserta KD nya diberikan diawal siswa duduk dibangku SMP di semster 1.1. beserta KD nya dibutuhkan penalaran dan pemahan yang luas.3. Untuk memahami konsep pada SK 4 / III.4.1. sehingga SK 3 dan 4 dapat digabung menjadi 1 SK dan diberikan di kelas 2 di semester 1 Kelas II Nilai keutamaan pada SK 1 /II KD 1.

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dan pelaksanaan dalam kegiatan pembelajaran. Selain itu terdapat materi yang pengembangannya terlalu beranekaragam. Silabus 1). seperti budaya politik. Kelas XI SK 2 dan 3 / XI beserta KD nya sebaiknya digabung jadi satu untuk memudahakan pemahaman dan penjabaran demokrasi menuju masyarakat madani. untuk memudahkan pemahaman bagi peserta didik. 1. Penyusunan Program Pembelajaran a. dan subtansi konstitusi negara 2). kurang mendapat perhatian dari sekolah. seperti peradilan internasional. Temuan yang diperoleh hanya pada satuan SMA dan ini pun tidak hanya terkait dengan Stándar Isi. Untuk hal ini tidak ada masalah yang ditemukan dalam pelaksanaan Stándar Isi untuk satuan pendidikan SD dan SMP. Deskripsi temuan tentang pelaksanaan Stándar Isi pada satuan pendidikan SMA dapat dilihat pada uraikan berikut. Dalam penyusunan silabus ada kesulitan dalam mencari materi karena pengembanganya terlalu luas. SK 4 / X sebaiknya diberikan di semester satu sesudah SK 1. perlu juga ditambahkan konsep tentang idiologi negara. Rumusan SK 3 / X beserta KD nya perlu direvisi dan rumamusan KD juga perlu perubah dengan menamabah konsep tentang HAM dan diberikan disemester 2. Rumusan SK SK 4 / XI beserta KD nya perlu diadakan perubahan dan ditambahkan materi tentang politik luar negeri Indonesia bebas dan aktif. melainkan pula dengan hal-hal lain seperti UAN. SK 5 / XI perlu dirumuskan lebih jelas tentang konsepnya baik pada SK maupun KD nya dan perlu perombakan KD nya. 2) Sarana dan prasarana untuk pengembangan RPP yang baik. dan tipe dan macam budaya politik b. pokok pikiran Pembukaan UUD 1945. sumber buku yang ada di sekolah kemampuan guru dalam mengembangkan metode dan media. perkembangan pers di Indonesia. Naskah Akademik Kajian Kurikulum PKn – 2007 20 . Sebaiknya konsep dari SK 6 / X beserta KD nya dan SK 1 / XI beserta KD nya dijadikan satu dengan SK 1 / XI tentang Budaya politik dan diadakan perubahan rumusan serta penambahan konset tentang politik dan diberikan di kelas XI semester 1. sementara masih ada ulangan umum bersama di tingkat kabupaten maupun Propinsi. budaya Demokrasi. C. karena PKn sekarang tidak di-UN-kan lagi dan menjadi pelajaran anak tiri di sekolah.Dokumen Standar Isi PKn SMA/MA Kelas X KD-KD yang terdapat dalam SK SK 1 / X perlu direvisi dan dibuat sistematis dengan menambah beberapa materi dan konsep baik tentang Bangsa maupun tentang negara. RPP 1) Sangat dipengaruhi adanya sarana penunjang media. Kajian Pelaksanaan Kajian pelaksanaan ini mencakup implementasi Standar Isi ke dalam pengembangan silabus. Rumusan SK 2 / X beserta KD nya perlu direvisi dan rumusan KD juga perlu dirubah dengan menamabah konsep tentang hukum dan peradilan. sehingga sarana dan prasarana untuk pembelajaran ini juga terbatas. SK SK 5 / X beserta KD nya sebaiknya diberikan di semester 2 kelas X sesudah materi HAM dan sebaiknya diberi tambahan konsep tentang keberagaman atau pliralisme di Indonesia.

mengajar sekaligus melakukan penilaiann afektif bagi 30 lebih siswanya.Lain a). Penilaian Afektif perlu dipertimbangkan apakah mampu seorang guru dalam melakukan kegiatan mendidik.91%) KD. Lain . Sehingga 3 mapel yang diunaskan tersebut bagai anak emas yang jamnya banyak. Berdasarkan ranah kompetensi terdapat ketidakseimbangan ranah kompetensi PKn sebagai muatan KD untuk tiap-tiap SK baik di SD. maka komposisi jumlah SK dan KD untuk tiap semester baik untuk SD. Untuk mencapai tuntutan KTSP yang mengutamakan proses disamping hasil. Tiap semester hanya terdiri atas 2 atau 3 SK dan tiap SK umumnya terdiri atas 2 sampai 3 KD pada jenjang SD. Atau keduanya? D. 3. Pada tiga jenis pendidikan ini aspek sikap dan perilaku yang menjadi ”stressing” PKn proporsinya relatif lebih sedikit bila dibandingkan dengan ranah pengetahuan. Materi PKn yang begitu padat tidak cukup jika hanya dialokasikan waktu 2 JP. Komposisi KD berdasarkan ranah kompetensi PKn: civic knowledge (kognitif=pengetahuan). Komposisi SK-KD tiap semester Berkait dengan beban belajar. Kajian Dokumen a. sedang yang dipelajari selama satu tahun dikelas XII sama sekali tidak menjadi faktor penentu kelulusan. b. Untuk SMP hanya 9 (19. Ringkasan Temuan Kajian Dokumen dan Lapangan 1. bahkan beberapa minggu menjelang UN pelajarannya hanya 3 mapel tadi.2. kemudian dijadikan dasar memvonis sekolah sukses atau tidak dari UN 3 mapel. sementara yang termasuk ranah pengetahuan 37 (64. KTSP atau UNAS? Proses atau Hasil?. hanya 4 (7. maupun SMA. Pelaksanaan KBM/Pembelajaran a) Jumlah Jam Pelajaran PKn. Hal ini sangat ironis. SMP. dan untuk SMA terdiri atas 3 hingga 5 KD untuk setiap SK. UN PKn: Suatu dilema dalam dunia pendidikan Indonesia.56%) KD yang memuat kandungan afeksi dan 5 Naskah Akademik Kajian Kurikulum PKn – 2007 21 .02%) KD yang termasuk ranah afeksi dan 16 (28. Penilaian : SKL PKn sama sekali tidak mengujikan materi kelas XII. Sebab jika dicermati materi PKn merupakan gabungan PPkn dan Tata Negara. civic skill/ participation (psikomotorik=perilaku). b). sebab justru siswa diuji kelulusannya dengan materi kelas X dan XI. jika masih ada pelajaran yang menjadi penentu kelulusan lewat UN. Kenyataan yang terjadi di lapangan. Tidak ada satu sekolah pun yang mau dikatagorikan sekolah yang gagal. b). kecuali pada SK tentang ketaatan pada peraturan perundangan yang teridiri atas 5 KD. Bagaimana nasib pelajaran yang lain? Kita harus memilih. selalu ada les hanya untuk 3 mapel tsb. SMP maupun SMA dinilai cukup memadai. hidup penuh pilihan. Untuk SD dari 57 KD.07%) KD yang termasuk ranah perilaku. Jam PPKn dulu 2 JP dan Tata Negara 6 JP. 2 sampai 4 KD pada SMP. civic disposition (afektif=nilai dan sikap). Jadi ya bagaimana dapat mengutamakan proses seperti tuntutan dalam KTSP kalau materi yang dulunya diajarkan 8 JP menjadi 2 JP saja.

Untuk jenjang SD disarankan lebih menggunakan logika induktif dengan memberikan contoh-contoh konkrit. dan KD 4. Karena KD bersifat minimal.2 Kelas I dengan KD 2. tetapi pada KD 4.3 Kelas III. sedangkan yang memuat aspek pengetahuan 69. Tumpang tindih/Overlap antar KD/SK pada kelas yang berbeda atau dengan mata pelajaran lain. KD 3. d. sementara untuk pengetahuan 109 (69.(10. Dengan demikian secara keseluruhan hanya 12 % KD yang memuat aspek sikap dan 20.3 yang terhalang oleh KD 4.2 Kelas XI. Dan.56%) KD. Kedalaman/keluasan konsep pada masing-masing KD Ada rumusan KD yang dianggap terlalu berat atau terlalu untuk ukuran siswa. c.43 %. SMP maupun SMA. f. untuk SMA hanya 7 (12.96%) KD yang termasuk afektif dan 7 (12. Untuk SMA misalnya KD 2.3 Kelas III. Untuk SD misalnya KD 3.17% aspek perilaku. misalnya KD 4. dan SMA misalnya KD 6. Cakupan KD yang lebih luas dari SK Ada cakupan KD yang lebih luas dari SK.2 Kelas X SMA. 3. maka penjabarannya sebaiknya tidak melewati SK.3 Kelas XI dengan KD 2. Untuk SMP misalnya SK 3 dan 4 Kelas VII. Cakupan hingga masyarakat ini ternyata sama dengan KD 2.2 Kelas IX dan KD 2. Hal ini menunjukkan ketidakkonsistenan dalam penjabaran konten SK ke dalam KD.2 Kelas XII dan KD 3.1.87%) KD perilaku.3 Kelas VII. g. SMP misalnya KD 2. Ini berarti tidak konsisten dengan misi suci PKn yang bertujuan membentuk watak warga negara. Pada SD. Dalam SK 4 Kelas I tuntutannya hanya sampai lingkup keluarga dan sekolah.2. dan 3.1 Kelas XII. Dalam konteks ilmu negara tidak ada istilah bentuk-bentuk kenegaraan. 3. tetapi tetap harus menjadi perhatian. Ketidakruntutan pendekatan berpikir dalam rumusan KD Adanya anggapan ketidakruntutan pendekatan berpikir pada KD jenjang SD. Kebenaran konsep pada rumusan KD Ditemukan adanya istilah yang tidak benar secara konsep keilmuan. KD 3. baru kemudian menjelaskan konsepnya. yaitu KD 3.1 Kelas IV. Meski demikian hal ini harus dikaji lebih matang.2 pada Kelas IV. Temuan yang cukup banyak dalam kajian ini adalah adanya atau ”anggapan ada” tumpang tindih atau overlap antara satu SK dengan SK lain atau antara satu KD dengan KD lain pada jenjang atau kelas yang berbeda. sementara yang memuat pengetahuan 32 (69. yaitu penggunaan istilah bentuk-bentuk kenegaraan pada KD 1. sehingga disarankan untuk digabung. baik untuk SD. 2. e. yang ada ialah bentuk-bentuk negara yang sering dibahas secara bersama dengan bentuk pemerintahan dan sistem pemerintahan.3 Kelas X dengan KD 5.3 Kelas II.4 Kelas III.1 Kelas I tentang identitas diri.2 sudah sampai lingkup masyarakat. Jangan konsepnya terlebih dahulu. dan SK 4 Kelas IV tentang dampak globalisasi. Selain itu ada juga yang dianggap mirip dengan mata pelajaran IPS yaitu KD 1.3.3 kelas III tentang ”mentaati aturan yang berlaku di masyarakat”. baru contohcontohnya.2.96%) KD termasuk perilaku.43%) KD termasuk pengetahuan. Naskah Akademik Kajian Kurikulum PKn – 2007 22 .

namun kualitasnya sangat tergantung pada dukungan sarana penunjang seperti bukubuku.2. c. karena dianggap terlalu luas dan materi Pengertian Budaya politik. Kebiasaan guru yang ”taken for granted” dari pusat memperlemah krativitas dan inovasi mereka dalam mengembangkan pembelajaran. d. banyak guru yang tidak mengerti bagaimana menilai aspek afektif. Pokok Pikiran Pembukaan UUD 1945. karena cakupan SK yang hanya 2 atau 3 dalam satu semester bisa disiasati agar prosesnya bisa lebih efektif. e. Dengan kata lain UN PKn menjadi tidak relevan atau paling tidak tidak mendesak. Naskah Akademik Kajian Kurikulum PKn – 2007 23 . Contoh yang paling konkrit adalah kesulitan dalam memahami dan memaknai ”suasana kebatinan konstitusi pertama” yang berimplikasi pada keengganan menjabarkan lebih lanjut dalam proses pembelajaran. karena latar belakang pendidikan. daerah. E. b. Pemahaman guru terhadap rumusan SK-KD Pemahaman guru terhadap SK-KD sangat beragamam. Pengembangan SI PKn ke dalam Silabus dan RPP Ada sebagian kecil kesulitan dalam pengembangan silabus khususnya untuk materi: Peradilan Internasional. bagaimana mengembangkan instrumen pengukurnya dan bagaimana menetapkan bobot nilainya. Pembahasan Temuan Kajian Dokumen dan Lapangan Pembahasan terhadap temuan. maski ada keluhan mengenai pengabaian siswa terhadap mata pelajaran PKn karena tidak di-UN-kan. Penilaian Pencapaian Kompetensi Penilaian yang tidak komprehensif. Pengertian budaya Demokrasi. Kajian Pelaksanaan : a. kapasitas. Ekuivalensi demikian sebenarnya tidak sepenuhnya benar. Dukungan masyarakat terhadap proses pembelajaran PKn Yang menjadi kendala di lapangan adalah kurangnya dukungan lembaga atau masyarakat di daerah saat dilakukan pembelajaran PKn dengan menerapkan model pembelajaran Praktek Kewarganegaraan yang menekankan aspek outsourcing dalam menggali informasi. sikap. Jumlah jam pelajaran Ada yang beranggapan bahwa PKn sekarang adalah gabungan PPKn dan Tata Negara yang jumlah jam keseluruhannya adalah 8 jam. Subtansi konstitusi negara. Dalam pengembangan RPP pada umumnya tidak mengalami masalah. atau daya dukung lainnya. padahal tuntutan penilaian PKn mencakup aspek pengetahun. Namun di sisi lain.. Tipe dan macam budaya politik karena pengembangannya dianggap terlalu beragam. Sehingga terkadang mengalami kesulitan untuk memahami dan memaknai SKKD dalam implementasi pembelajaran. Sehingga untuk proses pembelajaran yang efektif tidak cukup hanya dengan 2 jam pelajaran. Perkembangan Pers di Indonesia. media. Sehingga hal ini perlu panduan khusus untuk matapelajaran yang menekankan aspek sikap dan perilaku dalam standar kompetensi lulusannya. dan perilaku sekaligus. baik terhadap dokumen maupun terhadap pelaksanaan Standar Isi dapat dilihat pada uraian berikut. dan kompetensi yang juga sangat beragam.

Naskah Akademik Kajian Kurikulum PKn – 2007 24 . melainkan dengan contoh kongkrit. maka kalimat yang digunakan adalah kalimat yang mudah dipahami oleh guru dan siswa 6. Rumusan substansi dalam KD tidak ada batasan hanya satu. Makna yang sesungguhnya ingin dicapai dari KD ”Menguraikan hakikat. Apalagi pembelajaran di SD sifatnya tematik. Jadi KD ini cukup pada lokus sekolah dan KD 4. sedang IPS adalah pengenalan identitas diri dan saling menghormati dalam keragaman). Namun demikian. Sedangkan di kelas 3. harus mengalami perubahan menjadi “ Mengidentifikasi hubungan proklamasi kemerdekaan dan UUD 1945” dan apabila tetap dengan KD awal menganalisis hubungan Proklamasi kemerdekaan dengan UUD 1945. khususnya untuk membuat silabus yang berbentuk ”web”.Mendiskripsikan hakikat hukum dan kelembagaan HAM” seakan mendeskripsikan hakikat hukum dan kelembagaan HAM. Jika mau induktif maka susunan yang disarankan sangat baik. karena mereka baru kelas 1. maka untuk kelas 1 penekanan pada aturan hukum yang berlaku di masyarakat yang sifatnya lebih kongkrit. Rumusan dalam KD tidak ada batasan hanya satu obyek/kajian. Jadi yang membedakan adalah cakupan aturan dan norma yang diajarkan pada siswa. KD Menampilkan sikap mau menerima kekalahan bisa diterapkan dengan contoh perilaku nyata. Sesuai dengan perkembangan peserta didik kelas VII. karena masih merupakan kajian umum tentang usaha pembelaan negara. hukum dan kelembagaan HAM” adalah bahwa peserta didik mampu menguraikan hakikat HAM. sehingga kedekatan tema kompetensi sangat membantu dalam menganalisis kurikulum. Jika seperti ini “. Pemecahan masalah yang diusulkan justru akan menimbulkan masalah. Yang tidak boleh kata kerja ganda maka rumusan KD Mendeskripsikan nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi negara 9. sebenarnya tidak terlalu masalah. melainkan boleh lebih dari satu. hal ini jelas tidak mencapai standar kompetensinya. 7.3. mencakup semua aspek norma yang ada di masyarakat.1 cukup pada lokus rumah. yang penting adalah penekanan pada misi masing-masing mata pelajaran (Konteks PKn adalah kerukunan. 4. jika rumusan KD tetap. dengan tingkat keterbacaan yang mudah maka keberhasilan untuk mencapainya akan mudah. KD 4. KD 2. Dalam kajian pentingnya usaha pembelaan negara kata kerja operasional yang tepat adalah menjelaskan. menguraikan hukum atau landasan HAM dan menguraikan kelembagaan HAM. 3. Kemiripan rumusan. Sebuah Kompetensi Dasar adalah hal yang menjadi tujuan yang akan dicapai. maka guru harus memberikan batasan analisa yang dilakukan siswa yang tergambar secara jelas dalam Indikator.2 kelas I SD memang melewati lingkup SK yang hanya memuat rumah dan sekolah. 5. 8. Jadi tidak dengan penjelaskan konsep. 2. Keruntutan sangat bergantung strategi penyajian: deduktif atau induktif. boleh lebih dari satu.1. KD ini sudah jelas yaitu menjelaskan Pancasila sebagai dasar Negara dan Ideologi negara. Karena anak kita saja sudah menunjukkan sikap tidak mau mengalah.

2. memilih dan mengorganisasikan materi sesuai tuntutan KD. Perbandingan dengan negara lain bisa saja terbagi atas sistem presidensial dan parlementer.1 12. karena kurangnya dukungan instansi dan masyarakat setempat dan dalam penilaian yang kurang komprehensif. 16. 15. Kesulitan riil yang dihadapi guru utamanya adalah dalam melaksanakan pembelajaran yang partisipatif melalui praktik belajar kearganegaraan. Karena perbandingan antarsistem pemerintahan di Indonesia sudah ada di KD 2. Untuk SD kelas IV-VI. Fokus KD 2. Untuk ini perlu kegiatan khusus untuk menyerasikan berbagai KD dari berbagai matapelajaran atau dibuatkan panduan khusus untuk mengatasi hal ini.3 Membandingkan pelaksanaan sistem pemerintahan yang berlaku di Indonesia dengan negara lain adalah membandingkan sistem presidensial dan parlementer dengan contoh beberapa negara. bukan pada sistem. Kegiatan penyerasian ini harus juga melihat konteks daerah masing-masing. 13.10. maka untuk mata pelajaran PKn haruslah hati-hati dan dipertimbangkan secara matang. Naskah Akademik Kajian Kurikulum PKn – 2007 25 . maka perbandingan dengan negara lain dilihat berdasarkan konteks mutakhir. khususnya di daerah. Oleh karena adanya kesulitan dalam pengembangan program pembelajaran di SD kelas-kelas awal. Kalau dibatasi lebih baik berdasarkan representasi sistem pemerintahan. Berkait dengan beban belajar dan UN. memberikan kelenturan negara yang dipilih. Oleh karena itu perlu pelatihan khusus untuk itu. Kesulitan itu baik dalam memilih tema yang bisa memayungi semua KD untuk kelas dan semester yang sama maupun dalam menentukan sekuensa dan keruntutan materi antarmatapelajaran dalam satu tema. seperti yang diusulkan. karena sudah dijelaskan di KD 2.3 ini adalah tentang pelaksanaannya. Sesungguhnya untuk guru-guru SD kelas 1 sampai kelas 3. maka tentu saja hal ini berimplikasi terhadapan kegiatan KBM. Khususnya dalam mencari sumber. Kebanyakan guru mengajarkan PKn terpisah dari yang lain. khususnya di daerah-daerah mengalami kesulitan dalam menyusun Silabus dan RPP tematik. SMP dan SMP kesulitan dalam pelaksanaan sesungguhnya lebih pada kurangnya kreativitas dan inovasi dalam pembelajaran. 14. KD Mendeskripsikan perbedaan sistem politik di berbagai negara. Fokus dari KD 2. Jika langsung dibatasi akan bersifat kaku. 11.

• Perlu penyesuaian/sinkronisasi Standar isi dan Standar Kompetensi Lulusan. Buku-buku yang ada belum menyesuaikan dengan standar isi. dan SMA lebih pada kesulitan mencari sumber belajar. Untuk Pelaksanaan Standar Isi: • Dalam penyusunan dan pengembangan program. Penggabungan ini bisa juga dilakukan dalam penulisan buku. • Ada penilaian bahwa rumusan KD kurang memuat aspek afektif (penanaman nilai) yang menjadi tuntutan PKn sebagai pendidikan nilai atau wahana pembentukan watak kewargaenagaraan. sebagai berikut: 1. • Ada kata kerja operasional dalam KD yang perlu disesuaikan dengan perkembangan siswa. Karena penyusunan SK-KD tidak dilakukan secara bersama-sama dengan mata pelajaran lain. sementara buku-buku pendukung juga tidak banyak tersedia. karena akan menyulitkan guru dalam mengembangkan indikator. tetapi tidak boleh terlalu operasional. apakah rumusan kompetensi dan subtansi pada stándar Isi sudah sesuai dengan tuntutan SKL mata pelajaran. Meski sebenarnya tidak sepenuhnya dikatakan demikian. karena penyusunan KD harus memperhatikan sekuensal dan keruntutan. • Ada ketidakruntutan atau overlap antarKD pada kelas yang sama sehingga bisa dilakukan pengumpulan atau penggabungan KD.BAB IV KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A. • Pada pelaksanaan pembelajaran kesulitan utama bukan pada implementasi Standar Isi di dalam kelas. 2. karena penulisan buku per 1 tahun. Naskah Akademik Kajian Kurikulum PKn – 2007 26 . Kesimpulan Hasil kajian Stándar Isi PKn ini memberikan kesimpulan perlunya penyesuaian dalam beberapa hal. Untuk Dokumen Standar Isi: • Ada rumusan KD yang perlu dihaluskan secara bahasa dan diluruskan secara konseptual (misalnya bentuk-bentuk kenegaraan pada Kelas X semester 1 KD 1. namun hal ini tetap perlu menjadi perhatian dan perlu kajian lebih lanjut. untuk kelas 1 – 3 ada kesulitan. Sedangkan untuk kelas yang berbeda penyesuaiannya bisa dilakukan dalam pengembangan Silabus/KTSP. Sehingga kekurangan ini bisa dipenuhi dalam pengembangan KTSP di masing-masing sekolah. khususnya dalam menyusun silabus dan RPP yang bersifat tematik. tetapi lebih pada dukungan lembaga setempat atau masyarakat. SMP. khususnya dalam melaksanakan model pembelajaran Praktik Belajar Kewarganegaraan.2 diganti dengan bentuk-bentuk negara. • Ada beberapa KD yang dikesankan terlalu luas dan tumpang tindih. • Kesulitan pada penyusunan program pembelajaran untuk SD.

Naskah Akademik Kajian Kurikulum PKn – 2007 27 . • Perlu dilakukan kegiatan penyerasian antar KD antarmatapelajaran di kelas 1 hingga kelas 3 dalam rangka penyusunan program dan pelaksanaan pembelajaran. bisa menggunakan penyajian deduktif. agar memberi bobot lebih pada statu mata pelajaran PKn. • Ada usulan agar mata pelajaran PKn kembali masuk menjadi mata pelajaran yang di-UN-kan. sebagai berikut: 1. • Perlu Panduan Khusus yang menuntun guru SD kelas 1 – 3 dalam menyusun dan melaksanakan program secara praktis. • Usulan tentang penambahan jam pelajaran untuk PKn SMA dari 2 JP menjadi 4 JP dinilai kontraproduktif dengan misi penyederhanaan dan hal ini perlu mempertimbangkan mata pelajaran lain. maka perlu segera menerbitkan buku teks pelajaran atau buku sumber/pendukung yang sesuai dengan SI PKn. karena misi suci PKn adalah pembinaan watak dan karakter yang tidak bisa di-UNkan. hal ini akan kontradiktif dengan misi PKn sebagai matapelejaran pembentuk watak/pendidikan nilai yang tidak bisa di-UN-kan yang hanya mengukur aspek kognitif. Untuk jangka panjang: • Perlu kajian yang lebih mendalam dan komprehensif untuk memantapkan cakupan kompetensi dan konten PKn agar sesuai dengan misi utama PKn dan SKL mata pelajaran PKn. apalagi jika menerapkan model pembelajaran Praktik Belajar Kewarganegaraan. • Perlu penyesuaian urutan KD dalam beberapa SK dengan memperhatikan logika penyajian deduktif atau induktif. baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang.• Waktu yang tersedia untuk pembelajaran PKn di SMA dinilai kurang jika hanya 2 jam pelajaran. • Perlu penyesuaian penggunaan kata kerja operasional (kko) dalam beberapa KD sesuai dengan tingkat perkembangan siswa. tetapi jangan menggunakan kko yang terlalu operasional sehingga menyulitkan guru dalam mengembangkan indikator pencapaian. • Untuk mengatasi masalah buku sumber bagi guru. • Persoalan UN untuk matapelajaran PKn perlu dipertimbangkan lebih matang. B. Rekomendasi Berdasarkan hasil kajian tersebut ada beberapa rekomendasi yang bisa disampaikan. sedangkan untuk kelas-kelas atas. Untuk SD kelas-kelas awal lebih baik menggunakan induktif. Tetapi. Selain itu juga untuk mempertegas konsep dan nilai yang akan dibelajarkan/ditanamkan. Disarankan untuk ditambah menjadi 4 jam pelajaran. • Untuk mengatasi kesulitan dalam pelaksanaan pembelajaran PKn. Sehingga guru kelas 1 – 3 mudah mengimplementasikan Standar Isi. Untuk Jangka Pendek: • Perlu penghalusan rumusan KD sehingga tidak dikesankan tumpang tindah dan memberi batas-batas yang jelas antar KD. komite sekolah. 2. perlu koordinasi dengan berbagai pihak yang dikoordinasikan oleh kepala sekolah. dan guru PKn.

civsoc.. D. T..J. DAPTAR KEPUSTAKAAN Artbuthnot. J.M. • Bila perlu bahkan untuk kelas 1 – 3 SD perlu disusun Kurikulum Integratif atau Kurikulum Terpadu.M. J. E. (1965). Djahiri.socialstudieshelp.. and Whellan DJ.(1992) The Social Studies and Project 2061: An Opportunities for Harmony. R. dalam Social Education. J.com/ APGOV _Notes_WeekFour.C. Moral Development. CIVNET. (1992). (1999) Citizenship Education: An international Comparison. Center for Civic Education/CCE (1994) Civitas : National Standards for Civics and Government. Moral Education: Interdisciplinary Approach. Calabasas: Center for Civic Education Cogan J. J. J. Jakarta: Balitbang Dikbud. Teaching Moral Reasoning: Theory and Practice. (1998) Miltidemensional Civic Education. Toronto: University of Toronto Press. F. Building a Rationales for Civic Education and Shaver. Laporan Kelompok Bidang Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. C.com/nature/nature1. C. (1977) Building Rationales for Citizenship Education. C. London: Bill and Mc Millan. (1981). (1977). and Psychomotor Abilities in Communication. Critender.7:425-431 Hartonian. (1990) Citizenship for a Pluralistic Democratic Society in Rauner.P. D (1981). Jakarta: Balitbang Dikbud. New York: College Notes Dekdikbud (1986). (1999) Developing the Civic Society : The Role of Civic Education. Newmann. and Derricott . (1992) Freedom Papers : Teaching Democracy. London: National Foundation for Educational Research and Qualifications and Curriculum Authority Lickona. Jakarta Derricott. L. Gandal. (1999) Civic Education : An Annofated Bibliography. Cogan. (1999) The IEA Civic Education Project: National and International Perspectives. Affective. (1977). dan Torney-Purta. Calabasas : CCE CIVITAS International (2006) Civic Education. R.J. Sehingga tidak terjadi kesulitan bagi bagi guru untuk mengembangkan silabus dan RPP tematik bagi kelas 1 hingga kelas 3. AR (1993). J. J.. E. (1985).html: Civic Culture http://www. New York: Harper and Row.(1993). B. Arlington: NCSS.D. Feezel. M. Finn.D. Educating for Character. Tokyo Cogan.V. USA : United States Information Agency Hahn. M. perlu penyesuaian dan pengkajian Standar Isi secara bersama pada seluruh mata pelajaran yang disajikan di kelas 1 hingga kelas 3. Mc Neil. (1977). Jr. Phylosophy. C. 63. London : Kogan Page Duska. 12. Toward A Congluent Taxonomy of Cognitive. (1998) Citizenship for the 21st century : An International perspective on Education. Kurikulum Pendidikan Moral Pancasila. Penang.htm: Civic Culture Kerr. 83. Bandung : CICED Daley.• Untuk kelas 1 – 3 SD yang menggunakan pendekatan tematik.L. (1997) A Framework For Teaching Democratic Citizenship : An International Project In The International Journal of Social Education. and Sullivan.H. --------. New York: Bantam Books. Beck. F. Naskah Akademik Kajian Kurikulum PKn – 2007 28 . BS. J. Kurikulum Pendidikan Dasar. Boston: Little Brown and Co. A.. 34. Curriculum: A Comprehensive Introduction. Asia Pacific Civic Educators Coinsortium (APCEC) (2000) Teacher Education for Democratic Citizenship.M. dalam The Social Studies.B and Faust. J.4:160-163 http://www. Bahmueller.2 Banks.J..

nomor 23 tahun 2006. Dikdas.(2003) Peraturan Pemerintah RI No. C. J. ---------. Austin: The Board of Regents University of Texas Winataputra. Calabasas : Center for Civic Education Republik Indonesia (2003) Undang-Undang No.B. tentang Stanndar Isi Jakarta: Depdiknas ----------. Jakarta: Panitia Semiloka Pembudayaan Nilai Pancasila.(2006) Konsep dan Strategi Pendidikan Kewarganegaraan di Sekolah: Tinjauan Psiko-Pedagogis. N (1968). M. New York: Hart Publishing Co. Pendidikan Kewargaan Negara di Sekolah. London: Department of Education and Employment-DfEE Quigley. Sudarsono. and Kirchenbaunm H (1972). A. J. S. Jakarta: Depdiknas ---------. Jakarta: Dijen Pendidikan Tinggi (Bahan SUSCADOS Dikwar) ----------. (1991) Civitas : A Framework for Civic Education.. tentang Kompetensi Lulusan . Bahmueller. C. Values Clarification. (1978). U.W.(2005) Konsep dan Strategi Pendidikan Kewarganegaraan di Perguruan Tinggi: Tinjauan Psiko-Pedagogis dan Sosioandragogis. Dit.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. (1991) Handbook of Research on Social Studies Tecahing and Learning. Dit. H. Jakarta: Depdiknas Sanusi.W. Jakarta: Panitia Semiloka Pembudayaan Nilai Pancasila. Bandung: IKIP.(1998) Pendidikan Alternatif: Menyentuh Azas Dasar Persoalan Pendidikan dan Kemasyarakatan.P. J. (2006) Pendidikan dan Pembudayaan Moral Filsafat Pancasila. Jatidiri Pendidikan Kewarganegaraan sebagai Wahana Pendidikan Demokrasi. New Yorkl: Collier Macmillan Somantri. Ditjen Mandikdasmen (Makalah) ----------. Bandung: PT Grafindo Media Pratama Shaver.. Jr. L.(2001).(2006) Peraturan Menteri Pendidikan Nasional. Jakarta: Depdiknas ------------(2006) Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No 22 tahun 2006. (1998) An Assessment of We The People Project Citizen: Promoting Citizenship in Classroom and Communities. N. How. (Disertasi) Bandung: universitas Pendidikan Indonesia. Juni 2006 Naskah Akademik Kajian Kurikulum PKn – 2007 29 . F. Dikdas. (1999) Fostering Democratic Living : The Roles of Governmental and Community Agencies. A pilot Study of Implementation of the Area of Learning Moral Education of Pancasila in the 1975 SMA Curiculum in the Bandung Area (Postgraduate Project) Sydney: Macquarie University ---------. Bandung : CICED Tolo.K. Ditjen Mandikdasmen Qualifications and Curriculum Authority-QCA (1998) Education for citizenship and the teaching of democracy in schools. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Penddikan. Buchanan.S. (2006) Pendidikan Kesadaran Kehidupan Kerkonstitusi. Simon.Noor Syam.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful