P. 1
Humanisme Dan Kognitivisme

Humanisme Dan Kognitivisme

|Views: 592|Likes:
Published by Yulius Selly

More info:

Published by: Yulius Selly on Jun 11, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/13/2013

pdf

text

original

Senin, 19 April 2010

Aliran Humanisme
Pandangan humanistik tentang manusia intinya menolak pandangan Freut yang menyatakan manusia pada dasarnya tidak rasional, tidak tersosialisasikan, dan tidak memiliki control terhadap nasib dirinya sendiri. Sebaliknya Rogers, yang menokohi pandangan humanistic, berpendapat bahwa manusia itu memiliki dorongan untuk mengarakhan dirinya ketujuan yang positif: manusia itu rasional: tersosialisasikan dan untuk berbagai hal yang dapat menentukan nasibnya sendiri. Bila individu berada dalam suasana ( kondisi ) yang berkembang, maka individu itu akan mengarahkan dirinya untukmenjadi lebih maju dan positif. Dengan demikian individu akan tercebas dari kecemasaan dan menjadi anggota masyarakat yang dapat bertingkah laku secara memuaskan. Selanjutnya Rogers ( 1961 ) mengemukakan gambaran pribadi manusia sebagai aliran atau arus yang terus menerus mengalir tanpa henti,sebagai sesuatu yang tidak pernah selesai. Hal ini berarti bahwa pribadi individu merupakan proses menjadi ( on becoming ) yang tidak pernah selesai dan tidak pernah sempurna. Pandangan Adler ( 1954 ) tentang manusia tergolong ke dalam pandangan humanistik. Dalam kehidupannya manusia tidak semata-mata di bgerakan oleh rasa tanggung jawab social dan sebagian lagi oleh kebutuhan untuk mencapai sesuatu. Secara keseluruhan pada dasarnya aliran humanisme menekankan pentingnya sasaran ( objek ) kognitif dan efektif pada diri seseorang serta kondisi lingkungannya. Apabila sesorang berhubungan dengan lingkungan sekitar maka persepsi orang itu tidak terlepas dari faktor-faktor subjektif. Oleh Karen itu upaya membelajarkan peserta didik perlu dilakukan dengan membantu tumbuhnya pengalaman belajar baru yang dirasakan manfaatnya oleh peserta didik. Atas dasar sumber dan proses perkembangannya, terjadi penggunaan berbagai macam istilah yang sering dipertukarkan. Untuk keperluan studi prikologis telah diadakan penertiban dengan diadakan penggolongannya. Yaitu: ( a ) motif primer atau motif dasar menunjuk pada motif yang tidak dipelajari yang untuk ini sering digunakan istilah drive. Golongan motif ini pun dibedakan lagi, yakni: ( 1 ) dorongan fisiologis yang bersumber pada kebutuhan organis yang mencakup lapar, haus, pernapasan, seks, kegiatan dan istirahat dan ( 2 ) dorongan umum ( morgan¶s general drive) dan motif darurat ( wodworth¶s emergency motife ), termasuk didalamnya takut, kasih sayang, kegiatan ingin tahu dan kekaguman, termasuk dorongan untuk melarikan diri,menyerang, berusaha, dan mengejar dalam rangka mempertahankan dan menyelamatakan dirinya 9 motif-motif yang termasuk kedalam kategori primer tersebut pada umumnya terjadi secara natural. ( b ) motif skunder menunjuk pada motif yang berkembang dalam diri indifidu karena pengalaman dan dipelajari. Golongan ini termasuk antara lain: ( 1 ) takutyang dipelajari; ( 2 ) motif-motif sosial; ( 3 ) motif objektif dan interest; ( 4 ) maksud aspirasi dan ispirasi; ( 5 ) motif berprestasi. Diposkan oleh durronn
http://durronn.com/

Monday, 02.05.2005 10:00

Carl Rogers : Psikolog Aliran Humanisme
Posted on Psychology. Carl Ransom Rogers lahir pada tanggal 8 Januari 1902 di Oak Park, Illinios, Chicago. Rogers meninggal dunia pada tanggal 4 Pebruari 1987 karena serangan jantung. Latar belakang: Rogers adalah putra keempat dari enam bersaudara. Rogers dibesarkan dalam keluarga yang berkecukupan dan menganut aliran protestan fundamentalis yang terkenal keras, dan kaku dalam hal agama, moral dan etika. Rogers terkenal sebagai seorang tokoh psikologi humanis, aliran fenomenologis-eksistensial, psikolog klinis dan terapis, ide ± ide dan konsep teorinya banyak didapatkan dalam pengalaman -pengalaman terapeutiknya. Ide pokok dari teori ± teori Rogers yaitu individu memiliki kemampuan dalam diri sendiri untuk mengerti diri, menentukan hidup, dan menangani masalah ± masalah psikisnya asalkan konselor menciptakan kondisi yang dapat mempermudah perkembangan individu untuk aktualisasi diri. Menurut Rogers motivasi orang yang sehat adalah aktualisasi diri. Jadi manusia yang sadar dan rasional tidak lagi dikontrol oleh peristiwa kanak ± kanak seperti yang diajukan oleh aliran freudian, misalnya toilet trainning, penyapihan ataupun pengalaman seksual sebelumnya. Rogers lebih melihat pada masa sekarang, dia berpendapat bahwa masa lampau memang akan mempengaruhi cara bagaimana seseorang memandang masa sekarang yang akan mempengaruhi juga kepribadiannya. Namun ia tetap berfokus pada apa yang terjadi sekarang bukan apa yang terjadi pada waktu itu. Aktualisasi diri adalah proses menjadi diri sendiri dan mengembangkan sifat-sifat dan potensi potensi psikologis yang unik. Aktualisasi diri akan dibantu atau dihalangi oleh pengalaman dan oleh belajar khususnya dalam masa kanak ± kanak. Aktualisasi diri akan berubah sejalan dengan perkembangan hidup seseorang. Ketika mencapai usia tertentu (adolensi) seseorang akan mengalami pergeseran aktualisasi diri dari fisiologis ke psikologis. Rogers dikenal juga sebagai seorang fenomenologis, karena ia sangat menekankan pada realitas yang berarti bagi individu. Realitas tiap orang akan berbeda ± beda tergantung pada pengalaman ± pengalaman perseptualnya. Lapangan pengalaman ini disebut dengan fenomenal field. Rogers menerima istilah self sebagai fakta dari lapangan fenomenal tersebut. Konsep diri menurut Rogers adalah kesadaran batin yang tetap, mengenai pengalaman yang berhubungan dengan aku dan membedakan aku dari yang bukan aku. Konsep diri ini terbagi menjadi 2 yaitu konsep diri real dan konsep diri ideal. Untuk menunjukkan apakah kedua konsep diri tersebut sesuai atau tidak, Rogers mengenalkan 2 konsep lagi, yaitu Incongruence dan Congruence. Incongruence adalah ketidakcocokan antara self yang dirasakan dalam pengalaman aktual disertai pertentangan dan kekacauan batin. Sedangkan Congruence berarti situasi di mana pengalaman diri diungkapkan dengan seksama dalam sebuah konsep diri yang utuh, integral, dan sejati. Setiap manusia memiliki kebutuhan dasar akan kehangatan, penghargaan, penerimaan, pengagungan, dan cinta dari orang lain. Kebutuhan ini disebut need for positive regard, yang terbagi lagi menjadi 2 yaitu conditional positive regard (bersyarat) dan unconditional positive regard (tak bersyarat). Rogers menggambarkan pribadi yang berfungsi sepenuhnya adalah pribadi yang mengalami penghargaan positip tanpa syarat. Ini berarti dia dihargai, dicintai karena nilai adanya diri sendiri sebagai person sehingga ia tidak bersifat defensif namun cenderung untuk menerima diri dengan penuh kepercayaan. Lima sifat khas orang yang berfungsi sepenuhnya (fully human being): 1. Keterbukaan pada pengalaman Orang yang berfungsi sepenuhnya adalah orang yang menerima semua pengalaman dengan fleksibel sehingga selalu timbul persepsi baru. Dengan demikian ia akan mengalami banyak emosi (emosional) baik yang positip maupun negatip. 2. Kehidupan Eksistensial Kualitas dari kehidupan eksistensial dimana orang terbuka terhadap pengalamannya sehingga ia selalu menemukan sesuatu yang baru, dan selalu berubah dan cenderung menyesuaikan diri sebagai respons atas pengalaman selanjutnya. 3. Kepercayaan terhadap organisme orang sendiri Pengalaman akan menjadi hidup ketika seseorang membuka diri terhadap pengalaman itu sendiri. Dengan begitu ia akan bertingkah laku menurut apa yang dirasanya benar (timbul seketika dan intuitif) sehingga ia dapat mempertimbangkan setiap segi dari suatu situasi dengan sangat baik.

4. Perasaan Bebas Orang yang sehat secara psikologis dapat membuat suatu pilihan tanpa adanya paksaan ± paksaan atau rintangan ± rintangan antara alternatif pikiran dan tindakan. Orang yang bebas memiliki suatu perasaan berkuasa secara pribadi mengenai kehidupan dan percaya bahwa masa depan tergantung pada dirinya sendiri, tidak pada peristiwa di masa lampau sehingga ia dapat meilhat sangat banyak pilihan dalam kehidupannya dan merasa mampu melakukan apa saja yang ingin dilakukannya. 5. Kreativitas Keterbukaan diri terhadap pengalaman dan kepercayaan kepada organisme mereka sendiri akan mendorong seseorang untuk memiliki kreativitas dengan ciri ± ciri bertingkah laku spontan, tidak defensif, berubah, bertumbuh, dan berkembang sebagai respons atas stimulus-stimulus kehidupan yang beraneka ragam di sekitarnya. Kelemahan atau kekurangan pandangan Rogers terletak pada perhatiannya yang semata ± mata melihat kehidupan diri sendiri dan bukan pada bantuan untuk pertumbuhan serta perkembangan orang lain. Rogers berpandangan bahwa orang yang berfungsi sepenuhnya tampaknya merupakan pusat dari dunia, bukan seorang partisipan yang berinteraksi dan bertanggung jawab di dalamnya. Selain itu gagasan bahwa seseorang harus dapat memberikan respons secara realistis terhadap dunia sekitarnya masih sangat sulit diterima. Semua orang tidak bisa melepaskan subyektivitas dalam memandang dunia karena kita sendiri tidak tahu dunia itu secara obyektif. Rogers juga mengabaikan aspek ± aspek tidak sadar dalam tingkah laku manusia karena ia lebih melihat pada pengalaman masa sekarang dan masa depan, bukannya pada masa lampau yang biasanya penuh dengan pengalaman traumatik yang menyebabkan seseorang mengalami suatu penyakit psikologis. Teori Rogers ini memang sangat populer dengan masyarakat Amerika yang memiliki karakteristik optimistik dan independen karena Rogers memandang bahwa pada dasarnya manusia itu baik, konstruktif dan akan selalu memiliki orientasi ke depan yang positip. Pertanyaannya yaitu : Apakah teori ini juga akan sama efektifnya jika diaplikasikan pada masyarakat dengan budaya, dan struktur sosial serta sistem kemasyarakatan yang berbeda dengan Amerika? Sumber Referensi:
Schultz, Duane. Psikologi Pertumbuhan: Model ± Model Kepribadian Sehat. Jogjakarta: Kanisius, 1991.

http://blog.kenz.or.id/

Januari 22nd, 2009 by ihsan Thamrin

PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF ALIRAN HUMANISME
November 28, 2010 oleh Dinar Pratama Tinggalkan sebuah Komentar

A. Pendahuluan

Istilah pendidikan tentu saja tidak asing lagi bagi kita, seolah istilah tersebut sudah sangat dekat bahkan sampai menyentuh di setiap sendi-sendi kehidupan manusia. Dalam implementasinya, ternyata pendidikan seringkali dipersepsikan berbeda oleh sebagian orang. Kecenderungan yang sering dimengerti orang jika mendengar istilah pendidikan adalah lembaga sekolah atau perguruan tinggi. Dimana terdapat siswa dan guru/dosen dalam suatu lembaga tersebut. Mungkin secara sederhana pengertian ini dapat diterima, akan tetapi pendidikan dalam pengertian yang lebih luas punya pengertian yang jauh lebih mendasar daripada hanya sekedar sekolah, perguruan tinggi, ataupun lembaga pendidikan formal lainnya. Pendidikan dalam pengertian secara luas lebih menekankan pada bagaimana manusia atau individu itu dapat mengembangkan potensi yang dimiliki untuk mengenal dirinya dan lingkungannya yang di dapat melalui proses belajar yang tidak terbatas pada ruang dan waktu. Pada dasarnya, sejak manusia dilahirkan potensi untuk belajar itu sudah ada. Dan jika merujuk pada teori perkembangan kognitif yang dikembangkan oleh Jean Piaget, bahwa perkeambangan kognitif manusia dalam hal ini belajar sudah muncul sejak kelahirannya. Pada tahap awal ini Piaget menyebutnya dengan istilah tahap perkembangan sensorimotor. Menurut teori sensorimotor ini, bayi menyusun pemahaman dunia dengan mengordinasikan pengalaman indera (sensory) mereka (seperti melihat dan mendengar) dengan gerakan motor (otot) mereka (menggapai, menyentuh), oleh karenanya diistilahkan dengan sensorimotor. Permulaan belajar manusia yang sudah ada sejak dilahirkan tersebut akan terus berkembang sampai pada usia kematangan dan terus akan berkembang selagi manusia atau individu tersebut dapat mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya. Manusia dalam belajar tidak hanya dipengaruhi oleh faktor bawaan (genetik), akan tetapi dipengaruhi oleh lingkungannya juga. Asumsi inilah yang pada akhirnya memunculkan teori belajar behavioristik yang masing-masing dikembangkan oleh Pavlov dan Skiner. Belajar menurut behavioristik adalah perubahan perilaku yang terjadi melalui proses stimulus dan respon yang bersifat mekanis. Oleh kerena itu, lingkungan yang sistematis, teratur, dan terencana dapat memberikan pengaruh (stimulus) yang baik sehingga manusia bereaksi terhadap stimulus tersebut dan memberikan respon yang sesuai. Mengacu pada teori perkembangan kognitif Piaget maupun behavioristik Pavlov dan Skiner, memberikan pemahaman bahwa manusia dalam menjalani hidup selalu senantiasa akan bersentuhan dengan pendidikan yang didalamnya terdapat muatan belajar dan akan selalu berinteraksi dengan lingkungannya. C. PERMASALAHAN Telah disinggung diawal bahwa pendidikan merupakan hak yang sudah melekat pada setiap manusia/individu sebagai sebuah potensi yang siap dikembangkan demi kelangsungan hidup (survive). Dengan potensi yang dimiliki manusia tersebut, manusia terus mengaktualisasikan potensinya melalui pendidikan dan berinteraksi dengan lingkungan. Dewasa ini, pengertian pendidikan yang berkembang di masyarakat adalah sebuah sistem kelembagaan (sekolah, perguruan tinggi, tempat kursus) yang menyelenggarakan pengajaran dan bimbingan kepada peserta belajar (siswa). Pendidikan dalam sistem persekolahan dari awal kemunculannya hingga saat ini telah jadi bagian dari masyarakat itu sendiri. Pendidikan persekolahan setidaknya telah banyak memberikan kontribusi pada pencerahan masyarakat. Idealnya, pendidikan menghasilakan para generasi yang siap membangun masyarakat dan bangsanya. Pembentukan karakter dan kepribadian juga tidak luput dari peran pendidikan. Akan tetapi, pada kenyataannya tujuan mulia dari pendidikan itu sendiri tidak sepenuhnya tercapai. Pendidikan seringkali dilihat sebagai sesuatu yang pragmatis, bukan sebagai sesuatu yang hidup. Akibatnya, praktik pendidikan khususnya di lingkungan formal seperti sekolah berjalan tidak memperhatikan potensi dan sisi kemanusiaan dari peserta didiknya. Contoh, tidak boleh masuk sekolah karena tidak membayar SPP, tidak memakai pakaian seragam, dimarahi dan dihukum karena terlambat atau membolos, tidak mengerjakan pekerjaan rumah, diskors atau bahkan dikeluarkan dari sekolah. Praktik pengajaran seperti ini jika dilihat dalam perspektif humanisme sangat bertentangan dengan hak-hak sebagai manusia. Dan secara tidak langsung, telah memasung potensi dan kreativitas anak untuk berkembang. Tentu praktik pendidikan seperti ini tidak sejalan dengan tujuan pendidikan itu sendiri. Mengutip pernyataan Paulo Freire yang menyatakan bahwa, sejatinya pendidikan adalah proses pemanusiaan manusia. Pendidikan idealnya harus membantu peserta didik tumbuh dan

berkembang menjadi pribadi-pribadi yang lebih manusiawi, berguna dan berpengaruh didalam masyarakatnya, bertanggung jawab, bersifat proaktif dan kooperatif. Melihat realitas tersebut, maka sudah selayaknyalah pendidikan dikembalikan pada hakikat sesungguhnya, yaitu proses pemanusiaan manusia. Merubah paradigma pendidikan yang memandang peserta didik sebagai objek adalah suatu keniscayaan jika menginginkan pembentukan manusia seutuhnya. Dan melihat fenomena miris yang terjadi dalam praktik pendidikan yang terkesan mengeyampingkan sisi humanisme maka dalam hal ini baik guru maupun peserta didik perlu disadarkan pada praktik pendidikan yang lebih humanis. C. PEMBAHASAN 1) Defenisi Pendidikan Banyak sekali defenisi yang dirumuskan oleh para ahli dalam memandang pendidikan. Sebelum kita melihat pengertian pendidikan secara utuh ada baiknya jika terlebih dahulu melihat beberapa istilah yang sering juga muncul berkaitan dengan pendidikan itu sendiri. Istilah tersebut adalah pedagogi dan pedagogik. Menurut Ngalim Purwanto pedagogi bermakna pendidikan, sedangkan pedagogik berarti ilmu pendidikan. Kedua istilah tersebut terkesan punya kesamaan, akan tetapi jelas sekali punya makna yang berbeda. Adapun defenisi pendidikan yang lebih luas dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia menyebutkan, pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Menurut Kingsley Price dalam Fauzan, ³education is process by which the nonphysical possesions of a culture are preserved or increased in the rearing of the young or in the instruction of adults´. (Pendidikan ialah proses dimana kekayaan budaya non fisik dipelihara atau dikembangkan dalam pengaruh anak-anak atau mengajar orang-orang dewasa). Ngalim Purwanto mendefenisikan pendidikan sebagai segala usaha orang dewasa dalam pergaulannya dengan anak-anak untuk memimpin perkembangan jasmani dan rohaninya kearah kedewasaan. Dari defenisi mengenai pendidikan diatas maka dapat disimpulakan bahwa, pendidikan merupakan proses pendewasaan manusia atau individu yang diaktualisasikan dalam perubahan tingkah laku (kepribadian) maupun kognitif (intelegensi) dan kesadaran diri agar menjadi manusia seutuhnya. 2) Humanisme Humanisme dalam kajian psikologi merupakan aliran yang tergolong baru. Banyak ahli menyebutkan bahwa, aliran ini muncul sebagai bentuk kekecewaan dari teori-teori psikologi sebelumnya, dalam hal ini teori behavioristik dan psikoanalistik. Dalam perkembangan awalnya, aliran psikologi humanisme hanya terbatas pada kajian tentang kepribadian manusia. Akan tetapi, sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teori ini telah banyak dikembangkan oleh beberapa pakar pendidikan untuk di pimplementasikan dalam dunia pendidikan. Dan salah satu pendekatan yang dikembangkan melalui teori humanisme ini adalah pendekatan Quantum Learning. Pendekatan pembelajaran ini dalam pelaksanaannya dinilai terdapat unsur humanisme nya. Yaitu memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengeksplorasi kemampuan, bakat, dan potensinya dalam pembelajaran. Dalam hal ini, guru hanya berperan sebagai fasilitator. Telah disinggung di awal bahwa teori humanistik muncul dikarenakan risih dengan anggapan teori-teori sebelumnya, psikoanalisis dan behavioristik yang menganggap seolah-olah manusia tidak berdaya dengan dirinya sendiri yang kepribadiannya selalu dipengaruhi oleh lingkungan. Isu dehumanisasi juga menjadi perhatian kaum humanisme dalam menyusun teorinya. Humanisme muncul dengan misi untuk menempatkan dan memandang manusia sebagai mahluk yang unik dengan berbagai potensi yang ada dalam dirinya. Humanisme yakin bahwa manusia dalam dirinya memiliki potensi untuk berkembang sehat dan kreatif, dan jika orang mau menerima tanggung jawab dalam hidupnya sendiri, dia akan menyadari potensinya, mengatasi pengaruh kuat dari pendidikan orang tua, sekolah, dan tekanan sosial lainnya. Selanjutnya pandangan humanisme dalam kepribadian menekankan dalam hal-hal berikut : 1. Holisme Menegaskan bahwa organisme selalu bertingkah laku sebagai kesatuan yang utuh, bukan rangkaian bagian/komponen yang berbeda. 2. Menolak riset binatang Psikologi humanistik menekankan perbedaan antara tingkah laku manusia dengan tingkah laku binatang. Riset binatang memandang manusia sebagai mesin dan mata rantai refleks ± conditioning, mengabaikan karakteristik manusia yang unik seperti ide, nilai-nilai, keberanian, cinta, humor, cemburu, dosa, puisi, musik, ilmu, dan hasil kerja berfikir fisik lainnya. Hal inilah yang menurut Maslow teori behavioristik secara filosofis berpandangan dehumanisme. 3. Potensi kreatif

Kreativitas merupakan ciri universal manusia sejak dilahirkan. Kreativitas adalah potensi semua orang, yang tidak memerlukan bakat dan kemampuan khusus. Umumnya justru orang kehilangan kreativitas ini karena proses pembudayaan . 4. Menekankan kesehatan psikologis Humanistik mengarahkan pusat perhatiannya kepada manusia sehat, kreatif, dan mampu mengaktualisasikan diri. Psikologi humanistik atau disebut juga dengan nama psikologi kemanusiaan adalah suatu pendekatan yang multifaset terhadap pengalaman dan tingkah laku manusia, yang memusatkan perhatian pada keunikan dan aktualisasi diri manusia. Bagi sejumlah ahli psikologi humanistik ia adalah alternatif, sedangkan bagi sejumlah ahli psikologi humanistik yang lainnya merupakan pelengkap bagi penekanan tradisional behaviorisme dan psikoanalis. Psikologi humanistik dapat dimengerti dari tiga ciri utama, yaitu, pertama psikologi humanistik menawarkan satu nilai yang baru sebagai pendekatan untuk memahami sifat dan keadaan manusia. Kedua, ia menawarkan pengetahuan yang luas akan kaedah penyelidikan dalam bidang tingkah laku manusia. Ketiga, ia menawarkan metode yang lebih luas akan kaedah-kaedah yang lebih efektif dalam pelaksanaan psikoterapi. Pokok persoalan dari psikologi humanistik adalah pengalaman subjektif manusia, keunikannya yang membedakan dari hewan-hewan, sedangkan area-area minat dan penelitian yang utama dari psikologi humanistik adalah kepribadian yang normal dan sehat, motivasi, kreativitas, kemungkinan-kemungkinan manusia untuk tumbuh dan bagaimana bisa mencapainya, serta nilai-nilai manusia. Dalam metode-metode studinya, psikologi humanistik menggunakan berbagai metode mencakup wawancara, sejarah hidup, sastra, dan produk-produk kreatif lainnya. Dari uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa teori humanistik memandang, 1) manusia sebagai mahluk sempurna yang memiliki potensi besar untuk dapat survive menjalani kehidupannya, 2) dengan dimilikinya potensi yang besar itulah yang membedakan manusia dengan hewan, dan dengan potensi tersebut manusia dapat mengendalikan dirinya dan lingkungannya, bukan sebaliknya. 3) Implikasi Humanisme Dalam Pendidikan Dalam konteks pendidikan, pendekatan humanisme dewasa ini semakin banyak digagas oleh beberapa pakar sebagai pendidikan alternatif. Maraknya praktik-praktik dehumanisasi dalam pendidikan menjadikan pendekatan humanisme ini banyak diadopsi kedalam dunia pendidikan, baik secara paradigma maupun aplikasinya. Pendidikan saat ini tidak lagi menganggap peserta didik sebagai objek, akan tetapi sebaliknya. Pelaksanaan pendidikan sudah saatnyalah memfokuskan pada optimalisasi potensi yang dimiliki peserta didik. Guru dalam konteks pendidikan humanistik diposisikan sebagai fasilitator bagi peserta didiknya. Peran guru dalam proses pembelajaran bukan lagi sebagai orang yang tahu segalanya tanpa melihat keseragaman potensi dan bakat yang sebenarnya dimiliki oleh peserta didik. Inilah yang menjadi ciri dari pendidikan humanistik, memandang manusia dengan positif sebagai satu kesatuan untuh yang punya potensi besar untuk dapat dikembangkan. Salah satu model pendidikan terbuka mencakup konsep belajar guru yang fasilitatif yang dikembangkan oleh Rogers (pakar teori humanistik) yang diteliti oleh Aspy dan Roebuck pada tahun 1975 mengenai kemampuan para guru untuk menciptakan kondisi yang mendukung yaitu empati, penghargaan, dan umpan balik positif. Dalam mengaplikasikan pendekatan pembelajaran yang humanistik, dalam hal ini guru yang berperan sebagai fasilitator mempunyai beberapa ciriciri sebagai berikut : a. Merespon perasaan siswa b. Menggunakan ide-ide siswa untuk melaksanakan interaksi yang sudah dirancang c. Berdialog dan berdiskusi dengan siswa d. Menghargai siswa e. Kesesuaian antara perilaku dan perbuatan f. Menyesuaikan isi kerangka berfikir siswa (penjelasan untuk menetapkan kebutuhan segera dari siswa) g. Tersenyum pada siswa Dari penelitian itu diketahui guru yang fasilitatif mengurangi angka bolos siswa, meningkatkan angka konsep diri siswa, meningkatkan upaya untuk meraih prestasi akademik termasuk pelajaran bahasa dan matematika yang kurang disukai, mengurangi tingkat problem yang berkaitan dengan disiplin dan mengurangi perusakan pada peralatan sekolah, serta siswa menjadi lebih spontan dan menggunakan tingkat berfikir lebih tinggi. Dalam perspektif humanisme, proses pembelajaran bukan pada bagaimana ´mengajarkan´, akan tetapi lebih pada bagaimana ´menciptakan situasi belajar´ yang akan membuat peserta didik mengalami pengalaman belajar itu sendiri. Dengan pendekatan seperti ini, akan memungkinkan bagi peserta didik paham akan makna belajar, inilah sesungguhnya hakikat dari pendidikan yang humanis.

Rogers, (1969), salah satu pakar psikologi humanistik mengungkapkan tentang belajar dengan mengetahui terlebih dahulu maka dari belajar itu sendiri, yang dikenal dengan belajar penuh arti yaitu, sikap murni, apa adanya, penghargaan, penerimaan, kepercayaan, dan pemahaman dengan empati. a. Sikap yang murni apa adanya Proses belajar penuh arti dapat tercapai jika fasilitator bersikap tulus, jujur, murni, dan bukan hanya bermain peran untuk mengikuti tuntutan dari sistem. Seorang fasilitator boleh merasakan emosi dan boleh mengekspresikannya, tapi bukan menjatuhkan kesalahan pada orang lain. Misalnya, seorang guru yang terganggu dengan anak yang terus menerus mengetukkan kakinya ke lantai. Guru tersebut boleh menyampaikan pada anak, ³Saya terganggu dengan bunyi itu«´, tetapi bukan, ³Kamu mengganggu saya!´ Memang tidak mudah, namun seorang guru dapat memulainya dengan pertama-tama mengenali emosi yang dirasakan dan menerimanya. Kemudian pelan-pelan ia dapat mencoba untuk mengambil sedikit resiko untuk mengekspresikannya dengan tepat. Seorang pakar manajemen kelas dari Amerika, Rick Smith, menulis dalam bukunya yang berjudul Conscious Classroom Management: Unlocking the Secrets of Great Teaching (2004) beberapa tips dalam mengatasi kemarahan yang muncul dari diri kita sebagai guru/fasilitator. Coba tarik nafas dan hitung sampai 10 sebelum memberikan respon. Selama menghitung kita berasumsi yang terbaik dari murid kita, bahwa dia sebenarnya mau mempelajari tingkah laku yang tepat, hanya saja dia belum sepenuhnya belajar. Setelah itu baru kita merespon dengan nada suara yang tenang. Kita bisa menyatakan apa yang kita rasakan dan membuat mereka mengerti apa yang seharusnya mereka lakukan. Lalu bagaimana jika hitungan 10 saja tidak cukup? Smith menyarankan sebaiknya tetap tutup mulut kita sampai merasa lebih tenang. Lalu bagaimana kita menyampaikan isi hati kita kepada murid? Dalam bukunya Quantum Teaching, Bobby De Porter,et.al menggunakan istilah Open The Front Door (OTFD) untuk kita sebagai guru mengkomunikasikan isi pikiran kita kepada murid. Berikut adalah tahapannya: Observation (Nyatakan hasil observasi kita) Pertama katakan apa yang terjadi dengan cara yang obyektif, teramati, dan lugas, agar kedua pihak memulai pada titik yang sama. Dengan pernyataan fakta, bukan penilaian atau kesimpulan, hanya data. Thought (Nyatakan pemikiran kita) Selanjutnya, nyatakan pikiran atau pendapat menggunakan pernyataan ´saya´. Feeling (Nyatakan perasaan kita) Ceritakan perasaan kita, juga dalam bentuk ´saya´ Desire(Nyatakan apa yang kita inginkan) Nyatakan tujuan, atau hasil yang kita inginkan. Salah satu cara untuk bersikap µapa adanya¶ adalah dengan mengakui kesalahan yang kita lakukan. Bagaimana pun juga, guru adalah manusia biasa yang tidak luput dari salah. Cara kita mengakui kesalahan bisa menjadi proses pembelajaran tersendiri bagi murid-murid. Berikut adalah langkah-langkahnya: Acknowledge (akui) Pikullah tanggung jawab atas tindakan anda dengan cara mengakuinya. Apologize (meminta maaf) Nyatakan akibat atau kerusakan yang ditimbulkan tindakan anda Make it Right (Selesaikan) Terimalah konsekuensi perilaku tersebut dan tawarkan untuk menebusnya dengan sebuah solusi. Recommit (berjanji lagi) Berjanjilah akan melakukan hal yang benar yang dapat memperbaiki hubungan. Guru dalam mengaplikasikan sikap diatas memang agak sulit, perlu penerimaan diri. Terkadang guru masih mempertahankan sikap ego mereka didepan para siswanya, walaupun terkadang sikap guru tersebut salah dan berlebihan. Tidak ada ruang dialogis antara guru dan siswa, seolah ± olah guru lah yang paling benar. Sikap guru yang seperti ini terkesan sangat tidak humanis, implikasi dari sikap guru yang otoriter seperti ini akan berimbas pada pembentukan kepribadian anak didik. Mereka akan beranggapan bahwa guru adalah sosok yang sangat menakutkan, guru bukan orang yang tepat untuk berbagi (sharing), apalagi sebagai teman curhat. Praktik pendidikan seperti ini kurang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan potensinya. Sehingga hanya akan melahirkan generasi yang pintar secara kognitif, tidak cerdas mengembangkan diri dan kreativitasnya. b. Penghargaan, penerimaan, kepercayaan Pembelajar harus diterima sebagai individu yang berharga, unik, dan dihormati. Perasaan dan pendapatnya harus dihargai. Ia juga harus diperhatikan. Semuanya ini harus dilakukan tanpa

syarat. Kita harus percaya bahwa setiap orang memiliki kapasitas untuk mengembangkan potensinya dan menemukan jalan hidupnya. Rick Smith menyebut hal ini sebagai asumsi positif terhadap murid. Seorang guru harus berasumsi bahwa muridnya ingin belajar mengenai hal yang sedang dia ajarkan, walaupun murid tersebut kelihatannya tidak tertarik. Asumsi positif tersebut akan membantu kita sebagai guru untuk mempertahankan semangat kita dalam mengajar ± karena semangat itulah yang akan dialirkan kepada murid-murid. Berikut ini tabel yang memberikan contoh perbedaan asumsi negatif dengan asumsi positif:
Asumsi Negatif Mereka adalah anak nakal. Asumsi Positif Mereka belum sepenuhnya mempelajari tingkah laku yang tepat. Mereka tidak mau belajar. Mereka ingin tahu apakah suasana kelas akan aman dan terstruktur. Mereka mencoba menyakiti Mereka memberikan sinyal kepada guru guru. untuk mengajarkan mereka tingkah laku yang tepat dengan lebih jelas.

Tabel : Perbedaan Asumsi Negatif dengan Asumsi Positif Dalam pola ini, guru dituntut untuk bisa bersikap menerima kekurangan dan kelebihannya. Penghargaan dalam hal ini tidak hanya berupa pemberian materi, hadiah, ataupun bingkisan saja, akan tetapi perhatian dalam bentuk pujian, bimbingan, dan nasehat juga bisa diberikan oleh guru, bahkan penghargaan dalam bentuk ini lebih berkesan bagi siswa. c. Pemahaman dengan empati Ketika berempati pada seseorang, kita tidak mengevaluasi atau menganalisis kondisi seseorang dari sudut pandang kita, melainkan menempatkan diri kita pada kondisi orang tersebut untuk memahami reaksi dari dalam dirinya, untuk ikut mengalami apa yang dipersepsikan dan dirasakan. Milton Mayroff dalam Bolton, (1979) menggambarkan kedua komponen tersebut secara sebagai berikut: ³«Untuk memerhatikan orang lain, saya harus dapat memahami dunianya seolah-olah saya berada dalam dirinya. Saya harus dapat melihatnya, seolah-olah menggunakan matanya, seperti apa dunianya itu untuknya dan bagaimana ia melihat dirinya sendiri. Tidak hanya melihatnya secara terpisah dari luar, tetapi seolah-oleh ia sebagai contoh, saya harus dapat bersamanya di dalam dunianya, µpergi¶ ke dalam dunianya agar dapat merasakan dari µdalam¶ seperti apa dunia ini baginya, apa yang diperjuangkan, dan apa yang dikehendakinya untuk berkembang.´ Salah satu kunci dari berempati adalah dengan mendengarkan. Menurut Rick Smith, dengan mendengarkan secara seksama, kita sebagai guru dapat memahami apa yang menyebabkan munculnya suatu masalah sehingga kita dapat menemukan solusinya. Misalnya ketika beberapa anak TK menggumamkan sebuah lagu berulang kali saat sedang mengerjakan aktifitas di meja, guru dapat menanyakan kepada anak-anak tersebut apa yang membuatnya menyanyikan lagu itu. Ada kemungkinan mereka akan menjawab bahwa mereka menyukai lagu itu. Jika aktifitas yang sedang dilakukan membutuhkan ketenangan dan guru mengharapkan mereka berhenti menggumamkan lagu tersebut, guru bisa memberhentikan kegiatan sejenak dan mengajak anak-anak menyanyikan lagu tersebut bersama-sama, karena mungkin itulah yang mereka butuhkan. Bayangkan jika kita tidak berusaha memahami mereka dan hanya berkata, ³Berhenti bernyanyi!´, mereka mungkin akan berasumsi bahwa kelas ini tidak menyenangkan karena µapapun yang aku suka tidak disukai oleh guruku¶. D. PENUTUP Humanisme memandang manusia, yang dalam hal ini peserta didik sebagai mahluk yang memiliki potensi dan memiliki kebebasan untuk mengaktualisasikan potensi tersebut. Manusia pada hakikatnya tidak lepas dari pendidikan. Manusia akan senantiasa berhubungan dengan pendidikan, baik langsung maupun tidak langsung. Jika ditinjau dari sisi pedagogis, manusia merupakan mahluk pembelajar, dan pada hakikatnya manusia juga mahluk yang dapat mendidik dan dididik. Atas dasar potensi pedagogis yang dimiliki oleh manusia inilah pendidikan selayaknya diarahkan pada proses pemanusiaan manusia, agar pendidikan dilakukan dengan bermakna. Praktik pendidikan yang humanis pun akan memberikan kesempatan kepada anak didik berkembang sesuai dengan bakat dan potensi yang mereka miliki. DAFTAR PUSTAKA Alwisol, Psikologi Kepribadian, (Malang : UMM Press, 2004) Arya Verdi Ramadhani, Psikologi Humanistik, 2010 ( http://aryaverdiramadhani.blogspot.com) Bobby De Porter, et.all, Quantum Teaching, terjemahan Ary Nilandari, (Bandung : Kaifa, 2010)

Filsafat Humanisme
1. Sejarah Perkembangan Filsafat Humanisme Sejarah perkembangan aliran filsafat pendidikan humanisme ditelusuri pada masa klasik barat dan masa klasik timur. Dasar pemikiran filsafat aliran filsafat pendidikan ditemukan dalam pemikiran filsafat klasik cina konfusius dan pemikiran filsafat klasik yunani.

Aliran psikologi humanis itu muncul sebagai gerakan besar psikologi dalam tahun 1950-an dan 1960-an. Dimana perkembangan peradapan baru itu dikenal dengan nama renaisans yang terjadi pada abad 16. zaman renaisans dikenal dengan sebutan jaman kebangkitan kembali. Selain itu juga dikenal dengan nama jaman pemikiran (age of reason), perkembangan filsafat, ilmu, dan kemanusiaan mengalami kebangkitan setelah lama di kungkung oleh kekerasan dogma-dogma agama. (cooper dalam Hanurawan, 2006)

Humanisme sebagai suatu gerakan filsafat dan geerakan kebudayaan berkembang sebagai suatu reaksi terhadap dehumanis yang telah terjadi berabad-abad. Terjadi dalam dunia Eropa sebagai akibat langsung dari kekuasaan para pemimpin agama yang merasa menjadi satusatunya otoritas dalam memberikan intepretasi terhadap dogma-dogma agam yang kemudian diterjemahkan kedalam segenap bidang kehidupan di Eropa. Dalam kontek reaksi ini, pelopor humanisme menjelaskan bahwa manusia dengan segenap kebebasan memiliki potensi yang sangat besar dalam menjalankan kehidupan ini secara mandiri untuk mencapai keberhasilan hidup didunia.

Perkembangan selanjutnya terjadi pada abad 18. periode perkembangan ini dimasukan kedalam masa penceraha (aufklarung). Tokoh humanis yang muncul adalah J.J Rousseu. Tokoh ini mengutamakan pandangan tentang perkembangan alamiah manusia sebagai metode untuk mencoba keparipurnaan tujuan-tujuan pendidikan.

Pada abad 20 terjadi perkembangan humanistic yang disebut humanisme kontemporer. Humanisme kontemporer merupakan reaksi protes atau gerakan protes terhadap dominasi kekuatan-kekuatan yang mengancam eksistensi nilai-nilai kemanusiaan yang ada dalam diri manusia di era modern. Perkembangan lebih lanjut dari filsafat humanis ini adalah berkenaan dengan peran dan kontribusi filsafat eksistensialisme yang cukup memberikan kontribusi dalam filsafat pendidikan humanistic.

Pemikiran filsafat eksistensialisme menyebutkan bahwa: 1. mannusia memilki keberadaan yang unik dalam dirinya berbeda antara mannusia satu dengan manusia lain. Dalam hal ini telaah tentang manusia diarahkan pada individualitas manusia sebagai unit analisisnya.

2. Eksistensialis lebih memperhatiakn pemahaman makna dan tujuan hidup manusia ketimbang melakukan pemahaman terhadap kajian-kajian ilmiah, dan metafisika tentang alam semesta. 3. Kebebasan individu sebagai milik manusia adalah sesuatu yang paling utama dan paling unik, karena setiap individu memilki kebebasan untuk memilki sikap hidup, tujuan hidup dan cara hidup sendiri (Stevenson dalam Hanurawan,2006)

Aliran filsafat eksistensialis ini kemudian dikembangkan dalam dunia pendidikan karena fungsi pendidikan adalah memberikan proses perkembangan manusia secara otentik. Manusia otentik adalah manusia yang dalam kepribadian diri memilki tanggung jawab dan kesadaran diri untuk menghadapi persoalan-persoalan hidup dalam alam hidup modern

Kedua aliran tersebut memberikan perkembangan pada aliran filsafat pendidikan humanisme. Hal ini dapat ditunjukan melalui pengembangan konsep perkembangan psikologis peserta didik dan metode pengajaran yang sesuai dengan perkembangan humanistic setiap individu.

Aliran psikologi humanistic memiliki pandangan tentang manusia yang memilki keunikan tersendiri, memilki potensi yang perlu diaktualisasikan dan memilki dorongan-dorongan yang murni berasal dari dalam dirinya. Individu manusia yang telah bersasal dari dirinya (Hanurawan,2006). 2. Konsep Pemikiran Filsafat Psikologi Humanistik Konsep pemikiran filsafat psikologi humanistic yang dikemukakan oleh filsuf humanis meliputi pandangan tentang hakeket manusia, pandangan tentang kebebasan dan otonomi manusia, konsep diri (self concept), dan diri individu serta aktualisasi diri

(Hanurawan,2006). Konsep pemikiran tersebut akan diuraikan sebagai berikut: 1. Pandangan tentang hakekat manusia Hakekat manusia dalam pandangan filosuf humanistic adalah manusia memilki hakekat kebaikan dalam dirinya. Dalam hal ini apabila manusia berada dalam lingkungan yang kondusif bagi perkembangan potensialitas dan diberi semacam kebebasan untuk berkembang maka mereka akan mampu untuk mengaktualisasikan atau merealisasikan sikap dan perilaku yang bermanfaat bagi dirinya sendiri dan lingkungan masyarakat pada umumnya (Hanurawan,2006). 2. Pandangan tentang kebebasan dan otonomi manusia Penganut aliran humanistic memberikan pandangan bahwa setiap manusia memilki kebebasan dan otonomi memberikan konsekuensi langsung pada pandangan terhadap individualitas manusia dan potensialitas manusia. Individualitas manusia yang unik dalam diri setiap pribadi harus dihormati. Berdasarkan pandangan ini, salah satu upaya pengembangan sumber daya manusia yang perlu dilakukan dalam proses pendidikan untuk mencapai hasil yang maksimal adalah pemberian kesempatan kepada

berkembangnya aspek-aspek yang ada dalam diri individu. 3. Pandangan tentang diri (the self) dan konsep diri (self concept)

Diri (the self) menurut penganut filsafat humanis merupakan pusat kepribadian yang pengembangannya dapat dipenuhi melalui proses aktualisasi potensi-potensi yang dimiliki seseorang. Diri (the self) yang ada dalam diri seseorang digambarkan sebagai jumlah keseluruhan yang utuh dalam diri individu yang dapat membedakan diri seseorang dengan orang lain. (Ellias dan Meriam dalam Hanurawan, 2006). Dalam diri (the self) seseorang terdapat perasaa, sikap, kecerdasan, intelektual, kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual dan karakteristik fisik. Sedangkan konsep diri (self concept) menurut Kendler dalam Hanurawan 2006 merupakan keseluruhan presepsi dan penilaian subyektif yang memiliki fungsi menentukan tingkah laku dan memiliki pengaruh yang cukup besar untuk tumbuh dan berkembang. Pertumbuhan perkembangan individu merupakan potensialitas individu untuk aktualisasi diri. Aktualisasi diri merupakan kemampuan manusia menghadirkan diri secara nyata (menurut maslow dalam Hanurawan 2006). Aktualisasi diri terwujud dalam ««««.. manusia untuk memperoleh pemenuhan diri (self fulfillment) sesuai dengan potensi-potensi yang dimilikinya. Dengan aktualisasi diri, manusia mampu mengembang keunukan kemanusiaannya guna meningkat kualitas kehidupan serta dapat mengubah situasi kea rah yang lebih baik. 3. Implikasi Pendidikan Psikologi Humanis dalam Prose Pendidikan Pandangan utama aliran filosofis pendidikan humanistic adalah proses pendidikan berpusat pada subyek didik. Roger dalam Dimyati dan Mudjiono (2002) berpendapat belajar akan optimal apabila siswa terlibat secara penuh dan sungguh serta berpartisipasi secara bertanggung jawab dalam proses belajar. Proses pendidikan berpusat pada subyek didik, dalam hal ini peran guru dalam proses pendidikan sebagai fasiltator dan proses pembelajaran dalam kontek proses penemuan yang bersifat mandiri (Hanurawan,2006). Searah dengan pandangan tersebut maka hakekat pendidik adalah fasilitator baik dalam aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Untuk itu seorang pendidik harus mampu membangun suasana belajar yang kondusif untuk belajar mandiri. Proses belajar hendaknya merupakan kegiatan untuk mengeksploitasi diri yang memungkinkan pengembangan keterlibatan secara aktif subyek didik untuk memperoleh pengetahuan dan pengalaman belajar.

Berdasarkan hal tersebut diatas maka system belajar yang cocok untuk pendidikan humanis ini adalah Enquiry Discovery yakni belajar penyelidikan dan penemuan. Dalam proses belajar mengajar system Enquiry Discovery ini guru tidak akan menyajikan bahan pelajaran dalam bentuk final, dengan kata lain guru hanya menyajikan sebagian, selebihnya siswa yang mencari atau menemukan sendiri. Adapun tahapan dalam prosedur Enquiry Discovery adalah: 1. Stimulation (stimulasi/ pemberi rangsangan), yakni memulai kegiatan PBM dengan mengajukan pertanyaan, anjuran membaca buku, aktifitas belajar lainnya yang mengarah pada persiapan pemecahan masalah. 2. Problem statement (pernyataan / identifikasi masalah), yakni memberi kesempatan kepada siswa untuk mengidentifikasikan sebanyak mungkin agenda-agenda masalah yang

relevan dengan bahan pelajaran, kemudian dipilih salah satunya dipilih dan dirumuskan dalam bentuk hipotesis. 3. Data collection (pengumpulan data), yakni memberi kesempatan kepad para siswa untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya yang relevan untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis. 4. Data prosesing (pengolahan data), yakni mengolah data dan informasi yang telah diperoleh para siswa baik melalui wawancara, observasi, dan sabagainya lalu ditafsirkan. 5. Verification (pentahkikan), yakni melakukan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis yang ditetapkan tadi dihubungkan dengan data prosesing. 6. Generalization (generalisasi), yakni menarik sebuah kesimpulan yang dapat dijadikan sebuah kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip umum.( Syah, Muhibbin,2004) Melalui pembelajaran Enquiry Discovery / penemuan menurut Hanurawan (2006) akan dapat membawa pengalaman pada diri pembelajar dalam mengidentifikasi, memahami masalah-masalah yang dihadapi sehingga menemukan sesuatu pengetahuan yang bermakna bagi dirinya.

Seperti telah dikemukakan diatas, dalam proses pembelajaran dengan enqiry discovery ini guru berperan sebagai fasilitator. Menurut Hanurawan (2006) fungsi tugas kefasilitatoran guru dalam KBM harus dapat menumbuhkan keyakinan dalam diri pebelajar dalam kegiatan yang dilakukan. Yang berarti guru harus dapat menstimulus pebelajar untuk berpartisipasi secara aktif dalam pembelajaran. Hal ini sesuai dengan kontek pembelajaran humanistic menurut Maslow bahwa guru adalah pembantu sekaligus mitra dalam melakukan aktualisasi diri. Peran guru sebagai fasilitator menurut Abu dan Supriono,W (2004) dapat diwujudkan dengan memperhatiakan penciptaan suasana awal, situasi kelompok atau pengalaman kelas, memperjelas tujuan di dalam kelas. Menyediakan sumber-sumber belajar untuk dimanfaatkan pebelajar dalam rangka mencapai tujuannya, dan mengambil prakarsa untuk ikut dalam kelompok kelas. Hal-hal penting yang harus diperhatikan dalam proses pembelajaran menurut pandangan psikologi humanistic yaitu: 1. Setiap individu mempunyai kemampuan bawaan untuk belajar. 2. Belajar akan bermanfaat bila siswa menyadari manfaatnya. 3. Belajar akan berarti bila dilakukan lewat pengalaman sendiri dan uji coba sendiri. 4. Belajar dengan prakarasa sendiri penuh kesadaran dan kemampuan dapat berlangsung lama dan «««.. 5. Kreatifitas dan kepercayaan dari orang lain tumbuh dari suasana kebebasan. 6. Belajar akan berhasil bila siswa berpartisipasi secara aktif dan disiplin setiap kegiatan belajar.

DAFTAR PUSTAKA

Abu Ahmadi dan Supriono W. 2004. Psikologi Pendidikan. Jakarta. PT Rineka Cipta. Dimyati dan Mudjiono. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta. PT Rineka Cipta. Hanurawan. 2004. Psikologi Pendidikan. Malang. FIP UNM Syah Muhibbin. 2004. Psikologi Pendidikan. Jakarta. Rosda.
http://sahaka.multiply.com/

Minggu, 23 Januari 2011
Perkembangan teori belajar behaviorisme, kognitivisme, dan konstruktivisme serta Implikasinya dalam konsep evaluasi pendidikan
A. Perkembangan teori belajar behaviorisme, teori kognitivisme, dan teori konstruktivisme. 1. Teori Behaviorisme Teori belajar behaviorisme merupakan teori belajar yang telah cukup lama dianut oleh para pendidik. Teori ini dicetuskan oleh Gage dan Berliner yang berisi tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal penting untuk melihat terjadi tidaknya perubahan tingkah laku. Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman. Prinsip-Prinsip dalam Teori Behavioristik a) Obyek psikologi adalah tingkah laku. b) Semua bentuk tingkah laku di kembalikan pada reflek. c) Mementingkan pembentukan kebiasaan. d) Perilaku nyata dan terukur memiliki makna tersendiri. e) Aspek mental dari kesadaran yang tidak memiliki bentuk fisik harus dihindari. Tokoh-Tokoh Aliran Behaviorisme a) Edward LeeThorndike Menurutnya belajar merupakan proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus adalah apa yang merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. Respon adalah reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, juga dapat berupa pikiran, perasaan, gerakan atau tindakan. teori ini sering disebut teori koneksionisme. b) John Watson Kajian tentang belajar disejajarkan dengan ilmu-ilmu lain seperti Fisika atau Biologi yang berorientasi pada pengalaman empirik semata, yaitu sejauh mana dapat diamati dan diukur. Belajar merupakan proses interaksi antara stimulus dan respon, namun keduanya harus dapat diamati dan diukur. c) Clark L. Hull Semua fungsi tingkah laku bermanfaat terutama untuk menjaga agar organisme tetap bertahan hidup. Dorongan belajar (stimulus) dianggap sebagai sebuah kebutuhan biologis agar organisme mampu bertahan hidup. d) Edwin Guthrie Azas belajar Guthrie yang utama adalah hukum kontiguiti. Yaitu gabungan stimulus-stimulus yang disertai suatu gerakan. Hukuman (punishment) memegang peranan penting dalam proses belajar. Hukuman yang diberikan pada saat yang tepat akan mampu mengubah tingkah laku seseorang. e) Burrhus Frederic Skinner Konsep-konsep yang dikemukanan tentang belajar lebih mengungguli konsep para tokoh sebelumnya. Respon yang diterima seseorang tidak sesederhana konsep yang dikemukakan tokoh sebelumnya, karena stimulus-stimulus yang diberikan akan saling berinteraksi dan interaksi antar stimulus itu akan mempengaruhi respon yang dihasilkan. Respon yang diberikan ini memiliki konsekuensi-konsekuensi. Konsekuensi-konsekuensi inilah yang nantinya mempengaruhi munculnya perilaku. Kelemahan Teori Behavioristik a) Hanya mengakui adanya stimulus dan respon yang dapat diamati b) Kurang memberikan ruang gerak yang bebas bagi pebelajar untuk berkreasi, bereksperimentasi dan mengembangkan kemampuannya sendiri c) Pebelajar berfikir linier, konvergen, tidak kreatif dan tidak produktif d) Pebelajar atau orang yang belajar harus dihadapkan pada aturan-aturan yang jelas dan ditetapkan terlebih dulu secara ketat e) Kontrol belajar harus dipegang oleh sistem yang berada di luar diri pebelajar

Kelebihan Teori Behavioristik Sesuai untuk perolehan kemampuan yang membutuhkan praktik dan pembiasaan yang

mengandung

unsur-unsur

seperti

kecepatan,

spontanitas,

kelenturan,

reflex.

2. Teori Kognitivisme Teori belajar kognitif berasal dari pandangan Kurt Lewin (1890-1947), seorang Jerman yang kemudian beremigrasi ke Amerika Serikat. Intisari dari teori belajar konstruktivisme adalah bahwa belajar merupakan proses penemuan (discovery) dan transformasi informasi kompleks yang berlangsung pada diri seseorang. Individu yang sedang belajar dipandang sebagai orang yang secara konstan memberikan informasi baru untuk dikonfirmasikan dengan prinsip yang telah dimiliki, kemudian merevisi prinsip tersebut apabila sudah tidak sesuai dengan informasi yang baru diperoleh. Agar siswa mampu melakukan kegiatan belajar, maka ia harus melibatkan diri secara aktif. Teori kognitivisme ini memiliki perspektif bahwa para peserta didik memproses informasi dan pelajaran melalui upayanya mengorganisir, menyimpan, dan kemudian menemukan hubungan antara pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang telah ada. Teori ini menekankan pada bagaimana informasi diproses. Karakteristik : a) Belajar adalah proses mental bukan behavioral b) Siswa aktif sebagai penyadur c) Siswa belajar secara individu dengan pola deduktif dan induktif d) Instrinsik motivation, sehingga tidak perlu stimulus e) Siswa sebagai pelaku untuk menuntun penemuan f) Guru memfasilitasi terjadinya proses insight. Beberapa tokoh dalam aliran kognitivisme a) Teori Gestalt dari Wertheimer dkk Menekankan pada kebermaknaan dan pengertian sehingga tidak menimbulkan ambiguitas dalam proses pembelajaran. b) Teori Schemata Piaget Teori ini mengatakan bahwa pengalaman kependidikan harus dibangun di sekitar struktur kognitif siswa. Struktur kognitif ini bisa dilihat dari usia serta budaya yang dimilik oleh siswa. c) Teori Belajar Sosial Bandura Bandura mempercayai bahwa model akan mempunyai pengaruh yang paling efektif apabila mereka dianggap atau dilihat sebagai orang yang mempunyai kehormatan, kemampuan, status tinggi, dan juga kekuatan, sehingga dalam banyak hal seorang guru bisa menjadi model yang paling berpengaruh. d) Pengolahan Informasi Norman Norman melihat bahwa materi baru akan dipelajari dengan menghubungkannya dengan sesuatu yang sudah diketahuinya, yang dalam teorinya di sebut learning by analogy. Pengajaran yang efektif memerlukan guru yang mengetahui struktur kognitif siswa. 3. Teori Konstruktivisme Konstruktivisme sebagai deskripsi kognitif manusia seringkali diasosiasikan dengan pendekatan paedagogi yang mempromosikan learning by doing. Teori ini memberikan keaktifan terhadap manusia untuk belajar menemukan sendiri kompetensi, pengetahuan atau teknologi, dan hal lain yang diperlakukan guna mengembangkan dirinya sendiri. B. Implikasi teori belajar tersebut terhadap evaluasi pendidikan.

1. Teori Behaviorisme Implikasi teori ini dalam pembelajaran tergantung tujuan pembelajaran, sifat materi pelajaran, karakteristik pebelajar, media dan fasilitas pembelajaran yang tersedia.Teori ini sangat sesuai untuk pengetahuan yang bersifat obyektif, pasti, tetap, tidak berubah. Dalam hal ini pengetahuan telah terstruktur dengan rapi, sehingga belajar adalah perolehan pengetahuan, sedangkan mengajar adalah memindahkan pengetahuan (transfer of knowledge) ke orang yang belajar atau pebelajar Menurut teori behaviorisme apa saja yang diberikan guru (stimulus) dan apa saja yang dihasilkan siswa (respons) semua harus bisa diamati, diukur, dan tidak boleh hanya implisit (tersirat). Faktor lain yang juga penting adalah faktor penguat (reinforcement). Penguat adalah apa saja yang dapat memperkuat timbulnya respons. Bila penguatan ditambah (positive reinforcement) maka respons akan semakin kuat. Begitu juga bila penguatan dikurangi (negative reinforcement) responspun akan tetap dikuatkan.. Misalnya bila seorang anak bertambah giat belajar apabila uang sakunya ditambah maka penambahan uang saku ini disebut sebagai positive reinforcement.

Sebaliknya jika uang saku anak itu dikurangi dan pengurangan ini membuat ia makin giat belajar, maka pengurangan ini disebut negative reinforcement. Konsep evaluasi pendidikan sudah sangat jelas dalam teori ini yaitu melalui pengukuran, pengamatan. Sebab seseorang dikatakan belajar bila telah mengalami perubahan perilaku. Akan tetapi perlu diketahui bahwa tidak semua hasil belajar bisa diamati dan diukur, paling tidak dalam tempo seketika. Semua aspek materi juga tidak bisa diukur dengan teori ini. Evaluasi dilakukan untuk menilai hasil akhir dari penggunaan teori ini yaitu perubahan perilaku. 2. Teori Kognitivisme Implikasi teori kognitivisme dalam kegiatan pembelajaran lebih memusatkan perhatian kepada cara berpikir atau proses mental anak, tidak sekedar kepada hasilnya. Selain itu, peran siswa sangat diharapkan untuk berinisiatif dan terlibat secara aktif dalam kegiatan belajar. Teori ini juga memaklumi akan adanya perbedaan individual dalam hal kemajuan per- kembangan. Oleh karena itu guru harus melakukan upaya untuk mengatur aktivitas di dalam kelas yang terdiri dari individu ± individu ke dalam bentuk kelompok ± kelompok kecil siswa daripada aktivitas dalam bentuk klasikal, Teori ini juga mengutamakan peran siswa untuk saling berinteraksi. Menurut Piaget, pertukaran gagasan ± gagasan tidak dapat dihindari untuk perkembangan penalaran. Walaupun penalaran tidak dapat diajarkan secara langsung, perkembangannya dapat disimulasi. Implikasi dalam konsep evaluasi bahwa evaluasi dilakukan selama proses belajar bukan hanya semata dinilai dari hasil belajar. Jadi, teori ini menitikberatkan pada proses daripada hasil yang dicapai oleh siswa. 3. Teori Konstruktivisme Konstruktivisme memandang bahwa pengetahuan non objektif, bersifat temporer, selalu berubah dan tidak menentu. Belajar adalah penyusunan pengetahuan dari dari pengalaman konkrit, aktifitas kolaboratif dan refleksi dan interpretasi. Seseorang yang belajar akan memiliki pemahaman yang berbeda terhadap pengetahuan tergantung pengalamannya dan persepektif yang didalam menginterprestasikannya. Teori ini lebih menekankan pada diri siswa dalam penyusun pengetahuan yang ingin diperoleh oleh siswa tersebut. Teori ini memberikan keaktifan terhadap siswa untuk belajar menemukan sendiri kompetensi, pengetahuan atau teknologi, dan hal lain yang diperlakukan guna menggembangkan dirinya sendiri. Adapun tujuan dari teori ini adalah sebagai berikut: 1. Adanya motivasi untuk siswa bahwa belajar adalah tanggung jawab siswa itu sendiri. 2. Mengembangkan kemampuan siswa untuk mengajukan pertanyaan dan mencari sendiri pertanyaanya. 3. Membantu siswa untuk mengembangkan pengertian dan pemahaman konsep secara lengkap. 4. Mengembangkan kemampuan siswa untuk menjadi pemikir yang mandiri. 5. Lebih menekankan pada proses belajar bagaimana belajar itu. Konsep evaluasi pendidikan hampir sama dengan konsep pada teori kognitivisme yaitu menitikberatkan pada proses. Proses yang dimaksud disini merupakan sebuah pengalaman yang dialami sendiri oleh masing-masing siswa (penyusunan pengetahuan oleh siswa itu sendiri). Diposkan oleh annaziroh di 18:18
http://boutaziro.blogspot.com/2011/01/perkembangan-teori-belajar-behaviorisme.html

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->