P. 1
Model Konsep & Teori

Model Konsep & Teori

|Views: 1,732|Likes:
Published by Boru Putri Hasian
Bahasan Kasus Keperawatan berdasarkan pada berbagai Teori Dasar Keperawatan
Bahasan Kasus Keperawatan berdasarkan pada berbagai Teori Dasar Keperawatan

More info:

Published by: Boru Putri Hasian on Jun 11, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/14/2014

pdf

text

original

HASIANNA HABAYAHAN D III PROGRAM KHUSUS STIKES - DR.

SISMADI JAKARTA, 2010

MODEL KONSEP & TEORI KEPERAWATAN DISKUSI KASUS

S TIKES DR. SIS MADI

JAKARTA, 2010

Model Konsep & Teori Keperawatan - Diskusi Kasus

2

I.

PENGANTAR

Perkembangan Ilmu Keperawatan dewasa ini telah mencapai prestasi yang cukup fenomenal, kemajuan tersebut menyebabkan ilmu keperawatan mendapat pengakuan sebagai suatu disiplin keilmuan dan sekaligus menjadikan keperawatan sebagai salah satu profesi dibidang kesehatan yang sejajar dengan profesi kesehatan lainnya. Keperawatan adalah Ilmu yang berbasiskan pada teori, berbekal konsep, mengutamakan keselarasan teori & praktik, berorientasi kearah masa depan dan yang paling penting adalah peduli terhadap kemanusiaan dengan visi yang holistik. Berpijak pada banyak hal diatas menyebabkan keperawatan menjadi lebih bermakna dan lebih berarti. Sebagai suatu Ilmu yang berorientasi kekinian, pola dan fokus keperawatan saat ini telah bergeser, dari upaya pelayanan yang bertumpu pada panggilan ataupun berdasarkan pada undangan menjadi upaya pelayanan yang mengutamakan penyelenggaraan didalam institusi baik melalui upaya mandiri maupun kolaboratif. Meskipun demikian model pola pelayanan panggilan pada kasus tertentu masih merupakan alternatif pelayanan . Ilmu Keperawatan Modern saat ini menjadi panduan profesi keperawatan dalam menjalankan praktek keperawatan sehari-harinya, realisasi telah muncul pada paruh pertama abad kedua puluh . Kerangka kerja teoretis ini telah banyak berkontribusi dalam mengembangkan kegiatan keperawatan. Salah satu tujuan dari upaya tersebut adalah untuk menjadikan keperawatan sebagai profesi yang diakui dan mampu memberikan upaya perawatan secara profesional bagi klien yang memerlukan. Teori menyusui adalah salah satu contoh konsep yang mendasarkan pada ilmu keperawatan. Didalam Teori menyusui sarat dengan kaidah keilmuan seperti definisi, hubungan kausatif dan berbagai asumsi yang jelas-jelas berasal dari Model Keperawatan Sistematis, disanapun terlihat rancangan hubungan spesifik antara konsep dan tujuan serta dapat menjelaskan berbagai masalah yang berkaitan antara menyusui dengan kepentingan kesehatan dan keperawatan. Oleh karena itu tergambar secara jelas bahwa ilmu keperawatan merupakan suatu ilmu yang mandiri dan bukan berasal dari cabang atau perkembangan ilmu kesehatan yang lain. Berdasarkan pada perkembangan ilmu pengetahuan dan kerangka teori ilmu keperawatan maka dibawah ini terdapat tabel ringkas beberapa konsep penting keperawatan yang menjadi bukti dasar dari perkembangan Ilmu Keperawatan, sebagai bahan pembelajaran lebih lanjut juga disisipkan konsep keperawatan dari Florence Nightingale , seorang pendahulu dari profesi keperawatan serta pelopor dalam mengembangkan keperawatan modern . Berikut adalah ringkasan teori yang terdapat pada tabel dibawah ini :

Model Konsep & Teori Keperawatan - Diskusi Kasus

3

1. Metaparadigma (manusia, lingkungan, kesehatan & p erawatan) & Filosofi

Keperawatan dari Florence Nightingale . 2. Model Konseptual dari Teori Keperawatan utama (Grand Teori¶s).
Teori Florence Nightingale Filosifi & Aspek legal keperawatan Penekanan (berfokus) pada bidang y Berfokus pada keperawatan dan hubungan pasien dengan lingkungan. y Membantu proses memenuhi kebutuhan individu & menekankan pada kepedulian. Imogene M King 1. Transaksi keperawatan dan kerangka rujukan menuju tujuan Teori Pencapaian Tujuan pencapaian (Goal Attainment Theory). 2. Model konseptual keperawatan dari teori pencapaian tujuan yang berasal dari konsep utamanya (Interaksi, Persepsi, Komunikasi, Transaksi, Peran, Stres, serta Tumbuh & Kembang). · 3. Persepsi, hukum dan tindakan pasien dan mengarahkan perawat untuk bereaksi, interaksi, dan transaksi . Myra Estrin Levine Model Dasar Kemanusiann Holistik dikelola guna melestarikan integritas konservasi Usulan bahwa perawat menggunakan prinsip konservasi dari: y Energi klien y Integritas pribadi y Integritas struktural y Integritas sosial y Sebuah model konseptual dengan tiga teori keperawatan yaitu : 1. Konservasi, 2. Redundansi dan, 3. Terapi niat Dorothy E. Johnson 1. Menjaga stabilitas individu dan keseimbangannya melalui Model sistem perilaku penyesuaian dan adaptasi. 2. Individu sebagai sistem perilaku terdiri dari tujuh subsistem. 3. Subsistem afiliatif - adalah batu sudut organisasi sosial. 4. Sistem Perilaku juga termasuk subsistem ketergantungan, prestasi, agresif, ingestif - eliminatif dan seksual. 5. Gangguan dalam penyebab akan menjadi masalah keperawatan. Dorothea E. Orem Teori Perawatan Mandiri utk mempertahankan keutuhan, memiliki tiga teori: perawatan defisit 1. Teori perawatan diri 2. Teori defisit perawatan diri 3. Teori sistem perawatan Sepenuhnya kompensatoris (melakukan untuk pasien) Sebagian kompensatoris (menolong pasien lakukan untuk dirinya sendiri) Mendukung-edukatif (membantu pasien untuk belajar perawatan diri dan menekankan tentang pentingnya peran perawat . ) Suster Callista Model 1. Stimulus (rangsang) dapat mengganggu sistem adaptif Adaptasi Roy 2. Individu adalah sebuah sistem adaptif biopsikososial dalam lingkungan. 3. Individu dan lingkungan menyediakan tiga kelas stimulus, tdd stimulus fokal, stimulus kontekstual dan stimilus residual. 4. Melalui dua mekanisme adaptif : Regulator dan Kognator, perorangan menunjukkan tanggapan adaptif atau tanggapan tidak efektif dan membutuhkan intervensi keperawatan Betty Newman Model y Rekonstitusi adalah status adaptasi untuk stresor Sistem Perawatan y Sebuah model konseptual dengan dua teori "Stabilitas Pasien Kesehatan Optimal dan Pencegahan sebagai Intervensi"

Model Konsep & Teori Keperawatan - Diskusi Kasus

4

y Model Newman mencakup stresor intrapersonal dan stresor extrapersonal. y Perawatan berkaitan dengan seluruh orang. y Tindakan perawatan (Tingkat pencegahan Primer, Sekunder, dan Tersier) berfokus pada variabel-variabel yang mempengaruhi respon klien untuk stresor.

Model keperawatan konseptual dan kerangka t eori yang berkembang sangat membantu dalam hal memberikan pengetahuan untuk kepentingan praktek keperawatan, memandu penelitian bidang keperawatan dan kurikulum pendidikan keperawatan serta dapat mengidentifikasi masalah dan tujuan keperawatan. Keperawatan merupakan perpaduan I lmu dan Seni yang menyatu secara harmonis terjabarkan dalam teori dan praktek keperawatan. Kemajuan Ilmu keperawatan sangat perlu untuk dipelajari, dipahami, dan diterapkan dalam semua aspek keperawatan, sehingga semua profesi perawat dilapangan yang berfungsi se bagai ujung tombak dari sistem pelayanan keperawatan di rumah sakit mampu meningkatkan dan mengembangkan teknik & keterampilan keperawatan dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan keperawatan.

Model Konsep & Teori Keperawatan - Diskusi Kasus

5

II. DISKUSI KASUS

Contoh kasus Merry, berusia 18 tahun adalah seorang mahasiswa tingkat pertama. Di kampus ia aktif dalam kegiatan musik serta aktifitas kemahasiswaan lainnya. Ketika Merry pulang kerumah seusai liburan musim dingin, ia terlihat kurus. Ibunya memasakkan semua makanan kesukaannya, tetapi Merry menolak untuk makan dan berkata bahwa Saya terlalu gemuk. Akhirnya ibunya membawa Merry pergi kedokter, setelah diperiksa berat badan Merry hanya 43 kg, berat badannya turun 10 kg selama 4 bulan. Dari berbagai pemeriksaan dan test keseha tan yang dilakukan disimpulkan bahwa Merry mengalami Anoreksia nervosa.
1. Diskusi kasus menurut teori Imogene M. King

Teori King berkaitan dengan konsep manusia seutuhnya ³Human Being´ merupakan suatu sistem terbuka yang secara konsisten selalu berinteraksi dengan lingkungannya, oleh karena itu berdasarkan kerangka kerja konseptual dan asumsi dasar tentang Human Being, King menjabarkan pendapatnya menjadi suatu Teori Pencapaian Tujuan (³Theory of Goal Attainment´). Diskusi pada kasus Merry dapat ditinjau dari berbagai Model Konsep U paya Keperawatan, menurut Teori King upaya yang dapat dilakukan pada kasus ini adalah melalui penjabaran dari substansi Teori Pencapaian Tujuan yang disebut sebagai ³Interpersonal Systems´, sistem dimaksud berkaitan dengan upaya pemberian asuhan keperawatan didalam suatu tatakelola layanan kesehatan dan keperawatan dengan tujuan mempertahankan ataupun meningkatkan derajat kesehatan sesuai dengan fungsi dan peran . Intensitas dari Interpersonal Systems sangat menentukan pencapaian tujuan keperawatan, sehingga untuk dapat memberikan suatu asuhan keperawatan yang berkesesuaian, perlu dipahami beberapa hal mendasar mengenai :
H

H

Kesamaan persepsi perawat dan klien akan mempengaruhi interaksi proses perawatan: Perawat harus berupaya agar Merry dapat mengerti dan memiliki persepsi yang sama mengenai kelainan yang dideritanya dan segala akibat yang mungkin akan muncul dari penyakitnya, selanjutnya harus dijelaskan pula upaya keperawatan yang akan dilakukan untuk tercapainya tujuan keperawatan. Diharapkan upaya keperawatan yang akan dilakukan tidak mendapat penolakan dari Merry. Tujuan, kebutuhan dan nilai dari keperawatan & klien mempengaruhi proses interaksi : Beberapa hal penting yang dapat mempercepat upaya penyembuhan haruslah merupakan hal -hal yang secara bersama-sama dipahami dan disetujui oleh perawat dan klien, kesamaan pemahaman dan

Model Konsep & Teori Keperawatan - Diskusi Kasus

6

H

H

H

H H

kesepakatan akan memudahkan proses keperawatan. Perawat harus mampu menjelaskan mengenai anoreksia nervosa, mengapa harus dicapai penyembuhan, apa tujuan dari upaya yang akan dilakukan, bagaimana tahapan penyembuhannya , dan juga harus dimiliki kesamaan mengenai nilainilai yang akan dicapai dalam proses penyembuhan . Individu mempunyai hak untuk men getahui permasalahan tentang dirinya sendiri : Dalam melakukan semua upaya keperawatan harus diingat pula bahwa individu tersebut merupakan sosok manusia seutuhnya yang harus dihormati semua hak dan keinginannya, dalam h al Merry ia ingin agar memiliki bentuk tubuh yang ideal yang menjadi mode saat itu, sudah menjadi tugas perawat agar hak dan keinginan individu klien dapat diakomodasi untuk kemudian diarahkan kepada upaya penyembuhan dengan mengarahkan pada alternatif yang lebih baik, misalnya pengaturan diet yang baik tanpa merugikan kesehatan sebagai, contoh dianjurkan mengkonsumsi makanan yang rendah lemak dan rendah kalori, untuk mencapai hal tadi diperlukan keterampilan teknik komunikasi dan pengetahuan yang cukup . Individu mempunyai hak untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan dan hal tersebut mempengaruhi kehidupan dan kesehatan mereka serta pelayanan masyarakat. Perawat sebagai profesional kesehatan mempunyai tanggung jawab terhadap pertukaran informasi sehingga membantu individu dalam membuat keputusan tentang pelayanan kesehatannya. Klien mempunyai hak untuk menerima atau menolak pelayanan kesehatan. Tujuan dari profesional kesehatan dan tujuan dari penerima pelayanan kesehatan dapat berbeda.

Penguasaan Ilmu Kesehatan dan Keperawatan akan sangat membantu perawat dalam menjalankan tugasnya dalam mengubah persepsi klien yang keliru itu dan dapat berakibat buruk. Perawat harus mampu menjelaskan dan mengarahkan mengenai tujuan dan kebutuhan -kebutuhan yang diperlukan dari upaya keperawatan yang akan dilakukan pada kliennya, sebab bagaimanapun klien mempunyai hak untuk mengetahui keadaan yang berkaitan dengan kesehatan dirinya agar mereka dapat berpartisipasi dalam penentuan keputusan yang berpengaruh terhadap kehidupan dan kesehatan mereka meskipun demikian klien memiliki hak untuk menolak pelayanan kesehatan ataupun keperawatan yang akan dilakukan pada dirinya. Mungkin saja dalam melakukan suatu transaksi tatakelola pelayanan kesehatan terdapat perbe daan tujuan antara pemberi p elayanan dan penerima pelayanan. Dalam bahasan terhadap kasus Merry perlu dipahami mengenai persepsi dari klien berkaitan dengan penurunan berat badan sebanyak 10 kg, sudah menjadi tugas dari perawat untuk memahami dan kemudian berusaha mengubah persepsi klien yang keliru mengenai upaya menurunkan berat badan secara drastis dalam

Model Konsep & Teori Keperawatan - Diskusi Kasus

7

waktu yang cukup singkat. Secara etiologik anoreksia nervosa lebih merupakan gangguan psikis dibandingkan dengan gangguan fisik oleh karenanya jelas harus terdapat pula asuhan keperawatan yang berkaitan dengan tata kelola psikis, sebab bagaimanapun bukanlah hal yang mudah untuk meningkatkan asupan kalori pada klien yang menolak untuk menerima makanan. Oleh karenanya diperlukan suatu penanganan yang komprehensif dalam proporsi yang berimbang dan berkesesuaian serta dilaksanakan secara harmonis. Berikut adalah sembilan konsep yang harus di pahami untuk dapat dijabarkan dalam setiap transaksi tata kelola keperawatan diruangan, yang terdiri dari : 1. Interaksi merupakan proses persepsi dan komunikasi antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, individu dengan lingkungan yang dimanifestasikan sebagai perilaku verbal dan non verbal dalam upaya mencapai tujuan dari keperawatan. 2. Persepsi diartikan sebagai gambaran seseorang tentang realita, persepsi berhubungan dengan pengalaman yang lalu, konsep diri (pencitraan diri), sosial ekonomi, genetika dan latar belakang pendidikan. 3. Komunikasi diartikan sebagai suatu proses penyampaian informasi dari seseorang kepada orang lain secara langsung maupun tidak langsung. 4. Transaksi diartikan sebagai interaksi yang mempunyai maksud tertentu dalam pencapaian tujuan, termasuk dalam transaksi adalah pengamatan perilaku dari interaksi manusia dengan lingkungannya. 5. Peran merupakan serangkaian perilaku yang diharapkan dari posisi pekerjaannya dalam sistem sosial. Tolok ukurnya adalah hak dan kewajiban sesuai dengan posisinya. Jika terjadi konflik dan kebingungan peran maka akan mengurangi efektifitas pelayanan keperawatan. 6. Stress diartikan sebagai suatu keadaan dinamis yang terjadi akibat interaksi manusia dengan lingkungannya. Stress melibatkan pertukaran energi dan informasi antara manusia dengan lingkungannya untuk keseimbangan dan mengontrol stressor. 7. Tumbuh kembang adalah perubahan yang terus menerus dalam diri individu. Tumbuh kembang mencakup sel, molekul dan tingkat aktivitas perilaku yang kondusif untuk membantu individu mencapai kematangan. 8. Waktu diartikan sebagai urutan dari kejadian / peristiwa kemasa yang akan datang. Waktu adalah perputaran antara satu peristiwa dengan peristiwa yang lain sebagai pengalaman yang unik dari setiap manusia. 9. Ruang adalah sebagai suatu hal yang ada dimanapun. Ruang adalah area dimana terjadi interaksi antara perawat dengan klien.

Model Konsep & Teori Keperawatan - Diskusi Kasus

8

2.

Diskusi kasus menurut teori Martha E Roger

Menurut Martha E Roger, manusia sebagai satu kesatuan yang utuh dalam siklus kehidupannya, sedangkan lingkungan adalah segala hal yang berada diluar individu tersebut, terdapat suatu keterkaitan antara penyakit yang diderita dengan pengaruh alam. Untuk lebih mendalami studi kasus diatas akan dikemukakan mengenai konsep dasar dari Martha E Roger, berdasarkan ³ asumsi mengenai manusia´, yaitu : 1. Manusia merupakan makhluk yang memiliki kepribadian unik : Tiap manusia selalu memiliki perbedaan secara bermakna dengan manusia lainnya di beberapa bagian (mempunyai sifat-sifat khusus jika semuanya dapat dilihat secara bagian perbagian ). Ilmu Keperawatan sebagai suatu subsistem tidak efektif tanpa memperhatikan sifat-sifat dari sistem kehidupan manusia, sebab manusia baru akan terlihat saat bagiannya (peran dan fungsinya) tidak dijumpai/ berjalan. 2. Individu dan lingkungan saling tukar -menukar energi dan material satu sama lain: Beberapa individu mendefinisikan lingkungan sebagai faktor eksternal dan merupakan satu kesatuan yang utuh. 3. Proses kehidupan manusia merupakan hal yang tetap dan saling bergantung dalam satu kesatuan ruang waktu secara terus menerus : Akibatnya seorang individu tidak akan pernah kembali atau menjadi seperti yang diharapkan semula. 4. Perilaku pada individu merupakan suatu bentuk kesatuan yang inovatif . 5. Manusia bercirikan memiliki kemampuan abstrak: Salah satunya adalah kemampuan imaginatif, bertutur bahasa dan berfikir, sensasi dan emosi. Dari seluruh bentuk kehidupan di dunia hanya manusia yang mampu berfikir dan menerima dan mempertimbangkan. Penjelasan dari Teori diatas pada diskusi kasus ini jelas bahwa apa yang terjadi pada Merry adalah keadaan yang disebabkan keunikan dari kepribadiannya sendiri, sebab penyakit anoreksia nervosa bukan saja merupakan penyakit infeksi yang dapat menimpa siapapun, akan tetapi kelainan ini hanya dapat mengenai seseorang dengan faktor konstitusi yang tepat dan cocok untuk dapat menerima kelainan ini. Artinya seluruh sistem yang ada pada manusia ini sesungguhnya tidak ada satu menusia pun yang sama secara menyeluruh sama dan berkesesuaian untuk menerima kelainan atau penyakit , seseorang baru akan terlihat berbeda bila tidak dijumpai hal yang sama dengan orang lain pada individu tersebut. Tiap manusia diciptakan berbeda dengan demikian dalam menjalankan pemberian asuhan keperawatan pada tiap individu harus diperhatikan pula mengenai

 

Model Konsep & Teori Keperawatan - Diskusi Kasus

9

perbedaan-perbedaan tersebut, dengan demikian asuhan keperawatan antara satu individu akan berbeda dengan asuhan keperawatan yang diberikan pada individu lain meskipun dengan penyakit atau kelainan yang sama. Keperawatan sendiri merupakan suatu bidang ilmu kemanusiaan dimana terdapat nuansa yang amat kental dengan kepedulian, perhatian dan rasa ingin menolong terhadap sesama yang dilakukan semata -mata dengan tujuan meringankan penderitaan, menyembuhkan penyakit, mencegah penyakit dan meningkatkan kesehatan individu termasuk u paya rehabilitasi dan habilitasi. Menurut asumsi dari teori ini pula bahwa p enurunan berat badan dan kehilangan napsu makan pada diri Merry sebagai akibat dari anoreksi nervosa yang dideritanya, adalah merupakan suatu akibat bekerjanya sistem umum dan medan magnetik bumi. Sebagai contoh yang mendasari beberapa ilmuwan dari China berupaya mencari keterkaitan anatara penyakit yang diderita oleh suatu individu dengan alam kosmik yang berada disekitarnya. Ilmu Keperawatan yang berkembang saat ini di Indonesia lebih mengutamakan pengaruh keterkaitan langsung antara penyakit dengan hal-hal yang rasional dapat diterima akal sehat serta dapat dibuktikan secara ilmiah pula, metode analogi dan deduktif sampai saat ini masih menempati prioritas pertama d alam berpikir.

3.

Diskusi kasus menurut Myra Estrin Levine

Menurut Levine, dalam upaya membuat suatu kerangka asuhan keperawatan, prinsip utama yang penting adalah aplikasi konsep manusia atau klien sebagai individu yang holistik dan kompleks. Dalam teorinya, klien dipandang dalam posisi ketergantungan, oleh karena kemampuan klien terbatas terutama untuk berpartisipasi dalam pengumpulan data, perencanaan, implementasi atau semua fase dari posisi ketergantungan. Klien membutuhkan bantuan dari perawat untuk beradaptasi terhadap gangguan kesehatannya dan perawat bertanggung jawab dalam menentukan besarnya kemampuan partisipasi klien dalam perawatan. Dalam fase pengkajian, klien dikaji melalui dua metoda yaitu interview dan observasi, dalam proses pengkajian harus selalu berfokus pada klien, keluarga, anggota lainnya dan hanya mempertimbangkan penjelasan dari mereka dalam membantu memecahkan permasalahan kesehatan klien, hal ini juga berpengaruh bagi kesiapan klien dalam menghadapi li ngkungan eksternal. Menurut Levine, jika dalam proses keperawatan membutuhkan suatu perjanjian (³Informed Consent´) maka keluarga harus menjadi sasaran pengkajian. Kajian keperawatan yang perlu dilakukan dalam upaya menangani anoreksi nervosa pada Merry, 18 tahun yang berprofesi sebagai seorang mahasiswi adalah menilai besarnya ketergantungan ataupun hubungan ia dengan orang lain. Besarnya

Model Konsep & Teori Keperawatan - Diskusi Kasus

10

derajat ketergantungan ini penting bagi perawat dalam merencanakan ³Empat Prinsip Konservasi´, yakni : 1. Kebutuhan energi dan pemakaiannya : Dalam hal ini perawat dapat menilai melalui perhitungan besar kalori (input kalori) yang dibutuhkan oleh Merry untuk dapat menjalankan aktifitas normalnya sehari -hari, berdasarkan nilai itu dapat dib uat asuhan keperawatan. Integritas sosial : Evaluasi terhadap integritas sosial klien dapat dilakukan dalam upaya menyamakan persepsi mengenai penyakit yang dideritanya dalam hal Merry perawat dapat meperkirakan upaya yang dapat ditempuh, misalnya melalui pendekatan sosio kultutural atau spiritual pada Merry. Integritas struktur : Pada kasus ini terlihat dominasi faktor psikis dan biologis pada diri Merry, sehingga perlu pendekatan Biopsikososiokutural secara holistik dan komprehensif Integritas personal (sistem diri klien) : yakni keunikan, nilai, kepercayaan dan integritas sosial yang merupakan suatu proses keputusan dari klien dan hubungan klien dengan orang lain serta kesukaran (kendala) yang ada dalam berinteraksi dengan orang lain atau masyarakat.

2.

3.

4.

Sebagai orang yang sedang sakit Merry sangat tergantung pada orang lain pada semua aspek kehidupan, baik itu makanan, minuman, jaminan keamanan, hiburan maupun penghargaan terhadap dirinya. Menurut Levine, seorang perawat haruslah dapat: 1. Mengetahui kompleksitas dari suatu interaksi : Pada Merry terjadi berbagai pergeseran sosiokultural disamping perubahan biologis pada dirinya, dalam arti ia menghadapi dunia barunya dari seorang pelajar yang hidup dirumah menjadi seorang mahasiswi yang tinggal jauh dari rumah, perubahan ini akan sangat mempengaruhi kejiwaannya untuk itu diperlukan suatu pendekatan yang lebih bersifat spesialistik bidang keperawatan, misalnya perlu ber konsultasi dengan seorang perawat spesialis keperawatan jiwa. 2. Mendukung dalam mempertahankan atau memulihkan hubungan saat klien mengalami gangguan kesehatan : Merry sebagai individu yang holistik pada saat ia sakit terjadi suatu perubahan keseimbangan yang tidak lagi normal harmonis, oleh karenanya ia akan berusaha mengatasi stres nya dan mungkin saja akan menunjukkan perubahan pola tingkah laku dan fungsi. Seorang perawat harus mempersepsikan pertanggung jawaban dalam membantu Merry untuk dapat beradaptasi dengan perubahan yang terjadi pada dirinya dan dapat membimbing kearah upaya penyembuhan serta pemeliharaan kesehatan yang positif dan lebih baik. 3. Mengamati pengaruh masyarakat atau lingkungan dalam (internal) : Menurut Teori Levine dan aplikasinya dalam kasus Merry, bahwa suatu upaya perawatan adalah merupakan interaksi antara manusia, ia menggunakan konsep adaptasi dan peningkatan respon tubuh melalui pendekatan sistem, Sudah menjadi kewajiban dari perawat untuk dapat membina dan menumbuhkan kembali

Model Konsep & Teori Keperawatan - Diskusi Kasus

11

mekanisme adaptasi dari klien yang dapat dilakukannya secara sendiri ataupun berkolaboratif dengan mitra kerja lain. Setelah mengumpulkan semua data, perawat menganalisa data secara menyeluruh. Analisa ini mencerminkan keseimbangan kekuatan dan kelemahan dari diri klien pada empat area pengkajian ( ³Prinsip Konservasi´). Dalam fase perencanaan, perawat harus menetapkan tujuan : 1. Menetapkan strategi yang dipakai untuk perencanaan , dan 2. Menentukan tingkat perencanaan yang harus dikembangkan untuk mencapai tujuan . Dalam perencanaan proses keperawatan perlu menekankan mutu dari aktifitas klien dan perawat, peran mutu sangat penting diaplikasikan dalam teori ini untuk mencapai tujuan keperawatan . Tanggung jawab perawatlah untuk memonitor kondisi klien dalam mengatur keseimbangan antara intervensi keperawatan dan partisipasi klien dalam perawatan. Perawat sebagai individu harus melibatkan klien dalam aktivitas pengkajian dasar dan kemampuan partisipasi klien dalam mencapai tujuan akhir. Hal yang penting dalam menetapkan tujuan keperawatan klien haruslah mencerminkan usaha membantu klien untuk be radaptasi dan mencapai kondisi sehat secara fisik dan psikis.

4.

Diskusi kasus menurut teori Dorothy E Johnson

Dalam melakukan model asuhan keperawatan salah satu teori keperawatan yang cukup terkenal adalah Teori Johnson. Johnson pada tahun 1961 mengusulkan agar memfasilitasi ruang perawatan klien dari keadaan pemeli haraan ekuilibrium. Dalam keadaan tersebut Johnson mempromosikan bahwa klien dapat menerima stres dari stimulus baik yang datang dari dalam atau internal maupun yang berasal dari luar tubuh atau eksternal. Stimulus tersebut dapat menimbulkan stres melalui suatu mekanisme gangguan yang memunculkan ketegangan pada pasien yang berada dalam keadaan ketidakseimbangan. Sehingga dalam tiap p elaksanaan asuhan keperawatan Johnson berhasil mengidentifikasi dua zona asuhan keperawatan, pemahaman terhadap teori keperawatan diatas perlu dilakukan untuk mengembalikan klien ke keadaan kesetimbangan, yaitu : 1. Dukungan terhadap upaya penyembuhan melalui pengurangan rangsangan stres : Sejalan dengan Konsep Teori Johnson, upaya yang dapat dilakukan pada diri Merry adalah dengan menempatkannya pada ruangan yang tenang dan mengusahakan agar fisik dan psikis Merry dapat terbebas dari pengaruh stres ulangan dengan cara menghindari Merry dari paparan fashion mode yang sering ditampilkan melalui media informasi seperti tv, majalah mode, radio, internet dan teman-temannya yang mempunyai pandangan atau konsep yang sama dengan Merry, melakukan manipulasi suasan ruangan sehingga Merry akan terhindar dari suasana kampus yang akan mengingatkan kembali peran dan aktifitasnya yang

Model Konsep & Teori Keperawatan - Diskusi Kasus

12

mungkin dapat mengembalikan kembali obsesinya mengenai kegemukan atau usahanya menurunkan berat badan. 2. Dengan mendukung dan proses-proses alam yang adaptif : Beberapa proses alam yang mungkin dapat dianjurkan pada Merry adalah yoga, olah raga ringan, rekreasi dsb. Proses tersebut diatas diharapkan dapat membantu menyembuhkan Merry dari penyakit ataupun kelaianan yang dideritanya. Perilaku Sistem Johnson pegas teori berasal dari keyakinan bulbul yang mempunyai tujuan membantu individu agar pulih dari penyakit atau cedera. Ilmu dan seni keperawatan harus berfokus pada pasien sebagai individu dan buka n pada entitas penyakitnya. Johnson memanfaatkan teori para ilmuwan yang mendalami masalah perilaku dalam psikologi, sosiologi, dan etnologi untuk selanjutnya dikembangkan sejalan dengan teorinya dalam bidang keperawatan . Model ini berpola model sistem, sistem didefinisikan sebagai bagian yang saling berhubungan yang berfungsi bersama-sama untuk membentuk keseluruhan. Johnson menyatakan bahwa perawat harus lebih menggunakan sistem perilaku manusia sebagai dasar pengetahuan dalam pelaksanaan keperawatan , dibandingkan dengan sistem biologis yang biasa digunakan oleh dokter sebagai dasar pengetahuan mereka dalam ilmu pengobatan .

5.

Diskusi kasus menurut teori Dorothea E. Orem

Model Keperawatan menurut Dorothea E. Orem dikenal dengan Model Self Care (Perawatan Mandiri), model keperawatan ini berkembang sejak tahun 1959 2001. Model Self Care disebut sebagai upaya pemandirian , teori ini memberi pengertian bahwa bentuk pelayanan keperawatan dipandang dari suatu pelaksanaan kegiatan yang nantinya akan dapat dilakukan individu dalam memenuhi kebutuhan dasar dengan tujuan mempert ahankan kehidupan, kesehatan, kesejahteraan sesuai dengan ke adaan sehat dan sakit. Dalam pemahaman konsep keperawatan khususnya pandangan mengenai pemenuhan kebutuhan dasar, Orem membagi ³Konsep Kebutuhan Dasar´ terdiri atas: 1. Udara (jenis asupan berupa nasihat yang ber sifat edukasi atau suportif): Seorang perawat harus mampu memberikan informasi dan pengetahuan tentang hubungan antara kesehatan umum individu dengan kemampuan kapasitas vital paru dalam menghirup oksigen dari udara bebas, dalam arti makin baik derajat kesehatan seseorang maka makin baiklah fungsi parunya yang berdampak pada makin baiknya kemampuan paru seseorang untuk menyerap oksigen dari udara bebas dan demikian sebaliknya makin buruk kesehatan umum seseorang akan berdampak pada makin buruknya kemampuan paru untuk menyerap oksigen dari udara bebas.

Model Konsep & Teori Keperawatan - Diskusi Kasus

13

2. Air (jenis asupan berupa nasihat yang bersifat edukasi atau suportif) : Seorang perawat harus mampu menerangkan fungsi cairan tubuh yang berperan penting pada berbagai fungsi metabolisme tubuh, dan dituntut pula agar mampu meyakinkan kemungkinan munculnya risiko dehidrasi pada individu yang kurang asupan cairan yang dapat memicu terjadinya gangguan metabolisme serta fungsi tubuh yang lain. 3. Makanan (jenis asupan berupa nasihat yang bersifat edukasi atau suportif berkolaborasi dengan bidang lain) : Perawat harus mampu menjelaskan peranan asupan makanan atau kalori sebagai sumber tenaga dan juga berperan penting dalam memperbaiki atau menggantikan sel -sel tubuh yang rusak, selain itu perawat juga harus mampu menentukan dan memberikan kecukupan asupan kalori perhari dengan berkolaborasi pada petugas gizi rumah sakit. 4. Eliminasi (jenis asupan berupa nasihat yang bersifat edukasi atau suportif berkolaborasi dengan bidang lain ) : Perawat harus dapat memberikan penjelasan upaya yang perlu dilakukan oleh klien dalam mengeliminasi perasaaan mual dan keengganan untuk makan dan menggantinya dengan keinginan untuk makan. 5. Aktifitas dan istirahat (jenis asupan berupa nasihat yang ber sifat edukasi atau suportif) : Perawat menginformasikan pada klien tentang kegiatan yang cocok untuk pasien Anoreksia nervosa pada tahap awal yang selanjutnya akan ditingkatkan bila terdapat perbaikan dalam asupan kalori atau makanan yang dibutuhkan. 6. Privasi & Interaksi Sosial (jenis asupan berupa nasihat yang ber sifat edukasi atau suportif dilakukan berkolaborasi dengan bidang lain) : Interaksi sosial yang dilakukan selama masa perawatan antara klien dengan perawat diharapkan dapat memberikan perubahan interaksi dan perilaku sosial klien selanjutnya. 7. Upaya menghindari bahaya (jenis asupan berupa nasihat yang bersifat edukasi atau suportif dilakukan berkolaborasi dengan bidang lain ) : Perawat memberikan pendidikan pada klien tentang akibat buruk dari kekurangan ataupun kelebihan asupan makanan atau kalori juga tentang terapi lain yang dapat diberikan bersamaan secara simultan. 8. Pengembangan kearah hidup normal (jenis asupan berupa nasihat yang bersifat edukasi atau suportif dilakukan berkolaborasi dengan bidang lain) . Perawat diharapkan dapat membantu pasien untuk mengembalikan pola hidup pasien, sehingga menjadi normal kembali dalam arti mau makan dan minum seperti selayaknya sesuai dengan asupan gizi yang baik.

6.

Diskusi kasus menurut teori Sister Calista - adaptasi Roy

Model Konsep & Teori Keperawatan - Diskusi Kasus

14

Terdapat beberapa tahapan dalam menetapkan asuhan keperawatan menurut Sister Calista- adaptasi Roy 1. Pengkajian, Model tersebut merekomendasikan pengkajian dibagi menjadi dua bagian, yaitu pengkajian tahap I dan pengkajian tahap II. Pengkajian pertama meliputi pengumpulan data tentang perilaku keseharian Merry sebagai suatu sistem adaptif yang berhubungan dengan masing -masing mode adaptasi: Pada tahap pertama perawat mulai menilai dan mengukur gambaran umum status keperawatan seperti menilai keadaan umumnya, mengukur dan mencatat tandatanda vital, selanjutnya perawat harus dapat menilai mengenai konsep diri klien (pencitraan diri) seperti bagaimana yang dipersepsikan oleh Merry, kemudian perawat harus dapat pula menilai fungsi perannya didalam keluarga dan didalam pergaulannya dilingkungan kampus, selanjutnya harus dinilai lagi bentuk ketergantungan atau kekaguman Merry terhadap seorang tokoh atau publik figur atau apapun. Oleh karena itu pengkajian pertama diartikan sebagai pengkajia n perilaku,yaitu pengkajian klien terhadap masing -masing model adaptasi secara sistematik dan holistik. Setelah pengkajian pertama, perawat menganalisa pola perubahan perilaku klien tentang ketidakefektifan respon atau respon adaptif ya ng memerlukan dukungan perawat. Jika ditemukan ketidakefektifan respon atau disebut sebagai mal-adaptif, perawat melaksanakan pengkajian tahap kedua. Pada tahap ini, perawat mengumpulkan data tentang stimulus fokal yaitu adanya penyakit langsung yang mempengaruhi misalnya gastritis atau infeksi paru , selanjutnya stimulus kontekstual dalam hal ini adanya gangguan psikis berupa keengganan untuk makan disebabkan kekhawatiran menjadi gemuk, dan stimulus residual yang berdampak terhadap Merry misalnya saja Merry yakin bila ia menjadi kurus maka ia akan mudah diterima dalam pergaulan dikampusnya, atau hal -hal lain yang didapat karena pergaulannya atau karena agama atau karena sesuatu yang sulit untuk dijelaskan. 2. Perumusan diagnosa keperawatan, Tiga metode untuk menyusun diagnosa keperawatan dalam membuat suatu asuhan keperawatan, yaitu : (1). Dengan menggunakan tipologi diagnosa yang dikembangkan oleh Roy dan berhubungan dengan 4 mode adaptif . dalam mengaplikasikan diagnosa ini, diagnosa pada kasus Merry sebagai ³gangguan pola makan´. (2). Dengan menggunakan diagnosis diatas dan dengan mencermati pernyataan yang diberikan oleh Merry ataupun ibunya serta ditunjang oleh pengamatan yang dilakukan dari perilaku yang tampak dan amat berpengaruh tehadap stimulusnya. Maka diagnosis keperawatan yang dapat ditegakkan adalah ³kelemahan umum disebabkan oleh kekurangan kronis asupan kalori dan protein yang diperlukan untuk aktifitas normal sehari -hari´

Model Konsep & Teori Keperawatan - Diskusi Kasus

15

(3). Dengan menyimpulkan perilaku dari satu atau lebih mode adaptif yang berhubungan dengan stimulus yang sama, maka p ada kasus ini, diagnosa yang sesuai adalah ³kegagalan peran berhubungan dengan defisiensi kronis kalori dan protein untuk dapat melakukan aktifitas harian´ 3. Intervensi keperawatan, Intervensi keperawatan yang dapat dibuat adalah : 1. Merencanakan suatu asuhan keperawatan dengan tujuan merubah atau menghilangkan stimulus fokal yaitu kelainan pada lambungnya (gastritis) disertai dengan adanya infeksi paru akibat penurunan daya tahan tubuh , 2. Memanipulasi stimulus kontekstual (keengganan makan karena takut menjadi gemuk), dan juga menatalaksana stimulus residual (mode trensetter pada saat itu seperti langsing itu indah dll). Pelaksanaannya juga ditujukan kepada kemampuan klien dalam koping secara luas, supaya stimulus secara keseluruhan dapat terjadi pada klien tanpa menyebabkan kebingungan dalam hal peranannya di masyarakat, sehinga mengakibatkan total stimuli berkurang dan kemampuan adaptasi meningkat. Tujuan intervensi keperawatan adalah pencapaian kondisi yang optimal, dengan membangun dan membina koping yang konstruktif. Tujuan jangka panjang harus dapat menggambarkan penyelesaian masalah adaptif dan ketersediaan energi untuk memenuhi kebutuhan tersebut (mempertahankan, pertumbuhan, reproduksi). Tujuan jangka pendek mengidentifikasi harapan perilaku klien setelah manipulasi stimulus fokal, kontekstual dan residual. 4. Implementasi, Implementasi keperawatan direncanakan dengan tujuan merubah atau memanipulasi stimulus fokal, stimulus kontekstual dan stimulus residual dan juga memperluas dan membina kemampuan koping seseorang pada zona adaptasi sehinga total stimuli berkurang dan kemampuan adaptasi meningkat.

5. Evaluasi, Penilaian terakhir dari proses keperawatan telah dilakukan berdasarkan tujuan keperawatan yang ditetapkan. Penetapan keberhasilan suatu asuhan keperawatan didasarkan pada perubahan perilaku dari kriteria hasil yang ditetapkan, yaitu terjadinya adaptasi pada individu.

7.

Diskusi kasus menurut teori Betty Newman

Keperawatan digambarkan sebagai suatu profesi yang unik, keunikannya dihubungkan dengan pandangan ilmu keperawatan terhadap aspek kemanusiaan sebagai suatu pandangan yang holistik yang selalu dipengaruhi oleh berbagai variabel serta berinteraksi baik dalam lingkungan internal maupun eksternal Hal ini penting bahwa dalam pengkajian persepsi harus menjadi aspek yang terkandung

Model Konsep & Teori Keperawatan - Diskusi Kasus

16

didalamnya karena akan sangat berguna pada format proses perawatan yang selanjutnya. Peran perawat menurut Newman diharapkan mampu berperan dalam memberikan intervensi dalam upaya memutuskan pengaruh stres dengan tujuan mengurangi atau menghilangkan ataupun meminimalkan efek yang ditimbulkan oleh stres dari kliennya. Asumsi faktor stres pada kasus Merry adalah suatu pencitraan bahwa dirinya sudah terlalu gemuk sehingga ia tidak perlu lagi untuk makan walaupun hal ini dapat membahayakan dirinya. Dalam men ghadapi hal diatas perawat dapat melakukan intervensi melalui upaya meningkatkan kemampuan adaptasi Merry sehingga ia mampu berespon konstruktif terhadap faktor stresnya, melalui pengalaman Merry selama berinteraksi dengan perawat di rumah sakit diharapkan akan meningkatkan upaya partisipasi aktif dari Merry untuk keluar dari stres yang melanda dirinya, sehingga selanjutnya agar ia dapat memahami dan membenarkan arti serta manfaat yang didapat dari pengalamannya tersebut. Tahap selanjutnya adalah pembuatan tujuan dari kolaborasi antara perawat dan klien, pada tahap ini di jelaskan kepada klien semua aktivitas yang akan dilakukan oleh perawat dan klien sekaligus menentukan masalah utama yang harus didefinisikan, pada diskusi kasus ini adalah gangguan asupan makanan / nutrisi berkaitan dengan penyimpangan persepsi atau pencitraan diri klien. Tahap berikutnya adalah mengklasifikasian jenis dan tingkat keparahan kelainan yang diderita klien, sehingga dapat dibuat suatu model bentuk intervensi yang harus diambil sebagai prioritas. Dalam pembuatan dan pemilihan model bentuk intervensi, seyogyanya klien juga terlibat banyak dalam proses tersebut sehingga secara bersama klien dapat memahami tujuan kolaborasi yang sesuai bagi dirinya serta dapat berpartisipasi untuk mencapai tujuan tersebut . Dalam tiap proses keperawatan klien, perawat akan mengkaji dan mengintervensi secara berbeda, jenis dukungan p erawat dalam membantu klien akan sangat berbeda tergantung pada jenis keperluan pencegahan yang akan dilakukan, apakah pencegahan primer, sekunder atau tersier. Kembali pada diskusi kasus, perawat dapat menilai sampai dimana faktor stress ini mempengaruhi Merry. Jika pengaruh stress ada di lingkungannya tapi belum merusak garis pertahanan normal dalam hal ini ia masih belum terlampau terpengaruh baik secara fisik (berat badan masih dalam batas normal) dan secara psikis ia masih belum terlalu terobsesi (masih mau menerima asupan makanan walaupun agak enggan). Pada keadaan terse but dapat dilakukan model asuhan keperawatan tingkat pencegahan primer, pada derajat ini perawat harus mengkaji faktor-faktor resiko yang mempengaruhi Merry melalui pendekatan pada ibunya, teman dekatnya yang tentu saja tidak sakit seperti Merry dan selanjutnya mencari kemungkinan untuk membantu memberikan pemahaman sesuai dengan kebutuhannya, misalnya dalam bentuk dukungan semangat, empathy dsb yang dapat membantu mempercepat proses penyembuhan .

Model Konsep & Teori Keperawatan - Diskusi Kasus

17

Jika pengaruh stres telah menembus garis pertahanan normal Merry dalam hal ini telah terjadi pengaruh yang cukup hebat dan cukup dalam baik bagi kesehatan umum (telah muncul penurunan berat badan yang berlebihan) maupun psikis (telah muncul keengganan untuk menyantap makanan yang cukup kuat sehingga melihat makanan pun Merry akan enggan bahkan muntah -muntah), maka pada keadaan tersebut perawat melakukan upaya asuhan keperawatan tingkat pencegahan sekunder. Pada tahap ini perawat harus bertindak untuk melakukan kajian lebih dalam lagi semua faktor risiko dan semua f aktor yang berperan dan dapat muncul pada keadaan ini, hal tersebut dilakukan untuk menentukan sifat dan beratnya proses kelainan atau penyakit tersebut secara fisik. Dalam hal ini peran kolaborasi dengan mitra lain dalam menilai besarnya pengaruh penyakit tersebut terhadap kerusakan pada organ pencernaannya maupun organ lain sangat diperlukan (infeksi paru akibat adanya penurunan daya tahan tubuh). Pada keadaan ini mungkin akan lebih sulit bagi perawat dalam melakukan upaya kolaborasi dengan Merry dikarenakan mungkin sudah terdapat respons maladaptif dari Merry berupa keengganan ataupun menolak untuk dibantu, sangat diperlukan kesabaran dan dan dukungan sisi kejiwaan dari mitra kerja lain dalam upaya pendekatan. Perlu dilakukan upaya untuk menggalan dukungan dari keluarga, teman dekat, mitra kerja lain bahkan sejawat perawat spesialisasi jiwa sangat diperlukan. Jika pengaruh stres merasuk masuk jauh begitu dalam pada diri Merry dan sudah demikian mempengaruhi dan merusak pola pikir normatif pada dir inya dan mungkin sudah menghasilkan gejala-gejala sisa (pada kasus terlambat berobat), maka pada keadaan ini perawat malakukan model asuhan keperawatan tingkat pencegahan tertier. Pada keadaan ini p erawat berusaha untuk membatasi atau mengurangi efek destruksi yang masih ada yang mungkin masih dapat merusak fisik dan psikis klien, pada tahap ini dibutuhkan upaya kolaborasi dengan sejawat lain dari bidang rehabilitasi . Ringkasnya perawat menggunakan model Newman sebagai upaya dalam memberikan intervensi keperawatan yang diperlukan dan sebagai sumber dalam mengevaluasi hasil intervensi yang dilakukan.

Model Konsep & Teori Keperawatan - Diskusi Kasus

18

III.

Kesimpulan

Keseluruhan teori keperawatan diatas merupakan teori dasar utama yang harus diaplikasikan dalam seluruh praktek keperawatan langsung di lapangan dalam bentuk kombinasi yang saling mengisi, kelemahan pada satu teori dapat ditutupi dengan teori yang lain, Dalam praktek langsung dilapangan sangat diperlukan pemahaman dasar yang sempurna sebab aplikasi teori tersebut akan berbeda pada kasus yang berbeda, diperlukan pengalaman dalam mengaplikasikannya sehingga dapat diperoleh manfaat yang besar karena pemahaman yang baik dalam menentukan letak keutamaan dan fokus penekanannya. Upaya pendalaman pemahaman berbagai teori diatas sangat diperlu kan dalam rangka membiasakan diri untuk selalu terampil dalam memilah dan memilih teori yang akan diaplikasikan ataupun mengkombinasikan teori -teori mana yang akan dipadukan, untuk itu diperlukan latihan yang lebih sering dan lebih banyak lagi.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->