P. 1
LAPORAN IUT

LAPORAN IUT

2.0

|Views: 1,465|Likes:

More info:

Published by: Ade Ryan 'purnomo Pamungkas' on Jun 12, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/28/2014

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Ilmu ukur tanah (Plane Surveying) adalah ilmu yang mempelajari tentang pengukuran-pengukuran pada sebagian permukaan bumi guna pembuatan peta serta memasang kembali titik-titik dari peta ke lapangan (unitzet) untuk maksud-maksud tertentu. Pengukuran yang dimaksud diperlukan untuk menentukan letak relatif titik-titik di permukaan bumi dengan cara pengukuran mendatar untuk mendapatkan hubungan mendatar titik-titik yang diukur di permukaan bumi dan pengukuran-pengukuran tegak untuk mendapatkan hubungan tegak antara titiktitik yang diukur. Dari hasil pengukuran di lapangan kemudian data ini diselesaikan secara matematis untuk meratakan kesalahan (koreksi), kemudian digambar di atas kertas dalam bentuk peta. Ilmu ukur tanah merupakan bagian dari ilmu Geodesi. Dalam ukur tanah tidak diperhatikan adanya kelengkungan bumi dan sinar, hanya dihindari agar kelengkungan bumi dan sinar tersebut tidak berpengaruh terhadap hasil ukuran.

Laporan pratikum IUT 2011

Page 1

1.2. Tujuan Praktikum Adapun tujuan dilaksanakannya praktikum ilmu ukur tanah I ini adalah sebagai berikut : a. Agar mampu melakukan pengukuran dengan alat penyipat datar secara terampil dan benar. b. Untuk mengetahui jarak dan beda tinggi titik-titik di atas permukaan bumi. c. Agar mahasiswa mampu mempraktekkan penyipat datar memanjang di lapangan dengan alat penyipat datar dan perlengkapannya serta menuliskan data pembacaan rambu ukur pada tabel pengukuran secara benar.

1.3. Volume Pekerjaan Volume pekerjaan adalah urutan kegiatan saat praktikum dilaksanakan. Berikut adalah hal-hal yang akan dilakukan selama praktikum di laksanakan : a. b. Persiapan perlengkapan alat ukur.

Persiapan pengukuran. c. Pengukuran sipat datar memanjang.

d. e.

Pengukuran sipat datar profil melintang. Perhitungan kesalahan (koreksi) dari data pengukuran.

Laporan pratikum IUT 2011

Page 2

5. 1.1. Waktu dan Pelaksanaan Praktek pengukuran dilapangan dilakukan di kompleks kampus Universitas Palangkaraya.00 WIB dan berakhir pada pukul 17.5. Metode Penulisan Pencatatan data hasil pengukuran lapangan dan penyusunan laporan praktikum ilmu ukur tanah I ini menggunakan metode penulisan berdasarkan studi lapangan dan studi literatur. Pengukuran dilakukan pada tanggal 12 dan 13 Oktober 2010 dimulai sekitar pukul 08.5. Studi Lapangan Metode penulisan yang digunakan untuk pengisian data pada tabel hasil pengamatan praktikum ilmu ukur tanah ini adalah dengan studi lapangan atau pengamatan langsung di lapangan praktek. 1. di jalur depan perpustakaan sampai depan kampus ekonomi. Studi Literatur Metode penulisan yang digunakan untuk menghitung data hasil pengamatan lapangan serta penyusunan laporan adalah dengan metode literatur Laporan pratikum IUT 2011 Page 3 .1.2.4. 1.00 WIB.

1.00 WIB. dan lensa penyetel pusat. Orientasi Lapangan Praktikum ilmu ukur tanah ini dilaksanakan di sekitar kampus UNPAR. rambu ukur. 2. tabel pengukuran. BAB II DASAR TEORI 2. Berikut adalah penjelasan mengenai alat ukur serta bagian-bagiannya.00 – 17.atau berdasarkan rumusan-rumusan yang didapat dari berbagai macam sumber buku yang berhubungan dengan ilmu ukur tanah. payung. Pengenalan Alat Ukur Perlengkapan yang digunakan untuk melakukan pengukuran adalah alat penyipat datar (waterpass). Cuaca saat pengukuran cerah pada pukul 08. lensa okuler. Waterpass Bagian-bagian penting dari alat Waterpass : Teropong jurusan Teropong jurusan terbuat dari pipa logam. a.2. serta alat tulis dan kalkulator. Dan dimulai dari depan perpustakaan .Gedung Rektorat – Kampus Bahasa Inggris – Kampus Pertanian – Kampus Teknik sampai di depan Kampus ekonomi. pita ukur 50 m. di dalamnya terdapat susunan lensa-lensa yang terdiri dari lensa objektif. Laporan pratikum IUT 2011 Page 4 . statip.

Di dalam teropong terdapat pula pelat kaca yang dibalur dengan bingkai dari logam (diafragma). Laporan pratikum IUT 2011 Page 5 . sedang pada pelat kaca terdapat goresan benang silang.

Garis singgung pada titik tertinggi (tengah lingkaran) disebut garis arah niveau. mengatur agar garis arah niveau berubah dari keadaan semula terhadap garis bidik teropong dan sumbu tegak Sekrup koreksi diafragma.Niveau Niveau adalah suatu alat yang digunakan sebagai sarana untuk membuat arah-arah horizontal dan vertikal. Sekrup penyetel. Menurut bentuknya niveau dibagi menjadi dua macam yaitu niveau kotak dan niveau tabung. Niveau kotak dikatakan seimbang jika gelembung berada di tengahtengah. Bagian kecil kotak itu tidak berisi zat cair. sehingga bagian ini dari atas terlihat sebagai gelembung. Cara mengaturnya dengan memutar tiga sekrup penyetel. Pada waterpass yang digunakan adalah niveau kotak. mengatur kedudukan garis bidik teropong agar berubah terhadap garis arah niveau dan sumbu tegak. bidang atas dari gelas diberi bentuk bidang lengkung dengan jari-jari besar. terdiri atas kotak dari gelas yang dimasukkan dalam montur dari logam sedemikian hingga bagian atas tidak tertutup. Niveau kotak. Titik teratas ditandai dengan lingkaran yang digambar di atas gelas. Laporan pratikum IUT 2011 Page 6 . Kotak tersebut diisi dengan cairan atsiri (ether atau alkohol). mengatur kedudukan bagian atas seluruhnya berubah terhadap bagian bawah. Sekrup-sekrup pada waterpass dan fungsinya: Sekrup koreksi niveau.

5 m atau 2 meter. tiap-tiap cm adaah blok merah. Niveau Kotak Waterpass yang digunakan saat praktikum Waterpass Modern b. bahkan ada yang 5 meter. untuk pengangkutannya.- Sekrup helling. Mistar / Rambu Ukur Umumnya terbuat dari kayu atau besi. maka mistar ini dapat dilipat menjadi 1. merah-putih dan hitam-putih untuk memudahkan pembacaan meter. panjangnya antara 3-4 meter. Skala mistar dibuat dengan cm. putih atau hitam. mengatur kedudukan garis bidik dan garis arah niveau bersama-sama berubah terhadap sumbu tegak. Tiap-tiap meter diberi warna yang berlainan. Laporan pratikum IUT 2011 Page 7 . Karena panjangnya.

Statip mempunyai 3 kaki yang berfungsi untuk menyeimbangkan berdirinya statip. meja statip harus rata karena dapat mempengaruhi seimbangnya gelembung pada niveau. Statip Statip adalah salah satu perlengkapan pengukuran yang berfungsi sebagai kaki untuk meletakkan waterpass. Saat mendirikan statip.Rambu Ukur Praktikum Rambu Ukur c. Statip saat Praktikum Statip Modern Laporan pratikum IUT 2011 Page 8 .

Payung Dalam pengukuran di lapangan. Pita ukur ini di gulung dalam kotak bulat yang disebut rol. Pita Ukur e. sampai 50 meter.d. 15. 30. payung juga memiliki peran penting. Panjang pita ukur ada yang 10. 20. Pita Ukur Pita ukur terbuat dari kain diberi benang dari tembaga dimasukkan dalam minyak cat yang masak. yaitu sebagai pelindung waterpass dari sinar matahari agar cairan niveau tidak menguap. payung Laporan pratikum IUT 2011 Page 9 .

f. Alat tulis dan Kalkulator Alat tulis dan kalkulator. Patok Paku Laporan pratikum IUT 2011 Page 10 . untuk mencatat data dan menghitung koreksi kesalahan pembacaan benang. g. Tabel Pengukuran Data hasil pembacaan benang dimasukkan ke dalam tabel pengukuran untuk memudahkan analisa data. dimana pada jarak tertentu setelah pengukuran dilakukan penandaan dengan menggunakan patok/paku. Patok kayu dan paku Berfungsi sebagai penandaan awal pengukuran dan hasil pengukuran. Tabel Pengukuran Alat Tulis & Hitung h.

Jarak antara profil melintang pada graris proyek melengkung dibuat lebih kecil dari garis proyek yang lurus. Maksudnya adalah.2. Salah satu cara yang digunakan pada pengukuran sipat datar memanjang adalah cara menyipat datar dari tengah-tengah. Bila dua titik tentu itu terletak jauh dengan jarak yang lazimnya dibuat kira-kira 2 km. sedang di titik A dan B ditempatkan dua mistar. Pengukuran Sipat Datar Memanjang Pengukuran menyipat datar dimaksudkan untuk menentukan beda tinggi antara dua titik. Profil melintang harus pula dibuat di titik-titik permulaan dan titik akhir garis proyek melengkung. maka beda tinggi antara dua titik itu ditentukan dengan mengukur beda tinggi titik-titik penolong yang dibuat antara dua titik yang tentu itu.4.3. Dengan cara ini dapat disimpulkan bahwa beda antara pembacaan mistar belakang dan mistar muka akan menjadi beda tinggi. alat ukur penyipat datar ditempatkan antara titik A dan B. Cara ini memberi hasil paling teliti. Jarak antara alat penyipat datar dan kedua mistar kirakira diambil jarak yang sama. Laporan pratikum IUT 2011 Page 11 . karena kesalahan yang mungkin masih ada pada pengukuran dapat saling memperkecil. Pengukuran Sipat Datar Profil Melintang Profil melintang adalah irisan tegak lurus pada sumbu proyek dan pada tempat-tempat penting yang didapatkan dari jarak dan beda tinggi titik-titik di atas permukaan bumi. 2. Profil melintang dibuat dengan lebar 50 m-100 m kiri kanan garis proyek.

hanya jarak-jarak adalah pendek bila dibandingkan dengan jarak-jarak pada profil memanjang.Pengukuran profil melintang adalah untuk menghitung banyaknya tanah. Untuk menghitung penggalian tanah atau penimbunan tanah. Cara pengukuran profil melintang sama dengan cara pengukuran profil memanjang. baik yang digali maupun untuk menimbuni. cukup diambil jumlah rata-rata penggalian tanah atau penimbunan tanah yang didapat dari dua profil melintang yang berdekatan diperbanyak jarak antara dua profil melintang itu. Laporan pratikum IUT 2011 Page 12 .

b.BAB III PELAKSANAAN PRAKTIKUM 3. c. Setelah nivo disetimbangkan. perlu dilakukan persiapan. Pemeriksaan tersebut dilakukan dengan dua macam pemeriksaan. Berikut langkah-langkah pemeriksaan alat penyipat datar : a. Untuk mengetahui apakah penyipat datar yang akan digunakan telah memenuhi syarat tersebut. misalnya b meter. d. arahkan teropong ke rambu A. Laporan pratikum IUT 2011 Page 13 . bacalah benang tengahnya. alat tersebut harus dikoreksi. Pemeriksaan alat penyipat datar. maka harus diperiksa dahulu. Syarat utama alat penyipat datar adalah garis bidik penyipat datar. Hitung beda tinggi AB dengan rumus : HAB = a – b meter . yaitu garis yang melalui titik potong benang silang dan berimpit dengan sumbu optis teropong. Arahkan teropong ke rambu B.1. yaitu : a. Dirikan rambu ukur di titik A dan B. serta pasang alat penyipat datar pada statip yang didirikan di tengah-tengah A dan B. lalu bacalah harga benang tengahnya. Persiapan Sebelum pelaksanaan praktikum dimulai. misalnya a meter. Apabila belum memenuhinya. harus mendatar. Beberapa persiapan yang perlu dilakukan antara lain : Pemeriksaan dan Koreksi Alat Penyipat Datar.

b. Pindahkan penyipat datar ke C yang berjarak 50 m dari B. Arahkan garis bidik ke angka y pada rambu A. Arahkan teropong ke rambu A dan B. kemudian setimbangkan kembali nivo. Hitung kembali beda tinggi A dan B dengan rumus : HAB = c – d meter. Untuk pemeriksaan. Apabila harga beda tinggi pada langkah h = pada langkah e. Hitung harga x dan y dengan rumus : x = ½ (a – b – c + 3d) .b)m atau berselisih maksimal 2 mm. alat tersebut harus dikoreksi kembali dengan cara seperti di atas. berarti alat tersebut harus dikoreksi. c. arahkan garis bidik ke rambu B maka garis tersebut harus mengarah ke angka x. Laporan pratikum IUT 2011 Page 14 . misalnya berturut-turut adalah c dan d meter. bila berbeda jauh. Berikut langkah-langkah untuk mengoreksi alat sipat datar : a. maka alat penyipat datar tersebut telah memenuhi syarat. Jika hasilnya sama dengan (a . berarti alat tersebut telah siap dipakai. Jika lebih. Koreksi alat penyipat datar. d. g. Hitung HAB = (y – x) m. dengan memutar sekrup koreksi benang silang.e. f. Namun. y = ½ (3a – 3b – c + 3d) b. lalu pada masing-masing rambu baca harga benang tengahnya.

B. Persiapan Tabel Pengukuran Penyipat Datar dan Penampang Ada bermacam-macam bentuk tabel pengukuran penyipat datar dan penampang. h. i. k. e. c. f. b. Kondisi cuaca Nomor patok Benang atas Benang tengah Benang bawah Tanggal Sedangkan data yang perlu dicantumkan dalam tabel pengukuran penampang sebagai berikut : Laporan pratikum IUT 2011 Page 15 . j. d. Nama juru ukur Nama alat Nomor seri alat Lokasi pengukuran Nomor jalur g. namun pada dasarnya tabel tersebut dibuat secara sistematis untuk memudahkan para juru ukur memasukkan data. Data yang perlu dicantumkan dalam tabel pengukuran penyipat datar antara lain : a.

melalui titik A. t. Benang tengah 3. b. dan D yang akan di ukur ketinggiannya. C. k. s. j. g. Nama juru ukur Nama alat Nomor seri alat Lokasi pengukuran Nomor halaman Nomor jalur Tanggal Kondisi cuaca Nomor patok Tinggi patok Tinggi alat l. e. B. n. P1 P2 P3 P4 P5 P6 B BM P A C Laporan pratikum IUT 2011 Page 16 D BM Q . r. c. Benang atas Benang bawah Tinggi garis bidik Tinggi titik Tinggi tanah Jarak optis Jarak antar rambu Jarak stasion Sketsa m.a. o. q. i. d. u.1 Pelaksanaan Pengukuran Sipat Datar Memanjang Misalnya pengukuran dimulai dari titik tetap atau ”bench mark” P dan berakhir di titik tetap Q yang masing-masing diketahui ketinggiannya. p. h. f.

h = btbelakang . dan masukkan data hasil pembacaan benang pada kolom ”KEDUDUKAN II”. lalu baca benang atas (ba). ulangi langkah c dan d. Geser statip kemudian penyipat datar diseimbangkan lagi. BM P pada kolom ”NOMOR TITIK”. positif atau negatif. Tulis hasil hitungan tersebut pada kolom ”h1”. penyipat datar dipasang pada statip yang didirikan di antara BM P dan titik A. Periksa selalu semua data tersebut dengan rumus : bt = (ba + bb)/2 Data pengukuran dimasukkan ke dalam tabel. d. dan data pembacaan rambu pada kolom ”KEDUDUKAN I”. dan jangan lupa menulis tandanya. pengukuran penyipat datar memanjang a. e. benang tengah (bt). kemudian masukkan datanya pada kolom ”KEDUDUKAN I”. g.Gambar 1. baca benangnya. b.btmuka f. c. Putarlah teropong sehingga menghadap ke rambu P2 pada titik A. Hitung beda tinggi BM P dan titik A dengan rumus : Laporan pratikum IUT 2011 Page 17 . Teropong diarahkan ke rambu P1 di BM P. Setelah dikoreksi. benang bawah (bb). Rambu ukur P1 didirikan tegak di atas titik BM P dan rambu P2 di atas titik A. lalu diseimbangkan.

2 Pelaksanaan Pengukuran Sipat Datar Profil Melintang Setelah perlengkapan praktikum telah siap. Jika melebihi.Pengukuran penyipat datar dengan mengubah kedudukan seperti ini disebut pengukuran ”Double Stand”. Selisih h1 dan h2 tidak boleh lebih dari 5 mm. P1 a1 b1 A P2 a2 b2 B P3 a3 b3 c1 Laporan pratikum IUT 2011 d1 P1 A c2 d2 P2 B c3 d3 P3 Page 18 . dan alat penyipat datar telah di koreksi. Hitung beda tinggi BM P dan titik A dengan rumus pada langkah e. i. 3. Bilamana tidak terdapat minimal dua buah titik BM. Ulangi langkah-langkah seperti di atas. selanjutnya dapat dilakukan pengukuran sipat datar profil melintang. h. Seringkali pengukuran penyipat datar harus dilakukan ”pulang- pergi” untuk memperoleh data yang teliti. pengukuran seksi tersebut harus diulang. Lakukan langkah-langkah tersebut sampai salah satu rambu didirikan di titik terakhir BM Q. j. pengukuran harus dengan ”kring tertutup”. yaitu pengukuran melingkar kembali ke titik awal. Pindahkan statip dan waterpass pada titik antara titik A dan B. dan tuliskan hasilnya pada kolom ”h2”.

b. d. lalu setimbangkan nivo. Dan masukkan tiap hasil pembacaan data pada tabel pengukuran serta periksa setiap data dengan rumus pada langkah b. Periksa setiap data dengan rumus : bt = (ba + bb)/2 c. Penyipat datar didirikan di titik A yang berada di antara titik P1 dan P2. Pindahkan rambu ke kiri dan kanan patok P1 tegak lurus sumbu proyek di beberapa titik di tanah yang mewakili penampang tanah. sampai seluruh titik detail melintang sumbu proyek tiap 200 m di ukur. Laporan pratikum IUT 2011 Page 19 . pengukuran penampang melintang (dilihat dari atas) Berikut adalah tata cara pengukuran melintang : a. Rambu ukur didirikan di titik P1. Arahkan teropong pada rambu P1. catat data tersebut pada tabel pengukuran. Lakukan hal yang sama di setiap titik perpindahan sejauh 200 m. benang tengah (bt). Ukur tinggi alat (TA). benang bawah (bb). dengan memindahkan waterpass dan rambu ukur ke titik berikutnya.Gambar 2. Catat data benang atas (ba).

selanjutnya data tersebut akan dianalisis. pengukuran dapat segera diulang. c. Hitung beda tinggi rata-rata kedudukan I dan II. lalu hitung selisih tinggi BM Q (Hq) dan BM P (Hp). Perhitungan Data Pengukuran Sipat Datar Memanjang Setelah proses pengukuran tanah telah selesai dilakukan dan semua data hasil pembacaan telah dimasukkan ke dalam tabel hasil pengukuran. untuk selanjutnya dapat digambarkan ke dalam peta. ada baiknya untuk selalu menghitungnya kembali dengan kalkulator.BAB IV PENGOLAHAN DATA Saat melakukan pengukuran di lapangan proyek. b. Jumlahkan seluruh beda tinggi. Syarat matematisnya adalah : ∆h = Hq – Hp . Beda tinggi antara pembacaan benang muka dan belakang tidak boleh lebih dari 5 mm. Berikut adalah tata cara perhitungan penyipat datar : a.bb) x 100. 4. Untuk itu setiap kali pembacaan benang dan memasukkan data ke tabel pengukuran. agar jika terjadi kesalahan pembacaan benang. Cantumkan hasilnya pada kolom hrata2 di baris yang sesuai. setiap data hasil pembacaan benang harus dimasukkan ke dalam tabel pengukuran.1. Hitung jarak optis dengan rumus : Doptis = (ba . Cantumkan hasilnya pada kolom Doptis di baris yang sesuai. Setelah pengukuran selesai dilaksanakan. hasil pengukuran tersebut akan dianalisa untuk mengetahui tinggi tanah di sekitar lapangan proyek.

e. dengan rumus : k = . hitung tinggi titik-titik lainnya dengan rumus : H2 = H1 + ∆h12 Dengan : H2 = tinggi titik yang akan ditentukan H1 = tinggi titik yang sudah diketahui ∆h12 = beda tinggi antara kedua titik Cantumkan harga tinggi ini pada kolom ”TINGGI H” pada baris yang sesuai. Besar koreksi (k) diberikan menurut perbandingan jarak (d). Kesalahan yang masih dalam batas toleransi harus dikoreksi agar memenuhi syarat matematis (c). 4. Hitung batas toleransi pengukuran tersebut dengan rumus : Toleransi = ± (12 √Dkm) mm. Perhitungan Data Pengukuran Profil Melintang Setelah proses pengukuran detail melintang lapangan telah selesai dilakukan dan semua data hasil pembacaan telah dimasukkan ke dalam tabel hasil . Dengan demikian harga tinggi seluruh titik tersebut dapat diketahui. dan harga kesalahan dapat dihitung dengan rumus : Hq – Hp .∆h d. f.2.Karena dalam setiap pengukuran selalu terjadi kesalahan (galat) maka syarat tersebut tidak akan terpenuhi.(d/dtotal) x kesalahan i = nomor titik Cantumkan besar koreksi tersebut tepat di bawah masing-masing beda tinggi yang sesuai.

Jarak optis ini harus diubah menjadi jarak antar rambu. serta hitung jarak antar titik. Hitung jarak optis dengan rumus : Doptis = (ba – bb) x 100. h. Hitung tinggi tanah dengan rumus : Tinggi tanah = tinggi titik – tinggi patok. Hitung tinggi garis bidik (TGB) dengan rumus : TGB = tinggi BM + benang tengah. selanjutnya data tersebut akan dianalisis. h. Hitung tinggi titik detail dan titik patok dengan rumus : Tinggi titik = TGB – benang tengah f. Hitung tinggi titik detail penampang melintang. Dalam perhitungan penampang melintang. g. . d. c.pengukuran. hitung garis bidik dengan mengacu pada tinggi titik P2. b. Misalnya tinggi titik P1 = x m. Hitung jarak stasion dengan rumus : Jarak sta = sta belakang + jarak antar titik. Hitung tinggi titik A dengan rumus : Tinggi titik berdiri alat – TGB – tinggi alat. i. Hitung jarak optis dengan rumus : Jarak optis = 100 x (ba – bb). Untuk seksi berikutnya. e. Berikut adalah tata cara perhitungan profil melintang : a. salah satu atau beberapa titik harus diketahui tingginya.

. beda tinggi.1. Dan menjelaskan bagian-bagian dari alat-alat ukur tersebut. BAB V PENUTUP 5.j. Lakukan perhitungan seperti di atas untuk seksi-seksi berikutnya sampai seluruh titik yang diperlukan dapat diketahui tinggi dan jaraknya. Dalam penggunaan alat ukur jarak. baik itu untuk pengukuran jarak.2. KESIMPULAN Makalah ini berusaha untuk menjelaskan sejelas-jelasnya tentang alat ukur tanah yang digunakan dalam pengukuran daerah-daerah tertentu di permukaan bumi. sudut kita harus mengetahui fungsifungsi dari bagian alat ukur tersebut agar tidak terjadi kesalahan pengukuran dilapangan. SARAN Sebelum menggunakan alat ukur sebaiknya mengetahui dulu fungsi bagian-bagian alat ukur tersebut dengan sebaik-baiknya. 5. pengukuran beda tinggi dan pengukuran sudut.

2000. Ruiter. 1999. Briker. Mengukur dan Menentukan Titit-Titik di Lapangan. Pengukuran Dan Pemetaan Pekerjaan Konstruksi. Ilmu Ukur Tanah. Indra. Web-web Internet . Seotomo. Jakarta : Erlangga. Yogyakarta : Kanisius.Daftar Pustaka Sinaga. 2000. ing D. de. Jakarta: Erlangga. 1980. Jakarta: Erlangga. Dasar-Dasar Pengukuran Tanah. Wongsotjitro. Russell C.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->