P. 1
MAKALAH KASUS 1

MAKALAH KASUS 1

|Views: 706|Likes:
Published by Muzwa Wasilah

More info:

Published by: Muzwa Wasilah on Jun 12, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/26/2013

pdf

text

original

MAKALAH KASUS 1

KEPERAWATAN KOMUNITAS
DETERMINANT OF HEALTH, LEVEL OF PREVENTION,
DAN DEMOGRAPHY

Oleh :
Tutor 4
Nanda Andriana 220110090014
Anisa Nevia Apriyani 220110090023
Sinta Wijayanti 220110090024
Erita Yunistisia Rosdani 220110090039
Vinda Dwi Oktoviyanda 220110090064
Gina Mandasari 220110090071
Khoirunnisa Ahmad 220110090075
Elly R K 220110090078
Hinin Wasilah 220110090081
Sandra Putri 220110090090
Tiktik Tasyrikah 220110090097
Yolanda Viora S 220110090109


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2011



Kasus 1
DETERMINANT OF HEALTH, LEVEL OF PREVENTION, DEMOGRAPHY

Masyarakat di RW 14 Kel. Y terdiri dari 525 jiwa penduduk yang terdiri dari dari 250
orang laki laki dan 275 orang perempuan. Berdasarkan jumlah penduduk tersebut 58 %
(303) orang termasuk pada usia produktif ( 15 ± 49 ) tahun, bayi dan balita 15 %, usia 6-
14 tahun 12 %, dan usia lansia 15 %. Crude Birth Rate (CBR) 1,7 %, Crude Death Rate
(CDR) 1,3% pada pertengahan tahun berjalan. 48 % termasuk pada kategori keluarga
miskin. Tingkat pendidikan penduduk usia produktif : 14 % tidak sekolah sama sekali,
50 % tamat SD, 22% tamat SMP, 10 % tamat SMA, dan sisanya tamt perguruan tinggi.
Mata pencaharian penduduk sebagian buruh tani 50%, wiraswasta 20%, PNS 10%, tidak
bekerja 20 %. Usia harapan penduduk 68 tahun. Sebagian penduduk (90%) memiliki
rumah semi permanen, dan 9 % rumah tidak permanen. 57 % menggunakan air sungai
sebagai sumber air bersih dan juga untuk mandi cuci kakus.

Berdasarkan hasil pendataan, 20 % mengalami ISPA, 15 % diare, 10 % hipertensi, dan 2
% mengalami kelumpuhan akibat rematik. Sebanyak 60 % penderita hipertensi memiliki
riwayat keluarga yang menderita hipertensi. Masyarakat sudah sepakat untuk
mengadakan kegiatan jumat bersih setiap minggunya untuk menjaga kebersihan. Untuk
mengatasi masalah hipertensi pada lansia dilaksanakan kegiatan pemeriksaan, tekanan
darah secara rutin setiap bulan oleh tenaga kesehatan. Untuk masyarakat yang telah
mengalami kelumpuhan akibat rematik, petugas kesehatan melakukan latihan gerak
pasif dirumah pasien secara teratur.









STEP 1
1. Crude Birth Rate (CBR) (Sinta)
- Angka Kelahiran (Vinda)
- Angka Kelahiran Kasar (Nanda)
2. Crude Death Rate (CDR) (Erita)
- Angka rata-rata Kematian (Vinda)
3. Usia harapan hidup (Vinda)
- Rata-rata hidup sampai dengan usia tertentu. (Khoirunisa)

STEP 2
1. Adakah upaya lain dari petugas kesehatan? (Gina)
2. Cara menghitung CBR dan CDR? (Nanda)
3. Tujun pendataan dan tindak lanjut setelah pendataan? (Putri)
4. Pemicu penyakit karena kebiasaan kerja, gaya hidup, atau apa? (Nevia)
5. Dampak positif dan negatif penggunaan air sungai? (Putri)
6. Efek signifikan dari pengobatan itu apa? Sudah terasa belum? (Khoirunisa)
7. Pendidikan seperti apa yang akan diberikan kepada masyarakat? (Erita)
8. Tindakan pemerintah untuk menanggulangi kasus tersebut? (Yolanda)
9. Pencegahan ISPA dan Diare? (Sinta)
10. Perbedaan struktur dan keadaan rumah permanen dan semi permanen? (Yolanda)
11. Penyuluhan apa yang harus diberikan untuk mencegah penyebaran hipertensi kepada
generasi selanjutnya? (Tiktik)
12. Status gizi masyarakat seperti apa?(Hinin)
13. Gaya hidup yang harus diajarkan kepada klien menengah kebawah? (Elly)
14. Sistem pengelolaan sampah yang baik seperti apa? (Elly)
15. Lapangan pekerjaan apa yang dapat diciptakan untuk mencegah kemiskinan? (Elly)
16. Tindakan untuk menyadarkan tentang pentingnya kesehatan? (Hinin)
17. Tahap-tahap untuk memperbaharui kondisi masyarakat seperti ini apa saja? Berapa lama
waktu yang dibutuhkan? (Gina)
18. Tahap-tahap terjadinya masalah? (Elly)

STEP 3
1. (Vinda), Hipertensi: senam jantung sehat; Reumatik: olahraga secara teratur, sedikit-
sedikit.
(Tiktik), Hipertensi (banyak faktor): penyuluhan mengenai status makanan sehat,
aktivitas, dll.
(Erita), penerapan dan penyuluhan PHBS.
(Yolanda), pendekatan ke anak-anak mengenai PHBS.
2. (Vinda), CBR=(Jumlah yang lahir:jumlah penduduk)x100%, CDR=(jumlah
kematian:jumlah penduduk)x100%
3. Tujuan: untuk melihat perkembangan masyarakat dari berbagai aspek (ekonomi,
pendidikan, kesehatan).
Tindak lanjut: untuk mencari solusi masalah dan pencegahan.
4. (Nanda, Sinta), Pemicu ISPA: sanitasi lingkungan tidak bersih; Pemicu Diare: sumber air
kurang baik, makanan kurang sehat; Rematik: lingkungan yang buruk; Hipertensi: Pola
hidup
5. (Nanda), dampak positif: pengairan sawah, sumber penghasilan(ikan), sumber listrik.
(sinta), dampak negatif: penyebaran penyakit.
6. Bila dilakukan secara rutin akan menurunkan persentasi penyakit, mencegah banjir, dan
menurunkan jumlah kuman.
7. (Elly, Gina, Hinin, Vinda), pembuatan jalan dari batu kerikil, olahraga, jalan, posisi
angkat barang saat bekerja.
8. (Putri), Program GAKIN diefektifkan, Prosedur GAKIN harus mudah dan benar,
Membuat air bersih.
(Hinin), Anggaran kesehatan ditingkatkan.
9. (Khoirunisa), pengelolaan tempat pembuangan sampah
(Yolanda), penyuluhan mengenai penggunaan air sungai y6ang benar, membangun toilet
bersama, membangun rumah dengan memperhatikan ventilasi.
(Putri), Antar rumah harus ada jarak, pembuatan sumur.
10. (Erita), Rumah permanen: rumah sendiri; Rumah semi permanen: rumah sewa.
(Khoirunisa), Rumah permanen: terbuat dari bata, lebih kokoh dan aman; rumah semi
permanen: terbuat dari bilik atau kayu.
11. (Gina), pola makan, aktivitas, dan Olahraga.
12. (Yolanda), menengah kebawah p tinggi garam p Hipertensi.
13. (Nevia), cara memasak, sanitasi air, ganti sprei teratur, olahraga, perawatan rumah.
14. (Khoirunisa), data perubahn kesehatan (grafik peningkatan dan penurunan penderita
penyakit)
(Tiktik), peningkatan pengetahuan tentang pentingnya KB.
(Nanda), Angka status pendidikan.
(Elly), Jumlah kepala keluarga dalam satu rumah.
15. (Putri), dikubur, dibakar.
16. (Gina), dipisahkan antara samapah organik dan nonorganikuntuk menciptakan lapangan
pekerjaan.
(Khoirunisa), sampah organik ditimbun, sampah nonorganik diolah.
(Yolanda), pemberian pelatihan tentang pengolahan sampah.
(Nanda), sampah organik dikubur dengan beberapa meter kedalaman, dan dijadikan
pupuk.
17. (erita), penyuluhan PHBS, penyuluhan makanan sehat, penyuluhan tentang pentingnya
tong sampah.
18. (Nanda), pencegahan primer, sekunder dan tersier.
(Vinda), pencegahan primer:pencegahan paling prioritas, lakukan pendekatan tentang
pentingnya kesehatan; pencegahan sekunder: pengobatan penyakit; pencegahan tersier:
pencegahan yang belum terjadi.
(Elly), pencegahan primer: pencegahan yang dilakukan sebelum terjadinya suatu
penyakit; pencegahan sekunder: dilakukan setelah terjadi penyakit tetapi belum parah;
pencegahn tersier: dilakukan setelah terjadi penyakit dan sudah parah.
19. (Hinin), ekonomi yang rendah p pendidikan kurang p gaya hidup tidak sehat p
penyakit semakin berkembang.



STEP 4 dan STEP 5
1. Konsep keperawatan komunitas.
2. Pencarian komposisi penduduk berdasarkan usia.
3. Pencarian komposisi penduduk berdasrakan pendidikan.
4. Pencarian komposisi penduduk berdasarkan pekerjaan.
5. Pencarian komposisi oenduduk berdasarkan penyakit.
6. Kepadatan penduduk.
7. Perhitungan pertambahan penduduk.
8. Dta statistik vital.
9. Morbiditas dan Mortalitas.
10. Faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan.
11. Tindakan pencegahan (level of prevention).
12. Asuhan keperawatan komunitas.

STEP 6 ( SELF STUDY )

STEP 7 ( REPORTING)

1. Determinant Of Health ( Penentu Kesehatan)
Faktor :
1. Gaya Hidup (perilaku) mempengaruhi tingkat kesehatan
2. Lingkungan dibagi menjadi 2 : yaitu Lingkungan Fisik (misalnya :air, sumber
daya manusia ) dan sosial (misalnya : kejiwaan yang buruk)
3. Pelayanan Kesehatan ada / tidak adanya temapt perawatan, pengelolaan
fasilitas kesehatan
4. Genetik sasaran utama bayi, balita dengan cara mempertahankan status gizi
(Vinda)

tambahan
5. Pekerjaan
6. Pendidikan
7. Budaya
(Sinta)
8. Koping ( Baik / Buruk)
9. Perkembangan
(Nevia)
10. Perilaku : konsumsi narkoba, pengelolaan sampah, jarak sampah ke lokasi tempat
tinggal (Putri)
11. Contoh genetik : penyakit yang ditularkan
12. Contoh gaya hidup ; olahraga, konsumsi buah buahan bersih / tidak, obat obatan,
zat pengawet
(Nanda , Elly)

2. Level Of Prevention
1. Primer belum terkena (pendidikan kesehatan)
2. Sekunder untuk diagnose dini
3. Tersier untuk yang sudah terkena
( Khoirunnisa)

Level of prevention dibagi menjadi:
1. Prepatogenesis :
Primer : agar kesehatan lebih optimal ( personal hygiene, Pola Hidup Bersih dan
Sehat )
2. Patogenesis
Sekunder : pemeriksaan dini supaya tidak teradi komplikasi
(ex : skrining kesehatan )
Tersier : supaya masyarakat sembuh dan tidak terkena lagi ( ex : Rehabilitasi,
peningkatan fasilitas kesehatan, terapi okupasional )
( Putri an Erita)

Tambahan
1. Primordial ( mencegah orang yang sehat supaya tidak sakit )
2. Primer ( beresiko) Contoh Tindakan Pendidikan kesehatan
3. Sekunder ( sudah terkena tapi agar tidak komplikasi) tindakan adekuat
( Sinta)
4. Tersier ( sudah terkena dan komplikasi )
( Vinda)

PRIMER : penyuluhan kesehatan seperti imunisasi, kb, konseling pernikahan
( Tiktik)

3. DEMOGRAPHY
Bisa dilihat melalui :
1. Kaji usia
2. Jenis kelamin
3. Pekerjaan
4. Pendidikan
5. Bahasa
6. Agama
7. Status perkawinan
( Nevia)

Demography adalah : ilmu tentang jumlah kelahiran , kematian dan penyakit
Peningkatan dan penurunan jumlah penduduk dapat dilihat berdasarkan :
Kelahiran, Migrasi, Penuaan (Elly)

Tambahan :
selain itu dapat ditentukan berdasarkan
- Komposisi Penduduk
0-14 tahun usia belum produktif
15-64 tahun usia produktif
- Tempat tinggal : permanen, semipermanen, tidak permanen
- Kesehatan : menular, tida menular
- Agama
( Gina)

Demography
Ilmu yang mempelajari kepadatan penduduk
Berdasarkan :
1. Fertilisasi
2. Kelahiran
3. Kematian
4. Kesakitan :
angka insiden jumlah kasus baru, prevalensi, angka serangan
5. Migrasi
(Putri)

Tambahan
-kepadatan penduduk
-rumah
-air
-status kesehatan
( Khoirunnisa)

Penyebaran dan pertambahan penduduk
Melalui 3 cara :
1. Bunga berganda : dilihat pertambahan tahun lalu dan tahun sekarang
2. Regresi linier : pertambahan penduduk dari tahun tahun sebelumnya
3. Penghalusan dari rumus energy linier
(Vinda)

Pertambahan penduduk
Alami, migrasi, total ( Nanda )

Angka kematian ibu dan anak neonates, post neonates, sebelum kehamilan, setelah
melahirkan ( Vinda)

4. Pengkajian
1. Inti
a. Data inti ( Luas daerah, iklim, kebiasaan daerah tersebut)
b. Vital statistic (CBR, CDR, Morbiditas, mortalitas)
c. Data penyakit (ISPA, Diare)
d. Keadaan sosial
e. Pendidikan
f. Kesehatan

2. Data Lingkungan
a. Rumah (sanitasi, bentuk Bangunan, atap, lantai, dll)
b. Pelayanan kesehatan
c. Agama
d. Pemerintahan
e. Sosial
f. Transportasi
g. Komunikasi
h. Hiburan
i. Letak daerah
j. Komposisi penduduk
k. Tingkat pendidikan

3. Penapisan Masalah
Sumber, penilaian perawat

4. Analisa Data (dari prosentasi yang ada)
5. Masalah ( Hasil dari analisa)
6. Diagnosa Keperawatan komunitas
7. Tujuan
- Kolom masalah
- Data Objektif
- Data Subjektif
8. Intervensi
(Nevia)

























A. Determinant of Health
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Derajat Kesehatan Masyarakat

Teori Hendrik L Blum (1974) menyatakan bahwa status kesehatan seseorang
dipengaruhi oleh 4 faktor yaitu keturunan, pelayanan kesehatan, perilaku dan
lingkungan. Artinya bahwa didalam pelaksanaan pembangunan kesehatan tentunya kita
senantiasa memperhatikan hal-hal tersebut termasuk didalamnya adalah upaya yang
melakukan pendekatan dan interpensi terutama pada faktor pelayanan kesehatan,
perilaku, dan lingkungan.
1) Faktor genetik atau keturunan
Merupakan faktor yang sulit untuk diintervensi karena bersifat bawaan dari orang
tua. Penyakit atau kelainan-kelainan tertentu seperti diabetes militus, buta warna, albino,
atau yang lainnya, bisa diturunkan dari orang tua ke anak-anaknya atau dari generasi ke
generasi.
2) Faktor pelayanan kesehatan
Lebih terkait dengan kinerja pemerintah yang sedang berkuasa. Kesungguhan dan
keseriusan pemerintah dalam mengelola pelayanan kesehatan menjadi penentu
suksesnya faktor ini. Kader desa, puskesmas dan posyandu menjadi ujung tombak dalam
peningkatan status kesehatan masyarakat.
Pembangunan tidak dapat terlepas dari upaya dan fasilitas pelayanan kesehatan
karena salah satu tujuan adalah untuk memberi pelayanan kesehatan kepada masyarakat
disamping memperbaiki dan kalau memungkinkan meningkatkan kesehatan masyarakat.
Apabila dilihat dari rasio kesehatan masyarakat terhadap penduduk sebenarnya sudah
mencukupi, namun karena keterbatasan alat dan letak geografis yang terkadang menjadi
kendala dalam memberi pelayanan.
Kendala lain terletak pada manajerial atau pun pengelola unit-unit pelayanan
kesehatan itu sendiri karena pada dasarnya merupakan suatu unit fungsional sehingga
secara kelembagaan kurang dapat berjalan. Apabila didalam era desentralisasi seperti
sekarang ini dimana kewenangan itu ada di Kabupaten. Tuntutan terhadap kemampuan
Dinas Kesehatan Kabupaten dan KB dalam membina lebih tepatnya mengelola dan
mengatur kelembagaan serta mengatur rumah tangga kesehatan sendiri perlu adanya
tanggung jawab yang lebih besar dan nyata.
3) Faktor lingkungan
Faktor ini menempati urutan ke-3 dalam indikator kunci status kesehatan
masyarakat. Ketinggian, kelembaban, curah hujan, kondisi sawah maupun tumbuhan
memainkan peranan disini. Tetapi bagaimanapun juga, kondisi lingkungan dapat
dimodifikasi dan dapat diperkirakan dampak atau akses buruknya sehingga dapat
dicarikan solusi ataupun kondisi yang paling optimal bagi kesehatan manusia.
Permasalahan yang utama yang berkaitan dengan lingkungan ini adalah keterbatasan
sarana air bersih terutama untuk masyarakat perdesaan yang masih banyak
menggunakan sarana non air bersih. Sarana air bersih yang memenuhi persyaratan
kesehatan dan fasilitas pembuangan air limbah yang dimiliki masyarakat ternyata masih
sangat kecil. Belum lagi upaya-upaya penyehatan tempat-tempat umum, tempat
penyediaan dan pengelolaan makanan minuman, Pengelolaan sampah dan TP Pestisida.
Kesemuanya itu sejak dini agar dapat diantisipasi sehingga dapat menurunkan angka
kesakitan penyakit yang berbasis lingkungan. Sudah saatnya pembangunan berwawasan
kesehatan dijadikan pedoman dalam mengambil kebijakan pembangunan
4) Faktor Perilaku
Perilaku dari pandangan biologis adalah merupakan suatu kegiatan atau aktivitas
organisme yang bersangkutan. Perilaku manusia pada hakikatnya adalah suatu aktivitas
pada manusia itu sendiri. Perilaku adalah apa yang dikerjakan oleh organisme tersebut,
baik dapat diamati secara langsung atau tidak langsung (Notoatmodjo, 1997).
Tanggung jawab pembangunan kesehatan tidak serta merta menjadi beban
Pemerintah akan tetapi merupakan usaha bersama antara Pemerintah dan Masyarakat
termasuk sektor swasta. Karena biar bagaimanapun fungsi pemerintah tidak akan
berjalan apabila tidak di dukung oleh peran serta dan partisipasi aktif masyarakat dan
keterlibatan sektor swasta. Disini akan terlihat tingkat kemandirian dan kemampuan
masyarakat dalam upaya menolong dirinya sendiri dibidang kesehatan.
Faktor prilaku cukup memberikan andil dalam keberhasilan pembangunan kesehatan
sebagai misalnya Prilaku Hidup Bersih dan Sehat. Meskipun sudah banyak dilakukan
penyuluhan kesehatan melalui berbagai media namun masih juga belum optimal
hasilnya. Kajian±kajian terhadap prilaku diantaranya dilakukan melalui Pola Hidup
Bersih dan Sehat.

B. Level of Prevention
Tingkat Pencegahan Dalam Keperawatan Komunitas
Menurut Leavel dan Clark, tingkat pencegahan dalam keperawatan komunitas dapat
dilakukan pada tahap sebelum terjadinya penyakit (tahap prepatogenesis) dan pada tahap
terjadinya penyakit (tahap patogenesis).

y Tahap Prepatogenesis / Prepathogenesis Phase
Pada tahap ini dapat dilakukan pencegahan primer. pencegahan yang dimaksudkan adalah
pencegahan yang sebenarnya, yang terjadi sebelum sakit atau ketidakfungsian dan
diaplikasikan ke populasi yang sehat. Pencegahan primer dilakukan melalui dua kelompok
kegiatan, yaitu :
1. Peningkatan kesehatan (health promotion), yaitu peningkatan status kesehatan
masyarakat melalui beberapa kegiatan, di antaranya pendidikan kesehatan, penyuluhan
kesehatan masyarakat (PKM) seperti penyuluhan tentang gizi, pengamatan tumbuh
kembang anak, pengadaan rumah sehat, konsultasi perkawinan, pendidikan seks,
pengendalian lingkungan, program P2M (Pemberantasan Penyakit Menular) melalui
kegiatan imunisasi dan pemberantasan vektor, penyuluhan tentang pencegahan terhadap
kecelakaan, program KB, perlindungan gizi, serta penyuluhan untuk pencegahan
keracunan.
Besarnya masalah kesehatan dapat diukur dengan menghitung tingkat morbiditas (angka
kejadian sakit), mortalitas (angka kematian), fertilitas (tingkat kelahiran), dan disability
(tingkat kecacatan) pada kelompok ± kelompok masyarakat.
2. Perlindungan umum dan khusus (general and spescific protection), yaitu usaha kesehatan
untuk memberikan perlindungan secara khusus atau umum kepada seseorang atau
masyarakat, antara lain melalui imunisasi, kebersihan diri, kesehatan kerja, perlindungan
diri dari karsinogen, toksin, dan alergen, serta pengendalian sumber ± sumber
pencemaran.

y Tahap Patogenesis / Pathogenesis Phase
Pada tahap patogenesis dapatdilakukan dua kegiatan pencegahan, yaitu :
1. Pencegahan sekunder, yaitu pencegahan terhadap masyarakat yang masih sakit dengan 2
kelompok kegiatan berikut ini.
a. Diagnosis dini dan pengobatan segera / adekuat, antara lain melalui penemuan kasus
secara dini, pemeriksaan umum lengkap, pemeriksaan masal, survei terhadap kontak,
sekolah, dan rumah, penanganan kasus, serta pengobatan adekuat.
b. Pembatasan kecacatan, antara lain melalui penyempurnaan dan intensifikasi terapi
lanjutan, pencegahan komplikasi, perbaikan fasilitas kesehatan, penurunan beban
sosial penderita, dan lain ± lain. Pencegahan level ini menekankan pada upaya
penemuan kasus secara dini dan pengobatan tepat. Diagnosis dini dan intervensi yang
tepat bertujuan untuk menghambat proses patologis sehingga memperpendek waktu
sakit dan tingkat keparahan penyakit.
2. Pencegahan tersier, yaitu usaha pencegahan terhadap masyarakat yang telah sembuh dari
sakit serta mengalami kecacatan, antara lain melalui pendidikan kesehatan lanjutan, terapi
kerja, perkampungan rehabilitasi sosial, penyadaran masyarakat, lembaga rehabilitasi serta
partisipasi masyarakat, dan lain ± lain. Rehabilitasi sebagai tujuan pencegahan tersier
lebih dari upaya menghambat proses penyakitnya sendiri, yaitu mengembalikan individu
kepada tingkat berfungsi yang optimal dari ketidakmampuaannya.






C. Demography
1. Definisi Demography
Demografi adalah :
a. Studi ilmiah yang menyangkut masalah kependudukan terutama dalam kaitannya dengan
jumlah, struktur dan perkembangan.
b. Studi statistik dan matematik tentang besar, komposisi dan distribusi penduduk dan
perubahan-perubahannya sepanjang masa melalui bekerjanya empat komponen
demografi yaitu kelahiran, kematian, perkawinan, dan mobilitas sosial.
c. Studi tentang jumlah, penyebaran teritorial dan komposisi penduduk serta perubahan-
perubahan dan sebab-sebabnya.

2. Tujuan dan Kegunaan Demografi
- Mempelajari kuantitas dan distribusi penduduk dalam suatu daerah tertentu
- Menjelaskan pertumbuhan masa lampau, penurunannya dan persebarannya.
- Menggambarkan hubungan sebab akibat antara perkembangan penduduk dengan
bermacam-macam aspek organisasi sosial
- Mencoba meramalkan pertumbuhan penduduk dimasa yang akan datang dan
kemungkinan-kemungkinan konsekuensinya.
Sumber :
Pengantar Keperawatan Komunitas Oleh Wahit Iqbal Mubarak
http://id.shvoong.com/business-management/2135656-konsep-dasar-
demografi/#ixzz1NejZ3SRU


3. Komposisi Penduduk
Komposisi penduduk yaitu pengelompokkan penduduk berdasarkan kriteria
(ukuran) tertentu. Dasar untuk menyusun komposisi penduduk yang umum
digunakan adalah umur, jenis kelamin, mata pencaharian, dan tempat tinggal.
Pengelompokkan penduduk dapat digunakan untuk dasar dalam pengambilan
kebijakan dan pembuatan program dalam mengatasi masalah-masalah di bidang
kependudukan.
a. Komposisi penduduk berdasarkan umur dan jenis kelamin. Umur penduduk
dikelompokkan menjadi 3 yaitu:
- Umur 0 ± 14 tahun dinamakan usia muda/usia belum produktif.
- Umur 15 ± 64 tahun dinamakan usia dewasa/usia kerja/usia produktif.
- Umur 65 tahun keatas dinamakan usia tua/usia tak produktif/usia jompo.
Sesuai dengan pengelompokkan umur di atas, maka struktur (susunan) penduduk
Negara negara di dunia dibagi 3 yaitu:
- Struktur penduduk muda : bila suatu negara atau wilayah sebagian besar
penduduk usia muda.
- Struktur penduduk dewasa : bila suatu negara sebagian besar penduduk berusia
dewasa.
- Struktur penduduk tua : bila suatu negara sebagian besar terdiri penduduk berusia
tua.
Komposisi penduduk menurut umur dan jenis kelamin dapat ditampilkan dalam
bentuk grafik yang dinamakan piramida penduduk.
Bentuk piramida penduduk ada 3 macam yaitu:
1) Piramida penduduk muda berbentuk limas. Piramida ini menggambarkan jumlah
penduduk usia muda lebih besar dibanding usia dewasa. Di waktu yang akan
datang jumlah penduduk bertambah lebih banyak. Jadi penduduk sedang
mengalami pertumbuhan.
2) Piramida penduduk stasioner atau tetap berbentuk granat Bentuk ini
menggambarkan jumlah penduduk usia muda seimbang dengan usia dewasa. Hal
ini berarti penduduk dalam keadaan stasioner sehingga pertambahan penduduk
akan tetap diwaktu yang akan datang.
3) Piramida penduduk tua berbentuk batu nisan Piramida bentuk ini menunjukkan
jumlah penduduk usia muda lebih sedikit bila dibandingkan dengan usia dewasa.
Diwaktu yang akan datang jumlah penduduk mengalami penurunan karena
tingkat kelahiran yang rendah dan kematian yang tinggi. Negara-negara
berkembang seperti Indonesia memiliki piramida penduduk berbentuk limas dan
negara-negara maju umumnya berbentuk granat dan sebagian kecil berbentuk
batu nisan.
Pembuatan piramida penduduk dapat digunakan antara lain untuk:
- Mengetahui perbandingan jumlah antara laki-laki dan perempuan.
- Mengetahui keadaan jumlah penduduk di waktu yang akan datang.
- Untuk mengetahui struktur umur penduduk suatu negara secara umum.
Komposisi penduduk menurut jenis kelamin didasarkan atas jenis pria dan
wanita. Komposisi ini sangat berpengaruh terhadap tingkat kelahiran seperti
jika sebagian besar penduduk suatu negara terdiri wanita usia subur (15-44
tahun) maka tingkat kelahiran akan tinggi.
Perbandingan antara jumlah penduduk laki-laki dan perempuan di
daerah/negara tertentu pada tahun tertentu disebut perbandingan jenis kelamin
(Sex Ratio).
Rumus untuk menghitungnya:
Sex ratio =
௟௔௞௜ି௟௔௞௜
௪௔௡௜௧௔
ൈ ݇
Makin besar rasio ketergantungan, makin besar beban yang ditanggung oleh
kelompok usia produktif. Apabila suatu negara besarnya rasio ketergantungan
misalnya 65 berarti setiap 100 orang penduduk yang produktif menanggung
beban hidup orang yang belum atau tidak produktif sebanyak 65 orang.
b. Komposisi penduduk menurut pekerjaan. Penduduk dapat dikelompokkan
berdasarkan pekerjaan yang dilakukan oleh tiap-tiap orang. Pekerjaan-pekerjaan
tersebut antara lain pegawai negeri sipil, TNI, POLRI, buruh, pedagang, petani,
pengusaha dan sopir.
c. Komposisi penduduk menurut pendidikan. Berdasarkan tingkat atau jenjang
pendidikan yang telah ditamatkan penduduk dapat dikelompokkan dalam tingkat SD,
SLTP, SLTA, dan Perguruan Tinggi. Pengelompokkan ini dapat digunakan untuk
menentukan besarnya tingkat pendidikan penduduk.
d. Komposisi Penduduk menurut Agama. Pengelompokkan ini berdasarkan kepada
agama yang dianut penduduk yaitu Islam, Katolik, Protestan, Hindu dan Budha.
e. Komposisi penduduk menurut tempat tinggal. Tempat tinggal yang sering digunakan
dalam komposisi ini adalah tempat tinggal penduduk di desa dan di kota. Ciri khas
negara agraris seperti Indonesia adalah sebagian besar penduduk tinggal di desa.

4. Pertumbuhan dan Perpadatan Penduduk
1. Proyeksi Pertambahan Penduduk
- Jumlah dan Pertumbuhan Penduduk
- Presentasi rata-rata adalah prioritas pertambahan penduduk rata- rata tiap tahun
- 3 metode proyeksi penduduk, yaitu:

a. Metode bunga berganda
Diperkirakan jumlah didasarkan atas adanya tingkat pertambahan penduduk pada tahun
sebelumnya.
Rumus perhitungan proyeksi menurut bunga berganda:
Pt:Jumlah pendudk di daerah yang diselidiki pada t
R:Tingkat pertambahan penduduk setiap tahun
U: Tambahan jumlah peduduk

b. Metode Kurva Polinomal
Kecenderungan laju pertumbuhan penduduk dianggap tetap atau dengan kata lain
hubungan masa lampau digunakan untuk memperkirakan perkembangan yang akan
datang.
Rumus kurva polinomal:
Pt ± Q = Pt-b (Q)
Pt : Jumlah penduduk pada tahun dasar
Q : Jumlah penduduk pada tahun (selang tahun dasar ke tujuan tahun)
b : Rata- rat pertambahan jumlah penduduk tiap tahun

c. Metode Regresi Linear
Penghapusan metode polinomal, karena akan memberikan penyimpangan minimum atas
data masa lampau dengan rumus :
Pt = a + b X
Pt = Jumlah pendidik didaerah yang diselidiki pada tahun t
a = Konstanta
b = Konstanta
X = Nilai yang diambil dari variabel bebas


2. Kepadatan dan Penyebaran Penduduk
Jumlah penduduk dibagi luas daerahnya (Kepadatan penduduk)
Kepadatan bruto : Jumlah penduduk dibagi luas daerah tersebut lepas dari tanah
tersebut.
Kriteria a. Kepadatan Tinggi : > 1000 Jiwa/Ha
b. Kepadatan Menengah : 500 ± 1000 Jiwa/Ha
c. Kepadatan Rendah : < 100 Jiwa/Ha

5. Data Statistik Vital
1. Statistik Kelahiran
a. Angka Kelahiran Tahunan
Indikator angka kelahiran tahunan mencerminkan tingkat kelahiran pada suatu waktu
atau tahun tertentu. Secara umum, angka ini merupakan ukuran berapa banyaknya bayi
yang lahir dibandingkan dengan jumlah perempuan usia subur, pada suatu tahun tertentu
untuk daerah tertentu.

b. Angka Kelahiran
Jumlah kelahiran adalah banyaknya kelahiran hidup yang terjadi pada waktu tertentu
di wilayah tertentu. Angka ini dimanfaatkan untuk memperkirakan jumlah kebutuhan
fasilitas kesehatan yang akan dibutuhkan oleh ibu hamil maupun bayi-bayi yang lahir
tersebut.
c. Angka Kelahiran Kasar
Angka kelahiran kasar (Crude Birth Rate/CBR) adalah angka yang menunjukkan
banyaknya kelahiran pada tahun tertentu per 1000 penduduk pada pertengahan tahun
pertama.
>> Cara Menghitung
Angka kelahiran kasar (CBR) dihitung dengan membagi jumlah kelahiran pada tahun
tertentu (B) dengan jumlah penduduk pada pertengahan tahun yang sama (P).
CBR = B x 1000
P
Dengan perhitungan:
CBR = Angka kelahiran kasar
B = Jumlah kelahiran
P = Jumlah penduduk pada pertengahan tahun, P= (P
0
+P
1
), P
o
= jumlah penduduk awal
tahun, dan P
1
= Jumlah penduduk pada akhir tahun 2

>> Keterbatasan
Perhitungan ini sederhana, mudah dihitung tetapi kasar. Perhitungan ini disebut kasar
karena yang menjadi pembagi adalah seluruh penduduk baik laki-laki maupun
perempuan seluruh usia termasuk yang bukan perempuan usia reproduksi (usia 15-49
tahun).

2. Statistik Kematian
a. Angka Kematian Bayi (IMR)
Angka kematian bayi (AKB) adalah banyaknya kematian bayi berusia dibawah satu
tahun per 1000 kelahiran hidup pada satu tahun tertentu. Kematian bayi adalah kematian
yang terjadi antara saat setelah bayi lahir sampai bayi belum berusia tepat satu tahun.
Secara garis besar, berdasarkan penyebabnya, kematian bayi dibagi menjadi dua, yaitu:
Endogen (neonatal)
Adalah kematian bayi yang terjadi pada bulan pertama setelah dilahirkan, dan
umumnya disebabkan oleh faktor-faktor yang dibawa anak sejak lahir, yang
diperoleh dari orangtuanya pada saat konsepsi atau didapat selama kehamilan.

Eksogen (post-neonatal)
Adalah kematian bayi yang terjadi setelah usia satu bulan sampai menjelang usia satu
tahun yang disebabkan oleh faktor-faktor yang bertalian dengan pengaruh lingkungan
luar.
Angka kematian bayi menggambarkan status sosial ekonomi masyarakat dimana
angka kematian bayi itu dihitung. Kegunaan penghitungan AKB untuk pengembangan
perencanaan berbeda antara kematian neonatal dan kematian bayi yang lain. Angka
kematian postneonatal, dan angka kematian anak serta balita dapat berguna untuk
mengembangkan program imunisasi, serta program-program pencegahan penyakit
menular terutama pada anak-anak, program penerangan tentang gizi, dan pemberian
makanan sehat untuk anak dibawah usia 5 tahun.
>> Cara menghitung
AKB = D
0-<1th
x 1000
™ lahir hidup
Dimana:
AKB = Angka kematian bayi
D
0-<1th
= Jumlah kematian bayi (berumur kurang setahun) pada satu tahun tertentu di
daerah tertentu
™ lahir hidup = Jumlah kelahiran hidup pada satu tahun tertentu di daerah tertentu

b. Angka Kematian Ibu (MMR)
Angka kematian ibu adalah banyaknya kematian perempuan pada saat hamil atau
selama 42 hari sejak terminasi kehamilan tanpa memandang lama dan tempat persalinan,
yang disebabkan karena kehamilannya atau pengelolaannya, dan bukan karena sebab-
sebab lain, per 100.000 kelahiran hidup.
Informasi mengenai tingginya MMR akan bermanfaat untuk pengembangan program
kesehatan reproduksi, terutama pelayanan kehamilan dan membuat kehamilan yang
aman bebas resiko tinggi, penyiapan keluarga dan suami siaga dalam menyongsong
kelahiran, yang semuanya bertujuan untuk mengurangi Angka Kematian Ibu dan
meningkatkan derajat kesehatan reproduksi.
>> Cara menghitung
AKI = Jumlah kematian ibu x 1.000
Jumlah kelahiran hidup
Dimana:
Jumlah kematian ibu adalah banyaknya kematian ibu yang disebabkan karena
kehamilan, persalinan, pada tahun dan daerah tertentu
Jumlah kelahiran hidup adalah banyaknya bayi yang lahir hidup pada tahun dan
daerah tertentu
Konstanta = 100.000 bayi lahir hidup

c. Angka Kematian Kasar
Angka Kematian Kasar (Crude Death Rate) adalah angka yang menunjukkan berapa
besarnya kematian yang terjadi pada suatu tahun tertentu untuk setiap 1000 penduduk. Angka
ini disebut kasar sebab belum memperhitungkan umur penduduk. Penduduk tua mempunyai
risiko kematian yang lebih tinggi dibandingkan dengan penduduk yang masih muda.
Angka Kematian Kasar adalah indikator sederhana yang tidak memperhitungkan
pengaruh umur penduduk. Tetapi jika tidak ada indikator kematian yang lain angka ini
berguna untuk memberikan gambaran mengenai keadaan kesejahteraan penduduk pada suatu
tahun yang bersangkutan. Apabila dikurangkan dari Angka kelahiran Kasar akan menjadi
dasar perhitungan pertumbuhan penduduk alamiah.
>> Cara Menghitung
CDR = D x 1000
P
Dimana:
CDR = Angka kematian kasar
D = Jumlah kematian
P = Jumlah penduduk pada pertengahan tahun, P= (P
0
+P
1
), P
o
= jumlah penduduk awal
tahun, dan P
1
= Jumlah penduduk pada akhir tahun 2

3. Statistik Kesakitan
Angka kesakitan penduduk didapat dari hasil pengumpulan data dari sarana
pelayanan kesehatan (Facility Based Data) yang diperoleh melalui sistem pencatatan dan
pelaporan.

Sumber :
http://www.berandakami.files.wordpress.com/2008/11/statistik_kesehatan.pdf. pada tgl
27 mei 2011 pkl 20.00 wib
http://www.datastatistik-indonesia.com/content/view/410/410/ pd tgl 27 mei 2011 pkl
21.00 wib

6. Pengkajian Kasus
Pengkajian
1. Data Inti
a. Riwayat atau sejarah perkembangan komunitas
Data dikaji melalui wawancara kepada tokoh dan studi dokumentasi sejarah komunitas.
Uraikan termasuk data umum mengenai lokasi daera binaan,luas wilayah, iklim, type
komunitas (masyarakat rural/urban). Keadaa demografi, struktur politik, distribusi
kekuatan komunitas, dan pada perubahan komunitas.
Lokasi daerah binaan: RW 14, Kelurahan Y.
Masyarakat sudah sepakat untuk mengadakan kegiatan jumat bersih.
b. Data demografi
Total penduduk: 525 jiwa.
- Data komposisi penduduk berdasarkan jenis kelamin
No. Jenis kelamin Frekuensi %
1. Laki-laki 250 47,6
2. Perempuan 275 52,4
Jumlah 525 100

- Data komposisi penduduk berdasarkan usia
No. Usia Frekuensi %
1. Bayi dan balita 79 15
2. 6-14 tahun 63 12
3. 15-49 tahun 304 58
4. Lansia 79 15
Jumlah 525 100

- Data komposisi penduduk berdasarkan status ekonomi
No. Ekonomi Frekuensi %
1. Miskin 252 48
2. Menengah dan
kaya
273 52
Jumlah 525


- Data komposisi penduduk berdasarkan pendidikan
No. Pendidikan Frekuensi %
1. Tidak sekolah 74 14
2. SD 262 50
3. SMP 115 22
4. SMA 53 10
5. Perguruan tinggi 21 4
Jumlah 525 100

- Data komposisi penduduk berdasarkan pekerjaan
No. Pekerjaan Frekuensi %
1. Buruh tani 262 50
2. Wiraswasta 105 20
3. PNS 53 10
4. Tidak bekerja 105 20
Jumlah 525 100

- Data komposisi penduduk berdasarkan status perkawinan
- Data komposisi penduduk berdasarkan ras/suku
- Data komposisi penduduk berdasarkan bahasa
- Data komposisi penduduk berdasarkan tingkat pendapatan
- Data komposisi penduduk berdasarkan agama
- Data komposisi penduduk berdasarkan komposisi keluarga

c. Vital statistik
- CBR (Angka Kelahiran Kasar) : 1,7 %
Iumlah‡lahiianhiuup
p‡iiiaanŒumlahp‡nuuuup‡it‡ngahantahun
ൈ ͳͲͲͲ

- CDR (Angka Kematian Kasar) : 1,3 %
Iumlah‡matianሺ•‡muap‡ny‡„a„ሻ
p‡iiiaanŒumlahp‡nuuuup‡it‡ngahantahun
ൈ ͳͲͲͲ
- Penyebab kematian
Iumlah‡matianሺp‡ny‡„a„hu•u•ሻ
p‡iiiaanŒumlahp‡nuuuup‡it‡ngahantahun
ൈ ͳͲͲǤͲͲͲ
- TFR (Total Fertility Rate)
Iumlah‡lahiianሺi„uu•ia•u„uiሻ
p‡iiiaanŒumlahp‡nuuuup‡it‡ngahantahun
ൈ ͳͲͲͲ
- Angka pertambahan anggota/proyeksi pertumbuhan penduduk
1. Pertumbuhan penduduk alami (PA)
PA = angka kelahiran ± angka kematian
2. Pertumbuhan penduduk migrasi
PM = jumlah penduduk yang masuk ± jumlah penduduk keluar
3. Pertumbuhan penduduk sosial atau total (PT)
PT = PA ± PM
Pertumbuhan menggunakan persentase (%) x 100%
Penambahan menggunakan angka
d. Status kesehatan komunitas
- Mortalitas (angka kematian)
- Mordibitas (angka kesakitan)
- IMR (Infant Mortality Rate) / Angka Kematian Bayi
Iumlah‡matian„ayiu•ia ൏ ͳݐ݄ܽݑ݊
Œumlah‡lahiianhiuup
ൈ ͳͲͲǤͲͲͲ
Grade IMR: 15 ± 35 : rendah
36 ± 75 : sedang
76 ± 125 : tinggi
- MMR (Maternal Mortlity Rate) / Angka Kematian Maternal (wanita pada saat hamil,
bersalin / 42 hari setelah melahirkan)
- Cakupan imunisasi
(dikelompokan berdasarkan kelompok umur: bayi, balita, usia sekolah, remaja, lansia.
Kelompok khusus di masyarakat: ibu hamil, pekerja industri, kelompok penyakit
kronis, penyakit menular.)
Pengkajian selanjutnya:
a. Keluhan yang dirasakan saat ini oleh komunitas
b. Tanda-tanda vital: tekanan darah, nadi, respirasi rate, suhu tubuh.
c. Kejadian penyakit (dalam satu tahun terakhir)
No. Penyakit Frekuensi %
1. ISPA 105 20
2. Diare 79 15
3. Hipertensi 53 10
4. Kelumpuhan 10 2
5. Tidak ada 278 53
Jumlah 525 100

d. Riwayat penyakit keluarga
e. Pola pemenuhan kebutuhan sehari-hari:
- Pola pemenuhan nutrisi
- Pola pemenuhan cairan elektrolit
- Pola istirahat/tidur
- Pola eliminasi
- Pola aktivitas gerak
- Pola pemenuhan kebersihan diri
f. Status psikososial
- Komunikasi dengan sumber-sumber kesehatan
- Hubungan dengan orang lain
- Peran di masyarakat
- Kesedihan yang dirasakan
- Stabilitas emosi
- Penelataran anak/lansia
- Perlakuan yang salah dalam kelompok dalam hal ini perlakuan tindakan kekerasan.
g. Status pertumbuhan dan perkembangan
h. Pola pemanfaatan fasilitas kesehatan
i. Pola pencegahan terhadap penyakit dan perawatan kesehatan
j. Pola perilaku tidak sehat, seperti: kebiasaan merokok, minum kopi yang berlebihan,
mengonsumsi alkohol, penggunaan obat tanpa resep, penyalahgunaan obat terlarang,
pola konsumsi tinggi garam, lemak dan purin
2. Data lingkungan fisik
Kediaman
No. Kediaman Frekuensi %
1. Semi permanen 473 90
2. Tidak permanen 47 9
3. Permanen 5 1
Jumlah 525 100

Penggunaan air
No. Sumber Frekuensi %
1. Air sungai 299 57
2. Lain-lain 226 43
Jumlah 525 100

3. Pelayanan kesehatan dan sosial
4. Ekonomi
5. Keamanan dan transportasi
6. Politik dan pemerintahan
7. Sistem komunikasi
8. Pendidikan
9. rekreasi

























Diagnosa keperawatan komunitas
1. Terjadinya penyakit menular ( ISPA, DIARE ) akibat lingkungan tidak sehat di desa Y,
Sehubungan dengan pemakaian air sungai sebagai sumber air bersih, dan terpaparnya
kingkungan oleh sampah dan berbagai polusi
2. Resiko terjadinya penurunan derajat kesehatan pada lansia di desa Y , Sehubungan
dengan kurangnya informasi tentang kesehatan lansia yang dimanifestasikan dengan :
jumlah lansia 76 orang, hipertensi 10%, lumpuh 2%

PERENCANAAN KEPERAWATAN KOMUNITAS
NO DIAGNOSA
KEPERAWATAN
KOMUNITAS
TUJUAN SASARAN RENCANA
KEGIATAN
1 Terjadinya penyakit menular
(ISPA, DIARE) akibat
lingkungan tidak sehat di
desa Y, Sehubungan dengan
pemakaian air sungai sebagai
sumber air bersih, dan
terpaparnya kingkungan oleh
sampah dan berbagai polusi
Setelah
dilakukan
tindakan
keperawatan
selama 3 kali
kegiatan
masyarakat
mampu
memberikan
perawatan pada
masyarakat yang
terserang
penyakit ISPA
dan DIARE di
desa Y
-Kader
Puskesmas



-Seluruh
masyarakat di
desa Y ,
dikhususkan
pada Ibu PKK
dan Bapak-
bapak
1. Dirikan
puskesmas dan
pelayanan
kesehatan
lainnya di desa
Y.

2.pembangunan
sumur baru guna
memelihara
kesehatan
masyarakat.




3.kerja bakti
masal di
lingkungan desa
Y.

4.Membuang
sampah pada
tempatnya dan
pisahkan
sampah kering
dan basah

5.Pembasmian
agen bakteri

6.Perbaikan gizi
dan nutrisi

2 Resiko terjadinya penurunan
derajat kesehatan pada lansia
di desa Y , Sehubungan
dengan kurangnya informasi
tentang kesehatan lansia yang
dimanifestasikan dengan :
jumlah lansia 76 orang,
hipertensi 10%, lumpuh 2%
Setelah
dilakukan
tindakan
keperawatan
selama 3 kali
pertemuan.
Diharapkan
masyarakat desa
Y mampu
memberikan
perawatan pada
lansia.
Kader posyandu
lansia
1.Lakukan
pembentukan
posyandu lansia

2.Lakukan
pelatihan kader
posyandu lansia

3.Berikan
penyuluhan
kesehatan lansia
pada
pelaksanaan
posyandu

4.berikan
kenang-
kenangan alat
posyandu lansia


Daftar Pustaka
Budiarto, Eko. 2001. Biostatistika untuk Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat. Penerbit
Buku Kedokteran EGC ; Jakarta

Effendy, Nasrul. 1998. Dasar Dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat Edisi 2. Penerbit
Buku Kedokteran EGC ; Jakarta

Pengantar Keperawatan Komunitas Oleh Wahit Iqbal Mubarak
http://id.shvoong.com/business-management/2135656-konsep-dasar-
demografi/#ixzz1NejZ3SRU

http://www.berandakami.files.wordpress.com/2008/11/statistik_kesehatan.pdf.
pada tgl 27 mei 2011 pkl 20.00 wib

http://www.datastatistik-indonesia.com/content/view/410/410/
pd tgl 27 mei 2011 pkl 21.00 wib

http://ibuazkha.blogspot.com/2011/04/metode-analisis-jumlah-penduduk.html

Kasus 1 DETERMINANT OF HEALTH, LEVEL OF PREVENTION, DEMOGRAPHY

Masyarakat di RW 14 Kel. Y terdiri dari 525 jiwa penduduk yang terdiri dari dari 250 orang laki laki dan 275 orang perempuan. Berdasarkan jumlah penduduk tersebut 58 % (303) orang termasuk pada usia produktif ( 15 ± 49 ) tahun, bayi dan balita 15 %, usia 614 tahun 12 %, dan usia lansia 15 %. Crude Birth Rate (CBR) 1,7 %, Crude Death Rate (CDR) 1,3% pada pertengahan tahun berjalan. 48 % termasuk pada kategori keluarga miskin. Tingkat pendidikan penduduk usia produktif : 14 % tidak sekolah sama sekali, 50 % tamat SD, 22% tamat SMP, 10 % tamat SMA, dan sisanya tamt perguruan tinggi. Mata pencaharian penduduk sebagian buruh tani 50%, wiraswasta 20%, PNS 10%, tidak bekerja 20 %. Usia harapan penduduk 68 tahun. Sebagian penduduk (90%) memiliki rumah semi permanen, dan 9 % rumah tidak permanen. 57 % menggunakan air sungai sebagai sumber air bersih dan juga untuk mandi cuci kakus.

Berdasarkan hasil pendataan, 20 % mengalami ISPA, 15 % diare, 10 % hipertensi, dan 2 % mengalami kelumpuhan akibat rematik. Sebanyak 60 % penderita hipertensi memiliki riwayat keluarga yang menderita hipertensi. Masyarakat sudah sepakat untuk mengadakan kegiatan jumat bersih setiap minggunya untuk menjaga kebersihan. Untuk mengatasi masalah hipertensi pada lansia dilaksanakan kegiatan pemeriksaan, tekanan darah secara rutin setiap bulan oleh tenaga kesehatan. Untuk masyarakat yang telah mengalami kelumpuhan akibat rematik, petugas kesehatan melakukan latihan gerak pasif dirumah pasien secara teratur.

STEP 1 1. Crude Birth Rate (CBR) Angka Kelahiran Angka Kelahiran Kasar (Sinta) (Vinda) (Nanda) (Erita) (Vinda) (Vinda) (Khoirunisa)

2. Crude Death Rate (CDR) Angka rata-rata Kematian

3. Usia harapan hidup Rata-rata hidup sampai dengan usia tertentu.

STEP 2 1. Adakah upaya lain dari petugas kesehatan? (Gina) 2. Cara menghitung CBR dan CDR? (Nanda) 3. Tujun pendataan dan tindak lanjut setelah pendataan? (Putri) 4. Pemicu penyakit karena kebiasaan kerja, gaya hidup, atau apa? (Nevia) 5. Dampak positif dan negatif penggunaan air sungai? (Putri) 6. Efek signifikan dari pengobatan itu apa? Sudah terasa belum? (Khoirunisa) 7. Pendidikan seperti apa yang akan diberikan kepada masyarakat? (Erita) 8. Tindakan pemerintah untuk menanggulangi kasus tersebut? (Yolanda) 9. Pencegahan ISPA dan Diare? (Sinta) 10. Perbedaan struktur dan keadaan rumah permanen dan semi permanen? (Yolanda) 11. Penyuluhan apa yang harus diberikan untuk mencegah penyebaran hipertensi kepada generasi selanjutnya? (Tiktik) 12. Status gizi masyarakat seperti apa?(Hinin) 13. Gaya hidup yang harus diajarkan kepada klien menengah kebawah? (Elly) 14. Sistem pengelolaan sampah yang baik seperti apa? (Elly) 15. Lapangan pekerjaan apa yang dapat diciptakan untuk mencegah kemiskinan? (Elly) 16. Tindakan untuk menyadarkan tentang pentingnya kesehatan? (Hinin) 17. Tahap-tahap untuk memperbaharui kondisi masyarakat seperti ini apa saja? Berapa lama waktu yang dibutuhkan? (Gina) 18. Tahap-tahap terjadinya masalah? (Elly)

Rumah permanen: rumah sendiri. Tindak lanjut: untuk mencari solusi masalah dan pencegahan. penerapan dan penyuluhan PHBS. 2. (Erita). 7. (Putri). sedikitsedikit. Gina. Sinta). makanan kurang sehat. jalan. dampak negatif: penyebaran penyakit. Vinda). sumber listrik.STEP 3 1. aktivitas. Membuat air bersih. 9. dan menurunkan jumlah kuman. (Yolanda). Hipertensi (banyak faktor): penyuluhan mengenai status makanan sehat. (Khoirunisa). 6. Hinin. (Tiktik). Anggaran kesehatan ditingkatkan. olahraga. mencegah banjir. (Putri). (Elly. Hipertensi: Pola hidup 5. posisi angkat barang saat bekerja. membangun toilet bersama. Antar rumah harus ada jarak. 4. Tujuan: untuk melihat perkembangan masyarakat dari berbagai aspek (ekonomi. . Program GAKIN diefektifkan. Rematik: lingkungan yang buruk. (sinta). dampak positif: pengairan sawah. membangun rumah dengan memperhatikan ventilasi. sumber penghasilan(ikan). (Hinin). Pemicu ISPA: sanitasi lingkungan tidak bersih. (Nanda. Rumah semi permanen: rumah sewa. Pemicu Diare: sumber air kurang baik. (Erita). Reumatik: olahraga secara teratur. 10. CBR=(Jumlah yang lahir:jumlah penduduk)x100%. pendekatan ke anak-anak mengenai PHBS. CDR=(jumlah kematian:jumlah penduduk)x100% 3. Bila dilakukan secara rutin akan menurunkan persentasi penyakit. kesehatan). dll. penyuluhan mengenai penggunaan air sungai y6ang benar. pendidikan. (Vinda). pengelolaan tempat pembuangan sampah (Yolanda). 8. Hipertensi: senam jantung sehat. pembuatan jalan dari batu kerikil. Prosedur GAKIN harus mudah dan benar. (Nanda). pembuatan sumur. (Vinda).

aktivitas. dan Olahraga. (Elly). sampah organik ditimbun. pencegahan sekunder: dilakukan setelah terjadi penyakit tetapi belum parah. Angka status pendidikan. sekunder dan tersier. dikubur. (Gina). . (Hinin). menengah kebawah p tinggi garam p Hipertensi. sanitasi air. penyuluhan makanan sehat. sampah organik dikubur dengan beberapa meter kedalaman. olahraga. 15. dan dijadikan pupuk. 12. 16.(Khoirunisa). pencegahan primer. (Putri). (Elly). lebih kokoh dan aman. dipisahkan antara samapah organik dan nonorganikuntuk menciptakan lapangan pekerjaan. pemberian pelatihan tentang pengolahan sampah. Rumah permanen: terbuat dari bata. (Nevia). (Yolanda). (erita). data perubahn kesehatan (grafik peningkatan dan penurunan penderita penyakit) (Tiktik). peningkatan pengetahuan tentang pentingnya KB. (Nanda). pencegahan tersier: pencegahan yang belum terjadi. (Gina). 11. Jumlah kepala keluarga dalam satu rumah. rumah semi permanen: terbuat dari bilik atau kayu. pencegahan primer: pencegahan yang dilakukan sebelum terjadinya suatu penyakit. pencegahn tersier: dilakukan setelah terjadi penyakit dan sudah parah. pencegahan sekunder: pengobatan penyakit. (Khoirunisa). 17. (Yolanda). 19. (Khoirunisa). 14. ekonomi yang rendah p pendidikan kurang p gaya hidup tidak sehat p penyakit semakin berkembang. penyuluhan tentang pentingnya tong sampah. pencegahan primer:pencegahan paling prioritas. 18. perawatan rumah. penyuluhan PHBS. pola makan. cara memasak. (Nanda). (Vinda). sampah nonorganik diolah. ganti sprei teratur. (Nanda). 13. dibakar. lakukan pendekatan tentang pentingnya kesehatan.

12. 9. Pencarian komposisi penduduk berdasarkan pekerjaan. Asuhan keperawatan komunitas. Pencarian komposisi oenduduk berdasarkan penyakit. 3. Perhitungan pertambahan penduduk. Morbiditas dan Mortalitas. Konsep keperawatan komunitas. 7. Tindakan pencegahan (level of prevention).STEP 4 dan STEP 5 1. Pencarian komposisi penduduk berdasarkan usia. Pendidikan . Lingkungan mempengaruhi tingkat kesehatan dibagi menjadi 2 : yaitu Lingkungan Fisik (misalnya :air. 5. Faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan. Gaya Hidup (perilaku) 2. Pekerjaan 6. Kepadatan penduduk. Pelayanan Kesehatan fasilitas kesehatan 4. Pencarian komposisi penduduk berdasrakan pendidikan. 6. balita dengan cara mempertahankan status gizi ada / tidak adanya temapt perawatan. pengelolaan tambahan 5. 11. 10. Determinant Of Health ( Penentu Kesehatan) Faktor : 1. 2. 8. Genetik (Vinda) sasaran utama bayi. sumber daya manusia ) dan sosial (misalnya : kejiwaan yang buruk) 3. 4. Dta statistik vital. STEP 6 ( SELF STUDY ) STEP 7 ( REPORTING) 1.

Tersier untuk diagnose dini untuk yang sudah terkena ( Khoirunnisa) Level of prevention dibagi menjadi: 1. jarak sampah ke lokasi tempat tinggal (Putri) 11. Primer belum terkena (pendidikan kesehatan) 2. terapi okupasional ) ( Putri an Erita) Tambahan 1. peningkatan fasilitas kesehatan. konsumsi buah buahan bersih / tidak. Contoh genetik : penyakit yang ditularkan 12. Contoh gaya hidup . olahraga.7. Perkembangan (Nevia) 10. Budaya (Sinta) 8. obat obatan. Primordial ( mencegah orang yang sehat supaya tidak sakit ) . zat pengawet (Nanda . Koping ( Baik / Buruk) 9. Level Of Prevention 1. Prepatogenesis : Primer : agar kesehatan lebih optimal ( personal hygiene. pengelolaan sampah. Elly) 2. Sekunder 3. Perilaku : konsumsi narkoba. Pola Hidup Bersih dan Sehat ) 2. Patogenesis Sekunder : pemeriksaan dini supaya tidak teradi komplikasi (ex : skrining kesehatan ) Tersier : supaya masyarakat sembuh dan tidak terkena lagi ( ex : Rehabilitasi.

Pendidikan 5. Tersier ( sudah terkena dan komplikasi ) ( Vinda) PRIMER : penyuluhan kesehatan seperti imunisasi. Status perkawinan ( Nevia) Demography adalah : ilmu tentang jumlah kelahiran . tidak permanen Kesehatan : menular. konseling pernikahan ( Tiktik) 3. Sekunder ( sudah terkena tapi agar tidak komplikasi) ( Sinta) 4. tida menular . Jenis kelamin 3. Primer ( beresiko) Contoh Tindakan Pendidikan kesehatan tindakan adekuat 3. Kaji usia 2. DEMOGRAPHY Bisa dilihat melalui : 1. Agama 7. kematian dan penyakit Peningkatan dan penurunan jumlah penduduk dapat dilihat berdasarkan : Kelahiran. Bahasa 6. semipermanen. Migrasi.2. kb. Pekerjaan 4. Penuaan (Elly) Tambahan : selain itu dapat ditentukan berdasarkan Komposisi Penduduk 0-14 tahun usia belum produktif 15-64 tahun usia produktif Tempat tinggal : permanen.

Migrasi (Putri) jumlah kasus baru. Bunga berganda : dilihat pertambahan tahun lalu dan tahun sekarang 2. total ( Nanda ) . Kesakitan : angka insiden 5. migrasi.- Agama ( Gina) Demography Ilmu yang mempelajari kepadatan penduduk Berdasarkan : 1. Regresi linier : pertambahan penduduk dari tahun tahun sebelumnya 3. Kelahiran 3. Penghalusan dari rumus energy linier (Vinda) Pertambahan penduduk Alami. prevalensi. angka serangan Tambahan -kepadatan penduduk -rumah -air -status kesehatan ( Khoirunnisa) Penyebaran dan pertambahan penduduk Melalui 3 cara : 1. Fertilisasi 2. Kematian 4.

penilaian perawat 4. Tingkat pendidikan 3. kebiasaan daerah tersebut) b. Diagnosa Keperawatan komunitas . Keadaan sosial e. mortalitas) c. Vital statistic (CBR. sebelum kehamilan. Diare) d. Morbiditas. Pengkajian 1. Letak daerah Komposisi penduduk k. Rumah (sanitasi. Data Lingkungan a. Sosial f. lantai. post neonates. Kesehatan 2. bentuk Bangunan. CDR. iklim. Penapisan Masalah Sumber. Data penyakit (ISPA. j. Analisa Data (dari prosentasi yang ada) 5. Pemerintahan e. Masalah ( Hasil dari analisa) 6. Data inti ( Luas daerah. Inti a. Transportasi g. Komunikasi h. dll) b. Hiburan i. Agama d. setelah 4. Pelayanan kesehatan c. atap. Pendidikan f.Angka kematian ibu dan anak melahirkan ( Vinda) neonates.

Tujuan Kolom masalah Data Objektif Data Subjektif 8. Intervensi (Nevia) .7.

Penyakit atau kelainan-kelainan tertentu seperti diabetes militus. Apabila didalam era desentralisasi seperti . Determinant of Health Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Derajat Kesehatan Masyarakat Teori Hendrik L Blum (1974) menyatakan bahwa status kesehatan seseorang dipengaruhi oleh 4 faktor yaitu keturunan. puskesmas dan posyandu menjadi ujung tombak dalam peningkatan status kesehatan masyarakat. namun karena keterbatasan alat dan letak geografis yang terkadang menjadi kendala dalam memberi pelayanan. albino. Apabila dilihat dari rasio kesehatan masyarakat terhadap penduduk sebenarnya sudah mencukupi. Kendala lain terletak pada manajerial atau pun pengelola unit-unit pelayanan kesehatan itu sendiri karena pada dasarnya merupakan suatu unit fungsional sehingga secara kelembagaan kurang dapat berjalan. pelayanan kesehatan. Pembangunan tidak dapat terlepas dari upaya dan fasilitas pelayanan kesehatan karena salah satu tujuan adalah untuk memberi pelayanan kesehatan kepada masyarakat disamping memperbaiki dan kalau memungkinkan meningkatkan kesehatan masyarakat. 1) Faktor genetik atau keturunan Merupakan faktor yang sulit untuk diintervensi karena bersifat bawaan dari orang tua.A. bisa diturunkan dari orang tua ke anak-anaknya atau dari generasi ke generasi. perilaku. Kader desa. perilaku dan lingkungan. buta warna. Kesungguhan dan keseriusan pemerintah dalam mengelola pelayanan kesehatan menjadi penentu suksesnya faktor ini. 2) Faktor pelayanan kesehatan Lebih terkait dengan kinerja pemerintah yang sedang berkuasa. dan lingkungan. atau yang lainnya. Artinya bahwa didalam pelaksanaan pembangunan kesehatan tentunya kita senantiasa memperhatikan hal-hal tersebut termasuk didalamnya adalah upaya yang melakukan pendekatan dan interpensi terutama pada faktor pelayanan kesehatan.

sekarang ini dimana kewenangan itu ada di Kabupaten. Perilaku adalah apa yang dikerjakan oleh organisme tersebut. Pengelolaan sampah dan TP Pestisida. Permasalahan yang utama yang berkaitan dengan lingkungan ini adalah keterbatasan sarana air bersih terutama untuk masyarakat perdesaan yang masih banyak menggunakan sarana non air bersih. Tuntutan terhadap kemampuan Dinas Kesehatan Kabupaten dan KB dalam membina lebih tepatnya mengelola dan mengatur kelembagaan serta mengatur rumah tangga kesehatan sendiri perlu adanya tanggung jawab yang lebih besar dan nyata. Kesemuanya itu sejak dini agar dapat diantisipasi sehingga dapat menurunkan angka kesakitan penyakit yang berbasis lingkungan. Sudah saatnya pembangunan berwawasan kesehatan dijadikan pedoman dalam mengambil kebijakan pembangunan 4) Faktor Perilaku Perilaku dari pandangan biologis adalah merupakan suatu kegiatan atau aktivitas organisme yang bersangkutan. Ketinggian. baik dapat diamati secara langsung atau tidak langsung (Notoatmodjo. tempat penyediaan dan pengelolaan makanan minuman. kondisi lingkungan dapat dimodifikasi dan dapat diperkirakan dampak atau akses buruknya sehingga dapat dicarikan solusi ataupun kondisi yang paling optimal bagi kesehatan manusia. Tetapi bagaimanapun juga. kelembaban. curah hujan. Perilaku manusia pada hakikatnya adalah suatu aktivitas pada manusia itu sendiri. Sarana air bersih yang memenuhi persyaratan kesehatan dan fasilitas pembuangan air limbah yang dimiliki masyarakat ternyata masih sangat kecil. Belum lagi upaya-upaya penyehatan tempat-tempat umum. Karena biar bagaimanapun fungsi pemerintah tidak akan berjalan apabila tidak di dukung oleh peran serta dan partisipasi aktif masyarakat dan . 1997). kondisi sawah maupun tumbuhan memainkan peranan disini. 3) Faktor lingkungan Faktor ini menempati urutan ke-3 dalam indikator kunci status kesehatan masyarakat. Tanggung jawab pembangunan kesehatan tidak serta merta menjadi beban Pemerintah akan tetapi merupakan usaha bersama antara Pemerintah dan Masyarakat termasuk sektor swasta.

pengamatan tumbuh kembang anak. Level of Prevention Tingkat Pencegahan Dalam Keperawatan Komunitas Menurut Leavel dan Clark. yaitu peningkatan status kesehatan masyarakat melalui beberapa kegiatan. fertilitas (tingkat kelahiran). pencegahan yang dimaksudkan adalah pencegahan yang sebenarnya. Kajian±kajian terhadap prilaku diantaranya dilakukan melalui Pola Hidup Bersih dan Sehat.keterlibatan sektor swasta. perlindungan gizi. Besarnya masalah kesehatan dapat diukur dengan menghitung tingkat morbiditas (angka kejadian sakit). Pencegahan primer dilakukan melalui dua kelompok kegiatan. konsultasi perkawinan. program P2M (Pemberantasan Penyakit Menular) melalui kegiatan imunisasi dan pemberantasan vektor. Peningkatan kesehatan (health promotion). serta penyuluhan untuk pencegahan keracunan. penyuluhan kesehatan masyarakat (PKM) seperti penyuluhan tentang gizi. program KB. di antaranya pendidikan kesehatan. pengadaan rumah sehat. tingkat pencegahan dalam keperawatan komunitas dapat dilakukan pada tahap sebelum terjadinya penyakit (tahap prepatogenesis) dan pada tahap terjadinya penyakit (tahap patogenesis). Meskipun sudah banyak dilakukan penyuluhan kesehatan melalui berbagai media namun masih juga belum optimal hasilnya. yaitu : 1. B. pengendalian lingkungan. penyuluhan tentang pencegahan terhadap kecelakaan. pendidikan seks. y Tahap Prepatogenesis / Prepathogenesis Phase Pada tahap ini dapat dilakukan pencegahan primer. Faktor prilaku cukup memberikan andil dalam keberhasilan pembangunan kesehatan sebagai misalnya Prilaku Hidup Bersih dan Sehat. dan disability (tingkat kecacatan) pada kelompok ± kelompok masyarakat. yang terjadi sebelum sakit atau ketidakfungsian dan diaplikasikan ke populasi yang sehat. Disini akan terlihat tingkat kemandirian dan kemampuan masyarakat dalam upaya menolong dirinya sendiri dibidang kesehatan. mortalitas (angka kematian). .

. yaitu : 1. 2. penanganan kasus. pemeriksaan masal. penurunan beban sosial penderita. survei terhadap kontak. pemeriksaan umum lengkap. kesehatan kerja. yaitu usaha kesehatan untuk memberikan perlindungan secara khusus atau umum kepada seseorang atau masyarakat. yaitu mengembalikan individu kepada tingkat berfungsi yang optimal dari ketidakmampuaannya. y Tahap Patogenesis / Pathogenesis Phase Pada tahap patogenesis dapatdilakukan dua kegiatan pencegahan.2. Rehabilitasi sebagai tujuan pencegahan tersier lebih dari upaya menghambat proses penyakitnya sendiri. antara lain melalui imunisasi. antara lain melalui penyempurnaan dan intensifikasi terapi lanjutan. yaitu pencegahan terhadap masyarakat yang masih sakit dengan 2 kelompok kegiatan berikut ini. dan alergen. yaitu usaha pencegahan terhadap masyarakat yang telah sembuh dari sakit serta mengalami kecacatan. Pencegahan level ini menekankan pada upaya penemuan kasus secara dini dan pengobatan tepat. perbaikan fasilitas kesehatan. antara lain melalui pendidikan kesehatan lanjutan. Pencegahan sekunder. dan lain ± lain. Perlindungan umum dan khusus (general and spescific protection). b. serta pengendalian sumber ± sumber pencemaran. dan rumah. Pembatasan kecacatan. a. pencegahan komplikasi. penyadaran masyarakat. perkampungan rehabilitasi sosial. toksin. kebersihan diri. terapi kerja. Pencegahan tersier. perlindungan diri dari karsinogen. dan lain ± lain. Diagnosis dini dan pengobatan segera / adekuat. lembaga rehabilitasi serta partisipasi masyarakat. serta pengobatan adekuat. sekolah. Diagnosis dini dan intervensi yang tepat bertujuan untuk menghambat proses patologis sehingga memperpendek waktu sakit dan tingkat keparahan penyakit. antara lain melalui penemuan kasus secara dini.

Dasar untuk menyusun komposisi penduduk yang umum digunakan adalah umur. dan mobilitas sosial. Demography 1. Komposisi Penduduk Komposisi penduduk yaitu pengelompokkan penduduk berdasarkan kriteria (ukuran) tertentu. b. komposisi dan distribusi penduduk dan perubahan-perubahannya sepanjang masa melalui bekerjanya empat komponen demografi yaitu kelahiran. Tujuan dan Kegunaan Demografi . dan tempat tinggal. Pengelompokkan penduduk dapat digunakan untuk dasar dalam pengambilan . Studi tentang jumlah. perkawinan. Sumber : Pengantar Keperawatan Komunitas Oleh Wahit Iqbal Mubarak http://id. Studi statistik dan matematik tentang besar.C. mata pencaharian.shvoong. penyebaran teritorial dan komposisi penduduk serta perubahanperubahan dan sebab-sebabnya. . Definisi Demography Demografi adalah : a. jenis kelamin.Mencoba meramalkan pertumbuhan penduduk dimasa yang akan datang dan kemungkinan-kemungkinan konsekuensinya. Studi ilmiah yang menyangkut masalah kependudukan terutama dalam kaitannya dengan jumlah. c.com/business-management/2135656-konsep-dasardemografi/#ixzz1NejZ3SRU 3.Menggambarkan hubungan sebab akibat antara perkembangan penduduk dengan bermacam-macam aspek organisasi sosial .Mempelajari kuantitas dan distribusi penduduk dalam suatu daerah tertentu .Menjelaskan pertumbuhan masa lampau. struktur dan perkembangan. kematian. 2. penurunannya dan persebarannya.

maka struktur (susunan) penduduk Negara negara di dunia dibagi 3 yaitu: Struktur penduduk muda : bila suatu negara atau wilayah sebagian besar penduduk usia muda. Umur 15 ± 64 tahun dinamakan usia dewasa/usia kerja/usia produktif. Struktur penduduk dewasa : bila suatu negara sebagian besar penduduk berusia dewasa. Jadi penduduk sedang mengalami pertumbuhan. Diwaktu yang akan datang jumlah penduduk mengalami penurunan karena tingkat kelahiran yang rendah dan kematian yang tinggi. Bentuk piramida penduduk ada 3 macam yaitu: 1) Piramida penduduk muda berbentuk limas. Komposisi penduduk berdasarkan umur dan dikelompokkan menjadi 3 yaitu: Umur 0 ± 14 tahun dinamakan usia muda/usia belum produktif. 2) Piramida penduduk stasioner atau tetap berbentuk granat Bentuk ini menggambarkan jumlah penduduk usia muda seimbang dengan usia dewasa. Umur penduduk . Negara-negara berkembang seperti Indonesia memiliki piramida penduduk berbentuk limas dan jenis kelamin. a. Hal ini berarti penduduk dalam keadaan stasioner sehingga pertambahan penduduk akan tetap diwaktu yang akan datang.kebijakan dan pembuatan program dalam mengatasi masalah-masalah di bidang kependudukan. Komposisi penduduk menurut umur dan jenis kelamin dapat ditampilkan dalam bentuk grafik yang dinamakan piramida penduduk. Struktur penduduk tua : bila suatu negara sebagian besar terdiri penduduk berusia tua. Umur 65 tahun keatas dinamakan usia tua/usia tak produktif/usia jompo. Piramida ini menggambarkan jumlah penduduk usia muda lebih besar dibanding usia dewasa. Sesuai dengan pengelompokkan umur di atas. 3) Piramida penduduk tua berbentuk batu nisan Piramida bentuk ini menunjukkan jumlah penduduk usia muda lebih sedikit bila dibandingkan dengan usia dewasa. Di waktu yang akan datang jumlah penduduk bertambah lebih banyak.

b. Apabila suatu negara besarnya rasio ketergantungan misalnya 65 berarti setiap 100 orang penduduk yang produktif menanggung beban hidup orang yang belum atau tidak produktif sebanyak 65 orang. Perbandingan antara jumlah penduduk laki-laki dan perempuan di daerah/negara tertentu pada tahun tertentu disebut perbandingan jenis kelamin (Sex Ratio). Berdasarkan tingkat atau jenjang pendidikan yang telah ditamatkan penduduk dapat dikelompokkan dalam tingkat SD. Komposisi ini sangat berpengaruh terhadap tingkat kelahiran seperti jika sebagian besar penduduk suatu negara terdiri wanita usia subur (15-44 tahun) maka tingkat kelahiran akan tinggi. Penduduk dapat dikelompokkan berdasarkan pekerjaan yang dilakukan oleh tiap-tiap orang. Katolik. d. Pekerjaan-pekerjaan tersebut antara lain pegawai negeri sipil. Untuk mengetahui struktur umur penduduk suatu negara secara umum. Komposisi penduduk menurut jenis kelamin didasarkan atas jenis pria dan wanita. dan Perguruan Tinggi. Hindu dan Budha. Rumus untuk menghitungnya: Sex ratio =   Makin besar rasio ketergantungan. pengusaha dan sopir. . Komposisi penduduk menurut pekerjaan. Komposisi Penduduk menurut Agama. TNI. Mengetahui keadaan jumlah penduduk di waktu yang akan datang.negara-negara maju umumnya berbentuk granat dan sebagian kecil berbentuk batu nisan. Protestan. c. makin besar beban yang ditanggung oleh kelompok usia produktif. pedagang. Komposisi penduduk menurut pendidikan. Pembuatan piramida penduduk dapat digunakan antara lain untuk: Mengetahui perbandingan jumlah antara laki-laki dan perempuan. SLTA. buruh. petani. SLTP. POLRI. Pengelompokkan ini dapat digunakan untuk menentukan besarnya tingkat pendidikan penduduk. Pengelompokkan ini berdasarkan kepada agama yang dianut penduduk yaitu Islam.

Komposisi penduduk menurut tempat tinggal.rat pertambahan jumlah penduduk tiap tahun c. Ciri khas negara agraris seperti Indonesia adalah sebagian besar penduduk tinggal di desa. Metode Regresi Linear Penghapusan metode polinomal. Rumus kurva polinomal: Pt ± Q = Pt-b (Q) Pt : Jumlah penduduk pada tahun dasar Q : Jumlah penduduk pada tahun (selang tahun dasar ke tujuan tahun) b : Rata. Rumus perhitungan proyeksi menurut bunga berganda: Pt:Jumlah pendudk di daerah yang diselidiki pada t R:Tingkat pertambahan penduduk setiap tahun U: Tambahan jumlah peduduk b. 4.e. Proyeksi Pertambahan Penduduk Jumlah dan Pertumbuhan Penduduk Presentasi rata-rata adalah prioritas pertambahan penduduk rata. yaitu: a. Metode Kurva Polinomal Kecenderungan laju pertumbuhan penduduk dianggap tetap atau dengan kata lain hubungan masa lampau digunakan untuk memperkirakan perkembangan yang akan datang.rata tiap tahun 3 metode proyeksi penduduk. Tempat tinggal yang sering digunakan dalam komposisi ini adalah tempat tinggal penduduk di desa dan di kota. karena akan memberikan penyimpangan minimum atas data masa lampau dengan rumus : . Metode bunga berganda Diperkirakan jumlah didasarkan atas adanya tingkat pertambahan penduduk pada tahun sebelumnya. Pertumbuhan dan Perpadatan Penduduk 1.

angka ini merupakan ukuran berapa banyaknya bayi yang lahir dibandingkan dengan jumlah perempuan usia subur. Angka Kelahiran Kasar . Kepadatan Tinggi b. pada suatu tahun tertentu untuk daerah tertentu. Angka Kelahiran Jumlah kelahiran adalah banyaknya kelahiran hidup yang terjadi pada waktu tertentu di wilayah tertentu. Angka ini dimanfaatkan untuk memperkirakan jumlah kebutuhan fasilitas kesehatan yang akan dibutuhkan oleh ibu hamil maupun bayi-bayi yang lahir tersebut. Secara umum. Kepadatan Rendah : > 1000 Jiwa/Ha : 500 ± 1000 Jiwa/Ha : < 100 Jiwa/Ha 5. c.Pt = a + b X Pt = Jumlah pendidik didaerah yang diselidiki pada tahun t a = Konstanta b = Konstanta X = Nilai yang diambil dari variabel bebas 2. Angka Kelahiran Tahunan Indikator angka kelahiran tahunan mencerminkan tingkat kelahiran pada suatu waktu atau tahun tertentu. b. Kepadatan dan Penyebaran Penduduk Jumlah penduduk dibagi luas daerahnya (Kepadatan penduduk) Kepadatan bruto : Jumlah penduduk dibagi luas daerah tersebut lepas dari tanah tersebut. Data Statistik Vital 1. Kriteria a. Statistik Kelahiran a. Kepadatan Menengah c.

Kematian bayi adalah kematian yang terjadi antara saat setelah bayi lahir sampai bayi belum berusia tepat satu tahun. Secara garis besar. mudah dihitung tetapi kasar. Po= jumlah penduduk awal tahun. CBR = B x 1000 P Dengan perhitungan: CBR = Angka kelahiran kasar B = Jumlah kelahiran P = Jumlah penduduk pada pertengahan tahun. 2 2. Angka Kematian Bayi (IMR) Angka kematian bayi (AKB) adalah banyaknya kematian bayi berusia dibawah satu tahun per 1000 kelahiran hidup pada satu tahun tertentu. kematian bayi dibagi menjadi dua. dan umumnya disebabkan oleh faktor-faktor yang dibawa anak sejak lahir. yaitu:  Endogen (neonatal) Adalah kematian bayi yang terjadi pada bulan pertama setelah dilahirkan. . Perhitungan ini disebut kasar karena yang menjadi pembagi adalah seluruh penduduk baik laki-laki maupun perempuan seluruh usia termasuk yang bukan perempuan usia reproduksi (usia 15-49 tahun). berdasarkan penyebabnya. >> Cara Menghitung Angka kelahiran kasar (CBR) dihitung dengan membagi jumlah kelahiran pada tahun tertentu (B) dengan jumlah penduduk pada pertengahan tahun yang sama (P). Statistik Kematian a. dan P1= Jumlah penduduk pada akhir tahun >> Keterbatasan Perhitungan ini sederhana. P= (P0+P1). yang diperoleh dari orangtuanya pada saat konsepsi atau didapat selama kehamilan.Angka kelahiran kasar (Crude Birth Rate/CBR) adalah angka yang menunjukkan banyaknya kelahiran pada tahun tertentu per 1000 penduduk pada pertengahan tahun pertama.

terutama pelayanan kehamilan dan membuat kehamilan yang aman bebas resiko tinggi.000 kelahiran hidup. program penerangan tentang gizi. Kegunaan penghitungan AKB untuk pengembangan perencanaan berbeda antara kematian neonatal dan kematian bayi yang lain. Angka kematian bayi menggambarkan status sosial ekonomi masyarakat dimana angka kematian bayi itu dihitung. Informasi mengenai tingginya MMR akan bermanfaat untuk pengembangan program kesehatan reproduksi. Eksogen (post-neonatal) Adalah kematian bayi yang terjadi setelah usia satu bulan sampai menjelang usia satu tahun yang disebabkan oleh faktor-faktor yang bertalian dengan pengaruh lingkungan luar. Angka kematian postneonatal. serta program-program pencegahan penyakit menular terutama pada anak-anak. penyiapan keluarga dan suami siaga dalam menyongsong kelahiran. per 100. dan bukan karena sebabsebab lain. yang semuanya bertujuan untuk mengurangi meningkatkan derajat kesehatan reproduksi. >> Cara menghitung Angka Kematian Ibu dan . >> Cara menghitung AKB = D0-<1th ™ lahir hidup Dimana: AKB = Angka kematian bayi D0-<1th = Jumlah kematian bayi (berumur kurang setahun) pada satu tahun tertentu di daerah tertentu ™ lahir hidup = Jumlah kelahiran hidup pada satu tahun tertentu di daerah tertentu x 1000 b. Angka Kematian Ibu (MMR) Angka kematian ibu adalah banyaknya kematian perempuan pada saat hamil atau selama 42 hari sejak terminasi kehamilan tanpa memandang lama dan tempat persalinan. dan pemberian makanan sehat untuk anak dibawah usia 5 tahun. yang disebabkan karena kehamilannya atau pengelolaannya. dan angka kematian anak serta balita dapat berguna untuk mengembangkan program imunisasi.

pada tahun dan daerah tertentu  Jumlah kelahiran hidup adalah banyaknya bayi yang lahir hidup pada tahun dan daerah tertentu  Konstanta = 100.AKI = Jumlah kematian ibu x 1. Angka ini disebut kasar sebab belum memperhitungkan umur penduduk. Angka Kematian Kasar adalah indikator sederhana yang tidak memperhitungkan pengaruh umur penduduk.000 Jumlah kelahiran hidup Dimana:  Jumlah kematian ibu adalah banyaknya kematian ibu yang disebabkan karena kehamilan. >> Cara Menghitung CDR = P Dimana: CDR = Angka kematian kasar D = Jumlah kematian P = Jumlah penduduk pada pertengahan tahun. Apabila dikurangkan dari Angka kelahiran Kasar akan menjadi dasar perhitungan pertumbuhan penduduk alamiah. persalinan. dan P1= Jumlah penduduk pada akhir tahun 2 D x 1000 . P= (P0+P1).000 bayi lahir hidup c. Po= jumlah penduduk awal tahun. Angka Kematian Kasar Angka Kematian Kasar (Crude Death Rate) adalah angka yang menunjukkan berapa besarnya kematian yang terjadi pada suatu tahun tertentu untuk setiap 1000 penduduk. Penduduk tua mempunyai risiko kematian yang lebih tinggi dibandingkan dengan penduduk yang masih muda. Tetapi jika tidak ada indikator kematian yang lain angka ini berguna untuk memberikan gambaran mengenai keadaan kesejahteraan penduduk pada suatu tahun yang bersangkutan.

Lokasi daerah binaan: RW 14. struktur politik. Riwayat atau sejarah perkembangan komunitas Data dikaji melalui wawancara kepada tokoh dan studi dokumentasi sejarah komunitas. 1. Statistik Kesakitan Angka kesakitan penduduk didapat dari hasil pengumpulan data dari sarana pelayanan kesehatan (Facility Based Data) yang diperoleh melalui sistem pencatatan dan pelaporan. b.datastatistik-indonesia. 2. pada tgl 27 mei 2011 pkl 20.wordpress. type komunitas (masyarakat rural/urban).berandakami.00 wib 6.com/content/view/410/410/ pd tgl 27 mei 2011 pkl 21. Sumber : http://www. dan pada perubahan komunitas. iklim.3.com/2008/11/statistik_kesehatan. Data demografi Total penduduk: 525 jiwa.6 52.00 wib http://www. Masyarakat sudah sepakat untuk mengadakan kegiatan jumat bersih.luas wilayah. Keadaa demografi. Data komposisi penduduk berdasarkan jenis kelamin No. Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Jumlah Frekuensi 250 275 525 % 47. Uraikan termasuk data umum mengenai lokasi daera binaan.pdf. Pengkajian Kasus Pengkajian 1. Data Inti a. Kelurahan Y. distribusi kekuatan komunitas.files.4 100 .

1. 1. 2. Ekonomi Miskin Menengah kaya Jumlah 525 Frekuensi 252 dan 273 % 48 52 - Data komposisi penduduk berdasarkan pendidikan No. 2. 4. 4. 2. 1. Usia Bayi dan balita 6-14 tahun 15-49 tahun Lansia Jumlah Frekuensi 79 63 304 79 525 % 15 12 58 15 100 - Data komposisi penduduk berdasarkan status ekonomi No.- Data komposisi penduduk berdasarkan usia No. 3. 3. Pendidikan Tidak sekolah SD SMP SMA Frekuensi 74 262 115 53 % 14 50 22 10 .

Pekerjaan Buruh tani Wiraswasta PNS Tidak bekerja Jumlah Frekuensi 262 105 53 105 525 % 50 20 10 20 100 - Data komposisi penduduk berdasarkan status perkawinan Data komposisi penduduk berdasarkan ras/suku Data komposisi penduduk berdasarkan bahasa Data komposisi penduduk berdasarkan tingkat pendapatan Data komposisi penduduk berdasarkan agama Data komposisi penduduk berdasarkan komposisi keluarga c. 4.3 % —ŽƒŠ‡ƒ–‹ƒ •‡—ƒ’‡›‡„ƒ„ ’‡”‹”ƒƒŒ—ŽƒŠ’‡†—†—’‡”–‡‰ƒŠƒ–ƒŠ— - Penyebab kematian . Perguruan tinggi Jumlah 21 525 4 100 - Data komposisi penduduk berdasarkan pekerjaan No.5. 1. Vital statistik CBR (Angka Kelahiran Kasar) : 1.7 % —ŽƒŠ‡ŽƒŠ‹”ƒŠ‹†—’ ’‡”‹”ƒƒŒ—ŽƒŠ’‡†—†—’‡”–‡‰ƒŠƒ–ƒŠ— - CDR (Angka Kematian Kasar) : 1. 3. 2.

pekerja industri. bersalin / 42 hari setelah melahirkan) Cakupan imunisasi (dikelompokan berdasarkan kelompok umur: bayi. Status kesehatan komunitas Mortalitas (angka kematian) Mordibitas (angka kesakitan) IMR (Infant Mortality Rate) / Angka Kematian Bayi —ŽƒŠ‡ƒ–‹ƒ„ƒ›‹—•‹ƒ  Œ—ŽƒŠ‡ŽƒŠ‹”ƒŠ‹†—’ Grade IMR: 15 ± 35 : rendah 36 ± 75 : sedang 76 ± 125 : tinggi MMR (Maternal Mortlity Rate) / Angka Kematian Maternal (wanita pada saat hamil. usia sekolah. balita.) Pengkajian selanjutnya: a. Pertumbuhan penduduk alami (PA) PA = angka kelahiran ± angka kematian 2. lansia. kelompok penyakit kronis. Pertumbuhan penduduk sosial atau total (PT) PT = PA ± PM Pertumbuhan menggunakan persentase (%) x 100% Penambahan menggunakan angka d. penyakit menular. Pertumbuhan penduduk migrasi PM = jumlah penduduk yang masuk ± jumlah penduduk keluar 3. remaja. —ŽƒŠ‡ƒ–‹ƒ ’‡›‡„ƒ„Š—•—• ’‡”‹”ƒƒŒ—ŽƒŠ’‡†—†—’‡”–‡‰ƒŠƒ–ƒŠ— TFR (Total Fertility Rate) —ŽƒŠ‡ŽƒŠ‹”ƒ ‹„——•‹ƒ•—„—” ’‡”‹”ƒƒŒ—ŽƒŠ’‡†—†—’‡”–‡‰ƒŠƒ–ƒŠ— Angka pertambahan anggota/proyeksi pertumbuhan penduduk 1. Keluhan yang dirasakan saat ini oleh komunitas . Kelompok khusus di masyarakat: ibu hamil.

respirasi rate. Tanda-tanda vital: tekanan darah. c. 2. 1. Riwayat penyakit keluarga e. 4. Pola pemenuhan kebutuhan sehari-hari: Pola pemenuhan nutrisi Pola pemenuhan cairan elektrolit Pola istirahat/tidur Pola eliminasi Pola aktivitas gerak Pola pemenuhan kebersihan diri f. Kejadian penyakit (dalam satu tahun terakhir) No.b. Status pertumbuhan dan perkembangan . Status psikososial Komunikasi dengan sumber-sumber kesehatan Hubungan dengan orang lain Peran di masyarakat Kesedihan yang dirasakan Stabilitas emosi Penelataran anak/lansia Perlakuan yang salah dalam kelompok dalam hal ini perlakuan tindakan kekerasan. 3. g. suhu tubuh. nadi. 5. Penyakit ISPA Diare Hipertensi Kelumpuhan Tidak ada Jumlah Frekuensi 105 79 53 10 278 525 % 20 15 10 2 53 100 d.

pola konsumsi tinggi garam. Pendidikan 9. Keamanan dan transportasi 6. lemak dan purin 2. Politik dan pemerintahan 7. Pelayanan kesehatan dan sosial 4. Pola pemanfaatan fasilitas kesehatan i. Pola pencegahan terhadap penyakit dan perawatan kesehatan Pola perilaku tidak sehat. 3. mengonsumsi alkohol. Sistem komunikasi 8. Kediaman Semi permanen Tidak permanen Permanen Jumlah Frekuensi 473 47 5 525 % 90 9 1 100 Penggunaan air No. j. Sumber Air sungai Lain-lain Jumlah Frekuensi 299 226 525 % 57 43 100 3. penggunaan obat tanpa resep. penyalahgunaan obat terlarang. minum kopi yang berlebihan. 2. Data lingkungan fisik Kediaman No. 2.h. rekreasi . seperti: kebiasaan merokok. Ekonomi 5. 1. 1.

Diagnosa keperawatan komunitas .

DIARE ) akibat lingkungan tidak sehat di desa Y. Terjadinya penyakit menular ( ISPA. dan terpaparnya kingkungan oleh sampah dan berbagai polusi 2. Sehubungan dengan kurangnya informasi tentang kesehatan lansia yang dimanifestasikan dengan : jumlah lansia 76 orang.1. Sehubungan dengan pemakaian air sungai sebagai sumber air bersih.kerja masal bakti di lingkungan desa . Dirikan dan TUJUAN SASARAN RENCANA KEGIATAN akibat dilakukan di tindakan puskesmas pelayanan kesehatan lingkungan tidak sehat desa Y. Sehubungan dengan keperawatan pemakaian air sungai sebagai selama sumber air bersih. 2. Resiko terjadinya penurunan derajat kesehatan pada lansia di desa Y . dan DIARE di desa Y 3.kesehatan masyarakat. dan kegiatan 3 kali -Seluruh masyarakat desa Y di lainnya di desa Y. terpaparnya kingkungan oleh masyarakat sampah dan berbagai polusi mampu memberikan .pembangunan sumur baru guna dikhususkan perawatan pada pada Ibu PKK memelihara masyarakat yang dan terserang penyakit ISPA bapak Bapak. DIARE) Setelah -Kader Puskesmas 1. lumpuh 2% PERENCANAAN KEPERAWATAN KOMUNITAS NO DIAGNOSA KEPERAWATAN KOMUNITAS 1 Terjadinya penyakit menular (ISPA. hipertensi 10%.

Sehubungan tindakan dengan kurangnya informasi keperawatan tentang kesehatan lansia yang selama dimanifestasikan jumlah lansia dengan 76 3 kali Kader posyandu 1. Diharapkan masyarakat desa Y mampu hipertensi 10%.Y.berikan . 4.Membuang sampah tempatnya pisahkan sampah dan basah kering pada dan 5.Lakukan pelatihan kader posyandu lansia : pertemuan. orang.Berikan penyuluhan kesehatan lansia pada pelaksanaan posyandu memberikan perawatan pada lansia. 4.Pembasmian agen bakteri 6. lumpuh 2% 3.Lakukan lansia pembentukan posyandu lansia 2.Perbaikan gizi dan nutrisi 2 Resiko terjadinya penurunan Setelah derajat kesehatan pada lansia dilakukan di desa Y .

berandakami. pada tgl 27 mei 2011 pkl 20.kenangkenangan alat posyandu lansia Daftar Pustaka Budiarto. 2001. 1998. Penerbit Buku Kedokteran EGC .shvoong.00 wib http://www. Jakarta Pengantar Keperawatan Komunitas Oleh Wahit Iqbal Mubarak http://id.html . Dasar Dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat Edisi 2. Nasrul.com/2008/11/statistik_kesehatan.datastatistik-indonesia. Biostatistika untuk Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat.com/business-management/2135656-konsep-dasardemografi/#ixzz1NejZ3SRU http://www.wordpress.com/content/view/410/410/ pd tgl 27 mei 2011 pkl 21.files.blogspot.pdf. Jakarta Effendy. Eko.com/2011/04/metode-analisis-jumlah-penduduk.00 wib http://ibuazkha. Penerbit Buku Kedokteran EGC .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->