P. 1
Sholat Jumat

Sholat Jumat

|Views: 545|Likes:
Published by Muhammad Yamin
Manggopoh alam Saiyo
Manggopoh alam Saiyo

More info:

Published by: Muhammad Yamin on Jun 12, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/29/2012

pdf

text

original

Sections

Sholat Jum’at

2010

My. Bagindo Chaniago Manggoopoh Alam Saiyo 12/15/2010

Table of Contents
Ada Apa di Hari Jum'at? ............................................................................................. 3 Kenapa Dinamakan Hari Jum'at? ............................................................................... 6 Etika Menyambut Hari Jumat ..................................................................................... 9 Hukum Mandi Hari Jum'at, Wajib atau Sunnah? ...................................................... 11 Kapan Mandi Jum'at Dilaksanakan? ........................................................................ 17 Orang Bau Jangan Shalat di Masjid ......................................................................... 22 Hukum Jual Beli Saat Adzan Jum'at ........................................................................ 26 Amalan Sunnah Ba'da (setelah) sholat Jum'at ......................................................... 30 Mengaminkan Khatib................................................................................................ 31 Adakah Shalat Qabliyah Jum'at? ............................................................................. 32 Larangan Keluar dari Masjid Sesudah Adzan .......................................................... 33 Memburu Do'a Musjatab di Hari Jum'at.................................................................... 36 Penting! Dilarang Shalat di Antara Tiang-tiang Masjid ............................................. 40 Rahasia Keutamaan Hari Jumat .............................................................................. 43 Keutamaan Menggauli Istri di Hari Jum'at ................................................................ 46 Hukum dan Amalan Khusus di Hari Jum'at .............................................................. 50 Beberapa Kesalahan Ibadah di Hari Jum'at ............................................................. 58 Kesalahan-kesalahan yang Mengurangi Pahala Shalat Jum'at ............................... 61 Khatib yang Memanjangkan Khutbah Tidak Mengenal Sunnah ............................... 67 Hukum Bersafar Pada Hari Jum'at ........................................................................... 68 Apakah Musafir Wajib Melaksanakan Jum'atan ....................................................... 73 The end .................................................................................................................... 75

Manggopoh Alam Saiyo by.My.Bagindo Chaniago

2

Ada Apa di Hari Jum'at?

Besok hari adalah hari Jum'at yang dimulai dari tenggelamnya matahari di kamis sore ini. Hari yang penuh kemuliaan dan diagungkan di dalam Islam. Tahukah kita apa saja yang terdapat di dalamnya? Berikut ini beberapa keutamaan yang terdapat di dalam hari Jum'at. Hari jum’at adalah sayyidul ayyaam (pemimpin hari) dan hari yang paling agung dan paling utama di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Pada hari itu terdapat lima kejadian yang besar, yaitu diciptakannya Adam, diturunkannya ke bumi, dan diwafatkannya, pada hari itu terdapat satu waktu mustajabah untuk berdoa yang pasti dikabulkan, dan pada hari Jum’at pula kiamat akan terjadi. Oleh karenanya, pada hari tersebut para malaikat, langit, bumi, angin, gunung, dan lautan merasa khawatir di hari Jum’at (akan terjadi kiamat). Hari jum’at adalah sayyidul ayyaam (pemimpin hari) dan hari yang paling agung dan paling utama di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Ringkasnya, hari Jum’at memiliki keutamaan yang tidak dimiliki hari lain. Kedudukannya di bandingkan dengan hari lain, seperti bulan Ramadlan terhadap bulan yang lain dan waktu ijabah doa pada hari itu sebagaimana lailatul qadar pada bulan Ramadlan. Hari Jum’at menjadi cermin bagi kualitas amal sepekan seorang hamba, sebagaimana Ramadlan yang menjadi cerminan amal setahunnya. Jika amalnya pada hari Jum’at tersebut baik, seolah-olah menggambarkan amalnya pada pekan tersebut juga baik. Sebagimana Ramadlan, jika ibadah di dalamnya baik, baik pula amalnya pada tahun tersebut, begitu juga sebaliknya. Jika amalnya pada hari Jum’at tersebut baik, seolah-olah menggambarkan amalnya pada pekan tersebut juga baik. Sesungguhnya pada hari Jum’at terdapat ibadah yang wajib dan sunnah yang tak diperoleh di selainnya. Di antaranya shalat Jum’at, bersuci dan memakai wewangian dan pakaian terbagus yang dimiliki ketika menghadiri jum’atan, membaca surat Al Kahfi, bershalawat untuk Rasulullah, dan amal-amal shalih lainnya.

Manggopoh Alam Saiyo by.My.Bagindo Chaniago

3

Karenanya, seorang hamba hendaknya menjadikan hari Jum’at sebagai hari ibadah dan meliburkan diri dari kegiatan duniawi, bukan hari Ahad yang menjadi hari ibadah orang Nashrani. Karenanya, seorang hamba hendaknya menjadikan hari Jum’at sebagai hari ibadah dan meliburkan diri dari kegiatan duniawi, bukan hari Ahad yang menjadi hari ibadah orang Nashrani. Di hari Jum’at ada penghapusan dosa Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnadnya, dari Salman dia berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bertanya kepadaku, “apakah kamu tahu hari Jum’at itu?” aku menjawab, “hari Jum’at adalah hari Allah mengumpulkan Nabi Adam.” Beliau menjawab,

ْ ‫ُ ﱠ‬ َ ِ َُ ُ ُ ْ َ ُ ُ ُ ً ‫ْ ُ َ ُ ﱠ َ َﱠ‬ َُ َ َ ُ ُ ُ ُ ُ ‫َ ﱠ‬ ‫ﻟَﻛﻧﻲ ﺃَﺩﺭﻱ ﻣَﺎ ﻳَﻭﻡ ﺍ ْﻟﺟﻣﻌﺔ ﻻ َﻳ َﺗﻁﻬﺭ ﺍﻟﺭﱠ ﺟﻝ ﻓﻳُﺣْ ﺳِ ﻥُ ﻁﻬﻭﺭَ ﻩُ ﺛﻡ ﻳَﺄْﺗِﻲ ﺍ ْﻟﺟﻣﻌﺔ ﻓﻳ ْﻧﺻِ ﺕ ﺣَ ﺗﻰ َﻳﻘﺿِ ﻲَ ﺍﻹِﻣَﺎﻡ ﺻَﻼ َﺗﻪ ﺇِﻻ ﻛﺎﻥَ ﻛﻔﺎﺭَ ﺓ ﻟَﻪ ﻣَﺎ‬ ‫ُﱠ‬ ِ ْ ‫ِﱢ‬ ُ‫َﺑ ْﻳ َﻧﻪ ﻭ َﺑ ْﻳﻥَ ﺍ ْﻟﺟﻣﻌﺔ ﺍ ْﻟﻣﻘﺑِﻠَﺔ ﻣَﺎ ﺍﺟْ ﺗﻧِﺑَﺕ ﺍ ْﻟﻣﻘ َﺗﻠَﺔ‬ َْ ْ ُ ُْ ِ َُ ُ ِ َ ُ

“Tapi aku mengetahui apa hari jum’at itu. Tidaklah seseorang menyempurnakan bersucinya, lalu mendatangi shalat Jum’at, kemudian diam hingga imam selesai melaksanakan shalatnya, melainkan akan menjadi penghapus dosa antara Jum’at itu dengan Jum’at setelahnya, jika dia menjauhi dosa besar.”

. . . kemudian diam hingga imam selesai melaksanakan shalatnya, melainkan akan menjadi penghapus dosa antara Jum’at itu dengan Jum’at setelahnya, jika dia menjauhi dosa besar.”

Masih dalam Al Musnad, dari Atha' al Khurasani, dari Nubaisyah al Hudzaliy bahwa dia meriwayatkan dari Rauslullah shallallahu 'alaihi wasallam, "Bahwasanya jika seorang muslim mandi pada hari Jum'at, lalu datang ke masjid dan tidak menyakiti seseorang; dan jika dia mendapati imam belum datang di masjid, dia shalat hingga imam datang; dan jika ia mendapati imam telah datang, dia duduk mendengarkan khutbah, tidak berbicara hingga imam selesai melaksanakan khutbah dan shalatnya. Maka (balasannya) adalah akan diampuni semua dosa-dosanya pada Jum'at tersebut atau akan menjadi penebus dosa Jum'at sesudahnya."

Dari Abu Darda', Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

Manggopoh Alam Saiyo by.My.Bagindo Chaniago

4

َ َ ِِ ْ ْ َ ً ‫ُ َُ ِ َ َ ِ ﱠ ُ َ ْ َ ﱠ‬ َ َ ‫ِ َ ُﱠ‬ َ ‫ﻣﻥْ ﺍﻏ َﺗﺳﻝ ﻳَﻭﻡ ﺍ ْﻟﺟﻣﻌﺔ ﻭﻟَﺑﺱَ ﺛِﻳَﺎ َﺑﻪ ﻭﻣَﺱﱠ ﻁِ ﻳﺑًﺎ ﺇِﻥْ ﻛﺎﻥَ ﻋ ْﻧﺩﻩُ ﺛﻡ ﻣﺷﻰ ﺇِﻟَﻰ ﺍ ْﻟﺟﻣﻌﺔ ﻭﻋﻠَ ْﻳﻪ ﺍﻟﺳﻛِﻳ َﻧﺔ ﻭﻟَﻡ َﻳ َﺗﺧﻁ ﺃَﺣَ ﺩﺍ ﻭﻟَﻡ ﻳُﺅﺫﻩ ﻭﺭَ ﻛﻊَ ﻣَﺎ‬ َ ُ ِ َ ِ َُ ُ َ ْ َ َ ْ َ َ ‫ُ ُﱠ‬ ‫ﱠ‬ َ‫ﻗُﺿِ ﻲَ ﻟَﻪ ﺛﻡ ﺍ ْﻧ َﺗﻅﺭَ ﺣَ ﺗﻰ َﻳ ْﻧﺻَﺭﻑَ ﺍﻹِﻣَﺎﻡ ﻏﻔِﺭَ ﻟَﻪ ﻣَﺎ َﺑ ْﻳﻥَ ﺍ ْﻟﺟﻣﻌﺗ‬ ُ ُ ْ ُ ‫ُ ُ َ ﻳْﻥ‬ ِ ِ

"Siapa mandi pada hari Jum'at, lalu memakai pakaiannya (yang bagus) dan memakai wewangian, jika punya. Kemudian berjalan menuju shalat Jum'at dengan tenang, tidak menggeser seseorang dan tidak menyakitinya, lalu melaksanakan shalat semampunya, kemudian menunggu hingga imam beranjak keluar, maka akan diampuni dosanya di antara dua Jum'at." (HR. Ahmad dalam Musnadnya)

Dalam Shahih Al Bukhari, dari Salman radliyallah 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

َ ُ َُ ََ ُ ُ ْ ‫ِ ِ ُﱠ‬ ‫ُ ٍ َ ﱠ‬ ُ ‫َ ْ ُ ُ ٌ ْ َ ُ َُ ِ َ َ ﱠ‬ ‫ﻻ ﻳَﻐ َﺗﺳِ ﻝ ﺭَ ﺟﻝ ﻳَﻭﻡ ﺍ ْﻟﺟﻣﻌﺔ ﻭ َﻳ َﺗﻁﻬﺭ ﻣَﺎ ﺍﺳْ َﺗﻁﺎﻉَ ﻣِﻥْ ﻁﻬْﺭ ﻭ َﻳﺩﻫِﻥُ ﻣِﻥْ ﺩُﻫْ ﻧِﻪ ﺃ َْﻭ َﻳﻣَﺱﱡ ﻣِﻥْ ﻁِ ﻳﺏ َﺑ ْﻳﺗِﻪ ﺛﻡ ﻳَﺧﺭﺝ ﻓﻼ ﻳﻔﺭﱢ ﻕ َﺑ ْﻳﻥَ ﺍﺛ َﻧﻳْﻥ ﺛﻡ‬ ِ ‫ْ ِ ُﱠ‬ ْ ْ ِ َُ ُ ُ ُ ‫ُ َ َ َ ْ ُ ﱠ‬ ُ ُ ‫ُ ُﱠ‬ ‫ﻳﺻﻠﱢﻲ ﻣَﺎ ﻛﺗِﺏَ ﻟَﻪ ﺛﻡ ﻳ ْﻧﺻِ ﺕ ﺇِﺫﺍ َﺗﻛﻠﱠﻡ ﺍﻹِﻣَﺎﻡ ﺇِﻻ ﻏﻔِﺭَ ﻟَﻪ ﻣَﺎ َﺑ ْﻳ َﻧﻪ ﻭ َﺑ ْﻳﻥَ ﺍ ْﻟﺟﻣﻌﺔ ﺍﻷُﺧﺭَ ﻯ‬ َ ُ َ ُ

“Tidaklah seseorang mandi pada hari jum’at dan bersuci semampunya, berminyak dengan minyaknya atau mengoleskan minyak wangi yang di rumahnya, kemudian keluar (menuju masjid), dan dia tidak memisahkan dua orang (yang sedang duduk berdampingan), kemudian dia mendirikan shalat yang sesuai dengan tuntunannya, lalu diam mendengarkan dengan seksama ketika imam berkhutbah melainkan akan diampuni (dosa-dosanya yang terjadi) antara jum’at tersebut dan jum’at berikutnya.” (HR. Bukhari) Bahwa pengampunan dosa dari satu Jum'at ke Jum'at berikutnya memiliki syarat. Yaitu dengan melaksanakan amalan-amalan yang disebutkan dalam hadits, antara lain mandi, . . . *Keterangan: bahwa pengampunan dosa dari satu Jum'at ke Jum'at berikutnya memiliki syarat. Yaitu dengan melaksanakan amalan-amalan yang disebutkan dalam hadits, antara lain mandi, membersihkan diri, memakai minyak atau wewangian, memakai pakaian terbagus, berjalan ke masjid dengan tenang, tidak melangkahi dan memisahkan antara dua orang yang duduk bersebelahan, tidak menyakitinya, shalat nafilah, tidak bicara dan tidak melakukan sesuatu yang sia-sia selama khutbah hingga selesai shalat. Dan masih ada satu syarat lagi, yaitu selama dia tidak melakukan dosa besar di hari itu. (PurWD/voa-islam.com)

Manggopoh Alam Saiyo by.My.Bagindo Chaniago

5

Kenapa Dinamakan Hari Jum'at?

Hari Jum'at merupakan nikmat rabbaniyah yang selalu dijadikan lahan kedengkian musuh-musuh Islam. Hari Jum'at merupakan karunia dari Allah untuk umat ini yang telah dijadikan sebagai umat terbaik yang dikeluarkan di tengah-tengah manusia. Allah mengutamakan hari ini di atas hari-hari dalam satu pekan, lalu Dia mewajibkan kepada orang Yahudi dan Nashrani untuk mengagungkannya. Tapi, mereka melanggarnya dan memilih hari selainnya sehingga mereka tersesat dan tidak mendapat petunjuk. Kemudian Allah menunjuki umat ini kepada hari yang mulia ini dengan mengagungkannya. Dari Abu Hurairah radliyallah 'anhu, beliau mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

َ ‫ُﱠ‬ ْ َ ِْ َ ‫َ ﱠ‬ َ ُ‫َﻧﺣْ ﻥُ ﺍﻵﺧﺭﻭﻥَ ﺍﻟﺳﱠﺎﺑِﻘُﻭﻥَ ﻳَﻭﻡ ﺍ ْﻟﻘِﻳَﺎﻣﺔ ، َﺑ ْﻳﺩ ﺃ ﱠَﻧﻬﻡ ﺃ ُْﻭﺗﻭﺍ ﺍ ْﻟﻛ َﺗﺎﺏَ ﻣِﻥْ ﻗ ْﺑﻠِ َﻧﺎ، ﺛﻡ ﻫﺫﺍ ﻳَﻭﻣﻬﻡ ﺍﻟﱠﺫِﻱ ﻓُﺭﺽَ ﻋﻠَﻳْﻬﻡ ﻓﺎﺧ َﺗﻠَﻔُﻭﺍ ﻓِﻳﻪ ﻓﻬﺩَﺍ َﻧﺎ ﷲُ، ﻓﺎﻟﻧﺎﺱ‬ ُ ِ ِ ُْ ُْ َ ِ َ ََ ِ ُُ ُ َ ْ ِ ‫َ ﱠ‬ ُ ْ ٌ ِ ‫ﻟَ َﻧﺎ ﻓِ ْﻳﻪ َﺗ َﺑﻊ : ﺍﻟ َﻳﻬُﻭﺩ ﻏَﺩﺍً ، ﻭﺍﻟﻧﺻَﺎﺭَ ﻯ َﺑﻌْ ﺩ ﻏﺩ‬ ٍَ َ

"Kita adalah orang terakhir, namun yang pertama pada hari kiamat meskipun mereka telah diberikan kitab sebelum kita. Hari ini (Jum'at) adalah hari yang telah Allah wajibkan atas mereka, namun mereka menyelisihinya. Maka Allah menunjuki kita akan hari itu sehingga orang-orang mengikuti kita dalam hari ini, sementara orang-orang Yahudi besok dan orang-orang Nashrani besoknya lagi (lusa)." (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, al Nasai dan lainnya) Maksud "kita sebagai orang terakhir" adalah sebagai umat terakhir keberadaannya di dunia. Namun di akhirat akan mendahului mereka. Yaitu menjadi umat pertama yang dihimpun di Mahsyar, umat pertama yang dihisab, umat pertama yang diadili, dan umat pertama yang akan masuk surga. Maksud "kita sebagai orang terakhir" adalah sebagai umat terakhir keberadaannya di dunia. Namun di akhirat akan mendahului mereka. Yaitu menjadi umat pertama yang dihimpun di Mahsyar, umat pertama yang dihisab, umat pertama yang diadili, dan umat pertama yang akan masuk surga. Dalam riwayat Muslim dari hadits Hudzaifah, "Kami umat terakhir dari penduduk bumi, namun menjadi umat pertama pada hari kiamat yang diadili sebelum umatumat lain."

Manggopoh Alam Saiyo by.My.Bagindo Chaniago

6

Dan dalam riwayat Muslim lainnya, "Kita adalah orang terakhir, namun yang paling awal pada hari kiamat. Dan kita adalah orang yang pertama kali masuk surga." Sedangkan maksud diwajibkan adalah wajib memuliakan hari tersebut. Menurut Ibnu Baththal, mereka tidak diperintahkan dengan jelas untuk memuliakan hari Jum'at yang kemudian mereka tinggalkan. Alasannya, seseorang tidak boleh meninggalkan kewajiban yang Allah tetapkan atasnya sementara masih berstatus mukmin. Lalu beliau rahimahullah berkata, "diwajibkan atas mereka (memuliakan) satu hari dalam sejum'at. Lalu mereka diberi pilihan untuk menegakkan syari'at mereka pada hari itu. Kemudian mereka berselisih tentang hari itu dan tidak mendapat petunjuk untuk memilih hari Jum'at." demikian juga yang dinyatakan oleh al Qadli 'Iyadh. (Lihat Fathul Baari: 2/355) Imam al Nawawi rahimahullah berkata, "Mungkin juga mereka telah diperintah dengan jelas, lalu mereka berselisih pendapat apakah wajib menentukan hari itu saja atau dibolehkan untuk menggantinya dengan hari lain. Kemudian mereka berijtihad dalam hal itu, lalu salah." (Lihat Fathul Baari: 2/355) Dan dalam Fathul Baari, Ibnu Hajar rahimahullah menyebutkan sebuah hadits penutup terhadap masalah ini yang diriwayatkan Ibnu Abi Hatim dari jalur Thariq Asbath bin Nashr, dari al Sudiy dengan lafadz yang sangat jelas bahwa mereka diwajibkan untuk memuliakan hari Jum'at saja lalu mereka menolak. Lafadz haditsnya sebagai berikut:

ْ ْ ‫ﱠ‬ َ َ ْ َ َُ ُ َ ‫ﱠ‬ ُ َ َ َ ْ ‫ﺇِﻥﱠ ﷲ ﻓﺭَ ﺽَ ﻋﻠَﻰ ﺍ ْﻟ َﻳﻬُﻭﺩ ﺍ ْﻟﺟﻣﻌﺔ ﻓﺄَﺑَﻭﺍ ﻭﻗﺎﻟُﻭﺍ : ﻳَﺎ ﻣُﻭﺳَﻰ ﺇِﻥﱠ ﷲ ﻟَﻡ ﻳَﺧﻠُﻕ ﻳَﻭﻡ ﺍﻟﺳﺑْﺕ ﺷ ْﻳ ًﺋﺎ ﻓﺎﺟْ ﻌ ْﻠﻪ ﻟَ َﻧﺎ‬ ‫ﱠ‬ َ

"Sesungguhnya Allah telah mewajibkan (untuk mengagungkan) hari Jum'at atas Yahudi, lalu mereka menolaknya dan berkata, "Hai Musa, sesungguhnya Allah tidak menciptakan apa-apa pada hari Sabtu, maka jadikan hari itu untuk kami." (Fathul Baari: 3/277 dari Maktabah Syamilah) dan sikap ngeyel dan penyimpangan mereka bukanlah hal yang aneh. Makna Jum'at dan sebab dinamakan Jum'at Jum'at secara bahasa bermakna satu pokok yang menunjukkan berkumpulnya sesuatu. Dan disebut hari jum'at karena orang-orang yang jumlahnya banyak berkumpul pada hari itu. (al Nihayah: 1/297) Sedangkan secara istilah, Jum'at adalah nama dari salah satu hari dalam sepekan, yang pada hari itu dikerjakan shalat khusus, yaitu shalat Jum'at. Dan dikatakan shalat khusus karena pelaksanaannya berbeda dengan shalat liwa waktu, khususnya shalat dzuhur. Pada shalat Jum'at bacaannya jahr, jumlah rakaatnya hanya dua, diawali dengan khutbah, dan memiliki beberapa keistimwaan pahala.

Manggopoh Alam Saiyo by.My.Bagindo Chaniago

7

Hari Jum'at pada masa jahiliyah dikenal dengan nama ‫( ﺍ ْﻟﻌﺭُﻭﺑَﺔ‬al 'arubah), karena َ mereka mengagungkannya. Orang pertama yang menyebut al-'Arubah adalah Ka'ab bin Lua-i. Pada hari itu, orang-orang Quraisy biasa berkumpul padanya lalu dia menyampaikan ceramah seraya memberikan nasihat dan memerintahkan mereka untuk mengagungkan tanah haram. Dia juga mengabarkan kepada mereka dari sana akan ada Nabi yang diutus. Dan ketika sudah diutus kelak, dia memerintahkan kepada kaumnya untuk taat dan beriman kepadanya. Dari sini semakin jelaslah bahwa hari Jum'at belum masyhur pada masa jahiliyah. Maka tepatlah yang diungkapkan oleh Ibnu Hazm rahimahullah, "bahwa jum'at adalah nama Islami yang tidak dikenal pada masa jahiliyah. Pada masa itu, hari Jum'at dinamakan dengan al-'arubah." (Fathul Baari: 3/275 dari Maktabah Syamilah) Tentang sebab dinamakan hari tersebut dengan Jum'at, banyak pendapat yang memberikan alasan, di antaranya: • • • • • • Karena berkumpulnya banyak orang pada hari itu. Karena Adam dan Hawa berkumpul pada hari itu. Karena di dalamnya berkumpul berbagai kebaikan. Karena pada hari itu kesempurnaan makhluk dikumpulkan. Karena manusia berkumpul pada hari itu untuk shalat. Karena penciptaan Adam dikumpulkan pada hari itu.

Menurut Ibnu Hajar, pendapat yang paling benar tentang sebab dinamakannya hari jum'at adalah pendapat terakhir, karena penciptaan Adam dikumpulkan pada hari itu. Dengan ini maka hikmah dipilihkannya hari Jum'at untuk umat Muhammad karena pada hari itu terjadinya penciptaan Adam. Dan manusia diciptakan hanya untuk ibadah, maka layaklah kalau pada hari itu dia hanya sibuk dengan ibadah. Dan juga karena Allah Ta'ala menyempurnakan penciptaan makhluk-makhluk pada hari itu dan menciptakan manusia pada hari itu juga sehingga bisa memanfaatkannya. Maka tepatlah, kalau pada hari itu mereka menggunakannya untuk bersyukur kepada Allah dengan beribadah kepada-Nya. Wallahu Ta'ala A'lam Maka tepatlah, kalau pada hari itu mereka menggunakannya untuk bersyukur kepada Allah dengan beribadah kepada-Nya. Oleh : Purnomo (PurWD/voa-islam.com)

Manggopoh Alam Saiyo by.My.Bagindo Chaniago

8

Etika Menyambut Hari Jumat
Mandi Jum’at [jenabat]

Mandi pada hari Jumat wajib hukumnya bagi setiap muslim yang baligh berdasarkan hadits Abu Sa’id Al Khudri, di mana Rasulullah bersabda, yang artinya, “Mandi pada hari Jumat adalah wajib bagi setiap orang yang baligh.” (HR. Bukhori dan Muslim). Mandi Jumat ini diwajibkan bagi setiap muslim pria yang telah baligh, tetapi tidak wajib bagi anak-anak, wanita, orang sakit, dan musafir. Sedangkan waktunya adalah sebelum berangkat sholat Jumat. Adapun tata cara mandi Jumat ini seperti halnya mandi jenabat biasa. Rasulullah bersabda yang artinya, “Barangsiapa mandi Jumat seperti mandi jenabat.” (HR. Bukhari dan Muslim) A. Berpakaian Bersih dan Memakai Wangi-Wangian

Rasulullah berkata, "Siapa yang mandi pada hari Jumat, bersuci sesuai kemampuan, merapikan rambutnya, mengoleskan parfum, lalu berangkat ke masjid, dan masuk masjid tanpa melangkahi di antara dua orang untuk dilewatinya, kemudian shalat sesuai tuntunan dan diam tatkala imam berkhutbah, niscaya diampuni dosa-dosanya di antara dua Jum'at." [HR. Bukhari] B. Menghentikan Aktivitas Jual-Beli dan Menyegerakan ke Masjid Anas bin Malik berkata, “Kami berpagi-pagi menuju sholat Jumat dan tidur siang setelah sholat Jumat.” (HR. Bukhari). Al Hafidz Ibnu Hajar berkata, “Makna hadits ini yaitu para sahabat memulai sholat Jumat pada awal waktu sebelum mereka tidur siang, berbeda dengan kebiasaan mereka pada sholat zuhur ketika panas, sesungguhnya para sahabat tidur terlebih dahulu, kemudian sholat ketika matahari telah rendah panasnya.” (Lihat Fathul Bari II/388) C. Sholat Sunnah Sebelum dan Sesudah Shalat Jumat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu menuturkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa mandi kemudian datang untuk sholat Jumat, lalu ia sholat semampunya dan dia diam mendengarkan khotbah hingga selesai, kemudian sholat bersama imam maka akan diampuni dosanya mulai Jumat ini sampai Jumat berikutnya ditambah tiga hari.” [HR. Muslim]

Manggopoh Alam Saiyo by.My.Bagindo Chaniago

9

D.

Membaca Surat Al Kahfi

Nabi bersabda yang artinya, “Barangsiapa yang membaca surat Al Kahfi pada hari Jumat maka Allah akan meneranginya di antara dua Jumat.” E. Memperbanyak Shalawat. Dari Anas ra, Rasulullah bersabda: "Perbanyaklah shalawat pada hari Jumat dan malam Jumat." [HR. Baihaqi] Dari Aus Radhiallahu 'anhu, dia mengatakan, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, bersabda: "Sebaik-baik hari kalian adalah hari Jumat: pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu beliau diwafatkan, pada hari itu sangkakala ditiup, pada hari itu manusia bangkit dari kubur, maka perbanyaklah shalawat kepadaku pada hari itu, karena shalawat kalian akan diperlihatkan kepadaku", para shahabat bertanya: "wahai Rasulullah, bagaimana diperlihatkan kepada engkau sedangkan tubuh engkau sudah hancur (sudah menyatu dengan tanah ketika sudah wafat), Beliau menjawab: "sesungguhnya Allah Subhanahu Wata'ala mengharamkan kepada bumi untuk memakan (menghancurkan) jasad para Nabi." [HR, "al-Khamsah] Mencintai Apa yang Dicintai Nabi Rasulullah Muhammad adalah orang pilihan dan kekasih Allah SWT. Apapun amalan yang disukai Nabi adalah hal yang paling disukai Allah dan setiap amalan yang dibenci Nabi juga dimurkai Allah. Bentuk kesungguhan kita mencintai Rasulullah Saw adalah berlomba-lomba dan bersungguh-sungguh mengikuti dan meneladani apa yang telah beliau lakukan. Sebagaimana firman Allah SWT, ‫ .ﻭﻣﺎ ءﺍﺗَﺎﻛﻢ ﺍﻟﺮﺳﻮﻝ ﻓﺨﺬﻭﻩ ﻭﻣﺎ ﻧَﻬﺎﻛُﻢ ﻋﻨﻪ ﻓﺎﻧﺘﻬﻮﺍ‬Artinya, َ َ ُ ُ ُ َ ُ ُ ‫َ َ َ ُ ُ ﱠ‬ ُ َْ َ ُ َْ ْ َ ”Apa saja yang dibawa oleh Rasul untuk kalian, ambillah, dan apa saja yang dilarangnya atas kalian, tinggalkanlah.” [QS. al-Hasyr [59]: 7] Dalam ayat lain disebutkan, Katakanlah, “Jika kalian benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mengasihi kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.” [Qs. Ali-Imran [3]: 31]. Karena itu, apapun yang sudah ditetapkan Nabi –termasuk memuliakan hari Jumat-adalah sesuatu yang sudah pasti disukai Allah SWT. Sangatlah tidak pantas bagi kita sekalian mengada-adakan dan mengarang-ngarang sesuatu yang sesungguhnya tidak ada dan tidak pernah dilakukan Nabi kita. Semoga setelah ini kita ikut menjadikan dan memuliakan hari Jumat. [cak, berbagai sumber/hidayatullah.com]

Manggopoh Alam Saiyo by.My.Bagindo Chaniago

10

Hukum Mandi Hari Jum'at, Wajib atau Sunnah?
Oleh: Badrul Tamam

Para ulama sepakat bahwa mandi hari Jum’at bagi orang yang akan menghadiri shalat Jum'at disyari'atkan. Mandi ini menjadi keistimewaan hari Jum'at. Karena pentingnya, kita dapatkan beberapa hadits Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sangat menekankannya. Bahkan sebagian riwayat, secara dzahir menyebutkan kata wajib. Karenanya sebagian ulama berpendapat hukum mandi di hari Jum'at adalah wajib. Namun, mayoritas mereka berpendapat sunnah mu'akkadah (sangat-sangat ditekankan) setelah mengkomparasikan beberapa hadits tentang mandi di hari Jum'at ini. Argumentasi yang mewajibkannya Para ulama yang berpendapat wajibnya mandi di hari Jum'at, bagi orang yang akan menghadiri shalat Jum'at, mendasarkan pada beberapa dalil berikut ini:

‫ُ ﱢ‬ ‫ﻏﺳْ ﻝ ﺍَ ْﻟﺟﻣﻌﺔ ﻭﺍﺟﺏٌ ﻋﻠَﻰ ﻛﻝ ﻣُﺣْ َﺗﻠِﻡ‬ َ ِ َ ِ َُ ُ ُ ُ ٍ

"Mandi Jum'at adalah wajib bagi setiap yang telah bermimpi (baligh)." (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, al-Nasai, Ibnu Majah, Ahmad, dan al -Tirmidzi) Hadits ini menjadi dalil utama bagi orang yang berpendapat wajbnya mandi hari Jum’at. Dalam Shahih Muslim disebutkan, "ketika Umar bin Khathab radliyallah 'anhu berkhutbah di hari Jum'at, tiba-tiba Utsman bin 'Affan masuk. Maka Umar memotong khutbahnya untuk menegurnya seraya berkata, "kenapa orang-orang terlambat setelah seruan dikumandangkan?" Utsman menjawab, "Ketika aku mendengar seruan Adzan, aku tidak dapat berbuat lebih daripada sekedar wudlu' dan kemudian berangkat." Maka Umar berkata, "hanya berwudlu? Bukankah kalian pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

َ ْ ْ َ ِ َُ ُ ‫ﺇِﺫﺍ ﺟَ ﺎء ﺃَﺣَ ﺩﻛﻡ ﺇِﻟَﻰ ﺍ ْﻟﺟﻣﻌﺔ ﻓ ْﻠﻳَﻐ َﺗﺳِ ﻝ‬ ُْ ُ َ

Manggopoh Alam Saiyo by.My.Bagindo Chaniago

11

"Apabila salah seorang kalian berangkat shalat Jum'at hendaklah dia mandi." (HR. Muslim) Dalam riwayat Bukhari, Umar berkata, "tidaklah kalian pernah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

َ ْ ْ َ ِ َُ ُ ‫ﺇِﺫﺍ ﺭَ ﺍﺡ ﺃَﺣَ ﺩﻛﻡ ﺇِﻟَﻰ ﺍ ْﻟﺟﻣﻌﺔ ﻓ ْﻠﻳَﻐ َﺗﺳِ ﻝ‬ ُْ ُ َ

"Apabila salah seorang kalian berangkat shalat Jum'at, hendaklah ia mandi." Dari Abu Hurairah radliyallah 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

ُ‫ﺣَ ﻕ ﻋﻠَﻰ ﻛﻝ ﻣُﺳْ ﻠِﻡ ﺃَﻥْ ﻳَﻐ َﺗﺳِ ﻝ ﻓِﻲ ﻛﻝ ﺳ ْﺑﻌﺔ ﺃَﻳﱠﺎﻡ ﻳَﻭﻣًﺎ ﻳَﻐﺳِ ﻝ ﻓِﻳﻪ ﺭَ ْﺃﺳﻪ ﻭﺟَ ﺳﺩﻩ‬ ْ ٍ ِ َ َ ‫ُ ﱢ‬ ‫ُ ﱢ‬ ََ َ ُ َ ِ ُ ْ َ ْ َ ‫ﱞ‬ ٍ

"Wajib bagi setiap muslim untuk mandi pada satu hari dari setiap tujuh hari, pada mandi itu dia mengguyur kepala dan badannya." (HR. Bukhari) Dalam lafadz al-Nasai dari Jabir yang dia sandarkan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam,
‫ُ ﱢ‬ ‫ﻋﻠَﻰ ﻛﻝ ﺭَ ﺟُﻝ ﻣُﺳْ ﻠِﻡ ﻓِﻲ ﻛﻝ ﺳ ْﺑﻌﺔ ﺃَﻳﱠﺎﻡ ﻏﺳْ ﻝ ﻳَﻭﻡ ﻭﻫُﻭ ﻳَﻭﻡ ﺍ ْﻟﺟﻣﻌﺔ‬ ِ َُ ُ ُ ْ َ َ ٍ ْ ُ ُ ٍ ِ َ َ ‫ُ ﱢ‬ َ ٍ ٍ

"Kewajiban bagi setiap muslim, pada setiap tujuh hari untuk mandi pada satu hari, yaitu pada hari Jum'at." (HR. Al Nasai dan dinilai shahih oleh Syaikh al Albani dalam Shahih al-Nasai (1/44) dan dalam Irwa' al Ghalil (1/173)). "Apabila salah seorang kalian berangkat shalat Jum'at hendaklah dia mandi." (HR. Muslim) Ibnu Umar radliyallah 'anhuma berkata, "sesungguhnya mandi itu diwajibkan bagi yang wajib menunaikan shalat Jum'at." (HR. al Bukhari sebelum hadits no. 894) Syaikh Ibnu Utsaimin juga menguatkan pendapat ini. Hukum wajib mandi Jum'at lebih beliau kuatkan dalam kitab al-Syarhu al-Mumti' 'alaa Zaad al-Mustaqni': V/108110. Syaikh Abu Malik Kamal bin al Sayyid Salim dalam Shahih Fiqih Sunnah, memilih pendapat ini. Beliau berkata, "diwajibkan mandi bagi siapa yang mendatangi shalat Jum'at, yaitu orang-orang yang diperintahkan untuk menunaikan shalat Jum'at, menurut pendapat ulama yang paling shahih, berdasarkan dalil-dalil yang telah
Manggopoh Alam Saiyo by.My.Bagindo Chaniago

12

disebutkan dalam Perkara-perkara yang mewajibkan mandi." (Shahih Fiqih Sunnah, II/305) Shafiyyurrahman al Mubarakfuri dalam Ithaf al Kiram Ta'liq 'alaa Bulughul Maram menyatakan bahwa pendapat ini lebih absah, lebih rajih, dan lebih kuat daripada pendapat yang menyatakan tidak wajib. Dan berpendapat dengan ini jauh lebih selamat. Argumentasi yang menyatakan tidak wajib Jumhur Ulama berpendapat mandi Jum'at tidak wajib. Mereka mengakui keshahihan hadits-hadits yang dibawakan oleh ulama yang mewajibkannya. Namun setelah dikorelasikan dengan riwayat-riwayat lain, mereka menakwilkan kata "wajib" sebagai taukid (penekanan). Karenanya mereka menyimpulkan bahwa hukum mandi shalat Jum'at adalah sunnah mu'akkadah. Berikut ini dasar pendapat mereka:

Pertama, Dari Abu Hurairah radliyallah 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

ُ َ َ َُ ُ َ ََْ ُ ‫ﻣﻥْ َﺗﻭﺿﱠﺄ َ ﻓﺄَﺣْ ﺳَﻥَ ﺍ ْﻟﻭُ ﺿُﻭء ﺛﻡ ﺃَ َﺗﻰ ﺍ ْﻟﺟﻣﻌﺔ ﻓﺎﺳْ َﺗﻣَﻊَ ﻭﺃَ ْﻧﺻﺕَ ﻏﻔِﺭَ ﻟَﻪ ﻣَﺎ َﺑ ْﻳ َﻧﻪ ﻭ َﺑ ْﻳﻥَ ﺍ ْﻟﺟﻣﻌﺔ ﻭﺯﻳَﺎﺩﺓُ َﺛﻼ َﺛﺔ ﺃَﻳﱠﺎﻡ ﻭﻣﻥْ ﻣَﺱﱠ ﺍ ْﻟﺣَ ﺻَﻰ ﻓﻘﺩ ﻟَﻐَﺎ‬ َ َ ٍ ِ َ َ ِ َ ِ َُ ُ َ ُ َ َ َ َ ‫َ ُﱠ‬

"Barangsiapa berwudlu', lalu memperbagus (menyempurnakan) wudlunya, kemudian mendatangi shalat Jum'at dan dilanjutkan mendengarkan dan memperhatikan khutbah, maka dia akan diberikan ampunan atas dosa-dosa yang dilakukan pada hari itu sampai dengan hari Jum'at berikutnya dan ditambah tiga hari sesudahnya. Barangsiapa bermain-main krikil, maka sia-sialah Jum'atnya." (HR. Muslim no. 857) Di dalam hadits ini Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam hanya menyebutkan wudlu' dan hanya menfokuskan padanya, tidak pada mandi, lalu menilainya sah sekaligus menyebutkan pahala yang diperoleh dari hal tersebut. Dengan demikian, hal itu menunjukkan wudlu' saja sudah cukup dan tidak perlu mandi. Dan bahwasanya mandi itu bukan sesuatu yang wajib, tetapi Sunnah Mu'akkadah. Dengan demikian, hal itu menunjukkan wudlu' saja sudah cukup dan tidak perlu mandi. Dan bahwasanya mandi itu bukan sesuatu yang wajib, tetapiSunnah Mu'akkadah. Imam al Nawawi rahimahullah, dalam Syarh Shahih Muslim, ketika memberikan syarah hadits, "siapa yang mandi kemudian mendatangi Jum'at, lalu shalat sebagainya yang dia mampu, lalu memperhatikan khutbah hingga selesai, lalu shalat bersama Imam, maka diberi ampunan untuknya pada hari itu sampai dengan

Manggopoh Alam Saiyo by.My.Bagindo Chaniago

13

hari Jum'at berikutnya dan ditambah tiga hari sesudahnya," beliau menyitir riwayat di atas. Kemudian berkata, "di dalam hadits (pertama) terdapat keutamaan mandi. Dan itu bukan hal yang wajib berdasarkan riwayat kedua. Di dalamnya terdapat anjuran berwudlu' dan memperbagusnya." Kedua, hadits Samurah bin Jundab radliyallah 'anhu. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

ُ َ ْ ُ ُ َ َ َ ْ َ َ ْ ‫ﻣﻥْ َﺗﻭﺿﱠﺄ َ ﻳَﻭﻡ ﺍَ ْﻟﺟﻣﻌﺔ ﻓﺑﻬَﺎ ﻭﻧِﻌْ ﻣَﺕ ,ﻭﻣﻥْ ﺍِﻏ َﺗﺳﻝ ﻓﺎ ْﻟﻐﺳْ ﻝ ﺃَﻓﺿﻝ‬ َ َِ ِ َُ ُ َ ْ َ َ

"Barangsiapa yang berwudlu', maka dia telah mengikuti sunnah dan itu yang terbaik. Barangsiapa yang mandi , maka yang demikian itu lebih afdhal." (HR. Abu Dawud no. 354, al-Tirmidzi no. 497, al-Nasai no. 1379, Ibnu Majah no. 1091, Ahmad, no. 22. Imam al-Tirmidzi menghasankannya) Ibnu Hajar mencantumkan hadits ini dalam Bulughul Maram sesudah hadits yang menunjukkan wajibnya mandi Jum'at. Dan berdasarkan hadits ini, Jumhur mendasarkan pendapat mereka. Imam al Shan'ani dalam Subul al-Salam berkata, "hadits ini menjadi dalil tidak wajibnya mandi." Al-Mubarakfuri dalam Ithaf al Kiram berkata, "hadits ini menguatkan pendapat Jumhur bahwa mandi hari Jum’at tidak wajib." Ketiga, pengakuan 'Umar dan para sahabat terhadap 'Utsman yang berangkat menunaikan shalat Jum'at dengan berwudlu' saja, tidak mandi. Mereka tidak menyuruh 'Ustman untuk keluar dari masjid serta tidak menolaknya sehingga hal itu menjadi ijma' mereka bahwa mandi bukan menjadi syarat sahnya shalat Jum'at dan tidak wajib. Imam al Nawawi mengambil kesimpulan dari kisah ini, seandainya mandi Jum'at itu wajib pasti 'Utsman tidak akan meninggalkannya. Dan jika wajib, pasti 'Umar dan para sahabat lainnya akan menyuruhnya mandi. Padahal status keduanya sebagai Ahlul Halli wal 'Aqdi. Imam al Tirmidzi rahimahullah menyimpulkan dari kisah ini, bahwa mandi hari Jum'at bersifat pilihan dan bukan sesuatu yang wajib. Keempat, sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam kepada para sahabat yang keluar bekerja pada hari Jum'at sehingga mereka terkena debu dan menimbulkan bau tidak sedap;

Manggopoh Alam Saiyo by.My.Bagindo Chaniago

14

‫ﻟَﻭ ﺍﻏ َﺗﺳ ْﻠﺗﻡ ﻳَﻭﻡ ﺍ ْﻟﺟﻣﻌﺔ‬ ِ َُ ُ َ ْ ُْ َ ْ ْ

"Alangkah baiknya kalian mandi pada hari Jum'at." (HR. Muslim dari 'Aisyah radliyallah 'anha) dalam riwayat lain, "kalau saja kalian membersihkan diri kalian untuk hari kalian ini." Lafadz hadits ini memberikan pengertian bahwa mandi hari Jum'at itu bukan suatu yang wajib. Pengertian dari sabda beliau di atas adalah, "niscaya akan lebih baik dan lebih sempurna." (Syarh Shahih Muslim: IV/382) Kelima, sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam,

َ ِ ‫ﱢ‬ ‫ُ ﱢ‬ ‫ﻏﺳْ ﻝ ﻳَﻭﻡ ﺍ ْﻟﺟﻣﻌﺔ ﻋﻠَﻰ ﻛﻝ ﻣُﺣْ َﺗﻠِﻡ ﻭﺳِ ﻭﺍﻙ ﻭ َﻳﻣَﺱﱡ ﻣِﻥْ ﺍﻟﻁﻳﺏ ﻣَﺎ ﻗﺩَﺭَ ﻋﻠَ ْﻳﻪ‬ ِ َ َ ٌ َ َ ٍ َ ِ َُ ُ ِ ْ ُ ُ

"Mandi hari Jum'at itu wajib bagi setiap orang yang bermimpi. Begitu pula dengan bersiwak dan memakai wewangian jika mampu melaksanaknnya (jika ada)." (Muttafaq 'alaih; al-Bukhari no. 880 dan Muslim no. 846) Lahiriyah hadits ini menunjukkan bahwa memakai siwak dan wewangian adalah wajib. Padahal menurut kesepakatan yang ada tidak demikian. Hal itu menunjukkan bahwa sabda beliau "wajib" itu bukan makna yang sebenarnya. Namun, maksudnya adalah sunnah mu'akkadah. Sebab tidak dibenarkan penggabungan sesuatu yang wajib dan sesuatu yang tidak wajib dalam satu kata sambung wawu (artinya: dan). Hanya Allah yang lebih tahu. (lihat al Mufhim Limaa Asykala Talkhiish Kitab Muslim, Imam al Qurtubi: II/479-480 ; Fathul Baari, Ibnul Hajar: II/356-364 ; dan Zaad al Ma'ad, Ibnul Qayyim: I/376-377)

Keenam, pendapat beberapa ulama: Ibnu Qudamah berkata, "tidak ada perbedaan mengenai disunnahkannya hal tersebut. Dalam hal itu terdapat banyak atsar shahih sehingga hal itu bukanlah sesuatu yang wajib menurut pendapat mayoritas ulama. Itu merupakan pendapat al Auza'i, al-Tsauri, Malik, al-Syafi'i, Ibnul Mundzir, dan Ashabul Ra'yi. Ada yang berpendapat yang demikian itu adalah ijma." (al Mughni, Ibnu Qudamah: III/225) Imam Ibnu 'Abdil Barr berkata, "para ulama telah bersepakat bahwa mandi hari Jum'at bukan suatu yang wajib, kecuali satu kelompok dari penganut paham alDzahiriyah. Mereka mewajibkan dan bersikap keras dalam hal itu. Sedangkan di kalangan ulama dan fuqaha' terdapat dua pendapat: salah satunya menyebut sunnah dan yang lainnya mustahab. Bahwasanya perintah mandi Jum'at itu karena suatu alasan sehingga ketika alasan itu sudah ditangani, gugurlah perintah tersebut.

Manggopoh Alam Saiyo by.My.Bagindo Chaniago

15

Sesungguhnya pemakaian wangi-wangian sudah cukup memadai." (al-Tamhiid: XIV/151-152)

Al-Hafidz Ibnu Rajab menyebutkan bahwa mayoritas ulama berpendapat bahwa, mandi hari Jum'at sunnah, bukan wajib. Telah diriwayatkan dari Umar, Utsman, Ibnu Mas'ud, 'Aisyah, dan sahabat-sahabat lainnya. hal ini juga yang telah disampaikan Jumhur Fuqaha' seperti al-Tsauri, al-Auza'i, Abu Hanifah, al-Syafi'i, Ahmad, dan Ishaq. Selain itu juga diriwayatkan oleh Ibnu Wahab dari Malik. Maka perintah mandi diartikan sebagai sesuatu yang sunnah. (Fath al Baari, Ibnu Rajab: (VIII/78-82) Syaikh Ibnu Bazz rahimahullah juga berpendapat bahwa mandi hari Jum'at hukumnya sunnah mu'akkadah. Beliau berkata, "mandi hari Jum'at itu sunnah mu'akkadah, yang senantiasa harus dijaga seorang muslim dalam rangka keluar dari orang yang mewajibkannya. . . . Yang benar adalah bahwa bahwa mandi hari Jum'at itu sunnah mu'akkadah. Adapun sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, "Mandi Hari Jum'at itu wajib bagi setiap yang telah baligh," maknanya menurut mayoritas ulama sudah sangat jelas sebagaimana ungkapan orang Arab: "janji itu hutang dan wajib bagiku untuk melunasinya." Sebagian mereka mengemukakan: "Aku wajib memenuhi hak anda," dan itu berari penekanan. Hal tersebut juga ditunjukkan oleh kebijakan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang sudah cukup dengan hanya memerintahkan berwudlu' saja dalam beberapa hadits. Demikian halnya dengan memakai wewangian, bersiwak, mengenakan pakain terbagus, dan segera berangkat ke tempat pelaksanaan Jum'at (masjid). Semua itu merupakan hal yang sunah, memang dianjurkan, dan bukan suatu yang wajib." (disarikan dari fatwa-fatwa Syaikh Abdul 'Aziz bin Abdullah bin Bazz. Lihat Majmu' Fatawa Syaikh bin Bazz (XII/404), al-Fataawa al-Islaamiyyah (I/419). DR. Sa'id bin 'Ali bin Wahf al Qahthani dalam Shalatul Mukmin, mennuturkan keterangan Syaikh bin Bazz ini didengarnya beberapa kali saat mengupas Shahih Bukhari no. 818 dan seterusnya.) Mandi hari Jum'at itu sunnah mu'akkadah, yang senantiasa harus dijaga seorang muslim dalam rangka keluar dari orang yang mewajibkannya. . . (Syaikh ibnu Bazz) Kesimpulan Dari argumentasi yang disampaikan oleh dua kelompok ulama di atas, nampak pendapat kedua yang lebih benar. Namun demikian tidak boleh diremehkan perintah ini, karena mandi hari Jum'at telah diamalkan oleh sejumlah ulama dari kalangan sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan orang-orang setelah mereka. Dari hadits-hadits yang sama-sama diakui dua kelompok, terkandung anjuran yang sangat ditekankan untuk melaksanakan mandi Jum'at. Karenanya, hendaknya seorang muslim menjaga perintah ini dan tidak meninggalkannya sebagai bentuk

Manggopoh Alam Saiyo by.My.Bagindo Chaniago

16

kehati-hatian dan keluar dari perselisihan pendapat di kalangan orang-orang yang mewajibkannya secara mutlak. Tentang anjuran mandi Jum'at ini, Ibnul Qayyim menjelaskan, bahwa perintah ini lebih kuat daripada perintah shalat witir, membaca basmalah dalam shalat, wudlu karena menyentuh wanita, wudlu setelah menyentuh kemaluan, wudlu karena tertawa terbahak-bahak dalam shalat, wudlu karena mimisan, berbekam dan muntah; juga hukum shalawat kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pada tasyahud akhir, dan hukum wajib bacaan untuk makmum. (Zaad al Ma'aad: I/376) Hendaknya seorang muslim menjaga perintah ini dan tidak meninggalkannya sebagai bentuk kehati-hatian dan keluar dari perselisihan pendapat di kalangan orang-orang yang mewajibkannya secara mutlak. Perintah ini lebih ditekankan lagi atas orang yang berkeringat dan keluar bau tidak sedap. Karena hal ini mengganggu saudaranya yang lain dan juga mengganggu para malaikat. Dari sini, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berpendapat wajib atas orang yang berkeringat dan berbau tidak sedap yang dapat mengganggu orang lain. (Majmu' Fatawa Ibnu Taimiyyah: I/307-308). Wallahu a'lam bil Shawaab . . . (PurWD/voa-islam.com)

Kapan Mandi Jum'at Dilaksanakan?

Sesungguhnya hari Jum'at hari yang sangat mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Selayaknya seorang muslim menghormati kemuliaan hari tersebut. Salah satu bentuknya adalah dengan mandi pada hari tersebut dengan sifat khusus, sebagaimana mandi janabat.

Mandi pada hari Jum'at menjadi syarat pelengkap untuk mendapatkan keutamaan yang besar pada ibadah di hari Jum'at. Hal ini didasarkan pada beberapa hadits berikut ini: Dari Abu Hurairah radliyallah 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

Manggopoh Alam Saiyo by.My.Bagindo Chaniago

17

ْ ْ ِ َُ ُ َ ْ ‫ﱠ‬ ُ ُ ََ َ ُ ‫ُ ْ ِ ُﱠ‬ ُ ‫ﻣﻥْ ﺍﻏ َﺗﺳﻝ ﺛﻡ ﺃَ َﺗﻰ ﺍ ْﻟﺟﻣﻌﺔ ﻓﺻﻠﱠﻰ ﻣَﺎ ﻗُﺩﺭَ ﻟَﻪ ﺛﻡ ﺃَ ْﻧﺻﺕَ ﺣَ ﺗﻰ َﻳﻔﺭُﻍ ﻣِﻥْ ﺧﻁ َﺑﺗِﻪ ﺛﻡ ﻳﺻﻠﱢﻲ ﻣﻌﻪ ﻏﻔِﺭَ ﻟَﻪ ﻣَﺎ َﺑ ْﻳ َﻧﻪ ﻭ َﺑ ْﻳﻥَ ﺍ ْﻟﺟﻣﻌﺔ ﺍﻷُﺧﺭَ ﻯ‬ َ ُ َ َ َ َ َُ ُ ‫ﱢ ُ ُﱠ‬ ‫َ ْ َ َ ُﱠ‬ ‫ﻭﻓﺿْ ﻝ َﺛﻼ َﺛﺔ ﺃَﻳﱠﺎﻡ‬ ٍ ِ َ ُ َ َ

"Barangsiapa yang mandi kemudian mendatangi shalat Jum'at, lalu shalat semampunya kemudian mendengarkan khutbah sampai selesai dan selanjutnya shalat bersama imam, maka akan diberikan ampunan baginya antara hari itu dan hari Jum'at depannya dan diberi tambahan selama tiga hari." (HR. Muslim) Dalam shahih al Bukhari, dari Salman al Farisi mengatakan, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

َ ُ َُ ََ ُ ُ ْ ‫ِ ِ ُﱠ‬ ‫ُ ٍ َ ﱠ‬ ُ ‫َ ْ ُ ُ ٌ ْ َ ُ َُ ِ َ َ ﱠ‬ ‫ﻻ ﻳَﻐ َﺗﺳِ ﻝ ﺭَ ﺟﻝ ﻳَﻭﻡ ﺍ ْﻟﺟﻣﻌﺔ ﻭ َﻳ َﺗﻁﻬﺭ ﻣَﺎ ﺍﺳْ َﺗﻁﺎﻉَ ﻣِﻥْ ﻁﻬْﺭ ﻭ َﻳﺩﻫِﻥُ ﻣِﻥْ ﺩُﻫْ ﻧِﻪ ﺃ َْﻭ َﻳﻣَﺱﱡ ﻣِﻥْ ﻁِ ﻳﺏ َﺑ ْﻳﺗِﻪ ﺛﻡ ﻳَﺧﺭﺝ ﻓﻼ ﻳﻔﺭﱢ ﻕ َﺑ ْﻳﻥَ ﺍﺛ َﻧﻳْﻥ ﺛﻡ‬ ِ ‫ْ ِ ُﱠ‬ ُ ‫ﻳﺻﻠﱢﻲ ﻣَﺎ ﻛﺗِﺏَ ﻟَﻪ ﺛﻡ ﻳ ْﻧﺻِ ﺕ ﺇﺫﺍ َﺗﻛﻠﱠﻡ ﺍﻹﻣَﺎﻡ ﺇﻻ ﻏﻔِﺭَ ﻟَﻪ ﻣَﺎ َﺑ ْﻳ َﻧﻪ ﻭ َﺑ ْﻳﻥَ ﺍ ْﻟﺟﻣﻌﺔ ﺍﻷ‬ ْ ُ ُ ‫ُ َِ َ َ ْ ِ ُ ِﱠ‬ ُ ُ ‫ُ ُﱠ‬ ‫ُ ُ َ ِ ْ ﺧﺭَ ﻯ‬ َ ُ َ ُ

"Tidaklah seorang hamba mandi pada hari Jum’at dan bersuci dengan sebaik-baik bersuci, lalu ia meminyaki rambutnya atau berparfum dengan minyak wangi, kemudian ia keluar (menunaikan sholat Jum’at) dan tidak memisahkan antara dua orang (yang duduk), kemudian ia melakukan sholat apa yang diwajibkan atasnya dan ia diam ketika Imam berkhutbah, melainkan segala dosanya akan diampuni antara hari Jum’at ini dengan Jum’at lainnya.” Dari Abu Darda', Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

َ َ ِِ ْ ْ َ ً ‫ُ َُ ِ َ َ ِ ﱠ ُ َ ْ َ ﱠ‬ َ َ ‫ِ َ ُﱠ‬ َ ‫ﻣﻥْ ﺍﻏ َﺗﺳﻝ ﻳَﻭﻡ ﺍ ْﻟﺟﻣﻌﺔ ﻭﻟَﺑﺱَ ﺛِﻳَﺎ َﺑﻪ ﻭﻣَﺱﱠ ﻁِ ﻳﺑًﺎ ﺇِﻥْ ﻛﺎﻥَ ﻋ ْﻧﺩﻩُ ﺛﻡ ﻣﺷﻰ ﺇِﻟَﻰ ﺍ ْﻟﺟﻣﻌﺔ ﻭﻋﻠَ ْﻳﻪ ﺍﻟﺳﻛِﻳ َﻧﺔ ﻭﻟَﻡ َﻳ َﺗﺧﻁ ﺃَﺣَ ﺩﺍ ﻭﻟَﻡ ﻳُﺅﺫﻩ ﻭﺭَ ﻛﻊَ ﻣَﺎ‬ َ ُ ِ َ ِ َُ ُ َ ْ َ َ ْ َ َ ‫ُ ُﱠ‬ ‫ﱠ‬ َ‫ﻗُﺿِ ﻲَ ﻟَﻪ ﺛﻡ ﺍ ْﻧ َﺗﻅﺭَ ﺣَ ﺗﻰ َﻳ ْﻧﺻَﺭﻑَ ﺍﻹِﻣَﺎﻡ ﻏﻔِﺭَ ﻟَﻪ ﻣَﺎ َﺑ ْﻳﻥَ ﺍ ْﻟﺟﻣﻌﺗ‬ ُ ُ ْ ُ ‫ُ ُ َ ﻳْﻥ‬ ِ ِ

"Siapa mandi pada hari Jum'at, lalu memakai pakaiannya (yang bagus) dan memakai wewangian, jika punya. Kemudian berjalan menuju shalat Jum'at dengan tenang, tidak menggeser seseorang dan tidak menyakitinya, lalu melaksanakan shalat semampunya, kemudian menunggu hingga imam beranjak keluar, maka akan diampuni dosanya di antara dua Jum'at." (HR. Ahmad dalam Musnadnya) Mandi pada hari Jum'at menjadi syarat pelengkap untuk mendapatkan keutamaan yang besar pada ibadah di hari Jum'at. Dari beberapa hadits di atas, bahwa pengampunan dosa dari satu Jum'at ke Jum'at berikutnya memiliki syarat. Yaitu dengan melaksanakan amalan-amalan yang disebutkan dalam hadits, di antaranya adalah mandi.

Manggopoh Alam Saiyo by.My.Bagindo Chaniago

18

Ibadah mandi pada hari Jum'at termasuk amal ibadah khusus yang dimiliki hari Jum'at. Karena pentingnya, kita dapatkan beberapa hadits Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sangat menekankannya. Para ulama bersepakat tentang disyariatkannya. hanya saja mereka berbeda dalam menghukumi mandi ini secara rinci, sebagiannya menyatakan wajib, dan mayoritas mereka berpendapat sunnah mu'akkadah. Dari Abu Sa'id al Khudri radliyallah 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

‫ُ ﱢ‬ ‫ﻏﺳْ ﻝ ﺍَ ْﻟﺟﻣﻌﺔ ﻭﺍﺟﺏٌ ﻋﻠَﻰ ﻛﻝ ﻣُﺣْ َﺗﻠِﻡ‬ َ ِ َ ِ َُ ُ ُ ُ ٍ

"Mandi Jum'at adalah wajib bagi setiap yang telah bermimpi (baligh)" (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, an Nasai, Ibnu Majah, dan Ahmad) Dalam Shahihain dari hadits Abdullah bin Umar radliyallah 'anhuma, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Jika salah seorang dari kalian ingin mendatangi shalat Jum'at, hendaklah ia mandi." (Muttafaq 'alaih) Dalam lafadz Muslim disebutkan, "ketika Umar bin Khathab radliyallah 'anhu berkhutbah di hari Jum'at, tiba-tiba Utsman bin 'Affan masuk. Maka Umar memotong khutbahnya untuk menegurnya seraya berkata, "kenapa orang-orang terlambat setelah seruan dikumandangkan?" Utsman menjawab, "Ketika aku mendengar seruan adzan, aku tidak dapat berbuat lebih daripada sekedar wudlu dan kemudian berangkat." Maka Umar berkata, "hanya berwudlu? Bukankah kalian pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

َ ْ ْ َ ِ َُ ُ ‫ﺇِﺫﺍ ﺟَ ﺎء ﺃَﺣَ ﺩﻛﻡ ﺇِﻟَﻰ ﺍ ْﻟﺟﻣﻌﺔ ﻓ ْﻠﻳَﻐ َﺗﺳِ ﻝ‬ ُْ ُ َ

"Apabila salah seorang kalian berangkat shalat Jum'at hendaklah dia mandi." (HR. Muslim) Dalam riwayat Bukhari, Umar berkata, "tidaklah kalian pernah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

َ ْ ْ َ ِ َُ ُ ‫ﺇِﺫﺍ ﺭَ ﺍﺡ ﺃَﺣَ ﺩﻛﻡ ﺇِﻟَﻰ ﺍ ْﻟﺟﻣﻌﺔ ﻓ ْﻠﻳَﻐ َﺗﺳِ ﻝ‬ ُْ ُ َ

"Apabila salah seorang kalian berangkat shalat Jum'at, hendaklah ia mandi."

Manggopoh Alam Saiyo by.My.Bagindo Chaniago

19

Dari Abu Hurairah radliyallah 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

ُ‫ﺣَ ﻕ ﻋﻠَﻰ ﻛﻝ ﻣُﺳْ ﻠِﻡ ﺃَﻥْ ﻳَﻐ َﺗﺳِ ﻝ ﻓِﻲ ﻛﻝ ﺳ ْﺑﻌﺔ ﺃَﻳﱠﺎﻡ ﻳَﻭﻣًﺎ ﻳَﻐﺳِ ﻝ ﻓِﻳﻪ ﺭَ ْﺃﺳﻪ ﻭﺟَ ﺳﺩﻩ‬ ْ ٍ ِ َ َ ‫ُ ﱢ‬ ‫ُ ﱢ‬ ََ َ ُ َ ِ ُ ْ َ ْ َ ‫ﱞ‬ ٍ

"Wajib bagi setiap muslim untuk mandi pada satu hari dari setiap tujuh hari, pada mandi itu dia mengguyur kepala dan badannya." (HR. Bukhari) Dalam lafadz an Nasai dari Jabir radliyallah 'anhu, yang dia sandarkan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam,

‫ُ ﱢ‬ ‫ﻋﻠَﻰ ﻛﻝ ﺭَ ﺟُﻝ ﻣُﺳْ ﻠِﻡ ﻓِﻲ ﻛﻝ ﺳ ْﺑﻌﺔ ﺃَﻳﱠﺎﻡ ﻏﺳْ ﻝ ﻳَﻭﻡ ﻭﻫُﻭ ﻳَﻭﻡ ﺍ ْﻟﺟﻣﻌﺔ‬ ِ َُ ُ ُ ْ َ َ ٍ ْ ُ ُ ٍ ِ َ َ ‫ُ ﱢ‬ َ ٍ ٍ

"Kewajiban bagi setiap muslim, pada setiap tujuh hari untuk mandi pada satu hari, yaitu pada hari Jum'at." (HR. An Nasai dan dinilai shahih oleh Syaikh al Albani dalam Shahih an Nasai (1/44) dan dalam Irwa' al Ghalil (1/173)). "Apabila salah seorang kalian berangkat shalat Jum'at hendaklah dia mandi." al Hadits

Bagi siapa diperintahkan mandi? Mandi hari Jum'at diperintahkan bagi orang yang akan menghadiri shalat Jum'at. Mafhumnya, mandi Jum'at tidak disyariatkan bagi orang yang tidak wajib menghadiri shalat Jum'at; seperti anak-anak, wanita, orang sakit, dan musafir. Dan ini adalah pendapat Jumhur Ulama. Karena bagi orang yang tidak menghadiri shalat Jum'at, mandi pada hari itu tidak memiliki faedah lebih. Seorang ulama, al Zain bin al Munir berkata, "sesungguhnya (hadits) menunjukkan bahwa mandi di hari Jum'at disyariatkan bagi orang yang akan mendatanginya sebagaimana yang ditunjukkan oleh beberapa hadits." Bagi orang yang junub pada hari Jum'at, maka cukup dia mandi sekali saja. Artinya cukup dia mandi sekali untuk junub dan Jum'at, jika ia meniatkan keduanya. Ini merupakan pendapat mayoritas ulama. Hal ini juga dikarenakan sifat mandi Jum'at sebagaimana sifat mandi Janabat. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda yang artinya, “Barang siapa mandi Jum'at seperti mandi janabah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Manggopoh Alam Saiyo by.My.Bagindo Chaniago

20

Mandi hari Jum'at diperintahkan bagi orang yang akan menghadiri shalat Jum'at.

Kapan pelaksanaan mandi Jum'at? Mandi hari Jum'at dimulai sejak masuknya siang. Masuk siang diawali sejak terbitnya fajar. Terdapat dalam Sunan Abi Dawud dalam kitab al Jumu'ah bahwa orang yang junub dan mandi setelah terbit fajar, maka sudah cukup sebagai mandi hari Jum'at, karena telah mandi ketika masuk waktu siang. Akhir pelaksanaan mandi ini sampai ditunaikannya shalat Jum'at. Apabila shalat Jum'at sudah ditunaikan tidak disyariatkan lagi mandi ini. Hal ini didasarkan pada hadits Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, "Siapa yang akan mendatangi Jum'at hendaknya dia mandi." (HR. Bukhari) Mandi hari Jum'at dimulai sejak masuknya siang. Masuk siang diawali sejak terbitnya fajar. Apabila shalat Jum'at sudah ditunaikan tidak disyariatkan lagi mandi ini. Catatan: Ditekankannya perintah mandi pada hari Jum'at bukan berarti menjadi syarat sahnya shalat Jum'at. Shalat Jum'at seseorang tetap sah walau dia tidak mandi Jum'at, hanya saja dia telah meninggalkan perintah ibadah mandi di hari Jum'at. Dia juga kehilangan untuk mendapatkan pahala yang besar dengan meninggalkan mandi. Wallahu a'lam. Oleh : Badrul Tamam (PurWD/voa-islam.com)

Manggopoh Alam Saiyo by.My.Bagindo Chaniago

21

Orang Bau Jangan Shalat di Masjid
Selasa, 08 Jun 2010 Oleh: Badrul Tamam

Shalat berjama’ah merupakan media berkumpul kaum muslimin yang dilaksanakan secara berulang dalam sehari semalam. Di sana mereka bersama-sama melaksanakan kewajiban pokok Islam, yaitu shalat lima waktu. Melaluinya umat muslim saling menjalin hubungan persaudaraan dan kasih sayang sesama mereka, juga dalam rangka membersihkan hati sekaligus dakwah ke jalan Allah, baik dalam bentuk ucapan maupun perbuatan. Dalam keadaan ini hendaknya setiap muslim menjaga penampilan dan kebersihan supaya mereka nyaman dan khusyuk dalam melaksanakan kewajiban besar Islam ini. Oleh karena itu Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan agar memakai pakaian yang indah ketika mendatangi masjid.

‫ﻳَﺎ َﺑﻧِﻲ ﺁَﺩﻡ ﺧﺫﻭﺍ ﺯﻳ َﻧ َﺗﻛﻡ ﻋ ْﻧﺩ ﻛﻝ ﻣﺳْ ﺟﺩ‬ ٍِ َ ‫َ َ ُُ ِ ُْ ِ َ ُ ﱢ‬

“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid. . . ”
(QS. Al-A’raaf: 31) Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya berkata, “Berdasarkan ayat ini dan juga pengertian (yang menunjukkan) hal itu di dalam sunnah, bahwa dianjurkan untuk berhias diri ketika hendak melaksanakan shalat, lebih-lebih pada waktu shalat Jum’at dan hari raya. Serta disunnahkan memakai wewangian karena dia termasuk (perhiasan), siwak (juga termasuk) karena termasuk sebagai penyempurna. Dan di antara pakaian yang paling utama adalah yang berwarna putih.” Diriwayatkan dari Ibnu Umar radliyallahu 'anhuma, bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda pada waktu perang Khaibar:

ْ ََ َ ‫ﱡ‬ ‫ﻣﻥْ ﺃَﻛﻝ ﻣِﻥْ ﻫﺫﻩ ﺍﻟﺷﺟَ ﺭَ ﺓ َﻳﻌْ ﻧِﻲ ﺍﻟﺛﻭﻡ ﻓﻼ َﻳﻘﺭَ ﺑَﻥﱠ ﻣﺳْ ﺟﺩ َﻧﺎ‬ َِ َ ِ ‫َِِ ﱠ‬ َ َ َ

Manggopoh Alam Saiyo by.My.Bagindo Chaniago

22

"Barangsiapa yang memakan tanaman ini, yakni bawang putih, maka janganlah sekali-kali ia mendekati masjid kami." Dalam riwayat Muslim, "Jangan sekali-kali mendatangi masjid kami." (HR. Bukhari dan Muslim) Diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah radliyallah 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

ُ َ َ َ ْ ْ َ َِ َ ْ ِ ‫ﻣﻥْ ﺃَﻛﻝ ﺛﻭﻣًﺎ ﺃ َْﻭ َﺑﺻَﻼ ﻓ ْﻠ َﻳﻌْ َﺗﺯ ْﻟ َﻧﺎ ﺃ َْﻭ ﻟِ َﻳﻌْ َﺗﺯﻝ ﻣﺳْ ﺟﺩ َﻧﺎ ﻭ ْﻟ َﻳﻘﻌُﺩ ﻓِﻲ َﺑ ْﻳﺗِﻪ‬ ِ ِ َ ً

"Barangsiapa makan bawang putih atau bawang merah, maka hendaklah ia menjauhi kami atau menjauhi masjid kami; dan silahkan dia berada di rumahnya saja." (HR. Bukhari dan Muslim)

ْ ُ ِ ‫ﱠ‬ ْ ََ ِ ُ ِ ‫َِِ ﱠ‬ َ َِ َ ُ‫ﻣﻥْ ﺃَﻛﻝ ﻣِﻥْ ﻫﺫﻩ ﺍﻟﺷﺟَ ﺭَ ﺓ ﺍ ْﻟﻣ ْﻧﺗِ َﻧﺔ ﻓﻼ َﻳﻘﺭَ ﺑَﻥﱠ ﻣﺳْ ﺟﺩ َﻧﺎ ﻓﺈِﻥﱠ ﺍ ْﻟﻣَﻼﺋِﻛﺔ َﺗﺄَﺫﻯ ﻣﻣﱠﺎ َﻳ َﺗﺄَﺫﻯ ﻣ ْﻧﻪ ﺍﻹِ ْﻧﺱ‬ ِ ‫َ ََ ﱠ‬ َ َ َ

"Barangsiapa makan dari tanaman yang berbau tidak sedap ini, maka hendaklah ia tidak mendekati masjid kami, karena sesungguhnya malaikat merasa terganggu dengan apa yang mengganggu manusia." (HR. Muslim) Diriwayatkan dari Abu Hurairah radliyallah 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

‫ﱡ‬ ْ ََ ِ ‫َِِ ﱠ‬ ‫ﻣﻥْ ﺃَﻛﻝ ﻣِﻥْ ﻫﺫﻩ ﺍﻟﺷﺟَ ﺭَ ﺓ ﻓﻼ َﻳﻘﺭَ ﺑَﻥﱠ ﻣﺳْ ﺟﺩ َﻧﺎ ﻭﻻ ﻳُﺅﺫ َﻳﻧﺎ ﺑِﺭﻳﺢ ﺍﻟﺛﻭﻡ‬ َ َ َ ِ ِ ِ ‫َ َِ َ َ ْ ِ ﱠ‬

"Barangsiapa yang makan dari tanaman ini, maka hendaknya dia tidak mendekati masjid kami dan tidak menggangu kami dengan bau bawang putih." (HR. Muslim) Dan Thabarani meriwayatkan dengan lafadz, “Hendaklah kalian menjauhi dua jenis sayuran ini untuk dimakan, kemudian memasuki masjid kami. Jika kalian terpaksa memakannya, hendaklah kalian membakar keduanya terlebih dahulu.” Umar bin Khathab radliyallahu 'anhu ketika berkhutbah pada hari Jum’at berkata, “. . . . kemudian kalian, wahai umat manusia, makan dua tanaman yang menurutku buruk, yaitu bawang merah dan bawang putih. Aku pernah melihat jika Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam mencium bau keduanya dari sessorang di masjid, beliau menyuruh untuk dikeluarkan ke Baqi’. Dan, barangsiapa ingin sekali memakannya hendaklah memasaknya terlebih dahulu.” (Diriwayatkan oleh Muslim dan Nasai)

Manggopoh Alam Saiyo by.My.Bagindo Chaniago

23

Hadits-hadits di atas menunjukkan makruhnya makan bawang merah dan bawang putih tanpa dimasak terlebih dahulu sebelum berangkat ke masjid. Alasannya, karena bau tidak sedapnya dapat mengganggu kekhusyuan para jama’ah. Bahkan, bukan hanya manusia saja yang terganggu oleh bau tidak sedap itu, malaikat juga ikut terganggu dan tersiksa. Larangan ini bukan hanya pada hari Jum’at saja, sebagaimana yang sering disebutkan oleh Fuqaha’, tapi juga berlaku pada setiap kali shalat berjama’ah. Bahkan larangan ini juga berlaku pada tempat-tempat shalat selain masjid seperti tempat shalat Ied, tempat shalat janazah dan tempat-tempat ibadah lainnya. (Lihat Syarah Shahih Muslim oleh Imam Nawawi)

. . . karena bau tidak sedapnya dapat mengganggu kekhusyuan para jama’ah. Bahkan, bukan hanya manusia saja yang terganggu oleh bau tidak sedap itu, malaikat juga ikut terganggu dan tersiksa. . .

Subtansi dari larangan tersebut adalah adanya bau yang tidak sedap sehingga mengganggu kekhusyu'an jama'ah yang lain. Maka setiap orang yang membawa bau tidak sedap hendaknya tidak mendatangi masjid, sehingga dia menghilangkan bau tersebut. Jika memang tidak mau, maka shalatnya di rumahnya lebih baik daripada di masjid. Larangan ini juga berlaku bagi rokok. Bahkan bau rokok jauh lebih parah daripada bawang merah, bawang putih, dan bawang bombai. Jika perokok dilarang untuk mendatangi masjid mungkin akan tersinggung dan menimbulkan masalah lebih buruk, maka kami nasihatkan untuk membersihkan mulut dan menyegarkan dengan wangi-wangian sehingga tidak menggangu kekhusyu'an shalat jama’ah yang lain. Larangan ini juga berlaku bagi rokok. Bahkan bau rokok jauh lebih parah daripada bawang merah, bawang putih, dan bawang bombai. Imam Muslim membuat bab dalam Shahihnya ketika menyebutkan hadits-hadits di atas, "Bab larangan bagi orang makan bawang putih, bawang merah, dan bawang bombai, atau semisalnya yang memiliki bau tiak sedap dari mendatangi masjid sehingga hilang bau tersebut dan dia dikeluarkan dari masjid". Larangan ini juga berlaku bagi sekelompok manusia yang tidak memperhatikan kebersihan pakaian dan badan mereka. Lebih-lebih para pekerja keras yang berkeringat banyak sehingga pakaian dan tubuh mereka menimbulkan bau tidak sedap, lalu mereka mendatangi masjid dan berdesakan dengan orang shalat yang ada di samping atau di belakang mereka. Hendaknya mereka sadar dan takut kepada Allah Ta'ala. Bagaimana dengan kentut di masjid?

Manggopoh Alam Saiyo by.My.Bagindo Chaniago

24

Hadats di dalam masjid dengan mengeluarkan kentut yang berbau busuk juga dapat mengganggu orang yang shalat di masjid dan merusak suasana. Karenanya bau semacam ini makruh ada di dalam masjid. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah megabarkan kepada kita bahwa para malaikat membacakan shalawat untuk orang yang datang ke masjid guna melaksanakan shalat. Para malaikat berkata,

ُ ْ ‫ﺍﻟﻠﱠﻬﻡ ﺻﻝ ﻋﻠَ ْﻳﻪ ﺍﻟﻠﱠﻬﻡ ﺍﺭْ ﺣَ ﻣﻪ ﻣَﺎ ﻟَﻡ ﻳُﺣْ ﺩِﺙ ﻓِﻳﻪ ﻣَﺎ ﻟَﻡ ﻳُﺅﺫ ﻓِﻳﻪ‬ ِ ِ ْ ْ ِ ْ ْ ‫ُﱠ َ ﱢ َ ِ ُﱠ‬

"Ya Allah limpahkan ampunan untuknya, Ya Allah rahmatilah dia, selama tidak berhadats di dalamnya dan tidak mengganggu (pihak lain) di dalamnya." (HR. Bukhari no. 1976) Ibnul Hajar dalam Fathul Bari menjelaskan tentang kandungan makna hadits di atas, "Dan di dalamnya (hadits di atas) terdapat dalil bahwa berhadats di dalam masjid lebih buruk daripada berdahak dikarenakan berdahak memiliki kafarah, sedangkan untuk hadats tidak memiliki kafarah. Bahkan pelakunya diharamkan mendapat istighfar malaikat. Sedangkan doa malaikat sangat-sangat dikabulkan berdasarkan firman Allah Ta'ala, artinya: "Dan mereka tiada memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridai Allah." (QS. Al-Anbiya': 28)" Sesungguhnya Islam adalah agama yang indah, sangat memperhatikan dan menjaga perasaan orang lain. Karenanya Islam sangat menganjurkan pemeluknya untuk memiliki tenggang rasa dan budi pekerti yang luhur. Islam sangat menganjurkan agar memberikan kebaikan kepada sesamanya, jika tidak bisa, maka dianjurkan untuk tidak menimpakan keburukan dan sesuatu yang tidak disukai. Wallahu a'lam bil-shawab. (PurWD/voa-islam)

Manggopoh Alam Saiyo by.My.Bagindo Chaniago

25

Hukum Jual Beli Saat Adzan Jum'at
Kamis, 15 Jul 2010 Oleh: Badrul Tamam

Shalat Jum'at diistimewakan daripada shalat-shalat fardlu yang ada dengan berbagai keistimewaan yang tidak dimiliki shalat-shalat lainnya, misalnya dilaksanakan dengan berjama'ah, jumlah khusus, disertakan khutbah yang wajib didengarkan dan diperhatikan dengan seksama, bacaan yang jahar, dan lainnya.

Shalat Jum'at merupakan kewajiban di dalam Islam yang sangat ditekankan sekaligus menjadi sarana pertemuan bagi kaum muslimin yang paling agung. Pada kesempatan itu mereka diingatkan lewat khutbah akan permulaan dan tempat kembali mereka di akhirat. Mereka diingatkan agar senantiasa bertakwa kepada Allah, Rabb semesta alam. Karena urgensinya ini, maka diwajibkan bagi orang yang wajib melaksankannya untuk bersegera mendatanginya serta diharamkan melakukan jual beli pada saat adzan sudah dikumandangkan.

Allah Ta'ala berfirman:

َ َ ‫ِْ ِ ﱠ‬ ُ َ َُ ُ َْ َ ِ َُ ُ ِ ْ ِ َ َ‫ﻳَﺎ ﺃ ﱡَﻳﻬَﺎ ﺍﻟﱠﺫِﻳﻥَ ﺁَﻣﻧﻭﺍ ﺇِﺫﺍ ﻧﻭﺩِﻱَ ﻟِﻠﺻﱠﻼﺓ ﻣِﻥْ ﻳَﻭﻡ ﺍ ْﻟﺟﻣﻌﺔ ﻓﺎﺳْ ﻌﻭﺍ ﺇِﻟَﻰ ﺫﻛﺭ ﷲِ ﻭﺫﺭُﻭﺍ ﺍ ْﻟ َﺑ ْﻳﻊَ ﺫﻟِﻛﻡ ﺧ ْﻳﺭ ﻟَﻛﻡ ﺇِﻥْ ﻛ ْﻧﺗﻡ َﺗﻌْ ﻠَﻣﻭﻥ‬ ُْ ُ ُْ ٌ َ ُْ َ

"Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." (QS. Al-Jumu'ah: 9) Larangan jual beli ini mencakup menjual dan membeli. Dikhususkannya jual beli atas aktifitas lainnya karena pekerjaan tersebut yang paling banyak digeluti orang dan paling sering menyibukkan orang di pasar sehingga lalai dari menghadiri shalat Jum'at. Jika Adzan lebih dari sekali Jika adzan lebih dari sekali, maka jual beli tidak diharamkan kecuali pada adzan saat naiknya imam ke atas mimbar, karena adzan inilah yang diberlakukan pada masa

Manggopoh Alam Saiyo by.My.Bagindo Chaniago

26

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Karenanya ini yang dijadikan patokan, bukan adzan selainnya. Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan tentang maksud nida' (panggilan shalat/adzan) dalam ayat di atas, "Yang dimaksud dengan nida' ini adalah nida' kedua yang telah dipraktekkan pada masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, yaitu apabila beliau keluar dan duduk di atas mimbar. Karena pada saat itu adzan dikumdangkan di depan beliau. Makanya adzan inilah yang dimaksudkan. Adapun nida'/adzan pertama yang telah ditambah oleh Amirul Mukminin Utsman bin Affan radliyallahu 'anhu adalah karena manusia (umat Islam) di kala itu semakin banyak." Beliau mendasarkannya pada hadits yang dikeluarkan Imam Bukhari dalam Shahihnya, dari al-Saa-ib bin Yazid yang berkata, "Dahulu adzan pada hari Jum'at, pada awalnya dikumandangkan pada saat imam berada di atas mimbar pada masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, Abu Bakar, dan Umar. Maka ketika masa Utsman, manusia semakin banyak, beliau menambah dengan adzan kedua yang dikumandangkan di Zuwara', yaitu dikumandangkan di atas rumah yang dinamakan al-Zuwara', itu adalah rumah yang paling tinggi di Madinah yang dekat dengan masjid."

Kepada siapa jual beli diharamkan? Larangan melakukan jual beli ini ditujukan kepada orang yang dibebani kewajiban menghadiri Jum'at, yaitu muslim laki-laki, baligh, berakal, merdeka, sehat, dan bermuqim. Karenanya orang yang tidak diwajibkan menghadiri Jum'atan tidak dilarang melakukan jual beli. Maka jika dua orang anak kecil atau dua orang wanita atau dua orang musafir melakukan jual beli, maka hal itu diperbolehkan, tidak berdosa. Namun, jika salah satunya orang yang wajib melaksanakan jum'atan keduanya berdosa karena saling tolong menolong dalam dosa. "Dan jangan tolongmenolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran." (QS. Al-Maidah: 2) Maka jika dua orang anak kecil atau dua orang wanita atau dua orang musafir melakukan jual beli, maka hal itu diperbolehkan, tidak berdosa.

Apakah selain jual beli juga diharamkan? Jumhur ulama dari kalangan Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan salah satu pendapat Hambali berpendapat bahwa bentuk transaksi yang bisa menyibukkan orang dari shalat terkategori seperti jual beli ditinjau dari sisi keharaman. Imam Al-Syaukani lebih condong kepada pendapat ini sebagaimana yang beliau cantumkan dalam tafsirnya, Fathul Qadir. Sedangkan dalam sebagian pendapat lainnya, madzhab Hambali tidak menyamakan bentuk-bentuk transaksi lainnya seperti jual beli.

Manggopoh Alam Saiyo by.My.Bagindo Chaniago

27

Argumentasi jumhur adalah dengan mempertimbangkan makna sebab dilarangnya jual beli, yaitu meninggalkan segala sesuatu yang menyibukkan dari dzikrullah (mengingat Allah). Dan ini merupakan makna yang terkandung dalam setiap bentuk akad perjanjian. Sedangkan menurut kaidah: Al Hukmu Yaduru Ma’a Illatihi Wujudan Wa ‘Adaman (Hukum itu berputar bersama illatnya, jika dia ada, maka hukum ada, jika illat tersebut hilang, maka hukum tersebut jika hilang). Imam al-Qurthubi berkata, "Materi jual beli bukanlah subtansinya, sesungguhnya yang menjadi subtansi adalah apa yang menyibukkan dari dzikrullah Ta'ala seperti akad nikah dan lainnya. Tetapi disebutkannya kata bai' (jual beli) karena dia yang paling sering menyibukkan dari dzikrullah Ta'ala." (Al-Jami' Li Ahkamil Qur'an: 5/26) Alasan yang lainnya, "Karena kesemuanya itu adalah bentuk akad transaksi yang menyerupai jual beli." (Al-Kaafi, Ibnul Qudamah: 2/40-41) Sementara kelompok kedua beralasan bahwa semua akad transaksi selain jual beli tidak disebutkan secara tekstual dan tidak pula masuk dalam bagian makna yang ditunjukkan oleh teks. Dan juga karena akad semacam ini tidak sesering jual beli dan dibolehkannya tidak lantas menyebabkan ditinggalkannya shalat Jum'at, berbeda dengan jual beli. (Al-Kaafi: 2/41 dan Al-Mughni: 3/164) Menurut Abul Mundzir al-Saa'idi dalam bukunya Jumu'ah; Adab wa Ahkamuha, merajihkan pendapat jumhur berdasarkan kejelasan alasan yang telah mereka sebutkan dan realita yang terjadi pada akad-akad perjanjian selainnya. Maka tidak ada bedanya antara aktifitas jual beli, penyewaan, dan pernikahan dalam pengaruhnya yang menyibukkan dari dzikrullah pada saat itu. Maka tidak ada bedanya antara aktifitas jual beli, penyewaan, dan pernikahan dalam pengaruhnya yang menyibukkan dari dzikrullah pada saat itu. Status Jual beli saat Adzan Jum'at Menurut pendapat madzhab Hambali, jual beli dan akad-akad lainnya yang dilaksanakan setelah adzan statusnya batal berdasarkan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam,

ً َ َ ِ َ َ ‫َ ِ ْ ُ َ َ ﱞ‬ ‫ﻣﻥْ ﻋﻣﻝ ﻋﻣَﻼ ﻟَ ْﻳﺱَ ﻋﻠَ ْﻳﻪ ﺃَﻣﺭ َﻧﺎ ﻓﻬُﻭ ﺭَ ﺩ‬

"Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang bukan dari urusan kami (Islam), maka amalan tersebut tertolak." (HR. Bukhari dan Muslim dari Aisyah radliyallahu 'anha) Sememtara menurut Maliki, jual beli yang dilaksanakan pada saat itu adalah batal. Sementara membebaskan budak, pernikahan, cerai dan lainnya tidak batal, karena berdasarkan kebiasaan orang-orang, kesibukan dalam mengurusi hal itu tidak

Manggopoh Alam Saiyo by.My.Bagindo Chaniago

28

seperti kesibukan terhadap jual beli. (Lihat Tafsir al-Qurthubi dalam menafsirkan QS. Al-Jum'ah: 9) Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya memilih pendapat yang menyatakan rusak dan batalnya akad, baik itu jual beli, sewa, pelantikan, dan lainnya. Sementara madhab Hanafi dan Syafi'i tidak membatalkannya dengan alasannya walau dilarang, hanya saja larangan tersebut bukan tertuju pada dzat materi jual belinya, tapi karenanya dilakukan pada waktu pelaksanaan Jum'atan. (Al-Umm, Imam al-Syafi'i: 1/195). Rusaknya bukan pada inti akad dan tidak pula syarat syahnya. Menurut kami, pendapat yang rajih adalah pendapat pertama sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya, "Dzahir ayat menunjukkan tidak sah sebagaimana yang disebutkan pada tempatnya." Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berpendapat, "Thalaq jenisnya disyariatkan sebagaimana jual beli dan nikah, terkadang dihalalkan dan waktu yang lain diharamkan. Juga terbagi menjadi sah dan rusak sebagaimana yang ada dalam jual beli dan pernikahan. Dan larangan dalam jenis ini mengharuskan rusaknya yang dilarang." (Majmu' Fatawa: 33/89-90) Meninggalkan segala bentuk kesibukan duniawi seperti jual beli dan lainnya lalu bersegera pergi ke masjid untuk menjalankan shalat Jum'at dan mendengarkan khutbah adalah jalan terbaik dan paling selamat Dan yang paling baik dan selamat adalah meninggalkan segala bentuk kesibukan duniawi seperti jual beli dan lainnya lalu bersegera pergi ke masjid untuk menjalankan shalat Jum'at dan mendengarkan khutbah. Dengan mengamalkan semacam itu maka akan mendapatkan banyak kebaikan dan pahala. "Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." (QS. Al-Jum'ah: 9) (PurWD/voa-islam.com)

Manggopoh Alam Saiyo by.My.Bagindo Chaniago

29

Amalan Sunnah Ba'da (setelah) sholat Jum'at
Penulis: Ustadz Abu Hamzah Yusuf Fiqh, 21 - Juli - 2003, 03:42:53 Terdapat beberapa hadits yang berkaitan dengan sunnah setelah sholat Jum'at yang menunjukkan akan masyru'iyahnya (disyariatkannya) amalan ini, di antara haditshadits itu adalah: Pertama: diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari sahabat Abdullah bin Umar radliyallahu 'anhuma, bahwa Nabi SAW sholat setelah Jum'at dua raka'at di rumahnya.

Kedua: diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari sahabat Abu Hurairah bahwa Nabi SAW bersabda, "Apabila salah seorang di antara kalian shalat Jum'at maka hendaklah shalat setelahnya empat raka'at." Ketiga: dari Ibnu Umar, diriwayatkan bahwa Nabi SAW shalat setelah Jum'at enam raka'at. Maka sunnah ba'da shalat Jum'at adalah dua raka'at atau empat raka'at atau enam raka'at, akan tetapi, apakah sunnah ini menunjukkan atas bentuk yang bermacammacam ataukah pada keadaan yang berbeda-beda? Terdapat perselisihan di dalamnya. Pendapat pertama beranggapan bahwa ini menunjukkan pada keadaan yang berbeda-beda, yakni jika engkau sholat ba'da Jum'at di masjid, maka sholatlah empat raka'at, dan jika sholatnya di rumah, maka sholatlah dua raka'at. Ini pendapatnya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (Lihat Zaadul Ma'aad 1/ 440). Pendapat kedua menganggap bahwa sunnah ini menunjukkan atas bentuk / praktek yang bermacam-macam, yakni kadang-kadang sholat dengan empat roka'at atau sesekali dengan dua roka'at. Adapun pendapat yang ketiga menegaskan bahwa sunnah ba'da shalat Jum'at itu empat raka'at, karena apabila perkataan Nabi SAW bertentangan dengan perbuatannya maka didahulukan perkataannya. Yang lebih utama bagi seseorang, yang tentunya kami lihat lebih rajih / kuat ialah kadang-kadang shalat dengan empat raka'at dan sesekali sholat dengan dua raka'at, dan adapun yang enam raka'at, maka dhahir hadits Ibnu Umar ialah bahwa Rasulullah pernah melakukannya. Wal ilmu indallah. (Lihat Syarhul Mumti': 5 / 102-103).

Manggopoh Alam Saiyo by.My.Bagindo Chaniago

30

Mengaminkan Khatib
Pertanyaan : Assalamu 'alaikum Langsung saja ustad, ana ingin bertanya mengenai : 1. Bagaimanakah sikap makmum ketika khatib membaca do'a ketika khutbah jum;at, apakah makmum mengaminkannya atau diam? 2. Makmum baru datang ketika azan jum'at berkumandang, apakah makmum harus menunggu muazin selesai azan baru dia sholat sunnah? atau langsung sholat sunnah tanpa menunggu muazin selesai azan? wassalamu 'alaikum, Jakarta Jawaban : Wa'alaikum salam warahmatullah wa barakatuh Alhamdulillah, wasshalaatu wassalaamu 'alaa rasulillah wa ba'du : Jawaban pertanyaan pertama, saya akan mencantumkan fatwa dari Lajnah Daimah (Majlis Ulama Saudi), dalam fatwa no : 6398 berbunyi : Pertanyaan : Apakah hukum do'a si khathib di akhir khutbahnya apa hari jum'at dan apakah hukum orang yang mengaminkan doa khatib dengan melafazkan kata amiin.? Jawab : Doa si khatib jum'at di khutbah jum'at adalah disyariatkan, dan sungguh telah tetap dari rasulullah bahwa beliau berdoa di khutbahnya bagi kaum mukminin dan mukminat. Adapun melafazkan amin bersama doa khatib maka tidak mengapa berdasarkan keumuman dalil. Wabillahi at-taufik, semoga Allah menganugerahkan shalawat dan salam kepada nabi kita Muhammad dan Ahli baitnya serta sahabat-sahabat beliau.

Lembaga Tetap Kajian Ilmiyah Dan Fatwa Ketua : Abdul 'Aziz bin Abdullah bin Baz Wakil ketua : Abdur Razaq 'Afifi. Anggota : Abdullah bin Qu'ud

Manggopoh Alam Saiyo by.My.Bagindo Chaniago

31

Jawaban kedua : Yang harus dilakukan adalah langsung shalat tanpa harus menunggu muadzin selesai dari adzan, karena menunggu muadzin sampai sesesai adzan guna mengikuti perkataan muadzin hukumnya sunat, adapun mendengar khotbah hukumnya wajib, maka janganlah kita meninggalkan wajib karena melakukan sunat. Wallahu'alam.

Adakah Shalat Qabliyah Jum'at?
Pertanyaan:

Ustadz, sebenarnya ada nggak shalat sunnah qabliyah Jum’at itu, tolong jelaskan, karena di masjid kami, sebagian melakukan shalat qabliyah jum’at setelah adzan pertama, dan sebagian yang lain tidak melakukannya, mana yang benar? Jawaban:

Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini. Sebagian mengatakan bahwa shalat sunnah qabliyah Jum’at adalah amalan yang disunnahkan, sedangkan sebagian yang lain mengatakan bahwa shalat qabliyah jum’at tidak ada dan tidak disunnahkan sama sekali. Pendapat yang kedua ini lebih kuat dan lebih benar. Hal itu dikarenakan beberapa hal, diantaranya adalah: Pertama, shalat Jum’at hukumnya berbeda dengan Shalat Dzuhur, sehingga tidak boleh disamakan. Kedua, hadits-hadits yang menunjukan adanya shalat qabliyah jum’at adalah dha’if (lemah) yang tidak bisa dijadikan sandaran. Diantara hadist-hadist dha'if tersebut adalah: 1. Hadist Abu Hurairah radliyallah 'anhu yang berbunyi, “Dan beliau shallallahu 'alaihi wasallam biasa mengerjakan shalat dua rakaat sebelum Jum’at dan empat rakaat setelahnya.” (HR. Al Bazzar, di dalam sanadnya terdapat kelemahan) 2. Hadist Ali bin Abi Thalib radliyallah 'anhu, yang menyebutkan bahwa, “Beliau shallallahu 'alaihi wasallam biasa mengerjakan shalat empat rakaat sebelum Jum’at dan empat rakaat setelahnya.”(HR. al-Atsram dan Thabrani, di dalam sanadnya terdapat rawi yang lemah, yaitu Muhammad bin ‘Abdurrahman as-Sahmi)

Manggopoh Alam Saiyo by.My.Bagindo Chaniago

32

Ketiga, di sana ada hadist yang dijadikan dalil bagi yang mengatakan adanya sunnah qabliyah jum'at, hadist tersebut menyebutkan bahwa: “Ibnu ‘Umar radliyallah 'anhuma biasa memanjangkan shalat sebelum shalat Jum’at dan mengerjakan shalat dua rakaat setelahnya di rumahnya. Dan dia menyampaikan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam biasa melakukan hal tersebut.” (HR Abu Daud dan Ibnu Hibban) Hadits di atas tidaklah menunjukkan adanya sunnah qabliyah jum’at, karena maksud dari kalimat, “Ibnu ‘Umar biasa memanjangkan shalat sebelum shalat Jum’at” adalah shalat sunnah mutlaq atau shalat tahiyatul masjid. Jadi, disunnahkan pada hari jum’at, ketika masuk masjid untuk mengerjakan shalat sunnah tahiyatul masjid dan apabila ada waktu longgar disunnahkan juga untuk shalat sunnah mutlak, sampai imam naik mimbar. Shalat sunnah tersebut bukanlah shalat sunnah qabliyah jum’at, walaupun dikerjakan sebelum adzan Jum’at. Wallahu a'lam bil Shawab. (PurWD/voa-islam.com/ahmadzain.com) Ditulis oleh DR. Ahmad Zain An-Najah, M.A.

Larangan Keluar dari Masjid Sesudah Adzan

Segala puji bagi Allah serta shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan keluarganya dan para pengikutnya yang baik hingga hari kiamat: Ikhwati fillah, termasuk adab islam terhadap masjid adalah ketika berada didalam masjid setelah adzan dikumandangkan dan sebelum menunaikan sholat wajib kita dilarang keluar masjid. Ada beberapa hadits shahih serta hasan yang menjelaskan hal tersebut, diantaranya:
‫ﻣﺎ ﺭﻭﺍﻩ ﻣﺳﻠﻡ ﻓﻲ ﺻﺣﻳﺣﻪ ﺑﺈﺳﻧﺎﺩﻩ ﻋﻥ ﺃﺑﻲ ﺍﻟﺷﻌﺛﺎء ﻗﺎﻝ: ( ﻛﻧﺎ ﻗﻌﻭﺩﺍً ﻓﻲ ﺍﻟﻣﺳﺟﺩ ﻣﻊ ﺃﺑﻲ ﻫﺭﻳﺭﺓ ﻓﺄﺫﻥ ﺍﻟﻣﺅﺫﻥ ﻓﻘﺎﻡ ﺭﺟﻝ ﻣﻥ ﺍﻟﻣﺳﺟﺩ‬ ‫) ﻳﻣﺷﻲ ﻓﺄﺗﺑﻌﻪ ﺃﺑﻭ ﻫﺭﻳﺭﺓ ﺑﺻﺭﻩ ﺣﺗﻰ ﺧﺭﺝ ﻣﻥ ﺍﻟﻣﺳﺟﺩ ﻓﻘﺎﻝ ﺃﺑﻭ ﻫﺭﻳﺭﺓ : ﺃﻣﱠﺎ ﻫﺫﺍ ﻓﻘﺩ ﻋﺻﻰ ﺃﺑﺎ ﺍﻟﻘﺎﺳﻡ ﺻﻠﻰ ﷲ ﻋﻠﻳﻪ ﻭﺳﻠﻡ‬

Diriwayatkan oleh Muslim dalam shahihnya dari Abu Sya’tsa berkata: (suatu ketika kami sedang duduk dimasjid bersama Abu Hurairah ketika muadzin mengumandangkan adzan, lalu seorang laki-laki berjalan keluar masjid, maka Abu

Manggopoh Alam Saiyo by.My.Bagindo Chaniago

33

Hurairah pun terus memperhatikannya hingga dia keluar masjid, lalu Abu Hurairah berkata: Adapun orang ini sungguh telah bermaksiat kepada Abul Qasim shallallahu ‘alaihi wasallam) HR Muslim no 665 Hadits ini juga diriwayatkan Imam Turmudzi dan beliau berkata: (berdasarkan hadits inilah amalan para ulama dari shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan sesudah mereka, yaitu tidak boleh keluar dari masjid setelah adzan kecuali uzur seperti tidak punya wudhu atau urusan yang penting)

‫ﻭﻋﻥ ﺃﺑﻲ ﻫﺭﻳﺭﺓ ﺭﺿﻲ ﷲ ﻋﻧﻪ ﺃﻥ ﺭﺳﻭﻝ ﷲ ﺻﻠﻰ ﷲ ﻋﻠﻳﻪ ﻭﺳﻠﻡ ﻗﺎﻝ:( ﻻ ﻳﺳﻣﻊ ﺍﻟﻧﺩﺍء ﻓﻲ ﻣﺳﺟﺩﻱ ﻫﺫﺍ ﺛﻡ ﻳﺧﺭﺝ ﻣﻧﻪ ﺇﻻ ﻟﺣﺎﺟﺔ ﺛﻡ‬ ‫ﻻ ﻳﺭﺟﻊ ﺇﻟﻳﻪ ﺇﻻ ﻣﻧﺎﻓﻕ ) ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﻁﺑﺭﺍﻧﻲ ﻓﻲ ﺍﻷﻭﺳﻁ ﻭﺭﻭﺍﻳﺗﻪ ﻣﺣﺗﺞ ﺑﻬﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﺻﺣﻳﺢ ﻛﻣﺎ ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻣﻧﺫﺭﻱ ﻓﻲ ﺍﻟﺗﺭﻏﻳﺏ ﻭﺍﻟﺗﺭﻫﻳﺏ‬ 260/1 .

Dan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: (tidaklah seseorang mendengarkan adzan dimasjidku ini kemudian dia keluar – kecuali karena satu keperluan – kemudian tidak kembali lagi melainkan dia orang munafik ) HR Thabrani dalam Mu’jamul Ausath dan riwayatnya dapat dijadikan hujah dalam hadits shahih sebagaimana kata Al-Mundziri dalam AtTarghib Wat-Tarhib:1/260. Berkata Syaikh Albani rahimahullah: Hadits hasan shahih. Lihat Shahih Targhib Wa Tarhib:1/224. Dan masih ada lagi hadits-hadits lain yang kesemuanya menunjukkan larangan keluar dari masjid setelah adzan kecuali karena suatu keperluan. Perbedaan ulama dalam hal ini: Haram: Sebagian ulama berpendapat bahwa larangan dalam hadits-hadits ini bersifat pengharaman karena dikuatkan dengan pendapat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu yang menganggap keluar dari masjid setelah adzan merupakan perbuatan maksiat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Al-Muhaddits Al-Qurtubi mengatakan: (perkataan Abu Hurairah terhadap yang keluar dari masjid: “ adapun ini sungguh telah bermaksiat kepada Abul Qasim” dimungkinkan sebagai hadits marfu’ kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan dalil yang nyata yaitu dengan menisbatannya kepada Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dalam posisi berhujah dengannya, karena tidak patut salah seorang dari mereka yang dikenal baik agama, amanah dan kekuatan hapalannya, serta terjauh dari dusta dan tempat-tempat yang meragukan, seolah beliau mendengar sesuatu yang bermakna pengharaman keluar dari masjid setelah adzan lalu menyebutnya sebagai maksiat, maka apabila ini benar, dapat disimpulkan bahwa orang yang masuk masjid untuk sholat wajib lalu adzan dikumandangkan diwaktu

Manggopoh Alam Saiyo by.My.Bagindo Chaniago

34

itu, maka diharamkan keluar untuk keperluan yang tidak penting hingga dia sholat wajib karena masjid tersebut telah ditetapkan untuk sholat tersebut atau karena kalau dia keluar barangkali ada yang menghalanginya untuk kembali kemasjid itu atau masjid lain sehingga dia ketinggalan sholat jama’ah) (ini yang dipahami atas apa musykil dari ringkasan kitab Shahih Muslim 2/281). Makruh: Akan tetapi kebanyakan ulama berpendapat bahwa larangan dalam haditshadits ini bersifat makruh, Imam Bukhari berkata dalam shahihnya: (Bab apakah keluar dari masjid karena suatu alasan) kemudian beliau meriwayatkan dengan sanadnya:
‫ﻋﻥ ﺃﺑﻲ ﻫﺭﻳﺭﺓ: ( ﺃﻥ ﺭﺳﻭﻝ ﷲ ﺻﻠﻰ ﷲ ﻋﻠﻳﻪ ﻭﺳﻠﻡ ﺧﺭﺝ ﻭﻗﺩ ﺃﻗﻳﻣﺕ ﺍﻟﺻﻼﺓ ﻭﻋﺩﻟﺕ ﺍﻟﺻﻔﻭﻑ ﺣﺗﻰ ﺇﺫﺍ ﻗﺎﻡ ﻓﻲ ﻣﺻﻼﻩ ﺍﻧﺗﻅﺭﻧﺎ ﺃﻥ‬ ‫.)ﻳﻛﺑﺭ ﺍﻧﺻﺭﻑ ، ﻗﺎﻝ : ﻋﻠﻰ ﻣﻛﺎﻧﻛﻡ ﻓﻣﻛﺛﻧﺎ ﻋﻠﻰ ﻫﻳﺋﺗﻧﺎ ﺣﺗﻰ ﺧﺭﺝ ﺇﻟﻳﻧﺎ ﻳﻧﻁﻑ ﺭﺃﺳﻪ ﻭﻗﺩ ﺍﻏﺗﺳﻝ‬

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata: (Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar ke masjid sedangkan iqamat telah dikumandangkan dan shaf telah dirapikan hingga apabila beliau berdiri ditempat sholat kami menunggu beliau takbir, lalu beliau keluar dan berkata: tetaplah ditempat kalian, lalu kami tetap seperti itu hingga beliau kembali lagi dengan rambut basah setelah beliau mandi) HR Bukhari Fatwa sebagian ulama: Syaikh Muhammad bin Ibrahim rahimahullah berkata dalam fatwa-fatwanya (2/104): (pengharaman keluar dari masjid ada perinciannya: jika keluar tanpa sebab atau tujuan yang shahih maka diharamkan, dan itu seperti orang yang keluar dari masjid tidak sholat. Adapun kalau hendak sholat di masjid lain atau punya udzur atau berniat kembali dan waktunya lapang maka tidak diharamkan). Syaikh Utsaimin rahimahullah pernah ditanya: Apa hukumnya berwudhu di satu masjid dan sholat dimasjid lain ? Maka beliau menjawab: (apabila tempat wudhu diluar masjid maka tidak mengapa berwudhu ditempat itu dan sholat ditempat lain, kecuali kalau dalam masjid itu telah ditegakkan sholat, maka yang lebih baik sholat dimasjid itu, adapun kalau tempat wudhunya didalam masjid maka tidak boleh keluar dari masjid setelah adzan kecuali karena ada sebab, karena ada larangan (berdasarkan hadits Abu Hurairah diatas), namun kalau ada sebab seperti hendak pergi kemasjid lain untuk menghadiri majlis ilmu atau satu kepentingan maka tidak mengapa keluar masjid meskipun tempat wudhu didalam masjid tersebut). Larangan ini juga berlaku ketika adzan sedang dikumandangkan karena saat itu muadzin sedang memanggil kita untuk sholat (fatwa Syeikh Abdul Aziz bin Abdullah Ar-Rajihi) Wallahu A’lam bishowab

Manggopoh Alam Saiyo by.My.Bagindo Chaniago

35

Memburu Do'a Musjatab di Hari Jum'at

Sebaik-baik hari bagi umat Islam adalah hari Jum'at. Hari sayyidul ayyaam (pemimpin hari) yang paling agung dan paling utama di sisi Allah Ta'ala. Banyak ibadah yang dikhususkan pada hari itu, misalnya membaca surat as Sajdah dan al Insan pagi shalat Subuh, membaca surat al Kahfi, shalat Jum'at berikut amalanamalan yang mengirinya, dan beberapa amal ibadah lainnya. Di dalamnya juga terdapat satu waktu yang mustajab untuk berdoa. Tidaklah seorang hamba yang beriman memunajatkan do'a kepada Rabbnya pada waktu itu, kecuali Allah akan mengabulkannya selama tidak meminta yang haram. Karenanya seorang muslim selayaknya memperhatikan hari Jum'at. Diriwayatkan oleh Abu Hurairah radliyallah 'anhu, dia bercerita: "Abu Qasim (Rasululah) shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

َ ‫ﱠ‬ َ ‫ُ ﱠ‬ ُ‫ﺇِﻥﱠ ﻓِﻲ ﺍ ْﻟﺟﻣﻌﺔ ﻟَﺳَﺎﻋﺔ ﻻ ﻳُﻭﺍﻓِﻘُﻬَﺎ ﻣُﺳْ ﻠِﻡ ﻗﺎﺋِﻡ ﻳﺻﻠﱢﻲ َﻳﺳْ ﺄَﻝ ﷲَ ﺧﻳْﺭً ﺍ ﺇِﻻ ﺃَﻋْ ﻁﺎﻩُ ﺇِﻳﱠﺎﻩ‬ ِ َُ ُ َ ُ ٌ َ ٌ َ َ ً َ

"Sesungguhnya pada hari Jum'at itu terdapat satu waktu yang tidaklah seorang hamba muslim berdiri berdoa memohon kebaikan kepada Allah bertepatan pada saat itu, melainkan Dia akan mengabulkannya." Lalu beliau mengisyaratkan dengan tangannya, yang kami pahami, untuk menunjukkan masanya yang tidak lama (sangat singkat)." (Muttafaq 'Alaih) Dalam memahami satu waktu yang mustajab (dikabulkannya doa) tersebut, para ulama berbeda pendapat, kapan waktu itu berlangsung? Ilmu tentang kepastiannya seperti ilmu tentang kepastian waktu Lailatul Qadar, telah diangkat ilmunya oleh Allah. "Sesungguhnya pada hari Jum'at itu terdapat satu waktu yang tidaklah seorang hamba muslim berdiri berdoa memohon kebaikan kepada Allah bertepatan pada saat itu, melainkan Dia akan mengabulkannya." al Hadits Diriwayatkan, dari Sa'id bin Al Harits, dari Abu Salamah berkata, "aku menyampaikan kepada Abu Sa'id, 'sesungguhnya Abu Hurairah menyampaikan kepada kami perilah satu waktu yang ada di hari Jum'at.' Beliau berkata, 'Aku pernah menanyakannya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, lalu beliau menjawab, "Sungguh aku dulu diberitahu tentangnya kemudian aku dijadikan lupa sebagaimana dijadikan lupa terhadap Lailatul Qadar." ( HR. Imam Ahmad dalam Musnadnya dan dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah). Ibnul Hajar dalam Fath al Baari (II/416-421) menyebutkan ada 43 pendapat di antara para ulama mengenai suatu waktu yang terdapat pada hari Jum'at itu. Lalu beliau

Manggopoh Alam Saiyo by.My.Bagindo Chaniago

36

berkata, "tidak diragukan lagi bahwa pendapat yang paling rajih (kuat) adalah hadits Abu Musa dan hadits Abdullah bin Salam . . . , namun para ulama salaf masih berbeda pendapat manakah dari keduanya yang lebih rajih." Selanjutnya Ibnul Hajar menjelaskan, mayoritas ulama, seperti Imam Ahmad dan lainnya, mentarjih bahwa waktu tersebut terdapat pada akhir waktu dari hari Jum'at. Di akhir ucapannya, Ibnul Hajar cenderung kepada pendapat Ibnul Qayim, yaitu pengabulan doa itu diharapkan juga pada saat shalat. Sehingga kedua waktu tersebut merupakan waktu ijabah (pengabulan) doa, meskipun saat yang khusus itu ada di ujung hari setelah shalat shalat 'Ashar. Imam al Khaththabi rahimahullah, yang disebutkan dalam Fath al Baari, juga menyimpulkan waktu istijabah tersebut ada dua: Pertama, pada waktu shalat. Kedua, satu waktu di sore hari ketika matahari mulai merendah untuk tenggelam. Berikut ini uraian lebih rinci terhadap kedua pendapat tersebut: Pendapat pertama : waktu istijabah itu sejak duduknya imam di atas mimbar sampai dengan berakhirnya shalat. Hujjah dari pendapat ini adalah hadits Abu Burdah bin Abi Musa al-'Asy'ari, dia bercerita: "Abdullah bin Umar pernah berkata kepadaku: 'apakah engkau pernah mendengar ayahmu menyampaikan hadits dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengenai satu waktu yang terdapat pada hari Jum'at?' Aku (Abu Burdah) menjawab, "Ya, aku pernah mendengarnya berkata, aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

ُْ َ ُ‫ﻫِﻲَ ﻣَﺎ َﺑ ْﻳﻥَ ﺃَﻥْ َﻳﺟْ ﻠِﺱَ ﺍﻹِﻣَﺎﻡ ﺇِﻟَﻰ ﺃَﻥْ ﺗﻘﺿَﻰ ﺍﻟﺻﱠﻼﺓ‬ ُ ْ

"Saat itu berlangsung antara duduknya imam sampai selesainya shalat." (HR. Muslim) Namun, waktu istijabah ini tidak penuh sejak duduknya imam di mimbar sampai selesainya shalat. Dia datangnya kadang-kadang berdasarkan lafadz hadits, "yuqalliluhaa" (sangat sebentar). Imam ash Shan'ani rahimahullah dalam Subul as Salam, menyebutkan keberadaannya terkadang di awal, tengah, atau di akhir. Misalnya diawali sejak dimulainya khutbah dan habis ketika selesainya shalat. (Subul as Salam: II/101) Pendapat kedua : waktu ijabah berada di akhir waktu setelah 'Ashar. Ibnul Qayyim al Jauziyah merajihkan pendapat ini. Beliau berkata, "yang ini merupakan pendapat yang paling rajih dari dua pendapat yang ada. Ia adalah pendapat Abdullah bin Salam, Abu Hurairah, Imam Ahmad, dan beberapa ulama selain mereka." (Zaad al Ma'ad: I/390)

Manggopoh Alam Saiyo by.My.Bagindo Chaniago

37

Hadits yang menunjukkan kesimpulan ini cukup banyak. Di antaranya hadits Jabir bin Abdillah radliyallah 'anhu, dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda:

‫ُ ﱠ َ ﱠ‬ ٌ َ ُ ُ َ ً َ َ ْ َ ْ ِ َُ ُ ُ ْ ‫ﻳَﻭﻡ ﺍ ْﻟﺟﻣﻌﺔ ﺍﺛ َﻧ َﺗﺎ ﻋﺷﺭَ ﺓ ﺳَﺎﻋﺔ ﻻ ﻳﻭﺟَ ﺩ ﻓِﻳﻬَﺎ ﻋ ْﺑﺩ ﻣُﺳْ ﻠِﻡ َﻳﺳْ ﺄَﻝ ﷲَ ﺷ ْﻳ ًﺋﺎ ﺇِﻻ ﺁ َﺗﺎﻩُ ﺇِﻳﱠﺎﻩُ ﻓﺎ ْﻟ َﺗﻣﺳُﻭﻫَﺎ ﺁﺧِﺭَ ﺳَﺎﻋﺔ َﺑﻌْ ﺩ ﺍ ْﻟﻌﺻْ ﺭ‬ ِ َ ٌ ِ َ َ ٍ َ

"Hari Jum'at terdiri dari 12 waktu, di dalamnya terdapat satu waktu yang tidaklah seorang muslim pada saat itu memohon sesuatu kepada Allah, melainkan Dia akan mengabulkan permintaannya. Oleh karena itu, carilah saat tersebut pada akhir waktu setelah 'Ashar." (HR. an Nasai dan Abu Dawud. Disahihkan oleh Ibnul Hajar dalam al Fath dan dishahihkan juga oleh al Albani dalam Shahih an Nasai dan Shahih Abu Dawud). Hadits Abdullah bin Salam, dia bercerita: "aku berkata, 'sesungguhnya kami mendapatkan di dalam Kitabullah bahwa pada hari Jum'at terdapat satu saat yang tidaklah seorang hamba mukmin bertepatan dengannya lalu berdoa memohon sesuatu kepada Allah, melainkan akan dipenuhi permintaannya.' Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengisyaratkan dengan tangannya bahwa itu hanya sebagian saat. Kemudian Abdullah bin Salam bertanya; 'kapan saat itu berlangsung?' beliau shallallahu 'alaihi wasallam menjawab, "saat itu berlangsung pada akhir waktu siang." Setelah itu Abdullah bertanya lagi, 'bukankah saat itu bukan waktu shalat?' beliau menjawab,

‫ُ ُ ﱠ‬ َ ْ َ َ ‫َﺑﻠَﻰ ﺇِﻥﱠ ﺍ ْﻟﻌ ْﺑﺩ ﺍ ْﻟﻣُﺅﻣِﻥَ ﺇِﺫﺍ ﺻﻠﱠﻰ ﺛﻡ ﺟَ ﻠَﺱَ ﻻ َﻳﺣْ ﺑِﺳﻪ ﺇِﻻ ﺍﻟﺻﱠﻼﺓُ ﻓﻬُﻭ ﻓِﻲ ﺍﻟﺻﱠﻼﺓ‬ ِ َ َ َ َ ‫َ َ ُﱠ‬

"Benar, sesungguhnya seorang hamba mukmin jika mengerjakan shalat kemudian duduk, tidak menahannya kecuali shalat, melainkan dia berada di dalam shalat." (HR. Ibnu Majah. Syaikh al Albani menilainya hasan shahih). Juga berdasarkan hadits Anas bin Malik, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

ُ َ َ َ ‫ﺍ ْﻟ َﺗﻣﺳُﻭﺍ ﺍﻟﺳﱠﺎﻋﺔ ﺍﻟﱠﺗِﻲ ﺗﺭْ ﺟَ ﻰ ﻓِﻲ ﻳَﻭﻡ ﺍ ْﻟﺟﻣﻌﺔ َﺑﻌْ ﺩ ﺍ ْﻟﻌﺻْ ﺭ ﺇِﻟَﻰ ﻏ ْﻳﺑُﻭ َﺑﺔ ﺍﻟﺷﻣﺱ‬ ِ ِ ْ‫ِ ﱠ‬ ِ َ َ ِ َُ ُ ِ ْ

"Carilah saat yang sangat diharapkan pada hari Jum'at, yaitu setelah 'Ashar sampai tenggelamnya matahari." (HR. at Tirmidzi; dinilai Hasan oleh al Albani di dalam Shahih at Tirmidzi dan Shahihh at Targhib). Al-Hafidz Ibnul Hajar rahimahullah berkata: "diriwayatkan Sa'id bin Mansur dengan sanad shahih kepada Abu Salamah bin Abdirrahman, ada beberapa orang dari

Manggopoh Alam Saiyo by.My.Bagindo Chaniago

38

sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkumpul lalu saling menyebut satu saat yang terdapat pada hari Jum'at. Kemudian mereka berpisah tanpa berbeda pendapat bahwa saat tersebut berlangsung pada akhir waktu dari hari Jum'at." (Fath al Baari :II/421 dan Zaad al Ma'ad oleh Ibnul Qayim I:391) . . . Kemudian mereka berpisah tanpa berbeda pendapat bahwa saat tersebut berlangsung pada akhir waktu dari hari Jum'at. .

Ibnul Qayyim berkata, "diriwayatkan Sa'id bin Jubair dari Ibnu 'Abbas, dia berkata: 'saat (mustajab) yang disebutkan ada pada hari Jum'at itu terletak di antara shalat 'Ashar dan tenggelamnya matahari.' Sa'id bin Jubair jika sudah melaksanakan shalat 'Ashar dia tidak mengajak bicara seseorang pun hingga matahari terbenam. Demikian ini pendapat mayoritas ulama salaf, dan mayoritas hadits mengarah pada pendapat itu. Selanjutnya, pendapat lain menyatakan bahwa saat tersebut terdapat pada waktu shalat Jum'at. Adapun pendapat-pendapat lainnya tidak memiliki dalil." (Zaad al Ma'ad: I/394) Ibnul Qayyim juga mengatakan, "menurut saya, saat shalat merupakan waktu yang diharapkan pengabulan doa. Keduanya merupakan waktu pengabulan meskipun satu saat yang khusus itu di akhir waktu setelah shalat 'Ashar. Itu merupakan saat tertentu dari hari Jum'at yang tidak akan mundur atau maju. Adapun saat ijabah pada waktu shalat, ia mengikuti waktu shalat itu sendiri sehingga bisa maju atau mundur. Karena ketika berkumpulnya kaum muslimin, shalat, ketundukan, dan munajat mereka kepada Allah memiliki pengaruh terhadap pengabulan (doa). Dengan demikian, saat pertemuan mereka merupakan saat yang diharap dikabulkannya doa. Dengan demikian itu, seluruh hadits berpadu antara yang satu dengan lainnya. . ." (Zaad al Ma'ad: I/394) Lebih lanjut, Ibnul Qayyim berkata, "saat mustajab berlangsung pada akhir waktu setelah 'Ashar yang diagungkan oleh seluruh pemeluk agama. Menurut Ahl Kitab, ia merupakan saat pengabulan. Inilah salah satu yang ingin mereka ganti dan merubahnya. Sebagian orang dari mereka yang telah beriman mengakui hal tersebut." (Zaad al Ma'ad: I/396) . . . Di dalamnya terdapat satu saat yang tidaklah seorang muslim berdoa memohon sesuatu bertepatan dengan saat tersebut melainkan Allah akan mengabulkannya, yaitu setelah shalat 'Ashar.

Manggopoh Alam Saiyo by.My.Bagindo Chaniago

39

Pendapat ini juga yang dipilih oleh Syaikh Ibnu Bazz rahimahullah sebagaimana yang dinukil oleh DR. Sa'id bin Ali al Qahthan dalam Shalatul Mukmin. Syaikh Ibnu Bazz berkata, "hal itu menunjukkan bahwa sudah sepantasnya bagi orang muslim untuk memberikan perhatian terhadap hari Jum'at. Sebab, di dalamnya terdapat satu saat yang tidaklah seorang muslim berdoa memohon sesuatu bertepatan dengan saat tersebut melainkan Allah akan mengabulkannya, yaitu setelah shalat 'Ashar. Mungkin saat ini berlangsung setelah duduknya imam di atas mimbar. Oleh karena itu, jika seseorang datang dan duduk setelah 'Ashar menunggu shalat Maghrib seraya berdoa, doanya akan dikabulkan. Demikian halnya jika setelah naiknya imam ke atas mimbar, seseorang berdoa dalam sujud dan duduknya maka sudah pasti doanya akan dikabulkan." (DR. Sa'id bin Ali bin Wahf al Qahthani, Ensiklopedi Shalat menurut al Qur'an dan as Sunnah : II/349) Penulis: Badrul Tamam

Penting! Dilarang Shalat di Antara Tiang-tiang Masjid
(PurWD/voa-islam.com)

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarga, para shahabat, dan yang mengikuti mereka hingga hari kiamat, amma ba’du: Ikhwati fillah, shalat di antara tiang- tiang masjid merupakan permasalahan yang telah banyak diperbincangkan para ulama, mereka mengatakan: “Diperbolehkan bagi imam dan orang yang sendirian shalat di antara tiang-tiang, hal itu makruh bagi makmum karena termasuk memutuskan shaf, kecuali dalam keadaan darurat, berdasarkan hadits Ibnu Umar radhiallahu 'anhuma:

‫ﺃﻥ ﺍﻟﻧﺑﻲ- ﺻﻠﻰ ﷲ ﻋﻠﻳﻪ ﻭﺳﻠﻡ -ﻟﻣﺎ ﺩﺧﻝ ﺍﻟﻛﻌﺑﺔ ﺻﻠﻰ ﺑﻳﻥ ﺍﻟﺳﺎﺭﻳﺗﻳﻥ‬

"Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika memasuki ka’bah shalat di antara dua tiang." (Muttafaqun ‘alaihi) Dan dari Anas radliyallahu 'anhu berkata,

Manggopoh Alam Saiyo by.My.Bagindo Chaniago

40

ً‫ﻛﻧﺎ ﻧﻧﻬﻰ ﻋﻥ ﺍﻟﺻﻼﺓ ﺑﻳﻥ ﺍﻟﺳﻭﺍﺭﻱ ﻭﻧﻁﺭﺩ ﻋﻧﻬﺎ ﻁﺭﺩﺍ‬

"Dahulu kami dilarang shalat di antara tiang-tiang dan kami diusir darinya dengan paksa." (HR. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam shahih mereka berdua, Imam Al-Hakim menshahihkannya. Syeikh Albani menghasankannya dalam Shahih alJami', no. 1567) Dari Mu'awiyah bin Qurrah dari ayahnya radhiallahu 'anhu berkata, "

ً‫ﻛﻧﺎ ﻧﻧﻬﻰ ﺃﻥ ﻧﺻﻑ ﺑﻳﻥ ﺍﻟﺳﻭﺍﺭﻱ ﻋﻠﻰ ﻋﻬﺩ ﺭﺳﻭﻝ ﷲ- ﺻﻠﻰ ﷲ ﻋﻠﻳﻪ ﻭﺳﻠﻡ -ﻭﻧﻁﺭﺩ ﻋﻧﻬﺎ ﻁﺭﺩﺍ‬

"Dahulu kami dilarang untuk membuat shaf di antara tiang-tiang di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan kami diusir darinya dengan paksa." (HR. Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Albani dalam Shahih al-Jami' no. 821) Dari Abdul Hamid bin Mahmud berkata: Aku sholat bersama Anas bin Malik pada hari Jum’at lalu kami diusir dari tiang-tiang maka kami ada yang maju ada yang mundur, lalu Anas berkata:
‫ﻛﻧﺎ ﻧﺗﻘﻲ ﻫﺫﺍ ﻋﻠﻰ ﻋﻬﺩ ﺭﺳﻭﻝ ﷲ- ﺻﻠﻰ ﷲ ﻋﻠﻳﻪ ﻭﺳﻠﻡ‬

"Dahulu kami dilarang melakukan hal ini pada zaman Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam." (HR. Abu Dawud, Turmudzi dan Nasa’ie. Dishahihkan oleh Syeikh Albani dalam Shahih Abu Dawud no. 625) Para ulama berbeda pendapat mengenai shalat di antara tiang-tiang. Anas bin Malik berpendapat makruh berdasarkan larangan dalam hal itu, diriwayatkan oleh AlHakim dan dishahihkannya. Ibnu Mas’ud radhiallahu 'anhu berkata: “Jangan kalian membentuk shaf di antara tiang-tiang dan sempurnakanlah shaf-shaf.” Hal ini diperbolehkan oleh Hasan, Ibnu Sirin, dan dahulu Sa’id bin Jubair, Ibrahim AtTaimi, Suwaid bin Ghaflah, mengimami kaum mereka di antara tiang-tiang, dan ini pendapat ulama Kufah. Imam Malik rahimahullah berkata dalam kitab “Al-Mudawwanah“: "Tidak mengapa shalat di antara keduanya karena sempitnya Masjid.” Ibnu Hubaib berkata: “Bukanlah larangan itu kepada putusnya shaf-shaf jika masjidnya sempit, namun hal itu dilarang apabila masjidnya luas.” (Umdatul Qari: 4/286)

Manggopoh Alam Saiyo by.My.Bagindo Chaniago

41

Imam Bukhari rahimahullah telah mengkhususkan dalam “Shahihnya“ Bab shalat di antara tiang-tiang dalam keadaan tidak berjama’ah, Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata: (Perkataan beliau (Imam Bukhari): “ Bab sholat diantara tiang-tiang dalam keadaan tidak berjama’ah” bahwa beliau mengkaitkannya dengan selain berjama’ah karena hal itu dapat memutuskan shaf- shaf, dan meluruskan dan merapatkan shaf dalam jama’ah dikehendaki, Berkata Ar-Rafi’ie dalam “ Syarhul Musnad”: Imam Bukhari berdalilkan dengan hadits ini – yakni hadits Ibnu Umar dari Bilal – bahwa tidak mengapa sholat diantara dua tiang apabila tidak berjama’ah, dan beliau mengisyaratkan bahwa yang lebih utama bagi yang sholat sendirian untuk menghadap tiang, meskipun ini lebih utama namun tidak makruh kalau berdiri diantara kedua tiang yakni bagi yang sholat sendirian, dan adapun yang sholat berjama’ah maka berdiri diantara dua tiang seperti sholat menghadap tiang, selesai perkataannya, hal ini perlu diteliti, karena adanya larangan yang khusus untuk sholat diantara tiang-tiang, sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Hakim dari haditsnya Anas dengan sanad shahih, dan itu ada dalam kitab sunan yang tiga dan dihasankan oleh Turmudzi, Berkata Al-Muhib Al-Thabari: “ satu kaum memakruhkan sholat diantara tiang-tiang karena adanya larangan dalam hal itu, letak kemakruhannya ketika tempatnya lapang, dan hikmahnya mungkin karena terputusnya shaf atau karena disitu tempat meletakkan sandal (masjid dizaman dulu)”. selesai. Berkata Imam Al-Qurtubi: “ diriwayatkan sebab makruhnya hal tersebut karena disitu tempat sholatnya para jin mukminin” Fathul Bari (1/578) Ibnu Qudamah rahimahullah berkata: ( tidak makruh bagi imam berdiri diantara tiang-tiang, dimakruhkan bagi para makmum, karena memutuskan shaf- shaf mereka, dan ini dibenci oleh Ibnu Mas’ud , An-Nakha’ie dan diriwayatkan dari Hudzaifah dan Ibnu Abbas, dan dibolehkan oleh Ibnu Sirin dan Malik dan pengikut ra’yu dan Ibnu Mundzir, karena tidak ada dalil yang melarangnya. Dan kami memilih apa yang diriwayatkan oleh Mu’awiyah bin Qurrah dari ayahnya berkat: “ Dahulu kami dilarang untuk membentuk shaf diantara tiang-tiang dizaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan kami diusir darinya dengan paksa”. Hadits riwayat Ibnu Majah . karena itu dapat memutuskan shaf, jika shafnya kecil setara dengan antara dua tiang tidak makruh, karena tidak terputus dengannya) AlMughni (2/47) Syeikh Utsaimin rahimahullah pernah ditanya tentang hukum sholat diantara tiangtiang, maka beliau menjawab: (apabila diperlukan maka tidak mengapa, namun jika tidak diperlukan maka hukumnya makruh, karena para shahabat radhiallahu anhum dahulu mereka menhindari hal itu) Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibnu Utsaimin soal no (389) Demikian juga beliau ditanya tentang hukum memutus shaf dengan tiang-tiang masjid jika penuh dengan jama’ah sholat? Maka beliau menjawab: (tidak ragu lagi

Manggopoh Alam Saiyo by.My.Bagindo Chaniago

42

bahwa yang paling afdhal untuk shaf-shaf adalah merapat tidak menjauh, inilah yang sunah). Dan sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah memerintahkan untuk merapatkan shaf-shaf, dan menutup celah-celah shaf. Dan dahulu para shahabat radhiallahu anhum menghindari shaf-shaf diantara tiang-tiang karena dapat memutuskan dari sebagiannya. Akan tetapi apabila diperlukan seperti dalam pertanyaan diatas yaitu masjid penuh dengan jama’ah sholat, maka tidak mengapa dalam keadaan seperti ini untuk membentuk shaf diantara tiang-tiang, karena perkara yang baru memiliki hukum khusus, dan keadaan darurat dan keperluan juga memiliki hukum yang sesuai dengannya) Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibnu Utsaimin soal no (1063) Mudah-mudahan Allah Memberikan taufik dan kemudahan untuk melaksanakan setiap sunah, walaupun kelihatannya sepele, karena tidak ada istilah sepele dalam sunah, jika itu shahih perintah Allah dan RasulNya shallallahu ‘alaihi wasallam, apalagi istilah makruh bagi ulama terdahulu lebih bermakna mendekati pengharaman. Wallahu A’lam bishowab.

Rahasia Keutamaan Hari Jumat
(ar/voa-islam) Tuesday, 01 September 2009 10:49

Andaikata Rasulullah masih hidup, beliau pasti membenci sineas Indonesia yang menjadikan hari Jumat seolah hari menakutkan dan horor Hidayatullah.com-Novelis Ayu Sutrisna (diperankan Suzanna) sering mengalami tangan gemetar dan keringat dingin keluar karena mengidap phobia tertentu. Anton (diperankan Alan Nuari), psikiater dan sekaligus pacar yang merawatnya, menganjurkan hidup santai dan menghindari suasana sibuk dan bising. Ia pun menyepi di sebuah rumah tua milik ayah Anton. Namun dua penjaga rumah tua itu mati mengerikan ketika mencoba memperkosa Ayu. Mereka diperkirakan dibunuh setan. Akhirnya tabir terbuka, ayah Anton mengaku bahwa istrinya telah melahirkan bayi di malam Jumat Kliwon dan terbunuh. Malam Jumat Kliwon adalah film horor Indonesia yang dirilis pada tahun 1986. Film yang disutradari oleh Sisworo Gautama Putra ini dibintangi antara lain oleh Suzanna dan Alan Nuari.

Manggopoh Alam Saiyo by.My.Bagindo Chaniago

43

Malam Jumat Kliwon adalah film horor Indonesia yang dirilis pada tahun 1986. Film yang disutradari oleh Sisworo Gautama Putra ini dibintangi antara lain oleh Suzanna dan Alan Nuari. Alkisah, di atas era 80-an dan seterusnya, para sineas lain di Indonesia menjadikan hari Jumat sebagai hari menakutkan. Hampir bisa disaksikan di semua TV atau filmfilm horor, menjadikan hari Jumat sebagai hari “kebangkitan” para setan. Walhasil, hari Jumat adalah hari menyeramkan! Begitulah para sineas Indonesia yang telah ikut menyumbang keburukan dengan menjadikan Hari Jumat seolah-oleh hari paling sial dan menakutkan. Andai Rasulullah masih hidup di tengah-tengah kita, mungkin baginda akan marah besar. Betapa tidak, karena baginda Rasulullah sangat memuliakan hari Jumat. Dalam banyak riwayat, Rasulullah bahkan meminta kita memuliakan hari itu. Dalam sebuah riwayat, Rasulullah pernah bersabda. “Hari terbaik di mana matahari terbit di dalamnya ialah hari Jumat. Pada hari itu Adam Alaihis Salam diciptakan, dimasukkan ke surga, dikeluarkan daripadanya dan kiamat tidak terjadi kecuali di hari Jumat.” [Riwayat Muslim] Rasulullah juga pernah bersabda, “Sesungguhnya hari yang paling utama bagi kalian adalah hari Jumat, maka perbanyaklah sholawat kepadaku di dalamnya, karena sholawat kalian akan ditunjukkan kepadaku, para sahabat berkata: ‘Bagaimana ditunjukkan kepadamu sedangkan engkau telah menjadi tanah?’ Nabi bersabda: ‘Sesungguhnya Allah mengharamkan bumi untuk memakan jasad para Nabi.” (Shohih. HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, An-Nasa’i) Keistimewaan lain hari Jumat adalah saat-saat dikabulkannya doa, yaitu saat-saat terakhir setelah shalat ashar (seperti yang dijelaskan dalam banyak hadits) atau di antara duduknya imam di atas mimbar saat berkhutbah Jumat sampai shalat selesai ditunaikan. Amalan Mulia Allah mengkhususkan hari Jumat ini hanya bagi kaum Muslimin dari seluruh kaum dari umat-umat terdahulu. Di dalamnya banyak rahasia dan keutamaan yang datangnya langsung dari Allah. Beberapa rahasia keagungan hari Jumat adalah sebagai berikut; Pertama, Hari Keberkahan. Di mana di hari Jumat berkumpul kaum Muslimin di masjid-masjid untuk mengikuti shalat dan sebelumnya mendengarkan dua khutbah Jumat yang mengandung pengarahan dan pengajaran serta nasihat-nasihat yang ditujukan kepada kaum muslimin yang kesemuanya mengandung manfaat agama dan dunia. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah menyebut hari Jumat memiliki 33 keutamaan. Bahkan Imam as-Suyuthi menyebut ada 1001 keistimewaan.

Manggopoh Alam Saiyo by.My.Bagindo Chaniago

44

Kedua, Hari Dikabulkannya doa. Di antara rahasia keutamaan hari Jumat lain adalah, di hari itu terdapat waktu-waktu dikabulkannya doa. “Di hari Jumat itu terdapat satu waktu yang jika seorang Muslim melakukan shalat di dalamnya dan memohon sesuatu kepada Allah Ta’ala, niscaya permintaannya akan dikabulkan.’ Lalu beliau memberi isyarat dengan tangannya yang menunjukkan sedikitnya waktu itu.” [HR.Bukhari dan Muslim] Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda: "Sesungguhnya pada hari Jumat terdapat waktu mustajab bila seorang hamba muslim melaksanakan shalat dan memohon sesuatu kepada Allah pada waktu itu, niscaya Allah akan mengabulkannya.” [Muttafaqun Alaih] Ketiga, Hari Diperintahkannya Shalat Jumat. Rasulullah bersabda, “Hendaklah kaum-kaum itu berhenti dari meninggalkan shalat Jumat. Atau (jika tidak) Allah pasti akan mengunci hari mereka, kemudian mereka pasti menjadi orang-orang yang lalai.” [Muslim]. Dalam riwayat lain Rasulullah menyebutkan, “Shalat Jumat adalah hak yang diwajibkan kepada setiap Muslim kecuali empat orang; budak atau wanita, atau anak kecil, atau orang sakit.” [Abu Daud]

ْ‫ﻳﺎ ﺃَﻳﱡﻬﺎ ﺍﻟﱠﺬﻳﻦ ﺁﻣﻨﻮﺍ ﺇِﺫَﺍ ﻧﻮﺩﻱ ﻟِﻠﺼﻼﺓ ﻣﻦ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﺠﻤﻌﺔ ﻓﺎﺳﻌﻮﺍ ﺇِﻟَﻰ ﺫﻛْﺮ ﺍﻟﻠﱠﻪ ﻭﺫَﺭﻭﺍ ﺍﻟﺒﻴﻊ ﺫﻟِﻜُﻢ ﺧﻴﺮ ﻟَﻜُﻢ ﺇِﻥ‬ َ ِ ُ َ َ ْ ْ َ ْ َ ِ َ ُ ُ ْ ِ َْ ْ ِ ِ ‫ﱠ‬ َُ َ ِ ِ ِ ٌ َْ ْ َ َ َْْ ُ َ ِ ۹( َ‫)ﻛﻨﺘﻢ ﺗَﻌﻠَﻤﻮﻥ‬ ْ ْ ُُْ ُ

“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli, yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” [QS: Al-Jumu'ah:9]

َ ُ ْ ْ َ َ َ َ ْ َ ِ َ ِ ْ َ ِ َ َ ْ َ ْ ْ َ ‫ﻣﻦ ﻏﺴﻞ ﻳَﻮﻡ ﺍﻟﺠﻤﻌﺔ ﻭﺍﻏْ ﺘﺴﻞ ﺛُﻢ ﺑَﻜﺮ ﻭﺍﺑﺘﻜﺮ ﻭﻣﺸﻰ ﻭﻟَﻢ ﻳَﺮﻛﺐ ﻭﺩﻧَﺎ ﻣﻦ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﻓﺎﺳﺘﻤﻊ ﻭﻟَﻢ ﻳَﻠﻎ ﻛﺎﻥَ ﻟَﻪ‬ َ َ َ َ َ َْ َ َ ‫َ ْ َ ﱠ َ ْ َ ْ ُ ْ َ ِ َ َ َ َ ﱠ ﱠ‬ ُ ‫ﺑِﻜﻞ ﺧﻄﻮﺓ ﻋﻤﻞ ﺳﻨﺔ ﺃَﺟﺮ ﺻﻴَﺎﻣﻬﺎ ﻭﻗِﻴَﺎﻣﻬﺎ‬ َ ُ َ َ ُ ِ ُ ْ ٍ َ َ ُ َ َ ٍ َ ْ ُ ِّ ُ

“Barangsiapa yang bersuci dan mandi, kemudian bergegas dan mendengar khutbah dari awal, berjalan kaki tidak dengan berkendaraan, mendekat dengan imam, lalu mendengarkan khutbah dan tidak berbuat sia-sia, maka baginya bagi setiap langkah pahala satu tahun baik puasa dan shalatnya..” Keempat, Hari Pembeda antara Islam dan Non-Muslim. Hari Jumat adalah hari istimewa bagi kaum Muslim. Selain itu diberikan Nabi untuk membedakan antara harinya orang Yahudi dan orang Nashrani. Abu Hurairah meriwayatkan, Rasulullah bersabda: "Allah telah memalingkan orangorang sebelum kita untuk menjadikan hari Jumat sebagai hari raya mereka, oleh karena itu hari raya orang Yahudi adalah hari Sabtu, dan hari raya orang Nasrani adalah hari Ahad, kemudian Allah memberikan bimbingan kepada kita untuk menjadikan hari Jumat sebagai hari raya, sehingga Allah menjadikan hari raya
Manggopoh Alam Saiyo by.My.Bagindo Chaniago

45

secara berurutan, yaitu hari Jumat, Sabtu, dan Ahad. Dan di hari kiamat mereka pun akan mengikuti kita seperti urutan tersebut, walaupun di dunia kita adalah penghuni yang terakhir, namun di hari kiamat nanti kita adalah urutan terdepan yang akan diputuskan perkaranya sebelum seluruh makhluk." [HR. Muslim] Kelima, Hari Allah menampakkan diri. Dalam sebuah riwayat disebutkan,Hari Jumat Allah menampakkan diri kepada hamba-hamba-Nya yang beriman di Surga. Dari Anas bin Malik dalam mengomentari ayat: "Dan Kami memiliki pertambahannya" (QS.50:35) mengatakan: "Allah menampakkan diri kepada mereka setiap hari Jumat." Masih banyak keistimewan hari Jumat. Di antaranya adalah; Dalam "al-Musnad" dari hadits Abu Lubabah bin Abdul Munzir, dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, beliau bersabda: "Penghulunya hari adalah hari Jumat, ia adalah hari yang paling utama di sisi Allah Subhanahu Wata'ala, lebih agung di sisi Allah Subhanahu Wata'ala dari pada hari Idul Fitri dan Idul Adha. Pada hari Jumat tersebut terdapat lima keistimewaan: Hari itu, bapak semua umat manusia, Nabi Adam 'Alaihissalam diciptakan, diturunkan ke dunia, dan wafat. Hari kiamat tak akan terjadi kecuali hari Jum’at. Karena itu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, sangat memuliakan hari ini, menghormatinya, dan mengkhususkannya untuk beribadah dibandingkan hari-hari lainnya.

Keutamaan Menggauli Istri di Hari Jum'at
Kamis, 01 Jul 2010 Oleh: Badrul Tamam

Jima' atau hubungan seks dalam pandangan Islam bukanlah hal aib dan hina yang harus dijauhi oleh seorang muslim yang ingin menjadi hamba yang mulia di sisi Allah. Hal ini berbeda dengan pandangan agama lain yang menilai persetubuhan sebagai sesuatu yang hina. Bahkan, sebagian ajaran agama tertentu mewajibkan untuk menjauhi pernikahan dan hubungan seks guna mencapai derajat tinggi dalam beragama.

Manggopoh Alam Saiyo by.My.Bagindo Chaniago

46

Diriwayatkan dalam shahihain, dari Anas bin Malik pernah menceritakan, ada tiga orang yang datang ke rumah istri-istri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam untuk menanyakan tentang ibadah beliau. Ketika diberitahukan, seolah-olah mereka saling bertukar pikiran dan saling bercakap bahwa mereka tidak bisa menyamai Nabi shallallahu 'alaihi wasallam karena dosa beliau yang lalu dan akan datang sudah diampuni. Lalu salah seorang mereka bertekad akan terus-menerus shalat malam tanpa tidur, yang satunya bertekad akan terus berpuasa setahun penuh tanpa bolong, dan satunya lagi bertekad akan menjauhi wanita dengan tidak akan menikah untuk selama-lamanya. Kabar inipun sampai ke telinga baginda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, lantas beliu bersabda kepada mereka, "Apakah kalian yang mengatakan begini dan begitu? Adapun saya, Demi Allah, adalah orang yang paling takut dan paling takwa kepada Allah di bandingkan kalian, tapi saya berpuasa dan juga berbuka, saya shalat (malam) dan juga tidur, serta menikahi beberapa wanita. Siapa yang membenci sunnahku bukan bagian dari umatku." (Muttafaq 'alaih) Bahkan dalam hadits lain disebutkan bahwa seks atau hubungan badan di jalan yang benar akan mendatangkan pahala besar. Diriwayatkan dari Abu Dzar, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
ُ َ ُ َ َ ُ َ ٍ َ ٌَََ ُْ ِ ِ ُ ‫ﻭﻓِﻲ ﺑُﺿْ ﻊ ﺃَﺣَ ﺩﻛﻡ ﺻﺩﻗﺔ ﻗﺎﻟُﻭﺍ ﻳَﺎ ﺭَ ﺳُﻭﻝ ﷲ ﺃَﻳَﺄﺗِﻲ ﺃَﺣَ ﺩ َﻧﺎ ﺷﻬْﻭ َﺗﻪ ﻭ َﻳﻛﻭﻥُ ﻟَﻪ ﻓِﻳﻬَﺎ ﺃَﺟْ ﺭ ﻗﺎﻝ ﺃَﺭَ ﺃَ ْﻳﺗﻡ ﻟَﻭ ﻭﺿﻌﻬَﺎ ﻓِﻲ ﺣَ ﺭَ ﺍﻡ ﺃَﻛﺎﻥَ ﻋﻠَ ْﻳﻪ ﻓِﻳﻬَﺎ‬ ِ َ َ َ َ ْ ُْ َ َ ٌ ِ‫َ ﱠ‬ َ َ‫ﻭﺯﺭ ﻓﻛﺫﻟِﻙ ﺇِﺫﺍ ﻭﺿﻌﻬَﺎ ﻓِﻲ ﺍ ْﻟﺣَ ﻼﻝ ﻛﺎﻥَ ﻟَﻪ ﺃ‬ َ ِ َ ‫ُ ﺟْ ﺭً ﺍ‬ ََ َ َ َ َََ ٌ ْ ِ

"Dan pada kemaluan (persetubuhan) kalian terdapat sedekah. Mereka (para sahabat) bertanya, 'Ya Rasulullah, apakah salah seorang dari kami yang menyalurkan syahwatnya lalu dia mendapatkan pahala?' Beliau bersabda, 'Bagaimana pendapat kalian seandainya hal tersebut disalurkan pada tempat yang haram, bukankah baginya dosa? Demikianlah halnya jika hal tersebut diletakkan pada tempat yang halal, maka dia mendapatkan pahala." (HR. Muslim) ....Di dalam perkawinan terdapat kesempurnaan hidup, kenikmatan dan kebaikan kepada sesama.... Ibnul Qayyim, sebagaimana yang dinukil oleh Al-Istambuli dalam Tuhfatul 'Arus, mengatakan, "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajak kepada umatnya agar melaksanakan pernikahan, senang dengannya dan mengharapkan (padanya) suatu pahala serta sedekah bagi yang telah melaksanakannya. Di dalam perkawinan terdapat kesempurnaan hidup, kenikmatan dan kebaikan kepada sesama. Di samping itu, juga mendapatkan pahala sedekah, mampu menenangkan jiwa, menghilangkan pikiran kotor, menyehatkan menolak keinginan-keinginan yang buruk." Kesempurnaan nikmat dalam perkawinan dan jima' akan diraih oleh orang yang mencintai dan dengan keridlaan Rabbnya dan hanya mencari kenikmatan di sisinya serta mengharapkan tambahan pahala untuk memperberat timbangan kebaikannya. Oleh karena itu yang sangat disenangi syetan adalah memisahkan suami dari

Manggopoh Alam Saiyo by.My.Bagindo Chaniago

47

kekasihnya dan menjerumuskan keduanya ke dalam tindakan yang diharamkan Allah. Disebutkan dalam Shahih Muslim, bahwa Iblis membangun istana di atas air (tipu muslihat), kemudian menyebarkan istananya itu kepada manusia. Lalu iblis mendekatkan rumah mereka dan membesar-besarkan keinginan (hayalan) mereka. Iblis berkata, 'Tidak ada perubahan kenikmatan sampai terjadi perzinaan'. Yang lainnya berkata, 'Aku tidak akan berpaling sampai mereka berpisah dari keluarganya.' Maka iblis menenangkannya dan menjadikan dirinya berseru, 'Benarlah apa yang telah engkau lakukan'. Kenapa Iblis begitu bersemangat untuk menjerumuskan orang ke dalam perzinaan dan perceraian? Karena pernikahan dan berjima dalam balutan perkawinan adalah sangat dicintai Allah dan Rasul-Nya. Makanya hal ini sangat dibenci oleh musuh manusia. Ia selalu berusaha memisahkan pasangan yang berada berada dalam naungan ridla ilahi dan berusaha menghiasi mereka dengan segala sifat kemungkaran dan perbuatan keji serta menciptakan kejahatan di tengah-tengah mereka. Untuk itu hendaknya bagi suami-istri agar mewaspai keinginan syetan dan usahanya dalam memisahkan mereka berdua. Ibnul Qayim berkata dalam menta'liq hadits anjuran menikah bagi pemuda yang sudah ba'ah, "Setiap kenikmatan membantu terhadap kenikmatan akhirat, yaitu kenikmatan yang disenangi dan diridlai oleh Allah." Seorang suami dalam aktifitasnya bersama istrinya akan mendapatkan kenikmatan melalui dua arah. Pertama, dari sisi kebahagiaan suami yang merasa senang dengan hadirnya seorang istri sehingga perasaan dan juga penglihatannya merasakan kenikmatan tersebut. Kedua, dari segi sampainya kepada ridla Allah dan memberikan kenikmatan yang sempurna di akhirat. Oleh karena itu, sudah selayaknya bagi orang berakal untuk menggapai keduanya. Bukan sebaliknya, menggapai kenikmatan semu yang beresiko mendatangkan penyakit dan kesengsaraan serta menghilangkan kenikmatan besar baginya di akhirat. (Lihat: Ibnul Qayyim dalam Raudhatul Muhibbin, hal. 60) Jima' di hari Jum'at Uraian keutamaan hubungan suami istri di atas sebenarnya sudah cukup menunjukkan pahala besar dalam aktifitas ranjang. Lalu adakah dalil khusus yang menunjukkan keutamaan melakukan jima' di hari Jum'at dengan pahala yang lebih berlipat? Memang banyak pembicaran dan perbincangan yang mengarah ke sana bahwa seolah-olah malam Jum'at dan hari Jum'at adalah waktu yang cocok untuk melakukan hubungan suami-istri. Keduanya akan mendapatkan pahala berlipat dan memperoleh keutamaan khusus yang tidak didapatkan pada hari selainnya.

Manggopoh Alam Saiyo by.My.Bagindo Chaniago

48

Kesimpulan tersebut tidak bisa disalahkan karena ada beberapa dalil pendukung yang menunjukkan keutamaan mandi janabat pada hari Jum'at. Sedangkan mandi janabat ada dan dilakukan setelah ada aktifitas percintaan suami-istri. Dari Abu Hurairah radliyallhu 'anhu, dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

َ ََ ِ ‫َ ِ ﱠ‬ َ ََ َ ‫ِ ُﱠ‬ ‫ﻣﻥْ ﺍﻏ َﺗﺳﻝ ﻳَﻭﻡ ﺍ ْﻟﺟﻣﻌﺔ ﻏﺳْ ﻝ ﺍ ْﻟﺟَ َﻧﺎ َﺑﺔ ﺛﻡ ﺭَ ﺍﺡ ﻓﻛﺄ ﱠَﻧﻣَﺎ ﻗﺭﱠ ﺏَ َﺑﺩ َﻧﺔ ﻭﻣﻥْ ﺭَ ﺍﺡ ﻓِﻲ ﺍﻟﺳﱠﺎﻋﺔ ﺍﻟﺛﺎﻧِ َﻳﺔ ﻓﻛﺄ ﱠَﻧﻣَﺎ ﻗﺭﱠ ﺏَ َﺑﻘﺭَ ﺓ ﻭﻣﻥْ ﺭَ ﺍﺡ ﻓِﻲ ﺍﻟﺳﱠﺎﻋﺔ‬ ِ َ َ َ َ ً َ َ َ َ ً َ َ ُ ِ َُ ُ َ ْ َ َ ْ َ ً َ ً َ‫ﺍﻟﺛﺎﻟِ َﺛﺔ ﻓﻛﺄ ﱠَﻧﻣَﺎ ﻗﺭﱠ ﺏَ ﻛ ْﺑﺷﺎ ﺃَﻗﺭَ ﻥَ ﻭﻣﻥْ ﺭَ ﺍﺡ ﻓِﻲ ﺍﻟﺳﱠﺎﻋﺔ ﺍﻟﺭﱠ ﺍﺑﻌﺔ ﻓﻛﺄ ﱠَﻧﻣَﺎ ﻗﺭﱠ ﺏَ ﺩَﺟَ ﺎﺟَ ﺔ ﻭﻣﻥْ ﺭَ ﺍﺡ ﻓِﻲ ﺍﻟﺳﱠﺎﻋﺔ ﺍ ْﻟﺧﺎﻣﺳﺔ ﻓﻛﺄ ﱠَﻧﻣَﺎ ﻗﺭﱠ ﺏَ َﺑ ْﻳﺿﺔ ﻓﺈِﺫ‬ ْ ً َ َ ََ ِ َ ِ َ ِ َ َ ََ ِ َِ َ ََ ِ ‫ﱠ‬ ‫َ ﺍ‬ ِ َ َ َ َ َ َ َ ُ َ َ ْ‫ﱢ‬ ْ ُ ِ َ‫ﺧﺭَ ﺝ ﺍﻹِﻣَﺎﻡ ﺣَ ﺿَﺭَ ﺕ ﺍ ْﻟﻣَﻼﺋِﻛﺔ َﻳﺳْ َﺗﻣﻌﻭﻥَ ﺍﻟﺫﻛﺭ‬ ُ ْ َ َ

"Barangsiapa mandi di hari Jum’at seperti mandi janabah, kemudian datang di waktu yang pertama, ia seperti berkurban seekor unta. Barangsiapa yang datang di waktu yang kedua, maka ia seperti berkurban seekor sapi. Barangsiapa yang datang di waktu yang ketiga, ia seperti berkurban seekor kambing gibas. Barangsiapa yang datang di waktu yang keempat, ia seperti berkurban seekor ayam. Dan barangsiapa yang datang di waktu yang kelima, maka ia seperti berkurban sebutir telur. Apabila imam telah keluar (dan memulai khutbah), malaikat hadir dan ikut mendengarkan dzikir (khutbah).” (HR. Bukhari no. 881 Muslim no. 850). Para ulama memiliki ragam pendapat dalam memaknai "ghuslal janabah" (mandi janabat). Sebagaian mereka berpendapat bahwa mandi tersebut adalah mendi janabat sehingga disunnahkan bagi seorang suami untuk menggauli istrinya pada hari Jum'at. karena hal itu lebih bisa membantunya untuk menundukkan pandangannya ketika berangkat ke masjid dan lebih membuat jiwanya tenang serta bisa melaksanakan mandi besar pada hari tersebut. Pemahaman ini pernah disebutkan oleh Ibnu Qudamah dari Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah dan juga disebutkan oleh sekelompok ulama Tabi'in. Imam al-Qurthubi berkata, "sesungguhnya dia adalah pendapat yang peling tepat." (Lihat: Aunul Ma'bud: 1/396 dari Maktabah Syamilah) Pendapat di atas juga mendapat penguat dari riwayat Aus bin Aus radliyallah 'anhu yang berkata, "Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

َ ُ ْ َ َ ِ ْ ُ ٍ َ ُ َ َ ٍ َْ ُ ‫ُ ُ ﱢ‬ ‫ﻣﻥْ ﻏﺳﻝ ﻳَﻭﻡ ﺍ ْﻟﺟﻣﻌﺔ ﻭﺍﻏ َﺗﺳﻝ ﺛﻡ َﺑﻛﺭَ ﻭﺍ ْﺑ َﺗﻛﺭَ ﻭﻣﺷﻰ ﻭﻟَﻡ َﻳﺭْ ﻛﺏْ ﻭﺩ َﻧﺎ ﻣِﻥْ ﺍﻹِﻣَﺎﻡ ﻓﺎﺳْ َﺗﻣَﻊَ ﻭﻟَﻡ َﻳ ْﻠﻎ ﻛﺎﻥَ ﻟَﻪ ﺑِﻛﻝ ﺧﻁﻭﺓ ﻋﻣﻝ ﺳ َﻧﺔ ﺃَﺟْ ﺭ‬ َ َ َ ْ َ َ َ َ َ َ ‫َ َ ﱠ َ ْ َ ُ َُ ِ َ ْ َ َ ُﱠ ﱠ‬ ‫ﺻِ ﻳَﺎﻣﻬَﺎ ﻭﻗِﻳَﺎﻣﻬَﺎ‬ ِ َ ِ

"Barangsiapa mandi pada hari Jum'at, berangkat lebih awal (ke masjid), berjalan kaki dan tidak berkendaraan, mendekat kepada imam dan mendengarkan khutbahnya, dan tidak berbuat lagha (sia-sia), maka dari setiap langkah yang

Manggopoh Alam Saiyo by.My.Bagindo Chaniago

49

ditempuhnya dia akan mendapatkan pahala puasa dan qiyamulail setahun." (HR. Abu Dawud no. 1077, Al-Nasai no. 1364, Ibnu Majah no. 1077, dan Ahmad no. 15585 dan sanad hadits ini dinyatakan shahih) Menurut penjelasan dari Syaikh Mahmud Mahdi Al-Istambuli dalam Tuhfatul 'Arus, bahwa yang dimaksud dengan mandi jinabat pada hadits di atas adalah melaksanakan mandi bersama istri. Ini mengandung makna bahwa sebelumnya mereka melaksanakan hubungan badan sehingga mengharuskan keduanya melaksanakan mandi. Hikmahnya, hal itu disinyalir dapat menjaga pandangan pada saat keluar rumah untuk menunaikan shalat Jum'at. Adapun yang dimaksud dengan bergegas pergi menuju ke tempat pelaksanaan shalat Jum'at pada awal waktu, adalah untuk memperoleh kehutbah pertama. (Lihat: Tuhfatul Arus dalam Edisi Indonesia Kado Perkawinan, hal. 175-176) Wallahu a'lam.

Hukum dan Amalan Khusus di Hari Jum'at
Kamis, 24 Jun 2010 Oleh: Badrul Tamam

Hari Jum'at adalah hari yang paling mulia dan paling agung. Sebaik-baik hari yang disinari matahari. Allah telah mengistimewakan hari Jum'at dengan banyak keutamaan melalui beberapa kejadian besar, di mana pada hari itu bapak manusia (Adam 'alaihis salam) diciptakan, dimasukkan ke surga, dikeluarkan darinya, diampuni kesalahannya, dan pada hari itu juga dia diwafatkan untuk bertemu dengan Rabbnya, menikmati lagi kenikmatan yang abadi, dan kembali menempati kedudukan yang pernah ditinggalkannya. Bahkan hari kiamat juga akan terjadi pada hari Jum'at. Allah telah menyediakan janji istimewa bagi hamba-Nya yang memuliakan hari tersebut berupa pahala yang besar, ampunan dosa, dan saat mustajab untuk terkabulnya doa. Karenanya, Allah mengistimewakannya dengan beberapa syi'ar, ibadah, serta hukum yang tidak didapatkan pada hari selainnya. Di antaranya adalah: 1. Tidak boleh menghususkan malam Jum’at untuk shalat khusus dan siang harinya untuk berpuasa.

Manggopoh Alam Saiyo by.My.Bagindo Chaniago

50

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radliyallaahu 'anhu, bahwa Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda;

‫ِ ْ ِ ﱠ‬ ُ ُ َ َ ُ َ ‫ﻻ َﺗﺧﺻﱡﻭﺍ ﻟَ ْﻳﻠَﺔ ﺍ ْﻟﺟﻣﻌﺔ ﺑﻘِﻳَﺎﻡ ﻣِﻥْ َﺑﻳْﻥ ﺍﻟﻠﱠﻳَﺎﻟِﻲ ، ﻭﻻ َﺗﺧﺻﱡﻭﺍ ﻳَﻭﻡ ﺍ ْﻟﺟﻣﻌﺔ ﺑﺻِ ﻳَﺎﻡ ﻣِﻥْ َﺑﻳْﻥ ﺍﻷَﻳﱠﺎﻡ ، ﺇﻻ ﺃَﻥْ َﻳﻛﻭﻥَ ﻓِﻲ ﺻﻭﻡ َﻳﺻُﻭﻣﻪ ﺃَﺣَ ﺩﻛﻡ‬ ُْ ُ ُُ ِ ِ َُ ُ َ ْ ِ ٍ َْ ٍ ٍ ِ ِ َُ ُ َ

“Janganlah menghususkan malam Jum’at untuk mengerjakan shalat dari malammalam lainnya, dan janganlah menghususkan siang hari Jum’at untuk mengerjakan puasa dari hari-hari lainnya, kecuali bertepatan dengan puasa yang biasa dilakukan oleh salah seorang kalian.” (HR. Muslim, al-Nasai, al-Baihaqi, dan Ahmad) a. Shalat dan ibadah khusus di malam Jum'at Hadits pertama menunjukkan haramnya mengistimewakan (menghususkan) malam Jum’at dengan melaksanakan ibadah tertentu, seperti shalat dan tilawah yang tidak biasa dilakukan pada hari-hari lain, kecuali ada dalil khusus yang memerintahkannya seperti membaca surat Al-Kahfi. Hadits tersebut juga menunjukkan tidak disyariatkannya shalat Raghaib pada malam Jum'at pertama dari bulan Rajab. Memang ada hadits yang menerangkannya, kalau saja hadits tersebut shahih maka bisa menjadi takhsis (pengecualian) dari keumuman tadi, namun para ulama menghukumi status hadits tersebut sebagai hadits maudlu' (palsu). (Baca: Keutamaan Bulan Rajab dalam Timbangan dan Keanehan yang Dibuat-buat Pada Bulan Rajab) b. Puasa khusus di hari Jum'at Berkaitan dengan larangan puasa khusus pada hari Jum'at dikuatkan dengan beberapa riwayat lain, di antaranya dari Abi Hurairah radliyallah 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
‫ُ ُْ ْ َ ُ َُ ِ ﱠ‬ َ ُ‫ﻻ َﻳﺻُﻭﻣَﻥﱠ ﺃَﺣَ ﺩﻛﻡ ﻳَﻭﻡ ﺍ ْﻟﺟﻣﻌﺔ ، ﺇﻻ ﺃَﻥْ َﻳﺻُﻭﻡ ﻳَﻭﻣًﺎ ﻗ ْﺑﻠَﻪ ، ﺃ َْﻭ ﻳَﻭﻣًﺎ َﺑﻌْ ﺩﻩ‬ ْ ُ َ ْ َ َ

“Janganlah salah seorang kamu berpuasa pada hari Jum’at, kecuali dia juga berpuasa sehari sebelumnya atau sesudahnya." (Muttafaq ‘alaih) Jabir radliyallah 'anhu pernah ditanya; "Apakah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melarang tentang puasa hari Jum'at? Beliau menjawab, "ya." dalam riwayat lain terdapat tambahan, "Kecuali digandengan dengan puasa sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya." (HR. Bukhari, Muslim, Ibnu Majah dan lainnya) Dari Juwairiyah binti al-Harits radliyallahu 'anha, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah menemuinya pada hari Jum'at, sementara dia sedang berpuasa. Lalu Nabi bertanya padanya, "Apakah kamu berpuasa kemarin?" Dia menjawab, "Tidak." Beliau bertanya lagi, "Apakah kamu ingin berpuasa besok?" Dia menjawab,

Manggopoh Alam Saiyo by.My.Bagindo Chaniago

51

"Tidak." Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda kepadanya, "Berbukalah (batalkan puasamu)!" (HR. Bukhari, Ahmad, dan Abdul Razaq dalam al-Mushannaf) Hadits ini menjelaskan bahwa maksud larangan adalah menghususkan berpuasa di hari Jum'at saja. Karenanya, apabila digandeng dengan puasa sehari sebelum atau sesudahnya tidak dilarang. Sementara hikmah larangan ini menjadi perbincangan para ulama. Sebagiannya menyebutkan, supaya seorang muslim memiliki tenaga lebih dan kuat melaksanakan berbagai ibadah yang disyariatkan di dalamnya sebagaimana tidak disyariatkannya puasa Arafah bagi Jama'ah haji yang sedang wukuf. Namun pendapat ini lemah, karena jika ini alasannya tentunya hukum larangannya tidak dinafikan ketika disambung puasa sehari sebelum atau sesudahnya. Maksud larangan adalah menghususkan berpuasa di hari Jum'at saja. Karenanya, apabila digandeng dengan puasa sehari sebelum atau sesudahnya tidak dilarang. Pendapat lainnya, dikarenakan hari Jum'at adalah hari raya. Sedangkan hari raya tidak disyariatkan puasa. Dan sepertinya ini adalah pendapat yang lebih rajih berdasarkan riwayat Abdul Razaq dalam Mushannafnya dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya dengan sanad yang hasan, dari Abi Al-Aubar; "Aku pernah duduk bersama Abu Hurairah radliyallah 'anhu, tiba-tiba datang seseorang dan berkata, "Sesungguhnya engkau melarang manusia berpuasa pada hari Jum'at!" Abu Hurairah menjawab, "Aku tidak melarang mereka berpuasa di hari Jum'at, tetapi aku mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Janganlah kalian berpuasa di hari Jum'at, karena hari Jum'at adalah hari raya kecuali engkau sambung dengan beberapa hari." 2. Dianjurkan membaca surat Al-Sajdah dan Al-Insan pada shalat Shubuh hari Jum’at. Dalam Shahihain, dari Ibnu 'Abbas radliyallah 'anhuma, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam membaca dalam shalat Fajar (Shubuh) hari Jum'at: Aliif Laam Miim Tanziil (Surat al-Sajdah) pada rakaat pertama dan pada rakaat kedua membaca Surat alInsan." (HR. Bukhari dan Muslim serta yang lainnya) Hikmahnya, sebagaimana yang disebutkan Ibnu Taimiyah, bahwa kedua surat yang mulia ini mengandung perkara yang sudah dan akan terjadi pada hari Jum'at berupa penciptaan Adam dan disebutkan hari kiamat serta kejadian yang ada di dalamnya. (Zaadul Ma'ad :1/375) Bahwa kedua surat yang mulia ini mengandung perkara yang sudah dan akan terjadi pada hari Jum'at berupa penciptaan Adam dan disebutkan hari kiamat serta kejadian yang ada di dalamnya. Catatan penting:

Manggopoh Alam Saiyo by.My.Bagindo Chaniago

52

a. Ada sebagian orang yang menyangka maksudnya adalah menghususkan shalat ini dengan sujud tambahan, yang diistilahkan dengan sujud Jum'at. Jika imam mereka tidak membaca surat ini, maka mereka akan membaca surat lain yang di dalamnya terdapat sujud sajdah. Ini adalah keliru, yang benar bahwa sujud ini dilakukan sebagai penyerta bukan sebagai tujuan sehingga seseorang sengaja untuk membacanya. b. Tidak dianjurkan membaca ayat sajdah lainnya, berdasarkan kesepakatan para imam. Karenanya, jika ditakutkan orang-orang jahil akan menyangka bahwa membaca ayat sajdah adalah wajib atau shalat Shubuh semakin afdhal dengan melakukan sujud tilawah, maka imam dianjurkan agar tidak kontinyu membacanya (membiasakannya/terus-menerus melaksanakannya). Ini merupakan pendapat Imam Ahmad, Ibnu Taimiyah, dan muridnya Ibnul Qayyim dalam Zaadul Ma'ad :1/375. Jika ditakutkan orang-orang jahil akan menyangka bahwa membaca ayat sajdah adalah wajib atau shalat Shubuh semakin afdhal dengan melakukan sujud tilawah, maka imam dianjurkan agar tidak kontinyu membacanya. 3. Dianjurkan membaca surat Al-Kahfi pada malam Jum'at dan siangnya. Dari Abu Sa'id al-Khudri radliyallahu 'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

َ ُ َ ‫ﻣﻥْ َ ﻗﺭَ ﺃَ ﺳُﻭﺭَ ﺓ ﺍ ْﻟﻛﻬﻑ ﻟَ ْﻳﻠَﺔ ﺍ ْﻟﺟﻣﻌﺔ ﺃَﺿَﺎء ﻟَﻪ ﻣِﻥَ ﺍﻟﻧﻭﺭ ﻓِ ْﻳﻣَﺎ َﺑ ْﻳ َﻧﻪ ﻭ َﺑ ْﻳﻥَ ﺍ ْﻟ َﺑ ْﻳﺕ ﺍ ْﻟﻌﺗِﻳْﻕ‬ ِ َُْ َ ِ ْ َ َ ْ َ ُ َ ِ َ ِ ِ ْ‫ﱡ‬

"Barangsiapa membaca surat al-Kahfi pada malam Jum’at, maka dipancarkan untuknya Allah Subhanahu wa Ta'ala akan menyinarinya dengan cahaya antara dia dan Baitul 'atiq." (Sunan Ad-Darimi, no. 3273. Juga diriwayatkan al-Nasai dan AlHakim serta dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami' al-Shaghir, no. 736) Dalam riwayat lain, "Barangsiapa membaca surat Al-Kahfi pada malam Jum’at, akan dipancarkan cahaya untuknya di antara dua Jum'at." (HR. Al-Hakim: 2/368 dan Al-Baihaqi: 3/249) Imam Al-Syafi'i rahimahullah dalam AlUmm menyatakan bahwa membaca surat Al-Kahfi bisa dilakukan pada malam Jum'at dan siangnya berdasarkan riwayat tentangnya. (Al-

Manggopoh Alam Saiyo by.My.Bagindo Chaniago

53

Umm, Imam al-Syafi'i: 1/237). 4. Dianjurkan memperbanyak shalawat kepada Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam pada malam jum'at dan siang harinya. Diriwayatkan dari Aus bin Aus radliyallah 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
ْ َ َُ ُ ِ ِ َُ ُ َ ْ ُْ ِ ََ َ ِ ِ َ ‫ﺇِﻥﱠ ﻣِﻥْ ﺃَﻓﺿﻝ ﺃَﻳﱠﺎﻣﻛﻡ ﻳَﻭﻡ ﺍ ْﻟﺟﻣﻌﺔ ﻓِﻳﻪ ﺧﻠِﻕَ ﺁﺩﻡ ﻭﻓِﻳﻪ ﻗُﺑﺽَ ﻭﻓِﻳﻪ ﺍﻟﻧﻔﺧﺔ ﻭﻓِﻳﻪ ﺍﻟﺻﱠﻌْ ﻘﺔ ﻓﺄَﻛﺛِﺭُﻭﺍ ﻋﻠﻲﱠ ﻣِﻥْ ﺍﻟﺻﱠﻼﺓ ﻓِﻳﻪ ﻓﺈِﻥﱠ ﺻَﻼ َﺗﻛﻡ‬ ِ َ ُ َ ْ‫َ ِ ﱠ‬ ُْ َ ِ َ ْ ِ ِ َ ُ َ ٌ‫ﻣﻌْ ﺭُﻭﺿﺔ‬ ‫َ ﻋﻠَﻲﱠ‬ َ َ

"Sesungguhnya di antara hari kalian yang paling afdhal adalah hari Jum'at. Pada hari itu Adam diciptakan dan diwafatkan, dan pada hari itu juga ditiup sangkakala dan akan terjadi kematian seluruh makhluk. Oleh karena itu perbanyaklah shalawat di hari Jum'at, karena shalawat akan disampaikan kepadaku." Para shahabat berkata: "Ya Rasulallah, bagaimana shalawat kami atasmu akan disampaikan padamu sedangkan kelak engkau telah lebur dengan tanah?"

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Sesungguhnya Allah mengharamkan bumi memakan jasad para Nabi." (HR. Abu Dawud, Nasai, Ibnu Majah, Ahmad, dan al Hakim dengan sanad yang shahih) Hal ini juga didasarkan pada hadits Anas bin Malik, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda;
ْ َ ِ َ ‫ﱠ‬ ْ ََ ‫ﺃَﻛﺛِﺭُﻭﺍ ﺍﻟﺻﻼَﺓ ﻋﻠَﻰﱠ ﻳَﻭﻡ ﺍ ْﻟﺟﻣﻌﺔ ﻭﻟَ ْﻳﻠَﺔ ﺍ ْﻟﺟﻣﻌﺔ ﻓﻣﻥْ ﺻﻠﱠﻰ ﻋﻠﻰﱠ ﺻﻼَﺓ ﺻﻠﱠﻰ ﷲ ُ ﻋﻠَ ْﻳﻪ ﻋﺷﺭً ﺍ‬ َ ً َ َ ََ ِ َُ ُ َ َ ِ َُ ُ َ ْ َ َ ‫ﱠ‬

"Perbanyaklah shalawat kepadaku pada pada hari Jum'at dan malam Jum'at. Barangsiapa yang bershalawat kepadaku satu kalim niscaya Allah bershalwat kepada sepuluh kali." (HR. al Baihaqi dalam Sunan Kubranya dan dinytakan oleh Syaikh al Albani dalam ash Shahihah, sanadnya shalih). Imam Syafi'i rahimahullah menyatakan bahwa beliau menyukai untuk membaca shalawat kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam kapan saja, sedangkan pada hari Jum'at dan malamnya sangat disukai oleh beliau. (Al-Umm, Imam Syafi'i: 1/237) 5. Diharamkan safar pada hari Jum'at ketika sudah masuk waktunya bagi orang yang punya kewajiban melaksanakan Jum'atan, berdasarkan pendapat yang paling rajih. (Baca: Hukum Bersafar Pada Hari Jum'at) 6. Diharamkan melakukan jual beli pada hari Jum'at saat muadzin mengumandangkan adzan dan ketika Imam naik di atas mimbar, berdasarkan firman Allah Ta'ala:

Manggopoh Alam Saiyo by.My.Bagindo Chaniago

54

َ َ ‫ِْ ِ ﱠ‬ ُ َ َُ ُ َْ َ ِ َُ ُ ِ ْ ِ َ َ‫ﻳَﺎ ﺃَ ﱡﻳﻬَﺎ ﺍﻟﱠﺫِﻳﻥَ ﺁَﻣﻧﻭﺍ ﺇِﺫﺍ ﻧﻭﺩِﻱَ ﻟِﻠﺻﱠﻼﺓ ﻣِﻥْ ﻳَﻭﻡ ﺍ ْﻟﺟﻣﻌﺔ ﻓﺎﺳْ ﻌﻭﺍ ﺇِﻟَﻰ ﺫﻛﺭ ﷲِ ﻭﺫﺭُﻭﺍ ﺍ ْﻟ َﺑ ْﻳﻊَ ﺫﻟِﻛﻡ ﺧ ْﻳﺭ ﻟَﻛﻡ ﺇِﻥْ ﻛ ْﻧﺗﻡ َﺗﻌْ ﻠَﻣﻭﻥ‬ ُْ ُ ُْ ٌ َ ُْ َ

"Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." (QS. Al-Jumu'ah: 9) Jika adzan lebih dari satu, maka jual beli tidak diharamkan kecuali pada adzan saat naiknya imam ke atas mimbar, karena adzan inilah yang diberlakukan pada masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Karenanya ini yang dijadikan patokan, bukan adzan selainnya. Haramnya jual ini hanya berlaku bagi orang yang wajib melaksanakan jum'atan. Maka jika dua orang anak kecil atau dua orang wanita atau dua orang musafir melakukan jual beli diperbolehkan, tidak berdosa. Namun, jika salah satunya orang yang wajib melaksanakan jum'atan keduanya berdosa karena saling tolong menolong dalam dosa. Jika adzan lebih dari satu, maka jual beli tidak diharamkan kecuali pada adzan saat naiknya imam ke atas mimbar, . . 7. Memperbanyak doa dengan harapan bertepatan dengan waktu mustajab Diriwayatkan oleh Abu Hurairah radliyallah 'anhu, dia bercerita: "Abu Qasim (Rasululah) shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

َ ‫ﱠ‬ َ َ‫ُ ﱠ‬ ُ‫ﺇِﻥﱠ ﻓِﻲ ﺍ ْﻟﺟﻣﻌﺔ ﻟَﺳَﺎﻋﺔ ﻻ ﻳُﻭﺍﻓِﻘُﻬَﺎ ﻣُﺳْ ﻠِﻡ ﻗﺎﺋِﻡ ﻳﺻﻠﱢﻲ َﻳﺳْ ﺄَﻝ ﷲ ﺧﻳْﺭً ﺍ ﺇِﻻ ﺃَﻋْ ﻁﺎﻩُ ﺇِﻳﱠﺎﻩ‬ ِ َُ ُ َ ُ ٌ َ ٌ َ َ ً َ

"Sesungguhnya pada hari Jum'at itu terdapat satu waktu yang tidaklah seorang hamba muslim berdiri berdoa memohon kebaikan kepada Allah bertepatan pada saat itu, melainkan Dia akan mengabulkannya." Lalu beliau mengisyaratkan dengan tangannya, yang kami pahami, untuk menunjukkan masanya yang tidak lama (sangat singkat)." (Muttafaq 'Alaih) Abu Burdah bin Abi Musa al-'Asy'ari bercerita: "Abdullah bin Umar pernah berkata kepadaku: 'apakah engkau pernah mendengar ayahmu menyampaikan hadits dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengenai satu waktu yang terdapat pada hari Jum'at?' Aku (Abu Burdah) menjawab, "Ya, aku pernah mendengarnya berkata, aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

ُْ َ ُ‫ﻫِﻲَ ﻣَﺎ َﺑ ْﻳﻥَ ﺃَﻥْ َﻳﺟْ ﻠِﺱَ ﺍﻹِﻣَﺎﻡ ﺇِﻟَﻰ ﺃَﻥْ ﺗﻘﺿَﻰ ﺍﻟﺻﱠﻼﺓ‬ ُ ْ

Manggopoh Alam Saiyo by.My.Bagindo Chaniago

55

"Saat itu berlangsung antara duduknya imam sampai selesainya shalat." (HR. Muslim) Imam ash Shan'ani rahimahullah dalam Subul as Salam, menyebutkan keberadaannya terkadang di awal, tengah, atau di akhir. Misalnya diawali sejak dimulainya khutbah dan habis ketika selesainya shalat. (Subul as Salam: II/101) 8. Lebih khusus lagi, memperbanyak doa pada penghujung hari Jum’at, yakni setelah shalat Ashar menurut pendapat yang lebih rajah. Para ulama salaf berbeda pendapat mengenai waktu mustajab di hari Jum'at. Bahkan Ibnul Hajar dalam Fath al Baari (II/416-421) menyebutkan ada 43 pendapat di antara para ulama mengenai suatu waktu yang terdapat pada hari Jum'at itu. Selanjutnya beliau menjelaskan, mayoritas ulama, seperti Imam Ahmad dan lainnya, mentarjih bahwa waktu tersebut terdapat pada akhir waktu dari hari Jum'at. Di akhir ucapannya, Ibnul Hajar cenderung kepada pendapat Ibnul Qayim, yaitu pengabulan doa itu diharapkan juga pada saat shalat. Sehingga kedua waktu tersebut merupakan waktu ijabah (pengabulan) doa, meskipun saat yang khusus itu ada di ujung hari setelah shalat shalat 'Ashar. Imam al Khaththabi rahimahullah, yang disebutkan dalam Fath al Baari, juga menyimpulkan waktu istijabah tersebut ada dua: Pertama, pada waktu shalat. Kedua, satu waktu di sore hari ketika matahari mulai merendah untuk tenggelam. Imam al Khaththabi menyimpulkan waktu istijabah tersebut ada dua: Pertama, pada waktu shalat. Kedua, satu waktu di sore hari ketika matahari mulai merendah untuk tenggelam. Sementara hadits yang menunjukkan waktu tersebut berada di penghujung hari cukup banyak. Di antaranya hadits Jabir bin Abdillah radliyallah 'anhu, dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda:

‫ُ ﱠَ َ ﱠ‬ ٌ َ ُ ُ َ ً َ َ ْ َ ْ ِ َُ ُ ُ ْ ‫ﻳَﻭﻡ ﺍ ْﻟﺟﻣﻌﺔ ﺍﺛ َﻧ َﺗﺎ ﻋﺷﺭَ ﺓ ﺳَﺎﻋﺔ ﻻ ﻳﻭﺟَ ﺩ ﻓِﻳﻬَﺎ ﻋ ْﺑﺩ ﻣُﺳْ ﻠِﻡ َﻳﺳْ ﺄَﻝ ﷲ ﺷ ْﻳ ًﺋﺎ ﺇِﻻ ﺁ َﺗﺎﻩُ ﺇِﻳﱠﺎﻩُ ﻓﺎ ْﻟ َﺗﻣﺳُﻭﻫَﺎ ﺁﺧِﺭَ ﺳَﺎﻋﺔ َﺑﻌْ ﺩ ﺍ ْﻟﻌﺻْ ﺭ‬ ِ َ ٌ ِ َ َ ٍ َ

"Hari Jum'at terdiri dari 12 waktu, di dalamnya terdapat satu waktu yang tidaklah seorang muslim pada saat itu memohon sesuatu kepada Allah, melainkan Dia akan mengabulkan permintaannya. Oleh karena itu, carilah saat tersebut pada akhir waktu setelah 'Ashar." (HR. Al Nasai dan Abu Dawud. Disahihkan oleh Ibnul Hajar dalam al Fath dan dishahihkan juga oleh al Albani rahimahullah dalam Shahih an Nasai dan Shahih Abu Dawud) Hadits Abdullah bin Salam, dia bercerita: "Aku berkata, 'sesungguhnya kami mendapatkan di dalam Kitabullah bahwa pada hari Jum'at terdapat satu saat yang tidaklah seorang hamba mukmin bertepatan dengannya lalu berdoa memohon sesuatu kepada Allah, melainkan akan dipenuhi permintaannya.'

Manggopoh Alam Saiyo by.My.Bagindo Chaniago

56

alu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengisyaratkan dengan tangannya bahwa itu hanya sebagian saat. Kemudian Abdullah bin Salam bertanya; 'Kapan saat itu berlangsung?' beliau shallallahu 'alaihi wasallam menjawab, "Saat itu berlangsung pada akhir waktu siang." Setelah itu Abdullah bertanya lagi, 'Bukankah saat itu bukan waktu shalat?' Beliau menjawab,

‫ِ ُ ُ ﱠ‬ َ ْ َ َ ‫َﺑﻠَﻰ ﺇِﻥﱠ ﺍ ْﻟﻌ ْﺑﺩ ﺍ ْﻟﻣُﺅﻣِﻥَ ﺇِﺫﺍ ﺻﻠﱠﻰ ﺛﻡ ﺟَ ﻠَﺱَ ﻻ َﻳﺣْ ﺑﺳﻪ ﺇِﻻ ﺍﻟﺻﱠﻼﺓُ ﻓﻬُﻭ ﻓِﻲ ﺍﻟﺻﱠﻼﺓ‬ ِ َ َ َ َ ‫َ َ ُﱠ‬

"Benar, sesungguhnya seorang hamba mukmin jika mengerjakan shalat kemudian duduk, tidak menahannya kecuali shalat, melainkan dia berada di dalam shalat." (HR. Ibnu Majah. Syaikh al Albani menilainya hasan shahih). Juga berdasarkan hadits Anas bin Malik, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

ُ َ َ َ ‫ﺍ ْﻟ َﺗﻣﺳُﻭﺍ ﺍﻟﺳﱠﺎﻋﺔ ﺍﻟﱠﺗِﻲ ﺗﺭْ ﺟَ ﻰ ﻓِﻲ ﻳَﻭﻡ ﺍ ْﻟﺟﻣﻌﺔ َﺑﻌْ ﺩ ﺍ ْﻟﻌﺻْ ﺭ ﺇِﻟَﻰ ﻏ ْﻳﺑُﻭ َﺑﺔ ﺍﻟﺷﻣﺱ‬ ِ ِ ْ‫ِ ﱠ‬ ِ َ َ ِ َُ ُ ِ ْ

"Carilah saat yang sangat diharapkan pada hari Jum'at, yaitu setelah 'Ashar sampai tenggelamnya matahari." (HR. at Tirmidzi; dinilai Hasan oleh al Albani di dalam Shahih at Tirmidzi dan Shahihh at Targhib)

Al-Hafidz Ibnul Hajar rahimahullah berkata: "Diriwayatkan Sa'id bin Mansur dengan sanad shahih kepada Abu Salamah bin Abdirrahman, ada beberapa orang dari sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkumpul lalu saling menyebut satu saat yang terdapat pada hari Jum'at. Kemudian mereka berpisah tanpa berbeda pendapat bahwa saat tersebut berlangsung pada akhir waktu dari hari Jum'at." (Fath al Baari :II/421 dan Zaad al Ma'ad oleh Ibnul Qayim I:391).

(PurWD/voa-Islam.com) Jum'at, 05 Feb 2010

Manggopoh Alam Saiyo by.My.Bagindo Chaniago

57

Beberapa Kesalahan Ibadah di Hari Jum'at

Hari Jum'at adalah hari yang paling mulia dan paling agung. Sebaik-baik hari yang disinari matahari. Allah telah memerintahkan seluruh manusia untuk mengagungkannya, namun umat-umat sebelum kita meninggalkannya dan memilih hari selainnya. Kemudian Allah mendatangkan kita dan menunjuki kita perihal hari tersebut. Maka dengan hari tersebut, Allah mengistimewakan umat ini. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam,

‫ﱠ‬ ْ ْ َ ِْ ِ ُ ُْ َ َ‫ُ َ ْ ُ ُ ﱠ‬ ُ ِ ْ ‫َﻧﺣْ ﻥُ ﺍﻵﺧﺭﻭﻥَ ﺍﻷَﻭﱠ ﻟُﻭﻥَ ﻳَﻭﻡ ﺍ ْﻟﻘِﻳَﺎﻣﺔ ﻭ َﻧﺣْ ﻥُ ﺃَﻭﱠ ﻝ ﻣﻥْ ﻳَﺩﺧﻝ ﺍ ْﻟﺟَ ﻧﺔ َﺑ ْﻳﺩ ﺃ ﱠَﻧﻬﻡ ﺃُﻭﺗﻭﺍ ﺍ ْﻟﻛ َﺗﺎﺏَ ﻣِﻥْ ﻗ ْﺑﻠِ َﻧﺎ ﻭﺃُﻭﺗِﻳ َﻧﺎﻩُ ﻣِﻥْ َﺑﻌْ ﺩﻫﻡ ﻓﺎﺧ َﺗﻠَﻔُﻭﺍ ﻓﻬﺩَﺍ َﻧﺎ ﷲ ُ ﻟِﻣَﺎ‬ ِ ََ َ َ َ ِ َ َ ْ ْ ْ ‫ِ َ َ ٍَ ﱠ‬ ًَ َ ‫ﺍﺧ َﺗﻠَﻔُﻭﺍ ﻓِﻳﻪ ﻣِﻥْ ﺍ ْﻟﺣَ ﻕ ﻓﻬﺫﺍ ﻳَﻭﻣﻬﻡ ﺍﻟﱠﺫِﻱ ﺍﺧ َﺗﻠَﻔُﻭﺍ ﻓِﻳﻪ ﻫﺩَﺍ َﻧﺎ ﷲ ُ ﻟَﻪ ﻗﺎﻝ ﻳَﻭﻡ ﺍ ْﻟﺟﻣﻌﺔ ﻓﺎ ْﻟﻳَﻭﻡ ﻟَ َﻧﺎ ﻭﻏﺩﺍ ﻟِ ْﻠ َﻳﻬُﻭﺩ ﻭ َﺑﻌْ ﺩ ﻏﺩ ﻟِﻠﻧﺻَﺎﺭَ ﻯ‬ ِ َ ِ ُْ ُ ْ ََ َ ‫ﱢ‬ َ ْ َ ِ َُ ُ ُ ْ َ َ ُ ‫ﱠ‬

"Kita adalah umat terakhir yang paling awal pada hari kiamat. Kita adalah orang yang pertama kali masuk surga. Hanya saja, mereka diberi al Kitab sebelum kita, sedangkan kita diberi sesudah mereka. Tapi mereka berselisih pendapat (tentang suatu hari). Lalu Allah menunjukkan kebenaran kepada kita mengenai apa yang mereka perselisihkan tersebut. Inilah hari yang mereka perselisihkan itu, dan Allah menunjukkan hari tersebut kepada kita –beliau menyebutkan hari Jum'at-, maka hari ini (Jum'at) adalah hari kita, besok (Sabtu) harinya orang-orang Yahudi, dan lusa (Ahad) adalah harinya orang-orang Nashrani." (Muttafaq 'alaih, lafadz milik Muslim) Hadits di atas dikuatkan dengan hadits dari Hudzaifah radliyallah 'anhu,
َ َُ ُ َ َ َ ِ َُ ُ ِ ْ ‫ﱠ‬ ‫ﱠ‬ َ َ ِ ‫ِ ْ ُ ﱠ‬ ََ َ َ َ ِ َُ ُ ‫ﺃَﺿﻝ ﷲ ُ ﻋﻥْ ﺍ ْﻟﺟﻣﻌﺔ ﻣﻥْ ﻛﺎﻥَ ﻗ ْﺑﻠَ َﻧﺎ ﻓﻛﺎﻥَ ﻟِ ْﻠ َﻳﻬُﻭﺩ ﻳَﻭﻡ ﺍﻟﺳ ْﺑﺕ ﻭﻛﺎﻥَ ﻟِﻠﻧﺻَﺎﺭَ ﻯ ﻳَﻭﻡ ﺍﻷَﺣَ ﺩ ﻓﺟَ ﺎء ﷲ ُ ﺑ َﻧﺎ ﻓﻬﺩَﺍ َﻧﺎ ﷲ ُ ﻟِﻳَﻭﻡ ﺍ ْﻟﺟﻣﻌﺔ ﻓﺟَ ﻌﻝ ﺍ ْﻟﺟﻣﻌﺔ‬ ََ ِ ‫ْ ُ ْ ِ َ َ ﱠ‬ َ ‫َ ﱠ ﱠ‬ َ‫ﻭﺍﻟﺳﺑْﺕَ ﻭﺍﻷَﺣَ ﺩ ﻭﻛﺫﻟِﻙ ﻫﻡ َﺗ َﺑﻊ ﻟَ َﻧﺎ ﻳَﻭﻡ ﺍ ْﻟﻘِﻳَﺎﻣﺔ َﻧﺣْ ﻥُ ﺍﻵﺧﺭﻭﻥَ ﻣِﻥْ ﺃَﻫْ ﻝ ﺍﻟﺩ ْﻧﻳَﺎ ﻭﺍﻷ‬ َْ ِ َ ٌ ُْ َ ََ َ َ ْ َ ُ ِ ْ ‫ِ ﱡ َ ْ ﻭﱠ ﻟُﻭﻥَ ﻳَﻭﻡ ﺍ ْﻟﻘِﻳَﺎﻣﺔ ﺍ ْﻟﻣﻘﺿِ ﻲﱡ ﻟَﻬﻡ ﻗ ْﺑﻝ ﺍ ْﻟﺧﻼﺋِﻕ‬ ‫َ ﱠ‬ ِ َ َ ْ َ ْ ِ َ َ َ َ ُْ

"Allah telah menyesatkan orang-orang sebelum kita perihal hari Jum'at. Bagi orangorang Yahudi hari Sabtu dan bagi orang-orang Nashrani hari Ahad. Lalu Allah mendatangkan kita dan memberi kita hidayah tentang hari Jum'at. Dan menjadikan (secara berurutan); hari Jum;at, Sabtu, dan Ahad. Mereka mengikuti kita pada hari kiamat. Kita adalah umat terakhir dari penduduk dunia, tetapi orang pertama yang diadili sebelum semua makhluk." (HR. Muslim) Namun, kita saksikan banyak umat Islam kurang memahami kemuliaan hari Jum'at. Tidak menjaga amal-amal ibadah yang dikhususkan di dalamnya, sehingga banyak

Manggopoh Alam Saiyo by.My.Bagindo Chaniago

58

pahala dan dan kebaikan yang luput dari mereka, di antaranya akan kami sebutkan tiga saja: 1. Terlambat datang menghadiri shalat Jum'at sehingga khatib naik mimbar. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
َ ََ ِ ‫َ ِ ﱠ‬ َ ََ َ ‫ِ ُﱠ‬ ‫ﻣﻥْ ﺍﻏ َﺗﺳﻝ ﻳَﻭﻡ ﺍ ْﻟﺟﻣﻌﺔ ﻏﺳْ ﻝ ﺍ ْﻟﺟَ َﻧﺎ َﺑﺔ ﺛﻡ ﺭَ ﺍﺡ ﻓﻛﺄ ﱠَﻧﻣَﺎ ﻗﺭﱠ ﺏَ َﺑﺩ َﻧﺔ ﻭﻣﻥْ ﺭَ ﺍﺡ ﻓِﻲ ﺍﻟﺳﱠﺎﻋﺔ ﺍﻟﺛﺎﻧِ َﻳﺔ ﻓﻛﺄ ﱠَﻧﻣَﺎ ﻗﺭﱠ ﺏَ َﺑﻘﺭَ ﺓ ﻭﻣﻥْ ﺭَ ﺍﺡ ﻓِﻲ ﺍﻟﺳﱠﺎﻋﺔ‬ ِ َ َ َ َ ً َ َ َ َ ً َ َ ُ ِ َُ ُ َ ْ َ َ ْ َ ً‫ﺍﻟﺛﺎﻟِ َﺛﺔ ﻓﻛﺄ ﱠَﻧﻣَﺎ ﻗﺭﱠ ﺏَ ﻛ ْﺑﺷﺎ ﺃَﻗﺭَ ﻥَ ﻭﻣﻥْ ﺭَ ﺍﺡ ﻓِﻲ ﺍﻟﺳﱠﺎﻋﺔ ﺍﻟﺭﱠ ﺍﺑﻌﺔ ﻓﻛﺄ ﱠَﻧﻣَﺎ ﻗﺭﱠ ﺏَ ﺩَﺟَ ﺎﺟَ ﺔ ﻭﻣﻥْ ﺭَ ﺍﺡ ﻓِﻲ ﺍﻟﺳﱠﺎﻋﺔ ﺍ ْﻟﺧﺎﻣﺳﺔ ﻓﻛﺄ ﱠَﻧﻣَﺎ ﻗﺭﱠ ﺏَ َﺑ ْﻳﺿﺔ‬ ً َ َ ْ ً َ َ ََ ِ َ ِ َ ِ َ َ ََ ِ َِ َ ََ ِ ‫ﱠ‬ ‫َ ﻓﺈِﺫﺍ‬ ِ َ َ َ َ َ َ َ ُ َ َ ْ‫ﱢ‬ ْ ُ ِ َ‫ﺧﺭَ ﺝ ﺍﻹِﻣَﺎﻡ ﺣَ ﺿَﺭَ ﺕ ﺍ ْﻟﻣَﻼﺋِﻛﺔ َﻳﺳْ َﺗﻣﻌﻭﻥَ ﺍﻟﺫﻛﺭ‬ ُ ْ َ َ

“Barangsiapa mandi di hari Jum’at seperti mandi janabah, kemudian datang di waktu yang pertama, ia seperti berkurban seekor unta. Barangsiapa yang datang di waktu yang kedua, maka ia seperti berkurban seekor sapi. Barangsiapa yang datang di waktu yang ketiga, ia seperti berkurban seekor kambing gibas. Barangsiapa yang datang di waktu yang keempat, ia seperti berkurban seekor ayam. Dan barangsiapa yang datang di waktu yang kelima, maka ia seperti berkurban sebutir telur. Apabila imam telah keluar (dan memulai khutbah), malaikat hadir dan ikut mendengarkan dzikir (khutbah).” (HR. Muslim nomor 850). Yakni, para malaikat menutup buku catatan mereka dan tidak mencatat tambahan pahala bagi orang-orang yang datang dan masuk ke masjid setelah imam naik mimbar. Para malaikat menutup buku catatan mereka dan tidak mencatat tambahan pahala bagi orang-orang yang datang dan masuk ke masjid setelah imam naik mimbar. Imam meriwayatkan, dan dihasankan oleh Syaikh al Albani, dari Abu Ghalib, dari Abu Umamah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Para Malaikat duduk pada hari Jum'at di depan pintu masjid dengan membawa buku catatan untuk mencatat (orang-orang yang masuk masjid). Jika imam keluar (dari rumahnya untuk shalat Jum'at), maka buku catatan itu dilipat." Kemudian Abu Ghalib bertanya, "wahai Abu Umamah, bukankah orang yang datang sesudah imam keluar mendapat Jum'at? Ia menjawab, "tentu, tetapi ia tidak termsuk golongan yang dicatat dalam buku catatan." 2. Tidak mandi pada hari Jum'at Kita saksikan sebagian orang meningalkan ibadah ini. Boleh jadi karena ketidaktahuan atau memandangnya bukan sebagai sesuatu yang wajib sehingga kurang mendapat perhatian. Padahal Islam menginginkan kaum muslimin berkumpul pada hari Jum'at dalam pertemuan perpekan dalam keadaan yang paling sempurna, rupa paling menawan, dan aroma paling harum sehingga sebagian dari mereka tidak tergangu oleh yang lainnya dan juga para malaikat tidak terganggu dengan mereka.

Manggopoh Alam Saiyo by.My.Bagindo Chaniago

59

Dalam Shahihain, dari Abu Said al Khudri radliyallah 'anhu mengatakan, Aku menyaksikan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

‫ُ ﱢ‬ ‫ﺍ ْﻟﻐﺳْ ﻝ ﻳَﻭﻡ ﺍ ْﻟﺟﻣﻌﺔ ﻭﺍﺟﺏٌ ﻋﻠَﻰ ﻛﻝ ﻣُﺣْ َﺗﻠِﻡ ﻭﺃَﻥْ َﻳﺳْ َﺗﻥﱠ ﻭﺃَﻥْ َﻳﻣَﺱﱠ ﻁِ ﻳﺑًﺎ ﺇِﻥْ ﻭﺟَ ﺩ‬ َ َ َ َ ٍ َ ِ َ ِ َُ ُ َ ْ ُ ُ

"Mandi para hari Jum'at adalah wajib atas orang yang sudah baligh, dan hendaknya dia bersiwak dan memakai parfum jika ada." (HR. Bukhari dan Muslim) Dalam Shahih al Bukhari, dari Salman al Farisi mengatakan, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

َ ُ َُ ََ ُ ُ ْ ‫ِ ِ ُﱠ‬ ‫ُ ٍ َ ﱠ‬ ُ ‫َ ْ ُ ُ ٌ ْ َ ُ َُ ِ َ َ ﱠ‬ ‫ﻻ ﻳَﻐ َﺗﺳِ ﻝ ﺭَ ﺟﻝ ﻳَﻭﻡ ﺍ ْﻟﺟﻣﻌﺔ ﻭ َﻳ َﺗﻁﻬﺭ ﻣَﺎ ﺍﺳْ َﺗﻁﺎﻉَ ﻣِﻥْ ﻁﻬْﺭ ﻭ َﻳﺩﻫِﻥُ ﻣِﻥْ ﺩُﻫْ ﻧِﻪ ﺃ َْﻭ َﻳﻣَﺱﱡ ﻣِﻥْ ﻁِ ﻳﺏ َﺑ ْﻳﺗِﻪ ﺛﻡ ﻳَﺧﺭﺝ ﻓﻼ ﻳﻔﺭﱢ ﻕ َﺑ ْﻳﻥَ ﺍﺛ َﻧﻳْﻥ ﺛﻡ‬ ِ ‫ْ ِ ُﱠ‬ ُ ‫ﻳﺻﻠﱢﻲ ﻣَﺎ ﻛﺗِﺏَ ﻟَﻪ ﺛﻡ ﻳ ْﻧﺻِ ﺕ ﺇﺫﺍ َﺗﻛﻠﱠﻡ ﺍﻹﻣَﺎﻡ ﺇﻻ ﻏﻔِﺭَ ﻟَﻪ ﻣَﺎ َﺑ ْﻳ َﻧﻪ ﻭ َﺑ ْﻳﻥَ ﺍ ْﻟﺟﻣﻌﺔ ﺍﻷ‬ ْ ُ ُ ‫ُ َِ َ َ ْ ِ ُ ِﱠ‬ ُ ُ ‫ُ ُﱠ‬ ‫ُ ُ َ ِ ْ ﺧﺭَ ﻯ‬ َ ُ َ ُ

"Tidaklah seorang hamba mandi pada hari Jum’at dan bersuci dengan sebaik-baik bersuci, lalu ia meminyaki rambutnya atau berparfum dengan minyak wangi, kemudian ia keluar (menunaikan sholat Jum’at) dan tidak memisahkan antara dua orang (yang duduk), kemudian ia melakukan sholat apa yang diwajibkan atasnya dan ia diam ketika Imam berkhutbah, melainkan segala dosanya akan diampuni antara hari Jum’at ini dengan Jum’at lainnya.” (HR Bukhari) 3. Tidak membaca shalawat kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Sebagian orang kurang memperhatikan ibadah shalawat untuk Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pada hari Jum'at, padahal keutamaannya sangat banyak dan pahalanya sangat besar. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
ْ َ َُ ُ ِ ِ َُ ُ َ ْ ُْ ِ َ ِ ِ َ ‫ﺇِﻥﱠ ﻣِﻥْ ﺃَﻓﺿﻝ ﺃَﻳﱠﺎﻣﻛﻡ ﻳَﻭﻡ ﺍ ْﻟﺟﻣﻌﺔ ﻓِﻳﻪ ﺧﻠِﻕَ ﺁﺩﻡ ﻭﻓِﻳﻪ ﻗُﺑﺽَ ﻭﻓِﻳﻪ ﺍﻟﻧﻔﺧﺔ ﻭﻓِﻳﻪ ﺍﻟﺻﱠﻌْ ﻘﺔ ﻓﺄَﻛﺛِﺭُﻭﺍ ﻋﻠَﻲﱠ ﻣِﻥْ ﺍﻟﺻﱠﻼﺓ ﻓِﻳﻪ ﻓﺈِﻥﱠ ﺻَﻼ َﺗﻛﻡ‬ ِ َ ُ َ ْ‫َ ِ ﱠ‬ َ ُْ َ ِ َ ْ ِ ِ َ ُ َ ‫ﻣﻌْ ﺭُﻭﺿﺔ ﻋﻠَﻲﱠ‬ َ ٌ َ َ

"Sesungguhnya di antara hari kalian yang paling afdhal adalah hari Jum'at. Pada hari itu Adam diciptakan dan diwafatkan, dan pada hari itu juga ditiup sangkakala dan akan terjadi kematian seluruh makhluk. Oleh karena itu perbanyaklah shalawat di hari Jum'at, karena shalawat akan disampaikan kepadaku…." (HR. Abu Dawud, Nasai, Ibnu Majah, Ahmad, dan al Hakim dari hadits Aus bin Aus) Memperbanyak shalawat untuk Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pada hari Jum'at yang menjadi sayyidul ayyam menunjukkan kemuliaan pribadi beliau shallallahu 'alaihi wasallam sebagai sayyidul anam (pemimpin manusia). Shalawat termasuk ibadah yang paling afdhal. Dan dilaksanakan pada hari Jum'at lebih utama daripada dilaksanakan pada hari selainnya, karena hari Jum'at memiliki

Manggopoh Alam Saiyo by.My.Bagindo Chaniago

60

keistimewaan di bandingkan hari yang lain. Dan melaksakan amal yang afdhal pada waktu yang afdhal adalah lebih utama dan lebih bagus. (lihat 'Aunul Ma'bud: 2/15) Setiap kebaikan yang diperoleh seorang hamba dalam urusan diennya adalah berkat jasa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Beliau telah berjuang dengan sungguhsungguh untuk mendakwahkan dan menyebarkan Islam. Berkat kerja keras beliau dalam dakwah, kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi ujian dan tantangannya, Islam bisa sampai kepada kita. Sebagai bentuk syukur dan terima kasih kita kepada beliau, Allah perintahkan bershalawat untuk beliau shallallahu 'alaihi wasallam.

َُ ‫ﺇِﻥﱠ ﷲ ﻭﻣَﻼﺋِﻛ َﺗﻪ ﻳﺻﻠﱡﻭﻥَ ﻋﻠَﻰ ﺍﻟﻧﺑﻲﱢ ﻳَﺎ ﺃَ ﱡﻳﻬَﺎ ﺍﻟﱠﺫِﻳﻥَ ﺁَﻣﻧﻭﺍ ﺻﻠﱡﻭﺍ ﻋﻠَ ْﻳﻪ ﻭﺳﻠﱢﻣُﻭﺍ َﺗﺳْ ﻠِﻳﻣًﺎ‬ َ َ ِ َ َ َ َ ُ ُ َ َ َ َ‫ﱠ‬ ِ‫ﱠ‬

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56) Oleh : Badrul Tamam (Purnomo WD/voa-islam.com)

Kesalahan-kesalahan yang Mengurangi Pahala Shalat Jum'at
Oleh: Badrul Tamam

Shalat Jum'at adalah amal ibadah yang paling khusus dan istimewa pada hari Jum'at. Pelaksanaanya memiliki kekhususan yang berbeda dengan shalat-shalat lainnya, khususnya Dzuhur yang sama waktunya. Dari cara bersuci, sangat dianjurkan untuk mandi besar sebagaimana mandi janabat. Cara berpakaian, sangat dianjurkan memakai pakaian terbagus dan menggunakan wewangian. Berangkatnya ke masjid, sangat-

Manggopoh Alam Saiyo by.My.Bagindo Chaniago

61

sangat dianjurkan lebih awal dengan janji pahala yang lebih besar daripada yang datang berikutnya. Sebelum shalat dimulai, diawali dengan khutbah yang harus diperhatikan dengan seksama oleh jama'ah. Jama'ah tidak boleh tidur, mengobrol dan berbicara dengan kawannya, atau sibuk dengan kegiatan yang bisa memalingkan dari mendengarkan khutbah. Jika hal tersebut dilanggar maka pahala shalat Jum'at dan keutamannya tidak akan didapatkan. Beriktu ini beberapa dalil yang menunjukkan keutamaan shalat Jum'at: 1. Diriwayatkan dari Aus bin Aus radliyallah 'anhu, berkata, "aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

َ ُ ْ َ َ ِ ْ ُ ٍ َ ُ َ َ ٍ َْ ُ ‫ُ ُ ﱢ‬ ‫ﻣﻥْ ﻏﺳﻝ ﻳَﻭﻡ ﺍ ْﻟﺟﻣﻌﺔ ﻭﺍﻏ َﺗﺳﻝ ﺛﻡ َﺑﻛﺭَ ﻭﺍ ْﺑ َﺗﻛﺭَ ﻭﻣﺷﻰ ﻭﻟَﻡ َﻳﺭْ ﻛﺏْ ﻭﺩ َﻧﺎ ﻣِﻥْ ﺍﻹِﻣَﺎﻡ ﻓﺎﺳْ َﺗﻣَﻊَ ﻭﻟَﻡ َﻳ ْﻠﻎ ﻛﺎﻥَ ﻟَﻪ ﺑِﻛﻝ ﺧﻁﻭﺓ ﻋﻣﻝ ﺳ َﻧﺔ ﺃَﺟْ ﺭ‬ َ َ َ ْ َ َ َ َ َ َ ‫َ َ ﱠ َ ْ َ ُ َُ ِ َ ْ َ َ ُﱠ ﱠ‬ ‫ﺻِ ﻳَﺎﻣﻬَﺎ ﻭﻗِﻳَﺎﻣﻬَﺎ‬ ِ َ ِ

"Barangsiapa mandi pada hari Jum'at, berangkat lebih awal (ke masjid), berjalan kaki dan tidak berkendaraan, mendekat kepada imam dan mendengarkan khutbahnya, dan tidak berbuat lagha (sia-sia), maka dari setiap langkah yang ditempuhnya dia akan mendapatkan pahala puasa dan qiyamulail setahun." (HR. Abu Dawud no. 1077, al-Nasai no. 1364 Ahmad no. 15585) 2. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radliyallah 'anhu, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
ََ ُ َ َ ْ ََ َ ِ َُ ُ ُ ْ َ َ ُْ ُُ ْ َ ِِ َ ِ َ ‫ﺇِﺫﺍ ﻛﺎﻥَ ﻳَﻭﻡ ﺍ ْﻟﺟﻣﻌﺔ ﻭﻗﻔﺕ ﺍ ْﻟﻣَﻼﺋِﻛﺔ ﻋﻠﻰ ﺃَﺑْﻭﺍﺏ ﺍ ْﻟﻣﺳْ ﺟﺩ ﻓ َﻳﻛﺗﺑﻭﻥَ ﺍﻷَﻭﱠ ﻝ ﻓﺎﻷَﻭﱠ ﻝ ﻓﻣ َﺛﻝ ﺍ ْﻟﻣﻬﺟﱢ ﺭ ﺇِﻟَﻰ ﺍ ْﻟﺟﻣﻌﺔ ﻛﻣ َﺛﻝ ﺍﻟﱠﺫِﻱ ﻳﻬﺩِﻱ َﺑﺩ َﻧﺔ ﺛﻡ‬ ‫َ ً ُﱠ‬ ِ ََ ِ َُ ُ ِ َُ ُ ََ َ ْ َ َ ْ ُ ً ُ ً َ ُ ً َ َ‫ﻛﺎﻟﱠﺫِﻱ ﻳﻬﺩِﻱ َﺑﻘﺭَ ﺓ ﺛﻡ ﻛﺎﻟﱠﺫِﻱ ﻳﻬﺩِﻱ ﻛ ْﺑﺷﺎ ﺛﻡ ﻛﺎﻟﱠﺫِﻱ ﻳﻬﺩِﻱ ﺩَﺟَ ﺎﺟَ ﺔ ﺛﻡ ﻛﺎﻟﱠﺫِﻱ ﻳﻬﺩِﻱ َﺑ ْﻳﺿﺔ ﻓﺈِﺫﺍ ﺧﺭَ ﺝ ﺍﻹِﻣَﺎﻡ ﻭﻗﻌﺩ ﻋﻠَﻰ ﺍ ْﻟﻣ ْﻧﺑَﺭ ﻁ‬ ْ َ َ َ َ ً َ َ ‫ﱠ‬ َ ‫ﱠ‬ َ ‫ﱠ‬ َ ُْ ُْ ُْ ُْ ‫ِ ِ ﻭﻭﺍ ﺻﺣﻔﻬﻡ‬ َ َََ َ ُ ُْ َُ ُ ْ َ ‫ﱢ‬ ْ‫ﻭﺟَ ﻠَﺳُﻭﺍ َﻳﺳْ َﺗﻣﻌﻭﻥَ ﺍﻟﺫﻛ‬ ُ ِ َ‫ﺭ‬ َ

"Jika tiba hari Jum'at, maka para Malaikat berdiri di pintu-pintu masjid, lalu mereka mencatat orang yang datang lebih awal sebagai yang awal. Perumpamaan orang yang datang paling awal untuk melaksanakan shalat Jum'at adalah seperti orang yang berkurban unta, kemudian yang berikutnya seperti orang yang berkurban sapi, dan yang berikutnya seperti orang yang berkurban kambing, yang berikutnya lagi seperti orang yang berkurban ayam, kemudian yang berikutnya seperti orang yang berkurban telur. Maka apabila imam sudah muncul dan duduk di atas mimbar, mereka menutup buku catatan mereka dan duduk mendengarkan dzikir (khutbah)." (HR. Ahmad dalam Musnadnya no. 10164) 3. Diriwayatkan dari Salman radliyallah 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

َ ُ َُ ََ ُ ُ ْ ‫ِ ِ ُﱠ‬ ‫ُ ٍ َ ﱠ‬ ُ ‫َ ْ ُ ُ ٌ ْ َ ُ َُ ِ َ َ ﱠ‬ ‫ﻻ ﻳَﻐ َﺗﺳِ ﻝ ﺭَ ﺟﻝ ﻳَﻭﻡ ﺍ ْﻟﺟﻣﻌﺔ ﻭ َﻳ َﺗﻁﻬﺭ ﻣَﺎ ﺍﺳْ َﺗﻁﺎﻉَ ﻣِﻥْ ﻁﻬْﺭ ﻭ َﻳﺩﻫِﻥُ ﻣِﻥْ ﺩُﻫْ ﻧِﻪ ﺃ َْﻭ َﻳﻣَﺱﱡ ﻣِﻥْ ﻁِ ﻳﺏ َﺑ ْﻳﺗِﻪ ﺛﻡ ﻳَﺧﺭﺝ ﻓﻼ ﻳﻔﺭﱢ ﻕ َﺑ ْﻳﻥَ ﺍﺛ َﻧﻳْﻥ ﺛﻡ‬ ِ ‫ْ ِ ُﱠ‬ ْ ْ ِ َُ ُ ُ ُ ‫ُ َ َ َ ْ ُ ﱠ‬ ُ ُ ‫ُ ُﱠ‬ ‫ﻳﺻﻠﱢﻲ ﻣَﺎ ﻛﺗِﺏَ ﻟَﻪ ﺛﻡ ﻳ ْﻧﺻِ ﺕ ﺇِﺫﺍ َﺗﻛﻠﱠﻡ ﺍﻹِﻣَﺎﻡ ﺇِﻻ ﻏﻔِﺭَ ﻟَﻪ ﻣَﺎ َﺑ ْﻳ َﻧﻪ ﻭ َﺑ ْﻳﻥَ ﺍ ْﻟﺟﻣﻌﺔ ﺍﻷُﺧﺭَ ﻯ‬ َ ُ َ ُ

Manggopoh Alam Saiyo by.My.Bagindo Chaniago

62

"Tidaklah seseorang mandi pada hari Jum’at dan bersuci semampunya, berminyak dengan minyaknya atau mengoleskan minyak wangi yang di rumahnya, kemudian keluar (menuju masjid), dan dia tidak memisahkan dua orang (yang sedang duduk berdampingan), kemudian dia mendirikan shalat sesuai dengan tuntunannya, lalu diam mendengarkan khutbah dengan seksama ketika imam berkhutbah, melainkan akan diampuni (dosa-dosanya yang terjadi) antara Jum’at tersebut dan Jum’at berikutnya." (HR. Bukhari dalam Shahih-nya, no. 859) 4. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radliyallah 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

َ َ‫ﺇِﺫﺍ ﻗُ ْﻠﺕَ ﻟِﺻَﺎﺣِﺑﻙ ﻳَﻭﻡ ﺍ ْﻟﺟﻣﻌﺔ ﺃَ ْﻧﺻِ ﺕ ﻭﺍﻹِﻣَﺎﻡ ﻳَﺧﻁﺏُ ﻓﻘﺩ ﻟَﻐﻭﺕ‬ َْ ََْ ُ ْ ُ ْ َ ْ ِ َُ ُ َ ْ َ ِ

"Jika engkau berkata pada temanmu pada hari Jum'at, "diamlah!", sewaktu imam berkhutbah, berarti kemu telah berbuat sia-sia." (Muttafaq 'Alaih, lafadz milik al Bukhari dalam Shahihnya, no. 859) Dalam riwayat Ahmad, dari Ibnu 'Abbas radliyallah 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

ُ ْ ُ ْ َ ِ َُ ُ َ ْ َ َ َ ٌ َُ ُ ُ ْ َ ْ ُ ُ ‫ﻣﻥْ َﺗﻛﻠﱠﻡ ﻳَﻭﻡ ﺍ ْﻟﺟﻣﻌﺔ ﻭﺍﻹِﻣَﺎﻡ ﻳَﺧﻁﺏُ ﻓﻬُﻭ ﻛﻣ َﺛﻝ ﺍ ْﻟﺣﻣَﺎﺭ َﻳﺣْ ﻣﻝ ﺃَﺳْ ﻔﺎﺭً ﺍ ﻭﺍَﻟﱠﺫِﻱ َﻳﻘُﻭﻝ ﻟَﻪ : ﺃَ ْﻧﺻِ ﺕ ﻟَ ْﻳﺳﺕ ﻟَﻪ ﺟﻣﻌﺔ‬ َ َ ُ ِ ِ ِ ِ ََ َ َ

"Siapa yang berbicara pada hari Jum'at, padahal imam sedang berkhutbah, maka dia seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Dan orang berkata kepada (saudara)-nya, 'diamlah!', tidak ada Jum'at baginya." (HR. Ahmad, dengan sanad la ba-tsa bih). Hadits-hadits di atas menjelaskan bahwa shalat Jum'at memiliki pahala besar. Barangsiapa melaksanakannya sesuai dengan syarat-syaratnya, tata tertibnya, sunnah-sunnahnya, maka dia akan memperoleh banyak pahala dan keutamaan sebagai berikut: Setiap langkah dari rumahnya menuju ke masjid mendapatkan pahala seperti pahala puasa dan pahala shalat malam setahun penuh. Mendapatkan pahala seperti orang yang berqurban unta, atau sapi, atau kambing, atau ayam, atau telur, sesuai seberapa pagi ia berangkat ke masjid untuk menunaikan shalat Jum'at. Mendapatkan ampunan atas dosa-dosa yang telah ia lakukan hingga tiba shalat Jum'at berikutnya dan tambahan tiga hari menurut sebagian riwayat. Malaikat mencatat pahala shalat Jum'atnya di dalam catatan mereka, selain catatan malaikat yang bertugas menuliskan amal.

Manggopoh Alam Saiyo by.My.Bagindo Chaniago

63

Saat ini banyak umat Islam yang tidak mendapatkan pahala besar ini karena melakukan kesalahan-kesalahan yang dapat menghilangan keutamaan ibadah Jum'atnya. Hal tersebut terjadi karena malas, bodoh, atau karena lingkungan dan adat yang jauh dari sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Kesalahan-kesalahan tersebut terangkum dalam kumpulan berikut ini: 1. Tidak berangkat ke masjid untuk shalat Jum'at pagi-pagi. Padahal, berangkat pagi-pagi untuk shalat Jum'at sangat dianjurkan dan menjadi kebiasaan para salafush shalih. Hal ini dikuatkan oleh hadits pertama dan kedua di atas. Hadits pertama menjelaskan bahwa berangkat pagi-pagi ke masjid menjadi syarat untuk mendapatkan keutamaan pahala shalat Jum'at dengan sempurna. Dan berangkatnya ke masjid disunnahkan dengan berjalan kaki. Karena itu Imam al Nasai dan al Baihaqi membuat bab khusus dalam kitab mereka, "Keutamaan berjalan kaki untuk shalat Jum'at." Abu Syamah berkata, "Pada abad pertama, setelah terbit fajar jalan-jalan kelihatan penuh dengan manusia. Mereka berjalan menuju masjid jami' seperti halnya hari raya, hingga akhirnya kebiasaan itu hilang." Lalu dikatakan, "Bid'ah pertama yang dilakukan dalam Islam adalah tidak berangkat pagi-pagi menuju masjid." (Dinukil dari Akhtha' al Mushalliin -edisi Indonesia: Kesalahan-kesalahan dalam shalat-, Abu Ubaidah Masyhur bin Hasan, hal. 236) 2. Tidak mandi, tidak memakai wangi-wangian, dan tidak bersiwak. Tidak mandi Jum'at menyebabkan tidak didapatkannya janji pahala di atas. Karena mandi Jum'at menjadi syarat untuk mendapatkan pahala shalat Jum'at yang besar, berdasarkan pada dua hadits pertama di atas. Tidak mandi Jum'at menyebabkan tidak didapatkannya janji pahala di atas. Karena mandi Jum'at menjadi syarat untuk mendapatkan pahala shalat Jum'at yang besar, . . 3. Masuk masjid sambil bercakap-cakap dengan kawannya ketika imam sedang berkhutbah. Keduanya telah melakukan larangan sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Abu Hurairah radliyallah 'anhu,

َ َ‫ﺇِﺫﺍ ﻗُ ْﻠﺕَ ﻟِﺻَﺎﺣِﺑﻙ ﻳَﻭﻡ ﺍ ْﻟﺟﻣﻌﺔ ﺃَ ْﻧﺻِ ﺕ ﻭﺍﻹِﻣَﺎﻡ ﻳَﺧﻁﺏُ ﻓﻘﺩ ﻟَﻐﻭﺕ‬ َْ ََْ ُ ْ ُ ْ َ ْ ِ َُ ُ َ ْ َ ِ

"Jika engkau berkata pada temanmu pada hari Jum'at, 'Diamlah!', sewaktu imam berkhutbah, berarti kemu telah berbuat sia-sia." (Muttafaq 'Alaih) Al Nadhar bin Syamil berkata, "Makna dari kata laghauta adalah kamu gagal mendapatkan pahala. Dikatakan juga bahwa maknanya adalah sia-sia keutamaan

Manggopoh Alam Saiyo by.My.Bagindo Chaniago

64

shalat Jum'atmu." (Dinukil dari Akhtha' al Mushalliin -edisi Indonesia: Kesalahankesalahan dalam shalat-, Abu Ubaidah Masyhur bin Hasan, hal. 239) Asal makna al-Inshat adalah dia dan tidak berbicara kepada orang. Karena ini ada sebagian pendapat yang memperbolehkan mendengarkan sambil membaca AlQur'an atau membaca dzikir. Akan tetapi, menurut Syaikh al Kanwi, yang benar adalah diam secara mutlak, tidak berbicara, tidak membaca, dan tidak berdzikir. 4. Berbicara dan tidak mendengarkan khutbah secara seksama. Terkadang ada orang yang sudah melaksanakan mandi Jum'at, memakai wewangian, dan pergi ke masjid pagi-pagi dengan berjalan kaki, tapi ia tidak mendekat ke imam dan memilih duduk menjauh dari khatib. Hal ini dikhawatirkan akan mengurangi kesempurnaan pahala shalat Jum'atnya. Namun terkadang ada juga yang sudah mendekat kepada imam tapi melakukan halhal yang tidak berguna sehingga memalingkannya dari memperhatikan khutbah, misalnya memainkan krikil, biji tasbih, kain sajadah, tikar atau sibuk menegur temannya untuk diam. Perbuatan ini menyebabkan pelakunya tidak memperoleh pahala shalat Jum'at. 5. Berkeliling mengedarkan kotak amal untuk mengumpulkan shadaqah dan infak dari para jama'ah ketika imam sedang khutbah. Atau juga setiap jama'ah sibuk menggeser kotak amal tersebut dan menggabil uang dari sakunya untuk dimasukkan ke kotak amal sehingga mengganggu konsentrasi dia dalam mendengarkan khutbah. Dan siapa yang ingin memperjelas masalah ini silahkan membaca Hukum Edarkan Kotak Infak Saat Khutbah Jum'at 6. Tidur pada saat imam menyampaikan khutbah. Diriwayatkan dari Ibnu 'Aun, dari Ibnu Sirin, ia berkata, "Mereka (para ulama) tidak menyukai tidur pada saat imam berkhutbah dan mereka memperingatkan tentang itu dengan peringatan yang keras." Dianjurkan bagi orang yang mengantuk untuk berpindah tempat. Diriwayatkan dari Ibnu 'Umar, bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
َ ِ َُ ُ َ ْ ِِ َ ْ ‫ﺇِﺫﺍ َﻧﻌﺱَ ﺃَﺣَ ﺩﻛﻡ ﻓِﻲ ﺍ ْﻟﻣﺳْ ﺟﺩ ﻳَﻭﻡ ﺍ ْﻟﺟﻣﻌﺔ ﻓ ْﻠ َﻳ َﺗﺣَ ﻭﱠ ﻝ ﻣِﻥْ ﻣﺟْ ﻠِﺳِ ﻪ ﺫﻟِﻙ ﺇِﻟَﻰ ﻏﻳْﺭﻩ‬ ِ ِ َ َ َ ِ َ َ َ ُْ ُ

"Jika salah seorang kalian mengantuk di masjid pada hari Jum'at, hendaknya dia pindah dari tempat duduknya itu ke tempat lain." (HR. Ahmad dalam al-Musnad, no. 4643) 7. Melangkahi jama'ah yang duduk dan mengganggu orang yang di sekitarnya. Ampunan terhadap dosa yang sudah dijanjikan antara dua Jum'at masih bergantung pada beberapa sifat lain yang harus dipenuhi, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Salman di atas;

Manggopoh Alam Saiyo by.My.Bagindo Chaniago

65

"Kemudian keluar (menuju masjid), dan dia tidak memisahkan dua orang (yang sedang duduk berdampingan). . " Diriwayatkan dari Abdullah bin Busr, bahwa seorang laki-laki datang ke masjid dengan melangkahi bahu leher orang-orang pada hari Jum'at. Saat itu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sedang menyampaikan khutbah, lalu beliau bersabda:

َ ََْ َ‫ﺍٍﺟْ ﻠِﺱْ ﻓﻘﺩ ﺁﺫﻳْﺕَ ﻭﺁ َﻧﻳْﺕ‬ َ

"Duduklah, sungguh kamu telah mengganggu orang lain, sedangkan kamu datang terlambat." (HR. Ibnu Majah dalam Sunan-nya, no. 1105) Hadits di atas menunjukkan bahwa melangkahi orang yang ada di depannya pada hari Jum'at hukumnya haram. Hukum haram ini hanya khusus pada hari Jum'at, seperti yang disebutkan dengan jelas dalam hadits di atas. Mungkin juga disebutkan hari Jum'at karena hal itu sering terjadi pada hari Jum'at dengan banyaknya orang yang hadir di masjid. Dengan demikian, larangan melangkahi jama'ah yang lain juga berlaku pada shalat-shalat lainnya. Inilah pendapat yang lebih mendekati kebenaran, karena di dalamnya terdapat 'llah, yaitu menyakiti/mengganggu orang lain. Bahkan hal itu juga terjadi dalam majelis ilmu. Hadits di atas menunjukkan bahwa melangkahi orang yang ada di depannya pada hari Jum'at hukumnya haram. 8. Membelakangi imam dan kiblat pada saat disampaikan khutbah. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata tentang tuntunan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan para sahabatnya dalam khutbah Jum'at: "Ketika beliau berdiri menyampaikan khutbah pada hari Jum'at, para sahabat beliau mengarahkan pandangan dan wajah mereka ke arah beliau. Wajah beliau tepat berada di hadapan mereka pada saat berkhutbah." Realita yang kadang nampak, sebagian jama'ah shalat Jum'at bersandar pada dinding atau tiang masjid dengan membelakangi kiblat dan wajah khatib. Padahal khatib menghadap ke mereka untuk mendahulukan maslahat mereka dan supaya mereka bisa mengambil manfaat dari khutbah tersebut. 9. Duduk memeluk lutut pada saat imam berkhutbah. Imam Ahmad, Abu Dawud, al-Tirmidzi, dan al-Hakim meriwayatkan dari Mu'adz radliyallah 'anhu, ia berkata:
ُ ْ ُ ْ َ ِ َُ ُ َ ْ ِ َ ُ ُ‫ﺃَﻥﱠ ﺭَ ﺳُﻭﻝ ﷲِ ﺻﻠﱠﻰ ﷲ ُ ﻋﻠَ ْﻳﻪ ﻭﺳﻠﱠﻡ َﻧﻬَﻰ ﻋﻥْ ﺍ ْﻟﺣﺑْﻭﺓ ﻳَﻭﻡ ﺍ ْﻟﺟﻣﻌﺔ ﻭﺍﻹِﻣَﺎﻡ ﻳَﺧﻁﺏ‬ َ َ ‫َ ﱠ‬ َ َ َ ِ َ ‫ﱠ‬

"Bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melarang hubwah (duduk memeluk lutut) pada hari Jum'at pada saat imam sedang berkhutbah." (HR. Abu

Manggopoh Alam Saiyo by.My.Bagindo Chaniago

66

Dawud no. 936, al-Tirmidzi no. 472, Ahmad no. 15077, dan al-Hakim dalam alMustadrak no. 1020) Al-Hubwah berasal dari kata ihtibaa', yaitu merapatkan kedua kaki ke perut dan memasukkan ke dalam kainnya hingga menyatu dengan punggungnya. Bisa juga dengan cara merapatkan kedua kaki ke perut dan memeluk kedua lutut dengan dua tangan sebagai ganti dari baju. Dengan demikian kita tahu, orang yang duduk seperti ini pada saat imam membaca khutbah telah melakukan kesalahan. Duduk seperti ini dilarang karena menggambarkan sifat malas bagi pelakunya dan menyebabkannya tertidur. Duduk seperti itu juga bisa menyebabkan batalnya wudlu' dan terbukanya aurat. Beberapa hal di atas harus dijauhi oleh seorang muslim yang hadir melaksanakan shalat Jum'at. Jangan sampai hal-hal yang sering dianggap kecil dan remah di atas menghilangkan kesempatan untuk mendapatkan kesempurnaan pahala shalat Jum'at. Wallahu Ta'ala a'lam. (PurWD/voa-islam.com)

Khatib yang Memanjangkan Khutbah Tidak Mengenal Sunnah
Kamis, 30 Sep 2010

Panjangnya khutbah Jum’at di masjidmasjid Saudi Arabia menyebabkan kementrian Urasan Agama Islam mengeluarkan himbauan agar para imam tidak terlalu lama (panjang) dalam menyampaikan khutbah Jum’at.

DR. Taufiq al-Sadiri, Deputi Kementrian Urusan Islam untuk Masjid dan Dakwah mengemukakan bahwa kementrian menganjurkan kepada para imam dan khatib untuk mengikuti sunnah Nabi dan memperhatikan keadaan orang-orang, terlebih bahwa perkara ini termasuk dari kefakihan seorang imam. Himbauan ini karena memperhatikan banyaknya aduan masyarakat melalui Koran Saudiyah dan juga dari perwakilan cabang kemetrian di berbagai daerah. Juga dikuatkan melalui pertemuan dengan para imam yang menganggap pentingnya mengikuti sunnah Nabi, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Rasulullah
Manggopoh Alam Saiyo by.My.Bagindo Chaniago

67

shallallaahu 'alaihi wasallam bahwa panjangnya shalat dan pendeknya khutbah seseorang menjadi tanda kefaqihan, atau sebagaimana sabda Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam. Karena itu DR. Sadiri menghimbau kepada para imam dan khatib agar mengikuti sunnah Nabi dalam khutbah dan memperhatikan kondisi masyarakat dengan tidak membuat mereka lelah dengan panjangnya khutbah dan juga sebagai upaya mengikuti petunjuk Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam sebagai bentuk rahmat (kasih) kepada kaum muslimin. Sementara DR. Azam al-Syuwair, ketua Komisi evaluasi ulang dari Imam dan khatib pada cabang Departemen Urusan Islam di Riyadh menyatakan bahwa panjangnya khutbah Jum’at menunjukkan sediktinya ilmu khatib. Beliau mengatakan, “Siapa yang melakukan itu, dia tidak memahami sunnah Nabi shallallaahu 'alaihi wasallamshallallaahu 'alaihi wasallam daam khtubah Jum’at adalah dengan memendekkan khutbah dan memanjangkan shalat. Mengingat petunjuk khutbah Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam yang pendek, ringkas, dan padat, padahal manusia di saat itu baru saja masuk Islam dan sangat membutuhkan pemahaman terhadap syariat.” DR. Syuwai’ir menambahkan bahwa berdasarkan kajian ilmu Psikologis dan ilmu social menetapkan bahwa memanjangkan khutbah bisa menghilangkan esensi dari khutbah itu sendiri karena para jama’ah merasa bosan dan tidak fokus. DR. Syuwai’ir menjelaskan bahwa sebab panjangnya khutbah yang sekarang terjadi di masjid-masjid mayoritas disebabkan ketidakpahaman para khatib tentang masalah fiqih. Karena itu akan diupayakan untuk meluruskan persepsi khatib kemudian disempurnakan dengan pengarahan bahwa yang sunnah adalah memendekkan khutbah dan bukan memanjangkannya. Dikuatkan lagi bahwa kebanyakan mereka menyukai kebaikan, maka harus dimulai dari sedikit demi sedikit. (PurWD/ al-islam.com)

Hukum Bersafar Pada Hari Jum'at
Kamis, 27 May 2010 Oleh: Badrul Tamam

Manggopoh Alam Saiyo by.My.Bagindo Chaniago

68

Orang yang punya kewajiban melaksanakan shalat Jum'at, diharamkan bersafar pada hari Jum'at ketika mu'adzin sudah mengumandangkan adzan shalat Jum'at. Inilah pendapat yang paling rajih (benar) berdasarkan firman Allah Ta'ala,

َ َ ‫ِْ ِ ﱠ‬ ُ َ َُ ُ َْ َ ِ َُ ُ ِ ْ ِ َ َ‫ﻳَﺎ ﺃ ﱡَﻳﻬَﺎ ﺍﻟﱠﺫِﻳﻥَ ﺁَﻣﻧﻭﺍ ﺇِﺫﺍ ﻧﻭﺩِﻱَ ﻟِﻠﺻﱠﻼﺓ ﻣِﻥْ ﻳَﻭﻡ ﺍ ْﻟﺟﻣﻌﺔ ﻓﺎﺳْ ﻌﻭﺍ ﺇِﻟَﻰ ﺫﻛﺭ ﷲِ ﻭﺫﺭُﻭﺍ ﺍ ْﻟ َﺑ ْﻳﻊَ ﺫﻟِﻛﻡ ﺧ ْﻳﺭ ﻟَﻛﻡ ﺇِﻥْ ﻛ ْﻧﺗﻡ َﺗﻌْ ﻠَﻣﻭﻥ‬ ُْ ُ ُْ ٌ َ ُْ َ

"Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." (QS. Al-Jumu'at: 9) Hal ini dikarenakan dia diseru untuk melaksanakannya makanya ia wajib menunaikannya. Tidak mungkin kewajiban itu dapat dilaksanakan kecuali dengan meninggalkan safar. Hal ini sesuai degan kaidah "Apa saja yang kewajiban tidak bisa dilaksanakan dengan sempurna kecuali dengannya, maka dia menjadi wajib." Terkecuali dia takut kehilangan kesempatan bertemu dengan kerabatnya. Jika takut kehilangan kesempatan itu, dia boleh bepergian karena hal itu menjadi alasan untuk tidak ikut mengerjakan shalat Jum'at, sekaligus menjadi alasan dalam safar setelah masuknya waktu shalat Jum'at ba'da zawal (tergelincirnya matahari). (Shalah al-Mukmin, edisi Indonesia: Ensiklopedi Shalat menurut Al-Qur'an dan as-Sunnah, DR. Sa'id bin Ali bin Wahf al-Qahthani, 2/336) Imam Ibnu Qudamah dalam kitabnya al-Mughni (III/247), menyandarkan kepada Imam al Syafi'i, Ishaq, dan Ibnul Mundzir, mengatakan "Tapi jika mengakhirkan safar atau menyegerakan menimbulkan kemadharatan atau karena sebab itu dia tertimpa kesulitan seperti takut tertinggal dari rombongan dan semisalanya. Atau safarnya dalam rangka melaksanakan perkara yang lebih wajib daripada shalat Jum'at seperti jihad fi sabilillah, maka dia boleh bersafar walaupun sudah masuk waktu shalat Jum'at." Ibnu al 'Arabi berkata, "Perang (jihad) lebih utama daripada shalat Jama'ah Jum'at dan selainnya". Imam al Syaukani menukil dari al Iraqi dalam Syarah al Tirmidzi, bahwa hujjah tegak di atas perkataan ini, "Ketika beberapa perkara wajib saling berbenturan maka didahulukan yang pokoknya. Dan tidak diragukan lagi bahwa berperang (jihad) lebih penting daripada shalat jum'at, karena Jum'at masih dapat diganti ketika

Manggopoh Alam Saiyo by.My.Bagindo Chaniago

69

terlewatkan, berbeda dengan perang, khususnya ketika sudah menjadi fardlu 'ain, maka dia wajib didahulukan." (Nailul Authar: 3/229).

Sedangkan pendapat para ulama dalam masalah ini sebagai berikut: 1. Madhab Hanafi. Dalam Tuhfatul Muluk milik al Raazi hal. 100: (Dibolehkan safar pada hari Jum'at sebelum tergelincirnya matahari dan sesudahnya). Sebagian mereka menyebutkan bahwa dibolehkannya ini selama waktunya belum berlalu karena wajibnya Jum'at menurut mereka pada akhir waktu." (Lihat al Bahr al Raaiq: 2/164)

2. Madhab Maliki. Ibnu al Jauzi berkata, "Dibolehkan bersafar pada hari Jum'at sebelum matahari tergelincir. Sebagian pendapat lain, dimakruhkan. Dan disepakati larangan bersafar sesudah zawal –tergelincirnya matahari-." (Qawaniin al Ahkam al Syar'iyyah: 56) yakni sepakatnya para ulama madzhab ini, bukan kesepakatan seluruh ulama. Khalil dalam Mukhtasharnya memberikan pengecualian pada safar setelah fajar pada hari Jum'at termasuk perkara yang makruh.

3. Madhab Syafi'i. Pendapat Imam Syafii dalam Qaul Qadimnya bahwa safar pada hari Jum'at sesudah fajar dan sebelum matahari tergelincir dibolehkan. Imam al Mawardi berkata, "Pendapat ini dipilih oleh Umar bin al Khatab, al Zubair bin al 'Awwam, Abu Ubaidah bin Jarah dan mayoritas tabi'in dan fuqaha'."

Sedanghkan dalam Qaul Jadidnya, Imam Syafi' tidak membolehkan. Imam al Nawawi dalam al Majmu' berkata, "Dan ini yang paling shahih menurut kami, yakni menurut madzhab Syafi'i."

4. Madhab Hambali. Bahwa orang yang wajib melaksanakan shalat Jum'at tidak boleh bersafar setelah masuk waktunya. Dan dalam safarnya sebelum masuknya waktu terdapat tiga riwayat: melarang, memperbolehkan, dan dan melarangnya kecuali untuk jihad. Ibnu Qudamah dalam al Mughni memilih pendapat yang memperbolehkannya secara mutlak, karena terlepas dari Jum'atan. (Nailul Authar: 3/248). Dan ini, Insya Allah, pendapat yang paling rajih.

Memulai Perjalanan Sebelum Tiba Waktu Shalat

Manggopoh Alam Saiyo by.My.Bagindo Chaniago

70

Tidak ada keterangan dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang melarang seseorang mengadakan perjalanan pada hari Jum'at. Jadi boleh saja bepergian bila waktu shalat belum tiba. Ibnul Mundzir -dalam kitab Al-Ausath (4/23) berkata, "Saya tidak mengetahui satu keterangan pasti yang melarang bepergian mulai awal siang hari Jum'at sampai tergelincir matahari di masa saat si muadzin mulai mengumandangkan adzannya. Nah, bila muadzin mulai mengumandangkan adzan, maka wajib bagi orang yang mendengarnya untuk pergi ke shalat Jum'at. Dia tidak bisa lagi menghindar dari suatu kewajiban yang harus dia laksanakan. Bila dia menunda kepergiannya pada hari Jum'at sampai waktu Jum'at selesai, itulah yang lebih baik." Diriwayatkan dari Umar bin Khaththab radliyallah 'anhu, bahwa dia melihat seorang laki-laki yang sudah tampak siap bepergian, maka berkatalah orang tadi, "Hari ini, hari Jum'at, dan kalau tidak karena hari Jum'at tentu aku sudah keluar". Umar berkata, "Sesungguhnya shalat Jum'at itu tidak mencegah orang bepergian, maka pergilah selama belum tiba waktu matahari tergelincir." (Diriwayatkan oleh Abdur Razzaq dalam Al-Mushannaf: 3/250 dan Ibnu Syaibah 1/442) dan Ibnul Mundzir dalam Al-Ausath: 4/21 melalui jalur Al-Aswad bin Qays dari ayahnya dari Umar radliyallah 'anhu, sanadnya shahih.) Diriwayatkan dari Nafi pembantu Ibnu Umar, bahwa anak dari Said bin Zaid bin Nufail -suatu saat- sedang berada di sebidang tanahnya di daerah Al-Aqiq yang jauhnya beberapa mil dari kota Madinah. Lalu ia bertemu dengan Ibnu Umar di siang hari Jum'at, kemudian dia memberitahukan tentang masalahnya, maka pergilah Umar padanya dan meninggalkan shalat Jum'at. (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah: 1/443 dengan sanad yang shahi). Dan ini adalah pendapat kebanyakan ulama. (Asy-Syaukani dalam Nailul Authar (4/157)

Riwayat yang Memakruhkan Safar pada Hari Jum'at Terdapat beberapa riwayat yang melarang safar pada hari Jum'at, namun nilai riwayat tersebut lemah sehingga tidak bisa dijadikan sandaran hukum. Di antara riwayat-riwayat tersebut adalah:

1. Dikeluarkan oleh Adz-Dzaruquthni dalam kitab Al-Afrad dari hadits Umar secara marfu: "Barangsiapa yang bepergian pada hari Jum'at, malaikat mendo'akan untuknya, semoga tidak ada yang menyertainya dalam perhalanan". Ibnu Hajar berkata di dalam kitab At-Talkish (2/70), "Di dalam sanad hadits ini ada Ibnu Lahi'ah" Ini menandakan bahwa hadits tersebut tidak termasuk hadits yang pantas dijadikan hujjah, apalagi dalam matannya ada perselisihan dengan riwayat yang lebih kuat".

Manggopoh Alam Saiyo by.My.Bagindo Chaniago

71

2. Dikeluarkan oleh Al-Khatib Al-Baghdadi dalam kitab Asmaur Ruwah 'an Malik seperti yang tesebut pula dalam Nailul Authar (4/156) dengan jalur Al-Husain bin Alwan dari Malik dari Az-Zuhri dari Abu Salamah dari Abu Hurairah radliyallahu 'anhu secara marfu. "Barangsiapa yang bepergian pada hari Jum'at, dua malaikatnya akan mendo'a semoga tidak ada yang menyertai dalam perjalanannya dan semoga hajatnya tidak terpenuhi". Hadits ini dengan sanad tersebut adalah maudhu'. Sebabnya, Husain bin Alwan itu Taliful Hal (Keadaan/sifatnya tidak baik). Ibnu Main mengatakan dia itu pendusta,dan Ibnul Fallas mengatakan, 'Dia lemah sekali'. Sementara Abi Hatim, An-Nasai dan Adz-Dzaruquthni mengatakan, 'Dia itu hadits ditinggalkan'. Bahkan Ibnu Hibban mengatakan, "Dia itu pernah membuat hadits palsu". Al-Dzahabi dalam Al-Mizan (1/53) mengatakan, "Dan di antara riwayat yang dia palsukan atas nama Malik." Lalu Adz-Dzahabi menyebutkan hadits diatas.

3. Dikeluarkan Ibnul Mundzir (4/22) dari hadits Ibnu Umar radliyallah 'anhuma, "Janganlah kau pergi sehingga engkau shalat Jum'at dulu, lalu engkau boleh pergi kalau engkau ingin". Sanad hadits ini lemah, di dalamnya ada Abdul Aziz bin Ubaidillah bin Hamzah AlHimshy, dia ini haditsnya lemah dan terkadang menyalahi riwayat perawi yang lebih kuat. Dan ternyata keterangan yang pasti dari Ibnu Umar bertentangan dengan pernyataan di atas.

4. Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah (1/443) dengan sanad yang shahih dari AthTha dari Aisyah radliyallahu 'anha, dia berkata, "Bila engkau berada pada malam Jum'at maka janganlah engkau keluar hingga engkau sahalat Jum'at dulu". Dan dari Ath-Tha pula, Ibnul Mundzir mengeluarkan hadits ini dalam Al-Ausath (4/22). Tapi hal ini bertentangan dengan pendapat kebanyakan para shahabat. Diriwayatkan dari Abi Ubaidah, keterangan yang membolehkannya hal ini disebutkan oleh Abdur Razzaq (3/250), dan perawi-perawi yang ada di sanadnya –menurut mereka- adalah terpercaya (tsiqah), hanya saja sanadnya terputus. Hadits ini diriwayatkan dari Abu Ubaidah oleh Shalih bin Kisan, dan periwayatan ini adalah mursal. Wallahu a'lam . .

Kesimpulan: Dibolehkan bersafar pada hari Jum'at sebelum masuk waktu Jum'at. Dan ketika seseorang bersiap untuk bersafar, dan adzan dikumandangkan atau sudah masuk

Manggopoh Alam Saiyo by.My.Bagindo Chaniago

72

waktu shalat Jum'at dengan tergelincirnya matahari, maka tidak diperbolehkan melakukan safar sehingga ia melaksanakan shalat Jum'at, kecuali ada kepentingan yang sangat mendesak, seperti menyambut seruan jihad. Adapun riwayat-riwayat yang menerangkan larangan atau makruhnya safar pada hari Jum'at (bukan ketika sudah masuk waktu shalat Jum'at atau mu'adzin mengumandangkan adzan) adalah lemah, karenanya tidak bisa dijadikan sebagai hujjah dan dasar hukum larangan bersafar pada hari Jum'at. Namun demikian, bukan berarti safar di hari Jum'at dianjurkan. Karena banyak keterangan dari hadits shahih yang kemudian disimpulkan para ulama, bahwa di antara petunjuk beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersafar pada hari Kamis. Wallahu a'lam bil shawab.

Apakah Musafir Wajib Melaksanakan Jum'atan
Kamis, 17 Jun 2010

Pertanyaan: Saya seorang musafir. Saya sampai ke kota yang kutuju pada hari Jum'at, saat itu shalat Jum'at sedang berlangsung dan imam sedang berkhutbah. Lalu saya pergi ke penginapanku dan melaksanakan shalat Dzuhur di sana. Bagaimana hukum dalam masalah ini? Jawab: Shalat Jum'at tidak wajib atas musafir dan tidak mengharuskannya untuk menghadirinya. Ini merupakan pendapat jumhur ulama dari madhab Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hambali. Mereka berhujah dengan beberapa dalil yang secara keseluruhannya telah disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu' Fatawa (24/178-179), "Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah melakukan banyak perjalanan (safar), beliau juga pernah melakukan beberapa kali umrah selain umrah hajinya, menunaikan haji wada' yang disertai ribuan orang, dan berangkat perang lebih dari 20 kali. Namun, tidak ada seorangpun yang menukil ketarangan bahwa beliau shallallahu 'alaihi wasallam melaksanakan shalat Jum'at dan shalat 'Ied saat dalam safarnya. Bahkan, riwayat menyebutkan kalau beliau menjama' (mengumpulkan) dua shalat -Dhuhur dan 'Ashar- di seluruh perjalanan beliau. Begitu juga saat hari Jum'at, beliau shalat dua raka'at, sama seperti hari-hari lainnya.

Manggopoh Alam Saiyo by.My.Bagindo Chaniago

73

Namun, tidak ada seorangpun yang menukil ketarangan bahwa beliau shallallahu 'alaihi wasallam melaksanakan shalat Jum'at dan shalat 'Ied saat dalam safarnya. Tidak ada seorangpun juga yang menukil keterangan bahwa beliau shallallahu 'alaihi wasallam, saat bersafar, berkhutbah pada hari Jum'at sebelum shalat, baik dengan berdiri atau duduk di atas kendaraannya sebagimana yang biasa dilakukannya dalam khutbah Ied, tidak pula di atas mimbar sebagaimana yang biasa dilakukan beliau saat khutbah Jum'at. Kadang-kadang beliau berkhutbah kepada mereka di tengah-tengah safar dengan khutbah yang mengesankan, dan mereka menukilkannya (meriwayatkannya). Tidak seorangpun jua yang pernah meriwayatkan bahwa beliau berkhutbah pada hari Jum'at sebelum shalat dalam safarnya. Bahkan, tak seorangpun yang pernah meriwayatkan bahwa beliau menjaharkan (mengeraskan) bacaan shalat pada hari Jum'at, padahal sudah maklum ketika beliau merubah kebiasaan mengeraskan bacaan dan berkhutbah, pasti mereka meriwayatkan hal itu. Pada hari Arafah, beliau berkhutbah kepada mereka kemudian turun lalu shalat dua rakaat bersama mereka. Tidak seorangpun yang meriwayatkan bahwa beliau menjaharkan bacaan dan khutbah tersebut juga bukan untuk Jum'atan. Kalau sendainya khutbah tersebut sebagai khutbah Jum'at pastinya beliau juga berkhutbah pada hari lain di mana mereka juga berkumpul. Sungguh khutbah beliau itu sebagai nusuk (bagian dari ibadah haji). Karenanya, semua ulama muslim menetapkan adanya khutbah Arafah walaupun bukan hari Jum'at. Berdasarkan riwayat yang mutawatir ini, maka ditetapkan bahwa khutbah beliau tersebut karena hari Arafah, walau bukan pas hari Jum'at, bukan karena hari Jum'atnya." Maksud semua ini adalah bahwa musafir diwajibkan untuk melaksanakan shalat Dhuhur. Jika dia ikut shalat Jum'at maka sudah mencukupinya sehingga tidak perlu lagi shalat Dhuhur. Ini merupakan kesepakan para ulama. Musafir diwajibkan untuk melaksanakan shalat Dhuhur. Jika dia ikut shalat Jum'at maka sudah mencukupinya sehingga tidak perlu lagi shalat Dhuhur. Adapun musafir, jika berniat tinggal di suatu negeri yang di sana didirikan shalat Jum'at, maka sebagian fuqaha' madhab Hambali berpandangan bahwa dia harus melaksanakan shalat Jum'at dikarenakan yang lainnya bukan karena dirinya. Karena di antara syarat wajibnya Jum'atan, menurut mereka adalah sebagai penduduk tetap, sedangkan orang ini bukan sebagai penduduk tetap. Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni (3/218) berkata, "Jika seorang musafir mengumpulkan waktu masa tinggalnya sehingga melarangnya melakukan qashar shalat, dan juga dia tidak disebut sebagai penduduk tetap suatu negeri, seperti penuntut ilmu, mujahid yang beribath, pedagang yang bermukim untuk menjual barang dagangannya atau membeli sesuatu yang tidak bisa dilakukan kecuali dalam waktu yang cukup lama, maka terdapat dua pendapat: Pertama, dia harus

Manggopoh Alam Saiyo by.My.Bagindo Chaniago

74

menunaikan shalat Jum'at berdasarkan keumuman ayat Al-Qur'an dan dalil-dalil yang telah kami riwayatkan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam telah mewajibkannya kecuali kepada lima golongan yang dikecualikan. Dan ornag ini (musafir yang bermukim selama waktu yang melarang dirinya mengqashar shalat) tidak termasuk lima golongan di atas. Kedua, dia tidak wajib menunaikan shalat Jum'at, karena dia bukan penduduk yang menetap. Sedangkan tinggal menetap menjadi salah satu syarat wajib shalat Jum'at. Selain itu, karena dia tidak berniat bermukim di negeri itu untuk selamanya sehingga dia serupa dengan penduduk pedalaman yang menempati suatu kampung selama musim panas dan berpindah pada waktu musim dingin. Dan karena mereka hanya tinggal setahun atau dua tahun, maka mereka tidak wajib shalat Jum'at dan shalat Ied." Wallahu a'lam.

The end

(PurWD/voa-islam/islamway)

Manggopoh Alam Saiyo by.My.Bagindo Chaniago

75

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->