PEMBELAJARAN IPA DI SEKOLAH DASAR Kurikulum tingkat satuan pendidikan mengamanatkan bahwa kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan

dan teknologi, pada SD/MI/SDLB dimaksudkan untuk mengenal, menyikapi dan mengapresiasi ilmu pengetahuan dan teknologi, serta menanamkan kebiasaan berpikir, dan berperilaku ilimiah yang kritis, kreatif dan mandiri. Prinsip dasar pembelajaran IPA di Sekolah Dasar menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi dasar peserta didik mampu mempelajari dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pembelajaran IPA di Sekolah dasar dan Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI) diperlukan untuk mendukung peserta didik dalam memenuhi kebutuhan kehidupan sehari-hari melalui pemecahan masalah-masalah yang dapat diidentifikasikan. Pembelajaran IPA di SD/MI diharapkan memiliki penekanan pada pembelajaran Salingtemas (Sains, Lingkungan, Teknologi, dan masyarakat) yang diarahkan pada pengalaman belajar secara langsung untuk merancang dan membuat suatu karya melalui penerapan konsep IPA dan kompetensi bekerja ilmiah secara bijaksana. Melalui prinsip-prinsip dasar IPA tersebut, peserta didik di sekolah dasar atau madrasah yang setara dapat memperoleh pengalaman belajar melalui metode belajar penemuan atau ³Discovery Learning´, penggunaan dan pengembangan keterampilan proses serta sikap ilmiah dengan tujuan untuk memahami konsep-konsep dan mampu memecahkan masalah-masalah aktual dalam kehidupan sehari-hari. (Metode Pembelajaran IPA, Syahrial A, S.Pd, M.Si, Muh. Makhrus, M.Pd, Odo Hadinata, S.Pd, 2008 , 7-10, AZKA) Keterampilan proses adalah keterampilan yang diperoleh dari latihan kemampuan mental, fisik, dan sosial yang mendasar sebagai penggerak kemampuan yang lebih tinggi (wahyana, 1997), kemampuan mendasar yang telah dikembangkan terlatih lama-kelamaan akan menjadi suatu keterampilan. Funk (dalam Indrawati, 1999) membagi keterampilan proses menjadi 2 tingkatan, yaitu keterampilan proses tingkat dasar (basic Science Proses Skill) dan keterampilan proses terpadu (Intergrated Scince Proses Skill). Keterampilan proses tingkat dasar meliputi : observasi, klasifikasi, komunikasi, pengukuran, prediksi dan inferensi. Sedangkan keterampilan proses terpadu meliputi : menentukan varibel, menyusun tabel data, menyusun grafik, memberi hubungan variabel, memperoses data, menganalisis penyelidikan, menyusun hipotesis, menentukan variabel secara operasional, merencanakan penyelidikan dan melakukan eksperimen (Model pembelajaran terpadu, trianto, M.Pd 2010 : 144, Sinar Grafika Offset) Model Pembelajaran Make A Match Huitt (2003) mengemukakan rasionalitas pengembangan model pembelajaran. Model-model pembelajaran dikembangkan utamanya beranjak dari karakteristik siswa. Karena siswa memiliki berbagai karakteristik kpribadian, kebiasaan-kebiasaan modalitas belajar yang bervariasi antara individu satu dengan yang lain, maka model pembelajaran guru harus selayaknya tidak terpaku hanya pada model tertentu, akan tetapi harus bervariasi. Di samping didasari pertimbangan keragaman siswa, pengembangan berbagai model pembelajaran juga dimaksudkan untuk menumbuhkan dan meningkatkan motivasi belajar siswa, agar mereka tidak jenuh dengan proses blajar yang sedang berlangsung. Itulah sebabnya aka didalam menentukan modelmodel pembelajaran yang akan dikembangkan, guru harus memiliki pemahaman yang baik tentang siswasiswanya, keragaman kemampuan, motivasi motivasi, minat dan karakteristik pribadi lainnya. Penggunaan model pembelajaran yang tepat dapat mendorong tumbuhnya rasa senang siswa terhadap pelajaran, menumbuhkan dan meningkatkan motivasi dalam mengerjakan tugas, memberikan kemudahan bagi siswa untuk memahami pelajaran sehingga memungkinkan siswa mencapai hasil belajar yang lebih baik. (Belajar dan Pembelajaran, 2009 : 141 ± 143: Dr. Aunurrahman, M.Pd, ALFABETA, Bandung) Menurut Thomson, et al (dalam karuru, 2005) Pembelajaran kooperatif turut menambah unsur-unsur interaksi sosial. Di dalam pembelajaran kooperatif siswa belajar bersama dalam kelompok-kelompok kecil saling membantu satu sama lain. Kelas di susun dalam kelompok yang terdiri dari 4 atau 5 siswa dengan

dalam karuru 2005) (Kapita Selekta PJJS. Guru perlu persiapan bahan dan alat yang memadai 4. Mampu meningkatkan hasil belajar siswa. Suanasa pembelajaran seperti itu bermanfaat untuk melatih siswa menerima perbedaan pendapat dan bekerja dengan teman yang berbeda latar belakangnya. Materi pembelajaran yang disampaikan lebih menarik perhatian siswa. PGSD. Dirjend Depokknas. kecermatan dan ketetapan serta kecepatan. 3. Waktunya cepat kurang konsentrasi. memberikan penjelasan kepada teman sekelompok dengan baik. Keunggulan model pembelajaran kooperatif Make A Match antara lain : 1. Melatih siswa untuk keaktifan. 2. seperti menjadi pendengar yang baik. Kekurangan model pembelajaran kooperatif tipe Make A Match adalah : 1. Waktu yang tersedia perlu dibatasi jangan sampai siswa terlalu banyak bermain-main dalam proses pembelajaran 3. 2. Diperlukan bimbingan dari guru untuk melakukan kegiatan.kemampuan heterogen yaitu terdiri dari campuran kemampuan siswa. 4. Mampu menciptakan suasana aktif dan menyenangkan. 2007 : 114-115) Model Pembelajaran Kooperatif Make A Math adalah model pembelajaran mencari pasangan sesuai dengan soal yang diberikan. Pada pembelajaran kooperatif diajarkan keterampilan khusus agar dapat bekerja sama didalam kelompoknya. jenis kelamin dan suku. siswa diberi lembar kegiatan yang berisi pertanyaan atau tugas yang direncanakan untuk diajarkan selama kerja kelompok. tugas anggota kelompok adalah mencapai ketuntasan (Slavin. .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful