JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.

1 - April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika, Medan

JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN

I.

Volume 10 No. 1 April 2009

SISTEM INFORMASI DI PEMERINTAHAN KABUPATEN ACEH TENGAH Oleh : Ali Murtadha M Arifin1

ABSTRAKSI Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pelaksanaan sistem penyampaian informasi di Pemerintahan Kabupaten Aceh Tengah setelah diberlakukannya otonomi daerah di Kabupaten tersebut karena penyampaian informasi sebelumnya dilakukan oleh juru penerangan dibawah Pemerintahan Departemen Penerangan disamping itu juga tu juan penelitian ini adalah sebagai penambah wawasan tentang perubahan sistem informasi tersebut. Untuk mencapai tujuan tersebut penelitian ini menggunakan metode kualitatif yaitu melakukan wawancara mendalam dengan Kasub Bagian Humas, Kepala Informasi dan Komunikasi serta karyawan yang mempunyai tugas dan fungsi sebagai penyiar informasi di Kabupaten Aceh Tengah. Adapun hasil penelitian dapat digambarkan bahwa otonomi daerah dapat merubah sistem informasi di Daerah Kabupaten Aceh Tengah, sistem informasi juga mempengaruhi kelanjutan pertumbuhan pembangunan, maka membangun informasi juga perlu, sehingga sistem informasi pesan pemerintah di kemas dan disiarkan dengan melalui media cetak maupun elektronik sehingga dapat diperoleh / dinikmati oleh publik dan sistem informasi pada masa Orde Baru berbeda dengan sistem informasi di era Orde Baru. Pada masa Orde Baru sistem informasi ditentukan oleh Pemerintah Pusat sedangkan pada otonomi daerah sistem informasi ditentukan oleh Pemerintah setempat (Daerah).

1

Penulis adalah Peneliti di BBPPKI Wilayah I Medan.

1

JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. 1 - April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika, Medan

Kata Kunci : Sistem informasi, Pemerintahan Kab. Aceh Tengah

A. Latar Belakang Masalah Di era otonomi daerah saat ini, sistem Pemerintahan Daerah sudah berbeda dibandingkan dengan sistem pemerintah diera orde baru. Kalau diera orde baru, organisasi Pemerintah dan sistem informasinya ditentukan oleh pemerintah pusat, di era otonomi daerah ini pembentukan instansi pemerintah daerah termasuk sistem informasinya ditentukan oleh pemerintah daerah setempat. Oleh karena itu sistem informasi pada setiap daerah bisa berbeda sesuai dengan perkembangan yang terjadi / kebutuhan di daerah masing-masing. Pada awal otonomi daerah, Pemerintah di daerah bisa membentuk dinas, Badan dan Lembaga tehnis sesuai dengan kebutuhan daerah setempat. Adanya ketentuan ini membuat berbagai daerah membentuk dinas secara berlebihan untuk menampung sebanyak mungkin pejabat struktural. Ketentuan mengenai pembentukan dinas dan lembaga tehnis tersebut kemudian disusul Peraturan Baru yang memberikan batasan jumlah dinas yang boleh dibentuk di Pemerintah Daerah. Daerah yang sudah terlanjur membentuk dinas dan lembaga teknis daerah melebihi ketentuan akan segera menyesuaikan dengan ketentuan baru dalam pembentukan Dinas dan lembaga teknis. Adanya kebebasan Pemerintah daerah untuk membentuk dinas dan lembaga tehnis di daerah maka bisa terjadi adanya perbedaan nama lembaga/dinas yang menangani informasi. Bahkan penanganan informasi di suatu daerah cukup hanya dimasukkan dalam suatu seksi/bagian dari dinas dan setiap daeah menggunakan istilah yang berbeda seperti : Hubungan Masyarakat (Humas) Informasi Komunikasi (Infokom), BadanInformasi Komunikasi Telematika (BIKT). Dengan berbedanya dinas yang berkaitan dengan informasi, maka dimungkinkan terjadinya perbedaan sistem informasi pemerintahan antara satu daerah dengan daerah-daeah lain. Saat ini sistem inforasi di pemerintahan masih berkembang dan mencari model yang tepat untuk kelancaran pelaksanaan pembangunan yang sedang dilaksanakan. Adanya dua organisasi di Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah yang secara khusus menangani informasi yaitu Kantor Informasi dan Komunikasi Daerah dan Sub Bagian Hubungan Masyrakat. Kantor Informasi dan Komunikasi Daerah merupakan lembaga hasil peleburan Kantor Departemen Penerangan semasa orde baru sebelum otonomi daerah. Hampir seluruh karyawan Kantor Informasi dan Komunikasi Daerah adalah mantan pegawai Kantor Departemen Penerangan Kabupaten Aceh Tengah Perkantoran yang dipergunakan, sebelumnya juga pernah dipergunakan sebagai Kantor Departemen Penerangan Kabupaten Aceh Tengah Kepala Kantor Informasi dan Komunikasi berada pada eselon III. Sub Bagian Humas juga sudah ada sebelum era otonomi daerah. Struktur organisasinya berada di bagian Sekretariat Daerah. Sub Bagian Humas ini berada dibawah Bagian Humas, Pengolah Data Elektronik (PDE) dan Santel, yang berada dibawah Asisten Umum. Sebagai sub bagian di Sekretariat Daerah, Sub Bagian Humas hanya menempati satu ruangan di Kantor Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah Kepala Sub Bagian Humas berada pada eselon IV. Adanya dua lembaga yang menangani informasi ini merupakan salah satu unsur sistim informasi di Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah. Kedua lembaga itu bisa secara bersama-sama menjalankan tugasnya dalam diseminasi informasi pada masyarakat. Sistem informasi pemerintah ini mempunyai peran yang penting untuk mensukseskan pembangunan di suatu daerah. Sistem informasi yang baik, bisa menciptakan kesatuan gerak dan langkah antar lembaga/dinas untuk mencapai tujuan. Jika sistem informasi antar lembaga/dinas tidak berjalan baik maka dimungkinkan terjadinya tumpang tindih kegiatan, bahkan bisa terjadi kegiatan yang saling bertentangan. Sistem informasi yang baik 2

JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. 1 - April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika, Medan

memungkinkan program-program dan kegiatan yang dilakukan pemerintah bisa direspon oleh masyrakat sehingga bisa meningkatkan partisipasi masyarakat. B. Permasalahan Berdasarkan latar belakang diatas, dirumuskan permasalahan penelitian yaitu bagaimana pelaksanaan sistem informasi di Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah.

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan sistem informasi di Kabupaten Aceh Tengah. Dengan diketahuinya pelaksanaan sistem informasi di daerah tersebut dapat menambah pengetahuan mengenai sistem informasi di Kabupaten Aceh Tengah. Hasil penelitian ini juga bisa dimanfaatkan sebagai pembanding sistem informasi di berbagai daerah yang memiliki sistem informasi yang berbeda. D. Landasan Teori 1. Pengertian Sistem Informasi Berbagai pengertian tentang sistem informasi dikemukakan dalam berbagai buku untuk menggambarkan pengertian mengenai sistem informasi diantaranya ditulis oleh Alter (1992) bahwa Sistem informasi adalah kombinasi antara prosedur kerja, informasi, orang dan tehnologi informasi yang diorganisasikan untuk mencapai tujuan dalam sebuah organisasi. Bodnar dan Hopwood (1993)mendifinisikan sistem informasi adalah kumpulan perangkat keras dan peangkat lunak yang dirancang untuk mentransformasikan data ke dalam bentuk informasi yang berguna. Gelinas, Oram dan Wiggins (1990) mendifinisikan sistem informasi adalah suatu sistem buatan manusia yang secara umum terdiri atas sekumpulan komponen berbasis komputer dan manual yang dibuat untuk menghimpun, menyimpan dan mengelola data serta menyediakan informasi keluaran kepada pemakai. Hall (2001) mendifinisikan sistem informasi sebagai sebuah rangkaian prosedur formal dimana data dikelompokkan, diproses menjadi informasi dan didistribusikan kepada pemakai. Dari berbagai difinisi tersebut dapat disimpulkan bahwa sistem informasi mencakup sejumlah komponen (manusia, tehnologi informasi dan prosedur kerja) berupa masukan (input), ada proses (data menjadi informasi) dan dimaksudkan untuk mencapai suatu sasaran atau tujuan (output).

2. Otonomi Daerah Untuk melaksanakan kebijakan desentralisasi dibentuk daerah otonom. Menurut UU No. 22 Tahun 1999, daerah otonomi merupakan ´kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas daerah tertentu berwenang mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasar aspirasi masyarakat dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indoneia´. Kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasar aspirasi masyarakat sering disebut otonomi daerah. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa daerah otonom adalah daerah yang memiliki otonomi daerah. Kaho (1987) memaparkan ciri-ciri Daerah Otonom sebagai berikut :

3

Sumberdaya yang tersedia dan siap. Input Dari sisi masukan (input). Proses transformasi sistem ini sering dilukiskan orang dengan mempergunakan model masukan-keluaran (inputoutput model). 3. dan kedisiplinan dalam melaksanakan tugas. Model masukan keluaran ini biasa disebut juga dengan model kotak hitam (black-box model). tugas dan sasaran yang akan dicapai Humas dan kantor infokom. kemampuan melaksanakan tugas. sejauh mana kesiapan sumberdaya baik sumberdaya manusia (yang mencakup jumlah dan kualitas) maupun sumbrdaya selebihnya seperti keuangan. Medan 1. atau menstransformasikan bahan-bahan yang disebut masukan (input) menjadi suatu hasil karya yang bisa disebut keluaran (output) (Shrode dan Voich. Istilah kotak hitam disini dipergunakan untuk menunjukkan bahwa isiyang terkandung di dalam satuan (unit) pemroses (transformasi) atau jelasnya sistem itu tidak diketahui. Staf yang kompeten dan komitmen tinggi. Pengaturan urusan-urusan tersebut masyarakat daerah perlu memiliki sumber-sumber pendapatan/keuangan sendiri. Kompetensi ini dapat ditunjukkan dengan kesesuaian tingkat dan latar belakang pendidikan.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Pengaturan dan pengurusan urusan-urusan tersebut dilakukan atas inisiatif sendiri dan didasarkan pada kebijaksanaan sendiri pula. c. yang bisa dijadikan indikator untuk mengetahui masukan pelaksanaan sistem informasi di humas dan Kantor infokom adalah : a. Pelaksanaan proses tugas penyampaian informasi ditandai oleh : Kepemimpinan lembaga yang kuat. peralatan perlengkapan dan sebagainya. dalam arti kepemimpinan yang kuat dalam mengkoordinasikan. jadi seperti kotak hitam (Tatang M. Model adalah gambaran mengenai sesuatu realitas untuk menggambarkan bagaimana suatu itu tampaknya atau bagaimana bekerjanya guna memudahkan memahami dan atau mengkajinya. 4. 2. Konsep dasarnya : Masukan Proses Keluaran Untuk menilai pelaksanaan sistem informasi di Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah. Memiliki tugas dan sasaran yang jelas. Teori Sistem Setiap sistem merupakan tempat memproses. menggerakkan 4 . 1 . Model kotak hitam itu digambarkan atau dilukiskan orang-orang bermacam-macam. Arifin. 3. maka pendekatan sistem merupakan cara yang tepat sebagai pemandu. Adanya urusan-urusan tertentu yang diserahkan oleh pemerintah pusat atau daerah tingkat atas kepada daerah untuk diatur dan diurusnya dalam batas-batas wilayahnya. 1974 : 128). mengolah. 1. Adanya alat-alat perlengkapan atau organ-organ atau apatur sendiri. b. mengubah. 2.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Sumberdaya sangat strategis bagi keberhasilan pelaksanaan tugas humas dan infokom. 2002 : 38). Proses Dari sisi proses di Humas dan Kantor infokom yang bisa dijadikan indikator terjadinya proses pelaksanaan sistem informasi adalah : a. Istilah kotak hitam disini dipergunakan untuk memudahkan memahami dan atau mengkajinya. Staf yang kompeten merupakan pra sarat mutlak dalam pelaksanaan tugas humas dan infokom. Hal ini ditunjukkan dengan adanya kebijakan.

Lokasi Penelitian Penelitian dilaksanakan di Sub Bagian Humas dan Kantor Infokom Kabupaten Aceh Tengah sebagai lembaga yang secara khusus menangani informasi. dimanfaatkan instrument berupa panduan wawancara dan daftar topik. 5. 3. Tehnik pengumpulan data Untuk mengumpulkan data yang diperlukan dalam penelitian ini dipergunakan dua macam tehnik yaitu : a. yang ditandai komunikasi yang baik dan harmonis antara humas. Medan sumber daya manusia dilingkungan humas dan infokom serta menyerasikan semua sumberdaya yang ada pada satu tujuan yang sama. Sub Bagian Dokumentasi dan Informasi. kerja sama yang didasari oleh saling pengertian dan kesediaan menerima perbedaan pendapat. Studi dokumentasi. Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Dalam hal ini dapat diamati dari : keikutsertaan unit kerja di Pemda dalam berbgai aktifitas pelaksanaan tugas Humas dan Infokom. 4. dan penarikan kesimpulan. 3. Partisipasi yang tinggi dari unit kerja di pemerintah daerah. Tehnik Analisa Data Metode yang dipergunakan untuk menganalisis dalam penelitian ini metode deskriptif kualitatif dengan menggunakan model interaktif yaitu semacam siklus terkait antara kegiatan pengumpulan data. Kerja sama yang kompak dan cerdas serta dinamis.Informasi yang disampaikan oleh humas dan infokom dapat diterima. 2. infokom dan satuan unit kerja di pemerintahan. Metode Penelitian 1. Kasub Bagian Informasi dan Informatika. Dalam pelaksanaannya. karyawa Humas dan Infokoma yang bertugas n sebagai ujung tombak dalam penyiaran / penyampaian informasi publik di daerah Kabupaten Aceh Tengah. Jadi analisa data dilakukan bersamaan dengan pengumpulan data. arsip dan catatan yang berhubungan dengan pelaksanaan tugas humas dan Kantor Infokom.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. . Indikator terjadinya kinerja pelaksanaan informasi tersebut. Dengan tehnik wawancara tidak berstruktur atau mendalam (Indepth/unstructured interviewing) peneliti melakukan tanya jawab dan tukar pikiran tanpa daftar wawancara. Dengan tehnik ini peneliti berusaha memperoleh data atau informasi dengan cara menggali dan mempelajari dokumen-dokumen.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. b. 1 . c. Wawancara mendalam. E. Output Setiap proses pelaksanaan sistem informasi selalu diharapkan adanya keluaran atau hasil berupa kinerja pelaksanaan sistem informasi. 5 . b. peneliti hanya dibantu dengan sejumlah topik umum tentang proses pelaksanaan sistim informasi di Kabupaten Aceh Tengah yang masih harus dikembangkan oleh pewawancara berdasar jawaban informan. Informan penelitian Adapun yang dijadikan informan sebagai sumber/ menghimpun data dalam penelitian ini adalah Kasub Bagian Hubungan Masyarakat. penyederhanaan data pemaparan data.

proses dan keluaran sistim informasi. televisi. 1 . 4.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. 5. media informasi dan publikasi. Ketiga hal itu diuraikan berikut ini : 1. pengumpulan data bulan April dan pengolahan data/laporan bulan Mei 2009. Kualitas Masukan SDM Non Manusia 6 . Tugas dan fungsi Kantor Informasi dan Komunikasi Daerah telah diatur dalam Peraturan Daerah Kabupaten Aceh Tengah Tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Dinas-Dinas Daerah. 6. pemberdayaan potensi informasi lembaga swadaya masyarakat dan lembaga informasi desa. F. Melakukan hubungan intern dengan satuan dan unit kerja di lingkungan Pemerintah Daerah. Medan Waktu penelitian ini dijadwalkan sebagai berikut penyusunan/ persiapan rancangan penelitian bulan Februari 2009. dan sasaran yang jelas. sesuai Peraturan Daerah Kabupaten Aceh Tengah Nomor 5 Tahun 2002 Tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat Daerah. kelompok komunikasi sosial. Melakukan hubungan timbal balik antar pemerintah daerah dengan masyarakat umum dan organisasi kemasyarakatan untuk memperjelas kebijakan dan kegiatan pemerintah daerah. bahwa masukan sistim informasi diambil tiga indicator yaitu adanya tugas. Tugas dan sasaran Humas dan Kantor infokom diatur dalam peraturan daerah. Menyiapkan bahan evaluasi dan pelaporan kegiatan di bidang kehumasan. Kantor Informasi dan Komunikasi Daerah mempunyai tugas pokok membantu Bupati dalam melaksanakan sebagian urusan rumah tangga daerah di bidang informasi dan komunikasi yang meliputi pemberdayaan informasi. 2. Informasi yang bersifat umum itu bisa berasal dari pemerintah pusat maupun Provinsi seperti peraturan perundangan. Dengan kata lain profil kualitas pelaksanaan sistem informasi di Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah merupakan keutuhan kualitas masukan. Dana : dana penelitian ini dibebankan kepada anggaran rutin BBPPKI Medan. Kualitas Masukan Sistem Informasi Sudah disinggung di atas. Melaksanakan koordinasi/kerja sama dengan organisasi kewartawanan. memantau penyelenggaraan kegiatan penyebaran informasi melalui media interaktif. Sumberdaya yang tersedia dan kompetensi sumberdaya. Urusan bidang informasi dan komunikasi tersebut meliputi informasi yang bersifat umum yang tidak berkaitan dengan informasi didalam pemerintah Kabupaten Aceh Tengah. kualitas masukan. Hasil Penelitian Dalam penelitian ini. Dalam melaksanakan tugas itu tiga seksi yang dimiliki Badan Infokom yaitu Seksi Pemberdayaan Informasi mempunyai tugas melaksanakan upaya pemberdayaan partisipasi masyarakat. radio. 2. Melaksanakan tugas sebagai juru bicara pemerintah daerah sesuai dengan petunjuk Bupati. 3. Sementara itu Sub Bagian Humas. film dan Seksi Publikasi mempunyai tugas melaksanakan kegiatan penyampaian informasi langsung. Sesuai dengan Peraturan Daerah Kabupaten Aceh Tengah Nomor 8 Tahun 2002 Tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kantor-Kantor Daerah. Melaksanakan usaha untuk peningkatan peliputan kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh pemerintah maupun masyarakat.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Su b Bagian Hubungan Masyarakat mempunyai tugas : 1. Seksi Media Informasi dan Komunikasi mempunyai tugas melaksanakan. proses dan keluaran diperlukan sebagai cerminan realitas model dan implementasi pelaksanaan sistem informasi di Kabupaten Aceh Tengah.

efektif. 2000) mendukung dan menunjang atau malah mempengaruhi kiprah kinerja sumber daya manusia. rencana jangka panjang. Tidak jarang perangkat lunak diyakini lebih penting dari pada sumberdaya bukan manusia meski tidak sepenting sumber daya manusia (Suryadi dan Budimansah. Sementara itu di lingkungan Humas. misi dan tujuan serta sasaran masing-masing pengelola informasi. diskripsi tugas pokok dan fungsi. 4. prasarana (infrastruktur). rencana dan program kegiatan. Namun demikian infratruktur yang dimilikinya sangat memadai dengan tersedianya perlengkapan yang dibutuhkan dalam setiap operasional kegiatannya. perlengkapan kantor (furniture. computer dll) dan dana merupakan sejumlah sumberdaya bukan manusia yang perlu disediakan kare secara na signifikan dapat mempengaruhi kinerja sumberdaya manusia. Bangunan dan ruang. rencana pelayanan dan lain-lain sudah ada dan telah 7 . mencapai maksud dan tujuannya. Kualitas Masukan Harapan Humas dan Infokom Implementasi penyebarluasan informasi selalu dikaitkan dengan harapan terjadinya peningkatan kualitas pelayanan informasi. Perangkat lunak yang terdapat di Humas jauh lebih mapan dibandingkan dengan perangkat lunak yang ada di Kantor Infokom karena eksistensi humas yang sudah berlangsung lama sementara eksistensi Kantor Infokom msih berjalan beberapa tahun setelah pelaksanaan otonomi daerah. 3. Bangunan atau ruangan yang dimiliki sangat terbatas karena terbatasnya ruangan yang ada di sekretariat daerah.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Prasarana (infrastruktur). Harapan itu tergambar dalam rencana dan strategi (renstra) khususnya visi. mesin. Humas yang memiliki staf sebanyak 13 orang hanya menempati satu ruangan. Diskripsi tugas pokok dan fungsi ini menjadi dasar atas rencana dan program kegiatan Humas dan Infokom. Secara kuantitatif bangunan dan ruang yang dipergunakan Kantor Infokom sangat representatif untuk melakukan kegiatan karena gedung yang dipergunakan adalah bekas Kantor Departemen Penerangan. terjadi hal yang sebaliknya. 1 . Seluruh staf yang bergerak di Humas dan Kantor Infokom dapat bertindak. bebruat dan melakukan sesuatu secara lebih maksimal dalam melaksanaka n tugas berkat tersedianya secara memadai sejumlah sumberdaya bukan manusia. misi. pasti. Oleh sebab itu menjadi kewajiban setiap pengelola informasi untuk menerapkan harapan dan dorongan yang jelas. Medan Sumberdaya bukan manusia atau sekarang sering diistilahkan modal fiskal dan modal finansial (Thomas dkk. tinggi dan unggul dibidang kualitas pelayanan informasi dengan dilandasi oleh semangat ingin menjadi lebih baik. mantap dan tinggi serta terfokus untuk meraih kualita pelayanan informasi. perlengkapan kantor dan alat bantu kegiatan yang dimiliki Kantor Infokom kelihatan kurang memadai untuk melaksanakan tugas karena peralatan yang dimiliki sebagian merupakan bekas peralatan lama yang pernah dipergunakan semasa masih ada Departemen Penerangan. harapan yang tertuang dalam bentuk visi. rencana pengembangan. masukan perangkat lunak menunjang dan menentukan beroperasi tidaknya dan berjalan tidaknya secara efektif dan maksimal proses penyampaian informasi di masyarakat. 2004 : 243-245) Implikasinya perangkat lunak harus ada dan tersedia di bagian pengelolaan informasi secara memadai supaya implementasi penyebaran informasi kepada masyarakat dengan baik. Kualitas Masukan Perangkat Lunak Dalam penyelenggaraan pengelolaan informasi seperti halnya masukan sumberdaya manusia dan sumber daya bukan manusia. Demikian juga Humas dan Infokom Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah yang mengimplementasikan sistim pengelolaan informasi harus memiliki harapan yang jelas. Berdasar pengamatan. Sebagai pengelola informasi resmi milik pemerintah.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Humas dan Infokom memiliki peraturan perundangan.

menjadi pusat informasi dan komunikasi bagi kalangan masyarakat menengah ke bawah sekaligus berperan menjadi pusat pembelajaran dan pengetahuan. Medan ditetapkan di Humas dan Infokom. menunjukkan bahwa baik Kepala Humas dan Kantor Infokom memiliki kesadaran akan kedudukan proses penyebaran informasi sebagai inti proses sistem pengelolaan informasi guna mencapai kompetensi koqnitif. sikap dan perilaku mereka sebagai pemimpin dan pelaksana yang mempunyai komitmen. Kualitas Keluaran Sistim Informasi Setiap proses penyebaran informasi selalu meniscayakan keluaran bahkan juga hasil dan dampak sistim pengelolaan informasi walaupun keduanya tidak dapat diketahui atau 8 . bukan terpusat pada beberapa orang atau kepala dinas/kepala bagian tidak boleh mendominasi pekerjaan dan tanggungjawab melainkan harus mengkoordinasi dan mensinergikan berbagai pihak yang disertai pekerjaan dan tanggungjawab yang mengelola informasi. Artinya tinggi rendahnya kualitas keluaran sistim informasi ditentukan oleh proses penyebarannya. kerjsama dan sinergi antara program. tidak harus secara mikro. afektif dan behavior yang ditentukan dalam juknis dan juklak. B. dalam penyelenggaraan proses sistem informasi. Kondisi Proses Penyebaran Informasi Dalam implementasi sistim informasi. Orpol. Pekerjaan dan tanggungjawab pengelolaan program harus dibagi pada semua pihak dalam mengelola informasi. Hampir semua karyawan juga mengetahui adanya visi dan misi tersebut karena seringkali ditempelkan di dinding dalam ruangan kerja. Selain itu dari diri. Hasil pengamatan dan wawancara dengan kepala Kantor Infokom dan Kepala Sub Bagian Humas. 5. Proses sistem informasi ini bersangkutan dengan bekerja tidaknya fungsi-fungsi manajemen di Humas dan Badan Infokom. Secara mikro proses sistem informasi yang mencerminkan terlaksana tidaknya atau berfungsi tidaknya pelaksanaan sistem informasi secara organis. agar dapat dikembangkan menjadi pengetahuan yang bermanfaat guna peningkatan kualitas kehidupan dan pembangunan. 6. Kualitas Proses Sistem Informasi Dalam pelaksanaan sistem informasi di Kabupaten Aceh Tengah proses sistem informasi menempati kedudukan dan arti penting dan strategis. Bersinergi dengan seluruh Dinas/Badan/Kantor. semangat dan etos kerja yang cukup kuat untuk melaksanakan proses penyebaran informasi. 1 . LSM dan masyarakat untuk menjawab tantangan masa kini maupun masa depan.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Hal ini dikarenakan proses penyebaran iformasi secara langsung menentukan kualitas keluaran informasi secara kognitif afektif dan behavior. proses sistem informasi sudah cukup memadai bila dilihat secara makro. Kondisi Proses Pengelolaan Sistem Informasi Proses pengelolaan program penyebran informasi perlu dilakukan secara bersamasama oleh tim kerja yang kompak cerdas dan dinamis. Seiring dengan itu partisipasi semua pihak menjadi penting selain kolaborasi. Berdasar hasil wawancara dengan Kasub Bagian Hubungan Masyarakat Kabupaten Aceh Tengah diketahui bahwa hampir semua pegawai pemerintah mendukung manajemen proses sistem informasi dengan menjadikan humas sebagai satu -satunya sumber informasi. Untuk itu unit kerja yang lain siap memberi bantuan Humas dengan memberikan informasi yang diperlukan. A. bukan mekanis dan artificial. proses penyebaran mendapat perhatian utama sehingga harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya dan semaksimal mungkin. ormas. Dalam proses pengelolaan informasi ini Humas dan Infokom mengelola informasi secara sistematis. Dalam kontek pelaksanaan sistem informasi di Kabupaten Aceh Tengah.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika.

Kewenangan yang lebih besar ini diharapkan membuat daerah mandiri dalam mengurus kepentingan masyarakat berdasarkan aspirasi masyarakat setempat. bahkan bila mungkin diperhatikan pula hasil dan dampak pelayanan informasi. Kemandirian daerah ini diharapkan dapat mencapai apa yang diharapkan dapat mencapai apa yang menjadi tujuan kebijakan otonomi daerah.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. G. efisiensi. Model teoritis yang dimaksud digambarkan sebagai berikut : Kebijakan otonomi daerah memberi kewenangan lebih besar kepada daerah. Kegiatan yang memerlukan sumber dana yang besar sangat terbatas pelaksanaannya. Dalam pelayanan informasi Prestasi pelayanan informasi dilihat secara komprehensif dari pencapaian tujuan kegiatan program. karena karakteristik masing-masing.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Kinerja atau pencapaian tujuan ini erat kaitannya dengan masukan yang ada sebelumnya diantaranya sumber dana yang tersedia untuk menghasilkan keluaran berupa produktifitas kerja. Keluaran yang terjadi di Infokom cukup memadai meski sumberdana yang tersedia terbatas. Di Kabupaten Sistem informasinya dilaksanakan oleh Humas dan Kantor Infokom. media informasi dan publikasi. Karena itu dalam kontek pengelolaan sistim informasi. 9 . efektifitas. dapat ditarik satu model teoritis pelaksanaan sistem informasi. Disamping itu dengan kewenangan lebih besar diharapkan daerah mampu menemukan masalah yang mencatat di daerahnya dan sekaligus mampu mencari solusi terbaik sesuai dengan kondisi dan karakteristik daerah. Humas juga menghasilkan tabloid yang peredarannya cukup besar meski masih di lingkungan pegawai pemerintah. Medan diukur seketika. Tujuan adanya dua lembaga yang menangani informasi ini adalah untuk meningkatkan pelayanan informasi kepada masyarakat. Keluaran humas yang cukup menonjol adalah terlayaninya kebutuhan wartawan untuk memperoleh informasi melalui humas. bahkan buletin yang telah ada sejak Departemen Penerangan masih eksis. Diantaranya melakukan kegiatan-kegiatan yang menggunakan sumber dana kecil atau tanpa sumber dana seperti pengkoordinasian penyampaian informasi secara terjadwal oleh dinasdinas yang ada di Kabupaten Aceh Tengah radio yang dikelola Infokom. 1 . yang salah satunya peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat. melaksanakan usaha untuk peningkatan peliputan kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh pemerintah maupun masyarakat dan melaksanakan koordinasi/kerja sama dengan organisasi kewartawanan. Dibentuknya Humas diantaranya sebagai juru bicara pemerintah. humas bisa lebih produktif menghasilkan keluaran dalam melaksanakan tugas yang diembannya. Prestasi pelayanan informasi dapat berupa produktifitas. Sebagai lembaga yang memiliki sumber dana yang cukup besar. saat ini berhenti terbit. Kebijakan otonomi daerah melahirkan sistem informasi di daerah sesuai dengan apa yang diputuskan bersama antara Pemerintah Kabupaten dan DPRD menjadi Peraturan daerah (Perda). lancar dalam berkoordinasi dengan satuan atau unit kerja di pemerintah Kabupaten. perhatian di fokuskan pada keluaran pelayanan informasi. melakukan hubungan intern dengan satuan dan unit kerja di lingkungan Pemerintah Daerah. Keluaran pelayanan informasi berkaitan dengan kinerja atau prestasi lembaga pengelola informasi secara komprehensif. Sementara tugas Kantor Infokom adalah melaksanakan sebagian urusan rumah tangga daerah di bidang informasi dan komunikasi yang meliputi informasi. melakukan hubungan timbal balik antar pemerintah daerah dengan masyarakat umum dan organisasi kemasyarakatan untuk memperjelas kebijakan dan kegiatan pemerintah daerah. Disamping keterbatasan dana SDM yang mengelola buletin tersebut pindah ke Humas untuk menangani tabloid Humas. Pembahasan Berdasar uraian diatas. inovasi dan moralitas atau etos kerja.

Sarana. Oranda Wiggins. anggaran operasional yang dimiliki bisa untuk membiayai kegiatan yang dilakukan. prasarana. Kesimpulan 1. Riwu Kaho. Information System Theory and Practice. Suryadi dan Budimansah. produktifitasnya cukup besar. 1990. Medan Sistem Informasi di Pemerintah Kabupaten ¥¡¥ £©§¦§¨§ ¦¥ ¥¤£¢¡  D D KINERJA PELAKSANAAN SISTEM INFORMASI : y INPUT y PROSES y OUTPUT H. Sekretariat Daerah.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Yosep. Kegiatan Humas yang banyak berhubungan dengan unit kerja di Pemda yang memiliki tingkat eselon yang lebih tinggi bisa menjadi hambatan bagi humas meski gengsi posisi humas cukup tinggi. prasarana dan sumber dana yang terbatas di Kantor Infokom membuat hasil akhir atau keluaran berupa hasil dan produktifitas kerja cukup terbatas. Kanisius.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Rineka Cipta. Yogyakarta. Basic System Conceps. William A and Dan Voich.2001. 3. 1 . New York. Gelinas. 2. 1987. Tatang M. PT Raja Grafika Persada. Pokok-Pokok Teori Sistem. Reformasi Pendidikan Dalam Konteks Otonomi Daerah. Jakarta. co.Jakarta. Amiran. Peraturan Daerah Kabupaten Aceh Tengah Nomor 8 Tahun 2002 tentang Perubahan atas Peraturan Daerah Kabupaten Aceh Tengah Nomor 26 Tahun 2000 tentang Susunan Organisasi Tata Kerja Kantor Kepala Daerah. Malaysia. sementara di Humas karena sarana. Organisasi and Management. 1974. ( "   ! ! y HUMAS y INFOKOM £¥©§¦£ ¦¥¥¦¥ ¥¡ ©¡¨£ '!&! %#"#$# "!!  TUJUAN : MENINGKATKAN PELAYANAN INFORMASI OTONOMI SISTEM INFORMASI : HUMAS DAN INFOKOM DAFTAR PUSTAKA 10 . or win Book. Peraturan Daerah Kabupaten Aceh Tengah Nomor 52 Tahun 2002 tentang Perubahan Peraturan Daerah Kabupaten Aceh Tengah Nomor 22 Tahun 2000 tentang Susunan Organisasi Tataruang. Jr. Perlunya kerjasama antar Humas dan Kantor Infokom dengan semua pihak utamanya Dinas/Badan/Kantor di Pemerintah Kabupaten untuk memberikan pelayanan informasi pada yang membutuhkan pelayanan. Shrode. Hubungan Pemerintah Pusat dan Daerah di Indonesia .

Efektivitas Komunikasi. Indonesia diramaikan dengan pola komunikasi melalui telepon seluler atau biasa disebut dengan HandPhone (HP). Latar Belakang Masalah Kemajuan dan rambahan teknologi komunikasi berupa telepon seluler (telepon seluler) yang semakin pesat dan maju tidak dapat kita hindari. diversi. Mulai dari fasilitas yang disediakan sampai bentuknya. Bagi orang komunikasi. Perkembangan pesat dalam dunia sistem komunikasi kita tentunya akan mengubah pola komunikasi yang terjadi di masyarakat selama ini. Kata Kunci : Telepon Seluler. juga dari aspek pemanfaatannya telah merambah hingga ke pedesaan. Kecamatan Wampu. Hasil temuan penelitian berdasarkan kebutuhan inf ormasi. atau kelompok pada masyarakat Desa Pertumbukan bagaimana dalam memanfaatkan telepon seluler. Pengembangan SDM Peneliti Kominfo Menuju Masyarakat Informasi Sumatera Utara. Tidak ada khalayak yang secara tegas menolak hadirnya teknologi yang banyak diminati oleh berbagai kalangan tersebut. Pemanfaatan telepon seluler ini berdasarkan aspek-aspek kebutuhan yang diadopsi dari asumsi-asumsi Teori Uses and Gratifications yang sudah lazim digunakan untuk meneliti media komunikasi modern yang berkonvergensi.. menyebutnya dengan komunikasi seluler. Akan tetapi delapan tahun terakhir. Perkembangan jenis telepon seluler semakin hari semakin meningkat.dan Masyarakat Pedesaan. 1 . Hampir setiap orang menjadikan telepon seluler ini sebagai kelengkapan sehari-hari sebagai media komunikasi. Sebelumnya nyaris sistem komunikasi yang berkembang di Indonesia masih memakai peralatan sederhana (media tradisional maupun tatap muka). identitas personal dinyatakan bahwa telepon seluler sarana media untuk berkomunikasi yang dibutuhkan dan telah membantu masyaraka pedesaan.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Penelitian ini bersifat deskriptif yakni hanya memaparkan situasi dan peristiwa apa adanya dengan memberikan gambaran secermat mungkin mengenai suatu individu. Melihat data perkembangan pengguna telepon seluler di Indonesia terus berkembang pesat dari tahun ke tahun. Secara tidak langsung memang teknologi komunikasi membawa berbagai keuntungan bagi mereka penggunanya. sebagai berikut: Telah diseminarkan pada tanggal 10 Juli 2008 di Pematangsiantar dalam acara Seminar Peningkatan.Kabupaten Langkat) Oleh Budiman ** Abstrak Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi mengalami kemajuan yang sangat pesat.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Bogor dalam acara Temu Ilmiah Peneliti X Badan Penelitian Dan Pengembangan SDM Depkominfo RI ** Penulis adalah Peneliti Pertama bidang Komunikasi Sosial pada B BPPKI Medan 2 11 . Satu diantaranya adalah telepon seluler (telepon seluler. keadaan. disamping tren teknologi ini terus berkembang. gejala. Medan TELEPON SELULER DAN EFEKTIVITAS KOMUNIKASI MASYARAKAT PEDESAAN 2 (Studi Di Desa Pertumbukan. dan diseminarkan pada tanggal 30 Oktober ± 1 November 2008 di Cisarua.

penulis merasa tertarik untuk melakukan penelitian. 1 . Teknologi telekomunikasi membuat dunia semakin dekat dan menyatu karena waktu dan jarak semakin pendek. kecanggihan dan fasilitas yang dimiliki oleh teknologi komunikasi menjadi tolok ukur seberapa besar fungsi dan kebutuhan dari teknologi komunikasi itu bagi penggunanya tanpa memikirkan dampak yang akan timbul dari pemakaian teknologi tersebut.com/lihat_opini. Dari pra-riset yang dilakukan peneliti (19-22 Februari 2008) di Desa Pertumbukan. Kabupaten Langkat diperoleh gambaran tentang pola penggunaan telepon seluler oleh masyarakat desa tersebut yakni. Secara nyata jelas terlihat bahwa teknologi komunikasi memberikan keuntungan yang sangat besar bagi penggunanya terutama dalam hal berkomunikasi (komunikasi tidak lagi rumit seperti dulu). Bagaimana tentang pola penggunaan telepon seluler dan sikap masyarakat desa.pintunet. Namun dengan memiliki telepon seluler juga telah menambah biaya pengeluaran bagi setiap keluarga terutama untuk pembelian pulsa. pergerakan informasi berjalan dengan cepat dan menyebar sesuai dengan tujuan tergantung siapa yang membutuhkan. Kepintaran.org/ diakases tgl 12/5/08 Dan hingga sampai tahun 2007 telah terdapat 85 juta pelanggan telepon seluler dan sementara hanya 10 juta pelanggan telepon tetap (fixed) di Indonesia (http://www. Medan Data Perkembangan Pengguna Telepon seluler Di Indonesia Sumber : http://data.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Belum lagi berkembangnya model telepon seluler dari berbagai merek dagang yang semakin canggih dan terus bergulir yang menggoda konsumen melalui iklan dengan mengkaitkan terhadap gaya hidup tertentu. Namun kalau diperhatikan secara seksama pola penggunaan telepon seluler berdasarkan motif jelas berbeda dari aspek sosiodemografis masyarakat. 12 . secara umum memberikan kontribusi yang baik dalam kecepatan mendapatkan informasi. Ada yang menggunakan untuk kelancaran usaha/niaga hasil hasil bumi atau pertanian. Permasalahan Dari fenomena yang terjadi pada masyarakat di atas maka untuk mencari informasi tersebut di rangkum dalam pertanyaan sebagai berikut : Bagaimanakah penggunaan dan sikap masyarakat Desa Pertumbukan terhadap telepon seluler ? Tujuan Untuk mengetahui bagaimana penggunaan telepon seluler dan sikap masyarakat Desa Pertumbukan.diakses tgl 11/4/08). hal ini masyarakat menjadi konsumtif . Kecamatan Wampu. silaturahmi dengan keluarga atau teman.un.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. sebagai hiburan dan lain sebagainya.php?pg= 2007/10/27102007/65568 .

tetapi yang lain mungkin memerlukan modifikasi untuk menyesuaikan dengan lingkungan baru ini (Severin dan Tankard. mereka bertanggung-jawab dalam pemilihan media yang akan mereka gunakan untuk memenuhi kebutuhan dan individu ini tahu kebutuhan mereka dan bagaimana memenuhinya. Goswami dalam tulisannya ³Sustainability Proyek Harus Dipikirkan´. mencontohkan jumlah produksi telepon seluler mencapai 6.uky.htm ).htm ). Bidang komunikasi sekarang ini sedang mengalami perubahan besar. teori Uses and Gratification dianggap tepat sebagai acuan untuk memahaminya.6 juta.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.741 menjadi 12. Di sini. Dari penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi perkembangan studi komunikasi serta mampu memperkaya varian. dimana dalam penelitian ini berusaha untuk menggambarkan motif kebutuhan dalam penggunaan telepon seluler bagi masyarakat pedesaan. konsep dasar komunikasi massa mengalami perubahan. Pada tahun 2006 nilai investasi infrastruktur telepon seluler yang dilakukan operator lebih dari US$ 2. KAJIAN TEORETIS Kajian Pustaka Inovasi besar di bidang teknologi informasi dan komunikasi dalam empat dekade terakhir ini adalah ditemukannya telepon seluler atau handphone (HP).April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Teori ini berpandangan bahwa manusia menggunakan media karena dianggap memiliki manfaat baginya. Medan Manfaat Secara praktis. Telepon seluler telah berkembang secara fenomenal. para operator melakukan ekspansi jaringan. Teori-teori yang sudah ada mungkin masih bisa dipakai. hasil penelitian ini walau dalam cakupan wilayah penelitian yang kecil diharapkan dapat dijadikan masukan bagi pemerintah me lalui Depkominfo untuk mengkaji stategi perkembangan TIK khususnya telepon seluler dalam hal tren penggunaannya.156 sehingga terdapat pertumbuhan sebesar 57% (http://www. Manusia sebagai individu aktif dan memiliki tujuan. Blumler dan Katz (1974) mengutarakan bahwa seorang pengguna media mencari sumber media yang terbaik guna memenuhi kebutuhan mereka. Menurut pencetus teori ini. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran pada studi Ilmu Komunikasi dan untuk mengetahui perkembangan serta penerapan teori uses and gratification.com /divakar_ goswami. Media dianggap hanya menjadi salah satu cara pemenuhan kebutuhan dan individu bisa jadi menggunakan media untuk memenuhi kebutuhan mereka.5 miliar.edu/~drlane/capstone/contexts. alternatif rujukan juga sebagai khasanah referensi dalam penelitian-penelitian tentang khalayak di masa mendatang terhadap pemanfaatan industri teknologi komunikasi dan informasi. Telkomsel menambah BTS-nya dari 7. Karena media teknologi baru yang memberi banyak kemudahan bagi pengguna. dan investasi di bidang infrastruktur telepon seluler sangat agresif dilakukan oleh berbagai operator. terutama telepon seluler. Tentang hal ini Katz dan Blumer mengatakan sebagai berikut : 13 . Perilaku ini biasanya dipengaruhi oleh predisposisi sosial dan psikologinya. Teori ini mengusulkan bahwa khalayak (pengguna) memainkan peran dalam pemilihan dan penggunaan media. Salah satu contoh gambaran lengkapnya sebagai berikut: sejak tahun 2005. Uses and Gratifications mengangkat bahwa pengguna memiliki pilihanpilihan alternatif untuk memuaskan kebutuhan mereka (http://www. Khalayak berperan aktif dalam mengambil bagian dalam proses komunikasi dan diorientasikan pada tujuan penggunaan media. 2005) Terkait dengan pola penggunaan telepon seluler. baik dari model/merk maupun dari jumlah pengguna. Teori komunikasi massa butuh penyesuaian dan beradaptasi dengan perubahan-perubahan itu. Dan secara teoretis.majalahindonesia. 1 .

Perkembangan lebih lanjut penggunaan teori Uses and Gratifications banyak diterapkan pada penelitian penggunaan media baru seperti internet ( computer mediated communication) bahkan pada telepon seluler. 1 . Katz dan Blumer selanjutnya mengemukakan ada beberapa faktor sosial yang menyebabkan timbulnya kebutuhan seseorang yang berhubungan dengan media. Sejak dicetuskan pertama kali pendekatan ini terus mengalami penyempurnaan oleh para ahli komunikasi melalui berbagai jenis penelitian.The mass media or other sources which lead to. Juga dalam penggunaan media. bahwa "telepon seluler baru menggambarkan suatu konvergensi teknologi hibrid ketika ia mengaburkan batasan antara industri telekomunikasi dan penyiaran. Gurevitch.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. 1994). Medan The social and psychological origins of. tersedianya berbagai alternatif komunikasi. Leung dan Wei tertarik tentang mengapa orang menggunakan telepon seluler dan apakah alasan mereka yang berbeda dari mengapa mereka menggunakan telepon kabel dan jaringan. dan secara sadar audien memilih saluran komunikasi dan pesan±pesan paling memenuhi kebutuhanya (Elihu Katz.(Pendekatan Uses and Gratification berhubungan dengan kebutuhan sosial dan psikologis yang membentuk harapan pada media massa atau sumber lain yang mengakibatkan pola terpaan media yang berlainan yang menghasilkan kepuasan dan konsekuensi ± konsekuensi lain yang tidak diinginkan) (Katz.Expectation. melainkan memiliki harapanharapan dan kebutuhan±kebutuhan. Needs which generate.1999). Orang berusaha melepaskan dirinya dari hal itu dengan mengkonsumsi media massa ). Social situation gives to rise certain values. yaitu : Social situation produces tensions and conflict. Siranahan dan Morgan menambahkan bahwa teknologi baru selalu dikembangkan dengan mengadopsi isi pesan dari teknologi dominan sebelumnya. Blumer. Social Situation creates an awareness of problem that demand attention. Dalam sebuah studi yang dilakukan oleh Louis Leung dan Ran Wei (2000) mempelajari Kegunaan dan Kepuasan pada telepon seluler. (Situasi sosial menciptakan kesadaran akan adanya masalah-masalah yang membutuhkan perhatian dan informasi. Gurevitch. namun secara global dapat dikatakan bahwa pendekatan Uses and Gratification memiliki asumsi bahwa audien dipandang aktif. Kemampuan Leung dan Wei untuk menerapkan teori Kegunaan dan Kepuasan pada teknologi baru dijelaskan oleh pengamatan Shanahan dan Morgan (1999) bahwa terdapat "konsistensi lingkungan dari isi pesan yang kita konsumsi dan pada sifat dasar dari lingkungan simbolik di mana kita hidup" meski jika terjadi perubahan distribusi teknologi. Pada pendekatan ini audien tidak lagi dipandang sebagai pasif. information about which may be sought in the media. Difusi Inovasi (Difusion of Innovations). khususnya k etika dikombinasikan dengan teori lainnva. Leung dan Wei mengamati. serupa dengan pemyataan Gilder. Simpulan studi yang dilakukan Leung dan Wei mengindikasikan bahwa teori Kegunaan dan Kepuasan. Selanjutnya. Blumer.Diffferential pattern of media exposure (or engagement in other activities)resulting in. 1974) .Need perhaps mostly unitended ones. memiliki kebutuhan kebutuhan tertentu. dapat menjelaskan penggunaan telepon seluler. Walaupun mereka menggunakan sudut pandang metodologi yang berbeda-beda. dkk. audien memiliki motivasi±motivasi tertentu yaitu mencari pemuasaan atas dasar kebutuhannya terhadap media massa tersebut. leading to resure for their easement via mass media consumption (Situasi sosial menimbulkan ketegangan dan pertentangan.(West dan Turner.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. the affirmation and reinforcement of which is facilitated by the consumption media material ( Situasi sosial memberikan dukungan dan penguatan pada nilai ± nilai tertentu melalui konsumsi media yang selaras ) (Katz. Informasi itu dapat dicari lewat media ). Namun demikian pemikiran tersebut jelas bahwa pendekatan Uses and Gratification merupakan kritik dari sudut pandang teori-teori yang terdahulu. 2008) 14 .

informasi dan lain sebagainya. dimana dan kapan saja (Leung dan Wei. yaitu apa yang diharapkan audien dari media massa dengan apa yang diperolehnya dari media tersebut. yaitu memuaskan hasrat bermain atau melarikan diri dari kenyataan.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. dan ³Interpersonal Utility´ (kegunaan pribadi) (Palmgreen. Personal relationships. ³ Knowledge´ (pengetahuan). dan intrumentalitas yang terdapat pada telepon seluler merupakan intrumen motivasi yang kuat yang diikuti dengan rasa ikatan kekeluargan atau sosial. dan transmisi budaya atau sosialisasi (Cultur Transmission and Socialisation). Tetapi seperti yang di jelaskan Blumer (1994). Motif afektif menekankan aspek perasaan dan kebutuhan mencapai tingkat emosional tertentu (Rahmat. Tiga fungsi ini kemudian ditambah oleh Charles Wright yaitu fungsi hiburan (Entertaiment). Dan setelah mengamati hasil±hasil yang diperoleh dilapangan. Dalam teori Uses and Gratification yang dikembangkan oleh Palmgreen dan Rayburn. 1984). yaitu melepaskan diri dari rutinitas dan masalah. Medan Dari studi Louis Leung dan Ran Wei (2000) yang menggunakan teori ini juga menyatakan bahwa mobilitas. Manfaat kepuasan langsung juga dapat dirasakan oleh penggunanya. media massa memenuhi kebutuhan akan fantasi dan informasi ± menurut Weiss. correlation (hubungan sosial). ³Diversion´ (pelepasan). kegunaan sosial. atau hiburan dan informasi ± menurut Wilbur Schramm. 2000 ). ³Entertaiment´ (hiburan). Personal identity. yaitu referensi 15 . Ahli komunikasi lainnya menyebutkan dua fungsi. Dengan demikian kecenderungan penelitian tentang Uses and Gratification mulai bergeser dan bertambah maju. sarana pelepasan emosi. kesempatan melarikan diri dari kesibukan sehari-hari. ternyata terdapat jenis±jenis kebutuhan yang setiap kali muncul walaupun sampelnya berbeda-beda. 1 . Sejumlah ahli media akhirnya mulai beralih dari sekedar mengumpulkan jenis jenis kebutuhan audien kepada suatu model penelitian baru karena dari hasil±hasil studi mereka menunjukkan jenis± jenis kebutuhan yang sama. kekinian. Di sini media dianggap memberikan hiburan. Menurut Stephenson media massa hanya memenuhi satu jenis kebutuhan saja. surveillance (pengawasan lingkungan). Mengenai fungsi media massa terhadap pemenuhan kebutuhan audien tersebut. yang membedakan antara Gratification Sought (GS) dan Gratification Obtained (GO). yaitu persahabatan. dan hiburan dan transmisi kultural ± seperti yang dirumuskan oleh Harold dan Charles Wright. Para peneliti media massa kemudian mencoba mengumpulkan seluas dan sebanyak mungkin daftar±daftar kebutuhan sosial dan psikologis yang dianggap audien sebagai terpenuhi dengan memanfaatkan media massa. fungsi±fungsi ini belum cukup untuk menggambarkan seluruh fungsi yang ada. Jenis-jenis kebutuhan ini kemudian oleh para ahli dikelompokan menjadi beberapa kelompok. korelasi (Correlation). Motif kognitif menekankan kebutuhan manusia akan informasi dan kebutuhan untuk mencapai tingkat ideasional tertentu. media massa memenuhi kebutuhan akan hiburan dan informasi . Secara umum kebutuhan yang sering disebut dan digunakan oleh para peneliti media adalah. 2000). Perkembangan ini diawali oleh penelitian Palmgreen dan Rayburn pada tahun 1979.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. ³ Surveyllance´ (pengawasan). dan Dimmick. sedangkan kebutuhan afektif ditandai oleh kondisi perasaan atau dinamika yang menggerakan manusia mencapai tingkat perasaan tertentu. Kemudian riset lebih lanjut yang dilakukan oleh Dennis McQuail dan kawan-kawan. 1984) . Sedangkan menurut Wilbur Scramm. Kebutuhan kognitif menekankan pada kebutuhan akan informasi dan pencapaian tingkat ideasional tertentu. mereka menemukan empat tipologi motivasi khalayak yang terangkum dalam skema media ± persons interactions sebagai berikut : Diversion. Yang lain lagi menyebutkan tiga fungsi media massa dalam memenuhi kebutuhan. ³Relaxation´ (relaksasi). Harold D Laswell pernah mengajukan 3 fungsi media yaitu yaitu pengawasan (Surveyllance). 1981. kebutuhan atau motif yang menuntun seorang individu untuk menggunakan suatu media dipandang sebagai Gratification Sought atau kepuasan yang dicari atau diharapkan (Dimmick.

dan perubahan prilaku (dengan istilah lain. Dalam konsep ini hidup dipandang suatu medan yang penuh tantangan . kepercayaan atau informasi. tetapi yang juga dapat diatasi dengan media massa. com). pengetahuan dan keterampilan. sikap.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. perubahan kognitif. eksplorasi realitas. Medan diri. yaitu kebutuhan yang bersifat afektif (yang berkaitan dengan perasaan) dan kebutuhan kognitif (yang berkaitan dengan pengetahuan). (Wiryanto. seperti penerimaan informasi. dan emosional. Komunikasi massa dapat memberikan informasi. dapat dioperasionalkan menjadi jumlah waktu yang digunakan dalam berbagai jenis media. Kita ingin mencari kesenangan. pengetahuan. 1 . kebutuhan kognitif adalah kebutuhan yang berkaitan dengan peneguhan informasi. dan prilaku nyata. Kebutuhan afektif adalah kebutuhan yang berkaitan yang berkaitan dengan peneguhan pengalaman-pengalaman yang estetis. 16 . Kita mengalami goncangan batin. dan pemahaman mengenai lingkungan. 2001). Mengenai kebutuhan kognitif dan afektif Nurudin menjelaskan. karena mengacu pada kegiatan menggunakan media (Kriyantono. media massa dapat memberikan hiburan. 2007) Kemudian dari teori Utilitarian memandang individu sebagai orang yang memperlakukan setiap situasi sebagai peluang untuk memperoleh informasi yang berguna atau keterampilan baru yang diperlukan dalam menghadapi tantangan hidup. ketenangan. Pada teori Uses and Gratifications. Elemen ³pola terpaan media yang berlainan´ pada Teori Uses and Gratifications berkaitan dengan media exposure atau terpaan media. perubahan perasaan atau sikap. isi media yang dikonsumsi. suatu loncatan dramatis dari model Jarum Hipodermik. Selanjutnya terpaan media menurut Rosengreen (1974). Chaffe (dalam Rahmat. dan berbagai hubungan antara individu konsumen media dengan isi media yang dikonsumsi atau dengan media keseluruhan (Rahmat. dan media massa berfungsi sebagai sahabat. Surveillance (bentuk-bentuk pencarian informasi) (dalam Junaedi. juga memuaskan rasa penasaran dan dorongan untuk penyelidikan kita. Ada 3 macam efek komunikasi massa. kebutuhan ini dapat dipuaskan oleh sumber-sumber lain selain media massa. afektif dan behavioral). hobi. 2004) efek media massa akan menyebabkan perubahan yang terjadi pada diri khalayak. frekuensi penggunaan. Kebutuhan ini didasarkan pada hasrat untuk memahami dan menguasai lingkungan. Tentu saja. hiburan. Dari berbagai jenis kebutuhan tersebut. Perubahan yang dimaksud dapat meliputi perubahan pengetahuan. dipahami atau dipersepsi khalayak. dan persahabatan dapat juga diperoleh dari sumber-sumber lain seperti kawan. Efek diartikan sebagai semua jenis perubahan yang terjadi didalam diri seseorang setelah menerima sesuatu pesan komunikasi dari suatu sumber. 2000). manusia yang berperan dalam menentukan efek media. menyenangkan. (Nurudin. Teori ini digambarkan sebagai ³a dramatic break with effects traditions of the past´. Sedangkan menurut Sari (dalam Kriyantono 2006) dapat dioperasionalkan menjadi jenis media yang digunakan. http://komunikasimassa-umy.blogspot. Ada berbagai kebutuhan yang dipuaskan oleh media massa. antara lain: y Efek Kognitif: terjadi bila ada perubahan pada apa yang diketahui. William J Mc Guire (dalam Muchati 1972) kemudian mengelompokan jenis-jenis kebutuhan tersebut menjadi 2 dimensi. 2006). Pada saat yang sama. Efek ini berkaitan dengan transmisi pengetahuan. keterampilan. Menurut Steven M. 2005. 2000). media massa memberikan kesempatan untuk melarikan diri dari kenyataan. Kita kesepian. atau tempat ibadat (Rahmat. penguatan nilai.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. maupun durasi penggunaan .

Lambang sebagai media primer dalam proses komunikasi adalah bahasa. Pemanfaatan telepon seluler berbeda pada setiap kelompok masyarakat. Bahkan.com/kompassenggang. (Nurudin. Surat. teleks. Menurut data majalah Komputer Aktif (no. Ini adalah dampak dari segi sosial budaya masyarakat atas penggunaan Hand Phone/ telepon seluler. 9 persen antara 201-300 ribu dan 8 persen lebih dari 300 ribu perbulan. telepon seluler lebih banyak digunakan untuk hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan. 2004).2000).April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. y Konseptual Dalam proses komunikasi dibagi menjadi dua bagian yakni secara primer dan sekunder. disenangi atau dibenci khalayak. Data yang merupakan fenomena ini jelas menjadi salah satu potret dampak komunikasi melalui telepon seluler. dan banyak lagi adalah media kedua yang sering digunakan dalam komunikasi. Efek ini ada hubungannya dengan emosi. Medan Efek Afektif : timbul bila ada perubahan pada apa yang dirasakan. Berbagai keuntungan relatif yang dirasakan dari telepon seluler yang mengungguli telepon tetap karena mobilitas dan efisiensinya yang lebih besar. Bagi pelaku bisnis. 35 persen 2-10 kali dan 14 persen lebih dari 20 kali sehari. Bandung. ( Fritz E Simandjuntak dalam cetak/0405/05/telkom/1002910htm ). Bogor. y Efek Behavioral : merujuk pada perilaku nyata yang dapat diamati. Kalaupun digunakan untuk hal-hal yang sifatnya menghibur.kompas. 50/26 Maret 2003) berdasarkan survei Siemens Mobile Lifestyle III menyebutkan bahwa 60 persen remaja usia 15-19 tahun dan pasca-remaja lebih senang mengirim dan membaca SMS (Short Messege Service) daripada membaca buku. telepon (telepon seluler). Bahkan menurut data dari penelitian ³Survei Siemens Mobile Phone´ 58 persen orang Indonesia lebih memilih mengirim SMS daripada membaca buku. dan Semarang menunjukkan bahwa 51 persen mereka mengirim SMS 11-20 kali. Ini artinya bahwa di samping menurunkan minat baca. biasanya dilakukan pada waktu http://www. Kemudian sekunder adalah proses penyampaian pesan oleh seorang kepada orang lain dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media kedua setelah menggunakan lambang sebagai media pertama. di negara-negara berkembang telepon seluler telah mengurangi kesenjangan berkomunikasi di masyarakat. isyarat. 17 . majalah atau koran. tv. karena harga telepon seluler terjangkau.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. sikap atau nilai. warna dan lain sebagainya yang secara langsung mampu ³menerjemahkan´ pikiran dan atau perasaan komunikator kepada komunikan. sebesar 73 persen mereka mengeluarkan biaya untuk membeli voucher perbulannya sekitar 100-200 ribu. Penelitian yang dilakukan International Telecommunication Union (2001) menemukan bahwa jumlah penggunaan telepon seluler di 100 negara-negara miskin melampaui telepon tetap dan komputer. radio film. Dalam hal ini komunikasi melalui telepon seluler seperti pengiriman SMS ternyata berdampak buruk untuk menurunkan minat baca masyarakat. AM Townsend (2000) menyatakan. Proses komunikasi secara primer adalah proses penyampaian pikiran dan atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan lambang (simbol) sebagai media. Seorang komunikator menggunakan media kedua (sekunder) dalam melancarkan komunikasinya karena komunikan sebagai sasarannya berada di tempat yang relatif jauh atau jumlahnya banyak. (Onong. meliputi pola-pola tindakan. 2005). telepon seluler juga mengarahkan masyarakat untuk hidup konsumtif. kegiatan dan kebiasaan berperilaku (Rakhmat. kial. gambar. Ini bisa dikatakan pula bahwa budaya baca yang sudah terancam dengan budaya dengar dan lihat diancam lagi oleh budaya mengirim SMS. 1 . SMS dalam hal ini lebih berfungsi sebagai hiburan saja. Bahkan menurut data Kompas (4 April 2003) yang melakukan street polling yang dilakukan pada 100 remaja SMU di Jakarta.

namun dapat dibawa ke mana-mana (portabel. integratif. Sementara Hafied Cangara (1998) mengatakan bahwa komunikasi adalah sebuah proses dimana dua orang atau lebih membentuk atau melakukan pertukaran informasi dengan satu sama lainnya . manusia menyatakan dan mengembangkan perikehidupan yang bermasyarakat. Berdasarkan fungsi-fungsi ini dapat disimpulkan bahwa media massa sebagai media pembangunan atau proses perubahan ke arah kondisi kehidupan yang lebih baik. Wilbur Schramm melalui hasil penelitiannya di negara-negara berkembang membuat laporannya pada tahun 1964 yang berjudul Mass media and National Development : The role of information in developing countries. Selain berfungsi untuk melakukan dan menerima panggilan telepon. game. Mengikuti perkembangan teknologi digital. dan kebutuhan manusia adalah berkomunikasi. Sejalan dengan berkembangnya masyarakat beserta peradaban dan kebudayaannya. SMS). Selain fitur-fitur tersebut. ketika berada dalam suatu lingkungan dan bercengkerama dengan lingkungan serta dengan proses tersebut. orang bisa mengubah fungsi ponsel tersebut menjadi mini komputer. Seperti dalam menyatakan diri. 3G). dan information. kini ponsel juga dilengkapi dengan berbagai pilihan fitur. menerima dan men girim pesan . mobile) dan tidak perlu disambungkan dengan jaringan telepon menggunakan kabel (nirkabel. memahami apa yang dilihat dan didengar. Saat ini Indonesia mempunyai dua jenis jaringan telepon nirkabel yaitu sistem GSM (Global System For Mobile Telecommunications) dan sistem CDMA (Code Division Multiple Access). dapat mengajarkan melek huruf serta keterampilan lainnya yang memang dibutuhkan untuk pembangunan masyarakat dan menjadi penyalur suara masyarakat agar mereka turut ambil bagian dalam pengambilan keputusan di negaranya (Schramm. seperti yang diungkapkan oleh McLuhan (1964) yakni kehadirannya umumnya adalah sebagai the extention of man . sengaja atau tidak. Ada pula penyedia jasa telepon genggam (provider) di beberapa negara yang menyediakan layanan generasi ketiga (3G) dengan menambahkan jasa videophone. eksistensi manusia. yang pada gilirannya akan tiba pada saling pengertian yang mendalam. Mencermati beberapa fungsi media massa yang ditulis Alamsjah Ratu Perwiranegara dalam Rafiq (1989) meliputi fungsi informatif. industrial.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. sebagai alat pembayaran.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. kamera digital. yang isinya menyatakan media massa dapat berpengaruh dalam beberapa hal. berbicara. yang paling pokok adalah dapat membantu menyebarluaskan informasi tentang pembangunan. persuasif. komunikasi bermedia mengalami kemajuan pula dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK). instruktif. maupun untuk televisi online di telepon genggam mereka. 1964). pembawaan. 1 . perangkat lunak pemutar audio (mp3) dan video. ponsel umumnya juga mempunyai fungsi pengiriman dan penerimaan pesan singkat (short message service. telepon genggam menjadi gadget yang multifungsi. kodrat. fitur ini sangat membantu bagi para pebisnis untuk melakukan semua 18 . dan layanan internet (WAP. dan kapan saja. Medan Menurut Shannon dan Weaver (1949) komunikasi adalah bentuk interaksi manusia yang saling mempengaruhi satu sama lainnya. seperti bisa menangkap siaran radio dan televisi. Pentingnya peranan media (media sekunder) dalam proses komunikasi disebabkan oleh efisiensinya mencapai komunikan dimana. Kehadiran media tidak selalu menarik perhatian masyarakat. wireless). Menurut Alvin Toffler dalam bukunya The Third Wave (1990) membagi tiga tahap perkembangan peradapan manusia yakni Agricultural. Artinya . Jadi di ponsel tersebut. Di dunia bisnis. Telepon genggam seringnya disebut handphone (disingkat HP) atau disebut pula sebagai telepon selular (disingkat ponsel) adalah perangkat telekomunikasi elektronik yang mempunyai kemampuan dasar yang sama dengan telepon fixed line konvensional. ponsel sekarang sudah ditanamkan fitur komputer. dan rekreatif. edukatif. Sekarang. Pendapat ini dapat disimpulkan bahwa komunikasi memiliki andil dan sumbangan yang sangat besar dalam pembangunan. GPRS.

perkembangan ponsel akan lebih mengefisienkan waktu dan sistem kerja dibandingkan dengan komunikasi/ informasi secara manual. sehingga dapat memfasilitasi masyarakat dalam berkomunikasi dan membantu memperoleh informasi dengan cepat dan tak terbatas. Medan pekerjaan di satu tempat dan membuat pekerjaan tersebut diselesaikan dalam waktu yang singkat (http://id. Kabupaten Langkat. dalam memfasilitasi masyarakat dalam berkomunikasi dan membantu memperoleh informasi dengan cepat dan tak terbatas . karena populasi dianggap homogen. Selanjutnya pengambilan sampel dilakukan secara probability. METODOLOGI Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di Desa Pertumbukan. ponsel menjadi salah satu fenomena komunikasi bermedia yang terus berkembang serta semakin dibutuhkan oleh masyarakat. Kabupaten Langkat. afektif. yang membutuhkan waktu yang lama dan tempat yang terbatas. wireless). maupun mengisi waktu luang dengan berbagai cara. mobile) dan tidak perlu disambungkan dengan jaringan telepon menggunakan kabel (nirkabel. tanpa mencari dan menjelaskan hubungan. integratif sosial dan kebutuhan akan pelarian. Kecamatan Wampu. komunikasi interpersonal. Dengan kata lain dalam penelitian ini hanya memberikan gambaran secermat mungkin mengenai suatu individu. Dan pengambilan sampel mengacu pendapat Winarno Surakhmad (1998) yakni sebesar 20% . teman.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Melalui sumber lain. namun dapat dibawa ke mana-mana (portabel. Dengan demikian. Definisi Operasional Telepon seluler dalam penelitian ini adalah perangkat telekomunikasi elektronik yang mempunyai kemampuan dasar yang sama dengan telepon fixed line konvensional. maka diperoleh sampel sebesar 263 x 20% = 54 orang.org/wiki/Telepon _genggam). Kebutuhan ini dapat terpenuhi dan dipuaskan melalui media massa dan sumber lain. dalam hal ini merupakan sebagai populasi. Sedangkan yang dimaksud dengan masyarakat desa adalah masyarakat yang merupakan penduduk Desa Pertumbukan . tidak menguji hipotesa atau membuat prediksi. yakni kebutuhan ini terpenuhi dengan hubungan keluarga. 1 . Populasi Dan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat yang bertempat tinggal di Desa Pertumbukan. Metode Penelitian Penelitian ini bersifat deskriptif yakni hanya memaparkan situasi dan peristiwa apa adanya. Pengembangan teknologi telekomunikasi terutama jenis telepon seluler ini membuka lebar penyampaian informasi dan komunikasi secara lebih mudah dan efisien. keadaan.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. 19 . Data pra-riset (19-22 Februari 2008) di Desa Pertumbukan terdata 263 orang yang telah memiliki telepon seluler. gejala. Katz dan Gurevitch membuat tipologi kebutuhan manusia yang berhubungan dengan penggunaan media yakni : kebutuhan kognitif. Dengan memiliki keunggulan dalam efesiensinya ini. Efektifitas komunikasi dalam penelitian ini dimaksudkan penyampaian/penerimaan informasi dan komunikasi secara lebih mudah dan efisien.wikipedia. yang memiliki dan menggunakan telepon seluler sebagai salah satu sarana media komunikasi. integratif pesan. Masyarakat memiliki kebutuhan dan motif beraneka ragam berdasarkan karakteristiknya sosialnya Blumler. dengan acak sederhana. atau kelompok tertentu. Kecamatan Wampu.

go. Tabel 03. 1 . dan Langkat.5%.id/unit/hukum/pp/1999/043 -99.5% dan perempuan sebanyak 31. Kecamatan Wampu merupakan pemekaran dari sebagian wilayah Kecamatan Stabat. dan Sumber Mulyo ( http://www. Karakteristik Responden Responden yang berjumlah 54 orang dalam penelitian ini dilihat dari aspek sosiodemografis-nya mencakup : Usia. Kebun Balok. Jenis Kelamin Dari tabel 01.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Dan tabel 02. Pada awal pembentukan kecamatan ini meliputi : Desa Bingai. dalam wilayah Propinsi Sumatera Utara. hasil-hasil penelitian terdahulu. Usia Tabel 02. makalah. Gergas. Besilam. Penghasilan 20 . Metode Analisis Data Data yang terkumpul seluruhnya akan ditabulasikan ke dalam tabel tunggal dan juga membuat beberapa tabulasi silang berdasarkan tujuan penelitian. Gohor Lama.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Stabat Lama/ Baru.bpkp. Penghasilan. Tingkat Pendidikan Tabel 04.7% dan selanjutnya diikuti oleh kelompok umur 22-26 tahun dan 32-36 tahun masing-masing 13%. jenis kelamin Responden dalam penelitian ini diperoleh laki-laki sebanyak 68. dan Pekerjaan. Tabel 01. usia dapat dilihat bahwa responden yang terbanyak terwakili dari kelompok umur 17-21 tahun sebanyak 31. Bukit Melintang. kemudian kelompok umur 22-26 tahun dan 37-41 tahun masing-masing 16. Jenis Kelamin. diperoleh melalui buku-buku. Stabat Lama. Labuhan Batu. Toba Samosir. Berikut datanya yang ditampilkan dalam bentuk tabel. Tapanuli Utara. dan pencarian informasi melalui internet. Analisis data dilakukan dalam beberapa tahap : Membuat tabel distribusi frekuensi (f) dan prosentasi (%) serta interpretasi untuk keseluruhan data penelitian selanjutnya mengadakan diskusi dan pembahasan hasil temuan data penelitian Hasil Penelitian Gambaran Umum Lokasi Penelitian Kecamatan Wampu merupakan daerah pemekaran yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 1999 Tentang Pembentukan 13 (tiga belas) Kecamatan di wilayah kabupaten daerah tingkat II Tapanuli Selatan. Disamping itu juga dilakukan wawancara terstruktur kepada beberapa sampel untuk memperkuat data yang terkumpul melalui kuisioner.5%. suratkabar. Medan Metode Pengumpulan Data Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini yakni : Data Primer.pdf ) Kemudian sekitar tahun 2006 dibentuk Desa Pertumbukan yang wilayahnya sebagian mengambil daerah Desa Bukit Melintang dan Desa Stabat Lama. Data Sekunder. Tingkat Pendidikan. diperoleh melalui kuisioner yang diberikan kepada sampel terpilih.

9% menyatakan sangat setuju serta diikuti sikap ragu-ragu dan kurang setuju masing-masing sebesar 7. serta dinyatakan kurang setuju oleh sekitar 3. 21 . mengenai Pendapatan responden yang terbanyak yakni diantara Rp.7%.1%. sebesar 14. Tabel 05. Tingkat pendidikan responden yang terjaring menjadi responden terbanyak dalam penelitian ini adalah tamatan SMA yakni sebesar 40. sebesar 24. Kebutuhan Informasi Kebutuhan akan informasi dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui sikap responden dalam pencaharian informasi melalui penggunaan telepon seluler yang tersaji dalam tabel.500.000.000. serta diikuti tingkat penghasilan Rp.000.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. 1. kemudian pada kategori lain-lain (petani.8%. yakni sebesar 48. ± Rp. Sikap Responden dalam mencari informasi melalui telepon seluler dinyatakan sangat setuju oleh sebesar 50% .. ± Rp. Pekerjaan Tabel 05. pelajar) sebesar 14.8%. Kemudian tabel 04.000.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.000.1%.4% responden menyatakan setuju untuk membutuhkan informasi sosial melalui telepon seluler.500. 1. Pekerjaan responden terbesar adalah sebagai wiraswasta/ berdagang yakni sebesar 57. 2. kemudian diikuti tamatan SD dan SMP pada urutan kedua masing-masing 24. 1. 500. kemudian sebanyak 38.4%.7%.000. 1 . Dan tabel 07.000.4%.000. 1. dan dapat dilihat sebagai berikut : Tabel. serta tingkat sarjana (S1) sebesar 7.000.4%. ± Rp.4% . kemudian antara Rp. 06 Mencari Informasi Tabel 07. kemudian yang menyatakan setuju sebesar 44. Informasi Sosial Dari tabel 06. Medan Dari tabel 03.1%. serta pegawai swasta sebesar 13%. Sebanyak 44.

Telepon seluler Sarana bermain Tabel 12.4% menjawab sangat setuju dan setuju. Kebutuhan Diversi Pernyataan-pernyataan kebutuhan diversi dalam penelitian ini yang tersaji dalam bentuk tabel berikut : Tabel.7%.2%. Kemudian diikuti pernyataan setuju sebesar 35. serta hanya 5.1%.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Kemudian sebesar 38.2% serta pernyataan tidak setuju sebesar 7. Penambahan Pengetahuan Dan dari tabel 10. baik dari sekitar atau luar lingkungan. masingmasing sebanyak 44. Kemudian sebanyak 5. Mengenai penilaian responden tentang kesesuaian harapan dan kebutuhan.4%. Medan Tabel 08.9 % menjawab setuju dan diikuti sebesar 7.4% menjawab ragu-ragu. Penggunaan telepon seluler untuk melarikan diri dari persoalan kehidupan (meringankan bebab hidup) ternyata responden menjawab tidak setuju yakni sebesar 35. Dari tabel 09. Tabel 10. Selanjutnya sebanyak 40. Dengan adanya telepon seluler responden lebih terdorong untuk mempelajari sesuatu tentang lingkungan sekitar dan luar. Pertanyaan ini terbanyak dijawab responden sangat setuju yakni sebesar 48.Harapan dan Kebutuhan Tabel 09. Kemudian menjawab kurang setuju sebesar 25. 1 . Mengetahui Kondisi Daerah lain Tabel 08.12 Meringankan Beban Hidup Tabel 13.9% dan diikuti menjawab setuju 16.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Tabel 11 Telepon seluler sebagai dorongan sarana untuk menambah pengetahuan sesuai dengan kepetingan. untuk ini responden terbanyak menyatakan sangat setuju yakni sebesar 46. Sebanyak 48.7% menyatakan setuju.6% menjawab ragu-ragu serta menjawab kurang setuju sebesar 3. Termotivasi Pelajari daerah lain Tabel 11. 22 .3%.6% menyatakan tidak setuju.1% responden sangat setuju dengan penggunaan telepon seluler akan lebih mengetahui keadaan kehidupan diluar daerah.7%.

7%.7%.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Kemudian dari tabel 15. Medan Dan dari tabel 13. Namun sebesar 18. Atasi Sulitnya Perekonomian Tabel 19. Kemudian yang menjawab setuju dan tidak setuju masing-masing sebanyak 24. untuk itu responden sebanyak 37% menyatakan setuju. Tabel 18. Tabel 14. telepon seluler salah bentuk komunikasi bermedia ternyata sangat membantu. 16 Mengisi waktu luang Tabel.7%.4%. Kemudian jawaban sangat setuju sebesar 27. Selanjutnya diikuti sebesar 16. responden menyatakan sangat setuju yakni sebesar 50% dan yang menyatakan setuju sebesar 40.2% serta diikuti sikap ragu-ragu sebesar 7. 1 .2%. Untuk mencari persahabatan baik dilingkungan sekitar ataupun di luar.1%. 17 Mencari Persahabatan Tabel 16. Kemudian tabel 17. untuk itu sebesar 66. telepon seluler sebagai sarana bermain.9%. kemudian yang menyatakan sangat setuju sebesar 22. Untuk mengisi waktu luang ataupun di saat santai telepon seluler digunakan responden bersama keluarga semisal menghubungi atau kirim sms kepada keluarga yang jauh dan teman. Atasi masalah kehidupan sosial 23 . Telepon seluler menimbulkan kesenangan untuk pertanyaan ini responden terbanyak menjawab setuju yakni sebesar 40.8% serta diikuti jawaban kurang setuju sebesar 16. Menimbulkan kesenangan Tabel. ternyata responden menjawab kurang setuju yakni sebesar 25. Tabel.7% untuk jawaban sangat setuju. Untuk meningkatkan hubungan silaturahmi dengan keluarga dan teman.15 Meningkatkan Hubungan Silaturahmi Dari tabel 14. Namun terdapat juga responden yang menyatakan ragu-ragu dan tidak setuju yakni masing-masing sebesar 3.7% responden menyatakan sangat setuju. dan yang setuju dinyatakan oleh responden sebesar 22.7%.5% responden menyatakan raguragu.

24 .5% menyatakan setuju dan diikuti sebesar 22. Hal ini diakui oleh responden sebesar 57.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika.5%. masyarakat. Tabel 20.2%. 1 . serta yang ragu-ragu dan kurang setuju masing-masing sebesar 7. Untuk ini responden yang menyatakan setuju sebesar 40.8%. Mencari ide/ pemikiran untuk berkreasi/berwirausaha. pernyataan ini disikapi oleh responden dengan menjawab sangat setuju yakni sebesar 48. Membantu berkreasi Tabel 23. Selanjutnya terdapat responden yang menyatakan ragu-ragu yakni sebesar 13%. Namun juga terdapat pernyataan responden yang ragu-ragu yakni sebesar 18.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Medan Dari tabel 18.4%. kesejahteraan) hal ini dijawab setuju oleh responden yakni sebesar 48. Selanjutnya yang menyatakan ragu-ragu sebesar 20. Dan tabel 19.2% menyatakan sangat setuju. telepon seluler juga dapat membantu. Tabel 21.7% dan diikuti sebesar 31. Kemudian sikap ragu-ragu diakui responden yakni sebesar 7.5% yang menyatakan sangat setuju. Melepaskan ketegangan (stress) Tabel 21. Dalam melepaskan persoalan sehari-hari yang dapat menimbulkan ketegangan (stress) melalui telepon seluler responden dapat menghubungi seseorang yang dianggap dapat memberikan jalan keluar jikalau untuk menjumpai seseorang secara langsung tidak memungkinkan. Walau secara tidak langsung telepon seluler telah membantu responden untuk memecahkan permasalahan ekonomi keluarga dan untuk ini sebesar 31. Kerjasama dengan pihak lain Tabel 22. karir/pekerjaan. Penggunakan telepon seluler sudah menjadi kebiasaan sehari-hari dan telepon seluler selalu mendampingi aktivitas responden (gaya hidup) . Penggunakan telepon seluler bagian gaya hidup Tabel 20. namun komunikasi bermedia melalui telepon seluler juga dapat membantu memecahkan masalah kehidupan sosial (lingkungan keluarga.5%.4%.1% dan diikuti sikap setuju yakni 38.1% dan yang sangat setuju sebesar 18.9%. Walau komunikasi tatap langsung lebih memberi makna dan pengaruh yang lebih besar. Kebutuhan Identitas Personal Dalam memenuhi kebutuhan indentitas personal dalam penggunaan telepon seluler dalam hasil temuan penelitian ini yang disajikan dalam bentuk tabel dapat dilihat sebagai berikut : Tabel 22.4% menyatakan setuju dan diikuti sangat setuju oleh sebesar 27.

Keberadaan telepon seluler sudah membantu menjalin kerja sama usaha dengan pihak lain. untuk peryataan ini sebesar 53.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Namun sebesar 18.Relasional dengan pihak lain Tabel 25. diakui responden dengan menyatakan setuju yakni sebesar 48. Alasan pernyataan ini karena adanya telepon seluler akan membuka isolasi informasi sehingga dapat membuka cakrawala ide atau untuk berkreasi dari potensi yang ada. Tabel 26. tentu saja dengan adanya teknologi ini sangat memungkinkan seseorang dapat mengubungi orang lain di tempat yang jauh dan ini sangat efektif jika kalau harus menjumpainya secara langsung. telepon seluler bagi masyarakat desa telah sangat membantu.1% menyatakan sangat setuju.2%. 1 .Tingkatkan ekonomi masyarakat Tabel 26. Medan Tabel 23.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Untuk mendapatkan informasi tentang dunia usaha/kegiatan dengan pihak lain.1% dan untuk sangat setuju sebesar 35.5% menyatakan kurang setuju.3% responden menyatakan sangat setuju dan yang setuju sebesar 35.6% menyatakan setuju.Informasi aktifitas Tabel 24. Penilaian responden terhadap keberadaan telepon seluler telah membantu meningkatkan perekonomian masyarakat adalah sebagai berikut. Tabel 24. Dan tabel 25.1% responden yang merasa ragu-ragu.3% responden yang merasa ragu-ragu. Tabel 28. Meningkatkan kerjasama usaha Tabel 27. sebesar 35. Untuk itu responden yang menyatakan setuju sebesar 46.2% menyatakan setuju dan sebesar 24.2% serta responden yang merasa ragu-ragu sebesar 13%. Terjalinnya hubungan dengan orang lain akan membantu untuk melancarkan/meningkatkan kerjasama usaha/kegiatan dengan pihak lain (relasional).7% responden menyatakan sangat setuju dan 29.Informasi dunia usaha 25 .2% . Tabel 27. Namun terdapat sebesar 11.3% dan sangat setuju sebesar 35. untuk ini sebesar 46. Dalam membantu masyarakat melancarkan/meningkatkan kerja sama usaha dengan pihak lain. serta diikuti sebesar 9.

JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. 1 - April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika, Medan

Tabel 28, Hampir sama dengan tabel sebelumnya, hal ini lebih pada tingkat awal adanya penggunaan telepon seluler bagi masyarakat Desa Pertumbukan. Dalam pengembangan jaringan tentu akan membawa dampak-dampak positif yang diharapkan si pengguna. Untuk ha ini responden yang menyatakan setuju sebesar 48,1% dan sangat setuju sebesar 33,3 %, serta terdapat juga responden yang merasa ragu-ragu untuk pernyataan ini yakni sebesar 14,8%. Penggunaan Telepon seluler Penggunaan telepon seluler bagi responden dalam penelitian ini akan meliputi diantaranya pengalaman responden dalam pengalaman dan penggunaan telepon seluler, biaya pembelian pulsa dan sebagainya. Untuk lebih lanjut dapat disimak dibawah ini yang tersaji dalam bentuk tabel.
Tabel 29. Penggunaan telepon seluler Tabel 30. Sistem Ponsel yang Digunakan

Tabel 29, Melihat pengalaman responden tentang menggunakan atau memiliki telepon seluler dapat dilihat pada tabel diatas yakni sebesar 33,3% telah memiliki atau menggunakan telepon seluler kurang dari 1 tahun, kemudian terdapat sebesar 18,5% sudah 4 tahun serta untuk sudah 2 atau 3 masing-masing sebesar 16,7%. Tabel 30, Penggunaan jenis telepon seluler bagi responden hampir mayoritas menggunakan jenis GSM yakni sebesar 96,3% dan hanya 3,7% yang menggunakan jenis CDMA. Hampir mayoritas penggunaan jenis GSM disebabkan ketersediaan sarana dan prasarana di lokasi penelitian lebih memadai, kuatnya penerimaan sinyal ataupun varian telepon seluler untuk jenis ini lebih banyak dan lebih murah, terutama harga bekas.
Tabel 31. Alasan menggunakan Ponsel Tabel 32. Percakapan melalui Ponsel perhari

Tabel 31,Untuk mengetahui faktor-faktor yang mendorong responden untuk menggunakan telepon seluler adalah alasan mencari informasi merupakan faktor yang terbesar dipilih responden yakni sebesar 72,2%, kemudian untuk menambah pengetahuan diakui responden 26

JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. 1 - April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika, Medan

sebesar 13% seta diikuti alasan untuk mengawasi lingkungan/ pengawasan sosial yakni sebesar 5,6%. Tabel 32, Total lamanya melakukan percakapan melalui telepon seluler dalam sehari responden yang terbanyak melakukannya adalah antara 15-30 menit yakni sebesar 38,9%, kemudian dibawah 15 menit yakni sebesar 37% serta diikuti lebih dari 60 menit yakni sebesar 13%.
Tabel 33.Penggunaan SMS Dalam sehari Tabel 34. Kualitas suara

Tabel 33, Salah satu fasilitas fitur yang dimiliki telepon seluler dalam berkomunikasi secara tulisan adalah sms, fitur ini digunakan untuk mengirim pesan-pesan singkat. Responden menggunakan fitur ini sebanyak kurang dari 5 kali yakni sebesar 40,7%, kemudian 5-10 kali sebanyak 38,9%, serta diikuti yang menggunakan sebanyak 10-15 kali dalam sehari yakni sebesar 11,1%. Tabel, 34, Penilaian responden tentang kualitas suara yang didengar percakapan melalui telepon seluler dinilai jelas yakni sebesar 59,3%, kemudian dirasakan sangat jelas yakni sebesar 33,3%, serta diikuti sebesar 5,6% untuk peryataan ragu-ragu.
Tabel 35. Biaya percakapan melalui Ponsel Tabel 36. Biaya SMS

Tabel 35, Mengenai biaya percakapan melalui telepon seluler diakui responden sebesar 37% adalah mahal, namun peryataan yang bertolak belakang diakui responden yang menyatakan biaya percakapan melalui telepon seluler dianggap murah yakni sebesar 35,2% hal ini diakui responden bila menimbang jarak dan waktu yang harus dihabiskan bila akan menemui seseorang di suatu tempat yang jauh. Dan yang terakhir diakui sangat mahal oleh responden yakni sebesar 18,5%. Tabel 36, Penilaian mengenai biaya penggunaan sms, diakui responden sangat murah yakni sebesar 66,7%, kemudian terdapat sebesar 14,8% yang menyatakan mahal, kemudian sebesar 11,1% merasa ragu-ragu untuk memberikan pernyataan.
Tabel 37. Biaya pembelian pulsa perbulan Tabel 38. Kesesuaian Biaya dengan Percakapan

27

JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. 1 - April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika, Medan

Tabel 37, Biaya pembelian pulsa yang dikeluarkan oleh responden rata-rata selama sebulan yang terbanyak adalah sekitar Rp. 50.000,- s/d Rp. 100.000,- (35,2%), kemudian kurang dari Rp. 50.000,- (25,9%), serta diikuti pembelian lebih dari Rp. 200.000,- (14,8%). Tabel 38, Pendapat responden mengenai perbandingan biaya percakapan dengan waktu percakapan dinyatakan sebagian besar oleh responden tidak sebanding yakni sebesar 51,9% dan yang menyatakan sebanding sebesar 48,1%.
Tabel 39. Faktor penyebab ketidakseimbangan Tabel 40. Perkembangan Pengguna Ponsel di desa

Tabel 39, Faktor penyebab ketidakseimbangan diasumsikan responden karena biaya percakapan terlalu tinggi (biaya talk time dianggap mahal) yakni dirasakan oleh responden sebesar 44,4%, kemudian tingkat ekonomi masyarakat masih rendah diasumsikan 22,2% oleh responden. Kemudian faktor penyebab lainnya sebesar 18,5%, diantaranya adalah responden merasa khawatir kehabisan pulsa. Tabel 40, Melihat perkembangan pengguna telepon seluler diakui responden untuk di daerahnya tergolong maju (51,9%), kemudian dianggap sangat maju (44,4%), namun terdapat penilaian responden yang ragu-ragu dan kurang maju terhadap perkembangan pengguna telepon seluler di desanya yakni masing-masing sebesar 1,9%. Sikap Terhadap Kehadiran Telepon seluler Sikap ataupun pendapat responden dalam penelitian ini adalah meliputi beberapa kriteria tentang seputar kehadiran teknologi komunikasi dan informasi khususnya telepon seluler yang akan disajikan dalam bentuk tabel dapat diperhatikan dibawah ini. Tabel 41. Membantu kesejahteraan masyarakat desa

Tabel 41, Kehadiran telepon seluler walau secara tidak langsung telah memberikan bantuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, hal ini diakui responden yakni sebesar 57,4% dan yang menolak pernyataan tersebut sebesar 42,6%.

28

Kemudian memudahkan untuk mencari 29 .9% dirasakan responden. Pendapat masyarakat Desa adanya Telepon seluler Untuk tabel 44.1 % menyatakan Sangat membantu hubungan komunikasi dgn keluarga. Tabel 43.3%. Tabel 44. Mengenai dampak yang dirasakan responden dengan hadirnya telepon seluler menyebabkan pengeluaran semakin bertambah yakni diakui sebesar 33. teman dan pekerjaan tanpa terkendala jarak. Medan Tabel 42.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.3% dan diikuti Peningkatan Potensi SDA (pertanian. peternakan) yakni sebesar 7. Kemudian dampak lainnya yakni mayarakat menjadi konsumtif yakni sebesar 1. pendidikan dan SDM Masyarakat yakni sebesar 35.4%. dirasakan respo nden yakni sebesar 61. Dampak Negatif Telepon seluler Dari Tabel 43.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Pengalaman Peningkatan Yang Dialami Tabel 42 Peningkatan kesejahteraan yang dirasakan menurut responden adalah Peningkatan kualitas pengetahuan. Dari pertanyaan terbuka yang dijaring oleh peneliti mengenai pendapat masyarakat tentang kehadiran Telepon seluler di Desa Pertumbukan.2% . kemudian Telepon seluler hanya menjadi gaya hidup hal ini diakui responden sebesar 7.4%. 1 . kemudian Peningkatan ekonomi/kesejahteraan masyarakat sebesar 9.

eksplorasi realitas. Namun terdapat hal-hal yang perlu diantisipasi terhadap dampak negatifnya. misalnya telepon seluler dijadikan sarana untuk menyimpan photo/video porno. Hasil temuan ini menggambarkan bahwa keberadaan telepon seluler telah membantu masyarakat desa untuk mencari ide/pemikiran untuk berkreasi. hingga saat ini jumlah pengguna telepon seluler di desa ini mencapai kira-kira 80% (wawancara dengan Majidul Fahmi. penguatan nilai. mengisi waktu luang serta mencari persahabatan yang lebih luas. serta dapat mengetahui atau menambah wawasan tentang keadaan/kehidupan di tempat lain (11. yaitu referensi diri. terutama harga yang bekas. Sikap masyarakat terhadap hadirnya telepon seluler dewasa ini dirasakan telah memberikan kemudahan berkomunikasi. 1 . KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Masyarakat Desa Pertumbukan memerlukan telepon seluler (media komunkasi) untuk memenuhi kebutuhan informasi termasuk informasi sosial bagi hal ini terkait dengan sistem jaringan sosial yang terdapat disekitar atau diluar lingkungannya yang pada gilirannya dapat 30 . tentu saja hal ini tidak baik untuk anak-anak remaja. tgl 20/2/08). sarana pelepasan emosi. Masyarakat desa merasa dengan penggunaan telepon seluler ini sesuai dengan harapan dan kebutuhan. bagi masyarakat desa sangat membantu terutama menimbulkan perasaan senang terkait dengan meningkatkan silaturahmi dengan keluarga dan teman. Kemudian faktor utama yang mendasari penggunaan telepon seluler diakui oleh responden adalah untuk mencari informasi. Dalam kegiatan sehari-hari telepon seluler sudah menjadi pelengkap terutama untuk kemudahan untuk berkomunikasi.1%). Namun tidak untuk melarikan atau melepaskan diri dari persoalan kehidupan dan kesulitan hidup. dan menambah wawasan. merupakan upaya melepaskan diri dari rutinitas dan masalah. dan hal ini menunjang efektivitas dalam komunikasi bermedia. menjalin serta meningkatkan kerjasama dengan berbagai pihak baik didalam lingkungan sekitar maupun di luar. Pola penggunaan telepon seluler bagi masyarakat yakni cenderung menggunakan SMS karena biayanya relatif murah bila dibanding jika melakukan percakapan melalui telepon seluler. Jenis telepon seluler yang familiar dengan responden adalah sistem GSM hal ini disebabkan ketersediaan sarana dan prasarana di lokasi penelitian lebih memadai. mencari informasi. Poin-poin ini secara tidak langsung diakui akan membantu responden dan masyarakat dapat meningkatkan perekonomiannya.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. kuatnya penerimaan sinyal ataupun varian telepon seluler untuk jenis ini lebih banyak dan lebih murah. Medan informasi dan menambah pengetahuan/pendidikan.5%. Pembahasan Masyarakat desa dalam memenuhi kebutuhan informasi termasuk informasi sosial sangat memerlukan hal ini terkait dengan sistem jaringan sosial yang terdapat di sekitar atau diluar lingkungannya yang pada gilirannya dapat memberikan pengetahuan atau menambah pengalaman. Penggunaan telepon seluler di Desa Pertumbukan mengalami kemajuan yang sangat pesat. hal ini dirasakan oleh responden yakni sebesar 18. Kebutuhan identitas personal (Personal identity). Penggunaan telepon seluler dalam memenuhi kebutuhan diversi .

Ilmu. 2006. 1993. sarana pelepasan emosi. RajaGrafindo Persada. Jakarta. Sage Publication. Fidler. mencari informasi. PT. Pine Forge Perss. Teori Dan Filsafat Ilmu. Pengantar Komunikasi Massa. The Uses of Mass Communications Current Perspectives on Gratification Research. PT. Sage Publication. Kencana. Keberadaan telepon seluler dapat dijadikan salah satu upaya melepaskan diri dari rutinitas dan masalah. 2007. Pola penggunaan telepon seluler bagi masyarakat yakni cenderung menggunakan SMS karena biayanya relatif murah bila dibanding jika melakukan percakapan melalui telepon seluler.G. London. mencari informasi. Summer. 31 . Louis dan Ran Wei. Sage Publications. 1 . sebaiknya pemerintah dan pihak operator seluler memberikan kemudahan dengan membuat regulasi untuk menurunkan biaya operasionalnya.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Dinamika Komunikasi. Namun terdapat hal-hal yang perlu diantisipasi terhadap dampak negatifnya. PT. Ilmu Komunikasi Teori Dan Praktek. More than just talk on the move: Uses and gratifications of the cellular phone. Journalism and Mass Communication Quarterly.Citra Aditya Bakti. Jay. Jakarta. dan menambah wawasan bagi masyarakat serta dapat membantu peningkatan perekonomian masyarakat. dan hal ini menunjang efektivitas dalam komunikasi bermedia. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Nurudin. 1972.. Thousand Oaks. menjalin serta meningkatkan kerjasama dengan berbagai pihak baik didalam lingkungan sekitar maupun di luar dan secara tidak langsung diakui dapat membantu masyarakat untuk meningkatkan perekonomiannya. Philip. Medan memberikan pengetahuan atau menambah pengalaman. ____________. PT. 2000. vol. Jakarta. Jay G. Palmgreen. & Elihu Katz. 2000. Saran Telepon seluler salah satu media komunikasi yang sangat pesat perkembangannya dan populer telah memberikan kemudahan dalam berkomunikasi. PT. 2005 . RajaGrafindo Persada. Bandung. London.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Kehadiran telepon seluler telah memberikan kemudahan berkomunikasi. Remaja Rosdakarya. The Role of Theory in Uses and Gratification Studies. dan bagi masyarakat Desa Pertumbukan karena menimbulkan perasaan senang terkait dengan meningkatnya hubungan silaturahmi dengan keluarga dan teman. Remaja Rosda Karya. ___________. California .Onong Uchjana. Roger. Media Massa dan Penerimaan Khalayak. ____________. 1998. Leung. Rachmat. ABI/INFORM Global Muchati. 2003. Efenddy. III. mengisi waktu luang serta mencari persahabatan yang lebih luas. DAFTAR PUSTAKA Blumler. Bagi masyarakat dihimbau untuk menggunakan media telepon seluler secara bijaksana dan memberikan manfaat yang positif. Mediamorfosis: Understanding New Media. 1994. PT. Bandung. Dalam kegiatan sehari-hari telepon seluler sudah menjadi pelengkap terutama untuk kemudahan untuk berkomunikasi. Keberadaan telepon seluler telah membantu masyarakat Desa Pertumbukan untuk mencari ide/pemikiran untuk berkreasi. London. Blumler. dan ini sesuai dengan harapan dan kebutuhan mereka. Sistem Komunikasi Indonesia. Bandung. 1991. Remaja Rosda Karya. Media Gratification Research. Kriyantono. dan menambah wawasan. 1997. Bandung.

diakses tgl 18/1/08.Hilda . Bandung .diakses tgl 2/02/08.J. diakses tgl 31/3/08 Saprudin.com/2005/11/teori-komunikasi-massa-terhadap. hildadamayanti@yahoo. Psikologi Komunikasi. Severin. Richard dan Lynn H. http://data.id/~pawitmy/ -diakses tgl 26/3/08 ____________. Bandung. LP3ES Printing. Rakhmat. Metode. Pawit M. Fajar. 2001. Bandung. Remaja RosdaKarya. Komunikasi.wordpress. Lain-Lain Damayanti. The Models of Uses and Gratifications. dan beberapa contoh Aplikasi Teori Komunikasi Massa Kontekstual.org/wiki/Telepon _genggam. Tankard. Salemba Humanika. Masri. Dasar Metoda Teknik. PT. Edisi Revisi. Grasindo. http://bdg. Jakarta..com/lihat_opini. PT. Dampak Penggunaan Telepon Seluler (Handphone). Jakarta. Pengantar Penelitian Ilmiah. 2000. Pengantar Teori Komunikasi: Analisis dan Aplikasi.blogspot. 2005. Communication Contexts. Surakhmad. 2005. Prenada Media. PT.. diakses tgl 26/8/07 http://www.com/cetak/2005 /0105/20/cakrawala/ lainnya01. Wenner. Medan Palmgreen. Karl. Erik.edu/~drlane/capstone/ contexts.php? pg=2007/10/ 27102007/65568 . Husein. Metode Penelitian Komunikasi.2003. ___________. Tarsito.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.pikiranrakyat. Teori Komunikasi Massa.com/ divakar_goswami.diakses tgl 8/02/08.diakses tgl 2/03/08. Junaedi. net. Metode Riset Komunikasi Organisasi. http://www.. 2000. 2007. Rosengren. Teori Komunikasi : Sejarah. http://www. Jr. Dan Terapan di Dalam Media Massa. Jakarta. 2008. West. Sage Publication. 1991.pintunet.htm.majalahindonesia.com .diakses tgl 11/4/08 32 . Jakarta. Teori Komunikasi Massa Terhadap Individu. 2001.htm . 1998. W. Jakarta. Gramedia Pustaka Utama.htm . Winarno.un.uky.centrin. Sumber-Sumber Informasi. 1 . London . Remaja Rosdakarya. Wiryanto. http://www. Turner. Umar.com/hild4. Jalaluddin. http://id. Metode Penelitian Survey.diakses tgl 2/02/08 .htm. Singarimbun. 2005. James W.kompas.wikipedia. http://komunikasimassaumy.html.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Yusup.com/kompas -cetak/0405/05/telkom/1002910. 2002.org/ diakases tgl 12/5/08 http://www. Edisi Kelima. Media. 2004.Wawan.

society of Pasar Horas A. 10 lembaga penyiaran TV Swasta dengan jangkauan nasional. Perubahan yang terjadi seiring dengan perubahan kebijakan politik yang terjadi Pasca Reformasi ( setelah tahun 1998 ). Key words: Community radio. Pasca Reformasi juga menimbulkan iklim yang kondusif lahirnya proses demokratisasi . menyadarkan bahkan menggerakkan masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidupnya. This Research require to be conducted because pursuant to perception of writer of existence of this radio is in the reality woke up by community merchant of Lease of Horas Pematang Siantar. Desire of the merchant community develop.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. serta 56 lembaga penyiaran TV Swasta lokal yang tersebar di berbagai daerah. Demikian juga halnya dengan hadirnya TV. Pada era Pasca Reformasi. 33 . To facilitate and more directional in executing of this research. regulasi tentang pendirian media massa mengalami kemudahan. Proses demokratisasi yang sedang berlangsung didukung oleh semangat otonomi daerah. Motivation version with existence of radio of community get easiness in life of them. As for result of from this research is seen from cognate motivation aspect very agree with existence of community radio of Epiginosko. Dalam proses demokratisasi inilah peran media massa sangat diperlukan untuk memotivasi. Saat ini tercatat ada 1 lembaga penyiaran publik dengan jangkauan nasional yaitu TVRI. Identity motivation of personal with existence of community radio and also push community to get opportunities of hero/ commerce in Pasar Horas Pematang Siantar. Keadaan ini berdampak munculnya media massa baik cetak maupun elektronik. hence taken some of pupulation become research sample with amount 10% from totalizing population become 54 responders. serta Undang-undang Penyiaran No. hence as research method which was used in this research was research survey by approach descriptive. Medan Potensi Radio Komunitas Epiginosko Terhadap Pembangunan Masyarakat Pedagang Pasar Horas Kota Pematang Siantar Sumatera Utara Oleh : Parulian Sitompul 3 Abstract The topic of research in this article is ´Potency Community Radio of Epiginosko to Development Society Merchant of Pasar Horas in Pematang Siantar City´. As for problems to this research is how potencial Radio of Epiginosko to develop society merchant of Pasar Horas in Pematang Siantar City. development. Radio Swasta Nasional. yang selama era orde baru proses ini belum berlangsung optimal. Latar Belakang Masalah Perkembangan media massa di Indonesia mengalami kemajuan pesat sejak terjadinya perubahan kebijakan tentang Sistem Penyiaran di Indonesia. 32/2002 yang memberi peluang bagi tumbuhnya stasiun 3 Penulis adalah Peneliti Muda bidang Komunikasi Sosial pada BBPPKI Medan. Demikian juga dengan radio swasta yang tergabung dalam PRSSNI ada sekitar 84 radio swasta siaran berdiri di Provsu (PRSSNI 2006). fund and readiness of researcher to check all community merchant of Market of Horas Pematang Siantar. yang memberi peluang bagi daerah untuk menciptakan sumber pendapatan send iri. As for becoming population of this research are 540 community Mrchant of Market in Pematang Siantar. build that community radio is expected will be able to give respective information contribution with community dynamics merchant Lease of Horas. 1 . But because limitation of time.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika.

dan industri kecil perlu dioptimalkan melalui kemasan program siaran yang mengedepankan upaya-upaya agar masyarakat bersedia berpartisipasi meningkatkan potensi daerahnya. Dasar pertimbangan yang lebih spesifik dapat dikemukakan sebagai berikut : 1.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Dengan potensi daerah yang dimiliki. penulis menganggap perlu dilakukannya suatu penelitian untuk mengetahui bagaimana sebenarnya bagaimakah Potensi Rad Komunitas io Epiginosko Terhadap Pembangunan Masyarakat Pedagang Pasar Horas di Kota Pematang Siantar B.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Adapun permasalahan khusus dalam penelitian ini adalah : 1. Kehadiran lembaga penyiaran komunitas (TV dan Radio Komunitas) dapat memberi kontribusi yang sangat berarti bagi suatu daerah. 3. Kapankah Waktu dan bagaimanakah frekuen masyarakat Pedagang Pasar Horas di si Kota Pematang Siantar mendengarkan Radio Komunitas Epiginosko? 4. Medan televisi swasta berbasis daerah. Bagaimanakah motivasi Pedagang Pasar Horas di Kota Pematang Siantar mendengarkan Radio Komunitas Epiginosko untuk mendapatkan informasi daerah? 2. terutama sebagai sarana untuk mensosialisasikan kebijakan Pemerintah Daerah di tingkat Lokal dan sebagai sarana mempromosikan potensi daerah. Apakah jenis informasi daerah yang didengar masyarakat Pedagang Pasar Horas di Kota Pematang Siantar dari Radio Komunitas Epiginosko ? 3. Sektor pariwisata. lembaga penyiaran publik lokal ( TV/Radio Publik Lokal ). Kota Pematang Siantar merupakan wilayah yang sangat potensial di Propinsi Sumatera Utara. Perumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang penelitian di atas. umum tentang 34 . 1 . peternakan. perdagangan dan industri kecil perlu dilakukan promosi melalui Radio Komunitas agar dapat menarik minat investor lokal maupun luar negeri untuk menanamkan investasinya di Kota Pematang Siantar. maka peneliti dapat merumuskan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut. Kehadiran Radio Komunitas dapat memberi kemudahan bagi masyarakat di Kota Pematang Siantar untuk mendapatkan informasi perdangan dengan biaya yang terjangkau dan kualitas siaran yang baik . sehingga dapat berdampak kepada peningkatan pemasukan pendapatan daerah tersebut. Dimanakah lokasi masyarakat Pedagang Pasar Horas di Kota Pematang Siantar biasanya mendengarkan Radio Komunitas Epiginosko ? C. serta lembaga penyiaran komunitas ( TV / Radio Komunitas ) memberi kesempatan bagi pengelola media massa untuk berperan secara optimal membangun daerahnya. perdagangan dan peternakan merupakan potensi yang dapat dioptimalkan agar dapat meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD ). Pembatasan Masalah Adapun pembatasan masalah dalam penelitian ini adalah : 1. Potensi-potensi dalam bidang pariwisata peternakan. 2. Berdasarkan permasalahan inilah. bagaimakah Potensi Radio Komunitas Epiginosko Terhadap Pembangunan Masyarakat Pedagang Pasar Horas di Kota Pematang Siantar. Potensi daerah di Kota Pematang Siantar di sektor pariwisata. optimalisasi fungsi lembaga penyiaran Radio Komunitas dapat mewujudkan tingkat kesejahteraan masyarakat yang lebih tinggi dari kondisi sekarang. Siaran Radio Komunitas baik yang berbentuk berita maupun informasi potensi daerah Kota Pematang Siantar. perdagangan.

Sebagai bahan masukan bagi pengelola managemen radio komunitas epiginosko dalam upaya peningkatan dan pengembangannya. Mengadopsi kepada karakteristik media massa maka keberadaan Radio Komunitas dapat dijelaskan fungsi dan peranannya dalam kerangka teoritis mengenai komunikasi massa. yakni satu institusi atau organisasi. maka ia bertinndak sesuai dengan kebijaksanaan ( policy) media yang memilikinya. Dibanding dengan jenis-jenis komunikasi lainnya. pendidikan. Komunikasi massa berlangsung satu arah. Medan 2. Siantar. Mengetahui motivasi masyarakat Pedagang Pasar Horas di Kota Pematang Siantar mendengarkan Radio Komunitas Epiginosko untuk mendapatkan informasi daerah . Adapun manfaat dari penelitian ini adalah : 1. Sebagai bahan masukan bagi pemerintah Kota P. Tujuan dan Manfaat Penelitian Adapun tujuan dari penelitian ini adalah : 1. Ia tidak mempunyai kebebasan sebagai individu.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Seperti yang dikemukakan Melezke (1963) yang dikutip oleh Rakhmat. Dengan kata lain. E. Responden penelitian ini adalah masyarakat Pedagang Pasar Horas Kota Pematang Siantar D. Mengetahui waktu mendengarkan Radio Komunitas Epiginosko masyarakat Pedagang Pasar Horas Kota Pematang Siantar . kebudayaan. bukan kepada perseorangan atau kelompok tertentu. Pesan pada komunikasi massa bersifat umum. komunikasi massa mempunyai ciriciri (dikutip dari Effendi (1993:22-26) adalah : 1. agama. pekerjaan. Daerah penelitian ini adalah di Kota Pematang Siantar 3. Komunikan pada komunikasi massa bersifat heterogen. Uraian Teoritis Penelitian ini membahas tentang bagaimana masyarakat mendapatkan informasi daerah melalui Radio Komunitas. 4. 3. masing-masing berbeda latar belakang sosialnya seperti usia. Sebagai bahan masukan bagi pemerintah pusat Departemen Komunikasi dan Informatika dalam pembuatan kebijakan yang berkaitan dengan pengembangan radio komunikator. komunikator tidak mengetahui tanggapan khalayak (komunikan) terhadap pesan yang disampaikan. Artinya khalayak menerima secara serempak (simultan ) pesan yang disampaikan melalui media massa. 3.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Karena komunikator pada komunikasi massa bertindak atas nama lembaga. Artinya komunikan atau khalayak merupakan masyarakat yang heterogen. Maksudnya pesan ditujukan kepada umum. 4. Mengetahui Jenis informasi daerah yang didengar masyarakat Pedagang Pasar Horas Kota Pematang Siantar dari Radio Komunitas. 1 . 35 . Media komunikasi massa menimbulkan keserempakan. Siantar agar dapat mendorong dalam pengembangan radio komunikator di P. Mengetahui Lokasi masyarakat Pedagang Pasar Horas biasanya mendengarkan Radio Komunitas Epiginosko di Kota Pematang Siantar. 2. 1981 mengartikan komunikasi massa sebagai setiap bentuk komunikasi yang menyampaikan pernyataan secara terbuka melalui media penyebaran teknis secara tidak langsung dan satu arah pada publik yang tersebar. 2. pengalaman dan sebagainya. Epiginosko 3. satu sama lain tidak saling mengenal dan tidak melakukan kontak pribadi. Keberadaannya terpencar. 2. Komunikator pada komunikasi massa merupakan lembaga. 5. Dalam hal ini tidak terdapat arus balik dari komunikan kepada komunmikator.

teman. Kapankah Waktu masyarakat Pedagang Pasar Horas di Kota Pematang Siantar mendengarkan Radio Komunitas Epiginosko ? 4.Ketergantungan . Dalam penelitian ini. Model Mass Media Uses and Gratifications menurut para pendirinya menyatakan bahwa awal kebutuhan secara psikologis dan sosial individu menimbulkan harapan tertentu kepada media massa atau sumber lain. Kebutuhan Integratif Sosial 5. maupun mengisi waktu luang dengan berbagai cara.Jenis Isi Variabel Lingkungan Sumber : Jalaluddin Rahmat. ( Katz. Dalam pembahasan dan kerangka teoritis. Gurevitch. 1 . Blumler. gagasan dan sikap kepada komunikan yang beragam dalam jumlah yang banyak menggunakan media. Kebutuhan Integratif Pesan 4. Gurevitch membuat tipologi kebutuhan manusia yang berhubungan dengan penggunaan media yang meliputi : 1. organisasi dan lain sebagainya. tingkat pendidikan dan tingkat pendapatan. Masyarakat dalam model penelitian ini memiliki kebutuhan dan motif beraneka ragam berdasarkan karakteristik sosialnya. Kebutuhan Kognitif 2. Apakah Jenis informasi daerah yang didengar masyarakat Pedagang Pasar Horas di Kota Pematang Siantar dari Radio Komunitas Epiginosko ? 3.Diversi .Isi .Frekuensi . Dimana Lokasi masyarakat Pedagang Pasar Horas di Kota Pematang Siantar biasanya mendengarkan Radio Komunitas Epiginosko ? Anteseden Media Variabel Individual Identitas Motif Penggunaan Efek . Kebutuhan melalui media massa dapat dipenuhi dengan membaca surat kabar dan majalah. media massa di sini dimaknai sebagai Radio Komunitas Epiginosko. jenis kelamin. komunikasi interpersonal.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.Kognitif . 1974 : 19 ± 32). Kebutuhan Afektif 3.Kepuasan .Pengetahuan Personal . afiliasi kelompok. Variabel Lingkungan juga masih merupakan bagian dari Variabel Anteseden yang biasanya terdiri dari lingkungan sosial. Dalam penelitian ini tidak semua komponen yang ada dalam model Mass Media Uses and Gratifications diteliti. Melalui sumber lain . Medan Komunikasi massa menyiarkan informasi. Penelitian ini akan mendeskripsikan tentang: 1.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. mendengarkan radio serta menonton televisi. Kebutuhan akan pelarian Kebutuhan tersebut dapat dipenuhi dan dipuaskan melalui media massa dan sumber lain . Kerangka teoritis yang digunakan dalam penelitian ini memang memodifikasi efek media massa terhadap sikap individu.Waktu . Bagaimanakah motivasi masyarakat Pedagang Pasar Horas di Kota Pematang Siantar mendengarkan Radio Komunitas Epiginosko untuk mendapatkan informasi daerah ? 2. 1985 Model ini dimulai dengan Variabel Anteseden yang terdiri dari Variabel Individual yaitu antara lain usia. kebutuhan dapat terpenuhi melalui hubungan dengan keluarga. Kerangka teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah model Mass Media Uses and Gratifications . Katz. Blumler. model Mass 36 .

1984:178 ) Dari pendapat di atas. Menurut tafsiran sosiologis Max Webber . dan behavioral). 1988:17). 1 . motivasi merupakan proses psikologis yang mencerminkan interaksi antara sikap. kreativitas. pikiran dasar. 2001 : 30 ). Seperti penerimaan informasi. perasaan. Teori belajar sosial dari Bandura (1977). Secara Etimologis. (2) efek afektif yang berhubungan dengan emosi. Dengan kata lain. manusia mempunyai prilaku meningkatkan. perubahan perasaan atau sikap dan perubahan perilaku (perubahan kognisi. peneliti perlu mengawali dengan meletakkan konsepsi manusia karena yang diteliti adalah motif manusia. menjelaskan efek prososial dari media massa itu sendiri. nilai . Ketika membicarakan motif. Motif merupakan daya yang timbul dari dalam diri yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. harapan. dan pertumbuhan pribadi (Rakhmat. Kebutuhan inilah yang menimbulkan motif. Medan Media Uses and Gratifications diadaptasi untuk meneliti hubungan antara motif masyarakat dengan penggunaan radio. persepsi dan keputusan pada seseorang yang timbul karena adanya faktor intrinsik dan ekstrinsik (Wahyusumidjo .JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Berkaitan dengan prilaku manusia. kebutuhan. Keduanya tidak mampu menjelaskan aspek eksistensi manusia yang positif dan membangun seperti cinta. yaitu : (1) efek kognitif yang meliputi peningkatan kesadaran. penjelasan atau dasar kebenaran tingkah laku yang telah dilakukan (Turner. motif merupakan deskripsi verbal yang memberikan gambaran. Tidak seperti pandangan Psikoanalisis yang cenderung menganggap manusia hanya dipengaruhi oleh naluri hewaninya dan Behaviorisme yang melihat manusia sebagai robot tanpa jiwa dan nilai. mempertahankan dan pengaktualisasian diri. makna. instink. dan televisi. hidup manusia lebih bermakna ketika manusia itu melibatkan nilainilai dan pilihan yang membangun . 1988 : 153). Manusia memiliki faktor-faktor personal (internal) antara lain sikap. 1984). 2001:33). pendekatan dengan melihat jenis perubahan yang terjadi pada khalayak. Chaffe (1980) dalam Rakhmat (1985:215-217). disebut tiga dimensi efek komunikasi massa. Sedangkan menurut Wahyusumidjo. sistem kognitif. Pertama. dan sikap. dan motif ( Rakhmat. dijelaskan lebih lanjut bahwa faktor intrinsik dalam diri manusia dapat timbul berdasarkan kepribadian. meninjau satuan observasi yang dikenai efek media massa. pendekatan yang berkaitan dengan pesan media massa. mengemukakan tiga pendekatan untuk melihat efek media massa. dorongan bagi seseorang untuk berbuat atau ide pokok yang selalu berpengaruh terhadap tingkah laku manusia ( Kartono. dan kebutuhannya (need). surat kabar. Manusia adalah pencari makna. 37 . Kedua. Mar¶at (1981:124). dalam Jahi. Motif merupakan salah satu faktor pembentuk prilaku seseorang dalam menanggapi sesuatu. sedang (3) efek konatif erat hubungannya dengan niat dan kecenderungan berperilaku menurut cara tertentu.Dougall mengemukakan faktor-faktor personal yang menentukan prilaku manusia. radio. Menurut Carl Rogers dalam konsepsi Humanistik ini. William Mc. Kedua pandangan yang tadi disebutkan tidak menghormati manusia sebagai manusia. belajar dan tambahan pengetahuan. Dan ketiga. Konsep manusia yang dibahas dalam penelitian ini adalah konsepsi Psikologi Humanistik yang melihat manusia sebagai manusia seutuhnya. kepribadian. dalam pertumbuhannya manusia memerlukan orang lain. sikap. mengungkapkan bahwa komponen kognitif dan afektif banyak dipengaruhi oleh media komunikasi seperti film. menurut Gonzales (1978. afeksi. motivasi berasal dari bahasa Latin yaitu ´motivas´ yang berarti alasan dasar .April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Pendekatan tersebut.

Kredibilitas terdiri dari dua unsur yaitu keahlian dan kujujuran. familiaritas dan kesukaan. keanggotaan kelompok dan proses selektif atau biasa juga disebut faktor personal. perbendaharaan kata). Perceived Concern adalah kemampuan komunikator untuk melakukan penelitian/mersa peduli apakah komunikan tunduk kepada pesan. menurut Rakhmat (1989:62). Consistency adalah ada tidaknya pertentangan / pebedaan dalam bagian -bagian ataukah terdapat suatu pengulangan dengan variasi di dalamnya. ketiga faktor itu adalah sebagai berikut : 1. Prinsipprinsip yang harus dianalisis adalah sebagai berikut : 1. struktur pesan ditunjukkan dengan pola penyimpulan. Medan Menurut Yoseph Klapper (Rakhmat. 4. Perceived Control adalah kemampuan komunikator untuk melakukan pengawasan apakah komunikan itu tunduk kepada pesan atau tidak. Credibility yaitu nilai kepercayaan khalayak atau publik kepada komunikator. 3. Sedangkan kejujuran dioperasionalkan dengan persepsi komunikan tentang sejauhmana komunikan tidak memihak dalam penyampaian pesan. Daya tarik ukur dari kesamaan. Dalam kata lain Efektifitas sebuah proses komunikasi ditentukan oleh tiga faktor. reward appeals. gaya pesan menunjukkan variasi linguistik dalam penyampaian pesan (perulangan. Ketiga. 1 . Kedua. Context yaitu faktor yang menghubungkan isi pesan dengan keadaan lingkungan yang ada. gaya pesan. kemampuan untuk meneliti apakah komunikan mengikuti pesan yang disampaikan atau tidak. 7. 2.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Faktor Komunikator Komunikator dalam model ini harus memiliki kredibilitas. Kekuasaan dioperasionalkan dengan tanggapan komunikan tentang kemampuan komunikator untuk memberikan ganjaran. imbauan pesan. Demikian juga halnya motif menggunakan telepon pedesaan sabagai salah satu sarana berkomunikasi . Clarity adalah faktor kesederhanaan dan jelas tidaknya perumusan yang digunakan dalam pesan 5.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Jadi dapat dikatakan motif mempengaruhi seseorang dalam memilih sesuatu termasuk juga dalam memilih media massa dan mengkonsumsi isinya. 2001: 198) pengaruh Komunikasi Massa ditentukan oleh faktor-faktor predisposisi personal. Faktor Pesan Pesan terdiri dari struktur pesan. Di dalam faktor personal inilah terdapat motif yang memberikan asumsi tertentu bagi orang dalam menanggapi sesuatu. Contents yaitu faktor makna dan arti yang tersimpulkan dalam pesan terutama memperhatikan apakah pesan dipahami oleh komunikan. Menurut Cultip dan Center dalam Susanto (1982:138) mengatakan bahwa pesan yang efektif adalah pesan yang memiliki 7 C yaitu : 1. Continuity adalah pesan yang bersifat kesinambungan 6. 2. fear appeals ). mudah dimengerti. Capability adalah faktor yang terakhir dalam penelitian pesan untuk disebarkan kepada komunikan. pola urutan argumentasi dan pola objektifitas. 3. Keahlian diukur dengan sejauhmana komunikan menganggap komunikator mengetahui jawaban yang benar. daya tarik dan kekuasaan. Appeals (imbauan) pesan mengacu pada motif-motif psikologis yang dikandung pesan (rasional. Perceived Security adalah kemampuan komunikator untuk memperhatikan/menyelidiki apakah komunikan itu tunduk kepada pesan. Pertama. 38 . emosional. 2.

Tingkat Pendidikan 39 . Kerangka Konsep dan Operasionalisasi Variabel Kerangka konsep adalah sebagai hasil pemikiran rasional yang bersifat kritis dalam memperkirakan kemungkinan hasil yang akan dicapai dalam penelitian ( Nawawi. Jumlah sampel dalam penelitian sebanyak 54 orang terdiri dari para pedagang di Pasar Horas Kota Pematang Siantar. Metode ini digunakan karena penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research) dengan menyebarkan kuesioner kepada responden terhadap sampel yang telah ditentukan. b.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Usia b. 1 . METODOLOGI PENELITIAN F.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika.1 Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Survey.1 Variabel Anteseden a. Pengambilan sampel tersebut diambil 10 % jumlah populasi.4 Metode Pengumpulan Data a. 1984 . F. karena penelitian ini adalah penelitian survey dengan menyebarkan kuesioner kepada responden yang telah ditentukan. Medan 3.2 Lokasi Penelitian Lokasi penelitian ini adalah dilakukan di Kota Pasar Horas Pematang Siantar . yang dilakukan dengan cara mempelajari dan mengumpulkan data dari literatur dan bahan bacaan yang ada hubungannya dengan masalah dalam penelitian ini. 2001 : 40 ). Pengkajian Kepustakaan. G. karena itu harus memerlukan desain riset ( Mayer dan Wood.5 Metode Analisis Data Analisa data dilakukan secara deskriptif. Dari data tersebut dianalisa melalui tabel tunggal sebagaimana lazimnya dalam metode deskriptif. F. Metode ini digunakan berdasarkan penjelasan suharsimi arikunto. Kerangka konsep terdiri dari variabel-variabel ( konsep-konsep ) dan hubungan-hubungan yang membentuk konteks kausal dari penyelidikannya. Jenis Kelamin c. 15% hingga 20 %. Penyebaran Kuesioner F. 263 ) . Merujuk dari kerangka teori di atas yang menghasilkan kerangka konsep kemudian diimplementasikan dalam Operasionalisasi Variabel penelitian ini adalah sebagai berikut : G. Sementara sampel dalam penelitian ini adalah pendengar Radio Komunitas Epiginosko yaitu Pedagang Pasar Horas Kota Pematang Siantar.3 Populasi dan Sampel Adapun populasi dalam penelitian ini adalah komunitas Pedagang Pasar Horas Kota Pematang Siantar. F. Faktor media Media yang diteliti adalah Radio Komunitas dengan asumsi semakin lengkap sarana dan prasarana yang disediakan untuk proses komunikasi maka hasil yang akandiperoleh akan semakin tampak lebih sempurna walaupun kadangkala banyak kendala yang harus dijumpai. F. menyebutkan jika jumlah populasi dari 100 orang maka dapat diambil samnpel antara 10 %.

4%). Diversi ( Kebutuhan Pelepasan Dari Tekanan. Radio Epiginosko sebagai Menyatakan sangat setuju (45%). Setuju (46%). Mencari Informasi Pada umumnya pedagang pajak horas sangat setuju mencari informasi tentang berkaitan dengan pekerjaan sebesar (65%).3 Variabel Penggunaan Media ( Penggunaan Radio ) a.Ragu - Jenis Kelamin Yang menyatakan sangat setuju (37%). Orientasi Kognitif ( Kebutuhan Informasi.2 Variabel Motif (Penggunaan Radio) a. Pekerjaan G. Kebutuhan Hiburan ) c. Setuju (48%). c. d.4 Variabel Efek ( Penggunaan Radio ) a. Frekuensi penggunaan Isi ( Bahan Pembicaraan) Jenis Isi ( Klasifikasi : ekonomi.9 juta sebesar (48%) dan diatas 2 juta (34%). sumber Informasi Kurang Setuju (2. pendidikan ) G.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Ragu-ragu (9%). HASIL PENELITIAN Usia Responden Usia Responden pada penelitian ini adalah mayoritas berkisar diatas 42 x 4 (32%) sementara umur 27 -31 tahun hanya 4 % Jenis kelamin laki-laki ternyata lebidominan (66%) dibandingkan perempuan (35%). Medan d. sosial. b. Tingkat Penghasilan Mayoritas responden berpenghasilan tiap bulannya dari dari hasil dagangan merekan antara 1. 1 .JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. 40 . Tingkat Pendidikan Mayoritas tingkat pendidikan pedagang yang menjadi responden dari penelitian ini adalah yang ditawar Oma (79%). Tingkat Penghasilan e. Durasi yang digunakan. Keikutsertaan Organisasi f. Kepuasan c. Pengawasan Lingkungan Sosial. Ragu-ragu (39%). Eksplorasi Realitas ) b. Identitas Personal (Memperkuat/menonjolkan sesuatu yang penting dalam kehidupan ) G. ragu (11%).4%). walaupun ada yang mengajukan untuk mencari informasi pekerjaan mereka sebesar (2. politik . Ketergantungan H.4 juta ± 1. Pengetahuan b. Keberadaan Radio Epiginosko sesuai dengan yang diharapkan dan kebutuhan Radio Epiginosko mendorong menam bah Menyatakan sangat setuju (41%).

3. Teori-Teori Komunikasi. Pada umumnya pedagang Pasar Horas P. Bandung. Siantar. 1986. Aubrey B. Motivasi mendengarkan radio komunitas berdasarkan motivasi kognitif adalah untuk memperoleh informasi mendapatkan pengetahuan. Jakarta. Diterjemahkan Trimo. Motivasi diversi responden mengakui dengan mendengarkan radio komunitas yaitu untuk kebutuhan pelepasan demi tekanan. kebutuhan mendapatkan hiburan. 2. Pemerintah Daerah dalam hal pemko P. Depari. Prosedur Penelitian. Siantar diharapkan dapat mendorong lebih banyak lagi berdiri dikota P. Siantar mendengarkan radio pada pagi hari dan sampai sore hari masing-masing sebesar 28% dan ada juga pedagang sebesar 26%. 1990. 4. New York & London. Remaja Rosdakarya. Eduard dan Collin Mac Andrew. memberikan kesenangan Radio Epiginosko Yang menyatakan sangat setuju dan setuju (78%) dan mendorong berwira usaha ragu-ragu (22%). mendapatkan wawaan. Peranan Komunikasi Massa Dalam Pembangunan. 41 . Suharsimi. Daftar Pustaka Arikunto. I. 1982. Yogyakarta. Theories of Mass Communication. mempelajati sesuatu. Medan pengetahuan dunia usaha Radio Epiginosko sangat dan setuju (81%). KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Kesimpulan 1. 2. Gajah Mada University Press. Bina Aksara.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Pada umumnya perdagangan Pasar Horas sangat setuju mencari informasi yang berkaitan dengan pekerjaan responden. kemudian motivasiidentitas personal yaitu dengan mendengarkan radio mendorong dalam pemenuhan syarat untuk berwirausaha. Ragu-ragu (24%).JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. 1. Soedjono. Melvin and Ball-Rokeach. Penyunting: Jalaluddin Rakhmat. Rekomendasi Pengelola/managemen radio efiginosko meningkatkan kualitas materi saran yang diberkaitan dengan aktivitas pedagang pasar horas yang berkaitan dengan nilai nilai keagamaan. Pemerintah Pusat dalam hal ini Departemen Komunikasi dan Informatika dapat memberikan pembinaan langsung maupun tidak langsung tentang manajemen pengelolaan radio komunitas secara modren. 1982. mendapatkan kesenangan. DeFleur. Fisher. Suatu Pendekatan Praktik. 1 . Pada umumnya pedagang Pasar Horas mendengarkan radio ketika berada di Pasar Horas dan sebagian lagi menyatakan ada yang dirumah.

Jr. Uni Primas. dan Sofian Effendy (ed). 1985. (1989). 1993. Kerlinger. James W. Erlangga. LP3ES. Andrew. 1962. Ghalia Indonesia. Pendengar. Metode Penelitian Komunikasi. Krech. Waveland Press. Pematang Siantar. Endang. Bandung. 1985. 1993.Model Komunikasi. Deanna F. Jakarta ---------------. Tgl. Foundation of Behaviour Research. Crutchfield. Bandung. Alih Bahasa : Agus Dharma dan Aminuddin Ram. Penyunting : Jalaluddin Rakhmat. Ltd. Tokyo: McGraw-Hill International Book Company. OPINI PUBLIK MENGENAI PERAN MEDIA CETAK LOKAL DALAM PEMBANGUNAN BIDANG PERTANIAN HORTIKULTURA (Survei di Desa Ndokum Siroga dan Desa Surbakti Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Karo)* Oleh : IDAWATI PANDIA** * ** Telah diseminarkan di Siantar Hotel. Secon Edition. Wright. Mass Communication Theories and Research. Tankard. Jakarta. Remadja Karya. Bandung. Teori Komunikasi Massa. Denis. Psikologi Komunikasi. 1988. Building Communication Theory. Rakhmat. Pendit. Columbus. Masri. Metode dan Terapan di Dalam Media Massa. Sosiologi Komunikasi Massa.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Jakarta. New York University McQuail. Severin Werner J. and Ballachey Egerton. 1989.Rancer. Teori Komunikasi . Metode Penelitian Survai. Prenada Media Singarimbun. Metode Penelitian. Fred N. Individual In Society. Medan Infante A Dominac. Kogakhusa. Charles R. Nazir Mohd.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Sejarah. Pengantar Studi Penelitian Terhadap Pembaca. International Student Edition. Richard S. Bandung: Remadja Karya. 1998.Womack. David. --------------------. Sari. Grid Publishing Inc.dan Pemirsa. Tan. (1991). 1 . 1980. S. Jalaluddin. Model . 1987. S. A Texbook of Social Psychology. Alih Bahasa : Putu Laxmant S. Alexis. Remadja Karya. 2005. Ohio. 10 Juli 2008 Penulis adalah Peneliti Pertama Bidang Media Massa Pada BBPPKI Medan 42 . Remadja Karya. Audience Research.

Peran inilah yang sangat diharapkan masyarakat yang dapat ditangkap dan diisi oleh media massa cetak lokal. Sudah tentu semua kebijakan yang menyangkut pelaksanaan pembangunan daerah berada di institusi pemerintah daerah terutama Bupati dan Walikota. Pilar utama yang pertama ini mempunyai peranan yang sangat besar dalam menentukan keberhasilan pelaksanaan pembangunan. seharusnyalah media yang tangkas dan wartawan yang profesional sudah pasti sangat diperlukan karena memainkan fungsi. Kedua. Tanpa keikutsertaan masyarakat. ternyata masih memanfaatkan media cetak lokal sebagai sumber informasi pembangunan pertanian hortikultura. Dan sudah barang tentu untuk mensukseskan pembangunan ini diperlukan peranan pers atau peranan media massa dalam menyampaikannya ditengah ± tengah masyarakat. layak dan mempunyai wibawa. Ketiga. Pilar utama yang kedua ini juga mempunyai peranan yang sangat menentukan didalam pembangunan daerah.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Ketiga pilar utama dalam gerakan pelaksanaan pembangunan itu adalah sebagai berikut : pertama. Dengan kata lain. apalagi masyarakat petani masih merasakan kurangnya informasi tentang pangsa pasar produk pertanian dan informasi tentang agrobisnis dan budidaya pertanian hortikultura. Pilar utama yang ketiga ini ikut pula menentukan keberhasilan pembangunan.Media Lokal Pertanian. Kata±kata Kunci : Opini Publik. Kemudian perlu diingat bahwa media yang sehat tentu saja menjadi mutlak kehadirannya untuk mendorong agar pelaksanaan pembangunan itu juga menjadi sehat. institusi pemerintah daerah. Keberadaan media massa cetak lokal masih dapat dan sangat diharapkan oleh masyarakat dalam mendorong suksesnya pembangunan pertanian hortikultura. Sebaliknya pembangunan yang sehat sudah jelas sangat membutuhkan kebebasan pers yang sehat pula. Medan Abstrak Penelitian Opini Publik Mengenai Peran Media Cetak Lokal Dalam Pembangunan Pertanian Hortikultura ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif.P opulasi dari penelitian ini adalah masyarakat di dua desa di Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Karo yang membaca media cetak lokal. 1 . Hal ini perlu diperhatikan dengan baik agar pembangunan ini tidak berjalan dengan semaunya saja ataupun sampai kebablasan. instutusi pers seperti suratkabar dan televisi turut menentukan berhasil tidaknya pembangunan daerah tersebut. lalu pemerintah daerah akan sulit menentukan arah dan kebijaksanaan pembangunan. Latar Belakang Masalah Salah satu masalah yang banyak dibicarakan dan masih aktual serta menarik perhatian di Indonesia. 43 . media dan pembangunan tidak dapat dipisahkan dari perkembangannya. masyarakat. A. Pelaksanaan pembangunan daerah yang demokratis digerakkan oleh tiga pilar utam yang saling berkaitan. Akibatnya pembangunan daerah pun akan mandeg. peran dan kewajiban yang amat menentukan. sehingga pelaksanaan pembangunan itu dapat berjalan dengan baik. Hasil temuan menunjukkan bahwa masyarakat di dua desa yang menjadi lokasi penelitian. Kalau hal ini sampai terjadi. Oleh karena itu kebebasan pers yang sehat ( healthy press freedom ) menjadi prasyarat yang mutlak menuju pembangunan yang sehat pula. Jadi keduanya. pers tidak akan berkembang. sudah tentu pembangunan ini akan menimbulkan dampak yang negatif bagi masyarakat. Hortikultura.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. khususnya di Sumatera Utara adalah masalah pembangunan. Melalui media massa yang ada. institusi pers. kuat dan bermartabat. Namun ini masih terkendala karena terbatasnya sirkulasi dan keterlambatan media lokal sampai ke masyarakat terutama masyarakat pedesaan.

Untuk mengetahui bagaimana opini publik mengenai peran media massa cetak lokal sebagai sumber informasi pembangunan bidang pertanian hortikultura. Manfaat Dan Sasaran penelitian Manfaat Penelitian 1. Adapun jenis media cetak lokal yang turut mewarnai dan memberikan informasi bagi masyarakat. Majalah Sibayak Pos terbitan Brastagi. Tabloid Karo Membangun. Bagaimanakah opini publik mengenai peran media massa cetak lokal sebagai sumber informasi pembangunan bidang pertanian hortikultura. 1 . Bagaimana pemanfaatan media cetak lokal sebagai sumber informasi pembangunan bidang pertanian hortikultura ? 2. dalam hal ini Departemen Komunikasi dan Informatika RI untuk membuat kebijakan dalam bidang komunikasi massa mendatang. Misi ini tidak akan terwujud secara efektif tanpa fungsi dan peranan pers. Rumusan Masalah Adapun yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah : 1. Medan Salah satu kabupaten yang sangat intens memperhatikan keberlangsungan pembangunan di Sumut adalah Kabupaten Karo. 2006. Jumlah rumahtangga yang berusaha disektor ini berkisar antar 70 persen sampai dengan 74 persen ( BPS. khususnya di Kabupaten Karo antara lain . sudah sepantasnya Kabupaten Karo memiliki corong yang kuat untuk mensosialisasikan kepada masyarakat melalui media massa. industri dan perdagangan berbasis agrobisnis yang berdaya saing dan berwawasan lingkungan dan rehabilitasi lahan yang kritis ( BPS. Untuk mengetahui kendala yang dihadapi masyarakat tentang media massa cetak lokal dalam mensukseskan pembangunan bidang pertanian hortikultura. Apakah kendala yang dihadapi masyarakat tentang media massa cetak lokal dalam mensukseskan pembangunan bidang pertanian hortikultura. C. 3. Kabupaten Karo adalah kabupaten yang sangat didominasi oleh sektor pertanian yaitu sub sektor pertanian tanaman pangan dan palawija.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Berdasarkan latar belakang permasalahan yang telah dipaparkan diatas dan mengingat bahwa salah satu fungsi pers yaitu sebagai fungsi kontrol. 10 ). peternakan dan sebagian kecil perikanan darat ( air tawar ). khususnya yang tersebar pada masyarakat Kabupaten Karo. 44 .maka penulis tertarik dan merasa penting untuk melakukan penelitian bagaimana opini publik mengenai peran media cetak lokal dalam pembangunan bidang pertanian hortikultura ini. Humas Pemkab Karo. 2006. Sora Mido. D. Dengan melihat hal tersebut. potensi wisata dan pertanian yang lebih luas dalam merencanakan dan mengelola sumber daya yang dimiliki dan untuk memberikan fasilitas dan dorongan yang lebih terarah pada perkembangan pembangunan kerakyatan. dan Sirulo ( sumber : Dinas Infokom Karo ).sehingga opini publik menjadi sangat penting bagi pemerintah didalam melakukan perencanaan pembangunan. Sebagai bahan masukan berupa data dan informasi bagi pemerintah. Dinas Infokom. 10 ). Info Karo. Untuk mengetahui bagaimanakah pemanfaatan media cetak lokal sebagai sumber informasi pembangunan bidang pertanian hortikultura. B. 3. Tujuan Penelitian Sebagai tujuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. perkebunan. Kontribusi pertanian yang diberikan Kabupaten Karo pada Propinsi Sumatera Utara persentasenya cukup besar. 2. pariwisata. Pemerintah Kabupaten Karo menetapkan salah satu misi pembangunannya yang berbunyi ´ Mengembangkan secara optimal pertanian.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. sub sektor hortikultura.

JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. 1 - April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika, Medan

2. Sebagai referensi bagi BBPPKI Medan dan instansi ± instansi yang terkait untuk bahan kajian lanjutan. Sasaran Adapun sasaran dengan dilakukannya penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Secara tidak langsung masyarakat ikut berperan serta dalam mensukseskan pembangunan bidang pertanian hortikultura, ikut memberhasilkan pembangunan daerah yang terrencana dan terarah. 2. Adanya kebebasan pers yang sehat menjadi prasyarat yang mutlak menuju pembangunan bidang pertanian yang sehat pula. 3. Terwujudnya pelaksanaan pembangunan yang berjalan dengan baik, layak dan berwibawa. E. Kerangka Teori Kebutuhan melalui media massa dapat dipenuhi dengan membaca suratkabar. Tabloid dan majalah lokal. Dalam penelitian ini,model Teori Normatif,yaitu Teori Media Pembangunan diadaptasi untuk meneliti bagaimana Opini Publik Mengenai Peran Media Lokal Dalam Pembangunan Bidang Pertanian Hortikultura. Teori Normatif (cabang filsafat sosial) yang lebih berkenan dengan masalah bagaimana seharusnya media berperan bilamana serangkaian nilai sosial ingin diterapkan dan dicapai dengan sifat dasar nilai-nilai sosial tersebut.Jenis teori ini penting karena ia memang berperan dalam membentuk institusi media dan berpengaruh besar dalam menentukan sumbangsih media,sebagaimana yang diharapkan oleh publik media itu sendiri dan organisasi,serta para pelaksana organisasi sosial itu(McQuail,1994:4). Teori media pembangunan adalah penerimaan pembangunan ekonomi itu sendiri (yang karenanya perubahan sosial),dan sering kali ³pemban gunan bangsa´ (nationbuilding)yang bersangkutan,sebagai tujuan utama.Untuk mencapai tujuan tersebut,kebebasan tertentu dari media dan para wartawan tunduk pada tanggung jawab mereka untuk membantu pencapaiannya.Pada saat yang sama,yang ditekankan adalah tujuan kolektif dan bukan kebebasan individu.Unsur yang relatif baru dalam teori media pembangunan adalah penekanan pada ³hak untuk berkomunikasi,´yang didasarkan atas Pasal 17 Deklarasi Universal Hak-Hak Manusia: Setiap orang memiliki hak mengeluarkan pendapat:hak ini mencakup kebebasan menganut pendapat tanpa ganguan dan kebebasan untuk mencari, menerima,dan menyampaikan informasi dan gagasan melalui media manapun tanpa mempersoalkan batas negara.´Meskipun sukar menemukan kasus-kasus individu yang jelas menunjukkan teori media pembangunan,prinsip utama teori ini dapat diungkapkan sebagai berikut: 1. Media seyogyanya menerima dan melaksanakan tugas pembangunan positif sejalan dengan kebijaksanaan yang ditetapkan secara nasional. 2. Kebebasan media seyogyanya dibatasi sesuai dengan (1) prioritas ekonomi dan (2) kebutuhan pembangunan masyarakat. 3. Media perlu memprioritaskan isinya pada kebudayaan dan bahasa nasional. 4. Media hendaknya memperioritaskan berita dan informasinya pada negara sedang berkembang lainnya yang erat kaitannya secara geografis,kebudayaan,atau politik. 5. Para wartawan dan karyawan media lainnya memiliki tanggung jawab serta kebebasan dalam tugas mengumpulkan informasi dan penyebarluasannya. 6. Bagi kepentingan tujuan pembangunan,negara memiliki hak untuk campur tangan dalam,atau membatasi,pengoperasian media serta sarana penyensoran,subsidi,dan pengendalian langsung dapat dibenarkan. 45

JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. 1 - April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika, Medan

Sementara pengguna media itu sendiri adalah orang-orang yang berpikiran rasionalyang secara aktif memilih media mana yang mereka anggap dapat memuaskan kebutuhan yang mereka ingin dapatkan.Ada beberapa katagori kebutuhan individu,yang semuanya berasal dari fungsi sosial dan psikologi dari media,kategori ini antara lain menurut Katz Hass dan Gurevitch (Marshall,Jr,2000) yakni: a. Kebutuhan kognitif; kebutuhan akan informasi,pengetahuan,dan pengertian tentang lingkungan sekitar. b. Kebutuhan afektif : kebutuhan untuk memperkuat pengalaman akan emosi,kesenangan,atau pengalaman keindahan. c. Kebutuhan integrative personal : memperkuat kredibilitas, kepercayaan diri,kesetian, dan status pribadi. d. Kebutuhan interaksi sosial : memperkuat hubungan dengan keluarga,teman,dengan alam sekitar. e. Kebutuhan akan pelarian : hasrat melarikan diri dari kenyataan, melepaskan ketegangan, kebutuhan akan hiburan.Untuk memenuhi kebutuhan tersebut dapat dicapai dengan dua cara, yaitu: (1) Pemenuhan kebutuhan yang didapatkan dengan cara mengakses/menggunakan media yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan (2) Pemenuhan kebutuhan didapatkan dengan cara mempelajari isi informasi dalam media yang kemudian diterapkan dalam praktek. f. Sejalan dengan hal tersebut maka dapat dikatakan bahwa pengguna media secara umum adalah untuk memenuhi kebutuhan informasi,hiburan dan intraksi sosial. Dari kerangka pemikiran inilah, peneliti akan menguraikan permasalahan bagaimana opini publik mengenai peran media lokal dalam pembangunan bidang pertanian hortikultura di Kabupaten Karo. F. Kerangka Konsep Kerangka konsep adalah istilah yang mengekspresikan sebuah ide abstark yang dibentuk dengan menggeneralisasikan objek atau hubungan fakta ± fakta yang diperoleh dari pengamatan. Bungin,´ Mengartikan konsep sebagai generalisasi dari sekelompok fenomena tertentu yang dapat dipakai untuk menggambarkan berbagai fenomena yang sama. Sedangkan Kerlinger, menyebutkan konsep sebagai abstraksi yang dibentuk dengan menggeneralisasikan hal ± hal khusus. Jadi konsep merupakan sejumlah ciri atau standar umum suatu objek.´ ( Kriyantono, 2006 : 17 ). Berdasarkan kerangka teroritis diatas, adapun konsep ± konsep dalam penelitian ini sebagai berikut Opini adalah suatu pernyataan mengenai sesuatu yang sifatnya bertentangan. Opini merupakan ´ expressed statement ´ yang bisa diucapkan dengan kata ± kata, isyarat atau cara lain yang mengandung arti dan dapat dipahami maksudnya ( Meinanda, 1980, 29 ). Ini berarti opini harus dinyatakan, dengan demikian pengertian opini atau pendapat mempunyai dua unsur yakni : 1. Ada pernyataan 2. Mengenai masalah yang bertentangan Disamping itu juga, opini dapat dinyatakan melalui media massa seperti televisi, radio maupun suratkabar atau majalah. Karena opini mempunyai ciri ± ciri antara lain : 1. Mempunyai pendukung dalam jumlah besar. 2. Selalu diketahui dari pernyataan ± pernyataan. 3. Merupakan sinthesa atau kesatuan dari banyak pendapat. Sehingga opini ini bisa ditemukan dari berbagai kalangan. Selanjutnya suatu pendapat harus dinyatakan terlebih dahulu agar dapat dinilai sebagai pendapat atau opini publik, sebab sesuatu yang belum dinyatakan belum bisa disebut opini karena belum mengalami proses 46

JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. 1 - April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika, Medan

dalam diri manusia, sehingga masih merupakan sikap, Irish dan Protho ( Susanto, 1985, 92 ). Jadi yang dimaksud dengan opini publik adalah pendapat atau sikap masy arakat terhadap suatu masalah atau organisasi, dimana pembentukan opini publik melalui berbagai hal, pelayanan terhadap publik, opinion leader dan kegiatan komunikasi ( Hardiman, 2006, 87 ). Opini publik merupakan pendapat yang ditimbulkan oleh adanya unsur ± unsur sebagai berikut : 1. Adanya masalah atau situasi yang bersifat kontroversial yang menimbulkan pro dan kontra. 2. Adanya kesempatan bertukar pikiran atau berdebat mengenai masalah yang kontroversial tersebut 3. Adanya publik yang terikat kepada masalah tersebut dan berusaha memberikan pendapatnya. ³Opini dan perasaan rakyat dapat disalurkan kedalam program ± program pemerintah, sebab bagaimanapun yang berhubungan dengan fakta dilapangan adalah masyarakat ± masyarakat yang mempunyai opini dan emosi ³ ( Lipmann, Walter, 1998, 235 ). Sementara, berbicara tentang fungsi media massa, Harold Lasswell dan Charles Wright merupakan sebagian dari pakar yang benar ± benar serius mempertimbangkan fungsi dan peran media massa dalam masyarakat. Wright ( 1959 ) membagi media komunikasi berdasarkan sifat dasar pemirsa, sifat dasar pengalaman komunikasi, dan sifat dasar pemberi informasi. Lasswell ( 1984, 1960 ), pakar komunikasi dan profesor hukum di Yale University mencatat ada 3 fungsi media massa, pengamatan lingkungan, korelasi bagian ± bagian dalam masyarakat untuk merespon lingkungan dan penyampaian warisan masyarakat dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Selain ketiga fungsi ini, Wright menambahkan fungsi keempat yakni hiburan ( Severin, 2005, 386 ) Media massa yang dimaksud disini adalah media massa cetak ( printed mass media ). Pada umumnya kalau kita berbicara mengenai pers sebagai media massa tercetak, maka kita harus terlebih dahulu memahami bahwa pers adalah lembaga kemasyarakatan ( social institution ) dan merupakan sub sistem dari kemasyarakatan dimana ia berada, bersama ± sama dalam sub sistem lainnya. Dengan demikian maka pers tidak hidup secara sendiri, melainkan mempengaruhi dan dipengaruhi oleh lembaga ± lembaga kemasyarakatan lainnya. Bersama ± sama dengan lembaga kemasyarakatan lainnya, pers berada dalam keterikatan organisasi bernama negara. Karenanya eksistensi pers dipengaruhi, bahkan ditentukan oleh falsafah negara dan sistem politik negara dimana pers itu hidup. Pers di negara mana dan dimasyarakat mana, ia berada sama ± sama mempunyai fungsi universal yakni : 1. Memberikan Informasi ( to inform ) Menyiarkan informasi adalah tugas suratkabar yang pertama dan utama. Khalayak pembaca berlangganan atau membeli suratkabar karena memerlukan informasi mengenai berbagai hal di bumi ini mengenai peristiwa yang terjadi, gagasan atau pikiran orang lain, apa yang dilakukan orang lain, apa yang dikatakan orang lain dan lain sebagainya. 2. Mendidik ( to educate ) Sebagai sarana pendidikan massa ( mass education ), suratkabar memuat tulisan ± tulisan yang mengandung pengetahuan, sehingga khalayak pembaca bertambah pengetahuannya. Fungsi mendidik ini bisa secara implisit dalam bentuk berita, dapat juga secara eksplisit dalam bentuk artikel atau tajuk rencana 3. Fungsi Menghibur ( to entertaint ) Hal yang bersifat hiburan sering dimuat suratkabar untuk mengimbangi berita ± berita berat ( hard news ) dan artikel ± artikel yang berbobot. Maksud pemuatan isi yang mengandung hiburan itu semata ± mata untuk melemaskan ketegangan pikiran setelah para pembaca dihidangi berita dan artikel yang berat ± berat. 4. Mempengaruhi ( to influence ) 47

Pengawasan ( social control ) Jika suratkabar benar melaksanakan tugas sosial kontrolnya. Menurut Totok Mardikanto:Pembangunan didefinisikan sebagai upaya sadar dan terencana untuk melaksanakan perubahan ± perubahan yang mengarah pada pertumbuhan ekonomi dan perbaikan mutu hidup atau kesejahteraan seluruh warga masyarakat. sayuran dan tanaman hias yang termasuk dalam kelompok hortikultura adalah tanaman obat ± obatan. atau hidup tidak terhormat disebabkan tidak mempunyai kepribadian ( Effendi.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. 2007 mengatakan bahwa hortikultura terdiri dari : A. Medan Fungsi mempengaruhi. Onong. Hortikultura berasal dari kata ´ hortus ´ ( garden atau kebun ) dan ´ colore ´ ( = to cultirate atau budidaya ).baik masalah yang dihadapi oleh setiap aparat dalam setiap jenjang birokrasi pemerintah.Benang merah dari definisi pembangunan ialah bahwa pembangunan bertujuan merubah´keadaan´ masyarakat kearah yang lebih baik dengan cara pemecahan masalah yang dihadapi. 1 . Secara implisit terdapat pada berita. Pengertian buah pada hortikultura agak berbeda dengan pengertian buah pada ilmu botani.ekonomi.terutama untuk jangka panjang. akan banyak tantangan yang harus dijawab dengan sikap yang berani dan bijaksana.yaitu penekanan politik.melainkan diperuntukkan pula bagi segenap Stake holder.Sedangkan Lionberger dan Gwin mendefinisikan pembangunan sebagai proses pemecahan masalah. sayuran dan tanaman hias. Tanaman Buah ± Buahan Ilmu yang mempelajari tentang tanaman buah ± buahan disebut pomologi. Secara harfiah istilah hortikultura diartikan sebagai usaha membudidayakan tanaman buah ± buahan. mati terhormat karena memang prinsip. ataupu ekonomi. 48 . Kenapa seperti itu. sedangkan orang ± orang yang mengusahakannya disebut pomologist. sedangkan secara eksplis it terdapat pada tajuk rencana dan artikel 5. karena pemerintah. Dalam suatu situasi. Su¶ud Hassan. 1981.Upaya ini dilaksanakan oleh pemerintah yang didukung oleh partisipasi masyarakatnya. pers dan masyarakat adalah satu kesatuan yang saling membutuhkan satu sama lain.dengan menggunakan teknologi yang terpilih.maupun masalah-masalah yang dihadapi oleh warga masyarakat(Mastur Yahya).Sedangkan definisi kedua menyiratkan bahwa pembangunan tidak hanya untuk masyarakat. Sektor Pertanian Hortikultura Mengingat bahwa perekonomian masyarakat Karo sangat didominasi oleh sektor pertanian.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. sayuran dan tanaman hias (Edmon et al.dikalangan peneliti dan penyuluh. Definisi pertama lebih menekankan pada masyarakat selaku penerima manfaat (beneficiaries) pembangunan. 94 ) Pengertian Pembangunan Sukses tidaknya perencanaan pembangunan daerah itu sudah barang tentu tidak bisa terlepas dari media massa didalamnya. suratkabar bisa dihadapkan kepada dua alternatif. dimana sampai saat ini sektor pertanian memberikan kontribusi lebih dari 60 persen setiap tahun bagi pembentukan produk domestik regional bruto ( PDRB ) Kabupaten Karo.maka dalam hal ini masyarakat penting untuk dilibatkan. sehingga hortikultura merupakan suatu cabang dari ilmu pertanian yang mempelajari tentang budidaya buah ± buahan. Sedangkan dalam GBHN 1993 ± 1998. selain buah ± buahan. Secara garis besar bisa diidentifikasikan tiga pola pemikiran dan praktek pembangunan yang berkembang di Indonesia.yang masing ±masing menekankan pendekatan berbeda. menyebabkan suratkabar memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat. 1975).dan moral sebagai panglima (Mastur Yahya). Adapun sub sektor yang dominan bagi sektor pertanian yang disoroti disini adalah sub sektor hortikultura.

Tidak dapat disimpan lama 2. sehingga perlu adanya pengalengan oleh industri ± industri. merupakan bagian penting terutama untuk benih±benih sayur±sayuran dan bungan±bungaan. Seed Production. Tanaman Sayur ± Sayuran Ilmu yang mempelajari tentang tanaman sayur ± sayuran disebut olericulture dan orang yang mengusahakannya disebut olericulturist. tetapi dalam arti hortikultura tergolong kedalam sayur ± sayuran.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. sedangkan orang yang mengusahakan disebut floricultureti. Ditinjau dari fungsinya tanaman hortikultura dapat memenuhi kebutuhan jasmani sebagai sumber utama. Memperbaiki gizi masyarakat. 2. tetapi di negara yang sudah maju digolongkan kedalam sayur ± sayuran. jalan.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. 4. Pemenuhan kebutuhan keindahan dan kelestarian lingkungan Namun ketika kita membahas masalah hortikultura perlu diperhatikan pula mengenai sifat khas dari hortikultura yaitu : 1. 2. 5. juga letak bangunan ± bangunannya. Fluktuasi harganya tajam ( www. Memperluas kesempatan kerja 4. untuk menghasilkan benih sayur ± sayuran dan bunga ± bungaan daerah tropis bukanlah suatu hal yang mudah. Dengan demikian yang digolongkan kedalam buah dinegara ini adalah buah yang dihasilkan oleh tanaman tahunan (perennial crops ) B. Pemeliharaan tanaman ± tanaman dalam taman. batang. Pengolahan dan penyimpanan hasil ( processing and storage ). taman untuk rekreasi dan lain ± lain. serta memenuhi kebutuhan rohani karena dapat memberikan rasa tentram. Ini dikarenakan ada juga sayur ± sayuran yang dipetik dari tanaman tahunan seperti melinjo dan daun jambu mete.uns. Begitu juga dengan buah labu dalam hortikultura dan buah tomat di Indonesia termasuk dalam golongan buah.ac. bahkan sering tidak berhasil sama sekali.html ) 49 . Land scaping : meliputi planning dan pengaturan daripada pekerjaan.id /~agronomi /dashor. Melimpah ruah pada suatu musim dan langka pada musim lainnya 5. Mudah rusak ( perishable ) dalam pengangkutan 4. Peningkatan pendapatan petani dan. tidaklah semata ± mata berarti suatu bidang tanaman bunga ± bungaan.pertanian. daun kangkung. mineral dan protein ( dari buah dan sayur ). Memperbesar devisa negara 3. Kebanyakan tanaman sayuran baru mau berbuah ( menghasilkan biji ) didaerah ± daerah dingin. Ini merupakan bagian penting pada hortikultura. Medan Umpamanya mentimun dalam arti botani adalah buah. 3. Perlu tempat yang lapang ( voluminous ) 3. sehingga untuk Indonesia benih ± benih terpaksa diimpor. kebun ( nursery production ). Meliputi seluruh tanaman dalam bidang hortikultura. umbi dan lain ± lain tidaklah tepat. sebangsa pakis dan lain ± lain. Tanaman Bunga Ilmu yang mempelajari bunga ± bungaan disebut floricultura. 1 . tetapi juga tanaman yang tidak berbunga yang biasanya dipergunakan untuk menghiasi baik berupa semak ± semak maupun rumput ± rumputan. pangan. Sedangkan peranan hortikultura adalah : 1. ketenangan hidup dan estetika ( dari tanaman hias/bunga ). karena hampir semua hasil hortikultura bersifat tidak tahan lama. Hal ± hal lain yang termasuk kedalam hortikultura : 1. Pengertian bahwa sayur ± sayuran hanyalah hasil yang dipanen dari tanaman tahunan ( annual crops ) atau tanaman muda/semusim baik yang menghasilkan buah. C. tempat tinggal dan tanam tanaman umum.

Nikaragua dengan pisangnya. Hortikultura adalah komoditas yang akan memiliki prospek yang sangat cerah menilik dari keunggulan komparatif dan kompetitif yang dimilikinya dalam pemulihan perekonomian Indonesia dimasa mendatang. Kutabuluh. G. anggur dan lain sebagainya. saya mempurposive Kecamatan Simpang Empat sebagai lokasi penelitian.63 ). maka diperlukan pengetahuan yang lebih mendalam terhadap permasalahan hortikultura tersebut. Cakupan sub sektor hortikultura yang dominan diusahakan oleh masyarakat Karo adalah tanaman sayuran dan buah ± buahan yang meliputi tomat. gejala atau kelompok tertentu 2. lembaga. Dari 13 Kecamatan diatas. arcis. Masyarakatnya betul±betul masyarakat petani yang bergerak dibidang pertanian hortikultura b. Tegasnya penelitian deskriptif hanya memberi gambaran secermat mungkin mengenai suatu individu.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. yaitu Desa Ndokum Siroga dan Desa Surbakti. desa ini paling banyak masyarakatnya bergerak dalam bidang pertanian hortikultura . Brastagi. Simpangempat. Kabupaten Karo terdapat 13 kecamatan yaitu : Mardinding. c. petsai/sawi. kentang. bahkan Israel dari gurun pasirnya. kini telah mengekspor apel. di kecamatan Simpang Empat Kabupaten Karo. Belanda dengan bunga tulipnya.yaitu sebanyak 900 orang. bawang prei. Teknik purposive adalah suatu teknik yang 50 . Lokasi Penelitian Adapun lokasi penelitian ini hanya di fokuskan pada 2 desa . Juhar. Metodologi Penelitian 1. Tiga Binanga. Tiga panah. jeruk. Medan Dengan mengetahui manfaat serta sifat ± sifatnya yang khas. wortel. Oleh karena itu kita harus berani untuk memulai mengembangkannya pada saat ini. Transportasi dari pusat ibukota propinsi ( Medan ke Kabupaten Karo ) bisa ditempuh dalam beberapa menit. 1 . Sampel Sampel dalam penelitian ini diambil melalui Teknik Pemilihan Sampel secara purposive ( purposive sampel technique ) . Metode deskriptif dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan/melukiskan keadaan subyek/obyek penelitian seseorang. Kabanjahe. keadaan. buncis. cabe. Merek. markisah dan pisang. Payung. Berdasrkan data yang ada dikecamatan. sedangkan jenis komoditas hortikultura yang diusahakan masih terbatas. 1983. 3. masyarakat dan lain lain pada saat sekarang berdasarkan fakta± fakta yang nampak atau sebagaimana adanya ( Nawawi. Populasi dan Sampel Populasi Populasi dari penelitian ini adalah seluruh masyarakat petani holtikultura di desa Ndokum Siroga dan desa Surbakti . kol.Dipilihnya hanya satu kecamatan mengingat kecamatan tersebut : a. Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif. Barusjahe. jeruk. Munthe. dalam pengembangan hortikultura agar dapat berhasil dengan baik.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Laubaleng. Sementara pengembangan hortikultura di Indonesia pada umumnya masih dalam skala perkebunan rakyat yang tumbuh dan dipelihara secara alami dan tradisional. Seperti halnya negara ± negara lain yang mengandalkan devisanya dari hasil hortikultura antara lain Thailand dengan berbagai komoditas hortikultura yang serba Bangkok.

Teknik Analisis Data Sesuai dengan sifat dan tujuan dari penelitian ini. H. Kecamatan Simpang Empat 51 . Saat ini wilayah Kabupaten Karo sudah didiami oleh beragam suku bangsa.dan akhirnya data lapangan yang telah diperoleh dikoding dan ditabulasi untuk memperoleh tendensi dengan persentase. Ginting. 154 ). Kabupaten Karo terletak pada jajaran Bukit Barisan dan sebagian bersar wilayahnya merupakan dataran tinggi. palawija.dengan besar sampel 10% dari Populasi yaitu sebanyak 90 orang. dalam arti bahwa suku bangsa Indonesia lainnya dapat diterima menjadi suku bangsa Karo dengan beberapa persyaratan adat. sehingga rawan terjadi gempa vulkanik. Sebelah Barat berbatasan dengan Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam ( NAD ) Kabupaten Karo terdiri dari 13 kecamatan yang dibagi menjadi 248 desa dan 10 kelurahan. Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang dan Kabupaten Simalungun d. Dua gunung berapi aktif terletak di wilayah ini. hasil ± hasil penelitian dan laman website yang berhubungan dengan materi penelitian ini. hortikultura. Pusat pemerintahan Kabupaten Karo terletak di Kecamatan Kabanjahe yang berjarang sekitar 67 kilometer dari Medan Penduduk asli yang mendiami wilayah Kabupaten Karo disebut suku bangsa Karo. Tarigan dan Perangin .maka kriteria yang ditentukan adalah masyarakat yang betul-betul petani holtikultura.maka analisis penelitian dilakukan dengan metode pendekatan deskriptif kuantitatif didukung dengan data kualitatif yang diperoleh melalui wawancara mendalam. 5. Dalam pekembangannya. 1 . buah ± buahan.angin. Desa Ndokum Siroga yang dianggap pertaniannya paling maju sebanyak 45 responden b. padi. Sekitar 70 persen dari jumlah rumah tangga di Kabupaten ini berusaha disektor pertanian terutama bercocok tanam sayur ± sayuran. tanaman perkebunan dan peternakan 1. Merga Silima itu yakni : Karo ± Karo. tutur siwaluh dan rakut sitelu. Sembiring.25 Km 2 . juga dilakukan metode library research ( riset kepustakaan ) yaitu pencarian referensi/bahan ± bahan dari buku ± buku jurnal. Desa Surbakti yang pertaniannya kurang maju sebanyak 45 responden 4. Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data dilakukan melalui angket yang dipandu oleh enumerator ( pengumpul data ) dimana penulisan angket dilakukan melalui pertanyaan terbuka dan tertutup. Suku bangsa Karo ini mempunyai adat istiadat yang sampai saat ini masih terpelihara dengan baik dan sangat mengikat bagi suku bangsa Karo sendiri. Perekonomian Kabupaten Karo sebagian besar adalah sektor pertanian. Gambaran Umum Lokasi Penelitian Letak geografis Kabupaten Karo berada diantara 2 0 50 0 ±3 0 19 0 Lintang Utara dan 97 0 55 0 ± 98 0 38 0 Bujur Timur dengan luas wilayah 2. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Dairi dan Kabupaten Toba Samosir c. Wilayah Kabupaten Karo berada pada ketinggian 120 ± 1. 2006. Suku ini terdiri dari 5 ( lima ) marga. Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Langkat dan Kabupaten Deliserdang b.127.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Medan mencakup orang ± orang yang diseleksi atas dasar kriteria tertentu yang dibuat peneliti berdasarkan tujuan penelitian ( Kriyantono.400 meter diatas permukaan laut. Adapun batas ± batas wilayah Kabupaten Karo adalah sebagai berikut : a.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. adat suku bangsa Karo terbuka. dimana dari 40 desa yang ada di Kecamatan Simpang Empat ditentukan 2 ( dua ) desa yaitu : a. Disamping itu untuk memperkaya data.

J. Media cetak juga dianggap sebagai salah satu faktor dalam mempercepat proses tranfusi informasi pembangunan khususnya bidang pertanian hortikultura. Sementara tingkat pendidikan di Desa Ndokum Siroga adalah : 45 orang tidak bersekolah.57 Km 2 dengan jumlah penduduk 2.966 jiwa dan 10. dimana pada tabel dibawah ini terlihat bahwa media cetak lokal tersebut dianggap sangat penting bagi masyarakat dan tidak dapat dipisahkan dari masyarakat petani dalam memperoleh upaya informasi. terdiri dari 5 ( lima ) dusun. Pembahasan Hasil Penelitian Kabupaten Karo adalah salah satu kabupaten yang ada di Propinsi Sumatera Utar a yang mengandalkan pendapatan masyarakatnya dari sektor pertanian. I. luas daerah Desa Surbakti adalah 9.164 jiwa perempuan yang terdiri dari 689 KK.47Km 2 yang terdiri dari 40 desa. 160 orang SLTP sederajat.97 Km 2 .JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.969 jiwa yang terdiri dari 522 KK. Adapun mata pencaharian penduduk terdiri dari 491 KK ( 94% ) bertani dan sebanyak 31KK ( 6% ) adalah non tani. 3. dengan perbandingan jenis kelamin 890 jiwa perempuan dan 2.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Adapun mata pencaharian penduduknya terdiri dari 684 KK atau 94% adalah bertani dan sebanyak 41 KK atau 6 %nya bergerak disektor non pertanian. Jumlah penduduk 39. Asumsi ini terlihat seperti yang tertera dalam tabel penulisan laporan ini. Luas Desa Ndokum Siroga adalah 2. 85 orang SLTA sederajat dan 43 orang pernah ditingkat perguruan tinggi. 90 jiwa tamat SD sederajat. 160 jiwa SLTA sederajat dan 52 jiwa tingkat perguruan tinggi. 1 . Produk ± produk andalan pertanian Kabupaten Karo ini adalah bermacam sayuran.003 jiwa laki ± laki dan 1.070 jiwa laki ± laki. Dari hasil penelitian tentang Opini Publik Mengenai Peran Media Lokal Dalam Pembangunan Bidang Pertanian Hortikultura terlihat bahwa masyarakat Karo. Desa Ndokum Siroga Nama Kepala Desa : Supratman Surbakti. Dengan kata lain mayoritas Pendapatan Asli Daerah ( PAD ) yang dihasilkan dari sektor pertanian yang menghasilkan produk ± produk pertanian berbasis agrobisnis. buah ± buah dan juga bunga ± bungaan. Salah satu diantaranya adalah upaya untuk terus memelihara pasar regional dengan mengundang pengusaha ± pengusaha dari Singapore dan Malaysia yang tergabung dalam Agri-Food And Veterinery Autority Of Singapore ( AVA ). khususnya di lokasi yang dijadikan sebagai responden dalam penelitian ini masih menggunakan media massa cetak khusus media cetak lokal sebagai sumber informasi pembangunan Bidang Pertanian Hortikultura.834 rumahtangga ( RT ). Desa Ndokum Siroga adalah ibukota dari Kecamatan Simpang Empat. Memang ada sektor pariwisata yang juga menjadi andalan bagi Pemerintah Kabupaten Karo. Kedatangan para pengusaha Singapore ini ke Sumatera Utara 52 . 60 orang SD sederajat.167 jiwa dimana perbandingannya 1. jumlah penduduk 1. Begitu dominannya sektor pertanian yang dikelola daerah ini sehingga sampai saat ini kontribusi yang diberikan atas pembentukan produk domestik regional bruto ( PDRB ) hingga mencapai 60 persen. Sementara tingkat pendidikan di Desa Surbakti adalah 112 jiwa tidak bersekolah. namun hingga kini sektor pariwisata belum juga mampu menggantikan peran sektor pertanian yang telah begitu dominan. Desa Surbakti Nama Kepala Desa : Jasa Surbakti. Jarak dari kabupaten 7 kilometer. Kecamatan Simpang Empat telah dimekarkan menjadi 3 ( tiga ) kecamatan 2. 170 jiwa tamat SLTP sederajat. Berbagai upaya terus dilakukan untuk tetap mempertahankan dan sekaligus meningkatkan pendapatan dari sektor pertanian ini. Hasil Penelitian. Medan Luas wilayah Kecamatan Simpang Empat adalah seluas 225. terdiri dari 2 ( dua ) dusun. Sejak Januari 2007.

3 9 20.4 10 22. Dan tentu saja kondisi tersebut merupakan peluang yang harus dimanfaatkan semaksimal mungkin. Pemerintah Kabupaten Karo harus tetap konsisten didalam pengembangan kegiatan agrobisnis tersebut.0 11 24. karena inovasi ± inovasi yang terus berkembang terkadang tidak didapatkan dari sumber informasi seperti penyuluh pertanian.7 17 37.6 9 20 Tdk Pernah 10 22. Keberadaan sumber daya manusia dalam hal ini petani juga harus selalu mengup-grade pengetahuannya didalam hal pengolahan pertanian untuk meningkatkan produksi. 1 . Informasi seperti inilah yang sangat diperlukan oleh masyarakat petani.1 23 51.6 11 24. Malaysia.1 7 15. Pemerintah Kabupaten Karo sendiri melalui Dinas Pertanian setempat selalu mengirimkan petugas ± petugas penyuluh pertanian untuk membimbing para petani didalam melakukan aktivitas pertanian. China. Australia dan Indonesia.8 Jarang 19 42.7 7 15. Penggunaan teknologi tinggi didalam meningkatkan produksi pertanian juga perlu diketahui. Sebagaimana kita ketahui Negara Singapore sangat mengandalkan pasokan sayur dan buah untuk dikonsumsi dari negara ± negara tetangganya.0 4 31. serta langkah ± langkah strategis lain yang pada intinya adalah bagaimana melaksanakan kegiatan pertanian yang efektif. dimana pada tabel dibawah ini terlihat bahwa media cetak lokal tersebut dianggap sangat penting bagi masyarakat dan tidak dapat dipisahkan dari masyarakat petani dalam memperoleh upaya informasi.1 28 62.2 Total 45 100 45 100 45 100 45 100 Media cetak juga dianggap sebagai salah satu faktor dalam mempercepat proses tranfusi informasi pembangunan khususnya bidang pertanian hortikultura. Salah satu kesempatan yang harus dimanfaatkan para petani di Kabupaten Karo dewasa ini adalah didalam membudidayakan tanaman ± tanam bersifat organik.4 23 51. Solusi cerdas yang dipilih masyarakat petani dalam mencari informasi terbaru adalah melalui media massa yang ada di daerah.6 Jarang 9 20.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.2 Total 5 100 45 100 45 100 45 100 45 100 Media Sering F % F % F % F % F % 16 35.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika.2 10 22. cerdas dan mempunyai output yang besar. dan jenis organik seperti ini sangat digemari oleh konsumen di negara ± negara Singapore dan Malaysia. Media Sibayak Pos Sora Mido Sora Sirulo Info Karo Karo Memba ngun Tabel 1 Frekuensi Membaca Media Cetak Lokal Desa Ndokum Siroga Desa Surbakti Sering F % F % F % F % F % 16 35.7 22 48.2 Sibayak Pos Sora Mido Sora Sirulo Info Karo Karo Memba ngun Tidak Pernah 20 44.0 12 26. Namun upaya untuk mencari sendiri informasi tambahan yang paling terbaru juga perlu dilakukan. 53 . termasuk didalamnya peluang bisnis pemasaran serta proses pasca panennya. Berbagai upaya dilakukan para petani didalam meningkatkan pengetahuannya dalam mengolah pertanian. Medan bertujuan untuk melihat secara langsung proses produksi sayur ± sayuran langsung ke tempat produksi sekaligus sebagai upaya penjajakan atas peningkatan kerjasama yang telah ada selama ini terkait dengan pemenuhan kebutuhan sayur ± sayuran di negeri Singapur tersebut.4 12 26. utamanya media massa lokal.6 6 13. 95 persen pasokan sayur dan buah berasal dari negara negara seperti Thailand.9 26 57. yang pada akhirnya berimbas kepada peningkatan kesejahteraan petani tersebut.2 18 40.8 19 42.2 21 46. Jepang. Jenis tanaman yang akhir ± akhir ini sangat populer karena produk organik ini terhindar dari bahan ± bahan kimia yang tidak bagus buat kesehatan.

9% responden di desa Ndokum Siroga menjawab berpengaruh. sedangkan untuk pertanyaan yang sama di Desa Surbakti persentasenya sebesar 40%. responden lainnya menjawab penting sebesar 55. Tabel 4 Pengaruh Media Cetak Terhadap Perubahan Nyata Pengaruh Terhadap Perubahan Nyata Desa Sangat positif Positif Kurang positif Ndokum Siroga Total F 10 35 45 % 22.2 100 Anggapan bahwa media cetak berpengaruh terhadap responden terlihat seperti tabel diatas.2% responden pada masing ± masing 54 .8 62. dimana masing masing responden di dua desa tersebut menjawab bahwa media cetak memberikan perubahan yang positif bagi responden karena dengan persentase 77. 1 .April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.4% menganggap media cetak lokal sangat penting dalam membantu usaha pertanian mereka karena selain kurangnya keberagaman pilihan media yang ada.8 100 F 10 35 45 Surbakti % 22. media lokallah yang paling tahu kebutuhan para petani .4 55. dimana 37.2 77.9 100 F 17 28 45 Surbakti % 37.8%. terlihat bahwa responden di Desa Ndokum Siroga dengan persentase sebesar 44.0 60.8 100 Untuk materi pertanyaan tentang pengaruh media cetak terhadap perubahan nyata responden didua desa tersebut.6 100 F 18 27 45 Surbakti % 40. sedangkan di Desa Ndokum Siroga 31.6% didesa Ndokum Siroga dan 27% di Desa Surbakti.2 77. sedangkan di Desa Surbakti yang memberi jawaban berpengaruh adalah sebesar 62. terlihat sesuatu yang unik. bahkan 22.1 68.1 % responden yang menjawab sangat berpengaruh.8% responden didesa Surbakti menjawab media tersebut sangat berpengaruh terhadap responden karena dari medialah petani mengetahui informasi pertanian sehingga hasil pertanian mereka meningkat .2 %. Medan Tabel 2 Tingkat Kepentingan Media Cetak Dalam Membantu Usaha Pertanian Tingkat Kepentingan Media Cetak Sangat Tidak Desa Penting Total penting penting F 20 25 45 Ndokum Siroga % 44. juga tentang pemasaran hasil pertanian. Tabel 3 Pengaruh Membaca Media Cetak Terhadap Responden Pengaruh Membaca Media Cetak Tidak Sangat Desa Berpengaruh Berpengaru Total Berpengaruh h F 14 31 45 Ndokum Siroga % 31. namun 68. Tidak ada responden yang menjawab tidak penting untuk materi pertanyaan ini.0 100 Pada tingkat kepentingan responden terhadap media cetak lokal dalam membantu usaha pertanian.

terutama didesa Surbakti antusias masyarakat tentang media lokal masih tinggi.6% di Desa Surbakti.8% KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Beberapa point penting yang didapat dari penelitian Opini Publik Mengenai Peran Media Lokal Dalam Pembangunan Bidang Pertanian Hortikultura yang dilakukan oleh Tim BPPI Wilayah I Medan di Kabupaten Karo. namun ada juga yang kurang setuju dengan hal tersebut.6 30 66. Ini mungkin disebabkan masih 55 . sedangkan didesa Ndokum Siroga sebesar 66.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika.4% responden di desa Surbakti menjawab bahwa media dimaksud adalah media cetak lokal.4 45 100 45 100 Dari tabel diatas.8 29 64. terlihat bahwa media cetak tidak selalu memberikan peningkatan terhadap hasil pertanian.4 8 17.8 45 100 45 100 Dari mayoritas media massa sebagai sumber informasi pembangunan .0 2 4.9 7 16.4 2 4.9% responden di Desa Ndokum Siroga. 64.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. 1 . dan 16. Namun responden yang menjawab bahwa informasi media cetak tersebut sering memberi peningkatan hasil pertanian juga ada.7 36 80. dimana 28. bahkan masing ± masing responden didua desa tersebut ada yang tidak setuju dengan pernyataan tersebut dengan nilai 17.8 8 17.4 11 24. 80% responden di Desa Surbakti menjawab bahwa media cetak hanya kadang ± kadang memberi peningkatan terhadap hasil pertanian.4% responden di desa Ndokum Siroga tidak setuju dengan jawaban tersebut dan 17. Masyarakat Kabupaten Karo ternyata masih memanfaatkan media cetak lokal sebagai sumber informasi pembangunan bidang pertanian hortikultura. dimana 24.7%. bahkan ada 4. 57. tepatnya didesa Ndokum Siroga dan desa Surbakti adalah sebagai berikut : 1. Medan desa menjawab bahwa pengaruh media cetak terhadap perubahan yang nyata menjawab sangat positif Tabel 5 Dampak Media Cetak Terhadap Peningkatan Hasil Pertanian Dampak Terhadap Peningkatan Hasil Pertanian Desa Sering Kadang-kadang Tidak ada Total Ndokum Siroga Surbakti F % F % 13 28.4% responden di masing ± masing desa menjawab tidak ada dampak media cetak terhadap peningkatan hasil pertanian Tabel 6 Media Massa Dimaksud Adalah Media Cetak Lokal Desa Media tersebut adalah media cetak lokal Setuju Kurang setuju Tidak setuju Total Ndokum Siroga Surbakti F % F % 26 57.8% responden di desa Surbakti memberi jawaban senada.8% responden di desa Ndokum Siroga memberi jawaban senada. Kecamatan Simpang Empat.8 8 17.

2004. 2007. Jakarta Su¶ud. Rachmat. 400 Istilah PR Media & Periklanan. Pemerintah agar lebih memperhatikan nasib petani hortikultura di Kabupaten Karo. dimana isi koran tersebut diharapkan memiliki muatan lokal yang memuat informasi mengenai tata cara dan budaya pengelolaan tanaman hortikultura secara tepat dan efisien. Pemerintah Daerah harus berupaya dengan segala cara dan lebih maksimal untuk mengontrol keberadaan dan harga pupuk dan obat±obatan yang dibutuhkan masyarakat dalam kegiatan pertaniannya. Teori Komunikasi Massa Suatu Pengantar. Jalaluddin. 1981. 1 . Prenada Media. Kendala yang dihadapi masyarakat tentang pembangunan bidang pertanian hortikultura melalui media massa adalah kurangnya informasi pertanian hortikultura. 2006. Sirkulasi media lokal lebih ditingkatkan baik dari segi mutu (kuantitas dan kualitas). Ternyata keberadaan media massa cetak masih sangat diharapkan oleh masyarakat dapat mendorong suksesnya pembangunan bidang pertanian hortikultura. 1998.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Medan kurang beragamnya pilihan media yang ada di desa tersebut. Jakarta McQuail. Denis. Kencana Prenada Media Grup. Rusdakarya. Gagas Ulung. Remaja Rosdakarya. Apalagi petani juga masih belum merasa cukup tentang informasi pertanian dari penyuluh pertanian yang belum rutin dan intens didesa Surbakti 3. 1984. Pengantar Ilmu Pertanian. Namun antusiasme ini terkendala oleh media cetak lokal yang masih sulit didapat didesa ± desa terutama desa yang masuk kepedalaman. Hasan. Metode dan Terapan Didalam Media Massa. dibandingkan dengan desa Ndokum Siroga yang ada di pusat kecamatan. Psikologi Komunikasi. 1994. Ima. 2006. Yayasan Obor Indonesia. Teori Komunikasi: Sejarah. dan telah menembus pangsa pasar dunia d. apalagi masyarakat petani masih merasakan kurangnya informasi tentang pasar produk pertanian dan informasi tentang budidaya pertanian hortikultura. Pradya. Banda Aceh 56 . Leksikon Komunikasi. Dan peran inilah yang diharapkan masyarakat dapat ditangkap dan diisi oleh media massa lokal. Jakarta Kriyanto. 1998. Jakarta. Opini Umum. karena media lokal umumnya terbit per satu bulan sekali. Alumni Bandung Hardiman. Teknik Prakis Riset Komunikasi. Walter. Perlu adanya penanganan pengelolaan hasil pasca panen e. Bandung Severin. 2005. Bandung Rakhmat.. dan bila memungkinkan program koran masuk desa dihidupkan kembali . Yayasan Pena. Saran a. Jakarta Rakhmat. disamping itu dari sisi pangsa pasar wilayah ini berdekatan dengan Singapura dan Malaysia yang membutuhkan hasil pertanian dari Sumatera Utara b. Onong. Erlangga. Disamping itu sirkulasi atau keterlambatan terbit media lokal juga menjadi kendala informasi pembangunan bidang pertanian hortikultura melalui media massa. Daftar Pustaka Effendy.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Werner dan Tankard James. juga masih belum mencukupinya isi berita tentang peluang pasar domestik maupun luar ne geri. Dimensi ± Dimensi Komunikasi. serta mengawasi/menghilangkan peredaran pupuk dan obat ± obatan palsu yang belakangan ini beredar dikalangan masyarakat petani c. Jakarta Lippmann. apalagi mengingat bahwa Sumatera Utara termasuk daerah potensial bagi pengembangan tanaman hortikultura. Pemerintah Daerah diharapkan untuk mengembalikan ikon Tanah Karo dengan kembali membudidayakan jeruk yang selama ini dikenal sebagai primadona daerah ini. Paramita. Metode Penelitian Komunikasi . 2. Jalaluddin.

2007.html http://www. Dinas Pertanian.rehabrekon buyadong.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. 2008.com/new/2006/06/21/editor/edi07.ac.suarapembaruan.htm. Karo Program Pembangunan Pertanian Kecamatan Simpang Empat. Peternakan.uns.id/~agronomi/dashor.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Medan Sumber lain http://www.pertanian.html www. Ikhtisar Eksekutif Pembangunan Kabupaten Karo. BPS. 1 . 2006. Simpang Empat 57 .acehinstitute.org/opini-mastur-yahya. Perikanan dan Perkebunan Kabupaten Karo Rencana Kerja Penyuluh Pertanian.

Kebudayaan PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Kehadiran globalisasi membawa pengaruh bagi kehidupan suatu bangsa. Dengan kata lain proses globalisasi akan berdampak melampaui batas -batas kebangsaan dan kenegaraan. kemudian ditawarkan untuk diikuti oleh bangsa lain yang akhirnya sampai pada suatu titik kesepakatan bersama dan menjadi pedoman bersama bagi bangsa. yaitu kemampuan pemerintah dan kemampuan masyarakat kurang mampu memberikan dukungan terhadap pemanfaatan globalisasi Teknologi Informasi dalam perkembangan kebudayaan di kota Makassar. yaitu dimensi ruang dan dimensi waktu. Pengaruh globalisasi dirasakan di berbagai bidang kehidupan seperti kehidupan politik. Kata Kunci : Globalisasi. globalisasi pada hakikatnya adalah suatu proses dari gagasan yang dimunculkan. Hal ini disebabkan masih banyak masyarakat yang kurang mengerti dan memahami pentingnya Tekno logi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar.Khususnya kemampuan masyarakat dalam memahami pentingnya pemanfaatan Teknologi Informasi. Sebagai sebuah proses. 2005). Jamli dkk. Dimensi ruang yang dapat diartikan jarak semakin dekat atau dipersempit sedangkan waktu makin dipersingkat dalam interaksi dan komunikasi pada skala dunia. Tujuan penulisan penelitian adalah untuk mengetahui sejauhmana faktor pendukung pemanfaatan globalisasi Teknologi Informasi terhadap perkembangan kebudayaan di kota Makassar.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.bangsa di seluruh dunia. Menurut Edison A. Teknologi Informasi. Hal ini tentunya tidak terlepas dari dukungan pesatnya laju 58 . fasilitas yang digunakan baik dari segi kualitas maupun kuantitas kurang mampu mendukung pemanfaatan Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar serta sikap dan perilaku masyarakat dalam memahami pemanfaatan globalisasi Teknologi Informasi kurang optimal. pertahanan keamanan dan lain-lain yang akan mempengaruhi nilainilai nasionalisme bangsa. Hal ini dilihat dari beberapa faktor pendukung yang kurang terlaksana dengan baik. sosial budaya. Kewarganegaraan. Jamli (Edison A. dalam interaksi antar bangsa. ideologi. 1 . Medan ANALISIS FAKTOR PENDUKUNG PEMANFAATAN GLOBALISASI TEKNOLOGI INFORMASI DALAM PENGEMBANGAN KEBUDAYAAN DI KOTA MAKASSAR RUKMAN PALA ABSTRAK Tulisan ini berjudul analisis faktor pendukung pemanfaatan globalisasi teknologi informasi dalam pengembangan kebudayaan di kota makassar. Secara umum globalisasi dapat dikatakan suatu proses tatanan masyarakat yang mendunia dan tidak mengenal batas wilayah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan globalisasi Teknologi Informasi terhadap perkembangan kebudayaan di kota Makassar kurang optimal. ekonomi. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey sampel dengan wawancara dan kuesioner serta dilengkapi dengan observasi sebagai teknik pengumpulan data. globalisasi berlangsung melalui dua dimensi.

maka perlunya ditunjang oleh 59 . Pada hakikatnya teknologi diciptakan. Seyogyanya. keindahan. Teknologi informasi dan komunikasi (TIK) adalah pendukung utama bagi terselenggaranya globalisasi. Untuk memberikan data dan informasi tersebut. Oleh karena itu selama ini dikenal asas ³kebebasan arus informasi´ berupa proses dua arah yang cukup berimbang yang dapat saling memberikan pengaruh satu sama lain. Budaya atau kebudayaan adalah kerangka acuan perilaku bagi masyarakat pendukungnya yang berupa nilai-nilai (kebenaran. TIK tidak hanya membantu dan mempermudah manusia tetapi juga menawarkan cara-cara baru di dalam melakukan aktivitas-aktivitas tersebut sehingga dapat mempengaruhi budaya masyarakat yang sudah tertanam sebelumnya.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. keadilan. akurasi dan kemudahan yang memberikan efisiensi dalam berbagai bidang khususnya dalam masalah waktu. Dengan dukungan teknologi informasi dan komunikasi. Pengaruh positif yang dapat dirasakan dengan adanya TIK adalah peningkatan kecepatan. dan masih banyak lagi. informasi dalam bentuk apapun dan untuk berbagai kepentingan. bahkan untuk mengatasi berbagai persoalan pelik yang timbul di masyarakat. Medan perkembangan teknologi yang semakin canggih khususnya teknologi informasi dan komunikasi (TIK). kebijaksanaan. Demikian halnya perkembangan kebudayaan di Kota Makassar juga ikut berpengaruh terhadap perkembangan globalisasi Teknologi Informasi. makin besar pula arus informasi dapat dialirkan dengan jangkauan dan dampak global. Seperti kita ketahui budaya masyarakat Kota Makassar begitu beragam dan perlu dilestarikan sehingga dapat tetap bertahan dan memberikan devisa bagi Kota Makassar khususnya. Kecepatan arus informasi yang dengan cepat membanjiri kita seolah-olah tidak memberikan kesempatan kepada kita untuk menyerapnya dengan filter mental dan sikap kritis. Jadi bagaimana TIK dapat mempengaruhi nilai-nilai yang telah tumbuh di masyarakat dalam suatu bangsa itu sangat tergantung dari sikap masyarakat tersebut. dan efek negatif dapat lebih diminimalkan. dapat disebarluaskan dengan mudah sehingga dapat dengan cepat mempengaruhi cara pandang dan gaya hidup hingga budaya suatu bangsa. Sedangkan pengaruh negatif yang bisa muncul karena adanya TIK. karena kehadiran surat elektronis (email). baik pada saat manusia bekerja. sejak dulu hingga sekarang ditujukan untuk membantu dan memberikan kemudahan dalam berbagai aspek kehidupan. ketelitian hasil perhitungan dapat ditingkatkan dengan adanya komputasi numeris. masyarakat harus selektif dan bersikap kritis terhadap TIK yang berkembang sangat pesat. Sebagai contoh manifestasi TIK yang mudah dilihat di sekitar kita adalah pengiriman surat hanya memerlukan waktu singkat. dll ) yang berpengaruh sebagai kerangka untuk membentuk pandangan hidup manusia yang relatif menetap dan dapat dilihat dari pilihan warga budaya itu untuk menentukan sikapnya terhadap berbagai gejala dan peristiwa kehidupan. pengaruh globalisasi dengan dukungan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) meliputi dua sisi yaitu pengaruh positif dan pengaruh negatif. Dengan banyaknya produk luar negeri dan ditambahnya harga yang relatif lebih murah dapat mengurangi rasa kecintaan masyarakat terhadap prod dalam negeri. Pemanfaatan Teknologi Informasi untuk memberikan data dan informasi tentang perkembangan kebudayaan di Kota Makssar. pengelolaan data dalam jumlah besar juga bisa dilakukan dengan mudah yaitu dengan basis data (database). 1 .April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. sehingga semua manfaat positif yang terkandung di dalam TIK mampu dimanifestasikan agar mampu membantu dan mempermudah kehidupan masyarakat. Makin canggih dukungan teknologi tersebut. uk Dengan hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri menunjukan gejala berkurangnya rasa nasionalisme masyarakat kita terhadap bangsa Indonesia. berkomunikasi. tenaga dan biaya. kemanusiaan. terbukanya pasar bebas memungkinkan produk luar negeri masuk dengan mudahnya. ketepatan. misalnya dari globalisasi aspek ekonomi. Namun perlu diingat.

didapat dari responden. peneliti menggunakan metode survey yang lebih menekankan pada jenis penelitian deksriptif kuantitatif dimana metode ini sangat relevan dengan topik yang akan diteliti. Pada penelitian ini yang menjadi populasi adalah masyarakat dan mereka yang memahami tentang pemanfaatan Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. Namun permasalahan yang muncul adalah pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi terhada perkembangan budaya Makassar belum terlaksana secara optimal sehingga memerlukan peran serta pemerintah dan masyarakat memanfaatkan globalisasi Teknologi Informasi tersebut. Faktorfaktor tersebut seperti kemampuan pemerintah dan masyarakat dalam mendukung dan memahami Teknologi Informasi yang digunakan. dan sikap dan perilaku masyarakat terhadap pemanfaatan Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. Selanjutnya dengan kuesioner guna mendapatkan data yang akurat dan obyektif terhadap permasalahan yang diteliti. yang dapat ditempuh dengan cara membandingkan data dari responden dengan informan yang . 2001 : 57).April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Dengan rumus sebagai berikut : 60 . maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : Bagaimanaka faktor pendukung pemanfaatan globalisasi Teknologi Informasi terhadap perkembangan kebudayaan di Kota Makassar ? Tujuan Penulisan Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui sejauhmana faktor pendukung pemanfaatan globalisasi Teknologi Informasi terhadap perkembangan kebudayaan di Kota Makassar Metode Penelitian Dalam penelitian ini. sarana atau fasilitas yang digunakan dalam mendukung pemanfaatan Teknologi Informasi tersebut. memecahkan. Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiono. Teknik penarikan sampel yang digunakan adalah teknik aksidental. dari sejumlah informan akan bermanfaat guna mewujudkan validitas data secara keseluruhan. Medan beberapa faktor dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Mak assar. Data mentah yang terkumpul dari hasil jawaban responden maupun yang didapat dari hasil wawancara. juga sangat membantu untuk mendapatkan data yang obyektif dan valid dalam rangka memahami. telaah dokumen serta observasi akan diolah dengan menggunakan sistem tabulasi data dengan memakai analisis frekuensi. Teknik aksidental ini adalah mereka yang ditemui dan memahami pemanfaatan globalisasi Teknologi Informasi terhadap perkembangan kebudayaan di Kota Makassar yang dapat diberikan pertanyaan. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian di atas. 1 . Oleh karena itu sampel dalam penelitian ini adalah masyarakat yang memahami pemanfaatan Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. serta mengupayakan pemecahan masalah tentang analisis faktor pendukung pemanfaatan globalisasi teknologi informasi terhadap perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Wawancara.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.

lain lagi halnya kandungan pernyataan ³menjelang era globalisasi´ yang berarti kita belum berada dalam era tersebut. cara mi jelas dapat memperkaya wawasan kita tentang kebudayaan. tiap teori bisa saja memiliki keunggulan 61 . tapi keunggulan suatu teori berkenaan dengan sesuatu gej ala budaya tidak selalu bearti keunggulan teori itu secara menyeluruh.x 100 % N Keterangan : P = Persentase F = Jawaban responden N= Jumlah responden Analisis Data Data yang diperoleh dalam penelitian ini akan diolah dengan menggunakan teknik analisis deskriptif kuantitatif yang dikualitatifkan. (Sudarmajid. Kita dapat mencari jawaban berdasarkan etimologi. 2003 : 23). maka globalisasi sebagai proses juga menggejala sebagai peristiwa yang melanda dunia secara lintas-budaya (trans-cultural). dan makin mengaburkan implikasi dan komplikasi makna yang terkandung di dalamnya. Menurut Aditya (2004 : 11) globalisasi pada hakikatnya adalah proses yang ditimbulkan oleh sesuatu kegiatan atau prakarsa yang dampaknya bekelanjutan melampaui batasbatas kebangsaan (nation-hood) dan kenegaraan (state-hood). 1 . namun pengaruh-mempengaruhi dalarn pertemuan antar-budaya itu tidak selalu berlangsung sebagai proses dua-arah atau timbal-balik yang berimbang. melainkan bolehjadi juga terjadi sebagai proses imposisi budaya yang satu terhadap lainnya. Mungkin juga kita lakukan pendekatan komparatif antara suatu teori dengan lainnya. Pernyataan seperti ³dalam era globalisasi dewasa mi´ berarti bahwa kita telah berada dalam era globalisasi. cara mi mungkin menarik secara akademik namun mungkin terlalu steril untuk diturunkan sebagai medium analisis dalam terapan empirikal. Kelatahan dalam penggunaan kata µglobalisasi¶ sedemikian itu akhimya mengesankan kesembarangan arti kata globalisasi. Medan F P = --------------------. Cara lain ialah memperbandingkan berbagai definisi yang dapat dipandang terkemuka dalam literatur. dengan kemungkinan satu fihak lebih besar pengaruhnya ketimbang fihak lainnya. Apakah yang kita maksudkan dengan µbudaya¶ atau µkebudayaan¶ itu? Untuk memberikan jawaban atas pertanyaan mi banyak cara dapat ditempuh. Pertemuan antar-budaya memang menggej ala sebagai keterbukaan (exposure) fihak yang satu terhadap lainnya. maksudnya data yang ada diangkakan kemudian dideskripsikan. dan mengingat bahwa jagad kemanusiaan ditandai oleh pluralisme budaya. maka akan ternyata betapa kata µglobalisasi¶ itu cenderung dilontarkan tanpa terlalu dihiraukan apa maknanya. dan kalau semuanya itu kita perhatikan secara saksama.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. cara mi akan membutuhkan uraian panjang lebar karena biasanya perlu diperjelas dengan tafsiran konseptual dan kontekstual.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. yaitu. TINJAUAN PUSTAKA Pengertian Globalisasi Kata µglobalisasi¶ makin lama makin menjadi sajian sehari-hari melalui berbagai pemyataan publik dan liputan media massa. terpaan budaya yang satu berpengaruh dominan terhadap budaya lainnya. Dalam gerak lintas-budaya mi terjadi berbagai pertemuan antar-budaya (cultural encounters) yang sekaligus mewujudkan proses saling-pengaruh antar-budaya.

1 . dan dengan demikian tersedia pula ukuran untuk nonkonformisme. penjabaran nilai kebudayaan menjadi norma peradaban dapat dipandang sebagai pengalihan dan sesuatu yang transenden menjadi sesuatu yang immanen. Dan uraian di atas mi dapat disimpulkan. Singkatnya. dsb dalam tindak-tanduk seseorang. sedangkan peradaban adalah penjabaran nilai nilai tersebut melalui diwujudkannya norma-norma yang selanjutnya dijadikan tolokukur bagi kepantasan perilaku warga masyarakat ybs. keadilan.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. maka tidak terlalu keliru kiranya kalau kita mengartikan kebudayaan sebagai sehimpunan nilai-nilai yang oleh masyarakat pendukungnya dijadikan acuan bagi perilaku warganya. Kalau kita sarikan muatan berbagai definisi yang terkemuka. belum lagi antara keduanya diperbedakan dalam perbandingan µseberapa balk¶ atau µseberapa buruk¶ dipandang dan tolokukur tertentu. µindah¶. Nilai-nilai itu pada sendirinya barn merupakan acuan dasar yang keberlakuannya disadarkan melalui ikhtiar pendidikan sejak dini.(Kariadi. Kesemuanya mi sekaligus menunjukkan bahwa kebudayaan adalah suatu pengejawantahan yang hidup selama ada masyarakat pendukungnya. Perhatikan pula perubahan yang terjadi di Turki. Sebagai sumber acuan. ketika Kemal Attaturk melancarkan gerakan modernisasi (yang diartikan sebagai µwestemisasi¶). Norma (nomos) adalah tolokukur yang memungkinkan terjadinya konformisme perilaku dalam sesuatu masyarakat. Perhatikan misalnya ³Revolusi Kebudayaan´ yang secara berencana dilancarkan di Republik Rakyat Cina pada pertengahan tahun 6Oan. tolokukur itu baru menjelma melalui norma-norma sebagai pengatur kepantasan perllaku. µburuk¶. bahwa kebudayaan adalah kerangka acuan perilaku bagi masyarakat pendukungnya berupa nilai-nilai (kebenaran. kemanusiaan. nilai keindahan dijabarkan melalui berbagai norma artistik. 2002) Dalam sejarah kemanusiaan banyak contoh yang menunjukkan. Adanya tolokukur normatif mi menjadi dasar bagm berkembangnya peradaban (civilization) sebagai bagian dan dinamika budaya tertentu. nilai kesusllaan dinyatakan melalui berbagai tatakrama. kebajikan. dsb). batas antara apa yang dinilai sebagai kebajikan (good) atau kejahatan (evil) berlaku dalam garis besar yang memisahkan satu dan lainnya. Misalnya. perubahan serupa pun teijadi tatkala Partai Komunis Rusia berhasil menggulingkan kekaisaran di Rusia dan memperkenalkan nilai-nllai barn sebagai acuan bagi norma perllaku barn yang ideal bagi suatu masyarakat komunis. µdosa¶. dan begitu seterusnya. Terjalinnya kesadaran transendensi dan immanensi inilah yang menjadikan dinamika sejarah kemanusiaan sebagai kaleidoskop perkembangan kebudayaan dan peradaban. hal mi berlaku balk bagi kebudayaan yang surut oleh perubahan zaman maupun yang kehadirannya dipaksakan untuk mendesak kebudayaan lama. seperti misalnya usaha pengenalan dan penyadaran tentang apa yang µbaik¶. Medan dalam satu dan lain hal. bahwa timbultenggelamnya kebudayaan sangat dipengaruhi oleh apa yang tenjadi dalam pertemuan 62 . nilai religius diungkapkan melalui berbagai norma agama. Pasang-surutnya kebudayaan sepanjang sejarah kemanusiaan nyata sekali ditentukan oleh sejaubmana kebudayaan itu masih berlanjut sebagai kerangka acuan untuk dijabarkan melalui sesuatu tatanan normatif. persepi terhadap nilai-nilai itu masih besifat umum.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Tapi juga dalam era kontemporer mi suatu kebudayaan sebagai sistem nilai dapat dengan suatu rekayasa didesak oleh sistem nilai barn. keindahan. sehingga kebudayaan yang lama kehilangan dayanya sebagai acuan untuk menjabarkan norma-norma perllaku. Nilai keadilan diwujudkan melalui hukum dan sistem peradilan. sehingga konvergensi antar-teori mungkin saja digunakan dalam usaha memahami berbagai manifestasi budaya. Nilai-nilai itu juga berpengaruh sebagai kerangka untuk membentuk pandangan hidup yang kemudian relatif menetap dan tampil melalui pilihan warga budaya itu untuk menentukan sikapnya terhadap berbagai gejala dan peristiwa kehidupan. kebudayaan Pharaonic yang benlaku dalam masyarakat Mesir kuno surut seiring dengan klan memudarnya kebudayaan itu sebagai sumber acuan untuk penjabaran norma-norma perilaku bagi masyarakat Mesir sekarang.

2003) Karena perhatian akan kita pusatkan pada persoalan pertemuan antarbudaya dalam era globalisasi. yaitu dimensi ruang (space) dan waktu (time). satu daya dengan kecenderungan preservatif dan satunya lagi dengan kecenderungan progresif. yaitu berlakunya herbagai norma acuan penilaku dalam masyarakat yang bersangkutan. melainkan terjadi dengan ketenlibatan sejumlah fihak secara segera (instantaneous) serta serempak (simultaneous). Kendatipun dalam periode Perang Dingin kondisi bipolar seakanakan membelah-dua dunia mi dengan pengendalian dan dua pusat kekuatan dunia yang saling bertentangan. Kesanggupan sesuatu satuan budaya untuk mempertahankan kesejatiannya dalam pertemuan antar-budaya yang demikian majemuknya itu sangat ditentukan oleh tinggirendahnya derajat kesadaran budaya dan tanguhrapuhnya tingkat ketahanan budaya masyarakat pendukungnya. Sampai batas tertentu dan saling -pengaruh yang terjadi itu dapat terpantul seberapa tinggi derajat kesadaran dan tingkat ketahanan budaya masing-masing fihak yang saling bertemu. Seantero jagad seolah-olah tertangkap dalam satu janingan besar tanpa adanya suatu pusat tunggal. Kebudayaan adalah suat daya yang u sekaligus tersimpan (latent) dan nyata (actual). globalisasi benlangsung melalui dua dimensi dalam interaksi antarbangsa. Dalam kaitan mi pertemuan antarbudayajangan terutama digambarkan sebagai pertemuan antara dua fihak belaka. Kecenderungan meniru itu dalam kelanjutannya bisa terpantul melalui berkembangnya gayahidup (ljfestyle) barn yang dianggap superior dibandingkan dengan gayahidup lama. Perubahan gayahidup yang ditiru dan budaya asing bisa berkelanjutan dengan timbulnya gejala keterasingan dan kebudayaan sendiri (cultural alienation). Dalam kondisi demikian itulah pertemuan antarbudaya sangat berpengaruh atas perimbangan antara kedua daya tersebut. Tidak ada kekuatan tunggal yang mutlak dan sanggup mengabaikan apalagi mengungguli. Antara kedua daya inilah tiap masyarakat pendukung kebudayaan tertentu berada. Makin rendah derajat ketahanan budaya masyarakat pendukungnya. Proses globalisasi yang diakibatkan oleh berbagai prakarsa dan kegiatan pada skala internasional sebagaimana menggej ala dewasa mi pun penlu kita cermati sejauhmana siginifikan pengaruhnya dalam pertemuan antar-budaya.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Berkembangnya gayaliidup baru itu dapat menimbulkan kondisi sosial yang ditandai oleh heteronomi.kondisi global yang plurisentnik dan multipolar dalam era kontemporer. usainya Perang Dingin tidak menjadikan dunia kita monosentnik. dan hal ml pada gllirannya mendorong berlangsungnya proses globalisasi yang terus berkembang atas kemekarannya sendiri. Justru plunisentrisme dan multipolaritas menjadi cmi dunia menjelang akhir abad ke-20 dan memasuki abad ke-2 1. makin kuat pula budaya asing yang menerpanya berpengaruh dominan terhadap masyarakat itu. Ruang/jarak makin diperdekat dan waktu makin dipersingkat dalam interaksi dan komunikasi pada skala mondial. Budaya asing yang berpengarnh dominan terhadap satuan budaya asli bisa membangkitkan kesan sebagai µmodel¶ untuk ditiru. Dalam kondisi demikian itulah globalisme menjadi cara pandang dalam interaksi antarbangsa. 1 . yaitu sebagai daya yang cenderung melestanikan dan daya yang cenderung berkembang atas kemekarannya sendiri. maka ada baiknya kita bahas dahulu hal-ihwal yang berkenaan dengan globalisasi sebagai proses maupun globalisme sebagai carapandang yang dewasa mi cenderung dianut dalam tata-pergaulan intemasional. Medan antarbudaya. Dalam perkembangan sedemikian itu dirasakan makin dipenlukan nya suatu tatanan dunia baru yang perwujudannya memperhatikan plurisentrisme dan multipolanitas sebagai 63 . yaitu sejauh mana satu di antara fihak yang saling bertemu kurang atau tidak lagi memiliki ketahanan budaya (cultural resilience).(Ekawati.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Demikianlah kebudayaan mengandung dua daya sekaligus. Sebagai proses. Tangguh atau rapuhnya ketahanan budaya biasanya dilatani oleh menurunnya kesadaran masyarakat yang bersangkutan terhadap kebudayaannya sebagai pengukuh jatidirinya. satu daya mempertahankannya agar lestani dan daya lainnya menariknya untuk maju.

Ditenimanya suatu tatanan global barn mestinya dapat diandalkan pada tergalangnya konsensus maksimal di antara sege nap eksponen yang berperan dalam janingan itu. Dengan dukung teknologi modem an infonmasi dalam berbagai bentuk dan untuk benbagai kepentingan dapat disebarluaskan begitu rnpa. Maka tidak mustahil kemajuan masyarakat yang diterpa cenderung diukur secara memperbandingkan dengan hal-ihwal yang dipenkenalkafl melalui informasi dan fihak yang menerpa. Perlu dicatat. Dalam bidang mi tampaknya tiada altematif lain bagi kita kecuali turut berperan di dalamnya. bahwa dalam pertemuan antar-budaya mengalirnya anus informasi itu tidak senantiasa terjadi secara dua-arah. Sikap yang naif mi antara lain juga ditandai oleh kecenderungan glonifikasi terhadap fihak yang diunggulkan sebagai 64 . maka fmhak yang lebih unggul dalam menguasai teknologi informasi dan komunikasi niscaya lebih berkesanggupan untuk membiaskan pengaruhnya secara global. dominasi cendernng terjadi dan fihak yang memiliki dukungan teknologi lebih maju terhadap fihak yang lebih terbelakang.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. globalisasi dalam bidang ml sudah dijangkau oleh sistem dan pelembagaan yang makin dijadikan acuan dalam hubungan internasional.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. maka yang sesungguhnya terjadi bukanlah µpertukanan informasi¶ (exchange of information) berupa proses dua-arah yang cukup bermmbang. 2001) Gejala tersebut nyata berpengaruh atas terbentuknya sikap mental dan kultural pada fihak yang diterpa (expose) oleh fihak yang menerpanya (impose) dengan anus informasi. Rancangan demikian itu tentunya hams dapat ditenima oleh majonitas eksponen yang ambilbagian dalam janingan global yang plunisentrik dan multipolar. sehingga dengan mudah dapat mempengaruhi carapandang dan gayahidup kita. jarak makin diperdekat dan waktu makin dipersingkat. sedang kesiapan untuk ambilbagian dalam tatanan barn itu merupakan imperatif yang sukar dielakkan. Dengan jangkaun sedemikian itu. Kesegeraan dan keserampakan anus informasi yang dengan derasnya men erpa kita seolaholah tidak membenikan kesempatan pada kita untuk menyerapnya dengan filter mental dan sikap knitis. Makin canggih dukungan tersebut makin besar pula anus informasi dapat dialirkan dengan jangkauan dan dampak global. Tatanan itu tentu menuntut dirancangnya berbagai sistem dan pelembagaan yang hams diwujudkan sebagai konsekuensinya. dan ditenima dengan alasan µmengikuti kecenderungafl global¶. maka betapa pun paradoksal kedengarannya. Teknologi informasi dan komunikasi dalam era globalisasi mi merupakan pendukung utama bagi tenselenggaranya pertemuan antarbudaya. mau-tak-mau. Dalam naskah mi perhatian kita pusatkan pada penjelmaan globalisme dalam bidang yang jelas berdampak terhadap wawasan budaya kita. banjir informasi melalui sistem dan pelembagaan yang didukung oleh teknologi canggih tidak dengan sendirinya mempenkaya wawasan kita. melainkan bisa juga mencemani kita secara mental. (Ridwansyh. yaitu bidang informasi dan komunikasi yang sangat tertunjang oleh pesatnya laju perkembangan teknologi yang semakin canggih. Medan kenyataan global masakini. suka-tak-suka. 1 . dan sebagaimana terjadi dengan setiap banj in. Maka tidaklah mengherankan kalau banjir informasi itu akhirya juga bisa benpengaruh terhadap carapandang maupun gayahidup kita. melainkan dominasi anus informasi dan fihak yang didukung oleh kesanggupan merentangkan sistem informasi dengan jangkauan global. maka dalam hal mi pun terbawa limbah yang samasekali tidak berguna. Kecenderungan mi adakalanya dianggap sebagai bagian dan upaya µmodemisasi¶. maka terjadilah banjir deras informasi (information glut) yang menghujani kita dan nyanis tak lagi terkendali. Dewasa mi sistem dan pelembagaan termaksud tenutama nyata perkembangannya dalam bidang ekonomi dan perdagangan internasional. dan inilah awal dan suatu proses yang akhimya bisa bermuara pada pernbahan sikap mental dan kultural. Kalau dewasa ml dianut asas µkebebasan arns informasi¶ (free flow of information). Dalam bidang inilah terjadi pemadatan dimensi rnang dan waktu (yang disebut Harvey µtimespace compression¶). Dalam bidang informasi.

65 . tar yaitu dimensi ruang dan dimensi waktu. ideologi. Bahasa adalah alat atau perwujudan budaya yang digunakan manusia untuk saling berkomunikasi atau berhubungan. makin besar pula arus informasi dapat dialirkan dengan jangkauan dan dampak global. filsafat dan lainnya. Akan tetapi perubahan tersebut tidak mempengaruhi organisasi sosial masyarakatnya. lisan. informasi dalam bentuk apapun dan untuk berbagai kepentingan. Seperti dalam hal bahasa. Semakin lama kebudayaan akan semakin berkembang. Kita telah bergerak dari budaya lisan ke budaya tulisan sejak ditemukannya huruf. Dalam budaya visual. manusia dapat menyesuaikan diri dengan adat istiadat. Perubahan sosial merupakan bagian dari perubahan budaya. teknologi. kebudayaan disebut culture. berkomunikasi. Pengaruh globalisasi dirasakan di berbagai bidang kehidupan seperti kehidupan politik. 1990). Ruang lingkup perubahan kebudayaan lebih luas dibandingkan perubahan sosial. Melalui bahasa. yang meliputi kesenian. Medan sumber informasi global dan tampil sebagai penentu kecendeningafl (trend-setter) dalam pembentukan sikap mental dan kultural serta gaya hidup barn. globalisasi berlangsung melalui dua dimensi. gambar-yang diam atau bergerak. ataupun gerakan (bahasa isyarat). dengan tujuan menyampaikan maksud hati atau kemauan kepada lawan bicaranya atau orang lain. Pengertian Budaya Sebelum mengulas tentang perkembangan tekologi komunikasi terhadap kehidupan budaya. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai "kultur" dalam bahasa Indonesia. dan alat untuk mengadakan integrasi dan adaptasi sosial. Fungsi bahasa secara umum adalah sebagai alat untuk berekspresi. Dimensi ruang yang dapat diartikan jarak semakin dekat atau dipersempit sedangkan waktu makin dipersingkat dalam interaksi dan komunikasi pada skala dunia. perlu diketahui terlebih dahulu tentang pengertian budaya itu sendiri.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Bahasa memiliki beberapa fungsi yang dapat dibagi menjadi fungsi umum dan fungsi khusus. pertahanan keamanan dan lain-lain yang akan mempengaruhi nilai-nilai nasionalisme bangsa. Sehingga kemudian sampailah pada era globalisasi. tata krama masyarakat. sekarang kita sedang bergeser dari budaya tulisan ke budaya visual. Dengan dukungan teknologi informasi dan komunikasi. Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah. yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. mempelajari naskah-naskah kuno. Kehadiran globalisasi membawa pengaruh bagi kehidupan suatu bangsa. Sebagai sebuah proses. Teknologi komunikasi adalah pendukung utama bagi terselenggaranya globalisasi. tingkah laku. Dimana era globalisasi ini erat sekali kaitannya dengan teknologi informasi atau komunikasi. yang berasal dari kata Latin Colere. dan untuk mengeksploitasi ilmu pengetahuan dan teknologi. ekonomi. Makin canggih dukungan teknologi tersebut. Sedangkan fungsi bahasa secara khusus adalah untuk mengadakan hubungan dalam pergaulan sehari-hari. Perubahan dalam kebudayaan mencakup semua bagian.menjadi bagian yang penting dalam proses komunikasi. Hal ini tentunya tidak terlepas dari dukungan pesatnya laju perkembangan teknologi yang semakin canggih khususnya teknologi komunikasi. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. dan sekaligus mudah membaurkan dirinya dengan segala bentuk masyarakat. Namun demikian dalam prakteknya di lapangan kedua jenis perubahan perubahan tersebut sangat sulit untuk dipisahkan (Soekanto. sosial budaya. dapat disebarluaskan dengan mudah sehingga dapat dengan cepat mempengaruhi cara pandang dan gaya hidup hingga budaya suatu bangsa. Tapi. yaitu mengolah atau mengerjakan. ilmu pengetahuan. dalam interaksi an bangsa. mewujudkan seni (sastra). Kecepatan arus informasi yang dengan cepat membanjiri kita seolah-olah tidak memberikan kesempatan kepada kita untuk menyerapnya dengan filter mental dan sikap kritis. baik lewat tulisan. Dalam bahasa Inggris.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. 1 .

yaitu dunia ³maya´. (Radian. Setara dengan perkembangan perangkat keras komputer. Dengan hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri menunjukan gejala berkurangnya rasa nasionalisme masyarakat kita terhadap bangsa Indonesia. khususnya mikro-prosesor. Kemudian dapat menunjang perkembangan kebudayaan. TI di internet berkembang dengan kecepatan yang sukar dibayangkan. Dengan banyaknya produk luar negeri dan ditambahnya harga yang relatif lebih murah dapat mengurangi rasa kecintaan masyarakat terhadap produk dalam negeri. dalam waktu kurang dari satu menit sudah dikonfirmasi oleh Bank Indonesia di Medan Merdeka. Jika e-Commerce ³hanya´ memungkinkan seseorang bertransaksi jual beli melalui internet dan melakukan pembayaran dengan kartu kreditnya secara on-line. 2004) Perubahan informasi kini tidak lagi ada dalam skala minggu atau hari atau bahkan jam. Mulai dari wahana TI yang paling sederhana berupa perangkat radio dan televisi.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Banyak hal yang didapat karena pengaruh teknologi komunikasi. Pengaruh positif yang dapat dirasakan dengan adanya Teknokom adalah peningkatan kecepatan. misalnya dari globalisasi aspek ekonomi. Peningkatan kualitas hidup semakin menuntut manusia untuk melakukan berbagai aktifitas yang dibutukan dengan mengoptimalkan sumber daya yang dimilikinya. ketepatan. informasi mengalir dengan sangat cepat dan menyeruak ruang kesadaran banyak orang. Internet menghilangkan semua batas-batas fisik yang memisahkan manusia dan menyatukannya dalam dunia baru. Konsep perdagangan elektronik melalui internet. saling mempelajari kebudayaan lain. Demikian juga peragaan busana di Paris. TI disamaratakan dengan Internet. Perubahan harga saham sebuah perusahaan farmasi di Bursa Efek Jakarta hanya membutuhkan waktu kurang dari sepersepuluh detik untuk diketahui di Surabaya. Indeks nilai tukar dollar yang ditentukan di Wall Street. Medan Oleh karena itu selama ini dikenal asas ³kebebasan arus informasi´ berupa proses dua arah yang cukup berimbang yang dapat saling memberikan pengaruh satu sama lain. Teknologi Informasi dan Komunikasi yang perkembangannya begitu cepat secara tidak langsung mengharuskan manusia untuk menggunakannya dalam segala aktivitasnya.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. AS. Peran Internet tidak bisa dipungkiri dalam hal penyediaan informasi global ini sehingga dalam derajat tertentu. Sedangkan pengaruh negatif yang bisa muncul karena adanya teknologi komunikasi. Internet sendiri memang fenomenal kemunculannya sebagai salah satu tiang pancang penanda kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. tak bisa dipungkiri memberikan kontribusi yang signifikan terhadap seluruh proses globalisasi ini. akurasi dan kemudahan yang memberikan efisiensi dalam berbagai bidang khususnya dalam masalah waktu. Sulawesi. hingga internet dan telepon gengam dengan protokol aplikasi tanpa kabel (WAP). dan infrastruktur komunikasi. Pengaruh globalisasi dengan dukungan teknologi komunikasi meliputi dua sisi yaitu pengaruh positif dan pengaruh negatif. tenaga dan biaya. Konsep Teknologi Informasi (TI) Teknologi Informasi (TI) yang kini berkembang amat pesat. yang dikenal dengan nama e-Commerce yang lahir karena perkawinan TI dengan globalisasi ekonomi belum lagi genap berusia lima tahun dikenal ±dari fakta bahwa sebenarnya sudah ada sekitar 20 tahun yang lalu²ketika sudah harus merelakan dirinya digilas dengan konsepsi e-Business yang lebih canggih. TI telah mengubah wajah ekonomi konvensional yang lambat dan mengandalkan interaksi sumber daya fisik secara lokal menjadi ekonomi digital yang serba cepat dan mengandalkan interaksi sumber daya informasi secara global. yang pada waktu hampir bersamaan bisa disaksikan dari Gorontalo. atau memungkinkan seorang ibu rumah tangga memprogram lemari-esnya untuk melakukan pemesanan saribuah secara otomatis jika stok yang disimpan di kulkas itu habis dan membayar berbagai tagihan rumah tangganya melalui 66 . melainkan sudah berada dalam skala menit dan detik. 1 . terbukanya pasar bebas memungkinkan produk luar negeri masuk dengan mudahnya.

dari seluruh penduduk Indonesia yang berjumlah 220 juta jiwa. menyediakan perangkat pengakses informasi dari internet untuk masyarakat. menyusun framework penggunaan TI.7%) dibelanjakan untuk perangkat keras seperti PC dan notebook.4 juta tahun lalu. Dan seperti biasanya. 1 . transaksi ekspor impor antar negara lengkap dengan pembukaan LC dan model cicilan pembayarannya juga bisa dilakukan dengan wahana dan media yang sama.9 juta. keberadaan internet khususnya merupakan masalah yang pelik. akan tetap menempatkan Asia di pihak yang merugi. wajar jika pemerintah negara-negara Asia. angka untuk perangkat lunak ini jauh lebih besar daripada untuk perangkat kerasnya.8%). Salah satu tindakan yang akan dilakukan oleh pemerintah Asia yang disepakati dalam pertemuan GIIC itu adalah mempersiapkan hukum mengenai transaksi. dan perbankan (11. serta mengembangkan pendidikan untuk meningkatkan daya saing Asia.4%) dibelanjakan untuk perangkat lunak. naik dari US$ 638. Itu berarti hanya 0. kini mulai secara resmi mendukung perkembangan TI setelah sekian lama diamkebingungan karena tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan perkembangan teknologi yang demikian cepat ini.9 juta itu. Namun.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. khususnya pemanfaatan jaringan internet. serta perbedaan sosial politik di antara negara-negara yang kini harus bekerjasama ±yang bila gagal diatasi.95% dari jumlah penduduk. diikuti oleh discreet manufacturing (16. Namun. krisis ekonomi yang dialami Asia pada akhir tahun 90an menunda perkembangan TI di saat AS dan negara-negara Eropa sedang berkembang pesat dalam penggunaan teknologi itu.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Kasus ini layaknya menghadapkan kemajuan TI dengan alat perang dan kekuasaan. pemerintah (12. Namun memang masih ada hambatan. bisa cukup menimbulkan dilema bagi pemerintah. dana yang sudah dibelanjakan untuk kepentingan TI di Indonesia cukup besar.3%). senjata lebih berkuasa daripada teknologi. dipercaya bahwa gerakan mahasiswa dan bantuan logistiknya dikoordinasikan dengan 67 . membangun jaringan online-pemerintah. Tahun 2000 ini diperkirakan US$ 772.4%). Sebagian yang lain (14. Seharusnya. sebagian besar (57. Bagi Asia. merek dagang. Medan instruksi pada bank yang dikirim dengan menekan beberapa tombol pada telepon genggamnya. Di jaman Orde Baru berkuasa dulu. kejahatan internet. Hal ini diduga keras karena di Indonesia tingkat pembajakan masih di atas 90%. Konon. Sampai dengan bulan Juni 1999. lebih khusus lagi bagi negara yang memiliki peraturan ketat.e-culture/203) Pertemuan Asian Regional Conference of the Global Information Infrastructure Commission (GIIC) di Manila pada bulan Juli 2000 menghasilkan rencana untuk membangun jaringan komunikasi. yang saat ini sedang bekerja keras mengejar ketinggalan dari negara-negara maju dan pada saat yang sama mengalami perubahan sosial politik. negara yang dianggap kurang maju. angka sekecil itu yang diperkuat dengan TI. terutama antara lain sumber daya yang terbatas. TI disikapi dengan penuh kebingungan. Sementara dari 17 sektor yang membelanjakan uang untuk TI tadi. sektor yang paling banyak mengeluarkan uang adalah komunikasi & media (19. masih menurut sumber dari Kontan On-line. masih kakunya sistem pemerintahan. Jumlah ini belum termasuk investasi dotcom yang sempat bergairah obor-blarak dalam dua tahun terakhir. maka dengan e-Business. (http://www. Angka ini masih sangat kecil dan jika dijadikan pijakan konsepsi utopis TI yang mampu mendorong terjadinya perubahan sosial. seperti misalnya dalam kasus penggerebekan salah satu Internet Service Provider (ISP) di Jakarta saat ³Kudatuli´ ±kerusuhan dua puluh tujuh juli²yang menghebohkan itu. Karena itu.9%). hak cipta dan masalah lain. jumlah personal computer yang ada di negeri ini hanya sekitar 2 juta unit. Bagaimana dengan Indonesia? Menurut Tabloid Kontan On-line tanggal 9 Oktober 2000 yang mengutip IDC (Information Data Corporation) . Dari US$ 772. Lebih buruk lagi. kekuatan TI yang ditekan itu kemudian tampil ³jumawa´ dalam episode jatuhnya Orde Baru.

dalam hal informasi dan dilihat dari kacamata TI. Dunia yang saat ini.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Dengan populasi mencapai 2. Tapi. Kenichi Ohmae dalam bukunya yang terkenenal The End of the Nation State. Maka yang harus dilakukan dalam konteks perkembangan TI dan globalisasi ini adalah membangun kembali keberpihakan TI melalui strategi yang membela mereka yang selama ini ditinggalkan dan diabaikan dalam arus globalisasi. dan tanpa informasi maka semua kegiatan akan berhenti. Telkom. Dalam hal politik. 1998 dan 1999. berkontribusi atas terjadinya suatu perubahan sosial yang bermakna di Ind onesia. Konsep Negara Kesatuan misalnya. Tanpa TI. TI. Pemerintah beranggapan bahwa proteksi itu diberikan dengan asumsi tidak mungkin pemain-pemain lokal mampu bersaing dengan investor asing dalam dunia TI. menurut pencetus ide ³The Third Way´ Anthony Giddens dengan teori strukturasi modernisnya. Dalam PP No 52/2000 misalnya. Kebingungan ini juga terlihat jelas dalam perumusan UU Telekomunikasi beserta PP yang menyertainya. Jelas. Demokrasi melanda dunia dan dunia menerapkan demokrasi itu melalui sistem telekomunikasi global. bahwa kebijakan pemerintah saat ini menimbulkan semakin banyak masalah yang timbul dalam pengembangan TI. meningkatnya tribalisme saat ini mungkin bisa dianggap terkait dengan kemajuan TI karena memperjelas banyak hal sehingga setiap orang dapat mengetahui peristiwa yang terjadi di mana saja. yaitu dengan memberikan kesempatan pada yang kecil. Tak ada jalan untuk mundur lagi. Sebuah paradoks: karena ekonomi global makin membesar. yang tentu ada dalam mainstream TI. Bagaimana memulai? Pertama. Keppres 96/2000 yang garis besarnya berisi larangan masuknya investor asing di bidang industri multimedia di Indonesia. 2004) TI modern memungkinkan kerjasama yang luar biasa antar masyarakat. pemerintah harus mulai berubah ke arah sistem dimana peraturan dan hukum didasarkan bukan pada kemauan pemerintah. jika dilihat dari kacamata TI dan globalisasi secara paradoks bisa jadi sudah punah karena negara yang efektif justru memecah dirinya menjadi bagian lebih kecil dan lebih efisien. jelas adalah keniscayaan. dari yang lokal. menunjukkan dengan jelas kebingungan pemerintah dalam merespon perkembangan bisnis multimedia. melihat dengan jelas bahwa gagasan ³pemerintah pusat adalah bagian yang terpenting dari sebuah pemerintahan´ sudah saatnya ditinggalkan. sedang bermetamorfosa dari swapraja menuju swakelola. harus meminta ijin yang ditandatangani oleh menteri (!). pemerintah baru yang terpilih secara relatif demokratis pasca rejim Orde Baru ini juga gagap menanggapi kemajuan TI. telepon gengam dan email pada para koordinator lapangan untuk mengantisipasi blokade militer yang menyapu Jakarta dan kota-kota lainnya saat itu. Dunia dalam kacamata TI saat ini adalah dunia tentang pribadi orang per orang. Globalisasi. Dengan Kepres itu. Dengan semakin banyaknya informasi yang diterima masyarakat. komunikasi militer pun disadap dan semua sandi militer diterjemahkan oleh para aktivis dan dibagikan lewat pager. yang pada masa lalu tidak terlihat ±tapi bukannya tidak ada. pemenang hadiah Nobel bidang Ekonomi tahun 1998. entah dimana salahnya. justru banyak pemain lokal yang berteriak dan menentang keppres ini. Bahkan.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Menurut Amartya Sen. apabila seseorang ingin mendirikan warung internet. Padahal. (Martinginsih. maka negara-negara yang mengambil peran akan semakin mengecil. informasi tidak ada. pelaku ekonomi dan negara. 1 . untuk mengurus ijin pendirian warnet. Satu-satunya pemain lokal yang terlihat paling getol mendukung dikeluarkannya keppres tersebut hanyalah PT.1 juta unit usaha yang ³tahan banting´ ±sudah teruji dalam krisis ekonomi²maka pengusaha kecil. secara langsung atau tidak. menengah dan koperasi merupakan sasaran pokok yang harus didorong dan diberdayakan dalam memanfaatkan TI untuk 68 . yaitu jatuhnya rejim militeristik yang sudah berkuasa 32 tahun lamanya. teknologi harus berpihak dan mengabdi pada manusia. tersirat inferioritas yang luar biasa dalam diri pemerintah. melainkan pada legitimasi masyarakat. bukan negara (state). Medan memanfaatkan kecanggihan TI ini.

telepon selular dan media elektronik lain) yang berkembang sangat pesat. baik legal maupun illegal dengan menghalalkan segala cara karena ingin memperoleh keuntungan secara ³potong kompas´. terutama terhadap generasi muda itu. bisa positif bisa pula negatif. mudah. Kemudahan dalam mengakses informasi dan ilmu pengetahuan dari berbagai sumber dan belahan dunia. kompetitif dan komparatif. Adanya penyalahgunaan teknologi informasi yang merugikan kepentingan pihak lain sudah menjadi realitas sosial dalam kehidupan masyarakat moderen sebagai dampak dari pada kemajuan iptek yang tidak dapat dihindarkan lagi bagi bangsa-bangsa yang telah mengenal budaya teknologi (the culture of technology). sumber daya manusia dan keahlian. Disamping itu. Dampak perkembangan teknologi informasi dirasa sangat berpengaruh terhadap pengaturan hukum. Teknologi telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan umat manusia dalam dunia yang semakin ³sempit´ ini. pemantapan kehidupan beragama dapat dijadikan benteng pertahanan bagi masyarakat untuk meminimalisasi pengaruh negatif dari 69 . Dampak buruk dari perkembangan ³dunia maya´ ini tidak dapat dihindarkan dalam kehidupan masyarakat modern saat ini dan masa depan. budaya. murah. penyalahgunaan Narkoba. Hal ini salah satunya dapat dilihat pada upaya kreasi manusia yang berkaitan dengan bidang ilmu pengetahuan. politik. diperlukan persiapan yang matang. Peranan pemerintah bersama serta segenap elemen masyarakat. Medan melakukan perdagangan elektronik karena keterbatasan modal. Globalisasi dunia melalui teknologi informasi (internet. Sedangkan dampak negatifnya adalah masuknya pengaruh budaya asing.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Dampak perkembangan teknologi informasi. maka tidak mengherankan dalam setiap aspek kehidupan manusia pun mulai menunjukan suatu fenomena baru. sehingga dalam membangun sosial budaya. hukum internasional maupun teknologi persenjataan militer untuk pertahanan dan keamanan negara bahkan kebutuhan intelijen. Perkembangan iptek. semakin dituntut dan diperlukan untuk mengawasi. merupakan salah satu manfaat positif. karena teknologi memegang peran amat penting di dalam kemajuan suatu bangsa dan negara di dalam percaturan masyarakat internasional yang saat ini semakin global. terutama teknologi informasi (information technology) seperti internet sangat menunjang setiap orang mencapai tujuan hidupnya dalam waktu singkat.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. tindakan kriminalitas dan budaya kekerasan. 1 . Betapa tidak dengan penggunaan teknologi informasi perilaku manusia secara nyata telah beralih dari model aktifitas yang didasarkan pada suatu bentuk hubungan face to face telah bergeser kepada pola hubungan digitally. seni dan sastra. Bangsa dan negara yang menguasai teknologi tinggi berarti akan menguasai ³dunia´. Oleh karena adanya pergeseran demikian. Selaku harapan serta tumpuan bangsa dan negara yang akan melanjutk pembangunan an di segala bidang. cepat dan aman. membina dan menyelamatkan para generasi muda dari dampak negatif kemajuan teknologi informasi. generasi muda mesti dibekali sedini mungkin dengan ilmu pengetahuan tentang tata cara mengambil manfaat positif dari kemajuan teknologi informasi yang berkembang dengan deras dan pesat. Pemanfaatan Teknologi Informasi Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) yang cukup pesat sekarang ini sudah menjadi realita sehari-hari bahkan merupakan tuntutan masyarakat yang tidak dapat ditawar lagi. seperti pergaulan bebas. Tujuan utama perkembangan iptek adalah perubahan kehidupan masa depan manusia yang lebih baik. baik secara ekonomi. agar mereka dapat mengambil manfaat positif dan membentengi diri dari dampak negatif globalisasi dunia yang tengah berkembang ini. Generasi muda adalah kelompok masyarakat yang sangat rentan terhadap pengaruh budaya asing ini. Semua ini dapat dipahami.

kecuali kejahatan mayantara yang bermotif pada kejahatan ekonomi/perbankan. Mengantisipasi kejahatan ini seyogianya dimulai melalui pembentukan perangkat undangundang seperti dalam Konsep KUHP Baru dan RUU Teknologi Informasi yang disusun oleh Pusat Kajian Cyberlaw Universitas Padjadjaran. kehidupan pribadi. Jaringan informasi global atau internet saat ini telah menjadi salah satu sarana untuk melakukan kejahatan baik domestik maupun internasional. Kesulitan yang dialami adalah pada perangkat hukum atau undang-undang teknologi informasi dan telematika yang belum ada sehingga pihak kepolisian Indonesia masih raguragu dalam bertindak untuk menangkap para pelakunya. Munculnya revolusi teknologi informasi dewasa ini dan masa depan tidak hanya membawa dampak pada perkembangan teknologi itu sendiri. akan tetapi diatur secara umum dalam RUU Teknologi Informasi dan RUU Telematika. Artinya. 2002) Selain melakukan upaya dengan mengkriminalisasikan kegiatan di cyberspace dengan pendekatan global. Suatu hal yang patut diperhatikan adalah bahwa kejahatan sebagai gejala sosial sampai sekarang belum diperhitungkan dan diakui untuk menjadi suatu tradisi atau budaya yang selalu mengancam dalam setiap saat kehidupan masyarakat. Kejahatan mayantara dewasa ini mengalami perkembangan pesat tanpa mengenal batas wilayah negara lagi (borderless state). Para hacker dan cracker bisa melakukannya lewat lintas negara (cross boundaries countries) bahkan di negara-negara berkembang (developing countries) aparat penegak hukum. sosial. ekonomi dan hukum dari kemajuan teknologi moderen yang tidak begitu mudah ditangani oleh aparat penegak hukum di negara berkembang seperti halnya Indonesia yang membutuhkan perangkat hukum yang jelas dan tepat dalam mengantisipasi setiap bentuk perkembangan teknologi dari waktu ke waktu. Harus diakui bahwa Indonesia belum mengadakan langkah-langkah yang cukup signifikan di bidang penegakan hukum (law enforcement) dalam upaya mengantisipasi kejahatan mayantara seperti dilakukan oleh negara-negara maju di Eropa dan Amerika Serikat. akan tetapi juga akan mempengaruhi aspek kehidupan lain seperti agama. Pembentukan unit kepolisian ini patut dipuji. Pemerintah Indonesia sedang melakukan suatu pendekatan evolusioner untuk mengatur kegiatan-kegiatan santun di cyberspace dengan memperluas pengertianpengertian (ekstensif interpretasi) yang terdapat dalam Konsep KUHP Baru. Medan dampak globalisasi dunia melalui teknologi informasi yang masuk dengan deras ke semua pelosok negeri di Indonesia. artinya ketentuan cybercrime tidak dibuat dalam bentuk perundang-undangan tersendiri (khusus). Manifestasi kejahatan mayantara yang terjadi selama ini dapat muncul dalam berbagai macam bentuk atau varian yang amat merugikan bagi kehidupan masyarakat ataupun kepentingan suatu bangsa dan negara pada hubungan internasional. 1 . Semua ini menjadi motif dan modus operandi yang amat menarik bagi para penjahat digital. Konsep 70 . masyarakat bahkan bangsa dan negara. karena kemajuan teknologi yang digunakan para pelaku cukup canggih dalam aksi kejahatannya. politik. kebudayaan. sarana dan prasarana teknologi yang dimiliki. namun amat disayangkan apabila unit ini bekerja tidak dilengkapi dengan perangkat legislasi anti cybercrime. internasional dan melampaui batas ataupun kedaulatan suatu negara. Di sini perlu ada semacam batasan hukum yang tegas di dalam menanggulangi dampak sosial. Pihak kepolisian Indonesia telah membentuk suatu unit penanggulangan kejahatan mayantara dengan nama Cybercrime Unit yang berada di bawah kendali Direktrorat Reserse Kriminal Polri.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika.(Nugraha. Model yang digunakan adalah Umbrella Provision atau ³undang-undang payung´. Internet menjadi medium bagi pelaku kejahatan untuk melakukan kejahatan dengan sifatnya yang mondial.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. khususnya kepolisian tidak mampu untuk menangkal dan menanggulangi disebabkan keterbatasan sumber daya manusia.

1 . Mengingat kemajuan teknologi telah merambah ke pelosok dunia. Sayangnya. Data tersebut dikumpulka melalui pra survey dan survey lapangan (observasi langsung) dan wawancara mendalam (debt interview) dengan menggunakan pedoman wawancara. Medan KUHP Baru sebelumnya tidak memperluas pengertian-pengertian yang terkait dengan kegiatan di cyberspace sebagai delik baru. Selain itupula dukungan kemampuan masyarakat untuk mengetahui perkembangan kebudayaan Kota Makassar juga berperan penting terhadap perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. maka dampak buruk teknologi yang menjadi kejahatan mayantara pada masa depan harus ditanggulangi dengan lebih hati-hati. Berikut pendapat responden tentang kemampuan Pemerintah dalam mendukung pemanfaatan globalisasi teknologi informasi terhadap budaya masyarakat di Kota Makas sar yaitu sebagai berikut : 71 . Dampak buruk teknologi yang disalahgunakan oleh orang-orang tidak bertanggungjawab menjadi masalah hukum pidana dan harus segera ditanggulangi melalui sarana penal yang dapat dilakukan oleh penegak hukum kepolisian.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Namun perkembangan teknologi digital tidak akan dapat dihentikan oleh siapapun.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. termasuk kepedesaan di Indonesia. Data primer diperoleh melalui penyebaran angket kepada beberapa responden dengan menggunakan angket (questioner). Seyogianya kemajuan teknologi menolong kehidupan masyarakat yang semakin kompleks. HASIL PEMBAHASAN Hasil penelitian yang digunakan dalam pelaksanaan ini untuk menganalisa faktor pendukung pemanfaatan globalisasi Teknologi Informasi terhadap perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. Adapun hasil penelitian yang dilakukan terhadap obyek penelitian adalah sebagai berikut : Kemampuan Masyarakat dan Pemerintah Pemanfaatan globalisasi teknologi informasi dapat terlaksana dengan baik jika didukung oleh kemampuan pemerintah mendukung penggunaan teknologi informasi terhadap perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. baik melalui sarana penal maupun non penal agar tidak menjadi masalah kejahatan besar bagi bangsa dan negara yang mengalami krisis ekonomi. perangkat undang-undang belum tersedia sebagai sarana penal dalam menanggulanginya. karena telah menjadi ³kebutuhan pokok´ manusia moderen yang cenderung pada kemajuan dengan mempermudah kehidupan masyarakat melalui komunikasi dan memperoleh informasi baru. Perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat dewasa ini patut disyukuri sebagai hasil budaya manusia moderen. Dampak buruk teknologi menjadi pekerjaan rumah bersama yang merupakan sisi gelap dari perkembangan teknologi yang harus ditanggulangi. Namun kemajuan teknologi membawa dampak buruk dalam kehidupan masyarakat berupa kejahatan mayantara sehingga harus diantisipasi dengan tersedianya perangkat hukum atau undang-undang yang tepat.

Wawancara dengan informan diperoleh informasi bahwa kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan Teknologi Informasi masih kurang.56 %) Wawancara dengan informan diperoleh informasi bahwa pemerintah mendukung pemanfaatan Teknologi Informasi terhadap perkembangan budaya masyarakat di Kota Makassar. 72 .81 2.03 %). Kurang Mampu 29 46. Tidak mendukung 6 9.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Tidak Mampu 11 17.52 Jumlah 63 100. Hal ini dapat dilihat dari pemanfaatan Teknologi Informasi dalam mendukung kegiatan di Kota Makassar seperti pembuatan website Pemerintah Kota Makassar yang memuat tentang perkembangan sektor kebudayaan di KotaMakassar.63 2. 1 . Medan Tabel 1 Pendapat Responden Tentang Kemampuan Pemerintah Dalam Mendukung Globalisasi Teknologii Informasi terhadap Kegiatan Kebudayaan Di Kota Makassar Frekuensi Persentase No Pendapat Responden (orang) (%) 1. Sangat mendukung 15 23.52 4. Mampu 10 15.00 Sumber : Data Primer diolah November 2008 Mengacu kepada jawaban responden tersebut terlihat bahwa kemampuan pemerintah mendukung pemanfaatan Teknologi Informasi budaya masyarakat Kota Makassar. Karena dari 63 responden yang memberikan jawaban kurang mampu sebanyak 29 orang (46. Hal ini disebabkan masih kurang masyarakat yang membuka website-website yang memuat tentang perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. Kurang mendukung 7 9. Mendukung 35 55. yaitu sebagai berikut : Tabel 2 Pendapat Responden Tentang Kemampuan Masyarakat Menggunakan Teknologi Informasi Dalam Mendukung Kebudayaan Masyarakat di Kota Makassar Frekuensi Persentase No Pendapat Responden (orang) (%) 1.87 3.00 Sumber : Data Primer diolah November 2008 Mengacu kepada jawaban responden tersebut terlihat bahwa kemampuan pegawai di instansi Pemerintah Kota Makassar masih kurang dalam menggunakan software computer PC di setiap unit kerja. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pemerintah sebagai motivator dalam mendukung penggunaan teknologi informasi terhadap perkembangan budaya masyarakat di Kota Makassar. Hal ini dapat dilihat dari fasilitas yang digunakan saat melakukan kegiatan kebudayaan seperti pameran-pameran kebudayaan ataupun memperkenalkan seni-seni budaya yang ada di Kota Makassar kepada dunia luar. Karena dari 63 responden yang memberikan jawaban mendukung sebanyak 35 orang (55.46 Jumlah 63 100. Sangat Mampu 13 20.03 4.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.56 3. Berikut pendapat responden tentang kemampuan masyarakat menggunakan Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan budaya masyarakat di Kota Makassar.

Medan Hasil pengamatan menunjukkan bahwa teknologi informasi yang digunakan dalam mendukung kebudayaan di Kota Makassar kurang maksimal. Hal ini dapat dilihat saat melakukan kegiatan kebudayaan Teknologi Informasi yang digunakan dapat digunakan baik oleh masyarakat maupun pihak. Berikut pendapat responden tentang kuantitas fasilitas yang dimiliki dalam mendukung penggunaan Teknologi Informasi yaitu sebagai berikut : 73 . Hasil pengamatan menunjukkan bahwa fasilitas yang digunakan dalam setiap kegiatan kebudayaan fasilitas yang digunakan cukup berkualitas. 4 .JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Demikianlah halnya penggunaan teknologi informasi terhadap perkembangan kebudayaan di Kota Makassar memerlukan fasilitas yang memadai bai dari segi kualitas maupun kuantitas. Fasilitas yang memadai akan memberikan kemudahan kepada pengguna Teknologi Informasi untuk memperoleh data dan informasi. Karena dari 63 orang yang memberikan jawaban kurang berkualitas adalah 21 orang (33.22 Mengacu kepada jawaban responden tersebut terlihat bahwa kualitas fasilitas Teknologi Informasi yang digunakan dalam mendukung perkembangan budaya masyarakat di Kota Makassar kurang berkualitas. Dukungan Fasilitas Teknologi Informasi Fasilitas teknologi informasi yang memadai baik dari segi kualitas maupun kuantitas sangat dibutuhkan.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. 2 . Dalam mendukung kegiatan kebudayaan di Kota Makassar selain menggunakan fasilitas yang dimiliki. Jumlah 63 Sumber : Data Primer diolah November 2008 100.58 Pendapat Responden Sangat Berkualitas Frekuensi (orang) 14 Persentase (%) 22.33 %).87 Kurang berkualitas 21 33. Hal ini dapat dilihat masih banyaknya masyarakat yang kurang memahami pemanfaatan globlalisasi Teknologi Informasi dari seluruh aspek kehidupan termasuk perkembangan kebudayaan di Kota Makassar.33 Berkualitas 18 28. 1 . 3 . Wawancara dengan informan diperoleh informasi bahwa fasilitas yang digunakan dalam mendukung peningkatan kegiatan kebudayaan di Kota Makassar telah memadai dan memiliki kualitas yang cukup berkualitas. Berikut pendapat responden tentang kualitas fasilitas Teknologi Informasi dalam mendukung perkembagan budaya masyarakat di Kota Makassar yaitu sebagai berikut : Tabel 3 Pendapat Responden Tentang Kualitas Sarana dan Prasarana Dalam Pemanfaatan Teknologi Informasi Terhadap Perkembagan Kebudayaan di Kota Makassar No 1 .00 Tidak Berkualitas 10 15. pihak Pemerintah Kota juga melakukan kerjasama dengan pihak penyediaan layanan Teknologi Informasi untuk mendukung kualitas fasilitas yang digunakan.

00 Mengacu kepada jawaban responden tersebut terlihat bahwa fasilitas Teknologi Informasi yang digunakan dalam mendukung kegiatan kebudayaan di Kota Makassar dari segi kuantitas masih kurang. 3. Dukungan sikap dan perilaku masyarakat untuk mengetahui sejauh mana perkembangan kegiatan kebudayaan di Kota Makassar. 2.51 14.68 31.98 36.51 19. maka untuk mendukung kegiatan kebudayaan masih menyewa peralatan dari penyediaan layanan Teknologi Informasi.05 74 . Hal ini dapat dilihat saat melakukan kegiatan kebudayaan.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Berikut pendapat responden tentang sikap dan perilaku masyarakat terhadap penggunaan Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar yaitu sebagai berikut : Tabel 5 Pendapat Responden Tentang Sikap Masyarakat Terhadap Penggunaan Teknologi Informasi Dalam Mendukung Perkembangan Budaya Masyarakat No 1.46 26. Wawancara dengan informan diperoleh informasi bahwa fasilitas Teknologi Informasi yang digunakan dalam mendukung kegiatan kebudayaan di Kota Makassar kurang baik.89 44.92 100. 4. 1 . 2.68 %). 4. Kurang memadainya fasilitas Teknologi Informasi yang digunakan dari segi jumlah masih sangat terbatas. Medan Tabel 4 Pendapat Responden Tentang Fasilitas Teknologi Informasi Dari Segi Kuantitas Dalam Mendukung Kegiatan Kebudayaan di Kota Makassar No 1. Pendapat Responden Sangat baik Baik Kurang Baik Tidak Baik Frekuensi 11 17 23 12 Persentase 17. Sikap dan Perilaku Masyarakat Pemanfaatan Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar perlu didukung sikap dan perilaku masyarakat dalam memahami Teknolog i Informasi tersebut. Hal ini disebabkan keterbatasan anggaran yang dimiliki untuk melakukan penambahan fasilitas Teknologi Informasi yang digunakan dalam mendukung perkembangan kebudayaan masyarakat di Kota Makassar kurang maksimal. 3. Karena dari 63 responden yang memberikan jawaban kurang baik sebanyak 21 orang (44.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa fasilitas Teknologi Informasi yang digunakan dalam mendukung kegiatan kebudayaan di Kota Makassar masih perlu mendapat perhatian dari Pemerintah Kota Makassar. Frekuensi (orang) Sangat baik 4 Baik 7 Kurang Baik 21 Tidak Baik 15 Jumlah 63 Sumber : Dara primer diolah November 2008 Pendapat Responden Persentase (%) 8.

Hal ini dapat dilihat dari keinginan dan animo masyarakat untuk mengetahui perkembangan kegiatan kebudayaan di Kota Makassar.29 20.00 Mengacu kepada jawaban responden tersebut terlihat bahwa sikap masyarakat terhadap penggunaan Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar kurang baik. Wawancara dengan informan diperoleh informasi bahwa sikap masyarakat terhadap penggunaan Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar masih kurang baik. Wawancara dengan informan diperoleh informasi bahwa sikap masyarakat terhada p penggunaan Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar masih kurang baik. Frekuensi (orang) Sangat memahami 9 Memahami 13 Kurang Memahami 22 Tidak memahami 19 Jumlah 63 Sumber : Dara primer diolah November 2008 Pendapat Responden Persentase (%) 14. 2. Website yang memuat kegiatan kebudayaan di Kota Makassar sering mengalami gangguan atau dalam melakukan download file mengalami gangguan. 1 . Kurangnya keinginan tersebut disebabkan : 1.16 100.51 %). Masyarakat kurang termotivasi tentang kegiatan kebudayaan masyarakat. Hal ini dapat dilihat dari sikap masyarakat untuk mengetahui perkembangan kegiatan kebudayaan di Kota Makassar masih perlu mendapat perhatian dari pemerintah. Berikut pendapat responden tentang pemahaman masyarakat terhadap Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar yaitu sebagai berikut : Tabel 6 Pendapat Responden Tentang Pemahaman Masyarakat Terhadap TI Mendukung Perkembangan Budaya Masyarakat No 1. 4.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. kurangnya sosialisasi yang dilakukan Pemerintah Kota Makassar kepada masyarakat untuk memanfaatkan Teknologi Informasi dalam mengetahui perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. Karena dari 63 responden yang memberikan jawaban kurang memahami sebanyak 22 orang (34.93 %).92 30.00 Mengacu kepada jawaban responden tersebut terlihat bahwa sikap masyarakat dalam memahami Teknologi Informasi yang digunakan dalam mendukung kegiatan kebudayaan di Kota Makassar masih kurang memahami. 75 . 3. Karena dari 63 responden yang memberikan jawaban kurang baik sebanyak 23 orang (36. Medan Jumlah 63 Sumber : Dara primer diolah November 2008 100. Hal ini dapat dilihat dari sikap masyarakat untuk mengetah ui perkembangan kebudayaan di Kota Makassar masih perlu mendapat perhatian dari pemerintah.63 34. 3.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. 2. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa sikap masyarakat terhadap Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar masih kurang baik.

76 . Medan Wawancara dengan informan diperoleh informasi bahwa sikap masyarakat terhadap penggunaan Teknologi Informasi yang digunakan dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar memerlukan pemahaman dari masyarakat.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. 1 .JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.

1995 Sen. Knowledge Machine : Language & Information in a Technological Society. 1985 Lain-lain : Infokomputer. Kemampuan Pemerintah dan kemampuan masyarakat kurang mampu memberikan dukungan terhadap pemanfaatan globalisasi Teknologi Informasi dalam perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. Longman Publisher. Perlunya sosialisasi yang dilakukan pemerintah dalam mendukung peningkatan kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. 2. 3. 9 Oktober 2000. 1995 Ohmae. Sikap dan perilaku masyarakat dalam memahami pemanfaatan globalisasi Teknologi Informasi kurang optimal. Polity Press. Employment.com/ Kontan On-line.kontan-online. Amartya. Third Way and Its Critics.com/ di-Up load oleh: Anton Waspo 77 . London: Harper Collins. 2000 Murray.com Edisi Juli-Agustus 2000. Saran Adapun saran yang dapat diberikan dalam penulisan ini adalah sebagai berikut : 1. http://www. Amartya. Perlunya penambahan fasilitas yang memadai dalam mendukung pemanfaatan Teknologi Informasi terhadap perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. Khususnya kemampuan masyarakat dalam memahami pentingnya pemanfaatan Teknologi Informasi. Hal ini disebabkan masih banyak masyarakat yang kurang mengerti dan memahami pentingnya Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. 1975 Sen. Oxford University Press. Anthony. 3. yaitu : 1.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Fasilitas yang digunakan baik segi kualitas dan kuantitas kurang mampu mendukung pemanfaatan Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. Technology & Development. India. Hal ini dilihat dari beberapa faktor pendukung yang kurang terlaksana secara baik. Medan PENUTUP Kesimpulan Berdasarkan pembahasan di atas. Cambridge University Press. 1 . http://www. The Standard of Living. Daftar Bacaan Giddens. The End of The Nation State ± The Rise of Regional Economies. London. Denise E.. Kenichi.infokomputer. 2. Sikap dan perilaku yang dimiliki oleh masyarakat dalam memanfaatkan Teknologi Informasi sangat penting dimiliki sehingga masyarakat dapat memanfaatkan Teknologi Informasi secara maksimal dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan globalisasi Teknologi Informasi terhadap perkembangan kebudayaan di Kota Makassar kurang optimal. Singapore.

Dinas Tenaga Kerja Latar Belakang Masalah Keluhan pencari kerja. serta peraturan cuti kerja di negara tujuan. serta penyampaian informasi secara langsung atau tatap muka. Penulis adalah Peneliti Madya bidang Studi Komunikasi dan Media pada Pusat Litbang Aptel SKDI. 1 . apakah diseminasi informasi online sudah berjalan ? Penelitian ini bersifat deskriptif dan menggunakan pendekatan kualitatif dengan fenomenologi realistik. kedua Dinas Tenaga Kerja itu disarankan menyediakan leaflet berisi informasi ketenagakerjaan seperti lowongan pekerjaan dan persyaratan pembuatan kartu kuning. calon TKI sebagai pencari kerja cenderung menerima saja informasi yang disampaikan petugas atau sponsor. Pengumpulan data dilakukan dengan pengamatan dan wa wancara mendalam (depth interview) serta mempelajari data sekunder. buletin dan leaflet. Di dalamnya diungkapkan apa saja yang dilaksanakan Dinas Tenaga Kerja sebagai institusi pemerintah di Daerah tersebut kepada pencari kerja. Pencari Kerja. Wawancara menggunakan pedoman wawancara dengan nara sumber di Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah dan di Kota Palangkarya. tetapi sementara tidak dapat difungsikan karena hamb atan dana. Informasi yang diperoleh pencari kerja di Tanah Air dari sumber informasi resmi masih amat terbatas tentang informasi lowongan pekerjaan. Di samping pemanfaatan internet.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. sistem gaji dan uang lembur. Jakarta 4 78 . Oleh karena itu. termasuk calon TKI mengenai informasi ketenagakerjaan belum banyak diungkapkan. Sejauh ini belum banyak diteliti mengenai informasi apa yang selama ini diterima oleh pencari kerja baik yang bekerja di dalam negeri maupun calon TKI yang hendak berangkat ke luar negeri. Medan Diseminasi Informasi Ketenagakerjaan Pada Dinas Tenaga Kerja Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah dan Kota Palangkaraya Oleh : Paraden Lucas Sidauruk4 Abstrak Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan gambaran bagaimana pelaksanaan diseminasi informasi ketenagakerjaan bagi pencari kerja di Provinsi Kalimantan Tengah. Sikap ini terjadi karena kurang lengkap pengetahuan dan informasi yang dimilikinya mengenai hak dan kewajiban seorang TKI. Di masa yang akan datang. Umumnya informasi tentang hak dan kewajiban TKI yang lengkap belum diterima pada saat pendaftaran dan proses rekrutmen calon TKI.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. dan pencari kerja di loket diseminasi kartu kuning. Diseminasi informasi ketenagakerjaan melalui online pernah dilakukan dengan menggunakan internet khususnya e mail dan browsing. Semua aktivitas tersebut belum maksimal menjangkau khalayak pencari kerja. Kata Kunci : Diseminasi Informasi Ketenagakerjaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua Dinas Tenaga Kerja tersebut telah melaksanakan diseminasi informasi ketenagakerjaan secara variatif melalui spanduk. perlu dibangun jaringan LAN ketenagakerjaan di antara instansi ketenagakerjaan yang terkait. Calon TKI sebagai pencari kerja juga biasanya mengingikan informasi yang dianggap menarik perhatian saja seperti mengenai adat istiadat dan agama. sebelumnya peneliti yang sama pada Pusat Pengembangan Literasi Departemen Komunikasi dan Informatika. siaran televisi. khususnya di Kota Palangkaraya. perusahaan tempat kerja.

Di samping masalah informasi ketenagakerjaan itu. Berdasarkan pemikiran itu.Oleh karena itu. Provinsi Kalimantan Tengah ?´ Beberapa pertanyaan penelitian dapat diajukan. Apa saja yang dilaksanakan pemerintah untuk pencari kerja dalam diseminasi informasi ketenagakerjaan? 2. 1 . Rumusan Masalah Masalah penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut : ´Bagaimana pelaksanaan diseminasi informasi ketenagakerjaan bagi pencari kerja di Kota Palangkaraya. Medan Padahal semua informasi berkaitan dengan ketenagakerjaan itu merupakan hak seorang pencari kerja sebagai warganegara yang dijamin oleh Pasal 28 F UUD 1945 dan Undang-undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik. Banyak juga yang menganggap pekerjaan tertentu hanya sebagai batu loncatan seperti bekerja sebagai penjual (sales) atau bekerja di perusahaan atau instansi yang tidak sesuai dengan harapannya. Apakah diseminasi informasi ketenagakerjaan melalui on line telah dilaksanakan pemerintah kepada pencari kerja ? 3. sumber informasi resmi di bidang ketenagakerjaan belum sepenuhnya melakukan diseminasi informasi ketenagakerjaan sebagai sutatu bentuk komunikasi yang benar-benar menjangkau khalayak pencari kerja. Informasi apa yang disampaikan oleh pemerintah kepada pencari kerja ? Tujuan dan Manfaat Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan gambaran diseminasi informasi ketenagakerjaan bagi pencari kerja di Palangkarya. Komunikasi yang dilakukan oleh pemerintah dan perusahaan selama ini masih belum mampu memenuhi kebutuhan informasi ketenagakerjaan pencari kerja seperti juga terjadi di Palangkaraya. Pelaksanaan diseminasi informasi ketenagakerjaan on line kepada pencari kerja. tidak sedikit di antaranya berganti-ganti pekerjaan dalam waktu singkat. Selain karena kurangnya sarana komunikasi. Kalimantan Tengah. 79 . Pencari kerja ini menggunakan informasi itu dalam jumlah yang cukup untuk menghasilaan keputusan yang tepat.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. 2. juga sering dikeluhkan kurangnya kualitas sumber daya manusia yang menangani kegiatan diseminasi informasi tersebut. tiap pencari kerja berhak untuk mendapatkan informasi yang lengkap sesuai dengan kebutuhannya sehingga mereka bisa membuat keputusan yang tepat. yaitu : 1. Akibatnya. Selain itu. 3. Provinsi Kalimantan Tengah. perlu dijawab informasi apa yang disampaikan sumber informasi tersebut selama ini kepada stakeholder khusunya pencari kerja. Informasi yang disampaikan pemerintah kepada pencari kerja. Dalam kenyataannya. Kurangnya informasi ketenagakerjaan membuat pencari kerja tidak melihat adanya alternatif atau kesempatan kerja lain.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Pemenuhan kebutuhan informasi ketenagakerjaan melalui diseminasi informasi yang efektif dapat memberdayakan pencari kerja sebagai warga negara. tidak sedikit pula pencari kerja yang menerima tawaran suatu pekerjaan tanpa didasari pada keputusan yang matang. Untuk memutuskan apakah pencari kerja bekerja di luar negeri atau di dalam negeri dibutuhkan data dan informasi ketenagakerjaan yang memadai. perlu penelitian mengenai pemerintah sebagai komunikator yang menangani ketenagakerjaan dalam diseminasi informasi ketenagakerjaan. Sebagai pencari kerja mereka belum mendapatkan informasi ketenagakerjaan yang mencukupi untuk melamar pekerjaan atau menciptakan lapangan kerja baru. Secara spesifik melalui studi ini dapat diketahui : 1. Diseminasi informasi ketenagakerjaan yang dilaksanakan pemerintah untuk pencari kerja. Apa yang diharapkan oleh khalayak pencari kerja tidak lain adalah agar mereka mendapatkan informasi ketenagakerjaan sesuai dengan kebutuhannya.

April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. ¶attractiveness¶ (daya tarik) dan ¶power¶ (kekuasaan/kekuatan)´ Credibility atau kredibilitas menunjuk pada suatu kondisi di mana si sumber dinilai punya pengetahuan. Rumus 5W & 1H yang dipakai dalam penyusunan berita ( Effendy. Menurut Sasa Djuarsa dkk. Salah satu faktor yang berpengaruh terhadap kredibilitas komunikator adalah kekuasaan dan keahlian yang dimiliki sehingga menimbulkan kepercayaan di mata khalayak. Ibnu Hamad (2007) mengatakan pembahasan lebih pada diseminasi informasi menggunakan 5W & 1H. Di samping itu. ´seorang komunikator akan berhasil dalam upaya persuasi yang dilakukannya apabilka ia (1) dipandang punya pengetahuan dan keahlian. unsur komunikator (who). Dalam kaitannya dengan diseminasi informasi sebagai bentuk dan proses komunikasi. terutama dalam mempersiapkan implementasi Undang-undang Nomor 14 tahun 2008 tentang keterbukaan informasi publik. Where. What. pesan (what) dan khalayak (whom) merupakan variabel penelitian yang penting dicermati dalam studi diseminasi informasi pada instasni pemerintah. kata-kata dan kalimatnya (Wilbur Scramm. apalagi jika komunikatornya 80 . 1973 dalam Hamidi. Bagi Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah dan Dinas Tenaga Kerja. (1993 : 204) . Untuk itu. Who. istilah. 2007 : 72-73) Informasi yang dikandung dalam pesan itu akan digunakan khalayak..JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. sedikitnya ada tiga karakteristik dari sumber yang perlu diperhatikan yakni : ¶credibility¶ (kredibilitas). Satu unsur saja tidak ada membuat komunikasi tidak berlangsung dengan baik. dan How dapat juga digunakan untuk diseminasi informasi. Harold D. maka pesan tersebut hendaknya mudah dipahami baik bahasa. sehingga pihak penerima menjadi percaya bahwa pesan yang disampaikannya itu bersifat objektif´ Lebih lanjut dikemukakannya. Laswell dalam Wilbur Schramm (1963 :117) mengatakan ´a convenient way to describe an act of communication is to answer the following questions : who says what in which channel to whom with what effect ?´ Schramm menunjukkan unsur-unsur yang menggambarkan suatu tindakan komunikasi. secara praktis dapat digunakan sebagai masukan dalam penyusunan/penyempurnaan kebijakan pelayanan atau diseminasi informasi pada Departemen Komunikasi dan Informatika. apabila syarat syarat pesan yang baik itu dapat terpenuhi. 1 . perlu dirancang agar pesan menarik perhatian. Medan Hasil penelitian ini dapat bermanfaat sebagai referensi menambah khazanah pengetahuan mengenai diseminasi informasi. When. Terlebih lagi karena informasi berharga guna mengurangi ketidakpastian seperti dikemukakan dalam Shannon dalam Griffin. dan (2) dinilai jujur. Dalam hal ini. 1993 :72) meliputi Why. Unsur komunikasi lain adalah khalayak seringkali dipersepsikan sebagai unsur yang kurang penting karena dianggap sebagai orang bersikap pasif dan menerima saja apa yang disampaikan oleh komunikator. pentingnya pelaku (sumber) dalam suatu kegiatan. 1997 : 50) bahwa ³information refers to the opportunity to reduce uncertainty´. Agar khalayak tertarik terhadap pesan yang disampaikan komunikator. Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Palangkarya saran-saran penelitian ini dapat diterapkan untuk meningkatkan diseminasi infomasi ketenagakerjaan kepada pencari kerja. punya integritas serta dipercayai oleh pihak komunikan (khalayak)´ Dalam diseminasi informasi sebagai proses komunikasi yang efektif memerlukan pengemasan pesan sehingga menimbulkan kebutuhan bagi khalayak.. keahlian. Setidaknya. Hal itu semakin jelas. Kerangka Pemikiran Tiap unsur komunikasi mempunyai perannya sendiri untuk mewujudkan proses komunikasi yang efektif. atau pengalaman yang relevan dengan atau topik pesan yang disampaikannya. Proses pengambilan keputusan yang memberikan kepastian hanya mungkin jika tersedia informasi yang cukup. Komunikasi dapat berlangsung jika unsur-unsur yang menopangnya ada dan berperan sesuai dengan fungsinya masing-masing. Pemerintah sebagai komunikator atau sumber informasi menyampaikan pesan (message) kepada khalayaknya. Dengan kekuasaan dimaksudkan sumber informasi mempunyai kewenangan di bidangnya secara resmi.

1 . Pesan adalah data dan informasi ketenagakejaan yang d isampaikan oleh pemerintah kepada pencari kerja. 1979) Informasi adalah ³data yang telah diolah menjadi sebuah bentuk yang berarti bagi penerimanya dan bermanfaat dalam mengambil keputusan saat ini atau mendatang´ (Gordon B Davis. khalayak bukanlah merupakan sekumpulan dari indvidu-individu yang bersikap dan bertindak ¶pasip¶. Informasi ketenagakerjaan adalah informasi yang berkaitan dengan ketenagakerjaan seperti peraturan ketenagakerjaan. 2004 : 230) Komunikator atau sumber informasi adalah unsur dalam proses komunikasi yang menyampaikan atau menyebarluaskan pesan atau informasi kepada khalay Dalam hal ini ak. Diseminasi informasi ketenagakerjaan adalah suatu bentuk komunikasi yang menyampaikan atau menyebarkan informasi atau pesan mengenai ketenagakerjaan dari pemerintah sebagai komunikator kepada khalayak pencari kerja. Diseminasi informasi ketenagakerjaan melalui online adalah diseminasi informasi ketenagakerjaan yang ³terhubung secara langsung ke internet´ (Jasmadi. 1995.. Karena itulah. 81 . Mereka aktif dan juga selektif.. sebagai komunikator adalah instansi pemerintah. Dalam hal inilah pentingnya pengetahuan dan informasi bagi khalayak sehingga dapat menentukan sikap yang tepat. Medan merupakan instansi pemerintah yang dianggap memiliki kredibilitas di bidangnya.28). Dalam hubungannya dengan penelitian ini. dalam merancang suatu kegiatan komunikasi apakah melalui saluran kegiatan komunikasi personal atau melalui media massa. Secara implisit mereka membutuhkan informasi ketenagakerjaan yang berguna untuk membantunya dalam mencari atau melamar pekerjaan. tetapi mempunyai pandangan terhadap pesan dan komunikator. Khalayak ternyata tidak pasif dalam proses komunikasi. Definisi Konseptual Diseminasi adalah penyebaran (of information) (John M Echols dan Hassan Shadily. dan bahwa pesan adalah apa yang dibutuhkan oleh khalayak. Khalayak adalah unsur dalam proses komunikasi yang merupakan sasaran dari penyampaian pesan atau penerima informasi dari komunikator atau sumber informasi.. yakni Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah dan Dinas Tenaga Kerja. Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Palangkaraya.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika.. Model ini mengasumsikan khalayak setidaknya sama aktifnya dengan pengirim. Sebagai khalayak adalah pencari kerja baik pencari yang bekerja di dalam negeri maupun di luar negeri (calon TKI). kita seyogyanya berorientasi ke khalayak sasaran (audience oriented)´ Sejalan dengan itu. cara lain dan relasi sosial´. Pencari kerja adalah setiap orang yang terdaftar di Kantor Dinas Tenaga Kerja Kota / Kabupaten untuk mencari atau melamar pekerjaan di dalam negeri maupun di luar negeri Kebutuhan informasi ketenagakerjaan adalah kebutuhan khalayak pencari kerja mengenai informasi ketenagakerjaan. hak dan kewajiban TKI. lowongan kerja.. bahkan untuk membuka lapangan pekerjaan baru.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. dkk (1993 : 221) . khalayak dalam proses komunikasi yang dimaksud adalah pencari kerja yang juga pencari informasi. bukan yang dimaksudkan oleh pengirim. Menurut Sasa Djuarsa Sendjaja.. John Fiske (2006 : 208) mengemukakan ³khalayak memiliki sekumpulan kebutuhan yang dicari pemuasannya melalui media massa. Padahal khalayak sebagai sasaran juga memiliki sikap sendiri dalam berkomunikasi sesuai dengan kepentingan dan tujuannya. pencari kerja termasuk informasi TKI meliputi persyaratan dan prosedur bekerja di luar negeri.

menganalisis dan menyajikan data untuk menarik kesimpulan. Menurut Embree (1998 :333-343) dalam Pawito (2007 :58). 2007 : 44) Dalam hal ini salah satu varian fenomenologi yang digunakan adalah fenomelogi realistik. Lokasi penelitian ditetapkan secara purposive yaitu Dinas Tenaga Kerja Pemerintah Provinsi Provinsi Kalimantan Tengah di Kota Palangkaraya dengan pertimbangan bahwa instansi pemerintah yang melayani informasi ketenagakerjaan di Provinsi Kalimantan Tengah terdapat di kota tersebut. Pendekatan kualitatif ´lebih dimaksudkan untuk memberikan gambaran atau pemahaman mengenai gejala (dari perspektif subjek atau aktor). 2008a :2) Menurut Gubernur. dan pencari kerja.244. Oleh karena diseminasi informasi ketenagakerjaan langsung kepada pencari kerja melalui loket pengurusan kartu kuning hanya dilaksanakan oleh Dinas Tenaga Kerja Kabupaten / Kota.2001) dan (http://www.400 km .JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. sedangkan data yang kurang relevan tidak dimasukkan dalam analisis. membuat teori´ (Pawito.79 km2.go. fenomenologi realistik lebih menekankan pada pengamatan serta penggambaran esensi-esensi yang bersifat umum. artinya tempat yang suci. Kalteng. Medan Metode Penelitian Metode penelitian merupakan seperangkat cara yang sistematik.24 km2 (BPS.b.´ Selain melalui pengamatan atau observasi terhadap proses diseminasi informasi di lingkungan instansi pemerintah.564 km2 terdiri dari hutan dan pertanahan lainnya 134. mengumpulkan. 1 kota. Luas provinsi ini 153. logis dan rasional yang digunakan oleh peneliti ketika merencanakan. perkebunan 6. Kategori data dibuat berdasarkan permasalahan penelitian dan data lapangan. Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif dengan melakukan reduksi data terlebih dahulu terhadap data yang masuk baik yang diperoleh melalui wawancara mendalam maupun catatan observasi di lapangan. 25 2 km . sawah dan ladang 10. Data kualitatif yang diperoleh dari jawaban narasumber dan hasil observasi yang benar-benar sesuai dengan tujuan penelitian berkesempatan untuk dianalisis. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan fenomenologi. Satu -satunya 2 pemerintahan kota di provinsi ini adalah Palangkaraya dengan luas 2.937. Dengan penelitian ini diharapkan dapat digambarkan proses diseminasi informasi dan jenis kebutuhan informasi khalayak pencari kerja.744. mulia dan besar. Curah hujan terbanyak pada bulan-bulan Oktober sampai dengan Maret.id?web/id/KER 01/profil/kalteng/tanggal 25-4-2008) Secara administratif Provinsi Kalimantan Tengah terbagi atas 13 kabupaten. GAMBARAN UMUM Geografi dan Demografi Provinsi Kalimantan Tengah Provinsi Kalimantan Tengah dibentuk berdasarkan Undang-Undang Darurat Nomor 10 tahun 1957 dengan ibukota Palangkaraya. Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Palangkaraya. Mottonya adalah Kota Cantik (Terencana. Tertib dan Keterbukaan). 2007 : 122). permukiman dan bangunan lainnya 1. maka dipilih Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Palangkarya dengan alasan kota ini merupakan pusat kegiatan pemerintahan dan masyarakat.Wawancara dengan menggunakan pedoman wawancara yang disusun terlebih dahulu. A.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Narasumber yang diwawancarai adalah pejabat Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah dan Dinas Tenaga Kerja. 95 kecamatan. termasuk kegiatan ketenagakerjaan di Kalimantan Tengah.177 desa dan 122 kelurahan.637. 1.Provinsi ini terletak di daerah khatulistiwa dengan iklim tropis yang lembab. pengumpulan data lapangan juga dilakukan wawancara mendalam (depth interview). ´mulai tahun 2008-2010 Pemerintah Provinsi 82 .i.62 km2. panas dengan suhu rata-rata 34 0 Celcius. (Hamidi. Teras Nerang. (Dinas Tenaga Kerja Pemprov. 1 . petugas loket pelayanan kartu kuning. Aman.

Selain orang Dayak ada juga penduduk pendatang. Makassar. 13-3-2008) Dalam publikasi yang diterbitkan oleh LIN. Bahasa Dayak Ngaju sebagai bahasa lingufranca. yang terdiri dari beberapa sub suku bangsa seperti Ngaju.887 Jumlah total penduduk 2.579 jiwa.066 Kab. Bugis. yaitu orang-orang Banjar. Ot Danum. seperti perdagangan.861 jiwa dengan laju pertumbuhan 2. Lawangan.545 Kab.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.401 Sumber : Diolah dari Dinas Tenaga Kerja Pemprov.448 63. Madura. Mereka bermukim dalam komunitas±komunitas desa di sepanjang Sungai Barito.814 99.028.823 42. Arab dan China. jasa. Sukamara 19. Barito Selatan 62. tetapi lebih terkonsentrasi di perkotaan. Sungai Mentaya dll. (http://www. Kristen. sedangkan di kabupaten lainnya jumlah cukup kecil.003. Kabupaten Kapuas merupakan kabupaten terbesar dengan jumlah penduduknya 351.887 perempuan dapat dilihat pada Tabel 1. dan Kinyah Kamber.449 Kab. Penduduk memilih bertempat tinggal di perkotaan karena faktor lapangan kerja sektor formal yang mulai berkembang.571 60. Lamandau 28. Kapuas 176. Barito Timur 43.977 58.401 jiwa terdiri dari 1. Kotawaringain Barat 106. TNI/Polri dan karyawan perusahaan dan berwirausaha cukup tinggi.513 27. Giring-giring. Kesenian masyarakat Dayak. Kalteng. 1 .383 Kab.75 penduduk / km2. Kaharingan. Minat penduduk untuk bekerja sebagai pegawai negeri sipil. Seruyan 57. Ot-siang. Jawa.071 92.961 Kab. terutama tari-tarian antara lain Deder Ketingan.003. Agama penduduk nya Islam.514 974. dan kabupaten Sukamara hanya berpenduduk 36.goid.566 Kab.377 55.353 146.180 jiwa. Pulang Pisau 59. desa dan kelurahan 1. Tabel 1 Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin di Kabupaten dan Kota (orang) No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Kabupaten/Kota Penduduk Laki-laki Perempuan Kab. Penduduk yang menganut agama Islam merupakan golongan terbesar.957. (2008a:2) Tabel 1 menunjukkan tiga kabupaten dan kota Palangkaraya mempunyai jumlah penduduk yang tergolong besar.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika.455 Kab. dan Budha. Di seluruh Provinsi Kalimantan Tengah terdapat 30 bahasa daerah. Sungai Kapuas. Melayu. tanggal 20-32008) Pada tahun 2006 jumlah penduduk Provinsi Kalimantan Tengah tercatat sebanyak 2.219 16.kalteng bps.351 Kab. Sungai Kahayan. Katingan dll.003 41.723 Jumlah 1. bergaul dengan masyarakat setempat. Medan Kalimantan Tengah mempunyai program Mamangun Mahaga Lewu (Membangun Menjaga Desa). Ma¶anyam.Gunung Mas 45. Murung Raya 45.124 175. Pada tahun 2005 jumlah penduduk tercatat 1.357 dan 70 % di antaranya adalah desa´ (Kompas.697 Kab.36 % dan kepadatan 12. Penyebaran penduduk masih belum merata di seluruh provinsi Kalimantan Tengah.025 Kab. dan transportasi.028.176 Kota Palangkaraya 91.089 42.231 Kab.132 50. 83 . Dalam tiga tahun akan ada 126 desa dijadikan percontohan. Barito Barat 58.259 Kab. Sungai Katingan. (2001 : 43-44) dikemukakan bahwa penduduk asli Provinsi Kalimantan Tengah adalah suku bangsa Dayak. Kotawaringin Timur 165. Katingan 69.514 laki-laki dan 974. Tabel itu juga memperlihatkan jumlah penduduk laki-laki secara keseluruhan maupun per kabupaten lebih besar daripada jumlah penduduk perempuan.

org/wki/kota Palangkaraya. (Dinas Tenaga Kerja.7 %)´ (http://www. Kalteng.id.244 orang (5.478 Penganggur 35.0 %) pada Pebruari 2007 atau turun 12. 1 .887 1. Pendapatan penduduk per kapita pada tahun 2006 mencapai Rp 9.7 %) turun menjadi 55.631 orang (6. agama tidak berbeda jauh dari keadaan Provinsi Kalimantan Tengah.84 %..329 187.337. Angka yang disajikan itu merupakan jumlah penganggur yang tercatat secara resmi di Kantor Dinas Tenaga Kerja di Kabupaten/Kota se-Provinsi Kalimantan Tengah. tercatat tingkat pengangguran sebesar 8.690 82.kalteng.585 598.838 Kesempatan Kerja 578.Kerja 186. (2008a : 2) Jumlah pengangguran terbuka Agustus 2006 67.670 orang.397 orang (1.469 Sisa Lowongan 162 183 345 Bukan Tenaga Kerja 189.8 % dan perempuan 13.Hal ini mendorong penduduk perdesaan pindah (urbanisasi) ke kota Palangkaraya sebagai pencari kerja baru. Medan kecuali di Kota Palangkaraya. terutama di perdesaan hampir tidak ada yang kelihatan menganggur secara total.168 376. tanggal 25-4-2008). Data ini membuktikan bahwa daerah ini tidak bebas dari pengangguran meski wlayahnya amat luas untuk bisa digarap sebagai lahan pertanian. 84 .7 %.wikipeda.id/ viewarticle. Setidaknya penduduk di perdesaan bisa menggarap lahan pertanian atau berkebun di tanahnya sendiri atau milik keluarganya sebagai mata pencaharian.558 340.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.360 Sisa Pencaker 2007 20.6 % dengan jumlah penganggur laki-laki 5.280 954. Bahkan sebagaimana dikemukakan sebelumnya.go.048 38. suku bangsa.690 orang jauh lebih besar daripada jumlah penganggur laki-laki 35.590 872.421 18. Secara selayang pandang gambaran Kota Palangkaraya dalam beberapa hal seperti adat istiadat. (http://www.423 Angkatan Kerja 614. Pemprov Kalteng.991.670 46. Sektor pertanian dan perkebunan (berkebun sendiri) dan usaha mencari hasil hutan besar peranannya dalam menyerap tenaga kerja sehingga terkesan penduduk di Kalimantan Tengah.888 293.497 Bukan Angk.dengan laju pertumbuhan ekonomi tahun 2006 sebesar 5.89 jiwa/km2. sebagai satu-satunya pemerintahan kota di Provinsi ini tampak karakteristik dan kemajuan perkotaan pada tingkat pendidikan yang lebih tinggi.360 orang terdiri dari penganggur perempuan 46. Berbeda dengan di perdesaan penduduk yang benar-benar tidak bekerja sama sekali sulit ditemukan. dan jumlah pencari kerja yang lebih terkonsentrasi pada pekerjaan perkantoran di instansi pemerintah dan perusahaan swasta. ³Bertambahnya jumlah penduduk yang bekerja di sektor pertanian menyebabkan angka pengangguran menurun secara signifikan.51 km2 dengan jumlah penduduk pada tahun 2003 tercatat 168.asp.704 411. Berkaitan dengan kondisi ketenagakerjaan di provinsi ini.558 974.561. Tabel 2 Data Ketenagakerjaan di Provinsi Kalimantan Tengah ( orang) Uraian Laki-laki Perempuan Jumlah Tenaga Kerja 829. Umumnya penganggur tersebut berdomisili di perkotaan sebagai akibat dari banyaknya lulusan terdidik khususnya SLTA hingga sarjana.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Keinginan untuk mendapatkan pekerjaan di kota mulai tumbuh di kalangan perempuan di perdesaan. Perusahaan dan mall di Kota Palangkaraya mulai menawarkan pekerjaan khusus untuk wanita sebagai sales promotion girls (SPG). Luas kota ini 2678.449 jiwa dan kepadatan 62.289 Sumber : Diolah dari Dinas Tenaga Kerja Pemprov. 2008a : 2-3) Pada Tabel 2 dapat dilihat jumlah penganggur sebesar 82.

764 orang atau 95. pekerjaan dan upah yang diinginkan pencari kerja.469 orang diperoleh dari hasil pendaftaran melalui kartu kuning (AK1) yang dikeluarkan oleh Kantor Dinas Tenaga Kerja Kota atau Kabupaten se Kalimantan Tengah. tetapi hanya mengolah dan merangkum data pencari kerja dalam publikasi Berita Pasar Kerja dan Lembar Informasi Ketenagakerjaan yang terbit tiap bulan seperti dapat dilihat pada Tabel 3.878 38.307 23.421 18. sebagian besar 36.104 11. Pencari Kerja (Pencaker) Kantor Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah tidak melayani langsung pengurusan kartu kuning bagi pencari kerja.794 jiwa. Identitas pribadi dan pas photo pencari kerja yang tercantum dalam formulir meliputi tentang pekerjaan sekarang.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.469 Data jumlah sisa pencari kerja atau pencaker hingga akhir tahun 2007 sebesar 38.319 7.048 Sumber : Diolah dari Dinas Tenaga Kerja Pemprov. (2008a : 5). tujuan mencari kartu AK1.56 % merupakan tenaga terdidik mulai dari t amatan SLTA hingga kategori S1-S3´ (Dinas Tenaga Kerja. meninggaal dunia atau sudah mendapat pekerjaan´ (Dinas Tenaga Kerja Pemprov. Kalteng. Kartu kuning yang digunakan untuk melengkapi persyaratan lamaran kerja hanya dapat diperoleh di kantor Dinas Tenaga Kerja Kota/Kabupaten melalui loket Diseminasi kartu kuning. Jumlah pencari kerja berpendidikan tinggi D1-S3 ternyata cukup besar 34.463 D1-D3/SM 3. Tabel 3 Jumlah Pencari Kerja Menurut Tingkat Pendidikan di Kalimantan Tengah (orang) Tingkat Pendidikan Laki-Laki Perempuan Tidak Tamat SD 67 24 SD 208 99 SLTP 717 590 SLTA 12.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Medan tanggal 28-4-2008) Jumlah penduduknya menurut Tabel 1.201 3. Jumlah para penc ari kerja ini merupakan sisa yang tidak dapat disalurkan atau mendapat pekerjaan pada tahun 2007 dan mereka mencoba mendaftar kembali untuk mendapatkan kartu AK1 yang baru. ³Jumlah pencari kerja yang belum ditempatkan sampai dengan akhir bulan Desember 2007 sebanyak 38. 1 .195 S1-S3 4. Pelamar yang hendak mencari pekerjaan di kantor pemerintah (CPNS. 85 .567 5.197 orang. 2008a : 8) Jumlah pencari kerja yang terdaftar di Dinas Tenaga Kerja Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah berasal dari pencari kerja yang mengurus kartu kuning (AK1) di Kantor Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Palangkaraya di Palangkaraya dan Kantor Dinas Tenaga Kerja yang terdapat di tiga belas kabupaten seKalimantan Tengah.469 orang. Data pencari kerja yang diperoleh dari proses pengurusan kartu tersebut memuat jumlah pencari kerja dan jenis pekerjaan yang diinginkannya.Polri) dan perusahaan swasta diharuskan melampirkan kartu kuning (AK1) sebagai salah satu syarat.345 jiwa dalam waktu lima tahun.677 Jumlah 20. Pemprov Kalteng. tercatat 183.124 2. terjadi pertambahan sebanyak 15. ³Pencari kerja yang tidak melaporkan atau tidak mendaftar ulang setelah terdaftar s ebagai pencari kerja selama 6 bulan berturut-turut akan dihapuskan sebagai pencari kerja karena diangggap tidak memerlukan Diseminasi antar kerja lagi. Jadi.TNI. Di samping itu penghapusan sebagai pencari kerja dapat disebabkan karena permintaan sendiri. (2008a :5) No 1 2 3 4 5 6 Jumlah 91 307 1. pindah wilayah. Berdasarkan jumlah kartu yang dikeluarkan Dinas Tenaga Kerja Kota / Kabupaten itu dapat diketahui jumlah yang mendaftar sebagai pencari kerja.30 % atau 13. Kalteng. Karena tiap pencari kerja diharuskan mengisi Daftar Isian Pencari Kerja yang disediakan secara gratis.

979 Pejabat Pelaksana dan Tata Usaha 3.147 2. Mewujukan pembangunan bidang ketenagakerjaan melalui perluasan lapangan kerja. Tiap organisasi di lingkungan birokrasi pemerintahan lebih digerakkan oleh misinya sehingga birokrasi mampu bertindak cepat dalam melayani masyarakatnya.560 38. Tujuan Dinas Tenaga Kerja Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah ditetapkan untuk : 86 . Program dan kebijakan mengenai diseminasi informasi ketenagakerjaan dibuat dalam rangka mencapai visi dan misi Dinas tersebut. dan pejabat pelaksana cukup banyak diminati ( 66.654 1. pengusaha dan perlindungan tenaga kerja. (2008a :5) No 1 2 3 4 5 6 7 Jumlah 7. seperti dapat dilihat pada Tabel 4 tampaknya jabatan sebagai tenaga produksi. Kalteng. Medan Apabila diperhatikan jenis pekerjaan atau golongan pokok jabatan yang didaftar oleh pencari kerja yang belum ditempatkan (ybdi).643 7. tenaga profesional.005 4. Kecenderungan pilihan jenis pekerjaan yang favorit di masa yang akan datang bersifat manajerial di instansi pemerintah dan perusahaan swasta. 1998) termasuk kebutuhan informasi.64 %).818 3. dan Teknisi 4. Sedangkan misinya adalah : 1.048 Sumber : Diolah dari Dinas Tenaga Kerja Pemprov. yaitu ³reinventing government´. dan stakeholdernya. 3.Visi dan misi Gubernur Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah di bidang ketenagakerjaan merupakan dasar bagi penentuan visi dan misi Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah. pegawai.295 3.949 Tenaga Usaha Penjualan 1. (2008a : 4) ³ visi Gubernur Kalimantan Tengah Tahun 2005-2010 adalah µmembuka Isolasi Menuju Kalimantan Tengah yang Sejahtera dan Bermanfaat¶.782 2.537 Tenaga Produksi 6.164 Tenaga Usaha Pertanian 2. visi Dinas Tenaga Kerja µMengurangi Tingkat Pengangguran dan Meningkatkan Kualitas Hubungan Industrial untuk Meningkatkan Produktivitas Tenaga Kerja¶. Mewujudkan peningkatan kualitas dan produktivitas angkatan kerja.552 1. Untuk memahami dan melaksanakan visi.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika.664 1. Menciptakan hubungan industrial yang harmonis antara pekerja. misi dan tujuan organisasi pemerintahan tersebut diperlukan kesamaan persepsi semua pejabat.634 Kepemimpinan dan Ketatalaksanaan 1.555 Jumlah 20. 1 .230 Tenaga Usaha Jasa 1.421 18.053 1. (David Osborne dan Ted Gaebler. Orientasi pemerintah ditujukan kepada khalayaknya sebagai pelanggan yang harus dipenuhi kebutuhannya. Keberhasilan sektor pendidikan melahirkan tenaga terdidik yang cukup besar di wilayah Kalimantan Tengah berpengaruh terhadap pilihan lapangan kerja.590 10.929 3. Tabel 4 Jumlah Pencari Kerja Menurut Golongan Pokok Jabatan Pada Tahun 2007di Kalimantan Tengah (orang) Golongan Pokok Jabatan Laki-Laki Perempuan Profesional. peranan visi dan misi semakin penting dalam menjalankan organisasi pemerintahan.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. 2.469 Pelaksanaan Diseminasi Informasi Ketenagakerjaan 1. Dinas Tenaga Kerja Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah Dengan paradigma baru di bidang pemerintahan dewasa ini. penempatan tenaga kerja dan peningkatan kesempatan kerja di perkotaan dan perdesaan. Pemprov Kalteng. Dalam publikasi Dinas Tenaga Kerja. dengan misi di bidang ketenagakerjaan µMembangun Balai Pendidikan dan Ketrampilan untuk Meningkatkan Kemampuan Mengembangkan Semangat Kewirausahaan dan Keahlian Berusaha Melalui Kerjasama Dengan Berbagai Pihak Termasuk Perguruan Tinggi¶ Berdasarkan hal itu.198 3.

termasuk informasi mengenai TKI di provinsi ini. dibentuk Seksi Informasi Ketenagakerjaan di bawah Sub Dinas Perencanaan dan Program. salah satu tugas Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah yang didelegasikan kepada Seksi Informasi Ketenagakerjaan adalah melaksanakan kegiatan hubungan masyarakat guna memperkenalkan ketenagakerjaan. Program perlindungan dan pengembangan kelembagaan. 3. 3. Meningkatkan kualitas dan produktivitas tenaga kerja. Hal ini berarti fokus perhatian utama Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah adalah mengatasi pengangguran. Seksi Perencanaan Tenaga Kerja Ketiga seksi tersebut senantiasa bekerja sama dengan Seksi Informasi Ketenagakerjaan.di antaranya disebabkan faktor keberhasilan dunia pendidikan menciptakan tenaga terdidik lebih besar dari daya serap lapangan kerja untuk tenaga terdidik tersebut sehingga terjadi kelebihan penawaran tenaga terdidik (Dinas Tenaga Kerja. tiap Sub Dinas dan Bagian Tata Usaha pada Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah dapat memberikan informasi mengenai tugas. Program perluasan dan pengembangan kesempatan kerja 2. Di samping itu. Seksi Pelaporan dan Evaluasi 3. secara internal Seksi Informasi Ketenagakerjaan merupakan supporting unit bagi Sub Dinas dan Bagian Tata Usaha. Untuk dapat melaksanakan diseminasi informasi ketenagakerjaan secara khusus. Secara fungsional Seksi Informasi Ketenagakerjaan mempunyai tugas untuk melaksanakan diseminasi informasi ketenagakerjaan. Memperluas dan mengembangakan kesempatan kerja. Walaupun demikian. Basuniansyah. Dalam hubungan itu. kebijakan di bidang ketenagakerjaan pada dasarnya adalah mendayagunakan sepenuhnya sumber daya manusia yang telah dikembangkan melalui pelaksanaan program utama ketenagakerjaan. ´Diseminasi informasi ketenagakerjaan terutama yang ditujukan kepada stakeholder dan masyarakat dianggap sebagai tugas yang penting dalam masyarakat informasi´. Pembentukan Seksi Informasi Ketenagakerjaan dimaksudkan untuk melakukan diseminasi dan penyebaran informasi ketenagakerjaan. terutama tentang lowongan kerja yang tersedia di instansi dan perusahaan swasta. 2.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Program peningkatan kualitas dan produktivitas tenaga kerja. Tuntutan pekerjaan menghendaki Seksi ini mampu memberikan dukungan terhadap seluruh satuan organisasi yang berada dalam Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah. Meningkatkan perlindungan dan pengembangan kelembagaan. Oleh karena itu. Tiga seksi lainnya pada Sub Dinas Perencanaan dan Program yang erat hubungannya dengan Seksi Informasi Ketenagakerjaan. dalam kegiatan penyebaran informasi ketenagakerjaan serti penyusunan 87 . Seksi Rencana dan Program 2. Pemprov Kalteng. Menurut Kepala Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah A. Tingginya tingkat pengangguran golongan terdidik -minimal tamatan SLTA. (2008a : 5) Penganggur tersebut merupakan pencari kerja yang sebenarnya membutuhkan informasi ketenagakerjaan. Tingkat pengangguran di Kalimantan Tengah pada tahun 2006 sebesar 8. sehingga tiap sumber daya manusia yang terdidik dan telah mendapat pelatihan ketrampilan mendapat pekerjaan. Sejalan dengan itu disusun Program Dinas tersebut meliputi : 1. Upaya pemerintah ditujukan untuk memperluas dan mengembankan kesempatan kerja.6 % merupakan yang tertinggi yang pernah dialami . 1 . yaitu : 1.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Adanya pembagian tugas yang jelas tersebut tidak menghalangi satuan organisasi untuk menginformasikan hal-hal yang berkaitan dengan ketenagakerjaan. Medan 1. Salah satu indikator rendahnya pendayagunaan atau pemborosan sumber daya manusia adalah tingginya tingkat pengangguran . fungsi dan pekerjaan masing-masing.

Leaflet dimaksudkan sebagai sarana komunikasi untuk memperkenalkan Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah sebagai institusi pemerintahan dan menyebarluaskan informasi atau peraturan ketenagakerjaan. Kegiatan diseminasi informasi ketenagakerjaan yang telah dilaksanakan selama ini secara rutin adalah membuat buletin Lembar Informasi Ketenagakerjaan yang diterbitkan tiap bulan. diseminasi informasi mengenai TKI belum dilaksanakan oleh Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah. pembuatan spanduk bulan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja). 2. lowongan kerja dan pengangguran di Kalimantan Tengah selama satu bulan. Tata Cara Permintaan Jaminan Kecelakaan Kerja. ³di Kalimantan Tengah hanya terdapat satu perusahaan TKI yang baru berdiri berdasarkan izin tanggal 10 November 2007. tetapi dalam hal tertentu seperti kegiatan sosialisasi dan pembuatan spanduk melibatkan seksi lain dan Bagian Tata Usaha. Medan dan penerbitan buletin dan leaflet. Diseminasi informasi secara institusional di tingkat provinsi merupakan tugas dan tanggung jawab Seksi Informasi Ketenagakerjaan. Kesepakatan Kerjasama Pembangunan Ketenagakerjaan Lintas Kabupaten Kota Se Kalimantan Tengah.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Leaflet tentang TKI tidak disampaikan kepada calon TKI maupun Perusahaan Jasa TKI/Pelaksana Penempatan TKI Swata. Standarisasi dan Sertifikasi Tenaga Kerja 7. tahun 2004 4. Sub Dinas Perencanaan dan Program. Diseminasi informasi ketenagakerjaan dalam bulan K3 atau Keselamatan dan Kesehatan Kerja (12 Desember-12 Januari) dilaksanakan dengan kampanye K3 melalui pemasangan spanduk di pinggir jalan besar dan tempat strategis di kota-kota Kalimantan 88 . Menurut Jahidin Siringo-ringo. Pada umumnya Diseminasi informasi ketenagakerjaan dilaksanakan sendiri oleh Seksi tersebut. 1 . tahun 2004 6. sejauh ini belum ada aktivitasnya´. Prosedur TKI Bekerja Ke Luar Negeri. Leaflet yang berisi informasi ketenagakerjaan selain disebarkan di lingkungan instansi pemerintah seperti Bappeda. Untung Surapati nomor 8 Kapuas. Namun. Selama ini calon TKI yang akan bekerja ke luar negeri berangkat melalui daerah Kalimantan Selatan. Karena perusahaan TKI ini belum operasional. tahun 2002. Persyaratan Permohonan Izin Pemutusan Hubungan Kerja dan Prosedur Permohonan Banding. Kepala Seksi Penyaluran dan Penempatan Tenaga Kerja. tahun 2004 5. Visi dan Misi Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah. BPS. Sub Dinas Penempatan Tenaga Kerja dan Perluasan Kerja. Menjadi TKI Meningkatkan Kesejahteraan 10. Dinas Perhubungan. Kepala Seksi Informasi Ketenagakerjaan hanya dibantu oleh dua pegawai staf berpendidikan tamatan SLTA. RAN-PKTP (Rencana Aksi Nasional Penghapusasn Kekerasan Terhadap Perempuan) 8. Jaminan Kecelakaan Kerja Program Jamsostek. Lembar informasi ketenagakerjaan yang dijilid secara sederhana dengan tampilan sebagai buletin dapat bermanfaat bagi stakeholder atau pengguna karena isinya memuat informasi yang menggambarkan perkembangan pencari kerja. Di samping produk berupa Lembar Informasi Ketenagakerjaan itu. yaitu PT Titian Hidup Langgeng di Jalan Kol. tahun 2004 3. Sub Dinas Perencanaan dan Program.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. juga diberikan secara selektif kepada pencari kerja atau petugas pemerintahan yang memintanya. Kerjasama antar satuan kerja di lingkungan Dinas terutama karena jumlah dan kualifikasi pegawai yang menangani amat terbatas. sejumlah leaflet dicetak dan diterbitkan oleh Seksi Informasi Ketenagakerjaan. Beberapa leaflet yang diterbitkan antara lain berjudul: 1. Trafiking (Perdagangan) Perempuan dan Anak 9.

Internet bisa dioperasikan mulai bulan Mei sampai dengan Desember 2007.nakertrans. Laporan ini terbit tiap bulan merupakan ´salah satu kegiatan Proyek Pengembangan Perluasan Kesempatan Kerja (PPKK) Provinsi Kalimantan Tengah Tahun Anggaran 2007´ Pembuatannya dikoordinasikan oleh Sub Dinas Penempatan Tenaga Kerja dan Perluasan Kerja. Sedangkan untuk mendapatkan informasi dan peraturan ketenagakerjaan terbaru sebagian dilakukan melalui browsing ke situs www. Menurut kedua operator.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. internet tidak digunakan sebagai satu-satunya 89 . Penyebaran informasi ketenagakerjaan melalui media massa khususnya siaran televisi dilakukan oleh Kepala Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah. mereka ´pernah mengikuti pelatihan operator dan mengoperasikan komputer online 3 hari yang dilaksanakan oleh Depnakertrans di Jakarta Mei 2007. Kampanye K3 ini penting bukan saja untuk setiap pekerja. Kegiatan diseminasi informasi ketenagakerjaan melalui online ditempakan pada satu ruangan dengan Seksi Penyaluran dan Penempatan Tenaga Kerja. Kampanye K3 yang dilakukan secara terus menerus diharapkan dapat menjadikan K3 sebagai budaya kerja sehingga para pekerja terhindar dari kecelakaan kerja. Di samping penyebaran informasi ketenagakerjaan sebagaimana dimuat dalam cakupan kegiatan Seksi Informasi Ketenagakerjaan itu. Pada saat penelitian ini dilakukan internet keduanya untuk sementara waktu tidak bisa digunakan karena hambatan keuangan. diterbitkan pula Laporan Berita Pasar Kerja berupa himpunan data yang berasal dari laporan Informasi Pasar Kerja (IPK) dari seluruh kantor Dinas Tenaga Kerja Kota dan Kabupaten se -Kalimantan Tengah. Mahmud Fauzi dan Budi Ahmad Yani. go id di Jakarta. Wawancara dengan topik ketenagakerjaan dilaksanakan secara periodik ( 3 bulanan ) di TVRI. di acara itu dikemukakan mengenai perkembangan dan masalah ketenagakerjaan di daerah ini Acara siaran televisi ini dianggap penting sebagai sarana komunikasi untuk menjangkau masyarakat di wilayah yang amat luas seperti Kalimantan Tengah. Penggunaan browsing untuk mencari data dan informasi ketenagakerjaan masih terbatas sebagai pelengkap. 1 . Untuk mengirim sebagian data dan informasi ketenagakerjaan ke Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi di Jakarta dikirim melalui e mail. gedung-gedung dan tempat kerja lainnya. Fasilitas yang mendukung aktivitas ini tersedia dua komputer yang tersambung (link) dengan jaringan internet milik Telkom. Pegawai yang dapat mengoperasikan internet sebagai sarana dalam kegiatan diseminasi informasi ketenagakerjaan online telah siap sejak Mei 2007. tetapi juga bagi perusahaan dan pemerintah sebagai penyedia kerja yang bertanggun jawab terhadap keselamatan dan kesehatan pekerjanya. Situs (website) Dinas Tenaga Kerja Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah sendiri belum ada. Karena itu. Selama ini penggunaan internet di Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah terbatas hanya untuk mencari ( browsing) dan mengirim (e-mail) informasi. Sosialiasi ini yang dimaksudkan untuk mengingatkan para pekerja agar lebih berhati-hati pada saat bekerja di bangunan-bangunan. Sumber daya manusia (SDM) yang menangani internet ini dilaksanakan oleh dua orang operator. mengingat penggunaannya masih baru dan lebih banyak dimaksudkan sebagai sarana pembelajaran teknologi informasi.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Menurut Fauzi ´ hal ini disebabkan belum ada (pencairan) dana tahun anggaran 2008 untuk membayar telepon´. Sebenarnya masalah internet ini tidak banyak berpengaruh terhadap kegiatan pelaporan ketenagakerjaan karena bukan andalan utama untuk mengirim data dan informasi ketenagakerjaan. Dalam pelatihan diberikan mengoperasikan Windows dan cara membuka situs di internet´ Sebelumnnya Maret-April 2007 komputer (Windows) dikirim dulu dan sebagai tindak lanjutnya mereka mengikuti pelatihan komputer itu. Penggunaan cara manual dengan surat merupakan cara pengiriman yang utama. Kedua fungsi internet itu belum dilaksanakan secara maksimal. Medan Tengah.

³keluhan pencaker tidak ada. Fotocopy KTP yang masih berlaku 1 lembar. Peranan loket tidak hanya untuk memasukkan berkas dan menyerahkan kartu kuning.bertentangan dengan ILO dan pencaker masih penganggur. Kenyataannya. Petugas adalah pegawai dari Seksi Penempatan dan Perluasan Kerja yan ditempatkan di g ruangan pembuatan kartu kuning. Selama 2002-2006 dipungut Rp 10. Komunikasi data dengan menggunakan LAN masih merupakan tantangan bagi Din Tenaga Kerja Provinsi dan as Dinas Tenaga Kerja kota dan kabupaten se-Kalimantan Tengah. 2. Pengurusan kartu kuning di kota Palangkaraya mulai tanggal 1 Januari 2007 tidak dipungut biaya. 90 . Dengan mendapatkan informasi ketenagakerjaan pencari kerja mengetahui apa yang seharusnya dilakukan untuk mempersiapkan dan melamar pekerjaan secara lengkap Ketika mengurus karu kuning pencari kerja sekaligus memperoleh informai ketenagakerjaan. Kebutuhan informasi mendesak dari tiap pencari kerja pada dasarnya sama. Kebijakan pembebasan biaya pembuatan kartu kuning dengan jelas tertera pada pengumuman yang ditempel di samping loket. prosedur dan syarat melamar perusahaan dan instansi pemerintah yang menawa rkan pekerjaan.000-an. Meskipun persyaratan ijazah yang dicantumkan dalam pengumuman cukup jelas. tetapi di sana juga terjadi komunikasi antara petugas dengan pembuat kartu kuning yang tidak lain adalah pencari kerja. Dinas Tenaga Kerja.. Sebagai langkah awal tiap pencari kerja diminta untuk mengisi formulir terlebih dahulu dan menyerahkan dokumen sesuai dengan persyaratan seperti tercantum pada pengumuman yang ditempel di samping loket. Ruangan berukuran 3 x 4 meter ini digunakan untuk memproses dokumen pembuatan kartu kuning dan menyerahkan hasilnya kepada pencari kerja. 1 .April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika.. Semua petugas bekerja berdasarkan petunjuk dan prosedur tetap pembuatan kartu kuning dan mendapatkan bimbingan dari Kepala Seksinya. petugas kemudian memberikan kartu kuning melalui loket. seperti persyaratan pembuatan kartu kuning. Menurut Kepala Seksi Pelatihan dan Produktivitas Tenaga Kerja. Demikian pula hubungan dengan stakeholder ketenagakerjaan di Palangkaraya. Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Pemerintah Kota Palangkaraya Masalah pengangguran yang berkaitan erat dengan pencari kerja merupakan salah satu aspek ketenagakerjaan yang mendapatkan prioritas dalam program Dinas Tenaga Kerja baik di provinsi maupun di kota dan kabupaten. Menurut petugas kartu kuning. Darwono ³ jumlah pencaker tahun 2007 terdaftar 7. yaitu informasi yang berkaitan dengan pekerjaan yang dilamarnya. Kedua kebutuhan ini menyatu sehingga sukar untuk dipisahkan.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Pasfoto ukuran 3x4 cm 3 lembar. Pada Dinas Tenaga Kerja. Setelah berkas selesai diproses.. Fotocopy ijazah SD s/d terakhir 1 lembar. Medan sarana pengiriman dan pencarian data dan informasi ketenagakerjaan. Lilik. pencaker sering hanya membawa ijazah terakhir´ Ketidaklengkapan berkas fotocopy ijazah ini timbul karena pencari kerja baru mengetahui informasi persyaratan yang sebenarnya ketika membacanya di samping loket. Kalimantan Tengah belum memakai fasilitas jaringan Local Area Network (LAN). Persyaratan pembuatan kartu kuning (AK1) dalam pengumuman 29 November 2006 adalah : 1.000. walaupun secara ekonomi cukup banyak punya mobil dan motor´.per orang masuk kas Daerah. informasi lowongan kerja. Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Pemerintah Kota Palangkaraya. 3. diseminasi i formasi n ketenagakerjaan dilaksanakan petugas secara langsung kepada pencari kerja melalui loket dari ruangan pelayanan kartu kuning bersamaan dengan proses pembuatan kartu tersebut. sering terjadi kekeliruan karena yang diserahkan pencari kerja hanya ijazah terakhir. 2. kebutuhan akan mendapatkan pekerjaan secara implisit di dalamnya ada kebutuhan informasi ketenagakerjaan atau sebaliknya.

tidak ada keleluasaan bagi pencari kerja untuk bertanya guna mendapatkan informasi yang lengkap. Peranan pengumuman ini sangat bermanfaat dalam diseminasi informasi lowongan pekerjaan. Dalam pelayanan ini tidak ada petugas dan loket khusus yang menyampaikan informasi ketenagakerjaan. pengetahuan dan motivasi yang diberikan kepada peserta pelatihan. perlu petugas loket informasi yang fokus memberikan informasi´ Untuk mendapatkan informasi ketenagakerjaan secara detail melalui loket tidak dimungkinkan karena tidak adanya petugas dan loket informasi. petugas memberikan informasi´ kata Lilik. 91 . Walaupun program pelatihan BLK cukup bermanfaat bagi tenaga kerja. tetapi lebih esensial mengenai informasi ketersediaan lowongan pekerjaan. Keluhan yang sama dilontarkan oleh Nia (24 tahun). Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Palangkaraya melaksanakan kegiatan pelatihan yang bermaksud meningkatkan kualitas tenaga kerja melalui Balai Latihan Kerja (BLK). Namun. Berdasarkan data pencari kerja itu perusahaan akan menawarkan informasi pekerjaan sebagai SPG melalui surat ke alamat masing-masing. Para pencari kerja mendapat informasi dari petugas secara langsung atau mengetahuinya dari pengumuman yang ada di loket pelayanan kartu kuning. Hal ini menggambarkan bahwa kebutuhan informasi ketenagakerjaan tidak hanya sebatas persyaratan pembuatan kartu kuning. Perusahaan yang demikian umumnya berasal dari perusahaan yang membutuhkan banyak karyawan sebagai agent atau tenaga survey. Di samping diseminasi informasi langsung melalui loket kartu kuning. karyawan perusahan itu menyampaikan persyaratan dan prosedur untuk mengisi lowongan yang tersedia diperusahaannya secara detail. Akibatnya. Dinas Tenaga Kerja. menurut Kepala BLK Drs Anden ´putra daerah tidak mau dilatih dibengkel / bubut.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Komunikasi tatap muka terjadi antara petugas yang berada di dalam ruangan dengan pencari kerja yang berdiri di depan loket. orientasinya ke PNS´ Padahal peserta bukan saja mendapat informasi dan pengetahuan mengenai pelatihan yang diikutinya. petugas wanita yang melayani pembuatan kartu kuning. ´Pencaker bertanya. 1 . ada pula karyawan dari perusahaan swasta yang aktif mencatat nama. Dengan seizin petugas. Menurut seorang pencari kerja yang mengurus kartu kuning. kegiatan diseminasi informasi dilakukan secara langsung atau tatap muka (face to face communication) dengan pencari kerja yang datang mendaftarkan diri di loket pembuatan kartu kuning. tetapi ditempatkan di depan kantor supaya mudah diketahui. Kegiatan pemberdayaan (empowering) tenaga kerja dan masyarakat melalui pelatihan ini secara tidak langsung melakukan diseminasi informasi dan motivasi kepada pesertanya.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Pada waktu yang sama petugas memberikan informasi dan juga menyeleksi berkas pembuatan kartu AK1. tapi dari teman-teman´ Menurut keduanya diharapkan Dinas ini juga memberikan informasi lowongan kerja dan loket pelayanan kartu kuning tidak di belakang kantor. Kebanyakan informasi yang disampaikan mengenai persyaratan kartu kuning. Secara implisit di dalam ³Program Peningkatan dan Produktivitas Tenaga Kerja´ terdapat informasi. Veronika (23 tahun) ´mau menanyakan kepada petugas yang sibuk tidak enak. Kedua pekerjaan itu dilakukan oleh petugas yang sama. Kadangkala beberapa karyawan perusahaan asuransi jiwa yang menempelkan pengumuman lowongan pekerjaan turut memberikan informasi kepada pelamar yang berminat lewat loket. ³informasi lowongan kerja diperoleh bukan dari Dinas Tenaga Kerja. Komunikasi tidak dapat berlangsung lama sebab petugas amat sibuk melayani pencari kerja yang antre di depan loket. alamat dan pendidikan pencari kerja yang telah terdaftar di Buku Daftar Isian Pencari Kerja. Informasi mengenai lowongan pekerjaan secara lengkap dapat dibaca pada pengumuman dan karena itu tidak disampaikan lagi. Medan Oleh karena itu. Kebanyakan pencari kerja mengetahui adanya lowongan pekerjaan yang ditawarkan instansi dan perusahaan dari papan pengumuman tersebut. kecuali ditanya oleh pencari kerja. Pencari kerja yang sedang mengurus kartu kuning dapat mendengarkan suara petugas melalui loket yang sama.

Jumlah kumulatif pencari kerja 2. Di dalam bab situasi khusus tercantum mengenai (1) pembinaan dan penempatan tenaga kerja. Informasi di dalam leaflet kebanyakan memuat informasi peraturan dan permasalahan ketenagakerjaan secara nasional. yaitu : 1. publikasi ini didistribusikan kepada seluruh Dinas Tenaga Kerja di kabupaten/kota seKalimantan Tengah. dan visi. dan penempatan tenaga kerja selama bulan itu.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Lowongan kerja yang belum dipenuhi Sarana diseminasi informasi ketenagakerjaan yang lebih ringkas dan praktis diterbitkan dalam bentuk leaflet.Selain itu. kebijakan ketenagakerjaan Dinas Tenaga Kerja Kalimantan Te ngah. Dalam bab situasi umum diinformasikan tentang keadaan geografi dan demografi. Sebagai sarana komunikasi yang lebih bersifat intern. 2008a :18). ´Lembar Informasi Ketenagakerjaan ini disusun sebagai sarana penyebaran informasi ketenagakerjaan dan keberhasilan bidang ketenagakerjaan yang dilaksanakan Dinas Tenaga Kerja Provisi Kalimantan Tengah´ (Dinas Tenaga Kera j Pemprov Kalteng. Terbitan lain dari Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah berupa laporan Berita Pasar Kerja yang memuat informasi pasar kerja (IPK) bulanan. 3. Lowongan yang dipenuhi 8. yakni : 1. Informasi yang Disampaikan Dinas Tenaga Kerja Provinsi dan Kota Salah satu penerbitan yang dimaksudkan sebagai sarana diseminasi informasi ketenagakerjaan untuk stakeholders adalah Lembar Informasi Ketenagakerjaan. Lowongan permintaan tenaga kerja 7. Pencari kerja yang ditempatkan 4. Apabila dilihat dari isi publikasinya dapat dikatakan buletin ini merupakan produk unggulan yang dikeluarkan oleh Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah. Sebagaimana yang tercantum di dalam buletin Lembar Informasi Ketenagakerjaan terdapat bab yang menerangkan situasi umum dan situasi khusus tentang informasi ketenagakerjaan informasi. PDRB dan pendapatan regional per kapita. misi. Medan tetapi juga memperoleh sertifikat dan kesempatan penempatan sesuai dengan jenis pelatihan yang pernah diikutinya di BLK. ada juga leaflet yang bermaksud memperkenalkan visi dan misi Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah sebagai instansi pemerintah di bidang ketenagakerjaan. Seperti dalam terbitan Berita Pasar Kerja periode bulan Desember 2007 terdapat informasi tentang jumlah pencari kerja yang terdaftar. lowongan kerja terdaftar/dihapuskan.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Secara lebih rinci informasi yang dimuat di dalam terbitan tersebut. Pencari kerja yang dihapuskan 5. Pencari kerja belum ditempatkan 6. Proses pembuatannya tiap dimulai dari Seksi Informasi Ketenagakerjaan dilanjutkan ke Sub Dinas Perencanaan dan Program hingga ditandatangani Kepala Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah sebagai penanggung jawab terakhir. lowongan yang terdaftar. penempatan/pengisian lowongan kerja dan (2) pelatihan dan produktivitas tenaga kerja. Apabila dilihat dari isi (pesan) di dalam leaflet. pasar kerja bulanan yang memuat tentang pencari kerja terdaftar. (3) hubungan industrial dan pengawasan ketenagakerjaan antara lain mengenai upah minimum provinsi. penghapusan pencari kerja. Informasi tentang instansi Dinas Tenaga Kerja 92 . tujuan. Informasi yang disampaikan umumnya mengenai informasi ketenagakerjaan yang dapat dipergunakan sebagai bahan masukan pengambilan kebijakan ketenagakerjaan di Kalimantan Tengah. Pendaftaran pencari kerja 3. setidaknya dapat dikelompokan menjadi tiga jenis informasi ketenagakerjaan. program. 1 .

JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. pengangguran. Medan 2. Informasi yang disampaikan petugas secara langsung di loket Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Pemerintah Kota Palangkaraya kebanyakan mengenai persyaratan pembuatan kartu kuning kepada pencari kerja yang datang sendiri di instansi tersebut. serta penghapusan kekerasan terhadap perempuan. Oleh karena itu. Umumnya kebutuhan informasi akan peraturan ketenagakerjaan bagi pencari kerja belum dapat dipenuhi oleh kedua Dinas Tenaga Kerja itu. spanduk kampanye K3 tentu isinya mengenai keselamatan dan kesehatan kerja untuk pekerja. khususnya pencari kerja melalui pengumuman di loket 3. diseminasi informasi lowongan pekerjaan disampaikan kepada masyarakat. Saran Dengan memperhatikan kesimpulan tersebut dapat disampaikan beberapa saran berikut : 1. Informasi tentang peraturan ketenagakerjaan. 3. Sejauh ini hanya diseminasi informasi K3 melalui spanduk yang ditujukan kepada tenaga kerja yang bekerja di kota-kota. Demikan pula wawancara pada siaran TVRI mengetengahkan informasi mengenai perkembangan dan masalah ketenagakerjaan yang ditujukan kepada masyarakat luas. Diseminasi informasi ketenagakerjaan bagi pencari kerja secara langsung sebagian besar dilaksanakan pada Dinas Tenaga Kerja. Selain itu. Informasi lowongan pekerjaan yang tersedia merupakan informasi yang cukup banyak didiseminasikan melalui pengumuman di loket pembuatan kartu AK1. Informasi yang disampaikan Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah kebanyakan berisi informasi ketenagakerjaan yang bersifat umum seperti informasi peraturan ketenagakerjaan. Diseminasi informasi ketenagakerjaan melalui siaran TVRI kepada masyarakat luas masih minim. Diseminasi informasi mengenai persyaratan kartu tersebut disampaikan petugas kepada pencari kerja secara langsung (tatap muka) bersamaan dengan proses pembuatan kartu kuning. diseminasi informasi ketenagakerjaan melalui spanduk dimaksudkan untuk memberitahukan pentingnya K3 bagi para pekerja. pelatihan di BLK secara implisit menyampaikan pengetahuan dan ketrampilan kepada peserta yang mengikutinya. Sebagaimana telah dikemukakan. Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Palangkaraya sebagian besar menjawab kebutuhan informasi mengenai persyaratan pembuatan kartu kuning dan informasi lowongan pekerjaan dari sebagian kecil instansi pemerintah dan perusahaan swasta. Kecuali itu. Informasi tentang TKI dan perdagangan perempuan dan anak. Diseminasi informasi ketenagakerjaan pada Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah belum banyak disampaikan kepada khalayak pencari kerja secara langsung. 1 . Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Palangkaraya melalui loket pelayanan pembuatan kartu kuning. jumlah pencari kerja dan lowongan kerja.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Kesimpulan Berdasarkan uraian dalam pembahasan sebelumnya dapat ditarik beberapa butir kesimpulan berikut : 1. Informasi ketenagakerjaan yang disampaikan Dinas Tenaga Kerja. sedangkan kebanyakan penerbitan bulletin dan leaflet dikirim kepada Dinas Tenaga Kerja Kota dan Kabupaten di provinsi ini. 2. dan penyebaran informasi ketenagakerjaan melalui online tidak berfungsi. Diseminasi informasi ketenagakerjaan melalui leaflet yang diterbitkan Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah tentang peraturan ketenagakerjaan se baiknya tidak 93 .

PT Pustaka Binaman Presindo.1993. Jakarta. Terjemahan Yosal Iriantara dan Idi Subandy Ibrahim. Leaflet. 2002 Visi dan Misi Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah. 1 . Informasi Sosial Budaya. Ibnu . Mass Communication. Onong Uchjana.2007. Palangkaraya. 3. Jakarta. Deli Publising dan Penerbit Andi. Dinamika Komunikasi. di Jakarta. 2. Transparansi dan Keterbukaan Informasi Publik Undang-Undang Republik Indonesia Nonor 14 Tahun 2008 Tentang Keterbukaan Informasi Publik. Lembar Informasi Ketenagakerjaan. Yogyakarta. UMM Press Jasmadi. Palangkaraya ________. Rencana Aksi Nasional Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan. 2006. Dinas Tenaga Kerja. Trafiking (Perdagangan) Perempuan dan Anak . Penggunaan online melalui internet perlu difungsikan kembali dan di masa yang akan datang perlu dijajaki pemasangan jaringan Local Area Network. tetapi juga disediakan untuk pencari kerja melalui loket pelayanan kartu kuning di Dinas Kota/KabupatenseKalimantan Tengah. Informasi lowongan kerja agar tidak didominasi perusahaan swasta.1995. Kerangka Dasar Sistem Informasi Manajemen. DAFTAR PUSTAKA Davis. Lembaga Informasi Nasional (LIN). Pusat Pelayanan Informasi. Medan hanya dikirimkan kepada Dinas Tenaga Kerja Kabupaten/Kota.. M. Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah. Palangkaraya ________. Echols. 2004. 2007. Leaflet. Pembahasan dan tanggapan(lisan) terhadap ³Studi Diseminasi Informasi Peringatan Dini (Early Warning System) Untuk Permasalahan Lingkungan dan Bencana Alam´ Seminar. tetapi diupayakan dari seluruh instansi pemerintah. Jakarta. Bagian I.1963.2008. sebaiknya Dinas Tenaga Kerja. tetapi lebih khusus dan detail sehingga dapat dimanfaatkan oleh pencari kerja. Jalasustra. PT Gramedia Effendy.. Gordon B. Departemen Komunikasi dan Informatika.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. ´The Structure and Function of Communication in Society´. Pemerintah Kota Palangkaraya.. Untuk memenuhi kebutuhan informasi khalayak pencari kerja. Palangkaraya ________. Urbana.t. t. Cultural and Communication Studies : Sebuah Pengantar Paling Komprehensif. Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Palangkaraya mendiseminasikan peraturan ketenagakerjaan dan lowongan kerja yang lebih luas melalui pengumuman yang terdapat di loket.2001. Palangkaraya ________.t. Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Palangkaraya agar memanfaatkan loket pelayanan kartu kuning secara maksimal untuk diseminasi informasi ketenagakerjaan.t. Jakarta 94 . Malang. Laswell. t. Hamad. Untuk itu. Fiske. John M dan Hassan Shadily. Dinas Tenaga Kerja. Berita Pasar Kerja Bulan Desember 2007. tanggal 11-12-2007 Hamidi. Informasi ketenagakerjaan yang berkaitan dengan lowongan pekerjaan sebaiknya tidak bersifat umum. Kamus Inggris-Indonesia. John. Menggunakan Fasilitas Internet . perlu adanya petugas dan loket informasi ketenagakerjaan. Palangkaraya Dinas Tenaga Kerja. dalam Wilbur Schramm.1979. Harold D. Bandung. t. Leaflet. Penerbit PT Remaja Rosdakarya. Program Peningkatan Kualitas dan Produktivitas Tenaga Kerja. University of Illinois Press. 2008.2008. RAN-PKTP. Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat. Yogyakarta. Bulan Desember 2007. Metode Penelitian dan Teori Komunikasi.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika.

go. The McGraw-Hill Companies. Penempatan Pencari Kerja dan Penghapusan Pencari Kerja Menurut Kelompok Pendidikan Tahun 2006 dan Trahun 2007 . Palangkaraya ________. Tata Cara Permintaan Jaminan Kecelakaan Kerja. Kesepakatan Kerjasama Pembangunan Ketenagakerjaan Lintas Kabupaten Kota Se-Kalimantan Tengah. Palangkaraya. Prosedur TKI Bekerja ke Luar Negeri. 2004.asp. 2008.id/ viewarticle. Claude dan Warren Weaver. 1997. 2005. Jakarta. Medan Nerang. tanggal 25-4-2008) 95 . Jakarta Seksi Informasi Ketenagakerjaan Sub Dinas Perencanaan dan Program. t. Universitas Terbuka Shannon. Leaflet.t. Inc Sekretariat Jenderal MPR RI. dkk. Leaflet. 2005.goid. Pawito. New York. Tim Redaksi Nuansa Aulia. Bandung. Leaflet. LKIS Sendjaja. Palangkaraya. Sub Dinas Perencanaan dan Program. 2004. PT Pustaka Binaman Presindo. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.go.. Penelitian Komunikasi Kualitatif. Persyaratan Permohonan Izin Pemutusan Hubungan Kerja dan Prosedur Permohonan Banding. 1 .t. Pengantar Komunikasi. Leaflet. ´Gubernur Kalteng Dukung DPD Kembangkan Desa dengan Kearifan Lokal´. Palangkaraya ________. ³Information Theory´ dalam A First Look At Communication Theory. 2007. Osborne. David dan Ted Gaebler. CV Nuansa Aulia Internet : (http://www. Kompas. Himpunan PeundangUndangan Republik Indonesia Tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia Di Luar Negeri. Standarisasi dan Sertifikasi Tenaga Kerja. 1998. Sasa Djuarsa. tanggal 20-3-2008) (http://www. Palangkaraya ________. Mewirausahakan Birokrasi Reinventing Government. Palangkaraya ________. Palangkaraya ________. Menjadi TKI Meningkatkan Kesejahteraan. Lowongan Kerja.id?web/id/KER01/profil/kalteng/tanggal 25-4-2008) (http://www. Lembaran.i. 2004.b. 2006. Leaflet.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. 13 Maret.kalteng. 2008.kalteng bps. Rekapitulasi Pendaftaran Pencari Kerja. 1993.Third Edition. Jakarta. Yogyakarta. Teras A. Leaflet. t.