P. 1
Jurnal Komunikasi Vol 10 No. 1 Apr 09

Jurnal Komunikasi Vol 10 No. 1 Apr 09

|Views: 448|Likes:
Published by mfathoni09

More info:

Published by: mfathoni09 on Jun 12, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/18/2013

pdf

text

original

JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.

1 - April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika, Medan

JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN

I.

Volume 10 No. 1 April 2009

SISTEM INFORMASI DI PEMERINTAHAN KABUPATEN ACEH TENGAH Oleh : Ali Murtadha M Arifin1

ABSTRAKSI Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pelaksanaan sistem penyampaian informasi di Pemerintahan Kabupaten Aceh Tengah setelah diberlakukannya otonomi daerah di Kabupaten tersebut karena penyampaian informasi sebelumnya dilakukan oleh juru penerangan dibawah Pemerintahan Departemen Penerangan disamping itu juga tu juan penelitian ini adalah sebagai penambah wawasan tentang perubahan sistem informasi tersebut. Untuk mencapai tujuan tersebut penelitian ini menggunakan metode kualitatif yaitu melakukan wawancara mendalam dengan Kasub Bagian Humas, Kepala Informasi dan Komunikasi serta karyawan yang mempunyai tugas dan fungsi sebagai penyiar informasi di Kabupaten Aceh Tengah. Adapun hasil penelitian dapat digambarkan bahwa otonomi daerah dapat merubah sistem informasi di Daerah Kabupaten Aceh Tengah, sistem informasi juga mempengaruhi kelanjutan pertumbuhan pembangunan, maka membangun informasi juga perlu, sehingga sistem informasi pesan pemerintah di kemas dan disiarkan dengan melalui media cetak maupun elektronik sehingga dapat diperoleh / dinikmati oleh publik dan sistem informasi pada masa Orde Baru berbeda dengan sistem informasi di era Orde Baru. Pada masa Orde Baru sistem informasi ditentukan oleh Pemerintah Pusat sedangkan pada otonomi daerah sistem informasi ditentukan oleh Pemerintah setempat (Daerah).

1

Penulis adalah Peneliti di BBPPKI Wilayah I Medan.

1

JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. 1 - April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika, Medan

Kata Kunci : Sistem informasi, Pemerintahan Kab. Aceh Tengah

A. Latar Belakang Masalah Di era otonomi daerah saat ini, sistem Pemerintahan Daerah sudah berbeda dibandingkan dengan sistem pemerintah diera orde baru. Kalau diera orde baru, organisasi Pemerintah dan sistem informasinya ditentukan oleh pemerintah pusat, di era otonomi daerah ini pembentukan instansi pemerintah daerah termasuk sistem informasinya ditentukan oleh pemerintah daerah setempat. Oleh karena itu sistem informasi pada setiap daerah bisa berbeda sesuai dengan perkembangan yang terjadi / kebutuhan di daerah masing-masing. Pada awal otonomi daerah, Pemerintah di daerah bisa membentuk dinas, Badan dan Lembaga tehnis sesuai dengan kebutuhan daerah setempat. Adanya ketentuan ini membuat berbagai daerah membentuk dinas secara berlebihan untuk menampung sebanyak mungkin pejabat struktural. Ketentuan mengenai pembentukan dinas dan lembaga tehnis tersebut kemudian disusul Peraturan Baru yang memberikan batasan jumlah dinas yang boleh dibentuk di Pemerintah Daerah. Daerah yang sudah terlanjur membentuk dinas dan lembaga teknis daerah melebihi ketentuan akan segera menyesuaikan dengan ketentuan baru dalam pembentukan Dinas dan lembaga teknis. Adanya kebebasan Pemerintah daerah untuk membentuk dinas dan lembaga tehnis di daerah maka bisa terjadi adanya perbedaan nama lembaga/dinas yang menangani informasi. Bahkan penanganan informasi di suatu daerah cukup hanya dimasukkan dalam suatu seksi/bagian dari dinas dan setiap daeah menggunakan istilah yang berbeda seperti : Hubungan Masyarakat (Humas) Informasi Komunikasi (Infokom), BadanInformasi Komunikasi Telematika (BIKT). Dengan berbedanya dinas yang berkaitan dengan informasi, maka dimungkinkan terjadinya perbedaan sistem informasi pemerintahan antara satu daerah dengan daerah-daeah lain. Saat ini sistem inforasi di pemerintahan masih berkembang dan mencari model yang tepat untuk kelancaran pelaksanaan pembangunan yang sedang dilaksanakan. Adanya dua organisasi di Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah yang secara khusus menangani informasi yaitu Kantor Informasi dan Komunikasi Daerah dan Sub Bagian Hubungan Masyrakat. Kantor Informasi dan Komunikasi Daerah merupakan lembaga hasil peleburan Kantor Departemen Penerangan semasa orde baru sebelum otonomi daerah. Hampir seluruh karyawan Kantor Informasi dan Komunikasi Daerah adalah mantan pegawai Kantor Departemen Penerangan Kabupaten Aceh Tengah Perkantoran yang dipergunakan, sebelumnya juga pernah dipergunakan sebagai Kantor Departemen Penerangan Kabupaten Aceh Tengah Kepala Kantor Informasi dan Komunikasi berada pada eselon III. Sub Bagian Humas juga sudah ada sebelum era otonomi daerah. Struktur organisasinya berada di bagian Sekretariat Daerah. Sub Bagian Humas ini berada dibawah Bagian Humas, Pengolah Data Elektronik (PDE) dan Santel, yang berada dibawah Asisten Umum. Sebagai sub bagian di Sekretariat Daerah, Sub Bagian Humas hanya menempati satu ruangan di Kantor Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah Kepala Sub Bagian Humas berada pada eselon IV. Adanya dua lembaga yang menangani informasi ini merupakan salah satu unsur sistim informasi di Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah. Kedua lembaga itu bisa secara bersama-sama menjalankan tugasnya dalam diseminasi informasi pada masyarakat. Sistem informasi pemerintah ini mempunyai peran yang penting untuk mensukseskan pembangunan di suatu daerah. Sistem informasi yang baik, bisa menciptakan kesatuan gerak dan langkah antar lembaga/dinas untuk mencapai tujuan. Jika sistem informasi antar lembaga/dinas tidak berjalan baik maka dimungkinkan terjadinya tumpang tindih kegiatan, bahkan bisa terjadi kegiatan yang saling bertentangan. Sistem informasi yang baik 2

JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. 1 - April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika, Medan

memungkinkan program-program dan kegiatan yang dilakukan pemerintah bisa direspon oleh masyrakat sehingga bisa meningkatkan partisipasi masyarakat. B. Permasalahan Berdasarkan latar belakang diatas, dirumuskan permasalahan penelitian yaitu bagaimana pelaksanaan sistem informasi di Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah.

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan sistem informasi di Kabupaten Aceh Tengah. Dengan diketahuinya pelaksanaan sistem informasi di daerah tersebut dapat menambah pengetahuan mengenai sistem informasi di Kabupaten Aceh Tengah. Hasil penelitian ini juga bisa dimanfaatkan sebagai pembanding sistem informasi di berbagai daerah yang memiliki sistem informasi yang berbeda. D. Landasan Teori 1. Pengertian Sistem Informasi Berbagai pengertian tentang sistem informasi dikemukakan dalam berbagai buku untuk menggambarkan pengertian mengenai sistem informasi diantaranya ditulis oleh Alter (1992) bahwa Sistem informasi adalah kombinasi antara prosedur kerja, informasi, orang dan tehnologi informasi yang diorganisasikan untuk mencapai tujuan dalam sebuah organisasi. Bodnar dan Hopwood (1993)mendifinisikan sistem informasi adalah kumpulan perangkat keras dan peangkat lunak yang dirancang untuk mentransformasikan data ke dalam bentuk informasi yang berguna. Gelinas, Oram dan Wiggins (1990) mendifinisikan sistem informasi adalah suatu sistem buatan manusia yang secara umum terdiri atas sekumpulan komponen berbasis komputer dan manual yang dibuat untuk menghimpun, menyimpan dan mengelola data serta menyediakan informasi keluaran kepada pemakai. Hall (2001) mendifinisikan sistem informasi sebagai sebuah rangkaian prosedur formal dimana data dikelompokkan, diproses menjadi informasi dan didistribusikan kepada pemakai. Dari berbagai difinisi tersebut dapat disimpulkan bahwa sistem informasi mencakup sejumlah komponen (manusia, tehnologi informasi dan prosedur kerja) berupa masukan (input), ada proses (data menjadi informasi) dan dimaksudkan untuk mencapai suatu sasaran atau tujuan (output).

2. Otonomi Daerah Untuk melaksanakan kebijakan desentralisasi dibentuk daerah otonom. Menurut UU No. 22 Tahun 1999, daerah otonomi merupakan ´kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas daerah tertentu berwenang mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasar aspirasi masyarakat dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indoneia´. Kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasar aspirasi masyarakat sering disebut otonomi daerah. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa daerah otonom adalah daerah yang memiliki otonomi daerah. Kaho (1987) memaparkan ciri-ciri Daerah Otonom sebagai berikut :

3

Proses transformasi sistem ini sering dilukiskan orang dengan mempergunakan model masukan-keluaran (inputoutput model). Proses Dari sisi proses di Humas dan Kantor infokom yang bisa dijadikan indikator terjadinya proses pelaksanaan sistem informasi adalah : a. peralatan perlengkapan dan sebagainya. Input Dari sisi masukan (input). Istilah kotak hitam disini dipergunakan untuk memudahkan memahami dan atau mengkajinya. atau menstransformasikan bahan-bahan yang disebut masukan (input) menjadi suatu hasil karya yang bisa disebut keluaran (output) (Shrode dan Voich. 2. 1974 : 128). Model kotak hitam itu digambarkan atau dilukiskan orang-orang bermacam-macam. 3. b. Memiliki tugas dan sasaran yang jelas. Staf yang kompeten dan komitmen tinggi. c. Medan 1. Teori Sistem Setiap sistem merupakan tempat memproses. 2002 : 38). mengolah. Adanya urusan-urusan tertentu yang diserahkan oleh pemerintah pusat atau daerah tingkat atas kepada daerah untuk diatur dan diurusnya dalam batas-batas wilayahnya. kemampuan melaksanakan tugas. Arifin.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. yang bisa dijadikan indikator untuk mengetahui masukan pelaksanaan sistem informasi di humas dan Kantor infokom adalah : a. Hal ini ditunjukkan dengan adanya kebijakan. sejauh mana kesiapan sumberdaya baik sumberdaya manusia (yang mencakup jumlah dan kualitas) maupun sumbrdaya selebihnya seperti keuangan. 2. 1. Model adalah gambaran mengenai sesuatu realitas untuk menggambarkan bagaimana suatu itu tampaknya atau bagaimana bekerjanya guna memudahkan memahami dan atau mengkajinya. Model masukan keluaran ini biasa disebut juga dengan model kotak hitam (black-box model). 4. menggerakkan 4 . Kompetensi ini dapat ditunjukkan dengan kesesuaian tingkat dan latar belakang pendidikan. Sumberdaya sangat strategis bagi keberhasilan pelaksanaan tugas humas dan infokom. jadi seperti kotak hitam (Tatang M. 1 . Pelaksanaan proses tugas penyampaian informasi ditandai oleh : Kepemimpinan lembaga yang kuat. tugas dan sasaran yang akan dicapai Humas dan kantor infokom. Pengaturan dan pengurusan urusan-urusan tersebut dilakukan atas inisiatif sendiri dan didasarkan pada kebijaksanaan sendiri pula. Konsep dasarnya : Masukan Proses Keluaran Untuk menilai pelaksanaan sistem informasi di Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah. Istilah kotak hitam disini dipergunakan untuk menunjukkan bahwa isiyang terkandung di dalam satuan (unit) pemroses (transformasi) atau jelasnya sistem itu tidak diketahui.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Staf yang kompeten merupakan pra sarat mutlak dalam pelaksanaan tugas humas dan infokom. dalam arti kepemimpinan yang kuat dalam mengkoordinasikan. maka pendekatan sistem merupakan cara yang tepat sebagai pemandu. Pengaturan urusan-urusan tersebut masyarakat daerah perlu memiliki sumber-sumber pendapatan/keuangan sendiri. 3. Adanya alat-alat perlengkapan atau organ-organ atau apatur sendiri. Sumberdaya yang tersedia dan siap. dan kedisiplinan dalam melaksanakan tugas. mengubah.

Dalam hal ini dapat diamati dari : keikutsertaan unit kerja di Pemda dalam berbgai aktifitas pelaksanaan tugas Humas dan Infokom.Informasi yang disampaikan oleh humas dan infokom dapat diterima. Dengan tehnik ini peneliti berusaha memperoleh data atau informasi dengan cara menggali dan mempelajari dokumen-dokumen.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. infokom dan satuan unit kerja di pemerintahan. Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Tehnik pengumpulan data Untuk mengumpulkan data yang diperlukan dalam penelitian ini dipergunakan dua macam tehnik yaitu : a. penyederhanaan data pemaparan data. Informan penelitian Adapun yang dijadikan informan sebagai sumber/ menghimpun data dalam penelitian ini adalah Kasub Bagian Hubungan Masyarakat. dimanfaatkan instrument berupa panduan wawancara dan daftar topik. 5. 3. Kasub Bagian Informasi dan Informatika. Tehnik Analisa Data Metode yang dipergunakan untuk menganalisis dalam penelitian ini metode deskriptif kualitatif dengan menggunakan model interaktif yaitu semacam siklus terkait antara kegiatan pengumpulan data. arsip dan catatan yang berhubungan dengan pelaksanaan tugas humas dan Kantor Infokom. Metode Penelitian 1. Medan sumber daya manusia dilingkungan humas dan infokom serta menyerasikan semua sumberdaya yang ada pada satu tujuan yang sama. Output Setiap proses pelaksanaan sistem informasi selalu diharapkan adanya keluaran atau hasil berupa kinerja pelaksanaan sistem informasi. karyawa Humas dan Infokoma yang bertugas n sebagai ujung tombak dalam penyiaran / penyampaian informasi publik di daerah Kabupaten Aceh Tengah. b. Wawancara mendalam. Kerja sama yang kompak dan cerdas serta dinamis. 3.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. dan penarikan kesimpulan. Sub Bagian Dokumentasi dan Informasi. 1 . 4. Partisipasi yang tinggi dari unit kerja di pemerintah daerah. kerja sama yang didasari oleh saling pengertian dan kesediaan menerima perbedaan pendapat. Indikator terjadinya kinerja pelaksanaan informasi tersebut. E. Lokasi Penelitian Penelitian dilaksanakan di Sub Bagian Humas dan Kantor Infokom Kabupaten Aceh Tengah sebagai lembaga yang secara khusus menangani informasi. . Dengan tehnik wawancara tidak berstruktur atau mendalam (Indepth/unstructured interviewing) peneliti melakukan tanya jawab dan tukar pikiran tanpa daftar wawancara. 2. 5 . Studi dokumentasi. Dalam pelaksanaannya. c. yang ditandai komunikasi yang baik dan harmonis antara humas. peneliti hanya dibantu dengan sejumlah topik umum tentang proses pelaksanaan sistim informasi di Kabupaten Aceh Tengah yang masih harus dikembangkan oleh pewawancara berdasar jawaban informan. b. Jadi analisa data dilakukan bersamaan dengan pengumpulan data.

Su b Bagian Hubungan Masyarakat mempunyai tugas : 1. Seksi Media Informasi dan Komunikasi mempunyai tugas melaksanakan.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Melakukan hubungan timbal balik antar pemerintah daerah dengan masyarakat umum dan organisasi kemasyarakatan untuk memperjelas kebijakan dan kegiatan pemerintah daerah. F. Sementara itu Sub Bagian Humas. film dan Seksi Publikasi mempunyai tugas melaksanakan kegiatan penyampaian informasi langsung. 3. 5. 2. pemberdayaan potensi informasi lembaga swadaya masyarakat dan lembaga informasi desa. Melaksanakan usaha untuk peningkatan peliputan kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh pemerintah maupun masyarakat. dan sasaran yang jelas. media informasi dan publikasi. Kualitas Masukan SDM Non Manusia 6 . Ketiga hal itu diuraikan berikut ini : 1. sesuai Peraturan Daerah Kabupaten Aceh Tengah Nomor 5 Tahun 2002 Tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat Daerah. 6. pengumpulan data bulan April dan pengolahan data/laporan bulan Mei 2009. Kualitas Masukan Sistem Informasi Sudah disinggung di atas. proses dan keluaran diperlukan sebagai cerminan realitas model dan implementasi pelaksanaan sistem informasi di Kabupaten Aceh Tengah. Menyiapkan bahan evaluasi dan pelaporan kegiatan di bidang kehumasan. bahwa masukan sistim informasi diambil tiga indicator yaitu adanya tugas. Informasi yang bersifat umum itu bisa berasal dari pemerintah pusat maupun Provinsi seperti peraturan perundangan. radio. Dana : dana penelitian ini dibebankan kepada anggaran rutin BBPPKI Medan. Tugas dan fungsi Kantor Informasi dan Komunikasi Daerah telah diatur dalam Peraturan Daerah Kabupaten Aceh Tengah Tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Dinas-Dinas Daerah. proses dan keluaran sistim informasi. Melakukan hubungan intern dengan satuan dan unit kerja di lingkungan Pemerintah Daerah. 1 . 2. kualitas masukan. Hasil Penelitian Dalam penelitian ini. Tugas dan sasaran Humas dan Kantor infokom diatur dalam peraturan daerah. Dengan kata lain profil kualitas pelaksanaan sistem informasi di Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah merupakan keutuhan kualitas masukan. Dalam melaksanakan tugas itu tiga seksi yang dimiliki Badan Infokom yaitu Seksi Pemberdayaan Informasi mempunyai tugas melaksanakan upaya pemberdayaan partisipasi masyarakat. Urusan bidang informasi dan komunikasi tersebut meliputi informasi yang bersifat umum yang tidak berkaitan dengan informasi didalam pemerintah Kabupaten Aceh Tengah. Medan Waktu penelitian ini dijadwalkan sebagai berikut penyusunan/ persiapan rancangan penelitian bulan Februari 2009. memantau penyelenggaraan kegiatan penyebaran informasi melalui media interaktif. Kantor Informasi dan Komunikasi Daerah mempunyai tugas pokok membantu Bupati dalam melaksanakan sebagian urusan rumah tangga daerah di bidang informasi dan komunikasi yang meliputi pemberdayaan informasi. Sesuai dengan Peraturan Daerah Kabupaten Aceh Tengah Nomor 8 Tahun 2002 Tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kantor-Kantor Daerah. Melaksanakan tugas sebagai juru bicara pemerintah daerah sesuai dengan petunjuk Bupati. 4.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Sumberdaya yang tersedia dan kompetensi sumberdaya. televisi. Melaksanakan koordinasi/kerja sama dengan organisasi kewartawanan. kelompok komunikasi sosial.

2004 : 243-245) Implikasinya perangkat lunak harus ada dan tersedia di bagian pengelolaan informasi secara memadai supaya implementasi penyebaran informasi kepada masyarakat dengan baik. Tidak jarang perangkat lunak diyakini lebih penting dari pada sumberdaya bukan manusia meski tidak sepenting sumber daya manusia (Suryadi dan Budimansah. Perangkat lunak yang terdapat di Humas jauh lebih mapan dibandingkan dengan perangkat lunak yang ada di Kantor Infokom karena eksistensi humas yang sudah berlangsung lama sementara eksistensi Kantor Infokom msih berjalan beberapa tahun setelah pelaksanaan otonomi daerah. Prasarana (infrastruktur). terjadi hal yang sebaliknya. Harapan itu tergambar dalam rencana dan strategi (renstra) khususnya visi. Sementara itu di lingkungan Humas. bebruat dan melakukan sesuatu secara lebih maksimal dalam melaksanaka n tugas berkat tersedianya secara memadai sejumlah sumberdaya bukan manusia. Berdasar pengamatan. 2000) mendukung dan menunjang atau malah mempengaruhi kiprah kinerja sumber daya manusia. prasarana (infrastruktur). diskripsi tugas pokok dan fungsi. Bangunan atau ruangan yang dimiliki sangat terbatas karena terbatasnya ruangan yang ada di sekretariat daerah. Demikian juga Humas dan Infokom Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah yang mengimplementasikan sistim pengelolaan informasi harus memiliki harapan yang jelas. harapan yang tertuang dalam bentuk visi. rencana pelayanan dan lain-lain sudah ada dan telah 7 . Bangunan dan ruang. 1 . perlengkapan kantor (furniture. perlengkapan kantor dan alat bantu kegiatan yang dimiliki Kantor Infokom kelihatan kurang memadai untuk melaksanakan tugas karena peralatan yang dimiliki sebagian merupakan bekas peralatan lama yang pernah dipergunakan semasa masih ada Departemen Penerangan. Kualitas Masukan Harapan Humas dan Infokom Implementasi penyebarluasan informasi selalu dikaitkan dengan harapan terjadinya peningkatan kualitas pelayanan informasi. efektif. rencana pengembangan. tinggi dan unggul dibidang kualitas pelayanan informasi dengan dilandasi oleh semangat ingin menjadi lebih baik. misi. rencana jangka panjang. Kualitas Masukan Perangkat Lunak Dalam penyelenggaraan pengelolaan informasi seperti halnya masukan sumberdaya manusia dan sumber daya bukan manusia. computer dll) dan dana merupakan sejumlah sumberdaya bukan manusia yang perlu disediakan kare secara na signifikan dapat mempengaruhi kinerja sumberdaya manusia. misi dan tujuan serta sasaran masing-masing pengelola informasi. rencana dan program kegiatan. Medan Sumberdaya bukan manusia atau sekarang sering diistilahkan modal fiskal dan modal finansial (Thomas dkk. Humas yang memiliki staf sebanyak 13 orang hanya menempati satu ruangan. Oleh sebab itu menjadi kewajiban setiap pengelola informasi untuk menerapkan harapan dan dorongan yang jelas. Humas dan Infokom memiliki peraturan perundangan. mencapai maksud dan tujuannya. 3. Diskripsi tugas pokok dan fungsi ini menjadi dasar atas rencana dan program kegiatan Humas dan Infokom.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. pasti.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Secara kuantitatif bangunan dan ruang yang dipergunakan Kantor Infokom sangat representatif untuk melakukan kegiatan karena gedung yang dipergunakan adalah bekas Kantor Departemen Penerangan. Seluruh staf yang bergerak di Humas dan Kantor Infokom dapat bertindak. Sebagai pengelola informasi resmi milik pemerintah. 4. mantap dan tinggi serta terfokus untuk meraih kualita pelayanan informasi. masukan perangkat lunak menunjang dan menentukan beroperasi tidaknya dan berjalan tidaknya secara efektif dan maksimal proses penyampaian informasi di masyarakat. mesin. Namun demikian infratruktur yang dimilikinya sangat memadai dengan tersedianya perlengkapan yang dibutuhkan dalam setiap operasional kegiatannya.

Untuk itu unit kerja yang lain siap memberi bantuan Humas dengan memberikan informasi yang diperlukan.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. menunjukkan bahwa baik Kepala Humas dan Kantor Infokom memiliki kesadaran akan kedudukan proses penyebaran informasi sebagai inti proses sistem pengelolaan informasi guna mencapai kompetensi koqnitif. Kualitas Keluaran Sistim Informasi Setiap proses penyebaran informasi selalu meniscayakan keluaran bahkan juga hasil dan dampak sistim pengelolaan informasi walaupun keduanya tidak dapat diketahui atau 8 . A. bukan mekanis dan artificial. Dalam proses pengelolaan informasi ini Humas dan Infokom mengelola informasi secara sistematis. B. Secara mikro proses sistem informasi yang mencerminkan terlaksana tidaknya atau berfungsi tidaknya pelaksanaan sistem informasi secara organis. 5. Seiring dengan itu partisipasi semua pihak menjadi penting selain kolaborasi. agar dapat dikembangkan menjadi pengetahuan yang bermanfaat guna peningkatan kualitas kehidupan dan pembangunan. Proses sistem informasi ini bersangkutan dengan bekerja tidaknya fungsi-fungsi manajemen di Humas dan Badan Infokom. Hampir semua karyawan juga mengetahui adanya visi dan misi tersebut karena seringkali ditempelkan di dinding dalam ruangan kerja. Pekerjaan dan tanggungjawab pengelolaan program harus dibagi pada semua pihak dalam mengelola informasi. proses penyebaran mendapat perhatian utama sehingga harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya dan semaksimal mungkin. afektif dan behavior yang ditentukan dalam juknis dan juklak. ormas. Kondisi Proses Pengelolaan Sistem Informasi Proses pengelolaan program penyebran informasi perlu dilakukan secara bersamasama oleh tim kerja yang kompak cerdas dan dinamis. LSM dan masyarakat untuk menjawab tantangan masa kini maupun masa depan. Kualitas Proses Sistem Informasi Dalam pelaksanaan sistem informasi di Kabupaten Aceh Tengah proses sistem informasi menempati kedudukan dan arti penting dan strategis. tidak harus secara mikro. Orpol. dalam penyelenggaraan proses sistem informasi. Bersinergi dengan seluruh Dinas/Badan/Kantor. 6. Kondisi Proses Penyebaran Informasi Dalam implementasi sistim informasi. kerjsama dan sinergi antara program. sikap dan perilaku mereka sebagai pemimpin dan pelaksana yang mempunyai komitmen. Hasil pengamatan dan wawancara dengan kepala Kantor Infokom dan Kepala Sub Bagian Humas. semangat dan etos kerja yang cukup kuat untuk melaksanakan proses penyebaran informasi. Dalam kontek pelaksanaan sistem informasi di Kabupaten Aceh Tengah. Hal ini dikarenakan proses penyebaran iformasi secara langsung menentukan kualitas keluaran informasi secara kognitif afektif dan behavior. Selain itu dari diri. 1 . Medan ditetapkan di Humas dan Infokom. bukan terpusat pada beberapa orang atau kepala dinas/kepala bagian tidak boleh mendominasi pekerjaan dan tanggungjawab melainkan harus mengkoordinasi dan mensinergikan berbagai pihak yang disertai pekerjaan dan tanggungjawab yang mengelola informasi. proses sistem informasi sudah cukup memadai bila dilihat secara makro.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. menjadi pusat informasi dan komunikasi bagi kalangan masyarakat menengah ke bawah sekaligus berperan menjadi pusat pembelajaran dan pengetahuan. Berdasar hasil wawancara dengan Kasub Bagian Hubungan Masyarakat Kabupaten Aceh Tengah diketahui bahwa hampir semua pegawai pemerintah mendukung manajemen proses sistem informasi dengan menjadikan humas sebagai satu -satunya sumber informasi. Artinya tinggi rendahnya kualitas keluaran sistim informasi ditentukan oleh proses penyebarannya.

Kemandirian daerah ini diharapkan dapat mencapai apa yang diharapkan dapat mencapai apa yang menjadi tujuan kebijakan otonomi daerah. Model teoritis yang dimaksud digambarkan sebagai berikut : Kebijakan otonomi daerah memberi kewenangan lebih besar kepada daerah. Prestasi pelayanan informasi dapat berupa produktifitas. Dalam pelayanan informasi Prestasi pelayanan informasi dilihat secara komprehensif dari pencapaian tujuan kegiatan program. humas bisa lebih produktif menghasilkan keluaran dalam melaksanakan tugas yang diembannya. melakukan hubungan timbal balik antar pemerintah daerah dengan masyarakat umum dan organisasi kemasyarakatan untuk memperjelas kebijakan dan kegiatan pemerintah daerah. Dibentuknya Humas diantaranya sebagai juru bicara pemerintah. Sebagai lembaga yang memiliki sumber dana yang cukup besar. 1 . Keluaran pelayanan informasi berkaitan dengan kinerja atau prestasi lembaga pengelola informasi secara komprehensif. dapat ditarik satu model teoritis pelaksanaan sistem informasi. G. Kebijakan otonomi daerah melahirkan sistem informasi di daerah sesuai dengan apa yang diputuskan bersama antara Pemerintah Kabupaten dan DPRD menjadi Peraturan daerah (Perda). bahkan bila mungkin diperhatikan pula hasil dan dampak pelayanan informasi. melaksanakan usaha untuk peningkatan peliputan kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh pemerintah maupun masyarakat dan melaksanakan koordinasi/kerja sama dengan organisasi kewartawanan. Kegiatan yang memerlukan sumber dana yang besar sangat terbatas pelaksanaannya. Sementara tugas Kantor Infokom adalah melaksanakan sebagian urusan rumah tangga daerah di bidang informasi dan komunikasi yang meliputi informasi. Keluaran humas yang cukup menonjol adalah terlayaninya kebutuhan wartawan untuk memperoleh informasi melalui humas. efektifitas. inovasi dan moralitas atau etos kerja. Kewenangan yang lebih besar ini diharapkan membuat daerah mandiri dalam mengurus kepentingan masyarakat berdasarkan aspirasi masyarakat setempat. Diantaranya melakukan kegiatan-kegiatan yang menggunakan sumber dana kecil atau tanpa sumber dana seperti pengkoordinasian penyampaian informasi secara terjadwal oleh dinasdinas yang ada di Kabupaten Aceh Tengah radio yang dikelola Infokom. perhatian di fokuskan pada keluaran pelayanan informasi. yang salah satunya peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat. Medan diukur seketika. saat ini berhenti terbit. 9 . efisiensi. karena karakteristik masing-masing.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. bahkan buletin yang telah ada sejak Departemen Penerangan masih eksis.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. lancar dalam berkoordinasi dengan satuan atau unit kerja di pemerintah Kabupaten. Di Kabupaten Sistem informasinya dilaksanakan oleh Humas dan Kantor Infokom. Humas juga menghasilkan tabloid yang peredarannya cukup besar meski masih di lingkungan pegawai pemerintah. Disamping keterbatasan dana SDM yang mengelola buletin tersebut pindah ke Humas untuk menangani tabloid Humas. Pembahasan Berdasar uraian diatas. melakukan hubungan intern dengan satuan dan unit kerja di lingkungan Pemerintah Daerah. media informasi dan publikasi. Disamping itu dengan kewenangan lebih besar diharapkan daerah mampu menemukan masalah yang mencatat di daerahnya dan sekaligus mampu mencari solusi terbaik sesuai dengan kondisi dan karakteristik daerah. Karena itu dalam kontek pengelolaan sistim informasi. Kinerja atau pencapaian tujuan ini erat kaitannya dengan masukan yang ada sebelumnya diantaranya sumber dana yang tersedia untuk menghasilkan keluaran berupa produktifitas kerja. Tujuan adanya dua lembaga yang menangani informasi ini adalah untuk meningkatkan pelayanan informasi kepada masyarakat. Keluaran yang terjadi di Infokom cukup memadai meski sumberdana yang tersedia terbatas.

co. Suryadi dan Budimansah.Jakarta. sementara di Humas karena sarana. anggaran operasional yang dimiliki bisa untuk membiayai kegiatan yang dilakukan.2001. Kanisius. Amiran. Tatang M. PT Raja Grafika Persada. 1990. 2. Oranda Wiggins. 3. Sarana. Sekretariat Daerah. Information System Theory and Practice. Jr. Perlunya kerjasama antar Humas dan Kantor Infokom dengan semua pihak utamanya Dinas/Badan/Kantor di Pemerintah Kabupaten untuk memberikan pelayanan informasi pada yang membutuhkan pelayanan. Jakarta. 1 . Hubungan Pemerintah Pusat dan Daerah di Indonesia . Medan Sistem Informasi di Pemerintah Kabupaten ¥¡¥ £©§¦§¨§ ¦¥ ¥¤£¢¡  D D KINERJA PELAKSANAAN SISTEM INFORMASI : y INPUT y PROSES y OUTPUT H. New York. Yosep. Basic System Conceps. prasarana. Riwu Kaho. produktifitasnya cukup besar.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Kegiatan Humas yang banyak berhubungan dengan unit kerja di Pemda yang memiliki tingkat eselon yang lebih tinggi bisa menjadi hambatan bagi humas meski gengsi posisi humas cukup tinggi. 1987. Yogyakarta. Peraturan Daerah Kabupaten Aceh Tengah Nomor 8 Tahun 2002 tentang Perubahan atas Peraturan Daerah Kabupaten Aceh Tengah Nomor 26 Tahun 2000 tentang Susunan Organisasi Tata Kerja Kantor Kepala Daerah. Organisasi and Management. Reformasi Pendidikan Dalam Konteks Otonomi Daerah.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Kesimpulan 1. Malaysia. or win Book. William A and Dan Voich. Rineka Cipta. 1974. Shrode. prasarana dan sumber dana yang terbatas di Kantor Infokom membuat hasil akhir atau keluaran berupa hasil dan produktifitas kerja cukup terbatas. Pokok-Pokok Teori Sistem. Gelinas. Peraturan Daerah Kabupaten Aceh Tengah Nomor 52 Tahun 2002 tentang Perubahan Peraturan Daerah Kabupaten Aceh Tengah Nomor 22 Tahun 2000 tentang Susunan Organisasi Tataruang. ( "   ! ! y HUMAS y INFOKOM £¥©§¦£ ¦¥¥¦¥ ¥¡ ©¡¨£ '!&! %#"#$# "!!  TUJUAN : MENINGKATKAN PELAYANAN INFORMASI OTONOMI SISTEM INFORMASI : HUMAS DAN INFOKOM DAFTAR PUSTAKA 10 .

Kata Kunci : Telepon Seluler. menyebutnya dengan komunikasi seluler. Bagi orang komunikasi..JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. disamping tren teknologi ini terus berkembang.Kabupaten Langkat) Oleh Budiman ** Abstrak Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi mengalami kemajuan yang sangat pesat. Satu diantaranya adalah telepon seluler (telepon seluler. Medan TELEPON SELULER DAN EFEKTIVITAS KOMUNIKASI MASYARAKAT PEDESAAN 2 (Studi Di Desa Pertumbukan. Hasil temuan penelitian berdasarkan kebutuhan inf ormasi. Pengembangan SDM Peneliti Kominfo Menuju Masyarakat Informasi Sumatera Utara. juga dari aspek pemanfaatannya telah merambah hingga ke pedesaan. Akan tetapi delapan tahun terakhir. Indonesia diramaikan dengan pola komunikasi melalui telepon seluler atau biasa disebut dengan HandPhone (HP). Secara tidak langsung memang teknologi komunikasi membawa berbagai keuntungan bagi mereka penggunanya. Melihat data perkembangan pengguna telepon seluler di Indonesia terus berkembang pesat dari tahun ke tahun.dan Masyarakat Pedesaan.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. atau kelompok pada masyarakat Desa Pertumbukan bagaimana dalam memanfaatkan telepon seluler. gejala. Tidak ada khalayak yang secara tegas menolak hadirnya teknologi yang banyak diminati oleh berbagai kalangan tersebut. Perkembangan jenis telepon seluler semakin hari semakin meningkat. Sebelumnya nyaris sistem komunikasi yang berkembang di Indonesia masih memakai peralatan sederhana (media tradisional maupun tatap muka). Hampir setiap orang menjadikan telepon seluler ini sebagai kelengkapan sehari-hari sebagai media komunikasi. diversi. dan diseminarkan pada tanggal 30 Oktober ± 1 November 2008 di Cisarua.Efektivitas Komunikasi. Kecamatan Wampu. Latar Belakang Masalah Kemajuan dan rambahan teknologi komunikasi berupa telepon seluler (telepon seluler) yang semakin pesat dan maju tidak dapat kita hindari. Penelitian ini bersifat deskriptif yakni hanya memaparkan situasi dan peristiwa apa adanya dengan memberikan gambaran secermat mungkin mengenai suatu individu. Mulai dari fasilitas yang disediakan sampai bentuknya. keadaan. sebagai berikut: Telah diseminarkan pada tanggal 10 Juli 2008 di Pematangsiantar dalam acara Seminar Peningkatan. Bogor dalam acara Temu Ilmiah Peneliti X Badan Penelitian Dan Pengembangan SDM Depkominfo RI ** Penulis adalah Peneliti Pertama bidang Komunikasi Sosial pada B BPPKI Medan 2 11 . Pemanfaatan telepon seluler ini berdasarkan aspek-aspek kebutuhan yang diadopsi dari asumsi-asumsi Teori Uses and Gratifications yang sudah lazim digunakan untuk meneliti media komunikasi modern yang berkonvergensi. identitas personal dinyatakan bahwa telepon seluler sarana media untuk berkomunikasi yang dibutuhkan dan telah membantu masyaraka pedesaan. 1 . Perkembangan pesat dalam dunia sistem komunikasi kita tentunya akan mengubah pola komunikasi yang terjadi di masyarakat selama ini.

1 . hal ini masyarakat menjadi konsumtif .com/lihat_opini. Kabupaten Langkat diperoleh gambaran tentang pola penggunaan telepon seluler oleh masyarakat desa tersebut yakni. kecanggihan dan fasilitas yang dimiliki oleh teknologi komunikasi menjadi tolok ukur seberapa besar fungsi dan kebutuhan dari teknologi komunikasi itu bagi penggunanya tanpa memikirkan dampak yang akan timbul dari pemakaian teknologi tersebut.php?pg= 2007/10/27102007/65568 .org/ diakases tgl 12/5/08 Dan hingga sampai tahun 2007 telah terdapat 85 juta pelanggan telepon seluler dan sementara hanya 10 juta pelanggan telepon tetap (fixed) di Indonesia (http://www.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Medan Data Perkembangan Pengguna Telepon seluler Di Indonesia Sumber : http://data. 12 . Ada yang menggunakan untuk kelancaran usaha/niaga hasil hasil bumi atau pertanian. pergerakan informasi berjalan dengan cepat dan menyebar sesuai dengan tujuan tergantung siapa yang membutuhkan. penulis merasa tertarik untuk melakukan penelitian. sebagai hiburan dan lain sebagainya.diakses tgl 11/4/08). Permasalahan Dari fenomena yang terjadi pada masyarakat di atas maka untuk mencari informasi tersebut di rangkum dalam pertanyaan sebagai berikut : Bagaimanakah penggunaan dan sikap masyarakat Desa Pertumbukan terhadap telepon seluler ? Tujuan Untuk mengetahui bagaimana penggunaan telepon seluler dan sikap masyarakat Desa Pertumbukan. Belum lagi berkembangnya model telepon seluler dari berbagai merek dagang yang semakin canggih dan terus bergulir yang menggoda konsumen melalui iklan dengan mengkaitkan terhadap gaya hidup tertentu. Namun kalau diperhatikan secara seksama pola penggunaan telepon seluler berdasarkan motif jelas berbeda dari aspek sosiodemografis masyarakat.pintunet. Dari pra-riset yang dilakukan peneliti (19-22 Februari 2008) di Desa Pertumbukan. secara umum memberikan kontribusi yang baik dalam kecepatan mendapatkan informasi. Namun dengan memiliki telepon seluler juga telah menambah biaya pengeluaran bagi setiap keluarga terutama untuk pembelian pulsa. Teknologi telekomunikasi membuat dunia semakin dekat dan menyatu karena waktu dan jarak semakin pendek.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. silaturahmi dengan keluarga atau teman. Kecamatan Wampu. Secara nyata jelas terlihat bahwa teknologi komunikasi memberikan keuntungan yang sangat besar bagi penggunanya terutama dalam hal berkomunikasi (komunikasi tidak lagi rumit seperti dulu). Kepintaran.un. Bagaimana tentang pola penggunaan telepon seluler dan sikap masyarakat desa.

terutama telepon seluler. dimana dalam penelitian ini berusaha untuk menggambarkan motif kebutuhan dalam penggunaan telepon seluler bagi masyarakat pedesaan. Teori ini berpandangan bahwa manusia menggunakan media karena dianggap memiliki manfaat baginya. mencontohkan jumlah produksi telepon seluler mencapai 6. Teori komunikasi massa butuh penyesuaian dan beradaptasi dengan perubahan-perubahan itu. dan investasi di bidang infrastruktur telepon seluler sangat agresif dilakukan oleh berbagai operator. 1 . Perilaku ini biasanya dipengaruhi oleh predisposisi sosial dan psikologinya.com /divakar_ goswami. Salah satu contoh gambaran lengkapnya sebagai berikut: sejak tahun 2005. Goswami dalam tulisannya ³Sustainability Proyek Harus Dipikirkan´. Medan Manfaat Secara praktis. Tentang hal ini Katz dan Blumer mengatakan sebagai berikut : 13 . KAJIAN TEORETIS Kajian Pustaka Inovasi besar di bidang teknologi informasi dan komunikasi dalam empat dekade terakhir ini adalah ditemukannya telepon seluler atau handphone (HP). Karena media teknologi baru yang memberi banyak kemudahan bagi pengguna. Telepon seluler telah berkembang secara fenomenal. Dari penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi perkembangan studi komunikasi serta mampu memperkaya varian.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika.5 miliar. alternatif rujukan juga sebagai khasanah referensi dalam penelitian-penelitian tentang khalayak di masa mendatang terhadap pemanfaatan industri teknologi komunikasi dan informasi. baik dari model/merk maupun dari jumlah pengguna. Di sini. Pada tahun 2006 nilai investasi infrastruktur telepon seluler yang dilakukan operator lebih dari US$ 2.htm ). Bidang komunikasi sekarang ini sedang mengalami perubahan besar.majalahindonesia. Teori-teori yang sudah ada mungkin masih bisa dipakai. hasil penelitian ini walau dalam cakupan wilayah penelitian yang kecil diharapkan dapat dijadikan masukan bagi pemerintah me lalui Depkominfo untuk mengkaji stategi perkembangan TIK khususnya telepon seluler dalam hal tren penggunaannya. Menurut pencetus teori ini.edu/~drlane/capstone/contexts.uky.741 menjadi 12. 2005) Terkait dengan pola penggunaan telepon seluler. tetapi yang lain mungkin memerlukan modifikasi untuk menyesuaikan dengan lingkungan baru ini (Severin dan Tankard.htm ). Dan secara teoretis. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran pada studi Ilmu Komunikasi dan untuk mengetahui perkembangan serta penerapan teori uses and gratification. para operator melakukan ekspansi jaringan. Blumler dan Katz (1974) mengutarakan bahwa seorang pengguna media mencari sumber media yang terbaik guna memenuhi kebutuhan mereka. Uses and Gratifications mengangkat bahwa pengguna memiliki pilihanpilihan alternatif untuk memuaskan kebutuhan mereka (http://www. Manusia sebagai individu aktif dan memiliki tujuan. Khalayak berperan aktif dalam mengambil bagian dalam proses komunikasi dan diorientasikan pada tujuan penggunaan media. konsep dasar komunikasi massa mengalami perubahan. teori Uses and Gratification dianggap tepat sebagai acuan untuk memahaminya.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Teori ini mengusulkan bahwa khalayak (pengguna) memainkan peran dalam pemilihan dan penggunaan media. mereka bertanggung-jawab dalam pemilihan media yang akan mereka gunakan untuk memenuhi kebutuhan dan individu ini tahu kebutuhan mereka dan bagaimana memenuhinya.6 juta. Telkomsel menambah BTS-nya dari 7. Media dianggap hanya menjadi salah satu cara pemenuhan kebutuhan dan individu bisa jadi menggunakan media untuk memenuhi kebutuhan mereka.156 sehingga terdapat pertumbuhan sebesar 57% (http://www.

the affirmation and reinforcement of which is facilitated by the consumption media material ( Situasi sosial memberikan dukungan dan penguatan pada nilai ± nilai tertentu melalui konsumsi media yang selaras ) (Katz. Perkembangan lebih lanjut penggunaan teori Uses and Gratifications banyak diterapkan pada penelitian penggunaan media baru seperti internet ( computer mediated communication) bahkan pada telepon seluler. 1 . 1994). Blumer. Kemampuan Leung dan Wei untuk menerapkan teori Kegunaan dan Kepuasan pada teknologi baru dijelaskan oleh pengamatan Shanahan dan Morgan (1999) bahwa terdapat "konsistensi lingkungan dari isi pesan yang kita konsumsi dan pada sifat dasar dari lingkungan simbolik di mana kita hidup" meski jika terjadi perubahan distribusi teknologi. Namun demikian pemikiran tersebut jelas bahwa pendekatan Uses and Gratification merupakan kritik dari sudut pandang teori-teori yang terdahulu. Difusi Inovasi (Difusion of Innovations). tersedianya berbagai alternatif komunikasi. serupa dengan pemyataan Gilder. Social Situation creates an awareness of problem that demand attention.Diffferential pattern of media exposure (or engagement in other activities)resulting in. Leung dan Wei mengamati. dkk.1999). Selanjutnya.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika.Need perhaps mostly unitended ones. memiliki kebutuhan kebutuhan tertentu. Simpulan studi yang dilakukan Leung dan Wei mengindikasikan bahwa teori Kegunaan dan Kepuasan. Siranahan dan Morgan menambahkan bahwa teknologi baru selalu dikembangkan dengan mengadopsi isi pesan dari teknologi dominan sebelumnya. leading to resure for their easement via mass media consumption (Situasi sosial menimbulkan ketegangan dan pertentangan. melainkan memiliki harapanharapan dan kebutuhan±kebutuhan. information about which may be sought in the media. khususnya k etika dikombinasikan dengan teori lainnva. dapat menjelaskan penggunaan telepon seluler. Orang berusaha melepaskan dirinya dari hal itu dengan mengkonsumsi media massa ).Expectation. Walaupun mereka menggunakan sudut pandang metodologi yang berbeda-beda. Needs which generate. Gurevitch. Dalam sebuah studi yang dilakukan oleh Louis Leung dan Ran Wei (2000) mempelajari Kegunaan dan Kepuasan pada telepon seluler. yaitu : Social situation produces tensions and conflict. Informasi itu dapat dicari lewat media ). (Situasi sosial menciptakan kesadaran akan adanya masalah-masalah yang membutuhkan perhatian dan informasi. audien memiliki motivasi±motivasi tertentu yaitu mencari pemuasaan atas dasar kebutuhannya terhadap media massa tersebut. Juga dalam penggunaan media. Social situation gives to rise certain values. bahwa "telepon seluler baru menggambarkan suatu konvergensi teknologi hibrid ketika ia mengaburkan batasan antara industri telekomunikasi dan penyiaran. Leung dan Wei tertarik tentang mengapa orang menggunakan telepon seluler dan apakah alasan mereka yang berbeda dari mengapa mereka menggunakan telepon kabel dan jaringan.(Pendekatan Uses and Gratification berhubungan dengan kebutuhan sosial dan psikologis yang membentuk harapan pada media massa atau sumber lain yang mengakibatkan pola terpaan media yang berlainan yang menghasilkan kepuasan dan konsekuensi ± konsekuensi lain yang tidak diinginkan) (Katz. Medan The social and psychological origins of.(West dan Turner. Pada pendekatan ini audien tidak lagi dipandang sebagai pasif. Sejak dicetuskan pertama kali pendekatan ini terus mengalami penyempurnaan oleh para ahli komunikasi melalui berbagai jenis penelitian.The mass media or other sources which lead to. namun secara global dapat dikatakan bahwa pendekatan Uses and Gratification memiliki asumsi bahwa audien dipandang aktif. dan secara sadar audien memilih saluran komunikasi dan pesan±pesan paling memenuhi kebutuhanya (Elihu Katz. Blumer. 1974) . Gurevitch. 2008) 14 . Katz dan Blumer selanjutnya mengemukakan ada beberapa faktor sosial yang menyebabkan timbulnya kebutuhan seseorang yang berhubungan dengan media.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.

Tetapi seperti yang di jelaskan Blumer (1994). 1 . Para peneliti media massa kemudian mencoba mengumpulkan seluas dan sebanyak mungkin daftar±daftar kebutuhan sosial dan psikologis yang dianggap audien sebagai terpenuhi dengan memanfaatkan media massa. Dengan demikian kecenderungan penelitian tentang Uses and Gratification mulai bergeser dan bertambah maju. kebutuhan atau motif yang menuntun seorang individu untuk menggunakan suatu media dipandang sebagai Gratification Sought atau kepuasan yang dicari atau diharapkan (Dimmick. yang membedakan antara Gratification Sought (GS) dan Gratification Obtained (GO). 1981. yaitu persahabatan. media massa memenuhi kebutuhan akan hiburan dan informasi . Dan setelah mengamati hasil±hasil yang diperoleh dilapangan. kegunaan sosial.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Kebutuhan kognitif menekankan pada kebutuhan akan informasi dan pencapaian tingkat ideasional tertentu. Jenis-jenis kebutuhan ini kemudian oleh para ahli dikelompokan menjadi beberapa kelompok. ³Relaxation´ (relaksasi). surveillance (pengawasan lingkungan). kesempatan melarikan diri dari kesibukan sehari-hari. yaitu memuaskan hasrat bermain atau melarikan diri dari kenyataan. correlation (hubungan sosial). Kemudian riset lebih lanjut yang dilakukan oleh Dennis McQuail dan kawan-kawan. korelasi (Correlation). kekinian.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. ³ Knowledge´ (pengetahuan). yaitu melepaskan diri dari rutinitas dan masalah. Medan Dari studi Louis Leung dan Ran Wei (2000) yang menggunakan teori ini juga menyatakan bahwa mobilitas. dan transmisi budaya atau sosialisasi (Cultur Transmission and Socialisation). ternyata terdapat jenis±jenis kebutuhan yang setiap kali muncul walaupun sampelnya berbeda-beda. dimana dan kapan saja (Leung dan Wei. Di sini media dianggap memberikan hiburan. 1984) . Menurut Stephenson media massa hanya memenuhi satu jenis kebutuhan saja. yaitu apa yang diharapkan audien dari media massa dengan apa yang diperolehnya dari media tersebut. Dalam teori Uses and Gratification yang dikembangkan oleh Palmgreen dan Rayburn. ³Entertaiment´ (hiburan). Manfaat kepuasan langsung juga dapat dirasakan oleh penggunanya. Motif kognitif menekankan kebutuhan manusia akan informasi dan kebutuhan untuk mencapai tingkat ideasional tertentu. Harold D Laswell pernah mengajukan 3 fungsi media yaitu yaitu pengawasan (Surveyllance). 2000). Mengenai fungsi media massa terhadap pemenuhan kebutuhan audien tersebut. dan intrumentalitas yang terdapat pada telepon seluler merupakan intrumen motivasi yang kuat yang diikuti dengan rasa ikatan kekeluargan atau sosial. yaitu referensi 15 . dan ³Interpersonal Utility´ (kegunaan pribadi) (Palmgreen. ³Diversion´ (pelepasan). atau hiburan dan informasi ± menurut Wilbur Schramm. ³ Surveyllance´ (pengawasan). sarana pelepasan emosi. Sejumlah ahli media akhirnya mulai beralih dari sekedar mengumpulkan jenis jenis kebutuhan audien kepada suatu model penelitian baru karena dari hasil±hasil studi mereka menunjukkan jenis± jenis kebutuhan yang sama. 2000 ). Personal relationships. Yang lain lagi menyebutkan tiga fungsi media massa dalam memenuhi kebutuhan. sedangkan kebutuhan afektif ditandai oleh kondisi perasaan atau dinamika yang menggerakan manusia mencapai tingkat perasaan tertentu. mereka menemukan empat tipologi motivasi khalayak yang terangkum dalam skema media ± persons interactions sebagai berikut : Diversion. 1984). Secara umum kebutuhan yang sering disebut dan digunakan oleh para peneliti media adalah. dan hiburan dan transmisi kultural ± seperti yang dirumuskan oleh Harold dan Charles Wright. Perkembangan ini diawali oleh penelitian Palmgreen dan Rayburn pada tahun 1979. dan Dimmick. informasi dan lain sebagainya. Ahli komunikasi lainnya menyebutkan dua fungsi. Tiga fungsi ini kemudian ditambah oleh Charles Wright yaitu fungsi hiburan (Entertaiment). Personal identity. fungsi±fungsi ini belum cukup untuk menggambarkan seluruh fungsi yang ada. Sedangkan menurut Wilbur Scramm. media massa memenuhi kebutuhan akan fantasi dan informasi ± menurut Weiss. Motif afektif menekankan aspek perasaan dan kebutuhan mencapai tingkat emosional tertentu (Rahmat.

Medan diri. Kebutuhan ini didasarkan pada hasrat untuk memahami dan menguasai lingkungan. juga memuaskan rasa penasaran dan dorongan untuk penyelidikan kita. Elemen ³pola terpaan media yang berlainan´ pada Teori Uses and Gratifications berkaitan dengan media exposure atau terpaan media. 1 . 2007) Kemudian dari teori Utilitarian memandang individu sebagai orang yang memperlakukan setiap situasi sebagai peluang untuk memperoleh informasi yang berguna atau keterampilan baru yang diperlukan dalam menghadapi tantangan hidup. dapat dioperasionalkan menjadi jumlah waktu yang digunakan dalam berbagai jenis media. Ada berbagai kebutuhan yang dipuaskan oleh media massa. seperti penerimaan informasi. media massa memberikan kesempatan untuk melarikan diri dari kenyataan. antara lain: y Efek Kognitif: terjadi bila ada perubahan pada apa yang diketahui. frekuensi penggunaan. Sedangkan menurut Sari (dalam Kriyantono 2006) dapat dioperasionalkan menjadi jenis media yang digunakan. com). menyenangkan. 2001). Efek diartikan sebagai semua jenis perubahan yang terjadi didalam diri seseorang setelah menerima sesuatu pesan komunikasi dari suatu sumber. (Wiryanto. perubahan kognitif. kebutuhan kognitif adalah kebutuhan yang berkaitan dengan peneguhan informasi. pengetahuan. perubahan perasaan atau sikap. 2006). Surveillance (bentuk-bentuk pencarian informasi) (dalam Junaedi. Ada 3 macam efek komunikasi massa. dipahami atau dipersepsi khalayak. sikap. dan perubahan prilaku (dengan istilah lain. suatu loncatan dramatis dari model Jarum Hipodermik. Perubahan yang dimaksud dapat meliputi perubahan pengetahuan. penguatan nilai. Komunikasi massa dapat memberikan informasi. 2000). media massa dapat memberikan hiburan.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. kebutuhan ini dapat dipuaskan oleh sumber-sumber lain selain media massa. dan persahabatan dapat juga diperoleh dari sumber-sumber lain seperti kawan. (Nurudin. dan pemahaman mengenai lingkungan. afektif dan behavioral). isi media yang dikonsumsi. pengetahuan dan keterampilan. Tentu saja. dan media massa berfungsi sebagai sahabat. Mengenai kebutuhan kognitif dan afektif Nurudin menjelaskan. Teori ini digambarkan sebagai ³a dramatic break with effects traditions of the past´. manusia yang berperan dalam menentukan efek media. 2004) efek media massa akan menyebabkan perubahan yang terjadi pada diri khalayak. maupun durasi penggunaan . Pada teori Uses and Gratifications. yaitu kebutuhan yang bersifat afektif (yang berkaitan dengan perasaan) dan kebutuhan kognitif (yang berkaitan dengan pengetahuan). kepercayaan atau informasi. Kita kesepian. keterampilan.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Dari berbagai jenis kebutuhan tersebut. Chaffe (dalam Rahmat. Kita mengalami goncangan batin. tetapi yang juga dapat diatasi dengan media massa. Pada saat yang sama. karena mengacu pada kegiatan menggunakan media (Kriyantono. Efek ini berkaitan dengan transmisi pengetahuan. eksplorasi realitas. dan berbagai hubungan antara individu konsumen media dengan isi media yang dikonsumsi atau dengan media keseluruhan (Rahmat. dan emosional. hiburan. Kebutuhan afektif adalah kebutuhan yang berkaitan yang berkaitan dengan peneguhan pengalaman-pengalaman yang estetis. Selanjutnya terpaan media menurut Rosengreen (1974). ketenangan. 16 . dan prilaku nyata. 2005. William J Mc Guire (dalam Muchati 1972) kemudian mengelompokan jenis-jenis kebutuhan tersebut menjadi 2 dimensi. 2000). atau tempat ibadat (Rahmat. Kita ingin mencari kesenangan.blogspot. http://komunikasimassa-umy. hobi. Dalam konsep ini hidup dipandang suatu medan yang penuh tantangan . Menurut Steven M.

telepon seluler lebih banyak digunakan untuk hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan. 17 . 2005).JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. karena harga telepon seluler terjangkau. sikap atau nilai. Bahkan. y Konseptual Dalam proses komunikasi dibagi menjadi dua bagian yakni secara primer dan sekunder. Bahkan menurut data dari penelitian ³Survei Siemens Mobile Phone´ 58 persen orang Indonesia lebih memilih mengirim SMS daripada membaca buku. Lambang sebagai media primer dalam proses komunikasi adalah bahasa. 50/26 Maret 2003) berdasarkan survei Siemens Mobile Lifestyle III menyebutkan bahwa 60 persen remaja usia 15-19 tahun dan pasca-remaja lebih senang mengirim dan membaca SMS (Short Messege Service) daripada membaca buku. Efek ini ada hubungannya dengan emosi. Ini bisa dikatakan pula bahwa budaya baca yang sudah terancam dengan budaya dengar dan lihat diancam lagi oleh budaya mengirim SMS. dan Semarang menunjukkan bahwa 51 persen mereka mengirim SMS 11-20 kali. 1 . disenangi atau dibenci khalayak. majalah atau koran.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. AM Townsend (2000) menyatakan. kegiatan dan kebiasaan berperilaku (Rakhmat. Bogor. Medan Efek Afektif : timbul bila ada perubahan pada apa yang dirasakan. Bandung. kial. radio film. isyarat. tv. Berbagai keuntungan relatif yang dirasakan dari telepon seluler yang mengungguli telepon tetap karena mobilitas dan efisiensinya yang lebih besar. Kalaupun digunakan untuk hal-hal yang sifatnya menghibur. 2004). 35 persen 2-10 kali dan 14 persen lebih dari 20 kali sehari. dan banyak lagi adalah media kedua yang sering digunakan dalam komunikasi.kompas.com/kompassenggang. Data yang merupakan fenomena ini jelas menjadi salah satu potret dampak komunikasi melalui telepon seluler. Menurut data majalah Komputer Aktif (no. teleks. gambar. telepon seluler juga mengarahkan masyarakat untuk hidup konsumtif. Kemudian sekunder adalah proses penyampaian pesan oleh seorang kepada orang lain dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media kedua setelah menggunakan lambang sebagai media pertama. Bagi pelaku bisnis. di negara-negara berkembang telepon seluler telah mengurangi kesenjangan berkomunikasi di masyarakat. Ini artinya bahwa di samping menurunkan minat baca. Ini adalah dampak dari segi sosial budaya masyarakat atas penggunaan Hand Phone/ telepon seluler. sebesar 73 persen mereka mengeluarkan biaya untuk membeli voucher perbulannya sekitar 100-200 ribu. 9 persen antara 201-300 ribu dan 8 persen lebih dari 300 ribu perbulan. SMS dalam hal ini lebih berfungsi sebagai hiburan saja. Seorang komunikator menggunakan media kedua (sekunder) dalam melancarkan komunikasinya karena komunikan sebagai sasarannya berada di tempat yang relatif jauh atau jumlahnya banyak. biasanya dilakukan pada waktu http://www. Dalam hal ini komunikasi melalui telepon seluler seperti pengiriman SMS ternyata berdampak buruk untuk menurunkan minat baca masyarakat. y Efek Behavioral : merujuk pada perilaku nyata yang dapat diamati. (Nurudin. Proses komunikasi secara primer adalah proses penyampaian pikiran dan atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan lambang (simbol) sebagai media. Bahkan menurut data Kompas (4 April 2003) yang melakukan street polling yang dilakukan pada 100 remaja SMU di Jakarta. Pemanfaatan telepon seluler berbeda pada setiap kelompok masyarakat. Penelitian yang dilakukan International Telecommunication Union (2001) menemukan bahwa jumlah penggunaan telepon seluler di 100 negara-negara miskin melampaui telepon tetap dan komputer. (Onong. Surat. ( Fritz E Simandjuntak dalam cetak/0405/05/telkom/1002910htm ). meliputi pola-pola tindakan. warna dan lain sebagainya yang secara langsung mampu ³menerjemahkan´ pikiran dan atau perasaan komunikator kepada komunikan. telepon (telepon seluler).2000).

integratif. seperti yang diungkapkan oleh McLuhan (1964) yakni kehadirannya umumnya adalah sebagai the extention of man . industrial. Kehadiran media tidak selalu menarik perhatian masyarakat. 3G). Mencermati beberapa fungsi media massa yang ditulis Alamsjah Ratu Perwiranegara dalam Rafiq (1989) meliputi fungsi informatif. Telepon genggam seringnya disebut handphone (disingkat HP) atau disebut pula sebagai telepon selular (disingkat ponsel) adalah perangkat telekomunikasi elektronik yang mempunyai kemampuan dasar yang sama dengan telepon fixed line konvensional. Sekarang. edukatif. SMS). kamera digital. yang paling pokok adalah dapat membantu menyebarluaskan informasi tentang pembangunan. ketika berada dalam suatu lingkungan dan bercengkerama dengan lingkungan serta dengan proses tersebut. sengaja atau tidak. Selain berfungsi untuk melakukan dan menerima panggilan telepon. namun dapat dibawa ke mana-mana (portabel. Ada pula penyedia jasa telepon genggam (provider) di beberapa negara yang menyediakan layanan generasi ketiga (3G) dengan menambahkan jasa videophone. kodrat. Seperti dalam menyatakan diri. yang isinya menyatakan media massa dapat berpengaruh dalam beberapa hal. kini ponsel juga dilengkapi dengan berbagai pilihan fitur. dan kebutuhan manusia adalah berkomunikasi. dan layanan internet (WAP. wireless).JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. persuasif. dan information. Menurut Alvin Toffler dalam bukunya The Third Wave (1990) membagi tiga tahap perkembangan peradapan manusia yakni Agricultural. ponsel sekarang sudah ditanamkan fitur komputer. Saat ini Indonesia mempunyai dua jenis jaringan telepon nirkabel yaitu sistem GSM (Global System For Mobile Telecommunications) dan sistem CDMA (Code Division Multiple Access). ponsel umumnya juga mempunyai fungsi pengiriman dan penerimaan pesan singkat (short message service. dan rekreatif. game. sebagai alat pembayaran. Jadi di ponsel tersebut. mobile) dan tidak perlu disambungkan dengan jaringan telepon menggunakan kabel (nirkabel. fitur ini sangat membantu bagi para pebisnis untuk melakukan semua 18 . dapat mengajarkan melek huruf serta keterampilan lainnya yang memang dibutuhkan untuk pembangunan masyarakat dan menjadi penyalur suara masyarakat agar mereka turut ambil bagian dalam pengambilan keputusan di negaranya (Schramm. Sementara Hafied Cangara (1998) mengatakan bahwa komunikasi adalah sebuah proses dimana dua orang atau lebih membentuk atau melakukan pertukaran informasi dengan satu sama lainnya . orang bisa mengubah fungsi ponsel tersebut menjadi mini komputer. yang pada gilirannya akan tiba pada saling pengertian yang mendalam. GPRS. Di dunia bisnis. 1964). Medan Menurut Shannon dan Weaver (1949) komunikasi adalah bentuk interaksi manusia yang saling mempengaruhi satu sama lainnya. maupun untuk televisi online di telepon genggam mereka. Selain fitur-fitur tersebut. seperti bisa menangkap siaran radio dan televisi. eksistensi manusia. dan kapan saja. manusia menyatakan dan mengembangkan perikehidupan yang bermasyarakat. Artinya . Pentingnya peranan media (media sekunder) dalam proses komunikasi disebabkan oleh efisiensinya mencapai komunikan dimana. Berdasarkan fungsi-fungsi ini dapat disimpulkan bahwa media massa sebagai media pembangunan atau proses perubahan ke arah kondisi kehidupan yang lebih baik. komunikasi bermedia mengalami kemajuan pula dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK). telepon genggam menjadi gadget yang multifungsi. instruktif. Sejalan dengan berkembangnya masyarakat beserta peradaban dan kebudayaannya.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. pembawaan. memahami apa yang dilihat dan didengar. berbicara. perangkat lunak pemutar audio (mp3) dan video. Mengikuti perkembangan teknologi digital. 1 . menerima dan men girim pesan . Pendapat ini dapat disimpulkan bahwa komunikasi memiliki andil dan sumbangan yang sangat besar dalam pembangunan. Wilbur Schramm melalui hasil penelitiannya di negara-negara berkembang membuat laporannya pada tahun 1964 yang berjudul Mass media and National Development : The role of information in developing countries.

Kebutuhan ini dapat terpenuhi dan dipuaskan melalui media massa dan sumber lain. tidak menguji hipotesa atau membuat prediksi. sehingga dapat memfasilitasi masyarakat dalam berkomunikasi dan membantu memperoleh informasi dengan cepat dan tak terbatas. dalam memfasilitasi masyarakat dalam berkomunikasi dan membantu memperoleh informasi dengan cepat dan tak terbatas .April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Data pra-riset (19-22 Februari 2008) di Desa Pertumbukan terdata 263 orang yang telah memiliki telepon seluler. Sedangkan yang dimaksud dengan masyarakat desa adalah masyarakat yang merupakan penduduk Desa Pertumbukan .org/wiki/Telepon _genggam). perkembangan ponsel akan lebih mengefisienkan waktu dan sistem kerja dibandingkan dengan komunikasi/ informasi secara manual. integratif sosial dan kebutuhan akan pelarian. Dan pengambilan sampel mengacu pendapat Winarno Surakhmad (1998) yakni sebesar 20% . wireless). Kecamatan Wampu. Kecamatan Wampu. Katz dan Gurevitch membuat tipologi kebutuhan manusia yang berhubungan dengan penggunaan media yakni : kebutuhan kognitif. komunikasi interpersonal. Kabupaten Langkat. dalam hal ini merupakan sebagai populasi. tanpa mencari dan menjelaskan hubungan.wikipedia. Selanjutnya pengambilan sampel dilakukan secara probability. mobile) dan tidak perlu disambungkan dengan jaringan telepon menggunakan kabel (nirkabel. karena populasi dianggap homogen. 19 . Populasi Dan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat yang bertempat tinggal di Desa Pertumbukan. Melalui sumber lain. ponsel menjadi salah satu fenomena komunikasi bermedia yang terus berkembang serta semakin dibutuhkan oleh masyarakat. Pengembangan teknologi telekomunikasi terutama jenis telepon seluler ini membuka lebar penyampaian informasi dan komunikasi secara lebih mudah dan efisien. yang memiliki dan menggunakan telepon seluler sebagai salah satu sarana media komunikasi. namun dapat dibawa ke mana-mana (portabel. gejala. keadaan. Medan pekerjaan di satu tempat dan membuat pekerjaan tersebut diselesaikan dalam waktu yang singkat (http://id. maka diperoleh sampel sebesar 263 x 20% = 54 orang. integratif pesan. Masyarakat memiliki kebutuhan dan motif beraneka ragam berdasarkan karakteristiknya sosialnya Blumler. atau kelompok tertentu. Dengan memiliki keunggulan dalam efesiensinya ini. dengan acak sederhana. 1 . Dengan demikian. Dengan kata lain dalam penelitian ini hanya memberikan gambaran secermat mungkin mengenai suatu individu. afektif. yang membutuhkan waktu yang lama dan tempat yang terbatas.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. METODOLOGI Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di Desa Pertumbukan. Kabupaten Langkat. maupun mengisi waktu luang dengan berbagai cara. Metode Penelitian Penelitian ini bersifat deskriptif yakni hanya memaparkan situasi dan peristiwa apa adanya. Definisi Operasional Telepon seluler dalam penelitian ini adalah perangkat telekomunikasi elektronik yang mempunyai kemampuan dasar yang sama dengan telepon fixed line konvensional. teman. yakni kebutuhan ini terpenuhi dengan hubungan keluarga. Efektifitas komunikasi dalam penelitian ini dimaksudkan penyampaian/penerimaan informasi dan komunikasi secara lebih mudah dan efisien.

Gohor Lama.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Data Sekunder.id/unit/hukum/pp/1999/043 -99.5% dan perempuan sebanyak 31. Metode Analisis Data Data yang terkumpul seluruhnya akan ditabulasikan ke dalam tabel tunggal dan juga membuat beberapa tabulasi silang berdasarkan tujuan penelitian. Kecamatan Wampu merupakan pemekaran dari sebagian wilayah Kecamatan Stabat. Pada awal pembentukan kecamatan ini meliputi : Desa Bingai. dan pencarian informasi melalui internet. Besilam.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Stabat Lama/ Baru. Usia Tabel 02. Tabel 03. dan Pekerjaan.go. Berikut datanya yang ditampilkan dalam bentuk tabel. Labuhan Batu. Disamping itu juga dilakukan wawancara terstruktur kepada beberapa sampel untuk memperkuat data yang terkumpul melalui kuisioner. Tingkat Pendidikan Tabel 04. Jenis Kelamin. Tabel 01. Tapanuli Utara.5%. Gergas.7% dan selanjutnya diikuti oleh kelompok umur 22-26 tahun dan 32-36 tahun masing-masing 13%. Penghasilan 20 . Tingkat Pendidikan.bpkp. suratkabar. dan Langkat. kemudian kelompok umur 22-26 tahun dan 37-41 tahun masing-masing 16. dan Sumber Mulyo ( http://www. jenis kelamin Responden dalam penelitian ini diperoleh laki-laki sebanyak 68. Penghasilan. makalah. usia dapat dilihat bahwa responden yang terbanyak terwakili dari kelompok umur 17-21 tahun sebanyak 31. Bukit Melintang.pdf ) Kemudian sekitar tahun 2006 dibentuk Desa Pertumbukan yang wilayahnya sebagian mengambil daerah Desa Bukit Melintang dan Desa Stabat Lama. dalam wilayah Propinsi Sumatera Utara. hasil-hasil penelitian terdahulu. Jenis Kelamin Dari tabel 01.5%. 1 . Stabat Lama. Medan Metode Pengumpulan Data Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini yakni : Data Primer. Dan tabel 02. Toba Samosir. diperoleh melalui buku-buku. Karakteristik Responden Responden yang berjumlah 54 orang dalam penelitian ini dilihat dari aspek sosiodemografis-nya mencakup : Usia. Analisis data dilakukan dalam beberapa tahap : Membuat tabel distribusi frekuensi (f) dan prosentasi (%) serta interpretasi untuk keseluruhan data penelitian selanjutnya mengadakan diskusi dan pembahasan hasil temuan data penelitian Hasil Penelitian Gambaran Umum Lokasi Penelitian Kecamatan Wampu merupakan daerah pemekaran yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 1999 Tentang Pembentukan 13 (tiga belas) Kecamatan di wilayah kabupaten daerah tingkat II Tapanuli Selatan. Kebun Balok. diperoleh melalui kuisioner yang diberikan kepada sampel terpilih.

1. Tabel 05.4%. kemudian diikuti tamatan SD dan SMP pada urutan kedua masing-masing 24.000.4%. Pekerjaan responden terbesar adalah sebagai wiraswasta/ berdagang yakni sebesar 57.4% .4%. 21 . sebesar 24.9% menyatakan sangat setuju serta diikuti sikap ragu-ragu dan kurang setuju masing-masing sebesar 7.8%. Sikap Responden dalam mencari informasi melalui telepon seluler dinyatakan sangat setuju oleh sebesar 50% .7%.1%.000.1%. ± Rp. Tingkat pendidikan responden yang terjaring menjadi responden terbanyak dalam penelitian ini adalah tamatan SMA yakni sebesar 40.7%. pelajar) sebesar 14. kemudian antara Rp. sebesar 14. Kebutuhan Informasi Kebutuhan akan informasi dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui sikap responden dalam pencaharian informasi melalui penggunaan telepon seluler yang tersaji dalam tabel.000. 06 Mencari Informasi Tabel 07. mengenai Pendapatan responden yang terbanyak yakni diantara Rp.000. serta tingkat sarjana (S1) sebesar 7. Pekerjaan Tabel 05. ± Rp. serta diikuti tingkat penghasilan Rp.4% responden menyatakan setuju untuk membutuhkan informasi sosial melalui telepon seluler. Medan Dari tabel 03. 1. yakni sebesar 48. kemudian yang menyatakan setuju sebesar 44.500. kemudian pada kategori lain-lain (petani. Kemudian tabel 04. serta pegawai swasta sebesar 13%. Sebanyak 44. 500.000. 1 .. 1. 1.000.1%.000. dan dapat dilihat sebagai berikut : Tabel.000.000. ± Rp. Informasi Sosial Dari tabel 06. 2.500.8%.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Dan tabel 07. kemudian sebanyak 38. serta dinyatakan kurang setuju oleh sekitar 3.

Kemudian sebesar 38.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. masingmasing sebanyak 44. Tabel 10.2% serta pernyataan tidak setuju sebesar 7.6% menjawab ragu-ragu serta menjawab kurang setuju sebesar 3. Sebanyak 48. Penambahan Pengetahuan Dan dari tabel 10.9% dan diikuti menjawab setuju 16. Mengetahui Kondisi Daerah lain Tabel 08. baik dari sekitar atau luar lingkungan. Kemudian menjawab kurang setuju sebesar 25.4% menjawab ragu-ragu. Selanjutnya sebanyak 40.3%. Kemudian sebanyak 5. Penggunaan telepon seluler untuk melarikan diri dari persoalan kehidupan (meringankan bebab hidup) ternyata responden menjawab tidak setuju yakni sebesar 35. Telepon seluler Sarana bermain Tabel 12.1% responden sangat setuju dengan penggunaan telepon seluler akan lebih mengetahui keadaan kehidupan diluar daerah.6% menyatakan tidak setuju.9 % menjawab setuju dan diikuti sebesar 7.4%. Dari tabel 09. Pertanyaan ini terbanyak dijawab responden sangat setuju yakni sebesar 48. untuk ini responden terbanyak menyatakan sangat setuju yakni sebesar 46. serta hanya 5. Mengenai penilaian responden tentang kesesuaian harapan dan kebutuhan.7%. Termotivasi Pelajari daerah lain Tabel 11.2%. Dengan adanya telepon seluler responden lebih terdorong untuk mempelajari sesuatu tentang lingkungan sekitar dan luar. 22 .1%.4% menjawab sangat setuju dan setuju.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Medan Tabel 08.12 Meringankan Beban Hidup Tabel 13.7%. Tabel 11 Telepon seluler sebagai dorongan sarana untuk menambah pengetahuan sesuai dengan kepetingan. 1 .7% menyatakan setuju.Harapan dan Kebutuhan Tabel 09. Kemudian diikuti pernyataan setuju sebesar 35. Kebutuhan Diversi Pernyataan-pernyataan kebutuhan diversi dalam penelitian ini yang tersaji dalam bentuk tabel berikut : Tabel.

Tabel 14. Atasi masalah kehidupan sosial 23 . 16 Mengisi waktu luang Tabel.4%.1%. Medan Dan dari tabel 13.8% serta diikuti jawaban kurang setuju sebesar 16. Kemudian jawaban sangat setuju sebesar 27.7%.7% responden menyatakan sangat setuju. Untuk mengisi waktu luang ataupun di saat santai telepon seluler digunakan responden bersama keluarga semisal menghubungi atau kirim sms kepada keluarga yang jauh dan teman. untuk itu sebesar 66. Tabel 18. Untuk meningkatkan hubungan silaturahmi dengan keluarga dan teman. responden menyatakan sangat setuju yakni sebesar 50% dan yang menyatakan setuju sebesar 40.7%.5% responden menyatakan raguragu. Tabel. Kemudian tabel 17. telepon seluler salah bentuk komunikasi bermedia ternyata sangat membantu. kemudian yang menyatakan sangat setuju sebesar 22.15 Meningkatkan Hubungan Silaturahmi Dari tabel 14. telepon seluler sebagai sarana bermain. Kemudian dari tabel 15. untuk itu responden sebanyak 37% menyatakan setuju.7%. ternyata responden menjawab kurang setuju yakni sebesar 25. Menimbulkan kesenangan Tabel. dan yang setuju dinyatakan oleh responden sebesar 22.2% serta diikuti sikap ragu-ragu sebesar 7. Kemudian yang menjawab setuju dan tidak setuju masing-masing sebanyak 24. Selanjutnya diikuti sebesar 16. Namun terdapat juga responden yang menyatakan ragu-ragu dan tidak setuju yakni masing-masing sebesar 3.7%.2%. Atasi Sulitnya Perekonomian Tabel 19.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Untuk mencari persahabatan baik dilingkungan sekitar ataupun di luar. 1 . Namun sebesar 18.9%.7% untuk jawaban sangat setuju. 17 Mencari Persahabatan Tabel 16. Telepon seluler menimbulkan kesenangan untuk pertanyaan ini responden terbanyak menjawab setuju yakni sebesar 40.

Penggunakan telepon seluler bagian gaya hidup Tabel 20.2% menyatakan sangat setuju.7% dan diikuti sebesar 31.4%. kesejahteraan) hal ini dijawab setuju oleh responden yakni sebesar 48. Selanjutnya terdapat responden yang menyatakan ragu-ragu yakni sebesar 13%.4%. Dalam melepaskan persoalan sehari-hari yang dapat menimbulkan ketegangan (stress) melalui telepon seluler responden dapat menghubungi seseorang yang dianggap dapat memberikan jalan keluar jikalau untuk menjumpai seseorang secara langsung tidak memungkinkan. Selanjutnya yang menyatakan ragu-ragu sebesar 20. serta yang ragu-ragu dan kurang setuju masing-masing sebesar 7.1% dan yang sangat setuju sebesar 18. Kemudian sikap ragu-ragu diakui responden yakni sebesar 7. masyarakat.2%.8%. Dan tabel 19. Walau komunikasi tatap langsung lebih memberi makna dan pengaruh yang lebih besar.5%.5% yang menyatakan sangat setuju. Namun juga terdapat pernyataan responden yang ragu-ragu yakni sebesar 18. Tabel 21. 24 . Hal ini diakui oleh responden sebesar 57. Kebutuhan Identitas Personal Dalam memenuhi kebutuhan indentitas personal dalam penggunaan telepon seluler dalam hasil temuan penelitian ini yang disajikan dalam bentuk tabel dapat dilihat sebagai berikut : Tabel 22. Mencari ide/ pemikiran untuk berkreasi/berwirausaha.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. telepon seluler juga dapat membantu.1% dan diikuti sikap setuju yakni 38. Melepaskan ketegangan (stress) Tabel 21. Medan Dari tabel 18. Kerjasama dengan pihak lain Tabel 22. pernyataan ini disikapi oleh responden dengan menjawab sangat setuju yakni sebesar 48. namun komunikasi bermedia melalui telepon seluler juga dapat membantu memecahkan masalah kehidupan sosial (lingkungan keluarga.4% menyatakan setuju dan diikuti sangat setuju oleh sebesar 27.9%. 1 . Tabel 20. Walau secara tidak langsung telepon seluler telah membantu responden untuk memecahkan permasalahan ekonomi keluarga dan untuk ini sebesar 31.5% menyatakan setuju dan diikuti sebesar 22. Membantu berkreasi Tabel 23. Untuk ini responden yang menyatakan setuju sebesar 40. karir/pekerjaan.5%. Penggunakan telepon seluler sudah menjadi kebiasaan sehari-hari dan telepon seluler selalu mendampingi aktivitas responden (gaya hidup) .April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika.

Informasi dunia usaha 25 . Tabel 26.2% serta responden yang merasa ragu-ragu sebesar 13%. Penilaian responden terhadap keberadaan telepon seluler telah membantu meningkatkan perekonomian masyarakat adalah sebagai berikut.2% . Keberadaan telepon seluler sudah membantu menjalin kerja sama usaha dengan pihak lain.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Namun terdapat sebesar 11.7% responden menyatakan sangat setuju dan 29. serta diikuti sebesar 9. Untuk mendapatkan informasi tentang dunia usaha/kegiatan dengan pihak lain.3% responden menyatakan sangat setuju dan yang setuju sebesar 35. sebesar 35.Relasional dengan pihak lain Tabel 25.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika.Tingkatkan ekonomi masyarakat Tabel 26. Tabel 24. Untuk itu responden yang menyatakan setuju sebesar 46. tentu saja dengan adanya teknologi ini sangat memungkinkan seseorang dapat mengubungi orang lain di tempat yang jauh dan ini sangat efektif jika kalau harus menjumpainya secara langsung.5% menyatakan kurang setuju.Informasi aktifitas Tabel 24.3% dan sangat setuju sebesar 35. untuk ini sebesar 46. Medan Tabel 23.2% menyatakan setuju dan sebesar 24. Tabel 27. Dan tabel 25. Terjalinnya hubungan dengan orang lain akan membantu untuk melancarkan/meningkatkan kerjasama usaha/kegiatan dengan pihak lain (relasional). Tabel 28. Meningkatkan kerjasama usaha Tabel 27.3% responden yang merasa ragu-ragu. untuk peryataan ini sebesar 53.1% menyatakan sangat setuju.1% dan untuk sangat setuju sebesar 35. Dalam membantu masyarakat melancarkan/meningkatkan kerja sama usaha dengan pihak lain. telepon seluler bagi masyarakat desa telah sangat membantu.2%.6% menyatakan setuju. Namun sebesar 18. 1 .1% responden yang merasa ragu-ragu. diakui responden dengan menyatakan setuju yakni sebesar 48. Alasan pernyataan ini karena adanya telepon seluler akan membuka isolasi informasi sehingga dapat membuka cakrawala ide atau untuk berkreasi dari potensi yang ada.

JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. 1 - April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika, Medan

Tabel 28, Hampir sama dengan tabel sebelumnya, hal ini lebih pada tingkat awal adanya penggunaan telepon seluler bagi masyarakat Desa Pertumbukan. Dalam pengembangan jaringan tentu akan membawa dampak-dampak positif yang diharapkan si pengguna. Untuk ha ini responden yang menyatakan setuju sebesar 48,1% dan sangat setuju sebesar 33,3 %, serta terdapat juga responden yang merasa ragu-ragu untuk pernyataan ini yakni sebesar 14,8%. Penggunaan Telepon seluler Penggunaan telepon seluler bagi responden dalam penelitian ini akan meliputi diantaranya pengalaman responden dalam pengalaman dan penggunaan telepon seluler, biaya pembelian pulsa dan sebagainya. Untuk lebih lanjut dapat disimak dibawah ini yang tersaji dalam bentuk tabel.
Tabel 29. Penggunaan telepon seluler Tabel 30. Sistem Ponsel yang Digunakan

Tabel 29, Melihat pengalaman responden tentang menggunakan atau memiliki telepon seluler dapat dilihat pada tabel diatas yakni sebesar 33,3% telah memiliki atau menggunakan telepon seluler kurang dari 1 tahun, kemudian terdapat sebesar 18,5% sudah 4 tahun serta untuk sudah 2 atau 3 masing-masing sebesar 16,7%. Tabel 30, Penggunaan jenis telepon seluler bagi responden hampir mayoritas menggunakan jenis GSM yakni sebesar 96,3% dan hanya 3,7% yang menggunakan jenis CDMA. Hampir mayoritas penggunaan jenis GSM disebabkan ketersediaan sarana dan prasarana di lokasi penelitian lebih memadai, kuatnya penerimaan sinyal ataupun varian telepon seluler untuk jenis ini lebih banyak dan lebih murah, terutama harga bekas.
Tabel 31. Alasan menggunakan Ponsel Tabel 32. Percakapan melalui Ponsel perhari

Tabel 31,Untuk mengetahui faktor-faktor yang mendorong responden untuk menggunakan telepon seluler adalah alasan mencari informasi merupakan faktor yang terbesar dipilih responden yakni sebesar 72,2%, kemudian untuk menambah pengetahuan diakui responden 26

JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. 1 - April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika, Medan

sebesar 13% seta diikuti alasan untuk mengawasi lingkungan/ pengawasan sosial yakni sebesar 5,6%. Tabel 32, Total lamanya melakukan percakapan melalui telepon seluler dalam sehari responden yang terbanyak melakukannya adalah antara 15-30 menit yakni sebesar 38,9%, kemudian dibawah 15 menit yakni sebesar 37% serta diikuti lebih dari 60 menit yakni sebesar 13%.
Tabel 33.Penggunaan SMS Dalam sehari Tabel 34. Kualitas suara

Tabel 33, Salah satu fasilitas fitur yang dimiliki telepon seluler dalam berkomunikasi secara tulisan adalah sms, fitur ini digunakan untuk mengirim pesan-pesan singkat. Responden menggunakan fitur ini sebanyak kurang dari 5 kali yakni sebesar 40,7%, kemudian 5-10 kali sebanyak 38,9%, serta diikuti yang menggunakan sebanyak 10-15 kali dalam sehari yakni sebesar 11,1%. Tabel, 34, Penilaian responden tentang kualitas suara yang didengar percakapan melalui telepon seluler dinilai jelas yakni sebesar 59,3%, kemudian dirasakan sangat jelas yakni sebesar 33,3%, serta diikuti sebesar 5,6% untuk peryataan ragu-ragu.
Tabel 35. Biaya percakapan melalui Ponsel Tabel 36. Biaya SMS

Tabel 35, Mengenai biaya percakapan melalui telepon seluler diakui responden sebesar 37% adalah mahal, namun peryataan yang bertolak belakang diakui responden yang menyatakan biaya percakapan melalui telepon seluler dianggap murah yakni sebesar 35,2% hal ini diakui responden bila menimbang jarak dan waktu yang harus dihabiskan bila akan menemui seseorang di suatu tempat yang jauh. Dan yang terakhir diakui sangat mahal oleh responden yakni sebesar 18,5%. Tabel 36, Penilaian mengenai biaya penggunaan sms, diakui responden sangat murah yakni sebesar 66,7%, kemudian terdapat sebesar 14,8% yang menyatakan mahal, kemudian sebesar 11,1% merasa ragu-ragu untuk memberikan pernyataan.
Tabel 37. Biaya pembelian pulsa perbulan Tabel 38. Kesesuaian Biaya dengan Percakapan

27

JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. 1 - April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika, Medan

Tabel 37, Biaya pembelian pulsa yang dikeluarkan oleh responden rata-rata selama sebulan yang terbanyak adalah sekitar Rp. 50.000,- s/d Rp. 100.000,- (35,2%), kemudian kurang dari Rp. 50.000,- (25,9%), serta diikuti pembelian lebih dari Rp. 200.000,- (14,8%). Tabel 38, Pendapat responden mengenai perbandingan biaya percakapan dengan waktu percakapan dinyatakan sebagian besar oleh responden tidak sebanding yakni sebesar 51,9% dan yang menyatakan sebanding sebesar 48,1%.
Tabel 39. Faktor penyebab ketidakseimbangan Tabel 40. Perkembangan Pengguna Ponsel di desa

Tabel 39, Faktor penyebab ketidakseimbangan diasumsikan responden karena biaya percakapan terlalu tinggi (biaya talk time dianggap mahal) yakni dirasakan oleh responden sebesar 44,4%, kemudian tingkat ekonomi masyarakat masih rendah diasumsikan 22,2% oleh responden. Kemudian faktor penyebab lainnya sebesar 18,5%, diantaranya adalah responden merasa khawatir kehabisan pulsa. Tabel 40, Melihat perkembangan pengguna telepon seluler diakui responden untuk di daerahnya tergolong maju (51,9%), kemudian dianggap sangat maju (44,4%), namun terdapat penilaian responden yang ragu-ragu dan kurang maju terhadap perkembangan pengguna telepon seluler di desanya yakni masing-masing sebesar 1,9%. Sikap Terhadap Kehadiran Telepon seluler Sikap ataupun pendapat responden dalam penelitian ini adalah meliputi beberapa kriteria tentang seputar kehadiran teknologi komunikasi dan informasi khususnya telepon seluler yang akan disajikan dalam bentuk tabel dapat diperhatikan dibawah ini. Tabel 41. Membantu kesejahteraan masyarakat desa

Tabel 41, Kehadiran telepon seluler walau secara tidak langsung telah memberikan bantuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, hal ini diakui responden yakni sebesar 57,4% dan yang menolak pernyataan tersebut sebesar 42,6%.

28

9% dirasakan responden. dirasakan respo nden yakni sebesar 61. Kemudian dampak lainnya yakni mayarakat menjadi konsumtif yakni sebesar 1.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. kemudian Telepon seluler hanya menjadi gaya hidup hal ini diakui responden sebesar 7.1 % menyatakan Sangat membantu hubungan komunikasi dgn keluarga. Kemudian memudahkan untuk mencari 29 . pendidikan dan SDM Masyarakat yakni sebesar 35.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. teman dan pekerjaan tanpa terkendala jarak. Dampak Negatif Telepon seluler Dari Tabel 43.2% . Medan Tabel 42. Tabel 43. peternakan) yakni sebesar 7. Pengalaman Peningkatan Yang Dialami Tabel 42 Peningkatan kesejahteraan yang dirasakan menurut responden adalah Peningkatan kualitas pengetahuan. Pendapat masyarakat Desa adanya Telepon seluler Untuk tabel 44. Mengenai dampak yang dirasakan responden dengan hadirnya telepon seluler menyebabkan pengeluaran semakin bertambah yakni diakui sebesar 33. 1 .3% dan diikuti Peningkatan Potensi SDA (pertanian. kemudian Peningkatan ekonomi/kesejahteraan masyarakat sebesar 9. Dari pertanyaan terbuka yang dijaring oleh peneliti mengenai pendapat masyarakat tentang kehadiran Telepon seluler di Desa Pertumbukan.4%.3%. Tabel 44.4%.

Kemudian faktor utama yang mendasari penggunaan telepon seluler diakui oleh responden adalah untuk mencari informasi. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Masyarakat Desa Pertumbukan memerlukan telepon seluler (media komunkasi) untuk memenuhi kebutuhan informasi termasuk informasi sosial bagi hal ini terkait dengan sistem jaringan sosial yang terdapat disekitar atau diluar lingkungannya yang pada gilirannya dapat 30 . Namun terdapat hal-hal yang perlu diantisipasi terhadap dampak negatifnya. Kebutuhan identitas personal (Personal identity). misalnya telepon seluler dijadikan sarana untuk menyimpan photo/video porno. dan menambah wawasan. hal ini dirasakan oleh responden yakni sebesar 18. tentu saja hal ini tidak baik untuk anak-anak remaja. terutama harga yang bekas.5%. yaitu referensi diri. penguatan nilai. Pembahasan Masyarakat desa dalam memenuhi kebutuhan informasi termasuk informasi sosial sangat memerlukan hal ini terkait dengan sistem jaringan sosial yang terdapat di sekitar atau diluar lingkungannya yang pada gilirannya dapat memberikan pengetahuan atau menambah pengalaman. mengisi waktu luang serta mencari persahabatan yang lebih luas. merupakan upaya melepaskan diri dari rutinitas dan masalah. Medan informasi dan menambah pengetahuan/pendidikan. Jenis telepon seluler yang familiar dengan responden adalah sistem GSM hal ini disebabkan ketersediaan sarana dan prasarana di lokasi penelitian lebih memadai. Hasil temuan ini menggambarkan bahwa keberadaan telepon seluler telah membantu masyarakat desa untuk mencari ide/pemikiran untuk berkreasi. tgl 20/2/08). Masyarakat desa merasa dengan penggunaan telepon seluler ini sesuai dengan harapan dan kebutuhan. Dalam kegiatan sehari-hari telepon seluler sudah menjadi pelengkap terutama untuk kemudahan untuk berkomunikasi. sarana pelepasan emosi.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Namun tidak untuk melarikan atau melepaskan diri dari persoalan kehidupan dan kesulitan hidup. dan hal ini menunjang efektivitas dalam komunikasi bermedia. menjalin serta meningkatkan kerjasama dengan berbagai pihak baik didalam lingkungan sekitar maupun di luar. eksplorasi realitas. mencari informasi.1%). Sikap masyarakat terhadap hadirnya telepon seluler dewasa ini dirasakan telah memberikan kemudahan berkomunikasi. bagi masyarakat desa sangat membantu terutama menimbulkan perasaan senang terkait dengan meningkatkan silaturahmi dengan keluarga dan teman. hingga saat ini jumlah pengguna telepon seluler di desa ini mencapai kira-kira 80% (wawancara dengan Majidul Fahmi. Pola penggunaan telepon seluler bagi masyarakat yakni cenderung menggunakan SMS karena biayanya relatif murah bila dibanding jika melakukan percakapan melalui telepon seluler. Penggunaan telepon seluler di Desa Pertumbukan mengalami kemajuan yang sangat pesat. Poin-poin ini secara tidak langsung diakui akan membantu responden dan masyarakat dapat meningkatkan perekonomiannya. 1 . serta dapat mengetahui atau menambah wawasan tentang keadaan/kehidupan di tempat lain (11. kuatnya penerimaan sinyal ataupun varian telepon seluler untuk jenis ini lebih banyak dan lebih murah. Penggunaan telepon seluler dalam memenuhi kebutuhan diversi .

dan menambah wawasan. sarana pelepasan emosi. Bandung. 1998. Remaja Rosda Karya. ___________. Sage Publications. The Role of Theory in Uses and Gratification Studies.Onong Uchjana. The Uses of Mass Communications Current Perspectives on Gratification Research. PT. Rachmat. mencari informasi. Bandung. Mediamorfosis: Understanding New Media. Roger. ____________. Jakarta. Leung. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Teori Dan Filsafat Ilmu. DAFTAR PUSTAKA Blumler. Kriyantono. Media Gratification Research. 1997. PT. Media Massa dan Penerimaan Khalayak. RajaGrafindo Persada. Jay. 1994. ABI/INFORM Global Muchati. Nurudin. 2000. Ilmu. London. Keberadaan telepon seluler dapat dijadikan salah satu upaya melepaskan diri dari rutinitas dan masalah. London. Kencana. PT. California . dan hal ini menunjang efektivitas dalam komunikasi bermedia. vol. Philip. dan menambah wawasan bagi masyarakat serta dapat membantu peningkatan perekonomian masyarakat. Jakarta. Louis dan Ran Wei. mencari informasi. Ilmu Komunikasi Teori Dan Praktek. Kehadiran telepon seluler telah memberikan kemudahan berkomunikasi. PT. 2000. 2005 . Sage Publication.Citra Aditya Bakti. Fidler. ____________. Blumler. Palmgreen. London. 2003. mengisi waktu luang serta mencari persahabatan yang lebih luas. Efenddy. PT. Dalam kegiatan sehari-hari telepon seluler sudah menjadi pelengkap terutama untuk kemudahan untuk berkomunikasi. Bandung. 1991. III. Summer. Bandung. Sistem Komunikasi Indonesia. Remaja Rosdakarya. Pine Forge Perss. 31 . Jay G. & Elihu Katz. Thousand Oaks. 1972. Remaja Rosda Karya. Jakarta. Bagi masyarakat dihimbau untuk menggunakan media telepon seluler secara bijaksana dan memberikan manfaat yang positif. 1 . sebaiknya pemerintah dan pihak operator seluler memberikan kemudahan dengan membuat regulasi untuk menurunkan biaya operasionalnya.G. 2007.. menjalin serta meningkatkan kerjasama dengan berbagai pihak baik didalam lingkungan sekitar maupun di luar dan secara tidak langsung diakui dapat membantu masyarakat untuk meningkatkan perekonomiannya. 1993. Pola penggunaan telepon seluler bagi masyarakat yakni cenderung menggunakan SMS karena biayanya relatif murah bila dibanding jika melakukan percakapan melalui telepon seluler. dan ini sesuai dengan harapan dan kebutuhan mereka.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. dan bagi masyarakat Desa Pertumbukan karena menimbulkan perasaan senang terkait dengan meningkatnya hubungan silaturahmi dengan keluarga dan teman. 2006. Sage Publication. Keberadaan telepon seluler telah membantu masyarakat Desa Pertumbukan untuk mencari ide/pemikiran untuk berkreasi. RajaGrafindo Persada. Pengantar Komunikasi Massa.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. More than just talk on the move: Uses and gratifications of the cellular phone. Namun terdapat hal-hal yang perlu diantisipasi terhadap dampak negatifnya. Medan memberikan pengetahuan atau menambah pengalaman. Journalism and Mass Communication Quarterly. PT. Saran Telepon seluler salah satu media komunikasi yang sangat pesat perkembangannya dan populer telah memberikan kemudahan dalam berkomunikasi. Dinamika Komunikasi.

Media. Jakarta.diakses tgl 11/4/08 32 . Communication Contexts. PT. Pawit M.wordpress.majalahindonesia.Hilda .pikiranrakyat. http://www. Sumber-Sumber Informasi. Winarno.id/~pawitmy/ -diakses tgl 26/3/08 ____________. Severin.htm . 1998. Richard dan Lynn H. Pengantar Teori Komunikasi: Analisis dan Aplikasi. W..com/2005/11/teori-komunikasi-massa-terhadap. Jakarta. http://www. Remaja Rosdakarya.uky. Pengantar Penelitian Ilmiah. Husein. Wiryanto. Grasindo. Teori Komunikasi Massa. Karl. 2000. Medan Palmgreen.htm. Bandung.. http://www. West.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika.html. Wenner. ___________. Junaedi. Umar.J. Jr.un.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. 2007. http://id. Remaja RosdaKarya.wikipedia.htm . 2001. Rakhmat.com/ divakar_goswami. 2008. 2000. 1991. Jakarta. Jakarta.centrin. dan beberapa contoh Aplikasi Teori Komunikasi Massa Kontekstual.com/hild4. Dan Terapan di Dalam Media Massa. diakses tgl 31/3/08 Saprudin. 2005. Prenada Media.2003. Dampak Penggunaan Telepon Seluler (Handphone). Teori Komunikasi Massa Terhadap Individu. http://data. Jakarta.diakses tgl 2/03/08. Turner. Rosengren.com/lihat_opini.Wawan. http://bdg. 2002.org/ diakases tgl 12/5/08 http://www. Sage Publication.php? pg=2007/10/ 27102007/65568 . Lain-Lain Damayanti.pintunet.diakses tgl 2/02/08 . Metode. James W. Metode Riset Komunikasi Organisasi. London .com . PT. 1 .diakses tgl 8/02/08. Fajar. Jalaluddin. Metode Penelitian Survey. Metode Penelitian Komunikasi.edu/~drlane/capstone/ contexts. net.com/kompas -cetak/0405/05/telkom/1002910. LP3ES Printing. Surakhmad. Teori Komunikasi : Sejarah. Dasar Metoda Teknik. Bandung .blogspot. Yusup. Salemba Humanika. Psikologi Komunikasi. Bandung. 2005.org/wiki/Telepon _genggam. http://komunikasimassaumy. diakses tgl 26/8/07 http://www. diakses tgl 18/1/08. PT. 2001. Singarimbun. Gramedia Pustaka Utama.kompas. Edisi Kelima. Masri. Komunikasi.htm. Tankard. The Models of Uses and Gratifications.com/cetak/2005 /0105/20/cakrawala/ lainnya01.. Erik. Tarsito. hildadamayanti@yahoo.diakses tgl 2/02/08. 2005. Edisi Revisi. 2004.

serta 56 lembaga penyiaran TV Swasta lokal yang tersebar di berbagai daerah. Radio Swasta Nasional. serta Undang-undang Penyiaran No. Keadaan ini berdampak munculnya media massa baik cetak maupun elektronik. development. yang memberi peluang bagi daerah untuk menciptakan sumber pendapatan send iri. 1 . As for becoming population of this research are 540 community Mrchant of Market in Pematang Siantar. This Research require to be conducted because pursuant to perception of writer of existence of this radio is in the reality woke up by community merchant of Lease of Horas Pematang Siantar. Perubahan yang terjadi seiring dengan perubahan kebijakan politik yang terjadi Pasca Reformasi ( setelah tahun 1998 ).April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. build that community radio is expected will be able to give respective information contribution with community dynamics merchant Lease of Horas. Key words: Community radio. Dalam proses demokratisasi inilah peran media massa sangat diperlukan untuk memotivasi. Proses demokratisasi yang sedang berlangsung didukung oleh semangat otonomi daerah. Pada era Pasca Reformasi. fund and readiness of researcher to check all community merchant of Market of Horas Pematang Siantar. 10 lembaga penyiaran TV Swasta dengan jangkauan nasional. hence as research method which was used in this research was research survey by approach descriptive. Desire of the merchant community develop. 33 . To facilitate and more directional in executing of this research. Motivation version with existence of radio of community get easiness in life of them. As for problems to this research is how potencial Radio of Epiginosko to develop society merchant of Pasar Horas in Pematang Siantar City. But because limitation of time. 32/2002 yang memberi peluang bagi tumbuhnya stasiun 3 Penulis adalah Peneliti Muda bidang Komunikasi Sosial pada BBPPKI Medan. Identity motivation of personal with existence of community radio and also push community to get opportunities of hero/ commerce in Pasar Horas Pematang Siantar. Latar Belakang Masalah Perkembangan media massa di Indonesia mengalami kemajuan pesat sejak terjadinya perubahan kebijakan tentang Sistem Penyiaran di Indonesia. hence taken some of pupulation become research sample with amount 10% from totalizing population become 54 responders. Saat ini tercatat ada 1 lembaga penyiaran publik dengan jangkauan nasional yaitu TVRI. regulasi tentang pendirian media massa mengalami kemudahan. yang selama era orde baru proses ini belum berlangsung optimal. Pasca Reformasi juga menimbulkan iklim yang kondusif lahirnya proses demokratisasi . menyadarkan bahkan menggerakkan masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Demikian juga halnya dengan hadirnya TV. Medan Potensi Radio Komunitas Epiginosko Terhadap Pembangunan Masyarakat Pedagang Pasar Horas Kota Pematang Siantar Sumatera Utara Oleh : Parulian Sitompul 3 Abstract The topic of research in this article is ´Potency Community Radio of Epiginosko to Development Society Merchant of Pasar Horas in Pematang Siantar City´.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Demikian juga dengan radio swasta yang tergabung dalam PRSSNI ada sekitar 84 radio swasta siaran berdiri di Provsu (PRSSNI 2006). As for result of from this research is seen from cognate motivation aspect very agree with existence of community radio of Epiginosko. society of Pasar Horas A.

terutama sebagai sarana untuk mensosialisasikan kebijakan Pemerintah Daerah di tingkat Lokal dan sebagai sarana mempromosikan potensi daerah. lembaga penyiaran publik lokal ( TV/Radio Publik Lokal ). Kota Pematang Siantar merupakan wilayah yang sangat potensial di Propinsi Sumatera Utara. Medan televisi swasta berbasis daerah. bagaimakah Potensi Radio Komunitas Epiginosko Terhadap Pembangunan Masyarakat Pedagang Pasar Horas di Kota Pematang Siantar. Adapun permasalahan khusus dalam penelitian ini adalah : 1. 1 . 2. Perumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang penelitian di atas. Kehadiran Radio Komunitas dapat memberi kemudahan bagi masyarakat di Kota Pematang Siantar untuk mendapatkan informasi perdangan dengan biaya yang terjangkau dan kualitas siaran yang baik . umum tentang 34 . Sektor pariwisata. perdagangan dan peternakan merupakan potensi yang dapat dioptimalkan agar dapat meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD ).JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Siaran Radio Komunitas baik yang berbentuk berita maupun informasi potensi daerah Kota Pematang Siantar. penulis menganggap perlu dilakukannya suatu penelitian untuk mengetahui bagaimana sebenarnya bagaimakah Potensi Rad Komunitas io Epiginosko Terhadap Pembangunan Masyarakat Pedagang Pasar Horas di Kota Pematang Siantar B. Pembatasan Masalah Adapun pembatasan masalah dalam penelitian ini adalah : 1. Dengan potensi daerah yang dimiliki. dan industri kecil perlu dioptimalkan melalui kemasan program siaran yang mengedepankan upaya-upaya agar masyarakat bersedia berpartisipasi meningkatkan potensi daerahnya. Dimanakah lokasi masyarakat Pedagang Pasar Horas di Kota Pematang Siantar biasanya mendengarkan Radio Komunitas Epiginosko ? C. Dasar pertimbangan yang lebih spesifik dapat dikemukakan sebagai berikut : 1. perdagangan dan industri kecil perlu dilakukan promosi melalui Radio Komunitas agar dapat menarik minat investor lokal maupun luar negeri untuk menanamkan investasinya di Kota Pematang Siantar. Potensi daerah di Kota Pematang Siantar di sektor pariwisata. peternakan. sehingga dapat berdampak kepada peningkatan pemasukan pendapatan daerah tersebut. optimalisasi fungsi lembaga penyiaran Radio Komunitas dapat mewujudkan tingkat kesejahteraan masyarakat yang lebih tinggi dari kondisi sekarang. serta lembaga penyiaran komunitas ( TV / Radio Komunitas ) memberi kesempatan bagi pengelola media massa untuk berperan secara optimal membangun daerahnya. Bagaimanakah motivasi Pedagang Pasar Horas di Kota Pematang Siantar mendengarkan Radio Komunitas Epiginosko untuk mendapatkan informasi daerah? 2. Apakah jenis informasi daerah yang didengar masyarakat Pedagang Pasar Horas di Kota Pematang Siantar dari Radio Komunitas Epiginosko ? 3. Kapankah Waktu dan bagaimanakah frekuen masyarakat Pedagang Pasar Horas di si Kota Pematang Siantar mendengarkan Radio Komunitas Epiginosko? 4. Kehadiran lembaga penyiaran komunitas (TV dan Radio Komunitas) dapat memberi kontribusi yang sangat berarti bagi suatu daerah. Potensi-potensi dalam bidang pariwisata peternakan. 3. maka peneliti dapat merumuskan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut. perdagangan. Berdasarkan permasalahan inilah.

JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Artinya komunikan atau khalayak merupakan masyarakat yang heterogen. Pesan pada komunikasi massa bersifat umum. Karena komunikator pada komunikasi massa bertindak atas nama lembaga. E. satu sama lain tidak saling mengenal dan tidak melakukan kontak pribadi. Komunikan pada komunikasi massa bersifat heterogen. 3. Media komunikasi massa menimbulkan keserempakan. Sebagai bahan masukan bagi pemerintah Kota P. yakni satu institusi atau organisasi. Siantar agar dapat mendorong dalam pengembangan radio komunikator di P. 2. Uraian Teoritis Penelitian ini membahas tentang bagaimana masyarakat mendapatkan informasi daerah melalui Radio Komunitas. Komunikasi massa berlangsung satu arah. Sebagai bahan masukan bagi pemerintah pusat Departemen Komunikasi dan Informatika dalam pembuatan kebijakan yang berkaitan dengan pengembangan radio komunikator. Dibanding dengan jenis-jenis komunikasi lainnya. Mengetahui Lokasi masyarakat Pedagang Pasar Horas biasanya mendengarkan Radio Komunitas Epiginosko di Kota Pematang Siantar. 35 . Epiginosko 3. 2. masing-masing berbeda latar belakang sosialnya seperti usia. 5. 1 . pendidikan. 4. Medan 2. Maksudnya pesan ditujukan kepada umum. Daerah penelitian ini adalah di Kota Pematang Siantar 3. maka ia bertinndak sesuai dengan kebijaksanaan ( policy) media yang memilikinya.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Responden penelitian ini adalah masyarakat Pedagang Pasar Horas Kota Pematang Siantar D. Komunikator pada komunikasi massa merupakan lembaga. bukan kepada perseorangan atau kelompok tertentu. Ia tidak mempunyai kebebasan sebagai individu. Mengetahui motivasi masyarakat Pedagang Pasar Horas di Kota Pematang Siantar mendengarkan Radio Komunitas Epiginosko untuk mendapatkan informasi daerah . Dalam hal ini tidak terdapat arus balik dari komunikan kepada komunmikator. kebudayaan. 4. 1981 mengartikan komunikasi massa sebagai setiap bentuk komunikasi yang menyampaikan pernyataan secara terbuka melalui media penyebaran teknis secara tidak langsung dan satu arah pada publik yang tersebar. Adapun manfaat dari penelitian ini adalah : 1. Seperti yang dikemukakan Melezke (1963) yang dikutip oleh Rakhmat. Keberadaannya terpencar. Dengan kata lain. Sebagai bahan masukan bagi pengelola managemen radio komunitas epiginosko dalam upaya peningkatan dan pengembangannya. komunikator tidak mengetahui tanggapan khalayak (komunikan) terhadap pesan yang disampaikan. Tujuan dan Manfaat Penelitian Adapun tujuan dari penelitian ini adalah : 1. pengalaman dan sebagainya. pekerjaan. agama. 3. Mengadopsi kepada karakteristik media massa maka keberadaan Radio Komunitas dapat dijelaskan fungsi dan peranannya dalam kerangka teoritis mengenai komunikasi massa. 2. Mengetahui Jenis informasi daerah yang didengar masyarakat Pedagang Pasar Horas Kota Pematang Siantar dari Radio Komunitas. Artinya khalayak menerima secara serempak (simultan ) pesan yang disampaikan melalui media massa. Mengetahui waktu mendengarkan Radio Komunitas Epiginosko masyarakat Pedagang Pasar Horas Kota Pematang Siantar . komunikasi massa mempunyai ciriciri (dikutip dari Effendi (1993:22-26) adalah : 1. Siantar.

Kapankah Waktu masyarakat Pedagang Pasar Horas di Kota Pematang Siantar mendengarkan Radio Komunitas Epiginosko ? 4.Kognitif .JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. tingkat pendidikan dan tingkat pendapatan. Gurevitch. Model Mass Media Uses and Gratifications menurut para pendirinya menyatakan bahwa awal kebutuhan secara psikologis dan sosial individu menimbulkan harapan tertentu kepada media massa atau sumber lain. kebutuhan dapat terpenuhi melalui hubungan dengan keluarga. Medan Komunikasi massa menyiarkan informasi. ( Katz.Frekuensi . model Mass 36 .Waktu .Kepuasan . teman. maupun mengisi waktu luang dengan berbagai cara. jenis kelamin. Kebutuhan Integratif Sosial 5. Kebutuhan Kognitif 2. organisasi dan lain sebagainya. Melalui sumber lain .Pengetahuan Personal .Diversi . Kebutuhan akan pelarian Kebutuhan tersebut dapat dipenuhi dan dipuaskan melalui media massa dan sumber lain .Jenis Isi Variabel Lingkungan Sumber : Jalaluddin Rahmat. Apakah Jenis informasi daerah yang didengar masyarakat Pedagang Pasar Horas di Kota Pematang Siantar dari Radio Komunitas Epiginosko ? 3. gagasan dan sikap kepada komunikan yang beragam dalam jumlah yang banyak menggunakan media. Bagaimanakah motivasi masyarakat Pedagang Pasar Horas di Kota Pematang Siantar mendengarkan Radio Komunitas Epiginosko untuk mendapatkan informasi daerah ? 2. 1 . 1985 Model ini dimulai dengan Variabel Anteseden yang terdiri dari Variabel Individual yaitu antara lain usia. Blumler. Kebutuhan Afektif 3.Isi . komunikasi interpersonal. Blumler. Dalam penelitian ini tidak semua komponen yang ada dalam model Mass Media Uses and Gratifications diteliti.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Kebutuhan melalui media massa dapat dipenuhi dengan membaca surat kabar dan majalah. mendengarkan radio serta menonton televisi. afiliasi kelompok. Gurevitch membuat tipologi kebutuhan manusia yang berhubungan dengan penggunaan media yang meliputi : 1. Dalam pembahasan dan kerangka teoritis. Dimana Lokasi masyarakat Pedagang Pasar Horas di Kota Pematang Siantar biasanya mendengarkan Radio Komunitas Epiginosko ? Anteseden Media Variabel Individual Identitas Motif Penggunaan Efek .Ketergantungan . Penelitian ini akan mendeskripsikan tentang: 1. media massa di sini dimaknai sebagai Radio Komunitas Epiginosko. Variabel Lingkungan juga masih merupakan bagian dari Variabel Anteseden yang biasanya terdiri dari lingkungan sosial. Kerangka teoritis yang digunakan dalam penelitian ini memang memodifikasi efek media massa terhadap sikap individu. Kebutuhan Integratif Pesan 4. Dalam penelitian ini. Masyarakat dalam model penelitian ini memiliki kebutuhan dan motif beraneka ragam berdasarkan karakteristik sosialnya. Katz. 1974 : 19 ± 32). Kerangka teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah model Mass Media Uses and Gratifications .

manusia mempunyai prilaku meningkatkan. mengungkapkan bahwa komponen kognitif dan afektif banyak dipengaruhi oleh media komunikasi seperti film. pikiran dasar. mempertahankan dan pengaktualisasian diri. Dan ketiga. Menurut Carl Rogers dalam konsepsi Humanistik ini. 2001:33). Motif merupakan salah satu faktor pembentuk prilaku seseorang dalam menanggapi sesuatu. yaitu : (1) efek kognitif yang meliputi peningkatan kesadaran. Tidak seperti pandangan Psikoanalisis yang cenderung menganggap manusia hanya dipengaruhi oleh naluri hewaninya dan Behaviorisme yang melihat manusia sebagai robot tanpa jiwa dan nilai. perasaan. dan pertumbuhan pribadi (Rakhmat. kreativitas. Mar¶at (1981:124). Motif merupakan daya yang timbul dari dalam diri yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. dijelaskan lebih lanjut bahwa faktor intrinsik dalam diri manusia dapat timbul berdasarkan kepribadian. pendekatan yang berkaitan dengan pesan media massa. Sedangkan menurut Wahyusumidjo. motivasi merupakan proses psikologis yang mencerminkan interaksi antara sikap.Dougall mengemukakan faktor-faktor personal yang menentukan prilaku manusia. William Mc. Kedua pandangan yang tadi disebutkan tidak menghormati manusia sebagai manusia. dan behavioral). 1988:17). Medan Media Uses and Gratifications diadaptasi untuk meneliti hubungan antara motif masyarakat dengan penggunaan radio. Manusia adalah pencari makna. pendekatan dengan melihat jenis perubahan yang terjadi pada khalayak. menjelaskan efek prososial dari media massa itu sendiri. kepribadian. radio. Chaffe (1980) dalam Rakhmat (1985:215-217). Manusia memiliki faktor-faktor personal (internal) antara lain sikap. penjelasan atau dasar kebenaran tingkah laku yang telah dilakukan (Turner. persepsi dan keputusan pada seseorang yang timbul karena adanya faktor intrinsik dan ekstrinsik (Wahyusumidjo .April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. 1984:178 ) Dari pendapat di atas. sikap. Kedua. hidup manusia lebih bermakna ketika manusia itu melibatkan nilainilai dan pilihan yang membangun . sistem kognitif. 1988 : 153). mengemukakan tiga pendekatan untuk melihat efek media massa. motivasi berasal dari bahasa Latin yaitu ´motivas´ yang berarti alasan dasar . Menurut tafsiran sosiologis Max Webber . Kebutuhan inilah yang menimbulkan motif. Pertama. belajar dan tambahan pengetahuan. meninjau satuan observasi yang dikenai efek media massa. disebut tiga dimensi efek komunikasi massa. Teori belajar sosial dari Bandura (1977). surat kabar. 37 . Seperti penerimaan informasi. harapan. 1 . Ketika membicarakan motif. peneliti perlu mengawali dengan meletakkan konsepsi manusia karena yang diteliti adalah motif manusia. Keduanya tidak mampu menjelaskan aspek eksistensi manusia yang positif dan membangun seperti cinta. afeksi.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. dan televisi. Pendekatan tersebut. instink. 2001 : 30 ). dan sikap. perubahan perasaan atau sikap dan perubahan perilaku (perubahan kognisi. dalam Jahi. dan motif ( Rakhmat. makna. dorongan bagi seseorang untuk berbuat atau ide pokok yang selalu berpengaruh terhadap tingkah laku manusia ( Kartono. Konsep manusia yang dibahas dalam penelitian ini adalah konsepsi Psikologi Humanistik yang melihat manusia sebagai manusia seutuhnya. dalam pertumbuhannya manusia memerlukan orang lain. (2) efek afektif yang berhubungan dengan emosi. kebutuhan. Dengan kata lain. menurut Gonzales (1978. Secara Etimologis. dan kebutuhannya (need). Berkaitan dengan prilaku manusia. nilai . motif merupakan deskripsi verbal yang memberikan gambaran. sedang (3) efek konatif erat hubungannya dengan niat dan kecenderungan berperilaku menurut cara tertentu. 1984).

3. Dalam kata lain Efektifitas sebuah proses komunikasi ditentukan oleh tiga faktor. Jadi dapat dikatakan motif mempengaruhi seseorang dalam memilih sesuatu termasuk juga dalam memilih media massa dan mengkonsumsi isinya. Prinsipprinsip yang harus dianalisis adalah sebagai berikut : 1. gaya pesan menunjukkan variasi linguistik dalam penyampaian pesan (perulangan. Medan Menurut Yoseph Klapper (Rakhmat. ketiga faktor itu adalah sebagai berikut : 1. gaya pesan. daya tarik dan kekuasaan. Contents yaitu faktor makna dan arti yang tersimpulkan dalam pesan terutama memperhatikan apakah pesan dipahami oleh komunikan. Faktor Komunikator Komunikator dalam model ini harus memiliki kredibilitas. Di dalam faktor personal inilah terdapat motif yang memberikan asumsi tertentu bagi orang dalam menanggapi sesuatu. 7. Pertama. perbendaharaan kata). Perceived Control adalah kemampuan komunikator untuk melakukan pengawasan apakah komunikan itu tunduk kepada pesan atau tidak.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. 2. Perceived Security adalah kemampuan komunikator untuk memperhatikan/menyelidiki apakah komunikan itu tunduk kepada pesan. Capability adalah faktor yang terakhir dalam penelitian pesan untuk disebarkan kepada komunikan. Sedangkan kejujuran dioperasionalkan dengan persepsi komunikan tentang sejauhmana komunikan tidak memihak dalam penyampaian pesan. menurut Rakhmat (1989:62). Kredibilitas terdiri dari dua unsur yaitu keahlian dan kujujuran. Kedua. 2001: 198) pengaruh Komunikasi Massa ditentukan oleh faktor-faktor predisposisi personal. struktur pesan ditunjukkan dengan pola penyimpulan. Consistency adalah ada tidaknya pertentangan / pebedaan dalam bagian -bagian ataukah terdapat suatu pengulangan dengan variasi di dalamnya. Appeals (imbauan) pesan mengacu pada motif-motif psikologis yang dikandung pesan (rasional. mudah dimengerti. Daya tarik ukur dari kesamaan. 2. imbauan pesan. keanggotaan kelompok dan proses selektif atau biasa juga disebut faktor personal. Context yaitu faktor yang menghubungkan isi pesan dengan keadaan lingkungan yang ada. 4. 2. emosional. Perceived Concern adalah kemampuan komunikator untuk melakukan penelitian/mersa peduli apakah komunikan tunduk kepada pesan. 1 . Credibility yaitu nilai kepercayaan khalayak atau publik kepada komunikator. Faktor Pesan Pesan terdiri dari struktur pesan. 3. Menurut Cultip dan Center dalam Susanto (1982:138) mengatakan bahwa pesan yang efektif adalah pesan yang memiliki 7 C yaitu : 1. fear appeals ). Demikian juga halnya motif menggunakan telepon pedesaan sabagai salah satu sarana berkomunikasi . reward appeals.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. familiaritas dan kesukaan. pola urutan argumentasi dan pola objektifitas. kemampuan untuk meneliti apakah komunikan mengikuti pesan yang disampaikan atau tidak. Clarity adalah faktor kesederhanaan dan jelas tidaknya perumusan yang digunakan dalam pesan 5. 38 . Keahlian diukur dengan sejauhmana komunikan menganggap komunikator mengetahui jawaban yang benar. Ketiga. Kekuasaan dioperasionalkan dengan tanggapan komunikan tentang kemampuan komunikator untuk memberikan ganjaran. Continuity adalah pesan yang bersifat kesinambungan 6.

Pengambilan sampel tersebut diambil 10 % jumlah populasi. Metode ini digunakan berdasarkan penjelasan suharsimi arikunto. 263 ) . Tingkat Pendidikan 39 . Penyebaran Kuesioner F. Pengkajian Kepustakaan.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.1 Variabel Anteseden a.1 Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Survey. Dari data tersebut dianalisa melalui tabel tunggal sebagaimana lazimnya dalam metode deskriptif. F. 15% hingga 20 %. karena itu harus memerlukan desain riset ( Mayer dan Wood. Kerangka Konsep dan Operasionalisasi Variabel Kerangka konsep adalah sebagai hasil pemikiran rasional yang bersifat kritis dalam memperkirakan kemungkinan hasil yang akan dicapai dalam penelitian ( Nawawi. Metode ini digunakan karena penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research) dengan menyebarkan kuesioner kepada responden terhadap sampel yang telah ditentukan. yang dilakukan dengan cara mempelajari dan mengumpulkan data dari literatur dan bahan bacaan yang ada hubungannya dengan masalah dalam penelitian ini. Faktor media Media yang diteliti adalah Radio Komunitas dengan asumsi semakin lengkap sarana dan prasarana yang disediakan untuk proses komunikasi maka hasil yang akandiperoleh akan semakin tampak lebih sempurna walaupun kadangkala banyak kendala yang harus dijumpai. 2001 : 40 ). F. menyebutkan jika jumlah populasi dari 100 orang maka dapat diambil samnpel antara 10 %.5 Metode Analisis Data Analisa data dilakukan secara deskriptif. F. G. Medan 3. METODOLOGI PENELITIAN F.4 Metode Pengumpulan Data a.3 Populasi dan Sampel Adapun populasi dalam penelitian ini adalah komunitas Pedagang Pasar Horas Kota Pematang Siantar. 1 .2 Lokasi Penelitian Lokasi penelitian ini adalah dilakukan di Kota Pasar Horas Pematang Siantar . Merujuk dari kerangka teori di atas yang menghasilkan kerangka konsep kemudian diimplementasikan dalam Operasionalisasi Variabel penelitian ini adalah sebagai berikut : G. Jenis Kelamin c. Kerangka konsep terdiri dari variabel-variabel ( konsep-konsep ) dan hubungan-hubungan yang membentuk konteks kausal dari penyelidikannya.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. b. F. Jumlah sampel dalam penelitian sebanyak 54 orang terdiri dari para pedagang di Pasar Horas Kota Pematang Siantar. karena penelitian ini adalah penelitian survey dengan menyebarkan kuesioner kepada responden yang telah ditentukan. Sementara sampel dalam penelitian ini adalah pendengar Radio Komunitas Epiginosko yaitu Pedagang Pasar Horas Kota Pematang Siantar. Usia b. 1984 .

April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. sosial. Orientasi Kognitif ( Kebutuhan Informasi. Keberadaan Radio Epiginosko sesuai dengan yang diharapkan dan kebutuhan Radio Epiginosko mendorong menam bah Menyatakan sangat setuju (41%). pendidikan ) G. Ragu-ragu (39%). Ketergantungan H.4%). Pekerjaan G. Eksplorasi Realitas ) b. Keikutsertaan Organisasi f. Setuju (46%). Identitas Personal (Memperkuat/menonjolkan sesuatu yang penting dalam kehidupan ) G. politik . Frekuensi penggunaan Isi ( Bahan Pembicaraan) Jenis Isi ( Klasifikasi : ekonomi. Diversi ( Kebutuhan Pelepasan Dari Tekanan.Ragu - Jenis Kelamin Yang menyatakan sangat setuju (37%). c.4 juta ± 1.4%).9 juta sebesar (48%) dan diatas 2 juta (34%). 1 . Ragu-ragu (9%). 40 . Setuju (48%). Tingkat Pendidikan Mayoritas tingkat pendidikan pedagang yang menjadi responden dari penelitian ini adalah yang ditawar Oma (79%). Tingkat Penghasilan e.3 Variabel Penggunaan Media ( Penggunaan Radio ) a. Durasi yang digunakan.2 Variabel Motif (Penggunaan Radio) a. b.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Kebutuhan Hiburan ) c. HASIL PENELITIAN Usia Responden Usia Responden pada penelitian ini adalah mayoritas berkisar diatas 42 x 4 (32%) sementara umur 27 -31 tahun hanya 4 % Jenis kelamin laki-laki ternyata lebidominan (66%) dibandingkan perempuan (35%). Tingkat Penghasilan Mayoritas responden berpenghasilan tiap bulannya dari dari hasil dagangan merekan antara 1. d. Medan d. Pengawasan Lingkungan Sosial. Mencari Informasi Pada umumnya pedagang pajak horas sangat setuju mencari informasi tentang berkaitan dengan pekerjaan sebesar (65%). Pengetahuan b. sumber Informasi Kurang Setuju (2. walaupun ada yang mengajukan untuk mencari informasi pekerjaan mereka sebesar (2. Radio Epiginosko sebagai Menyatakan sangat setuju (45%). Kepuasan c.4 Variabel Efek ( Penggunaan Radio ) a. ragu (11%).

Bina Aksara. Pada umumnya perdagangan Pasar Horas sangat setuju mencari informasi yang berkaitan dengan pekerjaan responden. Gajah Mada University Press. Soedjono. Diterjemahkan Trimo. Penyunting: Jalaluddin Rakhmat. Siantar mendengarkan radio pada pagi hari dan sampai sore hari masing-masing sebesar 28% dan ada juga pedagang sebesar 26%. mempelajati sesuatu. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Kesimpulan 1. 2. Rekomendasi Pengelola/managemen radio efiginosko meningkatkan kualitas materi saran yang diberkaitan dengan aktivitas pedagang pasar horas yang berkaitan dengan nilai nilai keagamaan. 4. 41 . Ragu-ragu (24%). 1990. DeFleur. Prosedur Penelitian. 1982. kemudian motivasiidentitas personal yaitu dengan mendengarkan radio mendorong dalam pemenuhan syarat untuk berwirausaha. Bandung. Teori-Teori Komunikasi. Theories of Mass Communication. 1. Melvin and Ball-Rokeach. Daftar Pustaka Arikunto.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. mendapatkan wawaan. 2. Yogyakarta. Motivasi diversi responden mengakui dengan mendengarkan radio komunitas yaitu untuk kebutuhan pelepasan demi tekanan. memberikan kesenangan Radio Epiginosko Yang menyatakan sangat setuju dan setuju (78%) dan mendorong berwira usaha ragu-ragu (22%). Jakarta. Medan pengetahuan dunia usaha Radio Epiginosko sangat dan setuju (81%). Pada umumnya pedagang Pasar Horas mendengarkan radio ketika berada di Pasar Horas dan sebagian lagi menyatakan ada yang dirumah. New York & London. Suatu Pendekatan Praktik. 1 . Depari. 3. Siantar diharapkan dapat mendorong lebih banyak lagi berdiri dikota P. mendapatkan kesenangan.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. kebutuhan mendapatkan hiburan. Pada umumnya pedagang Pasar Horas P. 1982. Suharsimi. Aubrey B. Remaja Rosdakarya. Pemerintah Daerah dalam hal pemko P. Peranan Komunikasi Massa Dalam Pembangunan. Motivasi mendengarkan radio komunitas berdasarkan motivasi kognitif adalah untuk memperoleh informasi mendapatkan pengetahuan. Eduard dan Collin Mac Andrew. Pemerintah Pusat dalam hal ini Departemen Komunikasi dan Informatika dapat memberikan pembinaan langsung maupun tidak langsung tentang manajemen pengelolaan radio komunitas secara modren. 1986. Siantar. Fisher. I.

Bandung. Teori Komunikasi . and Ballachey Egerton. Grid Publishing Inc. Metode dan Terapan di Dalam Media Massa.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Metode Penelitian. Wright. 2005. Jakarta. New York University McQuail. Secon Edition. Tgl. Richard S. David. Metode Penelitian Survai. Pendengar. Denis. Individual In Society. Psikologi Komunikasi. Tokyo: McGraw-Hill International Book Company. Charles R. Bandung. S. Prenada Media Singarimbun. James W. Tan. Pendit. Rakhmat. Alih Bahasa : Putu Laxmant S. 10 Juli 2008 Penulis adalah Peneliti Pertama Bidang Media Massa Pada BBPPKI Medan 42 . LP3ES.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Waveland Press. Andrew. 1985. --------------------.Womack. Endang. Jakarta. Alexis. Bandung: Remadja Karya. Ghalia Indonesia. Krech. Deanna F. S. Erlangga. 1993.Model Komunikasi. 1985. Metode Penelitian Komunikasi. International Student Edition. Model . Ohio. Pengantar Studi Penelitian Terhadap Pembaca. Tankard. Teori Komunikasi Massa. Masri. Severin Werner J. 1987. 1989. Crutchfield. Ltd. Penyunting : Jalaluddin Rakhmat. Pematang Siantar. Bandung. A Texbook of Social Psychology.dan Pemirsa. Jr. Medan Infante A Dominac. 1980. Uni Primas. 1962. Audience Research. 1998. Alih Bahasa : Agus Dharma dan Aminuddin Ram. Columbus. Kerlinger. OPINI PUBLIK MENGENAI PERAN MEDIA CETAK LOKAL DALAM PEMBANGUNAN BIDANG PERTANIAN HORTIKULTURA (Survei di Desa Ndokum Siroga dan Desa Surbakti Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Karo)* Oleh : IDAWATI PANDIA** * ** Telah diseminarkan di Siantar Hotel. Remadja Karya. (1989). dan Sofian Effendy (ed). Sosiologi Komunikasi Massa. 1 . Mass Communication Theories and Research. Remadja Karya.Rancer. Building Communication Theory. (1991). 1988. 1993. Sejarah. Jakarta ---------------. Foundation of Behaviour Research. Remadja Karya. Jalaluddin. Nazir Mohd. Sari. Kogakhusa. Fred N.

Media Lokal Pertanian. Hal ini perlu diperhatikan dengan baik agar pembangunan ini tidak berjalan dengan semaunya saja ataupun sampai kebablasan. Kata±kata Kunci : Opini Publik. layak dan mempunyai wibawa. A. khususnya di Sumatera Utara adalah masalah pembangunan. masyarakat. Latar Belakang Masalah Salah satu masalah yang banyak dibicarakan dan masih aktual serta menarik perhatian di Indonesia. Oleh karena itu kebebasan pers yang sehat ( healthy press freedom ) menjadi prasyarat yang mutlak menuju pembangunan yang sehat pula. Pelaksanaan pembangunan daerah yang demokratis digerakkan oleh tiga pilar utam yang saling berkaitan. lalu pemerintah daerah akan sulit menentukan arah dan kebijaksanaan pembangunan. Sebaliknya pembangunan yang sehat sudah jelas sangat membutuhkan kebebasan pers yang sehat pula. institusi pers. Ketiga pilar utama dalam gerakan pelaksanaan pembangunan itu adalah sebagai berikut : pertama. Medan Abstrak Penelitian Opini Publik Mengenai Peran Media Cetak Lokal Dalam Pembangunan Pertanian Hortikultura ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Pilar utama yang kedua ini juga mempunyai peranan yang sangat menentukan didalam pembangunan daerah. Sudah tentu semua kebijakan yang menyangkut pelaksanaan pembangunan daerah berada di institusi pemerintah daerah terutama Bupati dan Walikota. Tanpa keikutsertaan masyarakat. media dan pembangunan tidak dapat dipisahkan dari perkembangannya. kuat dan bermartabat. Pilar utama yang pertama ini mempunyai peranan yang sangat besar dalam menentukan keberhasilan pelaksanaan pembangunan. apalagi masyarakat petani masih merasakan kurangnya informasi tentang pangsa pasar produk pertanian dan informasi tentang agrobisnis dan budidaya pertanian hortikultura. Keberadaan media massa cetak lokal masih dapat dan sangat diharapkan oleh masyarakat dalam mendorong suksesnya pembangunan pertanian hortikultura. 43 . Hortikultura. Peran inilah yang sangat diharapkan masyarakat yang dapat ditangkap dan diisi oleh media massa cetak lokal. institusi pemerintah daerah. Kalau hal ini sampai terjadi. sehingga pelaksanaan pembangunan itu dapat berjalan dengan baik. Dengan kata lain. Namun ini masih terkendala karena terbatasnya sirkulasi dan keterlambatan media lokal sampai ke masyarakat terutama masyarakat pedesaan. Hasil temuan menunjukkan bahwa masyarakat di dua desa yang menjadi lokasi penelitian. Ketiga. Jadi keduanya. sudah tentu pembangunan ini akan menimbulkan dampak yang negatif bagi masyarakat.P opulasi dari penelitian ini adalah masyarakat di dua desa di Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Karo yang membaca media cetak lokal. Melalui media massa yang ada. seharusnyalah media yang tangkas dan wartawan yang profesional sudah pasti sangat diperlukan karena memainkan fungsi. peran dan kewajiban yang amat menentukan. Dan sudah barang tentu untuk mensukseskan pembangunan ini diperlukan peranan pers atau peranan media massa dalam menyampaikannya ditengah ± tengah masyarakat. Kemudian perlu diingat bahwa media yang sehat tentu saja menjadi mutlak kehadirannya untuk mendorong agar pelaksanaan pembangunan itu juga menjadi sehat. Akibatnya pembangunan daerah pun akan mandeg. Kedua. pers tidak akan berkembang. instutusi pers seperti suratkabar dan televisi turut menentukan berhasil tidaknya pembangunan daerah tersebut. 1 . ternyata masih memanfaatkan media cetak lokal sebagai sumber informasi pembangunan pertanian hortikultura. Pilar utama yang ketiga ini ikut pula menentukan keberhasilan pembangunan.

Untuk mengetahui kendala yang dihadapi masyarakat tentang media massa cetak lokal dalam mensukseskan pembangunan bidang pertanian hortikultura. Untuk mengetahui bagaimana opini publik mengenai peran media massa cetak lokal sebagai sumber informasi pembangunan bidang pertanian hortikultura. perkebunan. 3. Sora Mido. B. potensi wisata dan pertanian yang lebih luas dalam merencanakan dan mengelola sumber daya yang dimiliki dan untuk memberikan fasilitas dan dorongan yang lebih terarah pada perkembangan pembangunan kerakyatan. Berdasarkan latar belakang permasalahan yang telah dipaparkan diatas dan mengingat bahwa salah satu fungsi pers yaitu sebagai fungsi kontrol. sudah sepantasnya Kabupaten Karo memiliki corong yang kuat untuk mensosialisasikan kepada masyarakat melalui media massa. sub sektor hortikultura. 2006.maka penulis tertarik dan merasa penting untuk melakukan penelitian bagaimana opini publik mengenai peran media cetak lokal dalam pembangunan bidang pertanian hortikultura ini. peternakan dan sebagian kecil perikanan darat ( air tawar ). 2. 10 ). dan Sirulo ( sumber : Dinas Infokom Karo ). khususnya yang tersebar pada masyarakat Kabupaten Karo. Kabupaten Karo adalah kabupaten yang sangat didominasi oleh sektor pertanian yaitu sub sektor pertanian tanaman pangan dan palawija. Misi ini tidak akan terwujud secara efektif tanpa fungsi dan peranan pers. Info Karo. Medan Salah satu kabupaten yang sangat intens memperhatikan keberlangsungan pembangunan di Sumut adalah Kabupaten Karo. dalam hal ini Departemen Komunikasi dan Informatika RI untuk membuat kebijakan dalam bidang komunikasi massa mendatang. Dinas Infokom. D. Tujuan Penelitian Sebagai tujuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. 1 . Adapun jenis media cetak lokal yang turut mewarnai dan memberikan informasi bagi masyarakat. Kontribusi pertanian yang diberikan Kabupaten Karo pada Propinsi Sumatera Utara persentasenya cukup besar. C. Untuk mengetahui bagaimanakah pemanfaatan media cetak lokal sebagai sumber informasi pembangunan bidang pertanian hortikultura. Pemerintah Kabupaten Karo menetapkan salah satu misi pembangunannya yang berbunyi ´ Mengembangkan secara optimal pertanian. Apakah kendala yang dihadapi masyarakat tentang media massa cetak lokal dalam mensukseskan pembangunan bidang pertanian hortikultura.sehingga opini publik menjadi sangat penting bagi pemerintah didalam melakukan perencanaan pembangunan.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Bagaimana pemanfaatan media cetak lokal sebagai sumber informasi pembangunan bidang pertanian hortikultura ? 2. industri dan perdagangan berbasis agrobisnis yang berdaya saing dan berwawasan lingkungan dan rehabilitasi lahan yang kritis ( BPS. Tabloid Karo Membangun. 2006. 44 . Sebagai bahan masukan berupa data dan informasi bagi pemerintah.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. 10 ). Manfaat Dan Sasaran penelitian Manfaat Penelitian 1. 3. Jumlah rumahtangga yang berusaha disektor ini berkisar antar 70 persen sampai dengan 74 persen ( BPS. Humas Pemkab Karo. khususnya di Kabupaten Karo antara lain . Dengan melihat hal tersebut. Bagaimanakah opini publik mengenai peran media massa cetak lokal sebagai sumber informasi pembangunan bidang pertanian hortikultura. Majalah Sibayak Pos terbitan Brastagi. pariwisata. Rumusan Masalah Adapun yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah : 1.

JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. 1 - April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika, Medan

2. Sebagai referensi bagi BBPPKI Medan dan instansi ± instansi yang terkait untuk bahan kajian lanjutan. Sasaran Adapun sasaran dengan dilakukannya penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Secara tidak langsung masyarakat ikut berperan serta dalam mensukseskan pembangunan bidang pertanian hortikultura, ikut memberhasilkan pembangunan daerah yang terrencana dan terarah. 2. Adanya kebebasan pers yang sehat menjadi prasyarat yang mutlak menuju pembangunan bidang pertanian yang sehat pula. 3. Terwujudnya pelaksanaan pembangunan yang berjalan dengan baik, layak dan berwibawa. E. Kerangka Teori Kebutuhan melalui media massa dapat dipenuhi dengan membaca suratkabar. Tabloid dan majalah lokal. Dalam penelitian ini,model Teori Normatif,yaitu Teori Media Pembangunan diadaptasi untuk meneliti bagaimana Opini Publik Mengenai Peran Media Lokal Dalam Pembangunan Bidang Pertanian Hortikultura. Teori Normatif (cabang filsafat sosial) yang lebih berkenan dengan masalah bagaimana seharusnya media berperan bilamana serangkaian nilai sosial ingin diterapkan dan dicapai dengan sifat dasar nilai-nilai sosial tersebut.Jenis teori ini penting karena ia memang berperan dalam membentuk institusi media dan berpengaruh besar dalam menentukan sumbangsih media,sebagaimana yang diharapkan oleh publik media itu sendiri dan organisasi,serta para pelaksana organisasi sosial itu(McQuail,1994:4). Teori media pembangunan adalah penerimaan pembangunan ekonomi itu sendiri (yang karenanya perubahan sosial),dan sering kali ³pemban gunan bangsa´ (nationbuilding)yang bersangkutan,sebagai tujuan utama.Untuk mencapai tujuan tersebut,kebebasan tertentu dari media dan para wartawan tunduk pada tanggung jawab mereka untuk membantu pencapaiannya.Pada saat yang sama,yang ditekankan adalah tujuan kolektif dan bukan kebebasan individu.Unsur yang relatif baru dalam teori media pembangunan adalah penekanan pada ³hak untuk berkomunikasi,´yang didasarkan atas Pasal 17 Deklarasi Universal Hak-Hak Manusia: Setiap orang memiliki hak mengeluarkan pendapat:hak ini mencakup kebebasan menganut pendapat tanpa ganguan dan kebebasan untuk mencari, menerima,dan menyampaikan informasi dan gagasan melalui media manapun tanpa mempersoalkan batas negara.´Meskipun sukar menemukan kasus-kasus individu yang jelas menunjukkan teori media pembangunan,prinsip utama teori ini dapat diungkapkan sebagai berikut: 1. Media seyogyanya menerima dan melaksanakan tugas pembangunan positif sejalan dengan kebijaksanaan yang ditetapkan secara nasional. 2. Kebebasan media seyogyanya dibatasi sesuai dengan (1) prioritas ekonomi dan (2) kebutuhan pembangunan masyarakat. 3. Media perlu memprioritaskan isinya pada kebudayaan dan bahasa nasional. 4. Media hendaknya memperioritaskan berita dan informasinya pada negara sedang berkembang lainnya yang erat kaitannya secara geografis,kebudayaan,atau politik. 5. Para wartawan dan karyawan media lainnya memiliki tanggung jawab serta kebebasan dalam tugas mengumpulkan informasi dan penyebarluasannya. 6. Bagi kepentingan tujuan pembangunan,negara memiliki hak untuk campur tangan dalam,atau membatasi,pengoperasian media serta sarana penyensoran,subsidi,dan pengendalian langsung dapat dibenarkan. 45

JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. 1 - April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika, Medan

Sementara pengguna media itu sendiri adalah orang-orang yang berpikiran rasionalyang secara aktif memilih media mana yang mereka anggap dapat memuaskan kebutuhan yang mereka ingin dapatkan.Ada beberapa katagori kebutuhan individu,yang semuanya berasal dari fungsi sosial dan psikologi dari media,kategori ini antara lain menurut Katz Hass dan Gurevitch (Marshall,Jr,2000) yakni: a. Kebutuhan kognitif; kebutuhan akan informasi,pengetahuan,dan pengertian tentang lingkungan sekitar. b. Kebutuhan afektif : kebutuhan untuk memperkuat pengalaman akan emosi,kesenangan,atau pengalaman keindahan. c. Kebutuhan integrative personal : memperkuat kredibilitas, kepercayaan diri,kesetian, dan status pribadi. d. Kebutuhan interaksi sosial : memperkuat hubungan dengan keluarga,teman,dengan alam sekitar. e. Kebutuhan akan pelarian : hasrat melarikan diri dari kenyataan, melepaskan ketegangan, kebutuhan akan hiburan.Untuk memenuhi kebutuhan tersebut dapat dicapai dengan dua cara, yaitu: (1) Pemenuhan kebutuhan yang didapatkan dengan cara mengakses/menggunakan media yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan (2) Pemenuhan kebutuhan didapatkan dengan cara mempelajari isi informasi dalam media yang kemudian diterapkan dalam praktek. f. Sejalan dengan hal tersebut maka dapat dikatakan bahwa pengguna media secara umum adalah untuk memenuhi kebutuhan informasi,hiburan dan intraksi sosial. Dari kerangka pemikiran inilah, peneliti akan menguraikan permasalahan bagaimana opini publik mengenai peran media lokal dalam pembangunan bidang pertanian hortikultura di Kabupaten Karo. F. Kerangka Konsep Kerangka konsep adalah istilah yang mengekspresikan sebuah ide abstark yang dibentuk dengan menggeneralisasikan objek atau hubungan fakta ± fakta yang diperoleh dari pengamatan. Bungin,´ Mengartikan konsep sebagai generalisasi dari sekelompok fenomena tertentu yang dapat dipakai untuk menggambarkan berbagai fenomena yang sama. Sedangkan Kerlinger, menyebutkan konsep sebagai abstraksi yang dibentuk dengan menggeneralisasikan hal ± hal khusus. Jadi konsep merupakan sejumlah ciri atau standar umum suatu objek.´ ( Kriyantono, 2006 : 17 ). Berdasarkan kerangka teroritis diatas, adapun konsep ± konsep dalam penelitian ini sebagai berikut Opini adalah suatu pernyataan mengenai sesuatu yang sifatnya bertentangan. Opini merupakan ´ expressed statement ´ yang bisa diucapkan dengan kata ± kata, isyarat atau cara lain yang mengandung arti dan dapat dipahami maksudnya ( Meinanda, 1980, 29 ). Ini berarti opini harus dinyatakan, dengan demikian pengertian opini atau pendapat mempunyai dua unsur yakni : 1. Ada pernyataan 2. Mengenai masalah yang bertentangan Disamping itu juga, opini dapat dinyatakan melalui media massa seperti televisi, radio maupun suratkabar atau majalah. Karena opini mempunyai ciri ± ciri antara lain : 1. Mempunyai pendukung dalam jumlah besar. 2. Selalu diketahui dari pernyataan ± pernyataan. 3. Merupakan sinthesa atau kesatuan dari banyak pendapat. Sehingga opini ini bisa ditemukan dari berbagai kalangan. Selanjutnya suatu pendapat harus dinyatakan terlebih dahulu agar dapat dinilai sebagai pendapat atau opini publik, sebab sesuatu yang belum dinyatakan belum bisa disebut opini karena belum mengalami proses 46

JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. 1 - April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika, Medan

dalam diri manusia, sehingga masih merupakan sikap, Irish dan Protho ( Susanto, 1985, 92 ). Jadi yang dimaksud dengan opini publik adalah pendapat atau sikap masy arakat terhadap suatu masalah atau organisasi, dimana pembentukan opini publik melalui berbagai hal, pelayanan terhadap publik, opinion leader dan kegiatan komunikasi ( Hardiman, 2006, 87 ). Opini publik merupakan pendapat yang ditimbulkan oleh adanya unsur ± unsur sebagai berikut : 1. Adanya masalah atau situasi yang bersifat kontroversial yang menimbulkan pro dan kontra. 2. Adanya kesempatan bertukar pikiran atau berdebat mengenai masalah yang kontroversial tersebut 3. Adanya publik yang terikat kepada masalah tersebut dan berusaha memberikan pendapatnya. ³Opini dan perasaan rakyat dapat disalurkan kedalam program ± program pemerintah, sebab bagaimanapun yang berhubungan dengan fakta dilapangan adalah masyarakat ± masyarakat yang mempunyai opini dan emosi ³ ( Lipmann, Walter, 1998, 235 ). Sementara, berbicara tentang fungsi media massa, Harold Lasswell dan Charles Wright merupakan sebagian dari pakar yang benar ± benar serius mempertimbangkan fungsi dan peran media massa dalam masyarakat. Wright ( 1959 ) membagi media komunikasi berdasarkan sifat dasar pemirsa, sifat dasar pengalaman komunikasi, dan sifat dasar pemberi informasi. Lasswell ( 1984, 1960 ), pakar komunikasi dan profesor hukum di Yale University mencatat ada 3 fungsi media massa, pengamatan lingkungan, korelasi bagian ± bagian dalam masyarakat untuk merespon lingkungan dan penyampaian warisan masyarakat dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Selain ketiga fungsi ini, Wright menambahkan fungsi keempat yakni hiburan ( Severin, 2005, 386 ) Media massa yang dimaksud disini adalah media massa cetak ( printed mass media ). Pada umumnya kalau kita berbicara mengenai pers sebagai media massa tercetak, maka kita harus terlebih dahulu memahami bahwa pers adalah lembaga kemasyarakatan ( social institution ) dan merupakan sub sistem dari kemasyarakatan dimana ia berada, bersama ± sama dalam sub sistem lainnya. Dengan demikian maka pers tidak hidup secara sendiri, melainkan mempengaruhi dan dipengaruhi oleh lembaga ± lembaga kemasyarakatan lainnya. Bersama ± sama dengan lembaga kemasyarakatan lainnya, pers berada dalam keterikatan organisasi bernama negara. Karenanya eksistensi pers dipengaruhi, bahkan ditentukan oleh falsafah negara dan sistem politik negara dimana pers itu hidup. Pers di negara mana dan dimasyarakat mana, ia berada sama ± sama mempunyai fungsi universal yakni : 1. Memberikan Informasi ( to inform ) Menyiarkan informasi adalah tugas suratkabar yang pertama dan utama. Khalayak pembaca berlangganan atau membeli suratkabar karena memerlukan informasi mengenai berbagai hal di bumi ini mengenai peristiwa yang terjadi, gagasan atau pikiran orang lain, apa yang dilakukan orang lain, apa yang dikatakan orang lain dan lain sebagainya. 2. Mendidik ( to educate ) Sebagai sarana pendidikan massa ( mass education ), suratkabar memuat tulisan ± tulisan yang mengandung pengetahuan, sehingga khalayak pembaca bertambah pengetahuannya. Fungsi mendidik ini bisa secara implisit dalam bentuk berita, dapat juga secara eksplisit dalam bentuk artikel atau tajuk rencana 3. Fungsi Menghibur ( to entertaint ) Hal yang bersifat hiburan sering dimuat suratkabar untuk mengimbangi berita ± berita berat ( hard news ) dan artikel ± artikel yang berbobot. Maksud pemuatan isi yang mengandung hiburan itu semata ± mata untuk melemaskan ketegangan pikiran setelah para pembaca dihidangi berita dan artikel yang berat ± berat. 4. Mempengaruhi ( to influence ) 47

sedangkan secara eksplis it terdapat pada tajuk rencana dan artikel 5. akan banyak tantangan yang harus dijawab dengan sikap yang berani dan bijaksana. sehingga hortikultura merupakan suatu cabang dari ilmu pertanian yang mempelajari tentang budidaya buah ± buahan. Sedangkan dalam GBHN 1993 ± 1998. Secara implisit terdapat pada berita.Upaya ini dilaksanakan oleh pemerintah yang didukung oleh partisipasi masyarakatnya.dikalangan peneliti dan penyuluh. menyebabkan suratkabar memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat. Sektor Pertanian Hortikultura Mengingat bahwa perekonomian masyarakat Karo sangat didominasi oleh sektor pertanian. Tanaman Buah ± Buahan Ilmu yang mempelajari tentang tanaman buah ± buahan disebut pomologi. 1981. Menurut Totok Mardikanto:Pembangunan didefinisikan sebagai upaya sadar dan terencana untuk melaksanakan perubahan ± perubahan yang mengarah pada pertumbuhan ekonomi dan perbaikan mutu hidup atau kesejahteraan seluruh warga masyarakat. sayuran dan tanaman hias (Edmon et al. selain buah ± buahan. Su¶ud Hassan. atau hidup tidak terhormat disebabkan tidak mempunyai kepribadian ( Effendi.melainkan diperuntukkan pula bagi segenap Stake holder. mati terhormat karena memang prinsip. sedangkan orang ± orang yang mengusahakannya disebut pomologist. ataupu ekonomi.Sedangkan Lionberger dan Gwin mendefinisikan pembangunan sebagai proses pemecahan masalah. Adapun sub sektor yang dominan bagi sektor pertanian yang disoroti disini adalah sub sektor hortikultura. Hortikultura berasal dari kata ´ hortus ´ ( garden atau kebun ) dan ´ colore ´ ( = to cultirate atau budidaya ). Kenapa seperti itu. suratkabar bisa dihadapkan kepada dua alternatif.yang masing ±masing menekankan pendekatan berbeda. Medan Fungsi mempengaruhi.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika.maupun masalah-masalah yang dihadapi oleh warga masyarakat(Mastur Yahya).ekonomi. 1 . pers dan masyarakat adalah satu kesatuan yang saling membutuhkan satu sama lain.maka dalam hal ini masyarakat penting untuk dilibatkan.Benang merah dari definisi pembangunan ialah bahwa pembangunan bertujuan merubah´keadaan´ masyarakat kearah yang lebih baik dengan cara pemecahan masalah yang dihadapi.dan moral sebagai panglima (Mastur Yahya). 1975).yaitu penekanan politik. Pengawasan ( social control ) Jika suratkabar benar melaksanakan tugas sosial kontrolnya. Definisi pertama lebih menekankan pada masyarakat selaku penerima manfaat (beneficiaries) pembangunan. Dalam suatu situasi. 48 .terutama untuk jangka panjang. karena pemerintah.Sedangkan definisi kedua menyiratkan bahwa pembangunan tidak hanya untuk masyarakat. sayuran dan tanaman hias yang termasuk dalam kelompok hortikultura adalah tanaman obat ± obatan.baik masalah yang dihadapi oleh setiap aparat dalam setiap jenjang birokrasi pemerintah. Pengertian buah pada hortikultura agak berbeda dengan pengertian buah pada ilmu botani. 94 ) Pengertian Pembangunan Sukses tidaknya perencanaan pembangunan daerah itu sudah barang tentu tidak bisa terlepas dari media massa didalamnya. 2007 mengatakan bahwa hortikultura terdiri dari : A. Onong. Secara garis besar bisa diidentifikasikan tiga pola pemikiran dan praktek pembangunan yang berkembang di Indonesia.dengan menggunakan teknologi yang terpilih. sayuran dan tanaman hias. dimana sampai saat ini sektor pertanian memberikan kontribusi lebih dari 60 persen setiap tahun bagi pembentukan produk domestik regional bruto ( PDRB ) Kabupaten Karo. Secara harfiah istilah hortikultura diartikan sebagai usaha membudidayakan tanaman buah ± buahan.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.

Pengertian bahwa sayur ± sayuran hanyalah hasil yang dipanen dari tanaman tahunan ( annual crops ) atau tanaman muda/semusim baik yang menghasilkan buah.uns.ac. Memperbesar devisa negara 3. kebun ( nursery production ). Land scaping : meliputi planning dan pengaturan daripada pekerjaan. Melimpah ruah pada suatu musim dan langka pada musim lainnya 5. 5. merupakan bagian penting terutama untuk benih±benih sayur±sayuran dan bungan±bungaan. juga letak bangunan ± bangunannya. umbi dan lain ± lain tidaklah tepat. Begitu juga dengan buah labu dalam hortikultura dan buah tomat di Indonesia termasuk dalam golongan buah. Tanaman Bunga Ilmu yang mempelajari bunga ± bungaan disebut floricultura. ketenangan hidup dan estetika ( dari tanaman hias/bunga ). Peningkatan pendapatan petani dan. 1 . Ini dikarenakan ada juga sayur ± sayuran yang dipetik dari tanaman tahunan seperti melinjo dan daun jambu mete. jalan. Perlu tempat yang lapang ( voluminous ) 3. taman untuk rekreasi dan lain ± lain. Pemeliharaan tanaman ± tanaman dalam taman. Tanaman Sayur ± Sayuran Ilmu yang mempelajari tentang tanaman sayur ± sayuran disebut olericulture dan orang yang mengusahakannya disebut olericulturist. Medan Umpamanya mentimun dalam arti botani adalah buah. tetapi juga tanaman yang tidak berbunga yang biasanya dipergunakan untuk menghiasi baik berupa semak ± semak maupun rumput ± rumputan. 2. untuk menghasilkan benih sayur ± sayuran dan bunga ± bungaan daerah tropis bukanlah suatu hal yang mudah. tetapi di negara yang sudah maju digolongkan kedalam sayur ± sayuran. Memperbaiki gizi masyarakat. Meliputi seluruh tanaman dalam bidang hortikultura.id /~agronomi /dashor. sebangsa pakis dan lain ± lain. pangan. tetapi dalam arti hortikultura tergolong kedalam sayur ± sayuran. tidaklah semata ± mata berarti suatu bidang tanaman bunga ± bungaan. Memperluas kesempatan kerja 4. Hal ± hal lain yang termasuk kedalam hortikultura : 1.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Ini merupakan bagian penting pada hortikultura. daun kangkung. Fluktuasi harganya tajam ( www. Seed Production. Pengolahan dan penyimpanan hasil ( processing and storage ). batang. sedangkan orang yang mengusahakan disebut floricultureti. mineral dan protein ( dari buah dan sayur ). Dengan demikian yang digolongkan kedalam buah dinegara ini adalah buah yang dihasilkan oleh tanaman tahunan (perennial crops ) B. tempat tinggal dan tanam tanaman umum. bahkan sering tidak berhasil sama sekali. 4. 3. Kebanyakan tanaman sayuran baru mau berbuah ( menghasilkan biji ) didaerah ± daerah dingin. karena hampir semua hasil hortikultura bersifat tidak tahan lama. Tidak dapat disimpan lama 2. C. sehingga perlu adanya pengalengan oleh industri ± industri.html ) 49 . sehingga untuk Indonesia benih ± benih terpaksa diimpor.pertanian. Pemenuhan kebutuhan keindahan dan kelestarian lingkungan Namun ketika kita membahas masalah hortikultura perlu diperhatikan pula mengenai sifat khas dari hortikultura yaitu : 1. 2. Ditinjau dari fungsinya tanaman hortikultura dapat memenuhi kebutuhan jasmani sebagai sumber utama. serta memenuhi kebutuhan rohani karena dapat memberikan rasa tentram. Mudah rusak ( perishable ) dalam pengangkutan 4. Sedangkan peranan hortikultura adalah : 1.

desa ini paling banyak masyarakatnya bergerak dalam bidang pertanian hortikultura . Belanda dengan bunga tulipnya.yaitu sebanyak 900 orang. kol. gejala atau kelompok tertentu 2.63 ). Masyarakatnya betul±betul masyarakat petani yang bergerak dibidang pertanian hortikultura b. Juhar. sedangkan jenis komoditas hortikultura yang diusahakan masih terbatas. Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif.Dipilihnya hanya satu kecamatan mengingat kecamatan tersebut : a. jeruk. Seperti halnya negara ± negara lain yang mengandalkan devisanya dari hasil hortikultura antara lain Thailand dengan berbagai komoditas hortikultura yang serba Bangkok. Sementara pengembangan hortikultura di Indonesia pada umumnya masih dalam skala perkebunan rakyat yang tumbuh dan dipelihara secara alami dan tradisional. Sampel Sampel dalam penelitian ini diambil melalui Teknik Pemilihan Sampel secara purposive ( purposive sampel technique ) . 3. Oleh karena itu kita harus berani untuk memulai mengembangkannya pada saat ini. anggur dan lain sebagainya. G. Tiga panah. cabe. keadaan. di kecamatan Simpang Empat Kabupaten Karo. Metodologi Penelitian 1. Munthe. markisah dan pisang. Merek. arcis. Metode deskriptif dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan/melukiskan keadaan subyek/obyek penelitian seseorang. jeruk. masyarakat dan lain lain pada saat sekarang berdasarkan fakta± fakta yang nampak atau sebagaimana adanya ( Nawawi. 1983. bawang prei. Simpangempat. maka diperlukan pengetahuan yang lebih mendalam terhadap permasalahan hortikultura tersebut.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. kini telah mengekspor apel. Transportasi dari pusat ibukota propinsi ( Medan ke Kabupaten Karo ) bisa ditempuh dalam beberapa menit. Tegasnya penelitian deskriptif hanya memberi gambaran secermat mungkin mengenai suatu individu. buncis. Payung. Barusjahe. Populasi dan Sampel Populasi Populasi dari penelitian ini adalah seluruh masyarakat petani holtikultura di desa Ndokum Siroga dan desa Surbakti . Dari 13 Kecamatan diatas. Medan Dengan mengetahui manfaat serta sifat ± sifatnya yang khas. Kabupaten Karo terdapat 13 kecamatan yaitu : Mardinding.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. petsai/sawi. c. Nikaragua dengan pisangnya. 1 . dalam pengembangan hortikultura agar dapat berhasil dengan baik. wortel. Laubaleng. Kabanjahe. Hortikultura adalah komoditas yang akan memiliki prospek yang sangat cerah menilik dari keunggulan komparatif dan kompetitif yang dimilikinya dalam pemulihan perekonomian Indonesia dimasa mendatang. kentang. Cakupan sub sektor hortikultura yang dominan diusahakan oleh masyarakat Karo adalah tanaman sayuran dan buah ± buahan yang meliputi tomat. Berdasrkan data yang ada dikecamatan. Kutabuluh. lembaga. Lokasi Penelitian Adapun lokasi penelitian ini hanya di fokuskan pada 2 desa . Tiga Binanga. saya mempurposive Kecamatan Simpang Empat sebagai lokasi penelitian. Brastagi. bahkan Israel dari gurun pasirnya. yaitu Desa Ndokum Siroga dan Desa Surbakti. Teknik purposive adalah suatu teknik yang 50 .

Wilayah Kabupaten Karo berada pada ketinggian 120 ± 1. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Dairi dan Kabupaten Toba Samosir c. buah ± buahan. adat suku bangsa Karo terbuka. Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data dilakukan melalui angket yang dipandu oleh enumerator ( pengumpul data ) dimana penulisan angket dilakukan melalui pertanyaan terbuka dan tertutup. Suku bangsa Karo ini mempunyai adat istiadat yang sampai saat ini masih terpelihara dengan baik dan sangat mengikat bagi suku bangsa Karo sendiri.angin. 2006.25 Km 2 . padi. Perekonomian Kabupaten Karo sebagian besar adalah sektor pertanian. Desa Surbakti yang pertaniannya kurang maju sebanyak 45 responden 4. Ginting. juga dilakukan metode library research ( riset kepustakaan ) yaitu pencarian referensi/bahan ± bahan dari buku ± buku jurnal.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. tanaman perkebunan dan peternakan 1. Tarigan dan Perangin . Medan mencakup orang ± orang yang diseleksi atas dasar kriteria tertentu yang dibuat peneliti berdasarkan tujuan penelitian ( Kriyantono. Desa Ndokum Siroga yang dianggap pertaniannya paling maju sebanyak 45 responden b. Sebelah Barat berbatasan dengan Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam ( NAD ) Kabupaten Karo terdiri dari 13 kecamatan yang dibagi menjadi 248 desa dan 10 kelurahan. Dua gunung berapi aktif terletak di wilayah ini.127. Merga Silima itu yakni : Karo ± Karo. Saat ini wilayah Kabupaten Karo sudah didiami oleh beragam suku bangsa. Teknik Analisis Data Sesuai dengan sifat dan tujuan dari penelitian ini. 154 ).dengan besar sampel 10% dari Populasi yaitu sebanyak 90 orang. dimana dari 40 desa yang ada di Kecamatan Simpang Empat ditentukan 2 ( dua ) desa yaitu : a. hasil ± hasil penelitian dan laman website yang berhubungan dengan materi penelitian ini. Sekitar 70 persen dari jumlah rumah tangga di Kabupaten ini berusaha disektor pertanian terutama bercocok tanam sayur ± sayuran. palawija. 5. dalam arti bahwa suku bangsa Indonesia lainnya dapat diterima menjadi suku bangsa Karo dengan beberapa persyaratan adat. Pusat pemerintahan Kabupaten Karo terletak di Kecamatan Kabanjahe yang berjarang sekitar 67 kilometer dari Medan Penduduk asli yang mendiami wilayah Kabupaten Karo disebut suku bangsa Karo. Gambaran Umum Lokasi Penelitian Letak geografis Kabupaten Karo berada diantara 2 0 50 0 ±3 0 19 0 Lintang Utara dan 97 0 55 0 ± 98 0 38 0 Bujur Timur dengan luas wilayah 2. 1 .dan akhirnya data lapangan yang telah diperoleh dikoding dan ditabulasi untuk memperoleh tendensi dengan persentase. Suku ini terdiri dari 5 ( lima ) marga. Kecamatan Simpang Empat 51 . tutur siwaluh dan rakut sitelu. H.400 meter diatas permukaan laut. Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Langkat dan Kabupaten Deliserdang b. Kabupaten Karo terletak pada jajaran Bukit Barisan dan sebagian bersar wilayahnya merupakan dataran tinggi. sehingga rawan terjadi gempa vulkanik. Adapun batas ± batas wilayah Kabupaten Karo adalah sebagai berikut : a.maka kriteria yang ditentukan adalah masyarakat yang betul-betul petani holtikultura. Sembiring.maka analisis penelitian dilakukan dengan metode pendekatan deskriptif kuantitatif didukung dengan data kualitatif yang diperoleh melalui wawancara mendalam.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang dan Kabupaten Simalungun d. Disamping itu untuk memperkaya data. Dalam pekembangannya. hortikultura.

namun hingga kini sektor pariwisata belum juga mampu menggantikan peran sektor pertanian yang telah begitu dominan. Dari hasil penelitian tentang Opini Publik Mengenai Peran Media Lokal Dalam Pembangunan Bidang Pertanian Hortikultura terlihat bahwa masyarakat Karo. Adapun mata pencaharian penduduknya terdiri dari 684 KK atau 94% adalah bertani dan sebanyak 41 KK atau 6 %nya bergerak disektor non pertanian.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika.003 jiwa laki ± laki dan 1. Dengan kata lain mayoritas Pendapatan Asli Daerah ( PAD ) yang dihasilkan dari sektor pertanian yang menghasilkan produk ± produk pertanian berbasis agrobisnis. dimana pada tabel dibawah ini terlihat bahwa media cetak lokal tersebut dianggap sangat penting bagi masyarakat dan tidak dapat dipisahkan dari masyarakat petani dalam memperoleh upaya informasi. Pembahasan Hasil Penelitian Kabupaten Karo adalah salah satu kabupaten yang ada di Propinsi Sumatera Utar a yang mengandalkan pendapatan masyarakatnya dari sektor pertanian.47Km 2 yang terdiri dari 40 desa. Begitu dominannya sektor pertanian yang dikelola daerah ini sehingga sampai saat ini kontribusi yang diberikan atas pembentukan produk domestik regional bruto ( PDRB ) hingga mencapai 60 persen. buah ± buah dan juga bunga ± bungaan.57 Km 2 dengan jumlah penduduk 2. Salah satu diantaranya adalah upaya untuk terus memelihara pasar regional dengan mengundang pengusaha ± pengusaha dari Singapore dan Malaysia yang tergabung dalam Agri-Food And Veterinery Autority Of Singapore ( AVA ). Kecamatan Simpang Empat telah dimekarkan menjadi 3 ( tiga ) kecamatan 2. Berbagai upaya terus dilakukan untuk tetap mempertahankan dan sekaligus meningkatkan pendapatan dari sektor pertanian ini. khususnya di lokasi yang dijadikan sebagai responden dalam penelitian ini masih menggunakan media massa cetak khusus media cetak lokal sebagai sumber informasi pembangunan Bidang Pertanian Hortikultura.070 jiwa laki ± laki. 160 orang SLTP sederajat. 160 jiwa SLTA sederajat dan 52 jiwa tingkat perguruan tinggi. Asumsi ini terlihat seperti yang tertera dalam tabel penulisan laporan ini. Hasil Penelitian.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Jumlah penduduk 39. luas daerah Desa Surbakti adalah 9. Sementara tingkat pendidikan di Desa Ndokum Siroga adalah : 45 orang tidak bersekolah. Luas Desa Ndokum Siroga adalah 2. J. 85 orang SLTA sederajat dan 43 orang pernah ditingkat perguruan tinggi.167 jiwa dimana perbandingannya 1. 1 . terdiri dari 2 ( dua ) dusun. Sejak Januari 2007. Jarak dari kabupaten 7 kilometer.966 jiwa dan 10.97 Km 2 . Desa Ndokum Siroga Nama Kepala Desa : Supratman Surbakti.164 jiwa perempuan yang terdiri dari 689 KK. 90 jiwa tamat SD sederajat. Adapun mata pencaharian penduduk terdiri dari 491 KK ( 94% ) bertani dan sebanyak 31KK ( 6% ) adalah non tani. Medan Luas wilayah Kecamatan Simpang Empat adalah seluas 225. Memang ada sektor pariwisata yang juga menjadi andalan bagi Pemerintah Kabupaten Karo. dengan perbandingan jenis kelamin 890 jiwa perempuan dan 2. jumlah penduduk 1. Desa Ndokum Siroga adalah ibukota dari Kecamatan Simpang Empat. 170 jiwa tamat SLTP sederajat. I. 60 orang SD sederajat. terdiri dari 5 ( lima ) dusun.834 rumahtangga ( RT ).969 jiwa yang terdiri dari 522 KK. 3. Sementara tingkat pendidikan di Desa Surbakti adalah 112 jiwa tidak bersekolah. Media cetak juga dianggap sebagai salah satu faktor dalam mempercepat proses tranfusi informasi pembangunan khususnya bidang pertanian hortikultura. Produk ± produk andalan pertanian Kabupaten Karo ini adalah bermacam sayuran. Kedatangan para pengusaha Singapore ini ke Sumatera Utara 52 . Desa Surbakti Nama Kepala Desa : Jasa Surbakti.

Solusi cerdas yang dipilih masyarakat petani dalam mencari informasi terbaru adalah melalui media massa yang ada di daerah. Penggunaan teknologi tinggi didalam meningkatkan produksi pertanian juga perlu diketahui. Medan bertujuan untuk melihat secara langsung proses produksi sayur ± sayuran langsung ke tempat produksi sekaligus sebagai upaya penjajakan atas peningkatan kerjasama yang telah ada selama ini terkait dengan pemenuhan kebutuhan sayur ± sayuran di negeri Singapur tersebut. serta langkah ± langkah strategis lain yang pada intinya adalah bagaimana melaksanakan kegiatan pertanian yang efektif.2 Total 5 100 45 100 45 100 45 100 45 100 Media Sering F % F % F % F % F % 16 35.7 17 37. Jenis tanaman yang akhir ± akhir ini sangat populer karena produk organik ini terhindar dari bahan ± bahan kimia yang tidak bagus buat kesehatan. Australia dan Indonesia.2 18 40. 1 . Malaysia.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika.4 12 26. China. cerdas dan mempunyai output yang besar. Berbagai upaya dilakukan para petani didalam meningkatkan pengetahuannya dalam mengolah pertanian.8 Jarang 19 42.6 6 13. Pemerintah Kabupaten Karo harus tetap konsisten didalam pengembangan kegiatan agrobisnis tersebut. Namun upaya untuk mencari sendiri informasi tambahan yang paling terbaru juga perlu dilakukan. Salah satu kesempatan yang harus dimanfaatkan para petani di Kabupaten Karo dewasa ini adalah didalam membudidayakan tanaman ± tanam bersifat organik.9 26 57.7 22 48.1 23 51.1 7 15. termasuk didalamnya peluang bisnis pemasaran serta proses pasca panennya.4 10 22.2 Sibayak Pos Sora Mido Sora Sirulo Info Karo Karo Memba ngun Tidak Pernah 20 44.7 7 15.2 Total 45 100 45 100 45 100 45 100 Media cetak juga dianggap sebagai salah satu faktor dalam mempercepat proses tranfusi informasi pembangunan khususnya bidang pertanian hortikultura.3 9 20.4 23 51.1 28 62.6 11 24.0 11 24.8 19 42. utamanya media massa lokal. Jepang.2 10 22.2 21 46. Dan tentu saja kondisi tersebut merupakan peluang yang harus dimanfaatkan semaksimal mungkin. dimana pada tabel dibawah ini terlihat bahwa media cetak lokal tersebut dianggap sangat penting bagi masyarakat dan tidak dapat dipisahkan dari masyarakat petani dalam memperoleh upaya informasi. Keberadaan sumber daya manusia dalam hal ini petani juga harus selalu mengup-grade pengetahuannya didalam hal pengolahan pertanian untuk meningkatkan produksi.0 4 31. 53 . yang pada akhirnya berimbas kepada peningkatan kesejahteraan petani tersebut. Pemerintah Kabupaten Karo sendiri melalui Dinas Pertanian setempat selalu mengirimkan petugas ± petugas penyuluh pertanian untuk membimbing para petani didalam melakukan aktivitas pertanian.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Media Sibayak Pos Sora Mido Sora Sirulo Info Karo Karo Memba ngun Tabel 1 Frekuensi Membaca Media Cetak Lokal Desa Ndokum Siroga Desa Surbakti Sering F % F % F % F % F % 16 35. dan jenis organik seperti ini sangat digemari oleh konsumen di negara ± negara Singapore dan Malaysia.6 Jarang 9 20.0 12 26. Informasi seperti inilah yang sangat diperlukan oleh masyarakat petani.6 9 20 Tdk Pernah 10 22. 95 persen pasokan sayur dan buah berasal dari negara negara seperti Thailand. karena inovasi ± inovasi yang terus berkembang terkadang tidak didapatkan dari sumber informasi seperti penyuluh pertanian. Sebagaimana kita ketahui Negara Singapore sangat mengandalkan pasokan sayur dan buah untuk dikonsumsi dari negara ± negara tetangganya.

2 %.6 100 F 18 27 45 Surbakti % 40.8% responden didesa Surbakti menjawab media tersebut sangat berpengaruh terhadap responden karena dari medialah petani mengetahui informasi pertanian sehingga hasil pertanian mereka meningkat .JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.9% responden di desa Ndokum Siroga menjawab berpengaruh. terlihat bahwa responden di Desa Ndokum Siroga dengan persentase sebesar 44. media lokallah yang paling tahu kebutuhan para petani . namun 68. sedangkan untuk pertanyaan yang sama di Desa Surbakti persentasenya sebesar 40%. bahkan 22.0 100 Pada tingkat kepentingan responden terhadap media cetak lokal dalam membantu usaha pertanian. Medan Tabel 2 Tingkat Kepentingan Media Cetak Dalam Membantu Usaha Pertanian Tingkat Kepentingan Media Cetak Sangat Tidak Desa Penting Total penting penting F 20 25 45 Ndokum Siroga % 44. 1 .April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Tabel 3 Pengaruh Membaca Media Cetak Terhadap Responden Pengaruh Membaca Media Cetak Tidak Sangat Desa Berpengaruh Berpengaru Total Berpengaruh h F 14 31 45 Ndokum Siroga % 31.9 100 F 17 28 45 Surbakti % 37. sedangkan di Desa Ndokum Siroga 31.2 77.1 % responden yang menjawab sangat berpengaruh.0 60.4 55.2% responden pada masing ± masing 54 . Tidak ada responden yang menjawab tidak penting untuk materi pertanyaan ini.8 62.4% menganggap media cetak lokal sangat penting dalam membantu usaha pertanian mereka karena selain kurangnya keberagaman pilihan media yang ada.8%. juga tentang pemasaran hasil pertanian. Tabel 4 Pengaruh Media Cetak Terhadap Perubahan Nyata Pengaruh Terhadap Perubahan Nyata Desa Sangat positif Positif Kurang positif Ndokum Siroga Total F 10 35 45 % 22. dimana 37.2 77. terlihat sesuatu yang unik.1 68.6% didesa Ndokum Siroga dan 27% di Desa Surbakti.8 100 F 10 35 45 Surbakti % 22. dimana masing masing responden di dua desa tersebut menjawab bahwa media cetak memberikan perubahan yang positif bagi responden karena dengan persentase 77.8 100 Untuk materi pertanyaan tentang pengaruh media cetak terhadap perubahan nyata responden didua desa tersebut.2 100 Anggapan bahwa media cetak berpengaruh terhadap responden terlihat seperti tabel diatas. responden lainnya menjawab penting sebesar 55. sedangkan di Desa Surbakti yang memberi jawaban berpengaruh adalah sebesar 62.

4 8 17. dan 16. sedangkan didesa Ndokum Siroga sebesar 66. terutama didesa Surbakti antusias masyarakat tentang media lokal masih tinggi. Medan desa menjawab bahwa pengaruh media cetak terhadap perubahan yang nyata menjawab sangat positif Tabel 5 Dampak Media Cetak Terhadap Peningkatan Hasil Pertanian Dampak Terhadap Peningkatan Hasil Pertanian Desa Sering Kadang-kadang Tidak ada Total Ndokum Siroga Surbakti F % F % 13 28. namun ada juga yang kurang setuju dengan hal tersebut. Ini mungkin disebabkan masih 55 .7 36 80. 80% responden di Desa Surbakti menjawab bahwa media cetak hanya kadang ± kadang memberi peningkatan terhadap hasil pertanian.8 8 17.6% di Desa Surbakti. dimana 28.9 7 16. Masyarakat Kabupaten Karo ternyata masih memanfaatkan media cetak lokal sebagai sumber informasi pembangunan bidang pertanian hortikultura. Namun responden yang menjawab bahwa informasi media cetak tersebut sering memberi peningkatan hasil pertanian juga ada.8% responden di desa Surbakti memberi jawaban senada.6 30 66. tepatnya didesa Ndokum Siroga dan desa Surbakti adalah sebagai berikut : 1. terlihat bahwa media cetak tidak selalu memberikan peningkatan terhadap hasil pertanian.4 2 4. bahkan masing ± masing responden didua desa tersebut ada yang tidak setuju dengan pernyataan tersebut dengan nilai 17.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.4% responden di masing ± masing desa menjawab tidak ada dampak media cetak terhadap peningkatan hasil pertanian Tabel 6 Media Massa Dimaksud Adalah Media Cetak Lokal Desa Media tersebut adalah media cetak lokal Setuju Kurang setuju Tidak setuju Total Ndokum Siroga Surbakti F % F % 26 57. 1 . bahkan ada 4.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. dimana 24.8 8 17.4 45 100 45 100 Dari tabel diatas.8 45 100 45 100 Dari mayoritas media massa sebagai sumber informasi pembangunan .4% responden di desa Surbakti menjawab bahwa media dimaksud adalah media cetak lokal. 64.8% responden di desa Ndokum Siroga memberi jawaban senada. 57.7%.4 11 24.4% responden di desa Ndokum Siroga tidak setuju dengan jawaban tersebut dan 17.8 29 64.9% responden di Desa Ndokum Siroga.0 2 4.8% KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Beberapa point penting yang didapat dari penelitian Opini Publik Mengenai Peran Media Lokal Dalam Pembangunan Bidang Pertanian Hortikultura yang dilakukan oleh Tim BPPI Wilayah I Medan di Kabupaten Karo. Kecamatan Simpang Empat.

1984. Jalaluddin. Werner dan Tankard James. Daftar Pustaka Effendy. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta Kriyanto. apalagi mengingat bahwa Sumatera Utara termasuk daerah potensial bagi pengembangan tanaman hortikultura. 2006. Alumni Bandung Hardiman. serta mengawasi/menghilangkan peredaran pupuk dan obat ± obatan palsu yang belakangan ini beredar dikalangan masyarakat petani c. Walter. Jalaluddin. Psikologi Komunikasi. Saran a. 2006. juga masih belum mencukupinya isi berita tentang peluang pasar domestik maupun luar ne geri. Metode dan Terapan Didalam Media Massa. Namun antusiasme ini terkendala oleh media cetak lokal yang masih sulit didapat didesa ± desa terutama desa yang masuk kepedalaman. Rusdakarya. Teori Komunikasi Massa Suatu Pengantar. dan bila memungkinkan program koran masuk desa dihidupkan kembali . apalagi masyarakat petani masih merasakan kurangnya informasi tentang pasar produk pertanian dan informasi tentang budidaya pertanian hortikultura. Onong. Jakarta McQuail. disamping itu dari sisi pangsa pasar wilayah ini berdekatan dengan Singapura dan Malaysia yang membutuhkan hasil pertanian dari Sumatera Utara b.. Paramita. Denis. Ima. 1 . Apalagi petani juga masih belum merasa cukup tentang informasi pertanian dari penyuluh pertanian yang belum rutin dan intens didesa Surbakti 3. Sirkulasi media lokal lebih ditingkatkan baik dari segi mutu (kuantitas dan kualitas). Yayasan Pena.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Leksikon Komunikasi. 2004. Pemerintah Daerah harus berupaya dengan segala cara dan lebih maksimal untuk mengontrol keberadaan dan harga pupuk dan obat±obatan yang dibutuhkan masyarakat dalam kegiatan pertaniannya. Jakarta Rakhmat. Ternyata keberadaan media massa cetak masih sangat diharapkan oleh masyarakat dapat mendorong suksesnya pembangunan bidang pertanian hortikultura. Disamping itu sirkulasi atau keterlambatan terbit media lokal juga menjadi kendala informasi pembangunan bidang pertanian hortikultura melalui media massa. karena media lokal umumnya terbit per satu bulan sekali. Bandung Severin. 1981. 1994. Rachmat. 1998. Prenada Media. Kendala yang dihadapi masyarakat tentang pembangunan bidang pertanian hortikultura melalui media massa adalah kurangnya informasi pertanian hortikultura. Bandung Rakhmat. Remaja Rosdakarya. Metode Penelitian Komunikasi . Hasan. Perlu adanya penanganan pengelolaan hasil pasca panen e. 2005. Jakarta Lippmann. Kencana Prenada Media Grup. Pemerintah agar lebih memperhatikan nasib petani hortikultura di Kabupaten Karo. Pradya. Jakarta Su¶ud. Pengantar Ilmu Pertanian. 400 Istilah PR Media & Periklanan. Teori Komunikasi: Sejarah. Dimensi ± Dimensi Komunikasi. Banda Aceh 56 . Medan kurang beragamnya pilihan media yang ada di desa tersebut. dan telah menembus pangsa pasar dunia d. Opini Umum. Pemerintah Daerah diharapkan untuk mengembalikan ikon Tanah Karo dengan kembali membudidayakan jeruk yang selama ini dikenal sebagai primadona daerah ini. dimana isi koran tersebut diharapkan memiliki muatan lokal yang memuat informasi mengenai tata cara dan budaya pengelolaan tanaman hortikultura secara tepat dan efisien. Gagas Ulung. Dan peran inilah yang diharapkan masyarakat dapat ditangkap dan diisi oleh media massa lokal. 1998. 2007. Jakarta. dibandingkan dengan desa Ndokum Siroga yang ada di pusat kecamatan.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Erlangga. 2. Teknik Prakis Riset Komunikasi.

suarapembaruan.com/new/2006/06/21/editor/edi07.html http://www. Perikanan dan Perkebunan Kabupaten Karo Rencana Kerja Penyuluh Pertanian. 2008. 1 .uns. Dinas Pertanian.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Peternakan.ac.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. 2007. 2006.org/opini-mastur-yahya.html www.id/~agronomi/dashor.pertanian. Medan Sumber lain http://www. Ikhtisar Eksekutif Pembangunan Kabupaten Karo.rehabrekon buyadong. Simpang Empat 57 .acehinstitute. Karo Program Pembangunan Pertanian Kecamatan Simpang Empat.htm. BPS.

Sebagai sebuah proses. Pengaruh globalisasi dirasakan di berbagai bidang kehidupan seperti kehidupan politik.bangsa di seluruh dunia. Teknologi Informasi. Hal ini disebabkan masih banyak masyarakat yang kurang mengerti dan memahami pentingnya Tekno logi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. Dimensi ruang yang dapat diartikan jarak semakin dekat atau dipersempit sedangkan waktu makin dipersingkat dalam interaksi dan komunikasi pada skala dunia. 2005). fasilitas yang digunakan baik dari segi kualitas maupun kuantitas kurang mampu mendukung pemanfaatan Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar serta sikap dan perilaku masyarakat dalam memahami pemanfaatan globalisasi Teknologi Informasi kurang optimal. kemudian ditawarkan untuk diikuti oleh bangsa lain yang akhirnya sampai pada suatu titik kesepakatan bersama dan menjadi pedoman bersama bagi bangsa. Medan ANALISIS FAKTOR PENDUKUNG PEMANFAATAN GLOBALISASI TEKNOLOGI INFORMASI DALAM PENGEMBANGAN KEBUDAYAAN DI KOTA MAKASSAR RUKMAN PALA ABSTRAK Tulisan ini berjudul analisis faktor pendukung pemanfaatan globalisasi teknologi informasi dalam pengembangan kebudayaan di kota makassar. yaitu kemampuan pemerintah dan kemampuan masyarakat kurang mampu memberikan dukungan terhadap pemanfaatan globalisasi Teknologi Informasi dalam perkembangan kebudayaan di kota Makassar. Hal ini dilihat dari beberapa faktor pendukung yang kurang terlaksana dengan baik. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey sampel dengan wawancara dan kuesioner serta dilengkapi dengan observasi sebagai teknik pengumpulan data. globalisasi pada hakikatnya adalah suatu proses dari gagasan yang dimunculkan. sosial budaya. Tujuan penulisan penelitian adalah untuk mengetahui sejauhmana faktor pendukung pemanfaatan globalisasi Teknologi Informasi terhadap perkembangan kebudayaan di kota Makassar. globalisasi berlangsung melalui dua dimensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan globalisasi Teknologi Informasi terhadap perkembangan kebudayaan di kota Makassar kurang optimal.Khususnya kemampuan masyarakat dalam memahami pentingnya pemanfaatan Teknologi Informasi. yaitu dimensi ruang dan dimensi waktu. pertahanan keamanan dan lain-lain yang akan mempengaruhi nilainilai nasionalisme bangsa. dalam interaksi antar bangsa. Jamli dkk. Kebudayaan PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Kehadiran globalisasi membawa pengaruh bagi kehidupan suatu bangsa. Dengan kata lain proses globalisasi akan berdampak melampaui batas -batas kebangsaan dan kenegaraan.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. ideologi. Kewarganegaraan. Jamli (Edison A. 1 . Menurut Edison A. Kata Kunci : Globalisasi. ekonomi. Hal ini tentunya tidak terlepas dari dukungan pesatnya laju 58 . Secara umum globalisasi dapat dikatakan suatu proses tatanan masyarakat yang mendunia dan tidak mengenal batas wilayah.

1 . dan masih banyak lagi. dan efek negatif dapat lebih diminimalkan.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. dapat disebarluaskan dengan mudah sehingga dapat dengan cepat mempengaruhi cara pandang dan gaya hidup hingga budaya suatu bangsa. keindahan. kebijaksanaan. Seperti kita ketahui budaya masyarakat Kota Makassar begitu beragam dan perlu dilestarikan sehingga dapat tetap bertahan dan memberikan devisa bagi Kota Makassar khususnya. kemanusiaan. karena kehadiran surat elektronis (email). Untuk memberikan data dan informasi tersebut. dll ) yang berpengaruh sebagai kerangka untuk membentuk pandangan hidup manusia yang relatif menetap dan dapat dilihat dari pilihan warga budaya itu untuk menentukan sikapnya terhadap berbagai gejala dan peristiwa kehidupan. Makin canggih dukungan teknologi tersebut. Dengan banyaknya produk luar negeri dan ditambahnya harga yang relatif lebih murah dapat mengurangi rasa kecintaan masyarakat terhadap prod dalam negeri. Budaya atau kebudayaan adalah kerangka acuan perilaku bagi masyarakat pendukungnya yang berupa nilai-nilai (kebenaran. informasi dalam bentuk apapun dan untuk berbagai kepentingan. bahkan untuk mengatasi berbagai persoalan pelik yang timbul di masyarakat. misalnya dari globalisasi aspek ekonomi. TIK tidak hanya membantu dan mempermudah manusia tetapi juga menawarkan cara-cara baru di dalam melakukan aktivitas-aktivitas tersebut sehingga dapat mempengaruhi budaya masyarakat yang sudah tertanam sebelumnya. baik pada saat manusia bekerja. keadilan. uk Dengan hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri menunjukan gejala berkurangnya rasa nasionalisme masyarakat kita terhadap bangsa Indonesia. ketelitian hasil perhitungan dapat ditingkatkan dengan adanya komputasi numeris. sejak dulu hingga sekarang ditujukan untuk membantu dan memberikan kemudahan dalam berbagai aspek kehidupan. Seyogyanya. akurasi dan kemudahan yang memberikan efisiensi dalam berbagai bidang khususnya dalam masalah waktu. tenaga dan biaya. Pemanfaatan Teknologi Informasi untuk memberikan data dan informasi tentang perkembangan kebudayaan di Kota Makssar. Sedangkan pengaruh negatif yang bisa muncul karena adanya TIK. pengelolaan data dalam jumlah besar juga bisa dilakukan dengan mudah yaitu dengan basis data (database). berkomunikasi. Pada hakikatnya teknologi diciptakan. Demikian halnya perkembangan kebudayaan di Kota Makassar juga ikut berpengaruh terhadap perkembangan globalisasi Teknologi Informasi. makin besar pula arus informasi dapat dialirkan dengan jangkauan dan dampak global. maka perlunya ditunjang oleh 59 . Kecepatan arus informasi yang dengan cepat membanjiri kita seolah-olah tidak memberikan kesempatan kepada kita untuk menyerapnya dengan filter mental dan sikap kritis. Teknologi informasi dan komunikasi (TIK) adalah pendukung utama bagi terselenggaranya globalisasi. masyarakat harus selektif dan bersikap kritis terhadap TIK yang berkembang sangat pesat. Oleh karena itu selama ini dikenal asas ³kebebasan arus informasi´ berupa proses dua arah yang cukup berimbang yang dapat saling memberikan pengaruh satu sama lain. pengaruh globalisasi dengan dukungan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) meliputi dua sisi yaitu pengaruh positif dan pengaruh negatif. Jadi bagaimana TIK dapat mempengaruhi nilai-nilai yang telah tumbuh di masyarakat dalam suatu bangsa itu sangat tergantung dari sikap masyarakat tersebut. Medan perkembangan teknologi yang semakin canggih khususnya teknologi informasi dan komunikasi (TIK). terbukanya pasar bebas memungkinkan produk luar negeri masuk dengan mudahnya. Dengan dukungan teknologi informasi dan komunikasi. Namun perlu diingat.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Pengaruh positif yang dapat dirasakan dengan adanya TIK adalah peningkatan kecepatan. sehingga semua manfaat positif yang terkandung di dalam TIK mampu dimanifestasikan agar mampu membantu dan mempermudah kehidupan masyarakat. Sebagai contoh manifestasi TIK yang mudah dilihat di sekitar kita adalah pengiriman surat hanya memerlukan waktu singkat. ketepatan.

2001 : 57). 1 . juga sangat membantu untuk mendapatkan data yang obyektif dan valid dalam rangka memahami. didapat dari responden. peneliti menggunakan metode survey yang lebih menekankan pada jenis penelitian deksriptif kuantitatif dimana metode ini sangat relevan dengan topik yang akan diteliti. maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : Bagaimanaka faktor pendukung pemanfaatan globalisasi Teknologi Informasi terhadap perkembangan kebudayaan di Kota Makassar ? Tujuan Penulisan Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui sejauhmana faktor pendukung pemanfaatan globalisasi Teknologi Informasi terhadap perkembangan kebudayaan di Kota Makassar Metode Penelitian Dalam penelitian ini. Teknik penarikan sampel yang digunakan adalah teknik aksidental. Teknik aksidental ini adalah mereka yang ditemui dan memahami pemanfaatan globalisasi Teknologi Informasi terhadap perkembangan kebudayaan di Kota Makassar yang dapat diberikan pertanyaan. yang dapat ditempuh dengan cara membandingkan data dari responden dengan informan yang . Namun permasalahan yang muncul adalah pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi terhada perkembangan budaya Makassar belum terlaksana secara optimal sehingga memerlukan peran serta pemerintah dan masyarakat memanfaatkan globalisasi Teknologi Informasi tersebut. telaah dokumen serta observasi akan diolah dengan menggunakan sistem tabulasi data dengan memakai analisis frekuensi. Selanjutnya dengan kuesioner guna mendapatkan data yang akurat dan obyektif terhadap permasalahan yang diteliti.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. dan sikap dan perilaku masyarakat terhadap pemanfaatan Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. memecahkan. sarana atau fasilitas yang digunakan dalam mendukung pemanfaatan Teknologi Informasi tersebut. dari sejumlah informan akan bermanfaat guna mewujudkan validitas data secara keseluruhan. Faktorfaktor tersebut seperti kemampuan pemerintah dan masyarakat dalam mendukung dan memahami Teknologi Informasi yang digunakan.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Pada penelitian ini yang menjadi populasi adalah masyarakat dan mereka yang memahami tentang pemanfaatan Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiono. Data mentah yang terkumpul dari hasil jawaban responden maupun yang didapat dari hasil wawancara. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian di atas. Medan beberapa faktor dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Mak assar. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Wawancara. Dengan rumus sebagai berikut : 60 . Oleh karena itu sampel dalam penelitian ini adalah masyarakat yang memahami pemanfaatan Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. serta mengupayakan pemecahan masalah tentang analisis faktor pendukung pemanfaatan globalisasi teknologi informasi terhadap perkembangan kebudayaan di Kota Makassar.

Cara lain ialah memperbandingkan berbagai definisi yang dapat dipandang terkemuka dalam literatur. yaitu. tiap teori bisa saja memiliki keunggulan 61 . Kita dapat mencari jawaban berdasarkan etimologi.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. maka globalisasi sebagai proses juga menggejala sebagai peristiwa yang melanda dunia secara lintas-budaya (trans-cultural). tapi keunggulan suatu teori berkenaan dengan sesuatu gej ala budaya tidak selalu bearti keunggulan teori itu secara menyeluruh. dan makin mengaburkan implikasi dan komplikasi makna yang terkandung di dalamnya. TINJAUAN PUSTAKA Pengertian Globalisasi Kata µglobalisasi¶ makin lama makin menjadi sajian sehari-hari melalui berbagai pemyataan publik dan liputan media massa. maksudnya data yang ada diangkakan kemudian dideskripsikan. dengan kemungkinan satu fihak lebih besar pengaruhnya ketimbang fihak lainnya. Menurut Aditya (2004 : 11) globalisasi pada hakikatnya adalah proses yang ditimbulkan oleh sesuatu kegiatan atau prakarsa yang dampaknya bekelanjutan melampaui batasbatas kebangsaan (nation-hood) dan kenegaraan (state-hood). Dalam gerak lintas-budaya mi terjadi berbagai pertemuan antar-budaya (cultural encounters) yang sekaligus mewujudkan proses saling-pengaruh antar-budaya. (Sudarmajid. dan kalau semuanya itu kita perhatikan secara saksama. Apakah yang kita maksudkan dengan µbudaya¶ atau µkebudayaan¶ itu? Untuk memberikan jawaban atas pertanyaan mi banyak cara dapat ditempuh. Kelatahan dalam penggunaan kata µglobalisasi¶ sedemikian itu akhimya mengesankan kesembarangan arti kata globalisasi. cara mi jelas dapat memperkaya wawasan kita tentang kebudayaan. melainkan bolehjadi juga terjadi sebagai proses imposisi budaya yang satu terhadap lainnya.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Pernyataan seperti ³dalam era globalisasi dewasa mi´ berarti bahwa kita telah berada dalam era globalisasi. cara mi akan membutuhkan uraian panjang lebar karena biasanya perlu diperjelas dengan tafsiran konseptual dan kontekstual. Pertemuan antar-budaya memang menggej ala sebagai keterbukaan (exposure) fihak yang satu terhadap lainnya. terpaan budaya yang satu berpengaruh dominan terhadap budaya lainnya. 2003 : 23). lain lagi halnya kandungan pernyataan ³menjelang era globalisasi´ yang berarti kita belum berada dalam era tersebut. 1 . dan mengingat bahwa jagad kemanusiaan ditandai oleh pluralisme budaya. Mungkin juga kita lakukan pendekatan komparatif antara suatu teori dengan lainnya. namun pengaruh-mempengaruhi dalarn pertemuan antar-budaya itu tidak selalu berlangsung sebagai proses dua-arah atau timbal-balik yang berimbang. maka akan ternyata betapa kata µglobalisasi¶ itu cenderung dilontarkan tanpa terlalu dihiraukan apa maknanya. Medan F P = --------------------. cara mi mungkin menarik secara akademik namun mungkin terlalu steril untuk diturunkan sebagai medium analisis dalam terapan empirikal.x 100 % N Keterangan : P = Persentase F = Jawaban responden N= Jumlah responden Analisis Data Data yang diperoleh dalam penelitian ini akan diolah dengan menggunakan teknik analisis deskriptif kuantitatif yang dikualitatifkan.

dan begitu seterusnya. tolokukur itu baru menjelma melalui norma-norma sebagai pengatur kepantasan perllaku. persepi terhadap nilai-nilai itu masih besifat umum. Norma (nomos) adalah tolokukur yang memungkinkan terjadinya konformisme perilaku dalam sesuatu masyarakat. sedangkan peradaban adalah penjabaran nilai nilai tersebut melalui diwujudkannya norma-norma yang selanjutnya dijadikan tolokukur bagi kepantasan perilaku warga masyarakat ybs. sehingga kebudayaan yang lama kehilangan dayanya sebagai acuan untuk menjabarkan norma-norma perllaku. µburuk¶. dsb).JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Terjalinnya kesadaran transendensi dan immanensi inilah yang menjadikan dinamika sejarah kemanusiaan sebagai kaleidoskop perkembangan kebudayaan dan peradaban. Medan dalam satu dan lain hal. Nilai-nilai itu pada sendirinya barn merupakan acuan dasar yang keberlakuannya disadarkan melalui ikhtiar pendidikan sejak dini. Misalnya. Adanya tolokukur normatif mi menjadi dasar bagm berkembangnya peradaban (civilization) sebagai bagian dan dinamika budaya tertentu. bahwa kebudayaan adalah kerangka acuan perilaku bagi masyarakat pendukungnya berupa nilai-nilai (kebenaran. Kesemuanya mi sekaligus menunjukkan bahwa kebudayaan adalah suatu pengejawantahan yang hidup selama ada masyarakat pendukungnya. sehingga konvergensi antar-teori mungkin saja digunakan dalam usaha memahami berbagai manifestasi budaya. keadilan. nilai kesusllaan dinyatakan melalui berbagai tatakrama. Singkatnya. bahwa timbultenggelamnya kebudayaan sangat dipengaruhi oleh apa yang tenjadi dalam pertemuan 62 . nilai keindahan dijabarkan melalui berbagai norma artistik. seperti misalnya usaha pengenalan dan penyadaran tentang apa yang µbaik¶.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. dsb dalam tindak-tanduk seseorang. Pasang-surutnya kebudayaan sepanjang sejarah kemanusiaan nyata sekali ditentukan oleh sejaubmana kebudayaan itu masih berlanjut sebagai kerangka acuan untuk dijabarkan melalui sesuatu tatanan normatif. penjabaran nilai kebudayaan menjadi norma peradaban dapat dipandang sebagai pengalihan dan sesuatu yang transenden menjadi sesuatu yang immanen.(Kariadi. dan dengan demikian tersedia pula ukuran untuk nonkonformisme. belum lagi antara keduanya diperbedakan dalam perbandingan µseberapa balk¶ atau µseberapa buruk¶ dipandang dan tolokukur tertentu. µdosa¶. kebajikan. 2002) Dalam sejarah kemanusiaan banyak contoh yang menunjukkan. nilai religius diungkapkan melalui berbagai norma agama. Tapi juga dalam era kontemporer mi suatu kebudayaan sebagai sistem nilai dapat dengan suatu rekayasa didesak oleh sistem nilai barn. maka tidak terlalu keliru kiranya kalau kita mengartikan kebudayaan sebagai sehimpunan nilai-nilai yang oleh masyarakat pendukungnya dijadikan acuan bagi perilaku warganya. Nilai-nilai itu juga berpengaruh sebagai kerangka untuk membentuk pandangan hidup yang kemudian relatif menetap dan tampil melalui pilihan warga budaya itu untuk menentukan sikapnya terhadap berbagai gejala dan peristiwa kehidupan. ketika Kemal Attaturk melancarkan gerakan modernisasi (yang diartikan sebagai µwestemisasi¶). Dan uraian di atas mi dapat disimpulkan. Perhatikan pula perubahan yang terjadi di Turki. batas antara apa yang dinilai sebagai kebajikan (good) atau kejahatan (evil) berlaku dalam garis besar yang memisahkan satu dan lainnya. Perhatikan misalnya ³Revolusi Kebudayaan´ yang secara berencana dilancarkan di Republik Rakyat Cina pada pertengahan tahun 6Oan. Nilai keadilan diwujudkan melalui hukum dan sistem peradilan. µindah¶. Sebagai sumber acuan. hal mi berlaku balk bagi kebudayaan yang surut oleh perubahan zaman maupun yang kehadirannya dipaksakan untuk mendesak kebudayaan lama. 1 . keindahan. Kalau kita sarikan muatan berbagai definisi yang terkemuka. kebudayaan Pharaonic yang benlaku dalam masyarakat Mesir kuno surut seiring dengan klan memudarnya kebudayaan itu sebagai sumber acuan untuk penjabaran norma-norma perilaku bagi masyarakat Mesir sekarang. kemanusiaan. perubahan serupa pun teijadi tatkala Partai Komunis Rusia berhasil menggulingkan kekaisaran di Rusia dan memperkenalkan nilai-nllai barn sebagai acuan bagi norma perllaku barn yang ideal bagi suatu masyarakat komunis.

Justru plunisentrisme dan multipolaritas menjadi cmi dunia menjelang akhir abad ke-20 dan memasuki abad ke-2 1. Dalam perkembangan sedemikian itu dirasakan makin dipenlukan nya suatu tatanan dunia baru yang perwujudannya memperhatikan plurisentrisme dan multipolanitas sebagai 63 . Medan antarbudaya. 1 . Kecenderungan meniru itu dalam kelanjutannya bisa terpantul melalui berkembangnya gayahidup (ljfestyle) barn yang dianggap superior dibandingkan dengan gayahidup lama. satu daya dengan kecenderungan preservatif dan satunya lagi dengan kecenderungan progresif. melainkan terjadi dengan ketenlibatan sejumlah fihak secara segera (instantaneous) serta serempak (simultaneous).JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. usainya Perang Dingin tidak menjadikan dunia kita monosentnik. 2003) Karena perhatian akan kita pusatkan pada persoalan pertemuan antarbudaya dalam era globalisasi. yaitu dimensi ruang (space) dan waktu (time). Kebudayaan adalah suat daya yang u sekaligus tersimpan (latent) dan nyata (actual). Ruang/jarak makin diperdekat dan waktu makin dipersingkat dalam interaksi dan komunikasi pada skala mondial. Dalam kaitan mi pertemuan antarbudayajangan terutama digambarkan sebagai pertemuan antara dua fihak belaka. Dalam kondisi demikian itulah pertemuan antarbudaya sangat berpengaruh atas perimbangan antara kedua daya tersebut. Berkembangnya gayaliidup baru itu dapat menimbulkan kondisi sosial yang ditandai oleh heteronomi. Dalam kondisi demikian itulah globalisme menjadi cara pandang dalam interaksi antarbangsa. Demikianlah kebudayaan mengandung dua daya sekaligus. makin kuat pula budaya asing yang menerpanya berpengaruh dominan terhadap masyarakat itu. Proses globalisasi yang diakibatkan oleh berbagai prakarsa dan kegiatan pada skala internasional sebagaimana menggej ala dewasa mi pun penlu kita cermati sejauhmana siginifikan pengaruhnya dalam pertemuan antar-budaya. Makin rendah derajat ketahanan budaya masyarakat pendukungnya. Tangguh atau rapuhnya ketahanan budaya biasanya dilatani oleh menurunnya kesadaran masyarakat yang bersangkutan terhadap kebudayaannya sebagai pengukuh jatidirinya. Antara kedua daya inilah tiap masyarakat pendukung kebudayaan tertentu berada. yaitu sebagai daya yang cenderung melestanikan dan daya yang cenderung berkembang atas kemekarannya sendiri. globalisasi benlangsung melalui dua dimensi dalam interaksi antarbangsa. maka ada baiknya kita bahas dahulu hal-ihwal yang berkenaan dengan globalisasi sebagai proses maupun globalisme sebagai carapandang yang dewasa mi cenderung dianut dalam tata-pergaulan intemasional. yaitu sejauh mana satu di antara fihak yang saling bertemu kurang atau tidak lagi memiliki ketahanan budaya (cultural resilience). Tidak ada kekuatan tunggal yang mutlak dan sanggup mengabaikan apalagi mengungguli. Sampai batas tertentu dan saling -pengaruh yang terjadi itu dapat terpantul seberapa tinggi derajat kesadaran dan tingkat ketahanan budaya masing-masing fihak yang saling bertemu. yaitu berlakunya herbagai norma acuan penilaku dalam masyarakat yang bersangkutan. Kendatipun dalam periode Perang Dingin kondisi bipolar seakanakan membelah-dua dunia mi dengan pengendalian dan dua pusat kekuatan dunia yang saling bertentangan. Budaya asing yang berpengarnh dominan terhadap satuan budaya asli bisa membangkitkan kesan sebagai µmodel¶ untuk ditiru.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Seantero jagad seolah-olah tertangkap dalam satu janingan besar tanpa adanya suatu pusat tunggal.kondisi global yang plurisentnik dan multipolar dalam era kontemporer. satu daya mempertahankannya agar lestani dan daya lainnya menariknya untuk maju. Sebagai proses. dan hal ml pada gllirannya mendorong berlangsungnya proses globalisasi yang terus berkembang atas kemekarannya sendiri. Kesanggupan sesuatu satuan budaya untuk mempertahankan kesejatiannya dalam pertemuan antar-budaya yang demikian majemuknya itu sangat ditentukan oleh tinggirendahnya derajat kesadaran budaya dan tanguhrapuhnya tingkat ketahanan budaya masyarakat pendukungnya.(Ekawati. Perubahan gayahidup yang ditiru dan budaya asing bisa berkelanjutan dengan timbulnya gejala keterasingan dan kebudayaan sendiri (cultural alienation).

banjir informasi melalui sistem dan pelembagaan yang didukung oleh teknologi canggih tidak dengan sendirinya mempenkaya wawasan kita. dan sebagaimana terjadi dengan setiap banj in. Kalau dewasa ml dianut asas µkebebasan arns informasi¶ (free flow of information). jarak makin diperdekat dan waktu makin dipersingkat. globalisasi dalam bidang ml sudah dijangkau oleh sistem dan pelembagaan yang makin dijadikan acuan dalam hubungan internasional. sedang kesiapan untuk ambilbagian dalam tatanan barn itu merupakan imperatif yang sukar dielakkan. Dalam naskah mi perhatian kita pusatkan pada penjelmaan globalisme dalam bidang yang jelas berdampak terhadap wawasan budaya kita. Kesegeraan dan keserampakan anus informasi yang dengan derasnya men erpa kita seolaholah tidak membenikan kesempatan pada kita untuk menyerapnya dengan filter mental dan sikap knitis. Ditenimanya suatu tatanan global barn mestinya dapat diandalkan pada tergalangnya konsensus maksimal di antara sege nap eksponen yang berperan dalam janingan itu. dan ditenima dengan alasan µmengikuti kecenderungafl global¶. Maka tidak mustahil kemajuan masyarakat yang diterpa cenderung diukur secara memperbandingkan dengan hal-ihwal yang dipenkenalkafl melalui informasi dan fihak yang menerpa. maka fmhak yang lebih unggul dalam menguasai teknologi informasi dan komunikasi niscaya lebih berkesanggupan untuk membiaskan pengaruhnya secara global. maka terjadilah banjir deras informasi (information glut) yang menghujani kita dan nyanis tak lagi terkendali. melainkan bisa juga mencemani kita secara mental. Dalam bidang informasi. Dengan dukung teknologi modem an infonmasi dalam berbagai bentuk dan untuk benbagai kepentingan dapat disebarluaskan begitu rnpa. Dewasa mi sistem dan pelembagaan termaksud tenutama nyata perkembangannya dalam bidang ekonomi dan perdagangan internasional. maka betapa pun paradoksal kedengarannya. maka yang sesungguhnya terjadi bukanlah µpertukanan informasi¶ (exchange of information) berupa proses dua-arah yang cukup bermmbang.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Rancangan demikian itu tentunya hams dapat ditenima oleh majonitas eksponen yang ambilbagian dalam janingan global yang plunisentrik dan multipolar. maka dalam hal mi pun terbawa limbah yang samasekali tidak berguna. Makin canggih dukungan tersebut makin besar pula anus informasi dapat dialirkan dengan jangkauan dan dampak global. Maka tidaklah mengherankan kalau banjir informasi itu akhirya juga bisa benpengaruh terhadap carapandang maupun gayahidup kita. suka-tak-suka. dominasi cendernng terjadi dan fihak yang memiliki dukungan teknologi lebih maju terhadap fihak yang lebih terbelakang. mau-tak-mau. Sikap yang naif mi antara lain juga ditandai oleh kecenderungan glonifikasi terhadap fihak yang diunggulkan sebagai 64 .April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Medan kenyataan global masakini. bahwa dalam pertemuan antar-budaya mengalirnya anus informasi itu tidak senantiasa terjadi secara dua-arah. melainkan dominasi anus informasi dan fihak yang didukung oleh kesanggupan merentangkan sistem informasi dengan jangkauan global. Teknologi informasi dan komunikasi dalam era globalisasi mi merupakan pendukung utama bagi tenselenggaranya pertemuan antarbudaya. dan inilah awal dan suatu proses yang akhimya bisa bermuara pada pernbahan sikap mental dan kultural. 2001) Gejala tersebut nyata berpengaruh atas terbentuknya sikap mental dan kultural pada fihak yang diterpa (expose) oleh fihak yang menerpanya (impose) dengan anus informasi. Dalam bidang inilah terjadi pemadatan dimensi rnang dan waktu (yang disebut Harvey µtimespace compression¶). sehingga dengan mudah dapat mempengaruhi carapandang dan gayahidup kita. Tatanan itu tentu menuntut dirancangnya berbagai sistem dan pelembagaan yang hams diwujudkan sebagai konsekuensinya. (Ridwansyh. Dalam bidang mi tampaknya tiada altematif lain bagi kita kecuali turut berperan di dalamnya. 1 . Dengan jangkaun sedemikian itu. Kecenderungan mi adakalanya dianggap sebagai bagian dan upaya µmodemisasi¶. Perlu dicatat. yaitu bidang informasi dan komunikasi yang sangat tertunjang oleh pesatnya laju perkembangan teknologi yang semakin canggih.

dengan tujuan menyampaikan maksud hati atau kemauan kepada lawan bicaranya atau orang lain. Perubahan sosial merupakan bagian dari perubahan budaya.menjadi bagian yang penting dalam proses komunikasi. perlu diketahui terlebih dahulu tentang pengertian budaya itu sendiri. dapat disebarluaskan dengan mudah sehingga dapat dengan cepat mempengaruhi cara pandang dan gaya hidup hingga budaya suatu bangsa. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Hal ini tentunya tidak terlepas dari dukungan pesatnya laju perkembangan teknologi yang semakin canggih khususnya teknologi komunikasi. Seperti dalam hal bahasa. informasi dalam bentuk apapun dan untuk berbagai kepentingan. Dalam budaya visual. Kehadiran globalisasi membawa pengaruh bagi kehidupan suatu bangsa. ideologi. Melalui bahasa. baik lewat tulisan. makin besar pula arus informasi dapat dialirkan dengan jangkauan dan dampak global. manusia dapat menyesuaikan diri dengan adat istiadat. ekonomi. tingkah laku. Kecepatan arus informasi yang dengan cepat membanjiri kita seolah-olah tidak memberikan kesempatan kepada kita untuk menyerapnya dengan filter mental dan sikap kritis. Dalam bahasa Inggris. kebudayaan disebut culture. sosial budaya. mewujudkan seni (sastra). Makin canggih dukungan teknologi tersebut. dalam interaksi an bangsa. 1990).April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. tar yaitu dimensi ruang dan dimensi waktu. mempelajari naskah-naskah kuno. Bahasa memiliki beberapa fungsi yang dapat dibagi menjadi fungsi umum dan fungsi khusus. Perubahan dalam kebudayaan mencakup semua bagian. yang meliputi kesenian. Tapi. tata krama masyarakat.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. 1 . lisan. sekarang kita sedang bergeser dari budaya tulisan ke budaya visual. yang berasal dari kata Latin Colere. Sedangkan fungsi bahasa secara khusus adalah untuk mengadakan hubungan dalam pergaulan sehari-hari. Bahasa adalah alat atau perwujudan budaya yang digunakan manusia untuk saling berkomunikasi atau berhubungan. Sebagai sebuah proses. ilmu pengetahuan. dan alat untuk mengadakan integrasi dan adaptasi sosial. 65 . Dimensi ruang yang dapat diartikan jarak semakin dekat atau dipersempit sedangkan waktu makin dipersingkat dalam interaksi dan komunikasi pada skala dunia. yaitu mengolah atau mengerjakan. filsafat dan lainnya. pertahanan keamanan dan lain-lain yang akan mempengaruhi nilai-nilai nasionalisme bangsa. Kita telah bergerak dari budaya lisan ke budaya tulisan sejak ditemukannya huruf. berkomunikasi. Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah. Akan tetapi perubahan tersebut tidak mempengaruhi organisasi sosial masyarakatnya. Pengertian Budaya Sebelum mengulas tentang perkembangan tekologi komunikasi terhadap kehidupan budaya. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai "kultur" dalam bahasa Indonesia. Pengaruh globalisasi dirasakan di berbagai bidang kehidupan seperti kehidupan politik. teknologi. dan untuk mengeksploitasi ilmu pengetahuan dan teknologi. ataupun gerakan (bahasa isyarat). gambar-yang diam atau bergerak. Dengan dukungan teknologi informasi dan komunikasi. Medan sumber informasi global dan tampil sebagai penentu kecendeningafl (trend-setter) dalam pembentukan sikap mental dan kultural serta gaya hidup barn. Semakin lama kebudayaan akan semakin berkembang. globalisasi berlangsung melalui dua dimensi. Teknologi komunikasi adalah pendukung utama bagi terselenggaranya globalisasi. Namun demikian dalam prakteknya di lapangan kedua jenis perubahan perubahan tersebut sangat sulit untuk dipisahkan (Soekanto. Fungsi bahasa secara umum adalah sebagai alat untuk berekspresi. dan sekaligus mudah membaurkan dirinya dengan segala bentuk masyarakat. Ruang lingkup perubahan kebudayaan lebih luas dibandingkan perubahan sosial. Dimana era globalisasi ini erat sekali kaitannya dengan teknologi informasi atau komunikasi. Sehingga kemudian sampailah pada era globalisasi.

Sedangkan pengaruh negatif yang bisa muncul karena adanya teknologi komunikasi. TI telah mengubah wajah ekonomi konvensional yang lambat dan mengandalkan interaksi sumber daya fisik secara lokal menjadi ekonomi digital yang serba cepat dan mengandalkan interaksi sumber daya informasi secara global. saling mempelajari kebudayaan lain. AS. Dengan hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri menunjukan gejala berkurangnya rasa nasionalisme masyarakat kita terhadap bangsa Indonesia. misalnya dari globalisasi aspek ekonomi. tak bisa dipungkiri memberikan kontribusi yang signifikan terhadap seluruh proses globalisasi ini. Jika e-Commerce ³hanya´ memungkinkan seseorang bertransaksi jual beli melalui internet dan melakukan pembayaran dengan kartu kreditnya secara on-line. 2004) Perubahan informasi kini tidak lagi ada dalam skala minggu atau hari atau bahkan jam. Kemudian dapat menunjang perkembangan kebudayaan. akurasi dan kemudahan yang memberikan efisiensi dalam berbagai bidang khususnya dalam masalah waktu. yang dikenal dengan nama e-Commerce yang lahir karena perkawinan TI dengan globalisasi ekonomi belum lagi genap berusia lima tahun dikenal ±dari fakta bahwa sebenarnya sudah ada sekitar 20 tahun yang lalu²ketika sudah harus merelakan dirinya digilas dengan konsepsi e-Business yang lebih canggih. melainkan sudah berada dalam skala menit dan detik. tenaga dan biaya. Konsep Teknologi Informasi (TI) Teknologi Informasi (TI) yang kini berkembang amat pesat. terbukanya pasar bebas memungkinkan produk luar negeri masuk dengan mudahnya. Sulawesi. Pengaruh globalisasi dengan dukungan teknologi komunikasi meliputi dua sisi yaitu pengaruh positif dan pengaruh negatif. atau memungkinkan seorang ibu rumah tangga memprogram lemari-esnya untuk melakukan pemesanan saribuah secara otomatis jika stok yang disimpan di kulkas itu habis dan membayar berbagai tagihan rumah tangganya melalui 66 . (Radian. Mulai dari wahana TI yang paling sederhana berupa perangkat radio dan televisi. khususnya mikro-prosesor. Internet sendiri memang fenomenal kemunculannya sebagai salah satu tiang pancang penanda kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Teknologi Informasi dan Komunikasi yang perkembangannya begitu cepat secara tidak langsung mengharuskan manusia untuk menggunakannya dalam segala aktivitasnya. dalam waktu kurang dari satu menit sudah dikonfirmasi oleh Bank Indonesia di Medan Merdeka. Setara dengan perkembangan perangkat keras komputer. TI disamaratakan dengan Internet. Konsep perdagangan elektronik melalui internet. yang pada waktu hampir bersamaan bisa disaksikan dari Gorontalo. informasi mengalir dengan sangat cepat dan menyeruak ruang kesadaran banyak orang. yaitu dunia ³maya´. Pengaruh positif yang dapat dirasakan dengan adanya Teknokom adalah peningkatan kecepatan. Medan Oleh karena itu selama ini dikenal asas ³kebebasan arus informasi´ berupa proses dua arah yang cukup berimbang yang dapat saling memberikan pengaruh satu sama lain. Internet menghilangkan semua batas-batas fisik yang memisahkan manusia dan menyatukannya dalam dunia baru.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Dengan banyaknya produk luar negeri dan ditambahnya harga yang relatif lebih murah dapat mengurangi rasa kecintaan masyarakat terhadap produk dalam negeri.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. dan infrastruktur komunikasi. Banyak hal yang didapat karena pengaruh teknologi komunikasi. Indeks nilai tukar dollar yang ditentukan di Wall Street. Demikian juga peragaan busana di Paris. hingga internet dan telepon gengam dengan protokol aplikasi tanpa kabel (WAP). TI di internet berkembang dengan kecepatan yang sukar dibayangkan. ketepatan. Perubahan harga saham sebuah perusahaan farmasi di Bursa Efek Jakarta hanya membutuhkan waktu kurang dari sepersepuluh detik untuk diketahui di Surabaya. Peran Internet tidak bisa dipungkiri dalam hal penyediaan informasi global ini sehingga dalam derajat tertentu. 1 . Peningkatan kualitas hidup semakin menuntut manusia untuk melakukan berbagai aktifitas yang dibutukan dengan mengoptimalkan sumber daya yang dimilikinya.

jumlah personal computer yang ada di negeri ini hanya sekitar 2 juta unit. keberadaan internet khususnya merupakan masalah yang pelik.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Itu berarti hanya 0. seperti misalnya dalam kasus penggerebekan salah satu Internet Service Provider (ISP) di Jakarta saat ³Kudatuli´ ±kerusuhan dua puluh tujuh juli²yang menghebohkan itu. menyediakan perangkat pengakses informasi dari internet untuk masyarakat. Bagaimana dengan Indonesia? Menurut Tabloid Kontan On-line tanggal 9 Oktober 2000 yang mengutip IDC (Information Data Corporation) . menyusun framework penggunaan TI.9%). maka dengan e-Business. kejahatan internet. senjata lebih berkuasa daripada teknologi. yang saat ini sedang bekerja keras mengejar ketinggalan dari negara-negara maju dan pada saat yang sama mengalami perubahan sosial politik. Dari US$ 772. merek dagang. serta mengembangkan pendidikan untuk meningkatkan daya saing Asia. angka sekecil itu yang diperkuat dengan TI. membangun jaringan online-pemerintah. Namun memang masih ada hambatan. Sebagian yang lain (14. dipercaya bahwa gerakan mahasiswa dan bantuan logistiknya dikoordinasikan dengan 67 . hak cipta dan masalah lain. Hal ini diduga keras karena di Indonesia tingkat pembajakan masih di atas 90%. Namun. dan perbankan (11.4%) dibelanjakan untuk perangkat lunak.9 juta. sebagian besar (57. akan tetap menempatkan Asia di pihak yang merugi. serta perbedaan sosial politik di antara negara-negara yang kini harus bekerjasama ±yang bila gagal diatasi. dana yang sudah dibelanjakan untuk kepentingan TI di Indonesia cukup besar. krisis ekonomi yang dialami Asia pada akhir tahun 90an menunda perkembangan TI di saat AS dan negara-negara Eropa sedang berkembang pesat dalam penggunaan teknologi itu. dari seluruh penduduk Indonesia yang berjumlah 220 juta jiwa. Tahun 2000 ini diperkirakan US$ 772.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.7%) dibelanjakan untuk perangkat keras seperti PC dan notebook. Bagi Asia. Konon.8%). TI disikapi dengan penuh kebingungan. khususnya pemanfaatan jaringan internet. kini mulai secara resmi mendukung perkembangan TI setelah sekian lama diamkebingungan karena tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan perkembangan teknologi yang demikian cepat ini. Karena itu. kekuatan TI yang ditekan itu kemudian tampil ³jumawa´ dalam episode jatuhnya Orde Baru. Salah satu tindakan yang akan dilakukan oleh pemerintah Asia yang disepakati dalam pertemuan GIIC itu adalah mempersiapkan hukum mengenai transaksi. Kasus ini layaknya menghadapkan kemajuan TI dengan alat perang dan kekuasaan. Seharusnya. angka untuk perangkat lunak ini jauh lebih besar daripada untuk perangkat kerasnya. Lebih buruk lagi. terutama antara lain sumber daya yang terbatas. lebih khusus lagi bagi negara yang memiliki peraturan ketat. bisa cukup menimbulkan dilema bagi pemerintah. Namun. 1 . (http://www. negara yang dianggap kurang maju.4 juta tahun lalu.95% dari jumlah penduduk. wajar jika pemerintah negara-negara Asia. sektor yang paling banyak mengeluarkan uang adalah komunikasi & media (19.e-culture/203) Pertemuan Asian Regional Conference of the Global Information Infrastructure Commission (GIIC) di Manila pada bulan Juli 2000 menghasilkan rencana untuk membangun jaringan komunikasi. Medan instruksi pada bank yang dikirim dengan menekan beberapa tombol pada telepon genggamnya.9 juta itu. Sementara dari 17 sektor yang membelanjakan uang untuk TI tadi.3%). diikuti oleh discreet manufacturing (16. naik dari US$ 638. pemerintah (12. masih kakunya sistem pemerintahan. masih menurut sumber dari Kontan On-line. Jumlah ini belum termasuk investasi dotcom yang sempat bergairah obor-blarak dalam dua tahun terakhir. Angka ini masih sangat kecil dan jika dijadikan pijakan konsepsi utopis TI yang mampu mendorong terjadinya perubahan sosial. transaksi ekspor impor antar negara lengkap dengan pembukaan LC dan model cicilan pembayarannya juga bisa dilakukan dengan wahana dan media yang sama. Dan seperti biasanya. Sampai dengan bulan Juni 1999.4%). Di jaman Orde Baru berkuasa dulu.

jika dilihat dari kacamata TI dan globalisasi secara paradoks bisa jadi sudah punah karena negara yang efektif justru memecah dirinya menjadi bagian lebih kecil dan lebih efisien. Padahal. melainkan pada legitimasi masyarakat. jelas adalah keniscayaan. pemenang hadiah Nobel bidang Ekonomi tahun 1998. Satu-satunya pemain lokal yang terlihat paling getol mendukung dikeluarkannya keppres tersebut hanyalah PT. melihat dengan jelas bahwa gagasan ³pemerintah pusat adalah bagian yang terpenting dari sebuah pemerintahan´ sudah saatnya ditinggalkan. justru banyak pemain lokal yang berteriak dan menentang keppres ini. Dengan populasi mencapai 2. Dalam hal politik. Demokrasi melanda dunia dan dunia menerapkan demokrasi itu melalui sistem telekomunikasi global. menurut pencetus ide ³The Third Way´ Anthony Giddens dengan teori strukturasi modernisnya. komunikasi militer pun disadap dan semua sandi militer diterjemahkan oleh para aktivis dan dibagikan lewat pager. pemerintah baru yang terpilih secara relatif demokratis pasca rejim Orde Baru ini juga gagap menanggapi kemajuan TI. yaitu dengan memberikan kesempatan pada yang kecil. Pemerintah beranggapan bahwa proteksi itu diberikan dengan asumsi tidak mungkin pemain-pemain lokal mampu bersaing dengan investor asing dalam dunia TI. pemerintah harus mulai berubah ke arah sistem dimana peraturan dan hukum didasarkan bukan pada kemauan pemerintah. Telkom. Menurut Amartya Sen. Dengan semakin banyaknya informasi yang diterima masyarakat. 1998 dan 1999. untuk mengurus ijin pendirian warnet. secara langsung atau tidak. 1 . telepon gengam dan email pada para koordinator lapangan untuk mengantisipasi blokade militer yang menyapu Jakarta dan kota-kota lainnya saat itu. dan tanpa informasi maka semua kegiatan akan berhenti. dari yang lokal. Dunia dalam kacamata TI saat ini adalah dunia tentang pribadi orang per orang. yang tentu ada dalam mainstream TI. Jelas. 2004) TI modern memungkinkan kerjasama yang luar biasa antar masyarakat. menengah dan koperasi merupakan sasaran pokok yang harus didorong dan diberdayakan dalam memanfaatkan TI untuk 68 . Globalisasi. pelaku ekonomi dan negara. bukan negara (state). yaitu jatuhnya rejim militeristik yang sudah berkuasa 32 tahun lamanya. (Martinginsih. dalam hal informasi dan dilihat dari kacamata TI. Tapi. Maka yang harus dilakukan dalam konteks perkembangan TI dan globalisasi ini adalah membangun kembali keberpihakan TI melalui strategi yang membela mereka yang selama ini ditinggalkan dan diabaikan dalam arus globalisasi. harus meminta ijin yang ditandatangani oleh menteri (!).April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Kenichi Ohmae dalam bukunya yang terkenenal The End of the Nation State. menunjukkan dengan jelas kebingungan pemerintah dalam merespon perkembangan bisnis multimedia. Keppres 96/2000 yang garis besarnya berisi larangan masuknya investor asing di bidang industri multimedia di Indonesia.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Bagaimana memulai? Pertama. apabila seseorang ingin mendirikan warung internet. TI. Tanpa TI. Dunia yang saat ini. Medan memanfaatkan kecanggihan TI ini. Tak ada jalan untuk mundur lagi. bahwa kebijakan pemerintah saat ini menimbulkan semakin banyak masalah yang timbul dalam pengembangan TI. maka negara-negara yang mengambil peran akan semakin mengecil. teknologi harus berpihak dan mengabdi pada manusia. Konsep Negara Kesatuan misalnya. sedang bermetamorfosa dari swapraja menuju swakelola. informasi tidak ada. Bahkan. berkontribusi atas terjadinya suatu perubahan sosial yang bermakna di Ind onesia.1 juta unit usaha yang ³tahan banting´ ±sudah teruji dalam krisis ekonomi²maka pengusaha kecil. Dengan Kepres itu. tersirat inferioritas yang luar biasa dalam diri pemerintah. Dalam PP No 52/2000 misalnya. meningkatnya tribalisme saat ini mungkin bisa dianggap terkait dengan kemajuan TI karena memperjelas banyak hal sehingga setiap orang dapat mengetahui peristiwa yang terjadi di mana saja. yang pada masa lalu tidak terlihat ±tapi bukannya tidak ada. Kebingungan ini juga terlihat jelas dalam perumusan UU Telekomunikasi beserta PP yang menyertainya. entah dimana salahnya. Sebuah paradoks: karena ekonomi global makin membesar.

Peranan pemerintah bersama serta segenap elemen masyarakat.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. seni dan sastra. mudah. terutama terhadap generasi muda itu. Hal ini salah satunya dapat dilihat pada upaya kreasi manusia yang berkaitan dengan bidang ilmu pengetahuan. Tujuan utama perkembangan iptek adalah perubahan kehidupan masa depan manusia yang lebih baik. Perkembangan iptek. generasi muda mesti dibekali sedini mungkin dengan ilmu pengetahuan tentang tata cara mengambil manfaat positif dari kemajuan teknologi informasi yang berkembang dengan deras dan pesat. Kemudahan dalam mengakses informasi dan ilmu pengetahuan dari berbagai sumber dan belahan dunia. 1 . Teknologi telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan umat manusia dalam dunia yang semakin ³sempit´ ini. Selaku harapan serta tumpuan bangsa dan negara yang akan melanjutk pembangunan an di segala bidang. baik legal maupun illegal dengan menghalalkan segala cara karena ingin memperoleh keuntungan secara ³potong kompas´. sumber daya manusia dan keahlian. telepon selular dan media elektronik lain) yang berkembang sangat pesat. Adanya penyalahgunaan teknologi informasi yang merugikan kepentingan pihak lain sudah menjadi realitas sosial dalam kehidupan masyarakat moderen sebagai dampak dari pada kemajuan iptek yang tidak dapat dihindarkan lagi bagi bangsa-bangsa yang telah mengenal budaya teknologi (the culture of technology). politik. bisa positif bisa pula negatif. merupakan salah satu manfaat positif. Dampak perkembangan teknologi informasi. Oleh karena adanya pergeseran demikian. Betapa tidak dengan penggunaan teknologi informasi perilaku manusia secara nyata telah beralih dari model aktifitas yang didasarkan pada suatu bentuk hubungan face to face telah bergeser kepada pola hubungan digitally. sehingga dalam membangun sosial budaya. penyalahgunaan Narkoba. seperti pergaulan bebas. maka tidak mengherankan dalam setiap aspek kehidupan manusia pun mulai menunjukan suatu fenomena baru. murah. Sedangkan dampak negatifnya adalah masuknya pengaruh budaya asing. cepat dan aman. Generasi muda adalah kelompok masyarakat yang sangat rentan terhadap pengaruh budaya asing ini. Globalisasi dunia melalui teknologi informasi (internet. Disamping itu. tindakan kriminalitas dan budaya kekerasan. diperlukan persiapan yang matang. Medan melakukan perdagangan elektronik karena keterbatasan modal. membina dan menyelamatkan para generasi muda dari dampak negatif kemajuan teknologi informasi. karena teknologi memegang peran amat penting di dalam kemajuan suatu bangsa dan negara di dalam percaturan masyarakat internasional yang saat ini semakin global. kompetitif dan komparatif. baik secara ekonomi. terutama teknologi informasi (information technology) seperti internet sangat menunjang setiap orang mencapai tujuan hidupnya dalam waktu singkat. Pemanfaatan Teknologi Informasi Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) yang cukup pesat sekarang ini sudah menjadi realita sehari-hari bahkan merupakan tuntutan masyarakat yang tidak dapat ditawar lagi. pemantapan kehidupan beragama dapat dijadikan benteng pertahanan bagi masyarakat untuk meminimalisasi pengaruh negatif dari 69 . Bangsa dan negara yang menguasai teknologi tinggi berarti akan menguasai ³dunia´.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. semakin dituntut dan diperlukan untuk mengawasi. Dampak perkembangan teknologi informasi dirasa sangat berpengaruh terhadap pengaturan hukum. agar mereka dapat mengambil manfaat positif dan membentengi diri dari dampak negatif globalisasi dunia yang tengah berkembang ini. hukum internasional maupun teknologi persenjataan militer untuk pertahanan dan keamanan negara bahkan kebutuhan intelijen. Dampak buruk dari perkembangan ³dunia maya´ ini tidak dapat dihindarkan dalam kehidupan masyarakat modern saat ini dan masa depan. budaya. Semua ini dapat dipahami.

JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. artinya ketentuan cybercrime tidak dibuat dalam bentuk perundang-undangan tersendiri (khusus). 2002) Selain melakukan upaya dengan mengkriminalisasikan kegiatan di cyberspace dengan pendekatan global. Pembentukan unit kepolisian ini patut dipuji. karena kemajuan teknologi yang digunakan para pelaku cukup canggih dalam aksi kejahatannya. Manifestasi kejahatan mayantara yang terjadi selama ini dapat muncul dalam berbagai macam bentuk atau varian yang amat merugikan bagi kehidupan masyarakat ataupun kepentingan suatu bangsa dan negara pada hubungan internasional. Harus diakui bahwa Indonesia belum mengadakan langkah-langkah yang cukup signifikan di bidang penegakan hukum (law enforcement) dalam upaya mengantisipasi kejahatan mayantara seperti dilakukan oleh negara-negara maju di Eropa dan Amerika Serikat. Model yang digunakan adalah Umbrella Provision atau ³undang-undang payung´. Kejahatan mayantara dewasa ini mengalami perkembangan pesat tanpa mengenal batas wilayah negara lagi (borderless state). khususnya kepolisian tidak mampu untuk menangkal dan menanggulangi disebabkan keterbatasan sumber daya manusia. Suatu hal yang patut diperhatikan adalah bahwa kejahatan sebagai gejala sosial sampai sekarang belum diperhitungkan dan diakui untuk menjadi suatu tradisi atau budaya yang selalu mengancam dalam setiap saat kehidupan masyarakat. Kesulitan yang dialami adalah pada perangkat hukum atau undang-undang teknologi informasi dan telematika yang belum ada sehingga pihak kepolisian Indonesia masih raguragu dalam bertindak untuk menangkap para pelakunya. Internet menjadi medium bagi pelaku kejahatan untuk melakukan kejahatan dengan sifatnya yang mondial. akan tetapi juga akan mempengaruhi aspek kehidupan lain seperti agama. Di sini perlu ada semacam batasan hukum yang tegas di dalam menanggulangi dampak sosial. Pemerintah Indonesia sedang melakukan suatu pendekatan evolusioner untuk mengatur kegiatan-kegiatan santun di cyberspace dengan memperluas pengertianpengertian (ekstensif interpretasi) yang terdapat dalam Konsep KUHP Baru. internasional dan melampaui batas ataupun kedaulatan suatu negara. politik. sarana dan prasarana teknologi yang dimiliki. Mengantisipasi kejahatan ini seyogianya dimulai melalui pembentukan perangkat undangundang seperti dalam Konsep KUHP Baru dan RUU Teknologi Informasi yang disusun oleh Pusat Kajian Cyberlaw Universitas Padjadjaran. Medan dampak globalisasi dunia melalui teknologi informasi yang masuk dengan deras ke semua pelosok negeri di Indonesia. Para hacker dan cracker bisa melakukannya lewat lintas negara (cross boundaries countries) bahkan di negara-negara berkembang (developing countries) aparat penegak hukum.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. akan tetapi diatur secara umum dalam RUU Teknologi Informasi dan RUU Telematika. Artinya. 1 . Konsep 70 . kehidupan pribadi. kecuali kejahatan mayantara yang bermotif pada kejahatan ekonomi/perbankan. sosial. kebudayaan. masyarakat bahkan bangsa dan negara.(Nugraha. Semua ini menjadi motif dan modus operandi yang amat menarik bagi para penjahat digital. ekonomi dan hukum dari kemajuan teknologi moderen yang tidak begitu mudah ditangani oleh aparat penegak hukum di negara berkembang seperti halnya Indonesia yang membutuhkan perangkat hukum yang jelas dan tepat dalam mengantisipasi setiap bentuk perkembangan teknologi dari waktu ke waktu. Munculnya revolusi teknologi informasi dewasa ini dan masa depan tidak hanya membawa dampak pada perkembangan teknologi itu sendiri. Jaringan informasi global atau internet saat ini telah menjadi salah satu sarana untuk melakukan kejahatan baik domestik maupun internasional. namun amat disayangkan apabila unit ini bekerja tidak dilengkapi dengan perangkat legislasi anti cybercrime. Pihak kepolisian Indonesia telah membentuk suatu unit penanggulangan kejahatan mayantara dengan nama Cybercrime Unit yang berada di bawah kendali Direktrorat Reserse Kriminal Polri.

Sayangnya.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. baik melalui sarana penal maupun non penal agar tidak menjadi masalah kejahatan besar bagi bangsa dan negara yang mengalami krisis ekonomi. Selain itupula dukungan kemampuan masyarakat untuk mengetahui perkembangan kebudayaan Kota Makassar juga berperan penting terhadap perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. Dampak buruk teknologi yang disalahgunakan oleh orang-orang tidak bertanggungjawab menjadi masalah hukum pidana dan harus segera ditanggulangi melalui sarana penal yang dapat dilakukan oleh penegak hukum kepolisian. Dampak buruk teknologi menjadi pekerjaan rumah bersama yang merupakan sisi gelap dari perkembangan teknologi yang harus ditanggulangi. Mengingat kemajuan teknologi telah merambah ke pelosok dunia.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Namun kemajuan teknologi membawa dampak buruk dalam kehidupan masyarakat berupa kejahatan mayantara sehingga harus diantisipasi dengan tersedianya perangkat hukum atau undang-undang yang tepat. perangkat undang-undang belum tersedia sebagai sarana penal dalam menanggulanginya. Data tersebut dikumpulka melalui pra survey dan survey lapangan (observasi langsung) dan wawancara mendalam (debt interview) dengan menggunakan pedoman wawancara. Berikut pendapat responden tentang kemampuan Pemerintah dalam mendukung pemanfaatan globalisasi teknologi informasi terhadap budaya masyarakat di Kota Makas sar yaitu sebagai berikut : 71 . Namun perkembangan teknologi digital tidak akan dapat dihentikan oleh siapapun. HASIL PEMBAHASAN Hasil penelitian yang digunakan dalam pelaksanaan ini untuk menganalisa faktor pendukung pemanfaatan globalisasi Teknologi Informasi terhadap perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. Data primer diperoleh melalui penyebaran angket kepada beberapa responden dengan menggunakan angket (questioner). karena telah menjadi ³kebutuhan pokok´ manusia moderen yang cenderung pada kemajuan dengan mempermudah kehidupan masyarakat melalui komunikasi dan memperoleh informasi baru. termasuk kepedesaan di Indonesia. Adapun hasil penelitian yang dilakukan terhadap obyek penelitian adalah sebagai berikut : Kemampuan Masyarakat dan Pemerintah Pemanfaatan globalisasi teknologi informasi dapat terlaksana dengan baik jika didukung oleh kemampuan pemerintah mendukung penggunaan teknologi informasi terhadap perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. maka dampak buruk teknologi yang menjadi kejahatan mayantara pada masa depan harus ditanggulangi dengan lebih hati-hati. 1 . Perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat dewasa ini patut disyukuri sebagai hasil budaya manusia moderen. Seyogianya kemajuan teknologi menolong kehidupan masyarakat yang semakin kompleks. Medan KUHP Baru sebelumnya tidak memperluas pengertian-pengertian yang terkait dengan kegiatan di cyberspace sebagai delik baru.

72 .52 4. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pemerintah sebagai motivator dalam mendukung penggunaan teknologi informasi terhadap perkembangan budaya masyarakat di Kota Makassar. Tidak mendukung 6 9. Hal ini dapat dilihat dari pemanfaatan Teknologi Informasi dalam mendukung kegiatan di Kota Makassar seperti pembuatan website Pemerintah Kota Makassar yang memuat tentang perkembangan sektor kebudayaan di KotaMakassar.03 4.52 Jumlah 63 100.56 %) Wawancara dengan informan diperoleh informasi bahwa pemerintah mendukung pemanfaatan Teknologi Informasi terhadap perkembangan budaya masyarakat di Kota Makassar.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Berikut pendapat responden tentang kemampuan masyarakat menggunakan Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan budaya masyarakat di Kota Makassar. Kurang Mampu 29 46. Tidak Mampu 11 17.03 %).63 2.81 2. Wawancara dengan informan diperoleh informasi bahwa kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan Teknologi Informasi masih kurang. Karena dari 63 responden yang memberikan jawaban mendukung sebanyak 35 orang (55. Hal ini disebabkan masih kurang masyarakat yang membuka website-website yang memuat tentang perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. Sangat Mampu 13 20. yaitu sebagai berikut : Tabel 2 Pendapat Responden Tentang Kemampuan Masyarakat Menggunakan Teknologi Informasi Dalam Mendukung Kebudayaan Masyarakat di Kota Makassar Frekuensi Persentase No Pendapat Responden (orang) (%) 1.00 Sumber : Data Primer diolah November 2008 Mengacu kepada jawaban responden tersebut terlihat bahwa kemampuan pemerintah mendukung pemanfaatan Teknologi Informasi budaya masyarakat Kota Makassar. Hal ini dapat dilihat dari fasilitas yang digunakan saat melakukan kegiatan kebudayaan seperti pameran-pameran kebudayaan ataupun memperkenalkan seni-seni budaya yang ada di Kota Makassar kepada dunia luar. Mendukung 35 55.87 3. Kurang mendukung 7 9. Mampu 10 15. Sangat mendukung 15 23. Karena dari 63 responden yang memberikan jawaban kurang mampu sebanyak 29 orang (46.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika.00 Sumber : Data Primer diolah November 2008 Mengacu kepada jawaban responden tersebut terlihat bahwa kemampuan pegawai di instansi Pemerintah Kota Makassar masih kurang dalam menggunakan software computer PC di setiap unit kerja.46 Jumlah 63 100. Medan Tabel 1 Pendapat Responden Tentang Kemampuan Pemerintah Dalam Mendukung Globalisasi Teknologii Informasi terhadap Kegiatan Kebudayaan Di Kota Makassar Frekuensi Persentase No Pendapat Responden (orang) (%) 1.56 3. 1 .

4 . Hal ini dapat dilihat masih banyaknya masyarakat yang kurang memahami pemanfaatan globlalisasi Teknologi Informasi dari seluruh aspek kehidupan termasuk perkembangan kebudayaan di Kota Makassar.33 %). Berikut pendapat responden tentang kuantitas fasilitas yang dimiliki dalam mendukung penggunaan Teknologi Informasi yaitu sebagai berikut : 73 . Hal ini dapat dilihat saat melakukan kegiatan kebudayaan Teknologi Informasi yang digunakan dapat digunakan baik oleh masyarakat maupun pihak. Demikianlah halnya penggunaan teknologi informasi terhadap perkembangan kebudayaan di Kota Makassar memerlukan fasilitas yang memadai bai dari segi kualitas maupun kuantitas. Berikut pendapat responden tentang kualitas fasilitas Teknologi Informasi dalam mendukung perkembagan budaya masyarakat di Kota Makassar yaitu sebagai berikut : Tabel 3 Pendapat Responden Tentang Kualitas Sarana dan Prasarana Dalam Pemanfaatan Teknologi Informasi Terhadap Perkembagan Kebudayaan di Kota Makassar No 1 . 3 .58 Pendapat Responden Sangat Berkualitas Frekuensi (orang) 14 Persentase (%) 22.87 Kurang berkualitas 21 33. Dukungan Fasilitas Teknologi Informasi Fasilitas teknologi informasi yang memadai baik dari segi kualitas maupun kuantitas sangat dibutuhkan. pihak Pemerintah Kota juga melakukan kerjasama dengan pihak penyediaan layanan Teknologi Informasi untuk mendukung kualitas fasilitas yang digunakan. Dalam mendukung kegiatan kebudayaan di Kota Makassar selain menggunakan fasilitas yang dimiliki.22 Mengacu kepada jawaban responden tersebut terlihat bahwa kualitas fasilitas Teknologi Informasi yang digunakan dalam mendukung perkembangan budaya masyarakat di Kota Makassar kurang berkualitas. 1 . Jumlah 63 Sumber : Data Primer diolah November 2008 100. Medan Hasil pengamatan menunjukkan bahwa teknologi informasi yang digunakan dalam mendukung kebudayaan di Kota Makassar kurang maksimal.33 Berkualitas 18 28.00 Tidak Berkualitas 10 15. Karena dari 63 orang yang memberikan jawaban kurang berkualitas adalah 21 orang (33. Wawancara dengan informan diperoleh informasi bahwa fasilitas yang digunakan dalam mendukung peningkatan kegiatan kebudayaan di Kota Makassar telah memadai dan memiliki kualitas yang cukup berkualitas.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. 2 . Fasilitas yang memadai akan memberikan kemudahan kepada pengguna Teknologi Informasi untuk memperoleh data dan informasi. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa fasilitas yang digunakan dalam setiap kegiatan kebudayaan fasilitas yang digunakan cukup berkualitas.

Wawancara dengan informan diperoleh informasi bahwa fasilitas Teknologi Informasi yang digunakan dalam mendukung kegiatan kebudayaan di Kota Makassar kurang baik.68 31. Pendapat Responden Sangat baik Baik Kurang Baik Tidak Baik Frekuensi 11 17 23 12 Persentase 17. maka untuk mendukung kegiatan kebudayaan masih menyewa peralatan dari penyediaan layanan Teknologi Informasi. 3.68 %).51 14. 3.98 36. Berikut pendapat responden tentang sikap dan perilaku masyarakat terhadap penggunaan Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar yaitu sebagai berikut : Tabel 5 Pendapat Responden Tentang Sikap Masyarakat Terhadap Penggunaan Teknologi Informasi Dalam Mendukung Perkembangan Budaya Masyarakat No 1. Karena dari 63 responden yang memberikan jawaban kurang baik sebanyak 21 orang (44. 4. Frekuensi (orang) Sangat baik 4 Baik 7 Kurang Baik 21 Tidak Baik 15 Jumlah 63 Sumber : Dara primer diolah November 2008 Pendapat Responden Persentase (%) 8.05 74 .89 44. 4. Medan Tabel 4 Pendapat Responden Tentang Fasilitas Teknologi Informasi Dari Segi Kuantitas Dalam Mendukung Kegiatan Kebudayaan di Kota Makassar No 1. Dukungan sikap dan perilaku masyarakat untuk mengetahui sejauh mana perkembangan kegiatan kebudayaan di Kota Makassar.46 26. 2. 1 . Hasil pengamatan menunjukkan bahwa fasilitas Teknologi Informasi yang digunakan dalam mendukung kegiatan kebudayaan di Kota Makassar masih perlu mendapat perhatian dari Pemerintah Kota Makassar.51 19. 2. Hal ini disebabkan keterbatasan anggaran yang dimiliki untuk melakukan penambahan fasilitas Teknologi Informasi yang digunakan dalam mendukung perkembangan kebudayaan masyarakat di Kota Makassar kurang maksimal.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Sikap dan Perilaku Masyarakat Pemanfaatan Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar perlu didukung sikap dan perilaku masyarakat dalam memahami Teknolog i Informasi tersebut.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Hal ini dapat dilihat saat melakukan kegiatan kebudayaan.00 Mengacu kepada jawaban responden tersebut terlihat bahwa fasilitas Teknologi Informasi yang digunakan dalam mendukung kegiatan kebudayaan di Kota Makassar dari segi kuantitas masih kurang.92 100. Kurang memadainya fasilitas Teknologi Informasi yang digunakan dari segi jumlah masih sangat terbatas.

Masyarakat kurang termotivasi tentang kegiatan kebudayaan masyarakat. Hal ini dapat dilihat dari keinginan dan animo masyarakat untuk mengetahui perkembangan kegiatan kebudayaan di Kota Makassar. Hal ini dapat dilihat dari sikap masyarakat untuk mengetahui perkembangan kegiatan kebudayaan di Kota Makassar masih perlu mendapat perhatian dari pemerintah. 2.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.63 34. Karena dari 63 responden yang memberikan jawaban kurang baik sebanyak 23 orang (36. Website yang memuat kegiatan kebudayaan di Kota Makassar sering mengalami gangguan atau dalam melakukan download file mengalami gangguan. Wawancara dengan informan diperoleh informasi bahwa sikap masyarakat terhada p penggunaan Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar masih kurang baik.00 Mengacu kepada jawaban responden tersebut terlihat bahwa sikap masyarakat terhadap penggunaan Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar kurang baik. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa sikap masyarakat terhadap Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar masih kurang baik. kurangnya sosialisasi yang dilakukan Pemerintah Kota Makassar kepada masyarakat untuk memanfaatkan Teknologi Informasi dalam mengetahui perkembangan kebudayaan di Kota Makassar.51 %).April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika.29 20.16 100. Karena dari 63 responden yang memberikan jawaban kurang memahami sebanyak 22 orang (34. Kurangnya keinginan tersebut disebabkan : 1. 1 . Frekuensi (orang) Sangat memahami 9 Memahami 13 Kurang Memahami 22 Tidak memahami 19 Jumlah 63 Sumber : Dara primer diolah November 2008 Pendapat Responden Persentase (%) 14. Wawancara dengan informan diperoleh informasi bahwa sikap masyarakat terhadap penggunaan Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar masih kurang baik. 4. Medan Jumlah 63 Sumber : Dara primer diolah November 2008 100. 3.93 %). 2. Berikut pendapat responden tentang pemahaman masyarakat terhadap Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar yaitu sebagai berikut : Tabel 6 Pendapat Responden Tentang Pemahaman Masyarakat Terhadap TI Mendukung Perkembangan Budaya Masyarakat No 1. 75 .00 Mengacu kepada jawaban responden tersebut terlihat bahwa sikap masyarakat dalam memahami Teknologi Informasi yang digunakan dalam mendukung kegiatan kebudayaan di Kota Makassar masih kurang memahami. 3. Hal ini dapat dilihat dari sikap masyarakat untuk mengetah ui perkembangan kebudayaan di Kota Makassar masih perlu mendapat perhatian dari pemerintah.92 30.

April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Medan Wawancara dengan informan diperoleh informasi bahwa sikap masyarakat terhadap penggunaan Teknologi Informasi yang digunakan dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar memerlukan pemahaman dari masyarakat.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. 1 . 76 .

dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan globalisasi Teknologi Informasi terhadap perkembangan kebudayaan di Kota Makassar kurang optimal.. Saran Adapun saran yang dapat diberikan dalam penulisan ini adalah sebagai berikut : 1. Kemampuan Pemerintah dan kemampuan masyarakat kurang mampu memberikan dukungan terhadap pemanfaatan globalisasi Teknologi Informasi dalam perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. Amartya. Hal ini disebabkan masih banyak masyarakat yang kurang mengerti dan memahami pentingnya Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar.infokomputer. 9 Oktober 2000. 3. Khususnya kemampuan masyarakat dalam memahami pentingnya pemanfaatan Teknologi Informasi. Hal ini dilihat dari beberapa faktor pendukung yang kurang terlaksana secara baik. Employment. 2. Oxford University Press.com/ di-Up load oleh: Anton Waspo 77 . Medan PENUTUP Kesimpulan Berdasarkan pembahasan di atas. 1985 Lain-lain : Infokomputer. 2000 Murray.kontan-online. The End of The Nation State ± The Rise of Regional Economies. 1995 Ohmae. Polity Press.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Sikap dan perilaku yang dimiliki oleh masyarakat dalam memanfaatkan Teknologi Informasi sangat penting dimiliki sehingga masyarakat dapat memanfaatkan Teknologi Informasi secara maksimal dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. Kenichi. Third Way and Its Critics.com Edisi Juli-Agustus 2000. Perlunya sosialisasi yang dilakukan pemerintah dalam mendukung peningkatan kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. Longman Publisher. The Standard of Living. Technology & Development. Fasilitas yang digunakan baik segi kualitas dan kuantitas kurang mampu mendukung pemanfaatan Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. 1995 Sen. Anthony. yaitu : 1. Sikap dan perilaku masyarakat dalam memahami pemanfaatan globalisasi Teknologi Informasi kurang optimal.com/ Kontan On-line. Singapore. 2. 1 . http://www. Knowledge Machine : Language & Information in a Technological Society. 3. Cambridge University Press. London. Perlunya penambahan fasilitas yang memadai dalam mendukung pemanfaatan Teknologi Informasi terhadap perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. 1975 Sen. London: Harper Collins. http://www. Amartya. Daftar Bacaan Giddens. India.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Denise E.

serta peraturan cuti kerja di negara tujuan. kedua Dinas Tenaga Kerja itu disarankan menyediakan leaflet berisi informasi ketenagakerjaan seperti lowongan pekerjaan dan persyaratan pembuatan kartu kuning. Semua aktivitas tersebut belum maksimal menjangkau khalayak pencari kerja. Oleh karena itu. Jakarta 4 78 . Medan Diseminasi Informasi Ketenagakerjaan Pada Dinas Tenaga Kerja Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah dan Kota Palangkaraya Oleh : Paraden Lucas Sidauruk4 Abstrak Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan gambaran bagaimana pelaksanaan diseminasi informasi ketenagakerjaan bagi pencari kerja di Provinsi Kalimantan Tengah. Dinas Tenaga Kerja Latar Belakang Masalah Keluhan pencari kerja. tetapi sementara tidak dapat difungsikan karena hamb atan dana. Sikap ini terjadi karena kurang lengkap pengetahuan dan informasi yang dimilikinya mengenai hak dan kewajiban seorang TKI. termasuk calon TKI mengenai informasi ketenagakerjaan belum banyak diungkapkan. Wawancara menggunakan pedoman wawancara dengan nara sumber di Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah dan di Kota Palangkarya. siaran televisi. perlu dibangun jaringan LAN ketenagakerjaan di antara instansi ketenagakerjaan yang terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua Dinas Tenaga Kerja tersebut telah melaksanakan diseminasi informasi ketenagakerjaan secara variatif melalui spanduk. sebelumnya peneliti yang sama pada Pusat Pengembangan Literasi Departemen Komunikasi dan Informatika. Informasi yang diperoleh pencari kerja di Tanah Air dari sumber informasi resmi masih amat terbatas tentang informasi lowongan pekerjaan. Calon TKI sebagai pencari kerja juga biasanya mengingikan informasi yang dianggap menarik perhatian saja seperti mengenai adat istiadat dan agama.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. apakah diseminasi informasi online sudah berjalan ? Penelitian ini bersifat deskriptif dan menggunakan pendekatan kualitatif dengan fenomenologi realistik. Sejauh ini belum banyak diteliti mengenai informasi apa yang selama ini diterima oleh pencari kerja baik yang bekerja di dalam negeri maupun calon TKI yang hendak berangkat ke luar negeri. Di masa yang akan datang. Pengumpulan data dilakukan dengan pengamatan dan wa wancara mendalam (depth interview) serta mempelajari data sekunder. 1 . calon TKI sebagai pencari kerja cenderung menerima saja informasi yang disampaikan petugas atau sponsor. Di samping pemanfaatan internet. perusahaan tempat kerja. Diseminasi informasi ketenagakerjaan melalui online pernah dilakukan dengan menggunakan internet khususnya e mail dan browsing. Penulis adalah Peneliti Madya bidang Studi Komunikasi dan Media pada Pusat Litbang Aptel SKDI. dan pencari kerja di loket diseminasi kartu kuning. serta penyampaian informasi secara langsung atau tatap muka. Kata Kunci : Diseminasi Informasi Ketenagakerjaan. Di dalamnya diungkapkan apa saja yang dilaksanakan Dinas Tenaga Kerja sebagai institusi pemerintah di Daerah tersebut kepada pencari kerja. Umumnya informasi tentang hak dan kewajiban TKI yang lengkap belum diterima pada saat pendaftaran dan proses rekrutmen calon TKI. buletin dan leaflet. khususnya di Kota Palangkaraya. sistem gaji dan uang lembur. Pencari Kerja.

Banyak juga yang menganggap pekerjaan tertentu hanya sebagai batu loncatan seperti bekerja sebagai penjual (sales) atau bekerja di perusahaan atau instansi yang tidak sesuai dengan harapannya. yaitu : 1. tidak sedikit pula pencari kerja yang menerima tawaran suatu pekerjaan tanpa didasari pada keputusan yang matang. Kurangnya informasi ketenagakerjaan membuat pencari kerja tidak melihat adanya alternatif atau kesempatan kerja lain. Sebagai pencari kerja mereka belum mendapatkan informasi ketenagakerjaan yang mencukupi untuk melamar pekerjaan atau menciptakan lapangan kerja baru. Pelaksanaan diseminasi informasi ketenagakerjaan on line kepada pencari kerja.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Komunikasi yang dilakukan oleh pemerintah dan perusahaan selama ini masih belum mampu memenuhi kebutuhan informasi ketenagakerjaan pencari kerja seperti juga terjadi di Palangkaraya. 3. Provinsi Kalimantan Tengah ?´ Beberapa pertanyaan penelitian dapat diajukan. Berdasarkan pemikiran itu. Provinsi Kalimantan Tengah. Diseminasi informasi ketenagakerjaan yang dilaksanakan pemerintah untuk pencari kerja. Selain karena kurangnya sarana komunikasi. perlu dijawab informasi apa yang disampaikan sumber informasi tersebut selama ini kepada stakeholder khusunya pencari kerja. Informasi apa yang disampaikan oleh pemerintah kepada pencari kerja ? Tujuan dan Manfaat Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan gambaran diseminasi informasi ketenagakerjaan bagi pencari kerja di Palangkarya. sumber informasi resmi di bidang ketenagakerjaan belum sepenuhnya melakukan diseminasi informasi ketenagakerjaan sebagai sutatu bentuk komunikasi yang benar-benar menjangkau khalayak pencari kerja. 79 . Apa saja yang dilaksanakan pemerintah untuk pencari kerja dalam diseminasi informasi ketenagakerjaan? 2. Medan Padahal semua informasi berkaitan dengan ketenagakerjaan itu merupakan hak seorang pencari kerja sebagai warganegara yang dijamin oleh Pasal 28 F UUD 1945 dan Undang-undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Informasi yang disampaikan pemerintah kepada pencari kerja. 2. Apa yang diharapkan oleh khalayak pencari kerja tidak lain adalah agar mereka mendapatkan informasi ketenagakerjaan sesuai dengan kebutuhannya. Rumusan Masalah Masalah penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut : ´Bagaimana pelaksanaan diseminasi informasi ketenagakerjaan bagi pencari kerja di Kota Palangkaraya.Oleh karena itu. Untuk memutuskan apakah pencari kerja bekerja di luar negeri atau di dalam negeri dibutuhkan data dan informasi ketenagakerjaan yang memadai. Selain itu. Dalam kenyataannya. Di samping masalah informasi ketenagakerjaan itu. juga sering dikeluhkan kurangnya kualitas sumber daya manusia yang menangani kegiatan diseminasi informasi tersebut. 1 . Pemenuhan kebutuhan informasi ketenagakerjaan melalui diseminasi informasi yang efektif dapat memberdayakan pencari kerja sebagai warga negara. Akibatnya. Pencari kerja ini menggunakan informasi itu dalam jumlah yang cukup untuk menghasilaan keputusan yang tepat. Secara spesifik melalui studi ini dapat diketahui : 1. Apakah diseminasi informasi ketenagakerjaan melalui on line telah dilaksanakan pemerintah kepada pencari kerja ? 3. Kalimantan Tengah. tiap pencari kerja berhak untuk mendapatkan informasi yang lengkap sesuai dengan kebutuhannya sehingga mereka bisa membuat keputusan yang tepat. perlu penelitian mengenai pemerintah sebagai komunikator yang menangani ketenagakerjaan dalam diseminasi informasi ketenagakerjaan. tidak sedikit di antaranya berganti-ganti pekerjaan dalam waktu singkat.

kata-kata dan kalimatnya (Wilbur Scramm. Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Palangkarya saran-saran penelitian ini dapat diterapkan untuk meningkatkan diseminasi infomasi ketenagakerjaan kepada pencari kerja. What. 2007 : 72-73) Informasi yang dikandung dalam pesan itu akan digunakan khalayak. ´seorang komunikator akan berhasil dalam upaya persuasi yang dilakukannya apabilka ia (1) dipandang punya pengetahuan dan keahlian. pentingnya pelaku (sumber) dalam suatu kegiatan. Where. 1997 : 50) bahwa ³information refers to the opportunity to reduce uncertainty´. Kerangka Pemikiran Tiap unsur komunikasi mempunyai perannya sendiri untuk mewujudkan proses komunikasi yang efektif. Harold D. Untuk itu. sehingga pihak penerima menjadi percaya bahwa pesan yang disampaikannya itu bersifat objektif´ Lebih lanjut dikemukakannya. Bagi Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah dan Dinas Tenaga Kerja. atau pengalaman yang relevan dengan atau topik pesan yang disampaikannya. (1993 : 204) . perlu dirancang agar pesan menarik perhatian. Di samping itu. istilah. 1 . Ibnu Hamad (2007) mengatakan pembahasan lebih pada diseminasi informasi menggunakan 5W & 1H.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Pemerintah sebagai komunikator atau sumber informasi menyampaikan pesan (message) kepada khalayaknya. keahlian. ¶attractiveness¶ (daya tarik) dan ¶power¶ (kekuasaan/kekuatan)´ Credibility atau kredibilitas menunjuk pada suatu kondisi di mana si sumber dinilai punya pengetahuan. Rumus 5W & 1H yang dipakai dalam penyusunan berita ( Effendy. When. Satu unsur saja tidak ada membuat komunikasi tidak berlangsung dengan baik. Dalam hal ini. Who. Menurut Sasa Djuarsa dkk. Hal itu semakin jelas. secara praktis dapat digunakan sebagai masukan dalam penyusunan/penyempurnaan kebijakan pelayanan atau diseminasi informasi pada Departemen Komunikasi dan Informatika. maka pesan tersebut hendaknya mudah dipahami baik bahasa. 1973 dalam Hamidi.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika.. pesan (what) dan khalayak (whom) merupakan variabel penelitian yang penting dicermati dalam studi diseminasi informasi pada instasni pemerintah. unsur komunikator (who). dan How dapat juga digunakan untuk diseminasi informasi. dan (2) dinilai jujur. terutama dalam mempersiapkan implementasi Undang-undang Nomor 14 tahun 2008 tentang keterbukaan informasi publik. apabila syarat syarat pesan yang baik itu dapat terpenuhi. 1993 :72) meliputi Why. apalagi jika komunikatornya 80 . punya integritas serta dipercayai oleh pihak komunikan (khalayak)´ Dalam diseminasi informasi sebagai proses komunikasi yang efektif memerlukan pengemasan pesan sehingga menimbulkan kebutuhan bagi khalayak. Dalam kaitannya dengan diseminasi informasi sebagai bentuk dan proses komunikasi. Proses pengambilan keputusan yang memberikan kepastian hanya mungkin jika tersedia informasi yang cukup. Dengan kekuasaan dimaksudkan sumber informasi mempunyai kewenangan di bidangnya secara resmi. Setidaknya. Unsur komunikasi lain adalah khalayak seringkali dipersepsikan sebagai unsur yang kurang penting karena dianggap sebagai orang bersikap pasif dan menerima saja apa yang disampaikan oleh komunikator. Agar khalayak tertarik terhadap pesan yang disampaikan komunikator. Salah satu faktor yang berpengaruh terhadap kredibilitas komunikator adalah kekuasaan dan keahlian yang dimiliki sehingga menimbulkan kepercayaan di mata khalayak. Laswell dalam Wilbur Schramm (1963 :117) mengatakan ´a convenient way to describe an act of communication is to answer the following questions : who says what in which channel to whom with what effect ?´ Schramm menunjukkan unsur-unsur yang menggambarkan suatu tindakan komunikasi. Terlebih lagi karena informasi berharga guna mengurangi ketidakpastian seperti dikemukakan dalam Shannon dalam Griffin. Komunikasi dapat berlangsung jika unsur-unsur yang menopangnya ada dan berperan sesuai dengan fungsinya masing-masing.. sedikitnya ada tiga karakteristik dari sumber yang perlu diperhatikan yakni : ¶credibility¶ (kredibilitas). Medan Hasil penelitian ini dapat bermanfaat sebagai referensi menambah khazanah pengetahuan mengenai diseminasi informasi.

. bahkan untuk membuka lapangan pekerjaan baru. 1 . Dalam hubungannya dengan penelitian ini.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. 2004 : 230) Komunikator atau sumber informasi adalah unsur dalam proses komunikasi yang menyampaikan atau menyebarluaskan pesan atau informasi kepada khalay Dalam hal ini ak. dkk (1993 : 221) . bukan yang dimaksudkan oleh pengirim. Definisi Konseptual Diseminasi adalah penyebaran (of information) (John M Echols dan Hassan Shadily. dalam merancang suatu kegiatan komunikasi apakah melalui saluran kegiatan komunikasi personal atau melalui media massa.. Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Palangkaraya. Diseminasi informasi ketenagakerjaan adalah suatu bentuk komunikasi yang menyampaikan atau menyebarkan informasi atau pesan mengenai ketenagakerjaan dari pemerintah sebagai komunikator kepada khalayak pencari kerja. 1979) Informasi adalah ³data yang telah diolah menjadi sebuah bentuk yang berarti bagi penerimanya dan bermanfaat dalam mengambil keputusan saat ini atau mendatang´ (Gordon B Davis.. dan bahwa pesan adalah apa yang dibutuhkan oleh khalayak. Mereka aktif dan juga selektif. Diseminasi informasi ketenagakerjaan melalui online adalah diseminasi informasi ketenagakerjaan yang ³terhubung secara langsung ke internet´ (Jasmadi. sebagai komunikator adalah instansi pemerintah. cara lain dan relasi sosial´. kita seyogyanya berorientasi ke khalayak sasaran (audience oriented)´ Sejalan dengan itu. khalayak bukanlah merupakan sekumpulan dari indvidu-individu yang bersikap dan bertindak ¶pasip¶. Menurut Sasa Djuarsa Sendjaja. Khalayak ternyata tidak pasif dalam proses komunikasi. Secara implisit mereka membutuhkan informasi ketenagakerjaan yang berguna untuk membantunya dalam mencari atau melamar pekerjaan. Pesan adalah data dan informasi ketenagakejaan yang d isampaikan oleh pemerintah kepada pencari kerja. John Fiske (2006 : 208) mengemukakan ³khalayak memiliki sekumpulan kebutuhan yang dicari pemuasannya melalui media massa. lowongan kerja. Model ini mengasumsikan khalayak setidaknya sama aktifnya dengan pengirim.. tetapi mempunyai pandangan terhadap pesan dan komunikator.. hak dan kewajiban TKI. Informasi ketenagakerjaan adalah informasi yang berkaitan dengan ketenagakerjaan seperti peraturan ketenagakerjaan.. 1995.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. yakni Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah dan Dinas Tenaga Kerja. Pencari kerja adalah setiap orang yang terdaftar di Kantor Dinas Tenaga Kerja Kota / Kabupaten untuk mencari atau melamar pekerjaan di dalam negeri maupun di luar negeri Kebutuhan informasi ketenagakerjaan adalah kebutuhan khalayak pencari kerja mengenai informasi ketenagakerjaan. pencari kerja termasuk informasi TKI meliputi persyaratan dan prosedur bekerja di luar negeri.28). Karena itulah. Dalam hal inilah pentingnya pengetahuan dan informasi bagi khalayak sehingga dapat menentukan sikap yang tepat. 81 . Khalayak adalah unsur dalam proses komunikasi yang merupakan sasaran dari penyampaian pesan atau penerima informasi dari komunikator atau sumber informasi. Padahal khalayak sebagai sasaran juga memiliki sikap sendiri dalam berkomunikasi sesuai dengan kepentingan dan tujuannya. Sebagai khalayak adalah pencari kerja baik pencari yang bekerja di dalam negeri maupun di luar negeri (calon TKI). Medan merupakan instansi pemerintah yang dianggap memiliki kredibilitas di bidangnya. khalayak dalam proses komunikasi yang dimaksud adalah pencari kerja yang juga pencari informasi.

menganalisis dan menyajikan data untuk menarik kesimpulan. petugas loket pelayanan kartu kuning.637. Mottonya adalah Kota Cantik (Terencana. 2007 : 44) Dalam hal ini salah satu varian fenomenologi yang digunakan adalah fenomelogi realistik.79 km2. Aman.244. GAMBARAN UMUM Geografi dan Demografi Provinsi Kalimantan Tengah Provinsi Kalimantan Tengah dibentuk berdasarkan Undang-Undang Darurat Nomor 10 tahun 1957 dengan ibukota Palangkaraya. (Dinas Tenaga Kerja Pemprov. Kalteng.Provinsi ini terletak di daerah khatulistiwa dengan iklim tropis yang lembab. Teras Nerang. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan fenomenologi. 95 kecamatan. fenomenologi realistik lebih menekankan pada pengamatan serta penggambaran esensi-esensi yang bersifat umum.´ Selain melalui pengamatan atau observasi terhadap proses diseminasi informasi di lingkungan instansi pemerintah. Data kualitatif yang diperoleh dari jawaban narasumber dan hasil observasi yang benar-benar sesuai dengan tujuan penelitian berkesempatan untuk dianalisis. sawah dan ladang 10. Lokasi penelitian ditetapkan secara purposive yaitu Dinas Tenaga Kerja Pemerintah Provinsi Provinsi Kalimantan Tengah di Kota Palangkaraya dengan pertimbangan bahwa instansi pemerintah yang melayani informasi ketenagakerjaan di Provinsi Kalimantan Tengah terdapat di kota tersebut. perkebunan 6. Tertib dan Keterbukaan).b. mengumpulkan. Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif dengan melakukan reduksi data terlebih dahulu terhadap data yang masuk baik yang diperoleh melalui wawancara mendalam maupun catatan observasi di lapangan. logis dan rasional yang digunakan oleh peneliti ketika merencanakan. Curah hujan terbanyak pada bulan-bulan Oktober sampai dengan Maret. Luas provinsi ini 153. Menurut Embree (1998 :333-343) dalam Pawito (2007 :58). (Hamidi.Wawancara dengan menggunakan pedoman wawancara yang disusun terlebih dahulu. Kategori data dibuat berdasarkan permasalahan penelitian dan data lapangan. Pendekatan kualitatif ´lebih dimaksudkan untuk memberikan gambaran atau pemahaman mengenai gejala (dari perspektif subjek atau aktor).24 km2 (BPS.id?web/id/KER 01/profil/kalteng/tanggal 25-4-2008) Secara administratif Provinsi Kalimantan Tengah terbagi atas 13 kabupaten. membuat teori´ (Pawito. A. dan pencari kerja.62 km2. Satu -satunya 2 pemerintahan kota di provinsi ini adalah Palangkaraya dengan luas 2. Medan Metode Penelitian Metode penelitian merupakan seperangkat cara yang sistematik. artinya tempat yang suci.564 km2 terdiri dari hutan dan pertanahan lainnya 134. permukiman dan bangunan lainnya 1. mulia dan besar. sedangkan data yang kurang relevan tidak dimasukkan dalam analisis. Narasumber yang diwawancarai adalah pejabat Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah dan Dinas Tenaga Kerja. panas dengan suhu rata-rata 34 0 Celcius.go. Oleh karena diseminasi informasi ketenagakerjaan langsung kepada pencari kerja melalui loket pengurusan kartu kuning hanya dilaksanakan oleh Dinas Tenaga Kerja Kabupaten / Kota.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. pengumpulan data lapangan juga dilakukan wawancara mendalam (depth interview).937. Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Palangkaraya. 2007 : 122). Dengan penelitian ini diharapkan dapat digambarkan proses diseminasi informasi dan jenis kebutuhan informasi khalayak pencari kerja. 1 kota. maka dipilih Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Palangkarya dengan alasan kota ini merupakan pusat kegiatan pemerintahan dan masyarakat.2001) dan (http://www. termasuk kegiatan ketenagakerjaan di Kalimantan Tengah. 1. 25 2 km .400 km .i. 1 . 2008a :2) Menurut Gubernur. ´mulai tahun 2008-2010 Pemerintah Provinsi 82 .177 desa dan 122 kelurahan.744.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika.

089 42. Tabel 1 Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin di Kabupaten dan Kota (orang) No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Kabupaten/Kota Penduduk Laki-laki Perempuan Kab. Ot Danum. 1 .697 Kab. tetapi lebih terkonsentrasi di perkotaan. Penduduk yang menganut agama Islam merupakan golongan terbesar.36 % dan kepadatan 12. Penyebaran penduduk masih belum merata di seluruh provinsi Kalimantan Tengah. Lamandau 28. Selain orang Dayak ada juga penduduk pendatang.Gunung Mas 45.383 Kab. Kotawaringain Barat 106. (http://www. sedangkan di kabupaten lainnya jumlah cukup kecil. Minat penduduk untuk bekerja sebagai pegawai negeri sipil. dan transportasi. Di seluruh Provinsi Kalimantan Tengah terdapat 30 bahasa daerah.353 146. Pulang Pisau 59.75 penduduk / km2. Kaharingan. Kalteng. dan Kinyah Kamber. Sungai Kahayan. tanggal 20-32008) Pada tahun 2006 jumlah penduduk Provinsi Kalimantan Tengah tercatat sebanyak 2. TNI/Polri dan karyawan perusahaan dan berwirausaha cukup tinggi. Katingan dll. Makassar.887 perempuan dapat dilihat pada Tabel 1.066 Kab. Penduduk memilih bertempat tinggal di perkotaan karena faktor lapangan kerja sektor formal yang mulai berkembang.219 16.259 Kab. Sungai Katingan. Pada tahun 2005 jumlah penduduk tercatat 1. seperti perdagangan.003.513 27. yaitu orang-orang Banjar.579 jiwa. Barito Timur 43.401 jiwa terdiri dari 1. Barito Barat 58. desa dan kelurahan 1. Kotawaringin Timur 165. Bahasa Dayak Ngaju sebagai bahasa lingufranca.448 63.814 99.514 974. Sungai Kapuas.180 jiwa. Bugis. Melayu. Arab dan China. Madura. 83 . Kabupaten Kapuas merupakan kabupaten terbesar dengan jumlah penduduknya 351.351 Kab.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.kalteng bps. Sungai Mentaya dll. Kesenian masyarakat Dayak. Medan Kalimantan Tengah mempunyai program Mamangun Mahaga Lewu (Membangun Menjaga Desa). Sukamara 19.514 laki-laki dan 974.977 58.132 50.028.071 92.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Tabel itu juga memperlihatkan jumlah penduduk laki-laki secara keseluruhan maupun per kabupaten lebih besar daripada jumlah penduduk perempuan.goid.571 60.957.455 Kab.823 42.028. Agama penduduk nya Islam.176 Kota Palangkaraya 91. dan kabupaten Sukamara hanya berpenduduk 36.861 jiwa dengan laju pertumbuhan 2. (2008a:2) Tabel 1 menunjukkan tiga kabupaten dan kota Palangkaraya mempunyai jumlah penduduk yang tergolong besar.231 Kab. Kapuas 176.887 Jumlah total penduduk 2. jasa. Barito Selatan 62.401 Sumber : Diolah dari Dinas Tenaga Kerja Pemprov.003 41. Katingan 69.003. Giring-giring. 13-3-2008) Dalam publikasi yang diterbitkan oleh LIN. bergaul dengan masyarakat setempat.961 Kab. Ma¶anyam. Jawa.124 175.723 Jumlah 1.357 dan 70 % di antaranya adalah desa´ (Kompas. Dalam tiga tahun akan ada 126 desa dijadikan percontohan.545 Kab.566 Kab.025 Kab. (2001 : 43-44) dikemukakan bahwa penduduk asli Provinsi Kalimantan Tengah adalah suku bangsa Dayak. yang terdiri dari beberapa sub suku bangsa seperti Ngaju. Ot-siang.449 Kab. terutama tari-tarian antara lain Deder Ketingan. Mereka bermukim dalam komunitas±komunitas desa di sepanjang Sungai Barito. Kristen. Murung Raya 45. Seruyan 57. dan Budha.377 55. Lawangan.

dengan laju pertumbuhan ekonomi tahun 2006 sebesar 5. dan jumlah pencari kerja yang lebih terkonsentrasi pada pekerjaan perkantoran di instansi pemerintah dan perusahaan swasta.280 954.360 Sisa Pencaker 2007 20.991.690 82.423 Angkatan Kerja 614.8 % dan perempuan 13. Angka yang disajikan itu merupakan jumlah penganggur yang tercatat secara resmi di Kantor Dinas Tenaga Kerja di Kabupaten/Kota se-Provinsi Kalimantan Tengah.org/wki/kota Palangkaraya.585 598.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika.7 %) turun menjadi 55.337. Pendapatan penduduk per kapita pada tahun 2006 mencapai Rp 9.84 %.id.289 Sumber : Diolah dari Dinas Tenaga Kerja Pemprov. tercatat tingkat pengangguran sebesar 8.690 orang jauh lebih besar daripada jumlah penganggur laki-laki 35. 1 .go. Luas kota ini 2678.670 orang. Data ini membuktikan bahwa daerah ini tidak bebas dari pengangguran meski wlayahnya amat luas untuk bisa digarap sebagai lahan pertanian. Perusahaan dan mall di Kota Palangkaraya mulai menawarkan pekerjaan khusus untuk wanita sebagai sales promotion girls (SPG). terutama di perdesaan hampir tidak ada yang kelihatan menganggur secara total.7 %)´ (http://www.449 jiwa dan kepadatan 62. (Dinas Tenaga Kerja.590 872.478 Penganggur 35. Berbeda dengan di perdesaan penduduk yang benar-benar tidak bekerja sama sekali sulit ditemukan. Setidaknya penduduk di perdesaan bisa menggarap lahan pertanian atau berkebun di tanahnya sendiri atau milik keluarganya sebagai mata pencaharian.397 orang (1. (2008a : 2) Jumlah pengangguran terbuka Agustus 2006 67. Kalteng. 2008a : 2-3) Pada Tabel 2 dapat dilihat jumlah penganggur sebesar 82.360 orang terdiri dari penganggur perempuan 46. Bahkan sebagaimana dikemukakan sebelumnya.168 376.558 340.id/ viewarticle.Kerja 186.. 84 .51 km2 dengan jumlah penduduk pada tahun 2003 tercatat 168. ³Bertambahnya jumlah penduduk yang bekerja di sektor pertanian menyebabkan angka pengangguran menurun secara signifikan. Umumnya penganggur tersebut berdomisili di perkotaan sebagai akibat dari banyaknya lulusan terdidik khususnya SLTA hingga sarjana.631 orang (6.89 jiwa/km2. Medan kecuali di Kota Palangkaraya.469 Sisa Lowongan 162 183 345 Bukan Tenaga Kerja 189.670 46. Secara selayang pandang gambaran Kota Palangkaraya dalam beberapa hal seperti adat istiadat. Berkaitan dengan kondisi ketenagakerjaan di provinsi ini. Keinginan untuk mendapatkan pekerjaan di kota mulai tumbuh di kalangan perempuan di perdesaan. Sektor pertanian dan perkebunan (berkebun sendiri) dan usaha mencari hasil hutan besar peranannya dalam menyerap tenaga kerja sehingga terkesan penduduk di Kalimantan Tengah.704 411.421 18. tanggal 25-4-2008).561.kalteng. agama tidak berbeda jauh dari keadaan Provinsi Kalimantan Tengah.Hal ini mendorong penduduk perdesaan pindah (urbanisasi) ke kota Palangkaraya sebagai pencari kerja baru. suku bangsa.asp. sebagai satu-satunya pemerintahan kota di Provinsi ini tampak karakteristik dan kemajuan perkotaan pada tingkat pendidikan yang lebih tinggi.7 %.wikipeda.888 293.0 %) pada Pebruari 2007 atau turun 12.887 1.558 974.048 38. Pemprov Kalteng.838 Kesempatan Kerja 578.6 % dengan jumlah penganggur laki-laki 5.244 orang (5.329 187.497 Bukan Angk. (http://www. Tabel 2 Data Ketenagakerjaan di Provinsi Kalimantan Tengah ( orang) Uraian Laki-laki Perempuan Jumlah Tenaga Kerja 829.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.

794 jiwa. Kalteng. tujuan mencari kartu AK1.30 % atau 13.469 Data jumlah sisa pencari kerja atau pencaker hingga akhir tahun 2007 sebesar 38. Berdasarkan jumlah kartu yang dikeluarkan Dinas Tenaga Kerja Kota / Kabupaten itu dapat diketahui jumlah yang mendaftar sebagai pencari kerja. Kartu kuning yang digunakan untuk melengkapi persyaratan lamaran kerja hanya dapat diperoleh di kantor Dinas Tenaga Kerja Kota/Kabupaten melalui loket Diseminasi kartu kuning.469 orang diperoleh dari hasil pendaftaran melalui kartu kuning (AK1) yang dikeluarkan oleh Kantor Dinas Tenaga Kerja Kota atau Kabupaten se Kalimantan Tengah. Medan tanggal 28-4-2008) Jumlah penduduknya menurut Tabel 1.878 38.048 Sumber : Diolah dari Dinas Tenaga Kerja Pemprov.677 Jumlah 20.567 5. sebagian besar 36. (2008a : 5).764 orang atau 95. 2008a : 8) Jumlah pencari kerja yang terdaftar di Dinas Tenaga Kerja Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah berasal dari pencari kerja yang mengurus kartu kuning (AK1) di Kantor Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Palangkaraya di Palangkaraya dan Kantor Dinas Tenaga Kerja yang terdapat di tiga belas kabupaten seKalimantan Tengah.195 S1-S3 4.124 2.345 jiwa dalam waktu lima tahun. Data pencari kerja yang diperoleh dari proses pengurusan kartu tersebut memuat jumlah pencari kerja dan jenis pekerjaan yang diinginkannya. Pemprov Kalteng.421 18.319 7. Karena tiap pencari kerja diharuskan mengisi Daftar Isian Pencari Kerja yang disediakan secara gratis. tercatat 183. Jadi. Identitas pribadi dan pas photo pencari kerja yang tercantum dalam formulir meliputi tentang pekerjaan sekarang.TNI.197 orang. pindah wilayah. Pelamar yang hendak mencari pekerjaan di kantor pemerintah (CPNS.201 3.Polri) dan perusahaan swasta diharuskan melampirkan kartu kuning (AK1) sebagai salah satu syarat. Kalteng. tetapi hanya mengolah dan merangkum data pencari kerja dalam publikasi Berita Pasar Kerja dan Lembar Informasi Ketenagakerjaan yang terbit tiap bulan seperti dapat dilihat pada Tabel 3.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika.307 23. (2008a :5) No 1 2 3 4 5 6 Jumlah 91 307 1. Jumlah para penc ari kerja ini merupakan sisa yang tidak dapat disalurkan atau mendapat pekerjaan pada tahun 2007 dan mereka mencoba mendaftar kembali untuk mendapatkan kartu AK1 yang baru.463 D1-D3/SM 3.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Tabel 3 Jumlah Pencari Kerja Menurut Tingkat Pendidikan di Kalimantan Tengah (orang) Tingkat Pendidikan Laki-Laki Perempuan Tidak Tamat SD 67 24 SD 208 99 SLTP 717 590 SLTA 12. ³Jumlah pencari kerja yang belum ditempatkan sampai dengan akhir bulan Desember 2007 sebanyak 38. terjadi pertambahan sebanyak 15. pekerjaan dan upah yang diinginkan pencari kerja.469 orang.56 % merupakan tenaga terdidik mulai dari t amatan SLTA hingga kategori S1-S3´ (Dinas Tenaga Kerja.104 11. 1 . meninggaal dunia atau sudah mendapat pekerjaan´ (Dinas Tenaga Kerja Pemprov. Jumlah pencari kerja berpendidikan tinggi D1-S3 ternyata cukup besar 34. Pencari Kerja (Pencaker) Kantor Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah tidak melayani langsung pengurusan kartu kuning bagi pencari kerja. ³Pencari kerja yang tidak melaporkan atau tidak mendaftar ulang setelah terdaftar s ebagai pencari kerja selama 6 bulan berturut-turut akan dihapuskan sebagai pencari kerja karena diangggap tidak memerlukan Diseminasi antar kerja lagi. 85 . Di samping itu penghapusan sebagai pencari kerja dapat disebabkan karena permintaan sendiri.

664 1. dengan misi di bidang ketenagakerjaan µMembangun Balai Pendidikan dan Ketrampilan untuk Meningkatkan Kemampuan Mengembangkan Semangat Kewirausahaan dan Keahlian Berusaha Melalui Kerjasama Dengan Berbagai Pihak Termasuk Perguruan Tinggi¶ Berdasarkan hal itu.64 %). dan stakeholdernya. Keberhasilan sektor pendidikan melahirkan tenaga terdidik yang cukup besar di wilayah Kalimantan Tengah berpengaruh terhadap pilihan lapangan kerja. peranan visi dan misi semakin penting dalam menjalankan organisasi pemerintahan. 1 . Menciptakan hubungan industrial yang harmonis antara pekerja. (2008a :5) No 1 2 3 4 5 6 7 Jumlah 7. seperti dapat dilihat pada Tabel 4 tampaknya jabatan sebagai tenaga produksi. penempatan tenaga kerja dan peningkatan kesempatan kerja di perkotaan dan perdesaan.552 1. 3.053 1.590 10.164 Tenaga Usaha Pertanian 2.949 Tenaga Usaha Penjualan 1.818 3. Kalteng.555 Jumlah 20.634 Kepemimpinan dan Ketatalaksanaan 1. Kecenderungan pilihan jenis pekerjaan yang favorit di masa yang akan datang bersifat manajerial di instansi pemerintah dan perusahaan swasta. Mewujudkan peningkatan kualitas dan produktivitas angkatan kerja. visi Dinas Tenaga Kerja µMengurangi Tingkat Pengangguran dan Meningkatkan Kualitas Hubungan Industrial untuk Meningkatkan Produktivitas Tenaga Kerja¶.048 Sumber : Diolah dari Dinas Tenaga Kerja Pemprov. Tujuan Dinas Tenaga Kerja Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah ditetapkan untuk : 86 .005 4. Tabel 4 Jumlah Pencari Kerja Menurut Golongan Pokok Jabatan Pada Tahun 2007di Kalimantan Tengah (orang) Golongan Pokok Jabatan Laki-Laki Perempuan Profesional.147 2. Orientasi pemerintah ditujukan kepada khalayaknya sebagai pelanggan yang harus dipenuhi kebutuhannya.782 2. pegawai.421 18. Medan Apabila diperhatikan jenis pekerjaan atau golongan pokok jabatan yang didaftar oleh pencari kerja yang belum ditempatkan (ybdi). dan Teknisi 4.198 3.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.654 1.230 Tenaga Usaha Jasa 1.537 Tenaga Produksi 6. 2.979 Pejabat Pelaksana dan Tata Usaha 3. pengusaha dan perlindungan tenaga kerja.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. dan pejabat pelaksana cukup banyak diminati ( 66.469 Pelaksanaan Diseminasi Informasi Ketenagakerjaan 1. misi dan tujuan organisasi pemerintahan tersebut diperlukan kesamaan persepsi semua pejabat. Sedangkan misinya adalah : 1. Untuk memahami dan melaksanakan visi. Pemprov Kalteng. Mewujukan pembangunan bidang ketenagakerjaan melalui perluasan lapangan kerja.560 38. Dalam publikasi Dinas Tenaga Kerja.Visi dan misi Gubernur Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah di bidang ketenagakerjaan merupakan dasar bagi penentuan visi dan misi Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah.295 3.929 3. yaitu ³reinventing government´.643 7. (David Osborne dan Ted Gaebler. Tiap organisasi di lingkungan birokrasi pemerintahan lebih digerakkan oleh misinya sehingga birokrasi mampu bertindak cepat dalam melayani masyarakatnya. 1998) termasuk kebutuhan informasi. (2008a : 4) ³ visi Gubernur Kalimantan Tengah Tahun 2005-2010 adalah µmembuka Isolasi Menuju Kalimantan Tengah yang Sejahtera dan Bermanfaat¶. Program dan kebijakan mengenai diseminasi informasi ketenagakerjaan dibuat dalam rangka mencapai visi dan misi Dinas tersebut. tenaga profesional. Dinas Tenaga Kerja Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah Dengan paradigma baru di bidang pemerintahan dewasa ini.

sehingga tiap sumber daya manusia yang terdidik dan telah mendapat pelatihan ketrampilan mendapat pekerjaan. Seksi Rencana dan Program 2. fungsi dan pekerjaan masing-masing. termasuk informasi mengenai TKI di provinsi ini. (2008a : 5) Penganggur tersebut merupakan pencari kerja yang sebenarnya membutuhkan informasi ketenagakerjaan. Basuniansyah. Dalam hubungan itu. Program peningkatan kualitas dan produktivitas tenaga kerja. Upaya pemerintah ditujukan untuk memperluas dan mengembankan kesempatan kerja. Hal ini berarti fokus perhatian utama Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah adalah mengatasi pengangguran. Adanya pembagian tugas yang jelas tersebut tidak menghalangi satuan organisasi untuk menginformasikan hal-hal yang berkaitan dengan ketenagakerjaan. Medan 1. Salah satu indikator rendahnya pendayagunaan atau pemborosan sumber daya manusia adalah tingginya tingkat pengangguran . Walaupun demikian. ´Diseminasi informasi ketenagakerjaan terutama yang ditujukan kepada stakeholder dan masyarakat dianggap sebagai tugas yang penting dalam masyarakat informasi´. Secara fungsional Seksi Informasi Ketenagakerjaan mempunyai tugas untuk melaksanakan diseminasi informasi ketenagakerjaan. Memperluas dan mengembangakan kesempatan kerja. 3. Pembentukan Seksi Informasi Ketenagakerjaan dimaksudkan untuk melakukan diseminasi dan penyebaran informasi ketenagakerjaan. yaitu : 1. dibentuk Seksi Informasi Ketenagakerjaan di bawah Sub Dinas Perencanaan dan Program. Sejalan dengan itu disusun Program Dinas tersebut meliputi : 1. Program perlindungan dan pengembangan kelembagaan. salah satu tugas Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah yang didelegasikan kepada Seksi Informasi Ketenagakerjaan adalah melaksanakan kegiatan hubungan masyarakat guna memperkenalkan ketenagakerjaan.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Pemprov Kalteng. kebijakan di bidang ketenagakerjaan pada dasarnya adalah mendayagunakan sepenuhnya sumber daya manusia yang telah dikembangkan melalui pelaksanaan program utama ketenagakerjaan. Menurut Kepala Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah A. Meningkatkan kualitas dan produktivitas tenaga kerja. Program perluasan dan pengembangan kesempatan kerja 2. Seksi Perencanaan Tenaga Kerja Ketiga seksi tersebut senantiasa bekerja sama dengan Seksi Informasi Ketenagakerjaan. 2.di antaranya disebabkan faktor keberhasilan dunia pendidikan menciptakan tenaga terdidik lebih besar dari daya serap lapangan kerja untuk tenaga terdidik tersebut sehingga terjadi kelebihan penawaran tenaga terdidik (Dinas Tenaga Kerja. Meningkatkan perlindungan dan pengembangan kelembagaan. Tuntutan pekerjaan menghendaki Seksi ini mampu memberikan dukungan terhadap seluruh satuan organisasi yang berada dalam Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah. Di samping itu.6 % merupakan yang tertinggi yang pernah dialami . secara internal Seksi Informasi Ketenagakerjaan merupakan supporting unit bagi Sub Dinas dan Bagian Tata Usaha.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Tingginya tingkat pengangguran golongan terdidik -minimal tamatan SLTA. 3. Untuk dapat melaksanakan diseminasi informasi ketenagakerjaan secara khusus. Tiga seksi lainnya pada Sub Dinas Perencanaan dan Program yang erat hubungannya dengan Seksi Informasi Ketenagakerjaan. 1 . dalam kegiatan penyebaran informasi ketenagakerjaan serti penyusunan 87 . tiap Sub Dinas dan Bagian Tata Usaha pada Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah dapat memberikan informasi mengenai tugas. terutama tentang lowongan kerja yang tersedia di instansi dan perusahaan swasta. Tingkat pengangguran di Kalimantan Tengah pada tahun 2006 sebesar 8. Seksi Pelaporan dan Evaluasi 3. Oleh karena itu.

Kesepakatan Kerjasama Pembangunan Ketenagakerjaan Lintas Kabupaten Kota Se Kalimantan Tengah. Sub Dinas Perencanaan dan Program. Prosedur TKI Bekerja Ke Luar Negeri. Kegiatan diseminasi informasi ketenagakerjaan yang telah dilaksanakan selama ini secara rutin adalah membuat buletin Lembar Informasi Ketenagakerjaan yang diterbitkan tiap bulan. Visi dan Misi Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah. Pada umumnya Diseminasi informasi ketenagakerjaan dilaksanakan sendiri oleh Seksi tersebut. Sub Dinas Penempatan Tenaga Kerja dan Perluasan Kerja. Kepala Seksi Penyaluran dan Penempatan Tenaga Kerja. diseminasi informasi mengenai TKI belum dilaksanakan oleh Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah. Menjadi TKI Meningkatkan Kesejahteraan 10. Trafiking (Perdagangan) Perempuan dan Anak 9. tahun 2004 3. 2. tetapi dalam hal tertentu seperti kegiatan sosialisasi dan pembuatan spanduk melibatkan seksi lain dan Bagian Tata Usaha. Diseminasi informasi ketenagakerjaan dalam bulan K3 atau Keselamatan dan Kesehatan Kerja (12 Desember-12 Januari) dilaksanakan dengan kampanye K3 melalui pemasangan spanduk di pinggir jalan besar dan tempat strategis di kota-kota Kalimantan 88 . juga diberikan secara selektif kepada pencari kerja atau petugas pemerintahan yang memintanya. Persyaratan Permohonan Izin Pemutusan Hubungan Kerja dan Prosedur Permohonan Banding. Lembar informasi ketenagakerjaan yang dijilid secara sederhana dengan tampilan sebagai buletin dapat bermanfaat bagi stakeholder atau pengguna karena isinya memuat informasi yang menggambarkan perkembangan pencari kerja. Jaminan Kecelakaan Kerja Program Jamsostek. pembuatan spanduk bulan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja). Karena perusahaan TKI ini belum operasional. Namun. Leaflet tentang TKI tidak disampaikan kepada calon TKI maupun Perusahaan Jasa TKI/Pelaksana Penempatan TKI Swata. Menurut Jahidin Siringo-ringo. Di samping produk berupa Lembar Informasi Ketenagakerjaan itu. sejumlah leaflet dicetak dan diterbitkan oleh Seksi Informasi Ketenagakerjaan.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. sejauh ini belum ada aktivitasnya´. ³di Kalimantan Tengah hanya terdapat satu perusahaan TKI yang baru berdiri berdasarkan izin tanggal 10 November 2007. Tata Cara Permintaan Jaminan Kecelakaan Kerja. tahun 2002. Sub Dinas Perencanaan dan Program. Standarisasi dan Sertifikasi Tenaga Kerja 7. tahun 2004 6. Kepala Seksi Informasi Ketenagakerjaan hanya dibantu oleh dua pegawai staf berpendidikan tamatan SLTA. yaitu PT Titian Hidup Langgeng di Jalan Kol. 1 . Selama ini calon TKI yang akan bekerja ke luar negeri berangkat melalui daerah Kalimantan Selatan. tahun 2004 4. tahun 2004 5. Leaflet dimaksudkan sebagai sarana komunikasi untuk memperkenalkan Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah sebagai institusi pemerintahan dan menyebarluaskan informasi atau peraturan ketenagakerjaan. BPS. Diseminasi informasi secara institusional di tingkat provinsi merupakan tugas dan tanggung jawab Seksi Informasi Ketenagakerjaan. lowongan kerja dan pengangguran di Kalimantan Tengah selama satu bulan. Leaflet yang berisi informasi ketenagakerjaan selain disebarkan di lingkungan instansi pemerintah seperti Bappeda. Untung Surapati nomor 8 Kapuas. RAN-PKTP (Rencana Aksi Nasional Penghapusasn Kekerasan Terhadap Perempuan) 8. Medan dan penerbitan buletin dan leaflet. Beberapa leaflet yang diterbitkan antara lain berjudul: 1. Kerjasama antar satuan kerja di lingkungan Dinas terutama karena jumlah dan kualifikasi pegawai yang menangani amat terbatas. Dinas Perhubungan.

mereka ´pernah mengikuti pelatihan operator dan mengoperasikan komputer online 3 hari yang dilaksanakan oleh Depnakertrans di Jakarta Mei 2007. Sedangkan untuk mendapatkan informasi dan peraturan ketenagakerjaan terbaru sebagian dilakukan melalui browsing ke situs www. Di samping penyebaran informasi ketenagakerjaan sebagaimana dimuat dalam cakupan kegiatan Seksi Informasi Ketenagakerjaan itu. Kampanye K3 yang dilakukan secara terus menerus diharapkan dapat menjadikan K3 sebagai budaya kerja sehingga para pekerja terhindar dari kecelakaan kerja. Penyebaran informasi ketenagakerjaan melalui media massa khususnya siaran televisi dilakukan oleh Kepala Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah. Mahmud Fauzi dan Budi Ahmad Yani. Dalam pelatihan diberikan mengoperasikan Windows dan cara membuka situs di internet´ Sebelumnnya Maret-April 2007 komputer (Windows) dikirim dulu dan sebagai tindak lanjutnya mereka mengikuti pelatihan komputer itu.nakertrans. Wawancara dengan topik ketenagakerjaan dilaksanakan secara periodik ( 3 bulanan ) di TVRI. Fasilitas yang mendukung aktivitas ini tersedia dua komputer yang tersambung (link) dengan jaringan internet milik Telkom. diterbitkan pula Laporan Berita Pasar Kerja berupa himpunan data yang berasal dari laporan Informasi Pasar Kerja (IPK) dari seluruh kantor Dinas Tenaga Kerja Kota dan Kabupaten se -Kalimantan Tengah. Kegiatan diseminasi informasi ketenagakerjaan melalui online ditempakan pada satu ruangan dengan Seksi Penyaluran dan Penempatan Tenaga Kerja.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Pada saat penelitian ini dilakukan internet keduanya untuk sementara waktu tidak bisa digunakan karena hambatan keuangan. internet tidak digunakan sebagai satu-satunya 89 . Sumber daya manusia (SDM) yang menangani internet ini dilaksanakan oleh dua orang operator. Medan Tengah. gedung-gedung dan tempat kerja lainnya. Internet bisa dioperasikan mulai bulan Mei sampai dengan Desember 2007. mengingat penggunaannya masih baru dan lebih banyak dimaksudkan sebagai sarana pembelajaran teknologi informasi. Menurut Fauzi ´ hal ini disebabkan belum ada (pencairan) dana tahun anggaran 2008 untuk membayar telepon´. Situs (website) Dinas Tenaga Kerja Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah sendiri belum ada. Kampanye K3 ini penting bukan saja untuk setiap pekerja. Sosialiasi ini yang dimaksudkan untuk mengingatkan para pekerja agar lebih berhati-hati pada saat bekerja di bangunan-bangunan. go id di Jakarta. Untuk mengirim sebagian data dan informasi ketenagakerjaan ke Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi di Jakarta dikirim melalui e mail. tetapi juga bagi perusahaan dan pemerintah sebagai penyedia kerja yang bertanggun jawab terhadap keselamatan dan kesehatan pekerjanya. di acara itu dikemukakan mengenai perkembangan dan masalah ketenagakerjaan di daerah ini Acara siaran televisi ini dianggap penting sebagai sarana komunikasi untuk menjangkau masyarakat di wilayah yang amat luas seperti Kalimantan Tengah. Laporan ini terbit tiap bulan merupakan ´salah satu kegiatan Proyek Pengembangan Perluasan Kesempatan Kerja (PPKK) Provinsi Kalimantan Tengah Tahun Anggaran 2007´ Pembuatannya dikoordinasikan oleh Sub Dinas Penempatan Tenaga Kerja dan Perluasan Kerja. Menurut kedua operator. Karena itu. Kedua fungsi internet itu belum dilaksanakan secara maksimal. Selama ini penggunaan internet di Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah terbatas hanya untuk mencari ( browsing) dan mengirim (e-mail) informasi. Sebenarnya masalah internet ini tidak banyak berpengaruh terhadap kegiatan pelaporan ketenagakerjaan karena bukan andalan utama untuk mengirim data dan informasi ketenagakerjaan. 1 . Penggunaan browsing untuk mencari data dan informasi ketenagakerjaan masih terbatas sebagai pelengkap. Pegawai yang dapat mengoperasikan internet sebagai sarana dalam kegiatan diseminasi informasi ketenagakerjaan online telah siap sejak Mei 2007. Penggunaan cara manual dengan surat merupakan cara pengiriman yang utama.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.

Lilik. Darwono ³ jumlah pencaker tahun 2007 terdaftar 7. 90 . Fotocopy KTP yang masih berlaku 1 lembar. Fotocopy ijazah SD s/d terakhir 1 lembar.000-an. Ruangan berukuran 3 x 4 meter ini digunakan untuk memproses dokumen pembuatan kartu kuning dan menyerahkan hasilnya kepada pencari kerja.000. pencaker sering hanya membawa ijazah terakhir´ Ketidaklengkapan berkas fotocopy ijazah ini timbul karena pencari kerja baru mengetahui informasi persyaratan yang sebenarnya ketika membacanya di samping loket. Kebutuhan informasi mendesak dari tiap pencari kerja pada dasarnya sama.. informasi lowongan kerja. Selama 2002-2006 dipungut Rp 10. walaupun secara ekonomi cukup banyak punya mobil dan motor´. tetapi di sana juga terjadi komunikasi antara petugas dengan pembuat kartu kuning yang tidak lain adalah pencari kerja. kebutuhan akan mendapatkan pekerjaan secara implisit di dalamnya ada kebutuhan informasi ketenagakerjaan atau sebaliknya. Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Pemerintah Kota Palangkaraya Masalah pengangguran yang berkaitan erat dengan pencari kerja merupakan salah satu aspek ketenagakerjaan yang mendapatkan prioritas dalam program Dinas Tenaga Kerja baik di provinsi maupun di kota dan kabupaten.. 3.per orang masuk kas Daerah. Medan sarana pengiriman dan pencarian data dan informasi ketenagakerjaan. 2. ³keluhan pencaker tidak ada. 1 . Peranan loket tidak hanya untuk memasukkan berkas dan menyerahkan kartu kuning. petugas kemudian memberikan kartu kuning melalui loket. diseminasi i formasi n ketenagakerjaan dilaksanakan petugas secara langsung kepada pencari kerja melalui loket dari ruangan pelayanan kartu kuning bersamaan dengan proses pembuatan kartu tersebut. 2. Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Pemerintah Kota Palangkaraya. Semua petugas bekerja berdasarkan petunjuk dan prosedur tetap pembuatan kartu kuning dan mendapatkan bimbingan dari Kepala Seksinya. seperti persyaratan pembuatan kartu kuning.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Sebagai langkah awal tiap pencari kerja diminta untuk mengisi formulir terlebih dahulu dan menyerahkan dokumen sesuai dengan persyaratan seperti tercantum pada pengumuman yang ditempel di samping loket. Pasfoto ukuran 3x4 cm 3 lembar. Pada Dinas Tenaga Kerja. Persyaratan pembuatan kartu kuning (AK1) dalam pengumuman 29 November 2006 adalah : 1. Dengan mendapatkan informasi ketenagakerjaan pencari kerja mengetahui apa yang seharusnya dilakukan untuk mempersiapkan dan melamar pekerjaan secara lengkap Ketika mengurus karu kuning pencari kerja sekaligus memperoleh informai ketenagakerjaan.bertentangan dengan ILO dan pencaker masih penganggur. prosedur dan syarat melamar perusahaan dan instansi pemerintah yang menawa rkan pekerjaan. Demikian pula hubungan dengan stakeholder ketenagakerjaan di Palangkaraya. Menurut petugas kartu kuning. Meskipun persyaratan ijazah yang dicantumkan dalam pengumuman cukup jelas. Kalimantan Tengah belum memakai fasilitas jaringan Local Area Network (LAN). Setelah berkas selesai diproses. Kebijakan pembebasan biaya pembuatan kartu kuning dengan jelas tertera pada pengumuman yang ditempel di samping loket.. Menurut Kepala Seksi Pelatihan dan Produktivitas Tenaga Kerja. Pengurusan kartu kuning di kota Palangkaraya mulai tanggal 1 Januari 2007 tidak dipungut biaya. Kenyataannya. Petugas adalah pegawai dari Seksi Penempatan dan Perluasan Kerja yan ditempatkan di g ruangan pembuatan kartu kuning.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. yaitu informasi yang berkaitan dengan pekerjaan yang dilamarnya. sering terjadi kekeliruan karena yang diserahkan pencari kerja hanya ijazah terakhir. Komunikasi data dengan menggunakan LAN masih merupakan tantangan bagi Din Tenaga Kerja Provinsi dan as Dinas Tenaga Kerja kota dan kabupaten se-Kalimantan Tengah. Kedua kebutuhan ini menyatu sehingga sukar untuk dipisahkan. Dinas Tenaga Kerja.

Kadangkala beberapa karyawan perusahaan asuransi jiwa yang menempelkan pengumuman lowongan pekerjaan turut memberikan informasi kepada pelamar yang berminat lewat loket. Medan Oleh karena itu. pengetahuan dan motivasi yang diberikan kepada peserta pelatihan. Namun. Dalam pelayanan ini tidak ada petugas dan loket khusus yang menyampaikan informasi ketenagakerjaan. Kedua pekerjaan itu dilakukan oleh petugas yang sama. menurut Kepala BLK Drs Anden ´putra daerah tidak mau dilatih dibengkel / bubut. Akibatnya. Komunikasi tidak dapat berlangsung lama sebab petugas amat sibuk melayani pencari kerja yang antre di depan loket. Dengan seizin petugas. Kebanyakan informasi yang disampaikan mengenai persyaratan kartu kuning. perlu petugas loket informasi yang fokus memberikan informasi´ Untuk mendapatkan informasi ketenagakerjaan secara detail melalui loket tidak dimungkinkan karena tidak adanya petugas dan loket informasi. Komunikasi tatap muka terjadi antara petugas yang berada di dalam ruangan dengan pencari kerja yang berdiri di depan loket.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Hal ini menggambarkan bahwa kebutuhan informasi ketenagakerjaan tidak hanya sebatas persyaratan pembuatan kartu kuning. tetapi ditempatkan di depan kantor supaya mudah diketahui. petugas wanita yang melayani pembuatan kartu kuning. tetapi lebih esensial mengenai informasi ketersediaan lowongan pekerjaan. Pencari kerja yang sedang mengurus kartu kuning dapat mendengarkan suara petugas melalui loket yang sama. Secara implisit di dalam ³Program Peningkatan dan Produktivitas Tenaga Kerja´ terdapat informasi.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. ada pula karyawan dari perusahaan swasta yang aktif mencatat nama. kecuali ditanya oleh pencari kerja. Para pencari kerja mendapat informasi dari petugas secara langsung atau mengetahuinya dari pengumuman yang ada di loket pelayanan kartu kuning. 91 . ´Pencaker bertanya. Di samping diseminasi informasi langsung melalui loket kartu kuning. Keluhan yang sama dilontarkan oleh Nia (24 tahun). 1 . Berdasarkan data pencari kerja itu perusahaan akan menawarkan informasi pekerjaan sebagai SPG melalui surat ke alamat masing-masing. Kegiatan pemberdayaan (empowering) tenaga kerja dan masyarakat melalui pelatihan ini secara tidak langsung melakukan diseminasi informasi dan motivasi kepada pesertanya. Menurut seorang pencari kerja yang mengurus kartu kuning. ³informasi lowongan kerja diperoleh bukan dari Dinas Tenaga Kerja. Walaupun program pelatihan BLK cukup bermanfaat bagi tenaga kerja. karyawan perusahan itu menyampaikan persyaratan dan prosedur untuk mengisi lowongan yang tersedia diperusahaannya secara detail. Peranan pengumuman ini sangat bermanfaat dalam diseminasi informasi lowongan pekerjaan. Informasi mengenai lowongan pekerjaan secara lengkap dapat dibaca pada pengumuman dan karena itu tidak disampaikan lagi. petugas memberikan informasi´ kata Lilik. Kebanyakan pencari kerja mengetahui adanya lowongan pekerjaan yang ditawarkan instansi dan perusahaan dari papan pengumuman tersebut. alamat dan pendidikan pencari kerja yang telah terdaftar di Buku Daftar Isian Pencari Kerja. Perusahaan yang demikian umumnya berasal dari perusahaan yang membutuhkan banyak karyawan sebagai agent atau tenaga survey. kegiatan diseminasi informasi dilakukan secara langsung atau tatap muka (face to face communication) dengan pencari kerja yang datang mendaftarkan diri di loket pembuatan kartu kuning. Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Palangkaraya melaksanakan kegiatan pelatihan yang bermaksud meningkatkan kualitas tenaga kerja melalui Balai Latihan Kerja (BLK). Dinas Tenaga Kerja. orientasinya ke PNS´ Padahal peserta bukan saja mendapat informasi dan pengetahuan mengenai pelatihan yang diikutinya. tapi dari teman-teman´ Menurut keduanya diharapkan Dinas ini juga memberikan informasi lowongan kerja dan loket pelayanan kartu kuning tidak di belakang kantor. tidak ada keleluasaan bagi pencari kerja untuk bertanya guna mendapatkan informasi yang lengkap. Veronika (23 tahun) ´mau menanyakan kepada petugas yang sibuk tidak enak. Pada waktu yang sama petugas memberikan informasi dan juga menyeleksi berkas pembuatan kartu AK1.

1 . Pencari kerja yang ditempatkan 4. yaitu : 1. dan visi. ´Lembar Informasi Ketenagakerjaan ini disusun sebagai sarana penyebaran informasi ketenagakerjaan dan keberhasilan bidang ketenagakerjaan yang dilaksanakan Dinas Tenaga Kerja Provisi Kalimantan Tengah´ (Dinas Tenaga Kera j Pemprov Kalteng. misi. publikasi ini didistribusikan kepada seluruh Dinas Tenaga Kerja di kabupaten/kota seKalimantan Tengah. Medan tetapi juga memperoleh sertifikat dan kesempatan penempatan sesuai dengan jenis pelatihan yang pernah diikutinya di BLK.Selain itu. program. Informasi yang disampaikan umumnya mengenai informasi ketenagakerjaan yang dapat dipergunakan sebagai bahan masukan pengambilan kebijakan ketenagakerjaan di Kalimantan Tengah. Proses pembuatannya tiap dimulai dari Seksi Informasi Ketenagakerjaan dilanjutkan ke Sub Dinas Perencanaan dan Program hingga ditandatangani Kepala Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah sebagai penanggung jawab terakhir. kebijakan ketenagakerjaan Dinas Tenaga Kerja Kalimantan Te ngah. PDRB dan pendapatan regional per kapita. penghapusan pencari kerja. Lowongan kerja yang belum dipenuhi Sarana diseminasi informasi ketenagakerjaan yang lebih ringkas dan praktis diterbitkan dalam bentuk leaflet. yakni : 1. Terbitan lain dari Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah berupa laporan Berita Pasar Kerja yang memuat informasi pasar kerja (IPK) bulanan. 2008a :18). pasar kerja bulanan yang memuat tentang pencari kerja terdaftar. Di dalam bab situasi khusus tercantum mengenai (1) pembinaan dan penempatan tenaga kerja. tujuan. lowongan kerja terdaftar/dihapuskan. setidaknya dapat dikelompokan menjadi tiga jenis informasi ketenagakerjaan. Dalam bab situasi umum diinformasikan tentang keadaan geografi dan demografi. Pencari kerja yang dihapuskan 5. Secara lebih rinci informasi yang dimuat di dalam terbitan tersebut. Informasi di dalam leaflet kebanyakan memuat informasi peraturan dan permasalahan ketenagakerjaan secara nasional. 3. (3) hubungan industrial dan pengawasan ketenagakerjaan antara lain mengenai upah minimum provinsi.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. penempatan/pengisian lowongan kerja dan (2) pelatihan dan produktivitas tenaga kerja. Apabila dilihat dari isi publikasinya dapat dikatakan buletin ini merupakan produk unggulan yang dikeluarkan oleh Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah. Lowongan yang dipenuhi 8. Seperti dalam terbitan Berita Pasar Kerja periode bulan Desember 2007 terdapat informasi tentang jumlah pencari kerja yang terdaftar. Pencari kerja belum ditempatkan 6. Pendaftaran pencari kerja 3. Informasi tentang instansi Dinas Tenaga Kerja 92 . lowongan yang terdaftar. Sebagai sarana komunikasi yang lebih bersifat intern. Informasi yang Disampaikan Dinas Tenaga Kerja Provinsi dan Kota Salah satu penerbitan yang dimaksudkan sebagai sarana diseminasi informasi ketenagakerjaan untuk stakeholders adalah Lembar Informasi Ketenagakerjaan.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Sebagaimana yang tercantum di dalam buletin Lembar Informasi Ketenagakerjaan terdapat bab yang menerangkan situasi umum dan situasi khusus tentang informasi ketenagakerjaan informasi. Jumlah kumulatif pencari kerja 2. Lowongan permintaan tenaga kerja 7. Apabila dilihat dari isi (pesan) di dalam leaflet. ada juga leaflet yang bermaksud memperkenalkan visi dan misi Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah sebagai instansi pemerintah di bidang ketenagakerjaan. dan penempatan tenaga kerja selama bulan itu.

Informasi lowongan pekerjaan yang tersedia merupakan informasi yang cukup banyak didiseminasikan melalui pengumuman di loket pembuatan kartu AK1. Diseminasi informasi ketenagakerjaan melalui siaran TVRI kepada masyarakat luas masih minim. Umumnya kebutuhan informasi akan peraturan ketenagakerjaan bagi pencari kerja belum dapat dipenuhi oleh kedua Dinas Tenaga Kerja itu. Informasi ketenagakerjaan yang disampaikan Dinas Tenaga Kerja. Informasi yang disampaikan petugas secara langsung di loket Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Pemerintah Kota Palangkaraya kebanyakan mengenai persyaratan pembuatan kartu kuning kepada pencari kerja yang datang sendiri di instansi tersebut. Selain itu. Kesimpulan Berdasarkan uraian dalam pembahasan sebelumnya dapat ditarik beberapa butir kesimpulan berikut : 1. Informasi yang disampaikan Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah kebanyakan berisi informasi ketenagakerjaan yang bersifat umum seperti informasi peraturan ketenagakerjaan. Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Palangkaraya melalui loket pelayanan pembuatan kartu kuning. diseminasi informasi lowongan pekerjaan disampaikan kepada masyarakat. pelatihan di BLK secara implisit menyampaikan pengetahuan dan ketrampilan kepada peserta yang mengikutinya. Oleh karena itu. Sejauh ini hanya diseminasi informasi K3 melalui spanduk yang ditujukan kepada tenaga kerja yang bekerja di kota-kota. Diseminasi informasi ketenagakerjaan melalui leaflet yang diterbitkan Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah tentang peraturan ketenagakerjaan se baiknya tidak 93 . Demikan pula wawancara pada siaran TVRI mengetengahkan informasi mengenai perkembangan dan masalah ketenagakerjaan yang ditujukan kepada masyarakat luas. Medan 2. serta penghapusan kekerasan terhadap perempuan.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. sedangkan kebanyakan penerbitan bulletin dan leaflet dikirim kepada Dinas Tenaga Kerja Kota dan Kabupaten di provinsi ini.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. jumlah pencari kerja dan lowongan kerja. 1 . Informasi tentang peraturan ketenagakerjaan. dan penyebaran informasi ketenagakerjaan melalui online tidak berfungsi. diseminasi informasi ketenagakerjaan melalui spanduk dimaksudkan untuk memberitahukan pentingnya K3 bagi para pekerja. Diseminasi informasi ketenagakerjaan bagi pencari kerja secara langsung sebagian besar dilaksanakan pada Dinas Tenaga Kerja. Informasi tentang TKI dan perdagangan perempuan dan anak. Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Palangkaraya sebagian besar menjawab kebutuhan informasi mengenai persyaratan pembuatan kartu kuning dan informasi lowongan pekerjaan dari sebagian kecil instansi pemerintah dan perusahaan swasta. pengangguran. spanduk kampanye K3 tentu isinya mengenai keselamatan dan kesehatan kerja untuk pekerja. 3. 2. Diseminasi informasi mengenai persyaratan kartu tersebut disampaikan petugas kepada pencari kerja secara langsung (tatap muka) bersamaan dengan proses pembuatan kartu kuning. Sebagaimana telah dikemukakan. khususnya pencari kerja melalui pengumuman di loket 3. Saran Dengan memperhatikan kesimpulan tersebut dapat disampaikan beberapa saran berikut : 1. Diseminasi informasi ketenagakerjaan pada Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah belum banyak disampaikan kepada khalayak pencari kerja secara langsung. Kecuali itu.

Bulan Desember 2007. Berita Pasar Kerja Bulan Desember 2007. perlu adanya petugas dan loket informasi ketenagakerjaan. Jalasustra. Pusat Pelayanan Informasi. Dinas Tenaga Kerja. Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah. Untuk itu. John M dan Hassan Shadily.t. Fiske. Laswell. 2008. 1 .2008. Echols. t. Harold D. ´The Structure and Function of Communication in Society´.1963. Palangkaraya ________. Informasi ketenagakerjaan yang berkaitan dengan lowongan pekerjaan sebaiknya tidak bersifat umum. Jakarta. Jakarta 94 .2008. Palangkaraya ________. Hamad. Gordon B.2007. Palangkaraya.1995. Yogyakarta. Jakarta. tetapi juga disediakan untuk pencari kerja melalui loket pelayanan kartu kuning di Dinas Kota/KabupatenseKalimantan Tengah. 2007.1979.2001. t. dalam Wilbur Schramm. Trafiking (Perdagangan) Perempuan dan Anak . Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Palangkaraya agar memanfaatkan loket pelayanan kartu kuning secara maksimal untuk diseminasi informasi ketenagakerjaan. Ibnu . Pemerintah Kota Palangkaraya. Leaflet. Mass Communication. Rencana Aksi Nasional Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan. Leaflet. UMM Press Jasmadi. Kerangka Dasar Sistem Informasi Manajemen. Metode Penelitian dan Teori Komunikasi. tetapi diupayakan dari seluruh instansi pemerintah. sebaiknya Dinas Tenaga Kerja. Palangkaraya ________. RAN-PKTP. Penerbit PT Remaja Rosdakarya. Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat. 2. Dinamika Komunikasi. Urbana. di Jakarta.. 3.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. University of Illinois Press. 2004. John. M. t. Onong Uchjana. Lembaga Informasi Nasional (LIN). Medan hanya dikirimkan kepada Dinas Tenaga Kerja Kabupaten/Kota. Jakarta. PT Pustaka Binaman Presindo. Cultural and Communication Studies : Sebuah Pengantar Paling Komprehensif. Menggunakan Fasilitas Internet . Lembar Informasi Ketenagakerjaan. Malang.1993. Leaflet. Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Palangkaraya mendiseminasikan peraturan ketenagakerjaan dan lowongan kerja yang lebih luas melalui pengumuman yang terdapat di loket. DAFTAR PUSTAKA Davis.. Bandung. Palangkaraya Dinas Tenaga Kerja. Departemen Komunikasi dan Informatika. Dinas Tenaga Kerja. Transparansi dan Keterbukaan Informasi Publik Undang-Undang Republik Indonesia Nonor 14 Tahun 2008 Tentang Keterbukaan Informasi Publik.t. Bagian I. tanggal 11-12-2007 Hamidi. Penggunaan online melalui internet perlu difungsikan kembali dan di masa yang akan datang perlu dijajaki pemasangan jaringan Local Area Network. Kamus Inggris-Indonesia. 2002 Visi dan Misi Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah. Program Peningkatan Kualitas dan Produktivitas Tenaga Kerja. Palangkaraya ________. PT Gramedia Effendy. Informasi Sosial Budaya. Terjemahan Yosal Iriantara dan Idi Subandy Ibrahim. Deli Publising dan Penerbit Andi.t. Informasi lowongan kerja agar tidak didominasi perusahaan swasta. Pembahasan dan tanggapan(lisan) terhadap ³Studi Diseminasi Informasi Peringatan Dini (Early Warning System) Untuk Permasalahan Lingkungan dan Bencana Alam´ Seminar. tetapi lebih khusus dan detail sehingga dapat dimanfaatkan oleh pencari kerja. Yogyakarta. Untuk memenuhi kebutuhan informasi khalayak pencari kerja. 2006..JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.

Kompas. Rekapitulasi Pendaftaran Pencari Kerja. Palangkaraya. 2008. David dan Ted Gaebler. Menjadi TKI Meningkatkan Kesejahteraan. Jakarta. 2005. 2004. Leaflet. Yogyakarta. Inc Sekretariat Jenderal MPR RI. Leaflet. Claude dan Warren Weaver.asp. 1997. Palangkaraya. 2007. 1 . Teras A. Jakarta.. 2006.b. Pawito. PT Pustaka Binaman Presindo. 1993. New York. Lowongan Kerja.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. CV Nuansa Aulia Internet : (http://www.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Palangkaraya ________. Palangkaraya ________. Palangkaraya ________. Penelitian Komunikasi Kualitatif.kalteng bps. t. 2005. Kesepakatan Kerjasama Pembangunan Ketenagakerjaan Lintas Kabupaten Kota Se-Kalimantan Tengah. Jakarta Seksi Informasi Ketenagakerjaan Sub Dinas Perencanaan dan Program.Third Edition. 2004. Leaflet.goid.i. 1998. Tata Cara Permintaan Jaminan Kecelakaan Kerja. Palangkaraya ________. tanggal 20-3-2008) (http://www. The McGraw-Hill Companies. Leaflet. t. Standarisasi dan Sertifikasi Tenaga Kerja.go. Persyaratan Permohonan Izin Pemutusan Hubungan Kerja dan Prosedur Permohonan Banding. Leaflet. Lembaran. tanggal 25-4-2008) 95 .id?web/id/KER01/profil/kalteng/tanggal 25-4-2008) (http://www. 13 Maret. Palangkaraya ________. Prosedur TKI Bekerja ke Luar Negeri. LKIS Sendjaja. ³Information Theory´ dalam A First Look At Communication Theory. 2008. Sasa Djuarsa. Sub Dinas Perencanaan dan Program. Pengantar Komunikasi. dkk. Tim Redaksi Nuansa Aulia. ´Gubernur Kalteng Dukung DPD Kembangkan Desa dengan Kearifan Lokal´.id/ viewarticle. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Bandung. Universitas Terbuka Shannon.t. Himpunan PeundangUndangan Republik Indonesia Tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia Di Luar Negeri. 2004. Leaflet. Medan Nerang. Osborne.kalteng.go.t. Penempatan Pencari Kerja dan Penghapusan Pencari Kerja Menurut Kelompok Pendidikan Tahun 2006 dan Trahun 2007 . Mewirausahakan Birokrasi Reinventing Government.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->