JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.

1 - April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika, Medan

JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN

I.

Volume 10 No. 1 April 2009

SISTEM INFORMASI DI PEMERINTAHAN KABUPATEN ACEH TENGAH Oleh : Ali Murtadha M Arifin1

ABSTRAKSI Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pelaksanaan sistem penyampaian informasi di Pemerintahan Kabupaten Aceh Tengah setelah diberlakukannya otonomi daerah di Kabupaten tersebut karena penyampaian informasi sebelumnya dilakukan oleh juru penerangan dibawah Pemerintahan Departemen Penerangan disamping itu juga tu juan penelitian ini adalah sebagai penambah wawasan tentang perubahan sistem informasi tersebut. Untuk mencapai tujuan tersebut penelitian ini menggunakan metode kualitatif yaitu melakukan wawancara mendalam dengan Kasub Bagian Humas, Kepala Informasi dan Komunikasi serta karyawan yang mempunyai tugas dan fungsi sebagai penyiar informasi di Kabupaten Aceh Tengah. Adapun hasil penelitian dapat digambarkan bahwa otonomi daerah dapat merubah sistem informasi di Daerah Kabupaten Aceh Tengah, sistem informasi juga mempengaruhi kelanjutan pertumbuhan pembangunan, maka membangun informasi juga perlu, sehingga sistem informasi pesan pemerintah di kemas dan disiarkan dengan melalui media cetak maupun elektronik sehingga dapat diperoleh / dinikmati oleh publik dan sistem informasi pada masa Orde Baru berbeda dengan sistem informasi di era Orde Baru. Pada masa Orde Baru sistem informasi ditentukan oleh Pemerintah Pusat sedangkan pada otonomi daerah sistem informasi ditentukan oleh Pemerintah setempat (Daerah).

1

Penulis adalah Peneliti di BBPPKI Wilayah I Medan.

1

JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. 1 - April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika, Medan

Kata Kunci : Sistem informasi, Pemerintahan Kab. Aceh Tengah

A. Latar Belakang Masalah Di era otonomi daerah saat ini, sistem Pemerintahan Daerah sudah berbeda dibandingkan dengan sistem pemerintah diera orde baru. Kalau diera orde baru, organisasi Pemerintah dan sistem informasinya ditentukan oleh pemerintah pusat, di era otonomi daerah ini pembentukan instansi pemerintah daerah termasuk sistem informasinya ditentukan oleh pemerintah daerah setempat. Oleh karena itu sistem informasi pada setiap daerah bisa berbeda sesuai dengan perkembangan yang terjadi / kebutuhan di daerah masing-masing. Pada awal otonomi daerah, Pemerintah di daerah bisa membentuk dinas, Badan dan Lembaga tehnis sesuai dengan kebutuhan daerah setempat. Adanya ketentuan ini membuat berbagai daerah membentuk dinas secara berlebihan untuk menampung sebanyak mungkin pejabat struktural. Ketentuan mengenai pembentukan dinas dan lembaga tehnis tersebut kemudian disusul Peraturan Baru yang memberikan batasan jumlah dinas yang boleh dibentuk di Pemerintah Daerah. Daerah yang sudah terlanjur membentuk dinas dan lembaga teknis daerah melebihi ketentuan akan segera menyesuaikan dengan ketentuan baru dalam pembentukan Dinas dan lembaga teknis. Adanya kebebasan Pemerintah daerah untuk membentuk dinas dan lembaga tehnis di daerah maka bisa terjadi adanya perbedaan nama lembaga/dinas yang menangani informasi. Bahkan penanganan informasi di suatu daerah cukup hanya dimasukkan dalam suatu seksi/bagian dari dinas dan setiap daeah menggunakan istilah yang berbeda seperti : Hubungan Masyarakat (Humas) Informasi Komunikasi (Infokom), BadanInformasi Komunikasi Telematika (BIKT). Dengan berbedanya dinas yang berkaitan dengan informasi, maka dimungkinkan terjadinya perbedaan sistem informasi pemerintahan antara satu daerah dengan daerah-daeah lain. Saat ini sistem inforasi di pemerintahan masih berkembang dan mencari model yang tepat untuk kelancaran pelaksanaan pembangunan yang sedang dilaksanakan. Adanya dua organisasi di Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah yang secara khusus menangani informasi yaitu Kantor Informasi dan Komunikasi Daerah dan Sub Bagian Hubungan Masyrakat. Kantor Informasi dan Komunikasi Daerah merupakan lembaga hasil peleburan Kantor Departemen Penerangan semasa orde baru sebelum otonomi daerah. Hampir seluruh karyawan Kantor Informasi dan Komunikasi Daerah adalah mantan pegawai Kantor Departemen Penerangan Kabupaten Aceh Tengah Perkantoran yang dipergunakan, sebelumnya juga pernah dipergunakan sebagai Kantor Departemen Penerangan Kabupaten Aceh Tengah Kepala Kantor Informasi dan Komunikasi berada pada eselon III. Sub Bagian Humas juga sudah ada sebelum era otonomi daerah. Struktur organisasinya berada di bagian Sekretariat Daerah. Sub Bagian Humas ini berada dibawah Bagian Humas, Pengolah Data Elektronik (PDE) dan Santel, yang berada dibawah Asisten Umum. Sebagai sub bagian di Sekretariat Daerah, Sub Bagian Humas hanya menempati satu ruangan di Kantor Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah Kepala Sub Bagian Humas berada pada eselon IV. Adanya dua lembaga yang menangani informasi ini merupakan salah satu unsur sistim informasi di Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah. Kedua lembaga itu bisa secara bersama-sama menjalankan tugasnya dalam diseminasi informasi pada masyarakat. Sistem informasi pemerintah ini mempunyai peran yang penting untuk mensukseskan pembangunan di suatu daerah. Sistem informasi yang baik, bisa menciptakan kesatuan gerak dan langkah antar lembaga/dinas untuk mencapai tujuan. Jika sistem informasi antar lembaga/dinas tidak berjalan baik maka dimungkinkan terjadinya tumpang tindih kegiatan, bahkan bisa terjadi kegiatan yang saling bertentangan. Sistem informasi yang baik 2

JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. 1 - April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika, Medan

memungkinkan program-program dan kegiatan yang dilakukan pemerintah bisa direspon oleh masyrakat sehingga bisa meningkatkan partisipasi masyarakat. B. Permasalahan Berdasarkan latar belakang diatas, dirumuskan permasalahan penelitian yaitu bagaimana pelaksanaan sistem informasi di Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah.

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan sistem informasi di Kabupaten Aceh Tengah. Dengan diketahuinya pelaksanaan sistem informasi di daerah tersebut dapat menambah pengetahuan mengenai sistem informasi di Kabupaten Aceh Tengah. Hasil penelitian ini juga bisa dimanfaatkan sebagai pembanding sistem informasi di berbagai daerah yang memiliki sistem informasi yang berbeda. D. Landasan Teori 1. Pengertian Sistem Informasi Berbagai pengertian tentang sistem informasi dikemukakan dalam berbagai buku untuk menggambarkan pengertian mengenai sistem informasi diantaranya ditulis oleh Alter (1992) bahwa Sistem informasi adalah kombinasi antara prosedur kerja, informasi, orang dan tehnologi informasi yang diorganisasikan untuk mencapai tujuan dalam sebuah organisasi. Bodnar dan Hopwood (1993)mendifinisikan sistem informasi adalah kumpulan perangkat keras dan peangkat lunak yang dirancang untuk mentransformasikan data ke dalam bentuk informasi yang berguna. Gelinas, Oram dan Wiggins (1990) mendifinisikan sistem informasi adalah suatu sistem buatan manusia yang secara umum terdiri atas sekumpulan komponen berbasis komputer dan manual yang dibuat untuk menghimpun, menyimpan dan mengelola data serta menyediakan informasi keluaran kepada pemakai. Hall (2001) mendifinisikan sistem informasi sebagai sebuah rangkaian prosedur formal dimana data dikelompokkan, diproses menjadi informasi dan didistribusikan kepada pemakai. Dari berbagai difinisi tersebut dapat disimpulkan bahwa sistem informasi mencakup sejumlah komponen (manusia, tehnologi informasi dan prosedur kerja) berupa masukan (input), ada proses (data menjadi informasi) dan dimaksudkan untuk mencapai suatu sasaran atau tujuan (output).

2. Otonomi Daerah Untuk melaksanakan kebijakan desentralisasi dibentuk daerah otonom. Menurut UU No. 22 Tahun 1999, daerah otonomi merupakan ´kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas daerah tertentu berwenang mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasar aspirasi masyarakat dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indoneia´. Kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasar aspirasi masyarakat sering disebut otonomi daerah. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa daerah otonom adalah daerah yang memiliki otonomi daerah. Kaho (1987) memaparkan ciri-ciri Daerah Otonom sebagai berikut :

3

yang bisa dijadikan indikator untuk mengetahui masukan pelaksanaan sistem informasi di humas dan Kantor infokom adalah : a. b.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Input Dari sisi masukan (input). Kompetensi ini dapat ditunjukkan dengan kesesuaian tingkat dan latar belakang pendidikan. Sumberdaya sangat strategis bagi keberhasilan pelaksanaan tugas humas dan infokom.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Pengaturan urusan-urusan tersebut masyarakat daerah perlu memiliki sumber-sumber pendapatan/keuangan sendiri. Arifin. Model kotak hitam itu digambarkan atau dilukiskan orang-orang bermacam-macam. 1974 : 128). Hal ini ditunjukkan dengan adanya kebijakan. 1. 2002 : 38). Medan 1. Adanya alat-alat perlengkapan atau organ-organ atau apatur sendiri. Model adalah gambaran mengenai sesuatu realitas untuk menggambarkan bagaimana suatu itu tampaknya atau bagaimana bekerjanya guna memudahkan memahami dan atau mengkajinya. 2. mengolah. Istilah kotak hitam disini dipergunakan untuk menunjukkan bahwa isiyang terkandung di dalam satuan (unit) pemroses (transformasi) atau jelasnya sistem itu tidak diketahui. Pengaturan dan pengurusan urusan-urusan tersebut dilakukan atas inisiatif sendiri dan didasarkan pada kebijaksanaan sendiri pula. dan kedisiplinan dalam melaksanakan tugas. Pelaksanaan proses tugas penyampaian informasi ditandai oleh : Kepemimpinan lembaga yang kuat. sejauh mana kesiapan sumberdaya baik sumberdaya manusia (yang mencakup jumlah dan kualitas) maupun sumbrdaya selebihnya seperti keuangan. Memiliki tugas dan sasaran yang jelas. mengubah. 1 . c. 3. 2. Proses Dari sisi proses di Humas dan Kantor infokom yang bisa dijadikan indikator terjadinya proses pelaksanaan sistem informasi adalah : a. Konsep dasarnya : Masukan Proses Keluaran Untuk menilai pelaksanaan sistem informasi di Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah. 4. menggerakkan 4 . Adanya urusan-urusan tertentu yang diserahkan oleh pemerintah pusat atau daerah tingkat atas kepada daerah untuk diatur dan diurusnya dalam batas-batas wilayahnya. maka pendekatan sistem merupakan cara yang tepat sebagai pemandu. peralatan perlengkapan dan sebagainya. tugas dan sasaran yang akan dicapai Humas dan kantor infokom. Proses transformasi sistem ini sering dilukiskan orang dengan mempergunakan model masukan-keluaran (inputoutput model). Staf yang kompeten dan komitmen tinggi. jadi seperti kotak hitam (Tatang M. Staf yang kompeten merupakan pra sarat mutlak dalam pelaksanaan tugas humas dan infokom. Istilah kotak hitam disini dipergunakan untuk memudahkan memahami dan atau mengkajinya. dalam arti kepemimpinan yang kuat dalam mengkoordinasikan. Teori Sistem Setiap sistem merupakan tempat memproses. 3. atau menstransformasikan bahan-bahan yang disebut masukan (input) menjadi suatu hasil karya yang bisa disebut keluaran (output) (Shrode dan Voich. Model masukan keluaran ini biasa disebut juga dengan model kotak hitam (black-box model). Sumberdaya yang tersedia dan siap. kemampuan melaksanakan tugas.

Dalam pelaksanaannya. Dalam hal ini dapat diamati dari : keikutsertaan unit kerja di Pemda dalam berbgai aktifitas pelaksanaan tugas Humas dan Infokom. E. Indikator terjadinya kinerja pelaksanaan informasi tersebut. . Medan sumber daya manusia dilingkungan humas dan infokom serta menyerasikan semua sumberdaya yang ada pada satu tujuan yang sama. infokom dan satuan unit kerja di pemerintahan. c. arsip dan catatan yang berhubungan dengan pelaksanaan tugas humas dan Kantor Infokom. dan penarikan kesimpulan. Partisipasi yang tinggi dari unit kerja di pemerintah daerah. Kerja sama yang kompak dan cerdas serta dinamis. Dengan tehnik wawancara tidak berstruktur atau mendalam (Indepth/unstructured interviewing) peneliti melakukan tanya jawab dan tukar pikiran tanpa daftar wawancara. Informan penelitian Adapun yang dijadikan informan sebagai sumber/ menghimpun data dalam penelitian ini adalah Kasub Bagian Hubungan Masyarakat. Jadi analisa data dilakukan bersamaan dengan pengumpulan data. Dengan tehnik ini peneliti berusaha memperoleh data atau informasi dengan cara menggali dan mempelajari dokumen-dokumen. yang ditandai komunikasi yang baik dan harmonis antara humas. Tehnik pengumpulan data Untuk mengumpulkan data yang diperlukan dalam penelitian ini dipergunakan dua macam tehnik yaitu : a. 3. 2. 3. karyawa Humas dan Infokoma yang bertugas n sebagai ujung tombak dalam penyiaran / penyampaian informasi publik di daerah Kabupaten Aceh Tengah. Metode Penelitian 1. b. kerja sama yang didasari oleh saling pengertian dan kesediaan menerima perbedaan pendapat. 5. 1 . Tehnik Analisa Data Metode yang dipergunakan untuk menganalisis dalam penelitian ini metode deskriptif kualitatif dengan menggunakan model interaktif yaitu semacam siklus terkait antara kegiatan pengumpulan data. dimanfaatkan instrument berupa panduan wawancara dan daftar topik. Wawancara mendalam.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. penyederhanaan data pemaparan data. peneliti hanya dibantu dengan sejumlah topik umum tentang proses pelaksanaan sistim informasi di Kabupaten Aceh Tengah yang masih harus dikembangkan oleh pewawancara berdasar jawaban informan. Output Setiap proses pelaksanaan sistem informasi selalu diharapkan adanya keluaran atau hasil berupa kinerja pelaksanaan sistem informasi. Kasub Bagian Informasi dan Informatika. Sub Bagian Dokumentasi dan Informasi. Lokasi Penelitian Penelitian dilaksanakan di Sub Bagian Humas dan Kantor Infokom Kabupaten Aceh Tengah sebagai lembaga yang secara khusus menangani informasi. Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Studi dokumentasi.Informasi yang disampaikan oleh humas dan infokom dapat diterima. 4.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. 5 . b.

2. media informasi dan publikasi. pemberdayaan potensi informasi lembaga swadaya masyarakat dan lembaga informasi desa. film dan Seksi Publikasi mempunyai tugas melaksanakan kegiatan penyampaian informasi langsung. Sementara itu Sub Bagian Humas. Informasi yang bersifat umum itu bisa berasal dari pemerintah pusat maupun Provinsi seperti peraturan perundangan. memantau penyelenggaraan kegiatan penyebaran informasi melalui media interaktif. Melakukan hubungan intern dengan satuan dan unit kerja di lingkungan Pemerintah Daerah. Melaksanakan tugas sebagai juru bicara pemerintah daerah sesuai dengan petunjuk Bupati. Kantor Informasi dan Komunikasi Daerah mempunyai tugas pokok membantu Bupati dalam melaksanakan sebagian urusan rumah tangga daerah di bidang informasi dan komunikasi yang meliputi pemberdayaan informasi. 5. proses dan keluaran diperlukan sebagai cerminan realitas model dan implementasi pelaksanaan sistem informasi di Kabupaten Aceh Tengah. Hasil Penelitian Dalam penelitian ini. 2. radio. Sumberdaya yang tersedia dan kompetensi sumberdaya. Su b Bagian Hubungan Masyarakat mempunyai tugas : 1.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. 3. Melaksanakan koordinasi/kerja sama dengan organisasi kewartawanan. proses dan keluaran sistim informasi. Ketiga hal itu diuraikan berikut ini : 1. 1 . Dengan kata lain profil kualitas pelaksanaan sistem informasi di Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah merupakan keutuhan kualitas masukan. bahwa masukan sistim informasi diambil tiga indicator yaitu adanya tugas. 6. 4. Kualitas Masukan SDM Non Manusia 6 . Melaksanakan usaha untuk peningkatan peliputan kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh pemerintah maupun masyarakat. kelompok komunikasi sosial. pengumpulan data bulan April dan pengolahan data/laporan bulan Mei 2009. dan sasaran yang jelas. sesuai Peraturan Daerah Kabupaten Aceh Tengah Nomor 5 Tahun 2002 Tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat Daerah. televisi. Seksi Media Informasi dan Komunikasi mempunyai tugas melaksanakan. Melakukan hubungan timbal balik antar pemerintah daerah dengan masyarakat umum dan organisasi kemasyarakatan untuk memperjelas kebijakan dan kegiatan pemerintah daerah. Dana : dana penelitian ini dibebankan kepada anggaran rutin BBPPKI Medan. Sesuai dengan Peraturan Daerah Kabupaten Aceh Tengah Nomor 8 Tahun 2002 Tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kantor-Kantor Daerah. Dalam melaksanakan tugas itu tiga seksi yang dimiliki Badan Infokom yaitu Seksi Pemberdayaan Informasi mempunyai tugas melaksanakan upaya pemberdayaan partisipasi masyarakat. kualitas masukan. Kualitas Masukan Sistem Informasi Sudah disinggung di atas. Tugas dan fungsi Kantor Informasi dan Komunikasi Daerah telah diatur dalam Peraturan Daerah Kabupaten Aceh Tengah Tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Dinas-Dinas Daerah. Medan Waktu penelitian ini dijadwalkan sebagai berikut penyusunan/ persiapan rancangan penelitian bulan Februari 2009.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. F. Urusan bidang informasi dan komunikasi tersebut meliputi informasi yang bersifat umum yang tidak berkaitan dengan informasi didalam pemerintah Kabupaten Aceh Tengah. Tugas dan sasaran Humas dan Kantor infokom diatur dalam peraturan daerah. Menyiapkan bahan evaluasi dan pelaporan kegiatan di bidang kehumasan.

rencana pelayanan dan lain-lain sudah ada dan telah 7 . rencana jangka panjang. rencana pengembangan. 3. Demikian juga Humas dan Infokom Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah yang mengimplementasikan sistim pengelolaan informasi harus memiliki harapan yang jelas. Sebagai pengelola informasi resmi milik pemerintah. Perangkat lunak yang terdapat di Humas jauh lebih mapan dibandingkan dengan perangkat lunak yang ada di Kantor Infokom karena eksistensi humas yang sudah berlangsung lama sementara eksistensi Kantor Infokom msih berjalan beberapa tahun setelah pelaksanaan otonomi daerah. Oleh sebab itu menjadi kewajiban setiap pengelola informasi untuk menerapkan harapan dan dorongan yang jelas. prasarana (infrastruktur). misi. 2000) mendukung dan menunjang atau malah mempengaruhi kiprah kinerja sumber daya manusia. pasti. 4. mantap dan tinggi serta terfokus untuk meraih kualita pelayanan informasi. Kualitas Masukan Harapan Humas dan Infokom Implementasi penyebarluasan informasi selalu dikaitkan dengan harapan terjadinya peningkatan kualitas pelayanan informasi.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. efektif. Medan Sumberdaya bukan manusia atau sekarang sering diistilahkan modal fiskal dan modal finansial (Thomas dkk. Namun demikian infratruktur yang dimilikinya sangat memadai dengan tersedianya perlengkapan yang dibutuhkan dalam setiap operasional kegiatannya. Sementara itu di lingkungan Humas. Kualitas Masukan Perangkat Lunak Dalam penyelenggaraan pengelolaan informasi seperti halnya masukan sumberdaya manusia dan sumber daya bukan manusia. Diskripsi tugas pokok dan fungsi ini menjadi dasar atas rencana dan program kegiatan Humas dan Infokom. Bangunan atau ruangan yang dimiliki sangat terbatas karena terbatasnya ruangan yang ada di sekretariat daerah. 1 . Humas yang memiliki staf sebanyak 13 orang hanya menempati satu ruangan. rencana dan program kegiatan. misi dan tujuan serta sasaran masing-masing pengelola informasi. Bangunan dan ruang. Berdasar pengamatan. Humas dan Infokom memiliki peraturan perundangan. terjadi hal yang sebaliknya. Tidak jarang perangkat lunak diyakini lebih penting dari pada sumberdaya bukan manusia meski tidak sepenting sumber daya manusia (Suryadi dan Budimansah. perlengkapan kantor (furniture. mencapai maksud dan tujuannya. tinggi dan unggul dibidang kualitas pelayanan informasi dengan dilandasi oleh semangat ingin menjadi lebih baik. mesin. harapan yang tertuang dalam bentuk visi. diskripsi tugas pokok dan fungsi. perlengkapan kantor dan alat bantu kegiatan yang dimiliki Kantor Infokom kelihatan kurang memadai untuk melaksanakan tugas karena peralatan yang dimiliki sebagian merupakan bekas peralatan lama yang pernah dipergunakan semasa masih ada Departemen Penerangan. Harapan itu tergambar dalam rencana dan strategi (renstra) khususnya visi. 2004 : 243-245) Implikasinya perangkat lunak harus ada dan tersedia di bagian pengelolaan informasi secara memadai supaya implementasi penyebaran informasi kepada masyarakat dengan baik. computer dll) dan dana merupakan sejumlah sumberdaya bukan manusia yang perlu disediakan kare secara na signifikan dapat mempengaruhi kinerja sumberdaya manusia. Secara kuantitatif bangunan dan ruang yang dipergunakan Kantor Infokom sangat representatif untuk melakukan kegiatan karena gedung yang dipergunakan adalah bekas Kantor Departemen Penerangan. bebruat dan melakukan sesuatu secara lebih maksimal dalam melaksanaka n tugas berkat tersedianya secara memadai sejumlah sumberdaya bukan manusia. masukan perangkat lunak menunjang dan menentukan beroperasi tidaknya dan berjalan tidaknya secara efektif dan maksimal proses penyampaian informasi di masyarakat. Prasarana (infrastruktur).JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Seluruh staf yang bergerak di Humas dan Kantor Infokom dapat bertindak.

Kualitas Keluaran Sistim Informasi Setiap proses penyebaran informasi selalu meniscayakan keluaran bahkan juga hasil dan dampak sistim pengelolaan informasi walaupun keduanya tidak dapat diketahui atau 8 . proses sistem informasi sudah cukup memadai bila dilihat secara makro. Dalam proses pengelolaan informasi ini Humas dan Infokom mengelola informasi secara sistematis. Dalam kontek pelaksanaan sistem informasi di Kabupaten Aceh Tengah. menunjukkan bahwa baik Kepala Humas dan Kantor Infokom memiliki kesadaran akan kedudukan proses penyebaran informasi sebagai inti proses sistem pengelolaan informasi guna mencapai kompetensi koqnitif.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Hampir semua karyawan juga mengetahui adanya visi dan misi tersebut karena seringkali ditempelkan di dinding dalam ruangan kerja. 6. bukan terpusat pada beberapa orang atau kepala dinas/kepala bagian tidak boleh mendominasi pekerjaan dan tanggungjawab melainkan harus mengkoordinasi dan mensinergikan berbagai pihak yang disertai pekerjaan dan tanggungjawab yang mengelola informasi. B. menjadi pusat informasi dan komunikasi bagi kalangan masyarakat menengah ke bawah sekaligus berperan menjadi pusat pembelajaran dan pengetahuan. Secara mikro proses sistem informasi yang mencerminkan terlaksana tidaknya atau berfungsi tidaknya pelaksanaan sistem informasi secara organis. Hasil pengamatan dan wawancara dengan kepala Kantor Infokom dan Kepala Sub Bagian Humas. ormas. Hal ini dikarenakan proses penyebaran iformasi secara langsung menentukan kualitas keluaran informasi secara kognitif afektif dan behavior. Kondisi Proses Pengelolaan Sistem Informasi Proses pengelolaan program penyebran informasi perlu dilakukan secara bersamasama oleh tim kerja yang kompak cerdas dan dinamis. bukan mekanis dan artificial. LSM dan masyarakat untuk menjawab tantangan masa kini maupun masa depan. tidak harus secara mikro. Proses sistem informasi ini bersangkutan dengan bekerja tidaknya fungsi-fungsi manajemen di Humas dan Badan Infokom. Bersinergi dengan seluruh Dinas/Badan/Kantor. Pekerjaan dan tanggungjawab pengelolaan program harus dibagi pada semua pihak dalam mengelola informasi. afektif dan behavior yang ditentukan dalam juknis dan juklak. A. Untuk itu unit kerja yang lain siap memberi bantuan Humas dengan memberikan informasi yang diperlukan. 5. dalam penyelenggaraan proses sistem informasi. Seiring dengan itu partisipasi semua pihak menjadi penting selain kolaborasi. kerjsama dan sinergi antara program. Kualitas Proses Sistem Informasi Dalam pelaksanaan sistem informasi di Kabupaten Aceh Tengah proses sistem informasi menempati kedudukan dan arti penting dan strategis. proses penyebaran mendapat perhatian utama sehingga harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya dan semaksimal mungkin. Medan ditetapkan di Humas dan Infokom. Selain itu dari diri. Artinya tinggi rendahnya kualitas keluaran sistim informasi ditentukan oleh proses penyebarannya. Kondisi Proses Penyebaran Informasi Dalam implementasi sistim informasi. Orpol.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. semangat dan etos kerja yang cukup kuat untuk melaksanakan proses penyebaran informasi. Berdasar hasil wawancara dengan Kasub Bagian Hubungan Masyarakat Kabupaten Aceh Tengah diketahui bahwa hampir semua pegawai pemerintah mendukung manajemen proses sistem informasi dengan menjadikan humas sebagai satu -satunya sumber informasi. agar dapat dikembangkan menjadi pengetahuan yang bermanfaat guna peningkatan kualitas kehidupan dan pembangunan. 1 . sikap dan perilaku mereka sebagai pemimpin dan pelaksana yang mempunyai komitmen.

Sebagai lembaga yang memiliki sumber dana yang cukup besar. Di Kabupaten Sistem informasinya dilaksanakan oleh Humas dan Kantor Infokom. Tujuan adanya dua lembaga yang menangani informasi ini adalah untuk meningkatkan pelayanan informasi kepada masyarakat. yang salah satunya peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat. Karena itu dalam kontek pengelolaan sistim informasi. Kinerja atau pencapaian tujuan ini erat kaitannya dengan masukan yang ada sebelumnya diantaranya sumber dana yang tersedia untuk menghasilkan keluaran berupa produktifitas kerja. inovasi dan moralitas atau etos kerja. G. Diantaranya melakukan kegiatan-kegiatan yang menggunakan sumber dana kecil atau tanpa sumber dana seperti pengkoordinasian penyampaian informasi secara terjadwal oleh dinasdinas yang ada di Kabupaten Aceh Tengah radio yang dikelola Infokom. perhatian di fokuskan pada keluaran pelayanan informasi. Humas juga menghasilkan tabloid yang peredarannya cukup besar meski masih di lingkungan pegawai pemerintah. Kewenangan yang lebih besar ini diharapkan membuat daerah mandiri dalam mengurus kepentingan masyarakat berdasarkan aspirasi masyarakat setempat. Kebijakan otonomi daerah melahirkan sistem informasi di daerah sesuai dengan apa yang diputuskan bersama antara Pemerintah Kabupaten dan DPRD menjadi Peraturan daerah (Perda). Kemandirian daerah ini diharapkan dapat mencapai apa yang diharapkan dapat mencapai apa yang menjadi tujuan kebijakan otonomi daerah. lancar dalam berkoordinasi dengan satuan atau unit kerja di pemerintah Kabupaten.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Model teoritis yang dimaksud digambarkan sebagai berikut : Kebijakan otonomi daerah memberi kewenangan lebih besar kepada daerah. melaksanakan usaha untuk peningkatan peliputan kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh pemerintah maupun masyarakat dan melaksanakan koordinasi/kerja sama dengan organisasi kewartawanan. efisiensi. Keluaran humas yang cukup menonjol adalah terlayaninya kebutuhan wartawan untuk memperoleh informasi melalui humas. Keluaran yang terjadi di Infokom cukup memadai meski sumberdana yang tersedia terbatas. Medan diukur seketika. melakukan hubungan timbal balik antar pemerintah daerah dengan masyarakat umum dan organisasi kemasyarakatan untuk memperjelas kebijakan dan kegiatan pemerintah daerah. efektifitas. 1 . karena karakteristik masing-masing. bahkan bila mungkin diperhatikan pula hasil dan dampak pelayanan informasi. Disamping keterbatasan dana SDM yang mengelola buletin tersebut pindah ke Humas untuk menangani tabloid Humas. Sementara tugas Kantor Infokom adalah melaksanakan sebagian urusan rumah tangga daerah di bidang informasi dan komunikasi yang meliputi informasi. Kegiatan yang memerlukan sumber dana yang besar sangat terbatas pelaksanaannya. saat ini berhenti terbit. media informasi dan publikasi. 9 . Keluaran pelayanan informasi berkaitan dengan kinerja atau prestasi lembaga pengelola informasi secara komprehensif. dapat ditarik satu model teoritis pelaksanaan sistem informasi. Prestasi pelayanan informasi dapat berupa produktifitas. melakukan hubungan intern dengan satuan dan unit kerja di lingkungan Pemerintah Daerah. Pembahasan Berdasar uraian diatas. Dalam pelayanan informasi Prestasi pelayanan informasi dilihat secara komprehensif dari pencapaian tujuan kegiatan program. Disamping itu dengan kewenangan lebih besar diharapkan daerah mampu menemukan masalah yang mencatat di daerahnya dan sekaligus mampu mencari solusi terbaik sesuai dengan kondisi dan karakteristik daerah. bahkan buletin yang telah ada sejak Departemen Penerangan masih eksis. Dibentuknya Humas diantaranya sebagai juru bicara pemerintah.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. humas bisa lebih produktif menghasilkan keluaran dalam melaksanakan tugas yang diembannya.

1990. Kesimpulan 1. Jr. Kanisius. Oranda Wiggins. Amiran. Hubungan Pemerintah Pusat dan Daerah di Indonesia . Peraturan Daerah Kabupaten Aceh Tengah Nomor 8 Tahun 2002 tentang Perubahan atas Peraturan Daerah Kabupaten Aceh Tengah Nomor 26 Tahun 2000 tentang Susunan Organisasi Tata Kerja Kantor Kepala Daerah. William A and Dan Voich. Peraturan Daerah Kabupaten Aceh Tengah Nomor 52 Tahun 2002 tentang Perubahan Peraturan Daerah Kabupaten Aceh Tengah Nomor 22 Tahun 2000 tentang Susunan Organisasi Tataruang. co. Tatang M.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. anggaran operasional yang dimiliki bisa untuk membiayai kegiatan yang dilakukan. or win Book. Rineka Cipta. 1987. prasarana dan sumber dana yang terbatas di Kantor Infokom membuat hasil akhir atau keluaran berupa hasil dan produktifitas kerja cukup terbatas. Yosep.Jakarta. Organisasi and Management.2001. Suryadi dan Budimansah. Shrode. PT Raja Grafika Persada. Reformasi Pendidikan Dalam Konteks Otonomi Daerah. Pokok-Pokok Teori Sistem. Kegiatan Humas yang banyak berhubungan dengan unit kerja di Pemda yang memiliki tingkat eselon yang lebih tinggi bisa menjadi hambatan bagi humas meski gengsi posisi humas cukup tinggi. sementara di Humas karena sarana. Sarana. Medan Sistem Informasi di Pemerintah Kabupaten ¥¡¥ £©§¦§¨§ ¦¥ ¥¤£¢¡  D D KINERJA PELAKSANAAN SISTEM INFORMASI : y INPUT y PROSES y OUTPUT H. Jakarta. Gelinas. 2. produktifitasnya cukup besar. Information System Theory and Practice. Basic System Conceps. Perlunya kerjasama antar Humas dan Kantor Infokom dengan semua pihak utamanya Dinas/Badan/Kantor di Pemerintah Kabupaten untuk memberikan pelayanan informasi pada yang membutuhkan pelayanan. prasarana. Yogyakarta. 1974. ( "   ! ! y HUMAS y INFOKOM £¥©§¦£ ¦¥¥¦¥ ¥¡ ©¡¨£ '!&! %#"#$# "!!  TUJUAN : MENINGKATKAN PELAYANAN INFORMASI OTONOMI SISTEM INFORMASI : HUMAS DAN INFOKOM DAFTAR PUSTAKA 10 . 3. New York. Riwu Kaho. 1 . Malaysia.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Sekretariat Daerah.

Mulai dari fasilitas yang disediakan sampai bentuknya. Satu diantaranya adalah telepon seluler (telepon seluler. Tidak ada khalayak yang secara tegas menolak hadirnya teknologi yang banyak diminati oleh berbagai kalangan tersebut. 1 . Perkembangan pesat dalam dunia sistem komunikasi kita tentunya akan mengubah pola komunikasi yang terjadi di masyarakat selama ini. Pemanfaatan telepon seluler ini berdasarkan aspek-aspek kebutuhan yang diadopsi dari asumsi-asumsi Teori Uses and Gratifications yang sudah lazim digunakan untuk meneliti media komunikasi modern yang berkonvergensi. Bogor dalam acara Temu Ilmiah Peneliti X Badan Penelitian Dan Pengembangan SDM Depkominfo RI ** Penulis adalah Peneliti Pertama bidang Komunikasi Sosial pada B BPPKI Medan 2 11 . diversi. Melihat data perkembangan pengguna telepon seluler di Indonesia terus berkembang pesat dari tahun ke tahun. Kata Kunci : Telepon Seluler. keadaan.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Kecamatan Wampu. gejala. menyebutnya dengan komunikasi seluler.Kabupaten Langkat) Oleh Budiman ** Abstrak Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi mengalami kemajuan yang sangat pesat. Akan tetapi delapan tahun terakhir. Pengembangan SDM Peneliti Kominfo Menuju Masyarakat Informasi Sumatera Utara. dan diseminarkan pada tanggal 30 Oktober ± 1 November 2008 di Cisarua.dan Masyarakat Pedesaan. Penelitian ini bersifat deskriptif yakni hanya memaparkan situasi dan peristiwa apa adanya dengan memberikan gambaran secermat mungkin mengenai suatu individu. disamping tren teknologi ini terus berkembang. Bagi orang komunikasi.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Secara tidak langsung memang teknologi komunikasi membawa berbagai keuntungan bagi mereka penggunanya. Perkembangan jenis telepon seluler semakin hari semakin meningkat. Hasil temuan penelitian berdasarkan kebutuhan inf ormasi. juga dari aspek pemanfaatannya telah merambah hingga ke pedesaan. identitas personal dinyatakan bahwa telepon seluler sarana media untuk berkomunikasi yang dibutuhkan dan telah membantu masyaraka pedesaan. Sebelumnya nyaris sistem komunikasi yang berkembang di Indonesia masih memakai peralatan sederhana (media tradisional maupun tatap muka). Latar Belakang Masalah Kemajuan dan rambahan teknologi komunikasi berupa telepon seluler (telepon seluler) yang semakin pesat dan maju tidak dapat kita hindari. atau kelompok pada masyarakat Desa Pertumbukan bagaimana dalam memanfaatkan telepon seluler. Hampir setiap orang menjadikan telepon seluler ini sebagai kelengkapan sehari-hari sebagai media komunikasi.. Indonesia diramaikan dengan pola komunikasi melalui telepon seluler atau biasa disebut dengan HandPhone (HP). sebagai berikut: Telah diseminarkan pada tanggal 10 Juli 2008 di Pematangsiantar dalam acara Seminar Peningkatan.Efektivitas Komunikasi. Medan TELEPON SELULER DAN EFEKTIVITAS KOMUNIKASI MASYARAKAT PEDESAAN 2 (Studi Di Desa Pertumbukan.

Permasalahan Dari fenomena yang terjadi pada masyarakat di atas maka untuk mencari informasi tersebut di rangkum dalam pertanyaan sebagai berikut : Bagaimanakah penggunaan dan sikap masyarakat Desa Pertumbukan terhadap telepon seluler ? Tujuan Untuk mengetahui bagaimana penggunaan telepon seluler dan sikap masyarakat Desa Pertumbukan. Teknologi telekomunikasi membuat dunia semakin dekat dan menyatu karena waktu dan jarak semakin pendek.pintunet.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. pergerakan informasi berjalan dengan cepat dan menyebar sesuai dengan tujuan tergantung siapa yang membutuhkan. kecanggihan dan fasilitas yang dimiliki oleh teknologi komunikasi menjadi tolok ukur seberapa besar fungsi dan kebutuhan dari teknologi komunikasi itu bagi penggunanya tanpa memikirkan dampak yang akan timbul dari pemakaian teknologi tersebut.org/ diakases tgl 12/5/08 Dan hingga sampai tahun 2007 telah terdapat 85 juta pelanggan telepon seluler dan sementara hanya 10 juta pelanggan telepon tetap (fixed) di Indonesia (http://www. Kecamatan Wampu. hal ini masyarakat menjadi konsumtif . Belum lagi berkembangnya model telepon seluler dari berbagai merek dagang yang semakin canggih dan terus bergulir yang menggoda konsumen melalui iklan dengan mengkaitkan terhadap gaya hidup tertentu.php?pg= 2007/10/27102007/65568 . 12 . Namun dengan memiliki telepon seluler juga telah menambah biaya pengeluaran bagi setiap keluarga terutama untuk pembelian pulsa. silaturahmi dengan keluarga atau teman. Secara nyata jelas terlihat bahwa teknologi komunikasi memberikan keuntungan yang sangat besar bagi penggunanya terutama dalam hal berkomunikasi (komunikasi tidak lagi rumit seperti dulu). Dari pra-riset yang dilakukan peneliti (19-22 Februari 2008) di Desa Pertumbukan. Medan Data Perkembangan Pengguna Telepon seluler Di Indonesia Sumber : http://data. Kabupaten Langkat diperoleh gambaran tentang pola penggunaan telepon seluler oleh masyarakat desa tersebut yakni.diakses tgl 11/4/08).April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Bagaimana tentang pola penggunaan telepon seluler dan sikap masyarakat desa. Ada yang menggunakan untuk kelancaran usaha/niaga hasil hasil bumi atau pertanian. 1 . penulis merasa tertarik untuk melakukan penelitian.un.com/lihat_opini. sebagai hiburan dan lain sebagainya. secara umum memberikan kontribusi yang baik dalam kecepatan mendapatkan informasi. Namun kalau diperhatikan secara seksama pola penggunaan telepon seluler berdasarkan motif jelas berbeda dari aspek sosiodemografis masyarakat. Kepintaran.

Telkomsel menambah BTS-nya dari 7. mereka bertanggung-jawab dalam pemilihan media yang akan mereka gunakan untuk memenuhi kebutuhan dan individu ini tahu kebutuhan mereka dan bagaimana memenuhinya. Medan Manfaat Secara praktis. Karena media teknologi baru yang memberi banyak kemudahan bagi pengguna. Teori komunikasi massa butuh penyesuaian dan beradaptasi dengan perubahan-perubahan itu. konsep dasar komunikasi massa mengalami perubahan. dan investasi di bidang infrastruktur telepon seluler sangat agresif dilakukan oleh berbagai operator.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. KAJIAN TEORETIS Kajian Pustaka Inovasi besar di bidang teknologi informasi dan komunikasi dalam empat dekade terakhir ini adalah ditemukannya telepon seluler atau handphone (HP). Khalayak berperan aktif dalam mengambil bagian dalam proses komunikasi dan diorientasikan pada tujuan penggunaan media. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran pada studi Ilmu Komunikasi dan untuk mengetahui perkembangan serta penerapan teori uses and gratification. Media dianggap hanya menjadi salah satu cara pemenuhan kebutuhan dan individu bisa jadi menggunakan media untuk memenuhi kebutuhan mereka. mencontohkan jumlah produksi telepon seluler mencapai 6. Perilaku ini biasanya dipengaruhi oleh predisposisi sosial dan psikologinya.com /divakar_ goswami.htm ). Pada tahun 2006 nilai investasi infrastruktur telepon seluler yang dilakukan operator lebih dari US$ 2.156 sehingga terdapat pertumbuhan sebesar 57% (http://www. tetapi yang lain mungkin memerlukan modifikasi untuk menyesuaikan dengan lingkungan baru ini (Severin dan Tankard.majalahindonesia. teori Uses and Gratification dianggap tepat sebagai acuan untuk memahaminya. Salah satu contoh gambaran lengkapnya sebagai berikut: sejak tahun 2005. 2005) Terkait dengan pola penggunaan telepon seluler. dimana dalam penelitian ini berusaha untuk menggambarkan motif kebutuhan dalam penggunaan telepon seluler bagi masyarakat pedesaan. alternatif rujukan juga sebagai khasanah referensi dalam penelitian-penelitian tentang khalayak di masa mendatang terhadap pemanfaatan industri teknologi komunikasi dan informasi.htm ). Uses and Gratifications mengangkat bahwa pengguna memiliki pilihanpilihan alternatif untuk memuaskan kebutuhan mereka (http://www. Dari penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi perkembangan studi komunikasi serta mampu memperkaya varian.uky.edu/~drlane/capstone/contexts. para operator melakukan ekspansi jaringan. Tentang hal ini Katz dan Blumer mengatakan sebagai berikut : 13 . Manusia sebagai individu aktif dan memiliki tujuan. Teori-teori yang sudah ada mungkin masih bisa dipakai. hasil penelitian ini walau dalam cakupan wilayah penelitian yang kecil diharapkan dapat dijadikan masukan bagi pemerintah me lalui Depkominfo untuk mengkaji stategi perkembangan TIK khususnya telepon seluler dalam hal tren penggunaannya. Bidang komunikasi sekarang ini sedang mengalami perubahan besar. Menurut pencetus teori ini.741 menjadi 12. Telepon seluler telah berkembang secara fenomenal. terutama telepon seluler. 1 .April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika.6 juta. Di sini. Teori ini berpandangan bahwa manusia menggunakan media karena dianggap memiliki manfaat baginya. Goswami dalam tulisannya ³Sustainability Proyek Harus Dipikirkan´.5 miliar. Dan secara teoretis. Teori ini mengusulkan bahwa khalayak (pengguna) memainkan peran dalam pemilihan dan penggunaan media. baik dari model/merk maupun dari jumlah pengguna. Blumler dan Katz (1974) mengutarakan bahwa seorang pengguna media mencari sumber media yang terbaik guna memenuhi kebutuhan mereka.

Needs which generate. yaitu : Social situation produces tensions and conflict. Gurevitch. Pada pendekatan ini audien tidak lagi dipandang sebagai pasif. Namun demikian pemikiran tersebut jelas bahwa pendekatan Uses and Gratification merupakan kritik dari sudut pandang teori-teori yang terdahulu. Leung dan Wei mengamati. Dalam sebuah studi yang dilakukan oleh Louis Leung dan Ran Wei (2000) mempelajari Kegunaan dan Kepuasan pada telepon seluler. Siranahan dan Morgan menambahkan bahwa teknologi baru selalu dikembangkan dengan mengadopsi isi pesan dari teknologi dominan sebelumnya. Gurevitch.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Social situation gives to rise certain values. 1974) .Need perhaps mostly unitended ones. namun secara global dapat dikatakan bahwa pendekatan Uses and Gratification memiliki asumsi bahwa audien dipandang aktif. khususnya k etika dikombinasikan dengan teori lainnva. dkk. Medan The social and psychological origins of. leading to resure for their easement via mass media consumption (Situasi sosial menimbulkan ketegangan dan pertentangan. serupa dengan pemyataan Gilder. the affirmation and reinforcement of which is facilitated by the consumption media material ( Situasi sosial memberikan dukungan dan penguatan pada nilai ± nilai tertentu melalui konsumsi media yang selaras ) (Katz. dan secara sadar audien memilih saluran komunikasi dan pesan±pesan paling memenuhi kebutuhanya (Elihu Katz. Katz dan Blumer selanjutnya mengemukakan ada beberapa faktor sosial yang menyebabkan timbulnya kebutuhan seseorang yang berhubungan dengan media.1999). Difusi Inovasi (Difusion of Innovations). information about which may be sought in the media. Leung dan Wei tertarik tentang mengapa orang menggunakan telepon seluler dan apakah alasan mereka yang berbeda dari mengapa mereka menggunakan telepon kabel dan jaringan. 1 . Simpulan studi yang dilakukan Leung dan Wei mengindikasikan bahwa teori Kegunaan dan Kepuasan. bahwa "telepon seluler baru menggambarkan suatu konvergensi teknologi hibrid ketika ia mengaburkan batasan antara industri telekomunikasi dan penyiaran. Informasi itu dapat dicari lewat media ). Selanjutnya. 1994).The mass media or other sources which lead to. melainkan memiliki harapanharapan dan kebutuhan±kebutuhan. Perkembangan lebih lanjut penggunaan teori Uses and Gratifications banyak diterapkan pada penelitian penggunaan media baru seperti internet ( computer mediated communication) bahkan pada telepon seluler.Expectation.Diffferential pattern of media exposure (or engagement in other activities)resulting in.(Pendekatan Uses and Gratification berhubungan dengan kebutuhan sosial dan psikologis yang membentuk harapan pada media massa atau sumber lain yang mengakibatkan pola terpaan media yang berlainan yang menghasilkan kepuasan dan konsekuensi ± konsekuensi lain yang tidak diinginkan) (Katz. Social Situation creates an awareness of problem that demand attention. Juga dalam penggunaan media. Blumer. Orang berusaha melepaskan dirinya dari hal itu dengan mengkonsumsi media massa ).(West dan Turner. audien memiliki motivasi±motivasi tertentu yaitu mencari pemuasaan atas dasar kebutuhannya terhadap media massa tersebut. memiliki kebutuhan kebutuhan tertentu. Sejak dicetuskan pertama kali pendekatan ini terus mengalami penyempurnaan oleh para ahli komunikasi melalui berbagai jenis penelitian.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. tersedianya berbagai alternatif komunikasi. 2008) 14 . (Situasi sosial menciptakan kesadaran akan adanya masalah-masalah yang membutuhkan perhatian dan informasi. dapat menjelaskan penggunaan telepon seluler. Blumer. Kemampuan Leung dan Wei untuk menerapkan teori Kegunaan dan Kepuasan pada teknologi baru dijelaskan oleh pengamatan Shanahan dan Morgan (1999) bahwa terdapat "konsistensi lingkungan dari isi pesan yang kita konsumsi dan pada sifat dasar dari lingkungan simbolik di mana kita hidup" meski jika terjadi perubahan distribusi teknologi. Walaupun mereka menggunakan sudut pandang metodologi yang berbeda-beda.

Tiga fungsi ini kemudian ditambah oleh Charles Wright yaitu fungsi hiburan (Entertaiment). media massa memenuhi kebutuhan akan fantasi dan informasi ± menurut Weiss. Sedangkan menurut Wilbur Scramm. yaitu melepaskan diri dari rutinitas dan masalah. sarana pelepasan emosi. kebutuhan atau motif yang menuntun seorang individu untuk menggunakan suatu media dipandang sebagai Gratification Sought atau kepuasan yang dicari atau diharapkan (Dimmick. Perkembangan ini diawali oleh penelitian Palmgreen dan Rayburn pada tahun 1979. sedangkan kebutuhan afektif ditandai oleh kondisi perasaan atau dinamika yang menggerakan manusia mencapai tingkat perasaan tertentu. Harold D Laswell pernah mengajukan 3 fungsi media yaitu yaitu pengawasan (Surveyllance). ³Diversion´ (pelepasan). ³Relaxation´ (relaksasi). ³ Knowledge´ (pengetahuan). Kemudian riset lebih lanjut yang dilakukan oleh Dennis McQuail dan kawan-kawan. 1 . media massa memenuhi kebutuhan akan hiburan dan informasi . dan transmisi budaya atau sosialisasi (Cultur Transmission and Socialisation).April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. 2000 ). Dan setelah mengamati hasil±hasil yang diperoleh dilapangan. Kebutuhan kognitif menekankan pada kebutuhan akan informasi dan pencapaian tingkat ideasional tertentu. Sejumlah ahli media akhirnya mulai beralih dari sekedar mengumpulkan jenis jenis kebutuhan audien kepada suatu model penelitian baru karena dari hasil±hasil studi mereka menunjukkan jenis± jenis kebutuhan yang sama. dimana dan kapan saja (Leung dan Wei. atau hiburan dan informasi ± menurut Wilbur Schramm. Motif kognitif menekankan kebutuhan manusia akan informasi dan kebutuhan untuk mencapai tingkat ideasional tertentu. yaitu persahabatan. Para peneliti media massa kemudian mencoba mengumpulkan seluas dan sebanyak mungkin daftar±daftar kebutuhan sosial dan psikologis yang dianggap audien sebagai terpenuhi dengan memanfaatkan media massa. 2000). Ahli komunikasi lainnya menyebutkan dua fungsi. dan hiburan dan transmisi kultural ± seperti yang dirumuskan oleh Harold dan Charles Wright. dan intrumentalitas yang terdapat pada telepon seluler merupakan intrumen motivasi yang kuat yang diikuti dengan rasa ikatan kekeluargan atau sosial. kegunaan sosial. 1981. dan Dimmick. yang membedakan antara Gratification Sought (GS) dan Gratification Obtained (GO). Menurut Stephenson media massa hanya memenuhi satu jenis kebutuhan saja. Jenis-jenis kebutuhan ini kemudian oleh para ahli dikelompokan menjadi beberapa kelompok. ³Entertaiment´ (hiburan). correlation (hubungan sosial). Tetapi seperti yang di jelaskan Blumer (1994). Secara umum kebutuhan yang sering disebut dan digunakan oleh para peneliti media adalah. Motif afektif menekankan aspek perasaan dan kebutuhan mencapai tingkat emosional tertentu (Rahmat. Yang lain lagi menyebutkan tiga fungsi media massa dalam memenuhi kebutuhan. korelasi (Correlation). Medan Dari studi Louis Leung dan Ran Wei (2000) yang menggunakan teori ini juga menyatakan bahwa mobilitas. kekinian. ternyata terdapat jenis±jenis kebutuhan yang setiap kali muncul walaupun sampelnya berbeda-beda. 1984) . yaitu apa yang diharapkan audien dari media massa dengan apa yang diperolehnya dari media tersebut. mereka menemukan empat tipologi motivasi khalayak yang terangkum dalam skema media ± persons interactions sebagai berikut : Diversion. Personal relationships. yaitu referensi 15 . informasi dan lain sebagainya. Dalam teori Uses and Gratification yang dikembangkan oleh Palmgreen dan Rayburn. dan ³Interpersonal Utility´ (kegunaan pribadi) (Palmgreen. ³ Surveyllance´ (pengawasan). 1984). Dengan demikian kecenderungan penelitian tentang Uses and Gratification mulai bergeser dan bertambah maju. Mengenai fungsi media massa terhadap pemenuhan kebutuhan audien tersebut. kesempatan melarikan diri dari kesibukan sehari-hari. Manfaat kepuasan langsung juga dapat dirasakan oleh penggunanya. Personal identity. fungsi±fungsi ini belum cukup untuk menggambarkan seluruh fungsi yang ada. yaitu memuaskan hasrat bermain atau melarikan diri dari kenyataan. surveillance (pengawasan lingkungan). Di sini media dianggap memberikan hiburan.

Surveillance (bentuk-bentuk pencarian informasi) (dalam Junaedi. dan berbagai hubungan antara individu konsumen media dengan isi media yang dikonsumsi atau dengan media keseluruhan (Rahmat. Ada berbagai kebutuhan yang dipuaskan oleh media massa. Menurut Steven M. Kebutuhan ini didasarkan pada hasrat untuk memahami dan menguasai lingkungan. seperti penerimaan informasi.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. (Wiryanto. dan persahabatan dapat juga diperoleh dari sumber-sumber lain seperti kawan. pengetahuan. Dari berbagai jenis kebutuhan tersebut. Kebutuhan afektif adalah kebutuhan yang berkaitan yang berkaitan dengan peneguhan pengalaman-pengalaman yang estetis. 2005. William J Mc Guire (dalam Muchati 1972) kemudian mengelompokan jenis-jenis kebutuhan tersebut menjadi 2 dimensi. Efek diartikan sebagai semua jenis perubahan yang terjadi didalam diri seseorang setelah menerima sesuatu pesan komunikasi dari suatu sumber. 1 . Tentu saja. Efek ini berkaitan dengan transmisi pengetahuan. 2001). eksplorasi realitas. 2006). sikap. media massa dapat memberikan hiburan. ketenangan.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. suatu loncatan dramatis dari model Jarum Hipodermik. Kita mengalami goncangan batin. 2004) efek media massa akan menyebabkan perubahan yang terjadi pada diri khalayak. isi media yang dikonsumsi. dipahami atau dipersepsi khalayak. antara lain: y Efek Kognitif: terjadi bila ada perubahan pada apa yang diketahui. keterampilan. (Nurudin. Kita ingin mencari kesenangan. yaitu kebutuhan yang bersifat afektif (yang berkaitan dengan perasaan) dan kebutuhan kognitif (yang berkaitan dengan pengetahuan). Chaffe (dalam Rahmat.blogspot. hobi. Sedangkan menurut Sari (dalam Kriyantono 2006) dapat dioperasionalkan menjadi jenis media yang digunakan. atau tempat ibadat (Rahmat. tetapi yang juga dapat diatasi dengan media massa. Selanjutnya terpaan media menurut Rosengreen (1974). 2007) Kemudian dari teori Utilitarian memandang individu sebagai orang yang memperlakukan setiap situasi sebagai peluang untuk memperoleh informasi yang berguna atau keterampilan baru yang diperlukan dalam menghadapi tantangan hidup. com). penguatan nilai. Kita kesepian. Mengenai kebutuhan kognitif dan afektif Nurudin menjelaskan. 2000). Ada 3 macam efek komunikasi massa. kepercayaan atau informasi. pengetahuan dan keterampilan. dapat dioperasionalkan menjadi jumlah waktu yang digunakan dalam berbagai jenis media. 2000). Perubahan yang dimaksud dapat meliputi perubahan pengetahuan. maupun durasi penggunaan . dan pemahaman mengenai lingkungan. Elemen ³pola terpaan media yang berlainan´ pada Teori Uses and Gratifications berkaitan dengan media exposure atau terpaan media. perubahan perasaan atau sikap. Pada saat yang sama. http://komunikasimassa-umy. Pada teori Uses and Gratifications. perubahan kognitif. Dalam konsep ini hidup dipandang suatu medan yang penuh tantangan . 16 . kebutuhan kognitif adalah kebutuhan yang berkaitan dengan peneguhan informasi. juga memuaskan rasa penasaran dan dorongan untuk penyelidikan kita. dan emosional. Teori ini digambarkan sebagai ³a dramatic break with effects traditions of the past´. hiburan. dan media massa berfungsi sebagai sahabat. afektif dan behavioral). manusia yang berperan dalam menentukan efek media. Komunikasi massa dapat memberikan informasi. frekuensi penggunaan. karena mengacu pada kegiatan menggunakan media (Kriyantono. menyenangkan. kebutuhan ini dapat dipuaskan oleh sumber-sumber lain selain media massa. dan prilaku nyata. dan perubahan prilaku (dengan istilah lain. Medan diri. media massa memberikan kesempatan untuk melarikan diri dari kenyataan.

2004). biasanya dilakukan pada waktu http://www. Lambang sebagai media primer dalam proses komunikasi adalah bahasa. Berbagai keuntungan relatif yang dirasakan dari telepon seluler yang mengungguli telepon tetap karena mobilitas dan efisiensinya yang lebih besar. Surat. Bandung. Bahkan menurut data Kompas (4 April 2003) yang melakukan street polling yang dilakukan pada 100 remaja SMU di Jakarta. AM Townsend (2000) menyatakan. 17 . radio film. disenangi atau dibenci khalayak. (Onong. 1 . Ini adalah dampak dari segi sosial budaya masyarakat atas penggunaan Hand Phone/ telepon seluler. telepon (telepon seluler). dan Semarang menunjukkan bahwa 51 persen mereka mengirim SMS 11-20 kali. 35 persen 2-10 kali dan 14 persen lebih dari 20 kali sehari. Bahkan menurut data dari penelitian ³Survei Siemens Mobile Phone´ 58 persen orang Indonesia lebih memilih mengirim SMS daripada membaca buku. majalah atau koran. karena harga telepon seluler terjangkau. Seorang komunikator menggunakan media kedua (sekunder) dalam melancarkan komunikasinya karena komunikan sebagai sasarannya berada di tempat yang relatif jauh atau jumlahnya banyak. ( Fritz E Simandjuntak dalam cetak/0405/05/telkom/1002910htm ). Ini artinya bahwa di samping menurunkan minat baca. di negara-negara berkembang telepon seluler telah mengurangi kesenjangan berkomunikasi di masyarakat. Bahkan. 50/26 Maret 2003) berdasarkan survei Siemens Mobile Lifestyle III menyebutkan bahwa 60 persen remaja usia 15-19 tahun dan pasca-remaja lebih senang mengirim dan membaca SMS (Short Messege Service) daripada membaca buku. sebesar 73 persen mereka mengeluarkan biaya untuk membeli voucher perbulannya sekitar 100-200 ribu. warna dan lain sebagainya yang secara langsung mampu ³menerjemahkan´ pikiran dan atau perasaan komunikator kepada komunikan. 2005).kompas. Dalam hal ini komunikasi melalui telepon seluler seperti pengiriman SMS ternyata berdampak buruk untuk menurunkan minat baca masyarakat. Kemudian sekunder adalah proses penyampaian pesan oleh seorang kepada orang lain dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media kedua setelah menggunakan lambang sebagai media pertama. Penelitian yang dilakukan International Telecommunication Union (2001) menemukan bahwa jumlah penggunaan telepon seluler di 100 negara-negara miskin melampaui telepon tetap dan komputer. telepon seluler lebih banyak digunakan untuk hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Medan Efek Afektif : timbul bila ada perubahan pada apa yang dirasakan. y Konseptual Dalam proses komunikasi dibagi menjadi dua bagian yakni secara primer dan sekunder. kegiatan dan kebiasaan berperilaku (Rakhmat. dan banyak lagi adalah media kedua yang sering digunakan dalam komunikasi. (Nurudin. Bagi pelaku bisnis.com/kompassenggang. teleks. Kalaupun digunakan untuk hal-hal yang sifatnya menghibur. Bogor. sikap atau nilai. SMS dalam hal ini lebih berfungsi sebagai hiburan saja. 9 persen antara 201-300 ribu dan 8 persen lebih dari 300 ribu perbulan. Data yang merupakan fenomena ini jelas menjadi salah satu potret dampak komunikasi melalui telepon seluler. Ini bisa dikatakan pula bahwa budaya baca yang sudah terancam dengan budaya dengar dan lihat diancam lagi oleh budaya mengirim SMS. tv. gambar.2000). kial. Proses komunikasi secara primer adalah proses penyampaian pikiran dan atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan lambang (simbol) sebagai media. Efek ini ada hubungannya dengan emosi. telepon seluler juga mengarahkan masyarakat untuk hidup konsumtif. isyarat.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Pemanfaatan telepon seluler berbeda pada setiap kelompok masyarakat. meliputi pola-pola tindakan. y Efek Behavioral : merujuk pada perilaku nyata yang dapat diamati. Menurut data majalah Komputer Aktif (no.

Jadi di ponsel tersebut. Sejalan dengan berkembangnya masyarakat beserta peradaban dan kebudayaannya. yang pada gilirannya akan tiba pada saling pengertian yang mendalam. Sementara Hafied Cangara (1998) mengatakan bahwa komunikasi adalah sebuah proses dimana dua orang atau lebih membentuk atau melakukan pertukaran informasi dengan satu sama lainnya . 1964). dan kapan saja. mobile) dan tidak perlu disambungkan dengan jaringan telepon menggunakan kabel (nirkabel. yang paling pokok adalah dapat membantu menyebarluaskan informasi tentang pembangunan. game. eksistensi manusia. Ada pula penyedia jasa telepon genggam (provider) di beberapa negara yang menyediakan layanan generasi ketiga (3G) dengan menambahkan jasa videophone. Wilbur Schramm melalui hasil penelitiannya di negara-negara berkembang membuat laporannya pada tahun 1964 yang berjudul Mass media and National Development : The role of information in developing countries. seperti yang diungkapkan oleh McLuhan (1964) yakni kehadirannya umumnya adalah sebagai the extention of man . ketika berada dalam suatu lingkungan dan bercengkerama dengan lingkungan serta dengan proses tersebut. Mencermati beberapa fungsi media massa yang ditulis Alamsjah Ratu Perwiranegara dalam Rafiq (1989) meliputi fungsi informatif. Mengikuti perkembangan teknologi digital. Telepon genggam seringnya disebut handphone (disingkat HP) atau disebut pula sebagai telepon selular (disingkat ponsel) adalah perangkat telekomunikasi elektronik yang mempunyai kemampuan dasar yang sama dengan telepon fixed line konvensional. fitur ini sangat membantu bagi para pebisnis untuk melakukan semua 18 . ponsel sekarang sudah ditanamkan fitur komputer. perangkat lunak pemutar audio (mp3) dan video. Selain fitur-fitur tersebut. maupun untuk televisi online di telepon genggam mereka. 3G). 1 . telepon genggam menjadi gadget yang multifungsi. kodrat. menerima dan men girim pesan . memahami apa yang dilihat dan didengar. manusia menyatakan dan mengembangkan perikehidupan yang bermasyarakat. namun dapat dibawa ke mana-mana (portabel. Medan Menurut Shannon dan Weaver (1949) komunikasi adalah bentuk interaksi manusia yang saling mempengaruhi satu sama lainnya. kamera digital. Pentingnya peranan media (media sekunder) dalam proses komunikasi disebabkan oleh efisiensinya mencapai komunikan dimana. SMS). Artinya . seperti bisa menangkap siaran radio dan televisi. dan kebutuhan manusia adalah berkomunikasi. Menurut Alvin Toffler dalam bukunya The Third Wave (1990) membagi tiga tahap perkembangan peradapan manusia yakni Agricultural. komunikasi bermedia mengalami kemajuan pula dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Pendapat ini dapat disimpulkan bahwa komunikasi memiliki andil dan sumbangan yang sangat besar dalam pembangunan. dapat mengajarkan melek huruf serta keterampilan lainnya yang memang dibutuhkan untuk pembangunan masyarakat dan menjadi penyalur suara masyarakat agar mereka turut ambil bagian dalam pengambilan keputusan di negaranya (Schramm. sengaja atau tidak. dan layanan internet (WAP. edukatif. berbicara. Di dunia bisnis. Berdasarkan fungsi-fungsi ini dapat disimpulkan bahwa media massa sebagai media pembangunan atau proses perubahan ke arah kondisi kehidupan yang lebih baik. sebagai alat pembayaran. Sekarang. instruktif. dan information. Selain berfungsi untuk melakukan dan menerima panggilan telepon. wireless). Seperti dalam menyatakan diri. industrial. persuasif. orang bisa mengubah fungsi ponsel tersebut menjadi mini komputer. GPRS. Saat ini Indonesia mempunyai dua jenis jaringan telepon nirkabel yaitu sistem GSM (Global System For Mobile Telecommunications) dan sistem CDMA (Code Division Multiple Access). integratif.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. dan rekreatif. kini ponsel juga dilengkapi dengan berbagai pilihan fitur. pembawaan.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. yang isinya menyatakan media massa dapat berpengaruh dalam beberapa hal. Kehadiran media tidak selalu menarik perhatian masyarakat. ponsel umumnya juga mempunyai fungsi pengiriman dan penerimaan pesan singkat (short message service.

JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Sedangkan yang dimaksud dengan masyarakat desa adalah masyarakat yang merupakan penduduk Desa Pertumbukan . gejala. Definisi Operasional Telepon seluler dalam penelitian ini adalah perangkat telekomunikasi elektronik yang mempunyai kemampuan dasar yang sama dengan telepon fixed line konvensional. ponsel menjadi salah satu fenomena komunikasi bermedia yang terus berkembang serta semakin dibutuhkan oleh masyarakat. afektif. Kebutuhan ini dapat terpenuhi dan dipuaskan melalui media massa dan sumber lain. Dengan kata lain dalam penelitian ini hanya memberikan gambaran secermat mungkin mengenai suatu individu. teman. Kabupaten Langkat. keadaan. dalam memfasilitasi masyarakat dalam berkomunikasi dan membantu memperoleh informasi dengan cepat dan tak terbatas . mobile) dan tidak perlu disambungkan dengan jaringan telepon menggunakan kabel (nirkabel. Katz dan Gurevitch membuat tipologi kebutuhan manusia yang berhubungan dengan penggunaan media yakni : kebutuhan kognitif. dalam hal ini merupakan sebagai populasi. Data pra-riset (19-22 Februari 2008) di Desa Pertumbukan terdata 263 orang yang telah memiliki telepon seluler. namun dapat dibawa ke mana-mana (portabel. dengan acak sederhana. Melalui sumber lain. karena populasi dianggap homogen. yang membutuhkan waktu yang lama dan tempat yang terbatas. maupun mengisi waktu luang dengan berbagai cara.wikipedia. Dan pengambilan sampel mengacu pendapat Winarno Surakhmad (1998) yakni sebesar 20% . yang memiliki dan menggunakan telepon seluler sebagai salah satu sarana media komunikasi. Metode Penelitian Penelitian ini bersifat deskriptif yakni hanya memaparkan situasi dan peristiwa apa adanya. METODOLOGI Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di Desa Pertumbukan. Selanjutnya pengambilan sampel dilakukan secara probability. maka diperoleh sampel sebesar 263 x 20% = 54 orang. yakni kebutuhan ini terpenuhi dengan hubungan keluarga. Kecamatan Wampu. perkembangan ponsel akan lebih mengefisienkan waktu dan sistem kerja dibandingkan dengan komunikasi/ informasi secara manual. Kabupaten Langkat. Dengan memiliki keunggulan dalam efesiensinya ini.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. atau kelompok tertentu.org/wiki/Telepon _genggam). integratif sosial dan kebutuhan akan pelarian. tanpa mencari dan menjelaskan hubungan. sehingga dapat memfasilitasi masyarakat dalam berkomunikasi dan membantu memperoleh informasi dengan cepat dan tak terbatas. wireless). Masyarakat memiliki kebutuhan dan motif beraneka ragam berdasarkan karakteristiknya sosialnya Blumler. Dengan demikian. tidak menguji hipotesa atau membuat prediksi. Kecamatan Wampu. Efektifitas komunikasi dalam penelitian ini dimaksudkan penyampaian/penerimaan informasi dan komunikasi secara lebih mudah dan efisien. Pengembangan teknologi telekomunikasi terutama jenis telepon seluler ini membuka lebar penyampaian informasi dan komunikasi secara lebih mudah dan efisien. 19 . komunikasi interpersonal. integratif pesan. 1 . Medan pekerjaan di satu tempat dan membuat pekerjaan tersebut diselesaikan dalam waktu yang singkat (http://id. Populasi Dan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat yang bertempat tinggal di Desa Pertumbukan.

Metode Analisis Data Data yang terkumpul seluruhnya akan ditabulasikan ke dalam tabel tunggal dan juga membuat beberapa tabulasi silang berdasarkan tujuan penelitian. Toba Samosir. makalah. Analisis data dilakukan dalam beberapa tahap : Membuat tabel distribusi frekuensi (f) dan prosentasi (%) serta interpretasi untuk keseluruhan data penelitian selanjutnya mengadakan diskusi dan pembahasan hasil temuan data penelitian Hasil Penelitian Gambaran Umum Lokasi Penelitian Kecamatan Wampu merupakan daerah pemekaran yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 1999 Tentang Pembentukan 13 (tiga belas) Kecamatan di wilayah kabupaten daerah tingkat II Tapanuli Selatan. dan Langkat. dan Sumber Mulyo ( http://www. Tabel 03.5%. Tabel 01. suratkabar. diperoleh melalui buku-buku. Stabat Lama. Gergas. kemudian kelompok umur 22-26 tahun dan 37-41 tahun masing-masing 16.5% dan perempuan sebanyak 31. Data Sekunder. Dan tabel 02.5%. dalam wilayah Propinsi Sumatera Utara.bpkp.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Karakteristik Responden Responden yang berjumlah 54 orang dalam penelitian ini dilihat dari aspek sosiodemografis-nya mencakup : Usia. Kecamatan Wampu merupakan pemekaran dari sebagian wilayah Kecamatan Stabat. Besilam. Labuhan Batu.7% dan selanjutnya diikuti oleh kelompok umur 22-26 tahun dan 32-36 tahun masing-masing 13%. Jenis Kelamin. Kebun Balok. Tingkat Pendidikan Tabel 04. dan pencarian informasi melalui internet. Medan Metode Pengumpulan Data Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini yakni : Data Primer. Disamping itu juga dilakukan wawancara terstruktur kepada beberapa sampel untuk memperkuat data yang terkumpul melalui kuisioner. Stabat Lama/ Baru. Bukit Melintang. Tingkat Pendidikan. diperoleh melalui kuisioner yang diberikan kepada sampel terpilih. dan Pekerjaan. usia dapat dilihat bahwa responden yang terbanyak terwakili dari kelompok umur 17-21 tahun sebanyak 31. jenis kelamin Responden dalam penelitian ini diperoleh laki-laki sebanyak 68. hasil-hasil penelitian terdahulu.id/unit/hukum/pp/1999/043 -99. 1 .JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.go. Pada awal pembentukan kecamatan ini meliputi : Desa Bingai.pdf ) Kemudian sekitar tahun 2006 dibentuk Desa Pertumbukan yang wilayahnya sebagian mengambil daerah Desa Bukit Melintang dan Desa Stabat Lama. Tapanuli Utara. Penghasilan 20 . Penghasilan. Gohor Lama. Jenis Kelamin Dari tabel 01. Usia Tabel 02. Berikut datanya yang ditampilkan dalam bentuk tabel.

06 Mencari Informasi Tabel 07. dan dapat dilihat sebagai berikut : Tabel..500.000. serta tingkat sarjana (S1) sebesar 7.500. 1. mengenai Pendapatan responden yang terbanyak yakni diantara Rp.8%. pelajar) sebesar 14.4% responden menyatakan setuju untuk membutuhkan informasi sosial melalui telepon seluler.1%.1%. Informasi Sosial Dari tabel 06.000.7%.7%.000. sebesar 14. serta dinyatakan kurang setuju oleh sekitar 3. Dan tabel 07. serta diikuti tingkat penghasilan Rp.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Sikap Responden dalam mencari informasi melalui telepon seluler dinyatakan sangat setuju oleh sebesar 50% .4%. ± Rp. ± Rp. 1. 2.000. 1 .000.000. ± Rp.000. Medan Dari tabel 03.000. Sebanyak 44. 500. Tingkat pendidikan responden yang terjaring menjadi responden terbanyak dalam penelitian ini adalah tamatan SMA yakni sebesar 40. Pekerjaan responden terbesar adalah sebagai wiraswasta/ berdagang yakni sebesar 57. kemudian pada kategori lain-lain (petani. Kemudian tabel 04.000. 1. 21 . sebesar 24.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.8%. kemudian yang menyatakan setuju sebesar 44. kemudian antara Rp.1%. kemudian diikuti tamatan SD dan SMP pada urutan kedua masing-masing 24.4% . Pekerjaan Tabel 05.4%. Kebutuhan Informasi Kebutuhan akan informasi dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui sikap responden dalam pencaharian informasi melalui penggunaan telepon seluler yang tersaji dalam tabel.9% menyatakan sangat setuju serta diikuti sikap ragu-ragu dan kurang setuju masing-masing sebesar 7. kemudian sebanyak 38. Tabel 05. serta pegawai swasta sebesar 13%.4%. 1. yakni sebesar 48.

Kemudian diikuti pernyataan setuju sebesar 35.4% menjawab ragu-ragu.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. baik dari sekitar atau luar lingkungan. Kemudian sebesar 38.1% responden sangat setuju dengan penggunaan telepon seluler akan lebih mengetahui keadaan kehidupan diluar daerah. Dengan adanya telepon seluler responden lebih terdorong untuk mempelajari sesuatu tentang lingkungan sekitar dan luar.7%. Kemudian sebanyak 5. serta hanya 5. Pertanyaan ini terbanyak dijawab responden sangat setuju yakni sebesar 48.1%.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika.6% menjawab ragu-ragu serta menjawab kurang setuju sebesar 3.2% serta pernyataan tidak setuju sebesar 7. Kemudian menjawab kurang setuju sebesar 25. 1 .2%.7% menyatakan setuju.4%.12 Meringankan Beban Hidup Tabel 13. untuk ini responden terbanyak menyatakan sangat setuju yakni sebesar 46.6% menyatakan tidak setuju. Tabel 10.9 % menjawab setuju dan diikuti sebesar 7. Kebutuhan Diversi Pernyataan-pernyataan kebutuhan diversi dalam penelitian ini yang tersaji dalam bentuk tabel berikut : Tabel. 22 .7%. Telepon seluler Sarana bermain Tabel 12.Harapan dan Kebutuhan Tabel 09. Dari tabel 09. masingmasing sebanyak 44.3%. Penggunaan telepon seluler untuk melarikan diri dari persoalan kehidupan (meringankan bebab hidup) ternyata responden menjawab tidak setuju yakni sebesar 35. Penambahan Pengetahuan Dan dari tabel 10. Sebanyak 48. Mengetahui Kondisi Daerah lain Tabel 08. Medan Tabel 08.4% menjawab sangat setuju dan setuju. Selanjutnya sebanyak 40. Tabel 11 Telepon seluler sebagai dorongan sarana untuk menambah pengetahuan sesuai dengan kepetingan.9% dan diikuti menjawab setuju 16. Mengenai penilaian responden tentang kesesuaian harapan dan kebutuhan. Termotivasi Pelajari daerah lain Tabel 11.

telepon seluler salah bentuk komunikasi bermedia ternyata sangat membantu.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.7% responden menyatakan sangat setuju. 17 Mencari Persahabatan Tabel 16. Kemudian dari tabel 15. Kemudian yang menjawab setuju dan tidak setuju masing-masing sebanyak 24. Namun terdapat juga responden yang menyatakan ragu-ragu dan tidak setuju yakni masing-masing sebesar 3. Namun sebesar 18. untuk itu sebesar 66. 16 Mengisi waktu luang Tabel. Medan Dan dari tabel 13. Telepon seluler menimbulkan kesenangan untuk pertanyaan ini responden terbanyak menjawab setuju yakni sebesar 40. Untuk mengisi waktu luang ataupun di saat santai telepon seluler digunakan responden bersama keluarga semisal menghubungi atau kirim sms kepada keluarga yang jauh dan teman. responden menyatakan sangat setuju yakni sebesar 50% dan yang menyatakan setuju sebesar 40.1%.7%.15 Meningkatkan Hubungan Silaturahmi Dari tabel 14.4%. Tabel 14. dan yang setuju dinyatakan oleh responden sebesar 22. Untuk mencari persahabatan baik dilingkungan sekitar ataupun di luar. Atasi Sulitnya Perekonomian Tabel 19. kemudian yang menyatakan sangat setuju sebesar 22. telepon seluler sebagai sarana bermain. Kemudian jawaban sangat setuju sebesar 27. Selanjutnya diikuti sebesar 16.2%.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Untuk meningkatkan hubungan silaturahmi dengan keluarga dan teman. Tabel 18. Kemudian tabel 17.9%.2% serta diikuti sikap ragu-ragu sebesar 7.7%. 1 .7%. ternyata responden menjawab kurang setuju yakni sebesar 25. Menimbulkan kesenangan Tabel. untuk itu responden sebanyak 37% menyatakan setuju. Tabel.8% serta diikuti jawaban kurang setuju sebesar 16.5% responden menyatakan raguragu.7% untuk jawaban sangat setuju.7%. Atasi masalah kehidupan sosial 23 .

5%. Kemudian sikap ragu-ragu diakui responden yakni sebesar 7.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Walau secara tidak langsung telepon seluler telah membantu responden untuk memecahkan permasalahan ekonomi keluarga dan untuk ini sebesar 31.2%.4%. Selanjutnya terdapat responden yang menyatakan ragu-ragu yakni sebesar 13%. namun komunikasi bermedia melalui telepon seluler juga dapat membantu memecahkan masalah kehidupan sosial (lingkungan keluarga. Walau komunikasi tatap langsung lebih memberi makna dan pengaruh yang lebih besar. Dan tabel 19. 24 .8%. serta yang ragu-ragu dan kurang setuju masing-masing sebesar 7. 1 .JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Penggunakan telepon seluler bagian gaya hidup Tabel 20. pernyataan ini disikapi oleh responden dengan menjawab sangat setuju yakni sebesar 48. Kerjasama dengan pihak lain Tabel 22. Melepaskan ketegangan (stress) Tabel 21.1% dan yang sangat setuju sebesar 18. masyarakat. Tabel 21.9%. Namun juga terdapat pernyataan responden yang ragu-ragu yakni sebesar 18. Dalam melepaskan persoalan sehari-hari yang dapat menimbulkan ketegangan (stress) melalui telepon seluler responden dapat menghubungi seseorang yang dianggap dapat memberikan jalan keluar jikalau untuk menjumpai seseorang secara langsung tidak memungkinkan. Untuk ini responden yang menyatakan setuju sebesar 40. Membantu berkreasi Tabel 23. Hal ini diakui oleh responden sebesar 57.4%.5% yang menyatakan sangat setuju.1% dan diikuti sikap setuju yakni 38. karir/pekerjaan. kesejahteraan) hal ini dijawab setuju oleh responden yakni sebesar 48.5% menyatakan setuju dan diikuti sebesar 22. Penggunakan telepon seluler sudah menjadi kebiasaan sehari-hari dan telepon seluler selalu mendampingi aktivitas responden (gaya hidup) .4% menyatakan setuju dan diikuti sangat setuju oleh sebesar 27. Kebutuhan Identitas Personal Dalam memenuhi kebutuhan indentitas personal dalam penggunaan telepon seluler dalam hasil temuan penelitian ini yang disajikan dalam bentuk tabel dapat dilihat sebagai berikut : Tabel 22. Selanjutnya yang menyatakan ragu-ragu sebesar 20.7% dan diikuti sebesar 31. Medan Dari tabel 18.2% menyatakan sangat setuju. Tabel 20.5%. Mencari ide/ pemikiran untuk berkreasi/berwirausaha. telepon seluler juga dapat membantu.

Namun sebesar 18. tentu saja dengan adanya teknologi ini sangat memungkinkan seseorang dapat mengubungi orang lain di tempat yang jauh dan ini sangat efektif jika kalau harus menjumpainya secara langsung. Dan tabel 25.1% dan untuk sangat setuju sebesar 35. Tabel 27. Terjalinnya hubungan dengan orang lain akan membantu untuk melancarkan/meningkatkan kerjasama usaha/kegiatan dengan pihak lain (relasional).1% menyatakan sangat setuju. Tabel 28. Untuk mendapatkan informasi tentang dunia usaha/kegiatan dengan pihak lain.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika.3% dan sangat setuju sebesar 35. Dalam membantu masyarakat melancarkan/meningkatkan kerja sama usaha dengan pihak lain. telepon seluler bagi masyarakat desa telah sangat membantu. Meningkatkan kerjasama usaha Tabel 27. untuk peryataan ini sebesar 53.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Tabel 26.Informasi dunia usaha 25 .5% menyatakan kurang setuju. Untuk itu responden yang menyatakan setuju sebesar 46. untuk ini sebesar 46.Relasional dengan pihak lain Tabel 25. Alasan pernyataan ini karena adanya telepon seluler akan membuka isolasi informasi sehingga dapat membuka cakrawala ide atau untuk berkreasi dari potensi yang ada.7% responden menyatakan sangat setuju dan 29.3% responden yang merasa ragu-ragu.2% . Keberadaan telepon seluler sudah membantu menjalin kerja sama usaha dengan pihak lain.2%. Penilaian responden terhadap keberadaan telepon seluler telah membantu meningkatkan perekonomian masyarakat adalah sebagai berikut.3% responden menyatakan sangat setuju dan yang setuju sebesar 35.Tingkatkan ekonomi masyarakat Tabel 26. 1 .Informasi aktifitas Tabel 24.6% menyatakan setuju.2% menyatakan setuju dan sebesar 24. sebesar 35. serta diikuti sebesar 9. Tabel 24.1% responden yang merasa ragu-ragu. diakui responden dengan menyatakan setuju yakni sebesar 48.2% serta responden yang merasa ragu-ragu sebesar 13%. Medan Tabel 23. Namun terdapat sebesar 11.

JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. 1 - April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika, Medan

Tabel 28, Hampir sama dengan tabel sebelumnya, hal ini lebih pada tingkat awal adanya penggunaan telepon seluler bagi masyarakat Desa Pertumbukan. Dalam pengembangan jaringan tentu akan membawa dampak-dampak positif yang diharapkan si pengguna. Untuk ha ini responden yang menyatakan setuju sebesar 48,1% dan sangat setuju sebesar 33,3 %, serta terdapat juga responden yang merasa ragu-ragu untuk pernyataan ini yakni sebesar 14,8%. Penggunaan Telepon seluler Penggunaan telepon seluler bagi responden dalam penelitian ini akan meliputi diantaranya pengalaman responden dalam pengalaman dan penggunaan telepon seluler, biaya pembelian pulsa dan sebagainya. Untuk lebih lanjut dapat disimak dibawah ini yang tersaji dalam bentuk tabel.
Tabel 29. Penggunaan telepon seluler Tabel 30. Sistem Ponsel yang Digunakan

Tabel 29, Melihat pengalaman responden tentang menggunakan atau memiliki telepon seluler dapat dilihat pada tabel diatas yakni sebesar 33,3% telah memiliki atau menggunakan telepon seluler kurang dari 1 tahun, kemudian terdapat sebesar 18,5% sudah 4 tahun serta untuk sudah 2 atau 3 masing-masing sebesar 16,7%. Tabel 30, Penggunaan jenis telepon seluler bagi responden hampir mayoritas menggunakan jenis GSM yakni sebesar 96,3% dan hanya 3,7% yang menggunakan jenis CDMA. Hampir mayoritas penggunaan jenis GSM disebabkan ketersediaan sarana dan prasarana di lokasi penelitian lebih memadai, kuatnya penerimaan sinyal ataupun varian telepon seluler untuk jenis ini lebih banyak dan lebih murah, terutama harga bekas.
Tabel 31. Alasan menggunakan Ponsel Tabel 32. Percakapan melalui Ponsel perhari

Tabel 31,Untuk mengetahui faktor-faktor yang mendorong responden untuk menggunakan telepon seluler adalah alasan mencari informasi merupakan faktor yang terbesar dipilih responden yakni sebesar 72,2%, kemudian untuk menambah pengetahuan diakui responden 26

JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. 1 - April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika, Medan

sebesar 13% seta diikuti alasan untuk mengawasi lingkungan/ pengawasan sosial yakni sebesar 5,6%. Tabel 32, Total lamanya melakukan percakapan melalui telepon seluler dalam sehari responden yang terbanyak melakukannya adalah antara 15-30 menit yakni sebesar 38,9%, kemudian dibawah 15 menit yakni sebesar 37% serta diikuti lebih dari 60 menit yakni sebesar 13%.
Tabel 33.Penggunaan SMS Dalam sehari Tabel 34. Kualitas suara

Tabel 33, Salah satu fasilitas fitur yang dimiliki telepon seluler dalam berkomunikasi secara tulisan adalah sms, fitur ini digunakan untuk mengirim pesan-pesan singkat. Responden menggunakan fitur ini sebanyak kurang dari 5 kali yakni sebesar 40,7%, kemudian 5-10 kali sebanyak 38,9%, serta diikuti yang menggunakan sebanyak 10-15 kali dalam sehari yakni sebesar 11,1%. Tabel, 34, Penilaian responden tentang kualitas suara yang didengar percakapan melalui telepon seluler dinilai jelas yakni sebesar 59,3%, kemudian dirasakan sangat jelas yakni sebesar 33,3%, serta diikuti sebesar 5,6% untuk peryataan ragu-ragu.
Tabel 35. Biaya percakapan melalui Ponsel Tabel 36. Biaya SMS

Tabel 35, Mengenai biaya percakapan melalui telepon seluler diakui responden sebesar 37% adalah mahal, namun peryataan yang bertolak belakang diakui responden yang menyatakan biaya percakapan melalui telepon seluler dianggap murah yakni sebesar 35,2% hal ini diakui responden bila menimbang jarak dan waktu yang harus dihabiskan bila akan menemui seseorang di suatu tempat yang jauh. Dan yang terakhir diakui sangat mahal oleh responden yakni sebesar 18,5%. Tabel 36, Penilaian mengenai biaya penggunaan sms, diakui responden sangat murah yakni sebesar 66,7%, kemudian terdapat sebesar 14,8% yang menyatakan mahal, kemudian sebesar 11,1% merasa ragu-ragu untuk memberikan pernyataan.
Tabel 37. Biaya pembelian pulsa perbulan Tabel 38. Kesesuaian Biaya dengan Percakapan

27

JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. 1 - April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika, Medan

Tabel 37, Biaya pembelian pulsa yang dikeluarkan oleh responden rata-rata selama sebulan yang terbanyak adalah sekitar Rp. 50.000,- s/d Rp. 100.000,- (35,2%), kemudian kurang dari Rp. 50.000,- (25,9%), serta diikuti pembelian lebih dari Rp. 200.000,- (14,8%). Tabel 38, Pendapat responden mengenai perbandingan biaya percakapan dengan waktu percakapan dinyatakan sebagian besar oleh responden tidak sebanding yakni sebesar 51,9% dan yang menyatakan sebanding sebesar 48,1%.
Tabel 39. Faktor penyebab ketidakseimbangan Tabel 40. Perkembangan Pengguna Ponsel di desa

Tabel 39, Faktor penyebab ketidakseimbangan diasumsikan responden karena biaya percakapan terlalu tinggi (biaya talk time dianggap mahal) yakni dirasakan oleh responden sebesar 44,4%, kemudian tingkat ekonomi masyarakat masih rendah diasumsikan 22,2% oleh responden. Kemudian faktor penyebab lainnya sebesar 18,5%, diantaranya adalah responden merasa khawatir kehabisan pulsa. Tabel 40, Melihat perkembangan pengguna telepon seluler diakui responden untuk di daerahnya tergolong maju (51,9%), kemudian dianggap sangat maju (44,4%), namun terdapat penilaian responden yang ragu-ragu dan kurang maju terhadap perkembangan pengguna telepon seluler di desanya yakni masing-masing sebesar 1,9%. Sikap Terhadap Kehadiran Telepon seluler Sikap ataupun pendapat responden dalam penelitian ini adalah meliputi beberapa kriteria tentang seputar kehadiran teknologi komunikasi dan informasi khususnya telepon seluler yang akan disajikan dalam bentuk tabel dapat diperhatikan dibawah ini. Tabel 41. Membantu kesejahteraan masyarakat desa

Tabel 41, Kehadiran telepon seluler walau secara tidak langsung telah memberikan bantuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, hal ini diakui responden yakni sebesar 57,4% dan yang menolak pernyataan tersebut sebesar 42,6%.

28

April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. peternakan) yakni sebesar 7.2% . Kemudian dampak lainnya yakni mayarakat menjadi konsumtif yakni sebesar 1. Medan Tabel 42.3%.9% dirasakan responden. dirasakan respo nden yakni sebesar 61. Mengenai dampak yang dirasakan responden dengan hadirnya telepon seluler menyebabkan pengeluaran semakin bertambah yakni diakui sebesar 33. Dampak Negatif Telepon seluler Dari Tabel 43. teman dan pekerjaan tanpa terkendala jarak. Pendapat masyarakat Desa adanya Telepon seluler Untuk tabel 44.4%.3% dan diikuti Peningkatan Potensi SDA (pertanian. pendidikan dan SDM Masyarakat yakni sebesar 35.4%. Pengalaman Peningkatan Yang Dialami Tabel 42 Peningkatan kesejahteraan yang dirasakan menurut responden adalah Peningkatan kualitas pengetahuan. kemudian Peningkatan ekonomi/kesejahteraan masyarakat sebesar 9. Dari pertanyaan terbuka yang dijaring oleh peneliti mengenai pendapat masyarakat tentang kehadiran Telepon seluler di Desa Pertumbukan. 1 . Kemudian memudahkan untuk mencari 29 . Tabel 44.1 % menyatakan Sangat membantu hubungan komunikasi dgn keluarga. kemudian Telepon seluler hanya menjadi gaya hidup hal ini diakui responden sebesar 7. Tabel 43.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.

Namun terdapat hal-hal yang perlu diantisipasi terhadap dampak negatifnya. eksplorasi realitas. hingga saat ini jumlah pengguna telepon seluler di desa ini mencapai kira-kira 80% (wawancara dengan Majidul Fahmi. bagi masyarakat desa sangat membantu terutama menimbulkan perasaan senang terkait dengan meningkatkan silaturahmi dengan keluarga dan teman. Pembahasan Masyarakat desa dalam memenuhi kebutuhan informasi termasuk informasi sosial sangat memerlukan hal ini terkait dengan sistem jaringan sosial yang terdapat di sekitar atau diluar lingkungannya yang pada gilirannya dapat memberikan pengetahuan atau menambah pengalaman. sarana pelepasan emosi. Namun tidak untuk melarikan atau melepaskan diri dari persoalan kehidupan dan kesulitan hidup. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Masyarakat Desa Pertumbukan memerlukan telepon seluler (media komunkasi) untuk memenuhi kebutuhan informasi termasuk informasi sosial bagi hal ini terkait dengan sistem jaringan sosial yang terdapat disekitar atau diluar lingkungannya yang pada gilirannya dapat 30 . Penggunaan telepon seluler di Desa Pertumbukan mengalami kemajuan yang sangat pesat. 1 . menjalin serta meningkatkan kerjasama dengan berbagai pihak baik didalam lingkungan sekitar maupun di luar. Sikap masyarakat terhadap hadirnya telepon seluler dewasa ini dirasakan telah memberikan kemudahan berkomunikasi. penguatan nilai. Masyarakat desa merasa dengan penggunaan telepon seluler ini sesuai dengan harapan dan kebutuhan. dan menambah wawasan. serta dapat mengetahui atau menambah wawasan tentang keadaan/kehidupan di tempat lain (11.5%. yaitu referensi diri. Medan informasi dan menambah pengetahuan/pendidikan. tentu saja hal ini tidak baik untuk anak-anak remaja. Poin-poin ini secara tidak langsung diakui akan membantu responden dan masyarakat dapat meningkatkan perekonomiannya. dan hal ini menunjang efektivitas dalam komunikasi bermedia. hal ini dirasakan oleh responden yakni sebesar 18. Kebutuhan identitas personal (Personal identity).1%). Penggunaan telepon seluler dalam memenuhi kebutuhan diversi . Kemudian faktor utama yang mendasari penggunaan telepon seluler diakui oleh responden adalah untuk mencari informasi.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Hasil temuan ini menggambarkan bahwa keberadaan telepon seluler telah membantu masyarakat desa untuk mencari ide/pemikiran untuk berkreasi. mencari informasi. merupakan upaya melepaskan diri dari rutinitas dan masalah. kuatnya penerimaan sinyal ataupun varian telepon seluler untuk jenis ini lebih banyak dan lebih murah. tgl 20/2/08). Jenis telepon seluler yang familiar dengan responden adalah sistem GSM hal ini disebabkan ketersediaan sarana dan prasarana di lokasi penelitian lebih memadai. misalnya telepon seluler dijadikan sarana untuk menyimpan photo/video porno. terutama harga yang bekas.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. mengisi waktu luang serta mencari persahabatan yang lebih luas. Pola penggunaan telepon seluler bagi masyarakat yakni cenderung menggunakan SMS karena biayanya relatif murah bila dibanding jika melakukan percakapan melalui telepon seluler. Dalam kegiatan sehari-hari telepon seluler sudah menjadi pelengkap terutama untuk kemudahan untuk berkomunikasi.

Bandung. Sage Publication. Thousand Oaks. Rachmat. ABI/INFORM Global Muchati. Bandung. Saran Telepon seluler salah satu media komunikasi yang sangat pesat perkembangannya dan populer telah memberikan kemudahan dalam berkomunikasi. Louis dan Ran Wei. Dalam kegiatan sehari-hari telepon seluler sudah menjadi pelengkap terutama untuk kemudahan untuk berkomunikasi. 2006. 1972. Ilmu Komunikasi Teori Dan Praktek. Jay G. Mediamorfosis: Understanding New Media. Media Gratification Research. 1991. 1994. ____________. 2003. RajaGrafindo Persada.Onong Uchjana. Roger. dan menambah wawasan. PT.Citra Aditya Bakti. Pine Forge Perss. Jakarta. Leung. dan menambah wawasan bagi masyarakat serta dapat membantu peningkatan perekonomian masyarakat. Bandung. Remaja Rosdakarya. Kehadiran telepon seluler telah memberikan kemudahan berkomunikasi. ___________. 2007. mencari informasi. 31 . Summer. Fidler. Keberadaan telepon seluler dapat dijadikan salah satu upaya melepaskan diri dari rutinitas dan masalah. Namun terdapat hal-hal yang perlu diantisipasi terhadap dampak negatifnya. Bandung. London. London. California . More than just talk on the move: Uses and gratifications of the cellular phone. Sistem Komunikasi Indonesia. mencari informasi. Blumler. Efenddy.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. ____________. The Role of Theory in Uses and Gratification Studies. vol. Palmgreen. Teknik Praktis Riset Komunikasi. III. Philip. 2000. Sage Publication. PT. dan bagi masyarakat Desa Pertumbukan karena menimbulkan perasaan senang terkait dengan meningkatnya hubungan silaturahmi dengan keluarga dan teman. sarana pelepasan emosi. PT. London. 1 . Jakarta. Bagi masyarakat dihimbau untuk menggunakan media telepon seluler secara bijaksana dan memberikan manfaat yang positif. dan ini sesuai dengan harapan dan kebutuhan mereka. & Elihu Katz. menjalin serta meningkatkan kerjasama dengan berbagai pihak baik didalam lingkungan sekitar maupun di luar dan secara tidak langsung diakui dapat membantu masyarakat untuk meningkatkan perekonomiannya.. Teori Dan Filsafat Ilmu. 2000. sebaiknya pemerintah dan pihak operator seluler memberikan kemudahan dengan membuat regulasi untuk menurunkan biaya operasionalnya. Journalism and Mass Communication Quarterly. DAFTAR PUSTAKA Blumler. 1998. Sage Publications. Remaja Rosda Karya. Ilmu. PT. Media Massa dan Penerimaan Khalayak. 1997. Kriyantono. Keberadaan telepon seluler telah membantu masyarakat Desa Pertumbukan untuk mencari ide/pemikiran untuk berkreasi. RajaGrafindo Persada. Pola penggunaan telepon seluler bagi masyarakat yakni cenderung menggunakan SMS karena biayanya relatif murah bila dibanding jika melakukan percakapan melalui telepon seluler. Dinamika Komunikasi. Remaja Rosda Karya. Kencana. Nurudin. 2005 . PT.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Jakarta. 1993. mengisi waktu luang serta mencari persahabatan yang lebih luas. Jay.G. Medan memberikan pengetahuan atau menambah pengalaman. PT. dan hal ini menunjang efektivitas dalam komunikasi bermedia. Pengantar Komunikasi Massa. The Uses of Mass Communications Current Perspectives on Gratification Research.

Dasar Metoda Teknik. 1998. Grasindo. http://www..com/cetak/2005 /0105/20/cakrawala/ lainnya01. London .diakses tgl 11/4/08 32 . Jakarta. Winarno. Jakarta.htm. Communication Contexts. 2000. PT. 2001. Husein.J. 2001. The Models of Uses and Gratifications. Metode Riset Komunikasi Organisasi. Rakhmat.com .id/~pawitmy/ -diakses tgl 26/3/08 ____________.htm. Umar.wikipedia. Jr.Wawan.. Turner. http://komunikasimassaumy.pikiranrakyat. Prenada Media. diakses tgl 31/3/08 Saprudin. 1991.pintunet. Rosengren. Bandung. Wiryanto. Gramedia Pustaka Utama. http://www. 2005. Dan Terapan di Dalam Media Massa. Teori Komunikasi Massa Terhadap Individu. http://id. Jalaluddin. Singarimbun.com/ divakar_goswami. Remaja Rosdakarya. Lain-Lain Damayanti. Masri. Metode Penelitian Komunikasi. Erik. Jakarta. Remaja RosdaKarya.htm .Hilda .un. 2004. PT. 2000.com/hild4. Tarsito.uky. Jakarta. http://bdg. PT.diakses tgl 2/02/08. Komunikasi. 2005.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. http://www. Psikologi Komunikasi. Surakhmad. 2007. LP3ES Printing..org/wiki/Telepon _genggam. West. Pawit M.diakses tgl 2/03/08.edu/~drlane/capstone/ contexts.blogspot. James W. Fajar. Junaedi. Edisi Kelima. Pengantar Teori Komunikasi: Analisis dan Aplikasi. Pengantar Penelitian Ilmiah.htm .html. Tankard.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. 2002. dan beberapa contoh Aplikasi Teori Komunikasi Massa Kontekstual. Bandung.com/kompas -cetak/0405/05/telkom/1002910.diakses tgl 8/02/08. Richard dan Lynn H. http://data. Metode Penelitian Survey. Salemba Humanika. Sumber-Sumber Informasi. diakses tgl 18/1/08. ___________.centrin.com/lihat_opini.php? pg=2007/10/ 27102007/65568 .com/2005/11/teori-komunikasi-massa-terhadap. Media. Severin. diakses tgl 26/8/07 http://www. W. Yusup.kompas. Teori Komunikasi Massa. Bandung . Teori Komunikasi : Sejarah. Edisi Revisi. 2005.wordpress. Wenner. hildadamayanti@yahoo. Jakarta. Karl. Metode. Dampak Penggunaan Telepon Seluler (Handphone). Medan Palmgreen. 1 . Sage Publication. net.diakses tgl 2/02/08 .2003.org/ diakases tgl 12/5/08 http://www. 2008.majalahindonesia.

Demikian juga dengan radio swasta yang tergabung dalam PRSSNI ada sekitar 84 radio swasta siaran berdiri di Provsu (PRSSNI 2006). Identity motivation of personal with existence of community radio and also push community to get opportunities of hero/ commerce in Pasar Horas Pematang Siantar. Keadaan ini berdampak munculnya media massa baik cetak maupun elektronik. To facilitate and more directional in executing of this research. regulasi tentang pendirian media massa mengalami kemudahan. development. Pada era Pasca Reformasi. serta 56 lembaga penyiaran TV Swasta lokal yang tersebar di berbagai daerah. yang selama era orde baru proses ini belum berlangsung optimal. 10 lembaga penyiaran TV Swasta dengan jangkauan nasional. Motivation version with existence of radio of community get easiness in life of them. Desire of the merchant community develop. But because limitation of time. society of Pasar Horas A. Radio Swasta Nasional. 33 . menyadarkan bahkan menggerakkan masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidupnya. hence taken some of pupulation become research sample with amount 10% from totalizing population become 54 responders. As for problems to this research is how potencial Radio of Epiginosko to develop society merchant of Pasar Horas in Pematang Siantar City. As for result of from this research is seen from cognate motivation aspect very agree with existence of community radio of Epiginosko. build that community radio is expected will be able to give respective information contribution with community dynamics merchant Lease of Horas.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. This Research require to be conducted because pursuant to perception of writer of existence of this radio is in the reality woke up by community merchant of Lease of Horas Pematang Siantar. serta Undang-undang Penyiaran No. Perubahan yang terjadi seiring dengan perubahan kebijakan politik yang terjadi Pasca Reformasi ( setelah tahun 1998 ). Dalam proses demokratisasi inilah peran media massa sangat diperlukan untuk memotivasi. As for becoming population of this research are 540 community Mrchant of Market in Pematang Siantar. yang memberi peluang bagi daerah untuk menciptakan sumber pendapatan send iri. 32/2002 yang memberi peluang bagi tumbuhnya stasiun 3 Penulis adalah Peneliti Muda bidang Komunikasi Sosial pada BBPPKI Medan.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Pasca Reformasi juga menimbulkan iklim yang kondusif lahirnya proses demokratisasi . Latar Belakang Masalah Perkembangan media massa di Indonesia mengalami kemajuan pesat sejak terjadinya perubahan kebijakan tentang Sistem Penyiaran di Indonesia. Saat ini tercatat ada 1 lembaga penyiaran publik dengan jangkauan nasional yaitu TVRI. Proses demokratisasi yang sedang berlangsung didukung oleh semangat otonomi daerah. Medan Potensi Radio Komunitas Epiginosko Terhadap Pembangunan Masyarakat Pedagang Pasar Horas Kota Pematang Siantar Sumatera Utara Oleh : Parulian Sitompul 3 Abstract The topic of research in this article is ´Potency Community Radio of Epiginosko to Development Society Merchant of Pasar Horas in Pematang Siantar City´. Demikian juga halnya dengan hadirnya TV. fund and readiness of researcher to check all community merchant of Market of Horas Pematang Siantar. hence as research method which was used in this research was research survey by approach descriptive. 1 . Key words: Community radio.

umum tentang 34 . sehingga dapat berdampak kepada peningkatan pemasukan pendapatan daerah tersebut.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Perumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang penelitian di atas. bagaimakah Potensi Radio Komunitas Epiginosko Terhadap Pembangunan Masyarakat Pedagang Pasar Horas di Kota Pematang Siantar. perdagangan dan peternakan merupakan potensi yang dapat dioptimalkan agar dapat meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD ). Kapankah Waktu dan bagaimanakah frekuen masyarakat Pedagang Pasar Horas di si Kota Pematang Siantar mendengarkan Radio Komunitas Epiginosko? 4. Siaran Radio Komunitas baik yang berbentuk berita maupun informasi potensi daerah Kota Pematang Siantar. Dengan potensi daerah yang dimiliki. serta lembaga penyiaran komunitas ( TV / Radio Komunitas ) memberi kesempatan bagi pengelola media massa untuk berperan secara optimal membangun daerahnya. maka peneliti dapat merumuskan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut. 1 . Bagaimanakah motivasi Pedagang Pasar Horas di Kota Pematang Siantar mendengarkan Radio Komunitas Epiginosko untuk mendapatkan informasi daerah? 2. Kota Pematang Siantar merupakan wilayah yang sangat potensial di Propinsi Sumatera Utara. Kehadiran lembaga penyiaran komunitas (TV dan Radio Komunitas) dapat memberi kontribusi yang sangat berarti bagi suatu daerah. perdagangan dan industri kecil perlu dilakukan promosi melalui Radio Komunitas agar dapat menarik minat investor lokal maupun luar negeri untuk menanamkan investasinya di Kota Pematang Siantar. Berdasarkan permasalahan inilah. Potensi daerah di Kota Pematang Siantar di sektor pariwisata. Medan televisi swasta berbasis daerah.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Adapun permasalahan khusus dalam penelitian ini adalah : 1. perdagangan. terutama sebagai sarana untuk mensosialisasikan kebijakan Pemerintah Daerah di tingkat Lokal dan sebagai sarana mempromosikan potensi daerah. optimalisasi fungsi lembaga penyiaran Radio Komunitas dapat mewujudkan tingkat kesejahteraan masyarakat yang lebih tinggi dari kondisi sekarang. lembaga penyiaran publik lokal ( TV/Radio Publik Lokal ). Apakah jenis informasi daerah yang didengar masyarakat Pedagang Pasar Horas di Kota Pematang Siantar dari Radio Komunitas Epiginosko ? 3. Dimanakah lokasi masyarakat Pedagang Pasar Horas di Kota Pematang Siantar biasanya mendengarkan Radio Komunitas Epiginosko ? C. Dasar pertimbangan yang lebih spesifik dapat dikemukakan sebagai berikut : 1. dan industri kecil perlu dioptimalkan melalui kemasan program siaran yang mengedepankan upaya-upaya agar masyarakat bersedia berpartisipasi meningkatkan potensi daerahnya. 3. penulis menganggap perlu dilakukannya suatu penelitian untuk mengetahui bagaimana sebenarnya bagaimakah Potensi Rad Komunitas io Epiginosko Terhadap Pembangunan Masyarakat Pedagang Pasar Horas di Kota Pematang Siantar B. peternakan. 2. Sektor pariwisata. Potensi-potensi dalam bidang pariwisata peternakan. Kehadiran Radio Komunitas dapat memberi kemudahan bagi masyarakat di Kota Pematang Siantar untuk mendapatkan informasi perdangan dengan biaya yang terjangkau dan kualitas siaran yang baik . Pembatasan Masalah Adapun pembatasan masalah dalam penelitian ini adalah : 1.

Mengetahui waktu mendengarkan Radio Komunitas Epiginosko masyarakat Pedagang Pasar Horas Kota Pematang Siantar . Seperti yang dikemukakan Melezke (1963) yang dikutip oleh Rakhmat. masing-masing berbeda latar belakang sosialnya seperti usia. komunikator tidak mengetahui tanggapan khalayak (komunikan) terhadap pesan yang disampaikan. 4. 2. Siantar. Uraian Teoritis Penelitian ini membahas tentang bagaimana masyarakat mendapatkan informasi daerah melalui Radio Komunitas. Pesan pada komunikasi massa bersifat umum. 1981 mengartikan komunikasi massa sebagai setiap bentuk komunikasi yang menyampaikan pernyataan secara terbuka melalui media penyebaran teknis secara tidak langsung dan satu arah pada publik yang tersebar. Sebagai bahan masukan bagi pengelola managemen radio komunitas epiginosko dalam upaya peningkatan dan pengembangannya. komunikasi massa mempunyai ciriciri (dikutip dari Effendi (1993:22-26) adalah : 1. Artinya khalayak menerima secara serempak (simultan ) pesan yang disampaikan melalui media massa. 35 . Sebagai bahan masukan bagi pemerintah pusat Departemen Komunikasi dan Informatika dalam pembuatan kebijakan yang berkaitan dengan pengembangan radio komunikator. Dengan kata lain. 3. agama. Mengetahui Lokasi masyarakat Pedagang Pasar Horas biasanya mendengarkan Radio Komunitas Epiginosko di Kota Pematang Siantar. Siantar agar dapat mendorong dalam pengembangan radio komunikator di P.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Sebagai bahan masukan bagi pemerintah Kota P. maka ia bertinndak sesuai dengan kebijaksanaan ( policy) media yang memilikinya. 2. Dibanding dengan jenis-jenis komunikasi lainnya. 4. Media komunikasi massa menimbulkan keserempakan. Epiginosko 3. 2. yakni satu institusi atau organisasi. E. Maksudnya pesan ditujukan kepada umum. Mengadopsi kepada karakteristik media massa maka keberadaan Radio Komunitas dapat dijelaskan fungsi dan peranannya dalam kerangka teoritis mengenai komunikasi massa. Adapun manfaat dari penelitian ini adalah : 1. Responden penelitian ini adalah masyarakat Pedagang Pasar Horas Kota Pematang Siantar D. pengalaman dan sebagainya. pekerjaan. Dalam hal ini tidak terdapat arus balik dari komunikan kepada komunmikator. Komunikator pada komunikasi massa merupakan lembaga. 3. satu sama lain tidak saling mengenal dan tidak melakukan kontak pribadi. Daerah penelitian ini adalah di Kota Pematang Siantar 3. 1 . pendidikan. Mengetahui Jenis informasi daerah yang didengar masyarakat Pedagang Pasar Horas Kota Pematang Siantar dari Radio Komunitas. Komunikasi massa berlangsung satu arah. Komunikan pada komunikasi massa bersifat heterogen. Tujuan dan Manfaat Penelitian Adapun tujuan dari penelitian ini adalah : 1. kebudayaan. Ia tidak mempunyai kebebasan sebagai individu. Keberadaannya terpencar. Mengetahui motivasi masyarakat Pedagang Pasar Horas di Kota Pematang Siantar mendengarkan Radio Komunitas Epiginosko untuk mendapatkan informasi daerah . Medan 2. 5. bukan kepada perseorangan atau kelompok tertentu. Karena komunikator pada komunikasi massa bertindak atas nama lembaga.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Artinya komunikan atau khalayak merupakan masyarakat yang heterogen.

afiliasi kelompok. Dalam pembahasan dan kerangka teoritis. 1985 Model ini dimulai dengan Variabel Anteseden yang terdiri dari Variabel Individual yaitu antara lain usia. jenis kelamin.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. 1 . Dalam penelitian ini tidak semua komponen yang ada dalam model Mass Media Uses and Gratifications diteliti. Kebutuhan Integratif Pesan 4. Kebutuhan Afektif 3. Dalam penelitian ini.Kognitif . Gurevitch. komunikasi interpersonal.Frekuensi . Variabel Lingkungan juga masih merupakan bagian dari Variabel Anteseden yang biasanya terdiri dari lingkungan sosial. Kebutuhan akan pelarian Kebutuhan tersebut dapat dipenuhi dan dipuaskan melalui media massa dan sumber lain .Jenis Isi Variabel Lingkungan Sumber : Jalaluddin Rahmat. media massa di sini dimaknai sebagai Radio Komunitas Epiginosko. Model Mass Media Uses and Gratifications menurut para pendirinya menyatakan bahwa awal kebutuhan secara psikologis dan sosial individu menimbulkan harapan tertentu kepada media massa atau sumber lain. gagasan dan sikap kepada komunikan yang beragam dalam jumlah yang banyak menggunakan media. Bagaimanakah motivasi masyarakat Pedagang Pasar Horas di Kota Pematang Siantar mendengarkan Radio Komunitas Epiginosko untuk mendapatkan informasi daerah ? 2. 1974 : 19 ± 32). Kapankah Waktu masyarakat Pedagang Pasar Horas di Kota Pematang Siantar mendengarkan Radio Komunitas Epiginosko ? 4. Kerangka teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah model Mass Media Uses and Gratifications . Kebutuhan Kognitif 2. Penelitian ini akan mendeskripsikan tentang: 1. Blumler. Dimana Lokasi masyarakat Pedagang Pasar Horas di Kota Pematang Siantar biasanya mendengarkan Radio Komunitas Epiginosko ? Anteseden Media Variabel Individual Identitas Motif Penggunaan Efek . kebutuhan dapat terpenuhi melalui hubungan dengan keluarga. Kebutuhan melalui media massa dapat dipenuhi dengan membaca surat kabar dan majalah. ( Katz. model Mass 36 . mendengarkan radio serta menonton televisi.Pengetahuan Personal . maupun mengisi waktu luang dengan berbagai cara. Blumler. teman. Gurevitch membuat tipologi kebutuhan manusia yang berhubungan dengan penggunaan media yang meliputi : 1. Katz.Kepuasan .Isi . Kebutuhan Integratif Sosial 5. Kerangka teoritis yang digunakan dalam penelitian ini memang memodifikasi efek media massa terhadap sikap individu. organisasi dan lain sebagainya. Medan Komunikasi massa menyiarkan informasi. Masyarakat dalam model penelitian ini memiliki kebutuhan dan motif beraneka ragam berdasarkan karakteristik sosialnya. tingkat pendidikan dan tingkat pendapatan.Diversi .Waktu . Apakah Jenis informasi daerah yang didengar masyarakat Pedagang Pasar Horas di Kota Pematang Siantar dari Radio Komunitas Epiginosko ? 3.Ketergantungan . Melalui sumber lain .

persepsi dan keputusan pada seseorang yang timbul karena adanya faktor intrinsik dan ekstrinsik (Wahyusumidjo . sedang (3) efek konatif erat hubungannya dengan niat dan kecenderungan berperilaku menurut cara tertentu. motivasi merupakan proses psikologis yang mencerminkan interaksi antara sikap. Manusia adalah pencari makna. makna. meninjau satuan observasi yang dikenai efek media massa.Dougall mengemukakan faktor-faktor personal yang menentukan prilaku manusia. dan kebutuhannya (need). belajar dan tambahan pengetahuan. Menurut tafsiran sosiologis Max Webber .JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Keduanya tidak mampu menjelaskan aspek eksistensi manusia yang positif dan membangun seperti cinta. dan pertumbuhan pribadi (Rakhmat. Berkaitan dengan prilaku manusia. penjelasan atau dasar kebenaran tingkah laku yang telah dilakukan (Turner. pendekatan yang berkaitan dengan pesan media massa. perasaan. Teori belajar sosial dari Bandura (1977). Pendekatan tersebut. Pertama. radio. instink. Konsep manusia yang dibahas dalam penelitian ini adalah konsepsi Psikologi Humanistik yang melihat manusia sebagai manusia seutuhnya. Tidak seperti pandangan Psikoanalisis yang cenderung menganggap manusia hanya dipengaruhi oleh naluri hewaninya dan Behaviorisme yang melihat manusia sebagai robot tanpa jiwa dan nilai. mengungkapkan bahwa komponen kognitif dan afektif banyak dipengaruhi oleh media komunikasi seperti film. dalam pertumbuhannya manusia memerlukan orang lain. Kedua. Dengan kata lain. nilai . Kebutuhan inilah yang menimbulkan motif. Mar¶at (1981:124). Motif merupakan daya yang timbul dari dalam diri yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. 1988:17). dorongan bagi seseorang untuk berbuat atau ide pokok yang selalu berpengaruh terhadap tingkah laku manusia ( Kartono. pikiran dasar. Ketika membicarakan motif. mengemukakan tiga pendekatan untuk melihat efek media massa. pendekatan dengan melihat jenis perubahan yang terjadi pada khalayak. (2) efek afektif yang berhubungan dengan emosi. Sedangkan menurut Wahyusumidjo. Motif merupakan salah satu faktor pembentuk prilaku seseorang dalam menanggapi sesuatu. 1984). dan behavioral). 2001:33). Kedua pandangan yang tadi disebutkan tidak menghormati manusia sebagai manusia. dan sikap. surat kabar. kreativitas.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. motivasi berasal dari bahasa Latin yaitu ´motivas´ yang berarti alasan dasar . dan motif ( Rakhmat. Dan ketiga. mempertahankan dan pengaktualisasian diri. Menurut Carl Rogers dalam konsepsi Humanistik ini. harapan. kebutuhan. 2001 : 30 ). disebut tiga dimensi efek komunikasi massa. Manusia memiliki faktor-faktor personal (internal) antara lain sikap. manusia mempunyai prilaku meningkatkan. 37 . dalam Jahi. yaitu : (1) efek kognitif yang meliputi peningkatan kesadaran. menurut Gonzales (1978. motif merupakan deskripsi verbal yang memberikan gambaran. Seperti penerimaan informasi. hidup manusia lebih bermakna ketika manusia itu melibatkan nilainilai dan pilihan yang membangun . perubahan perasaan atau sikap dan perubahan perilaku (perubahan kognisi. menjelaskan efek prososial dari media massa itu sendiri. sistem kognitif. Secara Etimologis. dijelaskan lebih lanjut bahwa faktor intrinsik dalam diri manusia dapat timbul berdasarkan kepribadian. dan televisi. 1988 : 153). Medan Media Uses and Gratifications diadaptasi untuk meneliti hubungan antara motif masyarakat dengan penggunaan radio. afeksi. William Mc. kepribadian. 1 . 1984:178 ) Dari pendapat di atas. peneliti perlu mengawali dengan meletakkan konsepsi manusia karena yang diteliti adalah motif manusia. sikap. Chaffe (1980) dalam Rakhmat (1985:215-217).

mudah dimengerti. gaya pesan. Perceived Concern adalah kemampuan komunikator untuk melakukan penelitian/mersa peduli apakah komunikan tunduk kepada pesan. Perceived Control adalah kemampuan komunikator untuk melakukan pengawasan apakah komunikan itu tunduk kepada pesan atau tidak. 3. Di dalam faktor personal inilah terdapat motif yang memberikan asumsi tertentu bagi orang dalam menanggapi sesuatu. daya tarik dan kekuasaan. Prinsipprinsip yang harus dianalisis adalah sebagai berikut : 1. gaya pesan menunjukkan variasi linguistik dalam penyampaian pesan (perulangan. 1 . imbauan pesan. Clarity adalah faktor kesederhanaan dan jelas tidaknya perumusan yang digunakan dalam pesan 5. struktur pesan ditunjukkan dengan pola penyimpulan. Demikian juga halnya motif menggunakan telepon pedesaan sabagai salah satu sarana berkomunikasi . Dalam kata lain Efektifitas sebuah proses komunikasi ditentukan oleh tiga faktor. ketiga faktor itu adalah sebagai berikut : 1. Keahlian diukur dengan sejauhmana komunikan menganggap komunikator mengetahui jawaban yang benar. Appeals (imbauan) pesan mengacu pada motif-motif psikologis yang dikandung pesan (rasional. pola urutan argumentasi dan pola objektifitas. Continuity adalah pesan yang bersifat kesinambungan 6.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Medan Menurut Yoseph Klapper (Rakhmat. keanggotaan kelompok dan proses selektif atau biasa juga disebut faktor personal. kemampuan untuk meneliti apakah komunikan mengikuti pesan yang disampaikan atau tidak. Jadi dapat dikatakan motif mempengaruhi seseorang dalam memilih sesuatu termasuk juga dalam memilih media massa dan mengkonsumsi isinya. emosional. 2. Ketiga. familiaritas dan kesukaan. 4. Contents yaitu faktor makna dan arti yang tersimpulkan dalam pesan terutama memperhatikan apakah pesan dipahami oleh komunikan. Perceived Security adalah kemampuan komunikator untuk memperhatikan/menyelidiki apakah komunikan itu tunduk kepada pesan. Kedua. perbendaharaan kata). reward appeals. fear appeals ). menurut Rakhmat (1989:62). Context yaitu faktor yang menghubungkan isi pesan dengan keadaan lingkungan yang ada. 2. Capability adalah faktor yang terakhir dalam penelitian pesan untuk disebarkan kepada komunikan. Faktor Komunikator Komunikator dalam model ini harus memiliki kredibilitas. Consistency adalah ada tidaknya pertentangan / pebedaan dalam bagian -bagian ataukah terdapat suatu pengulangan dengan variasi di dalamnya. 3. Daya tarik ukur dari kesamaan. Kredibilitas terdiri dari dua unsur yaitu keahlian dan kujujuran.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Credibility yaitu nilai kepercayaan khalayak atau publik kepada komunikator. Faktor Pesan Pesan terdiri dari struktur pesan. 38 . Sedangkan kejujuran dioperasionalkan dengan persepsi komunikan tentang sejauhmana komunikan tidak memihak dalam penyampaian pesan. 2001: 198) pengaruh Komunikasi Massa ditentukan oleh faktor-faktor predisposisi personal. Menurut Cultip dan Center dalam Susanto (1982:138) mengatakan bahwa pesan yang efektif adalah pesan yang memiliki 7 C yaitu : 1. Kekuasaan dioperasionalkan dengan tanggapan komunikan tentang kemampuan komunikator untuk memberikan ganjaran. 2. Pertama. 7.

4 Metode Pengumpulan Data a. Jumlah sampel dalam penelitian sebanyak 54 orang terdiri dari para pedagang di Pasar Horas Kota Pematang Siantar.1 Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Survey. 1 .5 Metode Analisis Data Analisa data dilakukan secara deskriptif. Metode ini digunakan karena penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research) dengan menyebarkan kuesioner kepada responden terhadap sampel yang telah ditentukan. yang dilakukan dengan cara mempelajari dan mengumpulkan data dari literatur dan bahan bacaan yang ada hubungannya dengan masalah dalam penelitian ini. karena itu harus memerlukan desain riset ( Mayer dan Wood. karena penelitian ini adalah penelitian survey dengan menyebarkan kuesioner kepada responden yang telah ditentukan. Dari data tersebut dianalisa melalui tabel tunggal sebagaimana lazimnya dalam metode deskriptif.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. G. Pengambilan sampel tersebut diambil 10 % jumlah populasi. Metode ini digunakan berdasarkan penjelasan suharsimi arikunto.3 Populasi dan Sampel Adapun populasi dalam penelitian ini adalah komunitas Pedagang Pasar Horas Kota Pematang Siantar. Pengkajian Kepustakaan.2 Lokasi Penelitian Lokasi penelitian ini adalah dilakukan di Kota Pasar Horas Pematang Siantar . Kerangka konsep terdiri dari variabel-variabel ( konsep-konsep ) dan hubungan-hubungan yang membentuk konteks kausal dari penyelidikannya. Jenis Kelamin c. F. Tingkat Pendidikan 39 . Usia b. Faktor media Media yang diteliti adalah Radio Komunitas dengan asumsi semakin lengkap sarana dan prasarana yang disediakan untuk proses komunikasi maka hasil yang akandiperoleh akan semakin tampak lebih sempurna walaupun kadangkala banyak kendala yang harus dijumpai. Sementara sampel dalam penelitian ini adalah pendengar Radio Komunitas Epiginosko yaitu Pedagang Pasar Horas Kota Pematang Siantar. 1984 . Medan 3. Merujuk dari kerangka teori di atas yang menghasilkan kerangka konsep kemudian diimplementasikan dalam Operasionalisasi Variabel penelitian ini adalah sebagai berikut : G.1 Variabel Anteseden a. F. 15% hingga 20 %. 263 ) . 2001 : 40 ). Kerangka Konsep dan Operasionalisasi Variabel Kerangka konsep adalah sebagai hasil pemikiran rasional yang bersifat kritis dalam memperkirakan kemungkinan hasil yang akan dicapai dalam penelitian ( Nawawi. F. F.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. menyebutkan jika jumlah populasi dari 100 orang maka dapat diambil samnpel antara 10 %. METODOLOGI PENELITIAN F. Penyebaran Kuesioner F. b.

Radio Epiginosko sebagai Menyatakan sangat setuju (45%).JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.Ragu - Jenis Kelamin Yang menyatakan sangat setuju (37%). 1 . Ketergantungan H.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Frekuensi penggunaan Isi ( Bahan Pembicaraan) Jenis Isi ( Klasifikasi : ekonomi.4 Variabel Efek ( Penggunaan Radio ) a. b. Kepuasan c. 40 . pendidikan ) G. Pekerjaan G.4%). Diversi ( Kebutuhan Pelepasan Dari Tekanan. Kebutuhan Hiburan ) c. Medan d. Keberadaan Radio Epiginosko sesuai dengan yang diharapkan dan kebutuhan Radio Epiginosko mendorong menam bah Menyatakan sangat setuju (41%). d. politik . Pengawasan Lingkungan Sosial. sumber Informasi Kurang Setuju (2. Eksplorasi Realitas ) b. Orientasi Kognitif ( Kebutuhan Informasi.3 Variabel Penggunaan Media ( Penggunaan Radio ) a.4%). Durasi yang digunakan. Keikutsertaan Organisasi f. Ragu-ragu (39%). sosial. Tingkat Pendidikan Mayoritas tingkat pendidikan pedagang yang menjadi responden dari penelitian ini adalah yang ditawar Oma (79%). walaupun ada yang mengajukan untuk mencari informasi pekerjaan mereka sebesar (2.4 juta ± 1. Setuju (48%). Identitas Personal (Memperkuat/menonjolkan sesuatu yang penting dalam kehidupan ) G. HASIL PENELITIAN Usia Responden Usia Responden pada penelitian ini adalah mayoritas berkisar diatas 42 x 4 (32%) sementara umur 27 -31 tahun hanya 4 % Jenis kelamin laki-laki ternyata lebidominan (66%) dibandingkan perempuan (35%). Ragu-ragu (9%). Tingkat Penghasilan Mayoritas responden berpenghasilan tiap bulannya dari dari hasil dagangan merekan antara 1. c. Setuju (46%).9 juta sebesar (48%) dan diatas 2 juta (34%).2 Variabel Motif (Penggunaan Radio) a. ragu (11%). Tingkat Penghasilan e. Pengetahuan b. Mencari Informasi Pada umumnya pedagang pajak horas sangat setuju mencari informasi tentang berkaitan dengan pekerjaan sebesar (65%).

Bina Aksara. Yogyakarta. Siantar. Melvin and Ball-Rokeach. Daftar Pustaka Arikunto. Teori-Teori Komunikasi. 1 . 1. Aubrey B. Fisher. Siantar diharapkan dapat mendorong lebih banyak lagi berdiri dikota P. DeFleur. Remaja Rosdakarya. Jakarta. mendapatkan wawaan. mendapatkan kesenangan. memberikan kesenangan Radio Epiginosko Yang menyatakan sangat setuju dan setuju (78%) dan mendorong berwira usaha ragu-ragu (22%). Pada umumnya pedagang Pasar Horas P. 1982. Pemerintah Pusat dalam hal ini Departemen Komunikasi dan Informatika dapat memberikan pembinaan langsung maupun tidak langsung tentang manajemen pengelolaan radio komunitas secara modren.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Peranan Komunikasi Massa Dalam Pembangunan. Depari. Rekomendasi Pengelola/managemen radio efiginosko meningkatkan kualitas materi saran yang diberkaitan dengan aktivitas pedagang pasar horas yang berkaitan dengan nilai nilai keagamaan. 1990. Prosedur Penelitian.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Bandung. 2. Motivasi diversi responden mengakui dengan mendengarkan radio komunitas yaitu untuk kebutuhan pelepasan demi tekanan. Ragu-ragu (24%). Gajah Mada University Press. Motivasi mendengarkan radio komunitas berdasarkan motivasi kognitif adalah untuk memperoleh informasi mendapatkan pengetahuan. 3. 41 . Diterjemahkan Trimo. Siantar mendengarkan radio pada pagi hari dan sampai sore hari masing-masing sebesar 28% dan ada juga pedagang sebesar 26%. 4. kebutuhan mendapatkan hiburan. Suharsimi. 2. Pada umumnya pedagang Pasar Horas mendengarkan radio ketika berada di Pasar Horas dan sebagian lagi menyatakan ada yang dirumah. kemudian motivasiidentitas personal yaitu dengan mendengarkan radio mendorong dalam pemenuhan syarat untuk berwirausaha. Medan pengetahuan dunia usaha Radio Epiginosko sangat dan setuju (81%). Eduard dan Collin Mac Andrew. Pada umumnya perdagangan Pasar Horas sangat setuju mencari informasi yang berkaitan dengan pekerjaan responden. Suatu Pendekatan Praktik. mempelajati sesuatu. I. Penyunting: Jalaluddin Rakhmat. Theories of Mass Communication. 1986. New York & London. Soedjono. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Kesimpulan 1. Pemerintah Daerah dalam hal pemko P. 1982.

Remadja Karya. OPINI PUBLIK MENGENAI PERAN MEDIA CETAK LOKAL DALAM PEMBANGUNAN BIDANG PERTANIAN HORTIKULTURA (Survei di Desa Ndokum Siroga dan Desa Surbakti Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Karo)* Oleh : IDAWATI PANDIA** * ** Telah diseminarkan di Siantar Hotel. Bandung. (1991). Jakarta. Remadja Karya. Ltd. Endang. Teori Komunikasi Massa. Alexis. Audience Research. Teori Komunikasi . Building Communication Theory. Penyunting : Jalaluddin Rakhmat.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Sosiologi Komunikasi Massa. Crutchfield. Prenada Media Singarimbun. Jakarta. 1980. 10 Juli 2008 Penulis adalah Peneliti Pertama Bidang Media Massa Pada BBPPKI Medan 42 . Ghalia Indonesia. S. Remadja Karya. Tokyo: McGraw-Hill International Book Company. Metode Penelitian Survai. Jr. International Student Edition. S. and Ballachey Egerton. Charles R. James W. Severin Werner J. 1987. Mass Communication Theories and Research.Model Komunikasi. Nazir Mohd. New York University McQuail.Womack. Bandung: Remadja Karya. Sejarah.dan Pemirsa. Jalaluddin. LP3ES. 1998. Krech. Secon Edition. Wright. Andrew. Tgl. 1989. David. Masri. Medan Infante A Dominac. Fred N. Uni Primas. 1993. Bandung. Kerlinger. Sari. Metode dan Terapan di Dalam Media Massa. Grid Publishing Inc. Bandung. Richard S. (1989). Pendengar. 2005. Rakhmat. Alih Bahasa : Agus Dharma dan Aminuddin Ram. Tan. Pengantar Studi Penelitian Terhadap Pembaca. Alih Bahasa : Putu Laxmant S. dan Sofian Effendy (ed). Model . Jakarta ---------------. 1985. Deanna F.Rancer. Foundation of Behaviour Research. Individual In Society. Erlangga. Ohio. Metode Penelitian. Columbus.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. 1 . 1985. Pendit. Pematang Siantar. --------------------. Tankard. 1993. Metode Penelitian Komunikasi. Psikologi Komunikasi. Kogakhusa. Waveland Press. 1988. A Texbook of Social Psychology. 1962. Denis.

Ketiga. Ketiga pilar utama dalam gerakan pelaksanaan pembangunan itu adalah sebagai berikut : pertama. lalu pemerintah daerah akan sulit menentukan arah dan kebijaksanaan pembangunan. A. Hortikultura. Pilar utama yang pertama ini mempunyai peranan yang sangat besar dalam menentukan keberhasilan pelaksanaan pembangunan. peran dan kewajiban yang amat menentukan.Media Lokal Pertanian. Medan Abstrak Penelitian Opini Publik Mengenai Peran Media Cetak Lokal Dalam Pembangunan Pertanian Hortikultura ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif. pers tidak akan berkembang. apalagi masyarakat petani masih merasakan kurangnya informasi tentang pangsa pasar produk pertanian dan informasi tentang agrobisnis dan budidaya pertanian hortikultura. Dan sudah barang tentu untuk mensukseskan pembangunan ini diperlukan peranan pers atau peranan media massa dalam menyampaikannya ditengah ± tengah masyarakat. 43 . Dengan kata lain. seharusnyalah media yang tangkas dan wartawan yang profesional sudah pasti sangat diperlukan karena memainkan fungsi.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Namun ini masih terkendala karena terbatasnya sirkulasi dan keterlambatan media lokal sampai ke masyarakat terutama masyarakat pedesaan.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Sudah tentu semua kebijakan yang menyangkut pelaksanaan pembangunan daerah berada di institusi pemerintah daerah terutama Bupati dan Walikota. Jadi keduanya. Kalau hal ini sampai terjadi. Kata±kata Kunci : Opini Publik. institusi pers. Akibatnya pembangunan daerah pun akan mandeg.P opulasi dari penelitian ini adalah masyarakat di dua desa di Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Karo yang membaca media cetak lokal. khususnya di Sumatera Utara adalah masalah pembangunan. masyarakat. media dan pembangunan tidak dapat dipisahkan dari perkembangannya. Hal ini perlu diperhatikan dengan baik agar pembangunan ini tidak berjalan dengan semaunya saja ataupun sampai kebablasan. Peran inilah yang sangat diharapkan masyarakat yang dapat ditangkap dan diisi oleh media massa cetak lokal. institusi pemerintah daerah. Kemudian perlu diingat bahwa media yang sehat tentu saja menjadi mutlak kehadirannya untuk mendorong agar pelaksanaan pembangunan itu juga menjadi sehat. Latar Belakang Masalah Salah satu masalah yang banyak dibicarakan dan masih aktual serta menarik perhatian di Indonesia. Oleh karena itu kebebasan pers yang sehat ( healthy press freedom ) menjadi prasyarat yang mutlak menuju pembangunan yang sehat pula. sehingga pelaksanaan pembangunan itu dapat berjalan dengan baik. Pilar utama yang kedua ini juga mempunyai peranan yang sangat menentukan didalam pembangunan daerah. Sebaliknya pembangunan yang sehat sudah jelas sangat membutuhkan kebebasan pers yang sehat pula. Kedua. Pilar utama yang ketiga ini ikut pula menentukan keberhasilan pembangunan. ternyata masih memanfaatkan media cetak lokal sebagai sumber informasi pembangunan pertanian hortikultura. Melalui media massa yang ada. 1 . Tanpa keikutsertaan masyarakat. Pelaksanaan pembangunan daerah yang demokratis digerakkan oleh tiga pilar utam yang saling berkaitan. Hasil temuan menunjukkan bahwa masyarakat di dua desa yang menjadi lokasi penelitian. kuat dan bermartabat. Keberadaan media massa cetak lokal masih dapat dan sangat diharapkan oleh masyarakat dalam mendorong suksesnya pembangunan pertanian hortikultura. sudah tentu pembangunan ini akan menimbulkan dampak yang negatif bagi masyarakat. instutusi pers seperti suratkabar dan televisi turut menentukan berhasil tidaknya pembangunan daerah tersebut. layak dan mempunyai wibawa.

Manfaat Dan Sasaran penelitian Manfaat Penelitian 1. dalam hal ini Departemen Komunikasi dan Informatika RI untuk membuat kebijakan dalam bidang komunikasi massa mendatang. Sora Mido. Bagaimanakah opini publik mengenai peran media massa cetak lokal sebagai sumber informasi pembangunan bidang pertanian hortikultura. Jumlah rumahtangga yang berusaha disektor ini berkisar antar 70 persen sampai dengan 74 persen ( BPS. dan Sirulo ( sumber : Dinas Infokom Karo ). B. peternakan dan sebagian kecil perikanan darat ( air tawar ). Kabupaten Karo adalah kabupaten yang sangat didominasi oleh sektor pertanian yaitu sub sektor pertanian tanaman pangan dan palawija. Dengan melihat hal tersebut. Apakah kendala yang dihadapi masyarakat tentang media massa cetak lokal dalam mensukseskan pembangunan bidang pertanian hortikultura. khususnya yang tersebar pada masyarakat Kabupaten Karo. Untuk mengetahui kendala yang dihadapi masyarakat tentang media massa cetak lokal dalam mensukseskan pembangunan bidang pertanian hortikultura. Berdasarkan latar belakang permasalahan yang telah dipaparkan diatas dan mengingat bahwa salah satu fungsi pers yaitu sebagai fungsi kontrol.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. 2. Tabloid Karo Membangun. Sebagai bahan masukan berupa data dan informasi bagi pemerintah. potensi wisata dan pertanian yang lebih luas dalam merencanakan dan mengelola sumber daya yang dimiliki dan untuk memberikan fasilitas dan dorongan yang lebih terarah pada perkembangan pembangunan kerakyatan. 10 ). Dinas Infokom.sehingga opini publik menjadi sangat penting bagi pemerintah didalam melakukan perencanaan pembangunan. C. Kontribusi pertanian yang diberikan Kabupaten Karo pada Propinsi Sumatera Utara persentasenya cukup besar. 10 ). Bagaimana pemanfaatan media cetak lokal sebagai sumber informasi pembangunan bidang pertanian hortikultura ? 2. Adapun jenis media cetak lokal yang turut mewarnai dan memberikan informasi bagi masyarakat. Majalah Sibayak Pos terbitan Brastagi. D. industri dan perdagangan berbasis agrobisnis yang berdaya saing dan berwawasan lingkungan dan rehabilitasi lahan yang kritis ( BPS.maka penulis tertarik dan merasa penting untuk melakukan penelitian bagaimana opini publik mengenai peran media cetak lokal dalam pembangunan bidang pertanian hortikultura ini. Medan Salah satu kabupaten yang sangat intens memperhatikan keberlangsungan pembangunan di Sumut adalah Kabupaten Karo. Rumusan Masalah Adapun yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah : 1.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. 1 . perkebunan. 44 . Untuk mengetahui bagaimanakah pemanfaatan media cetak lokal sebagai sumber informasi pembangunan bidang pertanian hortikultura. Humas Pemkab Karo. Untuk mengetahui bagaimana opini publik mengenai peran media massa cetak lokal sebagai sumber informasi pembangunan bidang pertanian hortikultura. 3. Misi ini tidak akan terwujud secara efektif tanpa fungsi dan peranan pers. sudah sepantasnya Kabupaten Karo memiliki corong yang kuat untuk mensosialisasikan kepada masyarakat melalui media massa. Tujuan Penelitian Sebagai tujuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. sub sektor hortikultura. Pemerintah Kabupaten Karo menetapkan salah satu misi pembangunannya yang berbunyi ´ Mengembangkan secara optimal pertanian. 3. Info Karo. pariwisata. khususnya di Kabupaten Karo antara lain . 2006. 2006.

JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. 1 - April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika, Medan

2. Sebagai referensi bagi BBPPKI Medan dan instansi ± instansi yang terkait untuk bahan kajian lanjutan. Sasaran Adapun sasaran dengan dilakukannya penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Secara tidak langsung masyarakat ikut berperan serta dalam mensukseskan pembangunan bidang pertanian hortikultura, ikut memberhasilkan pembangunan daerah yang terrencana dan terarah. 2. Adanya kebebasan pers yang sehat menjadi prasyarat yang mutlak menuju pembangunan bidang pertanian yang sehat pula. 3. Terwujudnya pelaksanaan pembangunan yang berjalan dengan baik, layak dan berwibawa. E. Kerangka Teori Kebutuhan melalui media massa dapat dipenuhi dengan membaca suratkabar. Tabloid dan majalah lokal. Dalam penelitian ini,model Teori Normatif,yaitu Teori Media Pembangunan diadaptasi untuk meneliti bagaimana Opini Publik Mengenai Peran Media Lokal Dalam Pembangunan Bidang Pertanian Hortikultura. Teori Normatif (cabang filsafat sosial) yang lebih berkenan dengan masalah bagaimana seharusnya media berperan bilamana serangkaian nilai sosial ingin diterapkan dan dicapai dengan sifat dasar nilai-nilai sosial tersebut.Jenis teori ini penting karena ia memang berperan dalam membentuk institusi media dan berpengaruh besar dalam menentukan sumbangsih media,sebagaimana yang diharapkan oleh publik media itu sendiri dan organisasi,serta para pelaksana organisasi sosial itu(McQuail,1994:4). Teori media pembangunan adalah penerimaan pembangunan ekonomi itu sendiri (yang karenanya perubahan sosial),dan sering kali ³pemban gunan bangsa´ (nationbuilding)yang bersangkutan,sebagai tujuan utama.Untuk mencapai tujuan tersebut,kebebasan tertentu dari media dan para wartawan tunduk pada tanggung jawab mereka untuk membantu pencapaiannya.Pada saat yang sama,yang ditekankan adalah tujuan kolektif dan bukan kebebasan individu.Unsur yang relatif baru dalam teori media pembangunan adalah penekanan pada ³hak untuk berkomunikasi,´yang didasarkan atas Pasal 17 Deklarasi Universal Hak-Hak Manusia: Setiap orang memiliki hak mengeluarkan pendapat:hak ini mencakup kebebasan menganut pendapat tanpa ganguan dan kebebasan untuk mencari, menerima,dan menyampaikan informasi dan gagasan melalui media manapun tanpa mempersoalkan batas negara.´Meskipun sukar menemukan kasus-kasus individu yang jelas menunjukkan teori media pembangunan,prinsip utama teori ini dapat diungkapkan sebagai berikut: 1. Media seyogyanya menerima dan melaksanakan tugas pembangunan positif sejalan dengan kebijaksanaan yang ditetapkan secara nasional. 2. Kebebasan media seyogyanya dibatasi sesuai dengan (1) prioritas ekonomi dan (2) kebutuhan pembangunan masyarakat. 3. Media perlu memprioritaskan isinya pada kebudayaan dan bahasa nasional. 4. Media hendaknya memperioritaskan berita dan informasinya pada negara sedang berkembang lainnya yang erat kaitannya secara geografis,kebudayaan,atau politik. 5. Para wartawan dan karyawan media lainnya memiliki tanggung jawab serta kebebasan dalam tugas mengumpulkan informasi dan penyebarluasannya. 6. Bagi kepentingan tujuan pembangunan,negara memiliki hak untuk campur tangan dalam,atau membatasi,pengoperasian media serta sarana penyensoran,subsidi,dan pengendalian langsung dapat dibenarkan. 45

JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. 1 - April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika, Medan

Sementara pengguna media itu sendiri adalah orang-orang yang berpikiran rasionalyang secara aktif memilih media mana yang mereka anggap dapat memuaskan kebutuhan yang mereka ingin dapatkan.Ada beberapa katagori kebutuhan individu,yang semuanya berasal dari fungsi sosial dan psikologi dari media,kategori ini antara lain menurut Katz Hass dan Gurevitch (Marshall,Jr,2000) yakni: a. Kebutuhan kognitif; kebutuhan akan informasi,pengetahuan,dan pengertian tentang lingkungan sekitar. b. Kebutuhan afektif : kebutuhan untuk memperkuat pengalaman akan emosi,kesenangan,atau pengalaman keindahan. c. Kebutuhan integrative personal : memperkuat kredibilitas, kepercayaan diri,kesetian, dan status pribadi. d. Kebutuhan interaksi sosial : memperkuat hubungan dengan keluarga,teman,dengan alam sekitar. e. Kebutuhan akan pelarian : hasrat melarikan diri dari kenyataan, melepaskan ketegangan, kebutuhan akan hiburan.Untuk memenuhi kebutuhan tersebut dapat dicapai dengan dua cara, yaitu: (1) Pemenuhan kebutuhan yang didapatkan dengan cara mengakses/menggunakan media yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan (2) Pemenuhan kebutuhan didapatkan dengan cara mempelajari isi informasi dalam media yang kemudian diterapkan dalam praktek. f. Sejalan dengan hal tersebut maka dapat dikatakan bahwa pengguna media secara umum adalah untuk memenuhi kebutuhan informasi,hiburan dan intraksi sosial. Dari kerangka pemikiran inilah, peneliti akan menguraikan permasalahan bagaimana opini publik mengenai peran media lokal dalam pembangunan bidang pertanian hortikultura di Kabupaten Karo. F. Kerangka Konsep Kerangka konsep adalah istilah yang mengekspresikan sebuah ide abstark yang dibentuk dengan menggeneralisasikan objek atau hubungan fakta ± fakta yang diperoleh dari pengamatan. Bungin,´ Mengartikan konsep sebagai generalisasi dari sekelompok fenomena tertentu yang dapat dipakai untuk menggambarkan berbagai fenomena yang sama. Sedangkan Kerlinger, menyebutkan konsep sebagai abstraksi yang dibentuk dengan menggeneralisasikan hal ± hal khusus. Jadi konsep merupakan sejumlah ciri atau standar umum suatu objek.´ ( Kriyantono, 2006 : 17 ). Berdasarkan kerangka teroritis diatas, adapun konsep ± konsep dalam penelitian ini sebagai berikut Opini adalah suatu pernyataan mengenai sesuatu yang sifatnya bertentangan. Opini merupakan ´ expressed statement ´ yang bisa diucapkan dengan kata ± kata, isyarat atau cara lain yang mengandung arti dan dapat dipahami maksudnya ( Meinanda, 1980, 29 ). Ini berarti opini harus dinyatakan, dengan demikian pengertian opini atau pendapat mempunyai dua unsur yakni : 1. Ada pernyataan 2. Mengenai masalah yang bertentangan Disamping itu juga, opini dapat dinyatakan melalui media massa seperti televisi, radio maupun suratkabar atau majalah. Karena opini mempunyai ciri ± ciri antara lain : 1. Mempunyai pendukung dalam jumlah besar. 2. Selalu diketahui dari pernyataan ± pernyataan. 3. Merupakan sinthesa atau kesatuan dari banyak pendapat. Sehingga opini ini bisa ditemukan dari berbagai kalangan. Selanjutnya suatu pendapat harus dinyatakan terlebih dahulu agar dapat dinilai sebagai pendapat atau opini publik, sebab sesuatu yang belum dinyatakan belum bisa disebut opini karena belum mengalami proses 46

JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. 1 - April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika, Medan

dalam diri manusia, sehingga masih merupakan sikap, Irish dan Protho ( Susanto, 1985, 92 ). Jadi yang dimaksud dengan opini publik adalah pendapat atau sikap masy arakat terhadap suatu masalah atau organisasi, dimana pembentukan opini publik melalui berbagai hal, pelayanan terhadap publik, opinion leader dan kegiatan komunikasi ( Hardiman, 2006, 87 ). Opini publik merupakan pendapat yang ditimbulkan oleh adanya unsur ± unsur sebagai berikut : 1. Adanya masalah atau situasi yang bersifat kontroversial yang menimbulkan pro dan kontra. 2. Adanya kesempatan bertukar pikiran atau berdebat mengenai masalah yang kontroversial tersebut 3. Adanya publik yang terikat kepada masalah tersebut dan berusaha memberikan pendapatnya. ³Opini dan perasaan rakyat dapat disalurkan kedalam program ± program pemerintah, sebab bagaimanapun yang berhubungan dengan fakta dilapangan adalah masyarakat ± masyarakat yang mempunyai opini dan emosi ³ ( Lipmann, Walter, 1998, 235 ). Sementara, berbicara tentang fungsi media massa, Harold Lasswell dan Charles Wright merupakan sebagian dari pakar yang benar ± benar serius mempertimbangkan fungsi dan peran media massa dalam masyarakat. Wright ( 1959 ) membagi media komunikasi berdasarkan sifat dasar pemirsa, sifat dasar pengalaman komunikasi, dan sifat dasar pemberi informasi. Lasswell ( 1984, 1960 ), pakar komunikasi dan profesor hukum di Yale University mencatat ada 3 fungsi media massa, pengamatan lingkungan, korelasi bagian ± bagian dalam masyarakat untuk merespon lingkungan dan penyampaian warisan masyarakat dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Selain ketiga fungsi ini, Wright menambahkan fungsi keempat yakni hiburan ( Severin, 2005, 386 ) Media massa yang dimaksud disini adalah media massa cetak ( printed mass media ). Pada umumnya kalau kita berbicara mengenai pers sebagai media massa tercetak, maka kita harus terlebih dahulu memahami bahwa pers adalah lembaga kemasyarakatan ( social institution ) dan merupakan sub sistem dari kemasyarakatan dimana ia berada, bersama ± sama dalam sub sistem lainnya. Dengan demikian maka pers tidak hidup secara sendiri, melainkan mempengaruhi dan dipengaruhi oleh lembaga ± lembaga kemasyarakatan lainnya. Bersama ± sama dengan lembaga kemasyarakatan lainnya, pers berada dalam keterikatan organisasi bernama negara. Karenanya eksistensi pers dipengaruhi, bahkan ditentukan oleh falsafah negara dan sistem politik negara dimana pers itu hidup. Pers di negara mana dan dimasyarakat mana, ia berada sama ± sama mempunyai fungsi universal yakni : 1. Memberikan Informasi ( to inform ) Menyiarkan informasi adalah tugas suratkabar yang pertama dan utama. Khalayak pembaca berlangganan atau membeli suratkabar karena memerlukan informasi mengenai berbagai hal di bumi ini mengenai peristiwa yang terjadi, gagasan atau pikiran orang lain, apa yang dilakukan orang lain, apa yang dikatakan orang lain dan lain sebagainya. 2. Mendidik ( to educate ) Sebagai sarana pendidikan massa ( mass education ), suratkabar memuat tulisan ± tulisan yang mengandung pengetahuan, sehingga khalayak pembaca bertambah pengetahuannya. Fungsi mendidik ini bisa secara implisit dalam bentuk berita, dapat juga secara eksplisit dalam bentuk artikel atau tajuk rencana 3. Fungsi Menghibur ( to entertaint ) Hal yang bersifat hiburan sering dimuat suratkabar untuk mengimbangi berita ± berita berat ( hard news ) dan artikel ± artikel yang berbobot. Maksud pemuatan isi yang mengandung hiburan itu semata ± mata untuk melemaskan ketegangan pikiran setelah para pembaca dihidangi berita dan artikel yang berat ± berat. 4. Mempengaruhi ( to influence ) 47

dimana sampai saat ini sektor pertanian memberikan kontribusi lebih dari 60 persen setiap tahun bagi pembentukan produk domestik regional bruto ( PDRB ) Kabupaten Karo.yang masing ±masing menekankan pendekatan berbeda. Secara garis besar bisa diidentifikasikan tiga pola pemikiran dan praktek pembangunan yang berkembang di Indonesia.Benang merah dari definisi pembangunan ialah bahwa pembangunan bertujuan merubah´keadaan´ masyarakat kearah yang lebih baik dengan cara pemecahan masalah yang dihadapi. Pengertian buah pada hortikultura agak berbeda dengan pengertian buah pada ilmu botani.yaitu penekanan politik. Secara harfiah istilah hortikultura diartikan sebagai usaha membudidayakan tanaman buah ± buahan. sehingga hortikultura merupakan suatu cabang dari ilmu pertanian yang mempelajari tentang budidaya buah ± buahan. Sektor Pertanian Hortikultura Mengingat bahwa perekonomian masyarakat Karo sangat didominasi oleh sektor pertanian.maupun masalah-masalah yang dihadapi oleh warga masyarakat(Mastur Yahya).dengan menggunakan teknologi yang terpilih.maka dalam hal ini masyarakat penting untuk dilibatkan. menyebabkan suratkabar memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat. sayuran dan tanaman hias. Pengawasan ( social control ) Jika suratkabar benar melaksanakan tugas sosial kontrolnya. selain buah ± buahan.melainkan diperuntukkan pula bagi segenap Stake holder. Adapun sub sektor yang dominan bagi sektor pertanian yang disoroti disini adalah sub sektor hortikultura. Onong.Upaya ini dilaksanakan oleh pemerintah yang didukung oleh partisipasi masyarakatnya. 1975). karena pemerintah. 1981. sayuran dan tanaman hias (Edmon et al. Kenapa seperti itu. Secara implisit terdapat pada berita.Sedangkan Lionberger dan Gwin mendefinisikan pembangunan sebagai proses pemecahan masalah. ataupu ekonomi.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. 1 . pers dan masyarakat adalah satu kesatuan yang saling membutuhkan satu sama lain. sedangkan secara eksplis it terdapat pada tajuk rencana dan artikel 5. Menurut Totok Mardikanto:Pembangunan didefinisikan sebagai upaya sadar dan terencana untuk melaksanakan perubahan ± perubahan yang mengarah pada pertumbuhan ekonomi dan perbaikan mutu hidup atau kesejahteraan seluruh warga masyarakat. Hortikultura berasal dari kata ´ hortus ´ ( garden atau kebun ) dan ´ colore ´ ( = to cultirate atau budidaya ). akan banyak tantangan yang harus dijawab dengan sikap yang berani dan bijaksana. atau hidup tidak terhormat disebabkan tidak mempunyai kepribadian ( Effendi.terutama untuk jangka panjang.dan moral sebagai panglima (Mastur Yahya). 2007 mengatakan bahwa hortikultura terdiri dari : A. Dalam suatu situasi.ekonomi.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika.dikalangan peneliti dan penyuluh. sedangkan orang ± orang yang mengusahakannya disebut pomologist. Sedangkan dalam GBHN 1993 ± 1998.baik masalah yang dihadapi oleh setiap aparat dalam setiap jenjang birokrasi pemerintah. Definisi pertama lebih menekankan pada masyarakat selaku penerima manfaat (beneficiaries) pembangunan. Medan Fungsi mempengaruhi. suratkabar bisa dihadapkan kepada dua alternatif. sayuran dan tanaman hias yang termasuk dalam kelompok hortikultura adalah tanaman obat ± obatan. Su¶ud Hassan. mati terhormat karena memang prinsip.Sedangkan definisi kedua menyiratkan bahwa pembangunan tidak hanya untuk masyarakat. 94 ) Pengertian Pembangunan Sukses tidaknya perencanaan pembangunan daerah itu sudah barang tentu tidak bisa terlepas dari media massa didalamnya. 48 . Tanaman Buah ± Buahan Ilmu yang mempelajari tentang tanaman buah ± buahan disebut pomologi.

Mudah rusak ( perishable ) dalam pengangkutan 4. 5. bahkan sering tidak berhasil sama sekali. Perlu tempat yang lapang ( voluminous ) 3. tempat tinggal dan tanam tanaman umum. Tidak dapat disimpan lama 2. Ditinjau dari fungsinya tanaman hortikultura dapat memenuhi kebutuhan jasmani sebagai sumber utama. tetapi di negara yang sudah maju digolongkan kedalam sayur ± sayuran.pertanian. ketenangan hidup dan estetika ( dari tanaman hias/bunga ).id /~agronomi /dashor. 2.ac. batang. Peningkatan pendapatan petani dan. Kebanyakan tanaman sayuran baru mau berbuah ( menghasilkan biji ) didaerah ± daerah dingin.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Ini merupakan bagian penting pada hortikultura. umbi dan lain ± lain tidaklah tepat. karena hampir semua hasil hortikultura bersifat tidak tahan lama. Pemenuhan kebutuhan keindahan dan kelestarian lingkungan Namun ketika kita membahas masalah hortikultura perlu diperhatikan pula mengenai sifat khas dari hortikultura yaitu : 1. sedangkan orang yang mengusahakan disebut floricultureti. Memperbesar devisa negara 3. Medan Umpamanya mentimun dalam arti botani adalah buah. jalan. sehingga untuk Indonesia benih ± benih terpaksa diimpor. Tanaman Sayur ± Sayuran Ilmu yang mempelajari tentang tanaman sayur ± sayuran disebut olericulture dan orang yang mengusahakannya disebut olericulturist. Dengan demikian yang digolongkan kedalam buah dinegara ini adalah buah yang dihasilkan oleh tanaman tahunan (perennial crops ) B. tetapi dalam arti hortikultura tergolong kedalam sayur ± sayuran. kebun ( nursery production ). merupakan bagian penting terutama untuk benih±benih sayur±sayuran dan bungan±bungaan. Sedangkan peranan hortikultura adalah : 1. Pemeliharaan tanaman ± tanaman dalam taman. sebangsa pakis dan lain ± lain. daun kangkung. tidaklah semata ± mata berarti suatu bidang tanaman bunga ± bungaan. Fluktuasi harganya tajam ( www. Hal ± hal lain yang termasuk kedalam hortikultura : 1. taman untuk rekreasi dan lain ± lain. Tanaman Bunga Ilmu yang mempelajari bunga ± bungaan disebut floricultura.uns. tetapi juga tanaman yang tidak berbunga yang biasanya dipergunakan untuk menghiasi baik berupa semak ± semak maupun rumput ± rumputan. 1 . juga letak bangunan ± bangunannya. Land scaping : meliputi planning dan pengaturan daripada pekerjaan. C.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. sehingga perlu adanya pengalengan oleh industri ± industri. Meliputi seluruh tanaman dalam bidang hortikultura. 2. untuk menghasilkan benih sayur ± sayuran dan bunga ± bungaan daerah tropis bukanlah suatu hal yang mudah. serta memenuhi kebutuhan rohani karena dapat memberikan rasa tentram. Begitu juga dengan buah labu dalam hortikultura dan buah tomat di Indonesia termasuk dalam golongan buah. Pengolahan dan penyimpanan hasil ( processing and storage ). Seed Production. 4. Melimpah ruah pada suatu musim dan langka pada musim lainnya 5.html ) 49 . pangan. Ini dikarenakan ada juga sayur ± sayuran yang dipetik dari tanaman tahunan seperti melinjo dan daun jambu mete. mineral dan protein ( dari buah dan sayur ). 3. Pengertian bahwa sayur ± sayuran hanyalah hasil yang dipanen dari tanaman tahunan ( annual crops ) atau tanaman muda/semusim baik yang menghasilkan buah. Memperluas kesempatan kerja 4. Memperbaiki gizi masyarakat.

Hortikultura adalah komoditas yang akan memiliki prospek yang sangat cerah menilik dari keunggulan komparatif dan kompetitif yang dimilikinya dalam pemulihan perekonomian Indonesia dimasa mendatang. Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif. Metodologi Penelitian 1. Populasi dan Sampel Populasi Populasi dari penelitian ini adalah seluruh masyarakat petani holtikultura di desa Ndokum Siroga dan desa Surbakti . kol. masyarakat dan lain lain pada saat sekarang berdasarkan fakta± fakta yang nampak atau sebagaimana adanya ( Nawawi. dalam pengembangan hortikultura agar dapat berhasil dengan baik. Dari 13 Kecamatan diatas. Tiga panah. desa ini paling banyak masyarakatnya bergerak dalam bidang pertanian hortikultura . Tiga Binanga. bawang prei. Munthe. Merek. Seperti halnya negara ± negara lain yang mengandalkan devisanya dari hasil hortikultura antara lain Thailand dengan berbagai komoditas hortikultura yang serba Bangkok. 1 . Masyarakatnya betul±betul masyarakat petani yang bergerak dibidang pertanian hortikultura b. Belanda dengan bunga tulipnya.yaitu sebanyak 900 orang. Laubaleng. Oleh karena itu kita harus berani untuk memulai mengembangkannya pada saat ini. Kabupaten Karo terdapat 13 kecamatan yaitu : Mardinding. keadaan. kini telah mengekspor apel. Kutabuluh. anggur dan lain sebagainya. Kabanjahe. bahkan Israel dari gurun pasirnya. Sementara pengembangan hortikultura di Indonesia pada umumnya masih dalam skala perkebunan rakyat yang tumbuh dan dipelihara secara alami dan tradisional. Payung. maka diperlukan pengetahuan yang lebih mendalam terhadap permasalahan hortikultura tersebut.63 ). saya mempurposive Kecamatan Simpang Empat sebagai lokasi penelitian. G. yaitu Desa Ndokum Siroga dan Desa Surbakti. lembaga. Metode deskriptif dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan/melukiskan keadaan subyek/obyek penelitian seseorang. Teknik purposive adalah suatu teknik yang 50 .April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Nikaragua dengan pisangnya. arcis. c. Tegasnya penelitian deskriptif hanya memberi gambaran secermat mungkin mengenai suatu individu. Lokasi Penelitian Adapun lokasi penelitian ini hanya di fokuskan pada 2 desa . kentang. Berdasrkan data yang ada dikecamatan.Dipilihnya hanya satu kecamatan mengingat kecamatan tersebut : a. jeruk. petsai/sawi. wortel.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. jeruk. buncis. Brastagi. Sampel Sampel dalam penelitian ini diambil melalui Teknik Pemilihan Sampel secara purposive ( purposive sampel technique ) . cabe. Barusjahe. Transportasi dari pusat ibukota propinsi ( Medan ke Kabupaten Karo ) bisa ditempuh dalam beberapa menit. gejala atau kelompok tertentu 2. di kecamatan Simpang Empat Kabupaten Karo. Medan Dengan mengetahui manfaat serta sifat ± sifatnya yang khas. Simpangempat. sedangkan jenis komoditas hortikultura yang diusahakan masih terbatas. Juhar. 3. markisah dan pisang. Cakupan sub sektor hortikultura yang dominan diusahakan oleh masyarakat Karo adalah tanaman sayuran dan buah ± buahan yang meliputi tomat. 1983.

Dalam pekembangannya. dalam arti bahwa suku bangsa Indonesia lainnya dapat diterima menjadi suku bangsa Karo dengan beberapa persyaratan adat. Adapun batas ± batas wilayah Kabupaten Karo adalah sebagai berikut : a. Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Langkat dan Kabupaten Deliserdang b. padi. Desa Surbakti yang pertaniannya kurang maju sebanyak 45 responden 4. Desa Ndokum Siroga yang dianggap pertaniannya paling maju sebanyak 45 responden b.dan akhirnya data lapangan yang telah diperoleh dikoding dan ditabulasi untuk memperoleh tendensi dengan persentase. Wilayah Kabupaten Karo berada pada ketinggian 120 ± 1. adat suku bangsa Karo terbuka. Ginting. Sembiring. Sebelah Barat berbatasan dengan Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam ( NAD ) Kabupaten Karo terdiri dari 13 kecamatan yang dibagi menjadi 248 desa dan 10 kelurahan. Disamping itu untuk memperkaya data. Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data dilakukan melalui angket yang dipandu oleh enumerator ( pengumpul data ) dimana penulisan angket dilakukan melalui pertanyaan terbuka dan tertutup. H.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. hortikultura. Saat ini wilayah Kabupaten Karo sudah didiami oleh beragam suku bangsa. Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang dan Kabupaten Simalungun d. 1 . Suku bangsa Karo ini mempunyai adat istiadat yang sampai saat ini masih terpelihara dengan baik dan sangat mengikat bagi suku bangsa Karo sendiri. 5. 154 ).maka kriteria yang ditentukan adalah masyarakat yang betul-betul petani holtikultura. Gambaran Umum Lokasi Penelitian Letak geografis Kabupaten Karo berada diantara 2 0 50 0 ±3 0 19 0 Lintang Utara dan 97 0 55 0 ± 98 0 38 0 Bujur Timur dengan luas wilayah 2. tutur siwaluh dan rakut sitelu. 2006. tanaman perkebunan dan peternakan 1. Kabupaten Karo terletak pada jajaran Bukit Barisan dan sebagian bersar wilayahnya merupakan dataran tinggi. Dua gunung berapi aktif terletak di wilayah ini. Sekitar 70 persen dari jumlah rumah tangga di Kabupaten ini berusaha disektor pertanian terutama bercocok tanam sayur ± sayuran. sehingga rawan terjadi gempa vulkanik. Suku ini terdiri dari 5 ( lima ) marga. dimana dari 40 desa yang ada di Kecamatan Simpang Empat ditentukan 2 ( dua ) desa yaitu : a.maka analisis penelitian dilakukan dengan metode pendekatan deskriptif kuantitatif didukung dengan data kualitatif yang diperoleh melalui wawancara mendalam.dengan besar sampel 10% dari Populasi yaitu sebanyak 90 orang. hasil ± hasil penelitian dan laman website yang berhubungan dengan materi penelitian ini. Perekonomian Kabupaten Karo sebagian besar adalah sektor pertanian. Teknik Analisis Data Sesuai dengan sifat dan tujuan dari penelitian ini.25 Km 2 . Medan mencakup orang ± orang yang diseleksi atas dasar kriteria tertentu yang dibuat peneliti berdasarkan tujuan penelitian ( Kriyantono.400 meter diatas permukaan laut. palawija. buah ± buahan.angin. juga dilakukan metode library research ( riset kepustakaan ) yaitu pencarian referensi/bahan ± bahan dari buku ± buku jurnal. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Dairi dan Kabupaten Toba Samosir c. Pusat pemerintahan Kabupaten Karo terletak di Kecamatan Kabanjahe yang berjarang sekitar 67 kilometer dari Medan Penduduk asli yang mendiami wilayah Kabupaten Karo disebut suku bangsa Karo. Kecamatan Simpang Empat 51 .JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.127. Merga Silima itu yakni : Karo ± Karo. Tarigan dan Perangin .

97 Km 2 . Adapun mata pencaharian penduduk terdiri dari 491 KK ( 94% ) bertani dan sebanyak 31KK ( 6% ) adalah non tani. Pembahasan Hasil Penelitian Kabupaten Karo adalah salah satu kabupaten yang ada di Propinsi Sumatera Utar a yang mengandalkan pendapatan masyarakatnya dari sektor pertanian. J. buah ± buah dan juga bunga ± bungaan. Dari hasil penelitian tentang Opini Publik Mengenai Peran Media Lokal Dalam Pembangunan Bidang Pertanian Hortikultura terlihat bahwa masyarakat Karo. dengan perbandingan jenis kelamin 890 jiwa perempuan dan 2. Desa Ndokum Siroga adalah ibukota dari Kecamatan Simpang Empat. Medan Luas wilayah Kecamatan Simpang Empat adalah seluas 225. 160 jiwa SLTA sederajat dan 52 jiwa tingkat perguruan tinggi. Desa Ndokum Siroga Nama Kepala Desa : Supratman Surbakti.969 jiwa yang terdiri dari 522 KK. Luas Desa Ndokum Siroga adalah 2.003 jiwa laki ± laki dan 1. Sementara tingkat pendidikan di Desa Surbakti adalah 112 jiwa tidak bersekolah. Sementara tingkat pendidikan di Desa Ndokum Siroga adalah : 45 orang tidak bersekolah. Berbagai upaya terus dilakukan untuk tetap mempertahankan dan sekaligus meningkatkan pendapatan dari sektor pertanian ini. 3. Adapun mata pencaharian penduduknya terdiri dari 684 KK atau 94% adalah bertani dan sebanyak 41 KK atau 6 %nya bergerak disektor non pertanian. terdiri dari 2 ( dua ) dusun. Asumsi ini terlihat seperti yang tertera dalam tabel penulisan laporan ini. Jarak dari kabupaten 7 kilometer.070 jiwa laki ± laki.47Km 2 yang terdiri dari 40 desa. dimana pada tabel dibawah ini terlihat bahwa media cetak lokal tersebut dianggap sangat penting bagi masyarakat dan tidak dapat dipisahkan dari masyarakat petani dalam memperoleh upaya informasi. 160 orang SLTP sederajat. 85 orang SLTA sederajat dan 43 orang pernah ditingkat perguruan tinggi. Salah satu diantaranya adalah upaya untuk terus memelihara pasar regional dengan mengundang pengusaha ± pengusaha dari Singapore dan Malaysia yang tergabung dalam Agri-Food And Veterinery Autority Of Singapore ( AVA ).966 jiwa dan 10. I. Memang ada sektor pariwisata yang juga menjadi andalan bagi Pemerintah Kabupaten Karo. terdiri dari 5 ( lima ) dusun. 1 . 90 jiwa tamat SD sederajat. 170 jiwa tamat SLTP sederajat. namun hingga kini sektor pariwisata belum juga mampu menggantikan peran sektor pertanian yang telah begitu dominan. khususnya di lokasi yang dijadikan sebagai responden dalam penelitian ini masih menggunakan media massa cetak khusus media cetak lokal sebagai sumber informasi pembangunan Bidang Pertanian Hortikultura. Begitu dominannya sektor pertanian yang dikelola daerah ini sehingga sampai saat ini kontribusi yang diberikan atas pembentukan produk domestik regional bruto ( PDRB ) hingga mencapai 60 persen.164 jiwa perempuan yang terdiri dari 689 KK. Kedatangan para pengusaha Singapore ini ke Sumatera Utara 52 .834 rumahtangga ( RT ). Hasil Penelitian.57 Km 2 dengan jumlah penduduk 2. Media cetak juga dianggap sebagai salah satu faktor dalam mempercepat proses tranfusi informasi pembangunan khususnya bidang pertanian hortikultura. Produk ± produk andalan pertanian Kabupaten Karo ini adalah bermacam sayuran.167 jiwa dimana perbandingannya 1.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. 60 orang SD sederajat. luas daerah Desa Surbakti adalah 9. Sejak Januari 2007. jumlah penduduk 1.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Kecamatan Simpang Empat telah dimekarkan menjadi 3 ( tiga ) kecamatan 2. Jumlah penduduk 39. Desa Surbakti Nama Kepala Desa : Jasa Surbakti. Dengan kata lain mayoritas Pendapatan Asli Daerah ( PAD ) yang dihasilkan dari sektor pertanian yang menghasilkan produk ± produk pertanian berbasis agrobisnis.

April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Jepang.0 4 31. Solusi cerdas yang dipilih masyarakat petani dalam mencari informasi terbaru adalah melalui media massa yang ada di daerah. Jenis tanaman yang akhir ± akhir ini sangat populer karena produk organik ini terhindar dari bahan ± bahan kimia yang tidak bagus buat kesehatan.2 Sibayak Pos Sora Mido Sora Sirulo Info Karo Karo Memba ngun Tidak Pernah 20 44. Berbagai upaya dilakukan para petani didalam meningkatkan pengetahuannya dalam mengolah pertanian. dimana pada tabel dibawah ini terlihat bahwa media cetak lokal tersebut dianggap sangat penting bagi masyarakat dan tidak dapat dipisahkan dari masyarakat petani dalam memperoleh upaya informasi. cerdas dan mempunyai output yang besar.2 Total 45 100 45 100 45 100 45 100 Media cetak juga dianggap sebagai salah satu faktor dalam mempercepat proses tranfusi informasi pembangunan khususnya bidang pertanian hortikultura. Medan bertujuan untuk melihat secara langsung proses produksi sayur ± sayuran langsung ke tempat produksi sekaligus sebagai upaya penjajakan atas peningkatan kerjasama yang telah ada selama ini terkait dengan pemenuhan kebutuhan sayur ± sayuran di negeri Singapur tersebut. utamanya media massa lokal. 53 .4 23 51.2 21 46.9 26 57.3 9 20. karena inovasi ± inovasi yang terus berkembang terkadang tidak didapatkan dari sumber informasi seperti penyuluh pertanian.7 17 37.4 12 26.7 7 15.4 10 22. Keberadaan sumber daya manusia dalam hal ini petani juga harus selalu mengup-grade pengetahuannya didalam hal pengolahan pertanian untuk meningkatkan produksi.6 11 24.7 22 48. Media Sibayak Pos Sora Mido Sora Sirulo Info Karo Karo Memba ngun Tabel 1 Frekuensi Membaca Media Cetak Lokal Desa Ndokum Siroga Desa Surbakti Sering F % F % F % F % F % 16 35.0 11 24. 1 . serta langkah ± langkah strategis lain yang pada intinya adalah bagaimana melaksanakan kegiatan pertanian yang efektif. Salah satu kesempatan yang harus dimanfaatkan para petani di Kabupaten Karo dewasa ini adalah didalam membudidayakan tanaman ± tanam bersifat organik. China.1 28 62. termasuk didalamnya peluang bisnis pemasaran serta proses pasca panennya. Malaysia. yang pada akhirnya berimbas kepada peningkatan kesejahteraan petani tersebut.8 Jarang 19 42. Sebagaimana kita ketahui Negara Singapore sangat mengandalkan pasokan sayur dan buah untuk dikonsumsi dari negara ± negara tetangganya.6 6 13.1 23 51.0 12 26.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.2 Total 5 100 45 100 45 100 45 100 45 100 Media Sering F % F % F % F % F % 16 35. Dan tentu saja kondisi tersebut merupakan peluang yang harus dimanfaatkan semaksimal mungkin. Pemerintah Kabupaten Karo sendiri melalui Dinas Pertanian setempat selalu mengirimkan petugas ± petugas penyuluh pertanian untuk membimbing para petani didalam melakukan aktivitas pertanian. dan jenis organik seperti ini sangat digemari oleh konsumen di negara ± negara Singapore dan Malaysia. Informasi seperti inilah yang sangat diperlukan oleh masyarakat petani. 95 persen pasokan sayur dan buah berasal dari negara negara seperti Thailand. Namun upaya untuk mencari sendiri informasi tambahan yang paling terbaru juga perlu dilakukan.6 9 20 Tdk Pernah 10 22.6 Jarang 9 20. Pemerintah Kabupaten Karo harus tetap konsisten didalam pengembangan kegiatan agrobisnis tersebut. Penggunaan teknologi tinggi didalam meningkatkan produksi pertanian juga perlu diketahui. Australia dan Indonesia.2 10 22.2 18 40.8 19 42.1 7 15.

Tidak ada responden yang menjawab tidak penting untuk materi pertanyaan ini.2% responden pada masing ± masing 54 . sedangkan di Desa Surbakti yang memberi jawaban berpengaruh adalah sebesar 62.8% responden didesa Surbakti menjawab media tersebut sangat berpengaruh terhadap responden karena dari medialah petani mengetahui informasi pertanian sehingga hasil pertanian mereka meningkat .1 68.2 %. 1 . juga tentang pemasaran hasil pertanian.8%.8 100 F 10 35 45 Surbakti % 22. sedangkan untuk pertanyaan yang sama di Desa Surbakti persentasenya sebesar 40%.8 62. responden lainnya menjawab penting sebesar 55.8 100 Untuk materi pertanyaan tentang pengaruh media cetak terhadap perubahan nyata responden didua desa tersebut.6 100 F 18 27 45 Surbakti % 40. dimana masing masing responden di dua desa tersebut menjawab bahwa media cetak memberikan perubahan yang positif bagi responden karena dengan persentase 77.2 77. terlihat sesuatu yang unik. sedangkan di Desa Ndokum Siroga 31.2 77.9 100 F 17 28 45 Surbakti % 37. Medan Tabel 2 Tingkat Kepentingan Media Cetak Dalam Membantu Usaha Pertanian Tingkat Kepentingan Media Cetak Sangat Tidak Desa Penting Total penting penting F 20 25 45 Ndokum Siroga % 44. bahkan 22. namun 68.4 55. Tabel 3 Pengaruh Membaca Media Cetak Terhadap Responden Pengaruh Membaca Media Cetak Tidak Sangat Desa Berpengaruh Berpengaru Total Berpengaruh h F 14 31 45 Ndokum Siroga % 31.9% responden di desa Ndokum Siroga menjawab berpengaruh.6% didesa Ndokum Siroga dan 27% di Desa Surbakti. media lokallah yang paling tahu kebutuhan para petani .April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika.2 100 Anggapan bahwa media cetak berpengaruh terhadap responden terlihat seperti tabel diatas. dimana 37.4% menganggap media cetak lokal sangat penting dalam membantu usaha pertanian mereka karena selain kurangnya keberagaman pilihan media yang ada.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.1 % responden yang menjawab sangat berpengaruh.0 100 Pada tingkat kepentingan responden terhadap media cetak lokal dalam membantu usaha pertanian. Tabel 4 Pengaruh Media Cetak Terhadap Perubahan Nyata Pengaruh Terhadap Perubahan Nyata Desa Sangat positif Positif Kurang positif Ndokum Siroga Total F 10 35 45 % 22.0 60. terlihat bahwa responden di Desa Ndokum Siroga dengan persentase sebesar 44.

terlihat bahwa media cetak tidak selalu memberikan peningkatan terhadap hasil pertanian.8% responden di desa Surbakti memberi jawaban senada.4% responden di desa Surbakti menjawab bahwa media dimaksud adalah media cetak lokal.4 8 17.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. bahkan masing ± masing responden didua desa tersebut ada yang tidak setuju dengan pernyataan tersebut dengan nilai 17.4% responden di masing ± masing desa menjawab tidak ada dampak media cetak terhadap peningkatan hasil pertanian Tabel 6 Media Massa Dimaksud Adalah Media Cetak Lokal Desa Media tersebut adalah media cetak lokal Setuju Kurang setuju Tidak setuju Total Ndokum Siroga Surbakti F % F % 26 57.4 11 24.8% responden di desa Ndokum Siroga memberi jawaban senada. Namun responden yang menjawab bahwa informasi media cetak tersebut sering memberi peningkatan hasil pertanian juga ada. 80% responden di Desa Surbakti menjawab bahwa media cetak hanya kadang ± kadang memberi peningkatan terhadap hasil pertanian. 64.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.9% responden di Desa Ndokum Siroga.9 7 16.7%. dimana 24. Kecamatan Simpang Empat.8% KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Beberapa point penting yang didapat dari penelitian Opini Publik Mengenai Peran Media Lokal Dalam Pembangunan Bidang Pertanian Hortikultura yang dilakukan oleh Tim BPPI Wilayah I Medan di Kabupaten Karo.6 30 66. namun ada juga yang kurang setuju dengan hal tersebut. dimana 28.6% di Desa Surbakti. 1 .0 2 4.8 45 100 45 100 Dari mayoritas media massa sebagai sumber informasi pembangunan . sedangkan didesa Ndokum Siroga sebesar 66. dan 16. 57. Masyarakat Kabupaten Karo ternyata masih memanfaatkan media cetak lokal sebagai sumber informasi pembangunan bidang pertanian hortikultura.8 29 64.7 36 80. bahkan ada 4. terutama didesa Surbakti antusias masyarakat tentang media lokal masih tinggi.4 2 4.4% responden di desa Ndokum Siroga tidak setuju dengan jawaban tersebut dan 17.4 45 100 45 100 Dari tabel diatas. tepatnya didesa Ndokum Siroga dan desa Surbakti adalah sebagai berikut : 1.8 8 17.8 8 17. Medan desa menjawab bahwa pengaruh media cetak terhadap perubahan yang nyata menjawab sangat positif Tabel 5 Dampak Media Cetak Terhadap Peningkatan Hasil Pertanian Dampak Terhadap Peningkatan Hasil Pertanian Desa Sering Kadang-kadang Tidak ada Total Ndokum Siroga Surbakti F % F % 13 28. Ini mungkin disebabkan masih 55 .

Bandung Rakhmat. Banda Aceh 56 . apalagi mengingat bahwa Sumatera Utara termasuk daerah potensial bagi pengembangan tanaman hortikultura. 2006. Ima. Saran a. Daftar Pustaka Effendy. 2007. Pengantar Ilmu Pertanian. Werner dan Tankard James. Disamping itu sirkulasi atau keterlambatan terbit media lokal juga menjadi kendala informasi pembangunan bidang pertanian hortikultura melalui media massa. Metode Penelitian Komunikasi . Kendala yang dihadapi masyarakat tentang pembangunan bidang pertanian hortikultura melalui media massa adalah kurangnya informasi pertanian hortikultura. Apalagi petani juga masih belum merasa cukup tentang informasi pertanian dari penyuluh pertanian yang belum rutin dan intens didesa Surbakti 3. 1998. Pemerintah Daerah harus berupaya dengan segala cara dan lebih maksimal untuk mengontrol keberadaan dan harga pupuk dan obat±obatan yang dibutuhkan masyarakat dalam kegiatan pertaniannya. Alumni Bandung Hardiman. 1994. Namun antusiasme ini terkendala oleh media cetak lokal yang masih sulit didapat didesa ± desa terutama desa yang masuk kepedalaman. Hasan. dan telah menembus pangsa pasar dunia d. Pemerintah Daerah diharapkan untuk mengembalikan ikon Tanah Karo dengan kembali membudidayakan jeruk yang selama ini dikenal sebagai primadona daerah ini. karena media lokal umumnya terbit per satu bulan sekali. Pemerintah agar lebih memperhatikan nasib petani hortikultura di Kabupaten Karo. Paramita. Bandung Severin. 2. Jakarta McQuail. Gagas Ulung. Pradya.. Jakarta Rakhmat. Dimensi ± Dimensi Komunikasi. Jalaluddin.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. 1984. 1 . Jakarta Lippmann. Opini Umum. Teori Komunikasi: Sejarah. 2006. 1981. dan bila memungkinkan program koran masuk desa dihidupkan kembali . juga masih belum mencukupinya isi berita tentang peluang pasar domestik maupun luar ne geri. Yayasan Pena. serta mengawasi/menghilangkan peredaran pupuk dan obat ± obatan palsu yang belakangan ini beredar dikalangan masyarakat petani c. Jalaluddin. dibandingkan dengan desa Ndokum Siroga yang ada di pusat kecamatan. Leksikon Komunikasi. Sirkulasi media lokal lebih ditingkatkan baik dari segi mutu (kuantitas dan kualitas). Yayasan Obor Indonesia. Remaja Rosdakarya. Dan peran inilah yang diharapkan masyarakat dapat ditangkap dan diisi oleh media massa lokal. Teknik Prakis Riset Komunikasi. Rusdakarya. Teori Komunikasi Massa Suatu Pengantar. Jakarta Kriyanto. 2004. Ternyata keberadaan media massa cetak masih sangat diharapkan oleh masyarakat dapat mendorong suksesnya pembangunan bidang pertanian hortikultura. Jakarta Su¶ud. apalagi masyarakat petani masih merasakan kurangnya informasi tentang pasar produk pertanian dan informasi tentang budidaya pertanian hortikultura. Rachmat. dimana isi koran tersebut diharapkan memiliki muatan lokal yang memuat informasi mengenai tata cara dan budaya pengelolaan tanaman hortikultura secara tepat dan efisien. disamping itu dari sisi pangsa pasar wilayah ini berdekatan dengan Singapura dan Malaysia yang membutuhkan hasil pertanian dari Sumatera Utara b. 2005. Metode dan Terapan Didalam Media Massa. Kencana Prenada Media Grup. Prenada Media. Psikologi Komunikasi. Walter. Denis. 1998. Perlu adanya penanganan pengelolaan hasil pasca panen e. Medan kurang beragamnya pilihan media yang ada di desa tersebut.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Erlangga. 400 Istilah PR Media & Periklanan. Jakarta. Onong.

Simpang Empat 57 .suarapembaruan. 2006.ac.pertanian.org/opini-mastur-yahya.id/~agronomi/dashor.htm. Dinas Pertanian.uns.html www. Peternakan.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. 2008. Medan Sumber lain http://www.rehabrekon buyadong.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Ikhtisar Eksekutif Pembangunan Kabupaten Karo. BPS. Perikanan dan Perkebunan Kabupaten Karo Rencana Kerja Penyuluh Pertanian. 2007.html http://www. Karo Program Pembangunan Pertanian Kecamatan Simpang Empat.acehinstitute. 1 .com/new/2006/06/21/editor/edi07.

Medan ANALISIS FAKTOR PENDUKUNG PEMANFAATAN GLOBALISASI TEKNOLOGI INFORMASI DALAM PENGEMBANGAN KEBUDAYAAN DI KOTA MAKASSAR RUKMAN PALA ABSTRAK Tulisan ini berjudul analisis faktor pendukung pemanfaatan globalisasi teknologi informasi dalam pengembangan kebudayaan di kota makassar. yaitu dimensi ruang dan dimensi waktu. Jamli dkk. Tujuan penulisan penelitian adalah untuk mengetahui sejauhmana faktor pendukung pemanfaatan globalisasi Teknologi Informasi terhadap perkembangan kebudayaan di kota Makassar.Khususnya kemampuan masyarakat dalam memahami pentingnya pemanfaatan Teknologi Informasi.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Teknologi Informasi. Jamli (Edison A. 2005). fasilitas yang digunakan baik dari segi kualitas maupun kuantitas kurang mampu mendukung pemanfaatan Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar serta sikap dan perilaku masyarakat dalam memahami pemanfaatan globalisasi Teknologi Informasi kurang optimal. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey sampel dengan wawancara dan kuesioner serta dilengkapi dengan observasi sebagai teknik pengumpulan data. Kebudayaan PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Kehadiran globalisasi membawa pengaruh bagi kehidupan suatu bangsa. yaitu kemampuan pemerintah dan kemampuan masyarakat kurang mampu memberikan dukungan terhadap pemanfaatan globalisasi Teknologi Informasi dalam perkembangan kebudayaan di kota Makassar. Kata Kunci : Globalisasi.bangsa di seluruh dunia. globalisasi pada hakikatnya adalah suatu proses dari gagasan yang dimunculkan. Pengaruh globalisasi dirasakan di berbagai bidang kehidupan seperti kehidupan politik. ideologi. Secara umum globalisasi dapat dikatakan suatu proses tatanan masyarakat yang mendunia dan tidak mengenal batas wilayah. dalam interaksi antar bangsa. pertahanan keamanan dan lain-lain yang akan mempengaruhi nilainilai nasionalisme bangsa. globalisasi berlangsung melalui dua dimensi. Menurut Edison A. Kewarganegaraan. sosial budaya. Dengan kata lain proses globalisasi akan berdampak melampaui batas -batas kebangsaan dan kenegaraan. Sebagai sebuah proses. Hal ini tentunya tidak terlepas dari dukungan pesatnya laju 58 . Hal ini disebabkan masih banyak masyarakat yang kurang mengerti dan memahami pentingnya Tekno logi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Hal ini dilihat dari beberapa faktor pendukung yang kurang terlaksana dengan baik. ekonomi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan globalisasi Teknologi Informasi terhadap perkembangan kebudayaan di kota Makassar kurang optimal. kemudian ditawarkan untuk diikuti oleh bangsa lain yang akhirnya sampai pada suatu titik kesepakatan bersama dan menjadi pedoman bersama bagi bangsa. Dimensi ruang yang dapat diartikan jarak semakin dekat atau dipersempit sedangkan waktu makin dipersingkat dalam interaksi dan komunikasi pada skala dunia. 1 .

akurasi dan kemudahan yang memberikan efisiensi dalam berbagai bidang khususnya dalam masalah waktu. pengelolaan data dalam jumlah besar juga bisa dilakukan dengan mudah yaitu dengan basis data (database). baik pada saat manusia bekerja. keadilan. Namun perlu diingat. keindahan. 1 . ketepatan. Makin canggih dukungan teknologi tersebut. tenaga dan biaya. kemanusiaan. Pemanfaatan Teknologi Informasi untuk memberikan data dan informasi tentang perkembangan kebudayaan di Kota Makssar. Pada hakikatnya teknologi diciptakan. dan masih banyak lagi. masyarakat harus selektif dan bersikap kritis terhadap TIK yang berkembang sangat pesat. Sedangkan pengaruh negatif yang bisa muncul karena adanya TIK.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. sehingga semua manfaat positif yang terkandung di dalam TIK mampu dimanifestasikan agar mampu membantu dan mempermudah kehidupan masyarakat. terbukanya pasar bebas memungkinkan produk luar negeri masuk dengan mudahnya. informasi dalam bentuk apapun dan untuk berbagai kepentingan. misalnya dari globalisasi aspek ekonomi. TIK tidak hanya membantu dan mempermudah manusia tetapi juga menawarkan cara-cara baru di dalam melakukan aktivitas-aktivitas tersebut sehingga dapat mempengaruhi budaya masyarakat yang sudah tertanam sebelumnya. Seyogyanya. Oleh karena itu selama ini dikenal asas ³kebebasan arus informasi´ berupa proses dua arah yang cukup berimbang yang dapat saling memberikan pengaruh satu sama lain. karena kehadiran surat elektronis (email). Teknologi informasi dan komunikasi (TIK) adalah pendukung utama bagi terselenggaranya globalisasi. Jadi bagaimana TIK dapat mempengaruhi nilai-nilai yang telah tumbuh di masyarakat dalam suatu bangsa itu sangat tergantung dari sikap masyarakat tersebut. dapat disebarluaskan dengan mudah sehingga dapat dengan cepat mempengaruhi cara pandang dan gaya hidup hingga budaya suatu bangsa. uk Dengan hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri menunjukan gejala berkurangnya rasa nasionalisme masyarakat kita terhadap bangsa Indonesia. Dengan dukungan teknologi informasi dan komunikasi. dan efek negatif dapat lebih diminimalkan. sejak dulu hingga sekarang ditujukan untuk membantu dan memberikan kemudahan dalam berbagai aspek kehidupan. maka perlunya ditunjang oleh 59 . Budaya atau kebudayaan adalah kerangka acuan perilaku bagi masyarakat pendukungnya yang berupa nilai-nilai (kebenaran. kebijaksanaan. Seperti kita ketahui budaya masyarakat Kota Makassar begitu beragam dan perlu dilestarikan sehingga dapat tetap bertahan dan memberikan devisa bagi Kota Makassar khususnya. pengaruh globalisasi dengan dukungan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) meliputi dua sisi yaitu pengaruh positif dan pengaruh negatif. makin besar pula arus informasi dapat dialirkan dengan jangkauan dan dampak global. Demikian halnya perkembangan kebudayaan di Kota Makassar juga ikut berpengaruh terhadap perkembangan globalisasi Teknologi Informasi. Kecepatan arus informasi yang dengan cepat membanjiri kita seolah-olah tidak memberikan kesempatan kepada kita untuk menyerapnya dengan filter mental dan sikap kritis. dll ) yang berpengaruh sebagai kerangka untuk membentuk pandangan hidup manusia yang relatif menetap dan dapat dilihat dari pilihan warga budaya itu untuk menentukan sikapnya terhadap berbagai gejala dan peristiwa kehidupan. Sebagai contoh manifestasi TIK yang mudah dilihat di sekitar kita adalah pengiriman surat hanya memerlukan waktu singkat. Medan perkembangan teknologi yang semakin canggih khususnya teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Dengan banyaknya produk luar negeri dan ditambahnya harga yang relatif lebih murah dapat mengurangi rasa kecintaan masyarakat terhadap prod dalam negeri. berkomunikasi. Untuk memberikan data dan informasi tersebut. ketelitian hasil perhitungan dapat ditingkatkan dengan adanya komputasi numeris. bahkan untuk mengatasi berbagai persoalan pelik yang timbul di masyarakat. Pengaruh positif yang dapat dirasakan dengan adanya TIK adalah peningkatan kecepatan.

Selanjutnya dengan kuesioner guna mendapatkan data yang akurat dan obyektif terhadap permasalahan yang diteliti. Teknik aksidental ini adalah mereka yang ditemui dan memahami pemanfaatan globalisasi Teknologi Informasi terhadap perkembangan kebudayaan di Kota Makassar yang dapat diberikan pertanyaan. Faktorfaktor tersebut seperti kemampuan pemerintah dan masyarakat dalam mendukung dan memahami Teknologi Informasi yang digunakan. telaah dokumen serta observasi akan diolah dengan menggunakan sistem tabulasi data dengan memakai analisis frekuensi. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian di atas. Teknik penarikan sampel yang digunakan adalah teknik aksidental. juga sangat membantu untuk mendapatkan data yang obyektif dan valid dalam rangka memahami. 2001 : 57). Oleh karena itu sampel dalam penelitian ini adalah masyarakat yang memahami pemanfaatan Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. didapat dari responden. dari sejumlah informan akan bermanfaat guna mewujudkan validitas data secara keseluruhan. dan sikap dan perilaku masyarakat terhadap pemanfaatan Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : Bagaimanaka faktor pendukung pemanfaatan globalisasi Teknologi Informasi terhadap perkembangan kebudayaan di Kota Makassar ? Tujuan Penulisan Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui sejauhmana faktor pendukung pemanfaatan globalisasi Teknologi Informasi terhadap perkembangan kebudayaan di Kota Makassar Metode Penelitian Dalam penelitian ini. memecahkan. Namun permasalahan yang muncul adalah pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi terhada perkembangan budaya Makassar belum terlaksana secara optimal sehingga memerlukan peran serta pemerintah dan masyarakat memanfaatkan globalisasi Teknologi Informasi tersebut. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Wawancara. serta mengupayakan pemecahan masalah tentang analisis faktor pendukung pemanfaatan globalisasi teknologi informasi terhadap perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. 1 .JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. peneliti menggunakan metode survey yang lebih menekankan pada jenis penelitian deksriptif kuantitatif dimana metode ini sangat relevan dengan topik yang akan diteliti. yang dapat ditempuh dengan cara membandingkan data dari responden dengan informan yang . Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiono. Dengan rumus sebagai berikut : 60 . sarana atau fasilitas yang digunakan dalam mendukung pemanfaatan Teknologi Informasi tersebut. Pada penelitian ini yang menjadi populasi adalah masyarakat dan mereka yang memahami tentang pemanfaatan Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. Medan beberapa faktor dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Mak assar. Data mentah yang terkumpul dari hasil jawaban responden maupun yang didapat dari hasil wawancara.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika.

April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. tapi keunggulan suatu teori berkenaan dengan sesuatu gej ala budaya tidak selalu bearti keunggulan teori itu secara menyeluruh. maka akan ternyata betapa kata µglobalisasi¶ itu cenderung dilontarkan tanpa terlalu dihiraukan apa maknanya. yaitu. 1 . Apakah yang kita maksudkan dengan µbudaya¶ atau µkebudayaan¶ itu? Untuk memberikan jawaban atas pertanyaan mi banyak cara dapat ditempuh. (Sudarmajid. Kelatahan dalam penggunaan kata µglobalisasi¶ sedemikian itu akhimya mengesankan kesembarangan arti kata globalisasi. dan makin mengaburkan implikasi dan komplikasi makna yang terkandung di dalamnya. namun pengaruh-mempengaruhi dalarn pertemuan antar-budaya itu tidak selalu berlangsung sebagai proses dua-arah atau timbal-balik yang berimbang. Menurut Aditya (2004 : 11) globalisasi pada hakikatnya adalah proses yang ditimbulkan oleh sesuatu kegiatan atau prakarsa yang dampaknya bekelanjutan melampaui batasbatas kebangsaan (nation-hood) dan kenegaraan (state-hood). cara mi jelas dapat memperkaya wawasan kita tentang kebudayaan. cara mi akan membutuhkan uraian panjang lebar karena biasanya perlu diperjelas dengan tafsiran konseptual dan kontekstual.x 100 % N Keterangan : P = Persentase F = Jawaban responden N= Jumlah responden Analisis Data Data yang diperoleh dalam penelitian ini akan diolah dengan menggunakan teknik analisis deskriptif kuantitatif yang dikualitatifkan.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Mungkin juga kita lakukan pendekatan komparatif antara suatu teori dengan lainnya. Dalam gerak lintas-budaya mi terjadi berbagai pertemuan antar-budaya (cultural encounters) yang sekaligus mewujudkan proses saling-pengaruh antar-budaya. cara mi mungkin menarik secara akademik namun mungkin terlalu steril untuk diturunkan sebagai medium analisis dalam terapan empirikal. 2003 : 23). Kita dapat mencari jawaban berdasarkan etimologi. melainkan bolehjadi juga terjadi sebagai proses imposisi budaya yang satu terhadap lainnya. Pertemuan antar-budaya memang menggej ala sebagai keterbukaan (exposure) fihak yang satu terhadap lainnya. Cara lain ialah memperbandingkan berbagai definisi yang dapat dipandang terkemuka dalam literatur. Medan F P = --------------------. lain lagi halnya kandungan pernyataan ³menjelang era globalisasi´ yang berarti kita belum berada dalam era tersebut. terpaan budaya yang satu berpengaruh dominan terhadap budaya lainnya. dan kalau semuanya itu kita perhatikan secara saksama. Pernyataan seperti ³dalam era globalisasi dewasa mi´ berarti bahwa kita telah berada dalam era globalisasi. TINJAUAN PUSTAKA Pengertian Globalisasi Kata µglobalisasi¶ makin lama makin menjadi sajian sehari-hari melalui berbagai pemyataan publik dan liputan media massa. maksudnya data yang ada diangkakan kemudian dideskripsikan. tiap teori bisa saja memiliki keunggulan 61 . dan mengingat bahwa jagad kemanusiaan ditandai oleh pluralisme budaya. maka globalisasi sebagai proses juga menggejala sebagai peristiwa yang melanda dunia secara lintas-budaya (trans-cultural). dengan kemungkinan satu fihak lebih besar pengaruhnya ketimbang fihak lainnya.

seperti misalnya usaha pengenalan dan penyadaran tentang apa yang µbaik¶. penjabaran nilai kebudayaan menjadi norma peradaban dapat dipandang sebagai pengalihan dan sesuatu yang transenden menjadi sesuatu yang immanen. kemanusiaan. Nilai keadilan diwujudkan melalui hukum dan sistem peradilan. nilai religius diungkapkan melalui berbagai norma agama. Singkatnya. Perhatikan misalnya ³Revolusi Kebudayaan´ yang secara berencana dilancarkan di Republik Rakyat Cina pada pertengahan tahun 6Oan. kebajikan. Pasang-surutnya kebudayaan sepanjang sejarah kemanusiaan nyata sekali ditentukan oleh sejaubmana kebudayaan itu masih berlanjut sebagai kerangka acuan untuk dijabarkan melalui sesuatu tatanan normatif. sehingga kebudayaan yang lama kehilangan dayanya sebagai acuan untuk menjabarkan norma-norma perllaku. persepi terhadap nilai-nilai itu masih besifat umum. kebudayaan Pharaonic yang benlaku dalam masyarakat Mesir kuno surut seiring dengan klan memudarnya kebudayaan itu sebagai sumber acuan untuk penjabaran norma-norma perilaku bagi masyarakat Mesir sekarang. Adanya tolokukur normatif mi menjadi dasar bagm berkembangnya peradaban (civilization) sebagai bagian dan dinamika budaya tertentu. Tapi juga dalam era kontemporer mi suatu kebudayaan sebagai sistem nilai dapat dengan suatu rekayasa didesak oleh sistem nilai barn. µburuk¶. nilai keindahan dijabarkan melalui berbagai norma artistik.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. dan begitu seterusnya. hal mi berlaku balk bagi kebudayaan yang surut oleh perubahan zaman maupun yang kehadirannya dipaksakan untuk mendesak kebudayaan lama. tolokukur itu baru menjelma melalui norma-norma sebagai pengatur kepantasan perllaku. Nilai-nilai itu pada sendirinya barn merupakan acuan dasar yang keberlakuannya disadarkan melalui ikhtiar pendidikan sejak dini. dsb dalam tindak-tanduk seseorang. Terjalinnya kesadaran transendensi dan immanensi inilah yang menjadikan dinamika sejarah kemanusiaan sebagai kaleidoskop perkembangan kebudayaan dan peradaban. Medan dalam satu dan lain hal.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. belum lagi antara keduanya diperbedakan dalam perbandingan µseberapa balk¶ atau µseberapa buruk¶ dipandang dan tolokukur tertentu. bahwa timbultenggelamnya kebudayaan sangat dipengaruhi oleh apa yang tenjadi dalam pertemuan 62 . Misalnya. Kesemuanya mi sekaligus menunjukkan bahwa kebudayaan adalah suatu pengejawantahan yang hidup selama ada masyarakat pendukungnya. batas antara apa yang dinilai sebagai kebajikan (good) atau kejahatan (evil) berlaku dalam garis besar yang memisahkan satu dan lainnya. Dan uraian di atas mi dapat disimpulkan. 2002) Dalam sejarah kemanusiaan banyak contoh yang menunjukkan. dsb). Norma (nomos) adalah tolokukur yang memungkinkan terjadinya konformisme perilaku dalam sesuatu masyarakat. nilai kesusllaan dinyatakan melalui berbagai tatakrama. µdosa¶. bahwa kebudayaan adalah kerangka acuan perilaku bagi masyarakat pendukungnya berupa nilai-nilai (kebenaran. µindah¶. perubahan serupa pun teijadi tatkala Partai Komunis Rusia berhasil menggulingkan kekaisaran di Rusia dan memperkenalkan nilai-nllai barn sebagai acuan bagi norma perllaku barn yang ideal bagi suatu masyarakat komunis. ketika Kemal Attaturk melancarkan gerakan modernisasi (yang diartikan sebagai µwestemisasi¶). dan dengan demikian tersedia pula ukuran untuk nonkonformisme. sehingga konvergensi antar-teori mungkin saja digunakan dalam usaha memahami berbagai manifestasi budaya. sedangkan peradaban adalah penjabaran nilai nilai tersebut melalui diwujudkannya norma-norma yang selanjutnya dijadikan tolokukur bagi kepantasan perilaku warga masyarakat ybs. maka tidak terlalu keliru kiranya kalau kita mengartikan kebudayaan sebagai sehimpunan nilai-nilai yang oleh masyarakat pendukungnya dijadikan acuan bagi perilaku warganya. Perhatikan pula perubahan yang terjadi di Turki.(Kariadi. Kalau kita sarikan muatan berbagai definisi yang terkemuka. Nilai-nilai itu juga berpengaruh sebagai kerangka untuk membentuk pandangan hidup yang kemudian relatif menetap dan tampil melalui pilihan warga budaya itu untuk menentukan sikapnya terhadap berbagai gejala dan peristiwa kehidupan. Sebagai sumber acuan. keadilan. 1 . keindahan.

Sampai batas tertentu dan saling -pengaruh yang terjadi itu dapat terpantul seberapa tinggi derajat kesadaran dan tingkat ketahanan budaya masing-masing fihak yang saling bertemu. yaitu sejauh mana satu di antara fihak yang saling bertemu kurang atau tidak lagi memiliki ketahanan budaya (cultural resilience).kondisi global yang plurisentnik dan multipolar dalam era kontemporer.(Ekawati. Perubahan gayahidup yang ditiru dan budaya asing bisa berkelanjutan dengan timbulnya gejala keterasingan dan kebudayaan sendiri (cultural alienation). melainkan terjadi dengan ketenlibatan sejumlah fihak secara segera (instantaneous) serta serempak (simultaneous). Demikianlah kebudayaan mengandung dua daya sekaligus. Kesanggupan sesuatu satuan budaya untuk mempertahankan kesejatiannya dalam pertemuan antar-budaya yang demikian majemuknya itu sangat ditentukan oleh tinggirendahnya derajat kesadaran budaya dan tanguhrapuhnya tingkat ketahanan budaya masyarakat pendukungnya. Dalam kaitan mi pertemuan antarbudayajangan terutama digambarkan sebagai pertemuan antara dua fihak belaka. yaitu sebagai daya yang cenderung melestanikan dan daya yang cenderung berkembang atas kemekarannya sendiri. globalisasi benlangsung melalui dua dimensi dalam interaksi antarbangsa. Budaya asing yang berpengarnh dominan terhadap satuan budaya asli bisa membangkitkan kesan sebagai µmodel¶ untuk ditiru. maka ada baiknya kita bahas dahulu hal-ihwal yang berkenaan dengan globalisasi sebagai proses maupun globalisme sebagai carapandang yang dewasa mi cenderung dianut dalam tata-pergaulan intemasional.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. dan hal ml pada gllirannya mendorong berlangsungnya proses globalisasi yang terus berkembang atas kemekarannya sendiri. satu daya dengan kecenderungan preservatif dan satunya lagi dengan kecenderungan progresif. Justru plunisentrisme dan multipolaritas menjadi cmi dunia menjelang akhir abad ke-20 dan memasuki abad ke-2 1. Dalam kondisi demikian itulah globalisme menjadi cara pandang dalam interaksi antarbangsa. Tangguh atau rapuhnya ketahanan budaya biasanya dilatani oleh menurunnya kesadaran masyarakat yang bersangkutan terhadap kebudayaannya sebagai pengukuh jatidirinya.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. usainya Perang Dingin tidak menjadikan dunia kita monosentnik. 1 . Dalam kondisi demikian itulah pertemuan antarbudaya sangat berpengaruh atas perimbangan antara kedua daya tersebut. Makin rendah derajat ketahanan budaya masyarakat pendukungnya. yaitu berlakunya herbagai norma acuan penilaku dalam masyarakat yang bersangkutan. makin kuat pula budaya asing yang menerpanya berpengaruh dominan terhadap masyarakat itu. Berkembangnya gayaliidup baru itu dapat menimbulkan kondisi sosial yang ditandai oleh heteronomi. Kendatipun dalam periode Perang Dingin kondisi bipolar seakanakan membelah-dua dunia mi dengan pengendalian dan dua pusat kekuatan dunia yang saling bertentangan. Sebagai proses. Ruang/jarak makin diperdekat dan waktu makin dipersingkat dalam interaksi dan komunikasi pada skala mondial. Antara kedua daya inilah tiap masyarakat pendukung kebudayaan tertentu berada. Seantero jagad seolah-olah tertangkap dalam satu janingan besar tanpa adanya suatu pusat tunggal. Proses globalisasi yang diakibatkan oleh berbagai prakarsa dan kegiatan pada skala internasional sebagaimana menggej ala dewasa mi pun penlu kita cermati sejauhmana siginifikan pengaruhnya dalam pertemuan antar-budaya. Tidak ada kekuatan tunggal yang mutlak dan sanggup mengabaikan apalagi mengungguli. satu daya mempertahankannya agar lestani dan daya lainnya menariknya untuk maju. Dalam perkembangan sedemikian itu dirasakan makin dipenlukan nya suatu tatanan dunia baru yang perwujudannya memperhatikan plurisentrisme dan multipolanitas sebagai 63 . 2003) Karena perhatian akan kita pusatkan pada persoalan pertemuan antarbudaya dalam era globalisasi. yaitu dimensi ruang (space) dan waktu (time). Kebudayaan adalah suat daya yang u sekaligus tersimpan (latent) dan nyata (actual). Kecenderungan meniru itu dalam kelanjutannya bisa terpantul melalui berkembangnya gayahidup (ljfestyle) barn yang dianggap superior dibandingkan dengan gayahidup lama. Medan antarbudaya.

Dalam bidang informasi. jarak makin diperdekat dan waktu makin dipersingkat. banjir informasi melalui sistem dan pelembagaan yang didukung oleh teknologi canggih tidak dengan sendirinya mempenkaya wawasan kita. Dalam bidang inilah terjadi pemadatan dimensi rnang dan waktu (yang disebut Harvey µtimespace compression¶). Maka tidaklah mengherankan kalau banjir informasi itu akhirya juga bisa benpengaruh terhadap carapandang maupun gayahidup kita. maka yang sesungguhnya terjadi bukanlah µpertukanan informasi¶ (exchange of information) berupa proses dua-arah yang cukup bermmbang. Kalau dewasa ml dianut asas µkebebasan arns informasi¶ (free flow of information). Kecenderungan mi adakalanya dianggap sebagai bagian dan upaya µmodemisasi¶. Dengan dukung teknologi modem an infonmasi dalam berbagai bentuk dan untuk benbagai kepentingan dapat disebarluaskan begitu rnpa. Dengan jangkaun sedemikian itu. dominasi cendernng terjadi dan fihak yang memiliki dukungan teknologi lebih maju terhadap fihak yang lebih terbelakang. Makin canggih dukungan tersebut makin besar pula anus informasi dapat dialirkan dengan jangkauan dan dampak global. melainkan dominasi anus informasi dan fihak yang didukung oleh kesanggupan merentangkan sistem informasi dengan jangkauan global. Teknologi informasi dan komunikasi dalam era globalisasi mi merupakan pendukung utama bagi tenselenggaranya pertemuan antarbudaya. (Ridwansyh. mau-tak-mau. maka fmhak yang lebih unggul dalam menguasai teknologi informasi dan komunikasi niscaya lebih berkesanggupan untuk membiaskan pengaruhnya secara global. dan ditenima dengan alasan µmengikuti kecenderungafl global¶. bahwa dalam pertemuan antar-budaya mengalirnya anus informasi itu tidak senantiasa terjadi secara dua-arah. Medan kenyataan global masakini. Ditenimanya suatu tatanan global barn mestinya dapat diandalkan pada tergalangnya konsensus maksimal di antara sege nap eksponen yang berperan dalam janingan itu. 2001) Gejala tersebut nyata berpengaruh atas terbentuknya sikap mental dan kultural pada fihak yang diterpa (expose) oleh fihak yang menerpanya (impose) dengan anus informasi. Tatanan itu tentu menuntut dirancangnya berbagai sistem dan pelembagaan yang hams diwujudkan sebagai konsekuensinya. Sikap yang naif mi antara lain juga ditandai oleh kecenderungan glonifikasi terhadap fihak yang diunggulkan sebagai 64 . maka terjadilah banjir deras informasi (information glut) yang menghujani kita dan nyanis tak lagi terkendali. Rancangan demikian itu tentunya hams dapat ditenima oleh majonitas eksponen yang ambilbagian dalam janingan global yang plunisentrik dan multipolar. Perlu dicatat. Dalam bidang mi tampaknya tiada altematif lain bagi kita kecuali turut berperan di dalamnya. maka dalam hal mi pun terbawa limbah yang samasekali tidak berguna. Kesegeraan dan keserampakan anus informasi yang dengan derasnya men erpa kita seolaholah tidak membenikan kesempatan pada kita untuk menyerapnya dengan filter mental dan sikap knitis. 1 .April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Maka tidak mustahil kemajuan masyarakat yang diterpa cenderung diukur secara memperbandingkan dengan hal-ihwal yang dipenkenalkafl melalui informasi dan fihak yang menerpa. melainkan bisa juga mencemani kita secara mental. suka-tak-suka. sedang kesiapan untuk ambilbagian dalam tatanan barn itu merupakan imperatif yang sukar dielakkan. Dalam naskah mi perhatian kita pusatkan pada penjelmaan globalisme dalam bidang yang jelas berdampak terhadap wawasan budaya kita. Dewasa mi sistem dan pelembagaan termaksud tenutama nyata perkembangannya dalam bidang ekonomi dan perdagangan internasional.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. yaitu bidang informasi dan komunikasi yang sangat tertunjang oleh pesatnya laju perkembangan teknologi yang semakin canggih. dan sebagaimana terjadi dengan setiap banj in. maka betapa pun paradoksal kedengarannya. globalisasi dalam bidang ml sudah dijangkau oleh sistem dan pelembagaan yang makin dijadikan acuan dalam hubungan internasional. sehingga dengan mudah dapat mempengaruhi carapandang dan gayahidup kita. dan inilah awal dan suatu proses yang akhimya bisa bermuara pada pernbahan sikap mental dan kultural.

Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai "kultur" dalam bahasa Indonesia. dapat disebarluaskan dengan mudah sehingga dapat dengan cepat mempengaruhi cara pandang dan gaya hidup hingga budaya suatu bangsa. Dimensi ruang yang dapat diartikan jarak semakin dekat atau dipersempit sedangkan waktu makin dipersingkat dalam interaksi dan komunikasi pada skala dunia. tata krama masyarakat. Hal ini tentunya tidak terlepas dari dukungan pesatnya laju perkembangan teknologi yang semakin canggih khususnya teknologi komunikasi. Melalui bahasa. dalam interaksi an bangsa. globalisasi berlangsung melalui dua dimensi. Ruang lingkup perubahan kebudayaan lebih luas dibandingkan perubahan sosial. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. mempelajari naskah-naskah kuno. dan sekaligus mudah membaurkan dirinya dengan segala bentuk masyarakat. Teknologi komunikasi adalah pendukung utama bagi terselenggaranya globalisasi. dan untuk mengeksploitasi ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan dukungan teknologi informasi dan komunikasi. Perubahan sosial merupakan bagian dari perubahan budaya. Akan tetapi perubahan tersebut tidak mempengaruhi organisasi sosial masyarakatnya. yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dimana era globalisasi ini erat sekali kaitannya dengan teknologi informasi atau komunikasi. sosial budaya. Medan sumber informasi global dan tampil sebagai penentu kecendeningafl (trend-setter) dalam pembentukan sikap mental dan kultural serta gaya hidup barn. yang meliputi kesenian. Bahasa memiliki beberapa fungsi yang dapat dibagi menjadi fungsi umum dan fungsi khusus.menjadi bagian yang penting dalam proses komunikasi. Fungsi bahasa secara umum adalah sebagai alat untuk berekspresi. Sebagai sebuah proses. perlu diketahui terlebih dahulu tentang pengertian budaya itu sendiri. mewujudkan seni (sastra). filsafat dan lainnya. ideologi. Bahasa adalah alat atau perwujudan budaya yang digunakan manusia untuk saling berkomunikasi atau berhubungan. Tapi. 65 . Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah. Makin canggih dukungan teknologi tersebut. ekonomi. dengan tujuan menyampaikan maksud hati atau kemauan kepada lawan bicaranya atau orang lain. yaitu mengolah atau mengerjakan. yang berasal dari kata Latin Colere. ataupun gerakan (bahasa isyarat). Pengertian Budaya Sebelum mengulas tentang perkembangan tekologi komunikasi terhadap kehidupan budaya. Namun demikian dalam prakteknya di lapangan kedua jenis perubahan perubahan tersebut sangat sulit untuk dipisahkan (Soekanto. Sehingga kemudian sampailah pada era globalisasi. Sedangkan fungsi bahasa secara khusus adalah untuk mengadakan hubungan dalam pergaulan sehari-hari. Pengaruh globalisasi dirasakan di berbagai bidang kehidupan seperti kehidupan politik. Perubahan dalam kebudayaan mencakup semua bagian. 1990). Kita telah bergerak dari budaya lisan ke budaya tulisan sejak ditemukannya huruf. Kecepatan arus informasi yang dengan cepat membanjiri kita seolah-olah tidak memberikan kesempatan kepada kita untuk menyerapnya dengan filter mental dan sikap kritis. baik lewat tulisan. tingkah laku. Semakin lama kebudayaan akan semakin berkembang. makin besar pula arus informasi dapat dialirkan dengan jangkauan dan dampak global. sekarang kita sedang bergeser dari budaya tulisan ke budaya visual. teknologi. dan alat untuk mengadakan integrasi dan adaptasi sosial. gambar-yang diam atau bergerak. Seperti dalam hal bahasa. tar yaitu dimensi ruang dan dimensi waktu. Kehadiran globalisasi membawa pengaruh bagi kehidupan suatu bangsa.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. 1 . kebudayaan disebut culture. pertahanan keamanan dan lain-lain yang akan mempengaruhi nilai-nilai nasionalisme bangsa.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. berkomunikasi. Dalam bahasa Inggris. lisan. Dalam budaya visual. ilmu pengetahuan. informasi dalam bentuk apapun dan untuk berbagai kepentingan. manusia dapat menyesuaikan diri dengan adat istiadat.

(Radian. hingga internet dan telepon gengam dengan protokol aplikasi tanpa kabel (WAP). melainkan sudah berada dalam skala menit dan detik. Kemudian dapat menunjang perkembangan kebudayaan. Demikian juga peragaan busana di Paris. Internet menghilangkan semua batas-batas fisik yang memisahkan manusia dan menyatukannya dalam dunia baru. Sulawesi. yaitu dunia ³maya´. ketepatan. Banyak hal yang didapat karena pengaruh teknologi komunikasi. TI telah mengubah wajah ekonomi konvensional yang lambat dan mengandalkan interaksi sumber daya fisik secara lokal menjadi ekonomi digital yang serba cepat dan mengandalkan interaksi sumber daya informasi secara global. TI disamaratakan dengan Internet. informasi mengalir dengan sangat cepat dan menyeruak ruang kesadaran banyak orang. dalam waktu kurang dari satu menit sudah dikonfirmasi oleh Bank Indonesia di Medan Merdeka. dan infrastruktur komunikasi.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. khususnya mikro-prosesor. Indeks nilai tukar dollar yang ditentukan di Wall Street. akurasi dan kemudahan yang memberikan efisiensi dalam berbagai bidang khususnya dalam masalah waktu. Peningkatan kualitas hidup semakin menuntut manusia untuk melakukan berbagai aktifitas yang dibutukan dengan mengoptimalkan sumber daya yang dimilikinya. Konsep perdagangan elektronik melalui internet. Jika e-Commerce ³hanya´ memungkinkan seseorang bertransaksi jual beli melalui internet dan melakukan pembayaran dengan kartu kreditnya secara on-line. AS. Dengan hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri menunjukan gejala berkurangnya rasa nasionalisme masyarakat kita terhadap bangsa Indonesia. tak bisa dipungkiri memberikan kontribusi yang signifikan terhadap seluruh proses globalisasi ini. Pengaruh positif yang dapat dirasakan dengan adanya Teknokom adalah peningkatan kecepatan. yang dikenal dengan nama e-Commerce yang lahir karena perkawinan TI dengan globalisasi ekonomi belum lagi genap berusia lima tahun dikenal ±dari fakta bahwa sebenarnya sudah ada sekitar 20 tahun yang lalu²ketika sudah harus merelakan dirinya digilas dengan konsepsi e-Business yang lebih canggih. Dengan banyaknya produk luar negeri dan ditambahnya harga yang relatif lebih murah dapat mengurangi rasa kecintaan masyarakat terhadap produk dalam negeri. Peran Internet tidak bisa dipungkiri dalam hal penyediaan informasi global ini sehingga dalam derajat tertentu. 1 . Sedangkan pengaruh negatif yang bisa muncul karena adanya teknologi komunikasi. Setara dengan perkembangan perangkat keras komputer. Perubahan harga saham sebuah perusahaan farmasi di Bursa Efek Jakarta hanya membutuhkan waktu kurang dari sepersepuluh detik untuk diketahui di Surabaya. terbukanya pasar bebas memungkinkan produk luar negeri masuk dengan mudahnya. saling mempelajari kebudayaan lain. Teknologi Informasi dan Komunikasi yang perkembangannya begitu cepat secara tidak langsung mengharuskan manusia untuk menggunakannya dalam segala aktivitasnya. Pengaruh globalisasi dengan dukungan teknologi komunikasi meliputi dua sisi yaitu pengaruh positif dan pengaruh negatif. Medan Oleh karena itu selama ini dikenal asas ³kebebasan arus informasi´ berupa proses dua arah yang cukup berimbang yang dapat saling memberikan pengaruh satu sama lain. Mulai dari wahana TI yang paling sederhana berupa perangkat radio dan televisi. Konsep Teknologi Informasi (TI) Teknologi Informasi (TI) yang kini berkembang amat pesat. atau memungkinkan seorang ibu rumah tangga memprogram lemari-esnya untuk melakukan pemesanan saribuah secara otomatis jika stok yang disimpan di kulkas itu habis dan membayar berbagai tagihan rumah tangganya melalui 66 . misalnya dari globalisasi aspek ekonomi. tenaga dan biaya. TI di internet berkembang dengan kecepatan yang sukar dibayangkan. yang pada waktu hampir bersamaan bisa disaksikan dari Gorontalo.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Internet sendiri memang fenomenal kemunculannya sebagai salah satu tiang pancang penanda kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. 2004) Perubahan informasi kini tidak lagi ada dalam skala minggu atau hari atau bahkan jam.

khususnya pemanfaatan jaringan internet. Bagaimana dengan Indonesia? Menurut Tabloid Kontan On-line tanggal 9 Oktober 2000 yang mengutip IDC (Information Data Corporation) .3%). angka sekecil itu yang diperkuat dengan TI. Sementara dari 17 sektor yang membelanjakan uang untuk TI tadi. menyusun framework penggunaan TI. terutama antara lain sumber daya yang terbatas.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Kasus ini layaknya menghadapkan kemajuan TI dengan alat perang dan kekuasaan. naik dari US$ 638. Bagi Asia. krisis ekonomi yang dialami Asia pada akhir tahun 90an menunda perkembangan TI di saat AS dan negara-negara Eropa sedang berkembang pesat dalam penggunaan teknologi itu. hak cipta dan masalah lain. 1 . akan tetap menempatkan Asia di pihak yang merugi. Namun. menyediakan perangkat pengakses informasi dari internet untuk masyarakat. kini mulai secara resmi mendukung perkembangan TI setelah sekian lama diamkebingungan karena tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan perkembangan teknologi yang demikian cepat ini. Tahun 2000 ini diperkirakan US$ 772. serta perbedaan sosial politik di antara negara-negara yang kini harus bekerjasama ±yang bila gagal diatasi. masih kakunya sistem pemerintahan.9 juta itu. Angka ini masih sangat kecil dan jika dijadikan pijakan konsepsi utopis TI yang mampu mendorong terjadinya perubahan sosial.9%). TI disikapi dengan penuh kebingungan.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. serta mengembangkan pendidikan untuk meningkatkan daya saing Asia. Di jaman Orde Baru berkuasa dulu. wajar jika pemerintah negara-negara Asia. jumlah personal computer yang ada di negeri ini hanya sekitar 2 juta unit. dari seluruh penduduk Indonesia yang berjumlah 220 juta jiwa. Lebih buruk lagi. maka dengan e-Business.9 juta. Namun memang masih ada hambatan. sebagian besar (57. Salah satu tindakan yang akan dilakukan oleh pemerintah Asia yang disepakati dalam pertemuan GIIC itu adalah mempersiapkan hukum mengenai transaksi. dipercaya bahwa gerakan mahasiswa dan bantuan logistiknya dikoordinasikan dengan 67 . yang saat ini sedang bekerja keras mengejar ketinggalan dari negara-negara maju dan pada saat yang sama mengalami perubahan sosial politik.7%) dibelanjakan untuk perangkat keras seperti PC dan notebook. bisa cukup menimbulkan dilema bagi pemerintah. keberadaan internet khususnya merupakan masalah yang pelik. Dari US$ 772. pemerintah (12. Seharusnya. transaksi ekspor impor antar negara lengkap dengan pembukaan LC dan model cicilan pembayarannya juga bisa dilakukan dengan wahana dan media yang sama. Konon. Karena itu. sektor yang paling banyak mengeluarkan uang adalah komunikasi & media (19. Dan seperti biasanya.4%). Namun.4 juta tahun lalu. Hal ini diduga keras karena di Indonesia tingkat pembajakan masih di atas 90%. kekuatan TI yang ditekan itu kemudian tampil ³jumawa´ dalam episode jatuhnya Orde Baru.95% dari jumlah penduduk. lebih khusus lagi bagi negara yang memiliki peraturan ketat. membangun jaringan online-pemerintah. Medan instruksi pada bank yang dikirim dengan menekan beberapa tombol pada telepon genggamnya.4%) dibelanjakan untuk perangkat lunak. diikuti oleh discreet manufacturing (16.e-culture/203) Pertemuan Asian Regional Conference of the Global Information Infrastructure Commission (GIIC) di Manila pada bulan Juli 2000 menghasilkan rencana untuk membangun jaringan komunikasi. Sebagian yang lain (14.8%). negara yang dianggap kurang maju. angka untuk perangkat lunak ini jauh lebih besar daripada untuk perangkat kerasnya. kejahatan internet. senjata lebih berkuasa daripada teknologi. (http://www. dan perbankan (11. merek dagang. masih menurut sumber dari Kontan On-line. Jumlah ini belum termasuk investasi dotcom yang sempat bergairah obor-blarak dalam dua tahun terakhir. seperti misalnya dalam kasus penggerebekan salah satu Internet Service Provider (ISP) di Jakarta saat ³Kudatuli´ ±kerusuhan dua puluh tujuh juli²yang menghebohkan itu. dana yang sudah dibelanjakan untuk kepentingan TI di Indonesia cukup besar. Sampai dengan bulan Juni 1999. Itu berarti hanya 0.

Demokrasi melanda dunia dan dunia menerapkan demokrasi itu melalui sistem telekomunikasi global. tersirat inferioritas yang luar biasa dalam diri pemerintah. Konsep Negara Kesatuan misalnya. 1 . Keppres 96/2000 yang garis besarnya berisi larangan masuknya investor asing di bidang industri multimedia di Indonesia. Medan memanfaatkan kecanggihan TI ini. komunikasi militer pun disadap dan semua sandi militer diterjemahkan oleh para aktivis dan dibagikan lewat pager. berkontribusi atas terjadinya suatu perubahan sosial yang bermakna di Ind onesia. Padahal. (Martinginsih. Kebingungan ini juga terlihat jelas dalam perumusan UU Telekomunikasi beserta PP yang menyertainya. bahwa kebijakan pemerintah saat ini menimbulkan semakin banyak masalah yang timbul dalam pengembangan TI. menurut pencetus ide ³The Third Way´ Anthony Giddens dengan teori strukturasi modernisnya. harus meminta ijin yang ditandatangani oleh menteri (!). entah dimana salahnya. menunjukkan dengan jelas kebingungan pemerintah dalam merespon perkembangan bisnis multimedia. Satu-satunya pemain lokal yang terlihat paling getol mendukung dikeluarkannya keppres tersebut hanyalah PT. Dunia yang saat ini. Dunia dalam kacamata TI saat ini adalah dunia tentang pribadi orang per orang. untuk mengurus ijin pendirian warnet. Bahkan. Tapi. secara langsung atau tidak. Telkom. yang tentu ada dalam mainstream TI. Jelas. jelas adalah keniscayaan. pemerintah harus mulai berubah ke arah sistem dimana peraturan dan hukum didasarkan bukan pada kemauan pemerintah.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. informasi tidak ada. yaitu dengan memberikan kesempatan pada yang kecil. Dengan Kepres itu. bukan negara (state). pemenang hadiah Nobel bidang Ekonomi tahun 1998. 1998 dan 1999. menengah dan koperasi merupakan sasaran pokok yang harus didorong dan diberdayakan dalam memanfaatkan TI untuk 68 . melainkan pada legitimasi masyarakat. dalam hal informasi dan dilihat dari kacamata TI. Dengan populasi mencapai 2. meningkatnya tribalisme saat ini mungkin bisa dianggap terkait dengan kemajuan TI karena memperjelas banyak hal sehingga setiap orang dapat mengetahui peristiwa yang terjadi di mana saja.1 juta unit usaha yang ³tahan banting´ ±sudah teruji dalam krisis ekonomi²maka pengusaha kecil. pemerintah baru yang terpilih secara relatif demokratis pasca rejim Orde Baru ini juga gagap menanggapi kemajuan TI. Dalam PP No 52/2000 misalnya. Tanpa TI. jika dilihat dari kacamata TI dan globalisasi secara paradoks bisa jadi sudah punah karena negara yang efektif justru memecah dirinya menjadi bagian lebih kecil dan lebih efisien. justru banyak pemain lokal yang berteriak dan menentang keppres ini. Tak ada jalan untuk mundur lagi. apabila seseorang ingin mendirikan warung internet. yaitu jatuhnya rejim militeristik yang sudah berkuasa 32 tahun lamanya. dan tanpa informasi maka semua kegiatan akan berhenti. maka negara-negara yang mengambil peran akan semakin mengecil. Bagaimana memulai? Pertama. dari yang lokal. 2004) TI modern memungkinkan kerjasama yang luar biasa antar masyarakat. Menurut Amartya Sen. Dalam hal politik. Kenichi Ohmae dalam bukunya yang terkenenal The End of the Nation State. TI. Dengan semakin banyaknya informasi yang diterima masyarakat. yang pada masa lalu tidak terlihat ±tapi bukannya tidak ada. Maka yang harus dilakukan dalam konteks perkembangan TI dan globalisasi ini adalah membangun kembali keberpihakan TI melalui strategi yang membela mereka yang selama ini ditinggalkan dan diabaikan dalam arus globalisasi.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. melihat dengan jelas bahwa gagasan ³pemerintah pusat adalah bagian yang terpenting dari sebuah pemerintahan´ sudah saatnya ditinggalkan. Globalisasi. Sebuah paradoks: karena ekonomi global makin membesar. Pemerintah beranggapan bahwa proteksi itu diberikan dengan asumsi tidak mungkin pemain-pemain lokal mampu bersaing dengan investor asing dalam dunia TI. telepon gengam dan email pada para koordinator lapangan untuk mengantisipasi blokade militer yang menyapu Jakarta dan kota-kota lainnya saat itu. sedang bermetamorfosa dari swapraja menuju swakelola. teknologi harus berpihak dan mengabdi pada manusia. pelaku ekonomi dan negara.

Semua ini dapat dipahami. cepat dan aman. politik. terutama terhadap generasi muda itu. bisa positif bisa pula negatif. Peranan pemerintah bersama serta segenap elemen masyarakat. Tujuan utama perkembangan iptek adalah perubahan kehidupan masa depan manusia yang lebih baik. Perkembangan iptek. maka tidak mengherankan dalam setiap aspek kehidupan manusia pun mulai menunjukan suatu fenomena baru. Medan melakukan perdagangan elektronik karena keterbatasan modal. Oleh karena adanya pergeseran demikian. seperti pergaulan bebas. kompetitif dan komparatif. membina dan menyelamatkan para generasi muda dari dampak negatif kemajuan teknologi informasi.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. agar mereka dapat mengambil manfaat positif dan membentengi diri dari dampak negatif globalisasi dunia yang tengah berkembang ini. tindakan kriminalitas dan budaya kekerasan. mudah. Bangsa dan negara yang menguasai teknologi tinggi berarti akan menguasai ³dunia´. 1 . karena teknologi memegang peran amat penting di dalam kemajuan suatu bangsa dan negara di dalam percaturan masyarakat internasional yang saat ini semakin global. Disamping itu. merupakan salah satu manfaat positif. seni dan sastra. Hal ini salah satunya dapat dilihat pada upaya kreasi manusia yang berkaitan dengan bidang ilmu pengetahuan. budaya. telepon selular dan media elektronik lain) yang berkembang sangat pesat. sehingga dalam membangun sosial budaya. Generasi muda adalah kelompok masyarakat yang sangat rentan terhadap pengaruh budaya asing ini. Dampak buruk dari perkembangan ³dunia maya´ ini tidak dapat dihindarkan dalam kehidupan masyarakat modern saat ini dan masa depan. Dampak perkembangan teknologi informasi. terutama teknologi informasi (information technology) seperti internet sangat menunjang setiap orang mencapai tujuan hidupnya dalam waktu singkat. sumber daya manusia dan keahlian. Dampak perkembangan teknologi informasi dirasa sangat berpengaruh terhadap pengaturan hukum. murah. baik legal maupun illegal dengan menghalalkan segala cara karena ingin memperoleh keuntungan secara ³potong kompas´. Teknologi telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan umat manusia dalam dunia yang semakin ³sempit´ ini.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. semakin dituntut dan diperlukan untuk mengawasi. Selaku harapan serta tumpuan bangsa dan negara yang akan melanjutk pembangunan an di segala bidang. Adanya penyalahgunaan teknologi informasi yang merugikan kepentingan pihak lain sudah menjadi realitas sosial dalam kehidupan masyarakat moderen sebagai dampak dari pada kemajuan iptek yang tidak dapat dihindarkan lagi bagi bangsa-bangsa yang telah mengenal budaya teknologi (the culture of technology). hukum internasional maupun teknologi persenjataan militer untuk pertahanan dan keamanan negara bahkan kebutuhan intelijen. baik secara ekonomi. Kemudahan dalam mengakses informasi dan ilmu pengetahuan dari berbagai sumber dan belahan dunia. Sedangkan dampak negatifnya adalah masuknya pengaruh budaya asing. penyalahgunaan Narkoba. diperlukan persiapan yang matang. Globalisasi dunia melalui teknologi informasi (internet. generasi muda mesti dibekali sedini mungkin dengan ilmu pengetahuan tentang tata cara mengambil manfaat positif dari kemajuan teknologi informasi yang berkembang dengan deras dan pesat. Betapa tidak dengan penggunaan teknologi informasi perilaku manusia secara nyata telah beralih dari model aktifitas yang didasarkan pada suatu bentuk hubungan face to face telah bergeser kepada pola hubungan digitally. pemantapan kehidupan beragama dapat dijadikan benteng pertahanan bagi masyarakat untuk meminimalisasi pengaruh negatif dari 69 . Pemanfaatan Teknologi Informasi Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) yang cukup pesat sekarang ini sudah menjadi realita sehari-hari bahkan merupakan tuntutan masyarakat yang tidak dapat ditawar lagi.

internasional dan melampaui batas ataupun kedaulatan suatu negara. sarana dan prasarana teknologi yang dimiliki. kehidupan pribadi. Internet menjadi medium bagi pelaku kejahatan untuk melakukan kejahatan dengan sifatnya yang mondial. Munculnya revolusi teknologi informasi dewasa ini dan masa depan tidak hanya membawa dampak pada perkembangan teknologi itu sendiri. namun amat disayangkan apabila unit ini bekerja tidak dilengkapi dengan perangkat legislasi anti cybercrime. Semua ini menjadi motif dan modus operandi yang amat menarik bagi para penjahat digital. artinya ketentuan cybercrime tidak dibuat dalam bentuk perundang-undangan tersendiri (khusus). Di sini perlu ada semacam batasan hukum yang tegas di dalam menanggulangi dampak sosial. akan tetapi juga akan mempengaruhi aspek kehidupan lain seperti agama. Jaringan informasi global atau internet saat ini telah menjadi salah satu sarana untuk melakukan kejahatan baik domestik maupun internasional. Pihak kepolisian Indonesia telah membentuk suatu unit penanggulangan kejahatan mayantara dengan nama Cybercrime Unit yang berada di bawah kendali Direktrorat Reserse Kriminal Polri. Model yang digunakan adalah Umbrella Provision atau ³undang-undang payung´. Konsep 70 .April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika.(Nugraha. kebudayaan. Para hacker dan cracker bisa melakukannya lewat lintas negara (cross boundaries countries) bahkan di negara-negara berkembang (developing countries) aparat penegak hukum. Kejahatan mayantara dewasa ini mengalami perkembangan pesat tanpa mengenal batas wilayah negara lagi (borderless state). Suatu hal yang patut diperhatikan adalah bahwa kejahatan sebagai gejala sosial sampai sekarang belum diperhitungkan dan diakui untuk menjadi suatu tradisi atau budaya yang selalu mengancam dalam setiap saat kehidupan masyarakat. Manifestasi kejahatan mayantara yang terjadi selama ini dapat muncul dalam berbagai macam bentuk atau varian yang amat merugikan bagi kehidupan masyarakat ataupun kepentingan suatu bangsa dan negara pada hubungan internasional. akan tetapi diatur secara umum dalam RUU Teknologi Informasi dan RUU Telematika. 1 . kecuali kejahatan mayantara yang bermotif pada kejahatan ekonomi/perbankan. masyarakat bahkan bangsa dan negara. karena kemajuan teknologi yang digunakan para pelaku cukup canggih dalam aksi kejahatannya. Artinya. politik. Pembentukan unit kepolisian ini patut dipuji. Mengantisipasi kejahatan ini seyogianya dimulai melalui pembentukan perangkat undangundang seperti dalam Konsep KUHP Baru dan RUU Teknologi Informasi yang disusun oleh Pusat Kajian Cyberlaw Universitas Padjadjaran. Medan dampak globalisasi dunia melalui teknologi informasi yang masuk dengan deras ke semua pelosok negeri di Indonesia. Kesulitan yang dialami adalah pada perangkat hukum atau undang-undang teknologi informasi dan telematika yang belum ada sehingga pihak kepolisian Indonesia masih raguragu dalam bertindak untuk menangkap para pelakunya. ekonomi dan hukum dari kemajuan teknologi moderen yang tidak begitu mudah ditangani oleh aparat penegak hukum di negara berkembang seperti halnya Indonesia yang membutuhkan perangkat hukum yang jelas dan tepat dalam mengantisipasi setiap bentuk perkembangan teknologi dari waktu ke waktu. 2002) Selain melakukan upaya dengan mengkriminalisasikan kegiatan di cyberspace dengan pendekatan global. Pemerintah Indonesia sedang melakukan suatu pendekatan evolusioner untuk mengatur kegiatan-kegiatan santun di cyberspace dengan memperluas pengertianpengertian (ekstensif interpretasi) yang terdapat dalam Konsep KUHP Baru. khususnya kepolisian tidak mampu untuk menangkal dan menanggulangi disebabkan keterbatasan sumber daya manusia.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. sosial. Harus diakui bahwa Indonesia belum mengadakan langkah-langkah yang cukup signifikan di bidang penegakan hukum (law enforcement) dalam upaya mengantisipasi kejahatan mayantara seperti dilakukan oleh negara-negara maju di Eropa dan Amerika Serikat.

1 .JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Data primer diperoleh melalui penyebaran angket kepada beberapa responden dengan menggunakan angket (questioner). termasuk kepedesaan di Indonesia. Adapun hasil penelitian yang dilakukan terhadap obyek penelitian adalah sebagai berikut : Kemampuan Masyarakat dan Pemerintah Pemanfaatan globalisasi teknologi informasi dapat terlaksana dengan baik jika didukung oleh kemampuan pemerintah mendukung penggunaan teknologi informasi terhadap perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. karena telah menjadi ³kebutuhan pokok´ manusia moderen yang cenderung pada kemajuan dengan mempermudah kehidupan masyarakat melalui komunikasi dan memperoleh informasi baru.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Namun kemajuan teknologi membawa dampak buruk dalam kehidupan masyarakat berupa kejahatan mayantara sehingga harus diantisipasi dengan tersedianya perangkat hukum atau undang-undang yang tepat. Dampak buruk teknologi menjadi pekerjaan rumah bersama yang merupakan sisi gelap dari perkembangan teknologi yang harus ditanggulangi. Data tersebut dikumpulka melalui pra survey dan survey lapangan (observasi langsung) dan wawancara mendalam (debt interview) dengan menggunakan pedoman wawancara. Namun perkembangan teknologi digital tidak akan dapat dihentikan oleh siapapun. baik melalui sarana penal maupun non penal agar tidak menjadi masalah kejahatan besar bagi bangsa dan negara yang mengalami krisis ekonomi. Perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat dewasa ini patut disyukuri sebagai hasil budaya manusia moderen. Dampak buruk teknologi yang disalahgunakan oleh orang-orang tidak bertanggungjawab menjadi masalah hukum pidana dan harus segera ditanggulangi melalui sarana penal yang dapat dilakukan oleh penegak hukum kepolisian. Medan KUHP Baru sebelumnya tidak memperluas pengertian-pengertian yang terkait dengan kegiatan di cyberspace sebagai delik baru. Selain itupula dukungan kemampuan masyarakat untuk mengetahui perkembangan kebudayaan Kota Makassar juga berperan penting terhadap perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. Mengingat kemajuan teknologi telah merambah ke pelosok dunia. Seyogianya kemajuan teknologi menolong kehidupan masyarakat yang semakin kompleks. HASIL PEMBAHASAN Hasil penelitian yang digunakan dalam pelaksanaan ini untuk menganalisa faktor pendukung pemanfaatan globalisasi Teknologi Informasi terhadap perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. perangkat undang-undang belum tersedia sebagai sarana penal dalam menanggulanginya. Sayangnya. Berikut pendapat responden tentang kemampuan Pemerintah dalam mendukung pemanfaatan globalisasi teknologi informasi terhadap budaya masyarakat di Kota Makas sar yaitu sebagai berikut : 71 . maka dampak buruk teknologi yang menjadi kejahatan mayantara pada masa depan harus ditanggulangi dengan lebih hati-hati.

Karena dari 63 responden yang memberikan jawaban mendukung sebanyak 35 orang (55.87 3.00 Sumber : Data Primer diolah November 2008 Mengacu kepada jawaban responden tersebut terlihat bahwa kemampuan pemerintah mendukung pemanfaatan Teknologi Informasi budaya masyarakat Kota Makassar.46 Jumlah 63 100. Medan Tabel 1 Pendapat Responden Tentang Kemampuan Pemerintah Dalam Mendukung Globalisasi Teknologii Informasi terhadap Kegiatan Kebudayaan Di Kota Makassar Frekuensi Persentase No Pendapat Responden (orang) (%) 1. Tidak mendukung 6 9.81 2. Sangat mendukung 15 23. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pemerintah sebagai motivator dalam mendukung penggunaan teknologi informasi terhadap perkembangan budaya masyarakat di Kota Makassar.56 %) Wawancara dengan informan diperoleh informasi bahwa pemerintah mendukung pemanfaatan Teknologi Informasi terhadap perkembangan budaya masyarakat di Kota Makassar.00 Sumber : Data Primer diolah November 2008 Mengacu kepada jawaban responden tersebut terlihat bahwa kemampuan pegawai di instansi Pemerintah Kota Makassar masih kurang dalam menggunakan software computer PC di setiap unit kerja.52 Jumlah 63 100.03 4. Berikut pendapat responden tentang kemampuan masyarakat menggunakan Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan budaya masyarakat di Kota Makassar. Karena dari 63 responden yang memberikan jawaban kurang mampu sebanyak 29 orang (46. Hal ini dapat dilihat dari pemanfaatan Teknologi Informasi dalam mendukung kegiatan di Kota Makassar seperti pembuatan website Pemerintah Kota Makassar yang memuat tentang perkembangan sektor kebudayaan di KotaMakassar.52 4.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Sangat Mampu 13 20. Wawancara dengan informan diperoleh informasi bahwa kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan Teknologi Informasi masih kurang.56 3. 1 . 72 .03 %).63 2. Mendukung 35 55. Kurang mendukung 7 9. Hal ini dapat dilihat dari fasilitas yang digunakan saat melakukan kegiatan kebudayaan seperti pameran-pameran kebudayaan ataupun memperkenalkan seni-seni budaya yang ada di Kota Makassar kepada dunia luar. Kurang Mampu 29 46. yaitu sebagai berikut : Tabel 2 Pendapat Responden Tentang Kemampuan Masyarakat Menggunakan Teknologi Informasi Dalam Mendukung Kebudayaan Masyarakat di Kota Makassar Frekuensi Persentase No Pendapat Responden (orang) (%) 1. Tidak Mampu 11 17.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Hal ini disebabkan masih kurang masyarakat yang membuka website-website yang memuat tentang perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. Mampu 10 15.

Medan Hasil pengamatan menunjukkan bahwa teknologi informasi yang digunakan dalam mendukung kebudayaan di Kota Makassar kurang maksimal. Karena dari 63 orang yang memberikan jawaban kurang berkualitas adalah 21 orang (33. 4 . 3 . Dukungan Fasilitas Teknologi Informasi Fasilitas teknologi informasi yang memadai baik dari segi kualitas maupun kuantitas sangat dibutuhkan. pihak Pemerintah Kota juga melakukan kerjasama dengan pihak penyediaan layanan Teknologi Informasi untuk mendukung kualitas fasilitas yang digunakan. Fasilitas yang memadai akan memberikan kemudahan kepada pengguna Teknologi Informasi untuk memperoleh data dan informasi. Jumlah 63 Sumber : Data Primer diolah November 2008 100.22 Mengacu kepada jawaban responden tersebut terlihat bahwa kualitas fasilitas Teknologi Informasi yang digunakan dalam mendukung perkembangan budaya masyarakat di Kota Makassar kurang berkualitas.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. 2 . Dalam mendukung kegiatan kebudayaan di Kota Makassar selain menggunakan fasilitas yang dimiliki. Hal ini dapat dilihat masih banyaknya masyarakat yang kurang memahami pemanfaatan globlalisasi Teknologi Informasi dari seluruh aspek kehidupan termasuk perkembangan kebudayaan di Kota Makassar.33 %). 1 .58 Pendapat Responden Sangat Berkualitas Frekuensi (orang) 14 Persentase (%) 22.87 Kurang berkualitas 21 33. Berikut pendapat responden tentang kuantitas fasilitas yang dimiliki dalam mendukung penggunaan Teknologi Informasi yaitu sebagai berikut : 73 . Berikut pendapat responden tentang kualitas fasilitas Teknologi Informasi dalam mendukung perkembagan budaya masyarakat di Kota Makassar yaitu sebagai berikut : Tabel 3 Pendapat Responden Tentang Kualitas Sarana dan Prasarana Dalam Pemanfaatan Teknologi Informasi Terhadap Perkembagan Kebudayaan di Kota Makassar No 1 .00 Tidak Berkualitas 10 15. Demikianlah halnya penggunaan teknologi informasi terhadap perkembangan kebudayaan di Kota Makassar memerlukan fasilitas yang memadai bai dari segi kualitas maupun kuantitas. Wawancara dengan informan diperoleh informasi bahwa fasilitas yang digunakan dalam mendukung peningkatan kegiatan kebudayaan di Kota Makassar telah memadai dan memiliki kualitas yang cukup berkualitas.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika.33 Berkualitas 18 28. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa fasilitas yang digunakan dalam setiap kegiatan kebudayaan fasilitas yang digunakan cukup berkualitas. Hal ini dapat dilihat saat melakukan kegiatan kebudayaan Teknologi Informasi yang digunakan dapat digunakan baik oleh masyarakat maupun pihak.

Frekuensi (orang) Sangat baik 4 Baik 7 Kurang Baik 21 Tidak Baik 15 Jumlah 63 Sumber : Dara primer diolah November 2008 Pendapat Responden Persentase (%) 8. Medan Tabel 4 Pendapat Responden Tentang Fasilitas Teknologi Informasi Dari Segi Kuantitas Dalam Mendukung Kegiatan Kebudayaan di Kota Makassar No 1.46 26.51 14.98 36. Kurang memadainya fasilitas Teknologi Informasi yang digunakan dari segi jumlah masih sangat terbatas. Dukungan sikap dan perilaku masyarakat untuk mengetahui sejauh mana perkembangan kegiatan kebudayaan di Kota Makassar.51 19. 2. Berikut pendapat responden tentang sikap dan perilaku masyarakat terhadap penggunaan Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar yaitu sebagai berikut : Tabel 5 Pendapat Responden Tentang Sikap Masyarakat Terhadap Penggunaan Teknologi Informasi Dalam Mendukung Perkembangan Budaya Masyarakat No 1. 3. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa fasilitas Teknologi Informasi yang digunakan dalam mendukung kegiatan kebudayaan di Kota Makassar masih perlu mendapat perhatian dari Pemerintah Kota Makassar. Pendapat Responden Sangat baik Baik Kurang Baik Tidak Baik Frekuensi 11 17 23 12 Persentase 17.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. 2. Sikap dan Perilaku Masyarakat Pemanfaatan Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar perlu didukung sikap dan perilaku masyarakat dalam memahami Teknolog i Informasi tersebut. maka untuk mendukung kegiatan kebudayaan masih menyewa peralatan dari penyediaan layanan Teknologi Informasi.00 Mengacu kepada jawaban responden tersebut terlihat bahwa fasilitas Teknologi Informasi yang digunakan dalam mendukung kegiatan kebudayaan di Kota Makassar dari segi kuantitas masih kurang. Hal ini dapat dilihat saat melakukan kegiatan kebudayaan. Karena dari 63 responden yang memberikan jawaban kurang baik sebanyak 21 orang (44. Hal ini disebabkan keterbatasan anggaran yang dimiliki untuk melakukan penambahan fasilitas Teknologi Informasi yang digunakan dalam mendukung perkembangan kebudayaan masyarakat di Kota Makassar kurang maksimal. Wawancara dengan informan diperoleh informasi bahwa fasilitas Teknologi Informasi yang digunakan dalam mendukung kegiatan kebudayaan di Kota Makassar kurang baik.05 74 .JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.68 %).68 31.89 44. 4. 3. 1 .92 100. 4.

1 . Hal ini dapat dilihat dari keinginan dan animo masyarakat untuk mengetahui perkembangan kegiatan kebudayaan di Kota Makassar. kurangnya sosialisasi yang dilakukan Pemerintah Kota Makassar kepada masyarakat untuk memanfaatkan Teknologi Informasi dalam mengetahui perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. Hal ini dapat dilihat dari sikap masyarakat untuk mengetah ui perkembangan kebudayaan di Kota Makassar masih perlu mendapat perhatian dari pemerintah. Wawancara dengan informan diperoleh informasi bahwa sikap masyarakat terhadap penggunaan Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar masih kurang baik. Medan Jumlah 63 Sumber : Dara primer diolah November 2008 100.63 34. Masyarakat kurang termotivasi tentang kegiatan kebudayaan masyarakat.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. 3.51 %). Karena dari 63 responden yang memberikan jawaban kurang memahami sebanyak 22 orang (34. 75 . 2. Karena dari 63 responden yang memberikan jawaban kurang baik sebanyak 23 orang (36. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa sikap masyarakat terhadap Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar masih kurang baik. Frekuensi (orang) Sangat memahami 9 Memahami 13 Kurang Memahami 22 Tidak memahami 19 Jumlah 63 Sumber : Dara primer diolah November 2008 Pendapat Responden Persentase (%) 14. Website yang memuat kegiatan kebudayaan di Kota Makassar sering mengalami gangguan atau dalam melakukan download file mengalami gangguan. Hal ini dapat dilihat dari sikap masyarakat untuk mengetahui perkembangan kegiatan kebudayaan di Kota Makassar masih perlu mendapat perhatian dari pemerintah. Berikut pendapat responden tentang pemahaman masyarakat terhadap Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar yaitu sebagai berikut : Tabel 6 Pendapat Responden Tentang Pemahaman Masyarakat Terhadap TI Mendukung Perkembangan Budaya Masyarakat No 1.00 Mengacu kepada jawaban responden tersebut terlihat bahwa sikap masyarakat terhadap penggunaan Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar kurang baik.93 %).29 20.16 100. Wawancara dengan informan diperoleh informasi bahwa sikap masyarakat terhada p penggunaan Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar masih kurang baik.92 30.00 Mengacu kepada jawaban responden tersebut terlihat bahwa sikap masyarakat dalam memahami Teknologi Informasi yang digunakan dalam mendukung kegiatan kebudayaan di Kota Makassar masih kurang memahami. 4. 2. 3.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Kurangnya keinginan tersebut disebabkan : 1.

76 .April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Medan Wawancara dengan informan diperoleh informasi bahwa sikap masyarakat terhadap penggunaan Teknologi Informasi yang digunakan dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar memerlukan pemahaman dari masyarakat. 1 .

3. Perlunya penambahan fasilitas yang memadai dalam mendukung pemanfaatan Teknologi Informasi terhadap perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. 1 . London: Harper Collins. 1985 Lain-lain : Infokomputer. Amartya. 3. Singapore. http://www. Denise E.kontan-online. 9 Oktober 2000. Saran Adapun saran yang dapat diberikan dalam penulisan ini adalah sebagai berikut : 1.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Fasilitas yang digunakan baik segi kualitas dan kuantitas kurang mampu mendukung pemanfaatan Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. 2. Polity Press. http://www. dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan globalisasi Teknologi Informasi terhadap perkembangan kebudayaan di Kota Makassar kurang optimal.com/ Kontan On-line. Oxford University Press. Knowledge Machine : Language & Information in a Technological Society.. yaitu : 1. The End of The Nation State ± The Rise of Regional Economies. Longman Publisher.com Edisi Juli-Agustus 2000. 2. 1975 Sen. Hal ini disebabkan masih banyak masyarakat yang kurang mengerti dan memahami pentingnya Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. The Standard of Living. Third Way and Its Critics. Perlunya sosialisasi yang dilakukan pemerintah dalam mendukung peningkatan kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. Khususnya kemampuan masyarakat dalam memahami pentingnya pemanfaatan Teknologi Informasi. Daftar Bacaan Giddens. 2000 Murray. 1995 Sen. Employment. Hal ini dilihat dari beberapa faktor pendukung yang kurang terlaksana secara baik. 1995 Ohmae. India.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Kemampuan Pemerintah dan kemampuan masyarakat kurang mampu memberikan dukungan terhadap pemanfaatan globalisasi Teknologi Informasi dalam perkembangan kebudayaan di Kota Makassar.com/ di-Up load oleh: Anton Waspo 77 . Sikap dan perilaku yang dimiliki oleh masyarakat dalam memanfaatkan Teknologi Informasi sangat penting dimiliki sehingga masyarakat dapat memanfaatkan Teknologi Informasi secara maksimal dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. Kenichi. London. Cambridge University Press. Sikap dan perilaku masyarakat dalam memahami pemanfaatan globalisasi Teknologi Informasi kurang optimal. Medan PENUTUP Kesimpulan Berdasarkan pembahasan di atas.infokomputer. Anthony. Amartya. Technology & Development.

Diseminasi informasi ketenagakerjaan melalui online pernah dilakukan dengan menggunakan internet khususnya e mail dan browsing. Di samping pemanfaatan internet. perusahaan tempat kerja. Di masa yang akan datang. Semua aktivitas tersebut belum maksimal menjangkau khalayak pencari kerja. tetapi sementara tidak dapat difungsikan karena hamb atan dana. buletin dan leaflet. termasuk calon TKI mengenai informasi ketenagakerjaan belum banyak diungkapkan. Penulis adalah Peneliti Madya bidang Studi Komunikasi dan Media pada Pusat Litbang Aptel SKDI. calon TKI sebagai pencari kerja cenderung menerima saja informasi yang disampaikan petugas atau sponsor.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Pencari Kerja. Umumnya informasi tentang hak dan kewajiban TKI yang lengkap belum diterima pada saat pendaftaran dan proses rekrutmen calon TKI. Dinas Tenaga Kerja Latar Belakang Masalah Keluhan pencari kerja. dan pencari kerja di loket diseminasi kartu kuning. Informasi yang diperoleh pencari kerja di Tanah Air dari sumber informasi resmi masih amat terbatas tentang informasi lowongan pekerjaan. Oleh karena itu. serta penyampaian informasi secara langsung atau tatap muka. serta peraturan cuti kerja di negara tujuan. sebelumnya peneliti yang sama pada Pusat Pengembangan Literasi Departemen Komunikasi dan Informatika. Sikap ini terjadi karena kurang lengkap pengetahuan dan informasi yang dimilikinya mengenai hak dan kewajiban seorang TKI. khususnya di Kota Palangkaraya. Di dalamnya diungkapkan apa saja yang dilaksanakan Dinas Tenaga Kerja sebagai institusi pemerintah di Daerah tersebut kepada pencari kerja. apakah diseminasi informasi online sudah berjalan ? Penelitian ini bersifat deskriptif dan menggunakan pendekatan kualitatif dengan fenomenologi realistik. kedua Dinas Tenaga Kerja itu disarankan menyediakan leaflet berisi informasi ketenagakerjaan seperti lowongan pekerjaan dan persyaratan pembuatan kartu kuning. Kata Kunci : Diseminasi Informasi Ketenagakerjaan. perlu dibangun jaringan LAN ketenagakerjaan di antara instansi ketenagakerjaan yang terkait. Medan Diseminasi Informasi Ketenagakerjaan Pada Dinas Tenaga Kerja Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah dan Kota Palangkaraya Oleh : Paraden Lucas Sidauruk4 Abstrak Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan gambaran bagaimana pelaksanaan diseminasi informasi ketenagakerjaan bagi pencari kerja di Provinsi Kalimantan Tengah. Jakarta 4 78 . Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua Dinas Tenaga Kerja tersebut telah melaksanakan diseminasi informasi ketenagakerjaan secara variatif melalui spanduk. sistem gaji dan uang lembur. Pengumpulan data dilakukan dengan pengamatan dan wa wancara mendalam (depth interview) serta mempelajari data sekunder. Sejauh ini belum banyak diteliti mengenai informasi apa yang selama ini diterima oleh pencari kerja baik yang bekerja di dalam negeri maupun calon TKI yang hendak berangkat ke luar negeri. 1 .April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Calon TKI sebagai pencari kerja juga biasanya mengingikan informasi yang dianggap menarik perhatian saja seperti mengenai adat istiadat dan agama. Wawancara menggunakan pedoman wawancara dengan nara sumber di Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah dan di Kota Palangkarya. siaran televisi.

Secara spesifik melalui studi ini dapat diketahui : 1. Untuk memutuskan apakah pencari kerja bekerja di luar negeri atau di dalam negeri dibutuhkan data dan informasi ketenagakerjaan yang memadai. 1 . Di samping masalah informasi ketenagakerjaan itu. Provinsi Kalimantan Tengah ?´ Beberapa pertanyaan penelitian dapat diajukan. Kalimantan Tengah.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Pencari kerja ini menggunakan informasi itu dalam jumlah yang cukup untuk menghasilaan keputusan yang tepat. sumber informasi resmi di bidang ketenagakerjaan belum sepenuhnya melakukan diseminasi informasi ketenagakerjaan sebagai sutatu bentuk komunikasi yang benar-benar menjangkau khalayak pencari kerja. perlu dijawab informasi apa yang disampaikan sumber informasi tersebut selama ini kepada stakeholder khusunya pencari kerja.Oleh karena itu. Rumusan Masalah Masalah penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut : ´Bagaimana pelaksanaan diseminasi informasi ketenagakerjaan bagi pencari kerja di Kota Palangkaraya. Banyak juga yang menganggap pekerjaan tertentu hanya sebagai batu loncatan seperti bekerja sebagai penjual (sales) atau bekerja di perusahaan atau instansi yang tidak sesuai dengan harapannya. yaitu : 1. Diseminasi informasi ketenagakerjaan yang dilaksanakan pemerintah untuk pencari kerja. tiap pencari kerja berhak untuk mendapatkan informasi yang lengkap sesuai dengan kebutuhannya sehingga mereka bisa membuat keputusan yang tepat. 79 . Selain itu. juga sering dikeluhkan kurangnya kualitas sumber daya manusia yang menangani kegiatan diseminasi informasi tersebut. Komunikasi yang dilakukan oleh pemerintah dan perusahaan selama ini masih belum mampu memenuhi kebutuhan informasi ketenagakerjaan pencari kerja seperti juga terjadi di Palangkaraya. Sebagai pencari kerja mereka belum mendapatkan informasi ketenagakerjaan yang mencukupi untuk melamar pekerjaan atau menciptakan lapangan kerja baru. 2. Informasi yang disampaikan pemerintah kepada pencari kerja. Apa saja yang dilaksanakan pemerintah untuk pencari kerja dalam diseminasi informasi ketenagakerjaan? 2. tidak sedikit pula pencari kerja yang menerima tawaran suatu pekerjaan tanpa didasari pada keputusan yang matang. Pemenuhan kebutuhan informasi ketenagakerjaan melalui diseminasi informasi yang efektif dapat memberdayakan pencari kerja sebagai warga negara.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Akibatnya. Medan Padahal semua informasi berkaitan dengan ketenagakerjaan itu merupakan hak seorang pencari kerja sebagai warganegara yang dijamin oleh Pasal 28 F UUD 1945 dan Undang-undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik. Berdasarkan pemikiran itu. Selain karena kurangnya sarana komunikasi. tidak sedikit di antaranya berganti-ganti pekerjaan dalam waktu singkat. Kurangnya informasi ketenagakerjaan membuat pencari kerja tidak melihat adanya alternatif atau kesempatan kerja lain. Provinsi Kalimantan Tengah. Apakah diseminasi informasi ketenagakerjaan melalui on line telah dilaksanakan pemerintah kepada pencari kerja ? 3. Apa yang diharapkan oleh khalayak pencari kerja tidak lain adalah agar mereka mendapatkan informasi ketenagakerjaan sesuai dengan kebutuhannya. 3. Pelaksanaan diseminasi informasi ketenagakerjaan on line kepada pencari kerja. Dalam kenyataannya. perlu penelitian mengenai pemerintah sebagai komunikator yang menangani ketenagakerjaan dalam diseminasi informasi ketenagakerjaan. Informasi apa yang disampaikan oleh pemerintah kepada pencari kerja ? Tujuan dan Manfaat Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan gambaran diseminasi informasi ketenagakerjaan bagi pencari kerja di Palangkarya.

Ibnu Hamad (2007) mengatakan pembahasan lebih pada diseminasi informasi menggunakan 5W & 1H.. Menurut Sasa Djuarsa dkk. istilah. unsur komunikator (who). atau pengalaman yang relevan dengan atau topik pesan yang disampaikannya. Agar khalayak tertarik terhadap pesan yang disampaikan komunikator. punya integritas serta dipercayai oleh pihak komunikan (khalayak)´ Dalam diseminasi informasi sebagai proses komunikasi yang efektif memerlukan pengemasan pesan sehingga menimbulkan kebutuhan bagi khalayak. kata-kata dan kalimatnya (Wilbur Scramm. Proses pengambilan keputusan yang memberikan kepastian hanya mungkin jika tersedia informasi yang cukup. Dalam kaitannya dengan diseminasi informasi sebagai bentuk dan proses komunikasi. Dengan kekuasaan dimaksudkan sumber informasi mempunyai kewenangan di bidangnya secara resmi. (1993 : 204) . Setidaknya. ¶attractiveness¶ (daya tarik) dan ¶power¶ (kekuasaan/kekuatan)´ Credibility atau kredibilitas menunjuk pada suatu kondisi di mana si sumber dinilai punya pengetahuan. Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Palangkarya saran-saran penelitian ini dapat diterapkan untuk meningkatkan diseminasi infomasi ketenagakerjaan kepada pencari kerja. 1993 :72) meliputi Why. Terlebih lagi karena informasi berharga guna mengurangi ketidakpastian seperti dikemukakan dalam Shannon dalam Griffin. Who.. Kerangka Pemikiran Tiap unsur komunikasi mempunyai perannya sendiri untuk mewujudkan proses komunikasi yang efektif. pentingnya pelaku (sumber) dalam suatu kegiatan. Untuk itu. apalagi jika komunikatornya 80 .JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Komunikasi dapat berlangsung jika unsur-unsur yang menopangnya ada dan berperan sesuai dengan fungsinya masing-masing. ´seorang komunikator akan berhasil dalam upaya persuasi yang dilakukannya apabilka ia (1) dipandang punya pengetahuan dan keahlian. secara praktis dapat digunakan sebagai masukan dalam penyusunan/penyempurnaan kebijakan pelayanan atau diseminasi informasi pada Departemen Komunikasi dan Informatika. Salah satu faktor yang berpengaruh terhadap kredibilitas komunikator adalah kekuasaan dan keahlian yang dimiliki sehingga menimbulkan kepercayaan di mata khalayak. keahlian. apabila syarat syarat pesan yang baik itu dapat terpenuhi. Hal itu semakin jelas. terutama dalam mempersiapkan implementasi Undang-undang Nomor 14 tahun 2008 tentang keterbukaan informasi publik. maka pesan tersebut hendaknya mudah dipahami baik bahasa. dan (2) dinilai jujur. Unsur komunikasi lain adalah khalayak seringkali dipersepsikan sebagai unsur yang kurang penting karena dianggap sebagai orang bersikap pasif dan menerima saja apa yang disampaikan oleh komunikator. When. Rumus 5W & 1H yang dipakai dalam penyusunan berita ( Effendy. Satu unsur saja tidak ada membuat komunikasi tidak berlangsung dengan baik. 2007 : 72-73) Informasi yang dikandung dalam pesan itu akan digunakan khalayak. 1997 : 50) bahwa ³information refers to the opportunity to reduce uncertainty´.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Dalam hal ini. 1973 dalam Hamidi. sehingga pihak penerima menjadi percaya bahwa pesan yang disampaikannya itu bersifat objektif´ Lebih lanjut dikemukakannya. perlu dirancang agar pesan menarik perhatian. Laswell dalam Wilbur Schramm (1963 :117) mengatakan ´a convenient way to describe an act of communication is to answer the following questions : who says what in which channel to whom with what effect ?´ Schramm menunjukkan unsur-unsur yang menggambarkan suatu tindakan komunikasi. Di samping itu. 1 . dan How dapat juga digunakan untuk diseminasi informasi. Medan Hasil penelitian ini dapat bermanfaat sebagai referensi menambah khazanah pengetahuan mengenai diseminasi informasi. pesan (what) dan khalayak (whom) merupakan variabel penelitian yang penting dicermati dalam studi diseminasi informasi pada instasni pemerintah. Where. Harold D. Pemerintah sebagai komunikator atau sumber informasi menyampaikan pesan (message) kepada khalayaknya. What. sedikitnya ada tiga karakteristik dari sumber yang perlu diperhatikan yakni : ¶credibility¶ (kredibilitas). Bagi Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah dan Dinas Tenaga Kerja.

Informasi ketenagakerjaan adalah informasi yang berkaitan dengan ketenagakerjaan seperti peraturan ketenagakerjaan. 81 .JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Pencari kerja adalah setiap orang yang terdaftar di Kantor Dinas Tenaga Kerja Kota / Kabupaten untuk mencari atau melamar pekerjaan di dalam negeri maupun di luar negeri Kebutuhan informasi ketenagakerjaan adalah kebutuhan khalayak pencari kerja mengenai informasi ketenagakerjaan. Menurut Sasa Djuarsa Sendjaja. lowongan kerja. khalayak dalam proses komunikasi yang dimaksud adalah pencari kerja yang juga pencari informasi. Khalayak ternyata tidak pasif dalam proses komunikasi. yakni Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah dan Dinas Tenaga Kerja. 1995.. Model ini mengasumsikan khalayak setidaknya sama aktifnya dengan pengirim. kita seyogyanya berorientasi ke khalayak sasaran (audience oriented)´ Sejalan dengan itu. Diseminasi informasi ketenagakerjaan adalah suatu bentuk komunikasi yang menyampaikan atau menyebarkan informasi atau pesan mengenai ketenagakerjaan dari pemerintah sebagai komunikator kepada khalayak pencari kerja. cara lain dan relasi sosial´. 1 . Medan merupakan instansi pemerintah yang dianggap memiliki kredibilitas di bidangnya. sebagai komunikator adalah instansi pemerintah. Mereka aktif dan juga selektif. Karena itulah. 2004 : 230) Komunikator atau sumber informasi adalah unsur dalam proses komunikasi yang menyampaikan atau menyebarluaskan pesan atau informasi kepada khalay Dalam hal ini ak... Diseminasi informasi ketenagakerjaan melalui online adalah diseminasi informasi ketenagakerjaan yang ³terhubung secara langsung ke internet´ (Jasmadi. dan bahwa pesan adalah apa yang dibutuhkan oleh khalayak. hak dan kewajiban TKI.. khalayak bukanlah merupakan sekumpulan dari indvidu-individu yang bersikap dan bertindak ¶pasip¶. dkk (1993 : 221) . Dalam hubungannya dengan penelitian ini.28). Dalam hal inilah pentingnya pengetahuan dan informasi bagi khalayak sehingga dapat menentukan sikap yang tepat. tetapi mempunyai pandangan terhadap pesan dan komunikator. pencari kerja termasuk informasi TKI meliputi persyaratan dan prosedur bekerja di luar negeri. 1979) Informasi adalah ³data yang telah diolah menjadi sebuah bentuk yang berarti bagi penerimanya dan bermanfaat dalam mengambil keputusan saat ini atau mendatang´ (Gordon B Davis. bukan yang dimaksudkan oleh pengirim. Definisi Konseptual Diseminasi adalah penyebaran (of information) (John M Echols dan Hassan Shadily.. Padahal khalayak sebagai sasaran juga memiliki sikap sendiri dalam berkomunikasi sesuai dengan kepentingan dan tujuannya. Pesan adalah data dan informasi ketenagakejaan yang d isampaikan oleh pemerintah kepada pencari kerja. Khalayak adalah unsur dalam proses komunikasi yang merupakan sasaran dari penyampaian pesan atau penerima informasi dari komunikator atau sumber informasi. dalam merancang suatu kegiatan komunikasi apakah melalui saluran kegiatan komunikasi personal atau melalui media massa. Secara implisit mereka membutuhkan informasi ketenagakerjaan yang berguna untuk membantunya dalam mencari atau melamar pekerjaan.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Sebagai khalayak adalah pencari kerja baik pencari yang bekerja di dalam negeri maupun di luar negeri (calon TKI). Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Palangkaraya.. John Fiske (2006 : 208) mengemukakan ³khalayak memiliki sekumpulan kebutuhan yang dicari pemuasannya melalui media massa. bahkan untuk membuka lapangan pekerjaan baru.

244. 1 .JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.2001) dan (http://www. Tertib dan Keterbukaan).564 km2 terdiri dari hutan dan pertanahan lainnya 134. Kategori data dibuat berdasarkan permasalahan penelitian dan data lapangan. 1.b. dan pencari kerja. 95 kecamatan. membuat teori´ (Pawito. Narasumber yang diwawancarai adalah pejabat Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah dan Dinas Tenaga Kerja. maka dipilih Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Palangkarya dengan alasan kota ini merupakan pusat kegiatan pemerintahan dan masyarakat. Dengan penelitian ini diharapkan dapat digambarkan proses diseminasi informasi dan jenis kebutuhan informasi khalayak pencari kerja. A.i. Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Palangkaraya. mengumpulkan. Satu -satunya 2 pemerintahan kota di provinsi ini adalah Palangkaraya dengan luas 2.Wawancara dengan menggunakan pedoman wawancara yang disusun terlebih dahulu. Medan Metode Penelitian Metode penelitian merupakan seperangkat cara yang sistematik.24 km2 (BPS. artinya tempat yang suci. petugas loket pelayanan kartu kuning. Menurut Embree (1998 :333-343) dalam Pawito (2007 :58).62 km2. 25 2 km . ´mulai tahun 2008-2010 Pemerintah Provinsi 82 . (Hamidi.´ Selain melalui pengamatan atau observasi terhadap proses diseminasi informasi di lingkungan instansi pemerintah. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan fenomenologi. 1 kota. 2007 : 122). 2007 : 44) Dalam hal ini salah satu varian fenomenologi yang digunakan adalah fenomelogi realistik. Aman. Curah hujan terbanyak pada bulan-bulan Oktober sampai dengan Maret. Teras Nerang. fenomenologi realistik lebih menekankan pada pengamatan serta penggambaran esensi-esensi yang bersifat umum. Pendekatan kualitatif ´lebih dimaksudkan untuk memberikan gambaran atau pemahaman mengenai gejala (dari perspektif subjek atau aktor). Lokasi penelitian ditetapkan secara purposive yaitu Dinas Tenaga Kerja Pemerintah Provinsi Provinsi Kalimantan Tengah di Kota Palangkaraya dengan pertimbangan bahwa instansi pemerintah yang melayani informasi ketenagakerjaan di Provinsi Kalimantan Tengah terdapat di kota tersebut. Oleh karena diseminasi informasi ketenagakerjaan langsung kepada pencari kerja melalui loket pengurusan kartu kuning hanya dilaksanakan oleh Dinas Tenaga Kerja Kabupaten / Kota. Kalteng.go. menganalisis dan menyajikan data untuk menarik kesimpulan. mulia dan besar. sedangkan data yang kurang relevan tidak dimasukkan dalam analisis.id?web/id/KER 01/profil/kalteng/tanggal 25-4-2008) Secara administratif Provinsi Kalimantan Tengah terbagi atas 13 kabupaten. Luas provinsi ini 153.744. panas dengan suhu rata-rata 34 0 Celcius. perkebunan 6. Data kualitatif yang diperoleh dari jawaban narasumber dan hasil observasi yang benar-benar sesuai dengan tujuan penelitian berkesempatan untuk dianalisis. (Dinas Tenaga Kerja Pemprov. logis dan rasional yang digunakan oleh peneliti ketika merencanakan.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Mottonya adalah Kota Cantik (Terencana.637. GAMBARAN UMUM Geografi dan Demografi Provinsi Kalimantan Tengah Provinsi Kalimantan Tengah dibentuk berdasarkan Undang-Undang Darurat Nomor 10 tahun 1957 dengan ibukota Palangkaraya.400 km .79 km2. sawah dan ladang 10. permukiman dan bangunan lainnya 1. termasuk kegiatan ketenagakerjaan di Kalimantan Tengah. 2008a :2) Menurut Gubernur. pengumpulan data lapangan juga dilakukan wawancara mendalam (depth interview). Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif dengan melakukan reduksi data terlebih dahulu terhadap data yang masuk baik yang diperoleh melalui wawancara mendalam maupun catatan observasi di lapangan.177 desa dan 122 kelurahan.937.Provinsi ini terletak di daerah khatulistiwa dengan iklim tropis yang lembab.

tetapi lebih terkonsentrasi di perkotaan. desa dan kelurahan 1. Sungai Kahayan.861 jiwa dengan laju pertumbuhan 2. Sukamara 19.887 perempuan dapat dilihat pada Tabel 1. Penyebaran penduduk masih belum merata di seluruh provinsi Kalimantan Tengah. Giring-giring. Agama penduduk nya Islam.176 Kota Palangkaraya 91. Selain orang Dayak ada juga penduduk pendatang. Di seluruh Provinsi Kalimantan Tengah terdapat 30 bahasa daerah.132 50.401 Sumber : Diolah dari Dinas Tenaga Kerja Pemprov. Medan Kalimantan Tengah mempunyai program Mamangun Mahaga Lewu (Membangun Menjaga Desa). Kapuas 176.887 Jumlah total penduduk 2. Penduduk memilih bertempat tinggal di perkotaan karena faktor lapangan kerja sektor formal yang mulai berkembang. Sungai Katingan. Penduduk yang menganut agama Islam merupakan golongan terbesar. sedangkan di kabupaten lainnya jumlah cukup kecil. Barito Timur 43.961 Kab. yaitu orang-orang Banjar. Sungai Mentaya dll.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.231 Kab. Barito Selatan 62.579 jiwa. Kesenian masyarakat Dayak.513 27. (http://www. Mereka bermukim dalam komunitas±komunitas desa di sepanjang Sungai Barito.514 laki-laki dan 974.823 42. Lawangan.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika.003. Makassar.124 175.545 Kab. tanggal 20-32008) Pada tahun 2006 jumlah penduduk Provinsi Kalimantan Tengah tercatat sebanyak 2.028.180 jiwa. Kotawaringin Timur 165. (2008a:2) Tabel 1 menunjukkan tiga kabupaten dan kota Palangkaraya mempunyai jumlah penduduk yang tergolong besar. Pulang Pisau 59. terutama tari-tarian antara lain Deder Ketingan. Katingan 69.Gunung Mas 45.514 974. TNI/Polri dan karyawan perusahaan dan berwirausaha cukup tinggi. Kalteng. dan Kinyah Kamber.566 Kab.383 Kab.571 60.723 Jumlah 1. dan Budha.814 99. Lamandau 28. dan kabupaten Sukamara hanya berpenduduk 36.028. Madura. 83 . Ot Danum.003. Barito Barat 58. Tabel 1 Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin di Kabupaten dan Kota (orang) No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Kabupaten/Kota Penduduk Laki-laki Perempuan Kab. (2001 : 43-44) dikemukakan bahwa penduduk asli Provinsi Kalimantan Tengah adalah suku bangsa Dayak. Kaharingan. 13-3-2008) Dalam publikasi yang diterbitkan oleh LIN.071 92. yang terdiri dari beberapa sub suku bangsa seperti Ngaju.003 41.957. 1 . Dalam tiga tahun akan ada 126 desa dijadikan percontohan.977 58. Jawa. Seruyan 57. Ma¶anyam. Tabel itu juga memperlihatkan jumlah penduduk laki-laki secara keseluruhan maupun per kabupaten lebih besar daripada jumlah penduduk perempuan. Kotawaringain Barat 106. bergaul dengan masyarakat setempat. Ot-siang. Sungai Kapuas.089 42. Bahasa Dayak Ngaju sebagai bahasa lingufranca. dan transportasi.353 146.377 55.219 16. Murung Raya 45.697 Kab.025 Kab. Kabupaten Kapuas merupakan kabupaten terbesar dengan jumlah penduduknya 351. jasa.75 penduduk / km2. seperti perdagangan. Melayu.259 Kab. Minat penduduk untuk bekerja sebagai pegawai negeri sipil.401 jiwa terdiri dari 1.351 Kab. Katingan dll. Bugis.kalteng bps.448 63. Arab dan China.066 Kab. Pada tahun 2005 jumlah penduduk tercatat 1.449 Kab.455 Kab.36 % dan kepadatan 12.357 dan 70 % di antaranya adalah desa´ (Kompas.goid. Kristen.

631 orang (6. (http://www.497 Bukan Angk. (Dinas Tenaga Kerja.421 18.280 954. 2008a : 2-3) Pada Tabel 2 dapat dilihat jumlah penganggur sebesar 82.590 872.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.449 jiwa dan kepadatan 62.org/wki/kota Palangkaraya.423 Angkatan Kerja 614.585 598.558 340. dan jumlah pencari kerja yang lebih terkonsentrasi pada pekerjaan perkantoran di instansi pemerintah dan perusahaan swasta.7 %) turun menjadi 55.7 %. terutama di perdesaan hampir tidak ada yang kelihatan menganggur secara total.289 Sumber : Diolah dari Dinas Tenaga Kerja Pemprov.168 376.51 km2 dengan jumlah penduduk pada tahun 2003 tercatat 168. Angka yang disajikan itu merupakan jumlah penganggur yang tercatat secara resmi di Kantor Dinas Tenaga Kerja di Kabupaten/Kota se-Provinsi Kalimantan Tengah. Pemprov Kalteng.8 % dan perempuan 13. Luas kota ini 2678.337. sebagai satu-satunya pemerintahan kota di Provinsi ini tampak karakteristik dan kemajuan perkotaan pada tingkat pendidikan yang lebih tinggi.dengan laju pertumbuhan ekonomi tahun 2006 sebesar 5.Kerja 186.6 % dengan jumlah penganggur laki-laki 5. Bahkan sebagaimana dikemukakan sebelumnya.469 Sisa Lowongan 162 183 345 Bukan Tenaga Kerja 189.Hal ini mendorong penduduk perdesaan pindah (urbanisasi) ke kota Palangkaraya sebagai pencari kerja baru. (2008a : 2) Jumlah pengangguran terbuka Agustus 2006 67.7 %)´ (http://www. Sektor pertanian dan perkebunan (berkebun sendiri) dan usaha mencari hasil hutan besar peranannya dalam menyerap tenaga kerja sehingga terkesan penduduk di Kalimantan Tengah. Kalteng.887 1. suku bangsa.670 46. Pendapatan penduduk per kapita pada tahun 2006 mencapai Rp 9.329 187. ³Bertambahnya jumlah penduduk yang bekerja di sektor pertanian menyebabkan angka pengangguran menurun secara signifikan.397 orang (1. Tabel 2 Data Ketenagakerjaan di Provinsi Kalimantan Tengah ( orang) Uraian Laki-laki Perempuan Jumlah Tenaga Kerja 829. Berbeda dengan di perdesaan penduduk yang benar-benar tidak bekerja sama sekali sulit ditemukan.478 Penganggur 35. tanggal 25-4-2008).go. Medan kecuali di Kota Palangkaraya.670 orang.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika.561.048 38. 1 .84 %.244 orang (5.704 411.690 orang jauh lebih besar daripada jumlah penganggur laki-laki 35.id/ viewarticle.558 974. agama tidak berbeda jauh dari keadaan Provinsi Kalimantan Tengah.0 %) pada Pebruari 2007 atau turun 12. 84 . Perusahaan dan mall di Kota Palangkaraya mulai menawarkan pekerjaan khusus untuk wanita sebagai sales promotion girls (SPG).360 orang terdiri dari penganggur perempuan 46. Umumnya penganggur tersebut berdomisili di perkotaan sebagai akibat dari banyaknya lulusan terdidik khususnya SLTA hingga sarjana.888 293. Data ini membuktikan bahwa daerah ini tidak bebas dari pengangguran meski wlayahnya amat luas untuk bisa digarap sebagai lahan pertanian.360 Sisa Pencaker 2007 20.asp. Secara selayang pandang gambaran Kota Palangkaraya dalam beberapa hal seperti adat istiadat. Keinginan untuk mendapatkan pekerjaan di kota mulai tumbuh di kalangan perempuan di perdesaan.89 jiwa/km2. Setidaknya penduduk di perdesaan bisa menggarap lahan pertanian atau berkebun di tanahnya sendiri atau milik keluarganya sebagai mata pencaharian.991.id.690 82.kalteng..838 Kesempatan Kerja 578. tercatat tingkat pengangguran sebesar 8.wikipeda. Berkaitan dengan kondisi ketenagakerjaan di provinsi ini.

JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.197 orang. tetapi hanya mengolah dan merangkum data pencari kerja dalam publikasi Berita Pasar Kerja dan Lembar Informasi Ketenagakerjaan yang terbit tiap bulan seperti dapat dilihat pada Tabel 3. 85 . Kalteng.764 orang atau 95. Berdasarkan jumlah kartu yang dikeluarkan Dinas Tenaga Kerja Kota / Kabupaten itu dapat diketahui jumlah yang mendaftar sebagai pencari kerja.878 38. Kalteng.56 % merupakan tenaga terdidik mulai dari t amatan SLTA hingga kategori S1-S3´ (Dinas Tenaga Kerja. Pelamar yang hendak mencari pekerjaan di kantor pemerintah (CPNS.104 11.307 23. sebagian besar 36.469 orang. Jumlah pencari kerja berpendidikan tinggi D1-S3 ternyata cukup besar 34. Medan tanggal 28-4-2008) Jumlah penduduknya menurut Tabel 1. (2008a :5) No 1 2 3 4 5 6 Jumlah 91 307 1. Kartu kuning yang digunakan untuk melengkapi persyaratan lamaran kerja hanya dapat diperoleh di kantor Dinas Tenaga Kerja Kota/Kabupaten melalui loket Diseminasi kartu kuning. pekerjaan dan upah yang diinginkan pencari kerja.794 jiwa.421 18.469 Data jumlah sisa pencari kerja atau pencaker hingga akhir tahun 2007 sebesar 38.677 Jumlah 20. 1 . tujuan mencari kartu AK1. Di samping itu penghapusan sebagai pencari kerja dapat disebabkan karena permintaan sendiri. pindah wilayah.048 Sumber : Diolah dari Dinas Tenaga Kerja Pemprov. Pencari Kerja (Pencaker) Kantor Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah tidak melayani langsung pengurusan kartu kuning bagi pencari kerja.469 orang diperoleh dari hasil pendaftaran melalui kartu kuning (AK1) yang dikeluarkan oleh Kantor Dinas Tenaga Kerja Kota atau Kabupaten se Kalimantan Tengah.124 2.319 7.567 5.30 % atau 13. (2008a : 5).TNI. ³Pencari kerja yang tidak melaporkan atau tidak mendaftar ulang setelah terdaftar s ebagai pencari kerja selama 6 bulan berturut-turut akan dihapuskan sebagai pencari kerja karena diangggap tidak memerlukan Diseminasi antar kerja lagi.195 S1-S3 4. terjadi pertambahan sebanyak 15.463 D1-D3/SM 3. tercatat 183. Jumlah para penc ari kerja ini merupakan sisa yang tidak dapat disalurkan atau mendapat pekerjaan pada tahun 2007 dan mereka mencoba mendaftar kembali untuk mendapatkan kartu AK1 yang baru. ³Jumlah pencari kerja yang belum ditempatkan sampai dengan akhir bulan Desember 2007 sebanyak 38.345 jiwa dalam waktu lima tahun.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Pemprov Kalteng. Data pencari kerja yang diperoleh dari proses pengurusan kartu tersebut memuat jumlah pencari kerja dan jenis pekerjaan yang diinginkannya. meninggaal dunia atau sudah mendapat pekerjaan´ (Dinas Tenaga Kerja Pemprov. Identitas pribadi dan pas photo pencari kerja yang tercantum dalam formulir meliputi tentang pekerjaan sekarang. Tabel 3 Jumlah Pencari Kerja Menurut Tingkat Pendidikan di Kalimantan Tengah (orang) Tingkat Pendidikan Laki-Laki Perempuan Tidak Tamat SD 67 24 SD 208 99 SLTP 717 590 SLTA 12.Polri) dan perusahaan swasta diharuskan melampirkan kartu kuning (AK1) sebagai salah satu syarat. Karena tiap pencari kerja diharuskan mengisi Daftar Isian Pencari Kerja yang disediakan secara gratis. 2008a : 8) Jumlah pencari kerja yang terdaftar di Dinas Tenaga Kerja Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah berasal dari pencari kerja yang mengurus kartu kuning (AK1) di Kantor Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Palangkaraya di Palangkaraya dan Kantor Dinas Tenaga Kerja yang terdapat di tiga belas kabupaten seKalimantan Tengah.201 3. Jadi.

147 2. 1 .929 3. Sedangkan misinya adalah : 1. (2008a : 4) ³ visi Gubernur Kalimantan Tengah Tahun 2005-2010 adalah µmembuka Isolasi Menuju Kalimantan Tengah yang Sejahtera dan Bermanfaat¶. Dinas Tenaga Kerja Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah Dengan paradigma baru di bidang pemerintahan dewasa ini. Kalteng. pegawai. dan Teknisi 4. seperti dapat dilihat pada Tabel 4 tampaknya jabatan sebagai tenaga produksi. dengan misi di bidang ketenagakerjaan µMembangun Balai Pendidikan dan Ketrampilan untuk Meningkatkan Kemampuan Mengembangkan Semangat Kewirausahaan dan Keahlian Berusaha Melalui Kerjasama Dengan Berbagai Pihak Termasuk Perguruan Tinggi¶ Berdasarkan hal itu. Menciptakan hubungan industrial yang harmonis antara pekerja.979 Pejabat Pelaksana dan Tata Usaha 3.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Keberhasilan sektor pendidikan melahirkan tenaga terdidik yang cukup besar di wilayah Kalimantan Tengah berpengaruh terhadap pilihan lapangan kerja.053 1. Pemprov Kalteng. Untuk memahami dan melaksanakan visi. Kecenderungan pilihan jenis pekerjaan yang favorit di masa yang akan datang bersifat manajerial di instansi pemerintah dan perusahaan swasta. Medan Apabila diperhatikan jenis pekerjaan atau golongan pokok jabatan yang didaftar oleh pencari kerja yang belum ditempatkan (ybdi). misi dan tujuan organisasi pemerintahan tersebut diperlukan kesamaan persepsi semua pejabat. Mewujudkan peningkatan kualitas dan produktivitas angkatan kerja.643 7. Tiap organisasi di lingkungan birokrasi pemerintahan lebih digerakkan oleh misinya sehingga birokrasi mampu bertindak cepat dalam melayani masyarakatnya. penempatan tenaga kerja dan peningkatan kesempatan kerja di perkotaan dan perdesaan.164 Tenaga Usaha Pertanian 2. peranan visi dan misi semakin penting dalam menjalankan organisasi pemerintahan.560 38.782 2.198 3.552 1.295 3. Orientasi pemerintah ditujukan kepada khalayaknya sebagai pelanggan yang harus dipenuhi kebutuhannya.230 Tenaga Usaha Jasa 1.590 10.421 18. (2008a :5) No 1 2 3 4 5 6 7 Jumlah 7.664 1.469 Pelaksanaan Diseminasi Informasi Ketenagakerjaan 1. pengusaha dan perlindungan tenaga kerja. Program dan kebijakan mengenai diseminasi informasi ketenagakerjaan dibuat dalam rangka mencapai visi dan misi Dinas tersebut.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. dan pejabat pelaksana cukup banyak diminati ( 66. Dalam publikasi Dinas Tenaga Kerja. 3. Mewujukan pembangunan bidang ketenagakerjaan melalui perluasan lapangan kerja. 2.537 Tenaga Produksi 6. Tujuan Dinas Tenaga Kerja Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah ditetapkan untuk : 86 .949 Tenaga Usaha Penjualan 1. Tabel 4 Jumlah Pencari Kerja Menurut Golongan Pokok Jabatan Pada Tahun 2007di Kalimantan Tengah (orang) Golongan Pokok Jabatan Laki-Laki Perempuan Profesional.005 4. yaitu ³reinventing government´.555 Jumlah 20. visi Dinas Tenaga Kerja µMengurangi Tingkat Pengangguran dan Meningkatkan Kualitas Hubungan Industrial untuk Meningkatkan Produktivitas Tenaga Kerja¶.818 3.Visi dan misi Gubernur Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah di bidang ketenagakerjaan merupakan dasar bagi penentuan visi dan misi Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah.654 1.048 Sumber : Diolah dari Dinas Tenaga Kerja Pemprov.634 Kepemimpinan dan Ketatalaksanaan 1. 1998) termasuk kebutuhan informasi. (David Osborne dan Ted Gaebler. tenaga profesional. dan stakeholdernya.64 %).

Pembentukan Seksi Informasi Ketenagakerjaan dimaksudkan untuk melakukan diseminasi dan penyebaran informasi ketenagakerjaan. 2. Seksi Pelaporan dan Evaluasi 3. Meningkatkan kualitas dan produktivitas tenaga kerja. tiap Sub Dinas dan Bagian Tata Usaha pada Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah dapat memberikan informasi mengenai tugas. Program peningkatan kualitas dan produktivitas tenaga kerja. sehingga tiap sumber daya manusia yang terdidik dan telah mendapat pelatihan ketrampilan mendapat pekerjaan. Sejalan dengan itu disusun Program Dinas tersebut meliputi : 1.6 % merupakan yang tertinggi yang pernah dialami . 1 . Salah satu indikator rendahnya pendayagunaan atau pemborosan sumber daya manusia adalah tingginya tingkat pengangguran . Tiga seksi lainnya pada Sub Dinas Perencanaan dan Program yang erat hubungannya dengan Seksi Informasi Ketenagakerjaan. Menurut Kepala Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah A. 3. Medan 1. Seksi Perencanaan Tenaga Kerja Ketiga seksi tersebut senantiasa bekerja sama dengan Seksi Informasi Ketenagakerjaan. ´Diseminasi informasi ketenagakerjaan terutama yang ditujukan kepada stakeholder dan masyarakat dianggap sebagai tugas yang penting dalam masyarakat informasi´. dalam kegiatan penyebaran informasi ketenagakerjaan serti penyusunan 87 . Walaupun demikian. salah satu tugas Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah yang didelegasikan kepada Seksi Informasi Ketenagakerjaan adalah melaksanakan kegiatan hubungan masyarakat guna memperkenalkan ketenagakerjaan. Adanya pembagian tugas yang jelas tersebut tidak menghalangi satuan organisasi untuk menginformasikan hal-hal yang berkaitan dengan ketenagakerjaan. secara internal Seksi Informasi Ketenagakerjaan merupakan supporting unit bagi Sub Dinas dan Bagian Tata Usaha. terutama tentang lowongan kerja yang tersedia di instansi dan perusahaan swasta. Untuk dapat melaksanakan diseminasi informasi ketenagakerjaan secara khusus.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Seksi Rencana dan Program 2. (2008a : 5) Penganggur tersebut merupakan pencari kerja yang sebenarnya membutuhkan informasi ketenagakerjaan. Tingginya tingkat pengangguran golongan terdidik -minimal tamatan SLTA. dibentuk Seksi Informasi Ketenagakerjaan di bawah Sub Dinas Perencanaan dan Program. Upaya pemerintah ditujukan untuk memperluas dan mengembankan kesempatan kerja. Tuntutan pekerjaan menghendaki Seksi ini mampu memberikan dukungan terhadap seluruh satuan organisasi yang berada dalam Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah. fungsi dan pekerjaan masing-masing. termasuk informasi mengenai TKI di provinsi ini. Program perluasan dan pengembangan kesempatan kerja 2.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Meningkatkan perlindungan dan pengembangan kelembagaan. Basuniansyah. Secara fungsional Seksi Informasi Ketenagakerjaan mempunyai tugas untuk melaksanakan diseminasi informasi ketenagakerjaan. yaitu : 1. Tingkat pengangguran di Kalimantan Tengah pada tahun 2006 sebesar 8.di antaranya disebabkan faktor keberhasilan dunia pendidikan menciptakan tenaga terdidik lebih besar dari daya serap lapangan kerja untuk tenaga terdidik tersebut sehingga terjadi kelebihan penawaran tenaga terdidik (Dinas Tenaga Kerja. Di samping itu. kebijakan di bidang ketenagakerjaan pada dasarnya adalah mendayagunakan sepenuhnya sumber daya manusia yang telah dikembangkan melalui pelaksanaan program utama ketenagakerjaan. Oleh karena itu. Memperluas dan mengembangakan kesempatan kerja. Dalam hubungan itu. Program perlindungan dan pengembangan kelembagaan. 3. Pemprov Kalteng. Hal ini berarti fokus perhatian utama Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah adalah mengatasi pengangguran.

Di samping produk berupa Lembar Informasi Ketenagakerjaan itu. Menjadi TKI Meningkatkan Kesejahteraan 10. Kepala Seksi Informasi Ketenagakerjaan hanya dibantu oleh dua pegawai staf berpendidikan tamatan SLTA. Sub Dinas Perencanaan dan Program. Kerjasama antar satuan kerja di lingkungan Dinas terutama karena jumlah dan kualifikasi pegawai yang menangani amat terbatas.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Beberapa leaflet yang diterbitkan antara lain berjudul: 1. Medan dan penerbitan buletin dan leaflet. BPS. sejauh ini belum ada aktivitasnya´. lowongan kerja dan pengangguran di Kalimantan Tengah selama satu bulan. Standarisasi dan Sertifikasi Tenaga Kerja 7. Tata Cara Permintaan Jaminan Kecelakaan Kerja. Sub Dinas Perencanaan dan Program. RAN-PKTP (Rencana Aksi Nasional Penghapusasn Kekerasan Terhadap Perempuan) 8. Diseminasi informasi ketenagakerjaan dalam bulan K3 atau Keselamatan dan Kesehatan Kerja (12 Desember-12 Januari) dilaksanakan dengan kampanye K3 melalui pemasangan spanduk di pinggir jalan besar dan tempat strategis di kota-kota Kalimantan 88 . yaitu PT Titian Hidup Langgeng di Jalan Kol. tahun 2002. ³di Kalimantan Tengah hanya terdapat satu perusahaan TKI yang baru berdiri berdasarkan izin tanggal 10 November 2007. pembuatan spanduk bulan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja). Prosedur TKI Bekerja Ke Luar Negeri. Kegiatan diseminasi informasi ketenagakerjaan yang telah dilaksanakan selama ini secara rutin adalah membuat buletin Lembar Informasi Ketenagakerjaan yang diterbitkan tiap bulan. Untung Surapati nomor 8 Kapuas. Sub Dinas Penempatan Tenaga Kerja dan Perluasan Kerja. tahun 2004 6. diseminasi informasi mengenai TKI belum dilaksanakan oleh Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah. Visi dan Misi Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah. 2. Namun.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Karena perusahaan TKI ini belum operasional. tahun 2004 5. Selama ini calon TKI yang akan bekerja ke luar negeri berangkat melalui daerah Kalimantan Selatan. tahun 2004 4. Persyaratan Permohonan Izin Pemutusan Hubungan Kerja dan Prosedur Permohonan Banding. Jaminan Kecelakaan Kerja Program Jamsostek. Diseminasi informasi secara institusional di tingkat provinsi merupakan tugas dan tanggung jawab Seksi Informasi Ketenagakerjaan. Menurut Jahidin Siringo-ringo. tetapi dalam hal tertentu seperti kegiatan sosialisasi dan pembuatan spanduk melibatkan seksi lain dan Bagian Tata Usaha. tahun 2004 3. Leaflet dimaksudkan sebagai sarana komunikasi untuk memperkenalkan Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah sebagai institusi pemerintahan dan menyebarluaskan informasi atau peraturan ketenagakerjaan. Leaflet yang berisi informasi ketenagakerjaan selain disebarkan di lingkungan instansi pemerintah seperti Bappeda. Dinas Perhubungan. Pada umumnya Diseminasi informasi ketenagakerjaan dilaksanakan sendiri oleh Seksi tersebut. Kepala Seksi Penyaluran dan Penempatan Tenaga Kerja. sejumlah leaflet dicetak dan diterbitkan oleh Seksi Informasi Ketenagakerjaan. Trafiking (Perdagangan) Perempuan dan Anak 9. Kesepakatan Kerjasama Pembangunan Ketenagakerjaan Lintas Kabupaten Kota Se Kalimantan Tengah. 1 . juga diberikan secara selektif kepada pencari kerja atau petugas pemerintahan yang memintanya. Lembar informasi ketenagakerjaan yang dijilid secara sederhana dengan tampilan sebagai buletin dapat bermanfaat bagi stakeholder atau pengguna karena isinya memuat informasi yang menggambarkan perkembangan pencari kerja. Leaflet tentang TKI tidak disampaikan kepada calon TKI maupun Perusahaan Jasa TKI/Pelaksana Penempatan TKI Swata.

Selama ini penggunaan internet di Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah terbatas hanya untuk mencari ( browsing) dan mengirim (e-mail) informasi. Penggunaan cara manual dengan surat merupakan cara pengiriman yang utama. Laporan ini terbit tiap bulan merupakan ´salah satu kegiatan Proyek Pengembangan Perluasan Kesempatan Kerja (PPKK) Provinsi Kalimantan Tengah Tahun Anggaran 2007´ Pembuatannya dikoordinasikan oleh Sub Dinas Penempatan Tenaga Kerja dan Perluasan Kerja.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Penyebaran informasi ketenagakerjaan melalui media massa khususnya siaran televisi dilakukan oleh Kepala Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah. Mahmud Fauzi dan Budi Ahmad Yani. mengingat penggunaannya masih baru dan lebih banyak dimaksudkan sebagai sarana pembelajaran teknologi informasi. Medan Tengah. tetapi juga bagi perusahaan dan pemerintah sebagai penyedia kerja yang bertanggun jawab terhadap keselamatan dan kesehatan pekerjanya. diterbitkan pula Laporan Berita Pasar Kerja berupa himpunan data yang berasal dari laporan Informasi Pasar Kerja (IPK) dari seluruh kantor Dinas Tenaga Kerja Kota dan Kabupaten se -Kalimantan Tengah. Kedua fungsi internet itu belum dilaksanakan secara maksimal. Kampanye K3 ini penting bukan saja untuk setiap pekerja.nakertrans. Di samping penyebaran informasi ketenagakerjaan sebagaimana dimuat dalam cakupan kegiatan Seksi Informasi Ketenagakerjaan itu. di acara itu dikemukakan mengenai perkembangan dan masalah ketenagakerjaan di daerah ini Acara siaran televisi ini dianggap penting sebagai sarana komunikasi untuk menjangkau masyarakat di wilayah yang amat luas seperti Kalimantan Tengah. Kegiatan diseminasi informasi ketenagakerjaan melalui online ditempakan pada satu ruangan dengan Seksi Penyaluran dan Penempatan Tenaga Kerja. Kampanye K3 yang dilakukan secara terus menerus diharapkan dapat menjadikan K3 sebagai budaya kerja sehingga para pekerja terhindar dari kecelakaan kerja. gedung-gedung dan tempat kerja lainnya. Pegawai yang dapat mengoperasikan internet sebagai sarana dalam kegiatan diseminasi informasi ketenagakerjaan online telah siap sejak Mei 2007. go id di Jakarta. Untuk mengirim sebagian data dan informasi ketenagakerjaan ke Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi di Jakarta dikirim melalui e mail. Pada saat penelitian ini dilakukan internet keduanya untuk sementara waktu tidak bisa digunakan karena hambatan keuangan. internet tidak digunakan sebagai satu-satunya 89 . Internet bisa dioperasikan mulai bulan Mei sampai dengan Desember 2007. Situs (website) Dinas Tenaga Kerja Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah sendiri belum ada. Sumber daya manusia (SDM) yang menangani internet ini dilaksanakan oleh dua orang operator. Penggunaan browsing untuk mencari data dan informasi ketenagakerjaan masih terbatas sebagai pelengkap. Wawancara dengan topik ketenagakerjaan dilaksanakan secara periodik ( 3 bulanan ) di TVRI. Menurut Fauzi ´ hal ini disebabkan belum ada (pencairan) dana tahun anggaran 2008 untuk membayar telepon´. Sebenarnya masalah internet ini tidak banyak berpengaruh terhadap kegiatan pelaporan ketenagakerjaan karena bukan andalan utama untuk mengirim data dan informasi ketenagakerjaan. Karena itu. Menurut kedua operator. Sedangkan untuk mendapatkan informasi dan peraturan ketenagakerjaan terbaru sebagian dilakukan melalui browsing ke situs www. Sosialiasi ini yang dimaksudkan untuk mengingatkan para pekerja agar lebih berhati-hati pada saat bekerja di bangunan-bangunan. Dalam pelatihan diberikan mengoperasikan Windows dan cara membuka situs di internet´ Sebelumnnya Maret-April 2007 komputer (Windows) dikirim dulu dan sebagai tindak lanjutnya mereka mengikuti pelatihan komputer itu. 1 . mereka ´pernah mengikuti pelatihan operator dan mengoperasikan komputer online 3 hari yang dilaksanakan oleh Depnakertrans di Jakarta Mei 2007. Fasilitas yang mendukung aktivitas ini tersedia dua komputer yang tersambung (link) dengan jaringan internet milik Telkom.

diseminasi i formasi n ketenagakerjaan dilaksanakan petugas secara langsung kepada pencari kerja melalui loket dari ruangan pelayanan kartu kuning bersamaan dengan proses pembuatan kartu tersebut. Medan sarana pengiriman dan pencarian data dan informasi ketenagakerjaan. Kebijakan pembebasan biaya pembuatan kartu kuning dengan jelas tertera pada pengumuman yang ditempel di samping loket. Fotocopy KTP yang masih berlaku 1 lembar. sering terjadi kekeliruan karena yang diserahkan pencari kerja hanya ijazah terakhir. Pada Dinas Tenaga Kerja.000. 1 .. Kebutuhan informasi mendesak dari tiap pencari kerja pada dasarnya sama. Menurut Kepala Seksi Pelatihan dan Produktivitas Tenaga Kerja.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.. Menurut petugas kartu kuning.. Semua petugas bekerja berdasarkan petunjuk dan prosedur tetap pembuatan kartu kuning dan mendapatkan bimbingan dari Kepala Seksinya. 3. Peranan loket tidak hanya untuk memasukkan berkas dan menyerahkan kartu kuning. Setelah berkas selesai diproses. seperti persyaratan pembuatan kartu kuning. Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Pemerintah Kota Palangkaraya.bertentangan dengan ILO dan pencaker masih penganggur.000-an. prosedur dan syarat melamar perusahaan dan instansi pemerintah yang menawa rkan pekerjaan. ³keluhan pencaker tidak ada. Meskipun persyaratan ijazah yang dicantumkan dalam pengumuman cukup jelas. informasi lowongan kerja. pencaker sering hanya membawa ijazah terakhir´ Ketidaklengkapan berkas fotocopy ijazah ini timbul karena pencari kerja baru mengetahui informasi persyaratan yang sebenarnya ketika membacanya di samping loket. Lilik. Kedua kebutuhan ini menyatu sehingga sukar untuk dipisahkan. kebutuhan akan mendapatkan pekerjaan secara implisit di dalamnya ada kebutuhan informasi ketenagakerjaan atau sebaliknya. walaupun secara ekonomi cukup banyak punya mobil dan motor´.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. yaitu informasi yang berkaitan dengan pekerjaan yang dilamarnya. Demikian pula hubungan dengan stakeholder ketenagakerjaan di Palangkaraya. Kalimantan Tengah belum memakai fasilitas jaringan Local Area Network (LAN). Sebagai langkah awal tiap pencari kerja diminta untuk mengisi formulir terlebih dahulu dan menyerahkan dokumen sesuai dengan persyaratan seperti tercantum pada pengumuman yang ditempel di samping loket. Pasfoto ukuran 3x4 cm 3 lembar. Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Pemerintah Kota Palangkaraya Masalah pengangguran yang berkaitan erat dengan pencari kerja merupakan salah satu aspek ketenagakerjaan yang mendapatkan prioritas dalam program Dinas Tenaga Kerja baik di provinsi maupun di kota dan kabupaten. Fotocopy ijazah SD s/d terakhir 1 lembar. Dengan mendapatkan informasi ketenagakerjaan pencari kerja mengetahui apa yang seharusnya dilakukan untuk mempersiapkan dan melamar pekerjaan secara lengkap Ketika mengurus karu kuning pencari kerja sekaligus memperoleh informai ketenagakerjaan. Dinas Tenaga Kerja. 90 . Komunikasi data dengan menggunakan LAN masih merupakan tantangan bagi Din Tenaga Kerja Provinsi dan as Dinas Tenaga Kerja kota dan kabupaten se-Kalimantan Tengah.per orang masuk kas Daerah. Petugas adalah pegawai dari Seksi Penempatan dan Perluasan Kerja yan ditempatkan di g ruangan pembuatan kartu kuning. Darwono ³ jumlah pencaker tahun 2007 terdaftar 7. 2. Pengurusan kartu kuning di kota Palangkaraya mulai tanggal 1 Januari 2007 tidak dipungut biaya. Ruangan berukuran 3 x 4 meter ini digunakan untuk memproses dokumen pembuatan kartu kuning dan menyerahkan hasilnya kepada pencari kerja. Selama 2002-2006 dipungut Rp 10. Persyaratan pembuatan kartu kuning (AK1) dalam pengumuman 29 November 2006 adalah : 1. 2. Kenyataannya. petugas kemudian memberikan kartu kuning melalui loket. tetapi di sana juga terjadi komunikasi antara petugas dengan pembuat kartu kuning yang tidak lain adalah pencari kerja.

Veronika (23 tahun) ´mau menanyakan kepada petugas yang sibuk tidak enak. Dinas Tenaga Kerja. menurut Kepala BLK Drs Anden ´putra daerah tidak mau dilatih dibengkel / bubut. Peranan pengumuman ini sangat bermanfaat dalam diseminasi informasi lowongan pekerjaan. Akibatnya. 1 . alamat dan pendidikan pencari kerja yang telah terdaftar di Buku Daftar Isian Pencari Kerja. Kedua pekerjaan itu dilakukan oleh petugas yang sama. Kebanyakan informasi yang disampaikan mengenai persyaratan kartu kuning. Kebanyakan pencari kerja mengetahui adanya lowongan pekerjaan yang ditawarkan instansi dan perusahaan dari papan pengumuman tersebut. Menurut seorang pencari kerja yang mengurus kartu kuning. tidak ada keleluasaan bagi pencari kerja untuk bertanya guna mendapatkan informasi yang lengkap. Pencari kerja yang sedang mengurus kartu kuning dapat mendengarkan suara petugas melalui loket yang sama. Informasi mengenai lowongan pekerjaan secara lengkap dapat dibaca pada pengumuman dan karena itu tidak disampaikan lagi. ³informasi lowongan kerja diperoleh bukan dari Dinas Tenaga Kerja. Hal ini menggambarkan bahwa kebutuhan informasi ketenagakerjaan tidak hanya sebatas persyaratan pembuatan kartu kuning. Namun. Dengan seizin petugas.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Di samping diseminasi informasi langsung melalui loket kartu kuning. Medan Oleh karena itu. Keluhan yang sama dilontarkan oleh Nia (24 tahun). Secara implisit di dalam ³Program Peningkatan dan Produktivitas Tenaga Kerja´ terdapat informasi. tapi dari teman-teman´ Menurut keduanya diharapkan Dinas ini juga memberikan informasi lowongan kerja dan loket pelayanan kartu kuning tidak di belakang kantor. tetapi ditempatkan di depan kantor supaya mudah diketahui. petugas memberikan informasi´ kata Lilik. ´Pencaker bertanya. Kadangkala beberapa karyawan perusahaan asuransi jiwa yang menempelkan pengumuman lowongan pekerjaan turut memberikan informasi kepada pelamar yang berminat lewat loket. Pada waktu yang sama petugas memberikan informasi dan juga menyeleksi berkas pembuatan kartu AK1. Komunikasi tidak dapat berlangsung lama sebab petugas amat sibuk melayani pencari kerja yang antre di depan loket. kegiatan diseminasi informasi dilakukan secara langsung atau tatap muka (face to face communication) dengan pencari kerja yang datang mendaftarkan diri di loket pembuatan kartu kuning. Para pencari kerja mendapat informasi dari petugas secara langsung atau mengetahuinya dari pengumuman yang ada di loket pelayanan kartu kuning. perlu petugas loket informasi yang fokus memberikan informasi´ Untuk mendapatkan informasi ketenagakerjaan secara detail melalui loket tidak dimungkinkan karena tidak adanya petugas dan loket informasi. petugas wanita yang melayani pembuatan kartu kuning. Berdasarkan data pencari kerja itu perusahaan akan menawarkan informasi pekerjaan sebagai SPG melalui surat ke alamat masing-masing. karyawan perusahan itu menyampaikan persyaratan dan prosedur untuk mengisi lowongan yang tersedia diperusahaannya secara detail. kecuali ditanya oleh pencari kerja. tetapi lebih esensial mengenai informasi ketersediaan lowongan pekerjaan. Perusahaan yang demikian umumnya berasal dari perusahaan yang membutuhkan banyak karyawan sebagai agent atau tenaga survey. 91 . Walaupun program pelatihan BLK cukup bermanfaat bagi tenaga kerja. Komunikasi tatap muka terjadi antara petugas yang berada di dalam ruangan dengan pencari kerja yang berdiri di depan loket. Dalam pelayanan ini tidak ada petugas dan loket khusus yang menyampaikan informasi ketenagakerjaan.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Palangkaraya melaksanakan kegiatan pelatihan yang bermaksud meningkatkan kualitas tenaga kerja melalui Balai Latihan Kerja (BLK). pengetahuan dan motivasi yang diberikan kepada peserta pelatihan. ada pula karyawan dari perusahaan swasta yang aktif mencatat nama. Kegiatan pemberdayaan (empowering) tenaga kerja dan masyarakat melalui pelatihan ini secara tidak langsung melakukan diseminasi informasi dan motivasi kepada pesertanya. orientasinya ke PNS´ Padahal peserta bukan saja mendapat informasi dan pengetahuan mengenai pelatihan yang diikutinya.

Apabila dilihat dari isi (pesan) di dalam leaflet. Sebagaimana yang tercantum di dalam buletin Lembar Informasi Ketenagakerjaan terdapat bab yang menerangkan situasi umum dan situasi khusus tentang informasi ketenagakerjaan informasi. Jumlah kumulatif pencari kerja 2. Pencari kerja belum ditempatkan 6. Pencari kerja yang ditempatkan 4. tujuan. Informasi tentang instansi Dinas Tenaga Kerja 92 .April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. 3. kebijakan ketenagakerjaan Dinas Tenaga Kerja Kalimantan Te ngah. Apabila dilihat dari isi publikasinya dapat dikatakan buletin ini merupakan produk unggulan yang dikeluarkan oleh Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah. misi. yaitu : 1. 2008a :18). dan penempatan tenaga kerja selama bulan itu. Sebagai sarana komunikasi yang lebih bersifat intern. Informasi di dalam leaflet kebanyakan memuat informasi peraturan dan permasalahan ketenagakerjaan secara nasional. PDRB dan pendapatan regional per kapita. pasar kerja bulanan yang memuat tentang pencari kerja terdaftar. (3) hubungan industrial dan pengawasan ketenagakerjaan antara lain mengenai upah minimum provinsi. Pendaftaran pencari kerja 3. Di dalam bab situasi khusus tercantum mengenai (1) pembinaan dan penempatan tenaga kerja. dan visi. Pencari kerja yang dihapuskan 5. Lowongan kerja yang belum dipenuhi Sarana diseminasi informasi ketenagakerjaan yang lebih ringkas dan praktis diterbitkan dalam bentuk leaflet. Secara lebih rinci informasi yang dimuat di dalam terbitan tersebut. ada juga leaflet yang bermaksud memperkenalkan visi dan misi Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah sebagai instansi pemerintah di bidang ketenagakerjaan.Selain itu. Dalam bab situasi umum diinformasikan tentang keadaan geografi dan demografi.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. 1 . Informasi yang Disampaikan Dinas Tenaga Kerja Provinsi dan Kota Salah satu penerbitan yang dimaksudkan sebagai sarana diseminasi informasi ketenagakerjaan untuk stakeholders adalah Lembar Informasi Ketenagakerjaan. Lowongan yang dipenuhi 8. penempatan/pengisian lowongan kerja dan (2) pelatihan dan produktivitas tenaga kerja. Seperti dalam terbitan Berita Pasar Kerja periode bulan Desember 2007 terdapat informasi tentang jumlah pencari kerja yang terdaftar. program. Medan tetapi juga memperoleh sertifikat dan kesempatan penempatan sesuai dengan jenis pelatihan yang pernah diikutinya di BLK. Lowongan permintaan tenaga kerja 7. penghapusan pencari kerja. Informasi yang disampaikan umumnya mengenai informasi ketenagakerjaan yang dapat dipergunakan sebagai bahan masukan pengambilan kebijakan ketenagakerjaan di Kalimantan Tengah. setidaknya dapat dikelompokan menjadi tiga jenis informasi ketenagakerjaan. Proses pembuatannya tiap dimulai dari Seksi Informasi Ketenagakerjaan dilanjutkan ke Sub Dinas Perencanaan dan Program hingga ditandatangani Kepala Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah sebagai penanggung jawab terakhir. ´Lembar Informasi Ketenagakerjaan ini disusun sebagai sarana penyebaran informasi ketenagakerjaan dan keberhasilan bidang ketenagakerjaan yang dilaksanakan Dinas Tenaga Kerja Provisi Kalimantan Tengah´ (Dinas Tenaga Kera j Pemprov Kalteng. lowongan yang terdaftar. lowongan kerja terdaftar/dihapuskan. Terbitan lain dari Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah berupa laporan Berita Pasar Kerja yang memuat informasi pasar kerja (IPK) bulanan. yakni : 1. publikasi ini didistribusikan kepada seluruh Dinas Tenaga Kerja di kabupaten/kota seKalimantan Tengah.

Demikan pula wawancara pada siaran TVRI mengetengahkan informasi mengenai perkembangan dan masalah ketenagakerjaan yang ditujukan kepada masyarakat luas. pengangguran. 3. Diseminasi informasi ketenagakerjaan melalui leaflet yang diterbitkan Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah tentang peraturan ketenagakerjaan se baiknya tidak 93 . pelatihan di BLK secara implisit menyampaikan pengetahuan dan ketrampilan kepada peserta yang mengikutinya. Diseminasi informasi mengenai persyaratan kartu tersebut disampaikan petugas kepada pencari kerja secara langsung (tatap muka) bersamaan dengan proses pembuatan kartu kuning. Kecuali itu. Sejauh ini hanya diseminasi informasi K3 melalui spanduk yang ditujukan kepada tenaga kerja yang bekerja di kota-kota. Informasi yang disampaikan petugas secara langsung di loket Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Pemerintah Kota Palangkaraya kebanyakan mengenai persyaratan pembuatan kartu kuning kepada pencari kerja yang datang sendiri di instansi tersebut. Diseminasi informasi ketenagakerjaan pada Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah belum banyak disampaikan kepada khalayak pencari kerja secara langsung. Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Palangkaraya melalui loket pelayanan pembuatan kartu kuning. Sebagaimana telah dikemukakan. 1 .April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. spanduk kampanye K3 tentu isinya mengenai keselamatan dan kesehatan kerja untuk pekerja. Selain itu. khususnya pencari kerja melalui pengumuman di loket 3. diseminasi informasi ketenagakerjaan melalui spanduk dimaksudkan untuk memberitahukan pentingnya K3 bagi para pekerja. dan penyebaran informasi ketenagakerjaan melalui online tidak berfungsi. Saran Dengan memperhatikan kesimpulan tersebut dapat disampaikan beberapa saran berikut : 1. Kesimpulan Berdasarkan uraian dalam pembahasan sebelumnya dapat ditarik beberapa butir kesimpulan berikut : 1. Informasi tentang peraturan ketenagakerjaan. Medan 2. serta penghapusan kekerasan terhadap perempuan. diseminasi informasi lowongan pekerjaan disampaikan kepada masyarakat. Oleh karena itu. Diseminasi informasi ketenagakerjaan bagi pencari kerja secara langsung sebagian besar dilaksanakan pada Dinas Tenaga Kerja. Umumnya kebutuhan informasi akan peraturan ketenagakerjaan bagi pencari kerja belum dapat dipenuhi oleh kedua Dinas Tenaga Kerja itu. Informasi lowongan pekerjaan yang tersedia merupakan informasi yang cukup banyak didiseminasikan melalui pengumuman di loket pembuatan kartu AK1. jumlah pencari kerja dan lowongan kerja. Informasi ketenagakerjaan yang disampaikan Dinas Tenaga Kerja. Informasi tentang TKI dan perdagangan perempuan dan anak.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. 2. Diseminasi informasi ketenagakerjaan melalui siaran TVRI kepada masyarakat luas masih minim. Informasi yang disampaikan Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah kebanyakan berisi informasi ketenagakerjaan yang bersifat umum seperti informasi peraturan ketenagakerjaan. Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Palangkaraya sebagian besar menjawab kebutuhan informasi mengenai persyaratan pembuatan kartu kuning dan informasi lowongan pekerjaan dari sebagian kecil instansi pemerintah dan perusahaan swasta. sedangkan kebanyakan penerbitan bulletin dan leaflet dikirim kepada Dinas Tenaga Kerja Kota dan Kabupaten di provinsi ini.

t. tetapi juga disediakan untuk pencari kerja melalui loket pelayanan kartu kuning di Dinas Kota/KabupatenseKalimantan Tengah.2008. Ibnu . Pusat Pelayanan Informasi. Hamad.1963. Palangkaraya ________. 2. tanggal 11-12-2007 Hamidi. Kamus Inggris-Indonesia. Kerangka Dasar Sistem Informasi Manajemen. Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Palangkaraya agar memanfaatkan loket pelayanan kartu kuning secara maksimal untuk diseminasi informasi ketenagakerjaan. 2002 Visi dan Misi Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah. sebaiknya Dinas Tenaga Kerja.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. DAFTAR PUSTAKA Davis. Bulan Desember 2007.t.. RAN-PKTP. di Jakarta. Echols. Fiske. Dinas Tenaga Kerja. Informasi ketenagakerjaan yang berkaitan dengan lowongan pekerjaan sebaiknya tidak bersifat umum.2007.1993.t. Palangkaraya ________. Dinamika Komunikasi. John. tetapi diupayakan dari seluruh instansi pemerintah. Deli Publising dan Penerbit Andi. Malang. Harold D. PT Gramedia Effendy. Pemerintah Kota Palangkaraya. Cultural and Communication Studies : Sebuah Pengantar Paling Komprehensif. 1 . t. Menggunakan Fasilitas Internet . PT Pustaka Binaman Presindo. Transparansi dan Keterbukaan Informasi Publik Undang-Undang Republik Indonesia Nonor 14 Tahun 2008 Tentang Keterbukaan Informasi Publik. Bandung. ´The Structure and Function of Communication in Society´. Jakarta. Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat. Jakarta.2008. Palangkaraya. perlu adanya petugas dan loket informasi ketenagakerjaan. John M dan Hassan Shadily. Dinas Tenaga Kerja.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. 3. Terjemahan Yosal Iriantara dan Idi Subandy Ibrahim. M. Pembahasan dan tanggapan(lisan) terhadap ³Studi Diseminasi Informasi Peringatan Dini (Early Warning System) Untuk Permasalahan Lingkungan dan Bencana Alam´ Seminar.. Yogyakarta. Informasi Sosial Budaya. Yogyakarta. Bagian I. Untuk itu. tetapi lebih khusus dan detail sehingga dapat dimanfaatkan oleh pencari kerja.1979. Untuk memenuhi kebutuhan informasi khalayak pencari kerja. Palangkaraya ________. Penerbit PT Remaja Rosdakarya. Medan hanya dikirimkan kepada Dinas Tenaga Kerja Kabupaten/Kota. Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Palangkaraya mendiseminasikan peraturan ketenagakerjaan dan lowongan kerja yang lebih luas melalui pengumuman yang terdapat di loket. Berita Pasar Kerja Bulan Desember 2007. t.t. Rencana Aksi Nasional Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan. Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah.. Jakarta. Mass Communication. Lembar Informasi Ketenagakerjaan. Leaflet. Informasi lowongan kerja agar tidak didominasi perusahaan swasta. Departemen Komunikasi dan Informatika. Gordon B. Palangkaraya ________. UMM Press Jasmadi. Leaflet. Metode Penelitian dan Teori Komunikasi. Penggunaan online melalui internet perlu difungsikan kembali dan di masa yang akan datang perlu dijajaki pemasangan jaringan Local Area Network.1995. 2007. Urbana. Lembaga Informasi Nasional (LIN). Jakarta 94 . Onong Uchjana. Palangkaraya Dinas Tenaga Kerja. 2004. 2008. Trafiking (Perdagangan) Perempuan dan Anak . University of Illinois Press. Program Peningkatan Kualitas dan Produktivitas Tenaga Kerja. 2006. dalam Wilbur Schramm. Jalasustra. Leaflet. Laswell.2001.

Jakarta. 2005. 2005.go. Kompas. tanggal 25-4-2008) 95 . 2004. Menjadi TKI Meningkatkan Kesejahteraan. Penempatan Pencari Kerja dan Penghapusan Pencari Kerja Menurut Kelompok Pendidikan Tahun 2006 dan Trahun 2007 .asp.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Inc Sekretariat Jenderal MPR RI. LKIS Sendjaja. 13 Maret. Sasa Djuarsa.go. Claude dan Warren Weaver. Jakarta.t. ³Information Theory´ dalam A First Look At Communication Theory. New York. 1998. Mewirausahakan Birokrasi Reinventing Government.i.kalteng bps. 2008.t. Leaflet. Lowongan Kerja. 2007. David dan Ted Gaebler. Palangkaraya ________. PT Pustaka Binaman Presindo. Palangkaraya ________. tanggal 20-3-2008) (http://www. 1 . 1997. Universitas Terbuka Shannon. 2004. 2004. Leaflet. Leaflet. t. Leaflet. CV Nuansa Aulia Internet : (http://www. Teras A. Lembaran.id?web/id/KER01/profil/kalteng/tanggal 25-4-2008) (http://www. Prosedur TKI Bekerja ke Luar Negeri. Himpunan PeundangUndangan Republik Indonesia Tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia Di Luar Negeri. Osborne.id/ viewarticle. Bandung. ´Gubernur Kalteng Dukung DPD Kembangkan Desa dengan Kearifan Lokal´. Pengantar Komunikasi. Leaflet. t.goid.Third Edition. 2008. Palangkaraya. Palangkaraya ________. Palangkaraya ________.. The McGraw-Hill Companies.b. Leaflet. Tim Redaksi Nuansa Aulia. Medan Nerang.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Palangkaraya ________. Penelitian Komunikasi Kualitatif.kalteng. 1993. 2006. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Standarisasi dan Sertifikasi Tenaga Kerja. Sub Dinas Perencanaan dan Program. Tata Cara Permintaan Jaminan Kecelakaan Kerja. Rekapitulasi Pendaftaran Pencari Kerja. Persyaratan Permohonan Izin Pemutusan Hubungan Kerja dan Prosedur Permohonan Banding. Pawito. Yogyakarta. dkk. Jakarta Seksi Informasi Ketenagakerjaan Sub Dinas Perencanaan dan Program. Palangkaraya. Kesepakatan Kerjasama Pembangunan Ketenagakerjaan Lintas Kabupaten Kota Se-Kalimantan Tengah.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful