JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.

1 - April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika, Medan

JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN

I.

Volume 10 No. 1 April 2009

SISTEM INFORMASI DI PEMERINTAHAN KABUPATEN ACEH TENGAH Oleh : Ali Murtadha M Arifin1

ABSTRAKSI Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pelaksanaan sistem penyampaian informasi di Pemerintahan Kabupaten Aceh Tengah setelah diberlakukannya otonomi daerah di Kabupaten tersebut karena penyampaian informasi sebelumnya dilakukan oleh juru penerangan dibawah Pemerintahan Departemen Penerangan disamping itu juga tu juan penelitian ini adalah sebagai penambah wawasan tentang perubahan sistem informasi tersebut. Untuk mencapai tujuan tersebut penelitian ini menggunakan metode kualitatif yaitu melakukan wawancara mendalam dengan Kasub Bagian Humas, Kepala Informasi dan Komunikasi serta karyawan yang mempunyai tugas dan fungsi sebagai penyiar informasi di Kabupaten Aceh Tengah. Adapun hasil penelitian dapat digambarkan bahwa otonomi daerah dapat merubah sistem informasi di Daerah Kabupaten Aceh Tengah, sistem informasi juga mempengaruhi kelanjutan pertumbuhan pembangunan, maka membangun informasi juga perlu, sehingga sistem informasi pesan pemerintah di kemas dan disiarkan dengan melalui media cetak maupun elektronik sehingga dapat diperoleh / dinikmati oleh publik dan sistem informasi pada masa Orde Baru berbeda dengan sistem informasi di era Orde Baru. Pada masa Orde Baru sistem informasi ditentukan oleh Pemerintah Pusat sedangkan pada otonomi daerah sistem informasi ditentukan oleh Pemerintah setempat (Daerah).

1

Penulis adalah Peneliti di BBPPKI Wilayah I Medan.

1

JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. 1 - April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika, Medan

Kata Kunci : Sistem informasi, Pemerintahan Kab. Aceh Tengah

A. Latar Belakang Masalah Di era otonomi daerah saat ini, sistem Pemerintahan Daerah sudah berbeda dibandingkan dengan sistem pemerintah diera orde baru. Kalau diera orde baru, organisasi Pemerintah dan sistem informasinya ditentukan oleh pemerintah pusat, di era otonomi daerah ini pembentukan instansi pemerintah daerah termasuk sistem informasinya ditentukan oleh pemerintah daerah setempat. Oleh karena itu sistem informasi pada setiap daerah bisa berbeda sesuai dengan perkembangan yang terjadi / kebutuhan di daerah masing-masing. Pada awal otonomi daerah, Pemerintah di daerah bisa membentuk dinas, Badan dan Lembaga tehnis sesuai dengan kebutuhan daerah setempat. Adanya ketentuan ini membuat berbagai daerah membentuk dinas secara berlebihan untuk menampung sebanyak mungkin pejabat struktural. Ketentuan mengenai pembentukan dinas dan lembaga tehnis tersebut kemudian disusul Peraturan Baru yang memberikan batasan jumlah dinas yang boleh dibentuk di Pemerintah Daerah. Daerah yang sudah terlanjur membentuk dinas dan lembaga teknis daerah melebihi ketentuan akan segera menyesuaikan dengan ketentuan baru dalam pembentukan Dinas dan lembaga teknis. Adanya kebebasan Pemerintah daerah untuk membentuk dinas dan lembaga tehnis di daerah maka bisa terjadi adanya perbedaan nama lembaga/dinas yang menangani informasi. Bahkan penanganan informasi di suatu daerah cukup hanya dimasukkan dalam suatu seksi/bagian dari dinas dan setiap daeah menggunakan istilah yang berbeda seperti : Hubungan Masyarakat (Humas) Informasi Komunikasi (Infokom), BadanInformasi Komunikasi Telematika (BIKT). Dengan berbedanya dinas yang berkaitan dengan informasi, maka dimungkinkan terjadinya perbedaan sistem informasi pemerintahan antara satu daerah dengan daerah-daeah lain. Saat ini sistem inforasi di pemerintahan masih berkembang dan mencari model yang tepat untuk kelancaran pelaksanaan pembangunan yang sedang dilaksanakan. Adanya dua organisasi di Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah yang secara khusus menangani informasi yaitu Kantor Informasi dan Komunikasi Daerah dan Sub Bagian Hubungan Masyrakat. Kantor Informasi dan Komunikasi Daerah merupakan lembaga hasil peleburan Kantor Departemen Penerangan semasa orde baru sebelum otonomi daerah. Hampir seluruh karyawan Kantor Informasi dan Komunikasi Daerah adalah mantan pegawai Kantor Departemen Penerangan Kabupaten Aceh Tengah Perkantoran yang dipergunakan, sebelumnya juga pernah dipergunakan sebagai Kantor Departemen Penerangan Kabupaten Aceh Tengah Kepala Kantor Informasi dan Komunikasi berada pada eselon III. Sub Bagian Humas juga sudah ada sebelum era otonomi daerah. Struktur organisasinya berada di bagian Sekretariat Daerah. Sub Bagian Humas ini berada dibawah Bagian Humas, Pengolah Data Elektronik (PDE) dan Santel, yang berada dibawah Asisten Umum. Sebagai sub bagian di Sekretariat Daerah, Sub Bagian Humas hanya menempati satu ruangan di Kantor Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah Kepala Sub Bagian Humas berada pada eselon IV. Adanya dua lembaga yang menangani informasi ini merupakan salah satu unsur sistim informasi di Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah. Kedua lembaga itu bisa secara bersama-sama menjalankan tugasnya dalam diseminasi informasi pada masyarakat. Sistem informasi pemerintah ini mempunyai peran yang penting untuk mensukseskan pembangunan di suatu daerah. Sistem informasi yang baik, bisa menciptakan kesatuan gerak dan langkah antar lembaga/dinas untuk mencapai tujuan. Jika sistem informasi antar lembaga/dinas tidak berjalan baik maka dimungkinkan terjadinya tumpang tindih kegiatan, bahkan bisa terjadi kegiatan yang saling bertentangan. Sistem informasi yang baik 2

JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. 1 - April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika, Medan

memungkinkan program-program dan kegiatan yang dilakukan pemerintah bisa direspon oleh masyrakat sehingga bisa meningkatkan partisipasi masyarakat. B. Permasalahan Berdasarkan latar belakang diatas, dirumuskan permasalahan penelitian yaitu bagaimana pelaksanaan sistem informasi di Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah.

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan sistem informasi di Kabupaten Aceh Tengah. Dengan diketahuinya pelaksanaan sistem informasi di daerah tersebut dapat menambah pengetahuan mengenai sistem informasi di Kabupaten Aceh Tengah. Hasil penelitian ini juga bisa dimanfaatkan sebagai pembanding sistem informasi di berbagai daerah yang memiliki sistem informasi yang berbeda. D. Landasan Teori 1. Pengertian Sistem Informasi Berbagai pengertian tentang sistem informasi dikemukakan dalam berbagai buku untuk menggambarkan pengertian mengenai sistem informasi diantaranya ditulis oleh Alter (1992) bahwa Sistem informasi adalah kombinasi antara prosedur kerja, informasi, orang dan tehnologi informasi yang diorganisasikan untuk mencapai tujuan dalam sebuah organisasi. Bodnar dan Hopwood (1993)mendifinisikan sistem informasi adalah kumpulan perangkat keras dan peangkat lunak yang dirancang untuk mentransformasikan data ke dalam bentuk informasi yang berguna. Gelinas, Oram dan Wiggins (1990) mendifinisikan sistem informasi adalah suatu sistem buatan manusia yang secara umum terdiri atas sekumpulan komponen berbasis komputer dan manual yang dibuat untuk menghimpun, menyimpan dan mengelola data serta menyediakan informasi keluaran kepada pemakai. Hall (2001) mendifinisikan sistem informasi sebagai sebuah rangkaian prosedur formal dimana data dikelompokkan, diproses menjadi informasi dan didistribusikan kepada pemakai. Dari berbagai difinisi tersebut dapat disimpulkan bahwa sistem informasi mencakup sejumlah komponen (manusia, tehnologi informasi dan prosedur kerja) berupa masukan (input), ada proses (data menjadi informasi) dan dimaksudkan untuk mencapai suatu sasaran atau tujuan (output).

2. Otonomi Daerah Untuk melaksanakan kebijakan desentralisasi dibentuk daerah otonom. Menurut UU No. 22 Tahun 1999, daerah otonomi merupakan ´kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas daerah tertentu berwenang mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasar aspirasi masyarakat dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indoneia´. Kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasar aspirasi masyarakat sering disebut otonomi daerah. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa daerah otonom adalah daerah yang memiliki otonomi daerah. Kaho (1987) memaparkan ciri-ciri Daerah Otonom sebagai berikut :

3

tugas dan sasaran yang akan dicapai Humas dan kantor infokom. Medan 1. Hal ini ditunjukkan dengan adanya kebijakan.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. mengolah. 2. maka pendekatan sistem merupakan cara yang tepat sebagai pemandu. Model masukan keluaran ini biasa disebut juga dengan model kotak hitam (black-box model). Pengaturan urusan-urusan tersebut masyarakat daerah perlu memiliki sumber-sumber pendapatan/keuangan sendiri. Proses Dari sisi proses di Humas dan Kantor infokom yang bisa dijadikan indikator terjadinya proses pelaksanaan sistem informasi adalah : a. 1974 : 128). Teori Sistem Setiap sistem merupakan tempat memproses. Istilah kotak hitam disini dipergunakan untuk menunjukkan bahwa isiyang terkandung di dalam satuan (unit) pemroses (transformasi) atau jelasnya sistem itu tidak diketahui. Staf yang kompeten merupakan pra sarat mutlak dalam pelaksanaan tugas humas dan infokom. jadi seperti kotak hitam (Tatang M. 4. Arifin. c. yang bisa dijadikan indikator untuk mengetahui masukan pelaksanaan sistem informasi di humas dan Kantor infokom adalah : a. Sumberdaya yang tersedia dan siap. dalam arti kepemimpinan yang kuat dalam mengkoordinasikan. Input Dari sisi masukan (input). 2002 : 38). 3. atau menstransformasikan bahan-bahan yang disebut masukan (input) menjadi suatu hasil karya yang bisa disebut keluaran (output) (Shrode dan Voich. Sumberdaya sangat strategis bagi keberhasilan pelaksanaan tugas humas dan infokom. b. Memiliki tugas dan sasaran yang jelas. menggerakkan 4 . Konsep dasarnya : Masukan Proses Keluaran Untuk menilai pelaksanaan sistem informasi di Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah. Adanya urusan-urusan tertentu yang diserahkan oleh pemerintah pusat atau daerah tingkat atas kepada daerah untuk diatur dan diurusnya dalam batas-batas wilayahnya. Pelaksanaan proses tugas penyampaian informasi ditandai oleh : Kepemimpinan lembaga yang kuat. Adanya alat-alat perlengkapan atau organ-organ atau apatur sendiri. sejauh mana kesiapan sumberdaya baik sumberdaya manusia (yang mencakup jumlah dan kualitas) maupun sumbrdaya selebihnya seperti keuangan. Model kotak hitam itu digambarkan atau dilukiskan orang-orang bermacam-macam. 2. Model adalah gambaran mengenai sesuatu realitas untuk menggambarkan bagaimana suatu itu tampaknya atau bagaimana bekerjanya guna memudahkan memahami dan atau mengkajinya. kemampuan melaksanakan tugas. 3.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Proses transformasi sistem ini sering dilukiskan orang dengan mempergunakan model masukan-keluaran (inputoutput model). dan kedisiplinan dalam melaksanakan tugas. peralatan perlengkapan dan sebagainya. 1. Kompetensi ini dapat ditunjukkan dengan kesesuaian tingkat dan latar belakang pendidikan. 1 . Istilah kotak hitam disini dipergunakan untuk memudahkan memahami dan atau mengkajinya. mengubah. Staf yang kompeten dan komitmen tinggi. Pengaturan dan pengurusan urusan-urusan tersebut dilakukan atas inisiatif sendiri dan didasarkan pada kebijaksanaan sendiri pula.

Metode Penelitian 1. 3. Jadi analisa data dilakukan bersamaan dengan pengumpulan data. infokom dan satuan unit kerja di pemerintahan. 2. Studi dokumentasi. c.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Dalam hal ini dapat diamati dari : keikutsertaan unit kerja di Pemda dalam berbgai aktifitas pelaksanaan tugas Humas dan Infokom. dan penarikan kesimpulan. Informan penelitian Adapun yang dijadikan informan sebagai sumber/ menghimpun data dalam penelitian ini adalah Kasub Bagian Hubungan Masyarakat. Indikator terjadinya kinerja pelaksanaan informasi tersebut.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. . E. 5. Kasub Bagian Informasi dan Informatika. 4. karyawa Humas dan Infokoma yang bertugas n sebagai ujung tombak dalam penyiaran / penyampaian informasi publik di daerah Kabupaten Aceh Tengah. 5 . Dalam pelaksanaannya. Medan sumber daya manusia dilingkungan humas dan infokom serta menyerasikan semua sumberdaya yang ada pada satu tujuan yang sama.Informasi yang disampaikan oleh humas dan infokom dapat diterima. b. yang ditandai komunikasi yang baik dan harmonis antara humas. b. dimanfaatkan instrument berupa panduan wawancara dan daftar topik. 1 . kerja sama yang didasari oleh saling pengertian dan kesediaan menerima perbedaan pendapat. penyederhanaan data pemaparan data. Partisipasi yang tinggi dari unit kerja di pemerintah daerah. Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Tehnik pengumpulan data Untuk mengumpulkan data yang diperlukan dalam penelitian ini dipergunakan dua macam tehnik yaitu : a. Output Setiap proses pelaksanaan sistem informasi selalu diharapkan adanya keluaran atau hasil berupa kinerja pelaksanaan sistem informasi. Dengan tehnik ini peneliti berusaha memperoleh data atau informasi dengan cara menggali dan mempelajari dokumen-dokumen. Sub Bagian Dokumentasi dan Informasi. Wawancara mendalam. Dengan tehnik wawancara tidak berstruktur atau mendalam (Indepth/unstructured interviewing) peneliti melakukan tanya jawab dan tukar pikiran tanpa daftar wawancara. 3. Tehnik Analisa Data Metode yang dipergunakan untuk menganalisis dalam penelitian ini metode deskriptif kualitatif dengan menggunakan model interaktif yaitu semacam siklus terkait antara kegiatan pengumpulan data. peneliti hanya dibantu dengan sejumlah topik umum tentang proses pelaksanaan sistim informasi di Kabupaten Aceh Tengah yang masih harus dikembangkan oleh pewawancara berdasar jawaban informan. arsip dan catatan yang berhubungan dengan pelaksanaan tugas humas dan Kantor Infokom. Lokasi Penelitian Penelitian dilaksanakan di Sub Bagian Humas dan Kantor Infokom Kabupaten Aceh Tengah sebagai lembaga yang secara khusus menangani informasi. Kerja sama yang kompak dan cerdas serta dinamis.

Hasil Penelitian Dalam penelitian ini. 6. pengumpulan data bulan April dan pengolahan data/laporan bulan Mei 2009. bahwa masukan sistim informasi diambil tiga indicator yaitu adanya tugas. Kualitas Masukan SDM Non Manusia 6 . Dana : dana penelitian ini dibebankan kepada anggaran rutin BBPPKI Medan. F. media informasi dan publikasi. Tugas dan sasaran Humas dan Kantor infokom diatur dalam peraturan daerah. Menyiapkan bahan evaluasi dan pelaporan kegiatan di bidang kehumasan. 3. Medan Waktu penelitian ini dijadwalkan sebagai berikut penyusunan/ persiapan rancangan penelitian bulan Februari 2009. Melakukan hubungan intern dengan satuan dan unit kerja di lingkungan Pemerintah Daerah. 2. radio.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Kualitas Masukan Sistem Informasi Sudah disinggung di atas. Sementara itu Sub Bagian Humas. 2. proses dan keluaran diperlukan sebagai cerminan realitas model dan implementasi pelaksanaan sistem informasi di Kabupaten Aceh Tengah. 5. Dengan kata lain profil kualitas pelaksanaan sistem informasi di Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah merupakan keutuhan kualitas masukan. dan sasaran yang jelas. 4. Seksi Media Informasi dan Komunikasi mempunyai tugas melaksanakan. sesuai Peraturan Daerah Kabupaten Aceh Tengah Nomor 5 Tahun 2002 Tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat Daerah. Kantor Informasi dan Komunikasi Daerah mempunyai tugas pokok membantu Bupati dalam melaksanakan sebagian urusan rumah tangga daerah di bidang informasi dan komunikasi yang meliputi pemberdayaan informasi. Urusan bidang informasi dan komunikasi tersebut meliputi informasi yang bersifat umum yang tidak berkaitan dengan informasi didalam pemerintah Kabupaten Aceh Tengah. Sesuai dengan Peraturan Daerah Kabupaten Aceh Tengah Nomor 8 Tahun 2002 Tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kantor-Kantor Daerah. Melaksanakan tugas sebagai juru bicara pemerintah daerah sesuai dengan petunjuk Bupati. Melaksanakan koordinasi/kerja sama dengan organisasi kewartawanan. Tugas dan fungsi Kantor Informasi dan Komunikasi Daerah telah diatur dalam Peraturan Daerah Kabupaten Aceh Tengah Tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Dinas-Dinas Daerah. Dalam melaksanakan tugas itu tiga seksi yang dimiliki Badan Infokom yaitu Seksi Pemberdayaan Informasi mempunyai tugas melaksanakan upaya pemberdayaan partisipasi masyarakat. proses dan keluaran sistim informasi. televisi. Melakukan hubungan timbal balik antar pemerintah daerah dengan masyarakat umum dan organisasi kemasyarakatan untuk memperjelas kebijakan dan kegiatan pemerintah daerah. Sumberdaya yang tersedia dan kompetensi sumberdaya. kualitas masukan. memantau penyelenggaraan kegiatan penyebaran informasi melalui media interaktif. Melaksanakan usaha untuk peningkatan peliputan kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh pemerintah maupun masyarakat. Su b Bagian Hubungan Masyarakat mempunyai tugas : 1.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Ketiga hal itu diuraikan berikut ini : 1. Informasi yang bersifat umum itu bisa berasal dari pemerintah pusat maupun Provinsi seperti peraturan perundangan. kelompok komunikasi sosial. pemberdayaan potensi informasi lembaga swadaya masyarakat dan lembaga informasi desa. 1 . film dan Seksi Publikasi mempunyai tugas melaksanakan kegiatan penyampaian informasi langsung.

Demikian juga Humas dan Infokom Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah yang mengimplementasikan sistim pengelolaan informasi harus memiliki harapan yang jelas. tinggi dan unggul dibidang kualitas pelayanan informasi dengan dilandasi oleh semangat ingin menjadi lebih baik. 1 . rencana pelayanan dan lain-lain sudah ada dan telah 7 . Medan Sumberdaya bukan manusia atau sekarang sering diistilahkan modal fiskal dan modal finansial (Thomas dkk. Sementara itu di lingkungan Humas.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. 3. Secara kuantitatif bangunan dan ruang yang dipergunakan Kantor Infokom sangat representatif untuk melakukan kegiatan karena gedung yang dipergunakan adalah bekas Kantor Departemen Penerangan. prasarana (infrastruktur). rencana jangka panjang. Humas dan Infokom memiliki peraturan perundangan. Diskripsi tugas pokok dan fungsi ini menjadi dasar atas rencana dan program kegiatan Humas dan Infokom. bebruat dan melakukan sesuatu secara lebih maksimal dalam melaksanaka n tugas berkat tersedianya secara memadai sejumlah sumberdaya bukan manusia. harapan yang tertuang dalam bentuk visi. efektif. Tidak jarang perangkat lunak diyakini lebih penting dari pada sumberdaya bukan manusia meski tidak sepenting sumber daya manusia (Suryadi dan Budimansah. Berdasar pengamatan. Oleh sebab itu menjadi kewajiban setiap pengelola informasi untuk menerapkan harapan dan dorongan yang jelas. Namun demikian infratruktur yang dimilikinya sangat memadai dengan tersedianya perlengkapan yang dibutuhkan dalam setiap operasional kegiatannya. Seluruh staf yang bergerak di Humas dan Kantor Infokom dapat bertindak. misi. diskripsi tugas pokok dan fungsi. computer dll) dan dana merupakan sejumlah sumberdaya bukan manusia yang perlu disediakan kare secara na signifikan dapat mempengaruhi kinerja sumberdaya manusia. Sebagai pengelola informasi resmi milik pemerintah. mesin. rencana pengembangan. terjadi hal yang sebaliknya. Kualitas Masukan Harapan Humas dan Infokom Implementasi penyebarluasan informasi selalu dikaitkan dengan harapan terjadinya peningkatan kualitas pelayanan informasi. Humas yang memiliki staf sebanyak 13 orang hanya menempati satu ruangan. 4. perlengkapan kantor dan alat bantu kegiatan yang dimiliki Kantor Infokom kelihatan kurang memadai untuk melaksanakan tugas karena peralatan yang dimiliki sebagian merupakan bekas peralatan lama yang pernah dipergunakan semasa masih ada Departemen Penerangan. Bangunan atau ruangan yang dimiliki sangat terbatas karena terbatasnya ruangan yang ada di sekretariat daerah. pasti. mantap dan tinggi serta terfokus untuk meraih kualita pelayanan informasi. Kualitas Masukan Perangkat Lunak Dalam penyelenggaraan pengelolaan informasi seperti halnya masukan sumberdaya manusia dan sumber daya bukan manusia. Harapan itu tergambar dalam rencana dan strategi (renstra) khususnya visi. Prasarana (infrastruktur). rencana dan program kegiatan. Bangunan dan ruang. Perangkat lunak yang terdapat di Humas jauh lebih mapan dibandingkan dengan perangkat lunak yang ada di Kantor Infokom karena eksistensi humas yang sudah berlangsung lama sementara eksistensi Kantor Infokom msih berjalan beberapa tahun setelah pelaksanaan otonomi daerah. mencapai maksud dan tujuannya.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. masukan perangkat lunak menunjang dan menentukan beroperasi tidaknya dan berjalan tidaknya secara efektif dan maksimal proses penyampaian informasi di masyarakat. 2000) mendukung dan menunjang atau malah mempengaruhi kiprah kinerja sumber daya manusia. perlengkapan kantor (furniture. 2004 : 243-245) Implikasinya perangkat lunak harus ada dan tersedia di bagian pengelolaan informasi secara memadai supaya implementasi penyebaran informasi kepada masyarakat dengan baik. misi dan tujuan serta sasaran masing-masing pengelola informasi.

Kondisi Proses Pengelolaan Sistem Informasi Proses pengelolaan program penyebran informasi perlu dilakukan secara bersamasama oleh tim kerja yang kompak cerdas dan dinamis. kerjsama dan sinergi antara program. Artinya tinggi rendahnya kualitas keluaran sistim informasi ditentukan oleh proses penyebarannya. Seiring dengan itu partisipasi semua pihak menjadi penting selain kolaborasi. Secara mikro proses sistem informasi yang mencerminkan terlaksana tidaknya atau berfungsi tidaknya pelaksanaan sistem informasi secara organis. 1 . Dalam proses pengelolaan informasi ini Humas dan Infokom mengelola informasi secara sistematis. semangat dan etos kerja yang cukup kuat untuk melaksanakan proses penyebaran informasi. proses sistem informasi sudah cukup memadai bila dilihat secara makro. ormas. Kualitas Keluaran Sistim Informasi Setiap proses penyebaran informasi selalu meniscayakan keluaran bahkan juga hasil dan dampak sistim pengelolaan informasi walaupun keduanya tidak dapat diketahui atau 8 . sikap dan perilaku mereka sebagai pemimpin dan pelaksana yang mempunyai komitmen. LSM dan masyarakat untuk menjawab tantangan masa kini maupun masa depan.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. dalam penyelenggaraan proses sistem informasi. Proses sistem informasi ini bersangkutan dengan bekerja tidaknya fungsi-fungsi manajemen di Humas dan Badan Infokom. Bersinergi dengan seluruh Dinas/Badan/Kantor. bukan terpusat pada beberapa orang atau kepala dinas/kepala bagian tidak boleh mendominasi pekerjaan dan tanggungjawab melainkan harus mengkoordinasi dan mensinergikan berbagai pihak yang disertai pekerjaan dan tanggungjawab yang mengelola informasi. 5. Hal ini dikarenakan proses penyebaran iformasi secara langsung menentukan kualitas keluaran informasi secara kognitif afektif dan behavior. Hasil pengamatan dan wawancara dengan kepala Kantor Infokom dan Kepala Sub Bagian Humas. Kualitas Proses Sistem Informasi Dalam pelaksanaan sistem informasi di Kabupaten Aceh Tengah proses sistem informasi menempati kedudukan dan arti penting dan strategis. Pekerjaan dan tanggungjawab pengelolaan program harus dibagi pada semua pihak dalam mengelola informasi. Dalam kontek pelaksanaan sistem informasi di Kabupaten Aceh Tengah.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Orpol. B. Berdasar hasil wawancara dengan Kasub Bagian Hubungan Masyarakat Kabupaten Aceh Tengah diketahui bahwa hampir semua pegawai pemerintah mendukung manajemen proses sistem informasi dengan menjadikan humas sebagai satu -satunya sumber informasi. Selain itu dari diri. bukan mekanis dan artificial. 6. Kondisi Proses Penyebaran Informasi Dalam implementasi sistim informasi. proses penyebaran mendapat perhatian utama sehingga harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya dan semaksimal mungkin. Hampir semua karyawan juga mengetahui adanya visi dan misi tersebut karena seringkali ditempelkan di dinding dalam ruangan kerja. menjadi pusat informasi dan komunikasi bagi kalangan masyarakat menengah ke bawah sekaligus berperan menjadi pusat pembelajaran dan pengetahuan. afektif dan behavior yang ditentukan dalam juknis dan juklak. Untuk itu unit kerja yang lain siap memberi bantuan Humas dengan memberikan informasi yang diperlukan. Medan ditetapkan di Humas dan Infokom. A. tidak harus secara mikro. agar dapat dikembangkan menjadi pengetahuan yang bermanfaat guna peningkatan kualitas kehidupan dan pembangunan. menunjukkan bahwa baik Kepala Humas dan Kantor Infokom memiliki kesadaran akan kedudukan proses penyebaran informasi sebagai inti proses sistem pengelolaan informasi guna mencapai kompetensi koqnitif.

Tujuan adanya dua lembaga yang menangani informasi ini adalah untuk meningkatkan pelayanan informasi kepada masyarakat. Prestasi pelayanan informasi dapat berupa produktifitas. humas bisa lebih produktif menghasilkan keluaran dalam melaksanakan tugas yang diembannya. Di Kabupaten Sistem informasinya dilaksanakan oleh Humas dan Kantor Infokom. Disamping keterbatasan dana SDM yang mengelola buletin tersebut pindah ke Humas untuk menangani tabloid Humas. lancar dalam berkoordinasi dengan satuan atau unit kerja di pemerintah Kabupaten.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Kemandirian daerah ini diharapkan dapat mencapai apa yang diharapkan dapat mencapai apa yang menjadi tujuan kebijakan otonomi daerah. Kewenangan yang lebih besar ini diharapkan membuat daerah mandiri dalam mengurus kepentingan masyarakat berdasarkan aspirasi masyarakat setempat. Keluaran pelayanan informasi berkaitan dengan kinerja atau prestasi lembaga pengelola informasi secara komprehensif.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Disamping itu dengan kewenangan lebih besar diharapkan daerah mampu menemukan masalah yang mencatat di daerahnya dan sekaligus mampu mencari solusi terbaik sesuai dengan kondisi dan karakteristik daerah. bahkan bila mungkin diperhatikan pula hasil dan dampak pelayanan informasi. melakukan hubungan intern dengan satuan dan unit kerja di lingkungan Pemerintah Daerah. media informasi dan publikasi. saat ini berhenti terbit. Kegiatan yang memerlukan sumber dana yang besar sangat terbatas pelaksanaannya. Keluaran humas yang cukup menonjol adalah terlayaninya kebutuhan wartawan untuk memperoleh informasi melalui humas. 1 . Dalam pelayanan informasi Prestasi pelayanan informasi dilihat secara komprehensif dari pencapaian tujuan kegiatan program. Sebagai lembaga yang memiliki sumber dana yang cukup besar. inovasi dan moralitas atau etos kerja. Humas juga menghasilkan tabloid yang peredarannya cukup besar meski masih di lingkungan pegawai pemerintah. Kinerja atau pencapaian tujuan ini erat kaitannya dengan masukan yang ada sebelumnya diantaranya sumber dana yang tersedia untuk menghasilkan keluaran berupa produktifitas kerja. Model teoritis yang dimaksud digambarkan sebagai berikut : Kebijakan otonomi daerah memberi kewenangan lebih besar kepada daerah. Sementara tugas Kantor Infokom adalah melaksanakan sebagian urusan rumah tangga daerah di bidang informasi dan komunikasi yang meliputi informasi. G. efektifitas. 9 . melaksanakan usaha untuk peningkatan peliputan kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh pemerintah maupun masyarakat dan melaksanakan koordinasi/kerja sama dengan organisasi kewartawanan. melakukan hubungan timbal balik antar pemerintah daerah dengan masyarakat umum dan organisasi kemasyarakatan untuk memperjelas kebijakan dan kegiatan pemerintah daerah. Medan diukur seketika. Dibentuknya Humas diantaranya sebagai juru bicara pemerintah. Keluaran yang terjadi di Infokom cukup memadai meski sumberdana yang tersedia terbatas. yang salah satunya peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat. karena karakteristik masing-masing. Kebijakan otonomi daerah melahirkan sistem informasi di daerah sesuai dengan apa yang diputuskan bersama antara Pemerintah Kabupaten dan DPRD menjadi Peraturan daerah (Perda). bahkan buletin yang telah ada sejak Departemen Penerangan masih eksis. Diantaranya melakukan kegiatan-kegiatan yang menggunakan sumber dana kecil atau tanpa sumber dana seperti pengkoordinasian penyampaian informasi secara terjadwal oleh dinasdinas yang ada di Kabupaten Aceh Tengah radio yang dikelola Infokom. dapat ditarik satu model teoritis pelaksanaan sistem informasi. Pembahasan Berdasar uraian diatas. perhatian di fokuskan pada keluaran pelayanan informasi. Karena itu dalam kontek pengelolaan sistim informasi. efisiensi.

co. 3. Basic System Conceps. sementara di Humas karena sarana. Medan Sistem Informasi di Pemerintah Kabupaten ¥¡¥ £©§¦§¨§ ¦¥ ¥¤£¢¡  D D KINERJA PELAKSANAAN SISTEM INFORMASI : y INPUT y PROSES y OUTPUT H. Peraturan Daerah Kabupaten Aceh Tengah Nomor 52 Tahun 2002 tentang Perubahan Peraturan Daerah Kabupaten Aceh Tengah Nomor 22 Tahun 2000 tentang Susunan Organisasi Tataruang. anggaran operasional yang dimiliki bisa untuk membiayai kegiatan yang dilakukan. Shrode. Malaysia. Amiran. Rineka Cipta. 1 . Yogyakarta. Organisasi and Management. Gelinas.2001.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Kesimpulan 1. New York. Pokok-Pokok Teori Sistem. PT Raja Grafika Persada. Reformasi Pendidikan Dalam Konteks Otonomi Daerah. Information System Theory and Practice. Suryadi dan Budimansah. Tatang M. 2. or win Book. Jakarta. Hubungan Pemerintah Pusat dan Daerah di Indonesia . Yosep. Riwu Kaho. Sarana. Perlunya kerjasama antar Humas dan Kantor Infokom dengan semua pihak utamanya Dinas/Badan/Kantor di Pemerintah Kabupaten untuk memberikan pelayanan informasi pada yang membutuhkan pelayanan. prasarana dan sumber dana yang terbatas di Kantor Infokom membuat hasil akhir atau keluaran berupa hasil dan produktifitas kerja cukup terbatas.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Oranda Wiggins. Jr. 1990.Jakarta. produktifitasnya cukup besar. William A and Dan Voich. Peraturan Daerah Kabupaten Aceh Tengah Nomor 8 Tahun 2002 tentang Perubahan atas Peraturan Daerah Kabupaten Aceh Tengah Nomor 26 Tahun 2000 tentang Susunan Organisasi Tata Kerja Kantor Kepala Daerah. prasarana. 1974. Kegiatan Humas yang banyak berhubungan dengan unit kerja di Pemda yang memiliki tingkat eselon yang lebih tinggi bisa menjadi hambatan bagi humas meski gengsi posisi humas cukup tinggi. 1987. Sekretariat Daerah. Kanisius. ( "   ! ! y HUMAS y INFOKOM £¥©§¦£ ¦¥¥¦¥ ¥¡ ©¡¨£ '!&! %#"#$# "!!  TUJUAN : MENINGKATKAN PELAYANAN INFORMASI OTONOMI SISTEM INFORMASI : HUMAS DAN INFOKOM DAFTAR PUSTAKA 10 .

Kata Kunci : Telepon Seluler. Satu diantaranya adalah telepon seluler (telepon seluler. Latar Belakang Masalah Kemajuan dan rambahan teknologi komunikasi berupa telepon seluler (telepon seluler) yang semakin pesat dan maju tidak dapat kita hindari. Secara tidak langsung memang teknologi komunikasi membawa berbagai keuntungan bagi mereka penggunanya. Pengembangan SDM Peneliti Kominfo Menuju Masyarakat Informasi Sumatera Utara. Bogor dalam acara Temu Ilmiah Peneliti X Badan Penelitian Dan Pengembangan SDM Depkominfo RI ** Penulis adalah Peneliti Pertama bidang Komunikasi Sosial pada B BPPKI Medan 2 11 . Sebelumnya nyaris sistem komunikasi yang berkembang di Indonesia masih memakai peralatan sederhana (media tradisional maupun tatap muka). menyebutnya dengan komunikasi seluler.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. atau kelompok pada masyarakat Desa Pertumbukan bagaimana dalam memanfaatkan telepon seluler.Kabupaten Langkat) Oleh Budiman ** Abstrak Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi mengalami kemajuan yang sangat pesat. Indonesia diramaikan dengan pola komunikasi melalui telepon seluler atau biasa disebut dengan HandPhone (HP).JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.Efektivitas Komunikasi. Hasil temuan penelitian berdasarkan kebutuhan inf ormasi. diversi. 1 . Bagi orang komunikasi. Kecamatan Wampu. Tidak ada khalayak yang secara tegas menolak hadirnya teknologi yang banyak diminati oleh berbagai kalangan tersebut. gejala. disamping tren teknologi ini terus berkembang.. Akan tetapi delapan tahun terakhir. Perkembangan pesat dalam dunia sistem komunikasi kita tentunya akan mengubah pola komunikasi yang terjadi di masyarakat selama ini. Perkembangan jenis telepon seluler semakin hari semakin meningkat. Penelitian ini bersifat deskriptif yakni hanya memaparkan situasi dan peristiwa apa adanya dengan memberikan gambaran secermat mungkin mengenai suatu individu. Pemanfaatan telepon seluler ini berdasarkan aspek-aspek kebutuhan yang diadopsi dari asumsi-asumsi Teori Uses and Gratifications yang sudah lazim digunakan untuk meneliti media komunikasi modern yang berkonvergensi. juga dari aspek pemanfaatannya telah merambah hingga ke pedesaan.dan Masyarakat Pedesaan. Mulai dari fasilitas yang disediakan sampai bentuknya. Hampir setiap orang menjadikan telepon seluler ini sebagai kelengkapan sehari-hari sebagai media komunikasi. keadaan. Medan TELEPON SELULER DAN EFEKTIVITAS KOMUNIKASI MASYARAKAT PEDESAAN 2 (Studi Di Desa Pertumbukan. identitas personal dinyatakan bahwa telepon seluler sarana media untuk berkomunikasi yang dibutuhkan dan telah membantu masyaraka pedesaan. dan diseminarkan pada tanggal 30 Oktober ± 1 November 2008 di Cisarua. sebagai berikut: Telah diseminarkan pada tanggal 10 Juli 2008 di Pematangsiantar dalam acara Seminar Peningkatan. Melihat data perkembangan pengguna telepon seluler di Indonesia terus berkembang pesat dari tahun ke tahun.

Namun kalau diperhatikan secara seksama pola penggunaan telepon seluler berdasarkan motif jelas berbeda dari aspek sosiodemografis masyarakat. Kecamatan Wampu. Medan Data Perkembangan Pengguna Telepon seluler Di Indonesia Sumber : http://data.pintunet. penulis merasa tertarik untuk melakukan penelitian. secara umum memberikan kontribusi yang baik dalam kecepatan mendapatkan informasi.php?pg= 2007/10/27102007/65568 . Ada yang menggunakan untuk kelancaran usaha/niaga hasil hasil bumi atau pertanian. Teknologi telekomunikasi membuat dunia semakin dekat dan menyatu karena waktu dan jarak semakin pendek.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. 12 .org/ diakases tgl 12/5/08 Dan hingga sampai tahun 2007 telah terdapat 85 juta pelanggan telepon seluler dan sementara hanya 10 juta pelanggan telepon tetap (fixed) di Indonesia (http://www. kecanggihan dan fasilitas yang dimiliki oleh teknologi komunikasi menjadi tolok ukur seberapa besar fungsi dan kebutuhan dari teknologi komunikasi itu bagi penggunanya tanpa memikirkan dampak yang akan timbul dari pemakaian teknologi tersebut. Namun dengan memiliki telepon seluler juga telah menambah biaya pengeluaran bagi setiap keluarga terutama untuk pembelian pulsa. 1 . sebagai hiburan dan lain sebagainya. Bagaimana tentang pola penggunaan telepon seluler dan sikap masyarakat desa. Permasalahan Dari fenomena yang terjadi pada masyarakat di atas maka untuk mencari informasi tersebut di rangkum dalam pertanyaan sebagai berikut : Bagaimanakah penggunaan dan sikap masyarakat Desa Pertumbukan terhadap telepon seluler ? Tujuan Untuk mengetahui bagaimana penggunaan telepon seluler dan sikap masyarakat Desa Pertumbukan. hal ini masyarakat menjadi konsumtif . Dari pra-riset yang dilakukan peneliti (19-22 Februari 2008) di Desa Pertumbukan. pergerakan informasi berjalan dengan cepat dan menyebar sesuai dengan tujuan tergantung siapa yang membutuhkan. Kepintaran.un. Secara nyata jelas terlihat bahwa teknologi komunikasi memberikan keuntungan yang sangat besar bagi penggunanya terutama dalam hal berkomunikasi (komunikasi tidak lagi rumit seperti dulu). silaturahmi dengan keluarga atau teman. Belum lagi berkembangnya model telepon seluler dari berbagai merek dagang yang semakin canggih dan terus bergulir yang menggoda konsumen melalui iklan dengan mengkaitkan terhadap gaya hidup tertentu.com/lihat_opini.diakses tgl 11/4/08). Kabupaten Langkat diperoleh gambaran tentang pola penggunaan telepon seluler oleh masyarakat desa tersebut yakni.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.

terutama telepon seluler. 2005) Terkait dengan pola penggunaan telepon seluler.htm ). Salah satu contoh gambaran lengkapnya sebagai berikut: sejak tahun 2005. Goswami dalam tulisannya ³Sustainability Proyek Harus Dipikirkan´. Teori-teori yang sudah ada mungkin masih bisa dipakai. Manusia sebagai individu aktif dan memiliki tujuan. Media dianggap hanya menjadi salah satu cara pemenuhan kebutuhan dan individu bisa jadi menggunakan media untuk memenuhi kebutuhan mereka.edu/~drlane/capstone/contexts.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. alternatif rujukan juga sebagai khasanah referensi dalam penelitian-penelitian tentang khalayak di masa mendatang terhadap pemanfaatan industri teknologi komunikasi dan informasi. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran pada studi Ilmu Komunikasi dan untuk mengetahui perkembangan serta penerapan teori uses and gratification.156 sehingga terdapat pertumbuhan sebesar 57% (http://www. Telkomsel menambah BTS-nya dari 7. hasil penelitian ini walau dalam cakupan wilayah penelitian yang kecil diharapkan dapat dijadikan masukan bagi pemerintah me lalui Depkominfo untuk mengkaji stategi perkembangan TIK khususnya telepon seluler dalam hal tren penggunaannya. Teori ini berpandangan bahwa manusia menggunakan media karena dianggap memiliki manfaat baginya. Menurut pencetus teori ini. Bidang komunikasi sekarang ini sedang mengalami perubahan besar. Blumler dan Katz (1974) mengutarakan bahwa seorang pengguna media mencari sumber media yang terbaik guna memenuhi kebutuhan mereka.5 miliar. mereka bertanggung-jawab dalam pemilihan media yang akan mereka gunakan untuk memenuhi kebutuhan dan individu ini tahu kebutuhan mereka dan bagaimana memenuhinya. Medan Manfaat Secara praktis. Pada tahun 2006 nilai investasi infrastruktur telepon seluler yang dilakukan operator lebih dari US$ 2. Di sini. baik dari model/merk maupun dari jumlah pengguna. dan investasi di bidang infrastruktur telepon seluler sangat agresif dilakukan oleh berbagai operator.741 menjadi 12. Tentang hal ini Katz dan Blumer mengatakan sebagai berikut : 13 . dimana dalam penelitian ini berusaha untuk menggambarkan motif kebutuhan dalam penggunaan telepon seluler bagi masyarakat pedesaan. tetapi yang lain mungkin memerlukan modifikasi untuk menyesuaikan dengan lingkungan baru ini (Severin dan Tankard. Uses and Gratifications mengangkat bahwa pengguna memiliki pilihanpilihan alternatif untuk memuaskan kebutuhan mereka (http://www. Dan secara teoretis. Teori komunikasi massa butuh penyesuaian dan beradaptasi dengan perubahan-perubahan itu. Khalayak berperan aktif dalam mengambil bagian dalam proses komunikasi dan diorientasikan pada tujuan penggunaan media. Karena media teknologi baru yang memberi banyak kemudahan bagi pengguna. Telepon seluler telah berkembang secara fenomenal.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.6 juta.com /divakar_ goswami. para operator melakukan ekspansi jaringan. Perilaku ini biasanya dipengaruhi oleh predisposisi sosial dan psikologinya. teori Uses and Gratification dianggap tepat sebagai acuan untuk memahaminya. mencontohkan jumlah produksi telepon seluler mencapai 6. 1 .majalahindonesia. Teori ini mengusulkan bahwa khalayak (pengguna) memainkan peran dalam pemilihan dan penggunaan media. konsep dasar komunikasi massa mengalami perubahan. KAJIAN TEORETIS Kajian Pustaka Inovasi besar di bidang teknologi informasi dan komunikasi dalam empat dekade terakhir ini adalah ditemukannya telepon seluler atau handphone (HP).uky.htm ). Dari penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi perkembangan studi komunikasi serta mampu memperkaya varian.

Selanjutnya. Orang berusaha melepaskan dirinya dari hal itu dengan mengkonsumsi media massa ). the affirmation and reinforcement of which is facilitated by the consumption media material ( Situasi sosial memberikan dukungan dan penguatan pada nilai ± nilai tertentu melalui konsumsi media yang selaras ) (Katz. information about which may be sought in the media. Social situation gives to rise certain values. Siranahan dan Morgan menambahkan bahwa teknologi baru selalu dikembangkan dengan mengadopsi isi pesan dari teknologi dominan sebelumnya. Needs which generate. Pada pendekatan ini audien tidak lagi dipandang sebagai pasif. Walaupun mereka menggunakan sudut pandang metodologi yang berbeda-beda.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Sejak dicetuskan pertama kali pendekatan ini terus mengalami penyempurnaan oleh para ahli komunikasi melalui berbagai jenis penelitian. Leung dan Wei mengamati. Blumer. Juga dalam penggunaan media. dapat menjelaskan penggunaan telepon seluler. Blumer. Leung dan Wei tertarik tentang mengapa orang menggunakan telepon seluler dan apakah alasan mereka yang berbeda dari mengapa mereka menggunakan telepon kabel dan jaringan. tersedianya berbagai alternatif komunikasi.(West dan Turner. Katz dan Blumer selanjutnya mengemukakan ada beberapa faktor sosial yang menyebabkan timbulnya kebutuhan seseorang yang berhubungan dengan media. melainkan memiliki harapanharapan dan kebutuhan±kebutuhan.The mass media or other sources which lead to. 1 . Namun demikian pemikiran tersebut jelas bahwa pendekatan Uses and Gratification merupakan kritik dari sudut pandang teori-teori yang terdahulu. bahwa "telepon seluler baru menggambarkan suatu konvergensi teknologi hibrid ketika ia mengaburkan batasan antara industri telekomunikasi dan penyiaran.Diffferential pattern of media exposure (or engagement in other activities)resulting in. (Situasi sosial menciptakan kesadaran akan adanya masalah-masalah yang membutuhkan perhatian dan informasi. dkk. Dalam sebuah studi yang dilakukan oleh Louis Leung dan Ran Wei (2000) mempelajari Kegunaan dan Kepuasan pada telepon seluler.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. memiliki kebutuhan kebutuhan tertentu. serupa dengan pemyataan Gilder. 1974) .1999). Difusi Inovasi (Difusion of Innovations). khususnya k etika dikombinasikan dengan teori lainnva. Kemampuan Leung dan Wei untuk menerapkan teori Kegunaan dan Kepuasan pada teknologi baru dijelaskan oleh pengamatan Shanahan dan Morgan (1999) bahwa terdapat "konsistensi lingkungan dari isi pesan yang kita konsumsi dan pada sifat dasar dari lingkungan simbolik di mana kita hidup" meski jika terjadi perubahan distribusi teknologi. Perkembangan lebih lanjut penggunaan teori Uses and Gratifications banyak diterapkan pada penelitian penggunaan media baru seperti internet ( computer mediated communication) bahkan pada telepon seluler. 1994).Expectation. leading to resure for their easement via mass media consumption (Situasi sosial menimbulkan ketegangan dan pertentangan. yaitu : Social situation produces tensions and conflict.Need perhaps mostly unitended ones. audien memiliki motivasi±motivasi tertentu yaitu mencari pemuasaan atas dasar kebutuhannya terhadap media massa tersebut. Gurevitch. Simpulan studi yang dilakukan Leung dan Wei mengindikasikan bahwa teori Kegunaan dan Kepuasan. 2008) 14 . namun secara global dapat dikatakan bahwa pendekatan Uses and Gratification memiliki asumsi bahwa audien dipandang aktif. Medan The social and psychological origins of. Gurevitch. dan secara sadar audien memilih saluran komunikasi dan pesan±pesan paling memenuhi kebutuhanya (Elihu Katz. Informasi itu dapat dicari lewat media ). Social Situation creates an awareness of problem that demand attention.(Pendekatan Uses and Gratification berhubungan dengan kebutuhan sosial dan psikologis yang membentuk harapan pada media massa atau sumber lain yang mengakibatkan pola terpaan media yang berlainan yang menghasilkan kepuasan dan konsekuensi ± konsekuensi lain yang tidak diinginkan) (Katz.

atau hiburan dan informasi ± menurut Wilbur Schramm. Kebutuhan kognitif menekankan pada kebutuhan akan informasi dan pencapaian tingkat ideasional tertentu. Motif afektif menekankan aspek perasaan dan kebutuhan mencapai tingkat emosional tertentu (Rahmat. Di sini media dianggap memberikan hiburan. kekinian. Menurut Stephenson media massa hanya memenuhi satu jenis kebutuhan saja. dan hiburan dan transmisi kultural ± seperti yang dirumuskan oleh Harold dan Charles Wright. ³Relaxation´ (relaksasi).JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. kegunaan sosial. mereka menemukan empat tipologi motivasi khalayak yang terangkum dalam skema media ± persons interactions sebagai berikut : Diversion. Yang lain lagi menyebutkan tiga fungsi media massa dalam memenuhi kebutuhan. yaitu referensi 15 . correlation (hubungan sosial). dan intrumentalitas yang terdapat pada telepon seluler merupakan intrumen motivasi yang kuat yang diikuti dengan rasa ikatan kekeluargan atau sosial. yang membedakan antara Gratification Sought (GS) dan Gratification Obtained (GO). dan ³Interpersonal Utility´ (kegunaan pribadi) (Palmgreen. Ahli komunikasi lainnya menyebutkan dua fungsi. korelasi (Correlation). ³Diversion´ (pelepasan). surveillance (pengawasan lingkungan). ³ Surveyllance´ (pengawasan). 2000 ). Dan setelah mengamati hasil±hasil yang diperoleh dilapangan. 1984). 1981. yaitu persahabatan. media massa memenuhi kebutuhan akan hiburan dan informasi . yaitu melepaskan diri dari rutinitas dan masalah. Dalam teori Uses and Gratification yang dikembangkan oleh Palmgreen dan Rayburn. Sedangkan menurut Wilbur Scramm. Tiga fungsi ini kemudian ditambah oleh Charles Wright yaitu fungsi hiburan (Entertaiment). Kemudian riset lebih lanjut yang dilakukan oleh Dennis McQuail dan kawan-kawan. sarana pelepasan emosi. dimana dan kapan saja (Leung dan Wei. ³ Knowledge´ (pengetahuan). Para peneliti media massa kemudian mencoba mengumpulkan seluas dan sebanyak mungkin daftar±daftar kebutuhan sosial dan psikologis yang dianggap audien sebagai terpenuhi dengan memanfaatkan media massa. informasi dan lain sebagainya. Personal relationships. Jenis-jenis kebutuhan ini kemudian oleh para ahli dikelompokan menjadi beberapa kelompok. Personal identity. Medan Dari studi Louis Leung dan Ran Wei (2000) yang menggunakan teori ini juga menyatakan bahwa mobilitas.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Dengan demikian kecenderungan penelitian tentang Uses and Gratification mulai bergeser dan bertambah maju. Secara umum kebutuhan yang sering disebut dan digunakan oleh para peneliti media adalah. ³Entertaiment´ (hiburan). yaitu apa yang diharapkan audien dari media massa dengan apa yang diperolehnya dari media tersebut. ternyata terdapat jenis±jenis kebutuhan yang setiap kali muncul walaupun sampelnya berbeda-beda. yaitu memuaskan hasrat bermain atau melarikan diri dari kenyataan. dan transmisi budaya atau sosialisasi (Cultur Transmission and Socialisation). 1 . Manfaat kepuasan langsung juga dapat dirasakan oleh penggunanya. 2000). Perkembangan ini diawali oleh penelitian Palmgreen dan Rayburn pada tahun 1979. Mengenai fungsi media massa terhadap pemenuhan kebutuhan audien tersebut. 1984) . Harold D Laswell pernah mengajukan 3 fungsi media yaitu yaitu pengawasan (Surveyllance). sedangkan kebutuhan afektif ditandai oleh kondisi perasaan atau dinamika yang menggerakan manusia mencapai tingkat perasaan tertentu. fungsi±fungsi ini belum cukup untuk menggambarkan seluruh fungsi yang ada. Sejumlah ahli media akhirnya mulai beralih dari sekedar mengumpulkan jenis jenis kebutuhan audien kepada suatu model penelitian baru karena dari hasil±hasil studi mereka menunjukkan jenis± jenis kebutuhan yang sama. media massa memenuhi kebutuhan akan fantasi dan informasi ± menurut Weiss. dan Dimmick. Motif kognitif menekankan kebutuhan manusia akan informasi dan kebutuhan untuk mencapai tingkat ideasional tertentu. kesempatan melarikan diri dari kesibukan sehari-hari. Tetapi seperti yang di jelaskan Blumer (1994). kebutuhan atau motif yang menuntun seorang individu untuk menggunakan suatu media dipandang sebagai Gratification Sought atau kepuasan yang dicari atau diharapkan (Dimmick.

Komunikasi massa dapat memberikan informasi. Menurut Steven M. maupun durasi penggunaan . dan berbagai hubungan antara individu konsumen media dengan isi media yang dikonsumsi atau dengan media keseluruhan (Rahmat. kebutuhan ini dapat dipuaskan oleh sumber-sumber lain selain media massa. Sedangkan menurut Sari (dalam Kriyantono 2006) dapat dioperasionalkan menjadi jenis media yang digunakan. kepercayaan atau informasi. Elemen ³pola terpaan media yang berlainan´ pada Teori Uses and Gratifications berkaitan dengan media exposure atau terpaan media. 2000). eksplorasi realitas. media massa memberikan kesempatan untuk melarikan diri dari kenyataan. Surveillance (bentuk-bentuk pencarian informasi) (dalam Junaedi. William J Mc Guire (dalam Muchati 1972) kemudian mengelompokan jenis-jenis kebutuhan tersebut menjadi 2 dimensi. 2004) efek media massa akan menyebabkan perubahan yang terjadi pada diri khalayak. 16 .JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. frekuensi penggunaan. dan media massa berfungsi sebagai sahabat. antara lain: y Efek Kognitif: terjadi bila ada perubahan pada apa yang diketahui. http://komunikasimassa-umy.blogspot. hiburan. com). seperti penerimaan informasi. menyenangkan. Chaffe (dalam Rahmat. Kita kesepian. Kita ingin mencari kesenangan. dan persahabatan dapat juga diperoleh dari sumber-sumber lain seperti kawan. Selanjutnya terpaan media menurut Rosengreen (1974). ketenangan. suatu loncatan dramatis dari model Jarum Hipodermik. perubahan kognitif. dapat dioperasionalkan menjadi jumlah waktu yang digunakan dalam berbagai jenis media. juga memuaskan rasa penasaran dan dorongan untuk penyelidikan kita. Ada 3 macam efek komunikasi massa. isi media yang dikonsumsi. 1 . atau tempat ibadat (Rahmat. Medan diri. 2000). afektif dan behavioral). dan perubahan prilaku (dengan istilah lain. 2005. Teori ini digambarkan sebagai ³a dramatic break with effects traditions of the past´. sikap. kebutuhan kognitif adalah kebutuhan yang berkaitan dengan peneguhan informasi. Dari berbagai jenis kebutuhan tersebut. Kebutuhan ini didasarkan pada hasrat untuk memahami dan menguasai lingkungan. keterampilan. dan pemahaman mengenai lingkungan. Perubahan yang dimaksud dapat meliputi perubahan pengetahuan. Mengenai kebutuhan kognitif dan afektif Nurudin menjelaskan. (Wiryanto. pengetahuan dan keterampilan. penguatan nilai. Kita mengalami goncangan batin. dan emosional. karena mengacu pada kegiatan menggunakan media (Kriyantono. perubahan perasaan atau sikap. Tentu saja. dipahami atau dipersepsi khalayak. manusia yang berperan dalam menentukan efek media. Pada teori Uses and Gratifications. 2007) Kemudian dari teori Utilitarian memandang individu sebagai orang yang memperlakukan setiap situasi sebagai peluang untuk memperoleh informasi yang berguna atau keterampilan baru yang diperlukan dalam menghadapi tantangan hidup. media massa dapat memberikan hiburan. Efek ini berkaitan dengan transmisi pengetahuan. pengetahuan. dan prilaku nyata. hobi. 2006). (Nurudin. tetapi yang juga dapat diatasi dengan media massa. Efek diartikan sebagai semua jenis perubahan yang terjadi didalam diri seseorang setelah menerima sesuatu pesan komunikasi dari suatu sumber.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. yaitu kebutuhan yang bersifat afektif (yang berkaitan dengan perasaan) dan kebutuhan kognitif (yang berkaitan dengan pengetahuan). Ada berbagai kebutuhan yang dipuaskan oleh media massa. Kebutuhan afektif adalah kebutuhan yang berkaitan yang berkaitan dengan peneguhan pengalaman-pengalaman yang estetis. Pada saat yang sama. 2001). Dalam konsep ini hidup dipandang suatu medan yang penuh tantangan .

Data yang merupakan fenomena ini jelas menjadi salah satu potret dampak komunikasi melalui telepon seluler.com/kompassenggang. dan Semarang menunjukkan bahwa 51 persen mereka mengirim SMS 11-20 kali. sikap atau nilai. 2005). Penelitian yang dilakukan International Telecommunication Union (2001) menemukan bahwa jumlah penggunaan telepon seluler di 100 negara-negara miskin melampaui telepon tetap dan komputer. Bahkan menurut data dari penelitian ³Survei Siemens Mobile Phone´ 58 persen orang Indonesia lebih memilih mengirim SMS daripada membaca buku. Ini artinya bahwa di samping menurunkan minat baca.2000). di negara-negara berkembang telepon seluler telah mengurangi kesenjangan berkomunikasi di masyarakat. telepon seluler lebih banyak digunakan untuk hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan. kial. SMS dalam hal ini lebih berfungsi sebagai hiburan saja. dan banyak lagi adalah media kedua yang sering digunakan dalam komunikasi. Dalam hal ini komunikasi melalui telepon seluler seperti pengiriman SMS ternyata berdampak buruk untuk menurunkan minat baca masyarakat. warna dan lain sebagainya yang secara langsung mampu ³menerjemahkan´ pikiran dan atau perasaan komunikator kepada komunikan. karena harga telepon seluler terjangkau. (Nurudin. 35 persen 2-10 kali dan 14 persen lebih dari 20 kali sehari. Proses komunikasi secara primer adalah proses penyampaian pikiran dan atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan lambang (simbol) sebagai media.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Kemudian sekunder adalah proses penyampaian pesan oleh seorang kepada orang lain dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media kedua setelah menggunakan lambang sebagai media pertama. radio film. 9 persen antara 201-300 ribu dan 8 persen lebih dari 300 ribu perbulan. 17 . biasanya dilakukan pada waktu http://www. meliputi pola-pola tindakan. Berbagai keuntungan relatif yang dirasakan dari telepon seluler yang mengungguli telepon tetap karena mobilitas dan efisiensinya yang lebih besar. y Konseptual Dalam proses komunikasi dibagi menjadi dua bagian yakni secara primer dan sekunder. (Onong. gambar. telepon (telepon seluler). majalah atau koran. telepon seluler juga mengarahkan masyarakat untuk hidup konsumtif. 50/26 Maret 2003) berdasarkan survei Siemens Mobile Lifestyle III menyebutkan bahwa 60 persen remaja usia 15-19 tahun dan pasca-remaja lebih senang mengirim dan membaca SMS (Short Messege Service) daripada membaca buku. Bagi pelaku bisnis.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Ini adalah dampak dari segi sosial budaya masyarakat atas penggunaan Hand Phone/ telepon seluler. teleks. Bahkan menurut data Kompas (4 April 2003) yang melakukan street polling yang dilakukan pada 100 remaja SMU di Jakarta. Medan Efek Afektif : timbul bila ada perubahan pada apa yang dirasakan. Kalaupun digunakan untuk hal-hal yang sifatnya menghibur. kegiatan dan kebiasaan berperilaku (Rakhmat. 2004). Bandung. Efek ini ada hubungannya dengan emosi. Menurut data majalah Komputer Aktif (no. sebesar 73 persen mereka mengeluarkan biaya untuk membeli voucher perbulannya sekitar 100-200 ribu. disenangi atau dibenci khalayak. ( Fritz E Simandjuntak dalam cetak/0405/05/telkom/1002910htm ). Bogor. y Efek Behavioral : merujuk pada perilaku nyata yang dapat diamati. Pemanfaatan telepon seluler berbeda pada setiap kelompok masyarakat. tv. AM Townsend (2000) menyatakan. isyarat. Ini bisa dikatakan pula bahwa budaya baca yang sudah terancam dengan budaya dengar dan lihat diancam lagi oleh budaya mengirim SMS. Seorang komunikator menggunakan media kedua (sekunder) dalam melancarkan komunikasinya karena komunikan sebagai sasarannya berada di tempat yang relatif jauh atau jumlahnya banyak. Bahkan. Surat. Lambang sebagai media primer dalam proses komunikasi adalah bahasa.kompas. 1 .

ponsel umumnya juga mempunyai fungsi pengiriman dan penerimaan pesan singkat (short message service. pembawaan. Mencermati beberapa fungsi media massa yang ditulis Alamsjah Ratu Perwiranegara dalam Rafiq (1989) meliputi fungsi informatif. Mengikuti perkembangan teknologi digital. orang bisa mengubah fungsi ponsel tersebut menjadi mini komputer. Saat ini Indonesia mempunyai dua jenis jaringan telepon nirkabel yaitu sistem GSM (Global System For Mobile Telecommunications) dan sistem CDMA (Code Division Multiple Access). dan kapan saja. dan layanan internet (WAP. ketika berada dalam suatu lingkungan dan bercengkerama dengan lingkungan serta dengan proses tersebut. dan information. persuasif. Medan Menurut Shannon dan Weaver (1949) komunikasi adalah bentuk interaksi manusia yang saling mempengaruhi satu sama lainnya. memahami apa yang dilihat dan didengar. kamera digital. Selain fitur-fitur tersebut. Sejalan dengan berkembangnya masyarakat beserta peradaban dan kebudayaannya. Jadi di ponsel tersebut. 1 . seperti bisa menangkap siaran radio dan televisi. Artinya . 1964). industrial. Ada pula penyedia jasa telepon genggam (provider) di beberapa negara yang menyediakan layanan generasi ketiga (3G) dengan menambahkan jasa videophone. kini ponsel juga dilengkapi dengan berbagai pilihan fitur. SMS). Selain berfungsi untuk melakukan dan menerima panggilan telepon. Berdasarkan fungsi-fungsi ini dapat disimpulkan bahwa media massa sebagai media pembangunan atau proses perubahan ke arah kondisi kehidupan yang lebih baik. game. dan rekreatif. Kehadiran media tidak selalu menarik perhatian masyarakat. yang isinya menyatakan media massa dapat berpengaruh dalam beberapa hal. maupun untuk televisi online di telepon genggam mereka. namun dapat dibawa ke mana-mana (portabel. edukatif. seperti yang diungkapkan oleh McLuhan (1964) yakni kehadirannya umumnya adalah sebagai the extention of man . dan kebutuhan manusia adalah berkomunikasi. kodrat. yang paling pokok adalah dapat membantu menyebarluaskan informasi tentang pembangunan. Pentingnya peranan media (media sekunder) dalam proses komunikasi disebabkan oleh efisiensinya mencapai komunikan dimana. yang pada gilirannya akan tiba pada saling pengertian yang mendalam. menerima dan men girim pesan . Telepon genggam seringnya disebut handphone (disingkat HP) atau disebut pula sebagai telepon selular (disingkat ponsel) adalah perangkat telekomunikasi elektronik yang mempunyai kemampuan dasar yang sama dengan telepon fixed line konvensional. perangkat lunak pemutar audio (mp3) dan video. Di dunia bisnis. Pendapat ini dapat disimpulkan bahwa komunikasi memiliki andil dan sumbangan yang sangat besar dalam pembangunan. manusia menyatakan dan mengembangkan perikehidupan yang bermasyarakat. fitur ini sangat membantu bagi para pebisnis untuk melakukan semua 18 . integratif. Wilbur Schramm melalui hasil penelitiannya di negara-negara berkembang membuat laporannya pada tahun 1964 yang berjudul Mass media and National Development : The role of information in developing countries. 3G). berbicara. instruktif. telepon genggam menjadi gadget yang multifungsi. Seperti dalam menyatakan diri. mobile) dan tidak perlu disambungkan dengan jaringan telepon menggunakan kabel (nirkabel. Menurut Alvin Toffler dalam bukunya The Third Wave (1990) membagi tiga tahap perkembangan peradapan manusia yakni Agricultural. komunikasi bermedia mengalami kemajuan pula dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK). sebagai alat pembayaran. eksistensi manusia. wireless).JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. ponsel sekarang sudah ditanamkan fitur komputer. dapat mengajarkan melek huruf serta keterampilan lainnya yang memang dibutuhkan untuk pembangunan masyarakat dan menjadi penyalur suara masyarakat agar mereka turut ambil bagian dalam pengambilan keputusan di negaranya (Schramm. Sekarang. GPRS.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Sementara Hafied Cangara (1998) mengatakan bahwa komunikasi adalah sebuah proses dimana dua orang atau lebih membentuk atau melakukan pertukaran informasi dengan satu sama lainnya . sengaja atau tidak.

Pengembangan teknologi telekomunikasi terutama jenis telepon seluler ini membuka lebar penyampaian informasi dan komunikasi secara lebih mudah dan efisien. yakni kebutuhan ini terpenuhi dengan hubungan keluarga. maka diperoleh sampel sebesar 263 x 20% = 54 orang. teman. tanpa mencari dan menjelaskan hubungan. dalam hal ini merupakan sebagai populasi. integratif pesan. Katz dan Gurevitch membuat tipologi kebutuhan manusia yang berhubungan dengan penggunaan media yakni : kebutuhan kognitif. Data pra-riset (19-22 Februari 2008) di Desa Pertumbukan terdata 263 orang yang telah memiliki telepon seluler. Definisi Operasional Telepon seluler dalam penelitian ini adalah perangkat telekomunikasi elektronik yang mempunyai kemampuan dasar yang sama dengan telepon fixed line konvensional. Dengan demikian.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. dengan acak sederhana. atau kelompok tertentu. maupun mengisi waktu luang dengan berbagai cara. wireless). Dengan kata lain dalam penelitian ini hanya memberikan gambaran secermat mungkin mengenai suatu individu. Kebutuhan ini dapat terpenuhi dan dipuaskan melalui media massa dan sumber lain. 19 . Dengan memiliki keunggulan dalam efesiensinya ini. yang membutuhkan waktu yang lama dan tempat yang terbatas. keadaan. komunikasi interpersonal. Kecamatan Wampu. yang memiliki dan menggunakan telepon seluler sebagai salah satu sarana media komunikasi.org/wiki/Telepon _genggam). Efektifitas komunikasi dalam penelitian ini dimaksudkan penyampaian/penerimaan informasi dan komunikasi secara lebih mudah dan efisien. Masyarakat memiliki kebutuhan dan motif beraneka ragam berdasarkan karakteristiknya sosialnya Blumler. afektif. Kabupaten Langkat. sehingga dapat memfasilitasi masyarakat dalam berkomunikasi dan membantu memperoleh informasi dengan cepat dan tak terbatas. Populasi Dan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat yang bertempat tinggal di Desa Pertumbukan. mobile) dan tidak perlu disambungkan dengan jaringan telepon menggunakan kabel (nirkabel. integratif sosial dan kebutuhan akan pelarian. Melalui sumber lain. Sedangkan yang dimaksud dengan masyarakat desa adalah masyarakat yang merupakan penduduk Desa Pertumbukan . METODOLOGI Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di Desa Pertumbukan. 1 . namun dapat dibawa ke mana-mana (portabel. ponsel menjadi salah satu fenomena komunikasi bermedia yang terus berkembang serta semakin dibutuhkan oleh masyarakat. perkembangan ponsel akan lebih mengefisienkan waktu dan sistem kerja dibandingkan dengan komunikasi/ informasi secara manual. Metode Penelitian Penelitian ini bersifat deskriptif yakni hanya memaparkan situasi dan peristiwa apa adanya. Dan pengambilan sampel mengacu pendapat Winarno Surakhmad (1998) yakni sebesar 20% .wikipedia. karena populasi dianggap homogen. Kecamatan Wampu. Medan pekerjaan di satu tempat dan membuat pekerjaan tersebut diselesaikan dalam waktu yang singkat (http://id. tidak menguji hipotesa atau membuat prediksi. Kabupaten Langkat. dalam memfasilitasi masyarakat dalam berkomunikasi dan membantu memperoleh informasi dengan cepat dan tak terbatas . Selanjutnya pengambilan sampel dilakukan secara probability.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. gejala.

bpkp. Tabel 01. dan pencarian informasi melalui internet. Pada awal pembentukan kecamatan ini meliputi : Desa Bingai.5%. Toba Samosir. Dan tabel 02. hasil-hasil penelitian terdahulu. Tabel 03. Besilam. dan Pekerjaan. diperoleh melalui buku-buku.pdf ) Kemudian sekitar tahun 2006 dibentuk Desa Pertumbukan yang wilayahnya sebagian mengambil daerah Desa Bukit Melintang dan Desa Stabat Lama. Penghasilan. Data Sekunder. kemudian kelompok umur 22-26 tahun dan 37-41 tahun masing-masing 16. Bukit Melintang. Kecamatan Wampu merupakan pemekaran dari sebagian wilayah Kecamatan Stabat. usia dapat dilihat bahwa responden yang terbanyak terwakili dari kelompok umur 17-21 tahun sebanyak 31. Kebun Balok.5%. Gohor Lama. makalah. Analisis data dilakukan dalam beberapa tahap : Membuat tabel distribusi frekuensi (f) dan prosentasi (%) serta interpretasi untuk keseluruhan data penelitian selanjutnya mengadakan diskusi dan pembahasan hasil temuan data penelitian Hasil Penelitian Gambaran Umum Lokasi Penelitian Kecamatan Wampu merupakan daerah pemekaran yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 1999 Tentang Pembentukan 13 (tiga belas) Kecamatan di wilayah kabupaten daerah tingkat II Tapanuli Selatan.go. dan Langkat. dalam wilayah Propinsi Sumatera Utara. Gergas. dan Sumber Mulyo ( http://www. Tingkat Pendidikan Tabel 04. Disamping itu juga dilakukan wawancara terstruktur kepada beberapa sampel untuk memperkuat data yang terkumpul melalui kuisioner. 1 . Stabat Lama. Tapanuli Utara. Penghasilan 20 .April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Stabat Lama/ Baru. Usia Tabel 02. Labuhan Batu. Berikut datanya yang ditampilkan dalam bentuk tabel. Metode Analisis Data Data yang terkumpul seluruhnya akan ditabulasikan ke dalam tabel tunggal dan juga membuat beberapa tabulasi silang berdasarkan tujuan penelitian. suratkabar. diperoleh melalui kuisioner yang diberikan kepada sampel terpilih.7% dan selanjutnya diikuti oleh kelompok umur 22-26 tahun dan 32-36 tahun masing-masing 13%.id/unit/hukum/pp/1999/043 -99. Jenis Kelamin Dari tabel 01. Karakteristik Responden Responden yang berjumlah 54 orang dalam penelitian ini dilihat dari aspek sosiodemografis-nya mencakup : Usia. Medan Metode Pengumpulan Data Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini yakni : Data Primer. jenis kelamin Responden dalam penelitian ini diperoleh laki-laki sebanyak 68.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.5% dan perempuan sebanyak 31. Tingkat Pendidikan. Jenis Kelamin.

serta diikuti tingkat penghasilan Rp. 500. Sikap Responden dalam mencari informasi melalui telepon seluler dinyatakan sangat setuju oleh sebesar 50% . 1 . 21 . yakni sebesar 48. ± Rp. Informasi Sosial Dari tabel 06. sebesar 24.1%.4%. kemudian pada kategori lain-lain (petani. ± Rp.000..000.1%.000. Pekerjaan responden terbesar adalah sebagai wiraswasta/ berdagang yakni sebesar 57. 1.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika.000. 1.500.7%.8%. mengenai Pendapatan responden yang terbanyak yakni diantara Rp. serta tingkat sarjana (S1) sebesar 7. 1.4% responden menyatakan setuju untuk membutuhkan informasi sosial melalui telepon seluler.1%.000.000. Pekerjaan Tabel 05. dan dapat dilihat sebagai berikut : Tabel.000. Medan Dari tabel 03. Sebanyak 44. 06 Mencari Informasi Tabel 07. pelajar) sebesar 14. 2.7%. ± Rp.000.4%. kemudian yang menyatakan setuju sebesar 44. Tingkat pendidikan responden yang terjaring menjadi responden terbanyak dalam penelitian ini adalah tamatan SMA yakni sebesar 40. Tabel 05.4%. Kebutuhan Informasi Kebutuhan akan informasi dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui sikap responden dalam pencaharian informasi melalui penggunaan telepon seluler yang tersaji dalam tabel.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.9% menyatakan sangat setuju serta diikuti sikap ragu-ragu dan kurang setuju masing-masing sebesar 7. Dan tabel 07.500. 1.000. serta pegawai swasta sebesar 13%. serta dinyatakan kurang setuju oleh sekitar 3. Kemudian tabel 04.4% . kemudian sebanyak 38. sebesar 14.8%. kemudian antara Rp. kemudian diikuti tamatan SD dan SMP pada urutan kedua masing-masing 24.

serta hanya 5. Kemudian diikuti pernyataan setuju sebesar 35. Dari tabel 09.1%. Pertanyaan ini terbanyak dijawab responden sangat setuju yakni sebesar 48.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.3%. Kemudian sebanyak 5. Tabel 10. 22 . baik dari sekitar atau luar lingkungan. Medan Tabel 08. Penambahan Pengetahuan Dan dari tabel 10. Kemudian sebesar 38.2%.7%. Dengan adanya telepon seluler responden lebih terdorong untuk mempelajari sesuatu tentang lingkungan sekitar dan luar. 1 . Kemudian menjawab kurang setuju sebesar 25.9% dan diikuti menjawab setuju 16.Harapan dan Kebutuhan Tabel 09. Mengenai penilaian responden tentang kesesuaian harapan dan kebutuhan.4% menjawab ragu-ragu. Telepon seluler Sarana bermain Tabel 12.12 Meringankan Beban Hidup Tabel 13.1% responden sangat setuju dengan penggunaan telepon seluler akan lebih mengetahui keadaan kehidupan diluar daerah. Penggunaan telepon seluler untuk melarikan diri dari persoalan kehidupan (meringankan bebab hidup) ternyata responden menjawab tidak setuju yakni sebesar 35.4% menjawab sangat setuju dan setuju.6% menjawab ragu-ragu serta menjawab kurang setuju sebesar 3.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Sebanyak 48. Tabel 11 Telepon seluler sebagai dorongan sarana untuk menambah pengetahuan sesuai dengan kepetingan.2% serta pernyataan tidak setuju sebesar 7.7% menyatakan setuju. Mengetahui Kondisi Daerah lain Tabel 08. masingmasing sebanyak 44. Kebutuhan Diversi Pernyataan-pernyataan kebutuhan diversi dalam penelitian ini yang tersaji dalam bentuk tabel berikut : Tabel. untuk ini responden terbanyak menyatakan sangat setuju yakni sebesar 46. Selanjutnya sebanyak 40.9 % menjawab setuju dan diikuti sebesar 7.4%.6% menyatakan tidak setuju. Termotivasi Pelajari daerah lain Tabel 11.7%.

2%. Atasi masalah kehidupan sosial 23 . untuk itu sebesar 66. Namun terdapat juga responden yang menyatakan ragu-ragu dan tidak setuju yakni masing-masing sebesar 3. Tabel 18. Selanjutnya diikuti sebesar 16.7%. Atasi Sulitnya Perekonomian Tabel 19. Menimbulkan kesenangan Tabel.8% serta diikuti jawaban kurang setuju sebesar 16. dan yang setuju dinyatakan oleh responden sebesar 22.15 Meningkatkan Hubungan Silaturahmi Dari tabel 14. Kemudian dari tabel 15. Namun sebesar 18.7% responden menyatakan sangat setuju.7%. Kemudian yang menjawab setuju dan tidak setuju masing-masing sebanyak 24. Medan Dan dari tabel 13. 16 Mengisi waktu luang Tabel. Untuk mencari persahabatan baik dilingkungan sekitar ataupun di luar. telepon seluler sebagai sarana bermain. untuk itu responden sebanyak 37% menyatakan setuju.4%. kemudian yang menyatakan sangat setuju sebesar 22. 17 Mencari Persahabatan Tabel 16.1%. Untuk mengisi waktu luang ataupun di saat santai telepon seluler digunakan responden bersama keluarga semisal menghubungi atau kirim sms kepada keluarga yang jauh dan teman.2% serta diikuti sikap ragu-ragu sebesar 7. telepon seluler salah bentuk komunikasi bermedia ternyata sangat membantu.7%.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika.7%. Untuk meningkatkan hubungan silaturahmi dengan keluarga dan teman. ternyata responden menjawab kurang setuju yakni sebesar 25. Kemudian jawaban sangat setuju sebesar 27.7% untuk jawaban sangat setuju. responden menyatakan sangat setuju yakni sebesar 50% dan yang menyatakan setuju sebesar 40.9%. 1 .JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.5% responden menyatakan raguragu. Tabel 14. Telepon seluler menimbulkan kesenangan untuk pertanyaan ini responden terbanyak menjawab setuju yakni sebesar 40. Kemudian tabel 17. Tabel.

5% yang menyatakan sangat setuju. Dan tabel 19.2% menyatakan sangat setuju. Penggunakan telepon seluler sudah menjadi kebiasaan sehari-hari dan telepon seluler selalu mendampingi aktivitas responden (gaya hidup) . Penggunakan telepon seluler bagian gaya hidup Tabel 20. Membantu berkreasi Tabel 23. serta yang ragu-ragu dan kurang setuju masing-masing sebesar 7.4% menyatakan setuju dan diikuti sangat setuju oleh sebesar 27. telepon seluler juga dapat membantu. Tabel 21. Dalam melepaskan persoalan sehari-hari yang dapat menimbulkan ketegangan (stress) melalui telepon seluler responden dapat menghubungi seseorang yang dianggap dapat memberikan jalan keluar jikalau untuk menjumpai seseorang secara langsung tidak memungkinkan. kesejahteraan) hal ini dijawab setuju oleh responden yakni sebesar 48.5%. pernyataan ini disikapi oleh responden dengan menjawab sangat setuju yakni sebesar 48.5%. Walau komunikasi tatap langsung lebih memberi makna dan pengaruh yang lebih besar. Mencari ide/ pemikiran untuk berkreasi/berwirausaha. 24 .4%.1% dan diikuti sikap setuju yakni 38.2%. Selanjutnya yang menyatakan ragu-ragu sebesar 20. Melepaskan ketegangan (stress) Tabel 21. karir/pekerjaan.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. 1 .5% menyatakan setuju dan diikuti sebesar 22.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Walau secara tidak langsung telepon seluler telah membantu responden untuk memecahkan permasalahan ekonomi keluarga dan untuk ini sebesar 31. Tabel 20. Untuk ini responden yang menyatakan setuju sebesar 40. Selanjutnya terdapat responden yang menyatakan ragu-ragu yakni sebesar 13%. Kemudian sikap ragu-ragu diakui responden yakni sebesar 7. Kerjasama dengan pihak lain Tabel 22. namun komunikasi bermedia melalui telepon seluler juga dapat membantu memecahkan masalah kehidupan sosial (lingkungan keluarga.1% dan yang sangat setuju sebesar 18. masyarakat. Medan Dari tabel 18. Namun juga terdapat pernyataan responden yang ragu-ragu yakni sebesar 18.8%.7% dan diikuti sebesar 31.4%.9%. Hal ini diakui oleh responden sebesar 57. Kebutuhan Identitas Personal Dalam memenuhi kebutuhan indentitas personal dalam penggunaan telepon seluler dalam hasil temuan penelitian ini yang disajikan dalam bentuk tabel dapat dilihat sebagai berikut : Tabel 22.

5% menyatakan kurang setuju.1% responden yang merasa ragu-ragu. sebesar 35.2% menyatakan setuju dan sebesar 24.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Tabel 28. Namun sebesar 18.2% serta responden yang merasa ragu-ragu sebesar 13%.Informasi aktifitas Tabel 24. Dan tabel 25.3% responden menyatakan sangat setuju dan yang setuju sebesar 35. Tabel 27.2% . Terjalinnya hubungan dengan orang lain akan membantu untuk melancarkan/meningkatkan kerjasama usaha/kegiatan dengan pihak lain (relasional). Tabel 26. Dalam membantu masyarakat melancarkan/meningkatkan kerja sama usaha dengan pihak lain. Keberadaan telepon seluler sudah membantu menjalin kerja sama usaha dengan pihak lain.3% responden yang merasa ragu-ragu. Alasan pernyataan ini karena adanya telepon seluler akan membuka isolasi informasi sehingga dapat membuka cakrawala ide atau untuk berkreasi dari potensi yang ada. diakui responden dengan menyatakan setuju yakni sebesar 48. serta diikuti sebesar 9. telepon seluler bagi masyarakat desa telah sangat membantu. Meningkatkan kerjasama usaha Tabel 27. Untuk itu responden yang menyatakan setuju sebesar 46. Medan Tabel 23. Untuk mendapatkan informasi tentang dunia usaha/kegiatan dengan pihak lain.Relasional dengan pihak lain Tabel 25.Tingkatkan ekonomi masyarakat Tabel 26. untuk ini sebesar 46.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.6% menyatakan setuju. 1 . Tabel 24.2%.1% menyatakan sangat setuju.Informasi dunia usaha 25 . untuk peryataan ini sebesar 53.7% responden menyatakan sangat setuju dan 29. Namun terdapat sebesar 11. Penilaian responden terhadap keberadaan telepon seluler telah membantu meningkatkan perekonomian masyarakat adalah sebagai berikut. tentu saja dengan adanya teknologi ini sangat memungkinkan seseorang dapat mengubungi orang lain di tempat yang jauh dan ini sangat efektif jika kalau harus menjumpainya secara langsung.1% dan untuk sangat setuju sebesar 35.3% dan sangat setuju sebesar 35.

JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. 1 - April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika, Medan

Tabel 28, Hampir sama dengan tabel sebelumnya, hal ini lebih pada tingkat awal adanya penggunaan telepon seluler bagi masyarakat Desa Pertumbukan. Dalam pengembangan jaringan tentu akan membawa dampak-dampak positif yang diharapkan si pengguna. Untuk ha ini responden yang menyatakan setuju sebesar 48,1% dan sangat setuju sebesar 33,3 %, serta terdapat juga responden yang merasa ragu-ragu untuk pernyataan ini yakni sebesar 14,8%. Penggunaan Telepon seluler Penggunaan telepon seluler bagi responden dalam penelitian ini akan meliputi diantaranya pengalaman responden dalam pengalaman dan penggunaan telepon seluler, biaya pembelian pulsa dan sebagainya. Untuk lebih lanjut dapat disimak dibawah ini yang tersaji dalam bentuk tabel.
Tabel 29. Penggunaan telepon seluler Tabel 30. Sistem Ponsel yang Digunakan

Tabel 29, Melihat pengalaman responden tentang menggunakan atau memiliki telepon seluler dapat dilihat pada tabel diatas yakni sebesar 33,3% telah memiliki atau menggunakan telepon seluler kurang dari 1 tahun, kemudian terdapat sebesar 18,5% sudah 4 tahun serta untuk sudah 2 atau 3 masing-masing sebesar 16,7%. Tabel 30, Penggunaan jenis telepon seluler bagi responden hampir mayoritas menggunakan jenis GSM yakni sebesar 96,3% dan hanya 3,7% yang menggunakan jenis CDMA. Hampir mayoritas penggunaan jenis GSM disebabkan ketersediaan sarana dan prasarana di lokasi penelitian lebih memadai, kuatnya penerimaan sinyal ataupun varian telepon seluler untuk jenis ini lebih banyak dan lebih murah, terutama harga bekas.
Tabel 31. Alasan menggunakan Ponsel Tabel 32. Percakapan melalui Ponsel perhari

Tabel 31,Untuk mengetahui faktor-faktor yang mendorong responden untuk menggunakan telepon seluler adalah alasan mencari informasi merupakan faktor yang terbesar dipilih responden yakni sebesar 72,2%, kemudian untuk menambah pengetahuan diakui responden 26

JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. 1 - April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika, Medan

sebesar 13% seta diikuti alasan untuk mengawasi lingkungan/ pengawasan sosial yakni sebesar 5,6%. Tabel 32, Total lamanya melakukan percakapan melalui telepon seluler dalam sehari responden yang terbanyak melakukannya adalah antara 15-30 menit yakni sebesar 38,9%, kemudian dibawah 15 menit yakni sebesar 37% serta diikuti lebih dari 60 menit yakni sebesar 13%.
Tabel 33.Penggunaan SMS Dalam sehari Tabel 34. Kualitas suara

Tabel 33, Salah satu fasilitas fitur yang dimiliki telepon seluler dalam berkomunikasi secara tulisan adalah sms, fitur ini digunakan untuk mengirim pesan-pesan singkat. Responden menggunakan fitur ini sebanyak kurang dari 5 kali yakni sebesar 40,7%, kemudian 5-10 kali sebanyak 38,9%, serta diikuti yang menggunakan sebanyak 10-15 kali dalam sehari yakni sebesar 11,1%. Tabel, 34, Penilaian responden tentang kualitas suara yang didengar percakapan melalui telepon seluler dinilai jelas yakni sebesar 59,3%, kemudian dirasakan sangat jelas yakni sebesar 33,3%, serta diikuti sebesar 5,6% untuk peryataan ragu-ragu.
Tabel 35. Biaya percakapan melalui Ponsel Tabel 36. Biaya SMS

Tabel 35, Mengenai biaya percakapan melalui telepon seluler diakui responden sebesar 37% adalah mahal, namun peryataan yang bertolak belakang diakui responden yang menyatakan biaya percakapan melalui telepon seluler dianggap murah yakni sebesar 35,2% hal ini diakui responden bila menimbang jarak dan waktu yang harus dihabiskan bila akan menemui seseorang di suatu tempat yang jauh. Dan yang terakhir diakui sangat mahal oleh responden yakni sebesar 18,5%. Tabel 36, Penilaian mengenai biaya penggunaan sms, diakui responden sangat murah yakni sebesar 66,7%, kemudian terdapat sebesar 14,8% yang menyatakan mahal, kemudian sebesar 11,1% merasa ragu-ragu untuk memberikan pernyataan.
Tabel 37. Biaya pembelian pulsa perbulan Tabel 38. Kesesuaian Biaya dengan Percakapan

27

JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. 1 - April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika, Medan

Tabel 37, Biaya pembelian pulsa yang dikeluarkan oleh responden rata-rata selama sebulan yang terbanyak adalah sekitar Rp. 50.000,- s/d Rp. 100.000,- (35,2%), kemudian kurang dari Rp. 50.000,- (25,9%), serta diikuti pembelian lebih dari Rp. 200.000,- (14,8%). Tabel 38, Pendapat responden mengenai perbandingan biaya percakapan dengan waktu percakapan dinyatakan sebagian besar oleh responden tidak sebanding yakni sebesar 51,9% dan yang menyatakan sebanding sebesar 48,1%.
Tabel 39. Faktor penyebab ketidakseimbangan Tabel 40. Perkembangan Pengguna Ponsel di desa

Tabel 39, Faktor penyebab ketidakseimbangan diasumsikan responden karena biaya percakapan terlalu tinggi (biaya talk time dianggap mahal) yakni dirasakan oleh responden sebesar 44,4%, kemudian tingkat ekonomi masyarakat masih rendah diasumsikan 22,2% oleh responden. Kemudian faktor penyebab lainnya sebesar 18,5%, diantaranya adalah responden merasa khawatir kehabisan pulsa. Tabel 40, Melihat perkembangan pengguna telepon seluler diakui responden untuk di daerahnya tergolong maju (51,9%), kemudian dianggap sangat maju (44,4%), namun terdapat penilaian responden yang ragu-ragu dan kurang maju terhadap perkembangan pengguna telepon seluler di desanya yakni masing-masing sebesar 1,9%. Sikap Terhadap Kehadiran Telepon seluler Sikap ataupun pendapat responden dalam penelitian ini adalah meliputi beberapa kriteria tentang seputar kehadiran teknologi komunikasi dan informasi khususnya telepon seluler yang akan disajikan dalam bentuk tabel dapat diperhatikan dibawah ini. Tabel 41. Membantu kesejahteraan masyarakat desa

Tabel 41, Kehadiran telepon seluler walau secara tidak langsung telah memberikan bantuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, hal ini diakui responden yakni sebesar 57,4% dan yang menolak pernyataan tersebut sebesar 42,6%.

28

Kemudian memudahkan untuk mencari 29 . Pendapat masyarakat Desa adanya Telepon seluler Untuk tabel 44. Medan Tabel 42. 1 . Kemudian dampak lainnya yakni mayarakat menjadi konsumtif yakni sebesar 1.3% dan diikuti Peningkatan Potensi SDA (pertanian.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.2% .4%.9% dirasakan responden. Mengenai dampak yang dirasakan responden dengan hadirnya telepon seluler menyebabkan pengeluaran semakin bertambah yakni diakui sebesar 33. teman dan pekerjaan tanpa terkendala jarak. pendidikan dan SDM Masyarakat yakni sebesar 35. Tabel 44. Dari pertanyaan terbuka yang dijaring oleh peneliti mengenai pendapat masyarakat tentang kehadiran Telepon seluler di Desa Pertumbukan. dirasakan respo nden yakni sebesar 61. kemudian Peningkatan ekonomi/kesejahteraan masyarakat sebesar 9. Dampak Negatif Telepon seluler Dari Tabel 43.4%. kemudian Telepon seluler hanya menjadi gaya hidup hal ini diakui responden sebesar 7. Pengalaman Peningkatan Yang Dialami Tabel 42 Peningkatan kesejahteraan yang dirasakan menurut responden adalah Peningkatan kualitas pengetahuan. peternakan) yakni sebesar 7.1 % menyatakan Sangat membantu hubungan komunikasi dgn keluarga.3%.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Tabel 43.

menjalin serta meningkatkan kerjasama dengan berbagai pihak baik didalam lingkungan sekitar maupun di luar. tentu saja hal ini tidak baik untuk anak-anak remaja. tgl 20/2/08). merupakan upaya melepaskan diri dari rutinitas dan masalah. Sikap masyarakat terhadap hadirnya telepon seluler dewasa ini dirasakan telah memberikan kemudahan berkomunikasi. dan menambah wawasan. 1 . hal ini dirasakan oleh responden yakni sebesar 18. Penggunaan telepon seluler dalam memenuhi kebutuhan diversi . Namun terdapat hal-hal yang perlu diantisipasi terhadap dampak negatifnya. penguatan nilai.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Masyarakat Desa Pertumbukan memerlukan telepon seluler (media komunkasi) untuk memenuhi kebutuhan informasi termasuk informasi sosial bagi hal ini terkait dengan sistem jaringan sosial yang terdapat disekitar atau diluar lingkungannya yang pada gilirannya dapat 30 . Hasil temuan ini menggambarkan bahwa keberadaan telepon seluler telah membantu masyarakat desa untuk mencari ide/pemikiran untuk berkreasi. Jenis telepon seluler yang familiar dengan responden adalah sistem GSM hal ini disebabkan ketersediaan sarana dan prasarana di lokasi penelitian lebih memadai.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Namun tidak untuk melarikan atau melepaskan diri dari persoalan kehidupan dan kesulitan hidup. Kemudian faktor utama yang mendasari penggunaan telepon seluler diakui oleh responden adalah untuk mencari informasi. terutama harga yang bekas. hingga saat ini jumlah pengguna telepon seluler di desa ini mencapai kira-kira 80% (wawancara dengan Majidul Fahmi. bagi masyarakat desa sangat membantu terutama menimbulkan perasaan senang terkait dengan meningkatkan silaturahmi dengan keluarga dan teman. sarana pelepasan emosi. Dalam kegiatan sehari-hari telepon seluler sudah menjadi pelengkap terutama untuk kemudahan untuk berkomunikasi. Masyarakat desa merasa dengan penggunaan telepon seluler ini sesuai dengan harapan dan kebutuhan. Pola penggunaan telepon seluler bagi masyarakat yakni cenderung menggunakan SMS karena biayanya relatif murah bila dibanding jika melakukan percakapan melalui telepon seluler. yaitu referensi diri. serta dapat mengetahui atau menambah wawasan tentang keadaan/kehidupan di tempat lain (11. misalnya telepon seluler dijadikan sarana untuk menyimpan photo/video porno. Penggunaan telepon seluler di Desa Pertumbukan mengalami kemajuan yang sangat pesat. Kebutuhan identitas personal (Personal identity). mencari informasi.5%. mengisi waktu luang serta mencari persahabatan yang lebih luas. Medan informasi dan menambah pengetahuan/pendidikan. eksplorasi realitas. Poin-poin ini secara tidak langsung diakui akan membantu responden dan masyarakat dapat meningkatkan perekonomiannya.1%). dan hal ini menunjang efektivitas dalam komunikasi bermedia. kuatnya penerimaan sinyal ataupun varian telepon seluler untuk jenis ini lebih banyak dan lebih murah. Pembahasan Masyarakat desa dalam memenuhi kebutuhan informasi termasuk informasi sosial sangat memerlukan hal ini terkait dengan sistem jaringan sosial yang terdapat di sekitar atau diluar lingkungannya yang pada gilirannya dapat memberikan pengetahuan atau menambah pengalaman.

Remaja Rosdakarya. Roger. Bandung.Onong Uchjana. mencari informasi. The Role of Theory in Uses and Gratification Studies. III. Ilmu Komunikasi Teori Dan Praktek. PT. Efenddy. PT. Rachmat. Bandung. Palmgreen. Kriyantono. 2003.G. Jakarta. California . Media Gratification Research. menjalin serta meningkatkan kerjasama dengan berbagai pihak baik didalam lingkungan sekitar maupun di luar dan secara tidak langsung diakui dapat membantu masyarakat untuk meningkatkan perekonomiannya. PT. Bandung. 1994. Sage Publication. & Elihu Katz. 1972. Bagi masyarakat dihimbau untuk menggunakan media telepon seluler secara bijaksana dan memberikan manfaat yang positif. Summer. Dalam kegiatan sehari-hari telepon seluler sudah menjadi pelengkap terutama untuk kemudahan untuk berkomunikasi.Citra Aditya Bakti. Mediamorfosis: Understanding New Media. More than just talk on the move: Uses and gratifications of the cellular phone.. PT. Pengantar Komunikasi Massa. RajaGrafindo Persada. Pola penggunaan telepon seluler bagi masyarakat yakni cenderung menggunakan SMS karena biayanya relatif murah bila dibanding jika melakukan percakapan melalui telepon seluler. London. Sage Publications. 31 . 1997. Teori Dan Filsafat Ilmu. Remaja Rosda Karya. Dinamika Komunikasi. sebaiknya pemerintah dan pihak operator seluler memberikan kemudahan dengan membuat regulasi untuk menurunkan biaya operasionalnya. Jakarta. Medan memberikan pengetahuan atau menambah pengalaman. 2007. 2006. dan menambah wawasan bagi masyarakat serta dapat membantu peningkatan perekonomian masyarakat. Ilmu. vol. Journalism and Mass Communication Quarterly. dan ini sesuai dengan harapan dan kebutuhan mereka. Philip. sarana pelepasan emosi.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Fidler. Pine Forge Perss. Nurudin. Sage Publication. Kencana. dan bagi masyarakat Desa Pertumbukan karena menimbulkan perasaan senang terkait dengan meningkatnya hubungan silaturahmi dengan keluarga dan teman. 2000. Teknik Praktis Riset Komunikasi. dan hal ini menunjang efektivitas dalam komunikasi bermedia. Keberadaan telepon seluler telah membantu masyarakat Desa Pertumbukan untuk mencari ide/pemikiran untuk berkreasi. Leung. mencari informasi. Louis dan Ran Wei. PT.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Kehadiran telepon seluler telah memberikan kemudahan berkomunikasi. Keberadaan telepon seluler dapat dijadikan salah satu upaya melepaskan diri dari rutinitas dan masalah. Jay. The Uses of Mass Communications Current Perspectives on Gratification Research. Remaja Rosda Karya. ____________. Thousand Oaks. London. RajaGrafindo Persada. Bandung. 1 . Saran Telepon seluler salah satu media komunikasi yang sangat pesat perkembangannya dan populer telah memberikan kemudahan dalam berkomunikasi. Jay G. Sistem Komunikasi Indonesia. dan menambah wawasan. Jakarta. Media Massa dan Penerimaan Khalayak. 1991. ___________. PT. ____________. 2005 . mengisi waktu luang serta mencari persahabatan yang lebih luas. DAFTAR PUSTAKA Blumler. 1993. London. 1998. 2000. Blumler. Namun terdapat hal-hal yang perlu diantisipasi terhadap dampak negatifnya. ABI/INFORM Global Muchati.

Jakarta. ___________.htm. Metode Penelitian Survey. Winarno.org/ diakases tgl 12/5/08 http://www. dan beberapa contoh Aplikasi Teori Komunikasi Massa Kontekstual. 2005. Edisi Kelima.. West. Grasindo. 2001. hildadamayanti@yahoo.edu/~drlane/capstone/ contexts. The Models of Uses and Gratifications. Jr. http://komunikasimassaumy. Lain-Lain Damayanti.wikipedia. Teori Komunikasi Massa Terhadap Individu. http://data. Bandung. Remaja Rosdakarya. 2007. 2004.pikiranrakyat.blogspot. Husein. Bandung . Pengantar Penelitian Ilmiah.id/~pawitmy/ -diakses tgl 26/3/08 ____________.com/lihat_opini. diakses tgl 18/1/08. Surakhmad. http://www. Wenner. Jakarta. net. Richard dan Lynn H. Gramedia Pustaka Utama. LP3ES Printing. Erik. James W. Yusup. W. Dasar Metoda Teknik. Tarsito.com/ divakar_goswami. PT. Jalaluddin. Media. Severin.pintunet. Sage Publication. diakses tgl 26/8/07 http://www. Edisi Revisi. http://id.htm . 2000. Dampak Penggunaan Telepon Seluler (Handphone). PT. Wiryanto. 2008.diakses tgl 2/03/08. Remaja RosdaKarya. London .majalahindonesia. Singarimbun.diakses tgl 2/02/08 . http://bdg. http://www. Jakarta. Salemba Humanika.kompas. 2001. 2005. Komunikasi. Rakhmat. Pawit M. Bandung.diakses tgl 8/02/08.un. Metode Penelitian Komunikasi.Wawan. 2002.com/2005/11/teori-komunikasi-massa-terhadap. Dan Terapan di Dalam Media Massa.php? pg=2007/10/ 27102007/65568 . Fajar. Umar.. Tankard. 1998.. Teori Komunikasi : Sejarah. Medan Palmgreen. Pengantar Teori Komunikasi: Analisis dan Aplikasi. Rosengren. Metode Riset Komunikasi Organisasi. http://www.htm .com/hild4. Sumber-Sumber Informasi. Karl.centrin.diakses tgl 11/4/08 32 .April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika.Hilda .html.org/wiki/Telepon _genggam. 1991.diakses tgl 2/02/08. 2000.com/cetak/2005 /0105/20/cakrawala/ lainnya01. diakses tgl 31/3/08 Saprudin. 2005. Masri. 1 .wordpress.J. PT.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Communication Contexts. Jakarta.uky. Teori Komunikasi Massa. Junaedi. Jakarta.htm.com/kompas -cetak/0405/05/telkom/1002910. Metode.com . Psikologi Komunikasi. Prenada Media.2003. Turner.

32/2002 yang memberi peluang bagi tumbuhnya stasiun 3 Penulis adalah Peneliti Muda bidang Komunikasi Sosial pada BBPPKI Medan. development. As for problems to this research is how potencial Radio of Epiginosko to develop society merchant of Pasar Horas in Pematang Siantar City. hence taken some of pupulation become research sample with amount 10% from totalizing population become 54 responders. build that community radio is expected will be able to give respective information contribution with community dynamics merchant Lease of Horas. Pasca Reformasi juga menimbulkan iklim yang kondusif lahirnya proses demokratisasi . yang selama era orde baru proses ini belum berlangsung optimal. society of Pasar Horas A. Proses demokratisasi yang sedang berlangsung didukung oleh semangat otonomi daerah. fund and readiness of researcher to check all community merchant of Market of Horas Pematang Siantar. Radio Swasta Nasional. Pada era Pasca Reformasi. yang memberi peluang bagi daerah untuk menciptakan sumber pendapatan send iri. But because limitation of time. Demikian juga dengan radio swasta yang tergabung dalam PRSSNI ada sekitar 84 radio swasta siaran berdiri di Provsu (PRSSNI 2006). menyadarkan bahkan menggerakkan masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Dalam proses demokratisasi inilah peran media massa sangat diperlukan untuk memotivasi. serta Undang-undang Penyiaran No.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. To facilitate and more directional in executing of this research. As for result of from this research is seen from cognate motivation aspect very agree with existence of community radio of Epiginosko. serta 56 lembaga penyiaran TV Swasta lokal yang tersebar di berbagai daerah. Medan Potensi Radio Komunitas Epiginosko Terhadap Pembangunan Masyarakat Pedagang Pasar Horas Kota Pematang Siantar Sumatera Utara Oleh : Parulian Sitompul 3 Abstract The topic of research in this article is ´Potency Community Radio of Epiginosko to Development Society Merchant of Pasar Horas in Pematang Siantar City´. Latar Belakang Masalah Perkembangan media massa di Indonesia mengalami kemajuan pesat sejak terjadinya perubahan kebijakan tentang Sistem Penyiaran di Indonesia.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. 1 . regulasi tentang pendirian media massa mengalami kemudahan. Motivation version with existence of radio of community get easiness in life of them. Demikian juga halnya dengan hadirnya TV. This Research require to be conducted because pursuant to perception of writer of existence of this radio is in the reality woke up by community merchant of Lease of Horas Pematang Siantar. Keadaan ini berdampak munculnya media massa baik cetak maupun elektronik. Saat ini tercatat ada 1 lembaga penyiaran publik dengan jangkauan nasional yaitu TVRI. Key words: Community radio. 33 . Identity motivation of personal with existence of community radio and also push community to get opportunities of hero/ commerce in Pasar Horas Pematang Siantar. 10 lembaga penyiaran TV Swasta dengan jangkauan nasional. As for becoming population of this research are 540 community Mrchant of Market in Pematang Siantar. Perubahan yang terjadi seiring dengan perubahan kebijakan politik yang terjadi Pasca Reformasi ( setelah tahun 1998 ). Desire of the merchant community develop. hence as research method which was used in this research was research survey by approach descriptive.

Medan televisi swasta berbasis daerah. Dasar pertimbangan yang lebih spesifik dapat dikemukakan sebagai berikut : 1. 1 . Dengan potensi daerah yang dimiliki. terutama sebagai sarana untuk mensosialisasikan kebijakan Pemerintah Daerah di tingkat Lokal dan sebagai sarana mempromosikan potensi daerah. 3. Kehadiran Radio Komunitas dapat memberi kemudahan bagi masyarakat di Kota Pematang Siantar untuk mendapatkan informasi perdangan dengan biaya yang terjangkau dan kualitas siaran yang baik . peternakan. penulis menganggap perlu dilakukannya suatu penelitian untuk mengetahui bagaimana sebenarnya bagaimakah Potensi Rad Komunitas io Epiginosko Terhadap Pembangunan Masyarakat Pedagang Pasar Horas di Kota Pematang Siantar B. Kapankah Waktu dan bagaimanakah frekuen masyarakat Pedagang Pasar Horas di si Kota Pematang Siantar mendengarkan Radio Komunitas Epiginosko? 4. Siaran Radio Komunitas baik yang berbentuk berita maupun informasi potensi daerah Kota Pematang Siantar. Potensi daerah di Kota Pematang Siantar di sektor pariwisata. perdagangan dan peternakan merupakan potensi yang dapat dioptimalkan agar dapat meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD ). Dimanakah lokasi masyarakat Pedagang Pasar Horas di Kota Pematang Siantar biasanya mendengarkan Radio Komunitas Epiginosko ? C. 2. Kota Pematang Siantar merupakan wilayah yang sangat potensial di Propinsi Sumatera Utara. Sektor pariwisata.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. serta lembaga penyiaran komunitas ( TV / Radio Komunitas ) memberi kesempatan bagi pengelola media massa untuk berperan secara optimal membangun daerahnya. Potensi-potensi dalam bidang pariwisata peternakan. dan industri kecil perlu dioptimalkan melalui kemasan program siaran yang mengedepankan upaya-upaya agar masyarakat bersedia berpartisipasi meningkatkan potensi daerahnya. maka peneliti dapat merumuskan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut. lembaga penyiaran publik lokal ( TV/Radio Publik Lokal ). optimalisasi fungsi lembaga penyiaran Radio Komunitas dapat mewujudkan tingkat kesejahteraan masyarakat yang lebih tinggi dari kondisi sekarang. Apakah jenis informasi daerah yang didengar masyarakat Pedagang Pasar Horas di Kota Pematang Siantar dari Radio Komunitas Epiginosko ? 3. Kehadiran lembaga penyiaran komunitas (TV dan Radio Komunitas) dapat memberi kontribusi yang sangat berarti bagi suatu daerah. Perumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang penelitian di atas. Pembatasan Masalah Adapun pembatasan masalah dalam penelitian ini adalah : 1. Adapun permasalahan khusus dalam penelitian ini adalah : 1. umum tentang 34 . Berdasarkan permasalahan inilah.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Bagaimanakah motivasi Pedagang Pasar Horas di Kota Pematang Siantar mendengarkan Radio Komunitas Epiginosko untuk mendapatkan informasi daerah? 2. perdagangan dan industri kecil perlu dilakukan promosi melalui Radio Komunitas agar dapat menarik minat investor lokal maupun luar negeri untuk menanamkan investasinya di Kota Pematang Siantar. bagaimakah Potensi Radio Komunitas Epiginosko Terhadap Pembangunan Masyarakat Pedagang Pasar Horas di Kota Pematang Siantar. perdagangan. sehingga dapat berdampak kepada peningkatan pemasukan pendapatan daerah tersebut.

Mengetahui Lokasi masyarakat Pedagang Pasar Horas biasanya mendengarkan Radio Komunitas Epiginosko di Kota Pematang Siantar. masing-masing berbeda latar belakang sosialnya seperti usia. Siantar agar dapat mendorong dalam pengembangan radio komunikator di P. Komunikasi massa berlangsung satu arah. Sebagai bahan masukan bagi pemerintah Kota P. Daerah penelitian ini adalah di Kota Pematang Siantar 3. Komunikator pada komunikasi massa merupakan lembaga. Responden penelitian ini adalah masyarakat Pedagang Pasar Horas Kota Pematang Siantar D. yakni satu institusi atau organisasi. 2. Ia tidak mempunyai kebebasan sebagai individu. 4. 1 . kebudayaan. Dengan kata lain. bukan kepada perseorangan atau kelompok tertentu. Medan 2.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Seperti yang dikemukakan Melezke (1963) yang dikutip oleh Rakhmat. Mengetahui motivasi masyarakat Pedagang Pasar Horas di Kota Pematang Siantar mendengarkan Radio Komunitas Epiginosko untuk mendapatkan informasi daerah . 2. Sebagai bahan masukan bagi pengelola managemen radio komunitas epiginosko dalam upaya peningkatan dan pengembangannya. Pesan pada komunikasi massa bersifat umum. maka ia bertinndak sesuai dengan kebijaksanaan ( policy) media yang memilikinya.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. 1981 mengartikan komunikasi massa sebagai setiap bentuk komunikasi yang menyampaikan pernyataan secara terbuka melalui media penyebaran teknis secara tidak langsung dan satu arah pada publik yang tersebar. Karena komunikator pada komunikasi massa bertindak atas nama lembaga. komunikator tidak mengetahui tanggapan khalayak (komunikan) terhadap pesan yang disampaikan. satu sama lain tidak saling mengenal dan tidak melakukan kontak pribadi. E. 3. 5. 4. Mengetahui waktu mendengarkan Radio Komunitas Epiginosko masyarakat Pedagang Pasar Horas Kota Pematang Siantar . pengalaman dan sebagainya. Mengadopsi kepada karakteristik media massa maka keberadaan Radio Komunitas dapat dijelaskan fungsi dan peranannya dalam kerangka teoritis mengenai komunikasi massa. Adapun manfaat dari penelitian ini adalah : 1. pekerjaan. 2. komunikasi massa mempunyai ciriciri (dikutip dari Effendi (1993:22-26) adalah : 1. pendidikan. Artinya komunikan atau khalayak merupakan masyarakat yang heterogen. Mengetahui Jenis informasi daerah yang didengar masyarakat Pedagang Pasar Horas Kota Pematang Siantar dari Radio Komunitas. Uraian Teoritis Penelitian ini membahas tentang bagaimana masyarakat mendapatkan informasi daerah melalui Radio Komunitas. 3. Keberadaannya terpencar. Maksudnya pesan ditujukan kepada umum. Media komunikasi massa menimbulkan keserempakan. Artinya khalayak menerima secara serempak (simultan ) pesan yang disampaikan melalui media massa. 35 . Epiginosko 3. Tujuan dan Manfaat Penelitian Adapun tujuan dari penelitian ini adalah : 1. Siantar. Sebagai bahan masukan bagi pemerintah pusat Departemen Komunikasi dan Informatika dalam pembuatan kebijakan yang berkaitan dengan pengembangan radio komunikator. Dibanding dengan jenis-jenis komunikasi lainnya. Dalam hal ini tidak terdapat arus balik dari komunikan kepada komunmikator. Komunikan pada komunikasi massa bersifat heterogen. agama.

Blumler. organisasi dan lain sebagainya. Kebutuhan Afektif 3. maupun mengisi waktu luang dengan berbagai cara. Kebutuhan Integratif Sosial 5. Penelitian ini akan mendeskripsikan tentang: 1.Ketergantungan . Kapankah Waktu masyarakat Pedagang Pasar Horas di Kota Pematang Siantar mendengarkan Radio Komunitas Epiginosko ? 4. Apakah Jenis informasi daerah yang didengar masyarakat Pedagang Pasar Horas di Kota Pematang Siantar dari Radio Komunitas Epiginosko ? 3. 1 . komunikasi interpersonal.Waktu .JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Gurevitch membuat tipologi kebutuhan manusia yang berhubungan dengan penggunaan media yang meliputi : 1. Bagaimanakah motivasi masyarakat Pedagang Pasar Horas di Kota Pematang Siantar mendengarkan Radio Komunitas Epiginosko untuk mendapatkan informasi daerah ? 2. media massa di sini dimaknai sebagai Radio Komunitas Epiginosko. Variabel Lingkungan juga masih merupakan bagian dari Variabel Anteseden yang biasanya terdiri dari lingkungan sosial. Kerangka teoritis yang digunakan dalam penelitian ini memang memodifikasi efek media massa terhadap sikap individu. Model Mass Media Uses and Gratifications menurut para pendirinya menyatakan bahwa awal kebutuhan secara psikologis dan sosial individu menimbulkan harapan tertentu kepada media massa atau sumber lain. mendengarkan radio serta menonton televisi. model Mass 36 . Gurevitch. 1985 Model ini dimulai dengan Variabel Anteseden yang terdiri dari Variabel Individual yaitu antara lain usia. Kebutuhan melalui media massa dapat dipenuhi dengan membaca surat kabar dan majalah. Masyarakat dalam model penelitian ini memiliki kebutuhan dan motif beraneka ragam berdasarkan karakteristik sosialnya. Dalam penelitian ini. Melalui sumber lain . tingkat pendidikan dan tingkat pendapatan.Kognitif .Jenis Isi Variabel Lingkungan Sumber : Jalaluddin Rahmat. ( Katz. Kebutuhan Integratif Pesan 4. 1974 : 19 ± 32).Kepuasan . Dimana Lokasi masyarakat Pedagang Pasar Horas di Kota Pematang Siantar biasanya mendengarkan Radio Komunitas Epiginosko ? Anteseden Media Variabel Individual Identitas Motif Penggunaan Efek .Pengetahuan Personal . Dalam penelitian ini tidak semua komponen yang ada dalam model Mass Media Uses and Gratifications diteliti. gagasan dan sikap kepada komunikan yang beragam dalam jumlah yang banyak menggunakan media. Kebutuhan akan pelarian Kebutuhan tersebut dapat dipenuhi dan dipuaskan melalui media massa dan sumber lain . Dalam pembahasan dan kerangka teoritis. Katz. Medan Komunikasi massa menyiarkan informasi. kebutuhan dapat terpenuhi melalui hubungan dengan keluarga. Blumler. teman.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika.Diversi . jenis kelamin. afiliasi kelompok.Frekuensi . Kebutuhan Kognitif 2.Isi . Kerangka teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah model Mass Media Uses and Gratifications .

menurut Gonzales (1978. sedang (3) efek konatif erat hubungannya dengan niat dan kecenderungan berperilaku menurut cara tertentu. persepsi dan keputusan pada seseorang yang timbul karena adanya faktor intrinsik dan ekstrinsik (Wahyusumidjo . perasaan. dan kebutuhannya (need). 1988:17). 37 . motif merupakan deskripsi verbal yang memberikan gambaran. dijelaskan lebih lanjut bahwa faktor intrinsik dalam diri manusia dapat timbul berdasarkan kepribadian. pikiran dasar. pendekatan dengan melihat jenis perubahan yang terjadi pada khalayak. pendekatan yang berkaitan dengan pesan media massa. Kedua pandangan yang tadi disebutkan tidak menghormati manusia sebagai manusia. Sedangkan menurut Wahyusumidjo. William Mc. Teori belajar sosial dari Bandura (1977). disebut tiga dimensi efek komunikasi massa.Dougall mengemukakan faktor-faktor personal yang menentukan prilaku manusia. Keduanya tidak mampu menjelaskan aspek eksistensi manusia yang positif dan membangun seperti cinta. afeksi. mengungkapkan bahwa komponen kognitif dan afektif banyak dipengaruhi oleh media komunikasi seperti film. surat kabar. menjelaskan efek prososial dari media massa itu sendiri. instink. peneliti perlu mengawali dengan meletakkan konsepsi manusia karena yang diteliti adalah motif manusia. 1984:178 ) Dari pendapat di atas. Kebutuhan inilah yang menimbulkan motif. makna. Menurut tafsiran sosiologis Max Webber . 2001 : 30 ). Pendekatan tersebut. dalam Jahi. Pertama. Ketika membicarakan motif. Menurut Carl Rogers dalam konsepsi Humanistik ini. sistem kognitif. nilai . dan behavioral). 2001:33). harapan. Berkaitan dengan prilaku manusia. Medan Media Uses and Gratifications diadaptasi untuk meneliti hubungan antara motif masyarakat dengan penggunaan radio. penjelasan atau dasar kebenaran tingkah laku yang telah dilakukan (Turner. Seperti penerimaan informasi. motivasi merupakan proses psikologis yang mencerminkan interaksi antara sikap.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Mar¶at (1981:124). radio. Kedua. Chaffe (1980) dalam Rakhmat (1985:215-217). dan sikap. manusia mempunyai prilaku meningkatkan. 1988 : 153). sikap.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Secara Etimologis. Dengan kata lain. Manusia memiliki faktor-faktor personal (internal) antara lain sikap. hidup manusia lebih bermakna ketika manusia itu melibatkan nilainilai dan pilihan yang membangun . Manusia adalah pencari makna. kreativitas. dan motif ( Rakhmat. (2) efek afektif yang berhubungan dengan emosi. mengemukakan tiga pendekatan untuk melihat efek media massa. dalam pertumbuhannya manusia memerlukan orang lain. belajar dan tambahan pengetahuan. kebutuhan. 1984). Motif merupakan salah satu faktor pembentuk prilaku seseorang dalam menanggapi sesuatu. Motif merupakan daya yang timbul dari dalam diri yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. dorongan bagi seseorang untuk berbuat atau ide pokok yang selalu berpengaruh terhadap tingkah laku manusia ( Kartono. Konsep manusia yang dibahas dalam penelitian ini adalah konsepsi Psikologi Humanistik yang melihat manusia sebagai manusia seutuhnya. kepribadian. Tidak seperti pandangan Psikoanalisis yang cenderung menganggap manusia hanya dipengaruhi oleh naluri hewaninya dan Behaviorisme yang melihat manusia sebagai robot tanpa jiwa dan nilai. dan pertumbuhan pribadi (Rakhmat. dan televisi. motivasi berasal dari bahasa Latin yaitu ´motivas´ yang berarti alasan dasar . yaitu : (1) efek kognitif yang meliputi peningkatan kesadaran. perubahan perasaan atau sikap dan perubahan perilaku (perubahan kognisi. meninjau satuan observasi yang dikenai efek media massa. Dan ketiga. 1 . mempertahankan dan pengaktualisasian diri.

Medan Menurut Yoseph Klapper (Rakhmat. Prinsipprinsip yang harus dianalisis adalah sebagai berikut : 1. Dalam kata lain Efektifitas sebuah proses komunikasi ditentukan oleh tiga faktor. Jadi dapat dikatakan motif mempengaruhi seseorang dalam memilih sesuatu termasuk juga dalam memilih media massa dan mengkonsumsi isinya.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. ketiga faktor itu adalah sebagai berikut : 1. 1 . 38 . 2. Pertama. 2001: 198) pengaruh Komunikasi Massa ditentukan oleh faktor-faktor predisposisi personal. perbendaharaan kata). Kedua. Demikian juga halnya motif menggunakan telepon pedesaan sabagai salah satu sarana berkomunikasi . 7. daya tarik dan kekuasaan. Perceived Concern adalah kemampuan komunikator untuk melakukan penelitian/mersa peduli apakah komunikan tunduk kepada pesan. Appeals (imbauan) pesan mengacu pada motif-motif psikologis yang dikandung pesan (rasional. mudah dimengerti. Keahlian diukur dengan sejauhmana komunikan menganggap komunikator mengetahui jawaban yang benar. Ketiga. 3. 4. gaya pesan.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Daya tarik ukur dari kesamaan. fear appeals ). struktur pesan ditunjukkan dengan pola penyimpulan. Perceived Control adalah kemampuan komunikator untuk melakukan pengawasan apakah komunikan itu tunduk kepada pesan atau tidak. Kredibilitas terdiri dari dua unsur yaitu keahlian dan kujujuran. 2. Faktor Komunikator Komunikator dalam model ini harus memiliki kredibilitas. pola urutan argumentasi dan pola objektifitas. menurut Rakhmat (1989:62). kemampuan untuk meneliti apakah komunikan mengikuti pesan yang disampaikan atau tidak. Perceived Security adalah kemampuan komunikator untuk memperhatikan/menyelidiki apakah komunikan itu tunduk kepada pesan. 2. imbauan pesan. Di dalam faktor personal inilah terdapat motif yang memberikan asumsi tertentu bagi orang dalam menanggapi sesuatu. reward appeals. Menurut Cultip dan Center dalam Susanto (1982:138) mengatakan bahwa pesan yang efektif adalah pesan yang memiliki 7 C yaitu : 1. Kekuasaan dioperasionalkan dengan tanggapan komunikan tentang kemampuan komunikator untuk memberikan ganjaran. Consistency adalah ada tidaknya pertentangan / pebedaan dalam bagian -bagian ataukah terdapat suatu pengulangan dengan variasi di dalamnya. Clarity adalah faktor kesederhanaan dan jelas tidaknya perumusan yang digunakan dalam pesan 5. familiaritas dan kesukaan. emosional. Credibility yaitu nilai kepercayaan khalayak atau publik kepada komunikator. Continuity adalah pesan yang bersifat kesinambungan 6. keanggotaan kelompok dan proses selektif atau biasa juga disebut faktor personal. Capability adalah faktor yang terakhir dalam penelitian pesan untuk disebarkan kepada komunikan. Contents yaitu faktor makna dan arti yang tersimpulkan dalam pesan terutama memperhatikan apakah pesan dipahami oleh komunikan. 3. Faktor Pesan Pesan terdiri dari struktur pesan. Sedangkan kejujuran dioperasionalkan dengan persepsi komunikan tentang sejauhmana komunikan tidak memihak dalam penyampaian pesan. Context yaitu faktor yang menghubungkan isi pesan dengan keadaan lingkungan yang ada. gaya pesan menunjukkan variasi linguistik dalam penyampaian pesan (perulangan.

menyebutkan jika jumlah populasi dari 100 orang maka dapat diambil samnpel antara 10 %. F. Sementara sampel dalam penelitian ini adalah pendengar Radio Komunitas Epiginosko yaitu Pedagang Pasar Horas Kota Pematang Siantar. Metode ini digunakan berdasarkan penjelasan suharsimi arikunto. METODOLOGI PENELITIAN F.2 Lokasi Penelitian Lokasi penelitian ini adalah dilakukan di Kota Pasar Horas Pematang Siantar . karena penelitian ini adalah penelitian survey dengan menyebarkan kuesioner kepada responden yang telah ditentukan.3 Populasi dan Sampel Adapun populasi dalam penelitian ini adalah komunitas Pedagang Pasar Horas Kota Pematang Siantar. Penyebaran Kuesioner F.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. F. 1 .1 Variabel Anteseden a. F.1 Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Survey. 1984 . Jumlah sampel dalam penelitian sebanyak 54 orang terdiri dari para pedagang di Pasar Horas Kota Pematang Siantar. Jenis Kelamin c. Pengkajian Kepustakaan. Tingkat Pendidikan 39 . F.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. G. Medan 3. Pengambilan sampel tersebut diambil 10 % jumlah populasi. 263 ) . Dari data tersebut dianalisa melalui tabel tunggal sebagaimana lazimnya dalam metode deskriptif.4 Metode Pengumpulan Data a. Kerangka konsep terdiri dari variabel-variabel ( konsep-konsep ) dan hubungan-hubungan yang membentuk konteks kausal dari penyelidikannya. yang dilakukan dengan cara mempelajari dan mengumpulkan data dari literatur dan bahan bacaan yang ada hubungannya dengan masalah dalam penelitian ini. Faktor media Media yang diteliti adalah Radio Komunitas dengan asumsi semakin lengkap sarana dan prasarana yang disediakan untuk proses komunikasi maka hasil yang akandiperoleh akan semakin tampak lebih sempurna walaupun kadangkala banyak kendala yang harus dijumpai. 15% hingga 20 %. Usia b. Metode ini digunakan karena penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research) dengan menyebarkan kuesioner kepada responden terhadap sampel yang telah ditentukan. 2001 : 40 ). b. karena itu harus memerlukan desain riset ( Mayer dan Wood.5 Metode Analisis Data Analisa data dilakukan secara deskriptif. Kerangka Konsep dan Operasionalisasi Variabel Kerangka konsep adalah sebagai hasil pemikiran rasional yang bersifat kritis dalam memperkirakan kemungkinan hasil yang akan dicapai dalam penelitian ( Nawawi. Merujuk dari kerangka teori di atas yang menghasilkan kerangka konsep kemudian diimplementasikan dalam Operasionalisasi Variabel penelitian ini adalah sebagai berikut : G.

sumber Informasi Kurang Setuju (2.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Keberadaan Radio Epiginosko sesuai dengan yang diharapkan dan kebutuhan Radio Epiginosko mendorong menam bah Menyatakan sangat setuju (41%). Eksplorasi Realitas ) b.Ragu - Jenis Kelamin Yang menyatakan sangat setuju (37%). Frekuensi penggunaan Isi ( Bahan Pembicaraan) Jenis Isi ( Klasifikasi : ekonomi. Medan d. Tingkat Penghasilan Mayoritas responden berpenghasilan tiap bulannya dari dari hasil dagangan merekan antara 1.9 juta sebesar (48%) dan diatas 2 juta (34%). c.2 Variabel Motif (Penggunaan Radio) a. Pengetahuan b. walaupun ada yang mengajukan untuk mencari informasi pekerjaan mereka sebesar (2. pendidikan ) G. Pekerjaan G. d. Pengawasan Lingkungan Sosial.4 juta ± 1. Tingkat Penghasilan e. HASIL PENELITIAN Usia Responden Usia Responden pada penelitian ini adalah mayoritas berkisar diatas 42 x 4 (32%) sementara umur 27 -31 tahun hanya 4 % Jenis kelamin laki-laki ternyata lebidominan (66%) dibandingkan perempuan (35%). Durasi yang digunakan.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Setuju (48%). Diversi ( Kebutuhan Pelepasan Dari Tekanan.4%). b. Ragu-ragu (9%). Setuju (46%). Mencari Informasi Pada umumnya pedagang pajak horas sangat setuju mencari informasi tentang berkaitan dengan pekerjaan sebesar (65%). Ragu-ragu (39%). 40 . Ketergantungan H. Kebutuhan Hiburan ) c.4%). politik . sosial.4 Variabel Efek ( Penggunaan Radio ) a. Keikutsertaan Organisasi f. Tingkat Pendidikan Mayoritas tingkat pendidikan pedagang yang menjadi responden dari penelitian ini adalah yang ditawar Oma (79%). Orientasi Kognitif ( Kebutuhan Informasi. Kepuasan c.3 Variabel Penggunaan Media ( Penggunaan Radio ) a. 1 . Identitas Personal (Memperkuat/menonjolkan sesuatu yang penting dalam kehidupan ) G. Radio Epiginosko sebagai Menyatakan sangat setuju (45%). ragu (11%).

kebutuhan mendapatkan hiburan. Bina Aksara. Ragu-ragu (24%). Pada umumnya pedagang Pasar Horas mendengarkan radio ketika berada di Pasar Horas dan sebagian lagi menyatakan ada yang dirumah. memberikan kesenangan Radio Epiginosko Yang menyatakan sangat setuju dan setuju (78%) dan mendorong berwira usaha ragu-ragu (22%). Diterjemahkan Trimo. Eduard dan Collin Mac Andrew. Depari. mempelajati sesuatu. Medan pengetahuan dunia usaha Radio Epiginosko sangat dan setuju (81%). Jakarta. Motivasi mendengarkan radio komunitas berdasarkan motivasi kognitif adalah untuk memperoleh informasi mendapatkan pengetahuan. Prosedur Penelitian. New York & London. mendapatkan kesenangan. 2. Remaja Rosdakarya. Fisher. Siantar.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. 1. Peranan Komunikasi Massa Dalam Pembangunan. 1 . 1982. Melvin and Ball-Rokeach. 41 . Bandung. DeFleur. Motivasi diversi responden mengakui dengan mendengarkan radio komunitas yaitu untuk kebutuhan pelepasan demi tekanan. I. Soedjono. Gajah Mada University Press. Pada umumnya perdagangan Pasar Horas sangat setuju mencari informasi yang berkaitan dengan pekerjaan responden. Pemerintah Daerah dalam hal pemko P. 4. Theories of Mass Communication. 1986. Suharsimi. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Kesimpulan 1. Yogyakarta. Siantar diharapkan dapat mendorong lebih banyak lagi berdiri dikota P. 2. Pemerintah Pusat dalam hal ini Departemen Komunikasi dan Informatika dapat memberikan pembinaan langsung maupun tidak langsung tentang manajemen pengelolaan radio komunitas secara modren. Siantar mendengarkan radio pada pagi hari dan sampai sore hari masing-masing sebesar 28% dan ada juga pedagang sebesar 26%. Daftar Pustaka Arikunto. Penyunting: Jalaluddin Rakhmat. mendapatkan wawaan. Suatu Pendekatan Praktik. 1990. Teori-Teori Komunikasi. kemudian motivasiidentitas personal yaitu dengan mendengarkan radio mendorong dalam pemenuhan syarat untuk berwirausaha. 3. Pada umumnya pedagang Pasar Horas P. 1982. Rekomendasi Pengelola/managemen radio efiginosko meningkatkan kualitas materi saran yang diberkaitan dengan aktivitas pedagang pasar horas yang berkaitan dengan nilai nilai keagamaan. Aubrey B.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.

Metode dan Terapan di Dalam Media Massa. Metode Penelitian Survai. Tokyo: McGraw-Hill International Book Company. A Texbook of Social Psychology. Metode Penelitian Komunikasi. Psikologi Komunikasi. 1993.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Pematang Siantar. Alih Bahasa : Putu Laxmant S. Kerlinger. 1980. Deanna F. Secon Edition. International Student Edition. Remadja Karya. Bandung.dan Pemirsa. Jakarta. 1993. Ltd. Tan. 1962. LP3ES. S. (1989). Tankard. Denis. 1985. Endang. Sari. Model . Fred N. Wright. James W. Masri. Mass Communication Theories and Research. Charles R. Teori Komunikasi . Building Communication Theory. Columbus. Prenada Media Singarimbun.Rancer. Sosiologi Komunikasi Massa. Jr. David. Jalaluddin. Severin Werner J. Andrew. Tgl. 2005. Jakarta ---------------. Nazir Mohd. Ohio. --------------------. dan Sofian Effendy (ed). New York University McQuail. Pendit. Erlangga. Waveland Press. 10 Juli 2008 Penulis adalah Peneliti Pertama Bidang Media Massa Pada BBPPKI Medan 42 .April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Alexis. Penyunting : Jalaluddin Rakhmat. Teori Komunikasi Massa. Audience Research. Remadja Karya. (1991). Remadja Karya. Krech. OPINI PUBLIK MENGENAI PERAN MEDIA CETAK LOKAL DALAM PEMBANGUNAN BIDANG PERTANIAN HORTIKULTURA (Survei di Desa Ndokum Siroga dan Desa Surbakti Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Karo)* Oleh : IDAWATI PANDIA** * ** Telah diseminarkan di Siantar Hotel. Bandung. Foundation of Behaviour Research. Crutchfield. Kogakhusa. Ghalia Indonesia. Rakhmat. Metode Penelitian. Pengantar Studi Penelitian Terhadap Pembaca. Richard S. Bandung: Remadja Karya. 1985. 1987.Womack.Model Komunikasi. S. Alih Bahasa : Agus Dharma dan Aminuddin Ram. 1988. Uni Primas. Bandung. Grid Publishing Inc. Sejarah. 1989. Medan Infante A Dominac. Individual In Society. Pendengar. Jakarta. 1998. and Ballachey Egerton. 1 .

Pilar utama yang ketiga ini ikut pula menentukan keberhasilan pembangunan. Dan sudah barang tentu untuk mensukseskan pembangunan ini diperlukan peranan pers atau peranan media massa dalam menyampaikannya ditengah ± tengah masyarakat. pers tidak akan berkembang. apalagi masyarakat petani masih merasakan kurangnya informasi tentang pangsa pasar produk pertanian dan informasi tentang agrobisnis dan budidaya pertanian hortikultura. Tanpa keikutsertaan masyarakat.Media Lokal Pertanian. Hal ini perlu diperhatikan dengan baik agar pembangunan ini tidak berjalan dengan semaunya saja ataupun sampai kebablasan. Kedua. institusi pers. Keberadaan media massa cetak lokal masih dapat dan sangat diharapkan oleh masyarakat dalam mendorong suksesnya pembangunan pertanian hortikultura.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. lalu pemerintah daerah akan sulit menentukan arah dan kebijaksanaan pembangunan. Hasil temuan menunjukkan bahwa masyarakat di dua desa yang menjadi lokasi penelitian. Ketiga pilar utama dalam gerakan pelaksanaan pembangunan itu adalah sebagai berikut : pertama. 43 . khususnya di Sumatera Utara adalah masalah pembangunan. sehingga pelaksanaan pembangunan itu dapat berjalan dengan baik. Hortikultura. sudah tentu pembangunan ini akan menimbulkan dampak yang negatif bagi masyarakat. ternyata masih memanfaatkan media cetak lokal sebagai sumber informasi pembangunan pertanian hortikultura. Sebaliknya pembangunan yang sehat sudah jelas sangat membutuhkan kebebasan pers yang sehat pula. 1 . layak dan mempunyai wibawa. masyarakat. kuat dan bermartabat. Kalau hal ini sampai terjadi. A. Peran inilah yang sangat diharapkan masyarakat yang dapat ditangkap dan diisi oleh media massa cetak lokal. Sudah tentu semua kebijakan yang menyangkut pelaksanaan pembangunan daerah berada di institusi pemerintah daerah terutama Bupati dan Walikota. Melalui media massa yang ada. institusi pemerintah daerah.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. seharusnyalah media yang tangkas dan wartawan yang profesional sudah pasti sangat diperlukan karena memainkan fungsi. Namun ini masih terkendala karena terbatasnya sirkulasi dan keterlambatan media lokal sampai ke masyarakat terutama masyarakat pedesaan. Kemudian perlu diingat bahwa media yang sehat tentu saja menjadi mutlak kehadirannya untuk mendorong agar pelaksanaan pembangunan itu juga menjadi sehat. Latar Belakang Masalah Salah satu masalah yang banyak dibicarakan dan masih aktual serta menarik perhatian di Indonesia. peran dan kewajiban yang amat menentukan. Medan Abstrak Penelitian Opini Publik Mengenai Peran Media Cetak Lokal Dalam Pembangunan Pertanian Hortikultura ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif. media dan pembangunan tidak dapat dipisahkan dari perkembangannya. Ketiga. Pilar utama yang pertama ini mempunyai peranan yang sangat besar dalam menentukan keberhasilan pelaksanaan pembangunan. Oleh karena itu kebebasan pers yang sehat ( healthy press freedom ) menjadi prasyarat yang mutlak menuju pembangunan yang sehat pula. Dengan kata lain. Akibatnya pembangunan daerah pun akan mandeg. Jadi keduanya. Pelaksanaan pembangunan daerah yang demokratis digerakkan oleh tiga pilar utam yang saling berkaitan.P opulasi dari penelitian ini adalah masyarakat di dua desa di Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Karo yang membaca media cetak lokal. Pilar utama yang kedua ini juga mempunyai peranan yang sangat menentukan didalam pembangunan daerah. instutusi pers seperti suratkabar dan televisi turut menentukan berhasil tidaknya pembangunan daerah tersebut. Kata±kata Kunci : Opini Publik.

C. khususnya yang tersebar pada masyarakat Kabupaten Karo. Kontribusi pertanian yang diberikan Kabupaten Karo pada Propinsi Sumatera Utara persentasenya cukup besar. dalam hal ini Departemen Komunikasi dan Informatika RI untuk membuat kebijakan dalam bidang komunikasi massa mendatang. Info Karo. Dengan melihat hal tersebut.sehingga opini publik menjadi sangat penting bagi pemerintah didalam melakukan perencanaan pembangunan. Misi ini tidak akan terwujud secara efektif tanpa fungsi dan peranan pers. 10 ). Rumusan Masalah Adapun yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah : 1. dan Sirulo ( sumber : Dinas Infokom Karo ). Apakah kendala yang dihadapi masyarakat tentang media massa cetak lokal dalam mensukseskan pembangunan bidang pertanian hortikultura. Majalah Sibayak Pos terbitan Brastagi. 44 . Bagaimanakah opini publik mengenai peran media massa cetak lokal sebagai sumber informasi pembangunan bidang pertanian hortikultura. Manfaat Dan Sasaran penelitian Manfaat Penelitian 1. 2006. Kabupaten Karo adalah kabupaten yang sangat didominasi oleh sektor pertanian yaitu sub sektor pertanian tanaman pangan dan palawija. Pemerintah Kabupaten Karo menetapkan salah satu misi pembangunannya yang berbunyi ´ Mengembangkan secara optimal pertanian. Medan Salah satu kabupaten yang sangat intens memperhatikan keberlangsungan pembangunan di Sumut adalah Kabupaten Karo.maka penulis tertarik dan merasa penting untuk melakukan penelitian bagaimana opini publik mengenai peran media cetak lokal dalam pembangunan bidang pertanian hortikultura ini. Sora Mido. industri dan perdagangan berbasis agrobisnis yang berdaya saing dan berwawasan lingkungan dan rehabilitasi lahan yang kritis ( BPS. Berdasarkan latar belakang permasalahan yang telah dipaparkan diatas dan mengingat bahwa salah satu fungsi pers yaitu sebagai fungsi kontrol. Sebagai bahan masukan berupa data dan informasi bagi pemerintah. D. Dinas Infokom. perkebunan. Untuk mengetahui kendala yang dihadapi masyarakat tentang media massa cetak lokal dalam mensukseskan pembangunan bidang pertanian hortikultura. Tabloid Karo Membangun. Untuk mengetahui bagaimana opini publik mengenai peran media massa cetak lokal sebagai sumber informasi pembangunan bidang pertanian hortikultura.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Untuk mengetahui bagaimanakah pemanfaatan media cetak lokal sebagai sumber informasi pembangunan bidang pertanian hortikultura. 2006. 3. 1 . pariwisata. Tujuan Penelitian Sebagai tujuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Jumlah rumahtangga yang berusaha disektor ini berkisar antar 70 persen sampai dengan 74 persen ( BPS. 10 ). sub sektor hortikultura. sudah sepantasnya Kabupaten Karo memiliki corong yang kuat untuk mensosialisasikan kepada masyarakat melalui media massa. khususnya di Kabupaten Karo antara lain . Humas Pemkab Karo. B. potensi wisata dan pertanian yang lebih luas dalam merencanakan dan mengelola sumber daya yang dimiliki dan untuk memberikan fasilitas dan dorongan yang lebih terarah pada perkembangan pembangunan kerakyatan. 3. 2. peternakan dan sebagian kecil perikanan darat ( air tawar ). Adapun jenis media cetak lokal yang turut mewarnai dan memberikan informasi bagi masyarakat.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Bagaimana pemanfaatan media cetak lokal sebagai sumber informasi pembangunan bidang pertanian hortikultura ? 2.

JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. 1 - April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika, Medan

2. Sebagai referensi bagi BBPPKI Medan dan instansi ± instansi yang terkait untuk bahan kajian lanjutan. Sasaran Adapun sasaran dengan dilakukannya penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Secara tidak langsung masyarakat ikut berperan serta dalam mensukseskan pembangunan bidang pertanian hortikultura, ikut memberhasilkan pembangunan daerah yang terrencana dan terarah. 2. Adanya kebebasan pers yang sehat menjadi prasyarat yang mutlak menuju pembangunan bidang pertanian yang sehat pula. 3. Terwujudnya pelaksanaan pembangunan yang berjalan dengan baik, layak dan berwibawa. E. Kerangka Teori Kebutuhan melalui media massa dapat dipenuhi dengan membaca suratkabar. Tabloid dan majalah lokal. Dalam penelitian ini,model Teori Normatif,yaitu Teori Media Pembangunan diadaptasi untuk meneliti bagaimana Opini Publik Mengenai Peran Media Lokal Dalam Pembangunan Bidang Pertanian Hortikultura. Teori Normatif (cabang filsafat sosial) yang lebih berkenan dengan masalah bagaimana seharusnya media berperan bilamana serangkaian nilai sosial ingin diterapkan dan dicapai dengan sifat dasar nilai-nilai sosial tersebut.Jenis teori ini penting karena ia memang berperan dalam membentuk institusi media dan berpengaruh besar dalam menentukan sumbangsih media,sebagaimana yang diharapkan oleh publik media itu sendiri dan organisasi,serta para pelaksana organisasi sosial itu(McQuail,1994:4). Teori media pembangunan adalah penerimaan pembangunan ekonomi itu sendiri (yang karenanya perubahan sosial),dan sering kali ³pemban gunan bangsa´ (nationbuilding)yang bersangkutan,sebagai tujuan utama.Untuk mencapai tujuan tersebut,kebebasan tertentu dari media dan para wartawan tunduk pada tanggung jawab mereka untuk membantu pencapaiannya.Pada saat yang sama,yang ditekankan adalah tujuan kolektif dan bukan kebebasan individu.Unsur yang relatif baru dalam teori media pembangunan adalah penekanan pada ³hak untuk berkomunikasi,´yang didasarkan atas Pasal 17 Deklarasi Universal Hak-Hak Manusia: Setiap orang memiliki hak mengeluarkan pendapat:hak ini mencakup kebebasan menganut pendapat tanpa ganguan dan kebebasan untuk mencari, menerima,dan menyampaikan informasi dan gagasan melalui media manapun tanpa mempersoalkan batas negara.´Meskipun sukar menemukan kasus-kasus individu yang jelas menunjukkan teori media pembangunan,prinsip utama teori ini dapat diungkapkan sebagai berikut: 1. Media seyogyanya menerima dan melaksanakan tugas pembangunan positif sejalan dengan kebijaksanaan yang ditetapkan secara nasional. 2. Kebebasan media seyogyanya dibatasi sesuai dengan (1) prioritas ekonomi dan (2) kebutuhan pembangunan masyarakat. 3. Media perlu memprioritaskan isinya pada kebudayaan dan bahasa nasional. 4. Media hendaknya memperioritaskan berita dan informasinya pada negara sedang berkembang lainnya yang erat kaitannya secara geografis,kebudayaan,atau politik. 5. Para wartawan dan karyawan media lainnya memiliki tanggung jawab serta kebebasan dalam tugas mengumpulkan informasi dan penyebarluasannya. 6. Bagi kepentingan tujuan pembangunan,negara memiliki hak untuk campur tangan dalam,atau membatasi,pengoperasian media serta sarana penyensoran,subsidi,dan pengendalian langsung dapat dibenarkan. 45

JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. 1 - April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika, Medan

Sementara pengguna media itu sendiri adalah orang-orang yang berpikiran rasionalyang secara aktif memilih media mana yang mereka anggap dapat memuaskan kebutuhan yang mereka ingin dapatkan.Ada beberapa katagori kebutuhan individu,yang semuanya berasal dari fungsi sosial dan psikologi dari media,kategori ini antara lain menurut Katz Hass dan Gurevitch (Marshall,Jr,2000) yakni: a. Kebutuhan kognitif; kebutuhan akan informasi,pengetahuan,dan pengertian tentang lingkungan sekitar. b. Kebutuhan afektif : kebutuhan untuk memperkuat pengalaman akan emosi,kesenangan,atau pengalaman keindahan. c. Kebutuhan integrative personal : memperkuat kredibilitas, kepercayaan diri,kesetian, dan status pribadi. d. Kebutuhan interaksi sosial : memperkuat hubungan dengan keluarga,teman,dengan alam sekitar. e. Kebutuhan akan pelarian : hasrat melarikan diri dari kenyataan, melepaskan ketegangan, kebutuhan akan hiburan.Untuk memenuhi kebutuhan tersebut dapat dicapai dengan dua cara, yaitu: (1) Pemenuhan kebutuhan yang didapatkan dengan cara mengakses/menggunakan media yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan (2) Pemenuhan kebutuhan didapatkan dengan cara mempelajari isi informasi dalam media yang kemudian diterapkan dalam praktek. f. Sejalan dengan hal tersebut maka dapat dikatakan bahwa pengguna media secara umum adalah untuk memenuhi kebutuhan informasi,hiburan dan intraksi sosial. Dari kerangka pemikiran inilah, peneliti akan menguraikan permasalahan bagaimana opini publik mengenai peran media lokal dalam pembangunan bidang pertanian hortikultura di Kabupaten Karo. F. Kerangka Konsep Kerangka konsep adalah istilah yang mengekspresikan sebuah ide abstark yang dibentuk dengan menggeneralisasikan objek atau hubungan fakta ± fakta yang diperoleh dari pengamatan. Bungin,´ Mengartikan konsep sebagai generalisasi dari sekelompok fenomena tertentu yang dapat dipakai untuk menggambarkan berbagai fenomena yang sama. Sedangkan Kerlinger, menyebutkan konsep sebagai abstraksi yang dibentuk dengan menggeneralisasikan hal ± hal khusus. Jadi konsep merupakan sejumlah ciri atau standar umum suatu objek.´ ( Kriyantono, 2006 : 17 ). Berdasarkan kerangka teroritis diatas, adapun konsep ± konsep dalam penelitian ini sebagai berikut Opini adalah suatu pernyataan mengenai sesuatu yang sifatnya bertentangan. Opini merupakan ´ expressed statement ´ yang bisa diucapkan dengan kata ± kata, isyarat atau cara lain yang mengandung arti dan dapat dipahami maksudnya ( Meinanda, 1980, 29 ). Ini berarti opini harus dinyatakan, dengan demikian pengertian opini atau pendapat mempunyai dua unsur yakni : 1. Ada pernyataan 2. Mengenai masalah yang bertentangan Disamping itu juga, opini dapat dinyatakan melalui media massa seperti televisi, radio maupun suratkabar atau majalah. Karena opini mempunyai ciri ± ciri antara lain : 1. Mempunyai pendukung dalam jumlah besar. 2. Selalu diketahui dari pernyataan ± pernyataan. 3. Merupakan sinthesa atau kesatuan dari banyak pendapat. Sehingga opini ini bisa ditemukan dari berbagai kalangan. Selanjutnya suatu pendapat harus dinyatakan terlebih dahulu agar dapat dinilai sebagai pendapat atau opini publik, sebab sesuatu yang belum dinyatakan belum bisa disebut opini karena belum mengalami proses 46

JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. 1 - April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika, Medan

dalam diri manusia, sehingga masih merupakan sikap, Irish dan Protho ( Susanto, 1985, 92 ). Jadi yang dimaksud dengan opini publik adalah pendapat atau sikap masy arakat terhadap suatu masalah atau organisasi, dimana pembentukan opini publik melalui berbagai hal, pelayanan terhadap publik, opinion leader dan kegiatan komunikasi ( Hardiman, 2006, 87 ). Opini publik merupakan pendapat yang ditimbulkan oleh adanya unsur ± unsur sebagai berikut : 1. Adanya masalah atau situasi yang bersifat kontroversial yang menimbulkan pro dan kontra. 2. Adanya kesempatan bertukar pikiran atau berdebat mengenai masalah yang kontroversial tersebut 3. Adanya publik yang terikat kepada masalah tersebut dan berusaha memberikan pendapatnya. ³Opini dan perasaan rakyat dapat disalurkan kedalam program ± program pemerintah, sebab bagaimanapun yang berhubungan dengan fakta dilapangan adalah masyarakat ± masyarakat yang mempunyai opini dan emosi ³ ( Lipmann, Walter, 1998, 235 ). Sementara, berbicara tentang fungsi media massa, Harold Lasswell dan Charles Wright merupakan sebagian dari pakar yang benar ± benar serius mempertimbangkan fungsi dan peran media massa dalam masyarakat. Wright ( 1959 ) membagi media komunikasi berdasarkan sifat dasar pemirsa, sifat dasar pengalaman komunikasi, dan sifat dasar pemberi informasi. Lasswell ( 1984, 1960 ), pakar komunikasi dan profesor hukum di Yale University mencatat ada 3 fungsi media massa, pengamatan lingkungan, korelasi bagian ± bagian dalam masyarakat untuk merespon lingkungan dan penyampaian warisan masyarakat dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Selain ketiga fungsi ini, Wright menambahkan fungsi keempat yakni hiburan ( Severin, 2005, 386 ) Media massa yang dimaksud disini adalah media massa cetak ( printed mass media ). Pada umumnya kalau kita berbicara mengenai pers sebagai media massa tercetak, maka kita harus terlebih dahulu memahami bahwa pers adalah lembaga kemasyarakatan ( social institution ) dan merupakan sub sistem dari kemasyarakatan dimana ia berada, bersama ± sama dalam sub sistem lainnya. Dengan demikian maka pers tidak hidup secara sendiri, melainkan mempengaruhi dan dipengaruhi oleh lembaga ± lembaga kemasyarakatan lainnya. Bersama ± sama dengan lembaga kemasyarakatan lainnya, pers berada dalam keterikatan organisasi bernama negara. Karenanya eksistensi pers dipengaruhi, bahkan ditentukan oleh falsafah negara dan sistem politik negara dimana pers itu hidup. Pers di negara mana dan dimasyarakat mana, ia berada sama ± sama mempunyai fungsi universal yakni : 1. Memberikan Informasi ( to inform ) Menyiarkan informasi adalah tugas suratkabar yang pertama dan utama. Khalayak pembaca berlangganan atau membeli suratkabar karena memerlukan informasi mengenai berbagai hal di bumi ini mengenai peristiwa yang terjadi, gagasan atau pikiran orang lain, apa yang dilakukan orang lain, apa yang dikatakan orang lain dan lain sebagainya. 2. Mendidik ( to educate ) Sebagai sarana pendidikan massa ( mass education ), suratkabar memuat tulisan ± tulisan yang mengandung pengetahuan, sehingga khalayak pembaca bertambah pengetahuannya. Fungsi mendidik ini bisa secara implisit dalam bentuk berita, dapat juga secara eksplisit dalam bentuk artikel atau tajuk rencana 3. Fungsi Menghibur ( to entertaint ) Hal yang bersifat hiburan sering dimuat suratkabar untuk mengimbangi berita ± berita berat ( hard news ) dan artikel ± artikel yang berbobot. Maksud pemuatan isi yang mengandung hiburan itu semata ± mata untuk melemaskan ketegangan pikiran setelah para pembaca dihidangi berita dan artikel yang berat ± berat. 4. Mempengaruhi ( to influence ) 47

dikalangan peneliti dan penyuluh.Upaya ini dilaksanakan oleh pemerintah yang didukung oleh partisipasi masyarakatnya. Dalam suatu situasi.dan moral sebagai panglima (Mastur Yahya).maupun masalah-masalah yang dihadapi oleh warga masyarakat(Mastur Yahya). Tanaman Buah ± Buahan Ilmu yang mempelajari tentang tanaman buah ± buahan disebut pomologi. 1975). Secara implisit terdapat pada berita. Adapun sub sektor yang dominan bagi sektor pertanian yang disoroti disini adalah sub sektor hortikultura. Sedangkan dalam GBHN 1993 ± 1998.Sedangkan definisi kedua menyiratkan bahwa pembangunan tidak hanya untuk masyarakat. 1981. 2007 mengatakan bahwa hortikultura terdiri dari : A. Secara harfiah istilah hortikultura diartikan sebagai usaha membudidayakan tanaman buah ± buahan.ekonomi. menyebabkan suratkabar memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat. Kenapa seperti itu. Onong.yaitu penekanan politik. sayuran dan tanaman hias. 1 .baik masalah yang dihadapi oleh setiap aparat dalam setiap jenjang birokrasi pemerintah. 48 . Hortikultura berasal dari kata ´ hortus ´ ( garden atau kebun ) dan ´ colore ´ ( = to cultirate atau budidaya ).JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. sayuran dan tanaman hias yang termasuk dalam kelompok hortikultura adalah tanaman obat ± obatan.Benang merah dari definisi pembangunan ialah bahwa pembangunan bertujuan merubah´keadaan´ masyarakat kearah yang lebih baik dengan cara pemecahan masalah yang dihadapi. akan banyak tantangan yang harus dijawab dengan sikap yang berani dan bijaksana.terutama untuk jangka panjang. Secara garis besar bisa diidentifikasikan tiga pola pemikiran dan praktek pembangunan yang berkembang di Indonesia. sehingga hortikultura merupakan suatu cabang dari ilmu pertanian yang mempelajari tentang budidaya buah ± buahan.yang masing ±masing menekankan pendekatan berbeda. Definisi pertama lebih menekankan pada masyarakat selaku penerima manfaat (beneficiaries) pembangunan. sayuran dan tanaman hias (Edmon et al.Sedangkan Lionberger dan Gwin mendefinisikan pembangunan sebagai proses pemecahan masalah. Menurut Totok Mardikanto:Pembangunan didefinisikan sebagai upaya sadar dan terencana untuk melaksanakan perubahan ± perubahan yang mengarah pada pertumbuhan ekonomi dan perbaikan mutu hidup atau kesejahteraan seluruh warga masyarakat.dengan menggunakan teknologi yang terpilih. sedangkan orang ± orang yang mengusahakannya disebut pomologist. mati terhormat karena memang prinsip. atau hidup tidak terhormat disebabkan tidak mempunyai kepribadian ( Effendi. selain buah ± buahan.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Su¶ud Hassan. suratkabar bisa dihadapkan kepada dua alternatif. Sektor Pertanian Hortikultura Mengingat bahwa perekonomian masyarakat Karo sangat didominasi oleh sektor pertanian. karena pemerintah.maka dalam hal ini masyarakat penting untuk dilibatkan. dimana sampai saat ini sektor pertanian memberikan kontribusi lebih dari 60 persen setiap tahun bagi pembentukan produk domestik regional bruto ( PDRB ) Kabupaten Karo. Pengawasan ( social control ) Jika suratkabar benar melaksanakan tugas sosial kontrolnya. sedangkan secara eksplis it terdapat pada tajuk rencana dan artikel 5. Medan Fungsi mempengaruhi.melainkan diperuntukkan pula bagi segenap Stake holder. ataupu ekonomi. 94 ) Pengertian Pembangunan Sukses tidaknya perencanaan pembangunan daerah itu sudah barang tentu tidak bisa terlepas dari media massa didalamnya. Pengertian buah pada hortikultura agak berbeda dengan pengertian buah pada ilmu botani. pers dan masyarakat adalah satu kesatuan yang saling membutuhkan satu sama lain.

Land scaping : meliputi planning dan pengaturan daripada pekerjaan. tidaklah semata ± mata berarti suatu bidang tanaman bunga ± bungaan.html ) 49 . merupakan bagian penting terutama untuk benih±benih sayur±sayuran dan bungan±bungaan. Sedangkan peranan hortikultura adalah : 1. 4. 1 .JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. 2. Memperluas kesempatan kerja 4.ac. karena hampir semua hasil hortikultura bersifat tidak tahan lama. Perlu tempat yang lapang ( voluminous ) 3. tempat tinggal dan tanam tanaman umum. serta memenuhi kebutuhan rohani karena dapat memberikan rasa tentram. tetapi di negara yang sudah maju digolongkan kedalam sayur ± sayuran. Ini dikarenakan ada juga sayur ± sayuran yang dipetik dari tanaman tahunan seperti melinjo dan daun jambu mete. Pemeliharaan tanaman ± tanaman dalam taman.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Pengertian bahwa sayur ± sayuran hanyalah hasil yang dipanen dari tanaman tahunan ( annual crops ) atau tanaman muda/semusim baik yang menghasilkan buah. Tanaman Bunga Ilmu yang mempelajari bunga ± bungaan disebut floricultura. sehingga perlu adanya pengalengan oleh industri ± industri. Meliputi seluruh tanaman dalam bidang hortikultura. 5. mineral dan protein ( dari buah dan sayur ). Ditinjau dari fungsinya tanaman hortikultura dapat memenuhi kebutuhan jasmani sebagai sumber utama. tetapi dalam arti hortikultura tergolong kedalam sayur ± sayuran. jalan. Peningkatan pendapatan petani dan. Tanaman Sayur ± Sayuran Ilmu yang mempelajari tentang tanaman sayur ± sayuran disebut olericulture dan orang yang mengusahakannya disebut olericulturist. Seed Production. Medan Umpamanya mentimun dalam arti botani adalah buah. taman untuk rekreasi dan lain ± lain. tetapi juga tanaman yang tidak berbunga yang biasanya dipergunakan untuk menghiasi baik berupa semak ± semak maupun rumput ± rumputan. ketenangan hidup dan estetika ( dari tanaman hias/bunga ). pangan.id /~agronomi /dashor.pertanian. Mudah rusak ( perishable ) dalam pengangkutan 4. bahkan sering tidak berhasil sama sekali. umbi dan lain ± lain tidaklah tepat. batang. 3. Begitu juga dengan buah labu dalam hortikultura dan buah tomat di Indonesia termasuk dalam golongan buah. sehingga untuk Indonesia benih ± benih terpaksa diimpor. Memperbaiki gizi masyarakat. Pengolahan dan penyimpanan hasil ( processing and storage ). C. sedangkan orang yang mengusahakan disebut floricultureti. untuk menghasilkan benih sayur ± sayuran dan bunga ± bungaan daerah tropis bukanlah suatu hal yang mudah. Memperbesar devisa negara 3. Pemenuhan kebutuhan keindahan dan kelestarian lingkungan Namun ketika kita membahas masalah hortikultura perlu diperhatikan pula mengenai sifat khas dari hortikultura yaitu : 1. Tidak dapat disimpan lama 2.uns. Kebanyakan tanaman sayuran baru mau berbuah ( menghasilkan biji ) didaerah ± daerah dingin. daun kangkung. sebangsa pakis dan lain ± lain. Dengan demikian yang digolongkan kedalam buah dinegara ini adalah buah yang dihasilkan oleh tanaman tahunan (perennial crops ) B. kebun ( nursery production ). juga letak bangunan ± bangunannya. Hal ± hal lain yang termasuk kedalam hortikultura : 1. 2. Ini merupakan bagian penting pada hortikultura. Fluktuasi harganya tajam ( www. Melimpah ruah pada suatu musim dan langka pada musim lainnya 5.

petsai/sawi. Tiga panah. arcis. kol. Cakupan sub sektor hortikultura yang dominan diusahakan oleh masyarakat Karo adalah tanaman sayuran dan buah ± buahan yang meliputi tomat. sedangkan jenis komoditas hortikultura yang diusahakan masih terbatas. Payung. Tiga Binanga. desa ini paling banyak masyarakatnya bergerak dalam bidang pertanian hortikultura . Kutabuluh. bahkan Israel dari gurun pasirnya. Kabupaten Karo terdapat 13 kecamatan yaitu : Mardinding. Masyarakatnya betul±betul masyarakat petani yang bergerak dibidang pertanian hortikultura b. G. Munthe. saya mempurposive Kecamatan Simpang Empat sebagai lokasi penelitian. Oleh karena itu kita harus berani untuk memulai mengembangkannya pada saat ini. gejala atau kelompok tertentu 2. Simpangempat. Tegasnya penelitian deskriptif hanya memberi gambaran secermat mungkin mengenai suatu individu. yaitu Desa Ndokum Siroga dan Desa Surbakti. Juhar. cabe.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. maka diperlukan pengetahuan yang lebih mendalam terhadap permasalahan hortikultura tersebut. Populasi dan Sampel Populasi Populasi dari penelitian ini adalah seluruh masyarakat petani holtikultura di desa Ndokum Siroga dan desa Surbakti . c. 1983. lembaga. Belanda dengan bunga tulipnya. anggur dan lain sebagainya. Metodologi Penelitian 1. Nikaragua dengan pisangnya. di kecamatan Simpang Empat Kabupaten Karo. jeruk. masyarakat dan lain lain pada saat sekarang berdasarkan fakta± fakta yang nampak atau sebagaimana adanya ( Nawawi.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. kentang. buncis. Lokasi Penelitian Adapun lokasi penelitian ini hanya di fokuskan pada 2 desa .63 ). 3. jeruk.Dipilihnya hanya satu kecamatan mengingat kecamatan tersebut : a. Merek. Berdasrkan data yang ada dikecamatan. Medan Dengan mengetahui manfaat serta sifat ± sifatnya yang khas. Hortikultura adalah komoditas yang akan memiliki prospek yang sangat cerah menilik dari keunggulan komparatif dan kompetitif yang dimilikinya dalam pemulihan perekonomian Indonesia dimasa mendatang. markisah dan pisang. Seperti halnya negara ± negara lain yang mengandalkan devisanya dari hasil hortikultura antara lain Thailand dengan berbagai komoditas hortikultura yang serba Bangkok. 1 . Metode deskriptif dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan/melukiskan keadaan subyek/obyek penelitian seseorang.yaitu sebanyak 900 orang. Barusjahe. kini telah mengekspor apel. Laubaleng. Dari 13 Kecamatan diatas. Transportasi dari pusat ibukota propinsi ( Medan ke Kabupaten Karo ) bisa ditempuh dalam beberapa menit. Brastagi. Teknik purposive adalah suatu teknik yang 50 . Kabanjahe. dalam pengembangan hortikultura agar dapat berhasil dengan baik. Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif. Sampel Sampel dalam penelitian ini diambil melalui Teknik Pemilihan Sampel secara purposive ( purposive sampel technique ) . wortel. bawang prei. Sementara pengembangan hortikultura di Indonesia pada umumnya masih dalam skala perkebunan rakyat yang tumbuh dan dipelihara secara alami dan tradisional. keadaan.

2006. Teknik Analisis Data Sesuai dengan sifat dan tujuan dari penelitian ini. Tarigan dan Perangin . Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Dairi dan Kabupaten Toba Samosir c. palawija.400 meter diatas permukaan laut.maka analisis penelitian dilakukan dengan metode pendekatan deskriptif kuantitatif didukung dengan data kualitatif yang diperoleh melalui wawancara mendalam. sehingga rawan terjadi gempa vulkanik. tanaman perkebunan dan peternakan 1.dan akhirnya data lapangan yang telah diperoleh dikoding dan ditabulasi untuk memperoleh tendensi dengan persentase. Wilayah Kabupaten Karo berada pada ketinggian 120 ± 1. Merga Silima itu yakni : Karo ± Karo. Sekitar 70 persen dari jumlah rumah tangga di Kabupaten ini berusaha disektor pertanian terutama bercocok tanam sayur ± sayuran. Dalam pekembangannya. dalam arti bahwa suku bangsa Indonesia lainnya dapat diterima menjadi suku bangsa Karo dengan beberapa persyaratan adat. Kabupaten Karo terletak pada jajaran Bukit Barisan dan sebagian bersar wilayahnya merupakan dataran tinggi. Sembiring. Sebelah Barat berbatasan dengan Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam ( NAD ) Kabupaten Karo terdiri dari 13 kecamatan yang dibagi menjadi 248 desa dan 10 kelurahan. H. tutur siwaluh dan rakut sitelu. Adapun batas ± batas wilayah Kabupaten Karo adalah sebagai berikut : a.dengan besar sampel 10% dari Populasi yaitu sebanyak 90 orang. Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang dan Kabupaten Simalungun d.127. Desa Ndokum Siroga yang dianggap pertaniannya paling maju sebanyak 45 responden b. Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Langkat dan Kabupaten Deliserdang b. padi. Perekonomian Kabupaten Karo sebagian besar adalah sektor pertanian.maka kriteria yang ditentukan adalah masyarakat yang betul-betul petani holtikultura. 5. Disamping itu untuk memperkaya data. juga dilakukan metode library research ( riset kepustakaan ) yaitu pencarian referensi/bahan ± bahan dari buku ± buku jurnal. Saat ini wilayah Kabupaten Karo sudah didiami oleh beragam suku bangsa. hortikultura. Kecamatan Simpang Empat 51 . dimana dari 40 desa yang ada di Kecamatan Simpang Empat ditentukan 2 ( dua ) desa yaitu : a. Suku ini terdiri dari 5 ( lima ) marga. Desa Surbakti yang pertaniannya kurang maju sebanyak 45 responden 4. Ginting. Dua gunung berapi aktif terletak di wilayah ini. Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data dilakukan melalui angket yang dipandu oleh enumerator ( pengumpul data ) dimana penulisan angket dilakukan melalui pertanyaan terbuka dan tertutup.25 Km 2 . Pusat pemerintahan Kabupaten Karo terletak di Kecamatan Kabanjahe yang berjarang sekitar 67 kilometer dari Medan Penduduk asli yang mendiami wilayah Kabupaten Karo disebut suku bangsa Karo. Gambaran Umum Lokasi Penelitian Letak geografis Kabupaten Karo berada diantara 2 0 50 0 ±3 0 19 0 Lintang Utara dan 97 0 55 0 ± 98 0 38 0 Bujur Timur dengan luas wilayah 2.angin. 1 . Medan mencakup orang ± orang yang diseleksi atas dasar kriteria tertentu yang dibuat peneliti berdasarkan tujuan penelitian ( Kriyantono. buah ± buahan. adat suku bangsa Karo terbuka.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. hasil ± hasil penelitian dan laman website yang berhubungan dengan materi penelitian ini. 154 ). Suku bangsa Karo ini mempunyai adat istiadat yang sampai saat ini masih terpelihara dengan baik dan sangat mengikat bagi suku bangsa Karo sendiri.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.

terdiri dari 5 ( lima ) dusun.47Km 2 yang terdiri dari 40 desa. J. Produk ± produk andalan pertanian Kabupaten Karo ini adalah bermacam sayuran.834 rumahtangga ( RT ).57 Km 2 dengan jumlah penduduk 2.969 jiwa yang terdiri dari 522 KK. Sementara tingkat pendidikan di Desa Surbakti adalah 112 jiwa tidak bersekolah. Dari hasil penelitian tentang Opini Publik Mengenai Peran Media Lokal Dalam Pembangunan Bidang Pertanian Hortikultura terlihat bahwa masyarakat Karo.167 jiwa dimana perbandingannya 1. Hasil Penelitian. Memang ada sektor pariwisata yang juga menjadi andalan bagi Pemerintah Kabupaten Karo.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. 1 . Medan Luas wilayah Kecamatan Simpang Empat adalah seluas 225.966 jiwa dan 10. Dengan kata lain mayoritas Pendapatan Asli Daerah ( PAD ) yang dihasilkan dari sektor pertanian yang menghasilkan produk ± produk pertanian berbasis agrobisnis. Luas Desa Ndokum Siroga adalah 2. 85 orang SLTA sederajat dan 43 orang pernah ditingkat perguruan tinggi. Berbagai upaya terus dilakukan untuk tetap mempertahankan dan sekaligus meningkatkan pendapatan dari sektor pertanian ini. Sementara tingkat pendidikan di Desa Ndokum Siroga adalah : 45 orang tidak bersekolah. Adapun mata pencaharian penduduk terdiri dari 491 KK ( 94% ) bertani dan sebanyak 31KK ( 6% ) adalah non tani. Begitu dominannya sektor pertanian yang dikelola daerah ini sehingga sampai saat ini kontribusi yang diberikan atas pembentukan produk domestik regional bruto ( PDRB ) hingga mencapai 60 persen. khususnya di lokasi yang dijadikan sebagai responden dalam penelitian ini masih menggunakan media massa cetak khusus media cetak lokal sebagai sumber informasi pembangunan Bidang Pertanian Hortikultura. Jumlah penduduk 39. Adapun mata pencaharian penduduknya terdiri dari 684 KK atau 94% adalah bertani dan sebanyak 41 KK atau 6 %nya bergerak disektor non pertanian. Pembahasan Hasil Penelitian Kabupaten Karo adalah salah satu kabupaten yang ada di Propinsi Sumatera Utar a yang mengandalkan pendapatan masyarakatnya dari sektor pertanian. dimana pada tabel dibawah ini terlihat bahwa media cetak lokal tersebut dianggap sangat penting bagi masyarakat dan tidak dapat dipisahkan dari masyarakat petani dalam memperoleh upaya informasi. Media cetak juga dianggap sebagai salah satu faktor dalam mempercepat proses tranfusi informasi pembangunan khususnya bidang pertanian hortikultura.164 jiwa perempuan yang terdiri dari 689 KK. Kecamatan Simpang Empat telah dimekarkan menjadi 3 ( tiga ) kecamatan 2. 170 jiwa tamat SLTP sederajat. 3. jumlah penduduk 1. 90 jiwa tamat SD sederajat. 60 orang SD sederajat. Desa Ndokum Siroga adalah ibukota dari Kecamatan Simpang Empat. I. Jarak dari kabupaten 7 kilometer. 160 orang SLTP sederajat. Sejak Januari 2007. dengan perbandingan jenis kelamin 890 jiwa perempuan dan 2. luas daerah Desa Surbakti adalah 9. Asumsi ini terlihat seperti yang tertera dalam tabel penulisan laporan ini. Kedatangan para pengusaha Singapore ini ke Sumatera Utara 52 . Desa Surbakti Nama Kepala Desa : Jasa Surbakti.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. 160 jiwa SLTA sederajat dan 52 jiwa tingkat perguruan tinggi. buah ± buah dan juga bunga ± bungaan. Salah satu diantaranya adalah upaya untuk terus memelihara pasar regional dengan mengundang pengusaha ± pengusaha dari Singapore dan Malaysia yang tergabung dalam Agri-Food And Veterinery Autority Of Singapore ( AVA ). Desa Ndokum Siroga Nama Kepala Desa : Supratman Surbakti.97 Km 2 .070 jiwa laki ± laki.003 jiwa laki ± laki dan 1. namun hingga kini sektor pariwisata belum juga mampu menggantikan peran sektor pertanian yang telah begitu dominan. terdiri dari 2 ( dua ) dusun.

2 Sibayak Pos Sora Mido Sora Sirulo Info Karo Karo Memba ngun Tidak Pernah 20 44. yang pada akhirnya berimbas kepada peningkatan kesejahteraan petani tersebut.2 Total 5 100 45 100 45 100 45 100 45 100 Media Sering F % F % F % F % F % 16 35.6 6 13. Pemerintah Kabupaten Karo sendiri melalui Dinas Pertanian setempat selalu mengirimkan petugas ± petugas penyuluh pertanian untuk membimbing para petani didalam melakukan aktivitas pertanian. Penggunaan teknologi tinggi didalam meningkatkan produksi pertanian juga perlu diketahui. Informasi seperti inilah yang sangat diperlukan oleh masyarakat petani. 53 . Jenis tanaman yang akhir ± akhir ini sangat populer karena produk organik ini terhindar dari bahan ± bahan kimia yang tidak bagus buat kesehatan. Media Sibayak Pos Sora Mido Sora Sirulo Info Karo Karo Memba ngun Tabel 1 Frekuensi Membaca Media Cetak Lokal Desa Ndokum Siroga Desa Surbakti Sering F % F % F % F % F % 16 35.3 9 20. dimana pada tabel dibawah ini terlihat bahwa media cetak lokal tersebut dianggap sangat penting bagi masyarakat dan tidak dapat dipisahkan dari masyarakat petani dalam memperoleh upaya informasi. Jepang. karena inovasi ± inovasi yang terus berkembang terkadang tidak didapatkan dari sumber informasi seperti penyuluh pertanian.6 Jarang 9 20. Medan bertujuan untuk melihat secara langsung proses produksi sayur ± sayuran langsung ke tempat produksi sekaligus sebagai upaya penjajakan atas peningkatan kerjasama yang telah ada selama ini terkait dengan pemenuhan kebutuhan sayur ± sayuran di negeri Singapur tersebut.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Salah satu kesempatan yang harus dimanfaatkan para petani di Kabupaten Karo dewasa ini adalah didalam membudidayakan tanaman ± tanam bersifat organik.1 28 62.8 19 42.7 17 37. utamanya media massa lokal. Solusi cerdas yang dipilih masyarakat petani dalam mencari informasi terbaru adalah melalui media massa yang ada di daerah.9 26 57. serta langkah ± langkah strategis lain yang pada intinya adalah bagaimana melaksanakan kegiatan pertanian yang efektif. Keberadaan sumber daya manusia dalam hal ini petani juga harus selalu mengup-grade pengetahuannya didalam hal pengolahan pertanian untuk meningkatkan produksi.4 23 51.0 4 31. Malaysia.6 11 24.7 7 15.8 Jarang 19 42. 1 .4 12 26.6 9 20 Tdk Pernah 10 22.2 Total 45 100 45 100 45 100 45 100 Media cetak juga dianggap sebagai salah satu faktor dalam mempercepat proses tranfusi informasi pembangunan khususnya bidang pertanian hortikultura. 95 persen pasokan sayur dan buah berasal dari negara negara seperti Thailand.0 12 26. Pemerintah Kabupaten Karo harus tetap konsisten didalam pengembangan kegiatan agrobisnis tersebut. dan jenis organik seperti ini sangat digemari oleh konsumen di negara ± negara Singapore dan Malaysia. Namun upaya untuk mencari sendiri informasi tambahan yang paling terbaru juga perlu dilakukan. China.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.0 11 24. termasuk didalamnya peluang bisnis pemasaran serta proses pasca panennya.7 22 48. Berbagai upaya dilakukan para petani didalam meningkatkan pengetahuannya dalam mengolah pertanian. Sebagaimana kita ketahui Negara Singapore sangat mengandalkan pasokan sayur dan buah untuk dikonsumsi dari negara ± negara tetangganya.1 23 51.2 10 22. Australia dan Indonesia. Dan tentu saja kondisi tersebut merupakan peluang yang harus dimanfaatkan semaksimal mungkin.2 18 40. cerdas dan mempunyai output yang besar.4 10 22.2 21 46.1 7 15.

terlihat bahwa responden di Desa Ndokum Siroga dengan persentase sebesar 44.9 100 F 17 28 45 Surbakti % 37.0 100 Pada tingkat kepentingan responden terhadap media cetak lokal dalam membantu usaha pertanian.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika.8 62. media lokallah yang paling tahu kebutuhan para petani . sedangkan di Desa Surbakti yang memberi jawaban berpengaruh adalah sebesar 62.8% responden didesa Surbakti menjawab media tersebut sangat berpengaruh terhadap responden karena dari medialah petani mengetahui informasi pertanian sehingga hasil pertanian mereka meningkat . dimana masing masing responden di dua desa tersebut menjawab bahwa media cetak memberikan perubahan yang positif bagi responden karena dengan persentase 77.2 %.8 100 Untuk materi pertanyaan tentang pengaruh media cetak terhadap perubahan nyata responden didua desa tersebut. sedangkan untuk pertanyaan yang sama di Desa Surbakti persentasenya sebesar 40%.2 77. bahkan 22.8 100 F 10 35 45 Surbakti % 22.2 77.1 68.6% didesa Ndokum Siroga dan 27% di Desa Surbakti. Medan Tabel 2 Tingkat Kepentingan Media Cetak Dalam Membantu Usaha Pertanian Tingkat Kepentingan Media Cetak Sangat Tidak Desa Penting Total penting penting F 20 25 45 Ndokum Siroga % 44.9% responden di desa Ndokum Siroga menjawab berpengaruh. Tabel 3 Pengaruh Membaca Media Cetak Terhadap Responden Pengaruh Membaca Media Cetak Tidak Sangat Desa Berpengaruh Berpengaru Total Berpengaruh h F 14 31 45 Ndokum Siroga % 31.1 % responden yang menjawab sangat berpengaruh.4% menganggap media cetak lokal sangat penting dalam membantu usaha pertanian mereka karena selain kurangnya keberagaman pilihan media yang ada. Tidak ada responden yang menjawab tidak penting untuk materi pertanyaan ini. sedangkan di Desa Ndokum Siroga 31. 1 .8%. terlihat sesuatu yang unik. Tabel 4 Pengaruh Media Cetak Terhadap Perubahan Nyata Pengaruh Terhadap Perubahan Nyata Desa Sangat positif Positif Kurang positif Ndokum Siroga Total F 10 35 45 % 22.0 60.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. namun 68.2% responden pada masing ± masing 54 .4 55.6 100 F 18 27 45 Surbakti % 40. juga tentang pemasaran hasil pertanian.2 100 Anggapan bahwa media cetak berpengaruh terhadap responden terlihat seperti tabel diatas. dimana 37. responden lainnya menjawab penting sebesar 55.

April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika.9% responden di Desa Ndokum Siroga.4% responden di desa Surbakti menjawab bahwa media dimaksud adalah media cetak lokal. 1 . dan 16.6 30 66. Kecamatan Simpang Empat. dimana 28. Masyarakat Kabupaten Karo ternyata masih memanfaatkan media cetak lokal sebagai sumber informasi pembangunan bidang pertanian hortikultura. 64.7 36 80. terutama didesa Surbakti antusias masyarakat tentang media lokal masih tinggi.4 11 24.8% responden di desa Surbakti memberi jawaban senada. Medan desa menjawab bahwa pengaruh media cetak terhadap perubahan yang nyata menjawab sangat positif Tabel 5 Dampak Media Cetak Terhadap Peningkatan Hasil Pertanian Dampak Terhadap Peningkatan Hasil Pertanian Desa Sering Kadang-kadang Tidak ada Total Ndokum Siroga Surbakti F % F % 13 28.8 8 17.6% di Desa Surbakti.8 8 17. 80% responden di Desa Surbakti menjawab bahwa media cetak hanya kadang ± kadang memberi peningkatan terhadap hasil pertanian. bahkan masing ± masing responden didua desa tersebut ada yang tidak setuju dengan pernyataan tersebut dengan nilai 17.4 45 100 45 100 Dari tabel diatas. dimana 24.4 8 17.4% responden di desa Ndokum Siroga tidak setuju dengan jawaban tersebut dan 17.4% responden di masing ± masing desa menjawab tidak ada dampak media cetak terhadap peningkatan hasil pertanian Tabel 6 Media Massa Dimaksud Adalah Media Cetak Lokal Desa Media tersebut adalah media cetak lokal Setuju Kurang setuju Tidak setuju Total Ndokum Siroga Surbakti F % F % 26 57. namun ada juga yang kurang setuju dengan hal tersebut. Ini mungkin disebabkan masih 55 . Namun responden yang menjawab bahwa informasi media cetak tersebut sering memberi peningkatan hasil pertanian juga ada. terlihat bahwa media cetak tidak selalu memberikan peningkatan terhadap hasil pertanian.0 2 4. tepatnya didesa Ndokum Siroga dan desa Surbakti adalah sebagai berikut : 1.8 29 64.8% KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Beberapa point penting yang didapat dari penelitian Opini Publik Mengenai Peran Media Lokal Dalam Pembangunan Bidang Pertanian Hortikultura yang dilakukan oleh Tim BPPI Wilayah I Medan di Kabupaten Karo. sedangkan didesa Ndokum Siroga sebesar 66.7%.4 2 4.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. bahkan ada 4. 57.8 45 100 45 100 Dari mayoritas media massa sebagai sumber informasi pembangunan .9 7 16.8% responden di desa Ndokum Siroga memberi jawaban senada.

Dimensi ± Dimensi Komunikasi. 2006. Jakarta Su¶ud. Ternyata keberadaan media massa cetak masih sangat diharapkan oleh masyarakat dapat mendorong suksesnya pembangunan bidang pertanian hortikultura. Teori Komunikasi Massa Suatu Pengantar. 1 . Metode dan Terapan Didalam Media Massa. serta mengawasi/menghilangkan peredaran pupuk dan obat ± obatan palsu yang belakangan ini beredar dikalangan masyarakat petani c. Bandung Rakhmat. 2. apalagi mengingat bahwa Sumatera Utara termasuk daerah potensial bagi pengembangan tanaman hortikultura. Ima. Pemerintah Daerah diharapkan untuk mengembalikan ikon Tanah Karo dengan kembali membudidayakan jeruk yang selama ini dikenal sebagai primadona daerah ini. 2005. 2004. 400 Istilah PR Media & Periklanan. Pemerintah Daerah harus berupaya dengan segala cara dan lebih maksimal untuk mengontrol keberadaan dan harga pupuk dan obat±obatan yang dibutuhkan masyarakat dalam kegiatan pertaniannya. Namun antusiasme ini terkendala oleh media cetak lokal yang masih sulit didapat didesa ± desa terutama desa yang masuk kepedalaman. 2007. 1994.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Jalaluddin. Prenada Media. 1998. Paramita.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Saran a. Psikologi Komunikasi. 1981. Walter. Teknik Prakis Riset Komunikasi. Gagas Ulung. dan telah menembus pangsa pasar dunia d. Opini Umum. Kencana Prenada Media Grup. Denis. Jakarta McQuail. Metode Penelitian Komunikasi . Kendala yang dihadapi masyarakat tentang pembangunan bidang pertanian hortikultura melalui media massa adalah kurangnya informasi pertanian hortikultura.. disamping itu dari sisi pangsa pasar wilayah ini berdekatan dengan Singapura dan Malaysia yang membutuhkan hasil pertanian dari Sumatera Utara b. 1998. Jakarta Kriyanto. Bandung Severin. Pradya. Jalaluddin. dan bila memungkinkan program koran masuk desa dihidupkan kembali . 2006. Disamping itu sirkulasi atau keterlambatan terbit media lokal juga menjadi kendala informasi pembangunan bidang pertanian hortikultura melalui media massa. Onong. Yayasan Obor Indonesia. Rachmat. Rusdakarya. Perlu adanya penanganan pengelolaan hasil pasca panen e. Leksikon Komunikasi. Daftar Pustaka Effendy. Werner dan Tankard James. Jakarta. Pengantar Ilmu Pertanian. Jakarta Lippmann. Remaja Rosdakarya. Alumni Bandung Hardiman. Yayasan Pena. dibandingkan dengan desa Ndokum Siroga yang ada di pusat kecamatan. Erlangga. karena media lokal umumnya terbit per satu bulan sekali. dimana isi koran tersebut diharapkan memiliki muatan lokal yang memuat informasi mengenai tata cara dan budaya pengelolaan tanaman hortikultura secara tepat dan efisien. Apalagi petani juga masih belum merasa cukup tentang informasi pertanian dari penyuluh pertanian yang belum rutin dan intens didesa Surbakti 3. Pemerintah agar lebih memperhatikan nasib petani hortikultura di Kabupaten Karo. apalagi masyarakat petani masih merasakan kurangnya informasi tentang pasar produk pertanian dan informasi tentang budidaya pertanian hortikultura. 1984. Dan peran inilah yang diharapkan masyarakat dapat ditangkap dan diisi oleh media massa lokal. Teori Komunikasi: Sejarah. Jakarta Rakhmat. Medan kurang beragamnya pilihan media yang ada di desa tersebut. Banda Aceh 56 . juga masih belum mencukupinya isi berita tentang peluang pasar domestik maupun luar ne geri. Sirkulasi media lokal lebih ditingkatkan baik dari segi mutu (kuantitas dan kualitas). Hasan.

April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Peternakan.rehabrekon buyadong. Medan Sumber lain http://www.pertanian.acehinstitute. Ikhtisar Eksekutif Pembangunan Kabupaten Karo.suarapembaruan.ac.org/opini-mastur-yahya. Perikanan dan Perkebunan Kabupaten Karo Rencana Kerja Penyuluh Pertanian. Karo Program Pembangunan Pertanian Kecamatan Simpang Empat. 1 .JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. 2008.htm. BPS.id/~agronomi/dashor.uns.html http://www.com/new/2006/06/21/editor/edi07. 2006. Dinas Pertanian.html www. 2007. Simpang Empat 57 .

Menurut Edison A. Jamli dkk. dalam interaksi antar bangsa. Sebagai sebuah proses. fasilitas yang digunakan baik dari segi kualitas maupun kuantitas kurang mampu mendukung pemanfaatan Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar serta sikap dan perilaku masyarakat dalam memahami pemanfaatan globalisasi Teknologi Informasi kurang optimal. yaitu kemampuan pemerintah dan kemampuan masyarakat kurang mampu memberikan dukungan terhadap pemanfaatan globalisasi Teknologi Informasi dalam perkembangan kebudayaan di kota Makassar. globalisasi berlangsung melalui dua dimensi. Kebudayaan PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Kehadiran globalisasi membawa pengaruh bagi kehidupan suatu bangsa. Kata Kunci : Globalisasi.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. ekonomi. Dimensi ruang yang dapat diartikan jarak semakin dekat atau dipersempit sedangkan waktu makin dipersingkat dalam interaksi dan komunikasi pada skala dunia.bangsa di seluruh dunia.Khususnya kemampuan masyarakat dalam memahami pentingnya pemanfaatan Teknologi Informasi. Kewarganegaraan.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. ideologi. Secara umum globalisasi dapat dikatakan suatu proses tatanan masyarakat yang mendunia dan tidak mengenal batas wilayah. Pengaruh globalisasi dirasakan di berbagai bidang kehidupan seperti kehidupan politik. kemudian ditawarkan untuk diikuti oleh bangsa lain yang akhirnya sampai pada suatu titik kesepakatan bersama dan menjadi pedoman bersama bagi bangsa. pertahanan keamanan dan lain-lain yang akan mempengaruhi nilainilai nasionalisme bangsa. 1 . Tujuan penulisan penelitian adalah untuk mengetahui sejauhmana faktor pendukung pemanfaatan globalisasi Teknologi Informasi terhadap perkembangan kebudayaan di kota Makassar. sosial budaya. Hal ini tentunya tidak terlepas dari dukungan pesatnya laju 58 . Dengan kata lain proses globalisasi akan berdampak melampaui batas -batas kebangsaan dan kenegaraan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey sampel dengan wawancara dan kuesioner serta dilengkapi dengan observasi sebagai teknik pengumpulan data. Hal ini dilihat dari beberapa faktor pendukung yang kurang terlaksana dengan baik. yaitu dimensi ruang dan dimensi waktu. Medan ANALISIS FAKTOR PENDUKUNG PEMANFAATAN GLOBALISASI TEKNOLOGI INFORMASI DALAM PENGEMBANGAN KEBUDAYAAN DI KOTA MAKASSAR RUKMAN PALA ABSTRAK Tulisan ini berjudul analisis faktor pendukung pemanfaatan globalisasi teknologi informasi dalam pengembangan kebudayaan di kota makassar. Jamli (Edison A. Hal ini disebabkan masih banyak masyarakat yang kurang mengerti dan memahami pentingnya Tekno logi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. 2005). Teknologi Informasi. globalisasi pada hakikatnya adalah suatu proses dari gagasan yang dimunculkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan globalisasi Teknologi Informasi terhadap perkembangan kebudayaan di kota Makassar kurang optimal.

karena kehadiran surat elektronis (email). Pada hakikatnya teknologi diciptakan. ketelitian hasil perhitungan dapat ditingkatkan dengan adanya komputasi numeris. TIK tidak hanya membantu dan mempermudah manusia tetapi juga menawarkan cara-cara baru di dalam melakukan aktivitas-aktivitas tersebut sehingga dapat mempengaruhi budaya masyarakat yang sudah tertanam sebelumnya. dan efek negatif dapat lebih diminimalkan. Kecepatan arus informasi yang dengan cepat membanjiri kita seolah-olah tidak memberikan kesempatan kepada kita untuk menyerapnya dengan filter mental dan sikap kritis. kemanusiaan. Pengaruh positif yang dapat dirasakan dengan adanya TIK adalah peningkatan kecepatan. Medan perkembangan teknologi yang semakin canggih khususnya teknologi informasi dan komunikasi (TIK). dll ) yang berpengaruh sebagai kerangka untuk membentuk pandangan hidup manusia yang relatif menetap dan dapat dilihat dari pilihan warga budaya itu untuk menentukan sikapnya terhadap berbagai gejala dan peristiwa kehidupan. bahkan untuk mengatasi berbagai persoalan pelik yang timbul di masyarakat. keadilan. Untuk memberikan data dan informasi tersebut. tenaga dan biaya. Demikian halnya perkembangan kebudayaan di Kota Makassar juga ikut berpengaruh terhadap perkembangan globalisasi Teknologi Informasi. baik pada saat manusia bekerja. pengaruh globalisasi dengan dukungan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) meliputi dua sisi yaitu pengaruh positif dan pengaruh negatif. masyarakat harus selektif dan bersikap kritis terhadap TIK yang berkembang sangat pesat. Sebagai contoh manifestasi TIK yang mudah dilihat di sekitar kita adalah pengiriman surat hanya memerlukan waktu singkat.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Dengan dukungan teknologi informasi dan komunikasi. Seyogyanya. uk Dengan hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri menunjukan gejala berkurangnya rasa nasionalisme masyarakat kita terhadap bangsa Indonesia. maka perlunya ditunjang oleh 59 . Oleh karena itu selama ini dikenal asas ³kebebasan arus informasi´ berupa proses dua arah yang cukup berimbang yang dapat saling memberikan pengaruh satu sama lain. berkomunikasi. misalnya dari globalisasi aspek ekonomi. Teknologi informasi dan komunikasi (TIK) adalah pendukung utama bagi terselenggaranya globalisasi. keindahan. Seperti kita ketahui budaya masyarakat Kota Makassar begitu beragam dan perlu dilestarikan sehingga dapat tetap bertahan dan memberikan devisa bagi Kota Makassar khususnya. sejak dulu hingga sekarang ditujukan untuk membantu dan memberikan kemudahan dalam berbagai aspek kehidupan. makin besar pula arus informasi dapat dialirkan dengan jangkauan dan dampak global. 1 . Namun perlu diingat. ketepatan. Makin canggih dukungan teknologi tersebut. terbukanya pasar bebas memungkinkan produk luar negeri masuk dengan mudahnya. Pemanfaatan Teknologi Informasi untuk memberikan data dan informasi tentang perkembangan kebudayaan di Kota Makssar. sehingga semua manfaat positif yang terkandung di dalam TIK mampu dimanifestasikan agar mampu membantu dan mempermudah kehidupan masyarakat. Jadi bagaimana TIK dapat mempengaruhi nilai-nilai yang telah tumbuh di masyarakat dalam suatu bangsa itu sangat tergantung dari sikap masyarakat tersebut. kebijaksanaan. dan masih banyak lagi.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Budaya atau kebudayaan adalah kerangka acuan perilaku bagi masyarakat pendukungnya yang berupa nilai-nilai (kebenaran. akurasi dan kemudahan yang memberikan efisiensi dalam berbagai bidang khususnya dalam masalah waktu. pengelolaan data dalam jumlah besar juga bisa dilakukan dengan mudah yaitu dengan basis data (database). Sedangkan pengaruh negatif yang bisa muncul karena adanya TIK. informasi dalam bentuk apapun dan untuk berbagai kepentingan. dapat disebarluaskan dengan mudah sehingga dapat dengan cepat mempengaruhi cara pandang dan gaya hidup hingga budaya suatu bangsa. Dengan banyaknya produk luar negeri dan ditambahnya harga yang relatif lebih murah dapat mengurangi rasa kecintaan masyarakat terhadap prod dalam negeri.

serta mengupayakan pemecahan masalah tentang analisis faktor pendukung pemanfaatan globalisasi teknologi informasi terhadap perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. Dengan rumus sebagai berikut : 60 . Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiono. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Wawancara. Medan beberapa faktor dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Mak assar. memecahkan. telaah dokumen serta observasi akan diolah dengan menggunakan sistem tabulasi data dengan memakai analisis frekuensi.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : Bagaimanaka faktor pendukung pemanfaatan globalisasi Teknologi Informasi terhadap perkembangan kebudayaan di Kota Makassar ? Tujuan Penulisan Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui sejauhmana faktor pendukung pemanfaatan globalisasi Teknologi Informasi terhadap perkembangan kebudayaan di Kota Makassar Metode Penelitian Dalam penelitian ini. yang dapat ditempuh dengan cara membandingkan data dari responden dengan informan yang . Data mentah yang terkumpul dari hasil jawaban responden maupun yang didapat dari hasil wawancara. Faktorfaktor tersebut seperti kemampuan pemerintah dan masyarakat dalam mendukung dan memahami Teknologi Informasi yang digunakan. peneliti menggunakan metode survey yang lebih menekankan pada jenis penelitian deksriptif kuantitatif dimana metode ini sangat relevan dengan topik yang akan diteliti. didapat dari responden. Teknik aksidental ini adalah mereka yang ditemui dan memahami pemanfaatan globalisasi Teknologi Informasi terhadap perkembangan kebudayaan di Kota Makassar yang dapat diberikan pertanyaan. dari sejumlah informan akan bermanfaat guna mewujudkan validitas data secara keseluruhan. Oleh karena itu sampel dalam penelitian ini adalah masyarakat yang memahami pemanfaatan Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. Namun permasalahan yang muncul adalah pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi terhada perkembangan budaya Makassar belum terlaksana secara optimal sehingga memerlukan peran serta pemerintah dan masyarakat memanfaatkan globalisasi Teknologi Informasi tersebut.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. sarana atau fasilitas yang digunakan dalam mendukung pemanfaatan Teknologi Informasi tersebut. Pada penelitian ini yang menjadi populasi adalah masyarakat dan mereka yang memahami tentang pemanfaatan Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian di atas. juga sangat membantu untuk mendapatkan data yang obyektif dan valid dalam rangka memahami. dan sikap dan perilaku masyarakat terhadap pemanfaatan Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. 2001 : 57). 1 . Selanjutnya dengan kuesioner guna mendapatkan data yang akurat dan obyektif terhadap permasalahan yang diteliti. Teknik penarikan sampel yang digunakan adalah teknik aksidental.

terpaan budaya yang satu berpengaruh dominan terhadap budaya lainnya. 1 . TINJAUAN PUSTAKA Pengertian Globalisasi Kata µglobalisasi¶ makin lama makin menjadi sajian sehari-hari melalui berbagai pemyataan publik dan liputan media massa. Mungkin juga kita lakukan pendekatan komparatif antara suatu teori dengan lainnya.x 100 % N Keterangan : P = Persentase F = Jawaban responden N= Jumlah responden Analisis Data Data yang diperoleh dalam penelitian ini akan diolah dengan menggunakan teknik analisis deskriptif kuantitatif yang dikualitatifkan. cara mi akan membutuhkan uraian panjang lebar karena biasanya perlu diperjelas dengan tafsiran konseptual dan kontekstual. Medan F P = --------------------. maka globalisasi sebagai proses juga menggejala sebagai peristiwa yang melanda dunia secara lintas-budaya (trans-cultural). namun pengaruh-mempengaruhi dalarn pertemuan antar-budaya itu tidak selalu berlangsung sebagai proses dua-arah atau timbal-balik yang berimbang. Kelatahan dalam penggunaan kata µglobalisasi¶ sedemikian itu akhimya mengesankan kesembarangan arti kata globalisasi. Cara lain ialah memperbandingkan berbagai definisi yang dapat dipandang terkemuka dalam literatur. (Sudarmajid. Menurut Aditya (2004 : 11) globalisasi pada hakikatnya adalah proses yang ditimbulkan oleh sesuatu kegiatan atau prakarsa yang dampaknya bekelanjutan melampaui batasbatas kebangsaan (nation-hood) dan kenegaraan (state-hood). Dalam gerak lintas-budaya mi terjadi berbagai pertemuan antar-budaya (cultural encounters) yang sekaligus mewujudkan proses saling-pengaruh antar-budaya. cara mi mungkin menarik secara akademik namun mungkin terlalu steril untuk diturunkan sebagai medium analisis dalam terapan empirikal. Pertemuan antar-budaya memang menggej ala sebagai keterbukaan (exposure) fihak yang satu terhadap lainnya. melainkan bolehjadi juga terjadi sebagai proses imposisi budaya yang satu terhadap lainnya. Apakah yang kita maksudkan dengan µbudaya¶ atau µkebudayaan¶ itu? Untuk memberikan jawaban atas pertanyaan mi banyak cara dapat ditempuh. maka akan ternyata betapa kata µglobalisasi¶ itu cenderung dilontarkan tanpa terlalu dihiraukan apa maknanya. lain lagi halnya kandungan pernyataan ³menjelang era globalisasi´ yang berarti kita belum berada dalam era tersebut.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. cara mi jelas dapat memperkaya wawasan kita tentang kebudayaan. dan makin mengaburkan implikasi dan komplikasi makna yang terkandung di dalamnya. dengan kemungkinan satu fihak lebih besar pengaruhnya ketimbang fihak lainnya. Kita dapat mencari jawaban berdasarkan etimologi. dan kalau semuanya itu kita perhatikan secara saksama. Pernyataan seperti ³dalam era globalisasi dewasa mi´ berarti bahwa kita telah berada dalam era globalisasi. tapi keunggulan suatu teori berkenaan dengan sesuatu gej ala budaya tidak selalu bearti keunggulan teori itu secara menyeluruh. dan mengingat bahwa jagad kemanusiaan ditandai oleh pluralisme budaya. maksudnya data yang ada diangkakan kemudian dideskripsikan. yaitu. 2003 : 23).JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. tiap teori bisa saja memiliki keunggulan 61 .

belum lagi antara keduanya diperbedakan dalam perbandingan µseberapa balk¶ atau µseberapa buruk¶ dipandang dan tolokukur tertentu. sedangkan peradaban adalah penjabaran nilai nilai tersebut melalui diwujudkannya norma-norma yang selanjutnya dijadikan tolokukur bagi kepantasan perilaku warga masyarakat ybs. 1 . µindah¶. dan begitu seterusnya. µdosa¶. dan dengan demikian tersedia pula ukuran untuk nonkonformisme. tolokukur itu baru menjelma melalui norma-norma sebagai pengatur kepantasan perllaku. ketika Kemal Attaturk melancarkan gerakan modernisasi (yang diartikan sebagai µwestemisasi¶).JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Misalnya. bahwa timbultenggelamnya kebudayaan sangat dipengaruhi oleh apa yang tenjadi dalam pertemuan 62 . Adanya tolokukur normatif mi menjadi dasar bagm berkembangnya peradaban (civilization) sebagai bagian dan dinamika budaya tertentu. Singkatnya. Pasang-surutnya kebudayaan sepanjang sejarah kemanusiaan nyata sekali ditentukan oleh sejaubmana kebudayaan itu masih berlanjut sebagai kerangka acuan untuk dijabarkan melalui sesuatu tatanan normatif. sehingga konvergensi antar-teori mungkin saja digunakan dalam usaha memahami berbagai manifestasi budaya. Kesemuanya mi sekaligus menunjukkan bahwa kebudayaan adalah suatu pengejawantahan yang hidup selama ada masyarakat pendukungnya. nilai keindahan dijabarkan melalui berbagai norma artistik.(Kariadi. bahwa kebudayaan adalah kerangka acuan perilaku bagi masyarakat pendukungnya berupa nilai-nilai (kebenaran. seperti misalnya usaha pengenalan dan penyadaran tentang apa yang µbaik¶. keindahan. perubahan serupa pun teijadi tatkala Partai Komunis Rusia berhasil menggulingkan kekaisaran di Rusia dan memperkenalkan nilai-nllai barn sebagai acuan bagi norma perllaku barn yang ideal bagi suatu masyarakat komunis.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Nilai-nilai itu pada sendirinya barn merupakan acuan dasar yang keberlakuannya disadarkan melalui ikhtiar pendidikan sejak dini. sehingga kebudayaan yang lama kehilangan dayanya sebagai acuan untuk menjabarkan norma-norma perllaku. Nilai-nilai itu juga berpengaruh sebagai kerangka untuk membentuk pandangan hidup yang kemudian relatif menetap dan tampil melalui pilihan warga budaya itu untuk menentukan sikapnya terhadap berbagai gejala dan peristiwa kehidupan. nilai kesusllaan dinyatakan melalui berbagai tatakrama. kebajikan. dsb). hal mi berlaku balk bagi kebudayaan yang surut oleh perubahan zaman maupun yang kehadirannya dipaksakan untuk mendesak kebudayaan lama. Perhatikan misalnya ³Revolusi Kebudayaan´ yang secara berencana dilancarkan di Republik Rakyat Cina pada pertengahan tahun 6Oan. Nilai keadilan diwujudkan melalui hukum dan sistem peradilan. Dan uraian di atas mi dapat disimpulkan. penjabaran nilai kebudayaan menjadi norma peradaban dapat dipandang sebagai pengalihan dan sesuatu yang transenden menjadi sesuatu yang immanen. persepi terhadap nilai-nilai itu masih besifat umum. Sebagai sumber acuan. keadilan. kebudayaan Pharaonic yang benlaku dalam masyarakat Mesir kuno surut seiring dengan klan memudarnya kebudayaan itu sebagai sumber acuan untuk penjabaran norma-norma perilaku bagi masyarakat Mesir sekarang. 2002) Dalam sejarah kemanusiaan banyak contoh yang menunjukkan. Tapi juga dalam era kontemporer mi suatu kebudayaan sebagai sistem nilai dapat dengan suatu rekayasa didesak oleh sistem nilai barn. batas antara apa yang dinilai sebagai kebajikan (good) atau kejahatan (evil) berlaku dalam garis besar yang memisahkan satu dan lainnya. kemanusiaan. Kalau kita sarikan muatan berbagai definisi yang terkemuka. Terjalinnya kesadaran transendensi dan immanensi inilah yang menjadikan dinamika sejarah kemanusiaan sebagai kaleidoskop perkembangan kebudayaan dan peradaban. Norma (nomos) adalah tolokukur yang memungkinkan terjadinya konformisme perilaku dalam sesuatu masyarakat. Perhatikan pula perubahan yang terjadi di Turki. nilai religius diungkapkan melalui berbagai norma agama. Medan dalam satu dan lain hal. µburuk¶. dsb dalam tindak-tanduk seseorang. maka tidak terlalu keliru kiranya kalau kita mengartikan kebudayaan sebagai sehimpunan nilai-nilai yang oleh masyarakat pendukungnya dijadikan acuan bagi perilaku warganya.

usainya Perang Dingin tidak menjadikan dunia kita monosentnik. Kesanggupan sesuatu satuan budaya untuk mempertahankan kesejatiannya dalam pertemuan antar-budaya yang demikian majemuknya itu sangat ditentukan oleh tinggirendahnya derajat kesadaran budaya dan tanguhrapuhnya tingkat ketahanan budaya masyarakat pendukungnya. 1 . yaitu sejauh mana satu di antara fihak yang saling bertemu kurang atau tidak lagi memiliki ketahanan budaya (cultural resilience). Antara kedua daya inilah tiap masyarakat pendukung kebudayaan tertentu berada. Perubahan gayahidup yang ditiru dan budaya asing bisa berkelanjutan dengan timbulnya gejala keterasingan dan kebudayaan sendiri (cultural alienation). Budaya asing yang berpengarnh dominan terhadap satuan budaya asli bisa membangkitkan kesan sebagai µmodel¶ untuk ditiru. 2003) Karena perhatian akan kita pusatkan pada persoalan pertemuan antarbudaya dalam era globalisasi. yaitu sebagai daya yang cenderung melestanikan dan daya yang cenderung berkembang atas kemekarannya sendiri.(Ekawati. Medan antarbudaya. globalisasi benlangsung melalui dua dimensi dalam interaksi antarbangsa. Sampai batas tertentu dan saling -pengaruh yang terjadi itu dapat terpantul seberapa tinggi derajat kesadaran dan tingkat ketahanan budaya masing-masing fihak yang saling bertemu. Tidak ada kekuatan tunggal yang mutlak dan sanggup mengabaikan apalagi mengungguli. Demikianlah kebudayaan mengandung dua daya sekaligus. yaitu dimensi ruang (space) dan waktu (time). Kendatipun dalam periode Perang Dingin kondisi bipolar seakanakan membelah-dua dunia mi dengan pengendalian dan dua pusat kekuatan dunia yang saling bertentangan. Ruang/jarak makin diperdekat dan waktu makin dipersingkat dalam interaksi dan komunikasi pada skala mondial. Sebagai proses. Seantero jagad seolah-olah tertangkap dalam satu janingan besar tanpa adanya suatu pusat tunggal. Berkembangnya gayaliidup baru itu dapat menimbulkan kondisi sosial yang ditandai oleh heteronomi.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. satu daya mempertahankannya agar lestani dan daya lainnya menariknya untuk maju. melainkan terjadi dengan ketenlibatan sejumlah fihak secara segera (instantaneous) serta serempak (simultaneous). satu daya dengan kecenderungan preservatif dan satunya lagi dengan kecenderungan progresif. maka ada baiknya kita bahas dahulu hal-ihwal yang berkenaan dengan globalisasi sebagai proses maupun globalisme sebagai carapandang yang dewasa mi cenderung dianut dalam tata-pergaulan intemasional. Justru plunisentrisme dan multipolaritas menjadi cmi dunia menjelang akhir abad ke-20 dan memasuki abad ke-2 1. Dalam kaitan mi pertemuan antarbudayajangan terutama digambarkan sebagai pertemuan antara dua fihak belaka. Makin rendah derajat ketahanan budaya masyarakat pendukungnya. Proses globalisasi yang diakibatkan oleh berbagai prakarsa dan kegiatan pada skala internasional sebagaimana menggej ala dewasa mi pun penlu kita cermati sejauhmana siginifikan pengaruhnya dalam pertemuan antar-budaya. Kebudayaan adalah suat daya yang u sekaligus tersimpan (latent) dan nyata (actual). yaitu berlakunya herbagai norma acuan penilaku dalam masyarakat yang bersangkutan. makin kuat pula budaya asing yang menerpanya berpengaruh dominan terhadap masyarakat itu.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. dan hal ml pada gllirannya mendorong berlangsungnya proses globalisasi yang terus berkembang atas kemekarannya sendiri. Tangguh atau rapuhnya ketahanan budaya biasanya dilatani oleh menurunnya kesadaran masyarakat yang bersangkutan terhadap kebudayaannya sebagai pengukuh jatidirinya. Dalam kondisi demikian itulah pertemuan antarbudaya sangat berpengaruh atas perimbangan antara kedua daya tersebut.kondisi global yang plurisentnik dan multipolar dalam era kontemporer. Dalam perkembangan sedemikian itu dirasakan makin dipenlukan nya suatu tatanan dunia baru yang perwujudannya memperhatikan plurisentrisme dan multipolanitas sebagai 63 . Kecenderungan meniru itu dalam kelanjutannya bisa terpantul melalui berkembangnya gayahidup (ljfestyle) barn yang dianggap superior dibandingkan dengan gayahidup lama. Dalam kondisi demikian itulah globalisme menjadi cara pandang dalam interaksi antarbangsa.

jarak makin diperdekat dan waktu makin dipersingkat. Perlu dicatat. Kalau dewasa ml dianut asas µkebebasan arns informasi¶ (free flow of information). maka betapa pun paradoksal kedengarannya. suka-tak-suka. Sikap yang naif mi antara lain juga ditandai oleh kecenderungan glonifikasi terhadap fihak yang diunggulkan sebagai 64 . maka terjadilah banjir deras informasi (information glut) yang menghujani kita dan nyanis tak lagi terkendali. 1 . Maka tidaklah mengherankan kalau banjir informasi itu akhirya juga bisa benpengaruh terhadap carapandang maupun gayahidup kita. Dalam bidang inilah terjadi pemadatan dimensi rnang dan waktu (yang disebut Harvey µtimespace compression¶). Maka tidak mustahil kemajuan masyarakat yang diterpa cenderung diukur secara memperbandingkan dengan hal-ihwal yang dipenkenalkafl melalui informasi dan fihak yang menerpa. (Ridwansyh. maka fmhak yang lebih unggul dalam menguasai teknologi informasi dan komunikasi niscaya lebih berkesanggupan untuk membiaskan pengaruhnya secara global. maka dalam hal mi pun terbawa limbah yang samasekali tidak berguna. sedang kesiapan untuk ambilbagian dalam tatanan barn itu merupakan imperatif yang sukar dielakkan. Kecenderungan mi adakalanya dianggap sebagai bagian dan upaya µmodemisasi¶.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. mau-tak-mau. dominasi cendernng terjadi dan fihak yang memiliki dukungan teknologi lebih maju terhadap fihak yang lebih terbelakang. Dengan dukung teknologi modem an infonmasi dalam berbagai bentuk dan untuk benbagai kepentingan dapat disebarluaskan begitu rnpa. bahwa dalam pertemuan antar-budaya mengalirnya anus informasi itu tidak senantiasa terjadi secara dua-arah. dan inilah awal dan suatu proses yang akhimya bisa bermuara pada pernbahan sikap mental dan kultural. melainkan dominasi anus informasi dan fihak yang didukung oleh kesanggupan merentangkan sistem informasi dengan jangkauan global. Medan kenyataan global masakini. Makin canggih dukungan tersebut makin besar pula anus informasi dapat dialirkan dengan jangkauan dan dampak global. Dengan jangkaun sedemikian itu. globalisasi dalam bidang ml sudah dijangkau oleh sistem dan pelembagaan yang makin dijadikan acuan dalam hubungan internasional. Tatanan itu tentu menuntut dirancangnya berbagai sistem dan pelembagaan yang hams diwujudkan sebagai konsekuensinya. banjir informasi melalui sistem dan pelembagaan yang didukung oleh teknologi canggih tidak dengan sendirinya mempenkaya wawasan kita. dan sebagaimana terjadi dengan setiap banj in. yaitu bidang informasi dan komunikasi yang sangat tertunjang oleh pesatnya laju perkembangan teknologi yang semakin canggih. Kesegeraan dan keserampakan anus informasi yang dengan derasnya men erpa kita seolaholah tidak membenikan kesempatan pada kita untuk menyerapnya dengan filter mental dan sikap knitis. Teknologi informasi dan komunikasi dalam era globalisasi mi merupakan pendukung utama bagi tenselenggaranya pertemuan antarbudaya. Ditenimanya suatu tatanan global barn mestinya dapat diandalkan pada tergalangnya konsensus maksimal di antara sege nap eksponen yang berperan dalam janingan itu. melainkan bisa juga mencemani kita secara mental. Dalam bidang informasi. Dalam bidang mi tampaknya tiada altematif lain bagi kita kecuali turut berperan di dalamnya. Rancangan demikian itu tentunya hams dapat ditenima oleh majonitas eksponen yang ambilbagian dalam janingan global yang plunisentrik dan multipolar. maka yang sesungguhnya terjadi bukanlah µpertukanan informasi¶ (exchange of information) berupa proses dua-arah yang cukup bermmbang. sehingga dengan mudah dapat mempengaruhi carapandang dan gayahidup kita. Dalam naskah mi perhatian kita pusatkan pada penjelmaan globalisme dalam bidang yang jelas berdampak terhadap wawasan budaya kita. Dewasa mi sistem dan pelembagaan termaksud tenutama nyata perkembangannya dalam bidang ekonomi dan perdagangan internasional. 2001) Gejala tersebut nyata berpengaruh atas terbentuknya sikap mental dan kultural pada fihak yang diterpa (expose) oleh fihak yang menerpanya (impose) dengan anus informasi.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. dan ditenima dengan alasan µmengikuti kecenderungafl global¶.

perlu diketahui terlebih dahulu tentang pengertian budaya itu sendiri. sekarang kita sedang bergeser dari budaya tulisan ke budaya visual. sosial budaya. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai "kultur" dalam bahasa Indonesia. makin besar pula arus informasi dapat dialirkan dengan jangkauan dan dampak global. Sedangkan fungsi bahasa secara khusus adalah untuk mengadakan hubungan dalam pergaulan sehari-hari. Ruang lingkup perubahan kebudayaan lebih luas dibandingkan perubahan sosial. dan alat untuk mengadakan integrasi dan adaptasi sosial. ilmu pengetahuan. 65 . dengan tujuan menyampaikan maksud hati atau kemauan kepada lawan bicaranya atau orang lain. Seperti dalam hal bahasa. filsafat dan lainnya. dapat disebarluaskan dengan mudah sehingga dapat dengan cepat mempengaruhi cara pandang dan gaya hidup hingga budaya suatu bangsa. Kita telah bergerak dari budaya lisan ke budaya tulisan sejak ditemukannya huruf. ideologi. Makin canggih dukungan teknologi tersebut. dalam interaksi an bangsa. informasi dalam bentuk apapun dan untuk berbagai kepentingan. baik lewat tulisan. 1 . Melalui bahasa. Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah. lisan. teknologi.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Sehingga kemudian sampailah pada era globalisasi. mempelajari naskah-naskah kuno. Fungsi bahasa secara umum adalah sebagai alat untuk berekspresi. Dengan dukungan teknologi informasi dan komunikasi.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Dalam budaya visual. Pengertian Budaya Sebelum mengulas tentang perkembangan tekologi komunikasi terhadap kehidupan budaya. Dalam bahasa Inggris. Namun demikian dalam prakteknya di lapangan kedua jenis perubahan perubahan tersebut sangat sulit untuk dipisahkan (Soekanto. Sebagai sebuah proses. Dimensi ruang yang dapat diartikan jarak semakin dekat atau dipersempit sedangkan waktu makin dipersingkat dalam interaksi dan komunikasi pada skala dunia. Perubahan dalam kebudayaan mencakup semua bagian. Bahasa adalah alat atau perwujudan budaya yang digunakan manusia untuk saling berkomunikasi atau berhubungan. yang meliputi kesenian. yaitu mengolah atau mengerjakan. ataupun gerakan (bahasa isyarat). globalisasi berlangsung melalui dua dimensi. Teknologi komunikasi adalah pendukung utama bagi terselenggaranya globalisasi. mewujudkan seni (sastra). Bahasa memiliki beberapa fungsi yang dapat dibagi menjadi fungsi umum dan fungsi khusus. Medan sumber informasi global dan tampil sebagai penentu kecendeningafl (trend-setter) dalam pembentukan sikap mental dan kultural serta gaya hidup barn. Semakin lama kebudayaan akan semakin berkembang. manusia dapat menyesuaikan diri dengan adat istiadat. Tapi. dan untuk mengeksploitasi ilmu pengetahuan dan teknologi.menjadi bagian yang penting dalam proses komunikasi. kebudayaan disebut culture. Dimana era globalisasi ini erat sekali kaitannya dengan teknologi informasi atau komunikasi. Hal ini tentunya tidak terlepas dari dukungan pesatnya laju perkembangan teknologi yang semakin canggih khususnya teknologi komunikasi. berkomunikasi. tata krama masyarakat. Pengaruh globalisasi dirasakan di berbagai bidang kehidupan seperti kehidupan politik. ekonomi. tar yaitu dimensi ruang dan dimensi waktu. Akan tetapi perubahan tersebut tidak mempengaruhi organisasi sosial masyarakatnya. tingkah laku. Perubahan sosial merupakan bagian dari perubahan budaya. dan sekaligus mudah membaurkan dirinya dengan segala bentuk masyarakat. pertahanan keamanan dan lain-lain yang akan mempengaruhi nilai-nilai nasionalisme bangsa. yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. 1990). gambar-yang diam atau bergerak. Kehadiran globalisasi membawa pengaruh bagi kehidupan suatu bangsa. yang berasal dari kata Latin Colere. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kecepatan arus informasi yang dengan cepat membanjiri kita seolah-olah tidak memberikan kesempatan kepada kita untuk menyerapnya dengan filter mental dan sikap kritis.

TI disamaratakan dengan Internet. 2004) Perubahan informasi kini tidak lagi ada dalam skala minggu atau hari atau bahkan jam. atau memungkinkan seorang ibu rumah tangga memprogram lemari-esnya untuk melakukan pemesanan saribuah secara otomatis jika stok yang disimpan di kulkas itu habis dan membayar berbagai tagihan rumah tangganya melalui 66 . dan infrastruktur komunikasi. Jika e-Commerce ³hanya´ memungkinkan seseorang bertransaksi jual beli melalui internet dan melakukan pembayaran dengan kartu kreditnya secara on-line. Peningkatan kualitas hidup semakin menuntut manusia untuk melakukan berbagai aktifitas yang dibutukan dengan mengoptimalkan sumber daya yang dimilikinya. dalam waktu kurang dari satu menit sudah dikonfirmasi oleh Bank Indonesia di Medan Merdeka. saling mempelajari kebudayaan lain. informasi mengalir dengan sangat cepat dan menyeruak ruang kesadaran banyak orang. Teknologi Informasi dan Komunikasi yang perkembangannya begitu cepat secara tidak langsung mengharuskan manusia untuk menggunakannya dalam segala aktivitasnya. Dengan banyaknya produk luar negeri dan ditambahnya harga yang relatif lebih murah dapat mengurangi rasa kecintaan masyarakat terhadap produk dalam negeri. Konsep Teknologi Informasi (TI) Teknologi Informasi (TI) yang kini berkembang amat pesat. akurasi dan kemudahan yang memberikan efisiensi dalam berbagai bidang khususnya dalam masalah waktu. Medan Oleh karena itu selama ini dikenal asas ³kebebasan arus informasi´ berupa proses dua arah yang cukup berimbang yang dapat saling memberikan pengaruh satu sama lain. misalnya dari globalisasi aspek ekonomi. Mulai dari wahana TI yang paling sederhana berupa perangkat radio dan televisi. Setara dengan perkembangan perangkat keras komputer. Perubahan harga saham sebuah perusahaan farmasi di Bursa Efek Jakarta hanya membutuhkan waktu kurang dari sepersepuluh detik untuk diketahui di Surabaya. Demikian juga peragaan busana di Paris. Pengaruh positif yang dapat dirasakan dengan adanya Teknokom adalah peningkatan kecepatan. Indeks nilai tukar dollar yang ditentukan di Wall Street. tak bisa dipungkiri memberikan kontribusi yang signifikan terhadap seluruh proses globalisasi ini. (Radian. melainkan sudah berada dalam skala menit dan detik. Internet sendiri memang fenomenal kemunculannya sebagai salah satu tiang pancang penanda kemajuan teknologi informasi dan komunikasi.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. khususnya mikro-prosesor. terbukanya pasar bebas memungkinkan produk luar negeri masuk dengan mudahnya. TI di internet berkembang dengan kecepatan yang sukar dibayangkan. yang pada waktu hampir bersamaan bisa disaksikan dari Gorontalo. Peran Internet tidak bisa dipungkiri dalam hal penyediaan informasi global ini sehingga dalam derajat tertentu. Dengan hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri menunjukan gejala berkurangnya rasa nasionalisme masyarakat kita terhadap bangsa Indonesia. Internet menghilangkan semua batas-batas fisik yang memisahkan manusia dan menyatukannya dalam dunia baru. ketepatan.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Pengaruh globalisasi dengan dukungan teknologi komunikasi meliputi dua sisi yaitu pengaruh positif dan pengaruh negatif. Sulawesi. yang dikenal dengan nama e-Commerce yang lahir karena perkawinan TI dengan globalisasi ekonomi belum lagi genap berusia lima tahun dikenal ±dari fakta bahwa sebenarnya sudah ada sekitar 20 tahun yang lalu²ketika sudah harus merelakan dirinya digilas dengan konsepsi e-Business yang lebih canggih. Kemudian dapat menunjang perkembangan kebudayaan. hingga internet dan telepon gengam dengan protokol aplikasi tanpa kabel (WAP). Banyak hal yang didapat karena pengaruh teknologi komunikasi. Sedangkan pengaruh negatif yang bisa muncul karena adanya teknologi komunikasi. Konsep perdagangan elektronik melalui internet. tenaga dan biaya. TI telah mengubah wajah ekonomi konvensional yang lambat dan mengandalkan interaksi sumber daya fisik secara lokal menjadi ekonomi digital yang serba cepat dan mengandalkan interaksi sumber daya informasi secara global. 1 . yaitu dunia ³maya´. AS.

masih kakunya sistem pemerintahan. Kasus ini layaknya menghadapkan kemajuan TI dengan alat perang dan kekuasaan. diikuti oleh discreet manufacturing (16. menyusun framework penggunaan TI.7%) dibelanjakan untuk perangkat keras seperti PC dan notebook. angka sekecil itu yang diperkuat dengan TI. Namun memang masih ada hambatan. Sementara dari 17 sektor yang membelanjakan uang untuk TI tadi. dari seluruh penduduk Indonesia yang berjumlah 220 juta jiwa. Namun. khususnya pemanfaatan jaringan internet. membangun jaringan online-pemerintah. Dari US$ 772. Bagi Asia. Lebih buruk lagi. senjata lebih berkuasa daripada teknologi. merek dagang. negara yang dianggap kurang maju. kejahatan internet. wajar jika pemerintah negara-negara Asia.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Jumlah ini belum termasuk investasi dotcom yang sempat bergairah obor-blarak dalam dua tahun terakhir. seperti misalnya dalam kasus penggerebekan salah satu Internet Service Provider (ISP) di Jakarta saat ³Kudatuli´ ±kerusuhan dua puluh tujuh juli²yang menghebohkan itu. kini mulai secara resmi mendukung perkembangan TI setelah sekian lama diamkebingungan karena tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan perkembangan teknologi yang demikian cepat ini. jumlah personal computer yang ada di negeri ini hanya sekitar 2 juta unit. hak cipta dan masalah lain. Namun. dipercaya bahwa gerakan mahasiswa dan bantuan logistiknya dikoordinasikan dengan 67 . Tahun 2000 ini diperkirakan US$ 772. Salah satu tindakan yang akan dilakukan oleh pemerintah Asia yang disepakati dalam pertemuan GIIC itu adalah mempersiapkan hukum mengenai transaksi. maka dengan e-Business. sektor yang paling banyak mengeluarkan uang adalah komunikasi & media (19. transaksi ekspor impor antar negara lengkap dengan pembukaan LC dan model cicilan pembayarannya juga bisa dilakukan dengan wahana dan media yang sama. angka untuk perangkat lunak ini jauh lebih besar daripada untuk perangkat kerasnya.9 juta itu. Sebagian yang lain (14. Sampai dengan bulan Juni 1999. akan tetap menempatkan Asia di pihak yang merugi.4%). Konon. masih menurut sumber dari Kontan On-line.e-culture/203) Pertemuan Asian Regional Conference of the Global Information Infrastructure Commission (GIIC) di Manila pada bulan Juli 2000 menghasilkan rencana untuk membangun jaringan komunikasi. kekuatan TI yang ditekan itu kemudian tampil ³jumawa´ dalam episode jatuhnya Orde Baru. Itu berarti hanya 0. terutama antara lain sumber daya yang terbatas.4%) dibelanjakan untuk perangkat lunak. TI disikapi dengan penuh kebingungan. dan perbankan (11. Bagaimana dengan Indonesia? Menurut Tabloid Kontan On-line tanggal 9 Oktober 2000 yang mengutip IDC (Information Data Corporation) . Seharusnya. serta perbedaan sosial politik di antara negara-negara yang kini harus bekerjasama ±yang bila gagal diatasi.3%). naik dari US$ 638. Dan seperti biasanya.9%). dana yang sudah dibelanjakan untuk kepentingan TI di Indonesia cukup besar. Karena itu. krisis ekonomi yang dialami Asia pada akhir tahun 90an menunda perkembangan TI di saat AS dan negara-negara Eropa sedang berkembang pesat dalam penggunaan teknologi itu.8%). sebagian besar (57.4 juta tahun lalu. Angka ini masih sangat kecil dan jika dijadikan pijakan konsepsi utopis TI yang mampu mendorong terjadinya perubahan sosial. bisa cukup menimbulkan dilema bagi pemerintah. serta mengembangkan pendidikan untuk meningkatkan daya saing Asia. 1 .JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Medan instruksi pada bank yang dikirim dengan menekan beberapa tombol pada telepon genggamnya.9 juta.95% dari jumlah penduduk. (http://www. keberadaan internet khususnya merupakan masalah yang pelik. menyediakan perangkat pengakses informasi dari internet untuk masyarakat. Hal ini diduga keras karena di Indonesia tingkat pembajakan masih di atas 90%. lebih khusus lagi bagi negara yang memiliki peraturan ketat. pemerintah (12. Di jaman Orde Baru berkuasa dulu. yang saat ini sedang bekerja keras mengejar ketinggalan dari negara-negara maju dan pada saat yang sama mengalami perubahan sosial politik.

Bahkan. Dunia yang saat ini. Kenichi Ohmae dalam bukunya yang terkenenal The End of the Nation State. Menurut Amartya Sen. Globalisasi. informasi tidak ada. yang pada masa lalu tidak terlihat ±tapi bukannya tidak ada. tersirat inferioritas yang luar biasa dalam diri pemerintah. berkontribusi atas terjadinya suatu perubahan sosial yang bermakna di Ind onesia. jika dilihat dari kacamata TI dan globalisasi secara paradoks bisa jadi sudah punah karena negara yang efektif justru memecah dirinya menjadi bagian lebih kecil dan lebih efisien. Pemerintah beranggapan bahwa proteksi itu diberikan dengan asumsi tidak mungkin pemain-pemain lokal mampu bersaing dengan investor asing dalam dunia TI. entah dimana salahnya. TI. Demokrasi melanda dunia dan dunia menerapkan demokrasi itu melalui sistem telekomunikasi global. Dalam hal politik. teknologi harus berpihak dan mengabdi pada manusia. yaitu dengan memberikan kesempatan pada yang kecil. pemerintah harus mulai berubah ke arah sistem dimana peraturan dan hukum didasarkan bukan pada kemauan pemerintah. dari yang lokal. menunjukkan dengan jelas kebingungan pemerintah dalam merespon perkembangan bisnis multimedia.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. pemerintah baru yang terpilih secara relatif demokratis pasca rejim Orde Baru ini juga gagap menanggapi kemajuan TI. yang tentu ada dalam mainstream TI. harus meminta ijin yang ditandatangani oleh menteri (!). Dunia dalam kacamata TI saat ini adalah dunia tentang pribadi orang per orang. Tak ada jalan untuk mundur lagi. bukan negara (state). maka negara-negara yang mengambil peran akan semakin mengecil. Telkom. Dengan populasi mencapai 2. pelaku ekonomi dan negara. melihat dengan jelas bahwa gagasan ³pemerintah pusat adalah bagian yang terpenting dari sebuah pemerintahan´ sudah saatnya ditinggalkan. 1 . justru banyak pemain lokal yang berteriak dan menentang keppres ini. dan tanpa informasi maka semua kegiatan akan berhenti. jelas adalah keniscayaan. Keppres 96/2000 yang garis besarnya berisi larangan masuknya investor asing di bidang industri multimedia di Indonesia. Tanpa TI. telepon gengam dan email pada para koordinator lapangan untuk mengantisipasi blokade militer yang menyapu Jakarta dan kota-kota lainnya saat itu. Kebingungan ini juga terlihat jelas dalam perumusan UU Telekomunikasi beserta PP yang menyertainya. secara langsung atau tidak. meningkatnya tribalisme saat ini mungkin bisa dianggap terkait dengan kemajuan TI karena memperjelas banyak hal sehingga setiap orang dapat mengetahui peristiwa yang terjadi di mana saja.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. 2004) TI modern memungkinkan kerjasama yang luar biasa antar masyarakat. Padahal. pemenang hadiah Nobel bidang Ekonomi tahun 1998. Bagaimana memulai? Pertama. Maka yang harus dilakukan dalam konteks perkembangan TI dan globalisasi ini adalah membangun kembali keberpihakan TI melalui strategi yang membela mereka yang selama ini ditinggalkan dan diabaikan dalam arus globalisasi. Dengan semakin banyaknya informasi yang diterima masyarakat. Dengan Kepres itu. Tapi. (Martinginsih. Medan memanfaatkan kecanggihan TI ini. menurut pencetus ide ³The Third Way´ Anthony Giddens dengan teori strukturasi modernisnya. menengah dan koperasi merupakan sasaran pokok yang harus didorong dan diberdayakan dalam memanfaatkan TI untuk 68 . Sebuah paradoks: karena ekonomi global makin membesar. yaitu jatuhnya rejim militeristik yang sudah berkuasa 32 tahun lamanya. untuk mengurus ijin pendirian warnet. sedang bermetamorfosa dari swapraja menuju swakelola.1 juta unit usaha yang ³tahan banting´ ±sudah teruji dalam krisis ekonomi²maka pengusaha kecil. Dalam PP No 52/2000 misalnya. komunikasi militer pun disadap dan semua sandi militer diterjemahkan oleh para aktivis dan dibagikan lewat pager. dalam hal informasi dan dilihat dari kacamata TI. Jelas. Konsep Negara Kesatuan misalnya. melainkan pada legitimasi masyarakat. apabila seseorang ingin mendirikan warung internet. Satu-satunya pemain lokal yang terlihat paling getol mendukung dikeluarkannya keppres tersebut hanyalah PT. bahwa kebijakan pemerintah saat ini menimbulkan semakin banyak masalah yang timbul dalam pengembangan TI. 1998 dan 1999.

seni dan sastra. sumber daya manusia dan keahlian. Teknologi telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan umat manusia dalam dunia yang semakin ³sempit´ ini. baik legal maupun illegal dengan menghalalkan segala cara karena ingin memperoleh keuntungan secara ³potong kompas´. Tujuan utama perkembangan iptek adalah perubahan kehidupan masa depan manusia yang lebih baik. maka tidak mengherankan dalam setiap aspek kehidupan manusia pun mulai menunjukan suatu fenomena baru. Disamping itu. tindakan kriminalitas dan budaya kekerasan. generasi muda mesti dibekali sedini mungkin dengan ilmu pengetahuan tentang tata cara mengambil manfaat positif dari kemajuan teknologi informasi yang berkembang dengan deras dan pesat. merupakan salah satu manfaat positif. Sedangkan dampak negatifnya adalah masuknya pengaruh budaya asing. Semua ini dapat dipahami. seperti pergaulan bebas. cepat dan aman. Generasi muda adalah kelompok masyarakat yang sangat rentan terhadap pengaruh budaya asing ini. Globalisasi dunia melalui teknologi informasi (internet. Peranan pemerintah bersama serta segenap elemen masyarakat. terutama terhadap generasi muda itu. telepon selular dan media elektronik lain) yang berkembang sangat pesat. murah. Adanya penyalahgunaan teknologi informasi yang merugikan kepentingan pihak lain sudah menjadi realitas sosial dalam kehidupan masyarakat moderen sebagai dampak dari pada kemajuan iptek yang tidak dapat dihindarkan lagi bagi bangsa-bangsa yang telah mengenal budaya teknologi (the culture of technology). terutama teknologi informasi (information technology) seperti internet sangat menunjang setiap orang mencapai tujuan hidupnya dalam waktu singkat. sehingga dalam membangun sosial budaya. diperlukan persiapan yang matang. Medan melakukan perdagangan elektronik karena keterbatasan modal.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Oleh karena adanya pergeseran demikian. membina dan menyelamatkan para generasi muda dari dampak negatif kemajuan teknologi informasi.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. semakin dituntut dan diperlukan untuk mengawasi. Dampak buruk dari perkembangan ³dunia maya´ ini tidak dapat dihindarkan dalam kehidupan masyarakat modern saat ini dan masa depan. baik secara ekonomi. Kemudahan dalam mengakses informasi dan ilmu pengetahuan dari berbagai sumber dan belahan dunia. penyalahgunaan Narkoba. Perkembangan iptek. pemantapan kehidupan beragama dapat dijadikan benteng pertahanan bagi masyarakat untuk meminimalisasi pengaruh negatif dari 69 . Hal ini salah satunya dapat dilihat pada upaya kreasi manusia yang berkaitan dengan bidang ilmu pengetahuan. Betapa tidak dengan penggunaan teknologi informasi perilaku manusia secara nyata telah beralih dari model aktifitas yang didasarkan pada suatu bentuk hubungan face to face telah bergeser kepada pola hubungan digitally. Bangsa dan negara yang menguasai teknologi tinggi berarti akan menguasai ³dunia´. mudah. agar mereka dapat mengambil manfaat positif dan membentengi diri dari dampak negatif globalisasi dunia yang tengah berkembang ini. Dampak perkembangan teknologi informasi. budaya. bisa positif bisa pula negatif. karena teknologi memegang peran amat penting di dalam kemajuan suatu bangsa dan negara di dalam percaturan masyarakat internasional yang saat ini semakin global. 1 . politik. kompetitif dan komparatif. Dampak perkembangan teknologi informasi dirasa sangat berpengaruh terhadap pengaturan hukum. hukum internasional maupun teknologi persenjataan militer untuk pertahanan dan keamanan negara bahkan kebutuhan intelijen. Pemanfaatan Teknologi Informasi Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) yang cukup pesat sekarang ini sudah menjadi realita sehari-hari bahkan merupakan tuntutan masyarakat yang tidak dapat ditawar lagi. Selaku harapan serta tumpuan bangsa dan negara yang akan melanjutk pembangunan an di segala bidang.

Jaringan informasi global atau internet saat ini telah menjadi salah satu sarana untuk melakukan kejahatan baik domestik maupun internasional. masyarakat bahkan bangsa dan negara. sarana dan prasarana teknologi yang dimiliki. Medan dampak globalisasi dunia melalui teknologi informasi yang masuk dengan deras ke semua pelosok negeri di Indonesia. Mengantisipasi kejahatan ini seyogianya dimulai melalui pembentukan perangkat undangundang seperti dalam Konsep KUHP Baru dan RUU Teknologi Informasi yang disusun oleh Pusat Kajian Cyberlaw Universitas Padjadjaran. ekonomi dan hukum dari kemajuan teknologi moderen yang tidak begitu mudah ditangani oleh aparat penegak hukum di negara berkembang seperti halnya Indonesia yang membutuhkan perangkat hukum yang jelas dan tepat dalam mengantisipasi setiap bentuk perkembangan teknologi dari waktu ke waktu. Pembentukan unit kepolisian ini patut dipuji. Di sini perlu ada semacam batasan hukum yang tegas di dalam menanggulangi dampak sosial.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. internasional dan melampaui batas ataupun kedaulatan suatu negara. Kesulitan yang dialami adalah pada perangkat hukum atau undang-undang teknologi informasi dan telematika yang belum ada sehingga pihak kepolisian Indonesia masih raguragu dalam bertindak untuk menangkap para pelakunya. politik. Pihak kepolisian Indonesia telah membentuk suatu unit penanggulangan kejahatan mayantara dengan nama Cybercrime Unit yang berada di bawah kendali Direktrorat Reserse Kriminal Polri. Konsep 70 . Suatu hal yang patut diperhatikan adalah bahwa kejahatan sebagai gejala sosial sampai sekarang belum diperhitungkan dan diakui untuk menjadi suatu tradisi atau budaya yang selalu mengancam dalam setiap saat kehidupan masyarakat. Kejahatan mayantara dewasa ini mengalami perkembangan pesat tanpa mengenal batas wilayah negara lagi (borderless state). 2002) Selain melakukan upaya dengan mengkriminalisasikan kegiatan di cyberspace dengan pendekatan global. karena kemajuan teknologi yang digunakan para pelaku cukup canggih dalam aksi kejahatannya. 1 . Harus diakui bahwa Indonesia belum mengadakan langkah-langkah yang cukup signifikan di bidang penegakan hukum (law enforcement) dalam upaya mengantisipasi kejahatan mayantara seperti dilakukan oleh negara-negara maju di Eropa dan Amerika Serikat. artinya ketentuan cybercrime tidak dibuat dalam bentuk perundang-undangan tersendiri (khusus). Munculnya revolusi teknologi informasi dewasa ini dan masa depan tidak hanya membawa dampak pada perkembangan teknologi itu sendiri. sosial. khususnya kepolisian tidak mampu untuk menangkal dan menanggulangi disebabkan keterbatasan sumber daya manusia. Semua ini menjadi motif dan modus operandi yang amat menarik bagi para penjahat digital. Model yang digunakan adalah Umbrella Provision atau ³undang-undang payung´.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Internet menjadi medium bagi pelaku kejahatan untuk melakukan kejahatan dengan sifatnya yang mondial. Para hacker dan cracker bisa melakukannya lewat lintas negara (cross boundaries countries) bahkan di negara-negara berkembang (developing countries) aparat penegak hukum. kecuali kejahatan mayantara yang bermotif pada kejahatan ekonomi/perbankan.(Nugraha. namun amat disayangkan apabila unit ini bekerja tidak dilengkapi dengan perangkat legislasi anti cybercrime. kehidupan pribadi. akan tetapi juga akan mempengaruhi aspek kehidupan lain seperti agama. akan tetapi diatur secara umum dalam RUU Teknologi Informasi dan RUU Telematika. kebudayaan. Artinya. Manifestasi kejahatan mayantara yang terjadi selama ini dapat muncul dalam berbagai macam bentuk atau varian yang amat merugikan bagi kehidupan masyarakat ataupun kepentingan suatu bangsa dan negara pada hubungan internasional. Pemerintah Indonesia sedang melakukan suatu pendekatan evolusioner untuk mengatur kegiatan-kegiatan santun di cyberspace dengan memperluas pengertianpengertian (ekstensif interpretasi) yang terdapat dalam Konsep KUHP Baru.

Namun kemajuan teknologi membawa dampak buruk dalam kehidupan masyarakat berupa kejahatan mayantara sehingga harus diantisipasi dengan tersedianya perangkat hukum atau undang-undang yang tepat. Medan KUHP Baru sebelumnya tidak memperluas pengertian-pengertian yang terkait dengan kegiatan di cyberspace sebagai delik baru. baik melalui sarana penal maupun non penal agar tidak menjadi masalah kejahatan besar bagi bangsa dan negara yang mengalami krisis ekonomi. Selain itupula dukungan kemampuan masyarakat untuk mengetahui perkembangan kebudayaan Kota Makassar juga berperan penting terhadap perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. Namun perkembangan teknologi digital tidak akan dapat dihentikan oleh siapapun. Adapun hasil penelitian yang dilakukan terhadap obyek penelitian adalah sebagai berikut : Kemampuan Masyarakat dan Pemerintah Pemanfaatan globalisasi teknologi informasi dapat terlaksana dengan baik jika didukung oleh kemampuan pemerintah mendukung penggunaan teknologi informasi terhadap perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. perangkat undang-undang belum tersedia sebagai sarana penal dalam menanggulanginya. Dampak buruk teknologi menjadi pekerjaan rumah bersama yang merupakan sisi gelap dari perkembangan teknologi yang harus ditanggulangi. Data primer diperoleh melalui penyebaran angket kepada beberapa responden dengan menggunakan angket (questioner). karena telah menjadi ³kebutuhan pokok´ manusia moderen yang cenderung pada kemajuan dengan mempermudah kehidupan masyarakat melalui komunikasi dan memperoleh informasi baru. Dampak buruk teknologi yang disalahgunakan oleh orang-orang tidak bertanggungjawab menjadi masalah hukum pidana dan harus segera ditanggulangi melalui sarana penal yang dapat dilakukan oleh penegak hukum kepolisian. Data tersebut dikumpulka melalui pra survey dan survey lapangan (observasi langsung) dan wawancara mendalam (debt interview) dengan menggunakan pedoman wawancara. HASIL PEMBAHASAN Hasil penelitian yang digunakan dalam pelaksanaan ini untuk menganalisa faktor pendukung pemanfaatan globalisasi Teknologi Informasi terhadap perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. maka dampak buruk teknologi yang menjadi kejahatan mayantara pada masa depan harus ditanggulangi dengan lebih hati-hati. 1 . Sayangnya. Perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat dewasa ini patut disyukuri sebagai hasil budaya manusia moderen. Seyogianya kemajuan teknologi menolong kehidupan masyarakat yang semakin kompleks.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Berikut pendapat responden tentang kemampuan Pemerintah dalam mendukung pemanfaatan globalisasi teknologi informasi terhadap budaya masyarakat di Kota Makas sar yaitu sebagai berikut : 71 . termasuk kepedesaan di Indonesia. Mengingat kemajuan teknologi telah merambah ke pelosok dunia.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.

Mampu 10 15.46 Jumlah 63 100. Tidak Mampu 11 17. Hal ini dapat dilihat dari pemanfaatan Teknologi Informasi dalam mendukung kegiatan di Kota Makassar seperti pembuatan website Pemerintah Kota Makassar yang memuat tentang perkembangan sektor kebudayaan di KotaMakassar.81 2.87 3. Wawancara dengan informan diperoleh informasi bahwa kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan Teknologi Informasi masih kurang.63 2.03 4. 72 .52 Jumlah 63 100.03 %). 1 . Karena dari 63 responden yang memberikan jawaban mendukung sebanyak 35 orang (55. Kurang mendukung 7 9. Sangat mendukung 15 23. Mendukung 35 55. Medan Tabel 1 Pendapat Responden Tentang Kemampuan Pemerintah Dalam Mendukung Globalisasi Teknologii Informasi terhadap Kegiatan Kebudayaan Di Kota Makassar Frekuensi Persentase No Pendapat Responden (orang) (%) 1. Hal ini dapat dilihat dari fasilitas yang digunakan saat melakukan kegiatan kebudayaan seperti pameran-pameran kebudayaan ataupun memperkenalkan seni-seni budaya yang ada di Kota Makassar kepada dunia luar. Karena dari 63 responden yang memberikan jawaban kurang mampu sebanyak 29 orang (46. Kurang Mampu 29 46.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Tidak mendukung 6 9. Hal ini disebabkan masih kurang masyarakat yang membuka website-website yang memuat tentang perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. Berikut pendapat responden tentang kemampuan masyarakat menggunakan Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan budaya masyarakat di Kota Makassar. Sangat Mampu 13 20. yaitu sebagai berikut : Tabel 2 Pendapat Responden Tentang Kemampuan Masyarakat Menggunakan Teknologi Informasi Dalam Mendukung Kebudayaan Masyarakat di Kota Makassar Frekuensi Persentase No Pendapat Responden (orang) (%) 1.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika.52 4. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pemerintah sebagai motivator dalam mendukung penggunaan teknologi informasi terhadap perkembangan budaya masyarakat di Kota Makassar.00 Sumber : Data Primer diolah November 2008 Mengacu kepada jawaban responden tersebut terlihat bahwa kemampuan pemerintah mendukung pemanfaatan Teknologi Informasi budaya masyarakat Kota Makassar.00 Sumber : Data Primer diolah November 2008 Mengacu kepada jawaban responden tersebut terlihat bahwa kemampuan pegawai di instansi Pemerintah Kota Makassar masih kurang dalam menggunakan software computer PC di setiap unit kerja.56 %) Wawancara dengan informan diperoleh informasi bahwa pemerintah mendukung pemanfaatan Teknologi Informasi terhadap perkembangan budaya masyarakat di Kota Makassar.56 3.

4 . Hal ini dapat dilihat saat melakukan kegiatan kebudayaan Teknologi Informasi yang digunakan dapat digunakan baik oleh masyarakat maupun pihak. Demikianlah halnya penggunaan teknologi informasi terhadap perkembangan kebudayaan di Kota Makassar memerlukan fasilitas yang memadai bai dari segi kualitas maupun kuantitas. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa fasilitas yang digunakan dalam setiap kegiatan kebudayaan fasilitas yang digunakan cukup berkualitas.00 Tidak Berkualitas 10 15. Medan Hasil pengamatan menunjukkan bahwa teknologi informasi yang digunakan dalam mendukung kebudayaan di Kota Makassar kurang maksimal. pihak Pemerintah Kota juga melakukan kerjasama dengan pihak penyediaan layanan Teknologi Informasi untuk mendukung kualitas fasilitas yang digunakan.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. 2 . Karena dari 63 orang yang memberikan jawaban kurang berkualitas adalah 21 orang (33.22 Mengacu kepada jawaban responden tersebut terlihat bahwa kualitas fasilitas Teknologi Informasi yang digunakan dalam mendukung perkembangan budaya masyarakat di Kota Makassar kurang berkualitas. Jumlah 63 Sumber : Data Primer diolah November 2008 100.33 Berkualitas 18 28.33 %). Dukungan Fasilitas Teknologi Informasi Fasilitas teknologi informasi yang memadai baik dari segi kualitas maupun kuantitas sangat dibutuhkan. Berikut pendapat responden tentang kuantitas fasilitas yang dimiliki dalam mendukung penggunaan Teknologi Informasi yaitu sebagai berikut : 73 . 3 . Hal ini dapat dilihat masih banyaknya masyarakat yang kurang memahami pemanfaatan globlalisasi Teknologi Informasi dari seluruh aspek kehidupan termasuk perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. Berikut pendapat responden tentang kualitas fasilitas Teknologi Informasi dalam mendukung perkembagan budaya masyarakat di Kota Makassar yaitu sebagai berikut : Tabel 3 Pendapat Responden Tentang Kualitas Sarana dan Prasarana Dalam Pemanfaatan Teknologi Informasi Terhadap Perkembagan Kebudayaan di Kota Makassar No 1 .58 Pendapat Responden Sangat Berkualitas Frekuensi (orang) 14 Persentase (%) 22.87 Kurang berkualitas 21 33. 1 .JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Wawancara dengan informan diperoleh informasi bahwa fasilitas yang digunakan dalam mendukung peningkatan kegiatan kebudayaan di Kota Makassar telah memadai dan memiliki kualitas yang cukup berkualitas. Fasilitas yang memadai akan memberikan kemudahan kepada pengguna Teknologi Informasi untuk memperoleh data dan informasi. Dalam mendukung kegiatan kebudayaan di Kota Makassar selain menggunakan fasilitas yang dimiliki.

68 %).98 36. Frekuensi (orang) Sangat baik 4 Baik 7 Kurang Baik 21 Tidak Baik 15 Jumlah 63 Sumber : Dara primer diolah November 2008 Pendapat Responden Persentase (%) 8. Sikap dan Perilaku Masyarakat Pemanfaatan Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar perlu didukung sikap dan perilaku masyarakat dalam memahami Teknolog i Informasi tersebut. Berikut pendapat responden tentang sikap dan perilaku masyarakat terhadap penggunaan Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar yaitu sebagai berikut : Tabel 5 Pendapat Responden Tentang Sikap Masyarakat Terhadap Penggunaan Teknologi Informasi Dalam Mendukung Perkembangan Budaya Masyarakat No 1.51 19. Pendapat Responden Sangat baik Baik Kurang Baik Tidak Baik Frekuensi 11 17 23 12 Persentase 17.89 44. Medan Tabel 4 Pendapat Responden Tentang Fasilitas Teknologi Informasi Dari Segi Kuantitas Dalam Mendukung Kegiatan Kebudayaan di Kota Makassar No 1. 1 . Hasil pengamatan menunjukkan bahwa fasilitas Teknologi Informasi yang digunakan dalam mendukung kegiatan kebudayaan di Kota Makassar masih perlu mendapat perhatian dari Pemerintah Kota Makassar. Hal ini dapat dilihat saat melakukan kegiatan kebudayaan. 2. Wawancara dengan informan diperoleh informasi bahwa fasilitas Teknologi Informasi yang digunakan dalam mendukung kegiatan kebudayaan di Kota Makassar kurang baik. 2. 3. 4. 3.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.92 100. Dukungan sikap dan perilaku masyarakat untuk mengetahui sejauh mana perkembangan kegiatan kebudayaan di Kota Makassar.05 74 .00 Mengacu kepada jawaban responden tersebut terlihat bahwa fasilitas Teknologi Informasi yang digunakan dalam mendukung kegiatan kebudayaan di Kota Makassar dari segi kuantitas masih kurang. maka untuk mendukung kegiatan kebudayaan masih menyewa peralatan dari penyediaan layanan Teknologi Informasi. 4. Hal ini disebabkan keterbatasan anggaran yang dimiliki untuk melakukan penambahan fasilitas Teknologi Informasi yang digunakan dalam mendukung perkembangan kebudayaan masyarakat di Kota Makassar kurang maksimal.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika.68 31. Karena dari 63 responden yang memberikan jawaban kurang baik sebanyak 21 orang (44.46 26.51 14. Kurang memadainya fasilitas Teknologi Informasi yang digunakan dari segi jumlah masih sangat terbatas.

3.00 Mengacu kepada jawaban responden tersebut terlihat bahwa sikap masyarakat terhadap penggunaan Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar kurang baik. Wawancara dengan informan diperoleh informasi bahwa sikap masyarakat terhadap penggunaan Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar masih kurang baik. 3. 1 . kurangnya sosialisasi yang dilakukan Pemerintah Kota Makassar kepada masyarakat untuk memanfaatkan Teknologi Informasi dalam mengetahui perkembangan kebudayaan di Kota Makassar.51 %). 2. Hal ini dapat dilihat dari sikap masyarakat untuk mengetah ui perkembangan kebudayaan di Kota Makassar masih perlu mendapat perhatian dari pemerintah. Masyarakat kurang termotivasi tentang kegiatan kebudayaan masyarakat. Hal ini dapat dilihat dari keinginan dan animo masyarakat untuk mengetahui perkembangan kegiatan kebudayaan di Kota Makassar.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.93 %).29 20.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Medan Jumlah 63 Sumber : Dara primer diolah November 2008 100. Kurangnya keinginan tersebut disebabkan : 1. Website yang memuat kegiatan kebudayaan di Kota Makassar sering mengalami gangguan atau dalam melakukan download file mengalami gangguan.16 100. Berikut pendapat responden tentang pemahaman masyarakat terhadap Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar yaitu sebagai berikut : Tabel 6 Pendapat Responden Tentang Pemahaman Masyarakat Terhadap TI Mendukung Perkembangan Budaya Masyarakat No 1. Karena dari 63 responden yang memberikan jawaban kurang baik sebanyak 23 orang (36. Karena dari 63 responden yang memberikan jawaban kurang memahami sebanyak 22 orang (34.00 Mengacu kepada jawaban responden tersebut terlihat bahwa sikap masyarakat dalam memahami Teknologi Informasi yang digunakan dalam mendukung kegiatan kebudayaan di Kota Makassar masih kurang memahami. 4. 75 . Hal ini dapat dilihat dari sikap masyarakat untuk mengetahui perkembangan kegiatan kebudayaan di Kota Makassar masih perlu mendapat perhatian dari pemerintah. Wawancara dengan informan diperoleh informasi bahwa sikap masyarakat terhada p penggunaan Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar masih kurang baik. Frekuensi (orang) Sangat memahami 9 Memahami 13 Kurang Memahami 22 Tidak memahami 19 Jumlah 63 Sumber : Dara primer diolah November 2008 Pendapat Responden Persentase (%) 14. 2.92 30. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa sikap masyarakat terhadap Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar masih kurang baik.63 34.

JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Medan Wawancara dengan informan diperoleh informasi bahwa sikap masyarakat terhadap penggunaan Teknologi Informasi yang digunakan dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar memerlukan pemahaman dari masyarakat. 76 .April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. 1 .

3. Longman Publisher. Perlunya sosialisasi yang dilakukan pemerintah dalam mendukung peningkatan kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. 1985 Lain-lain : Infokomputer. dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan globalisasi Teknologi Informasi terhadap perkembangan kebudayaan di Kota Makassar kurang optimal. Medan PENUTUP Kesimpulan Berdasarkan pembahasan di atas. 2000 Murray. Perlunya penambahan fasilitas yang memadai dalam mendukung pemanfaatan Teknologi Informasi terhadap perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. 2. Saran Adapun saran yang dapat diberikan dalam penulisan ini adalah sebagai berikut : 1. 2. Kemampuan Pemerintah dan kemampuan masyarakat kurang mampu memberikan dukungan terhadap pemanfaatan globalisasi Teknologi Informasi dalam perkembangan kebudayaan di Kota Makassar.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. 1975 Sen. India. yaitu : 1. Technology & Development. 3. Amartya. 1995 Ohmae. Hal ini disebabkan masih banyak masyarakat yang kurang mengerti dan memahami pentingnya Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. London. Cambridge University Press. Employment.infokomputer. http://www. 9 Oktober 2000. Hal ini dilihat dari beberapa faktor pendukung yang kurang terlaksana secara baik. Knowledge Machine : Language & Information in a Technological Society. Kenichi.com/ di-Up load oleh: Anton Waspo 77 . London: Harper Collins. The Standard of Living. Denise E.com Edisi Juli-Agustus 2000. Khususnya kemampuan masyarakat dalam memahami pentingnya pemanfaatan Teknologi Informasi. 1 .kontan-online. Fasilitas yang digunakan baik segi kualitas dan kuantitas kurang mampu mendukung pemanfaatan Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. Third Way and Its Critics. Sikap dan perilaku masyarakat dalam memahami pemanfaatan globalisasi Teknologi Informasi kurang optimal. Daftar Bacaan Giddens. 1995 Sen.. Sikap dan perilaku yang dimiliki oleh masyarakat dalam memanfaatkan Teknologi Informasi sangat penting dimiliki sehingga masyarakat dapat memanfaatkan Teknologi Informasi secara maksimal dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. Singapore. http://www.com/ Kontan On-line. The End of The Nation State ± The Rise of Regional Economies. Oxford University Press.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Anthony. Polity Press. Amartya.

calon TKI sebagai pencari kerja cenderung menerima saja informasi yang disampaikan petugas atau sponsor. kedua Dinas Tenaga Kerja itu disarankan menyediakan leaflet berisi informasi ketenagakerjaan seperti lowongan pekerjaan dan persyaratan pembuatan kartu kuning. Kata Kunci : Diseminasi Informasi Ketenagakerjaan. serta penyampaian informasi secara langsung atau tatap muka. Di masa yang akan datang. perusahaan tempat kerja. Semua aktivitas tersebut belum maksimal menjangkau khalayak pencari kerja.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Wawancara menggunakan pedoman wawancara dengan nara sumber di Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah dan di Kota Palangkarya. apakah diseminasi informasi online sudah berjalan ? Penelitian ini bersifat deskriptif dan menggunakan pendekatan kualitatif dengan fenomenologi realistik. Pengumpulan data dilakukan dengan pengamatan dan wa wancara mendalam (depth interview) serta mempelajari data sekunder. Di dalamnya diungkapkan apa saja yang dilaksanakan Dinas Tenaga Kerja sebagai institusi pemerintah di Daerah tersebut kepada pencari kerja. dan pencari kerja di loket diseminasi kartu kuning. Di samping pemanfaatan internet.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Calon TKI sebagai pencari kerja juga biasanya mengingikan informasi yang dianggap menarik perhatian saja seperti mengenai adat istiadat dan agama. khususnya di Kota Palangkaraya. sebelumnya peneliti yang sama pada Pusat Pengembangan Literasi Departemen Komunikasi dan Informatika. serta peraturan cuti kerja di negara tujuan. Jakarta 4 78 . Sikap ini terjadi karena kurang lengkap pengetahuan dan informasi yang dimilikinya mengenai hak dan kewajiban seorang TKI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua Dinas Tenaga Kerja tersebut telah melaksanakan diseminasi informasi ketenagakerjaan secara variatif melalui spanduk. Dinas Tenaga Kerja Latar Belakang Masalah Keluhan pencari kerja. Umumnya informasi tentang hak dan kewajiban TKI yang lengkap belum diterima pada saat pendaftaran dan proses rekrutmen calon TKI. tetapi sementara tidak dapat difungsikan karena hamb atan dana. termasuk calon TKI mengenai informasi ketenagakerjaan belum banyak diungkapkan. Oleh karena itu. Informasi yang diperoleh pencari kerja di Tanah Air dari sumber informasi resmi masih amat terbatas tentang informasi lowongan pekerjaan. Penulis adalah Peneliti Madya bidang Studi Komunikasi dan Media pada Pusat Litbang Aptel SKDI. sistem gaji dan uang lembur. 1 . buletin dan leaflet. Medan Diseminasi Informasi Ketenagakerjaan Pada Dinas Tenaga Kerja Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah dan Kota Palangkaraya Oleh : Paraden Lucas Sidauruk4 Abstrak Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan gambaran bagaimana pelaksanaan diseminasi informasi ketenagakerjaan bagi pencari kerja di Provinsi Kalimantan Tengah. perlu dibangun jaringan LAN ketenagakerjaan di antara instansi ketenagakerjaan yang terkait. siaran televisi. Diseminasi informasi ketenagakerjaan melalui online pernah dilakukan dengan menggunakan internet khususnya e mail dan browsing. Pencari Kerja. Sejauh ini belum banyak diteliti mengenai informasi apa yang selama ini diterima oleh pencari kerja baik yang bekerja di dalam negeri maupun calon TKI yang hendak berangkat ke luar negeri.

Apakah diseminasi informasi ketenagakerjaan melalui on line telah dilaksanakan pemerintah kepada pencari kerja ? 3. perlu penelitian mengenai pemerintah sebagai komunikator yang menangani ketenagakerjaan dalam diseminasi informasi ketenagakerjaan. Provinsi Kalimantan Tengah ?´ Beberapa pertanyaan penelitian dapat diajukan. yaitu : 1.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. tidak sedikit di antaranya berganti-ganti pekerjaan dalam waktu singkat. Berdasarkan pemikiran itu. Akibatnya. tiap pencari kerja berhak untuk mendapatkan informasi yang lengkap sesuai dengan kebutuhannya sehingga mereka bisa membuat keputusan yang tepat. Dalam kenyataannya. Pelaksanaan diseminasi informasi ketenagakerjaan on line kepada pencari kerja.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Apa yang diharapkan oleh khalayak pencari kerja tidak lain adalah agar mereka mendapatkan informasi ketenagakerjaan sesuai dengan kebutuhannya. Selain itu. Kurangnya informasi ketenagakerjaan membuat pencari kerja tidak melihat adanya alternatif atau kesempatan kerja lain. Pemenuhan kebutuhan informasi ketenagakerjaan melalui diseminasi informasi yang efektif dapat memberdayakan pencari kerja sebagai warga negara. 1 . Medan Padahal semua informasi berkaitan dengan ketenagakerjaan itu merupakan hak seorang pencari kerja sebagai warganegara yang dijamin oleh Pasal 28 F UUD 1945 dan Undang-undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik. Provinsi Kalimantan Tengah.Oleh karena itu. perlu dijawab informasi apa yang disampaikan sumber informasi tersebut selama ini kepada stakeholder khusunya pencari kerja. Selain karena kurangnya sarana komunikasi. Diseminasi informasi ketenagakerjaan yang dilaksanakan pemerintah untuk pencari kerja. 79 . Kalimantan Tengah. Pencari kerja ini menggunakan informasi itu dalam jumlah yang cukup untuk menghasilaan keputusan yang tepat. juga sering dikeluhkan kurangnya kualitas sumber daya manusia yang menangani kegiatan diseminasi informasi tersebut. Rumusan Masalah Masalah penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut : ´Bagaimana pelaksanaan diseminasi informasi ketenagakerjaan bagi pencari kerja di Kota Palangkaraya. sumber informasi resmi di bidang ketenagakerjaan belum sepenuhnya melakukan diseminasi informasi ketenagakerjaan sebagai sutatu bentuk komunikasi yang benar-benar menjangkau khalayak pencari kerja. Secara spesifik melalui studi ini dapat diketahui : 1. Informasi apa yang disampaikan oleh pemerintah kepada pencari kerja ? Tujuan dan Manfaat Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan gambaran diseminasi informasi ketenagakerjaan bagi pencari kerja di Palangkarya. 2. Apa saja yang dilaksanakan pemerintah untuk pencari kerja dalam diseminasi informasi ketenagakerjaan? 2. Banyak juga yang menganggap pekerjaan tertentu hanya sebagai batu loncatan seperti bekerja sebagai penjual (sales) atau bekerja di perusahaan atau instansi yang tidak sesuai dengan harapannya. Informasi yang disampaikan pemerintah kepada pencari kerja. Komunikasi yang dilakukan oleh pemerintah dan perusahaan selama ini masih belum mampu memenuhi kebutuhan informasi ketenagakerjaan pencari kerja seperti juga terjadi di Palangkaraya. tidak sedikit pula pencari kerja yang menerima tawaran suatu pekerjaan tanpa didasari pada keputusan yang matang. 3. Untuk memutuskan apakah pencari kerja bekerja di luar negeri atau di dalam negeri dibutuhkan data dan informasi ketenagakerjaan yang memadai. Sebagai pencari kerja mereka belum mendapatkan informasi ketenagakerjaan yang mencukupi untuk melamar pekerjaan atau menciptakan lapangan kerja baru. Di samping masalah informasi ketenagakerjaan itu.

Dalam kaitannya dengan diseminasi informasi sebagai bentuk dan proses komunikasi. Who. ´seorang komunikator akan berhasil dalam upaya persuasi yang dilakukannya apabilka ia (1) dipandang punya pengetahuan dan keahlian. Menurut Sasa Djuarsa dkk. Ibnu Hamad (2007) mengatakan pembahasan lebih pada diseminasi informasi menggunakan 5W & 1H. Agar khalayak tertarik terhadap pesan yang disampaikan komunikator. Hal itu semakin jelas. apabila syarat syarat pesan yang baik itu dapat terpenuhi. Pemerintah sebagai komunikator atau sumber informasi menyampaikan pesan (message) kepada khalayaknya. Where. secara praktis dapat digunakan sebagai masukan dalam penyusunan/penyempurnaan kebijakan pelayanan atau diseminasi informasi pada Departemen Komunikasi dan Informatika. Rumus 5W & 1H yang dipakai dalam penyusunan berita ( Effendy. Terlebih lagi karena informasi berharga guna mengurangi ketidakpastian seperti dikemukakan dalam Shannon dalam Griffin. keahlian. Salah satu faktor yang berpengaruh terhadap kredibilitas komunikator adalah kekuasaan dan keahlian yang dimiliki sehingga menimbulkan kepercayaan di mata khalayak. Proses pengambilan keputusan yang memberikan kepastian hanya mungkin jika tersedia informasi yang cukup. atau pengalaman yang relevan dengan atau topik pesan yang disampaikannya. (1993 : 204) . 1993 :72) meliputi Why. Komunikasi dapat berlangsung jika unsur-unsur yang menopangnya ada dan berperan sesuai dengan fungsinya masing-masing. sedikitnya ada tiga karakteristik dari sumber yang perlu diperhatikan yakni : ¶credibility¶ (kredibilitas). Dalam hal ini.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. 1997 : 50) bahwa ³information refers to the opportunity to reduce uncertainty´. perlu dirancang agar pesan menarik perhatian. maka pesan tersebut hendaknya mudah dipahami baik bahasa. Kerangka Pemikiran Tiap unsur komunikasi mempunyai perannya sendiri untuk mewujudkan proses komunikasi yang efektif. Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Palangkarya saran-saran penelitian ini dapat diterapkan untuk meningkatkan diseminasi infomasi ketenagakerjaan kepada pencari kerja. ¶attractiveness¶ (daya tarik) dan ¶power¶ (kekuasaan/kekuatan)´ Credibility atau kredibilitas menunjuk pada suatu kondisi di mana si sumber dinilai punya pengetahuan.. unsur komunikator (who). dan (2) dinilai jujur. Satu unsur saja tidak ada membuat komunikasi tidak berlangsung dengan baik. When. Harold D. 1973 dalam Hamidi. sehingga pihak penerima menjadi percaya bahwa pesan yang disampaikannya itu bersifat objektif´ Lebih lanjut dikemukakannya. kata-kata dan kalimatnya (Wilbur Scramm. Untuk itu. Medan Hasil penelitian ini dapat bermanfaat sebagai referensi menambah khazanah pengetahuan mengenai diseminasi informasi. 2007 : 72-73) Informasi yang dikandung dalam pesan itu akan digunakan khalayak. pesan (what) dan khalayak (whom) merupakan variabel penelitian yang penting dicermati dalam studi diseminasi informasi pada instasni pemerintah. punya integritas serta dipercayai oleh pihak komunikan (khalayak)´ Dalam diseminasi informasi sebagai proses komunikasi yang efektif memerlukan pengemasan pesan sehingga menimbulkan kebutuhan bagi khalayak. dan How dapat juga digunakan untuk diseminasi informasi.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. terutama dalam mempersiapkan implementasi Undang-undang Nomor 14 tahun 2008 tentang keterbukaan informasi publik. Bagi Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah dan Dinas Tenaga Kerja. What.. istilah. Setidaknya. 1 . Unsur komunikasi lain adalah khalayak seringkali dipersepsikan sebagai unsur yang kurang penting karena dianggap sebagai orang bersikap pasif dan menerima saja apa yang disampaikan oleh komunikator. Di samping itu. Laswell dalam Wilbur Schramm (1963 :117) mengatakan ´a convenient way to describe an act of communication is to answer the following questions : who says what in which channel to whom with what effect ?´ Schramm menunjukkan unsur-unsur yang menggambarkan suatu tindakan komunikasi. apalagi jika komunikatornya 80 . pentingnya pelaku (sumber) dalam suatu kegiatan. Dengan kekuasaan dimaksudkan sumber informasi mempunyai kewenangan di bidangnya secara resmi.

1 . Dalam hubungannya dengan penelitian ini. Diseminasi informasi ketenagakerjaan melalui online adalah diseminasi informasi ketenagakerjaan yang ³terhubung secara langsung ke internet´ (Jasmadi. Menurut Sasa Djuarsa Sendjaja. khalayak dalam proses komunikasi yang dimaksud adalah pencari kerja yang juga pencari informasi.. Sebagai khalayak adalah pencari kerja baik pencari yang bekerja di dalam negeri maupun di luar negeri (calon TKI). kita seyogyanya berorientasi ke khalayak sasaran (audience oriented)´ Sejalan dengan itu. 1995. Khalayak adalah unsur dalam proses komunikasi yang merupakan sasaran dari penyampaian pesan atau penerima informasi dari komunikator atau sumber informasi.. tetapi mempunyai pandangan terhadap pesan dan komunikator. Padahal khalayak sebagai sasaran juga memiliki sikap sendiri dalam berkomunikasi sesuai dengan kepentingan dan tujuannya. Pencari kerja adalah setiap orang yang terdaftar di Kantor Dinas Tenaga Kerja Kota / Kabupaten untuk mencari atau melamar pekerjaan di dalam negeri maupun di luar negeri Kebutuhan informasi ketenagakerjaan adalah kebutuhan khalayak pencari kerja mengenai informasi ketenagakerjaan. Khalayak ternyata tidak pasif dalam proses komunikasi. dan bahwa pesan adalah apa yang dibutuhkan oleh khalayak. Informasi ketenagakerjaan adalah informasi yang berkaitan dengan ketenagakerjaan seperti peraturan ketenagakerjaan. bukan yang dimaksudkan oleh pengirim.28).. khalayak bukanlah merupakan sekumpulan dari indvidu-individu yang bersikap dan bertindak ¶pasip¶. sebagai komunikator adalah instansi pemerintah. yakni Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah dan Dinas Tenaga Kerja. Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Palangkaraya. bahkan untuk membuka lapangan pekerjaan baru. Diseminasi informasi ketenagakerjaan adalah suatu bentuk komunikasi yang menyampaikan atau menyebarkan informasi atau pesan mengenai ketenagakerjaan dari pemerintah sebagai komunikator kepada khalayak pencari kerja. 2004 : 230) Komunikator atau sumber informasi adalah unsur dalam proses komunikasi yang menyampaikan atau menyebarluaskan pesan atau informasi kepada khalay Dalam hal ini ak. 81 .. Pesan adalah data dan informasi ketenagakejaan yang d isampaikan oleh pemerintah kepada pencari kerja. Definisi Konseptual Diseminasi adalah penyebaran (of information) (John M Echols dan Hassan Shadily.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Dalam hal inilah pentingnya pengetahuan dan informasi bagi khalayak sehingga dapat menentukan sikap yang tepat. Secara implisit mereka membutuhkan informasi ketenagakerjaan yang berguna untuk membantunya dalam mencari atau melamar pekerjaan. dalam merancang suatu kegiatan komunikasi apakah melalui saluran kegiatan komunikasi personal atau melalui media massa. hak dan kewajiban TKI. lowongan kerja. Model ini mengasumsikan khalayak setidaknya sama aktifnya dengan pengirim.. pencari kerja termasuk informasi TKI meliputi persyaratan dan prosedur bekerja di luar negeri. dkk (1993 : 221) .. Mereka aktif dan juga selektif. 1979) Informasi adalah ³data yang telah diolah menjadi sebuah bentuk yang berarti bagi penerimanya dan bermanfaat dalam mengambil keputusan saat ini atau mendatang´ (Gordon B Davis. John Fiske (2006 : 208) mengemukakan ³khalayak memiliki sekumpulan kebutuhan yang dicari pemuasannya melalui media massa. cara lain dan relasi sosial´. Medan merupakan instansi pemerintah yang dianggap memiliki kredibilitas di bidangnya. Karena itulah.

564 km2 terdiri dari hutan dan pertanahan lainnya 134. artinya tempat yang suci. 2007 : 122). Pendekatan kualitatif ´lebih dimaksudkan untuk memberikan gambaran atau pemahaman mengenai gejala (dari perspektif subjek atau aktor).´ Selain melalui pengamatan atau observasi terhadap proses diseminasi informasi di lingkungan instansi pemerintah. Tertib dan Keterbukaan). 1 kota. menganalisis dan menyajikan data untuk menarik kesimpulan.Wawancara dengan menggunakan pedoman wawancara yang disusun terlebih dahulu.24 km2 (BPS. dan pencari kerja. pengumpulan data lapangan juga dilakukan wawancara mendalam (depth interview). Teras Nerang.79 km2.i. logis dan rasional yang digunakan oleh peneliti ketika merencanakan. A. petugas loket pelayanan kartu kuning. membuat teori´ (Pawito. termasuk kegiatan ketenagakerjaan di Kalimantan Tengah.177 desa dan 122 kelurahan.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. perkebunan 6. Medan Metode Penelitian Metode penelitian merupakan seperangkat cara yang sistematik. Kalteng.637. Kategori data dibuat berdasarkan permasalahan penelitian dan data lapangan. 1 . sedangkan data yang kurang relevan tidak dimasukkan dalam analisis. 2008a :2) Menurut Gubernur. 1. 95 kecamatan. Data kualitatif yang diperoleh dari jawaban narasumber dan hasil observasi yang benar-benar sesuai dengan tujuan penelitian berkesempatan untuk dianalisis. Luas provinsi ini 153. Menurut Embree (1998 :333-343) dalam Pawito (2007 :58). mengumpulkan. ´mulai tahun 2008-2010 Pemerintah Provinsi 82 . Oleh karena diseminasi informasi ketenagakerjaan langsung kepada pencari kerja melalui loket pengurusan kartu kuning hanya dilaksanakan oleh Dinas Tenaga Kerja Kabupaten / Kota. GAMBARAN UMUM Geografi dan Demografi Provinsi Kalimantan Tengah Provinsi Kalimantan Tengah dibentuk berdasarkan Undang-Undang Darurat Nomor 10 tahun 1957 dengan ibukota Palangkaraya. Lokasi penelitian ditetapkan secara purposive yaitu Dinas Tenaga Kerja Pemerintah Provinsi Provinsi Kalimantan Tengah di Kota Palangkaraya dengan pertimbangan bahwa instansi pemerintah yang melayani informasi ketenagakerjaan di Provinsi Kalimantan Tengah terdapat di kota tersebut. (Dinas Tenaga Kerja Pemprov. Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Palangkaraya.400 km .Provinsi ini terletak di daerah khatulistiwa dengan iklim tropis yang lembab.id?web/id/KER 01/profil/kalteng/tanggal 25-4-2008) Secara administratif Provinsi Kalimantan Tengah terbagi atas 13 kabupaten.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.744.937. 2007 : 44) Dalam hal ini salah satu varian fenomenologi yang digunakan adalah fenomelogi realistik. mulia dan besar.b. sawah dan ladang 10. 25 2 km . Satu -satunya 2 pemerintahan kota di provinsi ini adalah Palangkaraya dengan luas 2. permukiman dan bangunan lainnya 1. Dengan penelitian ini diharapkan dapat digambarkan proses diseminasi informasi dan jenis kebutuhan informasi khalayak pencari kerja.244.go. fenomenologi realistik lebih menekankan pada pengamatan serta penggambaran esensi-esensi yang bersifat umum.62 km2. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan fenomenologi. Narasumber yang diwawancarai adalah pejabat Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah dan Dinas Tenaga Kerja.2001) dan (http://www. Mottonya adalah Kota Cantik (Terencana. (Hamidi. panas dengan suhu rata-rata 34 0 Celcius. maka dipilih Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Palangkarya dengan alasan kota ini merupakan pusat kegiatan pemerintahan dan masyarakat. Curah hujan terbanyak pada bulan-bulan Oktober sampai dengan Maret. Aman. Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif dengan melakukan reduksi data terlebih dahulu terhadap data yang masuk baik yang diperoleh melalui wawancara mendalam maupun catatan observasi di lapangan.

401 jiwa terdiri dari 1. Ma¶anyam. seperti perdagangan.448 63.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. TNI/Polri dan karyawan perusahaan dan berwirausaha cukup tinggi. Kaharingan.579 jiwa. tetapi lebih terkonsentrasi di perkotaan. Minat penduduk untuk bekerja sebagai pegawai negeri sipil. Lamandau 28.377 55.977 58.455 Kab. Makassar. Ot Danum.176 Kota Palangkaraya 91.383 Kab.028.566 Kab.028.861 jiwa dengan laju pertumbuhan 2.401 Sumber : Diolah dari Dinas Tenaga Kerja Pemprov. sedangkan di kabupaten lainnya jumlah cukup kecil. Pulang Pisau 59. 83 .071 92.961 Kab.957. Katingan 69. (http://www. Mereka bermukim dalam komunitas±komunitas desa di sepanjang Sungai Barito. Melayu. Penduduk yang menganut agama Islam merupakan golongan terbesar. Sungai Kapuas.36 % dan kepadatan 12. yang terdiri dari beberapa sub suku bangsa seperti Ngaju. Kristen. Seruyan 57. jasa.003 41. Lawangan. Jawa.219 16. (2008a:2) Tabel 1 menunjukkan tiga kabupaten dan kota Palangkaraya mempunyai jumlah penduduk yang tergolong besar.003. Di seluruh Provinsi Kalimantan Tengah terdapat 30 bahasa daerah. Kesenian masyarakat Dayak. dan kabupaten Sukamara hanya berpenduduk 36. Barito Selatan 62.066 Kab.514 974.814 99. Medan Kalimantan Tengah mempunyai program Mamangun Mahaga Lewu (Membangun Menjaga Desa).514 laki-laki dan 974. Kapuas 176.Gunung Mas 45.545 Kab.887 perempuan dapat dilihat pada Tabel 1. Bahasa Dayak Ngaju sebagai bahasa lingufranca. Selain orang Dayak ada juga penduduk pendatang.025 Kab. Ot-siang. Kotawaringain Barat 106. tanggal 20-32008) Pada tahun 2006 jumlah penduduk Provinsi Kalimantan Tengah tercatat sebanyak 2.132 50.823 42.887 Jumlah total penduduk 2.353 146. Pada tahun 2005 jumlah penduduk tercatat 1. Bugis.697 Kab. Kabupaten Kapuas merupakan kabupaten terbesar dengan jumlah penduduknya 351. Penduduk memilih bertempat tinggal di perkotaan karena faktor lapangan kerja sektor formal yang mulai berkembang.goid. 13-3-2008) Dalam publikasi yang diterbitkan oleh LIN.124 175. bergaul dengan masyarakat setempat. Sukamara 19. Sungai Mentaya dll. 1 .089 42.571 60.kalteng bps. Penyebaran penduduk masih belum merata di seluruh provinsi Kalimantan Tengah. Tabel 1 Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin di Kabupaten dan Kota (orang) No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Kabupaten/Kota Penduduk Laki-laki Perempuan Kab. Arab dan China.513 27. Dalam tiga tahun akan ada 126 desa dijadikan percontohan. dan Kinyah Kamber.003. Agama penduduk nya Islam.75 penduduk / km2.351 Kab.449 Kab. Barito Timur 43. Giring-giring. dan transportasi. Madura. Tabel itu juga memperlihatkan jumlah penduduk laki-laki secara keseluruhan maupun per kabupaten lebih besar daripada jumlah penduduk perempuan. Kalteng.180 jiwa. Katingan dll. Sungai Kahayan. terutama tari-tarian antara lain Deder Ketingan. yaitu orang-orang Banjar. Barito Barat 58. Kotawaringin Timur 165. (2001 : 43-44) dikemukakan bahwa penduduk asli Provinsi Kalimantan Tengah adalah suku bangsa Dayak.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika.357 dan 70 % di antaranya adalah desa´ (Kompas. desa dan kelurahan 1. dan Budha. Murung Raya 45.231 Kab.723 Jumlah 1.259 Kab. Sungai Katingan.

Berkaitan dengan kondisi ketenagakerjaan di provinsi ini. dan jumlah pencari kerja yang lebih terkonsentrasi pada pekerjaan perkantoran di instansi pemerintah dan perusahaan swasta.690 82.423 Angkatan Kerja 614.dengan laju pertumbuhan ekonomi tahun 2006 sebesar 5.wikipeda. Secara selayang pandang gambaran Kota Palangkaraya dalam beberapa hal seperti adat istiadat. Pendapatan penduduk per kapita pada tahun 2006 mencapai Rp 9.838 Kesempatan Kerja 578. tanggal 25-4-2008). terutama di perdesaan hampir tidak ada yang kelihatan menganggur secara total. Berbeda dengan di perdesaan penduduk yang benar-benar tidak bekerja sama sekali sulit ditemukan. suku bangsa. Kalteng.289 Sumber : Diolah dari Dinas Tenaga Kerja Pemprov.7 %.280 954.asp.id.887 1. agama tidak berbeda jauh dari keadaan Provinsi Kalimantan Tengah.360 orang terdiri dari penganggur perempuan 46. Angka yang disajikan itu merupakan jumlah penganggur yang tercatat secara resmi di Kantor Dinas Tenaga Kerja di Kabupaten/Kota se-Provinsi Kalimantan Tengah. Pemprov Kalteng. Data ini membuktikan bahwa daerah ini tidak bebas dari pengangguran meski wlayahnya amat luas untuk bisa digarap sebagai lahan pertanian.Hal ini mendorong penduduk perdesaan pindah (urbanisasi) ke kota Palangkaraya sebagai pencari kerja baru.590 872.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.670 46. 1 . (http://www.585 598. Setidaknya penduduk di perdesaan bisa menggarap lahan pertanian atau berkebun di tanahnya sendiri atau milik keluarganya sebagai mata pencaharian.449 jiwa dan kepadatan 62. (Dinas Tenaga Kerja. ³Bertambahnya jumlah penduduk yang bekerja di sektor pertanian menyebabkan angka pengangguran menurun secara signifikan.478 Penganggur 35. Keinginan untuk mendapatkan pekerjaan di kota mulai tumbuh di kalangan perempuan di perdesaan.8 % dan perempuan 13.048 38.7 %) turun menjadi 55.558 974.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Umumnya penganggur tersebut berdomisili di perkotaan sebagai akibat dari banyaknya lulusan terdidik khususnya SLTA hingga sarjana.168 376.kalteng.497 Bukan Angk.go.329 187.558 340.84 %.Kerja 186. Luas kota ini 2678. (2008a : 2) Jumlah pengangguran terbuka Agustus 2006 67. 2008a : 2-3) Pada Tabel 2 dapat dilihat jumlah penganggur sebesar 82.6 % dengan jumlah penganggur laki-laki 5.0 %) pada Pebruari 2007 atau turun 12.421 18.org/wki/kota Palangkaraya.7 %)´ (http://www.397 orang (1. Bahkan sebagaimana dikemukakan sebelumnya.670 orang. tercatat tingkat pengangguran sebesar 8.51 km2 dengan jumlah penduduk pada tahun 2003 tercatat 168.360 Sisa Pencaker 2007 20.704 411.991.631 orang (6.. Sektor pertanian dan perkebunan (berkebun sendiri) dan usaha mencari hasil hutan besar peranannya dalam menyerap tenaga kerja sehingga terkesan penduduk di Kalimantan Tengah.561. Medan kecuali di Kota Palangkaraya. 84 . sebagai satu-satunya pemerintahan kota di Provinsi ini tampak karakteristik dan kemajuan perkotaan pada tingkat pendidikan yang lebih tinggi.337.id/ viewarticle.469 Sisa Lowongan 162 183 345 Bukan Tenaga Kerja 189. Tabel 2 Data Ketenagakerjaan di Provinsi Kalimantan Tengah ( orang) Uraian Laki-laki Perempuan Jumlah Tenaga Kerja 829. Perusahaan dan mall di Kota Palangkaraya mulai menawarkan pekerjaan khusus untuk wanita sebagai sales promotion girls (SPG).244 orang (5.690 orang jauh lebih besar daripada jumlah penganggur laki-laki 35.89 jiwa/km2.888 293.

pekerjaan dan upah yang diinginkan pencari kerja. ³Jumlah pencari kerja yang belum ditempatkan sampai dengan akhir bulan Desember 2007 sebanyak 38.56 % merupakan tenaga terdidik mulai dari t amatan SLTA hingga kategori S1-S3´ (Dinas Tenaga Kerja.567 5. Jumlah pencari kerja berpendidikan tinggi D1-S3 ternyata cukup besar 34. 85 . (2008a :5) No 1 2 3 4 5 6 Jumlah 91 307 1. tujuan mencari kartu AK1. Pelamar yang hendak mencari pekerjaan di kantor pemerintah (CPNS.345 jiwa dalam waktu lima tahun.764 orang atau 95.878 38.104 11. tercatat 183. Karena tiap pencari kerja diharuskan mengisi Daftar Isian Pencari Kerja yang disediakan secara gratis.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.421 18. 1 .30 % atau 13. Medan tanggal 28-4-2008) Jumlah penduduknya menurut Tabel 1.677 Jumlah 20. Tabel 3 Jumlah Pencari Kerja Menurut Tingkat Pendidikan di Kalimantan Tengah (orang) Tingkat Pendidikan Laki-Laki Perempuan Tidak Tamat SD 67 24 SD 208 99 SLTP 717 590 SLTA 12.TNI.319 7.469 orang diperoleh dari hasil pendaftaran melalui kartu kuning (AK1) yang dikeluarkan oleh Kantor Dinas Tenaga Kerja Kota atau Kabupaten se Kalimantan Tengah. Data pencari kerja yang diperoleh dari proses pengurusan kartu tersebut memuat jumlah pencari kerja dan jenis pekerjaan yang diinginkannya. (2008a : 5).463 D1-D3/SM 3. ³Pencari kerja yang tidak melaporkan atau tidak mendaftar ulang setelah terdaftar s ebagai pencari kerja selama 6 bulan berturut-turut akan dihapuskan sebagai pencari kerja karena diangggap tidak memerlukan Diseminasi antar kerja lagi. Jadi.469 Data jumlah sisa pencari kerja atau pencaker hingga akhir tahun 2007 sebesar 38. Kalteng.124 2. Di samping itu penghapusan sebagai pencari kerja dapat disebabkan karena permintaan sendiri.469 orang. tetapi hanya mengolah dan merangkum data pencari kerja dalam publikasi Berita Pasar Kerja dan Lembar Informasi Ketenagakerjaan yang terbit tiap bulan seperti dapat dilihat pada Tabel 3. pindah wilayah.048 Sumber : Diolah dari Dinas Tenaga Kerja Pemprov. Kartu kuning yang digunakan untuk melengkapi persyaratan lamaran kerja hanya dapat diperoleh di kantor Dinas Tenaga Kerja Kota/Kabupaten melalui loket Diseminasi kartu kuning. Jumlah para penc ari kerja ini merupakan sisa yang tidak dapat disalurkan atau mendapat pekerjaan pada tahun 2007 dan mereka mencoba mendaftar kembali untuk mendapatkan kartu AK1 yang baru.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Kalteng. 2008a : 8) Jumlah pencari kerja yang terdaftar di Dinas Tenaga Kerja Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah berasal dari pencari kerja yang mengurus kartu kuning (AK1) di Kantor Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Palangkaraya di Palangkaraya dan Kantor Dinas Tenaga Kerja yang terdapat di tiga belas kabupaten seKalimantan Tengah. terjadi pertambahan sebanyak 15.197 orang. sebagian besar 36. Pemprov Kalteng.Polri) dan perusahaan swasta diharuskan melampirkan kartu kuning (AK1) sebagai salah satu syarat. Pencari Kerja (Pencaker) Kantor Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah tidak melayani langsung pengurusan kartu kuning bagi pencari kerja.794 jiwa. Identitas pribadi dan pas photo pencari kerja yang tercantum dalam formulir meliputi tentang pekerjaan sekarang. Berdasarkan jumlah kartu yang dikeluarkan Dinas Tenaga Kerja Kota / Kabupaten itu dapat diketahui jumlah yang mendaftar sebagai pencari kerja. meninggaal dunia atau sudah mendapat pekerjaan´ (Dinas Tenaga Kerja Pemprov.307 23.201 3.195 S1-S3 4.

Mewujudkan peningkatan kualitas dan produktivitas angkatan kerja.537 Tenaga Produksi 6. (David Osborne dan Ted Gaebler. visi Dinas Tenaga Kerja µMengurangi Tingkat Pengangguran dan Meningkatkan Kualitas Hubungan Industrial untuk Meningkatkan Produktivitas Tenaga Kerja¶.230 Tenaga Usaha Jasa 1. Dalam publikasi Dinas Tenaga Kerja.949 Tenaga Usaha Penjualan 1. dan Teknisi 4. dengan misi di bidang ketenagakerjaan µMembangun Balai Pendidikan dan Ketrampilan untuk Meningkatkan Kemampuan Mengembangkan Semangat Kewirausahaan dan Keahlian Berusaha Melalui Kerjasama Dengan Berbagai Pihak Termasuk Perguruan Tinggi¶ Berdasarkan hal itu. peranan visi dan misi semakin penting dalam menjalankan organisasi pemerintahan. Medan Apabila diperhatikan jenis pekerjaan atau golongan pokok jabatan yang didaftar oleh pencari kerja yang belum ditempatkan (ybdi).590 10.643 7. Sedangkan misinya adalah : 1.Visi dan misi Gubernur Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah di bidang ketenagakerjaan merupakan dasar bagi penentuan visi dan misi Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah. dan stakeholdernya. penempatan tenaga kerja dan peningkatan kesempatan kerja di perkotaan dan perdesaan.634 Kepemimpinan dan Ketatalaksanaan 1.552 1. Keberhasilan sektor pendidikan melahirkan tenaga terdidik yang cukup besar di wilayah Kalimantan Tengah berpengaruh terhadap pilihan lapangan kerja.782 2.555 Jumlah 20.053 1.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika.164 Tenaga Usaha Pertanian 2. Kalteng. 3.295 3. Dinas Tenaga Kerja Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah Dengan paradigma baru di bidang pemerintahan dewasa ini.654 1. 1998) termasuk kebutuhan informasi. Tiap organisasi di lingkungan birokrasi pemerintahan lebih digerakkan oleh misinya sehingga birokrasi mampu bertindak cepat dalam melayani masyarakatnya. misi dan tujuan organisasi pemerintahan tersebut diperlukan kesamaan persepsi semua pejabat.198 3. dan pejabat pelaksana cukup banyak diminati ( 66.818 3.979 Pejabat Pelaksana dan Tata Usaha 3. (2008a : 4) ³ visi Gubernur Kalimantan Tengah Tahun 2005-2010 adalah µmembuka Isolasi Menuju Kalimantan Tengah yang Sejahtera dan Bermanfaat¶. Untuk memahami dan melaksanakan visi.147 2. 2.560 38. Orientasi pemerintah ditujukan kepada khalayaknya sebagai pelanggan yang harus dipenuhi kebutuhannya. Menciptakan hubungan industrial yang harmonis antara pekerja. Tujuan Dinas Tenaga Kerja Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah ditetapkan untuk : 86 .421 18. yaitu ³reinventing government´.469 Pelaksanaan Diseminasi Informasi Ketenagakerjaan 1. tenaga profesional.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. 1 . seperti dapat dilihat pada Tabel 4 tampaknya jabatan sebagai tenaga produksi. (2008a :5) No 1 2 3 4 5 6 7 Jumlah 7.664 1.929 3.048 Sumber : Diolah dari Dinas Tenaga Kerja Pemprov. pengusaha dan perlindungan tenaga kerja. pegawai. Tabel 4 Jumlah Pencari Kerja Menurut Golongan Pokok Jabatan Pada Tahun 2007di Kalimantan Tengah (orang) Golongan Pokok Jabatan Laki-Laki Perempuan Profesional.64 %). Program dan kebijakan mengenai diseminasi informasi ketenagakerjaan dibuat dalam rangka mencapai visi dan misi Dinas tersebut. Kecenderungan pilihan jenis pekerjaan yang favorit di masa yang akan datang bersifat manajerial di instansi pemerintah dan perusahaan swasta. Mewujukan pembangunan bidang ketenagakerjaan melalui perluasan lapangan kerja.005 4. Pemprov Kalteng.

dibentuk Seksi Informasi Ketenagakerjaan di bawah Sub Dinas Perencanaan dan Program. Secara fungsional Seksi Informasi Ketenagakerjaan mempunyai tugas untuk melaksanakan diseminasi informasi ketenagakerjaan. 1 . Program peningkatan kualitas dan produktivitas tenaga kerja. secara internal Seksi Informasi Ketenagakerjaan merupakan supporting unit bagi Sub Dinas dan Bagian Tata Usaha. Meningkatkan perlindungan dan pengembangan kelembagaan. Seksi Rencana dan Program 2. Tiga seksi lainnya pada Sub Dinas Perencanaan dan Program yang erat hubungannya dengan Seksi Informasi Ketenagakerjaan. sehingga tiap sumber daya manusia yang terdidik dan telah mendapat pelatihan ketrampilan mendapat pekerjaan. (2008a : 5) Penganggur tersebut merupakan pencari kerja yang sebenarnya membutuhkan informasi ketenagakerjaan. Upaya pemerintah ditujukan untuk memperluas dan mengembankan kesempatan kerja. Salah satu indikator rendahnya pendayagunaan atau pemborosan sumber daya manusia adalah tingginya tingkat pengangguran . kebijakan di bidang ketenagakerjaan pada dasarnya adalah mendayagunakan sepenuhnya sumber daya manusia yang telah dikembangkan melalui pelaksanaan program utama ketenagakerjaan. Program perluasan dan pengembangan kesempatan kerja 2. yaitu : 1. Pembentukan Seksi Informasi Ketenagakerjaan dimaksudkan untuk melakukan diseminasi dan penyebaran informasi ketenagakerjaan. Dalam hubungan itu. termasuk informasi mengenai TKI di provinsi ini. Meningkatkan kualitas dan produktivitas tenaga kerja.di antaranya disebabkan faktor keberhasilan dunia pendidikan menciptakan tenaga terdidik lebih besar dari daya serap lapangan kerja untuk tenaga terdidik tersebut sehingga terjadi kelebihan penawaran tenaga terdidik (Dinas Tenaga Kerja. Basuniansyah. Tingginya tingkat pengangguran golongan terdidik -minimal tamatan SLTA. Tuntutan pekerjaan menghendaki Seksi ini mampu memberikan dukungan terhadap seluruh satuan organisasi yang berada dalam Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah. tiap Sub Dinas dan Bagian Tata Usaha pada Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah dapat memberikan informasi mengenai tugas. ´Diseminasi informasi ketenagakerjaan terutama yang ditujukan kepada stakeholder dan masyarakat dianggap sebagai tugas yang penting dalam masyarakat informasi´. terutama tentang lowongan kerja yang tersedia di instansi dan perusahaan swasta. salah satu tugas Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah yang didelegasikan kepada Seksi Informasi Ketenagakerjaan adalah melaksanakan kegiatan hubungan masyarakat guna memperkenalkan ketenagakerjaan. 3. Seksi Perencanaan Tenaga Kerja Ketiga seksi tersebut senantiasa bekerja sama dengan Seksi Informasi Ketenagakerjaan. Untuk dapat melaksanakan diseminasi informasi ketenagakerjaan secara khusus. Hal ini berarti fokus perhatian utama Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah adalah mengatasi pengangguran.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Walaupun demikian. Di samping itu. fungsi dan pekerjaan masing-masing. dalam kegiatan penyebaran informasi ketenagakerjaan serti penyusunan 87 . Sejalan dengan itu disusun Program Dinas tersebut meliputi : 1. Pemprov Kalteng. Program perlindungan dan pengembangan kelembagaan. Adanya pembagian tugas yang jelas tersebut tidak menghalangi satuan organisasi untuk menginformasikan hal-hal yang berkaitan dengan ketenagakerjaan. Menurut Kepala Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah A. 2. Seksi Pelaporan dan Evaluasi 3.6 % merupakan yang tertinggi yang pernah dialami . Tingkat pengangguran di Kalimantan Tengah pada tahun 2006 sebesar 8. Oleh karena itu. 3. Memperluas dan mengembangakan kesempatan kerja. Medan 1.

sejauh ini belum ada aktivitasnya´. Kesepakatan Kerjasama Pembangunan Ketenagakerjaan Lintas Kabupaten Kota Se Kalimantan Tengah.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Visi dan Misi Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah. diseminasi informasi mengenai TKI belum dilaksanakan oleh Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah. Dinas Perhubungan. 1 . Di samping produk berupa Lembar Informasi Ketenagakerjaan itu. Selama ini calon TKI yang akan bekerja ke luar negeri berangkat melalui daerah Kalimantan Selatan. Medan dan penerbitan buletin dan leaflet. Menjadi TKI Meningkatkan Kesejahteraan 10. pembuatan spanduk bulan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja). Kegiatan diseminasi informasi ketenagakerjaan yang telah dilaksanakan selama ini secara rutin adalah membuat buletin Lembar Informasi Ketenagakerjaan yang diterbitkan tiap bulan. Leaflet yang berisi informasi ketenagakerjaan selain disebarkan di lingkungan instansi pemerintah seperti Bappeda. tahun 2004 6. Karena perusahaan TKI ini belum operasional. lowongan kerja dan pengangguran di Kalimantan Tengah selama satu bulan. Diseminasi informasi secara institusional di tingkat provinsi merupakan tugas dan tanggung jawab Seksi Informasi Ketenagakerjaan. Trafiking (Perdagangan) Perempuan dan Anak 9. Beberapa leaflet yang diterbitkan antara lain berjudul: 1. tetapi dalam hal tertentu seperti kegiatan sosialisasi dan pembuatan spanduk melibatkan seksi lain dan Bagian Tata Usaha. yaitu PT Titian Hidup Langgeng di Jalan Kol. Leaflet dimaksudkan sebagai sarana komunikasi untuk memperkenalkan Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah sebagai institusi pemerintahan dan menyebarluaskan informasi atau peraturan ketenagakerjaan. Kepala Seksi Informasi Ketenagakerjaan hanya dibantu oleh dua pegawai staf berpendidikan tamatan SLTA. Kepala Seksi Penyaluran dan Penempatan Tenaga Kerja. tahun 2004 3. 2. Leaflet tentang TKI tidak disampaikan kepada calon TKI maupun Perusahaan Jasa TKI/Pelaksana Penempatan TKI Swata. tahun 2004 5. Persyaratan Permohonan Izin Pemutusan Hubungan Kerja dan Prosedur Permohonan Banding. Diseminasi informasi ketenagakerjaan dalam bulan K3 atau Keselamatan dan Kesehatan Kerja (12 Desember-12 Januari) dilaksanakan dengan kampanye K3 melalui pemasangan spanduk di pinggir jalan besar dan tempat strategis di kota-kota Kalimantan 88 . Untung Surapati nomor 8 Kapuas. sejumlah leaflet dicetak dan diterbitkan oleh Seksi Informasi Ketenagakerjaan. RAN-PKTP (Rencana Aksi Nasional Penghapusasn Kekerasan Terhadap Perempuan) 8. Sub Dinas Perencanaan dan Program. Sub Dinas Perencanaan dan Program. BPS. tahun 2002. Prosedur TKI Bekerja Ke Luar Negeri. Jaminan Kecelakaan Kerja Program Jamsostek.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Lembar informasi ketenagakerjaan yang dijilid secara sederhana dengan tampilan sebagai buletin dapat bermanfaat bagi stakeholder atau pengguna karena isinya memuat informasi yang menggambarkan perkembangan pencari kerja. tahun 2004 4. Standarisasi dan Sertifikasi Tenaga Kerja 7. Tata Cara Permintaan Jaminan Kecelakaan Kerja. ³di Kalimantan Tengah hanya terdapat satu perusahaan TKI yang baru berdiri berdasarkan izin tanggal 10 November 2007. Pada umumnya Diseminasi informasi ketenagakerjaan dilaksanakan sendiri oleh Seksi tersebut. Sub Dinas Penempatan Tenaga Kerja dan Perluasan Kerja. Kerjasama antar satuan kerja di lingkungan Dinas terutama karena jumlah dan kualifikasi pegawai yang menangani amat terbatas. Menurut Jahidin Siringo-ringo. juga diberikan secara selektif kepada pencari kerja atau petugas pemerintahan yang memintanya. Namun.

mereka ´pernah mengikuti pelatihan operator dan mengoperasikan komputer online 3 hari yang dilaksanakan oleh Depnakertrans di Jakarta Mei 2007. Menurut Fauzi ´ hal ini disebabkan belum ada (pencairan) dana tahun anggaran 2008 untuk membayar telepon´. Dalam pelatihan diberikan mengoperasikan Windows dan cara membuka situs di internet´ Sebelumnnya Maret-April 2007 komputer (Windows) dikirim dulu dan sebagai tindak lanjutnya mereka mengikuti pelatihan komputer itu. Laporan ini terbit tiap bulan merupakan ´salah satu kegiatan Proyek Pengembangan Perluasan Kesempatan Kerja (PPKK) Provinsi Kalimantan Tengah Tahun Anggaran 2007´ Pembuatannya dikoordinasikan oleh Sub Dinas Penempatan Tenaga Kerja dan Perluasan Kerja. mengingat penggunaannya masih baru dan lebih banyak dimaksudkan sebagai sarana pembelajaran teknologi informasi. Mahmud Fauzi dan Budi Ahmad Yani. Karena itu. Kampanye K3 yang dilakukan secara terus menerus diharapkan dapat menjadikan K3 sebagai budaya kerja sehingga para pekerja terhindar dari kecelakaan kerja. Sumber daya manusia (SDM) yang menangani internet ini dilaksanakan oleh dua orang operator. Kegiatan diseminasi informasi ketenagakerjaan melalui online ditempakan pada satu ruangan dengan Seksi Penyaluran dan Penempatan Tenaga Kerja. go id di Jakarta. Situs (website) Dinas Tenaga Kerja Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah sendiri belum ada. Sosialiasi ini yang dimaksudkan untuk mengingatkan para pekerja agar lebih berhati-hati pada saat bekerja di bangunan-bangunan. Wawancara dengan topik ketenagakerjaan dilaksanakan secara periodik ( 3 bulanan ) di TVRI. Sebenarnya masalah internet ini tidak banyak berpengaruh terhadap kegiatan pelaporan ketenagakerjaan karena bukan andalan utama untuk mengirim data dan informasi ketenagakerjaan. diterbitkan pula Laporan Berita Pasar Kerja berupa himpunan data yang berasal dari laporan Informasi Pasar Kerja (IPK) dari seluruh kantor Dinas Tenaga Kerja Kota dan Kabupaten se -Kalimantan Tengah.nakertrans. Sedangkan untuk mendapatkan informasi dan peraturan ketenagakerjaan terbaru sebagian dilakukan melalui browsing ke situs www. Selama ini penggunaan internet di Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah terbatas hanya untuk mencari ( browsing) dan mengirim (e-mail) informasi. Penggunaan cara manual dengan surat merupakan cara pengiriman yang utama. 1 . Penggunaan browsing untuk mencari data dan informasi ketenagakerjaan masih terbatas sebagai pelengkap. Untuk mengirim sebagian data dan informasi ketenagakerjaan ke Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi di Jakarta dikirim melalui e mail. Kedua fungsi internet itu belum dilaksanakan secara maksimal. internet tidak digunakan sebagai satu-satunya 89 . gedung-gedung dan tempat kerja lainnya. Menurut kedua operator. tetapi juga bagi perusahaan dan pemerintah sebagai penyedia kerja yang bertanggun jawab terhadap keselamatan dan kesehatan pekerjanya.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Fasilitas yang mendukung aktivitas ini tersedia dua komputer yang tersambung (link) dengan jaringan internet milik Telkom. Penyebaran informasi ketenagakerjaan melalui media massa khususnya siaran televisi dilakukan oleh Kepala Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah. Pegawai yang dapat mengoperasikan internet sebagai sarana dalam kegiatan diseminasi informasi ketenagakerjaan online telah siap sejak Mei 2007. Medan Tengah. Internet bisa dioperasikan mulai bulan Mei sampai dengan Desember 2007. Di samping penyebaran informasi ketenagakerjaan sebagaimana dimuat dalam cakupan kegiatan Seksi Informasi Ketenagakerjaan itu. Pada saat penelitian ini dilakukan internet keduanya untuk sementara waktu tidak bisa digunakan karena hambatan keuangan. Kampanye K3 ini penting bukan saja untuk setiap pekerja. di acara itu dikemukakan mengenai perkembangan dan masalah ketenagakerjaan di daerah ini Acara siaran televisi ini dianggap penting sebagai sarana komunikasi untuk menjangkau masyarakat di wilayah yang amat luas seperti Kalimantan Tengah.

Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Pemerintah Kota Palangkaraya. Selama 2002-2006 dipungut Rp 10. 2. 2. Dinas Tenaga Kerja. Fotocopy ijazah SD s/d terakhir 1 lembar. Fotocopy KTP yang masih berlaku 1 lembar. Kedua kebutuhan ini menyatu sehingga sukar untuk dipisahkan. tetapi di sana juga terjadi komunikasi antara petugas dengan pembuat kartu kuning yang tidak lain adalah pencari kerja.000. prosedur dan syarat melamar perusahaan dan instansi pemerintah yang menawa rkan pekerjaan.. 1 . Dengan mendapatkan informasi ketenagakerjaan pencari kerja mengetahui apa yang seharusnya dilakukan untuk mempersiapkan dan melamar pekerjaan secara lengkap Ketika mengurus karu kuning pencari kerja sekaligus memperoleh informai ketenagakerjaan. Kebijakan pembebasan biaya pembuatan kartu kuning dengan jelas tertera pada pengumuman yang ditempel di samping loket. 90 .JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Petugas adalah pegawai dari Seksi Penempatan dan Perluasan Kerja yan ditempatkan di g ruangan pembuatan kartu kuning. Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Pemerintah Kota Palangkaraya Masalah pengangguran yang berkaitan erat dengan pencari kerja merupakan salah satu aspek ketenagakerjaan yang mendapatkan prioritas dalam program Dinas Tenaga Kerja baik di provinsi maupun di kota dan kabupaten. Menurut Kepala Seksi Pelatihan dan Produktivitas Tenaga Kerja. ³keluhan pencaker tidak ada. Lilik.. yaitu informasi yang berkaitan dengan pekerjaan yang dilamarnya. Komunikasi data dengan menggunakan LAN masih merupakan tantangan bagi Din Tenaga Kerja Provinsi dan as Dinas Tenaga Kerja kota dan kabupaten se-Kalimantan Tengah.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Pada Dinas Tenaga Kerja. Kebutuhan informasi mendesak dari tiap pencari kerja pada dasarnya sama. Setelah berkas selesai diproses. Darwono ³ jumlah pencaker tahun 2007 terdaftar 7. walaupun secara ekonomi cukup banyak punya mobil dan motor´.. Medan sarana pengiriman dan pencarian data dan informasi ketenagakerjaan. pencaker sering hanya membawa ijazah terakhir´ Ketidaklengkapan berkas fotocopy ijazah ini timbul karena pencari kerja baru mengetahui informasi persyaratan yang sebenarnya ketika membacanya di samping loket. informasi lowongan kerja. 3. diseminasi i formasi n ketenagakerjaan dilaksanakan petugas secara langsung kepada pencari kerja melalui loket dari ruangan pelayanan kartu kuning bersamaan dengan proses pembuatan kartu tersebut.000-an. sering terjadi kekeliruan karena yang diserahkan pencari kerja hanya ijazah terakhir. Pasfoto ukuran 3x4 cm 3 lembar. Ruangan berukuran 3 x 4 meter ini digunakan untuk memproses dokumen pembuatan kartu kuning dan menyerahkan hasilnya kepada pencari kerja. Persyaratan pembuatan kartu kuning (AK1) dalam pengumuman 29 November 2006 adalah : 1. Demikian pula hubungan dengan stakeholder ketenagakerjaan di Palangkaraya.per orang masuk kas Daerah. seperti persyaratan pembuatan kartu kuning. kebutuhan akan mendapatkan pekerjaan secara implisit di dalamnya ada kebutuhan informasi ketenagakerjaan atau sebaliknya. Kenyataannya. Menurut petugas kartu kuning. Meskipun persyaratan ijazah yang dicantumkan dalam pengumuman cukup jelas. Semua petugas bekerja berdasarkan petunjuk dan prosedur tetap pembuatan kartu kuning dan mendapatkan bimbingan dari Kepala Seksinya. Pengurusan kartu kuning di kota Palangkaraya mulai tanggal 1 Januari 2007 tidak dipungut biaya.bertentangan dengan ILO dan pencaker masih penganggur. Sebagai langkah awal tiap pencari kerja diminta untuk mengisi formulir terlebih dahulu dan menyerahkan dokumen sesuai dengan persyaratan seperti tercantum pada pengumuman yang ditempel di samping loket. petugas kemudian memberikan kartu kuning melalui loket. Peranan loket tidak hanya untuk memasukkan berkas dan menyerahkan kartu kuning. Kalimantan Tengah belum memakai fasilitas jaringan Local Area Network (LAN).

Kegiatan pemberdayaan (empowering) tenaga kerja dan masyarakat melalui pelatihan ini secara tidak langsung melakukan diseminasi informasi dan motivasi kepada pesertanya. Informasi mengenai lowongan pekerjaan secara lengkap dapat dibaca pada pengumuman dan karena itu tidak disampaikan lagi. pengetahuan dan motivasi yang diberikan kepada peserta pelatihan. Namun. Hal ini menggambarkan bahwa kebutuhan informasi ketenagakerjaan tidak hanya sebatas persyaratan pembuatan kartu kuning. Akibatnya. Kebanyakan pencari kerja mengetahui adanya lowongan pekerjaan yang ditawarkan instansi dan perusahaan dari papan pengumuman tersebut. Perusahaan yang demikian umumnya berasal dari perusahaan yang membutuhkan banyak karyawan sebagai agent atau tenaga survey. tetapi lebih esensial mengenai informasi ketersediaan lowongan pekerjaan. Para pencari kerja mendapat informasi dari petugas secara langsung atau mengetahuinya dari pengumuman yang ada di loket pelayanan kartu kuning. ³informasi lowongan kerja diperoleh bukan dari Dinas Tenaga Kerja. Keluhan yang sama dilontarkan oleh Nia (24 tahun). karyawan perusahan itu menyampaikan persyaratan dan prosedur untuk mengisi lowongan yang tersedia diperusahaannya secara detail.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Kebanyakan informasi yang disampaikan mengenai persyaratan kartu kuning. petugas wanita yang melayani pembuatan kartu kuning. menurut Kepala BLK Drs Anden ´putra daerah tidak mau dilatih dibengkel / bubut. perlu petugas loket informasi yang fokus memberikan informasi´ Untuk mendapatkan informasi ketenagakerjaan secara detail melalui loket tidak dimungkinkan karena tidak adanya petugas dan loket informasi. Dalam pelayanan ini tidak ada petugas dan loket khusus yang menyampaikan informasi ketenagakerjaan. alamat dan pendidikan pencari kerja yang telah terdaftar di Buku Daftar Isian Pencari Kerja. tetapi ditempatkan di depan kantor supaya mudah diketahui. Secara implisit di dalam ³Program Peningkatan dan Produktivitas Tenaga Kerja´ terdapat informasi. Dinas Tenaga Kerja. Menurut seorang pencari kerja yang mengurus kartu kuning. Walaupun program pelatihan BLK cukup bermanfaat bagi tenaga kerja. tidak ada keleluasaan bagi pencari kerja untuk bertanya guna mendapatkan informasi yang lengkap. ada pula karyawan dari perusahaan swasta yang aktif mencatat nama. 91 . Komunikasi tatap muka terjadi antara petugas yang berada di dalam ruangan dengan pencari kerja yang berdiri di depan loket. Dengan seizin petugas. Di samping diseminasi informasi langsung melalui loket kartu kuning. Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Palangkaraya melaksanakan kegiatan pelatihan yang bermaksud meningkatkan kualitas tenaga kerja melalui Balai Latihan Kerja (BLK).JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. petugas memberikan informasi´ kata Lilik. Kedua pekerjaan itu dilakukan oleh petugas yang sama. Peranan pengumuman ini sangat bermanfaat dalam diseminasi informasi lowongan pekerjaan. Berdasarkan data pencari kerja itu perusahaan akan menawarkan informasi pekerjaan sebagai SPG melalui surat ke alamat masing-masing. tapi dari teman-teman´ Menurut keduanya diharapkan Dinas ini juga memberikan informasi lowongan kerja dan loket pelayanan kartu kuning tidak di belakang kantor. 1 . kegiatan diseminasi informasi dilakukan secara langsung atau tatap muka (face to face communication) dengan pencari kerja yang datang mendaftarkan diri di loket pembuatan kartu kuning. kecuali ditanya oleh pencari kerja. ´Pencaker bertanya. Kadangkala beberapa karyawan perusahaan asuransi jiwa yang menempelkan pengumuman lowongan pekerjaan turut memberikan informasi kepada pelamar yang berminat lewat loket. Medan Oleh karena itu. Komunikasi tidak dapat berlangsung lama sebab petugas amat sibuk melayani pencari kerja yang antre di depan loket. orientasinya ke PNS´ Padahal peserta bukan saja mendapat informasi dan pengetahuan mengenai pelatihan yang diikutinya. Pada waktu yang sama petugas memberikan informasi dan juga menyeleksi berkas pembuatan kartu AK1. Pencari kerja yang sedang mengurus kartu kuning dapat mendengarkan suara petugas melalui loket yang sama. Veronika (23 tahun) ´mau menanyakan kepada petugas yang sibuk tidak enak.

Dalam bab situasi umum diinformasikan tentang keadaan geografi dan demografi. 2008a :18). yaitu : 1. Sebagaimana yang tercantum di dalam buletin Lembar Informasi Ketenagakerjaan terdapat bab yang menerangkan situasi umum dan situasi khusus tentang informasi ketenagakerjaan informasi. ´Lembar Informasi Ketenagakerjaan ini disusun sebagai sarana penyebaran informasi ketenagakerjaan dan keberhasilan bidang ketenagakerjaan yang dilaksanakan Dinas Tenaga Kerja Provisi Kalimantan Tengah´ (Dinas Tenaga Kera j Pemprov Kalteng. ada juga leaflet yang bermaksud memperkenalkan visi dan misi Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah sebagai instansi pemerintah di bidang ketenagakerjaan. publikasi ini didistribusikan kepada seluruh Dinas Tenaga Kerja di kabupaten/kota seKalimantan Tengah. Pencari kerja yang ditempatkan 4. Pencari kerja yang dihapuskan 5. PDRB dan pendapatan regional per kapita. lowongan yang terdaftar. lowongan kerja terdaftar/dihapuskan. Informasi di dalam leaflet kebanyakan memuat informasi peraturan dan permasalahan ketenagakerjaan secara nasional. Lowongan kerja yang belum dipenuhi Sarana diseminasi informasi ketenagakerjaan yang lebih ringkas dan praktis diterbitkan dalam bentuk leaflet. Informasi yang Disampaikan Dinas Tenaga Kerja Provinsi dan Kota Salah satu penerbitan yang dimaksudkan sebagai sarana diseminasi informasi ketenagakerjaan untuk stakeholders adalah Lembar Informasi Ketenagakerjaan. penghapusan pencari kerja. setidaknya dapat dikelompokan menjadi tiga jenis informasi ketenagakerjaan. Apabila dilihat dari isi (pesan) di dalam leaflet. kebijakan ketenagakerjaan Dinas Tenaga Kerja Kalimantan Te ngah. penempatan/pengisian lowongan kerja dan (2) pelatihan dan produktivitas tenaga kerja. Pendaftaran pencari kerja 3. Lowongan yang dipenuhi 8. yakni : 1.Selain itu. Terbitan lain dari Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah berupa laporan Berita Pasar Kerja yang memuat informasi pasar kerja (IPK) bulanan. tujuan. (3) hubungan industrial dan pengawasan ketenagakerjaan antara lain mengenai upah minimum provinsi. Apabila dilihat dari isi publikasinya dapat dikatakan buletin ini merupakan produk unggulan yang dikeluarkan oleh Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah. Seperti dalam terbitan Berita Pasar Kerja periode bulan Desember 2007 terdapat informasi tentang jumlah pencari kerja yang terdaftar. Sebagai sarana komunikasi yang lebih bersifat intern. dan penempatan tenaga kerja selama bulan itu. Pencari kerja belum ditempatkan 6. Medan tetapi juga memperoleh sertifikat dan kesempatan penempatan sesuai dengan jenis pelatihan yang pernah diikutinya di BLK. 1 . Proses pembuatannya tiap dimulai dari Seksi Informasi Ketenagakerjaan dilanjutkan ke Sub Dinas Perencanaan dan Program hingga ditandatangani Kepala Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah sebagai penanggung jawab terakhir. Informasi yang disampaikan umumnya mengenai informasi ketenagakerjaan yang dapat dipergunakan sebagai bahan masukan pengambilan kebijakan ketenagakerjaan di Kalimantan Tengah.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. misi. program. Informasi tentang instansi Dinas Tenaga Kerja 92 . 3. Lowongan permintaan tenaga kerja 7.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Jumlah kumulatif pencari kerja 2. Di dalam bab situasi khusus tercantum mengenai (1) pembinaan dan penempatan tenaga kerja. pasar kerja bulanan yang memuat tentang pencari kerja terdaftar. dan visi. Secara lebih rinci informasi yang dimuat di dalam terbitan tersebut.

spanduk kampanye K3 tentu isinya mengenai keselamatan dan kesehatan kerja untuk pekerja. pengangguran. pelatihan di BLK secara implisit menyampaikan pengetahuan dan ketrampilan kepada peserta yang mengikutinya. Medan 2. khususnya pencari kerja melalui pengumuman di loket 3.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. 2. Informasi lowongan pekerjaan yang tersedia merupakan informasi yang cukup banyak didiseminasikan melalui pengumuman di loket pembuatan kartu AK1. dan penyebaran informasi ketenagakerjaan melalui online tidak berfungsi. Selain itu. Demikan pula wawancara pada siaran TVRI mengetengahkan informasi mengenai perkembangan dan masalah ketenagakerjaan yang ditujukan kepada masyarakat luas. 1 . Oleh karena itu. Kecuali itu. serta penghapusan kekerasan terhadap perempuan. Umumnya kebutuhan informasi akan peraturan ketenagakerjaan bagi pencari kerja belum dapat dipenuhi oleh kedua Dinas Tenaga Kerja itu. Sejauh ini hanya diseminasi informasi K3 melalui spanduk yang ditujukan kepada tenaga kerja yang bekerja di kota-kota. Saran Dengan memperhatikan kesimpulan tersebut dapat disampaikan beberapa saran berikut : 1. Informasi tentang TKI dan perdagangan perempuan dan anak. Diseminasi informasi ketenagakerjaan melalui siaran TVRI kepada masyarakat luas masih minim. Informasi ketenagakerjaan yang disampaikan Dinas Tenaga Kerja. diseminasi informasi ketenagakerjaan melalui spanduk dimaksudkan untuk memberitahukan pentingnya K3 bagi para pekerja. Diseminasi informasi ketenagakerjaan bagi pencari kerja secara langsung sebagian besar dilaksanakan pada Dinas Tenaga Kerja. Informasi yang disampaikan petugas secara langsung di loket Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Pemerintah Kota Palangkaraya kebanyakan mengenai persyaratan pembuatan kartu kuning kepada pencari kerja yang datang sendiri di instansi tersebut. Diseminasi informasi ketenagakerjaan pada Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah belum banyak disampaikan kepada khalayak pencari kerja secara langsung. diseminasi informasi lowongan pekerjaan disampaikan kepada masyarakat. 3. Kesimpulan Berdasarkan uraian dalam pembahasan sebelumnya dapat ditarik beberapa butir kesimpulan berikut : 1. Diseminasi informasi ketenagakerjaan melalui leaflet yang diterbitkan Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah tentang peraturan ketenagakerjaan se baiknya tidak 93 . Informasi tentang peraturan ketenagakerjaan. Diseminasi informasi mengenai persyaratan kartu tersebut disampaikan petugas kepada pencari kerja secara langsung (tatap muka) bersamaan dengan proses pembuatan kartu kuning. sedangkan kebanyakan penerbitan bulletin dan leaflet dikirim kepada Dinas Tenaga Kerja Kota dan Kabupaten di provinsi ini. Informasi yang disampaikan Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah kebanyakan berisi informasi ketenagakerjaan yang bersifat umum seperti informasi peraturan ketenagakerjaan. jumlah pencari kerja dan lowongan kerja.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Sebagaimana telah dikemukakan. Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Palangkaraya sebagian besar menjawab kebutuhan informasi mengenai persyaratan pembuatan kartu kuning dan informasi lowongan pekerjaan dari sebagian kecil instansi pemerintah dan perusahaan swasta. Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Palangkaraya melalui loket pelayanan pembuatan kartu kuning.

1 . tetapi lebih khusus dan detail sehingga dapat dimanfaatkan oleh pencari kerja. ´The Structure and Function of Communication in Society´. Fiske.2008.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.1979. Jalasustra. Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah.1995. Rencana Aksi Nasional Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan.t. Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Palangkaraya agar memanfaatkan loket pelayanan kartu kuning secara maksimal untuk diseminasi informasi ketenagakerjaan. Echols. Bagian I. Urbana. Bulan Desember 2007. Untuk memenuhi kebutuhan informasi khalayak pencari kerja. Deli Publising dan Penerbit Andi. Terjemahan Yosal Iriantara dan Idi Subandy Ibrahim.2007. Kerangka Dasar Sistem Informasi Manajemen. Palangkaraya ________.t. Program Peningkatan Kualitas dan Produktivitas Tenaga Kerja. Jakarta 94 . Informasi ketenagakerjaan yang berkaitan dengan lowongan pekerjaan sebaiknya tidak bersifat umum. Transparansi dan Keterbukaan Informasi Publik Undang-Undang Republik Indonesia Nonor 14 Tahun 2008 Tentang Keterbukaan Informasi Publik. Berita Pasar Kerja Bulan Desember 2007. John. Leaflet. Palangkaraya Dinas Tenaga Kerja. Palangkaraya. Lembar Informasi Ketenagakerjaan. Jakarta. Malang. Ibnu . 2008. Mass Communication. Dinas Tenaga Kerja. perlu adanya petugas dan loket informasi ketenagakerjaan. 2004. PT Gramedia Effendy. sebaiknya Dinas Tenaga Kerja.. Dinas Tenaga Kerja. Penggunaan online melalui internet perlu difungsikan kembali dan di masa yang akan datang perlu dijajaki pemasangan jaringan Local Area Network. Penerbit PT Remaja Rosdakarya. Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat. Dinamika Komunikasi. Untuk itu. 3. tetapi diupayakan dari seluruh instansi pemerintah. Departemen Komunikasi dan Informatika. 2007. Trafiking (Perdagangan) Perempuan dan Anak . Harold D. Informasi Sosial Budaya. M. Leaflet. Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Palangkaraya mendiseminasikan peraturan ketenagakerjaan dan lowongan kerja yang lebih luas melalui pengumuman yang terdapat di loket. tanggal 11-12-2007 Hamidi.1993. Bandung. UMM Press Jasmadi. University of Illinois Press. Onong Uchjana. t. Leaflet. Pusat Pelayanan Informasi. Informasi lowongan kerja agar tidak didominasi perusahaan swasta.. 2002 Visi dan Misi Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah..1963. 2006. PT Pustaka Binaman Presindo. RAN-PKTP. t. Lembaga Informasi Nasional (LIN). Metode Penelitian dan Teori Komunikasi. tetapi juga disediakan untuk pencari kerja melalui loket pelayanan kartu kuning di Dinas Kota/KabupatenseKalimantan Tengah. Gordon B.2001. John M dan Hassan Shadily. Pembahasan dan tanggapan(lisan) terhadap ³Studi Diseminasi Informasi Peringatan Dini (Early Warning System) Untuk Permasalahan Lingkungan dan Bencana Alam´ Seminar. Laswell. 2. Medan hanya dikirimkan kepada Dinas Tenaga Kerja Kabupaten/Kota. Palangkaraya ________. Kamus Inggris-Indonesia. Yogyakarta.2008. Pemerintah Kota Palangkaraya. di Jakarta. Palangkaraya ________. Jakarta. Jakarta. DAFTAR PUSTAKA Davis. Cultural and Communication Studies : Sebuah Pengantar Paling Komprehensif.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. t. Hamad.t. Yogyakarta. Menggunakan Fasilitas Internet . dalam Wilbur Schramm. Palangkaraya ________.

1997. Leaflet. ´Gubernur Kalteng Dukung DPD Kembangkan Desa dengan Kearifan Lokal´. Bandung. Palangkaraya.Third Edition. Yogyakarta. 2004.b. Kesepakatan Kerjasama Pembangunan Ketenagakerjaan Lintas Kabupaten Kota Se-Kalimantan Tengah. Jakarta Seksi Informasi Ketenagakerjaan Sub Dinas Perencanaan dan Program. Medan Nerang. Palangkaraya ________. Jakarta. Sub Dinas Perencanaan dan Program. Menjadi TKI Meningkatkan Kesejahteraan. Himpunan PeundangUndangan Republik Indonesia Tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia Di Luar Negeri. t. Standarisasi dan Sertifikasi Tenaga Kerja. 2006. Inc Sekretariat Jenderal MPR RI.t. Leaflet. Palangkaraya ________. Lembaran. Persyaratan Permohonan Izin Pemutusan Hubungan Kerja dan Prosedur Permohonan Banding. CV Nuansa Aulia Internet : (http://www. Leaflet. New York.i. Palangkaraya.asp. Sasa Djuarsa. Penelitian Komunikasi Kualitatif. Osborne. 1993. 2008. Tata Cara Permintaan Jaminan Kecelakaan Kerja.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. tanggal 25-4-2008) 95 . 1 . Palangkaraya ________.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Palangkaraya ________. Lowongan Kerja. Penempatan Pencari Kerja dan Penghapusan Pencari Kerja Menurut Kelompok Pendidikan Tahun 2006 dan Trahun 2007 . Palangkaraya ________. 2005. David dan Ted Gaebler. Kompas.kalteng. dkk. 2004.id?web/id/KER01/profil/kalteng/tanggal 25-4-2008) (http://www. Prosedur TKI Bekerja ke Luar Negeri. Claude dan Warren Weaver. 1998.go. The McGraw-Hill Companies. Leaflet. Tim Redaksi Nuansa Aulia.kalteng bps. 13 Maret. LKIS Sendjaja. 2007. t. PT Pustaka Binaman Presindo. Pengantar Komunikasi. 2005. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. 2004. Rekapitulasi Pendaftaran Pencari Kerja.goid. Pawito. Universitas Terbuka Shannon.id/ viewarticle. Leaflet. tanggal 20-3-2008) (http://www. Teras A. 2008..go. Leaflet.t. Jakarta. ³Information Theory´ dalam A First Look At Communication Theory. Mewirausahakan Birokrasi Reinventing Government.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful