JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.

1 - April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika, Medan

JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN

I.

Volume 10 No. 1 April 2009

SISTEM INFORMASI DI PEMERINTAHAN KABUPATEN ACEH TENGAH Oleh : Ali Murtadha M Arifin1

ABSTRAKSI Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pelaksanaan sistem penyampaian informasi di Pemerintahan Kabupaten Aceh Tengah setelah diberlakukannya otonomi daerah di Kabupaten tersebut karena penyampaian informasi sebelumnya dilakukan oleh juru penerangan dibawah Pemerintahan Departemen Penerangan disamping itu juga tu juan penelitian ini adalah sebagai penambah wawasan tentang perubahan sistem informasi tersebut. Untuk mencapai tujuan tersebut penelitian ini menggunakan metode kualitatif yaitu melakukan wawancara mendalam dengan Kasub Bagian Humas, Kepala Informasi dan Komunikasi serta karyawan yang mempunyai tugas dan fungsi sebagai penyiar informasi di Kabupaten Aceh Tengah. Adapun hasil penelitian dapat digambarkan bahwa otonomi daerah dapat merubah sistem informasi di Daerah Kabupaten Aceh Tengah, sistem informasi juga mempengaruhi kelanjutan pertumbuhan pembangunan, maka membangun informasi juga perlu, sehingga sistem informasi pesan pemerintah di kemas dan disiarkan dengan melalui media cetak maupun elektronik sehingga dapat diperoleh / dinikmati oleh publik dan sistem informasi pada masa Orde Baru berbeda dengan sistem informasi di era Orde Baru. Pada masa Orde Baru sistem informasi ditentukan oleh Pemerintah Pusat sedangkan pada otonomi daerah sistem informasi ditentukan oleh Pemerintah setempat (Daerah).

1

Penulis adalah Peneliti di BBPPKI Wilayah I Medan.

1

JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. 1 - April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika, Medan

Kata Kunci : Sistem informasi, Pemerintahan Kab. Aceh Tengah

A. Latar Belakang Masalah Di era otonomi daerah saat ini, sistem Pemerintahan Daerah sudah berbeda dibandingkan dengan sistem pemerintah diera orde baru. Kalau diera orde baru, organisasi Pemerintah dan sistem informasinya ditentukan oleh pemerintah pusat, di era otonomi daerah ini pembentukan instansi pemerintah daerah termasuk sistem informasinya ditentukan oleh pemerintah daerah setempat. Oleh karena itu sistem informasi pada setiap daerah bisa berbeda sesuai dengan perkembangan yang terjadi / kebutuhan di daerah masing-masing. Pada awal otonomi daerah, Pemerintah di daerah bisa membentuk dinas, Badan dan Lembaga tehnis sesuai dengan kebutuhan daerah setempat. Adanya ketentuan ini membuat berbagai daerah membentuk dinas secara berlebihan untuk menampung sebanyak mungkin pejabat struktural. Ketentuan mengenai pembentukan dinas dan lembaga tehnis tersebut kemudian disusul Peraturan Baru yang memberikan batasan jumlah dinas yang boleh dibentuk di Pemerintah Daerah. Daerah yang sudah terlanjur membentuk dinas dan lembaga teknis daerah melebihi ketentuan akan segera menyesuaikan dengan ketentuan baru dalam pembentukan Dinas dan lembaga teknis. Adanya kebebasan Pemerintah daerah untuk membentuk dinas dan lembaga tehnis di daerah maka bisa terjadi adanya perbedaan nama lembaga/dinas yang menangani informasi. Bahkan penanganan informasi di suatu daerah cukup hanya dimasukkan dalam suatu seksi/bagian dari dinas dan setiap daeah menggunakan istilah yang berbeda seperti : Hubungan Masyarakat (Humas) Informasi Komunikasi (Infokom), BadanInformasi Komunikasi Telematika (BIKT). Dengan berbedanya dinas yang berkaitan dengan informasi, maka dimungkinkan terjadinya perbedaan sistem informasi pemerintahan antara satu daerah dengan daerah-daeah lain. Saat ini sistem inforasi di pemerintahan masih berkembang dan mencari model yang tepat untuk kelancaran pelaksanaan pembangunan yang sedang dilaksanakan. Adanya dua organisasi di Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah yang secara khusus menangani informasi yaitu Kantor Informasi dan Komunikasi Daerah dan Sub Bagian Hubungan Masyrakat. Kantor Informasi dan Komunikasi Daerah merupakan lembaga hasil peleburan Kantor Departemen Penerangan semasa orde baru sebelum otonomi daerah. Hampir seluruh karyawan Kantor Informasi dan Komunikasi Daerah adalah mantan pegawai Kantor Departemen Penerangan Kabupaten Aceh Tengah Perkantoran yang dipergunakan, sebelumnya juga pernah dipergunakan sebagai Kantor Departemen Penerangan Kabupaten Aceh Tengah Kepala Kantor Informasi dan Komunikasi berada pada eselon III. Sub Bagian Humas juga sudah ada sebelum era otonomi daerah. Struktur organisasinya berada di bagian Sekretariat Daerah. Sub Bagian Humas ini berada dibawah Bagian Humas, Pengolah Data Elektronik (PDE) dan Santel, yang berada dibawah Asisten Umum. Sebagai sub bagian di Sekretariat Daerah, Sub Bagian Humas hanya menempati satu ruangan di Kantor Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah Kepala Sub Bagian Humas berada pada eselon IV. Adanya dua lembaga yang menangani informasi ini merupakan salah satu unsur sistim informasi di Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah. Kedua lembaga itu bisa secara bersama-sama menjalankan tugasnya dalam diseminasi informasi pada masyarakat. Sistem informasi pemerintah ini mempunyai peran yang penting untuk mensukseskan pembangunan di suatu daerah. Sistem informasi yang baik, bisa menciptakan kesatuan gerak dan langkah antar lembaga/dinas untuk mencapai tujuan. Jika sistem informasi antar lembaga/dinas tidak berjalan baik maka dimungkinkan terjadinya tumpang tindih kegiatan, bahkan bisa terjadi kegiatan yang saling bertentangan. Sistem informasi yang baik 2

JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. 1 - April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika, Medan

memungkinkan program-program dan kegiatan yang dilakukan pemerintah bisa direspon oleh masyrakat sehingga bisa meningkatkan partisipasi masyarakat. B. Permasalahan Berdasarkan latar belakang diatas, dirumuskan permasalahan penelitian yaitu bagaimana pelaksanaan sistem informasi di Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah.

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan sistem informasi di Kabupaten Aceh Tengah. Dengan diketahuinya pelaksanaan sistem informasi di daerah tersebut dapat menambah pengetahuan mengenai sistem informasi di Kabupaten Aceh Tengah. Hasil penelitian ini juga bisa dimanfaatkan sebagai pembanding sistem informasi di berbagai daerah yang memiliki sistem informasi yang berbeda. D. Landasan Teori 1. Pengertian Sistem Informasi Berbagai pengertian tentang sistem informasi dikemukakan dalam berbagai buku untuk menggambarkan pengertian mengenai sistem informasi diantaranya ditulis oleh Alter (1992) bahwa Sistem informasi adalah kombinasi antara prosedur kerja, informasi, orang dan tehnologi informasi yang diorganisasikan untuk mencapai tujuan dalam sebuah organisasi. Bodnar dan Hopwood (1993)mendifinisikan sistem informasi adalah kumpulan perangkat keras dan peangkat lunak yang dirancang untuk mentransformasikan data ke dalam bentuk informasi yang berguna. Gelinas, Oram dan Wiggins (1990) mendifinisikan sistem informasi adalah suatu sistem buatan manusia yang secara umum terdiri atas sekumpulan komponen berbasis komputer dan manual yang dibuat untuk menghimpun, menyimpan dan mengelola data serta menyediakan informasi keluaran kepada pemakai. Hall (2001) mendifinisikan sistem informasi sebagai sebuah rangkaian prosedur formal dimana data dikelompokkan, diproses menjadi informasi dan didistribusikan kepada pemakai. Dari berbagai difinisi tersebut dapat disimpulkan bahwa sistem informasi mencakup sejumlah komponen (manusia, tehnologi informasi dan prosedur kerja) berupa masukan (input), ada proses (data menjadi informasi) dan dimaksudkan untuk mencapai suatu sasaran atau tujuan (output).

2. Otonomi Daerah Untuk melaksanakan kebijakan desentralisasi dibentuk daerah otonom. Menurut UU No. 22 Tahun 1999, daerah otonomi merupakan ´kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas daerah tertentu berwenang mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasar aspirasi masyarakat dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indoneia´. Kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasar aspirasi masyarakat sering disebut otonomi daerah. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa daerah otonom adalah daerah yang memiliki otonomi daerah. Kaho (1987) memaparkan ciri-ciri Daerah Otonom sebagai berikut :

3

4. Proses Dari sisi proses di Humas dan Kantor infokom yang bisa dijadikan indikator terjadinya proses pelaksanaan sistem informasi adalah : a. peralatan perlengkapan dan sebagainya. c. dalam arti kepemimpinan yang kuat dalam mengkoordinasikan. Adanya urusan-urusan tertentu yang diserahkan oleh pemerintah pusat atau daerah tingkat atas kepada daerah untuk diatur dan diurusnya dalam batas-batas wilayahnya. Istilah kotak hitam disini dipergunakan untuk menunjukkan bahwa isiyang terkandung di dalam satuan (unit) pemroses (transformasi) atau jelasnya sistem itu tidak diketahui. Pengaturan dan pengurusan urusan-urusan tersebut dilakukan atas inisiatif sendiri dan didasarkan pada kebijaksanaan sendiri pula. 3. dan kedisiplinan dalam melaksanakan tugas. 2. Konsep dasarnya : Masukan Proses Keluaran Untuk menilai pelaksanaan sistem informasi di Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah. 2002 : 38). atau menstransformasikan bahan-bahan yang disebut masukan (input) menjadi suatu hasil karya yang bisa disebut keluaran (output) (Shrode dan Voich. maka pendekatan sistem merupakan cara yang tepat sebagai pemandu. Kompetensi ini dapat ditunjukkan dengan kesesuaian tingkat dan latar belakang pendidikan. jadi seperti kotak hitam (Tatang M. mengubah. Istilah kotak hitam disini dipergunakan untuk memudahkan memahami dan atau mengkajinya. Medan 1. 1 . kemampuan melaksanakan tugas. 2. 3. yang bisa dijadikan indikator untuk mengetahui masukan pelaksanaan sistem informasi di humas dan Kantor infokom adalah : a. sejauh mana kesiapan sumberdaya baik sumberdaya manusia (yang mencakup jumlah dan kualitas) maupun sumbrdaya selebihnya seperti keuangan. Adanya alat-alat perlengkapan atau organ-organ atau apatur sendiri. Hal ini ditunjukkan dengan adanya kebijakan. 1. Input Dari sisi masukan (input). Arifin. Sumberdaya yang tersedia dan siap.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. menggerakkan 4 .April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Staf yang kompeten dan komitmen tinggi. Model adalah gambaran mengenai sesuatu realitas untuk menggambarkan bagaimana suatu itu tampaknya atau bagaimana bekerjanya guna memudahkan memahami dan atau mengkajinya. Model kotak hitam itu digambarkan atau dilukiskan orang-orang bermacam-macam. Proses transformasi sistem ini sering dilukiskan orang dengan mempergunakan model masukan-keluaran (inputoutput model). Sumberdaya sangat strategis bagi keberhasilan pelaksanaan tugas humas dan infokom. Staf yang kompeten merupakan pra sarat mutlak dalam pelaksanaan tugas humas dan infokom. Pelaksanaan proses tugas penyampaian informasi ditandai oleh : Kepemimpinan lembaga yang kuat. Teori Sistem Setiap sistem merupakan tempat memproses. b. mengolah. 1974 : 128). Pengaturan urusan-urusan tersebut masyarakat daerah perlu memiliki sumber-sumber pendapatan/keuangan sendiri. Model masukan keluaran ini biasa disebut juga dengan model kotak hitam (black-box model). tugas dan sasaran yang akan dicapai Humas dan kantor infokom. Memiliki tugas dan sasaran yang jelas.

karyawa Humas dan Infokoma yang bertugas n sebagai ujung tombak dalam penyiaran / penyampaian informasi publik di daerah Kabupaten Aceh Tengah.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Studi dokumentasi. Medan sumber daya manusia dilingkungan humas dan infokom serta menyerasikan semua sumberdaya yang ada pada satu tujuan yang sama. 1 . Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. dan penarikan kesimpulan.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika.Informasi yang disampaikan oleh humas dan infokom dapat diterima. Tehnik pengumpulan data Untuk mengumpulkan data yang diperlukan dalam penelitian ini dipergunakan dua macam tehnik yaitu : a. yang ditandai komunikasi yang baik dan harmonis antara humas. Kasub Bagian Informasi dan Informatika. Jadi analisa data dilakukan bersamaan dengan pengumpulan data. Wawancara mendalam. kerja sama yang didasari oleh saling pengertian dan kesediaan menerima perbedaan pendapat. arsip dan catatan yang berhubungan dengan pelaksanaan tugas humas dan Kantor Infokom. infokom dan satuan unit kerja di pemerintahan. Indikator terjadinya kinerja pelaksanaan informasi tersebut. Output Setiap proses pelaksanaan sistem informasi selalu diharapkan adanya keluaran atau hasil berupa kinerja pelaksanaan sistem informasi. Metode Penelitian 1. Dalam pelaksanaannya. peneliti hanya dibantu dengan sejumlah topik umum tentang proses pelaksanaan sistim informasi di Kabupaten Aceh Tengah yang masih harus dikembangkan oleh pewawancara berdasar jawaban informan. E. c. Dengan tehnik ini peneliti berusaha memperoleh data atau informasi dengan cara menggali dan mempelajari dokumen-dokumen. 5 . Sub Bagian Dokumentasi dan Informasi. . penyederhanaan data pemaparan data. 3. Dalam hal ini dapat diamati dari : keikutsertaan unit kerja di Pemda dalam berbgai aktifitas pelaksanaan tugas Humas dan Infokom. 5. 2. dimanfaatkan instrument berupa panduan wawancara dan daftar topik. 3. Tehnik Analisa Data Metode yang dipergunakan untuk menganalisis dalam penelitian ini metode deskriptif kualitatif dengan menggunakan model interaktif yaitu semacam siklus terkait antara kegiatan pengumpulan data. 4. b. Dengan tehnik wawancara tidak berstruktur atau mendalam (Indepth/unstructured interviewing) peneliti melakukan tanya jawab dan tukar pikiran tanpa daftar wawancara. b. Kerja sama yang kompak dan cerdas serta dinamis. Partisipasi yang tinggi dari unit kerja di pemerintah daerah. Lokasi Penelitian Penelitian dilaksanakan di Sub Bagian Humas dan Kantor Infokom Kabupaten Aceh Tengah sebagai lembaga yang secara khusus menangani informasi. Informan penelitian Adapun yang dijadikan informan sebagai sumber/ menghimpun data dalam penelitian ini adalah Kasub Bagian Hubungan Masyarakat.

Ketiga hal itu diuraikan berikut ini : 1. 2. Melakukan hubungan timbal balik antar pemerintah daerah dengan masyarakat umum dan organisasi kemasyarakatan untuk memperjelas kebijakan dan kegiatan pemerintah daerah. Sementara itu Sub Bagian Humas. Kualitas Masukan SDM Non Manusia 6 . 2. Melaksanakan tugas sebagai juru bicara pemerintah daerah sesuai dengan petunjuk Bupati.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Melaksanakan usaha untuk peningkatan peliputan kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh pemerintah maupun masyarakat. Sumberdaya yang tersedia dan kompetensi sumberdaya. Sesuai dengan Peraturan Daerah Kabupaten Aceh Tengah Nomor 8 Tahun 2002 Tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kantor-Kantor Daerah. 4. sesuai Peraturan Daerah Kabupaten Aceh Tengah Nomor 5 Tahun 2002 Tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat Daerah. bahwa masukan sistim informasi diambil tiga indicator yaitu adanya tugas. Informasi yang bersifat umum itu bisa berasal dari pemerintah pusat maupun Provinsi seperti peraturan perundangan. 5. Hasil Penelitian Dalam penelitian ini. Kualitas Masukan Sistem Informasi Sudah disinggung di atas. Melaksanakan koordinasi/kerja sama dengan organisasi kewartawanan.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Dalam melaksanakan tugas itu tiga seksi yang dimiliki Badan Infokom yaitu Seksi Pemberdayaan Informasi mempunyai tugas melaksanakan upaya pemberdayaan partisipasi masyarakat. Menyiapkan bahan evaluasi dan pelaporan kegiatan di bidang kehumasan. 6. Su b Bagian Hubungan Masyarakat mempunyai tugas : 1. pemberdayaan potensi informasi lembaga swadaya masyarakat dan lembaga informasi desa. 3. kualitas masukan. Dengan kata lain profil kualitas pelaksanaan sistem informasi di Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah merupakan keutuhan kualitas masukan. radio. Seksi Media Informasi dan Komunikasi mempunyai tugas melaksanakan. proses dan keluaran sistim informasi. Dana : dana penelitian ini dibebankan kepada anggaran rutin BBPPKI Medan. F. Kantor Informasi dan Komunikasi Daerah mempunyai tugas pokok membantu Bupati dalam melaksanakan sebagian urusan rumah tangga daerah di bidang informasi dan komunikasi yang meliputi pemberdayaan informasi. Medan Waktu penelitian ini dijadwalkan sebagai berikut penyusunan/ persiapan rancangan penelitian bulan Februari 2009. memantau penyelenggaraan kegiatan penyebaran informasi melalui media interaktif. Tugas dan sasaran Humas dan Kantor infokom diatur dalam peraturan daerah. Tugas dan fungsi Kantor Informasi dan Komunikasi Daerah telah diatur dalam Peraturan Daerah Kabupaten Aceh Tengah Tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Dinas-Dinas Daerah. Urusan bidang informasi dan komunikasi tersebut meliputi informasi yang bersifat umum yang tidak berkaitan dengan informasi didalam pemerintah Kabupaten Aceh Tengah. Melakukan hubungan intern dengan satuan dan unit kerja di lingkungan Pemerintah Daerah. dan sasaran yang jelas. pengumpulan data bulan April dan pengolahan data/laporan bulan Mei 2009. 1 . media informasi dan publikasi. film dan Seksi Publikasi mempunyai tugas melaksanakan kegiatan penyampaian informasi langsung. kelompok komunikasi sosial. televisi. proses dan keluaran diperlukan sebagai cerminan realitas model dan implementasi pelaksanaan sistem informasi di Kabupaten Aceh Tengah.

3. 2004 : 243-245) Implikasinya perangkat lunak harus ada dan tersedia di bagian pengelolaan informasi secara memadai supaya implementasi penyebaran informasi kepada masyarakat dengan baik. Namun demikian infratruktur yang dimilikinya sangat memadai dengan tersedianya perlengkapan yang dibutuhkan dalam setiap operasional kegiatannya. Kualitas Masukan Harapan Humas dan Infokom Implementasi penyebarluasan informasi selalu dikaitkan dengan harapan terjadinya peningkatan kualitas pelayanan informasi. Humas dan Infokom memiliki peraturan perundangan. Perangkat lunak yang terdapat di Humas jauh lebih mapan dibandingkan dengan perangkat lunak yang ada di Kantor Infokom karena eksistensi humas yang sudah berlangsung lama sementara eksistensi Kantor Infokom msih berjalan beberapa tahun setelah pelaksanaan otonomi daerah. prasarana (infrastruktur). perlengkapan kantor dan alat bantu kegiatan yang dimiliki Kantor Infokom kelihatan kurang memadai untuk melaksanakan tugas karena peralatan yang dimiliki sebagian merupakan bekas peralatan lama yang pernah dipergunakan semasa masih ada Departemen Penerangan. Bangunan dan ruang. mesin.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Kualitas Masukan Perangkat Lunak Dalam penyelenggaraan pengelolaan informasi seperti halnya masukan sumberdaya manusia dan sumber daya bukan manusia. masukan perangkat lunak menunjang dan menentukan beroperasi tidaknya dan berjalan tidaknya secara efektif dan maksimal proses penyampaian informasi di masyarakat. perlengkapan kantor (furniture. Sementara itu di lingkungan Humas. misi dan tujuan serta sasaran masing-masing pengelola informasi. rencana dan program kegiatan. Oleh sebab itu menjadi kewajiban setiap pengelola informasi untuk menerapkan harapan dan dorongan yang jelas. 2000) mendukung dan menunjang atau malah mempengaruhi kiprah kinerja sumber daya manusia. Prasarana (infrastruktur). computer dll) dan dana merupakan sejumlah sumberdaya bukan manusia yang perlu disediakan kare secara na signifikan dapat mempengaruhi kinerja sumberdaya manusia. Diskripsi tugas pokok dan fungsi ini menjadi dasar atas rencana dan program kegiatan Humas dan Infokom. Demikian juga Humas dan Infokom Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah yang mengimplementasikan sistim pengelolaan informasi harus memiliki harapan yang jelas. rencana pengembangan. Tidak jarang perangkat lunak diyakini lebih penting dari pada sumberdaya bukan manusia meski tidak sepenting sumber daya manusia (Suryadi dan Budimansah. tinggi dan unggul dibidang kualitas pelayanan informasi dengan dilandasi oleh semangat ingin menjadi lebih baik. rencana pelayanan dan lain-lain sudah ada dan telah 7 . pasti. Medan Sumberdaya bukan manusia atau sekarang sering diistilahkan modal fiskal dan modal finansial (Thomas dkk. rencana jangka panjang. terjadi hal yang sebaliknya. Berdasar pengamatan. bebruat dan melakukan sesuatu secara lebih maksimal dalam melaksanaka n tugas berkat tersedianya secara memadai sejumlah sumberdaya bukan manusia. Bangunan atau ruangan yang dimiliki sangat terbatas karena terbatasnya ruangan yang ada di sekretariat daerah. Sebagai pengelola informasi resmi milik pemerintah. Harapan itu tergambar dalam rencana dan strategi (renstra) khususnya visi. Seluruh staf yang bergerak di Humas dan Kantor Infokom dapat bertindak. 4. mantap dan tinggi serta terfokus untuk meraih kualita pelayanan informasi. harapan yang tertuang dalam bentuk visi. Humas yang memiliki staf sebanyak 13 orang hanya menempati satu ruangan. mencapai maksud dan tujuannya.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. diskripsi tugas pokok dan fungsi. efektif. misi. Secara kuantitatif bangunan dan ruang yang dipergunakan Kantor Infokom sangat representatif untuk melakukan kegiatan karena gedung yang dipergunakan adalah bekas Kantor Departemen Penerangan. 1 .

B. Berdasar hasil wawancara dengan Kasub Bagian Hubungan Masyarakat Kabupaten Aceh Tengah diketahui bahwa hampir semua pegawai pemerintah mendukung manajemen proses sistem informasi dengan menjadikan humas sebagai satu -satunya sumber informasi. A. Untuk itu unit kerja yang lain siap memberi bantuan Humas dengan memberikan informasi yang diperlukan. ormas. proses sistem informasi sudah cukup memadai bila dilihat secara makro. Seiring dengan itu partisipasi semua pihak menjadi penting selain kolaborasi. Medan ditetapkan di Humas dan Infokom. Kualitas Proses Sistem Informasi Dalam pelaksanaan sistem informasi di Kabupaten Aceh Tengah proses sistem informasi menempati kedudukan dan arti penting dan strategis.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. 6. Hal ini dikarenakan proses penyebaran iformasi secara langsung menentukan kualitas keluaran informasi secara kognitif afektif dan behavior. Hampir semua karyawan juga mengetahui adanya visi dan misi tersebut karena seringkali ditempelkan di dinding dalam ruangan kerja. menunjukkan bahwa baik Kepala Humas dan Kantor Infokom memiliki kesadaran akan kedudukan proses penyebaran informasi sebagai inti proses sistem pengelolaan informasi guna mencapai kompetensi koqnitif. Orpol. Dalam kontek pelaksanaan sistem informasi di Kabupaten Aceh Tengah. Kondisi Proses Pengelolaan Sistem Informasi Proses pengelolaan program penyebran informasi perlu dilakukan secara bersamasama oleh tim kerja yang kompak cerdas dan dinamis. menjadi pusat informasi dan komunikasi bagi kalangan masyarakat menengah ke bawah sekaligus berperan menjadi pusat pembelajaran dan pengetahuan. Selain itu dari diri. Hasil pengamatan dan wawancara dengan kepala Kantor Infokom dan Kepala Sub Bagian Humas. sikap dan perilaku mereka sebagai pemimpin dan pelaksana yang mempunyai komitmen. bukan mekanis dan artificial.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. 5. tidak harus secara mikro. bukan terpusat pada beberapa orang atau kepala dinas/kepala bagian tidak boleh mendominasi pekerjaan dan tanggungjawab melainkan harus mengkoordinasi dan mensinergikan berbagai pihak yang disertai pekerjaan dan tanggungjawab yang mengelola informasi. afektif dan behavior yang ditentukan dalam juknis dan juklak. semangat dan etos kerja yang cukup kuat untuk melaksanakan proses penyebaran informasi. Kondisi Proses Penyebaran Informasi Dalam implementasi sistim informasi. 1 . Secara mikro proses sistem informasi yang mencerminkan terlaksana tidaknya atau berfungsi tidaknya pelaksanaan sistem informasi secara organis. Kualitas Keluaran Sistim Informasi Setiap proses penyebaran informasi selalu meniscayakan keluaran bahkan juga hasil dan dampak sistim pengelolaan informasi walaupun keduanya tidak dapat diketahui atau 8 . Dalam proses pengelolaan informasi ini Humas dan Infokom mengelola informasi secara sistematis. Proses sistem informasi ini bersangkutan dengan bekerja tidaknya fungsi-fungsi manajemen di Humas dan Badan Infokom. proses penyebaran mendapat perhatian utama sehingga harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya dan semaksimal mungkin. kerjsama dan sinergi antara program. Pekerjaan dan tanggungjawab pengelolaan program harus dibagi pada semua pihak dalam mengelola informasi. agar dapat dikembangkan menjadi pengetahuan yang bermanfaat guna peningkatan kualitas kehidupan dan pembangunan. LSM dan masyarakat untuk menjawab tantangan masa kini maupun masa depan. Bersinergi dengan seluruh Dinas/Badan/Kantor. Artinya tinggi rendahnya kualitas keluaran sistim informasi ditentukan oleh proses penyebarannya. dalam penyelenggaraan proses sistem informasi.

yang salah satunya peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat. Kinerja atau pencapaian tujuan ini erat kaitannya dengan masukan yang ada sebelumnya diantaranya sumber dana yang tersedia untuk menghasilkan keluaran berupa produktifitas kerja. Medan diukur seketika. Karena itu dalam kontek pengelolaan sistim informasi. efektifitas. Kewenangan yang lebih besar ini diharapkan membuat daerah mandiri dalam mengurus kepentingan masyarakat berdasarkan aspirasi masyarakat setempat. Dalam pelayanan informasi Prestasi pelayanan informasi dilihat secara komprehensif dari pencapaian tujuan kegiatan program. 1 . G.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Sebagai lembaga yang memiliki sumber dana yang cukup besar. bahkan bila mungkin diperhatikan pula hasil dan dampak pelayanan informasi. efisiensi. Di Kabupaten Sistem informasinya dilaksanakan oleh Humas dan Kantor Infokom. Disamping itu dengan kewenangan lebih besar diharapkan daerah mampu menemukan masalah yang mencatat di daerahnya dan sekaligus mampu mencari solusi terbaik sesuai dengan kondisi dan karakteristik daerah. Tujuan adanya dua lembaga yang menangani informasi ini adalah untuk meningkatkan pelayanan informasi kepada masyarakat. saat ini berhenti terbit. Keluaran yang terjadi di Infokom cukup memadai meski sumberdana yang tersedia terbatas. Pembahasan Berdasar uraian diatas. Keluaran pelayanan informasi berkaitan dengan kinerja atau prestasi lembaga pengelola informasi secara komprehensif. Humas juga menghasilkan tabloid yang peredarannya cukup besar meski masih di lingkungan pegawai pemerintah. bahkan buletin yang telah ada sejak Departemen Penerangan masih eksis. Kebijakan otonomi daerah melahirkan sistem informasi di daerah sesuai dengan apa yang diputuskan bersama antara Pemerintah Kabupaten dan DPRD menjadi Peraturan daerah (Perda). melakukan hubungan timbal balik antar pemerintah daerah dengan masyarakat umum dan organisasi kemasyarakatan untuk memperjelas kebijakan dan kegiatan pemerintah daerah. Model teoritis yang dimaksud digambarkan sebagai berikut : Kebijakan otonomi daerah memberi kewenangan lebih besar kepada daerah. 9 . Dibentuknya Humas diantaranya sebagai juru bicara pemerintah. humas bisa lebih produktif menghasilkan keluaran dalam melaksanakan tugas yang diembannya. dapat ditarik satu model teoritis pelaksanaan sistem informasi. karena karakteristik masing-masing. inovasi dan moralitas atau etos kerja. Disamping keterbatasan dana SDM yang mengelola buletin tersebut pindah ke Humas untuk menangani tabloid Humas. melaksanakan usaha untuk peningkatan peliputan kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh pemerintah maupun masyarakat dan melaksanakan koordinasi/kerja sama dengan organisasi kewartawanan. Diantaranya melakukan kegiatan-kegiatan yang menggunakan sumber dana kecil atau tanpa sumber dana seperti pengkoordinasian penyampaian informasi secara terjadwal oleh dinasdinas yang ada di Kabupaten Aceh Tengah radio yang dikelola Infokom. media informasi dan publikasi. perhatian di fokuskan pada keluaran pelayanan informasi. Sementara tugas Kantor Infokom adalah melaksanakan sebagian urusan rumah tangga daerah di bidang informasi dan komunikasi yang meliputi informasi. lancar dalam berkoordinasi dengan satuan atau unit kerja di pemerintah Kabupaten. melakukan hubungan intern dengan satuan dan unit kerja di lingkungan Pemerintah Daerah. Kemandirian daerah ini diharapkan dapat mencapai apa yang diharapkan dapat mencapai apa yang menjadi tujuan kebijakan otonomi daerah. Kegiatan yang memerlukan sumber dana yang besar sangat terbatas pelaksanaannya.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Prestasi pelayanan informasi dapat berupa produktifitas. Keluaran humas yang cukup menonjol adalah terlayaninya kebutuhan wartawan untuk memperoleh informasi melalui humas.

Reformasi Pendidikan Dalam Konteks Otonomi Daerah. prasarana dan sumber dana yang terbatas di Kantor Infokom membuat hasil akhir atau keluaran berupa hasil dan produktifitas kerja cukup terbatas. Yosep. Kegiatan Humas yang banyak berhubungan dengan unit kerja di Pemda yang memiliki tingkat eselon yang lebih tinggi bisa menjadi hambatan bagi humas meski gengsi posisi humas cukup tinggi. Hubungan Pemerintah Pusat dan Daerah di Indonesia . PT Raja Grafika Persada. sementara di Humas karena sarana. Malaysia. co. 1990. Riwu Kaho. Yogyakarta. Kesimpulan 1. Gelinas. or win Book.2001. Jakarta. Sarana. 1987. 1974. Medan Sistem Informasi di Pemerintah Kabupaten ¥¡¥ £©§¦§¨§ ¦¥ ¥¤£¢¡  D D KINERJA PELAKSANAAN SISTEM INFORMASI : y INPUT y PROSES y OUTPUT H.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. New York. Peraturan Daerah Kabupaten Aceh Tengah Nomor 8 Tahun 2002 tentang Perubahan atas Peraturan Daerah Kabupaten Aceh Tengah Nomor 26 Tahun 2000 tentang Susunan Organisasi Tata Kerja Kantor Kepala Daerah. Oranda Wiggins. Rineka Cipta. 1 . prasarana. Organisasi and Management. William A and Dan Voich. Pokok-Pokok Teori Sistem. Amiran. Information System Theory and Practice.Jakarta. 3. Tatang M. Shrode. Basic System Conceps. Suryadi dan Budimansah. Perlunya kerjasama antar Humas dan Kantor Infokom dengan semua pihak utamanya Dinas/Badan/Kantor di Pemerintah Kabupaten untuk memberikan pelayanan informasi pada yang membutuhkan pelayanan. ( "   ! ! y HUMAS y INFOKOM £¥©§¦£ ¦¥¥¦¥ ¥¡ ©¡¨£ '!&! %#"#$# "!!  TUJUAN : MENINGKATKAN PELAYANAN INFORMASI OTONOMI SISTEM INFORMASI : HUMAS DAN INFOKOM DAFTAR PUSTAKA 10 . anggaran operasional yang dimiliki bisa untuk membiayai kegiatan yang dilakukan. Sekretariat Daerah. Kanisius. 2. produktifitasnya cukup besar. Jr. Peraturan Daerah Kabupaten Aceh Tengah Nomor 52 Tahun 2002 tentang Perubahan Peraturan Daerah Kabupaten Aceh Tengah Nomor 22 Tahun 2000 tentang Susunan Organisasi Tataruang.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.

Akan tetapi delapan tahun terakhir. 1 . Kecamatan Wampu. Hampir setiap orang menjadikan telepon seluler ini sebagai kelengkapan sehari-hari sebagai media komunikasi. Melihat data perkembangan pengguna telepon seluler di Indonesia terus berkembang pesat dari tahun ke tahun. Bagi orang komunikasi.dan Masyarakat Pedesaan.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. atau kelompok pada masyarakat Desa Pertumbukan bagaimana dalam memanfaatkan telepon seluler.Kabupaten Langkat) Oleh Budiman ** Abstrak Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi mengalami kemajuan yang sangat pesat. Pemanfaatan telepon seluler ini berdasarkan aspek-aspek kebutuhan yang diadopsi dari asumsi-asumsi Teori Uses and Gratifications yang sudah lazim digunakan untuk meneliti media komunikasi modern yang berkonvergensi. Perkembangan pesat dalam dunia sistem komunikasi kita tentunya akan mengubah pola komunikasi yang terjadi di masyarakat selama ini. Perkembangan jenis telepon seluler semakin hari semakin meningkat. Latar Belakang Masalah Kemajuan dan rambahan teknologi komunikasi berupa telepon seluler (telepon seluler) yang semakin pesat dan maju tidak dapat kita hindari.Efektivitas Komunikasi. Medan TELEPON SELULER DAN EFEKTIVITAS KOMUNIKASI MASYARAKAT PEDESAAN 2 (Studi Di Desa Pertumbukan. keadaan.. Secara tidak langsung memang teknologi komunikasi membawa berbagai keuntungan bagi mereka penggunanya. identitas personal dinyatakan bahwa telepon seluler sarana media untuk berkomunikasi yang dibutuhkan dan telah membantu masyaraka pedesaan. sebagai berikut: Telah diseminarkan pada tanggal 10 Juli 2008 di Pematangsiantar dalam acara Seminar Peningkatan. Kata Kunci : Telepon Seluler. menyebutnya dengan komunikasi seluler. dan diseminarkan pada tanggal 30 Oktober ± 1 November 2008 di Cisarua. Indonesia diramaikan dengan pola komunikasi melalui telepon seluler atau biasa disebut dengan HandPhone (HP). Bogor dalam acara Temu Ilmiah Peneliti X Badan Penelitian Dan Pengembangan SDM Depkominfo RI ** Penulis adalah Peneliti Pertama bidang Komunikasi Sosial pada B BPPKI Medan 2 11 . juga dari aspek pemanfaatannya telah merambah hingga ke pedesaan. Mulai dari fasilitas yang disediakan sampai bentuknya. Tidak ada khalayak yang secara tegas menolak hadirnya teknologi yang banyak diminati oleh berbagai kalangan tersebut. Pengembangan SDM Peneliti Kominfo Menuju Masyarakat Informasi Sumatera Utara. Sebelumnya nyaris sistem komunikasi yang berkembang di Indonesia masih memakai peralatan sederhana (media tradisional maupun tatap muka). Hasil temuan penelitian berdasarkan kebutuhan inf ormasi. diversi.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Penelitian ini bersifat deskriptif yakni hanya memaparkan situasi dan peristiwa apa adanya dengan memberikan gambaran secermat mungkin mengenai suatu individu. gejala. disamping tren teknologi ini terus berkembang. Satu diantaranya adalah telepon seluler (telepon seluler.

penulis merasa tertarik untuk melakukan penelitian. Kepintaran. Kecamatan Wampu.com/lihat_opini.php?pg= 2007/10/27102007/65568 . 1 . Medan Data Perkembangan Pengguna Telepon seluler Di Indonesia Sumber : http://data. kecanggihan dan fasilitas yang dimiliki oleh teknologi komunikasi menjadi tolok ukur seberapa besar fungsi dan kebutuhan dari teknologi komunikasi itu bagi penggunanya tanpa memikirkan dampak yang akan timbul dari pemakaian teknologi tersebut.un. Ada yang menggunakan untuk kelancaran usaha/niaga hasil hasil bumi atau pertanian. Belum lagi berkembangnya model telepon seluler dari berbagai merek dagang yang semakin canggih dan terus bergulir yang menggoda konsumen melalui iklan dengan mengkaitkan terhadap gaya hidup tertentu. Bagaimana tentang pola penggunaan telepon seluler dan sikap masyarakat desa. Namun kalau diperhatikan secara seksama pola penggunaan telepon seluler berdasarkan motif jelas berbeda dari aspek sosiodemografis masyarakat.pintunet.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. pergerakan informasi berjalan dengan cepat dan menyebar sesuai dengan tujuan tergantung siapa yang membutuhkan.diakses tgl 11/4/08). secara umum memberikan kontribusi yang baik dalam kecepatan mendapatkan informasi.org/ diakases tgl 12/5/08 Dan hingga sampai tahun 2007 telah terdapat 85 juta pelanggan telepon seluler dan sementara hanya 10 juta pelanggan telepon tetap (fixed) di Indonesia (http://www. silaturahmi dengan keluarga atau teman. Secara nyata jelas terlihat bahwa teknologi komunikasi memberikan keuntungan yang sangat besar bagi penggunanya terutama dalam hal berkomunikasi (komunikasi tidak lagi rumit seperti dulu). sebagai hiburan dan lain sebagainya. Namun dengan memiliki telepon seluler juga telah menambah biaya pengeluaran bagi setiap keluarga terutama untuk pembelian pulsa. Teknologi telekomunikasi membuat dunia semakin dekat dan menyatu karena waktu dan jarak semakin pendek. Dari pra-riset yang dilakukan peneliti (19-22 Februari 2008) di Desa Pertumbukan. Permasalahan Dari fenomena yang terjadi pada masyarakat di atas maka untuk mencari informasi tersebut di rangkum dalam pertanyaan sebagai berikut : Bagaimanakah penggunaan dan sikap masyarakat Desa Pertumbukan terhadap telepon seluler ? Tujuan Untuk mengetahui bagaimana penggunaan telepon seluler dan sikap masyarakat Desa Pertumbukan. 12 .April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. hal ini masyarakat menjadi konsumtif . Kabupaten Langkat diperoleh gambaran tentang pola penggunaan telepon seluler oleh masyarakat desa tersebut yakni.

741 menjadi 12.htm ). para operator melakukan ekspansi jaringan.uky. Karena media teknologi baru yang memberi banyak kemudahan bagi pengguna. KAJIAN TEORETIS Kajian Pustaka Inovasi besar di bidang teknologi informasi dan komunikasi dalam empat dekade terakhir ini adalah ditemukannya telepon seluler atau handphone (HP). Blumler dan Katz (1974) mengutarakan bahwa seorang pengguna media mencari sumber media yang terbaik guna memenuhi kebutuhan mereka. Uses and Gratifications mengangkat bahwa pengguna memiliki pilihanpilihan alternatif untuk memuaskan kebutuhan mereka (http://www. dimana dalam penelitian ini berusaha untuk menggambarkan motif kebutuhan dalam penggunaan telepon seluler bagi masyarakat pedesaan. 2005) Terkait dengan pola penggunaan telepon seluler.6 juta. hasil penelitian ini walau dalam cakupan wilayah penelitian yang kecil diharapkan dapat dijadikan masukan bagi pemerintah me lalui Depkominfo untuk mengkaji stategi perkembangan TIK khususnya telepon seluler dalam hal tren penggunaannya. Pada tahun 2006 nilai investasi infrastruktur telepon seluler yang dilakukan operator lebih dari US$ 2. konsep dasar komunikasi massa mengalami perubahan. Tentang hal ini Katz dan Blumer mengatakan sebagai berikut : 13 . Goswami dalam tulisannya ³Sustainability Proyek Harus Dipikirkan´. mereka bertanggung-jawab dalam pemilihan media yang akan mereka gunakan untuk memenuhi kebutuhan dan individu ini tahu kebutuhan mereka dan bagaimana memenuhinya.edu/~drlane/capstone/contexts. mencontohkan jumlah produksi telepon seluler mencapai 6. Menurut pencetus teori ini.5 miliar.htm ). Perilaku ini biasanya dipengaruhi oleh predisposisi sosial dan psikologinya. tetapi yang lain mungkin memerlukan modifikasi untuk menyesuaikan dengan lingkungan baru ini (Severin dan Tankard. dan investasi di bidang infrastruktur telepon seluler sangat agresif dilakukan oleh berbagai operator. teori Uses and Gratification dianggap tepat sebagai acuan untuk memahaminya. baik dari model/merk maupun dari jumlah pengguna. Teori-teori yang sudah ada mungkin masih bisa dipakai. Salah satu contoh gambaran lengkapnya sebagai berikut: sejak tahun 2005. Bidang komunikasi sekarang ini sedang mengalami perubahan besar. 1 . Telepon seluler telah berkembang secara fenomenal. Dan secara teoretis. Teori komunikasi massa butuh penyesuaian dan beradaptasi dengan perubahan-perubahan itu. Dari penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi perkembangan studi komunikasi serta mampu memperkaya varian. Telkomsel menambah BTS-nya dari 7. Media dianggap hanya menjadi salah satu cara pemenuhan kebutuhan dan individu bisa jadi menggunakan media untuk memenuhi kebutuhan mereka.com /divakar_ goswami.majalahindonesia. Teori ini berpandangan bahwa manusia menggunakan media karena dianggap memiliki manfaat baginya. terutama telepon seluler. Medan Manfaat Secara praktis.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Manusia sebagai individu aktif dan memiliki tujuan. Khalayak berperan aktif dalam mengambil bagian dalam proses komunikasi dan diorientasikan pada tujuan penggunaan media.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.156 sehingga terdapat pertumbuhan sebesar 57% (http://www. Di sini. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran pada studi Ilmu Komunikasi dan untuk mengetahui perkembangan serta penerapan teori uses and gratification. alternatif rujukan juga sebagai khasanah referensi dalam penelitian-penelitian tentang khalayak di masa mendatang terhadap pemanfaatan industri teknologi komunikasi dan informasi. Teori ini mengusulkan bahwa khalayak (pengguna) memainkan peran dalam pemilihan dan penggunaan media.

dan secara sadar audien memilih saluran komunikasi dan pesan±pesan paling memenuhi kebutuhanya (Elihu Katz. Leung dan Wei mengamati. Needs which generate. audien memiliki motivasi±motivasi tertentu yaitu mencari pemuasaan atas dasar kebutuhannya terhadap media massa tersebut. serupa dengan pemyataan Gilder.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. tersedianya berbagai alternatif komunikasi.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. information about which may be sought in the media.Diffferential pattern of media exposure (or engagement in other activities)resulting in.Need perhaps mostly unitended ones. 1 . yaitu : Social situation produces tensions and conflict. Gurevitch. Medan The social and psychological origins of. dapat menjelaskan penggunaan telepon seluler. Blumer. khususnya k etika dikombinasikan dengan teori lainnva.1999). Namun demikian pemikiran tersebut jelas bahwa pendekatan Uses and Gratification merupakan kritik dari sudut pandang teori-teori yang terdahulu. Dalam sebuah studi yang dilakukan oleh Louis Leung dan Ran Wei (2000) mempelajari Kegunaan dan Kepuasan pada telepon seluler. memiliki kebutuhan kebutuhan tertentu. Leung dan Wei tertarik tentang mengapa orang menggunakan telepon seluler dan apakah alasan mereka yang berbeda dari mengapa mereka menggunakan telepon kabel dan jaringan. Informasi itu dapat dicari lewat media ). namun secara global dapat dikatakan bahwa pendekatan Uses and Gratification memiliki asumsi bahwa audien dipandang aktif. Selanjutnya. Simpulan studi yang dilakukan Leung dan Wei mengindikasikan bahwa teori Kegunaan dan Kepuasan. Orang berusaha melepaskan dirinya dari hal itu dengan mengkonsumsi media massa ). the affirmation and reinforcement of which is facilitated by the consumption media material ( Situasi sosial memberikan dukungan dan penguatan pada nilai ± nilai tertentu melalui konsumsi media yang selaras ) (Katz.(West dan Turner. 1994). melainkan memiliki harapanharapan dan kebutuhan±kebutuhan. Social situation gives to rise certain values. 2008) 14 . Siranahan dan Morgan menambahkan bahwa teknologi baru selalu dikembangkan dengan mengadopsi isi pesan dari teknologi dominan sebelumnya. Walaupun mereka menggunakan sudut pandang metodologi yang berbeda-beda. Kemampuan Leung dan Wei untuk menerapkan teori Kegunaan dan Kepuasan pada teknologi baru dijelaskan oleh pengamatan Shanahan dan Morgan (1999) bahwa terdapat "konsistensi lingkungan dari isi pesan yang kita konsumsi dan pada sifat dasar dari lingkungan simbolik di mana kita hidup" meski jika terjadi perubahan distribusi teknologi. (Situasi sosial menciptakan kesadaran akan adanya masalah-masalah yang membutuhkan perhatian dan informasi. Social Situation creates an awareness of problem that demand attention.(Pendekatan Uses and Gratification berhubungan dengan kebutuhan sosial dan psikologis yang membentuk harapan pada media massa atau sumber lain yang mengakibatkan pola terpaan media yang berlainan yang menghasilkan kepuasan dan konsekuensi ± konsekuensi lain yang tidak diinginkan) (Katz. Pada pendekatan ini audien tidak lagi dipandang sebagai pasif. Katz dan Blumer selanjutnya mengemukakan ada beberapa faktor sosial yang menyebabkan timbulnya kebutuhan seseorang yang berhubungan dengan media. Blumer.Expectation. Sejak dicetuskan pertama kali pendekatan ini terus mengalami penyempurnaan oleh para ahli komunikasi melalui berbagai jenis penelitian. Difusi Inovasi (Difusion of Innovations). dkk. 1974) . Juga dalam penggunaan media. bahwa "telepon seluler baru menggambarkan suatu konvergensi teknologi hibrid ketika ia mengaburkan batasan antara industri telekomunikasi dan penyiaran. leading to resure for their easement via mass media consumption (Situasi sosial menimbulkan ketegangan dan pertentangan.The mass media or other sources which lead to. Gurevitch. Perkembangan lebih lanjut penggunaan teori Uses and Gratifications banyak diterapkan pada penelitian penggunaan media baru seperti internet ( computer mediated communication) bahkan pada telepon seluler.

³Entertaiment´ (hiburan). Harold D Laswell pernah mengajukan 3 fungsi media yaitu yaitu pengawasan (Surveyllance). yaitu persahabatan. korelasi (Correlation). correlation (hubungan sosial). yaitu referensi 15 . ³ Knowledge´ (pengetahuan). Manfaat kepuasan langsung juga dapat dirasakan oleh penggunanya. Yang lain lagi menyebutkan tiga fungsi media massa dalam memenuhi kebutuhan. sarana pelepasan emosi. Dengan demikian kecenderungan penelitian tentang Uses and Gratification mulai bergeser dan bertambah maju. Ahli komunikasi lainnya menyebutkan dua fungsi. Medan Dari studi Louis Leung dan Ran Wei (2000) yang menggunakan teori ini juga menyatakan bahwa mobilitas. Dan setelah mengamati hasil±hasil yang diperoleh dilapangan. Sejumlah ahli media akhirnya mulai beralih dari sekedar mengumpulkan jenis jenis kebutuhan audien kepada suatu model penelitian baru karena dari hasil±hasil studi mereka menunjukkan jenis± jenis kebutuhan yang sama. 1 . dan Dimmick. Personal relationships. Tetapi seperti yang di jelaskan Blumer (1994). dan hiburan dan transmisi kultural ± seperti yang dirumuskan oleh Harold dan Charles Wright. yaitu melepaskan diri dari rutinitas dan masalah. Jenis-jenis kebutuhan ini kemudian oleh para ahli dikelompokan menjadi beberapa kelompok. atau hiburan dan informasi ± menurut Wilbur Schramm. yaitu apa yang diharapkan audien dari media massa dengan apa yang diperolehnya dari media tersebut. ³ Surveyllance´ (pengawasan). Secara umum kebutuhan yang sering disebut dan digunakan oleh para peneliti media adalah. dan ³Interpersonal Utility´ (kegunaan pribadi) (Palmgreen. 2000 ).JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. ³Diversion´ (pelepasan). Menurut Stephenson media massa hanya memenuhi satu jenis kebutuhan saja. 1984). Kemudian riset lebih lanjut yang dilakukan oleh Dennis McQuail dan kawan-kawan. kebutuhan atau motif yang menuntun seorang individu untuk menggunakan suatu media dipandang sebagai Gratification Sought atau kepuasan yang dicari atau diharapkan (Dimmick. media massa memenuhi kebutuhan akan fantasi dan informasi ± menurut Weiss. fungsi±fungsi ini belum cukup untuk menggambarkan seluruh fungsi yang ada. kekinian. Mengenai fungsi media massa terhadap pemenuhan kebutuhan audien tersebut. kesempatan melarikan diri dari kesibukan sehari-hari.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. 1984) . Motif kognitif menekankan kebutuhan manusia akan informasi dan kebutuhan untuk mencapai tingkat ideasional tertentu. Personal identity. dan intrumentalitas yang terdapat pada telepon seluler merupakan intrumen motivasi yang kuat yang diikuti dengan rasa ikatan kekeluargan atau sosial. Para peneliti media massa kemudian mencoba mengumpulkan seluas dan sebanyak mungkin daftar±daftar kebutuhan sosial dan psikologis yang dianggap audien sebagai terpenuhi dengan memanfaatkan media massa. media massa memenuhi kebutuhan akan hiburan dan informasi . 2000). Perkembangan ini diawali oleh penelitian Palmgreen dan Rayburn pada tahun 1979. informasi dan lain sebagainya. dan transmisi budaya atau sosialisasi (Cultur Transmission and Socialisation). surveillance (pengawasan lingkungan). Dalam teori Uses and Gratification yang dikembangkan oleh Palmgreen dan Rayburn. Tiga fungsi ini kemudian ditambah oleh Charles Wright yaitu fungsi hiburan (Entertaiment). mereka menemukan empat tipologi motivasi khalayak yang terangkum dalam skema media ± persons interactions sebagai berikut : Diversion. ternyata terdapat jenis±jenis kebutuhan yang setiap kali muncul walaupun sampelnya berbeda-beda. ³Relaxation´ (relaksasi). Motif afektif menekankan aspek perasaan dan kebutuhan mencapai tingkat emosional tertentu (Rahmat. kegunaan sosial. dimana dan kapan saja (Leung dan Wei. Di sini media dianggap memberikan hiburan. sedangkan kebutuhan afektif ditandai oleh kondisi perasaan atau dinamika yang menggerakan manusia mencapai tingkat perasaan tertentu. Sedangkan menurut Wilbur Scramm. 1981. Kebutuhan kognitif menekankan pada kebutuhan akan informasi dan pencapaian tingkat ideasional tertentu. yaitu memuaskan hasrat bermain atau melarikan diri dari kenyataan. yang membedakan antara Gratification Sought (GS) dan Gratification Obtained (GO).

Ada berbagai kebutuhan yang dipuaskan oleh media massa. Dari berbagai jenis kebutuhan tersebut. perubahan perasaan atau sikap. 2007) Kemudian dari teori Utilitarian memandang individu sebagai orang yang memperlakukan setiap situasi sebagai peluang untuk memperoleh informasi yang berguna atau keterampilan baru yang diperlukan dalam menghadapi tantangan hidup. atau tempat ibadat (Rahmat. ketenangan. http://komunikasimassa-umy. Medan diri. 2006). Sedangkan menurut Sari (dalam Kriyantono 2006) dapat dioperasionalkan menjadi jenis media yang digunakan. Tentu saja. media massa dapat memberikan hiburan. Perubahan yang dimaksud dapat meliputi perubahan pengetahuan. perubahan kognitif.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Komunikasi massa dapat memberikan informasi. manusia yang berperan dalam menentukan efek media. afektif dan behavioral). hobi. pengetahuan dan keterampilan. dan prilaku nyata. dan perubahan prilaku (dengan istilah lain. pengetahuan. Mengenai kebutuhan kognitif dan afektif Nurudin menjelaskan. sikap. dapat dioperasionalkan menjadi jumlah waktu yang digunakan dalam berbagai jenis media. 2005. Ada 3 macam efek komunikasi massa. isi media yang dikonsumsi. dan persahabatan dapat juga diperoleh dari sumber-sumber lain seperti kawan. Selanjutnya terpaan media menurut Rosengreen (1974). William J Mc Guire (dalam Muchati 1972) kemudian mengelompokan jenis-jenis kebutuhan tersebut menjadi 2 dimensi. Chaffe (dalam Rahmat. dan pemahaman mengenai lingkungan. Kebutuhan afektif adalah kebutuhan yang berkaitan yang berkaitan dengan peneguhan pengalaman-pengalaman yang estetis.blogspot.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. suatu loncatan dramatis dari model Jarum Hipodermik. eksplorasi realitas. Kita mengalami goncangan batin. dan media massa berfungsi sebagai sahabat. yaitu kebutuhan yang bersifat afektif (yang berkaitan dengan perasaan) dan kebutuhan kognitif (yang berkaitan dengan pengetahuan). 2000). tetapi yang juga dapat diatasi dengan media massa. Dalam konsep ini hidup dipandang suatu medan yang penuh tantangan . karena mengacu pada kegiatan menggunakan media (Kriyantono. maupun durasi penggunaan . (Wiryanto. 2000). dan berbagai hubungan antara individu konsumen media dengan isi media yang dikonsumsi atau dengan media keseluruhan (Rahmat. penguatan nilai. dipahami atau dipersepsi khalayak. hiburan. Kebutuhan ini didasarkan pada hasrat untuk memahami dan menguasai lingkungan. Kita kesepian. dan emosional. (Nurudin. keterampilan. Teori ini digambarkan sebagai ³a dramatic break with effects traditions of the past´. Elemen ³pola terpaan media yang berlainan´ pada Teori Uses and Gratifications berkaitan dengan media exposure atau terpaan media. Pada teori Uses and Gratifications. 2001). Efek ini berkaitan dengan transmisi pengetahuan. com). kebutuhan ini dapat dipuaskan oleh sumber-sumber lain selain media massa. kepercayaan atau informasi. Kita ingin mencari kesenangan. Pada saat yang sama. Efek diartikan sebagai semua jenis perubahan yang terjadi didalam diri seseorang setelah menerima sesuatu pesan komunikasi dari suatu sumber. kebutuhan kognitif adalah kebutuhan yang berkaitan dengan peneguhan informasi. 1 . Surveillance (bentuk-bentuk pencarian informasi) (dalam Junaedi. Menurut Steven M. 2004) efek media massa akan menyebabkan perubahan yang terjadi pada diri khalayak. frekuensi penggunaan. juga memuaskan rasa penasaran dan dorongan untuk penyelidikan kita. menyenangkan. 16 . media massa memberikan kesempatan untuk melarikan diri dari kenyataan. antara lain: y Efek Kognitif: terjadi bila ada perubahan pada apa yang diketahui. seperti penerimaan informasi.

Bahkan. 9 persen antara 201-300 ribu dan 8 persen lebih dari 300 ribu perbulan. telepon seluler lebih banyak digunakan untuk hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan. dan Semarang menunjukkan bahwa 51 persen mereka mengirim SMS 11-20 kali. meliputi pola-pola tindakan. Bagi pelaku bisnis. warna dan lain sebagainya yang secara langsung mampu ³menerjemahkan´ pikiran dan atau perasaan komunikator kepada komunikan. teleks. y Efek Behavioral : merujuk pada perilaku nyata yang dapat diamati. sebesar 73 persen mereka mengeluarkan biaya untuk membeli voucher perbulannya sekitar 100-200 ribu. 2004). isyarat. sikap atau nilai. Ini artinya bahwa di samping menurunkan minat baca. disenangi atau dibenci khalayak. karena harga telepon seluler terjangkau. Kalaupun digunakan untuk hal-hal yang sifatnya menghibur. Kemudian sekunder adalah proses penyampaian pesan oleh seorang kepada orang lain dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media kedua setelah menggunakan lambang sebagai media pertama. telepon seluler juga mengarahkan masyarakat untuk hidup konsumtif. Dalam hal ini komunikasi melalui telepon seluler seperti pengiriman SMS ternyata berdampak buruk untuk menurunkan minat baca masyarakat.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. ( Fritz E Simandjuntak dalam cetak/0405/05/telkom/1002910htm ).com/kompassenggang. kegiatan dan kebiasaan berperilaku (Rakhmat. radio film. Bogor. Seorang komunikator menggunakan media kedua (sekunder) dalam melancarkan komunikasinya karena komunikan sebagai sasarannya berada di tempat yang relatif jauh atau jumlahnya banyak. telepon (telepon seluler). kial. Medan Efek Afektif : timbul bila ada perubahan pada apa yang dirasakan. majalah atau koran. AM Townsend (2000) menyatakan. Bahkan menurut data dari penelitian ³Survei Siemens Mobile Phone´ 58 persen orang Indonesia lebih memilih mengirim SMS daripada membaca buku. di negara-negara berkembang telepon seluler telah mengurangi kesenjangan berkomunikasi di masyarakat. Penelitian yang dilakukan International Telecommunication Union (2001) menemukan bahwa jumlah penggunaan telepon seluler di 100 negara-negara miskin melampaui telepon tetap dan komputer. 2005). 1 . biasanya dilakukan pada waktu http://www. Bandung. Berbagai keuntungan relatif yang dirasakan dari telepon seluler yang mengungguli telepon tetap karena mobilitas dan efisiensinya yang lebih besar. SMS dalam hal ini lebih berfungsi sebagai hiburan saja. Lambang sebagai media primer dalam proses komunikasi adalah bahasa. Ini bisa dikatakan pula bahwa budaya baca yang sudah terancam dengan budaya dengar dan lihat diancam lagi oleh budaya mengirim SMS. Menurut data majalah Komputer Aktif (no. (Nurudin.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. 35 persen 2-10 kali dan 14 persen lebih dari 20 kali sehari. gambar. Surat. 50/26 Maret 2003) berdasarkan survei Siemens Mobile Lifestyle III menyebutkan bahwa 60 persen remaja usia 15-19 tahun dan pasca-remaja lebih senang mengirim dan membaca SMS (Short Messege Service) daripada membaca buku.kompas. Efek ini ada hubungannya dengan emosi. Data yang merupakan fenomena ini jelas menjadi salah satu potret dampak komunikasi melalui telepon seluler.2000). dan banyak lagi adalah media kedua yang sering digunakan dalam komunikasi. Bahkan menurut data Kompas (4 April 2003) yang melakukan street polling yang dilakukan pada 100 remaja SMU di Jakarta. y Konseptual Dalam proses komunikasi dibagi menjadi dua bagian yakni secara primer dan sekunder. Ini adalah dampak dari segi sosial budaya masyarakat atas penggunaan Hand Phone/ telepon seluler. Pemanfaatan telepon seluler berbeda pada setiap kelompok masyarakat. 17 . tv. Proses komunikasi secara primer adalah proses penyampaian pikiran dan atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan lambang (simbol) sebagai media. (Onong.

3G). Sejalan dengan berkembangnya masyarakat beserta peradaban dan kebudayaannya. instruktif. maupun untuk televisi online di telepon genggam mereka. memahami apa yang dilihat dan didengar. game. Menurut Alvin Toffler dalam bukunya The Third Wave (1990) membagi tiga tahap perkembangan peradapan manusia yakni Agricultural. SMS). Jadi di ponsel tersebut. persuasif. Kehadiran media tidak selalu menarik perhatian masyarakat. Sekarang. namun dapat dibawa ke mana-mana (portabel. Saat ini Indonesia mempunyai dua jenis jaringan telepon nirkabel yaitu sistem GSM (Global System For Mobile Telecommunications) dan sistem CDMA (Code Division Multiple Access). industrial. orang bisa mengubah fungsi ponsel tersebut menjadi mini komputer. GPRS. Wilbur Schramm melalui hasil penelitiannya di negara-negara berkembang membuat laporannya pada tahun 1964 yang berjudul Mass media and National Development : The role of information in developing countries. Pentingnya peranan media (media sekunder) dalam proses komunikasi disebabkan oleh efisiensinya mencapai komunikan dimana. Selain berfungsi untuk melakukan dan menerima panggilan telepon. kini ponsel juga dilengkapi dengan berbagai pilihan fitur. mobile) dan tidak perlu disambungkan dengan jaringan telepon menggunakan kabel (nirkabel. seperti bisa menangkap siaran radio dan televisi. ponsel umumnya juga mempunyai fungsi pengiriman dan penerimaan pesan singkat (short message service. dan layanan internet (WAP.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. 1964). Medan Menurut Shannon dan Weaver (1949) komunikasi adalah bentuk interaksi manusia yang saling mempengaruhi satu sama lainnya. Artinya .JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. ponsel sekarang sudah ditanamkan fitur komputer. Seperti dalam menyatakan diri. Telepon genggam seringnya disebut handphone (disingkat HP) atau disebut pula sebagai telepon selular (disingkat ponsel) adalah perangkat telekomunikasi elektronik yang mempunyai kemampuan dasar yang sama dengan telepon fixed line konvensional. edukatif. menerima dan men girim pesan . telepon genggam menjadi gadget yang multifungsi. berbicara. Ada pula penyedia jasa telepon genggam (provider) di beberapa negara yang menyediakan layanan generasi ketiga (3G) dengan menambahkan jasa videophone. dan kapan saja. seperti yang diungkapkan oleh McLuhan (1964) yakni kehadirannya umumnya adalah sebagai the extention of man . Mengikuti perkembangan teknologi digital. Mencermati beberapa fungsi media massa yang ditulis Alamsjah Ratu Perwiranegara dalam Rafiq (1989) meliputi fungsi informatif. fitur ini sangat membantu bagi para pebisnis untuk melakukan semua 18 . pembawaan. Di dunia bisnis. yang paling pokok adalah dapat membantu menyebarluaskan informasi tentang pembangunan. sebagai alat pembayaran. integratif. Pendapat ini dapat disimpulkan bahwa komunikasi memiliki andil dan sumbangan yang sangat besar dalam pembangunan. ketika berada dalam suatu lingkungan dan bercengkerama dengan lingkungan serta dengan proses tersebut. Sementara Hafied Cangara (1998) mengatakan bahwa komunikasi adalah sebuah proses dimana dua orang atau lebih membentuk atau melakukan pertukaran informasi dengan satu sama lainnya . Selain fitur-fitur tersebut. dan rekreatif. yang isinya menyatakan media massa dapat berpengaruh dalam beberapa hal. dapat mengajarkan melek huruf serta keterampilan lainnya yang memang dibutuhkan untuk pembangunan masyarakat dan menjadi penyalur suara masyarakat agar mereka turut ambil bagian dalam pengambilan keputusan di negaranya (Schramm. wireless). dan information. komunikasi bermedia mengalami kemajuan pula dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK). manusia menyatakan dan mengembangkan perikehidupan yang bermasyarakat. eksistensi manusia. dan kebutuhan manusia adalah berkomunikasi. Berdasarkan fungsi-fungsi ini dapat disimpulkan bahwa media massa sebagai media pembangunan atau proses perubahan ke arah kondisi kehidupan yang lebih baik. yang pada gilirannya akan tiba pada saling pengertian yang mendalam. kodrat. sengaja atau tidak. kamera digital. 1 . perangkat lunak pemutar audio (mp3) dan video.

Kabupaten Langkat. integratif pesan.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Pengembangan teknologi telekomunikasi terutama jenis telepon seluler ini membuka lebar penyampaian informasi dan komunikasi secara lebih mudah dan efisien. yang memiliki dan menggunakan telepon seluler sebagai salah satu sarana media komunikasi. komunikasi interpersonal. dalam hal ini merupakan sebagai populasi. tidak menguji hipotesa atau membuat prediksi. dalam memfasilitasi masyarakat dalam berkomunikasi dan membantu memperoleh informasi dengan cepat dan tak terbatas . wireless). Kebutuhan ini dapat terpenuhi dan dipuaskan melalui media massa dan sumber lain. 1 . karena populasi dianggap homogen. dengan acak sederhana. Kabupaten Langkat. yakni kebutuhan ini terpenuhi dengan hubungan keluarga. atau kelompok tertentu. tanpa mencari dan menjelaskan hubungan. Dengan memiliki keunggulan dalam efesiensinya ini. yang membutuhkan waktu yang lama dan tempat yang terbatas. teman. Kecamatan Wampu. Kecamatan Wampu. namun dapat dibawa ke mana-mana (portabel. Efektifitas komunikasi dalam penelitian ini dimaksudkan penyampaian/penerimaan informasi dan komunikasi secara lebih mudah dan efisien. keadaan. Dan pengambilan sampel mengacu pendapat Winarno Surakhmad (1998) yakni sebesar 20% . sehingga dapat memfasilitasi masyarakat dalam berkomunikasi dan membantu memperoleh informasi dengan cepat dan tak terbatas. perkembangan ponsel akan lebih mengefisienkan waktu dan sistem kerja dibandingkan dengan komunikasi/ informasi secara manual. Data pra-riset (19-22 Februari 2008) di Desa Pertumbukan terdata 263 orang yang telah memiliki telepon seluler.org/wiki/Telepon _genggam). gejala. mobile) dan tidak perlu disambungkan dengan jaringan telepon menggunakan kabel (nirkabel. Definisi Operasional Telepon seluler dalam penelitian ini adalah perangkat telekomunikasi elektronik yang mempunyai kemampuan dasar yang sama dengan telepon fixed line konvensional. Melalui sumber lain.wikipedia. Katz dan Gurevitch membuat tipologi kebutuhan manusia yang berhubungan dengan penggunaan media yakni : kebutuhan kognitif. Sedangkan yang dimaksud dengan masyarakat desa adalah masyarakat yang merupakan penduduk Desa Pertumbukan . Masyarakat memiliki kebutuhan dan motif beraneka ragam berdasarkan karakteristiknya sosialnya Blumler. maupun mengisi waktu luang dengan berbagai cara. integratif sosial dan kebutuhan akan pelarian. METODOLOGI Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di Desa Pertumbukan. Selanjutnya pengambilan sampel dilakukan secara probability. 19 . Medan pekerjaan di satu tempat dan membuat pekerjaan tersebut diselesaikan dalam waktu yang singkat (http://id. afektif. ponsel menjadi salah satu fenomena komunikasi bermedia yang terus berkembang serta semakin dibutuhkan oleh masyarakat. Dengan demikian. maka diperoleh sampel sebesar 263 x 20% = 54 orang.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Metode Penelitian Penelitian ini bersifat deskriptif yakni hanya memaparkan situasi dan peristiwa apa adanya. Populasi Dan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat yang bertempat tinggal di Desa Pertumbukan. Dengan kata lain dalam penelitian ini hanya memberikan gambaran secermat mungkin mengenai suatu individu.

Dan tabel 02. Usia Tabel 02. Berikut datanya yang ditampilkan dalam bentuk tabel. Tabel 01. 1 .April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Kebun Balok. makalah.go. dan Pekerjaan. Disamping itu juga dilakukan wawancara terstruktur kepada beberapa sampel untuk memperkuat data yang terkumpul melalui kuisioner. usia dapat dilihat bahwa responden yang terbanyak terwakili dari kelompok umur 17-21 tahun sebanyak 31. Jenis Kelamin. Penghasilan 20 . Labuhan Batu. dan pencarian informasi melalui internet. Data Sekunder. Analisis data dilakukan dalam beberapa tahap : Membuat tabel distribusi frekuensi (f) dan prosentasi (%) serta interpretasi untuk keseluruhan data penelitian selanjutnya mengadakan diskusi dan pembahasan hasil temuan data penelitian Hasil Penelitian Gambaran Umum Lokasi Penelitian Kecamatan Wampu merupakan daerah pemekaran yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 1999 Tentang Pembentukan 13 (tiga belas) Kecamatan di wilayah kabupaten daerah tingkat II Tapanuli Selatan. dan Sumber Mulyo ( http://www. jenis kelamin Responden dalam penelitian ini diperoleh laki-laki sebanyak 68. Tapanuli Utara.5%. Gohor Lama. Bukit Melintang. diperoleh melalui buku-buku. diperoleh melalui kuisioner yang diberikan kepada sampel terpilih. Jenis Kelamin Dari tabel 01. Tabel 03. Toba Samosir. hasil-hasil penelitian terdahulu.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. dalam wilayah Propinsi Sumatera Utara. Tingkat Pendidikan Tabel 04. Pada awal pembentukan kecamatan ini meliputi : Desa Bingai.pdf ) Kemudian sekitar tahun 2006 dibentuk Desa Pertumbukan yang wilayahnya sebagian mengambil daerah Desa Bukit Melintang dan Desa Stabat Lama. Karakteristik Responden Responden yang berjumlah 54 orang dalam penelitian ini dilihat dari aspek sosiodemografis-nya mencakup : Usia. dan Langkat. Penghasilan. Besilam.7% dan selanjutnya diikuti oleh kelompok umur 22-26 tahun dan 32-36 tahun masing-masing 13%. Gergas.bpkp. Kecamatan Wampu merupakan pemekaran dari sebagian wilayah Kecamatan Stabat. Medan Metode Pengumpulan Data Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini yakni : Data Primer. Stabat Lama. suratkabar.5%.id/unit/hukum/pp/1999/043 -99. kemudian kelompok umur 22-26 tahun dan 37-41 tahun masing-masing 16.5% dan perempuan sebanyak 31. Stabat Lama/ Baru. Tingkat Pendidikan. Metode Analisis Data Data yang terkumpul seluruhnya akan ditabulasikan ke dalam tabel tunggal dan juga membuat beberapa tabulasi silang berdasarkan tujuan penelitian.

1%.4%. kemudian pada kategori lain-lain (petani. serta dinyatakan kurang setuju oleh sekitar 3.000. sebesar 24. kemudian antara Rp.. ± Rp. Pekerjaan Tabel 05. 2.4%.000.000. 06 Mencari Informasi Tabel 07.000.4%. 500. Informasi Sosial Dari tabel 06. kemudian diikuti tamatan SD dan SMP pada urutan kedua masing-masing 24.9% menyatakan sangat setuju serta diikuti sikap ragu-ragu dan kurang setuju masing-masing sebesar 7.000. serta diikuti tingkat penghasilan Rp. 21 .1%.7%. kemudian yang menyatakan setuju sebesar 44. Medan Dari tabel 03.4% responden menyatakan setuju untuk membutuhkan informasi sosial melalui telepon seluler. 1. serta tingkat sarjana (S1) sebesar 7. dan dapat dilihat sebagai berikut : Tabel. 1. Pekerjaan responden terbesar adalah sebagai wiraswasta/ berdagang yakni sebesar 57. serta pegawai swasta sebesar 13%. 1. yakni sebesar 48.000. Tabel 05. mengenai Pendapatan responden yang terbanyak yakni diantara Rp. 1. ± Rp. Sikap Responden dalam mencari informasi melalui telepon seluler dinyatakan sangat setuju oleh sebesar 50% . sebesar 14.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika.000. Dan tabel 07.500. Kebutuhan Informasi Kebutuhan akan informasi dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui sikap responden dalam pencaharian informasi melalui penggunaan telepon seluler yang tersaji dalam tabel. Sebanyak 44.8%. kemudian sebanyak 38. Kemudian tabel 04.4% .1%. ± Rp.7%. Tingkat pendidikan responden yang terjaring menjadi responden terbanyak dalam penelitian ini adalah tamatan SMA yakni sebesar 40.000. pelajar) sebesar 14.000.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. 1 .8%.500.

6% menjawab ragu-ragu serta menjawab kurang setuju sebesar 3. 22 . untuk ini responden terbanyak menyatakan sangat setuju yakni sebesar 46. Penambahan Pengetahuan Dan dari tabel 10.7%.1%. Kemudian sebanyak 5. baik dari sekitar atau luar lingkungan. Tabel 10. Kemudian diikuti pernyataan setuju sebesar 35.2% serta pernyataan tidak setuju sebesar 7. Mengenai penilaian responden tentang kesesuaian harapan dan kebutuhan.7% menyatakan setuju. Termotivasi Pelajari daerah lain Tabel 11. Penggunaan telepon seluler untuk melarikan diri dari persoalan kehidupan (meringankan bebab hidup) ternyata responden menjawab tidak setuju yakni sebesar 35. Dari tabel 09.3%.4% menjawab ragu-ragu. Kebutuhan Diversi Pernyataan-pernyataan kebutuhan diversi dalam penelitian ini yang tersaji dalam bentuk tabel berikut : Tabel.1% responden sangat setuju dengan penggunaan telepon seluler akan lebih mengetahui keadaan kehidupan diluar daerah. masingmasing sebanyak 44.9 % menjawab setuju dan diikuti sebesar 7. Sebanyak 48. 1 .7%. Medan Tabel 08. Pertanyaan ini terbanyak dijawab responden sangat setuju yakni sebesar 48.4% menjawab sangat setuju dan setuju. serta hanya 5. Kemudian menjawab kurang setuju sebesar 25. Tabel 11 Telepon seluler sebagai dorongan sarana untuk menambah pengetahuan sesuai dengan kepetingan. Selanjutnya sebanyak 40.2%.12 Meringankan Beban Hidup Tabel 13.6% menyatakan tidak setuju.Harapan dan Kebutuhan Tabel 09.4%. Kemudian sebesar 38. Mengetahui Kondisi Daerah lain Tabel 08.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Dengan adanya telepon seluler responden lebih terdorong untuk mempelajari sesuatu tentang lingkungan sekitar dan luar.9% dan diikuti menjawab setuju 16.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Telepon seluler Sarana bermain Tabel 12.

5% responden menyatakan raguragu. Untuk mencari persahabatan baik dilingkungan sekitar ataupun di luar.7%.7%.15 Meningkatkan Hubungan Silaturahmi Dari tabel 14. Kemudian tabel 17. 1 .7%. Atasi masalah kehidupan sosial 23 . Kemudian yang menjawab setuju dan tidak setuju masing-masing sebanyak 24.9%. Untuk mengisi waktu luang ataupun di saat santai telepon seluler digunakan responden bersama keluarga semisal menghubungi atau kirim sms kepada keluarga yang jauh dan teman. Namun sebesar 18.7% untuk jawaban sangat setuju. Menimbulkan kesenangan Tabel. responden menyatakan sangat setuju yakni sebesar 50% dan yang menyatakan setuju sebesar 40.8% serta diikuti jawaban kurang setuju sebesar 16. Tabel 18. 17 Mencari Persahabatan Tabel 16. telepon seluler salah bentuk komunikasi bermedia ternyata sangat membantu.1%. untuk itu sebesar 66. 16 Mengisi waktu luang Tabel. Medan Dan dari tabel 13.2% serta diikuti sikap ragu-ragu sebesar 7. Kemudian dari tabel 15. kemudian yang menyatakan sangat setuju sebesar 22.7%. telepon seluler sebagai sarana bermain. Atasi Sulitnya Perekonomian Tabel 19. ternyata responden menjawab kurang setuju yakni sebesar 25. untuk itu responden sebanyak 37% menyatakan setuju. Tabel. Selanjutnya diikuti sebesar 16. dan yang setuju dinyatakan oleh responden sebesar 22. Namun terdapat juga responden yang menyatakan ragu-ragu dan tidak setuju yakni masing-masing sebesar 3. Tabel 14. Telepon seluler menimbulkan kesenangan untuk pertanyaan ini responden terbanyak menjawab setuju yakni sebesar 40.2%. Untuk meningkatkan hubungan silaturahmi dengan keluarga dan teman.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika.7% responden menyatakan sangat setuju.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.4%. Kemudian jawaban sangat setuju sebesar 27.

Tabel 21. masyarakat.4%.9%.2%.4% menyatakan setuju dan diikuti sangat setuju oleh sebesar 27.2% menyatakan sangat setuju. karir/pekerjaan. Walau secara tidak langsung telepon seluler telah membantu responden untuk memecahkan permasalahan ekonomi keluarga dan untuk ini sebesar 31.5% menyatakan setuju dan diikuti sebesar 22. Hal ini diakui oleh responden sebesar 57. telepon seluler juga dapat membantu. pernyataan ini disikapi oleh responden dengan menjawab sangat setuju yakni sebesar 48. Kemudian sikap ragu-ragu diakui responden yakni sebesar 7. Untuk ini responden yang menyatakan setuju sebesar 40.7% dan diikuti sebesar 31. Membantu berkreasi Tabel 23. Kerjasama dengan pihak lain Tabel 22. 1 . Tabel 20.5% yang menyatakan sangat setuju.1% dan yang sangat setuju sebesar 18. Melepaskan ketegangan (stress) Tabel 21. Namun juga terdapat pernyataan responden yang ragu-ragu yakni sebesar 18. Penggunakan telepon seluler bagian gaya hidup Tabel 20.4%.5%. kesejahteraan) hal ini dijawab setuju oleh responden yakni sebesar 48. Kebutuhan Identitas Personal Dalam memenuhi kebutuhan indentitas personal dalam penggunaan telepon seluler dalam hasil temuan penelitian ini yang disajikan dalam bentuk tabel dapat dilihat sebagai berikut : Tabel 22. Selanjutnya yang menyatakan ragu-ragu sebesar 20. Mencari ide/ pemikiran untuk berkreasi/berwirausaha. Selanjutnya terdapat responden yang menyatakan ragu-ragu yakni sebesar 13%. Penggunakan telepon seluler sudah menjadi kebiasaan sehari-hari dan telepon seluler selalu mendampingi aktivitas responden (gaya hidup) .1% dan diikuti sikap setuju yakni 38. Dan tabel 19.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika.5%. namun komunikasi bermedia melalui telepon seluler juga dapat membantu memecahkan masalah kehidupan sosial (lingkungan keluarga. serta yang ragu-ragu dan kurang setuju masing-masing sebesar 7. 24 .8%.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Medan Dari tabel 18. Dalam melepaskan persoalan sehari-hari yang dapat menimbulkan ketegangan (stress) melalui telepon seluler responden dapat menghubungi seseorang yang dianggap dapat memberikan jalan keluar jikalau untuk menjumpai seseorang secara langsung tidak memungkinkan. Walau komunikasi tatap langsung lebih memberi makna dan pengaruh yang lebih besar.

sebesar 35. Tabel 28. Untuk itu responden yang menyatakan setuju sebesar 46.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. serta diikuti sebesar 9. Tabel 26. Alasan pernyataan ini karena adanya telepon seluler akan membuka isolasi informasi sehingga dapat membuka cakrawala ide atau untuk berkreasi dari potensi yang ada.2% serta responden yang merasa ragu-ragu sebesar 13%. Penilaian responden terhadap keberadaan telepon seluler telah membantu meningkatkan perekonomian masyarakat adalah sebagai berikut.1% responden yang merasa ragu-ragu.2%.2% menyatakan setuju dan sebesar 24. Dalam membantu masyarakat melancarkan/meningkatkan kerja sama usaha dengan pihak lain. Tabel 24. Dan tabel 25.Relasional dengan pihak lain Tabel 25. Untuk mendapatkan informasi tentang dunia usaha/kegiatan dengan pihak lain.3% responden menyatakan sangat setuju dan yang setuju sebesar 35. Namun sebesar 18. Terjalinnya hubungan dengan orang lain akan membantu untuk melancarkan/meningkatkan kerjasama usaha/kegiatan dengan pihak lain (relasional).1% menyatakan sangat setuju. untuk peryataan ini sebesar 53. untuk ini sebesar 46.Tingkatkan ekonomi masyarakat Tabel 26.1% dan untuk sangat setuju sebesar 35. 1 . Tabel 27. Meningkatkan kerjasama usaha Tabel 27.Informasi aktifitas Tabel 24.7% responden menyatakan sangat setuju dan 29. tentu saja dengan adanya teknologi ini sangat memungkinkan seseorang dapat mengubungi orang lain di tempat yang jauh dan ini sangat efektif jika kalau harus menjumpainya secara langsung.6% menyatakan setuju. diakui responden dengan menyatakan setuju yakni sebesar 48.5% menyatakan kurang setuju. Keberadaan telepon seluler sudah membantu menjalin kerja sama usaha dengan pihak lain.Informasi dunia usaha 25 .3% responden yang merasa ragu-ragu. Namun terdapat sebesar 11. Medan Tabel 23. telepon seluler bagi masyarakat desa telah sangat membantu.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika.2% .3% dan sangat setuju sebesar 35.

JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. 1 - April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika, Medan

Tabel 28, Hampir sama dengan tabel sebelumnya, hal ini lebih pada tingkat awal adanya penggunaan telepon seluler bagi masyarakat Desa Pertumbukan. Dalam pengembangan jaringan tentu akan membawa dampak-dampak positif yang diharapkan si pengguna. Untuk ha ini responden yang menyatakan setuju sebesar 48,1% dan sangat setuju sebesar 33,3 %, serta terdapat juga responden yang merasa ragu-ragu untuk pernyataan ini yakni sebesar 14,8%. Penggunaan Telepon seluler Penggunaan telepon seluler bagi responden dalam penelitian ini akan meliputi diantaranya pengalaman responden dalam pengalaman dan penggunaan telepon seluler, biaya pembelian pulsa dan sebagainya. Untuk lebih lanjut dapat disimak dibawah ini yang tersaji dalam bentuk tabel.
Tabel 29. Penggunaan telepon seluler Tabel 30. Sistem Ponsel yang Digunakan

Tabel 29, Melihat pengalaman responden tentang menggunakan atau memiliki telepon seluler dapat dilihat pada tabel diatas yakni sebesar 33,3% telah memiliki atau menggunakan telepon seluler kurang dari 1 tahun, kemudian terdapat sebesar 18,5% sudah 4 tahun serta untuk sudah 2 atau 3 masing-masing sebesar 16,7%. Tabel 30, Penggunaan jenis telepon seluler bagi responden hampir mayoritas menggunakan jenis GSM yakni sebesar 96,3% dan hanya 3,7% yang menggunakan jenis CDMA. Hampir mayoritas penggunaan jenis GSM disebabkan ketersediaan sarana dan prasarana di lokasi penelitian lebih memadai, kuatnya penerimaan sinyal ataupun varian telepon seluler untuk jenis ini lebih banyak dan lebih murah, terutama harga bekas.
Tabel 31. Alasan menggunakan Ponsel Tabel 32. Percakapan melalui Ponsel perhari

Tabel 31,Untuk mengetahui faktor-faktor yang mendorong responden untuk menggunakan telepon seluler adalah alasan mencari informasi merupakan faktor yang terbesar dipilih responden yakni sebesar 72,2%, kemudian untuk menambah pengetahuan diakui responden 26

JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. 1 - April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika, Medan

sebesar 13% seta diikuti alasan untuk mengawasi lingkungan/ pengawasan sosial yakni sebesar 5,6%. Tabel 32, Total lamanya melakukan percakapan melalui telepon seluler dalam sehari responden yang terbanyak melakukannya adalah antara 15-30 menit yakni sebesar 38,9%, kemudian dibawah 15 menit yakni sebesar 37% serta diikuti lebih dari 60 menit yakni sebesar 13%.
Tabel 33.Penggunaan SMS Dalam sehari Tabel 34. Kualitas suara

Tabel 33, Salah satu fasilitas fitur yang dimiliki telepon seluler dalam berkomunikasi secara tulisan adalah sms, fitur ini digunakan untuk mengirim pesan-pesan singkat. Responden menggunakan fitur ini sebanyak kurang dari 5 kali yakni sebesar 40,7%, kemudian 5-10 kali sebanyak 38,9%, serta diikuti yang menggunakan sebanyak 10-15 kali dalam sehari yakni sebesar 11,1%. Tabel, 34, Penilaian responden tentang kualitas suara yang didengar percakapan melalui telepon seluler dinilai jelas yakni sebesar 59,3%, kemudian dirasakan sangat jelas yakni sebesar 33,3%, serta diikuti sebesar 5,6% untuk peryataan ragu-ragu.
Tabel 35. Biaya percakapan melalui Ponsel Tabel 36. Biaya SMS

Tabel 35, Mengenai biaya percakapan melalui telepon seluler diakui responden sebesar 37% adalah mahal, namun peryataan yang bertolak belakang diakui responden yang menyatakan biaya percakapan melalui telepon seluler dianggap murah yakni sebesar 35,2% hal ini diakui responden bila menimbang jarak dan waktu yang harus dihabiskan bila akan menemui seseorang di suatu tempat yang jauh. Dan yang terakhir diakui sangat mahal oleh responden yakni sebesar 18,5%. Tabel 36, Penilaian mengenai biaya penggunaan sms, diakui responden sangat murah yakni sebesar 66,7%, kemudian terdapat sebesar 14,8% yang menyatakan mahal, kemudian sebesar 11,1% merasa ragu-ragu untuk memberikan pernyataan.
Tabel 37. Biaya pembelian pulsa perbulan Tabel 38. Kesesuaian Biaya dengan Percakapan

27

JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. 1 - April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika, Medan

Tabel 37, Biaya pembelian pulsa yang dikeluarkan oleh responden rata-rata selama sebulan yang terbanyak adalah sekitar Rp. 50.000,- s/d Rp. 100.000,- (35,2%), kemudian kurang dari Rp. 50.000,- (25,9%), serta diikuti pembelian lebih dari Rp. 200.000,- (14,8%). Tabel 38, Pendapat responden mengenai perbandingan biaya percakapan dengan waktu percakapan dinyatakan sebagian besar oleh responden tidak sebanding yakni sebesar 51,9% dan yang menyatakan sebanding sebesar 48,1%.
Tabel 39. Faktor penyebab ketidakseimbangan Tabel 40. Perkembangan Pengguna Ponsel di desa

Tabel 39, Faktor penyebab ketidakseimbangan diasumsikan responden karena biaya percakapan terlalu tinggi (biaya talk time dianggap mahal) yakni dirasakan oleh responden sebesar 44,4%, kemudian tingkat ekonomi masyarakat masih rendah diasumsikan 22,2% oleh responden. Kemudian faktor penyebab lainnya sebesar 18,5%, diantaranya adalah responden merasa khawatir kehabisan pulsa. Tabel 40, Melihat perkembangan pengguna telepon seluler diakui responden untuk di daerahnya tergolong maju (51,9%), kemudian dianggap sangat maju (44,4%), namun terdapat penilaian responden yang ragu-ragu dan kurang maju terhadap perkembangan pengguna telepon seluler di desanya yakni masing-masing sebesar 1,9%. Sikap Terhadap Kehadiran Telepon seluler Sikap ataupun pendapat responden dalam penelitian ini adalah meliputi beberapa kriteria tentang seputar kehadiran teknologi komunikasi dan informasi khususnya telepon seluler yang akan disajikan dalam bentuk tabel dapat diperhatikan dibawah ini. Tabel 41. Membantu kesejahteraan masyarakat desa

Tabel 41, Kehadiran telepon seluler walau secara tidak langsung telah memberikan bantuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, hal ini diakui responden yakni sebesar 57,4% dan yang menolak pernyataan tersebut sebesar 42,6%.

28

peternakan) yakni sebesar 7. Pengalaman Peningkatan Yang Dialami Tabel 42 Peningkatan kesejahteraan yang dirasakan menurut responden adalah Peningkatan kualitas pengetahuan. Medan Tabel 42.3%.1 % menyatakan Sangat membantu hubungan komunikasi dgn keluarga. kemudian Telepon seluler hanya menjadi gaya hidup hal ini diakui responden sebesar 7. Mengenai dampak yang dirasakan responden dengan hadirnya telepon seluler menyebabkan pengeluaran semakin bertambah yakni diakui sebesar 33.2% . Dampak Negatif Telepon seluler Dari Tabel 43. Dari pertanyaan terbuka yang dijaring oleh peneliti mengenai pendapat masyarakat tentang kehadiran Telepon seluler di Desa Pertumbukan.4%. Tabel 43. teman dan pekerjaan tanpa terkendala jarak.9% dirasakan responden. 1 . Kemudian memudahkan untuk mencari 29 .April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. kemudian Peningkatan ekonomi/kesejahteraan masyarakat sebesar 9. Tabel 44.3% dan diikuti Peningkatan Potensi SDA (pertanian. dirasakan respo nden yakni sebesar 61. pendidikan dan SDM Masyarakat yakni sebesar 35.4%. Pendapat masyarakat Desa adanya Telepon seluler Untuk tabel 44. Kemudian dampak lainnya yakni mayarakat menjadi konsumtif yakni sebesar 1.

merupakan upaya melepaskan diri dari rutinitas dan masalah. serta dapat mengetahui atau menambah wawasan tentang keadaan/kehidupan di tempat lain (11. Kemudian faktor utama yang mendasari penggunaan telepon seluler diakui oleh responden adalah untuk mencari informasi.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. penguatan nilai. Masyarakat desa merasa dengan penggunaan telepon seluler ini sesuai dengan harapan dan kebutuhan. Pola penggunaan telepon seluler bagi masyarakat yakni cenderung menggunakan SMS karena biayanya relatif murah bila dibanding jika melakukan percakapan melalui telepon seluler. mengisi waktu luang serta mencari persahabatan yang lebih luas. 1 . Namun tidak untuk melarikan atau melepaskan diri dari persoalan kehidupan dan kesulitan hidup. terutama harga yang bekas.5%. Jenis telepon seluler yang familiar dengan responden adalah sistem GSM hal ini disebabkan ketersediaan sarana dan prasarana di lokasi penelitian lebih memadai. Kebutuhan identitas personal (Personal identity). Hasil temuan ini menggambarkan bahwa keberadaan telepon seluler telah membantu masyarakat desa untuk mencari ide/pemikiran untuk berkreasi. dan hal ini menunjang efektivitas dalam komunikasi bermedia. sarana pelepasan emosi.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. menjalin serta meningkatkan kerjasama dengan berbagai pihak baik didalam lingkungan sekitar maupun di luar. tgl 20/2/08). hal ini dirasakan oleh responden yakni sebesar 18. dan menambah wawasan. Pembahasan Masyarakat desa dalam memenuhi kebutuhan informasi termasuk informasi sosial sangat memerlukan hal ini terkait dengan sistem jaringan sosial yang terdapat di sekitar atau diluar lingkungannya yang pada gilirannya dapat memberikan pengetahuan atau menambah pengalaman. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Masyarakat Desa Pertumbukan memerlukan telepon seluler (media komunkasi) untuk memenuhi kebutuhan informasi termasuk informasi sosial bagi hal ini terkait dengan sistem jaringan sosial yang terdapat disekitar atau diluar lingkungannya yang pada gilirannya dapat 30 . kuatnya penerimaan sinyal ataupun varian telepon seluler untuk jenis ini lebih banyak dan lebih murah. Penggunaan telepon seluler dalam memenuhi kebutuhan diversi .1%). eksplorasi realitas. Medan informasi dan menambah pengetahuan/pendidikan. yaitu referensi diri. Penggunaan telepon seluler di Desa Pertumbukan mengalami kemajuan yang sangat pesat. Sikap masyarakat terhadap hadirnya telepon seluler dewasa ini dirasakan telah memberikan kemudahan berkomunikasi. misalnya telepon seluler dijadikan sarana untuk menyimpan photo/video porno. Dalam kegiatan sehari-hari telepon seluler sudah menjadi pelengkap terutama untuk kemudahan untuk berkomunikasi. Namun terdapat hal-hal yang perlu diantisipasi terhadap dampak negatifnya. mencari informasi. tentu saja hal ini tidak baik untuk anak-anak remaja. hingga saat ini jumlah pengguna telepon seluler di desa ini mencapai kira-kira 80% (wawancara dengan Majidul Fahmi. bagi masyarakat desa sangat membantu terutama menimbulkan perasaan senang terkait dengan meningkatkan silaturahmi dengan keluarga dan teman. Poin-poin ini secara tidak langsung diakui akan membantu responden dan masyarakat dapat meningkatkan perekonomiannya.

The Role of Theory in Uses and Gratification Studies. ABI/INFORM Global Muchati. Teori Dan Filsafat Ilmu. Dinamika Komunikasi. Remaja Rosdakarya. 1998. Sage Publications. 2003. PT. dan menambah wawasan bagi masyarakat serta dapat membantu peningkatan perekonomian masyarakat. Jakarta. dan ini sesuai dengan harapan dan kebutuhan mereka. 2005 . PT. More than just talk on the move: Uses and gratifications of the cellular phone. RajaGrafindo Persada.Citra Aditya Bakti. menjalin serta meningkatkan kerjasama dengan berbagai pihak baik didalam lingkungan sekitar maupun di luar dan secara tidak langsung diakui dapat membantu masyarakat untuk meningkatkan perekonomiannya. Bagi masyarakat dihimbau untuk menggunakan media telepon seluler secara bijaksana dan memberikan manfaat yang positif. Pine Forge Perss. Keberadaan telepon seluler telah membantu masyarakat Desa Pertumbukan untuk mencari ide/pemikiran untuk berkreasi. PT.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. DAFTAR PUSTAKA Blumler. London.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. mencari informasi. Jakarta. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Media Massa dan Penerimaan Khalayak. 1 . Sage Publication. Sage Publication.. 2000.G. PT. 1994. Efenddy. III. Bandung. dan bagi masyarakat Desa Pertumbukan karena menimbulkan perasaan senang terkait dengan meningkatnya hubungan silaturahmi dengan keluarga dan teman. Fidler. Ilmu. Bandung. Pola penggunaan telepon seluler bagi masyarakat yakni cenderung menggunakan SMS karena biayanya relatif murah bila dibanding jika melakukan percakapan melalui telepon seluler. Remaja Rosda Karya. RajaGrafindo Persada. Mediamorfosis: Understanding New Media. Media Gratification Research. 1993. Summer. 1991. Bandung. & Elihu Katz. dan menambah wawasan. PT. Keberadaan telepon seluler dapat dijadikan salah satu upaya melepaskan diri dari rutinitas dan masalah. Thousand Oaks. Ilmu Komunikasi Teori Dan Praktek. 1972. Palmgreen. ___________. Louis dan Ran Wei.Onong Uchjana. dan hal ini menunjang efektivitas dalam komunikasi bermedia. Jakarta. Sistem Komunikasi Indonesia. Roger. 2007. Dalam kegiatan sehari-hari telepon seluler sudah menjadi pelengkap terutama untuk kemudahan untuk berkomunikasi. London. London. Pengantar Komunikasi Massa. Kencana. sebaiknya pemerintah dan pihak operator seluler memberikan kemudahan dengan membuat regulasi untuk menurunkan biaya operasionalnya. vol. ____________. 1997. Philip. Saran Telepon seluler salah satu media komunikasi yang sangat pesat perkembangannya dan populer telah memberikan kemudahan dalam berkomunikasi. ____________. Leung. Namun terdapat hal-hal yang perlu diantisipasi terhadap dampak negatifnya. Kehadiran telepon seluler telah memberikan kemudahan berkomunikasi. Bandung. Jay. Blumler. 31 . 2000. California . Nurudin. Remaja Rosda Karya. 2006. Kriyantono. mengisi waktu luang serta mencari persahabatan yang lebih luas. Journalism and Mass Communication Quarterly. The Uses of Mass Communications Current Perspectives on Gratification Research. Medan memberikan pengetahuan atau menambah pengalaman. mencari informasi. Jay G. Rachmat. PT. sarana pelepasan emosi.

centrin. Komunikasi. Winarno. Medan Palmgreen. http://komunikasimassaumy. Surakhmad.diakses tgl 11/4/08 32 . Pengantar Penelitian Ilmiah. http://www. Umar. 2001.un.htm . 2005. Jr. LP3ES Printing.com/kompas -cetak/0405/05/telkom/1002910.diakses tgl 8/02/08. 1998. Severin. 2004. Tankard.diakses tgl 2/02/08 . Tarsito. 2001. Metode Penelitian Komunikasi.html.kompas. James W.Hilda . 2008. Jakarta. Pawit M.uky. http://bdg.. 2000.com/hild4. Yusup. The Models of Uses and Gratifications. Turner.com/lihat_opini. Sage Publication. Metode Riset Komunikasi Organisasi.com/cetak/2005 /0105/20/cakrawala/ lainnya01.. Metode Penelitian Survey. http://www. diakses tgl 31/3/08 Saprudin. Teori Komunikasi : Sejarah. Rakhmat. Wenner. Jakarta. Wiryanto. Rosengren. 2005.id/~pawitmy/ -diakses tgl 26/3/08 ____________. Junaedi.wikipedia. West.php? pg=2007/10/ 27102007/65568 . dan beberapa contoh Aplikasi Teori Komunikasi Massa Kontekstual. ___________. Singarimbun. Teori Komunikasi Massa Terhadap Individu.edu/~drlane/capstone/ contexts. http://data. Dampak Penggunaan Telepon Seluler (Handphone). 2000. hildadamayanti@yahoo. Dan Terapan di Dalam Media Massa.Wawan. Sumber-Sumber Informasi.blogspot.diakses tgl 2/03/08. net.htm . Lain-Lain Damayanti.majalahindonesia. 2002. 1 .htm. Edisi Revisi. W.org/ diakases tgl 12/5/08 http://www.org/wiki/Telepon _genggam. London . diakses tgl 18/1/08. PT. Gramedia Pustaka Utama. http://id. Jalaluddin. 1991. Husein. Grasindo. Psikologi Komunikasi. Communication Contexts. Bandung . Masri. Jakarta. Prenada Media. PT.wordpress.htm. Jakarta.2003. 2007.J. Remaja Rosdakarya.pikiranrakyat.. 2005. Remaja RosdaKarya. Bandung. Salemba Humanika.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika.pintunet. Media. diakses tgl 26/8/07 http://www. Metode.com . Richard dan Lynn H.com/2005/11/teori-komunikasi-massa-terhadap. Karl. Edisi Kelima.diakses tgl 2/02/08.com/ divakar_goswami. Fajar. Teori Komunikasi Massa. Jakarta. PT. Bandung. Pengantar Teori Komunikasi: Analisis dan Aplikasi. Dasar Metoda Teknik.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. http://www. Erik.

Pada era Pasca Reformasi. This Research require to be conducted because pursuant to perception of writer of existence of this radio is in the reality woke up by community merchant of Lease of Horas Pematang Siantar. serta Undang-undang Penyiaran No. yang selama era orde baru proses ini belum berlangsung optimal. serta 56 lembaga penyiaran TV Swasta lokal yang tersebar di berbagai daerah. Latar Belakang Masalah Perkembangan media massa di Indonesia mengalami kemajuan pesat sejak terjadinya perubahan kebijakan tentang Sistem Penyiaran di Indonesia. Keadaan ini berdampak munculnya media massa baik cetak maupun elektronik. menyadarkan bahkan menggerakkan masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Motivation version with existence of radio of community get easiness in life of them. 10 lembaga penyiaran TV Swasta dengan jangkauan nasional. fund and readiness of researcher to check all community merchant of Market of Horas Pematang Siantar. Proses demokratisasi yang sedang berlangsung didukung oleh semangat otonomi daerah. Dalam proses demokratisasi inilah peran media massa sangat diperlukan untuk memotivasi. Medan Potensi Radio Komunitas Epiginosko Terhadap Pembangunan Masyarakat Pedagang Pasar Horas Kota Pematang Siantar Sumatera Utara Oleh : Parulian Sitompul 3 Abstract The topic of research in this article is ´Potency Community Radio of Epiginosko to Development Society Merchant of Pasar Horas in Pematang Siantar City´. As for problems to this research is how potencial Radio of Epiginosko to develop society merchant of Pasar Horas in Pematang Siantar City.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. 33 . Saat ini tercatat ada 1 lembaga penyiaran publik dengan jangkauan nasional yaitu TVRI. 1 . Demikian juga halnya dengan hadirnya TV. Key words: Community radio. Desire of the merchant community develop. But because limitation of time. yang memberi peluang bagi daerah untuk menciptakan sumber pendapatan send iri. development.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Demikian juga dengan radio swasta yang tergabung dalam PRSSNI ada sekitar 84 radio swasta siaran berdiri di Provsu (PRSSNI 2006). build that community radio is expected will be able to give respective information contribution with community dynamics merchant Lease of Horas. 32/2002 yang memberi peluang bagi tumbuhnya stasiun 3 Penulis adalah Peneliti Muda bidang Komunikasi Sosial pada BBPPKI Medan. Radio Swasta Nasional. hence as research method which was used in this research was research survey by approach descriptive. hence taken some of pupulation become research sample with amount 10% from totalizing population become 54 responders. To facilitate and more directional in executing of this research. Pasca Reformasi juga menimbulkan iklim yang kondusif lahirnya proses demokratisasi . Identity motivation of personal with existence of community radio and also push community to get opportunities of hero/ commerce in Pasar Horas Pematang Siantar. Perubahan yang terjadi seiring dengan perubahan kebijakan politik yang terjadi Pasca Reformasi ( setelah tahun 1998 ). As for becoming population of this research are 540 community Mrchant of Market in Pematang Siantar. society of Pasar Horas A. As for result of from this research is seen from cognate motivation aspect very agree with existence of community radio of Epiginosko. regulasi tentang pendirian media massa mengalami kemudahan.

1 . serta lembaga penyiaran komunitas ( TV / Radio Komunitas ) memberi kesempatan bagi pengelola media massa untuk berperan secara optimal membangun daerahnya. perdagangan dan industri kecil perlu dilakukan promosi melalui Radio Komunitas agar dapat menarik minat investor lokal maupun luar negeri untuk menanamkan investasinya di Kota Pematang Siantar. Potensi-potensi dalam bidang pariwisata peternakan. Pembatasan Masalah Adapun pembatasan masalah dalam penelitian ini adalah : 1. Potensi daerah di Kota Pematang Siantar di sektor pariwisata. Kehadiran Radio Komunitas dapat memberi kemudahan bagi masyarakat di Kota Pematang Siantar untuk mendapatkan informasi perdangan dengan biaya yang terjangkau dan kualitas siaran yang baik . Bagaimanakah motivasi Pedagang Pasar Horas di Kota Pematang Siantar mendengarkan Radio Komunitas Epiginosko untuk mendapatkan informasi daerah? 2. Medan televisi swasta berbasis daerah. Kehadiran lembaga penyiaran komunitas (TV dan Radio Komunitas) dapat memberi kontribusi yang sangat berarti bagi suatu daerah. Dengan potensi daerah yang dimiliki. penulis menganggap perlu dilakukannya suatu penelitian untuk mengetahui bagaimana sebenarnya bagaimakah Potensi Rad Komunitas io Epiginosko Terhadap Pembangunan Masyarakat Pedagang Pasar Horas di Kota Pematang Siantar B. Kapankah Waktu dan bagaimanakah frekuen masyarakat Pedagang Pasar Horas di si Kota Pematang Siantar mendengarkan Radio Komunitas Epiginosko? 4. Berdasarkan permasalahan inilah.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Apakah jenis informasi daerah yang didengar masyarakat Pedagang Pasar Horas di Kota Pematang Siantar dari Radio Komunitas Epiginosko ? 3. Dasar pertimbangan yang lebih spesifik dapat dikemukakan sebagai berikut : 1. perdagangan. peternakan. 2. Sektor pariwisata. maka peneliti dapat merumuskan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut. Perumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang penelitian di atas. lembaga penyiaran publik lokal ( TV/Radio Publik Lokal ). optimalisasi fungsi lembaga penyiaran Radio Komunitas dapat mewujudkan tingkat kesejahteraan masyarakat yang lebih tinggi dari kondisi sekarang. terutama sebagai sarana untuk mensosialisasikan kebijakan Pemerintah Daerah di tingkat Lokal dan sebagai sarana mempromosikan potensi daerah. sehingga dapat berdampak kepada peningkatan pemasukan pendapatan daerah tersebut. bagaimakah Potensi Radio Komunitas Epiginosko Terhadap Pembangunan Masyarakat Pedagang Pasar Horas di Kota Pematang Siantar. Adapun permasalahan khusus dalam penelitian ini adalah : 1. Kota Pematang Siantar merupakan wilayah yang sangat potensial di Propinsi Sumatera Utara. dan industri kecil perlu dioptimalkan melalui kemasan program siaran yang mengedepankan upaya-upaya agar masyarakat bersedia berpartisipasi meningkatkan potensi daerahnya. Dimanakah lokasi masyarakat Pedagang Pasar Horas di Kota Pematang Siantar biasanya mendengarkan Radio Komunitas Epiginosko ? C.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. umum tentang 34 . 3. perdagangan dan peternakan merupakan potensi yang dapat dioptimalkan agar dapat meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD ). Siaran Radio Komunitas baik yang berbentuk berita maupun informasi potensi daerah Kota Pematang Siantar.

Karena komunikator pada komunikasi massa bertindak atas nama lembaga. Ia tidak mempunyai kebebasan sebagai individu. Siantar. Dibanding dengan jenis-jenis komunikasi lainnya. Seperti yang dikemukakan Melezke (1963) yang dikutip oleh Rakhmat. 5. satu sama lain tidak saling mengenal dan tidak melakukan kontak pribadi. Uraian Teoritis Penelitian ini membahas tentang bagaimana masyarakat mendapatkan informasi daerah melalui Radio Komunitas. 4. Komunikasi massa berlangsung satu arah. Sebagai bahan masukan bagi pemerintah Kota P. Mengetahui Lokasi masyarakat Pedagang Pasar Horas biasanya mendengarkan Radio Komunitas Epiginosko di Kota Pematang Siantar. agama. komunikator tidak mengetahui tanggapan khalayak (komunikan) terhadap pesan yang disampaikan. Daerah penelitian ini adalah di Kota Pematang Siantar 3. 3. komunikasi massa mempunyai ciriciri (dikutip dari Effendi (1993:22-26) adalah : 1. Sebagai bahan masukan bagi pengelola managemen radio komunitas epiginosko dalam upaya peningkatan dan pengembangannya. Siantar agar dapat mendorong dalam pengembangan radio komunikator di P. Medan 2. Pesan pada komunikasi massa bersifat umum. Komunikan pada komunikasi massa bersifat heterogen. Komunikator pada komunikasi massa merupakan lembaga. 4. Sebagai bahan masukan bagi pemerintah pusat Departemen Komunikasi dan Informatika dalam pembuatan kebijakan yang berkaitan dengan pengembangan radio komunikator. 2. Dengan kata lain. Adapun manfaat dari penelitian ini adalah : 1. Dalam hal ini tidak terdapat arus balik dari komunikan kepada komunmikator. Tujuan dan Manfaat Penelitian Adapun tujuan dari penelitian ini adalah : 1. bukan kepada perseorangan atau kelompok tertentu. 2. Mengetahui Jenis informasi daerah yang didengar masyarakat Pedagang Pasar Horas Kota Pematang Siantar dari Radio Komunitas. Maksudnya pesan ditujukan kepada umum. Keberadaannya terpencar. 2. pendidikan. Media komunikasi massa menimbulkan keserempakan.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Epiginosko 3. Mengetahui motivasi masyarakat Pedagang Pasar Horas di Kota Pematang Siantar mendengarkan Radio Komunitas Epiginosko untuk mendapatkan informasi daerah .JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. pengalaman dan sebagainya. maka ia bertinndak sesuai dengan kebijaksanaan ( policy) media yang memilikinya. 3. Mengetahui waktu mendengarkan Radio Komunitas Epiginosko masyarakat Pedagang Pasar Horas Kota Pematang Siantar . 1981 mengartikan komunikasi massa sebagai setiap bentuk komunikasi yang menyampaikan pernyataan secara terbuka melalui media penyebaran teknis secara tidak langsung dan satu arah pada publik yang tersebar. 1 . 35 . yakni satu institusi atau organisasi. Artinya khalayak menerima secara serempak (simultan ) pesan yang disampaikan melalui media massa. E. pekerjaan. Artinya komunikan atau khalayak merupakan masyarakat yang heterogen. kebudayaan. Responden penelitian ini adalah masyarakat Pedagang Pasar Horas Kota Pematang Siantar D. Mengadopsi kepada karakteristik media massa maka keberadaan Radio Komunitas dapat dijelaskan fungsi dan peranannya dalam kerangka teoritis mengenai komunikasi massa. masing-masing berbeda latar belakang sosialnya seperti usia.

Frekuensi .Kognitif . Gurevitch membuat tipologi kebutuhan manusia yang berhubungan dengan penggunaan media yang meliputi : 1. Model Mass Media Uses and Gratifications menurut para pendirinya menyatakan bahwa awal kebutuhan secara psikologis dan sosial individu menimbulkan harapan tertentu kepada media massa atau sumber lain. Variabel Lingkungan juga masih merupakan bagian dari Variabel Anteseden yang biasanya terdiri dari lingkungan sosial. tingkat pendidikan dan tingkat pendapatan. afiliasi kelompok.Ketergantungan .Waktu . 1 . Blumler. Dimana Lokasi masyarakat Pedagang Pasar Horas di Kota Pematang Siantar biasanya mendengarkan Radio Komunitas Epiginosko ? Anteseden Media Variabel Individual Identitas Motif Penggunaan Efek . Medan Komunikasi massa menyiarkan informasi. Melalui sumber lain . kebutuhan dapat terpenuhi melalui hubungan dengan keluarga. Apakah Jenis informasi daerah yang didengar masyarakat Pedagang Pasar Horas di Kota Pematang Siantar dari Radio Komunitas Epiginosko ? 3. Dalam penelitian ini.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.Kepuasan . Kebutuhan Integratif Sosial 5. Kebutuhan melalui media massa dapat dipenuhi dengan membaca surat kabar dan majalah. model Mass 36 . Blumler. Kebutuhan Integratif Pesan 4. jenis kelamin. ( Katz. Bagaimanakah motivasi masyarakat Pedagang Pasar Horas di Kota Pematang Siantar mendengarkan Radio Komunitas Epiginosko untuk mendapatkan informasi daerah ? 2. Kebutuhan Kognitif 2.Diversi . Kerangka teoritis yang digunakan dalam penelitian ini memang memodifikasi efek media massa terhadap sikap individu. teman. Kapankah Waktu masyarakat Pedagang Pasar Horas di Kota Pematang Siantar mendengarkan Radio Komunitas Epiginosko ? 4.Jenis Isi Variabel Lingkungan Sumber : Jalaluddin Rahmat. Dalam pembahasan dan kerangka teoritis. Kerangka teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah model Mass Media Uses and Gratifications . Penelitian ini akan mendeskripsikan tentang: 1. gagasan dan sikap kepada komunikan yang beragam dalam jumlah yang banyak menggunakan media. Gurevitch.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. komunikasi interpersonal. organisasi dan lain sebagainya. Dalam penelitian ini tidak semua komponen yang ada dalam model Mass Media Uses and Gratifications diteliti.Pengetahuan Personal .Isi . Kebutuhan Afektif 3. Masyarakat dalam model penelitian ini memiliki kebutuhan dan motif beraneka ragam berdasarkan karakteristik sosialnya. media massa di sini dimaknai sebagai Radio Komunitas Epiginosko. mendengarkan radio serta menonton televisi. Katz. 1985 Model ini dimulai dengan Variabel Anteseden yang terdiri dari Variabel Individual yaitu antara lain usia. maupun mengisi waktu luang dengan berbagai cara. 1974 : 19 ± 32). Kebutuhan akan pelarian Kebutuhan tersebut dapat dipenuhi dan dipuaskan melalui media massa dan sumber lain .

instink. disebut tiga dimensi efek komunikasi massa. Dengan kata lain. dan motif ( Rakhmat. 1984). 1984:178 ) Dari pendapat di atas. Keduanya tidak mampu menjelaskan aspek eksistensi manusia yang positif dan membangun seperti cinta. Pertama. Motif merupakan salah satu faktor pembentuk prilaku seseorang dalam menanggapi sesuatu. motivasi merupakan proses psikologis yang mencerminkan interaksi antara sikap. Pendekatan tersebut. Kedua pandangan yang tadi disebutkan tidak menghormati manusia sebagai manusia. Berkaitan dengan prilaku manusia. sedang (3) efek konatif erat hubungannya dengan niat dan kecenderungan berperilaku menurut cara tertentu. motivasi berasal dari bahasa Latin yaitu ´motivas´ yang berarti alasan dasar . perasaan. Tidak seperti pandangan Psikoanalisis yang cenderung menganggap manusia hanya dipengaruhi oleh naluri hewaninya dan Behaviorisme yang melihat manusia sebagai robot tanpa jiwa dan nilai. Konsep manusia yang dibahas dalam penelitian ini adalah konsepsi Psikologi Humanistik yang melihat manusia sebagai manusia seutuhnya. Teori belajar sosial dari Bandura (1977). 37 . mengungkapkan bahwa komponen kognitif dan afektif banyak dipengaruhi oleh media komunikasi seperti film. kebutuhan. nilai . mengemukakan tiga pendekatan untuk melihat efek media massa. 2001 : 30 ). Mar¶at (1981:124). 2001:33). sikap. Kedua. yaitu : (1) efek kognitif yang meliputi peningkatan kesadaran. (2) efek afektif yang berhubungan dengan emosi. menurut Gonzales (1978. Medan Media Uses and Gratifications diadaptasi untuk meneliti hubungan antara motif masyarakat dengan penggunaan radio. meninjau satuan observasi yang dikenai efek media massa. pendekatan dengan melihat jenis perubahan yang terjadi pada khalayak. Manusia memiliki faktor-faktor personal (internal) antara lain sikap. dan pertumbuhan pribadi (Rakhmat. motif merupakan deskripsi verbal yang memberikan gambaran. menjelaskan efek prososial dari media massa itu sendiri. sistem kognitif. Ketika membicarakan motif. radio. dan kebutuhannya (need). dan televisi. 1 . kreativitas.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.Dougall mengemukakan faktor-faktor personal yang menentukan prilaku manusia. surat kabar. afeksi. dorongan bagi seseorang untuk berbuat atau ide pokok yang selalu berpengaruh terhadap tingkah laku manusia ( Kartono. kepribadian. perubahan perasaan atau sikap dan perubahan perilaku (perubahan kognisi. 1988 : 153). 1988:17). pendekatan yang berkaitan dengan pesan media massa. pikiran dasar. dalam pertumbuhannya manusia memerlukan orang lain. Seperti penerimaan informasi.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. hidup manusia lebih bermakna ketika manusia itu melibatkan nilainilai dan pilihan yang membangun . harapan. penjelasan atau dasar kebenaran tingkah laku yang telah dilakukan (Turner. Sedangkan menurut Wahyusumidjo. Motif merupakan daya yang timbul dari dalam diri yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. William Mc. dalam Jahi. Dan ketiga. Manusia adalah pencari makna. Menurut tafsiran sosiologis Max Webber . mempertahankan dan pengaktualisasian diri. persepsi dan keputusan pada seseorang yang timbul karena adanya faktor intrinsik dan ekstrinsik (Wahyusumidjo . Chaffe (1980) dalam Rakhmat (1985:215-217). Menurut Carl Rogers dalam konsepsi Humanistik ini. makna. Secara Etimologis. dan behavioral). dijelaskan lebih lanjut bahwa faktor intrinsik dalam diri manusia dapat timbul berdasarkan kepribadian. manusia mempunyai prilaku meningkatkan. belajar dan tambahan pengetahuan. Kebutuhan inilah yang menimbulkan motif. dan sikap. peneliti perlu mengawali dengan meletakkan konsepsi manusia karena yang diteliti adalah motif manusia.

Appeals (imbauan) pesan mengacu pada motif-motif psikologis yang dikandung pesan (rasional.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. familiaritas dan kesukaan. Daya tarik ukur dari kesamaan. Kekuasaan dioperasionalkan dengan tanggapan komunikan tentang kemampuan komunikator untuk memberikan ganjaran. Menurut Cultip dan Center dalam Susanto (1982:138) mengatakan bahwa pesan yang efektif adalah pesan yang memiliki 7 C yaitu : 1. Capability adalah faktor yang terakhir dalam penelitian pesan untuk disebarkan kepada komunikan. pola urutan argumentasi dan pola objektifitas. Context yaitu faktor yang menghubungkan isi pesan dengan keadaan lingkungan yang ada. Consistency adalah ada tidaknya pertentangan / pebedaan dalam bagian -bagian ataukah terdapat suatu pengulangan dengan variasi di dalamnya. Continuity adalah pesan yang bersifat kesinambungan 6. Keahlian diukur dengan sejauhmana komunikan menganggap komunikator mengetahui jawaban yang benar. perbendaharaan kata). menurut Rakhmat (1989:62). keanggotaan kelompok dan proses selektif atau biasa juga disebut faktor personal. Credibility yaitu nilai kepercayaan khalayak atau publik kepada komunikator.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Clarity adalah faktor kesederhanaan dan jelas tidaknya perumusan yang digunakan dalam pesan 5. Prinsipprinsip yang harus dianalisis adalah sebagai berikut : 1. gaya pesan menunjukkan variasi linguistik dalam penyampaian pesan (perulangan. fear appeals ). ketiga faktor itu adalah sebagai berikut : 1. Pertama. imbauan pesan. gaya pesan. Perceived Concern adalah kemampuan komunikator untuk melakukan penelitian/mersa peduli apakah komunikan tunduk kepada pesan. Dalam kata lain Efektifitas sebuah proses komunikasi ditentukan oleh tiga faktor. 3. Kredibilitas terdiri dari dua unsur yaitu keahlian dan kujujuran. 2. 4. reward appeals. 2001: 198) pengaruh Komunikasi Massa ditentukan oleh faktor-faktor predisposisi personal. emosional. 7. Di dalam faktor personal inilah terdapat motif yang memberikan asumsi tertentu bagi orang dalam menanggapi sesuatu. kemampuan untuk meneliti apakah komunikan mengikuti pesan yang disampaikan atau tidak. struktur pesan ditunjukkan dengan pola penyimpulan. mudah dimengerti. Perceived Security adalah kemampuan komunikator untuk memperhatikan/menyelidiki apakah komunikan itu tunduk kepada pesan. 2. 1 . 3. Faktor Komunikator Komunikator dalam model ini harus memiliki kredibilitas. Medan Menurut Yoseph Klapper (Rakhmat. Perceived Control adalah kemampuan komunikator untuk melakukan pengawasan apakah komunikan itu tunduk kepada pesan atau tidak. 38 . Ketiga. Jadi dapat dikatakan motif mempengaruhi seseorang dalam memilih sesuatu termasuk juga dalam memilih media massa dan mengkonsumsi isinya. daya tarik dan kekuasaan. Faktor Pesan Pesan terdiri dari struktur pesan. Sedangkan kejujuran dioperasionalkan dengan persepsi komunikan tentang sejauhmana komunikan tidak memihak dalam penyampaian pesan. 2. Contents yaitu faktor makna dan arti yang tersimpulkan dalam pesan terutama memperhatikan apakah pesan dipahami oleh komunikan. Demikian juga halnya motif menggunakan telepon pedesaan sabagai salah satu sarana berkomunikasi . Kedua.

3 Populasi dan Sampel Adapun populasi dalam penelitian ini adalah komunitas Pedagang Pasar Horas Kota Pematang Siantar. Pengambilan sampel tersebut diambil 10 % jumlah populasi.1 Variabel Anteseden a. F. 263 ) . F.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. 1 .4 Metode Pengumpulan Data a. Metode ini digunakan berdasarkan penjelasan suharsimi arikunto. G. Kerangka Konsep dan Operasionalisasi Variabel Kerangka konsep adalah sebagai hasil pemikiran rasional yang bersifat kritis dalam memperkirakan kemungkinan hasil yang akan dicapai dalam penelitian ( Nawawi. menyebutkan jika jumlah populasi dari 100 orang maka dapat diambil samnpel antara 10 %. karena penelitian ini adalah penelitian survey dengan menyebarkan kuesioner kepada responden yang telah ditentukan. F. Faktor media Media yang diteliti adalah Radio Komunitas dengan asumsi semakin lengkap sarana dan prasarana yang disediakan untuk proses komunikasi maka hasil yang akandiperoleh akan semakin tampak lebih sempurna walaupun kadangkala banyak kendala yang harus dijumpai.2 Lokasi Penelitian Lokasi penelitian ini adalah dilakukan di Kota Pasar Horas Pematang Siantar . Jumlah sampel dalam penelitian sebanyak 54 orang terdiri dari para pedagang di Pasar Horas Kota Pematang Siantar. karena itu harus memerlukan desain riset ( Mayer dan Wood. Tingkat Pendidikan 39 . Metode ini digunakan karena penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research) dengan menyebarkan kuesioner kepada responden terhadap sampel yang telah ditentukan. 2001 : 40 ). Sementara sampel dalam penelitian ini adalah pendengar Radio Komunitas Epiginosko yaitu Pedagang Pasar Horas Kota Pematang Siantar. yang dilakukan dengan cara mempelajari dan mengumpulkan data dari literatur dan bahan bacaan yang ada hubungannya dengan masalah dalam penelitian ini. Merujuk dari kerangka teori di atas yang menghasilkan kerangka konsep kemudian diimplementasikan dalam Operasionalisasi Variabel penelitian ini adalah sebagai berikut : G. Jenis Kelamin c. Penyebaran Kuesioner F. 1984 . Dari data tersebut dianalisa melalui tabel tunggal sebagaimana lazimnya dalam metode deskriptif. F. Usia b. Pengkajian Kepustakaan. Medan 3. 15% hingga 20 %.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. METODOLOGI PENELITIAN F. Kerangka konsep terdiri dari variabel-variabel ( konsep-konsep ) dan hubungan-hubungan yang membentuk konteks kausal dari penyelidikannya. b.1 Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Survey.5 Metode Analisis Data Analisa data dilakukan secara deskriptif.

Ketergantungan H. Ragu-ragu (39%). sosial. Tingkat Penghasilan e.4%). walaupun ada yang mengajukan untuk mencari informasi pekerjaan mereka sebesar (2. Kepuasan c. Setuju (46%). Mencari Informasi Pada umumnya pedagang pajak horas sangat setuju mencari informasi tentang berkaitan dengan pekerjaan sebesar (65%). Identitas Personal (Memperkuat/menonjolkan sesuatu yang penting dalam kehidupan ) G. Radio Epiginosko sebagai Menyatakan sangat setuju (45%). c. Frekuensi penggunaan Isi ( Bahan Pembicaraan) Jenis Isi ( Klasifikasi : ekonomi. Tingkat Penghasilan Mayoritas responden berpenghasilan tiap bulannya dari dari hasil dagangan merekan antara 1.4 Variabel Efek ( Penggunaan Radio ) a. Eksplorasi Realitas ) b. Medan d. ragu (11%).2 Variabel Motif (Penggunaan Radio) a. d.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Tingkat Pendidikan Mayoritas tingkat pendidikan pedagang yang menjadi responden dari penelitian ini adalah yang ditawar Oma (79%). Keikutsertaan Organisasi f. Kebutuhan Hiburan ) c. Setuju (48%). Keberadaan Radio Epiginosko sesuai dengan yang diharapkan dan kebutuhan Radio Epiginosko mendorong menam bah Menyatakan sangat setuju (41%). Pekerjaan G.9 juta sebesar (48%) dan diatas 2 juta (34%). Orientasi Kognitif ( Kebutuhan Informasi.4 juta ± 1. Diversi ( Kebutuhan Pelepasan Dari Tekanan.Ragu - Jenis Kelamin Yang menyatakan sangat setuju (37%). pendidikan ) G. sumber Informasi Kurang Setuju (2. 40 . HASIL PENELITIAN Usia Responden Usia Responden pada penelitian ini adalah mayoritas berkisar diatas 42 x 4 (32%) sementara umur 27 -31 tahun hanya 4 % Jenis kelamin laki-laki ternyata lebidominan (66%) dibandingkan perempuan (35%). b. Ragu-ragu (9%). 1 . politik .JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.4%). Pengawasan Lingkungan Sosial.3 Variabel Penggunaan Media ( Penggunaan Radio ) a. Pengetahuan b. Durasi yang digunakan.

Prosedur Penelitian. Teori-Teori Komunikasi. Jakarta. 4. memberikan kesenangan Radio Epiginosko Yang menyatakan sangat setuju dan setuju (78%) dan mendorong berwira usaha ragu-ragu (22%). Siantar diharapkan dapat mendorong lebih banyak lagi berdiri dikota P. 1990. Yogyakarta. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Kesimpulan 1. Aubrey B. Diterjemahkan Trimo. 1. Siantar mendengarkan radio pada pagi hari dan sampai sore hari masing-masing sebesar 28% dan ada juga pedagang sebesar 26%. kemudian motivasiidentitas personal yaitu dengan mendengarkan radio mendorong dalam pemenuhan syarat untuk berwirausaha. Pada umumnya pedagang Pasar Horas P.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. DeFleur. Pemerintah Pusat dalam hal ini Departemen Komunikasi dan Informatika dapat memberikan pembinaan langsung maupun tidak langsung tentang manajemen pengelolaan radio komunitas secara modren. Siantar. Eduard dan Collin Mac Andrew. New York & London. Pada umumnya perdagangan Pasar Horas sangat setuju mencari informasi yang berkaitan dengan pekerjaan responden. 1 . Suharsimi. Gajah Mada University Press. Pada umumnya pedagang Pasar Horas mendengarkan radio ketika berada di Pasar Horas dan sebagian lagi menyatakan ada yang dirumah. 1986. 2. Remaja Rosdakarya. Motivasi diversi responden mengakui dengan mendengarkan radio komunitas yaitu untuk kebutuhan pelepasan demi tekanan. Depari. Pemerintah Daerah dalam hal pemko P. mendapatkan kesenangan.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Rekomendasi Pengelola/managemen radio efiginosko meningkatkan kualitas materi saran yang diberkaitan dengan aktivitas pedagang pasar horas yang berkaitan dengan nilai nilai keagamaan. kebutuhan mendapatkan hiburan. 41 . Melvin and Ball-Rokeach. Peranan Komunikasi Massa Dalam Pembangunan. Ragu-ragu (24%). Motivasi mendengarkan radio komunitas berdasarkan motivasi kognitif adalah untuk memperoleh informasi mendapatkan pengetahuan. Soedjono. mendapatkan wawaan. I. Penyunting: Jalaluddin Rakhmat. Bina Aksara. Suatu Pendekatan Praktik. Medan pengetahuan dunia usaha Radio Epiginosko sangat dan setuju (81%). mempelajati sesuatu. Theories of Mass Communication. 1982. 2. Fisher. Daftar Pustaka Arikunto. 3. Bandung. 1982.

Uni Primas. Sari. Tokyo: McGraw-Hill International Book Company. S. 1987. Model . Audience Research. --------------------.Womack. Alexis. 2005. Crutchfield. David. 1989. Psikologi Komunikasi. Endang. Fred N. Individual In Society. Mass Communication Theories and Research. Medan Infante A Dominac.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. James W. S. Bandung: Remadja Karya. 1980. Foundation of Behaviour Research.Model Komunikasi. Grid Publishing Inc. 1998. Rakhmat. Remadja Karya. OPINI PUBLIK MENGENAI PERAN MEDIA CETAK LOKAL DALAM PEMBANGUNAN BIDANG PERTANIAN HORTIKULTURA (Survei di Desa Ndokum Siroga dan Desa Surbakti Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Karo)* Oleh : IDAWATI PANDIA** * ** Telah diseminarkan di Siantar Hotel. Ghalia Indonesia. Metode Penelitian. 10 Juli 2008 Penulis adalah Peneliti Pertama Bidang Media Massa Pada BBPPKI Medan 42 . (1989). 1993.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Building Communication Theory. (1991). 1985. Pematang Siantar. Kerlinger. Pendit. Penyunting : Jalaluddin Rakhmat. Teori Komunikasi Massa. 1 . 1962. Metode dan Terapan di Dalam Media Massa. Sejarah. A Texbook of Social Psychology. Metode Penelitian Komunikasi. Pendengar. Krech. Jakarta. Columbus. Alih Bahasa : Putu Laxmant S. International Student Edition. Wright. Jakarta ---------------.dan Pemirsa. Deanna F. Tankard. Metode Penelitian Survai. Pengantar Studi Penelitian Terhadap Pembaca. dan Sofian Effendy (ed). Prenada Media Singarimbun. Bandung. Charles R. Nazir Mohd. Bandung. Ohio. Jr. LP3ES. Richard S. Denis. Bandung. Erlangga. Waveland Press. Remadja Karya. 1993. Sosiologi Komunikasi Massa.Rancer. Andrew. Remadja Karya. New York University McQuail. Teori Komunikasi . Jalaluddin. 1988. Severin Werner J. Secon Edition. Kogakhusa. Masri. Jakarta. Ltd. 1985. Tan. and Ballachey Egerton. Alih Bahasa : Agus Dharma dan Aminuddin Ram. Tgl.

Tanpa keikutsertaan masyarakat. Pilar utama yang ketiga ini ikut pula menentukan keberhasilan pembangunan.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. kuat dan bermartabat. media dan pembangunan tidak dapat dipisahkan dari perkembangannya. sudah tentu pembangunan ini akan menimbulkan dampak yang negatif bagi masyarakat. Kedua. instutusi pers seperti suratkabar dan televisi turut menentukan berhasil tidaknya pembangunan daerah tersebut.Media Lokal Pertanian. Kemudian perlu diingat bahwa media yang sehat tentu saja menjadi mutlak kehadirannya untuk mendorong agar pelaksanaan pembangunan itu juga menjadi sehat. Medan Abstrak Penelitian Opini Publik Mengenai Peran Media Cetak Lokal Dalam Pembangunan Pertanian Hortikultura ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. masyarakat. Pilar utama yang kedua ini juga mempunyai peranan yang sangat menentukan didalam pembangunan daerah. khususnya di Sumatera Utara adalah masalah pembangunan. Ketiga. Keberadaan media massa cetak lokal masih dapat dan sangat diharapkan oleh masyarakat dalam mendorong suksesnya pembangunan pertanian hortikultura. 43 . peran dan kewajiban yang amat menentukan. Pilar utama yang pertama ini mempunyai peranan yang sangat besar dalam menentukan keberhasilan pelaksanaan pembangunan. Peran inilah yang sangat diharapkan masyarakat yang dapat ditangkap dan diisi oleh media massa cetak lokal. Hal ini perlu diperhatikan dengan baik agar pembangunan ini tidak berjalan dengan semaunya saja ataupun sampai kebablasan. seharusnyalah media yang tangkas dan wartawan yang profesional sudah pasti sangat diperlukan karena memainkan fungsi. Ketiga pilar utama dalam gerakan pelaksanaan pembangunan itu adalah sebagai berikut : pertama. Oleh karena itu kebebasan pers yang sehat ( healthy press freedom ) menjadi prasyarat yang mutlak menuju pembangunan yang sehat pula. Kata±kata Kunci : Opini Publik. pers tidak akan berkembang. ternyata masih memanfaatkan media cetak lokal sebagai sumber informasi pembangunan pertanian hortikultura. Hortikultura. Pelaksanaan pembangunan daerah yang demokratis digerakkan oleh tiga pilar utam yang saling berkaitan. Melalui media massa yang ada. sehingga pelaksanaan pembangunan itu dapat berjalan dengan baik. institusi pemerintah daerah. Dengan kata lain. Latar Belakang Masalah Salah satu masalah yang banyak dibicarakan dan masih aktual serta menarik perhatian di Indonesia. Dan sudah barang tentu untuk mensukseskan pembangunan ini diperlukan peranan pers atau peranan media massa dalam menyampaikannya ditengah ± tengah masyarakat. lalu pemerintah daerah akan sulit menentukan arah dan kebijaksanaan pembangunan. Namun ini masih terkendala karena terbatasnya sirkulasi dan keterlambatan media lokal sampai ke masyarakat terutama masyarakat pedesaan. layak dan mempunyai wibawa. 1 . Akibatnya pembangunan daerah pun akan mandeg. Hasil temuan menunjukkan bahwa masyarakat di dua desa yang menjadi lokasi penelitian. Sudah tentu semua kebijakan yang menyangkut pelaksanaan pembangunan daerah berada di institusi pemerintah daerah terutama Bupati dan Walikota. Sebaliknya pembangunan yang sehat sudah jelas sangat membutuhkan kebebasan pers yang sehat pula. Jadi keduanya. apalagi masyarakat petani masih merasakan kurangnya informasi tentang pangsa pasar produk pertanian dan informasi tentang agrobisnis dan budidaya pertanian hortikultura. A. Kalau hal ini sampai terjadi. institusi pers.P opulasi dari penelitian ini adalah masyarakat di dua desa di Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Karo yang membaca media cetak lokal.

potensi wisata dan pertanian yang lebih luas dalam merencanakan dan mengelola sumber daya yang dimiliki dan untuk memberikan fasilitas dan dorongan yang lebih terarah pada perkembangan pembangunan kerakyatan. Medan Salah satu kabupaten yang sangat intens memperhatikan keberlangsungan pembangunan di Sumut adalah Kabupaten Karo. D. Bagaimana pemanfaatan media cetak lokal sebagai sumber informasi pembangunan bidang pertanian hortikultura ? 2. peternakan dan sebagian kecil perikanan darat ( air tawar ). Pemerintah Kabupaten Karo menetapkan salah satu misi pembangunannya yang berbunyi ´ Mengembangkan secara optimal pertanian. 1 . Info Karo. perkebunan. 44 . Apakah kendala yang dihadapi masyarakat tentang media massa cetak lokal dalam mensukseskan pembangunan bidang pertanian hortikultura. sudah sepantasnya Kabupaten Karo memiliki corong yang kuat untuk mensosialisasikan kepada masyarakat melalui media massa. pariwisata. Sebagai bahan masukan berupa data dan informasi bagi pemerintah.sehingga opini publik menjadi sangat penting bagi pemerintah didalam melakukan perencanaan pembangunan. Kabupaten Karo adalah kabupaten yang sangat didominasi oleh sektor pertanian yaitu sub sektor pertanian tanaman pangan dan palawija. sub sektor hortikultura. C.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. dalam hal ini Departemen Komunikasi dan Informatika RI untuk membuat kebijakan dalam bidang komunikasi massa mendatang. Dengan melihat hal tersebut. Manfaat Dan Sasaran penelitian Manfaat Penelitian 1. Untuk mengetahui bagaimana opini publik mengenai peran media massa cetak lokal sebagai sumber informasi pembangunan bidang pertanian hortikultura. Untuk mengetahui kendala yang dihadapi masyarakat tentang media massa cetak lokal dalam mensukseskan pembangunan bidang pertanian hortikultura. Berdasarkan latar belakang permasalahan yang telah dipaparkan diatas dan mengingat bahwa salah satu fungsi pers yaitu sebagai fungsi kontrol. Jumlah rumahtangga yang berusaha disektor ini berkisar antar 70 persen sampai dengan 74 persen ( BPS. 2006. Untuk mengetahui bagaimanakah pemanfaatan media cetak lokal sebagai sumber informasi pembangunan bidang pertanian hortikultura. khususnya di Kabupaten Karo antara lain . 2006. Sora Mido. B. Humas Pemkab Karo.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Kontribusi pertanian yang diberikan Kabupaten Karo pada Propinsi Sumatera Utara persentasenya cukup besar. dan Sirulo ( sumber : Dinas Infokom Karo ). 2. Misi ini tidak akan terwujud secara efektif tanpa fungsi dan peranan pers. industri dan perdagangan berbasis agrobisnis yang berdaya saing dan berwawasan lingkungan dan rehabilitasi lahan yang kritis ( BPS. 10 ). Bagaimanakah opini publik mengenai peran media massa cetak lokal sebagai sumber informasi pembangunan bidang pertanian hortikultura. 10 ). Adapun jenis media cetak lokal yang turut mewarnai dan memberikan informasi bagi masyarakat. Tujuan Penelitian Sebagai tujuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. 3. khususnya yang tersebar pada masyarakat Kabupaten Karo. Majalah Sibayak Pos terbitan Brastagi. Tabloid Karo Membangun. Rumusan Masalah Adapun yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah : 1.maka penulis tertarik dan merasa penting untuk melakukan penelitian bagaimana opini publik mengenai peran media cetak lokal dalam pembangunan bidang pertanian hortikultura ini. 3. Dinas Infokom.

JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. 1 - April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika, Medan

2. Sebagai referensi bagi BBPPKI Medan dan instansi ± instansi yang terkait untuk bahan kajian lanjutan. Sasaran Adapun sasaran dengan dilakukannya penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Secara tidak langsung masyarakat ikut berperan serta dalam mensukseskan pembangunan bidang pertanian hortikultura, ikut memberhasilkan pembangunan daerah yang terrencana dan terarah. 2. Adanya kebebasan pers yang sehat menjadi prasyarat yang mutlak menuju pembangunan bidang pertanian yang sehat pula. 3. Terwujudnya pelaksanaan pembangunan yang berjalan dengan baik, layak dan berwibawa. E. Kerangka Teori Kebutuhan melalui media massa dapat dipenuhi dengan membaca suratkabar. Tabloid dan majalah lokal. Dalam penelitian ini,model Teori Normatif,yaitu Teori Media Pembangunan diadaptasi untuk meneliti bagaimana Opini Publik Mengenai Peran Media Lokal Dalam Pembangunan Bidang Pertanian Hortikultura. Teori Normatif (cabang filsafat sosial) yang lebih berkenan dengan masalah bagaimana seharusnya media berperan bilamana serangkaian nilai sosial ingin diterapkan dan dicapai dengan sifat dasar nilai-nilai sosial tersebut.Jenis teori ini penting karena ia memang berperan dalam membentuk institusi media dan berpengaruh besar dalam menentukan sumbangsih media,sebagaimana yang diharapkan oleh publik media itu sendiri dan organisasi,serta para pelaksana organisasi sosial itu(McQuail,1994:4). Teori media pembangunan adalah penerimaan pembangunan ekonomi itu sendiri (yang karenanya perubahan sosial),dan sering kali ³pemban gunan bangsa´ (nationbuilding)yang bersangkutan,sebagai tujuan utama.Untuk mencapai tujuan tersebut,kebebasan tertentu dari media dan para wartawan tunduk pada tanggung jawab mereka untuk membantu pencapaiannya.Pada saat yang sama,yang ditekankan adalah tujuan kolektif dan bukan kebebasan individu.Unsur yang relatif baru dalam teori media pembangunan adalah penekanan pada ³hak untuk berkomunikasi,´yang didasarkan atas Pasal 17 Deklarasi Universal Hak-Hak Manusia: Setiap orang memiliki hak mengeluarkan pendapat:hak ini mencakup kebebasan menganut pendapat tanpa ganguan dan kebebasan untuk mencari, menerima,dan menyampaikan informasi dan gagasan melalui media manapun tanpa mempersoalkan batas negara.´Meskipun sukar menemukan kasus-kasus individu yang jelas menunjukkan teori media pembangunan,prinsip utama teori ini dapat diungkapkan sebagai berikut: 1. Media seyogyanya menerima dan melaksanakan tugas pembangunan positif sejalan dengan kebijaksanaan yang ditetapkan secara nasional. 2. Kebebasan media seyogyanya dibatasi sesuai dengan (1) prioritas ekonomi dan (2) kebutuhan pembangunan masyarakat. 3. Media perlu memprioritaskan isinya pada kebudayaan dan bahasa nasional. 4. Media hendaknya memperioritaskan berita dan informasinya pada negara sedang berkembang lainnya yang erat kaitannya secara geografis,kebudayaan,atau politik. 5. Para wartawan dan karyawan media lainnya memiliki tanggung jawab serta kebebasan dalam tugas mengumpulkan informasi dan penyebarluasannya. 6. Bagi kepentingan tujuan pembangunan,negara memiliki hak untuk campur tangan dalam,atau membatasi,pengoperasian media serta sarana penyensoran,subsidi,dan pengendalian langsung dapat dibenarkan. 45

JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. 1 - April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika, Medan

Sementara pengguna media itu sendiri adalah orang-orang yang berpikiran rasionalyang secara aktif memilih media mana yang mereka anggap dapat memuaskan kebutuhan yang mereka ingin dapatkan.Ada beberapa katagori kebutuhan individu,yang semuanya berasal dari fungsi sosial dan psikologi dari media,kategori ini antara lain menurut Katz Hass dan Gurevitch (Marshall,Jr,2000) yakni: a. Kebutuhan kognitif; kebutuhan akan informasi,pengetahuan,dan pengertian tentang lingkungan sekitar. b. Kebutuhan afektif : kebutuhan untuk memperkuat pengalaman akan emosi,kesenangan,atau pengalaman keindahan. c. Kebutuhan integrative personal : memperkuat kredibilitas, kepercayaan diri,kesetian, dan status pribadi. d. Kebutuhan interaksi sosial : memperkuat hubungan dengan keluarga,teman,dengan alam sekitar. e. Kebutuhan akan pelarian : hasrat melarikan diri dari kenyataan, melepaskan ketegangan, kebutuhan akan hiburan.Untuk memenuhi kebutuhan tersebut dapat dicapai dengan dua cara, yaitu: (1) Pemenuhan kebutuhan yang didapatkan dengan cara mengakses/menggunakan media yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan (2) Pemenuhan kebutuhan didapatkan dengan cara mempelajari isi informasi dalam media yang kemudian diterapkan dalam praktek. f. Sejalan dengan hal tersebut maka dapat dikatakan bahwa pengguna media secara umum adalah untuk memenuhi kebutuhan informasi,hiburan dan intraksi sosial. Dari kerangka pemikiran inilah, peneliti akan menguraikan permasalahan bagaimana opini publik mengenai peran media lokal dalam pembangunan bidang pertanian hortikultura di Kabupaten Karo. F. Kerangka Konsep Kerangka konsep adalah istilah yang mengekspresikan sebuah ide abstark yang dibentuk dengan menggeneralisasikan objek atau hubungan fakta ± fakta yang diperoleh dari pengamatan. Bungin,´ Mengartikan konsep sebagai generalisasi dari sekelompok fenomena tertentu yang dapat dipakai untuk menggambarkan berbagai fenomena yang sama. Sedangkan Kerlinger, menyebutkan konsep sebagai abstraksi yang dibentuk dengan menggeneralisasikan hal ± hal khusus. Jadi konsep merupakan sejumlah ciri atau standar umum suatu objek.´ ( Kriyantono, 2006 : 17 ). Berdasarkan kerangka teroritis diatas, adapun konsep ± konsep dalam penelitian ini sebagai berikut Opini adalah suatu pernyataan mengenai sesuatu yang sifatnya bertentangan. Opini merupakan ´ expressed statement ´ yang bisa diucapkan dengan kata ± kata, isyarat atau cara lain yang mengandung arti dan dapat dipahami maksudnya ( Meinanda, 1980, 29 ). Ini berarti opini harus dinyatakan, dengan demikian pengertian opini atau pendapat mempunyai dua unsur yakni : 1. Ada pernyataan 2. Mengenai masalah yang bertentangan Disamping itu juga, opini dapat dinyatakan melalui media massa seperti televisi, radio maupun suratkabar atau majalah. Karena opini mempunyai ciri ± ciri antara lain : 1. Mempunyai pendukung dalam jumlah besar. 2. Selalu diketahui dari pernyataan ± pernyataan. 3. Merupakan sinthesa atau kesatuan dari banyak pendapat. Sehingga opini ini bisa ditemukan dari berbagai kalangan. Selanjutnya suatu pendapat harus dinyatakan terlebih dahulu agar dapat dinilai sebagai pendapat atau opini publik, sebab sesuatu yang belum dinyatakan belum bisa disebut opini karena belum mengalami proses 46

JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. 1 - April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika, Medan

dalam diri manusia, sehingga masih merupakan sikap, Irish dan Protho ( Susanto, 1985, 92 ). Jadi yang dimaksud dengan opini publik adalah pendapat atau sikap masy arakat terhadap suatu masalah atau organisasi, dimana pembentukan opini publik melalui berbagai hal, pelayanan terhadap publik, opinion leader dan kegiatan komunikasi ( Hardiman, 2006, 87 ). Opini publik merupakan pendapat yang ditimbulkan oleh adanya unsur ± unsur sebagai berikut : 1. Adanya masalah atau situasi yang bersifat kontroversial yang menimbulkan pro dan kontra. 2. Adanya kesempatan bertukar pikiran atau berdebat mengenai masalah yang kontroversial tersebut 3. Adanya publik yang terikat kepada masalah tersebut dan berusaha memberikan pendapatnya. ³Opini dan perasaan rakyat dapat disalurkan kedalam program ± program pemerintah, sebab bagaimanapun yang berhubungan dengan fakta dilapangan adalah masyarakat ± masyarakat yang mempunyai opini dan emosi ³ ( Lipmann, Walter, 1998, 235 ). Sementara, berbicara tentang fungsi media massa, Harold Lasswell dan Charles Wright merupakan sebagian dari pakar yang benar ± benar serius mempertimbangkan fungsi dan peran media massa dalam masyarakat. Wright ( 1959 ) membagi media komunikasi berdasarkan sifat dasar pemirsa, sifat dasar pengalaman komunikasi, dan sifat dasar pemberi informasi. Lasswell ( 1984, 1960 ), pakar komunikasi dan profesor hukum di Yale University mencatat ada 3 fungsi media massa, pengamatan lingkungan, korelasi bagian ± bagian dalam masyarakat untuk merespon lingkungan dan penyampaian warisan masyarakat dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Selain ketiga fungsi ini, Wright menambahkan fungsi keempat yakni hiburan ( Severin, 2005, 386 ) Media massa yang dimaksud disini adalah media massa cetak ( printed mass media ). Pada umumnya kalau kita berbicara mengenai pers sebagai media massa tercetak, maka kita harus terlebih dahulu memahami bahwa pers adalah lembaga kemasyarakatan ( social institution ) dan merupakan sub sistem dari kemasyarakatan dimana ia berada, bersama ± sama dalam sub sistem lainnya. Dengan demikian maka pers tidak hidup secara sendiri, melainkan mempengaruhi dan dipengaruhi oleh lembaga ± lembaga kemasyarakatan lainnya. Bersama ± sama dengan lembaga kemasyarakatan lainnya, pers berada dalam keterikatan organisasi bernama negara. Karenanya eksistensi pers dipengaruhi, bahkan ditentukan oleh falsafah negara dan sistem politik negara dimana pers itu hidup. Pers di negara mana dan dimasyarakat mana, ia berada sama ± sama mempunyai fungsi universal yakni : 1. Memberikan Informasi ( to inform ) Menyiarkan informasi adalah tugas suratkabar yang pertama dan utama. Khalayak pembaca berlangganan atau membeli suratkabar karena memerlukan informasi mengenai berbagai hal di bumi ini mengenai peristiwa yang terjadi, gagasan atau pikiran orang lain, apa yang dilakukan orang lain, apa yang dikatakan orang lain dan lain sebagainya. 2. Mendidik ( to educate ) Sebagai sarana pendidikan massa ( mass education ), suratkabar memuat tulisan ± tulisan yang mengandung pengetahuan, sehingga khalayak pembaca bertambah pengetahuannya. Fungsi mendidik ini bisa secara implisit dalam bentuk berita, dapat juga secara eksplisit dalam bentuk artikel atau tajuk rencana 3. Fungsi Menghibur ( to entertaint ) Hal yang bersifat hiburan sering dimuat suratkabar untuk mengimbangi berita ± berita berat ( hard news ) dan artikel ± artikel yang berbobot. Maksud pemuatan isi yang mengandung hiburan itu semata ± mata untuk melemaskan ketegangan pikiran setelah para pembaca dihidangi berita dan artikel yang berat ± berat. 4. Mempengaruhi ( to influence ) 47

sedangkan orang ± orang yang mengusahakannya disebut pomologist. mati terhormat karena memang prinsip.maka dalam hal ini masyarakat penting untuk dilibatkan. 94 ) Pengertian Pembangunan Sukses tidaknya perencanaan pembangunan daerah itu sudah barang tentu tidak bisa terlepas dari media massa didalamnya. akan banyak tantangan yang harus dijawab dengan sikap yang berani dan bijaksana.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika.yang masing ±masing menekankan pendekatan berbeda.melainkan diperuntukkan pula bagi segenap Stake holder. Secara garis besar bisa diidentifikasikan tiga pola pemikiran dan praktek pembangunan yang berkembang di Indonesia. Su¶ud Hassan.Benang merah dari definisi pembangunan ialah bahwa pembangunan bertujuan merubah´keadaan´ masyarakat kearah yang lebih baik dengan cara pemecahan masalah yang dihadapi. ataupu ekonomi. Sektor Pertanian Hortikultura Mengingat bahwa perekonomian masyarakat Karo sangat didominasi oleh sektor pertanian. Pengawasan ( social control ) Jika suratkabar benar melaksanakan tugas sosial kontrolnya.maupun masalah-masalah yang dihadapi oleh warga masyarakat(Mastur Yahya).Sedangkan definisi kedua menyiratkan bahwa pembangunan tidak hanya untuk masyarakat. Onong.yaitu penekanan politik. atau hidup tidak terhormat disebabkan tidak mempunyai kepribadian ( Effendi. karena pemerintah.baik masalah yang dihadapi oleh setiap aparat dalam setiap jenjang birokrasi pemerintah. Sedangkan dalam GBHN 1993 ± 1998. sayuran dan tanaman hias (Edmon et al.Upaya ini dilaksanakan oleh pemerintah yang didukung oleh partisipasi masyarakatnya. sedangkan secara eksplis it terdapat pada tajuk rencana dan artikel 5. Medan Fungsi mempengaruhi. sehingga hortikultura merupakan suatu cabang dari ilmu pertanian yang mempelajari tentang budidaya buah ± buahan. Menurut Totok Mardikanto:Pembangunan didefinisikan sebagai upaya sadar dan terencana untuk melaksanakan perubahan ± perubahan yang mengarah pada pertumbuhan ekonomi dan perbaikan mutu hidup atau kesejahteraan seluruh warga masyarakat.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.dengan menggunakan teknologi yang terpilih. 1975). Secara harfiah istilah hortikultura diartikan sebagai usaha membudidayakan tanaman buah ± buahan. Kenapa seperti itu.ekonomi. menyebabkan suratkabar memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat. Secara implisit terdapat pada berita. pers dan masyarakat adalah satu kesatuan yang saling membutuhkan satu sama lain. 2007 mengatakan bahwa hortikultura terdiri dari : A. Tanaman Buah ± Buahan Ilmu yang mempelajari tentang tanaman buah ± buahan disebut pomologi. 48 . Dalam suatu situasi. sayuran dan tanaman hias. Hortikultura berasal dari kata ´ hortus ´ ( garden atau kebun ) dan ´ colore ´ ( = to cultirate atau budidaya ).terutama untuk jangka panjang. sayuran dan tanaman hias yang termasuk dalam kelompok hortikultura adalah tanaman obat ± obatan. suratkabar bisa dihadapkan kepada dua alternatif. Adapun sub sektor yang dominan bagi sektor pertanian yang disoroti disini adalah sub sektor hortikultura. Definisi pertama lebih menekankan pada masyarakat selaku penerima manfaat (beneficiaries) pembangunan.dan moral sebagai panglima (Mastur Yahya). Pengertian buah pada hortikultura agak berbeda dengan pengertian buah pada ilmu botani. selain buah ± buahan. dimana sampai saat ini sektor pertanian memberikan kontribusi lebih dari 60 persen setiap tahun bagi pembentukan produk domestik regional bruto ( PDRB ) Kabupaten Karo. 1 .dikalangan peneliti dan penyuluh. 1981.Sedangkan Lionberger dan Gwin mendefinisikan pembangunan sebagai proses pemecahan masalah.

batang. ketenangan hidup dan estetika ( dari tanaman hias/bunga ). 1 .id /~agronomi /dashor. Begitu juga dengan buah labu dalam hortikultura dan buah tomat di Indonesia termasuk dalam golongan buah. 3. 5. Fluktuasi harganya tajam ( www.uns. Meliputi seluruh tanaman dalam bidang hortikultura.html ) 49 . Tanaman Bunga Ilmu yang mempelajari bunga ± bungaan disebut floricultura. Seed Production. Tidak dapat disimpan lama 2. Land scaping : meliputi planning dan pengaturan daripada pekerjaan.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. kebun ( nursery production ). Hal ± hal lain yang termasuk kedalam hortikultura : 1. tetapi dalam arti hortikultura tergolong kedalam sayur ± sayuran. sehingga untuk Indonesia benih ± benih terpaksa diimpor. C. daun kangkung. Memperbaiki gizi masyarakat. 2. 4.pertanian. Medan Umpamanya mentimun dalam arti botani adalah buah. Peningkatan pendapatan petani dan. jalan. Mudah rusak ( perishable ) dalam pengangkutan 4. karena hampir semua hasil hortikultura bersifat tidak tahan lama. untuk menghasilkan benih sayur ± sayuran dan bunga ± bungaan daerah tropis bukanlah suatu hal yang mudah. sedangkan orang yang mengusahakan disebut floricultureti. Pemeliharaan tanaman ± tanaman dalam taman. juga letak bangunan ± bangunannya. taman untuk rekreasi dan lain ± lain. sebangsa pakis dan lain ± lain. tempat tinggal dan tanam tanaman umum. tidaklah semata ± mata berarti suatu bidang tanaman bunga ± bungaan. Sedangkan peranan hortikultura adalah : 1. mineral dan protein ( dari buah dan sayur ). serta memenuhi kebutuhan rohani karena dapat memberikan rasa tentram.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Ditinjau dari fungsinya tanaman hortikultura dapat memenuhi kebutuhan jasmani sebagai sumber utama. tetapi juga tanaman yang tidak berbunga yang biasanya dipergunakan untuk menghiasi baik berupa semak ± semak maupun rumput ± rumputan. Memperluas kesempatan kerja 4. tetapi di negara yang sudah maju digolongkan kedalam sayur ± sayuran. Pengertian bahwa sayur ± sayuran hanyalah hasil yang dipanen dari tanaman tahunan ( annual crops ) atau tanaman muda/semusim baik yang menghasilkan buah. Memperbesar devisa negara 3. umbi dan lain ± lain tidaklah tepat. Ini merupakan bagian penting pada hortikultura. 2. merupakan bagian penting terutama untuk benih±benih sayur±sayuran dan bungan±bungaan. Melimpah ruah pada suatu musim dan langka pada musim lainnya 5. Pengolahan dan penyimpanan hasil ( processing and storage ). Ini dikarenakan ada juga sayur ± sayuran yang dipetik dari tanaman tahunan seperti melinjo dan daun jambu mete. Perlu tempat yang lapang ( voluminous ) 3. sehingga perlu adanya pengalengan oleh industri ± industri. Pemenuhan kebutuhan keindahan dan kelestarian lingkungan Namun ketika kita membahas masalah hortikultura perlu diperhatikan pula mengenai sifat khas dari hortikultura yaitu : 1. bahkan sering tidak berhasil sama sekali. pangan. Tanaman Sayur ± Sayuran Ilmu yang mempelajari tentang tanaman sayur ± sayuran disebut olericulture dan orang yang mengusahakannya disebut olericulturist. Kebanyakan tanaman sayuran baru mau berbuah ( menghasilkan biji ) didaerah ± daerah dingin. Dengan demikian yang digolongkan kedalam buah dinegara ini adalah buah yang dihasilkan oleh tanaman tahunan (perennial crops ) B.ac.

Belanda dengan bunga tulipnya. G. markisah dan pisang. arcis. Payung. kentang. Transportasi dari pusat ibukota propinsi ( Medan ke Kabupaten Karo ) bisa ditempuh dalam beberapa menit. Oleh karena itu kita harus berani untuk memulai mengembangkannya pada saat ini. Munthe. jeruk. Nikaragua dengan pisangnya. Tiga Binanga.Dipilihnya hanya satu kecamatan mengingat kecamatan tersebut : a. Hortikultura adalah komoditas yang akan memiliki prospek yang sangat cerah menilik dari keunggulan komparatif dan kompetitif yang dimilikinya dalam pemulihan perekonomian Indonesia dimasa mendatang. Kutabuluh. Tegasnya penelitian deskriptif hanya memberi gambaran secermat mungkin mengenai suatu individu. petsai/sawi.yaitu sebanyak 900 orang. Dari 13 Kecamatan diatas. wortel. desa ini paling banyak masyarakatnya bergerak dalam bidang pertanian hortikultura . Cakupan sub sektor hortikultura yang dominan diusahakan oleh masyarakat Karo adalah tanaman sayuran dan buah ± buahan yang meliputi tomat. Medan Dengan mengetahui manfaat serta sifat ± sifatnya yang khas. 1983. kini telah mengekspor apel. dalam pengembangan hortikultura agar dapat berhasil dengan baik. Kabanjahe. bawang prei. cabe. Barusjahe. Sementara pengembangan hortikultura di Indonesia pada umumnya masih dalam skala perkebunan rakyat yang tumbuh dan dipelihara secara alami dan tradisional. gejala atau kelompok tertentu 2. Sampel Sampel dalam penelitian ini diambil melalui Teknik Pemilihan Sampel secara purposive ( purposive sampel technique ) . Laubaleng. Merek. maka diperlukan pengetahuan yang lebih mendalam terhadap permasalahan hortikultura tersebut. 3. Tiga panah.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. 1 . Seperti halnya negara ± negara lain yang mengandalkan devisanya dari hasil hortikultura antara lain Thailand dengan berbagai komoditas hortikultura yang serba Bangkok. yaitu Desa Ndokum Siroga dan Desa Surbakti.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Metode deskriptif dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan/melukiskan keadaan subyek/obyek penelitian seseorang. anggur dan lain sebagainya. Metodologi Penelitian 1. Kabupaten Karo terdapat 13 kecamatan yaitu : Mardinding. Lokasi Penelitian Adapun lokasi penelitian ini hanya di fokuskan pada 2 desa . Teknik purposive adalah suatu teknik yang 50 . Berdasrkan data yang ada dikecamatan. saya mempurposive Kecamatan Simpang Empat sebagai lokasi penelitian. Masyarakatnya betul±betul masyarakat petani yang bergerak dibidang pertanian hortikultura b. jeruk. c. Populasi dan Sampel Populasi Populasi dari penelitian ini adalah seluruh masyarakat petani holtikultura di desa Ndokum Siroga dan desa Surbakti . Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif. masyarakat dan lain lain pada saat sekarang berdasarkan fakta± fakta yang nampak atau sebagaimana adanya ( Nawawi. lembaga. Simpangempat. buncis. Juhar. Brastagi.63 ). di kecamatan Simpang Empat Kabupaten Karo. bahkan Israel dari gurun pasirnya. sedangkan jenis komoditas hortikultura yang diusahakan masih terbatas. keadaan. kol.

tutur siwaluh dan rakut sitelu. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Dairi dan Kabupaten Toba Samosir c.dan akhirnya data lapangan yang telah diperoleh dikoding dan ditabulasi untuk memperoleh tendensi dengan persentase. 154 ). Desa Surbakti yang pertaniannya kurang maju sebanyak 45 responden 4. juga dilakukan metode library research ( riset kepustakaan ) yaitu pencarian referensi/bahan ± bahan dari buku ± buku jurnal.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Saat ini wilayah Kabupaten Karo sudah didiami oleh beragam suku bangsa.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Tarigan dan Perangin . sehingga rawan terjadi gempa vulkanik. Dalam pekembangannya. padi. Kecamatan Simpang Empat 51 . Suku bangsa Karo ini mempunyai adat istiadat yang sampai saat ini masih terpelihara dengan baik dan sangat mengikat bagi suku bangsa Karo sendiri. Pusat pemerintahan Kabupaten Karo terletak di Kecamatan Kabanjahe yang berjarang sekitar 67 kilometer dari Medan Penduduk asli yang mendiami wilayah Kabupaten Karo disebut suku bangsa Karo. Desa Ndokum Siroga yang dianggap pertaniannya paling maju sebanyak 45 responden b. Suku ini terdiri dari 5 ( lima ) marga. palawija.127. adat suku bangsa Karo terbuka.400 meter diatas permukaan laut. buah ± buahan. Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data dilakukan melalui angket yang dipandu oleh enumerator ( pengumpul data ) dimana penulisan angket dilakukan melalui pertanyaan terbuka dan tertutup. Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang dan Kabupaten Simalungun d. dimana dari 40 desa yang ada di Kecamatan Simpang Empat ditentukan 2 ( dua ) desa yaitu : a. Sebelah Barat berbatasan dengan Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam ( NAD ) Kabupaten Karo terdiri dari 13 kecamatan yang dibagi menjadi 248 desa dan 10 kelurahan. Kabupaten Karo terletak pada jajaran Bukit Barisan dan sebagian bersar wilayahnya merupakan dataran tinggi. H. Dua gunung berapi aktif terletak di wilayah ini.angin.25 Km 2 . Sembiring.dengan besar sampel 10% dari Populasi yaitu sebanyak 90 orang. Wilayah Kabupaten Karo berada pada ketinggian 120 ± 1. Sekitar 70 persen dari jumlah rumah tangga di Kabupaten ini berusaha disektor pertanian terutama bercocok tanam sayur ± sayuran. 5. Medan mencakup orang ± orang yang diseleksi atas dasar kriteria tertentu yang dibuat peneliti berdasarkan tujuan penelitian ( Kriyantono. Merga Silima itu yakni : Karo ± Karo. Ginting. Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Langkat dan Kabupaten Deliserdang b. tanaman perkebunan dan peternakan 1.maka analisis penelitian dilakukan dengan metode pendekatan deskriptif kuantitatif didukung dengan data kualitatif yang diperoleh melalui wawancara mendalam.maka kriteria yang ditentukan adalah masyarakat yang betul-betul petani holtikultura. Adapun batas ± batas wilayah Kabupaten Karo adalah sebagai berikut : a. hasil ± hasil penelitian dan laman website yang berhubungan dengan materi penelitian ini. 1 . Perekonomian Kabupaten Karo sebagian besar adalah sektor pertanian. hortikultura. dalam arti bahwa suku bangsa Indonesia lainnya dapat diterima menjadi suku bangsa Karo dengan beberapa persyaratan adat. Gambaran Umum Lokasi Penelitian Letak geografis Kabupaten Karo berada diantara 2 0 50 0 ±3 0 19 0 Lintang Utara dan 97 0 55 0 ± 98 0 38 0 Bujur Timur dengan luas wilayah 2. Disamping itu untuk memperkaya data. 2006. Teknik Analisis Data Sesuai dengan sifat dan tujuan dari penelitian ini.

969 jiwa yang terdiri dari 522 KK. Salah satu diantaranya adalah upaya untuk terus memelihara pasar regional dengan mengundang pengusaha ± pengusaha dari Singapore dan Malaysia yang tergabung dalam Agri-Food And Veterinery Autority Of Singapore ( AVA ).003 jiwa laki ± laki dan 1. Dengan kata lain mayoritas Pendapatan Asli Daerah ( PAD ) yang dihasilkan dari sektor pertanian yang menghasilkan produk ± produk pertanian berbasis agrobisnis. namun hingga kini sektor pariwisata belum juga mampu menggantikan peran sektor pertanian yang telah begitu dominan. Medan Luas wilayah Kecamatan Simpang Empat adalah seluas 225. khususnya di lokasi yang dijadikan sebagai responden dalam penelitian ini masih menggunakan media massa cetak khusus media cetak lokal sebagai sumber informasi pembangunan Bidang Pertanian Hortikultura. Adapun mata pencaharian penduduk terdiri dari 491 KK ( 94% ) bertani dan sebanyak 31KK ( 6% ) adalah non tani. Begitu dominannya sektor pertanian yang dikelola daerah ini sehingga sampai saat ini kontribusi yang diberikan atas pembentukan produk domestik regional bruto ( PDRB ) hingga mencapai 60 persen.97 Km 2 . luas daerah Desa Surbakti adalah 9. Media cetak juga dianggap sebagai salah satu faktor dalam mempercepat proses tranfusi informasi pembangunan khususnya bidang pertanian hortikultura.47Km 2 yang terdiri dari 40 desa. Luas Desa Ndokum Siroga adalah 2. dengan perbandingan jenis kelamin 890 jiwa perempuan dan 2. dimana pada tabel dibawah ini terlihat bahwa media cetak lokal tersebut dianggap sangat penting bagi masyarakat dan tidak dapat dipisahkan dari masyarakat petani dalam memperoleh upaya informasi. Jarak dari kabupaten 7 kilometer.834 rumahtangga ( RT ).167 jiwa dimana perbandingannya 1. Asumsi ini terlihat seperti yang tertera dalam tabel penulisan laporan ini. Desa Ndokum Siroga adalah ibukota dari Kecamatan Simpang Empat. Pembahasan Hasil Penelitian Kabupaten Karo adalah salah satu kabupaten yang ada di Propinsi Sumatera Utar a yang mengandalkan pendapatan masyarakatnya dari sektor pertanian. Desa Surbakti Nama Kepala Desa : Jasa Surbakti. buah ± buah dan juga bunga ± bungaan.070 jiwa laki ± laki. 85 orang SLTA sederajat dan 43 orang pernah ditingkat perguruan tinggi. 60 orang SD sederajat. terdiri dari 2 ( dua ) dusun. 160 orang SLTP sederajat. I.966 jiwa dan 10. Sementara tingkat pendidikan di Desa Surbakti adalah 112 jiwa tidak bersekolah. 170 jiwa tamat SLTP sederajat. Desa Ndokum Siroga Nama Kepala Desa : Supratman Surbakti. Memang ada sektor pariwisata yang juga menjadi andalan bagi Pemerintah Kabupaten Karo. Produk ± produk andalan pertanian Kabupaten Karo ini adalah bermacam sayuran. Adapun mata pencaharian penduduknya terdiri dari 684 KK atau 94% adalah bertani dan sebanyak 41 KK atau 6 %nya bergerak disektor non pertanian. Sementara tingkat pendidikan di Desa Ndokum Siroga adalah : 45 orang tidak bersekolah. 160 jiwa SLTA sederajat dan 52 jiwa tingkat perguruan tinggi. terdiri dari 5 ( lima ) dusun. J. Sejak Januari 2007. Kecamatan Simpang Empat telah dimekarkan menjadi 3 ( tiga ) kecamatan 2. Dari hasil penelitian tentang Opini Publik Mengenai Peran Media Lokal Dalam Pembangunan Bidang Pertanian Hortikultura terlihat bahwa masyarakat Karo. Kedatangan para pengusaha Singapore ini ke Sumatera Utara 52 . jumlah penduduk 1.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Hasil Penelitian. 1 .164 jiwa perempuan yang terdiri dari 689 KK. 3. Jumlah penduduk 39.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Berbagai upaya terus dilakukan untuk tetap mempertahankan dan sekaligus meningkatkan pendapatan dari sektor pertanian ini.57 Km 2 dengan jumlah penduduk 2. 90 jiwa tamat SD sederajat.

yang pada akhirnya berimbas kepada peningkatan kesejahteraan petani tersebut. 53 . cerdas dan mempunyai output yang besar.8 Jarang 19 42.1 28 62.0 4 31. serta langkah ± langkah strategis lain yang pada intinya adalah bagaimana melaksanakan kegiatan pertanian yang efektif. 95 persen pasokan sayur dan buah berasal dari negara negara seperti Thailand. dan jenis organik seperti ini sangat digemari oleh konsumen di negara ± negara Singapore dan Malaysia.2 Total 45 100 45 100 45 100 45 100 Media cetak juga dianggap sebagai salah satu faktor dalam mempercepat proses tranfusi informasi pembangunan khususnya bidang pertanian hortikultura. Dan tentu saja kondisi tersebut merupakan peluang yang harus dimanfaatkan semaksimal mungkin.2 21 46.6 6 13. Salah satu kesempatan yang harus dimanfaatkan para petani di Kabupaten Karo dewasa ini adalah didalam membudidayakan tanaman ± tanam bersifat organik.9 26 57. Media Sibayak Pos Sora Mido Sora Sirulo Info Karo Karo Memba ngun Tabel 1 Frekuensi Membaca Media Cetak Lokal Desa Ndokum Siroga Desa Surbakti Sering F % F % F % F % F % 16 35. karena inovasi ± inovasi yang terus berkembang terkadang tidak didapatkan dari sumber informasi seperti penyuluh pertanian.7 17 37. Solusi cerdas yang dipilih masyarakat petani dalam mencari informasi terbaru adalah melalui media massa yang ada di daerah. termasuk didalamnya peluang bisnis pemasaran serta proses pasca panennya. Pemerintah Kabupaten Karo harus tetap konsisten didalam pengembangan kegiatan agrobisnis tersebut.2 Total 5 100 45 100 45 100 45 100 45 100 Media Sering F % F % F % F % F % 16 35. utamanya media massa lokal. China.2 18 40.6 9 20 Tdk Pernah 10 22.7 22 48.7 7 15. 1 . Jenis tanaman yang akhir ± akhir ini sangat populer karena produk organik ini terhindar dari bahan ± bahan kimia yang tidak bagus buat kesehatan.1 23 51. Australia dan Indonesia.4 12 26.0 11 24. Malaysia. Jepang. Keberadaan sumber daya manusia dalam hal ini petani juga harus selalu mengup-grade pengetahuannya didalam hal pengolahan pertanian untuk meningkatkan produksi. Pemerintah Kabupaten Karo sendiri melalui Dinas Pertanian setempat selalu mengirimkan petugas ± petugas penyuluh pertanian untuk membimbing para petani didalam melakukan aktivitas pertanian.8 19 42.0 12 26. Medan bertujuan untuk melihat secara langsung proses produksi sayur ± sayuran langsung ke tempat produksi sekaligus sebagai upaya penjajakan atas peningkatan kerjasama yang telah ada selama ini terkait dengan pemenuhan kebutuhan sayur ± sayuran di negeri Singapur tersebut.2 Sibayak Pos Sora Mido Sora Sirulo Info Karo Karo Memba ngun Tidak Pernah 20 44. Namun upaya untuk mencari sendiri informasi tambahan yang paling terbaru juga perlu dilakukan.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Sebagaimana kita ketahui Negara Singapore sangat mengandalkan pasokan sayur dan buah untuk dikonsumsi dari negara ± negara tetangganya.4 10 22. Penggunaan teknologi tinggi didalam meningkatkan produksi pertanian juga perlu diketahui.6 11 24. Berbagai upaya dilakukan para petani didalam meningkatkan pengetahuannya dalam mengolah pertanian.6 Jarang 9 20. Informasi seperti inilah yang sangat diperlukan oleh masyarakat petani.4 23 51. dimana pada tabel dibawah ini terlihat bahwa media cetak lokal tersebut dianggap sangat penting bagi masyarakat dan tidak dapat dipisahkan dari masyarakat petani dalam memperoleh upaya informasi.2 10 22.1 7 15.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.3 9 20.

sedangkan di Desa Surbakti yang memberi jawaban berpengaruh adalah sebesar 62.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.0 100 Pada tingkat kepentingan responden terhadap media cetak lokal dalam membantu usaha pertanian. terlihat bahwa responden di Desa Ndokum Siroga dengan persentase sebesar 44.8 100 F 10 35 45 Surbakti % 22. dimana masing masing responden di dua desa tersebut menjawab bahwa media cetak memberikan perubahan yang positif bagi responden karena dengan persentase 77. Tabel 3 Pengaruh Membaca Media Cetak Terhadap Responden Pengaruh Membaca Media Cetak Tidak Sangat Desa Berpengaruh Berpengaru Total Berpengaruh h F 14 31 45 Ndokum Siroga % 31.6% didesa Ndokum Siroga dan 27% di Desa Surbakti.6 100 F 18 27 45 Surbakti % 40.8 100 Untuk materi pertanyaan tentang pengaruh media cetak terhadap perubahan nyata responden didua desa tersebut.8%.1 % responden yang menjawab sangat berpengaruh.9% responden di desa Ndokum Siroga menjawab berpengaruh. Tidak ada responden yang menjawab tidak penting untuk materi pertanyaan ini.1 68.2 77.8 62. juga tentang pemasaran hasil pertanian. Medan Tabel 2 Tingkat Kepentingan Media Cetak Dalam Membantu Usaha Pertanian Tingkat Kepentingan Media Cetak Sangat Tidak Desa Penting Total penting penting F 20 25 45 Ndokum Siroga % 44. namun 68. sedangkan di Desa Ndokum Siroga 31.4 55. media lokallah yang paling tahu kebutuhan para petani .April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. 1 .0 60.2 100 Anggapan bahwa media cetak berpengaruh terhadap responden terlihat seperti tabel diatas. sedangkan untuk pertanyaan yang sama di Desa Surbakti persentasenya sebesar 40%.2 77.9 100 F 17 28 45 Surbakti % 37. terlihat sesuatu yang unik. dimana 37. Tabel 4 Pengaruh Media Cetak Terhadap Perubahan Nyata Pengaruh Terhadap Perubahan Nyata Desa Sangat positif Positif Kurang positif Ndokum Siroga Total F 10 35 45 % 22.2% responden pada masing ± masing 54 .8% responden didesa Surbakti menjawab media tersebut sangat berpengaruh terhadap responden karena dari medialah petani mengetahui informasi pertanian sehingga hasil pertanian mereka meningkat . responden lainnya menjawab penting sebesar 55. bahkan 22.4% menganggap media cetak lokal sangat penting dalam membantu usaha pertanian mereka karena selain kurangnya keberagaman pilihan media yang ada.2 %.

dan 16.9 7 16.7%. namun ada juga yang kurang setuju dengan hal tersebut.0 2 4. sedangkan didesa Ndokum Siroga sebesar 66. 80% responden di Desa Surbakti menjawab bahwa media cetak hanya kadang ± kadang memberi peningkatan terhadap hasil pertanian. Masyarakat Kabupaten Karo ternyata masih memanfaatkan media cetak lokal sebagai sumber informasi pembangunan bidang pertanian hortikultura.8 45 100 45 100 Dari mayoritas media massa sebagai sumber informasi pembangunan .8 8 17.6% di Desa Surbakti.7 36 80. Ini mungkin disebabkan masih 55 . terutama didesa Surbakti antusias masyarakat tentang media lokal masih tinggi. Namun responden yang menjawab bahwa informasi media cetak tersebut sering memberi peningkatan hasil pertanian juga ada. bahkan masing ± masing responden didua desa tersebut ada yang tidak setuju dengan pernyataan tersebut dengan nilai 17.8% responden di desa Surbakti memberi jawaban senada. bahkan ada 4. 57. terlihat bahwa media cetak tidak selalu memberikan peningkatan terhadap hasil pertanian. 64.6 30 66.8 8 17.4 2 4.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. dimana 28. 1 .JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.4% responden di desa Ndokum Siroga tidak setuju dengan jawaban tersebut dan 17.4% responden di desa Surbakti menjawab bahwa media dimaksud adalah media cetak lokal. Medan desa menjawab bahwa pengaruh media cetak terhadap perubahan yang nyata menjawab sangat positif Tabel 5 Dampak Media Cetak Terhadap Peningkatan Hasil Pertanian Dampak Terhadap Peningkatan Hasil Pertanian Desa Sering Kadang-kadang Tidak ada Total Ndokum Siroga Surbakti F % F % 13 28.8% responden di desa Ndokum Siroga memberi jawaban senada.4 8 17.4 45 100 45 100 Dari tabel diatas. dimana 24.4% responden di masing ± masing desa menjawab tidak ada dampak media cetak terhadap peningkatan hasil pertanian Tabel 6 Media Massa Dimaksud Adalah Media Cetak Lokal Desa Media tersebut adalah media cetak lokal Setuju Kurang setuju Tidak setuju Total Ndokum Siroga Surbakti F % F % 26 57.4 11 24. tepatnya didesa Ndokum Siroga dan desa Surbakti adalah sebagai berikut : 1.9% responden di Desa Ndokum Siroga. Kecamatan Simpang Empat.8% KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Beberapa point penting yang didapat dari penelitian Opini Publik Mengenai Peran Media Lokal Dalam Pembangunan Bidang Pertanian Hortikultura yang dilakukan oleh Tim BPPI Wilayah I Medan di Kabupaten Karo.8 29 64.

Leksikon Komunikasi. Daftar Pustaka Effendy. dimana isi koran tersebut diharapkan memiliki muatan lokal yang memuat informasi mengenai tata cara dan budaya pengelolaan tanaman hortikultura secara tepat dan efisien. 2004. Saran a. Disamping itu sirkulasi atau keterlambatan terbit media lokal juga menjadi kendala informasi pembangunan bidang pertanian hortikultura melalui media massa. Perlu adanya penanganan pengelolaan hasil pasca panen e. Onong. Teknik Prakis Riset Komunikasi. 2005. Jakarta Su¶ud. Apalagi petani juga masih belum merasa cukup tentang informasi pertanian dari penyuluh pertanian yang belum rutin dan intens didesa Surbakti 3. Teori Komunikasi: Sejarah. Pemerintah agar lebih memperhatikan nasib petani hortikultura di Kabupaten Karo. 2006. Gagas Ulung. Jakarta Kriyanto. Pengantar Ilmu Pertanian. Ima. Bandung Severin. Dimensi ± Dimensi Komunikasi. Banda Aceh 56 . Kencana Prenada Media Grup. Sirkulasi media lokal lebih ditingkatkan baik dari segi mutu (kuantitas dan kualitas). Metode dan Terapan Didalam Media Massa. Rachmat. Namun antusiasme ini terkendala oleh media cetak lokal yang masih sulit didapat didesa ± desa terutama desa yang masuk kepedalaman. Teori Komunikasi Massa Suatu Pengantar. 1 . apalagi mengingat bahwa Sumatera Utara termasuk daerah potensial bagi pengembangan tanaman hortikultura. Remaja Rosdakarya. 1984. Pemerintah Daerah diharapkan untuk mengembalikan ikon Tanah Karo dengan kembali membudidayakan jeruk yang selama ini dikenal sebagai primadona daerah ini. dan bila memungkinkan program koran masuk desa dihidupkan kembali . apalagi masyarakat petani masih merasakan kurangnya informasi tentang pasar produk pertanian dan informasi tentang budidaya pertanian hortikultura.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Denis.. Paramita. Rusdakarya. Jakarta McQuail. Werner dan Tankard James. dan telah menembus pangsa pasar dunia d. Opini Umum. Jakarta Rakhmat. Alumni Bandung Hardiman. Erlangga. 2006. Dan peran inilah yang diharapkan masyarakat dapat ditangkap dan diisi oleh media massa lokal. Ternyata keberadaan media massa cetak masih sangat diharapkan oleh masyarakat dapat mendorong suksesnya pembangunan bidang pertanian hortikultura. Walter. Hasan. Yayasan Pena. 1981. 400 Istilah PR Media & Periklanan. Jalaluddin. Bandung Rakhmat. juga masih belum mencukupinya isi berita tentang peluang pasar domestik maupun luar ne geri. Yayasan Obor Indonesia. 2007. Jakarta Lippmann. serta mengawasi/menghilangkan peredaran pupuk dan obat ± obatan palsu yang belakangan ini beredar dikalangan masyarakat petani c. 1998. karena media lokal umumnya terbit per satu bulan sekali. Prenada Media. Jakarta. Kendala yang dihadapi masyarakat tentang pembangunan bidang pertanian hortikultura melalui media massa adalah kurangnya informasi pertanian hortikultura. Jalaluddin. disamping itu dari sisi pangsa pasar wilayah ini berdekatan dengan Singapura dan Malaysia yang membutuhkan hasil pertanian dari Sumatera Utara b. Psikologi Komunikasi. Pradya. 2. Pemerintah Daerah harus berupaya dengan segala cara dan lebih maksimal untuk mengontrol keberadaan dan harga pupuk dan obat±obatan yang dibutuhkan masyarakat dalam kegiatan pertaniannya. 1998. 1994. dibandingkan dengan desa Ndokum Siroga yang ada di pusat kecamatan. Metode Penelitian Komunikasi . Medan kurang beragamnya pilihan media yang ada di desa tersebut.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.

Dinas Pertanian. 2007.acehinstitute. Medan Sumber lain http://www. 2008.org/opini-mastur-yahya. Perikanan dan Perkebunan Kabupaten Karo Rencana Kerja Penyuluh Pertanian.rehabrekon buyadong.uns.htm. BPS. Karo Program Pembangunan Pertanian Kecamatan Simpang Empat. 2006.html www.com/new/2006/06/21/editor/edi07.pertanian.suarapembaruan.html http://www. Peternakan.ac.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. 1 . Ikhtisar Eksekutif Pembangunan Kabupaten Karo.id/~agronomi/dashor. Simpang Empat 57 .JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.

Teknologi Informasi. Sebagai sebuah proses. 2005). globalisasi berlangsung melalui dua dimensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan globalisasi Teknologi Informasi terhadap perkembangan kebudayaan di kota Makassar kurang optimal. Hal ini tentunya tidak terlepas dari dukungan pesatnya laju 58 . Dimensi ruang yang dapat diartikan jarak semakin dekat atau dipersempit sedangkan waktu makin dipersingkat dalam interaksi dan komunikasi pada skala dunia. Kebudayaan PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Kehadiran globalisasi membawa pengaruh bagi kehidupan suatu bangsa. ekonomi. fasilitas yang digunakan baik dari segi kualitas maupun kuantitas kurang mampu mendukung pemanfaatan Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar serta sikap dan perilaku masyarakat dalam memahami pemanfaatan globalisasi Teknologi Informasi kurang optimal.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. kemudian ditawarkan untuk diikuti oleh bangsa lain yang akhirnya sampai pada suatu titik kesepakatan bersama dan menjadi pedoman bersama bagi bangsa.Khususnya kemampuan masyarakat dalam memahami pentingnya pemanfaatan Teknologi Informasi. Hal ini disebabkan masih banyak masyarakat yang kurang mengerti dan memahami pentingnya Tekno logi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey sampel dengan wawancara dan kuesioner serta dilengkapi dengan observasi sebagai teknik pengumpulan data. Pengaruh globalisasi dirasakan di berbagai bidang kehidupan seperti kehidupan politik. sosial budaya. Hal ini dilihat dari beberapa faktor pendukung yang kurang terlaksana dengan baik. Dengan kata lain proses globalisasi akan berdampak melampaui batas -batas kebangsaan dan kenegaraan. 1 .bangsa di seluruh dunia. yaitu kemampuan pemerintah dan kemampuan masyarakat kurang mampu memberikan dukungan terhadap pemanfaatan globalisasi Teknologi Informasi dalam perkembangan kebudayaan di kota Makassar. Kewarganegaraan.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Secara umum globalisasi dapat dikatakan suatu proses tatanan masyarakat yang mendunia dan tidak mengenal batas wilayah. Tujuan penulisan penelitian adalah untuk mengetahui sejauhmana faktor pendukung pemanfaatan globalisasi Teknologi Informasi terhadap perkembangan kebudayaan di kota Makassar. Medan ANALISIS FAKTOR PENDUKUNG PEMANFAATAN GLOBALISASI TEKNOLOGI INFORMASI DALAM PENGEMBANGAN KEBUDAYAAN DI KOTA MAKASSAR RUKMAN PALA ABSTRAK Tulisan ini berjudul analisis faktor pendukung pemanfaatan globalisasi teknologi informasi dalam pengembangan kebudayaan di kota makassar. Jamli dkk. Jamli (Edison A. Menurut Edison A. ideologi. Kata Kunci : Globalisasi. globalisasi pada hakikatnya adalah suatu proses dari gagasan yang dimunculkan. dalam interaksi antar bangsa. yaitu dimensi ruang dan dimensi waktu. pertahanan keamanan dan lain-lain yang akan mempengaruhi nilainilai nasionalisme bangsa.

misalnya dari globalisasi aspek ekonomi. Budaya atau kebudayaan adalah kerangka acuan perilaku bagi masyarakat pendukungnya yang berupa nilai-nilai (kebenaran. masyarakat harus selektif dan bersikap kritis terhadap TIK yang berkembang sangat pesat. Medan perkembangan teknologi yang semakin canggih khususnya teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Teknologi informasi dan komunikasi (TIK) adalah pendukung utama bagi terselenggaranya globalisasi. dapat disebarluaskan dengan mudah sehingga dapat dengan cepat mempengaruhi cara pandang dan gaya hidup hingga budaya suatu bangsa. Pengaruh positif yang dapat dirasakan dengan adanya TIK adalah peningkatan kecepatan. sejak dulu hingga sekarang ditujukan untuk membantu dan memberikan kemudahan dalam berbagai aspek kehidupan. dll ) yang berpengaruh sebagai kerangka untuk membentuk pandangan hidup manusia yang relatif menetap dan dapat dilihat dari pilihan warga budaya itu untuk menentukan sikapnya terhadap berbagai gejala dan peristiwa kehidupan. Sebagai contoh manifestasi TIK yang mudah dilihat di sekitar kita adalah pengiriman surat hanya memerlukan waktu singkat. pengaruh globalisasi dengan dukungan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) meliputi dua sisi yaitu pengaruh positif dan pengaruh negatif. uk Dengan hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri menunjukan gejala berkurangnya rasa nasionalisme masyarakat kita terhadap bangsa Indonesia. baik pada saat manusia bekerja. Untuk memberikan data dan informasi tersebut. bahkan untuk mengatasi berbagai persoalan pelik yang timbul di masyarakat. Dengan banyaknya produk luar negeri dan ditambahnya harga yang relatif lebih murah dapat mengurangi rasa kecintaan masyarakat terhadap prod dalam negeri. Demikian halnya perkembangan kebudayaan di Kota Makassar juga ikut berpengaruh terhadap perkembangan globalisasi Teknologi Informasi. pengelolaan data dalam jumlah besar juga bisa dilakukan dengan mudah yaitu dengan basis data (database). Namun perlu diingat. tenaga dan biaya. Jadi bagaimana TIK dapat mempengaruhi nilai-nilai yang telah tumbuh di masyarakat dalam suatu bangsa itu sangat tergantung dari sikap masyarakat tersebut.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. terbukanya pasar bebas memungkinkan produk luar negeri masuk dengan mudahnya. 1 . Makin canggih dukungan teknologi tersebut. kebijaksanaan. ketelitian hasil perhitungan dapat ditingkatkan dengan adanya komputasi numeris. Kecepatan arus informasi yang dengan cepat membanjiri kita seolah-olah tidak memberikan kesempatan kepada kita untuk menyerapnya dengan filter mental dan sikap kritis. Pada hakikatnya teknologi diciptakan. Oleh karena itu selama ini dikenal asas ³kebebasan arus informasi´ berupa proses dua arah yang cukup berimbang yang dapat saling memberikan pengaruh satu sama lain. Dengan dukungan teknologi informasi dan komunikasi.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. keindahan. maka perlunya ditunjang oleh 59 . kemanusiaan. TIK tidak hanya membantu dan mempermudah manusia tetapi juga menawarkan cara-cara baru di dalam melakukan aktivitas-aktivitas tersebut sehingga dapat mempengaruhi budaya masyarakat yang sudah tertanam sebelumnya. informasi dalam bentuk apapun dan untuk berbagai kepentingan. akurasi dan kemudahan yang memberikan efisiensi dalam berbagai bidang khususnya dalam masalah waktu. berkomunikasi. makin besar pula arus informasi dapat dialirkan dengan jangkauan dan dampak global. sehingga semua manfaat positif yang terkandung di dalam TIK mampu dimanifestasikan agar mampu membantu dan mempermudah kehidupan masyarakat. keadilan. dan masih banyak lagi. Seyogyanya. Sedangkan pengaruh negatif yang bisa muncul karena adanya TIK. ketepatan. Seperti kita ketahui budaya masyarakat Kota Makassar begitu beragam dan perlu dilestarikan sehingga dapat tetap bertahan dan memberikan devisa bagi Kota Makassar khususnya. karena kehadiran surat elektronis (email). Pemanfaatan Teknologi Informasi untuk memberikan data dan informasi tentang perkembangan kebudayaan di Kota Makssar. dan efek negatif dapat lebih diminimalkan.

telaah dokumen serta observasi akan diolah dengan menggunakan sistem tabulasi data dengan memakai analisis frekuensi. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Wawancara. Pada penelitian ini yang menjadi populasi adalah masyarakat dan mereka yang memahami tentang pemanfaatan Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. Namun permasalahan yang muncul adalah pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi terhada perkembangan budaya Makassar belum terlaksana secara optimal sehingga memerlukan peran serta pemerintah dan masyarakat memanfaatkan globalisasi Teknologi Informasi tersebut. dan sikap dan perilaku masyarakat terhadap pemanfaatan Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. peneliti menggunakan metode survey yang lebih menekankan pada jenis penelitian deksriptif kuantitatif dimana metode ini sangat relevan dengan topik yang akan diteliti. Data mentah yang terkumpul dari hasil jawaban responden maupun yang didapat dari hasil wawancara. 1 . yang dapat ditempuh dengan cara membandingkan data dari responden dengan informan yang . 2001 : 57). didapat dari responden. Selanjutnya dengan kuesioner guna mendapatkan data yang akurat dan obyektif terhadap permasalahan yang diteliti. dari sejumlah informan akan bermanfaat guna mewujudkan validitas data secara keseluruhan. maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : Bagaimanaka faktor pendukung pemanfaatan globalisasi Teknologi Informasi terhadap perkembangan kebudayaan di Kota Makassar ? Tujuan Penulisan Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui sejauhmana faktor pendukung pemanfaatan globalisasi Teknologi Informasi terhadap perkembangan kebudayaan di Kota Makassar Metode Penelitian Dalam penelitian ini. juga sangat membantu untuk mendapatkan data yang obyektif dan valid dalam rangka memahami. Faktorfaktor tersebut seperti kemampuan pemerintah dan masyarakat dalam mendukung dan memahami Teknologi Informasi yang digunakan. Oleh karena itu sampel dalam penelitian ini adalah masyarakat yang memahami pemanfaatan Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. Teknik penarikan sampel yang digunakan adalah teknik aksidental. memecahkan. sarana atau fasilitas yang digunakan dalam mendukung pemanfaatan Teknologi Informasi tersebut. Teknik aksidental ini adalah mereka yang ditemui dan memahami pemanfaatan globalisasi Teknologi Informasi terhadap perkembangan kebudayaan di Kota Makassar yang dapat diberikan pertanyaan. serta mengupayakan pemecahan masalah tentang analisis faktor pendukung pemanfaatan globalisasi teknologi informasi terhadap perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. Medan beberapa faktor dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Mak assar. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian di atas.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiono. Dengan rumus sebagai berikut : 60 .JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.

dengan kemungkinan satu fihak lebih besar pengaruhnya ketimbang fihak lainnya. dan mengingat bahwa jagad kemanusiaan ditandai oleh pluralisme budaya. Kelatahan dalam penggunaan kata µglobalisasi¶ sedemikian itu akhimya mengesankan kesembarangan arti kata globalisasi. Kita dapat mencari jawaban berdasarkan etimologi. terpaan budaya yang satu berpengaruh dominan terhadap budaya lainnya. Apakah yang kita maksudkan dengan µbudaya¶ atau µkebudayaan¶ itu? Untuk memberikan jawaban atas pertanyaan mi banyak cara dapat ditempuh. Pertemuan antar-budaya memang menggej ala sebagai keterbukaan (exposure) fihak yang satu terhadap lainnya. lain lagi halnya kandungan pernyataan ³menjelang era globalisasi´ yang berarti kita belum berada dalam era tersebut. cara mi mungkin menarik secara akademik namun mungkin terlalu steril untuk diturunkan sebagai medium analisis dalam terapan empirikal. 1 . melainkan bolehjadi juga terjadi sebagai proses imposisi budaya yang satu terhadap lainnya. cara mi jelas dapat memperkaya wawasan kita tentang kebudayaan. maksudnya data yang ada diangkakan kemudian dideskripsikan. maka akan ternyata betapa kata µglobalisasi¶ itu cenderung dilontarkan tanpa terlalu dihiraukan apa maknanya. Pernyataan seperti ³dalam era globalisasi dewasa mi´ berarti bahwa kita telah berada dalam era globalisasi.x 100 % N Keterangan : P = Persentase F = Jawaban responden N= Jumlah responden Analisis Data Data yang diperoleh dalam penelitian ini akan diolah dengan menggunakan teknik analisis deskriptif kuantitatif yang dikualitatifkan.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. TINJAUAN PUSTAKA Pengertian Globalisasi Kata µglobalisasi¶ makin lama makin menjadi sajian sehari-hari melalui berbagai pemyataan publik dan liputan media massa. namun pengaruh-mempengaruhi dalarn pertemuan antar-budaya itu tidak selalu berlangsung sebagai proses dua-arah atau timbal-balik yang berimbang. dan kalau semuanya itu kita perhatikan secara saksama. Mungkin juga kita lakukan pendekatan komparatif antara suatu teori dengan lainnya. maka globalisasi sebagai proses juga menggejala sebagai peristiwa yang melanda dunia secara lintas-budaya (trans-cultural). Medan F P = --------------------. 2003 : 23). tiap teori bisa saja memiliki keunggulan 61 . (Sudarmajid. dan makin mengaburkan implikasi dan komplikasi makna yang terkandung di dalamnya. Dalam gerak lintas-budaya mi terjadi berbagai pertemuan antar-budaya (cultural encounters) yang sekaligus mewujudkan proses saling-pengaruh antar-budaya. cara mi akan membutuhkan uraian panjang lebar karena biasanya perlu diperjelas dengan tafsiran konseptual dan kontekstual. tapi keunggulan suatu teori berkenaan dengan sesuatu gej ala budaya tidak selalu bearti keunggulan teori itu secara menyeluruh. yaitu.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Menurut Aditya (2004 : 11) globalisasi pada hakikatnya adalah proses yang ditimbulkan oleh sesuatu kegiatan atau prakarsa yang dampaknya bekelanjutan melampaui batasbatas kebangsaan (nation-hood) dan kenegaraan (state-hood). Cara lain ialah memperbandingkan berbagai definisi yang dapat dipandang terkemuka dalam literatur.

seperti misalnya usaha pengenalan dan penyadaran tentang apa yang µbaik¶. maka tidak terlalu keliru kiranya kalau kita mengartikan kebudayaan sebagai sehimpunan nilai-nilai yang oleh masyarakat pendukungnya dijadikan acuan bagi perilaku warganya. kebudayaan Pharaonic yang benlaku dalam masyarakat Mesir kuno surut seiring dengan klan memudarnya kebudayaan itu sebagai sumber acuan untuk penjabaran norma-norma perilaku bagi masyarakat Mesir sekarang. 1 . nilai kesusllaan dinyatakan melalui berbagai tatakrama. tolokukur itu baru menjelma melalui norma-norma sebagai pengatur kepantasan perllaku.(Kariadi. µburuk¶. nilai religius diungkapkan melalui berbagai norma agama.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. kemanusiaan. Medan dalam satu dan lain hal. bahwa timbultenggelamnya kebudayaan sangat dipengaruhi oleh apa yang tenjadi dalam pertemuan 62 . batas antara apa yang dinilai sebagai kebajikan (good) atau kejahatan (evil) berlaku dalam garis besar yang memisahkan satu dan lainnya. kebajikan. Dan uraian di atas mi dapat disimpulkan. sehingga konvergensi antar-teori mungkin saja digunakan dalam usaha memahami berbagai manifestasi budaya. penjabaran nilai kebudayaan menjadi norma peradaban dapat dipandang sebagai pengalihan dan sesuatu yang transenden menjadi sesuatu yang immanen. Kalau kita sarikan muatan berbagai definisi yang terkemuka. Tapi juga dalam era kontemporer mi suatu kebudayaan sebagai sistem nilai dapat dengan suatu rekayasa didesak oleh sistem nilai barn. Nilai keadilan diwujudkan melalui hukum dan sistem peradilan. µindah¶. nilai keindahan dijabarkan melalui berbagai norma artistik. Perhatikan misalnya ³Revolusi Kebudayaan´ yang secara berencana dilancarkan di Republik Rakyat Cina pada pertengahan tahun 6Oan. Singkatnya. sehingga kebudayaan yang lama kehilangan dayanya sebagai acuan untuk menjabarkan norma-norma perllaku. hal mi berlaku balk bagi kebudayaan yang surut oleh perubahan zaman maupun yang kehadirannya dipaksakan untuk mendesak kebudayaan lama.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. bahwa kebudayaan adalah kerangka acuan perilaku bagi masyarakat pendukungnya berupa nilai-nilai (kebenaran. Sebagai sumber acuan. Nilai-nilai itu juga berpengaruh sebagai kerangka untuk membentuk pandangan hidup yang kemudian relatif menetap dan tampil melalui pilihan warga budaya itu untuk menentukan sikapnya terhadap berbagai gejala dan peristiwa kehidupan. belum lagi antara keduanya diperbedakan dalam perbandingan µseberapa balk¶ atau µseberapa buruk¶ dipandang dan tolokukur tertentu. keadilan. Terjalinnya kesadaran transendensi dan immanensi inilah yang menjadikan dinamika sejarah kemanusiaan sebagai kaleidoskop perkembangan kebudayaan dan peradaban. ketika Kemal Attaturk melancarkan gerakan modernisasi (yang diartikan sebagai µwestemisasi¶). Perhatikan pula perubahan yang terjadi di Turki. 2002) Dalam sejarah kemanusiaan banyak contoh yang menunjukkan. Kesemuanya mi sekaligus menunjukkan bahwa kebudayaan adalah suatu pengejawantahan yang hidup selama ada masyarakat pendukungnya. sedangkan peradaban adalah penjabaran nilai nilai tersebut melalui diwujudkannya norma-norma yang selanjutnya dijadikan tolokukur bagi kepantasan perilaku warga masyarakat ybs. Pasang-surutnya kebudayaan sepanjang sejarah kemanusiaan nyata sekali ditentukan oleh sejaubmana kebudayaan itu masih berlanjut sebagai kerangka acuan untuk dijabarkan melalui sesuatu tatanan normatif. dsb). dsb dalam tindak-tanduk seseorang. dan begitu seterusnya. Adanya tolokukur normatif mi menjadi dasar bagm berkembangnya peradaban (civilization) sebagai bagian dan dinamika budaya tertentu. keindahan. dan dengan demikian tersedia pula ukuran untuk nonkonformisme. perubahan serupa pun teijadi tatkala Partai Komunis Rusia berhasil menggulingkan kekaisaran di Rusia dan memperkenalkan nilai-nllai barn sebagai acuan bagi norma perllaku barn yang ideal bagi suatu masyarakat komunis. Norma (nomos) adalah tolokukur yang memungkinkan terjadinya konformisme perilaku dalam sesuatu masyarakat. persepi terhadap nilai-nilai itu masih besifat umum. Nilai-nilai itu pada sendirinya barn merupakan acuan dasar yang keberlakuannya disadarkan melalui ikhtiar pendidikan sejak dini. Misalnya. µdosa¶.

Justru plunisentrisme dan multipolaritas menjadi cmi dunia menjelang akhir abad ke-20 dan memasuki abad ke-2 1. Perubahan gayahidup yang ditiru dan budaya asing bisa berkelanjutan dengan timbulnya gejala keterasingan dan kebudayaan sendiri (cultural alienation). yaitu berlakunya herbagai norma acuan penilaku dalam masyarakat yang bersangkutan. Kendatipun dalam periode Perang Dingin kondisi bipolar seakanakan membelah-dua dunia mi dengan pengendalian dan dua pusat kekuatan dunia yang saling bertentangan. Kesanggupan sesuatu satuan budaya untuk mempertahankan kesejatiannya dalam pertemuan antar-budaya yang demikian majemuknya itu sangat ditentukan oleh tinggirendahnya derajat kesadaran budaya dan tanguhrapuhnya tingkat ketahanan budaya masyarakat pendukungnya. Kebudayaan adalah suat daya yang u sekaligus tersimpan (latent) dan nyata (actual). Dalam kondisi demikian itulah globalisme menjadi cara pandang dalam interaksi antarbangsa. Ruang/jarak makin diperdekat dan waktu makin dipersingkat dalam interaksi dan komunikasi pada skala mondial. Makin rendah derajat ketahanan budaya masyarakat pendukungnya. Tidak ada kekuatan tunggal yang mutlak dan sanggup mengabaikan apalagi mengungguli. Tangguh atau rapuhnya ketahanan budaya biasanya dilatani oleh menurunnya kesadaran masyarakat yang bersangkutan terhadap kebudayaannya sebagai pengukuh jatidirinya. Sebagai proses.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. melainkan terjadi dengan ketenlibatan sejumlah fihak secara segera (instantaneous) serta serempak (simultaneous). Seantero jagad seolah-olah tertangkap dalam satu janingan besar tanpa adanya suatu pusat tunggal. satu daya dengan kecenderungan preservatif dan satunya lagi dengan kecenderungan progresif. dan hal ml pada gllirannya mendorong berlangsungnya proses globalisasi yang terus berkembang atas kemekarannya sendiri. 1 .April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Demikianlah kebudayaan mengandung dua daya sekaligus. Dalam kondisi demikian itulah pertemuan antarbudaya sangat berpengaruh atas perimbangan antara kedua daya tersebut. yaitu dimensi ruang (space) dan waktu (time). Dalam perkembangan sedemikian itu dirasakan makin dipenlukan nya suatu tatanan dunia baru yang perwujudannya memperhatikan plurisentrisme dan multipolanitas sebagai 63 . Medan antarbudaya. Budaya asing yang berpengarnh dominan terhadap satuan budaya asli bisa membangkitkan kesan sebagai µmodel¶ untuk ditiru.kondisi global yang plurisentnik dan multipolar dalam era kontemporer. Sampai batas tertentu dan saling -pengaruh yang terjadi itu dapat terpantul seberapa tinggi derajat kesadaran dan tingkat ketahanan budaya masing-masing fihak yang saling bertemu. Antara kedua daya inilah tiap masyarakat pendukung kebudayaan tertentu berada. 2003) Karena perhatian akan kita pusatkan pada persoalan pertemuan antarbudaya dalam era globalisasi. Dalam kaitan mi pertemuan antarbudayajangan terutama digambarkan sebagai pertemuan antara dua fihak belaka. usainya Perang Dingin tidak menjadikan dunia kita monosentnik.(Ekawati. maka ada baiknya kita bahas dahulu hal-ihwal yang berkenaan dengan globalisasi sebagai proses maupun globalisme sebagai carapandang yang dewasa mi cenderung dianut dalam tata-pergaulan intemasional. Proses globalisasi yang diakibatkan oleh berbagai prakarsa dan kegiatan pada skala internasional sebagaimana menggej ala dewasa mi pun penlu kita cermati sejauhmana siginifikan pengaruhnya dalam pertemuan antar-budaya. Kecenderungan meniru itu dalam kelanjutannya bisa terpantul melalui berkembangnya gayahidup (ljfestyle) barn yang dianggap superior dibandingkan dengan gayahidup lama. satu daya mempertahankannya agar lestani dan daya lainnya menariknya untuk maju. yaitu sebagai daya yang cenderung melestanikan dan daya yang cenderung berkembang atas kemekarannya sendiri. Berkembangnya gayaliidup baru itu dapat menimbulkan kondisi sosial yang ditandai oleh heteronomi. yaitu sejauh mana satu di antara fihak yang saling bertemu kurang atau tidak lagi memiliki ketahanan budaya (cultural resilience). makin kuat pula budaya asing yang menerpanya berpengaruh dominan terhadap masyarakat itu. globalisasi benlangsung melalui dua dimensi dalam interaksi antarbangsa.

Perlu dicatat. sehingga dengan mudah dapat mempengaruhi carapandang dan gayahidup kita. maka yang sesungguhnya terjadi bukanlah µpertukanan informasi¶ (exchange of information) berupa proses dua-arah yang cukup bermmbang. 2001) Gejala tersebut nyata berpengaruh atas terbentuknya sikap mental dan kultural pada fihak yang diterpa (expose) oleh fihak yang menerpanya (impose) dengan anus informasi. melainkan bisa juga mencemani kita secara mental. Dewasa mi sistem dan pelembagaan termaksud tenutama nyata perkembangannya dalam bidang ekonomi dan perdagangan internasional. suka-tak-suka. maka dalam hal mi pun terbawa limbah yang samasekali tidak berguna. Maka tidak mustahil kemajuan masyarakat yang diterpa cenderung diukur secara memperbandingkan dengan hal-ihwal yang dipenkenalkafl melalui informasi dan fihak yang menerpa. dominasi cendernng terjadi dan fihak yang memiliki dukungan teknologi lebih maju terhadap fihak yang lebih terbelakang. Dalam bidang mi tampaknya tiada altematif lain bagi kita kecuali turut berperan di dalamnya. Dengan dukung teknologi modem an infonmasi dalam berbagai bentuk dan untuk benbagai kepentingan dapat disebarluaskan begitu rnpa. Maka tidaklah mengherankan kalau banjir informasi itu akhirya juga bisa benpengaruh terhadap carapandang maupun gayahidup kita.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Dalam naskah mi perhatian kita pusatkan pada penjelmaan globalisme dalam bidang yang jelas berdampak terhadap wawasan budaya kita. dan sebagaimana terjadi dengan setiap banj in. 1 . Ditenimanya suatu tatanan global barn mestinya dapat diandalkan pada tergalangnya konsensus maksimal di antara sege nap eksponen yang berperan dalam janingan itu. sedang kesiapan untuk ambilbagian dalam tatanan barn itu merupakan imperatif yang sukar dielakkan. banjir informasi melalui sistem dan pelembagaan yang didukung oleh teknologi canggih tidak dengan sendirinya mempenkaya wawasan kita. (Ridwansyh. maka betapa pun paradoksal kedengarannya. maka terjadilah banjir deras informasi (information glut) yang menghujani kita dan nyanis tak lagi terkendali. Dalam bidang inilah terjadi pemadatan dimensi rnang dan waktu (yang disebut Harvey µtimespace compression¶). Rancangan demikian itu tentunya hams dapat ditenima oleh majonitas eksponen yang ambilbagian dalam janingan global yang plunisentrik dan multipolar. Sikap yang naif mi antara lain juga ditandai oleh kecenderungan glonifikasi terhadap fihak yang diunggulkan sebagai 64 . Teknologi informasi dan komunikasi dalam era globalisasi mi merupakan pendukung utama bagi tenselenggaranya pertemuan antarbudaya. Dalam bidang informasi. Kesegeraan dan keserampakan anus informasi yang dengan derasnya men erpa kita seolaholah tidak membenikan kesempatan pada kita untuk menyerapnya dengan filter mental dan sikap knitis. Kecenderungan mi adakalanya dianggap sebagai bagian dan upaya µmodemisasi¶. Kalau dewasa ml dianut asas µkebebasan arns informasi¶ (free flow of information). mau-tak-mau. jarak makin diperdekat dan waktu makin dipersingkat. Tatanan itu tentu menuntut dirancangnya berbagai sistem dan pelembagaan yang hams diwujudkan sebagai konsekuensinya. Medan kenyataan global masakini. Dengan jangkaun sedemikian itu. bahwa dalam pertemuan antar-budaya mengalirnya anus informasi itu tidak senantiasa terjadi secara dua-arah. maka fmhak yang lebih unggul dalam menguasai teknologi informasi dan komunikasi niscaya lebih berkesanggupan untuk membiaskan pengaruhnya secara global. Makin canggih dukungan tersebut makin besar pula anus informasi dapat dialirkan dengan jangkauan dan dampak global.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. dan ditenima dengan alasan µmengikuti kecenderungafl global¶. dan inilah awal dan suatu proses yang akhimya bisa bermuara pada pernbahan sikap mental dan kultural. globalisasi dalam bidang ml sudah dijangkau oleh sistem dan pelembagaan yang makin dijadikan acuan dalam hubungan internasional. melainkan dominasi anus informasi dan fihak yang didukung oleh kesanggupan merentangkan sistem informasi dengan jangkauan global. yaitu bidang informasi dan komunikasi yang sangat tertunjang oleh pesatnya laju perkembangan teknologi yang semakin canggih.

Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Bahasa adalah alat atau perwujudan budaya yang digunakan manusia untuk saling berkomunikasi atau berhubungan. Melalui bahasa.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Kehadiran globalisasi membawa pengaruh bagi kehidupan suatu bangsa. Kecepatan arus informasi yang dengan cepat membanjiri kita seolah-olah tidak memberikan kesempatan kepada kita untuk menyerapnya dengan filter mental dan sikap kritis. informasi dalam bentuk apapun dan untuk berbagai kepentingan. Sebagai sebuah proses. globalisasi berlangsung melalui dua dimensi. Dimana era globalisasi ini erat sekali kaitannya dengan teknologi informasi atau komunikasi. yaitu mengolah atau mengerjakan.menjadi bagian yang penting dalam proses komunikasi. Namun demikian dalam prakteknya di lapangan kedua jenis perubahan perubahan tersebut sangat sulit untuk dipisahkan (Soekanto. tar yaitu dimensi ruang dan dimensi waktu. dan sekaligus mudah membaurkan dirinya dengan segala bentuk masyarakat. filsafat dan lainnya. Dalam budaya visual. Tapi. Kita telah bergerak dari budaya lisan ke budaya tulisan sejak ditemukannya huruf. ideologi. Fungsi bahasa secara umum adalah sebagai alat untuk berekspresi. tingkah laku. ilmu pengetahuan. sekarang kita sedang bergeser dari budaya tulisan ke budaya visual. kebudayaan disebut culture. Perubahan dalam kebudayaan mencakup semua bagian. manusia dapat menyesuaikan diri dengan adat istiadat. Sehingga kemudian sampailah pada era globalisasi. yang meliputi kesenian.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. makin besar pula arus informasi dapat dialirkan dengan jangkauan dan dampak global. Sedangkan fungsi bahasa secara khusus adalah untuk mengadakan hubungan dalam pergaulan sehari-hari. dengan tujuan menyampaikan maksud hati atau kemauan kepada lawan bicaranya atau orang lain. Medan sumber informasi global dan tampil sebagai penentu kecendeningafl (trend-setter) dalam pembentukan sikap mental dan kultural serta gaya hidup barn. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai "kultur" dalam bahasa Indonesia. teknologi. gambar-yang diam atau bergerak. dalam interaksi an bangsa. Pengaruh globalisasi dirasakan di berbagai bidang kehidupan seperti kehidupan politik. Teknologi komunikasi adalah pendukung utama bagi terselenggaranya globalisasi. dan untuk mengeksploitasi ilmu pengetahuan dan teknologi. mempelajari naskah-naskah kuno. Pengertian Budaya Sebelum mengulas tentang perkembangan tekologi komunikasi terhadap kehidupan budaya. sosial budaya. perlu diketahui terlebih dahulu tentang pengertian budaya itu sendiri. Dimensi ruang yang dapat diartikan jarak semakin dekat atau dipersempit sedangkan waktu makin dipersingkat dalam interaksi dan komunikasi pada skala dunia. Akan tetapi perubahan tersebut tidak mempengaruhi organisasi sosial masyarakatnya. berkomunikasi. tata krama masyarakat. mewujudkan seni (sastra). ataupun gerakan (bahasa isyarat). Dengan dukungan teknologi informasi dan komunikasi. 65 . 1 . lisan. Dalam bahasa Inggris. 1990). dan alat untuk mengadakan integrasi dan adaptasi sosial. Seperti dalam hal bahasa. baik lewat tulisan. Makin canggih dukungan teknologi tersebut. yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. yang berasal dari kata Latin Colere. ekonomi. Hal ini tentunya tidak terlepas dari dukungan pesatnya laju perkembangan teknologi yang semakin canggih khususnya teknologi komunikasi. Ruang lingkup perubahan kebudayaan lebih luas dibandingkan perubahan sosial. Bahasa memiliki beberapa fungsi yang dapat dibagi menjadi fungsi umum dan fungsi khusus. dapat disebarluaskan dengan mudah sehingga dapat dengan cepat mempengaruhi cara pandang dan gaya hidup hingga budaya suatu bangsa. Perubahan sosial merupakan bagian dari perubahan budaya. pertahanan keamanan dan lain-lain yang akan mempengaruhi nilai-nilai nasionalisme bangsa. Semakin lama kebudayaan akan semakin berkembang.

Mulai dari wahana TI yang paling sederhana berupa perangkat radio dan televisi. Dengan hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri menunjukan gejala berkurangnya rasa nasionalisme masyarakat kita terhadap bangsa Indonesia. atau memungkinkan seorang ibu rumah tangga memprogram lemari-esnya untuk melakukan pemesanan saribuah secara otomatis jika stok yang disimpan di kulkas itu habis dan membayar berbagai tagihan rumah tangganya melalui 66 . hingga internet dan telepon gengam dengan protokol aplikasi tanpa kabel (WAP). Medan Oleh karena itu selama ini dikenal asas ³kebebasan arus informasi´ berupa proses dua arah yang cukup berimbang yang dapat saling memberikan pengaruh satu sama lain. tak bisa dipungkiri memberikan kontribusi yang signifikan terhadap seluruh proses globalisasi ini. 1 .April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Demikian juga peragaan busana di Paris. Konsep perdagangan elektronik melalui internet. Peningkatan kualitas hidup semakin menuntut manusia untuk melakukan berbagai aktifitas yang dibutukan dengan mengoptimalkan sumber daya yang dimilikinya. dan infrastruktur komunikasi. Pengaruh positif yang dapat dirasakan dengan adanya Teknokom adalah peningkatan kecepatan.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Pengaruh globalisasi dengan dukungan teknologi komunikasi meliputi dua sisi yaitu pengaruh positif dan pengaruh negatif. Sulawesi. TI di internet berkembang dengan kecepatan yang sukar dibayangkan. Internet sendiri memang fenomenal kemunculannya sebagai salah satu tiang pancang penanda kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. 2004) Perubahan informasi kini tidak lagi ada dalam skala minggu atau hari atau bahkan jam. Kemudian dapat menunjang perkembangan kebudayaan. yang pada waktu hampir bersamaan bisa disaksikan dari Gorontalo. informasi mengalir dengan sangat cepat dan menyeruak ruang kesadaran banyak orang. Konsep Teknologi Informasi (TI) Teknologi Informasi (TI) yang kini berkembang amat pesat. misalnya dari globalisasi aspek ekonomi. yaitu dunia ³maya´. akurasi dan kemudahan yang memberikan efisiensi dalam berbagai bidang khususnya dalam masalah waktu. Indeks nilai tukar dollar yang ditentukan di Wall Street. Dengan banyaknya produk luar negeri dan ditambahnya harga yang relatif lebih murah dapat mengurangi rasa kecintaan masyarakat terhadap produk dalam negeri. Jika e-Commerce ³hanya´ memungkinkan seseorang bertransaksi jual beli melalui internet dan melakukan pembayaran dengan kartu kreditnya secara on-line. saling mempelajari kebudayaan lain. terbukanya pasar bebas memungkinkan produk luar negeri masuk dengan mudahnya. TI disamaratakan dengan Internet. ketepatan. AS. Setara dengan perkembangan perangkat keras komputer. Teknologi Informasi dan Komunikasi yang perkembangannya begitu cepat secara tidak langsung mengharuskan manusia untuk menggunakannya dalam segala aktivitasnya. melainkan sudah berada dalam skala menit dan detik. dalam waktu kurang dari satu menit sudah dikonfirmasi oleh Bank Indonesia di Medan Merdeka. tenaga dan biaya. TI telah mengubah wajah ekonomi konvensional yang lambat dan mengandalkan interaksi sumber daya fisik secara lokal menjadi ekonomi digital yang serba cepat dan mengandalkan interaksi sumber daya informasi secara global. Peran Internet tidak bisa dipungkiri dalam hal penyediaan informasi global ini sehingga dalam derajat tertentu. Internet menghilangkan semua batas-batas fisik yang memisahkan manusia dan menyatukannya dalam dunia baru. khususnya mikro-prosesor. (Radian. Banyak hal yang didapat karena pengaruh teknologi komunikasi. Perubahan harga saham sebuah perusahaan farmasi di Bursa Efek Jakarta hanya membutuhkan waktu kurang dari sepersepuluh detik untuk diketahui di Surabaya. yang dikenal dengan nama e-Commerce yang lahir karena perkawinan TI dengan globalisasi ekonomi belum lagi genap berusia lima tahun dikenal ±dari fakta bahwa sebenarnya sudah ada sekitar 20 tahun yang lalu²ketika sudah harus merelakan dirinya digilas dengan konsepsi e-Business yang lebih canggih. Sedangkan pengaruh negatif yang bisa muncul karena adanya teknologi komunikasi.

Di jaman Orde Baru berkuasa dulu. Dari US$ 772. serta mengembangkan pendidikan untuk meningkatkan daya saing Asia. sebagian besar (57. Namun.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. kekuatan TI yang ditekan itu kemudian tampil ³jumawa´ dalam episode jatuhnya Orde Baru. masih menurut sumber dari Kontan On-line. keberadaan internet khususnya merupakan masalah yang pelik. TI disikapi dengan penuh kebingungan. bisa cukup menimbulkan dilema bagi pemerintah.9 juta. negara yang dianggap kurang maju. diikuti oleh discreet manufacturing (16. naik dari US$ 638. dari seluruh penduduk Indonesia yang berjumlah 220 juta jiwa. senjata lebih berkuasa daripada teknologi.9%). dan perbankan (11. pemerintah (12. Sementara dari 17 sektor yang membelanjakan uang untuk TI tadi. dana yang sudah dibelanjakan untuk kepentingan TI di Indonesia cukup besar. membangun jaringan online-pemerintah. Salah satu tindakan yang akan dilakukan oleh pemerintah Asia yang disepakati dalam pertemuan GIIC itu adalah mempersiapkan hukum mengenai transaksi. Angka ini masih sangat kecil dan jika dijadikan pijakan konsepsi utopis TI yang mampu mendorong terjadinya perubahan sosial. Sebagian yang lain (14. menyusun framework penggunaan TI. 1 .April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Jumlah ini belum termasuk investasi dotcom yang sempat bergairah obor-blarak dalam dua tahun terakhir. merek dagang. maka dengan e-Business. Karena itu. transaksi ekspor impor antar negara lengkap dengan pembukaan LC dan model cicilan pembayarannya juga bisa dilakukan dengan wahana dan media yang sama. Bagi Asia.9 juta itu.4%) dibelanjakan untuk perangkat lunak. Tahun 2000 ini diperkirakan US$ 772. serta perbedaan sosial politik di antara negara-negara yang kini harus bekerjasama ±yang bila gagal diatasi.4%). angka untuk perangkat lunak ini jauh lebih besar daripada untuk perangkat kerasnya. Konon. kejahatan internet. wajar jika pemerintah negara-negara Asia. krisis ekonomi yang dialami Asia pada akhir tahun 90an menunda perkembangan TI di saat AS dan negara-negara Eropa sedang berkembang pesat dalam penggunaan teknologi itu. yang saat ini sedang bekerja keras mengejar ketinggalan dari negara-negara maju dan pada saat yang sama mengalami perubahan sosial politik. (http://www. Itu berarti hanya 0. seperti misalnya dalam kasus penggerebekan salah satu Internet Service Provider (ISP) di Jakarta saat ³Kudatuli´ ±kerusuhan dua puluh tujuh juli²yang menghebohkan itu. khususnya pemanfaatan jaringan internet. Lebih buruk lagi.8%). Hal ini diduga keras karena di Indonesia tingkat pembajakan masih di atas 90%. lebih khusus lagi bagi negara yang memiliki peraturan ketat. akan tetap menempatkan Asia di pihak yang merugi. terutama antara lain sumber daya yang terbatas.95% dari jumlah penduduk. Namun. Seharusnya. hak cipta dan masalah lain. Sampai dengan bulan Juni 1999. Kasus ini layaknya menghadapkan kemajuan TI dengan alat perang dan kekuasaan. angka sekecil itu yang diperkuat dengan TI. dipercaya bahwa gerakan mahasiswa dan bantuan logistiknya dikoordinasikan dengan 67 .4 juta tahun lalu. jumlah personal computer yang ada di negeri ini hanya sekitar 2 juta unit. kini mulai secara resmi mendukung perkembangan TI setelah sekian lama diamkebingungan karena tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan perkembangan teknologi yang demikian cepat ini. Namun memang masih ada hambatan.e-culture/203) Pertemuan Asian Regional Conference of the Global Information Infrastructure Commission (GIIC) di Manila pada bulan Juli 2000 menghasilkan rencana untuk membangun jaringan komunikasi.7%) dibelanjakan untuk perangkat keras seperti PC dan notebook. masih kakunya sistem pemerintahan. Bagaimana dengan Indonesia? Menurut Tabloid Kontan On-line tanggal 9 Oktober 2000 yang mengutip IDC (Information Data Corporation) . menyediakan perangkat pengakses informasi dari internet untuk masyarakat. Medan instruksi pada bank yang dikirim dengan menekan beberapa tombol pada telepon genggamnya. Dan seperti biasanya.3%). sektor yang paling banyak mengeluarkan uang adalah komunikasi & media (19.

Tanpa TI. Tak ada jalan untuk mundur lagi. maka negara-negara yang mengambil peran akan semakin mengecil. Pemerintah beranggapan bahwa proteksi itu diberikan dengan asumsi tidak mungkin pemain-pemain lokal mampu bersaing dengan investor asing dalam dunia TI. Dengan semakin banyaknya informasi yang diterima masyarakat. Bahkan. meningkatnya tribalisme saat ini mungkin bisa dianggap terkait dengan kemajuan TI karena memperjelas banyak hal sehingga setiap orang dapat mengetahui peristiwa yang terjadi di mana saja. Keppres 96/2000 yang garis besarnya berisi larangan masuknya investor asing di bidang industri multimedia di Indonesia. teknologi harus berpihak dan mengabdi pada manusia. Bagaimana memulai? Pertama.1 juta unit usaha yang ³tahan banting´ ±sudah teruji dalam krisis ekonomi²maka pengusaha kecil. Dalam hal politik. tersirat inferioritas yang luar biasa dalam diri pemerintah. apabila seseorang ingin mendirikan warung internet. sedang bermetamorfosa dari swapraja menuju swakelola. informasi tidak ada. Padahal. 2004) TI modern memungkinkan kerjasama yang luar biasa antar masyarakat. Globalisasi. pelaku ekonomi dan negara. dalam hal informasi dan dilihat dari kacamata TI. menengah dan koperasi merupakan sasaran pokok yang harus didorong dan diberdayakan dalam memanfaatkan TI untuk 68 . yang tentu ada dalam mainstream TI. entah dimana salahnya. 1 . Medan memanfaatkan kecanggihan TI ini. (Martinginsih.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. bahwa kebijakan pemerintah saat ini menimbulkan semakin banyak masalah yang timbul dalam pengembangan TI. yaitu jatuhnya rejim militeristik yang sudah berkuasa 32 tahun lamanya. yang pada masa lalu tidak terlihat ±tapi bukannya tidak ada. dari yang lokal. Demokrasi melanda dunia dan dunia menerapkan demokrasi itu melalui sistem telekomunikasi global. 1998 dan 1999. komunikasi militer pun disadap dan semua sandi militer diterjemahkan oleh para aktivis dan dibagikan lewat pager. bukan negara (state). Dalam PP No 52/2000 misalnya. jika dilihat dari kacamata TI dan globalisasi secara paradoks bisa jadi sudah punah karena negara yang efektif justru memecah dirinya menjadi bagian lebih kecil dan lebih efisien. Kenichi Ohmae dalam bukunya yang terkenenal The End of the Nation State. telepon gengam dan email pada para koordinator lapangan untuk mengantisipasi blokade militer yang menyapu Jakarta dan kota-kota lainnya saat itu. pemerintah harus mulai berubah ke arah sistem dimana peraturan dan hukum didasarkan bukan pada kemauan pemerintah. justru banyak pemain lokal yang berteriak dan menentang keppres ini. Maka yang harus dilakukan dalam konteks perkembangan TI dan globalisasi ini adalah membangun kembali keberpihakan TI melalui strategi yang membela mereka yang selama ini ditinggalkan dan diabaikan dalam arus globalisasi. jelas adalah keniscayaan. TI. Dunia yang saat ini. Telkom. Sebuah paradoks: karena ekonomi global makin membesar. harus meminta ijin yang ditandatangani oleh menteri (!). yaitu dengan memberikan kesempatan pada yang kecil. Dunia dalam kacamata TI saat ini adalah dunia tentang pribadi orang per orang. menunjukkan dengan jelas kebingungan pemerintah dalam merespon perkembangan bisnis multimedia. Kebingungan ini juga terlihat jelas dalam perumusan UU Telekomunikasi beserta PP yang menyertainya. Konsep Negara Kesatuan misalnya.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. dan tanpa informasi maka semua kegiatan akan berhenti. berkontribusi atas terjadinya suatu perubahan sosial yang bermakna di Ind onesia. melainkan pada legitimasi masyarakat. menurut pencetus ide ³The Third Way´ Anthony Giddens dengan teori strukturasi modernisnya. Satu-satunya pemain lokal yang terlihat paling getol mendukung dikeluarkannya keppres tersebut hanyalah PT. pemerintah baru yang terpilih secara relatif demokratis pasca rejim Orde Baru ini juga gagap menanggapi kemajuan TI. melihat dengan jelas bahwa gagasan ³pemerintah pusat adalah bagian yang terpenting dari sebuah pemerintahan´ sudah saatnya ditinggalkan. Dengan populasi mencapai 2. Dengan Kepres itu. untuk mengurus ijin pendirian warnet. secara langsung atau tidak. Jelas. Menurut Amartya Sen. Tapi. pemenang hadiah Nobel bidang Ekonomi tahun 1998.

Kemudahan dalam mengakses informasi dan ilmu pengetahuan dari berbagai sumber dan belahan dunia. Oleh karena adanya pergeseran demikian. Bangsa dan negara yang menguasai teknologi tinggi berarti akan menguasai ³dunia´. Dampak perkembangan teknologi informasi. Disamping itu. terutama teknologi informasi (information technology) seperti internet sangat menunjang setiap orang mencapai tujuan hidupnya dalam waktu singkat. 1 . membina dan menyelamatkan para generasi muda dari dampak negatif kemajuan teknologi informasi. tindakan kriminalitas dan budaya kekerasan. mudah. Semua ini dapat dipahami. kompetitif dan komparatif. Dampak perkembangan teknologi informasi dirasa sangat berpengaruh terhadap pengaturan hukum. cepat dan aman. budaya. telepon selular dan media elektronik lain) yang berkembang sangat pesat.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. seperti pergaulan bebas. Betapa tidak dengan penggunaan teknologi informasi perilaku manusia secara nyata telah beralih dari model aktifitas yang didasarkan pada suatu bentuk hubungan face to face telah bergeser kepada pola hubungan digitally. Adanya penyalahgunaan teknologi informasi yang merugikan kepentingan pihak lain sudah menjadi realitas sosial dalam kehidupan masyarakat moderen sebagai dampak dari pada kemajuan iptek yang tidak dapat dihindarkan lagi bagi bangsa-bangsa yang telah mengenal budaya teknologi (the culture of technology). baik secara ekonomi. baik legal maupun illegal dengan menghalalkan segala cara karena ingin memperoleh keuntungan secara ³potong kompas´. diperlukan persiapan yang matang. terutama terhadap generasi muda itu. Teknologi telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan umat manusia dalam dunia yang semakin ³sempit´ ini. agar mereka dapat mengambil manfaat positif dan membentengi diri dari dampak negatif globalisasi dunia yang tengah berkembang ini. Tujuan utama perkembangan iptek adalah perubahan kehidupan masa depan manusia yang lebih baik. Sedangkan dampak negatifnya adalah masuknya pengaruh budaya asing. Selaku harapan serta tumpuan bangsa dan negara yang akan melanjutk pembangunan an di segala bidang. seni dan sastra. sumber daya manusia dan keahlian. Globalisasi dunia melalui teknologi informasi (internet. generasi muda mesti dibekali sedini mungkin dengan ilmu pengetahuan tentang tata cara mengambil manfaat positif dari kemajuan teknologi informasi yang berkembang dengan deras dan pesat. merupakan salah satu manfaat positif. Generasi muda adalah kelompok masyarakat yang sangat rentan terhadap pengaruh budaya asing ini. Pemanfaatan Teknologi Informasi Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) yang cukup pesat sekarang ini sudah menjadi realita sehari-hari bahkan merupakan tuntutan masyarakat yang tidak dapat ditawar lagi. murah. pemantapan kehidupan beragama dapat dijadikan benteng pertahanan bagi masyarakat untuk meminimalisasi pengaruh negatif dari 69 . politik. karena teknologi memegang peran amat penting di dalam kemajuan suatu bangsa dan negara di dalam percaturan masyarakat internasional yang saat ini semakin global.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Medan melakukan perdagangan elektronik karena keterbatasan modal. penyalahgunaan Narkoba. Perkembangan iptek. hukum internasional maupun teknologi persenjataan militer untuk pertahanan dan keamanan negara bahkan kebutuhan intelijen. sehingga dalam membangun sosial budaya. Dampak buruk dari perkembangan ³dunia maya´ ini tidak dapat dihindarkan dalam kehidupan masyarakat modern saat ini dan masa depan. semakin dituntut dan diperlukan untuk mengawasi. Peranan pemerintah bersama serta segenap elemen masyarakat. maka tidak mengherankan dalam setiap aspek kehidupan manusia pun mulai menunjukan suatu fenomena baru. bisa positif bisa pula negatif. Hal ini salah satunya dapat dilihat pada upaya kreasi manusia yang berkaitan dengan bidang ilmu pengetahuan.

Mengantisipasi kejahatan ini seyogianya dimulai melalui pembentukan perangkat undangundang seperti dalam Konsep KUHP Baru dan RUU Teknologi Informasi yang disusun oleh Pusat Kajian Cyberlaw Universitas Padjadjaran.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Manifestasi kejahatan mayantara yang terjadi selama ini dapat muncul dalam berbagai macam bentuk atau varian yang amat merugikan bagi kehidupan masyarakat ataupun kepentingan suatu bangsa dan negara pada hubungan internasional. khususnya kepolisian tidak mampu untuk menangkal dan menanggulangi disebabkan keterbatasan sumber daya manusia. Kejahatan mayantara dewasa ini mengalami perkembangan pesat tanpa mengenal batas wilayah negara lagi (borderless state). Artinya. Medan dampak globalisasi dunia melalui teknologi informasi yang masuk dengan deras ke semua pelosok negeri di Indonesia. Para hacker dan cracker bisa melakukannya lewat lintas negara (cross boundaries countries) bahkan di negara-negara berkembang (developing countries) aparat penegak hukum. Jaringan informasi global atau internet saat ini telah menjadi salah satu sarana untuk melakukan kejahatan baik domestik maupun internasional. Pihak kepolisian Indonesia telah membentuk suatu unit penanggulangan kejahatan mayantara dengan nama Cybercrime Unit yang berada di bawah kendali Direktrorat Reserse Kriminal Polri. Konsep 70 . Model yang digunakan adalah Umbrella Provision atau ³undang-undang payung´. kebudayaan. internasional dan melampaui batas ataupun kedaulatan suatu negara. namun amat disayangkan apabila unit ini bekerja tidak dilengkapi dengan perangkat legislasi anti cybercrime. Munculnya revolusi teknologi informasi dewasa ini dan masa depan tidak hanya membawa dampak pada perkembangan teknologi itu sendiri. kecuali kejahatan mayantara yang bermotif pada kejahatan ekonomi/perbankan. sarana dan prasarana teknologi yang dimiliki. kehidupan pribadi. Pembentukan unit kepolisian ini patut dipuji. Harus diakui bahwa Indonesia belum mengadakan langkah-langkah yang cukup signifikan di bidang penegakan hukum (law enforcement) dalam upaya mengantisipasi kejahatan mayantara seperti dilakukan oleh negara-negara maju di Eropa dan Amerika Serikat. Pemerintah Indonesia sedang melakukan suatu pendekatan evolusioner untuk mengatur kegiatan-kegiatan santun di cyberspace dengan memperluas pengertianpengertian (ekstensif interpretasi) yang terdapat dalam Konsep KUHP Baru. akan tetapi diatur secara umum dalam RUU Teknologi Informasi dan RUU Telematika. 2002) Selain melakukan upaya dengan mengkriminalisasikan kegiatan di cyberspace dengan pendekatan global. masyarakat bahkan bangsa dan negara.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. akan tetapi juga akan mempengaruhi aspek kehidupan lain seperti agama. sosial. ekonomi dan hukum dari kemajuan teknologi moderen yang tidak begitu mudah ditangani oleh aparat penegak hukum di negara berkembang seperti halnya Indonesia yang membutuhkan perangkat hukum yang jelas dan tepat dalam mengantisipasi setiap bentuk perkembangan teknologi dari waktu ke waktu. politik. karena kemajuan teknologi yang digunakan para pelaku cukup canggih dalam aksi kejahatannya. artinya ketentuan cybercrime tidak dibuat dalam bentuk perundang-undangan tersendiri (khusus).(Nugraha. Kesulitan yang dialami adalah pada perangkat hukum atau undang-undang teknologi informasi dan telematika yang belum ada sehingga pihak kepolisian Indonesia masih raguragu dalam bertindak untuk menangkap para pelakunya. 1 . Semua ini menjadi motif dan modus operandi yang amat menarik bagi para penjahat digital. Di sini perlu ada semacam batasan hukum yang tegas di dalam menanggulangi dampak sosial. Internet menjadi medium bagi pelaku kejahatan untuk melakukan kejahatan dengan sifatnya yang mondial. Suatu hal yang patut diperhatikan adalah bahwa kejahatan sebagai gejala sosial sampai sekarang belum diperhitungkan dan diakui untuk menjadi suatu tradisi atau budaya yang selalu mengancam dalam setiap saat kehidupan masyarakat.

karena telah menjadi ³kebutuhan pokok´ manusia moderen yang cenderung pada kemajuan dengan mempermudah kehidupan masyarakat melalui komunikasi dan memperoleh informasi baru. Selain itupula dukungan kemampuan masyarakat untuk mengetahui perkembangan kebudayaan Kota Makassar juga berperan penting terhadap perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. HASIL PEMBAHASAN Hasil penelitian yang digunakan dalam pelaksanaan ini untuk menganalisa faktor pendukung pemanfaatan globalisasi Teknologi Informasi terhadap perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. Sayangnya. Perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat dewasa ini patut disyukuri sebagai hasil budaya manusia moderen. Seyogianya kemajuan teknologi menolong kehidupan masyarakat yang semakin kompleks. Dampak buruk teknologi yang disalahgunakan oleh orang-orang tidak bertanggungjawab menjadi masalah hukum pidana dan harus segera ditanggulangi melalui sarana penal yang dapat dilakukan oleh penegak hukum kepolisian. Berikut pendapat responden tentang kemampuan Pemerintah dalam mendukung pemanfaatan globalisasi teknologi informasi terhadap budaya masyarakat di Kota Makas sar yaitu sebagai berikut : 71 . Data tersebut dikumpulka melalui pra survey dan survey lapangan (observasi langsung) dan wawancara mendalam (debt interview) dengan menggunakan pedoman wawancara. Namun perkembangan teknologi digital tidak akan dapat dihentikan oleh siapapun. Data primer diperoleh melalui penyebaran angket kepada beberapa responden dengan menggunakan angket (questioner). Dampak buruk teknologi menjadi pekerjaan rumah bersama yang merupakan sisi gelap dari perkembangan teknologi yang harus ditanggulangi.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. perangkat undang-undang belum tersedia sebagai sarana penal dalam menanggulanginya. 1 .JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. baik melalui sarana penal maupun non penal agar tidak menjadi masalah kejahatan besar bagi bangsa dan negara yang mengalami krisis ekonomi. Mengingat kemajuan teknologi telah merambah ke pelosok dunia. termasuk kepedesaan di Indonesia. Adapun hasil penelitian yang dilakukan terhadap obyek penelitian adalah sebagai berikut : Kemampuan Masyarakat dan Pemerintah Pemanfaatan globalisasi teknologi informasi dapat terlaksana dengan baik jika didukung oleh kemampuan pemerintah mendukung penggunaan teknologi informasi terhadap perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. Namun kemajuan teknologi membawa dampak buruk dalam kehidupan masyarakat berupa kejahatan mayantara sehingga harus diantisipasi dengan tersedianya perangkat hukum atau undang-undang yang tepat. maka dampak buruk teknologi yang menjadi kejahatan mayantara pada masa depan harus ditanggulangi dengan lebih hati-hati. Medan KUHP Baru sebelumnya tidak memperluas pengertian-pengertian yang terkait dengan kegiatan di cyberspace sebagai delik baru.

Hal ini disebabkan masih kurang masyarakat yang membuka website-website yang memuat tentang perkembangan kebudayaan di Kota Makassar.87 3.46 Jumlah 63 100. 72 . Tidak Mampu 11 17. Sangat mendukung 15 23. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pemerintah sebagai motivator dalam mendukung penggunaan teknologi informasi terhadap perkembangan budaya masyarakat di Kota Makassar.81 2.00 Sumber : Data Primer diolah November 2008 Mengacu kepada jawaban responden tersebut terlihat bahwa kemampuan pegawai di instansi Pemerintah Kota Makassar masih kurang dalam menggunakan software computer PC di setiap unit kerja. yaitu sebagai berikut : Tabel 2 Pendapat Responden Tentang Kemampuan Masyarakat Menggunakan Teknologi Informasi Dalam Mendukung Kebudayaan Masyarakat di Kota Makassar Frekuensi Persentase No Pendapat Responden (orang) (%) 1. Medan Tabel 1 Pendapat Responden Tentang Kemampuan Pemerintah Dalam Mendukung Globalisasi Teknologii Informasi terhadap Kegiatan Kebudayaan Di Kota Makassar Frekuensi Persentase No Pendapat Responden (orang) (%) 1.03 %).03 4. Kurang mendukung 7 9.52 Jumlah 63 100. Hal ini dapat dilihat dari fasilitas yang digunakan saat melakukan kegiatan kebudayaan seperti pameran-pameran kebudayaan ataupun memperkenalkan seni-seni budaya yang ada di Kota Makassar kepada dunia luar. Karena dari 63 responden yang memberikan jawaban mendukung sebanyak 35 orang (55.56 3. Hal ini dapat dilihat dari pemanfaatan Teknologi Informasi dalam mendukung kegiatan di Kota Makassar seperti pembuatan website Pemerintah Kota Makassar yang memuat tentang perkembangan sektor kebudayaan di KotaMakassar. Karena dari 63 responden yang memberikan jawaban kurang mampu sebanyak 29 orang (46. Tidak mendukung 6 9.00 Sumber : Data Primer diolah November 2008 Mengacu kepada jawaban responden tersebut terlihat bahwa kemampuan pemerintah mendukung pemanfaatan Teknologi Informasi budaya masyarakat Kota Makassar. Kurang Mampu 29 46. Sangat Mampu 13 20.56 %) Wawancara dengan informan diperoleh informasi bahwa pemerintah mendukung pemanfaatan Teknologi Informasi terhadap perkembangan budaya masyarakat di Kota Makassar. 1 .52 4. Mampu 10 15. Wawancara dengan informan diperoleh informasi bahwa kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan Teknologi Informasi masih kurang. Berikut pendapat responden tentang kemampuan masyarakat menggunakan Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan budaya masyarakat di Kota Makassar.63 2. Mendukung 35 55.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika.

22 Mengacu kepada jawaban responden tersebut terlihat bahwa kualitas fasilitas Teknologi Informasi yang digunakan dalam mendukung perkembangan budaya masyarakat di Kota Makassar kurang berkualitas.87 Kurang berkualitas 21 33. 1 . Berikut pendapat responden tentang kualitas fasilitas Teknologi Informasi dalam mendukung perkembagan budaya masyarakat di Kota Makassar yaitu sebagai berikut : Tabel 3 Pendapat Responden Tentang Kualitas Sarana dan Prasarana Dalam Pemanfaatan Teknologi Informasi Terhadap Perkembagan Kebudayaan di Kota Makassar No 1 . Wawancara dengan informan diperoleh informasi bahwa fasilitas yang digunakan dalam mendukung peningkatan kegiatan kebudayaan di Kota Makassar telah memadai dan memiliki kualitas yang cukup berkualitas. Berikut pendapat responden tentang kuantitas fasilitas yang dimiliki dalam mendukung penggunaan Teknologi Informasi yaitu sebagai berikut : 73 .JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Dukungan Fasilitas Teknologi Informasi Fasilitas teknologi informasi yang memadai baik dari segi kualitas maupun kuantitas sangat dibutuhkan. Hal ini dapat dilihat masih banyaknya masyarakat yang kurang memahami pemanfaatan globlalisasi Teknologi Informasi dari seluruh aspek kehidupan termasuk perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. Karena dari 63 orang yang memberikan jawaban kurang berkualitas adalah 21 orang (33. pihak Pemerintah Kota juga melakukan kerjasama dengan pihak penyediaan layanan Teknologi Informasi untuk mendukung kualitas fasilitas yang digunakan.58 Pendapat Responden Sangat Berkualitas Frekuensi (orang) 14 Persentase (%) 22. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa fasilitas yang digunakan dalam setiap kegiatan kebudayaan fasilitas yang digunakan cukup berkualitas. Jumlah 63 Sumber : Data Primer diolah November 2008 100.33 %). Dalam mendukung kegiatan kebudayaan di Kota Makassar selain menggunakan fasilitas yang dimiliki.33 Berkualitas 18 28.00 Tidak Berkualitas 10 15. Medan Hasil pengamatan menunjukkan bahwa teknologi informasi yang digunakan dalam mendukung kebudayaan di Kota Makassar kurang maksimal. 3 . 2 . Hal ini dapat dilihat saat melakukan kegiatan kebudayaan Teknologi Informasi yang digunakan dapat digunakan baik oleh masyarakat maupun pihak.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. 4 . Fasilitas yang memadai akan memberikan kemudahan kepada pengguna Teknologi Informasi untuk memperoleh data dan informasi. Demikianlah halnya penggunaan teknologi informasi terhadap perkembangan kebudayaan di Kota Makassar memerlukan fasilitas yang memadai bai dari segi kualitas maupun kuantitas.

00 Mengacu kepada jawaban responden tersebut terlihat bahwa fasilitas Teknologi Informasi yang digunakan dalam mendukung kegiatan kebudayaan di Kota Makassar dari segi kuantitas masih kurang.68 31. 3.89 44.98 36.46 26. Berikut pendapat responden tentang sikap dan perilaku masyarakat terhadap penggunaan Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar yaitu sebagai berikut : Tabel 5 Pendapat Responden Tentang Sikap Masyarakat Terhadap Penggunaan Teknologi Informasi Dalam Mendukung Perkembangan Budaya Masyarakat No 1. Frekuensi (orang) Sangat baik 4 Baik 7 Kurang Baik 21 Tidak Baik 15 Jumlah 63 Sumber : Dara primer diolah November 2008 Pendapat Responden Persentase (%) 8. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa fasilitas Teknologi Informasi yang digunakan dalam mendukung kegiatan kebudayaan di Kota Makassar masih perlu mendapat perhatian dari Pemerintah Kota Makassar. Hal ini dapat dilihat saat melakukan kegiatan kebudayaan.51 14.92 100. Karena dari 63 responden yang memberikan jawaban kurang baik sebanyak 21 orang (44. Pendapat Responden Sangat baik Baik Kurang Baik Tidak Baik Frekuensi 11 17 23 12 Persentase 17. Kurang memadainya fasilitas Teknologi Informasi yang digunakan dari segi jumlah masih sangat terbatas. 1 .68 %). Wawancara dengan informan diperoleh informasi bahwa fasilitas Teknologi Informasi yang digunakan dalam mendukung kegiatan kebudayaan di Kota Makassar kurang baik. 4. Hal ini disebabkan keterbatasan anggaran yang dimiliki untuk melakukan penambahan fasilitas Teknologi Informasi yang digunakan dalam mendukung perkembangan kebudayaan masyarakat di Kota Makassar kurang maksimal. 2. 3. maka untuk mendukung kegiatan kebudayaan masih menyewa peralatan dari penyediaan layanan Teknologi Informasi. 2. Medan Tabel 4 Pendapat Responden Tentang Fasilitas Teknologi Informasi Dari Segi Kuantitas Dalam Mendukung Kegiatan Kebudayaan di Kota Makassar No 1. Sikap dan Perilaku Masyarakat Pemanfaatan Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar perlu didukung sikap dan perilaku masyarakat dalam memahami Teknolog i Informasi tersebut.05 74 .51 19.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. 4. Dukungan sikap dan perilaku masyarakat untuk mengetahui sejauh mana perkembangan kegiatan kebudayaan di Kota Makassar.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika.

Kurangnya keinginan tersebut disebabkan : 1. Hal ini dapat dilihat dari sikap masyarakat untuk mengetah ui perkembangan kebudayaan di Kota Makassar masih perlu mendapat perhatian dari pemerintah. 2. 1 .92 30. Hal ini dapat dilihat dari keinginan dan animo masyarakat untuk mengetahui perkembangan kegiatan kebudayaan di Kota Makassar.29 20.51 %). Hasil pengamatan menunjukkan bahwa sikap masyarakat terhadap Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar masih kurang baik.00 Mengacu kepada jawaban responden tersebut terlihat bahwa sikap masyarakat dalam memahami Teknologi Informasi yang digunakan dalam mendukung kegiatan kebudayaan di Kota Makassar masih kurang memahami.93 %). Frekuensi (orang) Sangat memahami 9 Memahami 13 Kurang Memahami 22 Tidak memahami 19 Jumlah 63 Sumber : Dara primer diolah November 2008 Pendapat Responden Persentase (%) 14. Masyarakat kurang termotivasi tentang kegiatan kebudayaan masyarakat. Wawancara dengan informan diperoleh informasi bahwa sikap masyarakat terhadap penggunaan Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar masih kurang baik. 3. Website yang memuat kegiatan kebudayaan di Kota Makassar sering mengalami gangguan atau dalam melakukan download file mengalami gangguan. Karena dari 63 responden yang memberikan jawaban kurang baik sebanyak 23 orang (36.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika.00 Mengacu kepada jawaban responden tersebut terlihat bahwa sikap masyarakat terhadap penggunaan Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar kurang baik. Karena dari 63 responden yang memberikan jawaban kurang memahami sebanyak 22 orang (34. 2. 75 . kurangnya sosialisasi yang dilakukan Pemerintah Kota Makassar kepada masyarakat untuk memanfaatkan Teknologi Informasi dalam mengetahui perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. Wawancara dengan informan diperoleh informasi bahwa sikap masyarakat terhada p penggunaan Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar masih kurang baik. 4.63 34. Medan Jumlah 63 Sumber : Dara primer diolah November 2008 100. Hal ini dapat dilihat dari sikap masyarakat untuk mengetahui perkembangan kegiatan kebudayaan di Kota Makassar masih perlu mendapat perhatian dari pemerintah. Berikut pendapat responden tentang pemahaman masyarakat terhadap Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar yaitu sebagai berikut : Tabel 6 Pendapat Responden Tentang Pemahaman Masyarakat Terhadap TI Mendukung Perkembangan Budaya Masyarakat No 1.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.16 100. 3.

JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. 1 . Medan Wawancara dengan informan diperoleh informasi bahwa sikap masyarakat terhadap penggunaan Teknologi Informasi yang digunakan dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar memerlukan pemahaman dari masyarakat. 76 .April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika.

. London. Polity Press. Technology & Development. Employment. Khususnya kemampuan masyarakat dalam memahami pentingnya pemanfaatan Teknologi Informasi. Denise E. http://www. 3.com Edisi Juli-Agustus 2000. Saran Adapun saran yang dapat diberikan dalam penulisan ini adalah sebagai berikut : 1. Knowledge Machine : Language & Information in a Technological Society. Kemampuan Pemerintah dan kemampuan masyarakat kurang mampu memberikan dukungan terhadap pemanfaatan globalisasi Teknologi Informasi dalam perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. Hal ini dilihat dari beberapa faktor pendukung yang kurang terlaksana secara baik. 1 . Cambridge University Press. Sikap dan perilaku yang dimiliki oleh masyarakat dalam memanfaatkan Teknologi Informasi sangat penting dimiliki sehingga masyarakat dapat memanfaatkan Teknologi Informasi secara maksimal dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. India.com/ di-Up load oleh: Anton Waspo 77 . Perlunya penambahan fasilitas yang memadai dalam mendukung pemanfaatan Teknologi Informasi terhadap perkembangan kebudayaan di Kota Makassar.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. 9 Oktober 2000. Sikap dan perilaku masyarakat dalam memahami pemanfaatan globalisasi Teknologi Informasi kurang optimal.kontan-online. Daftar Bacaan Giddens. Perlunya sosialisasi yang dilakukan pemerintah dalam mendukung peningkatan kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. 2. Oxford University Press. The End of The Nation State ± The Rise of Regional Economies. 2. Medan PENUTUP Kesimpulan Berdasarkan pembahasan di atas. yaitu : 1.infokomputer.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Fasilitas yang digunakan baik segi kualitas dan kuantitas kurang mampu mendukung pemanfaatan Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar.com/ Kontan On-line. 1995 Sen. Longman Publisher. Singapore. dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan globalisasi Teknologi Informasi terhadap perkembangan kebudayaan di Kota Makassar kurang optimal. 2000 Murray. 1985 Lain-lain : Infokomputer. 3. Amartya. Kenichi. Amartya. http://www. Hal ini disebabkan masih banyak masyarakat yang kurang mengerti dan memahami pentingnya Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. The Standard of Living. 1975 Sen. London: Harper Collins. 1995 Ohmae. Anthony. Third Way and Its Critics.

sebelumnya peneliti yang sama pada Pusat Pengembangan Literasi Departemen Komunikasi dan Informatika. Calon TKI sebagai pencari kerja juga biasanya mengingikan informasi yang dianggap menarik perhatian saja seperti mengenai adat istiadat dan agama. perusahaan tempat kerja.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Medan Diseminasi Informasi Ketenagakerjaan Pada Dinas Tenaga Kerja Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah dan Kota Palangkaraya Oleh : Paraden Lucas Sidauruk4 Abstrak Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan gambaran bagaimana pelaksanaan diseminasi informasi ketenagakerjaan bagi pencari kerja di Provinsi Kalimantan Tengah. dan pencari kerja di loket diseminasi kartu kuning. termasuk calon TKI mengenai informasi ketenagakerjaan belum banyak diungkapkan. Pencari Kerja. Oleh karena itu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua Dinas Tenaga Kerja tersebut telah melaksanakan diseminasi informasi ketenagakerjaan secara variatif melalui spanduk. Diseminasi informasi ketenagakerjaan melalui online pernah dilakukan dengan menggunakan internet khususnya e mail dan browsing. Sejauh ini belum banyak diteliti mengenai informasi apa yang selama ini diterima oleh pencari kerja baik yang bekerja di dalam negeri maupun calon TKI yang hendak berangkat ke luar negeri. Sikap ini terjadi karena kurang lengkap pengetahuan dan informasi yang dimilikinya mengenai hak dan kewajiban seorang TKI. Di masa yang akan datang. siaran televisi.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. serta peraturan cuti kerja di negara tujuan. Di dalamnya diungkapkan apa saja yang dilaksanakan Dinas Tenaga Kerja sebagai institusi pemerintah di Daerah tersebut kepada pencari kerja. Wawancara menggunakan pedoman wawancara dengan nara sumber di Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah dan di Kota Palangkarya. khususnya di Kota Palangkaraya. Semua aktivitas tersebut belum maksimal menjangkau khalayak pencari kerja. Umumnya informasi tentang hak dan kewajiban TKI yang lengkap belum diterima pada saat pendaftaran dan proses rekrutmen calon TKI. Penulis adalah Peneliti Madya bidang Studi Komunikasi dan Media pada Pusat Litbang Aptel SKDI. Dinas Tenaga Kerja Latar Belakang Masalah Keluhan pencari kerja. Pengumpulan data dilakukan dengan pengamatan dan wa wancara mendalam (depth interview) serta mempelajari data sekunder. buletin dan leaflet. 1 . sistem gaji dan uang lembur. Jakarta 4 78 . Di samping pemanfaatan internet. calon TKI sebagai pencari kerja cenderung menerima saja informasi yang disampaikan petugas atau sponsor. serta penyampaian informasi secara langsung atau tatap muka. tetapi sementara tidak dapat difungsikan karena hamb atan dana. Informasi yang diperoleh pencari kerja di Tanah Air dari sumber informasi resmi masih amat terbatas tentang informasi lowongan pekerjaan. Kata Kunci : Diseminasi Informasi Ketenagakerjaan. perlu dibangun jaringan LAN ketenagakerjaan di antara instansi ketenagakerjaan yang terkait. apakah diseminasi informasi online sudah berjalan ? Penelitian ini bersifat deskriptif dan menggunakan pendekatan kualitatif dengan fenomenologi realistik. kedua Dinas Tenaga Kerja itu disarankan menyediakan leaflet berisi informasi ketenagakerjaan seperti lowongan pekerjaan dan persyaratan pembuatan kartu kuning.

yaitu : 1. 1 . Apakah diseminasi informasi ketenagakerjaan melalui on line telah dilaksanakan pemerintah kepada pencari kerja ? 3. Banyak juga yang menganggap pekerjaan tertentu hanya sebagai batu loncatan seperti bekerja sebagai penjual (sales) atau bekerja di perusahaan atau instansi yang tidak sesuai dengan harapannya. Informasi apa yang disampaikan oleh pemerintah kepada pencari kerja ? Tujuan dan Manfaat Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan gambaran diseminasi informasi ketenagakerjaan bagi pencari kerja di Palangkarya. Kalimantan Tengah. Apa yang diharapkan oleh khalayak pencari kerja tidak lain adalah agar mereka mendapatkan informasi ketenagakerjaan sesuai dengan kebutuhannya. Kurangnya informasi ketenagakerjaan membuat pencari kerja tidak melihat adanya alternatif atau kesempatan kerja lain. Pencari kerja ini menggunakan informasi itu dalam jumlah yang cukup untuk menghasilaan keputusan yang tepat. sumber informasi resmi di bidang ketenagakerjaan belum sepenuhnya melakukan diseminasi informasi ketenagakerjaan sebagai sutatu bentuk komunikasi yang benar-benar menjangkau khalayak pencari kerja.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Apa saja yang dilaksanakan pemerintah untuk pencari kerja dalam diseminasi informasi ketenagakerjaan? 2.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. perlu penelitian mengenai pemerintah sebagai komunikator yang menangani ketenagakerjaan dalam diseminasi informasi ketenagakerjaan.Oleh karena itu. Selain itu. Komunikasi yang dilakukan oleh pemerintah dan perusahaan selama ini masih belum mampu memenuhi kebutuhan informasi ketenagakerjaan pencari kerja seperti juga terjadi di Palangkaraya. 3. 79 . Provinsi Kalimantan Tengah. Secara spesifik melalui studi ini dapat diketahui : 1. 2. juga sering dikeluhkan kurangnya kualitas sumber daya manusia yang menangani kegiatan diseminasi informasi tersebut. Selain karena kurangnya sarana komunikasi. Untuk memutuskan apakah pencari kerja bekerja di luar negeri atau di dalam negeri dibutuhkan data dan informasi ketenagakerjaan yang memadai. Berdasarkan pemikiran itu. Informasi yang disampaikan pemerintah kepada pencari kerja. Rumusan Masalah Masalah penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut : ´Bagaimana pelaksanaan diseminasi informasi ketenagakerjaan bagi pencari kerja di Kota Palangkaraya. tidak sedikit pula pencari kerja yang menerima tawaran suatu pekerjaan tanpa didasari pada keputusan yang matang. Medan Padahal semua informasi berkaitan dengan ketenagakerjaan itu merupakan hak seorang pencari kerja sebagai warganegara yang dijamin oleh Pasal 28 F UUD 1945 dan Undang-undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik. Pelaksanaan diseminasi informasi ketenagakerjaan on line kepada pencari kerja. tidak sedikit di antaranya berganti-ganti pekerjaan dalam waktu singkat. Sebagai pencari kerja mereka belum mendapatkan informasi ketenagakerjaan yang mencukupi untuk melamar pekerjaan atau menciptakan lapangan kerja baru. Diseminasi informasi ketenagakerjaan yang dilaksanakan pemerintah untuk pencari kerja. Provinsi Kalimantan Tengah ?´ Beberapa pertanyaan penelitian dapat diajukan. Di samping masalah informasi ketenagakerjaan itu. Pemenuhan kebutuhan informasi ketenagakerjaan melalui diseminasi informasi yang efektif dapat memberdayakan pencari kerja sebagai warga negara. tiap pencari kerja berhak untuk mendapatkan informasi yang lengkap sesuai dengan kebutuhannya sehingga mereka bisa membuat keputusan yang tepat. Akibatnya. perlu dijawab informasi apa yang disampaikan sumber informasi tersebut selama ini kepada stakeholder khusunya pencari kerja. Dalam kenyataannya.

istilah. sedikitnya ada tiga karakteristik dari sumber yang perlu diperhatikan yakni : ¶credibility¶ (kredibilitas). Terlebih lagi karena informasi berharga guna mengurangi ketidakpastian seperti dikemukakan dalam Shannon dalam Griffin. 1 . apalagi jika komunikatornya 80 . Bagi Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah dan Dinas Tenaga Kerja. unsur komunikator (who). Where. sehingga pihak penerima menjadi percaya bahwa pesan yang disampaikannya itu bersifat objektif´ Lebih lanjut dikemukakannya. pentingnya pelaku (sumber) dalam suatu kegiatan.. Satu unsur saja tidak ada membuat komunikasi tidak berlangsung dengan baik. ´seorang komunikator akan berhasil dalam upaya persuasi yang dilakukannya apabilka ia (1) dipandang punya pengetahuan dan keahlian. Salah satu faktor yang berpengaruh terhadap kredibilitas komunikator adalah kekuasaan dan keahlian yang dimiliki sehingga menimbulkan kepercayaan di mata khalayak. When. punya integritas serta dipercayai oleh pihak komunikan (khalayak)´ Dalam diseminasi informasi sebagai proses komunikasi yang efektif memerlukan pengemasan pesan sehingga menimbulkan kebutuhan bagi khalayak. Di samping itu. terutama dalam mempersiapkan implementasi Undang-undang Nomor 14 tahun 2008 tentang keterbukaan informasi publik. secara praktis dapat digunakan sebagai masukan dalam penyusunan/penyempurnaan kebijakan pelayanan atau diseminasi informasi pada Departemen Komunikasi dan Informatika. ¶attractiveness¶ (daya tarik) dan ¶power¶ (kekuasaan/kekuatan)´ Credibility atau kredibilitas menunjuk pada suatu kondisi di mana si sumber dinilai punya pengetahuan. Rumus 5W & 1H yang dipakai dalam penyusunan berita ( Effendy. maka pesan tersebut hendaknya mudah dipahami baik bahasa. Dengan kekuasaan dimaksudkan sumber informasi mempunyai kewenangan di bidangnya secara resmi. dan (2) dinilai jujur. Dalam hal ini. (1993 : 204) .April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. perlu dirancang agar pesan menarik perhatian. Dalam kaitannya dengan diseminasi informasi sebagai bentuk dan proses komunikasi. Hal itu semakin jelas. 1993 :72) meliputi Why. dan How dapat juga digunakan untuk diseminasi informasi. Medan Hasil penelitian ini dapat bermanfaat sebagai referensi menambah khazanah pengetahuan mengenai diseminasi informasi. Menurut Sasa Djuarsa dkk. Setidaknya. apabila syarat syarat pesan yang baik itu dapat terpenuhi. Who. Harold D. Unsur komunikasi lain adalah khalayak seringkali dipersepsikan sebagai unsur yang kurang penting karena dianggap sebagai orang bersikap pasif dan menerima saja apa yang disampaikan oleh komunikator. 2007 : 72-73) Informasi yang dikandung dalam pesan itu akan digunakan khalayak. Kerangka Pemikiran Tiap unsur komunikasi mempunyai perannya sendiri untuk mewujudkan proses komunikasi yang efektif. Agar khalayak tertarik terhadap pesan yang disampaikan komunikator. What. atau pengalaman yang relevan dengan atau topik pesan yang disampaikannya. Komunikasi dapat berlangsung jika unsur-unsur yang menopangnya ada dan berperan sesuai dengan fungsinya masing-masing. Untuk itu. 1997 : 50) bahwa ³information refers to the opportunity to reduce uncertainty´. Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Palangkarya saran-saran penelitian ini dapat diterapkan untuk meningkatkan diseminasi infomasi ketenagakerjaan kepada pencari kerja. Ibnu Hamad (2007) mengatakan pembahasan lebih pada diseminasi informasi menggunakan 5W & 1H. 1973 dalam Hamidi. keahlian. Proses pengambilan keputusan yang memberikan kepastian hanya mungkin jika tersedia informasi yang cukup. kata-kata dan kalimatnya (Wilbur Scramm. Pemerintah sebagai komunikator atau sumber informasi menyampaikan pesan (message) kepada khalayaknya.. Laswell dalam Wilbur Schramm (1963 :117) mengatakan ´a convenient way to describe an act of communication is to answer the following questions : who says what in which channel to whom with what effect ?´ Schramm menunjukkan unsur-unsur yang menggambarkan suatu tindakan komunikasi. pesan (what) dan khalayak (whom) merupakan variabel penelitian yang penting dicermati dalam studi diseminasi informasi pada instasni pemerintah.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.

Diseminasi informasi ketenagakerjaan adalah suatu bentuk komunikasi yang menyampaikan atau menyebarkan informasi atau pesan mengenai ketenagakerjaan dari pemerintah sebagai komunikator kepada khalayak pencari kerja. 1979) Informasi adalah ³data yang telah diolah menjadi sebuah bentuk yang berarti bagi penerimanya dan bermanfaat dalam mengambil keputusan saat ini atau mendatang´ (Gordon B Davis. 2004 : 230) Komunikator atau sumber informasi adalah unsur dalam proses komunikasi yang menyampaikan atau menyebarluaskan pesan atau informasi kepada khalay Dalam hal ini ak. hak dan kewajiban TKI. Definisi Konseptual Diseminasi adalah penyebaran (of information) (John M Echols dan Hassan Shadily. 1995.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Menurut Sasa Djuarsa Sendjaja. bukan yang dimaksudkan oleh pengirim. Secara implisit mereka membutuhkan informasi ketenagakerjaan yang berguna untuk membantunya dalam mencari atau melamar pekerjaan. lowongan kerja. Pesan adalah data dan informasi ketenagakejaan yang d isampaikan oleh pemerintah kepada pencari kerja. Medan merupakan instansi pemerintah yang dianggap memiliki kredibilitas di bidangnya. khalayak dalam proses komunikasi yang dimaksud adalah pencari kerja yang juga pencari informasi. bahkan untuk membuka lapangan pekerjaan baru. John Fiske (2006 : 208) mengemukakan ³khalayak memiliki sekumpulan kebutuhan yang dicari pemuasannya melalui media massa. Mereka aktif dan juga selektif. Khalayak ternyata tidak pasif dalam proses komunikasi.. Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Palangkaraya. Diseminasi informasi ketenagakerjaan melalui online adalah diseminasi informasi ketenagakerjaan yang ³terhubung secara langsung ke internet´ (Jasmadi.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika.28). pencari kerja termasuk informasi TKI meliputi persyaratan dan prosedur bekerja di luar negeri. Model ini mengasumsikan khalayak setidaknya sama aktifnya dengan pengirim. 81 . Karena itulah. dalam merancang suatu kegiatan komunikasi apakah melalui saluran kegiatan komunikasi personal atau melalui media massa.. tetapi mempunyai pandangan terhadap pesan dan komunikator. khalayak bukanlah merupakan sekumpulan dari indvidu-individu yang bersikap dan bertindak ¶pasip¶. Dalam hal inilah pentingnya pengetahuan dan informasi bagi khalayak sehingga dapat menentukan sikap yang tepat.. Dalam hubungannya dengan penelitian ini. dan bahwa pesan adalah apa yang dibutuhkan oleh khalayak. Informasi ketenagakerjaan adalah informasi yang berkaitan dengan ketenagakerjaan seperti peraturan ketenagakerjaan. 1 . Pencari kerja adalah setiap orang yang terdaftar di Kantor Dinas Tenaga Kerja Kota / Kabupaten untuk mencari atau melamar pekerjaan di dalam negeri maupun di luar negeri Kebutuhan informasi ketenagakerjaan adalah kebutuhan khalayak pencari kerja mengenai informasi ketenagakerjaan. yakni Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah dan Dinas Tenaga Kerja... dkk (1993 : 221) . kita seyogyanya berorientasi ke khalayak sasaran (audience oriented)´ Sejalan dengan itu. sebagai komunikator adalah instansi pemerintah. cara lain dan relasi sosial´. Padahal khalayak sebagai sasaran juga memiliki sikap sendiri dalam berkomunikasi sesuai dengan kepentingan dan tujuannya.. Sebagai khalayak adalah pencari kerja baik pencari yang bekerja di dalam negeri maupun di luar negeri (calon TKI). Khalayak adalah unsur dalam proses komunikasi yang merupakan sasaran dari penyampaian pesan atau penerima informasi dari komunikator atau sumber informasi.

2007 : 122). Pendekatan kualitatif ´lebih dimaksudkan untuk memberikan gambaran atau pemahaman mengenai gejala (dari perspektif subjek atau aktor). mulia dan besar.Wawancara dengan menggunakan pedoman wawancara yang disusun terlebih dahulu. Tertib dan Keterbukaan). mengumpulkan.637. logis dan rasional yang digunakan oleh peneliti ketika merencanakan. Kalteng. perkebunan 6. Kategori data dibuat berdasarkan permasalahan penelitian dan data lapangan. Narasumber yang diwawancarai adalah pejabat Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah dan Dinas Tenaga Kerja. Mottonya adalah Kota Cantik (Terencana. dan pencari kerja. fenomenologi realistik lebih menekankan pada pengamatan serta penggambaran esensi-esensi yang bersifat umum. pengumpulan data lapangan juga dilakukan wawancara mendalam (depth interview). ´mulai tahun 2008-2010 Pemerintah Provinsi 82 . (Dinas Tenaga Kerja Pemprov.244. GAMBARAN UMUM Geografi dan Demografi Provinsi Kalimantan Tengah Provinsi Kalimantan Tengah dibentuk berdasarkan Undang-Undang Darurat Nomor 10 tahun 1957 dengan ibukota Palangkaraya.564 km2 terdiri dari hutan dan pertanahan lainnya 134.go. membuat teori´ (Pawito. Dengan penelitian ini diharapkan dapat digambarkan proses diseminasi informasi dan jenis kebutuhan informasi khalayak pencari kerja. petugas loket pelayanan kartu kuning.79 km2. (Hamidi. A. sawah dan ladang 10. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan fenomenologi.i. 1 . Oleh karena diseminasi informasi ketenagakerjaan langsung kepada pencari kerja melalui loket pengurusan kartu kuning hanya dilaksanakan oleh Dinas Tenaga Kerja Kabupaten / Kota. Data kualitatif yang diperoleh dari jawaban narasumber dan hasil observasi yang benar-benar sesuai dengan tujuan penelitian berkesempatan untuk dianalisis. Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Palangkaraya.400 km . Satu -satunya 2 pemerintahan kota di provinsi ini adalah Palangkaraya dengan luas 2. 2007 : 44) Dalam hal ini salah satu varian fenomenologi yang digunakan adalah fenomelogi realistik. panas dengan suhu rata-rata 34 0 Celcius. Lokasi penelitian ditetapkan secara purposive yaitu Dinas Tenaga Kerja Pemerintah Provinsi Provinsi Kalimantan Tengah di Kota Palangkaraya dengan pertimbangan bahwa instansi pemerintah yang melayani informasi ketenagakerjaan di Provinsi Kalimantan Tengah terdapat di kota tersebut. maka dipilih Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Palangkarya dengan alasan kota ini merupakan pusat kegiatan pemerintahan dan masyarakat. 95 kecamatan. 25 2 km . Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif dengan melakukan reduksi data terlebih dahulu terhadap data yang masuk baik yang diperoleh melalui wawancara mendalam maupun catatan observasi di lapangan. menganalisis dan menyajikan data untuk menarik kesimpulan. 1 kota. Menurut Embree (1998 :333-343) dalam Pawito (2007 :58). artinya tempat yang suci. termasuk kegiatan ketenagakerjaan di Kalimantan Tengah. Curah hujan terbanyak pada bulan-bulan Oktober sampai dengan Maret.62 km2.Provinsi ini terletak di daerah khatulistiwa dengan iklim tropis yang lembab.24 km2 (BPS.937.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Aman. Medan Metode Penelitian Metode penelitian merupakan seperangkat cara yang sistematik. permukiman dan bangunan lainnya 1.2001) dan (http://www.744.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.b.177 desa dan 122 kelurahan.id?web/id/KER 01/profil/kalteng/tanggal 25-4-2008) Secara administratif Provinsi Kalimantan Tengah terbagi atas 13 kabupaten. sedangkan data yang kurang relevan tidak dimasukkan dalam analisis. 2008a :2) Menurut Gubernur.´ Selain melalui pengamatan atau observasi terhadap proses diseminasi informasi di lingkungan instansi pemerintah. Teras Nerang. Luas provinsi ini 153. 1.

977 58. Tabel itu juga memperlihatkan jumlah penduduk laki-laki secara keseluruhan maupun per kabupaten lebih besar daripada jumlah penduduk perempuan. Pulang Pisau 59. Murung Raya 45.066 Kab.132 50. Penduduk yang menganut agama Islam merupakan golongan terbesar.259 Kab. Sungai Katingan.124 175.514 974.823 42. Kristen. Kotawaringin Timur 165. Minat penduduk untuk bekerja sebagai pegawai negeri sipil.455 Kab. bergaul dengan masyarakat setempat. Giring-giring. Madura.697 Kab.75 penduduk / km2. Dalam tiga tahun akan ada 126 desa dijadikan percontohan. Makassar.961 Kab.401 Sumber : Diolah dari Dinas Tenaga Kerja Pemprov. 1 . dan Kinyah Kamber.36 % dan kepadatan 12. sedangkan di kabupaten lainnya jumlah cukup kecil. Sungai Kapuas.723 Jumlah 1.448 63. Barito Timur 43. Kabupaten Kapuas merupakan kabupaten terbesar dengan jumlah penduduknya 351. tanggal 20-32008) Pada tahun 2006 jumlah penduduk Provinsi Kalimantan Tengah tercatat sebanyak 2. Penduduk memilih bertempat tinggal di perkotaan karena faktor lapangan kerja sektor formal yang mulai berkembang. Agama penduduk nya Islam. Medan Kalimantan Tengah mempunyai program Mamangun Mahaga Lewu (Membangun Menjaga Desa).861 jiwa dengan laju pertumbuhan 2. seperti perdagangan.003 41. 83 .957. Bugis. Katingan dll.176 Kota Palangkaraya 91. Jawa. Lawangan. Ot-siang. Lamandau 28. yaitu orang-orang Banjar. Kaharingan. Arab dan China.003.351 Kab.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. (http://www. (2001 : 43-44) dikemukakan bahwa penduduk asli Provinsi Kalimantan Tengah adalah suku bangsa Dayak.449 Kab. 13-3-2008) Dalam publikasi yang diterbitkan oleh LIN.377 55. desa dan kelurahan 1.545 Kab.513 27. Di seluruh Provinsi Kalimantan Tengah terdapat 30 bahasa daerah.071 92.814 99. Penyebaran penduduk masih belum merata di seluruh provinsi Kalimantan Tengah.401 jiwa terdiri dari 1. Barito Selatan 62. Sukamara 19. Bahasa Dayak Ngaju sebagai bahasa lingufranca. Melayu. dan transportasi.231 Kab.028.353 146. Sungai Kahayan. jasa. Sungai Mentaya dll.383 Kab. Barito Barat 58. Katingan 69.219 16. Pada tahun 2005 jumlah penduduk tercatat 1.028.357 dan 70 % di antaranya adalah desa´ (Kompas. TNI/Polri dan karyawan perusahaan dan berwirausaha cukup tinggi.571 60. Mereka bermukim dalam komunitas±komunitas desa di sepanjang Sungai Barito. dan kabupaten Sukamara hanya berpenduduk 36. Ot Danum.kalteng bps. dan Budha.579 jiwa. Kalteng.180 jiwa.025 Kab.887 Jumlah total penduduk 2. yang terdiri dari beberapa sub suku bangsa seperti Ngaju.003. Selain orang Dayak ada juga penduduk pendatang. terutama tari-tarian antara lain Deder Ketingan. Seruyan 57.566 Kab. Tabel 1 Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin di Kabupaten dan Kota (orang) No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Kabupaten/Kota Penduduk Laki-laki Perempuan Kab.goid.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.Gunung Mas 45. Kesenian masyarakat Dayak.887 perempuan dapat dilihat pada Tabel 1. Ma¶anyam. Kapuas 176.089 42.514 laki-laki dan 974. (2008a:2) Tabel 1 menunjukkan tiga kabupaten dan kota Palangkaraya mempunyai jumlah penduduk yang tergolong besar. tetapi lebih terkonsentrasi di perkotaan. Kotawaringain Barat 106.

558 340.8 % dan perempuan 13.329 187.280 954.421 18. Kalteng.991.dengan laju pertumbuhan ekonomi tahun 2006 sebesar 5.469 Sisa Lowongan 162 183 345 Bukan Tenaga Kerja 189.838 Kesempatan Kerja 578. terutama di perdesaan hampir tidak ada yang kelihatan menganggur secara total.590 872.89 jiwa/km2.887 1.7 %) turun menjadi 55.449 jiwa dan kepadatan 62. Perusahaan dan mall di Kota Palangkaraya mulai menawarkan pekerjaan khusus untuk wanita sebagai sales promotion girls (SPG). Tabel 2 Data Ketenagakerjaan di Provinsi Kalimantan Tengah ( orang) Uraian Laki-laki Perempuan Jumlah Tenaga Kerja 829. Data ini membuktikan bahwa daerah ini tidak bebas dari pengangguran meski wlayahnya amat luas untuk bisa digarap sebagai lahan pertanian. Medan kecuali di Kota Palangkaraya. Berbeda dengan di perdesaan penduduk yang benar-benar tidak bekerja sama sekali sulit ditemukan.360 orang terdiri dari penganggur perempuan 46.704 411. Sektor pertanian dan perkebunan (berkebun sendiri) dan usaha mencari hasil hutan besar peranannya dalam menyerap tenaga kerja sehingga terkesan penduduk di Kalimantan Tengah.360 Sisa Pencaker 2007 20. Secara selayang pandang gambaran Kota Palangkaraya dalam beberapa hal seperti adat istiadat. tanggal 25-4-2008).585 598.7 %)´ (http://www. (Dinas Tenaga Kerja.51 km2 dengan jumlah penduduk pada tahun 2003 tercatat 168.asp.7 %.244 orang (5.kalteng. Angka yang disajikan itu merupakan jumlah penganggur yang tercatat secara resmi di Kantor Dinas Tenaga Kerja di Kabupaten/Kota se-Provinsi Kalimantan Tengah.631 orang (6.558 974. Umumnya penganggur tersebut berdomisili di perkotaan sebagai akibat dari banyaknya lulusan terdidik khususnya SLTA hingga sarjana.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika.6 % dengan jumlah penganggur laki-laki 5.690 82.id/ viewarticle. dan jumlah pencari kerja yang lebih terkonsentrasi pada pekerjaan perkantoran di instansi pemerintah dan perusahaan swasta. Berkaitan dengan kondisi ketenagakerjaan di provinsi ini.478 Penganggur 35.84 %.0 %) pada Pebruari 2007 atau turun 12.048 38.wikipeda.690 orang jauh lebih besar daripada jumlah penganggur laki-laki 35.497 Bukan Angk.Hal ini mendorong penduduk perdesaan pindah (urbanisasi) ke kota Palangkaraya sebagai pencari kerja baru. Setidaknya penduduk di perdesaan bisa menggarap lahan pertanian atau berkebun di tanahnya sendiri atau milik keluarganya sebagai mata pencaharian. 84 . suku bangsa. tercatat tingkat pengangguran sebesar 8. 1 . Pendapatan penduduk per kapita pada tahun 2006 mencapai Rp 9. Keinginan untuk mendapatkan pekerjaan di kota mulai tumbuh di kalangan perempuan di perdesaan. Luas kota ini 2678. (http://www.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.go.289 Sumber : Diolah dari Dinas Tenaga Kerja Pemprov.423 Angkatan Kerja 614.561.org/wki/kota Palangkaraya. (2008a : 2) Jumlah pengangguran terbuka Agustus 2006 67.670 46. agama tidak berbeda jauh dari keadaan Provinsi Kalimantan Tengah.670 orang. Bahkan sebagaimana dikemukakan sebelumnya. ³Bertambahnya jumlah penduduk yang bekerja di sektor pertanian menyebabkan angka pengangguran menurun secara signifikan.397 orang (1.888 293.168 376.Kerja 186. 2008a : 2-3) Pada Tabel 2 dapat dilihat jumlah penganggur sebesar 82.. Pemprov Kalteng. sebagai satu-satunya pemerintahan kota di Provinsi ini tampak karakteristik dan kemajuan perkotaan pada tingkat pendidikan yang lebih tinggi.id.337.

Tabel 3 Jumlah Pencari Kerja Menurut Tingkat Pendidikan di Kalimantan Tengah (orang) Tingkat Pendidikan Laki-Laki Perempuan Tidak Tamat SD 67 24 SD 208 99 SLTP 717 590 SLTA 12. Di samping itu penghapusan sebagai pencari kerja dapat disebabkan karena permintaan sendiri.567 5. Identitas pribadi dan pas photo pencari kerja yang tercantum dalam formulir meliputi tentang pekerjaan sekarang.319 7.469 orang diperoleh dari hasil pendaftaran melalui kartu kuning (AK1) yang dikeluarkan oleh Kantor Dinas Tenaga Kerja Kota atau Kabupaten se Kalimantan Tengah. Pemprov Kalteng.421 18. Jumlah para penc ari kerja ini merupakan sisa yang tidak dapat disalurkan atau mendapat pekerjaan pada tahun 2007 dan mereka mencoba mendaftar kembali untuk mendapatkan kartu AK1 yang baru. pindah wilayah. ³Jumlah pencari kerja yang belum ditempatkan sampai dengan akhir bulan Desember 2007 sebanyak 38.124 2.30 % atau 13.463 D1-D3/SM 3.307 23. Karena tiap pencari kerja diharuskan mengisi Daftar Isian Pencari Kerja yang disediakan secara gratis. Jadi. pekerjaan dan upah yang diinginkan pencari kerja.201 3.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. 2008a : 8) Jumlah pencari kerja yang terdaftar di Dinas Tenaga Kerja Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah berasal dari pencari kerja yang mengurus kartu kuning (AK1) di Kantor Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Palangkaraya di Palangkaraya dan Kantor Dinas Tenaga Kerja yang terdapat di tiga belas kabupaten seKalimantan Tengah. (2008a :5) No 1 2 3 4 5 6 Jumlah 91 307 1. tujuan mencari kartu AK1. (2008a : 5). Kalteng. meninggaal dunia atau sudah mendapat pekerjaan´ (Dinas Tenaga Kerja Pemprov.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. 85 .345 jiwa dalam waktu lima tahun.878 38.469 orang.Polri) dan perusahaan swasta diharuskan melampirkan kartu kuning (AK1) sebagai salah satu syarat.048 Sumber : Diolah dari Dinas Tenaga Kerja Pemprov. Pelamar yang hendak mencari pekerjaan di kantor pemerintah (CPNS. Kartu kuning yang digunakan untuk melengkapi persyaratan lamaran kerja hanya dapat diperoleh di kantor Dinas Tenaga Kerja Kota/Kabupaten melalui loket Diseminasi kartu kuning.677 Jumlah 20. ³Pencari kerja yang tidak melaporkan atau tidak mendaftar ulang setelah terdaftar s ebagai pencari kerja selama 6 bulan berturut-turut akan dihapuskan sebagai pencari kerja karena diangggap tidak memerlukan Diseminasi antar kerja lagi.197 orang.794 jiwa. Pencari Kerja (Pencaker) Kantor Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah tidak melayani langsung pengurusan kartu kuning bagi pencari kerja.469 Data jumlah sisa pencari kerja atau pencaker hingga akhir tahun 2007 sebesar 38. Kalteng.764 orang atau 95. tercatat 183.TNI.195 S1-S3 4. Medan tanggal 28-4-2008) Jumlah penduduknya menurut Tabel 1. 1 .56 % merupakan tenaga terdidik mulai dari t amatan SLTA hingga kategori S1-S3´ (Dinas Tenaga Kerja. Data pencari kerja yang diperoleh dari proses pengurusan kartu tersebut memuat jumlah pencari kerja dan jenis pekerjaan yang diinginkannya. Jumlah pencari kerja berpendidikan tinggi D1-S3 ternyata cukup besar 34. tetapi hanya mengolah dan merangkum data pencari kerja dalam publikasi Berita Pasar Kerja dan Lembar Informasi Ketenagakerjaan yang terbit tiap bulan seperti dapat dilihat pada Tabel 3. Berdasarkan jumlah kartu yang dikeluarkan Dinas Tenaga Kerja Kota / Kabupaten itu dapat diketahui jumlah yang mendaftar sebagai pencari kerja.104 11. terjadi pertambahan sebanyak 15. sebagian besar 36.

peranan visi dan misi semakin penting dalam menjalankan organisasi pemerintahan. yaitu ³reinventing government´. misi dan tujuan organisasi pemerintahan tersebut diperlukan kesamaan persepsi semua pejabat. (2008a :5) No 1 2 3 4 5 6 7 Jumlah 7.164 Tenaga Usaha Pertanian 2. dengan misi di bidang ketenagakerjaan µMembangun Balai Pendidikan dan Ketrampilan untuk Meningkatkan Kemampuan Mengembangkan Semangat Kewirausahaan dan Keahlian Berusaha Melalui Kerjasama Dengan Berbagai Pihak Termasuk Perguruan Tinggi¶ Berdasarkan hal itu.230 Tenaga Usaha Jasa 1.147 2. Program dan kebijakan mengenai diseminasi informasi ketenagakerjaan dibuat dalam rangka mencapai visi dan misi Dinas tersebut.295 3. Kalteng.555 Jumlah 20. Kecenderungan pilihan jenis pekerjaan yang favorit di masa yang akan datang bersifat manajerial di instansi pemerintah dan perusahaan swasta. 3.590 10.654 1. visi Dinas Tenaga Kerja µMengurangi Tingkat Pengangguran dan Meningkatkan Kualitas Hubungan Industrial untuk Meningkatkan Produktivitas Tenaga Kerja¶. Mewujudkan peningkatan kualitas dan produktivitas angkatan kerja. penempatan tenaga kerja dan peningkatan kesempatan kerja di perkotaan dan perdesaan. Pemprov Kalteng. Tiap organisasi di lingkungan birokrasi pemerintahan lebih digerakkan oleh misinya sehingga birokrasi mampu bertindak cepat dalam melayani masyarakatnya. Tujuan Dinas Tenaga Kerja Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah ditetapkan untuk : 86 . (David Osborne dan Ted Gaebler. dan Teknisi 4. Orientasi pemerintah ditujukan kepada khalayaknya sebagai pelanggan yang harus dipenuhi kebutuhannya.421 18.198 3. dan stakeholdernya.048 Sumber : Diolah dari Dinas Tenaga Kerja Pemprov. Menciptakan hubungan industrial yang harmonis antara pekerja.053 1.64 %). Sedangkan misinya adalah : 1. pengusaha dan perlindungan tenaga kerja. Dinas Tenaga Kerja Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah Dengan paradigma baru di bidang pemerintahan dewasa ini.005 4. 2.949 Tenaga Usaha Penjualan 1. Medan Apabila diperhatikan jenis pekerjaan atau golongan pokok jabatan yang didaftar oleh pencari kerja yang belum ditempatkan (ybdi).537 Tenaga Produksi 6. seperti dapat dilihat pada Tabel 4 tampaknya jabatan sebagai tenaga produksi.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika.643 7.634 Kepemimpinan dan Ketatalaksanaan 1.929 3.Visi dan misi Gubernur Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah di bidang ketenagakerjaan merupakan dasar bagi penentuan visi dan misi Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah. pegawai.552 1.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Tabel 4 Jumlah Pencari Kerja Menurut Golongan Pokok Jabatan Pada Tahun 2007di Kalimantan Tengah (orang) Golongan Pokok Jabatan Laki-Laki Perempuan Profesional. dan pejabat pelaksana cukup banyak diminati ( 66.664 1.469 Pelaksanaan Diseminasi Informasi Ketenagakerjaan 1. (2008a : 4) ³ visi Gubernur Kalimantan Tengah Tahun 2005-2010 adalah µmembuka Isolasi Menuju Kalimantan Tengah yang Sejahtera dan Bermanfaat¶. Untuk memahami dan melaksanakan visi.782 2.560 38. Mewujukan pembangunan bidang ketenagakerjaan melalui perluasan lapangan kerja.818 3. 1998) termasuk kebutuhan informasi. tenaga profesional. Dalam publikasi Dinas Tenaga Kerja. 1 . Keberhasilan sektor pendidikan melahirkan tenaga terdidik yang cukup besar di wilayah Kalimantan Tengah berpengaruh terhadap pilihan lapangan kerja.979 Pejabat Pelaksana dan Tata Usaha 3.

Program perlindungan dan pengembangan kelembagaan. Tingkat pengangguran di Kalimantan Tengah pada tahun 2006 sebesar 8. Dalam hubungan itu. kebijakan di bidang ketenagakerjaan pada dasarnya adalah mendayagunakan sepenuhnya sumber daya manusia yang telah dikembangkan melalui pelaksanaan program utama ketenagakerjaan. Salah satu indikator rendahnya pendayagunaan atau pemborosan sumber daya manusia adalah tingginya tingkat pengangguran . Walaupun demikian. 1 . (2008a : 5) Penganggur tersebut merupakan pencari kerja yang sebenarnya membutuhkan informasi ketenagakerjaan. Pemprov Kalteng. 3. Medan 1.di antaranya disebabkan faktor keberhasilan dunia pendidikan menciptakan tenaga terdidik lebih besar dari daya serap lapangan kerja untuk tenaga terdidik tersebut sehingga terjadi kelebihan penawaran tenaga terdidik (Dinas Tenaga Kerja. Program perluasan dan pengembangan kesempatan kerja 2. Untuk dapat melaksanakan diseminasi informasi ketenagakerjaan secara khusus. Basuniansyah. Meningkatkan perlindungan dan pengembangan kelembagaan. Oleh karena itu. Menurut Kepala Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah A. dibentuk Seksi Informasi Ketenagakerjaan di bawah Sub Dinas Perencanaan dan Program. 3. sehingga tiap sumber daya manusia yang terdidik dan telah mendapat pelatihan ketrampilan mendapat pekerjaan. secara internal Seksi Informasi Ketenagakerjaan merupakan supporting unit bagi Sub Dinas dan Bagian Tata Usaha. Pembentukan Seksi Informasi Ketenagakerjaan dimaksudkan untuk melakukan diseminasi dan penyebaran informasi ketenagakerjaan.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Memperluas dan mengembangakan kesempatan kerja. Seksi Perencanaan Tenaga Kerja Ketiga seksi tersebut senantiasa bekerja sama dengan Seksi Informasi Ketenagakerjaan. Upaya pemerintah ditujukan untuk memperluas dan mengembankan kesempatan kerja. terutama tentang lowongan kerja yang tersedia di instansi dan perusahaan swasta. Seksi Pelaporan dan Evaluasi 3. tiap Sub Dinas dan Bagian Tata Usaha pada Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah dapat memberikan informasi mengenai tugas. salah satu tugas Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah yang didelegasikan kepada Seksi Informasi Ketenagakerjaan adalah melaksanakan kegiatan hubungan masyarakat guna memperkenalkan ketenagakerjaan. dalam kegiatan penyebaran informasi ketenagakerjaan serti penyusunan 87 . Seksi Rencana dan Program 2. Tuntutan pekerjaan menghendaki Seksi ini mampu memberikan dukungan terhadap seluruh satuan organisasi yang berada dalam Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah. termasuk informasi mengenai TKI di provinsi ini. 2. Sejalan dengan itu disusun Program Dinas tersebut meliputi : 1. Di samping itu. ´Diseminasi informasi ketenagakerjaan terutama yang ditujukan kepada stakeholder dan masyarakat dianggap sebagai tugas yang penting dalam masyarakat informasi´. Tingginya tingkat pengangguran golongan terdidik -minimal tamatan SLTA. Secara fungsional Seksi Informasi Ketenagakerjaan mempunyai tugas untuk melaksanakan diseminasi informasi ketenagakerjaan. fungsi dan pekerjaan masing-masing. Adanya pembagian tugas yang jelas tersebut tidak menghalangi satuan organisasi untuk menginformasikan hal-hal yang berkaitan dengan ketenagakerjaan.6 % merupakan yang tertinggi yang pernah dialami . Meningkatkan kualitas dan produktivitas tenaga kerja. Tiga seksi lainnya pada Sub Dinas Perencanaan dan Program yang erat hubungannya dengan Seksi Informasi Ketenagakerjaan. Hal ini berarti fokus perhatian utama Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah adalah mengatasi pengangguran. Program peningkatan kualitas dan produktivitas tenaga kerja. yaitu : 1.

Diseminasi informasi ketenagakerjaan dalam bulan K3 atau Keselamatan dan Kesehatan Kerja (12 Desember-12 Januari) dilaksanakan dengan kampanye K3 melalui pemasangan spanduk di pinggir jalan besar dan tempat strategis di kota-kota Kalimantan 88 . Leaflet tentang TKI tidak disampaikan kepada calon TKI maupun Perusahaan Jasa TKI/Pelaksana Penempatan TKI Swata. BPS. diseminasi informasi mengenai TKI belum dilaksanakan oleh Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah. Pada umumnya Diseminasi informasi ketenagakerjaan dilaksanakan sendiri oleh Seksi tersebut. 2. Beberapa leaflet yang diterbitkan antara lain berjudul: 1. Sub Dinas Penempatan Tenaga Kerja dan Perluasan Kerja. Kepala Seksi Penyaluran dan Penempatan Tenaga Kerja. 1 . Leaflet dimaksudkan sebagai sarana komunikasi untuk memperkenalkan Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah sebagai institusi pemerintahan dan menyebarluaskan informasi atau peraturan ketenagakerjaan. tahun 2004 6. Jaminan Kecelakaan Kerja Program Jamsostek.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. yaitu PT Titian Hidup Langgeng di Jalan Kol. Di samping produk berupa Lembar Informasi Ketenagakerjaan itu. Sub Dinas Perencanaan dan Program. sejauh ini belum ada aktivitasnya´. Diseminasi informasi secara institusional di tingkat provinsi merupakan tugas dan tanggung jawab Seksi Informasi Ketenagakerjaan. tetapi dalam hal tertentu seperti kegiatan sosialisasi dan pembuatan spanduk melibatkan seksi lain dan Bagian Tata Usaha. tahun 2004 4. Untung Surapati nomor 8 Kapuas. Selama ini calon TKI yang akan bekerja ke luar negeri berangkat melalui daerah Kalimantan Selatan. Tata Cara Permintaan Jaminan Kecelakaan Kerja. RAN-PKTP (Rencana Aksi Nasional Penghapusasn Kekerasan Terhadap Perempuan) 8. tahun 2004 3. Dinas Perhubungan. Medan dan penerbitan buletin dan leaflet. lowongan kerja dan pengangguran di Kalimantan Tengah selama satu bulan. Menjadi TKI Meningkatkan Kesejahteraan 10. Kesepakatan Kerjasama Pembangunan Ketenagakerjaan Lintas Kabupaten Kota Se Kalimantan Tengah. Sub Dinas Perencanaan dan Program. Persyaratan Permohonan Izin Pemutusan Hubungan Kerja dan Prosedur Permohonan Banding. Lembar informasi ketenagakerjaan yang dijilid secara sederhana dengan tampilan sebagai buletin dapat bermanfaat bagi stakeholder atau pengguna karena isinya memuat informasi yang menggambarkan perkembangan pencari kerja. sejumlah leaflet dicetak dan diterbitkan oleh Seksi Informasi Ketenagakerjaan. Standarisasi dan Sertifikasi Tenaga Kerja 7. Visi dan Misi Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah. Namun. Trafiking (Perdagangan) Perempuan dan Anak 9. Prosedur TKI Bekerja Ke Luar Negeri. tahun 2002. Kerjasama antar satuan kerja di lingkungan Dinas terutama karena jumlah dan kualifikasi pegawai yang menangani amat terbatas. Kegiatan diseminasi informasi ketenagakerjaan yang telah dilaksanakan selama ini secara rutin adalah membuat buletin Lembar Informasi Ketenagakerjaan yang diterbitkan tiap bulan.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Karena perusahaan TKI ini belum operasional. pembuatan spanduk bulan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja). tahun 2004 5. ³di Kalimantan Tengah hanya terdapat satu perusahaan TKI yang baru berdiri berdasarkan izin tanggal 10 November 2007. Menurut Jahidin Siringo-ringo. juga diberikan secara selektif kepada pencari kerja atau petugas pemerintahan yang memintanya. Leaflet yang berisi informasi ketenagakerjaan selain disebarkan di lingkungan instansi pemerintah seperti Bappeda. Kepala Seksi Informasi Ketenagakerjaan hanya dibantu oleh dua pegawai staf berpendidikan tamatan SLTA.

Kegiatan diseminasi informasi ketenagakerjaan melalui online ditempakan pada satu ruangan dengan Seksi Penyaluran dan Penempatan Tenaga Kerja. Penyebaran informasi ketenagakerjaan melalui media massa khususnya siaran televisi dilakukan oleh Kepala Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah. Menurut kedua operator. Sosialiasi ini yang dimaksudkan untuk mengingatkan para pekerja agar lebih berhati-hati pada saat bekerja di bangunan-bangunan. Pegawai yang dapat mengoperasikan internet sebagai sarana dalam kegiatan diseminasi informasi ketenagakerjaan online telah siap sejak Mei 2007. Sumber daya manusia (SDM) yang menangani internet ini dilaksanakan oleh dua orang operator. Untuk mengirim sebagian data dan informasi ketenagakerjaan ke Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi di Jakarta dikirim melalui e mail. Pada saat penelitian ini dilakukan internet keduanya untuk sementara waktu tidak bisa digunakan karena hambatan keuangan. Kampanye K3 yang dilakukan secara terus menerus diharapkan dapat menjadikan K3 sebagai budaya kerja sehingga para pekerja terhindar dari kecelakaan kerja. tetapi juga bagi perusahaan dan pemerintah sebagai penyedia kerja yang bertanggun jawab terhadap keselamatan dan kesehatan pekerjanya. Karena itu. Situs (website) Dinas Tenaga Kerja Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah sendiri belum ada. Penggunaan browsing untuk mencari data dan informasi ketenagakerjaan masih terbatas sebagai pelengkap. Internet bisa dioperasikan mulai bulan Mei sampai dengan Desember 2007.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. internet tidak digunakan sebagai satu-satunya 89 . Menurut Fauzi ´ hal ini disebabkan belum ada (pencairan) dana tahun anggaran 2008 untuk membayar telepon´. go id di Jakarta.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Laporan ini terbit tiap bulan merupakan ´salah satu kegiatan Proyek Pengembangan Perluasan Kesempatan Kerja (PPKK) Provinsi Kalimantan Tengah Tahun Anggaran 2007´ Pembuatannya dikoordinasikan oleh Sub Dinas Penempatan Tenaga Kerja dan Perluasan Kerja. mengingat penggunaannya masih baru dan lebih banyak dimaksudkan sebagai sarana pembelajaran teknologi informasi. diterbitkan pula Laporan Berita Pasar Kerja berupa himpunan data yang berasal dari laporan Informasi Pasar Kerja (IPK) dari seluruh kantor Dinas Tenaga Kerja Kota dan Kabupaten se -Kalimantan Tengah. Dalam pelatihan diberikan mengoperasikan Windows dan cara membuka situs di internet´ Sebelumnnya Maret-April 2007 komputer (Windows) dikirim dulu dan sebagai tindak lanjutnya mereka mengikuti pelatihan komputer itu. 1 . Kampanye K3 ini penting bukan saja untuk setiap pekerja. Mahmud Fauzi dan Budi Ahmad Yani. Wawancara dengan topik ketenagakerjaan dilaksanakan secara periodik ( 3 bulanan ) di TVRI. Fasilitas yang mendukung aktivitas ini tersedia dua komputer yang tersambung (link) dengan jaringan internet milik Telkom. Sedangkan untuk mendapatkan informasi dan peraturan ketenagakerjaan terbaru sebagian dilakukan melalui browsing ke situs www. Di samping penyebaran informasi ketenagakerjaan sebagaimana dimuat dalam cakupan kegiatan Seksi Informasi Ketenagakerjaan itu. Selama ini penggunaan internet di Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah terbatas hanya untuk mencari ( browsing) dan mengirim (e-mail) informasi. Sebenarnya masalah internet ini tidak banyak berpengaruh terhadap kegiatan pelaporan ketenagakerjaan karena bukan andalan utama untuk mengirim data dan informasi ketenagakerjaan. di acara itu dikemukakan mengenai perkembangan dan masalah ketenagakerjaan di daerah ini Acara siaran televisi ini dianggap penting sebagai sarana komunikasi untuk menjangkau masyarakat di wilayah yang amat luas seperti Kalimantan Tengah. gedung-gedung dan tempat kerja lainnya. Penggunaan cara manual dengan surat merupakan cara pengiriman yang utama. Kedua fungsi internet itu belum dilaksanakan secara maksimal. Medan Tengah.nakertrans. mereka ´pernah mengikuti pelatihan operator dan mengoperasikan komputer online 3 hari yang dilaksanakan oleh Depnakertrans di Jakarta Mei 2007.

³keluhan pencaker tidak ada. Medan sarana pengiriman dan pencarian data dan informasi ketenagakerjaan. 3. Komunikasi data dengan menggunakan LAN masih merupakan tantangan bagi Din Tenaga Kerja Provinsi dan as Dinas Tenaga Kerja kota dan kabupaten se-Kalimantan Tengah. Kedua kebutuhan ini menyatu sehingga sukar untuk dipisahkan. 2.000-an.000. 2. Kalimantan Tengah belum memakai fasilitas jaringan Local Area Network (LAN). Persyaratan pembuatan kartu kuning (AK1) dalam pengumuman 29 November 2006 adalah : 1. Menurut petugas kartu kuning. Pada Dinas Tenaga Kerja. petugas kemudian memberikan kartu kuning melalui loket. Kebijakan pembebasan biaya pembuatan kartu kuning dengan jelas tertera pada pengumuman yang ditempel di samping loket. 1 .per orang masuk kas Daerah. informasi lowongan kerja. Lilik. Fotocopy KTP yang masih berlaku 1 lembar. Petugas adalah pegawai dari Seksi Penempatan dan Perluasan Kerja yan ditempatkan di g ruangan pembuatan kartu kuning. walaupun secara ekonomi cukup banyak punya mobil dan motor´. tetapi di sana juga terjadi komunikasi antara petugas dengan pembuat kartu kuning yang tidak lain adalah pencari kerja. Semua petugas bekerja berdasarkan petunjuk dan prosedur tetap pembuatan kartu kuning dan mendapatkan bimbingan dari Kepala Seksinya. Kenyataannya. Sebagai langkah awal tiap pencari kerja diminta untuk mengisi formulir terlebih dahulu dan menyerahkan dokumen sesuai dengan persyaratan seperti tercantum pada pengumuman yang ditempel di samping loket. Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Pemerintah Kota Palangkaraya. Peranan loket tidak hanya untuk memasukkan berkas dan menyerahkan kartu kuning.. seperti persyaratan pembuatan kartu kuning. Dinas Tenaga Kerja. pencaker sering hanya membawa ijazah terakhir´ Ketidaklengkapan berkas fotocopy ijazah ini timbul karena pencari kerja baru mengetahui informasi persyaratan yang sebenarnya ketika membacanya di samping loket. sering terjadi kekeliruan karena yang diserahkan pencari kerja hanya ijazah terakhir. Pengurusan kartu kuning di kota Palangkaraya mulai tanggal 1 Januari 2007 tidak dipungut biaya. Darwono ³ jumlah pencaker tahun 2007 terdaftar 7. Setelah berkas selesai diproses. Fotocopy ijazah SD s/d terakhir 1 lembar. kebutuhan akan mendapatkan pekerjaan secara implisit di dalamnya ada kebutuhan informasi ketenagakerjaan atau sebaliknya. Menurut Kepala Seksi Pelatihan dan Produktivitas Tenaga Kerja. Kebutuhan informasi mendesak dari tiap pencari kerja pada dasarnya sama. prosedur dan syarat melamar perusahaan dan instansi pemerintah yang menawa rkan pekerjaan.. Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Pemerintah Kota Palangkaraya Masalah pengangguran yang berkaitan erat dengan pencari kerja merupakan salah satu aspek ketenagakerjaan yang mendapatkan prioritas dalam program Dinas Tenaga Kerja baik di provinsi maupun di kota dan kabupaten.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. 90 . Ruangan berukuran 3 x 4 meter ini digunakan untuk memproses dokumen pembuatan kartu kuning dan menyerahkan hasilnya kepada pencari kerja.bertentangan dengan ILO dan pencaker masih penganggur. Pasfoto ukuran 3x4 cm 3 lembar. yaitu informasi yang berkaitan dengan pekerjaan yang dilamarnya. Selama 2002-2006 dipungut Rp 10. Demikian pula hubungan dengan stakeholder ketenagakerjaan di Palangkaraya. Dengan mendapatkan informasi ketenagakerjaan pencari kerja mengetahui apa yang seharusnya dilakukan untuk mempersiapkan dan melamar pekerjaan secara lengkap Ketika mengurus karu kuning pencari kerja sekaligus memperoleh informai ketenagakerjaan. diseminasi i formasi n ketenagakerjaan dilaksanakan petugas secara langsung kepada pencari kerja melalui loket dari ruangan pelayanan kartu kuning bersamaan dengan proses pembuatan kartu tersebut.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Meskipun persyaratan ijazah yang dicantumkan dalam pengumuman cukup jelas..

Dalam pelayanan ini tidak ada petugas dan loket khusus yang menyampaikan informasi ketenagakerjaan. orientasinya ke PNS´ Padahal peserta bukan saja mendapat informasi dan pengetahuan mengenai pelatihan yang diikutinya. kecuali ditanya oleh pencari kerja.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. kegiatan diseminasi informasi dilakukan secara langsung atau tatap muka (face to face communication) dengan pencari kerja yang datang mendaftarkan diri di loket pembuatan kartu kuning. Namun. tapi dari teman-teman´ Menurut keduanya diharapkan Dinas ini juga memberikan informasi lowongan kerja dan loket pelayanan kartu kuning tidak di belakang kantor. Di samping diseminasi informasi langsung melalui loket kartu kuning. Kegiatan pemberdayaan (empowering) tenaga kerja dan masyarakat melalui pelatihan ini secara tidak langsung melakukan diseminasi informasi dan motivasi kepada pesertanya. tidak ada keleluasaan bagi pencari kerja untuk bertanya guna mendapatkan informasi yang lengkap. Kebanyakan pencari kerja mengetahui adanya lowongan pekerjaan yang ditawarkan instansi dan perusahaan dari papan pengumuman tersebut. pengetahuan dan motivasi yang diberikan kepada peserta pelatihan. Hal ini menggambarkan bahwa kebutuhan informasi ketenagakerjaan tidak hanya sebatas persyaratan pembuatan kartu kuning. Dengan seizin petugas. petugas memberikan informasi´ kata Lilik. Dinas Tenaga Kerja. perlu petugas loket informasi yang fokus memberikan informasi´ Untuk mendapatkan informasi ketenagakerjaan secara detail melalui loket tidak dimungkinkan karena tidak adanya petugas dan loket informasi. 1 . Pada waktu yang sama petugas memberikan informasi dan juga menyeleksi berkas pembuatan kartu AK1. Kadangkala beberapa karyawan perusahaan asuransi jiwa yang menempelkan pengumuman lowongan pekerjaan turut memberikan informasi kepada pelamar yang berminat lewat loket. petugas wanita yang melayani pembuatan kartu kuning. tetapi lebih esensial mengenai informasi ketersediaan lowongan pekerjaan.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. ada pula karyawan dari perusahaan swasta yang aktif mencatat nama. Walaupun program pelatihan BLK cukup bermanfaat bagi tenaga kerja. Veronika (23 tahun) ´mau menanyakan kepada petugas yang sibuk tidak enak. karyawan perusahan itu menyampaikan persyaratan dan prosedur untuk mengisi lowongan yang tersedia diperusahaannya secara detail. Kedua pekerjaan itu dilakukan oleh petugas yang sama. alamat dan pendidikan pencari kerja yang telah terdaftar di Buku Daftar Isian Pencari Kerja. tetapi ditempatkan di depan kantor supaya mudah diketahui. Akibatnya. Berdasarkan data pencari kerja itu perusahaan akan menawarkan informasi pekerjaan sebagai SPG melalui surat ke alamat masing-masing. Pencari kerja yang sedang mengurus kartu kuning dapat mendengarkan suara petugas melalui loket yang sama. Keluhan yang sama dilontarkan oleh Nia (24 tahun). ³informasi lowongan kerja diperoleh bukan dari Dinas Tenaga Kerja. Komunikasi tidak dapat berlangsung lama sebab petugas amat sibuk melayani pencari kerja yang antre di depan loket. Para pencari kerja mendapat informasi dari petugas secara langsung atau mengetahuinya dari pengumuman yang ada di loket pelayanan kartu kuning. Secara implisit di dalam ³Program Peningkatan dan Produktivitas Tenaga Kerja´ terdapat informasi. Perusahaan yang demikian umumnya berasal dari perusahaan yang membutuhkan banyak karyawan sebagai agent atau tenaga survey. Peranan pengumuman ini sangat bermanfaat dalam diseminasi informasi lowongan pekerjaan. Menurut seorang pencari kerja yang mengurus kartu kuning. Informasi mengenai lowongan pekerjaan secara lengkap dapat dibaca pada pengumuman dan karena itu tidak disampaikan lagi. 91 . Kebanyakan informasi yang disampaikan mengenai persyaratan kartu kuning. Medan Oleh karena itu. ´Pencaker bertanya. Komunikasi tatap muka terjadi antara petugas yang berada di dalam ruangan dengan pencari kerja yang berdiri di depan loket. menurut Kepala BLK Drs Anden ´putra daerah tidak mau dilatih dibengkel / bubut. Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Palangkaraya melaksanakan kegiatan pelatihan yang bermaksud meningkatkan kualitas tenaga kerja melalui Balai Latihan Kerja (BLK).

Pencari kerja belum ditempatkan 6. Lowongan yang dipenuhi 8. Lowongan permintaan tenaga kerja 7. setidaknya dapat dikelompokan menjadi tiga jenis informasi ketenagakerjaan. dan visi. Medan tetapi juga memperoleh sertifikat dan kesempatan penempatan sesuai dengan jenis pelatihan yang pernah diikutinya di BLK. Informasi di dalam leaflet kebanyakan memuat informasi peraturan dan permasalahan ketenagakerjaan secara nasional. Lowongan kerja yang belum dipenuhi Sarana diseminasi informasi ketenagakerjaan yang lebih ringkas dan praktis diterbitkan dalam bentuk leaflet. Seperti dalam terbitan Berita Pasar Kerja periode bulan Desember 2007 terdapat informasi tentang jumlah pencari kerja yang terdaftar. Sebagaimana yang tercantum di dalam buletin Lembar Informasi Ketenagakerjaan terdapat bab yang menerangkan situasi umum dan situasi khusus tentang informasi ketenagakerjaan informasi. kebijakan ketenagakerjaan Dinas Tenaga Kerja Kalimantan Te ngah. lowongan yang terdaftar. Dalam bab situasi umum diinformasikan tentang keadaan geografi dan demografi. Apabila dilihat dari isi (pesan) di dalam leaflet. ada juga leaflet yang bermaksud memperkenalkan visi dan misi Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah sebagai instansi pemerintah di bidang ketenagakerjaan. yakni : 1. Informasi yang Disampaikan Dinas Tenaga Kerja Provinsi dan Kota Salah satu penerbitan yang dimaksudkan sebagai sarana diseminasi informasi ketenagakerjaan untuk stakeholders adalah Lembar Informasi Ketenagakerjaan. 3. Di dalam bab situasi khusus tercantum mengenai (1) pembinaan dan penempatan tenaga kerja. Sebagai sarana komunikasi yang lebih bersifat intern. yaitu : 1. Pencari kerja yang ditempatkan 4. Informasi tentang instansi Dinas Tenaga Kerja 92 . Apabila dilihat dari isi publikasinya dapat dikatakan buletin ini merupakan produk unggulan yang dikeluarkan oleh Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah. misi. Pendaftaran pencari kerja 3.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Informasi yang disampaikan umumnya mengenai informasi ketenagakerjaan yang dapat dipergunakan sebagai bahan masukan pengambilan kebijakan ketenagakerjaan di Kalimantan Tengah. 1 .Selain itu. publikasi ini didistribusikan kepada seluruh Dinas Tenaga Kerja di kabupaten/kota seKalimantan Tengah. penempatan/pengisian lowongan kerja dan (2) pelatihan dan produktivitas tenaga kerja. penghapusan pencari kerja. ´Lembar Informasi Ketenagakerjaan ini disusun sebagai sarana penyebaran informasi ketenagakerjaan dan keberhasilan bidang ketenagakerjaan yang dilaksanakan Dinas Tenaga Kerja Provisi Kalimantan Tengah´ (Dinas Tenaga Kera j Pemprov Kalteng. dan penempatan tenaga kerja selama bulan itu. Proses pembuatannya tiap dimulai dari Seksi Informasi Ketenagakerjaan dilanjutkan ke Sub Dinas Perencanaan dan Program hingga ditandatangani Kepala Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah sebagai penanggung jawab terakhir. Terbitan lain dari Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah berupa laporan Berita Pasar Kerja yang memuat informasi pasar kerja (IPK) bulanan. (3) hubungan industrial dan pengawasan ketenagakerjaan antara lain mengenai upah minimum provinsi. Pencari kerja yang dihapuskan 5. 2008a :18).JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. lowongan kerja terdaftar/dihapuskan. PDRB dan pendapatan regional per kapita. pasar kerja bulanan yang memuat tentang pencari kerja terdaftar. Jumlah kumulatif pencari kerja 2. tujuan. program. Secara lebih rinci informasi yang dimuat di dalam terbitan tersebut.

Oleh karena itu. pelatihan di BLK secara implisit menyampaikan pengetahuan dan ketrampilan kepada peserta yang mengikutinya. Sebagaimana telah dikemukakan. Diseminasi informasi ketenagakerjaan bagi pencari kerja secara langsung sebagian besar dilaksanakan pada Dinas Tenaga Kerja. Informasi tentang peraturan ketenagakerjaan. 2. Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Palangkaraya melalui loket pelayanan pembuatan kartu kuning. Informasi yang disampaikan Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah kebanyakan berisi informasi ketenagakerjaan yang bersifat umum seperti informasi peraturan ketenagakerjaan. Informasi tentang TKI dan perdagangan perempuan dan anak. Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Palangkaraya sebagian besar menjawab kebutuhan informasi mengenai persyaratan pembuatan kartu kuning dan informasi lowongan pekerjaan dari sebagian kecil instansi pemerintah dan perusahaan swasta.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. serta penghapusan kekerasan terhadap perempuan. Demikan pula wawancara pada siaran TVRI mengetengahkan informasi mengenai perkembangan dan masalah ketenagakerjaan yang ditujukan kepada masyarakat luas. Diseminasi informasi ketenagakerjaan melalui siaran TVRI kepada masyarakat luas masih minim. Kecuali itu. Sejauh ini hanya diseminasi informasi K3 melalui spanduk yang ditujukan kepada tenaga kerja yang bekerja di kota-kota. Umumnya kebutuhan informasi akan peraturan ketenagakerjaan bagi pencari kerja belum dapat dipenuhi oleh kedua Dinas Tenaga Kerja itu. Diseminasi informasi ketenagakerjaan pada Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah belum banyak disampaikan kepada khalayak pencari kerja secara langsung. 3. Diseminasi informasi mengenai persyaratan kartu tersebut disampaikan petugas kepada pencari kerja secara langsung (tatap muka) bersamaan dengan proses pembuatan kartu kuning. Selain itu. diseminasi informasi lowongan pekerjaan disampaikan kepada masyarakat. Medan 2. Informasi ketenagakerjaan yang disampaikan Dinas Tenaga Kerja. jumlah pencari kerja dan lowongan kerja. diseminasi informasi ketenagakerjaan melalui spanduk dimaksudkan untuk memberitahukan pentingnya K3 bagi para pekerja. spanduk kampanye K3 tentu isinya mengenai keselamatan dan kesehatan kerja untuk pekerja. Diseminasi informasi ketenagakerjaan melalui leaflet yang diterbitkan Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah tentang peraturan ketenagakerjaan se baiknya tidak 93 . Saran Dengan memperhatikan kesimpulan tersebut dapat disampaikan beberapa saran berikut : 1. dan penyebaran informasi ketenagakerjaan melalui online tidak berfungsi. Informasi lowongan pekerjaan yang tersedia merupakan informasi yang cukup banyak didiseminasikan melalui pengumuman di loket pembuatan kartu AK1. sedangkan kebanyakan penerbitan bulletin dan leaflet dikirim kepada Dinas Tenaga Kerja Kota dan Kabupaten di provinsi ini. Informasi yang disampaikan petugas secara langsung di loket Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Pemerintah Kota Palangkaraya kebanyakan mengenai persyaratan pembuatan kartu kuning kepada pencari kerja yang datang sendiri di instansi tersebut. pengangguran. khususnya pencari kerja melalui pengumuman di loket 3.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. Kesimpulan Berdasarkan uraian dalam pembahasan sebelumnya dapat ditarik beberapa butir kesimpulan berikut : 1. 1 .

. Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah. Informasi ketenagakerjaan yang berkaitan dengan lowongan pekerjaan sebaiknya tidak bersifat umum. Metode Penelitian dan Teori Komunikasi. tetapi lebih khusus dan detail sehingga dapat dimanfaatkan oleh pencari kerja. Dinas Tenaga Kerja. John. UMM Press Jasmadi. Fiske. Leaflet. 2008. Untuk memenuhi kebutuhan informasi khalayak pencari kerja.2007.2008. Pembahasan dan tanggapan(lisan) terhadap ³Studi Diseminasi Informasi Peringatan Dini (Early Warning System) Untuk Permasalahan Lingkungan dan Bencana Alam´ Seminar. Yogyakarta. Informasi Sosial Budaya. ´The Structure and Function of Communication in Society´. John M dan Hassan Shadily. Lembaga Informasi Nasional (LIN). Ibnu . Untuk itu. perlu adanya petugas dan loket informasi ketenagakerjaan. 3. Dinas Tenaga Kerja. Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat. Palangkaraya ________. Onong Uchjana. Penerbit PT Remaja Rosdakarya.1993. Trafiking (Perdagangan) Perempuan dan Anak . Menggunakan Fasilitas Internet . Informasi lowongan kerja agar tidak didominasi perusahaan swasta.2001. Pemerintah Kota Palangkaraya. PT Gramedia Effendy. Transparansi dan Keterbukaan Informasi Publik Undang-Undang Republik Indonesia Nonor 14 Tahun 2008 Tentang Keterbukaan Informasi Publik. Palangkaraya. Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Palangkaraya agar memanfaatkan loket pelayanan kartu kuning secara maksimal untuk diseminasi informasi ketenagakerjaan. Bandung. Leaflet. Malang. Berita Pasar Kerja Bulan Desember 2007. PT Pustaka Binaman Presindo. Medan hanya dikirimkan kepada Dinas Tenaga Kerja Kabupaten/Kota. t. Yogyakarta. t.2008. Program Peningkatan Kualitas dan Produktivitas Tenaga Kerja. Urbana. Leaflet. Jalasustra. Departemen Komunikasi dan Informatika.1963. Harold D.. Laswell. 2002 Visi dan Misi Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah.1979. Palangkaraya ________. Lembar Informasi Ketenagakerjaan. t. Jakarta. Mass Communication. Kerangka Dasar Sistem Informasi Manajemen. Pusat Pelayanan Informasi. Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Palangkaraya mendiseminasikan peraturan ketenagakerjaan dan lowongan kerja yang lebih luas melalui pengumuman yang terdapat di loket. Echols. Kamus Inggris-Indonesia. 2004. Terjemahan Yosal Iriantara dan Idi Subandy Ibrahim. Gordon B. tetapi juga disediakan untuk pencari kerja melalui loket pelayanan kartu kuning di Dinas Kota/KabupatenseKalimantan Tengah. M.1995. 2007. Jakarta. Palangkaraya ________. DAFTAR PUSTAKA Davis. University of Illinois Press. Bagian I. Jakarta. Rencana Aksi Nasional Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan. 1 . Bulan Desember 2007. Palangkaraya Dinas Tenaga Kerja. Dinamika Komunikasi. Jakarta 94 .t. Hamad. sebaiknya Dinas Tenaga Kerja. Palangkaraya ________. Deli Publising dan Penerbit Andi. dalam Wilbur Schramm. tetapi diupayakan dari seluruh instansi pemerintah. 2006. tanggal 11-12-2007 Hamidi. di Jakarta..t.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. RAN-PKTP. Cultural and Communication Studies : Sebuah Pengantar Paling Komprehensif. 2.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No. Penggunaan online melalui internet perlu difungsikan kembali dan di masa yang akan datang perlu dijajaki pemasangan jaringan Local Area Network.t.

Lembaran. 2008. 2005. 1 . 2006. Medan Nerang. Penelitian Komunikasi Kualitatif.t. Pengantar Komunikasi. Universitas Terbuka Shannon. Mewirausahakan Birokrasi Reinventing Government. Pawito. Kesepakatan Kerjasama Pembangunan Ketenagakerjaan Lintas Kabupaten Kota Se-Kalimantan Tengah. David dan Ted Gaebler. Leaflet. Leaflet.kalteng. Standarisasi dan Sertifikasi Tenaga Kerja. tanggal 20-3-2008) (http://www. Tata Cara Permintaan Jaminan Kecelakaan Kerja. Jakarta. PT Pustaka Binaman Presindo. Palangkaraya. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.go. Bandung. Yogyakarta.asp. Palangkaraya ________. 1998. Leaflet. Osborne. t. 13 Maret.t. 1997.goid.April 2009 Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika. The McGraw-Hill Companies. Lowongan Kerja. Leaflet. Leaflet.. Teras A. 2004. 2004. Kompas. Rekapitulasi Pendaftaran Pencari Kerja. 2008. Claude dan Warren Weaver. Persyaratan Permohonan Izin Pemutusan Hubungan Kerja dan Prosedur Permohonan Banding. Prosedur TKI Bekerja ke Luar Negeri. Leaflet. Jakarta Seksi Informasi Ketenagakerjaan Sub Dinas Perencanaan dan Program. dkk. CV Nuansa Aulia Internet : (http://www. Menjadi TKI Meningkatkan Kesejahteraan. Tim Redaksi Nuansa Aulia. New York. Sub Dinas Perencanaan dan Program. tanggal 25-4-2008) 95 . 1993.JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN Volume 10 No.i. Palangkaraya ________.id/ viewarticle. Inc Sekretariat Jenderal MPR RI. Palangkaraya ________. Jakarta.kalteng bps. Himpunan PeundangUndangan Republik Indonesia Tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia Di Luar Negeri.b. LKIS Sendjaja. t. ³Information Theory´ dalam A First Look At Communication Theory. Palangkaraya ________. ´Gubernur Kalteng Dukung DPD Kembangkan Desa dengan Kearifan Lokal´. 2004. 2007. 2005. Palangkaraya. Sasa Djuarsa.id?web/id/KER01/profil/kalteng/tanggal 25-4-2008) (http://www.go. Penempatan Pencari Kerja dan Penghapusan Pencari Kerja Menurut Kelompok Pendidikan Tahun 2006 dan Trahun 2007 .Third Edition. Palangkaraya ________.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful