P. 1
Berfikir Ilmiah

Berfikir Ilmiah

|Views: 711|Likes:
Published by Zulfikar Baharuddin

More info:

Published by: Zulfikar Baharuddin on Jun 13, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/26/2012

pdf

text

original

Berpikir, Penjelasan dan Sikap Ilmiah

BAB I BERPIKIR ILMIAH
Dalam keseharian kita, ketika beraktivitas dalam lingkungan masingmasing, bisa dipastikan bahwa aktivitas tersebut tidak bisa lepas dari yang namanya berpikir. Hanya saja memang, tingkat daya pikir tersebut masingmasing berbeda pada setiap orang. Berpikir bisa dikatakan merupakan suatu aktivitas yang sangat penting. Karena tanpanya, manusia akan berada dalam suasana yang gelap dan hampa. Manusia tidak akan mampu mengenal lingkungan tempat dia tinggal, siapa pencipta alam jagad raya ini, bahkan ia pun tidak akan mampu mengenal dirinya dan hakikat keberadaannya di dunia tanpa melalui sebuah aktivitas berpikir. Berpikir juga bisa dikatakan suatu hal yang alamiah (fitrah atau natural) bagi setiap manusia yang sehat atau tidak gila dikarenakan adanya unsurunsur ciptaan yang telah diciptakan oleh Allah Swt. Dalam proses berpikir, sejatinya melibatkan unsur-unsur tertentu, yakni: 1. 2. 3. 4. Otak yang sehat Panca indra Informasi sebelumnya Adanya fakta Dari empat unsur di atas dapat kita rangkai sebuah definisi sebagai berikut: Pemindahan penginderaan terhadap fakta melalui panca indera ke dalam otak yang disertai adanya informasi-informasi terdahulu yang akan digunakan untuk menafsirkan fakta tersebut. Definisi ini sekaligus juga merupakan definisi bagi akal, pemikiran, proses berpikir.

Oleh: Kelompok V

Page 1

Berpikir, Penjelasan dan Sikap Ilmiah
Berpikir adalah menggunakan akal budi untuk mempertimbangkan dan memutuskan sesuatu. Ilmiah adalah bersifat ilmu atau secara ilmu pengetahuan. Jadi Berpikir ilmiah adalah menggunakan akal budi untuk mempertimbangkan, memutuskan, mengembangkan sesuatu secara ilmu pengetahuan (berdasarkan prinsip-prinsip ilmu pengetahuan. Atau

menggunakan prinsip-prinsip logis terhadap penemuan, pengesahan dan penjelasan kebenaran.

Oleh: Kelompok V

Page 2

Berpikir, Penjelasan dan Sikap Ilmiah BAB II PENJELASAN ILMIAH
Sejak sekolah dasar sampai perguruan tinggi (terutama di perguruan tinggi) pelajar itu diajar agar berpikir ilmiah, yaitu berpikir logis-empiris. Di perguruan tinggi, sebelum mahasiswa mengadakan penelitian untuk menulis skripsi atau tugas akhir, mereka belajar Metodologi Riset, di situ mereka pasti diajari metode ilmiah (scientific method). Rumus metode ilmiah ialah logico-hypotetico-verificatif. Artinya, sesuatu yang benar itu haruslah logis dan didukung data empiris. Metode ilmiah inilah yang merupakan grand theory yang darinya diturunkan metode-meatode penelitian. Rumus logico-hypotetico-verifikatif adalah tulang punggung teori penelitian ilmiah, sedangkan penelitian ilmiah itu adalah cara yang sah dalam memperoleh kebenaran ilmiah. Metode ilmiah Kerja memecahkan masalah akan sangat berbeda antara seorang sarjana dengan seorang awam. Seorang sarjana selalu menempatkan logika serta menghindarkan diri dari pertimbangan subyektif. Sebaliknya bagi orang awam, kerja memecahkan masalah dilandasi oleh campuran pandangan perorangan ataupun dengan apa yang dianggap masuk akal oleh banyak orang. Dalam menelaah, seorang sarjana dapat saja mempunyai teknik, pendekatan ataupun cara yang berbeda dengan seorang ilmuwah lainnya. Tetapi kedua sarjana tersebut tetap mempunyai satu falsafah yang sama dalam memecahkan masalah, yaitu menggunakan metode ilmiah. Dapat didefinisikan bahwa metode ilmiah adalah cara menerapkan prinsip-prinsip logis terhadap penemuan, pengesahan dan penjelasan kebenaran. Metode ilmiah dalam menelaah atau meneliti mempunyai criteria

Oleh: Kelompok V

Page 3

Berpikir, Penjelasan dan Sikap Ilmiah
serta langkah-langkah tertentu dalam bekerja, seperti tertera dalam skema di bawah ini. Metode Ilmiah

Kriteria

Langkah-langkah

1. Berdasarkan fakta. 2. Bebas dari prasangka 3. menggunakan prinsip-prinsip analisis 4. menggunaksn hipotesis 5. menggunakan obyektif 6. menggunakan kuantifikasi teknik ukuran

1. memilih dan mendefinisikan masalah 2. surevi terhadap data yang tersedia 3. memformulasikan hipotesis 4. membangun kerangka analisis serta alat-alat dalam menguji hipotesis 5. mengumpulkan data primer 6. mengolah, menganalisis serta membuat interpretasi. 7. membuat kesimpulan generalisasi dan

Sistematika

dalam

metode

ilmiah

sesungguhnya

merupakan

manifestasi dari alur berpikir yang dipergunakan untuk menganalisis suatu permasalahan. Alur berpikir dalam metode ilmiah memberi pedoman kepada para ilmuwan dalam memecahkan persoalan menurut integritas berpikir deduksi dan induksi.

Oleh: Kelompok V

Page 4

Berpikir, Penjelasan dan Sikap Ilmiah
Pola berpikir induktif dan deduktif Pada hakekatnya, berpikir secara ilmiah merupakan gabungan antara penalaran secara deduktif dan induktif. Masing-masing penalaran ini berkaitan erat dengan rasionalisme atau empirisme. Memang terdapat beberapa kelemahan berpikir secara rasionalisme dan empirisme, karena kebenaran dengan cara berpikir ini bersifat relatif atau tidak mutlak. Oleh karena itu, seorang sarjana atau ilmuwan haruslah bersifat rendah hati dan mengakui adanya kebenaran mutlak yang tidak bisa dijangkau oleh cara berpikir ilmiah. Induksi merupakan cara berpikir untuk menarik suatu kesimpulan yang bersifat umum dari kasus-kasus yang bersifat individual. Sementara deduktif merupakan cara berpikir yang berpangkal dari pernyataan umum, dan dari sini ditarik kesimpulan yang bersifat khusus. Contoh induktif Contoh 1. Proposisi 1: Si A “titip tanda tangan daftar hadir” pada si C agar memenuhi syarat kehadiran kuliah 75% untuk dapat mengikuti ujian. Proposisi 2: Karyawan X nampak bekerja giat pada saat mandornya mengawasinya, tetapi jika tidak diawasi ia santai saja. Proposisi 3: Dosen Q “titip” mencetakkan kartu hadirnya ke dalam time recorder agar tidak ketahuan kalau datangnya tidak pagi dan pulangnya belum siang. Proposisi 4: Pada saat rapat Kepala Bagian, K tidak pernah mengajukan keberatan-keberatan karena takut dianggap pembangkang dan tidak loyal. Kesimpulan: Sikap munafik (hipokrit) terjadi karena ketakutan akan sangsi.

Oleh: Kelompok V

Page 5

Berpikir, Penjelasan dan Sikap Ilmiah
Contoh 2. Proposisi 1: Si T selalu mengikuti kuliah karena menganggap kuliah yang diberikan dosen itu menarik dan amat penting isinya. Proposisi 2: Si U selalu hadir mengikuti penataran walaupun ia menganggap isinya tidak berguna baginya, karena penataran itu menjadi salah-satu syarat bagi kenaikan pangkatnya. Proposisi 3: Si Z selalu mengikuti kuliah Pak Q karena ia takut jika tidak hadir akan merusakkan hubungannya dengan keponakan Pak Q Kesimpula 1: Kesediaan mengikuti kegiatan pendidikan tergantung pada persepsi mengenai manfaatnya. Kesimpulan 2: Motif orang mengikuti kegiatan pendidikan tidak selalu sama. Kesimpulan-kesimpulan di atas bisa ditingkatkan menjadi teori: Teori 1: Kemunafikan terjadi karena sikap otoriter atasan. Teori 2: Kesediaan melakukan sesuatu dipengaruhi oleh persepsi mengenai manfaat sesuatu. Teori 3: Motivasi orang melakukan sesuatu tidak selalu sama. Jika ketiga teori itu dipadukan, akan menjadi kesimpulan yang bunyinya: “Perilaku seseorang tergantung pada situasi, persepsi dan motivasi. Contoh deduktif Contoh 1. Proposisi 1: Perilaku merupakan fungsi motif (teori: asumsi) Proposisi 2: Banyak mahasiswa tidak mau aktif dalam kegiatan organisasi kemahasiswaan. (perilaku: gejala empirik). Kesimpulan: Ada motif mengapa mahasiswa tidak mau aktif dalam organisasi kemahasiswaan.

Oleh: Kelompok V

Page 6

Berpikir, Penjelasan dan Sikap Ilmiah
Cohtoh 2. Proposisi 1: Peran serta bergantung pada iklim demokrasi. Proposisi 2: Peran guru-guru dalam kegiatan administrasi pendidikan sangat tinggi. Kesimpulan: Atasan para guru bersikap demokratik. Contoh mendedusi yang salah Proposisi 1: Manusia merupakan makhluk social yang suka hidup berkelompok dan ada pemimpin di dalamnya. Preposisi 2: Semut suka hidup berkelompok dan di dalamnya ada pemimpinnya. Kesimpulan: Manusia itu tergolong semut. Kelemahan-kelemahan dari Metode Berpikir Ilmiah Kelemahan metode ilmiah dapat kita lihat dari segi cakupan atau jangkauan dari kajiannya, asumsi yang melandasinya, dan kesimpulannya bersifat relatif. Dengan penjelasan sebagai berikut: 1. Metode ilmiah tidak dapat digunakan kecuali pada pengkajian objekobjek material yang dapat di indera. Metode ini khusus untuk ilmuilmu eksperimental. Ia dilakukan dengan cara memperlakukan materi (objek) dalam kondisi-kondisi dan faktor-faktor baru yang bukan kondisi dari faktor yang asli. Dan melakukan pengamatan terhadap materi tersebut serta berbagai kondisi dan faktornya yang ada, baik yang alami maupun yangtelah mengalami perlakuan. Dari proses terhadap materi ini, kemudian ditarik suatu kesimpulan berupa fakta materialyang dapat diindera. 2. Metode ilmiah mengasumsikan adanya penghapusan seluruh informasi sebelumnya tentang objek yang akan dikaji, dan mengabaikan keberadaannya. Kemudian memulai pengamatan dan percobaan atas materi. Ini dikarenakan metode ini mengharuskan kita untuk

Oleh: Kelompok V

Page 7

Berpikir, Penjelasan dan Sikap Ilmiah
menghapuskan diri dari setiap opini dan keyakinan si peneliti mengenai subjek kajian. Setelah melakukan pengamatan dan

percobaan, maka selanjutnya adalah melakukan komparasi dan pemeriksaan yang teliti, dan akhirnya merumuskan kesimpulan bersarkan sejumlah premis-premis ilmiah. 3. Kesimpulan yang didapat ini adalah bersifat spekulatif atau tidak pasti (dugaan). Kelemahan-kelemahan yang ada pada metode ilmiah ini juga diungkapkan dalam literatur lain. Dikatakan, bahwa “…Pertama-tama ilmu menyadari bahwa masalah yang dihadapinya adalah masalah yang bersifat konkrit yang terdapat dalam dunia fisik yang nyata. Secara ontologi, ilmu membatasi dirinya pada pengkajian yang berada pada ruang lingkup pengalaman manusia. Hal inilah yang memisahkan antara ilmu dan agama…perbedaan antara lingkup permasalahan yang dihadapinya juga menyebabkan berbedanya metode dalam memecahkan masalah tersebut. Dikatakan pula, proses pengujian ini tidak sama dengan pengujian ilmiah yang berdasarkan kepada tangkapan pancaindra, sebab pengujian kebenaran agama harus dilakukan oleh seluruh aspek kemanusiaan kita seperti penalaran, perasaan, intuisi, imajinasi di samping pengalaman. Metode ilmiah tidak dapat diterapkan kepada pengetahuan yang tidak termasuk ke dalam kelompok ilmu…demikian juga halnya dengan bidang sastra yang termasuk dalam humaniora yang jelas tidak mempergunakan metode ilmiah dalam penyusunan tubuh pengetahuaannya. Muhammad Abdurrahman dalam bukunya at-Tafkeer juga mengatakan hal senada dengan yang telah disebutkan di atas. Ia mengatakan, bahwa metode ilmiah tidak bisa diterapkan pada ilmu yang termasuk dalam humaniora, hal ini dikarenakan bidang-bidang yang termasuk ke dalam humaniora tidak membahas perkara-perkara fisik yang dapat diukur dan diujicobakan. Meskipun demikian, beberapa aspek pengetahuan tersebut

Oleh: Kelompok V

Page 8

Berpikir, Penjelasan dan Sikap Ilmiah
dapat menerapkan metode ilmiah dalam pengkajiaannya, misalnya saja aspek pengajaran bahasa sastra dan metematika. Dalam hal ini masalah tersebut dapat dimasukkan ke dalam disiplin ilmu pendidikan yang mengkaji secara ilmiah berbagai aspek proses belajar-mengajar.

Oleh: Kelompok V

Page 9

Berpikir, Penjelasan dan Sikap Ilmiah BAB III SIKAP ILMIAH
Istilah sikap dalam bahasa Inggris disebut “Attitude” sedangkan istilah attitude sendiri berasal dari bahasa latin yakni “Aptus” yang berarti keadaan siap secara mental yang bersifat untuk melakukan kegiatan. Triandis mendefenisikan sikap sebagai : “ An attitude is an idea charged with emotion which predis poses a class of actions to aparcitular class of social situation” . Rumusan di atas diartikan bahwa sikap mengandung tiga komponen yaitu komponen kognitif, komponen afektif dan komponen tingkah laku. Sikap selalu berkenaan dengan suatu obyek dan sikap terhadap obyek ini disertai dengan perasaan positif atau negatif. Secara umum dapat disimpulkan bahwa sikap adalah suatu kesiapan yang senantiasa cenderung untuk berprilaku atau bereaksi dengan cara tertentu bilamana

diperhadapkandengan suatu masalah atau obyek. Menurut Baharuddin (1982:34) mengemukakan bahwa :”Sikap ilmiah pada daadasarnya adalah sikap yang diperlihatkan oleh para Ilmuwan saat mereka melakukan kegiatan sebagai seorang ilmuwan. Dengan perkataan lain kecendrungan individu untuk bertindak atau berprilaku dalam

memecahkan suatu masalah secara sistematis melalui langkah-langkah ilmiah. Beberapa sikap ilmiah dikemukakan oleh Mukayat Brotowidjoyo (1985 :31-34) yang biasa dilakukan para ahli dalam menyelesaikan masalah berdasarkan metode ilmiah, antara lain : Sikap ingin tahu : apabila menghadapi suatu masalah yang baru dikenalnya,maka ia beruasaha mengetahuinya; senang mengajukan

pertanyaan tentang obyek dan peristiea; kebiasaan menggunakan alat indera sebanyak mungkin untuk menyelidiki suatu masalah;

memperlihatkan gairah dan kesungguhan dalam menyelesaikan eksprimen.

Oleh: Kelompok V

Page 10

Berpikir, Penjelasan dan Sikap Ilmiah
Sikap kritis : Tidak langsung begitu saja menerima kesimpulan tanpa ada bukti yang kuat, kebiasaan menggunakan bukti – bukti pada waktu menarik kesimpulan; Tidak merasa paling benar yang harus diikuti oleh orang lain; bersedia mengubah pendapatnya berdasarkan bukti-bukti yang kuat. Sikap obyektif : Melihat sesuatu sebagaimana adanya obyek itu, menjauhkan bias pribadi dan tidak dikuasai oleh pikirannya sendiri. Dengan kata lain mereka dapat mengatakan secara jujur dan menjauhkan kepentingan dirinya sebagai subjek.

Sikap ingin menemukan : Selalu memberikan saran-saran untuk eksprimen baru; kebiasaan menggunakan eksprimen-eksprimen dengan cara yang baik dan konstruktif; selalu memberikan konsultasi yang baru dari pengamatan yang dilakukannya. Sikap menghargai karya orang lain, Tidak akan mengakui dan memandang karya orang lain sebagai karyanya, menerima kebenaran ilmiah walaupun ditemukan oleh orang atau bangsa lain. Sikap tekun : Tidak bosan mengadakan penyelidikan, bersedia mengulangi eksprimen yang hasilnya meragukan’ tidak akan berhenti melakukan kegiatan –kegiatan apabila belum selesai; terhadap hal-hal yang ingin diketahuinya ia berusaha bekerja dengan teliti. Sikap terbuka : Bersedia mendengarkan argumen orang lain sekalipun berbeda dengan apa yang diketahuinya.buka menerima kritikan dan respon negatif terhadap pendapatnya. Lebih rinci Diederich mengidentifikasikan 20 komponen sikap ilmiah sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. Selalu meragukan sesuatu. Percaya akan kemungkinan penyelesaian masalah. Selalu menginginkan adanya verifikasi eksprimental. T e k u n.

Oleh: Kelompok V

Page 11

Berpikir, Penjelasan dan Sikap Ilmiah
5. 6. 7. 8. 9. Suka pada sesuatu yang baru. Mudah mengubah pendapat atau opini. Loyal etrhadap kebenaran. Objektif Enggan mempercayai takhyul.

10. Menyukai penjelasan ilmiah. 11. Selalu berusaha melengkapi penegathuan yang dimilikinya. 12. Tidak tergesa-gesa mengambil keputusan. 13. Dapat membedakan antara hipotesis dan solusi. 14. Menyadari perlunya asumsi. 15. Pendapatnya bersifat fundamental. 16. Menghargai struktur teoritis 17. Menghargai kuantifikasi 18. Dapat menerima penegrtian kebolehjadian dan, 19. Dapat menerima pengertian generalisasi

Oleh: Kelompok V

Page 12

Berpikir, Penjelasan dan Sikap Ilmiah DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman, M. 2005. At-Tafkeer, Alih bahasa oleh Abu Faiz. Bogor: Pustaka Thariqul Izzah An-Nabhani, Taqiyuddin. 2003. At-Tafkir, alih bahasa oleh Taqiyuddin asSiba’I. Bogor: Pustaka Thariqul Izzah Abdullah, Muhammad Husain. 2003. Mafahim Islamiyah; Menajamkan Pemahaman Islam. Bangil: Al-Izzah Athiyat, Ahmad. 2004. At-Thariq, alih bahasa oleh Dede Koswara. Bogor: Pustaka Thariqul Izzah Departemen Pendidikaan dan Kebudayaan. 1997. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Universitas Terbuka. 1985. Materi Dasar Pendidikan Program Akta Mengajar V Gie, Liang. 2004. Pengantar Filsafat Ilmu, Yogyakarta: Liberty Yogyakarta Ismail, Muhammad Muhammad. 2004. Al-fikru al- Islamy, alih bahasa oleh A. Haidar. Bangil: Al- Izzah Unal, Ali. 1998. Islam Addresses Contemporary Issues. Turkey: Caglayan A.S

Oleh: Kelompok V

Page 13

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->