P. 1
17669582 Pembuatan Keputusan Secara Etis

17669582 Pembuatan Keputusan Secara Etis

|Views: 105|Likes:
Published by Randriyani Ima

More info:

Published by: Randriyani Ima on Jun 14, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/14/2011

pdf

text

original

Pembuatan Keputusan secara Etis

Kelompok 3

Teori Dasar Pembuatan Keputusan   

Teori dasar atau prinsip etika merupakan penuntun untuk membuat keputusan etis praktek profesional (Fry, 1991) Teori etik digunakan dl pembuatan keputusan bila terjadi konflik antara prinsip dan aturan Ahli filsafat moral mengembangkan beberapa teori etik.



Teori tersebut diklasifikasikan menjadi - teori teleologi - teori deontologi (formalisme)

dr kata telos berarti akhir Istilah teleologi dan utilitarianisme sering digunakan saling bergantian Teleologi merupakan suatu doktrin yg menjelaskan fenomena berdasarkan akibat yang dihasilkan.Teori Teleologi     Teleologi berasal dari bahasa Yunani. Sring disebut the end justifies the means artinya makna dari suatu tindakan ditentukan oleh hasil akhir yang terjadi .

. Menekankan pada pencapaian hasil akhir yg terjadi pencapaian hasil akhir dg kebaikan maksimal dan ketidakbaikan sekecil mungkin bagi manusia (Kelly. 1987).

Rule utilitarianisme berprinsip bahwa manfaat atau nilai dari suatu tindakan bergantung pada sejauh mana tindakan tersebut memberikan kebaikan atau kebahagiaan pada manusia .Teleologi dibedakan menjadi :   Rule utilitarianisme Act utilitarianisme .

contoh: bayi yg lahir cacat lebih baik diijinkan meninggal daripada nantinya jadi beban masyarakat . tidak melibatkan aturan aturan umum. Act utilitarianisme bersifat lebih terbatas. tapi berupaya menjelaskan pada suatu situasi tertentu dengan pertimbangan terhadap tindakan apa yg dapat memberikan kebaikan sebanyak2nya atau ketidakbaikan sekecil2nya pada individu.

. benar atau salah bukan ditentukan oleh hasil akhir atau konsekwensi dari suatu tindakan. Perhatian difokuskan pada tindakan melakukan tanggung jawab moral yg dapat menjadi penentu apakah suatu tindakan tsb secara moral benar atau salah. melainkan oleh nilai moralnya. deon yang berarti tugas. berprinsip pada aksi atau tindakan.Teori Deontologi (Formalisme)    Deontologi berasal dari bahasa Yunani. Menurut Kant.

Contoh penerapan deontologi    Seorang perawat yg yakin bahwa klien harus diberi tahu ttg yg sebenarnya terjadi walaupun hal itu sangat menyakitkan Contoh lain seorang perawat yang menolak membantu pelaksanaan abortus karena keyakinan agama yg melarang tindakan membunuh. 1991) . otonomi. kejujuran dan ketaatan (Fry. keadilan. Secara luas teori ini dikembangkan menjadi lima prinsip penting yaitu kemurahan hati.

Kemurahan hati   Inti dari prinsip kemurahan hati (beneficence) adalah tanggung jawab untuk melakukan kebaikan yg menguntungkan klien dan menghindari perbuatan yg merugikan atau membahayakan klien. Prinsip ini sering kali sulit diterapkan dalam praktik keperawatan .

Sebelum kondisi klien bertambah berat. klien sudah memberikan pernyataan tertulis kepada dokter bahwa ia tidak mau dilakukan tranfusi darah Akhirnya tranfusi darah tidak diberikann karena prinsip beneficence walaupun pada saat bersamaan terjadi penyalahgunaan prinsip maleficence . mengalami perdarahan yg hebat.Contoh:   Seorang klien mempunyai kepercayaan bahwa pemberian tranfusi darah bertentangan dengan keyakinannya.

sedangkan yang tidak sederajat diperlakukan secara tidak sederajat. Prinsip ini memungkinkan dicapainya keadilan dalam pembagian sumber asuhan kesehatan kepada klien secara adil sesuai kebutuhan . sesuai dengan kebutuhan mereka.Keadilan   Prinsip dari keadilan menurut Beauchamp dan Chlidress adalah mereka yg sederajat harus diperlakukan sederajat.

1987). Masalah yg muncul dari penerapan prinsip ini karena adanya variasi kemampuan otonomi klien yang dipengaruhi banyak hal seperti: .Otonomi   Prinsip otonomi menyatakan bahwa setiap individu mempunyai kebebasan untuk mentukan tindakan atau keputusan berdasarkan rencana yg mereka pilih (Fry.

Faktor yang kemampuan otonomi klien:  Tingkat kesadaran  Usia  Penyakit  Lingkungan rumah sakit  Ekonomi  Tersedianya informasi .

Kejujuran    Prinsip kejujuran (veracity) menurut Veatch dan Fry (1987) didefinisikan sebagai menyatakan hal yg sebenarnya dan tidak bohong Kejujuran harus dimiliki perawat saat berhubungan dg klien Kejujuran merupakan dasar terbinanya hubungan saling percaya antara perawat klien .

mempertahankan konfidensi.Ketaatan   Prinsip ketaatan (fidelity) didefinisikan oleh Fry sebagai tanggung jawab untuk tetap setia pada suatu kesepakatan. Tanggung jawab dl kontek hubungan perawat klien meliputi tangung jawab menjaga janji. dan memberikan perhatian/kepedulian .

terutama pada klien dalam keadaan terminal (Fry. Peduli kepada klien merupakan komponen paling penting dari praktik keperawatan. bersikap baik kepada klien. memberikan kenyamanan. 1991) Rasa kepedulian perawat diwujudkan dalam memberi perawatan dengan pendekatan individual. dan menunjukkan kemampuan profesional .   Peduli kepada klien merupakan salah satu aspek dari prinsip keataatan.

Kerangka pembuatan keputusan Berikut ini beberapa contoh model pengambilan keputusan etis keperawatan yg dikembangkan oleh Thompson dan Jameton. Ketode Jameton dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah etika keperawatan yang berkaitan dengan asuhan keperawatan klien .

model II terdiri dari tujuh tahap . Kerangka Jameton.model I terdiri dari enam tahap . seperti yang ditulis oleh Fry (1991) adalah: .model III yang merupakan keputusan bioetis .

Identifikasi masalah. Klasifikasi masalah dilihat dari konflik hati nurani. Perawat juga harus mengkaji keterlibatannya pada masalah etika yg timbul dan mengkaji parameter waktu untuk pembuatan keputusan. Tahap ini akan memberikan jawaban pada perawat thd pernyataan hal apakah yg membuat tindakan benar adalah benar .Model I  Tahap 1.

Perawat kemudian membuat laporan tertulis kisah dan konflik yg terjadi . Informasi yg dikumpulkan dalam tahap ini meliputi orang yg dekat dg klien. Tahap 2. perawat harus mengumpulkan data tambahan. yg terlibat dalam membuat keputusan bagi klien. harapan/keinginan klien dan orang yg terlibat dalam pembuatan keputusan.

Perawat harus mengidentifikasi semua pilihan atau alternatif secara terbuka kepada pembuat keputusan. termasuk hasil yg mungkin diperoleh beserta dampaknya. Semua tindakan yg memungkinkan harus terjadi. Tahap 3. Tahap ini memberikan jawaban atas pertanyaan. Jenis tindakan apa yang benar? .

nilai dasar yg menjadi pusat masalah dan prinsip etis yg dapat dikaitkan dengan masalah. Tahap ini menjawab pertanyaan. Perawat harus memikirkan masalah etis secara berkesinambungan. Bagaimana aturan tertentu diterapkan pada situasi tertentu? . Tahap 4. Perawat mempertimbangkan nilai dasar manusia yg penting bagi individu.

. Pembuat keputusan harus membuat keputusan. Tahap ini menjawab pertanyaan etika.  Tahap 5. apa yang harus dilakukan pada situasi tertentu? Tahap akhir adalah melakukan tindakan dan mengkaji keputusan dan hasil. Pembuatan keputusan memilih tindakan yang menurut keputusan mereka paling tepat.

apa intinya.Model II   Tahap 1. apa sumbernya. Tahap 2. mengenali hakikat masalah. mengumpulkan data atau informasi yg berdasarkan fakta. mengenali dengan tajam masalah yang terjadi. meliputi sumber data yang termasuk variabel masalah yang telah dianalisa secara teliti .

mencari kejelasan konsep etika yg relevan untuk penyelesaian masalah dg mengemukakan konsep filsafat yg mendasari etika maupun konsep sosial budaya tyg menentukan ukuran yg diterima . bagaimana kedalaman dan intensitas keterlibatannya. Berdasarkan analisis yg telah dibuat.  Tahap 3. menganalisis data yang telah diperoleh dan menganalisis kejelasan orang yang terlibat. relevansi keterlibatannya dengan masalah etika Tahap 4.

  Tahap 5. kemudian membuat alternatif ttg tindakan yg akan diambilnya Tahap 6. . mengonsep argumentasi semua jenis isu yg didapati merasionalisasi kejadian. setelah semua alternatif diuji thd nilai yg ada di dl masyarakat dan ternyata dapat diterima maka pilihan tersebut dikatakan sah (valid) secar etis. mengambil tindakan. Tindakan yg dilakukan menggunakan proses yang sitematis.

apakah tindakan yg dilakukan mencapai hasil yg diinginkan. Bila belum berhasil harus mengkaji lagi halhal-hal apa yg menyebabkan kegagalan dan menjadi umpan balik untuk melaksanakan pemecahan/penyelesaian masalah secara ulang . Tahap 7. Langkah terakhir adalah mengevaluasi. mencapai tujuan penyelesaian masalah.

kumpulkan informasi tambahan untuk memperjelas situasi Tahap 3.Model III (model keputusan bioetis)    Tahap 1. komponen etis individu /keunikan Tahap 2. tinjau ulang situasi yg dihadapi untuk menentukan masalah kesehatan. identifikasi aspek etis dari masalah yg dihadapi . keputusan yg dibutuhkan.

Identifikasi posisi moral dan keunikan individu yg berlainan Tahap 6. gali siapa yg harus membuat keputusan Tahap 8.     Tahap 4. ketahui atau bedakan posisi pribadi dan posisi moral profesional Tahap 5. identifikasi konflik2 nilai bila ada Tahap 7. identifikasi rentang tindakan dan hasil yang diharapkan .

1981) Nursing. Tentukan tindakan dan laksanakan  Tahap 10.  .Tahap 9. Evaluasi hasil dari keputusan/tindakan (Sumber: JB Thompson and HO Thompson: Ethic in Nursing.

Berarti perawat melaksanakan norma yg diwajibkan dl asuhan keperawatan. . kepada klien/masyarakat. kepada profesi atas segala tindakan yg diambil dalam melaksanakan proses keperawatan dg menggunakan dasar etika dan standar keperawatan.  Penyelesaian masalah etika keperawatan menjadi tanggung jawab perawat. sedangkan tanggung gugat adalah mempertanggungjawabkan kepada diri sendiri.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->