Faktor Resiko TBC Dalam tulisan saya yang sebelumnya, sudah dibahas mengenai pengertian Tuberkulosis (TB), klasifikasi dan

gejala TBC, serta diagnosis TBC, maka dalam tulisan ini saya mencoba membahas mengenai faktor resiko TBC 1. Faktor Umur. Beberapa faktor resiko penularan penyakit tuberkulosis di Amerika yaitu umur, jenis kelamin, ras, asal negara bagian, serta infeksi AIDS.Dari hasil penelitian yang dilaksanakan di New York pada Panti penampungan orang-orang gelandangan menunjukkan bahwa kemungkinan mendapat infeksi tuberkulosis aktif meningkat secara bermakna sesuai dengan umur. Insiden tertinggi tuberkulosis paru biasanya mengenai usia dewasa muda. Di Indonesia diperkirakan 75% penderita TB Paru adalah kelompok usia produktif yaitu 15-50 tahun. 2. Faktor Jenis Kelamin. Di benua Afrika banyak tuberkulosis terutama menyerang laki-laki. Pada tahun 1996 jumlah penderita TB Paru laki-laki hampir dua kali lipat dibandingkan jumlah penderita TB Paru pada wanita, yaitu 42,34% pada laki-laki dan 28,9 % pada wanita. Antara tahun 1985-1987 penderita TB paru laki-laki cenderung meningkat sebanyak 2,5%, sedangkan penderita TB Paru pada wanita menurun 0,7%. TB paru Iebih banyak terjadi pada laki-laki dibandingkan dengan wanita karena laki-laki sebagian besar mempunyai kebiasaan merokok sehingga memudahkan terjangkitnya TB paru. 3. Tingkat Pendidikan Tingkat pendidikan seseorang akan mempengaruhi terhadap pengetahuan seseorang diantaranya mengenai rumah yang memenuhi syarat kesehatan dan pengetahuan penyakit TB Paru, sehingga dengan pengetahuan yang cukup maka seseorang akan mencoba untuk mempunyai perilaku hidup bersin dan sehat. Selain itu tingkat pedidikan seseorang akan mempengaruhi terhadap jenis pekerjaannya. 4. Pekerjaan Jenis pekerjaan menentukan faktor risiko apa yang harus dihadapi setiap individu. Bila pekerja bekerja di lingkungan yang berdebu paparan partikel debu di daerah terpapar akan mempengaruhi terjadinya gangguan pada saluran pernafasan. Paparan kronis udara yang tercemar dapat meningkatkan morbiditas, terutama terjadinya gejala penyakit saluran pernafasan dan umumnya TB Paru. Jenis pekerjaan seseorang juga mempengaruhi terhadap pendapatan keluarga yang akan mempunyai dampak terhadap pola hidup sehari-hari diantara konsumsi makanan, pemeliharaan kesehatan selain itu juga akan mempengaruhi terhadap kepemilikan rumah (kontruksi rumah). Kepala keluarga yang mempunyai pendapatan dibawah UMR akan mengkonsumsi makanan dengan kadar gizi yang tidak sesuai dengan kebutuhan bagi setiap anggota keluarga sehingga mempunyai status gizi yang kurang dan akan memudahkan untuk terkena penyakit infeksi diantaranya TB Paru. Dalam hal jenis kontruksi rumah dengan mempunyai pendapatan yang kurang maka kontruksi rumah yang dimiliki tidak memenuhi syarat kesehatan sehingga akan mempermudah terjadinya penularan penyakit TB Paru. 5. Kebiasaan Merokok Merokok diketahui mempunyai hubungan dengan meningkatkan resiko untuk mendapatkan kanker paruparu, penyakit jantung koroner, bronchitis kronik dan kanker kandung kemih.Kebiasaan merokok meningkatkan resiko untuk terkena TB paru sebanyak 2,2 kali. Pada tahun 1973 konsumsi rokok di Indonesia per orang per tahun adalah 230 batang, relatif lebih rendah dengan 430 batang/orang/tahun di Sierra Leon, 480 batang/orang/tahun di Ghana dan 760 batang/orang/tahun di Pakistan (Achmadi, 2005). Prevalensi merokok pada hampir semua Negara berkembang lebih dari 50% terjadi pada laki-laki dewasa,

Umumnya temperatur kamar 22° 30°C dari kelembaban udara optimum kurang lebih 60%.Lantai dan dinding yag sulit dibersihkan akan menyebabkan penumpukan debu. Bila sinar matahari dapat masuk dalam rumah serta sirkulasi udara diatur maka resiko penularan antar penghuni akan sangat berkurang. Intensitas pencahayaan minimum yang diperlukan 10 kali lilin atau kurang lebih 60 lux. dinding dan lantai dapat menjadi tempat perkembang biakan kuman. 2 Persyaratan kepadatan hunian untuk seluruh rumah biasanya dinyatakan dalam m /orang. 6.Jika peletakan jendela kurang baik atau kurang leluasa maka dapat dipasang genteng kaca. Untuk luas ventilasi permanen minimal 5% dari luas lantai dan luas ventilasi insidentil (dapat dibuka tutup) 5% dari luas lantai. Pencahayaan Untuk memperoleh cahaya cukup pada siang hari. misalnya kuman TB. akan mudah menular kepada anggota keluarga yang lain. kecuali untuk suami istri dan anak di bawah 2 tahun.Cahaya yang sama apabila dipancarkan melalui kaca tidak berwarna dapat membunuh kuman dalam waktu yang lebih cepat dari pada yang melalui kaca berwama Penularan kuman TB Paru relatif tidak tahan pada sinar matahari.Luas minimum per orang sangat relatif tergantung dari kualitas bangunan dan fasilitas yang tersedia. terutama bakteri patogen. disamping itu kurangnya ventilasi akan menyebabkan kelembaban udara di dalam ruangan naik karena terjadinya proses penguapan cairan dari kulit dan penyerapan. karena itu rumah yang sehat harus mempunyai jalan masuk cahaya yang cukup. diperlukan luas jendela kaca minimum 20% luas lantai. sebab disamping menyebabkan kurangnya konsumsi oksigen juga bila salah satu anggota keluarga terkena penyakit infeksi. artinya luas lantai bangunan rumah tersebut harus disesuaikan dengan jumlah penghuninya agar tidak menyebabkan overload. 9. karena di situ selalu terjadi aliran udara yang terus menerus. Kurangnya ventilasi akan menyebabkan kurangnya oksigen di dalam rumah. jarak antara tepi tempat tidur yang satu dengan yang lainnya minimum 90 cm..Untuk kamar tidur diperlukan luas lantai minimum 3 m2/orang. Kepadatan hunian kamar tidur Luas lantai bangunan rumah sehat harus cukup untuk penghuni di dalamnya. di syaratkan juga langit-langit minimum tingginya 2. misalnya basil TB. Kelembaban ini akan merupakan media yang baik untuk pertumbuhan bakteri-bakteri patogen/ bakteri penyebab penyakit. Untuk mencegah penularan penyakit pernapasan. Atap. Fungsi pertama adalah untuk menjaga agar aliran udara didalam rumah tersebut tetap segar. Kamar tidur sebaiknya tidak dihuni lebih dari dua orang.. Hal ini berarti keseimbangan oksigen yang diperlukan oleh penghuni rumah tersebut tetap terjaga.sedangkan wanita perokok kurang dari 5%.Cahaya ini sangat penting karena dapat membunuh bakteri-bakteri patogen di dalam rumah. Untuk sirkulasi yang baik diperlukan paling sedikit luas lubang ventilasi sebesar 10% dari luas lantai. Kondisi rumah Kondisi rumah dapat menjadi salah satu faktor resiko penularan penyakit TBC.Hal ini tidak sehat. Fungsi kedua dari ventilasi itu adalah untuk membebaskan udara ruangan dari bakteri-bakteri.Untuk rumah sederhana luasnya minimum 10 m2/orang.75 m. Semua jenis cahaya dapat mematikan kuman hanya berbeda dari segi lamanya proses mematikan kuman untuk setiap jenisnya. kecuali untuk kamar tidur diperlukan cahaya yang lebih redup. Ventilasi Ventilasi mempunyai banyak fungsi. 8. Untuk menjamin volume udara yang cukup. Fungsi lainnya adalah untuk menjaga agar ruangan kamar tidur selalu tetap di dalam kelembaban (humiditiy) yang optimum. Bakteri yang terbawa oleh udara akan selalu mengalir. sehingga akan dijadikan sebagai media yang baik bagi berkembangbiaknya kuman Mycrobacterium tuberculosis. 7. . Dengan adanya kebiasaan merokok akan mempermudah untuk terjadinya infeksi TB Paru. Udara segar juga diperlukan untuk menjaga temperatur dan kelembaban udara dalam ruangan.

9 % pada wanita.5 pada orang dewasa.34% pada laki-laki dan 28. Ini yang menjadi pemikiran bahwa malnutrisi atau penurunan berat badan telah menjadi faktor utama peningkatan resiko TB menjadi aktif. Faktor-Faktor Resiko Tuberkulosis (TB Paru . Sementara berat badan yang lebih kecil 85% dari berat badan ideal kemungkinan mendapat TB adalah 14 kali lebih besar dibandingkan dengan berat badan normal. Status Gizi Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang dengan status gizi kurang mempunyai resiko 3. tetapi dapat bertahan hidup selama beberapa jam di tempat yang gelap dan lembab. sikap dan tindakan. USIA Dari hasil penelitian yang dilaksanakan di New York pada Panti penampungan orang-orang gelandangan menunjukkan bahwa kemungkinan mendapat infeksi tuberkulosis aktif meningkat secara bermakna sesuai dengan umur. Perilaku Perilaku dapat terdiri dari pengetahuan. TB paru lebih banyak terjadi pada laki-laki dibandingkan dengan wanita karena laki-laki sebagian besar mempunyai kebiasaan merokok sehingga memudahkan terjangkitnya TB paru dimana Kebiasaan merokok meningkatkan resiko untuk terkena TB paru sebanyak 2. Pada tahun 1996 jumlah penderita TB Paru lakilaki hampir dua kali lipat dibandingkan jumlah penderita TB Paru pada wanita. sedangkan penderita TB Paru pada wanita menurun 0. Keadaan Sosial Ekonomi Keadaan sosial ekonomi berkaitan erat dengan pendidikan.7%.7 kali untuk menderita TB Paru berat dibandingkan dengan orang yang status gizinya cukup atau lebih.TBC) A. Kuman TB Paru akan cepat mati bila terkena sinar matahari langsung. dimana kelembaban yang optimum berkisar 60% dengan temperatur kamar 22° 30°C. Di Indonesia diperkirakan 75% penderita TB Paru adalah kelompok usia produktif yaitu 15-50 tahun. Pengetahuan penderita TB Paru yang kurang tentang cara penularan. PENYAKIT PENYERTA Umumnya penderita TB dalam keadaan malnutrisi dengan berat badan sekitar 30-50 kg atau indeks masa tubuh kurang dari 18. 11. Kelembaban udara Kelembaban udara dalam ruangan untuk memperoleh kenyamanan. 12. yaitu 42. Insiden tertinggi tuberkulosis paru biasanya mengenai usia dewasa muda. Kekurangan gizi pada seseorang akan berpengaruh terhadap kekuatan daya tahan tubuh dan respon immunologik terhadap penyakit. Apabila status gizi buruk maka akan menyebabkan kekebalan tubuh yang menurun sehingga memudahkan terkena infeksi TB Paru. 13. Antara tahun 1985-1987 penderita TB paru laki-laki cenderung meningkat sebanyak 2. C.10. JENIS KELAMIN Di benua Afrika banyak tuberkulosis terutama menyerang laki-laki.5%. keadaan sanitasi lingkungan. Pola makan orang Indonesia yang hampir 70% karbohidrat dan hanya 10% protein yang pada . Penurunan pendapatan dapat menyebabkan kurangnya kemampuan daya beli dalam memenuhi konsumsi makanan sehingga akan berpengaruh terhadap status gizi. gizi dan akses terhadap pelayanan kesehatan. bahaya dan cara pengobatan akan berpengaruh terhadap sikap dan prilaku sebagai orang sakit dan akhinya berakibat menjadi sumber penular bagi orang disekelilingnya.2 kali. B.

penyakit kronis selalu disertai dengan tidak selera makan. Kelembaban udara di dalam ruangan naik karena terjadinya proses penguapan cairan dari kulit dan penyerapan. khususnya penyakit menular melalui udara akan semakin mudah dan cepat. apalagi terdapat anggota keluarga yang menderita TB dengan BTA positif. bahaya dan cara pengobatan akan berpengaruh terhadap sikap dan prilaku sebagai orang sakit dan akhinya berakibat menjadi sumber penular bagi orang di sekelilingnya. Pengetahuan penderita TB Paru yang kurang tentang cara penularan.Bakteri tahan hidup pada tempat gelap.Kelembaban yang optimal (sehat) adalah sekitar 40 70%. F. sehingga keseimbangan oksigen yang diperlukan oleh penghuni rumah tetap terjaga. Sebaliknya di daerah rural akan lebih kecil kemungkinannya. Disamping itu penyakit tuberkulosis pada mereka dengan seropositif cepat berkembang kearah perburukan. tidak mau makan. PERILAKU Perilaku dapat terdiri dari pengetahuan. D. karena kuman ini yang masuk akan dihambat oleh reaksi imunitas yang ada dalam tubuhnya. Semakin padat maka perpindahan penyakit. Kelembaban yang lebih Dari 70% akan berpengaruh terhadap kesehatan penghuni rumah. sehingga perkembangbiakan bakteri lebih banyak di rumah yang gelap. Sosial ekonomi yang rendah akan menyebabkan kondisi kepadatan hunian yang tinggi dan buruknya lingkungan. Selain faktor gizi. penyakit seperti Diabetes Mellitus (DM) dan infeksi HIV merupakan salah satu faktor risiko yang tidak berketergantungan untuk berkembangnya infeksi saluran napas bagian bawah. E.Prevalensi TB paru pada DM meningkat 20 kali dibanding non DM dan aktivitas kuman tuberkulosis meningkat 3 kali pada DM berat dibanding DM ringan. Kepadatan hunian ditempat tinggal penderita TB paru paling banyak adalah tingkat kepadatan rendah. Ventilasi yang baik juga menjaga dalam kelembaban (humidity) yang optimum. Di daerah perkotaan (urban) yang lebih padat penderita TB lebih besar.Suhu optimal pertumbuhan bakteri sangat bervariasi. Kondisi kepadatan hunian perumahan atau tempat tinggal lainnya seperti penginapan. Mycobacterium tuberculosis tumbuh optimal pada suhu 37°C. Apabila seseorang dengan seropositif tertular kuman ini maka karena kekebalannya rendah.Suhu udara yang ideal dalam rumah antara 18-30°C. tidak bisa makan atau tidak mampu membeli makanan yang mempunyai kandungan gizi baik (kurang protein). panti-panti tempat penampungan akan besar pengaruhnya terhadap risiko penularan. KEPADATAN HUNIAN DAN KONDISI RUMAH Kepadatan penghuni merupakan suatu proses penularan penyakit.Tuberkulosis diketahui merupakan infeksi oportunistik yang paling sering ditemukan pada pasien dengan reaksi seropositif. dimana cahaya matahari ini dapat diperoleh dari ventilasi maupun jendela/genting kaca. sehingga penderita ini mempunyai status gizi yang buruk. Penderita Tuberkulosis menular (dengan sputum BTA positif) yang juga mengidap HIV merupakan penularan kuman tuberkulosis tertinggi.Suhu didalam ruangan erat kaitannya dengan kepadatan hunian dan ventilasi rumah. STATUS SOSIAL EKONOMI KELUARGA WHO tahun 2007 menyebutkan 90% penderita TB di dunia menyerang kelompok sosial ekonomi lemah atau miskin dan menurut Enarson TB merupakan penyakit terbanyak yang menyerang negara dengan penduduk berpenghasilan rendah. Cahaya matahari cukup. .Paparan sinar matahari selama 5 menit dapat membunuh Mycobacterium tuberculosis. Kelembaban Ills merupakan media yang baik untuk bakteribakteri patogen (penyebab penyakit). Hal ini berbeda sekali dengan orang normal atau mereka dengan seronegatif. besar sekali kemungkinannya akan langsung menderita Tuberkulosis. tidak lebih dan tidak kurang. Ventilasi cukup menjaga agar aliran udara di dalam rumah tetap segar. sikap dan tindakan. selain itu masalah kurang gizi dan rendahnya kemampuan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak juga menjadi problem bagi golongan sosial ekonomi rendah.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful