SNI 03-2396-2001

Standar Nasional Indonesia

Tata cara perancangan sistem pencahayaan alami pada bangunan gedung

ICS 91.160.01

Badan Standardisasi Nasional

SNI 03-2396-2001

Daftar Isi
Daftar isi ………………………………………………………………………………………………..i Prakata .....................................................................................................................................ii Pendahuluan............................................................................................................................ iii 1 Ruang lingkup................................................................................................................... 1 2 Acuan. ............................................................................................................................... 1 3 Istilah dan definisi.............................................................................................................. 1 4 Kriteria Perancangan ........................................................................................................ 2 5 Cara perancangan pencahayaan alami siang hari. ........................................................ 18 6 Pengujian dan pemeliharaan. ......................................................................................... 22 Apendiks ................................................................................................................................ 25 Bibliografi ............................................................................................................................... 30

i

ii . sehingga pencahayaan dan kenyamanan di dalam bangunan gedung dapat dilakukan seefektif mungkin.SNI 03-2396-2001 Prakata Standar Tata Cara Perancangan Sistem Pencahayaan Alami pada Bangunan Gedung ini dimaksudkan sebagai pedoman bagi semua pihak yang terlibat dalam perencanaan. pengawasan dan pengelolaan bangunan gedung. pelaksanaan. pengujian dan pemeliharaan. cara perancangan pencahayaan alami siang hari. Pembahasan Tata Cara Perencanaan Sistem Pencahayaan Alami pada bangunan gedung meliputi : kriteria perancangan. Tata cara Perencanaa Sistem Pencahayaan Alami pada bangunan gedung bertujuan melengkapi peraturan-peraturan kenyamanan dan konservasi energi yang telah ada dan merupakan persyaratan minimum bagi bangunan gedung.

pengawas. sehingga sasaran konservasi energi dan kenyamanan dalam bangunan gedung dapat tercapai. Departemen Pemukiman dan Prasarana Wilayah mewakili pemerintah. dan pengelola bangunan gedung dalam menerapkan konsep-konsep tata cara perancangan sistern Pencahayaan alami bangunan gedung. menyusun standar "tata cara perancangan sistem pencahayaan alami pada bangunan gedung" yang selanjutnya dibakukan oleh Badan Standardisasi Nasional menjadi : SNI 03-0000-2001. asosiasi profesi.SNI 03-2396-2001 Pendahuluan Dalam rangka lebih meningkatkan usaha konservasi energi dan kenyamanan pada bangunan gedung. pelaksana. Diharapkan standar ini dapat dimanfaatkan oleh para perencana. pengelola bangunan gedung dan perguruan tinggi. konsultan. kontraktor. iii . supplier.

.

Adhiwiyogo. 3 3. No.U. "Dagverlichting Van Woningen. kenyamanan dan sesuai dengan ketentuan-ketentuan lain yang berlaku. Symposium of Enviromental Physics as Applied to Building in the Tropics. Deel 11 . Selectidn of the Desfgn Sky for Indonesia based on the Illumination Climate of Bandung. Standar ini mencakup persyaratan minimal sistem. Natuurkundige Grondslagen Voor Bouurvorrschriften. Daylighting. M. 03-2396-1991 : Tata cara perancangan Penerangan alami siang hari untuk rumah dan gedung. 3. terang langit sumber cahaya yang diambil sebagai dasar untuk penentuan syarat-syarat pencahayaan alami siang had.al).SNI 03-2396-2001 Tata cara perancangan sistem pencahayan alami pada bangunan gedung 1 1. 1951. 1969 . Hopkinson (et. (N BG 11195 1).2 2 a) b) c) d) Acuan. 1 dari 30 . Standar tata cara perancangan sistem pencahayaan alami pada bangunan gedung ini dimaksudkan sebagai pedoman bagi para perancang dan pelaksana pembangunan gedung di dalam merancang sistem pencahayaan alami siang hari dan bertujuan agar diperoleh sistem pencahayaan alami siang hari yang sesuai dengan syarat kesehatan. 1. pencahayaan alami siang hari dalam bangunan gedung.2 langit perancangan langit dalam keadaan yang ditetapkan dan dijadikan dasar untuk perhitungan.1 Istilah dan definisi. SNI.1 Ruang lingkup. 1966. London.

Perbandingan tingkat pencahayaan alami di dalam ruangan dan pencahayaan alami pada bidang datar di lapangan terbuka ditentukan oleh : a) hubungan geometris antara titik ukur dan lubang cahaya.1 Pencahayaan Alami Siang Hari yang Baik Pencahayaan alami siang hari dapat dikatakan baik apabila a) pada siang hari antara jam 08.1 Kriteria Perancangan Ketentuan Dasar 4. 3.2 Tingkat Pencahayaan Alami dalam Ruang Tingkat pencahayaan alami di dalam ruangan ditentukan oleh tingkat pencahayaan langit pada bidang datar di lapangan terbuka pada waktu yang sama.1. 4 4.00 waktu seternpat terdapat cukup banyak cahaya yang masuk ke dalam ruangan.4 titik ukur titik di dalam ruangan yang keadaan pencahayaannya dipilih sebagai indikator untuk keadaan pencahayaan seluruh ruangan. 3.6 lubang cahaya efektif untuk suatu titik ukur bagian dad bidang lubang cahaya efektif lewat mana titik ukur itu melihat langit. 2 dari 30 . b) distribusi cahaya di dalam ruangan cukup merata dan atau tidak menimbulkan kontras yang mengganggu 4.1.00 sampai dengan jam 16.SNI 03-2396-2001 3. 3.3 faktor langit ( fl ) angka karakteristik yang digunakan sebagai ukuran keadaan pencahayaan alami siang hari diberbagai tempat dalarn suatu ruangan. bidang vertikal sebelah dalam dari lubang cahaya.5 bidang lubang cahaya efektif.

SNI 03-2396-2001 b) c) d) ukuran dan posisi lubang cahaya. distribusi terang langit.3 Faktor Pencahayaan Alami Siang Hari Faktor pencahayaan alami siang hari adalah perbandingan tingkat pencahayaan pada suatu titik dari suatu bidang tertentu di dalam suatu ruangan terhadap tingkat pencahayaan bidang datar di lapangan terbuka yang merupakan ukuran kinerja lubang cahaya ruangan tersebut : a.1. 3 dari 30 . Faktor pencahayaan alami siang hari terdiri dari 3 komponen meliputi : 1 ) Komponen langit (faktor langit-fl) yakni komponen pencahayaan langsung dari cahaya langit. 4. bagian langit yang dapat dilihat dari titik ukur.

4 dari 30 3) .frl) yakni komponen pencahayaan yang berasal dari refleksi benda-benda yang berada di sekitar bangunan yang bersangkutan. Komponen refleksi dalam (faktor refleksi dalam frd) yakni komponen pencahayaan yang berasal dad refleksi permukaan-permukaan dalam ruangan. 2) Komponen refleksi luar (faktor refleksi luar . dad cahaya yang masuk ke dalam ruangan akibat refleksi benda-benda di luar ruangan maupun dad cahaya langit (lihat gambar 1).SNI 03-2396-2001 Gambar 1 : Tiga Komponen cahaya langit yang sampai pada suatu titik di bidang kerja.

A = luas seluruh permukaan dalam ruangan R = faktor refleksi rata-rata seluruh permukaan W = luas lubang cahaya. jarak titik ukur ke lubang cahaya Keterangan : (fl)p = faktor langit jika tidak ada penghalang. Rfw = faktor refleksi rata-rata lantai dan dinding bagian bawah dimulai dad bidang yang melalui tengah-tengah lubang cahaya. C = konstanta yang besarnya tergantung dad sudut penghalang. tidak termasuk dinding dimana lubang cahaya terletak. Tkaca = faktor transmisi cahaya dad kaca penutup lubang cahaya. besarnya tergantung pada jents kaca yang nilainya dapat diperoleh dad katalog yang dikeluarkan oleh produsen kaca tersebut. tinggi lubang cahaya efektif. Rcw = faktor refleksi rata-rata dari langit-langit dan dinding bagian atas dimulai dari bidang yang melalui tengah-tengah lubang cahaya. Lrata-rata = perbandingan antara luminansi penghalang dengan luminansi rata-rata langit.SNI 03-2396-2001 b) Persamaan-persamaan untuk menentukan faktor pencahayaan alami Faktor pencahayaan alami siang had ditentukan oleh persamaan-persamaan berikut ini keterangan : L H D = = = lebar lubang cahaya efektif.4 Langit Perancangan 5 dari 30 .1. 4. tidak termasuk dinding dimana lubang cahaya terletak.

000 lux. Pengukuran kedua tingkat pencahayaan tersebut dilakukan dalam keadaan sebagai-berikut: a) b) c) Dilakukan pada saat yang sama.1.SNI 03-2396-2001 a) Dalam ketentuan ini sebagai terang langit diambil kekuatan terangnya langit yang dinyatakan dalam lux. Suatu titik pada suatu bidang tidak hanya menerima cahaya langsung dari langit tetapi juga cahaya langit yang direfleksikan oleh permukaan di luar dan di dalam ruangan. Semua jendela atau lubang cahaya diperhitungkan seolah-olah tidak ditutup dengan kaca.5 Faktor Langit Faktor langit (fl) suatu titik pada suatu bidang di dalam suatu ruangan adalah angka perbandingan tingkat pencahayaan langsung dad langit di titik tersebut dengan tingkat pencahayaan oleh Terang Langit pada bidang datar di lapangan terbuka. maka syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh keadaan langit untuk dipilih dan ditetapkan sebagai Langit Perancangan adalah : 1) bahwa langit yang demikian sering dijumpai. Langit Perancangan ini memberikan tingkat pencahayaan pada titik-titik di bidang datar di lapangan terbuka sebesar 10. Untuk perhitungan diambil ketentuan bahwa tingkat pencahayaan ini asalnya dari langit yang keadaannya dimana-mana merata terangnya (uniform luminance distribution). dengan nilai dekat minimum. Sebagai Langit Perancangan ditetapkan : 1) langit biru tanpa awan atau 2) langit yang seluruhnya tertutup awan abu-abu putih. Karena keadaan langit menunjukkan variabilitas yang besar. Keadaan langit adalah keadaan Langit Perancangan dengan distribusi terang yang merata di mana-mana. sedemikian rendahnya hingga frekuensi kegagalan untuk mencapai nilai tingkat pencahayaan ini cukup rendah. 2) memberikan tingkat pencahayaan pada bidang datar di lapangan terbuka. 6 dari 30 . 3) nilai tingkat pencahayaan tersebut dalam butir 2) pasal ini tidak boleh terlampau rendah sehingga persyaratan tekno konstruktif menjadi terlampau tinggi. b) c) d) 4.

Pemilihan faktor langit sebagai angka karakteristik untuk digunakan sebagai ukuran keadaan pencahayaan alami siang had adalah untuk memudahkan perhitungan oleh karena fl merupakan komponen yang terbesar pada titik ukur. terhadap tingkat pencahayaan pada bidang datar di lapangan terbuka disebut faktor pencahayaan alami siang hari.6 Titik Ukur a) Titik ukur diambil pada suatu bidang datar yang letaknya pada tinggi 0.SNI 03-2396-2001 Perbandingan antara tingkat pencahayaan yang berasal dari cahaya langit baik yang langsung maupun karena refleksi.75 meter di atas lantai. 7 dari 30 . Dengan demikian faktor langit adalah selalu lebih kecil dari faktor pencahayaan alami siang hari.1. Bidang datar tersebut disebut bidang kerja (lihat gambar 2 ). 4.

Dalam perhitungan digunakan dua jenis titik ukur: 1) titik ukur utama (TUU). yang berado pada jarak 1/3 d dari bidang lubang cahaya efektif. 8 dari 30 .SNI 03-2396-2001 Gambar 2 : Tinggi dan Lebar cahaya efektif b) c) Untuk menjamin tercapainya suatu keadaan pencahayaan yang cukup memuaskan maka Faktor Langit (fl) titik ukur tersebut harus memenuhi suatu nilai minimum tertentu yang ditetapkan menurut fungsi dan ukuran ruangannya. diambil pada tengah-tengah antar kedua dinding samping.

SNI 03-2396-2001 2) titik ukur samping (TUS). dengan d adalah ukuran kedalaman ruangan. diambil pada jarak 0.: Penjelasan mengenai jarak d Gambar 3b.: Penjelasan mengenai jarak d 9 dari 30 . atau hingga pada "bidang" batas dalam ruangan yang hendak dihitung pencahayaannya itu (lihat gambar 3a dan 3b ). Gambar 3a.50 meter dari dinding samping yang juga berada pada jarak 1/3 d dari bidang lubang cahaya efektif. diukur dari mulai bidang lubang cahaya efektif hingga pada dinding seberangnya.

1 Klasifikasi Berdasarkan Kuallitas Pencahayaan a) Kualitas pencahayaan yang harus dan layak disediakan. Ketentuan jarak "1/3 . atau diambil jarak rata-ratanya.7 Lubang Cahaya Efektif Bila suatu ruangan mendapatkan pencahayaan dad langit metalui lubang-lubang cahaya di beberapa dinding. b) Bagian-bagian dari bangunan itu sendiri yang karena menonjol menyempitkan pandangan ke luar. Gambar 4.d" minimum Untuk ruang dengan ukuran d sama dengan atau kurang dari pada 6 meter. seperti balkon. e) 4. 10 dari 30 . c) Pembatasan-pembatasan oleh letak bidang kerja terhadap bidang lubang cahaya .2. Hal ini. 4.d diganti dengan jarak minimum 2 meter. Penjelasan mengenai jarak d Umumnya lubang cahaya efektif dapat berbentuk dan berukuran lain daripada lubang cahaya itu sendiri. konstruksi "sunbreakers" dan sebagainya. maka masing-masing dinding ini mempunyai bidang lubang cahaya efektifnya sendiri-sendiri lihat gambar 4 ). maka ketentuan jarak 1/3. antara lain dapat disebabkan oleh a) penghalangan cahaya oleh bangunan lain clan atau oleh pohon. maka untuk d diambil jaralk di tengah antara kedua dinding samping tadi. d) Bagian dari jendela yang dibuat dari bahan yang tidak tembus cahaya. ditentukan oleh : 1) penggunaan ruangan. khususnya ditinjau dari segi beratnya penglihatan oleh mata terhadap aktivitas yang harus dilakukan dalarn ruangan itu.1.SNI 03-2396-2001 d) Jarak “ d " pada dinding tidak sejajar Apabila kedua dinding yang berhadapan tidak sejajar.2 Persyaratan teknis 4.

4) Kualitas D : kerja kasar. seperti pada guclang. 3) Kualitas C : keda sedang. dimana d adalah jarak antara bidang lubang cahaya efektif ke dinding di seberangnya. pekedaan tanpa konsentrasi yang besar dari si pelaku. dinyatakan dalam meter. lorong falu lintas orang. membuat alat atau merakit komponen-komponen kecil. seperti pekedaan kayu. 2) nilai f1min dalam prosen untuk ruangan-ruangan dalam BANGUNAN UMUM untuk TUUnya. Klasifikasi kualitas pencahayaan adalah sebagai berikut 1) Kualitas A : keda halus sekali. dan sebagainya. seperti menggambar detil. pekedaan dimana hanya detil-detil yang besar harus dikenal.d 0. Tabel 1 : Nilai Faktor langit untuk bangunan umum Klasifikasi pencahayaan A B c D flmin TUU 0. merakit suku cadang yang agak besar. dan sebagainya. dan dipilih menurut klasifikasi kualitas pencahayaan yang dikehendaki dan dirancang untulk bangunan tersebut. menggravir. 2 dan 3.2 Persyaratan Faktor Langit Dalam Ruangan a) Nilai faktor langit (fl) dah suatu titilk ukur dalarn ruangan harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : 1) sekurang-kurangnya memenuhi nilai-nilai faktor langit minimum (flmin) yang tertera pada Tabel 1.d 0. atau dapat pula secara periodik dimana mata dapat beristirahat. membaca. b) Klasifikasi kualitas pencahayaan.45. adalah seperti tertera pada tabel 1. seperti menulis. dan sebagainya.10 d. dan sebagainya. 2) Kualitas B : keda halus.d 0.d Tabel 2 : Nilai Faktor I unit untuk bangunan sekolah 11 dari 30 .SNI 03-2396-2001 2) lamanya waktu aktivitas yang memerlukan daya penglihatan yang tinggi dan sifat aktivitasnya.35.15.25. pekerjaan cermat tidak secara intensif terus menerus. pekedaan secara cermat terus menerus. 4. Faktor langit minimum untuk TUS nilainya diambil 40% dari flmin untuk TUU dan tidak boleh kurang dari 0.2. menjahit kain warna gelap. sifat aktivitas dapat secara terus menerus memedukan perhatian dan penglihatan yang tepat.

20. Untuk ruangan-ruangan kelas biasa.35 d 0.d 0.d 0.20.20.45.20 m .d 0.d 0. b) Ruangan dengan pencahayaan langsung dari lubang cahaya di satu dinding nilai fl ditentukan sebagai berikut : 1) dari setiap ruangan yang menerima pencahayaan langsung dari langit melalui lubang-lubang atau jendela-jendela di satu dinding saja. kelas khusus dan laboratorium dimana dipergunakan papan tulis sebagai alat penjelasan.20.d 0. nilai dari flmin dalarn prosentase untuk ruangan-ruangan dalarn bangunan tempat tinggal seperti pada tabel 3.d 0. 12 dari 30 . harus diperiksa (fl) lebih dari tiga titik ukur (jumlah TUU ditambah).25.d flmin TUS 0.d 4) 5) untuk ruangan-ruangan lain yang tidak khusus disebut dalarn tabel ini dapat diperlakukan ketentuan-ketentuan dalam tabel 1. maka flmin pada tempat 1/3 d di papan tulis pada tinggi 1.d 0.15.d 0.d 0. Misalnya untuk suatu ruangan yang panjangnya lebih dari 7 m. Tabel 3: Nilai Faktor la git Bangunan Tempat Tinggal Jenis ruangan Ruang tinggal Ruang keda Kamar tidur Dapur flmin TUU 0.35. harus diteliti fl dari satu TUU dan dua TUS.35.25. clitetapkan sama dengan flmin = 50% TUU.16.d f1min TUS 0.20.35.SNI 03-2396-2001 JENIS RUANGAN Ruang kelas biasa Ruang kelas khusus Laboratoriurn Benqkel kayu/besi Ruang olahraga Kantor Dapur 3) flmin TUU 0.d 0.20. 18.d 0.20.20.d 0.16 d 0.d 0.d 0.35.d nilai dari flmin dalam prosen untuk ruangan-ruangan dalarn bangunan sekolah adalah seperti pada tabel 2. 2) Jarak antara dua titik ukur tidak boleh lebih besar dari 3 m.05.d 0.20.d 0.

dimana d adalah ukuran dalam menurut bidang lubang cahaya efektif pertama (lihat gambar 3 d) e) Ruangan dengan lebih dad satu jenis penggunaan. 2 dan 3. 2) untuk kelompok titik ukur yang pertama. maka untLik dincling kedua. Nilai faktor langit (fl) untuk ruangan semacam ini harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut : 1) bila suatu ruangan menerima pencahayaan langsung dari langit melalui lubanglubang atau jendela-jendela di dua dinding yang berhadapan (sejajar). 2 dan 3.SNI 03-2396-2001 c) Ruangan dengan pencahayaan langsung dari lubang cahaya di dua dinding yang berhadapan. hanya diperhitungkan satu Titik Ukur Utama tambahan saja. maka setiap bidang lubang cahaya efektif mempunyai kelompok tifik ukurnya sendiri. d. 5) ketentuan untuk kelompok tifik ukur yang kedua ini seperti yang termaksud dalam ayat 3. 4) dalam hal ini (fl) untuk setiap titik ukur adalah jumlah faktor langit yang diperolehnya dari lubang-lubang cahaya di kedua dinding. 3) jarak titik ukur utama tambahan ini sampai pada bidang lubang cahaya efektif kedua diambil Y. yang ticlak begitu penting. luas lubang cahaya efektif kedua adalah bagian dad bidang lubang cahaya yang letaknya di antara tinggi 1 meter dan tinggi 3 meter. 3) untuk kelompok titik ukur yang kedua ditetapkan syarat minimum sebesar 30% dari yang tercanturn pada ketentuan-ketentuan dari tabel 1. berlaku ketentuan-ketentuan dad tabel 1. Dalam hal yang belakangan ini. Ruangan dengan pencahayaan langsung dari lubang cahaya di dua dinding yang saling memotong Untuk kondisi ruangan seperti ini faktor langit ditentukan dengan memperhitungkan hal-halsebagai berikut: 1) bila suatu ruangan menerima penc-ahayaan langsung dari langit melalui lubanglubang atau jendela-jendela di dua dinding yang saling memotong kurang lebih tegak lurus. tidak berlaku apabila jarak antara kedua bidang lubang cahaya efektif kurang dari 6 meter. 2) syarat untuk titik ukur yang dimaksud dalarn butir 1) pasal ini adala ' h 50% dari yang berfaku untuk titik ukur utama bidang lubang cahaya efektif yang pertama. 6) bila jarak tersebut dalam butir 5) adalah lebih dari 4 meter dan kurang dari 9 meter dianggap telah dipenuhi apabila luas total lubang cahaya efektif kedua inj sekurang-kurangnya 40% dad luas lubang cahaya efektif pertama. 13 dari 30 . yaitu dari bidang lubang cahaya efektif yang paling penting.

Setiap gang atau lorong dalam bangunan umum harus sekurang-kurangnya dapat menerima cahaya siang hari melalui luas kaca minimal 0. Setiap koridor atau gang dalam bangunan rumah tinggal harus dapat menerima cahaya melalui luas kaca sekurang-kurangnya. bahwa untuk: 1) luas kaca dincling luar atau atap. kamar tinggal. kamar keda clan sebagainya. clan sebagainya. seperti gudang. f) Penerimaan cahaya pada koridor atau gang dalam bangunan rumah tinggal. umum harus clapat menerima cahaya siang had melalui luas kaca sekurang-kurangnya 0. dengan ketentuan. diperhitungkan 0% h) Penerimaan cahaya siang had pacla ruang tangga umum.10 m2 dengan ketentuan. diperhitungkan 30 %.SNI 03-2396-2001 Apabila suatu ruangan digunakan sekaligus untuk dua jenis keperluan.5% tingkat di bawah selanjutnya 0% 14 dari 30 .0. Ruang tangga. 3) luas kaca untuk perbatasan dengan ruangan dengan pencahayaan kualitas C. diperhitungkan 20 %. diperhitungkan 100 %.30 M2. diperhitungkan 10 %. 2) luas kaca dinding dalam. 3) luas kaca ruangan lainnya. yang clapat merupakan batas dengan kamar tidur. diperhitungkan 100 %: 2) apabila terdapat kaca di atap maka cahaya di : tingkat yang paling atas 100% tingkat pertama di bawahnya 50% tingkat kedua di bawahnya 25% tingkat ketiga di bawahnya 12. kamar mandi. maka untuk ruangan ini diberlakukan syarat-syarat yang terberat dari kedua jenis keperluan tersebut. 2) luas kaca dinding dalam yang merupakan batas dengan ruangan dengan kualitas pencahayaan A dan B. diperhitungkan 0 % g) Penerimaan cahaya siang hari pada koridor atau gang/lorong dalarn bangunan.(Lihat gambar 5). Untuk setiap setengah tinggi lantai dengan ketentuan 1) lubang cahaya dinding luar. 4) luas kaca ruangan lainnya. Untuk setiap 5 meter panjang gang atau lorong. bahwa untuk : 1) luas kaca dinding luar atau atap diperhitungkan 100 %.75 m2 .

Sudut penghalang cahaya. Untuk lubang cahaya efektif dari suatu ruangan yang menerima cahaya siang hari tidak langsung dari langit akan tetapi melalui kaca atau lubang cahaya dari ruangan lain. misaInya lewat teras yang beratap. Gambar 5: Potongan ruang tangga. Faktor langit dalam ruangan yang menerima pencahayaan tidak langsung.SNI 03-2396-2001 i). j). hanya boleh diambil maksimal 10 % dari faktor langit dalam keadaan dimana titik ukur langsung menghadap langit. maka fl dari titik ukur dalarn ruangan ini dihitung melalui ketentuan-ketentuan dalam persyaratan teknis ini. 15 dari 30 . Sudut penghalang cahaya hendaknya tidak melebihi 600 ditinjau dari sudut tata letak bangunan-bangunan sesuai dengan perencanaan tata ruang kota. bila hal tersebut tidak dapat dipenuhi. maka pencahayaan tambahan yang diperlukan diperoleh dari pencahayaan buatan.

Perhitungan faktor langit.SNI 03-2396-2001 4. Dasar penetapan nilai faktor langit. Perhitungan besarnya faktor langit untuk titik ukur pada bidang kerja di dalarn ruangan dilakukan dengan menggunakan metoda analitis di mana nilai fl dinyatakan sebagai fungsi dari H/D dan UD seperti tercantum dalam tabel 4 dengan penjelasan Tabel 4: Faktor langit sebagai fungsi H/D dan L/D Posisi titik ukur U. yang jauhnya D dari lubang cahaya efektif berbentuk persegi panjang OPQR (tinggi H dan lebar L) sebagaimana dilukiskan di bawah ini : Ukuran H dihitung dari 0 ke atas. H adalah tinggi lubang cahaya efektif L adalah lebar lubang cahaya efektif D adalah jarak titik ukur ke bidang lubang cahaya efektif. Ukuran L dihitung dari 0 ke kanan. 16 dari 30 .000 lux. atau dari P ke kiri sama saja. didasarkan atas keadaan langit yang terangnya merata atau kriteda Langit Perancangan untuk Indonesia yang memberikan kekuatan pencahayaan pada titik dibidang atar di lapangan terbuka sebesar 10. b).2. Penetapan Nilai Faktor Langit.3 Penetapan Faktor Langit a).

1 0.34 2.00 10.05 13.05 13.85 2.55 6.41 6.50 5.1 H/D 0.0 0.13 0.44 2.17 3.52 4.95 7.06 0.10 0.26 4.56 14.52 11.51 5146 6.70 17.87 17.12 2.41 13.48 1.46 4.41 4.87 10.5 5.4 0.12 0. 1.3 0.04 8.16 16.32 0.5 2.52 0.33 11.67 20.62 8.38 4.16 4. 3 18.0 0.27 0.98 4.37.6 0.40 3.5 0.57 0.21 19.7 0.78 2.29 9.5 4.90 5.26 3.33 0.8 0.55 4.83 3.06 10.01 1.86 1.03 9.7 0.33 7.09 1.63 19.0 3.22 10.42 16.0 4.78 2.28 7.09 0.77 1.60 10.36 4.03 9.62 0.48 1.80 3.36 0.81 6.16 4.40 1.49 9.5 0.79 10.50 1.4 5.04 6.0 2.17 1.22 8.26 19.39 4129 5118 6.5 4.0 3.71 0.3 0.71 2.26 0.12 11.89 9.49 1.34 0.5 0.54 4.12 0.36 17.51 1.48 1.89 18.8 0.2 0.36 4.22 17.52 11.58 16.64 3.75 15.44 12.10 1.30 14.50 5.45 6.08 0.69 5.39 4.5 0.40 3.46 19.9 1.79 2.07 17 dari 30 .28 11.66 7.95 4.5 0.96 14.05 1.24 8.5 H/D 0.69 3.69 19.30 14.07 7.03 1.11 0.79 1.40 7.51 0.94 5.50 4.39 1.64 13.0 1.03 19.43 6.47 1.97 1.05 4.63 3.02 1122 1.46 4.60 3.33 0.91 1.2 0.45 0.45 7.13 4.64 18.0 4.18 3.75 3.63 2.29 6.64 13.08 13.59 12.12 0.45 17.12 0.51 2.63 4.56 4.5 0.54 4.41 13.13 4.12 0.96 11.17 2.22 4.80 3.57 8.43 0.0 0.01 1.63 19.45 0.29 7.79 17.2 0.17 0.07 4.49 1.50 4.56 8.48 0.98 4.31 6.80 1.49 16.58 11.32 18.57 3.07 9.15 8.89 8.23 17.54 4.52 3.06 6.29 9.56 14.SNI 03-2396-2001 Nilai Faktor Langit dinyatakan dalam L/D 0.51 0.00 12.71 6.30 11.01 19.47 9.44 15.46 4.94 9.0 0.63 3.58 16.0 6.22 0.16 10.90 5.25 10.77 6.42 15.05 1.70 2.12 0.5 2.8417.20 7.53 3.05 1.04 7.6 0.97 1.85 14.55 15.42 0.04 4.38 0.23 12.37 6.02 2.93 3.63 3.02 0.41 4.04 2.91 7.15 10.3 0.58 8.40 0.31 7.22 4.96 2.62 0.0 1.44 12.38 2.48 1.12 0.83 11.01 2.01 7.90 13.06 0.63 2.99 3.52 15.90 2.27 10.20 4.47 1.04 1.06 16.28 11.99 5.90 2.79 13.65 1.78 2.74 18.82 1.43 1.29 4.03 0.93 2.9 0.21 16.56 2.47 9.85 5.71 6.85 18.61 3.51 10.4 0.09 5.89 18.0 0.80 4.82 1.13 18.55 1.31 16.39 5.40 10.31 2.53 1154 L/D 1.45 6.62 15.9 1.26 14.52 17.11 2.05 1.30 0.76 11.39 7.91 17.29 2.07 4.0 0.05 8.37 0.42 0.43 13.5 0.77 2.27 1.0 2.72 1.22 18.0 0.45 16.85 19.30 1.06 0.11 0.76 2.96 1.78 2.67 15.05 0.8 0.75 15.09 0.28 4.10 0.68 3.56 17.48 5.74 2.22 0.44 20.59 2.48 1.02 3.7 0.93 14.62 0.47 5.55 4.90 11.0 6.5 5.97 13.12 0.04 1.58 4.78 15.63 3.78 6.4 0.73 15.20 1.76 10.32 16.92 3.76 2.28 4.28 11.48 1.25 10.46 18.59 6.20 1.20 9.5 3.0 0.93 14.82 2.1 0.17 0.5 3.88 16.78 2.6 0.36 7.74 7.12 0.92 16.64 2.40 0.07 0.

2 a) Pencahayaan Alami clan Was Lubang Cahaya Untuk memperoleh kualitas pencahayaan yang diinginkan maka di dalam perancangan pedu diperhatikan hal-hal yang mempengaruhi kualitas pencahayaan tersebut. Kualitas pencahayaan alami siang hari dalam ruangan ditentukan oleh 1). perbandingan luas lubang cahaya dan luas lantai. 18 dari 30 b) . Kedudukan Lubang Cahaya Disamping ketiga faktor tersebut pada 5.1 Cara perancangan pencahayaan alami siang hari. Prosedur Perancangan Pencahayaan Alami Siang Hari dilaksanakan dengan mengikuti bagan di bawah ini : Gambar 6 : Prosedur perancangan sistem pencahayaan alami siang hari. 3). 5. faktor refleksi cahaya dari permukaan di dalam ruangan.2. bentuk dan letak lubang cahaya. 2). Prosedur Perancangan Pencahayaan Alami Siang Hari.SNI 03-2396-2001 5 5. perlu diperhatikan kedudukan lubang cahaya terhadap bagian lain dari bangunan dan keadaan lingkungan sekitamya yang dapat merupakan penghalang bagi masuknya cahaya kedalam ruangan.

efektif disebut titik 0 (lihat gambar 7). Tabel 5: Hubungan antara tinggi tempat lubang cahaya dengan nilai faktor langit relatif. dalam tabel berikut ini telah dihitung nilai faktor langit untuk titik ukur yang terletak 2m dari bidang lubang cahaya efektif.3 a).5 4 5 5 5 5 4. Titik ukur tersebut memperoleh pencahayaan dari lubang cahaya efektif yang berbentuk bujur sangkar dengan sisi 20 cm dengan letak tinggi yang berbeda-beda. Letak dan Bentuk Lubang Cahaya Letak atau posisi lubang cahaya berpengaruh kepada nilai faktor langit serta distribusi cahaya ke dalam ruang sebagai berikut: 1). lubang cahaya yang sama besarnya. 2). Hingga suatu ketinggian tertentu nilai fl akan menurun lagi.5 4 Salah satu sisi dad lubang cahaya efektif berimpit dengan gads potong bidang vertikal yang melalui titik ukur Proyeksi titik ukur pada bidang lubang cahaya. 19 dari 30 .SNI 03-2396-2001 5. Tinggi tempat lubang cahaya (cm) 0-20 20-40 40-60 60-80 80-100 100-120 120-140 140-160 160-180 180-200 Nilai Faktor langit relatif 1 2 3. mempunyai nilai fl yang lebih besar untuk kedudukan yang lebih tinggi. Nilai faktor langit diambil terhadap tempat yang terendah. (lihat tabel 5).

5 0. akan memberikan nilai faktor langit pada titik ukur yang lebih kecil. lubang cahaya efektif yang sama besamya apabila kedudukannya lebih ke samping dari bidang vertikal yang lewat titik ukur dan tegak lurus pada bidang lubang cahaya efektif. Faktor langit dengan sisi 20 cm dan garis bawahnya berimpitan dengan ketinggian bidang kerja (titik ukur). 3). Tabel 6 : Hubungan antara jarak kesamping dengan Nilai Faktor Langit Relatif Jarak kesamping (cm) 0-20 20-40 40-60 60-80 80-100 180-200 280-300 Nilai Faktor langit relatif 1 0.5 1 0.: Pengaruh kedudukan lubang cahaya atas besarnya faktor langit.SNI 03-2396-2001 Gambar 7.5 0 0 4). diambil sebagai dasar satuan. 20 dari 30 . nilai faktor langit untuk lubang cahaya efektif yang letaknya sentral dan tinggi terhadap titik ukur lebih efektif dibandingkan lubang cahaya yang letaknya ke samping dan rendah.

Pengurangan ukuran lubang cahaya efektif tidak hanya disebabkan unsur-unsur yang tedetak pada bidang lubang cahaya efektif atau bidang yang sejajar. memberikan penetrasi ke dalam yang lebih baik. sedangkan dalam rencana kota akan dibangun bangunan lain maka hal ini harus dipertimbangkan pada saat perancangan bangunan. Penghalang cahaya lainnya yang berupa bagian dari bangunan itu sendiri seperti : 1) tebal dinding atau bagian bangunan yang menonjol. bagian-bagian dari lubang cahaya efektif yang letaknya tinggi akan lebih efektif dalam distribusi cahaya ke bagian-bagian dari ruangan yang letaknya lebih daiam dari pada ke samping. Perhitungan faktor langit suatu titik ukur tertentu dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut: (a) pertama menetapkan ukuran utama lubang cahaya efektif. Faktor langit yang dapat dikalikan dengan (100 .SNI 03-2396-2001 5). Bangunan lain yang berada di hadapan lubang cahaya umumnya akan membatasi bagian bawah dari lubang cahaya efektif. d) e) f) . palang palang dan lainnya) yang terbuat dari bahan yang tidak tembus cahaya akan merubah luas ukuran lubang cahaya efektif. tetapi juga oleh bidang yang tegak lurus pada bidang ini. 2) bagian atas lubang cahaya efektif yang dibatasi oleh teritisan dan lain-lain. Bentuk lubang cahaya memberikan pengaruh terhadap distribusi cahaya sebagai berikut : 1) lubang cahaya yang melebar akan berguna untuk mendistribusikan cahaya lebih merata dalam arah lebar ruangan. b) .a ) % dimana a adalah bagian yang tidak tembus cahaya. 2) lubang cahaya efektif yang ukuran tingginya lebih besar dari ukuran lebarnya . Penghalang cahaya 1). (c). Untuk memperhitungkan 21 dari 30 c). Apabila pada saat perancangan bangunan belum ada bangunan lain di sekitarnya. Unsur unsur dad jendela (kusen. 2). Tanaman clapat merupakan penghalang cahaya karena hal ini sukar sekali untuk diperkirakan maka pengaruhnya sering tidak diperhitungkan. Harga tersebut merupakan harga faktor langit yang telah dikoreksi untuk bagian-bagian yang ticlak tembus cahaya. sehingga H/D dan L/D dapat ditetapkan. (b). kemudian dihitung berapa prosen bagian-bagian yang dilihat dari titik ukur itu yang tidak tembus cahaya. 3).

6 6. kasa nyamuk clapat mengurangi banyaknya arus cahaya yang masuk sekurangkurangnya 15%. 3).SNI 03-2396-2001 hal ini dianjurkan dalam perancangan diambil nilai faktor langit 10% sampai 20% lebih tinggi dari persyaratan yang diberikan. Juga dianjurkan pohon-pohon yang tinggi dan rindang jangan ditanam terlampau dekat pada bangunan. Pengurangan cahaya dapat mencapai 50% atau lebih tergantung pada bahan yang digunakan. 2) tidak teqadi kontras antara bagian yang terang dan gelap yang terialu tinggi (40:1) sehingga dapat mengganggu penglihatan Untuk meningkatkan kualitas pencahayaan alami siang hari di dalam ruangan perlu diperhatikan petunjuk-petunjuk di bawah ini : 1). apabila kondisi bangunan memungkinkan. untuk memanfaatkan sebaik-baiknya pemasukan cahaya alami ke dalam ruangan. Hal ini akan membantu meratakan distribusi cahaya dan mengurangi kontras yang mungkin terjadi. Pengujian dilakukan dengan mengukur atau memeriksa : 22 dari 30 . g) Distribusi cahaya dalam ruangan Kualitas pencahayaan alami siang hari dalam suatu ruangan dapat dikatakan baik apabila : 1) tingkat pencahayaan yang minimal dibutuhkan selalu dapat dicapai atau dilampaui tidak hanya pada daerah-daerah di dekat jendela atau lubang cahaya tetapi untuk ruangan secara keseluruhan. hendaknya ruangan dapat menerima cahaya lebih dari satu arah. Pengujian dan pemeliharaan Pengujian h). hendaknya permukaan ruangan bagian dalam menggunakan warna yang cerah. tetapi juga mengurangi cahaya yang masuk. 2).1 Pengujian pencahayaan alami siang hari dimaksudkan menguji dan atau menilai/ memeriksa kondisi pencahayaan alami siang hari pada bab 4. penggunaan kaca khusus untuk mengurangi radlasi termal sebaiknya fidak mengurangi cahaya yang masuk. 4). 5. vitrase (gorden transparan) dapat membantu membaurkan cahaya.

Titik Ukur Samping (TUS). Faktor-faktor yang mempengaruhi silau adalah luminansi sumber cahaya.SNI 03-2396-2001 a). Indeks kesilauan. b).2 Indeks Kesilauan Silau tedadi diakibatkan oleh masuknya cahaya matahad langsung atau adanya pantulan dari benda-benda reflektif. b). Hitung faktor langit di TUU dan TUS.1 Tingkat Pencahayaan a). Tingkat pencahayaan. posisi sumber cahaya terhadap penglihatan pengamat dan adanya kontras pada permukaan bidang kerja. c). (CIBSE = Chartered Institution of Building Serv. Titik di luar ruangan di tempat terbuka dan pengukuran dilakukan pada waktu yang bersamaan. Nilai Indeks Kesilauan dapat dihitung dengan rumus-rumus yang ada pada CIBSE Publication TM 10. Bandingkan hasil perhitungan pada butir b dengan ketentuan pada bab 4. Ukur tingkat pencahayaan di Titik Ukur Utama (TUU). 6. Nilai Indeks Kesilauan maksimum yang direkomendasikan untuk berbagai tugas visual dibehkan pada tabel 7.ces Engineering) 23 dari 30 .1.1. 6.

Bangunan turbin dan boiler. ruang tangga. fabrikasi rangka baja. Pemeliharaan yang perlu dilakukan adalah menghindarkan adanya penghalang yang dapat mengurangi terang langit yang masuk ke dalam ruangan dan membersihkan kaca-kaca. kantin. penyiapan dan pemasakan makanan. pabrik produksi beton.plant Rooms Koridor. ruangan kantor Industri percetakan.2 Pemeliharaan 19 Ruang kelas. 24 dari 30 . kafetaria. lobby. perpustakaan (umum). ruang perakitan. perkantoran.SNI 03-2396-2001 Tabel 7. toko mesin dan peralatan. pemeriksaan dan pengujian (pekerjaan teliti) 16 Pada pencahayaan alami siang had sebagai sumber masuknya cahaya ke dalam ruangan adalah lubang cahaya. pekerjaan logam lembaran 25 Tugas visual dan Interior Normal 22 Pengendalian silau sangat penting Tugas visual sangat teliti Pengendalian silau tingkat tinggi sangat dipedukan 6.: Nilai Indeks Kesilauan Maksimum Untuk Berbagai Tugas Visual dan Intedor Jenis Tugas Visual atau Interior dan Pengendalian Silau yang Dibutuhkan Tugas visual kasar atau tugas yang tidak dilakukan secara terus menerus Pengendalian silau dipedukan secara terbatas Indeks Kesilauan Maksimum 28 Contoh Tugas Visual dan Interior Pefbekalan bahan mentah. ruang makan. pemeriksaan dan pengujlan (pekerjaan kasar). ruang keberangkatan dan ruang tunggu di bandara. pekerjaan pengelasan. cold stores. ruang gambar. pemeriksaan dan pengujian (pekerjaan sedang). Gudang.

D=2m.15 dikurangi EADF dengan H/D = 1. 2) lubang ABCD titik ukur U didapat Lebar 2 m.0 dan L/D = 0. posisi lihat gambar 8 (b) (1) lubang cahaya dianggap terdiri atas lubang-lubang AEFD dengan H/D = 1 dan L/D = 0. tinggi 2 m 2 meter ke dalam. L/D= 1 (3) menurut Tabel 4.+ ABCD = 2.5 (2) menurut tabel 4.5% --------------------. H=2m. L=2m (2) H/D = 1. tinggi 2 m 2 m ke dalam. posisi lihat gambar 8 (c) (1) Lubang cahaya dianggap terdiri atas lubang-lubang EBCF dengan H/D = 1.7. : : : Lebar 2 m.75 (2) menurut Tabel 4. faktor langit untuk U adalah AEFD = 1. faktor langit untuk U adalah 5.SNI 03-2396-2001 Apendiks Al Perhitungan pencahayaan alami siang hari.1 Contoh Perhitungan Faktor Langit Perhitungan faktor langit berdasarkan Tabel 4 hubungan faktor langit se b. posisi lihat gambar 8 (a) (1) lubang cahaya ABCD.47% EADF = 3.68% Untuk memperoleh angka-angka faktor langit dilakukan interpolasi.25 ABCF dengan H/D = 1 dan L/D = 0.56% --------------------.57%.+ ABCD = 6. faktor langit untuk U adalah EBCF = 6.93% EBCF = 4.agai fungsi H/D dan L/D sebagai berikut: 1) lubang ABCD titik ukur U didapat : : : Lebar 2 m.0 dan L/D = 1. tinggi 2 m 2 m ke dalam. A1.91 % 25 dari 30 : : : 3) lubang ABCD titik ukur U didapat .

5 dan L/D = 1.5 dan L/D = 1.5 dikurangi EFDH dengan H/D = 1. 4) lubang ABCD titik ukur U didapat : : : Lebar 2 m.5 dan L/D = 0. posisi lihat gambar 8 (d) (1) Lubang cahaya diar-iggap terdid atas lubang-lubang EGCH dengan H/D = 1.5 dikurangi EGBI dengan H/D = 0. tinggi 2 m 2 m ke dalam.5 dan L/D = 0.5 26 dari 30 .SNI 03-2396-2001 Gambar 8 : Posisi titik ukur.5 ditambah EFAI dengan H/D = 0.

faktor langit untuk U adalah FGCI = 5.25 (2) menurut Tabel 4.ABCD = 7.55 % ------------------------.= 8.ABCD = 3.30 % ------------------------. tinggi 2 m 2 m ke dalam.= 7.25 dan UD = 0.52 % EFDH = 4.05 % FGBH = 0.SNI 03-2396-2001 (2) menurut Tabel 4.75 % FEDI = 2.= 0.99 % ----------------------------. faktor langit untuk U adalah EGCH = 9.40 % ----------------------------.25 dan UD = 0.23% ------------------------.27 % 5) lubang ABCD titik ukur U didapat : : : 27 dari 30 .52 % Lebar 2 m. posisi lihat gambar 8 (e) (1) Lubang cahaya dianggap terdiri atas lubang-lubang FGCI dengan H/D = 1.75 dikurangi FEAH dengan H/D = 0.25 dan UD = 0.= 2.53 % EGBI = 2.75 ditambah FEDI dengan H/D = 1.39 % ----------------------------.25 dikurangi FGBH dengan H/D = 0.= 4.50 % FEAH = 0.25 dan UD.13 % EFAI = 1.

harga faktor langit tersebut dapat diperoleh dengan ukuran jendela dengan kombinasi sebagaimana tercantum pada tabel 8.98 bila diperhatikan adanya penghalang cahaya oleh bangunan-bangunan di seberang jalan. Perhitungan untuk perancangan pencahayaan alami siang hari dari suatu sudut ruangan sebagai bedkut : 1).40 0.60 2. maka fl di masing-masing TUU = 1.31 1.94 Luas 1. Ukuran ruang duduk: panjang 6 m.49 1.24.80 1.25% fl di TUS = 1.2 0. 16 d = 0.3 0. 1. Dimisalkan jarak antara titik ukur dan titik-titik dari bangunan di seberang jalan rata-rata 30 m dan tingginya di atas bidang kerja = 9 m.SNI 03-2396-2001 A1. 3.52 0.35 d = 1.5 Lubang cahaya atau jendela Lebar (m) 0.15% 2).6 2.62 0.5% fl di TUS menjadi 1.64 1.75% fl untuk TUS 0.2 Contoh Perhitungan Untuk Perencanaan. 28 dari 30 . 15% Karena letak jendela simetris ke arah melebar (ke kiri dan ke kanan).9 0.47 3).3 tidak memberikan jalan kepada cahaya langsung dari langit.1 0.4 0. lebar 5 m Titik-titik ukur utama pada 2 m. Tabel 8 : Harga Faktor Langit berclasarkan ukuran jendela H/D 1.80 1.82 0.20 1. maka ini berarti bahwa bagian lubang sampai H/D = 0.52 1.00 Tinggi (m). Persyaratan berdasarkan bab 5 : fl untuk TUU 0.80% Koreksi dari kusen jendela = 30% fl di TUU menjadi 2.04 0. L/D 0.

3 0. luas 4.40 0.36 Untuk memenuhi ketentuan yang berlaku untuk Titik Ukur Samping.75 m dari lantai).08 2. tinggi 1.97 0.65 0. Luas 4.74 0.55 1.48 1.60 2. b. Lebar 4.4 0.00 m.18 Was (M2) 2. Kemungkinan di atas hanya sebagai contoh saja.10 m.40 m.20 1. UD 0. karena masih banyak kombinasikombinasi lain yang mungkin. 29 dari 30 .58 0. tinggi 1. Luas 4.94 1.50 m. 5). tinggi 1. Hal ini berlaku.18 2. Dalam perhitungan-perhitungan ini.00 Tinggi (m).06 1. 5. apabila pengaruh dari jendela tengah untuk Titik-titik Ukur Samping sama sekali tidak diperhitungkan.SNI 03-2396-2001 Dalam hal ini hasilnya akan sebagaimana tercantum pada tabel 9.20 m.20 m2 atau Lebar 3. Tabel 9 : Harga Faktor Langit berdasarkan ukuran jendela H/D 2.00 m.5 Lubang cahaya atau jendela Lebar (m) 0. Untuk memenuhi sekaligus kedua ketentuan menurut perhitungan dapat diambil satu jendela simetris terhadap Titik Ukur Utarna dengan ukuran : a.80 1.30 1.59 4). selalu diambil sebagai bagian terendah dari jendela adalah tinggi bidang kerja (0.16 1.2 0.40 m2 atau Lebar 3.1 0.20 m2. hanya dibutuhkan kurang lebih untuk masing-masing jendela di samping seluas 50% dari yang di tengah.

d). c). M. 30 dari 30 . London. Hopkinson (et. 1966.SNI 03-2396-2001 Bibliografi a).U. "Dagverlichting Van Woningen (NBG 11 1951). Symposium of Enviromental Physics as Applied to Building in the Tropics. 1969 . Adhiwiyogo. Deel 11. Daylighting.al). Natuurkundige Grondslagen Voor Bouurvorrschriften. SNI. b). Selection of the Design Sky for Indonesia based on the Illumination Climate of Bandung. No. 03-2396-1991 : Tata cara perancangan Penerangan alami siang hari untuk rumah dan gedung. 1951.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful