P. 1
Sni-03-2396-2001 Tata Cara Perancangan Sistem Pencahayaan Alami

Sni-03-2396-2001 Tata Cara Perancangan Sistem Pencahayaan Alami

|Views: 722|Likes:
Published by Odink Thok

More info:

Published by: Odink Thok on Jun 14, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/21/2013

pdf

text

original

SNI 03-2396-2001

Standar Nasional Indonesia

Tata cara perancangan sistem pencahayaan alami pada bangunan gedung

ICS 91.160.01

Badan Standardisasi Nasional

SNI 03-2396-2001

Daftar Isi
Daftar isi ………………………………………………………………………………………………..i Prakata .....................................................................................................................................ii Pendahuluan............................................................................................................................ iii 1 Ruang lingkup................................................................................................................... 1 2 Acuan. ............................................................................................................................... 1 3 Istilah dan definisi.............................................................................................................. 1 4 Kriteria Perancangan ........................................................................................................ 2 5 Cara perancangan pencahayaan alami siang hari. ........................................................ 18 6 Pengujian dan pemeliharaan. ......................................................................................... 22 Apendiks ................................................................................................................................ 25 Bibliografi ............................................................................................................................... 30

i

pengujian dan pemeliharaan. pengawasan dan pengelolaan bangunan gedung.SNI 03-2396-2001 Prakata Standar Tata Cara Perancangan Sistem Pencahayaan Alami pada Bangunan Gedung ini dimaksudkan sebagai pedoman bagi semua pihak yang terlibat dalam perencanaan. sehingga pencahayaan dan kenyamanan di dalam bangunan gedung dapat dilakukan seefektif mungkin. cara perancangan pencahayaan alami siang hari. pelaksanaan. Tata cara Perencanaa Sistem Pencahayaan Alami pada bangunan gedung bertujuan melengkapi peraturan-peraturan kenyamanan dan konservasi energi yang telah ada dan merupakan persyaratan minimum bagi bangunan gedung. ii . Pembahasan Tata Cara Perencanaan Sistem Pencahayaan Alami pada bangunan gedung meliputi : kriteria perancangan.

pengelola bangunan gedung dan perguruan tinggi. menyusun standar "tata cara perancangan sistem pencahayaan alami pada bangunan gedung" yang selanjutnya dibakukan oleh Badan Standardisasi Nasional menjadi : SNI 03-0000-2001. iii . Diharapkan standar ini dapat dimanfaatkan oleh para perencana. dan pengelola bangunan gedung dalam menerapkan konsep-konsep tata cara perancangan sistern Pencahayaan alami bangunan gedung. pelaksana. asosiasi profesi. supplier.SNI 03-2396-2001 Pendahuluan Dalam rangka lebih meningkatkan usaha konservasi energi dan kenyamanan pada bangunan gedung. sehingga sasaran konservasi energi dan kenyamanan dalam bangunan gedung dapat tercapai. konsultan. kontraktor. pengawas. Departemen Pemukiman dan Prasarana Wilayah mewakili pemerintah.

.

1 Ruang lingkup. 1951. Hopkinson (et. Adhiwiyogo.2 langit perancangan langit dalam keadaan yang ditetapkan dan dijadikan dasar untuk perhitungan. 1. 3 3.U. pencahayaan alami siang hari dalam bangunan gedung. 1966. 1 dari 30 .SNI 03-2396-2001 Tata cara perancangan sistem pencahayan alami pada bangunan gedung 1 1.1 Istilah dan definisi. Standar ini mencakup persyaratan minimal sistem. Daylighting. London. Deel 11 . Symposium of Enviromental Physics as Applied to Building in the Tropics. 03-2396-1991 : Tata cara perancangan Penerangan alami siang hari untuk rumah dan gedung. terang langit sumber cahaya yang diambil sebagai dasar untuk penentuan syarat-syarat pencahayaan alami siang had. "Dagverlichting Van Woningen. M. SNI. Natuurkundige Grondslagen Voor Bouurvorrschriften. Standar tata cara perancangan sistem pencahayaan alami pada bangunan gedung ini dimaksudkan sebagai pedoman bagi para perancang dan pelaksana pembangunan gedung di dalam merancang sistem pencahayaan alami siang hari dan bertujuan agar diperoleh sistem pencahayaan alami siang hari yang sesuai dengan syarat kesehatan. (N BG 11195 1).al). No. Selectidn of the Desfgn Sky for Indonesia based on the Illumination Climate of Bandung. 1969 .2 2 a) b) c) d) Acuan. 3. kenyamanan dan sesuai dengan ketentuan-ketentuan lain yang berlaku.

1. bidang vertikal sebelah dalam dari lubang cahaya. 3. 2 dari 30 . b) distribusi cahaya di dalam ruangan cukup merata dan atau tidak menimbulkan kontras yang mengganggu 4.00 waktu seternpat terdapat cukup banyak cahaya yang masuk ke dalam ruangan. 3. 3.4 titik ukur titik di dalam ruangan yang keadaan pencahayaannya dipilih sebagai indikator untuk keadaan pencahayaan seluruh ruangan.3 faktor langit ( fl ) angka karakteristik yang digunakan sebagai ukuran keadaan pencahayaan alami siang hari diberbagai tempat dalarn suatu ruangan.SNI 03-2396-2001 3. Perbandingan tingkat pencahayaan alami di dalam ruangan dan pencahayaan alami pada bidang datar di lapangan terbuka ditentukan oleh : a) hubungan geometris antara titik ukur dan lubang cahaya.5 bidang lubang cahaya efektif.00 sampai dengan jam 16. 4 4.6 lubang cahaya efektif untuk suatu titik ukur bagian dad bidang lubang cahaya efektif lewat mana titik ukur itu melihat langit.1 Pencahayaan Alami Siang Hari yang Baik Pencahayaan alami siang hari dapat dikatakan baik apabila a) pada siang hari antara jam 08.1 Kriteria Perancangan Ketentuan Dasar 4.1.2 Tingkat Pencahayaan Alami dalam Ruang Tingkat pencahayaan alami di dalam ruangan ditentukan oleh tingkat pencahayaan langit pada bidang datar di lapangan terbuka pada waktu yang sama.

SNI 03-2396-2001 b) c) d) ukuran dan posisi lubang cahaya. Faktor pencahayaan alami siang hari terdiri dari 3 komponen meliputi : 1 ) Komponen langit (faktor langit-fl) yakni komponen pencahayaan langsung dari cahaya langit.3 Faktor Pencahayaan Alami Siang Hari Faktor pencahayaan alami siang hari adalah perbandingan tingkat pencahayaan pada suatu titik dari suatu bidang tertentu di dalam suatu ruangan terhadap tingkat pencahayaan bidang datar di lapangan terbuka yang merupakan ukuran kinerja lubang cahaya ruangan tersebut : a. bagian langit yang dapat dilihat dari titik ukur.1. 3 dari 30 . 4. distribusi terang langit.

Komponen refleksi dalam (faktor refleksi dalam frd) yakni komponen pencahayaan yang berasal dad refleksi permukaan-permukaan dalam ruangan.SNI 03-2396-2001 Gambar 1 : Tiga Komponen cahaya langit yang sampai pada suatu titik di bidang kerja. 2) Komponen refleksi luar (faktor refleksi luar . dad cahaya yang masuk ke dalam ruangan akibat refleksi benda-benda di luar ruangan maupun dad cahaya langit (lihat gambar 1).frl) yakni komponen pencahayaan yang berasal dari refleksi benda-benda yang berada di sekitar bangunan yang bersangkutan. 4 dari 30 3) .

A = luas seluruh permukaan dalam ruangan R = faktor refleksi rata-rata seluruh permukaan W = luas lubang cahaya. Rcw = faktor refleksi rata-rata dari langit-langit dan dinding bagian atas dimulai dari bidang yang melalui tengah-tengah lubang cahaya.1. jarak titik ukur ke lubang cahaya Keterangan : (fl)p = faktor langit jika tidak ada penghalang. tidak termasuk dinding dimana lubang cahaya terletak. 4. besarnya tergantung pada jents kaca yang nilainya dapat diperoleh dad katalog yang dikeluarkan oleh produsen kaca tersebut.4 Langit Perancangan 5 dari 30 . Rfw = faktor refleksi rata-rata lantai dan dinding bagian bawah dimulai dad bidang yang melalui tengah-tengah lubang cahaya. Lrata-rata = perbandingan antara luminansi penghalang dengan luminansi rata-rata langit. tidak termasuk dinding dimana lubang cahaya terletak.SNI 03-2396-2001 b) Persamaan-persamaan untuk menentukan faktor pencahayaan alami Faktor pencahayaan alami siang had ditentukan oleh persamaan-persamaan berikut ini keterangan : L H D = = = lebar lubang cahaya efektif. Tkaca = faktor transmisi cahaya dad kaca penutup lubang cahaya. tinggi lubang cahaya efektif. C = konstanta yang besarnya tergantung dad sudut penghalang.

Untuk perhitungan diambil ketentuan bahwa tingkat pencahayaan ini asalnya dari langit yang keadaannya dimana-mana merata terangnya (uniform luminance distribution). Pengukuran kedua tingkat pencahayaan tersebut dilakukan dalam keadaan sebagai-berikut: a) b) c) Dilakukan pada saat yang sama. Sebagai Langit Perancangan ditetapkan : 1) langit biru tanpa awan atau 2) langit yang seluruhnya tertutup awan abu-abu putih.1.5 Faktor Langit Faktor langit (fl) suatu titik pada suatu bidang di dalam suatu ruangan adalah angka perbandingan tingkat pencahayaan langsung dad langit di titik tersebut dengan tingkat pencahayaan oleh Terang Langit pada bidang datar di lapangan terbuka. 3) nilai tingkat pencahayaan tersebut dalam butir 2) pasal ini tidak boleh terlampau rendah sehingga persyaratan tekno konstruktif menjadi terlampau tinggi. Semua jendela atau lubang cahaya diperhitungkan seolah-olah tidak ditutup dengan kaca. dengan nilai dekat minimum. b) c) d) 4. 2) memberikan tingkat pencahayaan pada bidang datar di lapangan terbuka.SNI 03-2396-2001 a) Dalam ketentuan ini sebagai terang langit diambil kekuatan terangnya langit yang dinyatakan dalam lux. Karena keadaan langit menunjukkan variabilitas yang besar. Suatu titik pada suatu bidang tidak hanya menerima cahaya langsung dari langit tetapi juga cahaya langit yang direfleksikan oleh permukaan di luar dan di dalam ruangan. Langit Perancangan ini memberikan tingkat pencahayaan pada titik-titik di bidang datar di lapangan terbuka sebesar 10.000 lux. maka syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh keadaan langit untuk dipilih dan ditetapkan sebagai Langit Perancangan adalah : 1) bahwa langit yang demikian sering dijumpai. sedemikian rendahnya hingga frekuensi kegagalan untuk mencapai nilai tingkat pencahayaan ini cukup rendah. 6 dari 30 . Keadaan langit adalah keadaan Langit Perancangan dengan distribusi terang yang merata di mana-mana.

Bidang datar tersebut disebut bidang kerja (lihat gambar 2 ). 4.SNI 03-2396-2001 Perbandingan antara tingkat pencahayaan yang berasal dari cahaya langit baik yang langsung maupun karena refleksi.75 meter di atas lantai. Dengan demikian faktor langit adalah selalu lebih kecil dari faktor pencahayaan alami siang hari. 7 dari 30 . terhadap tingkat pencahayaan pada bidang datar di lapangan terbuka disebut faktor pencahayaan alami siang hari. Pemilihan faktor langit sebagai angka karakteristik untuk digunakan sebagai ukuran keadaan pencahayaan alami siang had adalah untuk memudahkan perhitungan oleh karena fl merupakan komponen yang terbesar pada titik ukur.1.6 Titik Ukur a) Titik ukur diambil pada suatu bidang datar yang letaknya pada tinggi 0.

yang berado pada jarak 1/3 d dari bidang lubang cahaya efektif.SNI 03-2396-2001 Gambar 2 : Tinggi dan Lebar cahaya efektif b) c) Untuk menjamin tercapainya suatu keadaan pencahayaan yang cukup memuaskan maka Faktor Langit (fl) titik ukur tersebut harus memenuhi suatu nilai minimum tertentu yang ditetapkan menurut fungsi dan ukuran ruangannya. Dalam perhitungan digunakan dua jenis titik ukur: 1) titik ukur utama (TUU). diambil pada tengah-tengah antar kedua dinding samping. 8 dari 30 .

: Penjelasan mengenai jarak d Gambar 3b. diukur dari mulai bidang lubang cahaya efektif hingga pada dinding seberangnya.50 meter dari dinding samping yang juga berada pada jarak 1/3 d dari bidang lubang cahaya efektif.SNI 03-2396-2001 2) titik ukur samping (TUS). atau hingga pada "bidang" batas dalam ruangan yang hendak dihitung pencahayaannya itu (lihat gambar 3a dan 3b ).: Penjelasan mengenai jarak d 9 dari 30 . Gambar 3a. dengan d adalah ukuran kedalaman ruangan. diambil pada jarak 0.

Penjelasan mengenai jarak d Umumnya lubang cahaya efektif dapat berbentuk dan berukuran lain daripada lubang cahaya itu sendiri. atau diambil jarak rata-ratanya. 10 dari 30 . maka masing-masing dinding ini mempunyai bidang lubang cahaya efektifnya sendiri-sendiri lihat gambar 4 ). konstruksi "sunbreakers" dan sebagainya. maka untuk d diambil jaralk di tengah antara kedua dinding samping tadi. d) Bagian dari jendela yang dibuat dari bahan yang tidak tembus cahaya.1. 4.d" minimum Untuk ruang dengan ukuran d sama dengan atau kurang dari pada 6 meter. ditentukan oleh : 1) penggunaan ruangan. seperti balkon.SNI 03-2396-2001 d) Jarak “ d " pada dinding tidak sejajar Apabila kedua dinding yang berhadapan tidak sejajar. Gambar 4. c) Pembatasan-pembatasan oleh letak bidang kerja terhadap bidang lubang cahaya . antara lain dapat disebabkan oleh a) penghalangan cahaya oleh bangunan lain clan atau oleh pohon.7 Lubang Cahaya Efektif Bila suatu ruangan mendapatkan pencahayaan dad langit metalui lubang-lubang cahaya di beberapa dinding. b) Bagian-bagian dari bangunan itu sendiri yang karena menonjol menyempitkan pandangan ke luar.1 Klasifikasi Berdasarkan Kuallitas Pencahayaan a) Kualitas pencahayaan yang harus dan layak disediakan. Hal ini.2 Persyaratan teknis 4. khususnya ditinjau dari segi beratnya penglihatan oleh mata terhadap aktivitas yang harus dilakukan dalarn ruangan itu. maka ketentuan jarak 1/3. Ketentuan jarak "1/3 . e) 4.d diganti dengan jarak minimum 2 meter.2.

sifat aktivitas dapat secara terus menerus memedukan perhatian dan penglihatan yang tepat. 4) Kualitas D : kerja kasar. seperti pada guclang. dan sebagainya. menjahit kain warna gelap.SNI 03-2396-2001 2) lamanya waktu aktivitas yang memerlukan daya penglihatan yang tinggi dan sifat aktivitasnya. pekedaan secara cermat terus menerus. dinyatakan dalam meter. menggravir. 3) Kualitas C : keda sedang.10 d.d Tabel 2 : Nilai Faktor I unit untuk bangunan sekolah 11 dari 30 . seperti menulis. 2 dan 3. dan dipilih menurut klasifikasi kualitas pencahayaan yang dikehendaki dan dirancang untulk bangunan tersebut. membuat alat atau merakit komponen-komponen kecil.d 0. Faktor langit minimum untuk TUS nilainya diambil 40% dari flmin untuk TUU dan tidak boleh kurang dari 0. Tabel 1 : Nilai Faktor langit untuk bangunan umum Klasifikasi pencahayaan A B c D flmin TUU 0. dan sebagainya.35. atau dapat pula secara periodik dimana mata dapat beristirahat. membaca. 4.25. 2) nilai f1min dalam prosen untuk ruangan-ruangan dalam BANGUNAN UMUM untuk TUUnya. adalah seperti tertera pada tabel 1. seperti menggambar detil. pekedaan dimana hanya detil-detil yang besar harus dikenal. 2) Kualitas B : keda halus. pekedaan tanpa konsentrasi yang besar dari si pelaku. dan sebagainya. pekerjaan cermat tidak secara intensif terus menerus.45. dimana d adalah jarak antara bidang lubang cahaya efektif ke dinding di seberangnya. merakit suku cadang yang agak besar. Klasifikasi kualitas pencahayaan adalah sebagai berikut 1) Kualitas A : keda halus sekali. lorong falu lintas orang. b) Klasifikasi kualitas pencahayaan. dan sebagainya.d 0.15.2 Persyaratan Faktor Langit Dalam Ruangan a) Nilai faktor langit (fl) dah suatu titilk ukur dalarn ruangan harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : 1) sekurang-kurangnya memenuhi nilai-nilai faktor langit minimum (flmin) yang tertera pada Tabel 1.d 0.2. seperti pekedaan kayu.

Tabel 3: Nilai Faktor la git Bangunan Tempat Tinggal Jenis ruangan Ruang tinggal Ruang keda Kamar tidur Dapur flmin TUU 0.d 0. kelas khusus dan laboratorium dimana dipergunakan papan tulis sebagai alat penjelasan.20.d 0. nilai dari flmin dalarn prosentase untuk ruangan-ruangan dalarn bangunan tempat tinggal seperti pada tabel 3.20.d 0.d 0.d 0.d 0.d 0.16. 12 dari 30 .20 m .20.d f1min TUS 0. harus diteliti fl dari satu TUU dan dua TUS.d 0.05. maka flmin pada tempat 1/3 d di papan tulis pada tinggi 1.35.d 0. 18.20.20.35.d 0.d 0.35.35.SNI 03-2396-2001 JENIS RUANGAN Ruang kelas biasa Ruang kelas khusus Laboratoriurn Benqkel kayu/besi Ruang olahraga Kantor Dapur 3) flmin TUU 0.20.20. 2) Jarak antara dua titik ukur tidak boleh lebih besar dari 3 m.15.25.20.d 0. harus diperiksa (fl) lebih dari tiga titik ukur (jumlah TUU ditambah).45. b) Ruangan dengan pencahayaan langsung dari lubang cahaya di satu dinding nilai fl ditentukan sebagai berikut : 1) dari setiap ruangan yang menerima pencahayaan langsung dari langit melalui lubang-lubang atau jendela-jendela di satu dinding saja.25.35 d 0.d flmin TUS 0.20.d 0.d nilai dari flmin dalam prosen untuk ruangan-ruangan dalarn bangunan sekolah adalah seperti pada tabel 2.16 d 0. Misalnya untuk suatu ruangan yang panjangnya lebih dari 7 m.d 0.d 0.d 0.d 4) 5) untuk ruangan-ruangan lain yang tidak khusus disebut dalarn tabel ini dapat diperlakukan ketentuan-ketentuan dalam tabel 1. clitetapkan sama dengan flmin = 50% TUU. Untuk ruangan-ruangan kelas biasa.

SNI 03-2396-2001 c) Ruangan dengan pencahayaan langsung dari lubang cahaya di dua dinding yang berhadapan. 13 dari 30 . 2) untuk kelompok titik ukur yang pertama. 3) jarak titik ukur utama tambahan ini sampai pada bidang lubang cahaya efektif kedua diambil Y. yang ticlak begitu penting. 3) untuk kelompok titik ukur yang kedua ditetapkan syarat minimum sebesar 30% dari yang tercanturn pada ketentuan-ketentuan dari tabel 1. 4) dalam hal ini (fl) untuk setiap titik ukur adalah jumlah faktor langit yang diperolehnya dari lubang-lubang cahaya di kedua dinding. maka untLik dincling kedua. Nilai faktor langit (fl) untuk ruangan semacam ini harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut : 1) bila suatu ruangan menerima pencahayaan langsung dari langit melalui lubanglubang atau jendela-jendela di dua dinding yang berhadapan (sejajar). 2 dan 3. dimana d adalah ukuran dalam menurut bidang lubang cahaya efektif pertama (lihat gambar 3 d) e) Ruangan dengan lebih dad satu jenis penggunaan. berlaku ketentuan-ketentuan dad tabel 1. yaitu dari bidang lubang cahaya efektif yang paling penting. Dalam hal yang belakangan ini. tidak berlaku apabila jarak antara kedua bidang lubang cahaya efektif kurang dari 6 meter. Ruangan dengan pencahayaan langsung dari lubang cahaya di dua dinding yang saling memotong Untuk kondisi ruangan seperti ini faktor langit ditentukan dengan memperhitungkan hal-halsebagai berikut: 1) bila suatu ruangan menerima penc-ahayaan langsung dari langit melalui lubanglubang atau jendela-jendela di dua dinding yang saling memotong kurang lebih tegak lurus. 2) syarat untuk titik ukur yang dimaksud dalarn butir 1) pasal ini adala ' h 50% dari yang berfaku untuk titik ukur utama bidang lubang cahaya efektif yang pertama. hanya diperhitungkan satu Titik Ukur Utama tambahan saja. d. 5) ketentuan untuk kelompok tifik ukur yang kedua ini seperti yang termaksud dalam ayat 3. 2 dan 3. luas lubang cahaya efektif kedua adalah bagian dad bidang lubang cahaya yang letaknya di antara tinggi 1 meter dan tinggi 3 meter. 6) bila jarak tersebut dalam butir 5) adalah lebih dari 4 meter dan kurang dari 9 meter dianggap telah dipenuhi apabila luas total lubang cahaya efektif kedua inj sekurang-kurangnya 40% dad luas lubang cahaya efektif pertama. maka setiap bidang lubang cahaya efektif mempunyai kelompok tifik ukurnya sendiri.

dengan ketentuan. diperhitungkan 30 %.75 m2 . yang clapat merupakan batas dengan kamar tidur. 3) luas kaca untuk perbatasan dengan ruangan dengan pencahayaan kualitas C. 4) luas kaca ruangan lainnya.30 M2.0. umum harus clapat menerima cahaya siang had melalui luas kaca sekurang-kurangnya 0. 3) luas kaca ruangan lainnya. Setiap gang atau lorong dalam bangunan umum harus sekurang-kurangnya dapat menerima cahaya siang hari melalui luas kaca minimal 0. kamar mandi. diperhitungkan 0% h) Penerimaan cahaya siang had pacla ruang tangga umum. maka untuk ruangan ini diberlakukan syarat-syarat yang terberat dari kedua jenis keperluan tersebut. 2) luas kaca dinding dalam yang merupakan batas dengan ruangan dengan kualitas pencahayaan A dan B. Setiap koridor atau gang dalam bangunan rumah tinggal harus dapat menerima cahaya melalui luas kaca sekurang-kurangnya. diperhitungkan 0 % g) Penerimaan cahaya siang hari pada koridor atau gang/lorong dalarn bangunan. seperti gudang. diperhitungkan 100 %: 2) apabila terdapat kaca di atap maka cahaya di : tingkat yang paling atas 100% tingkat pertama di bawahnya 50% tingkat kedua di bawahnya 25% tingkat ketiga di bawahnya 12. diperhitungkan 20 %. diperhitungkan 10 %. kamar keda clan sebagainya. 2) luas kaca dinding dalam.SNI 03-2396-2001 Apabila suatu ruangan digunakan sekaligus untuk dua jenis keperluan. bahwa untuk: 1) luas kaca dincling luar atau atap. f) Penerimaan cahaya pada koridor atau gang dalam bangunan rumah tinggal. Untuk setiap 5 meter panjang gang atau lorong. kamar tinggal.(Lihat gambar 5).5% tingkat di bawah selanjutnya 0% 14 dari 30 . Ruang tangga. diperhitungkan 100 %. Untuk setiap setengah tinggi lantai dengan ketentuan 1) lubang cahaya dinding luar.10 m2 dengan ketentuan. bahwa untuk : 1) luas kaca dinding luar atau atap diperhitungkan 100 %. clan sebagainya.

maka fl dari titik ukur dalarn ruangan ini dihitung melalui ketentuan-ketentuan dalam persyaratan teknis ini. Sudut penghalang cahaya. Faktor langit dalam ruangan yang menerima pencahayaan tidak langsung. Sudut penghalang cahaya hendaknya tidak melebihi 600 ditinjau dari sudut tata letak bangunan-bangunan sesuai dengan perencanaan tata ruang kota. misaInya lewat teras yang beratap. maka pencahayaan tambahan yang diperlukan diperoleh dari pencahayaan buatan. Gambar 5: Potongan ruang tangga. bila hal tersebut tidak dapat dipenuhi. j). 15 dari 30 .SNI 03-2396-2001 i). hanya boleh diambil maksimal 10 % dari faktor langit dalam keadaan dimana titik ukur langsung menghadap langit. Untuk lubang cahaya efektif dari suatu ruangan yang menerima cahaya siang hari tidak langsung dari langit akan tetapi melalui kaca atau lubang cahaya dari ruangan lain.

SNI 03-2396-2001 4. 16 dari 30 .3 Penetapan Faktor Langit a). Perhitungan besarnya faktor langit untuk titik ukur pada bidang kerja di dalarn ruangan dilakukan dengan menggunakan metoda analitis di mana nilai fl dinyatakan sebagai fungsi dari H/D dan UD seperti tercantum dalam tabel 4 dengan penjelasan Tabel 4: Faktor langit sebagai fungsi H/D dan L/D Posisi titik ukur U. b). yang jauhnya D dari lubang cahaya efektif berbentuk persegi panjang OPQR (tinggi H dan lebar L) sebagaimana dilukiskan di bawah ini : Ukuran H dihitung dari 0 ke atas.000 lux. Dasar penetapan nilai faktor langit.2. H adalah tinggi lubang cahaya efektif L adalah lebar lubang cahaya efektif D adalah jarak titik ukur ke bidang lubang cahaya efektif. Perhitungan faktor langit. didasarkan atas keadaan langit yang terangnya merata atau kriteda Langit Perancangan untuk Indonesia yang memberikan kekuatan pencahayaan pada titik dibidang atar di lapangan terbuka sebesar 10. atau dari P ke kiri sama saja. Ukuran L dihitung dari 0 ke kanan. Penetapan Nilai Faktor Langit.

30 11.47 5.48 1.62 15.44 15.48 5.26 0.04 6.80 3.44 20.7 0.96 14.70 17.5 2.49 9.30 1.16 10.79 1.09 0.78 15.09 5.97 1.82 2.0 0.97 1.98 4.92 3.29 9.6 0.56 17.52 17.31 7.05 13.25 10.5 0.39 4.0 0.26 3.06 0.8 0. 3 18.06 16.5 4.3 0.0 2.36 4.63 4.30 0.29 2.94 9.80 4.17 2.56 8.29 6.47 9.16 16.4 0.64 18.44 12.9 1.05 8.48 0.36 17.71 6.89 9.4 0.78 2.51 2.12 0.85 14.33 0.91 1.78 2.00 10.21 19.68 3.42 0.54 4.98 4.59 6.93 14.05 1.24 8.13 18.76 2.71 0.36 0.58 11. 1.4 0.40 10.96 2.89 18.77 6.6 0.42 16.32 18.45 0.12 0.17 0.45 6.31 6.46 4.51 10.90 5.55 4.05 0.18 3.64 13.44 2.22 0.9 0.21 16.62 0.82 1.5 0.27 0.0 6.43 1.89 18.96 11.05 13.45 16.56 2.40 0.07 4.05 1.8 0.50 5.32 0.51 0.88 16.58 8.74 7.69 5.75 3.28 4.76 2.90 2.5 3.45 17.12 11.38 0.92 16.41 13.48 1.2 0.29 9.07 7.22 0.34 2.91 7.09 1.17 0.64 2.39 4129 5118 6.04 1.2 0.12 2.36 4.55 15.46 18.96 1.06 0.47 9.46 4.22 4.80 3.67 20.50 5.25 10.37.41 4.0 0.66 7.59 2.28 7.07 0.16 4.56 14.39 7.78 2.75 15.12 0.85 5.46 4.44 12.42 15.03 0.04 1.95 7.5 0.12 0.1 0.2 0.0 6.SNI 03-2396-2001 Nilai Faktor Langit dinyatakan dalam L/D 0.60 10.5 4.01 19.89 8.51 5146 6.36 7.27 1.59 12.03 19.5 3.51 1.57 0.1 0.4 5.33 11.45 7.0 0.74 18.01 1.3 0.04 4.28 4.79 13.08 0.30 14.63 2.22 17.75 15.58 16.06 10.0 4.83 11.8 0.72 1.52 4.57 8.17 1.5 H/D 0.02 3.37 6.61 3.23 17.67 15.0 3.62 8.5 0.76 10.52 11.42 0.45 6.10 0.20 4.50 4.02 0.0 0.3 0.78 2.26 14.52 0.20 7.28 11.57 3.08 13.01 7.77 1.65 1.11 0.22 8.55 6.95 4.93 2.83 3.40 3.04 8.05 1.04 2.8417.0 3.11 2.90 2.13 4.64 3.45 0.47 1.40 0.87 10.03 9.74 2.34 0.41 6.12 0.33 0.78 6.46 19.20 9.11 0.90 13.81 6.0 0.40 1.85 18.10 0.26 4.28 11.78 2.1 H/D 0.03 1.41 4.0 4.55 1.31 16.48 1.63 3.01 2.5 5.40 7.86 1.31 2.32 16.17 3.54 4.05 1.69 19.26 19.0 1.48 1.79 17.76 11.85 19.79 2.22 18.13 0.03 9.0 0.85 2.00 12.63 3.39 5.90 11.43 6.99 3.12 0.63 3.0 2.56 4.70 2.51 0.38 2.23 12.71 6.02 2.69 3.48 1.12 0.39 1.94 5.48 1.5 0.63 3.77 2.53 1154 L/D 1.27 10.5 2.7 0.15 10.0 0.93 3.63 2.99 5.60 3.5 0.20 1.58 4.5 0.62 0.20 1.52 3.71 2.07 17 dari 30 .55 4.02 1122 1.50 4.58 16.91 17.43 0.5 5.29 7.49 1.30 14.13 4.22 10.80 1.56 14.12 0.16 4.04 7.07 4.62 0.47 1.28 11.10 1.05 4.90 5.40 3.63 19.38 4.06 6.64 13.9 1.6 0.54 4.97 13.22 4.06 0.43 13.7 0.41 13.87 17.0 1.09 0.07 9.37 0.53 3.52 15.52 11.12 0.15 8.33 7.82 1.73 15.79 10.49 16.49 1.01 1.63 19.93 14.50 1.29 4.

18 dari 30 b) . 2). faktor refleksi cahaya dari permukaan di dalam ruangan. perbandingan luas lubang cahaya dan luas lantai. Kualitas pencahayaan alami siang hari dalam ruangan ditentukan oleh 1). 3). perlu diperhatikan kedudukan lubang cahaya terhadap bagian lain dari bangunan dan keadaan lingkungan sekitamya yang dapat merupakan penghalang bagi masuknya cahaya kedalam ruangan.SNI 03-2396-2001 5 5. Prosedur Perancangan Pencahayaan Alami Siang Hari.1 Cara perancangan pencahayaan alami siang hari.2. 5. Prosedur Perancangan Pencahayaan Alami Siang Hari dilaksanakan dengan mengikuti bagan di bawah ini : Gambar 6 : Prosedur perancangan sistem pencahayaan alami siang hari. Kedudukan Lubang Cahaya Disamping ketiga faktor tersebut pada 5. bentuk dan letak lubang cahaya.2 a) Pencahayaan Alami clan Was Lubang Cahaya Untuk memperoleh kualitas pencahayaan yang diinginkan maka di dalam perancangan pedu diperhatikan hal-hal yang mempengaruhi kualitas pencahayaan tersebut.

dalam tabel berikut ini telah dihitung nilai faktor langit untuk titik ukur yang terletak 2m dari bidang lubang cahaya efektif. Hingga suatu ketinggian tertentu nilai fl akan menurun lagi. Tinggi tempat lubang cahaya (cm) 0-20 20-40 40-60 60-80 80-100 100-120 120-140 140-160 160-180 180-200 Nilai Faktor langit relatif 1 2 3. Nilai faktor langit diambil terhadap tempat yang terendah. 2).SNI 03-2396-2001 5.5 4 5 5 5 5 4.3 a). Titik ukur tersebut memperoleh pencahayaan dari lubang cahaya efektif yang berbentuk bujur sangkar dengan sisi 20 cm dengan letak tinggi yang berbeda-beda.5 4 Salah satu sisi dad lubang cahaya efektif berimpit dengan gads potong bidang vertikal yang melalui titik ukur Proyeksi titik ukur pada bidang lubang cahaya. Tabel 5: Hubungan antara tinggi tempat lubang cahaya dengan nilai faktor langit relatif. mempunyai nilai fl yang lebih besar untuk kedudukan yang lebih tinggi. 19 dari 30 . lubang cahaya yang sama besarnya. efektif disebut titik 0 (lihat gambar 7). (lihat tabel 5). Letak dan Bentuk Lubang Cahaya Letak atau posisi lubang cahaya berpengaruh kepada nilai faktor langit serta distribusi cahaya ke dalam ruang sebagai berikut: 1).

akan memberikan nilai faktor langit pada titik ukur yang lebih kecil. nilai faktor langit untuk lubang cahaya efektif yang letaknya sentral dan tinggi terhadap titik ukur lebih efektif dibandingkan lubang cahaya yang letaknya ke samping dan rendah. lubang cahaya efektif yang sama besamya apabila kedudukannya lebih ke samping dari bidang vertikal yang lewat titik ukur dan tegak lurus pada bidang lubang cahaya efektif. 3).5 0.SNI 03-2396-2001 Gambar 7. diambil sebagai dasar satuan. Faktor langit dengan sisi 20 cm dan garis bawahnya berimpitan dengan ketinggian bidang kerja (titik ukur).5 1 0. Tabel 6 : Hubungan antara jarak kesamping dengan Nilai Faktor Langit Relatif Jarak kesamping (cm) 0-20 20-40 40-60 60-80 80-100 180-200 280-300 Nilai Faktor langit relatif 1 0.5 0 0 4).: Pengaruh kedudukan lubang cahaya atas besarnya faktor langit. 20 dari 30 .

2) bagian atas lubang cahaya efektif yang dibatasi oleh teritisan dan lain-lain. Faktor langit yang dapat dikalikan dengan (100 .SNI 03-2396-2001 5). Harga tersebut merupakan harga faktor langit yang telah dikoreksi untuk bagian-bagian yang ticlak tembus cahaya. palang palang dan lainnya) yang terbuat dari bahan yang tidak tembus cahaya akan merubah luas ukuran lubang cahaya efektif. Penghalang cahaya 1). sedangkan dalam rencana kota akan dibangun bangunan lain maka hal ini harus dipertimbangkan pada saat perancangan bangunan. (c). memberikan penetrasi ke dalam yang lebih baik. 3). Bentuk lubang cahaya memberikan pengaruh terhadap distribusi cahaya sebagai berikut : 1) lubang cahaya yang melebar akan berguna untuk mendistribusikan cahaya lebih merata dalam arah lebar ruangan. 2). sehingga H/D dan L/D dapat ditetapkan. Perhitungan faktor langit suatu titik ukur tertentu dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut: (a) pertama menetapkan ukuran utama lubang cahaya efektif. Tanaman clapat merupakan penghalang cahaya karena hal ini sukar sekali untuk diperkirakan maka pengaruhnya sering tidak diperhitungkan. (b). bagian-bagian dari lubang cahaya efektif yang letaknya tinggi akan lebih efektif dalam distribusi cahaya ke bagian-bagian dari ruangan yang letaknya lebih daiam dari pada ke samping. Apabila pada saat perancangan bangunan belum ada bangunan lain di sekitarnya. kemudian dihitung berapa prosen bagian-bagian yang dilihat dari titik ukur itu yang tidak tembus cahaya. Penghalang cahaya lainnya yang berupa bagian dari bangunan itu sendiri seperti : 1) tebal dinding atau bagian bangunan yang menonjol. d) e) f) . tetapi juga oleh bidang yang tegak lurus pada bidang ini. 2) lubang cahaya efektif yang ukuran tingginya lebih besar dari ukuran lebarnya . Untuk memperhitungkan 21 dari 30 c). b) . Unsur unsur dad jendela (kusen. Bangunan lain yang berada di hadapan lubang cahaya umumnya akan membatasi bagian bawah dari lubang cahaya efektif. Pengurangan ukuran lubang cahaya efektif tidak hanya disebabkan unsur-unsur yang tedetak pada bidang lubang cahaya efektif atau bidang yang sejajar.a ) % dimana a adalah bagian yang tidak tembus cahaya.

Pengurangan cahaya dapat mencapai 50% atau lebih tergantung pada bahan yang digunakan. penggunaan kaca khusus untuk mengurangi radlasi termal sebaiknya fidak mengurangi cahaya yang masuk. Hal ini akan membantu meratakan distribusi cahaya dan mengurangi kontras yang mungkin terjadi. 6 6.SNI 03-2396-2001 hal ini dianjurkan dalam perancangan diambil nilai faktor langit 10% sampai 20% lebih tinggi dari persyaratan yang diberikan. 2) tidak teqadi kontras antara bagian yang terang dan gelap yang terialu tinggi (40:1) sehingga dapat mengganggu penglihatan Untuk meningkatkan kualitas pencahayaan alami siang hari di dalam ruangan perlu diperhatikan petunjuk-petunjuk di bawah ini : 1). 2).1 Pengujian pencahayaan alami siang hari dimaksudkan menguji dan atau menilai/ memeriksa kondisi pencahayaan alami siang hari pada bab 4. hendaknya permukaan ruangan bagian dalam menggunakan warna yang cerah. vitrase (gorden transparan) dapat membantu membaurkan cahaya. 3). Juga dianjurkan pohon-pohon yang tinggi dan rindang jangan ditanam terlampau dekat pada bangunan. tetapi juga mengurangi cahaya yang masuk. Pengujian dilakukan dengan mengukur atau memeriksa : 22 dari 30 . g) Distribusi cahaya dalam ruangan Kualitas pencahayaan alami siang hari dalam suatu ruangan dapat dikatakan baik apabila : 1) tingkat pencahayaan yang minimal dibutuhkan selalu dapat dicapai atau dilampaui tidak hanya pada daerah-daerah di dekat jendela atau lubang cahaya tetapi untuk ruangan secara keseluruhan. 5. untuk memanfaatkan sebaik-baiknya pemasukan cahaya alami ke dalam ruangan. kasa nyamuk clapat mengurangi banyaknya arus cahaya yang masuk sekurangkurangnya 15%. apabila kondisi bangunan memungkinkan. Pengujian dan pemeliharaan Pengujian h). hendaknya ruangan dapat menerima cahaya lebih dari satu arah. 4).

Indeks kesilauan. 6. 6. Nilai Indeks Kesilauan maksimum yang direkomendasikan untuk berbagai tugas visual dibehkan pada tabel 7.SNI 03-2396-2001 a). posisi sumber cahaya terhadap penglihatan pengamat dan adanya kontras pada permukaan bidang kerja.ces Engineering) 23 dari 30 . b). c).1 Tingkat Pencahayaan a). Titik di luar ruangan di tempat terbuka dan pengukuran dilakukan pada waktu yang bersamaan.2 Indeks Kesilauan Silau tedadi diakibatkan oleh masuknya cahaya matahad langsung atau adanya pantulan dari benda-benda reflektif.1. Tingkat pencahayaan. b). Titik Ukur Samping (TUS). Nilai Indeks Kesilauan dapat dihitung dengan rumus-rumus yang ada pada CIBSE Publication TM 10. Bandingkan hasil perhitungan pada butir b dengan ketentuan pada bab 4. Hitung faktor langit di TUU dan TUS. Ukur tingkat pencahayaan di Titik Ukur Utama (TUU). (CIBSE = Chartered Institution of Building Serv. Faktor-faktor yang mempengaruhi silau adalah luminansi sumber cahaya.1.

ruang tangga. perkantoran. kantin.plant Rooms Koridor. ruang perakitan. Bangunan turbin dan boiler. toko mesin dan peralatan.: Nilai Indeks Kesilauan Maksimum Untuk Berbagai Tugas Visual dan Intedor Jenis Tugas Visual atau Interior dan Pengendalian Silau yang Dibutuhkan Tugas visual kasar atau tugas yang tidak dilakukan secara terus menerus Pengendalian silau dipedukan secara terbatas Indeks Kesilauan Maksimum 28 Contoh Tugas Visual dan Interior Pefbekalan bahan mentah. fabrikasi rangka baja.2 Pemeliharaan 19 Ruang kelas. 24 dari 30 . ruang keberangkatan dan ruang tunggu di bandara. pemeriksaan dan pengujlan (pekerjaan kasar). lobby. pabrik produksi beton. pekerjaan pengelasan. ruang gambar. kafetaria. Gudang.SNI 03-2396-2001 Tabel 7. cold stores. perpustakaan (umum). penyiapan dan pemasakan makanan. pemeriksaan dan pengujian (pekerjaan teliti) 16 Pada pencahayaan alami siang had sebagai sumber masuknya cahaya ke dalam ruangan adalah lubang cahaya. pekerjaan logam lembaran 25 Tugas visual dan Interior Normal 22 Pengendalian silau sangat penting Tugas visual sangat teliti Pengendalian silau tingkat tinggi sangat dipedukan 6. pemeriksaan dan pengujian (pekerjaan sedang). ruangan kantor Industri percetakan. ruang makan. Pemeliharaan yang perlu dilakukan adalah menghindarkan adanya penghalang yang dapat mengurangi terang langit yang masuk ke dalam ruangan dan membersihkan kaca-kaca.

SNI 03-2396-2001 Apendiks Al Perhitungan pencahayaan alami siang hari.7.0 dan L/D = 0.47% EADF = 3. faktor langit untuk U adalah AEFD = 1.+ ABCD = 6.+ ABCD = 2.5% --------------------.68% Untuk memperoleh angka-angka faktor langit dilakukan interpolasi.75 (2) menurut Tabel 4.56% --------------------. L=2m (2) H/D = 1. posisi lihat gambar 8 (a) (1) lubang cahaya ABCD. faktor langit untuk U adalah EBCF = 6. L/D= 1 (3) menurut Tabel 4.0 dan L/D = 1.5 (2) menurut tabel 4.15 dikurangi EADF dengan H/D = 1.57%. tinggi 2 m 2 meter ke dalam.1 Contoh Perhitungan Faktor Langit Perhitungan faktor langit berdasarkan Tabel 4 hubungan faktor langit se b. A1.93% EBCF = 4.agai fungsi H/D dan L/D sebagai berikut: 1) lubang ABCD titik ukur U didapat : : : Lebar 2 m.25 ABCF dengan H/D = 1 dan L/D = 0. tinggi 2 m 2 m ke dalam. posisi lihat gambar 8 (c) (1) Lubang cahaya dianggap terdiri atas lubang-lubang EBCF dengan H/D = 1. tinggi 2 m 2 m ke dalam. 2) lubang ABCD titik ukur U didapat Lebar 2 m. D=2m. H=2m. posisi lihat gambar 8 (b) (1) lubang cahaya dianggap terdiri atas lubang-lubang AEFD dengan H/D = 1 dan L/D = 0. faktor langit untuk U adalah 5.91 % 25 dari 30 : : : 3) lubang ABCD titik ukur U didapat . : : : Lebar 2 m.

5 dan L/D = 1.5 dan L/D = 1. posisi lihat gambar 8 (d) (1) Lubang cahaya diar-iggap terdid atas lubang-lubang EGCH dengan H/D = 1. tinggi 2 m 2 m ke dalam.5 26 dari 30 . 4) lubang ABCD titik ukur U didapat : : : Lebar 2 m.5 dikurangi EFDH dengan H/D = 1.5 ditambah EFAI dengan H/D = 0.5 dan L/D = 0.5 dikurangi EGBI dengan H/D = 0.SNI 03-2396-2001 Gambar 8 : Posisi titik ukur.5 dan L/D = 0.

= 7. faktor langit untuk U adalah EGCH = 9.39 % ----------------------------. faktor langit untuk U adalah FGCI = 5.SNI 03-2396-2001 (2) menurut Tabel 4.25 dan UD = 0.= 8.25 (2) menurut Tabel 4.25 dan UD.75 dikurangi FEAH dengan H/D = 0. tinggi 2 m 2 m ke dalam.75 % FEDI = 2.52 % EFDH = 4.50 % FEAH = 0.30 % ------------------------.53 % EGBI = 2.55 % ------------------------.75 ditambah FEDI dengan H/D = 1.05 % FGBH = 0.40 % ----------------------------.ABCD = 3.= 2.25 dan UD = 0. posisi lihat gambar 8 (e) (1) Lubang cahaya dianggap terdiri atas lubang-lubang FGCI dengan H/D = 1.= 0.25 dikurangi FGBH dengan H/D = 0.23% ------------------------.99 % ----------------------------.= 4.25 dan UD = 0.27 % 5) lubang ABCD titik ukur U didapat : : : 27 dari 30 .13 % EFAI = 1.ABCD = 7.52 % Lebar 2 m.

9 0.04 0. L/D 0. 16 d = 0.1 0.3 0. 28 dari 30 .80 1.5 Lubang cahaya atau jendela Lebar (m) 0. maka fl di masing-masing TUU = 1.SNI 03-2396-2001 A1.64 1. Persyaratan berdasarkan bab 5 : fl untuk TUU 0.62 0. 15% Karena letak jendela simetris ke arah melebar (ke kiri dan ke kanan).49 1. 3. Ukuran ruang duduk: panjang 6 m.94 Luas 1.40 0.60 2.2 0. Dimisalkan jarak antara titik ukur dan titik-titik dari bangunan di seberang jalan rata-rata 30 m dan tingginya di atas bidang kerja = 9 m.24.00 Tinggi (m).98 bila diperhatikan adanya penghalang cahaya oleh bangunan-bangunan di seberang jalan.47 3).75% fl untuk TUS 0.52 1. 1.3 tidak memberikan jalan kepada cahaya langsung dari langit.80% Koreksi dari kusen jendela = 30% fl di TUU menjadi 2. maka ini berarti bahwa bagian lubang sampai H/D = 0.31 1.6 2.35 d = 1.20 1.52 0.2 Contoh Perhitungan Untuk Perencanaan.5% fl di TUS menjadi 1. lebar 5 m Titik-titik ukur utama pada 2 m. harga faktor langit tersebut dapat diperoleh dengan ukuran jendela dengan kombinasi sebagaimana tercantum pada tabel 8.25% fl di TUS = 1.82 0. Perhitungan untuk perancangan pencahayaan alami siang hari dari suatu sudut ruangan sebagai bedkut : 1). Tabel 8 : Harga Faktor Langit berclasarkan ukuran jendela H/D 1.80 1.15% 2).4 0.

Lebar 4.SNI 03-2396-2001 Dalam hal ini hasilnya akan sebagaimana tercantum pada tabel 9. Luas 4. Tabel 9 : Harga Faktor Langit berdasarkan ukuran jendela H/D 2.74 0.40 0.60 2.59 4).2 0. selalu diambil sebagai bagian terendah dari jendela adalah tinggi bidang kerja (0.00 m. karena masih banyak kombinasikombinasi lain yang mungkin. UD 0.3 0.20 m2 atau Lebar 3.00 Tinggi (m).20 m2.94 1. luas 4. b.48 1.5 Lubang cahaya atau jendela Lebar (m) 0.55 1.40 m. tinggi 1.1 0. 29 dari 30 . 5. apabila pengaruh dari jendela tengah untuk Titik-titik Ukur Samping sama sekali tidak diperhitungkan. Kemungkinan di atas hanya sebagai contoh saja. tinggi 1.18 Was (M2) 2. tinggi 1.80 1.06 1.18 2.75 m dari lantai).58 0. Untuk memenuhi sekaligus kedua ketentuan menurut perhitungan dapat diambil satu jendela simetris terhadap Titik Ukur Utarna dengan ukuran : a.50 m.20 1.16 1. 5).08 2. Dalam perhitungan-perhitungan ini.10 m.40 m2 atau Lebar 3.4 0.97 0.65 0.20 m.30 1. hanya dibutuhkan kurang lebih untuk masing-masing jendela di samping seluas 50% dari yang di tengah.00 m. Hal ini berlaku.36 Untuk memenuhi ketentuan yang berlaku untuk Titik Ukur Samping. Luas 4.

30 dari 30 . London. Selection of the Design Sky for Indonesia based on the Illumination Climate of Bandung. c). 1951. Hopkinson (et. Natuurkundige Grondslagen Voor Bouurvorrschriften. b). SNI.al). M. d). Deel 11. "Dagverlichting Van Woningen (NBG 11 1951). 03-2396-1991 : Tata cara perancangan Penerangan alami siang hari untuk rumah dan gedung. Daylighting. No.U. Adhiwiyogo. 1969 . Symposium of Enviromental Physics as Applied to Building in the Tropics. 1966.SNI 03-2396-2001 Bibliografi a).

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->