1

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Karya

sastra

merupakan

hasil

karya

salah

satu

cabang

kebudayaan, yakni kesenian. Seperti hasil kesenian umumnya, karya sastra mengandung unsur keindahan yang menimbukan rasa senang, nikmat, terharu, menarik perhatian, dan menyegarkan tidak perasaan ingin

penikmatnya.

Seorang

pencipta

karya

sastra

hanya

mengekspresikan pengalaman jiwan ya saja, melainkan secara implisit ia bermaksud juga mendorong, memengaruhi pembaca agar ikut

memahami, menghayati, dan menyadari masalah serta ide yang diungkapkan di dalam karyanya. Pengalaman jiwa yang terdapat di dalam karya sastra dapat memperkaya kehidupan batin pembaca sehingga pembaca menjadi lebih sempurna keadaannya. Pengungkapan yang estetis dan artistik

menjadikan karya sastra lebih memesona daripada karya yang lain. Hal ini membuat pembaca tidak segera menjadi bosan menikmati karya sastra dan dapat menyelami maksud yang terkandung di dala mnya. Karya sastra biasanya membicarakan manusia bermacam-macam aspeknya sehingga karya sastra menjadi sesuatu yang penting untuk mengenal secara sempurna manusia dan zamannya. Melalui karya sastra dapat dibayangkan tingkat kemajuan kebudayaan, gambaran tradisi yan g

2

sedang berlaku, tingkat kehidupan yang telah dicapai oleh masyarakat pada suatu masa, dan sebagainya. Pada karya sastra tercermin masalah masalah yang dihadapi oleh masyarakat pada suatu masa serta usaha pemecahannya sesuai dengan cita-cita mereka. Karya sastra lahir di tengah-tengah masyarakat sebagai hasil imajinasi pengarang serta refleksinya terhadap gejala -gejala sosial di sekitarnya. Oleh karena itu, kehadiran sastra merupakan bagian dari kehidupan masyarakat pengarang sebagai objek individual mencoba menghasilkan pandangan dunianya (vision du monde) kepada subjek kolektifnya. Signifikansi yang dielaborasikan subjek individual terhadap realitas sosial di sekitarnya menunjukkan sebuah karya sastra yang demikian itu, menjadikan ia dapat diposisikan sebagai dokumen sosiobudaya (Pradopo, 2003: 59). Novel merupakan bentuk karya sastra yang disebut fiksi. Novel dapat mengemukakan sesuatu secara bebas, menyajikan sesuatu secara lebih banyak, lebih rinci, lebih detil, dan lebih banyak melibatkan berbagai permasalahan yang lebih kompleks. Hal itu mencakup berbagai unsur cerita yang membangun novel itu . Novel merupakan sebuah struktur organisme yang kompleks unik, dan mengungkapkan sesuatu secara tidak langsung. Hal ini, antara lain, yang menyebabkan sulitnya kita pembaca untuk menafsirkannya. Untuk itu, diperlukan suatu upaya untuk menjelaskanya, dan biasanya, hal itu

3

disertai bukti-bukti hasil kerja analisis. Dengan demikian, tujuan utama kerja analisis kesastraan, fiksi, puisi, atau pun yang lain adalah untuk dapat memahami secara lebih baik karya sastra yang bersangkutan, di samping untuk membantu menjelaskan pembaca yang kurang dapat memahami karya itu. Di negara yang berideologi Pancasila, sekitar tahun 1948, lahirlah sebuah karya sastra yang berjudul Atheis, yang mempermasalahkan perbenturan sikap hidup yang terlalu vertikal dengan sikap hidup yang mengutamakan hubungan makhluk dengan penci ptanya saja. Sikap hidup horizontal, yakni sikap hidup yang hanya memperhatikan hubungan dengan sesama makhluk saja tanpa memperhatikan penciptanya. Pengarang tidak hanya lan gsung mempertarungkan kedua belah pih ak itu saja. Akan tetapi, pengarang juga me ngungkapkan kehidupan dan penghidupan mayoritas bangsa Indonesia yang berkedudukan

mengungkapkan sebagai petani dengan kebiasaannya yang serba sederhana. Di samping itu, diceritakan pula segolongan bangsa Indonesia yang terpengaruh oleh kebudayaan modern. Den gan uraian yang luas, dalam, dan seimbang itu pembaca memperoleh gambaran yang jelas tentang keadaan dan cita-cita masyarakat dengan berbagai macam masalah yang harus mereka hadapi. Memahami novel Atheis melalui unsur-unsurnya, berarti berusaha memahami secara mendalam dan meluas. Tujuan secara intrinsik diutamakan agar dapat memperlakukan Atheis secara wajar, yakni

khususnya di bidang sastra. D. Untuk mendeskripsikan unsur intrinsik dalam novel Atheis karya Achdiat Karta Mihardja. Secara ekstrinsik untuk mendapatkan gambaran nilai-nilai yang terkandung dalam karya sastra tersebut. Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah´ 1. Bagaimanakah gambaran unsur ekstrisik novel ³Atheis´ karya Achdiat Karta Mihardja? C. B. yaitu: 1. dalam mengembangkan dan membina apresiasi sastra Atheis perlu dibahas secara khusus. penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat. 2. Bagaimanakah gambaran unsur intrinsk Achdiat Karta Mihardja? 2. dapat digambarkan tujuan penelitian. . baik secara teoretis maupun praktis. Untuk mendeskripsikan unsur ekstrinsik dalam novel Atheis karya Achdiat Karta Mihardja.4 menurut norma-norma literer. Oleh karena itu. Tujuan Penelitian novel ³Atheis´ karya Berdasarkan rumusan masalah di atas. Sudah barang tentu Atheis mengandu ng manfaat bagi pengembangan kebudayaan pada masa mendatang. Manfaat Penelitian Berdasarkan tujuan penelitian di atas.

1.5 1. pengembangan ilmu sastra khususnya pengajaran novel. Manfaat Teoretis Secara teoretis. dan memberikan sumbangan pemikiran terhadap pencinta atau pemerhati sastra. . Manfaat Praktis Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk meningkatkan pemahaman tentang analisis unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik terhadap novel. penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi pengembangan dan penerapan teori apres iasi sastra Indonesia.

novel merupakan sarana yang ampuh untuk menyentuh perasaan dan keharuan pembaca. pembaca dapat diajak melakukan eksplorasi dan penemuan diri. hal itu tidak berarti bahwa tema kemanusiaan ya ng ingin . cerpen. novella yang berarti sebuah barang baru yang kecil. Lewat novel. novel.6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR A. Novel berasal dari bahasa Italia. 2 007:30). Namun. dengan ditopang oleh hidupnya penggambaran tokoh -tokoh cerita. Dalam penelitian ini yang dibahas adalah masalah novel. tidak lepas dari ragam sastra yang ada di dalamnya. memengaruhi pikiran. dan membentuk opininya. Adapun yang tergolong ke dalam ragam sastra adalah puisi. dan drama (Laelasari. maka ragam sastra lainnya tidaklah dibahas. Dengan kekayaan perasaan. 2007:22). Novel dapat menyampaikan dialog yang mampu menggerakkan hati masyarakat pembaca. Novel Berbicara tentang sastra. kemudian novel didefin isikan sebagai sebuah karya sastra yang (utuh) berbentuk atas prosa yang mengisahkan secara atau keseluruhan problematika kehidupa n seseorang beberapa tokoh (Laelasari. Tinjauan Pustaka 1. kedalaman visi. dan keluasan pandangan terhadap masalah -masalah hidup dan kehidupan.

novel memunyai bagian -bagian.7 didialogkan harus ditonjolkan sedemikian rupa sehingga ³mengalahkan´ unsur-unsur fiksi yang lain. futuristic. 2007:21). artinya karya benar-benar menceritakan isi perasaan dan pikiran pengarangnya (Laelasari. tidak tertuju pada satu aturan. 2007:20). artinya karya sastra menciptakan hal-hal baru dan berorientasi pada masa depan. 2007:72). Sebuah novel merupakan sebuah totalitas. Sebagai sebuah totalitas. . artinya tidak berhubungan dengan masalah adat istiadat. realistic. antara lain Surat Singkat Tentang Esai karya Asrul Sani. artinya menceritakan sesuatu yang terjadi dalam kehidupan sehari -hari. dan Sedih dan Gembira karya Usman Ismail (Laelasari. Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esai karya H. Jassin. Novel Atheis dikarang oleh Achdiat Karta Mihardja merupakan salah satu karya sastra yang lahir pada angkatan 45. Surat Kertas karya Sitor Situmorang. Karya sastra yang lainnya. yaitu bebas. Karya sastra pada angkatan 45 memiliki ciri-ciri yang khas.B. individualistic. unsur-unsur yang saling berkaitan satu dengan yang lain secara erat dan saling menggantungkan. Deru Campur Debu karya Chairil Anwar. melainkan haruslah tetap berada dalam ³proporsi´ yang semestinya sebagaimana halnya penulisan karya seni yang menekankan tujuan estetik (Mangunwijaya dalam Nurgi yantoro.

2. penyikapan terhadap tema yang diberikan pengarangnya dengan . Atau sebaliknya. dll. pembagian unsur yang dimaksud adalah unsur intrinsik dan ekstrinsik. sudut pandang penceritaan. peristi wa cerita plot. unsur -unsur cerita inilah yang akan dilihat atau dijumpai jika membaca sebuah novel. Unsur-unsur inilah yang menyebabkan karya sastra hadir sebagai karya sastra.8 Secara garis besar. Unsur intrinsik sebuah novel adalah unsur-unsur yang secara langsung turu t serta membangun cerita. 1) Tema Istilah tema menurut Scharbach (dalam Aminuddin. tema. latar. 1995:91) berasal dari bahasa Italia yang berarti ³tempat meletakkan suatu perangkat´. 2007: 23). Unsur yang dimaksud. jika dilihat dari sudut pembaca. Oleh sebab itu. misalnya. Unsur-unsur dalam Karya Sastra a. unsur-unsur yang secara faktual akan dijumpai jika orang membaca karya sastra. Unsur Intrinsik Unsur intrinsik adalah unsur-unsur membangun karya sastra itu sendiri. untuk menyebut sebagian saja. penokohan. Disebut demikian karena tema adalah ide yang mendasari suatu cerita sehingga berperanan juga sebagai pangkal tolak pengarang dalam memaparkan karya fiksi yang diciptakannya. (Nurgiyantoro. Kepaduan antarberbagai unsur -unsur intrinsik inilah yang membuat sebuah novel berwujud. bahasa atau gaya bahasa.

Masalah kehidupan yang dianggap menarik perhatian pengarang sehinga merasa terdorong untuk mengungkapkannya ke dalam bentuk karya. 2006:250). takut. Seorang pengarang harus memahami tema cerita yang akan dipaparkan sebelum melaksanakan proses kreatif penciptaan. dan sebagainya. Pemilihan tema tertentu ke dalam sebuah karya. bersifat subjektif. rindu. mengharukan. pengarang menganggap masalah itu penting. Ia selalu berkaitan dengan berbagai pengalaman kehidupan. Tema merupakan kaitan antara makna dengan tujuan pemaparan prosa fiksi oleh pengara ng. sementara pembaca baru dapat memaha mi tema bila mereka telah selesai memahami unsur-unsur signifikan yang menjadi media pemapar tema tersebut. Dalam hal tertentu. serta mampu menghubungkannya dengan tujuan penciptaan pengarangnya. kasih. Atau. menyimpulkan makna yang dikandungnya. sehingga merasa perlu untuk mendialogkannya ke dalam karya sebagai sarana mengajak pembaca untuk merenu ngkannya. paling tidak pelukisan yang secara langsung atau khusus. Sebagai sebuah makna.9 pembaca umumnya terbalik. sering tema dapat disinonimkan dengan ide atau tujuan utama cerita (Laelasari. Tema adalah sesuatu yang menjadi dasar cerita. religious. dan inilah yang . maka untuk memahami tema terlebih dahulu pembaca harus memah ami unsur-unsur signifikan yang membangun suatu cerita. pada umumnya tema tidak dilukiskan. Kehadiran tema adalah terimplisit dan merasuki keseluruhan cerita. seperti masalah cinta. maut.

N. ketiga setting itu memiliki fungsi yang bersifat fisikal. maupun peristiwa. sementara di sebelah kanannya tumpuan kertas -kertas. (³Burik´. Namun. Aminuddin (1995:67) menyatakan bahwa setting adalah latar peristiwa dalam karya fiksi. setting cerita. setting itu juga mampu mengimprentasikan makna tertetu.K. Penafsiran tema (utama) diprasyarati oleh pemahaman cerita secara keseluruhan. Matanya yang kecil dan m anis itu melihat ke atas. waktu. kardus pilihan yang dikumpulkannya. Di tangannya tergenggam kertas -kertas bekas. Anak kecil itu masih duduk sendiri di atas gunduka n sampah yang menjulang. adakalanya da pat juga ditemukan adanya kalimat-kalimat (atau alinea-alinea percakapan) tertentu yang dapat ditafsirkan sebagai sesuatu yang mengandung tema pokok (Nurgiyantoro.persitiwa dalam suatu cerita. Hal ini pulalah antara lain yang menyebabkan tidak mudahnya penafsiran tema. Akan tetapi. serta memiliki fungsi fisikal dan fungsi psikologis. baik berupa tempat. Dalam rangka membangun logika Makassar. Hendrowinoto) Setelah membaca kutipan di atas.10 menyebabkan kecilnya kemungkinan pelukisan secara langsung tersebut. misalnya dengan melihat anak . dapat kita lihat contoh kutipan di bawah ini. memandanga fajar yang pelan -pelan memancarkan sinar.S. 2007:69). pada sisi lain. serta 3) fajar yang perlahan memancarkan sinar. 2) tumpukan kertas dan kardus pilihan. Untuk membedakan setting yang bersifat psikologis itu. yaitu 1) gundukan sampah yng menjulang.

pemberian setting itu juga akan mampu mengajak emosi pembaca. mungkin ada harapan bahwa anak kecil tersebut suatu saat akan menjumpai kehidupan yang lebih baik . sedangakan setting psikologis adalah setting berupa lingkungan atau benda-benda dalam ligkungan tertentu yang mampu menuansakan suatu makna serta mampumengajuk emosi pembaca. Pemberian setting itu dalam hal ini juga memberikan perbedaan makna tertentu. yaitu 1) setting bersifat fisikal berhubungan dengan tempat dan benda -benda dalam lingkungan tertentu yang tidak menuansakan makna apa -apa. atau mungkin juga pemberian tanda bahwa meskipun sekarang nasib anak itu men derita. pembaca sudah dapat memastikan bahwa anak kecil tersebut tentu anak seorang yang tidak mampu. dan bukannya masih lelap tertidur di atas kasur . dapat disimpulkan perbedaan antara setting yang bersifat fisikal dengan setting yang bersifat psikologis. Selain itu.11 kecil yang pagi-pagi sudah duduk di gundukan sampah. 2) Setting fisikal hanya . Hal itu diperjelas dengan adanya setting berupa tumpukan kertas dan kardus pilihan si anak. mungkin rasa iba atau sedih. pada sisi lain juga masih diberi setting berupa fajar yang mamancarkan sinar. meskipun ia anak kecil dari golongan bawah. Berdasarkan uraian di atas. Akan tetapi. di depan masih menunggu sejuta harapan. Setting yang mampu menuansakan makna tertentu serta mampu mangajak emosi pembaca demikian itulah yang disebut dengan setting yang bersifat psikologis atau metaforis.

dan alur rapat dan alur renggang.12 terbatas pada sesuatu yang bersifat fisik. 3) Untuk memahami setting yang bersifat fisikal. alur gabungan. sedangkan setting psikologis dapat berupa suasana maupun sikap serta jalan pikiran suatu lingkungan masyarakat tertentu. Sedangkan flash back sebagai jenis alur terlihat dalam novel ³Atheis´ karya Achdiat . sehingga membentuk rangkaia n cerita yang menarik (Laelasari. Badrun (1983:86) menyatakan bahwa alur terbagi atas empat bagian. Alur lurus (datar) adalah biasanya menceritakan rangkaian kejadian secara kronologis. pembaca cukup melihat dari apa yang tersurat. Hal ini dapat dilihat dalam novel Arus karya Asp ar. yaitu alur lurus. Sebagai unsur alur terlihat pada khayalan tokoh tentang masa lalunya. Flash back sering juga sebagai jenis alur dan juga sebagai unsur alur. 2006:25). Alur sorot balik (flash back) tidak mengemukakan rangkaian kejadian secara kronologis tetapi mengemukakan persoalan akhir kemudian kembali kepersoalan awal. pengaruh ketumpangtindihan antara setting fisikal dengan setting psikologis. sedangkan pemahaman terhadap setting dan yang bersifat 4) psikologis Terdapat membutuhkan saling adanya dan penghayatan penafsiran. misalnya novel-novel pujangga baru. 2) Alur atau Plot Alur adalah tahapan-tahapan peristiwa yang dihadirkan oleh para pelaku dalam suatu cerita. alur sorot balik.

atau ³Ada berapa orang jumlah pelaku dalam novel itu?´. 3) Penokohan Tokoh dan penokohan merupakan unsur yang penting dalam karya naratif. dan karakter menunjuk pada sifat dan sikap para tokoh seperti yang ditafsirkan oleh pembaca. Alur rapat terlihat bahwa antara alur pokok dan alur pembantu tidak dapat dise lipkan alur baru karena susuna nnya rapat. perwatakan. Istilah ³tokoh´ menunjuk pada orangnya. Penokohan adalah pelukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita (Jones dalam Nurgiyantoro.13 Karta Mihardja. Alur gabungan maksudnya pengarang tidak hanya memakai satu jenis alur tetapi kadang -kadang menggabungkan dua jenis alur. Jenis alur ini terdapat dalam karya Mochtar Lubis yang berjudul ³Perempuan´. 2007:165). misalnya sebagai jawab terhadap perta nyaan ³siapakah tokoh utama novel itu?´. lebih menunjuk pada kualitas pribadi seorang tokoh. Sedangkan alur renggang . Watak. 2007:165) adalah orang-orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif. yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan . antara alur pokok dan alur pembantu hubungannya renggang sehing ga kemungkinan antara alur-alur tersebut dapat diselipkan alur baru. dan sebagainya. atau drama. pelaku cerita. Tokoh cerita (character) menurut Abram (dalam Nurgiyantoro.

melayani.14 dan apa yang dilakukan dalam tindakan. istilah ³penokohan´ lebih luas pengertiannya daripada ³tokoh´ dan ³perwatakan´ sebab ia sekaligus mencakup masalah siapa tokoh cerita. Jadi. bagaimana perwatakan . Untuk kasus kepribadi an seorang tokoh. Sedangkan tokoh yang memiliki peranan tidak penting karena pemunculannya hanya melengkapi. dalam istilah penokohan itu sekaligus terkandung dua aspek : isi dan bentuk. 1995: 80). Para tokoh yang terdapat dalam suatu cerita memiliki peran yang berbeda-beda. 2007:166). Sebenarnya. dan bagaimana penempatan dan pelukisannya dalam sebuah cerita sehingga sanggup memberikan gambaran yang jelas kepada pembaca. Dengan demikian. pemaknaan itu dilakukan berdasarkan kata -kata (verbal) dan tingkah laku lain (nonverbal). . Penokohan sekaligus menyaran pada teknik perwujudan dan pengembangan tokoh dalam sebuah cerita. mendukung pelaku utama disebut tokoh tambahan atau tokoh pembantu (Amunuddin. Seorang tokoh yang memiliki peranan penting dalam suatu cerita disebut tokoh inti atau tokoh utama. apa dan siapa tokoh cerita itu t idak penting benar selama pembaca dapat mengidentifikasi diri pada tokoh -tokoh tersebut atau pembaca dapat memahami dan menafsirkan tokoh -tokoh itu sesuai dengan logika cerita dan persepsinya (Jones dalam Nurgiyantoro. Pe rbedaan antara tokoh yang satu dengan yang lain lebih ditentukan oleh kualitas pribadi daripada dilihat secara fisik.

Tokoh dalam cerita seperti halnya manusia dalam kehidupan sehari-hari di sekitar kita. Dalam menelusurinya upaya memahami tuturan watak pelaku. sementara tokoh-tokoh lain yang memiliki hubungan penting dengan tokoh itu juga dapat ditentukan sebagai tokoh utama (Aminuddin. Selain memahami peranan dan keseringan pemunculannya. s edangkan tokoh tambahan hanya dibicarakan ala kadarnya. dan lain lainnya. lewat judul cerita. pembaca dapat lewat.1) pengarang terh adap karakteristik .15 Dalam menentukan siapa tokoh utama dan siapa tokoh tambahan dalam suatu novel. pembaca dapat menentukannya dengan jalan melihat keseringan pemunculannya dalam suatu cerita. Maling Kundang. selalu memiliki watak-watak tertentu. pelaku cerita yang memiliki watak yang baik sehingga disenangi pembaca disebut pelaku yang protagonis. maka pembaca akan segera dapa t menentukan bahwa tokoh yang namanya diangkat sebagai judul cerita merupakan tokoh utama. dalam menentukan tokoh utama serta tokoh tambahan dapat juga ditentukan lewat petunjuk yang diberikan oleh pengarangnya. Selain itu. 1995:80). MIsalnya jika terdapat cerita berjudul Siti Nurbaya. 1995:80). Tokoh utama umumnya merupakan tokoh yang sering diberi komentar dan dibicarakan oleh pengarangnya. Sehubungan dengan watak ini. sedangkan pelaku cerita yang tidak disenangi pembaca kadang memiliki watak yang tidak sesuai dengan yang diidamkan oleh pembaca disebut pelaku yang antagonis (Aminuddin. pembaca juga dapat menentukan siapa tokoh utamanya.

menciptaka n suasana tertentu yang seolah-olah sungguh-sungguh ada dan terjadi. hubungan waktu. dan 9) melihat bagaimana tokoh itu dalam mereaksi tokoh yang lainnya. ketepatan. Pembaca merasa dipermudah untuk ³mengoperasikan´ daya imainasinya. Latar memberi pijakan cerita secara konkret dan jelas. 6) melihat bagaimana tokoh lain berbicara tentangnya. 3) menunjukkan bagaimana perilakunya. Pembaca dapat merasakan dan menilai kebenaran. 2007:216). Hal ini penting untuk memberikan kesan realistis kepada pembaca. 5) memahami jalan pikirannya. dan aktualisasi latar yang diceritakan sehingga merasa lebih akrab. 4) melihat bagaimana tokoh itu berbicara tentang dirinya sendiri. di samping dimungkinkan untuk berperan serta secara kritis sehubungan dengan pengetahuannya tentang latar.16 pelakunya. menyaran pada pengertian tempat. dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan (Abrams dalam Nurgiyantoro. 8) melihat bagaimana tokoh -tokoh lain itu memberikan reaksi terhadapnya. 4) Latar Latar atau setting yang disebut juga sebagai landas tumpu. Hal ini . 2) gambaran yang diberikan pengarang lewat gambaran lingkungan kehidupannya maupun caranya berpakaian. 7) melihat bagaimana tokoh lain berbincang dengannya. Pembaca seolah-olah merasa menemukan dalam cerita itu sesuatu yang sebenarnya menjadi bagian dirinya.

inisial tertentu. Latar sosial menyaran pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi (Nurgiyantoro. 2007:227). Unsur tempat yang dipergunakan mungkin berupa tempat-tempat dengan nama tertentu. Badrun (1983:89) menyatakan bahwa tempat kejadian cerita merupakan salah satu faktor pembantu untuk memperjelas cerita yang dikarang. Unsur latar dapat dibedakan ke dalam tiga unsur pokok. waktu. waktu yang ada kaitannya atau dapat dikaitkan dengan peristiwa sejarah. 2007:217). Masalah ³kapan´ tersebut biasanya dihubungkan dengan waktu faktual. ruang dan . mungkin lokasi tertentu tanpa nama jelas. warna lokal. Ketiga unsur itu walau masing-masing menawarkan permasalahan yang berbeda dan dapat dibicarakan secara sendiri. pengertian setting meliputi latar belakang fisik. yaitu tempat. pada kenyataannya saling berkaitan dan saling memengaruhi satu dengan yang lainnya. Oleh sebab itu. lengkap dengan perwatakannya ke dalam cerita (Nurgiyantoro. dan sosial (Nurgiyantoro. 2007:233). Latar waktu berhubungan dengan masalah ³kapan´ terjadinya peristiwa -peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Kejelasan setting akan memengaruhi nilai sebuah cerita. Latar tempat menyaran pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi.17 akan terjadi jika latar mampu mengangkat suasana tempat.

(Ramadhon KH. atau suasana. Tempa t tersebut berhubungan pula dengan hal -hal yang di sekitarnya termasuk alat-alat atau benda-benda yang berhubungan denga n tempat terjadinya peristiwa iklim atau suasana dan periode sejarah. Peristiwa-peristiwa yang terjadi akan mudah diterima pembaca sebagai sesuatu yang wajar. : Keluarga Permana) Dengan lukisan latar yang tetap. Jelaslah sekarang bahwa di samping latar belakang fisik yang dapat dilihat. waktu. Segera Ida dibawa ke kamar yang istimewa untuk ukuran rumah sakit Jatiwangi itu. Di dalam menyusun suatu cerita. damai. Dapat disimpulkan bahwa latar pada dasarnya tempat yang melingkungi pelaku atau tempat terjadinya peristiwa. Iklim perang. iklim. Sebuah lemari dan di dekatnya sebuah meja pembasuh muka. Iklim dan periode sejarah dapat pula membantu memberikan kejelasan kepada pembaca. 1985:70). . periode pembangunan. periode revolusi fisik. cerita akan menjadi lebih mantap.dapat kita lihat contoh k utipan dibawah ini.18 lingkungan tempat terjadinya cerita. Tidak ada orang lain di sana. bahkan dapat menjelaskan watak pelaku. dan periode sejarah juga merupakan bagian latar (Kusdiratin. Ada dua tempat tidur tapi yang satunya lagi kosong. dan sebagainya dapat mejadi latar dari berbagai peristiwa. peristiwa-peristiwa dan waktu terjadinya harus jaga benar -benar agar menjadi terang di dalam pikiran pembaca.

Narrator omniscient adalah narator atau pengisah yang juga berfungsi sebagai pelaku cerita. pengisah atau narator.19 5) Sudut Pandang Sudut padang adalah cara pengarang menampilkan para pelaku dalam cerita yang dipaparkannya. dan 4) narrator the third person omniscient (Aminuddin. maupun psikologis. juga mampu memaparkannya meskipun itu hanya berupa lamunan pelaku tersebut atau merupakan sesuatu yang belum terjadi. 1995:90). maka dalam narrator observer . Bila dalam narrator omniscient. Penjelasan lebih lanjut dari sejumlah sudut pandang di atas adalah sebaai berikut. maka akhirnya pengisah juga merupakan penutur yang serba tahu tentang apa yang ada dalam be nak pelaku utama maupun sejumlah pelaku lainnya. Sudut pandang atau biasa diistilahkan dengan point of view atau titik kisah. Dengan demikian. 3) narrator observer omniscient. 2) narrator observer. baik secara fisikal. saya atau aku. meliputi 1) narrator omniscient. apa yang terdapat dalam batin pelaku serta kemungkinan nasibnya. Narator observer adalah bila pengisah hanya berfungsi seba gai pengamat terhadap pemunculan para pelaku serta hanya tahu dalam batas tertentu tentang perilaku bati niah para pelaku. pengarang atau pengis ah menyebut pelaku utama dengan nama pengarang sendiri. Karena pelaku juga adalah pengisah.

psikologis.20 pengarang menyebutkan nama pelakuknya dengan dia. ia. Dalam cerita fiksi. mungkin saja pengarang hadir di dalam cerita yang diciptakannya sebagai pelaku ketiga yang serba tahu. mereka. nama-ama lain. atau aku. maupun mereka. Sebagai pelaku ketiga yang tidak terlibat secara langsung dalam keseluruhan satuan dan jalinan cerita. Berbaikan dengan narrator observer. maupun kemungkinan kadar nasib yang nanti dialami oleh para pelaku. dan dia. meskipun hanya menjadi pengamat dari pelaku. me lainkan juga sewajarnya atau tentang nasib yang nantinya dialami para pelaku. pengarang dalam hal ini masih merupakan juga sebagai penu tur yang serba tahu tentang ciri-ciri fisikal. sebagai pelaku ketiga pengarang masih mungkin me nyebutkan namanya sendiri. Dalam hal ini. Ibaratnya. saya. Hal itu memang masih mungkin terjadi karena pengarang prosa fiksi adalah juga pencipta dari para pelaku dalam prosa fiksi yang dipaparkannya. pengarang adalah juga dalang. . dalam hal itu juga merupakan pengisah atau penutur yang serba tahu meskipun pengisah masih juga menyebut nama pelaku dengan ia. dalam narrator omniscient pengarang. Dalam hal itu memang pengarang bukan hanya tahu tentang ciri-ciri fisikal dan psikologis pelaku secara menyeluruh.

Pengarang dalam wacana dalam sastra menggunaka n pilihan kata yang mengadung makna padat. Scarbach (dalam Aminuddin. Sejalan dengan pengertian di atas. Dalam karya sastra istilah gaya mengandung pengertian cara seorang pengarang menyampaikan gagasannya dengan meng gunakan media bahasa yang indah dan harmonis serta mampu menuansakan makna dan suasana yang dapat menyentuh daya intelektual dan emosi pembaca. Unsur gaya yan terdapat dalam suatu cipta karya sastra yang akan melibatkan masalah. dan bersifat konotatif. 1995:72) menyebut gaya ³sebagai hiasan. dan majas yang melibatkan masalah kata. tatanan kalimat-kalimatnya juga menunjukkan adanya variasi dan harmoni sehingga mampu menuansakan keindahan dan bukan hanya nuansa makna tertentu saja. sebagai sesuatu yang suci. seperti. Selain itu.21 6) Gaya Bahasa Istilah gaya diangkat diangkat dari istilah style yang berasal dari bahasa Latin. metonimia. asosiatif. 2) alat gaya yang melibatkan masalah kiasan. sebagai sesuatu yang indah dan lemah gemulai serta sebagai perwujudan manusia itu sendiri´. simbolik. 1) unsur-unsur kebahasan berupa kata dan kalimat. metaphor. yaitu stilus dan mengandung arti leksikal µalat untuk menulis¶. Oleh sebab itulah masalah gaya dlam sastra akhirnya juga berkaitan erat dengan masalah gaya dalam bahasa itu sendiri. reflektif. seperti .

Adakalanya dapat diangkat suatu ajaran moral. pleona sme. antiklimaks. seperti paradoks. Amanat disimpan rapi dan disembunyikan pengarangnya dalam keseluruhan isi . dan sebagainya yang disampaikan pengarang di tengah atau akhir cerita terutama mengenai hal -hal yang berkenaan dengan gagasan yang mendasari cerita tersebut. nasihat. 2006:27). Hal demikian. paralelisme. dan majas pikiran. yakni keunikan dan kekhasan seorang pengarang dalam penciptaan yang tidak pernah sama antara yang satu dengan lainnya. hiperbola maupun. 1995:78).22 litotes. antitese. 7) Amanat Amanat adalah pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang dari sebuah karya sastra. larangan. klimaks. dan lain-lain (Aminuddin. anjuran. epifora. dan majas bunyi seperti anaphora. Setiap pengarang selalu memiliki gaya sendiri -sendiri yang berbeda antara yang satu dengan lainnya. maupun aksimoron. Bahka n meskipun mereka berangkat dari gagasan yang sama bentuk penyampaiannya senantiasa berbeda. Amanat secara implisit merupakan solusi (jalan keluar) atau ajaran moral yang disiratkan mela lui tingkah laku tokoh menjelang akhir cerita (Laelasari. kalimat seperti asidenton. dalam cipta sastra d iistilahkan dengan individuasi. Amanat merupakan ajaran moral atau pesan yang hendak disampaikan pengarang kepada pembaca melalui karyanya itu. dan lain-lain. saran peringatan. Amanat secara eksplisit merupakan seruan. majas. eufimisme.

namun sendiri tidak ikut menjadi bagian di dalamnya. b. tetapi secara tidak langsung memengaruhi bangunan atau sistem organisme karya sastra. Pendek kata. dan pandangan hidup yang kesemuanya itu akan memengaruhi karya sastra yang ditulisnya. dan sebagainya. Unsur Ekstrinsik Unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang berada di luar karya sastra itu. Atau secara lebih khusus. unsur biografi pengarang akan turut menentukan cor ak karya yang dihasilkannya. 2007:24) menyatakan bahwa unsur ekstrinsik adalah keadaan subjektivitas individu pengarang yang memiliki sikap. politik. unsur ekstrinsik sebuah novel haruslah tetap dipandang sebagai sesuatu yang penting (Nurgiyantoro. 2007 : 24). . melainkan harus membaca keseluruhannya sampai tuntas (Supratman.23 cerita. sebagai unsurunsur yang memengaruhi bangun cerita sebuah karya sastra. untuk menemukan amanat. Oleh karena itu. tidak cukup dengan membaca dua atau tiga paragraf. Keadaan lingkungan pengarang seperti ekonomi. Wala upun demikian. dan hal itu merupakan unsur ekstrinsik pula. Unsur ekstrinsik. Wellek dan Warren (dalam Nurgiyantoro. 2004:89). berbagai karya seni yang lain. unsur ekstrinsik cukup berpengaruh terhadap totalitas bangun cerita yang dihasilkan. dan sosial juga akan berpengaruh terhadap karya sastra. keyakinan. misalnya pandangan suatu bangsa. Karena itu.

pengarang adalah manusia merdeka. perlu pula dibicarakan pengarangnya. Bagi pengarang. Hooykass (dalam Kursdiratin. Seorang pengarang menulis dalam karyanya apa yang terkandung di dalam batinnya. Menurut Hutagalung (dalam Kusdiratin. untuk menunjang pembahasan novel Atheis perlulah dikenal dulu penulisnya lewat biografinya. Pengarang memiliki perasaan yang sangat sensitif. yang tidak segan-segan mengajak orang lain memandang sesuatu seperti ia memandangnya. Penafsiran itu dipengaruhi oleh pribadi dan faktor sekeliling pengarang.24 1) Biografi Pengarang Untuk melengkapi bahasan sebuah karya sastra. Penafsiran seseorang tentang sesuatu akan dipengaruhi oleh pribadi dan alam sekitarnya. ia tidak begitu memikirkan tantang bagus atau tidak bagus. karya sastra merupakan media yang melahirkan apa yang hidup dalam pribadinya. . ia mampu mengangkat masalah yang sangat sederhana menjadi sesuatu yang bernilai. 1985:15). ³Seorang seniman selalu mengadakan penafsiran terhadap peristiwa yang akan dijadikan bahan ceri ta. berguna atau tidak ber guna´. ³Ia melahirkan apa yang hidup di dalam pribadinya. Sebagai seorang yang berkecimpung dalam bidang sastra. ia mencoba memberi bentuk pada hal itu. Sebelum mengangkat masalah itu ia terlebih dahulu mengadakan penghayatan dan penafsiran secara sungguh-sungguh. 1985:15) menyatakan. Penafsiran dan ide pengarang berhubungan erat dengan karyanya´. Dengan demikian. Dengan ketajaman perasaannya.

pria kelahiran Garut ini disebut kurang produktif. Banyak hal yang menarik yang dimunculkan oleh Tinuk R. cerpen. kemudian menjadi redaktur sastra di Balai Pustaka. Film ini menyajikan selintas perjalanan hidup Achdiat Karta Mihar a yang diputar pertama kali di Galeri Cipta II. Achdiat juga mengemukkan dengan tegas pendiriannya yang anti -sekularisme. Pendi dikan yang pernah dijalaninya adalah AMS -A di Surakarta dan Fakultas Sastra dan Filsafat di Universitas Indonesia. karya yang oleh pengarangnya disebut sebagai Roman Kaledioskop itu pernah diterbitkan pada 1973 di Singapura. Sepanjan g hayatnya. Sebelumnya. Achdat bersama istrinya . Dalam film yang bersetting ³negeri kanguru´ itu selain menyebut sebagai Si Kabayan dan Politikus Gagal. novel hanya bisa dihitu ng dengan jari.25 Achdiat Karta Mihardja lahir tanggal 6 Maret 1911 di Garut. Dibandingkan dengan rekan-rekannya sesama sastrawan angkatan ¶45. Pernyataan sikap ini menyusul pandangan sebagai anti ±atheisme yan dikemukakan lewat tokoh Hasan dalam roman pertamanya yang berjudul Atheis (1949). Jawa Barat. Ia pernah menjabat sebagai guru di taman Siswa. Suara dari Zaman Pergerakan. Ia adalah seorang sastrawan dan penerjemah. tetapi ia lebih banyak menulis esai. Yampolski dalam film dokumenter. karya Achdiat yang berupa puisi. Taman Ismail Marzuki. roman karya Achdiat Karta Miharja yang berjudul Deru Cinta Berterbangan diterbitkan ulang oleh Balai Pustaka. Bersamaan dengan itu.

26 Suprapti hijrah ke Australia dan mengajar di Australia National University (ANU) pada tahun 1961). Karyanya ini disebut kispan karena terlalu panjang untuk disebut cerpen dan terlalu pendek untuk dikategorikan dalam sebuah no vel. Wakil Ketua Organisasi Pengarang Indonesia (OPI). Achdiat yang alumnus Fakultas Sastra Universitas Indonesia ini disebut sebagai salah satu pelopor berdir inya . Debu Cinta Berterbangan . Selain tiga buah roman. Atheis menorehkan catatan paling fenomental karena sudah dicetak ulang sebanyak 26 kali oleh pener bitnya. serta redaktur maja lah Gelombang Zaman. dan beberapa penerbit lainnya. dalam catatan sastrawan Ajip Rosidi. yaitu roman Atheis. serta yang terakhir yang diterbitkan oleh Mizan pada Januari 2005 adalah sebuah kisah panjang berjudul Manifesto Khalifatullah . hanya ada tiga karya yang di anggap sebagai karya sastra. Dari semua karyanya. Ketua PEN Club Indonesia. tetapi dalam catatan keterlibatannya dalam organisasi politik. anggota partai Sosialis Indonesia (PSI). redaktur majalah Balai Pustaka. Pada tahun 1948. penerbitan dan kesenian ia sangat berperan ba nyak. Tetapi dari semuanya. Meskipun jumlah karya sastra yang dihasil kan Achdiat tergolong minim. Achdiat juga menghasilkan dua kumpulan cerpen dan satu naskah drama. Kedudukan Achdiat diusia produktifnya pernah menjadi Kepala Jawatan Kebudayaan Perwakilan Jakarta.

Namun. ketika akhirnya A. dengan para politisi Belanda pada masa itu. Esai-esainya yang berisi konfrontasi pemikiran para budayawan yang diawali di harian Suara Umum kemud ia disusun menjadi sebuah buku bertajuk Polemik Kebudayaan. Seiring dengan kesempatan untuk mengajar di ANU. Darta dan kawan-kawannya mendeklarasikan Lekra sebagai onderbouw PKI pada 17 Agustus 1950. dan lainnya). Kiprah Achdiat sebagai org anisator bidang politik berangsur menyurut pada awal 1960 -an. Achdiat sendiri menuliskan editorial buku yang yang judulnya kemudia n dikenal sebagai salah satu momentum sejarah yang sangat penting d alam wacana kebudayaan Indonesia. Panjangnya fase kehidupan Achdiat di Australia membuktikan bahwa dirinya ternyata lebih berhasil dan akhirnya ia memilih untuk menghabiskan sisa umurnya di Australia (Laelasari. Nyoto. dan lain-lain dibentuk sebagai reaksi kritis atas kedekatan kelompok sastrawan angkatanl ¶45 (seperti Chairil Anwar. Asrul Sani. 2007:57 -59). .S. rezim Soekarno mem-breidel eksistensi PSI. Achdiat mengaku kaget dan kecewa. Australia. A. Achdiat ke mudian meninggakan Lekra dan memutuskan untuk hijrah ke Australia.27 Lembaga kebudayaan Rakyat (Lekra). Achdiat tinggal di sebuah kawasan p erindustrian di pinggir kota Canberra. Keberangkatannya ke Australia merupakan kebetulan yang tak diduga. Awalnya versi Lekra Achdiat.S darta. Oleh karena itu.

28 2) Novel sebagai Perwujudan Nilai-nilai Nilai merupakan realitas abstrak. nilai menduduki tempat penting dalam kehidupan seseorang. dan sikap (Ambroise dalam Kaswardi. Nilai menjadi sesuatu yang abstrak dapat dilacak dari tiga realitas. Dalam pengertian luas. Menurut Alwi (2001:783) nilai adalah sebuah ata dasar berarti µharga¶ dan dihubugkan dengan istilah nilai-nilai edukatif diartikan sebagai sifat yng berguna bagi perkembangan kualitas hidup manusia yang dapat menuntun manusia dalam mencapai kedewasaan dan kemata ngan hidupnya. yakni pola tingkah laku. Nilai kita rasakan dalam diri kita sebagai daya pendorong atau prinsip-prinsip yang menjadi pedoman dalam hidup. Nilai adalah sifat-sifat atau hal-hal yang penting atau berguna bagi kemanusiaan. Sebagaimana bentuk karya sastra yang lain. sampai pada suatu tingkat. 2008:963). novel tentu saja mengandung sejumlah nilai. Oleh sebab itu. pola berpikir. nilai mengandung arti sebagai sesuatu yang dapat digunakan dan dipandang dapat memengaruhi peril aku manusia dan masyarakat yang dimilikiya. Pengungkapan nilai -nilai dalam karya sastra bukan saja akan memberi latar belakang sosial budaya pengarang. melainkan dapat menerangkan ide -ide dalam menanggapi situasi yang mengelilinginya. 1993:20). Hal ini dimungkinkan karena karya sastra merupakan . sesuatu yang menyempurnakan manusia dengan hakikat (Departemen Pendidikan Nasional.

akhlak.29 ruangan kemampuan pengarang dalam mengekspresikan situasi yang ada pada zamannya. a) Nilai Agama Tarigan (dalam Zulkifli. moral. Pandangan yang melihat hidup itu merupakan nilai hidup yang menunjang pada produktivitas yang tinggi. Sastra mencerminkan norma. dan agama maka karya tersebut mengandung nilai etis. 2008:15). 2008:16) menyebutkan bahwa bila suatu karya sastra memancarkan ajaran-ajaran agama yang sangkut pautnya dengan moral. Orang yang menganggap bahwa hidup ini sudah baik. Untuk apa bekerja lebih keras. tidak berusaha melihat kemungkinan lain. . yakni ukuran perilaku anggota masyarakat diterima sebagai cara yang benar untuk bertindak dan menyampaikan sesuatu. dapat juga membuat orang yang memiliki nilai yang seperti itu tidak berusaha untuk bekerja lebih keras lagi. etika. Pertama. orang yang menganggap itu baik. Kedua. karena hidup itu baik. kalau hidup itu sudah baik. Nilai yang dimiliki seseorang itu akan memengaruhi perilakunya. Ada dua konsekuensi perilaku dan nilai hidup seperti ini sebagaimana dikemukakan oleh Koenjaraningrat (dalam Zulkifli. lalu orang yang memiliki nilai seperti itu cenderung untuk lebih bersikap optimis dalam hidupnya. dan religius. Sastra juga mencerminkan nilai -nilai yang secara sadar diperluaskan oleh warganya dalam masyarakat.

dia bisa saja tetap tidak religius. Adanya bermacam-macam agama itu tidak menghalangi upaya manusia untuk mendekatkan diri kepada Tuhan sebagai pusat kekuasaan tertinggi (Alwi. Seorang yang religius adalah orang yang berusaha bergerak dalam dimensi yang vertikal dari kehidupan ini. Religi memunyai pengertian yang lebih luas dari agama. Tuhan adalah Allah Bapa yang terwujud dalam trinitas. namun sebenarnya keduanya menyaran pada makna yang berbeda (Nurgiyantoro. 2007:49) terdapat perbedaan antara agama dan religi. . Menurut pandangan Paul Tillich (dalam Budiman. Yang Maha Esa. tetapi adanya berma cammacam agama mengakibatkan konsep Tuhan di mata manusia tidak sama. karena meskipun seseorang sudah menganut suatu agama tertentu. berdampingan. dan sebagainya. 2007:327). tetapi tentu saja hal ini bukan suatu keharusan. Tuhan adalah Allah Yang Mahakuasa. 1993:6). Bagi umat Islam.30 Istilah ³religius¶ membawa konotasi pada makna agama. Seorang yang religius tidak selalu harus menganut agama tertentu. bahkan melebur dalam satu kesatuan. dan dia berusaha mentransendir hidup ini. Hindu atau Budha. Meskipun pada dasarnya manusia adalah homo religius yang menyembah Tuhan yang satu. Kristen. R eligius dan agama memang berkaitan. Dia bisa memeluk suatu agama tertentu. Seorang yang religius adalah mereka yang memahami arti hidup ini secara lebih jauh daripada batas -batas yang lahiriah saja. seperti Islam. bagi umat Kristen.

diukur dengan kriteria tertentu. Iman terhadap Tuhan Yang Maha Agung ini merup akan sumber bagi manusia untuk memperoleh kekuatan dalam menjalani kehidupan agar mencapai kehidupan yang sehat dan bahagia. Nilai -nilai etika/moral yang dimaksudkan adalah ti ndakan manusia yang bernilai ³baik´ atau ³buruk´ dalam kehidupannya. sebab melalui iman. dan bahkan sebagai warga negara. maka manusia memperoleh kekuatan untuk mengatasi permasalahan dan memperoleh kebahagiaan dalam menjalankan tugas-tugas kehidupan. setiap manusia akan mengimpikan kehidupan yang bernilai ³baik´ dan menghindari kehidupan yang bernilai ³buruk´. nilai-nilai moral/etika dapat ditemukan baik dalam sastra tradisional (daerah) maupun sastra modern. maka manusia dapat memperoleh pemahaman yang benar tentang kehidupan. Objek etika sebagai ilmu adalah manusia. Sejumlah fenomena tersebut dapat pula terefleksikan melalui karya sastra. Manusia dipandang dari segi baik-buruk perilakunya. anggota masyarakat. Oleh karena itu. Komitmen spiritual yang berupa iman mrupakan esensi dari kehidupan manusia. Berdasarkan iman pula. yaitu Tuhan yang menjadi sumber segala kehidupan.31 Agama sebagai jalan kehidupan mengandung nilai-nilai spiritual yang di dalamnya diletakkan adanya iman terhadap sumber kehidupan Yang maha Besar. baik sebagai individu. b) Nilai Moral Dalam sastra Indonesia. Menurut .

Saling menghormati. Konsep etika menurut pandangan Barat tidak sama dengan pandangan Timur. etika Timur bersifat theosentrik (berpusat pada Tuhan). terutama sudut pandang agama Islam. evolusi kritis. etika adalah pemikiran sistematis tentang moralitas. Hal tersebut berbeda dengan e tika Barat. surga dan neraka. Dalam etika Timur. Kebalikannya. Etika pada dasarnya adalah kemampuan menerobos teknik dan membuka suatu dimensi transenden. Dengan berdasar pada faktor tersebut. suatu perbuatan selalu dihubungkan dengan amal saleh. hidup bergotong -royong. bukan hanya berupa kebaikan. Demikian pula. pahala atau siksa. perbuatan manusia seharusnya selalu direalisasikan seperti yang seharusnya. dimensi harapan. Faktor penting yang memungkinkan tindakan manusia bersifat susila sesuai dengan aturan formal yang berlaku ialah kesadaran moral.32 Suseno (1987:56). dan tanggung jawab. melai nkan suatu pengertian yang lebih mendasar dan kritis. dan lain-lain. Sebab. di dalam nilai etika dijabarkan hal -hal yang menuntut manusia agar bertingkah laku yang santun. c) Nilai Sosial Budaya . dihasilkan secara langsung. Etika Barat bersifat antroposentrik (berpusat pada manusia). dan lain -lain. melalui nilai etika dapat dimanfaatkan untuk menjabarkan nilai-nilai filosofis ke dalam pergaulan hidup sehari-hari.

secara ilustratif akan tercermin di dalam karya sastra. Manusia sebagai m akhluk sosial jelas tidak dapat dipisahkan dari masyarakat tempat ia berada. Dari tingkah laku individu (kelompok individu) dalam pola jaringan hubungan antargolongn masyarakat yang selalu berulang inilah kemudian lahir. masalah sosial menjadi bahan pembicaraan juga. Antara manusia ± individu dengan masyarakat memang tidak dapat dipisahkan. Individu tanpa mayarakat satu hal yang mustahil. Satu pembahasan yang berdasarkan gambaran atau lukisan yang terdapat di dalam novel Atheis. yaitu individu. 1985:21) berpendapat bahwa ³Suatu cerita itu dapat memberikan lukisan yang jelas tentang tepat dalam suatu masa. masyarakat. Masyarakat tanpa individu jelas tak mungkin ada.´ Pembicaraan masalah sosial budaya merupakan satu pembicaraan yang interpretatif. pembicaraannya tidak berdasarkan fakta-fakta yang otentik atau berpijak langsung pada kenyatan -kenyataan yang benar-benar terjadi. semua tindakan manusia. Dengan memahami saat penciptaan karya sastra berarti akan mengetahui pula keadaan sos ial budaya masyarakat pada masa itu. Sebagai karya imajinatif. dan kebudayaan. Hookaas (dalam Kusdiratin. Keadaan masyarakat di salah satu tempat pada sekitar masa penciptaan. apa yang dinamakan kebudayaan. Kusdiratin (1985:22) menyatakan bahwa membicarakan masalah sosial budaya sebenarnya tidak dapat lepas dari pembicaraan tiga masalah utama. . keduanya saling berkaitan.33 Walaupun karya sastra bukan buku sejarah.

penelitian terhadap novel Atheis perlu dianalisis secara mendalam untuk menemukan unsur-unsur yang terkandung di dalamnya. Kerangka Pikir Novel adalah sebuah karya sastra yang berbentu k prosa yang mengisahkan secara keseluruhan atau problematika kehidupan seseorang atau beberapa orang. Unsur ekstrinsik sebuah novel adalah gambaran nilai -nilai yang terkandung di dalam karya sastra tersebut. . Novel Atheis dikarang oleh Achdiat Karta Mihardja sekitar tahun 1948 yang mempermasalahkan perbenturan sikap hidup masyarakat pada saat itu. bahasa. dan nilai sosial budaya. alur. Unsur intrinsik sebuah novel adalah unsur-unsur yang secara langsung turut serta membangun cerita. penokohan.34 B. nilai mor al. dan amanat. penulis hanya menganalisis nilai agama. Novel dapat menyampaikan dialog yang mampu menggerakkan hati masyarakat pembaca. Memahami novel Atheis melalui unsur-unsurnya berarti berusaha memahami secara mendalam dan meluas. seperti tema. dalam mengembangkan apresiasi sastra. latar. Oleh karena itu. Dalam hal ini. sudut pandang.

35 BAGAN KERANGKA PIKIR Karya Sastra Novel Atheis Unsur dalam Novel Unsur Intrinsik y y y y y y y Unsur Ekstrinsik y y y Tema Alur Penokohan Latar Sudut Pandang Gaya Bahasa Amanat Nilai Agama Nilai Moral Nilai Sosial Budaya Analisis Temuan .

Gejala yang dimaksud adalah objek penelitian. 1992:89) menjelaskan bahwa variabel merupakan gejala yang berpariasi. Sehubungan dengan hal tersebut. Desain Penelitian Menurut Nazir (1985:99) desain penelitian adalah semua proses yang diperlukan dalam perencanaan dan pelaksanaan p enelitian atau proses realisasi penelitian.36 BAB III METODE PENELITIAN A. Dalam hal ini. baik yang bersifat kuantitatif maupun yang bersifat kualitatif. Hal tersebut menunjukkan bahwa variabel adalah salah satu syarat mutlak yang harus ada dalam suatu penelitian. dalam penelitian ini adalah unsur intrinsik dan ekstrinsik dalam novel Atheis karya Achdiat Karta Mihardja. 2. Variabel dan Desain Penelitian 1. sehingga yang dijadikan sasaran perhatian dalam suatu penelitian adalah variabel. Adapun prosedur yang ditempuh ada lah tahap . Variabel Penelitian Hadi (dalam Arikunto. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif analitik artinya menggambarkan objeknya sesuai apa adanya. penulis mendeskripsikan unsur intrinsik dan ekstrinsik dalam novel Atheis karya Achdiat Karta Mihardja.

alur. Novel Atheis ini merupakan salah satu karya sastra angkatan ¶45. Penelitian unsur-unsur dalam novel Atheis adalah unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. B. nilai sosial budaya. analisis data. gambaran atau cermin keadaan masyarakat.37 pengumpulan data. seperti nilai agama. Karya sastra adalah bentuk komunikasi khas berupa bahasa yang diabadikan pada fungsi estetik. seperti tema. Definisi Istilah Untuk menghindari terjadinya salah penafsiran dalam penelitian ini. dianggap perlu dikemukakan definisi istilah penelitian. pengolahan data. Novel Atheis adalah sebuah karya sastra yang dikarang oleh Achdiat Karta Mihardja sekitar tahun 1948. dan penarikan simpulan. Unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang berada di luar karya satra itu sendiri. nilai politik. gaya bahasa. . bahkan merupakan cermin jiwa dan pribadi sastrawan pencipta karya itu sendiri. tetapi secara tidak langsung memengaruhi bangunan atau sistem organism karya sastra. sudut pandang. antara lain biografi pengarang dan nilai -nilai yang terkandung dalam karya sastra tersebut. Unsur Intrinsik adalah unsur -unsur yang membangun karya sastra itu sendiri. nilai moral. dan nilai pendidikan. dan amanat. penokohan. latar.

Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data. Teknik Pengumpulan Data Untuk mendapatkan data yang diperlukan dalam penelitian. yaitu teknik inventarisasi. Pemilihan novel ini didasarkan pada pertimbangan bahwa novel Atheis dikarang oleh penulis karya sastra ternama Indonesia yang telah menggoreskan penanya pada era sebelum dan sesudah kemerdekaan Republik Indonesia. D. diterbitkan oleh PT Balai Pustaka. Novel ini terdiri atas XV bagian. Data dan Sumber Data Data dalam penelitian ini adalah kata konkret yang mengungkapkan unsur intrinsik dan ekstrinsik dalam novel Atheis karya Achdiat Karta Mihardja. cetakan kedua puluh delapan 2006. Artinya.38 C. Data dalam penelitian ini bersumber dari novel Atheis karya Achdiat Karta Mihardja. maka digunakan teknik analisis teks atau dokumen secara objektif. dan pencatatan. pengumpulan data dilakukan dengan menganalisis secara sistematis. Teknik Inventarisasi . 1. baca-simak.

3. Teknik Analisis Data Teknik analisis data yang digunakan dalam penelit ian ini adalah teknik analisis isi yang mencakup identifikasi. Teknik Catat Setelah melakukan teknik baca -simak. Pencatatan dilakukan mulai dari bagian-bagian dalam dari tiap kalimat hingga ke bagian terbesar secara keseluruhan isi teks novel. . 2. Teknik ini dilakukan dengan berulang -ulang untuk memperoleh informasi yang akurat. dan deskripsi. analisis. dalam hal ini adalah novel yang menjadi sumber data penelitian yang terdapat dalam novel Atheis. klasifikasi. 1. Teknik Baca-Simak Teknik baca-simak dilakukan secara saksama terhadap isi novel yang menjadi objek penelitian.39 Teknik inventarisasi dilakukan dengan cara mencari dan mengumpulkan sejumlah data. hasil yang diperoleh dicatat dalam kartu data. Identifikasi Setelah data terkumpul. penulis membaca secara kritis dengan mengidentifikasi novel yang dijadikan data dalam penelitian. E.

Deskripsi Akhirnya.40 2. data novel diseleksi dan diklasifikasi sesuai dengan hasil identifikasi. Analisis Selanjutnya. . 4. seluruh data dalam novel dianalisis dan ditafsirkan maknanya secara keseluruhan. KLasifikasi Setelah diidentifikasi. 3. yaitu tahap unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. hasil analisis data dalam novel disusun secara sistematis sehingga memudahkan dalam mendeskripsikan makna setiap unsur yang terkandung dalam novel Atheis.

41 .

42 .

43 BAB III PENYAJIAN HASIL DAN PEMBAHASAN .

Ayah Hasan. sejak kecil mendapat pend idikan agama secara mendalam. Raden Wiradikarta pernah berdinas di daerah Tasikmalaya. dan alim. Ketika dewa sa. sempit pandangan hidup . fanatik. Sinopsis Novel Atheis Hasan seorang putra pensiunan mantri guru yang bertempat tinggal di kampung Panyeredan di lereng gunung Telaga Bodas. Ia berguru ke Banten. A. Ciamis. ia berkembang menjadi manusia fanatik. pada bagian ini dideskripsikan tentang penyajian hasil dan pembahasan yang diperoleh melalui kajian unsur intrinsik dan ekstrinsik. Ia terkenal sebagai pemeluk agama Islam yang taat. Hasan tumbuh menjadi anak yang patuh pada orang tua dan taat kepada agama. Bogor. Hasan. Akibatnya. Penyajian Hasil 1. Semenjak menganut ajaran mistik. Hasan mengikuti jejak orang tuanya untuk memiliki ilmu sareat dan tarekat. pekerjaan kantornya sering terbengkalai. dan kurang memiliki pengalaman. saleh. Tenggarong. Hasan semakin rajin melakukan ibadat.44 Sebagaimana telah dipaparkan pada butir rumusan masalah dan metode analisis data. Hasan sebagai produk dari pendidikan lingkungan masyarakat agama yang tertutup. Salat dan berpuasa sering dijalankannya. Kedua hal ini dipaparkan secara berurutan berikut ini. dan beberapa tempat kecil yang lain. Hasan mendapat julukan ³Pak Kiai ´ oleh teman-teman sekantornya. Ia melihat .

Hasan merasa lebih senang tinggal di Bandung. Hasan selalu dihantui ole h larangan ayahnya untuk tidak kawin dengan Kartini dan diharapkan kawin dengan Fatimah. Rusli. yang mula-mula sangat mematuhi agamanya. . seorang seniman anarkhis. Karena pengaruh Rusli. Anwar. modern. Persahabatannya dengan Kartini makin erat pula yang diterusk an dengan perkawinan. Hasan sudah berani mencela kepercayaan agama di muka orang tuanya. Karena itu pulalah Hasan telah dibuang oleh keluarganya yang hanya percaya pada apa yang dikatakan agamanya. Kartini meneruskan kebiasaan hidup bebas. Kartini. yang tidak mau terikat oleh hukum yang berlaku. akhirnya Hasan menjadi seorang atheis. dengan seorang sahabatnya. pergi tanpa suaminya. temannya di HIS ± Tasik dahulu.45 segala macam kehidupan dalam masyarakat dengan menggunakan ukuran-ukuran kaca mata ajaran agama. ahli politik. dan berdasarkan paham marxisme . Dengan kedatangan mereka berdua. Apalagi ia mendapat seorang teman baru. Hal ini sangat membatasi gerak dan wataknya sehingga ia kurang memahami masalah-masalah kehidupan yang sebenarnya. Hasutan Rusli sedikit demi sedikit berbekas pada jiwa Hasan. Taip -tiap hari ia mendatangi Rusli ke rumahnya untuk bertukar pikiran. bebas. Pada suatu hari datanglah ke kantornya. Perkawinan Hasan dengan Kartini tidak membuahkan kebahagiaan yang mereka dambakan. Sedangkan Rukmini tunangannya diti nggalkannya.

mengutuk perbuatan-perbuatannya yang telah menyimpang dari ajaran agama Islam. ia merasa tak kuat melanjutkan perjalanan dan mencari penginapan untuk beristirahat. menasihati. ke rumah Kartini. Ketika pulang ke Bandung. Dia menyesal atas kelalaiannya selama ini. jalan yang menyimpang dari agama. ayahnya masih sempat mengusir Hasan yang sedang menungguinya. Setelah Hasan keluar dari tempat tidur. . memarahi. Dalam keadaan yang sangat kritis. terjadilah kusukeiho . Hasan akhirnya ingat kembali pada ajaran agama yang pernah diberikan oleh orang tuanya. Ia pergi tanpa tujuan. Di tempat perlindungan itu. ia mengutuki teman -temannya yang telah membawa ke jalan yang sesat. Sementara itu penyakit TBC -nya kambuh. Mendengar kabar bahwa ayahnya sedang sakit parah.46 Sejak terjadi pertengkaran Hasan dengan Kartini. Dalam perjalanan hidup selanjutnya. ayahnya meninggal dunia dengan tenang. Kartini lari dari penginapan itu dengan meneruskan perjalannya ke Kebon Manggu. Karena Anwar berusaha untuk memperkosanya. Kartini meninggalkan rumahnya. Hasan kembali sadar. Hasan pulang menjenguknya. terngiang-ngiang suara ayahnya. Kartini m au diajak bermalam di suatu hotel bersama-sama Anwar. Ia terpaksa harus mencari tempat berlindung. Atas bujukan Anwar. Di jalan ia bertemu dengan Anwar.

Meledaklah amarahnya. Ia selalu berkaitan dengan pengalaman kehidupan. Semua lampu dimatikan. Hasan sudah mata gelap. Pada waktu itu keadaan di luar sedang bahaya. Tema novel Atheis yaitu kegoncangan kepercayaan yang dialami Hasan. setiap orang mencari perlindungan. Ia merasa tema . Hasan yakin bahwa Kartini telah berbuat serong dengan Anwar. religius. 2. takut.47 Dari daftar penginapan. mendapat tempat di hatti Hasan.ditemukan nama Kartini dan Anwar. dan sebagainya. dia terus berjalan mencari Anwar. Cara Rusli berbicara mengemukakan pendapatnya yang ramah. Sementara itu. dn simpatik memproleh sukses. hasan tiba -tiba merasa ada sesuatu yang menembus tubuhnya. Sebelum meninggal Hasan masih sempat mengucapkan Allahu Akbar. lari terus. sering disinonimkan dengan ide atau tujuan utama cerita.1 Tema Tema adalah sesuatu yang menjadi dasar cerita. seperti masalah cinta. Hasan terkapar di jalan sambil berlumuran darah. Sebelum bertemu yang dia cari. kasih rindu. Dalam hal tertentu. Unsur Intrinsik 2. sirene mengaung -ngaung tanda ada bahaya. bunyi sirene tanda bahaya meraung-raung. seorang pemuda yang isi hatinya mendesak -desak dan terpecahpecah dalam kegugupan karena tidak bisa memilih pendirian yang benar. namun Hasan tak peduli. ia lari keluar pada malam gelap untuk membalas dendam. maut.

Sejak malam Rabu itu. ia tidak lagi merasa sebagai teis yang tulen. ia sudah kalah mental. apabila terkenang-kenang kepada Kartini yang sejak malam itu makin mengikat hatiku saja. Hasan yang tadinya berkeyakinan mistik dengan pembatasan pergaulan laki-laki perempuan yang ketat. jadi empat hari yang lalu. Gambaran kebimbangan si Hasan tampak pada kutipan di bawah ini. tetapi lebih merasa sebaga i ateis meskipun Rusli dan Anwar belum menganggapnya sebaga i ateis. kegoncangan perasaan dan kepercayaan ini tetap menguasai Hasan meskipun secara fisik ia telah masuk sepenuhnya ke dalam kelompok ateis. merasa kaget denan kenyataan hidup modern. apabila aku teringat ingat kepada segala pemandangan dan pendirian Rusli. Menghadap Rusli. Riang aku. kenya taannya ia menjadi korban kekerdilannya. hubungan vertikal yang dihorisontalkan. bebas lepas yang diperihatkan kartini yang kemudian dikawininya dengan harapan bisa mengembalikannya ke jalan yang benar. Tapi bimbanglah aku. Setelah memasuki dunia ateis kegonca ngan kepercayaan yang dideritanya berkembang menjadi komplik kejiwaan. Kalau sebelumnya ia bertekad mengislamkan kafir modern. Konflik itu timbul semenjak ia mulai kenal dengan kartini. yang sedikit banyaknya memengaruhi juga pikiran dan pendirianku (90). Ia adalah ³Islam mistik yang dikapirkan´. Harapan ini membuahkan hal yang sebaliknya. Bagaimanapun.48 menjadi manusia baru. ia sendiri tenggelam dalam ketidakbenaran. . Kare na imannyat telah goncang . atau dengan kata lain. aku seolah -olah terombang-ambing di antara riang dan bimbang.

termasuk cara berpikirnya. terletak sebuah kampung. iklim atau suasana. yang segar dan subur tumbuhnya berkat tanah dan hawa yang nyaman Gambaran tentang . Latar pada novel Atheis meliputi berbagai hal. Pengarang melukiskan tempat tinggal orang tua Hasan di daerah Priangan. waktu. Dilihat dari lingkungan tempat. samai karakteristik daerahnya. latar juga memuat pemikiran penghuninya. menggambarkan kehidupan yang sederhana dan dihuni oleh orang -orang yang sederhana pula. Latar wilayah tertentu harus menggambarkan perwatakan tokoh tertentu sampai tema tertentu.49 2.2 Latar Latar tidak hanya menunjukkan tempat dan waktu tertentu. Contohnya latar yang menggambarkan suasana di pedesaan satunya berbeda dengan suasana perkotaan. Di daerah yang begitu sederhana. tampaklah betapa sederhana daerah kelahiran Hasan. Juwara (2005: 164) mengatakan bahwa karakteristik latar menceritakan cerita yag ditulis. kesederhanaan tampak pada kutipan di bawah ini. Di lereng Gunung Telaga Bodas di tengah -tengah Pegunungan Priangan yang indah. gaya hidup. Jadi. antara lain. tempat termasuk benda-benda yang ada di lingkungan tempat itu. bersembunyi di balik hijau pohon pohon jeruk garut. dan periode sejarah. latar hendaknya dapat menyatu dalam unsur-unsur lain.

50 dan sejuk. Pada saat-saat terakhir. Bandung sekarang seolah-olah sedang berkabung. seperti yang ragu -ragu agaknya yang memberikan cahayanya. tetapi hanya ikut-ikutan saja. yang ragu-ragu pula menyinarkan chaya kecantikannya karena wajahnya ditutupi dengan tudung±telingkup. Tidak ada yang lebih nikmat dilihatnya. (hlm. Kini tak ada lagi lampu-lampu yang terang-benderang itu. yang dinyatakan dalam kutipan berikut. Tak ada lagi kendaraan -kendaraan yang bersimpang siur itu. 11) Dengan didahului latar seperti di atas. Kampung ini terdiri dari kurang dua ratus umah besar kecil. Ayah dan ibuku tergolong orang yang sangat soleh dan alim. (hlm. 10) Kehidupan Hasan dilatarbelakangi oleh agama Islam. laksana putri Timur. Kampung Panyeredan namanya. Tak ada lagi toko-toko yang bermandi cahaya. peristiwa-peristiwa yang dialami Hasan terjadi di Bandung seperti pada lukisan berikut ini. Ia menerima dan menjalankan agama I slam serta hal-hal lainnya bukan karena keyakinan yang kuat. dapatlah diterima sebagai sesuatu yang logis tentang tentang tidakan-tindakan Hasan yang menunjukkan bahwa ia adalah orang yang sederhana cara berpikirnya. Beberapa lampu yang jauh -jauh jaraknya yang terpencil yang satu dari yang lain. . daripada orang yang sedang bersembahyang film daripada menonton film. Hal ini ditandai dengan kehidupan orang tuanya penganut agama Islam yang taat. Iman Islamnya sangat tebal. Sudah sedari kecil jalan hidup ditempuhnya dengan tasbeh dan mukena.

Mungkin juga Kartini. Awan kecil -kecil bertitik-titik di bawahnya. Bulan sangat indahnya. (1). Juga kejadian -kejadian yang seolah-olah mau menyesuaikan diri dengan kejadian-kejadian di dalam politik dunia yang makin hari maki n .51 Novel Atheis mengisahkan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada akhir penjajahan Belanda hingga akhir penjajahan Jepang. maka genting dan pada akhirnya memuncak pada mencetusnya api peperangan: Perang Dunia II. Jernih seperti piring emas muda yang baru digosok. Latar tersebut mengantar pada peristiwa yang menggembirakan Hasan karena ia mendapat kesempatan berkunjung ke rumah Kartini untuk yang pertama kali. Ia duduk bersilangkan tangan di atas dada. men engadah ke langit menatap bulan. Hampir bulat benar. Di dalam menyuguhkan kemesraan lukisan latarnya sebagai berikut. Membikin bulan hidup. yang makin hari makin hebat. bergerak-gerak. Sebelum mengisahkan pertentangan antara Hasan -Kartini sebagai suami istri. Dua minggu yang lalu mereka itu masih merasa dirinya singa yang suka makan daging. Mereka telah hancur kekuasaannya oleh tentara Sekutu dan Rusia. Sungguh banyak kejadian -kejadian di dalam tempo empat puluh bulan itu. Ia pun terpukau juga agaknya oleh keindahan bulan itu. Kini telah menjadi daging yang hendak dimakan singa. terlebih dahulu diambil suasana perang sebagai latarnya. Hal ini kita simpulkan dari keterangan-keterangan yang terdapat pada novel Atheis. Juga kejadian -kejadian yang seolah-olah mau menyesuaikan diri dengan kejadian -kejadian di dalam politik dunia. Tapi biarpun begitu terasa besar olehku pengaruh yang gaib menimpa jiwaku. Sungguh banyak kejadian -kejadian di dalam tempo empat puluh bulan itu. Sayang aku bukan penyair. Tak sanggup aku melukiskan keindahan malam itu.

52 hebat. baik peperangan di dalam negeri maupun di luar negeri. Latar waktu di dalam Atheis erat sekali hubungannya dengan periode sejarah. iklim. Pada waktu itu bangsa Indonesia terus berjuang menentang penjajahan. (6) melihat bagaimana tokoh lain berbincang dengannya. (3) tokoh itu berbicara tentang dirinya sendiri. (2) gambaran yang yang diberikan pengarang lewat gambaran lingkungan kehidupan atau pun cara berpakaian. (7) melihat bagaimana tokoh -tokoh yang lain itu memberikan . maka genting dan pada akhirnya memuncak pada mencetusnya api peperangan: Perang Dunia II. 2. Atheis menceritakan kejadiankejadian yang berlangsung sejak akhir penjajahan Bel anda hingga akhir penduduk Jepang. Suasananya diliputi oleh suasana pera ng. Pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita mampu menjalin suatu cerita diebut dengan tokoh.3 Penokohan Peristiwa dalam prosa naratif seperti halnya peristiwa dalam kehidupan sehari-hari. Di mana-mana terjadi perang. (5) melihat bagaim ana tokoh lain berbicara tentangnya. Adapun cara pengarang menampilkan tokoh atau pelaku itu disebut dengan penokohan. selalu diemban oleh tokoh atau pelaku cerita. dan suasana. (4) memahami bagaimana jalan pikirannya. Untuk memahami watak pelaku dapat ditelusuri dengan cara (1) tuturan pengarang terhadap karakteristik pelakunya.

sedang yang lain mengilustrasikan kehidupan orang intelek dan modern. (hlm.53 reaksi terhadapnya. sederhana. dan karena kurus itulah maka nampaknya seperti orang yang tinggi. a. Sebagai warga kampung. Hasan Dalam novel Atheis. tanda banyak berpikir. serta pantas dan bersih. Seperti namanya pula. 7) Laki-laki itu kira-kira berumur dua puluh delapan tahun. matanya menyinarkan intelek yang tajam. Ia tidak berbaju jas. yaitu Hasan. Hasan biasa hidup dalam keadaan yang sederhana. tidak berdasi. 2005: 166) . Pakaiannya yang terdiri dari sebuah pantaloon. Parasnya tampan. Kening di atas hidungnya bergurat. 26) Pengarang menceritakan bahwa keadaan alam sekitar berpengaruh besar terhadap diri pelaku utama. Tokoh dan penokohan dalam novel Atheis dapat kita lihat berikut ini. (8) melihat bagaimana tokoh itu dalam mereaksi tokoh yang lainnya (Juhara. Mata dan pipinya cekung. rupa dan tampang Hasan pun biasa saja. Hanya badannya kurus. (hlm. Tampak pada kutipan berikut i ni. pengarang (Achdiat ) memperkenalkan keadaan lahiriah pelaku yang mencerminkan kehidupan orang biasa yang dirundung oleh kesulitan hidup. .flanel kuning dan kemeja kreme.

Kartini. Bermacam-macam masalah yang didengar dari Rusli terus menggoda pikirannya. dan kawan -kawanya. Keras-keras. Sekarang malah makin simpang siur. Setelah bergaul dengan Rusli. Tapi tak lama kemudian melantur-lantur lagi pikiran itu. Paham Marxis yang ditanamkan oleh Rusli ternyata menggoyahkan iman Hasan. Setelah keinginanannya hidup berbahagia bersama Kartini tidak berhasil. dan hanyut pada aliran paham teman-temannya. Sejak kecil Hasan anak yang taat. imannya goyah. Keras-keraspula nama Tuhan itu kuucapkan dalam hati. Dia sulit mencapai suasana khusyuk. Jalan pikiran Hasan yang demikian ini. Dengan pengetahuan dan pengalaman yang masih dangkal ia berpendapat bahwa dengan sering mengucapkan nama Tuhan dengan keras -keras ia akan dapat mengatasi kekacauan pikirannya. Kutipan di atas menggambarkan betapa lemahnya Hasan. Dengan demikian dengan cara lu kisan ini pembaca dapat menilai kemampuan Rusli dalam menyebarluaskan paham Marxis.54 pengetahuan pun tidak luas. yaitu Marxisme. Hasan menjadi orang yang melalaikan ajaran agama. Keras aku mengucapkan nama Tuhan itu pada tiap kali aku berubah sikap. makin kacau rasanya. Berlarut larut Hasan memikirkn apa yang telah diomongkan Rusli. Corak kehidupan ini akan berpengaruh be sar terhadap kehidupan Hasan selanjutnya. Anwar. terhadap sikap dan tingkah laku. supaya bisa mengatasi suara hati dan pikiran. menimbulkan kesan bahwa Hasan belum memiliki cara . Hasan menjadi berani menentang orang tuanya. pemeluk agama Islam yang tekun. Hasan menjadi sadar kembali menyesali kelalaiannya.

(hlm. apabila bersembahyang.55 berpikir yang matang. Iman Islamnya sangat tebal tidak ada yang lebih nikmat dilihatnya dari pada orang yang sedang bersembahyang . kehidupan psikis yang belum dewasa. Rusli itu adalah seorang kawanku ketika kecil. Hal ini tampak pada waktu Ayah Hasan (Raden Wiradikarta) tidak mau melihat Hasan walaupun telah menjelang meninggal karena diketahui Hasan sudah tidak patuh lagi pada ajaran ajaran agama Islam. Dengan ini tampak bahwa betapa kuat pendirian ayah hasan.Kami banyak bersama«. orang yang sangat kuat pendirian. tapi juga oleh karena kami bertetangga. Dapat kita lihat pada kutipan berikut. atau memukul-mukul bedug. Agak karib juga kami berteman. Sudah sedari kecil jalan hidup ditempuhnya dengan tasbeh dan mukena. Hanya dalam dua hal kami tidak pernah bersama-sama. 11) 3) Rusli Rusli adalah kawan Hasan ketika kecil dan banyak bersama -sama. yaitu kalau Rusli berbuat nakal. menyuruh . Orang tua ku melarang nakal. Rusli suka mengganggu Hasan kalau sembahya ng atau mengganggu khatib tua yang tuli. 2) Orang Tua Hasan Orang tua Hasan adalah orang yang saleh dan alim. seperti tidak ada pula yag lebih nikmat bagi penggemar film daripada menonton film. iman Hasan tampaknya belum mantap. Ayah dan ibuku tergolong orang yang sangat saleh dan alim. Lebih jelasnya dapat dilihat pada kutipan di bawah ini. bukan saja oleh kare na satu kelas.

Saudara!´ (67). sampai bisa menjadi seorang kafir yang tidak percaya lagi kepada adanya Tuhan. Orang tua Rusli tak peduli. Kalau kamu bersamasama pergi ke mesjid. sebab tidakkah itu suatu penghianatan terhadap agama leluhur sendiri´ (69). Katanya. kafir! Atau dengan kata asing disebut juga atheis.´Ya. Rusli mengangap bahwa agama dan Tuhan adalah ciptaan manusia itu sendiri. Rusli tersenyum. hasil atau akibat dari sesuatu keadaan masyarakat dan susunan ekonomi pada suatu zaman. Rusli menguraikan bahwa agama dan Tuhan itu adalah ciptaan manusia itu sendiri. maka aku untuk sembahyang. Saya heran. Selain itu. karena sesungguhnya tidak masuk akal di hati saya.(73). Tidak percaya lagi kepada Tuhan dan agama. ia berhasil memengaruhi teman-temannya terutama Hasan. Kata yang diucapkan oleh Hasan itu dijawab oleh Rusli. Memang banyak sekarang orang -orang atheis. Rusli adalah seorang penganut Marxisme. diperjelas dalam kalimat di bawah ini bahwa Rusli tidak mempercayai adanya Tuhan dan mengatakan bahwa Tuhan itu tidak ada.Tampak pada kutipan di bawah ini. yang saya kenal dari kecil sebagai keturunan orang -orang muslimin. sedang Rusli untuk mengganggu khatib tua yang tuli atau untuk memukul-mukul bedug (29). ³« Saya tadi hanya merasa agak heran. «Tuhan tidak ada. bagaimana mungkin orang seperti Saudara. Selain itu. Pengetahuannya yang luas dan kemampuaannya menyampaikan pendapat. Tampak pada kutipan bahwa Hasan heran dengan sikap Rusli yang dulu orang yang beragama sekarang tidak percaya adanya Tuhan.(69).56 sembahyang. 4) Kartini .

57 Kartini adalah seorang wanita yang modern. sikapnya kasar. Sebelum kawin dengan Hasan. tidak pan dai bergaul.dikit. Dan tidaklah mengherankan pula agakya. 5) Anwar Anwar adalah seorang yang anarkhis. Dia seorang wanita yang sabar dan penyayang. Seperti Rusli. 2. suka meniru orang lain. sesudah kawin dengan Arab tua itu (notabene sebagai istri keempat) seakan-akan dijebloskan ke dalam penjara. dia seorang Marxis. kalau ia yang sudah mengicip-icip pelajaran dan didikan modern sedikit. karena harus hidup secara anita Arab dalam kurungan. kemuda setelah ia lepas dari penjara timur kolot´ itu segera menempuh cara hidup yang kebarat-baratan (35). 6) Siti Siti adalah pembantu orng tua Hasan. Maka tidak mengherankan. Anwar seorang yang optimis. karena ia sebgai seorang gadis remaja yang masih suka berplesiran dan belajar dalam suasana bebas. kebiasannya ialah bergaul be bas dengan laki-laki bukan muhrimnya. Setelah kawin kebiasaan-kebiasaan itu masih dijalankannya juga. kalau kartini___ setelah ibinya meninggaldunia ___ segera melarikan diri dari lingkungan s i Arab tua itu. Angkah malangnya bagi Kartini.3 Plot atau Alur .

Hasan meninggal dunia. Rusli. Sambil menangis. Plot adalah susunan peristiwa di dalam cerita yang dirangkaikan secara wajar dalam hubungan sebab akibat. 1. Anwar. Berhasil tidaknya sebuah roman. Tampak pada uraian berikut ini. Kartini meninggalkan gedung Ken Peitai didampingi oleh Rusli dan saya (pengarang). . Pengertian alur/plot dalm cerpen atau dalam karya fiksi pada umumnya adalah rangkaian cerita yang dibentuk oleh tahap -tahap dalam suatu cerita. Bagian II Bagian II berupa naskah yang ditulis Hasan yang menceritakan pelaku Hasan. Bagian I Bagian I tentang Pengarang dan Hasan. Tahap peristiwa yang menjalin suatu cerit bisa berbentuk dalam rangkaian peristiwa yang berbagai macam (Juhara. 2005: 165). atau cerita pendek ditentukan pula oleh plot di dalam karya tersebut. Pada novel Atheis. Perkenalan diri Hasan diperjelas dan watak pribadi Hasan.58 Plot merupakan sesuatu yang cukup penting di dalam karya prosa. 2.Kartini. urutan peristiwa dirangkaikan secara rinci. novel.

Bagian V Hubungan Hasan dengan Kartini dan Rusli makin hari makin akrab. Bagian VI . Rusli dan kawanya Kartini. Hasan putra seorang pensiunan mantri guru bernama Raden Wirad ikarta. Untuk menemani Hasan. pengarang memperkenalkan siapa dan dari mana tokoh utama Hasan. jawatan pengairan. Hasan tertarik pada Kartini yang mirip dengan kekasihnya Rukmini. 4. Makin hari makin bertambah teman Rusli yang dikenal Hasan antara lain Anwar.59 3. Setelah tamat dari Mulo. yang mendorong Hasan memasuki aliran mistik. Bagian IV Peristiwa yang bersangkut paut mulai bergerak pada bagian ini. 6. 5. orang tuanya mengambil Fatimah menjadi anak pungut. Hasan berjumpa dengan sahabat lamanya. pengarang menengok ke peristiwa putusnya hubungan Hasan dengan Rukmini. Hasan bekerja di kantor Kotapraja. Sampai di sini. Bagian III Melalui naskah Hasan yang bergaya aku. yang bertempat tinggal di kampung Panyeredan. Sejak berusia lima tahun Hasan telah mendapat pendidikan agama secara intensif.

X. Bung Gondo. dengan tegas ia mengatakan kepada Anwar bahwa dia solat tadi hanya untuk bersandiwara saja. dan dilanjutkan pada bagian X sampai denganXIII. Sebaliknya Hasan mulai tertarik pada isi omongan Rusli yang menguraikan ajaran marxisme. Hasan sudah tidak mampu lagi melupakan Kartini. Banyak tingkah laku dan sikap Kartini yang bertentangan dengan ajaran agama Islam. Bung Parta. XI. Setelah diejek oleh Anwar dan khawatir kalau hal ini disampaikan kepada Kartini dan Rusli. Di hadapan orang tuanya. Hasan menjalankan solat seperti biasanya. Bagian VII dan VIII Keadaan mulai memuncak (Ricing action). XII. Pada malam ketiga. Hasan membiarkan ajaran agamanya dinjak -injak oelh teman-temannya. terjadi perdebatan antara Hasan . Pada bagian ini pertentangan mencapai intensifikasi tertinggi. Hasan tidak ma mpu lagi membendung cintanya kepada Kartini. Terdorong oleh cint anya kepada Kartini. tidak berpuasa. bahkan tidak segan-segan mengusir peminta-minta. Hasan sudah meninggalkan solat.60 Peristiwa yang bersangkut paut dengan masalah pokok ini bergerak sampai pada bagian ini. Hasan bersama Anwar pulang ke Panyeredan. dan XIII Puncak tertinggi pertentangan (klimaks) di dalam novel Atheis mulai terjadi pada bagian IX. Makin banyak teman Rusli yang dikenalnya yakni Bung Sumi. Bagian IX. 7. 8. Bung Bakr i.

Bagian XIV. Dari daftar nama tamu. ia terpaksa harus menginap di salah satu penginapan. Ayahnya mengetahui bahwa anaknya tidak patuh lagi terhadap orang tua dan ajaran agama. Hasan kembali ke Bandung. Sampai di sini pengarang meyelipkan penyelesaian bagi ayah Hasan yaitu meninggal dunia. Dalam perjalanan. Seminggu setelah kematian ayahnya. ia tahu bahwa Kartini pernah berada di situ . XV. Kartini bermaksud bermalam di salah satu penginapan. Dikutuknya teman-temannya yang dianggap telah menyesatkan. lalu mengambil keputusan untuk memutuskan hubunan dengan putra satu -satunya. Ia ingat kembali kepada Tuhan. Sejak terjadi pertengkaran. Di tengah jalan. Kartini lari meninggalkan penginapan dan pergi ke Kebun Mangga Bagi Hasan perceraian itu mendorong Hasan kembali ke jalan hidup yang pernah ditempuhnya. Oleh karena akan diperkosa oleh Anwar. atas buj ukan Anwar. Perisriwa ini merupakan salahatu puncak yang tragis ditinjau dari segi tema sebab hal ini menunjukkan adanya kehancuran akibat tidak adanya keseimbangan sikap hidup yang dialami Hasan. Kartini pergi meninggalkan rumah tanpa setahu Hasan. dan I Penyelesaian persoalan-persoalan ditampilkan pada bagia n isi. Pada salah satu bagian pengarang menceritakan terjadinya perkawinan Hasan dengan Kartini. yang berakhir dengan pertengkaran yang hebat.61 dan ayahnya. 9.

Dengan dibimbing oleh Rusli dan pengarang. pahanya sebelah kiri tertembus peluru. Di satu pihak. kematian Hasan secara tragis berfungsi untuk menebus dosa-dosanya sebab telah meninggalkan jalan Tuhan menempuh jalan Marxisme. Dengan demikian. Hasan lari meniggalkan penginapan itu sebab tak kuasa mengendalikan rasa cemburu. Pada bagian I diceritakan Hasan meninggal dunia. ia jatuh tersungkur berlumuran darah. Kartini sangat sedih dan menyesal. Mendengar berita kematian Hasan. Tanda bahaya udara tida k diperhatikannya. Dapat kita lihat k ematian tokoh hasan sebagai akibat penyiksaan polisis militer Jepang.62 bersama Anwar. Hal ini tentulah berhubungan dengan gaya pengarang.4 Point of Vief (Sudut Pandang). Pada dasarnya Bab pertama adalah bab penutup. maka dapat disimpulkan bahwa novel Atheis berplot sorot balik atau flash back. Akhirnya. sudut pandang pada hakikatnya merupakan strategi. adalah kesimpulan cerita secara keseluruhan. berdasarkan peristiwa -peristiwa pada novel Atheis yang disusun tidak berurutan. siasat secara ialah yang . sekaligus penyesala Kartini yang telah menyia-nyiakan Hasan . Sudut pandang menyangkut sisi pengarang. suaminya. penyesalan Kartini berfungsi untuk menyadarkan dirinya telah menyia -nyiakan Hasan. Dari uraian di atas. Di pihak lain. teknik.dan amarahnya. Sudut pandang menyangkut bagaimana sebuah kis ah yang diceritakan. 2.

Kami tertewa semua´ (hlm. Gaya bahasa Matafor. Kongkretnya adalah gaya bahasa. 177). Gaya bahasa yang digunakan Achdiat dalam novel Atheis adalah sebagai berikut. semua persoalan dapat dimengerti secara sistematis dan terperinci. 2.5 Gaya Bahasa Media yang paling efektif guna memproyeksikan kepribadian sehingga karya ±karya memiliki cirri-ciri yang personal adala bahasa. Dengan gaya ini maksud yang terkandung di dalam Atheis menjadi jelas. juga menggunakan gaya dia. .63 secara sengaja dipilih pengarang untuk me ngemukakan gagasan dan ceritanya (Nurgiantoro. selain menggunkan gaya aku. Gaya bahasa dikatakan efektif bila dpat membangkitkan efek emosional serta intelektual. Walaupun banyak dan bermacam -macam masalah yang ditampilkan. ³Maka nasi meja bundar! Kartini menyahut. 2007: 248). Di dalam novel Atheis. 1. Serasa terpencil sendiri aku hidup di dunia kini ³ (hlm. dengan gaya penuturan. pusat pengisahan atau point of view pada novel Atheis ialah multiple atau campuran antara gaya aku dan gaya dia. 96) 2 Gaya bahasa Hiperbola ³Secara habis-ludis segala perasaan bahagiaku sekarang. Dengan demikian.

Achdiat Karta Miharja lahir pada tanggal 6 Maret 1911 di Grut. untuk menunjang pengkajian novel Atheis perlulah dikenal pula penulisnya lewat biografi agar pembahasan dapat lebih tepat. Jawa Barat. di jaman yang lalu kota itu seolah-olah mulai berdendam. Ia mengakui bahwa buku -buku itu berpengaruh besar terhadapnya dalam menambah hasratnya untuk mengarang.64 3. Ia pernah mempelajari mistik aliran Kadiriyah Naksabandiyah dari K. 213). dan sebagainya. Sejak dari sekolah rendah Achdiat sudah senang membaca buku buku sastra. Multatuli. 3.Unsur Ekstrinsik 3. . ia dapat membaca buku-buku karangan Tolstoy. Ia pernah menjabat sebagai guru di Taman Siswa kemudian menjadi redaktur sastra di Balai Pust aka. Abdullah Mubaak. Dengan demikian.´ (hlm. Ia adalah seorang sastrawan dan penerjemah. Gaya bahasa Sinekdok ³Pada senja hari yang indah seperti itu.H.1 Biografi Pengarang Biasanya ciptaan sastra adalah rekaman dari perjalanan hidup pengarang yang menciptakannya. Pendidikan yang pernah dijalaninya adalah AMS -A di Surakarta dan fakultas Sastra dan Filsafat di Universitas Indonesia. Dari lemari ayahnya yang suka pada sastra.

65

Dari semua karyanya, hanya ada tiga karya sastra yang dianggap sebagai karya sastra, yaitu Atheis, Debu Cinta Beterbangan, se rta yang terakhir yang diterbitkan oleh Mizan pada Januari 2005 adalah sebuah kisah panjang (kispan) berjudul manifesto Khalifatullah. Karyanya ini disebut kispan karena terlalu panjang untuk disebut cerpen dan terlalu pendek untuk dikategorikan dalam sebu ah novel. Atheis merupakan tuangan ide -ide Achdiat di dalam bergumul pengalaman-penaglamannya. pengalaman yang diolah Atheis dengan adalah kekuatan ekspresi angannya, kesan -kesn kemudian

dituangkan dalam bentuk novel. Atheis menampilkan persoalan -persoalan yang bukan hanya dialami oleh seorang Indonesia atau orang Timur. Apa yang terjadi atas diri Hasan (sebagai tokoh utama dalam novel Atheis) merupakan kemungkinan-kemungkinan tingkah laku manusia yang hidup di tengah-tengah manusia lainnya. Selain tiga buah roman, dalam catatan.sastrawan Ajip Rosidi yang dikutip oleh Lailasari ( 2007: 58), Achdiat juga menghasilkan dua kumpulan cerpen dan satu naskah drama. Tetapi dari semuanya, Atheis menorehkan catatan yang paling fonemental karena sudah di cetak ulang sebanyak 28 kali oleh penerbitnya. Meskipun jumlah karya sastra yang dihasilkan Achdiat tergolong minim, tetapi dalam catatan keterlibatannya dalam organisasi politik, penerbitan, dan kesenian ia sangat berperan banyak. Esei -eseinya yang

66

berisi konfrontasi pemikiran para budayawan yang diawali di harian Suara Umum kemudian disusun menjadi sebuah buku bertajuk Polemik Kebudayaan. Achdiat sendiri menuliskan editorial buku yang judulnya kemudian dikenal sebagai salah satu momentum sejarah ya ng sangat penting dalam wacana kebudayaan Indonesia. Panjangnya fase kehidupan Achdiat di Australia membuktikan bahwa dirinya ternyata lebih berhasil dan akhirnya ia memiilih untuk menghabiskan sisa umurnya di Australia. Karya-krya Achdiat lainnya adalah sebagaiberikut. 1. Polemik kebudayaan (1948) 2. Terjemahan Religi Susila karya M>K> Gandhi 3. Bentrokan dalam Asrama (1952) 4. Kesan dan Kenangan (1960) 5. Debu Cinta Beterbangan (1973) 6. Pembunuh dan Anjing Hitam (1975) 7. Keretakan dan Ketegangan ( (1956)

3.2 Latar Belakang Sosial Budaya

67

Ditunjau dari sosial budaya pada novel Atheis menyuguhkan dua macam anggota masyarakat yang memiliki latar belakang lingkungan hidup yang berlainan. Kedua kelompok itu diidentikkan dengan kelompok masyarakat tertutup dan kelompok masyarakat tebuka. Tampak pada novel Atheis bahwa keluarga Raden Wiradikarta khususnya Hasan menggambarkan kelompok masyarakat yang tertutup. Gambaran lingkungan hidup mereka sebagai berikut. Di lereng Gunung telaga Bodas di tengah -tengah pegunungan Priangan yang indah, terletak sebuah kampung, bersembunyi di balik hijau pohon-pohon jeruk garut, yang segar dan subur tumbuhnya bertanah dan bahwa yang nyaman dan sejuk. Kampung Panyeredan namanya. Kampung itu terdiri dari kurang lebih dua ratus rumah kecil. Yang kecil, yang jauh lebih besar jumlahnya dari yang besar, adalah kepunyaan buruh -buruh tani yang miskin dan yang lebih besar adalah milik petani-petani ³kaya´ (artinya yang mempunyai tanah kurang lebih 10 hektar) yang di samping bert ani, bekerja juga sebagai tengkulak-tengkulak jeruk dari batu itu, ada lagi beberapa rumah yang dibikin dari ³setengah batu´ artinya lantainya dari tegel tapi dindingya hanya sampai kira -kira seperempat tinggi dari batu,sedangkan atasnya dari dinding bamb u biasa (hlm 10).

Corak

kehidupan

keluarga

dan

lingkungannya

mewarnai

pendidikan yang diterima Hasan, sejak berumur lima tahun, Hasan memperoleh pendidikan agama yang fanatik. Hasan menjadi orang yang sempit pengetahuan dan pengalaman hidupnya. Tingkah l aku Hasan pun tertuju ke arah tercapainya kebutuhan hidup di alam baka, seperti pengakuan Hasan.

yaitu kehidupan sosial budaya tradisional religius. 129).32). . Dari kutipan di atas dapat kita ketahui latar belakang sosial budaya Rusli yang berada pada tingkat kebudayaan modern. khususnya Hasan. Dia memilih politik dan tidak ada kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan arus modernisasi. serta ideologi-ideologi politik dipelajarinya dengan sungguh sungguh terutama sekali ideologi Marxisme. Bukan hanya dengan jalan banyak membaca buku -buku politik saja. Segala langkah hidupku ditujukan semata-mata hidup di dunia yan g baka.´ (hlm. Dan selama empa t tahun itu ia banyak belajar tentang soal-soal politik.68 Dulu tak ada paduka kegiatan untuk mencari kemajuan di lapangan hidup di dunia yang fana ini. Kelompok masyarakat terbuka yaitu Rusli. Kartini. Dari kelompok masyarakt terbuka diceritakan pula oleh pengarang (Achdiat) adanya individu yang salah sikap menerima pengaruh kebudayaan modern. akan tetapi juga banyak bergaul dengan orang -orang pergerakan internasional. di alam akhirat (hlm. jelaslah keadaan sosial budaya yang melatarbelakangi kehidupan keluarga Raden Wiradikarta. Dengan demikian. dan kawan-kawannya. Salah satu contoh adalah penampilan diri Kartini. Anwar. Pergaulan macam begitu mudah sekali dijalankan di suatu kota ³International´ seperti Singapura. ternyata Hasan (keluarga Raden Wiradikarta) tidak mampu bertahan dan menyesuaikan diri dengan arus modernisasi. Sebagai anggota kelompok masyarakat tertutup dengan latar belakanga sosial budaya seperti itu. Macam -macam aliran dan stelsel. Kita perhatikan riwayat hidup Rusli berikut ini. Empat tahun Rusli hidup di Sungapura.

40) Karya sastra bersifat historis. buk an saja bebas tapi merokok pula (hlm. tetapi peristiwa-peristiwa yang dikemukakan terjadi pada zaman penjajahan Jepang sampai dengan Jepang dikalahkan oleh tentara Sekutu. Kini telah menjadi daging yang hendak dimakan singa. pikirku. Masa peralihan dari zaman penjajahan ke zaman kemerdekaan. zaman yang digarapnya. Dengan pengetahuannya bermacam-macam aspek kehidupan yang . Dua minggu yang lalu mereka itu masih merasa dirinya singa yang suka makan daging. orang Jawa.1). Timbul lagi perasaan heran dalam hatiku. Setelah memperhatikan lingkup lingkungan hidup serta corak kehidupan para pelaku.69 Diceritakan bahwa pengaruh kebudayaan modern meresap jauh dalam kehidupan Kartini. artinya mengalami proses sejarah yang dapat dirunut waktu penciptaannya. Pergaulan bebas tidak asing baginya. Tampak pada kutipan berikut ini. dan nama pengarangnya. Sungguh perempuan aneh dia. Atheis dicetak pertama kali tahun 1949. Mereka telah hancur kekuasaannya oleh t entara Sekutu dan Rusia (hlm. Aku tertegun sejenak. Keadaan sosial budaya pada masa peralihan di Indonesia itulah yang melatarbelakangi novel Atheis. Kartini kehilangan pri badi sebagai orang -orang Indonesia. dapat disimpulkan bahwa keluarga Raden Wiradikarta (khususnya Hasan) dalam cerita ini menggambarkan kelompok masyarakat tertutup yang ada di lingkungan hidup modern.

betpapun kecilnya. Novel ini sangat menarik dan berlatar belakang daerah Priangan. No. Benturan Dua Dunia. April 2010. masing-masing membawakan realitas berpikir dan berperilaku yang sepenuhnya menggambarkan kegoncangan kegoncangan dalam kehidupan golongan atheis. Satu contoh. Rusli tidak menga lami kesulitan meghadapi segala macam warna kehidupan. 4/2010. Jawa Barat. pengarang berusaha benar untuk menjaga latarnya. tidak mampu mengadakan seleksi. Anwar.Tahun XLIV. peristiwa yang romantis dilatarbelakagi suasana yang romantic pula. B. Di dalam menyusun cerita. Kegoncangan di dalam suatu masyarakat terjadi. Dalam novel Atheis kita jumpai pelaku-pelaku Hasan. Kartini menggambarkan kelompok masyarakat terbuka yang tidak memiliki pedoman hidup yang mantap. akibatnya Kartini kehilangan segala-galanya.Jakarta. 2010. Rusli. . Horison. kalau beberapa watak yang berbeda bertemu dan satu sama lain ingin saling mempengaruhi. Pembahasan Benturan Dua Dunia (2010:7) (oleh Puji Santosa. pada masa perang dunia kedua. terang bulan. Dalam menghadapi bermacam-macam pengaruh dia tidak dapat menetukan sikap. Kartini. Menjelang tertembaknya Hasan yang kacau pikirannya.70 berlandaskan ideologi Marxisme.

Rusli. Posisi tokoh utama. dan Kartini. Gologan ini diwakil i oleh tokoh Anwar. Mulanya Hasan berkeinginan hendak meluruskan kehidupan teman -temannya yang tidak beragama itu. dan taat beribadah kepada Tuhan sesuai dengan tuntutan agamanya. dan atheis. agresif. ia kemudian terseret pula ke arus dunia modern yang dinamis dan pe nuh aroma petualangan. Rusli dan K artini beberapa kali di beri nasihat dan khotbah keagamaan oleh Hasan biar mereka sadar dan berja lan di jalan . bersembahyang. Hasan berada dalam situasi terjepit antara dua dunia dengan perangkat nilai yang berbeda. taat beribadah kepada Tuhan dan sangat relig ius. Dunia modern diwakili oleh sekelompok masyarakat yang menganut paham kebudayaan modern dengan pola pikir antriposentrs. alim. Ia terkenal sebagai anak yang saleh. berpuasa. Akan tetapi setelah Hasan berkenalan dengan Anwar. Dunia lama diwakili oleh segolongan masyarakat yang masih menganut paham tradisional dengan pola pikir kosmosentris. Dunia lama diwakili oleh orang tua H asan. Inti permasalah dalam novel ini menyajikan benturan dua dunia. Rusli.71 dilukiskan terlebih dahulu keadaan kota Bandung yang seolah -olah sedang berkabung. dan Kartini. yaitu antara dunia lama´ dan ³dunia modern´. Sejak kecil Hasan taat mengaji. Pada awalnya dunia yang dikenal oleh Hasan adalah dunia yang statis. dan bahkan mengikuti aliran tarekat (sufi) yang didatangkan dari guru tarekat di Banten. dalam suasana peperangan. penuh kedamaian. dan jauh dari huru -hara keramaian dunia.

Hasan tidak mampu mempertahankan dunia lama yang dibawanya dari lingkungan desanya. Kepribadian Hasan sangat rapuh.72 yang lurus dan benar. Mereka sama -sama menjadi manusia modern yang ingin bebas bergaul dengan siapa saja tanpa batas-batas norma kesusilaan dan agama. yang kemudian menjerumuskan dirinya ke lembah kesengsaraan hidup. terutama oleh tokoh Anwar dan Rusli. Na mun. kemudian justru terbalik. orangtuanya bermaksud menjodohkannya de ngan gadis pilihan yang seiman. Hasan adalah cerminan tokoh fenomenal yang tergilas oleh arus zaman tanpa memiliki pertahanan mental yang kokoh. Ia mudah dipengaruhi orang lain. Hanya persoalan sepele. Dia tidak memiliki mental yang kuat yang sekuat baja. Hasan berani menentang kehendak orangtuanya. Rumah tangga Hasan dan Kartini tidak bahagia dan sekaligus tidak berlangsung lama. Hasan menolak gadis pilihan orang tuanya itu karena terikat oleh seorang janda uda. Kartini. . Ketidakmampuan Hasan menyesuaikan diri dengan perubahan zaman yang penuh dinamika itu mencerminkan pula ketidakmampuan Indonesia yang feo dal beradaptasi dengan dunia modern yang anarkis. Padahal. sehingga dirinya terombang-ambing antara dua dunia yang membantunya secara keras. Panyeredan. Hasan terseret oleh arus pemikiran material yang konkret tanpa memperkokoh diri dunia batinnya. Keretakan rumah tangga ya ng mereka bangun dapat hancur karena tidak memiliki pegangan ke imanan kepada Tuhan. masalah pilihan jodoh.

Kemudian dengan bibir bergegas kata Al lahu Akbar´. kecewa. ayahnya tetap saja tidak memaafkan dosa-dosa Hasan. Hasan masih sempat mengucapkan kalimat suci yag terakhir kalinya: ³Allahu Akbar´. Ia bergegas terus. Keadaan bahaya tidak ia hiraukan lagi. dan dongkol terhadap teman-temannya yang telah menjerumuskan dirinya ke lembah dunia hitam. meleleh di atas betisnya. Namun. Ia merasa sedih. Malam ini juga Hasan dengan nafsu membara hendak membalas dendam mencari Anwar. Badan yang lemah itu berguling-guling sebentar di atas aspal. tak bergerak lagi «. Hasan kembali kekampungnya dan memohon ampunan orang tuanya. Darah menyebrot dari pahanya. Sebelum bertemu dengan Anwar. Pada saat-saat ayahnya hendak menghembuska nafasnya yang terakhir. Dalam gelap-gulita«. beberapa butir peluru serdadu Jepang menembus tubuh Hasan. Seketika itu pula Hasan terkapar di atas aspal jalanan sambil berlumuran darah. Hasan berpikir bahwa Anwarlah penyebab dari segala malapeta ka bagi dirnya. Ia memutuskan cerai terhadap Kartini dan meninggalkan kawan-kawannya yang murtad dan atheis.73 Akibatnya. Peluru senapan menembus daging pahanya sebe lah kiri. Darah mengalir dari lukanya. Kemudian. Hasan menjadi sadar akan dosa-dosa yang diperbuatnya. bermandi darah. Hasan merasa hancur hatinya. . Tiba-tiba « tar! Tar! Aduh! Hasan jatuh tersungkur. Sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir. (1981:232). orang tuanya menolak permintaan maaf Hasan itu hingga meninggal dunia. Ia jatuh pingsan. baik terhadap Tuhan maupun terhadap orangtuanya . Menghadapi kenyataan seperti itu.

Oleh karena itu. Bakunin. dan Nietszche adalah tokoh -tokoh dunia yang berpandangan pada materialisme sebagai upaya menaklukkan dunia. Nietszche! Heerlijk. wahai bintang raya. harus hidup. Dialog Anwar berikut membukti kan paham atheism yang dipegang teguh oleh tokoh Anwar yag keras dan dipercayai pula oleh Hasan. Mereka _ para atheis_ menganggap agama sebagai belenggu dan racun dunia yang perlu dimusnahkan. harus berkembang!´ Karl Marx. Bukan begitu? )matanya tajam mena tap ke dalam wajahku) Lihat saja pada Marx. wat zult gij betekenen zonder mij! (menepuk nepuk dada). dan lain-lain. menghancurkan untuk kepentingan kepribadian kita sebagai manusia yang harus maju. apa arti kamu .74 Novel karya Achdiat K. kalau mereka mau nongkrong saja tunduk kepad kehendak orang tuanya (meggeliat dengan kedua belah tangannya menjulur ke atas). Unsur ke pada Tuhan dianggap oleh mereka sebagai belenggu yang mengekang gerak kebebasannya. ya. Vooral Nietszche! Ya. Nietszche. Mereka lebih mempercayai benda atau materi yang bersifat konkret. kaum atheis tidak mempercayai keberadaan Tuhan. dapat dilihat oleh mata dan dapat diraba oleh pancaindra. Mihardja ini memang berbi cara masalah petualangan hidup Hasan yang menjadi atheis setelah mengenal dunia modern. ³Dan tahu Bung. meentang. apa yang harus kita insafi seagai perintis jalan? Tidak tahu? Ialah orang tua itu tidak selamanya benar«. Sesungguhnya. Kemerdekaan menjadi terbatas de ngan hadirnya unsur ketuhanan dalam dirinya. Kata ³atheis´ artinya tidak percaya akan adanya Tuhan. Mana bisa mereka menjadi peganjur dunia yang begitu hebat. Bahkan mereka menganggap Tuhan telah mati. kalau aku tidak ada?! Begitulah mestinya kita semua! Uebermensch! (membusugkan dada). . Gij grot ester. Uebermensch yag berani merombak. Lenin. Lenin! Lihat juga pada Nietszche. Der Uebermensch! Nietszche yang berani berkata kepada sang Surya.

.75 Pada decade tahun empat puluhan tersebut. beberapa Negara yag menganut paham keras pemikiran Marx. membuktikan bahwa pahammereka hanya mampu bertaha sesaat. tetap membuktikan adanya keabadian yang tidak pernah lekang dihempas badai hujan dan terik matahari sepanjang waktu. Dunia yang mereka anggap modern dengan paham materialisme dan atheis itu tidak akan abadi keberadaannya. kosmosentris. runtuh berkeping -keping . dan religious. Keimanan kepada Tuhan tetap membuka kecerahan hidup yang leb ih baik dan mulia (Santosa. peikiran mereka menjadi suatu kekuatan dahsyat yang memengaruhi pola pandang kehidupan di dunia ini. Meskipun dunia lama yang mereka _ para pemikir Barat _ anggap tradisional. dan Ni etszche itu kemudian satu persatu hancur. 2010:8). bahkan sampai akhir melenium kedua. Lenin. Namun.

serta menyadari bahwa karya sastra itu diciptakan oleh suatu kreativitas dengan memanfaatkan factor imajinasi. Masa peralihan dari zaman penjajahan ke zaman kemerdekaan. Keadaan sosial budaya pada masa peralihan di Indonesia itulah yang melatarbelakangai novel Atheis. di samping memperhatikan factor-faktor social budaya. .Pendekatan strukturalisme genetic mempunyai segi-segi yang bermanfaat apabila memperhatikan unsure -unsur intrinsic yang membangun karya sastra.76 BAB V PENUTUP Dalam kajian karya sastra khususnya novel yang bermutu diperlukan teori dan metode yang dapat memperjelas unsur-unsur novel yang merupakan satuan-satuan yang bermakna. Strukturalisme Genetik memiliki implikasi ya ng lebih luas dalam kaitannya dengan perkembangan ilmu kemanusiaan pada umumnya. Teori dan metode kajian yang dipergunakan dalam menaganalisis novel Atheis karangan Achdiat Karta Mihardja adalah pendekatan Strukturalisme ± Genetik.

Jakarta : Gramedia Widiasarana. Budiman. Jakarta : Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Atheis. 1992. Jakarta: Rineka Cipta. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. ________. Aminuddin. 1995. 2006. 1983. Supratman Abdul. Citra Manusia dalam Puisi Indonesia Modern 1920 1960.. Pengantar Ilmu Sastra. Hasan. Rani. Ahmad. Metodologi Penelitian Sastra . Depertemen Pendidikan Nasiona. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. 2008. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Yogyakarta : Gajah Mada University Press. 1985. Jakarta: Wacana Bangsa. Tokoh Sastra Indonesia. Pengantar Sosiologi Sastra . Yogyakarta : PT Hanindita Graha Widya. 2007. 1993. 1993. Metode Penelitian. Suharsini. Pradopo. Jakarta: Ghalia Indonesia. Burhan. 1985. Kamus Besar Bahasa Indonesia. 2007. Teori Pengkajian Fiksi. Bandung : Sinar Baru. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Surabaya : Usaha Nasional. Jakarta : Balai Pustaka. Chairil Anwar Sebuah Pertemuan . Badrun. Bandung : . Mihardja. 1997. EM. Bandung : Nuansa Aulia. Nurgiyantoro. Ikhtisar Roman Indonesia. Arief. Kusdiratin. Memahami Novel Atheis. Laelasari. Moh. Faruk.77 DAFTAR PUSTAKA Alwi.K. Achdiat Karta. Kamus Istilah Sastra. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik . Bandung : Nuansa Aulia. 2003. Arikunto. 2006. Pendidikan Nilai Memasuki Tahun 2000 . Nazir. Kaswardi. 2005. 2007.

dan kebudayaan. Analisis NIlai -nilai Religious dalam Novel Ayat -ayat Cinta Karya Habiburahman El Shirazy. Penelitian Sastra. Skripsi tidak diterbitkan. Ratna. Zaimar.S. Antara manusia ± individu dengan masyarakat memang tidak dapat dipisahkan. 2007. Esai Sastra Bandingan dalam Sastra Indonesia Modern . secara ilustratif akan tercermin di dalam karya sastra. Keadaan masyarakat di suatu tempat pada sekitar masa penciptaan. Pelatihan Kritik Sastra. Dengan memahami saat penciptaan karya sastra berarti akan mengetahui pula keadaan sosial budaya masyarakat pada masa itu. Individu tanpa masyarakat satu hal yang mustahil. Universitas IndonesiaDepok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya .78 Pustaka Setia. Trisman. yaitu individu. tidak berdasarkan fakta -fakta yang otentik atau berpijak langsung pada kenyataan -kenyataan yang benar-benar terjadi. Membicarakan masalah sosial budaya sebenarnya tidak dapat lepas dari pembicaraan tiga masalah utama. Okke K. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia. Dari tingkah laku individu (kelompok . Nyoman Kutha. Masyarakat tanpa individu jelas tak mun gkin ada. keduanya saling berkaitan. 2008. 2002. Makassar: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar. Zulkifli. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. Latar Belakang Sosial Budaya Sebagai karya imajinatif. Manusia sebagai makhluk sosial jelas tidak dapat dipisahkan dari masyarakat tempat ia berada. 2003. masyara kat.

1985 : 23). apa yang disamakan kebudayaan (Kusdiratin.79 individu) dalam pola jaringan hubungan antargolongan masyarakat selalu berulang inilah kemudian lahir. .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful