P. 1
BAB1,2,3

BAB1,2,3

|Views: 12,233|Likes:
Published by Ismail Andi Baso

More info:

Published by: Ismail Andi Baso on Jun 15, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/27/2015

pdf

text

original

Kemajuan teknologi dan proses produksi di dalam industri telah

menimbulkan suatu lingkungan kerja yang mempunyai iklim atau

cuaca tertentu yang dapat berupa iklim keja panas dan iklim kerja

dingin.

a. Iklim Kerja Panas

Iklim kerja panas merupakan meteorologi dari lingkungan kerja

yang dapat disebabkan oleh gerakan angin, kelembaban, suhu

udara, suhu radiasi dan sinar matahari (Budiono, 2008).

13

Panas sebenarnya merupakan energi kinetik gerak molekul

yang secara terus menerus dihasilkan dalam tubuh sebagai hasil

samping metabolisme dan panas tubuh yang dikeluarkan

kelingkungan sekitar. Agar tetap seimbang antara pengeluaran dan

pembentukan panas maka tubuh mengadakan usaha pertukaran

panas dari tubuh kelingkungan sekitar melalui kulit dengan cara

konduksi, konveksi, radiasi dan evaporasi (Suma’mur, 1996).

Salah satu kondisi yang disebabkan oleh iklim kerja yang terlalu

tinggi adalah apa yang dinamakan dengan Heat Stress (tekanan

panas). Tekanan panas adalah keseluruhan beban panas yang

diterima tubuh yang merupakan kombinasi dari kerja fisik, faktor

lingkungan (suhu udara, tekanan uap air, pergerakan udara,

perubahan panas radiasi) dan faktor pakaian. Tekanan panas akan

berdampak pada terjadinya :

Dehidrasi : Penguapan yang berlebihan yang akan mengurangi

volum darah dan pada tingkat awal aliran darah

akan menurun dan otak akan kekurangan oksigen.

Heat rash : Yang paling umum adalah prickly heat yang terlihat

sebagai papula merah, hal ini terjadi akibat

sumbatan kelenjar keringat dan retensi keringat.

Gejala bisa berupa lecet terus menerus dan panas

disertai gatal yang menyengat.

14

Heat Fatique : Gangguan pada kemampuan motorik dalam kondisi

panas. Gerakan tubuh menjadi lambat, kurang

waspada terhadap tugas.

Heat cramps : Kekejangan otot yang diikuti penurunan sodium

klorida dalam darah sampai di bawah tingkat kritis.

Dapat terjadi sendiri atau bersama dengan

kelelahan panas, kekejangan timbul secara

mendadak.

Heat exhaustion :Dikarenakan kekurangan cairan tubuh atau

elektrolit.

Heat Sincope : Keadaan kolaps atau kehilangan kesadaran selama

pemajanan panas dan tanpa kenaikan suhu tubuh

atau penghentian keringat.

Heat stroke : Kerusakan serius yang bekaitan dengan kesalahan

pada pusat pengatur suhu tubuh. Pada kondisi ini

mekanisme pengatur suhu tidak berfungsi lagi

disertai hambatan proses penguapan secara tiba-

tiba (Ramdan, 2007).

Tingkat kerja cenderung mengatur sendiri, yakni pekerja akan

secara volunter menurunkan tingkat pekerjaannya bila dia

merasakan panas berlebihan, kecuali untuk pemadaman kebakaran

dan pekerjaan penyelamatan, karena tekanan psikologik akan

mengatasi kondisi normal.

15

Faktor luar seperti kadar kelembaban dan angin akan

mempengaruhi tahanan pakaian terhadap aliran panas. Pakaian

yang lembab akan mempunyai tahanan yang lebih rendah.

Kecepatan aliran udara yang lebih tinggi akan cenderung

mengempiskan pakaian, mengurangi ketebalannya dan

ketahanannya juga. Sementara pada pakaian yang teranyam

terbuka, angin dapat mengilangkan lapisan udara hangat yang ada di

dalam. Kecuali jika dipergunakan sebagai pelindung bahaya kimia

atau bahaya lainnya. Isolasi perorangan cenderung mengatur sendiri,

orang menambah atau membuang lapisan pakaian sesuai dengan

perasaan kenyamanannya.

Lama pemajanan dapat beragam sesuai dengan jadwal kerja

atau istirahat, lebih baik dengan masa istirahat yang diambil dalam

lingkungan yang kurang ekstrem (Harrington, 2005).

Orang-orang Indonesia pada umumnya beraklimatisasi

dengan iklim tropis yang suhunya sekitar 29-30O

C dengan

kelembaban sekitar 85 – 95 %. Aklimatisasi terhadap panas berarti

suatu proses penyesuaian yang terjadi pada seseorang selama

seminggu pertama berada di tempat panas, sehingga setelah itu ia

mampu bekerja tanpa pengaruh tekanan panas.

b. Iklim Kerja Dingin

Pengaruh suhu dingin dapat mengurangi effisiensi dengan

keluhan kaku atau kurangnya koordinasi otot. Sedangkan pengaruh

16

suhu ruangan sangat rendah terhadap kesehatan dapat

mengakibatkan penyakit yang terkenal yang disebut dengan

chilblains, trench foot dan frostbite.

Pencegahan terhadap gangguan kesehatan akibat iklim kerja

suhu dingin dilakukan melalui seleksi pekerja yang “fit” dan

penggunaan pakaian pelindung yang baik. Disamping itu,

pemeriksaan kesehatan perlu juga dilakukan secara periodic

(Budiono, 2008)

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->