ARTIKEL HASIL PENELITIAN

STUDI DAMPAK PROGRAM SERTIFIKASI GURU TERHADAP PENINGKATAN ROFESIONALISME DAN MUTU DI JAWA BARAT (PENELITIAN HIBAH FUNDAMENTAL)

Oleh:
Drs. D. Deni Koswara, M.Pd. Asep Suryana, S.Pd., M.Pd. Cepi Triatna, S.Pd., M.Pd.

Dibiayai Oleh DIPA UPI, sesuai dengan Surat Perjanjian Pelaksanaan Penelitian Hibah Bersaing, Hibah Bersaing Lanjutan, Fundamental, Fundamental Lanjutan, Hibah Pekerti, Hibah Pekerti Lanjutan, Hibah Pasca, Hibah Pasca Lanjutan, dengan SK Rektor UPI Nomor: 1875/H.40/PL/2009 tanggal 31 Maret 2009

JURUSAN ADMINISTRASI PENDIDIKAN FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

2009

Kondisi ini harus dipahami sebagai adanya suatu kondisi yang salah dengan sertifikasi. kurang tepat atau bahkan tidak tepat merupakan bagian yang harus dicari informasinya melalui kajian penelitian.55 milliar. atau hasil yang ditargetkannya. Pendahuluan Program sertifikasi yang telah dilangsungkan selama tiga tahun (2007-2009) belum diketahui dampaknya terhadap profesionalisme guru dan mutu pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sertifikasi memiliki pegaruh yang rendah terhadap profesionalisme dan mutu pembelajaran. dana yang dikeuarkan untuk program ini sangatlah besar. Ke depan perlu ada kajian evaluasi program sertifikasi ini untuk melihat apakah sertifikasi ini sesuai dengan yang direncanakan atau tidak. 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan guru dinyatakan sebagai tenaga professional. apakah desainnya atau sistemnya. mutu pembelajaran. sehingga ada dukungan bagi mereka dalam mebuat keputusan untuk pengelolaan guru selanjutnya (Pasca sertifikasi).Abstrak Sebagaimana dinyatakan dalam UUSPN No 20/2003. Dalam kerangka itulah program sertifikasi guru dilakukan supaya guru memiliki penguasaan kompetensi sebagaimana dipersyaratkan UU Guru dan Dosen. mutu pendidikan dapat dicapai manakala terjadi Artikel hasil penelitian: Hibah Fundamental tahun 2009 - 1 . program ini terus berjalan sampai saat ini. Intinya ada ketidaksepahaman mengenai mekanisme sertifikasi untuk mencapai tujuan sertifikasi itu sendiri. A. Secara khusus. Dilihat dari system pendidikan. apakah sudah efektif atau tidak dalam meningkatkan mutu guru dan mutu proses pembelajaran serta hasil pembelajaran. Hasil ini tidak bersesuaian dengan tujuan sertifikasi itu sendiri. dimana untuk menguji kompetensi guru dilakukan melalui portifolio. dan Peraturan Pemerintah RI No. prosesnya. Sementara itu. Kata Kunci: Sertfikasi guru. profesionalisme. Selain itu perlu dikaji kembali mengenai desain atau system sertifikasi yang terjadi saat ini. para pengambil kebijakan dan pengelola guru juga memiliki kebutuhan informasi akan dampak program sertifikasi guru terhadap profesionlisme guru dan peningkatan mutu pendidikan. 14/2005 tentang Guru dan Dosen. Apakah program sertifikasi ini sudah tepat. Mutu pendidikan merupakan salah satu pilar kebijakan pendidikan di Indonesia saat ini. UURI No. Semisal pada tahun 2006 program peningkatan kualifikasi dan sertifikasi guru mencapai 62. Walaupun perdebatan dan kritik banyak muncul ketika program sertifikasi ini diimplementasikan.

Rxy2. Variabel Profesionalime diasumsikan memiliki kontribusi terhadap mutu pembelajaran.proses (kegiatan belajar mengajar) yang bermutu. penelitian ini menguji hubungan Rxy1. variable yang berdampak atau tidak berdampak dapat dilihat dari sejuahmana kontribusi varibel tersebut kepada variable lainnya. Asumsinya. Sehingga untuk arah penghitungan dan pengujian hipotesis. Kerangka system ini dapat digambarkan sebagai berikut: Sertifikasi Guru dalam Jabatan Input Mutu Siswa Mutu Guru Mutu Fasilitas Mutu Kurikulum Dll. Proses yang bermutu akan terwujud manakala inputnya bermutu. dampak dihitung dengan menggunakan koefisien determinasi. dan Ry1y2. Artikel hasil penelitian: Hibah Fundamental tahun 2009 - 2 . Proses Mutu KBM Output Mutu Pembelajaran Gambar 1 Kerangka Penelitian Kerangka penelitian ini digambarkan dalam bentuk paradigm penelitian sebagai berikut: Rxy1 Ry1y2 Rxy2 y2 Mutu Pembelajaran y1 Profesionalisme Guru x Sertifikasi Guru Gambar 1.2 Paradigma penelitian Dalam penelitian ini. Sertifikasi guru diasumsukan memiliki kontribusi terhadap profesionalisme guru dan mutu pembelajaran.

Mutu pembelajaran adalah karakteristik kebermutuan yang melekat pada pembelajaran yang dilakukan oleh guru dilihat dari mutu input. Metode Penelitian Metode penelitian menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. dan mekanisme sertifikasi. dan mutu output. Instrument yang digunakan untuk menggali data berupa angket tertutup. Hal ini berarti bahwa dilihat dari rasa pengabdian. dan hasil dari program sertifikasi yang diikuti oleh guruguru SMP di Jawa Barat dilihat dari tujuan dan manfaat sertifikasi. Temuan dan Pembahasan 1. mutu proses. sehingga pengujian hipotesis dilakukan dengan statistic non parametrik. pemahaman terhadap kewajiban sosial. dan keyakinan terhadap profesi guruguru yang menjadi responden penelitian dikategorikan baik.B. yakni guru-guru SMP yang telah lulus sertifikasi tahun 2007 dan 2008.22. Populasi penelitian adalah guru-guru SMP yang telah mengikuti dan dinyatakan lulus pada program sertifikasi tahun 2007 dan 2008. Pengujian hasil penelitian dilakukan dengan uji korelasi dan signifikansi. angket yang dapat diolah sebanyak 111 angket. Artikel hasil penelitian: Hibah Fundamental tahun 2009 - 3 . Setelah disebar kepada 158 responden. pelaksanaan. selebihnya ada yang tidak kembali dan ada yang cacat sehingga tidak dapat diolah. dan hubungan guru dengan sesama profesi. Profesionalisme guru adalah sikap guru terhadap profesinya sebagai pendidik yang terwujud dalam bentuk pengabdiannya terhadap profesi. kemandirian guru dalam membuat/mengambil keputusan. Temuan Data umum mengenai profesionalisme guru SMP pada sekolah-sekolah yang diteliti menunjukkan kategori baik dengan capaian skor instrumen penelitian sebesar 3. Total responden sebanyak 158 guru. Definisi operasional penelitian adalah: Program Sertifikasi guru adalah persiapan. C. Hasil penghitungan terhadap normalitas data menunjukkan data berdistribusi tidak normal. Sampel penelitian ditentukan secara purposif mengacu pada kekhasan substansi yang diteliti. kemandirian. kemandirian. keyakinan terhadap profesi. aplikasi kewajiban sosial. pola sertifikasi.

Angka korelasi ini menunjukkan bahwa sertifikasi guru memiliki korelasi yang sangat rendah terhadap mutu pembelajaran. Kondisi ini dilihat dari mutu input. Nilai koefisien korelasi variabel X terhadap Y2 sebesar 0. apakah angka korelasi itu kuat atau rendah. Angka korelasi antara variabel sertifikasi guru (X) dengan mutu pembelajaran (Y2 ) sebesar 0.192. peneliti selanjutnya menafsirkan besarnya koefisien korelasi dengan klasifikasi yang diperoleh dari Sugiono (2007:257) sebagai berikut: Tabel 1 Pedoman Untuk Memberikan Interpretasi Koefisien Korelasi menurut Sugiono Interval Koefisien 0. Artikel hasil penelitian: Hibah Fundamental tahun 2009 - 4 . Korelasi ini menunjukkan bahwa sertifikasi guru memiliki hubungan yang sangat rendah dengan profesionalisme guru. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa karakteristik kebermutuan pembelajaran sebagai bagian dari layanan profesi bagi seorang guru memiliki kesesuaian dengan harapan-harapan penyelenggaran pendidikan dan berbagai pihak terkait.72. Untuk mengetahui.599 0.754.00 – 0.754.799 0.199 0.000 Tingkat Hubungan Sangat rendah Rendah Sedang Kuat Sangat kuat Berdasarkan perhitungan korelasi antara variabel. Sedangkan koefisien korelasi Y1 terhadap Y2 sebesar 0. dan mutu ouput pembelajaran.20 – 0. mutu proses. Angka korelasi variabel profesionalisme guru terhadap mutu pembelajaran menunjukkan nilai sebesar 0.399 0.40 – 0. Angka ini menunjukkan bahwa profesionalisme guru memiliki pengaruh yang kuat terhadap mutu pembelajaran.80 – 1.192.60 – 0. Hasil penghitungan dengan menggunakan rumus Spearman rho menunjukkan angka korelasi antara variable sertifikasi guru (X) terhadap profesionalisme guru (Y1) sebesar 0.Data mengenai mutu pembelajaran menunjukkan kondisi baik dengan capai skor sebesar 2. 189.

dan seperti tingkat pemahaman dan pengalaman guru dalam menjalani prosedur atau tahap demi tahap pelaksanaan program sertifikasi. khususnya ayat (1) yang mengungkapkan secara tegas hak tunjangan profesi bagi guru yang sudah lulus sertifikasi. Kategori baik dilihat dari kondisi guru dalam memahami tujuan dan manfat program sertifikasi bagi profesi keguruan. Hal ini sebagaimana dinyatakan dalam Undang-undang No. b. Dengan demikian dapat dipahami secara logis mengapa guru-guru yang diteliti memiliki pemahaman dan pengalaman yang dikategorikan baik. Sedangkan untuk pengalaman guru dalam mengikuti proses sertifikasi ditemukan dalam kondisi baik menunjukkan bahwa guru melakukan semua tahapan yang dipersyaratkan dalam program sertifikasi guru. Artikel hasil penelitian: Hibah Fundamental tahun 2009 - 5 . mereka memiliki profesionalisme yang baik dilihat dari rasa pengabdian yang melekat dengan dirinya. dan sebagainya. Pembahasan a. Sosialiasi dari pengawas. terutama dengan kesejahteraan yang akan diterima oleh guru manakala ia telah lulus sertifikasi. Lebih lanjut Pasal 17. banyak media yang memfasilitasi guru untuk memahami mengenai program sertifikasi ini baik itu melalui buku pedoman sertifikasi guru. Lebih jauh. pola seperti apa yang diikuti guru untuk sampai pada dinyatakan sebagai guru professional (lulus program sertifikasi).03 dengan kategori baik./kota.2. Program sertifikasi sebagai program yang dikategorikan spektakuler bagi profesi guru menyita banyak perhatian guru. sosialisasi dari berbagai LSM. Profesionalisme Guru-Guru SMP yang Telah Lulus Program Sertifikasi di Jawa Barat Kondisi guru-guru SMP yang diteliti. sosialisasi program sertifikasi dari dinas pendidikan kab. 74 tahun 2008 Bab III mengenai ―hak‖ pasal 15. Kondisi inilah yang menyebabkan guru-guru mencari dan menggali berbagai informasi terkait dengan bagaimana ia dapat memahami dan lulus sertifikasi guru yang pada akhirnya akan menjadikan guru yang bersangkutan lebih sejahtera. Sertifikasi bagi guru-guru SMP di Jawa Barat Berdasarkan hasil uji kecenderungan penelitian yang dihitung melalui uji kecenderungan didapatkan hasil rata-rata skor sebesar 3.

Rifqi. p. Teachers also are expected to put their knowledge to work — to demonstrate that they can do the job. Dalam konteks aplikasi sikap (profesionalisme) tersebut.ied. Lebih jauh.7) online: secara http://www. Mengembangkan konsep profesionalisme dari level individu meliputi lima dimensi. yaitu : a. pandangan tentang kemandirian profesi guru dalam membuat keputusan mengenai apa yang harus dilakukannya.tanggungjawab sosial yang memandang profesi guru sebagai komponen penting di masyarakat. Hall. The proof of the pudding is whether they will do the job of their own free will and on a sustained basis. David H. bukan seperangkat kompetensi.hk/fesym/2A03-005%20Full%20paper. R (Muhammad. Most teachers are competent enough and clever enough to come up with the right teaching performance when the supervisor is around. Pernyataan Sergiovanni tersebut memberikan petunjuk bahwa asumsi profesionalisme guru pasca sertifikasi seyognya menjadi spring board bagi guru untuk terus menerus menata komitmen melakukan perbaikan diri dalam rangka meningkatkan kompetensi.edu. yang tercermin dalam dedikasi profesional melalui penggunaan pengetahuan dan Artikel hasil penelitian: Hibah Fundamental tahun 2009 - 6 . Seorang profesional sejati adalah seorang teknisi yang peduli. Maister (1998 : 23) mengungkapkan profesionalisme terutama masalah sikap. keyakinan guruguru terhadap profesi bahwa yang berhak memberikan penilaian terhadap dirinya adalah yang mewakili profesinya. demonstrating knowledge is a fairly low-level competency. dan pandangan guru terhadap pentingnya organisasi profesi dalam pengembangan layanan professional. Sergiovanni (Bennan Zhang. Profesionalisme pada dasarnya akan mengarah pada sikap menjunjung tinggi nilai-nilai dan norma-norma yang dianut oleh suatu kelompok atau organisasi oleh karena itu pemahaman kode etik dalam menjalin hubungan profesi harus manjadi acuan dalam bekerja sama. 2008:3).pdf tegas mengungkapkan: Knowledge and understanding are not enough. Pengabdian pada profesi (dedication). Still.

Hal tersebut menunjukkan bahwa tidak selalu input dan proses yang baik akan menghasilkan output yang baik pula. Mutu input pembelajaran yang dilihat dari mutu silabus dan mutu RPP yang menunjukkan kondisi yang baik. Mutu Pembelajaran Pada Kelas-Kelas yang Dibina oleh Guru yang Telah Lulus Program Sertifikasi di Jawa Barat Mutu pembelajaran dikategorikan baik dilihat dari mutu input. Mutu output terdiri dari mutu akademik dan non akademik. termasuk organisasi formal dan kelompok-kelompok kolega informal sebagai sumber ide utama pekerjaan. Kewajiban Sosial (Social obligation). fasilitas. Sikap ini adalah ekspresi dari penyerahan diri secara total terhadap pekerjaan. Keyakinan terhadap peraturan profesi (belief in self-regulation). kondisi keluarga peserta didik. Artikel hasil penelitian: Hibah Fundamental tahun 2009 - 7 . dan mutu oputput pembelajaran.b. kecakapan yang dimiliki. yaitu suatu pandangan bahwa seorang professional harus mampu membuat keputusan sendiri tanpa ada tekanan dari pihak yang lain. Mengapa demikian? Kebermutuan hasil pembelajaran memiliki sejumlah komponen yang terkait. c. e. dan kegiatan menutup pembelajaran. yaitu pandangan tentang pentingnya paran profesi serta manfaat yang diperoleh baik oleh masyarakat atau pun oleh profesional karena adanya pekerjaan tersebut. dan bukan pihak luar yang tidak mempunyai kompetensi dalam bidang ilmu dan pekerjaan mereka. dan sebagainya. yaitu suatu keyakinan bahwa yang berwenang untuk menilai pekerjaan profesional adalah rekan sesama profesi. Hal ini mengindikasikan bahwa guru-guru yang diteliti telah membuat silabus dan RPP sebagai bagian dari tugasnya. Dalam hal ini guru-guru yang diteliti melaksanakan fase-fase tersebut dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar. Hubungan dengan sesama profesi (Professional community affiliation). bukan saja komponen guru. kegiatan inti. Mutu proses pembelajaran menunjukkan kondisi baik dilihat dari mutu kegiatan membuka. c. mutu proses. d. yakni komponen karakteristik siswa itu sendiri. Kemandirian (Autonomy demands). berarti menggunakan ikatan profesi sebagai acuan. Dari ketiga sub variable yang ditelitil. hanya sub variabel ketiga (mutu output) yang kondisnya rendah.

redirect off-task behavior. (8) Interact positively and respectfully with students. maka mutu input dan mutu proses pun harus dijaga. and de-escelate challenging behavior. (4) Target multiple learning styles. (2) Deliver content clearly. (3) Engage all students in learning. (5) Check and respond to the students understanding. Michelle Rhee (2009) mengungkapkan sebuah kerangka kegiatan belajar mengajar yang mengarah pada ―good teaching‖ sebagai berikut: Gambar 5. Artinya untuk mendapatkan hasil pembelajaran yang baik. Proses pengajaran yang harus dilakukan oleh guru menurut Rhee harus memenuhi Sembilan hal berikut: (1) Focus students on lesson objectives. Penjagaan mutu merupakan upaya penjaminan mutu pendidikan merupakan tanggungjawab kepala sekolah dan pengawas sekolah. (9) Reinforce positive behavior. Keduanya memiliki kewenangan secara secara fungsional.1. yaitu pengajaran (didefinisikan sebagai proses fasilitasi peserta didik untuk belajar) dan lingkungan belajar anak. (7) Invest student in their learning. (6) Maximize instructional time. Kerangka KBM menurut Michelle Rhee Menurut Rhee.Kerangka pengembangan mutu pembelajaran merupakan kondisi yang sistemik. Artikel hasil penelitian: Hibah Fundamental tahun 2009 - 8 . dalam perencanaan KBM guru harus merencanakan dua hal.

Capaian angka tersebut ada dalam kategori sangat rendah. Hipotesis 3: profesionalisme guru berkontribusi terhadap mutu pembelajaran. Korelasi masing-masing variable menunjukkan rxy sebesar 0. Lebih jauh. alokasi dana tunjangan profesi yang diterima guru-guru sedikit sekali proporsinya yang digunakan untuk pengembangan profesi. Apabila dihitung kepada kontribusi variable y1 ke y2 mencapai 75. Kondisi ini lebih jauh dianalisis dengan melakukan wawacara kepada guru-guru dan pengawas sekolah mengenai pengalaman para guru dan pengawas setelah proses sertifikasi selesai. 192.754 (kuat). Apabila diperbandingkan.d. Hasil pengujian hipotesis 1 dan 2 menunjukkan korelasi yang rendah.4% mutu pembelajaran dipengaruhi oleh profesionalisme guru. guru-guru sebelum sertifikasi sering mengikuti pengembangan kemampuan melalui berbagai pelatihan. Karenanya koefisien determinasi tidak bermakna. Bahkan muncul beberapa kasus yang tidak diharapkan. bahkan kecenderungannya tidak digunakan untuk pengembangan profesi guru lebih Artikel hasil penelitian: Hibah Fundamental tahun 2009 - 9 . Temuan pada pengujian hipotesis satu menunjukkan kondisi yang berbeda dengan asumsi pengambil kebijakan bahwa program sertifikasi akan meningkatkan profesionalisme guru dan mutu pendidikan. Dampak Program Sertifikasi Terhadap Profesionalisme Guru dan Mutu Pembelajaran di Jawa Barat Tiga hipotesis yang diuji adalah: Hipotesis 1: sertifikasi guru berkontribusi terhadap profesionalisme guru. Menurut pengawas. dimana guru menjadi lebih tidak disiplin pasca sertifikasi dan mengasumsikan bahwa sertifikasi adalah suatu kondisi final dari profesi keguruan. Hipotesis 2: sertifikasi guru berkontribusi terhadap mutu pembelajaran. apa yang dialami guru dalam sertifikasi belum memberikan dampak pada kemampuan professional guru termasuk terhadap peningkatan mutu pembelajaran secara signifikan.189 sedangkan rxy2 sebesar 0. Sedangkan korelasi antara variable profesionalisme guru dengan mutu pembelajaran dikategorikan tinggi dengan capaian sekor sebesar 0. namun setelah sertifikasi dan dinyatakan lulus mereka cenderung tidak mengikuti lagi kegiatan-kegiatan tersebut. workshop dan seminar.

maka kemungkinan terjadi salah persepsi pada guru-guru SMP yang telah lulus sertifikasi guru tahun 2007 dan 2008. Tunjangan profesi adalah konsekuensi logis yang menyertai adanya kemampuan yang dimaksud. I Wayan Santyasa (online: http://www. Apabila ditelusuri hal tersebut. Ketiga faktor tersebut diprediksi mempengaruhi kualitas pendidikan. Sertifikasi erat kaitannya dengan proses belajar. yaitu kompetensi. dan tunjangan profesi. Dalam konteks tersebut. Kesadaran dan pemahaman ini akan melahirkan aktivitas yang benar. Para guru lebih banyak mengalokasikan dana tunjangan profesinya untuk pemenuhan sandang.com/santyasa/pdf2/DIMENSI_DIMENSI_TEORETIS. ditabung di bank. maka dampak program sertifikasi terhadap profesionalisme dan mutu pembelajaran hanya dialami oleh sebagian kecil guruguru yang diteliti. bahwa apapun yang dilakukan adalah untuk mencapai mutu.lanjut. Sertifkasi bukan tujuan itu sendiri. tujuan utama bukan untuk mendapatkan tunjangan profesi. dan sebagainya. rehab rumah. Pasca sertifikasi seyogyanya merupakan tonggak awal bagi guru untuk meningkatkan kompetensi dan profesionalisme secara kontinu. Artikel hasil penelitian: Hibah Fundamental tahun 2009 - 10 . Dengan menyadari hal ini maka guru tidak akan mencari jalan lain guna memperoleh sertifikat profesi kecuali mempersiapkan diri dengan belajar yang benar untuk menghadapi uji sertifikasi.pdf) mengungkapkan: Profesionalisme guru sering dikaitkan dengan tiga faktor yang cukup penting. Menjawab pertanyaan mengenai apakah ada jaminan ketika seorang guru lulus sertifikasi hal tersebut akan meningkatkan mutu pendidikan. bukan tujuan itu sendiri. sertifikasi. pangan dan papan. sehingga apa yang mereka lakukan setelah itu tidak banyak berubah menjadi lebih baik.…. Demikian pula kalau guru mengikuti uji sertifikasi. Eko Putro Widoyoko (2008:5) mengungkapkan: Pertama dan sekaligus yang utama. bahkan menurun. sertifikasi merupakan sarana atau instrument untuk mencapai suatu tujuan. melainkan untuk dapat menunjukkan bahwa yang bersangkutan telah memiliki kompetensi sebagaimana disyaratkan dalam standar kemampuan guru.freewebs. sehingga tidak bisa diasumsikan mencerminkan kompetensi yang unggul sepanjang hayat. seperti pembelian tanah. Dimana mereka menganggap bahwa sertifikasi sebagai final dari profesi guru. pembelian kendaraan bermotor. Perlu ada kesadaran dan pemahaman dari semua pihak bahwa sertifikasi adalah sarana untuk menuju mutu.

Kesimpulan dan Implikasi Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bawha sertifikasi pada guru SMP yang diteliti di Jawa Barat tidak berkorelasi dengan peningkatan profesionalisme dan mutu pembelajaran. Disamping itu perlu ada upaya pembenahan asumsi bahwa sertifikasi guru bukan suatu tujuan tetapi media atau sarana untuk meningkatkan mutu pendidikan. W. mayoritas guru adalah mereka yang akan memasuki masa pensiun (purna bakti) dalam kurun waktu 1 – 5 tahun ke depan. E. Aplikasi Statistika dan Metode Penelitian untuk Administrasi dan Manajemen.. Sertifikasi Guru dalam Jabatan. Quality is free. The Art of Making Quality Certain. S (2002). khususnya dalam upayaupaya peningkatan mutu layanan pembelajaran. C. Daftar Pustaka Akdon dan Hadi. Crosby. Muhammad. Guru dalam Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Hal ini sudah barang tentu mempengaruhi tingkat dinamisasi guru dalam mengembangkan kemampuan dan memelihara motivasi kerja serta disiplin guru pasca sertifikasi. Buku 1 Pedoman Penetapan Peserta. Artikel hasil penelitian: Hibah Fundamental tahun 2009 - 11 . (2005). S. 2009. Ali. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. http://www. P.Jakarta: Rineka Cipta.1979. Edgard. p. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.Dilihat dari sisi usia peserta yang disertifikasi pada tahun 2008 dan 2009. Buku 2 Petunjuk Teknis Pelaksanaan Sertifikasi Guru. Mc GrawHill: New York et al. Bandung : Sinar Baru Algensindo Arikunto. Bandung: Dewa Ruchi.17. 2009.html Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. D. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Implikasinya perlu ada upaya peninjauan lebih mendalam terhadap program sertifikasi guru dalam jabatan. Terakhir perlu ada program perawatan dan pengembangan terhadap guru-guru yang telah lulus program sertifikasi. khususnya tujuan sertifikasi.com/edwards-deming. Sertifikasi Guru dalam Jabatan.mftrou. Total Quality Management and Deming’s 14 Points. Deming. (1983).

Tersedia: http://www. Michelle Rhee Defines "Good Teaching. Jakarta. Dalam Jurbal Fenomena. Sertifikasi Guru dalam Jabatan.. Sertifikasi Guru dalam Jabatan. Upaya untuk meningkatkan Adaptabilitas Manajemen Sekolah dalam menghadapi Tantangan dan Perubahan. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Peraturan Pemerintah No 19 Tahun 2005 tentang Standar Pendidikan Nasional Rhee. dkk. Gramedia Pustaka Utama. Sertifikasi Guru dalam Jabatan. (1). Juran. Buku 5 Rambu-rambu Pelaksanaan Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG). M. 20 halaman.ac. Buku 3 Pedoman Penyusunan Portofolio. 2009. Kusnandar. ‖Guru Sebagai Profesi‖. 2009. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. V. Mc Graw-Hill: New York et al. Samani. Mulyasa. True Professionalism. [Online]. Rifqi. Fasli. M. Michelle. David. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. [10 November 2009]." Tersedia online: http://www. third edition. Mucklas. Makalah : Tidak diterbitkan. Artikel hasil penelitian: Hibah Fundamental tahun 2009 - 12 . Quality Control Handbook. Menjadi Guru Profesional. Jakarta: PT Raja Grafindo Maister.. 2009. Gaffar. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Bandung : PT Remaja Rosdakarya Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 10 tahun 2009 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan Peraturan Pemerintah Nomor 74 tahun 2008 tentang Guru dan Dosen. 1-14 Jalal.uii. 2007.org/csnc/blogs/tapped_archive%3Fmonth%3D08%26y ear%3D2009%26base_name%3Dmichelle_rhee_defines_good_tea&usg=__ rsGRVIkQN7CzlZyx4GWMJtwCOVs=&h=674&w=675&sz=73&hl=id&st art=8&um=1&tbnid=s_Uh_SUJXK3jM:&tbnh=138&tbnw=138&prev=/ima ges%3Fq%3Dquality%2Bteaching%2Band%2Blearning%2Bframework%2 6hl%3Did%26sa%3DN%26um%3D1. Sertifikasi Guru. M. Muhammad. Guru Profesional. (1998). 2009. Pedoman Penyaluran Tunjangan Profesi Guru. 2009.prospect.id [12 Juli 2009]. Buku 4 Petunjuk Teknis Sertifikasi Guru Untuk Guru.F. Analisis Hubungan antara Profesionalisme Auditor dengan Pertimbangan Tingkat Materialitas dalam Proses Pengauditan Laporan Keuangan.id . 1998. (2007). Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Chung.. (2008). http://dppm.F. 2009. Direktorat Jenderal PMPTK. Chang. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.ac.Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.uii. 1979a. Teacher Certification in Indonesia: A Strategy for Teacher Quality Improvement. Gaffar. H. Vol 6 (1). (2005). Endang.

Mengangkat Citra dan Martabat Guru. 1994. (2003). Undang-Undang No. Bennan. dan R & D. Nana.Sallis E. Samana. Eko Putro. Manajemen Berbasis Sekolah dan Masyarakat. Peranan Sertifikasi Guru dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan. 1998.edu. Tersedia online: http://www. Dedi. Bandung : Kesuma Karya Bandung.umpwr.multiply. Bandung . dkk. Profesionalisme Keguruan. 2008. Kogan Page limitted. Total Quality Management in Education.com/santyasa/pdf2/DIMENSI_DIMENS I_TEORETIS. kualitatif. Konsep. 1993.. Wayan. Studi Pengembangan Model Pendidikan Profesional Tenaga Kependidikan. Alfabeta Supriadi.ac.hk/fesym/2A03005%20Full%20paper.pdf [10 November 2009].com/journal/item/1) Sugiyono. Profil Pendidik Profesional. Depdikbud Sagala. Strategi Memenangkan Mutu. Department of Chinese: Hong Kong Institute of Education.freewebs. London. Yogyakarta: Andi Offset Sanusi. Zhang. A. Saiful. Jakarta: PT Nimas Multima -------------Memahami Mutu [Online].pdf [10 November 2009]. Tersedia: (http://jamaludi. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Widoyoko. 2002. Artikel hasil penelitian: Hibah Fundamental tahun 2009 - 13 .. 1994. Bandung: Adicita Karya Nusa Syaodih. Pengendalian Mutu Pendidikan Sekolah Menengah. (2007).pdf). Tersedia online: http://www. I. Metode Penelitian Pendidikan (pendekatan kuantitatif.. Dimensi-Dimensi Teoretis Peningkatan Profesionalisme Guru (online:http://www.[10 November 2009]. p5 Santyasa.id/web/download/publikasiilmiah/Peranan%20Sertifikasi%20Guru%20dalam%20Meningkatkan%20M utu%20Pendidikan. On ‘gazing about with a checklist’ as a method of classroom observation in the field experience supervision of pre-service teachers: A case study. Prinsip dan Instrumen.ied. dkk. 1991. Yogyakarta: Kanisius Sahertian.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful