PRAGMATIK BAHASA INDONESIA BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Berbahasa adalah aktivitas sosial.

Seperti halnya aktivitas-aktivitas sosial yang lain, kegiatan berbahasa baru terwujud apabila manusia terlibat di dalamnya. Di dalam berbicara, penutur dan mitra tutur sama-sama menyadari bahwa ada kaidah-kaidah yang mengatur tindakannya, penggunaan bahasanya, dan interpretasiinterpretasinya terhadap tindakan dan ucapan lawan tuturnya. Setiap peserta tindak tutur bertanggung jawab terhadap tindakan dan penyimpangan terhadap kaidah kebahasaan di dalam interaksi lingual itu (Allan dalam Putu,1996). Saat ini ilmu pragmatik sudah tidak asing lagi di telinga. Ilmu ini muncul untuk menangani ilmu-ilmu kebahasaan lainnya yang mulai "angkat tangan" terhadap tuturan yang secara struktur melanggar kaidah atau tidak sesuai dengan prinsip. Pernyataan Allan yang berbunyi "Setiap peserta tindak tutur bertanggung jawab terhadap tindakan dan penyimpangan terhadap kaidah kebahasaan di dalam interaksi lingual itu…", menggambarkan bahwa penyimpangan terhadap kaidah kebahasaan sering terjadi. Penyimpangan dalam tuturan memang sering terjadi, baik itu secara struktur kalimat atau pun terhadap prinsip. Penyimpangan terhadap struktur kalimat sudah tentu dapat diatasi oleh ilmu sintaksis dan "kawan-kawan", namun beda lagi dengan pelanggaran terhadap prinsip. Pelanggaran terhadap prinsip ini hubungannya dengan makna secara eksternal dan situasi tuturan, sehingga ilmu yang cocok untuk menangani masalah ini adalah ilmu pragmatik. Untuk lebih memahami prinsip yang berkenaan dengan kaidah berbahasa itulah penulis melakukan analisa maksim kerjasama pada dialog film "Emak Ingin Naik Haji" karya Aditya Gumay yang merupakan adaptasi dan pengembangan dari cerpen berjudul sama karya Asma Nadia. BAB II HAKIKAT PRAGMATIK A. Pengertian Pragmatik Pragmatik merupakan cabang ilmu bahasa yang semakin dikenal pada masa sekarang ini, walaupun pada kira-kira dua dasa warsa yang silam, ilmu ini jarang atau hampir tidak pernah disebut oleh para ahli bahasa. Hal ini dilandasi oleh semakin sadar nya para linguis, bahwa upaya untuk menguak hakikat bahasa tidak akan membawa hasil yang diharapkan tanpa didasari pemahaman terhadap pragmatik, yakni bagaimana bahasa itu digunakan dalam komunikasi (Leech, 1993: 1). Leech (1993: 8) juga mengartikan pragmatik sebagai studi tentang makna dalam hubungannya dengan situasi-situasi ujar (speech situasions). Pragmatik sebagaimana yang telah diperbincangkan di Indonesia dewasa ini, paling tidak dapat diedakan atas dua hal, yaitu (1) pragmatik sebagai sesuatu yang diajarkan, (2) pragmatik sebagai suatu yang mewarnai tindakan mengajar . Bagian pertama masih dibagi lagi atas dua hal, yaitu ( a) pragmatik sebagai bidang kajian linguistik, dan (b) pragmatik sebagai salah satu segi di dalam bahasa atau disebut fungsi komunikatif (Purwo, 1990:2) . Pragmatik ialah berkenaan dengan syarat-syarat yang mengakibatkan serasi tidaknya bahasa dalam komunikasi (KBBI, 1993: 177). Menurut Levinson (1983: 9) , ilmu pragmatik didefinisikan sebagai berikut: (1) Pragmatik ialah kajian dar i hubungan antara bahasa dan konteks yang mendasari penjelasan pengertian bahasa´. Di sini, pengertian/pemahaman bahasa´

menghunjuk kepada fakta bahwauntuk mengerti sesuatu ungkapan/ujaran bahasa diper lukan juga pengetahuan di luar makna kata dan hubungan tata bahasanya, yakni hubungannya dengan konteks pemakaiannya. (2) Pragmatik ialah kajian tentang kemampuan pemakai bahsa mengaitkan kalimat-kalimat dengan kontekskonteks yang sesuai bagi kalimat- kalimat itu´. (Nababan, 1987: 2) Pragmatik juga diartikan sebagai syarat-syarat yang mengakibatkan serasi-tidaknya pemakaian bahasa dalam komunikasi; aspek-aspek pemakaian bahasa atau konteks luar bahasa yang memberikan sumbangan kepada makna ujaran ( Kridalaksana, 1993: 177). Menurut Ver haar(1996: 14), pragmatik merupakan cabang ilmu linguistik yang membahas tentang apa yang termasuk struktur bahasa sebagai alat komunikasi antara penutur dan pendengar, dan sebagai pengacuan tanda-tanda bahasa pada hal-hal ekstralingual´ yang dibicarakan. Purwo (1990: 16) mendefinisikan pragmatik sebagai telaah mengenai makna tuturan (utterance) menggunakan makna yang terikat konteks. Sedangkan memperlakukan bahasa secara pragmatik ialah memper lakukan bahasa dengan mempertimbangkan konteksnya, yakni penggunaannya pada peristiwa komunikasi (Pur wo, 1990: 31). Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan tentang batasan pragmatik. Pragmatik adalah suatu telaah umum mengenai bagaimana caranya konteks mempengaruhi peserta tutur dalam menafsirkan kalimat atau menelaah makna dalam kaitannya dengan situasi ujaran. B. Sejarah Perkembangan Pragmatik Perkembangan Pragmatik di Dunia Pragmatik telah tumbuh di Eropa pada 1940-an dan berkembang di Amerika sejak tahun 1970-an. Morris (1938) dianggap sebagai peletak tonggaknya lewat pandangannya tentang semiotik. Ia membagi ilmu tanda itu menjadi tiga cabang: sintaksis, semantik, dan pragmatik. Kemudian Halliday (1960) yang berusaha mengembangkan teori sosial mengenai bahasa yang memandang bahasa sebagai fenomena sosial. Di Amerika, karya filsuf Austin (1962) dan muridnya Searle (1969, 1975), banyak mengilhami perkembangan pragmatik. Karya Austin yang dianggap sebagai perintis pragmatik berjudul How to Do Things with Words (1962). Dalam karya tersebut, Austin mengemukakan gagasannya mengenai tuturan performatif dan konstatif. Gagasan penting lainnya adalah tentang tindak lokusi, ilokusi, perlokusi, dan daya ilokusi tuturan. Beberapa pemikir pragmatik lainnya, yaitu: Searle (1969) mengembangkan pemikiran Austin. Ia mencetuskan teori tentang tindak tutur yang dianggap sangat penting dalam kajian pragmatik. Tindak tutur yang tidak terbatas jumlahnya itu dikategorisasikan berdasarkan makna dan fungsinya menjadi lima macam, yaitu: representatif, direktif, ekspresif, komisih, dan deklaratif. Grice (1975) mencetuskan teori tentang prinsip kerja sama (cooperative principle) dan implikatur percakapan (conversational implicature). Menurut Grace, prinsip kerja sama adalah prinsip percakapan yang membimbing pesertanya agar dapat melakukan percakapan secara kooperatif dan dapat menggunakan bahasa secara efektif dan efisien. Prinsip ini terdiri atas empat bidal: kuantitas, kualitas, relasi, dan cara. Menurut Gunarwan (1994: 54), keunggulan teori prinsip kerja sama ini terletak pada potensinya sebagai teori inferensi apakah yang dapat ditarik dari tuturan yang bidal kerja sama itu.

1

seperti dikemukakan oleh Yule (1996: 4). dan sebagainya. terletak pada makna ujaran dan pada pengguna bahasa. yaitu “buatlah sumbangan Anda seinformatifinformatifnya sesuai dengan yang diperlukan”. pertama. makna juga merupakan hal yang tidak dapat diabaikan dalam analisis bahasa. Goody (1978) menemukan bahwa pertanyaan tidak hanya terbatas digunakan untuk meminta informasi. Lebih tepatnya. dipelajari bagaimana hubungan antarbentuk linguistis. menandai hubungan antarpelaku percakapan. Gadzar (1979) membicarakan bidang pragmatik dengan tekanan pada tiga topik. dapat dipahami bahwa perbedaan utama antara sintaksis dan pragmatik. yaitu: tindakan. keperkenanan. sintaksis tidak mempersoalkan baik makna yang ditunjuknya maupun pengguna bahasanya. bagaimana bentuk-bentuk tersebut dirangkai dalam kalimat. selain tata bahasa. jenis kelamin. Diawali oleh Tarigan (1986) yang membahas tentang pragmatik secra umum. Dalam sintaksis. dan kesimpatian. melainkan juga untuk menyuruh. dan Ibrahim (1993) tampak deskripsi yang agak mendalam. 1993:19) Pertimbangan aspek-aspek situasi tutur seperti di atas dapat menjelaskan keberkaitan antara konteks tuturan dengan maksud yang ingin dikomunikasikan. demi kebutuhan para anggota masyarakat tutur untuk mangorganisasi dan memahami kegiatan mereka. melainkan atas dasar kepentingan agar komunikasi tetap dapat berjalan. BAB II Pragmatik dalam Linguistik Seperti telah saya uraikan sedikit dalam sub 3 di atas. • Tuturan sebagai produk tindak verbal Dalam pragmatik tuturan mengacu kepada produk suatu tindak verbal. kerendahhatian. dan memang sering kita temukan. kekuasaan dan ideologi. Beberapa karya mengenai pragmatik mulai bermunculan. Pembahasan tentang makna membawa kita pada pentingnya semantik. Mey (1993) mengemukakan gagasan baru tentang pembagian pragmatik: mikropragmatik dan makropragmatik. terutama pada karya Tallei. Levinson (1983) mengemukakan revisi sebagai uapaya penyempurnaan pendapat Grize tentang teori implikatur. Pragmatik menggarap tindak-tindak verbal atau performansiperformansi yang berlangsung di dalam situasi-situasi khusus dalam waktu tertentu. yaitu tataran linguistik yang mengkaji hubungan antara bentuk-bentuk linguistik (linguistic forms) dan entitas yang terdapat di luar 2 . Dalam kehidupan sehari-hari. dan kedua. dan bagaimana rangkaian tersebut dapat dinyatakan well-formed secara gramatikal. Lubis (1993). Sesuatu yang tidak diekspresikan itulah yang dinamakan implikatur percakapan. Nababan (1987) dan Suyono (1990) juga masih terkesan „memperkenalkan pragmatik“. Dalam kurikulum ini pragmatik merupakan salah satu pokok bahasan bidang studi bahasa Indonesia (Depdikbud. meskipun tidak dapat diverifikasi secara empiris. dengan mengikuti kecenderungan dalam etnometodologi. Perkembangan Pragmatik di Indonesia Istilah pragmatik secara nyata di Indonesia muncul pada 1984 ketika diberlakukannya Kurikulum Sekulah Menengah Atas tahun 1984. Ia berpendapat bahwa pelanggaran atas prinsip kerja sama seperti pelanggaran bidal kuantitas dan cara menyiratkan sesuatu yang tidak dikatakan. penggunaan bahasa tidak semata-mata didasarkan atas prinsip well-formed dalam sintaksis. historis. sebab belum membahas pragmatik secara rinci dan luas. Aspek-aspek Pragmatik Beberapa aspek Pragmatik seperti di bawah ini: • Penutur dan lawan tutur Konsep penutur dan lawan tutur ini juga mencakup penulis dan pembaca bila tuturan yang bersangkutan dikomunikasikan dalam bentuk tulisan. bahasa digunakan oleh masyarakat tutur sebagai cara para peserta interaksi saling memahami apa yang mereka ujarkan. Yule (1996) mengembangkan teori tentang PKS dengan menghubungkannya dengan keberadaan tamengan (hedges) dan tuturan langsung-tuturan tak langsung. • Tujuan tuturan Setiap situasi tuturan atau ucapan tentu mengandung maksud dan tujuan tertentu pula. Secara umum. tingkat keakraban. 1984). Leech (1983) mengemukakan gagasannya tentang prinsip kesantunan dengan kaidah yang dirumuskannya ke dalam enam bidal: ketimbangrasaan. kemurahhatian. Pada karya Tallei (1988). konteks. Ia mengidentifikasi adanya lima karakteristik yang harus dipertimbangkan di dalam CDA. Atas dasar ini. • Tuturan sebagai bentuk tindakan dan kegiatan tindak tutur Dalam pragmatik ucapan dianggap sebagai suatu bentuk kegiatan yaitu kegiatan tindak ujar. dan bentuk logis. dapat dipahami. Aspek-aspek tersebut adalah usia. Kedua belah pihak yaitu penutur dan lawan tutur terlibat dalam suatu kegiatan yang berorientasi pada tujuan tertentu. Karya Wijana (1996) yang berjudul Dasar-dasar Pragmatik sudah menuju ke arah pragmatik yang lebih lengkap dan mendalam C. Gumperz (1982) mengembangkan teori implikatur Grizer dalam bukunya Discourse Strategies. praanggapan. hampir sepenuhnya mengacu pada buku Discourse Analyses karya Stubbs (1983). tetapi juga makna atau kekuatan ilokusinya.Keenan (1976) menyimpulkan bahwa bidal kuantitas. kesetujuan. menyatakan dan mempertanyakan status. Dengan demikian. bahwa komunikasi tetap dapat berjalan meskipun menggunakan bahasa yang tidak apik secara sintaksis. sehingga bentuk seperti kucing menyapu halaman. van Dijk (1998-2000) mengembangkan model analisis wacana kritis (Critical Discourse Analyses/ CDA) di dalam teks berita. serta yang menunjang interpretasi lawan tutur terhadap apa yang dimaksud penutur dengan suatu ucapan tertentu. tetapi orisinalitas gagasanya agak diragukan karena. yaitu: implikatur. dan bukan hanya pada tindak verbalnya itu sendiri. • Konteks tuturan Konteks di sini meliputi semua latar belakang pengetahuan yang diperkirakan dimiliki dan disetujui bersama oleh penutur dan lawan tutur. Fraser (1978) telah melakukan deskripsi ulang tentang jenis tindak tutur. salah satu kecenderungan yang melatarbelakangi berkembangnya pragmatik adalah antisintaksisme Lakoff dan Ross. Schiffrin (1994) mambahas berbagai kemudian kajian wacana dengan menggunakan pendekatan pragmatik. tetap dapat dinyatakan apik secara sintaksis. latar belakang sosial ekonomi.(Leech. sekaligus menyatakan pentingnya studi pragmatik dalam linguistik. Jadi yang dikaji oleh pragmatik bukan hanya tindak ilokusi. Buku pragmatik pertama yang tergolong kritis adalah karya Bambang Kaswanti Purwo (1990) dengan judul Pragmatik dan Pengajaran Bahasa. Hal ini berdasarkan penelitian tentang penerapan prinsip kerja sama di masyarakat Malagasi.

Deiksis dapat diartikan sebagai luar tuturan. yang tidak merupakan unsur di dalam 3 . dan memiliki batasan yang bersinggungan dengan prinsip lain. tempat. saya akan mengemukakan pendapat Leech (1980). bahasa yang digunakan harus baik. Dalam KBBI (1991: 217). semantik terikat pada kaidah (rule-governed). patut diketahui oleh pengajar untuk membekali pemelajar dengan pengetahuan tentang penggunaan bahasa menurut situasi tertentu. saat dan tempat dituturkannya kata-kata itu. kaidah berbeda dengan prinsip berdasarkan sifatnya. PENGERTIAN DEIKSIS 1. dan maksud dari tuturan. terdapat keterkaitan. tidak dapat dinyatakan benar karena yang pertama menyalahi logika dan yang kedua tidak dapat diverifikasi langsung. deiksis adalah suatu cara untuk mengacu ke hakekat tertentu dengan menggunakan bahasa yang hanya dapat ditafsirkan menurut makna yang diacu oleh penutur dan dipengaruhi situasi pembicaraan. ketakrifan. Pengertian Deiksisi Deiksis berasal dari kata Yunani kuno yang berarti “menunjukkan atau menunjuk”. proses atau kegiatan yang sedang dibicarakan atau yang sedang diacu dalam hubungannya dengan dimensi ruang dan waktunya. dalam pengajaran bahasa. sebuah pernyataan harus dapat diverifikasi secara empiris atau harus bersifat analitis. peristiwa. bagaimana strategi kesantunan mempengaruhi penggunaan bahasa. Deiksis adalah kata-kata yang memiliki referen berubah-ubah atau berpindah-pindah (Wijana. karena tidak dapat diverifikasi secara empiris dan bukan termasuk pernyataan logika. Menurut Bambang Yudi Cahyono (1995: 217). dan kompetensi strategik (strategic competence) yang berkaitan dengan kemampuan pengungkapan gagasan melalui beragam gaya yang berlaku khusus dalam setiap bahasa. BAB III. here. Selanjutnya. tergantung siapa yang menjadi pembicara. Umumnya kita dapat mengatakan ungkapan deiksis merupakan bagian yang mengacu pada ungkapan yang berkaitan dengan konteks situasi.bahasa. dibutuhkan juga pragmatik yang dalam hal ini saya pahami sebagai bidang yang mengkaji hubungan antara struktur yang digunakan penutur. Menurut Leech (dalam Eelen 2001: 6) perbedaan antara semantik dan pragmatik pada. deiksis diartikan sebagai hal atau fungsi yang menunjuk sesuatu di luar bahasa. Contohnya dalam kalimat “Saya mencintai dia”. Pesan ini tidak memiliki latar belakang kontekstual sehingga sangat tidak informatif. now. Ketiga ungkapan itu memberi perintah untuk menunjuk konteks tertentu agar makna ujaran dapat di pahami dengan tegas. yaitu kompetensi sosiolinguistik (sociolinguistic competence) yang berkaitan dengan pengetahuan sosial budaya bahasa tertentu. pada saat dituturkan oleh pembicara atau yang diajak bicara (Lyons. Dengan kata lain. Menurut Bambang Kaswanti Purwo (1984: 1) sebuah kata dikatakan bersifat deiksis apabila rujukannya berpindah-pindah atau berganti-ganti. yang tidak terdapat dalam sintaksis dan semantik. absolut atau bersifat mutlak. Dalam bidang linguistik terdapat pula istilah rujukan atau sering disebut referensi. misalnya. kata tunjuk pronomina. Kaidah bersifat deskriptif. Dengan kata lain dalam kasus ungkapan deiksis. pembahasan makna dalam semantik belum memadai. untuk melihat pentingnya pragmatik dalam linguistik. keduanya tidak dapat benar-benar dipisahkan. ataupun waktu itulah yang disebut dengan deiksis. karena masih mengabaikan unsur pengguna bahasa. dapat disimpulkan bahwa kaitan antara pragmatik dan pengajaran bahasa adalah dalam hal kompetensi komunikatif yang mencakup tiga macam kompetensi lain selain kompetensi gramatikal (grammatical competence). meskipun bentuk seperti ini dapat saja kita jumpai. penunjukan. proses pragmatik dalam mencari acuan masuk dalam semantik. Karena unkapan deiksis hanya memiliki makna ketika ditafsirkan oleh pembaca. Pada dasarnya ungkapan deiksis ini masuk dalam ranah pragmatik. meskipun makna dan daya adalah dua hal yang berbeda. Namun demikian. semantik mengkaji makna ujaran yang dituturkan. 1997: 6). semantik mengkaji makna (sense) kalimat yang bersifat abstrak dan logis. Dengan demikian. pengetahuan tentang prinsip-prinsip pragmatik dalam bahasa yang dimaksud penting demi kemampuan komunikasi yang baik dalam bahasa tersebut. bagaimana memahami implikatur percakapan. sedangkan prinsip bersifat normatif atau dapat diaplikasikan secara relatif. frase atau ungkapan yang akan diberikan. sedangkan pragmatik mengkaji makna ujaran yang terkomunikasikan atau dikomunikasikan. Tentang perbedaan yang pertama. 1977: 637 via Djajasudarma. dan sebagainya. dimana yang menjadi pusat orientasi deiksis senantiasa si pembicara. Lebih jauh lagi. sedangkan pragmatik terikat pada prinsip (principle-governed). Misalnya anda menemukan sebuah botol di pantai berisi surat di dalamnya dengan pesan sebagai berikut : (1) Meet me here a week from now with a stick about this big. pertama. Deiksis didefinisikan sebagai ungkapan yang terikat dengan konteksnya. Dalam pengajaran bahasa Indonesia.Tenses atau kala juga merupakan jenis deiksis. Dalam pengajaran bahasa asing. dan sebagainya. Namun karena penemuan makna ini sangat penting untuk mengetahui maksud dan kondisi yang sebenarnya maka pada saat yang sama masuk dalam ranah semantik. sehingga bentuk seperti seandainya saya dapat berdiri tentu saya tidak akan dapat berdiri dan saya akan datang besok pagi. bentuk kucing menyapu halaman adalah bentuk yang tidak berterima secara semantis. karena selain benar. Lavinson (1983) memberi contoh berikut untuk menggambarkan pentingnya informasi deiksis. Secara umum. untuk menjelaskan fenomena pemakaian bahasa sehari-hari. misalnya. 1998: 6). dalam hal ini dapat ditunjukkan dengan. objek. dalam analisis bahasa. Kegunaan pragmatik. sebab daya mencakup juga makna. Selanjutnya. Rujukan semacam itu oleh Nababan (1987: 40) disebut deiksis (Setiawan. Ungkapan-ungkapan yang hanya diketahui hanya dari konteks ujaran itulah yang di sebut deiksis. kompetensi wacana (discourse competence) yang berkaitan dengan kemampuan untuk menuangkan gagasan secara baik. untuk dapat dinyatakan benar. dan memiliki batasan yang jelas dengan kaidah lainnya. Deiksis dapat juga diartikan sebagai lokasi dan identifikasi orang. Dengan kata lain informasi kontekstual secara leksikal maupun gramatikal yang menunjuk pada hal tertentu baik benda. 1993: 43). yaitu kata atau frase yang menunjuk kata. sedangkan pragmatik mengkaji hubungan antara makna ujaran dan daya (force) pragmatiknya. Dengan kata lain. seperti diungkapkan Gunarwan (2004: 22). informasi dari kata ganti “saya” dan “dia” hanya dapat di telusuri dari konteks ujaran. misalnya he. Misalnya then hanya dapat di rujuk dari situasinya. di samping sintaksis dan semantik. wacana sebelumnya. pengetahuan ini penting untuk membimbing pemelajar agar dapat menggunakan ragam bahasa yang sesuai dengan situasinya. makna apa yang dituturkan. Pengertian deiksis dibedakan dengan pengertian anafora. yaitu bahwa pengetahuan pragmatik. Berdasarkan truth conditional semantics. dan kedua. dan bagaimana kondisi felisitas yang memungkinkan bagi sebuah tindak-tutur. dalam arti praktis. dapat bertentangan dengan prinsip lain.

1997: 9). Istilah persona dipilih oleh ahli bahasa waktu itu disebabkan oleh adanya kemiripan antara peristiwa bahasa dan permainan bahasa (Lyons. aku. seperti subjek. 1997: 170). yaitu -ku dan ku-. 1997: 9). Hal ini berarti bahwa rujukan pertama dan kedua pada situasi pembicaraan (Purwo. sekarang baru dapat diketahui maknanya jika diketahui pula siapa. Sedangkan untuk pronomina persona pertama daku. sini. -nya maupun bentuk jamak. Peran peserta itu dapat dibagi menjadi tiga. target ujaran. tempat. Kata seperti saya. di tempat mana. deiksis waktu. Berdasarkan beberapa pendapat. misalnya saya. dan sebagainya. untuk mengetahui siapa pembicara dan lawan bicara kita harus mengetahui situasi waktu tuturan itu dituturkan. baik yang berupa bentuk kita maupun bentuk kami masih mengandung bentuk persona pertama tunggal dan persona kedua tunggal. Kedua ialah orang kedua. Sistem kata ganti berbeda dari bahasa yang satu ke bahasa yang lain karena ragam perbedaan ditambahkan seperti jumlah dua. dalam bahasa Aborigin Australia ada istilah yang digunakan untuk seseorang yang merupakan bapak pembicara dan merupakan kakek pembicara. yang menjadi pusat orientasi deiksis adalah penutur. atau mengacu pada orang yang dibicarakan (persona ketiga) (Moeliono. 1977: 638 via Setiawan. 1988: 172 via Setiawan. dapat bersifat endofora dan eksofora. pada umumnya digunakan dalam karya sastra. Perujukan dapat pula ditujukan pada bentuk yang akan disebut kemudian.bahasa itu sendiri. a. Hal ini dikarenakan bentuk tersebut. 1993: 44). Pronomina persona pertama aku. yang artinya topeng (topeng yang dipakai seorang pemain sandiwara). misalnya: rumah saya. Deiksis perorangan hanya dapat ditangkap jika kita memahami peran dari pembicara. maka kalimatnya harus diubah. sedangkan anafora merujuk dalam tuturan baik yang mengacu kata yang berada di belakang maupun yang merujuk kata yang berada di depan (Lyons. yaitu dari kalimat langsung menjadi kalimat tidak langsung. penerima. Oleh karena bersifat endofora. bahasa Indonesia mengenal pronomina persona pertama jamak. Bahasa Indonesia juga mengenal tiga bentuk persona seperti dalam bahasa Inggris (P&P. misalnya kamu. dan kami. penting kiranya melihat jumlah jamak yang berbeda maknanya ketika kita terapkan pada orang pertama dan orang ketiga. Jika ditinjau dari segi artinya. sekarang adalah kata-kata deiktis. Bentuk rujukan seperti itu disebut dengan katafora. Bentuk saya. berarti juga peranan atau watak yang dibawakan oleh pemain sandiwara. JENIS-JENIS DEIKSIS Deiksis ada lima macam. Kata ganti persona pertama dan kedua rujukannya bersifat eksoforis. Oleh karenanya. yaitu persona pertama. baik tunggal. status sosial. 1997: 276 via Setiawan. atau siapa/apa yang dibicarakan (Moeliono. bukan berarti multiplikasi dari pembicara. sumber ujaran. yaitu deiksis persona. 2. 1977: 638 via Djajasudarma. sedangkan deiksis waktu dan deiksis tempat adalah deiksis jabaran. Apabila persona pertama dan kedua akan dijadikan endofora. Ciri lain yang dimiliki pronomina ialah acuannya dapat berpindah-pindah karena bergantung pada siapa yang menjadi pembicara/penulis. Dalam bahasa Inggris dikenal tiga bentuk kata ganti persona. Pada orang pertama. 1997: 6). seperti bentuk sekalian dan kalian.juga predikat. dan waktu kapan kata-kata itu diucapkan. pronomina persona pertama tunggal adalah saya. baik hadir maupun tidak. persona kedua dan persona ketiga (Lyons. 1984: 106). paman saya. Jadi. Referen kata saya. 1997: 9). 1997: 172). 1997: 8). misalnya dia dan mereka. kalian. Deiksis orang ditentukan menurut peran peserta dalam peristiwa bahasa. 4 . dan penunjuk. Deiksis perorangan menunjukan subjektivitas dalam struktur semantik. Bentuk saya. Pronomina persona aku mempunyai variasi bentuk. objek. istilah keturunan juga menunjuk pada deiksis. dan daku. Juga. kita. yaitu kategori rujukan kepada orang yang bukan pembicara atau pendengar ujaran itu. Deiksis persona merupakan deiksis asli. yang dibicarakan. deiksis wacana dan deiksis sosial (Nababan. menunjuk peran dari partisipan dalam peristiwa percakapan misalnya pembicara. Paparan lebih lengkap sebagai berikut. maka dapat berwujud anafora dan katafora (Setiawan. biasanya digunakan dalam tulisan atau ujaran yang resmi. Misalnya. Deiksis Persona Istilah persona berasal dari kata Latin persona sebagai terjemahan dari kata Yunani prosopon. Perujukan atau penunjukan dapat ditujukan pada bentuk atau konstituen sebelumnya yang disebut anafora. sini. dan jarak sosial. dapat dinyatakan bahwa deiksis merupakan suatu gejala semantis yang terdapat pada kata atau konstruksi yang acuannya dapat ditafsirkan sesuai dengan situasi pembicaraan dan menunjuk pada sesuatu di luar bahasa seperti kata tunjuk. Selain itu Kaswanti Purwo (Sumarsono: 2008. yaitu kategori rujukan pembicara kepada seorang pendengar atau lebih yang hadir bersama orang pertama. mengacu pada orang yang diajak bicara (persona kedua). kata ganti persona ketiga. Berbeda dengan kata ganti persona pertama dan kedua. (6) “give me your hand” (7) “give him your hand” (8) “I give him my hand” Berikutnya. (Setiawan. ia. Bentuk pronomina persona pertama jamak bersifat eksofora. seperti bentuk dia. pronomina adalah kata yang dipakai untuk mengacu ke nomina lain. Jika dilihat dari segi fungsinya. Deiksis perorangan (person deixis). waktu. Selain pronomina persona pertama tunggal. 1. dapat dikatakan bahwa pronomina menduduki posisi yang umumnya diduduki oleh nomina. dan -dalam macam kalimat tertentu. yaitu deiksis orang. Fenomena deiksis merupakan cara yang paling jelas untuk menggambarkan hubungan antara bahasa dan konteks dalam struktur bahasa itu sendiri.60) menyebut beberapa jenis deiksis. lebih banyak digunakan dalam situasi non formal dan lebih banyak menunjukkan keakraban antara pembicara/penulis dan pendengar/pembaca. deiksis tempat. Pronomina persona adalah pronomina yang dipakai untuk mengacu ke orang. Pertama ialah orang pertama. Pronomina Persona Pertama Dalam Bahasa Indonesia. dapat juga dipakai untuk menyatakan hubungan pemilikan dan diletakkan di belakang nomina yang dimilikinya. yang menjadi pendengar/pembaca. Sehingga jika digabungkan menjadi enam jenis deiksis. pronomina. yaitu kategori rujukan pembicara kepada dirinya atau kelompok yang melibatkan dirinya. saudara. Kata-kata ini tidak memiliki referen yang tetap. “we” dapat menjadi inklusif atau eksklusif dari yang ditunjuk. Ketiga ialah orang ketiga. Dengan demikian kita dapat mengganti kata ganti dan kata sifat pada contoh (6) dengan contoh (7) atau (8) dalam proses ujaran. jenis kelamin. Menurut pendapat Becker dan Oka dalam Purwo (1984: 21) bahwa deiksis persona merupakan dasar orientasi bagi deiksis ruang dan tempat serta waktu. Lebih-lebih. Pronomina dapat mengacu pada diri sendiri (persona pertama). dan pendengar yang bukan dituju atau ditarget. Bapak pembicara yang bukan kakek pembicara akan ditunjukan dengan istilah yang lain. 1987: 40). dan entitas yanng lain.

now. Dalam hal kata ganti this dan that. umpamanya. Hal menarik yang lain untuk diperhatikan adalah istilah “ today. dia. atau terletak di sebelah kanan dari yang diterangkan. kamu. Namun apabila diperlukan pembedaan/ketegasan yang lebih terperinci. Bentuk terikat itu masing-masing adalah kau. “I am buying a book”. yaitu bentuk kalian dan bentuk pronomina persona kedua ditambah sekalian: Anda sekalian. b. Pada kalimat (8b). Pronomina Persona Kedua Pronomina persona kedua tunggal mempunyai beberapa wujud. Pronomina persona kedua engkau. pronomina itu mencakupi tidak saja pembicara/penulis. misalnya usul mereka. yakni dipakai oleh orang yang lebih muda atau berstatus sosial lebih rendah daripada orang yang dibicarakan. Frasa di sini pada kalimat (8a) mengacu ke tempat yang sangat sempit. tergantung pada sistem dalam mengkonseptualisasi ruangan yang digunakan dalam bahasa tertentu. yang di pengaruhi oleh pengetahuan latar belakang. (11) “I fell off my bike yesterday”. dalam hubungan bersemuka. dalam kalimat (9a) dan (9b). yang diikuti dengan waktu dimana pengarang mengungkapkan pesan. Deiksis Waktu Deiksis waktu ialah pemberian bentuk pada rentang waktu seperti yang dimaksudkan penutur dalam peristiwa bahasa. Seperti halnya pada contoh (16). yesterday. hanya dia. (16) The boy is to the left of Tom c. Contoh pemakaian deiksis waktu dalam bahasa Inggris. Pronomina persona kedua yang memiliki varisi bentuk hanyalah engkau dan kamu. b. -nya dan beliau. Akan tetapi. (iii) dekat pada orang yang tidak ikut peristiwa (iv) berdasarkan pada arah-above-below. kita bersifat inklusif. ruangan ini. tetapi tidak mencakupi orang lain dipihak pendengar/pembacanya. meskipun dalam prakteknya peristiwa berbicara dan menerima memungkinkan berdekatan atau kotemporal. atau di depan verba. 1987: 41). (ii) dekat pada audien. jika berfungsi sebagai objek. (9) “You know the truth now. Di sini dijual gas Elpiji. so I wrote this letter”. Dari keempat pronomina tersebut. yakni engkau. yesterday” apakah mengacu pada hari keseluruhan atau pada saat tertentu. b. there’. kata ganti demonstratif ini dapat dibedakan lebih berdasarkan prinsip-prinsip daripada jarak pembicara. Here dapat berarti kota ini. sebuah episode pada hari itu. penggunaan deiksis waktu sudah jelas. Selain itu. Dalam beberapa budaya. I knew it a week ago. Akan tetapi. Sebagai contoh penggunaan deiksis tempat. dan sebagainya.membedakan antara “yang dekat kepada pembicara” (di sini) dan “yang bukan dekat kepada pembicara” (termasuk yang dekat kepada pendengar -di situ) (Nababan. Deiksis tempat menunjukan lokasi relatif bagi pembicara dan yang dibicarakan seperti pada “ten metres further”. “I bought a book”. seperti (i) dekat pada yang dibicarakan. pilihan juga dapat didiktekan berdasarkan kedekatan emosional (empathy) dan jarak. 2. (14) I live ten minutes from here. dapat ditambahkan sesuatu kata/frasa keterangan waktu. pronomina itu mencakupi pembicara/penulis dan orang lain dipihaknya. Waktu pengujaran berbeda dari waktu penerimaan. misalnya dengan mengulang nomina tersebut atau dengan mengubah sintaksisnya. -nya dan beliau yang dapat digunakan untuk menyatakan milik. Pronomina persona ketiga tunggal beliau digunakan untuk menyatakan rasa hormat. b. 3. Pronomina persona ketiga jamak adalah mereka. kamu Anda. “I bought the book 2 years ago”. Deiksis waktu juga ditujukan pada partisipan dalam wacana. artinya. tanpa memandang umur atau status sosial. Pohon dapat berada di belakang mobil atau tertutup pandangan karena terhalang oleh mobil (15) The tree is behind the car. Benda atau konsep yang jamak dinyatakan dengan cara yang lain. Deiksis tempat juga dapat menggunakan untuk waktu misalnya dalam contoh (14). Pronomina persona kedua Anda dimaksudkan untuk menetralkan hubungan. “Now” berarti waktu dimana pembicara sedang menghasilkan ujaran. ia dan dia sama-sama dapat dipakai. Ukuran dari lokasi juga berbeda-beda. atau bahkan (v) kalihatan tidak kelihatan pada pembicara atau (vi) upriver. Kami bersifat eksklusif. orang yang mempunyai hubungan akrab. ‘ten miles east of here’. Misalnya kita dapat mendefinisikan here sebagai unit ruang yang mencakup lokasi pembicara pada saat dia berujar atau lokasi terdekat pada lokasi pembicara pada saat berujar yang mencakup tempat yang ditunjuk jika ketika berkata here diikuti gerakan tangan. deiksis (rujukan) waktu ini diungkapkan dalam bentuk “kala” (Inggris: tense) (Nababan. seperti pada contoh (10) dan (11) berikut: (10) “Yesterday was Sunday”. Mereka tidak mempunyai variasi bentuk sehingga dalam posisi mana pun hanya bentuk itulah yang dipakai. last year. Hal ini sering disebut deiksis empathetik. kaudan -mu. Contoh dalam bahasa Inggris: (10) a. Pronomina Persona Ketiga Pronomina persona ketiga tunggal terdiri atas ia. hanya bentuk dia dan -nya yang dapat muncul. dikau. yakni suatu toko atau tempat penjualan yang lain. Deiksis Tempat Deiksis tempat ialah pemberian bentuk pada lokasi menurut peserta dalam peristiwa bahasa.downriver dari pembicara.yakni kami dan kita. tomorrow. yakni sebuah kursi atau sofa. Semua bahasa -termasuk bahasa Indonesia. (9) a.dan -mu. “Now” mengacu pada waktu dimana yang dibicarakan mempelajari kebenaran. sehingga Anda tidak diarahkan pada satu orang khusus. Sebaliknya. (8) a. Dalam posisi sebagai subjek. kata mereka kadang-kadang juga dipakai untuk mengacu pada binatang atau benda yang dianggap bernyawa. Pusat deiksis dapat ditujukan pada yang dibicarakan sebagaimana yang didiskusikan dalam contoh (9). rumah mereka. Meskipun tanpa keterangan waktu. “I bought the book yesterday”. kamu sekalian. Pada umumnya mereka hanya dipakai untuk insan. artinya. dan mungkin pula pihak lain. acuannya lebih luas. dan -mu. atau titik tertentu secara pasti. orang yang status sosialnya lebih tinggi. pada cerita fiksi atau narasi lain yang menggunakan gaya fiksi. Pronomina persona kedua juga mempunyai bentuk jamak. pronomina Anda juga digunakan dalam hubungan yang tak pribadi. tetapi juga pendengar/pembaca. Jumlah hari secara deiksis juga berbeda dari bahasa satu ke bahasa yang lain: bahasa Jepang memiliki tiga hari ke belakang dari “today” dan dua hari ke depan. Duduklah kamu di sini. dapat dipakai oleh orang tua terhadap orang muda yang telah dikenal dengan baik dan lama. Dalam banyak bahasa. 5 . ‘here’. tetapi pembicara tidak ingin bersikap terlalu formal ataupun terlalu akrab. Tidak selalu mudah untuk memutuskan apakah penggunaan sebuah unngkapan itu deiksis atau non deiksis misalnya pada contoh (15). anak laki-laki bisa berada di sisi kiri Tom atau di kiri Tom dari sudut acuan pembicara. 1987: 41).

membantu pembicara menentukan bentuk-bentuk 6 . atau ngoko. (ii) prioritas relatif dari dua peristiwa dimasa lampau. madyo dan kromo kalau sistem bahasa itu dibagi tiga. Nababan (1987: 46). Penting kiranya untuk membedakan antara gramatical tenses dan semantic temporallity. kromo dan kromo inggil kalau sistemnya dibagi empat. Bentuk-bentuk yang dipakai untuk mengungkapkan deiksis wacana itu adalah kata/frasa ini. Contoh-contoh di atas menunjukan. (11) a. Namun. Banyak bahasa mempunyai deiksis jenis ini hanya dua saja. Dari kedua contoh di atas dapat kita ketahui bahwa -nya pada contoh (11a) mengacu ke paman yang sudah disebut sebelumnya. bahkan waktu. b. praanggapan dikaji berdasarkan ilmu semantik. terdapat perbedaan yang tegas antara (i) past. jadi hanya berkutat pada makna leksikal dan gramatikal saja. kalimat (12) dan (13) adalah non deiksis dan atemporal.Waktu adalah paling mempengaruhi kalimat menjadi deiksis. 2. Deiksis wacana mencakup anafora dan katafora. Selain definisi tersebut. “unda-usuk”. saya masih kecil. Secara tradisional perbedaan bahasa (atau variasi bahasa) seperti itu disebut “tingkatan bahasa”. 1987: 48) memberikan konsep praanggapan yang disejajarkan maknanya dengan presupposition sebagai suatu macam anggapan atau pengetahuan latar belakang yang membuat suatu tindakan. Misalnya. Perhatikan penggunaannya dalam kalimat-kalimat berikut. Pengertian Praanggapan Praanggapan (presuposisi) berasal dari kata to presuppose. 3. yang dalam bahasa Inggris berarti to suppose beforehand (menduga sebelumnya). Pada awalnya. Penulis dapat mengambil simpulan bahwa jenis praanggapan dapat dibedakan menjadi dua. Dalam bahasa Jawa umpamanya. praanggapan semantik kurang dapat menjelaskan pada aspek tertentu sehingga muncul pendapat baru ahli bahasa yaitu praanggapan pragmatik yang telah mengaitkan aspek konteks bahasa di dalam ujaran atau kalimat tersebut raangapan merupakan suatu pengalaman manusia sehari-hari sehingga praanggapan juga merupakan gejala yang mudah ditemui dalam kehidupan seharihari. present dan future. 1987: 42). Perbedaan itu dapat ditunjukkan dalam pemilihan kata. Perbedaan ini disebabkan sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Marmaridou (dalam Louise Cummings. Perbedaanperbedaan ini tidak secara langsung masuk dalam tenses gramatikal karena tenses gramatikal ini juga mencakup aspect dan modality. Dalam beberapa bahasa. ngoko dan kromo dalam sistem pembagian dua. Maka meskipun bahasa orang tenses gramatikal. dan iko dan kae untuk yang sangat jauh. begitulah. Bahasa jawa mengenal iki untuk sesuatu yang dekat dengan penutur dan iku dan kuwi untuk sesuatu yang tidak dekat tetapi tidak terlalu jauh. atau ungkapan mempunyai makna. Masalah ini harus kita selesaikan segera. Louise Cummings (1999: 42) menyatakan bahwa praanggapan adalah asumsiasumsi atau inferensi-inferensi yang tersirat dalam ungkapan-ungkapan linguistik tertentu. dan ngoko. danitu untuk menunjuk sesuatu yang jauh dari pembicara. peristiwa. 1987: 42). Namun. dia akan memakai ini. George Yule (2006 : 43) menyatakan bahwa praanggapan atau presupposisi adalah sesuatu yang diasumsikan oleh penutur sebagai kejadian sebelum menghasilkan suatu tuturan. memberikan pengertian praanggapan sebagai dasar atau penyimpulan dasar mengenai konteks dan situasi berbahasa (menggunakan bahasa) yang membuat bentuk bahasa (kalimat atau ungkapan) mempunyai makna bagi pendengar atau penerima bahasa itu dan sebaliknya. menunjukkan perbedaan sikap atau kedudukan sosial antara pembicara. yaitu yang sejajar dengan ini dan itu tadi. Ketika peristiwa itu terjadi. sering kita tidak sadar akan hal itu. beberapa definisi lain tentang praanggapan di antaranya adalah : Levinson (dalam Nababan. yang berikut. yang pertama disebut. penggunaan deiksis ini dan itutampaknya bergantung kepada sikap penuturterhadap hal-hal yang ditunjuk. Deiksis Wacana Deiksis wacana ialah rujukan pada bagian-bagian tertentu dalam wacana yang telah diberikan atau sedang dikembangkan (Nababan. (13) “Cats like warmth”. (12) “A whale is a mammal”. perbedaan tingkat sosial antara pembicara dengan pendengar yang diwujudkan dalam seleksi kata dan/atau sistem morfologi kata-kata tertentu (Nababan. dalam bahasa Jawa. pendengar dan/atau orang yang dibicarakan/bersangkutan. memakai kata nedo dan kata dahar (makan). 1. yaitu praanggapan yang ditinjau dari segi semantik dan praanggapan yang ditinjau dari segi pragmatik. Katafora ialah penunjukan ke sesuatu yang disebut kemudian. Sebagai contoh. teori. 1960 via Nababan. d. atau ”etiket berbahasa” (Geertz. Saat ini saya belum bisa ngomong. dan juga antara (iii) hal-hal dalam waktu yang berlawanan dalam rentang waktu. Deiksis Sosial Deiksis sosial ialah rujukan yang dinyatakan berdasarkan perbedaan kemasyarakatan yang mempengaruhi peran pembicara dan pendengar. dalam arti sebelum pembicara atau penulis mengujarkan sesuatu ia sudah memiliki dugaan sebelumnya tentang kawan bicara atau hal yang dibicarakan . yang terdahulu. sedangkan pada contoh (11b) mengacu ke mangga yang disebut kemudian. meskipun kalimat tersebut memiliki nilai gramatikal. itu. Dalam penelitian semantik tentang temporality atau ‘metalinguistic tense’ yang digali dari logika kala. Hanya mungkin terdapat perbedaan istilah saja. “Karena aromanya yang khas. madyo. BAB IV Praanggapan Jenis-jenis praanggapan. f. 1999: 52) di atas. sebaliknya itu digunakan untuk menyatakan sesuatu yang jauh darinya. mangga itu banyak dibeli”. bahasa tersebut tetap memiliki ungkapan temporallity. “Sesuatu” itu bukan hanya benda atau barang melainkan juga keadaan. Dalam makalah ini akan dijelaskan secara singkat mengenai apa itu praanggapan? Apa saja ciri praanggapan? Dan apa saja jenis praanggapan? 1. “Paman datang dari desa kemarin dengan membawa hasil palawijanya”. 1987: 42-43). jika dia “merasa” sesuatu itu dekat dengan dirinya. e. dsb. Deiksis Penunjuk Di dalam bahasa Indonesia kita menyebut demontratif (kata ganti penunjuk): ini untuk menunjuk sesuatu yang dekat dengan penutur. Aspek berbahasa seperti ini disebut “kesopanan berbahasa”. Anafora ialah penunjukan kembali kepada sesuatu yang telah disebutkan sebelumnya dalam wacana dengan pengulangan atau substitusi. Tenses gramatikal juga mencerminkan ketergantungan budaya dalam melihat waktu dan membaginya seperti afiks dalam bahasa Amahuaka yang diucapkan di Peru dimana rentang waktu mempengaruhi rentang sekarang separti halnya “ the morning” atau “the afternoon” tidak harus sebelum malam. Yang memiliki presuposisi adalah penutur bukan kalimat.

Untuk memperjelas pernyataan tersebut perhatikan contoh berikut. Hal ini memiliki maksud bahwa praanggapan (presuposisi) suatu pernyataan akan tetap ajeg (tetap benar) walaupun kalimat itu dijadikan kalimat negatif atau dinegasikan. Ciri Praanggapan Ciri praanggapan yang mendasar adalah sifat keajegan di bawah penyangkalan (Yule. ia juga menindakkan sesuatu. Kalimat tersebut dapat dinyatakan benar atau salahnya bila pejabat tersebut mempunyai istri. (11) a. 3. Dia pergi 3. Tindak Tutur dan Jenis-jenisnya Tindak tutur (selanjutnya TT) atau tindak ujaran (speech act) mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam pragmatik karena TT adalah satuan analisisnya. Presuposisi Leksikal Presuposisi (praanggapan) leksikal dipahami sebagai bentuk praanggapan di mana makna yang dinyatakan secara konvensional ditafsirkan dengan praanggapan bahwa suatu makna lain (yang tidak dinyatakan) dipahami. speech event): pengujaran kalimat untuk menyatakan agar suatu maksud dari pembicara diketahui pendengar (Kridalaksana. Saya membayangkan bahwa saya kaya b.bahasa yang dapat dipakainya untuk mengungkapkan makna atau pesan yang dimaksud. presuposisi struktural. 2. ajakan (invitation). presuposisi faktif. Dengan pengucapan kalimat Arep ngombe apa? si pembicara tidak semata-mata menanyakan atau meminta jawaban tertentu. Saya tidak berada di Hawai 3. Anda membeli sepeda (12) a. Uraian berikut memaparkan klasifikasi dari berbagai jenis TT. permintaan (requests). secara konvensional diinterpretasikan dengan kata tanya (kapan dan di mana) seudah diketahui sebagai masalah. 1989: 265). Seandainya BAB V TINDAK TUTUR 1. presuposisi leksikal. Presuposisi Non-faktif Presuposisi (praanggapan) non-faktif adalah suatu praanggapan yang diasumsikan tidak benar. ia juga menindakkan sesuatu. 1984: 154) Speech act: an utterance as a functional unit in communication (Richards et al. (11) a. Ada orang berjalan 3.2006:45). Hal-hal apa sajakah yang dapat ditindakkan di dalam berbicara? Ada cukup banyak. Saya tidak kaya (10) a. Kami menyesal mengatakan kepadanya b.3.2. 2006 : 46). (9) a. Gitar Budi tidak baru Kalimat (2b) merupakan bentuk negatif dari kaliamt (2a). tawaran (offers). Mereka mulai mengeluh b. Ilokusi. yaitu presuposisi eksistensial.1 Lokusi.6. Di mana Anda membeli sepeda itu? b.dan presuposisi konterfaktual. Di dalam mengatakan suatu kalimat. Dari beberapa definisi praanggapan di atas dapat disimpulkan bahwa praanggapan adalah kesimpulan atau asumsi awal penutur sebelum melakukan tuturan bahwa apa yang akan disampaikan juga dipahami oleh mitra tutur. mengatakan Sampun jam sanga ia tidak semata-mata memberi tahu keadaan jam pada waktu itu. Saya membayangkan berada di Hawai b. Presuposisi Esistensial Presuposisi (praanggapan) eksistensial adalah preaanggapan yang menunjukkan eksistensi/ keberadaan/ jati diri referen yang diungkapkan dengan kata yang definit. Pejabat itu mempunyai istri Kalimat (3b) merupakan praanggapan (presuposisi) dari kalimat (3a). yaitu memiliki praanggapan yang sama bahwa Budi mempunyai gitar. Praanggapan dalam kalimat (2a) adalah Budi mempunyai gitar. Namun. Jenis-jenis Praanggapan Praanggapan (presuposisi) sudah diasosiasikan dengan pemakaian sejumlah besar kata. a. Presuposisi konterfaktual Presuposisi (praanggapan) konterfaktual berarti bahwa yang di praanggapkan tidak hanya tidak benar. pemberian izin (permissons). presuposisi non-faktif. antara lain.5. Presuposisi Struktural Presuposisi (praanggapan) struktural mengacu pada sturktur kalimat-kalimat tertentu telah dianalisis sebagai praanggapan secara tetap dan konvensional bahwa bagian struktur itu sudah diasumsikan kebenarannya. (3) a.4. 3. Pengertian Tindak tutur (istilah Kridalaksana ‘pertuturan’ / speech act. dan Perlokusi Austin (1962) dalam How to do Things with Words mengemukakan bahwa mengujarkan sebuah kalimat 7 . seseorang tidak sematamata mengatakan sesuatu dengan pengucapan kalimat itu. bila berkebalikan dengan kenyataan yang ada (pejabat tersebut tidak mempunyai istri). Dia tidak menyadari bahwa ia sakit b.1. Untuk memperjelas hal ini. Seorang ibu rumah pondokan putri. Dulu dia biasa merokok (8) a. 2. penerimaan akan tawaran (acceptation of offers) 2. ternyata praanggapan itu tidak berubah meski kalimat (2b) mengandung penyangkalan tehadap kalimat (2a). (5) a. Dalam kalimat (2b). Presuposisi Faktif Presuposisi (praanggapan) faktif adalah praanggapan di mana informasi yang dipraanggapkan mengikuti kata kerja dapat dianggap sebagai suatu kenyataan. Istri pejabat itu cantik sekali b. yaitu memerintahkan si mitratutur supaya pergi meninggalkan rumah pondokannya. Sebagai contoh perhatikan beberapa kalimat berikut : (2) a. Di dalam pengucapan kalimat ia juga “menindakkan” sesuatu. Gitar Budi itu baru b. tetapi juga merupakan kebalikan (lawan) dari benar atau bertolak belakang dengan kenyataan. Dia berhenti merokok b. dan struktur (Yule. yakni menawarkan minuman. Kapan dia pergi? b. Kami mengatakan kepadanya 3. (7) a. Hal ini tampak dalam kalimat tanya. Orang itu berjalan b. Selanjutnya Gorge Yule mengklasifikasikan praanggapan ke dalam 6 jenis praanggapan. frasa. kalimat tersebut tidak dapat ditentukan kebenarannya. Dia sakit (6) a. Wijana dalam Nadar (2009 : 64) menyatakan bahwa sebuah kalimat dinyatakan mempresuposisikan kalimat yang lain jika ketidakbenaran kalimat yang kedua (kalimat yang diprosuposisikan) mengakibatkan kalimat pertama (kalimat yang memprosuposisikan) tidak dapat dikatakan benar atau salah. (4). perhatikan contoh berikut : A : “Aku sudah membeli bukunya Pak Pranowo kemarin” B : “Dapat potongan 30 persen kan? Contoh percakapan di atas menunjukkan bahwa sebelum bertutur A memiliki praanggapan bahwa B mengetahui maksudnya yaitu terdapat sebuah buku yang ditulis oleh Pak Pranowo. Sebelumnya mereka tidak mengeluh 3.

Kelima TT itu sebagai berikut: (1) TT representatif yaitu TT yang mengikat P-nya kepada kebenaran atas apa yang dikatakannya. Dari kesembilan bentuk ujaran tersebut. (4) TT-TLTH : “Untuk menjaga rahasia. kamar iki katon rupek. dan memberi maaf. P dapat juga menggunakan tindak tutur harafiah (TT-H) atau tindak tutur tidak harafiah (TT-TH) di dalam mengutarakan maksudnya. menunjukkan. (1) Tindak tutur langsung (TT-L) (2) Tindak tutur tidak langsung (TT-TL) (3) Tindak tutur harafiah (TT-H) (4) Tindak tutur tidak harafiah (TT-TH) (5) Tindak tutur langsung harafiah (TT-LH) (6) Tindak tutur tidak langsung harafiah (TT-TLH) (7) Tindak tutur langsung tidak harafiah (TT-LTH)\ (8) Tindak tutur tidak langsung tidak harafiah (TT-TLTH) Apabila seseorang menggunakan bahasa. misalnya memuji. (3) TT ekspresif ialah TT yang dilakukan dengan maksud agar ujarannya diartikan sebagai evaluasi mengenai hal yang disebutkan di dalam ujaran itu. Ilokusi adalah tindak melakukan sesuatu. lebih baik jika kita semua sepakat menutup mulut kita masingmasing”. 1993: 11-54). tanpa bermaksud untuk minta minum. dan mencakup tindak-tindak seperti bertaruh. 1993: dapat diungkapkan dengan menggunakan berbagai ujaran sebagai berikut. dan memesan. dan sebaliknya. (2) TT-LTH : “Tutup mulut”. misalnya menyuruh. Jadi. di samping memang mengucapkan kalimat tersebut. apabila seorang penutur (selanjutnya disingkat P) Jawa mengujarkan “Aku ngelak” dalam tindak lokusi kita akan mengartikan “aku” sebagai ‘pronomina persona tunggal’ (yaitu si P) dan “ngelak” mengacu ke ‘tenggorokan kering dan perlu dibasahi’. berdasarkan uraian dan contoh-contoh di atas dapat dicatat ada delapan TT sebagai berikut (bandingkan Wijana. yang paling samarsamar maksudnya ialah bentuk ujaran (9). Derajat kelangsungan TT dapat diukur berdasarkan “jarak tempuh” antara titik ilokusi ( di benak P) ke titik tujuan ilokusi (di benak MT). menolak. dan sebagainya) yang baru. ilokusi. perlokusi adalah efek dari TT itu bagi mitra-tutur (selanjutnya MT). yaitu tindak lokusi (melakukan tindakan mengatakan sesuatu). Di sini maksud atau fungsi ujaran itu belum menjadi perhatian. dan mengeluh. Ilokusi Dalam mengatakan X. (6) Rumusan saran : Piye yen meja iki dipindhah? (7) Persiapan pertanyaan : Kowe bisa mindhah meja iki? (8) Isyarat kuat : Yen meja iki ana ing kene. Secara singkat. n menegaskan (asserts) bahwa P. Direktif. Karena kata “meja” sama sekali tidak disebutkan oleh P dalam ujaran (9). Pada bagian terdahulu telah disinggung bahwa di dalam komunikasi satu fungsi dapat dinyatakan atau diutarakan melalui berbagai bentuk ujaran. (4) TT komisif adalah TT yang mengikat P-nya untuk melaksanakan apa yang disebutkan di dalam ujarannya. misalnya diucapkan oleh seseorang yang jengkel kepada MT-nya yang selalu “cerewet”.3 TT Langsung vs TT Tidak Langsung Dari sembilan bentuk ujaran tersebut diperoleh sembilan TT yang berbeda-beda derajat kelangsungannya dalam menyampaikan maksud ‘menyuruh memindahkan meja’ itu. menuntut. (Dilakukan dengan mengatakan sesuatu. Misalnya: 1. keadaan. melaporkan. misalnya. (merupakan tindak mengatakan sesuatu: menghasilkan serangkaian bunyi yang berarti sesuatu. dan menantang. misalnya menyatakan. dan perlokusi. misalnya diucapkan oleh dokter gigi kepada pasiennya. mengritik. berupa isyarat halus. Lokusi n mengatakan kepada t bahwa X. (5) TT deklaratif merupakan TT yang dilakukan P dengan maksud untuk menciptakan hal (status. jika MT melakukan tindakan mengambilkan air minum untuk P sebagai akibat dari TT itu maka di sini dapat dikatakan terjadi tindak perlokusi. berjanji. mengizinkan. menurut Blum-Kulka (1987) (lihat Gunarwan. dan menyebutkan. Jadi. maka MT harus mencari-cari konteks yang relevan untuk dapat menangkap maksud P. menyarankan. (4) Pernyataan keharusan : Sliramu kudu mindhahke meja iki! (5) Pernyataan keinginan : Aku kepengin meja iki dipindhah. tindak ilokusi (melakukan tidakan dalam mengatakan sesuatu). Derajat kelangsungan dapat pula diukur berdasarkan kejelasan pragmatisnya: makin jelas maksud ujaran makin langsunglah ujaran itu.2 TT Representatif. Jika kedua hal itu. Selain TT-L dan TT-TL. melarang. Ekspresif. kelangsungan dan keharafiahan ujaran. Di sini kita mulai berbicara tentang maksud dan fungsi atau daya ujaran yang bersangkutan. digabungkan maka akan didapatkan empat macam ujaran. 2. misalnya diucapkan oleh P yang mengajak MTnya untuk tidak membuka rahasia. untuk apa ujaran itu dilakukan. Hal ini sejalan dengan pendapat Austin (1962) yang melihat adanya tiga jenis tindak ujar. (2) TT direktif yaitu TT yang dilakukan P-nya dengan maksud agar si pendengar atau MT melakukan tindakan yang disebutkan di dalam ujaran itu. (1) Kalimat bermodus imperatif : Pindhahen meja iki! (2) Performatif eksplisit : Dakjaluk sliramu mindhahke meja iki! (3) Performatif berpagar : Aku jan-jane arep njaluk tulung sliramu mindhahke meja iki. “Aku ngelak” yang diujarkan oleh P dengan maksud ‘minta minum’ adalah sebuah tindak ilokusi. (3) TT-TLH : “Bagaimana kalau mulutnya dibuka?”. Jadi. (9) Isyarat halus : Kamar iki kok katone sesak ngono ya? 2. membatalkan. yaitu: (1) TT-LH : “Buka mulut”. 2. Dengan demikian. mengucapkan terima kasih. maka ada 3 jenis tindakan atau tindak tutur (selanjutnya disingkat TT). misalnya berjanji dan bersumpah. Ia membedakan tiga jenis tindakan yang berkaitan dengan ujaran. Komisif. misalnya memutuskan. Perlokusi mengacu ke efek yang ditimbulkan oleh ujaran yang dihasilkan oleh P. Ini merupakan aspek bahasa yang merupakan pokok penekanan linguistik tradisional). 1996: 36). memohon. yaitu lokusi. yaitu tindak mengucapkan sesuatu dengan kata dan kalimat sesuai dengan makna kata itu (di dalam kamus) dan makna kalimat itu sesuai dengan kaidah sintaksisnya. dan perlokusi. secara ringkas. Untuk maksud atau fungsi “menyuruh”. misalnya diucapkan oleh dokter gigi kepada pasien yang masih kecil agar anak itu tidak takut. ilokusi. dan tindak perlokusi (melakukan tindakan dengan mengatakan sesuatu). Sebagian verba yang digunakan untuk melabel tindak ilokusi bisa digunakan secara 8 . dan Deklaratif Searle (1975) mengembangkan teori TT dan membaginya menjadi lima jenis TT (dalam Ibrahim. Hal ini berkaitan dengan tindak tutur langsung (TT-L) dan tindak tutur tidak langsung (TT-TL). Lokusi adalah semata-mata tindak berbicara. yaitu lokusi.tertentu dapat dipandang sebagai melakukan tindakan (act).

TT tidak langsung tidak literal Misalnya. Tempat itu jauh Lokusi Lokusi Perlokusi Tempat itu jauh. kita perlu belajar tentang ‘asumsi pragmatik’. Berita Tanya Perintah Adiknya sakit. TT tidak langsung literal 7. yang bagus dikatakan jelek (hal ini disebut banter [bEnte]). Hal ini merupakan sesuatu yang penting dalam kajian pragmatik. 1. melukai. 1993: 115). Contoh-contoh yang sesuai adalah meyakinkan. dan kalimat perintah (imperatif). tuturan dapat dibedakan menjadi tuturan literal dan tuturan tidal literal. dan membuat tertawa) Perbedaan kekuatan antara perlokusi dan ilokusi tidak selalu jelas. TT perlokusi: Austin. memperingatkan. TT tidak langsung 3. Kalau orang berbicara kepada orang lain pasti ingin mengemukakan sesuatu. tidak berbelit-belit. sehingga merupakan TT tidak langsung (indirect speech). tetapi ia harus bertanggung jawab atas penyimpangan itu. literal. TT langsung 2. yang jelek dikatakan bagus (disebut ‘ironi’).) 3. n meyakinkan (convinces) t bahwa P. kalimat tanya (interogatif). Tindak tutur langsung-tidak langsung dan literal-tidak literal Berdasarkan isi kalimat atau tuturannya. 2. Dengan adanya 2 tujuan ini. Buka mulutnya! (makna lugas: buka). perbuatan yang dilakukan dalam mengujarkan sesuatu atau melakukan sesuatu. Contoh: 9 . Hanya saja dalam pragmatik terdapat penyimpanganpenyimpangan. Misalnya. B: Ini uangnya. Ibunya di rumah! (bisa bermaksud melarang datang menemui anaknya) Bapaknya galak! (bisa melarang jangan ke sana) Saya tidak dapat datang. di mana. Buka mulutnya! (makna tidak lugas: tutup). betul-betul kurang keras. ada maksud-maksud tertentu. ajakan. (membeli) Temboknya dicat! (jangan dekat tembok itu) Adoh lho le! (jangan ke sana) 3. perbuatan yang dilakukan dengan mengujarkan sesuatu. Misalnya. Tuturan literal: tuturan yang sesuai dengan maksud atau modusnya. maka orang akan berbicara sejelas mungkin. TT tidak literal 5. 1. yang merupakan keadaan psikologis yang tidak bisa diobservasi (lihat Abd. Persuasi merupakan tindak perlokusi: orang tidak dapat mempersuai seseorang tentang sesuatu hanya dengan mengatakan Saya mempersuasi anda. kalimat atau tuturan dapat dibedakan menjadi tuturan langsung dan tutran tidak langsung. Di mana handuk saya? Pergi! Informasi ya. ringkas. 2. 1. Misalnya: Saya berjanji. mis. kalimat dapat dibedakan menjadi 3 macam. Misalnya: Dia sakit. Tuturan tidak literal: tuturan yang tidak sesuai dengan maksud dalam tulisan/tuturan. TT ini sangat sedikit peranannya dalam pragmatik. 2. berbicara secara wajar (termasuk volume suara yang wajar). (ada maksud: jangan pergi ke sana). atau mempengaruhi orang lain (perlocutionary speech act) Misalnya: Tempat itu jauh. TT langsung literal 6. 8. Searle. ke mana. mengandung pesan.performatif. Beli sana! Kadang-kadang secara pragmatis kalimat berita dan tanya digunakan untuk memerintah.) larangan. Wacana-wacana ilmiah yang tidak menekankan emosi termasuk TT lokusi. Kesulitan itu juga muncul dari dasar definisi maksud penutur. tidak (apa. TT literal betul-betul kurang keras. Masing-masing tindak tutur (langsung. metapesan ‘Jangan pergi ke sana!’ metapesan (Dalam pikiran mitratutur ada keputusan) “Saya tidak akan pergi ke sana. TT langsung tidak literal suara radionya keras sekali. TT langsung tidak literal 8. Kesulitan dalam definisi ini muncul dari urutan tindakan yang banyak diabaikan oleh teori tindak tutur. TT literal 4. untuk apa. TT tidak langsung literal keraskan radionya! 7. tidak langsung. (minta maaf) Kula nyuwun sekilo. Rumahnya jauh. TT tidak literal suara radionya keras sekali. Tempat itu jauh. Searle. TT tidak langsung tidak literal matikan! BAB VI PRINSIP KERJA SAMA (Cooperative Principle) Sebelum belajar tentang ‘prinsip kerja sama’. Dengan demikian mengatakan Saya menolak bahwa Xsama halnya menolak bahwa X. Mereka harus bekerja sama. dsb. membuat orang lain percaya akan sesuatu dengan mendesak orang lain untuk berbuat sesuatu. dan tidak literal) apabila disinggungkan (diinterseksikan) dapat dibedakan menjadi 8 macam seperti sebagai berikut. (ada maksud: jangan ribut atau tengoklah!) Berdasarkan keliteralannya. intonasi) informasi (apa. TT lokusi: Austin. 5. [Tuturan tidak langsung] A: Gulanya habis. (Menghasilkan efek tertentu pada pendengar. 1. perbuatan bertutur. Misalnya: [Tuturan langsung] A: Minta uang untuk membeli gula! B: Ini. dll. kapan. Tempat itu jauh. 4. TT tidak langsung keraskan radionya! 3. dan perintah biasa TT langsung (direct speech) TT langsung (direct speech) TT langsung (direct speech) Berdasarkan mudusnya. Pohon punya daun. tidak berlebihan. Hal ini disebut juga ‘nglulu’ Dalan bahasa kadang-kadang terjadi. Misalnya. yaitu kalimat berita (deklaratif). 2. kalimat Radione kurang banter. Adiknya sakit. TT ilokusi: Austin. Selanjutnya orang lain diharapkan menangkap apa (hal) yang dikemukakan. TT langsung literal betul-betul kurang keras 6. Perlokusi Dengan mengatakan X. sehingga orang lain bisa mengetahui maksudnya. menakutnakuti. suruhan (request) memiliki kekuatan esensial untuk membuat pendengar melakukan sesuatu. TT langsung Radione kurang banter. siapa. hal mengungkapkan sesuatu atau menyatakan sesuatu (locutionary speech act). Misalnya: 1. Syukur Ibrahim. Kaki manusia dua.” 3.bertanya (illocutionary speech act). nyah.

di dalam percakapan seharihari tidak jarang kita temukan praktik-praktik pelanggaran terhadap maksim-maksim Grice tersebut. Asumsi pragmatik ini merupakan titik acuan (point of reference). Ada 6 macam prinsip agar memenuhi prinsip kesopanan. 2. perlu mengingat kembali dari adanya kategori sintaktik yang terdiri dari berita.. d. Keempat prinsip tersebut di atas termasuk pada jenis ‘retorika tekstual’ sebab dalam pragmatik dikenal adanya retorika tekstual dan retorika interpersonal. 1993: 11. Retorika interpersonal membutuhkan prinsip kesopanan (politeness principle). tetapi apabila ada tuturan *Buku itu dibuat dari nasi. sedangkan dalam gramatika/ tatabahasa diatur oleh kaidah (rule governed). Grice menjabarkan prinsip kerja sama itu menjadi empat maksim percakapan (periksa Gunarwan. b. tidak terbalik (harus runtut). yaitu: 1. bagi pengamat pragmatik. jangan mengatakan sesuatu yang tidak perlu. ada maksud apa di balik pelanggaran maksim tersebut? Misalnya. b. Untuk memenuhi komunikasi secara wajar dan terjadi kerja sama yang baik. b. Misalnya: A : Kamu penjahat kelas kakap. mengapa P yang bermaksud meminjam uang atau memerlukan bantuan kepada MT biasanya diawali dengan menceritakan secara panjang lebar keadaan dirinya seraya disertai dengan janji-janji? Apakah itu berlaku secara universal? Bukankah tindakan tersebut melanggar maksim kuantitas? Pada hemat saya. Secara lebih rinci. 3. (1) Maksim kuantitas: a. tanya. Jadi tidak hanya bersifat tekstual. Bukti cukup memadai. Akan menjadi tidak relevan misalnya apabila B menjawab Ini baju kamu atau Di sana. Dalam pragmatik dikontrol oleh maksim (principle controlled). ya? B : Jangan menghina. Lubis. antara P dengan MT harus saling menjaga prinsip kerja sama (cooperative principle) agar proses komunikasi berjalan dengan lancar. 1996: 4653). Swear. (4) Maksim cara: a. Terdapat beberapa asumsi pragmatik. menawarkan. Katakan yang relevan. dan tidak ambigu. Berkatalah secara sistematis. baya. Sedangkan retorika interpersonal harus memperhitungkan orang lain. dan maksim cara. Yang diperhatikan adalah tuturan. Berikan informasi Anda secukupnya atau sejumlah yang diperlukan oleh MT. B : Benar. Dalam kategori pragmatik didasarkan pada fungsi komunikatifnya. 4. (2) Maksim kualitas: a. (3) Maksim relevansi: a. kalau informasi itu tidak relevan dengan permasalahan toh tidak akan membawa manfaat. e. sistematis. tuturan ekspresif. Jangan katakan sesuatu tanpa bukti yang cukup. c. Bicaralah secara singkat. Tanpa adanya prinsip kerja sama komunikasi akan terganggu. Bicaralah seperlunya saja. Prinsip kerja sama ini terealisasi dalam berbagai kaidah percakapan. maka dalam komunikasi harus memenuhi prinsip (maksim). sehingga kata-kata yang ambigu itu hanya satu makna. Retorika tekstual harus memenuhi 4 prinsip (maksim) kerja sama. mujair. c. Keempat maksim percakapan itu ialah sebagai berikut. misalnya Modal saja tidak bisa dan Untung saja tidak dapat. maksim ketiga atau maksim relevansilah yang paling penting sebab betapa pun informasi yang kita sampaikan itu cukup serta disampaikan dengan cara yang jelas. 1. 1993: 73. terdapat penyimpangan maksim. lalu murid menjawab …. tidak bertele-tele. Maksim kuantitas Berbicara sejumlah yang dibutuhkan oleh pendengar. Bicaralah sesuai dengan permasalahan. maksim relevansi. Ibu kota Provinsi Jawa Timur Sura …… Tuturan ini disampaikan oleh guru. justeru pelanggaran-pelanggaran itulah yang menarik untuk dikaji: mengapa P melakukan pelanggaran terhadap maksim tertentu. Hindari kekaburanan ujaran. bukti tidak memadai. tuturan asertif. Sebelum sampai pada prinsip kesopanan. Sejauh mana asumsi ini benar juga masih memerlukan pengkajian secara pragmatis. tuturan impositif (direktif). Katakanlah hal yang sebenarnya. A : Ini Tanah Abang. Misalnya: A : Ini jam berapa? B : Ini jam 3. Tetapi kadang-kadang dalam tuturan yang wajar terjadi dis-ambiguasi (pengawaambiguan). Tuturan komisif: berjanji. Misalnya: Ibu kota Provinsi Jawa Timur Surabaya. Hindari ketaksaan. masak saya miskin seperti ini punya tanah. di antara empat maksim itu. maksim kualitas. Dalam kaitannya dengan kategori pragmatik ini ada tuturan komisif. Maksim relevansi Penutur dan mitra tutur berbicara secara relevan berdasarkan konteks pembicaraan. dan perintah. Misalnya: Saya akan datang. (Secara kuantitas cukup jelas). 10 . Kenyataan membuktikan. dan bandingkan pula Wijana. Maksim cara Tuturan harus dikomunikasikan secara wajar. Misalnya: A : Dia penyanyi solo. Maksim kualitas Prinsip yang menghendaki orang-orang berbicara berdasarkan bukti-bukti yang memadai. Boleh saya bawakan? Saya akan setia. Misalnya: Buku itu dibuat dari kertas. yaitu maksim kuantitas. ya? B : Bukan. Dalam kaitannya dengan maksim kualitas. Jangan katakan sesuatu yang Anda tahu bahwa sesuatu itu tidak benar. Katakan dengan jelas. dia sering tampil di TVRI. b. Kalau lebih berarti ada tujuannya. tidak boleh ambigu (taksa).kikir : q2r berdua satu tujuan : ber-217-an tekate dhewe : TKTDW kutujukan : ku√49kan wawan : wa-one prawan ayu : pra one are you kian maju : q-an maju lali main : la5in dik daniel : dick&niel kaki lima : kq lima thank before : thx b4 aku : aq kamu : u Di dalam berkomunikasi. Akan tetapi.

Dasar kerja sama ini terdiri dari empat aturan percakapan. Pusatnya pada diri sendiri (self centred maxim). dan cara. • Implikatur percakapan mempersyaratkan pengetahuan terlebih dahulu akan arti konvensional dari kalimat yang dipakai. B : Wah elek banget ngono kok. atau susila/moral. apik banget. Levinson berpendapat bahwa pragmatik ialah kajian dari hubungan antara bahasa dan konteks 11 . Maksim kesetujuan atau kecocokan (agreement maxim). kualitas. berikut ini inti 6 prinsip kesopanan menurut Leech. Tuturan asertif: menyatakan sesuatu (objektif). Jenis maksim ini untuk berjanji dan menawarkan (impositif. Gadis itu cantik sekali. BAB VII Pragmatik dalam Pengajaran Bahasa Sebelum mengkaji lebih jauh. BAB VII IMPLIKATUR PERCAKAPAN Konsep yang paling penting dalam ilmu pragmatic yang paling menonjolkan pragmatic sebagai suatu cabang ilmu bahasa adalah implikatur percakapan. Ditujukan untuk menyatakan asertif dan ekspresif. nanging emane akeh sukete. (Ketidaksetujuan total / tidak sopan) A : Wah. Implikatur percakapan memilki cirri-ciri sebagai berikut: • Sesuatu implikatur percakapan dapat dibatalkan dalam hal tertentu. A : Mobilnya bagus! B : Ah. 1971) membedakan dua macam makna yang dia sebut natural meaning dan non-natural meaning. Misalnya: Bali terletak di sebelah timur Pulau Jawa. estetis. Maksim kerendahhatian (modesty maxim). Pekarangane jembar. hubungan. Apakah Anda bersedia membawakan? Bawakan ini! (tidak sopan) Mari saya antarkan! Tolong saya dihantarkan! 3. Saya akan datang (ada efek yang lain untuk memerintah) 3. B : Iya. Ditujukan pada orang lain (other centred maxim). Maksim kesimpatian (symphaty maxim). Konsep implikatur ialah bahwa hanya beberapa butir saja dasar-dasar implikatur dapat menerangkan berbagai macam fakta/gejala yang secara lahiriah kelihatan tidak atau berlawanan. = memaksimalkan keuntungan orang lain. = memaksimalkan kesetujuan pada orang lain dan meminimalkan ketidaksetujuan pada orang lain.2. Kadang-kadang sulit dibedakan antara tuturan asertif dengan ekspresif. ya. = memaksimalkan rasa hormat pada orang lain. Levinson(1983) melihat kegunaan konsep implikatur terdiri atas empat butir: Konsep implikatur memungkinkan penjelasan fungsional yang bermakna atas fakta-fakta kebahasaan yang tak terjangkau oleh teori linguistic. 1. (Ketidaksetujuan parsial / sopan) 6. Menurut Grice. juga dalam Steinberg & Jakobovits. Fakultas Sastra dan Seni Rupa UNS memiliki 8 jurusan. Misalnya: A : Omah kuwi apik. • Kebenaran dari isi sesuatu implikaturpercakapan bukanlah tergantung pada kebenaran akan yang dikatakan. Misalnya: A : Kau sangat pandai. = memaksimalkan kerugian diri sendiri. komisif). 5. Grice (1957. ning rada …. = memaksimalkan simpati pada orang lain dan meminimalkan antipati pada orang lain. memohon. Maksim kemurahhatian (generosity maxim). yaitu: kuantitas. B : Selamat. meminimalkan rasa tidak hormat pada orang lain. Selanjutnya agar memenuhi prinsip (maksim) kesopanan. 2. (kera). Jon. memerintah. meminimalkan keuntungan diri sendiri. Grice juga menyebutkan adanya aturan lain yang umumnya bersifat sosial. Maksim penerimaan ini ditujukan untuk menawarkan dan berjanji. biasa-biasa saja. begini saja kok bagus. = meminimalkan rasa hormat pada diri sendiri dan memaksimalkan rasa tidak hormat pada diri sendiri. akan dipaparkan suatu pengertian dari pragmatik yang dikutip dari salah satu ahli bahasa. bukan pada orang lain (self centred maxim). Pusatnya pada orang lain (other centred maxim). tact maxim. terdiri atas empat aturan percakapan yang mendasari kerja sama penggunaan bahasa yang efisien yang secara keseluruhan disebut dasar kerja sama. 4. Misalnya: A : Saya lolos di UMPTN. Misalnya: Apakah Anda bisa menolong saya. Konsep implikatur memberikan suatu penjelasan yang tegas/implicit tentang bagaimana mungkinnya apa yang diucapkannya secara lahiriah berbeda dari apa yang dimaksud dan bahwa pemakai bahasa itu mnegerti pesan yang dimaksud. Misalnya: Bolehkah saya bantu? Mari saya bantu. meminimalkan kerugian orang lain. Ditujukan pada diri sendiri. Pusatnya orang lain (other centred maxim). Maksim penerimaan (approbation maxim). B : Ah tidak. 4. Misalnya: Omahmu jane apik. B : Oh. saya turut berduka cita. • Biasanya tidak ada cara lain untuk mengatakan apa yang dikatakan dan masih mempertahankan implikatur yang bersangkutan. ning emane cedhak pabrik. Pusatnya orang lain (other centred maxim) Maksim ini ditujukan untuk kategori asertif dan ekspresif. A : Baru-baru ini dia telah meninggal. Tuturan impositif (direktif): menyuruh. A : Omah kuwi apik banget. Tuturan A dan B disebut pragmatik paradoks. walaupun klausa itu dihubungkan dengan kata struktur yang sama. Maksim kebijaksanaan/kedermawanan. Ditujukan untuk menyatakan pendapat dan ekspresif. Tuturan ekspresif: menyatakan perasaan (emosi). Misalnya: Ada yang bisa saya bantu? A : Mari saya bawakan! B : Tidak usah. ayu banget ya dheweke? B : Iya. Konsep implikatur ini kelihatannya dapat menyederhanakan pemerian semantic dari perbedaan hubungan antar klausa. Misalnya: Gedung itu indah sekali.

Dengan berpijak pada beberapa hal di atas. Dari pendapat tersebut komunikasi yang terjadi diorientasikan pada pencapaian kualitas yang bersifat pragmatis.17). Dengan demikian pragmatik sebagai ilmu merupakan cabang linguistik yang bidang kajiannya bukan bunyi dan bentuk bahasa. konteks. dan sebagainya). dari kurikulum sampai tataran praktis pembelajaran. melainkan fungsi bahasa. dengan norma atau kaidah komunikasi tertentu dan dengan ragam bahasa tertentu. dan genres). Filsafat pragmatisme adalah pemikiran tentang bagaimana manusia harus bertindak (Keraf. 1987). tujuan. Dalam hal ini. upacara. dan cara atau jalur tertentu. dan waktu tertentu. kebudayaan dan suasana). dalamkontek s apa (peserta lain. Konteks berisi unsur pembicara melakukan komunikasi kepada mitra bicara dalam situasi. di mana pada tataran praktis. dalam situasiap a (tempat dan waktu). Pembelajaran bahasa sudah semestinya mampu mengakomodasi kebutuhan berbahasa secara praktis sesuai dengan kondisi yang nyata. efektif. Dengan pola yang berdasar pada kajian pragmatik. Bambang Kaswanti Purwo (1990) membedakan bahan kajian menjadi dua : 1. dalampe risti wa apa (bercakap-cakap. teknologi dan atau budaya yang sedang dipelajarinya. dengan tujuan dan efek tertentu. Hymes (1972) diakronimkan SPEAKING (setting dan scene. denganjalur apa (lisan atau tulisan). 2006). ragam bahasa. sedangkan kajian makna secara pragmatis memusatkan perhatiannya pada kajian makna kalimat atau konteks. dan pelatihan sesuai situasi dan konteks. pendekatan komunikatif (lebih spesifik pragmatik) sangat membantu dalam mengarahkan proses pembelajaran bahasa yang dilakukan. materi (bahan). norms of interactions dan interpretation. norms. Dalam pragmatik. wacana-wacana yang berkaitan dengan proses komunikasi akan dikaji. Berangkat dari berbagai paparan di atas. Suyono mengemukakan tiga konsep dasar dalam penggunaan bahasa (studi pragmatik) yaitu tindak komunikatif. … Dengan bentuknya yang pragmatis diharapkan siswa dapat menggunakan bahasa sasaran sesuai konteks yang melatari kegiatan bahasa nyata (Nurhadi. dapat kita tarik suatu simpulan bahwa pembelajaran bahasa yang diorientasikan pada tataran praktis tindak komunikasi akan sangat diperlukan bagi peserta didik. pembuat kurikulum. ragam bahasa. purpose dan goal. Melihat dua pendapat tersebut sebenarnya tidak jauh berbeda. ceramah. instrumentalities. Pengajaran bahasa yang berorientasi pada kajian bahasa secara “struktural” jelas akan menimbulkan banyak kendala ketika tidak dikaitkan dengan penggunaan bahasa secara praktis di lapangan. tempat. terutama pada tataran pendidikan formal atau sekolah 1. Dari pendapat tersebut terlihat bahwa pragmatik merupakan salah satu bidang kajian bahasa yang melibatkan unsur-unsur di luar bahasa (konteks) di dalam pengkajiannya. tentang sesuatu (topik) yang tertentu. Menurut Maidar Arsyad. muncul berbagai faktor diluar bahasa yang turut memberi makna dalam proses komunikasi tersebut. untuk tujuan apa. atau program pembelajaran harus memikirkan bahan tentang berbagai ragam bahasa dan melatihkannya sesuai dengan situasi dan konteks pemakaiannya (1997 : 3. Kajian makna secara semantis memusatkan perhatiannya pada kajian makna kalimat (termasuk makna kata atau klausa) secara abstrak atau kalimat yang bebas-konteks. act sequences. surat. telepon. Dalam kegiatan berbahasa seseorang dituntut untuk mencapai kualitas yang bersifat pragmatis. Pengajaran itu difokuskan pada kemahiran menggunakan bahasa yang benar. Adapun Nababan mengemukakan beberapa faktor penentu dalam berkomunikasi: siapa yang berbahasa dengan siapa. sehingga pengguna (dalam hal ini siswa) dapat menggunakan bahasa sesuai dengan konteksnya. Suyono juga mengemukakan tiga konsep dasar dalam komunikasi. Pemikiran ini bersifat praktis. 1995 : 146). Seperti dikemukakan oleh Maidar Arsyad bahwa dalam pengajaran berbahasa. Jadi akan sangat berterima jika suatu pembelajaran bahasa harus berdasar pada kondisi praktis. Filsafat yang memiliki nilai praktis ini mempengaruhi pemikiran tentang bahasa pula. proses pembelajaran bahasa yang diterima oleh siswa secara otomatis akan mengacu pada suatu kondisi praktis tindak komunikasi. Kondisi praktis tindak komunikasi menjadi pijakan utama dalam pengkajian pragmatik. Dari pendapat tersebut terlihat jelas bahwa orientasi pengkajian pragmatik adalah pada suatu komunikasi praktis. Tiga hal tersebut memang sangat penting ketika suatu pembelajaran bahasa sudah berorientasi pada penggunaan bahasa pada tataran praktis. jelas. jelaslah bahwa pragmatik akan sangat membantu dalam pengajaran bahasa (khususnya di sekolah). tone or spirit of act. situasi.yang mendasari penjelasan pengertian bahasa (Nababan. Ada tiga hal penting dari pendapat tersebut yaitu program belajar. Eny (2004). Dalam hal ini. dan menciptakan suatu situasi dan konteks yang sesuai jelas tidak dapat dihindarkan ketika target akhir dari pembelajaran bahasa adalah“siswa mampu berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku. participans. Kalimat dalam konteks inilah yang disebut tuturan atau ujaran. pengkajian bahasa didasarkan pada penggunaan bahasa bukan pada struktural semata. dan sesuai dengan fungsi bahasa sebagai alat komunikasi.17). Orientasi pembelajaran yang seperti ini juga akan menuntut penyesuaian pada berbagai aspek pembelajaran. bukan pula makna bahasa. Bahan kajian linguistik 12 . peristiwa komunikatif dan situasi komunikatif (1990 : 18). 1987 : 3).media apa (tatap muka. jalur. Eny mencoba melibatkan dimensi kultural karena berkaitan dengan aspek-aspek kehidupan yang lain. Ada juga pendapat lain yang lebih jauh merambah aspek lain di luar bahasa. Pragmatik Sebagai Cabang Ilmu Bahasa Menurut sejarahnya pragmatik dari kata Yunani pragma yang berarti tindakna sebagia ilmu pertama-tama muncul di dalam dunia filsafat. baik secara lisan maupun tulis” (BSNP. media. atau berkaitan dengan pengalaman hidup manusia sehari-hari. Dari pendapat tersebut. Senada dengan Nababan. berpendapat: Pengajaran bahasa Indonesia seharusnya berdasarkan pada dimensi kultural karena dalam pembelajaran itu diungkapkan gagasan mengenai masalah yang berkaitan dengan ilmu. Dari program. Memang suatu bahasa pada akhirnya akan bersinggungan dengan berbagai aspek yang lain ketika manusia dalam menuangkan gagasan apapun akan menggunakan suatu bahasa. keys. Konteks-konteks yang melingkupi suatu bahasa akan mendapat perhatian yang besar dalam kaitannya dengan makna yang muncul dari suatu penggunaan bahasa. hanya saja Suyono lebih meringkas lagi faktor-faktor penentu tersebut dalam tiga konsep dasar. pragmatik membaca pengkajian bahasa lebih jauh ke dalam keterampilan menggunakan bahasa untuk berkomunikasi praktis dalam segala situasi yang mendasari interaksi kebahasaan antara manusia sebagai anggota masyarakat (1997 : 3. ends. dan sebagainya) (1987 : 70) Dari pendapat tersebut didapat beberapa faktor yang mungkin sekali mempengaruhi proses tindak komunikasi yaitu pelaku. laporan. dan peristiwa.

dan maksim cara menyarankan untuk mengatakan secara jelas. Bahasa mempunyai bentuk-bentuk yang sesuai konteks dan keadaan. bukan kumpulan komponen-komponen. menyuruh. horisontal dan vertikal. Keempat factor itu adalah. Pendekatan dalam pengajaran bahasa mengacu pada asumsi atau aksioma tentang apa itu bahasa dan apa atau bagaimana belajar bahasa diyakini berlangsung. Bahan pengajaran pragmatik di dalam kurikulum 1984 mencoba menjabarkan semuanya itu ke dalam enam aspek bahan pengajaran : sosial. Kedua. melainkan bersamaan dengan pengucapan itu ia melakukan (menindakkan) sesuatu. kesederhanaan. yang membuat orang sanggup membuat bentuk-bentuk bahasa menurut pola-pola yang dilatihkan tetapi belum tentu dapat menggunakannya. 1984. di dalam pengajaran dengan pendekatan pragmatik tujuan pengajaran yang harus dicapai adalah dimilikinya kemampuan komunikatif (use of linguistic elements). Maksim kebijaksanaan menyarankan untuk tidak merugikan mitra bicara. maka tekanan penyajian perlu diprioritaskan pada kadar keseringan kemunculan satuan-satuan lingual di dalam suatu konteks diisyaratkan bahwa penekanan penyajian pada urutan-urutan satuan lingual berdasarkan temuan linguistik menjadi kurang penting. karena di dalam konteks komunikasi yang riil satuan-satuan lingual itu tidak tersaji secara sistematis. Prinsip kesopanan berisi enam aturan (maksim) kebijaksanaan. Aspek sosial berkaitan dengan aturan hubungan antar sesama. pemecahan masalah dna informatif. Nababan (1987) membedakan adanya tiga macam tindak bahasa : lokusi. deiksis waktu. Satu gagasan yang timbul adalah yang disebut pendekatan kognitif yang menekankan keterampilan mengerti dan menggunakan aturan-aturan pembentukan kalimat-kalimat yang bermakna. relevansi.2. praanggapan atau praduga (presupposition) 3. bukan dibuat-buat. Merupakan alat yang dipergunakan oleh manusia untuk melangsungkan hidupnya bersama dengan orang lain. bandingkan dengan Purwo 91984) membedakan adanya lima jenis deiksis. Pada permulaan dasawarsa 10970-an berkembang suatu pemikiran yang timbul dari kurang puasnya orang dengan hasil pengajaran bahasa secara structural. kepribadian. infomasi faktual. kita memakai istilah pragmatic secra lebih luas lagi untuk “aturan pemakaian bahasanya sehubungan dengan maksud pembicara sesuai dengan konteks dan keadaan”. Aspek penyelesaian masalah berkaitan dengan aspek internal dan eksternal manusia. Ada empat macam variasi bahasa bergantung pada factor yang berhubungan atau sejalan dengan ragam itu. Bahan pengajaran bahasa Sebagai bahan kajian linguistik pragmatik mengkaji : 1. 3. budi yang bersifat diskursif : bersifat objektif. deiksis orang. implikatur percakapan (convensational implicature) (1990 : 17) Bahan kajian (1) mengacu bahan kajian yang berupa kata-kata yang rujukannya atua referennya berpindahpindah (Purwo. 1963). masingmasing instrumental. Factor geografis 2. maksim kesederhanaan menyarankan untuk mengurangi cacian kepada mitra bicara. Krashen (1977) di dalam penelitiannya tentang perilaku anak yang belajar bahasa pertama menemukan bahwa bahan bahasa yang berupa intake (necessary input) adalha bahan yang paling efektif dan bahan itu diperoleh di dalam lingkungannya yang informal. Prinsip kerjasama berisi empat aturan (maksim) yang menyangkut aspek kuantitas. Aspek emosional merupakan aspek psikis yang berkaitan dengan perasaan atau kepekaan intuitif. 2. Maksim kuantitas menyarankan untuk hanya menggunakan sejumlah kata secukupnya. kedermawanan. dan cara. norma masyarakat baik yang bersifat yuridis formal maupun yang bersifat konvensional. moral dan penyelesaian masalah. intelektual. Aspek moral ada hubungannya dengan unsur internal. Ciri-ciri Pendekatan Pragmatik Pandangan pragmatik tentang bahasa mengacu pada pnegertian bahwa bahasa : 1. Bahan kajian (3) menkaji suatu kenyataan berbahasa bahwa pada waktu setiap penutur mengatakan suatu kalimat. maksim kedermawanan menyarankan untuk tidak mengorbankan mitra bicara. ilokusi dan perlokusi. deiksis tempat. pengajaran yang berupa satuan-satuan lingual itu harus disajikan di dalam suatu konteks komunikasi yang riil. sebenarnya ia tidak hanya mengucapkan. Dalam kaitan dengan konsep implikatur ini Grice 91957) membuat teori tentang bagaimana orang menggunakan bahasa supaya terajdi suatu komunikasi yang baik. penghargaan. Pragmatik sebagai Bahan Pengajaran Bahasa Dengan mengambil pembagian Haliday (1973). Aspek intelektual adalah aspek psikis manusia yang berkaitan dengan pikiran. maksim permufakatan menyarankan untuk mengurangi ketidaksesuaian dengan mitra baca. Bentuk-bentuk yang berbeda itu disebut ragam bahasa. Merupakan suatu totalitas. Dikatakan bahwa di dalam menggunakan bahasa seseorang harus mengindahkan prinsip kerja sama (cooperative principles) dan prinsip kesopanan (politeness principles). permufakatan dan simpati. 2. Implikasi Pendekatan Pragmatik dalam Pengajaran Bahasa Pertama. maksim kualitas menyarankan untuk hanya mengatakan yang sebenarnya. dan maksim simpati menyarankan untuk mengurangi antipati kepada mitra bicara. deiksis 2. kualitas. deiksis wacana dan deiksis sosial. khayalan. 1. tindak ujaran atau tindak tutur (speech acts) 4. Dalam pembicaraan di atas. BAB VIII PENDEKATAN PRAGMATIK DALAM PENGAJARAN BAHASA Analisis keadaan pengajaran bahasa Indonesia menunjukkan adanya kesenjangan antara tujuan pengajaran dan bahan pengajaran. Pragmatik Sebagai Suatu Pendekatan Pengajaran Bahasa Konsep pendekatan adalah konsep yang berisi asumsiasumsi atau aksioma-aksioma tentang sesuatu (Antony. interaksi. 1986) menyebutkan adanya tujuh fungsi bahasa bagi perseorangan. ialah “keterampilan berbahasa Indonesia”. maksim relevansi menyarankan untuk hanya mengatakan yang relevan. bukan subjektif memahami sesuatu dengan cara mengambil jarak. Factor-faktor kemasyrakatan 13 . emosional. Ketiga. Aspek informasi formla berkaitan dengan hubungan antar sesamanya. Bahan kajian (2) mengkaji konsep dugaan atau anggapan sebelumnya yang ada pada benak penutur pada waktu berbicara. 1990). khususnya yang horisontal. maksim penghargaan menyarankan untuk memberikan pujian kepada mitra bicara. Nababan (lihat juga tarigan. Nababan (1987. Tujuan pengajaran dalam kurikulum 1975.

Fungsi imajinatif. menyampaikan selamat. Nababan (1987 : 13) yang mendasarkan diri dari pandangan Martin Joos mengenai ragam fungsiolek. memperkenalkan diri. 4. ragam beku 2. harapan. tak senang. Fungsi representasional 4. Fungsi argumentatif. mengoreksi). mengoreksi). 2. artinya materi pembelajaran yang melibatkan konteks dan situasi dalam pengembangannya dan penyajiannya. Fungsi interaksional 5. Fungsi bahasa untuk menyatakan bersosialiasi Dalam kaitannya dengan fungsi-fungsi bahasa tadi. Ilmu yang mempelajari hubungan bahasa dengan factor-faktor penentu itu disebut ilmu pragmatic. Menurut Nababan (1987 : 2) yang dimaksud dengan Pragmatik ialah aturan-aturan pemakaian bahasa. melaporkan. dan non-formal. berbicara. Fungsi bahasa untuk menyatakan perintah f. 6. sekitar 27 juta penduduk Indonesia belum memahami bahasa Indonesia (Kompas. 5. menanyakan. yang dimaksud dengan pragmatik adalah suatu kajian bahasa yang berusaha menemukan makna-makna ujaran yang disesuaikan dengan situasi. membagi fungsi Bahasa Indonesia berdasarkan gaya bahasa (style) menjadi : 1. Fungsi informatif 3. 30 Maret 1995). Menurutnya dikatakan bahwa isyarat-isyarat bahasa. menyanggah dan sebagainya). kepuasan dan sebagainya. struktur. uraian selanjutnya lebih dititikberatkan pada GBPP tersebut. ternyata buku-buku yang berlandaskan pada GBPP Kurikulum 1994 lebih bersifat atau sesuai dengan pendekatan prgamatik komunikatif 14 . Untuk menyatakan informasi faktual (mengidentifikasi. 1983 : 49) mengelompokkan fungsi bahasa menjadi : 1. Tujuan pembelajaran dapat ditentukan dengan berbagai cara/factor. BAB IX PRAGMATIK DAN ASPEK-ASPEKNYA DALAM PENGAJARAN BAHASA INDONESIA Ketrampilan Bahasa Indonesia yang masih rendah atau belum sesuai dengan yang diharapkan memang sering dijumpai. Menurut Leech (1983). ragam santai 5. Menyatakan perintah (mengajak. menyatakan penyesalan. penghargaan dan sebagainya). baik dengan melihat secara sepintas maupun melalui penelitian-penelitian. Aspek menyelenggarakan sesuatu atau aspek perintah Ditinjau dari penyajian aspek-aspek pragmatik yang terdapat di dalamnya. dalam pengkajiannya dapat dibedakan menjadi tiga macam. ragam resmi 3. dinyatakan bahwa aspek-aspek pragmatik digunakan untuk bermacammacam fungsi sesuai dengan apa yang ingin disampaikan oleh penutur. Fungsi instrumental 2. yaitu jalur formal. melaporkan. yaitu diantaranya seperti di bawah ini : a. Fungsi bahasa untuk menyatakan sikap moral e. dan pragmatic. Adanya kondisi seperti tersebut di atas tidak lain dan tidak bukan disebabkan oleh kekurangberhasilan pengajaran Bahasa Indonesia. 1987 : 3). 3. sintaktik 2. Popper (dalam Leech. Sedangkan menurut International Pragmatics Association (IPRA) yang dimaksud dengan pragmatik ialah penyelidikan bahasa yang menyangkut seluk belum penggunaan bahasa dan fungsinya (dalam Soemarmo. Fungsi regulais 3. mengundang. Mendikbud Wardiman Djoyonegoro mengatakan bahwa kemampuan atau budaya baca bangsa Indonesia masih rendah (Kompas. Fungsi bahasa untuk menyatakan sikap emosional d. Diperlukan juga bahan-bahan pengajaran yang berorientasi keterampilan pragmatic. menulis/mengarang. meminta perhatian dan sebagainya). Aspek sosialisasi 2. yaitu: kemauan dan pemikiran yang mempunyai sekolah. hasil suatu analisi kebutuhan. Pendekatan pragmatic yang diterapkan dalam pengajaran bahasa asin bergantung pada tujuan pembelajaran yang mencakup keterampilan menggunakan bahasa asing itu. 2. menanyakan. memperingatkan dan sebagainya). keinginan pelajar. Fungsi bahasa untuk menyatakna informasi faktual b. Untuk bersosialisasi (menyapa. baik pada Kurikulum 1984 maupun pada Kurikulum 1994. ragam akrab Pengajaran Aspek-aspek Pragmatik Bahasa Indonesia Aspek-aspek pragmatik diantaranya sebagai berikut : 1. 1. Keterampilan pragmatic dipelajari melalui dua jalur. Fungsi bahasa untuk menyatakan sikap intelektual c. yaitu : 1. bentuk bahasa yang dipakai selalu dikaitkan dengan factor-faktor penentu di atas. Menyatakan sikap moral (meminta maaf. ragam usaha 4. tulisan dan/atau lisan. Oleh karena dewasa ini yang digunakan GBPP Bahasa dan Sastra Indonesia Kurikulum 1994. semantik 3. yaitu pemilihan bentuk bahasa dan penentuan maknanya sehubungan dengan maksud pembicara sesuai dengan konteks dan keadaanya. Fungsi heuristik 7. Dalam pendekatan ini. dan kosa kata. sedangkan kegiatan berbahasa meliputi membaca. Factor-faktor waktu Orientasi belajar mengajar bahasa berdasarkan tugas dan fungsi berkomunikasi ini disebut pendekatan komunikatif. Fungsi ekspresif 2. Aspek intelektual 3. Pendekatan Pragmatik atau Komunikatif? Menurut Morris dalam Gazdar 91979 : 85) bahwa pragmatik merupakan salah satu bagian dari telaah isyarat-isyarat atau tanda-tanda bahasa. Fungsi deskriptif 4. 30 mei 1995). Tujuan pembelajaran ditentukan oleh sekolah. Fungsi personal 6. pragmatik.unsurunsur bahasa meliputi lafal/ejaan.dalam belajar bahasa asing. Hakikat Aspek-aspek Pragmatik Bahasa Indonesia GBPP Bahasa dan Sastra Indonesia. Halliday (1973) membaginya menjadi : 1. GBPP Kurikulum 1994 : 19). Menyatakan sikap emosional (senang. 1. keterampilan pragmatic ini dapat dipelajari hanya melalui cara formal oleh karena para pelajar tidak mempunyai kesempatan untuk memperolehnya secara informal. Factor-faktor situasi berbahasa 4. Menyatakan sikap intelektual (menyatakan setuju atau tidak setuju. Mendikbud mengatakan pula bahwa berdasarkan hasil sensus Badan Pusat Statistik.3. yang meliputi :Untuk menyatakan informasi faktual (mengidentifikasi. dan lain-lain.

15 .dibandingkan dengan buku-buku yang disusun berdasarkan GBPP Kurikulum 1994.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful