Makalah Hukum Perdata ( Hak atas Tanah

)
PEMBAHASAN

Kitab Undang-undang Hukum Perdata memberikan kedudukan yang sangat penting bagi tanah dan benda-benda yang melekat pada tanah. Sebagaimana tercantum dalam rumusan Pasal 520 Kitab Undang-undang Hukum Perdata yang menyatakan bahwa : ³Pekarangan dan kebendaan tak bergerak lainnya yang tidak terpelihara dan tiada pemiliknya, sepertipun kebendaan mereka yang meninggal dunia tanpa ahli waris atau yang warisannya telah ditinggalkan, adalah milik negara´. Dapat diketahui bahwa tanah memiliki sifat yang khusus bagi negara. Dari rumusan tesebut, jelas bahwa pada prinsipnya semua tanah harus ada pemiliknya. Selanjutnya mengenai Pasal 519 KUHPerdt yang menyatakan bahwa: ³Ada kebendaan yang bukan milik siapa pun juga; kebendaan lainnya adalah milik negara, milik badan kesatuan atau milik seseorang´. Hal tersebut dapat memberikan keterangan bahwa khusus untuk pekarangan dan benda tidak bergerak, selain yang dimiliki oleh orang perorangan secara bebas, baik dalam kepemilikannya sendiri secara individu, maupun dalam bentuk milik bersama yang bebas, dan milik suatu badan kesatuan, yang dalam hal ini tewujud dalam bentuk milik bersama yang terikat, maka seluruh pekarangan (tanah) dan benda-benda tidak bergerak lainnya yang ada di Indonesia (Hindia Belanda ) waktu itu adalah milik negara, yang pada waktu itu diwakili oleh Pemerintah Hindia Belanda. Benda yang bebas (res nullius) hanya diakui dan ada untuk benda-benda bergerak saja. Namun mengenai berlakunya ketentuan-ketentuan mengenai kebendaan pada umumnya dalam buku II KUHPerdt, telah dinyatakan tidak berlaku dengan telah diundangkan dan diberlakukannya Undang-undang Pokok Agraria No. 5 tahun 1960. Sebagaimana telah dicantumkan pada UUPA yang mutuskan dengan mencabut: 1. ³Agrarische Wet´(Staatblad 1870 No. 55), sebagai yang termuat dalam pasal 51 ³Wet op de Staatsinrichting van Nederlands Indie´(Staatblad 1925 No. 447) dan ketentuan dalam ayatayat lainnya dari pasal itu. 2. a. ³Domeinverklaring´tersebut dalam pasal 1 ³Agrarische Besluit´(Staatblad 1870 No. 118); b. ³algemene Domeinverklaring´tersebut dalam Staatblad 1875 No. 119A; c. ³Domeinverklaring untuk Sumatera´tersebut dalam pasal 1 dari Staatblad 1874 No. 94f; d. ³Domeinverklaring untuk keresidenan Manado´tersebut dalam pasal 1 dari Staatblad 1877 No. 55; e. ³Domeinverklaring untuk residentie Zuider en Oosterafdeling van Borneo´ tersebut dalam pasal 1 dari Staatblad 1888 No. 58; 3. Koninklijk Besluit tanggal 16 April 1872 No. 29 (Staatblad 1872 No. 117 ) dan peratura n pelaksanaannya; 4. Buku ke II Kitab Undang-undang Hukum Perdata Indonesia sepanjang yang mengani bumi, air serta kekayaan alam yang terkadung di dalamnya, kecuali ketentuan-ketentuan mengenai hypotheek yang masih berlaku pada mulai berlakunya Undang-undang ini; Dengan demikian dapat diketahui bahwa Undang-undang Pokok Agraria mencabut seluruh ketentuan mengenai hukum agraria, yang dalam hal ini meliputi bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalam bumi yang berlaku dan dikeluarkan selama masa penjajahan Hindia Belanda. Bahkan dengan diundangkannya dan diberlakukannya UU No.4 tahun 1996 tentang Hak Tanggungan atas Tanah beserta benda-benda yang berkaitan dengan tanah, praktis ketentuan mengenai hipotek yang diatur dalam buku II KUHPertd, sepanjang mengenai tanah dan benda-benda yang berkaitan dengan tanah menjadi tidak berlaku lagi. Namun, masih tampak jelas bahwa dalam hal ini, UUPA tidak secara detail menyatakan

Pasal 737 sampai Pasal 755 KUHPerdt. Pasal-pasal tentang hak Opstal. pasal 625 sampai Pasal 672 Kitab Undang-undang Hukum Perdata. Dengan demikian berarti. Pengertian Salah satu hak atas tanah yang diatur dalam Undang-undang Pokok Agraria adalah Hak Guna Usaha. Sri Soedewi Masjchoen Sofwan dalam hukum Perdata: Hukum Benda menyatakan bahwa Pasal-pasal yang tidak berlaku lagi ialah : Pasal ± pasal tentang benda tidak bergerak yang melulu berhubungan dengan hak-hak mengenai tanah. Pasal-pasal tentang pengabdian pekarangan (erfdienstbaarheid). dan dengan berlakunya Undang-undang Hak Tanggungan maka menjadi tidak berlaku lagi ketentuan mengenai: Hipotik sepanjang mengenai tanah dan benda-benda yang berkaitan dengan tanah Dari pembahasan yang telah dipaparkan tersebut. pasal 711 sampai Pasal 719 KUHPerdt. Pasal 674 sampai Pasal 710 KUHPerdt. Pasal-pasal mengenai penyerahan benda-benda tidak bergerak. bertetanggaan Kerja Rodi Hak Pengabdian pekarangan Hak Orpstal Erfpacht Bunga Tanah dan Bunga Sepersepuluh Hak Pakai sepanjang mengenai tanah dan benda ±benda yang berkaitan dengan tanah Hak mendiami Perlekatan sebagai salah satu cara untuk memperoleh hak milik. berlakunya Undang-undang Pokok Agraria megakibatkan atau menyebabkan tidak berlaku lagi ketentuan mengenai: Benda tidak bergerak sepanjang mengenai tanah dan benda-benda yang berkaitan dengan tanah kedudukan berkuasa atas tanah Hak milik atas tanah Hak milik pekarangan yang berdampingan. tak pernah berlaku. Dalam hal ini. Pasal-pasal tentang bunga tanah dan hasil sepersepuluh. Pasal-pasal tentang Kerja Rodi. Maka beberapa ahli hukum menganggap perlunya untuk mengelompokkan secara rinci mengenai pasal-pasal mana saja yang masih berlaku penuh. yang sudah tidak berlaku dan pasal-pasal yang masih berlaku tapi tidak penuh. Pasal-pasal tentang hak erfpacht. sepanjang mengenai tanah dan benda-benda yang berkaitan dengan tanah. Pasal-pasal tentang cara memperoleh hak milik melulu mengenai tanah.ketentuan mana saja dari buku II KUHPerdt yang telah dihapuskan dengan berlakunya Undang-undang Pokok Agraria tersebut. yang pengertiannya dijabarkan dalam pasal 28 Undang-undang Pokok Agraria yang . Pasal 673 Kitab Undang-undang Hukum Perdata. Pasal-pasal tentang hak dan kewajiban pemilik pekarangan bertetangga. Hak guna Usaha menjadi kajian khusus dalam makalah ini yang kiranya perlu untuk dibuat suatu perbandingan antara Hak Usaha dalam KUHPerdt dengan Hak Guna Usaha dalam UUPA 1960. sepanjang mengenai tanah dan benda-benda yang berkaitan dengan tanah Penyerahan sebagai salah satu cara untuk memperoleh hak milik sepanjang mengenai tanah dan benda-benda yang berkaitan dengan tanah Daluwarsa untuk memperoleh hak milik. pasal 720 sampai Pasal 736 KUHPerdt.

Mengenai badan hukum Indonesia ini. tidak disebutkan secara khusus mengenai syarat untuk menjadi pemegang hak guna usaha sebagaimana pada pasal 720 KUHPerdt yang menyebutkan bahwa Si pengusaha dapat menikmati segala hak yang terkandung dalam tanah yang diusahakannya. baik berupa uang. Dari definisi atau pengertian yang diberikan tersebut di atas. dalam jangka waktu sebagaimana tersebut dalam Pasal 29.berbunyi. subyek hukum yang tidak berkedudukan di Indonesiapun dapat mengusahakan tanah yang ada di Indonesia. Dari definisi kedua tersebut. baik berupa hasil atau pendapatan. dan pasal 31 berbunyi ³Hak Guna Usaha terjadi karena penetapan pemerintah.Ketentuan ini berlaku juga terhadap pihak yang memperoleh Hak Guna Usaha. jika ia tidak memenuhi syarat tersebut. sebab dalam buku II KUHPerdt tidak dimuat ketentuan mengenai syarat ± syarat sebagai pemegang hak guna usaha di Indonesia. Dalam hal Hak Guna Usaha. guna perusahaan pertanian. ³(1) Hak Guna Usaha adalah hak untuk mengusahakan tanah yang dikuasai langsung oleh Negara. tidak ada pembatasan ruang tertentu yaitu digunakan dalam bidang apa saja yang diberikan untuk si pengusaha dalam mengusahakan tanah. dengan ketentuan bahwa jika luasnya 25 hektar atau lebih harus memakai investasi modal yang layak dan teknik perusahaan yang baik.(2) Hak Guna Usaha diberikan atas tanah yang luasnya paling sedikit 5 hektar. (2) Orang atau badan hukum yang mempunyai Hak Guna Usaha dan tidak lagi memenuhi syarat-syarat sebagai yang tersebut dalam ayat 1 pasal ini dalam jangka waktu satu tahun wajib melepaskan atau mengalihkan hak itu kepada pihak lain yang memenuhi syarat. dapat diketahui bahwa yang dinamakan dengan Hak Guna Usaha adalah hak yang diberikan oleh nega kepada ra perusahaan pertanian. ³Hak Usaha adalah suatu hak kebendaan untuk menikmati sepenuhnya akan kegunaan suatu barang tak bergerak milik orang lain. Dari rumusan pasal 30 UUPA tersebut dapat diketahui bahwa undang-undang memperluas subyek hukum yang dapat menjadi pemegang hak atas tanah.(3) Hak Guna Usaha dapat beralih dan dialihkan kepada pihak lain´. Pihak yang dapat menjadi pemegang Hak Guna Usaha Pada pasal 30 dan pasal 31 UUPA mengatur mengenai pihak yang dapat menjadi pemegang HGU yaitu pasal 30 yang berbunyi ³(1) Yang dapat mempunyai Hak Guna Usaha ialah : a. dengan kewajiban akan membayar upeti tahunan kepada si pemilik sebagai pengakuan akan kemilikannya. dan tanah yang dimaksud juga bukanlah tanah yang dikuasai oleh negara melainkan tanah milik orang perorangan. perlu diperhatikan bahwa untuk menjadi badan hukum Indonesia menurut pasal 30 UUPA harus memenuhi kedua syarat tersebut. Jangka Waktu Hak Guna Usaha Jangka waktu pembegrian Hak Guna Usaha dapat ditemukan dalam ketentuan pasal 29 . Jadi. pada saat belum berlakunya UUPA 1960. perikanan atau peternakan. perikanan atau perusahaan peternakan untuk melakukan kagiatan usahanya di Indonesia. Badan hukum yang didirikan menurut hukum Indonesia dan berkedudukan di Indonesia. sesuai dengan perkembangan zaman. b. badan hukum yang didirikan menurut ketentuan hukum negara Republik Indonesia dan berkedudukan di Indonesia juga dimungkinkan untuk menjadi pemegang Hak Guna Usaha. Warga negara Indonesia. Sedangkan dalam pasal 720 KUHPerdt yang berbunyi. menurut ketentuan-ketentuan yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah´. Sedangkan dalam KUHPerdt. Jika Hak Guna Usaha yang bersangkutan tidak dilepaskan atau dialihkan dalam jangka waktu tersebut maka hak itu hapus karena hukum. dengan ketentuan bahwa hak-hak pihak lain akan diindahkan. selain orang perorangan warga negara Indonesia tunggal. Perbuatan perdata yang melahirkannya harus diumumkan dengan cara seperti ditentukan dalam pasal 620´. serta tidak ada pembatasan hak guna usaha atas pemberian luas tanah.

Hapusnya Hak Guna Usaha Mengenai hapusnya Hak Guna Usaha diatur dalam ketentuan Pasal 34 UUPA yang menyatakan ³Hak Guna Usaha hapus karena : a. Hak Guna Usaha juga harus didaftarkan. c. agar penyimpanan mencatat di dalamnya. keperl an lalu u lintas sosial ekonomis serta kemungkinan penyelenggaraannya menurut pertimbangan Menteri Agraria. ³(1) Hak Guna Usaha diberikan untuk waktu paling lama 25 tahun. Sedangkan pada ketentuan ± ketentuan yang ada pada buku II KUHPerdt tidak ada ketentuan yang membatasi pengusahaan atas tanah milik subyek lain. Dicabut untuk kepentingan umum. pengukuran. Jangka waktunya berakhir. pihak yang berkepentingan harus menyampaikan juga kepada penyimpanan hipotik. Bersama ± sama dengan pemindahan tersebut di atas. (3) Atas permintaan pemegang hak dan mengingat keadaan perusahaannya jangka waktu yang dimaksud dalam ayat (1) dan (2) pasal ini dapat diperpanjang dengan waktu yang paling lama 25 tahun´. Sehingga dalam pengusahaannya dapat berjalan lama sesuai perjanjian awal dengan si pemilik tanah. sebuah salinan otentik yang kedua atau sebuah petikan otentik dari akta atau keputusan itu. Tanahnya musnah. yang mana dalam lingkungannya barangbarang tak bergerak yang harus diserahkan itu berada. Dilepaskan oleh pemegang haknya sebelum jangka waktunya berakhir. dengan ketentuan bahwa Hak Guna Usaha tesebut. hari pemindahan beserta bagian dan nomor dari register yang bersangkutan´. Dari bunyi pasal 29 UUPA tersebut dapat dipahami bahwa Hak Guna Usaha diberikan untuk jangka waktu antara 25 tahun hingga 35 tahun. yang mana mengenai biaya-biaya pendaftarannya diatur dalam peraturan pemerintah. Sama halnya dengan ketentuan dalam KUH Perdata tentang Hak Usaha yai u t sebagiamana dicantumkan pada pasal 720 KUHPerdt yang menyatakan bahwa perbuatan perdata yang melahirkan suatu hak usaha harus diumumkan dengan cara seperti ditentukan dalam pasal 620. d. Sedangkan . kecuali dalam hal itu hapus karena jangka waktunya berakhir´. termasuk syarat-syarat pemberiannya. Mengenai pendaftaran tesebut dalam pasal 19 UUPA adalah harus melakukan beberapa hal yang meliputi. harus didaftarkan menurut ketentuan-ketentuan yang dimaksud dalam pasal 19. f. pengumuman termaksud di atas dilakukan dengan memindahkan sebuah salinan otentik yang lengkap dari akta otentik atau keputusan yang bersangkutan ke kantor penyimpanan hipotik. biasanya sampai 75 tahun masa hak usahanya. e. dan dengan membukukannya dalam register. Pasal 620 KUHPerdt berbunyi ³Dengan mengindahkan ketentuan ± ketentuan termuat dalam tiga pasal yang lain. Ketentuan dalam pasal 30 ayat (2)´. g.UUPA yang berbunyi. setelah berakhirnya jangka waktu 25 tahun hingga 35 tahun tersebut. Ditelantarkan. Dari isi pasal 620 KUHPerdt tersebut bila dibandingkan dengan UUPA yang berlaku saat ini pebedaan terletak pada langkah-langkah yang ditempuh dalam melakukan pendaftaran. Pemberian dan Pendaftaran Hak Guna Usaha Sebagaimana hak ± hak atas tanah lainnya. yang berlaku sebagai alat pembuktian yang kuat Hal tersebut bertujuan untuk menjamin kepastian hukum oleh pemerintah dan pendaftaran tanah itu diselenggarakan dengan mengingat keadaan Negara dan masyarakat. (2) Pendaftaran termaksud dalam ayat (1) merupakan alat pembuktian yang kuat mengenai peralihan serta hapusnya Hak Guna Usaha. b. untuk itu ketentuan Pasal 32 Undang-undang Pokok Agraria menyatakan ³(1) Hak Guna Usaha. demikian juga setiap peralihan dan penghapusan hak tersebut. Dihentikan sebelum jangka waktunya berakhir karena sesuatu syarat tidak dipenuhi. perpetakan dan pembukuan tanah pendaftaran hak-hak atas tanah dan peralihan hak-hak tersebut pemberian surat-surat tanda bukti hak. (2) Untuk perusahaan yang memerlukan waktu yang lebih lama dapat diberikan Hak Guna Usaha untuk waktu paling lama 35 tahun. masih dapat diperpanjang untuk masa 25 tahun berikutnya.

Sebab dalam KUHPerdt tidak dimuat ketentuan mengenai hapusnya hak guna usaha yang dikarenakan tidak memenuhi syarat sebagai subyek hak guna usaha di Indonesia sebagaimana tertuang dalam pasal 30 ayat (2) UUPA 1960.Dalam pemberian hak usaha atas tanah pada KUH Perdata tidak di berikan batasan dalam pengusahaan atas tanah tersebut. hak guna usaha merupakan hak untuk mengusahakan tanah yang dikuasai langsung oleh negara sedangkan dalam buku II KUH Perdata tanah yang dimaksud tersebut merupakan tanah yang dikuasai oleh orang perorangan. Dan dapat dikatakan bahwa perbedaan tersebut telah memberikan suatu kejelasan mengani tidak berlakunya lagi buku II KUH Perdata sepanjang mengani bumi. air dan kekayaan alam yang tekandung didalamnya yang kemudian telah diganti dengan Undang-undang Pokok Agraria 1960. yang mana ketentuan yang terkadung didalamnya sesuai dengan dasar hukum yang berlaku di Indonesia saat ini dan sesuai dengan kepentingan rakyat Indonesia serta memenuhi pula menurut permintaan zaman dalam segala soal agraria. hapusnya hak usaha adalah sebagaimana telah ditentukan pada pasal 718 dan 719 KUH Perdata yaitu. . dapat ditarik suatu kesimpulan mengenai perbedaan antara buku II KUH Perdata khususnya dalam makalah ini tentang Hak Guna Usaha dengan ketentuan ± ketentuan Hak Guna Usaha dalam UUPA 1960 antara lain : . tatkala hak numpang dilahirkan. . namun dalam UUPA telah diberikan batasan waktu dan luas dalam mengusahakan suatu tanah. karena percampuran karena musnahnya pekarangan karena kadaluwarsa dengan tenggang waktu tiga puluh tahun lamanya setelah lewatnya waktu yang diperjanjikan atau ditentukan. KESIMPULAN Dari pembahasan yang telah dipaparkan.Hak Usaha dalam KUH Perdata tidak memberikan batasan bagi subyek hukum atas hak guna usaha sedang dalam UUPA dimuat ketentuan yang tegas mengenai subyek hukum yang dapat mempunyai hak guna usaha.Dalam UUPA. Demikian beberapa perbedaan yang dapat disimpulkan dari pembahasan yang telah dipaparkan tersebut.pada Hak Usaha KUH Perdata. Hal ini sebagaimana pasal 718 KUHPerdt yang mana tidak jauh berbeda dengan ketentuan pasal 34 UUPA tersebut. .

LATAR BELAKANG MASALAH Dalam kehidupan kita sehari-hari. RUMUSAN MASALAH 1.baik transaksi yang berupa benda tetap (tanah dan air) maupun benda-benda bergerak (tanaman. pada hakekatnya semua manusia pasti pernah melakukanya.dan tumbuh-tumbuhan). dan biasanya semuanya bergantung pada adat masing-masing suatu daerah tersebut.MAKALAH TRANSAKSI BENDA SELAIN TANAH (HUKUM PERUTANGAN) DALAM HUKUM ADAT TRANSAKSI BENDA SELAIN TANAH (HUKUM PERUTANGAN) BAB 1 PENDAHULUAN A. Berawal dari perihal tersebut dan juga untuk memenuhi tugas dari Bapak Dosen. Adapun mengenai tata cara transaksi itu sendiri masing-masing masyarakat mempunyai ciri-ciri khas tersendiri. Karena mengingat keterbatasan pemakalah dalam penguasaan materi.Karna diakui atau pun tidak. B. maka kami sangat berharap ktitikan dan saran yang bersifat membangun agar nantinya kami dapat membenahi kekurangan-kekurangan pada makalah kami. hal-hal yang berkaitan dengan transaksi tentulah bukan sesuatu yang asing lagi. maka pada kesempatan kali ini pemakalah akan berusaha mencoba menjelaskan tentang transaki-transaksi benda lepas atau benda selain tanah atau biasa disebut dengan hukum petutangan. Bagaimanakah bentuk transaksi hukum perutangan dalam tinjauan hukum adat? . ternak. Apakah pengertian hukum perutangan? 2.

hak pertuanan dan hak masyarakat. dan juga untuk membawanya keluar. Dikalangan sementara suku dayak seperti Maayan Siung terdapat larangan untuk mewariskan barang-barang pusaka kepada orang-orang diluar wilayah suku.sedangan panyerahan yang hanya mempunyai sifat sementara biasa disebut dengan sewa-menyewa atau gadai.BAB II PEMBAHASAN A. Contoh : a. Berpindahnya hak atas barang merupakan pristiwa hukum yang pada akhirnya akan menimbulkan pemindahan hak dan kewajiban yang kadang bersifat tetap dan kadang pula bersifat sementara. perkakas rumahnya dibawakan oleh hak desa. BENTUK-BENTUK TRANSAKSI HUKUM PERUTANGAN Hak yang pertama-tama dilakukan atas benda ini adalah hak milik bumi putra. akan tetapi tidak semua benda tersebut dapat disewakan atau digadaikan.Penyarehan benda yang bersifat tetap menimbulkan hak milik atas barang tersebut. B. Transaksi Atas Rumah danTanaman . Tentang republik desa Tnganan-Pagrisinga (Bali) perlu dikemukakan bahwa semua milik orang-orang desa : ternaknya. Dalam tinjauan hukum adat bentuk-bentuk transaksi yang berkaitan dengan bendabenda bergerak (tumbuh-tumbuhan ternak dan benda-benda lain). tetapi ia senantiasa berupa hak milik bebas. sedangkan dibeberapa desa lainya desa daapat mengusai ternak dan barang-barang untuk keperluan masyarakat tanpa penggantian kerugian. atau benda-benda selain tanah ini mempunyai kriteria tersendiri. b. Dan ini menunjukan pemilik benda tersebut mempunyai hak penguasaan mutlak dalam pemanfaatannya. 1. Hak-hak atas barang itu juga disebut hak milik. PENGERTIAN HUKUM PERUTANGAN Hukum perutangan menurut hukum adat adalah keseluruhan hukum yang menguasai hak-hak atas benda-benda selain tanah dan perpindahan hak-hak itu serta hukum mengenai jasa-jasa. artinya hak perorangan atas benda-benda selain tanah itu tidak dibatasi oleh hak ulayat.Penyerahan atau pemidahan benda tersebut yang bersifat tetap pada hakikatnya sering disebut sebagai transaksi jual beli.Sedangkan penyerahan yang bersifat sementara akan menimbulkan hak penguasaan (pemanfaatan) atas benda tersebut dan bersifat sementara. suatu hak dari masyarakatselaku kesatuan susunan rakyat yang terletak diatas benda-benda tersebut sebagai hak yang lebih tinggi.

disamping itu mungkin pula orang memperdagangkan rumah dan pohon-pohon terlepas dari tanahnya. biasanya meliputi rumah dan tanamanya. karna tandusnya tanah. Akan tetapi kadang pula ditemukan mengenai hak rumah dan tanaman biasanya terpisah dari hak atas tanah tempat benda-benda itu berada semisal : y Seseorang dapat menjadi pemilik pohon dan rumah diatas pekarangan orang lain dengan . semisal: Seorang warga persekutuan hukum menanam pohon (buah-buahan) ditanah pertanianya. Namun. yakni meliputi : 1) Pemilik rumah tidak diperbolehkan merusak keadaan tanah. yang setelah dipetik hasilnya. ini biasanya berarti rumah tersebut harus dipindahkan.terpaksa ditinggalkan dalam waktu yang lama. ada pula hak atas pohon(dan atas rumah) itu diikuti oleh hak atas bidang tanah yang bersangkutan. terjadi transaksi yang disebut numpang. maka pemilik rumah mempunyai kewajiban-kewajiban tertentu. seperti orang menjual benda-benda pada umumnya. izin pemilik tanah y Para warga harta besama yang menanam pohon-pohon diatas tanah kelompoknya (banyak terjadi di Ambon) menjadi pemilik pohon tersebut.dan apabila ada rumah yang dibangun diatas tanah orang lain. pada azasnya setiap warga dalam suatu masyarakat hukum adat tertentu. Jadi. . rumah dan tanamanya merupakan objek transaksi jual bersama-sama dengan pekaranganya. maka pemilik tanah harus member tahu pada pemilik tanah. 3) Jika rumah hendak diwariskan. Dapat diketahui. pada pemisahan antara hak atas tanaman dan rumah disatu pihak dengan hak atas tanah mempunyai ciri-ciri antara lain: 1) Transaksi mengenai pekarangan. 2) Jika akan menjual rumah. dapat mempunyai hak milik atas rumah dan tanaman. Namun dalam hal rumah. Di daerah Padang ratu. maka rumah tersebut harus lebih dulu ditawarkan pada pemilik tanah. dimana kebanyakan masyarakatnya memiliki rumah sekaligus tanahnya. Lampung tengah. 2) Kadang kita jumpai.a) Numpang atau magersari di Jawa atau lindung di Priangan Apabila seorang pemilik tanah yang bertempat tinggal di tanah itu (samadengan mempunyai rumah dari tanah itu) memberi izin kepada orang lain untuk membuat rumah yang kemudian ditempati olehnya di atas tanah itu juga maka.

Sedangkan untuk sewa yang berkaitan dengan rumah ini biasanya waktu yang ditentukan hanya bersifat sementara. 2. tidak termasuk didalamnya menggadaikan atau menyewakan. c) Gadai . semisal bawang. sapi. kususnya dalam hal transaksi. sebagaimana halnya yang terjadi pada penyewaan tanah oleh perkebunan-perkebunan gula misalnya. selain itu pihak kedua juga diperbolehkan mengambil manfaat dari ternak. kususnya didaerah Lampung yang memperbolehkan jenis transaksi yang mana pihak pembeli hanya mengetahui sebagian dari wujud tanaman tersebut. maka transaksi ini sangat menyerupai jual tahunan atau jual ayodan. Sedangkan hak atas ternak. sedangkan untuk transaksi yang berukuran besar. adanya kesepakatan antara kedua pihak. karna peristiwa tersebut dapat merugikan salah satu pihak yang bersangkutan. Tesang (Sulawesi Selatan). Sistem penjualan unggas tidak memerlukan syarat-syarat tertentu. diperlukan izin dari kepala kampung dan dihadiri oleh saksi.istilah ³menjual´ yang juga dipakai dalam transaksi tersebut berarti penjualan (kontan). A dapun untuk pembagian hasil orang yang nggado harus membetikan sebagian (separo kalau memperduai atau maro serta tiga kalau mempertelu atau jejuron) hasil ternaknya kepada pemilik ternak. b) Sewa Sewa dalam transaksi yang berkaitan dengan tumbuhan ini biasanya terjadi apabila si penyewa membayar uang dimuka. b) Transaksi Penjualan Penjualan benda dari tangan ketangan berlangsung biasa . ubi yang masih berada dalam tanah dan lainlain. Nengah (priangan) Mertelu (Jawa) Jejuran (Priangan). yaitu pemlik memberikan ternak kapada pihak kedua (orang yang nggado) untuk merawat dan menjaga ternak. dan lain-lain). Transaksi Ternak dan Benda-Benda Lain a) Memperduai (Minangkabau). yang penting barang ada ditempat dan tetjadi kesepakatan antara kedua belah pihak. Maro (Jawa) Toyo (Minahasa).Disisi lain ada pula masyarakat .Akan tetapi ada masyarakat lain yang mengklaim jenis transaksi tersebut. di daerah Lampung dibedakan antara unggas dan ternak besar (kerbau. dengan alasan tidak sesuai dengan syariat Islam. Sedangkan untuk jenis bagi hasil (nggado dalam istilah jawa). Transaksi yang dimaksud di atas terjadi apabila.

d) Sewa Sewa pada jenis transaksi ternak dan benda adalah suatu trasaksi yang mengijinkan orang lain untuk mengambil manfaat dari ternak maupun benda dengan membayar uang sewa. maka tidak perlu dibayar bunga.Menggadaikan (memeganggkan.yang maksudnya menyuruh B untuk mengerjakannya. ataupun jatuh ketangan si penerima gadai. Bila si pemberi gadai terlalu lama untuk menebusnysa. nyekelake) benda-benda berlangsung denga menyerahkan benda-benda tersebut ke tangan lain. maka benda gadai itu dapat dijual demi perhitugan. Contoh : A memiliki ternak atau mobil. maka atas uang gadai itu diperhitungkan bunga. . Dan biasanya jika benda gadai itu disimpan. Ia ingin mengambil manfaat dari ternak atau mobilnya. lalu Ia mengadakan perjanjian dengan B . akan tetapi Ia tidak bisa mengerjakan sendiri. bila benda itu dipakai.

numpang.BAB III KESIMPULAN Dari makalah diatas pemakalah dapat menyimpulkan hukum benda bergerak atau biasa disebut dengan hukum perutangan menurut tinjauan hukum adat ialah keseluruhan hukum yang menguasai hak-hak benda selain tanah dan perpindahan hak-hak itu. dan masih banyak yang lainnya. jual beli. Sedangkan untuk bentuk-bentuk transaksi hukum perutangan sangatlah banyak macamnya mulai dari sewa menyewa. . gadai.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful