P. 1
kasus hukum

kasus hukum

|Views: 201|Likes:
Published by Mey Meylani

More info:

Published by: Mey Meylani on Jun 16, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/14/2015

pdf

text

original

PRAKTEK DUMPING DALAM PERSPEKTIF HUKUM PERSAINGAN USAHA∗ O le h : DR. SUKARMI, S.H.,M.H. ∗ A.

Latar Belakang Proses globalisasi dalam berbagai bidang serta perkembangan teknologi dan informasi menimbulkan gejala menyatunya ekonomi semua negara dan bangsa. Terjadi hubungan saling ketergantungan dan integrasi ekonomi nasional ke dalam ekonomi global. Proses itu terjadi secara bersamaan dengan bekerjanya mekanisme pasar yang dijiwai persaingan. Tindakan persaingan antar pelaku usaha tidak jarang mendorong dilakukannya persaingan curang, baik dalam bentuk harga maupun bukan harga (price or nor price competition). Dalam bentuk harga misalnya terjadi diskriminasi harga (price discrimination) yang dikenal dengan istilah dumping. Dumping merupakan salah satu bentuk hambatan perdagangan yang bersifat nontarif, berupa diskriminasi harga. Masalah dumping merupakan substansi di bidang rules making yang akan semakin penting bagi negara berkembang yang akan meningkatkan ekspor nonmigas terutama di bidang manufaktur. Perbuatan melakukan praktek dumping dianggap sebagai perbuatan yang tidak fair (unfair), karena itu harus dibalas dengan sanksi tertentu. Akan tetapi perlu kiranya diperhatikan bahwa apa yang dinamakan fair atau unfair dalam bidang perdagangan ini sulit untuk dipastikan. Bagi sebagian orang atau kelompok tertentu, suatu perbuatan dapat dianggap fair, tetapi bagi kelompok lain perbuatan yang sama dianggap unfair. Hal itu bergantung di mana kita berdiri, untuk dapat memandang suatu perbuatan tertentu sebagai fair atau unfair. Praktek dumping merupakan praktek dagang yang tidak fair, karena bagi negara pengimpor, praktek dumping akan menimbulkan kerugian bagi dunia usaha atau industri barang sejenis dalam negeri, dengan terjadinya banjir barang-barang dari pengekspor yang harganya jauh lebih murah daripada barang dalam negeri akan mengakibatkan barang sejenis kalah bersaing, sehingga pada akhirnya akan mematikan pasar barang
Makalah disampaikan pada acara Seminar : Implementasi Peraturan Anti dumping Sera Pengaruhnya Terhadap Persaingan Usaha Dan Perdagangan Internasional, diselenggarakan oleh Fakultas Hukum Universitas Airlangga, Surabaya, 21 Juni 2008. ∗ Pemakalah adalah Dosen Fakultas Hukum Universitas Brawijaya Malang, dan sejak 2006 – sekarang sebagai Anggota Komisi Pengawas Persaingan Usaha RI (KPPU RI).

1

B. Huala Adolf dan A. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat). hlm. biasanya dianggap sebagai tingkat harga yang lebih rendah daripada tingkat harga di pasar domestiknya atau di negara ketiga. diantaranya dari aspek Hukum Persaingan Usaha ( UU No. bahkan mematikan perusahaan domestik yang menghasilkan produk sejenis. yang diikuti munculnya dampak ikutannya seperti pemutusan hubungan kerja massal.sejenis dalam negeri. 1 Tindakan tersebut mengharuskan pemerintah suatu negara mengadakan pembatasan-pembatasan tertentu terhadap berbagai praktek bisnis. Masalah praktek dumping dapat dilihat dari berbagai aspek hukum. 7. Chandrawulan. Sinar GRafika. 2. Makalah ini akan mengupas apakah masalah praktek dumping menjadi kewenangan dari KPPU untuk melakukan investagi bahkan menjatuhkan putusan ataukah akan menjadi kewenangan dari lembaga lain (KADI) dan bagaimanakah praktek dumping dalam perspektif persaingan usaha. “Regulasi Antidumping Di Bawah Bayang-Bayang Pasar Bebas”. 2 . Praktek banting harga itu pun dapat berakibat menggerogoti. Masalah-masalah tersebut menyangkut persaingan : 2 (1) produk dalam negeri terhadap produk impor sesama negara anggota. Pembatasan tersebut berupa berbagai peraturan perundang-undangan yang secara eksplisit memasukkan berbagai tindakan sebagai suatu perbuatan yang dilarang dan dapat juga dinyatakan sebagai suatu tindakan kejahatan. (2) produk dalam negeri terhadap produk impor nonanggota. dalam Sukarmi. Pembahasan Menurut Kamus Lengkap Perdagangan Internasional dumping adalah penjualan suatu komoditi di suatu pasar luar negeri pada tingkat harga yang lebih rendah dari nilai yang wajar. Cit. Dengan kata lain hakikat dumping sebagai praktek curang bukan hanya karena dumping dipergunakan sebagai sarana untuk merebut pasaran di negara lain. Op. hlm.. 1 2 Sukarmi. penggangguran dan bangkrutnya industri barang sejenis dalam negeri. 2002. dan (3) produk yang tercakup dalam skema preferensi tarif dengan produk dari pasar global. Bagi Indonesia dalam konteks persaingan global cukup banyak masalah-masalah yang dihadapi dan cukup berat.

654-655. Cases. pada umumnya. (2) Akibat dumping tersebut telah mengakibatkan kerugian secara material (3) Adanya hubungan kausal (causal link) antara dumping yang dilakukan dengan akibat kerugian (injury) yang terjadi. praktik ini dinilai tidak adil karena dapat merusak pasar dan merugikan produsen pesaing di negara pengimport.3 Sedangkan menurut Kamus Hukum ekonomi (Inggris-Indonesia) dumping adalah praktik dagang yang dilakukan eksportir dengan menjual komoditi di pasaran internasional dengan harga kurang dari nilai yang wajar atau lebih rendah daripada harga barang tersedia di negerinya sendiri atau daripada harga jual kepada negara lain. melainkan diatur dengan disisipkan dalam UU No. PP No. 216/MPP/Kep/7/2001 sebagai ketentuan hukum acara (formil) dan ketentuan pembentukan Komite Anti Dumping Indonesia (selanjutnya disebut KADI) berdasarkan Kepmenperindag No. 3 3 . 7 Tahun 1994 tersebut belum dalam satu Undang-Undang khusus. di mana misalnya seorang produsen menjual pada dua pasar yang berbeda atau dengan harga-harga yang berbeda. 427/MPP/Kep/10/2000 dan Kepmenperindag No. Dari pengertian-pengertian dan definisi tersebut di atas maka dapat dikatakan dumping apabila memenuhi 3 kriteria : (1) Produk ekspor suatu negara telah diekspor dengan melakukan dumping.Sementara itu menurut Kamus Ekonomi (Inggris-Indonesia) dumping adalah suatu bentuk diskriminasi harga. Menurut Ilmu ekonomi dumping diartikan : Dumping is traditionally defined as selling at a lower price in one national market than in another. 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan (Pasal 18 20). “Legal Problems of Economics International”. diikuti pula dengan ketentuan atau petunjuk diubah teknis dengan Kepmenperindag 216/MPP/Kep/9/1996 sebagaimana Kepmenperindag No. hlm. Davey. John H Jackson and William J. Materials and Tax (2nd Edition). Dasar hukum yang dipakai untuk menentukan terjadinya praktek dumping sebagai tindak lanjut dari ratifikasi Persetujuan Pembentukan WTO sebagaimana tertuang dalam UU No. 34 Tahun 1996 tentang BMAD dan Bea Masuk Imbalan sebagai ketentuan hukum materiil serta No. karena adanya penghalang tertentu antara pasar-pasar tersebut dan terdapat elastisitas permintaan yang berbeda antara kedua pasar tersebut.

Kedua faktor tersebut akan menentukan tingkat kesejahteraan konsumen atau masyarakat. apakah dilakukan secara sehat atau saling mematikan. 4 . maka kebijakan ekonomi nasional di negaranegara berkembang pertama-tama diperlukan adalah mewujudkan pasar yang berfungsi dan mekanisme harga. yaitu sisi pelaku usaha atau produsen dan sisi konsumen. Oleh karena itu. Hukum Persaingan Usaha dan Praktik dumping Persaingan antar pelaku usaha di dunia bisnis dan ekonomi adalah sebuah keharusan. salah satu tujuan dari kebijakan persaingan usaha (competition policy) adalah untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat melalui peningkatan kesejahteraan konsumen dan produsen. Tuntutan pasar bebas dan globalisasi dan dalam upaya menciptakan perekonomian yang efisien. persaingan usaha berbicara mengenai bagaimana perusahaan menentukan strategi bersaing. 346/KADI/Kep/10/2000. Akhirnya. persaingan usaha terkait dengan seberapa tinggi harga yang ditawarkan dan seberapa banyak ketersediaan pilihan. pada tahun 1999 Indonesia memberlakukan Undang-undang No. Dari sisi produsen. Dalam konteks tersebut adalah penyediaan akses pasar sebebas mungkin dan pada saat yang sama menyediakan insentif untuk meningkatkan jumlah dari pengusaha nasional. Pemberlakuan UU tersebut tentunya akan mempengaruhi praktik perdagangan internal maupun eksternal Indonesia sehingga mampu menciptakan praktik usaha yang semakin sehat dan meningkatkan efisiensi perekonomian. suatu kebijakan moneter yang berorientasi stabilitas merupakan prasyarat bagi berfungsinya ekonomi persaingan.428/MPP?Kep/10/2000 serta struktur kepegawaian KADI berdasarkan Keputusan Ketua KADI No. Terdapat dua efisiensi yang hendak dicapai oleh UU tersebut yaitu efisiensi bagi produsen dan efisiensi bagi masyarakat. Agar persaingan dapat berlangsung. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Dari sisi konsumen. Persaingan usaha dapat diamati dari dua sisi. Sekarang bagaimana kaitannya dengan Hukum Persaingan Usaha. Ditinjau dari ketentuan hukum baik materiil maupun formil sebagaimana tersebut di atas maka dumping termasuk pada rezim perdagangan internasional.

Standar-standar yang menghindarkan penggabungan yang bersifat anti persaingan. Oleh karena itu peran dari lembaga-lembaga pengawas persaingan merupakan satusatunya instrumen yang dapat digunakan untuk mengamankan proses persaingan. Tetapi prinsip tanggungjawab pasar bebas ini. 5 Tahun 1999 adalah sebagai berikut : 1. pemerintah dan kebijakan ekonominya. perlu disusun regulasi persaingan yang bersifat resmi demi perlindungan persaingan. atau penyalahgunaan dominasi pasar yang sudah terwujud. Dalam kerangka mendukung adanya teori kebijakan persaingan yang sampai hari ini masih belum mampu menawarkan konsep yang jelas dan konklusif mengenai prasyarat kebijakan persaingan dan implementasi dari undang-undang antimonopoli. yang menjamin sikap berhati-hati pengusaha dan pemanfaatan sumberdaya yang ekonomis. yaitu : 1. Standar-standar yang mengihindarkan perjanjian kartel yang menghambat persaingan. 2. termasuk perilaku selaras. tetapi juga kerugian. Ekonomi persaingan bukan hanya menawarkan peluang meraih keuntungan. 3. standar yang menghindarkan penyalahgunaan kekuatan pasar oleh perusahaanperusahaan yang kuat. Regulasi hukum untuk perlindungan persaingan perlu menyertakan standarstandar yang bertujuan menghindarkan terbentuknya atau meningkatnya posisi-posisi dominasi pasar. Dalam pasal 3 dinyatakan bahwa tujuan pembentukan UU No. 5 . Suatu ekonomi persaingan yang sudah mapan mengalami ancaman dari dua sisi: pertama. tergantung kepada persyaratan bahwa sistem hukum memungkinkan pemilikan sarana produksi oleh pihak swasta. bagi pengusaha. Menjaga kepentingan umum dan meningkatkan efisiensi ekonomi nasional sebagai salah satu uapaya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Standar-standar yang mengatur perjanjian vertikal. Dalam upaya menghindari kecenderungan hilangnya ekonomi pasar melalui tindakan-tindakan penghambat persaingan.Dalam rangka mewujudkan tatanan persaingan yang kondusif. dan kedua pelaku pasar swasta yang berupaya menghindari persaingan melalui berbagai strategi yang menghambat persaingan. prasyarat hukum sangat diperhatikan.

CI sering dituduh menggunakan penyalahgunaan posisi dominan dalam upaya menekan konsumen. Tidaklah mengherankan bila dalam beberapa aktivitas bisnisnya PT. Mewujudkan iklim usaha yang kondusif melalui pengaturan persaingan usaha yang sehat sehingga menjamin adanya kepastian kesempatan berusaha yang sama bagi pelaku usaha besar. Praktik dumping dan kebijakan harga dalam Hukum Persaingan Usaha Monitoring yang dilakukan oleh KPPU pada tahun 2002. setelah mencermati munculnya kontroversi pengajuan BMAD carbon black oleh PT. Sementara itu. 4 6 . 2007. Teori dan Implikasi Penerapannya di Indonesia”. “Hukum Persaingan Usaha : Filosofi. Cabot Indonesia (CI).2. 5 Tahun 1999 bersifat per se illegal dan rule of reason serta menggunakan instrumen kebijakan struktur (structure) sekaligus instrumen kebijakan perilaku (behavioral). CI dalam pasar carbon black di Indonesia. sedangkan pendekatan perilaku dititikberatkan pada memerangi perilaku dan praktik bisnis yang bersifat antipersaingan seperti upaya pelaku usaha memperoleh posisi dominan serta melalui kebijakan harga (pricing policy) dan praktik-praktik bisnis lain yang cenderung bersifat antipersaingan. 3. pelaku usaha tersebut dinyatakan melanggar. hlm.4 Pendekatan struktur menitikberatkan pada pengaturan pangsa pasar (market share) dan mengaitkannya dengan konsentrasi industri. Fokus monitoring adalah posisi dominan PT. Terciptanya efektifitas dan efisiensi dalam kegiatan usaha. Mencegah praktik monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat yang ditimbulkan oleh pelaku usaha 4. Suatu peraturan yang bersifat per se illegal tidak diperlukan lagi pembuktian dampak larangan tersebut sehingga jika ada pelaku usaha yang melakukan sesuatu yang dinyatakan secara eksplisit dilarang undang-undang. Malang. Bayumedia. Kerangka dasar pengaturan UU No. 219. Karena itu perusahaan ban melalui APBI. dan pelaku usaha kecil. apakah tindakan tersebut tergolong antipersaingan atau merugikan masyarakat. pelaku usaha menengah. konsumen terbesar PT. tanpa perlu membuktikan hasil atau akibat tindakan yang dilakukan. ketentuan yang bersifat rule of reason memerlukan bukti suatu tindakan yang dilakukan pelaku usaha. CI diuntungkan dengan Johnny Ibrahim. PT CI sebagai produsen tunggal memiliki posisi tawar tinggi ketika berhadapan dengan konsumen.

Karena pelan tapi pasti pangsa pasar PT. 4. Beberapa data dan fakta telah menunjukkan 7 . CI mengajukan petisi anti dumping yang kemudian diluluskan oleh KADI. Fakta menunjukkan bahwa sekalipun produk impor hadir di Indonesia. sesuai dengan tugas yang diembannya KPPU menggunakan hak inisiatifnya untuk melakukan proses monitoring (Pasal 36 UU No. Sebagaimana diketahui. Posisi dominan yang dimiliki oleh PT.hadirnya produk impor. CI terindikasi disalahgunakan dalam upaya memaksimalkan keuntungannya. tetapi ditolak diberlakukan pemerintah. Munculnya carbon black impor telah menyebabkan terusiknya PT CI yang selama ini menjadi monopolis. 3. Terkait dengan permasalahan di atas. Di sisi lain bagi konsumen hal tersebut sangat menguntungkan mengingat telah muncul alternatif produsen yang menyediakan produk. Rendahnya utilitas PT CI ternyata tidak semata-mata disebabkan oleh masuknya produk impor. pemegang posisi dominan ditengarai berpeluang memiliki perilaku yang melanggar Bab V tentang posisi dominan (pasal 25 sampai dengan pasal 29). CI tidak bisa berbuat semena-mena dalam upaya mendikte pasar. 2. Jadi tanpa produk imporpun masih terdapat banyak idle capacity yang dimiliki oleh PT CI. perkembangan ini sangat baik karena konsumen akan lebih memiliki posisi tawar yang lebih baik dibanding saat monopoli terjadi. Di sisi lain PT. ketergantungan konsumen terhadap PT CI tetap besar mengingat keunggulan alami yang dimikili oleh PT CI. Keunggulan alami ini tidak akan dimiliki dan dapat disingkirkan begitu saja oleh produk-produk impor. CI tergerogoti. CI. Kesimpulan dari hasil monitoring menunjukkan : 1. peta persaingan dan perilaku pemegang posisi dominan. tetapi juga lebih disebabkan oleh masih kecilnya ukuran permintaan (pasar) dalam negeri. Dilihat dari sudut persaingan. Ukuran pasar ini bahkan jauh lebih kecil dibandingkan dengan kapasitas yang dimiliki oleh PT CI sendiri. CI menganggap produsen impor telah melakukan praktek dumping yang mengakibatkan produk PT. Sehingga PT. Karena itulah PT. CI tidak mampu bersaing. 5 Tahun 1999) terhadap pelaku usaha carbon black untuk mengetahui kondisi pasar. Kehadiran produk impor dinilai merupakan ancaman besar bagi PT.

7. sehingga memperkuat market power yang dimiliki produsen selama ini. Hal ini terlihat dari tetap munculnya dalam pasar carbon black. Di sisi lain kehadiran carbon black impor dapat menajdikan 8 .bagaimana hak tersebut terjadi misalnya saja dengan menerapkan persyaratan perdagangan yang berpotensi melanggar pasal 25 ayat 1a. memberikan saran kepada pemerintah untuk tidak menerapkan BMAD terhadap carbon black mengingat hal-hal berikut : • Pemberlakuan BMADS akan meningkatkan market power PT CI yang selama ini menjadi pemegang posisi dominan dalam pasar produk carbon black. Terdapat data-data empiris di lapangan yang menunjukkan bahwa pengajuan BMADS oleh PT CI merupakan bagian dari strategi global Cabot Corporation sebagai perusahaan multinasional dalam upaya mengeksploitasi pasar sebesarbesarnya. antara lain di Malaysia dan Uni Eropa. Kalau ini terjadi maka ini merupakan sebuah langkah mundur dalam persaingan usaha. • Kehadiran produk impor menjadi alternatif bagi konsumen carbon black di satu sisi. Peningkatan market power ini menjadi berbahaya karena bisa menimbulkan perilaku persaingan usaha tidak sehat mengingat data-data mengindikasikan bahwa PT CI telah menyalahgunakan posisi dominan yang dimilikinya. Desember 2000-April 2001. 6. Pemerintah dalam hubungan antara produsen (PT CI) carbon black dengan konsumen cenderung berpihak kepada produsen. Hal ini muncul dalam bentuk diajukannya BMAD oleh perusahaanperusahan yang berada di bawah integrasi vertikal Cabot Corporation di setiap negara. Bahkan sangat mungkin posisi monopoli akan kembali diperoleh PT CI jika BMAD diterapkan. Saran dan rekomendasi yang disampaikan KPPU kepada pemerintah adalah sebagai berikut : 1. Data-data selama BMADS diberlakukan. 5. telah menunjukkan fakta bahwa penerapan BMADS tersebut tidak mencapai sasarannya berupa munculnya hambatan terhadap masuknya carbon black impor dalam upaya menaikkan pangsa pasar produk lokal.

Terhadap perjanjian yang dilarang yang terkait dengan penetapan harga adalah pasal 5. pasal 5 termasuk per se ilegal sedangkan pasal 7 dan 8 termasuk rule of reason. pasal 7.posisi tawar konsumen carbon black lebih baik. Ketentuan-ketentuan dalam UU No. dan pasal 8. • Data-data memberikan bukti bahwa rendahnya utilitas kapasitas PT CI tidak semata-mata disebabkan oleh hadirnya produk impor. Langkah tersebut terkait dengan rencana pemerintah mengenakan BMADS bahan baku detergen sodium tripolyphosphate (STTP) asal China yang diduga telah melakukan praktik dumping dan mengancam stabilitas produsen STTP dalam negeri (PT. bahkan dibandingkan dngan total kebutuhan pasar dalam negeri sekalipun • Terdapat keunggulan alami yang dimiliki oleh PT CI berupa kedekatan lokasi yang menyebabkan konsumen carbon black akan menggantungkan kebutuhan lebih dari 60 % carbon blacknya terahdap PT Cabot Indonesia. Terhadap kegiatan yang dilarang terkait dengan menjual di bawah harga pasar adalah pasal 20 (rule of reason). Untuk menyatakan bahwa perbuatan praktik dumping itu berdampak pada persaingan usaha yang tidak sehat atau tidak maka perlu adanya pembuktian. Petrocentral). Di tahun 2008 ini KPPU sedang melakukan monitoring terhadap persaingan usaha di industri detergen. Sementara itu untuk mengatakan adanya persaingan usaha tidak sehat harus dibuktikan bahwa adanya persaingan antara pelaku usaha yang dilakukan dengan cara tidak jujur atau melawan hukum atau menghambat persaingan usaha (Pasal 1 angka 6). Ditinjau dari sisi persaingan usaha tindakan dumping sangat menguntungkan konsumen karena banyak alternatif pilihan barang dan harga yang bersaing. Berdasarkan dari contoh hasil monitoring KPPU tersebut di atas. tetapi juga karena terlalu besarnya kapasitas PT CI. sehingg aPT CI tidak bisa berbuat semena-mena terhadap konsumen. pasal 6. 5 Tahun 1999 meliputi perjanjian yang dilarang dan kegiatan yang dilarang. Namun pendekatan yang digunakan dalam pasal 5 dengan pasal 7 dan 8 berbeda. maka praktik dumping dapat dikatakan dapat mengakibatkan persaingan usaha tidak sehat apabila tujuan pengenaan BMADS/BMAD hanya untuk mendapatkan posisi dominan di pasar bersangkutan dan menjadi mengarah pada monopoli ataupun oligopoli. 9 .

lembaga yang menangani KADI untuk Indonesia. 1 Tahun 2006 tenatang tatacara Penanganan Perkara di KPPU. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Sementara dalam predatory pricing maupun price fixing kriteria/unsur-unsur : Perjanjian antara pelaku usaha atau tidak . lembaga yang menangani adalah KPPU sanksi sesuai dengan ketentuan Pasal 47 UU No.Jika diperhatikan pengertian dumping sebagaimana yang telah dibahas di atas maka prkatek dumping harus memenuhi 3 kriteria sebagaimana telah disinggung di atas bahwa untuk bisa mengenakan BMAD harus memenuhi kriteria : (1) Produk ekspor suatu negara telah diekspor dengan melakukan dumping.6 Lihat Peraturan Komisi Pengawas Persaingan Usaha No. Harga di bawah harga pasar dengan melihat pasar bersangkutan (relevant market). 6 Lihat Pasal 1 angka 5 UU No. posisi pasar anggota kartel dan perbandingan dengan harga pasar Persaingan usaha tidak sehat harus memenuhi Dengan demikian dapat dikatakan bahwa praktik dumping termasuk pada rezim Hukum Perdagangan Internasional.5 Untuk dapat ditangani oleh KPPU maka subyek hukum (pelaku usaha) harus berkedudukan dan melakukan aktifitas dan kegiatan ekonomi di wilayah RI. 5 10 . 5 Tahun 1999. (2) Akibat dumping tersebut telah mengakibatkan kerugian secara material (3) Adanya hubungan kausal (causal link) antara dumping yang dilakukan dengan akibat kerugian (injury) yang terjadi. Sedangkan terhadap masalah penetapan harga (price fixing maupun predatory pricing) masuk dalam Hukum Persaingan Usaha. jika adanya keberatan terhadap keputusan KPPU dapat melakukan keberatan ke Pengadilan Negeri dan apabila masih tidak puas bisa mengajukan Kasasi ke Mahkamah Agung. jika tidak ada perjanjian masuk pengawasan Pasal 20. istilah yang digunakan dumping. pelakunya adalah pedagang (produsen dari negara lain). kalau keberatan masuk pada Panel WTO/DSB dalam Komisi Anti Dumping.

Sanksi yang diberikan apabila terbukti melakukan praktik dumping dikenakan sanksi berupa BMAD. Praktik dumping dari kacamata persaingan usaha apabila tujuan dari praktik dumping memang ingin menghilangkan pesaing. melainkan menggunakan instrumen-instrumen nonpersaingan untuk bertahan di pasar. 5 Tahun 1999) 7 11 . 7 Dengan demikian maka KPPU harus dapat menilai apakah maksud dari praktik dumping maupun (predatory pricing) bahwa memang ada pesaing-pesaing usaha anggota perjanjian kartel bertujuan untuk menyingkirkan pesaing usaha lain dari pasar (harga pasar yang sangat rendah). ataupun ingin menjadi posisi dominan (abuse of dominant position) maka KPPU bisa menangani kasus tersebut. di mana para pesaing usaha tidak lagi bersaing berdasarkan instrumen penawaran. Tentunya apabila tujuannya untuk menyingkirkan pesaing maka jelas merupakan persaingan yang tidak sehat dan menjadi pengawasan dari KPPU. Persaingan usaha tidak sehat adalah persaingan antar pelaku usaha dalam menjalankan kegiatan produksi dan atau pemasaran barang dan atau jasa yang dilakukan dengan cara tidak jujur atau melawan hukum atau menghambat persaingan usaha.Kapan praktik dumping masuk pada pengawasan KPPU jika. dan adanya hambatan terhadap persaingan. Sementara menjual harga di bawah harga pasar maupun melakukan predatory price dalam kacamata hukum persaingan akan menghambat adanya persaingan sehat. apabila pihak yang dikenai sanksi keberatan terhadap BMAD maka dapat mengajukan keberatan ke panel WTO melalui Komisi Antidumping di DSB (Dispute Settlement Body). (Pasal 1 angka 6 UU No. Penutup Sebagai kesimpulan dari hasil pembahasan dan analisa tersebut di atas maka praktik dumping merupakan rezim dari Hukum Perdagangan Internasional di bawah kendali WTO. Ini adalah strategi hambatan klasik. Praktik dumping dalam jangka pendek menguntungkan konsumen namun pada jangka panjang akan merugikan konsumen dan termasuk industri pesaing yang memiliki industri barang yang sejenis. memang dampak dari praktik dumping tersebut dapat mengakibatkan persaingan usaha tidak sehat.

5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Sukarmi. Undang-Undang No. Manajemen.. 1996. 2002. Jakarta : UI-Press.S. Forum dan Lembaga Internasional di Bidang Perdagangan”. Kartadjoemena. 2007. Peratuan Komisi Pengawas Persaingan Usaha Penanganan Perkara Di KPPU. 1 Tahun 2006 tentang Tatacara 12 .DAFTAR PUSTAKA Huala Adolf dan An-An Chandrawulan. “Legal Problems of Economics International”. Cases. 2002. Davey. No. Media Services. Peraturan Pemerintah No. 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan. Teori dan Implikasi Penerapannya di Indonesia”. “GATT dan WTO : Sistem. Malang. “Hukum Persaingan Usaha : Filosofi. Materials and Tax (2nd Edition). Sinar Grafika. Yakarta. Raja Grafindo Persada. Katalis Publishing. “Masalah-Masalah Hukum dalam Perdagangan Internacional”. Johnny Ibrahim. GTZ. Undang-Undang Larangan Praktek Monopoli Dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. PT. Rajawali Prees. John H Jackson and William J. H. Undang-Undang No. Bayumedia. 1994. 34 Tahun 1996 tentang Bea Masuk Anti Dumping dan Bea Masuk Imbalan. “Regulasi Antidumping Di Bawah Bayang-Bayang Pasar Bebas”.

SUKARMI. Makalah disampaikan pada : SEMINAR IMPLEMENTASI PERATURAN ANTI DUMPING SERTA PENGARUHNYA TERHADAP PERSAINGAN USAHA DAN PERDAGANGAN INTERNASIONAL Fakultas Hukum Universitas Airlangga Surabaya.H.. S.PRAKTEK DUMPING DALAM PERSPEKTIF HUKUM PERSAINGAN USAHA O le h : DR.M. 21 Juni 2008 13 .H.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->