TINJAUAN PUSTAKA PERITONITIS

A. Pengertian Peritonitis adalah inflamasi rongga peritoneal dapat berupa primer atau sekunder, akut atau kronis dan diakibatkan oleh kontaminasi kapasitas peritoneal oleh bakteri atau kimia. Primer tidak berhubungan dengan gangguan usus dasar (cth : sirosis dengan asites, sistem urinarius) ; sekunder inflamasi dari saluran GI, ovarium/uterus, cedera traumatik atau kontaminasi bedah (Doenges, 1999). Peritonitis adalah inflamasi peritonium yang bisa terjadi akibat infeksi bakterial atau reaksi kimiawi (Brooker, 2001). Peritonitis adalah infeksi seius atau peradangan dari sebagian atau seluruh peritonium, penutup dari saluran usus (Griffith, 1994). B. Etiologi • • • • • Peradangan dinding peritonium yang terjadi bila benda asing termasuk Robek atau perforasi dari organ mana saja diperut, seperti apendiksitis, Luka pada dinding perut, seperti karena pisau atau luka karena tembak. Penyakit radang panggul. Robeknya kehamilan ektopik (Griffith, 1994). bakteri atau isi gastrointestinal. tukak peptik, atau divetikulum yang terinveksi atau kandung kemih.

B. Patofisiologi Peritonitis menyebabkan penurunan aktivitas fibrinolitik intraabdomen (meningkatkan aktivitas inhibitor aktivator plasminogen) dan sekuestrasi fibrin dengan adanya pembentukan jejaring pengikat. Produksi eksudat fibrin merupakan mekanisme terpenting dari sistem pertahanan tubuh, dengan cara ini akan terikat bakteri dalam jumlah yang sangat banyak di antara matriks fibrin.

terutama E. sehingga dengan menggunakan skor APACHE II (acute physiology and cronic health evaluation) diperoleh mortalitas tinggi.com/). Suara usus menghilang. . Selain jumlah bakteri transien yang terlalu banyak di dalam rongga abdomen. peritonitis terjadi juga memang karena virulensi kuman yang tinggi hingga mengganggu proses fagositosis dan pembunuhan bakteri dengan neutrofil. coli. Tanda dan gejala klinis       Nyeri tajam. iritasi diafragma. Muntah dan distensi.Pembentukan abses pada peritonitis pada prinsipnya merupakan mekanisme tubuh yang melibatkan substansi pembentuk abses dan kuman-kuman itu sendiri untuk menciptakan kondisi abdomen yang steril. Nyeri menyebar ke bahu. . memburuk pada saat bergerak/batuk. Isolasi peritoneum pada pasien peritonitis menunjukkan jumlah Candida albicans yang relatif tinggi. 1990). C. 52%. tubuh sudah tidak mampu mengeliminasi kuman dan berusaha mengendalikan penyebaran kuman dengan membentuk kompartemen-kompartemen yang kita kenal sebagai abses. disuria (Mowschenson. Keadaan makin buruk jika infeksinya dibarengi dengan pertumbuhan bakteri lain atau jamur. Yang paling sering ialah kontaminasi bakteri transien akibat penyakit viseral atau intervensi bedah yang merusak keadaan abdomen. misalnya pada peritonitis akibat koinfeksi Bacteroides fragilis dan bakteri gram negatif. Peritonitis pelvik dengan manifestasi diare. terdapaat nyeri lepas. Saat ini peritonitis juga diteliti lebih lanjut karena melibatkan mediasi respon imun tubuh hingga mengaktifkan systemic inflammatory response syndrome (SIRS) dan multiple organ failure (MOF) (http://www. Masuknya bakteri dalam jumlah besar ini bisa berasal dari berbagai sumber.majalah-farmacia. akibat kandidosis tersebut. Pada keadaan jumlah kuman yang sangat banyak. Palpasi dan perkusi secara hati-hati.

SDM mungkin meningkat. dan kreatinin (Doenges. sedang pada bayi lebih besar. udara bebas ditemukan pada   Foto dada : dapat menyatakan peninggian diafragma. Kultur : organisme penyebab mungkin teridentifikasi dari darah. . pengaturan suhu tubuh (pada neonatus terdapat hipotermi. Protein/albumin serum : mungkin menurun karena    ada. Pemeriksaan foto abdominal : dapat menyatakan distensi usus/ileum. eksudat/sekret atau cairan asites.000. Pemeriksaan penunjang   perpindahan cairan. Terapi suportif untuk hipovolemi. pus/eksudat.D. Amilase serum : biasanya meningkat. Elektrolit serum : hipokalemia mungkin ada. Diberikan intravena sebelum pembedahan. amilase. E. 1999). gram positif serta untuk kuman aerob dan anaerob. menunjukkan hemokonsentrasi. GDA : alkalosis respiratori dan asidosis metabolik mungkin   abdomen. Parasentesis : contoh cairan peritoneal dapat mengandung darah. Bila perforasi visera sebagai etiologi. JDL : SDP meningkat kadang-kadang lebih besar dari 20. atau pada anakanak terdapat hipertermi). empedu.  Antibiotika dengan spektrum luas sensitif terdapat kuman gram negatif. Penatalaksanaan  Terapi ditujukan pada kelainan serta akibat lanjut dari proses peritonitis.

Pencucian harus benar-benar bersih. lidah bengkak.  balance cairan. 1995). Pengkajian Pengkajian adalah langkah awal dan dasar dalam proses keperawatan secara menyeluruh (Boedihartono. turgor kulit buruk. Edema jaringan. haus.  Tanda  Gajala Tanda  Gejala Tanda Makanan dan cairan : anoreksia. Pembedahan ditujukan untuk menghentikan sumber infeksi serta membersihkan rongga peritoneal dari cairan infeksius dengan pencucian dengan cairan NaCl steril. Eleminasi : ketidakmampuan defekasi dan flatus. antibiotika diteruskan. Diare (kadang-kadang) : cegukan.  Nyeri/ketidaknyamanan . Penurunan haluaran urine. distensi abdomen. mual. warna gelap. : muntah proyektil. MANAJEMEN KEPERAWATAN A. 1994 : 10). pengaturan suhu tubuh. muntah. dekompresi lambung dan usus dipertahankan (FKUI.  Drain intraperitoneal tidak perlu dipasang bila telah Perawatan pasca bedah perlu diperhatikan ialah diyakini rongga peritoneal telah bersih. pucat hipotensi (tanda syok). bising usus kasar. berkeringat. Pengkajian pasein dengan peritonitis (Doenges. 1999) adalah meliputi :  Gejala Tanda Aktivitas / istirahat : kelemahan : kesulitan ambulasi Sirkulasi : Takikardi. Penurunan/tak ada bising usus. Membran mukosa kering.

nyeri tekan. terus menerus oleh gerakkan. perforasi divertikulum. Diagnosa keperawatan Diagnosa keperawatan adalah suatu penyatuan dari masalah pasien yang nyata maupun potensial berdasarkan data yang telah dikumpulkan (Boedihartono. perforasi Ca gaster. : distensi.  Gejala Penyuluhan/pembelajaran : riwayat adanya trauma penetrasi abdomen . Keamanan  Geajala : riwayat inflamasi organ pelvic (salpingitis) . prosedur invasif dan jalur penusukkan. . fokus pada diri sendiri. menyebar ke bahu. lutut fleksi. B. Diagnosa keperawatan yang timbul pada pasien dengan peritonitis (Doenges. ileitis regional. penyakit saluran GI (apendiksitis perforasi. perforasi gaster/ulkus duodenal. takipnea. perilaku distraksi. 2. infeksi pasca melahirkan. jaringan. 3. Resiko defisit volume cairan berhubungan dengan pindahnya cairan Nyeri berhubungan dengan iritasi kimia peritonium perifer. kaku. trauma intravaskuler ke ekstravaskuler. obstruksi ganggrenosa usus. Otot tegang (abdomen). respons inflamasi tertekan. perforasi kandung kemih . hernia strangulasi). gelisah. umum atau local. luka/kerusakan kulit. 1994 : 17). ganggren/rupture kandung empedu.. 1999) adalah : 1. Risiko infeksi berhubungan dengan stasis cairan tubuh.  Tanda Pernapasan : pernapasan dangkal.Gejala Tanda : nyeri abdomen tiba-tiba berat. abses retroperitoneal. insisi pembedahan. akumulasi cairan dalam rongga abdomen/distensi abdomen.

C. status hipermetabolik. R/ b. prosedur invasif dan kerusakan . perubahan sirkulasi. Tujuan : infeksi tidak terjadi / terkontrol. Intervensi dan Implementasi : a. . prognosis dan prosedur pengobatan status kesehatan.luka bersih tidak lembab dan tidak kotor.tidak ada tanda-tanda infeksi seperti pus. Pantau tanda-tanda vital. Intervensi dan implementasi Intervensi adalah penyusunan rencana tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan untuk menanggulangi masalah sesuai dengan diagnosa keperawatan (Boedihartono. mengidentifikasi tanda-tanda peradangan terutama bila suhu tubuh meningkat. 6. 1995:40). tidak mengenal sumber informasi. salah interpretasi informasi. Kriteria: . Intervensi dan implementasi pada pasien dengan peritonits (Doenges. faktor fisiologis. kulit. Risiko infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan perifer. Resiko tinggi terhadap perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake nutrisi yang tidak adekwat akibat mual dan nafsu makan yang menurun. .Tanda-tanda vital dalam batas normal atau dapat ditoleransi. 1999) adalah : 1. berhubungan dengan kurang terpajan/mengingat. 5. Ansietas berhubungan dengan krisis situasi. kadar gula darah yang tinggi. Lakukan perawatan luka dengan teknik aseptik.4. ancaman kematian/perubahan Kurang pengetahuan tentang kondisi. 1994:20) Implementasi adalah pengelolaan dan perwujudan dari rencana keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan (Effendi.

Tujuan : Tidak terjadi defisit voume cairan Kriteria : . R/ d. Observasi capillary Refill c. Anjurkan untuk minum 1500-2000 ml /hari ( sesuai toleransi ) R/ Untuk memenuhi kebutuhan cairan tubuh peroral e.Akral hangat . Catat warna urine / konsentrasi. Jika ditemukan tanda infeksi kolaborasi untuk pemeriksaan penurunan Hb dan peningkatan jumlah leukosit dari normal bisa terjadi akibat terjadinya proses infeksi.Tidak ada tanda presyok . untuk mengurangi risiko infeksi nosokomial. seperti Hb dan leukosit. drainase luka. Kolaborasi untuk pemberian antibiotik. dll. kateter. Awasi vital sign tiap 3 jam/sesuai indikasi R/ R/ R/ Vital sign membantu mengidentifikasi fluktuasi cairan intravaskuler Indikasi keadekuatan sirkulasi perifer Penurunan haluaran urine pekat dengan peningkatan BJ diduga dehidrasi. R/ e. Lakukan perawatan terhadap prosedur inpasif seperti infus.Vital sign dalam batas normal . Kolaborasi : Pemberian cairan intravena b. R/ antibiotik mencegah perkembangan mikroorganisme patogen. darah.Input dan output seimbang . Observasi intake dan output. Resiko defisit volume cairan berhubungan dengan pindahnya cairan intravaskuler ke ekstravaskuler.R/ c.Capilarry refill < 3 detik Intervensi dan Implementasi : a. 2. BJ . d. mengendalikan penyebaran mikroorganisme patogen.

trauma jaringan. Nyeri berhubungan dengan iritasi kimia peritonium perifer. 4. Tujuan : nyeri dapat berkurang atau hilang. 3. Intervensi dan Implementasi : a. Resiko tinggi terhadap perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh nyeri Observasi tanda-tanda vital. R/ d. untuk mengetahui perkembangan klien Melakukan kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian Lakukan pendekatan pada klien dan keluarga hubungan yang baik membuat klien dan keluarga kooperatif Kaji tingkat intensitas dan frekwensi nyeri tingkat intensitas nyeri dan frekwensi menunjukkan skala nyeri Jelaskan pada klien penyebab dari nyeri memberikan penjelasan akan menambah pengetahuan klien tentang berhubungan dengan intake nutrisi yang tidak adekuat akibat mual dan nafsu makan yang menurun. dimana analgesik berfungsi untuk memblok stimulasi nyeri. Kriteria : . R/ b. Kaji riwayat nutrisi. Intervensi dan Implementasi : a. R/ e.Nyeri berkurang atau hilang . untuk mencegah terjadinya hipovolemic syok. R/ c.Klien tampak tenang. Tujuan : Tidak terjadi gangguan kebutuhan nutrisi Kriteria : . analgesik R/ merupakan tindakan dependent perawat.Tidak ada tanda-tanda malnutrisi .Menunjukkan berat badan yang seimbang. termasuk makanan yang disukai .R/ Dapat meningkatkan jumlah cairan tubuh. akumulasi cairan dalam rongga abdomen/distensi abdomen.

Meningkatkan nafsu makan dan masukan peroral Menurunkan distensi dan iritasi gaster.klien melaporkan tidak ada gangguan persepsi sensori. Makanan sedikit dapat menurunkan kelemahan dan meningkatkan masukan juga mencegah distensi gaster. status kesehatan. R/ R/ 5. Timbang BB tiap hari (bila memungkinkan) d. Kaji dan dokumentasikan tingkat kecemasan pasien. . R/ b. ansietas di masa lalu. . Hindari makanan yang merangsang dan mengandung gas. menduga kemungkinan intervensi Mengawasi masukan kalori/kualitas kekurangan konsumsi makanan Mengawasi penurunan BB / mengawasi efektifitas intervensi. faktor fisiologis. meningkatkan kemampuan mengontrol ansietas. R/ c. Intervensi dan Implementasi : a. Lakukan pendekatan dan berikan motivasi kepada pasien untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan. Tujuan : ansietas berkurang/terkontrol. .klien mampu mempertahankan penampilan peran. status hipermetabolik. . Kriteria : . . Kaji mekanisme koping yang digunakan pasien untuk mengatasi mempertahankan mekanisme koping adaftif.tidak ada manifestasi perilaku akibat kecemasan. Observasi dan catat masukan makanan pasien c. Ansietas berhubungan dengan krisis situasi. Berikan dan Bantu oral hygiene. Berikan makanan sedikit namun sering dan atau makan diantara waktu makan e. b. memudahkan intervensi.klien melaporkan tidak ada manifestasi kecemasan secara fisik. ancaman kematian/perubahan f.klien mampu merencanakan strategi koping untuk situasi-situasi yang membuat stress.R/ R/ R/ R/ Mengidentifikasi defisiensi.

menciptakan perasaan yang tenang dan nyaman. a. berhubungan dengan kurang terpajan/mengingat. f. R/ pendekatan dan motivasi membantu pasien untuk mengeksternalisasikan kecemasan yang dirasakan. R/ e.memulai perubahan gaya hidup yang diperlukan dan ikut serta dalam regimen perawatan. ini. sesuai kebutuhan. Motivasi pasien untuk memfokuskan diri pada realita yang ada saat alat untuk mengidentifikasi mekanisme koping yang dibutuhkan untuk mengurangi kecemasan. Berikan penguatan yang positif untuk meneruskan aktivitas seharimenciptakan rasa percaya dalam diri pasien bahwa dirinya mampu mengatasi masalahnya dan memberi keyakinan pada diri sendri yang dibuktikan dengan pengakuan orang lain atas kemampuannya. Kurang pengetahuan tentang kondisi. mengurangi ansietas. R/ 6. Tujuan : orang tua mengutarakan pemahaman tentang kondisi. efek prosedur dan proses pengobatan. harapan-harapan yang positif terhadap terapy yang di jalani. prognosis dan prosedur pengobatan keluarga menyangkut diagnosis. hari meskipun dalam keadaan cemas. perawatan dan prognosis. . Kriteria : .R/ d. salah interpretasi informasi. R/ h. mengurangi kecemasan. Kolaborasi pemberian obat anti ansietas. Sediakan informasi factual (nyata dan benar) kepada pasien dan meningkatkan pengetahuan. Anjurkan pasien untuk menggunakan teknik relaksasi. tidak mengenal sumber informasi.melakukan prosedur yang diperlukan dan menjelaskan alasan dari suatu tindakan. R/ g. Kaji tingkat pengetahuan klien dan keluarga tentang . penyakitnya.

Tidak terjadi defisit voume cairan Nyeri dapat berkurang atau hilang. Evaluasi yang diharapkan pada pasien dengan peritonitis (Doenges. 2001). 5. kondisinya sekarang. 4. R/ mengetahui seberapa jauh pengalaman dan pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya. nya. 2. D. 6. Tidak terjadi gangguan kebutuhan nutrisi Ansietas berkurang/terkontrol. R/ c. Klien/keluarga mengutarakan pemahaman tentang kondisi. Berikan penjelasan pada klien tentang penyakitnya dan dengan mengetahui penyakit dan kondisinya sekarang. R/ d. keluarganya akan merasa tenang dan mengurangi rasa cemas. klien dan Anjurkan klien dan keluarga untuk memperhatikan diet makanan diet dan pola makan yang tepat membantu proses penyembuhan.R/ b. Evaluasi Evaluasi addalah stadium pada proses keperawatan dimana taraf keberhasilan dalam pencapaian tujuan keperawatan dinilai dan kebutuhan untuk memodifikasi tujuan atau intervensi keperawatan ditetapkan (Brooker. Infeksi tidak terjadi / terkontrol. Minta klien dan keluarga mengulangi kembali tentang materi mengetahui seberapa jauh pemahaman klien dan keluarga serta menilai keberhasilan dari tindakan yang dilakukan. yang telah diberikan. . 1999) adalah : 1. 3. efek prosedur dan proses pengobatan.

1994. 2002. Edisi 3. EGC : Jakarta. FKUI. Brooker. Keperawatan Medikal Bedah. Winter H. Rencana Asuhan Keperawatan. Proses Keperawatan di Rumah Sakit. 2001. EGC : Jakarta. 1999. EGC. 1994. Jakarta Doenges. Buku Pintar Kesehatan. Marilyn E. Brunner dan Suddarth. Kamus Saku Keperawatan.DAFTAR PUSTAKA Boedihartono. Edisi 3. Binarupa Aksara : Jakarta Griffith. 1995. Arcan : Jakarta . Christine. EGC : Jakarta. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah.

Peter M. Effendi. Segi Praktis Ilmu Bedah untuk Pemula Edisi 2. EGC. 1995. 1990. .Mowschenson. Binarupa Aksara : Jakarta Nasrul. Jakarta. Pengantar Proses Keperawatan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful