P. 1
Akad Dalam Islam

Akad Dalam Islam

|Views: 1,448|Likes:
Published by Retna Wulandari

More info:

Published by: Retna Wulandari on Jun 16, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/22/2013

pdf

text

original

1.

NORMA-NORMA AKAD (KONTRAK) DALAM FIQH ISLAM
A.Sekilas tentang Sejarah Akad
Al-‘Aqd (akad/kontrak) berasal dari kata ‘aqada–ya’qidu–‘aqd[an]; jamaknya adalah al-‘uqûd. Secara bahasa al-’aqd bermakna ar-rabth (ikatan), asy-syadd (pengokohan), at-taqwiyah (penguatan). Jika dikatakan, ‘aqada al-habla (mengikat tali), maksudnya adalah mengikat tali satu dengan yang lain, mengencangkan dan menguatkan ikatannya. Al-‘aqdu juga bisa bermakna al-‘ahdu (janji) atau al-mîtsâq (perjanjian). Adapun al-’uqdah (jamaknya al-‘uqad) adalah obyek ikatan atau sebutan untuk sesuatu yang diikat. Di dalam al-Quran kata ’aqada disebutkan sebanyak tujuh kali dalam tujuh ayat: kata ’aqada bermakna sumpah (QS 4: 33; 5: 89); al-’uqûd bermakna al-’ahdu atau janji (QS 5: 1; 20: 27); ‘uqdah bermakna ikatan (QS 2: 235, 237) dan al-‘uqad bermakna simpul atau buhul (QS 113: 4). Menurut al-Jashash sumpah disebut ’aqd jika berupa sumpah untuk perkara yang akan datang. Pada awalnya kata ’aqada digunakan untuk benda padat seperti tali dan bangunan, namun kemudian dengan majaz isti‘ârah kata ini juga diterapkan untuk selainnya seperti: ’aqd al-bay’ (akad jual-beli), ‘aqd al-’ahd (akad perjanjian), ‘aqd an-nikâh (akad nikah), dsb. (komitmen atau irtibâth/pertautan). Abu Bakar menyatakan, al-’aqd adalah apa yang diakadkan (diwajibkan) oleh orang yang berakad atas suatu perkara yang harus ia lakukan, atau ia akadkan terhadap orang lain untuk melakukannya, dalam bentuk mengharuskan atau mewajibkan perkara itu kepadanya. Al-’aqd, meski asalnya secara bahasa bermakna asy-syadd (pengencangan), ia kemudian mengalami transformasi makna, seperti sumpah dan akad; akad jual beli dan sebagainya. Yang dimaksud tidak lain adalah kewajiban memenuhi apa yang disebutkan dan ditawarkan. Ini tidak lain diimplementasikan pada sesuatu yang ditunggu pemenuhannya ke depan. Jual-beli, nikah, ijârah dan seluruh akad Dalam konteks ini, ’aqada dimaknai sebagai ilzâm (pengharusan) dan iltizâm

dengan kompensasi disebut sebagai akad karena masing-masing pihak telah mewajibkan diri untuk memenuhinya. Makna tersebut kemudian dalam penggunaannya lebih menonjol dan menjadi ’urf (tradisi). Karena itu, secara ‘urf, al-’aqd adalah iltizâm
1|Akad Ekonomi Islam

al-jânibayn li syay’in wa muqâbiluhu (komitmen dua pihak untuk suatu perkara berikut kompensasinya). Menurut Ibn Manzhur, “Jika Anda berkata. ’âqadtuhu, atau ’aqadtu ’alayhi, maka takwilnya adalah: Anda mengikat (mengharuskan) dia atas hal itu dengan istîtsâq (meminta janji/komitmen) dan membuat kontrak (kesepakatan) dan perjanjian.” Dengan demikian, al-’aqd adalah transaksi dan kesepakatan, atau komitmen dengan konotasi al-istîtsâq. Itu tentu tidak akan terjadi, kecuali di antara dua pihak yang saling berakad. Adapun al-‘ahd (janji) bisa berlangsung dari satu pihak saja. Karenanya, al-‘ahd lebih umum daripada al-‘aqd, karena tidak semua al-‘ahd (janji) merupakan al-‘aqd (akad). Sebaliknya, semua al-‘aqd (akad) merupakan al-‘ahd (janji).

B.Alat Akad
Alat akad bisa dalam bentuk tulisan atau secara lisan, berikut hal-hal yang dibutuhkan (di sebutkan satu per satu) sehingga akad dapat dinyatakan sah.

C.Dasar-dasar dalam Hukum Islam
1) Makna Akad (Kontrak) Akad berasal dari bahasa arab (‫ ) ﺍﻟﻌﻘﺩ‬Al’Aqad yang berarti perikatan, perjanjian, dan pemufakatan. Pertalian ijab (pernyataan melakukan ikatan) dan kabul (pernyataan menerima ikatan), sesuai dengan kehendak syari’at yang berpengaruh pada objek perikatan. Pengertian ialah umumnya yakni sesuatu yang di ikatkan seseorang bagi dirinya sendiri atau bagi orang lain dengan kata harus. Akad atau perjanjian sendiri mempunyai banyak arti yang keseluruhannya kembali pada bentuk ikatan atau penghubungnnya terhadap dua hal. Menurut musthofa as zawqa’, setiap akad adalah tindakan hukum yang dilakukan dua atau lebih yang sama-sama berkeinginan untuk mengikatkan diri. Kehendak atau keinginan pihak-pihak yang mengikatkan diri itu sifatnya tersembunyi dalam hati, sehingga untuk menyatakannya masing-masing diungkapkan dalam suatu pernyataan ijab dan qobul. Pihak yang melakukan ijab disebut mujib (‫) ﻣﻮ ﺟﺏ‬ Pihak yang melakukan qobul disebut qaabil ( ‫.) ﻗﺍ ﺑﻞ‬
2|Akad Ekonomi Islam

-

yaitu akad yang dilakukan seseorang yang mampu bertindak atas kehendak hukum. sehingga akibat hukum tidak berlaku bagi 3|Akad Ekonomi Islam ariyah (pinjam-meminjam) dan wadi’ah (barang . berlaku kepada kedua belah pihak. Menurut Mahzab Syafi’i dan Mahzab Hambali. seperti akad jual-beli dan sewa-menyewa. ulama fiqih membaginya kepada dua macam: a. Akad yang tidak bersifat mengikat bagi kedua belah pihak. yaitu akad yang dilangsungkan dengan memenuhi rukun dan syarat dan tidak ada penghalang untuk melaksanakannya. Keduanya mengucapkan ungkapan/pernyataan akad atau shighah al-aqd ( ‫ . b.  Akad yang tidak sahih yaitu akad yang terdapat kekurangan pada rukun atau syarat.) ﺍﻠﻌﻗﺩﺩ ﺼﯿﻐﺔ‬Hukum akad adalah wajib bagi pihak-pihak yang terikat hingga akad selesai ditunaikan ataupun akadnya batal. Namun dalam muamalah boleh qaabil dulu baru mujib. Akad yang nafiz (sempurna untuk dilaksanakan). bahwa jual-beli yang mauquf itu tidak sah. segala akibat hukum yang ditimbulkan oleh akad itu.Biasanya pihak pertama yang menyatakan adalah mujib baru kemudian qaabil seperti dalam akad nikah. membagi lagi akad sahih ini menjadi dua macam: a. yaitu:  Akad sahih. Akad tersebut seperti akad yang dilakukan oleh anak kecil yang menjelang akil baligh (mumayyiz). tetapi dia tidak memiliki kekuasaan untuk melangsungkan dan melaksanakan. Apabila dilihat dasri segi keabsahannya menurut syara’. 2) Macam-macam Akad Menurut ulama fiqih. Akad yang bersifat mengikat bagi kedua belah pihak. yaitu akad yang telah memenuhi syarat dan rukun. Akad itu baru sah secara sempurna dan memiliki akibat hukum setelah mendapat ijin dari wali anak itu. maka akad dibagi dua. akad dapat dibagi dari beberapa segi. Dengan demikian. seperti titipan). sehingga salah satu pihak tidak boleh membatalkan akad itu tanpa seizin pihak lain. Ulama Mahzab Hanafi dan Mahzab Maliki. Lebih lanjut jika dilihat dari sisi mengikat atau tidak jual-beli yang sahih itu. b. Akad mauquf.

kepercayaan dan ketulusan antara pihak-pihak yang melakukan akad. Pernyataan untuk mengikatkan diri (shighah al-aqd). 3. 3) Prinsip Syariah tentang Cara Memahami Persyaratan Akad 1. 2. Akad yang ditulis bisa dengan tulisan tangan langsung ataupun dengan mengajukan ke notaries seperti pada akad jual beli tanah sehingga akad yang ada memiliki kekuatan hokum tetap. Suatu akad dikatakan fasid. Suatu akad dikatakan batil apabila akaad itu tidak memenuhi salah satu rukun dan larangan langsung dari syara’. Akad termasuk dalam lingkup hukum muamalah. 4. Objek yang dilakukan akad (maqud ‘alaih). Sebaiknya semua akad perjanjian ditulis dan dipersaksikan didepan saksi-saksi. atau salah satu pihak tidak mampu (belum pantas) bertindak atas nama hukum seperti anak kecil atau orang gila. 3. 4) Rukun-Rukun Akad / Kontrak Menurut jumhur (mayoritas) lugaha. Hukum asal muamalah ialah segala sesuatu boleh kecuali ada ketentuan yang melarangnya. Memandang adanya manfaat untuk akhirat. Kemudian Mahzab Hanafi membagi lagi akad yang tidak sahih ini kepada dua macam. 2. rukun akad hanya shighah al-aqd. Pihak-pihak yang melakukan akad (‘Aqid). Segala sesuatu yang menyangkut masalah akad seperti subjek. yaitu: akad yang batil dan akad yang fasid. sedangkan pihak yang berakad dan objek akad adalah syaratnya. Adanya ketertbukaan. Umpamanya: objek akad (jual-beli) itu tidak jelas seperti menjual ikan dalam empang (lautan). tetapi sifat yang diakadkan tidak jelas. seperti menjual mobil tidak disebutkan merknya. tahunnya dan sebagainya. Tujuan akad harus jelas dan dapat dipahami. 6. objek dan pernyataan akan harus sesuai dengan prinsip syariah. rukun akad terdiri atas: 1. 4|Akad Ekonomi Islam . 5.kedua belah pihak yang melakukan akad itu. adalah suatu akad yang pada dasarnya dibenarkan. Ketentuan shighah al-aqd: 1. kejujuran. Menurut ulama Mahzab Hanafi.

Mahzab Syafi’I mengharuskan setelah ijab sesegera mungkin dijawab qabul. Berbentuk harta b.2. 6. disamping harus memenuhi syaratsyarat umum. musaaqah(transaksi antara pemilik kebun dan pengelolanya). 3. Bernilai harta menurut syara’ (misalnya bukan barang haram. 7. 2. 5|Akad Ekonomi Islam . 5) Syarat-Syarat Akad Disamping syarat-syarat khusus akad seperti dalam akad jual beli. terdapat beberapa syarat umum. Pengecualian dibenarkan karena akad-akad seperti itu sudah umum menjadi adat kebiasaan masyarakat. Bila belum mampu dapat diwakilkan oleh walinya. Akad tidak dilarang oleh nash syara’. akad sewa maupun akad lainnya. dan tidak boleh ada yang meragukan. istihna’(pesanan barang). Pihak-pihak yang melakukan akad dipandang mampu bertindak menurut hukum (mukallaf). Akad yang dilakukan memenuhi syarat-syarat khusus dengan akad yang bersangkutan. Antara lain: 1. Jumhur ulama fiqih selain Mahzab Syafi’I membolehkan adanya tenggang waktu antara ijab dan qabul. Dimiliki oleh seseorang c. objek akad diakui syara’ meliputi: a. 3. 4. najis) d. 5. Bahkan Mahzab maliki membolehkan jika penerima meminta tenggang waktu sebelum mengucapkan qabul. Ijab tetap utuh sampai terjadi qabul. antara ijab dan qabul harus ada kesesuaian. Akad itu bermanfaat. Ijab dan qabul dilakukan dalam satu majlis atau waktu yang sama. Barang tersedia saat akad dan dapat diserahkan usai akad kecuali untuk ‘aqad salam (indent). Pernyataan ijab dan qabul itu harus sesuai dengan kehendak masing-masing.

Qabiliyatul mahallil aqdi li hukmihi (yang dijadikan objek akad dapat menerima hukuman). Alla yakunal 'aqdu au madhu'uhu mamnu'an binashshin syar'iyin (janganlah akad itu yang dilarang syara) seperti bai' munabadzah. yaitu syarat-syarat yang disyaratkan wujudnya dalam sebagian akad. seperti adanya saksi. walaupun dia bukan si 'aqid sendiri). namun dapat dibagi menjadi dua macam. seperti jual beli dan hibah . untuk terjadinya nikah. syarat umum.a. syarat khusus. Sedangkan syarat-syarat yang harus terdapat dalam segala macam akad adalah: a. d. tidak dalam sebagian yang lain. Ijab dan qabul harus jelas dan gamblang terhindar dari khiyar (penafsiran ganda) yang dapat menimbulkan kesalhpahaman antar pihak yang bersepakat. 6|Akad Ekonomi Islam . Ahliyatul 'aqidaini (kedua pihak yang melakukan akad cakap bertindak atau ahli). Pertama. c. b. Ini merupakan syarat-syarat idhafiyah. b. Harus sama ridho dan iklas. tidak boleh adanya ta'liq dalam aqad muawadha dan aqad tamlik. Syarat-syarat ini biasa juga disebut syarat tambahan (syarat idhafiyah) yang harus ada di samping syarat-syarat umum. Dalam akad memiliki kebebasan mangajukan syarat. yaitu syarat-syarat yang wajib sempurna wujudnya dalam segala macam akad. c. Tujuan akad harus jelas dan diakui syara’. tanpa batas selama tidak ada larangan dalam Al Quran dan sunnah seperti yang diutarakan uleh ulama Mahzab Hambali dan Mahzab Maliki. Kedua. ada yang bersifat mutlak. Syarat tersebut tidak boleh karena suami menafkahi istri adalah kewajiban sehingga tidak bias menjadi syarat. 6) Syarat-Syarat Rukun Akad Ada beberapa syarat yang harus terdapat dalam akad. Al-Wilyatus syar'iyah fi maudhu'il aqdi (akad itu diizinkan oleh syara dilakukan oleh orang yang mempunyai hak melakukannya dan melaksanakannya. Sedangkan menurut ulama Mahzqab Hanafi dan Mahzab Syafi’I syarat yang ada tetap ada batasannya walaupun tidak ada dalil yang melarang seperti syarat jika sesudah menikah nanti suami akan menafkahi istri.

Akad Pertukaran Jual Beli 1) Berdasarkan perbandingan harga jual dan harga beli  Al Musawwamah Yang dimaksud dengan Musawamah adalah Jual beli yang keuntungannya hanya diketahui penjual. Al Tauliah Yang dimaksud dengan Tauliah adalah Jual beli yang tidak ada keuntungan bagi penjual (komisi).e. penjual harus memberitahu harga produk yang dia beli dan menentukan suatu tingkat keuntungan sebagai tambahannya. Murabahah dapat dilakukan untuk Imam pembelian dengan sistem pemesanan. 7|Akad Ekonomi Islam . sebelum terjadi qabul). Baqaul ijabi shalihan ila mauqu'il qabul (ijab berjalan terus.  Al Muwadhaah Yang dimaksud dengan Muwadhaah adalah Jual beli yang harganya dibawah harga jual (diskon). Maka ijab menjadi batal apabila berpisah salah seorang dari yang lain dan belum terjadi qabul 2. tidak dicabut. f. Ittihadu majalisil 'aqdi (bertemu di majelis akad). yang akan dibayar kembali oleh nasabah sebesar harga jual bank (harga beli bank + margin keuntungan) pada waktu yang ditetapkan. Dalam istilah teknis perbankan syari’ah murabahah ini diartikan sebagai suatu perjanjian nasabah. Dalam al-Umm. Kaunul 'aqdi mufidan (akad itu memberikan faedah).  Al Murabahah Al Murabahah jual beli barang pda harga asal dengan tembahan keuntungan yanng disepakati. g. pembelian yang dimana bahan disepakati Bank baku antara Bank Syariah dengan untuk yang menyediakan atau modal pembiayaan kerja lainnya  dibutuhkan nasabah. Dalam bai' al murabahah. JENIS-JENIS AKAD (TRANSAKSI) A.

dll. Namun. Jual beli kedua belah pihak dilakukan setelah barang tersebut berada di tangan pemesan. Ibn Majah) Produk murabahah adalah pembiayaan perbankan syariah dengan memakai prinsip jual-beli barang pada harga asal dengan tambahan keuntungan yang disepakati. bersabda : “Tiga hal yang didalamnya terdapat keberkatan : jual beli secara tangguh. bukan untuk dijual” (HR. dan pembayarannya secara cicilan. atau sebagai dana talangan. karakteristiknya berbeda. pembiayaan yang diberikan adalah barang (motor.a.)/bukan uang. kedua belah pihak juga harus menyepakati beberapa tambahan yang harus dibayar pemesan. Bila dilihat sekilas. dengan pihak bank selaku penjual dan nasabah selaku pembeli. Dalam hal ini calon pembeli atau pemesan dapan memesan kepada sesorang (sebut saja pembeli) untuk membelikan suatu barang tertentu yang diinginkannya. terdapat persamaan jual beli murabahah dengan pembiayaan konsumtif. harga jual pembiayaan konsumen biasanya memakai tingkat bunga yang tergantung situasi pasar. jika diperhatikan lebih dalam sesuai dengan fatwa DSN MUI. sehingga harga jual tidak boleh berubah. sedangkan margin/tingkat keuntungan murabahah (bila sudah terjadi ijab kabul) bersifat tetap. Setelah itu. sesuai Pembayaran dengan dapat angsuran kesepakatan . Perbedaan pertama. mengenai Kedua belah pihak serta membuat kesepakatan barang tersebut kemungkinan harga asal pembelian yang masih sanggup ditanggung pemesan. Karakteristiknya adalah penjual harus memberi tahu harga produk yang ia beli dan menentukan suatu tingkat keuntungan dilakukan bersama. muqaradhan (mudharabah). Dari Suhaib al-Rumi r. dan mencampur gandum dengan tepung untuk keperluan rumah.Syafi’i menamai transaksi ini dengan istilah al-amir bi al-syira . Terdapat beberapa perbedaan utama antara jual beli murabahah dengan pembiayaan konsumen. bahwa Rasulullah Saw. Jadi. Persamaannya antara lain. mobil. sejak awal perjanjian sampai dengan masa 8|Akad Ekonomi Islam sebagai secara tambahannya.

dalam pembiayaan konsumen dikenal adanya utang pokok dan hutang bunga. Harga jual adalah harga utang perolehan/pembelian nasabah itu akan barang berkurang ditambah sebesar keuntungan yang disepakati. Jadi. nasabah diberi uang yang akan dipergunakan untuk membeli barang yang dibutuhkan. Pada pembiayaan konsumen. Diskon adalah hak nasabah. dimungkinkan membuat sebuah klausul untuk meningkatkan bunga seperti karena akibat ketergantungan pada situasi pasar. Namun. Pada lembaga keuangan konvensional. Dalam hal ini belum tentu ada barangnya. jadi tidak membedakan lagi unsur pokok dan keuntungan. apabila bank syariah mendapat diskon pemebelian dari pemasok. harga perolehan/pembelian adalah harga setelah didiskon. Dalam praktiknya. utang nasabah adalah sebesar harga jual. Dalam akad murabahah. Sedangkan akad pembiayaan konsumen adalah akad pinjam meminjam. sehingga diwajibkan adanya suatu barang yang diperjualbelikan. Apabila nasabah mengangsur utangnya. Keunggulan dari sebuah produk jual beli murabahah adalah memberikan kepastian dan kenyamanan kepada nasabah terhadap angsuran pembiayaan.pelunasan. Dalam jual beli murabahah. 9|Akad Ekonomi Islam . seperti mobil atau motor. Bila dibayar secara angsuran. bila diskon dari pemasok diberikan setelah akad murabahah. pembayaran angsuran yang dilakukan. dan krisis nilai tukar. utang nasabah akan berkurang sebesar pembayaran angsuran pokok kredit dan pembayaran bunga. Barang yang diperjualbelikan tersebut berupa harta yang jelas harganya. sering kali terjadi penyalahgunaan pemakaian. utang nasabah adalah sebesar pokok kredit ditambah dengan bunga. krisis BBM. akad murabahah adalah akad jual beli. pembagian diskon antara bank syariah dengan nasabah didasarkan pada ketentuan-ketentuan yang sudah tercantum pada akad. Perbedaan ketiga. Perbedaan kedua. dalam hal utang nasabah. bank syariah tidak diperbolehkankan mengubah harga yang telah diperjanjikan/ diakadkan. Sedangkan pada pembiayaan konsumen.

yang besarnya diserahkan pada kebijakan dan pertimbangan bank syariah 2) Berdasarkan jenis barang pengganti  Al Mughayabah Yang dimaksud dengan akad Al Mughayabah adalah tukar menukar barang dengan barang.  Al Mutlaq Yang dimaksud dengan akad Al Mutlaq adalah tukar menukar uang dengan barang. Oleh karena itu dalam kitab fiqh apa saja yang menjadi ketentuan/ syarat rukun dalam transaksi berlaku juga dalam transaksi mata uang ( As –Sharf ). sering menempatkan pembahasannya sebagai bagian dari bab jual beli. sub bab macam macam Jual Beli (Wahbah Az Zuhaili ) sedangkan As Sharf dalam Bidayatul Mujtahid Juz II pembahasan setelah bab jual beli. karena mungkin pada masa lampau. Kitab fiqh yang membicarakan bab transaksi valuta asing dikenal dengan As Sharf. bank syariah boleh memberikan potongan dari kewajiban pembayaran tersebut. hanya saja kategorinya lebih 10 | A k a d E k o n o m i I s l a m . keterbatasan ini dapat dipahami. tepatnya masa Nasir Muhammad bin Qalamun semasa Imam Ibnu Taimiyah6. Dengan demikian perhatian tidak cukup banyak terhadap masalah ini. Masalah valuta muncul ke permukaan dan menjadi perbincangan ulama baru ketika terjadi ketidakstabilan nilai tukar emas dan perak pada masa kesultanan Mamluk. ketika kitab fiqh sedang ditulis oleh fuqaha masalah jual beli mata uang bukan masalah yang menonjol sebagaimana masalah muamalat lainnya.Jika nasabah dalam transaksi murabahah melakukan pelunasan pembayaran tepat waktu atau lebih cepat dari waktu yang disepakati.  As Sharf Penelusuran tentang transaksi mata uang ( As Sharf ) dalam kitab fiqh sedikit dan terbatas. Secara umum jual beli mata uang / As Sharf dalam kitab kitab fiqh diidentikkan dengan tukar menukar antara emas dan emas atau perak dengan perak. dengan syarat tidak diperjanjikan dalam akad.

Sharf ): a) Serah terima dalam majlis kontrak b) Jika sama c) Tidak boleh ada khiyar syarat d) Tidak boleh ditangguhkan. meski boleh. demand for transaction bukan spekulasi. Nasa’i dan Ibnu Majah dari Ubadah bin Shamit tentang tukar menukar emas dan perak. tiada penundaan. tetapi mereka berbeda tentang waktu yang membatasi 11 | A k a d E k o n o m i I s l a m dengan mata uang yg sama. Dalam Kamus al Munjid fi al Lugah7 disebutkan bahwa al sharf berarti menjual uang dengan uang lainya. Abu Daud.khusus. 275 tentang Kebolehan Jual beli. jumlahnya harus . Istilah al sharf yang berarti jual beli valuta dapat ditemukan dalam beberapa kamus. Dan hadits tentang jual beli mata uang (As. masing masing pihak yang bertransaksi tidak boleh menangguhkan penyerahan barang untuk jangka waktu tertentu karena barang tersebut harus diterima dan jatuh sebagai hak milik masing masing pembeli sebelum mereka berpisah.2.Sharf) diantaranya mendasarkan pada Riwayat Muslim. Dalam jual beli mata uang asing Ulama sepakat dengan syarat tunai. sepanjang Transaksi Valuta asing dari ketentuan tersebut memenuhi ketentuan dalam transaksi Islam perlu adalah kegiatan yang ditolelir tetapi. Dalam jual beli mata uang harus memenuhi syarat khusus. Tirmidzi. Menurut Istilah Syara’ Sharf adalah jual beli satu mata uang dengan mata uang yang lain baik mata uang tersebut satu jenis atau berlainan jenis. dibuat semacam untuk memenuhi catatan karena pada dasarnya Islam permintaan dan penawaran/ money memandang uang harta sebagai alat tukar bukan komoditas. Allah Menghalalkan jual beli dan mengharamkan Riba. Muhammad al Adnani mendefinisikan al sharf dengan tukar-menukar uang. Jual beli mata uang mendasarkan pada QS. yang berarti harus tunai dan tiada pelebihan yang berarti dengan syarat keseimbangan.8 Yang dalam istilah Inggris adalah money changer. Syarat Syarat jual beli mata uang ( As.

Berbeda dengan Imam Malik yang berpendapat bahwa jika penerimaan pada majlis terlambat.pengertian tunai ini. Hanafi hanya saja perbedaan terletak pada interpretasi batasan istilah tunai dalam transaksi. selama keduabelah Imam pihak Hanafi dan belum Imam Syafi’i baik itu berpendapat bahwa jual beli mata uang terjadi secara tunai berpisah. tunai dan kadarnya sama. Selanjutnya beliau mengatakan tidak sah jual beli uang dengan sistem penangguhan. dapat ditarik benang merah bahwa semua pendapat sepakat tentang dibolehkannya jual beli mata uang dengan syarat syarat khusus. Merujuk uraian diatas. Dalam hal ni menurut Yusuf al-Qardhawi syara’ telah menyerahkan ukuran tersebut kepada adat kebiasaan yang berlaku di suatu masyarakat. Sementara itu ulama Kontemporer. maka jual beli itu batal. mengatakan tidak diperbolehkan. Jadi penerimaannya bisa dengan perjanjian waktu tertentu. realita tunai ini juga mengikuti hukum darurat yang diukur sesuai dengan ukurannya. Syafi’i dan berpendapat bahwa tenggang waktu bisa diundur selama kedua belah pihak belum meninggalkan majlis. Dalam keputusan Fatwa Dewan Syariah Nasional. sedangkan Malik tidak ada tenggang waktu antara terjadinya akad dengan terjadinya serah terima barang. Karena ia tidak menyukai janji janji didalamnya. Justru itu umat Islam tidak diperkenankan untuk menjual apa yang dibelinya kecuali setelah diterimanya terlebih dahulu barang itu menurut adat kebiasaan yang berlaku. bahkan harus dilakukan secara tunai di tempat transaksi. penerimaannya itu segera atau lambat. dalam hal memperjualbelikan mata valuta asing yang tidak dilakukan secara tunai. secara umum memberi justifikasi bahwa jual beli mata uang pada prinsipnya boleh dengan ketentuan: 12 | A k a d E k o n o m i I s l a m . Hanya saja yang menjadi kriteria tunainya sesuatu itu menurut ukurannya sendiri-diri. meski kedua belah pihak belum berpisah. Walaupun demikian. seperti al Qardawi.

c) Jika mata uang sejenis maka nilainya harus sama dan secara tunai. d) Apabila berlainan jenis maka harus dilakukan dengan nilai tukar (Kurs) yang berlaku pada saat transaksi dilakukan dan secara tunai. Untuk jenis transaksi valuta asing. Allah swt berfirman : “Hai orang-orang yang beriman. 3) Berdasarkan waktu penyerahan  Bithaman Ajil Ciri-ciri perjanjian pada pembiayaan Al Baiu Bithaman Ajil adalah : a) Perjanjian campuran (sui generis) karena di satu sisi perjanjian dilaksanakan atas negosiasi para pihak (perjanjian timbal balik) dan di sisi lain ditetapkan oleh bank secara sepihak (perjanjian baku). “Saya bersaksi bahwa jual beli secara ijon yang jangka waktunya ditentukan sampai waktu tertentu. Ibnu Abbas ra berkata. Bila memungkiri perjanjian (wan prestasi) bukan tanda-tanda orang beriman  Bai as Salam Kata salam. b) Janji menurut ketentuan Hukum Islam harus ditepati. Sedangkan untuk transaksi Forward. adalah semakna dengan kata salaf. karena didalamnya ada unsur spekulasi (maisir). (Fiqhus Sunnah III: 171). 13 | A k a d E k o n o m i I s l a m . karena dianggap tunai. sedangkan waktu dua hari dianggap sebagai proses penyelesaian yang tidak bisa dihindari dan merupakan transaksi Internasional. hendaklah kamu menuliskannya.” (QS al-Baqarah: 282). b) Ada kebutuhan transaksi atau untuk berjaga jaga (simpanan). Sedangkan hakikat salam menurut syar’i adalah jual beli barang secara ijon dengan menentukan jenisnya ketika akad dan harganya dibayar di muka. hukumnya boleh. apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan.a) Tidak untuk spekulasi (untung untungan). huruf sin dan lam diberi harakat fathah. Swap dan Option hukumnya haram.

dua tahun dan tiga tahun.” (Muttafaqun ’alaih: Fathul Bari IV: 429 no: 2240.benar-benar telah dihalalkan Allah dalam Kitab-Nya. sedang mereka biasa membeli kurma secara ijon. sedangkan pembayaran dilakukan sebelum barang diterima. (Shahih: Irwa-ul Ghalil no: 1369. maka tentukanlah dengan takaran tertentu. Bai’ as salam berarti pemesanan barang dengan persyaratan yang telah ditentukan dan diserahkan kemudian hari. buat satu masa tertentu. ‘Aunul Ma’bud IX: 348 no: 3446.” Saya bertanya. maka mereka berdua berkata.” Kemudian ia membaca ayat di atas. ‘Aunul Ma’bud IX: 349 no: 3447. Dengan kata lain. timbangan tertentu. Muslim III: 1226 no: 1604. “Tanyakanlah kepada Abdullah bin Abi Aufa. Abdullah bin Abi Aufa menjawab. kami tidak menanyakan hal itu kepada mereka. barang yang diperjualbelikan belum ada wujudnya. sya’ir dan minyak kepada petani dari Syam secara ijon dengan takaran tertentu dan sampai waktu tertentu (pula). Mustadrak Hakim II: 286 dan Baihaqi VI: 18).” Kemudian saya diutus oleh Abu Burdah menemui Abdurrahman bin Abza. “Dahulu kami biasa membeli hinthah. dan padanya Dia membolehkannya.” (Shahih: Irwa-ul Ghalil no: 1370. Dalam jual beli secara ijon tidak dipersyaratkan pihak penjual secara ijon harus sebagai pemilik penuh. Tirmidzi II: 387 no: 1325. ia berkata. Ibnu Majah II: 765 no: 2280 dan Nasa’i VI: 290). “Nabi saw datang di Madinah. ia berkata: Saya pernah diutus oleh Abdullah bin Syaddad dan Abu Burdah untuk menemui Abdullah bin Abi Aufa ra. “Kepada orang yang punya modal pokok?” Jawab Abdullah. Nasa’I VII: 290 dan Ibnu Majah II: 766 no: 2282). Darinya (Ibnu Abbas) ra. apakah para sahabat Nabi saw pada masa Beliau saw biasa membeli hinthah secara ijon?” (Setelah ditanya). “Pada waktu itu. Fathul Bari IV: 430 no: 2244 dan lafadz ini bagi Imam Bukhari. Dari Muhammad bin Abi al-Mujahid. apakah mereka punya ladang ataukah tidak. “Adalah para sahabat Nabi saw biasa membeli barang secara ijon pada masa Beliau saw namun kami tidak pernah bertanya kepada mereka. Pada 14 | A k a d E k o n o m i I s l a m .

Para ahli fiqih berbeda pendapat juga tentang jual beli ini.  Bai u Al Istisna Transaksi Bai’ al Istishna merupakan kontrak penjualan antara pembeli dan pembuat barang melalui pesanan. yaitu 2-6 bulan. Pedagang Pasar Induk. barang. Pembayaran dapat dilakukan di muka. dan ucapan (sighot). pembuat barang dapat membuat kontrak istishna kedua untuk memenuhi kewajibannya pada kontrak pertama. pembeli dapat mengizinkan pembuat barang menggunakan sub kontraktor untuk melaksanakan kontrak tersebut. melalui cicilan. Secara terminologis ilmu fiqih: Mengambil kebutuhan yang perlu dibeli sedikit demi sedikit. bukan karena 15 | A k a d E k o n o m i I s l a m . Dalam sebuah kontrak Bai’ al Istishna. Pemicu perbedaan pendapat mereka adalah karena si pembeli tidak tahu harga barang ketika mengambilnya. atau ditangguhkan sampai batas waktu yang telah ditentukan. lalu membayarnya sesudah itu. sebab pada ijon. Kontrak seperti ini dikenal sebagai “Istishna’ Paralel”  Bai u Al Istijrar Istijrar secara bahasa artinya menarik atau menyeret. modal (uang). misalnya kepada Bulog. Lembaga Keuangan dapat menjual kembali barang yang dibeli kepada pembeli kedua. Dalam transaksi Bai’ as Salam harus memenuhi 5 (lima) rukun yang mensyaratkan harus ada pembeli. Bai’ as Salam berbeda dengan ijon. penjual.bank konvensional konsep ini dikenal dengan sebagai bridging financing. Penjualan kembali kepada pembeli kedua ini dikenal dengan istilah “Salam Paralel”. dan penetapan harga beli sangat tergantung kepada keputusan si tengkulak yang mempunyai posisi lebih kuat. atau Grosir. Aplikasi Bai’ as Salam pada Lembaga Keuangan Syariah biasanya dipergunakan pada pembiayaan bagi petani dengan jangka waktu yang relatif pendek. barang yang dibeli tidak diukur dan ditimbang secara jelas dan spesifik. Dengan demikian. pembuat barang berkewajiban memenuhi pesanan pembeli sesuai dengan spesifikasi yang telah disepakati.

' Beliau ditanya. Dan tak seorangpun di antara mereka yang berani menyatakan bahwa jual beli itu batal." Ibnul Qayyim menyebutkan dalam I'lamul Muwaqqi'in: "Para ulama berbeda pendapat tentang bolehnya jual beli tersebut karena harga diputuskan tanpa perkiraan harga barang sesungguhnya pada saat transaksi. jual beli ini tidak akan keluar dari bentuk jual beli nasiah. Kemungkinan di antara dalil yang paling jelas yang menjelaskan disyariatkannya jual beli ini adalah karena bentuk jual beli ini sudah demikian populer di berbagai negeri dan belahan dunia. seperti tukang roti. 'Tidak'. baru di kemudian hari ia menghitung semua pembeliannya. Kalangan Hambaliyah dalam salah satu riwayat dari mereka menjelaskan bahwa hal itu dibolehkan. "Aku pernah mendengar Ahmad ditanya tentang seorang lelaki yang mengirim orang ke tukang sayur dan mengambil kebutuhannya satu demi satu. 'Saya harap jual beli semacam itu tidak ada apa-apa. tukang daging atau penjual minyak samin. Dan harga barang dalam jual beli ini pun dikembalikan kepada harga standar. Beliau menjawab.pembayarannya yang ditunda sampai waktu penghitungannya. Namun kalau harga-nya tidak diketahui. Berdasarkan hal ini. Hal itu menurut mereka sama dengan sahnya nikah tanpa menyebutkan jumlah mahar. sampai di kalangan mereka yang melarangnya sekalipun. 'Apakah saat itu juga disebut sebagai jual beli?' Beliau menjawab. atau yang lainnya. Ia mengambil kebutuhannya dari mereka dan 16 | A k a d E k o n o m i I s l a m . Mayoritas ulama menetapkan tidak disyariatkannya jual beli ini karena tidak diketahuinya harga pembayaran. Karena dalam kon-disi demikian. inilah yang menjadi perdebatan di antara para ulama. sehingga termasuk dalam keumuman dalil-dalil yang menetapkan disyariatkannya jual beli tersebut. apabila harganya telah diketahui secara pasti. Itulah pendapat yang dipilih oleh Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim. Bentuk aplikatifnya: Jual beli yang dilakukan dengan rekan bisnis. Jumlah mahar itu dikembalikan dengan standar mahar secara umum. Abu Daud menjelaskan dalam al-Masail bab: Membeli Tanpa Mengetahui Harga. maka jual beli ini sah menurut seluruh ulama.

maka tawar menawar itupun harus dilakukan dengan pelafalan ijab dan qabul (serah terima). "Itu lebih menyenangkan hati pembeli daripada tawar menawar. itu tersebut. Dalam hal ini saya juga memi-liki panutan. nelayan. Kalau serah terima barang harus dilakukan dengan pelafalan. Bahkan kebanyakan ulama juga membolehkan perjanjian sewa menyewa dengan pembayaran standar. Mereka menganggap serah terima barang itu tidak memindahkan kepemilikan." Kemudian jual jual beliau beli melanjutkan. seperti me-nyewa tukang cuci. yakni dibolehkannya jual beli itu sampai batas harga termahal. dan bahwa barang itu masih dalam kepemilikan oleh si penjual. Namun sebagian besar ulama melarangnya. Aku pernah mendengarnya berkata. Itulah pendapat yang dinyatakan oleh Ahmad dan dipilih oleh guru kami Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. "Orang-orang tidak mereka yang turut melarang beli semacam tetap Bahkan mungkin meninggalkan melakukan-nya juga. selain orang yang bersikap ekstrim. atau sekedar pendapat seorang sahabat maupun qiyas yang sah. tukang roti. meskipun mereka menyebutkan fatwa bahwa jual beli semacam itu batil. Namun mereka semua juga melakukan jual beli tersebut. tukang membersihkan dan 17 | A k a d E k o n o m i I s l a m . murah atau mahal. Karena mereka tidak menemukan jalan lain. Sementara dalam Kitabullah maupun Sunnah Rasulullah bahkan juga ijma' kaum muslimin. Saya hanya memilih pendapat yang telah diambil oleh ulama selain saya. lalu membayarnya. Di sisi lain umat Islam telah bersepakat mengang-gap sah nikah tanpa mengetahui jumlah mahar dengan memberikan mahar standar. Ia tidak bisa melepaskan diri dari jual beli itu. tidak ada yang menjelaskan keharamannya. Kemudian Ibnul Qayyim melanjutkan: "Pendapat kedua: –dan inilah pendapat yang tepat– yakni yang selalu diamalkan oleh umat Islam di segala masa dan di segala tempat.menghitung seluruhnya di awal bulan atau awal tahun. dalam arti mereka tidak mungkin menawar setiap kali ia membutuhkan sesuatu yang diambil. Karena serah terima itu dilakukan dengan transaksi yang rusak. Itu adalah serah terima rusak seperti halnya serah terima barang rampasan.

Jika pihak yang menyimpan meminta izin dari pihak pemilik barang untuk untuk menggunakan barang itu atau tetap menggunakan barang itu tanpa izin. yang hanya dengan analogi inilah kepentingan umat dapat ditegakkan B. supaya semua modal itu akan menjadi hak proyek tersebut dan sudah bukan hak milik perseorangan para pemilik modal. Wadiah yang dilakukan tanpa satu syarat pun disebut Amanah (Yad Amanah). Namun setidaknya jual beli tersebut dengan menggunakan harga standar.Akad Bersyarikat 1) Al Musyarakah Musyarakah adalah perjanjian perkongsian antara dua atau lebih pemilik modal untuk menjalankan suatu proyek perniagaan. Dalam hal ini. Modal yang disumbangkan hendaklah berupa uang atau harta benda lainnya yang bisa dinilai dengan uang. Dalam Wadiah yang berbentuk Jaminan (Yad Dhamanah). sebagai-mana halnya membayar dengan harga standar baik dalam jual beli ini ataupun jual beli lainnya. maka Wadiah seperti itu adalah Jaminan (Yad Dhamanah). semua manfaat dan keuntungan yang diperoleh dari penggunaan barang itu menjadi hak pihak yang menyimpan. pihak yang menyimpan tidak bertanggungjawab atas kerusakan atau kehilangan barang yang disimpan. Semua modal yang disumbangkan hendaklah dicampur. pihak yang menyimpan bertanggungjawab atas kerusakan atau kehilangan barang yang disimpan itu. Jual beli semacam itu dibolehkan. Dalam hal ini.dapur. di mana mereka semua setuju untuk menyumbangkan modal dan berkongsi bagi hasil. kecuali jika kerusakan atau kehilangan itu disengajanya.Akad Titipan / Al Wadiah Wadi’ah adalah perjanjian antara pihak yang memiliki barang (termasuk uang) untuk menyimpan barangnya dengan pihak lain (termasuk Bank) dengan tujuan supaya barang itu disimpan dan dijaga keselamatannya. 18 | A k a d E k o n o m i I s l a m . Inilah qiyas yang tepat. C.

sedangkan keuntungannya dibagi antara keduanya sesuai dengan ketentuan yang disepakati (Fiqhus Sunnah III: 212). 2) Al Mudharabah Menurut bahasa. Allah swt berfirman: “Dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah. kata mudharabah berasal dari adh-dharbu fil ardhi.Pengurusan proyek boleh dilakukan oleh semua pemilik modal atau beberapa orang dari mereka. Al Musyarakah dalam aplikasi lembaga keuangan Syariah dapat berbentuk: a) Pembiayaan Proyek. Menurut istilah fiqh. 40 : 60 atau 30 : 70 menurut perundingan dan dan ia berhak mendapatkan sebagian dari 19 | A k a d E k o n o m i I s l a m . kata mudharabah adalah akad perjanjian antara kedua belah pihak. Nisbah pembagian keuntungan antara para pemilik modal tidak harus sejumlah dengan sumbangan modal mereka masing-masing dalam proyek tersebut. yaitu melakukan perjalanan untuk berniaga. seperti 50 : 50. Pembagian keuntungan antara para pemilik modal dilakukan menurut nisbah yang telah mereka setujui. yaitu pelaku usaha dan Lembaga Keuangan Syariah (selaku pemodal) sama-sama menyediakan dana untuk membiayai proyek tersebut. Bagi hasil antara pemilik modal dengan pengusaha adalah secara nisbah. maka perlu mendapat izin dari pemilik modal yang lain. yakni penanaman modal dilakukan oleh lembaga keuangan Syariah untuk jangka waktu tertentu. b) Modal Ventura. nasabah mengembalikan dana yang digunakan beserta bagi hasil yang telah disepakati di awal perjanjian (ijab-kabul). Jika hanya dilakukan oleh beberapa pemilik modal. dan setelah itu lembaga keuangan tersebut melakukan divestasi atau menjual bagian sahamnya kepada pemegang saham perusahaan. Mudharabah disebut juga qiradh. berasal dari kata qardh yang berarti qath (sepotong).” (QS Al-Muzzammil : 20). hendaklah ditanggung bersama oleh para pemilik modal menurut nisbah sumbangan modal masing-masing. Setelah proyek selesai. Jika ada kerugian. karena pemilik modal mengambil sebagian dari hartanya untuk diperdagangkan keuntungannya. yang salah satu dari keduanya memberi modal kepada yang lain supaya dikembangkan.

Baihaqi VI: 111). Ibnul Mundzir menegaskan. yaitu :  Mudharabah Mutlaqah Pihak bank bebas dalam menggunakan dana yang dihimpun  Mudharabah Muqayyadah Pemilik dana dapat menetapkan syarat tertentu yang harus dipenuhi oleh pihak bank. Dari Hakim bin Hizam.” (al-Ijma’ hal. semuanya ditanggung oleh pemilik modal. Berdasarkan kewenangan yang diberikan kepada pihak penyimpan dana. sedangkan Mudharabah Muqayyadah of balance sheet bank hanya sebagai konsultan yang akan mendapat komisi karena telah mempertemukan pemilik dana dengan pelaksana usaha. boleh baik secara mutlak maupun muqayyad (terikat/bersyarat). 125). Akad Mudharabah Muqayyadah dibagi menjadi dua. “Para ulama’ sepakat bahwa jika pemilik modal melarang pengembang modal melakukan jual beli secara kredit. Daruquthni II: 63 no: 242. jika engkau melanggar salah satu dari larangan tersebut. Penentuan nisbah ini hendaklah dipastikan dalam perjanjian. Jika ada kerugian. “Janganlah engkau menempatkan hartaku ini pada binatang yang bernyawa. dan jangan (pula) engkau letakkan ia di lembah yang rawan banjir. lalu ia melakukan jual beli secara kredit. jangan engkau bawa ia ke tengah lautan. dan pihak pengembang modal tidak mesti menanggung kerugian kecuali karena sikapnya yang melampaui batas dan menyimpang.Produk dengan akad Mudharabah biasanya digunakan untuk produk tabungan dan deposito.persetujuan antara kedua belah pihak. kecuali jika kerugian itu disebabkan oleh kecurangan. maka ia harus menanggung resikonya. yaitu Mudharabah Muqayyadah on balance sheet yang berarti bank ikut serta dalam proyek tersebut dan mendapat bagi hasil. Mudharabah hukumnya jaiz. maka engkau harus mengganti hartaku. bahwa Beliau pernah mempersyaratkan atas orang yang Beliau beri modal untuk dikembangkan dengan bagi hasil (dengan berkata).” (Shahih Isnad: Irwa-ul Ghalil V: 293. sahabat Rasulullah saw. akad Mudharabah dibagi 2. penyelewengan atau penyalah-gunaan pengusaha. 3) Muzara’ah 20 | A k a d E k o n o m i I s l a m .

Di antaranya lagi yang telah melaksanakan muzara’ah adalah Ali. ia berkata. Keluarga Umar. Sa’ad bin Malik. Keluarga Ali dan Ibnu Sirin. jika Umar yang memiliki benih. ‘Aunul Ma’bud IX: 272 no: 3391. Sedangkan menurut istilah fiqh ialah pemilik tanah memberi hak mengelola tanah kepada seorang petani dengan syarat bagi hasil atau semisalnya. Imam Bukhari menulis. Abdullah bin Mas’ud. Keluarga Abu Bakar. Tidak mengapa modal mengelola tanah ditanggung oleh si pemilik tanah. “al-Hasan menegaskan. “Seluruh Ahli Bait yang hijrah ke Madinah adalah petani dengan cara bagi hasil sepertiga dan seperempat.” Kemudian saya (Hanzhalah bin Qais) bertanya 21 | A k a d E k o n o m i I s l a m . tidak mengapa jika tanah yang digarap adalah milik salah seorang di antara mereka. “Umar pernah mempekerjakan orang-orang untuk menggarap tanah dengan ketentuan. Tirmidzi II: 421 no: 1401). maka ia mendapat separuh dari hasilnya dan jika mereka yang menanggung benihnya maka mereka mendapatkan begitu juga. kemudian hasilnya dibagi dua.” (Fathul Bari V: 10). kata muzara’ah adalah kerjasama mengelola tanah dengan mendapat sebagian hasilnya. Umar bin Abdul Aziz. ia bercerita. (Muttafaqun ‘alaih: Fathul Bari VI: 13 no: 2329. Qais bin Muslim meriwayatkan dari Abu Ja’far. Dari Nafi’ dari Abdullah bin Umar ra. Ini juga menjadi pendapat az-Zuhri. dengan sesuatu (sebidang tanah) yang dikecualikan oleh si pemilik tanah.Menurut bahasa. Ibnu Majah II: 824 no: 2467. bahwa mereka pernah menyewakan tanah pada masa Nabi saw dengan (sewa) hasil yang tumbuh di parit-parit. “Telah mengabarkan kepadaku dua orang pamanku. tidak boleh mensyaratkan sebidang tanah tertentu ini untuk si pemilik tanah dan sebidang tanah lainnya untuk sang petani.” Lebih lanjut Imam Bukhari mengatakan. Sebagaimana sang pemilik tanah tidak boleh mengatakan. lalu mereka berdua menanggung bersama modal yang diperlukan. Dalam Fathul Bari V: 10. Muslim XCIII: 1186 no: 1551. Dari Hanzhalah bin Qais dari Rafi’ bin Khadij. Urwah. Maka Nabi saw melarang hal itu. atau oleh petani yang mengelolanya. atau ditanggung kedua belah pihak. Imam Bukhari menuturkan. “Bagianku sekian wasaq”. bahwa ia pernah mengabarkan kepada Nafi’ ra pernah memperkejakan penduduk Khaibar dengan syarat bagi dua hasil kurmanya atau tanaman lainnya. al-Qasim.” Dalam muzara’ah.

“Yang dilarang dari hal tersebut adalah kalau orang-orang yang mempunyai hal pengetahuan termaksud. Dan tidak ada bagi orang-orang (ketika itu) sewaan melainkan ini. yaitu akad yang memberikan jaminan atas diri seseorang yang dihormati dan disegani  Kafalah bin Maal.” (Shahih: Irwa-ul Ghalil V: 302. Fathul Bari V: 25 no: 2347 dan 46. yaitu jaminan pembayran barang/pelunasan barang  Kafalah bin Taslim. Sesungguhnya pada periode Rasulullah orang-orang hanya menyewakan tanah dengan (sewa) hasil yang tumbuh di pematang-pematang (gailengan). “Bagaimana sewa dengan Dinar dan Dirham?” Maka jawab Rafi’. yaitu jaminan mutlak yang tidak dibatasi oleh jangka waktu dan untuk kepentingan atau tujuan tertentu 22 | A k a d E k o n o m i I s l a m 1) Al Kafalah . Nasa’i VII: 43 tanpa perkataan al-Laits). Akad Memberi Kepercayaan Merupakan jaminan yang diberikan oleh penanggung kepada pihak ketiga untuk memenuhi kewajiban pihak kedua/yang ditanggung. Adapun (sewa) dengan sesuatu yang pasti dan dapat dijamin. yaitu akad yang biasa dilakukan untuk menjamin pengembalian atas barang yang disewa pada masa sewa berakhir  Kafalah Al Munjazah. Jawab Rafi’. Ada 5 jenis Kafalah. maka tidak dilarang. dan yang itu selamat sedang yang ini musnah. Dari Hanzhalah juga. oleh sebab itu yang demikian itu dilarang. ‘Aunul Ma’bud IX: 250 no: 3376 dan Nasa’i VII : 43) D. Lalu yang itu musnah dan yang ini selamat.kepada Rafi’. dan beberapa tanaman lain. Muslim III: 1183 no: 116 dan 1547. tepi-tepi parit. “Saya pernah bertanya kepada Rafi’ bin Khadij perihal menyewakan tanah dengan emas dan perak. “Tidak mengapa sewa dengan Dinar dan Dirham.” (Shahih: irwa-ul Ghalil V: 299. perihal halal dan mereka haram tidak memperhatikan niscaya membolehkannya karena di dalamnya terkandung bahaya. ia berkata. ‘Tidak mengapa.” Al-Laits berkata. yaitu :  Kafalah bin Nafs.

pelimahan Pihak kekuasaan hanya oleh seseorang sebagai pihak pertama kepada orang lain sebagai pihak kedua dalam hal-hal yang kedua melaksankan sesuatu sebatas kuasa/wewenang yang diberikan oleh pihak pertama. yaitu penyederhanaan dari kafalah Al Munjazah baik oleh industri perbankan asuransi. berasal dari kata tahwil (pemindahan) atau dari kata ha’aul (perubahan). hawalah adalah pemindahan kewajiban melunasi hutang kepada orang lain. Sedang menurut fuqaha. Barangsiapa yang mempunyai hutang namun dia mempunyai piutang pada orang lain yang mampu. Orang Arab biasa mengatakan haala ’anil ’ahdi. maka orang yang mampu tersebut wajib menerima kewajiban itu. E. dan apabila seorang di antara kamu menyerahkan (kewajiban pembayaran hutangnya) kepada orang kaya. kemudian dia memindahkan kewajiban membayar hutangnya kepada orang lain yang mampu itu. Akad Memberi Ijin / AL Wakalah Merupakan diwakilkan. 2) Al Hawalah Kata hawalah. 23 | A k a d E k o n o m i I s l a m . Kafalah Al Muallaqoh.” (Shahih: Shahihul Jami’us Shaghir no: 5876). para pakar fiqih. Rasulullah saw bersabda: “Penundaan orang yang mampu (melunasi hutang) itu adalah zhalim. yaitu berlepas diri dari tanggung jawab. 3) Al Jualah Ju’alah ialah pemberian fee (hadiah) kepada pihak yang berhasil memenangkan (melaksanakan) suatu pekerjaan atau prestasi tertentu. maka terimalah. huruf haa’ dibaca fathah atau kadang-kadang dibaca kasrah.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->