1.

NORMA-NORMA AKAD (KONTRAK) DALAM FIQH ISLAM
A.Sekilas tentang Sejarah Akad
Al-‘Aqd (akad/kontrak) berasal dari kata ‘aqada–ya’qidu–‘aqd[an]; jamaknya adalah al-‘uqûd. Secara bahasa al-’aqd bermakna ar-rabth (ikatan), asy-syadd (pengokohan), at-taqwiyah (penguatan). Jika dikatakan, ‘aqada al-habla (mengikat tali), maksudnya adalah mengikat tali satu dengan yang lain, mengencangkan dan menguatkan ikatannya. Al-‘aqdu juga bisa bermakna al-‘ahdu (janji) atau al-mîtsâq (perjanjian). Adapun al-’uqdah (jamaknya al-‘uqad) adalah obyek ikatan atau sebutan untuk sesuatu yang diikat. Di dalam al-Quran kata ’aqada disebutkan sebanyak tujuh kali dalam tujuh ayat: kata ’aqada bermakna sumpah (QS 4: 33; 5: 89); al-’uqûd bermakna al-’ahdu atau janji (QS 5: 1; 20: 27); ‘uqdah bermakna ikatan (QS 2: 235, 237) dan al-‘uqad bermakna simpul atau buhul (QS 113: 4). Menurut al-Jashash sumpah disebut ’aqd jika berupa sumpah untuk perkara yang akan datang. Pada awalnya kata ’aqada digunakan untuk benda padat seperti tali dan bangunan, namun kemudian dengan majaz isti‘ârah kata ini juga diterapkan untuk selainnya seperti: ’aqd al-bay’ (akad jual-beli), ‘aqd al-’ahd (akad perjanjian), ‘aqd an-nikâh (akad nikah), dsb. (komitmen atau irtibâth/pertautan). Abu Bakar menyatakan, al-’aqd adalah apa yang diakadkan (diwajibkan) oleh orang yang berakad atas suatu perkara yang harus ia lakukan, atau ia akadkan terhadap orang lain untuk melakukannya, dalam bentuk mengharuskan atau mewajibkan perkara itu kepadanya. Al-’aqd, meski asalnya secara bahasa bermakna asy-syadd (pengencangan), ia kemudian mengalami transformasi makna, seperti sumpah dan akad; akad jual beli dan sebagainya. Yang dimaksud tidak lain adalah kewajiban memenuhi apa yang disebutkan dan ditawarkan. Ini tidak lain diimplementasikan pada sesuatu yang ditunggu pemenuhannya ke depan. Jual-beli, nikah, ijârah dan seluruh akad Dalam konteks ini, ’aqada dimaknai sebagai ilzâm (pengharusan) dan iltizâm

dengan kompensasi disebut sebagai akad karena masing-masing pihak telah mewajibkan diri untuk memenuhinya. Makna tersebut kemudian dalam penggunaannya lebih menonjol dan menjadi ’urf (tradisi). Karena itu, secara ‘urf, al-’aqd adalah iltizâm
1|Akad Ekonomi Islam

al-jânibayn li syay’in wa muqâbiluhu (komitmen dua pihak untuk suatu perkara berikut kompensasinya). Menurut Ibn Manzhur, “Jika Anda berkata. ’âqadtuhu, atau ’aqadtu ’alayhi, maka takwilnya adalah: Anda mengikat (mengharuskan) dia atas hal itu dengan istîtsâq (meminta janji/komitmen) dan membuat kontrak (kesepakatan) dan perjanjian.” Dengan demikian, al-’aqd adalah transaksi dan kesepakatan, atau komitmen dengan konotasi al-istîtsâq. Itu tentu tidak akan terjadi, kecuali di antara dua pihak yang saling berakad. Adapun al-‘ahd (janji) bisa berlangsung dari satu pihak saja. Karenanya, al-‘ahd lebih umum daripada al-‘aqd, karena tidak semua al-‘ahd (janji) merupakan al-‘aqd (akad). Sebaliknya, semua al-‘aqd (akad) merupakan al-‘ahd (janji).

B.Alat Akad
Alat akad bisa dalam bentuk tulisan atau secara lisan, berikut hal-hal yang dibutuhkan (di sebutkan satu per satu) sehingga akad dapat dinyatakan sah.

C.Dasar-dasar dalam Hukum Islam
1) Makna Akad (Kontrak) Akad berasal dari bahasa arab (‫ ) ﺍﻟﻌﻘﺩ‬Al’Aqad yang berarti perikatan, perjanjian, dan pemufakatan. Pertalian ijab (pernyataan melakukan ikatan) dan kabul (pernyataan menerima ikatan), sesuai dengan kehendak syari’at yang berpengaruh pada objek perikatan. Pengertian ialah umumnya yakni sesuatu yang di ikatkan seseorang bagi dirinya sendiri atau bagi orang lain dengan kata harus. Akad atau perjanjian sendiri mempunyai banyak arti yang keseluruhannya kembali pada bentuk ikatan atau penghubungnnya terhadap dua hal. Menurut musthofa as zawqa’, setiap akad adalah tindakan hukum yang dilakukan dua atau lebih yang sama-sama berkeinginan untuk mengikatkan diri. Kehendak atau keinginan pihak-pihak yang mengikatkan diri itu sifatnya tersembunyi dalam hati, sehingga untuk menyatakannya masing-masing diungkapkan dalam suatu pernyataan ijab dan qobul. Pihak yang melakukan ijab disebut mujib (‫) ﻣﻮ ﺟﺏ‬ Pihak yang melakukan qobul disebut qaabil ( ‫.) ﻗﺍ ﺑﻞ‬
2|Akad Ekonomi Islam

-

Akad tersebut seperti akad yang dilakukan oleh anak kecil yang menjelang akil baligh (mumayyiz). Apabila dilihat dasri segi keabsahannya menurut syara’. Akad itu baru sah secara sempurna dan memiliki akibat hukum setelah mendapat ijin dari wali anak itu. berlaku kepada kedua belah pihak. 2) Macam-macam Akad Menurut ulama fiqih. Akad yang bersifat mengikat bagi kedua belah pihak. ulama fiqih membaginya kepada dua macam: a. membagi lagi akad sahih ini menjadi dua macam: a. sehingga salah satu pihak tidak boleh membatalkan akad itu tanpa seizin pihak lain. seperti titipan). yaitu akad yang telah memenuhi syarat dan rukun. Akad yang nafiz (sempurna untuk dilaksanakan). Namun dalam muamalah boleh qaabil dulu baru mujib. segala akibat hukum yang ditimbulkan oleh akad itu.Biasanya pihak pertama yang menyatakan adalah mujib baru kemudian qaabil seperti dalam akad nikah. yaitu akad yang dilangsungkan dengan memenuhi rukun dan syarat dan tidak ada penghalang untuk melaksanakannya. maka akad dibagi dua. Akad mauquf.) ﺍﻠﻌﻗﺩﺩ ﺼﯿﻐﺔ‬Hukum akad adalah wajib bagi pihak-pihak yang terikat hingga akad selesai ditunaikan ataupun akadnya batal. Lebih lanjut jika dilihat dari sisi mengikat atau tidak jual-beli yang sahih itu. Akad yang tidak bersifat mengikat bagi kedua belah pihak.  Akad yang tidak sahih yaitu akad yang terdapat kekurangan pada rukun atau syarat. Keduanya mengucapkan ungkapan/pernyataan akad atau shighah al-aqd ( ‫ . yaitu:  Akad sahih. Ulama Mahzab Hanafi dan Mahzab Maliki. b. seperti akad jual-beli dan sewa-menyewa. sehingga akibat hukum tidak berlaku bagi 3|Akad Ekonomi Islam ariyah (pinjam-meminjam) dan wadi’ah (barang . akad dapat dibagi dari beberapa segi. b. Menurut Mahzab Syafi’i dan Mahzab Hambali. tetapi dia tidak memiliki kekuasaan untuk melangsungkan dan melaksanakan. Dengan demikian. bahwa jual-beli yang mauquf itu tidak sah. yaitu akad yang dilakukan seseorang yang mampu bertindak atas kehendak hukum.

kejujuran. adalah suatu akad yang pada dasarnya dibenarkan. Memandang adanya manfaat untuk akhirat. objek dan pernyataan akan harus sesuai dengan prinsip syariah. 4) Rukun-Rukun Akad / Kontrak Menurut jumhur (mayoritas) lugaha. Hukum asal muamalah ialah segala sesuatu boleh kecuali ada ketentuan yang melarangnya. atau salah satu pihak tidak mampu (belum pantas) bertindak atas nama hukum seperti anak kecil atau orang gila. 4. tahunnya dan sebagainya. Pernyataan untuk mengikatkan diri (shighah al-aqd). yaitu: akad yang batil dan akad yang fasid. 3) Prinsip Syariah tentang Cara Memahami Persyaratan Akad 1. seperti menjual mobil tidak disebutkan merknya. Tujuan akad harus jelas dan dapat dipahami. Ketentuan shighah al-aqd: 1. Segala sesuatu yang menyangkut masalah akad seperti subjek. 6. rukun akad terdiri atas: 1. 2. Suatu akad dikatakan fasid. Adanya ketertbukaan. Suatu akad dikatakan batil apabila akaad itu tidak memenuhi salah satu rukun dan larangan langsung dari syara’. Menurut ulama Mahzab Hanafi. tetapi sifat yang diakadkan tidak jelas. Akad yang ditulis bisa dengan tulisan tangan langsung ataupun dengan mengajukan ke notaries seperti pada akad jual beli tanah sehingga akad yang ada memiliki kekuatan hokum tetap. Objek yang dilakukan akad (maqud ‘alaih). 4|Akad Ekonomi Islam . Umpamanya: objek akad (jual-beli) itu tidak jelas seperti menjual ikan dalam empang (lautan). Pihak-pihak yang melakukan akad (‘Aqid). sedangkan pihak yang berakad dan objek akad adalah syaratnya. Sebaiknya semua akad perjanjian ditulis dan dipersaksikan didepan saksi-saksi. 5. 2.kedua belah pihak yang melakukan akad itu. 3. Akad termasuk dalam lingkup hukum muamalah. kepercayaan dan ketulusan antara pihak-pihak yang melakukan akad. Kemudian Mahzab Hanafi membagi lagi akad yang tidak sahih ini kepada dua macam. 3. rukun akad hanya shighah al-aqd.

2. Akad yang dilakukan memenuhi syarat-syarat khusus dengan akad yang bersangkutan. 3.2. Pihak-pihak yang melakukan akad dipandang mampu bertindak menurut hukum (mukallaf). 3. Bernilai harta menurut syara’ (misalnya bukan barang haram. Dimiliki oleh seseorang c. objek akad diakui syara’ meliputi: a. antara ijab dan qabul harus ada kesesuaian. istihna’(pesanan barang). 5. disamping harus memenuhi syaratsyarat umum. terdapat beberapa syarat umum. 5) Syarat-Syarat Akad Disamping syarat-syarat khusus akad seperti dalam akad jual beli. Bila belum mampu dapat diwakilkan oleh walinya. 5|Akad Ekonomi Islam . Akad itu bermanfaat. musaaqah(transaksi antara pemilik kebun dan pengelolanya). Mahzab Syafi’I mengharuskan setelah ijab sesegera mungkin dijawab qabul. 4. Bahkan Mahzab maliki membolehkan jika penerima meminta tenggang waktu sebelum mengucapkan qabul. Ijab tetap utuh sampai terjadi qabul. Antara lain: 1. akad sewa maupun akad lainnya. Ijab dan qabul dilakukan dalam satu majlis atau waktu yang sama. dan tidak boleh ada yang meragukan. Akad tidak dilarang oleh nash syara’. Barang tersedia saat akad dan dapat diserahkan usai akad kecuali untuk ‘aqad salam (indent). 7. Pengecualian dibenarkan karena akad-akad seperti itu sudah umum menjadi adat kebiasaan masyarakat. Pernyataan ijab dan qabul itu harus sesuai dengan kehendak masing-masing. najis) d. Berbentuk harta b. 6. Jumhur ulama fiqih selain Mahzab Syafi’I membolehkan adanya tenggang waktu antara ijab dan qabul.

Harus sama ridho dan iklas. Tujuan akad harus jelas dan diakui syara’. namun dapat dibagi menjadi dua macam. Qabiliyatul mahallil aqdi li hukmihi (yang dijadikan objek akad dapat menerima hukuman). seperti jual beli dan hibah . seperti adanya saksi. Sedangkan syarat-syarat yang harus terdapat dalam segala macam akad adalah: a. 6) Syarat-Syarat Rukun Akad Ada beberapa syarat yang harus terdapat dalam akad. syarat khusus. ada yang bersifat mutlak. b. Ini merupakan syarat-syarat idhafiyah. Sedangkan menurut ulama Mahzqab Hanafi dan Mahzab Syafi’I syarat yang ada tetap ada batasannya walaupun tidak ada dalil yang melarang seperti syarat jika sesudah menikah nanti suami akan menafkahi istri. c. Kedua. Syarat tersebut tidak boleh karena suami menafkahi istri adalah kewajiban sehingga tidak bias menjadi syarat. Pertama. walaupun dia bukan si 'aqid sendiri). Syarat-syarat ini biasa juga disebut syarat tambahan (syarat idhafiyah) yang harus ada di samping syarat-syarat umum. c. yaitu syarat-syarat yang wajib sempurna wujudnya dalam segala macam akad. Ahliyatul 'aqidaini (kedua pihak yang melakukan akad cakap bertindak atau ahli). tidak boleh adanya ta'liq dalam aqad muawadha dan aqad tamlik. Ijab dan qabul harus jelas dan gamblang terhindar dari khiyar (penafsiran ganda) yang dapat menimbulkan kesalhpahaman antar pihak yang bersepakat. b. d.a. yaitu syarat-syarat yang disyaratkan wujudnya dalam sebagian akad. Alla yakunal 'aqdu au madhu'uhu mamnu'an binashshin syar'iyin (janganlah akad itu yang dilarang syara) seperti bai' munabadzah. syarat umum. Dalam akad memiliki kebebasan mangajukan syarat. tanpa batas selama tidak ada larangan dalam Al Quran dan sunnah seperti yang diutarakan uleh ulama Mahzab Hambali dan Mahzab Maliki. tidak dalam sebagian yang lain. Al-Wilyatus syar'iyah fi maudhu'il aqdi (akad itu diizinkan oleh syara dilakukan oleh orang yang mempunyai hak melakukannya dan melaksanakannya. 6|Akad Ekonomi Islam . untuk terjadinya nikah.

e. JENIS-JENIS AKAD (TRANSAKSI) A.Akad Pertukaran Jual Beli 1) Berdasarkan perbandingan harga jual dan harga beli  Al Musawwamah Yang dimaksud dengan Musawamah adalah Jual beli yang keuntungannya hanya diketahui penjual. 7|Akad Ekonomi Islam . Maka ijab menjadi batal apabila berpisah salah seorang dari yang lain dan belum terjadi qabul 2.  Al Muwadhaah Yang dimaksud dengan Muwadhaah adalah Jual beli yang harganya dibawah harga jual (diskon). tidak dicabut. g. sebelum terjadi qabul).  Al Murabahah Al Murabahah jual beli barang pda harga asal dengan tembahan keuntungan yanng disepakati. Dalam istilah teknis perbankan syari’ah murabahah ini diartikan sebagai suatu perjanjian nasabah. Dalam al-Umm. Murabahah dapat dilakukan untuk Imam pembelian dengan sistem pemesanan. penjual harus memberitahu harga produk yang dia beli dan menentukan suatu tingkat keuntungan sebagai tambahannya. Al Tauliah Yang dimaksud dengan Tauliah adalah Jual beli yang tidak ada keuntungan bagi penjual (komisi). Dalam bai' al murabahah. Ittihadu majalisil 'aqdi (bertemu di majelis akad). Baqaul ijabi shalihan ila mauqu'il qabul (ijab berjalan terus. pembelian yang dimana bahan disepakati Bank baku antara Bank Syariah dengan untuk yang menyediakan atau modal pembiayaan kerja lainnya  dibutuhkan nasabah. yang akan dibayar kembali oleh nasabah sebesar harga jual bank (harga beli bank + margin keuntungan) pada waktu yang ditetapkan. Kaunul 'aqdi mufidan (akad itu memberikan faedah). f.

Persamaannya antara lain. mobil. Jadi. Setelah itu. Dalam hal ini calon pembeli atau pemesan dapan memesan kepada sesorang (sebut saja pembeli) untuk membelikan suatu barang tertentu yang diinginkannya. Dari Suhaib al-Rumi r. mengenai Kedua belah pihak serta membuat kesepakatan barang tersebut kemungkinan harga asal pembelian yang masih sanggup ditanggung pemesan. harga jual pembiayaan konsumen biasanya memakai tingkat bunga yang tergantung situasi pasar. dll. Ibn Majah) Produk murabahah adalah pembiayaan perbankan syariah dengan memakai prinsip jual-beli barang pada harga asal dengan tambahan keuntungan yang disepakati. Namun. dengan pihak bank selaku penjual dan nasabah selaku pembeli. karakteristiknya berbeda. sehingga harga jual tidak boleh berubah. pembiayaan yang diberikan adalah barang (motor. Bila dilihat sekilas. Terdapat beberapa perbedaan utama antara jual beli murabahah dengan pembiayaan konsumen. bukan untuk dijual” (HR. jika diperhatikan lebih dalam sesuai dengan fatwa DSN MUI.a. sejak awal perjanjian sampai dengan masa 8|Akad Ekonomi Islam sebagai secara tambahannya. sedangkan margin/tingkat keuntungan murabahah (bila sudah terjadi ijab kabul) bersifat tetap. Perbedaan pertama. bersabda : “Tiga hal yang didalamnya terdapat keberkatan : jual beli secara tangguh.Syafi’i menamai transaksi ini dengan istilah al-amir bi al-syira . Karakteristiknya adalah penjual harus memberi tahu harga produk yang ia beli dan menentukan suatu tingkat keuntungan dilakukan bersama. dan pembayarannya secara cicilan. muqaradhan (mudharabah).)/bukan uang. dan mencampur gandum dengan tepung untuk keperluan rumah. terdapat persamaan jual beli murabahah dengan pembiayaan konsumtif. sesuai Pembayaran dengan dapat angsuran kesepakatan . Jual beli kedua belah pihak dilakukan setelah barang tersebut berada di tangan pemesan. bahwa Rasulullah Saw. atau sebagai dana talangan. kedua belah pihak juga harus menyepakati beberapa tambahan yang harus dibayar pemesan.

Pada lembaga keuangan konvensional. jadi tidak membedakan lagi unsur pokok dan keuntungan. dalam hal utang nasabah. Namun. dalam pembiayaan konsumen dikenal adanya utang pokok dan hutang bunga. Perbedaan ketiga. Harga jual adalah harga utang perolehan/pembelian nasabah itu akan barang berkurang ditambah sebesar keuntungan yang disepakati. pembayaran angsuran yang dilakukan. Jadi. 9|Akad Ekonomi Islam . Sedangkan akad pembiayaan konsumen adalah akad pinjam meminjam. seperti mobil atau motor. Barang yang diperjualbelikan tersebut berupa harta yang jelas harganya. dan krisis nilai tukar. Pada pembiayaan konsumen. krisis BBM. sering kali terjadi penyalahgunaan pemakaian. Dalam hal ini belum tentu ada barangnya. apabila bank syariah mendapat diskon pemebelian dari pemasok. Perbedaan kedua. utang nasabah akan berkurang sebesar pembayaran angsuran pokok kredit dan pembayaran bunga. bank syariah tidak diperbolehkankan mengubah harga yang telah diperjanjikan/ diakadkan. sehingga diwajibkan adanya suatu barang yang diperjualbelikan. nasabah diberi uang yang akan dipergunakan untuk membeli barang yang dibutuhkan. Apabila nasabah mengangsur utangnya. Dalam praktiknya. Diskon adalah hak nasabah. pembagian diskon antara bank syariah dengan nasabah didasarkan pada ketentuan-ketentuan yang sudah tercantum pada akad. bila diskon dari pemasok diberikan setelah akad murabahah. utang nasabah adalah sebesar harga jual. utang nasabah adalah sebesar pokok kredit ditambah dengan bunga. Dalam akad murabahah. dimungkinkan membuat sebuah klausul untuk meningkatkan bunga seperti karena akibat ketergantungan pada situasi pasar. Dalam jual beli murabahah. Bila dibayar secara angsuran. Keunggulan dari sebuah produk jual beli murabahah adalah memberikan kepastian dan kenyamanan kepada nasabah terhadap angsuran pembiayaan.pelunasan. Sedangkan pada pembiayaan konsumen. harga perolehan/pembelian adalah harga setelah didiskon. akad murabahah adalah akad jual beli.

dengan syarat tidak diperjanjikan dalam akad. Kitab fiqh yang membicarakan bab transaksi valuta asing dikenal dengan As Sharf. bank syariah boleh memberikan potongan dari kewajiban pembayaran tersebut. Dengan demikian perhatian tidak cukup banyak terhadap masalah ini. keterbatasan ini dapat dipahami.  As Sharf Penelusuran tentang transaksi mata uang ( As Sharf ) dalam kitab fiqh sedikit dan terbatas. karena mungkin pada masa lampau.  Al Mutlaq Yang dimaksud dengan akad Al Mutlaq adalah tukar menukar uang dengan barang. hanya saja kategorinya lebih 10 | A k a d E k o n o m i I s l a m . yang besarnya diserahkan pada kebijakan dan pertimbangan bank syariah 2) Berdasarkan jenis barang pengganti  Al Mughayabah Yang dimaksud dengan akad Al Mughayabah adalah tukar menukar barang dengan barang. sub bab macam macam Jual Beli (Wahbah Az Zuhaili ) sedangkan As Sharf dalam Bidayatul Mujtahid Juz II pembahasan setelah bab jual beli. tepatnya masa Nasir Muhammad bin Qalamun semasa Imam Ibnu Taimiyah6. Oleh karena itu dalam kitab fiqh apa saja yang menjadi ketentuan/ syarat rukun dalam transaksi berlaku juga dalam transaksi mata uang ( As –Sharf ). Masalah valuta muncul ke permukaan dan menjadi perbincangan ulama baru ketika terjadi ketidakstabilan nilai tukar emas dan perak pada masa kesultanan Mamluk.Jika nasabah dalam transaksi murabahah melakukan pelunasan pembayaran tepat waktu atau lebih cepat dari waktu yang disepakati. ketika kitab fiqh sedang ditulis oleh fuqaha masalah jual beli mata uang bukan masalah yang menonjol sebagaimana masalah muamalat lainnya. sering menempatkan pembahasannya sebagai bagian dari bab jual beli. Secara umum jual beli mata uang / As Sharf dalam kitab kitab fiqh diidentikkan dengan tukar menukar antara emas dan emas atau perak dengan perak.

Syarat Syarat jual beli mata uang ( As. Nasa’i dan Ibnu Majah dari Ubadah bin Shamit tentang tukar menukar emas dan perak. meski boleh. Jual beli mata uang mendasarkan pada QS. Allah Menghalalkan jual beli dan mengharamkan Riba.khusus. yang berarti harus tunai dan tiada pelebihan yang berarti dengan syarat keseimbangan. Abu Daud. tiada penundaan. dibuat semacam untuk memenuhi catatan karena pada dasarnya Islam permintaan dan penawaran/ money memandang uang harta sebagai alat tukar bukan komoditas. jumlahnya harus .8 Yang dalam istilah Inggris adalah money changer. Dalam Kamus al Munjid fi al Lugah7 disebutkan bahwa al sharf berarti menjual uang dengan uang lainya. Menurut Istilah Syara’ Sharf adalah jual beli satu mata uang dengan mata uang yang lain baik mata uang tersebut satu jenis atau berlainan jenis. masing masing pihak yang bertransaksi tidak boleh menangguhkan penyerahan barang untuk jangka waktu tertentu karena barang tersebut harus diterima dan jatuh sebagai hak milik masing masing pembeli sebelum mereka berpisah. tetapi mereka berbeda tentang waktu yang membatasi 11 | A k a d E k o n o m i I s l a m dengan mata uang yg sama. sepanjang Transaksi Valuta asing dari ketentuan tersebut memenuhi ketentuan dalam transaksi Islam perlu adalah kegiatan yang ditolelir tetapi.Sharf) diantaranya mendasarkan pada Riwayat Muslim. Dalam jual beli mata uang harus memenuhi syarat khusus. Dalam jual beli mata uang asing Ulama sepakat dengan syarat tunai. Istilah al sharf yang berarti jual beli valuta dapat ditemukan dalam beberapa kamus. Muhammad al Adnani mendefinisikan al sharf dengan tukar-menukar uang. Dan hadits tentang jual beli mata uang (As. Tirmidzi.Sharf ): a) Serah terima dalam majlis kontrak b) Jika sama c) Tidak boleh ada khiyar syarat d) Tidak boleh ditangguhkan. 275 tentang Kebolehan Jual beli. demand for transaction bukan spekulasi.2.

Syafi’i dan berpendapat bahwa tenggang waktu bisa diundur selama kedua belah pihak belum meninggalkan majlis. meski kedua belah pihak belum berpisah. Dalam hal ni menurut Yusuf al-Qardhawi syara’ telah menyerahkan ukuran tersebut kepada adat kebiasaan yang berlaku di suatu masyarakat. mengatakan tidak diperbolehkan. Jadi penerimaannya bisa dengan perjanjian waktu tertentu. Dalam keputusan Fatwa Dewan Syariah Nasional. dapat ditarik benang merah bahwa semua pendapat sepakat tentang dibolehkannya jual beli mata uang dengan syarat syarat khusus. Karena ia tidak menyukai janji janji didalamnya. Hanafi hanya saja perbedaan terletak pada interpretasi batasan istilah tunai dalam transaksi. selama keduabelah Imam pihak Hanafi dan belum Imam Syafi’i baik itu berpendapat bahwa jual beli mata uang terjadi secara tunai berpisah. sedangkan Malik tidak ada tenggang waktu antara terjadinya akad dengan terjadinya serah terima barang. Hanya saja yang menjadi kriteria tunainya sesuatu itu menurut ukurannya sendiri-diri. bahkan harus dilakukan secara tunai di tempat transaksi. seperti al Qardawi. Selanjutnya beliau mengatakan tidak sah jual beli uang dengan sistem penangguhan. realita tunai ini juga mengikuti hukum darurat yang diukur sesuai dengan ukurannya. Berbeda dengan Imam Malik yang berpendapat bahwa jika penerimaan pada majlis terlambat. penerimaannya itu segera atau lambat. tunai dan kadarnya sama.pengertian tunai ini. dalam hal memperjualbelikan mata valuta asing yang tidak dilakukan secara tunai. maka jual beli itu batal. Sementara itu ulama Kontemporer. Justru itu umat Islam tidak diperkenankan untuk menjual apa yang dibelinya kecuali setelah diterimanya terlebih dahulu barang itu menurut adat kebiasaan yang berlaku. secara umum memberi justifikasi bahwa jual beli mata uang pada prinsipnya boleh dengan ketentuan: 12 | A k a d E k o n o m i I s l a m . Walaupun demikian. Merujuk uraian diatas.

apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan.a) Tidak untuk spekulasi (untung untungan). c) Jika mata uang sejenis maka nilainya harus sama dan secara tunai.” (QS al-Baqarah: 282). sedangkan waktu dua hari dianggap sebagai proses penyelesaian yang tidak bisa dihindari dan merupakan transaksi Internasional. Bila memungkiri perjanjian (wan prestasi) bukan tanda-tanda orang beriman  Bai as Salam Kata salam. karena dianggap tunai. d) Apabila berlainan jenis maka harus dilakukan dengan nilai tukar (Kurs) yang berlaku pada saat transaksi dilakukan dan secara tunai. karena didalamnya ada unsur spekulasi (maisir). Sedangkan hakikat salam menurut syar’i adalah jual beli barang secara ijon dengan menentukan jenisnya ketika akad dan harganya dibayar di muka. 3) Berdasarkan waktu penyerahan  Bithaman Ajil Ciri-ciri perjanjian pada pembiayaan Al Baiu Bithaman Ajil adalah : a) Perjanjian campuran (sui generis) karena di satu sisi perjanjian dilaksanakan atas negosiasi para pihak (perjanjian timbal balik) dan di sisi lain ditetapkan oleh bank secara sepihak (perjanjian baku). Ibnu Abbas ra berkata. 13 | A k a d E k o n o m i I s l a m . hendaklah kamu menuliskannya. “Saya bersaksi bahwa jual beli secara ijon yang jangka waktunya ditentukan sampai waktu tertentu. adalah semakna dengan kata salaf. Sedangkan untuk transaksi Forward. Allah swt berfirman : “Hai orang-orang yang beriman. (Fiqhus Sunnah III: 171). Untuk jenis transaksi valuta asing. huruf sin dan lam diberi harakat fathah. hukumnya boleh. Swap dan Option hukumnya haram. b) Janji menurut ketentuan Hukum Islam harus ditepati. b) Ada kebutuhan transaksi atau untuk berjaga jaga (simpanan).

Nasa’I VII: 290 dan Ibnu Majah II: 766 no: 2282). Abdullah bin Abi Aufa menjawab. Darinya (Ibnu Abbas) ra. “Tanyakanlah kepada Abdullah bin Abi Aufa. sedangkan pembayaran dilakukan sebelum barang diterima.” (Shahih: Irwa-ul Ghalil no: 1370. barang yang diperjualbelikan belum ada wujudnya. Bai’ as salam berarti pemesanan barang dengan persyaratan yang telah ditentukan dan diserahkan kemudian hari.” Kemudian ia membaca ayat di atas. (Shahih: Irwa-ul Ghalil no: 1369. “Adalah para sahabat Nabi saw biasa membeli barang secara ijon pada masa Beliau saw namun kami tidak pernah bertanya kepada mereka. apakah para sahabat Nabi saw pada masa Beliau saw biasa membeli hinthah secara ijon?” (Setelah ditanya). dua tahun dan tiga tahun. “Kepada orang yang punya modal pokok?” Jawab Abdullah. Mustadrak Hakim II: 286 dan Baihaqi VI: 18).” Kemudian saya diutus oleh Abu Burdah menemui Abdurrahman bin Abza.” Saya bertanya. ‘Aunul Ma’bud IX: 349 no: 3447. ia berkata: Saya pernah diutus oleh Abdullah bin Syaddad dan Abu Burdah untuk menemui Abdullah bin Abi Aufa ra. “Nabi saw datang di Madinah. buat satu masa tertentu. Dengan kata lain. Dalam jual beli secara ijon tidak dipersyaratkan pihak penjual secara ijon harus sebagai pemilik penuh. maka tentukanlah dengan takaran tertentu. sya’ir dan minyak kepada petani dari Syam secara ijon dengan takaran tertentu dan sampai waktu tertentu (pula). Fathul Bari IV: 430 no: 2244 dan lafadz ini bagi Imam Bukhari. ia berkata. maka mereka berdua berkata. apakah mereka punya ladang ataukah tidak.benar-benar telah dihalalkan Allah dalam Kitab-Nya. Muslim III: 1226 no: 1604. “Dahulu kami biasa membeli hinthah. Pada 14 | A k a d E k o n o m i I s l a m .” (Muttafaqun ’alaih: Fathul Bari IV: 429 no: 2240. Dari Muhammad bin Abi al-Mujahid. Ibnu Majah II: 765 no: 2280 dan Nasa’i VI: 290). Tirmidzi II: 387 no: 1325. kami tidak menanyakan hal itu kepada mereka. timbangan tertentu. “Pada waktu itu. dan padanya Dia membolehkannya. ‘Aunul Ma’bud IX: 348 no: 3446. sedang mereka biasa membeli kurma secara ijon.

Penjualan kembali kepada pembeli kedua ini dikenal dengan istilah “Salam Paralel”. Pedagang Pasar Induk. sebab pada ijon. Pemicu perbedaan pendapat mereka adalah karena si pembeli tidak tahu harga barang ketika mengambilnya. Dalam sebuah kontrak Bai’ al Istishna.  Bai u Al Istisna Transaksi Bai’ al Istishna merupakan kontrak penjualan antara pembeli dan pembuat barang melalui pesanan. penjual. lalu membayarnya sesudah itu. atau ditangguhkan sampai batas waktu yang telah ditentukan. yaitu 2-6 bulan. atau Grosir. Dalam transaksi Bai’ as Salam harus memenuhi 5 (lima) rukun yang mensyaratkan harus ada pembeli. dan ucapan (sighot). barang. Dengan demikian. barang yang dibeli tidak diukur dan ditimbang secara jelas dan spesifik. bukan karena 15 | A k a d E k o n o m i I s l a m . melalui cicilan. dan penetapan harga beli sangat tergantung kepada keputusan si tengkulak yang mempunyai posisi lebih kuat. Kontrak seperti ini dikenal sebagai “Istishna’ Paralel”  Bai u Al Istijrar Istijrar secara bahasa artinya menarik atau menyeret. pembeli dapat mengizinkan pembuat barang menggunakan sub kontraktor untuk melaksanakan kontrak tersebut.bank konvensional konsep ini dikenal dengan sebagai bridging financing. Lembaga Keuangan dapat menjual kembali barang yang dibeli kepada pembeli kedua. Aplikasi Bai’ as Salam pada Lembaga Keuangan Syariah biasanya dipergunakan pada pembiayaan bagi petani dengan jangka waktu yang relatif pendek. misalnya kepada Bulog. modal (uang). Bai’ as Salam berbeda dengan ijon. pembuat barang berkewajiban memenuhi pesanan pembeli sesuai dengan spesifikasi yang telah disepakati. Secara terminologis ilmu fiqih: Mengambil kebutuhan yang perlu dibeli sedikit demi sedikit. pembuat barang dapat membuat kontrak istishna kedua untuk memenuhi kewajibannya pada kontrak pertama. Pembayaran dapat dilakukan di muka. Para ahli fiqih berbeda pendapat juga tentang jual beli ini.

Karena dalam kon-disi demikian.' Beliau ditanya. apabila harganya telah diketahui secara pasti. maka jual beli ini sah menurut seluruh ulama. Ia mengambil kebutuhannya dari mereka dan 16 | A k a d E k o n o m i I s l a m . tukang daging atau penjual minyak samin. Jumlah mahar itu dikembalikan dengan standar mahar secara umum. inilah yang menjadi perdebatan di antara para ulama." Ibnul Qayyim menyebutkan dalam I'lamul Muwaqqi'in: "Para ulama berbeda pendapat tentang bolehnya jual beli tersebut karena harga diputuskan tanpa perkiraan harga barang sesungguhnya pada saat transaksi. Bentuk aplikatifnya: Jual beli yang dilakukan dengan rekan bisnis. sehingga termasuk dalam keumuman dalil-dalil yang menetapkan disyariatkannya jual beli tersebut. atau yang lainnya.pembayarannya yang ditunda sampai waktu penghitungannya. Abu Daud menjelaskan dalam al-Masail bab: Membeli Tanpa Mengetahui Harga. 'Apakah saat itu juga disebut sebagai jual beli?' Beliau menjawab. Dan harga barang dalam jual beli ini pun dikembalikan kepada harga standar. jual beli ini tidak akan keluar dari bentuk jual beli nasiah. sampai di kalangan mereka yang melarangnya sekalipun. Mayoritas ulama menetapkan tidak disyariatkannya jual beli ini karena tidak diketahuinya harga pembayaran. Kemungkinan di antara dalil yang paling jelas yang menjelaskan disyariatkannya jual beli ini adalah karena bentuk jual beli ini sudah demikian populer di berbagai negeri dan belahan dunia. Beliau menjawab. "Aku pernah mendengar Ahmad ditanya tentang seorang lelaki yang mengirim orang ke tukang sayur dan mengambil kebutuhannya satu demi satu. 'Saya harap jual beli semacam itu tidak ada apa-apa. Dan tak seorangpun di antara mereka yang berani menyatakan bahwa jual beli itu batal. seperti tukang roti. Kalangan Hambaliyah dalam salah satu riwayat dari mereka menjelaskan bahwa hal itu dibolehkan. Itulah pendapat yang dipilih oleh Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim. Namun kalau harga-nya tidak diketahui. Berdasarkan hal ini. 'Tidak'. Hal itu menurut mereka sama dengan sahnya nikah tanpa menyebutkan jumlah mahar. baru di kemudian hari ia menghitung semua pembeliannya.

Kalau serah terima barang harus dilakukan dengan pelafalan. Karena serah terima itu dilakukan dengan transaksi yang rusak. Itu adalah serah terima rusak seperti halnya serah terima barang rampasan.menghitung seluruhnya di awal bulan atau awal tahun. Kemudian Ibnul Qayyim melanjutkan: "Pendapat kedua: –dan inilah pendapat yang tepat– yakni yang selalu diamalkan oleh umat Islam di segala masa dan di segala tempat. Karena mereka tidak menemukan jalan lain. Bahkan kebanyakan ulama juga membolehkan perjanjian sewa menyewa dengan pembayaran standar. meskipun mereka menyebutkan fatwa bahwa jual beli semacam itu batil. tukang membersihkan dan 17 | A k a d E k o n o m i I s l a m . yakni dibolehkannya jual beli itu sampai batas harga termahal. murah atau mahal. Itulah pendapat yang dinyatakan oleh Ahmad dan dipilih oleh guru kami Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Saya hanya memilih pendapat yang telah diambil oleh ulama selain saya. maka tawar menawar itupun harus dilakukan dengan pelafalan ijab dan qabul (serah terima). nelayan. Namun sebagian besar ulama melarangnya. Di sisi lain umat Islam telah bersepakat mengang-gap sah nikah tanpa mengetahui jumlah mahar dengan memberikan mahar standar." Kemudian jual jual beliau beli melanjutkan. Namun mereka semua juga melakukan jual beli tersebut. seperti me-nyewa tukang cuci. itu tersebut. Mereka menganggap serah terima barang itu tidak memindahkan kepemilikan. lalu membayarnya. "Orang-orang tidak mereka yang turut melarang beli semacam tetap Bahkan mungkin meninggalkan melakukan-nya juga. tukang roti. Aku pernah mendengarnya berkata. tidak ada yang menjelaskan keharamannya. Sementara dalam Kitabullah maupun Sunnah Rasulullah bahkan juga ijma' kaum muslimin. "Itu lebih menyenangkan hati pembeli daripada tawar menawar. atau sekedar pendapat seorang sahabat maupun qiyas yang sah. dan bahwa barang itu masih dalam kepemilikan oleh si penjual. selain orang yang bersikap ekstrim. Ia tidak bisa melepaskan diri dari jual beli itu. dalam arti mereka tidak mungkin menawar setiap kali ia membutuhkan sesuatu yang diambil. Dalam hal ini saya juga memi-liki panutan.

di mana mereka semua setuju untuk menyumbangkan modal dan berkongsi bagi hasil. 18 | A k a d E k o n o m i I s l a m . pihak yang menyimpan bertanggungjawab atas kerusakan atau kehilangan barang yang disimpan itu. sebagai-mana halnya membayar dengan harga standar baik dalam jual beli ini ataupun jual beli lainnya. pihak yang menyimpan tidak bertanggungjawab atas kerusakan atau kehilangan barang yang disimpan.Akad Bersyarikat 1) Al Musyarakah Musyarakah adalah perjanjian perkongsian antara dua atau lebih pemilik modal untuk menjalankan suatu proyek perniagaan. Namun setidaknya jual beli tersebut dengan menggunakan harga standar. kecuali jika kerusakan atau kehilangan itu disengajanya. Dalam Wadiah yang berbentuk Jaminan (Yad Dhamanah). Wadiah yang dilakukan tanpa satu syarat pun disebut Amanah (Yad Amanah).Akad Titipan / Al Wadiah Wadi’ah adalah perjanjian antara pihak yang memiliki barang (termasuk uang) untuk menyimpan barangnya dengan pihak lain (termasuk Bank) dengan tujuan supaya barang itu disimpan dan dijaga keselamatannya.dapur. Jika pihak yang menyimpan meminta izin dari pihak pemilik barang untuk untuk menggunakan barang itu atau tetap menggunakan barang itu tanpa izin. maka Wadiah seperti itu adalah Jaminan (Yad Dhamanah). C. supaya semua modal itu akan menjadi hak proyek tersebut dan sudah bukan hak milik perseorangan para pemilik modal. Dalam hal ini. Modal yang disumbangkan hendaklah berupa uang atau harta benda lainnya yang bisa dinilai dengan uang. Semua modal yang disumbangkan hendaklah dicampur. Jual beli semacam itu dibolehkan. yang hanya dengan analogi inilah kepentingan umat dapat ditegakkan B. semua manfaat dan keuntungan yang diperoleh dari penggunaan barang itu menjadi hak pihak yang menyimpan. Dalam hal ini. Inilah qiyas yang tepat.

Nisbah pembagian keuntungan antara para pemilik modal tidak harus sejumlah dengan sumbangan modal mereka masing-masing dalam proyek tersebut. dan setelah itu lembaga keuangan tersebut melakukan divestasi atau menjual bagian sahamnya kepada pemegang saham perusahaan. karena pemilik modal mengambil sebagian dari hartanya untuk diperdagangkan keuntungannya. Pembagian keuntungan antara para pemilik modal dilakukan menurut nisbah yang telah mereka setujui. 2) Al Mudharabah Menurut bahasa. Menurut istilah fiqh. 40 : 60 atau 30 : 70 menurut perundingan dan dan ia berhak mendapatkan sebagian dari 19 | A k a d E k o n o m i I s l a m . yakni penanaman modal dilakukan oleh lembaga keuangan Syariah untuk jangka waktu tertentu. yang salah satu dari keduanya memberi modal kepada yang lain supaya dikembangkan. yaitu pelaku usaha dan Lembaga Keuangan Syariah (selaku pemodal) sama-sama menyediakan dana untuk membiayai proyek tersebut. kata mudharabah berasal dari adh-dharbu fil ardhi. Jika ada kerugian. hendaklah ditanggung bersama oleh para pemilik modal menurut nisbah sumbangan modal masing-masing. Bagi hasil antara pemilik modal dengan pengusaha adalah secara nisbah. maka perlu mendapat izin dari pemilik modal yang lain. yaitu melakukan perjalanan untuk berniaga. seperti 50 : 50. kata mudharabah adalah akad perjanjian antara kedua belah pihak. Allah swt berfirman: “Dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah. sedangkan keuntungannya dibagi antara keduanya sesuai dengan ketentuan yang disepakati (Fiqhus Sunnah III: 212).Pengurusan proyek boleh dilakukan oleh semua pemilik modal atau beberapa orang dari mereka. b) Modal Ventura. Setelah proyek selesai. berasal dari kata qardh yang berarti qath (sepotong). Jika hanya dilakukan oleh beberapa pemilik modal. nasabah mengembalikan dana yang digunakan beserta bagi hasil yang telah disepakati di awal perjanjian (ijab-kabul). Mudharabah disebut juga qiradh. Al Musyarakah dalam aplikasi lembaga keuangan Syariah dapat berbentuk: a) Pembiayaan Proyek.” (QS Al-Muzzammil : 20).

Akad Mudharabah Muqayyadah dibagi menjadi dua. boleh baik secara mutlak maupun muqayyad (terikat/bersyarat). yaitu Mudharabah Muqayyadah on balance sheet yang berarti bank ikut serta dalam proyek tersebut dan mendapat bagi hasil. jangan engkau bawa ia ke tengah lautan. Berdasarkan kewenangan yang diberikan kepada pihak penyimpan dana. Mudharabah hukumnya jaiz. “Para ulama’ sepakat bahwa jika pemilik modal melarang pengembang modal melakukan jual beli secara kredit. Penentuan nisbah ini hendaklah dipastikan dalam perjanjian. maka engkau harus mengganti hartaku. 125). sedangkan Mudharabah Muqayyadah of balance sheet bank hanya sebagai konsultan yang akan mendapat komisi karena telah mempertemukan pemilik dana dengan pelaksana usaha.” (al-Ijma’ hal. semuanya ditanggung oleh pemilik modal. akad Mudharabah dibagi 2. penyelewengan atau penyalah-gunaan pengusaha.Produk dengan akad Mudharabah biasanya digunakan untuk produk tabungan dan deposito. “Janganlah engkau menempatkan hartaku ini pada binatang yang bernyawa. dan jangan (pula) engkau letakkan ia di lembah yang rawan banjir. sahabat Rasulullah saw. Daruquthni II: 63 no: 242. Ibnul Mundzir menegaskan. jika engkau melanggar salah satu dari larangan tersebut. Dari Hakim bin Hizam. Jika ada kerugian.” (Shahih Isnad: Irwa-ul Ghalil V: 293. yaitu :  Mudharabah Mutlaqah Pihak bank bebas dalam menggunakan dana yang dihimpun  Mudharabah Muqayyadah Pemilik dana dapat menetapkan syarat tertentu yang harus dipenuhi oleh pihak bank.persetujuan antara kedua belah pihak. 3) Muzara’ah 20 | A k a d E k o n o m i I s l a m . kecuali jika kerugian itu disebabkan oleh kecurangan. dan pihak pengembang modal tidak mesti menanggung kerugian kecuali karena sikapnya yang melampaui batas dan menyimpang. lalu ia melakukan jual beli secara kredit. bahwa Beliau pernah mempersyaratkan atas orang yang Beliau beri modal untuk dikembangkan dengan bagi hasil (dengan berkata). maka ia harus menanggung resikonya. Baihaqi VI: 111).

“Seluruh Ahli Bait yang hijrah ke Madinah adalah petani dengan cara bagi hasil sepertiga dan seperempat. ia bercerita. al-Qasim. bahwa mereka pernah menyewakan tanah pada masa Nabi saw dengan (sewa) hasil yang tumbuh di parit-parit. Umar bin Abdul Aziz. tidak mengapa jika tanah yang digarap adalah milik salah seorang di antara mereka. Tirmidzi II: 421 no: 1401). ia berkata. Urwah. atau oleh petani yang mengelolanya. Dari Hanzhalah bin Qais dari Rafi’ bin Khadij. Muslim XCIII: 1186 no: 1551. Imam Bukhari menulis. Di antaranya lagi yang telah melaksanakan muzara’ah adalah Ali. kemudian hasilnya dibagi dua. Keluarga Ali dan Ibnu Sirin. bahwa ia pernah mengabarkan kepada Nafi’ ra pernah memperkejakan penduduk Khaibar dengan syarat bagi dua hasil kurmanya atau tanaman lainnya. “Telah mengabarkan kepadaku dua orang pamanku. Abdullah bin Mas’ud. lalu mereka berdua menanggung bersama modal yang diperlukan. dengan sesuatu (sebidang tanah) yang dikecualikan oleh si pemilik tanah. “Bagianku sekian wasaq”. Sedangkan menurut istilah fiqh ialah pemilik tanah memberi hak mengelola tanah kepada seorang petani dengan syarat bagi hasil atau semisalnya. jika Umar yang memiliki benih. atau ditanggung kedua belah pihak. kata muzara’ah adalah kerjasama mengelola tanah dengan mendapat sebagian hasilnya. Ini juga menjadi pendapat az-Zuhri. Sebagaimana sang pemilik tanah tidak boleh mengatakan. “al-Hasan menegaskan. Imam Bukhari menuturkan. maka ia mendapat separuh dari hasilnya dan jika mereka yang menanggung benihnya maka mereka mendapatkan begitu juga. “Umar pernah mempekerjakan orang-orang untuk menggarap tanah dengan ketentuan. Ibnu Majah II: 824 no: 2467. ‘Aunul Ma’bud IX: 272 no: 3391. Maka Nabi saw melarang hal itu. Qais bin Muslim meriwayatkan dari Abu Ja’far. Keluarga Umar.” Lebih lanjut Imam Bukhari mengatakan. (Muttafaqun ‘alaih: Fathul Bari VI: 13 no: 2329.Menurut bahasa.” Kemudian saya (Hanzhalah bin Qais) bertanya 21 | A k a d E k o n o m i I s l a m . Dari Nafi’ dari Abdullah bin Umar ra. Sa’ad bin Malik.” Dalam muzara’ah. Tidak mengapa modal mengelola tanah ditanggung oleh si pemilik tanah. Keluarga Abu Bakar. tidak boleh mensyaratkan sebidang tanah tertentu ini untuk si pemilik tanah dan sebidang tanah lainnya untuk sang petani.” (Fathul Bari V: 10). Dalam Fathul Bari V: 10.

yaitu akad yang memberikan jaminan atas diri seseorang yang dihormati dan disegani  Kafalah bin Maal.” Al-Laits berkata. Dari Hanzhalah juga. ia berkata. ‘Aunul Ma’bud IX: 250 no: 3376 dan Nasa’i VII : 43) D. yaitu :  Kafalah bin Nafs. oleh sebab itu yang demikian itu dilarang. yaitu jaminan pembayran barang/pelunasan barang  Kafalah bin Taslim. dan yang itu selamat sedang yang ini musnah. “Bagaimana sewa dengan Dinar dan Dirham?” Maka jawab Rafi’.” (Shahih: Irwa-ul Ghalil V: 302. Nasa’i VII: 43 tanpa perkataan al-Laits). Sesungguhnya pada periode Rasulullah orang-orang hanya menyewakan tanah dengan (sewa) hasil yang tumbuh di pematang-pematang (gailengan). Fathul Bari V: 25 no: 2347 dan 46. yaitu akad yang biasa dilakukan untuk menjamin pengembalian atas barang yang disewa pada masa sewa berakhir  Kafalah Al Munjazah. yaitu jaminan mutlak yang tidak dibatasi oleh jangka waktu dan untuk kepentingan atau tujuan tertentu 22 | A k a d E k o n o m i I s l a m 1) Al Kafalah .” (Shahih: irwa-ul Ghalil V: 299.kepada Rafi’. maka tidak dilarang. Adapun (sewa) dengan sesuatu yang pasti dan dapat dijamin. “Tidak mengapa sewa dengan Dinar dan Dirham. tepi-tepi parit. Dan tidak ada bagi orang-orang (ketika itu) sewaan melainkan ini. ‘Tidak mengapa. Lalu yang itu musnah dan yang ini selamat. Akad Memberi Kepercayaan Merupakan jaminan yang diberikan oleh penanggung kepada pihak ketiga untuk memenuhi kewajiban pihak kedua/yang ditanggung. Ada 5 jenis Kafalah. Jawab Rafi’. dan beberapa tanaman lain. “Saya pernah bertanya kepada Rafi’ bin Khadij perihal menyewakan tanah dengan emas dan perak. perihal halal dan mereka haram tidak memperhatikan niscaya membolehkannya karena di dalamnya terkandung bahaya. Muslim III: 1183 no: 116 dan 1547. “Yang dilarang dari hal tersebut adalah kalau orang-orang yang mempunyai hal pengetahuan termaksud.

kemudian dia memindahkan kewajiban membayar hutangnya kepada orang lain yang mampu itu. Akad Memberi Ijin / AL Wakalah Merupakan diwakilkan. 3) Al Jualah Ju’alah ialah pemberian fee (hadiah) kepada pihak yang berhasil memenangkan (melaksanakan) suatu pekerjaan atau prestasi tertentu. huruf haa’ dibaca fathah atau kadang-kadang dibaca kasrah. Barangsiapa yang mempunyai hutang namun dia mempunyai piutang pada orang lain yang mampu. Orang Arab biasa mengatakan haala ’anil ’ahdi. hawalah adalah pemindahan kewajiban melunasi hutang kepada orang lain. maka terimalah. pelimahan Pihak kekuasaan hanya oleh seseorang sebagai pihak pertama kepada orang lain sebagai pihak kedua dalam hal-hal yang kedua melaksankan sesuatu sebatas kuasa/wewenang yang diberikan oleh pihak pertama. E. Kafalah Al Muallaqoh. 23 | A k a d E k o n o m i I s l a m . Rasulullah saw bersabda: “Penundaan orang yang mampu (melunasi hutang) itu adalah zhalim. Sedang menurut fuqaha. yaitu berlepas diri dari tanggung jawab. 2) Al Hawalah Kata hawalah. yaitu penyederhanaan dari kafalah Al Munjazah baik oleh industri perbankan asuransi. dan apabila seorang di antara kamu menyerahkan (kewajiban pembayaran hutangnya) kepada orang kaya. maka orang yang mampu tersebut wajib menerima kewajiban itu.” (Shahih: Shahihul Jami’us Shaghir no: 5876). berasal dari kata tahwil (pemindahan) atau dari kata ha’aul (perubahan). para pakar fiqih.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful