REVITALISASI BANGUNAN

(AGAR BUDAYA:

KONSERVASI + NILAI EKONOMI + MANFAATBAGI LUAS

MASYARAKAT

Oleh: Ir. Danang Priatmodjo, M. Arch

Pengantar

Kontroversi tentang perlakuan terhadap bangunan eagar budaya tidak pernah berhenti menerpa kotakota tua kita. Beberapa tahun yang lalu Pasar Johar di Semarang hamper dibongkar dan digantikan dengan bangunan shopping mall modern. Keeaman keras dari para arsitek dan arkeolog yang peduli pada kelestarian bangunan bersejarah membuat Walikota Semarang (untuk sementara) mengurungkan niat membongkar pasar eantik hasil raneangan Thomas Karsten bertarikh 1936 itu. Meski sekarang dalam kondisi status quo, tidak tertutup kemungkinan gagasan menggantikan pasar ini dengan shopping mall bisa bangkit lagi. Oi Jakarta, gedung eantik eks Kunstkring (1913) yang berlokasi di Menteng - sekarang dikenal sebagai Gedung Imigrasi - berhasil "diselamatkan" oleh Pemprov. OKI Jakarta. Bekas Kantor Imigrasi Jakarta Pusat ini sempat dimiliki oleh pihak swasta melalui mekanisme ruilslag ("tukar guling"). Ketika itu kusen-kusen, daun pintu dan daun jendela raib. Pemprov. OKI Jakarta kemudian membeli gedung ini dari pemiliknya, lalu memugar bangunan rru, Oengan melibatkan masyarakat peeinta bangunan tua, diadakan sayembara gagasan pemanfaatan bangunan. Belakangan masyarakat dikeeewakan karena fungsi bangunan tidak sesuai dengan gagasan yang dinyatakan sebagai pemenang sayembara. Meski memberi nilai ekonomi - sehingga bisa menutup biaya pemeliharaan - yang diuntungkan hanya pengusaha pemegang konsesi. Fungsi bangunan ini, "Budha Bar", hanya dapat dinikmati oleh segelintir orang dan namanya pun mengundang protes karena menyinggung perasaan penganut agama Budha. Kabar terhangat datang dari kota Solo. Oi atas lahan kompleks Benteng Vastenburg yang didirikan hamper bersamaan dengan dibangunnya kota Surakarta (1745) akan didirikan hotel bertingkat tinggi dan bangunan pusat perbelanjaan. Entah bagaimana kejadiannya, lahan yang sampai dengan tahun 1970-an dikuasai oleh instansi mil iter (Brigade Infanteri), sekarang telah menjadi milik swasta. Pemilik lahan sudah siap dengan raneangan yang menghebohkan masyarakat. Oalam kasus Benteng Vastenburg ini dua pandangan ekstrem telah bertemu. Pandangan ekstrem pertama berasal dari pemilik lahan yang seeara semena-mena akan mendirikan bangunan modern tanpa memperhatikan konteks sejarah dan konteks keserasian dengan lingkungan sekitarnya. Pandangan ekstrem kedua berasal dari kelompok masyarakat (setempat) peduli eagar budaya dan didukung oleh Oepartemen Kebudayaan dan Pariwisata (Oepbudpar), yang menginginkan lahan serta sisa-sisa benteng ini menjadi "monumen beku". Menghadapi pandangan-pandangan ekstrem seperti ini, diperlukan diskusi untuk meneari solusi terbaik perlakuan terhadap bangunan (dan situs) eagar budaya, dengan berorientasi pada kepentingan melindungi warisan budaya, sekaligus memberi manfaat bagi masyarakat luas. Kiranya perlu disepakati bahwa perlindungan terhadap warisan budaya bukanlah upaya sentimental atau sekedar nostalgia, melainkan harus berupa upaya memberi makna bagi ilmu pengetahuan dan bagi kehidupan manusia masa kini.

tanpa melakukan pengurangan.30 September 2009): "Bentenq dan lingkungannya tetap dapat dikelola oleh pihak swasta. Bagian surat tersebut antara lain berbunyi (sebagaimana diberitakan KOMPAS. namun di lain pihak akan memberi dampak buruk bagi wajah dan pertumbuhan kota. Sementara itu. disarankan agar disayembarakan secara terbuka. sekelompok arsitek Jakarta yang peduli pada warisan budaya kota berusaha mencarikan solusi yang lebih kompromistik. Mereka menemui Walikota Solo dan memberikan masukan bahwa membangun hotel di dalam lahan benteng yang telah kosong itu boleh saja. yaitu terbengkelai. namun sebelum sempat direalisasikan telah turun surat dari Oirektur Peninggalan Sejarah. Oepbudpar. "Farwa" Oepbudpar untuk Benteng Vastenburg mengacu pada pendekatan "restorasi" (mengembalikan ke kondisi candi . Namun. Walikota menyetujui usulan para arsitek ini. Oirektorat Jenderal Sejarah dan Purbakala. berupa padang alang-alang dan sisa-sisa bangunan rusak. penambahan. Agar desain tidak kontroversial dan guna memberikan kesempatan kepada semua pihak untuk ikut berperan. pembongkaran. Surat Oepbudpar ini di satu pihak menjamin kelestarian situs benteng. dan pendirian bangunan baru di dalam dan di sekitarnya". bahkan lebih baik karena bisa memberikan nilai ekonomi yang membuat bangunan benteng yang tersisa lebih terpelihara. karena kawasan benteng akan lestari dengan kondisi saat ini. Masalahnya adalah desain hotel yang perlu dikendalikan agar sosok dan ketinggiannya tidak mengganggu wajah kawasan yang sarat dengan nilai-nilai kesejarahan.Kasus Benteng Vastenburg Solo Hari-hari ini masyarakat kota Solo sedang meramaikan rencana pembangunan hotel dan shopping mall di lahan Komunitas Peduli Cagar Budaya Nusantara (KPCBN) dan menyurati Oepbudpar agar membatalkan rencana pihak swasta pemilik lahan membangun sarana modern yang dikuatirkan merusak kelestarian salah satu warisan budaya kota Solo ini. Kalau bisa ditambahkan fungsi yang mempunyai nilai budaya yang kental. yang berisi penolakan rencana pembangunan hotel dan mal di situs Benteng Vastenburg. misalnya "Museum Surakarta". tidak ada yang mau memelihara karena tidak mendatangkan keuntungan apapun. pemindahan. perubahan.

Bangunan-bangunan baru dibatasi ketinggiannya maksimal 4 lantai. sehingga dengan pendekatan restorasi dapat dimanfaatkan untuk fungsi-fungsi masa kini. penambahan bangunan baru yang memperhatikan keserasian dengan bangunan lama. serta menambahkan bangunanbangunan di dalam benteng dengan fungsi-fungsi yang memberi manfaat ekonomi dan kemasyarakatan. Tidak ada alasan untuk merekonstruksi (membangun kembali) bangunan-bangunan yang telah hilang di kompleks Benteng Vastenburg. misalnya perubahan sekatsekat ruangan. yang tertinggal adalah tembok keliling benteng dan bangunan gerbang yang rusak berat. Seluruh bangunan di dalamnya sudah dibongkar dan rata dengan tanah. Pengertian adaptif dimaksudkan agar bangunan kuno yang dibuat sesuai kebutuhan orang jaman dulu bisa beradaptasi dengan kebutuhan pengguna masa kini. Benteng Ylll19 Ujunq f'~nd3n9 nl m rupak n 8 nr ng kep . pusat kebudayaan dan hotel. Usulan sekelompok arsitek Jakarta kepada Walikota Solo adalah melakukan adaptive-reuse bagi eks Benteng Vastenburg. misalnya museum. penambahan toilet. bias saja diterapkan cara seperti itu. Gambar 2 di bawah ini menunjukkan bahwa kondisi di Yogyakarta dan Makassar sangat berbeda. sehingga bisa membantu pemeliharaan bekas benteng yang tersisa. melestarikan (eks) Benteng Vastenburg dengan pendekatan restorasi tidak tepat. Bangunan-bangunan di dalam benteng sudah tidak tersisa (rata dengan tanah). menata lansekap kawasan luar benteng. Dalam wacana pelestarian situs dan bangunan bersejarah dikenal pendekatan "re-arsitektur" atau "adaptive-reuse". Gambar 1 di bawah ini menunjukkan bahwa kondisi eks Benteng Vastenburg di Solo saat ini sudah jauh berbeda dari kondisi pada tahun 1924. dan karenanya tidak akan mengganggu keserasian wajah kawasan. sedang lahan kosong di dalamnya sebaiknya diisi bangunan baru yang memberikan nilai ekonomi. yaitu pemanfaatan bangunan kuno/bersejarah untuk menampung fungsi (penggunaan) baru dengan melakukan penambahan secara selektif sepanjang tidak merusak wajah atau citra bangunan aslinya.~m ng Rot rd4fl1. namun benteng di Solo tinggal tembok luar dan pintu gerbang yang rusak parah. Kalau kondisi Benteng Vastenburg masih utuh seperti Benteng Vredeburg (Yogyakarta) atau Benteng Rotterdam (Makassar). Bentuk pelestarian yang paling tepat adalah memugar bangunan gerbang dan tembok keliling. Dari sudut pandang konservasi kota. sehingga tidak tampak dari jalan raya.ikasaan dart k raJaan Gowa adab ke 7 Sumb. Fort Vredeburg dan Fort Rotterdam masih utuh bangunan-bangunannya.<: yang tidak lagi menyandang kebutuhan fungsi manusia masa kini. . dsb. menambah atau mengurangi mestinya diterapkan hanya bagi tembok benteng saja. Maka larangan membongkar.

Seolah menghilangkan kesan kekejaman penjara Turki sebagaimana digambarkan di film "Midnight Express". dan manfaat penggunaan yang dapat dirasakan oleh masyarakat luas. Garnier menawarkan susunan kota yang ideal. Tentu saja harus dilakukan penyesuaian kelengkapan ruang-ruang (stage. Manfaat langsung bagi masyarakat luas memang kurang terasa. Meskipun demikian. Istanbul". Dengan sendirinya fungsi bangunan sebagai abattoirs sudah tidak sesuai lagi. diperoleh nilai ekonomi yang menjamin bangunan terpelihara. gedung penjara di tengah kota ini kemudian "disulap" menjadi hotel butik 65 kamar: "Four Seasons Hotel. gedung konser ini diberi nama "Halle Tony Garnier". dll.) dan penataan akustik bangunan. Four Seasons Hotel di Istanbul. Lyon Tony Garnier (1869-1948) adalah arsitek terkemuka di Lyon. yaitu Halle Tony Garnier di Lyon. tanpa mengubah bentuk keseluruhan bangunan. Istanbul Dibangun lebih seabad yang lalu. toilet. Untuk menghormati sang arsitek. back-stage. mengingat hotel ini sangat mewah. Melalui upaya ini diperoleh "win-win solution": bangunan kuno tetap lestari. cara mengubah fungsi dengan hanya merombak interior tanpa mengubah bentuk keseluruhan bangunan patut dijadikan contoh. Di antara contoh-contoh keberhasilan tersebut menarik untuk disimak tiga proyek dari tiga kota. Istanbul dan San Francisco Cukup banyak contoh-contoh keberhasilan upaya pelestarian bangunan cagar budaya dengan pendekatan adaptive-reuse. yaitu Abattoirs de la Mouche alias rumah pemotongan hewan (RPH) Mouche. lokasi rumah pemotongan hewan yang semula termasuk di pinggiran telah menjadi kawasan tengah kota. mampu mengakomodasikan kegiatan industri. Penjara Sultanahmet di tengah kota Istanbul berujud bangunan neoklasik yang cantik. Seiring dengan perkembangan kota Lyon. Four Seasons Hotel. Di antara bangunan-bangunan yang digambar oleh Garnier dalam "Cite Industrielle". namun tetap memperhatikan syaratsyarat kesehatan.8elajar dari Lyon. Pemerintah kota Lyon kemudian mengubah RPH ini menjadi gedung konser. Bangunan rangka baja berbentuk seperti hangar pesawat terbang ini selesai dibangun pada tahun 1924. . sehingga hanya bisa dijangkau oleh mereka yang berduit banyak. salah satunya dibangun di kota Lyon. dan Ghirardelli Square di San Francisco. yang pada tahun 1904 meluncurkan pameran "Cite Industrielle" (Kota Industri) sebagai respons atas perkembangan industri yang cenderung menimbulkan polusi udara bagi kota-kota besar Eropa. Halle Tony Garnier.

Indlr4 files.bp. panoramlo. Pelestrian tanpa revitalisasi akan terjebak pada sikap sentimental yang hanya menghasilkan monumen "beku".lalu menggantikan dengan bangunan baru yang lebih buruk dari bangunan aslinya. Dua warga San Francisco yang mencintai bangunan kuno dan sejarahnya . Di samping itu. Demi melestarikan unsur sejarah kawasan.. cocok bila dilakukan teknik adaptive-reuse. Mereka lalu membeli kawasan pabrik dan mengembangkan kawasan niaga yang dinamakan "Ghirardelli Square". dengan menambahkan elemen-elemen pelengkap bangunan sebagaimana layaknya suatu kawasan perbelanjaan. lb) Fo 0 udna 8enteng lion rdam M ~r lGoO<Jle Earth)i (bl) (b2) (b3) l<ondlSl bangull<II1 Ben nil Rotterdam sa nl (mylota. dengan melakukan revitalisasi kawasan menggunakan pendekatan adaptive reuse.com). William P. . San Francisco Kawasan pabrik coklat milik Domingo Ghirardelli ini mulai dikembangkan pada tahun 1893. Penutup Dari uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa pelestarian bangunan cagar budaya hendaknya disertai dengan upaya revitalisasi bangunan yang bersangkutan. tergantung kondisi bangunan dan nilai sejarahnya. Bangunan-bangunan candi atau bangunan kuno yang masih utuh sesuai bila diterapkan teknik restorasi. nama Ghirardelli diabadikan sebagai nama pusat perbelanjaan ini. Ghirardelli Square.romt Bandingkan dengan kota Bandung yang merobohkan Penjara Banceuy .bIogspo om.tidak menghendaki pembongkaran bangunan-bangunan pabrik kuno ini. wordpress. biaya pemeliharaan bangunan cagar budaya akan membebani kota atau negara. Pendekatan teknik revitalisasi sangat kasuistik.file$. Direncanakan kawasan ini akan dijadikan blok-blok apartemen modern.com.William Matson Roth dan ibunya Mrs. Bagi bangunan yang telah mengalami kerusakan parah atau tidak punya tuntutan untuk dikembalikan ke bentuk aslinya.( ) Foto ud~li sent ng VIed burg Yog)'akilU (GOOg1 Ear (il)( ~ raJ) Kondlsl bang\tn II Bent ngVredeburg 1nl (3. Roth .hanya disisakan satu kamar dan menara pengawas . wordpress. Di tahun 1960-an kawasan ini dibeli oleh The Golden Grain Macaroni Company dan pabrik coklatnya dipindahkan ke San Leandro. Keseluruhan bentuk bangunan dipertahankan.

Sherban. New York: W. 31 Th. yaitu penambahan fungsi atau perubahan fungsi sesuai dengan kebutuhan manusia masa kini. Danang. (2) Pemberian nilai ekonomi. yaitu: (1) Konservasi..a 1998.2000. sehingga alih-alih menjadi "cost center" bangunan eagar budaya hendaknya menjadi "profit center".1 2000. Jakarta 2S-26 Agustus Strike.. Norton & Company Warren. yaitu pemeliharaan serta perbaikan bagianbag ian yang rusak (pemugaran). (3) Pemilihan jenis penggunaan yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat luas. revitalisasi bangunan eagar budaya seyogyanya mengandung tiga unsur perlakuan.Architecture in Conservation: Managing Development at Historic Sites."Revitalisasi Kawasan Kota Lama Jakarta". M. Djokja en Solo: Beeld van de Vorstensteden.Wassing e. Purmerend. Nederland: Asia Maior Cantacuzino."Pengembangan Kawasan Berwawasan Pelestarian di Lingkungan Perkotaan". 9 1998. London: Thames & Hudson Larkham."Melestarikan Bangunan Kuno: Gitu aja kok repot .P.S. Historic Preservation. Jakarta & Arsitektur edisi 7. Re/architecture: Old Buildings / New Uses. I No. Buletin Ilmiah Tarumanagara No.. dengan demikian bangunan eagar budaya tidak menjadi sarana atau wadah kegiatan yang eksklusif Oaftar Pustaka van Bruggen. makalah Seminar Nasional ASPI.Conservation and the City.". 1994. Jurusan Planologi Universitas Tarumanagara. Norman. 1989. Kalang Vol. & R.W. London: Routledge Tyler."Coping with Historic Cities: Maintaining the Balance between Transformation and Conservation". Mei-Juni 200S. .Secara ringkas. Peter J. James1994. 1996. London: Routledge Priatmodjo.