KATA PENGANTAR

Alhamdulillah Puji syukur kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan pembuatan makalah ini dengan baik. penulis berharap makalah ini dapat memperluas wawasan kita sebagai mahasiswa yang Insyaallah akan menjadi seorang guru. Penulis tentunya menyadari bahwa penyusunan makalah ini masih belum sempurna sehingga masih ada kekurangn-kekurangan. Oleh karena itu penulis mengharapkan masukan, mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak bagi perbaikan di masa mendatang demi perbaikan mutu makalah ini. Disini penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam penyelesaian makalah ini. Berkat bantuan dari berbagai pihak, sehingga makalah ini dapat bermanfaaat bagi banyak pihak, dan penulis mohon maaf jika ada kesalahan pada penulisan makalah ini

Jakarta, 11 Juni 2011

Penyusun,

.

Latar Belakang .BAB I PENDAHULUAN A.

.

.

.

BAB II PEMBAHASAN .

pandangan. maka melalui komponen kognitifnya akan terjadi persepsi pemahaman terhadap objek sikap. Struktur sikap siswa terhadap konselor terdiri dari tiga komponen yang terdiri atas:1.A.Dari pendapat tersebut dapat dikatakan bahwa sikap adalah kecenderungan. Komponen ini merupakan kecenderungan seseorang untuk bereaksi. Konsep Dasar Sikap dan Perilaku Thursthoen dalam Walgito (1990: 108) menjelaskan bahwa. secara umum komponen afektif disamakan dengan perasaan yang dimiliki terhadap sesuatu. pandangan. rasa tidak senang merupakan hal yang negatif.2. 2000:26). Hal tersebut berkaitan dengan bagaimana orang mempersepsi objek sikap. . Berkowitz. Ketiga komponen tersebut saling berhubungan dan tergantung satu sama lain. menurut dan melaksanakan atau menjauhi/menghindari sesuatu. Komponen afektif terdiri dari seluruh perasaan atau emosi seseorang terhadap sikap. Komponen konatif. Komponen afektif. komponen ini menunjukkan ke arah sikap yaitu positif dan negatif. Saling ketergantungan tersebut apabila seseorang menghadapi suatu objek tertentu. dan keyakinan tentang objek. Sebagai reaksi maka sikap selalu berhubungan dengan dua alternatif. Komponen-komponen tersebut di atas merupakan komponen yang membentuk struktur sikap.3. Komponen ini berkaitan dengan pengetahuan. dalam Azwar (2000:5) menerangkan sikap seseorang pada suatu objek adalah perasaan atau emosi. Komponen afektif menyangkut masalah emosional subjektif seseorang terhadap suatu objek sikap (Azwar. sikap adalah gambaran kepribadian seseorang yang terlahir melalui gerakan fisik dan tanggapan pikiran terhadap suatu keadaan atau suatu objek. yaitu senang (like) atau tidak senang (dislike).. Namun pengertian perasaan pribadi seringkali sangat berbeda perwujudannya bila dikaitkan dengan sikap. Komponen kognitif. dan faktor kedua adalah reaksi/respon atau kecenderungan untuk bereaksi. Komponen ini menunjukkan intensitas sikap. pendapat atau pendirian seseorang untuk menilai suatu objek atau persoalan dan bertindak sesuai dengan penilaiannya dengan menyadari perasaan positif dan negatif dalam menghadapi suatu objek. yaitu besar kecilnya kecenderungan bertindak atau berperilaku seseorang terhadap objek sikap. Perasaan tersebut dapat berupa rasa senang atau tidak senang terhadap objek. bertindak terhadap objek sikap.

Dalam setiap individu akan berkembang komponen afektif yang kemudian akan memberikan emosinya yang mungkin positif dan mungkin negatif. baik hanya secara lisan maupun bertingkah laku secara nyata. maka dalam keadaan terdesak sikapnya dapat berfungsi sebagai mekanisme pertahanan ego. yang artinya sampai sejauh mana manfaat objek sikap dalam mencapai tujuan. Demikian sebaliknya bila objek sikap menghambat dalam pencapaian tujuan. Dengan mengambil nilai sikap tertentu. Sikap diambil seseorang pada waktu orang yang bersangkutan terancam dalam keadaan dirinya atau egonya. (2) Fungsi pertahanan ego. artinya sikap yang diambil seseorang akan dapat menyesuaikan diri secara baik terhadap sekitarnya. sedangkan penilaian negatif akan menimbulkan perasaan tidak senang. akan disusun kembali atau diubah sedemikian rupa sehingga menjadi konsisten.Fungsi ini berkaitan dengan sarana tujuan. atau fungsi manfaat. Akhirnya berdasarkan penilaian tersebut akan mempengaruhi konasinya. Bila objek sikap dapat membantu seseorang dalam mencapai tujuannya. maka orang akan bersikap negatif terhadap objek sikap tersebut.Hasil pemahaman sikap individu mengakui dapat menimbulkan keyakinan-keyakinan tertentu terhadap suatu objek yang dapat berarti atau tidak berarti. Orang memandang sampai sejauh mana objek sikap dapat digunakan sebagai sarana dalam mencapai tujuan. Katz (dalam Walgito. (3) Fungsi ekspresi nilai. Bila penilaiannya positif akan menimbulkan rasa senang. melalui inilah akan mendapat diketahui apakah individu ada kecenderungan bertindak dalam bertingkah laku. maka orang akan bersikap positif terhadap objek sikap tersebut. Di sini sikap merupakan sarana untuk mencapai tujuan. Dengan pengalamannya yang tidak konsisten dengan apa yang diketahui oleh individu. Fungsi ini mempunyai arti bahwa setiap individu mempunyai dorongan untuk ingin tahu. Sikap yang ada pada diri seseorang merupakan jalan bagi individu untuk mengekspresikan nilai yang ada dalam dirinya. (4) Fungsi pengetahuan. Dengan mengekspresikan diri seseorang akan mendapatkan kepuasan dan dapat menunjukkan keadaan dirinya. Ini berarti bila . Fungsi ini juga disebut fungsi manfaat. 1990:110) menjelaskan bahwa sikap itu mempunyai empat fungsi. Ini merupakan sikap yang diambil oleh seseorang demi untuk mempertahankan ego atau akunya. Fungsi ini juga disebut sebagai fungsi penyesuaian. yaitu: (1) Fungsi instrumental atau fungsi penyesuaian. akan dapat menggambarkan sistem nilai yang ada pada individu yang bersangkutan.

Perilaku tertentu bahkan kadang- . bagaimana instrumen itu dapat dikembangkan dan digunakan untuk mengukur sikap. Afeksi akan mengiringi hasil kognisi terhadap objek sikap sebagai aspek evaluatif. atau pendirian seseorang untuk meneliti suatu objek atau persoalan dan bertindak sesuai dengan penilaiannya. Sikap dari skala sikap ini adalah isi pernyataan yang berupa pernyataan langsung yang jelas tujuan ukuran atau pernyataan tidak langsung yang kurang jelas untuk tujuan ukurannya bagi responden. bukankah dia memperlihatkan sikapnya terhadap warna putih. Orang lain yang selalu memakai baju warna putih. Ukuran self-report mudah digunakan namun ukuran itu dapat memiliki sifat kemenduaan (ambiguity) atau adanya ukuran lain. Mengukur sikap bukan suatu hal yang mudah sebab sikap adalah kecenderungan. kesiapan untuk bertindak dan untuk berperilaku.seseorang mempunyai sikap tertentu terhadap suatu objek. yang dapat bersifat positif atau negatif. proses belajar. Bringham dalam Azwar (2000:138) menjelaskan tipe ukuran sikap yang paling sering dipakai adalah questioner self-report yang disebut skala sikap dan biasanya meliputi respon setuju atau tidak dalam beberapa kelompok-kelompok. Azwar (2000:90) menjelaskan bahwa. pandangan pendapat. yaitu merupakan kesiapan untuk memberikan respon terhadap objek sikap. dan hasil proses persepsi ini akan merupakan pendapat atau keyakinan individu mengenai objek sikap dan ini berkaitan dengan segi kognisi. Keadaan lingkungan akan memberikan pengaruh terhadap objek sikap maupun pada individu yang bersangkutan. tergantung pada kepekaan dan kecermatan pengukurannya. Perlu diperhatikan metode yang berhubungan dengan pengukuran sikap. Dalam penelitian sikap. keyakinan. menunjukkan tentang pengetahuan orang tersebut objek sikap yang bersangkutan. pengalaman. Dalam persepsi objek sikap individu akan dipengaruhi oleh pengetahuan. Hasil evaluasi aspek afeksi akan mengait segi konasi. metode yang bisa digunakan untuk pengungkapan sikap yaitu: (1) Observasi perilaku kalau seseorang menampakkan perilaku yang konsisten (terulang) misalnya tidak pernah mau diajak nonton film Indonesia. bukanlah dapat disimpulkan bahwa ia tidak menyukai film Indonesia. dengan menyadari perasaan positif dan negatif dalam menghadapi suatu objek.

perilaku yang diamati mungkin saja dapat menjadi indikator sikap dalam kontek situasional tertentu. Asumsi yang mendasari metode pertanyaan langsung guna pengungkapan sikap. Responden diminta untuk menjawab langsung suatu pernyataan sikap tertulis dengan memberi tanda setuju atau tidak setuju. pertama adalah asumsi bahwa individu merupakan orang yang paling tahu mengenai dirinya sendiri. Suatu metode pertanyaan langsung adalah pengungkapan langsung (direct assessment) secara tertulis yang dapat dilakukan dengan menggunakan item tunggal maupun dengan menggunakan item ganda. (2) Pertanyaan langsung. B. Prosedur pengungkapan langsung dengan item ganda sangat sederhana. (3) Pengungkapan langsung. Pengukuran sikap yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan pengungkapan langsung yaitu dengan menggunakan skala psikologis yang diberikan pada objek. tetapi interpretasi sikap warna sangat berhati-hati apabila hanya didasarkan dari pengamatan terhadap perilaku yang ditampakkan oleh seseorang. dan kedua adalah asumsi keterusterangan bahwa manusia akan mengemukakan secara terbuka apa yang dirasakannya. Dengan demikian.kadang sengaja ditampakkan untuk menyembunyikan sikap yang sebenarnya. Sikap dan Perilaku Guru yang Profesional . Penyajian dan pemberian respondennya yang dilakukan secara tertulis memungkinkan individu untuk menyatakan sikap secara lebih jujur.

Kesalahan-kesalahan itu antara lain: Mengambil Jalan Pintas Dalam Pembelajaran. dan masyarakat sekitar. namun paling tidak telah menghasilkan suatu kondisi yang yang menunjukkan bahwa sebagian guru memiliki ijazah perguruan tinggi. Untuk mengatasi kesalahan-kesalahan tersebut maka seorang guru yang profesional harus memiliki empat kompetensi. Latar belakang pendidikan ini mestinya berkorelasi positif dengan kualitas pendidikan. antara lain melalui seminar. bahkam melalui pendidikan formal bahkan dengan menyekolahkan guru pada tingkat yang lebih tinggi. dan banyak penyimpangan. Walaupun dalam kenyataannya banyak guru yang melakukan kesalahan-kesalahan. dan loka karya. sesama guru. Kesalahan-kesalahan yang seringkali tidak disadari oleh guru dalam pembelajaran ada tujuh kesalahan. Kompetensi tersebut tertuang dalam Undang-Undang Dosen dan Guru. 2005:20). bersamaan dengan faktor lain yang mempengaruhi. dan berwibawa serta menjadi teladan peserta didik. Menggunakan Destruktif Discipline. Tidak Adil (Diskriminatif).Pemerintah sering melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kualitas guru. Kompetensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang mantap. Kendatipun dalam pelakansaannya masih jauh dari harapan. Mengabaikan Kebutuhan-Kebutuhan Khusus (Perbedaan Individu) Peserta Didik. Kompetensi profesional adalah kamampuan penguasaan materi pelajaran luas mendalam. arif. berakhlak mulia. orang tua/wali peserta didik. pelatihan. . Merasa Diri Paling Pandai Di Kelasnya. Menunggu Peserta Didik Berperilaku Negatif. Kompetensi sosial adalah kemampuan guru untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan efisien dengan peserta didik. Serta Memaksakan Hak Peserta Didik (Mulyasa. yakni: Kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik.

Sedangkan perilaku merupakan bentuk tindakan nyata seseorang sebagai akibat dari adanya aksi respon dan reaksi. Budi pekerti dijadikan mata pelajaran khusus di sekolah. apabila individu dihadapkan pada suatu stimulus yang dikehendaki adanya reaksi individual. ada beberapa upaya yang dapat dilakukan agar beberapa sikap dan perilaku menyimpang dalam dunia pendidikan dapat hindari. Hal ini dikarenakan tindakan nyata tidak hanya ditentukan oleh sikap semata namun juga ditentukan faktor eksternal lainnya. Jelas hal ini bukan solusi. dan lain-lain adalah karena sikap-sikap seseorang. 2005:62). Hanya 15 % disebabkan oleh keahlian atau kompetensi teknis yang dimiliki (Ronnie. Menurut Mann dalam Azwar (2000) sikap merupakan predisposisi evaluatif yang banyak menentukan bagaimana individu bertindak.Tantiningsih dalam Wawasan 14 Mei 2005. Kempat. Keenam belas pilar tersebut menekankan pada sikap dan perilaku pendidik untuk mengembangkan potensi peserta didik. Respon hanya akan timbul. Semakin menggelembung dan semakin sulit untuk diatasi. Guru sebagai panutan hendaknya menjaga image dalam bersikap dan berperilaku. promosi jabatan. Enam belas pilar pembentukan karakter yang harus dimiliki seorang guru. dan orang tua. menyenangkan-tidak menyenangkan. ` Menurut Danni Ronnie M ada enam belas pilar agar guru dapat mengajar dengan hati. Ketiga. Bahkan kompetensi teknis ini dijadikan basis utama dari proses belajar mengajar. diantaranya: Pertama. 2000: 15).Namun sayangnya justru kemampuan yang bersifat teknis ini yang menjadi primadona dalam istisusi pendidikan yang dianggap modern sekarang ini. menyiapakan tenaga pendidik yang benar-benar profesional yang dapat menghormati siswa secara utuh. pencapaian sasaran. yang kemudian mengkristal sebagai potensi reaksi terhadap objek sikap (Azwar. bahkan akan membuat permasalahan semakin menjadi. Menurut penuturan R. Kedua. antara lain: . adanya kerjasama dan interaksi yang erat antara siswa. positif negati. Respon evaluatif berarti bahwa bentuk reaksi yang dinyatakan sebagai sikap itu timbul didasari oleh proses evaluasi dalam diri individu yang memberi kesimpulan terhadap stimulus dalam bentuk nilai baik buruk. guru (sekolah).Sikap dikatakan sebagai suatu respons evaluatif. Hasil temuan dari universitas Harvard bahwa 85 % dari sebab-sebab kesuksesan.Terkait dengan hal di atas. guru merupakan key succes factor dalam keberhasilan budi pekerti. akan tetapi sikap dan tindakan nyata seringkali jauh berbeda. Dari guru siswa mendapatkan action exercise dari pembelajaran yang diberikan.

(12) saling menularkan antusiasme. Jika para pendidik menyadari dan memiliki menerapkan 16 pilar pembangunan karakter tersebut jelas akan memberikan sumbangsih yang luar biasa kepada masyarakat dan negaranya. (10) saling menanamkan nilai-nilai moral. (3) pemberian ruang untuk mengembangkan diri.(1) kasih sayang (2) penghargaan. (7) saling memotivasi. (9) saling berinteraksi secara positif. (11) saling mengingatkan dengan ketulusan hati. (5) kerjasama. (8) saling mendengarkan. Berbagai upaya pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan telah dilaksanakan walapun belum . dan (16) saling menghormati perbedaan. (13) saling menggali potensi diri. (15) saling menginsiprasi. Faktor Penyebab Sikap dan Perilaku Guru Menyimpang Pendidikan merupakan upaya untuk mencerdaskan anak bangsa. (6) saling berbagi. C. (4) kepercayaan. (14) saling mengajari dengan kerendahan hati.

perasaan tidak sinkron akan menimbulkan permasalahan. kemauan. kemauan sumber keberanian. proses belajar mengajar akan lancar. Apapun alasannya tindakan kekerasan maupun pencabulan guru terhadap siswa merupakan suatu pelanggaran. Agar pendidikan di Indonesia berhasil. akibatnya kemauan tidak terkendali dan pikiran tidak dapat berpikir bijak.menunjukkan hasil yang optimal. dan emosional guru maupun siswa sangat diperlukan. Ketiga.Jika ada pendidik (guru) yang sikap dan perilakunya menyimpang karena dipengaruhi beberapa faktor. yaitu: fikiran. Kesiapan fisik. juga dipengaruhi oleh tipe-tipe kejiwaan seperti yang diungkapkan Plato dalam "Tipologo Plato". Pendidikan tidak bisa lepas dari siswa atau peserta didik. kemauan berkedudukan dalam dada. Berbagai karakter siswa dan potensi dalam dirinya tidak boleh diabaikan begitu saja. kurang siapnya guru maupun siswa secara fisik. kemauan. kurangnya penanaman budi pekerti di sekolah. maupun emosional. Kemudian mampu mengantisipasinya dengan baik. adanya malpraktik (meminjam istilah Prof Mungin) yaitu melakukan praktik yang salah. dan perasaan berkedudukan dalam tubuh bagian bawah. Siswa merupakan subjek didik yang harus diakui keberadaannya. Jika kedua belah pihak siap secara fisik.Bagaimanapun juga kualitas pendidikan di Indonesia harus mampu bersaing di dunia . Namun realitas di lapangan pelajaran yang didapat siswa kabanyakan hanya dijejali berbagai materi. mental. Sehingga nilai-nilai budi pekerti yang harus diajarkan justru dilupakan. dan perasaan. Perasaan tidak dapat mengendalikan hawa nafsu. bahwa fungsi jiwa ada tiga. lantaran diintegrasikan dengan berbagai mata pelajaran yang ada. dan emosional. Guru salah dalam menerapkan hukuman pada siswa. miskonsep. Atas perbedaan tersebut Plato juga membedakan bahwa pikiran itu sumber kebijakasanaan. Selain dari ketiga faktor di atas. interaksi siswa dan guru pun akan terjalin harmonis layaknya orang tua dengan anaknya. Jika pikiran. paling tidak pendidik memahami faktor-faktor tersebut. Kalaupun ada sifatnya hanya sebagai pelengkap. dan perasaan sumber kekuatan menahan hawa nafsu. Sehingga kesalahan-kesalahan guru dalam sikap dan perilaku dapat dihindari. mental. Tugas utama guru mendidik dan mengembangkan berbagai potensi itu. Pikiran berkedudukan di kepala. Pertama. mental. Kedua. Pelajaran budi pekerti sekarang ini sudah tidak ada lagi.

internasional. Sikap dan perilaku profesional seorang pendidik akan mampu membawa dunia pendidikan lebih berkualitas. Dengan demikian diharapkan mampu mewujudkan tujuan pendidikan nasional Indonesia yaitu membentuk manusia Indonesia seutuhnya. .