P. 1
Resensi novel Sang pemimpi

Resensi novel Sang pemimpi

|Views: 2,863|Likes:
Published by Wimvy Nurbahri

More info:

Published by: Wimvy Nurbahri on Jun 18, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as TXT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/08/2012

pdf

text

original

Resensi Novel Sang Pemimpi Resensi Novel “Sang Pemimpi” Judul : Sang Pemimpi Penulis : Andrea Hirata Penerbit

: Bentang Cetakan : Cetakan keduapuluh lima, Oktober 2009 Kategori : Novel Tebal : X + 292 hlm. Andrea Hirata, lahir di Belitong. Andrea berpendidikan ekonomi dari Universitas Indonesia. Ia mendapat beasiswa Uni Eropa untuk studi master of science diUniver site’ de Paris, Sorbonne, Prancis dan Sheffield Hallam University, United Kingdom. Tesis Andrea dibidang ekonomi telekomunikasi mendapat penghargaan dari kedua un iversitas tersebut dan ia lulus cum laude. Tesis itu telah diadaptasi kedalam ba hasa Indonesia dan merupakan buku teori ekonomi telekomunikasi pertama yang ditu lis oleh orang Indonesia. Buku itu telah terdaftar sebagai referensi ilmiah. Mes kipun studi mayornya ekonomi, ia amat menggemari sains-Fisika, Kimia, Biologi, A stronomi-dan tentu saja Sastra. Sang Pemimipi adalah novel yang menceritakan perjuangan tiga anak Belitong yang tinggal disebuah kampung Melayu. Mereka berjuang untuk meraih mimpi-mimpi mereka . Meskipunmereka hidup ditengah kemiskinan, mereka tidak mempedulikannya. Mereka mempunyai semangat yang membara, semangat yang tidak bisa diredam oleh apapun u ntuk meraih mimpi-mimpi mereka. Sang Pemimpi itu adalah Ikal, Arai, dan Jimbron. Bagi mereka mimpi adalah energi bagi kehidupan mereka masa kini untuk melangkah menuju masa depan yang mereka cita-citakan. Arai sebenarnya masih memiliki hubungan darah dengan Ikal. Dia sejak kecil sudah menjadi yatim piatu. Karena Arai tidak memiliki saudara lagi, maka dia diasuh o leh orang tua Ikal. Bagi ikal, Arai adalah saudara sekaligus sahabat terbaiknya. Jimbron, dia adalah sosok yang rapuh. Dia berbicara dengan gagap semenjak ayhny a meninggal dunia. Jimbron sangat terobsesi dengan kuda, karena diBelitong saat itu belum ada kuda. Jimbron memiliki kisah yang unik dengan obsesinya terhadap k uda. Anda akan merasa terhibur dengan tingkah Jimbron. Bagaimana kisah ketiga an ak tersebut ? untuk mengetahui jawabannya bacalah novel Sang Pemimpi. Setelah lulus SMP, mereka pergi merantau ke Magai untuk melanjutkan sekolah. Saa t itu PN Timah Belitong sedang dalam keadaan terancam kolaps, sehingga di Belito ng terjadi gelombang PHK besar-besaran. Akibatnya, banyak anak-anak yang tidak d apat melanjutkan sekolah. Mereka bertiga melanjutkan sekolah dengan biaya dari h asil bekerjanya, mulai dari penyelam dipadang golf, affice boy disebuah kantor p emerintah, hingga akhirnya bekerja sebagai kuli ngambat. Mereka tinggal bersama dalam sebuah los kontrakan. Novel ini menceritakan kisah memoar kehidupan Ikal, Arai, dan Jimbron dalam mewu jutkan impian mereka. Semua kisahnya tersaji dalam 18 mozaik yang tidak terlalu panjang. Ada beberapa kisah yang menggugah, namun ada juga beberapa kisah yang l ucu. Seperti pada mozaik bioskop, yang menceritakan kenakalan Ikal dan kedua sah abatnya. Selain itu, disela-sela kisah ketiga pemimpi yang terdapat dalam novel Sang Pemimpi, pembaca juga akan disuguhi potret landskap pulau Belitong lengkap dengan kondisi sosialnya. Novel Sang Pemimpi, merupakan kelanjutan dari tetralogi Laskar Pelangi. Akan tet api, didalam isi cerita novel Sang Pemimpi, tidak menceritakan tentang anggota L askar Pelangi yang selalu bersama dalam cerita dari novel Laskar Pelangi. Dan ad a potongan mozaik yang membuatku kecewa dengan cerita dalam novel, yaitu pada ka limat “Tak terasa aku telah menyelesaikan kuliahku” (hlm. 250). Sepertinya ada sesua tu yang disembunyikan dari penulis tentang kisah ini. Semoga kisah yang disembun yikan itu akan diceritakan dalam novel berikutnya. Mei 20, 2010 Kategori: Tugas . . Penulis: chumi29 Resensi Buku; Menggugat Novel Laskar Pelangi Diterbitkan Desember 15, 2008 1 5 Comments Resensi Novel Sang Pemimpi Resensi Novel “Sang Pemimpi”

Judul : Sang Pemimpi Penulis : Andrea Hirata Penerbit : Bentang Cetakan : Cetakan keduapuluh lima, Oktober 2009 Kategori : Novel Tebal : X + 292 hlm. Andrea Hirata, lahir di Belitong. Andrea berpendidikan ekonomi dari Universitas Indonesia. Ia mendapat beasiswa Uni Eropa untuk studi master of science diUniver site’ de Paris, Sorbonne, Prancis dan Sheffield Hallam University, United Kingdom. Tesis Andrea dibidang ekonomi telekomunikasi mendapat penghargaan dari kedua un iversitas tersebut dan ia lulus cum laude. Tesis itu telah diadaptasi kedalam ba hasa Indonesia dan merupakan buku teori ekonomi telekomunikasi pertama yang ditu lis oleh orang Indonesia. Buku itu telah terdaftar sebagai referensi ilmiah. Mes kipun studi mayornya ekonomi, ia amat menggemari sains-Fisika, Kimia, Biologi, A stronomi-dan tentu saja Sastra. Sang Pemimipi adalah novel yang menceritakan perjuangan tiga anak Belitong yang tinggal disebuah kampung Melayu. Mereka berjuang untuk meraih mimpi-mimpi mereka . Meskipunmereka hidup ditengah kemiskinan, mereka tidak mempedulikannya. Mereka mempunyai semangat yang membara, semangat yang tidak bisa diredam oleh apapun u ntuk meraih mimpi-mimpi mereka. Sang Pemimpi itu adalah Ikal, Arai, dan Jimbron. Bagi mereka mimpi adalah energi bagi kehidupan mereka masa kini untuk melangkah menuju masa depan yang mereka cita-citakan. Arai sebenarnya masih memiliki hubungan darah dengan Ikal. Dia sejak kecil sudah menjadi yatim piatu. Karena Arai tidak memiliki saudara lagi, maka dia diasuh o leh orang tua Ikal. Bagi ikal, Arai adalah saudara sekaligus sahabat terbaiknya. Jimbron, dia adalah sosok yang rapuh. Dia berbicara dengan gagap semenjak ayhny a meninggal dunia. Jimbron sangat terobsesi dengan kuda, karena diBelitong saat itu belum ada kuda. Jimbron memiliki kisah yang unik dengan obsesinya terhadap k uda. Anda akan merasa terhibur dengan tingkah Jimbron. Bagaimana kisah ketiga an ak tersebut ? untuk mengetahui jawabannya bacalah novel Sang Pemimpi. Setelah lulus SMP, mereka pergi merantau ke Magai untuk melanjutkan sekolah. Saa t itu PN Timah Belitong sedang dalam keadaan terancam kolaps, sehingga di Belito ng terjadi gelombang PHK besar-besaran. Akibatnya, banyak anak-anak yang tidak d apat melanjutkan sekolah. Mereka bertiga melanjutkan sekolah dengan biaya dari h asil bekerjanya, mulai dari penyelam dipadang golf, affice boy disebuah kantor p emerintah, hingga akhirnya bekerja sebagai kuli ngambat. Mereka tinggal bersama dalam sebuah los kontrakan. Novel ini menceritakan kisah memoar kehidupan Ikal, Arai, dan Jimbron dalam mewu jutkan impian mereka. Semua kisahnya tersaji dalam 18 mozaik yang tidak terlalu panjang. Ada beberapa kisah yang menggugah, namun ada juga beberapa kisah yang l ucu. Seperti pada mozaik bioskop, yang menceritakan kenakalan Ikal dan kedua sah abatnya. Selain itu, disela-sela kisah ketiga pemimpi yang terdapat dalam novel Sang Pemimpi, pembaca juga akan disuguhi potret landskap pulau Belitong lengkap dengan kondisi sosialnya. Novel Sang Pemimpi, merupakan kelanjutan dari tetralogi Laskar Pelangi. Akan tet api, didalam isi cerita novel Sang Pemimpi, tidak menceritakan tentang anggota L askar Pelangi yang selalu bersama dalam cerita dari novel Laskar Pelangi. Dan ad a potongan mozaik yang membuatku kecewa dengan cerita dalam novel, yaitu pada ka limat “Tak terasa aku telah menyelesaikan kuliahku” (hlm. 250). Sepertinya ada sesua tu yang disembunyikan dari penulis tentang kisah ini. Semoga kisah yang disembun yikan itu akan diceritakan dalam novel berikutnya. Mei 20, 2010 Kategori: Tugas . . Penulis: chumi29 • • • • •

• • Resensi Novel Laskar Pelangi Admin on Mon Sep 29, 2008 10:14 pm Ini adalah kisah heroik kenangan 11 anak Belitong yang tergabung dalam ”Laskar Pel angi”: Syahdan, Lintang, Kucai, Samson, A Kiong, Sahara, Trapani, Harun, Mahar, Fl o dan sang penutur cerita – Ikal. Andrea Hirata, yang tak lain adalah Ikal, dengan cerdas mengajak pembaca mengikuti tamasya nostalgia masa kanak-kanak di pedalam an Belitong yang berada dalam kehidupan kontras: kaya dengan tambang timah, tapi rakyatnya tetap miskin dalam kesehariannya. Ini adalah cerita tentang semangat juang menyala-nyala dari anak-anak kampung Be litong untuk mengubah nasib melalui sekolah, yang harus mereka dapat dengan tere ngah-engah. Sebagian besar orang tua mereka lebih suka melihat anak-anaknya beke rja membantu orang tua di ladang, atau bekerja menjadi buruh kasar di PN Timah, daripada sekolah yang tak jelas masa depannya. Derita sekolah itu tergambar jelas ketika SD Muhammadiyah di kampung miskin itu terancam tutup kalau murid baru sekolah itu tidak mencapai 10 orang. kesebelas a nak itulah yang telah menyelamatkan masa depan suar pendidikan yang hampir redup digilas ekonomi. Kesebalas anak itu memiliki keunikan masing-masing. Diantara 11 anak Laskar Pela ngi itu, Lintang dan Mahar adalah 2 diantara yang paling menonjol. Lintang jeniu s dalam bidang eksakta, Mahar ahli di bidang seni budaya. Mereka seolah mewakili otak kanan dan otak kiri manusia. Lintang memiliki semangat juang yang tiada ta ra dalam belajar. Dia rela menempuh perjalanan dengan kereta angin sejauh 80 km pergi pulang demi dapat memuaskan dahaga ilmu pegetahuan. Saking semangatnya hin gga akan tercium karet terbakar dari sepatunya yang aus digerus pedal sepeda. Ji ka ada aral melintang di jalan dan terlambat sampai sekolah, tiada masalah bagin ya, asal dapat menyanyikan lagu ”Padamu Negeri” pada akhir jam pelajaran. Novel Laskar Pelangi penuh dengan taburan wawasan yang luas bak samudra dari pen ulisnya yang paham betul tentang ilmu eksakta, seni budaya, dan humaniora. Kita akan dibuat tersenyum geli dari humor kecil yang dilontarkannya, terharu dan bah kan menangis ketika membaca kisah heroik kesebelas anak Laskar Pelangi. Filicium adalah pohon yang menjadi saksi seluruh drama kehidupan Laskar Pelangi. Pohon itu menaungi sekolah mereka yang hampir roboh. Pohon itu menjadi markas s etiap pertemuan mereka: membicarakan soal-soal di sekolah, merancang karya untuk festival 17 Agustus, atau tempat Lintang memberi kuliah tentang ilmu fisika. Po hon itu pulalah yang menjadi saksi kerinduan Ikal pada gadis manis keturunan cin a, anak pemillik toko Sinar Harapan yang memiliki jari lentik dan kuku cantik. Anak-anak Laskar Pelangi itu hidup dalam kebahagiaan masa kecil dan menyimpan mi mpi masing-masing untuk hari esok. Tapi siapa yang sanggup melawan sang nasib? D ua belas tahun kemudian, Ikal menyaksikan perubahan nasib teman-temannya yang su ngguh diluar dugaan. Sang nasib sungguh menjadi sebuah misteri yang maha gelap. Anak-anak Laskar Pelangi itu boleh punya cita-cita setinggi langit, tapi nasib j ualah yang menentukan episode kehidupan mereka selanjutnya. Sang nasib bisa jadi adalah ketiadaan kepedulian pemerintah akan bibit-bibit unggul mutiara anak ban gsa yang harus terhempas oleh himpitan ekonomi. Mereka adalah anak-anak harapan bangsa yang terpaksa harus tunduk oleh gilasan nasib yang semestinya bisa diupay akan oleh pemerintah yang punya amanah dan kuasa untuk memajukan pendidikan. Lintang, sang jenius itu misalnya kini harus terpuruk jadi sopir tronton karena harus menjadi tulang punggung keluarga, menjadi pengganti ayahnya. Tapi Lintang punya jawaban, ” jangan sedih Ikal, paling tidak aku telah memenuhi harapan ayahku agar tidak jadi nelayan….” Bagi Ikal, kata-kata itu semakin menghancurkan hatinya, ia marah, kecewa pada kenyataan begitu banyak anak pintar yang harus berhenti se

kolah karena alasan ekonomi. Ia mengutuki orang-orang bodoh sok pintar yang meny ombongkan diri, dan anak-anak orang kaya yang menyia-nyiakan kesempatan pendidik an. Kekuatan novel ini terletak pada sentilan humaniora tentang pentingnya pendidika n sekolah dan sekaligus kuatnya moral agama. Novel ini wajib baca bagi generasi muda yang terlena dengan gelimang kemudahan ekonomi dan tak lagi kenal jerih pay ah untuk menggapai masa depan. Novel ini juga wajib baca bagi para pendidik, bag i pemerintah yang selalu alpa pada pentingnya pendidikan. Buah dari kealpaan itu diantaranya adalah, kini kita menjadi bangsa yang sering menjadi bahan olok-olo k oleh bangsa lain, karena kita rajin mencetak manusia yang tak punya kualitas. Kelemahan novel ini, menurut saya, hanya terletak pada cara mengakhiri cerita. S emestinya, novel ini sudah ditutup pada bab 33: Anarkonisme, yang menceritakan k ejatuhan Babel (Bangka Belitung) yang dulu bergelimbang Timah. Bab 34: Gotik, me nurut saya menjadi ekor cerita yang membingungkan. Karena penutur ”Aku” secara tibatiba menjadi orang lain, dan bukan lagi Ikal. Bab 34 ini menjadi sebuah kemubazi ran. Sama persis seperti seorang pelukis yang seharusnya berhenti menguaskan cat nya pada bidang lukis yang sudah sempurna, tapi kemudian menjadi berantakan kare na sebuah goresan yang tidak perlu. Admin Admin Jumlah posting: 7 Join date: 28.09.08

Laskar Pelangi (sebuah resensi) Sejak mengetahui bahwa Laskar Pelangi akan dibuat film, maka sejak itu juga say a bertekad untuk menyaksikan filmnya. Mengapa ? Karena novel Laskar Pelangi juga merupakan salah satu novel yang paling berkesan bagi saya. Yang menceritakan pendidikan disebuah daerah dengan sangat gamblang, beserta suka duka guru maupun siswanya yang bening bagaikan air. Hari ini merupakan pemutaran perdana film tersebut serentak di Indonesia (atau c uman Jakarta yah…), dan karena pengalaman dengan pemutaran perdana film-film lainn ya, dimana biasanya penuh sesak atau memperoleh tempat duduk barisan depan yang amat sangat tidak nyaman sekali, maka hari ini, untuk pemutaran pukul 16.45, say a sudah antri di Plaza Senayan XXI pukul 10.00 WIB Akhirnya, malah menjadi pembeli tiket yang pertama Nah, bagaimana resensi dan kesimpulan saya ? Film ini dibuka dengan adegan seorang anak kecil yang dibujuk untuk menggunakan sepatu bekas ke untuk berangkat ke sekolah. Bukan masalah bekasnya, tapi sepatu itu adalah sepatu untuk wanita (lengkap dengan warnanya yang pink) padahal anak ini adalah seorang laki-laki. Dialah Ikal, salah seorang tokoh utama dari film i ni. Schene berikutnya memperlihatkan latar belakang cerita, berupa sekolah lokasi di Indonesia, sebuah pulau yang bernama Belitung, yang merupakan penghasil timah t erbesar di Indonesia pada tahun 1970-an (settingan film ini memang bernuansa 70an), namun di pulau tersebut terdapat 2 kehidupan yang amat kontras, yaitu kehid upan kelas atas para pegawai PN Timah dan kehidupan kelas bawah dari strata tere ndah di pulau tersebut. Pada kondisi inilah film ini bermain. Adegan berikutnya adalah adegan pada sebuah sekolah dasar, yang bernama SD Muham madiyah, yang juga merupakan SD satu-satunya yang bernafaskan Islam di daerah it u. SD ini merupakan pilihan terakhir bagi masyarakat yang masih punya harapan da n keinginan untuk menyekolahkan anaknya. Hal ini karena SD lain biayanya amat ti nggi dan tidak terjangkau oleh mereka. Kondisi SD ini amat memprihatinkan, dengan bangku sekolah yang rusak sana sini,

atap dan dinding ruangan yang juga berlubang, lantai tanah yang kadang digunakan juga untuk kandang kambing. Bahkan salah satu sisi sekolah sampai harus disangg a dengan kayu untuk mencegah sekolah ini roboh. Kendala berikutnya adalah, sekolah ini sudah memperoleh peringatan dari penilik sekolah, bahwa agar tetap dapat membuka kelas, maka jumlah siswa baru yang menda ftar, minimal 10 orang. Ketegangan untuk menunggu siswa mencapai 10 orang inilah yang tergambar pada ade gan-adegan selanjutnya. Bapak K.A. Harfan Efendy Noor yang dipanggil dengan Pak Harfan sang kepala sekolah, dan Ibu N.A. Muslimah Hafsari atau Bu Mus sang guru sampai amat tegang menunggu murid terakhir, karena sampai pukul 11 siang, baru 9 orang yang mendaftar di sekolah tersebut. Akhirnya, saat kepala sekolah sudah putus asa, dan sedang memberikan sambutan se lamat datang sekaligus perpisahan untuk membubarkan sekolah, murid terakhir tamp ak berlari-lari untuk ikut sekolah disana. Sehingga, kuota minimal 10 orang terp enuhi. 10 orang murid tersebut adalah: 1. Ikal, sang tokoh utama 2. Lintang, anak sekorang nelayan, yang untuk bersekolah harus bersepeda 80 Km pulang pergi, sehingga baunya mirip bau hangus terbakar 3. Mahar, sang seniman muda yang sejak kecil sudah menunjukkan bakatnya 4. Sahara, satu-satunya wanita yang menjadi murid pada awal sekolah (nantin ya akan ada murid berikutnya) 5. Trapani, yang pada film ini tidak terlalu ditonjolkan 6. Borek, yang suka mengganggu 7. Kucai, sang ketua kelas 8. A Kiong, satu-satunya siswa Hokian di SD itu 9. Syahdan, yang juga tidak terlalu menonjol pada film ini 10. Harun, anak terbelakang mental yang menjadi penyelamat SD Muhammadiyah, karena dialah yang menjadi murid ke 10 dan menyebabkan sekolah batal ditutup Adegan berikutnya banyak diwarnai dengan pola belajar mengajar mereka, serta ade gan-adegan dari kepala sekolah dan alasannya hingga tetap mempertahankan sekolah tersebut.

Salah satu petuah yang paling ditekankan oleh Pak Harfan adalah “Jangan terlalu ba nyak meminta, tetapi berusahalah untuk memberi sebanyak-banyaknya”. Selanjutnya, mereka semakin akrab satu sama lain, bermain bersama, berpetualang bersama, bahkan pada suatu sore setelah hujan deras mereka berdiri diatas sebuah batu besar dan menyaksikan pelangi yang amat indah. Bu Mus yang mengikuti merek a lalu memanggil semua anak-anak tersebut dengan “Laskar Pelangi” dan inilah asal mu la nama “Laskar Pelangi” untuk kelompok mereka. Pada film ini juga diceritakan kisah “cinta monyet” Ikal dengan A Ling, anak penjual kapur tulis di kota, yang disebabkan karena Ikal melihat “kuku jarinya” saat meneri ma kapur tulis yang diberi. Juga diceritakan patah hati yang dialami Ikal, saat A Ling terpaksa harus pergi untuk melanjutkan sekolahnya. Adegan kemudian banyak menyoroti 2 orang, yaitu Mahar dan Lintang dengan kelebih an masing-masing yang mewarnai kehidupan mereka. Mahar, dengan sebuah radio transistor yang selalu menemani kemanapun dia pergi, adalah sebuah bibit seni yang tumbuh di tengah-tengah mereka. Tantangan pertama yang diberikan kepadanya adalah Karnaval 17 Agustus yang secara rutin dilaksanak an di Belitung. Setiap tahun, karnaval ini menjadi sebuah cermin keberhasilan sekolah-sekolah, d an sebagai sebuah tradisi, selalu dimenangkan oleh SD PN Timah yang serba “terbaik” dan “ter-elite”. Tantangan untuk mendobrak kebiasaan ini sekarang ada di pundak Maha

r. SD PN Timah selalu tampil dengan Marching Band terbaik dengan pakaian-pakaian terbaru dan berwarna warni, sehingga selalu menjadi juara. Bagaimana SD Muhamma diyah, dengan siswa yang melarat dan tidak ada dana satu rupiah-pun dapat mengha dapi mereka ? Setelah mencari ide berhari-hari bahkan sampai dianggap “gila” oleh teman-temannya, Mahar muncul dengan ide brillian, yaitu dengan tampil dengan kostum Suku Terasin g yang menampilkan tarian suku terasing. Tentulah karena suku terasing hanya men ggunakan daun-daunan sebagai pakaian, maka tidak diperlukan biaya apapun untuk t ampil Dengan koreografi yang khusus dirancang oleh Mahar dan dengan “senjata rahasia” yang dia siapkan, akhirnya SD Muhammadiyah menjadi juara umum pada karnaval tersebut Karena kemenangan merekalah, maka salah seorang siswa SD PN Timah, seoang gadis tomboy yang susah diatur namun berani dan setia kawan, akhirnya pindah ke SD Muh ammadiyah. Namanya adalah Flo. Flo dan Mahar langsung saja akrab, dan sama-sama memiliki ketertarikan pada halhal yang bersifat “gaib.” Hal ini menyebabkan nilai-nilai mereka hancur dan terancam gagal pada ujian akhir. Namun, penyelesaian yang mereka cari rupanya tetap jauh dari akal sehat, yaitu mencoba mengunjungi seorang “dukun sakti” bernama Tuk Bayan Tula di Pulau Lanun untuk membantu menaikkan nilai ulangan mereka. Namun, pesan rahasia dari Tuk Bayan Tula yang sudah susah payah mereka cari rupanya amat jauh dari yang mereka harapkan… Fokus cerita berikutnya adalah Lintang, yang merupakan siswa yang amat cerdas, y ang dibuktikan dengan kecepatannya dalam menyelesaikan soal-soal Matematika tanp a mencatat sedikitpun. Pembuktian berikutnya adalah saat lomba cerdas cermat mel awan SD PN Timah dengan skor yang cukup seru bahkan diwarnai dengan debat terhad ap tim juri lomba. Namun, si jenius ini akhirnya tidak dapat melanjutkan sekolahnya, karena sebagai anak sulung dan laki-laki satu-satunya, harus menggantikan ayahnya yang meningg al pada saat melaut. Secara umum, film ini cukup mengasikkan dengan beberapa catatan: 1. Penggambaran karakternya kurang mendalam, utamanya pada karakter Mahar y ang penuh dengan nilai seni yang luar biasa. Nilai seninya hanya ditunjukkan den gan radio transistor yang selalu dia bawa 2. Karakter Lintang pada awal tidak tergambarkan dengan baik sebagai siswa yang cerdas. Mengapa Bu Mus begitu mudahnya percaya dengan kepintaran Lintang ha nya dengan sekali memberikan pertanyaan matematika ? Padahal, tidak akan sulit a pabila ditambahkan 2-3 soal lagi dengan tingkat kesulitan yang lebih tinggi. 3. Posisi tangan A Ling yang memperlihatkan kukunys sehingga membuat Ikal j atuh cinta malah dirusak dengan efek glare dan lens yang berlebihan, sehingga ke indahan kuku A Ling justru tertutup. 4. Karakter Flo, sebagai gadis tomboy, amat jelek sekali. Akting yang amat kaku dan tidak tomboy seperti yang seharusnya 5. Adegan karnaval tidak terlalu “heboh”, padahal pada bukunya, pembaca dapat m enggambarkan dengan jelas “kehebohan” yang terjadi. Hal ini karena pemerannya hanya 10 orang, padahal menurut buku itu dilakukan juga oleh siswa-siswa lain selain 1 0 orang ini. Efek buah yang menyebabkan gatal juga tidak tampak sama sekali, han ya muncul dari amukan Syahdan ke Mahar setelah acara selesai 6. Adegan Tuk Bayan Bula sangat hambar, tidak ada efek mereka susah payah k esana, padahal disampaikan mereka sampai melawan badai yang amat kuat, lha baju aja masih kering kok. 7. Adegan meninggalnya Pak Harfan yang menyebabkan Bu Mus tidak mengajar se lama 5 hari justru memperlemah karakter Bu Mus yang amat perhatian pada siswanya . 8. Beberapa adegan yang tidak penting justru disampaikan dalam waktu lama ( seperti adegan Mahar menyanyi) dan beberapa adegan yang harusnya diperkuat justr u hanya ditampilkan sambil lalu. Namun, lumayanlah dibandingkan dengan film-film Indonesia lainnya yang hanya men ampilan horor tak jelas dan humor yang garing.

Silakan pembaca menilai sendiri Tags: beasiswa kuliah di luar negeri, laskar pelangi, nanoteknologi, sinopsis la skar pelangi, Sinopsis Novel Laskar Pelangi trackback Sinopsis Novel Laskar Pelangi ini takan bernilai manfaat apa-apa, kecuali kawankawan mau belajar untuk mandiri dan bersungguh-sungguh dalam mencapai cita-cita. Coba mulailah mencari peluang beasiswa kuliah di luar negeri dan belajar tentang hal-hal baru seperti nanotechnology. Laskar Pelangi adalah sosok teladan, selama kita juga mau peduli dengan keadaan sekitar. Seperti pelangi yang hadir selepas hujan. Mulailah dari sekarang!! Cerita terjadi di Desa Gantung, Kabupaten Gantung, Belitong Timur. Dimulai ketik a sekolah Muhammadiyah terancam akan dibubarkan oleh Depdikbud Sumsel jikalau ti dak mencapai siswa baru sejumlah 10 anak. Ketika itu baru 9 anak yang menghadiri upacara pembukaan, akan tetapi tepat ketika Pak Harfan, sang kepala sekolah, he ndak berpidato menutup sekolah, Harun dan ibunya datang untuk mendaftarkan diri di sekolah kecil itu. Mulai dari sanalah dimulai cerita mereka. Mulai dari penempatan tempat duduk, pe rtemuan mereka dengan Pak Harfan, perkenalan mereka yang luar biasa di mana A Ki ong yang malah cengar-cengir ketika ditanyakan namanya oleh guru mereka, Bu Mus. Kejadian bodoh yang dilakukan oleh Borek, pemilihan ketua kelas yang diprotes k eras oleh Kucai, kejadian ditemukannya bakat luar biasa Mahar, pengalaman cinta pertama Ikal, sampai pertaruhan nyawa Lintang yang mengayuh sepeda 80 km pulang pergi dari rumahnya ke sekolah! Mereka, Laskar Pelangi – nama yang diberikan Bu Muslimah akan kesenangan mereka te rhadap pelangi – pun sempat mengharumkan nama sekolah dengan berbagai cara. Misaln ya pembalasan dendam Mahar yang selalu dipojokkan kawan-kawannya karena kesenang annya pada okultisme yang membuahkan kemenangan manis pada karnaval 17 Agustus, dan kejeniusan luar biasa Lintang yang menantang dan mengalahkan Drs. Zulfikar, guru sekolah kaya PN yang berijazah dan terkenal, dan memenangkan lomba cerdas c ermat. Laskar Pelangi mengarungi hari-hari menyenangkan, tertawa dan menangis be rsama. Kisah sepuluh kawanan ini berakhir dengan kematian ayah Lintang yang mema ksa Einstein cilik itu putus sekolah dengan sangat mengharukan, dan dilanjutkan dengan kejadian 12 tahun kemudian di mana Ikal yang berjuang di luar pulau Belit ong kembali ke kampungnya. Kisah indah ini diringkas dengan kocak dan mengharuka n oleh Andrea Hirata, kita bahkan bisa merasakan semangat masa kecil anggota sep uluh Laskar Pelangi ini! sumber: http://laskarpelangithemovie.blogspot.com/2008/08/sinopsis.html • Term Life Insurance • Blogger Templates • Credit Card • Global Domains • Motorola T720 • PC & Notebooks • Secure Databases • iPod, iPhone, and iTunes • Myspace Wallpaper • Auto Speed • Install Disk

Pengunjung baru? [ Mendaftar Menjadi Member

Login ]

Beranda Berita Opini Artikel Sejarah Melayu Budaya Melayu Sastra Mel ayu Tokoh Melayu Peneliti Melayu Penghargaan Kamus Melayu Ensiklopedi Melayu Agenda Direktori Pautan Forum Resens i Buku Perpustakaan Koleksi Kedai Komentar Tamu Tentang Kami Kerjasama Hubungi Kami Donasi Peta Situs Bahasa Indonesia English Français Thailand Filipino Nederlands Italian o Arabic Deutsch Español Burmese Khmer • English version Sabtu, 5 Maret 2011 Advanced Search » Pengunjung Online : 618 Anda pengunjung ke 84.205.655 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 ) Sabtu, 29 Rab. Awal 1432 H

IMAGE GALLERY

AGENDA

________________________________________ RESENSI BUKU Beranda » Resensi Buku » Sang Pemimpi 30 Juli 2007 Sang Pemimpi

Judul Buku Penulis : Penyunting Penerbit Cetakan : Tebal :

: Sang Pemimpi Andrea Hirata : Imam Risdiyanto : Bentang Pustaka I, Juli 2006 x + 295 hlm

Jauh di pedalaman pulau Belitong, tiga orang anak di sebuah kampung Melayu bermi mpi untuk melanjutkan sekolah mereka hingga ke Perancis, menjelahi Eropa, bahkan sampai ke Afrika.! Ikal, Arai, dan Jimbron, merekalah si pemimpi itu, walau bag ai punguk merindukan bulan, mereka tak peduli, mereka memiliki tekad baja untuk mewujudkan mimpi mereka, hidup di daerah terpencil, kepahitan hidup, kemiskinan, bukanlah pantangan bagi mereka untuk bermimpi. Mereka tak menyerah pada nasib d an keadaan mereka, bagi mereka mimpi adalah energi bagi kehidupan mereka masa ki ni untuk melangkah menuju masa depan yang mereka cita-citakan. Novel kedua Andrea Hirata “Sang Pemimpi” ini bertutur bagaimana ketiga anak kampung

Melayu di kawasan PN Timah Belitong menjalani hari-hari mereka bersama mimpi-mim pinya. Karena masih merupakan kelanjutan dari novel pertamanya Laskar Pelangi, S ang Pemimpi pun masih bertutur mengenai memoar kehidupan Ikal, dalam menapaki ke hidupannya. Jika dalam Laskar Pelangi tokoh Ikal yang ketika SD hingga SMP ditem ani oleh kesepuluh teman-temannya yang dinamai Laskar Pelangi, kini Ikal yang te lah bersekolah di SMA ditemani oleh dua orang temannya Arai dan Jimbron. Arai sebenarnya masih memiliki hubungan darah dengan Ikal, kedua orang tuanya me ninggal dunia ketika ia masih kecil. Arai tak memiliki saudara kandung sehingga setelah kematian kedua orang tuanya Arai diasuh oleh kedua orang tua Ikal di kam pungnya sehingga bagi Ikal, Arai adalah saudara sekaligus sahabat terbaik baginy a, Arai memiliki pribadi yang terbuka dan cerdas. Sedangkan Jimbron adalah sosok rapuh, ia tak secerdas Ikal dan Arai, ia gagap dalam berbicara semenjak kematia n ayahnya. Jimbron sangat terobsesi oleh kuda, padahal di kampungnya tak ada see korpun kuda bisa ditemui, nantinya kisah Jimbron dan obsesinya ini menjadi bagia n yang menarik dan lucu pada buku ini Ikal, Arai dan Jimbron memiliki rasa kesetiakawanan yang tinggi, mereka bahu mem bahu mewujudkan mimpi mereka, saat itu PN Timah Belitong sedang dalam keadaan te rancam kolaps, gelombang PHK besar-besaran membuat banyak anak-anak tidak bisa m eneruskan sekolah mereka karena orang tuanya tak sanggup membiayai. Mereka yang masih ingin bersekolah harus bekerja. Demikian juga dengan ketiga pemimpi, begit u tamat SMP mereka ingin tetap melanjutkan sekolah mereka, karena di kampung mer eka tak ada SMA, mereka harus merantau ke Magai, 30 kilometer jaraknya dari kamp ung mereka. Untuk itu mereka tinggal bersama-sama dalam sebuah los kontrakan, se dangkan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya mereka bekerja mulai dari penyelam di padang golf, office boy di sebuah kantor pemerintah hingga akhirnya bekerja sebagai kuli ngambat, yang bertugas menunggu perahu nelayan tambat dan m emikul tangkapan para nelayan itu ke pasar ikan. Menurut hirarki pekerjaan di Ma gai, kuli tambat adalah pekerjaan yang paling kasar yang hanya akan digeluti ole h mereka yang tekad ingin sekolahnya sekeras tembaga atau mereka yang benar-bena r putus asa karena tidak memiliki pekerjaan lain. Hal ini membuktikan bahwa keti ga pemimpi ini memiliki hati yang sekeras tembaga untuk bisa bersekolah untuk me wujudkan mimpi mereka. Kisah memoar kehidupan Ikal dan kedua sahabatnya dalam mewujudkan impian inilah yang tersaji dalam novel ini. Semua kisahnya tersaji dalam 18 bab yang tidak ter lalu panjang, masing-masing memiliki kisahnya sendiri, namun ada juga beberapa b ab yang sambung menyambung. Beberapa bab menyuguhkan cerita-cerita yang bersahaj a seperti pada bab Baju Safari Ayahku yang mengisahkan bagaimana ayah Ikal yang tak banyak bicara namun begitu mencintai dirinya, hal ini terbukti ketika ayahny a harus mengayuh sepeda sejauh 30 km untuk mengambil rapor ikal dan Arai. Ketika hari yang ditentukan tiba ayah Ikal bahkan harus bangun pagi-pagi sekali untuk mempersiapkan dirinya, dikenakannya satu-satunya pakaian Safari empat saku kesay angannya yang telah disetrika dengan rapih, baginya hari itu adalah hari yang te rpenting bagi hidupnya. Kesungguhan hati sang ayah dalam mengambil rapor Ikal da n Arai tak berbuah sia-sia karena mereka masing-masing menduduki rangking ketiga dan kelima. Kisah yang tersaji dalam bab ini sangatlah indah, secara piawai And rea meramu kalimat-kalimatnya dengan indah sehingga pembaca akan merasakan bagai mana bangganya Ikal memiliki ayah yang begitu mencintainya. Masih ada beberapa kisah lagi yang menggugah, namun ada juga beberapa kisah lucu yang membuat pembacanya tersenyum dan tertawa terbahak-bahak ketika membaca pen galaman-pengalaman lucu mereka, misalnya pada Bab Bioskop yang menceritakan kisa h kenakalan Ikal dan kawan-kawannya ketika secara sembunyi-sembunyi masuk kedala am gedung bioskop untuk menonton film-film murahan yang mengumbah syahwat. Tentu saja ini petualangan yang berbahaya karena menonton bioskop merupakan salah sat u larangan paling keras dari Pak Mustar, guru mereka. Kisah yang lucu dan seru i ni bersambung ke 2 bab berikutnya yaitu Action dan Spiderman. Khusus di Bab Spid erman pembaca akan dibuat tertawa karena obsesi Jimbron terhadap kuda melahirkan sebuah kisah yang lucu dengan ending yang membuat pembaca tertawa terbahak-baha k. Selain itu, disela-sela kisah-kisah ketiga pemimpi yang terdapat dalam buku ini, pembaca juga akan disuguhi potret landskap pulau Belitong lengkap dengan kondis

i sosialnya, salah satunya yaitu dengan mengungkap anak-anak melayu yang harus b ekerja mendulang tembaga, mencari bongkah kaursa, topas dan gelena yang sesunggu hnya adalah milik penduduk kampung Melayu namun semuanya itu harus mereka muat s endiri ke atas tongkang untuk menggendutkan perut para cukong di Jakarta. Selain itu Andrea pun dengan jiwa yang besar melakukan otokritik terhadap kaumnya, suk u Melayu. Diwakili oleh tokoh pengusaha kaya di kampungnya Capo Lam Pet Nyo, And rea mengkritik habis perilaku suku melayu yang ditulisnya sebagai orang yang man ja karena bergantung pada keberadaan PN Timah, banyak teori, sok pintar walau ba ru sedikit ilmunya, sombong walau hanya memiliki sedikit harta, dll. Otokritikny a ini ditutup dengan kalimat lugas yang keluar dari mulut Capo Lam Pet Nyo “Kalau timah tak laku, kalian orang Melayu mati…” (hlm164). Masih banyak peristiwa-peristiwa yang menarik yang dialami oleh Ikal dan kedua k awannya. Kesemua peristiwa yang mereka alami tak ubahnya seperti potongan-potong an mozaik, walau awalnya seperti terserak seakan berdiri sendiri, namun jika dis atukan akan akan membentuk sebuah pemandangan yang indah yang dalam konteks buku ini akan menuju suatu bentuk wujud dari impian besar mereka. Sayang, ketika pot ongan mozaik yang menceritakan ketika Ikal telah memasuki bangku kuliah tidak te reskplorasi dengan baik., kalimat “Tak terasa aku telah menyelesaikan kuliahku” (hlm 250) seolah memberi alasan bagi Andrea untuk beralih ke kisah selanjutnya, atau mungkin mozaik ini akan muncul di buku berikutnya ? Semoga saja demikian. Buku ini diakhiri dengan kisah Ikal dan Arai kembali ke kampungnya sambil menanti kep utusan dari kampus mereka apakah mereka diijinkan untuk melanjutkan riset ke lua r negeri atau tidak. Berhasilkah Ikal, Arai dan Jimbron mewujudkan mimpi mereka untuk menjejakkan kaki mereka hingga ke Sorbrone – Perancis ? Jawabannya akan pemb aca temui dalam bab-bab terakhir di buku ini. Walau memiliki banyak hal yang menarik dalam buku ini, ada sedikit kejanggalan y ang mungkin akan dirasakan oleh pembaca. Pada cover depan buku ini tertulis bahw a Sang Pemimpi adalah “Buku Kedua dari Tetralogi Laskar Pelangi” bukan tak mungkin p embaca Laskar Pelangi akan menyangka bahwa buku kedua Andrea ini masih mencerita kan kehidupan tokoh Ikal bersama pasukan Laskar Pelanginya, sayangnya anggota La skar Pelangi yang begitu kompak dan menemani masa-masa indah ikal sewaktu SD hin gga SMP tak terceritakan lagi dalam Sang Pemimpi, dari 18 bab, hanya sekali Lask ar Pelangi disinggung, itupun hanya sekilas saja, apakah memang dari kesepuluh a nggota laskar pelangi tak ada satupun yang melanjutkan ke SMA Bukan Main di Maga i ? Selain itu tokoh Arai yang dalam Sang Pemimpi diceritakan telah tinggal bers ama Ikal sama sekali tak dimunculkan dalam Laskar Pelangi, padahal dalam novel i ni dikisahkan bahwa Ikal dan Arai telah tinggal serumah layaknya kakak dan adik semenjak mereka kelas tiga SD. Secara keseluruhan buku ini tak kalah menarik dengan Laskar Pelangi, Andrea namp aknya masih `bermain` dalam pola yang sama dengan buku pertamanya, beragam kisah yang pernah dialaminya ditulis dalam masin-masing bab dan dikumpulkan menjadi s atu buku, mirip kumpulan cerpen namun memiliki benang merah yang kuat. Sang Pemi mpi adalah sekuel dari Laskar Pelangi dan merupakan buku kedua dari apa yang dis ebutnya sebagai Tetralogi Laskar Pelangi. Seperti diungkap oleh penulisnya dalam lembar ucapan terimakasihnya, kini buku ketiga dan keempat sedang ditulisnya, d an Budaya orang Melayu dan Tionghoa pedalaman di Belitong lah yang akan menjadi platform untuk mendefiniskan tetralogi Laskar Pelangi. Dari segi penuturan, antara buku pertama dan kedua tak terlihat berbeda, Andrea tampaknya masih konsisten menyuguhkan kisah-kisah kehidupan yang memesona yang d irangkai dengan kalimat-kalimat yang menyihir pembacanya sehingga pembaca dibawa berkelana menerobos sudut-sudut kehidupan anak-anak kampung Melayu yang polos, sederhana namun memiliki kekuatan terhadap cinta, persahabatan, pengorbanan, dan tekad yang keras untuk mewujudkan mimpi mereka. Tiap-tiap kisah yang dituturkan baik yang penuh dengan kelucuan, keharuan, tragedi dll diungkap dengan teknik b ercerita yang memukau, tak heran jika Nicole Horner dalam endorsmentnya mengatak an bahwa Andrea adalah seorang seniman kata-kata. Kehadiran Sang Pemimpi dalam ranah perbukuan tanah air masih dalam situasi yang sama ketika Laskar Pelangi diterbitkan, buku-buku fiksi yang beredar masih banya k yang bertutur mengenai kehidupan kaum urban dengan segala permasalahannya atau cerita-cerita remaja metropolitan yang tak lepas dari problem cintanya. Belum l

agi kini pasar buku diramaikan dengan hadirnya karya-karya terjemahan yang mengg ugat dasar-dasar keyakinan umat tertentu. Ditengah-tengah kondisi ini kembali Andrea menyuguhkan sebuah kisah yang lain. S ang Pemimpi hadir dengan kisah-kisah sederhana. Namun dari kesederhanaan inilah pembaca akan disadarkan bahwa kemiskinan dan berbagai hambatan yang membelit cit a-cita seseorang bukanlah alasan untuk berhenti bermimpi. Selain itu Melalui ran gkaian kisah-kisah dalam buku ini baik yang filosofis, menyentuh bahkan menggeli kan akan terlihat secara jelas betapa dashyatnya tenaga mimpi dari tokoh-tokohny a sehingga membawa mereka untuk terus berjuang menaklukkan berbagai rintangan- y ang mereka hadapi untuk mewujudkan mimpi mereka. “Kita akan sekolah ke Perancis, menjelajahi Eropa sampai ke Afrika! Apapun yang te rjadi!” Sumber : bukuygkubaca.blogspot.com Dibaca : 92442 kali. 28 Feb 2011 Istiadat Tanah Negeri Butun, Edisi Teks dan Komentar 28 Feb 2011 Teknik Pembelajaran Dasar Tari Tradisional Melayu 24 Feb 2011 Adat Istiadat Orang Rembong di Flores Barat 17 Feb 2011 Metode dan Teknik dalam Praktek Pekerjaan Sosial « Halaman Resensi Buku

Beranda Berita Opini Artikel Sejarah Melayu Budaya Melayu Sastra Mel ayu Tokoh Melayu Peneliti Melayu Penghargaan Kamus Melayu Ensiklopedi Melayu Agenda Direktori Pautan Forum Resens i Buku Perpustakaan Koleksi Kedai Komentar Tamu Tentang Kami Kerjasama Hubungi Kami Donasi Peta Situs

Pengunjung baru? [ Mendaftar Menjadi Member

Login ]

Beranda Berita Opini Artikel Sejarah Melayu Budaya Melayu Sastra Mel ayu Tokoh Melayu Peneliti Melayu Penghargaan Kamus Melayu Ensiklopedi Melayu Agenda Direktori Pautan Forum Resens i Buku Perpustakaan Koleksi Kedai Komentar Tamu Tentang Kami Kerjasama Hubungi Kami Donasi Peta Situs Bahasa Indonesia English Français Thailand Filipino Nederlands Italian o Arabic Deutsch Español Burmese Khmer • English version

Sabtu, 5 Maret 2011 Advanced Search » Pengunjung Online : 555 Anda pengunjung ke 84.206.004 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 )

Sabtu, 29 Rab. Awal 1432 H

IMAGE GALLERY

AGENDA

________________________________________ RESENSI BUKU Beranda » Resensi Buku » Edensor 29 Januari 2010 Edensor

Judul Buku Penulis : Penyunting Penerbit Cetakan : Tebal : Ukuran :

: Edensor Andrea Hirata : Imam Risdiyanto : Bentang, Yogyakarta Keempat belas, Mei 2008 xii + 290 halaman 20, 5 cm

“Semuanya telah kami rasakan, dalam kemenangan manis yang gilang gemilang dan keka lahan getir yang paling memalukan, tapi selangkah pun kami tak mundur, tak perna h. Kami jatuh, bangkit, jatuh lagi, dan bangkit lagi” (hal 280). Ketika negeri ini tengah dilanda berbagai persoalan kebangsaan yang pelik, hadir lah sebuah novel yang menggugah, yaitu Edensor, sebuah novel petualangan yang me ngajarkan semangat hidup. Edensor merupakan novel ketiga dari tetralogi Laskar P elangi karya Andrea Hirata. Edensor dalam penulisannya dibagi dalam lima mozaik, di mana setiap mozaiknya memuat cerita yang berbeda-beda. Namun secara umum Ede nsor banyak bercerita tentang masa-masa SMA Ikal dan Arai, aktivitas setelah mer eka lulus dari SMA, aktivitas saat mereka kuliah di Prancis, dan pengalaman petu alangan mereka menaklukkan benua Eropa dan sebagian Afrika. Ikal dan Arai adalah dua saudara tidak sekandung. Arai diasuh oleh keluarga Ikal karena ibu bapaknya meninggal. Keduanya menjadi saudara yang kompak, konyol, da n nakal, namun cerdas. Keduanya selalu bersama baik ketika masih SMA maupun sete lah mereka bekerja di Jakarta. Saat kuliah keduanya berpisah. Ikal di Jakarta da n Arai di Kalimantan. Keduanya bertemu kembali ketika tes beasiswa di Jakarta da n akhirnya bersama-sama berangkat kuliah di luar negeri.

Mozaik pertama bercerita tentang awal kelahiran Ikal. Konon saat melahirkan Ikal , sang ibu sengaja mengulur-ulur waktu walaupun sakit sudah dirasakan. Bahkan ib unya sampai membentak dukun beranak Mak Birah: “Coba kau tengok baik-baik jam weke r itu, Rah! Tunggu sampai jarum panjangnya lewat angka dua belas! Aku ingin anak ini lahir tanggal 24 Oktober! Tidakkah kau dengar maklumat di radio?! 24 Oktobe r adalah hari berdirinya perserikatan bangsa-bangsa, PBB! Hari yang penting. Aku ingin anak ini jadi juru pendamai seperti PBB!” (hal 16). Mozaik kedua berisi tentang keberangkatan Ikal dan Arai ke Prancis dan kerepotan mereka mencari asrama mahasiswa serta kekonyolan mereka “mengerjai” petugas penghub ung antara mahasiswa dari seluruh dunia yang belajar di Prancis dengan Universit as Sorbonne. Petugas itu disuruh mengucapkan namanya sendiri berulang-ulang. Tuj uannya hanya satu, yaitu agar Ikal dan Arai dapat mendengar sengau orang Prancis . Maurent Le Blanch menjadi Morong LeBlang (hal 80-84). Ternyata sengau dapat me njadi identitas seseorang. Mozaik ketiga berkisah tentang aktivitas kuliah dan kehidupan Ikal dan Arai di P rancis, tentang pergulatan Ikal dengan teori-teori ekonomi, dan tentang “teman dal am cinta” Ikal bersama Katya. “Kami menikmati daya tarik turning a friend into a lov er, mengubah teman menjadi kekasih, ternyata proses itu menyenangkan” (hal 127). Mozaik keempat bercerita tentang petualangan Ikal dan Arai dalam menaklukkan ben ua Eropa-Afrika. Petualangan mereka diawali dengan cerita Ikal dan Arai yang ter dampar di sebuah desa Rusia. Sebagai orang yang sedari kecil telah lekat dengan kesusahan dan kehidupan yang keras, tampaknya kesulitan dalam perjalanan menaklu kkan Eropa dan Afrika justru dianggap sebagai pengalaman yang tidak terlupakan. “D i Syzran nasib yang paling sial menghadang. Kami ditangkap polisi karena diangga p mengganggu. Inspektur yang mulutnya berbau Vodka itu marah. Ia menghantam peru tku dengan popor Kalashnikov. Arai melompat ingin melindungiku, kopral menghanta m tengkuknya dengan gagang pistol Glock. Ia tersungkur, wajahnya menabrak kaki m eja” (hal 198-199). Perjuangan keduanya mengarungi Eropa sangat heroik dan dramati s. Tanpa peta, kompas, dan uang sepeser pun mereka rela makan buah plum mentah s erta daunnya, atau melamar menjadi pemetik zaitun. Mozaik kelima berkisah tentang akhir dari petualangan Ikal dan Arai menaklukkan Eropa-Afrika. Ternyata petualangan keduanya merupakan pertandingan yang telah di sepakati sebelumnya dengan teman-teman mereka. Semua peserta akan bertemu di Spa nyol. Namun, sebelum ke Spanyol, Ikal dan Arai sempat singgah di Sisilia, Tunisi a, dan Zaire. “Aku dan Arai telah menunggu lebih dari setengah jam di Kafe Nou Cam P, bersebelahan dengan official store Barcelona Football Club” (hal 270). Edensor adalah novel yang sangat inspiratif. Anak Indonesia yang suka berpetuala ng dan mempunyai mimpi berkeliling dunia, dianjurkan untuk membaca novel ini. Ba hasanya mengalir dan mudah untuk dipahami. Ceritanya tidak membosankan. Pembaca akan cepat-cepat menyelesaikan membaca novel ini untuk kemudian berpindah ke nov el berikutnya. Yusuf Efendi Dibaca : 2694 kali. 28 Feb 2011 Istiadat Tanah Negeri Butun, Edisi Teks dan Komentar 28 Feb 2011 Teknik Pembelajaran Dasar Tari Tradisional Melayu 24 Feb 2011 Adat Istiadat Orang Rembong di Flores Barat 17 Feb 2011 Metode dan Teknik dalam Praktek Pekerjaan Sosial « Halaman Resensi Buku

Beranda Berita Opini Artikel Sejarah Melayu Budaya Melayu Sastra Mel ayu Tokoh Melayu Peneliti Melayu Penghargaan Kamus Melayu Ensiklopedi Melayu Agenda Direktori Pautan Forum Resens i Buku Perpustakaan Koleksi Kedai

Komentar Tamu

Tentang Kami

Kerjasama

Hubungi Kami

Donasi

Peta Situs

Sinopsis Novel edensor ini menceritakan tentang petualangan Ikal dan Arai di Eropa. Setel ah berhasil memperoleh beasiswa ke Perancis, mereka berkuliah di Universite de P aris, Sorbone, disini, Ikal dan Arai mengalami banyak kejadian yang orang biasa sebut sebagai kejutan budaya. Banyak kebiasaan dan peradaban Eropa yang berlaina n sama sekali dengan peradaban yang selama ini mereka pahami sebagai orang Indon esia. Khususnya melayu. Dalam buku ini juga Ikal dan Arai kembali menuai karma akibat kenakalan – kenakala n yang pernah mereka lakukan semasa kecil dan remaja dulu. Novel ini juga mencer itakan petualangan Ikal dan Arai meyusuri Eropa dengan berbagai pengalaman yang mencengangkan, mencekam, membuat kita terbahak-bahak, dan juga membuat kita beru rai air mata. Edensor menjelaskan bahwa kehidupan kita ini merupakan kepingan-kepingan yang sa ling terkait satu sama lain, yang desain utamanya tersusun dan tertata rapi, dan masa depan adalah mimpi-mimpi kita yang menjadi kenyataan. Ikal adalah anak bujang ke lima yang sebenarnya saat mengandung ibunya mengharap kan anak ke limanya ini seorang wanita,karena ke empat anak sebelumnya adalah la ki-laki. Tanggal lahir Ikal sama dengan tanggal berdirinya Persyarekatan bangsabangsa (PBB) yaitu 24 Oktober, dan ibunya Ikal sangat berharap agar anak ke lima naya ini bisa menjadi seorang juru pendamai seperti PBB. Dan bayi nomor lima itu diberi nama Aqil Barraq Badruddin, yang oleh Ikal diarti kan Anak sholeh berjidat mengkilap yang tidak akan melakukan hal-hal, yang tidak masuk akal dalam hidupnya. Namun, harapan yang diletakan dalam deretan nama agu ng itu, hancur berserakan. Karena Ikal biasa Aqil di panggil menjelma menjadi se orang anak yang sangat nakal dan sering membuat keonaran. Pernah suatu saat Ikal menyuruh adiknya yang masih kecil untuk menyanyikan lagu Indonesia raya dengan pengeras suara di Masjid sehingga terdengar ke seantero ka mpung. Setiap kali Ikal melakukan keonaran, ia pasti kena sidang oleh kedua oran g tuanya. karena kenakalannya, Ikal sempat beberapa kali berganti nama, mulai dari Aqil, W adudh dan Andrea, namun dari kesemua nama itu tidak mempengaruhi kenakalan Ikal, apalagi setelah orang tua Ikal memutuskan mengadopsi Arai. Kalaupun ada yang membuat Ikal berubah adalah dengan kehadiran A Ling. Ikal mera sa tak ada yang lebih aneh selain orang dimabuk cinta. Segalanya berubah menjadi baik dan berusaha menjadi baik.Ikal menjadi rajin mengaji dengan khusyuk, bahka n Taikong Hamin dan orang tuanya seakan tak percaya dengan perubahan ini. Selulus SMA Ikal dan Arai memutuskan untuk merantau ke Jawa. Wawancara dari satu tempat ke tempat lain mereka lalui. Sampai akhirnya Ikal diterima bekerja di ka ntor pos sambil kuliah, dan Arai merantau ke Kalimantan, bekerja dan kuliah disa na. Nasib Ikal lebih baik di banding Arai,Ikal menjabat sebagai Pengatur Muda Po s yang berwenang mencairkan wesel. Sampai akhirnya Ikal dan Arai berhasil menyelesaikan kuliah dan mengikuti tes be asiswa S2 ke Eropa. Dan kemudian Ikal memutuskan berhenti dari pekerjaannya di K antor pos. Sampai suatu saat ketika mereka sedang berada di Belitong, mereka menerima surat pengumuman tes beasiswa itu dari Dr. Michaela Woodword, Ikal dan Arai berhasil mendapatkan beasiswa itu.

Ketika Ikal dan Arai akan pergi, Arai berusaha menghubungi Zakiah Nurmala, cinta bertepuk sebelah tangannya untuk pamitan. Namun Zakiah seperti waktu SMA,tak me mbalas surat Arai. Begitupun Ikal ia merindukan sosok A Ling yang ia tidak tahu dimana keberadaannya. Ayah Ikal mengantar kepergian anaknya dengan berat hati di Tanjong Pandan,ketika Ikal dan Arai berpamitan ayah Ikal menyerahkan bungkusan dan bungkusan itu haru s dibuka jika telah sampai disana. Ayah Ikal sangat bangga kepada Ikal dan Arai, karena Ikal dan arai mampu mencapai apa yang tak pernah dicapainya. Di Bandara Soekarno Hatta Ikal mempelajari lampiran surat pengumuman beasiswa it u. Ikal dan Arai akan ke Belanda dulu dan akan dijemput oleh Ms.Famke Somers,seo rang pegawai dari kantor perwakilan Uni Eropa. Sesampainya di bandara Schippol A rai membentangkan tangannya lebar-lebar dan di Belanda saat itu sedang turun sal ju.di bandara Ikal dan Arai mencari wanita yang bertugas menjemput mereka diband ara,tidak ada wanita yang memegang tulisan nama mereka mencari mereka, yang ada hanyalah gadis muda berandal yang berteriak tak karuan “Oiiiiikkk !Oikkkkk” ia berla ri menuju Ikal dan Arai,mereka pun terkejut,siapakah dia? Ternyata dia adalah Ms .F.Somers,orang yang diutus untuk menjemputnya dibandara Setelah dari Belanda Ikal dan Arai meluncur ke Belgia dengan kereta,Brugge adala h tempat yang dituju. Famke menyuruh IKal menemui Simon Van der Wall (seorang pe milkik kos ). Disana Ikal dan Arai berpisah dengan Famke yang harus kembali ke a msterdam.Ikal dan Arai memasuki halaman dan tertegun didepan pintu yang membingu ngkan. Tak ada bel. Yang ad, disamping pintu,hanya deretan kotak kecil,nomor-nom or lantai gedung, tombol-tombol,speaker,dan label nama. Dan Ikal memencet tombol berlabel Van Der Wall, setelah dibingungkan dengan pintu otomatis ini,akhirnya Ikal dan Arai bisa masuk,mereka menuju lantai 3 menemui Van Der Wall.Simon tingg i besar,santai tapi angker. Karena mereka datang hari minggu dan bukan hari kerj a,maka mereka tidak bisa tinggal diapartemen itu. Mereka pun meninggalkan gedung yang tak bersahabat itu. Di Brugge,semua bangunan tertutup, tak seorangpun keluar rumah. Mereka tak tahu kalau ini dilakukan untuk mengantisipasi situasi suhu yang akan drop secara ekst rem malam nanti. Tapi Ikal dan Arai malah berkeliaran di alam terbuka. Arai memb eli lilin di sebuah kios kecil yang kemudian langsung tutup. Diujung jalan Ikal dan Arai menemukan bangku kosong, mereka duduk dibawah naungan kanopi. Hujan sal ju makin lebat. Malam makin larut, pukul dua pagi Arai mengeluarkan termometer d an menunjukan minus sembilan derajat celcius. Arai dan Ikal duduk berpelukan, le ngket, mengerut, dan menggigil hebat. Disinilah Ikal merasakan keganjilan dalam dirinya,ia tak merasakan kepalanya,kemudian lehernya terasa tercekik,fikirnya in ikah serangan maut??,darah tumpah dari rongga hidungnya. Arai membuka syalnya,me lilitkan dileher Ikal. Arai membuka koper dan mengeluarkan semua pakaian dan mem balutkannya berlapis-lapis ditubuh Ikal. Tiba-tiba Arai menggendong Ikal menuju pohon-pohon Roman. Ikal ditidurkan di tanah,dibawah rimbunan dedaunan roman. Ter nyata Arai meniru cara tentara Rusia bertahan di musim salju.kesadaran Ikal pun sedikit demi sedikit berangsur pulih. Ikal takjub menatap arai. Ikal dan arai pun berangkat ke Prancis dan tiba di terminal bus Gallieni, mereka bergegas menuruni tangga yang curam menuju metro,mereka pun menaiki metro penum pangnya pun masih beberapa gelintir saja,setelah sampai di stasiun Trocadero, me reka berjalan menyusuri lorong dan pelan-pelan menaiki anak tangga. Arai berjala n didepan,tiba-tiba ia memekik “subhanallah”. Mereka terpaku melihat sosok hitam sam ar-samar dibalut kabut,tinggi perkass menjulang. Menara Eiffel laksana nyonya be sar. Mereka mendekati Eiffel, disentuhnya Eiffel. Sebuah mimpi yang menjadi keny ataan. Anggun C Sasmi Paris selalu memberikan kejutan yang menyenagkan. Pulang kuliah sore Ikal dan ar ai iseng mengunjungi toko musik, mereka merasa senang sekali karena diantara der etan CD musisi dunia tampak album Anggun C.Sasmi dengan lagu yang dibawakan dala m bahasa Prancis. Anggun membuat mereka bangga menjadi orang Indonesia. Semua or ang mengenal Anggun. Mereka mulai kuliah di Sorbone, bersama mahasiswa-mahasiswa dari beragam bangsa didalamnya,membuat kelasnya seperti laboratorium perilaku. Berbagai macam sifat dan sikap ada disini. Orang Inggris, The British, selalu berkoar-koar seperti an

gsa. Mahasiswa yang paling doyan meladeni The British hanya mahasiswa dari neger i Paman Sam. Ada beberapa gelintir mahasiswa Jerman, dan yang paling istimewa, s eorang wanita Bavaria nan semlohai. Katya Kristanaema. Katya, Marcus, dan Christ ian sangat unggul dalam materi-materi hitungan. Namun Saskia dan Marike bisa dib ilang perfect,mereka tak pernah menganggukanggukan kepala sok tahu tak seperti T he British yang suka protes. Hanya abraham,Oxxenbergh, Yoram dan Becky yang mamp u menyaingi mereka. Orang-orang yahudi itu sangat Jenius. Pribadi-pribadi mengan gumkan diperlihatkan orang-orang tuan rumah Prancis : Charlotte, Laborde, Jean M inot, dan Sebastian. Yang lebih menarik ada juga orang-orang Tionghoa, Eugene Wo ng, Heidy Ling, Deborah Oh dan Hawking Kong. Sisanya orang yang selalu terlambat ,berantakan dan tergopoh-gopoh adalah The Pathetic Four mereka adalaha MVRC mano j, Pablo A.Gonzales, Ninochka stronovsky dan Ikal. Mereka selalu terbirit-birit mengejar ketinggalan. Di Prancis Ikal masih saja mencari A Ling, tetapi setiap tempat dan orang yang b ernama A Ling selalu salah. Berbagai cara Ikal lakukan untuk menemukan A Ling te tapi selalu gagal. Ikal pulang ke Paris dalam keadaan frustasi. Novel Seandainya mereka bisa bicara karya Herriot,kenangan A Ling untuk Ikal, A Ling menandai cerita tentang keinda han desa Edensor. Desa Khayalan itu seakan membukakan jalan rahasia dalam kepala Ika, jalan menuju penaklukan-penaklukan terbesar dalam hidup Ikal,untuk menemuk an A Ling, untuk menemukan diri Ikal sendiri. Ikal dan Arai memiliki rencana keliling Eropa untuk mengisi liburan ini. Townsen d histeris mendengar ide gila itu. Bagaimana bisa mengamen untuk biaya keliling Eropa sampai ke afrika. Akan tetapi teman-teman mereka pun akhirnya ikut dengan ide Ikal dan Arai untuk keliling Eropa dengan pertunjukan jalanannya. Gonzales mencoba penampilannya memain-mainkan bola. MVRC Manoj tampil dengan bus ana yang membuat nafas tertahan. Gonzales dan MVRC Manoj memadukan sepakbola dan tarian. Stansfield mendemokan kebolehannnya meniup tombon denganteknik tinggi.dan Townse nd tak mau kalah melentingkan nada akordeonnya. Dan akhirnya semua siap berangka t, diiringi lambaian selamat jalan dari semua sahabat. Townsend ingin membuktikan pada Stansfield bahwa jika ngamen di London, ia bisa dapat duit lebih banyak dari Stansfield. Maka jalur utamanya ialah Inggris. Stan sfield sendiri memulai perjalanan melalui Swiss. Ninochka menyusuri Prancis sela tan menuju turin, Italia. MVRC Manoj dan gonzales ke Belgia. Ikal dan Arai harus menemui famke menuju ke Belanda. Sesampainya di Belanda mereka bertemu dengan Famke. Rupanya Famke mempunyai renc ana agar Ikal dan Arai tampil di pinggir jalan sebagai manusia patung. Tim make up merias wajah mereka,setelah selesai Ikal memakai baju ikan duyung yang beratn ya hampir 10 kg,dan Arai pun memakai baju kostum yang sama sebagai ikan duyung. Arai sebagai ibu ikan duyung dan Ikal sebagai anak ikan duyung. Setelah meninggalkan Amsterdam,mereka menuju ke Groningen dimana rumah penduduk saling berjauhan. Mereka lalu ke Jerman dan mereka tampil sukses di frankfurt. J erman telah terbiasa dan menghormati tradisi backpaking. Di Denmark, Swedia, dan Norwegia mereka tak laku. Helsinky, Finlandia, adalah kota Skandinavia terakhir yang mereka kunjungi. Helsinsky adalah kota yang toleran,tempat berbagai pertik aian umat manusia dapat terselesaikan. Ternyata, koya canmtik itu terangterangan menghianati mereka. Disini mereka menghabiskan uang terakhir mereka. Ikal sedik it gmang, karena setelah ini mereka akan menapaki daratan Rusia yang luas. Di Internet mereka melihat kemajuan saingan mereka MVRC Manoj dan Gonzales tenga h jaya-jayanya di Belanda. Townsend telah sampai di Belfast, Irlandia. Kantongny a tebal dan semakin getol menyerang Stansfield. Stansfield sendiri tengah tampil di kota tua Zalsburgh, berarti dia sudah menaklukan Austria. Ninoch sedah sampa i Spanyol. Ikal dan arai menempuh jalur yang keliru, karena semakin Eropa Timur, seni jalanan semakin tak laku. Ikal dan Arai memasuki Belomorsk dalam keadaan bangkrut. Tiga jam tampil disana, sampai bengkak kaki, tak seorangpun melemparkan uang. Dengan menumpang bus sayu r atau dengan melompat diam-diam ke gerbong kereta minyak, mereka sampai ke Mosk owa. Di Syzran nasib paling sial menghadang. Esoknya polisi-polisi itu mengantar mereka keluar batas desa. Mereka dicampakan dalam keadaan lapar,mulut bengkak d

an hati yang terluka. Dan akhirnya mereka sampai ketempat yang bisa disebut ujun g dunia, Belush’ye berada di Taiga Siberia, bagain dari Siberia. Mereka menumpang kegerbong yang mengangkut bahan bangunan, tapi tengah malam mereka diturunkan be gitu saja karena ada inspeksi. Mereka berjalan dan bingung menghadapi perempatan tanpa kompas dan peta. Tiba-tiba Ikal teringat akan navigator alam; Weh! Ikal m engeja bintang satu persatu. Weh dulu mengajari Ikal membaca langit. Ikal dan Arai berbalik kebarat, menuju Olovyannaya diatas tapal Mongolia. Setiap melewati perkebunan Zaitun mereka melamar kerja membantu petani memetik buahnya demi upah beberapa butir kentang. Mereka melewati kampung demi kampung. Sebagia n adalah kampung tambang yang telah diabaikan. Mereka terperosok kepedalaman, me njumpai hal-hal yang aneh seperti orang muslim beribadat seperti Nasrani dan ora ng Nasrani fasih membaca al-quran. Ada masyarakat yang memuja kambing,memandikan bayi yang baru lahir dengan darah lembu,dan melemparkan ari-ari keatas atap. Ad a pula komunitas yang patriakis, para istri harus tidur dilantai dua gedung jera mi dan hanya dikunjungi para suami jika diperlukan. Setelah di Olovyannaya Ikal dan Arai melanjutkan perjalanan ke tanah Parsi:Iran, tak jauh dai Sebelah timur adalah Mongolia yang sungguh menggoda. Kemudian mere ka melanjutkan perjalanan ke Yunani dan merekka bergelimangan uang disini. Namun nasib berbalik mereka alami di Balkan(Bosnia, Serbia, dan sekitarnya), disana j angankan mengapresiasi seni,mereka bahkan masih trauma dengan peluru yang baru s aja berdesing dari kepala mereka. Dan merekapun kembali miskin disini. Di Rumania mereka bertemu dengan seorang bapak tua berperawakan kurus yang sela lu mengawasi mereka. Di Rumania mereka bertemu dengan seorang bapak tua berperawakan kurus yang sela lu mengawasi mereka,gerak geriknya mencurigakan. Jika didekati dia menjauh. Suat u malam Ikal dan Arai tidur disebuah halaman TK,tengah malam tiba-tiba Ikal terb angun karena backpak yang ia gunakan sebagai bantal ada yang menarik, Ikal dan A rai refleks saling melindungi. Tiga orang laki-laki dan satu orang perempuan den gan seringai mengancam mereka. Tiba-tiba bapak tua yang dari tadi mengamati mereka datang menolong mereka dari kegelapan, ia meraih kepala slang tabungnya dan menyemprot para penjahat itu den gan gas pestisida. Para perampok itu pun kocar kacir, berteriak dan memaki-maki. Kehidupan malam di Eropa sangat mengerikan. Kemudian bapak tua itu mendatangi mereka,ia tersenyum bersahabat,ia mengulurkan tangan menyalami Ikal dan Arai. “Nhama sayha Toha,ashli Purbhalingga.” Bapak itu tertawa lebar, menakjubkan nun jauh dikota terpencil kumuh di pelosok Rumania, mereka menemukan orang jawa yang merupakan seorang pembasmi kecoa. Kemudian Ikal dan Arai menuju ke Austria,disana mereka bertemu dengan seorang tu kang kebab bernama Mashood. Mereka menanyakan letak masjid kepadanya. Disana ada masjid orang Arab,dan hanya orang Arab disana. Di masjid Turki,hanya ada orang Turki. Dan selebihnya orang muslim selain dari Arab dan Turki berkumpul di Masji d Afghanistan,di Gmunden. Mashood menceritakan tentang imam masjid yang sangat d ipujanya, imam itu bernama Oruzgan. Disini pula Arai menuai karma masa kecilnya ketika sedang shalat berjamaah, disaat semua orang sedang khusyuk,namun ketika i mam sampai pada ayat al-fatihah,kekhusyuan sontak berantakan. Semua orang terper anjat mendengar jeringan panjang “aaaaaaaaaaaaammmmmmmmmmmmmmmmmmiieeennnnnnnnnnnn nn….”rupanya Arai melolong seperti dulu yang sering ia lakukan dimasjid di kampung. Yang lebih mengangetkan suara itu muncul dari satu orang, karena mazhab yang mer eka anut hanya mengucapkan amin didalam hati. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan ke Venesia. Disana pria wanita berkerumu n di kafe seperti sedang bermain sandiwara. Pria Italia sungguh flamboyan dan pe nuh gairah. Ikal dan Arai berjanjian dengan MVRC Manoj,Gonzales,Ninonh,Stansfield,dan Townse nd dan bertemu di Spanyol. Perjalanan usai MVRC Manoj dan Gonzales tim yang kala h. Dan pemenang perlombaan ini adalah Ikal dan Arai. Kemudian mereka pulang ke P aris naik kereta malam. Sesampai di Paris mereka kembali mengerjakan rutinitas kuliah mereka. Namun suat u hari rutinitas itu terpecah. Katya menelpon Arai dan menyuruhnya segera ke kam pus. Tiba dikampus Ikal melihat Arai digotong, hidungnya berdarah,ia masuk ICU. Arai terserang Asthma Bronchiale.dan penyakit ini pula yang dulu merenggur nyawa

ayahnya diusia muda. Akhirnya Arai harus dipulangkan ke Indonesia, Ikal merasa sedih akan berpisah dengan Arai. Hari demi hari Ikal lalui dengan menyibukan dir i dengan risetnya. Tiba tiba Maurent memanggil Ikal dan mengabarkan Prof Turnbull akan pensiun dan pulang kampung ke Sheffield Inggris, dan mengabarkan kalau tak ingin kehilangan waktu, Ikal harus mengikuti exchange program, pindah ke Sheffield Hallam Univers ity. Kemudian Ikal pergi ke Inggris,sesampainya di Terminal Victoria,London. Ikal mel njutkan perjalanan dengan bus antar kota ke Sheffield, sheffiel memang tak menye nangkan. Berbulan-bulan Ikal tinggal disana. Dan akhirnya Ikal pun selesai mengerjakan risetnya. Dan Ikal diundang minum the oleh keluarga Turnbull kerumahnya dan untuk menandatangani riset Ikal. Rumah Prof Turnbull jauh diluar Sheffield. Sesampainya dirumah Prof Turnbull,Ika l disapa oleh wanita tua dengan wajah yang anggun,dan ternyata Prof sedang tidak dirumah,Ikal dipersilahkan masuk. Karena lama menungu Prof datang,Ikal memutusk an untuk berkeliling desa. Ikal pun menaiki bus desa yang sudah butut. Didalamny a duduk terpisah segelintir petani,bus meluncur terderak-derak. Diluar jendela I kal menikmati pemandangan. Tak terasa lebih dari satu jam Ikal berada didalam bi s, lalu bus menaiki bukit yang landai . Ketika bus berbelok,dedaunan cemara ters ibak dan seketika itu pula tersaji pemandangan yang mengingatkan Ikal pada sesua tu. Bus merayap, Ikal semakin dekat dengan desa yang dipagari tumpukan batu bulat be rwarna hitam. Ikal bergetar menyaksikan jauh dibawah sana,rumah-rumah penduduk b erselang seling. Ikal merasa menembus lorong waktu dan terlempar dalam negeri kh ayalan yang telah lama hidup dalam hatinya. Kemudia Ikal bergegas meminta sopir berhenti. Ikal kembali teringat akan keindahan tempat ini selama belasan tahun,d an tiba-tiba tersintesa persis didepan matanya. Kemudian Ikal bertanya kepada se orang ibu untuk memberi tahu nama tempat ini. Kemudian ibu itu menjawab. “ sure, i t’s Edensor…” Kutipan n “ Taukah engkau Ikal…?” “ Langit adalah kitab yang terbentang…” “ Sejak masa ozoikum, ke a kehidupan belum muncul, langit telah mencatat semua kejadian di muka bumi…” Pada s etiap simbol ia bersabda, “ keseimbangan perawan, Leo sang singa, matahari pertama musim panas, bintang kastor, musim menyemai benih “. n “Zenith dan nadir, seperti akar ilalang yang menusuk-nusuk kakikku, menikam hat iku. Nanti, harus kujelajah separuh dunia, berkelana diatas tanah-tanah asing ya ng dijadikan mimpi-mimpi, akan kutemui perempuan yang membuat hatiku kelu karen a cinta, karena rindu yang menyikasa, untuk memahami kalimah misterius itu. Diku buran usang, diantara nisan para pendusta agama itu, aku sadar aku telah belajar mencintai hidupku dari orang lain yang membenci hidupnya.” n “Belitong menjelang malam, adalah semburan warna dari seniman impresi yang melu kis spontan, tak dibuat-buat, dan memikat….. Masjid seperti oase bagi semua anak m elayu udik. Disana, bukan hanya sekedar tempat salat dan mengaji, tapi tempat be rmain dan membuat jani-janji. Masjid nan indah, tasbihnya berupa-rupa, kaligrafi nya mempesona, dan pilar-pilar tingginya memantulkan suara…. Belum lagi satu kegem biraan yang aneh, kegembiraan yang secara ajaib menjelma kalau ramadhan tiba. Se muanya semakin indah karena keluarga kami memungut Arai, sepupu jauhku. Maka, ak u memanggilnya n “Aku ingin mendaki puncak tantangan, menerjang batu granit kesulitan, menggoda mara bahaya, dan memecahkan misteri dengan sains. Aku ingin menghirup berupa-rup a pengalaman lalu terjun bebas menyelami labirin lika-liku hidup yang ujungnya t ak dapat disangka. Aku mendamba kehidupan dengan kemungkinan-kemungkinan yang be reaksi satu sama lain sepeerti benturan molekul uranium: meletup tak terduga-dug a, menyerap, mengikat, mengganda, berkembang, terurai, dan berpencar kea rah yan g mengejutkan.” n “Aku ingin ke tempat-tempat yang jauh, menjumpai beragam bahasa dan orang-orang asing. Aku ingin berkelana, menemukan arahku dengan membaca bintang gemintang. Aku ingin mengarungi padang dan gurun-gurun, ingin melepuh terbakar matahari, li mbung dihantam angina, dan menciut dicengkram dingin. Aku ingin kehidupan yang m enggetarkan, penuh dengan penakluka. Aku ingin hidup! Ingin merasakan sari pati

hidup!” n “Lereng-lereng bukit yang tak teratur tampak seperti berjatuhan, puncaknya seak an berguling ditelan langit sebelah barat. Bentuknya laksana pita kuning dan mer ah tua. Pegunungan tinggi yang tak berbentuk itu lalu terurai menjadi bukit-buki t hijau dan lembah-lembah nan luas. Didasar lembah sungai berliku-liku di antara pepohonan. Rumah-rumah petani Edensor yang terbuat dari batu-batu yang kukuh da n berwarna kelabu bak pulau ditengah lading yang diusahakan. Lading itu terbenta ng seperti tanjung yang hijau cerah diantar lereng bukit. Dipekarangan, taman bu nga mawar dan asparagus tumbuh menjadi pohon yang tinggi. Buah persik, buah pir , buah ceri, buah prem, bergelantungan diatas tembok selatan, berebut tempat den gan bunga-bunga mawar yang tumbuh liar…”. n Ibunda guru Muslimah Hafsari, adalah guruku yang pertama. Dulu, waktu aku mas ih SD,beliau pernah berpesan pada kami, murid-muridnya, para Laskar Pelangi, “ Jik a ingin menjadi manusia yang berubah, jalanilah tiga halini: sekolah, banyak-ban yak membaca Al-Qur’an, dan berkelana”. Aku paham sekolah dan membaca Al-Qur’an dapat m engubah orang karena disanalah tersimpan kristal-kristal ilmu. Baru disini, di R umania, aku dapat menggenapi arti pesan itu. n Berkelana tidak hanya telah membawaku ke tempat-tempat yang spektakuler sehin gga aku terpaku, tak pula hanya memberiku tantangan ganas yang menghadapkanku pa da keputusan hitam putih, sehingga aku memahami manusia seperti apa aku ini. Pen gembaraan ternyata memiliki paru-parunya sendiri, yang dipompa oleh kemampuan me nghitung setiap resiko, berpikir tiga langkah ke depan sebelum langkah pertama d iambil, integritas yang tak dapat ditawar-tawar dalam keadaan apapun, toleransi, dan daya tahan. Semua itu lebih dari cukup untuk mengubah mentalitas manusia ya ng paling bebal sekalipun. Para sufi dan mahasiswa filsafat barangkali melihatny a sebagai hikmah komuniukasi transcendental dengan sang maha pencipta melalui pe ncarian diri sendiri dengan menerobos sekat-sekat agama dan budaya. n Jalan-jalan desa menanjak berliku-liku dihiasi deretan pohon oak,berselang-se ling di antara jerejak anggur yang diterlantarkan. Lebah madu berdengung mengeru buti petunia. Daffodil dan astuaria tumbuh sepanjang pagar peternakan, berdesaka n di celah-celah bangku batu. Di belakang rumah penduduk tumpah ruah dedaunan be rwarna oranye, mendayu-dayu karena belaian angina. Lalu terbentang luas padang r umput, permukaannya ditebari awan-awan kapas… n Aku bergetar menyaksikan nun di bawah sana,rumah-rumah penduduk berselang-sel ing di antara jerejak anggur yang terlantar dan jalan setapak berkelok-kelok. Ak u terpana dilanda dejavu melihat hamparan desa yang menawan. Aku merasa kenal de nga gerbang desa berukir ayam jantn itu, dengan bangku-bangku batu itu, dengan j ajaran bunga daffodil dan astuaria dip agar peternakan itu. Aku seakan menembus lorong waktu dan terlempar ke sebuah negeri khayalan yang telah lama hidup dalam kalbuku. Aku bergegas meminta sopir berhenti dan menghambur keluar. Ribaun frag men ingatan akan keindahan tempat ini selama belasan tahun, tiba-tiba tersintesa persis di depan mataku,indah tak terperi. Kepada seorang ibu yang lewat kuberta nya,”Ibu dapatkah memberi tahuku nama tempat ini?”. Ia menatapku lembut,lalu menjawa b. “Sure lof, it’s Edensor…” Unsur – unsur Instrinsik Tema : Menceritakan tentang pencarian diri dan cinta. Amanat : – Bila kita ingin mengapai cinta dan atau mempunyai mimpi, maka kita haru s memperjuangkan mimpi tersebut dan berusaha pantang menyerah untuk meraihnya. – Novel ini mengingatkan kita bahwa menerima kehidupan berarti menerima kenyataan bahwa tidak ada hal yang sekecil apa pun terjadi karena kebetulan. – Mengingatkan bahwa kenakalan-kenakalan masa kecil kita, pada suatu saat akan men impa kita kembali/ kita akan menuai karma. Alur : Alur Campuran (alur maju mundur ). Tokoh : 1. 1. Andrea / Ikal (Tokoh utama dalam novel ini,ia sangat berani mencapai mimpi masa kecilnya,pribadinya sangat keras). 2. 2. Ayah Ikal (sabar,pendiam penyayang dan sangat bijaksana) 3. 3. Weh ( pintar berlayar dan pandai membaca rasi bintang dan menentukan arah mata angina ). 4. 4. Taikong Hamin ( ustadz, pengurus masjid )

5. 5. Ibu Ikal (Penyayang,Keras kepala ) 6. 6. A Ling ( cinta pertama ikal) 7. 7. Arai ( penyayang, gigih/pantang menyerah, cerdas ) 8. 8. Zakiah Nurmala ( Cinta pertama Arai yang selalu menolak cinta Arai ) 9. 9. Ms.Famke Somers ( cantik,baik dan bertanggung jawab ) 10. 10. Simon Van Der Wall ( pemilik kost, tega/tidak perduli pada nasib ora ng lain ) 11. 11. Dr.Michaella Woodward ( seorang doctor ekonomi yang sangat cemerlang , dan bertanggung jawab ) 12. 12. Erika Ingeborg ( Asisten Dr. Woodward yang tegas dan bertanggung jaw ab ) 13. 13. Teman Kuliah Andrea dan Ikal( Naomi Stansfield, Townsend, Marcus Hol dvessel, Christian Diedrich,Katya Kristanaema, Saskia,Marike,AbrahamLevin, Y’hudit Oxxenberg, Yoram Ben Mazuz, Becky Avshalom, Charolete Gastonia, Sylvie Laborde, Jean PierreMinot, Sebastian Delbonnel, Liu Hyuu Wong, Heidy Ling, Deborah Oh, H awking Kong, MVRC Manoj, Pablo Arian Gonzales, Ninochka Stronovsky,Alesandro D”Arc hy). 14. 14. Maurent LeBlanch ( seorang yang terpelajar dan bertanggungjawab) 15. 15. Toha (Orang Indonesia diCrainova,Rumania seorang pembasmi kecoa, bai k). 16. 16. Oruzgan Mourad Karzani ( seorang Imam masjid afganistan di Gmunden/ sangat bersahaja dan pahlawan besar Balloch yang menumbangkan resismen Tentara M erah ) 17. 17. Prof. Turnbull ( dosen Ikal yang sudah sepuh 18. 19. 22 Votes 20. 21. Judul Buku: Maryamah Karpov Penulis: Andrea Hirata Penerbit: Bentang Harga: Rp. 79.000,00 Tebal: 504 Halaman Cinta itu gila! Begitulah peryataan yang sering kita dengar. Banyak orang melaku kan apa saja untuk cinta. Bahkan tak jarang orang melakukan pengorbanan yang “gila” (tidak masuk akal) hanya untuk cinta. Cinta itu membutakan! Setidaknya itulah ya ng menjadi ulasan pada buku keempat dari tetralogi laskar pelangi “Maryamah Karpov”. Lalu, hal “gila” apa yang dilakukan Ikal (Andrea Hirata) untuk cintanya, A Ling? Setelah menyelesaikan S2 di Sorbone University Prancis, Ikal (Andrea Hirata) kem bali ke tanah kelahirannya di pulau Belitong. Kerinduan! Itulah alasan yang mend asar kenapa Ikal kembali ke Belitong. Ia rindu kepada orang tuanya, rindu kepada Arai (sepupu jauh Ikal), rindu kepada masyarakat Belitong, rindu dengan alam Be litong dan lebih dari itu, ia rindu pada gadis impiannya yaitu A Ling. Perjalanan dari Jakarta ke rumahnya di Belitong, dilalui Ikal dengan penuh perju angan dan rasa letih. Tapi semua itu pudar karena ia begitu merindukan ayahnya. Lelaki pendiam itu sangat istemewa bagi Ikal. Bahkan, Ikal mempersiapkan penampi lan terbaiknya untuk bertemu dengan ayahnya. Ikal mengenakan pakaian pelayan res otoran ketika bekerja di Perancis dulu. Ketika bertemu dengan ayah, ibunya dan A rai, rasa haru tak dapat terbendung lagi. Betapa Ikal sangat merindukan saat ini . Saat bertemu dengan orang-orang yang dicintainya. Pulau Belitong tak seperti dulu lagi, masyarakat Belitong terpuruk setelah pabri k timah gulung tikar. Walaupun demikian, suasana Belitong tak jauh berbeda diban dingkan saat Ikal melanjutkan studinya ke Perancis. Masyarakat Belitong masih ge mar membual, minum kopi ke warung, dan sangat menyukai taruhan. Cerita dibuka dengan kehadiran seorang dokter gigi dari Jakarta yang bernama dok ter Budi Ardiaz. Ia adalah wanita kaya dan sebenarnya bisa hidup nyaman di Jakar ta. Akan tetapi, karena idealismenya, ia mengabdikan dirinya sebagai dokter di t anah Melayu, Belitong. Namun sayangnya, setelah berbulan-bulan membuka praktek, tak ada satupun masyarakat yang mau berobat padanya. Masyarakat lebih senang ber obat ke dukun gigi dengan alasan bahwa mulut adalah sesuatu yang sensitif sepert

i kelamin. Jadi, tak boleh sembarangan memasukkan tangan ke dalam mulut kecuali muhrim. Kenyataan ini, membuat kepala kampung Karmun geram dan memaksa masyaraka t untuk berobat pada dokter Diaz. Tapi sayang, masyarakat tetap kekeh dengan pri nsip yang telah mereka pegang. Selanjutnya, diceritakan bahwa masyarakat Belitong menemukan dua jenazah yang te rapung di air. Kejadian itu mengagetkan masyarakat khususnya Ikal. Terlebih, jen azah itu memiliki tato kupu-kupu mirip tato A Ling. Konon kabarnya, dua jenazah tersebut tewas karena mencoba melarikan diri dari kawanan perampok yang bengis d i pulau Betuan. Hal ini membuat Ikal meyakini bahwa A Ling merupakan salah satu penumpang kapal ke pulau Betuan. Ikal berniat ke pulau Betuan untuk menemukan A Ling. Tapi tidak ada yang mau membantunya. Malah, masyarakat melarang Ikal untuk berlayar ke pulau Betuan. Pulau itu sangat berbahaya, jika mau ke sana jangan h arap untuk bisa balik lagi. Ikal tidak menyerah. Demi cinta! Itulah motivasi ter besar kenapa ia berusaha keras untuk bisa berlayar ke pulau Betuan. Dimana ada k emauan di situ ada jalan. Niat Ikal untuk berlayar akhirnya dibantu oleh sahabat -sahabatnya (Laskar Pelangi) yang kini telah tumbuh dewasa dengan profesi beraga m. Lintang dan Mahar memiliki peran yang besar dalam masalah ini. Dengan modal s emangat, bantuan dari sahabat-sahabatnya, dan sedikit ilmu, Ikal mampu membuat s ebuah kapal yang hebat. Kapal itu diberi nama “Mimpi-mimpi Lintang”. Walaupun Ikal t elah berhasil membuat kapal, masih saja orang-orang mencemoohkannya dan tak ayal Ikal menjadi objek taruhan masyarakat Belitong. Tapi itu semua tidak menjadi pe nghambat untuk Ikal. Sepertinya Dewi Fortuna sedang berpihak pada Ikal. Bahkan, Ikal membuat orang terkagum-kagum dengan perjuangan hebatnya. Setelah berhasil membuat sebuah kapal yang hebat, Ikal berangkat ke pulau Betuan bersama Mahar, Chung Fa dan Kalimut. Mereka memiliki misi-misi yang berbeda unt uk berlayar ke pulau Betuan. Selama perjalanan menuju pulau Betuan, banyak sekal i rintangan yang harus mereka tempuh. Mulai dari angin laut, pembajak sadis, dan dunia mistik. Tapi semua rintangan itu dapat ia lewati. Akhirnya, Ikal dapat me nemukan cinta sejatinya yang telah ia cari bertahun-tahun lamanya. Bahkan separu h benua telah ia tempuh untuk menemukan A Ling. Singkat cerita, Ikal membawa A Ling pulau Belitong. Mereka berdua berniat untuk menikah. Ikalpun meminta izin kepada keluarga Al Ling agar diizinkan meminang A Ling. Keluarga A Ling pun menyetujuinya. Tapi sayangnya, ayah Ikal tidak menyetu jui anak bujangnya meminang A Ling. Novel “Maryamah Karpov” memberikan pesan kepada kita (pembaca), agar kita jangan tak ut untuk bermimpi. Semua yang kita impikan pasti akan terwujud asal kita berusah a untuk mewujudkannya. “Ku beri tahu rahasia padamu, Kawan, buah yang paling manis dari berani bermimpi adalah kejadian-kejadian menakjubkan dalam perjalanan meng gapainy” (hal: 343). Seperti novel-novel sebelumnya, Andrea Hirata mencoba kembali menyuntikkan semangat dan motivasi kepada pembaca agar jangan pernah mengalah d engan nasib. “Bahwa semangat dan ilmu dapat menaklukkan apapun” (hal:335). Selain it u, novel ini memiliki banyak kelebihan. Kelebihan pada novel ini terletak untaia n kata-katanya yang puitis dan deskripsi narasi yang jelas pada alur ceritanya. Membaca novel ini, seakan kita (pembaca) dapat mengetahui budaya masyarakat Beli tong. Diantaranya adalah kebiasaan membual dan melebih-lebihkan cerita. Juga keb iasaan menyematkan nama baru di belakang nama asli, semata-mata untuk mengolok-o lok bahkan merendahkan martabat yang mempunyai nama. Seperti Berahim Harap Tenan g, Tancap Seliman, Marhaban Hormat Grak dan lain sebagainya. Kejujuran Andrea Hi rata dalam menulis novel ini membuat novel ini berbeda dengan novel kebanyakan. Lelucon dan humor juga menjadi bumbu dalam novel ini. Tak jarang kita (pembaca), tertawa membaca kisah masyarakat Belitong yang lucu dan penuh guyonan. Andrea H irata sepertinya cermat sekali memahami kebudayaan Belitong secara keseluruhan. Sehingga, kita seolah bisa melihat jelas bagaimana realitas masyarakat Belitong sesungguhnya. Tidak ada yang sempurna dalam hidup ini. Begitu juga pada novel “Maryamah Karpov” in i. Ada beberapa yang mengganjal setelah kita membaca novel ini. Jika kita cermat i, judul novel “Maryamah Karpov” tidak ada kaitan langsung dengan keseluruhan cerita nya. Maryamah Karpov hanya diulas sedikit saja. Maryamah Karpov digambarkan seba gai seorang perempuan yang biasa dipanggil mak cik, mendapat tambahan nama belak ang karena sering terlihat di perkumpulan jago-jago catur di warung kopi Usah Ka

u Kenang Lagi dan mengajari orang langkah-langkah ala Karpov. Selanjutnya, secar a keseluruhan novel ini menceritakan tentang perjuangan Ikal untuk menemukan tam batan hatinya, A Ling. Ada juga hal yang ganjil pada cerita “Maryamah Karpov” yaitu terkait peran ibu Ikal yang tak berarti apa-apa ketika pelayaran ke pulau Betuan . Lebih dari itu, pengalaman fantasis Ikal selama berlayar terkesan terlalu hipe rbola dan kurang masuk akal. Pada akhir cerita, pembaca merasa bingung karena tidak adanya penjelasan tentang kelanjutan hubungan Ikal dengan A Ling. Mungkinkah karena tidak disetujui oleh ayah Ikal, maka rencana meraka untuk menikah batal? “Sebagaimana kawan tahu. Aku i ni, paling tidak menurutku sendiri, adalah lelaki yang berikhtiar untuk berbuat baik, patuh pada petuah orang tua, sejak dulu. Rupanya, begitu pula ayahku yang sederhana itu. Katanya, ia selalu menempatkan setiap kata ayah-bundanya di atas nampan pualam, membungkusnya dengan tilam” (hal: 1). Mungkinkah itu jawaban atas k elanjutan hubungann Ikal dengan A Ling? Kita hanya bisa meraba dan menemukan keb enarannya menurut analisis kita masing-masing. Terlepas dari adanya beberapa kekurangan di atas, novel ini mempunyai banyak kei stemewaan dan pembelajaran yang berharga untuk kita. Novel ini tak hanya sekadar kisah kehidupan anak manusia. Lebih dari itu, novel ini mengajarkan kita untuk berani bermimpi. Novel ini cocok dibaca untuk semua kalangan. “Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi kita.” (Endensor). 22. This entry was posted in filsafat, sastra. Bookmark the permalink.

Resensi Buku Maryamah Karpov - Andrea Hirata Judul : Maryamah Karpov - Mimpi-mimpi Lintang Oleh : Andrea Hirata Hal : 504 Penerbit : Bentang Pustaka Bahasa : Indonesia Harga : Rp 79.000 Buku ke-4 dari Tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata ini yang berjudul Ma ryamah Karpov - Mimpi-mimpi Lintang. Mengisah kan kembali perjalan pengejaran mi mpi Ikal dalam cita dan cinta nya kepada 1 wanita Ho Pho Aling. Sekembalinya dari Paris dan kembali ke kampung halaman nya Belitong, mimpi untuk mengapai pendidikan yang telah di raih nya sampai ke negara asing dan mimpi kal i ini adalah untuk mencari Aling di Pulau Batuan dengan satu-satunya cara membua t perahu, ejekan dan keraguan dari pandangan masyarakat kepada Ikal yang masyara kat mengatakan kalau leluhur bukan pembuat perahu mana mungkin bisa membuat pera hu. Dengan bantuan sahabat-sahabat nya Laskar Pelangi ikal membangun perahu, ini pun tidak mudah dari bahan-bahan yang sulit di cari, struktur perahu. Tapi semua te ratasi dengan bantuan sahabatnya Lintang si Jenius yang tetap terpancar kepintar annya. Hari, siang dan malam, bahkan badai dan gelombang di terpa perahu Mimpi-mimpi L intang ikal mencari gadis impian nya, bertemu dengan dukun yang di segani di pu lau Belitong yang kita tak dapat pungkiri yang merupakan bagian dari budaya kita , dan bertemu para perompak untuk bernegosiasi demi mengejar mimpi nya akan Alin g. Rahasia, Kuberitahu satu rahasia padamu, kawan Buah paling manis dari berani bermimpi Adalah kejadian-kejadian menakjubkan Dalam perjalanan mengejarnya - hal 433 Pengunjung baru? [ Mendaftar Menjadi Member

Login ]

 

 

Beranda Berita Opini Artikel Sejarah Melayu Budaya Melayu Sastra Mel ayu Tokoh Melayu Peneliti Melayu Penghargaan Kamus Melayu Ensiklopedi Melayu Agenda Direktori Pautan Forum Resens i Buku Perpustakaan Koleksi Kedai Komentar Tamu Tentang Kami Kerjasama Hubungi Kami Donasi Peta Situs Bahasa Indonesia English Français Thailand Filipino Nederlands Italian o Arabic Deutsch Español Burmese Khmer • English version Sabtu, 5 Maret 2011 Advanced Search » Pengunjung Online : 524 Anda pengunjung ke 84.206.059 Sejak 01 Muharam 1428 ( 20 Januari 2007 ) Sabtu, 29 Rab. Awal 1432 H

IMAGE GALLERY

AGENDA

________________________________________ RESENSI BUKU Beranda » Resensi Buku » Mimpi-mimpi Lintang Maryamah Karpov 03 November 2009 Mimpi-mimpi Lintang Maryamah Karpov

Judul Buku Penulis : Penyunting Penerbit Cetakan : Tebal : Ukuran :

: Mimpi-mimpi Lintang Maryamah Karpov Andrea Hirata : Imam Risdiyanto : Bentang, Yogyakarta Pertama, November 2008 xii + 504 halaman 20, 5 cm

Dan aku senang karena setiap anggota Laskar Pelangi telah menmukan dirinya sendi ri, kecuali Aku. Ajaib, mereka tak pernah ke mana-mana, tak pernah meninggalkan sudut bumi di pulau terpencil ini, tapi menemukan semua yang mereka cari. Sement ara aku, telah melintasi samudera, berbagai negeri nan jauh, dan benua-benua asi ng, tapi tak menemukan apapun, tidak juga cinta itu, sungguh menyedihkan (hal 26

7). Setiap orang yang pernah menjalani kehidupan baru atau berbeda dengan kehidupan aslinya tentu akan mengalami sebuah kondisi “keterasingan” ketika terpaksa atau dipa ksa oleh keadaan tertentu harus kembali ke kehidupan semula. Pengalaman “terasing” i tu dirasakan ketika diri yang sudah terbiasa dengan kehidupan yang dianggap serb a “maju” dipaksa atau terpaksa untuk kembali ke dalam keadaan yang dianggap “tidak maj u”. Pada kondisi ini, jika sesorang tidak tidak dapat mencerna dengan baik maka ak an mengalami apa yang biasa disebut dengan kejutan budaya (cultural shock). Salah satu wujud dari kejutan budaya itu dapat dilihat dari perubahan pola hidup seseorang dan masyarakat, serta berbagai masalah yang muncul di masyarakat. Sat u hal yang paling banyak disinggung oleh para pengkaji budaya adalah munculnya b erbagai bentuk kriminalitas, seperti pencurian bayi, anak-anak yang menjadi penc uri, maraknya korupsi, banyaknya artis yang beralih ke dunia politik dan sulitny a memberantas pungli. Secara umum memang masalah di atas berhubungan dengan ekonomi, akan tetapi jika dipahami bahwa mencari ekonomi adalah sifat dasar manusia, maka “penyimpangan” dalam mencari ekonomi disebabkan karena indvidu tidak dapat berfikir secara matang da lam menyikapi kesulitan ekonomi tersebut, dan ini salah satunya disebabkan karen a individu “terkejut” ketika berhadapan dengan pola hidup baru yang tidak sesuai den gan diri dan keadaan sosialnya. Dalam konteks pembangunan daerah-daerah Indonesia yang relatif belum semaju pemb angunan di Eropa, maka migrasi penduduk ke kota-kota besar, apalagi ke luar nege ri, akan mengakibatkan kejutan budaya individu ketika mereka kembali ke tanah ke lahirannya. Lebih jauh akibat kejutan budaya ini tidak menutup kemungkinan akan mengakibatkan tergerus bahkan punahnya kebudayaan lokal. Dalam kajian kebudayaan , ini adalah masalah serius karena ketika kebudayaan lokal hilang berganti denga n kebudayaan baru (modern), maka itu akan berpengaruh pula terhadap pola perilak u individu di masyarakat baik positif maupun negatif. Kejutan budaya yang berlanjut pada perubahan perilaku individu di masyarakat yan g negatif disebabkan karena individu selalu membandingkan kehidupan barunya deng an kehidupan lamanya. Perbandingan ini adalah sebuah kewajaran karena usaha memb andingkan bertujuan untuk menjadi individu yang lebih baik. Meskipun demikian, p erbandingan itu akan berujung pada sikap negatif karena terkadang individu ketik a melakukan perbandingan tidak cukup disertai dengan pertimbangan yang matang, b ahkan mungkin berat sebelah. Dalam kajian budaya keterkejutan budaya akan dialami oleh individu dengan kriter ia sebagai berikut: 1. Individu terlalu menganggap lebih kehidupan barunya daripada kehidupan l amanya 2. Individu selalu menempatkan dirinya sebagai orang yang berbeda (lebih ma ju) dari orang lain di tempat asalnya 3. Individu yang tidak memiliki pendidikan cukup, sehingga tidak dapat menc erna kehidupan barunya dengan baik ketika pulang ke tempat asalnya 4. Individu yang hanya berorientasi materi ketika pindah atau mencari kehid upan barunya Jika melihat kriteria di atas, maka tampaknya pihak yang rentan mengalami kejuta n budaya adalah para tenaga kerja Indonesia yang bekerja di luar negeri karena m ereka rata-rata berpendidikan rendah. Sebaliknya, kejutan budaya tidak akan berl aku bagi para pelajar Indonesia yang memiliki kesempatan belajar ke luar negeri karena kepindahan para pelajar ke luar negeri didasari oleh kesadaran rasional y ang seimbang, sehingga ketika mereka pulang kampung, mereka akan mudah beradapta si ketika membandingkan kehidupan barunya dengan kehidupan lamanya. Memang pendidikan adalah elemen penting dalam pemberdayaan masyarakat, namun pen didikan bukanlah satu-satunya prasyarat ketahanan masyarakat dalam menjalani hid up yang serba cepat sekarang ini. Tak terasa, sebulan sudah aku di kampung. Tanpa pekerjaan, berijazah universitas , maka profil demografiku dapat digambarkan seperti ini: pengangguran paling int elek di pantai Timur Belitung (hal 127). Perubahan dan kemajuan adalah sebuah keniscayaan. Kita tidak dapat meredam perub ahan dan kemajuan suatu bangsa, akan tetapi kita dapat bersiap bahkan bersaing d

engan kemajuan mereka serta dapat menghindari kejutan budaya ketika kita bersent uhan dengan budaya mereka. Selain meningkatkan terus kualitas pendidikan di daer ah-daerah, salah satu upaya yang harus dilakukan adalah memaksimalkan sumber day a daerah dengan didukung oleh pihak pengampu kebijakan. Masyarakat dan penguasa harus bahu membahu dan bekerja keras memajukan daerahnya, bukan menjadi raja-raj a kecil yang memakan saudara sendiri. Lebih dari itu semua, sebenarnya kekuatan individu agar tidak mudah mengalami ke terkejutan budaya adalah memupuk dan mewujudkan mimpi. Mimpi adalah amunisi pali ng hebat yang dimiliki oleh setiap individu. Mimpi menjadi penyemangat yang dapa t diasah oleh individu sendiri. Bukan dengan fasilitas yang mewah, bukan pula de ngan kemajuan yang dicapai. Akan tetapi mimpi juga dapat diasah dengan pengalama n pahit yang dirasakan dalam hidup. Aku telah mengalami banyak hal menyakitkan. Sejak kecil, setiap segi dalam hidup ku mesti diperjuangkan seperti perang. Menyerah adalah pilihan yang menghinakan bagiku. Tak pernah aku takluk pada apapun tanpa lebih dulu berjibaku (hal 16). Maryamah Karpov adalah adalah novel terakhir dari tetralogi laskar pelangi. Satu hal yang ingin disampaikan oleh novel ini adalah janganlah kita terlalu silau d engan kemajuan orang lain, karena jika kita hanya silau, kita hanya akan mendapa tkan silaunya saja. Kita dapat menyaingi kemajuan mereka dengan sumber daya yang kita miliki. Kekuatan itu ada pada diri sendiri. Dengan kerja keras untuk mewuj udkan mimpi bersama, kita dapat membuat kapal sendiri untuk mengarungi samudera kehidupan yang luas ini. Kita dapat membuat kapal dengan cara, budaya, sumber da ya manusia, dan sumber daya alam yang kita miliki. Yusuf Efendi Dibaca : 1382 kali. 28 Feb 2011 Istiadat Tanah Negeri Butun, Edisi Teks dan Komentar 28 Feb 2011 Teknik Pembelajaran Dasar Tari Tradisional Melayu 24 Feb 2011 Adat Istiadat Orang Rembong di Flores Barat 17 Feb 2011 Metode dan Teknik dalam Praktek Pekerjaan Sosial « Halaman Resensi Buku

Beranda Berita Opini Artikel Sejarah Melayu Budaya Melayu Sastra Mel ayu Tokoh Melayu Peneliti Melayu Penghargaan Kamus Melayu Ensiklopedi Melayu Agenda Direktori Pautan Forum Resens i Buku Perpustakaan Koleksi Kedai Komentar Tamu Tentang Kami Kerjasama Hubungi Kami Donasi Peta Situs

More About : resensi novel laskar pelangi

A. RESENSI LASKAR PELANGI 1. Identitas Novel Laskar Pelangi Judul : Laskar Pelangi Penulis : Andrea Hirata

Penerbit : Bentang Kota Tempat Terbit : Jl. Pandega Padma 19, Yogyakarta Tahun Terbit : Cetakan III, Juli 2007 Tebal halaman : 533 halaman termasuk juga tentang penulis Harga : Rp.69.000,2. Tujuan Meresensi Novel Banyak orang (teman-teman) yang telah mengatakan bahwa buku ini bagus kepada say a, maka dari itu saya menjadi penasaran dan ingin membacanya. Setelah saya baca ternyata buku ini tidak hanya sekedar bagus tetapi “sangat bagus”, karena di dalamny a banya terdapat pelajaran yang dapat kita ambil tentang keagamaan, persahabatan yang luar biasa, cinta pertama yang indah, ketegaran hidup, bahkan makna sebuah takdir yang tidak bisa kita tebak. Cerita ini memang lain dari cerita biasanya, karena biasanya kita sering membaca novel percintaan yang tidak medidik moral m aupun agama. Novel Laskar Pelangi karya Mas Andrea Hirata ini ceritanya sangat m embuat saya terkesan dengan ceritanya yang menggabungkan dua hal yang berbeda, s astra dan science. Sebuah buku yang pintar hasil dari orang yang pintar. 3. Pokok-pokok Isi Novel (Unsur Instrinsik) a. Tema Persahabatan sepuluh anak yaitu Ikal, Mahar, Lintang, Harun, Syahdan, A Kiong, T rapani, Borek, Kucai dan satu-satunya wanita di kelas mereka, Sahara dari orang kecil yang mempunyai cita-cita yang tinggi dengan bersekolah di pendidikan rakya t kecil Sekolah Muhamadiyah. b. Tokoh dan Perwatakan Aku sebagai ikal : tidak mudah putus asa dan tegar. Ayah ku/ayah ikal : baik hati dan bijaksana. Pak K.A. Harpan Noor : baik hati, ramah dan sabar. Ibu N.A. muslimah Hafsari : sabar, baik hati dan penyayang. Lintang : pantang menyerah dan cerdas. Mahar : kreatif, imajinatif dan cerdas. Trapani : manja dan cerdas. Kucai : hiperaktif, susah diatur dan benyak bicara Sahara : keras kepala, cerdas dan baik hati. A kiong : baik dan sedikit aneh. Harun : baik tetapi agak keterbelakangan mental. Borek : nakal dan susah diatur. c. Alur Di dalam novel ini memakai alur maju, karena dalam ceritanya tidak terdapat kila s balik sehingga membuat pembaca penasaran apa yang akan terjadi di kisah selanj utnya. d. Sudut Pandang Memakai kata ganti orang pertama tunggal atau memakai akuan sertaan, karena dala m penceritaan novel penulis menggunakan kata aku. e. Gaya Bahasa Di sini saya tidak mengetahui gaya bahasanya, karena ada kata-kata yang sulit un tuk dipahami atau dapat kita mengerti. Hal ini dikarenakan untuk menyesuaikan ba hasa berdasarkan tempat yang diceritakan yaitu di Bangka Belitong, daerah terpen cil yang belum meluas bahasanya. f. Latar (Setting) Tempat : di sekolah, di bawah pohon, di gua, dan di rumah. Suasana : menyenangkan, menyedihkan, dan menegangkan. Kapan : siang hari, sore hari, dan malam hari. 4. Keunggulan Novel a. Organisasi

Dalam hal organisasi novel ini, hubungan antara satu bagian dengan bagian yang l ain harmonis dan dapat menimbulkan rasa penasaran pembaca. Karena dalam pencerit aan isi novel tidak berbelit-belit. b. Isi Kita dapat mengetahui arti perjuangan hidup dalam kemiskinan yang membelit dan c ita-cita yang gagah berani dalam kisah tokoh utama buku ini Ikal, akan menuntun kita dengan semacam keanggunan dan daya tarik agar kita dapat melihat ke dalam d iri sendiri dengan penuh pengharapan, agar kita menolak semua keputusasaan dan k etakberdayaan kita sendiri. Secarah keseluruhan saya menilai novel ini bagus dan membangun. Novel laskar pelangi ini juga sarat hikmah, dakwah, dan rasa persaha batan yang sangat kental. Tuturannya mengalir, menyentuh, mencerahkan, menggelik an, membidik pusat kesadaran, dan jauh dari sifat menggurui. c. Bahasa Bahasa yang digunakan tidak berbelit-belit walaupun ada kata-kata yang kita tida k tahu maknanya dan yang belum dapat kita pahami, dikarenakan cerita menyesuaika n tempat daerah Belitong. 5. Nilai-nilai Novel (Unsur Ekstrinsik) Kita dapat mengambil pelajaran bahwa bagaimanapun hidup yang kita jalani, kita h arus senantiasa bersyukur. Kita dapat mengetahui arti perjuangan hidup dalam kem iskinan yang membelit cita-cita yang tingggi. Pada dasarnya kemiskinan tidak ber korelasi/berinteraksi langsung dengan kebodohan atau kegeniusan. Banyak sekali p elajaran yang dapat kita teladani dari novel tersebut seperti keagamaan, moral, cinta pertama yang indah, ketegaran hidup, bahkan makna sebuah takdir yang tidak bisa kita tebak. Selain itu kita dapat mencontoh tokoh-tokoh yang dapat ditelad ani seperti tokoh-tokoh manusia sederhana, jujur, tulus, gigih, penuh dedikasi, ulet, sabar, tawakal, takwa, dan sebagainya. Lebih lanjut tentang: Resensi Laskar Pelangi

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->