Pelacuran atau prostitusi adalah penjualan jasa seksual, seperti seks oral atau hubungan seks, untuk uang

. Seseorang yang menjual jasa seksual disebut pelacur, yang kini sering disebut dengan istilah pekerja seks komersial (PSK). Dalam pengertian yang lebih luas, seseorang yang menjual jasanya untuk hal yang dianggap tak berharga juga disebut melacurkan dirinya sendiri, misalnya seorang musisi yang bertalenta tinggi namun lebih banyak memainkan lagu -lagu komersil. Di Indonesia pelacur sebagai pelaku pelacuran sering disebut sebagai sundal atau sundel. Ini menunjukkan bahwa prilaku perempuan sundal itu sangat begitu buruk hina dan menjadi musuh masyarakat, mereka kerap digunduli bila tertangkap aparat penegak ketertiban, Mereka juga digusur karena dianggap melecehkan kesucian agama dan mereka juga diseret ke pengadilan karena melanggar hukum. Pekerjaan melacur atau nyundal sudah dikenal di masyarakat sejak berabad lampau ini terbukti dengan banyaknya catatan tercecer seputar mereka dari masa kemasa. Sundal selain meresahkan juga mematikan, karena merekalah yang ditengarai menyebarkan penyakit AIDS akibat perilaku seks bebas tanpa penPelacur Pelacur adalah profesi yang menjual jasa untuk memuaskan kebutuhan seksual pelanggan. Biasanya pelayanan ini dalam bentuk menyewakan tubuhnya. Pandangan terhadap pelacuran

Prostitusi hukum dan diatur prostitusi (pertukaran seks untuk uang) hukum, tetapi pelacuran adalah ilegal, prostitusitidakdiatur Prostitusi ilegal Tidak ada data Di kalangan masyarakat Indonesia, pelacuran dipandang negatif, dan mereka yang menyewakan atau menjual tubuhnya sering dianggap sebagai sampah masyarakat. Ada pula pihak yang menganggap pelacuran sebagai sesuatu yang buruk, malah jahat, namun toh dibutuhkan (evil necessity). Pandangan ini didasarkan pada anggapan bahwa kehadiran pelacuran bisa me nyalurkan nafsu seksual pihak yang membutuhkannya (biasanya kaum laki-laki); tanpa penyaluran itu, dikhawatirkan para pelanggannya justru akan menyerang dan memperkosa kaum perempuan baik-baik. Salah seorang yang mengemukakan pandangan seperti itu adalahAugustinus dari Hippo (354-430), seorang bapak gereja. Ia mengatakan bahwa pelacuran itu ibarat "selokan yang menyalurkan air yang busuk dari kota demi menjaga keseh atan warga kotanya."Pandangan yang negatif terhadap pelacur seringkali didasarkan pada standar ganda, karena umumnya para pelanggannya tidak dikenaistigma demikian.gaman bernama kondom.

Kecamatan Gabus Wetan di Indramayu terkenal sebagai sumber pelacur. Kekuasaan raja Mataram sangat besar. Sebagian selir raja ini dapat meningkat statusnya karena melahirkan anak-anak raja. mengambil banyak selir berarti mempercepat proses reproduksi kekuasaan para raja dan membuktikan adanya kejayaan spiritual. termasuk air. Perempuan yang dijadikan selir tersebut berasal dari daerah tertentu yang terkenal banyak mempunyai perempuan cantik dan memikat. dan Kuningan di Jawa Barat. Sebagian lagi merupakan persembahan dari kerajaan lain. Mataram merupakan kerajaan Islam Jawa yang terletak di sebelah selatan Jawa Tengah. bumi dan seluruh kehidupannya. (1997:2) bertambah kuat posisi raja di mata masyarakat. konsep kekuasaan seorang raja digambarkan sebagai kekuasaan yang sifatnya agung dan mulia (binatara). Banyuwangi dan Lamongan di Jawa Timur. at al. Seluruh yang ada di atas Jawa. Dari sisi ketangguhan fisik. Karawang. Mereka seringkali dianggap menguasai segalanya. Namun menelusuri sejarah pelacuran di Indonesia dapat dirunut mulai dari masa kerajaan-kerajaan Jawa. (Hull. dan segala sesuatunya adalah milik raja. daun. di mana perdagangan perempuan di pada saat itu merupakan bagian pelengkap dari sistem pemerintahan feodal (Hull. Anggapan ini apabila dikaitkan dengan eksistensi perempuan saat ini mempunyai arti tersendiri. 1997:2). Raja mempunyai kekuasaan penuh. rumput. Grobogan dan Wonogiri di Jawa Tengah. serta Blitar. Pati. menurut Hull. at al. ada juga selir yang berasal dari lingkungan keluarganya dengan maksud agar keluarga tersebut mempunyai keterkaitan dengan keluarga istana. tidak hanya tanah dan harta benda. Makin banyaknya selir yang dipelihara. Hanya raja dan kaum bangsawan dalam . dan menurut sejarah daerah ini merupakan salah satu sumber perempuan muda untuk dikirim ke istana Sultan Cirebon sebagai selir. dan sampai sekarang daerah tersebut masih terkenal sebagai sumber wanita pelacur untuk daerah kota. tetapi juga nyawa hamba sahaya. 1997:1 -22). Malang. Dua kerajaan yang sangat lama berkuasa di Jawa berdiri tahun 1755 ketika kerajaan Mataram terbagi dua menjadi Kesunanan Surakarta dan Kesultanana Yogyakarta. Pada masa itu. Kekuasaan raja yang tak terbatas ini juga tercermin dari banyaknya selir yang dimilikinya. Koentjoro (1989:3) mengidentifikasi 11 kabupaten di Jawa yang dalam sejarah terkenal sebagai pemasok perempuan untuk kerajaan. Tugas raja pada saat itu adalah menetapkan hukum dan menegakkan keadilan. Jepara. Beberapa orang selir tersebut adalah puteri bangsawan yang diserahkan kepada raja sebagai tanda kesetiaan. Reputasi daerah seperti ini masih merupakan legenda sampai saat ini. dan semua orang diharuskan mematuhinya tanpa terkecuali. Daerahdaerah tersebut adalah Kabupaten Indramayu.Sekilas Sejarah Pelacuran di Indonesia Pelacuran telah terjadi sepanjang sejarah manusia.

dalam Hull. baik penduduk pribumi maupun masyarakat kolonial menganggap berbahaya mempunyai hubungan antar ras yang tidak menentu. Dari satu sisi. isu tersebut telah menimbulkan banyak dilema bagi penduduk pribumi dan non-pribumi. 1997:3). Perkawinan antar ras umumnya ditentang atau dilarang. Jika raja memutuskan tidak mengambil dan memasukkan dalam lingkungan istana. kenyataan juga terjadi di seluruh Asia. Pemuasan seks untuk para serdadu. Di Bali misalnya. Oleh karena itu. Dalam hal ini. 1997:3).masyarakat yang mempunyai selir. Kondisi tersebut ditunjang pula oleh masyarakat yang menjadikan aktivitas memang tersedia. Kondisi tersebut terlihat dengan adanya sistem perbudakan tradisional dan perseliran yang dilaksanakan untuk memenuhi kebutuhan seks masyarakat Eropa. sis tem perhambaan dan pengabdian seumur hidup merupakan hal yang biasa dijumpai dalam sistem feodal. pedagang. Akibatnya hubungan antar ras ini biasanya dilaksanakan secara diam-diam. Perlakuan terhadap perempuan sebagai barang dagangan tidak terbatas hanya di Jawa. secara otomatis menjadi milik raja. seperti tercermin dari tindakan untuk memperbanyak selir. status perempuan pada zaman kerajaan Mataram adalah sebagai upeti (barang antaran) dan sebagai selir. dan para utusan menjadi isu utama dalam pembentukan budaya asing yang masuk ke Nusantara. 1997:4). terutama karena banyak keluarga pribumi yang menjual anak perempuannya untuk mendapatkan imbalan materi dari para pelanggan baru (para lelaki bujangan) tersebut. Pada sisi lain. banyaknya lelaki bujangan yang dibawa pengusaha atau dikirim oleh pemerintah kolonial untuk datang ke Indonesia. maka dia akan dikirim ke luar kota untuk menjadi pelacur. Umumnya. di mana perbudakan. (Hull. Perilaku kehidupan seperti ini tampaknya tidak mengganggu nilai-nilai sosial pada saat itu dan dibiarkan saja oleh para pemimpin mereka. . Dari semula. seorang janda dari kasta rendah tanpa adanya dukungan yang kuat dari keluarga. Tindakan ini mencerminkan dukungan politik dan keagungan serta kekuasaan raja. Mempersembahkan saudara atau anak perempuan kepada bupati atau pejabat tinggi merupakan tindakan yang didorong oleh hasrat untuk memperbesar dan memperluas kekuasaan. Bentuk industri seks yang lebih terorganisasi berkembang pesat pada periode penjajahan Belanda (Hull. aktivitas ini berkembang di daerah-daerah sekitar pelabuhan di Nusantara. Sebagian dari penghasilannya harus diserahkan kepada raja secara teratur (ENI. hubungan gelap (sebagai suami-istri tapi tidak resmi) dan hubungan yang hanya dilandasi dengan motivasi komersil merupakan pilihan yang tersedia bagi para lelaki Eropa. telah menyebabkan adanya permintaan pelayanan seks ini. dan perseliran antar ras juga tidak diperkenankan.

1997:5). pada waktu itu disebut sebagai wanita publik menurut peraturan yang dikeluarkan tahun 1852. peraturan yang melarang perempuan penghibur memasuki pelabuhan tanpa izin menunjukkan kegagalan pelaksanaan rehabilitasi dan juga sifat toleransi komersialisasi seks pada saat itu (ENOI. termasuk juga membingungkan pemerintah. perempuan tersebut harus segera menghentikan praktiknya dan harus diasingkan dalam suatu lembaga (inrigting voor zieke publieke vrouwen) yang didirikan khusus untuk menangani perempuan berpenyakit tersebut. Tahun 1852. panti perbaikan perempuan (house of correction for women) didirikan dengan maksud untuk merehabilitasi para perempuan yang bekerja sebagai pemuas kebutuhan seks orang -orang Eropa dan melindungi mereka dari kecaman masyarakat.Situasi pada masa kolonial tersebut membuat sakit hati para perempuan Indonesia. Dalam peraturan tersebut. pemerintah mengeluarkan peraturan baru yang menyetujui komersialisasi industri seks tetapi dengana serangkaian aturan untuk menghindari tindakan kejahatan yang timbul akibat aktivitas prostitusi ini. tidak diterima secara baik dalam masyarakat. Seratus enam belas tahun kemudian. Sebaliknya rumah pelacuran diidentifikasikan sebagai tempat konsultasi medis untuk membatasi dampak negatif adanya pelacuran. Jika seorang perempuan ternyata berpenyakit kelamin. 9. Untuk itu pada tahun 1858 disusun penjelasan berkaitan dengan peraturan tersebut dengan maksud untuk menegaskan bahwa peraturan tahun 1852 tidak diartikan sebagai pengakuan bordil sebagai lembaga komersil. Apa yang dikenal dengan wanita tuna susila (WTS) sekarang ini. Semua wanita publik yang terdaftar diwajibkan memiliki kartu kesehatan dan secara rutin (setiap minggu) menjalani pemeriksaan kesehatan untuk mendeteksi adanya penyakit syphilis atau penyakit kelamin lainnya (pasal 8. Meskipun perbedaan antara pengakuan dan . Meskipun istilah istilah yang digunakan berbeda. Maka sekitar tahun 1600-an. karena telah menempatkan mereka pada posisi yang tidak menguntungkan secara hukum. dalam Hull. wanita publik diawasi secara langsung dan secara ketat oleh polisi (pasal 2). Sayangnya peraturan perundangan yang dikeluarkan tersebut membingungkan banyak kalangan pelaku di industri seks. tetapi hal itu telah memberikan kontribusi bagi penelaahan industri seks yang berkaitan dengan karakteristik dan dialek yang digunakan saat ini. Kerangka hukum tersebut masih berlaku hingga sekarang. dan dirugikan dari segi kesejahteraan individu dan sosial. 10. Peraturan tersebut tidak menjelaskan apa dan mana yang dimaksud dengan perempuan baik-baik . pemerintah mengeluarkan peraturan yang melarang keluarga pemeluk agama Kristen mempekerjakan wanita pribumi sebagai pembantu rumah tangga dan melarang setiap orang mengundang perempuan baik-baik untuk berzinah. Pada tahun 1650. para wanita publik tersebut dianjurkan sedapat mungkin melakukan aktivitasnya di rumah bordil. Untuk memudahkan polisi dalam menangani industri seks. 11).

Berdasarkan laporan pada umumnya meskipun telah dikeluarkan banyak peraturan. Sebagian besar dari pekerja tersebut adalah bujangan yang akan menciptakan permintaan terhada aktivitas prostitusi. Cianjur. pemerintah Batavia (kini Jakarta). penyakit kelamin merupakan persoalan serius yang paling mengkhawatirkan pemerintah daerah. pendirian perkebunan-perkebun an di Sumatera dan pembangunan jalan raya serta jalur kereta api telah merangsang terjadinya migrasi tenaga kerja laki-laki secara besar-besaran. Para petugas kesehatan ini pada peringkat kerja ketiga (tidak setara dengan eselon III zaman sekarang yaitu kepala biro pada organisasi pemerintahan) mempunyai kewajiban untuk mengunjungi dan memeriksa wanita publik pada setiap hari Sabtu pagi. Tetapi terbatasnya tenaga medis dan terbatasnya alternatif cara pencegahan membuat upaya mengurangi penyebaran penyakit tersebut menjadi sia-sia (ENOI dalam Hull. Perluasan areal perkebunan terutama di Jawa Barat. pertumbuhan industri gula di Jawa Timur dan Jawa Tengah. terutama setelah diadakannya pembenahan hukum agraria tahun 1870. di mana pada saat itu perekonomian negara jajahan terbuka bagi para penanam modal swasta (Ingleson dalam Hull. pemerintah daerah menetapkan tiga daerah lokalisasi di tiga desa sebagai upaya untuk mengendalikan aktivitas pelacuran dan penyebaran penyakit kelamin. 1997:6). aktivitas pelacuran tetap saja meningkat secara drastis pada abad ke-19. Sedangkan para petugas pada peringkat lebih tinggi (peringkat II) bertanggung jawab untuk mengatur wadah yang diperuntukkan bagi wanita umumnya yang sakit dan perawatan lebih lanjut. Cilacap. tapi tidak cukup jelas bagi masyarakat umum dan wanita publik itu sendiri. 1997:6). para pelacur dilarang beroperasi di luar lokalisasi tersebut. Peratur an pemerintah tahun 1852 secara efektif dicabut digantikan dengan peraturan penguasa daerah setempat. Tahun 1875. Berkaitan dengan aktivitas industri seks ini. Semua pelacur di lokalisasi ini terdaftar dan diharuskan mengikuti pemeriksaan kesehatan secara berkala (Ingleson dalam Hull. Selain itu. 1997:5-6). Bogor.persetujuan sangat jelas bagi aparat pemerintah. Yogyarakta dan Surabaya . Di Surabaya misalnya. Pengalihan tanggung jawab pengawasan rumah bordil ini menghendaki upaya tertentu agar setiap lingkungan permukiman membuat sendiri peraturan untuk mengendalikan aktivitas prostitusi setempat. mengeluarkan peraturan berkenaan dengan pemeriksaan kesehatan. 1997:6). antara lain bahwa para petugas kesehatan bertanggung jawab untuk memeriksa kesehatan para wanita publik. (Hull. Selama pembanguna kereta api yang menghubungkan kota-kota di Jawa seperti Batavia. Bandung. Dua dekade kemudian tanggung jawab pengawasan rumah bordil dialihkan dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah. Peraturan tersebut menyebutkan.

Norma-norma sosial jelas mengharamkan prostitusi. Hull juga menambahkan. Namun masa jaman sekarang prostitusi oleh masyarakat Indonesia dianggap menjadi sesuatu yang biasa. kawasan pelacuran pertama adalah di dekat Stasiun Semut dan di dekat pelabuhan di daerah Kremil. Walaupun prostitusi sudah ada sejak dulu. bahkan sudah ada UU mengenai praktek prostitusi yang ditinjau dari segi Yuridis dalam KUHP yaitu mereka menyediakan sarana tempat persetubuhan (pasal 296 KUHP). Balongan. A. meskipun peranan kereta api sebagai angkutan umum telah menurun dan keberadaan tempat-tempat penginapan atau hotel-hotel di sekitar stasiun kereta api juga telah berubah. Sebagian besar dari kompleks pelacuran ini masih beroperasi sampai sekarang. dan Bangunsari. Contohnya di Bandung. kompleks pelacuran berkembang di beberapa lokasi di sekitar stasiun kereta api termasuk Kebonjeruk. (1997:7) di Yogyakarta. Tandes. Sukamanah. Kebontangkil. tapi juga pembangunan tempat-tempat penginapan dan fasilitas lainnya meningkat bersamaan dengan meningkatnya aktivitas pembangunan konstruksi jalan kereta api. dan Saritem. Pengerti n Prostit si Prostit si dalam bahasa diarti an sebagai pelacur atau penjual jasa seksual atau disebut juga sebagai pekerja sek komersial. dan Sosrowijayan. tak hanya aktivitas pelacuran yang timbul untuk melayani para pekerja bangunan di setiap kota yang dilalui kereta api. Menurut istilah prostitusi di aertikan sebagai suatu pekerjaan yang bersi at menyerahkan diri atau menjual jasa kepada umum untuk melakukan perbuatan-perbuatan seksual dengan mendapatkan upah. Prostitusi atau pelacuran sebagai salah satu penyakit masyarakat mempunyai sejarah yang panjang (sejak adanya kehidupan manusia telah diatur oleh norma-norma perkawinan. sudah ada pelacuran sebagai salah satu penyimpangan dari pada norma-norma perkawinan tersebut dan tidak ada habis-habisnya yang terdapat di semua negara di dunia. .tahun 1884. namun masalah prostitusi yang dulu dianggap tabu atau tidak biasa. Oleh sebab itu dapat dimengerti mengapa banyak kompleks pelacuran tumbuh di sekitar stasiun kereta api hampir di setiap kota. kompleks pelacuran didirikan di daerah Pasarkembang. Di Surabaya.

bahkan terorganisir secara profesional. sama saja ia ingin hidup secara hina. membunuh orang. prostitusi merupakan salah satu perbuatan zina dan zina hukumnya haram dan termasuk kategori dosa besar.mereka yang mencarikan pelanggaran bagi pelacur (pasal 506 KUHP). tetapi alasan ekonomi dan psikologi lah yang paling menonjol. . alias mati. kecuali disebabkan oleh salah satu dari tiga hal : orang yang sudah menikah berzina. Nabi Muhammad SAW bersabda ³Tidak halal darah bagi seorang muslim yang bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah dan aku adalah Rasulnya. Kalau toh ada. tempat-tempat melakukan zina di sediakan. Sebab-sebab terjadinya pelacuran haruslah di lihat dan dicermati pada faktor-faktor endogen (dari dalam) dan eksogen (dari luar). Banyak sekali alasan-alasan mengapa wanita dan gadis-gadis memasuki pekerjaan ini. Secara nalar sulit kita bayangkan ada orang yang ingin hidup untuk menjadi pelacur. orang itu benar-benar tidak normal dan sudah hilang kewarasannya. di lindungi oleh hukum dan mungkin mendapat fasilitas-fasilitas tertentu. Kelas taman sampai hotel berbintang. Apalagi dalam agama Islam. Ini adalah PR bagi bangsa kita untuk mencari sebab-sebab yang merongrong seseorang itu melacur. Dunia kesehatan juga menunjukkan dan memperingatkan bahaya penyakit kelamin yang mengerikan seperti HIV / AIDS akibat adanya pelacuran di tengah masyarakat. perbuatan zina masih saja ada. Meski demikian. Konsumennya berjubel dari orang miskin sampai orang kaya. Pejabat dan sebagai rakyat pengemudi becak dan juga direktur. Mesti ada sebab-sebab lain yang mendorong seseorang itu melacur. Ada beberapa ayat yang menjelaskan tentang hukuman bagi orang yang berzina yaitu para pezina yang masih bujang di hukum cambuk delapan puluh kali (An-Nur : 4) dan ³yang sudah menikah dilempari batu 100 kali. meninggalkan agamanya serta memisahkan dari jamaah´. dan mereka yang menjual eprempuan dan laki-klaki di bawah umur untuk dijadikan pelacur (pasal 297 KUHP).

Penghuninya secara periodik harus memeriksakan diri pada dokter atau petugas kesehatan dan mendapatkan pelayanan kesehatan berupa pengobatan seperti pemberian suntikan untuk menghindari penyakitpenyakit berkenaan dengan prostitusi. prostitusi pada dasarnya terbagi menjadi dua jenis. C. Prostitusi yang tidak terdaftar bukan lokalisasi.Sampai sekarang prostitusi belum bisa dihentikan. 2. Prostitusi yang terdaftar dan memperoleh perizinan dalam bentuk (lokalisasi) dari pemerintah daerah melalui dinas sosial dibantu pengamanan kepolisian dan bekerja sama dengan dinas kesehatan. Umumnya mereka di lokalisasi suatu daerah / area tertentu. sulit untuk memutus dan melepasnya. B. salah satu caranya hanyalah menekan laju praktek-praktek yang berbau prostitusi. Bentuk-bentuk Prostitusi Menurut aktivitasnya. pemerintah saja seolah-olah melegalkan praktek ini. yang antara lain : jumlah penduduk yang besar dengan komposisi penduduk wanita lebih banyak daripada penduduk laki-laki. prostitusi seperti mendarah daging. baik perorangan maupun kelompok terorganisir. antara lain : 1. Faktor-faktor Pengembang Prostitusi Dengan menerapkan teori swab maka faktor-faktor yang menyebabkan timbul dan berkembangnya prostitusi antara lain : 1. . Kondisi kependudukan. Adapun yang termasuk keluarga ini adalah mereka yang melakukan kegiatan prostitusi secara gelap dan licin.

dan ringannya sanksi hukum positif yang diterapkan terhadap pelanggaran hukum. Dari aspek kewanitaan.2. 4. kurangnya kontrol di lingkungan permukian oleh masyarakat sekitar. taman-taman kota. Dampak negatif tersebut antara lain : a. b. pengelola hotel / penginapan. prostitusi merupakan kegiatan merendahkan martabat wanita. baik lingkungan sosial maupun lingkungan alam (fisik) yang menunjang. serta lingkungan alam seperti : jalur-jalur jalan. prostitusi dlam prakteknya sering terjadi pemerasan tenaga kerja . Pelanggaran hukum tersebut dapat dilakukan oleh pelaku (subyek) prostitusi. D. d. Lemahnya penerapan. tempat-tempat lain yang sepi dan kekurangan fasilitas penerangan di malam hari sangat menunjang untuk terjadinya praktek prostitusi. dan lain-lain. Kondisi lingkungan. Perkembangan teknologi yang antara lain : teknologi industri kosmetik termasuk operasi plastik. alat-alat dan obat pencegah kehamilan. Dampak ± dampak Prostitusi Prostitusi ditinjau dari sudut manapun merupakan suatu kegiatan yang berdampak tidak baik (negatif). Dari aspek ekonomi. Dari aspek pendidikan prostitusi merupakan kegiatan yang demoralisasi. mucikari. c. 3. secara sosialogis prostitusi merupakan perbuatan amoral yang bertentangan dengan norma dan etika yang ada di dalam masyarakat.

Saat ini pemerintah sudah membuat hukum bagi pelanggarnya yang tercantum dalam pasal 296 KUHP. Dari aspek kesehatan. . praktek prostitusi merupakan media yang sangat efektif untuk menularnya penyakit kelamin dan kandungan yang sangat berbahaya. Namun kenyataannya prostitusi masih tetap ada. antara lain : a). E. prostitusi dapat menurunkan kualitas dan estetika lingkungan perkotaan. pengaturan dan pencegahan penyakit yang ditimbulkan karena praktek prostitusi. Secara preventif. Merealisasi ketentuan hukum pidana terhadap pelanggarannya. dan pasal 297 KUHP. secara represif. Penyelenggaraan pendidikan seks di sekolah. Upaya Penanganan Prostitusi Sudah banyak upaya menghapus praktek prostitusi dari lingkungan pergaulan masyarakat. Beberapa usaha dan tindakan pemerintah dalam menangani permasalahan dan dampak negatif prostitusi adalah : 1. Tindakan pengawasan. Siswa perlu mendapat pengetahuan yang lebih tentang pendidikan seks. Dari aspek kamtibmas praktek prostitusi dapat menimbulkan kegiatankegiatan kriminal g. 2. antara lain : a). pasal 506 KUHP. Dari aspek penataan kota. b).e. agar mereka tahu bahwa melakukan seks dibawah umur atau sebelum menikah itu merupakan perubuatan zina dan berdosa besar. f.

c). . Penyuluhan bahaya penyakit yang diakibatkan oleh praktek prostitusi. masyarakat haru tahu bahaya dan akib at dari prostitusi yaitu penyakit yang ditimbulkan seperti penyakit kelamin dan HIV / AIDS yang tidak ada obatnya.b). Pertolongan psikologis ± psikiatris terhadap para gadis yang menunjukkan gejala kedewasaan kehidupan seksual dan bantuan perawatan anak-anak di sekolah. Selain dosa yang diterima.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful