Pelacuran atau prostitusi adalah penjualan jasa seksual, seperti seks oral atau hubungan seks, untuk uang

. Seseorang yang menjual jasa seksual disebut pelacur, yang kini sering disebut dengan istilah pekerja seks komersial (PSK). Dalam pengertian yang lebih luas, seseorang yang menjual jasanya untuk hal yang dianggap tak berharga juga disebut melacurkan dirinya sendiri, misalnya seorang musisi yang bertalenta tinggi namun lebih banyak memainkan lagu -lagu komersil. Di Indonesia pelacur sebagai pelaku pelacuran sering disebut sebagai sundal atau sundel. Ini menunjukkan bahwa prilaku perempuan sundal itu sangat begitu buruk hina dan menjadi musuh masyarakat, mereka kerap digunduli bila tertangkap aparat penegak ketertiban, Mereka juga digusur karena dianggap melecehkan kesucian agama dan mereka juga diseret ke pengadilan karena melanggar hukum. Pekerjaan melacur atau nyundal sudah dikenal di masyarakat sejak berabad lampau ini terbukti dengan banyaknya catatan tercecer seputar mereka dari masa kemasa. Sundal selain meresahkan juga mematikan, karena merekalah yang ditengarai menyebarkan penyakit AIDS akibat perilaku seks bebas tanpa penPelacur Pelacur adalah profesi yang menjual jasa untuk memuaskan kebutuhan seksual pelanggan. Biasanya pelayanan ini dalam bentuk menyewakan tubuhnya. Pandangan terhadap pelacuran

Prostitusi hukum dan diatur prostitusi (pertukaran seks untuk uang) hukum, tetapi pelacuran adalah ilegal, prostitusitidakdiatur Prostitusi ilegal Tidak ada data Di kalangan masyarakat Indonesia, pelacuran dipandang negatif, dan mereka yang menyewakan atau menjual tubuhnya sering dianggap sebagai sampah masyarakat. Ada pula pihak yang menganggap pelacuran sebagai sesuatu yang buruk, malah jahat, namun toh dibutuhkan (evil necessity). Pandangan ini didasarkan pada anggapan bahwa kehadiran pelacuran bisa me nyalurkan nafsu seksual pihak yang membutuhkannya (biasanya kaum laki-laki); tanpa penyaluran itu, dikhawatirkan para pelanggannya justru akan menyerang dan memperkosa kaum perempuan baik-baik. Salah seorang yang mengemukakan pandangan seperti itu adalahAugustinus dari Hippo (354-430), seorang bapak gereja. Ia mengatakan bahwa pelacuran itu ibarat "selokan yang menyalurkan air yang busuk dari kota demi menjaga keseh atan warga kotanya."Pandangan yang negatif terhadap pelacur seringkali didasarkan pada standar ganda, karena umumnya para pelanggannya tidak dikenaistigma demikian.gaman bernama kondom.

dan sampai sekarang daerah tersebut masih terkenal sebagai sumber wanita pelacur untuk daerah kota. Mataram merupakan kerajaan Islam Jawa yang terletak di sebelah selatan Jawa Tengah. dan menurut sejarah daerah ini merupakan salah satu sumber perempuan muda untuk dikirim ke istana Sultan Cirebon sebagai selir. Makin banyaknya selir yang dipelihara. Beberapa orang selir tersebut adalah puteri bangsawan yang diserahkan kepada raja sebagai tanda kesetiaan. Kecamatan Gabus Wetan di Indramayu terkenal sebagai sumber pelacur. di mana perdagangan perempuan di pada saat itu merupakan bagian pelengkap dari sistem pemerintahan feodal (Hull. Namun menelusuri sejarah pelacuran di Indonesia dapat dirunut mulai dari masa kerajaan-kerajaan Jawa. Hanya raja dan kaum bangsawan dalam . Seluruh yang ada di atas Jawa.Sekilas Sejarah Pelacuran di Indonesia Pelacuran telah terjadi sepanjang sejarah manusia. Sebagian lagi merupakan persembahan dari kerajaan lain. serta Blitar. termasuk air. Perempuan yang dijadikan selir tersebut berasal dari daerah tertentu yang terkenal banyak mempunyai perempuan cantik dan memikat. Daerahdaerah tersebut adalah Kabupaten Indramayu. (1997:2) bertambah kuat posisi raja di mata masyarakat. Kekuasaan raja Mataram sangat besar. 1997:2). Reputasi daerah seperti ini masih merupakan legenda sampai saat ini. dan semua orang diharuskan mematuhinya tanpa terkecuali. Kekuasaan raja yang tak terbatas ini juga tercermin dari banyaknya selir yang dimilikinya. tidak hanya tanah dan harta benda. at al. Anggapan ini apabila dikaitkan dengan eksistensi perempuan saat ini mempunyai arti tersendiri. (Hull. daun. Sebagian selir raja ini dapat meningkat statusnya karena melahirkan anak-anak raja. mengambil banyak selir berarti mempercepat proses reproduksi kekuasaan para raja dan membuktikan adanya kejayaan spiritual. tetapi juga nyawa hamba sahaya. bumi dan seluruh kehidupannya. Dua kerajaan yang sangat lama berkuasa di Jawa berdiri tahun 1755 ketika kerajaan Mataram terbagi dua menjadi Kesunanan Surakarta dan Kesultanana Yogyakarta. Jepara. Pada masa itu. Pati. Banyuwangi dan Lamongan di Jawa Timur. rumput. Malang. konsep kekuasaan seorang raja digambarkan sebagai kekuasaan yang sifatnya agung dan mulia (binatara). Grobogan dan Wonogiri di Jawa Tengah. Mereka seringkali dianggap menguasai segalanya. ada juga selir yang berasal dari lingkungan keluarganya dengan maksud agar keluarga tersebut mempunyai keterkaitan dengan keluarga istana. menurut Hull. Dari sisi ketangguhan fisik. at al. Karawang. Raja mempunyai kekuasaan penuh. dan segala sesuatunya adalah milik raja. 1997:1 -22). dan Kuningan di Jawa Barat. Koentjoro (1989:3) mengidentifikasi 11 kabupaten di Jawa yang dalam sejarah terkenal sebagai pemasok perempuan untuk kerajaan. Tugas raja pada saat itu adalah menetapkan hukum dan menegakkan keadilan.

dalam Hull. Pada sisi lain. status perempuan pada zaman kerajaan Mataram adalah sebagai upeti (barang antaran) dan sebagai selir. 1997:3). aktivitas ini berkembang di daerah-daerah sekitar pelabuhan di Nusantara. telah menyebabkan adanya permintaan pelayanan seks ini. (Hull. dan para utusan menjadi isu utama dalam pembentukan budaya asing yang masuk ke Nusantara. baik penduduk pribumi maupun masyarakat kolonial menganggap berbahaya mempunyai hubungan antar ras yang tidak menentu. Oleh karena itu. 1997:3). banyaknya lelaki bujangan yang dibawa pengusaha atau dikirim oleh pemerintah kolonial untuk datang ke Indonesia. Sebagian dari penghasilannya harus diserahkan kepada raja secara teratur (ENI. Tindakan ini mencerminkan dukungan politik dan keagungan serta kekuasaan raja. Mempersembahkan saudara atau anak perempuan kepada bupati atau pejabat tinggi merupakan tindakan yang didorong oleh hasrat untuk memperbesar dan memperluas kekuasaan. maka dia akan dikirim ke luar kota untuk menjadi pelacur. Perkawinan antar ras umumnya ditentang atau dilarang. di mana perbudakan. Umumnya. Bentuk industri seks yang lebih terorganisasi berkembang pesat pada periode penjajahan Belanda (Hull. Jika raja memutuskan tidak mengambil dan memasukkan dalam lingkungan istana.masyarakat yang mempunyai selir. Kondisi tersebut ditunjang pula oleh masyarakat yang menjadikan aktivitas memang tersedia. seperti tercermin dari tindakan untuk memperbanyak selir. isu tersebut telah menimbulkan banyak dilema bagi penduduk pribumi dan non-pribumi. Pemuasan seks untuk para serdadu. Dalam hal ini. sis tem perhambaan dan pengabdian seumur hidup merupakan hal yang biasa dijumpai dalam sistem feodal. terutama karena banyak keluarga pribumi yang menjual anak perempuannya untuk mendapatkan imbalan materi dari para pelanggan baru (para lelaki bujangan) tersebut. Dari semula. 1997:4). pedagang. secara otomatis menjadi milik raja. Akibatnya hubungan antar ras ini biasanya dilaksanakan secara diam-diam. Kondisi tersebut terlihat dengan adanya sistem perbudakan tradisional dan perseliran yang dilaksanakan untuk memenuhi kebutuhan seks masyarakat Eropa. Dari satu sisi. hubungan gelap (sebagai suami-istri tapi tidak resmi) dan hubungan yang hanya dilandasi dengan motivasi komersil merupakan pilihan yang tersedia bagi para lelaki Eropa. kenyataan juga terjadi di seluruh Asia. seorang janda dari kasta rendah tanpa adanya dukungan yang kuat dari keluarga. . Perilaku kehidupan seperti ini tampaknya tidak mengganggu nilai-nilai sosial pada saat itu dan dibiarkan saja oleh para pemimpin mereka. dan perseliran antar ras juga tidak diperkenankan. Perlakuan terhadap perempuan sebagai barang dagangan tidak terbatas hanya di Jawa. Di Bali misalnya.

Dalam peraturan tersebut. Seratus enam belas tahun kemudian. 1997:5). Untuk memudahkan polisi dalam menangani industri seks. para wanita publik tersebut dianjurkan sedapat mungkin melakukan aktivitasnya di rumah bordil. pemerintah mengeluarkan peraturan yang melarang keluarga pemeluk agama Kristen mempekerjakan wanita pribumi sebagai pembantu rumah tangga dan melarang setiap orang mengundang perempuan baik-baik untuk berzinah. tidak diterima secara baik dalam masyarakat. 10. tetapi hal itu telah memberikan kontribusi bagi penelaahan industri seks yang berkaitan dengan karakteristik dan dialek yang digunakan saat ini. Untuk itu pada tahun 1858 disusun penjelasan berkaitan dengan peraturan tersebut dengan maksud untuk menegaskan bahwa peraturan tahun 1852 tidak diartikan sebagai pengakuan bordil sebagai lembaga komersil. wanita publik diawasi secara langsung dan secara ketat oleh polisi (pasal 2). Tahun 1852. Semua wanita publik yang terdaftar diwajibkan memiliki kartu kesehatan dan secara rutin (setiap minggu) menjalani pemeriksaan kesehatan untuk mendeteksi adanya penyakit syphilis atau penyakit kelamin lainnya (pasal 8. peraturan yang melarang perempuan penghibur memasuki pelabuhan tanpa izin menunjukkan kegagalan pelaksanaan rehabilitasi dan juga sifat toleransi komersialisasi seks pada saat itu (ENOI. Apa yang dikenal dengan wanita tuna susila (WTS) sekarang ini. pada waktu itu disebut sebagai wanita publik menurut peraturan yang dikeluarkan tahun 1852. 9. Jika seorang perempuan ternyata berpenyakit kelamin. Sebaliknya rumah pelacuran diidentifikasikan sebagai tempat konsultasi medis untuk membatasi dampak negatif adanya pelacuran. dalam Hull. karena telah menempatkan mereka pada posisi yang tidak menguntungkan secara hukum.Situasi pada masa kolonial tersebut membuat sakit hati para perempuan Indonesia. dan dirugikan dari segi kesejahteraan individu dan sosial. pemerintah mengeluarkan peraturan baru yang menyetujui komersialisasi industri seks tetapi dengana serangkaian aturan untuk menghindari tindakan kejahatan yang timbul akibat aktivitas prostitusi ini. Maka sekitar tahun 1600-an. panti perbaikan perempuan (house of correction for women) didirikan dengan maksud untuk merehabilitasi para perempuan yang bekerja sebagai pemuas kebutuhan seks orang -orang Eropa dan melindungi mereka dari kecaman masyarakat. Kerangka hukum tersebut masih berlaku hingga sekarang. Peraturan tersebut tidak menjelaskan apa dan mana yang dimaksud dengan perempuan baik-baik . 11). Pada tahun 1650. termasuk juga membingungkan pemerintah. Sayangnya peraturan perundangan yang dikeluarkan tersebut membingungkan banyak kalangan pelaku di industri seks. Meskipun istilah istilah yang digunakan berbeda. perempuan tersebut harus segera menghentikan praktiknya dan harus diasingkan dalam suatu lembaga (inrigting voor zieke publieke vrouwen) yang didirikan khusus untuk menangani perempuan berpenyakit tersebut. Meskipun perbedaan antara pengakuan dan .

penyakit kelamin merupakan persoalan serius yang paling mengkhawatirkan pemerintah daerah. Peratur an pemerintah tahun 1852 secara efektif dicabut digantikan dengan peraturan penguasa daerah setempat. Cilacap. Peraturan tersebut menyebutkan. tapi tidak cukup jelas bagi masyarakat umum dan wanita publik itu sendiri. Di Surabaya misalnya. (Hull. Berdasarkan laporan pada umumnya meskipun telah dikeluarkan banyak peraturan. pemerintah daerah menetapkan tiga daerah lokalisasi di tiga desa sebagai upaya untuk mengendalikan aktivitas pelacuran dan penyebaran penyakit kelamin. Berkaitan dengan aktivitas industri seks ini. Tahun 1875. Pengalihan tanggung jawab pengawasan rumah bordil ini menghendaki upaya tertentu agar setiap lingkungan permukiman membuat sendiri peraturan untuk mengendalikan aktivitas prostitusi setempat. pendirian perkebunan-perkebun an di Sumatera dan pembangunan jalan raya serta jalur kereta api telah merangsang terjadinya migrasi tenaga kerja laki-laki secara besar-besaran. Cianjur. Yogyarakta dan Surabaya . Sebagian besar dari pekerja tersebut adalah bujangan yang akan menciptakan permintaan terhada aktivitas prostitusi. Selain itu. Bandung. antara lain bahwa para petugas kesehatan bertanggung jawab untuk memeriksa kesehatan para wanita publik. Bogor. pemerintah Batavia (kini Jakarta). Semua pelacur di lokalisasi ini terdaftar dan diharuskan mengikuti pemeriksaan kesehatan secara berkala (Ingleson dalam Hull. mengeluarkan peraturan berkenaan dengan pemeriksaan kesehatan. Perluasan areal perkebunan terutama di Jawa Barat. Sedangkan para petugas pada peringkat lebih tinggi (peringkat II) bertanggung jawab untuk mengatur wadah yang diperuntukkan bagi wanita umumnya yang sakit dan perawatan lebih lanjut. 1997:5-6). 1997:6). terutama setelah diadakannya pembenahan hukum agraria tahun 1870. pertumbuhan industri gula di Jawa Timur dan Jawa Tengah. 1997:6). Selama pembanguna kereta api yang menghubungkan kota-kota di Jawa seperti Batavia. Para petugas kesehatan ini pada peringkat kerja ketiga (tidak setara dengan eselon III zaman sekarang yaitu kepala biro pada organisasi pemerintahan) mempunyai kewajiban untuk mengunjungi dan memeriksa wanita publik pada setiap hari Sabtu pagi. para pelacur dilarang beroperasi di luar lokalisasi tersebut.persetujuan sangat jelas bagi aparat pemerintah. aktivitas pelacuran tetap saja meningkat secara drastis pada abad ke-19. Tetapi terbatasnya tenaga medis dan terbatasnya alternatif cara pencegahan membuat upaya mengurangi penyebaran penyakit tersebut menjadi sia-sia (ENOI dalam Hull. Dua dekade kemudian tanggung jawab pengawasan rumah bordil dialihkan dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah. 1997:6). di mana pada saat itu perekonomian negara jajahan terbuka bagi para penanam modal swasta (Ingleson dalam Hull.

sudah ada pelacuran sebagai salah satu penyimpangan dari pada norma-norma perkawinan tersebut dan tidak ada habis-habisnya yang terdapat di semua negara di dunia. Walaupun prostitusi sudah ada sejak dulu. A. kawasan pelacuran pertama adalah di dekat Stasiun Semut dan di dekat pelabuhan di daerah Kremil. dan Bangunsari. Menurut istilah prostitusi di aertikan sebagai suatu pekerjaan yang bersi at menyerahkan diri atau menjual jasa kepada umum untuk melakukan perbuatan-perbuatan seksual dengan mendapatkan upah. Di Surabaya. tak hanya aktivitas pelacuran yang timbul untuk melayani para pekerja bangunan di setiap kota yang dilalui kereta api. dan Saritem. . Sukamanah. tapi juga pembangunan tempat-tempat penginapan dan fasilitas lainnya meningkat bersamaan dengan meningkatnya aktivitas pembangunan konstruksi jalan kereta api. Contohnya di Bandung. Tandes. (1997:7) di Yogyakarta.tahun 1884. Namun masa jaman sekarang prostitusi oleh masyarakat Indonesia dianggap menjadi sesuatu yang biasa. bahkan sudah ada UU mengenai praktek prostitusi yang ditinjau dari segi Yuridis dalam KUHP yaitu mereka menyediakan sarana tempat persetubuhan (pasal 296 KUHP). namun masalah prostitusi yang dulu dianggap tabu atau tidak biasa. kompleks pelacuran didirikan di daerah Pasarkembang. Balongan. meskipun peranan kereta api sebagai angkutan umum telah menurun dan keberadaan tempat-tempat penginapan atau hotel-hotel di sekitar stasiun kereta api juga telah berubah. Pengerti n Prostit si Prostit si dalam bahasa diarti an sebagai pelacur atau penjual jasa seksual atau disebut juga sebagai pekerja sek komersial. Oleh sebab itu dapat dimengerti mengapa banyak kompleks pelacuran tumbuh di sekitar stasiun kereta api hampir di setiap kota. Hull juga menambahkan. kompleks pelacuran berkembang di beberapa lokasi di sekitar stasiun kereta api termasuk Kebonjeruk. Prostitusi atau pelacuran sebagai salah satu penyakit masyarakat mempunyai sejarah yang panjang (sejak adanya kehidupan manusia telah diatur oleh norma-norma perkawinan. Norma-norma sosial jelas mengharamkan prostitusi. Sebagian besar dari kompleks pelacuran ini masih beroperasi sampai sekarang. Kebontangkil. dan Sosrowijayan.

Banyak sekali alasan-alasan mengapa wanita dan gadis-gadis memasuki pekerjaan ini. Kalau toh ada. meninggalkan agamanya serta memisahkan dari jamaah´. Apalagi dalam agama Islam. di lindungi oleh hukum dan mungkin mendapat fasilitas-fasilitas tertentu. tempat-tempat melakukan zina di sediakan. Pejabat dan sebagai rakyat pengemudi becak dan juga direktur. Konsumennya berjubel dari orang miskin sampai orang kaya. Dunia kesehatan juga menunjukkan dan memperingatkan bahaya penyakit kelamin yang mengerikan seperti HIV / AIDS akibat adanya pelacuran di tengah masyarakat.mereka yang mencarikan pelanggaran bagi pelacur (pasal 506 KUHP). Meski demikian. tetapi alasan ekonomi dan psikologi lah yang paling menonjol. alias mati. prostitusi merupakan salah satu perbuatan zina dan zina hukumnya haram dan termasuk kategori dosa besar. Ada beberapa ayat yang menjelaskan tentang hukuman bagi orang yang berzina yaitu para pezina yang masih bujang di hukum cambuk delapan puluh kali (An-Nur : 4) dan ³yang sudah menikah dilempari batu 100 kali. membunuh orang. perbuatan zina masih saja ada. kecuali disebabkan oleh salah satu dari tiga hal : orang yang sudah menikah berzina. Ini adalah PR bagi bangsa kita untuk mencari sebab-sebab yang merongrong seseorang itu melacur. bahkan terorganisir secara profesional. Sebab-sebab terjadinya pelacuran haruslah di lihat dan dicermati pada faktor-faktor endogen (dari dalam) dan eksogen (dari luar). . sama saja ia ingin hidup secara hina. dan mereka yang menjual eprempuan dan laki-klaki di bawah umur untuk dijadikan pelacur (pasal 297 KUHP). orang itu benar-benar tidak normal dan sudah hilang kewarasannya. Mesti ada sebab-sebab lain yang mendorong seseorang itu melacur. Secara nalar sulit kita bayangkan ada orang yang ingin hidup untuk menjadi pelacur. Nabi Muhammad SAW bersabda ³Tidak halal darah bagi seorang muslim yang bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah dan aku adalah Rasulnya. Kelas taman sampai hotel berbintang.

. antara lain : 1. 2. Penghuninya secara periodik harus memeriksakan diri pada dokter atau petugas kesehatan dan mendapatkan pelayanan kesehatan berupa pengobatan seperti pemberian suntikan untuk menghindari penyakitpenyakit berkenaan dengan prostitusi. Umumnya mereka di lokalisasi suatu daerah / area tertentu. C. baik perorangan maupun kelompok terorganisir. Bentuk-bentuk Prostitusi Menurut aktivitasnya. Prostitusi yang terdaftar dan memperoleh perizinan dalam bentuk (lokalisasi) dari pemerintah daerah melalui dinas sosial dibantu pengamanan kepolisian dan bekerja sama dengan dinas kesehatan. sulit untuk memutus dan melepasnya.Sampai sekarang prostitusi belum bisa dihentikan. prostitusi pada dasarnya terbagi menjadi dua jenis. B. Adapun yang termasuk keluarga ini adalah mereka yang melakukan kegiatan prostitusi secara gelap dan licin. salah satu caranya hanyalah menekan laju praktek-praktek yang berbau prostitusi. pemerintah saja seolah-olah melegalkan praktek ini. yang antara lain : jumlah penduduk yang besar dengan komposisi penduduk wanita lebih banyak daripada penduduk laki-laki. Faktor-faktor Pengembang Prostitusi Dengan menerapkan teori swab maka faktor-faktor yang menyebabkan timbul dan berkembangnya prostitusi antara lain : 1. Prostitusi yang tidak terdaftar bukan lokalisasi. Kondisi kependudukan. prostitusi seperti mendarah daging.

Dampak negatif tersebut antara lain : a. alat-alat dan obat pencegah kehamilan. pengelola hotel / penginapan. Lemahnya penerapan. b. taman-taman kota. Dari aspek pendidikan prostitusi merupakan kegiatan yang demoralisasi. tempat-tempat lain yang sepi dan kekurangan fasilitas penerangan di malam hari sangat menunjang untuk terjadinya praktek prostitusi. c. dan ringannya sanksi hukum positif yang diterapkan terhadap pelanggaran hukum. mucikari. 3. kurangnya kontrol di lingkungan permukian oleh masyarakat sekitar. dan lain-lain. baik lingkungan sosial maupun lingkungan alam (fisik) yang menunjang. prostitusi dlam prakteknya sering terjadi pemerasan tenaga kerja . Dari aspek ekonomi.2. Kondisi lingkungan. secara sosialogis prostitusi merupakan perbuatan amoral yang bertentangan dengan norma dan etika yang ada di dalam masyarakat. d. Dari aspek kewanitaan. 4. Dampak ± dampak Prostitusi Prostitusi ditinjau dari sudut manapun merupakan suatu kegiatan yang berdampak tidak baik (negatif). D. Perkembangan teknologi yang antara lain : teknologi industri kosmetik termasuk operasi plastik. prostitusi merupakan kegiatan merendahkan martabat wanita. Pelanggaran hukum tersebut dapat dilakukan oleh pelaku (subyek) prostitusi. serta lingkungan alam seperti : jalur-jalur jalan.

Siswa perlu mendapat pengetahuan yang lebih tentang pendidikan seks. Penyelenggaraan pendidikan seks di sekolah. f. Beberapa usaha dan tindakan pemerintah dalam menangani permasalahan dan dampak negatif prostitusi adalah : 1. dan pasal 297 KUHP. Upaya Penanganan Prostitusi Sudah banyak upaya menghapus praktek prostitusi dari lingkungan pergaulan masyarakat. E. praktek prostitusi merupakan media yang sangat efektif untuk menularnya penyakit kelamin dan kandungan yang sangat berbahaya.e. Secara preventif. antara lain : a). Dari aspek penataan kota. pengaturan dan pencegahan penyakit yang ditimbulkan karena praktek prostitusi. Dari aspek kamtibmas praktek prostitusi dapat menimbulkan kegiatankegiatan kriminal g. Merealisasi ketentuan hukum pidana terhadap pelanggarannya. Tindakan pengawasan. prostitusi dapat menurunkan kualitas dan estetika lingkungan perkotaan. Dari aspek kesehatan. antara lain : a). Namun kenyataannya prostitusi masih tetap ada. agar mereka tahu bahwa melakukan seks dibawah umur atau sebelum menikah itu merupakan perubuatan zina dan berdosa besar. . pasal 506 KUHP. Saat ini pemerintah sudah membuat hukum bagi pelanggarnya yang tercantum dalam pasal 296 KUHP. b). 2. secara represif.

. masyarakat haru tahu bahaya dan akib at dari prostitusi yaitu penyakit yang ditimbulkan seperti penyakit kelamin dan HIV / AIDS yang tidak ada obatnya. Selain dosa yang diterima. Penyuluhan bahaya penyakit yang diakibatkan oleh praktek prostitusi.b). c). Pertolongan psikologis ± psikiatris terhadap para gadis yang menunjukkan gejala kedewasaan kehidupan seksual dan bantuan perawatan anak-anak di sekolah.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful