P. 1
Deviasi Dalam Kalimat Bahasa Arab

Deviasi Dalam Kalimat Bahasa Arab

|Views: 168|Likes:
Published by Ibnie Trisal Adam

More info:

Published by: Ibnie Trisal Adam on Jun 18, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/23/2015

pdf

text

original

DEVIASI DALAM KALIMAT BAHASA ARAB

BAB I
PENDAHULUAN
Balâghah secara etimologi berasal dari kata dasar غلب yang memiliki arti
sama dengan kata لصو yaitu “sampai”. Dalam kajian sastra, Balâghah ini menjadi
sifat dari kalâm dan mutakallim, sehingga lahirlah sebutan غيلب م`ك dan غيلب ملكتم .
Balâghah dalam kalâm menurut para pendahulu
1
adalah عم لاحلا ىضتقمل هتقباطم
هتحاصف , dalam arti bahwa kalâm itu sesusi dengan situasi dan kondisi para
pendengar. Perubahan situasi dan kondisi para pendengar menuntut perubahan
susunan kalâm, seperti situasi dan kondisi yang menuntut kalâm ithnâb tentu berbeda
dengan situasi dan kondisi yang menuntut kalâm îjâz, berbicara kepada orang cerdas
tentu berbeda dengan berbicara kepada orang dungu, tuntuan fashâl meninggalkan
khithâb washâl, tuntutan taqdîm tidak sesuai dengan ta’khîr, demikian seterusnya
untuk setiap situasi dan kondisi ada kalâm yang sesuai dengannya ( لاقم ماقم لكل ).
Nilai Balâghah untuk setiap kalâm bergantung kepada sejauh mana kalâm itu
dapat memenuhi tuntutan situasi dan kondisi, setelah memperhatikan fashâhah-nya.
Adapun kalâm fashîh adalah kalâm yang secara nahwu tidak dianggap menyalahi
aturan yang mengakibatkan فيلأتلا فعض (lemah susunan) dan ta’qîd (rumit), secara
bahasa terbebas dari gharâbah (asing) dalam kata-katanya, secara sharaf terbebas dari
menyalahi qiyâs, seperti kata للج`ا , karena menurut qiyâs adalah ّ لج`ا , dan secara
dzauq terbebas dari tanâfur (berat pengucapannya) baik dalam satu kata, seperti kata
تارزشتسم atau dalam beberapa kata sekalipun satuan kata-katanya tidak tanâfur,
seperti:

1
Husen, Abdul Qadir, Fann al-Balaghah, (Beirut : ‘Alam al-Kutub, 1984), hal. 73
رفق ناكمب برح ربقو * ربق برح ربق برق سيلو
Balâghah itu memiliki tiga dimensi, yaitu ilmu Ma’âni, ilmu Bayân dan ilmu Badî’.
Ilmu Ma’âni adalah ilmu untuk mengetahui hâl-ihwal lafadz bahasa Arab
yang sesuai dengan tuntutan situasi dan kondisi ( يتلا يبرعلا ظفللا لاوحأ هب فرعي ملع
لاحلا ىضتقم قباطي اھب ). Yang dimaksud dengan hâl ihwal lafadz bahasa Arab adalah
model-model susunan kalimat dalam bahasa Arab, seperti penggunaan taqdîm atau
ta’khîr, penggunaan ma’rifat atau nakirah, disebut (dzikr) atau dibuang (hadzf), dan
sebagainya. Sedangkan yang dimaksud dengan situasi dan kondisi adalah situasi dan
kondisi mukhâthab, seperti keadaan kosong dari informasi itu, atau ragu-ragu, atau
malah mengingkari informasi tersebut.
Kajian dalam ilmu Ma’âni ada delapan macam, yaitu (1) يربخلا دانس`ا لاوحأ
(2) هيلإ دنسملا لاوحأ (3) دنسملا لاوحأ (4) لعفلا تاقلعتم لاوحأ (5) رصقلا (6) ءاشن`ا (7)
لصولاو لصفلا dan (8) ةاواسملاو بانط`او زاجي`ا .
Ilmu Bayân didefinisikan oleh al-Hâsyimi sebagai kaidah-kaidah untuk
mengetahui ragam ungkapan terhadap suatu makna yang dapat memperjelas perkataan
itu sendiri. Lebih jauh al-Hâsyimi
2
mengungkapkan:
حوضو يف ضعب نع اھضعب فلتخي قرطب دحاولا ىنعملا داريإ اھب فرعي دعاوقو لوصأ
ىنعملا كلذ سفن ىلع ةيلقعلا ةل`دلا .
Kajian ilmu Bayân meliputi (1) يبشتلا ه , (2) زاجملا , dan (3) ةيانكلا .
Tasybîh didefinisikan oleh al-Hâsyimi sebagai suatu ikatan persamaan di
antara dua perkara atau lebih dalam suatu sifat dengan menggunakan alat untuk suatu
tujuan yang dikehendaki oleh mutakallim. Lebih jauh al-Hâsyimi
3
mengungkapkan:


2
Al-Hasyimi, Jawahir al-Balaghah fi al-Ma’ani wa al-Bayan wa al-Badi’, (Indonesia : Dar
Ihya al-Kutub al-‘Arabiyyah, 1960). hal. 244

3
I b i d, hal. 347
ملكتملا هدصقي ضرغل ةادأب رثكأ وأ ةفص يف امھكارتشا دصق رثكأ وأ نيرمأ نيب ةلثامم دقع
Rukun Tasybîh ada 4, yaitu (1) هبشملا (yang diserupakan), (2) هب هبشملا (yang
diserupai), (3) هبشلا هجو (sifat yang dimiliki bersama antara musyabbah dan
musyabbah bih, dan (4) هيبشتلا ةادأ (alat yang digunakan untuk mempersamakan).
Tasybîh banyak sekali modelnya; ada model-model tasybîh yang dilihat dari
sisi musyabbah dan musyabbah bih, ada model-model tasybîh yang dilihat dari sisi
wajh al-syibh, ada model-model tasybîh yang dilihat dari sisi adât al-tasybîh, ada
model tasybîh yang dilihat dari sisi adât al-tasybîh dan wajh al-syibh, ada model-
model tasybîh yang dilihat dari sisi penggunaan jalan lain, dan ada pula model-model
tasybîh yang dilihat dari sisi tujuannya.
Tasybîh dilihat dari sisi musyabbah dan musyabbah bih melahirkan
pembagian secara hissî, ‘aqlî, mufrad, murakkab dan ta’addud.
Tasybîh dilihat dari sisi wajh al-syibh melahirkan tasybîh tamtsîl, tasybîh
ghair tamtsîl tasybîh, tasybîh mufashshâl, tasybîh mujmal, tasybîh qarîb mubtadzil
dan tasybîh ba’id gharîb.
Tasybîh dilihat dari sisi adât al-tasybîh melahirkan tasybîh mursal dan
tasybîh muakkad.
Tasybîh dilihat dari sisi adât al-tasybîh dan wajh al-syibh melahirkan
tasybîh balîgh.
Tasybîh dilihat dari sisi penggunaan jalan lain melahirkan tasybîh dhimnî
dan tasybîh maqlûb.
Tasybîh dilihat dari sisi tujuannya melahirkan tasybîh maqbûl dan tasybîh
mardûd.
Semua model-model tasybîh di atas muncul dengan membawa tujuan-tujuan
yang dikehendaki oleh mutakallim.
Majâz didefinisikan oleh al-Hâsyimi berupa kata yang digunakan bukan
pada makna asalnya, karena ada ‘alâqah dan qarînah yang menghâlanginya. Lebih
jauh al-Hâsyimi
4
mengungkapkan:
ةق`عل بطاختلا ح`طصا ىف هل عضو ام ريغ يف لمعتسملا ظفللا ةدارا نم ةعنام ةنيرق عم
يعضولا ىنعملا .
Majâz terbagi 4, yaitu (1) لسرم درفم زاجم , (2) ةراعتس`اب درفم زاجم , yang
dua ini terjadi pada kata (3) لسرم بكرم زاجم , dan (4) ةراعتس`اب بكرم زاجم , dan
yang dua ini terjadi pada kalimat.
Majâz mufrad mursal terdiri dari 2 macam, yaitu (1) لسرملا زاجملا dan (2)
يلقعلا زاجملا .
Majâz mufrad bi al-ist’ârah terdiri dari 14 macam, yaitu (1) ةراعتس`ا
ةيحيرصتلا (2) ةينكملا ةراعتس`ا (3) ةيقيقحتلا ةراعتس`ا (4) ةيلييختلا ةراعتس`ا (5) ةراعتس`ا
ةيلص`ا (6) `ا ةيعبتلا ةراعتس (7) ةيدانعلا ةراعتس`ا (8) ةيئافولا ةراعتس`ا (9) ةراعتس`ا
ةيماعلا (10) ةيصاخلا ةراعتس`ا (11) ةحشرملا ةراعتس`ا (12) ةدرجملا ةراعتس`ا (3)
ةقلطملا ةراعتس`ا .
Majâz murakkab mursal ialah kalâm yang digunakan bukan pada makna
asalnya, karena ada ‘alâqah yang tidak saling menyerupai, dengan qarînah yang
menghâlangi didatangkannya makna asal. Hâl ini terjadi pada kalimat-kalimat
khabariyyah dengan makna insyâiyyah atau sebaliknya.
Majâz murakkab bi al-isti’ârah melahirkan ةراعتس`ا ةيليثمتلا / لاثم`ا
(pribahasa).


4
I b i d, hal. 290
Kinâyah didefinisikan oleh al-Hâsyimi berupa kata yang digunakan bukan
pada makna asalnya, tapi diperbolehkan menggunakan makna asalnya, karena tidak
ada ‘alâqah dan qarînah yang menghâlanginya. Lebih jauh al-Hâsyimi
5

mengungkapkan:
هتدارا نم ةعنام ةنيرق مدعل يلص`ا ىنعملا ةدارا زاوج عم هل عضو يذلا هانعم ريغ هب ديرأ ظفل
Dilihat dari segi maknanya, kinâyah terbagi 3, yaitu (1) ةفص نع ةيانك , (2)
فوصوم نع ةيانك dan (3) ةبسن نع ةيانك .
Kinâyah ‘an shifah terdiri dari dua macam, yaitu (1) ةبيرق ةيانك (2) ةديعب ةيانك
Kinâyah ‘an mushûf terdiri dari dua macam, yaitu yang memiliki satu makna
dan yang memiliki beberapa makna.
Kinâyah yang dimaksud untuk menisbatkan sesuatu kepada yang lain, baik
secara itsbât (positif) atau nafyi (negatif), terdiri dari dua macam, yaitu (1) ةبسنلا وذ
اھيف اروكذم (2) اھيف روكذم ريغ ةبسنلا وذ .
Dilihat dari segi wasâith dan siyâq, kinâyah terbagi 4, yaitu (1) ضيرعت , (2)
حيولت , (3) زمر , dan (4) ءاميإ .
Ilmu Badî’ didefinisikan oleh al-Hâsyimi
6
sebagai berikut:
دعب اقنورو ءاھب هوسكتو ةو`طو انسح م`كلا ديزت يتلا ايازملاو هوجولا هب فرعي ملع وھ
لاحلا ىضتقمل هتقباطم
Yaitu ilmu untuk mengetahui model-model dan kelebihan-kelebihan yang dapat
menghiasi dan memperindah kalâm, setelah kalâm itu sesuai dengan tuntutan situasi
dan kondisi.

Pencetusnya adalah Abdullah bin al-Mu’taz al-Abbâsi, dilanjutkan dan
ditambah oleh Qudâmah bin Ja’far al-Kâtib, setelah itu bermunculanlah para penulis


5
I b i d, hal. 346
6
Ibid, hal 360.
seperti Abu Hilâl al-‘Askari, Ibn Râsyiq, Shafiyuddin al-Himali, Ibn Hijjah al-Himawi
dan sebagainya. Kajian ilmu Badî’ dibagi dua bagian, yaitu (1)ةيونعملا تانسحملا dan
(2) ةيظفللا تانسحملا .
Al-Muhassinât al-ma’nawiyyah terdiri dari (1) ةيروتلا (2) مادختس`ا (3)
دارطتس`ا (4) نانتف`ا (5) قابطلا (6) ةلباقملا (7) ريظنلا ةاعارم (8) داصر`ا (9) جامد`ا (10)
يم`كلا بھذملا (11) ليلعتلا نسح (12) ديرجتلا (13) ةلكاشملا (14) ةجوازملا (15) يطلا
رشنلاو (16) عمجلا (17) قيرفتلا (18) ميسقتلا (19) قيرفتلا عم عمجلا (20) ميسقتلا عم عمجلا
(21) ةغلابملا (22) ةرياغملا (23) مذلا هبشي امب حدملا ديكأت (24) حدملا هبشي امب مذلا ديكأت (25)
هيجوتلا وأ ماھب`ا (26) هباجيإب ئيشلا يفن (27) بجوملاب لوقلا (28) ىنعملا عم ظفللا ف`تئا
(29) عيرفتلا (30) عابتتس`ا (31) باجي`او بلسلا (32) عادب`ا (33) ميكحلا بولس`ا (34)
فارط`ا هباشت (35) سكعلا dan (36) فراعلا لھاجت .
Al-Muhassinât al-lafdziyyah terdiri dari (1) سانجلا (2) جاودز`ا (3) ةنزاوملا
(4) عيصرتلا (5) عيرشتلا (6) مزلي ` ام موزل (7) ردصلا ىلع زجعلا در (8) ليحتسي `ام
ساكعن`اب (9) ةبراوملا (10) ظفللا عم ظفللا ف`تئا (11) طيمستلا (12) ةلوھسلا وأ ماجسن`ا
(13) ءافتك`ا (14) زيرطتلا (15) سابتق`ا (16) لا نيمضت (17) دقعلا (18) لحلا (19) حيملتلا (20)
ءادتب`ا نسح (21) صلختلا dan (22) ءاھتن`ا نسح .




BAB II
MENEMPATKAN KATA MUFRAD DI TEMPAT MUTSANNÂ
Menempatkan kata mufrad di tempat mutsannâ memiliki tujuan-tujuan yang
bernuansa Balâghah, yaitu untuk menunjukkan betapa lengketnya hubungan yang dua
itu, hampir tidak dapat dipisahkan bagaikan satu diri. Di dalam Alquran penulis
menemukan ayat-ayat berikut:
- ا ْ و
ُ
لا
َ
ق
َ
ف
ِ
نْ ي
َ
رَ ش
َ
ب
ِ
ل ُ ن
ِ
م ْ ؤ
ُ
ن
َ
أ اَن
ِ
ل
ْ
ث
ِ
م … ) ،نونمؤملا 23 : 47 (

“Dan mereka berkata: Apakah (patut) kita percaya kepada dua orang manusia
seperti kita (juga),…”

Kata اَن
ِ
ل
ْ
ث
ِ
م , bentuk katanya mufrad, sedangkan tuntutan struktur kalimat
menghendaki bentuk kata mutsannâ (dual), yaitu kata اَنْ ي
َ
ل
ْ
ث
ِ
م supaya sesuai dengan:

ِ
نْ ي
َ
ر َ ش
َ
ب
ِ
ل . Hal ini menunjukkan bahwa ayat di atas menggunakan gaya bahasa ‘udûl;
dengan menempatkan kata mufrad di tempat yang seharusnya mutsannâ menurut
tuntutan tata bahasa Arab.
- ... ٌ دْ ي
ِ
ع
َ
ق
ِ
لا
َ
م
ّ
شلا
ِ
نَ ع
َ
و
ِ
نْ ي
ِ
م
َ
ي
ْ
لا
ِ
نَ ع ) ،ق 50 : 17 (
“…, seorang duduk di sebelah kânan dan yang lain duduk di sebelah kiri.”
Kata ٌ دْ ي
ِ
ع
َ
ق , bentuk katanya mufrad, sedangkan tuntutan struktur kalimat
menghendaki bentuk kata mutsannâ (dual), yaitu kata ناديعق supaya sesuai dengan:

ِ
ن َ ع
ِ
نْ ي
ِ
م
َ
ي
ْ
لا
ِ
ن َ ع
َ
و
ِ
لا
َ
م
ّ
شلا . Hal ini menunjukkan bahwa ayat di atas menggunakan gaya
bahasa ‘udûl; dengan menempatkan kata mufrad di tempat yang seharusnya mutsannâ
menurut tuntutan tata bahasa Arab.
- ...
ُ
ه ْ وُ ضْ رُي ْ ن
َ
أ ﱡ ق
َ
ح
َ
أ ُه
ُ
ل ْ وُ س
َ
ر
َ
و ُﷲ
َ
و ) ... ،ةبوتلا 9 : 62 (
“…, padahal Allah dan Rasul-Nya itulah yang lebih patut mereka cari keridoannya,
…”

Dhamîr pada ْ ن
َ
أ
ُ
ه ْ و ُ ضْ رُي , menunjukkan mufrad, sedangkan tuntutan struktur
kalimat menghendaki dhamîr mutsannâ (dual), yaitu ْ ن
َ
أ ا
َ
مُھْ و ُ ضْ رُي supaya sesuai
dengan pengembalian dhamîr itu sendiri ُﷲ
َ
و ُه
ُ
ل ْ و ُ س
َ
ر
َ
و . Hal ini menunjukkan bahwa
ayat di atas menggunakan ‘udûl; dengan menempatkan kata mufrad di tempat yang
seharusnya mutsannâ.
Ketiga ayat di atas menggunakan ‘udûl, yaitu pada ayat pertama
menempatkan kata mufrad ( اَن
ِ
ل
ْ
ث
ِ
م ) di tempat yang seharusnya mutsannâ mengikuti
(
ِ
نْ ي
َ
ر َ ش
َ
ب
ِ
ل ). dan pada ayat kedua menempatkan kata mufrad ( ٌ دْ ي
ِ
ع
َ
ق ) di tempat yang
seharusnya mutsannâ menurut tuntutan tata bahasa Arab, karena mengikuti kata
ِ
ن َ ع

ِ
لا
َ
م
ّ
شلا
ِ
ن َ ع
َ
و
ِ
نْ ي
ِ
م
َ
ي
ْ
لا dan pada ayat ketiga menempatkan dhamîr mufrad ( ْ ن
َ
أ
ُ
ه ْ و ُ ضْ رُي ) di
tempat yang seharusnya mutsannâ menurut tuntutan tata bahasa Arab, karena
mengikuti pengembalian dhamîr, yaitu ُﷲ
َ
و ُه
ُ
ل ْ وُ س
َ
ر
َ
و .
Adapun rahasia menempatkan kata mufrad di tempat yang seharusnya
mutsannâ, menurut Abdul Qadir Husen
7
adalah untuk menunjukkan betapa
lengketnya yang dua macam itu sehingga tidak dapat dipisahkan. Lebih lanjut Abdul
Qadir Husen berkata:
ةلعلاف ةيغ`بلا يف بحاصتم نامز`تم نينث`ا نأ يھ ،ىنثملا عضوم درفملا عضو لصتي ،نا
رخ`اب امھدحأ دشأ نيئيش ` ،دحاو ئيش امھنأك اراصف ،طابتر`ا لك هب طبتريو ،لاصت`ا
،نيفلتخم قحف ىنثملا ظفلب سيلو درفملا ظفلب امھنع ربعي نأ ذئدنع .

Nilai sastra dalam penempatan mufrad di tempat mutsannâ adalah bahwa yang dua
macam itu sangat membutuhkan satu sama lainnya, sangat kuat hubungan keduanya
sampai tak terpisahkan, seolah-olah keduanya adalah satu, sehingga pantas sekali
untuk diungkapkan dengan kata mufrad, bukan dengan kata mutsannâ.

BAB III
MENEMPATKAN KATA MUFRAD DI TEMPAT JAMAK

7
I b i d, hal. 299
Menempatkan kata mufrad di tempat jamak memiliki tujuan-tujuan yang
bernuansa Balâghah, yaitu untuk menunjukkan betapa lengketnya hubungan yang
banyak itu sehingga hampir tidak dapat dipisahkan bagaikan satu diri.
Di dalam Alquran penulis menemukan ayat-ayat berikut:
- ... ا
ً
قْ ي
ِ
ف
َ
ر َ ك
ِ
ئـلو
ُ
أ َ نُ س
َ
ح
َ
و ) ،ءاسنلا 4 : 69 (
“… Itulah teman yang sebaik-baiknya.”
Kata ا
ً
قْ ي
ِ
ف
َ
ر , bentuk katanya mufrad, sedangkan tuntutan struktur kalimat
menghendaki bentuk kata jamak, yaitu kata ءاقفر supaya sesuai dengan kata ﹸ ﺃ و َ ك
ِ
ئـل
Hal ini menunjukkan bahwa ayat di atas menggunakan ‘udûl; dengan menempatkan
kata mufrad di tempat yang seharusnya jamak menurut tuntutan tata bahasa Arab.
- ...
ِ
نْ وُ ح
َ
ض
ْ
فَت َ`
َ
ف
ْ
ي
ِ
فْ ي
َ
ض
ِ
ءَ`ُ ؤھ ) ،رجحلا 15 : 68 (
“… mereka adalah tamuku, maka janganlah kamu memberi malu (kepadaku).”
Kata
ْ
ي
ِ
فْ ي
َ
ض , bentuk katanya mufrad, sedangkan tuntutan struktur kalimat
menghendaki bentuk kata jamak, yaitu kata يفويض supaya sesuai dengan kata
ِ
ءَ`ُ ؤھ .
Hal ini menunjukkan bahwa ayat di atas menggunakan ‘udûl dengan menempatkan
kata mufrad di tempat yang seharusnya jamak.
- ... ﱞ وُ دَ ع
ْ
م
ُ
ك
َ
ل
ْ
مُھ
َ
و ) ... ،فھكلا 18 : 50 (
“… sedang mereka adalah musuhmu…”
Kata ﱞ وُ د َ ع , bentuk katanya mufrad, sedangkan tuntutan struktur kalimat
menghendaki bentuk kata jamak, yaitu kata ءادعأ supaya sesuai dengan kata
ْ
مُھ . Hal
ini menunjukkan bahwa ayat di atas menggunakan gaya bahasa ‘udûl dengan
menempatkan kata mufrad di tempat yang seharusnya jamak.
- ... ا
ً
ّ د
ِ
ض
ْ
م
ِ
ھْ ي
َ
ل َ ع َ نْ و
ُ
ن ْ و
ُ
ك
َ
ي
َ
و ) ،ميرم 19 : 82 (
“… dan mereka (sembahan-sembahan) itu akan menjadi musuh bagi mereka.”
Kata ا
ً
ّ د
ِ
ض , bentuk katanya mufrad, sedangkan tuntutan struktur kalimat
menghendaki bentuk kata jamak, yaitu kata اً داَ د ْ ض
َ
أ supaya sesuai dengan kata َ نْ و
ُ
ن ْ و
ُ
ك
َ
ي
Hal ini menunjukkan bahwa ayat di atas menggunakan ‘udûl dengan menempatkan
kata mufrad di tempat yang seharusnya jamak.
- ...
ً
`
ْ
ف
ِ
ط
ْ
م
ُ
كُ ج
ِ
ر
ْ
خ
ُ
ن

م
ُ
ث )... ،جحلا 22 : 5 (
“… kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi …”
Kata
ً
`
ْ
ف
ِ
ط , bentuk katanya mufrad, sedangkan tuntutan struktur kalimat
menghendaki bentuk kata jamak, yaitu kata `افطأ supaya sesuai dengan kata
ْ
م
ُ
كُ ج
ِ
ر
ْ
خ
ُ
ن .
Hal ini menunjukkan bahwa ayat di atas menggunakan ‘udûl dengan menempatkan
kata mufrad di tempat yang seharusnya jamak.
-
ْ
مُھ

ن
ِ
إ
َ
ف ﱞ وُ دَ ع َ نْ ي
ِ
م
َ
لا
َ
ع
ْ
لا ﱠ ب
َ
ر

`
ِ
إ
ْ
ي
ِ
ل ) ،ءارعشلا 26 : 77 (
“karena sesungguhnya apa yang kamu sembah itu adalah musuhku, kecuali Tuhan
semesta alam.”
Kata ﱞ وُ د َ ع , bentuk katanya mufrad, sedangkan tuntutan struktur kalimat
menghendaki bentuk kata jamak, yaitu kata ءادعأ supaya sesuai dengan kata
ْ
مُھ

ن
ِ
إ
َ
ف .
Hal ini menunjukkan bahwa ayat di atas menggunakan ‘udûl dengan menempatkan
kata mufrad di tempat yang seharusnya jamak.
- ... ٌ رْ ي
ِ
ھ
َ
ظ َ ك
ِ
لذ َ دْ ع
َ
ب
ُ
ةَ ك
ِ
ئَ`
َ
م
ْ
لا
َ
و ) ،ميرحتلا 66 : 4 (
“… dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula.”
Kata ٌ رْ ي
ِ
ھ
َ
ظ , bentuk katanya mufrad, sedangkan tuntutan struktur kalimat
menghendaki bentuk kata jamak, yaitu kata ءارھظ supaya sesuai dengan kata
ُ
ة َ ك
ِ
ئَ`
َ
م
ْ
لا
َ
و
Hal ini menunjukkan bahwa ayat di atas menggunakan ‘udûl dengan menempatkan
kata mufrad di tempat yang seharusnya jamak.
Adapun nilai sastra yang terkandung dalam penempatan mufrad untuk
jamak, menurut Abdul Qadir Husen adalah untuk menunjukkan betapa lengketnya
yang banyak itu sehingga tidak dapat dipisahkan bagaikan satu diri. Lebih lanjut
Abdul Qadir Husen
8
berkata:
ةلعلاو ةيغ`بلا يف ةدشل ةدحاو سفنك عمجلا لعج ملكتملا نأ يھ عمجلا عضوم درفملا عضو
اھكسامت ،اھلاصتاو زيامتلا اھنيب ثدحيف ىرخ`ا نع اھادحإ لصفنت ةددعتم تاوذ تسيلو
،قارتف`او دفارتلاو عامتج`ا ىف ةدحاو تاذك مھلعج لب . نأ انايحأ ىري ىنج نباو ةلعلا ةيغ`بلا
ضو يف هلوق يف امك ،ريغصتلاو ريقحتلا ةدارإ عمجلا عضوم درفملا ع ىلاعت ):
ً
`
ْ
ف
ِ
ط
ْ
م
ُ
كُ ج
ِ
ر
ْ
خُي

م
ُ
ث (

Nilai sastra dalam penempatan mufrad di tempat jamak adalah bahwa pembicara
telah menjadikan yang banyak itu saking berpegangan dan berhubungan satu sama
lainnya bagaikan satu diri, bukanlah aneka ragam yang terpisah satu sama lain
dengan perbedaan dan keistimewaan masing-masing, bahkan semuanya adalah satu
ikatan yang saling mendukung. Pendapat lain dari Ibn Jinni tentang nilai sastra
dalam penempatan mufrad di tempat jamak, kadang-kadang terjadi untuk
menghinakan, seperti firman Allah

م
ُ
ث
ْ
م
ُ
كُ ج
ِ
ر
ْ
خُي
ً
`
ْ
ف
ِ
ط (kemudian Kami keluarkan kamu
sebagai satu bayi).









BAB IV
MENEMPATKAN KATA MUTSANNÂ DI TEMPAT MUFRAD
Menempatkan kata mutsannâ di tempat mufrad memiliki tujuan-tujuan yang
bernuansa Balâghah, seperti untuk taukid.

8
I b i d, hal. 301
-
ِ
ك اَت
ْ
ل ا
َ
ھ
َ
ل
ُ
ك
ُ
أ
ْ
تَتآ
ِ
نْ يَت

ن
َ
ج
ْ
لا ) ... ،فھكلا 18 : 33 (
“Kedua buah kebun itu menghasilkan buahnya …”
Yang dimaksud dengan kedua buah kebun itu adalah satu kebun, berdasarkan ayat
berikutnya yang berbunyi:

- ا ْ و
ُ
لا
َ
ق
َ
و ُ نآ ْ ر
ُ
ق
ْ
لا ا
َ
ذھ
َ
ل
ّ
ز
ُ
ن َ`ْ و
َ
ل ى
َ
ل َ ع
ٍ
مْ ي
ِ
ظَ ع
ِ
نْ يَت
َ
ي ْ ر
َ
ق
ْ
لا َ ن
ِ
م
ٍ
لُ ج
َ
ر ) ،فرخزلا 43 : 31 (
“Dan mereka berkata: Mengapa Alquran ini tidak diturunkan kepada seorang besar
dari salah satu dua negeri (Mekah dan Thaif) ini?”
Yang dimaksud adalah al-Walid bin al-Mughirah di Mekah dan Habib al-Tsaqafi di
Thaif.
- ا
َ
ي
ِ
ق
ْ
ل
َ
أ ٍ دْ ي
ِ
نَ ع
ٍ
را

فَ ك ﱠ ل
ُ
ك
َ
م

ن
َ
ھ
َ
ج
ْ
ي
ِ
ف ) ،ق 50 : 24 (
“Allah berfirman: Lemparkanlah olehmu berdua ke dalam neraka semua orang yang
sangat ingkar dan keras kepala.”
Yang dimaksud adalah malaikat penjaga neraka.

-
َ
ف ّ ي
َ
أ
ِ
ب
ِ
نا
َ
ب
ّ
ذَ ك
ُ
ت ا
َ
م
ُ
كّب
َ
ر
ِ
ءَ`آ ) ،نمحرلا 55 : 13 (
“Maka ni’mat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”
Menurut al-Farra, pada ayat ini terjadi khithâb terhadap manusia dengan
menggunakan kata mutsannâ.
- ُ جُ ر
ْ
خ
َ
ي
َ
جْ ر
َ
م
ْ
لا
َ
و ُ ؤ
ً
ل ْ ؤ

للا ا
َ
مُھ
ْ
ن
ِ
م ُ نا ) ،نمحرلا 55 : 22 (
“Dari keduanya keluar mutiara dan marjan”
Dhamîr pada kata ا
َ
مُھ
ْ
ن
ِ
م , menunjukkan mutsannâ, sedangkan tuntutan
struktur kalimat menghendaki dhamîr mufrad, yaitu ُه
ْ
ن
ِ
م , karena mutiara dan marjan
hanya keluar dari air asin, tidak pernah ada yang keluar dari air tawar. Jika diasalkan,
maka kalimat itu berbunyi ُ جُ ر
ْ
خ
َ
ي ُ ؤ
ً
ل ْ ؤ

للا ُه
ْ
ن
ِ
م ُ نا
َ
جْ ر
َ
م
ْ
لا
َ
و .
Adapun nilai sastra yang terkandung dalam penempatan mutsannâ untuk
mufrad, menurut Abdul Qadir Husen adalah untuk taukid. Lebih lanjut Abdul Qadir
Husen
9
berkata:
ةلعلا
َ
ف ةيغ`بلا ئيشلا ميسقت ةلزنمب كلذ نوكيف ،ديكوتلا ةدارإ يھ نويغ`بلا اھاري امك دحاولا ىلإ
هنع انربع اذإ هدجن ` ام ديكأتلا نم كلذ يفو ،امھنع ثيدحلا مث نيئيش ظفلب درفملا .

Nilai sastra dalam penempatan mutsannâ di tempat mufrad menurut para ahli
Balâghah adalah untuk taukid (penekânan), yaitu memecah satu perkara menjadi
dua objek pembicaraan. Di sini terjadi penekânan yang tidak terdapat pada saat
diungkapkan dengan kata mufrad.















BAB V
MENEMPATKAN KATA MUTSANNÂ DI TEMPAT JAMAK

9
I b i d, hal. 303
Menempatkan mutsannâ di tempat jamak memiliki tujuan-tujuan yang
bernuansa Balâghah, seperti untuk taukid.
- ُ قَ`

طل
َ
ا
ِ
ناَت ﱠ ر
َ
م ) ... ،ةرقبلا 2 : 229 (
“Talak (yang dapat dirukuji) dua kali …”
- ...
ْ
م
ُ
كْ ي
َ
وَ خ
َ
أ َ نْ ي
َ
ب ا ْ وُ ح
ِ
ل ْ ص
َ
أ
َ
ف ) ... ،تارجحلا 49 : 10 (
“… karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu …”
-

م
ُ
ث نْ يَت ﱠ رَ ك
َ
ر
َ
ص
َ
ب
ْ
لا
ِ
ع
ِ
جْ را ) ِ... ،كلملا 67 : 4 (
“Kemudian pandanglah sekali lagi …”
Ketiga ayat di atas menggunakan ‘udûl, yaitu pada ayat pertama
menempatkan mutsannâ
ِ
ناَت ﱠ ر
َ
م di tempat yang seharusnya jamak, karena terjadinya
talak itu hanya dengan tiga kali. Pada ayat kedua menempatkan kata mutsannâ
ْ
م
ُ
كْ ي
َ
و َ خ
َ
أ
di tempat yang seharusnya jamak, yakni lafadznya mutsannâ tetapi maknanya jamak,
maka ayat itu mengandung arti “jika dua orang muslimin atau lebih”. Pada ayat ketiga
menempatkan mutsannâ نْ يَت ﱠ ر َ ك di tempat jamak menurut tuntutan tata bahasa Arab,
karena yang dimaksud adalah berulang-ulang, karena lemahnya pandangan hanya
diketahui dengan berulang-ulang.
Adapun nilai sastra yang terkandung dalam penempatan mutsannâ untuk
jamak, Abdul Qadir Husen merujuk pendapat Ibn Jinni yang berpendapat bahwa nilai
sastra model ini adalah untuk taukid. Lebih lanjut Abdul Qadir Husen
10
berkata:
ىلعو مغرلا مل ادحأ نأ `إ ليلخلا ذنم افورعم ناك ةيبرعلا بيلاس`ا نم نوللا اذھ نأ نم فقي
ينج نبا لبق يغ`بلا هرس ىلع - رداصملا نم انيلإ لصو ام ردق ىلع - عضوب دارملاف ىنثملا
ىف هدجن ` ام ديكأتلا نم كلذ يفو ةرم دعب ةرم ئيشلا رركتي نأ عمجلا عضوم ريبعتلا عمجلاب
ةدحاو ةعفد .

Model gaya bahasa bahasa Arab yang seperti ini sudah dikenal sejak al-Khalil,
hanya saja menurut sumber-sumber yang sampai kepada kita nilai sastranya belum

10
I b i d, hal. 303
muncul sebelum Ibn Jinni. Adapun rahasia menempatkan kata mutsannâ di tempat
jamak adalah bahwa sesuatu itu berulang-ulang dalam rangka taukid (penekânan)
yang tidak kita temukan ungkapan dengan jamak sekali gus.





















BAB VI
MENEMPATKAN KATA JAMAK DI TEMPAT MUFRAD
Menempatkan kata jamak di tempat mufrad memiliki tujuan yang bernuansa
Balâghah, seperti ta’dzim atau mubâlaghah.
- َ نْ ي
ِ
ذ
ّ
لا ُ سا

نلا
ُ
مُھ
َ
ل
َ
لا
َ
ق ) ،نارمع لآ 3 : 173 (
“(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul), yang kepada mereka ada
orang-orang yang mengatakan:…”.
Yang dimaksud adalah ميعن يفقثلا دوعسم نب .

-
ْ
م
َ
أ ُھاَتآ ا
َ
م ى
َ
ل َ ع
َ
سا

نلا َ نْ وُ دُ سْ ح
َ
ي ه
ِ
ل ْ ض
َ
ف ْ ن
ِ
م ُﷲ
ُ
م ) ِ... ،ءاسنلا 4 : 54 (
“ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah
telah berikan kepadanya?…”
- ا
َ
م
ِ
ﷲ َ د
ِ
جا
َ
س
َ
م ا ْ وُ ر
ُ
مْ ع
َ
ي ْ ن
َ
أ َ نْ ي
ِ
ك
ِ
ر
ْ
ش
ُ
م
ْ
ل
ِ
ل َ ناَ ك ) ... ،ةبوتلا 9 : 17 (
“Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan masjid-masjid Allah…”.
Yang dimaksud adalah دجسملا مارحلا

- ...
ْ
مُھَن
ِ
ت
ْ
ف
َ
ي ْ ن
َ
أ
ْ
م
ِ
ھْ ي
ِ
`
َ
م
َ
و َ نْ وَ عْ ر
ِ
ف ْ ن
ِ
م ٍ فْ وَ خ ى
َ
ل َ ع ) ... ،سنوي 10 : 83 (
“… dalam keadaan takut bahwa Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya akan
menyiksa mereka…”.
Yang dimaksud adalah هئلم .

- ُ ل
ّ
زَنُي
ِ
ه
ِ
ر
ْ
م
َ
أ ْ ن
ِ
م
ِ
حْ وﱡ رلا
ِ
ب
َ
ةَ ك
ِ
ئَ`
َ
م
ْ
لا ) ... ،لحنلا 16 : 2 (
“Dia menurunkan para malaikat (membawa) wahyu dengan perintah-Nya…”.
Yang dimaksud adalah Jibril.
Adapun nilai sastra yang terkandung dalam penempatan jamak di tempat
mufrad, menurut Abdul Qadir Husen adalah untuk ta’zhîm (mengagungkan) atau
mubâlaghah. Lebih lanjut Abdul Qadir Husen
11
berkata:
نإ ببس ئيشلا اذھل ريدقتلاو ،ميظعتلا ةدارإ يغ`بلا هرسو لودعلا : مارحلا دجسملاف مظعأوھ
م ﷲ دجاسم مستي يذلا يونعملا ئيشلا اذھ نع ربعف اردق اھ`عأو ةلزن ةمظعلاب عمجلاب ةعورلاو
ادحاو ادجسم سيلو ةددعتم دجاسم مارحلا دجسملا نأكو ،يددعلا ةميقل هتناكم ةعفرو هنأش .
ناطلسلا نم هل ام هلف ، نوعرفل ةبسنلاب رم`ا كلاذكو هاجلاو هتريشعو هموق نيب ةمظعلاو

11
I b i d, hal.307
ك نمو ،هعابتأو نم ةعومجم لدعي وھف هنأش اذھ نا سانلا هنع ريبعتلاف ،ادحاو ادرف سيلو
ةناكملا هذھ عم بسانتي عمجلاب .

Sebab ‘udûl dan rahasia Balâghahnya adalah ta’dzim, maka redaksinya adalah
bahwa masjid al-haram merupakan masjid Allah yang paling tinggi derajatnya.
Untuk mengungkapkannya digunakan kata jamak, seolah-olah masjid al-haram itu
banyak. Demikian pula keadaan Fir’aun, bahwa kekuasaan yang dimilikinya, nama
baiknya, kebesarannya di kalangan kaumnya, di kalangan keluarganya dan di
kalangan para pengikutnya, dan demikian pula orang yang seperti dia keadaannya
dianggap sekumpulan orang, sehingga ungkapan jamak itulah yang paling sesuai
dengan keadaannya.


















BAB VII
MENEMPATKAN KATA JAMAK DI TEMPAT MUTSANNÂ
Menempatkan kata jamak di tempat mutsannâ biasanya dengan tujuan-
tujuan yang bernuansa Balâghah seperti ta’zhîm atau mubâlaghah.
- ُ ق
ِ
راﱠ سلا
َ
و ا
َ
مُھ
َ
ي
ِ
دْ ي
َ
أ ا ْ وُ ع
َ
ط
ْ
قا
َ
ف
ُ
ة
َ
ق
ِ
راﱠ سلا
َ
و ) ... ،ةدئاملا 5 : 38 (
“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya
…”.
Yang dimaksud امھيدي .
-
ِ
نا
َ
م ْ صَ خ
ِ
نا
َ
ذھ ْ و
ُ
م
َ
صَت
ْ
خا ا
ْ
م
ِ
ھّب
َ
ر
ْ
ي
ِ
ف … ) ،جحلا 22 : 19 (
“Inilah dua golongan (golongan mu’min dan golongan kafir) yang bertengkar,
mereka saling bertengkar mengenai Tuhan mereka…”

Ayat di atas menggunakan gaya bahasa ‘udûl yang berpola kepada iltifât.
Perpindahannya terjadi pada bilangan dhamîr; berupa perpindahan dari ghâib
mutsannâ (persona III dual)
ِ
نا
َ
م ْ صَ خ (dua golongan yang bertengkar) kepada ghâib
jamak (persona III jamak) ا ْ و
ُ
م
َ
صَت
ْ
خ
ِ
ا (mereka saling bertengkar)
- ... ا

م
ِ
م َ نْ وُ ءﱠ ر
َ
ب
ُ
م َ ك
ِ
ئـلو
ُ
أ َ نْ و
ُ
ل ْ و
ُ
ق
َ
ي ) ... ،رونلا 24 : 26 (
“… Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang
menuduh itu) …”.
Yang dimaksud adalah dua orang, yaitu Aisyah dan Sofyan.

- ... آ
ِ
ب ا
َ
بَھ
ْ
ذا
َ
ف

`َ ك اَن
ِ
تا
َ
ي ا

ن
ِ
إ َ نْ وُ ع
ِ
مَت ْ س
ُ
م
ْ
م
ُ
ك
َ
ع
َ
م ) ،ءارعشلا 26 : 15 (
“… Jangan takut (mereka tidak akan dapat membunuhmu), maka pergilah kamu
berdua dengan membawa ayat-ayat Kami (mu’jizat). Sesungguhnya Kami
bersamamu mendengarkan (apa-apa yang mereka katakan)”.
Yang dimaksud adalah bersama kamu berdua.

Adapun rahasia menempatkan kata jamak di tempat yang seharusnya
mutsannâ, menurut Abdul Qadir Husen
12
adalah untuk ta’zhîm atau mubâlaghah.
Lebih lanjut Abdul Qadir Husen berkata:

نإ ةغ`ب إ عجرت امنإ ريبعتلا اذھ ءايشأ ةدع نيئيشلا نم دحاو لك لعجب ةغلابملا دصق ىل وأ
هنأك هردق ةل`جو هنأش ربكل هتلعجف نيروكذملا نينث`ا نم دحاو يف ةغلابملا تدصق ،ءايشأ

12
I b i d, hal 309.
يف اھانركذ يتلا ةيغ`بلا ةلعلا سفنل دوعن كلذبو ،ىنثملا عمج كسفنل غوستف عضو عمجلا
او ميظعتلا ىف ةغلابملا يھو درفملا عضوم ريدقتل .

Nilai sastra ungkapan ini semata-mata untuk muBalâghah, yaitu membuat masing-
masing dari dua perkara menjadi banyak, atau muBalâghah untuk salah satunya,
karena kehebatannya seolah-olah banyak, sehingga tercetaklah jamak untuk
mutsannâ dengan nilai sastranya adalah ةغلابملا ريدقتلاو ميظعتلا ىف .




















BAB VIII
MENJADIKAN KALÂM KHABARI DI TEMPAT KALÂM INSYÂI
-
ْ
ذ
ِ
إ
َ
و
َ
لْ ي
ِ
ئا
َ
رْ س
ِ
إ
ْ
ي
ِ
ن
َ
ب َ قا
َ
ثْ ي
ِ
م اَن
ْ
ذَ خ
َ
أ َ`
َ


`
ِ
إ َ نْ وُ دُب ْ عَت ) ... ،ةرقبلا 2 : 83 (
“Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah
kamu menyembah selain Allah …”.
Menurut al-Zamakhsyari, ungkapan َ` َ نْ وُ دُب ْ عَت adalah kalimat berita dengan
makna kalimat melarang

-
ُ
تاَ د
ِ
لا
َ
و
ْ
لا
َ
و ﱠ نُھَ دَ`ْ و
َ
أ َ نْ ع
ِ
ضْ رُي
ِ
نْ ي
َ
ل ْ و
َ
ح
َ
ل
ِ
ماَ ك
ِ
نْ ي ) ... ،ةرقبلا 2 : 233 (
“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh …”
- َ نْ ي
ِ
ذ

لا
َ
و
ْ
م
ُ
ك
ْ
ن
ِ
م َ نْ و

ف
َ
وَتُي َ نْ وُ ر
َ
ذ
َ
ي
َ
و
ٍ
رُھ
ْ
ش
َ
أ
َ
ة
َ
ع
َ
ب ْ ر
َ
أ ﱠ ن
ِ
ھ
ِ
س
ُ
ف
ْ
ن
َ
أ
ِ
ب َ ن ْ صﱠب
َ
رَت
َ
ي ا ً جا
َ
و
ْ
ز
َ
أ ا ً ر
ْ
شَ ع
َ
و ) ... ،ةرقبلا 2 :
234 (
“Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan istri-istri
(hendaklah para istri) menangguhkan dirinya (ber’iddah) empat bulan sepuluh hari.
…”
- ... َ نْ و
َ
ھ
ْ
نَت
َ
و
ِ
فْ وُ رْ ع
َ
م
ْ
لا
ِ
ب َ نْ وُ ر
ُ
م
ْ
أَت
ِ
نَ ع
ِ

ِ
ب َ نْ و
ُ
ن
ِ
م ْ ؤ
ُ
ت
َ
و
ِ
رَ ك
ْ
ن
ُ
م
ْ
لا ) ... ،نارمع لآ 3 : 110 (
“… kamu meyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan
beriman kepada Allah…”
-
َ
لا
َ
ق
ُ
م
ُ
كْ ي
َ
ل َ ع
َ
بْ ي
ِ
ر
ْ
ثَت َ`
َ
م ْ و
َ
ي
ْ
لا
ْ
م
ُ
ك
َ
ل ُﷲ ُ ر
ِ
ف
ْ
غ
َ
ي ) ... ،فسوي 12 : 92 (
“Dia (Yusuf) berkata: Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-
mudahan Allah mengampuni kamu …”
- ... ٍ ة
َ
را
َ
ج
ِ
ت ى
َ
ل َ ع
ْ
م
ُ
ك

لُ د
َ
أ ْ لَھ
ْ
م
ُ
كْ ي
ِ
ج
ْ
ن
ُ
ت
ِ
ه
ِ
ل ْ وُ س
َ
ر
َ
و
ِ

ِ
ب َ نْ و
ُ
ن
ِ
م ْ ؤ
ُ
ت ،
ٍ
مْ ي
ِ
ل
َ
أ ٍ با
َ
ذَ ع ْ ن
ِ
م َ نْ وُ د
ِ
ھا
َ
ج
ُ
ت
َ
و
ِ

ِ
لْ ي
ِ
ب
َ
س
ْ
ي
ِ
ف
) ... ،فصلا 61 : 10 - 11 (
“… sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu
dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan
berjihad di jalan Allah …”.
Dalam qirâat Ibn Masud: اونمآ -اب اودھاجو هلوسرو .
Termasuk kategori ‘udûl dalam kalimat bahasa Arab adalah menjadikan
kalâm khabari di tempat kalâm insyâi, seperti ungkapan
َ
ر
َ
فَ غ َ ك
َ
ل ُﷲ . Tujuan sastranya
adalah (tafaul) memberikan rasa optimis kepada mukhâthab (persona II). Tujuan lain
dengan menggunakan model ini adalah menunjukkan kesopanan terhadap mukhâthab,
mendorong mukhâthab untuk melaksanakan yang diperintahkan kepadanya dengan
cara lembut, mendorong mukhâthab untuk segera melaksanakan perintah.
Secara realistis, ungkapan di atas adalah kalâm khabari, tapi maknanya
adalah do’a (semoga Allah mengampuni anda), do’a adalah menyuruh kepada Yang
Maha Tinggi, termasuk kalâm insyai. Menurut ilmu Balâghah
13
, ungkapan
َ
ر
َ
فَ غ َ ك
َ
ل ُﷲ
lebih memiliki nilai Balâghah dari pada ungkapan ّ ب
َ
ر ُه
َ
ل ْ ر
ِ
ف
ْ
غا . Hal itu disebabkan
karena ungkapan dengan menggunakan fi’il mâdhi memberi kesan telah terjadi.
Tujuan lain dengan menggunakan model ini adalah menunjukkan kesopanan terhadap
mukhâthab, mendorong mukhâthab untuk melaksanakan yang diperintahkan
kepadanya dengan cara lembut, mendorong mukhâthab untuk segera melaksanakan
perintah.








BAB IX
MENJADIKAN KALÂM INSYÂI DI TEMPAT KALÂM KHABARI
Menggunakan kalâm insyai pada maqam kalâm khabari memiliki tujuan-
tujuan yang bernuansa Balâghah, seperti untuk mempersamakan antara ada dan

13
I b i d, hal. 267
tiadanya, menunjukkan adanya perhatian terhadap keadaan sesuatu, mewaspadai
persamaan yang baru kepada yang lama.
- ْ ل
ُ
ق
ْ
يّب
َ
ر
َ
ر
َ
م
َ
أ ،
ِ
طْ س
ِ
ق
ْ
لا
ِ
ب ٍ د
ِ
جْ س
َ
م ّ ل
ُ
ك َ د
ْ
ن
ِ
ع
ْ
م
ُ
كَھْ وُ جُ و ا ْ و
ُ
مْ ي
ِ
ق
َ
أ
َ
و ) ... ،فارع`ا 7 : 29 (
“Katakanlah: Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan. Dan (katakanlah):
Luruskanlah muka (diri) mu di setiap shalat …”
- ْ ل
ُ
ق ْ رَ ك ْ و
َ
أ اً عْ و
َ
ط ا ْ و
ُ
ق
ِ
ف
ْ
ن
َ
أ ْ ن
َ
ل اًھ
َ
لﱠب
َ
قَتُي
ْ
م
ُ
ك
ْ
ن
ِ
م ) ... ،ةبوتلا 9 : 53 (
“Katakanlah: Nafkahkanlah hartamu baik dengan sukarela ataupun dengan
terpaksa, namun nafkah itu sekali-kali tidak akan diterima dari kamu …”
- ْ ر
ِ
ف
ْ
غَت ْ س
ِ
ا ْ ر
ِ
ف
ْ
غَت ْ سَت َ` ْ و
َ
أ
ْ
مُھ
َ
ل
ْ
مُھ
َ
ل َت ْ سَت ْ ن
ِ
إ
ْ
مُھ
َ
ل ُﷲ
َ
ر
ِ
ف
ْ
غ
َ
ي ْ ن
َ
ل
َ
ف
ً
ة ﱠ ر
َ
م َ نْ ي
ِ
عْ ب
َ
س
ْ
مُھ
َ
ل ْ ر
ِ
ف
ْ
غ ) ... ،ةبوتلا 9 : 80 (
“Kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi
mereka (adalah sama saja). Kendatipun kamu memohonkan ampun bagi mereka
tujuh puluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampun kepada mereka
…”
- ... ا ْ وُ د
َ
ھ
ْ
شا
َ
و
َ
ﷲ ُ د
ِ
ھ
ْ
ش
ُ
أ
ْ
ي
ّ
ن
ِ
إ
َ
لا
َ
ق
ْ
ي
ّ
ن
َ
أ َ نْ و
ُ
ك
ِ
ر
ْ
ش
ُ
ت ا

م
ِ
م ٌ ئْ ي
ِ
ر
َ
ب ) ،دوھ 11 : 54 (
“… Hud menjawab: Sesungguhnya aku jadikan Allah sebagai saksiku dan
saksikanlah olehmu sekalian bahwa sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang
kamu persekutukan”.
Termasuk kategori ‘udûl dalam kalimat bahasa Arab adalah menjadikan
kalâm insyai di tempat kalâm khabari. Adapun rahasia menempatkan kalâm insyai di
tempat kalâm khabari menurut Abdul Qadir Husen adalah untuk mempersamakan
antara ada dan tiadanya, menunjukkan adanya perhatian terhadap keadaan sesuatu,
mewaspadai persamaan yang baru kepada yang lama.. Lebih lanjut Abdul Qadir
Husen
14
berkata:
لامعتساو ءاشن`ا قبس دقف ،ث`ثلا ةيغ`بلا ضارغ`ا هذھ ىلع اروصقم سيل ربخلا عضوم يف
لوقلا نأب يھو ءاشن`ا بيلاسأ ) ءادنلاو ينمتلاو ماھفتس`او يھنلاو رم`ا ( لصأ نع جرخت اھلك
،اھعضو عم يف لمعتستو نا ةيربخ روص ىلإ جرختف ،اھل تعضو يتلا يناعملا ريغ رخأ
ضارغ` غ`ب ةي اھل بسانملا اھعضوم يف اھانركذ . عفدي ءاشنإ ىلإ ربخ نم بولس`ا ريغتف
ةمآسلا قلقلا دعبي ربخ ىلإ ءاشنإ نم بولس`ا لوحتو ،روعشلا كرحيو هابتن`ا ريثيو ديعيو
ءاشن`ا ىف ىرخأ ىلإ ةغيص نم لاقتن`اف ،روعشلا ةدح نم فطليو ةنينأمطلا لوحتلاو نم
يئاشنإ ىلإ يربخ بولسأ اذإ `يثم اھل دجن نأ لق ،ةايحو ةيويح صنلا يطعي `خ اذھ نم صنلا
لاقتن`ا اذھو لوحتلا .

14
I b i d, hal. 272

Penggunaan kalâm insyai di tempat kalâm khabari tidak hanya untuk tujuan
Balâghah yang tiga tapi gaya bahasa insyai yang meliputi amr, nahy, istifham,
tamanni dan nida, semuanya dapat keluar dari makna asalnya untuk digunakan
dalam makna-makna lain di luar makna aslinya. Di antaranya adalah berpindah
kepada bentuk-bentuk khabariyah untuk tujuan yang sesuai dengannya. Perubahan
gaya bahasa dari khabari kepada insyai adalah untuk membuang kebosanan,
membangkitkan semangat dan menggerakkan perasaan, sedangkan perubahan dari
gaya bahasa insyai kepada gaya bahasa khabari adalah untuk menghilangkan
kebimbangan, mengembalikan ketentraman dan melembutkan perasaan. Maka
perpindahan dari satu bentuk kepada bentuk lain dalam insyai dan perpindahan dari
gaya bahasa khabari kepada gaya bahasa insyai membuat teks itu selalu hidup yang
jarang ditemukan bandingannya dalam teks-teks yang tidak menggunakan
pergantian dan perpindahan.














BAB X
MENEMPATKAN DHAMÎR DI TEMPAT ZHÂHIR
Menggunakan dhamîr di tempat zhâhir memiliki tujuan-tujuan yang
bernuansa Balâghah, yaitu menyamarkan yang dimaksud untuk membuat penasaran
bagi mukhâthab, seperti firman Allah:
- ْ ل
ُ
ق
َ
لْ ي
ِ
رْ ب
ِ
ج
ِ
ل ا
ً
ّ وُ دَ ع َ ناَ ك ْ ن
َ
م ُه

ن
ِ
إ
َ
ف َ نْ ي
َ
ب ا
َ
م
ِ
ل ا
ً
قّ د
َ
ص
ُ
م
ِ

ِ
ن
ْ
ذ
ِ
إ
ِ
ب َ ك
ِ
ب
ْ
ل
َ
ق ى
َ
ل َ ع ُه
َ
ل

زَن
ِ
هْ يَ د
َ
ي ى
َ
ر
ْ
شُب
َ
و ىً دُھ
َ
و
َ نْ ي
ِ
ن
ِ
م ْ ؤ
ُ
م
ْ
ل
ِ
ل ) ،ةرقبلا 2 : 97 (
“Katakanlah: Barangsiapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah
menurunkannya (Alquran) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa
(kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi
orang-orang yang beriman”.
Dhamîr pada kata ُه
َ
ل

زَن adalah Alquran. Dhamîr di sana tidak didahului
dengan ism zhâhir sebagai rujukannya. Menurut tata bahasa Arab di sana wajib ism
zhâhir. Akan tetapi Allah swt. menempatkan dhamîr sebagai pengganti ism zhâhir di
sana, sebagai isyarat bahwa yang dimaksud itu sudah sangat terkenal. Kemudian Dia
menyebutkan sifat-sifat yang terkandung di dalamnya tanpa menyebutkan namanya
dengan tegas karena kebesarannya, mengungkapkan kebenarannya, hidayahnya dan
kabar gembiranya. Penempatan dhamîr yang diikuti dengan penuturan sifatnya
sebagai pengganti dari menyebutkan namanya memberi kesan mendalam bagi
pendengar dan membuat jiwanya penuh dengan sifat-sifatnya.
Contoh lain adalah firman Allah:
- ... َ` ا
َ
ھ

ن
ِ
إ
َ
ف ى
َ
مْ عَت
ِ
رْ وُ د ﱡ صلا ي
ِ
ف
ْ
ي
ِ
ت

لا ُ بْ و
ُ
ل
ُ
ق
ْ
لا ى
َ
مْ عَت ْ ن
ِ
كل
َ
و ُ را
َ
صْ ب
َ
`ا ) ،جحلا 22 : 46 (
“… Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati
yang di dalam dada”.
Dhamîr pada kata ا
َ
ھ

ن
ِ
إ
َ
ف tidak didahului dengan ism zhâhir sebagai
rujukannya. Menurut tata bahasa Arab di sana wajib ism zhâhir. Akan tetapi Allah
swt. menempatkan dhamîr di sana sebagai dhamîr qishshah. Jika dijelaskan asalnya,
maka akan berbunyi: ةصقلا : ىمعت ` راصب`ا .
Contoh lain lagi adalah firman Allah:
- ٌ د
َ
ح
َ
أ ُﷲ
َ
وُھ ْ ل
ُ
ق ) ،ص`خ`ا 112 : 1 (
“Katakanlah: Dia-lah Allah Yang Maha Esa”.
Dhamîr
َ
وُھ tidak didahului dengan ism zhâhir sebagai rujukannya. Menurut
tata bahasa Arab di sana wajib ism zhâhir. Akan tetapi Allah swt. menempatkan
dhamîr di sana sebagai dhamîr sya’n. Jika dijelaskan asalnya, maka akan berbunyi:
نأشلا : ﷲ دحأ .
Adapun nilai sastra yang terkandung dalam penempatan dhamîr di tempat
yang seharusnya ism zhâhir menurut Abdul Kadir Husen adalah agar pendengar dapat
menelusuri apa yang ada di balik dhamîr itu, merasa penasaran untuk mengetahuinya.
Apa yang dihasilkan dengan susah payah akan lebih berkesan dari pada yang
dihasilkan dengan mudah. Lebih lanjut Abdul Qadir Husen
15
berkata:
ةلعلاو ةيغ`بلا يف ،ريمضلا بقعي ام عماسلا نھذ نم نكمتي نأ رھاظلا عضوم ريمضلا عضو
ريمضلاب هن` أيھتي تربع اذإف ،بعت `ب قاسنملا نم زعأ بلطلا دعب لصاحلاو ،هيلإ قوشتيو هل
نع ئيشلا لدي ام مدقتي مل اذإ ريمضلاب دوصقملا نم فرعت `و ،امھبم م`كلا ناك ارمضم ،هيلع
ع نكمتو سفنلا ىف خسر كلذ دعب ركذ اذإف ،هتفرعم بقرتتو هيلإ سفنلا قوشتت ذئدن اھنم لك
هنع ةلفغلا وأ هل نايسنلا عقوتي `ف دكأت ةدايز دكأتو نكمتلا .

Nilai sastra dalam menempatkan dhamîr di tempat yang seharusnya zhâhir adalah
agar tertancap dalam hati pendengar apa-apa yang di balik dhamîr tersebut, karena
dengan dhamîr itu ia akan mempersiapkan dan merindukannya. Walhasil jauhnya
mencari, akan lebih berharga dari pada temuan tanpa susah payah. Ungkapan
dengan dhamîr membuat kalâm jadi samar. Maksud dhamîr tidak akan diketahui jika
tidak didahului apa-apa yang menunjukkannya. Ketika itulah hati merindukannya
dan mencari-carinya. Setelah diketahui, maka akan kokohlah keberadaannya dalam
hati dan tidak akan terlupakan.


BAB XI
MENEMPATKAN ZHÂHIR DI TEMPAT DHAMÎR

15
I b i d, hal. 270
Menggunakan isim zhâhir di tempat dhamîr memiliki tujuan-tujuan yang
bernuansa Balâghah, seperti untuk mengagungkan, membuat kesan umum,
memelihara jinas.
- ... ّ ل
ُ
ك
ِ
ب ُﷲ
َ
و ُﷲ
ُ
م
ُ
ك
ُ
م
ّ
ل
َ
عُي
َ
و
َ
ﷲ او
ُ
ق

تا
َ
و
ٍ
ئْ يَ ش
ٌ
مْ ي
ِ
ل َ ع ) ،ةرقبلا 2 : 282 (
“… Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarimu; dan Allah Maha
Mengetahui segala sesuatu”.
Tujuan menggunakan isim zhâhir di tempat dhamîr pada ayat di atas adalah
ميظعتلل
- ... َ نآ ْ ر
ُ
ق ﱠ ن
ِ
إ
ِ
رْ ج
َ
ف
ْ
لا ُ نآ ْ ر
ُ
ق
َ
و
ِ
رْ ج
َ
ف
ْ
لا اً د ْ وُھ
ْ
ش
َ
م َ ناَ ك ) ،ءارس`ا 17 : 78 (
“… dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan
(oleh malaikat)”.

Tujuan menggunakan isim zhâhir di tempat dhamîr pada ayat di atas adalah
ميظعتلل
- ... ُ ح
ِ
ل
ْ
ف
ُ
م
ْ
لا
ُ
مُھ
ِ

َ
ب
ْ
ز
ِ
ح ﱠ ن
ِ
إ َ`
َ
أ
ِ
ﷲ ُ ب
ْ
ز
ِ
ح َ ك
ِ
ئـلو
ُ
أ َ نْ و ) ،ةلداجملا 58 : 22 (
“… Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah bahwa sesungguhnya golongan Allah
itulah golongan yang beruntung”.
Tujuan menggunakan isim zhâhir di tempat dhamîr pada ayat di atas ميظعتلل
- ... َنْ ي
َ
ب
ُ
غَ ز
ْ
ن
َ
ي َ نا
َ
طْ ي

شلا ﱠ ن
ِ
إ
ْ
مُھ ﱠ ن
ِ
إ ا
ً
نْ ي
ِ
ب
ُ
م ا
ً
ّ وُ دَ ع
ِ
نا
َ
س
ْ
ن
ِ
`
ِ
ل َ ناَ ك َ نا
َ
طْ ي

شلا ) ،ءارس`ا 17 : 53 (
“… Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka.
Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia”.

Tujuan menggunakan isim zhâhir di tempat dhamîr pada ayat di atas adalah
untuk menghinakan.
- ... ،
ِ
نا
َ
طْ ي

شلا ُ ب
ْ
ز
ِ
ح َ ك
ِ
ئـلو
ُ
أ َ`
َ
أ َ نْ وُ ر
ِ
سا َ خ
ْ
لا
ُ
مُھ
ِ
نا
َ
طْ ي

شلا
َ
ب
ْ
ز
ِ
ح ﱠ ن
ِ
إ ) ،ةلداجملا 58 : 19 (
“… mereka itulah golongan syaitan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan
syaitan itulah golongan yang merugi”.
Tujuan menggunakan isim zhâhir di tempat dhamîr pada ayat di atas adalah
untuk menghinakan.
- ... ﱡ ب
ِ
حُي
َ
ﷲ ﱠ ن
ِ
إ
ِ
ﷲ ى
َ
ل َ ع ْ ل

ك
َ
وَت
َ
ف َ ت
ْ
مَ زَ ع ا
َ
ذ
ِ
إ
َ
ف َ نْ ي
ِ
ل
ّ
ك
َ
وَت
ُ
م
ْ
لا ) ،نارمع لآ 3 : 159 (
“… Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada
Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya”.
Tujuan menggunakan isim zhâhir di tempat dhamîr pada ayat di atas adalah
menguatkan motivasi untuk mengerjakan sesuatu.
- َ ك
ِ
ئـلو
ُ
أ
ُ
مُھ ا
ً
ّ
ق
َ
ح َ نْ وُ ر
ِ
فاَ ك
ْ
لا اَن ْ دَت ْ ع
َ
أ
َ
و ا
ً
نْ ي
ِ
ھ
ُ
م اًبا
َ
ذَ ع َ نْ ي
ِ
ر
ِ
فاَ ك
ْ
ل
ِ
ل ) ،ءاسنلا 4 : 151 (
“merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan
untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan”.
- ا
َ
م
َ
و ﱠ ن
ِ
إ
ْ
ي
ِ
س
ْ
فَن ُ ئّ ر
َ
ب
ُ
أ
َ
س
ْ
ف

نلا
ٌ
ة
َ
را

م
َ
`
ِ
ء ْ وﱡ سلا
ِ
ب ) ،فسوي 12 : 53 (
“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu
itu selalu menyuruh kepada kejahatan ”
Tujuan menggunakan isim zhâhir di tempat dhamîr pada ayat di atas adalah
menguatkan motivasi untuk mengerjakan sesuatu
- ْ ل
ُ
ق
ِ
ك
ِ
ل
َ
م ،
ِ
سا

نلا ّ ب
َ
ر
ِ
ب
ُ
ذ ْ وُ ع
َ
أ ،
ِ
سا

نلا
ِ
سا

نلا
ِ
هل
ِ
إ ) ،سانلا 114 : 1 - 3 (
“Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan manusia. Raja manusia. Sembahan
manusia”.
Tujuan menggunakan isim zhâhir di tempat dhamîr pada ayat di atas adalah
untuk pemeliharaan Jinas, yaitu dengan pengulangan kata سانلا .
- ْ د
َ
ق
َ
ل ﱠ ن
ِ
إ ا ْ و
ُ
لا
َ
ق َ نْ ي
ِ
ذ

لا
َ
ر
َ
فَ ك
َ

ْ
م
َ
ل ْ ن
ِ
إ
َ
و ، ٌ د
ِ
حا
َ
و ٌهل
ِ
إ

`
ِ
إ ٍ هل
ِ
إ ْ ن
ِ
م ا
َ
م
َ
و ،ٍ ة
َ
ثَ`
َ
ث
ُ
ث
ِ
لا
َ
ث ا ْ وُھَت
ْ
ن
َ
ي َ نْ و
ُ
ل ْ و
ُ
ق
َ
ي ا

مَ ع

ِ
ذ

لا ﱠ نﱠ س
َ
م
َ
ي
َ
ل
ْ
مُھ
ْ
ن
ِ
م ا ْ وُ ر
َ
فَ ك َ نْ ي ٌ با
َ
ذَ ع
ٌ
مْ ي
ِ
ل
َ
أ ) ،ةدئاملا 5 : 73 (
“Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: Bahwasanya Allah salah
satu dari yang tiga, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa.
Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang
kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih”.

Tujuan menggunakan isim zhâhir di tempat dhamîr pada ayat di atas adalah
untuk menguatkan dalam peneguhan hati pendengar.
- ّ ق
َ
ح
ْ
لا
ِ
ب
َ
و اَن
ْ
ل َ ز
ْ
ن
َ
أ ّ ق
َ
ح
ْ
لا
ِ
ب
َ
و
ُ
ه
َ
لَ زَن ... ) ،ءارس`ا 17 : 105 (
“Dan Kami turunkan (Alquran) itu dengan sebenar-benarnya dan Alquran itu telah
turun dengan (membawa) kebenaran ”.
Tujuan menggunakan isim zhâhir di tempat dhamîr pada ayat di atas adalah
untuk penambahan dalam menyipati al-Haq.
- َ ف
َ
لَت
ْ
خا
َ
ف
ْ
م
ِ
ھ
ِ
نْ ي
َ
ب ْ ن
ِ
م ُ با َ زْ ح
َ
`ا ٌ لْ ي
َ
و
َ
ف
ْ
م
ِ
ھ
ِ
ب ْ ع
ِ
م ْ س
َ
أ ،
ٍ
مْ ي
ِ
ظَ ع
ٍ
م ْ و
َ
ي
ِ
د
َ
ھ
ْ
ش
َ
م ْ ن
ِ
م ا ْ وُ ر
َ
فَ ك َ نْ ي
ِ
ذ

ل
ِ
ل ْ ر
ِ
صْ ب
َ
أ
َ
و
َ
م ْ و
َ
ي
اَنَن ْ و
ُ
ت
ْ
أ
َ
ي .
ٍ
لَ`
َ
ض
ْ
ي
ِ
ف
َ
م ْ و
َ
ي
ْ
لا َ نْ و
ُ
م
ِ
لا

ظلا
ِ
ن
ِ
كل
ٍ
نْ ي
ِ
ب
ُ
م ) ،ميرم 19 : 37 - 38 (
“Maka berselisihlah golongan-golongan (yang ada) di antara mereka. Maka
kecelakaanlah bagi orang-orang kafir pada waktu menyaksikan hari yang besar.
Alangkah terangnya pendengaran mereka dan alangkah tajamnya penglihatan
mereka pada hari mereka datang kepada Kami. Tetapi orang-orang yang zalim pada
hari ini (di dunia) berada dalam kesesatan yang nyata”.
Menurut al-Zamakhsyari, menempatkan zhâhir ( َ نْ و
ُ
م
ِ
لا

ظلا ) di tempat dhamîr
sebagai bukti bahwa tidak ada kezaliman yang lebih dahsyat dari pada kezaliman
mereka dengan menghalalkan segala cara untuk menyenangkan hati mereka.
- ُﷲ
َ
ع
ِ
م
َ
س ْ د
َ
ق
َ
لْ و
َ
ق
ِ
كَت
ْ
شَت
َ
و ا
َ
ھ
ِ
جْ وَ ز
ْ
ي
ِ
ف َ ك
ُ
ل
ِ
دا
َ
ج
ُ
ت
ْ
ي
ِ
ت

لا ُﷲ
َ
و ،
ِ
ﷲ ى
َ
ل
ِ
إ
ْ
ي ُ ع
َ
م ْ س
َ
ي ٌ عْ ي
ِ
م
َ
س
َ
ﷲ ﱠ ن
ِ
إ ،ا
َ
م
ُ
ك
َ
رُ وا
َ
حَت
ٌ رْ ي
ِ
ص
َ
ب ) ،ةلداجملا 58 : 1 (
“Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan
kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah
mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar
lagi Maha Melihat”.
Tujuan menggunakan isim zhâhir di tempat dhamîr pada ayat di atas ميظعتلل
-
َ
م ْ و
َ
ي ا
َ
ي ُ ر
ِ
فاَ ك
ْ
لا ُ لْ و
ُ
ق
َ
ي
َ
و
ُ
هاَ د
َ
ي
ْ
ت
َ
مﱠ د
َ
ق ا
َ
م ُ ء ْ ر
َ
م
ْ
لا ُ ر
ُ
ظ
ْ
ن
َ
ي
ِ
نَتْ ي
َ
ل
ْ
ي اًبا
َ
ر
ُ
ت
ُ
ت
ْ
ن
ُ
ك ) ،أبنلا 78 : 40 (
“… pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya, dan
orang kafir berkata: Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah”.
Menempatkan kata zhâhir ( ُ ر
ِ
فا َ ك
ْ
لا ) di tempat dhamîr adalah untuk lebih
menghinakan.
-
ِ
ة
َ
لْ ي
َ
ل
ْ
ي
ِ
ف
ُ
هاَن
ْ
ل َ ز
ْ
ن
َ
أ ا

ن
ِ
إ ،
ِ
رْ د
َ
ق
ْ
لا ٌ رْ ي َ خ
ِ
رْ د
َ
ق
ْ
لا
ُ
ة
َ
لْ ي
َ
ل ،
ِ
رْ د
َ
ق
ْ
لا
ُ
ة
َ
لْ ي
َ
ل ا
َ
م َ كا
َ
رْ د
َ
أ ا
َ
م
َ
و ْ ن
ِ
م
ٍ
رْ ھ َ ش
ِ
ف
ْ
ل
َ
أ ) ،ردقلا 97 :
1 - 3 (
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Alquran) pada malam kemuliaan. Dan
tahukah kamu, apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari
seribu bulan”.
Tujuan menggunakan isim zhâhir di tempat dhamîr pada ayat di atas adalah
pengagungan terhadap malam qadar sekali gus memberi motivasi untuk
memperbanyak amal saleh pada malam qadar itu.
- ْ ل
ُ
ق ُ د
َ
مﱠ صلا ُﷲ ،ٌ د
َ
ح
َ
أ ُﷲ
َ
وُھ ) ،ص`خ`ا 112 : 1 - 2 (
“Katakanlah: Dia-lah Allah Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu”.
Tujuan menggunakan isim zhâhir di tempat dhamîr pada ayat di atas adalah
penekânan terhadap penempatan pernyataan itu dalam hati.














BAB XII
MENEMPATKAN FI’IL MÂDHÎ UNTUK YANG AKAN DATANG
‘udûl model lain lagi adalah menggunakan fi’il mâdhi untuk masa yang
akan datang dengan tujuan-tujuan yang bernuansa Balâghah, yaitu meyakinkan
mukhâthab akan terjadinya sesuatu yang dianggap besar, yang membuat mukhâthab
ragu-ragu terhadap kebenaran terjadinya.
-
َ
م ْ و
َ
ي
َ
و
ً
ة َ ز
ِ
را
َ
ب
َ
ضْ ر
َ
`ا ى
َ
رَت
َ
و
َ
لا
َ
ب
ِ
ج
ْ
لا ُ رّي
َ
س
ُ
ن
ْ
مُھاَن ْ رَ ش
َ
ح
َ
و ) ... ،فھكلا 18 : 47 (
“Dan (ingatlah) akan hari (yang ketika itu) Kami perjalankan gunung-gunung dan
kamu akan melihat bumi itu datar dan Kami kumpulkan seluruh manusia …”
- ُي
َ
م ْ و
َ
ي
َ
و
ُ
خ
َ
ف
ْ
ن ى
ِ
ف
ِ
رْ وﱡ صلا َ ع
ِ
ز
َ
ف
َ
ف ْ ن
َ
م
ِ
ضْ ر
َ
`ا ى
ِ
ف ْ ن
َ
م
َ
و
ِ
تا
َ
وا
َ
مﱠ سلا ى
ِ
ف ) ... ،لمنلا 27 : 87 (
“Dan (ingatlah) hari (ketika) ditiup sangkakala, maka terkejutlah segala yang di
langit dan segala yang di bumi …”
-
ْ
م
ِ
ھ
ِ
د ْ و
ُ
ل ُ ج
ِ
ل ا ْ و
ُ
لا
َ
ق
َ
و
َ
م
ِ
ل
ْ
م
ُ
ت ْ د
ِ
ھَ ش َ ع اَنْ ي
َ
ل ) ... ،تلصف 41 : 21 (
“Dan mereka berkata kepada kulit mereka: Mengapa kamu menjadi saksi terhadap
kami? …”
Adapun nilai sastra yang terkandung dalam penempatan fi’il mâdhi di
tempat yang seharusnya fi’il mudhâri’ menurut Abdul Qadir Husen adalah agar
meyakinkan mukhâthab akan terjadinya sesuatu yang dianggap besar, yang membuat
mukhâthab ragu-ragu terhadap kebenaran terjadinya. Lebih lanjut Abdul Qadir
Husen
16
berkata:
مھانرشحو ظفلب نم `دب يضاملا " مھرشحنو " هلبقف نع لدع هنكلو ،ناعراضم ن`عف عراضملا
مزجلاو هققحتل هنأو ،رشحلا عوقو ققحت ىلع ةل`د يضاملا ظفلب ريبعتلا ىلإ هعوقوب اريدج ناك
نمزلا ىف عوقولا ققحت ىلع لدي يذلا يضاملا ظفلب هنع ربعي نأ يضاملا . عزفف ظفلب يضاملا
خفنلا دنع عزفلا نأ يھو ةيغ`ب ةتكنل كلذو ،عراضملا ظفلب عزفي نم `دب ىف ققحم رمأ روصلا
` هب عوطقم ئيش اذھو ،ةبھرو فوخ لاح قلخلا لاحو ،هيف كش ` ىقري ناك املو ،نظلا هيلإ
لعفلا ظفلب هنع ربع ،دحأ هيف عزاني نأ حصي ` اققحم ارمأ يضاملا دق رم`ا نأ ىلع لدي يذلا
لعفلاب ثدح . مل ناعقي ةداھشلاو لوقلا ن` ،؟نودھشت ملو نولوقيو ىأ ،متدھش ىف امھو ،ةرخ`ا
يضاملاب امھنع ربعف ناققحم نارمأ .
Ungkapan مھانرشحو dengan fi’il mâdhi sebagai pengganti dari مھرشحنو , karena
sebelumnya ada dua fi’il mudhâri’. Akan tetapi yang terjadi adalah ‘udûl dari fi’il
mudhâri’ kepada fi’il mâdhi untuk menunjukkan benar-benar akan terjadinya hasyr.
Kebenaran terjadinya hasyr sangat pantas untuk diungkapkan dengan fi’il mâdhi
yang menunjukkan benar-benar terjadi pada waktu lampau. Demikian pula halnya

16
I b i d, hal. 288
ungkapan عزفف dengan fi’il mâdhi sebagai pengganti dari عزفي , untuk tujuan
Balâghah yaitu bahwa keadaan terkejut pada saat tiupan sangkakala merupakan hal
yang pasti terjadi dan tidak diragukan lagi, sedangkan makhluk pasti dalam keadaan
takut. Maka fi’il mâdhi itulah yang sesuai untuk mengungkapkan yang pasti terjadi,
seolah-olah peristiwanya sudah terjadi. Yang berikutnya adalah ungkapan مل متدھش
sebagai pengganti dari نولوقيو ملو ؟نودھشت karena ucapan dan persaksian itu akan
terjadi di akhirat dan pasti terjadi, maka diungkapkan dengan fi’il mâdhi.



















BAB XIII
MENEMPATKAN FI’IL MUDHÂRI’ UNTUK MASA LAMPAU
‘udûl model lain lagi adalah menggunakan fi’il mudhâri’ untuk masa
lampau dengan tujuan-tujuan yang bernuansa Balâghah, seperti memberi kesan
terhadap peristiwa yang sudah terjadi seolah-olah masih berlangsung.
- ... ا
َ
م

ل
ُ
ك
َ
ف
َ
أ
ْ
م
ُ
ك
َ
ءا
َ
ج
ْ
ن
َ
أ ى
َ
وْ ھَت َ` ا
َ
م
ِ
ب ٌ لْ وُ س
َ
ر ا
ً
قْ ي
ِ
ر
َ
ف
َ
ف
ْ
م
ُ
ت ْ ر
َ
ب
ْ
كَت ْ سا
ُ
م
ُ
كُ س
ُ
ف
ْ
م
ُ
تْ ب

ذ َ ك َ نْ و
ُ
ل
ُ
ت
ْ
قَت ا
ً
قْ ي
ِ
ر
َ
ف
َ
و ) ،ةرقبلا 2 :
87 (
“… Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu (pelajaran)
yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu angkuh; maka beberapa orang (di
antara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh?”
- ... َ نْ و
ُ
ل
ُ
ت
ْ
قَت
َ
م
ِ
ل
َ
ف ْ ل
ُ
ق
َ
ءا
َ
ي
ِ
ب
ْ
ن
َ
أ َ نْ ي
ِ
ن
ِ
م ْ ؤ
ُ
م
ْ
م
ُ
ت
ْ
ن
ُ
ك ْ ن
ِ
إ ُ لْ ب
َ
ق ْ ن
ِ
م
ِ
ﷲ ) ،ةرقبلا 2 : 91 (
“… Katakanlah: Mengapa kamu dahulu membunuh nabi-nabi Allah, jika benar kamu
orang-orang yang beriman?”
- ا
َ
م ا ْ وُ ع
َ
ب

تا
َ
و و
ُ
ل
ْ
تَت َ نا
َ
مْ ي
َ
لُ س
ِ
ك
ْ
ل
ُ
م ى
َ
ل َ ع ُ نْ ي
ِ
طا
َ
ي

شلا ) ... ،ةرقبلا 2 : 102 (
“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan
Sulaiman …”
- ا
َ
م
َ
و
ْ
ن
ُ
م
َ
و َ نْ ي
ِ
ر
ّ
ش
َ
ب
ُ
م

`
ِ
إ َ نْ ي
ِ
ل
َ
سْ ر
ُ
م
ْ
لا ُ ل
ِ
سْ ر
ُ
ن َ نْ ي
ِ
ر
ِ
ذ ) ... ،ماعن`ا 6 : 48 (
“Dan tidaklah Kami mengutuspara rasul itu melainkan untuk memberi kabar
gembira dan memberi peringatan …”
- ﱠ ن
َ
أ
َ
رَت
ْ
م
َ
ل
َ
أ
َ

ً
ة ﱠ ر
َ
ض
ْ
خ
ُ
م ُ ضْ ر
َ
`ا ُ ح
ِ
ب ْ ص
ُ
ت
َ
ف ً ءا
َ
ف
ِ
ءا
َ
مﱠ سلا َ ن
ِ
م
َ
لَ ز
ْ
ن
َ
أ ) ... ،جحلا 22 : 63 (
“Apakah kamu tiada melihat, bahwasanya Allah menurunkan air dari langit, lalu
jadilah bumi itu hijau? …”
- ْ ي
ِ
ذ

لا ُﷲ
َ
و
َ
ل
َ
سْ ر
َ
أ ٍ تّي
َ
م ٍ د
َ
ل
َ
ب ى
َ
ل
ِ
إ
ُ
هاَن
ْ
قُ س
َ
ف اًبا
َ
ح
َ
س ُ رْ ي
ِ
ث
ُ
ت
َ
ف
َ
حا
َ
ي ّ رلا ) ... ،رطاف 35 : 9 (
“Dan Allah, Dia-lah Yang mengirimkan angin; lalu angin itu menggerakkan awan,
maka Kami halau awan itu ke suatu negeri yang mati …”
- ى
ِ
ف ى
َ
ر
َ
أ
ْ
ي
ّ
ن
ِ
إ
ِ
ماَن
َ
م
ْ
لا َ كُ ح
َ
ب
ْ
ذ
َ
أ
ْ
ي
ّ
ن
َ
أ ) ... ،تافاصلا 37 : 102 (
“… sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu …”
Adapun nilai sastra yang terkandung dalam penempatan fi’il mudhâri’ di
tempat yang seharusnya fi’il mâdhi menurut Abdul Qadir Husen adalah memberi
kesan terhadap peristiwa yang sudah terjadi seolah-olah masih berlangsung. Lebih
lanjut Abdul Qadir Husen
17
berkata:
ىرأ مانملا ىف ظفلب عراضملا هيضتقي ام وھو ،مانملا ىف تيأر لقي ملو لاحلا ىلع لدي يذلا
رھاظ ،م`كلا ربعي نأ رھاظلاف ،ملكتلا نمز لبق تناك ملحلل م`سلا هيلع ميھاربإ ايؤر ن` ظفلب
وھف هلايخ قرافت ` يتلا ايؤرلا ةروص رضحتسي هن` كلذ نع لدع هنكلو ،يضاملا اھاري ةلثام
ةرملا ددجتتو ،هرصب مامأ هذھ نع قيقدلا ريبعتلا نأ حضاوو ،ةرملا ولت ةروصلا وھ ةرضاحلا
ةروصلا هذھ لقنب يفي ` يضاملا لعفلا نأ ذإ عراضملا ظفل .

Penggunaan kata ىرأ مانملا ىف dengan lafadz mudhâri’ menunjukkan waktu sedang,
padahal tuntutan kalâm menunjukkan sudah terjadi, jadi harus menggunakan تيأر
مانملا ىف , karena mimpi Ibrahim a.s. terjadi sebelum waktu berbicara. Maka
tuntutan kalâm, hendaknya diungkapkan dengan fi’il mâdhi, akan tetapi ia ber-’udûl
untuk menggambarkan bahwa mimpinya itu selalu hadir, selalu berada di depan
matanya, sehingga ungkapan yang tepat untuk ini adalah fi’il mudhâri’, karena fi’il
mâdhi tidak dapat menunjukkan gambaran ini.













BAB XIV
AL-QALB

17
I b i d, hal. 290
Al-Qalb yaitu menempatkan salah satu bagian pembicaraan di tempat lain,
dan yang lain di tempat yang pertama, lengkap dengan jabatan kalimatnya. Menurut
sastrawan Arab mutaakhkhirin, al-qalb ini memiliki nilai sastra dan pengungkapan
yang lembut yang mewarnai pembicaraan dengan keindahan dan keserasian. Al-Qalb,
ada kalanya berupa tasybih, dalam hal ini adalah tasybih maqlub, seperti pada ayat:
ا ْ و
ُ
لا
َ
ق ا
َ
م

ن
ِ
إ ا
َ
ب ّ رلا ُ ل
ْ
ث
ِ
م ُ عْ ي
َ
ب
ْ
لا , asalnya: امنإ عيبلا لثم ابرلا , akan tetapi mereka telah berlebih-
lebihan dalam mengungkapkan makna tasybih itu, sehingga diungkapkan bahwa jual
beli itu sama saja dengan riba. Tetapi ada kalanya al-qalb itu bukan berupa tasybih,
seperti pada ayat:
َ`
َ
ف ُه
َ
لُ سُ ر
ِ
ه
ِ
دْ ع
َ
و َ ف
ِ
ل
ْ
خ
ُ
م
َ
ﷲ ﱠ ن
َ
ب
َ
سْ حَت

“Karena itu, janganlah sekali-kali kamu mengira Allah akan menyalahi janji-Nya
kepada rasul-rasul-Nya…” ) يأ فلخم و هلسر هدع (












BAB XV
AL-TAGHLÎB
Al-Taghlib ialah mengunggulkan salah satu dari dua unggulan atas yang
lainnya, dengan menggunakan satu lafaz, sehingga dua yang berbeda berada pada satu
macam dengan satu jabatan kalimat. Macam-macamnya adalah
15.1. Taghlib mudzakkar atas muannats, seperti firman Allah:
-
ْ
تَناَ ك
َ
و َ نْ ي
ِ
ت
ِ
نا
َ
ق
ْ
لا َ ن
ِ
م ) ،ميرحتلا 12 (

“… dan adalah dia (Maryam) termasuk orang-orang yang taat”.

Di sini tidak menggunakan kata تاتناقلا , padahal kata itu yang lebih sesuai
dengan kemuannatsan Maryam, karena jalan yang ditempuh adalah taghlib
mudzakkar atas muannats
15.2. Taghlib mukhâthab atas ghâib, seperti firman Allah:
- ْ ل
َ
ب َ نْ و
ُ
ل
َ
ھ ْ جَت
ٌ
م ْ و
َ
ق
ْ
م
ُ
ت
ْ
ن
َ
أ ) ،لمنلا 55 (

“… Sebenarnya kamu adalah kaum yang tidak mengetahui (akibat perbuatanmu)”.

Kata متنأ untuk mukhâthab, sedangkan موق untuk ghâib, lalu digunakan kata
نولھجت tidak نولھجي dalam rangka taghlib mukhâthab atas ghâib.
15.3. Taghlib ‘aqil atas ghair ‘aqil, seperti firman Allah:
ُﷲ
َ
و ٍ ءا
َ
م ْ ن
ِ
م ٍ ةﱠباَ د ﱠ ل
ُ
ك َ ق
َ
ل َ خ
ْ
ن
ِ
م
َ
ف
ْ
مُھ
ِ
ه
ِ
ن
ْ
ط
َ
ب ى
َ
ل َ ع
ْ
ي
ِ
ش
ْ
م
َ
ي ْ ن
َ
م ) ... ،رونلا 45 (

“Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian dari
hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya …”

Kata ةبادلا meliputi makhluk berakal dan tidak berakal yaitu manusia dan
hewan. Akan tetapi yang berakal itu mengalahkan yang tidak berakal, maka
digunakan kata نم yang diprioritaskan untuk yang berakal, dalam rangka taghlib ‘aqil
atas ghair ‘aqil
15.4. Taghlib al-aktsar ‘ala al-aqal, seperti firman Allah:
َ د
َ
ج
َ
س
َ
ف
ُ
ةَ ك
ِ
ئَ`
َ
م
ْ
لا
ُ
ك َ ناَ ك
َ
و
َ
ر
َ
ب
ْ
كَت ْ سا
َ
سْ ي
ِ
لْ ب
ِ
إ

`
ِ
إ َ نْ وُ ع
َ
م ْ ج
َ
أ
ْ
مُھ

ل َ ن
ِ
م َ نْ ي
ِ
ر
ِ
فاَ ك
ْ
لا ) ،ص 73 - 74 (
“Lalu seluruh malaikat itu bersujud semuanya, kecuali iblis; dia menyombongkan
diri dan adalah dia termasuk mereka yang kafir”
Iblis dikecualikan dari malaikat, padahal bukan dari golongannya, karena
malaikat diciptakan dari cahaya, sedangkan iblis sebangsa jin yang diciptakan dari
api. Akan tetapi karena malaikat itulah yang mayoritas, maka kata malaikat men-
taghlib iblis.
15.5. Taghlib ma yumaris bi adatihi al-ma’hudah ‘ala ghairih,
Taghlib ma yumaris bi adatihi al-ma’hudah ‘ala ghairih seperti firman
Allah
َ ك
ِ
لذ ﱠ ن
َ
أ
َ
و
ْ
م
ُ
كْ ي
ِ
دْ ي
َ
أ
ْ
ت
َ
مﱠ د
َ
ق ا
َ
م
ِ
ب
َ

ِ
دْ ي
ِ
ب
َ
ع
ْ
ل
ِ
ل
ٍ
م

`
َ
ظ
ِ
ب
َ
سْ ي
َ
ل ) ،نارمع لآ 182 (

Taghlib al-asyhar ’ala ghairih, seperti firman Allah:

َ
لا
َ
ق َ دْ عُب َ كَنْ ي
َ
ب
َ
و
ْ
ي
ِ
نْ ي
َ
ب َ تْ ي
َ
ل ا
َ
ي
ِ
نْ ي
َ
ق
ِ
ر
ْ
ش
َ
م
ْ
لا ُ نْ ي
ِ
ر
َ
ق
ْ
لا
َ
س
ْ
ئ
ِ
ب
َ
ف ) ،فرخزلا 38 (

“… dia berkata: Aduhai, semoga jarak antaraku dan kamu seperti jarak antara
masyrik dan maghrib, maka syaitan itu adalah sejahat-jahat teman” (yang menyertai
manusia).

Ia berangan-angan agar jarak antara ia dengan syaitan-syaitannya seperti
jauhnya antara masyrik dan maghrib, maka digunakan kata
ِ
نْ ي
َ
ق
ِ
ر
ْ
ش
َ
م
ْ
لا , karena masyrik
yang lebih tenar, juga masyrik itu menunjukkan keberadaan, sementara maghrib
menunjukkan ketiadaan. Ada lebih baik dari pada tidak ada . Kasus ini, seperti halnya
kata al-qamar (bulan) yang men-taghlib al-syams (matahari), karena al-qamar
dikategorikan mudzakkar sedangkan al-syams dikategorikan muannats, maka
digunakan kata نارمقلا dalam rangka taghlib al-asyhar ’ala ghairih


15.6. Taghlib al-akhaf lafzhan,
Taghlib al-akhaf lafzhan seperti ungkapan نارمعلا , untuk Abu Bakar dan
Umar, karena ucapan Umar lebih mudah dari pada ucapan Abu Bakar.






















BAB XVI
AL-ILTIFÂT
Definisi iltifât menurut kebanyakan buku-buku Balâghah ialah suatu gaya
bahasa dengan menggunakan perpindahan dari satu dhamîr (pronomina) kepada
dhamîr lain di antara dhamîr-dhamîr yang tiga; mutakallim (persona I), mukhâthab
(persona II), dan ghâib (persona III), dengan catatan bahwa dhamîr baru itu kembali
kepada dhamîr yang sudah ada dalam materi yang sama. Sedangkan Muhammad
Abdul Muthallib dalam bukunya Al-Balâghah wa al- gaya bahasaiyyah,
mengemukakan definisi iltifât yang berbeda dengan yang lainnya, yaitu:
لودعلا نم لو`ل فلاخم رخآ بولسأ ىلإ م`كلا ىف بولسأ
Perpindahan gaya bahasa dalam kalâm kepada gaya bahasa lain yang berbeda
dengan gaya bahasa yang pertama
Selanjutnya ia menjelaskan kemungkinan adanya iltifât di luar dhamîr, yaitu
berupa ‘adad al-dhamîr (mufrad, mutsannâ dan jamak), al-nau’ (mudzakkar dan
muannats) dan ta’yin (ma’rifat dan nakirah).
Menurut para ahli Balâghah, tidak setiap perpindahan dalam kalimat dapat
dikategorikan kepada iltifât. Pengkategorian ke dalam iltifât harus memenuhi
beberapa ketentuan berikut:
1. Dhamîr yang dijadikan iltifât itu kembali kepada dhamîr asal.
2. Menurut al-Zamakhsyari, iltifât itu terdiri dari dua jumlah (kalimat).
3. Menurut al-Tanûkhi dan Ibn al-Atsîr; termasuk kategori iltifât adalah bentuk
maf’ûl setelah mukhâthab atau mutakallim, seperti pada firman Allah Ta’ala ريغ
بوضغملا مھيلع setelah تمعنأ . Hal itu disebabkan karena maknanya sama
dengan ريغ تبضغ نيذلا مھيلع .
4. Menurut Ibn Abi al-Ashba’, ada model iltifât dalam Alquran yang tidak ada
bandingannya dalam syi’ir-syi’ir orang Arab, yaitu bahwa mutakallim
menyebutkan dua hal dalam kalâm-nya dua kali dengan berpindah-pindah, seperti
firman Allah:
نإ ناسن`ا ديھشل كلذ ىلع هنإو دونكل هبرل
Di sini terjadi pengungkapan tentang sikap manusia terhadap Tuhannya dan sikap
Tuhan terhadap manusia, kemudian disusul dengan هنإو بحل ديدشل ريخلا
mengungkapkan tentang sifat manusia.
5. Menurut Al-Tanûkhi dan Ibn al-Atsîr, perpindahan dalam bilangan mukhâthab
(mukhâthab mufrad, mukhâthab mutsannâ dan mukhâthab jamak) mirip dengan
iltifât. Model ini ada enam macam, yaitu:
a. perpindahan dari mukhâthab mufrad ke mukhâthab mutsannâ, seperti:
اولاق اندجو امع انتفلتل انتئجأ هيلع ضر`ا ىف ءايربكلا امكل نوكتو انئابآ
b. perpindahan dari mukhâthab mufrad ke mukhâthab jamak, seperti
اي ءاسنلا متقلط اذإ يبنلا اھيأ
c. perpindahan dari mukhâthab mutsannâ ke mukhâthab mufrad, seperti:
نمف ي امكبر ا ىسوم
`ف امكنجرخي ىقشتف ةنجلا نم
d. perpindahan dari mukhâthab mutsannâ ke mukhâthab jamak, seperti:
انيحوأو ىلإ ىسوم ةلبق مكتويب اولعجاو اتويب رصمب امكموقل آوبت نأ هيخأو
e. perpindahan dari mukhâthab jamak ke mukhâthab mufrad, seperti:
اوميقأو ا ة`صل نينمؤملا رشبو
f. perpindahan dari mukhâthab jamak ke mukhâthab mutsannâ seperti:
اي نجلا رشعم سن`او متعطتسا نإ ىلإ ء`آ يأبف هلوق امكبر نابذكت
6. Termasuk iltifât adalah perpindahan dari bentuk mâdhi ke mudhâri’ atau amr.
Model ini juga ada enam macam, yaitu:
a. perpindahan dari mâdhi ke mudhâri’, seperti:
لسرأ حايرلا ريثتف
رخ نم ريطلا هفطختف ءامسلا
نإ نيذلا ﷲ ليبس نع نودصيو اورفك
b. perpindahan dari mâdhi ke amr, seperti:
لق اوميقأو طسقلاب يبر رمأ مكھوجو
تلحأو مكل اعن`ا ةميھب اوبنتجاف مكيلع ىلتي ام `إ م
c. perpindahan dari mudhâri’ ke mâdhi, seperti:
مويو عزفف روصلا ىف خفني
مويو ريسن مھانرشحو ةزراب ضر`ا ىرتو لابجلا
d. perpindahan dari mudhâri’ ke amr, seperti:
لاق ينأ اودھشاو ﷲ دھشأ ينإ ئيرب
e. perpindahan dari amr ke mâdhi, seperti:
اوذختاو ىلصم ميھاربإ ماقم نم اندھعو
f. perpindahan dari amr ke mudhâri’, seperti:
نأو وھو هوقتاو ة`صلا اوميقأ يذلا نورشحت هيلإ
Bersandar kepada kemungkinan adanya iltifât di luar dhamîr yang
dikemukakan oleh Muhammad Abdul Muthallib dan ketentuan-ketentuan tentang
iltifât di atas, maka penulis mencoba mengungkapkan hasil temuannya tentang gaya
bahasa iltifât dalam Alquran, yaitu bahwa iltifât dalam Alquran tidak hanya terjadi
pada dhamîr (pronomina), tapi terjadi pula pada ‘adad al-dhamîr (bilangan
pronomina) dan anwa’ al-jumlah (ragam kalimat) dengan rincian sebagai berikut:


15.1. Iltifât al-dhamîr (pronomina)
15.1.1. Iltifât dari mutakallim kepada mukhâthab
15.1.2. Iltifât dari mutakallim kepada ghâib
15.1.3. Iltifât dari mukhâthab kepada ghâib
15.1.4. Iltifât dari ghâib kepada mukhâthab
15.1.5. Iltifât dari ghâib kepada mutakallim
15.2. Iltifât ‘adad al-dhamîr (bilangan pronomina)
15.2.1. Iltifât dari mutakallim mufrad kepada mutakallim ma’al ghair
15.2.2. Iltifât dari mutakallim ma’al ghair kepada mutakallim mufrad
15.2.3. Iltifât dari mukhâthab mufrad kepada mukhâthab mutsannâ
15.2.4. Iltifât dari mukhâthab mufrad kepada mukhâthab jamak
15.2.5. Iltifât dari mukhâthab mutsannâ kepada mukhâthab mufrad
15.2.6. Iltifât dari mukhâthab mutsannâ kepada mukhâthab jamak
15.2.7. Iltifât dari mukhâthab jamak kepada mukhâthab mufrad
15.2.8. Iltifât dari ghâib mufrad kepada ghâib
15.2.9. Iltifât dari ghâib mufrad kepada ghâib jamak
15.2.10. Iltifât dari ghâib mutsannâ kepada ghâib mufrad
15.2.11. Iltifât dari ghâib mutsannâ kepada ghâib jamak
15.2.12. Iltifât dari ghâib jamak kepada ghâib mufrad
15.2.13. Iltifât dari ghâib jamak kepada ghâib mutsannâ
15.3. Iltifât anwa’ al-jumlah (ragam kalimat)
15.3.1. Iltifât dari jumlah fi’liyyah kepada jumlah ismiyyah
15.3.2. Iltifât dari jumlah ismiyyah kepada jumlah fi’liyyah
15.3.3. Iltifât dari kalimat berita kepada kalimat melarang
15.3.4. Iltifât dari kalimat berita kepada kalimat perintah
15.3.5. Iltifât dari kalimat perintah kepada kalimat berita
15.3.6. Iltifât dari kalimat melarang kepada kalimat berita
15.3.7. Iltifât dari kalimat bertanya kepada kalimat berita
gaya bahasa Iltifât memiliki tujuan umum dan tujuan khusus. Adapun tujuan
umum iltifât ialah:
1. Menarik perhatian pendengar kepada materi pembicaraan.
2. Mencegah kebosanan.
3. Memperbaharui semangat.
Sedangkan tujuan khususnya adalah:
1. Membuat suasana lembut kepada yang diajak bicara.
2. Memberikan keistimewaan.
3. Memberikan kecaman.
4. Menunjukkan keheranan terhadap keadaan yang diajak bicara.

‫ب‬

‫ب‬

‫* و‬

‫ن‬

‫ب‬

‫و‬

Balâghah itu memiliki tiga dimensi, yaitu ilmu Ma’âni, ilmu Bayân dan ilmu Badî’. Ilmu Ma’âni adalah ilmu untuk mengetahui hâl-ihwal lafadz bahasa Arab yang sesuai dengan tuntutan situasi dan kondisi (

‫ا‬

‫ا‬

‫ال ا‬

‫أ‬

‫ف‬

‫ل‬

‫ا‬

). Yang dimaksud dengan hâl ihwal lafadz bahasa Arab adalah

model-model susunan kalimat dalam bahasa Arab, seperti penggunaan taqdîm atau ta’khîr, penggunaan ma’rifat atau nakirah, disebut (dzikr) atau dibuang (hadzf), dan sebagainya. Sedangkan yang dimaksud dengan situasi dan kondisi adalah situasi dan kondisi mukhâthab, seperti keadaan kosong dari informasi itu, atau ragu-ragu, atau malah mengingkari informasi tersebut. Kajian dalam ilmu Ma’âni ada delapan macam, yaitu (1) ‫ي‬ (2)

‫دا‬ ‫ء )6( ا‬

‫أ ال ا‬ ‫)7( ا‬

‫إ‬ ‫وا‬

‫)3( أ ال ا‬ ‫ ا‬dan (8) ‫واة‬

‫)4( أ ال ا‬ ‫ز وا ط ب وا‬

‫تا‬ ‫. ا‬

‫ال‬

‫)5( أ‬

Ilmu Bayân didefinisikan oleh al-Hâsyimi sebagai kaidah-kaidah untuk mengetahui ragam ungkapan terhadap suatu makna yang dapat memperjelas perkataan itu sendiri. Lebih jauh al-Hâsyimi2 mengungkapkan:

‫ح‬

‫و‬

‫ق‬

‫ا ا‬ .

‫إ اد ا‬ ‫ا‬ ‫ذ‬

‫ف‬

‫لو ا‬ ‫ا‬ ‫.ا‬

‫أ‬ ‫ا‬

Kajian ilmu Bayân meliputi (1)

‫ز )2( , ا‬

‫ , ا‬dan (3)

Tasybîh didefinisikan oleh al-Hâsyimi sebagai suatu ikatan persamaan di antara dua perkara atau lebih dalam suatu sifat dengan menggunakan alat untuk suatu tujuan yang dikehendaki oleh mutakallim. Lebih jauh al-Hâsyimi3 mengungkapkan:
2

Al-Hasyimi, Jawahir al-Balaghah fi al-Ma’ani wa al-Bayan wa al-Badi’, (Indonesia : Dar Ihya al-Kutub al-‘Arabiyyah, 1960). hal. 244 3 I b i d, hal. 347

‫ها‬

‫ض‬

‫داة‬

‫أو أ‬

‫ا‬

‫ا‬

‫أو أ‬

‫أ‬ ‫( ا‬yang

Rukun Tasybîh ada 4, yaitu (1) diserupai), (3)

‫( ا‬yang diserupakan), (2)

‫ا‬

‫( و‬sifat yang dimiliki bersama antara musyabbah dan ‫( أداة ا‬alat yang digunakan untuk mempersamakan).

musyabbah bih, dan (4)

Tasybîh banyak sekali modelnya; ada model-model tasybîh yang dilihat dari sisi musyabbah dan musyabbah bih, ada model-model tasybîh yang dilihat dari sisi wajh al-syibh, ada model-model tasybîh yang dilihat dari sisi adât al-tasybîh, ada model tasybîh yang dilihat dari sisi adât al-tasybîh dan wajh al-syibh, ada modelmodel tasybîh yang dilihat dari sisi penggunaan jalan lain, dan ada pula model-model tasybîh yang dilihat dari sisi tujuannya. Tasybîh dilihat dari sisi musyabbah dan musyabbah bih melahirkan pembagian secara hissî, ‘aqlî, mufrad, murakkab dan ta’addud. Tasybîh dilihat dari sisi wajh al-syibh melahirkan tasybîh tamtsîl, tasybîh ghair tamtsîl tasybîh, tasybîh mufashshâl, tasybîh mujmal, tasybîh qarîb mubtadzil dan tasybîh ba’id gharîb. Tasybîh dilihat dari sisi adât al-tasybîh melahirkan tasybîh mursal dan tasybîh muakkad. Tasybîh dilihat dari sisi adât al-tasybîh dan wajh al-syibh melahirkan tasybîh balîgh. Tasybîh dilihat dari sisi penggunaan jalan lain melahirkan tasybîh dhimnî dan tasybîh maqlûb. Tasybîh dilihat dari sisi tujuannya melahirkan tasybîh maqbûl dan tasybîh mardûd. Semua model-model tasybîh di atas muncul dengan membawa tujuan-tujuan yang dikehendaki oleh mutakallim.

Majâz didefinisikan oleh al-Hâsyimi berupa kata yang digunakan bukan pada makna asalnya, karena ada ‘alâqah dan qarînah yang menghâlanginya. Lebih jauh al-Hâsyimi4 mengungkapkan:

‫ارادة‬

‫ط‬

‫حا‬

‫ا‬

‫و‬ . ‫ا‬ ‫ز‬ ‫ز‬

‫ا‬

‫ا‬ ‫ا‬

Majâz terbagi 4, yaitu (1) dua ini terjadi pada kata (3) yang dua ini terjadi pada kalimat.

‫د‬ ‫ز‬

‫ز‬

, (2) ‫رة‬

‫د‬

, yang , dan

, dan (4) ‫رة‬

Majâz mufrad mursal terdiri dari 2 macam, yaitu (1)

‫زا‬

‫ ا‬dan (2)

‫زا‬

‫.ا‬
Majâz mufrad bi al-ist’ârah terdiri dari 14 macam, yaitu (1) ‫رة‬

‫ا‬ ‫ا‬ ‫ا‬ ‫)3( ا‬

‫)2( ا‬ ‫)6( ا‬ ‫)01( ا‬ ‫رة ا‬ ‫.ا‬

‫رة ا‬ ‫رة ا‬ ‫رة ا‬

‫)3( ا‬ ‫د )7( ا‬ ‫)11( ا‬

‫رة ا‬ ‫رة ا‬

‫)4( ا‬ ‫)8( ا‬ ‫رة ا‬

‫رة ا‬ ‫رة ا‬ ‫دة )21( ا‬

‫رة )5( ا‬ ‫رة )9( ا‬ ‫رة ا‬

Majâz murakkab mursal ialah kalâm yang digunakan bukan pada makna asalnya, karena ada ‘alâqah yang tidak saling menyerupai, dengan qarînah yang menghâlangi didatangkannya makna asal. Hâl ini terjadi pada kalimat-kalimat khabariyyah dengan makna insyâiyyah atau sebaliknya. Majâz murakkab bi al-isti’ârah melahirkan (pribahasa).

‫ل‬

‫/ا‬

‫رة ا‬

‫ا‬

4

I b i d, hal. 290

(2) ‫ة‬ Kinâyah ‘an shifah terdiri dari dua macam. karena tidak ada ‘alâqah dan qarînah yang menghâlanginya. hal 360. hal. ر‬dan (4) ‫. 346 Ibid. yaitu (1) ‫ف‬ dan (3) . yaitu (1) . Lebih jauh al-Hâsyimi5 mengungkapkan: ‫اراد‬ ‫م‬ ‫ا‬ ‫از ارادة ا‬ ‫ها يو‬ ‫أر‬ . (3) ‫ . yaitu (1) ‫ذو ا‬ ‫را‬ (2) ‫ر‬ ‫. . (2) Dilihat dari segi maknanya.Kinâyah didefinisikan oleh al-Hâsyimi berupa kata yang digunakan bukan pada makna asalnya. terdiri dari dua macam. إ ء‬ Ilmu Badî’ didefinisikan oleh al-Hâsyimi6 sebagai berikut: ‫ء ورو‬ ‫ه‬ ‫وط وة و‬ ‫م‬ ‫ا‬ ‫ا ا‬ ‫ه وا‬ ‫ا‬ ‫ا ل‬ ‫ف‬ ‫ھ‬ Yaitu ilmu untuk mengetahui model-model dan kelebihan-kelebihan yang dapat menghiasi dan memperindah kalâm. ذو ا‬ . baik secara itsbât (positif) atau nafyi (negatif). dilanjutkan dan ditambah oleh Qudâmah bin Ja’far al-Kâtib. yaitu (1) Kinâyah ‘an mushûf terdiri dari dua macam. Kinâyah yang dimaksud untuk menisbatkan sesuatu kepada yang lain. setelah itu bermunculanlah para penulis 5 6 I b i d. setelah kalâm itu sesuai dengan tuntutan situasi dan kondisi. kinâyah terbagi 4. (2) Dilihat dari segi wasâith dan siyâq. tapi diperbolehkan menggunakan makna asalnya. Pencetusnya adalah Abdullah bin al-Mu’taz al-Abbâsi. yaitu yang memiliki satu makna dan yang memiliki beberapa makna. kinâyah terbagi 3.

ا‬ ‫ام )2( ا ر‬ ‫)3( ا‬ Al-Muhassinât al-ma’nawiyyah terdiri dari (1) ‫اد‬ ‫ن )4( ا‬ ‫ھ ا‬ ‫)61( وا‬ ‫ق )5( ا‬ ‫ا‬ ‫)6( ا‬ (12) ‫)7( ا‬ ‫ا ةا‬ ‫)31( ا‬ (8) ‫د‬ ‫)01( ا د ج )9( ا ر‬ ‫او‬ ‫)51( ا‬ ‫ا‬ ‫ا م‬ ‫ا‬ ‫با‬ ‫فا‬ ‫ا‬ ‫ا‬ (25) ‫)11( ا‬ ‫)71( ا‬ ‫)41( ا‬ ‫ا‬ (24) ‫ح‬ ‫)81( ا‬ ‫ا م )32( ا‬ ‫ا‬ ‫ب )13( ا‬ ‫)91( ا‬ ‫ا ح‬ (27) ‫)02( ا‬ ‫ا‬ (21) ‫ة )22( ا‬ ‫م أو ا‬ ‫)62( ا‬ ‫ل‬ ‫اع )23( ا‬ . Shafiyuddin al-Himali. Ibn Hijjah al-Himawi dan sebagainya. Ibn Râsyiq. yaitu (1) (2) ‫تا‬ ‫ ا‬dan ‫تا‬ ‫. ‫ا‬ ‫)02( ا‬ ‫)41( ا‬ (21) ‫س )51( ا‬ ‫اء‬ ‫ا‬ ‫ ا‬dan (22) ‫ء‬ BAB II MENEMPATKAN KATA MUFRAD DI TEMPAT MUTSANNÂ . Kajian ilmu Badî’ dibagi dua bagian. ‫)82( ا‬ ‫)33( ا‬ ‫ا‬ (29) ‫ع )03( ا‬ (35) ‫وا‬ ‫)43( ا‬ ‫ا ط اف‬ ‫ ا‬dan (36) ‫ھ ا رف‬ Al-Muhassinât al-lafdziyyah terdiri dari (1) ‫س‬ (4) ‫)3( ا زدواج )2( ا‬ ‫)8( رد ا‬ ‫)21( ا‬ ‫)81( ا‬ ‫م أو ا‬ ‫)91( ا‬ ‫از‬ ‫ا‬ ‫)5( ا‬ (9) ‫م )6( ا‬ ‫ار‬ ‫)01( ا‬ ‫ا‬ ‫وم‬ ‫فا‬ ‫)61( ا‬ ‫ا‬ (7) ‫ر‬ ‫ا‬ ‫س‬ (13) ‫ء‬ ‫)11( ا‬ ‫)71( ا‬ .seperti Abu Hilâl al-‘Askari.

sedangkan tuntutan struktur ْ ْ ُ ‫ أَن‬supaya sesuai kalimat menghendaki dhamîr mutsannâ (dual). yaitu َ ُ‫ُ ْ ھ‬ . dengan menempatkan kata mufrad di tempat yang seharusnya mutsannâ menurut tuntutan tata bahasa Arab. sedangkan tuntutan struktur kalimat supaya sesuai dengan: menghendaki bentuk kata mutsannâ (dual).” Kata ٌ ْ ِ َ . أَن‬menunjukkan mufrad.Menempatkan kata mufrad di tempat mutsannâ memiliki tujuan-tujuan yang bernuansa Balâghah. yaitu kata ‫ان‬ ‫ . َ ِ ا ْ َ ِ ْ ِ و َ ِ ا ّ َ ل‬Hal ini menunjukkan bahwa ayat di atas menggunakan gaya ِ َ bahasa ‘udûl.. bentuk katanya mufrad.. وﷲُ ور ُ ْ ُ ُ أَ َ ﱡ أَن ُ ْ ُ ْ هُ . seorang duduk di sebelah kânan dan yang lain duduk di sebelah kiri. bentuk katanya mufrad. yaitu untuk menunjukkan betapa lengketnya hubungan yang dua itu.…” Kata َ ِ ْ ِ . sedangkan tuntutan struktur kalimat supaya sesuai dengan: menghendaki bentuk kata mutsannâ (dual). yaitu kata َ ْ َ ْ ِ ِ ْ َ َ َ ِ . …” Dhamîr pada ُ‫ُ ْ ه‬ ْ ْ ُ ‫ .َ َ ُ ْ ا أَ ُ ْ ِ ُ ِ َ َ َ ْ ِ ِ ْ ِ َ … )ا‬ “Dan mereka berkata: Apakah (patut) kita percaya kepada dua orang manusia seperti kita (juga). padahal Allah dan Rasul-Nya itulah yang lebih patut mereka cari keridoannya.. dengan menempatkan kata mufrad di tempat yang seharusnya mutsannâ menurut tuntutan tata bahasa Arab. hampir tidak dapat dipisahkan bagaikan satu diri.. )ا‬َ َ َ “…. Hal ini menunjukkan bahwa ayat di atas menggunakan gaya bahasa ‘udûl. (62 : 9 ، ْ ‫ .. Di dalam Alquran penulis menemukan ayat-ayat berikut: (47 : 23 ،‫ن‬ ‫.. (17 : 50 ،‫ . َ ِ ا ْ َ ِ ْ ِ و َ ِ ا ّ َ ل َ ِ ْ ٌ )ق‬ِ َ “….

hal.dengan pengembalian dhamîr itu sendiri ُ ُ ْ ُ ‫ . bukan dengan kata mutsannâ. yaitu pada ayat pertama menempatkan kata mufrad ( َ ِ ْ ِ ) di tempat yang seharusnya mutsannâ mengikuti ( ِ ْ َ َ َ ِ ). dan pada ayat kedua menempatkan kata mufrad ( ٌ ْ ِ َ ) di tempat yang seharusnya mutsannâ menurut tuntutan tata bahasa Arab. menurut Abdul Qadir Husen7 adalah untuk menunjukkan betapa lengketnya yang dua macam itu sehingga tidak dapat dipisahkan. sehingga pantas sekali untuk diungkapkan dengan kata mufrad. وﷲُ ور‬Hal ini menunjukkan bahwa َ َ َ ayat di atas menggunakan ‘udûl. وﷲُ ور‬ َ َ َ Adapun rahasia menempatkan kata mufrad di tempat yang seharusnya mutsannâ. seolah-olah keduanya adalah satu. BAB III MENEMPATKAN KATA MUFRAD DI TEMPAT JAMAK 7 I b i d. Lebih lanjut Abdul Qadir Husen berkata: ،‫ن‬ ، ‫ز ن‬ ‫وا‬ ‫، ھ أن ا‬ ‫را‬ ،‫ا ر ط‬ . sangat kuat hubungan keduanya sampai tak terpisahkan. 299 . dengan menempatkan kata mufrad di tempat yang seharusnya mutsannâ. Ketiga ayat di atas menggunakan ‘udûl. ‫ا‬ ‫دو‬ ‫ا‬ ‫ا‬ ‫ا د‬ ‫ل، و‬ ‫و‬ ‫ا‬ ‫أن‬ ‫أ‬ ، ‫ا‬ ‫ھ‬ ‫أ‬ Nilai sastra dalam penempatan mufrad di tempat mutsannâ adalah bahwa yang dua macam itu sangat membutuhkan satu sama lainnya. yaitu ُ ُ ْ ُ ‫. karena mengikuti pengembalian dhamîr. karena mengikuti kata ِ َ ْ ‫ ا ْ َ ِ ْ ِ و َ ِ ا ّ َ ل‬dan pada ayat ketiga menempatkan dhamîr mufrad ( ُ‫ ) أَن ُ ْ ُ ْ ه‬di ِ َ tempat yang seharusnya mutsannâ menurut tuntutan tata bahasa Arab.

Di dalam Alquran penulis menemukan ayat-ayat berikut: (69 : 4 ،‫ء‬ “… Itulah teman yang sebaik-baiknya. (68 : 15 ، ‫ . ھ ُ َء َ ْ ِ ْ َ َ َ ْ َ ُ ْ ن )ا‬ِ ِ “… mereka adalah tamuku... yaitu kata Hal ini menunjukkan bahwa ayat di atas menggunakan ‘udûl dengan menempatkan kata mufrad di tempat yang seharusnya jamak. dengan menempatkan kata mufrad di tempat yang seharusnya jamak menurut tuntutan tata bahasa Arab. ھ ُ َء‬ ِ menghendaki bentuk kata jamak. sedangkan tuntutan struktur kalimat menghendaki bentuk kata jamak.. (82: 19 ، ) ‫ِ ًّ ا‬ ْ ِ ْ َ َ َ‫ . وھُ ْ َ ُ ْ َ ُ و ..... sedangkan tuntutan struktur kalimat َ menghendaki bentuk kata jamak. yaitu untuk menunjukkan betapa lengketnya hubungan yang banyak itu sehingga hampir tidak dapat dipisahkan bagaikan satu diri. ھ‬Hal gaya bahasa ‘udûl dengan ini menunjukkan bahwa ayat di atas menggunakan menempatkan kata mufrad di tempat yang seharusnya jamak. bentuk katanya mufrad.. bentuk katanya mufrad. )ا‬‫ﱞ‬ َ .. (50 : 18 ، “… sedang mereka adalah musuhmu…” Kata ‫َ ُ و‬ ‫ﱞ‬ ‫ .” ‫ . و َ ُ َ أُو ـ ِ َ ر ِ ْ ً )ا‬َ َ Kata ً ْ ِ ‫ . maka janganlah kamu memberi malu (kepadaku). yaitu kata ‫اء‬ ‫ أ‬supaya sesuai dengan kata ْ ُ‫ . ر‬bentuk katanya mufrad.Menempatkan kata mufrad di tempat jamak memiliki tujuan-tujuan yang bernuansa Balâghah. و َ ُ ْ ُ ْ ن‬َ .” Kata ْ ِ ْ َ .. yaitu kata ‫ء‬ ‫ ر‬supaya sesuai dengan kata َ ِ ‫ﹸﺃو ـ‬ Hal ini menunjukkan bahwa ayat di atas menggunakan ‘udûl. sedangkan tuntutan struktur kalimat supaya sesuai dengan kata ‫.

ُ ﱠ ُ ْ ِ ُ ُ ْ ط ْ ً . kecuali Tuhan semesta alam.” Kata ‫ِ ًّ ا‬ . ط‬bentuk katanya mufrad. ..“… dan mereka (sembahan-sembahan) itu akan menjadi musuh bagi mereka. (5 : 22 ، “… kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi …” ‫ .. وا ْ َ َ ِ َ ُ َ ْ َ ذ ِ َ ظ ِ ْ ٌ )ا‬َ “… dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula. (77: 26 ،‫اء‬ ‫ َ ِ ﱠ ُ ْ َ ُ و ِ ْ إِ ﱠ ربﱠ ا ْ َ َ ِ ْ َ )ا‬‫ﱞ‬ َ “karena sesungguhnya apa yang kamu sembah itu adalah musuhku. (4 : 66 ، َ ‫ .. yaitu kata ‫اء‬ ‫ ظ‬supaya sesuai dengan kata ُ َ ِ َ َ ْ ‫وا‬ َ Hal ini menunjukkan bahwa ayat di atas menggunakan ‘udûl dengan menempatkan kata mufrad di tempat yang seharusnya jamak. sedangkan tuntutan struktur kalimat menghendaki bentuk kata jamak. yaitu kata ‫ أط‬supaya sesuai dengan kata ْ ُ ُ ِ ْ ُ . sedangkan tuntutan struktur kalimat ِ menghendaki bentuk kata jamak.) ا‬ِ Kata ً ْ ‫ .” َ Kata ٌ ْ ِ ‫ .. Hal ini menunjukkan bahwa ayat di atas menggunakan ‘udûl dengan menempatkan kata mufrad di tempat yang seharusnya jamak.. َ ِ ﱠ‬ Hal ini menunjukkan bahwa ayat di atas menggunakan ‘udûl dengan menempatkan kata mufrad di tempat yang seharusnya jamak.. yaitu kata ‫ أَ ْ َادًا‬supaya sesuai dengan kata َ‫َ ُ ْ ُ ْ ن‬ Hal ini menunjukkan bahwa ayat di atas menggunakan ‘udûl dengan menempatkan kata mufrad di tempat yang seharusnya jamak. sedangkan tuntutan struktur kalimat ‫ﱞ‬ menghendaki bentuk kata jamak. َ ُ و‬bentuk katanya mufrad. bentuk katanya mufrad. sedangkan tuntutan struktur kalimat menghendaki bentuk kata jamak.” Kata ‫ . ظ‬bentuk katanya mufrad. yaitu kata ‫اء‬ ‫ أ‬supaya sesuai dengan kata ْ ُ ‫.

seperti firman Allah ً ْ ‫( ُ ﱠ ُ ْ ِ ُ ُ ْ ط‬kemudian Kami keluarkan kamu ِ sebagai satu bayi). menurut Abdul Qadir Husen adalah untuk menunjukkan betapa lengketnya yang banyak itu sehingga tidak dapat dipisahkan bagaikan satu diri. kadang-kadang terjadi untuk menghinakan. Pendapat lain dari Ibn Jinni tentang nilai sastra dalam penempatan mufrad di tempat jamak. 8 I b i d. hal. Lebih lanjut Abdul Qadir Husen8 berkata: ‫ة‬ ‫وا ة‬ ‫ا‬ ‫ا‬ ‫ث‬ ‫ى‬ ‫أن ا ا‬ ‫ىأ‬ (ً ْ ‫:) ُ ﱠ ُ ْ ِ ُ ُ ْ ط‬ ِ ‫ا‬ ‫ھ أن ا‬ ‫ا‬ ‫ا د‬ ‫و‬ ‫إ اھ‬ ‫دة‬ ‫ذوات‬ ‫،و‬ ‫ع وا ا . 301 . وا‬ ‫ات وا ة ا‬ ، ‫وا‬ ‫إرادة ا‬ ‫ا‬ ‫د‬ ‫ا‬ ‫وا‬ ‫وا‬ ،‫اق‬ ‫وا‬ ‫ا‬ ‫و‬ Nilai sastra dalam penempatan mufrad di tempat jamak adalah bahwa pembicara telah menjadikan yang banyak itu saking berpegangan dan berhubungan satu sama lainnya bagaikan satu diri. bahkan semuanya adalah satu ikatan yang saling mendukung. BAB IV MENEMPATKAN KATA MUTSANNÂ DI TEMPAT MUFRAD Menempatkan kata mutsannâ di tempat mufrad memiliki tujuan-tujuan yang bernuansa Balâghah. seperti untuk taukid.Adapun nilai sastra yang terkandung dalam penempatan mufrad untuk jamak. bukanlah aneka ragam yang terpisah satu sama lain dengan perbedaan dan keistimewaan masing-masing.

yaitu ُ ْ ِ . menunjukkan mutsannâ. (13 : 55 ، ‫ َ ِ َي آ َء ر ّ ُ َ ُ َ ّ َ ن )ا‬َ ِ ّ ِ “Maka ni’mat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” Menurut al-Farra. (24 : 50 ،‫ أَ ْ ِ َ ِ ْ َ َ ﱠ َ ُ ﱠ َ ﱠ ر َ ِ ْ ٍ )ق‬ٍ “Allah berfirman: Lemparkanlah olehmu berdua ke dalam neraka semua orang yang sangat ingkar dan keras kepala. (22 : 55 ، “Dari keduanya keluar mutiara dan marjan” Dhamîr pada kata ُ ‫ َ ْ ُ ج ِ ْ ُ َ ا ﱡ ْ ً ُ وا ْ َ ْ َ ن )ا‬ُ َ َ ُ ْ ِ .. karena mutiara dan marjan hanya keluar dari air asin. َ ْ ُ ج ِ ْ ُ ا ﱡ ْ ً ُ وا ْ َ ْ َ ن‬ ُ َ .” Yang dimaksud adalah malaikat penjaga neraka.. berdasarkan ayat berikutnya yang berbunyi: (31 : 43 ،‫ف‬ ُ ‫ و َ ُ ْ ا َ ْ َ ُ ّ ل ھ َ ا ا ْ ُ ْ آن َ َ ر ُ ٍ ِ َ ا ْ َ ْ َ َ ْ ِ َ ِ ْ ٍ )ا‬َ َ َ “Dan mereka berkata: Mengapa Alquran ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Mekah dan Thaif) ini?” Yang dimaksud adalah al-Walid bin al-Mughirah di Mekah dan Habib al-Tsaqafi di Thaif. Jika diasalkan.ِ ْ َ ا ْ َ ﱠ َ ْ ِ آ َ ْ أُ ُ َ َ . )ا‬ Yang dimaksud dengan kedua buah kebun itu adalah satu kebun. ُ maka kalimat itu berbunyi ‫. tidak pernah ada yang keluar dari air tawar.(33 : 18 ، “Kedua buah kebun itu menghasilkan buahnya …” ‫. sedangkan tuntutan struktur kalimat menghendaki dhamîr mufrad. pada ayat ini terjadi khithâb terhadap manusia dengan menggunakan kata mutsannâ.

303 . yaitu memecah satu perkara menjadi dua objek pembicaraan. menurut Abdul Qadir Husen adalah untuk taukid. Di sini terjadi penekânan yang tidak terdapat pada saat diungkapkan dengan kata mufrad.‫د‬ ‫ا‬ ‫ا‬ ‫نذ‬ ‫ه إذا‬ ، ‫ن ھ إرادة ا‬ ‫ا‬ ‫ذ‬ ‫اھ ا‬ ‫،و‬ ‫ا‬ ‫ا‬ َ Nilai sastra dalam penempatan mutsannâ di tempat mufrad menurut para ahli Balâghah adalah untuk taukid (penekânan).Adapun nilai sastra yang terkandung dalam penempatan mutsannâ untuk mufrad. hal. Lebih lanjut Abdul Qadir Husen9 berkata: ‫إ‬ ‫ا ا‬ . BAB V MENEMPATKAN KATA MUTSANNÂ DI TEMPAT JAMAK 9 I b i d.

. Pada ayat kedua menempatkan kata mutsannâ ْ ُ ْ َ َ َ‫أ‬ di tempat yang seharusnya jamak..ِ )ا‬ Ketiga ayat di atas menggunakan ‘udûl.. )ا‬ِ (10 : 49 ،‫ات‬ ‫. )ا‬ “… karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu …” (4 : 67 ، “Kemudian pandanglah sekali lagi …” ‫. Pada ayat ketiga menempatkan mutsannâ ْ َ ‫ َ ﱠ‬di tempat jamak menurut tuntutan tata bahasa Arab. Abdul Qadir Husen merujuk pendapat Ibn Jinni yang berpendapat bahwa nilai sastra model ini adalah untuk taukid. yakni lafadznya mutsannâ tetapi maknanya jamak. (229 : 2 ،‫ة‬ “Talak (yang dapat dirukuji) dua kali …” ُ ‫ اَ ﱠ َق َ ﱠ َ ن . yaitu pada ayat pertama menempatkan mutsannâ ‫َ ﱠ َ ن‬ ِ di tempat yang seharusnya jamak.Menempatkan mutsannâ di tempat jamak memiliki tujuan-tujuan yang bernuansa Balâghah.. hal. Adapun nilai sastra yang terkandung dalam penempatan mutsannâ untuk jamak. maka ayat itu mengandung arti “jika dua orang muslimin atau lebih”. karena lemahnya pandangan hanya diketahui dengan berulang-ulang. karena terjadinya talak itu hanya dengan tiga kali.. 303 . seperti untuk taukid.... karena yang dimaksud adalah berulang-ulang. Lebih lanjut Abdul Qadir Husen10 berkata: ‫إ أن أ ا‬ ‫ا‬ ‫ا‬ ‫اد‬ -‫در‬ ‫ه ا‬ ‫و‬ ‫ا‬ ‫ا‬ ‫ن‬ ‫إ‬ ‫ذ‬ ‫ا‬ ‫و‬ ‫ةو‬ ‫ر‬ ‫أن ھ ا ا ن‬ ‫ا‬ ‫ة‬ ‫را‬ ‫أن‬ ‫ا‬ ‫ا‬ ‫ها‬ ‫ا‬ .ُ ﱠ ارْ ِ ِ ا ْ َ َ َ َ ﱠ َ ْ . hanya saja menurut sumber-sumber yang sampai kepada kita nilai sastranya belum 10 I b i d.‫وا ة‬ ‫و‬ ‫د‬ Model gaya bahasa bahasa Arab yang seperti ini sudah dikenal sejak al-Khalil.. َ َ ْ ِ ُ ْ ا َ ْ َ أَ َ َ ْ ُ ْ .

BAB VI MENEMPATKAN KATA JAMAK DI TEMPAT MUFRAD . Adapun rahasia menempatkan kata mutsannâ di tempat jamak adalah bahwa sesuatu itu berulang-ulang dalam rangka taukid (penekânan) yang tidak kita temukan ungkapan dengan jamak sekali gus.muncul sebelum Ibn Jinni.

.307 . ْ ُ َ ِ ْ َ ‫َ ْ ف ِ ْ ِ ْ َ ْ نَ و َ ِ ْ ِ ْ أَن‬ ٍ َ َ َ . Yang dimaksud adalah Jibril. ‫ا ام ھ أ‬ ‫وا و‬ ‫ور‬ ‫و‬ 11 : ‫اا‬ ‫يا ي‬ ‫ا وا ا‬ ‫ن وا ه وا‬ ‫، وا‬ ‫ا‬ ‫ا‬ ‫ھاا‬ ‫دة و‬ ‫إرادة ا‬ ‫ا ول و ه ا‬ ‫إن‬ ‫وأ ھ را‬ ‫ﷲ‬ ‫ا ام‬ ‫ا دي، و ن ا‬ ،‫ن‬ ‫و ا ا‬ I b i d. Adapun nilai sastra yang terkandung dalam penempatan jamak di tempat mufrad.. Yang dimaksud adalah ‫دا‬ (54 : 4 ،‫ء‬ . hal. )ا‬ُ ِ ِ “Dia menurunkan para malaikat (membawa) wahyu dengan perintah-Nya…”. menurut Abdul Qadir Husen adalah untuk ta’zhîm (mengagungkan) atau mubâlaghah. Yang dimaksud adalah ‫ام‬ ‫ا‬ ‫ا‬ ْ ) . Lebih lanjut Abdul Qadir Husen11 berkata: .. Yang dimaksud adalah . (173 : 3 ،‫ان‬ ‫ ا ّ ِ ْ َ َ ل َ ُ ُ ا ﱠ سُ )آل‬َ “(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul). (2 : 16 ، ‫ ُ َ ّ ل ا ْ َ َ ِ َ َ ِ ﱡ وْ ح ِ ْ أَ ْ ِه ..ِ )ا‬ َ َ ‫ أَم َ ْ ُ ُ وْ نَ ا ﱠ س‬ْ َ “ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya?…” (17 : 9 ، ْ ‫.. - (83 : 10 ، “… dalam keadaan takut bahwa Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya akan menyiksa mereka…”... )ا‬ “Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan masjid-masjid Allah…”....َ َ نَ ِ ْ ُ ْ ِ ِ ْ َ أَن َ ْ ُ ُوْ ا َ َ ِ َ ﷲِ . seperti ta’dzim atau mubâlaghah. yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan:…”.Menempatkan kata jamak di tempat mufrad memiliki tujuan yang bernuansa Balâghah. ‫َ آ َ ھُ ُ ﷲُ ِ ْ َ ْ ِ .

،‫ا‬ ‫دا وا‬ ‫ا سو‬ ‫ل‬ . kebesarannya di kalangan kaumnya. bahwa kekuasaan yang dimilikinya. Demikian pula keadaan Fir’aun. dan demikian pula orang yang seperti dia keadaannya dianggap sekumpulan orang. maka redaksinya adalah bahwa masjid al-haram merupakan masjid Allah yang paling tinggi derajatnya. ‫نھ ا‬ ‫ھ ها‬ ‫،و‬ ‫وأ‬ Sebab ‘udûl dan rahasia Balâghahnya adalah ta’dzim. BAB VII MENEMPATKAN KATA JAMAK DI TEMPAT MUTSANNÂ . sehingga ungkapan jamak itulah yang paling sesuai dengan keadaannya. di kalangan keluarganya dan di kalangan para pengikutnya. seolah-olah masjid al-haram itu banyak. Untuk mengungkapkannya digunakan kata jamak. nama baiknya.

potonglah tangan keduanya …”. menurut Abdul Qadir Husen12 adalah untuk ta’zhîm atau mubâlaghah. أُو ـ ِ َ ُ َ ﱠ ءُوْ نَ ِ ﱠ َ ُ ْ ُ ْ نَ . mereka saling bertengkar mengenai Tuhan mereka…” Ayat di atas menggunakan gaya bahasa ‘udûl yang berpola kepada iltifât.. Yang dimaksud adalah dua orang. Lebih lanjut Abdul Qadir Husen berkata: ‫ة أ ء أو‬ ،‫أ ء‬ ‫ره‬ ‫ا‬ ‫و‬ ‫وا‬ ‫ر‬ ‫ا‬ ‫ا‬ ‫إ‬ ‫ا‬ ‫إ‬ ‫وا‬ ‫ھ اا‬ ‫تا‬ ‫إن‬ 12 I b i d.. yaitu Aisyah dan Sofyan. )ا ر‬“… Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu) …”. . hal 309. )ا‬َ ُ ِ َ ِ “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri. maka pergilah kamu berdua dengan membawa ayat-ayat Kami (mu’jizat). Yang dimaksud . Adapun rahasia menempatkan kata jamak di tempat yang seharusnya mutsannâ. Sesungguhnya Kami bersamamu mendengarkan (apa-apa yang mereka katakan)”. َ ﱠ َ ذھَ َ ِ َ ِ َ إِ ﱠ َ َ ُ ْ ُ ْ َ ِ ُ ْ نَ )ا‬ “… Jangan takut (mereka tidak akan dapat membunuhmu). Perpindahannya terjadi pada bilangan dhamîr.. (15 : 26 ،‫اء‬ ْ ‫. (19 : 22 ، ‫ ھ َ ان َ ْ َ ن ا ْ َ َ ُ ْ ا ِ ْ ر ّ ِ ْ … )ا‬َ ِ ِ “Inilah dua golongan (golongan mu’min dan golongan kafir) yang bertengkar. berupa perpindahan dari ghâib mutsannâ (persona III dual) ‫َ ْ َ ن‬ ِ (dua golongan yang bertengkar) kepada ghâib jamak (persona III jamak) ‫( اِ ْ َ َ ُ ْ ا‬mereka saling bertengkar) (26 : 24 ،‫ ..Menempatkan kata jamak di tempat mutsannâ biasanya dengan tujuantujuan yang bernuansa Balâghah seperti ta’zhîm atau mubâlaghah... (38 : 5 ،‫ة‬ ‫ وا ﱠ رق وا ﱠ ر َ ُ َ ْ َ ُ ْ ا أَ ْ ِ َ ُ َ .. Yang dimaksud adalah bersama kamu berdua...

yaitu membuat masingmasing dari dua perkara menjadi banyak. sehingga tercetaklah jamak untuk mutsannâ dengan nilai sastranya adalah ‫وا‬ ‫ا‬ ‫. atau muBalâghah untuk salah satunya. karena kehebatannya seolah-olah banyak. ‫د‬ ‫وا‬ ‫،و‬ ‫ا‬ ‫ا‬ ‫د وھ ا‬ ‫ا‬ ‫غ‬ Nilai sastra ungkapan ini semata-mata untuk muBalâghah.ا‬ BAB VIII MENJADIKAN KALÂM KHABARI DI TEMPAT KALÂM INSYÂI .‫ا‬ ‫و‬ ‫ھ‬ ‫ذ‬ ‫ا‬ ‫ا‬ ‫ا‬ .

)ا‬ (11-10 :61 ، “… sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah …”. )آل‬َ َ ِ “… kamu meyuruh kepada yang ma’ruf. seperti ungkapan َ َ ُ‫ . dan beriman kepada Allah…” (92 : 12 ، ) . Menurut al-Zamakhsyari.آ ا‬ Termasuk kategori ‘udûl dalam kalimat bahasa Arab adalah menjadikan kalâm khabari di tempat kalâm insyâi. ھَ ْ أَد ﱡ‬ُ ‫. ungkapan َ‫َ َ ْ ُ ُ وْ ن‬ makna kalimat melarang adalah kalimat berita dengan (233 : 2 ،‫ة‬ ُ ‫ وا ْ َ ا ِ َات ُ ْ ِ ْ َ أَوْ َدھُ ﱠ َ ْ َ ْ ِ َ ِ َ ْ ِ . ْ ُ َ ُ‫ َ ل َ َ ْ ِ ْ َ َ َ ْ ُ ُ ا ْ َ ْ م َ ْ ِ ُ ﷲ‬َ َ “Dia (Yusuf) berkata: Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu.. )ا‬َ َ “Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh …” : 2 ،‫ة‬ ‫ وا ﱠ ِ ْ َ ُ َ َ ﱠ ْ نَ ِ ْ ُ ْ و َ َ رُوْ نَ أَزوا ً َ َ َ ﱠ ْ َ ِ َ ْ ُ ِ ِ ﱠ أَرْ َ َ َ أَ ْ ُ ٍ و َ ْ ًا . َ ْ ُ ُوْ نَ ِ ْ َ ْ ُوْ ف و َ ْ َ ْ نَ َ ِ ا ْ ُ ْ َ ِ و ُ ْ ِ ُ ْ نَ ِ ِ . ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah …”... )ا‬َ “Dan (ingatlah). …” (110 : 3 ،‫ان‬ ‫ ..... )ا‬َ َ ْ َ َ (234 “Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan istri-istri (hendaklah para istri) menangguhkan dirinya (ber’iddah) empat bulan sepuluh hari... َ َ َ ﷲ‬Tujuan sastranya adalah (tafaul) memberikan rasa optimis kepada mukhâthab (persona II).(83 : 2 ،‫ة‬ ْ َ ‫ وإِذ أَ َ ْ َ ِ ْ َ ق َ ِ ْ إِ ْ َ ا ِ ْ َ َ َ ْ ُ ُ وْ نَ إِ ﱠ ﷲَ . Tujuan lain . Dalam qirâat Ibn Masud: ‫و ھ وا‬ ‫ور‬ ‫.. mudahmudahan Allah mengampuni kamu …” ٍ ٍَ َ َ ِ‫ِ َ رة ُ ْ ِ ْ ُ ْ ِ ْ َ َ اب أَ ِ ْ ٍ ، ُ ْ ِ ُ ْ نَ ِ ِ ور ُ ْ ِ ِ و ُ َ ھ ُ وْ نَ ِ ْ َ ِ ْ ِ ﷲ‬ ِ َ َ َ ْ ُ ‫ ...... dan mencegah dari yang munkar..

mendorong mukhâthab untuk melaksanakan yang diperintahkan kepadanya dengan cara lembut. ungkapan َ َ ُ‫َ َ َ ﷲ‬ lebih memiliki nilai Balâghah dari pada ungkapan ُ َ ْ ِ ْ ‫ . hal. ربّ ا‬Hal itu disebabkan َ karena ungkapan dengan menggunakan fi’il mâdhi memberi kesan telah terjadi. mendorong mukhâthab untuk melaksanakan yang diperintahkan kepadanya dengan cara lembut.dengan menggunakan model ini adalah menunjukkan kesopanan terhadap mukhâthab. BAB IX MENJADIKAN KALÂM INSYÂI DI TEMPAT KALÂM KHABARI Menggunakan kalâm insyai pada maqam kalâm khabari memiliki tujuantujuan yang bernuansa Balâghah. mendorong mukhâthab untuk segera melaksanakan perintah. mendorong mukhâthab untuk segera melaksanakan perintah. termasuk kalâm insyai. ungkapan di atas adalah kalâm khabari. 267 . do’a adalah menyuruh kepada Yang Maha Tinggi. Secara realistis. seperti untuk mempersamakan antara ada dan 13 I b i d. tapi maknanya adalah do’a (semoga Allah mengampuni anda). Tujuan lain dengan menggunakan model ini adalah menunjukkan kesopanan terhadap mukhâthab. Menurut ilmu Balâghah13.

mewaspadai persamaan yang baru kepada yang lama.ُ ْ أَ ْ ِ ُ ْ ا ط ْ ً أَوْ َ ْ ھً َ ْ ُ َ َ ﱠ َ ِ ْ ُ ْ .‫ل‬ ‫ل وھ ا ا‬ 14 ،‫ث‬ ‫ج‬ ‫ا‬ ‫وا‬ ‫ا‬ ‫و‬ ‫ا‬ ‫ا‬ ‫أ‬ ‫ا‬ I b i d.. ‫ا‬ ‫ذ ھ‬ ‫اض‬ ‫و‬ ‫ا‬ ‫إ ءإ‬ ‫ب‬ ‫ر، و ل ا‬ ‫هو كا‬ ‫ا‬ ‫و‬ ‫ل‬ ‫ء وا‬ ‫إ أ ى ا‬ ‫ل‬ ،‫ر‬ ‫ةا‬ ‫و‬ ‫ھ ا‬ ‫ا‬ ‫إذا‬ ‫و ة، أن‬ ‫ا‬ ‫يإ إ‬ ‫ب‬ . Adapun rahasia menempatkan kalâm insyai di tempat kalâm khabari menurut Abdul Qadir Husen adalah untuk mempersamakan antara ada dan tiadanya. namun nafkah itu sekali-kali tidak akan diterima dari kamu …” (80 : 9 ، ْ ‫.. )ا‬ “Katakanlah: Nafkahkanlah hartamu baik dengan sukarela ataupun dengan terpaksa. menunjukkan adanya perhatian terhadap keadaan sesuatu..tiadanya. (29 : 7 ،‫اف‬ ‫ ُ ْ أَ َ َ ر ّ ْ ِ ْ ِ ْ ِ ، وأَ ِ ْ ُ ْ ا و ُ ْ ھَ ُ ْ ِ ْ َ ُ ّ َ ْ ِ ٍ .. Kendatipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali. Termasuk kategori ‘udûl dalam kalimat bahasa Arab adalah menjadikan kalâm insyai di tempat kalâm khabari. َ ل إِ ّ ْ أُ ْ ِ ُ ﷲَ وا ْ َ ُ وْ ا أَ ّ ْ َ ِ ْ ٌ ِ ﱠ ُ ْ ِ ُ ْ نَ )ھ د‬َ َ “… Hud menjawab: Sesungguhnya aku jadikan Allah sebagai saksiku dan saksikanlah olehmu sekalian bahwa sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan”. 272 . menunjukkan adanya perhatian terhadap keadaan sesuatu. namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampun kepada mereka …” (54 : 11 ،‫ .. Dan (katakanlah): Luruskanlah muka (diri) mu di setiap shalat …” (53 : 9 ، َ ‫.. )ا‬ُ َ َ “Katakanlah: Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan...اِ ْ َ ْ ِ ْ َ ُ ْ أَوْ َ َ ْ َ ْ ِ ْ َ ُ ْ إِن َ ْ َ ْ ِ ْ َ ُ ْ َ ْ ِ ْ َ َ ﱠ ةً َ َ ْ َ ْ ِ َ ﷲُ َ ُ ْ . Lebih lanjut Abdul Qadir Husen14 berkata: ‫اض ا‬ ‫ھ ها‬ ‫را‬ ‫ا‬ ‫ء‬ ‫لا‬ ‫أ‬ (‫وا اء‬ ‫م وا‬ ‫وا‬ ‫وا‬ ‫ء وھ )ا‬ ‫ا‬ ‫ل نأ‬ ‫ر‬ ‫جإ‬ ، ‫ا و‬ ‫ا‬ ‫نأ‬ ‫،و‬ ‫إ إ ء‬ ‫ب‬ ‫ا‬ . )ا‬ “Kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (adalah sama saja). mewaspadai persamaan yang baru kepada yang lama. hal..

istifham. Perubahan gaya bahasa dari khabari kepada insyai adalah untuk membuang kebosanan. Di antaranya adalah berpindah kepada bentuk-bentuk khabariyah untuk tujuan yang sesuai dengannya. mengembalikan ketentraman dan melembutkan perasaan. Maka perpindahan dari satu bentuk kepada bentuk lain dalam insyai dan perpindahan dari gaya bahasa khabari kepada gaya bahasa insyai membuat teks itu selalu hidup yang jarang ditemukan bandingannya dalam teks-teks yang tidak menggunakan pergantian dan perpindahan. semuanya dapat keluar dari makna asalnya untuk digunakan dalam makna-makna lain di luar makna aslinya.Penggunaan kalâm insyai di tempat kalâm khabari tidak hanya untuk tujuan Balâghah yang tiga tapi gaya bahasa insyai yang meliputi amr. tamanni dan nida. sedangkan perubahan dari gaya bahasa insyai kepada gaya bahasa khabari adalah untuk menghilangkan kebimbangan. nahy. membangkitkan semangat dan menggerakkan perasaan. BAB X MENEMPATKAN DHAMÎR DI TEMPAT ZHÂHIR .

menempatkan dhamîr di sana sebagai dhamîr qishshah. Kemudian Dia menyebutkan sifat-sifat yang terkandung di dalamnya tanpa menyebutkan namanya dengan tegas karena kebesarannya. Menurut tata bahasa Arab di sana wajib ism zhâhir. Penempatan dhamîr yang diikuti dengan penuturan sifatnya sebagai pengganti dari menyebutkan namanya memberi kesan mendalam bagi pendengar dan membuat jiwanya penuh dengan sifat-sifatnya. hidayahnya dan kabar gembiranya. Akan tetapi Allah swt. Dhamîr di sana tidak didahului dengan ism zhâhir sebagai rujukannya. Menurut tata bahasa Arab di sana wajib ism zhâhir. seperti firman Allah: ‫َ ْ ِ َ ِ ِذن ﷲِ ُ َ ّ ً ِ َ َ ْ َ َ َ ْ ِ وھُ ًى و ُ ْ َ ى‬ َ َ ِ ْ َ َ ُ َ ‫ ُ ْ َ ْ َ نَ َ ُ وا ِ ِ ْ ِ ْ َ َ ِ ﱠ ُ َ ﱠ‬ًّ (97 : 2 ،‫ة‬ ‫ِ ْ ُ ْ ِ ِ ْ َ )ا‬ “Katakanlah: Barangsiapa yang menjadi musuh Jibril. Akan tetapi Allah swt. Dhamîr pada kata َ ‫َِﱠ‬ tidak didahului dengan ism zhâhir sebagai rujukannya. tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada”.. maka akan berbunyi: ‫ر‬ ‫ا‬ : ‫. Jika dijelaskan asalnya.Menggunakan dhamîr di tempat zhâhir memiliki tujuan-tujuan yang bernuansa Balâghah... menempatkan dhamîr sebagai pengganti ism zhâhir di sana. Contoh lain adalah firman Allah: (46 : 22 ، ‫َ َ ْ َ ا َ ْ َ ر و ِ ْ َ ْ َ ا ْ ُ ُ ْ بُ ا ﱠ ِ ْ ِ ا ﱡ ُ وْ ر )ا‬ َ ُ ِ َ ‫. yaitu menyamarkan yang dimaksud untuk membuat penasaran bagi mukhâthab. maka Jibril itu telah menurunkannya (Alquran) ke dalam hatimu dengan seizin Allah. sebagai isyarat bahwa yang dimaksud itu sudah sangat terkenal. َ ِ ﱠ‬ “… Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta. mengungkapkan kebenarannya.ا‬ . Dhamîr pada kata ُ َ ‫َ ﱠ‬ adalah Alquran. membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman”.

Setelah diketahui. hal. merasa penasaran untuk mengetahuinya. menempatkan dhamîr di sana sebagai dhamîr sya’n. ‫. Akan tetapi Allah swt. Walhasil jauhnya mencari. BAB XI MENEMPATKAN ZHÂHIR DI TEMPAT DHAMÎR 15 I b i d. maka akan berbunyi: ‫. ‫ا ھ أن‬ ‫ا‬ ‫و‬ ‫وا ا‬ ‫ا‬ ‫و ق إ ، وا‬ ‫ف ا‬ ‫،و‬ ‫ا نا م‬ ‫ا‬ ‫، ذا ذ‬ ‫إ و‬ ‫قا‬ ‫ا ن أو ا‬ ‫و ز دة‬ ‫ا‬ Nilai sastra dalam menempatkan dhamîr di tempat yang seharusnya zhâhir adalah agar tertancap dalam hati pendengar apa-apa yang di balik dhamîr tersebut. Menurut tata bahasa Arab di sana wajib ism zhâhir. Apa yang dihasilkan dengan susah payah akan lebih berkesan dari pada yang dihasilkan dengan mudah. Lebih lanjut Abdul Qadir Husen15 berkata: ، ‫ت‬ ، ‫ا‬ ‫، ذا‬ ‫ل‬ ‫م‬ ‫و‬ ‫ذھ ا‬ ‫ق‬ ‫ا‬ ‫أ‬ ‫إذا‬ ‫د‬ ‫ا‬ ‫ذ ر‬ .ُ ْ ھُ َ ﷲُ أَ َ ٌ )ا‬ Dhamîr َ ُ‫ ھ‬tidak didahului dengan ism zhâhir sebagai rujukannya. Maksud dhamîr tidak akan diketahui jika tidak didahului apa-apa yang menunjukkannya. akan lebih berharga dari pada temuan tanpa susah payah. Ketika itulah hati merindukannya dan mencari-carinya. Ungkapan dengan dhamîr membuat kalâm jadi samar. karena dengan dhamîr itu ia akan mempersiapkan dan merindukannya. Jika dijelaskan asalnya. maka akan kokohlah keberadaannya dalam hati dan tidak akan terlupakan.Contoh lain lagi adalah firman Allah: (1 : 112 ،‫ص‬ “Katakanlah: Dia-lah Allah Yang Maha Esa”. 270 . ا ن: ﷲ أ‬ Adapun nilai sastra yang terkandung dalam penempatan dhamîr di tempat yang seharusnya ism zhâhir menurut Abdul Kadir Husen adalah agar pendengar dapat menelusuri apa yang ada di balik dhamîr itu.

Tujuan menggunakan isim zhâhir di tempat dhamîr pada ayat di atas adalah (78 : 17 ،‫اء‬ ‫ﱠ‬ ُ َ ‫.. bahwa sesungguhnya golongan syaitan itulah golongan yang merugi”. dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”.. أُو ـ ِ َ ِ ْ بُ ا ﱠ ْ َ ن، أَ َ إِن ِ ْ ب ا ﱠ ْ َ ن ھُ ُ ا ْ َ ِ ُوْ نَ )ا‬َ ِ ِ “… mereka itulah golongan syaitan. Tujuan menggunakan isim zhâhir di tempat dhamîr pada ayat di atas adalah (22 : 58 ، ‫د‬ ‫ﱠ‬ ‫ . و ُ ْ آن ا ْ َ ْ ِ إِن ُ ْ آنَ ا ْ َ ْ ِ َ نَ َ ْ ُ ْ دًا )ا‬ “… dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Tujuan menggunakan isim zhâhir di tempat dhamîr pada ayat di atas adalah untuk menghinakan.. seperti untuk mengagungkan.. Tujuan menggunakan isim zhâhir di tempat dhamîr pada ayat di atas (53 : 17 ،‫اء‬ ُ ًّ ‫ﱠ‬ ‫ﱠ‬ ‫ . Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia”.. (19 : 58 ، ‫د‬ ‫ﱠ‬ ‫ .Menggunakan isim zhâhir di tempat dhamîr memiliki tujuan-tujuan yang bernuansa Balâghah.. (282 : 2 ،‫ة‬ ‫ . إِن ا ﱠ ْ َ نَ َ ْ َ غ َ ْ َ ُ ْ إِن ا ﱠ ْ َ نَ َ نَ ِ ِ ْ َ ن َ ُ وا ُ ِ ْ ً )ا‬ِ “… Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. أُو ـ ِ َ ِ ْ بُ ﷲِ أَ َ إِن ِ ْ ب ﷲِ ھُ ُ ا ْ ُ ْ ِ ُ ْ نَ )ا‬َ “… Mereka itulah golongan Allah.. memelihara jinas. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat)”. Ketahuilah bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung”. وا ﱠ ُ ا ﷲَ و ُ َ ّ ُ ُ ُ ﷲُ وﷲُ ِ ُ ّ َ ْ ٍ َ ِ ْ ٌ )ا‬َ َ َ “… Dan bertakwalah kepada Allah... Ketahuilah... Allah mengajarimu. . membuat kesan umum.

Sembahan manusia”. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan”. yaitu dengan pengulangan kata ‫. ا س‬ ْ َ َ‫ِ ْ إِ ٍ إِ ﱠ إِ ٌ وا ِ ٌ ، وإِن َ ْ َ ْ َ ُ ْ ا َ ﱠ َ ُ ْ ُ ْ ن‬ َ (73 : 5 ،‫ة‬ ‫ﱠ‬ َ َ ‫ َ َ ْ َ َ َ ا ﱠ ِ ْ َ َ ُ ْ ا إِن ﷲَ َ ِ ُ َ َ َ ٍ، و‬‫َ َ َ ﱠ ﱠ ا ﱠ ِ ْ َ َ َ ُوْ ا ِ ْ ُ ْ َ َ ابٌ أَ ِ ْ ٌ )ا‬ “Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga. maka bertawakallah kepada Allah. karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan ” Tujuan menggunakan isim zhâhir di tempat dhamîr pada ayat di atas adalah menguatkan motivasi untuk mengerjakan sesuatu ُ (3-1 : 114 ،‫ ُ ْ أَ ُ ْ ذ ِ َ بّ ا ﱠ س، َ ِ ِ ا ﱠ س، إِ ِ ا ﱠ س )ا س‬ِ ِ ِ “Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan manusia. (53 : 12 ، ‫ﱠ‬ ) ‫ و َ أُ َ ّ ئ َ ْ ِ ْ إِن ا ﱠ ْ َ َ ﱠ رةٌ ِ ﱡ ْ ء‬ُ َ ِ َ “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan). (151 : 4 ،‫ء‬ ‫ أُو ـ ِ َ ھُ ُ ا ْ َ ِ ُوْ نَ َ ًّ وأَ ْ َ ْ َ ِ ْ َ ِ ِ ْ َ َ َ ا ً ُ ِ ْ ً )ا‬َ “merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. (159 : 3 ،‫ان‬ َ ‫ﱠ‬ ‫. pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih”... Raja manusia. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya”. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu. padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Tujuan menggunakan isim zhâhir di tempat dhamîr pada ayat di atas adalah untuk pemeliharaan Jinas. Tujuan menggunakan isim zhâhir di tempat dhamîr pada ayat di atas adalah menguatkan motivasi untuk mengerjakan sesuatu. .Tujuan menggunakan isim zhâhir di tempat dhamîr pada ayat di atas adalah untuk menghinakan.. Tujuan menggunakan isim zhâhir di tempat dhamîr pada ayat di atas adalah untuk menguatkan dalam peneguhan hati pendengar. َ ِذا َ َ ْ َ َ َ َ ﱠ ْ َ َ ﷲِ إِن ﷲَ ُ ِ ﱡ ا ْ ُ َ َ ّ ِ ْ َ )آل‬ “… Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad.

(105 : 17 ،‫اء‬ ‫ و ِ ْ َ ّ أَ ْ َ ْ َ هُ و ِ ْ َ ّ َ َ ل . Tetapi orang-orang yang zalim pada hari ini (di dunia) berada dalam kesesatan yang nyata”. Tujuan menggunakan isim zhâhir di tempat dhamîr pada ayat di atas (40 : 78 ، ‫ َ ْ م َ ْ ُ ُ ا ْ َ ْ ء َ َ ﱠ َ ْ َ َاهُ و َ ُ ْ ل ا ْ َ ِ ُ َ َ ْ َ ِ ْ ُ ْ ُ ُ َ ا ً )ا‬ُ َ ُ َ “… pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya. Menurut al-Zamakhsyari. menempatkan zhâhir ( َ‫ ) ا ﱠ ِ ُ ْ ن‬di tempat dhamîr sebagai bukti bahwa tidak ada kezaliman yang lebih dahsyat dari pada kezaliman mereka dengan menghalalkan segala cara untuk menyenangkan hati mereka.. Tujuan menggunakan isim zhâhir di tempat dhamîr pada ayat di atas adalah untuk penambahan dalam menyipati al-Haq. ‫ﱠ‬ ٌ ْ ِ َ َ‫ َ ْ َ ِ َ ﷲُ َ ْ ل ا ﱠ ِ ْ ُ َ د ُ َ ِ ْ زَ وْ ِ َ و َ ْ َ ِ ْ إِ َ ﷲِ، وﷲُ َ ْ َ ُ َ َ ور ُ َ ، إِن ﷲ‬َ ُ َ ِ َ َ (1 : 58 ، ‫د‬ ‫َ ِ ْ ٌ )ا‬ “Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya. Menempatkan kata zhâhir ( ُ ِ َ ْ ‫ ) ا‬di tempat dhamîr adalah untuk lebih menghinakan. ‫ َ ْ َ َ َ ا َ ْ َ ابُ ِ ْ َ ْ ِ ِ ْ َ َ ْ ٌ ِ ﱠ ِ ْ َ َ َ ُوْ ا ِ ْ َ ْ َ ِ َ ْ م َ ِ ْ ٍ ، أَ ْ ِ ْ ِ ِ ْ وأَ ْ ِ ْ َ ْ م‬ٍ َ َ (38-37 : 19 ، ) ٍ ْ ِ ُ ‫َ َل‬ ٍ ْ ِ ‫َ ْ ُ ْ َ َ . ) ا‬َ َ َ “Dan Kami turunkan (Alquran) itu dengan sebenar-benarnya dan Alquran itu telah turun dengan (membawa) kebenaran ”. ِ ِ ا ﱠ ِ ُ ْ نَ ا ْ َ ْ م‬ َ “Maka berselisihlah golongan-golongan (yang ada) di antara mereka. dan orang kafir berkata: Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah”. Alangkah terangnya pendengaran mereka dan alangkah tajamnya penglihatan mereka pada hari mereka datang kepada Kami. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang kafir pada waktu menyaksikan hari yang besar. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. dan mengadukan (halnya) kepada Allah. : 97 ،‫ إِ ﱠ أَ ْ َ ْ َ هُ ِ ْ َ ْ َ ِ ا ْ َ ْ ر، و َ أَدراكَ َ َ ْ َ ُ ا ْ َ ْ ر، َ ْ َ ُ ا ْ َ ْ ر َ ْ ٌ ِ ْ أَ ْ ِ َ ْ ٍ )ا ر‬َ ْ َ ِ ِ ِ (3-1 . Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua..

Dan tahukah kamu. BAB XII MENEMPATKAN FI’IL MÂDHÎ UNTUK YANG AKAN DATANG . (2-1 : 112 ،‫ص‬ ‫.“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Alquran) pada malam kemuliaan. apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan”. Allah tempat meminta segala sesuatu”. Tujuan menggunakan isim zhâhir di tempat dhamîr pada ayat di atas adalah pengagungan terhadap malam qadar sekali gus memberi motivasi untuk memperbanyak amal saleh pada malam qadar itu.ُ ْ ھُ َ ﷲُ أَ َ ٌ ، ﷲُ ا ﱠ َ ُ )ا‬ “Katakanlah: Dia-lah Allah Yang Maha Esa. Tujuan menggunakan isim zhâhir di tempat dhamîr pada ayat di atas adalah penekânan terhadap penempatan pernyataan itu dalam hati.

Kebenaran terjadinya hasyr sangat pantas untuk diungkapkan dengan fi’il mâdhi yang menunjukkan benar-benar terjadi pada waktu lampau.‘udûl model lain lagi adalah menggunakan fi’il mâdhi untuk masa yang akan datang dengan tujuan-tujuan yang bernuansa Balâghah. Demikian pula halnya 16 I b i d. hal. yang membuat mukhâthab ragu-ragu terhadap kebenaran terjadinya. maka terkejutlah segala yang di langit dan segala yang di bumi …” (21 : 41 ، ) . yaitu meyakinkan mukhâthab akan terjadinya sesuatu yang dianggap besar.. Lebih lanjut Abdul Qadir Husen16 berkata: ‫ر ن، و‬ ‫ن‬ "‫ھ‬ ‫"و‬ ‫ا‬ ‫ن‬ ‫وا م‬ ‫، وأ‬ ‫و عا‬ ‫د‬ ‫ا‬ ‫ا‬ ‫. Ungkapan ‫ھ‬ ‫ و‬dengan fi’il mâdhi sebagai pengganti dari ‫ھ‬ ‫رع‬ ‫ا‬ ‫ا‬ ‫ل‬ ‫ھ‬ ‫ع‬ ‫،و‬ ‫و‬ ‫إ ا‬ ‫أن‬ ‫أ ا‬ ‫ث‬ ‫أ ان‬ . ‫ن‬ ‫ . (47 : 18 ، ‫ و َ ْ م ُ َ ّ ُ ا ْ ِ َ ل و َ َ ى ا َرْ ض َ رزَ ةً و َ َ ْ َ ھُ ْ .. yang membuat mukhâthab ragu-ragu terhadap kebenaran terjadinya. 288 ... ع‬ ‫ا‬ ‫ا ع ا‬ ‫ا ي ل‬ ‫ا‬ ‫ا رأ‬ ‫ا‬ ‫وھ أن ا ع‬ ‫رع، وذ‬ ‫ا‬ ‫ن‬ ‫إ ا ،و‬ ‫ع‬ ‫ل ف ورھ ، وھ ا‬ ‫لا‬ ‫أن ا‬ ‫ا ي ل‬ ‫ا‬ ‫ا‬ ، ‫أن زع أ‬ ‫ة، وھ‬ ‫ون؟، ن ا ل وا دة ن ا‬ ‫نو‬ ‫، أى و‬ . )ا‬َ َ ِ َ َ َ ِ ِ “Dan (ingatlah) hari (ketika) ditiup sangkakala. و‬karena sebelumnya ada dua fi’il mudhâri’. Akan tetapi yang terjadi adalah ‘udûl dari fi’il mudhâri’ kepada fi’il mâdhi untuk menunjukkan benar-benar akan terjadinya hasyr. )ا‬َ ِ َ َ َ َ َ “Dan (ingatlah) akan hari (yang ketika itu) Kami perjalankan gunung-gunung dan kamu akan melihat bumi itu datar dan Kami kumpulkan seluruh manusia …” (87 : 27 ، ‫ و َ ْ م ُ ْ َ ُ ِ ا ﱡ ْ ر َ َ ِع َ ْ ِ ا ﱠ َ وات و َ ْ ِ ا َرْ ض .. َ ْ َ َ ْ ُ ْ ِ َ َ ِ ْ ‫ و َ ُ ْ ا ِ ُ ُ ْ دھ‬ِ ِ َ “Dan mereka berkata kepada kulit mereka: Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami? …” Adapun nilai sastra yang terkandung dalam penempatan fi’il mâdhi di tempat yang seharusnya fi’il mudhâri’ menurut Abdul Qadir Husen adalah agar meyakinkan mukhâthab akan terjadinya sesuatu yang dianggap besar..

sedangkan makhluk pasti dalam keadaan takut.ungkapan ‫ع‬ dengan fi’il mâdhi sebagai pengganti dari ‫ع‬ . seolah-olah peristiwanya sudah terjadi. maka diungkapkan dengan fi’il mâdhi. Yang berikutnya adalah ungkapan ‫نو‬ ‫ و‬karena ucapan dan persaksian itu akan sebagai pengganti dari ‫ون؟‬ terjadi di akhirat dan pasti terjadi. untuk tujuan Balâghah yaitu bahwa keadaan terkejut pada saat tiupan sangkakala merupakan hal yang pasti terjadi dan tidak diragukan lagi. BAB XIII MENEMPATKAN FI’IL MUDHÂRI’ UNTUK MASA LAMPAU . Maka fi’il mâdhi itulah yang sesuai untuk mengungkapkan yang pasti terjadi.

. )ا‬َ ِ “… sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu …” Adapun nilai sastra yang terkandung dalam penempatan fi’il mudhâri’ di tempat yang seharusnya fi’il mâdhi menurut Abdul Qadir Husen adalah memberi . ُ ْ َ ِ َ َ ْ ُ ُ ْ نَ أَ ْ ِ َ ء ﷲِ ِ ْ َ ْ ُ إِن ُ ْ ُ ْ ُ ْ ِ ِ ْ َ )ا‬َ “… Katakanlah: Mengapa kamu dahulu membunuh nabi-nabi Allah. )ا‬ً ِ َ “Apakah kamu tiada melihat... ) ط‬ َ ِ‫ وﷲُ ا ﱠ ِ يْ أَرْ َ َ ا ّ َ ح َ ُ ِ ْ ُ َ َ ً َ ُ ْ َ هُ إ‬َ َ “Dan Allah.. )ا‬ َ َ ُ ْ ‫ وا ﱠ َ ُ ْ ا َ َ ْ ُ ا ﱠ َ ط‬ِ َ “Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman …” (48 : 6 ،‫م‬ ‫ و َ ُ ْ ِ ُ ا ْ ُ ْ َ ِ ْ َ إِ ﱠ ُ َ ّ ِ ْ َ و ُ ْ ِ ر ْ َ . jika benar kamu orang-orang yang beriman?” (102 : 2 ،‫ة‬ ‫ُ ْ ِ ُ َ ْ َ نَ . lalu angin itu menggerakkan awan. : 2 ،‫ة‬ ‫َ َ ْ َ ى أَ ْ ُ ُ ُ ُ ا ْ َ ْ َ ْ ُ ْ َ َ ِ ْ ً َ ﱠ ْ ُ ْ و َ ِ ْ ً َ ْ ُ ُ ْ نَ )ا‬ َ ٌ َ َ َ ِ ‫ . )ا‬َ َ ِ “Dan tidaklah Kami mengutuspara rasul itu melainkan untuk memberi kabar gembira dan memberi peringatan …” (63 : 22 ، ‫ﱠ‬ ‫ أَ َ ْ َ َ أَن ﷲَ أَ ْ َ ل ِ َ ا ﱠ َ ء َ ء َ ُ ْ ِ ُ ا َرْ ضُ ُ ْ َ ﱠ ةً . lalu jadilah bumi itu hijau? …” (9 : 35 ، ‫َ َ ٍ َ ّ ٍ ..... seperti memberi kesan terhadap peristiwa yang sudah terjadi seolah-olah masih berlangsung...‘udûl model lain lagi adalah menggunakan fi’il mudhâri’ untuk masa lampau dengan tujuan-tujuan yang bernuansa Balâghah. أَ َ ُ ﱠ َ َ ء ُ ْ ر ُ ْ ل‬(87 “… Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu angkuh. maka beberapa orang (di antara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh?” (91 :2 ،‫ة‬ ْ ‫ .. maka Kami halau awan itu ke suatu negeri yang mati …” (102 : 37،‫ت‬ ْ ‫ إِ ّ ْ أَرى ِ ا ْ َ َ م أَ ّ ْ أَذ َ ُ َ ... bahwasanya Allah menurunkan air dari langit.. Dia-lah Yang mengirimkan angin.

akan tetapi ia ber-’udûl untuk menggambarkan bahwa mimpinya itu selalu hadir. BAB XIV AL-QALB 17 I b i d. karena mimpi Ibrahim a.kesan terhadap peristiwa yang sudah terjadi seolah-olah masih berlangsung. sehingga ungkapan yang tepat untuk ini adalah fi’il mudhâri’. jadi harus menggunakan ‫رأ‬ ‫ا م‬ . hendaknya diungkapkan dengan fi’il mâdhi. karena fi’il mâdhi tidak dapat menunjukkan gambaran ini. Maka tuntutan kalâm. 290 . terjadi sebelum waktu berbicara.‫ھ ه ا رة‬ ‫ا‬ ‫ا‬ ‫ا م‬ ‫ا م، ن رؤ‬ ‫ل‬ ‫،و‬ ‫ه، و د ا‬ ‫رع إذ أن ا‬ ‫أرى‬ ‫ظھ‬ ‫ا‬ ‫أ م‬ ‫ا‬ Penggunaan kata ‫ا م‬ ‫ أرى‬dengan lafadz mudhâri’ menunjukkan waktu sedang. hal. selalu berada di depan matanya. Lebih lanjut Abdul Qadir Husen17 berkata: ‫م، وھ‬ ‫ھ أن‬ ‫اھ‬ ‫ةھ‬ ‫رة ا‬ ‫ا‬ ‫رأ‬ ‫ا لو‬ ‫رع ا ي ل‬ ، ‫ز ا‬ ‫ا م‬ ‫إ اھ‬ ‫رق‬ ‫رة ا ؤ ا‬ ‫ذ‬ ‫ھ ها‬ ‫ا‬ ‫أن ا‬ ‫ة ا ة، ووا‬ . padahal tuntutan kalâm menunjukkan sudah terjadi.s.

ada kalanya berupa tasybih. Menurut sastrawan Arab mutaakhkhirin. Al-Qalb. al-qalb ini memiliki nilai sastra dan pengungkapan yang lembut yang mewarnai pembicaraan dengan keindahan dan keserasian. seperti pada ayat: ُ َ ُ ‫َ َ َ ْ َ َ ﱠ ﷲَ ُ ْ ِ َ و ْ ِ ه ر‬ ُ ِ َ “Karena itu.Al-Qalb yaitu menempatkan salah satu bagian pembicaraan di tempat lain. َ ُ ْ ا إِ ﱠ َ ا ْ َ ْ ُ ِ ْ ُ ا‬asalnya: ‫ا‬ ‫ا‬ ‫ . dan yang lain di tempat yang pertama. Tetapi ada kalanya al-qalb itu bukan berupa tasybih. seperti pada ayat: َ ّ ‫ . janganlah sekali-kali kamu mengira Allah akan menyalahi janji-Nya kepada rasul-rasul-Nya…” (‫و ه‬ ‫ر‬ ‫)أي‬ BAB XV AL-TAGHLÎB . sehingga diungkapkan bahwa jual beli itu sama saja dengan riba. إ‬akan tetapi mereka telah berlebih- lebihan dalam mengungkapkan makna tasybih itu. lengkap dengan jabatan kalimatnya. dalam hal ini adalah tasybih maqlub.

Al-Taghlib ialah mengunggulkan salah satu dari dua unggulan atas yang lainnya. seperti firman Allah: (45 ،‫َ ْ ِ ِ . Taghlib al-aktsar ‘ala al-aqal.4. karena jalan yang ditempuh adalah taghlib mudzakkar atas muannats 15. )ا ر‬ َ َ ْ ِ ْ َ ْ َ ْ ُ ْ ِ َ ‫وﷲُ َ َ َ ُ ﱠ دَا ﱠ ٍ ِ ْ َ ء‬ ٍ َ “Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air. Di sini tidak menggunakan kata ‫ت‬ ‫ .. seperti firman Allah: (55 ، ‫ َ ْ أَ ْ ُ ْ َ ْ م َ ْ َ ُ ْ نَ )ا‬ٌ “… Sebenarnya kamu adalah kaum yang tidak mengetahui (akibat perbuatanmu)”. dalam rangka taghlib ‘aqil . seperti firman Allah: yang diprioritaskan untuk yang berakal. sedangkan ‫م‬ untuk ghâib. ا‬padahal kata itu yang lebih sesuai dengan kemuannatsan Maryam. Taghlib mudzakkar atas muannats. Kata ‫ أ‬untuk mukhâthab. seperti firman Allah: (12 ، ‫ و َ َ ْ ِ َ ا ْ َ ِ ِ ْ َ )ا‬َ “… dan adalah dia (Maryam) termasuk orang-orang yang taat”. Taghlib ‘aqil atas ghair ‘aqil. Macam-macamnya adalah 15. Taghlib mukhâthab atas ghâib. lalu digunakan kata ‫ن‬ tidak ‫ن‬ dalam rangka taghlib mukhâthab atas ghâib.2.3. Akan tetapi yang berakal itu mengalahkan yang tidak berakal. dengan menggunakan satu lafaz. maka digunakan kata atas ghair ‘aqil 15. maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya …” Kata ‫ ا ا‬meliputi makhluk berakal dan tidak berakal yaitu manusia dan hewan..1. sehingga dua yang berbeda berada pada satu macam dengan satu jabatan kalimat. 15.

ا‬karena masyrik yang lebih tenar. seperti halnya kata al-qamar (bulan) yang men-taghlib al-syams (matahari). Kasus ini. . maka digunakan kata ِ ْ َ ِ ْ َ ْ ‫ . sedangkan iblis sebangsa jin yang diciptakan dari api. Taghlib al-akhaf lafzhan. Akan tetapi karena malaikat itulah yang mayoritas. semoga jarak antaraku dan kamu seperti jarak antara masyrik dan maghrib. maka kata malaikat mentaghlib iblis.6. dia menyombongkan diri dan adalah dia termasuk mereka yang kafir” Iblis dikecualikan dari malaikat. karena al-qamar dikategorikan mudzakkar sedangkan al-syams dikategorikan digunakan kata ‫ان‬ muannats. 15. Ia berangan-angan agar jarak antara ia dengan syaitan-syaitannya seperti jauhnya antara masyrik dan maghrib. kecuali iblis. maka ‫ ا‬dalam rangka taghlib al-asyhar ’ala ghairih 15. padahal bukan dari golongannya. karena malaikat diciptakan dari cahaya. Taghlib ma yumaris bi adatihi al-ma’hudah ‘ala ghairih seperti firman Allah (74-73 ،‫َ َ َ َ ا ْ َ َ ِ َ ُ ُ ﱡ ُ ْ أَ ْ َ ُ ْ نَ إِ ﱠ إِ ْ ِ ْ َ ا ْ َ ْ َ َ و َ نَ ِ َ ا ْ َ ِ ِ ْ َ )ص‬ َ (182 ،‫ان‬ ‫َ ﱠ‬ ‫ذ ِ َ ِ َ َ ﱠ َ ْ أَ ْ ِ ْ ُ ْ وأَن ﷲَ َ ْ َ ِ َ ﱠم ِ ْ َ ِ ْ ِ )آل‬ ٍ Taghlib al-asyhar ’ala ghairih. juga masyrik itu menunjukkan keberadaan. seperti firman Allah: (38 ،‫ف‬ ‫َ ل َ َ ْ َ َ ْ ِ ْ و َ ْ َ َ ُ ْ َ ا ْ َ ْ ِ َ ْ ِ َ ِ ْ َ ا ْ َ ِ ْ ُ )ا‬ َ َ “… dia berkata: Aduhai. Taghlib ma yumaris bi adatihi al-ma’hudah ‘ala ghairih.5.“Lalu seluruh malaikat itu bersujud semuanya. sementara maghrib menunjukkan ketiadaan. Ada lebih baik dari pada tidak ada . maka syaitan itu adalah sejahat-jahat teman” (yang menyertai manusia).

ا‬untuk Abu Bakar dan Umar. BAB XVI .Taghlib al-akhaf lafzhan seperti ungkapan ‫ان‬ ‫ . karena ucapan Umar lebih mudah dari pada ucapan Abu Bakar.

Menurut al-Zamakhsyari. mutsannâ dan jamak). yaitu: ‫ول‬ ‫بآ‬ ‫أ‬ ‫مإ‬ ‫ا‬ ‫ب‬ ‫أ‬ ‫ا ول‬ Perpindahan gaya bahasa dalam kalâm kepada gaya bahasa lain yang berbeda dengan gaya bahasa yang pertama Selanjutnya ia menjelaskan kemungkinan adanya iltifât di luar dhamîr. 3. Menurut Ibn Abi al-Ashba’. 2. yaitu berupa ‘adad al-dhamîr (mufrad. dengan catatan bahwa dhamîr baru itu kembali kepada dhamîr yang sudah ada dalam materi yang sama. 4. mutakallim (persona I). seperti pada firman Allah Ta’ala ‫ب‬ dengan ‫ ا‬setelah ‫ا‬ ‫ . iltifât itu terdiri dari dua jumlah (kalimat). termasuk kategori iltifât adalah bentuk maf’ûl setelah mukhâthab atau mutakallim. mengemukakan definisi iltifât yang berbeda dengan yang lainnya. al-nau’ (mudzakkar dan muannats) dan ta’yin (ma’rifat dan nakirah). Pengkategorian ke dalam iltifât harus memenuhi beberapa ketentuan berikut: 1. ada model iltifât dalam Alquran yang tidak ada bandingannya dalam syi’ir-syi’ir orang Arab. Sedangkan Muhammad Abdul Muthallib dalam bukunya Al-Balâghah wa al. Dhamîr yang dijadikan iltifât itu kembali kepada dhamîr asal.gaya bahasaiyyah. yaitu bahwa mutakallim . Menurut para ahli Balâghah. أ‬Hal itu disebabkan karena maknanya sama . Menurut al-Tanûkhi dan Ibn al-Atsîr. dan ghâib (persona III). mukhâthab (persona II).AL-ILTIFÂT Definisi iltifât menurut kebanyakan buku-buku Balâghah ialah suatu gaya bahasa dengan menggunakan perpindahan dari satu dhamîr (pronomina) kepada dhamîr lain di antara dhamîr-dhamîr yang tiga. tidak setiap perpindahan dalam kalimat dapat dikategorikan kepada iltifât.

menyebutkan dua hal dalam kalâm-nya dua kali dengan berpindah-pindah. seperti firman Allah: ‫ذ‬ ‫د وإ‬ ‫ن‬ ‫إن ا‬ Di sini terjadi pengungkapan tentang sikap manusia terhadap Tuhannya dan sikap Tuhan terhadap manusia. yaitu: . seperti: ‫ا‬ ‫وإ‬ ‫ا رض‬ ‫ء‬ ‫ا‬ ‫ن‬ ‫و‬ ‫آ‬ ‫و‬ ‫اأ‬ b. mukhâthab mutsannâ dan mukhâthab jamak) mirip dengan iltifât. perpindahan dari mukhâthab mutsannâ ke mukhâthab jamak. perpindahan dari mukhâthab jamak ke mukhâthab mutsannâ seperti: ‫ن‬ ‫يآ ءر‬ ‫إ‬ ‫إن ا‬ ‫وا‬ ‫ا‬ 6. seperti: ‫ا‬ ‫ةو‬ ‫اا‬ ‫وأ‬ f. perpindahan dalam bilangan mukhâthab (mukhâthab mufrad. perpindahan dari mukhâthab mufrad ke mukhâthab mutsannâ. kemudian disusul dengan mengungkapkan tentang sifat manusia. Termasuk iltifât adalah perpindahan dari bentuk mâdhi ke mudhâri’ atau amr. Menurut Al-Tanûkhi dan Ibn al-Atsîr. perpindahan dari mukhâthab mutsannâ ke mukhâthab mufrad. seperti: ‫ا‬ ‫وا‬ ‫آ‬ ‫أن‬ ‫وأ‬ ‫إ‬ ‫وأو‬ e. seperti ‫ء‬ ‫ا‬ ‫إذا ط‬ ‫ا‬ ‫أ‬ c. perpindahan dari mukhâthab jamak ke mukhâthab mufrad. seperti: ‫ر‬ ‫ا‬ d. Model ini ada enam macam. 5. perpindahan dari mukhâthab mufrad ke mukhâthab jamak. yaitu: a. Model ini juga ada enam macam.

perpindahan dari mudhâri’ ke mâdhi. yaitu bahwa iltifât dalam Alquran tidak hanya terjadi pada dhamîr (pronomina). seperti: ‫ﷲ وا‬ ‫أ‬ ‫لإ‬ ‫و‬ f. perpindahan dari mudhâri’ ke amr.a. tapi terjadi pula pada ‘adad al-dhamîr (bilangan pronomina) dan anwa’ al-jumlah (ragam kalimat) dengan rincian sebagai berikut: . maka penulis mencoba mengungkapkan hasil temuannya tentang gaya bahasa iltifât dalam Alquran. perpindahan dari amr ke mâdhi. seperti: ‫وا أ‬ e. perpindahan dari mâdhi ke mudhâri’. seperti: ‫وأ‬ ‫مإ‬ ‫ا‬ ‫ر‬ ‫أ‬ ‫وأ‬ ‫ع‬ ‫ھ‬ ‫ر‬ ‫ا‬ ‫ا‬ ‫و م‬ ‫و م‬ ‫ل و ى ا رض رزة و‬ d. seperti: ‫ح‬ ‫ا‬ ‫ﷲ‬ b. perpindahan dari amr ke mudhâri’. seperti: ‫م إ اھ‬ ‫وا‬ ‫وا‬ ‫ون‬ ‫ة وا ه وھ ا ي إ‬ ‫اا‬ ‫وأن أ‬ Bersandar kepada kemungkinan adanya iltifât di luar dhamîr yang dikemukakan oleh Muhammad Abdul Muthallib dan ketentuan-ketentuan tentang iltifât di atas. perpindahan dari mâdhi ke amr. seperti: ‫ا‬ ‫ا‬ ‫أر‬ ‫ء‬ ‫وا و‬ ‫ون‬ ‫إن ا‬ ‫او ھ‬ ‫ا‬ c.

3.15.2.4.1. Iltifât dari ghâib mufrad kepada ghâib 15.2.2.3.2.2. Iltifât dari kalimat berita kepada kalimat melarang 15. Iltifât dari ghâib mutsannâ kepada ghâib mufrad 15.12.2.2.10. Iltifât al-dhamîr (pronomina) 15. Iltifât dari mutakallim mufrad kepada mutakallim ma’al ghair 15.1. Iltifât dari mukhâthab mutsannâ kepada mukhâthab jamak 15. Iltifât dari mukhâthab mutsannâ kepada mukhâthab mufrad 15. Iltifât dari ghâib mufrad kepada ghâib jamak 15. Iltifât dari jumlah ismiyyah kepada jumlah fi’liyyah 15. Iltifât dari ghâib jamak kepada ghâib mufrad 15.9.1.6.4. Iltifât dari mutakallim kepada ghâib 15.3. Iltifât dari mukhâthab mufrad kepada mukhâthab jamak 15.11. Iltifât dari ghâib kepada mutakallim 15. Iltifât dari ghâib kepada mukhâthab 15.3. Iltifât dari mukhâthab mufrad kepada mukhâthab mutsannâ 15.3. Iltifât dari mutakallim ma’al ghair kepada mutakallim mufrad 15.7.4.13.1.1. Iltifât anwa’ al-jumlah (ragam kalimat) 15.5.2.2.5.2.3. Iltifât dari ghâib jamak kepada ghâib mutsannâ 15.2. Iltifât dari jumlah fi’liyyah kepada jumlah ismiyyah 15.1.1.2.2. Iltifât dari mukhâthab jamak kepada mukhâthab mufrad 15. Iltifât dari mukhâthab kepada ghâib 15. Iltifât ‘adad al-dhamîr (bilangan pronomina) 15.2.3.3. Iltifât dari ghâib mutsannâ kepada ghâib jamak 15. Iltifât dari kalimat berita kepada kalimat perintah .1.2.2.2. Iltifât dari mutakallim kepada mukhâthab 15.8.1.

. Membuat suasana lembut kepada yang diajak bicara.3.5.3. Iltifât dari kalimat melarang kepada kalimat berita 15. 3. 3.15.6.3. Iltifât dari kalimat bertanya kepada kalimat berita gaya bahasa Iltifât memiliki tujuan umum dan tujuan khusus. Iltifât dari kalimat perintah kepada kalimat berita 15. 2. Menunjukkan keheranan terhadap keadaan yang diajak bicara. Memberikan keistimewaan. 4. 2. Sedangkan tujuan khususnya adalah: 1. Memperbaharui semangat. Mencegah kebosanan. Menarik perhatian pendengar kepada materi pembicaraan. Adapun tujuan umum iltifât ialah: 1.7. Memberikan kecaman.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->