P. 1
Kerangka Berfikir Ilmiah

Kerangka Berfikir Ilmiah

|Views: 4,072|Likes:
Published by Andy

More info:

Published by: Andy on Jun 18, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/06/2015

pdf

text

original

BAB I Kerangaka Berfikir Ilmiah. Defenisi Pertama yang harus didefiniskan adalah kata definisi itu sendiri.

Mengapa demikian?. Sebab dengan adanya perbedaan diantara kita dalam mendefinisikan suatu dapat menjadi diskusi/kesepahaman kita bisa, meskipun kita merujuk satu kata yang sama. Artinya kita harus mengacu pada makna yang sama. Lalu Apa defenisi dari defenisi?. Definisi pertama dari kata definisi adalah membatasi sesuatu, sehingga kita dapat memiliki pengertian terhadap sesuatu. Misalnya sawah kita berbatasan dengan sungai, jalan raya, dan kebun. Maka defenisi sawah kita adalah sebidang sawa yang letaknya disini…dan berbatasan dengan ini..ini..dan seterusnya, senghingga menjadi jelas. Jadi defenisi dari defenisi adalah memberikan pengertian/penjelasan tentang sesuatu hal dan disertai dengan batasan-batasan, sehingga hal tersebut menjadi jelas. Dapat disimpulkan bahwa inti defenisi yang pertama ini adalah menjelaskan sesuatu yang terbatas. Konsekwensinya, jika sesuatu tidak terbatas maka tidak dapat didefinisikan. Definisi yang kedua dari kata definisi adalah menjelaskan sesuatu denga beberapa pendekatan, sehingga sesatu itu jelas. Misalnya, jika kita ingin mendefinisikan kertas, maka kita gunakan bentuk, warna, tekstur, kegunaan, sumber dan seterusnya, sebagai pendekatan untuk memberikan kita pemahaman tentang kertas, sehingga gambaran tentang kertas bagi kita menjadi jelas adanya. Jika kita mencoba mendefinisikan judul diatas (kerangka Berfikir Ilmiah), maka kurang lebih seperti berikut: Kerangka adalah suatu yang menyusun atau menopang yang lain, sehingga sesuatu yang lain dapat berdiri dan Berfikir merupakan gerak akal dari satu titik ketitik yang lain atau bisa juga gerak akal dari pengetahuan yang satu kepengetahuan yang lain. Pengetahuan pertama kita adalah ketidaktahuan (kita tahu bahwa diri kita sekarang tidak mengetahui sesuatu), pengetahuan yang kedua adalah tahu (kemudian kita mengetahui apa yang sebelumnya tidak kita tahu). Wajar kemudian ada juga yang mendefinisikan berfikir sebagai gerak akal dari tidak tahu menjadi tahu. Jadi inti dari ini adalah gerak akal.

Terserah kemudian kita pehami bahwa titik pertama adalah tidak tahu atau tahu dan titik kedua adalah tahu, lebih tahu atau malah ketidak tahuan yang baru. Ilmiah adalah sesuatu hal/pernyataan yang bersifat keilmuan. Cuma disini kita perlu bedakan ilmiah dalam perspektif kita dan sains barat. Ilmiah dalam sains barat itu harus melewati pengujian secara empiris, artinya Ilmiah adalah empiris dalam sains barat. Namun, Ilmiah yang dimaksudkan dalam pembahasan kita adalah yang sesuai dengan dengan hukumhukum pengetahuan, sedangkan tentang sains akan dibahas dalam materi yang lain, yakni Islam Iptek. Kemutlakan dan Relativitas. Suatu hal yang penting sebelum menjalajahi dunia pemikiran perlu kiranya kita memahami jawban dari beberapa pertanyaan berikut: apakah dari semua yang ada? Apakah ide atau realitas diluar kita ini bersifat mutlak atau relative? Dalam artian, tidak hal yang pasti seperti dalam kacamata kaum sofis (Filosphis). Membahas sofisme, di Yunani muncul sekelompok orang yang berfikir bahwa apapun yang ada dalam gagasan kita bersifat relative, semuanya selalu dihadapkan pada pilihan apakah semuanya mungkin benar atau semua mungkin salah. Ciri khas kaum sophis adalah berdebat kusir yang kemudian kembali pada relativitas. Artinya lebih menekankan kekuatan retorika disbanding argumentasi. Secara social, kaum sophis ini (Sphis = arif, pandai) menimbulkan gejolak negative dimasyarakat pada zamanny karena tidak ada lagi yang dapat dipercaya. Memang konsekwensi dari relativitas adalah hilangnya kepercayaan. Disaat seperti inilah muncul tokoh Socrates (± 470-399 SM) yang menggugurkan asumsi-asumsi yang dibangun oleh kaum sophis. Socrates yang dikenal sebagai seorang guru Filsafat Yunai kuno yang sangat berpengaruh. Ia memakai metode dialektika untuk membimbing orang memahami suatu pengetahuan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan setapak demi setapak demi sempai hal-hal yang meragukan terjawab atau menjadi jelas, mengatakan bahwa Filsafat berasal dari bahasa Yunani yang berasl dari kata philo = cinta dan Sophia = arif. Mungkin disinilah kerendahatian Socrates tidak mengangap dirinya sebagai orang pintar, tapi sebagai pecinta kearifan. Disini perlu ditegaskan bahwa puncak ilmu adalah kearifan.

Ada beberapa kelemahan sofisme. Pertama, kontradiksi dengan dirinya, misalnya pernyataan bahwa “semua relative”. Jika dikembalikan, apakah pernyataan bahwa “semua relative” itu relative atau mutlak. Kemungkinan jawabannya adalah jika dikatakan “pernyataan tersebut termasuk relative”, maka pernyataan ini munggugurkan dirinya. Artinya pernyataan ini juga relative. Kalua relative artinya belub dapat dijadikan sandaran kemutlakan. Sebagai contoh, pernyataan “dilarang berbahasa Indonesia” adalah pernyataan yang menggurkan dirinya karena pernyataan ini sendiri berbasa Indonesia. Jika kemudian jawabanya adalah semua relative kecuali relative itu, maka mau tidak mua mengakui adanya kemutlakan. Seperti kebingungan Al-Ghazali dalam pencarianya, hanya satu hal yang tidak diragukan yaitu keraguan itu sendri. Kelemahan kedua adalah sofisme tidak memiliki pijakan teori yang jelas, sehingga turunan dari prinsip berpikirnya juga menjadi tidak jelas. Setahu penulis, sofisme tidak lain dari kebingungan, kegundaan karena tidak memiliki system berpikir yang komprehensif. Cara kerja sofisme sagat sederhana, menciptakan antitesa dari sebuah pernyataan dalam bahasa keraguan. Akibatnya adalah munculnya keraguan baru dan tak mampu menjawab masalah. Secuil tetang Filsafat Ilmu. Filsafat berasal dari bahasa Yunani, Philo yang berarti cinta dan Sophis yang berarti arif, pandai. Secara bahsa semua Filsafat lazim diterjemahkan sebagai cinta kearifan, kepandaian. Namun, cakupan pengertian sophia yang semula itu ternyata sangat luas. Dahulu Sophia tidak hanya berarti kearifan saja, melainkan meliputi pula kebenaran pertama, pengetahuan luas, kebijakan intelektual, pertimbangan sehat, sampai kepandaian pengrajin dan bahkan kecerdikan dalam memutuskan hal-hal yang praktis. Disini penulis mengambil pengertian tentang Filsafat yang mempunyai arti sebagai berpikir secara radikal, menyeluruh dan sistematis. Maksudnya, dengan berpikir radikal (bahasa Yunani radix = akal) atau sampai ke akar-akarnya, sehingga melihat sesuatu secara menyeluruh dan tersusun, sehingga kita arif dalam melihat persoalan. Ketiak dilekatkan dengan kata ilmu, maka berarti berpikir secara radikal, menyelurh dan sistematis terhadap ilmu.

Ilmu sendiri dapat dilihat dari dua sudut pandang. Sudut pandang barat, membedakan ilmu dengan pengetahuan. Ilmu (Science) adalah kumpulan pengetahuan(Knowledge) yang sistematis. Misalnaya ilmu biologi adalah kumpulan

pengetahuan tentang mahkluk hidup dan semua yang berkaitan secara sistematis. Sudut pandang berikutnya dalam pemikiran Islam. Ilmu bersal dari ain, lam, dan mim, yang satu akar kata denga ulam, alim dan sebagainya. Ilmu berarti tahu, artinya ilmu dan pengetahuan dalam konteks ini sama saja. Mendefinisikan pengetahuan dengan pengetahuan. Mendefinisikan ilmu dengan ilmu, artinya dalam wilayah pendefinisian ilmu memerlukan kajian tersendiri. Untuk jelasnya akan dibahas pada materi Islam Iptek. Ada tiga aspek yang menjadi pondasi filsafat ilmu yaitu Epistemologi, ontology, dan aksiologi. Epistemology adalah ilmu yang membahas tentang sumber pengetahuan berikut kevalidan sebuah sumber. Ontology membahas tentang hakikat suatu dalam hal eksistensi dan esensi atau dengan kata lain keberdaan dan keapaan sesuatu. Aksiologi membahas tentang keguanaan sesuatu. Dalam materi ini kita hanya akan lebih banyak membahas aspek Epistemologi. Sedang aspek ontology akan dibahas dalam materi Dasar-dasar kepercayaan. Sumber Pengetahuan. Berangkat dari adanya kemutlakan yang nantinya menyusun system berpikir kita, maka persoalannya kemudian adalah bagaimana mencari sebuah fakurltas dalam diri kita yang digunakan untuk menilai sesuatu, dimana penilai itupun masih harus dinilai kebenarannya. Secara umum ada beberapa mazhab pimikiran yang bisa digolongkan sebagai berikut: 1. Skirptualis. Skriprualis adalah sebuah system berpikir yang didalam menilai kebenaran digunakan teks kitab. Asumsi dasar yang tergabung adalah teks dalam kitab mutlak adanya, oleh kerenanya dalam penilaian kebenaran harus sesuai dengan teks kitab. Mempertanyakan teks kitab sama saja dengan mempertanyakan kemutlakan. Biasanya kaum skiriptual adalah orang yang beragama secara sederhana. Maksudnya, peran akal dalam wilayah keagamaan sangat sempit bahkan hamper

tidak ada. Akal dianggap terbatas dan tidak mampu menilai, olehnya kembali lagi ke teks kitab. Namun dalam wilayah epistemology, skriptualisme memiliki beberapa kekurangan, antara lain: • Tidak memiliki alasan yang jelas, mengapa kita harus mempercayai kitab tesebut. Kalau yang mutlak adalah teks kitab, maka pertanyaannya. Bagai mana caranya diantara banyak kitab menilai bahwa kitab inilah yang benar. Kalau kita lang sung percaya maka kitab lain kita harus juga langsung percaya. Nah, kalau kontaradiksi kitab mana yang benar? Artinya, kelemahan pertamanya adalah butuh suatu dalam membuktikan kebenaran sebuah kitab. • Dari kelemahan pertama dapat kita turunkan kelemahan berikutnya, yakni: Terjebak pada subjektifitas. Artinya, kebenaran sebuah kitab sangat tergantunga dengan umatnya. Kebenaran Al-Qur’an, walau berbicara universal, hanya dibenarkan oleh umat Islam. Umat, Nasrani, Budha dan sebagainya meyakini kitab merka masing-masing. Sementara kita tidak dapat memakasakan kitab kita pada umat lain sebagaimana kita pun pasti tidak akan menerima teks kitab umat lain. • Kelemahan ketiga adalah teks adalah”tanda” atau symbol yang proses penafsiran. Sementara dalam penafsiran sangat membutuhkan penafsiran. Kitab tidak bisa berteraksi langsung, tetapi melewati tergantung kualitas intelektual dan spiritual seseorang. Makanya kemudian, adalah wajar jika sebuah teks dapat dimaknai berbeda. Sebagi contoh surah 80:1 dan 2:1 • Tidak tepat dalam membuktikan penciptaan.

2. Idealis Platonia. Pemikiran plato dapat digambarkan kurang lebih seperti ini. Sebelum manusia lahir dan masih berada di alam ide, semua kejadian telah terjadi. Olehnya, manusia telah memiliki pengetahuan. Ketika terlahir di alam materi ini, pengetahuan itu hilang. Untuk itu yang harus manuasia lakuakan kemudian adalah bagaimana

mengingat kembali. pengetahuan yang kita miliki hari ini kemarin dan akan datang sebetulnya (dalam perspektif teori ini) tidak lebih dari pengingatan kembali. Teori ini juga sering disebut sebagai teori pengingatan kembali. Namun, seagai alat penilaian, teori ini memiliki beberapa kekurangan.: • • Tidak ada landasan yang memutlakkan bahwa dahulu kita pernah Turnan dari yang pertama, kalaupun (jadi disumsikan teori ini benar) sebelum lahir kita telah memiliki pengetahuan, maka berada di alam ide. ternyata

persoalannya adalah apakah pengetahuan kita saat ini selaras denga pengetahuan kita sewaktu di alam ide. Kalau dikatakan selaras, apa yang dapat dijadikan bukti. • Ketiga, tidak diterangkan dimanakah ide dan material itu menyatu (saat manusia belum dilahirkan), dan mengapa disaat kita lahir, tiba-tiba pengetahuan itu hilang. Kalau dikatakan material kita terlalu kotor untuk menampung ide, maka mengapa saat ini kita bukan saja memiliki ide, tetapi bahkan mampu mengembangkan ide disaat material kita justru semakin kotor. 3. Empirisme Doktrin empirisme berdasarkan pada pengalaman dan persepsi inderawi. Oleh karena itu, kebenaran dalam doktrin ini adalah sesuatu yang dapat ditangkap oleh indra manusia. Bangunan sains kita pada hari ini sangat kental nuansa empirisme. Tetapi empirisme memiliki kekurangan sebagai berikut : • Indera terbatas. Mata misalnya memiliki daya jangkau penglihatan yang berbeda. Begitu telinga dan indera lainnya. Olehnya, indera hanya bisa menangkap hal-hal yang bersifat terbatas atau material pula. Makanya fenomena penyembahan dan jatuh cintah misalnya, tidak dapat dijawab dengan tepat oleh kaum empiris. • Indera dapat mengalami distorsi. Sebagai contoh terjadinya fatamorgana atau pembiasan benda pada dua zat dengan kerpatan molekul berbeda. Ketika kita masukkan pensil dalam gelas berisi air kita akan

melihanya bengkok karena kerpatan molekul air, gelas dan udara sebagai medium berbeda. Padahal jika kita periksa ternyata pensil tetap lurus. 4. Kaum perasa/yakinis. Kaum perasa selalu menjadikan perasaannya sebagai tolak ukur kebenaran. Ciri khas mereka adalah “yakin saja”. Mereka mengapa dirinya sebagai orang yang paling mampu mendengar suarua hatinya, dan menjadikan suara hatinya sebagai ukuran kebenaran. Banyak orang beragama yang seperti ini pada hal system berpikir macam ini memiliki kekurangan dalam pembuktian kebenaran sebagai berikut: • Tidak jelas yang didengar itu adalah suara hati atau justru sekedar gejolak emosional atau bahkan (dengan pendekatan orang beragama) justru bisikan setan. Jangan sampai hanya gejolak emosional lantas dianggap suara hati atau bisikan setan. Nah, persoalannya bagaimana cara membedakannya. • Kalu pun yang didengar adalah suara hati, maka akan subjektifitas karena hati orang berbeda. Jika subjektif, maka yang didapatkan adalah relativitas bukan kemutlakan. • Tidak punya landasan mengapa kita mesti mengikuti suara hati, kalau akal menjustifikasi pengguna hati berarti tidak konsisten. Tetapi kalau menggunakan hati sebagai alasan mengapa harus mengikuti suara hati, maka kembali kepoin sebelumnya. 5. Rasionalisme. Rasionalisme kurang lebih berarti sebuah pahaman yang menjadikan akal sebagai ukuransebuah kebenaran. Rasionalisme disini, bukan berarti seperti pendangan barat karena rasionalisme dalam pendangan barat berarti menggunakan metode ilmiah yang justru berangkat dari dokrin empirical. Menurut kang jalal, sesuatu kadang dianggap tidak rasional karena tiga hal. Pertama tidak empiris. Sesuatu yang tidak dicerna indara manusia biasanya dianggap tidak rasional. Hal ini umumnya menghinggapi orang yang sangat empiris. Kedua menyimpang dari rata-rata. Sewaktu perang Khibar, kaum muslim menundudukkan

benteng terakhir kaum Yahudi. Para sahat ssejumlah 50 laki-laki yang kuat tidak mampu mengangkat pintu benteng itu, tapi Sayidina Ali mampu mengangkatnya sendirian. Ini dianggap tidak rasional, padahal hal ini rasional hanya tidak seperti kebanyakan. Ketiga tidak tahu. Ketidak tahuan adalah kemudian yang orang berusaha tutupi dengan penisbahan stigma irasonal. Rasionalisme tidal menutup diri dari teks, pengalaman atau persepsi inderawi, juga perasaan. Akan tetapi, kaum rasionalis menggunakan akal dalam menilai semua yang ditangkap oleh bagian diri kita. Namun, bagi sekelompok orang akal tidak dapat digunakan untuk menilai kebenaran. Alasannya, akal terbatas. Artinya, penggunaan akal sangat dekat dengan mengakal-akali sesuatu. Untuk menjawab ini ada banyak hal. Pertama, kita mengakal-akali sesuatu “memiliki kesan negative dalam aspek bahasa. Padahal selama kita sadar (Termasuk ketika mengatakan mengakal-akali) yang kita gunakan akal. Jadi mengugurkan diri sendiri”. Melarang orang menggunakan akal disaat dia menggunakan akal. Kedua, kalau tidak pakai akal, kita menggunakan apa, mau pakai dengkul?. Ketiga, kalau akal terbatas dimana batasnya. Memang benar bahwa akal terbatas disbanding penciptaNya(selanjutnya dibahas dalam Materi Dasar-dasar Kepercayaan ), akan tetapi akal sebagai potensi untuk tahu, dimana batasnya?. Hukum akal menyatakan bahwa sebab selalu mendahului, lebih kuat dari akibat. Jadi, kesadaran akal sebagai ciptaan atau akibat pasti memiliki keterbatasan dihadapan dengan penciptaNya. Cuma persoalannya adalah sejauhmana kita gunakan akal kita untuk mengetahui. Dalam kacamata seorang filsuf bahwa manusia adalah binatang berakal. Secara biologis manusia memiliki syarat-syarat kebinatangan seperti respirsasi, eksresi, regenerasi, dan sebagainya. Bedanya cuma satu yaitu akal. Artinya manusia yang tidak menggunakan akalnya bisa lebih buruk dari pada binatang. Kadang orang merancukan antara akal dan otak. Katanya, otaklah yang berpikir. Untuk menjawab hal ini sederhana. Seandainya otak yang berpikir, maka tetu saja kerbau adalah makhluk yang cerdas karena volume otaknya lebih besar dari manusia. Ternyata kedokteran modern menemukan bahwa dalam otak terdapat sel yang disebut neuron. Neuron inilah yang mengkoordinasikan kerja syaraf dalam

tubuh, dimana tubuh disisi kana diatur melalui tulang belakang menuju ke otak kiri begituplun sebaliknya. Artinya otak tidak ada hubungannya dengan akal. Otak tidak lebih dari sebuah organ seperti jantung, paru-paru, dan sebagainya. Dalam diri kita ada beberapa fakultas pengetahuan, di antaranya: Indera yang menangkap warna, bentuk, bunyi, bau dan sebagainya. Perbedaannya dengan empirisme, empirisme menjadikan idera sebagai tolak ukur sedangkan rasonalisme menjadikan indera sebagai sumber pengetahuan namun bukan utama. Khayal. Hasil persekutuan ide yang tidak memiliki realitas eksternal. Misalnya ide menusia dan monyet yang kesumuanya memiliki realitas eksternal, namun jika digabungkan menjadi kera sakti yang hanya memiliki realitas internal(dalam ide) tapi tidak di realitaskan eksternal. Wahmi. Berkaitan dengan persaan. Benci, cinta, rindu, jengkel dan sebagainya. Ilmu secara wahmiyah seperti pada kaum perasa diatas. Cuma perbedaannya wahmi masih dikontrol, bukan sebagi pengontrol bukan sebagai patokan utama. Akal. Fukultas dalam diri kita yang mengontrol semuanya. Kiita telah semapai pada pentingnya akal dalam menilai sesuatu. Namun persoalannya lagi bahwa ternyata akal pun msih bisa salah. Artinya akal tidak mutlak. Untuk menjawab hal ini, kita kembali ke pendefinisian awal. Berpikir adalah gerak akal. Hal ini berarti menandakan adanya proses analogi sederhana. Motor adalah akalnya, mengendarai motor adalah menggerakkan motor dari satu titik ke titik lain atau berpikir. Dalam prose itu harus menaati aturan yang ada. Jika kita tidak menaati aturan seperti lampu lalu lintas dan rambu-rambu makas akan terjadi kecelakaan. Berpikir dengan tidak menaati rambu-rambu atau aturan berpikir akan menyebabkan kecelakaan berpikir. Jadi terjadi kesalahan berpikir bukan akalnya yang salah, tetapi penggunaannya yang tidak tepat. Untuk kita harus mengetahui bagaimana aturan berpikir yang mutlak adanya yang itupun harus dinilai kebenarannya.

Seorang pemikir telah membantu kita menyusun prinsip atau aturan berpikir tersebut yang sering disebut logika Aristotelian atau logika formal sebagai berikut: Prinsip Identitas. Prisnsip ini menyatakan bahwa sesuatu hanya sama dengan dirinya sendiri. Secara matematis dirumuskan A=A Prinsip Non Kotradiksi. Prinsip ini menyatakan bahwa tiada sesuatu pun yang berkontradiksi. Sesuatu berbeda dengan bukan dirinya. Jika diturunkan melalui rumus matematika A≠B. Prinsip Kausalitas. Prinsip ini menyatakan bahwa tidak sesuatupun yang kebetulan. Setiap sebab melahirkan akibat. Rumusnya S dengan sebabnya. Rumusnya S  A. Pembuktian. Logical formal ditetang oleh kaum Marxian dengan logika dialektikanya. Mereka memahami bahwa logika formal hanyalah prinsip Non Kontradiksi karena mereka memahami adanya kontradiksi internal pada materi. Sebelum kita jawab ada baiknya jika kita sedikit bahas tentang logika dialektik. Logika dialektika adalah prinsip berpikir kaum marxisme yang didalamnya ada 4 poin (yang penulis ingat 2 poin saja karena buku yang membahas hal ini hilang). Pertama Negasi der Negation. Isinya adalah bahwa dalam satu materi terjadi kontradiksi internal. Misalnya biji jagung. Pada ruang dan waktu yang bersamaan terjadi dialektika antara biji jagung sebagai tesa dan binih sebagai anti teas. Jika asntitesanya kuat maka antitesanya menjadi sintesa. Jadi biji jagung = bukan biji jagung. Kalau memang sesuatu berbeda dengan dirinya maka kotoran = makanan dan seterusnya. Jika demikian akan terjadi kehancuran. Nah bagaimana dengan kasus biji jagung. Biji jagung memiliki potensi menjadi benih yang untuk pengaktulannya membutuhkan factor eksternal seperti air, tanah dan cahaya.jika syarat terpenuhi, maka potensi itu akan mengaktual. Artinya bukan kontradiksi internal, tetapi gerak sebstansi yang tergantung pada factor eksternal. Jadi jika dijawab seperti diatas, kaum Marxian akan mempertahankan pedapatnya dengan mengatakan 1Kg pasir beda dengan 1Kg pasir karena yang pertama dan kedua pastilah memiliki selisih meski sangat kecil. Atau kita sekarang beda dengan kita yang A. Prinsip keselarasan. Prinsip ini menyatakan bahwa setiap akibat selaras

dahulu, makanya diri kita berbeda dengan diri kita. Sanggahan ini dapat dibantah dengan cara bahwa kita membahas masalah eksistensi yang tetap. Mengapa, karena esensi selalu berubah (esensi terbagi substansi dan aksiden dan keduanya mengalami perubahan). Kedua, jika kita ingin memberitakan penjelasan tetang eksistensi dengan cotoh esensi, maka kita katakana bahwa sesuatu itu dibandingkan dengan dirinya sendiri pada ruang dan waktu yang sama. Contoh diri kita detik ini dibanding dengan detik itu sendiri. Mereka biasanya menjawab bahwa jika sesuatu dibandingkan pada saat yang sama maka tidak ada waktu. Ketiadaan waktu menyebabkan ketiadaan materi. Artinya kita tidak dapat membanding sesuatu pada dirinya sendiri pada waktu itu. Ini adalah lelucon. Mengapa kalau tidak bisa, buktinya tadi kita bisa. Kedua, yang tidak ada bukan waktu (t) tetapi selisih waktu (∆t). buktinya sesuatu pada waktu tertentu tetap ada. Jadi prinsip negasi der negation tidak rasonal. Prinsip kedua adalah Quantity to Quality, jumlah menuju kualitas. Cotoh air pada suhu 0 derajat celcius berada pada kualitas padat. Pertambahan kuantitas panas akan menyebabkan mencairnya es atau perubahan dari kualitas padat akan menjadi kualitas cair. Penambahan kuantitas panas menjadi 100 derajat celcius akan menyebabakan perubahan dari cair ke gas. Prinsip ini sama dengan gerak substansi dalam filsafat. Jadi prinsip kedua bukan menggugurkan prinsip non kontradiksi, tetapi justru membenarkan. Artinya prinsip ini bersifat logis dan niscaya. Pembuktian berikutnya. Jika seorang anak kecil menangis karena mainannya diambil, tetapi mainannya kita beri pada yang lain, maka ia tetap akan menangis karena ia tahu bahwa dirinya sama dengan dengan dirinya sendiri, bukan orang lain. Bahkan kambing jika kita beri emas dan rumput ia tidak akan mengambil emas karena rumput = rumput dan emas = emas. Artinya justru prinsip ini berlaku universal. Pembutian Kausalitas dan Keselarasan. Ketika kita menangkap sesuatu maka akal kita akan mengatakan bahwa tidak mungkin dia ada dengan sendirinya, pasti ada penyebabnya dan akaibat pasti selaras dengan sebabnya. Tidak mungkin benih jagung menyebabkan tumbuhannya pohon

kurma. Semua yang ada di alam ini adalah bukti kemutlakan prinsip nyang niscaya lagi rasonal ini. Tetapi untuk jelasnya silahkan baca buku logika atau kajian. Penutup. Inti dan tujuan materi ini adalah peserta Basic Training memahami secara garis besar mazhab pemikiran dan memiliki kerangka berpikir dalam menganalisis setiap persoalan serta tidak terjebak pada kejumudan berpikir.

BAB II DASAR-DASAR KEPERCAYAAN (DIALOG KEBENARAN) KEBENARAN Kebenaran adalah kesesuaian antara ide dan realitas. Sebenarnya ide adalah rialitas juga, makanya ada juga yang mengatakan ide adalah realitas esistensi internal (REI) atau realitas obyaektif internal (ROI) sedang realitas yang dimaksud adalah realitas eksistensi eksternal (REE) atau realitas obyektif eksternal (ROE). Kesesuaian yang dimaksud adalah adanya realitas antara dalam diri (ide) dan diluar diri (realitas) secara identik. Ini sederhana, contoh dalam ide api panas dan diluar pahaman api juga panas, tetapi panasnya api tidak membakar ide. Dalam materi ini realitas ditekankan pada materi dalam pendangan fisika yang memiliki dimensi, ruang dan waktu. Juga pendekatan yang digunakan adalah pendekatan empiris. Nanti pada pengisian baru di jelaskan realitas dalam arti esensial dan eksistensial. Teori Kemunculan Agama. Dari pandangan beberapa pemikir, tuhan hanyalah hasil rekaan akal manusia dan agama adalah produk kebudayaan. Ada beberapa teori sebagai berikut: Teori Alienasi. Pendukung teori ini adalah Ludwig Fuerbach. Dalam menganalisis Agama, Fuerbach menjadikan sosiologi dan psilologi sebagai pendekaatan. Dia mengawali tesisnya dengan asumsi bahwa manusia memiliki dua eksistensi. Pertama, eksistensi luhur yang mencintai kebaikan, mencari kebaikan dan berbuat kebaikan. Kedua, eksistensi rendah dan dangkal. Olehnya manusia akan memiliki dualitas dalam kepribadiannya. Tekanasn social dalam masyarakatnya membuat menusia frustasi dalam memperhankan eksistensi luhurnya, perlahan bergerak menuju eksistensi rendahnya. Eksistensi luhur kemudian dilihat sebagai sesuatu yang bersifat khyalia dan utopis.

Manusia kemudian mencari alasan agar menjustifikasikan keterjauhan dari eksistensi luhurnya dengan menisbahkan pada sesuatu diluar dirinya. Misalnya, kelembutan, keperkasaan dan sifat (yang manusiwi) dilekatkan pada tuhan. Artinya, tuhan tidak lebih produk keterasingan manusia. Teori Kebodohan. Spencer, Taylor serta Comte adalah pendukung teori ini. Asumsi yang dibangun sebagai berikut. Pada mulanya manusia primitive dan juga sekarang dihadapkan dengan tuntutan alam agar bisa bertahan hidup. Sementara ada beberapa fenomena alam seperti banjir, petir, gunung meletus, gempa bumi dan seterusnya, yang manusia dituntut untuk mampu selamat dari hal tersebut. Karena belum berkembangnya pengetahuan, mereka tidak mengetahui bahwa gempa misalnya disebabkan oleh pergesekan kerak bumi akibat tenaga endogen. Begitupun dengan fenomena alam lain. Manusia primitive kemudian berkhayal dengan mempersekutukan ide menusia dengan ide alam sebagai kompromi alam dan manusia (dalam logika persekutuan ide dapat menyebabkan dua kemungkinan, pertama jika memiliki realitas disebut movasi seperti pesawat, kedua jika tidak, disebut khayal.). Muncullah misalnya kera sakti (ide manusia + ide kera), dewa gunung (ide manusia + ide gunung), sang hyang seri (ide manusia + ide padi) dan seterusnya. Hasil pesekutuan ide ini bersifat khayal belaka, karena tidak memiliki realitas diluar diri kita. Khyal ini kemudian yang disembah dan kemudian terbentuk agama. Jadi tuhan adalah produk khayal manusia. Teori Ketakutan dan kelemahan. Teori ini gabungan dari pendapat Russle dan Nietszse karena memiliki kaitan yang dekat. Inti gagasan mereka adalah agama muncul dari ketidakberdayaan manusia dan rasa takut. Russle berpedapat bahwa seluruh konsepsi tetang eksistensi Tuhan adalah kosepsi-konsepsi yang dibentuk oleh totaliteranisme Timur kuno, (yakni penindasan kelas atas terhadap kelas lain).

Untuk mempertahankan kehidupan mereka, kaum kelas bawah menciptakan ikonikon kelembutan, kasih, pemurah dan seterusnya. Dengan demikian mereka disantuni. Penganjuran agama kebanyakan dari kelas bawah, penggembala misalnya. Dalam perspektif Nietsche dengan ungkapannya yang terkenal (Tuhan telah mati), seharusnya manusia membunuh ketakutan dalam kelemahannya. Manusia harusnya menjadi hero. Ketakutan dalam kelemahan adalah sebuah kesalahan besar dalam kemanusian sehinggga manusia kehilangan aktualitas dari potensi kemanusiaannya. Teori Marxisme. Dalam kajian marxisme agama adalah produk penguasa, dimana agama sebagai candu masyarakat. Dengan demikian, agar bertugas untuk mempertahankan kekuasaan dengan menciptakan idiom-idiom kepatuhan pada penguasa. Agama tidak mengajarkan perlawanan terhadap kelas borjuis, agama dengan salah satu idiom mengajarkan sabar dan dengan kesabaran mendekatkan pada surga. Artinya melakukan perlawanan maka akan masuk neraka. Marx dikenal sebagai penganjur teori strukturalis dimana dia melihat masyarakat, marx membagi 2 yakni basic struktur ekonomi dan supra struktur yakni ideology, agama dan seni. Salanjutnya basic strukturlah yang mempengaruhi supra struktur. Jadi denga menyimpang pula seperti adanya agama. Kolonialisme misalnya yang berdasarkan 3 G (gold, glory, dan gospel) adalah hasil kompromi anrtara kaum borjuis bangsawan yang gila harta dan kekuasaan dengan kaum agamawan. (lihat juga materi Keadialan Ekonomi dan Keadilan Siosial serta materi Problematika Ummat). Penjajahan di Negara dunia ketiga adalah bukti agama sebgai candu, bahkan hingga saat ini. Kesimpulan agama adalah produk penguasa yang sengaja dibuat untuk mepertahankan kekuasaan. Tentanga Agama. Agama bersala dari bahasa sanskerta, a = tidak dan gama = kacau. Agama secara tekstual diartiakan sebagai tidak kacau. Sementara jika kita melihat kekacauan yang ada saat ini, justru disebabkan oleh agama. Perang salib selama kurang lebih 200 tahun dan menewaskan ribuan bahkan mungkin jutaan orang dilandasi oleh sentiment agama.

Bagai macam kejahatan, pertempuran darah, penipuan, penindasan intelektual, kerusuhan, penjajahan, dan lainnya, disebabkan oleh agama. Muncul pernyataan, jika memang adalah sebuah ajaran yang bertujuan agar manusia tidak melakukan kekacauan, mengapa justru orang beragama yang menjadi dalang sekaligus pelaku. Kita ketahui bahwa tafsi atas teks selalu memiliki kepentingan, sedang tafsi agama didominasi oleh penguasa. Makanya wajar ketika terjadi penindasan oleh pihak penguasa, maka kaum agamawan yang besembunyi di ketiak penguasa akan memunculkan stigma kafir atau ateis. Mangapa, tafsir kacau adalah milik penguasa. Jadi disaat orang lemah menuntut haknya, maka dianggap berbuat kekacuan. Demi untuk mempertahankan kekuasaan, agama melalui kaum agamawan berpartisipasi. Agama dibentuk dari kebodohan, makanya wajar penggunaan akal dibatasi bahkan dilarang. Sebab, jika dianalisa, maka akan didapat kekurangannya. Metodologi doktriner, “yakin saja” menjadi cirri khas agama agar orang tetap dalam kebodohannya. Agama hanya menyentuh hati, yang agar orang tetap dalam kebodohannya. Agama hanya menyentuh hati, yang jika disinggung (tanpa analisis yang cukup) maka akan menyebabkan konflik. Dalam teori konflik, koflik terbagi beberapa jenis yaitu konflik tingkat akar dan tingkat permukaan. Pada tingkat akar yang muncul adalah bara permusuhan. Pada tingkat permukan, telah terjadi konflik fisik seperti perang. Pengusa demi mempertahankan kekuasaannya menciptakan konflik pada tingkat akar, jika terjadi gejolak, maka akan konflik permukaan ini dipicu menjadi konflik permukaan sehingga penguasa menjadi pahlawan atas scenario yang dibuatnya. Hal ini wajar karena agama adalah sesuatu yang tidak rasional dengan hanya mengandalkan keyakinan saja. Ketika keyakinan diganggu orang umumnya tidak mampu berpikir rasional, sehingga sangat mudah di adu domba. Kontradiksi dalam Kitab. Logika kita menyatakan bahwa sesuatu yang kontaradiksi mustahil kita ikuti kesemuanya. Missal, seseorang yang menyuruh kita ketimur dan yang satu kebarat, maka mustahil kita melaksanakan secara bersamaan. Nah, Islam sebagai sebuah agama, jika ternyata ajarannya yang ada teks kitab bertetangn dan yang lain maka terjadi kontradiksi.

Kontradiksi ini kemudian akan menggugurkan kevalidan sebuah ajaran karena tidak komprehensif. Ternyata dalam kitab terdapat kontradiksi misalnya dalam 33:21 dinyatakan keuliaan Nabi sedang di 80:1 dinyatakan kesalahan Nabi. Juga dalam 8:17 tentang determinisme dan 43:11 tetang freewill. Dalam 33:33 dikatakan keluarga Nabi disucikan, tetapi dalam Surah At-Tahrim, dua istri Nabi dikecam dengan keras. Apakah kecaman itu berarti? Ini adalah pertentangan yang nyata. Belum lagi ayat-ayat tak bermakna misalnya 2:1. Dikatakan kitab adalah pedoman, nah apa arti diturunkan ayat yang hanya Tuhan tahu artinya. Kalau dikatakan utuk menunjukan kebesaran Tuhan, maka tidaklah cukup segala sesuatu yang ada sebagai bukti kebesaranNya. Mestika kebingungan manusia adalah cara untuk membuktikan. Ini adalah contoh kebodohan yang sengaja ditutupi. Terdapat kontradiksi antara fungsi kitab sebagai pedoman dan fungsi kitab sebagai alat pembingung manusia. Kalau kita telah kitab hadis, lebih banyak yang kontradiksi. Misalnya satu hadis menyatakan islam terbagi 73 golongan 1 masuk surga dan hadis lain menyatakan dari 73 golongan 1 masuk neraka. Apakah sama neraka dengan surga?Itupun kalau ada. Tentang Sains. Asal mula alam ini, jika kita merajuk pada teori Big Bang, berasal dari bola energi raksasa dimana waktu (t) pada saat itu sama dengan 0 atau belum ada waktu. Ledakan raksasa itu kemudian pecah dan menyebabakan terbentukanya galaksi. Galaksi adalah kumpulan dari beberapa tata surya. Di lain sisi, beberapa bintang seperti matahari terus berotasi dengan kecepatan tertentu sehingga beberapa bagiannya terlepas. Bagian yang terlepas ini kemudian mendingin dan menadi planet-planet. Pada sebuah bintang seperti matahari yang memiliki cahaya sendiri akaibat reaksi fusi hydrogen. Matahari memiliki energi yang sangat besar dan memiliki gaya gravitasi yang kuat, sehingga planet-planet yang mulai mendingin disamping berotasi juga berevolusi mengelilingi matahari, sehingga terjadi siang dan malam. Pada atmosfer bumi purba mengandung zat-zat tertentu yang kemudian ketika terjadi petir, terjadilah reaksi yang menyebabkan terbentukanya asam amino. Asam amino inilah yang pada gilirannya membentuk protein. Protein yang membentuk sel dan

kemudian makhluk hidup bersel satu pertama yang ada di dunia ini hidup dan alam sekian juta tahun berevolusi. Makhluk bersel satu ini tinggal di laut dan kemudian berevolusi menjadi binatang yang tidak bertulang belakang. Berevolusi lagi menjadi ikan. Ikan perlahan-lahan mencoba untuk meninggalkan lautan menuju darat, akhirnya berevolusi menjadi reptile. Evolusi reptile bercabang dua. Pertama menadi ungas (aves) dan binatang menyusui (mamalia). Terus-menerus demikian, sehingga evolusi terakhir adalah manusia. Disini kita menggabungkan dua teori raksasa yakni teori Big Bang dan Evolusi. Nah kemudian, jika kita melihat segala sesuatunya, maka kita akan melihat energi. Mulai dari diri kita, makan, minum, benda angkasa sampai lapis terdalam bumi, semua adalah energi. Einstain merumuskan energi sebagai berikut: E=m. c 2 . Dimana E=Energi, m=massa/materi dan c 2 =percepatan cahaya kuadrat atau m=E/ c 2 . Artinya, energi tidak lain adalah materi yang dipercepat dan materi adalah energi yang diperlambat. Hukum kekekalan energi menyatakan bahwa energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnakan. Energi dapat berubah bentuk kebentuk lain. Artinya energi kekal adanya. Sedang dalam Al-Qur’an surat 2:115 dinyatakan bahwa “…kemanapun engkau hadapkan wajahmu, disitu ada wajah Allah”. Padahal jika kita menghadapkan kemanapun yang ada adalah energi. Jadi energi (dalam perspektif sains) sama dengan Tuhan, baik dalam kekelan, kekuasaan dan lain sebagainya. (ISTIRAHAT SEBELUM PENGISIAN) Sanggahan terhadap Teori Kemunculan Agama. 1. Teori Alienasi. Fuerbach melanjutkan analisisinya bahwa pertama-tama tuhan dalam manusia primitive berbentuk abstrak. Dalam agama yahudi, tuhan mulai dilekatkan dengan sifat kemanusian. Pada tuhan agama Kristen tuhan bahkan menampakkan dirinya sebagai manusia material. Dari sini Fuerbach berpendapat bahwa manusia semakin dekat dengan “kemanusiaannya” dengan semakin berkurangnya keterasingan tersebut. Artinya, semakin memanusianya manusia. Padahal, dalam analisisnya, Fuerbach melupakan Islam. Jika teori Fuerbach benar, setelah membahas kepercayaan primitive lalu Yahudi

dan Kristen, maka pasti Tuhan dalam Islam lebih memanusiakan dibanding lainnya. Padahal kenyataanya sengat jauh berbeda. Fuerbach juga lupa membahas Hindu dan Budha serta ratusan agama lain dimuka bumi. Seakan-akan agama Cuma kepercayaan primitive Yahudi dan Kristen. Otomatis, Fuerbach terjebak kesalahan berpikir “Fallacy of Dramatic Instance”.

BAB III ESENSI AJARAN ISLAM Tujuan: 1. 2. 2. 4. 5. Pembaca memahami konsep teologi berdasarkan berpikir ilmiah. Pembaca memahami hakikat dan urgensi kepemanduaan/kenabian. Pembaca memahami prinsip kebangkitan dan dinamika alam semesta. Pembaca memahami peran dan fungsi sebagai khalifah fil ardh. Pembaca memaham kekayaan pemikiran dalam umat Islam.

Esensi dapat diartikan sebagai batasan yang membedakn sesuatu dengan yang lain. Esensi dapat juga dipahami sebagai ekstraksi atau inti sari dari sesuatu. Esensi dalam filsafat terbagi dua yaitu susbstansi dan aksiden. Subtansi adalah hakikat sesuatu atau kesesuatuan sesuatu. Aksiden adalah penampakan atau tangkapan inderawi. Sebagai contoh apel. Substansi apel adalah keapelan apel yang walaupun kita belah sampai sekecil-kecilnya, kita tetap akan mengatakan bahwa sesuatu itu adalah apel. Aksiden apel adalah warna, rasa, bau tekstur dan seterusnya. Ajaran adalah kumpulan pengetahuan yang serupa kemudian tersusun secara sistematis. Ajaran juga berarti segala sesuatu dari obyek yang disampaikan. Islam berasal dari kata salam atau keselamatan, juga bermakana kedamaian, tunduk dan taat. Islam adalah dien yang didalamnya ada system berpikir (konitif), tata nilai (afektif) dan syariat (psikomotorik). Sebagai jalan keselamatan, Islam telah melewati proses panjang sejak Nabi Adam a.s sampai kemudian disempurnakan oleh Muhammad al Mustafa. Esensi ajaran Islam adalah kurang lebih berarti batasan, intisari, hakikat dari pengetahuan Islam. Atau hakikat dari disampaikannya Islam. Keyakinan.

Keyakinan terbagi dua: pertama keyakinan dibawah keraguan, yaitu keyakinan tanpa melewati proses keraguan dan tentunya pemikiran. Pokoknya langsung yakni saja. Keyakinan seperti ini tidak memiliki dasar argumentasi yang kuat sehingga rapuh bangunan keyakinannya. Kedua adalah keyakinan diatas keraguan, yaitu keyakinan yang ,elewati proses keraguan. Keraguan adalah jembatan emas menuju keyakinan, artinya denga keraguan maka memasa manusia untuk menyusun argumentasi yang akhirnya melahirkan keyakinan yang kokoh. Adapun keyakinan itu sendiri bertingkat-tingkat sesuai dengan kapasitas orang yagn yakain tersebut. Pertama adalah ilmia yaqin, yakni bedasarkan keilmuan. Analogi sederhana untuk ini adalah yakinya kita bahwq ada api ketika kita melihat ada asap. Keyakinan seperti ini adalha keyakinan tahap awal. Jika seseorang terus berproses, maka ia akan melangkah pada keyakinan berikutnya yaitu ainal yaqin, yaitu keyakinan karena mempersaksikan sendiri. Analoginya adalah orang yang meyakini ada api dengan melihat sendiri apinya, orang yang berda pada tingkat keyakinan seperti ini telah melihat Tuhan dengan mata hatinya, sehingga begitu kokoh keyakinannya. Keyakinan bearikutnya dalh haqqul yaqin yaitu dengan sebenar-benarnya. Analoginya adalah orang yang meyakini adanya api sedang ia sendiri berda dalam api. Begitu dekatnya dengan api sehingga sulit dibedakan yang mana api dan yang bukan. Orang yang sampai pada tingkatan ini adalah orang yang segala ucapan dan tindakannya adalah ucapan dan tindakan Allah. Perbandingan Teologi Dari meteri sebelumnya kita daptkan pembuktian Tuhan secara rasional. Kesimpulannya adalah bahwa Tuhan itu Tunggal, tidak tersusun, tidak terbatas, tidak bersebab, tetapi merupakan sebab dari segala sebab (Prima Causa), tidak berakhir, tetapi akhir dari segala akhir (Causa Finalis), sederhana, Maha Kaya, Maha Meliputi dan

seterusnya. Disini kita akan mengadakan perbandngan konsep ketuhanan yang paling rasional dari sample monoteis versi Kristen (Trinitas), Hindu (Trimurti), dan Asyariyah. Ketiga konsep teologi tersebut mengakui bahwa Tuhan itu Esa, namun kemudian penafsiran tentang ketunggalan tersebut akan kita persoalkan, sebagai berikut. Keterangan: Tuhan Tunggal tetapi tersusun dari Tuhan Bapa, Roh Kudus dan Tuhan Yesus Tuhan Bapa ≠ Roh Kudus Roh Kudus ≠ Yesus Yesus ≠ Tuhan Bapa Kesimpulan Tuhan tesusun, dan tuhan terbatasi oleh tuhan yang lain. Keterangan: Tuhan tungal tetapi tersusun dari Brahma, Wisnu, dan Syiwa Brahma ≠ Wisnu Wisnu ≠ Syiwa Syiwa ≠ Brahma Kesimpulan Tuhan tesusun, dan tuhan terbatasi oleh tuhan yang lain. Keterangan: Tuhan tungal tetapi tersusun dari Zat, Sifat, dan Tindakan Zat ≠ Sifat Sifat ≠ Tindakan Tindakan ≠ Zat Kesimpulan Tuhan tesusun, dan tuhan terbatasi oleh tuhan yang lain.

Dari ketiga kosep teologi terdapat kesamaan yaitu sama-sama mengaku monoteis tetapi pada saat yang sama justru memahami ketersusunan dan keterbatasan tuhan. Logikanya adalah jika tuhan tersusun berarti ada yang menyusun, jika terbatas berarti ada yang batasi. Ini berarti tuhan akibat juga berarti ciptaan. Lebih lanjut berarti makhluk dan dengan sendirinya menyangkal ketuhanan tuhan itu sendiri. Dengan demikian konsep teologi diatas, baik Kristen, Hindu dan Islam (Asyariyah) terjebak pada kesalahan berpikir. Parahnya dalam islam adalah jika dipahami bahwa sifat Tuhan 99 berbeda satu sama lainnya. Ini berarti tuhan ada 3 + 99 = 102 nitas. Memahami bahwa Tuhan tersusun dari bagian-bagian berarti mengakui kejamakan tuhan itu sendiri, dan dengan sendirinya berarti menerima bahwa tuhan itu makhluk. Kosep yang ditawarkan Islam didominasi oleh kaum Asyariyah yang mengakui bahwa Zat, Sifat, dan Tindakan Tuhan adalah entitas yang berbeda. Bahkan siafat Tuhan yang 99 adalah sifat yang idependen dengan yang lainya. Pada dasarnya Islam bukan Cuma Asyariyah. Islam sesungguhnya memahami bahwa tidak ada keterpisahan antara Zat, Sifat, dan Tindakan Tuhan. Bahkan sifat Tuhan yang 99 tidak berarti independent dengan yang lain tetapi saling terkait, hanyalah sudut pandang kemanusiaan kita yang melihat keterpisahan. Kita tidak dapat memisahkan antara pelaku (Subyek), tindakan dan sifat yang mengadakan pemisahan hanyalah dalam ide kita. Sebagai contoh, kita tidak dapat memisahkan antara zat api, sifat api dan membakarnya api. Atau sifat tertentu yang ada pada diri kita serta tindakan kita sendiri. Prinsip Ketuhanan. Secara logika kita telah membuktikan bahwa Allah adalah penyebab yang tidak tersebabkan dan segala sesuatu berasal dari Dia. Dalam logika dikenal dengan istilah

prima causa. Selain itu bahwa rantai kausalitas akan berakhir pada satu titik, yakni tujuan dari segala sesuatu. Dalam logika hal ini dikenal dengan istilah causa finalis. Penyebab yang tidak tersebabkan dan tujuan akhir dalam Islam dikenal dengan istilah “Inna Iilahi Wa Inna Ilahi Rojiun”. Dari titik ini kita menarik sebuah konklusi bahwa alam material ini pasti akan berakhir. Dan mau tidak mau kita harus bergerak secara spiritual. Oleh karena itu gerak kemanusian kita adalah penghambaan, dimana kita sebagai makhluk bergerak menuju Allah sebagai titik kesempurnaan. Mustahil kita dapat bergerak menuju Allah jika kita tidak menyembah Allah. Untuk menyembah Allah kita harus memahami Allah terlebih dahulu karena jika tidak maka bisa jadi bukan Allah yang kita sembah, tetapi fantasi atau imajinasi. Pada konsep ketauhidan dimulai dengan kata persaksian (Asyhadu). Setiap persaksian meniscayakan adanya pembuktian, baik secara teoritik maupun secara empiris. Kalimat persaksian terbagi dua yaitu penagasian/penolakan dan penerimaan. Kata La Ilaha berarti penolakan terhadap segenap bentuk penghambaan. Ilah jika diterjemakan secara bebas berarti segala sesuatu yang kita lakukan untuknya. Untuk dapat menolak diperlukan sikap kritis, kemerdekaan dan keberanian. Ikrar ini berarti Islam menginginkan agar penganutnya bersikap kritis, merdeka dan berani. Sepanjang sejarah “Ilah-ilah” yang mengakibatkan ketimpangan social adalah watak firaun, qorun dan balam. Jika dipersempit, Ilah sesungguhnya (pada bahasa ini) adalah ego atau keangkuan manusia. Ini berarti manusia harus kritis dan merdeka dalam menolak keangkuannya yang justru menjauhkan dari fitrahnya sendiri. Berikutnya adalah penerimaan. Berangkat dari pengecualian (Illallah) berarti kecuali Allah. Penggunaan kata Allah (alif-lam-lam-hu) bagi sekelompok umat Islam

memaknakan symbol sebagai berikut. Alif dikenal sebagai yang pertama, kekal, berdiri sendiri. Lam berarti pemilik dan hu berarti Dia. Penggabungan makna simbolis huruf ini berarti Dia yang tunggal, dari segala pemilik. Digunakan dua huruf lam ditafsirkan sebagai penekanan atau intensitas. Jadi dua huruf lam ditafsirkan sebagai penekanan atau intensitas. Jadi dua huruf lam berarti pemilik dari segala pemilik. Kalimat syahadat ini jika ditafsirkan kurang lebih, penolakan terhadap segala macam penghambaan kecuali kepada Dia yang tunggal, awal dari segala awal, berdiri sendiri, kekal yang merupakan pemilik dari segala pemilik. Kalimat syahadat ini adalah ikrar yang tidak berarti jika tidak dibuktikan. Artinya kemudian bahwa dalam segenap aspek kehidupan kita adalah bukti penghambaan kita. Tauhid Zati. Tauhit Zati adalah meyakini bahwa zat Allah tunggal, tak tersusun, tak tersebabkan, sederhana (basith). Argumentasi rasional tauhid zati telah dijabarkan pada meteri sebelumnya. Tauhid Sifati. Tauhid sifati adalah meyakini bahwa sifat Allah tidak terpisah dari ztNya. Sifat Tuhan adalah inheren pada zat Tuhan sendiri. Sifat Tuhan pada dasarnya satu, namun perbedaan perspektrif yang menjadikan berbeda. Tahuhid A’fali (tindakan). Tauhid a’fali berarti segala sesuatu tidak terlepas dari tindakan Allah. Tindakan Allah adalah zatNya sekaligus sifatNya. Karena jika kita memahami keterpisahannya, berarti sama saja mengatakan Allah tersusun dari Zat, Sifat, dan tindaka. Hal ini telah dibahas pada bagian sebelumnya. Tauhid Rububiyah.

Tauhid rububiyah adalah meyakini bahwa hanya Allah lah yang mencipta segala sesuatu. Adapun hal-hal yang dilakukan oleh manusia tidak terlepas dari kekuasaanNya. Untuk pembahasan ini selengkapnya pada materi berikutnya. Tauhid Ibadi. Tauhid ibadi berarti dalam setiap ibadah kita selalu tujukan dan pasrahkan hanya kepada Allah semata. Ini juga berarti segala kesombongan, riya dalam ibadah adalah penolakan terhadap tauhid ibadi. Kesimpulan Sesungguhnya impelemtasi dari syadahat adalah menjadi tiap tindakan kita hanya kepada Allah semata. Ketundukan, kepasrahan dan ketaatan adalah kata kuncinya. Tapi ini berangkat dari pemikiran dan perenungan yang memunculkan keyakinan yang hakiki. Prinsip Kepemanduan/Kenabian. Konsekwensi dari prinsip ketuhanan adalah perlu adanya utusan Tuhan yang menyampaikan wahyu, dan kemudian memandu manusia menuju khalik. Pertanyaan mendasar untuk hal ini adalah mengapa mesti ada perantara. Bukannya Tuhan dan hamba adalah persoalan pribadi? Kita juga bisa bertanya, mengapa Tuhan tidak memberi wahyu pada tiap manusia, apakah Tuhan tidak mampu?. Untuk membuktikan keberadaan Tuhan sebenarnya kita tidak memerlukan orang lain karena akal memiliki kemampuan untuk memberikanNya. Tetapi untuk mengetahui kehendak Ilahi, tidak semua orang mampu kecuali orang-orang yang dekat dengan Allah. Maha suci (Khalik) Wahyu Nabi Wahyu yang diwahyukan (sunnah) Manusia Suci (Beraklhlak)

Allah Wasilah

Kepengikutan

Manusia

Diciptakan dalam keadaan suci (Mahkluk)

Seorang utusan memiliki peran ganda. Pertama sebagai penyampai risalah dan kedua sebagai pembimbing. Seorang utusan mestilah suci, sebab jika tidak suci maka mustahil ia dapat membimbing pada kesucian. Dalam suatu kesempurnaan, Allah berfirman tentang utusanNya: Laqadkhalaknal lakum fii rasulillahi uswatun hasanah. Jelas ayat ini menunjukkan kesempurnaan spiritual rasul ( sekaligus pujian Allah pada rasul) yang dijadikan panutan. Dalam sebuah hadis Rasullah SAW bersabda: aku datang untuk menyempaikan akhlakmu. Kata akhlak satu akar kata dengan makhluk, malaikat, malakut (ciptaan) dan khalik (pencipta). Ini berarti bahwa tujuan kenabian adalah mengarahkan manusia menuju Tuhan. Tuhan didekati dengan menyerap asamaNya. Dalam sebuah riwayat ketika ditanya bagaimana akhlak Rasullah, Aisyah r.a menjawab bahwa akhlak beliau adalah Al-qur’an. Mengenai penciptaan, Allah berfirman: Wa maa Khalaqtul jinna wal insaa illa liyabbudu. Tujuan penciptaan adalah untuk menyembah. Penyembahan itu sendiri adalah proses mendekatkan diri padaNya. Dalam literature sufistik, kata Muhammad yang terdiri dari min ha mim dal adalah symbol manusia yang bersujud. Sedang Muhammad sendiri dalam tinjauan etimologis berasal dari akar kata “hamd” yang berarti puji. Muhammad sendiri berarti yang terpuji Hamd, Hamid adalah satu akar kata yang sama. Tetapi penggunaan Al-Hamd sendiri dikhususkan untuk Allah. Secara sederhana kita dapat katakana bahwa makhluk yang bersujud adalah terpuji. Hakikat sujud sendiri adalah meletakkan ketinggian ego kita pada tempat yang paling rendah sekaligus meninggikan yang Maha Tinggi. Artinya kita menundukkan ego kita pada egoNya, yaitu Ego Allah yang telah meniupkan rohNya pada jasad material. Ini juga berarti mengingat asal penciptaan material kita yaitu tanah. Hubungannya kemudian

adalah menghidarkan manusia dari kesombongan sebagaimana Iblis menyombongakan asal penciptaannya dari api sehingga mendapat kutukanNya. Untuk dapat mendekatkan diri, kita harus mengikuti utusanNya. Selain itu kita berwasilah pada utusaNya agar kita mendapatkan syafaat kelak karena ibadah kita sangat sedikit dibandingkan limpahan RahmatNya. Menurut kami inilah makna dari persaksian kedua bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Prinsip Kebangkitan. Allah SWT telah menganugerahi kita banyak hal yang mustahil kita hitung banyaknya dan memberi tanggungjawab sesuai dengan kapabilitas kita. Nabi Daud a.s bermunajad: Yaa Allah bagaimana cara kami bersyukur sedang kebersyukuran adalah nikmat yang harus kami syukuri. Dalam sebuah kesempatan Allah SWT berfirman: Dan kami ciptakan penglihata, pendengaran dan hati agar manusia bersyukur. Manusia diperlengkapi fasilitas istimewa dibandinga makhluk lainnya dengan posisinya sebagai khalifa fil ardh. Fasilitas ini kemudian akan dimintai pertanggungjawaban. Manusia adalah makhluk monodualistik, dalam diri yang satu terdapast dua komponen. Pertama jasadi yang berasal dari “kehinaan” yaitu tanah. Inilah yang dikomplain Iblis pada Tuhan. Jasad ini mengarahkan manusia pada kecenderungan material. Kedua, ruhania yang berasal dari tiupan ruh ilahi yag suci. Inilah yang dilupakan Iblis. Ruhani ini mengarahkan manusia pada kesmpurnaan hakiki. Kecenderungan material bersifat sementara, sedang kecenderungan ruhaniah bersifat kekal. Prinsip Dinamika Alam Semesta. Alams semesta diciptakan dengan keseimbangan yang berarti sesuai denga proporsi masing-masing. Ini yang dimaksud dengan asas keseimbangan. Jika kita perhatikan alam semesta maka semua bergerak sesuai denga konteksnya masing-masing. Plaet-planet berputar pada porosnya, binatang bergerak berdasar naluri. Tumbuhan bergerak berdasar daya hidupnya. Benda mati berdaur dalam jangka waktu tertentu.

Sedang asas kedua adalah bahwa entitas suatu makhluk harus menghancurkan makhluk lain untuk bertahan. Artinya materi hingga pada suatu titik akan mengalami kehancuran. Manusia untuk bertahan harus menghancurkan tumbuhan dan hewan yang kemudian diproses menjadi energi. Begitupula dengan hewan terhadap tumbuhan dan tumbuhan terhadap tanah. Dalam fisika, energi dikenal dapat berubah bentuk, tetapi tidak dapat diciptakan manusia. Energi tidak lain adalah quwwah atau kekuatan ilahi. Dalam Al-qur’an disebutkan “kemana kau hadapkan wajahmu disitu wajah Tuhanmu”. Ayat ini menegaskan bahwa materi yang ada dimana-mana (energi yang diperlambat berdasar teori Einstain) adalah “wajah” Allah. Wajah adalah pertanda, tetapi bukan diriNya. Kiamat. Dalam Isalam kita kenal dua kialmat yaitu kiamat kecil (sughra) dan kiamat besar (kubra). Kiamat kecil adlh berhentinya gerak didalam material seorang inidivu, atau dikenal juga dengan istilah kematian jasadi. Kiamat kubra adalah hancurnya kosmos ini. Kosmos sebagai ciptaan tentu juga bergerak menuju Tuhan oleh karena itu ia harus hancur. Entah karena tabrakan meteor atau ulah manusia, yang jelas untuk bergerak, kosmos akan mengalami kehancuran. Adanya kiamat menjadi bukti kekuasaan Tuhan bahwa hanya diriNyalah yang kekal hakiki. Kiamat sendiri adalah pintu menuju kehidupan lain yang abadi. Pertanggungjawaban. Pada saat kiamat (kecil dan besar), dimana kesempatan untuk bergerak telah terhenti, maka menjadi keniscayaan akan adanya kosekwensi atas segala yang pernah dilakukan. Jika sekiranya tidak ada pertanggungjawaban maka tidak perlu ada aturan sebagai patokan. Jika seseorang berhasil mengemban amanah dengan baik maka koekwensi adalah merasakan kenikmatan abadi. Dalam Islam dikenal dengan istilah surga. Atau hanya sedikit menyerap asmaNya, maka ia akan mengalami kegelisahan dan ketersiksaan. Inilah yang dikenal dengan istilah neraka. Untuk selengkapnya akan dibahas dalam materi berikutnya.

Melacak perbedaan dalam berIslam. Tiga poin diatas dikenal denga usuluddin, dimana semua ummat Islam sepakat akan Ketuhanan, kenabian dan kebangkitan. Perbedaan yang muncul dalam ummat Islam adalah persoalan penafsiran, mulai dari teologi, teks normative, hingga kesyariat. Ini tidak lepas dari latar historisitas umat Islam sendiri yang penuh dinamika. Jika kita tarik pada konteks kekinian, maka yang perlu ditumbuhkan adalah budaya ilmiah dalam beragama yang meliputi argumentasi logis, dialog, penghargaan sesame ummat, keterbukaan dan tentunya ukhuwa. Berbeda pada wilayah penafsiran adalah wajar, tetapi berbeda dalam hal ushuluddin berarti beda agama. Kearifan kita dalam baerislam perlu ditumbuhkan dalam artian tidak selayaknya klaim kebenaran kita dominasi dan tuduhan sesat ditujukan bagi mereka yang berbeda paham dan penafsiran. Alangkah indahnya jika perbedaan tersebut menjadi khazanah intelektual Islam, bukan saling melemahkan dan menjatuhkan. Wallahu alam Bishshowab. Bab IV KEMERDEKAAN INDIVIDU DAN KENISCAYAAN UNIVERSAL

Tujuan Instruksional Peserta memahami prinsip dinamika alam semesta (sunnatullah) dan prisip ihktiar manusia berikut hubungan keduanya. Peserta memahami kosep determinis dan freewill, baik yang berdasarkan ketuhanan atau kealaman Peserta mampu membandingkan serta mengkritisi determinis dan freewill Peserta memahami akibat-akibat yang ditimbulkan dari determinisme dan freewill Defenisi Kemerdekaan berarti keleluasaan, kebebasan untuk memilih dan melakukan sesuatu. Individu berasal dari dua suku kata yaitu in artinya tidak dan devinden artinya

terbagi, atau manusia secara personal. Kemerdekaan individu bermakna keleluasaan atau keterbatasan seseorang. Kemerdekaan individu juga berarti ikhtiar manusia. Keniscayaan berarti kemestian, tidak boleh tidak, harus, atau demikian adanya. Universal barmakna menyeluruh. Keniscayaan universal berarti keniscayaan mutlak yang berlaku menyeluruh. Keharusan universal dapat juga dipahami sebagai takdir. Kemerdekaan Individu dan Keniscayaan Universal adalah pembehasan yang mencari titik temu antara ikhtiar dan takdir manusia. Apakah ikhtiar manusia melampaui hukum universal atau hukum universal yang tidak membatasi ikhtiar manusia? Pertanyaan lain adalah apakah begitu universalnya ketentuan sehingga kehidupan ini tidak lain hanyalah pelaksanaan dari sebuah scenario yang dirancang Tuhan. Manusia tidak memiliki kemerdekaan untuk memiliki dan bertindak diluar scenario Tuhan. Determinis dan Freewill. Determinis berasal dari kata determinan yang berarti ditentukan. Determinisme kurang lebih berarti suatu pahaman yang menyatakn bahwa segala sesuatu telah ditentukan. Segalanya dilakoni dengan keterpaksaant., bukan kemerdekaan atau kesadaran. Factor yang menentukan tergantunga deri sudut pandangnya. Jika alam dan hukum-hukumnya yang menjadi penentu, maka sering disebut determinisme saja. Determinisme yang memandang bahwa alam yang menjadi factor penentu diusung oleh Karl Marx dengan konsep Materealisme Deialektika. Historis. Bahwa kesejarahan manusia diatur oleh hukum besi sejarah dimana mengakibatkan loncatan kualitas menuju tahap masyarakat berikutnya. Freewill berarti kebebasan berkehedak. Pahaman ini berangkat dari asumsi bahwa manusia memiliki kehendak dan kekuatan untuk menetukan jalan hidupnya sendiri tanpa harus diintervensi oleh factor lain. Jika dihadapkan dengan alam, bahwasanya manusia dapat menciptakan sejarahnya sendiri tanpa mesti harus terikat oleh hukumm besi sejarah. Freewill ini dapat juga dibagi berdasar factor lain. Pertama alam. Freewill disin berarti manusia dapat berkehendak tanpa terikat hukum besi sejarah dan kedua Tuhan, bahwasanya tugas Tuhan hanya mencipta belaka. Kejadian-kejadian setelah penciptaan adalah murni kehendak bebas manusia. Jabariyah.

Bagi kita umat Islam, alam adalah ciptaan Tuhan, sehingga Tuhalalah yang menjadi factor penentu alam dan manusai. Cuma pesoalanya adalah sejauh mana intervensi Tuhan. Jika dalam pendangan ummat Islam, Tuhan sebagai factor yang menentukan, maka yang selaras dengan determinisme adalah Jabariayah dan Asyariyah. Jabariyah berasal dari kata jabr yang berarti terpaksa. Jabariayah memahami bahwa manusia tingagal meenjalankan skenariao Tuhan, manusia tidak memiliki sedikitpun kebebasan, apalagi dalam hal jodoh, rezeki dan ajal. Setiap tindakan manusia telah ditetapkan, termasuk hal yang baik dan buruk. Jika Tuhan menskenariokan manusia untuk melakukan keburukan, maka bagaimanapun ikhtiar manusia mustahil untuk melakukan kebaikan, pun sebalikanya. Jabariyah juga memahami bahwa apapun tidakan Tuhan adalah adil. Tuhan dapat saja memasukkan orang saleh ke neraka dan orang jahat ke surga, dan sekali lagi, itulah keadilan Tuhan. Manusia hanya dapat pasrah menunggu takdirnya. Mu’tazilah Dalam sejarah perkembangan ilmu kalam, pemikiran kaum Jabariyah kemudian ditantang dan ditentang oleh kaum Mu’tazilah. Mereka mengagap bahwa tugas Tuhan tidak lebih dari sekedar mencipta belaka. Selanjutnya tergantung dari ikhtiar manusia. Jadi semua tindakan manusia adalah murni ikhtiar manusia tanpa ada sedikitpun campur tangan Tuhan. Keadilan Tuhan pespektif Mu’tazilah adalah Tuhan hanya dapat memasukakan orang saleh kesurga dan sebaliknya orang jahat di neraka. Selain itu, kebebasan manusia dalam berikhtiar yang lepas dari tindakan Tuhan adalah salah satu poin pemikirannya. Kelemahan Jabriyah dan Mu’tazilah. Kaum Mu’tazilah mengkritik Jabariyah dengan mengatakan bahwa Tuhan perseptif Jabriyah adalah zalim, semena-mena. Untuk membenarkan pendapatnya, Mu’tazilah mengutip beberapa ayat yang mengindikasikan kebebasan manusia. Ayat yang sering digunakan adalah “Tidak berubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri

merubahnya”. Mu’tazilah mengatakan bahwa ayat ini muhkamat (jelas) adanya. Dan ayat-ayat yang nampak menyerang argument Mu’tazilah dianggap sebagai Mutasyabih. Sebalikanya kaum Jabariyah mengkritik Mu’tazilah dengan mengatakn bahwa Tuhan perspetif Mu’tazilah lemah dan tidak ada kuasa. Untuk membenarkan pendapatnya, Jabariyah mengutip beberapa ayat yang mengidentifikasikan kekuasaan Tuhan salah satunya adalah “Bukan kamu yang membunuh tetapi Aku yang membunuh [8:9]”. Jabariyah mengatakan bahwa ayat ini muhkamat adanya, dan justru ayat yang mengatakan kaum Mu’tazilah ini mutasyabih [samar-samar]. Untuk mengkaji landasan berpikir kedua mazhab ini maka kita perlu memahami konsep ketuhannya. Dari materi sebelumnya dibahas tetang tauhid zati, sifati, dan a’fali. Dalam hal tauhid zati, kedua mazhab sepakat. Mu’tazilah kemudian terlalu cenderung pada tauhid sifati, dimana pahaman tentang kemahaadilan Tuhan kemudian justru mengurangi bahkan mungkin menghilangkan pahaman tentang kekuasaan Tuhan untuk berkehedak. Sebaliknya Jabariyah terlalu cenderung pada tauhid A’fali dimana kekusaan Tuhan untuk bertindak malah mengurangi bahkan menghilangkan keadilan Tuhan. Akibat dari pahaman Jabariyah adalah stagnasi individu dan masyarakat karena sikap pesimisme dalam berikhtiar. Sementara akibat kaum Mu’tazilah adalah terlepasnya Tuhan dari kehidupan manusia. Adapun pahaman ini masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Untuk menengahi pedebatan ini kita harus mencari jalan tengah, dimana pahaman kita tidak menjadikan Tuhan tidak adail dan Tuhan tidak ada kuasa. Prinsip dinamika Alam Semesta. Persoalan mendasar dalam penciptaan adalah apakah semuanya menjadi secara kebetulan belaka tanpa ada yang mengatur atau ada yang mengatur secara mutlak atau ada yang mengatur sesuai dengan hukum-hukumnya. Jika mengikuti pendapat pertama bahwa tanpa ada mengatur berarti sama saja kita mengatakan bahwa tidak ada pencipta dan ini tetunya mustahil.

Jika mengikuti pendapat kedua bahwa ada yang mengaturnya dimana ciptaan dalam hal ini manusia tidak memiliki kebebasan untuk beriktiar dan memilih, berarti sama saja kita katakana bahwa Tuhan tidak adil. Dengan demikian otomatis dalam penciptaan kita mempercayai bahwa alam semesta ini diatur berdasarkan hukum-hukum yang ditetapkan sang Pencipta. Manusia sebagai bagian alam semesta juga pasti dikenai hukum-hukum dari sejak penciptaan, tindakan sampai akhir perjalanan manusia. Takwini dan Tasyrii. Untuk mepermudah pembahasan, kita bagi dua wilayah hukum-hukum Tuhan. Pertama takwini, dalam hal ini penciptaan dan kedua tasyrii dalam hal ini aksidenakasiden di alam material. Perlu dibedakan antara hukum penciptaan dengan hukum syar’i. Dalam hal hukum penciptaan, tidak ada hak manusia. Sebagai contoh binatang diberi insting dan manusia diberi akal. Karena manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna dimana manusia dibekali akal untuk mengelola alam semesta, maka Tuhan kemudian menurunkan aturan bagi manusia, dalam hal ini syariat. Jadi syariat berlaku pada manusia, itupun yang memenuhi syarat agar terjaga keseimbangan sesuai peran dan fungsi penciptaaan manusia. Pada wilayah takwini atau penciptaan, Allah mencipta sesuai dengan kadar masing-masing sesuai dengan tujuan penciptaannya. Dalam hal ini, manusia tidak memiliki sedikitpun hak. Sebagai contoh lahirnya seotang bayi dari orang tua tertentu, dimana bayi tidak dapat memilih atau berusaha untuk mencari orang tua tertetu, dimana bayi tidak dapat memilih atau berusaha untuk mencari orang tua yang ia senangi. Contoh lain, diciptankannya matahari sebagai tata surya. Tuhan memberi matahari energi dan daya gravitasi, sesuai dengan tujuan penciptaannya. Masih banyak contoh yang tidak dapat kami sebutkan disini. Pada wilayah tasyrii disini manusia memiliki hak dan kemampuan untuk memilih dan berikhtiar. Sebagai contoh makan disaat lapar. Tubuh kita hanya mengirimpan implus ke syaraf yang menandakan lambung sedang kosong. Pada kondisi ini manusia dapat memilih untuk makan atau tidak, maka makanan A atau makanan B, dan

seterusnya. Hukum agama berlaku pada wilayah tasyrii. Seseorang tidak dihukumi kafir karena orang tuanyamemilih untuk makan atau tidak, maka makanan A atau makanan B, dan seterusnya. Hukum agama berlaku pada wilayah tasyrii. Seseorang tidak dihukumi kafir karena orang tuanya. Budi bahkan lahir dari hubungan tidah syah. Mengapa, karena anak tersebut tidak dibekali kemampuan untuk memilih dan berusaha dalam menentukan orang tuanya. Ini jelas wilayah takwini. Tetapi siapapun dia ketika akalnya sudah matang, informasi tentang kebenaran telah disampikan kemudian menutup diri dari kebenaran, maka orang tersebut dihukumi kafir. Mengakap, karena orang tersebut memiliki kemampuan untuk memilih dan berikhtiar tapi tidak dilakukan. Baik dan Buruk. Pertanyaan substansial pada bagian ini adalah apakah kebaikan dan keburukan adalah dua entitas yang masing-masing memiliki eksistensi? Atau kedaunya tidak memiliki eksistensi, atau Cuma salah satunya?. Jika kenaikan dan keburukan masing-masing memilik eksisatensi, maka pertanyaan berikutnya adalah dari manakah datangnya keburukan?. Mengatakan keburukan berasal dari Tuhan otomatis menuduh Tuhan memiliki keburukan karena mustahil Tuhan memberi keburukan kalau Ia tidak punya keburukan. Adalah agama Zoroaster yang meyakini dua eksistensi Tuhan yaitu hriman (Tuhan baik) dan Ahzuramazda (Tuhan Buruk). Mustahil kebaikan dan keburukan menyatu, olehnya Tuhan dalam perspektif ini dibagi berdasarkan peran dan fungsinya. Tapi ternyata dalam Islam kita diwajibkan untuk mempercayai takdir baik dan takdir buruk (qodha dan qodar). Untuk qodha dan qodar akan dibahas pada bagian berikutnya. Kembali pada kebaikan dan keburukan, kalau kita katakana bahwa Tuhan hanya memiliki kebaikan, lantas mengapa ada keburukan? Untuk menjawab pertanyaan tersebut maka perlu kita mendefenisikan tetang keburukan itu sendiri. Defenisi keburukan, pertama adalah ketidak sesuaian antara apa yang terjadi dan apa yang diinginkan. Misalnya kita ingin punya harta yang banyak atau menjadi orang kaya, tetapi harta yang kita miliki justru sedikit, maka kita katakana bahwa kemiskinan itu buruk. Defenisi ini mengacu pada reasi psikologis semata. Defenisi berikitnya mengatakan

keburukan adalah kurangnya intensitas/derajat kebaikan. Defenisi ini yang akan kita jabarkan. Kebaikan dianalogikan seperti cahaya dan Tuhan sebagai sumber cahaya. Keburukan adalah kurangnya intensitas cahaya atau kegelapan. Kegelapan sendiri tidak memiliki eksistensi

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->