Terorisme di Indonesia: Antara TNI & Kegagalan Polri ‡ penulis: kak inco, 30 April 2011 20:11:25 ‡ 2 Berita Foto ‡ 28 Komentar ‡ Menarik

+2

"Terorisme adalah satu ancaman dan negara-negara harus melindungi warganegaranya dari ancaman itu. Negara tidak hanya mempunyai hak namun juga kewajiban untuk melakukan itu. Tetapi Negara juga harus sangat berhati-hati untuk memastikan bahwa tindakan-tindakan melawan terorisme tidak berubah menjadi tindakan-tindakan untuk menutupi atau membenarkan pelanggaran HAM." Pendahuluan Terorisme lahir sejak ribuan tahun silam dan telah menjadi legenda dunia. Cara-cara teror digunakan oleh suatu kelompok untuk memperlemah lawannya lewat pembunuhan diam-diam menggunakan racun sampai pemberontakan. Saat ini, terorisme terjadi di berbagai tempat di seluruh dunia dengan berbagai alasan. Terorisme merupakan akibat dari ketidaksepakan suatu kelompok dengan kelompok lain (yang mungkin berkuasa) yang berbeda ideologi kepercayaan/agama, politik dan lain sebagainya. Terorisme memiliki pengaruh yang kuat di masyarakat, terutama jika dipublikasikan secara berlebihan oleh media massa. Aksi-aksi seperti terorisme sangat menarik perhatian media massa terutama televisi. Dengan siaran langsung dari tempat kejadian, jutaan khalayak ikut mendengarkan bahkan melihat para teroris beraksi. Setiap aksi teroris merupakan event yang mahal dan "menguntungkan" bagi media. Televisi memiliki pengaruh yang sangat kuat. Di samping itu sistem komunikasi yang tersedia dan cepat - elektronik dan media cetak - telah melahirkan falsafah Cina yang terkenal: "Bunuh satu dan menakut-nakuti 10.000", dan melalui media massa dapat diartikan sebagai "Bunuh satu dan menakut-nakuti 10.000.000". Masalah terorisme seringkali disebut sebagai masalah sensasional, karena kenyataannya adalah lebih banyak orang meninggal di jalanan setiap tahun daripada yang dibunuh oleh teroris. Hal itu mungkin benar secara kuantitatif, namun terorisme tidak dapat diukur dengan hitungan banyaknya korban tewas, jumlah yang luka atau nilai materi dari kerusakan. Terorisme tidak dapat dikatakan sebagai perang, karena berada jauh dari peperangan: perang gerilya, perang revolusioner atau perang konvensional. Perang bertujuan untuk penghancuran secara total, manusia dan material secara fisik. Sedangkan terorisme cenderung menginginkan hasil kerusakan secara psikologis. Terorisme di Indonesia semakin ramai pasca runtuhnya Orde Baru 1998. Sejak tahun 2000, sejumlah pemboman telah terjadi di Indonesia, seperti bom di beberapa gereja pada malam Natal 2000, bom di Sari Club dan Paddy's Café pada Oktober 2002 dan bom di Hotel J.W. Marriott yang meledak dua kali, yakni pada Agustus 2003 dan Juli 2009. Belakangan, aksi-aksi teror sering dilakukan secara terbuka dan terangterangan kepada pihak yang dianggap berbeda pendapat atau keyakinan, misalnya dalam peristiwa penyerangan Jemaah Ahmadiyah di Cikeusik, Banten yang menewaskan tiga orang. Juga aksi penusukan anggota majelis Gereja HKBP Bekasi. Sejumlah aksi kekerasan lainnya juga tercatat dilakukan secara terang-terangan oleh ormas agama terhadap pihak yang berbeda keyakinan. Hal ini dapat dikategorikan sebagai aksi teror karena membuat resah dan mengintimidasi masyarakat umum.

Terorisme dan Insurjensi Berbicara tentang terorisme, seringkali kita dihadapkan pada masalah definisi. Sejauh ini belum ada definisi yang seragam tentang terorisme karena terorisme bervariasi tergantung waktu dan kondisi. Terorisme dapat dipandang sebagai tindakan yang mendekati perlawanan gerilya karena dianggap sebagai tindakan yang berada di tengah perang gerilya dan aksi frustasi golongan tertentu. Tujuan utama para teroris adalah menghancurkan sistem ekonomi, politik dan sosial masyarakat suatu negara untuk digantikan oleh struktur yang baru secara total. Dalam teori terorisme, tindakan terorisme dapat diklasifikasikan dalam: terorisme yang memiliki motivasi politis dan terorisme yang memiliki motovasi kriminal. Kelompok yang memiliki motivasi politik menganggap dirinya sebagai instrumen pengadilan dan sama sekali tidak beroperasi untuk tujuan kriminal. Walau sering terlihat sebagai aksi kriminal seperti perampokan dan penjarahan, jenis terorisme ini tidak bertujuan untuk memperkaya diri sendiri, tetapi untuk biaya operasional kelompoknya seperti pembelian senjata. Sedangkan terorisme dengan motivasi kriminal semata-mata untuk kriminal yang berkaitan dengan perolehan uang dan dinyatakan sebagai gerombolan kriminal yang menculik atau melakukan teror demi uang tebusan. Adjie dalam bukunya menyebutkan definisi terorisme sebagai berikut: Terorisme: Suatu mazab/aliran kepercayaan melalui pemaksaan kehendak guna menyuarakan pesan, asas dengan cara melakukan tindakan ilegal yang menjurus ke arah kekerasan, kebrutalan bahkan pembunuhan. Teroris: Pelaku atau pelaksana bentuk-bentuk terorisme, baik oleh individu, golongan atau kelompok dengan cara tindak kekerasan sampai pembunuhan disertai berbagai penggunaan senjata, mulai dari sistem konvensional hingga medern. Teror: Bentuk-bentuk kegiatan dalam rangka pelaksanaan terorisme melalui penggunaan/cara ancaman, pemerasan, agitasi, fitnah, pengeboman, penghancuran/perusakan, penculikan, intimidasi, perkosaan dan pembunuhan. Alat Peralatan Teror: Telepon, selebaran surat, bom (waktu), peledak, kendaraan darat/laut/udara, dengan menggunakanfasilitas bandara, pelabuhan, tempat-tempat umum ataupun gedung-gedung vital. Tujuan Terorisme: Melumpuhkan otoritas pemerintah sehingga dapat menerapkan mazab atau aliran yang dianut kelompok terorisme. Terorisme sangat dekat dengan insurjensi atau gerakan revolusioner yang memiliki struktur, yang terkadang tidak tampak di permukaan tapi khususnya di Indonesia seringkali pula terlihat begitu terang-terangan. Insurjensi sering dianggap sebagai gerakan subversif, ilegal, di bawah komando golongan tertentu yang ingin menggantikan pemerintahan yan sah. Insurjensi dapat diartikan sebagai suatu keadaan tidak menentu dalam suatu negara yang disebabkan oleh berbagai kelompok organisasi yang melawan (tidak menyetujui/menentang) politik pemerintah yang sah. Aksi yang ditimbulkan mengakibatkan ketegangan di dalam negara sehingga dapat mempengaruhi ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya dan keamanan. Adapun bentuk-bentuk insurjensi antara lain perampokan (bersenjata) dan perlawanan terhadap angkatan bersenjata/polisi. Contoh kekerasan yang dilakukan anggota Jemaah Islamiyah dalam mencapai tujuan politiknya selain pengeboman, adalah perampokan Bank CIMB Niaga di Medan pada September 2010. Dalam berbagai macam bentuk

Tidak main-main hasilnya pun 61% pemilih mendukung SBY. Densus 88 dirancang sebagai unit antiteroris yang memiliki kemampuan mengatasi gangguan teroris mulai dari ancaman bom hingga penyanderaan. Hukum dan Keamanan. Dalam hal ini bisa dikatakan bahwa pemerintah telah gagal menciptakan rasa aman untuk warga negaranya. Penanggulangan Terorisme Pada masa Orde Baru. TNI dan Polri saling bekerjasama dalam masalah keamanan nasional. Densus 88 di pusat . Namun terlihat presiden terlalu berhati-hati bahkan cenderung lamban (atau tidak berani?) dalam menanggapi aksi-aksi insurjensi ini.34/2004 maka bisa dibilang bahwa fungsi dan kekuatan keamanan negara diserahkan kepada Polri. Indonesia sudah mengawali penanggulangan terorisme dengan adanya Undang-undang Nomor 15 tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. Namun pemerintah seperti tidak ada di saat rakyatnya membutuhkan perlindungan dan rasa aman. intimidasi dan juga penyerangan kepada kelompok lain. Kemudian atas rekomendasi Komisi I DPR pada 12 Juni 2006 dan 31 Agustus. kelompok-kelompok radikal ini sangat tidak toleran terhadap perbedaan yang ada di Indonesia yang akhirnya malah melahirkan tindakan-tindakan kekerasan. Beberapa anggota juga merupakan anggota tim Gegana. termasuk teror bom. Kelompok-kelompok ini bahkan berani menantang untuk menggulingkan pemerintah yang sah ketika presiden memberikan pernyataan bahwa kelompok-kelompok radikal di Indonesia harus dibubarkan. Di Indonesia. Belakangan isu tentang Negara Islam Indonesia yang telah banyak melakukan brainwash pepada banyak mahasiswa tampaknya ditanggapi setengah hati oleh pemerintah. BNPT adalah lembaga non-kementrian yang bertanggungjawab langsung kepada presiden dan dikoordinasikan oleh Menteri Koordinator Bidang Politik. Masyarakat sudah lelah oleh aksi-aksi kekerasan dan teror yang dilakukan oleh ormasormas ini. apabila pemerintah terlambat atau tidak segera mengatasi maka akan berkembang dan mengakibatkan low intensity conflict. Pada beberapa kejadian.kegiatan/aksi terorisme dan insurjensi. Padahal kita tau Presiden SBY merupakan pemerintahan eksekutif yang sah melalui pemilihan langsung oleh rakyat. diterbitkan Peraturan Presiden (Perpres) nomor 46 tahun 2010 tentang Pembentukan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Namun semenjak TNI keluar dari fungsi sosial politiknya pada tahun 2004 melalui UU No. Seringkali ormasormas agama yang sebenarnya legal malah memunculkan aksi insurjensi ini seperti dapat dilihat pada Front Pembela Islam dan Hizbut Tahrir Indonesia yang jelas menolak demokrasi dan NKRI. Dalam kaitannya dengan terorisme. aksi insurjensi ini sering menggunakan cara-cara teror dan intimidasi dalam melakukan aksinya dan terlihat eksistensinya di depan publik. Polri diberikan kekuatan khusus untuk menanggulangi terorisme dengan dibentuknya Detasemen Khusus atau Densus 88 pada 26 Agustus 2004. sedangkan TNI lebih berperan kepada ketahanan negara. Pasukan khusus berompi merah ini dilatih khusus untuk menangani segala ancaman teror. Tindakan ini menjadi propaganda kelompok ini bahwa pemerintah tidak mampu menguasai keadaan sehingga hanya menciptakan suatu suasana yang tidak aman untuk masyarakat. Detasemen Khusus 88 atau Densus 88 adalah satuan khusus Kepolisian Negara Republik Indonesia untuk penanggulangan teroris di Indonesia.

Sayangnya Polri dapat dikatakan gagal dalam menangani aksi-aksi terorisme dan radikalisme di Indonesia. terorisme baru dianggap kejahatan yang . Meskipun banyak korban jiwa yang jatuh akibat aksi tersebut. Dengan dikeluarkannya Undang-Undang No. terjadi perbedaan sebelum dan setelah tahun 2000. di mana suatu wilayah dalam kondisi darurat sipil. beranggotakan 45 .Melakukan penangkapan kepada personil atau seseorang atau sekelompok orang yang dipastikan merupakan anggota jaringan teroris yang dapat membahayakan keutuhan dan keamanan negara RI. Dalam undang-undang ini. disamping Detasemen C Gegana Brimob. Gerakan Aceh Merdeka (GAM). maka kekuasaan di tangan Gubenur. Dibunuhnya para pemimpin atau "otak" dari kelompok teror seperti beberapa nama yang disebutkan di atas menunjukan bahwa sebenarnya pemerintah memalui Polri telah menunjukan komitmen serius dalam pemberantasan tindak pidana terorisme. saat itu marak adanya gerakan separatisme. Untuk aksi-aksi teror yang lebih tertutup memang Polri agak berhasil dalam mengatasinya. Detasemen 81 Kopassus TNI AD (Kopasus sendiri sebagai pasukan khusus juga memiliki kemampuan anti teror). Azhari dan Noordin M. Walau telah berhasil menangkap atau menembak mati beberapa pucuk pimpinan dari teroris namun terlihat bahwa aksi-aksi teror tetap terulang dan terjadi di masyarakat. Detasemen Jalamangkara (Denjaka) Korps Marinir TNI AL. Bila dilihat dari penanganan terhadap aksi terorisme. namun perangkat hukum yang dikenakan atas tindakan ini hanya Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP). yang mencapai puncaknya saat terjadinya Bom Bali 1. seperti gerakan Fretilin di Timor Timur (sekarang Timor Leste). Selain itu masing-masing kepolisian daerah juga memiliki unit anti teror yang disebut Densus 88.23/ tahun 1959 mengenai Keadaan Bahaya. Fungsi Densus 88 Polda adalah memeriksa laporan aktivitas teror di daerah. Sebelum tahun 2000. Ketika TNI telah menarik diri dari peran sosial politiknya di masyarakat. Kekuatan militer digunakan karena menganggap kelompok separatis ini berusaha memisahkan diri dari NKRI. Sedangkan penanganan kontra dan anti terorisme setelah tahun 2000 berbeda. Setiap peristiwa teror seperti penembakan hingga pengeboman dianggap kasus kriminal. namun dengan fasilitas dan kemampuan yang lebih terbatas.(Mabes Polri) berkekuatan diperkirakan 400 personel ini terdiri dari ahli investigasi. sedangkan penanggung jawab militer adalah TNI. maka penanganan terhadap gerakan ini dilandasi oleh UU No. dan unit pemukul yang di dalamnya terdapat ahli penembak jitu. Para "dedengkot" dari gerakan terorisme di Indonesia seperti Dr. Akan tetapi setelah eskalasi terorisme di Indonesia meningkat. ahli bahan peledak (penjinak bom). maka tugas untuk keamanan dalam negeri sepenuhnya diemban oleh pihak kepolisian. Detasemen Bravo (Denbravo) TNI AU dan satuan anti-teror BIN.75 orang. pemerintah dan DPR baru mengeluarkan perundangan khusus mengenai tindak terorisme. 12 oktober 2002 yang menewaskan 202 orang. Top telah berhasil dilumpukan sehingga jaringan teroris tercerai-berai dan mengurangi kekuatannya. Detasemen Penanggulangan Teror (Dengultor) TNI AD alias Grup 5 Anti Teror.15 tahun 2003 mengenai Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. Organisasi Papua Merdeka (OPM) dan kelompok separatis lainnya. Densus 88 adalah salah satu dari unit anti teror di Indonesia. Maka pemberantasannya pun diserahkan ke kepolisian.

Penanganan Terorisme Sebelum Tahun 2000 . Densus 88 dinilai berhasil dalam melakukan operasi pengungkapan jaringan teroris di Indonesia. Pada 16 Juli 2010. yakni Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). hingga deradikalisasi. BNPT memiliki tugas yang lebih luas. Densus 88 juga dapat menjalankan survaillance atau berbagai tindakan intelijen. 46 tahun 2010. Diantaranya penyerbuan tempat jaringan teroris Jamaah Islamiyah yang juga menewaskan teroris nomor 1 . dengan cara merampas kemerdekaan atau menghilangkan nyawa dan harta benda orang lain atau mengakibatkan kerusakan atau kehancuran terhadap obyek-obyek vital yang strategis atau lingkungan hidup atau fasilitas publik atau fasilitas internasional (Pasal 6).serius oleh pemerintah dan bangsa Indonesia. dengan cara merampas kemerdekaan atau menghilangkan nyawa dan harta benda orang lain atau mengakibatkan kerusakan atau kehancuran terhadap obyek-obyek vital yang strategis atau lingkungan hidup atau fasilitas publik atau fasilitas internasional (Pasal 7). penangkapan yang berakhir tewasnya teroris yang juga rekan dari Dr. Tabel 1. Keppres ini menelurkan lagi sebuah lembaga khusus untuk menanggulangi terorisme. lalu pada 17 September 2009. Dengan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas atau menimbulkan korban yang bersifat massal. 2. yakni Detasemen khusus (Densus) 88. namun undang-undang ini turut membidani departemen khusus pemberantasan teroris. Azhari di Malang. Selain melakukan penyelidikan dan penindakan yakni penangkapan terhadap teroris dan jaringannya. 9 November 2005. Dengan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan bermaksud untuk menimbulkan suasana terror atau rasa takut terhadap orang secara meluas atau menimbulkan korban yang bersifat massal. Dr. yakni Noordin Top serta sejumlah operasi penangkapan tokoh dan pengungkapan jaringan terorisme yang terkait dalam Jamaah Islamiyah dan Jamaah Ansharut Tauhid (JAT). Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengeluarkan Keppres No. Selain penindakan. perlindungan. pada 8 Agustus 2009 penggrebekan salah satu tersangka pengeboman Bom Marriot II. Azhari. Meski Polri tetap bertanggung jawab dalam pemberantasan terorisme. Ibrahim. Di dalam undang-undang ini secara jelas pelaku terorisme adalah: 1. yakni mulai dari pencegahan.

Kegagalan Polri lainnya dapat dilihat pada saat penanganan peristiwa Cikeusik yang berakibat jatuhnya korban jiwa 3 orang tewas dari pihak Ahmadiyah. melayani masyarakat. mengayomi. Padahal menurut UUD 1945 yang dimaksud dengan Kepolisian Negara Republik Indonesia adalah alat negara yang menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat bertugas melindungi. serta menegakkan hukum. kelompok ini kembali melakukan berbagai macam aksi kekerasan yang seakan didiamkan oleh Polri. Harusnya pihak intel Polri mampu mengantisipasi hal ini karena melihat bahwa rencana penyerangan ini sudah direncanakan dan bukan aksi spontanitas warga setempat. Kehadiran ini dianggap bahwa pemerintah dan Polri berkompromi dan menghalalkan aksi-aksi kekerasan yang dilakukan oleh kelompok ini. Namun penulis beranggapan bahwa Polri telah gagal menanggulangi aksi-aksi teror dalam bentuk lain yang juga ada di masyarakat dan anehnya aksi-aksi ini terlihat cukup terbuka dan lebih mudah diantisipasi karena dilakukan oleh kelompok-kelompok yang seharusnya lebih mudah diawasi melalui intelejen Polri. Walau kemudian ada 15 orang yang ditangkap. Polri mengumumkan ini sebagai bentrokan dan bukan penyerangan. Namun lagilagi di kemudian hari. . Polri seakan terlalu berhati-hati dalam menindak kelompok-kelompok radikal ini karena bersinggungan dengan nilai-nilai keyakinan agama. Bahkan awalnya sebelum didesak oleh masyarakat dan media. Di beberapa kesempatan. Penulis juga mengakui keberhasilan tersebut. Misalkan ketika Kapolri dan Gubernur DKI Fauzi Bowo hadir pada acara Milad FPI di Jakarta. Padahal penyerangan ini terlihat sekali pola direncanakannya oleh pihak-pihak tertentu. terlihat bahwa Polri tidak mampu untuk mengungkap siapa aktor intelektual penyerangan ini karena hanya mampu menangkap sampai pada pelaku di lapangan saja. malah terlihat Polri mencoba merangkul kelompok-kelompok ini dengan berdialog dan bekerjasama. Penanganan Terorisme Setelah Tahun 2000 Dari penjelasan di atas dapat dilihat bahwa sebenarnya negara melalui Polri telah melakukan usaha yang sungguh-sungguh dalam menanggulangi terorisme.Tabel 2.

.Peristiwa terakhir aksi bom bunuh diri di Masjid Al-Zikra Polresta Cirebon juga jelas menunjukkan kegagalan Polri karena teroris mampu masuk langsung ke daerah markas pertahanan Polri dan Polri kecolongan. maka posisi militer di dalam sebuah negara sudah semestinya berfungsi agar ancaman dan gangguan itu dapat diatasi. di mana mereka merasa bahwa militer lebih kompeten daripada sipil dalam mengelola negara. Pemisahan TNI dan Polri dilakukan pada tahun 2000 melalui Ketetapan MPR Nomor VI. Menurut Janusz. yang merupakan entitas politik sipil. Rakyat. dalam hal terdapat keterkaitan kegiatan keamanandan pertahanan. Masyarakat semakin khawatir bahwa aksi terorisme dapat menjangkau siapapun dan kapanpun. berwenang menentukan dan sekaligus mengontrol peran dan fungsi militer dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. TNI perlu kembali ke fungsi sosial politiknya?" Tampaknya pertanyaan itu terlalu naif dan memudahkan persoalan. "Apakah dengan kegagalan Polri menciptakan rasa aman di masyarakat. apalagi ketika Polri dinilai gagal. Intervensi TNI kembali dalam masalah keamanan nasional dan penanganan terorisme ini mungkin saja terjadi karena terlihat bahwa Polri terlalu berlarut-larut dalam menangani berbagai macam aksi teror dan kekerasan yang ada selama ini di masyarakat. penulis kemudian mempunyai pertanyaan yaitu. Seperti dijelaskan di atas bahwa hal-hal seperti inilah yang memang diinginkan oleh teroris. TNI adalah alat negara yang berperan dalam pertahanan negara dan Kepolisian RI adalah alat negara yang berperan dalam memelihara keamanan. Dengan begitu kita sesungguhnya berharap profesionalisme militer dapat segera terwujud di negara yang baru melek demokrasi termasuk itu Indonesia. Di satu sisi. SBY mengatakan: ".aparat kepolisian terbatas dan harus menghadapi masalah yang tersebar di seluruh Indonesia. Bukankah pemerintah telah mengatur dengan jelas instrumen-instrumen hukum dalam penanggulangan terorisme? Ikrar Nusa Bhakti menyebutkan bahwa dalam diri prajurit TNI ditanamkan prinsip kompetensi. Yang dirusak adalah psikologis dari masyarakat Indonesia. Ketetapan itu juga mengatur.. kontrol sipil atas kekuatan militer merupakan aksioma demokrasi. Niat untuk mengembalikan peranan TNI dalam kestabilan keamanan negara juga pernah terucap pada saat SBY masih menjabat sebagai Menkopolkam pada pada 5 Agustus 2003 yang hendak merevisi Undang-undang Anti Terorisme agar TNI dapat berperan dalam penanggulangan terorisme pasca peledakan bom di Hotel Marriot. Melihat dari contoh kegagalan Polri di atas. TNI dan Kepolisian RI harus bekerjasama dan saling membantu". Di sisi yang lain ketika kemudian TNI kembali ke fungsi keamanan negara bekerjasama dengan Polri bukan tidak mungkin peristiwa-peristiwa kekerasan yang justru dilakukan oleh TNI di masa lalu dapat terjadi kembali. Hal ini sebenarnya sejalan dengan doktrin TNI yang setiap saat kita dengar: Yang terbaik untuk rakyat adalah terbaik untuk TNI. Polri dinilai gagal dan kekurangan personel untuk dapat menciptakan rasa aman untuk masyarakat. Menurut aturan itu. Dalam suatu sistem demokrasi di mana negara berperan sebagai pelindung masyarakat dari ancaman dan gangguan.. Namun jika melihat sejarah peranan TNI dalam sosial politik pada masa Orde Baru. Adalah otoritas rakyat sebagai pemilik kedaulatan negara untuk mendefinisikan posisi dan peran militer. tentu akan menjadi dilema tersendiri dari masyarakat.

Azhari. Yang diperlukan adalah memaksimalkan fungsi dari Polri dalam masalah keamanan negara dan bukan kembali melibatkan TNI dalam masalah ini. 1977. seperti Dr. penyerangan terhadap kantor PDI (1996). 1987. serta Dulmatin telah tewas dalam sejumlah operasi Densus 88. sebenarnya pemerintah Indonesia secara tidak langsung telah mengakui bahwa fokus pada penghancuran jaringan kelompok teroris saja sebenarnya tidaklah cukup.Pada masa Orde Baru. Madura (1993). intimidasi terhadap pendukung non-Golkar menjelang setiap pemilu (1971. 1992. Walau banyak pemimpin Jamaah Islamiyah yang terlibat dalam terorisme.bahwa TNI penuh dengan kekerasan di masa lalu . 1982. Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri menjelaskan Abu Tholut adalah narapidana kasus Bom Kedubes Australia 2004 yang telah bebas setelah menjalankan hukuman selama 4 tahun. hingga tahun 2007 sebanyak 170 orang yang terindikasi terlibat dalam jaringan teroris. TNI sering melakukan tindakan-tindakan represif terhadap rakyat. atau dalam bahasa yang lebih familiar. sebuah program deradikalisasi kepada kelompok-kelompok terorisme di Indonesia.kita bisa melihat apakah kembalinya TNI dalam penanganan keamanan negara bisa menjadi solusi? Penulis melihat bahwa TNI tetap harus dipisahkan secara fungsinya dengan Polri dalam menangani masalah terorisme karena sesungguhnya Polri telah memiliki posisi dan peran yang sangat jelas dalam hal ini yang didukung oleh instrumen hukum yang telah ada. yang karena terjadi di wilayah pedalaman dan jumlah korbannya sedikit sehingga tidak diberitakan secara luas. pembunuhan massal terhadap anggota kelompok Islam di Tanjung Priok (1984). penembakan penduduk di sekitar waduk Nipah. Deradikalisasi: Memaksimalkan Fungsi Polri Melalui keputusan untuk membentuk Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Pemerintah menyadari kebutuhan akan adanya sebuah tindak lanjut yang bersifat komprehensif dalam penanganan terorisme dengan berpusat pada penghancuran ideologi. penembakan empat mahasiswa Trisakti (1998). bukanlah suatu hal yang tidak mungkin. Jawa Tengah (1989). Karena jika tidak ditangani dengan baik. Beberapa kasus yang terjadi pada masa ini adalah: Orde Baru melakukan pembunuhan terhadap ratusan ribu anggota PKI dan pendukung Sukarno. mereka inilah yang harus diwaspadai dan menjadi perhatian khusus dari Pemerintah dan Bangsa Indonesia. Salah satu mantan narapidana yang kembali ke "dunia" terorisme adalah Abu Tholut alias Mustofa. namun. pelaksanaan operasi militer di Aceh (1989-1999). kasus tanah petani di Jenggawah (1989). Timor Lorosae (1980-199) dan Papua (1960-an-199). Melihat penjelasan di atas . serta memenjarakan ribuan lainnya tanpa proses pengadilan (1966-1971). dimana setengahnya adalah anggota Jamaah Islamiyah ditahan. Meski berhasi ditahan. penculikan aktivis pro demokrasi (1997). hingga kini masih banyak terpidana terorisme yang masih ditahan di sejumlah Lembaga Pemasyarakatan (LAPAS) di Indonesia. keterlibatan mereka kembali dalam terorisme setelah keluar dari Lapas. Noordin Moh Top. 1987). tragedi Semanggi (1998) dan masih banyak lagi peristiwa-peristiwa lainnya. Berdasarkan laporan dari International Crisis Group (ICG). Kini ia masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) karena terlibat dalam . penggusuran dan intimidasi penduduk di Kedung Ombo. Dalam jumpa pers pada tanggal 20 September 2009. Mereka mendapat masa tahanan dari 4 tahun sampai seumur hidup.

Salah satu contoh sasaran pendekatan dalam koridor humanity adalah keluarga Ali Ghufron. Kedua departemen . Dalam re-orientasi dan re-edukasi. Jadi "akar" dalam radikalisme menjelaskan indoktrinasi yang ditanamkan pada bibit-bibit teroris. Kesejahteraan keluaga teroris tidak diperhatikan. Sebaliknya. salah satu perakit Bom Bali yang pertama yang terjadi pada 2002. mereka langsung diamankan dengan cara yang manusiawi. Ali Imron kini giat membantu polisi dalam memerangi terorisme dan memberikan counseling bagi teroris yang belum sadar. "Radikalisme" berasal dari kata bahasa Yunani "radix" yang berarti akar. Dalam kasus pesantren radikal seperti pesantren di Ngruki. Menyentuh Akar Rumput. Pendekatan ini belum bisa berjalan dengan baik karena sejauh ini pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tidak serius menangani isu terorisme (terbukti dari pernyataan beliau bahwa terorisme adalah murni kriminalitas. Faktor utama terorisme adalah deprivasi: kemiskinan. Sejak ketiganya tertangkap sampai kini. Sumatera Utara. contohnya melalui pesantren. Indoktrinasi susah diberantas karena dia mengakar di dalam bibit teroris sejak dini. Ketika teroris ditangkap. rendahnya pendidikan dan marginalisasi politik. Dalam bukunya "Ali Imron Sang Pengebom". soul approach memperlakukan narapidana terorisme sebagai manusia. anak-anak ketiga teroris tersebut harus berpindah-pindah karena stigma anak teroris. Salah satu success stories dalam soul approach ini adalah Ali Imron. Dr.perampokan bersenjata Bank CIMB di Medan. Soul Approach adalah pendekatan dimana kekerasan dan intimidasi untuk menghentikan terorisme tidak digunakan. Ali Imron mengakui terjun ke dalam terorisme merupakan kesalahan dan di akhir bukunya dia meminta maaf pada keluarga korban. dan keluarga mereka juga diperhatikan kesejahteraannya. serta menanamkan multikulturalisme kepada masyarakat luas. Humanis adalah pendekatan deradikalisiasi pertama yang langsung menyentuh teroris dan keluarganya. tidak ada unsur politik). Berdasarkan laporan dari International Crisis Group (ICG). Agustus 2010. pada tahun 2007 lalu sekitar 150 narapidana yang terlibat baik langsung maupun hanya kaki tangan dalam tindakan terorisme dalam rentang tahun 2006 sampai dengan tahun 2007 telah dibebaskan. metode counseling oleh BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme) yang menuju kepada re-orientasi dan re-edukasi. Ini tentu berpengaruh pada mental mereka. yakni humanis. soul approach. program ini tidak hanya ditujukan kepada para tersangka maupun terpidana terorisme. dan menyentuh akar rumput. mantan terorisme yang sudah bertobat diberdayakan untuk menyadarkan teman-teman teroris yang belum bertobat. keluarganya sendiri (dia menyatakan menyesal telah meninggalkan istrinya saat hamil. dan ketiga anaknya lahir tanpa kehadirannya) dan masyarakat pada umumnya. diperlukan peran Departemen Agama dan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Imam Samudra dan Amrozi Nurhasyim atau yang lebih dikenal sebagai trio Bom Bali. akan tetapi program ini juga diarahkan kepada simpatisan dan anggota masyarakat yang telah terekspos paham-paham radikal. dua tahun setelah mereka dihukum mati di Nusa Kambangan. diperlukan upaya deradikalisasi. Untuk menangkal kembalinya para terpidana ini kembali ke jaringan terorisme. Petrus Reinhard Golose membeberkan tiga kunci dalam program deradikalisasi para mantan teroris.

Kelompok ini mungkin tidak perlu dibubarkan. 15 Agustus 2003. 11 Ikrar Nusa Bhakti. 20 September 2010. 19 November 2007. namun ketika terjadi kekerasan. MSc. Yayasan Pengembangan Ilmu Kepolisian. ICG ReportNo. Bebas Karena Remisi. Reformasi Setengah Tiang. MSc. Executive Summary and Recommendation" Crisis Group Asia No. Ibid. Pidato Kofi Anan. Hal.. Bahwa rasa aman adalah hak setiap warna negara Indonesia dan tidak mengenal perbedaan. 19 November 2007. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. Namun yang dilakukan oleh Polri adalah bahwa ketika hak tersebut telah masuk dan mengganggu ke ranah hak orang lain dan terciptanya rasa khawatir dan tidak aman maka Polri harus bertindak tegas. 19 November 2007. Bab 5: Agenda dan Tujuan Reformasi Sektor Keamanan Indonesia. Namun Polri harus juga bisa melihat prioritas kepentingan bahwa kepentingan masyarakat luas yaitu terciptanya rasa aman jauh lebih penting daripada kepentingan kelompok-kelompok tertentu saja. 2005. Hal. 9 Adjie S. Dalam kasus berbagai aksi kekerasan dan teror yang dilakukan oleh kelompokkelompok tertentu yang bersifat insurjensi seperti FPI dan HTI. . 2005. Abu Tholut Pernah Divonis 8 Tahun. Beruntung Indonesia selama tiga tahun terakhir ini telah menjalankan program Deradikalisasi ini. Koran Tempo. 2009. Petrus Reinhard Golose. yang seringkali berkaitan dengan kebutuhan ekonomi keluarga mereka. detikNews. ICG Report No. harus diambil tindakan yang tegas dan juga hukuman yang berat. 142. Hal.. Deradikalisasi Terorisme. 2005. Terorisme. Ibid.tersebut sebaiknya bekerja sama dalam menyeleksi bahan-bahan pendidikan agama (membuang unsur radikalisme) dan para gurunya. maka Polri juga harus lebih tegas. Janganlah keragu-raguan akan melanggar HAM menjadi hambatan akan hal ini. International Crisis Group (ICG) reports "Deradicalisation and Indonesian Prisons. Terorisme. 142. Adjie S. Sekretaris Jenderal PBB pada tanggal 21 November 2011. Polri juga harus meningkatkan kualitas intelejennya sehingga dapat memprediksi segala aksi kekerasan yang akan terjadi di masyarakat. Dr. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. Jakarta: Mizan. Hal yang perlu diingat adalah bahwa Polri tidak mendeskriditkan agama apalagi sampai mengekang kebebasan beragama pihak tertentu. Pemerintah Ingin Peran TNI Diperbesar". 142. Demonstrasi yang menjurus kepada aksi kekerasan harus segera disikapi dengan tegas oleh Polri. Elemen kunci dari program yang dijalankan di Indonesia adalah komunikasi dan perhatian terhadap narapidana terorisme serta menanggapi keperluan khusus mereka. 150 "Hadapi Terorisme. Selama dilakukan berdasarkan SOP yang tepat maka kemungkinan itu akan dapat diperkecil walau mungkin akan tetap terjadi juga.

meskipun saat itu polisi tengah bersiaga karena isu penyerangan tersebut telah terdeteksi sebelumnya oleh kepolisian. hal ini tercermin dari aksi anarkis masyarakat seperti tawuran. masyarakat diajak secara langsung untuk melakukan kemitraan dengan kepolisian dalam . materil dan korban jiwa. kerusuhan yang melibatkan massa dan yang baru-baru ini terjadi adalah penganiayaan massa terhadap warga Ahmadiyah di Cikeusik Pandeglang Banten yang menimbulkan kerugian moriil. sehingga berbagai ancaman dan gangguan Kamtibmas dapat dengan mudah terjadi karena lemahnya daya tangkal. Penyelesaian masalah yang terjadi di masyarakat melalui implementasi Polmas tentunya bukan hanya retorika semata. daya cegah dan daya lawan masyarakat terhadap berbagai gangguan Kamtibmas yang terjadi dilingkungannya. perlu penegakan hukum agar pelaku penganiayaan dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya dihadapan hukum. Peran Polmas dalam penanggulangan kerusuhan di Cikeusik pandeglang Banten.500 massa yang tidak dapat dikendalikan. PEMBAHASAN 1. Kerusuhan massa di Cikeusik Pandeglang Banten sebenarnya dapat dicegah apabila masyarakat Cikeusik lebih menyadari peran dan kewajibannya dalam menjaga keamanan lingkungannya. Namun demikian. pengrusakan. II. 2. sehingga berbagai ancaman yang ada dapat segera ditangani oleh masyarakat tanpa melalui jalur-jalur kekerasan. Akan tetapi jumlah massa penyerang yang cukup besar membuat polisi kewalahan dan akhirnya massa dapat menyerang langsung ke rumah Parman dan melakukan penyerangan terhadap warga Ahmadiyah yang tengah berada di dalam rumah.IMPLEMENTASI POLMAS TERHADAP PENANGGULANGAN KONFLIK AHMADIYAH CIKEUSIK BANTEN IMPLEMENTASI POLMAS TERHADAP PENANGGULANGAN KONFLIK AHMADIYAH CIKEUSIK BANTEN I. akan tetapi perlu dikedepankan langkah-langkah pre-emtif dan preventif melalui pemberdayaan masyarakat seperti dengan mengimplementasikan Polmas (perpolisian masyarakat) agar masyarakat dapat bersama-sama kepolisian guna menciptakan kemitraan sejajar dalam penyelesaian permasalahan di masyarakat. PENDAHULUAN Aksi anarkis masyarakat dalam penyeleaian konflik seolah menjadi salah satu jalan penyelesaian sebagian masyarakat. Kerusuhan Ahmadiyah di Cikeusik Pandeglang Banten. hal ini bukan semata-mata dapat diselesaikan melalui upaya represif kepolisian saja. materiil maupun korban jiwa. Fenomena yang terjadi di masyarakat tersebut tentu tidak dapat dibiarkan. karena melalui Polmas tersebut. Kurangnya terimplementasinya Polmas menjadi salah satu penyebab kurangnya pengetahuan warga masyarakat dalam menjaga dan memelihara keamanan lingkungan. Konflik Ahmadiyah yang selama ini sempat terhenti dengan dikeluarkannya SKB 3 (Tiga) Menteri kini kembali terulang di Cikeusik Pandeglang Banten dengan menelan kerugian yang besar baik berupa moril. Konflik ahmadiyah di Cikeusik tersebut bermula ketika warga Ahmadiyah yang tengah melakukan pengajian di rumah Parman diserang 1.

2. Namun demikian. Implementasi Polmas dalam penanggulangan kerusuhan massa di Cikeusik Pandeglang Banten. peran Polmas di Cikeusik Pandeglang-Banten tentu perlu diimplementasikan dengan optimal agar berbagai potensi gangguan Kamtibmas dapat segera ditangani melalui peran Polmas. b. c. Rekomendasi a. implementasi Polmas dalam penanggulangan kerusuhan massa di Cikeusik Pandeglang Banten tentu sebelumnya perlu diimplementasikan dengan baik. Melakukan sosialisasi terhadap masyarakat agar masyarakat dapat mengetahui maksud dan tujuan penyelenggaraan Polmas di lingkungannya. Melatar belakangi hal tersebut. maka peran masyarakat sebagai kekuatan inti Kamtibmas pun belum mampu diberdayakan dengan optimal. ketertiban dan ketentraman masyarakat dan pada akhirnya dengan kemitraan tersebut dapat mengurangi kejahatan. Indonesia Peranan POLRI dalam menindaklanjuti aliran islam garis keras . III. menangkal dan menanggulangi gangguan Kamtibmas. sehingga masyarakat dapat secara langsung melakukan komunikasi dengan kepolisian. 3. rasa ketakutan akan terjadi kejahatan. dan meningkatkan kualitas hidup warga setempat. Dengan kurang terimplementasinya Polmas di warga masyarakat Cikesuik. Membangun Balai Kemitraan Polisi ± Masyarakat (BKPM) sebagai sarana untuk melakukan pertemuan kemitraan antara polisi dan masyarakat dalam membahas berbagai permasalahan yang ada. Membuka Forum Kemitraan Polisi ± Masyarakat (FKPM) disetiap wilayah seperti Desa / Kelurahan. b. mencegah bahkan mengatasi kerusuhan massa yang terjadi. d.menyelesaikan dan mengatasi setiap permasalahan sosial yang mengancam keamanan. Perlu adanya standar pengawasan dan pengendalian secara konsisten agar kegiatan Polmas dapat di monitor. PENUTUP 1. sehingga Polmas dapat segera diimplementasikan dengan optimal. Kesimpulan Polmas sebagai strategi Polri dalam memberdayakan peran masyarakat masih kurang terimplementasi dengan optimal disetiap wilayah. melalui langkah-langkah: a. Peran Polmas dalam menanggulangi kerusuhan massa di Cikeusik Pandeglang Banten tentu dapat memberi kontribusi besar dalam mengantisipasi. yang menyebabkan potensi-potensi konflik yang selama ini terpendam di masyarakat Cikeusik dapat dengan mudah berubah menjadi konflik terbuka seperti dengan terjadinya kerusuhan terhadap warga Ahmadiyah saat ini. Penunjukan petugas Polmas yang secara aktif melakukan sosialisasi Polmas kepada masyarakat. Agar Polda dapat merevitalisasi kembali kebijkan implementasi Polmas menjadi prioritas dalam penyelenggaraan tugas Polri. seperti di Cikeusik Pandeglang Banten dengan adanya kerusuhan Ahmadiyah yang tidak dapat ditanggulangi melalui peran Polmas sebagai kekuatan baru Polri dan masyarakat melalui kemitraan dalam mencegah.

dan hak untuk dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apa pun. Menyelenggarakan segala kegiatan dalam menjamin keamanan. Hal itu misalnya eksplisit ditegaskan dalam Undang-undang Dasar (UUD) 1945 Pasal 281. AGUNG LAKSONO KETUA DPR RI . : 130/ TH III / KKI / 2005 Perihal : Konspirasi Politik untuk mengamandemen UU N0. yang sudah diratifikasi oleh pemerintah Indonesia. Sebagai bentuk pelaksanaan undang-undang. hak untuk diakui sebagai pribadi di hadapan hukum. diberi wewenang untuk mengatur dan menjaga kebebasan beragama tersebut. pengayoman. hak untuk tidak diperbudak.´ Hal ini juga memperoleh penegasan di dalam Piagam Deklarasi Universal Hakhak Asasi Manusia (DUHAM) dan dua kovenannya. ayat 1. hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani.Pengantar Hak semua agama dan aliran kepercayaan untuk hidup dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) telah dijamin oleh pelbagai undang-undang. kesadaran hukum masyarakat. dan (c) memberikan perlindungan. serta ketaatan warga masyarakat terhadap hukum dan peraturan perundang-undangan. dalam hal ini kepolisian. dan Melakukan menyelidikan dan penyidikan terhadap semua tindakan pidana sesuai dengan hukum acara pidana dan peraturan perundang-undangan lainnya. KILAS BALIK No. hak untuk tidak disiksa. Tugastugas pokok tersebut kemudian dijabarkan dalam tugas operasional polisi (pasal 14). Bab X tentang Hak Asasi Manusia. Memelihara ketertiban dan menjamin keamanan umum. seperti tercantum dalam UUD (perubahan kedua). pengawalan. sebagai berikut: Melaksanakan pengaturan. yang berbunyi: ³Hak untuk hidup. hak beragama. ketertiban. (b) menegakkan hukum. Hal ini dengan gamblang dijabarkan dalam UU Kepolisian nomor 2 tahun 2002. dan kelancaran lalu lintas di jalan. 2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian Negara RI Yang terhormat BAPAK H. bahwa tugas-tugas pokok kepolisian adalah: (a) memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat. dan patroli terhadap kegiatan masyarakat dan pemerintah sesuai kebutuhan. aparat negara. penjagaan. Dalam UU tersebut disebutkan (pasal 13). pasal 28. dan pelayanan kepada masyarakat. Membina masyarakat untuk meningkatkan partisipasi masyarakat.R.

setelah itu dilakukan langkah pengayoman.kemudian gangguan keamanan tak bisa dikendalikan. mengurangi tindakan yang mengarah pada anarkisme. Nuansa politik belakangan ini ditumbuhkembangkan ke segala sudut penjuru -. Penyidik sebaiknya tidak hanya Polri saja melainkan ada aparat lain. Sehubungan dengan konspirasi ini. swasta. muncul Konspirasi Politik yang bakal mempercundangi Polri. pelindung dan juga bertindak selaku aparat keamanan. pengayoman dan pelayanan masyarakat serta pemelihara kamtibmas dan penegak hukum ± untuk mewujudkan keamanan dalam negeri ± artinya Polri berkiblat pada fluktuasi yang berkembang di masyarakat. hukum belum diperlukan sebab fluktuasi yang berkembang cukup diselesaikan dengan pranata sosial yang ada. tahapan pada penggunaan kekuatan politik di parlemen dengan fenomena untuk mengamandemen Undang-undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara RI. kiranya kita semua patut memahami tentang Polri yang erat kaitan tugasnya dengan keamanan. melainkan TNI juga diberi wewenang karena dalam sepuluh tahun mendatang ancaman pertahanan diperkirakan belum ada. ujudnya patroli. maka hukum nasional baru diterapkan dengan langkah polisionil ± untuk menindak para pelakunya. Kalkulasinya. Polri negara dalam negara Kewenangan Polri terlalu berlebihan. sebagai aparat penegak hukum. Legalitas hukum fungsi keamanan Polri kembali dipermasalahkan.Bila terjadi masalah yang sebaliknya. Fungsinya sebagai penerima amanah . Apabila situasi tentram dan damai.fenomenanya jelas agar terbentuk opini -. Polri negara dalam negara II. Polri tak mau dikritik dan dikontrol IV. Akan halnya dengan wewenang keamanan yang dimiliki Polri tidak mutlak menguasainya.kepercayaan public di bidang perlindungan. rasa aman sebagai salah satu hak asasi manusia yang wajib dilindungi Negara. Artinya jika ada perselisihan atau beda pendapat penyelesaiannya cukup dengan adat istiadat daerah setempat secara damai. pengayom. Peranan masyarakat sangat penting dalam menciptakan rasa aman. Belakangan ini. Kali ini. artinya masalah itu tidak bisa diselesaikan dengan pranata sosial atau adat istiadat yang berlaku -. penjagaan dan dialog serta bentuk pelayanan yang sesuai dengan domein masyarakat setempat. karena Polri tak mampu mengatasi keamanan secara keseluruhan maka TNI peran aktif sangat diperlukan. Polri sebaiknya tidak di bawah presiden langsung. Polri juga sebagai aparat penertiban. Polri arogan dan sombong III.Dengan Hormat. Setelah tindakan polisionil dilakukan. Pendapat yang menjadi alasan krusial berkisar pada : I. masyarakat ) di bidang keamanan yang terjamin dari ketentuan hukum peraturan perundang-undangan berlaku sesuai yang diamanatkan pada Polri. namun Polri ditempatkan di Departemen Dalam Negeri.yang muaranya menuju ke opini parlemen. Polri gagal dalam menanganani keamanan I. Masalah keamanan sangat erat kaitannya dengan penegakan hukum. kemudian Polri berupaya untuk memulihkan dengan menegakan ketertiban. atau ditempatkan di Departemen Kehakiman atau kalau tidak ditempatkan di Departemen Pertahanan. harapan persyaratan para stakeholder ( pemerintah. Kalkulasinya Polri bekerja berdasarkan dinamika kebutuhan. Ini semua bisa terwujud bila hubungan dan interaksi sosial antara .

Artinya.yang dilakukan dengan membentuk Lembaga Kepolisian Negara RI. apalagi Kapolri. Independensi inilah yang sering diartikan lain.berdasarkan hukum jika terjadi pelanggaran ketentuan ( norma ) hukum. masyarakat bukanlah musuh. Kinerjanya dibantu oleh segenap masyarakat melalui perbuatan patuh hukum. anggota Polri dalam menjalankan tugasnya atas perintah negara -. Polri diciptakan untuk menjaga hukum agar dipatuhi -. sebagaimana yang diungkapkan dalam media massa beberapa saat yang lalu -landasan hukumnya tak jelas. mengapa dari sekarang tidak memulai merancang Konsep Pertahanan .tetapi Polri harus mengemban tujuan sosialnya sebagai aparat keamanan. Dalam melaksanakannya. kemudian diulangi akhir Juli 2000 .yang diakomodir dalam ketentuan hukum yang berlaku. sebagai institusi Polri yang berada dalam Criminal Justice System. setelah Maret 2000 gagal menempatkan Polri di bawah Menteri Dalam Negeri.dalam penanganan hukum tidak bisa diintervensi oleh Presiden. Kalau semua pihak memahami. Apabila sudut pandang ini dijadikan acuan. Tentang ambisi Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono TNI untuk memiliki wewenang keamanan. melainkan warga Negara yang harus dilindungi. sekali lagi Komisi Kepolisian Indonesia menegaskan. sehingga terwujud kepatuhan masyarakat atas hukum.Dari rasa aman itu lahirlah bentuk partisipasi aktif yaitu patuh hukum.ketiga domien Good Goverment ± sektor pemerintah / Negara²sektor swasta dan sektor usaha ± serta masyarakat tidak saling eksplotatif tetapi membangun sinergi melalui kemitraan yang harmonis dalam upaya mencapai tujuan nasional ± yang disepakati bersama sebagai tercantum dalam alinea ke 4 UUD 1945. sekalipun Polri di bawah Presiden -. Dalam konstelasi ketatanegaraan peranan TNI jelas yaitu berfungsi mempertahankan kedaulatan negara. Artinya keamanan diselenggarakan dengan payung hukum dan Polri bertindak sebagai penegak hukumnya. Sebagai penyidik Polri ditetapkan oleh Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (KUHAP) sebagai tersurat pada pasal 6 ayat ( 1 ) yang menyatakan penyidik adalah : a Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia b. Penjabarannya. Pejabat PNS tertentu yang diberi wewenang oleh Undang-undang Artinya. maka nuansa paradigma baru akan terlihat jelas dan nyata -karena dalam memandang keamanan dalam rangka hukum bukan bagian dari eskalasi ancaman menghadapi musuh. keamanan adalah upaya menengakan hukum nasional. . Polri yang bertugas digarda terdepan tak hanya mengejar tujuan hukum saja -. Konspirasi politik menempatkan Polri dalam konstelasi ketatanegaraan kembali terulang. Polri merupakan Polisi Nasional.oleh siapapun dan mengambil tindakan -. Jadi pada dasarnya keamanan adalah tanggung jawab negara -. Misi inilah yang disalah artikan oleh beberapa pihak hingga sekali lagi Polri memperoleh predikat negara dalam negara. Jelasnya. Berbicara tentang penegakan hukum.Tiba-tiba muncul kasus Ambalat ± terlihat tidak solidnya sistem pertahanan. Polri bukan merupakan institusi negara dalam negara melainkan sebagai aparat penegak hukum untuk kepentingan negara. ketertiban dan pengayoman masyarakat. ternyata Polri menjalankan misinya untuk kepentingan negara. melainkan ditempatkan di bawah Menteri Kehakiman Sehubungan dengan konspirasi politik ini. Berkaitan dengan itu. Kapolda atau Kapolres. maka akan memberikan penilaian lain . jika ancaman kedaulatan dinyatakan sampai 10 tahun belum bakal ada.terhadap siapapun -. Polri memiliki wewenang yang berlebihan. Mengapa mesti merambah pada fungsi keamanan ? Itu semua bagaikan melihat fatamorgana.

Jadi bagaimana mungkin masyarakat bisa dilayani. dan Pengayom masyarakat.hingga jika ada masyarakat yang menemuinya harus melalui jalur protokoler yang ketat ± dan itu pun belum tentu bisa ditemui ± semua ini erat kaitannya untuk menjaga wibawa agar nampak tinggi. Mereka yang jelas tidak mengenal apa itu arogan dan apa itu sombong -. Jumlah pejabat Polri model yang ini sangat banyak jika dikalkulasi ada sekitar 87 persen. Jika ternyata permainannya terungkap mereka kemudian berlindung pada elite di Polda atau kelompok elite di Mabes Polri. ratusan Kapolres. Sedangkan bidang keamanan adalah perlindungnan warganya dan orang lain dalam wilayah Negara secara legal berdasarkan hukum dan cara-cara yang diatur menurut hukum. di luar Jawa ada lima Kapolda . pejabat tersebut juga dari kelompok tertentu dan lingkungan tertentu dari dinasti tersendiri. Akan halnya Kapolres sebagaimana sinyalemen yang berkembang. Karena Polri perangkat kebijakan.Polri di Jawa ada dua Kapolda . Jadi arogansi fungsi dan sombong tetap melekat pada pejabat di lingkungan tertentu dari kelompok tertentu saja. Kritik selalu dianggap menyudutkannya . Pejabat tersebut merasa dirinya menjadi pejabat yang paling penting -. Sikap inilah yang bertolak belakang dengan misi Polri sebagai Pelayan. Jika disebut sejumlah Kapolda dari hasil pemantauan Komisi Kepolisian Indonesia memang benar dan pejabat Kapolda -. memang ada benarnya tapi tidak terjadi pada semua pejabat di lingkungan Polri secara keseluruhan. bagaimana mungkin masyarakat bisa dillindungi. Polri juga tidak bisa ditempatkan di lembaga yudikatif agar dalam melaksanakan penegakan hukum ada chek and balance. Polri Arogan dan Sombong Sikap arogan dan sombong sangat kental dan melekat baik pada pejabat teras Polri. Selain Kapolres tersebut banyak menghasilkan uang yang dihalalkan. bagaimana mungkin masyarakat bisa diayomi jika elite kepolisian semuanya bermental ³pejabat´ ?! Sinyalemen ini.mengapa mesti arogan. sekalipun kritik itu sebenarnya dari hasil koreksi kebijakan -kebijakan yang kurang proporsional. Pelindung.sebab departemen mengemban fungsi eksekutif. Berdasarkan pemantauan Komisi Kepolisian Indonesia pejabat yang arogan dan sombong hanya ada pada pejabat yang lingkungannya menghasilkan banyak uang hasil KKN dari satu kelompok tertentu saja. Perannya terbatas ikut merumuskan peraturan pelaksanaan bersifat administratif. bidang pertahanan merupakan perimbangan kekuatan antar negara terutama kekuatan senjata.Dalam pada itu.seharinya sangat sibuk -. kolusi dan Nepotisme. Polri pada umumnya selalu terbuka untuk kritik . Lain halnya dengan Kapolda.ini juga ada pada lingkungan kelompok tertentu pada jabatan basah banyak uang dari hasil korupsi. maka tidak dapat dikelompokan ke dalam fungsi eksekutif. II.mereka ini menjalankan tugas-tugas kepolisian penuh dedikasi yang membagakan adalah prestasi. karena kritik merupakan titik tolak dari dari . Polri tak mau dikritik dan tidak ada yang mengontrol Jika yang dimaksud pejabat Polri tidak mau dikritik menurut pemantauan KKI memang ada dan ini ada dilingkungan elite di Mabes . Apalagi ditempatkan satu atap di bawah Menteri Pertahanan -. pejabat tersebut jika dikritik menganggap orang yang melontarkan kritik itu memusuhinya . Kapolres yang dilingkungan kerja kering artinya nyaris bersih dari KKN -. toh yang dikejar prestasi kerja!! III . Polri tidak bisa ditempatkan di Departemen manapun atau bahkan membentuk departemen sendiri -. Cirinya .misalnya karena domeinisasi sisinya berlainan. sejumlah Kapolda.

ujar Menhan sebagaimana dikutip Harian Kompas 17 Februari Keterlibatan TNI mengatasi keamanan dalam negeri ternyata masih diperlukan. Berangkat dari penataan ulang itu banyak Kapolda . hingga Kapolres jika melakukan penyelewengan terhadap manajemen Polri . selain masalah penggunaan anggaran yang secara periodik dilakukan oleh Badan Pengawas Keuangan . Pengaduan.Sekitar 130 orang anggota Polri ditindak oleh divisi itu. ujar Menhan. Kontrol external . tetapi tidak ada UU Keamanan Dalam Negeri. pemisahan TNI/ Polri merupakan langkah kebablasan dari reformasi 1998. ujud tindakan yang dilakukan berupa PTDH (Pemberhentian Tidak Dengan Hormat ) baik dari tingkat perwira berkas perkaranya pada reserse apabila ternyata anggota Polri melanggar ketentuan pidana . Inspektur Pengawas Umum . IV. Polri dikontrol oleh lembaga Pra Peradilanapabila dalam menerapkan pasal dalam kasus tersebut salah atau melakukan kesalahan dalam penyelidikan atau penyidikan . Sekarang ini kondisinya masih timpang. Secara rinci internal dalam tubuh Polri ada Lembaga Kontrol yaitu .Di Polres ada unit P3 D ( Pelayanan. Polri kembali dipercundangi. Baik Deputy dilingkungan Mabes Polri . Disamping itu. kendala yang dihadapi Polri. pertikaian bisa diatasi setelah pasukan TNI turun. Komisi Kepolisian Indonesia ( KKI ) sejak awal Maret 2002 berperan aktif unruk mengontrol kinerja Polri serta ikut serta memecahkan masalah . Untuk selanjutnya dalam menangani perkara Polri langsung diawasi oleh Kejaksaan yang muaranya pada Hakim Selain itu . penanganan kasus-kasus langsung dikontrol oleh DPR RI . Polri dalam menentukan arah kebijksaan. Dibagian lain Juwono menolak anggapan penyusunanan RUU Hankam dimaksudkan menggabungkan TNI/Polri. Kapolres yang prestasi cukup mengagumkan . Selain itu masih ada Komisi Kode Etik. Dalam Criminal Justice System . konsep langkah mundur telah disiapkan Dephan yaitu RUU Sinkronisasi Kerja TNI/ Polri. Alasannya. ada LSM lain. Lebih lanjut dijelaskan RUU Hankam untuk menjadi induk perundang-undangan yang mengatasi ketimpangan fungsi pertahanan dan keamanan. ³ RUU ini akan melihat keterpaduan yang baik antara Polri dan TNI karena kalau dipisahkan dalam Undang-undang itu malah akan merepotkan kerja di lapangan ³ kata Menhan Juwono Sudarsono seperti yang dikutip harian Kompas 16 Februari 2005. . tetapi jika mereka ternyata hanya kena tuduhan yang kemudian tidak terbukti divisi inilah yang merehabilitir nama anggota Polri tersebut. Dalam beberapa kasus konflik seperti Maluku. ada UU TNI. Divisi Profesi Pengamanan . Bahkan awal Februar lahir Komisi Kepolisian Nasional yang ditugasi pemerintah untuk mengontrol Polri. ada UU Kepolisian. Ditambahkan. Adanya anggapan bahwa Polri tidak mau dikontrol dan tidak ada yang mengontrol . Kapolda. lingkup tugasnya menindak para anggota Polri yang melanggar kode etik. Komisi Kepolisian Indonesia dengan tegas menolak anggapan itu .pembenahan . Gagal melaksanakan keamanan Pertengahan Februari 2005. yang dilakukan melalui sistem pertahanan rakyat semesta. Penegak Disiplin ). secara ekspilisit Pasal 30 UUD 1945 masih mengatur keterlibatan kedua institusi terkait usaha pertahanan Negara . Inspektur Pengawas Umum ini menangani penyalah gunaan wewenang tentang manajerial dalam lembaga Kepolisian . Divisi Profesi dan Pengamanan yang bertugas melakukan tindakan terhadap anggota Polri yang menyalah gunakan kekuasaan dan wewenang .

Justru yang diperlukan adalah Peraturan Pemerintah sebagai amanat UU No 2 Tahuin 2002. pelanggaran lalulintas sampai pada gangguan terhadap keamanan Negara. Sumber anacamannya bisa datang dari luar negeri.Solusi terbaik setelah PP terbit adalah mengembalikan pada fungsi dan peran masing-masing sesuai dengan tatanan yang ada. sampai Polsek. seperatis bersenjata. sosial budaya maupun keamanan ± yang kesemuanya dipengaruhi lingkungan strategis baik global. Di sisi lain. Tapi pemerintah lamban mengimplementasikan amanat UU No 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara pasal 41 ayat 1 dan ayat 2 ± maka bentuk kerjasama antara kedua institusi itu tidak ada legimitasi hukumnya.terutama ketrika pemerintah daerah maupun kepolisian sudah menyatakan tidak sanggup lagi Sejak pemisahan itu keberadaan TNI selama ini menjadi terpinggirkan.500 kasus tindak pidana hanya mampu diselesaikan sekitar 1. anggaran untuk melaksanakan operasional Kepolisian yang dialokasikan dalam APBN Polri ± masih jauh dari kebutuihan ideal bahkan boleh dikatakan tidak mencukupi dari kebutuhan minimal.Konflik yang masih dalam koridor keamanan dalam negeri.masalah ketertiban masyarakat. Nuansa analisa yang titik tolaknya dari kasusistis ini kemudian akan dijabarkan menjadi naskah akademik UU Hankam --. ujar Menhan sebagaimana dimuat Kompas. politik. Akan tetapi keberadaan TNI masih dibutuhkan untuk mengatasi masalah -. Keamanan Dalam Negeri spektrumnya sangat luas ±.600 kasus.bukan karena tidak . terorisme dan subversi. regional maupun nasional. Padahal beberapa kasus. Realisasi anggaran yang minimal itu dimanfaatkan secara maksimal berbagai kegiatan operasional untuk 913 strata organisasi dari tingkat Mabes Polri. baik karena Polri memang tidak sanggup ataupun karena terbatasnya jumlah personil.dari ancaman yang paling ringan yaitu gangguang ketertiban. pengayoman dan pelayanan masyarakat. ekeonomi. terutama masalah. Sebanyak 5. sabotase. Selama ini anggaran yang dialokasikan lebih kurang 30 % dari kebutuhan ideal. penegakkan hukum sekaligus pemelihara Kamtibmas dapat melaksanakan dengan optimal. Barometer penegakkan hukum salah satunya adalah mampu dan tidaknya Polri mengungkapkan kasus tindak pidana. Produk hukum yang memayungi bentuk kerjasama TNI/ Polri sudah ada. Polri yang memiliki otoritas penanggung jawab keamanan harus mencermati kemudian mengantisipasi agar totalitas Polri dalam memberikan perlindungan.Jadi pemeritah seyogyanya mengambil langkah untuk menerbitkan PP²langkah ini merupakan langkah bijak untuk menepis egoisme sektoral institusi yang merupakan faktor penyebab ketidaktertiban sistem yang sangat berpengaruh pada upaya penegakkan hukun. Terbatasnya pengungkapan kasus-kasus tindak pidana itu --. pemerintah daerah pada kenyataannya malah sering meminta pengerahan pasukan TNI bukan polisi. ketentraman umum serta kriminalitas.dengan dalih ketimpangan yang terajdi di lapangan ± terlihat Menhan Juwono sangat gegabah ± tanpa mau melihat fakta hukum yang ada. Hal itu dinilai Juwono sekaligus juga menunjukan kultur masyarakat yang masih belum sepenuhnya menerima keberadaan polisi soal keamanan dalam negeri maupun ketertiban masyarakat. UU Hankam sama sekali belum dan bahkan tidak akan diperlukan. namun bisa berasal dari dalam negeri sendiri ± dimensinya bisa berasal dari masalah idologi.

Penyalahgunaan kekuasaan baik secara individual maupun organisatorik kerap terjadi dalam sejarah perkembangan kepolisian dunia. Brigjen hingga Irjen Pol. melainkan dilihat sebagai representasi fungsi negara dalam melindungi warganya dengan payung hukum . . Sisi lain: sistim pembinaan personil atas selera pimpinan. hingga tak dimiliki oleh instansi lain seperti Hakim.jabatan Kapolda pun mudah didapat. Kewenangan yang demikian besar. Polri dalam paradigma baru hendaknya tidak dipandang sebagai institusi profesi saja. --. jabatan Direktur Lalu Lintas mudah diraih. membuat tatanan sistim SDM Polri berantakan disektor tertentu. Jadi. Sikap arogan dan sombong ini lahir dari satu sistem Pembinaan Sumber Daya Manusia yang menggunakan sistem By Window (siapa yang dilihat dan diingat. . melainkan dari atasan langsung. dengan spontan mengatakan jabatan yang saya pangku datangnya bukan dari orang yang suka mengkritik itu.profesionalnya penyidik Polri melainkan dukungan anggaran penyidikan sangat kecil. Jadi Dewan Kebijakan ( sebutan populernya Wanjak ) yang semestinya mengacu pada perjalan karir anggota Polri ± saat itu hanya formalitas -.hasilnya tentu tidak mengecewakan. Polri sebagai penegak hukum yang ada dalam wadah criminal justice system berada di garda terdepan dalam menegakan hukum ± karena pada dasarnya hukum untuk kepentingan negara. Sesuai dengan karakteristik utamanya ± Polri memiliki wewenang dalam menegakan hukum dan bersenjata. Dengan kewenangan itu. Maka berbondong-bondong perwira-perwira Polri ( semasa pemerintahan Megawati ) untuk dekat dengan pejabat yang masuk kategori dekat pimpinan Polri dan ( Presiden Megawati ). Peranan Polri di sini wajib untuk menegakan sesuai dengan aturan hukum positif yang dipertanggungjawabkan secara hukum pula. jaksa. Bahkan secara organisatorik kepolisian digunakan untuk kepentingan politik penguasa ± Polisi memiliki kekuasaan yang berlebihan. Mereka jika dikritik. serta merta mereka ikut dalam konfigurasi politik praktis untuk mendukung Megawati -. Manakala pihak Badan Reserse Kriminal mengajukan anggaran sebesar RP 990 milhyar realisasi dukungan anggaran penyidikan itu hanya Rp 46 milyar dibagi untuk 30 Polda.Alias teraniaya. Biarkan anjing menggonggong kafilah berlalu.Warisan ini. jabatan Direktur Reserse dan Kapolres daerah basah pun mudah diduduki. namun rapat Dewan Kebijakan ( de facto ) tak ada . yang penting tetap baik di mata pimpinan Polri dan pimpinan negara ( Presiden Megawati ± waktu itu ). Arogan dan sombong memang masih menyelimuti tubuh oknum Polri.De Jure berupa persetujuan pejabat tertentu dengan paraf. siapa yang dekat dan dari mana dia ) di luar jangkauan ini hanyalah mereka menunggu nasib. Kewenangan yang demikian besar itu yang belakangan ini dijadikan komoditi politik . Kenapa mesti takut ?! Jadi biarkan saja mereka mengkritik .Akanhalnya pangkat seperti Kombes. Penentuan jabatan megacu perintah Kapolri. Kedua sifat itu lahir karena oknum pejabat itu merasa diri kuat dalam menduduki jabatan itu. Polri sering dipandang sebagai sosok yang menakutkan.

Dilain fihak para pati dan pamen yang cemas tadi ± semakin tambah cemas. baik dari elite Polri sampai pada para Kapolda. 1981.Pada kurun waktu 2003 .sistem rekrutmen menggunakan cara magang. jadi untuk mencapai ratio jumlah Polri dengan jumlah penduduk 1:300 sebagaimana standar yang ditentukan oleh PBB -. 2.yang Kapolda ikut konfigurasi politik praktis. Polisi Inggris. kelompok. berupa pernyataan-pernyataan resmi serta sanggahan-sanggahan apabila muncul kritik dari opini publik. Soliditas institusi. Tiga Brigjen serta merta naik pangkat Irjen Pol padahal ketiganya terlibat kasus. 5 bulan sekolah.Namun karena anggaran serta kemampuan lembaga pendidikan yang terbatas. baru setelah itu diangkat menjadi Bintara Polri.000 bintara untuk sekolah Polisi Negara yang ada di Polda seluruh Indonesia. Sistem rekrutmen semacam ini dilakukan oleh Polisi Belanda.000 orang.ada yang langsung namun adapula yang lewat orang terdekat SBY. Polisi Jerman dan Polisi Amerika Serikat. Kurangnya kebersamaan antara elite Polri ada kesan pimpinan yang sentralistik ± eksklusivisme.2005. angkatan mengkristal hingga membentuk barisan sendiri .namun tetap ada intervensi dari Kapolri . Gaya kepemimpinan yang demokratis. Brigjen langsung promosi Irjen Pol tanpa melalui jenjang sekolah Lemhanas atau Sespati dan langsung memangku jabatan Kapolda ( basah ). Masing-masing Polda menerima kuota 700 siswa. . Kapolda memiliki wewenang penuh penambahan personil di Polda masing-masing.000 orang.Jadi jabatan Kapolres tidak lagi ditentukan dari Mabes Polri -. Berbareng dengan itu para pati dan pamen yang ikut dalam konfigurasi politik praktis itu menjadi cemas. nampak rapuh sekali manakala Megawti tidak terpilih jadi Presiden. Apalagi ketika ada isu Kapolri akan diganti ± soliditas institusi nampak semakin kacau balau ± empat orang tanpa sungkan-sungkan mencalonkan diri sebagai Kapolri ±. . Namun Polri menargetkan jumlah Polri 1 : 500 manakala penduduk Indonesia yang setiap tahunnya bertambah 2 % pada tahun 2006 jumlah menjadi 250 juta dengan anggota Polri menjadi 500.1. 4. Kombes langsung promosi Brigjen padahal Akpol angkatan 1983 sementara angkatan 1979. Kondisi Polri saat ini.memperlemah kinerja yang tidak sinergis.1982 seorang pun belum ada yang promosi Brigjen. Dewan Kebijakan kembali berfungsi. Komisi Kepolisian Indonesia melihat adanya fenomena budaya penguasa yang sangat kental menyelimuti gaya kepemimpinan Polri. Kebijakan Kapolri tentang penempatan sejumlah perwira tinggi maupun perwira menengah mendapat kritikan tajam. 3. lima bulan praktek dan sebulan sekolah lagi untuk diadakan evaluasi. Dalam pada itu . IV. 1980. Padahal kurang solidnya manajemen Polri imbasnya -. Walhasil organisasi Polri nyaris mengalami stagnasi baik tingkat Mabes Polri dan Polda-polda -. Setiap tahunnya Polri menambah 26.masing-masing akses ke kubu Presiden terpilih -. nampak hanya lips service saja. Konspirasi ini menandakan bahwa Kapolri sudah tidak punya wibawa sama-sekali. Idealnya untuk Polri penambahan jumlah personil setiap tahunnya adalah 66.masih 15 tahun lagi. Penentuan jabatan diatur secara otonom atas usulan Kapolda. Bulan belakangan ini ada sedikit pembenahan . AKBP angkatan 1985 langsung Kombes ± sementara angkatan 1984 seorang pun belum ada yang promosi Istimewanya Kombes ini menjabat Kapolres Jakarta yang semestinya dijabat oleh seorang Kombes yang senior.

ketimbang memberikan penghargaan atas prestasi. Gaya kepemimpinan yang didominasi lebih meghitung kesalahan. Saat ini UU no2 / 2002 masih obyektif dilingkungan strategis dan untuk mendatang UU No2/ 2002 masih dalam korido membangun Polri yang proporsional dan profesional. 2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara RI kiranya belum perlu dilakukan. kedudukan Polri perlu ditata dalam kesatuan penyelenggaraan kebijakan pidana criminal policy dan sistem penuntutan yang berada di bawah tanggung jawab Jaksa Agung. Semakin jauh meninggalkan upaya-upaya prepentif yang demokratis lagi persuasif itu.hingga yang terjadi justru malah kontra dengan opini publik . pelindung serta pelayan dan pembimbing. penting lagi pula strategis ketimbang tindakan represif itu. . ternyata yang ada adalah supremasi power yang mengaburkan tegaknya supremasi hukum. semula dengan arus reformasi ini elite Polri diharapkan sudah menanamkan moral dan jati diri sebagai aparatur penegak hukum. Kalau saja ada kemauan politik untuk menghapus gaya kepemimpinan yang klasik itu --kemudian yang ada gaya kepemimpinan demokratis. Dari sikap arogansi fungsi ini fenomena publik menjadi terbalik. Justru yang perlu dibenahi adalah personil mengawaki organisasi Polri masih banyak yang kurang profesional Artinya. Kapolda sampai Kapolres. pasilitator. partisipatis. pengayom masyarakat.Gaya-gaya kepemimpinan militeristik. belum diadakan instrospeksi internal yang dilakukan secara total ± dengan mengubah mental penguasa menjadi penyedia jasa pelayanan. kemudian menjelma ciri baru yang dibangun berdasarkan kepentingan dan kebutuhan masyarakat serta perlindungan HAM. kelemahan berada pada tingkat manajerial bukanlah perangkat undang-undang atau peraturan. Menghapus sikap lebih banyak memerintah. baik di lingkunganlingkungan kerja elite Polri. amandemen UU No. Soliditasnya cukup handal. Penyusunan UU No2/ 2002 melalui proses yang sangat demokratis sesuai dinamika Reformasi. sebagai penegak hukum anggota Polri cenderung bersikap represif. Berkaitan dengan itu. Tetapi di sini peranan Polri . juga masih nampak kentara sekali. Setelah melihat fakta yang ada. para pejabatnya dipilih yang lebih memihak kepada masyarakat atau kepentingan bangsa. serta memiliki ketauladanan yang kuat. niscaya figure pimpinan yang arif akan terlihat. antisifatif terhadap perkembangan. lebih banyak memberikan instruksi-instruksi ± tanpa mempedulikan serta aspirasi anggotanya. Merunjuk hakekat fungsi kepolisian sebagai aparatur negara penegak hukum. Sebagaimana yang dilakukan elite selama ini ± yang merupakan fungsinya sebagai pengayom dan pelindung bertindak dengan bersikap untuk meyakinkan masyarakat ± masih menyalahkan masyarakat. mampu bertindak sebagai motivator. hilangnya dominasi kekuasaan. Suasana lingkungan masih diwarnai dengan nuansa kekuasaan . Sikap antagonis dengan opini publik ± belum dirubah dengan membentuk citra positif -. VI Perlukah UU No 2 Tahun 2000 diamandemen ?! Tahun belakangan ini. stimulator. Dengan demikian akan lahir dampak positif. Jadi kesimpulannya. yang berdampak pada anggota selalu menjadi korban ± akibat pelampiasan stresor melawan dianggap melanggar kode etik ± kemudian dimutasikan sebagai Pagugas ( perwira penunggu tugas ) . maka perlu dengan segera mengembalikan status Polri berdasarkan fungsinya yang akomodatif. mengakibatkan adanya kebuntuan dalam penegakan hukum. Peran dan fungsinya sebagai pelayanan masyarakat dan pemeliharaan ketertiban sebagai upaya prefentif makin jauh ditinggalkan ± padahal fungsi prefentif jauh lebih substansial. Hingga awal Mei 2005 gaya kepemimpinan ini.

Cukup beralasan dan logis. niscaya Polri dalam menyelenggarakan fungsinya sesuai dengan harapan masyarakat. setidak-tidaknya dalam hubungan sinergis. . Sedangkan sebagai aparatur ketertiban dan pelayan masyarakat. politik dan sosial masyarakat suatu negara untuk digantikan oleh struktur yang baru secara total. Berdasarkan pemikiran-pemikiran yang terkait dengan fungsi dan status Polri kiranya perlu segera dilakukan reposisi Polri yang sangat berkaitan dengan fungsi Kejaksaan dan Departemen Dalam Negeri. Degan konstruksi ini. Semata-mata bertujuan agar terwujudnya obyektivitas penyidikan dan penuntutan. kedudukan Polri perlu ditata dalam tatanan kebijakan dengan Departemen Dalam Negeri.Terima kasih atas kerjasamanya Jakarta 2 Juni 2005 KOMISI KEPOLISIAN INDONESIA ATHAR KETUA Sejarah islam di Indonesia Peraturan tentang beragama tujuan utama para teroris adalah menghancurkan sistem ekonomi. namun tetap bertanggung jawab dengan presiden sebagai kepala negara. berkoordinasi dengan kejaksaan. jika kepolisian dibangun sebagai lembaga yang terkait secara teknis administratif dengan Departemen Dalam Negeri dan dari aspek juridis investigasi.tetap sebagai penyidik utama.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful