Terorisme di Indonesia: Antara TNI & Kegagalan Polri ‡ penulis: kak inco, 30 April 2011 20:11:25 ‡ 2 Berita Foto ‡ 28 Komentar ‡ Menarik

+2

"Terorisme adalah satu ancaman dan negara-negara harus melindungi warganegaranya dari ancaman itu. Negara tidak hanya mempunyai hak namun juga kewajiban untuk melakukan itu. Tetapi Negara juga harus sangat berhati-hati untuk memastikan bahwa tindakan-tindakan melawan terorisme tidak berubah menjadi tindakan-tindakan untuk menutupi atau membenarkan pelanggaran HAM." Pendahuluan Terorisme lahir sejak ribuan tahun silam dan telah menjadi legenda dunia. Cara-cara teror digunakan oleh suatu kelompok untuk memperlemah lawannya lewat pembunuhan diam-diam menggunakan racun sampai pemberontakan. Saat ini, terorisme terjadi di berbagai tempat di seluruh dunia dengan berbagai alasan. Terorisme merupakan akibat dari ketidaksepakan suatu kelompok dengan kelompok lain (yang mungkin berkuasa) yang berbeda ideologi kepercayaan/agama, politik dan lain sebagainya. Terorisme memiliki pengaruh yang kuat di masyarakat, terutama jika dipublikasikan secara berlebihan oleh media massa. Aksi-aksi seperti terorisme sangat menarik perhatian media massa terutama televisi. Dengan siaran langsung dari tempat kejadian, jutaan khalayak ikut mendengarkan bahkan melihat para teroris beraksi. Setiap aksi teroris merupakan event yang mahal dan "menguntungkan" bagi media. Televisi memiliki pengaruh yang sangat kuat. Di samping itu sistem komunikasi yang tersedia dan cepat - elektronik dan media cetak - telah melahirkan falsafah Cina yang terkenal: "Bunuh satu dan menakut-nakuti 10.000", dan melalui media massa dapat diartikan sebagai "Bunuh satu dan menakut-nakuti 10.000.000". Masalah terorisme seringkali disebut sebagai masalah sensasional, karena kenyataannya adalah lebih banyak orang meninggal di jalanan setiap tahun daripada yang dibunuh oleh teroris. Hal itu mungkin benar secara kuantitatif, namun terorisme tidak dapat diukur dengan hitungan banyaknya korban tewas, jumlah yang luka atau nilai materi dari kerusakan. Terorisme tidak dapat dikatakan sebagai perang, karena berada jauh dari peperangan: perang gerilya, perang revolusioner atau perang konvensional. Perang bertujuan untuk penghancuran secara total, manusia dan material secara fisik. Sedangkan terorisme cenderung menginginkan hasil kerusakan secara psikologis. Terorisme di Indonesia semakin ramai pasca runtuhnya Orde Baru 1998. Sejak tahun 2000, sejumlah pemboman telah terjadi di Indonesia, seperti bom di beberapa gereja pada malam Natal 2000, bom di Sari Club dan Paddy's Café pada Oktober 2002 dan bom di Hotel J.W. Marriott yang meledak dua kali, yakni pada Agustus 2003 dan Juli 2009. Belakangan, aksi-aksi teror sering dilakukan secara terbuka dan terangterangan kepada pihak yang dianggap berbeda pendapat atau keyakinan, misalnya dalam peristiwa penyerangan Jemaah Ahmadiyah di Cikeusik, Banten yang menewaskan tiga orang. Juga aksi penusukan anggota majelis Gereja HKBP Bekasi. Sejumlah aksi kekerasan lainnya juga tercatat dilakukan secara terang-terangan oleh ormas agama terhadap pihak yang berbeda keyakinan. Hal ini dapat dikategorikan sebagai aksi teror karena membuat resah dan mengintimidasi masyarakat umum.

Terorisme dan Insurjensi Berbicara tentang terorisme, seringkali kita dihadapkan pada masalah definisi. Sejauh ini belum ada definisi yang seragam tentang terorisme karena terorisme bervariasi tergantung waktu dan kondisi. Terorisme dapat dipandang sebagai tindakan yang mendekati perlawanan gerilya karena dianggap sebagai tindakan yang berada di tengah perang gerilya dan aksi frustasi golongan tertentu. Tujuan utama para teroris adalah menghancurkan sistem ekonomi, politik dan sosial masyarakat suatu negara untuk digantikan oleh struktur yang baru secara total. Dalam teori terorisme, tindakan terorisme dapat diklasifikasikan dalam: terorisme yang memiliki motivasi politis dan terorisme yang memiliki motovasi kriminal. Kelompok yang memiliki motivasi politik menganggap dirinya sebagai instrumen pengadilan dan sama sekali tidak beroperasi untuk tujuan kriminal. Walau sering terlihat sebagai aksi kriminal seperti perampokan dan penjarahan, jenis terorisme ini tidak bertujuan untuk memperkaya diri sendiri, tetapi untuk biaya operasional kelompoknya seperti pembelian senjata. Sedangkan terorisme dengan motivasi kriminal semata-mata untuk kriminal yang berkaitan dengan perolehan uang dan dinyatakan sebagai gerombolan kriminal yang menculik atau melakukan teror demi uang tebusan. Adjie dalam bukunya menyebutkan definisi terorisme sebagai berikut: Terorisme: Suatu mazab/aliran kepercayaan melalui pemaksaan kehendak guna menyuarakan pesan, asas dengan cara melakukan tindakan ilegal yang menjurus ke arah kekerasan, kebrutalan bahkan pembunuhan. Teroris: Pelaku atau pelaksana bentuk-bentuk terorisme, baik oleh individu, golongan atau kelompok dengan cara tindak kekerasan sampai pembunuhan disertai berbagai penggunaan senjata, mulai dari sistem konvensional hingga medern. Teror: Bentuk-bentuk kegiatan dalam rangka pelaksanaan terorisme melalui penggunaan/cara ancaman, pemerasan, agitasi, fitnah, pengeboman, penghancuran/perusakan, penculikan, intimidasi, perkosaan dan pembunuhan. Alat Peralatan Teror: Telepon, selebaran surat, bom (waktu), peledak, kendaraan darat/laut/udara, dengan menggunakanfasilitas bandara, pelabuhan, tempat-tempat umum ataupun gedung-gedung vital. Tujuan Terorisme: Melumpuhkan otoritas pemerintah sehingga dapat menerapkan mazab atau aliran yang dianut kelompok terorisme. Terorisme sangat dekat dengan insurjensi atau gerakan revolusioner yang memiliki struktur, yang terkadang tidak tampak di permukaan tapi khususnya di Indonesia seringkali pula terlihat begitu terang-terangan. Insurjensi sering dianggap sebagai gerakan subversif, ilegal, di bawah komando golongan tertentu yang ingin menggantikan pemerintahan yan sah. Insurjensi dapat diartikan sebagai suatu keadaan tidak menentu dalam suatu negara yang disebabkan oleh berbagai kelompok organisasi yang melawan (tidak menyetujui/menentang) politik pemerintah yang sah. Aksi yang ditimbulkan mengakibatkan ketegangan di dalam negara sehingga dapat mempengaruhi ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya dan keamanan. Adapun bentuk-bentuk insurjensi antara lain perampokan (bersenjata) dan perlawanan terhadap angkatan bersenjata/polisi. Contoh kekerasan yang dilakukan anggota Jemaah Islamiyah dalam mencapai tujuan politiknya selain pengeboman, adalah perampokan Bank CIMB Niaga di Medan pada September 2010. Dalam berbagai macam bentuk

Detasemen Khusus 88 atau Densus 88 adalah satuan khusus Kepolisian Negara Republik Indonesia untuk penanggulangan teroris di Indonesia. Namun semenjak TNI keluar dari fungsi sosial politiknya pada tahun 2004 melalui UU No. Dalam kaitannya dengan terorisme. TNI dan Polri saling bekerjasama dalam masalah keamanan nasional. intimidasi dan juga penyerangan kepada kelompok lain. Indonesia sudah mengawali penanggulangan terorisme dengan adanya Undang-undang Nomor 15 tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. Kelompok-kelompok ini bahkan berani menantang untuk menggulingkan pemerintah yang sah ketika presiden memberikan pernyataan bahwa kelompok-kelompok radikal di Indonesia harus dibubarkan. Densus 88 di pusat . Dalam hal ini bisa dikatakan bahwa pemerintah telah gagal menciptakan rasa aman untuk warga negaranya. Tindakan ini menjadi propaganda kelompok ini bahwa pemerintah tidak mampu menguasai keadaan sehingga hanya menciptakan suatu suasana yang tidak aman untuk masyarakat. Pada beberapa kejadian. Hukum dan Keamanan. Pasukan khusus berompi merah ini dilatih khusus untuk menangani segala ancaman teror. Kemudian atas rekomendasi Komisi I DPR pada 12 Juni 2006 dan 31 Agustus. kelompok-kelompok radikal ini sangat tidak toleran terhadap perbedaan yang ada di Indonesia yang akhirnya malah melahirkan tindakan-tindakan kekerasan. Namun pemerintah seperti tidak ada di saat rakyatnya membutuhkan perlindungan dan rasa aman. Belakangan isu tentang Negara Islam Indonesia yang telah banyak melakukan brainwash pepada banyak mahasiswa tampaknya ditanggapi setengah hati oleh pemerintah. apabila pemerintah terlambat atau tidak segera mengatasi maka akan berkembang dan mengakibatkan low intensity conflict. aksi insurjensi ini sering menggunakan cara-cara teror dan intimidasi dalam melakukan aksinya dan terlihat eksistensinya di depan publik. Masyarakat sudah lelah oleh aksi-aksi kekerasan dan teror yang dilakukan oleh ormasormas ini.34/2004 maka bisa dibilang bahwa fungsi dan kekuatan keamanan negara diserahkan kepada Polri. sedangkan TNI lebih berperan kepada ketahanan negara. Densus 88 dirancang sebagai unit antiteroris yang memiliki kemampuan mengatasi gangguan teroris mulai dari ancaman bom hingga penyanderaan. diterbitkan Peraturan Presiden (Perpres) nomor 46 tahun 2010 tentang Pembentukan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Seringkali ormasormas agama yang sebenarnya legal malah memunculkan aksi insurjensi ini seperti dapat dilihat pada Front Pembela Islam dan Hizbut Tahrir Indonesia yang jelas menolak demokrasi dan NKRI. Padahal kita tau Presiden SBY merupakan pemerintahan eksekutif yang sah melalui pemilihan langsung oleh rakyat. Tidak main-main hasilnya pun 61% pemilih mendukung SBY.kegiatan/aksi terorisme dan insurjensi. termasuk teror bom. Polri diberikan kekuatan khusus untuk menanggulangi terorisme dengan dibentuknya Detasemen Khusus atau Densus 88 pada 26 Agustus 2004. Namun terlihat presiden terlalu berhati-hati bahkan cenderung lamban (atau tidak berani?) dalam menanggapi aksi-aksi insurjensi ini. Di Indonesia. Penanggulangan Terorisme Pada masa Orde Baru. Beberapa anggota juga merupakan anggota tim Gegana. BNPT adalah lembaga non-kementrian yang bertanggungjawab langsung kepada presiden dan dikoordinasikan oleh Menteri Koordinator Bidang Politik.

Sedangkan penanganan kontra dan anti terorisme setelah tahun 2000 berbeda. Azhari dan Noordin M. Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Densus 88 adalah salah satu dari unit anti teror di Indonesia. Kekuatan militer digunakan karena menganggap kelompok separatis ini berusaha memisahkan diri dari NKRI. Top telah berhasil dilumpukan sehingga jaringan teroris tercerai-berai dan mengurangi kekuatannya. maka penanganan terhadap gerakan ini dilandasi oleh UU No. terorisme baru dianggap kejahatan yang . Dalam undang-undang ini. Para "dedengkot" dari gerakan terorisme di Indonesia seperti Dr. Fungsi Densus 88 Polda adalah memeriksa laporan aktivitas teror di daerah. Bila dilihat dari penanganan terhadap aksi terorisme. Walau telah berhasil menangkap atau menembak mati beberapa pucuk pimpinan dari teroris namun terlihat bahwa aksi-aksi teror tetap terulang dan terjadi di masyarakat.(Mabes Polri) berkekuatan diperkirakan 400 personel ini terdiri dari ahli investigasi. ahli bahan peledak (penjinak bom). Maka pemberantasannya pun diserahkan ke kepolisian. Selain itu masing-masing kepolisian daerah juga memiliki unit anti teror yang disebut Densus 88.23/ tahun 1959 mengenai Keadaan Bahaya. beranggotakan 45 . sedangkan penanggung jawab militer adalah TNI. Detasemen Bravo (Denbravo) TNI AU dan satuan anti-teror BIN. Dibunuhnya para pemimpin atau "otak" dari kelompok teror seperti beberapa nama yang disebutkan di atas menunjukan bahwa sebenarnya pemerintah memalui Polri telah menunjukan komitmen serius dalam pemberantasan tindak pidana terorisme. Akan tetapi setelah eskalasi terorisme di Indonesia meningkat. Detasemen Jalamangkara (Denjaka) Korps Marinir TNI AL. Organisasi Papua Merdeka (OPM) dan kelompok separatis lainnya. Sayangnya Polri dapat dikatakan gagal dalam menangani aksi-aksi terorisme dan radikalisme di Indonesia. Detasemen 81 Kopassus TNI AD (Kopasus sendiri sebagai pasukan khusus juga memiliki kemampuan anti teror).75 orang. Sebelum tahun 2000. maka kekuasaan di tangan Gubenur. Setiap peristiwa teror seperti penembakan hingga pengeboman dianggap kasus kriminal. yang mencapai puncaknya saat terjadinya Bom Bali 1. saat itu marak adanya gerakan separatisme. maka tugas untuk keamanan dalam negeri sepenuhnya diemban oleh pihak kepolisian. seperti gerakan Fretilin di Timor Timur (sekarang Timor Leste). Detasemen Penanggulangan Teror (Dengultor) TNI AD alias Grup 5 Anti Teror. terjadi perbedaan sebelum dan setelah tahun 2000. disamping Detasemen C Gegana Brimob. 12 oktober 2002 yang menewaskan 202 orang. di mana suatu wilayah dalam kondisi darurat sipil.Melakukan penangkapan kepada personil atau seseorang atau sekelompok orang yang dipastikan merupakan anggota jaringan teroris yang dapat membahayakan keutuhan dan keamanan negara RI. dan unit pemukul yang di dalamnya terdapat ahli penembak jitu. pemerintah dan DPR baru mengeluarkan perundangan khusus mengenai tindak terorisme.15 tahun 2003 mengenai Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. Untuk aksi-aksi teror yang lebih tertutup memang Polri agak berhasil dalam mengatasinya. Dengan dikeluarkannya Undang-Undang No. namun dengan fasilitas dan kemampuan yang lebih terbatas. Ketika TNI telah menarik diri dari peran sosial politiknya di masyarakat. Meskipun banyak korban jiwa yang jatuh akibat aksi tersebut. namun perangkat hukum yang dikenakan atas tindakan ini hanya Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP).

yakni Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Meski Polri tetap bertanggung jawab dalam pemberantasan terorisme. Selain melakukan penyelidikan dan penindakan yakni penangkapan terhadap teroris dan jaringannya. Azhari. BNPT memiliki tugas yang lebih luas. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengeluarkan Keppres No. penangkapan yang berakhir tewasnya teroris yang juga rekan dari Dr. Pada 16 Juli 2010. Diantaranya penyerbuan tempat jaringan teroris Jamaah Islamiyah yang juga menewaskan teroris nomor 1 . yakni Detasemen khusus (Densus) 88. Dengan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas atau menimbulkan korban yang bersifat massal. Di dalam undang-undang ini secara jelas pelaku terorisme adalah: 1. 9 November 2005. namun undang-undang ini turut membidani departemen khusus pemberantasan teroris. yakni mulai dari pencegahan. Ibrahim. Azhari di Malang. pada 8 Agustus 2009 penggrebekan salah satu tersangka pengeboman Bom Marriot II. Densus 88 juga dapat menjalankan survaillance atau berbagai tindakan intelijen. hingga deradikalisasi. Densus 88 dinilai berhasil dalam melakukan operasi pengungkapan jaringan teroris di Indonesia. Penanganan Terorisme Sebelum Tahun 2000 . perlindungan. Selain penindakan. Dengan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan bermaksud untuk menimbulkan suasana terror atau rasa takut terhadap orang secara meluas atau menimbulkan korban yang bersifat massal. lalu pada 17 September 2009. Tabel 1. 46 tahun 2010. Dr. dengan cara merampas kemerdekaan atau menghilangkan nyawa dan harta benda orang lain atau mengakibatkan kerusakan atau kehancuran terhadap obyek-obyek vital yang strategis atau lingkungan hidup atau fasilitas publik atau fasilitas internasional (Pasal 7). yakni Noordin Top serta sejumlah operasi penangkapan tokoh dan pengungkapan jaringan terorisme yang terkait dalam Jamaah Islamiyah dan Jamaah Ansharut Tauhid (JAT).serius oleh pemerintah dan bangsa Indonesia. 2. Keppres ini menelurkan lagi sebuah lembaga khusus untuk menanggulangi terorisme. dengan cara merampas kemerdekaan atau menghilangkan nyawa dan harta benda orang lain atau mengakibatkan kerusakan atau kehancuran terhadap obyek-obyek vital yang strategis atau lingkungan hidup atau fasilitas publik atau fasilitas internasional (Pasal 6).

Padahal penyerangan ini terlihat sekali pola direncanakannya oleh pihak-pihak tertentu.Tabel 2. Padahal menurut UUD 1945 yang dimaksud dengan Kepolisian Negara Republik Indonesia adalah alat negara yang menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat bertugas melindungi. Harusnya pihak intel Polri mampu mengantisipasi hal ini karena melihat bahwa rencana penyerangan ini sudah direncanakan dan bukan aksi spontanitas warga setempat. serta menegakkan hukum. Penulis juga mengakui keberhasilan tersebut. Namun lagilagi di kemudian hari. Penanganan Terorisme Setelah Tahun 2000 Dari penjelasan di atas dapat dilihat bahwa sebenarnya negara melalui Polri telah melakukan usaha yang sungguh-sungguh dalam menanggulangi terorisme. terlihat bahwa Polri tidak mampu untuk mengungkap siapa aktor intelektual penyerangan ini karena hanya mampu menangkap sampai pada pelaku di lapangan saja. Di beberapa kesempatan. Namun penulis beranggapan bahwa Polri telah gagal menanggulangi aksi-aksi teror dalam bentuk lain yang juga ada di masyarakat dan anehnya aksi-aksi ini terlihat cukup terbuka dan lebih mudah diantisipasi karena dilakukan oleh kelompok-kelompok yang seharusnya lebih mudah diawasi melalui intelejen Polri. Walau kemudian ada 15 orang yang ditangkap. mengayomi. Misalkan ketika Kapolri dan Gubernur DKI Fauzi Bowo hadir pada acara Milad FPI di Jakarta. malah terlihat Polri mencoba merangkul kelompok-kelompok ini dengan berdialog dan bekerjasama. Polri mengumumkan ini sebagai bentrokan dan bukan penyerangan. melayani masyarakat. . Kehadiran ini dianggap bahwa pemerintah dan Polri berkompromi dan menghalalkan aksi-aksi kekerasan yang dilakukan oleh kelompok ini. Kegagalan Polri lainnya dapat dilihat pada saat penanganan peristiwa Cikeusik yang berakibat jatuhnya korban jiwa 3 orang tewas dari pihak Ahmadiyah. kelompok ini kembali melakukan berbagai macam aksi kekerasan yang seakan didiamkan oleh Polri. Bahkan awalnya sebelum didesak oleh masyarakat dan media. Polri seakan terlalu berhati-hati dalam menindak kelompok-kelompok radikal ini karena bersinggungan dengan nilai-nilai keyakinan agama.

Yang dirusak adalah psikologis dari masyarakat Indonesia. Masyarakat semakin khawatir bahwa aksi terorisme dapat menjangkau siapapun dan kapanpun. Niat untuk mengembalikan peranan TNI dalam kestabilan keamanan negara juga pernah terucap pada saat SBY masih menjabat sebagai Menkopolkam pada pada 5 Agustus 2003 yang hendak merevisi Undang-undang Anti Terorisme agar TNI dapat berperan dalam penanggulangan terorisme pasca peledakan bom di Hotel Marriot. "Apakah dengan kegagalan Polri menciptakan rasa aman di masyarakat. Di sisi yang lain ketika kemudian TNI kembali ke fungsi keamanan negara bekerjasama dengan Polri bukan tidak mungkin peristiwa-peristiwa kekerasan yang justru dilakukan oleh TNI di masa lalu dapat terjadi kembali. TNI dan Kepolisian RI harus bekerjasama dan saling membantu". Bukankah pemerintah telah mengatur dengan jelas instrumen-instrumen hukum dalam penanggulangan terorisme? Ikrar Nusa Bhakti menyebutkan bahwa dalam diri prajurit TNI ditanamkan prinsip kompetensi. Intervensi TNI kembali dalam masalah keamanan nasional dan penanganan terorisme ini mungkin saja terjadi karena terlihat bahwa Polri terlalu berlarut-larut dalam menangani berbagai macam aksi teror dan kekerasan yang ada selama ini di masyarakat. Hal ini sebenarnya sejalan dengan doktrin TNI yang setiap saat kita dengar: Yang terbaik untuk rakyat adalah terbaik untuk TNI. Dengan begitu kita sesungguhnya berharap profesionalisme militer dapat segera terwujud di negara yang baru melek demokrasi termasuk itu Indonesia. Pemisahan TNI dan Polri dilakukan pada tahun 2000 melalui Ketetapan MPR Nomor VI. Ketetapan itu juga mengatur. Seperti dijelaskan di atas bahwa hal-hal seperti inilah yang memang diinginkan oleh teroris. di mana mereka merasa bahwa militer lebih kompeten daripada sipil dalam mengelola negara. SBY mengatakan: ".. apalagi ketika Polri dinilai gagal. Polri dinilai gagal dan kekurangan personel untuk dapat menciptakan rasa aman untuk masyarakat. maka posisi militer di dalam sebuah negara sudah semestinya berfungsi agar ancaman dan gangguan itu dapat diatasi. Namun jika melihat sejarah peranan TNI dalam sosial politik pada masa Orde Baru.aparat kepolisian terbatas dan harus menghadapi masalah yang tersebar di seluruh Indonesia. Menurut aturan itu. Dalam suatu sistem demokrasi di mana negara berperan sebagai pelindung masyarakat dari ancaman dan gangguan. Adalah otoritas rakyat sebagai pemilik kedaulatan negara untuk mendefinisikan posisi dan peran militer. kontrol sipil atas kekuatan militer merupakan aksioma demokrasi. TNI perlu kembali ke fungsi sosial politiknya?" Tampaknya pertanyaan itu terlalu naif dan memudahkan persoalan.. tentu akan menjadi dilema tersendiri dari masyarakat. TNI adalah alat negara yang berperan dalam pertahanan negara dan Kepolisian RI adalah alat negara yang berperan dalam memelihara keamanan. dalam hal terdapat keterkaitan kegiatan keamanandan pertahanan. yang merupakan entitas politik sipil. berwenang menentukan dan sekaligus mengontrol peran dan fungsi militer dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. . Menurut Janusz. Di satu sisi.Peristiwa terakhir aksi bom bunuh diri di Masjid Al-Zikra Polresta Cirebon juga jelas menunjukkan kegagalan Polri karena teroris mampu masuk langsung ke daerah markas pertahanan Polri dan Polri kecolongan. Melihat dari contoh kegagalan Polri di atas. penulis kemudian mempunyai pertanyaan yaitu. Rakyat.

1992. hingga kini masih banyak terpidana terorisme yang masih ditahan di sejumlah Lembaga Pemasyarakatan (LAPAS) di Indonesia. Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri menjelaskan Abu Tholut adalah narapidana kasus Bom Kedubes Australia 2004 yang telah bebas setelah menjalankan hukuman selama 4 tahun. atau dalam bahasa yang lebih familiar. Meski berhasi ditahan. Kini ia masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) karena terlibat dalam . keterlibatan mereka kembali dalam terorisme setelah keluar dari Lapas. 1977. Dalam jumpa pers pada tanggal 20 September 2009. Pemerintah menyadari kebutuhan akan adanya sebuah tindak lanjut yang bersifat komprehensif dalam penanganan terorisme dengan berpusat pada penghancuran ideologi. Salah satu mantan narapidana yang kembali ke "dunia" terorisme adalah Abu Tholut alias Mustofa. Beberapa kasus yang terjadi pada masa ini adalah: Orde Baru melakukan pembunuhan terhadap ratusan ribu anggota PKI dan pendukung Sukarno. hingga tahun 2007 sebanyak 170 orang yang terindikasi terlibat dalam jaringan teroris. TNI sering melakukan tindakan-tindakan represif terhadap rakyat. Jawa Tengah (1989). serta Dulmatin telah tewas dalam sejumlah operasi Densus 88. yang karena terjadi di wilayah pedalaman dan jumlah korbannya sedikit sehingga tidak diberitakan secara luas. kasus tanah petani di Jenggawah (1989). bukanlah suatu hal yang tidak mungkin. mereka inilah yang harus diwaspadai dan menjadi perhatian khusus dari Pemerintah dan Bangsa Indonesia. Yang diperlukan adalah memaksimalkan fungsi dari Polri dalam masalah keamanan negara dan bukan kembali melibatkan TNI dalam masalah ini. namun. sebuah program deradikalisasi kepada kelompok-kelompok terorisme di Indonesia. 1987. serta memenjarakan ribuan lainnya tanpa proses pengadilan (1966-1971). 1982. Karena jika tidak ditangani dengan baik. Berdasarkan laporan dari International Crisis Group (ICG). Azhari.Pada masa Orde Baru. 1987). penyerangan terhadap kantor PDI (1996). Timor Lorosae (1980-199) dan Papua (1960-an-199). Noordin Moh Top. penembakan empat mahasiswa Trisakti (1998). dimana setengahnya adalah anggota Jamaah Islamiyah ditahan. Deradikalisasi: Memaksimalkan Fungsi Polri Melalui keputusan untuk membentuk Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Walau banyak pemimpin Jamaah Islamiyah yang terlibat dalam terorisme.bahwa TNI penuh dengan kekerasan di masa lalu . penculikan aktivis pro demokrasi (1997). Madura (1993). Melihat penjelasan di atas . sebenarnya pemerintah Indonesia secara tidak langsung telah mengakui bahwa fokus pada penghancuran jaringan kelompok teroris saja sebenarnya tidaklah cukup. seperti Dr. pembunuhan massal terhadap anggota kelompok Islam di Tanjung Priok (1984). tragedi Semanggi (1998) dan masih banyak lagi peristiwa-peristiwa lainnya. penggusuran dan intimidasi penduduk di Kedung Ombo. penembakan penduduk di sekitar waduk Nipah.kita bisa melihat apakah kembalinya TNI dalam penanganan keamanan negara bisa menjadi solusi? Penulis melihat bahwa TNI tetap harus dipisahkan secara fungsinya dengan Polri dalam menangani masalah terorisme karena sesungguhnya Polri telah memiliki posisi dan peran yang sangat jelas dalam hal ini yang didukung oleh instrumen hukum yang telah ada. intimidasi terhadap pendukung non-Golkar menjelang setiap pemilu (1971. pelaksanaan operasi militer di Aceh (1989-1999). Mereka mendapat masa tahanan dari 4 tahun sampai seumur hidup.

serta menanamkan multikulturalisme kepada masyarakat luas. mereka langsung diamankan dengan cara yang manusiawi. Imam Samudra dan Amrozi Nurhasyim atau yang lebih dikenal sebagai trio Bom Bali. Dalam kasus pesantren radikal seperti pesantren di Ngruki. tidak ada unsur politik). "Radikalisme" berasal dari kata bahasa Yunani "radix" yang berarti akar. Sebaliknya. Kesejahteraan keluaga teroris tidak diperhatikan. Sumatera Utara. Ketika teroris ditangkap. program ini tidak hanya ditujukan kepada para tersangka maupun terpidana terorisme. salah satu perakit Bom Bali yang pertama yang terjadi pada 2002. diperlukan peran Departemen Agama dan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. dan keluarga mereka juga diperhatikan kesejahteraannya. Agustus 2010. Ali Imron kini giat membantu polisi dalam memerangi terorisme dan memberikan counseling bagi teroris yang belum sadar. Faktor utama terorisme adalah deprivasi: kemiskinan. Ini tentu berpengaruh pada mental mereka. Pendekatan ini belum bisa berjalan dengan baik karena sejauh ini pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tidak serius menangani isu terorisme (terbukti dari pernyataan beliau bahwa terorisme adalah murni kriminalitas. yakni humanis. pada tahun 2007 lalu sekitar 150 narapidana yang terlibat baik langsung maupun hanya kaki tangan dalam tindakan terorisme dalam rentang tahun 2006 sampai dengan tahun 2007 telah dibebaskan. akan tetapi program ini juga diarahkan kepada simpatisan dan anggota masyarakat yang telah terekspos paham-paham radikal. contohnya melalui pesantren. Dalam re-orientasi dan re-edukasi. Soul Approach adalah pendekatan dimana kekerasan dan intimidasi untuk menghentikan terorisme tidak digunakan. Sejak ketiganya tertangkap sampai kini. soul approach. Petrus Reinhard Golose membeberkan tiga kunci dalam program deradikalisasi para mantan teroris. dan menyentuh akar rumput. Kedua departemen . rendahnya pendidikan dan marginalisasi politik. Dalam bukunya "Ali Imron Sang Pengebom". keluarganya sendiri (dia menyatakan menyesal telah meninggalkan istrinya saat hamil. Untuk menangkal kembalinya para terpidana ini kembali ke jaringan terorisme. soul approach memperlakukan narapidana terorisme sebagai manusia. diperlukan upaya deradikalisasi. anak-anak ketiga teroris tersebut harus berpindah-pindah karena stigma anak teroris. mantan terorisme yang sudah bertobat diberdayakan untuk menyadarkan teman-teman teroris yang belum bertobat. metode counseling oleh BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme) yang menuju kepada re-orientasi dan re-edukasi. dua tahun setelah mereka dihukum mati di Nusa Kambangan. Berdasarkan laporan dari International Crisis Group (ICG). Salah satu contoh sasaran pendekatan dalam koridor humanity adalah keluarga Ali Ghufron. Ali Imron mengakui terjun ke dalam terorisme merupakan kesalahan dan di akhir bukunya dia meminta maaf pada keluarga korban. Humanis adalah pendekatan deradikalisiasi pertama yang langsung menyentuh teroris dan keluarganya. dan ketiga anaknya lahir tanpa kehadirannya) dan masyarakat pada umumnya.perampokan bersenjata Bank CIMB di Medan. Salah satu success stories dalam soul approach ini adalah Ali Imron. Dr. Menyentuh Akar Rumput. Indoktrinasi susah diberantas karena dia mengakar di dalam bibit teroris sejak dini. Jadi "akar" dalam radikalisme menjelaskan indoktrinasi yang ditanamkan pada bibit-bibit teroris.

maka Polri juga harus lebih tegas. 9 Adjie S. yang seringkali berkaitan dengan kebutuhan ekonomi keluarga mereka. Kelompok ini mungkin tidak perlu dibubarkan. Namun Polri harus juga bisa melihat prioritas kepentingan bahwa kepentingan masyarakat luas yaitu terciptanya rasa aman jauh lebih penting daripada kepentingan kelompok-kelompok tertentu saja. Terorisme. Bahwa rasa aman adalah hak setiap warna negara Indonesia dan tidak mengenal perbedaan. ICG Report No. Reformasi Setengah Tiang. Petrus Reinhard Golose. Polri juga harus meningkatkan kualitas intelejennya sehingga dapat memprediksi segala aksi kekerasan yang akan terjadi di masyarakat. 15 Agustus 2003. Executive Summary and Recommendation" Crisis Group Asia No. . Deradikalisasi Terorisme. Beruntung Indonesia selama tiga tahun terakhir ini telah menjalankan program Deradikalisasi ini. Ibid. ICG ReportNo. Namun yang dilakukan oleh Polri adalah bahwa ketika hak tersebut telah masuk dan mengganggu ke ranah hak orang lain dan terciptanya rasa khawatir dan tidak aman maka Polri harus bertindak tegas. Pidato Kofi Anan.tersebut sebaiknya bekerja sama dalam menyeleksi bahan-bahan pendidikan agama (membuang unsur radikalisme) dan para gurunya. Adjie S. 19 November 2007. Bebas Karena Remisi. Dalam kasus berbagai aksi kekerasan dan teror yang dilakukan oleh kelompokkelompok tertentu yang bersifat insurjensi seperti FPI dan HTI. Terorisme.. 11 Ikrar Nusa Bhakti. namun ketika terjadi kekerasan. Selama dilakukan berdasarkan SOP yang tepat maka kemungkinan itu akan dapat diperkecil walau mungkin akan tetap terjadi juga. MSc. Pemerintah Ingin Peran TNI Diperbesar". Yayasan Pengembangan Ilmu Kepolisian. Dr. 2005. 142. Bab 5: Agenda dan Tujuan Reformasi Sektor Keamanan Indonesia. Hal. harus diambil tindakan yang tegas dan juga hukuman yang berat. Elemen kunci dari program yang dijalankan di Indonesia adalah komunikasi dan perhatian terhadap narapidana terorisme serta menanggapi keperluan khusus mereka. Hal. Hal. 20 September 2010.. Ibid. Jakarta: Mizan. 142. Abu Tholut Pernah Divonis 8 Tahun. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. 2005. 19 November 2007. detikNews. 2009. 2005. Hal yang perlu diingat adalah bahwa Polri tidak mendeskriditkan agama apalagi sampai mengekang kebebasan beragama pihak tertentu. 142. Koran Tempo. Sekretaris Jenderal PBB pada tanggal 21 November 2011. 150 "Hadapi Terorisme. Demonstrasi yang menjurus kepada aksi kekerasan harus segera disikapi dengan tegas oleh Polri. MSc. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. Janganlah keragu-raguan akan melanggar HAM menjadi hambatan akan hal ini. International Crisis Group (ICG) reports "Deradicalisation and Indonesian Prisons. 19 November 2007.

pengrusakan.IMPLEMENTASI POLMAS TERHADAP PENANGGULANGAN KONFLIK AHMADIYAH CIKEUSIK BANTEN IMPLEMENTASI POLMAS TERHADAP PENANGGULANGAN KONFLIK AHMADIYAH CIKEUSIK BANTEN I. perlu penegakan hukum agar pelaku penganiayaan dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya dihadapan hukum. II. hal ini bukan semata-mata dapat diselesaikan melalui upaya represif kepolisian saja. kerusuhan yang melibatkan massa dan yang baru-baru ini terjadi adalah penganiayaan massa terhadap warga Ahmadiyah di Cikeusik Pandeglang Banten yang menimbulkan kerugian moriil. daya cegah dan daya lawan masyarakat terhadap berbagai gangguan Kamtibmas yang terjadi dilingkungannya. Konflik ahmadiyah di Cikeusik tersebut bermula ketika warga Ahmadiyah yang tengah melakukan pengajian di rumah Parman diserang 1. Kerusuhan Ahmadiyah di Cikeusik Pandeglang Banten. karena melalui Polmas tersebut. Kerusuhan massa di Cikeusik Pandeglang Banten sebenarnya dapat dicegah apabila masyarakat Cikeusik lebih menyadari peran dan kewajibannya dalam menjaga keamanan lingkungannya. Akan tetapi jumlah massa penyerang yang cukup besar membuat polisi kewalahan dan akhirnya massa dapat menyerang langsung ke rumah Parman dan melakukan penyerangan terhadap warga Ahmadiyah yang tengah berada di dalam rumah.500 massa yang tidak dapat dikendalikan. sehingga berbagai ancaman dan gangguan Kamtibmas dapat dengan mudah terjadi karena lemahnya daya tangkal. Fenomena yang terjadi di masyarakat tersebut tentu tidak dapat dibiarkan. PEMBAHASAN 1. sehingga berbagai ancaman yang ada dapat segera ditangani oleh masyarakat tanpa melalui jalur-jalur kekerasan. Konflik Ahmadiyah yang selama ini sempat terhenti dengan dikeluarkannya SKB 3 (Tiga) Menteri kini kembali terulang di Cikeusik Pandeglang Banten dengan menelan kerugian yang besar baik berupa moril. hal ini tercermin dari aksi anarkis masyarakat seperti tawuran. Kurangnya terimplementasinya Polmas menjadi salah satu penyebab kurangnya pengetahuan warga masyarakat dalam menjaga dan memelihara keamanan lingkungan. meskipun saat itu polisi tengah bersiaga karena isu penyerangan tersebut telah terdeteksi sebelumnya oleh kepolisian. Namun demikian. PENDAHULUAN Aksi anarkis masyarakat dalam penyeleaian konflik seolah menjadi salah satu jalan penyelesaian sebagian masyarakat. materiil maupun korban jiwa. Penyelesaian masalah yang terjadi di masyarakat melalui implementasi Polmas tentunya bukan hanya retorika semata. 2. materil dan korban jiwa. masyarakat diajak secara langsung untuk melakukan kemitraan dengan kepolisian dalam . akan tetapi perlu dikedepankan langkah-langkah pre-emtif dan preventif melalui pemberdayaan masyarakat seperti dengan mengimplementasikan Polmas (perpolisian masyarakat) agar masyarakat dapat bersama-sama kepolisian guna menciptakan kemitraan sejajar dalam penyelesaian permasalahan di masyarakat. Peran Polmas dalam penanggulangan kerusuhan di Cikeusik pandeglang Banten.

Rekomendasi a. Kesimpulan Polmas sebagai strategi Polri dalam memberdayakan peran masyarakat masih kurang terimplementasi dengan optimal disetiap wilayah. b. Agar Polda dapat merevitalisasi kembali kebijkan implementasi Polmas menjadi prioritas dalam penyelenggaraan tugas Polri. menangkal dan menanggulangi gangguan Kamtibmas. implementasi Polmas dalam penanggulangan kerusuhan massa di Cikeusik Pandeglang Banten tentu sebelumnya perlu diimplementasikan dengan baik. 3. sehingga Polmas dapat segera diimplementasikan dengan optimal. ketertiban dan ketentraman masyarakat dan pada akhirnya dengan kemitraan tersebut dapat mengurangi kejahatan. Melakukan sosialisasi terhadap masyarakat agar masyarakat dapat mengetahui maksud dan tujuan penyelenggaraan Polmas di lingkungannya. Peran Polmas dalam menanggulangi kerusuhan massa di Cikeusik Pandeglang Banten tentu dapat memberi kontribusi besar dalam mengantisipasi. III. b. sehingga masyarakat dapat secara langsung melakukan komunikasi dengan kepolisian. yang menyebabkan potensi-potensi konflik yang selama ini terpendam di masyarakat Cikeusik dapat dengan mudah berubah menjadi konflik terbuka seperti dengan terjadinya kerusuhan terhadap warga Ahmadiyah saat ini. c. peran Polmas di Cikeusik Pandeglang-Banten tentu perlu diimplementasikan dengan optimal agar berbagai potensi gangguan Kamtibmas dapat segera ditangani melalui peran Polmas. PENUTUP 1. maka peran masyarakat sebagai kekuatan inti Kamtibmas pun belum mampu diberdayakan dengan optimal. Dengan kurang terimplementasinya Polmas di warga masyarakat Cikesuik. rasa ketakutan akan terjadi kejahatan. seperti di Cikeusik Pandeglang Banten dengan adanya kerusuhan Ahmadiyah yang tidak dapat ditanggulangi melalui peran Polmas sebagai kekuatan baru Polri dan masyarakat melalui kemitraan dalam mencegah. Implementasi Polmas dalam penanggulangan kerusuhan massa di Cikeusik Pandeglang Banten. dan meningkatkan kualitas hidup warga setempat. melalui langkah-langkah: a. mencegah bahkan mengatasi kerusuhan massa yang terjadi. Namun demikian. d.menyelesaikan dan mengatasi setiap permasalahan sosial yang mengancam keamanan. Membangun Balai Kemitraan Polisi ± Masyarakat (BKPM) sebagai sarana untuk melakukan pertemuan kemitraan antara polisi dan masyarakat dalam membahas berbagai permasalahan yang ada. Penunjukan petugas Polmas yang secara aktif melakukan sosialisasi Polmas kepada masyarakat. Membuka Forum Kemitraan Polisi ± Masyarakat (FKPM) disetiap wilayah seperti Desa / Kelurahan. Indonesia Peranan POLRI dalam menindaklanjuti aliran islam garis keras . Perlu adanya standar pengawasan dan pengendalian secara konsisten agar kegiatan Polmas dapat di monitor. Melatar belakangi hal tersebut. 2.

Sebagai bentuk pelaksanaan undang-undang. bahwa tugas-tugas pokok kepolisian adalah: (a) memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat. dan (c) memberikan perlindungan.R. penjagaan. KILAS BALIK No.´ Hal ini juga memperoleh penegasan di dalam Piagam Deklarasi Universal Hakhak Asasi Manusia (DUHAM) dan dua kovenannya. dan patroli terhadap kegiatan masyarakat dan pemerintah sesuai kebutuhan. yang berbunyi: ³Hak untuk hidup. pengayoman. dan kelancaran lalu lintas di jalan. sebagai berikut: Melaksanakan pengaturan. kesadaran hukum masyarakat. : 130/ TH III / KKI / 2005 Perihal : Konspirasi Politik untuk mengamandemen UU N0.Pengantar Hak semua agama dan aliran kepercayaan untuk hidup dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) telah dijamin oleh pelbagai undang-undang. Memelihara ketertiban dan menjamin keamanan umum. Menyelenggarakan segala kegiatan dalam menjamin keamanan. dan Melakukan menyelidikan dan penyidikan terhadap semua tindakan pidana sesuai dengan hukum acara pidana dan peraturan perundang-undangan lainnya. pengawalan. seperti tercantum dalam UUD (perubahan kedua). hak untuk tidak disiksa. hak untuk tidak diperbudak. dan pelayanan kepada masyarakat. Dalam UU tersebut disebutkan (pasal 13). serta ketaatan warga masyarakat terhadap hukum dan peraturan perundang-undangan. dalam hal ini kepolisian. Bab X tentang Hak Asasi Manusia. Tugastugas pokok tersebut kemudian dijabarkan dalam tugas operasional polisi (pasal 14). hak beragama. hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani. ketertiban. Hal ini dengan gamblang dijabarkan dalam UU Kepolisian nomor 2 tahun 2002. diberi wewenang untuk mengatur dan menjaga kebebasan beragama tersebut. pasal 28. (b) menegakkan hukum. dan hak untuk dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apa pun. ayat 1. hak untuk diakui sebagai pribadi di hadapan hukum. aparat negara. 2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian Negara RI Yang terhormat BAPAK H. Membina masyarakat untuk meningkatkan partisipasi masyarakat. AGUNG LAKSONO KETUA DPR RI . Hal itu misalnya eksplisit ditegaskan dalam Undang-undang Dasar (UUD) 1945 Pasal 281. yang sudah diratifikasi oleh pemerintah Indonesia.

tahapan pada penggunaan kekuatan politik di parlemen dengan fenomena untuk mengamandemen Undang-undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara RI. atau ditempatkan di Departemen Kehakiman atau kalau tidak ditempatkan di Departemen Pertahanan. Fungsinya sebagai penerima amanah . harapan persyaratan para stakeholder ( pemerintah.Dengan Hormat. masyarakat ) di bidang keamanan yang terjamin dari ketentuan hukum peraturan perundang-undangan berlaku sesuai yang diamanatkan pada Polri. Sehubungan dengan konspirasi ini. kemudian Polri berupaya untuk memulihkan dengan menegakan ketertiban. melainkan TNI juga diberi wewenang karena dalam sepuluh tahun mendatang ancaman pertahanan diperkirakan belum ada. Polri gagal dalam menanganani keamanan I. Polri tak mau dikritik dan dikontrol IV. Ini semua bisa terwujud bila hubungan dan interaksi sosial antara . Pendapat yang menjadi alasan krusial berkisar pada : I. ujudnya patroli. penjagaan dan dialog serta bentuk pelayanan yang sesuai dengan domein masyarakat setempat. Polri sebaiknya tidak di bawah presiden langsung.yang muaranya menuju ke opini parlemen. Polri negara dalam negara Kewenangan Polri terlalu berlebihan. Peranan masyarakat sangat penting dalam menciptakan rasa aman. sebagai aparat penegak hukum. mengurangi tindakan yang mengarah pada anarkisme. Polri arogan dan sombong III. rasa aman sebagai salah satu hak asasi manusia yang wajib dilindungi Negara. pelindung dan juga bertindak selaku aparat keamanan. hukum belum diperlukan sebab fluktuasi yang berkembang cukup diselesaikan dengan pranata sosial yang ada. Legalitas hukum fungsi keamanan Polri kembali dipermasalahkan.kemudian gangguan keamanan tak bisa dikendalikan. Penyidik sebaiknya tidak hanya Polri saja melainkan ada aparat lain. Setelah tindakan polisionil dilakukan. maka hukum nasional baru diterapkan dengan langkah polisionil ± untuk menindak para pelakunya. Masalah keamanan sangat erat kaitannya dengan penegakan hukum.kepercayaan public di bidang perlindungan. muncul Konspirasi Politik yang bakal mempercundangi Polri.Bila terjadi masalah yang sebaliknya. Polri negara dalam negara II. Polri juga sebagai aparat penertiban. pengayoman dan pelayanan masyarakat serta pemelihara kamtibmas dan penegak hukum ± untuk mewujudkan keamanan dalam negeri ± artinya Polri berkiblat pada fluktuasi yang berkembang di masyarakat. Belakangan ini. pengayom. Kali ini. Kalkulasinya. Akan halnya dengan wewenang keamanan yang dimiliki Polri tidak mutlak menguasainya. artinya masalah itu tidak bisa diselesaikan dengan pranata sosial atau adat istiadat yang berlaku -. kiranya kita semua patut memahami tentang Polri yang erat kaitan tugasnya dengan keamanan. Kalkulasinya Polri bekerja berdasarkan dinamika kebutuhan. karena Polri tak mampu mengatasi keamanan secara keseluruhan maka TNI peran aktif sangat diperlukan. Apabila situasi tentram dan damai. setelah itu dilakukan langkah pengayoman. Artinya jika ada perselisihan atau beda pendapat penyelesaiannya cukup dengan adat istiadat daerah setempat secara damai. Nuansa politik belakangan ini ditumbuhkembangkan ke segala sudut penjuru -. namun Polri ditempatkan di Departemen Dalam Negeri. swasta.fenomenanya jelas agar terbentuk opini -.

Kapolda atau Kapolres. ternyata Polri menjalankan misinya untuk kepentingan negara. Berbicara tentang penegakan hukum. Pejabat PNS tertentu yang diberi wewenang oleh Undang-undang Artinya. Polri merupakan Polisi Nasional. Sebagai penyidik Polri ditetapkan oleh Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (KUHAP) sebagai tersurat pada pasal 6 ayat ( 1 ) yang menyatakan penyidik adalah : a Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia b. Mengapa mesti merambah pada fungsi keamanan ? Itu semua bagaikan melihat fatamorgana. Artinya keamanan diselenggarakan dengan payung hukum dan Polri bertindak sebagai penegak hukumnya. Polri memiliki wewenang yang berlebihan. maka nuansa paradigma baru akan terlihat jelas dan nyata -karena dalam memandang keamanan dalam rangka hukum bukan bagian dari eskalasi ancaman menghadapi musuh. Misi inilah yang disalah artikan oleh beberapa pihak hingga sekali lagi Polri memperoleh predikat negara dalam negara.tetapi Polri harus mengemban tujuan sosialnya sebagai aparat keamanan. . maka akan memberikan penilaian lain . ketertiban dan pengayoman masyarakat. sebagai institusi Polri yang berada dalam Criminal Justice System. Polri yang bertugas digarda terdepan tak hanya mengejar tujuan hukum saja -. Dalam konstelasi ketatanegaraan peranan TNI jelas yaitu berfungsi mempertahankan kedaulatan negara. melainkan warga Negara yang harus dilindungi. Penjabarannya. keamanan adalah upaya menengakan hukum nasional. Dalam melaksanakannya. Independensi inilah yang sering diartikan lain. Jelasnya. anggota Polri dalam menjalankan tugasnya atas perintah negara -. mengapa dari sekarang tidak memulai merancang Konsep Pertahanan . Kinerjanya dibantu oleh segenap masyarakat melalui perbuatan patuh hukum. Tentang ambisi Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono TNI untuk memiliki wewenang keamanan.dalam penanganan hukum tidak bisa diintervensi oleh Presiden. Berkaitan dengan itu.terhadap siapapun -. Polri bukan merupakan institusi negara dalam negara melainkan sebagai aparat penegak hukum untuk kepentingan negara. Jadi pada dasarnya keamanan adalah tanggung jawab negara -. kemudian diulangi akhir Juli 2000 .Tiba-tiba muncul kasus Ambalat ± terlihat tidak solidnya sistem pertahanan. Polri diciptakan untuk menjaga hukum agar dipatuhi -. Kalau semua pihak memahami.ketiga domien Good Goverment ± sektor pemerintah / Negara²sektor swasta dan sektor usaha ± serta masyarakat tidak saling eksplotatif tetapi membangun sinergi melalui kemitraan yang harmonis dalam upaya mencapai tujuan nasional ± yang disepakati bersama sebagai tercantum dalam alinea ke 4 UUD 1945.oleh siapapun dan mengambil tindakan -. sehingga terwujud kepatuhan masyarakat atas hukum. sebagaimana yang diungkapkan dalam media massa beberapa saat yang lalu -landasan hukumnya tak jelas.yang dilakukan dengan membentuk Lembaga Kepolisian Negara RI. masyarakat bukanlah musuh. Apabila sudut pandang ini dijadikan acuan. Konspirasi politik menempatkan Polri dalam konstelasi ketatanegaraan kembali terulang.yang diakomodir dalam ketentuan hukum yang berlaku. melainkan ditempatkan di bawah Menteri Kehakiman Sehubungan dengan konspirasi politik ini. setelah Maret 2000 gagal menempatkan Polri di bawah Menteri Dalam Negeri. jika ancaman kedaulatan dinyatakan sampai 10 tahun belum bakal ada. Artinya.Dari rasa aman itu lahirlah bentuk partisipasi aktif yaitu patuh hukum. sekalipun Polri di bawah Presiden -. apalagi Kapolri.berdasarkan hukum jika terjadi pelanggaran ketentuan ( norma ) hukum. sekali lagi Komisi Kepolisian Indonesia menegaskan.

sebab departemen mengemban fungsi eksekutif.mereka ini menjalankan tugas-tugas kepolisian penuh dedikasi yang membagakan adalah prestasi. Jadi bagaimana mungkin masyarakat bisa dilayani. Mereka yang jelas tidak mengenal apa itu arogan dan apa itu sombong -. Perannya terbatas ikut merumuskan peraturan pelaksanaan bersifat administratif. Pejabat tersebut merasa dirinya menjadi pejabat yang paling penting -. Jika disebut sejumlah Kapolda dari hasil pemantauan Komisi Kepolisian Indonesia memang benar dan pejabat Kapolda -. di luar Jawa ada lima Kapolda . Kritik selalu dianggap menyudutkannya . II. Selain Kapolres tersebut banyak menghasilkan uang yang dihalalkan.Dalam pada itu. Jika ternyata permainannya terungkap mereka kemudian berlindung pada elite di Polda atau kelompok elite di Mabes Polri. Sikap inilah yang bertolak belakang dengan misi Polri sebagai Pelayan. Kapolres yang dilingkungan kerja kering artinya nyaris bersih dari KKN -. Berdasarkan pemantauan Komisi Kepolisian Indonesia pejabat yang arogan dan sombong hanya ada pada pejabat yang lingkungannya menghasilkan banyak uang hasil KKN dari satu kelompok tertentu saja. Karena Polri perangkat kebijakan. bidang pertahanan merupakan perimbangan kekuatan antar negara terutama kekuatan senjata. sekalipun kritik itu sebenarnya dari hasil koreksi kebijakan -kebijakan yang kurang proporsional. Polri pada umumnya selalu terbuka untuk kritik . Akan halnya Kapolres sebagaimana sinyalemen yang berkembang. maka tidak dapat dikelompokan ke dalam fungsi eksekutif. pejabat tersebut juga dari kelompok tertentu dan lingkungan tertentu dari dinasti tersendiri. sejumlah Kapolda. ratusan Kapolres.seharinya sangat sibuk -. Apalagi ditempatkan satu atap di bawah Menteri Pertahanan -. Polri juga tidak bisa ditempatkan di lembaga yudikatif agar dalam melaksanakan penegakan hukum ada chek and balance.hingga jika ada masyarakat yang menemuinya harus melalui jalur protokoler yang ketat ± dan itu pun belum tentu bisa ditemui ± semua ini erat kaitannya untuk menjaga wibawa agar nampak tinggi.Polri di Jawa ada dua Kapolda . bagaimana mungkin masyarakat bisa diayomi jika elite kepolisian semuanya bermental ³pejabat´ ?! Sinyalemen ini. bagaimana mungkin masyarakat bisa dillindungi. Polri tak mau dikritik dan tidak ada yang mengontrol Jika yang dimaksud pejabat Polri tidak mau dikritik menurut pemantauan KKI memang ada dan ini ada dilingkungan elite di Mabes . dan Pengayom masyarakat. Jadi arogansi fungsi dan sombong tetap melekat pada pejabat di lingkungan tertentu dari kelompok tertentu saja. karena kritik merupakan titik tolak dari dari .mengapa mesti arogan. Sedangkan bidang keamanan adalah perlindungnan warganya dan orang lain dalam wilayah Negara secara legal berdasarkan hukum dan cara-cara yang diatur menurut hukum. memang ada benarnya tapi tidak terjadi pada semua pejabat di lingkungan Polri secara keseluruhan. Polri Arogan dan Sombong Sikap arogan dan sombong sangat kental dan melekat baik pada pejabat teras Polri. Pelindung. kolusi dan Nepotisme.misalnya karena domeinisasi sisinya berlainan. Lain halnya dengan Kapolda. toh yang dikejar prestasi kerja!! III . Polri tidak bisa ditempatkan di Departemen manapun atau bahkan membentuk departemen sendiri -. pejabat tersebut jika dikritik menganggap orang yang melontarkan kritik itu memusuhinya . Cirinya . Jumlah pejabat Polri model yang ini sangat banyak jika dikalkulasi ada sekitar 87 persen.ini juga ada pada lingkungan kelompok tertentu pada jabatan basah banyak uang dari hasil korupsi.

Bahkan awal Februar lahir Komisi Kepolisian Nasional yang ditugasi pemerintah untuk mengontrol Polri. ada LSM lain. Dibagian lain Juwono menolak anggapan penyusunanan RUU Hankam dimaksudkan menggabungkan TNI/Polri. lingkup tugasnya menindak para anggota Polri yang melanggar kode etik. selain masalah penggunaan anggaran yang secara periodik dilakukan oleh Badan Pengawas Keuangan . ujud tindakan yang dilakukan berupa PTDH (Pemberhentian Tidak Dengan Hormat ) baik dari tingkat perwira berkas perkaranya pada reserse apabila ternyata anggota Polri melanggar ketentuan pidana . Inspektur Pengawas Umum . kendala yang dihadapi Polri. Kapolda. Pengaduan. ujar Menhan sebagaimana dikutip Harian Kompas 17 Februari Keterlibatan TNI mengatasi keamanan dalam negeri ternyata masih diperlukan.Sekitar 130 orang anggota Polri ditindak oleh divisi itu. Disamping itu. pertikaian bisa diatasi setelah pasukan TNI turun. Divisi Profesi dan Pengamanan yang bertugas melakukan tindakan terhadap anggota Polri yang menyalah gunakan kekuasaan dan wewenang . .pembenahan . Polri dalam menentukan arah kebijksaan. ada UU TNI. pemisahan TNI/ Polri merupakan langkah kebablasan dari reformasi 1998. Divisi Profesi Pengamanan . Polri dikontrol oleh lembaga Pra Peradilanapabila dalam menerapkan pasal dalam kasus tersebut salah atau melakukan kesalahan dalam penyelidikan atau penyidikan . Dalam Criminal Justice System . Kapolres yang prestasi cukup mengagumkan . Polri kembali dipercundangi. Adanya anggapan bahwa Polri tidak mau dikontrol dan tidak ada yang mengontrol . secara ekspilisit Pasal 30 UUD 1945 masih mengatur keterlibatan kedua institusi terkait usaha pertahanan Negara . Komisi Kepolisian Indonesia ( KKI ) sejak awal Maret 2002 berperan aktif unruk mengontrol kinerja Polri serta ikut serta memecahkan masalah . ³ RUU ini akan melihat keterpaduan yang baik antara Polri dan TNI karena kalau dipisahkan dalam Undang-undang itu malah akan merepotkan kerja di lapangan ³ kata Menhan Juwono Sudarsono seperti yang dikutip harian Kompas 16 Februari 2005. ada UU Kepolisian. Kontrol external . Secara rinci internal dalam tubuh Polri ada Lembaga Kontrol yaitu . tetapi tidak ada UU Keamanan Dalam Negeri. Sekarang ini kondisinya masih timpang. Penegak Disiplin ). Lebih lanjut dijelaskan RUU Hankam untuk menjadi induk perundang-undangan yang mengatasi ketimpangan fungsi pertahanan dan keamanan. ujar Menhan. Berangkat dari penataan ulang itu banyak Kapolda . Ditambahkan. Gagal melaksanakan keamanan Pertengahan Februari 2005. yang dilakukan melalui sistem pertahanan rakyat semesta. konsep langkah mundur telah disiapkan Dephan yaitu RUU Sinkronisasi Kerja TNI/ Polri. Selain itu masih ada Komisi Kode Etik. Untuk selanjutnya dalam menangani perkara Polri langsung diawasi oleh Kejaksaan yang muaranya pada Hakim Selain itu . Alasannya. Inspektur Pengawas Umum ini menangani penyalah gunaan wewenang tentang manajerial dalam lembaga Kepolisian . penanganan kasus-kasus langsung dikontrol oleh DPR RI . hingga Kapolres jika melakukan penyelewengan terhadap manajemen Polri . IV.Di Polres ada unit P3 D ( Pelayanan. Dalam beberapa kasus konflik seperti Maluku. Komisi Kepolisian Indonesia dengan tegas menolak anggapan itu . Baik Deputy dilingkungan Mabes Polri . tetapi jika mereka ternyata hanya kena tuduhan yang kemudian tidak terbukti divisi inilah yang merehabilitir nama anggota Polri tersebut.

Nuansa analisa yang titik tolaknya dari kasusistis ini kemudian akan dijabarkan menjadi naskah akademik UU Hankam --. terorisme dan subversi. Terbatasnya pengungkapan kasus-kasus tindak pidana itu --. namun bisa berasal dari dalam negeri sendiri ± dimensinya bisa berasal dari masalah idologi.Konflik yang masih dalam koridor keamanan dalam negeri.Solusi terbaik setelah PP terbit adalah mengembalikan pada fungsi dan peran masing-masing sesuai dengan tatanan yang ada. sampai Polsek. ujar Menhan sebagaimana dimuat Kompas.terutama ketrika pemerintah daerah maupun kepolisian sudah menyatakan tidak sanggup lagi Sejak pemisahan itu keberadaan TNI selama ini menjadi terpinggirkan. Realisasi anggaran yang minimal itu dimanfaatkan secara maksimal berbagai kegiatan operasional untuk 913 strata organisasi dari tingkat Mabes Polri. Keamanan Dalam Negeri spektrumnya sangat luas ±.masalah ketertiban masyarakat. Akan tetapi keberadaan TNI masih dibutuhkan untuk mengatasi masalah -. pelanggaran lalulintas sampai pada gangguan terhadap keamanan Negara. Produk hukum yang memayungi bentuk kerjasama TNI/ Polri sudah ada. anggaran untuk melaksanakan operasional Kepolisian yang dialokasikan dalam APBN Polri ± masih jauh dari kebutuihan ideal bahkan boleh dikatakan tidak mencukupi dari kebutuhan minimal.dengan dalih ketimpangan yang terajdi di lapangan ± terlihat Menhan Juwono sangat gegabah ± tanpa mau melihat fakta hukum yang ada. UU Hankam sama sekali belum dan bahkan tidak akan diperlukan. terutama masalah. pengayoman dan pelayanan masyarakat. sabotase.Jadi pemeritah seyogyanya mengambil langkah untuk menerbitkan PP²langkah ini merupakan langkah bijak untuk menepis egoisme sektoral institusi yang merupakan faktor penyebab ketidaktertiban sistem yang sangat berpengaruh pada upaya penegakkan hukun. Selama ini anggaran yang dialokasikan lebih kurang 30 % dari kebutuhan ideal. politik. Sumber anacamannya bisa datang dari luar negeri. baik karena Polri memang tidak sanggup ataupun karena terbatasnya jumlah personil. seperatis bersenjata. sosial budaya maupun keamanan ± yang kesemuanya dipengaruhi lingkungan strategis baik global.bukan karena tidak . Padahal beberapa kasus.Justru yang diperlukan adalah Peraturan Pemerintah sebagai amanat UU No 2 Tahuin 2002. Sebanyak 5. Hal itu dinilai Juwono sekaligus juga menunjukan kultur masyarakat yang masih belum sepenuhnya menerima keberadaan polisi soal keamanan dalam negeri maupun ketertiban masyarakat.dari ancaman yang paling ringan yaitu gangguang ketertiban. penegakkan hukum sekaligus pemelihara Kamtibmas dapat melaksanakan dengan optimal. Polri yang memiliki otoritas penanggung jawab keamanan harus mencermati kemudian mengantisipasi agar totalitas Polri dalam memberikan perlindungan.600 kasus. Barometer penegakkan hukum salah satunya adalah mampu dan tidaknya Polri mengungkapkan kasus tindak pidana. ekeonomi.500 kasus tindak pidana hanya mampu diselesaikan sekitar 1. Di sisi lain. pemerintah daerah pada kenyataannya malah sering meminta pengerahan pasukan TNI bukan polisi. regional maupun nasional. ketentraman umum serta kriminalitas. Tapi pemerintah lamban mengimplementasikan amanat UU No 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara pasal 41 ayat 1 dan ayat 2 ± maka bentuk kerjasama antara kedua institusi itu tidak ada legimitasi hukumnya.

jabatan Direktur Reserse dan Kapolres daerah basah pun mudah diduduki. siapa yang dekat dan dari mana dia ) di luar jangkauan ini hanyalah mereka menunggu nasib. melainkan dari atasan langsung. Jadi. Maka berbondong-bondong perwira-perwira Polri ( semasa pemerintahan Megawati ) untuk dekat dengan pejabat yang masuk kategori dekat pimpinan Polri dan ( Presiden Megawati ). Brigjen hingga Irjen Pol. .hasilnya tentu tidak mengecewakan. Kenapa mesti takut ?! Jadi biarkan saja mereka mengkritik . Sisi lain: sistim pembinaan personil atas selera pimpinan. . Penentuan jabatan megacu perintah Kapolri. Penyalahgunaan kekuasaan baik secara individual maupun organisatorik kerap terjadi dalam sejarah perkembangan kepolisian dunia. Mereka jika dikritik. membuat tatanan sistim SDM Polri berantakan disektor tertentu. jabatan Direktur Lalu Lintas mudah diraih. melainkan dilihat sebagai representasi fungsi negara dalam melindungi warganya dengan payung hukum . Sesuai dengan karakteristik utamanya ± Polri memiliki wewenang dalam menegakan hukum dan bersenjata. Dengan kewenangan itu. --. Manakala pihak Badan Reserse Kriminal mengajukan anggaran sebesar RP 990 milhyar realisasi dukungan anggaran penyidikan itu hanya Rp 46 milyar dibagi untuk 30 Polda.jabatan Kapolda pun mudah didapat. Kewenangan yang demikian besar itu yang belakangan ini dijadikan komoditi politik . yang penting tetap baik di mata pimpinan Polri dan pimpinan negara ( Presiden Megawati ± waktu itu ). namun rapat Dewan Kebijakan ( de facto ) tak ada . hingga tak dimiliki oleh instansi lain seperti Hakim.Akanhalnya pangkat seperti Kombes. Biarkan anjing menggonggong kafilah berlalu. serta merta mereka ikut dalam konfigurasi politik praktis untuk mendukung Megawati -.profesionalnya penyidik Polri melainkan dukungan anggaran penyidikan sangat kecil. dengan spontan mengatakan jabatan yang saya pangku datangnya bukan dari orang yang suka mengkritik itu. Jadi Dewan Kebijakan ( sebutan populernya Wanjak ) yang semestinya mengacu pada perjalan karir anggota Polri ± saat itu hanya formalitas -.Warisan ini. jaksa. Polri sebagai penegak hukum yang ada dalam wadah criminal justice system berada di garda terdepan dalam menegakan hukum ± karena pada dasarnya hukum untuk kepentingan negara. Polri sering dipandang sebagai sosok yang menakutkan. Sikap arogan dan sombong ini lahir dari satu sistem Pembinaan Sumber Daya Manusia yang menggunakan sistem By Window (siapa yang dilihat dan diingat. Kewenangan yang demikian besar.Alias teraniaya. Kedua sifat itu lahir karena oknum pejabat itu merasa diri kuat dalam menduduki jabatan itu. Arogan dan sombong memang masih menyelimuti tubuh oknum Polri. Peranan Polri di sini wajib untuk menegakan sesuai dengan aturan hukum positif yang dipertanggungjawabkan secara hukum pula. Bahkan secara organisatorik kepolisian digunakan untuk kepentingan politik penguasa ± Polisi memiliki kekuasaan yang berlebihan.De Jure berupa persetujuan pejabat tertentu dengan paraf. Polri dalam paradigma baru hendaknya tidak dipandang sebagai institusi profesi saja.

angkatan mengkristal hingga membentuk barisan sendiri . Kondisi Polri saat ini. Dilain fihak para pati dan pamen yang cemas tadi ± semakin tambah cemas. .Pada kurun waktu 2003 . 1980. Kapolda memiliki wewenang penuh penambahan personil di Polda masing-masing. 5 bulan sekolah. Kombes langsung promosi Brigjen padahal Akpol angkatan 1983 sementara angkatan 1979. Gaya kepemimpinan yang demokratis. kelompok. 3. IV. Brigjen langsung promosi Irjen Pol tanpa melalui jenjang sekolah Lemhanas atau Sespati dan langsung memangku jabatan Kapolda ( basah ). baru setelah itu diangkat menjadi Bintara Polri.Namun karena anggaran serta kemampuan lembaga pendidikan yang terbatas. Berbareng dengan itu para pati dan pamen yang ikut dalam konfigurasi politik praktis itu menjadi cemas.2005.sistem rekrutmen menggunakan cara magang. 1981. Bulan belakangan ini ada sedikit pembenahan . AKBP angkatan 1985 langsung Kombes ± sementara angkatan 1984 seorang pun belum ada yang promosi Istimewanya Kombes ini menjabat Kapolres Jakarta yang semestinya dijabat oleh seorang Kombes yang senior.000 bintara untuk sekolah Polisi Negara yang ada di Polda seluruh Indonesia.masih 15 tahun lagi. Polisi Jerman dan Polisi Amerika Serikat. berupa pernyataan-pernyataan resmi serta sanggahan-sanggahan apabila muncul kritik dari opini publik.1982 seorang pun belum ada yang promosi Brigjen.yang Kapolda ikut konfigurasi politik praktis. Kebijakan Kapolri tentang penempatan sejumlah perwira tinggi maupun perwira menengah mendapat kritikan tajam. Masing-masing Polda menerima kuota 700 siswa. Apalagi ketika ada isu Kapolri akan diganti ± soliditas institusi nampak semakin kacau balau ± empat orang tanpa sungkan-sungkan mencalonkan diri sebagai Kapolri ±.1. . Soliditas institusi. Dewan Kebijakan kembali berfungsi. Idealnya untuk Polri penambahan jumlah personil setiap tahunnya adalah 66.memperlemah kinerja yang tidak sinergis. Setiap tahunnya Polri menambah 26. Komisi Kepolisian Indonesia melihat adanya fenomena budaya penguasa yang sangat kental menyelimuti gaya kepemimpinan Polri. lima bulan praktek dan sebulan sekolah lagi untuk diadakan evaluasi. baik dari elite Polri sampai pada para Kapolda. Konspirasi ini menandakan bahwa Kapolri sudah tidak punya wibawa sama-sekali.masing-masing akses ke kubu Presiden terpilih -. 2. Polisi Inggris. Penentuan jabatan diatur secara otonom atas usulan Kapolda.namun tetap ada intervensi dari Kapolri .000 orang. Padahal kurang solidnya manajemen Polri imbasnya -.ada yang langsung namun adapula yang lewat orang terdekat SBY.Jadi jabatan Kapolres tidak lagi ditentukan dari Mabes Polri -. Tiga Brigjen serta merta naik pangkat Irjen Pol padahal ketiganya terlibat kasus. Kurangnya kebersamaan antara elite Polri ada kesan pimpinan yang sentralistik ± eksklusivisme.000 orang. jadi untuk mencapai ratio jumlah Polri dengan jumlah penduduk 1:300 sebagaimana standar yang ditentukan oleh PBB -. nampak rapuh sekali manakala Megawti tidak terpilih jadi Presiden. 4. Dalam pada itu . Sistem rekrutmen semacam ini dilakukan oleh Polisi Belanda. Namun Polri menargetkan jumlah Polri 1 : 500 manakala penduduk Indonesia yang setiap tahunnya bertambah 2 % pada tahun 2006 jumlah menjadi 250 juta dengan anggota Polri menjadi 500. nampak hanya lips service saja. Walhasil organisasi Polri nyaris mengalami stagnasi baik tingkat Mabes Polri dan Polda-polda -.

. pengayom masyarakat. kelemahan berada pada tingkat manajerial bukanlah perangkat undang-undang atau peraturan. Saat ini UU no2 / 2002 masih obyektif dilingkungan strategis dan untuk mendatang UU No2/ 2002 masih dalam korido membangun Polri yang proporsional dan profesional. kemudian menjelma ciri baru yang dibangun berdasarkan kepentingan dan kebutuhan masyarakat serta perlindungan HAM. pelindung serta pelayan dan pembimbing. Tetapi di sini peranan Polri . hilangnya dominasi kekuasaan. Penyusunan UU No2/ 2002 melalui proses yang sangat demokratis sesuai dinamika Reformasi. Peran dan fungsinya sebagai pelayanan masyarakat dan pemeliharaan ketertiban sebagai upaya prefentif makin jauh ditinggalkan ± padahal fungsi prefentif jauh lebih substansial. Justru yang perlu dibenahi adalah personil mengawaki organisasi Polri masih banyak yang kurang profesional Artinya. mengakibatkan adanya kebuntuan dalam penegakan hukum. Jadi kesimpulannya. Sikap antagonis dengan opini publik ± belum dirubah dengan membentuk citra positif -.Gaya-gaya kepemimpinan militeristik. Soliditasnya cukup handal. Dengan demikian akan lahir dampak positif. sebagai penegak hukum anggota Polri cenderung bersikap represif. kedudukan Polri perlu ditata dalam kesatuan penyelenggaraan kebijakan pidana criminal policy dan sistem penuntutan yang berada di bawah tanggung jawab Jaksa Agung. pasilitator. Setelah melihat fakta yang ada. niscaya figure pimpinan yang arif akan terlihat.hingga yang terjadi justru malah kontra dengan opini publik . lebih banyak memberikan instruksi-instruksi ± tanpa mempedulikan serta aspirasi anggotanya. juga masih nampak kentara sekali. ternyata yang ada adalah supremasi power yang mengaburkan tegaknya supremasi hukum. para pejabatnya dipilih yang lebih memihak kepada masyarakat atau kepentingan bangsa. Kapolda sampai Kapolres. 2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara RI kiranya belum perlu dilakukan. antisifatif terhadap perkembangan. Menghapus sikap lebih banyak memerintah. serta memiliki ketauladanan yang kuat. baik di lingkunganlingkungan kerja elite Polri. Semakin jauh meninggalkan upaya-upaya prepentif yang demokratis lagi persuasif itu. belum diadakan instrospeksi internal yang dilakukan secara total ± dengan mengubah mental penguasa menjadi penyedia jasa pelayanan. Gaya kepemimpinan yang didominasi lebih meghitung kesalahan. semula dengan arus reformasi ini elite Polri diharapkan sudah menanamkan moral dan jati diri sebagai aparatur penegak hukum. amandemen UU No. penting lagi pula strategis ketimbang tindakan represif itu. Suasana lingkungan masih diwarnai dengan nuansa kekuasaan . Berkaitan dengan itu. stimulator. yang berdampak pada anggota selalu menjadi korban ± akibat pelampiasan stresor melawan dianggap melanggar kode etik ± kemudian dimutasikan sebagai Pagugas ( perwira penunggu tugas ) . Sebagaimana yang dilakukan elite selama ini ± yang merupakan fungsinya sebagai pengayom dan pelindung bertindak dengan bersikap untuk meyakinkan masyarakat ± masih menyalahkan masyarakat. ketimbang memberikan penghargaan atas prestasi. VI Perlukah UU No 2 Tahun 2000 diamandemen ?! Tahun belakangan ini. Merunjuk hakekat fungsi kepolisian sebagai aparatur negara penegak hukum. mampu bertindak sebagai motivator. Dari sikap arogansi fungsi ini fenomena publik menjadi terbalik. maka perlu dengan segera mengembalikan status Polri berdasarkan fungsinya yang akomodatif. Hingga awal Mei 2005 gaya kepemimpinan ini. partisipatis. Kalau saja ada kemauan politik untuk menghapus gaya kepemimpinan yang klasik itu --kemudian yang ada gaya kepemimpinan demokratis.

kedudukan Polri perlu ditata dalam tatanan kebijakan dengan Departemen Dalam Negeri. Cukup beralasan dan logis. politik dan sosial masyarakat suatu negara untuk digantikan oleh struktur yang baru secara total. Sedangkan sebagai aparatur ketertiban dan pelayan masyarakat. setidak-tidaknya dalam hubungan sinergis. berkoordinasi dengan kejaksaan.tetap sebagai penyidik utama. jika kepolisian dibangun sebagai lembaga yang terkait secara teknis administratif dengan Departemen Dalam Negeri dan dari aspek juridis investigasi. . Degan konstruksi ini. Berdasarkan pemikiran-pemikiran yang terkait dengan fungsi dan status Polri kiranya perlu segera dilakukan reposisi Polri yang sangat berkaitan dengan fungsi Kejaksaan dan Departemen Dalam Negeri.Terima kasih atas kerjasamanya Jakarta 2 Juni 2005 KOMISI KEPOLISIAN INDONESIA ATHAR KETUA Sejarah islam di Indonesia Peraturan tentang beragama tujuan utama para teroris adalah menghancurkan sistem ekonomi. Semata-mata bertujuan agar terwujudnya obyektivitas penyidikan dan penuntutan. namun tetap bertanggung jawab dengan presiden sebagai kepala negara. niscaya Polri dalam menyelenggarakan fungsinya sesuai dengan harapan masyarakat.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful