Jaminan hidup warga negara didalam pekerjaan

nama anggota :

Fitria Nuryanti Kalih Pebriyanti Santi Syaftiani Siti Robiah Winda Widianingsih

SMK FARMASI IBNU'AQIL

..1kesimpulan 1.................. ..................... ................ ....2saran 1..................... .................... ................... .........1latar belakang 1........3daftar pustaka ....2rumusan masalah 1......daftar isi kata pengantar daftar isi Bab I pendahuluan 1..............4hipotesis Bab II pembahasan 1................. ......3tujuan 1...... . .......... ....1Pembahasan Bab III penutup 1...........................................................

wadah ini merupakan kekuatan yang dapat menimbulkan keberanian untuk menentang kebijakan pengusaha yang melanggar peraturan yang berlaku.Bab. Untuk mengetahui lebih lanjut masalah ketenagakerjaan dapat dilihat sebelum terjadi hubungan kerja. Atas dasar tersebut pemerintah mengeluarkan berbagai aturan dan kebijaksanaan untuk memberikan perlindungan dan kesempatan kepada mereka. Dalam konteks industri. Adapun aksi suatu tuntutan dapat berupa unjuk rasa mogok kerja. Kondisi demikian apabila tidak diantisipasi dapat mengganggu jalannya perusahaan. Oleh karena itu. dalam rangka mengantisipasi kepentingan yang berbeda yang dapat menimbulkan konflik maka perlu suatu aturan baku yang mengatur agar mereka dapat menahan diri dan menyelesaikan permasalahan.1 Latar Belakang Peraturan perundang-undangan yang mengatur masalah tenaga kerja selalu berkembang sesuai dengan perkembangan zaman.21 tahun 2000. sedang pengusaha ingin memberikan upah sedikit dan berharap produktivitas yang tinggi dan memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya. artinya seseorang akan mencari pekerjaan atau calon tenaga kerja. Proses itu tidak bias dihindarkan semakin banyaknya penggunaan tenaga kerja mengakibatkan timbulnya peerselisihan sehingga kadang-kadang hubungan kerja tidak harmonis. Salah satu hal yang mempengaruhinya adalah meningkatnya perdagangan dan industri yang tumbuh di dalam masyarakat. benturan dan gesekan dalam pelaksanaan proses produksi antara pekerja/ buruh dengan pengusaha. . Penyediaan lapangan pekerjaan merupakan salah satu kewajiban pemerintah sesuai yang diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar 1945 pasal 27 ayat 2 yang menyatakan bahwa setiap warga Negara berhak atas pekerjaan dan kehidupan yang layak. yang disebabkan oleh adanya kepentingan dan motivasi berbeda. bahkan tidak memiliki keahlian sama sekali. Para pekerja yang semula bekerja di sector pertanian kemudian mulai bergeser ke sector industri yang tumbuh secara pesat dengan berdirinya berbagai perusahaan-perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja. Pekerja ingin mendapatkan pekerjaan yang ringan dengan hasil yang banyak. lebih-lebih pekerja dengan telah bergabung dalam suatu wadah organisasi serikat pekerja yang memang keberadaannya diatur di dalam Undang-Undang No. proses produksi yang makin maju dan berkembang tentunya perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja yang terampil maupun kurang terampil.1 Pendahuluan 1. Calon tenaga kerja tersebut dapat dikatakan sebagai pengangguran dalam pengertian belum mendapatkan pekerjaan di dalam maupun di luar negeri dengan tujuan untuk meningkatkan taraf hidupnya.

harus mampu menyediakan peraturan perundang-undangan terkait agar kepentingan para pihak dapat terpenuhi. 2. Atas dasar itulah penulis mencoba mengurai perkembangan hukum ketenagakerjaan dalam suatu tinjauan normatif-empiris terkhusus di Indonesia. Pertanyaan yang harus kita jawab sekarang adalah apakah hukum ketenagakerjaan kita telah menjamin keadilan untuk buruh? Karena. Untuk mengetahui perkembangan hukum ketenagakerjaan di Indonesia dalam tinjauan normatif-empiris. Untuk mengetahui sejarah hukum ketenagakerjaan pada umumnya dan di Indonesia secara khusus.4 hipotesis . apabila tidak menjamin keadilan.3 Tujuan Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan yang hendak dicapai dalam makalah ini adalah : penulisan 1.Bagaimana perkembangan hukum ketenagakerjaan di Indonesia dalam tinjauan normatifempiris? 1. 1. maka akan terjadi banyak keresahan-keresahan bagi para buruh dan juga para pengusaha nantinya.Bagaimana sejarah hukum ketenagakerjaan pada umumnya dan di Indonesia secara khusus? 2. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan uraian di atas maka yang menjadi fokus penulis adalah : 1.Pemerintah sebagai stabilisator dan dinamisator di bidang ketenagakerjaan.

Di Belanda.1 Sejarah Hukum Ketenagakerjaan 2. Substansi undang-undang pertama ini adalah jaminan perlindungan terhadap kesehatan kerja (health) dan keselamatan kerja (safety). Undang-undang perlindungan inilah yang menandai berawalnya hukum perburuhan. Sejak penghapusan inilah buruh dapat melakukan konsolidasi dalam serikat-serikat buruh.1. khususnya di Inggris pada abad ke-19. terutama Adam Smith. Karena saat berlangsung Revolusi Industri. Keprihatinan utama yang mendasari lahirnya hukum perburuhan adalah buruknya kondisi kerja di mana buruh anak dan perempuan bekerja. Ciri utama mekanisasi ini adalah: hilangnya industri kecil. teori sosial yang dominan adalah faham liberalisme dengan doktrin laissez-faire. sedangkan di Belanda sesudah tahun 1870.Bab II Pembahasan 2. Revolusi Industri yang ditandai dengan penemuan mesin uap telah mengubah secara permanen hubungan buruh-majikan. Undangundang perburuhan pertama muncul di Inggris tahun 1802.1 Sejarah Hukum Ketenagakerjaan di Dunia Secara historis lahirnya hukum ketenagakerjaan terkait erat dengan Revolusi Industri yang terjadi di Eropa. Revolusi Industri menandai munculnya zaman mekanisasi yang tidak dikenal sebelumnya. Oleh karena itu dapat dipahami bahwa hukum perburuhan yang melindungi buruh adalah hasil desakan para pembaharu di dalam . upah yang sangat rendah. Penemuan mesin juga telah mempermudah proses produksi. Dalam doktrin ini negara tidak boleh melakukan intervensi ke dalam bidang ekonomi kecuali untuk menjaga keamanan dan ketertiban. serikat-serikat buruh belum berkembang. sistem hukum yang ada belum memungkinkan lahirnya serikat buruh. jumlah buruh yang bekerja di pabrik meningkat. Upaya pemerintah untuk memberikan perlindungan pada kesehatan dan keselamatan kerja melalui hukum tidak berjalan dengan mulus. Di sisi lain pengusaha juga masih bersikap anti serikat. terutama di pabrik tenun/ tekstil dan pertambangan yang sangat membahayakan kesehatan dan keselamatan diri mereka. dan perumahan yang sangat buruk. tambah lagi. Konsep negara yang dominan waktu itu adalah Negara Penjaga Malam (the night-watchman-state). Sebagai contoh. Mereka menuduh intervensi pemerintah melanggar kebebasan individual dalam melakukan aktifitas ekonomi dan kebebasan menjalin kontrak. Pada saat yang sama. larangan untuk berorganisasi/berserikat (coalitie verbod) baru dihapus pada tahun 1872. hingga tahun 1825 di Inggris masih berlaku UndangUndang Penggabungan (Combination Acts) yang menganggap ilegal semua aksi kolektif (collective action) untuk tujuan apapun. kondisi kerja yang berbahaya dan tidak sehat. anak-anak dan perempuan ikut diterjunkan ke pabrik dalam jumlah massal. Karena itulah upaya pemerintah untuk melindungi buruh mendapat perlawanan keras dari kelompok pengusaha dan para intelektual pendukung laissezfaire. kemudian menyusul di Jerman dan Perancis tahun 1840. jam kerja panjang.

Rood berpendapat bahwa undang-undang perlindungan buruh merupakan contoh yang memperlihatkan ciri utama hukum sosial yang didasarkan pada teori ketidakseimbangan kompensasi.1 Tahun 1970 Tentang Keselamatan Kerja. tanpa uang pensiun. Secara jelas bahwa buruh boleh dipecat. Misalnya. 2003. Pembahasan imigrasi terdengar santer di Amerika karena hampir sebagian besar penduduknya adalah imigran. kulit dan dagingnya dengan mudah dan buruh dianggap produsen bukan konsumen. M. Ada asumsi bahwa buruh adalah Posisi yang dianggap alat produksi seperti halnya mesin. Lain lagi di Amerika. sebagai berikut. Pengurus diwajibkan menunjukkan dan menjelaskan pada tiap tenaga kerja baru tentang : . adalah sebagai berikut Maraknya isu – isu buruh saat ini memang sangat panas di beberapa belahan dunia. G. 13 th. Secara perlahan. Mereka dilihat sebagai ternak yang bisa diambil susu. pemerintah negeri “Melting Pot” ini mengeluarkan peraturan yang ketat bagi buruh yang katanya ‘imigran’. lokasi. 1. * Sejarah dibentuknya UU ketenaga kerjaan. Namun harus diakui bahwa logika yang dianut hukum perburuhan merupakan penyimpangan dari logika hukum mainstream (arus utama). Disini pemerintah lepas tangan dan menyerahkan kepada perusahaan. dll. 1. Sehingga perusahaan/ pengusaha sewenang-wenang terhadap buruh tersebut. Tiga negara sudah memperlihatkan. adalah sebagai berikut. * Tenaga kerja mempunyai hak untuk dibina sebagaimana termaktub dalam pasal 9 UU No. Hukum perburuhan memang berawal dari kesadaran akan ketidakseimbangan sosial-ekonomis antara-buruh dan majikan. Hak-hak buruh/ tenaga kerja atas majikan/ pengusaha. Teori ini bertitiktolak pada pemikiran bahwa antara pemberi kerja dan penerima kerja ada ketidaksamaan kedudukan secara sosial-ekonomis. Kesadaran baru ini ditandai dengan munculnya teori sosial yang ingin mengimbangi gagasan di balik doktrin laissez-faire. Di Perancis. Penerima kerja sangat tergantung pada pemberi kerja. Maka hukum perburuhan memberi hak lebih banyak kepada pihak yang lemah daripada pihak yang kuat. munculnya hukum perlindungan buruh merupakan bukti bahwa secara sosial doktrin laissez-faire mulai ditinggalkan atau setidaknya tidak lagi dapat diterapkan secara mutlak. Akhirnya pemerintah Indonesia pun tidak mau ketinggalan tren dengan revisi UU Ketenagakerjaan No.maupun di luar parlemen. tanpa perlindungan asuransi keselamatan kerja. Hukum bertindak “tidak sama” kepada masing masing pihak dengan maksud agar terjadi suatu keseimbangan yang sesuai. dll. Mulai muncul kesadaran bahwa negara harus intervensi dalam hubungan buruh-majikan. Hal ini dipandang sebagai jawaban yang tepat terhadap rasa keadilan umum. Terjadi lantaran sistem perundang – undangan yang diskriminatif terhadap buruh. PM Jacques Villepin mengeluarkan CPE. Peraturan ini berisi perijinan pemecatan buruh pada usia dibawah 26 tahun ke bawah. Maka disinilah muncul UU Ketenagakerjaan yang mana UU ini memperjuangkan hak-hak buruh/ pekerja. yang selama ini di kesampingkan yang merupakan kelompok lemah. modal.

Memberikan keterangan yang benar bila diminta oleh pegawai pengawas dan atau keselamatan kerja. Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) 3. e. Pengurus hanya dapat mempekerjakan tenaga kerja yang bersangkutan setelah ia yakin bahwa tenaga kerja tersebut telah memahami syarat-syarat tersebut di atas. sebagai mana termaktub dalam pasal 12 UU No 1 Tahun 1970 Tentang Keselamatan Kerja. d. Jaminan Kesehatan (JK) 2. Memenuhi dan mentaati semua syarat-syarat keselamatan dan kesehatan kerja yang diwajibkan. Pengurus diwajibkan memenuhi dan mentaati semua syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan yang berlaku bagi usaha dan tempat kerja yang dijalankan. * Hak dan kewajiban tenaga kerja.* Kondisi-kondisi dan bahaya-bahaya serta yang dapat timbul dalam tempat kerja. Jaminan Kematian (JKM) Jaminan pesangon. * Cara-cara dan sikap yang aman dalam melaksanakan pekerjaannya. sebagaimana termaktub dalam UU 40 tahun 2004. pula dalam pemberian pertolongan pertama pada kecelakaan. Jaminan Pensiun (JP) dan. Menyatakan keberatan kerja pada pekerjaan dimana syarat kesehatan dan keselamatan kerja serta alat-alat perlindungan diri yang diwajibkan diragukan olehnya kecuali dalam hal-hal khususditentukan lain oleh pegawai pengawas dalam batas-batas yang masih dapat dipertanggung jawabkan. yaitu . 2. Pasal 12 Dengan peraturan perundangan diatur kewajiban dan atau hak tenaga kerja untuk: a. Jaminan Hari Tua (JHT) 4. mestinya dimasukkan dalam penyelenggaraan program jaminan sosial lainnya. ternyata diatur . Pengurus diwajibkan menyelenggarakan pembinaan bagi semua tenaga kerja yang berada di bawah pimpinannya. Memakai alat perlindungan diri yang diwajibkan. dalam pencegahan kecelakaan dan pemberantasan kebakaran serta peningkatan keselamatan dan kesehatan kerja.13 Tahun 2003. 5. sebenarnya termasuk program jaminan sosial yang menjadi hak tenaga kerja. c.Meminta pada Pengurus agar dilaksanakan semua syarat keselamatan dan kesehatan kerja yang diwajibkan. * Semua pengamanan dan alat-alat perlindungan yang diharuskan dalam tempat kerja. 1. atau Jaminan Pemutusan Hubungan Kerja (JPHK). Karena itu. * Hak pesangon terhadap buruh sebagaimana termaktub dalam UU No. b. * Alat-alat perlindungan diri bagi tenaga kerja yang bersangkutan.

dan ayat (2). Pemerintah melakukan pembinaan terhadap unsur-unsur dan kegiatan yang berhubungan dengan ketenagakerjaan.tersendiri dalam UU No. dilaksanakan secara terpadu dan terkoordinasi. organisasi pengusaha. Pembinaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Pemerintah dapat memberikan penghargaan kepada orang atau lembaga yang telah berjasa dalam pembinaan ketenagakerjaan. serikat pekerja/serikat buruh dan organisasi profesi terkait dapat melakukan kerjasama internasional dibidang ketenagakerjaan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku Pasal 175 1. tidak ada jalan lain. sesuai dengan UU No 13 Tahun 2004. sementara bagi pemberi kerja. yang nota bene belum diberikan kepada sebagian besar tenaga kerja kita. Dengan pendekatan seperti itu. Pasal 173 1. antara lain sifat not for profit. Penghargaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat diberikan dalam bentuk piagam. single – provider dan (mestinya) diintegrasikan dengan program jaminan sosial lainnya. pemerintah. Karena itu. dan 175 UU No. 2. Maka selayaknya memperoleh perhatian dari pemerintah tentang formulasi UU ketenaga kerjaan. sebagai berikut. khususnya besaran pesangonnya. Tetap menjamin hak – hak tenaga kerja. Pembinaan sebagaimana di maksud dalam ayat (1). agar ada integrasi. * Buruh atau tenaga kerja mendapatkan hak pesangon sebagaimana termaktub dalam pasal 173. serikat pekerja/serikat buruh. dimana hak – hak tenaga kerja telah ditentukan. sesuai dengan best – practice yang lazim. sehingga beban iuran . perobahan yang dilakukan tidak boleh merugikan hak tenaga kerja. dapat mengikut sertakan organisasi pengusaha. tenaga kerja akan memiliki program jaminan sosial sesuai UU 40/2004. dan/atau bentuk lainnya.13 Tahun 2003 tentang Tenaga Kerja. beban itu akan lebih ringan. Diselenggarakan melalui prinsip – prinsip program Jamiman Sosial. antara lain adalah: 1. Pasal 174 Dalam rangka pembinaan ketenagakerjaan. 2. Perubahan itu hedaklah secara mendasar. hal ini diperlukan. Dengan memperhatikan perundangan yang sudah ada.13 Tahun 2003. 174. dan organisasi profesi terkait 3. tidak sepotong – potong. 2. uang. selain mengintegrasikan jaminan pesangon (JPHK) dengan program Jamian Sosial lainnya.

akan lebih besar. Ketika bangsa Indonesia ini mulai ada sudah dikenal adanya system gotong royong . Terkait dengan masa transisi UU No 40 Tahun 2004. pada masa ini kaum bangsawan (raden ) memiliki hak penuh atas para tukang nya .1. Dalam hubungan kerja terdapat hak dan kewajiban majikan dan buruh. Baik sosiologis maupun yuridis dan ekonomis. seperi saat jaman kerajaan hindia belanda pada zaman ini terdapat suatu system pengkastaan . ketika sudah mulai berdiri suatu kerajaan di Indonesia hubungan kerja berdasarkan perbudakan . dan hikmah bagi semua orang gotong royong ini nantinya menjadi sumber terbentuknya hokum ketanaga kerjaan adat . dimana kasta sudra merupakan kasta paling rendah golongan sudra & paria ini menjadi budak dari kasta brahmana . Adanya pikiran – pikiran untuk membuka peluang multi – providers. waisya. ksatria. demi manfaat. Satu-satunya penyelesaiannya adalah mendudukan para budak pada kedudukan manusia merdeka. 2. namun hukum ketenagakerjaan adat ini merupakan identitas bangsa yang mencerminkan kepribadian bangsa Indonesia dan merupakan penjelmaan dari jiwa bangsa Indonesia dari abad ke abad. kebijakan. selayaknya ditinggalkan . Sifat gotong royong ini memiliki nilai luhur dan diyakini membawa kemaslahatan karena berintikan kebaikan . 3. antara lain : brahmana. Sehingga akan tercipta hubungan yang serasi antara majikan dan buruh. Dimana walaupun peraturannya tidak secara tertulis . sehingga menjamin penyelenggaraan program jaminan sosial yang terintegrasi dan komprehensif. . apabila semua itu diintergrasikan pendekatannya. Setelah memasuki abad masehi .2 Sejarah Hukum Ketenagakerjaan di Indonesia Asal mula adanya Hukum Ketenagakerjaan di Indonesia terdiri dari beberapa fase jika kita lihat pada abad 120 SM . adil dan merata. dan waisya mereka hanya menjalankan kewajiban sedangkan hak-haknya dikuasai oleh para majikan Sama halnya dengan islam walaupun tidak secara tegas adanya system pengangkatan namun sebenarnya sama saja . apalagi membuka peluang perusahaan asuransi swasta untuk terlibat. Sehingga Dalam hukum perburuhan ada peraturan yang mengatur hubungan antara para majikan dan buruh agar majikan tidak bertindak sewenang-wenang terhadap buruh. dan paria . efisiensi dan kelangsungan program itu. sudra. antara anggota masyarakat . pada masa sibuk dengan tidak mengenal suatu balas jasa dalam bentuk materi . Dengan demikian kelangusungan hidupnya lebih terjamin. ksatria . akan sangat ideal. nilai-nilai keislaman tidak dapat dilaksanakan sepenuhnya karena terhalang oleh dinding budaya bangsa yang sudah berlaku 6 abad –abad sebelumnya Pada saat masa pendudukan hindia belanda di Indonesia kasus perbudakan semakin meningkat perlakuan terhadap budak sangat keji & tidak berperikemanusiaan . Dimana gotong royong merupakan suatu system pengerahan tenaga kerja tambahan dari luar kalangan keluarga yang dimaksudkan untuk mengisi kekurangan tenaga.

Pada kerajaan-kerajaan di Jawa rodi dilakukan untuk kepentingan raja dan anggota keluarganya. Perhambaan terjadi bila seseorang penerima gadai menyerahkan dirinya sendiri atau orang lain yang ia kuasai. Perbudakan ialah suatu peristiwa dimana seseorang yang disebut budak melakukan pekerjaan di bawah pimpinan orang lain. Pemberi gadai mendapatkan hak untuk meminta dari orang yang digadaikan agar melakukan pekerjaan untuk dirinya sampai uang pinjamannya lunas. Periode sebelum kemerdekaan diwarnai dengan masa-masa yang suram bagi riwayat Hukum Perburuhan yakni zaman perbudakan. Rodi merupakan kerja paksa yang dilakukan oleh rakyat untuk kepentingan pihak penguasa atau pihak lain dengan tanpa pemberian upah. Selain perbudakan dikenal juga istilah perhambaan dan peruluran. Namun hal tersebut di manfaatkan oleh penjajah menjadi suatu kerja paksa untuk kepentingan pemerintah Hindia Belanda dan pembesar-pembesarnya. Terjadinya perbudakan pada waktu itu disebabkan karena para raja. sementara penduduk miskin yang tidak berkemampuan secara ekonomis saat itu cukup banyak yang disebabkan rendahnya kualitas sumber daya manusia. serta kepentingan umum seperti pembuatan dan pemeliharaan jalan. Gambaran di atas menunjukkan bahwa riwayat timbulnya hubungan perburuhan itu dimulai dari peristiwa pahit yakni penindasan dan perlakuan di luar batas kemanusiaan yang dilakukan . atas pemberian pinjaman sejumlah uang kepada seseorang pemberi gadai. Rodi adalah kerja paksa mula-mula merupakan gotong royong oleh semua penduduk suatu desa-desa suku tertentu . sedangkan bila meninggalkannya maka ia kehilangan hak atas kebun tersebut. Para budak tidak mempunyai hak apapun termasuk hak atas kehidupannya. rodi dan poenale sanksi. Selain itu ada juga namanya Romusha yang pernah diterapkan oleh penjajah Jepang selama 3 tahun 3 bulan di Indonesia. dilakukan diluar batas perikemanusiaan. Pelururan adalah keterikatan seseorang untuk menanam tanaman tertentu pada kebun/ladang dan harus dijual hasilnya kepada Kompeni. Pekerjaan yang dilakukan bukan untuk mencicil utang pokok tapi untuk kepentingan pembayaran bunga.Tindakan Belanda dalam mengatasi kasus perbudakan ini dengan mengeluarkan staatblad 1817 no. jembatan dan sebagainya. para pembesar. 42 yang berisikan larangan untuk memasukan budak-budak ke pulau jawa . dan inilah yang mendorong perbudakan tumbuh subur. ia hanya memiliki kewajiban untuk melakukan pekerjaan yang diperintahkan oleh tuannya. Selama mengerjakan kebun/ladang tersebut ia dianggap sebagai pemiliknya. pengusaha yang mempunyai ekonomi kuat membutuhkan orang yang dapat mengabdi kepadanya. Kemudian tahun 1818 di tetapkan pada suatu UUD HB (regeling reglement) 1818 berdasarkan pasal 115 RR menetapkan bahwa paling lambat pada tanggal 1-06-1960 perbudakan dihapuskan Selain kasus Hindia Belanda mengenai perbudakan yang keji dikenal juga istilah rodi yang pada dasarnya sama saja .

tanpa penegakan hukum yang tegas maka aturan normatif tersebut tidak akan berarti. c. d. b. Pemberdayaan serikat buruh/pekerja khusunya ditingkat unit/perusahaan khususnya dengan memberikan pemahaman terhadap aturan perburuhan/ketenagakerjaan yang ada karena organisasi pekerja ini terletak digaris depan yang membuat Kesepakatan Kerja Bersama dengan pihak perusahaan. Pembebasan buruh/pekerja Indonesia dari ketakutan kehilangan pekerjaan. Pembebasan manusia Indonesia dari rodi atau kerja paksa. Membebaskan manusia indonesia dari perbudakan. perhambaan.2 Perkembangan Hukum Ketenagakerjaan di Indonesia Suatu Tinjauan Normatif –Empiris . Para budak/pekerja tidak diberikan hak apapun yang ia miliki hanyalah kewajiban untuk mentaati perintah dari majikan atau tuannya. Nasib para budak/pekerja hanya dijadikan barang atau obyek yang kehilangan hak kodratinya sebagai manusia. Pemberdayaan pekerja dan pengusaha Pekerja perlu diberdayakan sehingga mengetahui hak dan kewajibannya sesuai dengan ketentuan hukum termasuk penyadaran pekerja sebagai sarana memperjuangkan hak dan kepentingannya. Periode sesudah Proklamasi Kemerdekaan Untuk mencapai krida keempat yaitu membebaskan buruh/pekerja dari takut kehilangan pekerjaan. Dalam hukum perburuhan dikenal adanya Pancakrida Hukum Perburuhan yang merupakan perjuangan yang harus dicapai yakni: a. yaitu: a. Krida kesatu sampai dengan krida ketiga secara yuridis sudah lenyap bersamaan dengan dicetuskannya proklamasih kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945. b. Memberikan posisi yang seimbang antara buruh/pekerja dan pengusaha. karena itu pihak majikan/pengusaha cenderung tidak konsekuen melaksanakan ketentuan perburuhan karena dirinya berada pada pihak yang memberi pekerjaan/bermodal. Penegakan hukum (law enforcement) Penegakan hukum sangat penting dalam rangka menjamin tercapainya kemanfaatan (doelmatigheid) dari aturan itu. c. e. karena itu tidak ada pilihan lain untuk meningkatkan “bergaining positionnya” kecuali dengan memperkuat organisasi burh/pekerja. Pembebasan buruh/pekerja Indonesia dari poenale sanksi. 2.oleh orang maupun penguasa pada saat itu. maupun krida kelima memberi posisi yang seimbang antara buruh/pekerja dan pengusaha ada beberapa hal yang perlu mendapatkan perhatian. lebih-lebih dalam bidang perburuhan/ketenagakerjaan yang didalamnya terdiri dari dua subyek hukum yang berbeda secara sosial ekonomi.

Hal ini disebabkan pengusaha dalam rangka efisiensi merasa aman jika buruh yang dioutsource adalah buruhnya perusahaan jasa pekerja. Selanjutnya UU No.2. buruh diberikan kesempatan untuk berpartisipasi dalam menentukan syarat-syarat kerja dan kondisi kerjanya. Undang-Undang Nomor 39 tahun 2004 tentang Perlindungan dan Pembinaan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negri. UU No.25/1997 yang sempat diundangkan namun tidak pernah efektif. Dengan diundangkannya UU ini maka sistem keserikatburuhan di Indonesia berubah dari single union system menjadi multi union system. 13/2003 ini juga mengandung banyak permasalahan. 2. misalnya masalah inkonsistensi antara pasal yang satu dengan pasal yang lain sehingga menimbulkan ketidakpastian hukum. Hal ini disebabkan menurut menurut UU No. Undang-Undang Nomor 21 tahun 2000 tentang Serikat Pekerja/Serikat Buruh telah mengubah sistem keserikatburuhan di Indonesia.13/2003 ini yang melarang Perjanjian Kerja Waktu Tertentu untuk pekerjaan yang bersifat tetap.21/2000 ini mendorong berjalannya demokratisasi di tempat kerja melalui serikat pekerja/serikat buruh. Undang-Undang Nomor 12 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. 4. sekurang-kurangnya 10 orang buruh dapat membentuk serikat buruh di suatu perusahaan. 2. ada pasal lain dalam UU No. Hal ini menunjukkan bahwa perkembangan hukum perburuhan yang mengatur keserikatburuhan mempunyai nilai positif. Sejak diundangkannya UU No. Bahkan apabila ketentuan terakhir ini dilanggar.13/2003. Undang-Undang Nomor 21 tahun 2000 tentang Serikat Pekerja/Serikat Buruh. Undang-Undang Nomor 2 tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial. Dalam situasi demikian. Meskipun sedikit menyimpang dari konvensi inti ILO No. Ketidakpastian hukum dalam masalah ini menjadi persoalan yang sering muncul ke permukaan karenapihak pengusaha cenderung untuk mempekerjakan pekerjanya dengan perjanjian kerja waktu tertentu. 3. 13/2003 tentang Ketenagakerjaan sebagai pengganti UU No. Pasal-pasal yang inkonsisten tersebut antara lain sebagai berikut: 1. Kenyataan ini menunjukkan bahwa banyak perusahaan yang memutuskan hubungan kerja terhadap pekerja tetap untuk kemudian direkrut kembali dengan perjanjian kerja waktu tertentu (kontrak). outsourcing pekerja menjadi menjamur. Outsourcing. pekerja tidak ada pilihan lain kecuali menerima tawaran itu. Perjanjian Kerja Waktu tertentu. sedangkan pekerja lebih memilih perjanjian kerja waktu tidak tertentu karena lebih menjamin job security. Perusahaan-perusahaan ini merasa diback up oleh pasal 6 ayat 2 a yang menyatakan bahwa antara perusahaan jasa pekerja . maka perjanjian kerja waktu tertentu tersebut akan berubah secara otomatis menjadi perjanjian kerja waktu tidak tertentu. Di satu sisi Perjanjian Kerja Waktu Tertentu dapat dibuat berdasarkan jangka waktu yang berarti tidak mempersoalkan apakah pekerjaan itu bersifat tetap atau tidak.1 Perkembangan Hukum Ketenagakerjaan di Indonesia Suatu Tinjauan Normatif Perkembangan hukum perburuhan ditandai oleh lahirnya 4 undang-undang yaitu: 1. Sehingga yang bertanggung jawab terhadap buruh outsource tadi adalah perusahaan jasa pekerja.87 namun UU No. Di lain pihak.21/2000.2.

13/2003 Pemerintah melagalkan bukan sekedar perbudakan modern melainkan juga termasuk human-trafficking. Hal ini disebabkan pengadilan hubungan . 2. Suatu pelanggaran hak asasi manusia. Dengan demikian harapan terselesaikannya kasus perburuhan dalam waktu 140 hari melalui mekanisme yang ditawarkan UU ini akan jauh dari kenyataan.harus ada hubungan kerja dengan buruh yang ditempatkan pada perusahaan pengguna.9 % dari ribuan kasus perburuhan akan diselesaikan melalui jalur pengadailan hubungan industrial dan akan bermuara di Mahkamah Agung. para pihak yang menyelesaikan perselisihan pemutusan hubungan kerja atau perselisihan hak tidak dapat menyelesaikannya melalui arbitrase. Sedangkan kewenangan arbitrase terbatas pada perselisihan kepentingan dan perselisihan antar serikat pekerja. dan perintah hanya ada dalam hubungannya dengan perusahaan pengguna bukan dengan perusahaan jasa pekerja. Padahal 99. sedangkan pihak-pihak yang ingin menyelesaikan persoalan tidak diberi keleluasaan dalam menggunakan mekanisme yang ditawarkan oleh UU ini. Banyak perusahaan memutuskan hubungan kerjanya dengan buruhnya untuk selanjutnya direkrut kembali melalui perusahaan jasa pekerja (outsourcing pekerja). Mereka harus menempuh jalur pengadilan hubungan industrial. perselisihan pemutusan hubungan hubungan kerja dan perselisihan antar serikat pekerja. Di lain pihak. Timbul pertanyaan di sini apakah pengadilan hubungan industrial dapat menyelesaikan kasus perburuhan yang jumlahnya ribuan itu dalam waktu 50 hari untuk setiap kasusnya? Pertanyaa serupa juga dapat dikemukakan disini kepada Mahkamah Agung yang diberi waktu selama 30 hari untuk menyelesaikan setiap kasusnya. Hal ini disebabkan unsur adanya upah. Dengan demikian 99. Hal ini antara lain dapat dikemukakan hal-hal sebagai berikut: 1.13/2003 juga akan memperlama proses penyelesaian perselisihan pemutusan hubungan kerja. Hal ini tercermin dari perbedaan kewenangan pengadilan hubungan industrial dibandingkan dengan kewenangan arbitrase. sedangkan pihak-pihak yang ingin menyelesaikan persoalan bukan ke pengadilan melainkan ke arbitrase sebagai alternative dispute resolution. 6 ayat 2 a UU No.2/2004 masih mengandung banyak kelemahan yang mengakibatkan proses Penyelesaian Perselisihan Industrial yang lama dan ini berarti mahal. pekerjaan. Menurut UU ini. Pihakpihak yang ingin memenangkan perkara jalurnya adalah pengadilan. perselisihan kepentingan. UU ini berparadigma konflik karena hanya memberikan kesempatan kepada pihak-pihak yang ingin memenangkan perkara. pengadilan hubunganindustrial diberi kewenangan untukmenyelesaikan semua jenis perselisihan hubungan industrial sebagaimana dimaksudkan oleh UU ini yaitu: perselisihan hak. Menurut UU ini. Kemudian UU No.2/2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Industrial meskipun sampai saat ini masih belum diberlakukan namun melalui kajian yuridis-normatif dapat dikemukakan bahwa UU No. pihak buruh yang dioutsource juga merasa diback up oleh pasal 1 butir 15 yang menyatakan bahwa hubungan kerjanya bukan dengan perusahaan jasa pekerja melainkan dengan perusahaan pengguna. 9 % perselisihan perburuhan adalah perselisihan pemutusan hubungan kerja dan perselisihan hak. Dengan dicabutnya pasal 158 tentang Kesalahan Terberat untuk kasus pemutusan hubungan kerja sebagaimana tercantum dalam UU No. Kedua pasal ini juga menimbulkan ketidakpastian hukum bagi pengusaha dan buruh apalagi outsourcing pekerja pada saat ini lagi ngetren. Hal ini berarti bahwa melalui pasa.

tidak dibayar upahnya. pemerasan dan lain-lain akan merupakan persoalan laten yang akan berulang kembali pada masa mendatang. Akhirnya UU No. melindungi TKI selama masa pra penempatan. bukan sebagai manusia dengan segala harkat dan martabatnya. deplu dan Depkumham termasuk saudarasaudaranya yang menurut garis keturunan menyamping atau kebawah akan menimbulkan persoalan TKI sebagaimana tersebut di atas. penipuan. tahap industrialiasi dan tahap kesejahteraan berlangsung secara bersamaan).industrial baru dapat memproses kasus tersebut terutama dengan alasan pencurian. melatih dan sekaligus menempatkan TKI. pelecehan seksual. penggelapan atau penganiayaan setelah kasus tersebut mendapatkan keputusan yang mengingat dari pengadilan pidana. di lain pihak buruh akan berusaha agar ketentuan Perjanjian Kerja Waktu tertentu dan outsourcing dihapuskan. Pengusaha akan berusaha menekan besarnya upah minimum.39/2004 tentang Pembinaan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di luar negeri juga masih memposisikan TKI sebagai ekspor komoditi. menampung. Kondisi ini akan mempengaruhi perkembangan hukum perburuhan. Di lain pihak pada tahap kesejahteraan fokus pembangunan adalah untuk memperhatikan kesejahteraan masyarakat termasuk buruh. di lain pihak pekerja akan berusaha meningkatkan upah minimum. Dengan demikian tren hukum perburuhan 2006 akan diarahkan keberpihakannya kepada pelaku bisnis bukan kepada pekerja/buruh semata-mata. Tren Hukum Perburuhan 2006 Di negara-negara berkembang seperti Indonesia yang tahap pembangunannya dilakukan secara konkuren (tahap unifikasi. Tuntutan pemulihan ekonomi dari krisis multidimensional dan tuntutan peningkatan kesejahteraan buruh berjalan bersamaan. 2. Penempatan TKI yang tidak selektif ini akan merupakan akar permasalahan terjadinya penganiayaan. sehingga akan terjadi tarik menarik kepentingan dari kedua belah pihak. pada masa penempatan dan pasca penempatan. Hal ini berarti bahwa buruh dikorbankan demi pertumbuhan ekonomi yang setinggi-tingginya. Pihak pemerintah cenderung untuk memihak para pelaku bisnis karena Pemerintah menghadapi persoalan bagaimana menarik investor domestik/asing dan untuk mengatasi masalah pengangguran. Tidak adanya ketentuan yang melarang kegiatan penempatan TKI secara ilegal serta tidak adanya ketentuan yang melarang pejabat Depnaker. . Hal ini akan menyebabkan terjadinya penempatan TKI yang tidak selektif. Pembebanan tanggung jawab yang sangat berat ini tidak dapat dibebankan kepada perusahaan penempatan TKI yang business-oriented. Perusahan penempatan TKI yang pada dasarnya business-oriented diberi kewenangan untuk merekrut. Tahap industrialisasi yang menekankan pertumbuhan ekkonomi setinggi-tingginya akan mengarahkan hukum perburuhan untuk melindungi pemilik modal. kondisi ini sangat mempengaruhi perkembangan hukum perburuhan. Pengusaha akan berusaha untuk tetap mempertahankan ketentuan yang mengatur Perjanjian Kerja Waktu Tertentu dan outsourcing. Hal ini terjadi karena UU ini belum menciptakan sistem penempatan TKI ke Luar Negeri yang berpihak kepada TKI sebagaimana terurai di bawah ini: 1.

2.000. outsourcing. Kekuatan neoliberalisme juga menuntut pengurangan peran atau keterlibatan negara.2 Perkembangan Hukum ketenagakerjaan di Indonesia Suatu Tinjauan Empiris Kesejahteraan buruh sejak krisis ekonomi tahun 1997 terus memburuk. Hal ini menempatkan posisi buruh tidak sekadar berhadapan dengan pengusaha. Di sektor buruh. para pakar perburuhan melempar argumentasi soal biayaekonomi tinggi yang disebabkan oleh birokrasi. terutama pascajatuhnya Soeharto. dan kemudahan mem-PHK. Sebaliknya. Undang-undang (UU) Ketenagakerjaan (termasuk undang-undang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial) dan draf revisinya yang mengatur soal buruh kontrak. melainkan berhadapan pula dengan kepungan kekuatan neoliberal yang disokong lembaga-lembaga . ketika Bank Dunia menyatakan : "Indonesian workers are overly protected and government should stay out of industrial dispute" . terus menerus menuruti kemauan pasar dan lembaga keuangan internasional (Bank Dunia dan IMF) dalam rangka memperoleh pinjaman luar negeri dan pengembangan investasi. Produk hukum yang dihasilkan lebih merupakan pesanan dari pemegang kekuatan itu dan merupakan paket bantuan dari liberalisasi pasar (legal reform free market assistance) . Kebijakan ini lahir bukan sekadar penyalahgunaan kekuasaan negara terkait dengan korupsi maupun suap atau menempatkan permasalahan bersifat domestik. hegemoni intelektual. Pemiskinan struktural inilah yang merupakan bentuk imperialisme pasar. yakni soal pemiskinan struktural terhadap buruh yang dirancang secara sistematik dan rapi melalui transaksi transaksi imperial ekonomi internasional lewat mesin mesin birokrasi politik. kebijakan buruh murah dan fleksibilitas pasar buruh merupakan dua arus utama politik hukum perburuhan. serta biaya siluman lainnya. angka produktivitas buruh. serta daya beli yang melemah. Hal ini dilihat dari berbagai indikator perburuhan seperti angka pengangguran. pada kenyataannya hukum dikendalikan oleh kekuatan neoliberalisme yang difasilitasi oleh pemerintah sendiri. dilahirkan dari skenario kekuatan ini. Karena beban utang luar negeri yang cukup besar. yakni Rp 390. Negara selalu menuding buruh sebagai biang kemacetan investasi . Ada hal yang lebih berbahaya. pemerintah. Berdasarkan data Direktorat Pengupahan dan Jamsostek Direktorat Jenderal Pembinaan dan Pengawasan Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi.2. Tidak mengherankan. upah ratarata provinsi (UMP) Jawa Timur terendah dibandingkan provinsi lainnya. di era reformasi di Indonesia yang mengagendakan reformasi hukum. Perdebatan ini bila tidak dikelola secara proporsional dikhawatirkan akan memindahkan akar masalah struktural sesungguhnya. Apa sebenarnya persoalan mendasar yang dihadapi buruh di tengah kebijakan politik perburuhan yang terus menerus merugikan mereka? Gelombang pemiskinan struktural terhadap buruh sebenarnya telah dimulai sebelum krisis. serta legitimasi hukum yang propasar. regulasi.

Bab III Penutup 3. Sebaliknya. Kenyataan yang ada pemerintah justru lebih cendrung system hokum yang pluralisme. agak susah kita melihat politik hukum perburuhan yang proburuh dan hak-hak asasi manusia .1 Kesimpulan Dengan demikian. kebijakan buruh murah dan fleksibilitas pasar buruh merupakan dua arus utama politik hukum perburuhan 6. Kemungkinan lain atas kondisi ini adalah DPR dan pemerintah kurang memiliki perhatian. jelas bahwa rencana revisi Undang-Undang Ketenagakerjaan Nomor 13 Tahun 2003 memperlihatkan posisi dan arah kebijakan pemerintah dalam politik hukum perburuhan. serta biaya siluman lainnya. Ketidakjelasan politik hukum juga tampak dari kecenderungan pembangunan hukum dibidang Perburuhan atau Ketenagakerjaan. 3. 4. Dari perspektif buruh. Di sektor buruh.keuangan internasional serta rezim pemerintah yang enggan melepas ketergantungan dari paradigma kekuatan imperialisme pasar tersebut. Dari pembahasan diatas maka dapatlah disimpulkan hal-hal sebagai berikut : 1. Negara selalu menuding buruh sebagai biang kemacetan investasi . Dikatakan pula.dan penulis hatapkan . Apakah mau menuju pada unifikasi yang mengacu pada satu sistem hukum nasional atau malah menuju pluralisme hukum. bahwa politik hukum Indonesia pascareformasi belum jelas arahnya. para pakar perburuhan melempar argumentasi soal biaya ekonomi tinggi yang disebabkan oleh birokrasi. 2. bahwa kondisi seperti ini terjadi karena infrastruktur DPR sebagai pusat pembentukan UU belum kuat dan tak bisa dilepaskan dari kemauan politik pemerintah. Saran semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi yang membacanya . sehingga arah tujuan Undang-undang Ketenagakerjaan tidak akan terlihat. sepanjang tidak ada perubahan paradigma neoliberalisme. regulasi. Seperti yang telah dijelaskan di atas. yakni cenderung menfasilitasi kepentingan pasar bebas dan pertumbuhan ekonomi dengan ukuran capaian investasi tinggi 5.

9/4/2006 Soedarjadi. Hukum Perburuhan di Indonesia. 2008. . Boediono.U. S. Yogyakarta: Pustaka Yustisia.H. Jakarta: Rajawali Pers. M.H...H. Jakarta: Rajawali Pers. S. Abdul Rachmad.penulus harapkan semoga pemerintah tidak membeda-bedakan rakyat hanya dengan Daftar Pustaka Kompas. Hukum Ketenagakerjaan di Indonesia.(Ed). Asikin. S. 1993.H. Dasar-dasar Hukum Perburuhan. dkk. S. Zainal. Revisi UU Perburuhan suatu Delema.

. Semoga materi ini dapat bermanfaat dan menjadi sumbangan pemikiran bagi pihak yang membutuhkan. dorongan dan bimbingan orang tua. membimbing. 2.wr.4 juni 2011 Penulis . Namun penulis menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan materi ini tidak lain berkat bantuan.wb Sabtu . yang mengajar di bidang studi PKn yang telah memberikan tugas. Penulisan makalah adalah merupakan salah satu tugas dan persyaratan untuk menyelesaikan tugas mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan (PKn) di SMK Farmasi ibnu’Aqil Dalam penyusunan tugas atau materi ini. Wassalam. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini. bahwa penulis telah menyelesaikan tugas mata pelajaran mulok PKn yang membahas tentang jaminan hidup warga negara dalam pekerjaan. Orang tua yang telah turut membantu. bapak guru Jar Widiansyah. petunjuk. Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada : 1. sehingga kendala-kendala yang penulis hadapi teratasi. Amiin. dan mengatasi berbagai kesulitan sehingga tugas ini selesai. tidak sedikit hambatan yang penulis hadapi. khususnya bagi penulis sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai. Dalam Penulisan makalah ini penulis merasa masih banyak kekurangan-kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi.KATA PEGANTAR Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT. kepada penulis sehingga penulis termotivasi dan menyelesaikan tugas ini. mengingat akan kemampuan yang dimiliki penulis.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful