Jaminan hidup warga negara didalam pekerjaan

nama anggota :

Fitria Nuryanti Kalih Pebriyanti Santi Syaftiani Siti Robiah Winda Widianingsih

SMK FARMASI IBNU'AQIL

....... ..... .......................................................................... ....2rumusan masalah 1.......... ...............1kesimpulan 1................1Pembahasan Bab III penutup 1.4hipotesis Bab II pembahasan 1..............2saran 1..............................daftar isi kata pengantar daftar isi Bab I pendahuluan 1. .................... ..............3tujuan 1................... ..1latar belakang 1.......... ............. ..3daftar pustaka ...... ..

1 Latar Belakang Peraturan perundang-undangan yang mengatur masalah tenaga kerja selalu berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. bahkan tidak memiliki keahlian sama sekali. Kondisi demikian apabila tidak diantisipasi dapat mengganggu jalannya perusahaan. wadah ini merupakan kekuatan yang dapat menimbulkan keberanian untuk menentang kebijakan pengusaha yang melanggar peraturan yang berlaku.21 tahun 2000.Bab. Proses itu tidak bias dihindarkan semakin banyaknya penggunaan tenaga kerja mengakibatkan timbulnya peerselisihan sehingga kadang-kadang hubungan kerja tidak harmonis. Dalam konteks industri. Pekerja ingin mendapatkan pekerjaan yang ringan dengan hasil yang banyak. . yang disebabkan oleh adanya kepentingan dan motivasi berbeda. Calon tenaga kerja tersebut dapat dikatakan sebagai pengangguran dalam pengertian belum mendapatkan pekerjaan di dalam maupun di luar negeri dengan tujuan untuk meningkatkan taraf hidupnya. lebih-lebih pekerja dengan telah bergabung dalam suatu wadah organisasi serikat pekerja yang memang keberadaannya diatur di dalam Undang-Undang No. Atas dasar tersebut pemerintah mengeluarkan berbagai aturan dan kebijaksanaan untuk memberikan perlindungan dan kesempatan kepada mereka. Salah satu hal yang mempengaruhinya adalah meningkatnya perdagangan dan industri yang tumbuh di dalam masyarakat. Untuk mengetahui lebih lanjut masalah ketenagakerjaan dapat dilihat sebelum terjadi hubungan kerja. Oleh karena itu. artinya seseorang akan mencari pekerjaan atau calon tenaga kerja. benturan dan gesekan dalam pelaksanaan proses produksi antara pekerja/ buruh dengan pengusaha.1 Pendahuluan 1. proses produksi yang makin maju dan berkembang tentunya perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja yang terampil maupun kurang terampil. Adapun aksi suatu tuntutan dapat berupa unjuk rasa mogok kerja. Para pekerja yang semula bekerja di sector pertanian kemudian mulai bergeser ke sector industri yang tumbuh secara pesat dengan berdirinya berbagai perusahaan-perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja. Penyediaan lapangan pekerjaan merupakan salah satu kewajiban pemerintah sesuai yang diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar 1945 pasal 27 ayat 2 yang menyatakan bahwa setiap warga Negara berhak atas pekerjaan dan kehidupan yang layak. sedang pengusaha ingin memberikan upah sedikit dan berharap produktivitas yang tinggi dan memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya. dalam rangka mengantisipasi kepentingan yang berbeda yang dapat menimbulkan konflik maka perlu suatu aturan baku yang mengatur agar mereka dapat menahan diri dan menyelesaikan permasalahan.

Untuk mengetahui sejarah hukum ketenagakerjaan pada umumnya dan di Indonesia secara khusus. 1. Untuk mengetahui perkembangan hukum ketenagakerjaan di Indonesia dalam tinjauan normatif-empiris.4 hipotesis .Bagaimana perkembangan hukum ketenagakerjaan di Indonesia dalam tinjauan normatifempiris? 1. harus mampu menyediakan peraturan perundang-undangan terkait agar kepentingan para pihak dapat terpenuhi.3 Tujuan Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan yang hendak dicapai dalam makalah ini adalah : penulisan 1. 2. 1.Pemerintah sebagai stabilisator dan dinamisator di bidang ketenagakerjaan.2 Rumusan Masalah Berdasarkan uraian di atas maka yang menjadi fokus penulis adalah : 1.Bagaimana sejarah hukum ketenagakerjaan pada umumnya dan di Indonesia secara khusus? 2. Atas dasar itulah penulis mencoba mengurai perkembangan hukum ketenagakerjaan dalam suatu tinjauan normatif-empiris terkhusus di Indonesia. maka akan terjadi banyak keresahan-keresahan bagi para buruh dan juga para pengusaha nantinya. Pertanyaan yang harus kita jawab sekarang adalah apakah hukum ketenagakerjaan kita telah menjamin keadilan untuk buruh? Karena. apabila tidak menjamin keadilan.

Oleh karena itu dapat dipahami bahwa hukum perburuhan yang melindungi buruh adalah hasil desakan para pembaharu di dalam . Keprihatinan utama yang mendasari lahirnya hukum perburuhan adalah buruknya kondisi kerja di mana buruh anak dan perempuan bekerja. Karena saat berlangsung Revolusi Industri. Mereka menuduh intervensi pemerintah melanggar kebebasan individual dalam melakukan aktifitas ekonomi dan kebebasan menjalin kontrak. kemudian menyusul di Jerman dan Perancis tahun 1840. Undang-undang perlindungan inilah yang menandai berawalnya hukum perburuhan. tambah lagi. Revolusi Industri yang ditandai dengan penemuan mesin uap telah mengubah secara permanen hubungan buruh-majikan. serikat-serikat buruh belum berkembang.1 Sejarah Hukum Ketenagakerjaan 2. Substansi undang-undang pertama ini adalah jaminan perlindungan terhadap kesehatan kerja (health) dan keselamatan kerja (safety). Sebagai contoh. upah yang sangat rendah. dan perumahan yang sangat buruk. teori sosial yang dominan adalah faham liberalisme dengan doktrin laissez-faire. Dalam doktrin ini negara tidak boleh melakukan intervensi ke dalam bidang ekonomi kecuali untuk menjaga keamanan dan ketertiban. kondisi kerja yang berbahaya dan tidak sehat. jam kerja panjang. Di Belanda. terutama Adam Smith. Revolusi Industri menandai munculnya zaman mekanisasi yang tidak dikenal sebelumnya. Karena itulah upaya pemerintah untuk melindungi buruh mendapat perlawanan keras dari kelompok pengusaha dan para intelektual pendukung laissezfaire.1. Konsep negara yang dominan waktu itu adalah Negara Penjaga Malam (the night-watchman-state). anak-anak dan perempuan ikut diterjunkan ke pabrik dalam jumlah massal. Penemuan mesin juga telah mempermudah proses produksi. khususnya di Inggris pada abad ke-19. sedangkan di Belanda sesudah tahun 1870. jumlah buruh yang bekerja di pabrik meningkat. hingga tahun 1825 di Inggris masih berlaku UndangUndang Penggabungan (Combination Acts) yang menganggap ilegal semua aksi kolektif (collective action) untuk tujuan apapun. Sejak penghapusan inilah buruh dapat melakukan konsolidasi dalam serikat-serikat buruh. Undangundang perburuhan pertama muncul di Inggris tahun 1802. Upaya pemerintah untuk memberikan perlindungan pada kesehatan dan keselamatan kerja melalui hukum tidak berjalan dengan mulus. Ciri utama mekanisasi ini adalah: hilangnya industri kecil. Di sisi lain pengusaha juga masih bersikap anti serikat. Pada saat yang sama.1 Sejarah Hukum Ketenagakerjaan di Dunia Secara historis lahirnya hukum ketenagakerjaan terkait erat dengan Revolusi Industri yang terjadi di Eropa. sistem hukum yang ada belum memungkinkan lahirnya serikat buruh. larangan untuk berorganisasi/berserikat (coalitie verbod) baru dihapus pada tahun 1872. terutama di pabrik tenun/ tekstil dan pertambangan yang sangat membahayakan kesehatan dan keselamatan diri mereka.Bab II Pembahasan 2.

Hukum bertindak “tidak sama” kepada masing masing pihak dengan maksud agar terjadi suatu keseimbangan yang sesuai. lokasi. Disini pemerintah lepas tangan dan menyerahkan kepada perusahaan. Secara perlahan.maupun di luar parlemen. tanpa perlindungan asuransi keselamatan kerja. Lain lagi di Amerika. Pembahasan imigrasi terdengar santer di Amerika karena hampir sebagian besar penduduknya adalah imigran. Maka hukum perburuhan memberi hak lebih banyak kepada pihak yang lemah daripada pihak yang kuat. 13 th. Rood berpendapat bahwa undang-undang perlindungan buruh merupakan contoh yang memperlihatkan ciri utama hukum sosial yang didasarkan pada teori ketidakseimbangan kompensasi. dll. Hal ini dipandang sebagai jawaban yang tepat terhadap rasa keadilan umum. tanpa uang pensiun. pemerintah negeri “Melting Pot” ini mengeluarkan peraturan yang ketat bagi buruh yang katanya ‘imigran’. PM Jacques Villepin mengeluarkan CPE. munculnya hukum perlindungan buruh merupakan bukti bahwa secara sosial doktrin laissez-faire mulai ditinggalkan atau setidaknya tidak lagi dapat diterapkan secara mutlak. Pengurus diwajibkan menunjukkan dan menjelaskan pada tiap tenaga kerja baru tentang : . yang selama ini di kesampingkan yang merupakan kelompok lemah.1 Tahun 1970 Tentang Keselamatan Kerja. Penerima kerja sangat tergantung pada pemberi kerja. G. adalah sebagai berikut Maraknya isu – isu buruh saat ini memang sangat panas di beberapa belahan dunia. kulit dan dagingnya dengan mudah dan buruh dianggap produsen bukan konsumen. adalah sebagai berikut. Kesadaran baru ini ditandai dengan munculnya teori sosial yang ingin mengimbangi gagasan di balik doktrin laissez-faire. 2003. Sehingga perusahaan/ pengusaha sewenang-wenang terhadap buruh tersebut. modal. Peraturan ini berisi perijinan pemecatan buruh pada usia dibawah 26 tahun ke bawah. Mulai muncul kesadaran bahwa negara harus intervensi dalam hubungan buruh-majikan. Namun harus diakui bahwa logika yang dianut hukum perburuhan merupakan penyimpangan dari logika hukum mainstream (arus utama). Maka disinilah muncul UU Ketenagakerjaan yang mana UU ini memperjuangkan hak-hak buruh/ pekerja. * Tenaga kerja mempunyai hak untuk dibina sebagaimana termaktub dalam pasal 9 UU No. Tiga negara sudah memperlihatkan. Teori ini bertitiktolak pada pemikiran bahwa antara pemberi kerja dan penerima kerja ada ketidaksamaan kedudukan secara sosial-ekonomis. Ada asumsi bahwa buruh adalah Posisi yang dianggap alat produksi seperti halnya mesin. dll. 1. * Sejarah dibentuknya UU ketenaga kerjaan. 1. Hak-hak buruh/ tenaga kerja atas majikan/ pengusaha. Misalnya. Terjadi lantaran sistem perundang – undangan yang diskriminatif terhadap buruh. Hukum perburuhan memang berawal dari kesadaran akan ketidakseimbangan sosial-ekonomis antara-buruh dan majikan. Akhirnya pemerintah Indonesia pun tidak mau ketinggalan tren dengan revisi UU Ketenagakerjaan No. Di Perancis. Mereka dilihat sebagai ternak yang bisa diambil susu. M. sebagai berikut. Secara jelas bahwa buruh boleh dipecat.

Jaminan Kematian (JKM) Jaminan pesangon. Pengurus diwajibkan menyelenggarakan pembinaan bagi semua tenaga kerja yang berada di bawah pimpinannya. b. Memenuhi dan mentaati semua syarat-syarat keselamatan dan kesehatan kerja yang diwajibkan. * Alat-alat perlindungan diri bagi tenaga kerja yang bersangkutan. * Hak pesangon terhadap buruh sebagaimana termaktub dalam UU No. sebenarnya termasuk program jaminan sosial yang menjadi hak tenaga kerja. Pengurus hanya dapat mempekerjakan tenaga kerja yang bersangkutan setelah ia yakin bahwa tenaga kerja tersebut telah memahami syarat-syarat tersebut di atas. yaitu . Jaminan Pensiun (JP) dan. sebagaimana termaktub dalam UU 40 tahun 2004. Jaminan Kesehatan (JK) 2. Menyatakan keberatan kerja pada pekerjaan dimana syarat kesehatan dan keselamatan kerja serta alat-alat perlindungan diri yang diwajibkan diragukan olehnya kecuali dalam hal-hal khususditentukan lain oleh pegawai pengawas dalam batas-batas yang masih dapat dipertanggung jawabkan. e. 1.* Kondisi-kondisi dan bahaya-bahaya serta yang dapat timbul dalam tempat kerja. Karena itu.13 Tahun 2003.Meminta pada Pengurus agar dilaksanakan semua syarat keselamatan dan kesehatan kerja yang diwajibkan. d. ternyata diatur . * Semua pengamanan dan alat-alat perlindungan yang diharuskan dalam tempat kerja. Memberikan keterangan yang benar bila diminta oleh pegawai pengawas dan atau keselamatan kerja. Jaminan Hari Tua (JHT) 4. pula dalam pemberian pertolongan pertama pada kecelakaan. dalam pencegahan kecelakaan dan pemberantasan kebakaran serta peningkatan keselamatan dan kesehatan kerja. Pasal 12 Dengan peraturan perundangan diatur kewajiban dan atau hak tenaga kerja untuk: a. 5. Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) 3. Pengurus diwajibkan memenuhi dan mentaati semua syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan yang berlaku bagi usaha dan tempat kerja yang dijalankan. * Hak dan kewajiban tenaga kerja. sebagai mana termaktub dalam pasal 12 UU No 1 Tahun 1970 Tentang Keselamatan Kerja. Memakai alat perlindungan diri yang diwajibkan. atau Jaminan Pemutusan Hubungan Kerja (JPHK). c. 2. * Cara-cara dan sikap yang aman dalam melaksanakan pekerjaannya. mestinya dimasukkan dalam penyelenggaraan program jaminan sosial lainnya.

13 Tahun 2003 tentang Tenaga Kerja. 174. Perubahan itu hedaklah secara mendasar. yang nota bene belum diberikan kepada sebagian besar tenaga kerja kita. Maka selayaknya memperoleh perhatian dari pemerintah tentang formulasi UU ketenaga kerjaan. Pembinaan sebagaimana di maksud dalam ayat (1). organisasi pengusaha. Pasal 173 1. Tetap menjamin hak – hak tenaga kerja.13 Tahun 2003.tersendiri dalam UU No. Pembinaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). tidak ada jalan lain. dan 175 UU No. sebagai berikut. * Buruh atau tenaga kerja mendapatkan hak pesangon sebagaimana termaktub dalam pasal 173. sehingga beban iuran . Pasal 174 Dalam rangka pembinaan ketenagakerjaan. Pemerintah melakukan pembinaan terhadap unsur-unsur dan kegiatan yang berhubungan dengan ketenagakerjaan. tenaga kerja akan memiliki program jaminan sosial sesuai UU 40/2004. 2. single – provider dan (mestinya) diintegrasikan dengan program jaminan sosial lainnya. dan ayat (2). 2. Penghargaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat diberikan dalam bentuk piagam. selain mengintegrasikan jaminan pesangon (JPHK) dengan program Jamian Sosial lainnya. agar ada integrasi. sesuai dengan UU No 13 Tahun 2004. perobahan yang dilakukan tidak boleh merugikan hak tenaga kerja. beban itu akan lebih ringan. khususnya besaran pesangonnya. pemerintah. dilaksanakan secara terpadu dan terkoordinasi. dan organisasi profesi terkait 3. antara lain adalah: 1. serikat pekerja/serikat buruh dan organisasi profesi terkait dapat melakukan kerjasama internasional dibidang ketenagakerjaan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku Pasal 175 1. tidak sepotong – potong. Dengan memperhatikan perundangan yang sudah ada. serikat pekerja/serikat buruh. dapat mengikut sertakan organisasi pengusaha. 2. hal ini diperlukan. Dengan pendekatan seperti itu. sesuai dengan best – practice yang lazim. dan/atau bentuk lainnya. sementara bagi pemberi kerja. Karena itu. dimana hak – hak tenaga kerja telah ditentukan. antara lain sifat not for profit. uang. Diselenggarakan melalui prinsip – prinsip program Jamiman Sosial. Pemerintah dapat memberikan penghargaan kepada orang atau lembaga yang telah berjasa dalam pembinaan ketenagakerjaan.

ksatria. dan hikmah bagi semua orang gotong royong ini nantinya menjadi sumber terbentuknya hokum ketanaga kerjaan adat . Ketika bangsa Indonesia ini mulai ada sudah dikenal adanya system gotong royong . Sehingga Dalam hukum perburuhan ada peraturan yang mengatur hubungan antara para majikan dan buruh agar majikan tidak bertindak sewenang-wenang terhadap buruh. Setelah memasuki abad masehi . Sifat gotong royong ini memiliki nilai luhur dan diyakini membawa kemaslahatan karena berintikan kebaikan . pada masa ini kaum bangsawan (raden ) memiliki hak penuh atas para tukang nya . efisiensi dan kelangsungan program itu. Dengan demikian kelangusungan hidupnya lebih terjamin. Dalam hubungan kerja terdapat hak dan kewajiban majikan dan buruh. ketika sudah mulai berdiri suatu kerajaan di Indonesia hubungan kerja berdasarkan perbudakan . antara anggota masyarakat . . Baik sosiologis maupun yuridis dan ekonomis. Sehingga akan tercipta hubungan yang serasi antara majikan dan buruh. 3. sudra. nilai-nilai keislaman tidak dapat dilaksanakan sepenuhnya karena terhalang oleh dinding budaya bangsa yang sudah berlaku 6 abad –abad sebelumnya Pada saat masa pendudukan hindia belanda di Indonesia kasus perbudakan semakin meningkat perlakuan terhadap budak sangat keji & tidak berperikemanusiaan . 2. Dimana walaupun peraturannya tidak secara tertulis . kebijakan. pada masa sibuk dengan tidak mengenal suatu balas jasa dalam bentuk materi . adil dan merata. demi manfaat.akan lebih besar. dan waisya mereka hanya menjalankan kewajiban sedangkan hak-haknya dikuasai oleh para majikan Sama halnya dengan islam walaupun tidak secara tegas adanya system pengangkatan namun sebenarnya sama saja . antara lain : brahmana. namun hukum ketenagakerjaan adat ini merupakan identitas bangsa yang mencerminkan kepribadian bangsa Indonesia dan merupakan penjelmaan dari jiwa bangsa Indonesia dari abad ke abad. Adanya pikiran – pikiran untuk membuka peluang multi – providers. waisya. sehingga menjamin penyelenggaraan program jaminan sosial yang terintegrasi dan komprehensif.2 Sejarah Hukum Ketenagakerjaan di Indonesia Asal mula adanya Hukum Ketenagakerjaan di Indonesia terdiri dari beberapa fase jika kita lihat pada abad 120 SM . apabila semua itu diintergrasikan pendekatannya.1. apalagi membuka peluang perusahaan asuransi swasta untuk terlibat. Dimana gotong royong merupakan suatu system pengerahan tenaga kerja tambahan dari luar kalangan keluarga yang dimaksudkan untuk mengisi kekurangan tenaga. dimana kasta sudra merupakan kasta paling rendah golongan sudra & paria ini menjadi budak dari kasta brahmana . ksatria . dan paria . Terkait dengan masa transisi UU No 40 Tahun 2004. Satu-satunya penyelesaiannya adalah mendudukan para budak pada kedudukan manusia merdeka. selayaknya ditinggalkan . akan sangat ideal. seperi saat jaman kerajaan hindia belanda pada zaman ini terdapat suatu system pengkastaan .

Rodi merupakan kerja paksa yang dilakukan oleh rakyat untuk kepentingan pihak penguasa atau pihak lain dengan tanpa pemberian upah. dilakukan diluar batas perikemanusiaan. sedangkan bila meninggalkannya maka ia kehilangan hak atas kebun tersebut. serta kepentingan umum seperti pembuatan dan pemeliharaan jalan. Selain perbudakan dikenal juga istilah perhambaan dan peruluran. rodi dan poenale sanksi. Perhambaan terjadi bila seseorang penerima gadai menyerahkan dirinya sendiri atau orang lain yang ia kuasai. Selama mengerjakan kebun/ladang tersebut ia dianggap sebagai pemiliknya. Kemudian tahun 1818 di tetapkan pada suatu UUD HB (regeling reglement) 1818 berdasarkan pasal 115 RR menetapkan bahwa paling lambat pada tanggal 1-06-1960 perbudakan dihapuskan Selain kasus Hindia Belanda mengenai perbudakan yang keji dikenal juga istilah rodi yang pada dasarnya sama saja . para pembesar. Pemberi gadai mendapatkan hak untuk meminta dari orang yang digadaikan agar melakukan pekerjaan untuk dirinya sampai uang pinjamannya lunas. ia hanya memiliki kewajiban untuk melakukan pekerjaan yang diperintahkan oleh tuannya. Pekerjaan yang dilakukan bukan untuk mencicil utang pokok tapi untuk kepentingan pembayaran bunga. pengusaha yang mempunyai ekonomi kuat membutuhkan orang yang dapat mengabdi kepadanya. 42 yang berisikan larangan untuk memasukan budak-budak ke pulau jawa . atas pemberian pinjaman sejumlah uang kepada seseorang pemberi gadai.Tindakan Belanda dalam mengatasi kasus perbudakan ini dengan mengeluarkan staatblad 1817 no. Perbudakan ialah suatu peristiwa dimana seseorang yang disebut budak melakukan pekerjaan di bawah pimpinan orang lain. Periode sebelum kemerdekaan diwarnai dengan masa-masa yang suram bagi riwayat Hukum Perburuhan yakni zaman perbudakan. Rodi adalah kerja paksa mula-mula merupakan gotong royong oleh semua penduduk suatu desa-desa suku tertentu . jembatan dan sebagainya. sementara penduduk miskin yang tidak berkemampuan secara ekonomis saat itu cukup banyak yang disebabkan rendahnya kualitas sumber daya manusia. Gambaran di atas menunjukkan bahwa riwayat timbulnya hubungan perburuhan itu dimulai dari peristiwa pahit yakni penindasan dan perlakuan di luar batas kemanusiaan yang dilakukan . Pelururan adalah keterikatan seseorang untuk menanam tanaman tertentu pada kebun/ladang dan harus dijual hasilnya kepada Kompeni. dan inilah yang mendorong perbudakan tumbuh subur. Namun hal tersebut di manfaatkan oleh penjajah menjadi suatu kerja paksa untuk kepentingan pemerintah Hindia Belanda dan pembesar-pembesarnya. Para budak tidak mempunyai hak apapun termasuk hak atas kehidupannya. Selain itu ada juga namanya Romusha yang pernah diterapkan oleh penjajah Jepang selama 3 tahun 3 bulan di Indonesia. Terjadinya perbudakan pada waktu itu disebabkan karena para raja. Pada kerajaan-kerajaan di Jawa rodi dilakukan untuk kepentingan raja dan anggota keluarganya.

Dalam hukum perburuhan dikenal adanya Pancakrida Hukum Perburuhan yang merupakan perjuangan yang harus dicapai yakni: a. karena itu pihak majikan/pengusaha cenderung tidak konsekuen melaksanakan ketentuan perburuhan karena dirinya berada pada pihak yang memberi pekerjaan/bermodal. e. perhambaan. b. Memberikan posisi yang seimbang antara buruh/pekerja dan pengusaha. Krida kesatu sampai dengan krida ketiga secara yuridis sudah lenyap bersamaan dengan dicetuskannya proklamasih kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945. Periode sesudah Proklamasi Kemerdekaan Untuk mencapai krida keempat yaitu membebaskan buruh/pekerja dari takut kehilangan pekerjaan. d.2 Perkembangan Hukum Ketenagakerjaan di Indonesia Suatu Tinjauan Normatif –Empiris . b. Penegakan hukum (law enforcement) Penegakan hukum sangat penting dalam rangka menjamin tercapainya kemanfaatan (doelmatigheid) dari aturan itu. c. tanpa penegakan hukum yang tegas maka aturan normatif tersebut tidak akan berarti. Para budak/pekerja tidak diberikan hak apapun yang ia miliki hanyalah kewajiban untuk mentaati perintah dari majikan atau tuannya. maupun krida kelima memberi posisi yang seimbang antara buruh/pekerja dan pengusaha ada beberapa hal yang perlu mendapatkan perhatian. Pemberdayaan serikat buruh/pekerja khusunya ditingkat unit/perusahaan khususnya dengan memberikan pemahaman terhadap aturan perburuhan/ketenagakerjaan yang ada karena organisasi pekerja ini terletak digaris depan yang membuat Kesepakatan Kerja Bersama dengan pihak perusahaan. karena itu tidak ada pilihan lain untuk meningkatkan “bergaining positionnya” kecuali dengan memperkuat organisasi burh/pekerja. c. Pembebasan manusia Indonesia dari rodi atau kerja paksa. lebih-lebih dalam bidang perburuhan/ketenagakerjaan yang didalamnya terdiri dari dua subyek hukum yang berbeda secara sosial ekonomi. yaitu: a. Nasib para budak/pekerja hanya dijadikan barang atau obyek yang kehilangan hak kodratinya sebagai manusia. Pemberdayaan pekerja dan pengusaha Pekerja perlu diberdayakan sehingga mengetahui hak dan kewajibannya sesuai dengan ketentuan hukum termasuk penyadaran pekerja sebagai sarana memperjuangkan hak dan kepentingannya.oleh orang maupun penguasa pada saat itu. Pembebasan buruh/pekerja Indonesia dari ketakutan kehilangan pekerjaan. Pembebasan buruh/pekerja Indonesia dari poenale sanksi. Membebaskan manusia indonesia dari perbudakan. 2.

Pasal-pasal yang inkonsisten tersebut antara lain sebagai berikut: 1. outsourcing pekerja menjadi menjamur. misalnya masalah inkonsistensi antara pasal yang satu dengan pasal yang lain sehingga menimbulkan ketidakpastian hukum. Hal ini menunjukkan bahwa perkembangan hukum perburuhan yang mengatur keserikatburuhan mempunyai nilai positif. Undang-Undang Nomor 2 tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial. buruh diberikan kesempatan untuk berpartisipasi dalam menentukan syarat-syarat kerja dan kondisi kerjanya. Bahkan apabila ketentuan terakhir ini dilanggar. Hal ini disebabkan pengusaha dalam rangka efisiensi merasa aman jika buruh yang dioutsource adalah buruhnya perusahaan jasa pekerja.1 Perkembangan Hukum Ketenagakerjaan di Indonesia Suatu Tinjauan Normatif Perkembangan hukum perburuhan ditandai oleh lahirnya 4 undang-undang yaitu: 1. Sejak diundangkannya UU No.13/2003 ini yang melarang Perjanjian Kerja Waktu Tertentu untuk pekerjaan yang bersifat tetap.87 namun UU No. Selanjutnya UU No. Meskipun sedikit menyimpang dari konvensi inti ILO No. 13/2003 ini juga mengandung banyak permasalahan. pekerja tidak ada pilihan lain kecuali menerima tawaran itu. Outsourcing. Di lain pihak. 3. ada pasal lain dalam UU No. sekurang-kurangnya 10 orang buruh dapat membentuk serikat buruh di suatu perusahaan. Di satu sisi Perjanjian Kerja Waktu Tertentu dapat dibuat berdasarkan jangka waktu yang berarti tidak mempersoalkan apakah pekerjaan itu bersifat tetap atau tidak. Undang-Undang Nomor 21 tahun 2000 tentang Serikat Pekerja/Serikat Buruh.13/2003.21/2000 ini mendorong berjalannya demokratisasi di tempat kerja melalui serikat pekerja/serikat buruh. Perjanjian Kerja Waktu tertentu. 2.2. Dalam situasi demikian. maka perjanjian kerja waktu tertentu tersebut akan berubah secara otomatis menjadi perjanjian kerja waktu tidak tertentu. Undang-Undang Nomor 21 tahun 2000 tentang Serikat Pekerja/Serikat Buruh telah mengubah sistem keserikatburuhan di Indonesia. Hal ini disebabkan menurut menurut UU No. 4. 2. Dengan diundangkannya UU ini maka sistem keserikatburuhan di Indonesia berubah dari single union system menjadi multi union system.25/1997 yang sempat diundangkan namun tidak pernah efektif. Ketidakpastian hukum dalam masalah ini menjadi persoalan yang sering muncul ke permukaan karenapihak pengusaha cenderung untuk mempekerjakan pekerjanya dengan perjanjian kerja waktu tertentu. sedangkan pekerja lebih memilih perjanjian kerja waktu tidak tertentu karena lebih menjamin job security. Undang-Undang Nomor 39 tahun 2004 tentang Perlindungan dan Pembinaan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negri. Undang-Undang Nomor 12 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Kenyataan ini menunjukkan bahwa banyak perusahaan yang memutuskan hubungan kerja terhadap pekerja tetap untuk kemudian direkrut kembali dengan perjanjian kerja waktu tertentu (kontrak). UU No.2. Sehingga yang bertanggung jawab terhadap buruh outsource tadi adalah perusahaan jasa pekerja. Perusahaan-perusahaan ini merasa diback up oleh pasal 6 ayat 2 a yang menyatakan bahwa antara perusahaan jasa pekerja .21/2000. 13/2003 tentang Ketenagakerjaan sebagai pengganti UU No.

UU ini berparadigma konflik karena hanya memberikan kesempatan kepada pihak-pihak yang ingin memenangkan perkara. 2. para pihak yang menyelesaikan perselisihan pemutusan hubungan kerja atau perselisihan hak tidak dapat menyelesaikannya melalui arbitrase. perselisihan kepentingan. dan perintah hanya ada dalam hubungannya dengan perusahaan pengguna bukan dengan perusahaan jasa pekerja. Pihakpihak yang ingin memenangkan perkara jalurnya adalah pengadilan. Menurut UU ini. Padahal 99. Kedua pasal ini juga menimbulkan ketidakpastian hukum bagi pengusaha dan buruh apalagi outsourcing pekerja pada saat ini lagi ngetren. sedangkan pihak-pihak yang ingin menyelesaikan persoalan bukan ke pengadilan melainkan ke arbitrase sebagai alternative dispute resolution. Sedangkan kewenangan arbitrase terbatas pada perselisihan kepentingan dan perselisihan antar serikat pekerja. pekerjaan. Hal ini antara lain dapat dikemukakan hal-hal sebagai berikut: 1. Menurut UU ini. perselisihan pemutusan hubungan hubungan kerja dan perselisihan antar serikat pekerja. Dengan dicabutnya pasal 158 tentang Kesalahan Terberat untuk kasus pemutusan hubungan kerja sebagaimana tercantum dalam UU No. Di lain pihak. Dengan demikian 99. 6 ayat 2 a UU No. Hal ini berarti bahwa melalui pasa. 9 % perselisihan perburuhan adalah perselisihan pemutusan hubungan kerja dan perselisihan hak. pengadilan hubunganindustrial diberi kewenangan untukmenyelesaikan semua jenis perselisihan hubungan industrial sebagaimana dimaksudkan oleh UU ini yaitu: perselisihan hak.2/2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Industrial meskipun sampai saat ini masih belum diberlakukan namun melalui kajian yuridis-normatif dapat dikemukakan bahwa UU No.9 % dari ribuan kasus perburuhan akan diselesaikan melalui jalur pengadailan hubungan industrial dan akan bermuara di Mahkamah Agung. Suatu pelanggaran hak asasi manusia. Hal ini disebabkan pengadilan hubungan . sedangkan pihak-pihak yang ingin menyelesaikan persoalan tidak diberi keleluasaan dalam menggunakan mekanisme yang ditawarkan oleh UU ini.13/2003 Pemerintah melagalkan bukan sekedar perbudakan modern melainkan juga termasuk human-trafficking.harus ada hubungan kerja dengan buruh yang ditempatkan pada perusahaan pengguna. Hal ini tercermin dari perbedaan kewenangan pengadilan hubungan industrial dibandingkan dengan kewenangan arbitrase. Kemudian UU No. Hal ini disebabkan unsur adanya upah.2/2004 masih mengandung banyak kelemahan yang mengakibatkan proses Penyelesaian Perselisihan Industrial yang lama dan ini berarti mahal.13/2003 juga akan memperlama proses penyelesaian perselisihan pemutusan hubungan kerja. Timbul pertanyaan di sini apakah pengadilan hubungan industrial dapat menyelesaikan kasus perburuhan yang jumlahnya ribuan itu dalam waktu 50 hari untuk setiap kasusnya? Pertanyaa serupa juga dapat dikemukakan disini kepada Mahkamah Agung yang diberi waktu selama 30 hari untuk menyelesaikan setiap kasusnya. Dengan demikian harapan terselesaikannya kasus perburuhan dalam waktu 140 hari melalui mekanisme yang ditawarkan UU ini akan jauh dari kenyataan. Mereka harus menempuh jalur pengadilan hubungan industrial. pihak buruh yang dioutsource juga merasa diback up oleh pasal 1 butir 15 yang menyatakan bahwa hubungan kerjanya bukan dengan perusahaan jasa pekerja melainkan dengan perusahaan pengguna. Banyak perusahaan memutuskan hubungan kerjanya dengan buruhnya untuk selanjutnya direkrut kembali melalui perusahaan jasa pekerja (outsourcing pekerja).

pelecehan seksual. tahap industrialiasi dan tahap kesejahteraan berlangsung secara bersamaan). Akhirnya UU No. di lain pihak pekerja akan berusaha meningkatkan upah minimum. bukan sebagai manusia dengan segala harkat dan martabatnya. Hal ini akan menyebabkan terjadinya penempatan TKI yang tidak selektif. penggelapan atau penganiayaan setelah kasus tersebut mendapatkan keputusan yang mengingat dari pengadilan pidana. Tidak adanya ketentuan yang melarang kegiatan penempatan TKI secara ilegal serta tidak adanya ketentuan yang melarang pejabat Depnaker. Pihak pemerintah cenderung untuk memihak para pelaku bisnis karena Pemerintah menghadapi persoalan bagaimana menarik investor domestik/asing dan untuk mengatasi masalah pengangguran. Tahap industrialisasi yang menekankan pertumbuhan ekkonomi setinggi-tingginya akan mengarahkan hukum perburuhan untuk melindungi pemilik modal. . sehingga akan terjadi tarik menarik kepentingan dari kedua belah pihak. tidak dibayar upahnya.39/2004 tentang Pembinaan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di luar negeri juga masih memposisikan TKI sebagai ekspor komoditi. Perusahan penempatan TKI yang pada dasarnya business-oriented diberi kewenangan untuk merekrut. deplu dan Depkumham termasuk saudarasaudaranya yang menurut garis keturunan menyamping atau kebawah akan menimbulkan persoalan TKI sebagaimana tersebut di atas. pemerasan dan lain-lain akan merupakan persoalan laten yang akan berulang kembali pada masa mendatang. Dengan demikian tren hukum perburuhan 2006 akan diarahkan keberpihakannya kepada pelaku bisnis bukan kepada pekerja/buruh semata-mata. 2. melindungi TKI selama masa pra penempatan. Hal ini berarti bahwa buruh dikorbankan demi pertumbuhan ekonomi yang setinggi-tingginya. pada masa penempatan dan pasca penempatan. kondisi ini sangat mempengaruhi perkembangan hukum perburuhan. Tren Hukum Perburuhan 2006 Di negara-negara berkembang seperti Indonesia yang tahap pembangunannya dilakukan secara konkuren (tahap unifikasi. menampung. Pembebanan tanggung jawab yang sangat berat ini tidak dapat dibebankan kepada perusahaan penempatan TKI yang business-oriented. Pengusaha akan berusaha menekan besarnya upah minimum.industrial baru dapat memproses kasus tersebut terutama dengan alasan pencurian. Tuntutan pemulihan ekonomi dari krisis multidimensional dan tuntutan peningkatan kesejahteraan buruh berjalan bersamaan. Di lain pihak pada tahap kesejahteraan fokus pembangunan adalah untuk memperhatikan kesejahteraan masyarakat termasuk buruh. Hal ini terjadi karena UU ini belum menciptakan sistem penempatan TKI ke Luar Negeri yang berpihak kepada TKI sebagaimana terurai di bawah ini: 1. Kondisi ini akan mempengaruhi perkembangan hukum perburuhan. Penempatan TKI yang tidak selektif ini akan merupakan akar permasalahan terjadinya penganiayaan. Pengusaha akan berusaha untuk tetap mempertahankan ketentuan yang mengatur Perjanjian Kerja Waktu Tertentu dan outsourcing. di lain pihak buruh akan berusaha agar ketentuan Perjanjian Kerja Waktu tertentu dan outsourcing dihapuskan. penipuan. melatih dan sekaligus menempatkan TKI.

pada kenyataannya hukum dikendalikan oleh kekuatan neoliberalisme yang difasilitasi oleh pemerintah sendiri. melainkan berhadapan pula dengan kepungan kekuatan neoliberal yang disokong lembaga-lembaga . ketika Bank Dunia menyatakan : "Indonesian workers are overly protected and government should stay out of industrial dispute" . Negara selalu menuding buruh sebagai biang kemacetan investasi . serta biaya siluman lainnya.2. regulasi. Kekuatan neoliberalisme juga menuntut pengurangan peran atau keterlibatan negara. outsourcing. Pemiskinan struktural inilah yang merupakan bentuk imperialisme pasar. Kebijakan ini lahir bukan sekadar penyalahgunaan kekuasaan negara terkait dengan korupsi maupun suap atau menempatkan permasalahan bersifat domestik.2. Berdasarkan data Direktorat Pengupahan dan Jamsostek Direktorat Jenderal Pembinaan dan Pengawasan Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi.2 Perkembangan Hukum ketenagakerjaan di Indonesia Suatu Tinjauan Empiris Kesejahteraan buruh sejak krisis ekonomi tahun 1997 terus memburuk. Karena beban utang luar negeri yang cukup besar. Hal ini dilihat dari berbagai indikator perburuhan seperti angka pengangguran. hegemoni intelektual. Produk hukum yang dihasilkan lebih merupakan pesanan dari pemegang kekuatan itu dan merupakan paket bantuan dari liberalisasi pasar (legal reform free market assistance) . Di sektor buruh. pemerintah. serta daya beli yang melemah. terutama pascajatuhnya Soeharto.000. dilahirkan dari skenario kekuatan ini. Apa sebenarnya persoalan mendasar yang dihadapi buruh di tengah kebijakan politik perburuhan yang terus menerus merugikan mereka? Gelombang pemiskinan struktural terhadap buruh sebenarnya telah dimulai sebelum krisis. yakni soal pemiskinan struktural terhadap buruh yang dirancang secara sistematik dan rapi melalui transaksi transaksi imperial ekonomi internasional lewat mesin mesin birokrasi politik. angka produktivitas buruh. di era reformasi di Indonesia yang mengagendakan reformasi hukum. kebijakan buruh murah dan fleksibilitas pasar buruh merupakan dua arus utama politik hukum perburuhan. Ada hal yang lebih berbahaya. Tidak mengherankan. terus menerus menuruti kemauan pasar dan lembaga keuangan internasional (Bank Dunia dan IMF) dalam rangka memperoleh pinjaman luar negeri dan pengembangan investasi. upah ratarata provinsi (UMP) Jawa Timur terendah dibandingkan provinsi lainnya. Hal ini menempatkan posisi buruh tidak sekadar berhadapan dengan pengusaha. para pakar perburuhan melempar argumentasi soal biayaekonomi tinggi yang disebabkan oleh birokrasi. Sebaliknya. Undang-undang (UU) Ketenagakerjaan (termasuk undang-undang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial) dan draf revisinya yang mengatur soal buruh kontrak. Perdebatan ini bila tidak dikelola secara proporsional dikhawatirkan akan memindahkan akar masalah struktural sesungguhnya. yakni Rp 390. dan kemudahan mem-PHK. serta legitimasi hukum yang propasar.

kebijakan buruh murah dan fleksibilitas pasar buruh merupakan dua arus utama politik hukum perburuhan 6. Saran semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi yang membacanya . Dikatakan pula. bahwa kondisi seperti ini terjadi karena infrastruktur DPR sebagai pusat pembentukan UU belum kuat dan tak bisa dilepaskan dari kemauan politik pemerintah. sehingga arah tujuan Undang-undang Ketenagakerjaan tidak akan terlihat. jelas bahwa rencana revisi Undang-Undang Ketenagakerjaan Nomor 13 Tahun 2003 memperlihatkan posisi dan arah kebijakan pemerintah dalam politik hukum perburuhan. Dari perspektif buruh. bahwa politik hukum Indonesia pascareformasi belum jelas arahnya. 2. 4. Apakah mau menuju pada unifikasi yang mengacu pada satu sistem hukum nasional atau malah menuju pluralisme hukum. regulasi. Sebaliknya. Kemungkinan lain atas kondisi ini adalah DPR dan pemerintah kurang memiliki perhatian. para pakar perburuhan melempar argumentasi soal biaya ekonomi tinggi yang disebabkan oleh birokrasi. agak susah kita melihat politik hukum perburuhan yang proburuh dan hak-hak asasi manusia . sepanjang tidak ada perubahan paradigma neoliberalisme. serta biaya siluman lainnya. Negara selalu menuding buruh sebagai biang kemacetan investasi .keuangan internasional serta rezim pemerintah yang enggan melepas ketergantungan dari paradigma kekuatan imperialisme pasar tersebut. 3. Seperti yang telah dijelaskan di atas. Dari pembahasan diatas maka dapatlah disimpulkan hal-hal sebagai berikut : 1. yakni cenderung menfasilitasi kepentingan pasar bebas dan pertumbuhan ekonomi dengan ukuran capaian investasi tinggi 5. Bab III Penutup 3. Ketidakjelasan politik hukum juga tampak dari kecenderungan pembangunan hukum dibidang Perburuhan atau Ketenagakerjaan. Di sektor buruh.dan penulis hatapkan . Kenyataan yang ada pemerintah justru lebih cendrung system hokum yang pluralisme.1 Kesimpulan Dengan demikian.

H.H. S.H. Revisi UU Perburuhan suatu Delema. S. Hukum Perburuhan di Indonesia. S. Asikin.H. Dasar-dasar Hukum Perburuhan. Jakarta: Rajawali Pers. Jakarta: Rajawali Pers. Abdul Rachmad... 9/4/2006 Soedarjadi. 1993. dkk.(Ed). S. Zainal. M. Yogyakarta: Pustaka Yustisia. Boediono. . Hukum Ketenagakerjaan di Indonesia. 2008.U.penulus harapkan semoga pemerintah tidak membeda-bedakan rakyat hanya dengan Daftar Pustaka Kompas.

Orang tua yang telah turut membantu. Semoga materi ini dapat bermanfaat dan menjadi sumbangan pemikiran bagi pihak yang membutuhkan. petunjuk. bapak guru Jar Widiansyah. Namun penulis menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan materi ini tidak lain berkat bantuan. tidak sedikit hambatan yang penulis hadapi. kepada penulis sehingga penulis termotivasi dan menyelesaikan tugas ini. 2. sehingga kendala-kendala yang penulis hadapi teratasi. . membimbing.wr.KATA PEGANTAR Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT. dan mengatasi berbagai kesulitan sehingga tugas ini selesai. Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada : 1. Dalam Penulisan makalah ini penulis merasa masih banyak kekurangan-kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi. khususnya bagi penulis sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai. mengingat akan kemampuan yang dimiliki penulis. dorongan dan bimbingan orang tua.4 juni 2011 Penulis . yang mengajar di bidang studi PKn yang telah memberikan tugas.wb Sabtu . Amiin. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini. bahwa penulis telah menyelesaikan tugas mata pelajaran mulok PKn yang membahas tentang jaminan hidup warga negara dalam pekerjaan. Wassalam. Penulisan makalah adalah merupakan salah satu tugas dan persyaratan untuk menyelesaikan tugas mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan (PKn) di SMK Farmasi ibnu’Aqil Dalam penyusunan tugas atau materi ini.