P. 1
contoh skripsi

contoh skripsi

|Views: 18,491|Likes:
Published by Papap Meti

More info:

Published by: Papap Meti on Jun 19, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/24/2014

pdf

text

original

Kualitas lingkungan berhubungan erat dengan kualitas hidup. Semakin

baik kualitas lingkungan hidup maka semakin baik pula pengaruhnya bagi

kehidupan manusia. Dijelaskan pada bagian umum 1 penjelasan Undang-Undang

tentang pengelolaan lingkungan hidup berikut ini:

Lingkungan hidup Indonesia yang dianugerahkan Tuhan Yang Maha Esa

kepada rakyat dan bangsa Indonesia merupakan karunia dan rahmat-Nya

yang wajib dilestarikan dan dikembangkan kemampuannya agar dapat

tetap menjadi sumber dan penunjang hidup bagi rakyat dan bangsa

Indonesia serta makhluk hidup lainnya demi kelangsungan dan

peningkatan kualitas hidup itu sendiri. (Undang-Undang No. 23 Tahun

1997, 2006: 31)

Pengertian lingkungan hidup merujuk pada pasal 1 ayat 1 Undang-

Undang No. 23 Tahun 1997 tentang pengelolaan lingkungan hidup (2006: 3) yaitu

³Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan,

dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi

kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup

lain.´ Berdasarkan pengertian tersebut lingkungan hidup bukanlah sekedar

lingkungan biotik atau makhluk hidup yang hadir di sekitar manusia seperti flora

dan fauna, akan tetapi semua benda fisik, dan juga makhluk hidup termasuk

tumbuhan, hewan, dan manusia yang semuanya saling mempengaruhi dan

dipengaruhi demi kelangsungan dan kesejahteraan hidup manusia dan makhluk

hidup itu sendiri.

Komponen lingkungan hidup ialah lingkungan di mana manusia tinggal

yang mencakup lingkungan fisik, lingkungan biologis dan lingkungan sosial.

Hubungan timbal balik antara manusia dengan lingkungannya sering terjadi

masalah, diakibatkan oleh pertumbuhan penduduk dan usaha-usaha manusia untuk

dapat mencukupi kebutuhan mencapai kesejahteraan. Permasalahan lingkungan

hidup yang timbul seperti pencemaran lingkungan, limbah, bahan berbahaya dan

2

beracun, limbah bahan berbahaya dan beracun, pengrusakan lingkungan hidup,

serta sengketa lingkungan hidup. Permasalahan lingkungan hidup yang ada perlu

dicarikan solusi secepatnya. Pentingnya lingkungan hidup yang nyaman bagi

kehidupan manusia, maka perlu adanya pengelolaan lingkungan hidup agar

dicapai hubungan yang selaras dan dinamis bagi manusia dan makhluk hidup

lainnya di lingkungannya.

Tanggung jawab akan pengelolaan lingkungan hidup merupakan

tanggung jawab semua pihak secara bersama-sama seperti dijelaskan pada pasal 9

ayat 2 bahwa:

Pengelolaan lingkungan hidup dilaksanakan secara terpadu oleh instansi

pemerintah sesuai dengan tugas dan tanggung jawab masing-masing,

masyarakat, serta pelaku pembangunan lain dengan memperhatikan

keterpaduan perencanaan dan pelaksanaan kebijaksanaan nasional

pengelolaan lingkungan hidup. (Undang-Undang No. 23 Tahun 1997,

2006: 10)

Dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan

Nasional (2003: 3) istilah siswa sebagai peserta didik disebutkan pada pasal 1 ayat

4 ³Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan

potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang dan

jenis pendidikan tertentu´.

Siswa merupakan anggota masyarakat yang kewajiban utamanya adalah

belajar, jika dihubungkan dengan penelitian ini siswa sebagai anggota masyarakat

mempunyai hak, kewajiban dan peran yang sama terhadap pengelolaan

lingkungan hidup. Pada pasal 5 ayat 1 Undang-Undang No. 23 Tahun 1997

tentang pengelolaan lingkungan hidup (2006: 7) dijelaskan ³Setiap orang

mempunyai hak yang sama atas lingkungan hidup yang baik dan sehat´.

Berdasarkan pernyataan tersebut dapat dijelaskan setiap orang tidak dibedakan

usia dan kelas sosial, mempunyai hak untuk mendapatkan lingkungan hidup yang

baik dan sehat, termasuk juga siswa atau peserta didik, sedangkan kewajiban atas

lingkungan tercantum dalam pasal 6 ayat 1, ³Setiap orang berkewajiban

memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup serta mencegah dan

menanggulangi pencemaran dan pengrusakan lingkungan hidup´ (Undang-

3

Undang No. 23 Tahun 1997, 2006: 8). Siswa juga memiliki kewajiban dalam

memelihara kelestarian lingkungan hidup dan mencegah kerusakan lingkungan

hidup.

Siswa sebagai anggota masyarakat mempunyai kesempatan berperan

dalam pengelolaan lingkungan hidup dan juga hak atas informasi lingkungan

hidup yang berkaitan dengan peran dalam pengelolaan lingkungan hidup seperti

yang diatur dalam Undang-Undang. Pada pasal 5 ayat 2 Undang-Undang No. 23

Tahun 1997 tentang pengelolaan lingkungan hidup (2006: 8) dijelaskan ³Setiap

orang mempunyai hak atas informasi lingkungan hidup yang berkaitan dengan

peran dalam pengelolaan lingkungan hidup´. Segala informasi dapat diperoleh

dari media massa termasuk informasi lingkungan hidup yang berkaitan dengan

peran dalam pengelolaan lingkungan hidup.

Pengelolaan lingkungan hidup terdapat 7 (tujuh) upaya terpadu untuk

melestarikan fungsi lingkungan hidupnya. Berikut ini adalah pengertian

pengelolaan lingkungan hidup didasarkan pada pasal 1 ayat 2 Undang-Undang

No. 23 Tahun 1997 tentang pengelolaan lingkungan hidup (2006: 3) ³Pengelolaan

lingkungan hidup adalah upaya terpadu untuk melestarikan fungsi lingkungan

hidup yang meliputi kebijaksanaan penataan, pemanfaatan, pengembangan,

pemeliharaan, pemulihan, pengawasan dan pengendalian lingkungan hidup´.

Siswa dalam berperan serta pada pengelolaan lingkungan hidup dalam penelitian

ini disesuaikan dengan kemampuannya. Peran serta siswa dalam pengelolaan

lingkungan hidup dalam penelitian ini dibatasi 4 upaya didasarkan dari pasal 1

ayat 2 Undang-Undang No. 23 Tahun 1997 tentang pengelolaan lingkungan hidup

yang sekiranya bisa dilakukan oleh siswa sekolah menengah pertama meliputi : 1.

pemanfaatan, 2. pemeliharaan, 3. pemulihan, dan 4. pengawasan. Ketiga upaya

lainnya seperti kebijaksanaan penataan, pengembangan dan pengendalian

lingkungan lebih tepat dan mampu dilakukan oleh pemerintah pusat, pemerintah

daerah yang dibantu instansi yang menangani lingkungan hidup serta LSM,

sedangkan masyarakat tinggal mendukung upaya tersebut.

4

Berdasarkan uraian di atas dapat digambarkan skema praktis latar

belakang masalah yang dijadikan dasar penelitian ini, seperti pada Gambar 1

berikut:

Gambar 1. Skema dari Latar Belakang Masalah

LINGKUNGAN HIDUP

KOMPONEN LINGKUNGAN HIDUP

PERMASALAHAN LINGKUNGAN HIDUP

FISIK

SOSIAL

BIOLOGIS

PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

1. Kebijaksanaan Penataan

2. Pemanfaatan

3. Pengembangan

4. Pemeliharaan

5. Pemulihan

6. Pengawasan

7. Pengendalian Lingkungan hidup

Pengelolaan

Lingkungan Hidup,

Tanggung Jawab

setiap orang termasuk

siswa.

SISWA

KETERPAAN MEDIA

MASSA

Peran Serta Siswa dalam

Pengelolaan Lingkungan Hidup:

Pemanfaatan

Pemeliharaan

Pemulihan

Pengawasan

5

Media massa merupakan faktor yang berpengaruh kuat pada pola pikir

para siswa di era informasi yang berkembang pesat saat ini. Menurut Kuswandi

(1996: 69) ³Dengan hadirnya media massa, baik cetak (surat kabar, majalah)

maupun elektronik (radio, TV, Film) dalam berbagai sajian isi atau pola acaranya,

otomatis menghembuskan era baru yang secara perlahan memasuki dan

merambah tata nilai dan norma masyarakat perkotaan sekaligus pedesaan yang

terpencil sekalipun.´ Manfaat yang umumnya dirasakan oleh banyak orang dari

keberadaan media massa antara lain mendapatkan informasi yang berkaitan

dengan pendidikan, pengetahuan, lingkungan hidup dan hiburan. Keterpaan media

massa menjangkau dengan cepat lapisan masyarakat baik perkotaan maupun

pedesaan. Perkembangan media massa yang semakin gencar diharapkan bisa

dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mendapatkan informasi tentang pengelolaan

lingkungan hidup dari media massa, tetapi sajian/acara tentang lingkungan hidup

harus bersaing ketat dengan sajian/acara hiburan dan informasi lain yang mungkin

lebih menarik bagi pemirsa.

Arus komunikasi dan informasi di era globalisasi saat ini semakin pesat.

Hal ini berpengaruh besar pada pola pikir dan juga perilaku masyarakat. Pada

siswa sekolah menengah pertama yang kondisi kepribadiannya masih labil

penerimaan keterpaan media massa bisa berdampak positif maupun negatif. Siswa

sekolah menengah pertama, merupakan remaja yang dalam masa transisi,

sehingga kejiwaannya masih labil. Keterpaan media massa yang begitu gencar

bisa berdampak positif dan juga bisa berdampak negatif bila salah dalam

memanfaatkannya.

Siswa yang berada di daerah perkotaan dan pedesaan, pastilah

mempunyai perbedaan dalam banyaknya keterpaan media massa, walaupun

seiring era baru perkembangan informasi telah merambah menjangkau daerah

pedesaan. Siswa di daerah perkotaan cenderung lebih banyak intensitasnya dan

lebih mudah dalam memperoleh informasi media massa. Di daerah pedesaan

media massa bisa diterima siswa tetapi terbatas variasi dan keseringannya

dibandingkan siswa di daerah perkotaan. Agen atau penjual media cetak seperti

koran dan majalah di setiap sudut kota mudah dijumpai, sedangkan di desa hanya

6

tempat ±tempat tertentu saja. Fasilitas internet seperti warnet banyak dijumpai di

kota sedangkan di daerah pedesaan sulit dijumpai bahkan belum ada. Media

internet di daerah pedesaan biasanya dimanfaatkan oleh orang ataupun instansi

dengan cara instant melalui jasa telepon. Media massa yang bisa menjangkau

siswa di daerah pedesaan secara mayoritas atau kebanyakan siswa adalah media

televisi dan radio.

Sejauh mana tingkat keterpaan media massa siswa sekolah menengah

pertama di daerah pedesaan yang menarik dilakukannya penelitian ini. Bagaimana

dengan keterpaan media massa siswa sekolah menengah pertama di daerah

pedesaan dengan keterpaan media massa yang lebih terbatas dibandingkan siswa

di daerah perkotaan dan bagaimana hubungannya dengan peran serta siswa dalam

pengelolaan lingkungan hidup. Kecamatan Teras sebagian besar wilayahnya

masih pedesaan dengan akses ke kota Boyolali dan Surakarta sangat mudah. SMP

Negeri 1 Teras sebagai tempat penelitian untuk mengetahui tingkat keterpaan

media massa pada siswa di daerah pedesaan karena penelitian yang relevan

sebelumnya di daerah perkotaan dengan sampel bukan siswa tetapi Kepala

Keluarga. Penelitian yang relevan sebelumnya oleh Suwarno (2001: 95) ³Terdapat

korelasi antara perolehan informasi media massa dengan sikap dan tindakan

masyarakat terhadap lingkungan hidup di kota Madiun´. Terlepas dari tempat

penelitian dan sampel, dalam penelitian ini meneliti banyaknya keterpaan media

massa hubungannya dengan peran serta dalam pengelolaaan lingkungan hidup.

Lingkungan hidup di Kecamatan Teras, jika dilihat dari lingkungan fisik

daerah cenderung heterogen. Kecamatan Teras terdiri atas 13 (tiga belas desa),

dan dapat dibatasi atas tiga zona berdasarkan letaknya dan ciri-ciri fisiknya. Di

bagian utara kondisi fisik wilayah ini lebih berkontur lebih tajam dan merupakan

daerah tadah hujan. Bagian tengah merupakan daerah tegalan, dan bagian tengah

sebelah barat adalah wilayah industri dengan beberapa pabrik tekstil. Bagian

selatan Kecamatan Teras merupakan daerah pertanian persawahan, dan bagian

selatan sebelah barat wilayah industri dengan beberapa pabrik tekstil serta di

bagian paling selatan merupakan daerah industri rumah tangga rambak (kerupuk

dari terigu dan kanji) dan industri batu bata secara konvensional. Perbedaan

7

lingkungan fisik ini kemungkinan bisa mempengaruhi perbedaan keterjangkauan

siswa terhadap keterpaan media massa.

Siswa di SMP Negeri 1 Teras, mayoritas berasal dari daerah yang masih

berada di wilayah Kecamatan Teras. Lingkungan biologis siswa relatif homogen

karena secara keseluruhan merupakan daerah pedesaan dan tidak ada daerah

sekitar hutan yang memungkinkan siswa berhubungan dengan flora dan fauna

yang lebih beragam. Hubungan kekerabatan, tata nilai pergaulan, lingkungan

sosial siswa relatif homogen dengan kondisi masyarakat pedesaan yang terbuka

dengan lingkungan luar. Kesamaan lain dari siswa SMP Negeri 1 Terasialah

dalam rata-rata umur dan kondisi lingkungan sekolah. Atas dasar heterogenitas

dan homogenitas yang ada, maka dipilihlah SMP Negeri 1 Teras Boyolali sebagai

tempat penelitian. Kelas II dipilih sebagai sampel penelitian karena berdasarkan

pengalaman dan teori pertumbuhan siswa kelas II cenderung paling mudah

terpengaruh dengan keadaan luar dan pada massa remaja ini siswa berada titik

tertinggi massa pencarian jati, sehingga kejiwaanya labil. Siswa kelas I cenderung

masih terbawa sifat kanak-kanak, sedangkan siswa kelas III, mulai berpikir

dewasa dengan gejolak remaja sedikit mereda dan cenderung lebih serius belajar.

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut maka dari itu peneliti ingin

mengetahui ³Apakah ada korelasi positif antara tingkat keterpaan media massa

dengan peran serta siswa dalam pengelolaan lingkungan hidup pada siswa kelas II

SMP Negeri 1 Teras Boyolali?³

Judul penelitian ini ialah: ³Hubungan tingkat keterpaan media massa

dengan peran serta siswa dalam pengelolaan lingkungan hidup pada siswa kelas II

SMP Negeri 1 Teras Boyolali Tahun Ajaran 2005/2006.´

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->