A.

Pendahuluan

Manusia dewasa mempunyai lebih dari 100 milyar neuron, yang satu sama lain berhubungan secara spesifik dan rumit sehingga memungkinkan untuk mengingat, melihat, belajar, berpikir, kesadaran dan lain-lain (Schatz 1992). Struktur otak terbentuk sesuai dengan program yang secara biologis tersimpan dalam DNA, dan organ tersebut baru bekerja setelah selesainya seluruh penataan yang rumit tersebut. Pada saat baru lahir, hampir seluruh neuron yang harus dimiliki sudah ada, tapi berat otaknya hanya ¼ dari otak dewasa. Otak menjadi bertambah besar karena pembesaran neuron, bertambahnya jumlah akson dan dendrit sesuai dengan perkembangan hubungan antar sesamanya. Untuk menyempurnakan perkembangan maka anak kecil harus diberi rangsangan melalui raba, speech (berbicara) dan images (daya hayal) (Bloom 1988, Schatz 1992). Menurut Bloom (1988) defenisi belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif menetap sebagai hasil dari pengalaman. Secara praktis dan diasosiasikan sebagai proses memperoleh informasi . Menurut Kupferman (1981) belajar adalah proses dimana manusia dan binatang menyesuaikan tingkah lakunya sebagai hasil dari pengalaman . Memori ingatan adalah proses dimana informasi belajar disimpan dan dapat dibaca kembali (dikeluarkan kembali). Ingatan atau memory tidaklah sesederhana seperti ini. Memory adalah proses aktif, karena ilmu pengetahuan berubah terus, selalu diperiksa dan diformulasi ulang oleh pikiran otak kita. Menurut Jerome Bruner manusia mempunyai kapasitas dan kecendrungan untuk berubah karena menghadapi kejadian yang umum. Ingatan mempunyai beberapa fase, yaitu waktunya sangat singkat (extremely short term)/ingatan segera (immediate memory) (item hanya dapat disimpan dalam beberapa detik). Ingatan jangka pendek (short term) (items dapat ditahan dalam beberapa menit), ingatan jangka panjang (long term) (penyimpanan berlangsung beberapa jam sampai seumur hidup).

B.

Bruner dan Teorinya.

Jerome Bruner dilahirkan dalam tahun 1915. Jerome Bruner, seorang ahli psikologi yang terkenal telah banyak menyumbang dalam penulisan teori pembelajaran, proses pengajaran dan falsafah pendidikan. Bruner bersetuju dengan Piaget bahawa perkembangan kognitif kanak-kanak adalah melalui peringkatperingkat tertentu. Walau bagaimanapun, Bruner lebih menegaskan pembelajaran secara penemuan iaitu mengolah apa yang diketahui pelajar itu kepada satu corak dalam keadaan baru (lebih kepada prinsip konstruktivisme). Beliau bertugas sebagai profesor psikologi di Universiti Harvard di Amerika Syarikat dan dilantik sebagi pengarah di Pusat Pengajaran Kognitif dari tahun 1961 sehingga 1972, dan memainkan peranan penting dalam struktur Projek Madison di Amerika Syarikat. Setelah itu, beliau menjadi seorang profesor Psikologi di Universiti Oxford di England. Jerome S. Bruner adalah seorang ahli psikologi perkembangan dan ahli psikologi belajar kognitif. Pendekatannya tentang psikologi adalah eklektik. Penelitiannya yang demikian banyak itu meliputi persepsi manusia, motivasi, belajar dan berfikir. Dalam mempelajarai manusia, ia menganggap manusia sebagai pemroses, pemikir dan pencipta informasi. Bruner menganggap, bahwa belajar itu meliputi tiga proses kognitif, yaitu memperoleh informasi baru, transformasi pengetahuan, dan menguji relevansi

Pengalaman-pengalaman optimal bagi siswa untuk mau dan dapat belajar. Pandangan terhadap belajar yang disebutnya sebagai konseptualisme instrumental itu. pengajaran didasarkan kepada perangsang murid terhadap konsep itu dengan pengetahuan sedia ada. Pematangan intelektual atau pertumbuhan kognitif seseorang ditunjukkan oleh bertambahnya ketidaktergantungan respons dari sifat stimulus. Ketiga tahap itu adalah: (1) tahap informasi. Kanak-kanak membentuk konsep dengan mengasingkan benda-benda mengikut ciriciri persamaan dan perbezaan.dan memasukkan bentuk-bentuk bersisi tiga kedalam kategori segitiga.dan ketepatan pengetahuan. yaitu untuk mengetahui apakah hasil tranformasi pada tahap kedua tadi benar atau tidak.kanak-kanak membentuk konsep segiempat dengan mengenal segiempat mempunyai 4 sisi dan memasukkan semua bentuk bersisi empat kedalam kategori segiempat. sifat materi pelajaran dan perbedaan individu. Menurut Bruner belajar bermakna hanya dapat terjadi melalui belajar penemuan. tingkat perkembangan anak. ditinjau dari segi cara penyajian. yaitu pengetahuan orang tentang alam didasarkan pada model-model mengenai kenyataan yang dibangunnya. pemeliharaan dan pengarahan. ekonomi dan kuasa. Pertumbuhan itu tergantung pada bagaimana seseorang menginternalisasi peristiwa-peristiwa menjadi suatu ”sistem simpanan” yang sesuai dengan lingkungan. Belajar penemuan meningkatkan penalaran dan kemampuan berfikir secara bebas dan melatih keterampilan-keterampilan kognitif untuk menemukan dan memecahkan masalah. dan (3) evaluasi. mencerna dan menganalisis pengetahuan baru serta ditransformasikan dalam bentuk baru yang mungkin bermanfaat untuk hal-hal yang lain. Ciri khas Teori Pembelajaran Menurut Bruner 1. dan model-model itu diadaptasikan pada kegunaan bagi orang itu. Pengetahuan yang diperoleh melalui belajar penemuan bertahan lama. 3. ditinjau dari segi aktivasi. (2) tahap transformasi. 2. dengan memperhatikan faktorfaktor belajar sebelumnya. Selain itu. Perincian urutan-urutan penyajian materi pelajran secara optimal. Bentuk dan pemberian reinforsemen. dan mempunyai efek transfer yang lebih baik. Pertumbuhan itu menyangkut peningkatan kemampuan seseorang untuk mengemukakan pada dirinya sendiri atau pada orang lain tentang apa yang telah atau akan dilakukannya. yaitu tahap awal untuk memperoleh pengetahuan atau pengalaman baru. Hal ini perlu karena dengan . Dalam hal ini Bruner membedakan menjadi tiga tahap. didasarkan pada dua prinsip. Beliau berpendapat bahawa seseorang murid belajar dengan cara menemui struktur konsep-konsep yang dipelajari. Teori instruksi menurut Bruner hendaknya mencakup: 1. yaitu tahap memahami. Empat Tema tentang Pendidikan Tema pertama mengemukakan pentingnya arti struktur pengetahuan. Penstrukturan pengetahuan untuk pemahaman optimal. 4. Misalnya. Dalam teori belajarnya Jerome Bruner berpendapat bahwa kegiatan belajar akan berjalan baik dan kreatif jika siswa dapat menemukan sendiri suatu aturan atau kesimpulan tertentu. C.

Hampir semua orang dewasa melalui penggunaan tig sistem keterampilan untuk menyatakan kemampuanny secara sempurna. jadi bersifat manipulatif. Model dan Kategori Pendekatan Bruner terhadap belajar didasarkan pada dua asumsi. 1973). Dengan cara ini seseorang mengetahui suatu aspek dari kenyataan tanpa menggunakan pikiran atau kata-kata.struktur pengetahuan kita menolong siswa untuk untuk melihat. 3. teknik-teknik intelektual untuk sampai pada formulasi-formulasi tentatif tanpa melalui langkah-langkah analitis untuk mengetahui apakah formulasi-formulasi itu merupaka kesimpulan yang sahih atau tidak. Menurut Bruner kesiapan terdiri atas penguasaan ketrampilan-ketrampilan yang lebih sederhana yang dapat mengizinkan seseorang untuk mencapai kerampilan-ketrampilan yang lebih tinggi. Tema keempat adalah tentang motivasi atau keingianan untuk belajar dan cara-cara yang tersedia pada para guru untuk merangsang motivasi itu. Cara penyajian enaktif ialah melalui tindakan. Informasi baru dapat merupaka penghalusan dari informasi sebelumnya yang dimiliki seseorang atau informasi itu dapat dersifat sedemikian rupa sehingga berlawanan dengan informasi sebelumnya yang dimiliki seseorang. Ketiga sistem keterampilan itu adalah yang disebut tiga cara penyajian (modes of presentation) oleh Bruner (1966). cara ikonik dan cara simbolik. Asumsi kedua adalah bahwa orang mengkontruksi pengetahuannya dengan menghubungkan informasi yang masuk dengan informasi yang disimpan yang diperoleh sebelumnya. Tema ketiga adalah menekankan nilai intuisi dalam proses pendidikan. perubahan tidak hanya terjadi di lingkungan tetapi juga dalam diri orang itu sendiri. suatu model alam (model of the world). . apakah dengan cara ekstrapolasi atau dengan mengubah bentuk lain. Dalam transformasi pengetahuan seseorang mempelakukan pengetahuan agar cocok dengan tugas baru. Jadi cara ini terdiri atas penyajian kejadian-kejadian yang lampau melalui respon-respon motorik. Tema kedua adalah tentang kesiapan untuk belajar. bagaimana fakta-fakta yang kelihatannya tidak ada hubungan. 2. Ketiga cara itu ialah: cara enaktif. transformasi menyangkut cara kita memperlakukan pengetahuan. Misalnya seseorang anak yang enaktif mengetahui bagaimana mengendarai sepeda. Berlawanan dengan penganut teori perilakau Bruner yakin bahwa orang yang belajar berinteraksi dengan lingkungannya secara aktif. Dengan intuisi. kita akan membentuk suatu struktur atau model yang mengizinkan kita untuk mengelompokkan hal-hal tertentu atau membangun suatu hubungan antara hal-hal yang diketahui. Ketiga proses itu adalah (1) memperoleh informasi baru. Dengan menghadapi berbagai aspek dari lingkungan kita. dapat dihubungkan satu dengan yang lain. (2) transformasi informasi dan (3) menguji relevansi dan ketepatan pengetahuan (Bruner. Jadi. Model Bruner ini mendekati sekali struktur kognitif Aussebel. Asumsi pertama adalah bahwa perolehan pengetahuan merupakan suatu proses interaktif. Belajar sebagai Proses Kognitif Bruner mengemukakan bahwa belajar melibatkan tiga proses yang berlangsung hampir bersamaan. Setiap model seseorang khas bagi dirinya.

Bruner menyarankan agar siswa hendaknya belajar melalui berpartisipasi aktif dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip agar mereka dianjurkan untuk memperoleh pengalaman dan melakukan eksperimen-eksperimen yang mengizinkan mereka untuk menemukan konsep dan prinsip itu sendiri. Bruner menganggap bahwa belajar peneuan sesuai dengan pencarian pengetahuan secara aktif oleh manusia dan dengan sendirinya memberikan hasil yang paling baik. Anak yang lebih tua dapat menyajikan timbangan pada dirinya sendiri dengan suatu model atau gambaran. D. Anak-anak membentuk konsep dengan melihat benda-benda berdasarkan ciri-ciri persamaan dan perbedaan. dimana materi yang sebelumnya sudah diberikan suatu saat muncul kembali secara terintegrasi di dalam suatu materi baru yang lebih kompleks. Ia tahu bahwa untuk dapat lebih jauh kebawah ia harus duduk lebih menjauhi pusat.Cara penyajian ikonik didasarkan atas pikiran internal. Demikian seterusnya sehingga siswa telah mempelajari suatu ilmu pengetahuan secara utuh. tentang pelajaran penggunaan timbangan. Disamping itu. Penyajian simbolik dibuktikan oleh kemampuan seseorang lebih memperhatikan proposisi atau pernyataan daripada objek-objek. Bruner berpendapat bahwa seseorang murid belajar dengan cara menemui struktur konsep-konsep yang dipelajari. Pengetahuan disajikan oleh sekumpulan gambar-gambar yang mewakili suatu konsep. karena teori Bruner ini banyak menuntut pengulangan-penulangan. kurikulum spiral menuntut guru untuk memberi materi pelajaran setahap demi setahap dari yang sederhana ke yang kompleks. Akhirnya suatu timbangan dapat dijelaskan dengan menggunakan bahasa tanpa pertolongan gambar atau dapat juga dijelaskan secara matematik dengan menggunakan Hukum Newton tentang momen. Misalnya sebuah segitiga menyatakan konsep kesegitigaan. Anak kecil hanya dapat bertindak berdasarkan ”prinsip-prinsip” timbangan dan menunjukkan hal itu dengan menaiki papan jungkat-jungkit. ”Bayangan” timbangan itu dapat diperinci seperti yang terdapat dalam buku pelajaran. Penyajian simbolik menggunakan kata-kata atau bahasa. Sebagai contoh dari ketiga cara penyajian ini. Diantaranya adalah: . Secara singkat. pembelajaran didasarkan kepada merangsang siswa menemukan konsep yang baru dengan menghubungkan kepada konsep yang lama melalui pembelajaran penemuan. memberikan struktur hirarkis pada konsep-konsep dan memperhatikan kemungkinan-kemungkinan alternatif dalam suatu cara kombinatorial. tetapi tidak mendefinisikan sepenuhnya konsep itu. maka desain yang berulang-ulang itu disebut ”kurikulum spiral kurikulum”. 4. Belajar Penemuan Salah satu model kognitif yang sangat berpengaruh adalah model dari Jerome Bruner (1966) yang dikenal dengan nama belajar penemuan (discovery learning). Ciri khas Teori Bruner dan perbedaannya dengan teori yang lain Teori Bruner mempunyai ciri khas daripada teori belajar yang lain yaitu tentang ”discovery” yaitu belajar dengan menemukan konsep sendiri. Selain itu. Pengetahuan yang diperoleh dengan belajar penemuan menunjukkan beberapa kebaikan.

dan kemudian menemukan hubungan antara pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang telah ada. konsep tersebut dimaksudkan untuk penyiapan struktur kognitif peserta didik untuk pengalaman belajar. Pengetahuan itu bertahan lama atau lama dapat diingat. Ausubel menekankan pada apsek pengelolaan (organizer) yang memiliki pengaruh utama terhadap belajar. symbolic yang mendeskripsikan kapasitas dalam berfikir abstrak. Bruner. maka untuk mengajar sesuatu tidak usah ditunggu sampai anak mancapai tahap perkembangan tertentu. siswa mempunyai gagasangagasan abstrak yang banyak dipengaruhi bahasa dan logika dan komunikasi dilkukan dengan pertolongan sistem simbol. Sejalan dengan pernyataan di atas. Hasil belajar penemuan mempunyai efek transfer yang lebih baik. ternyata teori kognitif melibatkan hal-hal mental atau pemikiran seseorang individu. Asumsi umum tentang teori belajar kognitif: a. yaitu: 1. Berdasarkan pendapat ketiga ahli di atas (Burner. dan gagne). b. masing-masing memiliki penekanan yang berbeda. 2. Peneliti yang mengembangkan kognitif ini adalah Ausubel. Penerapan teori Bruner yang terkenal dalam dunia pendidikan adalah kurikulum spiral dimana materi pelajaran yang sama dapat diberikan mulai dari Sekolah Dasar sampai Perguruan tinggi disesuaikan dengan tingkap perkembangan kognitif mereka. dimana seorang peserta didik belajar tentang dunia melalui tindakannya pada objek. 2. Bruner bekerja pada pengelompokkan atau penyediaan bentuk konsep sebagai suatu jawaban atas bagaimana peserta didik memperoleh informasi dari lingkungan. Ausubel. Menurut Ausubel. arti dan hubungan melalui proses intuitif kemudian dapat dihasilkan suatu kesimpulan (discovery learning). Semakin dewasa sistem simbol ini samakin dominan. menyimpan.1. 3. Model ini menekankan pada bagaimana informasi diproses. Model kognitif ini memiliki perspektif bahwa para peserta didik memproses infromasi dan pelajaran melalui upayanya mengorganisir. dimana belajar terjadi melalui penggunaan model dan gambar 3. iconic. Dari ketiga peneliti ini. dan Gagne. Pemaknaan berdasarkan hubungan. siswa melakukan aktifitas-aktifitasnya dalam usahanya memahami lingkungan. Cara belajar yang terbaik menurut Bruner ini adalah dengan memahami konsep. Bruner mengembangkan teorinya tentang perkembangan intelektual. Belajar melibatkan adanya proses informasi (active learning). Teori ini ada kaitan dengan ingatan . enactive. Yang penting bahan pelajaran harus ditata dengan baik maka dapat diberikan padanya. c. Proses kegiatan belajar mengajar menitikberatkan pada hubungan dan strategi. Bahwa pembelajaran baru berasal dari proses pembelajaran sebelumnya. Secara menyeluruh belajar penemuan meningkatkan penalaran siswa dan kemampuan untuk berfikir secara bebas. Model kognitif mulai berkembang pada abad terakhir sebagai protes terhadap teori perilaku yang yang telah berkembang sebelumnya. Dengan lain perkataan perkembangan kognitif seseorang dapat ditingkatkan dengan jalan mengatur bahan yang akan dipelajari dan menyajikannya sesuai dengan tingkat perkembangannya. d.

Mencari contoh-contoh. 5. Menyajikan suatu pandangan secara menyelurh tentang apa yang harus dikuasai pesertadidik 6. interviw. Sesuatu pengetahuan yang diperolehi melalui pengalaman atau pendidikan formal akan disimpan dan disusun melalui proses pengumpulan pengetahuan supaya dapat digunakan kemudian. Mengidentifikasikan prinsip-prinsip yang harus dikuasai peserta didik dari materi tsb. Penerapan Model Kognitif dalam pembelajaran: Belajar Karakteristik Teori Penerapan Dalam pembelajaran Kognitif Bruner Model ini sangat membebaskan peserta didik untuk belajar sendiri. pertanyaan dll. tugas. 3. Memilih materi pelajaran 3. dilengkapi dengan uraian singkat yang menunjukkan relevansi (keterkaiatan) materi yang sudah diberikan dengan yang akan diberikan 7. Mengatur topik peserta didik dari konsep yang paling kongkrit ke yang abstrak. Mengukur kesiapan peserta didik (minat. Menentukan tujuan-tujuan instruksional 2. Menentukan topik-topik yang akan dipeserta didiki 4. Teori ini mengarahkan peserta didik untuk belajar secara discovery learning. Mengevaluasi proses dan hasil belajar Bermakna Ausubel Dalam aplikasinya menuntut peserta didik belajar secara deduktif (dari umum ke khusus) dan lebih mementingkan aspek struktur kognitif peserta didik 1. Mengevaluasi proses dan hasil belajar . Mengajar peserta didik untuk memahami konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang sudah ditentukan dengan memberi fokus pada hubungan yang terjalin antara konsep yang ada 8. Memilih materi pelajaran dan mengaturnya dalam bentuk penyajian konsep-konsep kunci 4. kemampuan. yang dapat digunakan peserta didik untuk bahan belajar 5.jangka pendek dan ingatan jangka panjang.. dari yang sederhana ke kompleks 6. Membuat dan menggunakan “advanced organizer” paling tidak dengan cara membuat rangkuman terhadap materi yang baru disajikan. ilustrasi dsbnya. struktur kognitif)baik melalui tes awal. Menentukan tujuan-tujuan instruksional 2. 1.

Translasi ini tentu tidak boleh mengubah sifat-sifat abstrak yang ada dalam permainan semula. tebal tipisnya benda yang merupakan ciri/sifat dari benda yang dimanipulasi. guru perlu mengarahkan mereka dengan mentranslasikan kesamaan struktur dari bentuk permainan yang satu ke bentuk permainan lainnya. Jelaslah. Dalam mencari kesamaan sifat anak-anak mulai diarahkan dalam kegiatan menemukan sifat-sifat kesamaan dalam permainan yang sedang diikuti. Misalnya dengan diberi permainan block logic. tahap yang paling awal dari pengembangan konsep bermula dari permainan bebas. Dienes adalah seorang matematikawan yang memusatkan perhatiannya pada cara-cara pengajaran terhadap anak-anak. Dienes membagi tahap-tahap belajar menjadi 6 tahap. sedemikian rupa sehingga sistem yang dikembangkannya itu menarik bagi anak yang mempelajari matematika. 2. Makin banyak bentuk-bentuk yang berlainan yang diberikan dalam konsep-konsep tertentu. Menurut Dienes konsep-konsep matematika akan berhasil jika dipelajari dalam tahap-tahap tertentu. Untuk melatih anak-anak dalam mencari kesamaan sifat-sifat ini. karena akan memperoleh hal-hal yang bersifat logis . yaitu: 1. Keteraturan ini mungkin terdapat dalam konsep tertentu tapi tidak terdapat dalam konsep yang lainnya. dan pengembangannya diorientasikan pada anak-anak. Dienes berpendapat bahwa pada dasarnya matematika dapat dianggap sebagai studi tentang struktur. karena anak-anak akan memperoleh hal-hal yang bersifat logis dan matematis dalam konsep yang dipelajarinya itu. Anak yang telah memahami aturan-aturan tadi. Dasar teorinya bertumpu pada teori pieget. Permainan Bebas (Free Play) Dalam setiap tahap belajar. akan semakin jelas konsep yang dipahami siswa. Dienes mengemukakan bahwa tiap-tiap konsep atau prinsip dalam matematika yang disajikan dalam bentuk yang konkret akan dapat dipahami dengan baik. anak didik mulai mempelajari konsep-konsep abstrak tentang warna. Dalam tahap ini anak mulai membentuk struktur mental dan struktur sikap dalam mempersiapkan diri untuk memahami konsep yang sedang dipelajari. Makin banyak bentuk-bentuk berlainan yang diberikan dalam konsep tertentu. Permainan bebas merupakan tahap belajar konsep yang aktifitasnya tidak berstruktur dan tidak diarahkan. dengan melalui permainan siswa diajak untuk mulai mengenal dan memikirkan bagaimana struktur matematika itu. memisah-misahkan hubungan-hubungan diantara struktur-struktur dan mengkatagorikan hubunganhubungan di antara struktur-struktur. Permainan yang Menggunakan Aturan (Games) Dalam permainan yang disertai aturan siswa sudah mulai meneliti pola-pola dan keteraturan yang terdapat dalam konsep tertentu. Ini mengandung arti bahwa benda-benda atau obyek-obyek dalam bentuk permainan akan sangat berperan bila dimanipulasi dengan baik dalam pengajaran matematika. Anak didik diberi kebebasan untuk mengatur benda.. akan makin jelas konsep yang dipahami anak. Selama permainan pengetahuan anak muncul.Teori Dienes Zoltan P.

Translasi ini tentu tidak boleh mengubah sifat-sifat abstrak yang ada dalam permainan semula. Dalam membentuk kelompok bangun yang tipis. Untuk melatih dalam mencari kesamaan sifat-sifat ini. Para siswa menentukan representasi dari konsep-konsep tertentu. atau yang berwarna merah. untuk membuat konsep abstrak. dan kegiatan untuk yang tidak relevan dengan pengalaman itu. anak didik memerlukan suatu kegiatan untuk mengumpulkan bermacam-macam pengalaman.. Menurut Dienes. timbul pengalaman terhadap konsep tipis dan merah. Setelah mereka berhasil menyimpulkan kesamaan sifat yang terdapat dalam situasi-situasi yang dihadapinya itu. kemudian membentuk kelompok benda berbentuk segitiga. Sebagai contoh. Segitiga Segiempat Segilima Segienam Segiduapuluhtiga 0 diagonal 2 diagonal 5 diagonal .. atau yang tebal. anak diminta mengidentifikasi sifat-sifat yang sama dari benda-benda dalam kelompok tersebut (anggota kelompok). diagonal 5. atau yang merah. atau tidak merah (biru. Permainan Representasi (Representation) Representasi adalah tahap pengambilan sifat dari beberapa situasi yang sejenis. kegiatan berikutnya menentukan rumus banyaknya diagonal suatu poligon yang digeneralisasikan dari pola yang didapat anak. hijau. Contoh dengan permainan block logic. kuning). 4. 6. Permainan dengan Formalisasi (Formalization) . Contoh kegiatan yang diberikan dengan permainan block logic. Representasi yang diperoleh ini bersifat abstrak. Contoh kegiatan anak untuk menemukan banyaknya diagonal poligon (misal segi dua puluh tiga) dengan pendekatan induktif seperti berikut ini. Dengan demikian telah mengarah pada pengertian struktur matematika yang sifatnya abstrak yang terdapat dalam konsep yang sedang dipelajari. anak diberi kegiatan untuk membentuk kelompok bangun yang tipis. dan sebagainya.. dari kegiatan mencari banyaknya diagonal dengan pendekatan induktif tersebut. anak dihadapkan pada kelompok persegi dan persegi panjang yang tebal.. Permainan Kesamaan Sifat (Searching for communalities) Dalam mencari kesamaan sifat siswa mulai diarahkan dalam kegiatan menemukan sifat-sifat kesamaan dalam permainan yang sedang diikuti. guru perlu mengarahkan mereka dengan menstranslasikan kesamaan struktur dari bentuk permainan lain. diagonal ……. serta timbul penolakan terhadap bangun yang tipis (tebal).dan matematis dalam konsep yang dipelajari itu. Permainan dengan Simbolisasi (Symbolization) Simbolisasi termasuk tahap belajar konsep yang membutuhkan kemampuan merumuskan representasi dari setiap konsep-konsep dengan menggunakan simbol matematika atau melalui perumusan verbal. 3.

Dengan demikian. Dari sudut pandang tahap belajar. Untuk pengajaran konsep matematika yang lebih sulit perlu dikembangkan materi matematika secara kongkret agar konsep matematika dapat dipahami dengan tepat. tetapi mereka sudah mempunyai pengetahuan tentang sistem yang berlaku dari pemahaman konsep-konsep yang terlibat satu sama lainnya. sehingga anak-anak dapat bermain dengan bermacam-macam material yang dapat mengembangkan minat anak didik.simbol dengan konsep tersebut. dan mempunyai elemen invers. Menurut Dienes. Langkah selanjutnya. agar pada suatu waktu simbol tetap terkait dengan pengalaman kongkretnya. harus mampu merumuskan suatu teorema berdasarkan aksioma. Misalnya bilangan bulat dengan operasi penjumlahan peserta sifat-sifat tertutup. suatu anak didik dihadapkan pada permainan yang terkontrol dengan berbagai sajian. Kegiatan ini menggunakan kesempatan untuk membantu anak didik menemukan cara-cara dan juga untuk mendiskusikan temuan-temuannya. adalah memotivasi anak didik untuk mengabstraksikan pelajaran tanda material kongkret dengan gambar yang sederhana. Langkah-langkah ini merupakan suatu cara untuk memberi kesempatan kepada anak didik ikut berpartisipasi dalam proses penemuan dan formalisasi melalui percobaan matematika. Anak didik pada masa ini bermain dengan simbol dan aturan dengan bentuk-bentuk kongkret dan mereka memanipulasi untuk mengatur serta mengelompokkan aturan-aturan Anak harus mampu mengubah fase manipulasi kongkret. Berhubungan dengan tahap belajar. komutatif. . Pentingnya simbolisasi adalah untuk meningkatkan kegiatan matematika ke satu bidang baru. Proses pembelajaran ini juga lebih melibatkan anak didik pada kegiatan belajar secara aktif dari pada hanya sekedar menghapal. variasi sajian hendaknya tampak berbeda antara satu dan lainya sesuai dengan prinsip variabilitas perseptual (perseptual variability). sehingga anak didik dapat melihat struktur dari berbagai pandangan yang berbeda-beda dan memperkaya imajinasinya terhadap setiap konsep matematika yang disajikan. Berbagai sajian (multiple embodiment) juga membuat adanya manipulasi secara penuh tentang variabel-variabel matematika. menurut Dienes. peranan guru adalah untuk mengatur belajar anak didik dalam memahami bentuk aturan-aturan susunan benda walaupun dalam skala kecil. Berbagai penyajian materi (multiple embodinent) dapat mempermudah proses pengklasifikasian abstraksi konsep. peta dan akhirnya memadukan simbolo . adanya elemen identitas. Dienes menyatakan bahwa proses pemahaman (abstracton) berlangsung selama belajar. membentuk sebuah sistem matematika. semakin banyak bentuk-bentuk berlainan yang diberikan dalam konsep tertentu. Dienes berpendapat bahwa materi harus dinyatakan dalam berbagai penyajian (multiple embodiment). semakin jelas bagi anak dalam memahami konsep tersebut. Pada tahap formalisasi anak tidak hanya mampu merumuskan teorema serta membuktikannya secara deduktif. Variasi matematika dimaksud untuk membuat lebih jelas mengenai sejauh mana sebuah konsep dapat digeneralisasi terhadap konsep yang lain. harus mampu merumuskan teorema dalam arti membuktikan teorema tersebut. asosiatif. Contohnya. dalam arti membuktikan teorema tersebut. anak didik telah mengenal dasar-dasar dalam struktur matematika seperti aksioma. sebagai contoh siswa yang telah mengenal dasar-dasar dalam struktur matematika seperti aksioma.Formalisasi merupakan tahap belajar konsep yang terakhir. grafik. Dalam tahap ini siswa-siswa dituntut untuk mengurutkan sifat-sifat konsep dan kemudian merumuskan sifat-sifat baru konsep tersebut.