MODUL Sistem Informasi dan Manajemen Akuntansi Barang Milik Negara (SIMAK- BMN

)

Tim Modul Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah Departemen Keuangan Republik Indonesia

Daftar Isi

BAB

I 1

Pendahuluan BAB II

Barang Milik Negara dalam Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat BAB III

6

Kebijakan Akuntansi atas Barang Milik Negara BAB IV

23

Prosedur Akuntansi atas Barang Milik Negara BAB V 52

39

Kebijakan Akuntansi Konstruksi dalam Pengerjaan BAB VI

Kebijakan Akuntansi Persediaan BAB Penutup VII 70

61

Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah 3

dan putusan pengadilan. aset tetap. Selain berfungsi sebagai alat kontrol. pengamanan administratif. dan pengamanan hukum. hutang. Termasuk dalam pengertian perolehan lainnya yang sah. ekuitas dana. 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara dinyatakan bahwa keuangan negara adalah semua hak dan kewajiban negara yang dapat dinilai dengan uang serta segala sesuatu baik berupa uang maupun berupa barang yang dapat dijadikan milik negara berhubung dengan pelaksanaan hak dan kewajiban tersebut. Pemerintah wajib melakukan pengamanan terhadap BMN. termasuk transaksi pembiayaan dan perhitungan.BAB I Pendahuluan Latar Belakang Pada UU No. sistem penatausahaan tersebut juga harus dapat memenuhi kebutuhan manajemen pemerintah di dalam Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah 4 . ketentuan undang-undang. pendapatan dan belanja. Oleh karena pengelolaan dan pertanggungjawaban atas barang milik negara merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan. termasuk investasi dan kekayaan yang dipisahkan. pelaksanaan perjanjian/kontrak. Informasi BMN memberikan sumbangan yang signifikan di dalam laporan keuangan (neraca) yaitu berkaitan dengan pos-pos persedian. pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan negara. Di dalam UU No. Pertanggungjawaban atas BMN kemudian menjadi semakin penting ketika pemerintah wajib menyampaikan pertanggungjawaban atas pelaksanaan APBN dalam bentuk laporan keuangan yang disusun melalui suatu proses akuntansi atas transaksi keuangan. aset. di dalam PP 6 tahun 2006 tentang Pengelolaan BMN/D disebutkan antara lain sumbangan/hibah. Dalam rangka pengamanan administratif dibutuhkan sistem penatausahaan yang dapat menciptakan pengendalian (controlling) atas BMN.dalam pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan negara. Negara Di dalam UU No. yang ditetapkan di dalam APBN dan APBD. 1 tahun 2004 tentang adalah Perbendaharaan dinyatakan bahwa perbendaharaan A. Pengamanan tersebut meliputi pengamanan fisik. maupun aset lainnya. 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara dijelaskan bahwa yang dimaksud barang milik negara adalah semua barang yang dibeli atau diperoleh atas beban APBN dan perolehan lainnya yang sah.

maupun penghapusan (disposal). b. Tujuan Pembelajaran Umum (TPU) Modul Sistem Informasi Manajemen dan Akuntansi Barang Milik Negara disusun dan disampaikan kepada peserta diklat dengan tujuan agar para peserta lebih menguasai dan mampu melaksanakan pelaporan barang milik negara dalam kerangka SIMAK-BMN dengan baik dan benar sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku di bidang akuntansi dan pelaporan barang milik negara sehingga dapat memberi nilai manfaat dalam proses penyusunan laporan keuangan pemerintah pusat. SIMAK-BMN juga menyatukan konsep manajemen barang dengan pelaporan untuk tujuan pertanggungjawaban pelaksanaan APBN dalam bentuk neraca. Dengan demikian dapat dilakukan check and balance antara arus uang dan arus barang. SIMAK-BMN dan SAK sebagai sub sistem harus saling berjalan secara simultan.perencanaan pengadaan. D. Deskripsi Singkat Materi Sistem Informasi Manajemen dan Akuntansi Barang Milik Negara (SIMAK-BMN) sebagai sub sistem dari Sistem Akuntansi Instansi selain Sistem Akuntansi Keuangan disajikan untuk meningkatkan pemahaman serta kontrol yang sistematis bagi mereka yang pernah atau yang memang berada dalam lingkup tugas dan tanggung jawabnya sebagai bagian dari satuan kerja pada bagian atau seksi perlengkapan/ rumah tangga atau yang semacamnya sehingga sesuai struktur Unit Akuntansi Barang melekat kewajiban untuk penyusunan laporan barang milik negara dalam rangka penyusunan laporan keuangan kementerian negara/lembaga. pemeliharaan. Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK) Setelah mengikuti pelatihan ini. Melaksanakan Akuntansi Barang Milik Negara dengan baik dan benar sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku. pengembangan. peserta diklat diharapkan mampu: a. Menjelaskan Dasar Hukum Akuntansi Barang Milik Negara. Selain itu. C. Sehingga dengan demikian SIMAK-BMN dapat memenuhi kebutuhan manajerial dan pertanggungjawaban sekaligus. Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah 5 . B.

Menjelaskan perlakuan akuntansi atas Konstruksi Dalam Pekerjaan. Mengetahui Struktur. h. Menjelaskan Sistem Informasi Manajemen dan Akuntansi Barang milik Negara dalam kaitan dengan Sistem Akuntansi Keuangan. d. Pengkodean BMN e. f. Topik Bahasan Hal-hal yang perlu dibahas meliputi: a. Cakupan Modul I. Laporan Realisasi Anggaran dan Catatan Ringkas BMN. Praktek Aplikasi SABMN: studi kasus dan solusi masalah F. Menjelaskan penyelesaian atas BMN yang tidak terdapat kode Barangnya. g. BMN dalam kerangka SAPP b. Kebijakan Akuntansi Konstruksi dalam Pengerjaan Kebijakan Akuntansi Persediaan Kapitalisasi BMN Jurnal Standar Realisasi Belanja untuk Perolehan Aset Tetap f. Persediaan dan Aset Tetap dalam Renovasi. j. Pengertian umum BMN b. g. Menguasai teknis pengiriman Laporan Barang Milik Negara kepada Laporan Keuangan dengan baik dan benar. Menjelaskan posisi aset tetap dalam neraca yang terkait dengan belanja modal dan saldo awal aset tetap. BMN dalam neraca c. h. Kondisi BMN Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah 6 . e. Kebijakan Akuntansi atas BMN c. e. Memecahkan masalah dalam pelaksanaan Akuntansi Barang Milik Negara baik secara fungsional maupun yang berkaitan dengan aplikasi. Prosedur Akuntansi atas BMN d. E. Menjelaskan pengaruh revaluasi terhadap Laporan Barang Milik Negara terkait Laporan BMN Intrakomptabel dan Laporan BMN Ekstrakomptabel. i. Tugas dan Fungsi Organisasi Akuntansi Barang Milik Negara. BMN dalam SAPP a. Klasifikasi BMN d. Menjelaskan Laporan Barang Milik Negara yang terkait dengan Laporan Keuangan berupa Neraca. k.c.

Organisasi Akuntansi BMN c. Penatausahaan Persediaan b. Prosedur Akuntansi BMN a. Aset Tetap: Peralatan dan Mesin. Konstruksi Dalam Pengerjaan dan Aset Tetap dalam Renovasi c. Organisasi SAI b. Aset Bersejarah III. Kebijakan Akuntansi BMN a. Aset Lancar: Persediaan b. Prosedur Akuntansi BMN pada UAPPB-W f. Prosedur Akuntansi BMN pada UAKPB e. Ilustrasi KDP V. Aset Tetap Lainnya.f. Jenis-jenis Transaksi dalam Akuntansi BMN d. Akuntansi Persediaan c. Prosedur Akuntansi BMN pada UAPPB-E1 Prosedur Akuntansi BMN pada UAPB IV. g. WAKTU 4 (empat) hari H. Jalan. Kebijakan Akuntansi Persediaan a. Kebijakan Akuntansi KDP a. Irigasi dan Jaringan. Gedung dan Bangunan. Akuntansi dan Pelaporan KDP c. Jenis-jenis laporan BMN g. Perolehan BMN Gabungan d. Catatan Ringkas BMN II. Ilustrasi Persediaan G. Penatausahaan KDP b. diikuti dengan tanya jawab serta diskusi soal-soal studi kasus dan solusi Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah 7 . METODE PEMBELAJARAN Metode pembelajaran dalam pelatihan ini dilakukan dengan cara pemaparan teori akuntansi aset tetap termasuk peraturan yang mendasarinya.

Printer c. LCD Projector Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah 8 . ATK d. ALAT BANTU AJAR a.permasalahan yang berkaitan dengan aplikasi dan terkait dengan pelaksanaan Sistem Informasi Manajemen dan Akuntansi Barang Milik Negara. Selain itu dilakukan praktek aplikasi SIMAK-BMN sampai dengan pengiriman ADK ke Unit Akuntansi Keuangan. Komputer/Laptop b. I.

yaitu Sistem Akuntansi Bendahara Umum Negara (SA-BUN) dan Sistem Akuntansi Instansi (SAI). SA-TD (Sistem Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah 9 .BAB II Barang Milik Negara dalam Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat Bab ini membahas pengertian Barang Milik Negara. Perusahaan Perseroan. SA-IP (Sistem Akuntansi Investasi Pemerintah). b. Cakupan Barang Milik Negara. Pemerintah Daerah (sumber dananya berasal dari APBD termasuk yang sumber dananya berasal dari APBN tetapi sudah diserahterimakan kepada Pemerintah Daerah). Badan Usaha Milik Negara/Badan Usaha Milik Daerah yang terdiri dari: a. Secara umum. Perolehan lainnya yang sah antara lain berasal dari hibah dan rampasan/sitaan. dan Perusahaan Umum. SAUP&H (Sistem Akuntansi Utang dan Hibah). pencatatan. yaitu SiAP (Sistem Akuntansi Pusat) yang terdiri Sistem Akuntansi Umum (SAU) dan Sistem Akuntansi Kas Umum Negara (SAKUN). tidak termasuk uang dan surat berharga. Barang Milik Negara (BMN) adalah semua barang yang dibeli atau diperoleh atas beban APBN atau berasal dari perolehan lainnya yang sah. 3. SA-PP (Sistem Akuntansi Penerusan Pinjaman). pengikhtisaran sampai dengan pelaporan posisi keuangan dan operasi keuangan Pemerintah Pusat. Selanjutnya. Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat (SAPP) adalah serangkaian prosedur manual maupun yang terkomputerisasi mulai dari pengumpulan data. Tidak termasuk dalam pengertian BMN adalah barang-barang yang dikuasai dan atau dimiliki oleh: 1. 2. SA-BUN memiliki 8 (delapan) subsistem. Menurut Undang-undang Nomor 1 tahun 2004. barang adalah bagian dari kekayaan yang merupakan satuan tertentu yang dapat dinilai/dihitung/diukur/ditimbang dan dinilai. dan Kedudukannya dalam Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat (SAPP). Bank Pemerintah dan Lembaga Keuangan Milik Pemerintah. SA-BUN dilaksanakan oleh Departemen Keuangan selaku Bendahara Umum Negara. SAPP memiliki 2 (dua) subsistem.

BMN dalam SAPP Dalam akuntansi pemerintahan. Aset pemerintah adalah sumber daya ekonomi yang dikuasai dan/atau ekonomi dan/atau sosial di masa depan diharapkan dapat diperoleh. termasuk sumber daya nonkeuangan yang diperlukan untuk penyediaan jasa bagi masyarakat umum dan sumber-sumber daya yang dipelihara karena alasan sejarah dan budaya. sehingga menghasilkan Laporan Realisasi Anggaran. buku-buku. serta dapat diukur dalam satuan uang. perubahan dan penghapusan BMN untuk mendukung SAK dalam rangka menghasilkan Laporan Neraca. SA-BUN dilaksanakan oleh Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara (Chief Financial Officer [CFO]). yaitu Sistem Akuntansi Keuangan (SAK) dan Sistem Akuntansi Barang Milik Negara (SABMN). SAI memiliki 2 (dua) subsistem. baik oleh pemerintah maupun masyarakat. SIMAK-BMN memproses transaksi perolehan. Di samping itu.Akuntansi Transfer ke Daerah). SIMAK-BMN menghasilkan berbagai laporan. SA-BSBL (Sistem Akuntansi Belanja Subsidi dan Belanja Lain-Lain) dan SA-TK (Sistem Akuntansi Transaksi Khusus) . serta kartu-kartu yang memberikan informasi manajerial dalam pengelolaan BMN. D N JK Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah 10 . Secara skematis SAPP dapat digambarkan sebagai berikut: SAK digunakan untuk memproses transaksi anggaran dan realisasinya. BMN merupakan bagian dari aset pemerintah pusat dimiliki oleh pemerintah sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dan dari mana manfaat yang berwujud. SAI dilaksanakan oleh Menteri/Ketua Lembaga Teknis selaku Chief Operational Officer (COO). SA-BL (Sistem Akuntansi Badan Lainnya).

Aset tetap adalah aset berwujud yang mempunyai masa manfaat lebih dari 12 (dua belas) bulan untuk digunakan dalam kegiatan pemerintah masyarakat umum. Aset Tetap Lainnya. Adapun aset bersejarah merupakan aset yang mempunyai ketetapan hukum sebagai aset bersejarah dikarenakan karena kepentingan budaya.BMN meliputi unsur-unsur aset lancar . Aset bersejarah tidak wajib disajikan di dalam neraca tetapi harus diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan. Undang-undang Nomor 1 tahun 2004 menyatakan bahwa dalam pengelolaan keuangan di Kementerian Negara/Lembaga (baca: Instansi) dikenal adanya Pengguna Anggaran dan Kuasa Pengguna Anggaran di satu pihak. sistem akuntansi keuangan dan sistem akuntansi barang dilaksanakan secara simultan dalam rangka menyusun laporan pertanggungjawaban Kementerian Negara/Lembaga. BMN yang berupa aset tetap yang tidak digunakan lagi/ dihentikan dari penggunaan aktif pemerintah dimasukkan ke dalam pos aset lainnya sesuai dengan nilai tercatatnya. Sedangkan aset lainnya adalah atau dimanfaatkan oleh aset yang tidak bisa dikelompokkan ke dalam aset lancar maupun aset tetap. serta Konstruksi dalam Pengerjaan. juga memberikan berbagai informasi dalam rangka pengelolaan barang. Oleh karena itu. Aset lancar adalah aset yang diharapkan segera untuk direalisasikan. dipakai. Secara tersurat. Sedangkan Pengguna Barang dan Kuasa Pengguna Barang melaksanakan Sistem Informasi Manajemen dan Akuntansi Barang Milik Negara (SIMAKBMN). Peralatan dan Mesin. Jalan. atau dimiliki untuk dijual dalam waktu 12 (dua belas) bulan sejak tanggal pelaporan. lingkungan dan sejarah. Irigasi dan Jaringan. Pengguna Anggaran dan Kuasa Pengguna Anggaran melaksanakan Sistem Akuntansi Keuangan. SIMAK-BMN selain mendukung pelaksanaan pertanggungjawaban. aset lainnya dan aset bersejarah. Pengguna Barang dalam tugas-tugas manajerialnya. Sedangkan BMN yang berupa aset tetap meliputi Tanah. Dalam rangka pertanggungjawaban. Gedung dan Bangunan. Dalam praktiknya. keluaran SIMAK-BMN juga memberikan manfaat kepada Penguna Barang dan Kuasa SIMAK-BMN: Beberapa Kata Kunci SIMAK-BMN merupakan sistem terpadu yang merupakan gabungan prosedur manual dan komputerisasi dalam rangka menghasilkan data transaksi untuk mendukung penyusunan Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah 11 . serta Pengguna Barang dan Kuasa Pengguna Barang di pihak yang lain. BMN yang berupa aset lancar adalah Persediaan.aset tetap.

Pengkodean BMN Untuk memudahkan pencatatan dan pengendalian. Dari masing-masing Golongan tersebut selanjutnya dirinci lagi ke dalam klasifikasi bidang. SIMAK-BMN juga menghasilkan Daftar Barang. Laporan Barang. Dengan demikian. Ikan dan Tanaman. juga diberikan identifikasi dalam bentuk kode.neraca. kelompok. Untuk memudahkan pemahaman tentang SIMAK-BMN berikut ini dikemukakan konsepkonsep dasarnya. Hewan. Barang Milik Negara Peraturan Menteri Keuangan Nomor 97/PMK. BMN selain diberikan identifikasi berupa nama. Sub Kelompok. dan berbagai kartu kontrol yang berguna untuk menunjang fungsi pengelolaan BMN. Di samping itu. Aset Tak Berwujud dan Golongan Lain-lain. Klasifikasi BMN Untuk memudahkan identifikasi. Barang Bergerak. Pemberian kode BMN sepenuhnya mengacu kepada PMK Nomor 97/PMK. Kelompok.06/2007 tentang Penggolongan dan Kodefikasi sebagai pengganti Keputusan Menteri Keuangan Nomor 18/KMK. Konstruksi Dalam Pengerjaan. Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah 12 Semaki n rinci . dan sub-sub kelompok. BMN diberikan nomor kode barang (ditambah nomor urut pendaftarannya) dan kode lokasi (ditambah tahun perolehannya). Pelaksanaan akuntansi BMN dibantu dengan perangkat lunak (software) SIMAK-BMN yang memungkinkan penyederhanaan dalam proses manual dan mengurangi tingkat kesalahan manusia (human error) dalam pelaksanaannya. Bidang. dan Sub-sub kelompok. Golongan Golongan Bidang Bidang Semaki n global Kelompok Kelompok Sub Kelompok Sub Kelompok Sub–sub Kelompok Sub–sub Kelompok Golongan BMN meliputi: Barang Tidak Bergerak. Untuk memberikan identitas. Barang Persediaan.018/1999 tentang Klasifikasi dan Kodefikasi Barang Inventaris Milik/Kekayaan Negara membagi BMN dalam klasifikasi Golongan. sub kelompok. maka setiap BMN diklasifikasikan dengan cara tertentu sehingga memberikan kemudahan dalam pengelolaannya.06/2007. klasifikasi paling rinci (detil) ada di level Sub-sub kelompok.

000037 Sedangkan kode lokasi. XX .000 Pembuatan label BMN dilakukan dengan menggabungkan kode lokasi (ditambah dengan tahun perolehan) dan kode barang (ditambah dengan nomor urut pendaftaran. 01. diskemakan sebagai berikut: XXX . Skema label BMN digambarkan sebagai berikut: UAPB UAPPB-E1 UAPPB-W UAKPB UAPKPB Tahun Perolehan Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah 13 . 00. XX .Skema kode identifikasi barang adalah sebagai berikut: X . komputer Note Book yang untuk urutan yang ke-37 diberikan kode sebagai berikut: 2. 12. XX . XX . 01. XXXXXX . 02. Biro Umum Sekretariat Jenderal Departemen Keuangan (kode kantor 231421) diberikan kode lokasi sebagai berikut: 15. XXX Sub sub kelompok Sub kelompok Kelompok Bidang Golongan Sebagai contoh. XXX UAKPB UAPPB-W UAPPB-E1 UAPB UAPKPB Sebagai contoh. XX . 231421. 003.

XX . 2003 2. XXXXXX . 02. XX . XX .06/2007 tentang Penggolongan dan Kodefikasi Barang Milik Negara. 12. XXX . XXX . Pada saat perolehan barang tersebut nomor pencatatan terakhir untuk Note Book yang dikuasai satuan kerja yang bersangkutan adalah 000037. 00 00 01 01 01 01 01 01 00 01 01 01 01 01 00 01 01 SUB KEL. 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 BID. 00 00 00 01 01 01 01 01 00 00 01 01 01 01 00 00 01 SUB SUB KEL.000. 231421. 01. XXXXXX Nomor Urut Sub-sub Pendaftaran Sub Kelompok Kelompok Kelompok Bidang Golongan Contoh : Pada tahun 2003 Biro Umum Sekretariat Jenderal Departemen Keuangan (kode kantor 231421) melakukan pembelian Komputer Note Book. 00 01 01 01 01 01 01 01 02 02 02 02 02 02 03 03 03 KEL. XX . XXX X . XX . 003. 00. Berdasarkan hal tersebut UAKPB dapat memberikan label pada Note Book tersebut sbb: 015. 01. 000 000 000 000 001 002 003 004 000 000 000 001 002 003 000 000 000 URAIAN BARANG TIDAK BERGERAK TANAH Tanah Persil Tanah Bangunan Perumahan/G. Tempat Tinggal Tanah Bangunan Rumah Negara Golongan I Tanah Bangunan Rumah Negara Golongan II Tanah Bangunan Rumah Negara Golongan III Tanah Bangunan Rumah Negara Tanpa Golongan JALAN DAN JEMBATAN Jalan Jalan Nasional Jalan Nasional Arteri Jalan Nasional Kolektor Jalan Nasional Bernilai Strategis Nasional BANGUNAN AIR Bangunan Air Irigasi Bangunan Waduk Irigasi Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah 14 . 000038 Tabel Kode Barang Setiap BMN dibukukan dengan mengacu pada kode BMN yang telah ditetapkan dalam Peraturan Menteri Keuangan RI Nomor: 97/PMK.XXX. Berikut adalah contoh kode BMN pada PMK tersebut : GOL.

Tanggul.GOL. Apabila kondisi tanah tersebut siap dipergunakan dan/atau dimanfaatkan sesuai dengan peruntukannya. Untuk berfungsi dengan baik memerlukan perbaikan ringan dan tidak memerlukan penggantian bagian utama/komponen pokok. rusak ringan. Tanggul dan Menara Pengambilan Waduk dengan Menara Pengambilan Waduk dengan Tanggul. 1 1 1 1 BID. 03 03 03 03 KEL. pengurugan. dan rusak berat. Apabila kondisi barang tersebut tidak utuh dan tidak berfungsi lagi atau memerlukan perbaikan besar/penggantian bagian utama/komponen pokok. yaitu baik. perataan dan pemadatan) untuk dapat dipergunakan sesuai dengan peruntukannya. Menara Pengambilan Pelimpah Banjir dan Terowongan Pengelak Waduk dengan Bendungan. 01 01 01 01 SUB SUB KEL. Tabel berikut ini menyajikan indikasi yang menentukan 3 kondisi BMN tersebut: Jenis Barang Kondisi Baik (B) Rusak Ringan (RR) Indikasi Apabila kondisi barang tersebut masih dalam keadaan utuh dan berfungsi dengan baik Apabila kondisi barang tersebut masih dalam keadaan utuh tetapi kurang berfungsi dengan baik. dan Pintu Air/Menara Pengambilan INSTALASI Instalasi Gardu Listrik Instalasi Gardu Listrik Induk Instalasi Gardu Listrik Induk Kapasitas Kecil Instalasi Gardu Listrik Induk Kapasitas Sedang Instalasi Gardu Listrik Induk Kapasitas Besar Jaringan Telepon di atas Tanah Kapasitas Besar 1 1 1 1 1 1 1 04 04 04 04 04 04 05 00 06 06 06 06 06 03 00 00 01 01 01 01 01 000 000 000 001 002 003 003 Kondisi BMN Kondisi BMN dapat dikategorikan dalam 3 kategori. Apabila kondisi tanah tersebut karena sesuatu sebab tidak dapat dipergunakan dan/atau dimanfaatkan dan masih memerlukan pengolahan/perlakuan (misalnya pengeringan. 001 002 003 003 URAIAN Waduk dengan Bendungan. 01 01 01 01 SUB KEL. sehingga tidak ekonomis untuk diadakan perbaikan/rehabilitasi. Rusak Berat (RB) Barang Tidak Bergerak: Tanah Baik (B) Rusak Ringan (RR) Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah 15 .

Daftar Barang Intrakomtabel digunakan untuk mencatat BMN non Persediaan dan non Konstruksi Dalam Pengerjaan yang memenuhi syarat kapitalisasi. Barang Tidak Bergerak: Jalan dan Jembatan Baik (B) Rusak Ringan (RR) Rusak Berat (RB) Barang Tidak Bergerak: Bangunan Baik (B) Rusak Ringan (RR) Rusak Berat (RB) Daftar Barang adalah daftar yang digunakan untuk mencatat mutasi BMN secara berkesinambungan mulai dari BMN itu pertama kali ada sampai dengan dihapuskannya. Apabila bangunan tersebut utuh dan tidak memerlukan perbaikan yang berarti kecuali pemeliharaan rutin.Jenis Barang Kondisi Rusak Berat (RB) Indikasi Apabila kondisi tanah tersebut tidak dapat lagi dipergunakan dan/atau dimanfaatkan sesuai dengan peruntukannya karena adanya bencana alam. Daftar barang Ekstrakomptabel digunakan untuk mencatat BMN non Persediaan dan non Konstruksi Dalam Pengerjaan yang tidak memenuhi syarat kapitalisasi. Laporan Barang Intrakomtabel digunakan untuk melaporkan BMN non Persediaan dan non Konstruksi Dalam Pengerjaan yang memenuhi syarat kapitalisasi. Apabila bangunan tersebut masih utuh. Daftar Barang Bersejarah adalah daftar barang yang digunakan untuk mencatat mutasi BMN berupa barang bersejarah secara berkesinambungan. Laporan Barang Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah 16 . Laporan Barang adalah laporan yang menyajikan posisi BMN pada awal dan akhir suatu periode serta mutasi BMN yang terjadi selama periode tersebut. erosi dan sebagainya. Apabila kondisi fisik barang tersebut dalam keadaan utuh dan berfungsi dengan baik Apabila kondisi fisik barang tersebut dalam keadaan utuh namun memerlukan perbaikan ringan untuk dapat dipergunakan sesuai dengan fungsinya. memerlukan pemeliharaan rutin dan perbaikan ringan pada komponen-komponen bukan konstruksi utama. Apabila kondisi fisik barang tersebut dalam keadaan tidak utuh/tidak berfungsi dengan baik dan memerlukan perbaikan dengan biaya besar. Apabila bangunan tersebut tidak utuh dan tidak dapat dipergunakan lagi.

Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah 17 . Kartu Inventaris Barang/ Kartu Identitas Barang (KIB) KIB adalah kartu yang memuat data BMN yang digunakan untuk mengontrol BMN berupa Tanah. Daftar Inventaris Ruangan/ Daftar Barang Ruangan DIR/DBR adalah kartu yang memuat data BMN yang berada pada suatu (DIR/DBR) ruangan yang berguna untuk mengontrol BMN yang bersangkutan. yang berguna untuk mendukung penyusunan Catatan atas Laporan Keuangan. Alat Angkutan Bermotor.Ekstrakomtabel digunakan untuk melaporkan BMN non Persediaan dan non Konstruksi Dalam Pengerjaan yang tidak memenuhi syarat kapitalisasi. dan Alat persenjataan api. Gedung dan Bangunan. Daftar Inventaris Lainnya/Daftar Barang Lainnya (DIL/DBL) DIL/DBL adalah kartu yang memuat data BMN yang digunakan untuk mengontrol BMN yang tidak termasuk dalam kategori KIB dan DIR/DBR. Catatan Ringkas BMN adalah deskripsi yang menjelaskan BMN yang dikuasai Unit Organisasi Akuntansi/ penatausahaan BMN.

......... Rp.............Pembelian - Rp................. Mutasi tambah tanah tersebut meliputi: .........................Penghapusan - Rp.......... m2/Rp.................................................. Jumlah tersebut terdiri dari saldo awal ......... Rp................................ Dari jumlah di atas yang dihentikan penggunaannya karena rusak berat/hilang tetapi belum dihapuskan adalah ..... mutasi kurang ... Rp……………………........................ I.... Rp................... sebesar Rp.... Rp................. m2/Rp...............................01) Saldo Tanah pada Kementerian Negara/Lembaga/Eselon I/Satuan Kerja ... Rp..................................... Transfer keluar Hibah keluar Pengurangan Reklasifikasi keluar Koreksi nilai/kuantitas Koreksi pencatatan Revaluasi - Dari jumlah di atas dalam proses ruislag/sengketa .................................................................. Tanah (1. Rp............................... per ............. m2/Rp.................................. Rp......... m2/Rp................. Rp. Rp...................... TANAH (131111) a........... Rp................ Transfer masuk Hibah masuk Rampasan/sitaan Penyelesaian Pembangunan Reklasifikasi Masuk Pembatalan Penghapusan Pengembangan Nilai Koreksi Nilai/Kuantitas - Mutasi kurang tanah tersebut meliputi: ............................ Rp..... Rp.... Rp................................... Rp.............CATATAN RINGKAS BARANG MILIK NEGARA KEMENTERIAN NEGARA/LEMBAGA /ESELON I/SATUAN KERJA............................. RINGKASAN LAPORAN BARANG 1............... Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah 18 ....... mutasi tambah ..................................... m2/Rp ....

.... Rp........ Rp......................................................................... Rp........ Rp....................... Transfer keluar Hibah keluar Pengurangan Reklasifikasi keluar Koreksi nilai/kuantitas Koreksi pencatatan Revaluasi - - Dari jumlah di atas dalam proses pertukaran/sengketa ............................... Dari jumlah di atas yang dihentikan penggunaannya karena rusak berat/hilang tetapi belum dihapuskan adalah .... Pembelian Transfer masuk Hibah masuk Rampasan/sitaan Reklasifikasi Masuk Pembatalan Penghapusan Pengembangan Nilai Koreksi Nilai/Kuantitas Revaluasi Rp.......... sebesar Rp...... Rp..... Rp.. Rp........... Rp…………………....................... Rp.............. m2/Rp...... mutasi kurang .................................. Rp................... Rp.. Rp………………..................................Penghapusan - Ekstrakomptabel Rp... Mutasi kurang Alat Besar tersebut meliputi: Intrakomptabel ................ Rp.................................. Rp... Rp…………………............ per .... Rp........ Rp........... Rp................................ Alat Besar (2........................................2........... unit/Rp............ Rp.................. Rp. unit/Rp...... Rp........... Rp.......................... Rp.................................................... Rp................. Rp………………….. mutasi tambah ................. PERALATAN DAN MESIN (131311) a...................................... Rp........................................ Mutasi tambah Alat Besar tersebut meliputi: Intrakomptabel - Ekstrakomptabel Rp.. Rp........01) Saldo BMN berupa Alat Besar pada Kementerian Negara/Lembaga/Eselon I/Satuan Kerja ....................................................... Rp.......................... Rp.... Rp............ Rp. Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah 19 .......... m2/Rp..... - Penyelesaian Pembangunan Rp.................... Jumlah tersebut terdiri dari saldo awal ........ m2/Rp ........................................................ Rp...........

. Rp.. Rp.. Rp.................. Rp…………………......................... Rp... m2/Rp...... Rp......................................... m2/Rp....... Rp.............................. Rp......... m2/Rp. mutasi tambah ..... Rp................................................... mutasi kurang ................................. sebesar Rp........... Rp.......... Rp…………………......................... Rp. Rp... Rp....................... Rp…………………............................... ................ Rp............................ Rp............... per ............. GEDUNG DAN BANGUNAN (131511) Saldo Gedung dan Bangunan pada Kementerian Negara/Lembaga/Eselon I/ Satuan Kerja .......... Rp......... Rp... Rp...........02) Saldo Kerja Alat Angkutan pada Kementerian Negara/Lembaga/Eselon I/Satuan .................... Jumlah tersebut terdiri dari saldo awal ................................................... Rp............ m2/Rp ............ Rp........... Rp............ Mutasi tambah Alat Angkut tersebut meliputi: Intrakomptabel ......................................................................................... Rp………………….. Rp.. Rp... Rp........ - Mutasi kurang Alat Angkut tersebut meliputi: Intrakomptabel - Ekstrakomptabel Penghapusan Transfer keluar Hibah keluar Pengurangan Reklasifikasi keluar Koreksi nilai/kuantitas pencatatan Revaluasi Rp.......................................... Rp... mutasi tambah ...................................... per ................ Rp.....................sebesar Rp. Jumlah tersebut terdiri dari saldo awal .............Pembelian - Ekstrakomptabel Rp.... Penyelesaian Pembangunan Reklasifikasi Masuk Pembatalan Penghapusan Pengembangan Nilai Revaluasi Koreksi Nilai/Kuantitas Rp.... mutasi kurang . Rp.Koreksi - 3..... Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah 20 ............................................... Transfer masuk Hibah masuk Rampasan/sitaan Rp.............. Rp.............. Alat Angkutan (2....... m2/Rp.. m2/Rp .................................... Rp..b....................

..... Rp.....................Koreksi - 4............... JALAN....................... Rp………………....... Rp....Mutasi tambah Gedung dan Bangunan tersebut meliputi: Intrakomptabel ................ Rp........................... Rp....... m2/Rp..... Rp................ Rp...................................................... Rp.... per ....... sebesar Rp.. mutasi kurang ...................................Penyelesaian Pembangunan Rp............... Rp.... Irigasi............................... Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah 21 ............................. Rp........... Rp..Transfer keluar - Ekstrakomptabel Rp. Rp.................................... Rp........ Rp………………… Hibah keluar Pengurangan Reklasifikasi keluar Koreksi nilai/kuantitas pencatatan Revaluasi ... Rp...................... Rp............. Rp............. Rp............. dan Jaringan pada Kementerian Negara/Lembaga/Eselon I/Satuan Kerja ..... Transfer masuk Rampasan/sitaan .............................................................Reklasifikasi Masuk - Pembatalan Penghapusan Pengembangan Nilai Koreksi Nilai/Kuantitas ............. Rp............ m2/Rp...................................... Rp... Jumlah tersebut terdiri dari saldo awal ....... Rp........... Rp....................................Penghapusan .........Revaluasi Mutasi kurang Gedung dan Bangunan tersebut meliputi: Intrakomptabel .Pembelian - Ekstrakomptabel Rp........... Rp...... Rp.................................... Rp........ Rp………………......... Rp............ m2/Rp . DAN JARINGAN (131711) Saldo Jalan..... Rp……………….. .......... mutasi tambah ..... Rp........ Rp..................Hibah masuk - ......................................... Rp....... IRIGASI...... Rp.............. Rp................

....... Rp...... Rp. - Mutasi kurang Jalan................ Transfer keluar Hibah keluar Pengurangan Reklasifikasi keluar Koreksi nilai/kuantitas Rp.......... Rp. Irigasi...... Rp………………....... Rp.......... Rp............. mutasi tambah .. Rp...Mutasi tambah Jalan............... Rp............. per ................ Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah 22 .................................................................................. Rp......................................... Rp.......... Rp...................... Irigasi.............. dan Jaringan tersebut meliputi: Intrakomptabel Penghapusan - Ekstrakomptabel Rp.... Rp.... Rp..... Rp..................... Rp.... Rp............... Rp................................ Rp....................................... Transfer masuk Hibah masuk Rampasan/sitaan Rp..... Rp....... dan Jaringan tersebut meliputi: Intrakomptabel . ASET TETAP LAINNYA (131911) Saldo Aset Tetap Lainnya pada Kementerian Negara/Lembaga/Eselon I/Satuan Kerja ......... Rp..... Rp........... m2/Rp........................ Rp.......................... Jumlah tersebut terdiri dari saldo awal ...................................................................................... Rp………………… Rp................ m2/Rp.................. m2/Rp ................................ Rp.... Rp……………… Penyelesaian Pembangunan Reklasifikasi Masuk Pembatalan Penghapusan Pengembangan Nilai Koreksi Nilai/Kuantitas Revaluasi Rp.... Rp........ 5....... Koreksi pencatatan Revaluasi Rp......................................... Rp......................Pembelian - Ekstrakomptabel Rp.................. sebesar Rp................................. Rp………………................... Rp....... mutasi kurang .........

.............................. Rp............. Rp...... Rp........................... Koreksi nilai/kuantitas Rp.............................................. Rampasan/sitaan Rp............ - Rp..................... Rp... Rp................................... Rp............... Rp.... Rp....................... Rp.......... Rp........................... Rp....................................... Rp........... Transfer keluar Hibah keluar Rp... Penyelesaian Pembangunan Rp.............................. Pengembangan Nilai Rp....................................................... Transfer masuk Hibah masuk Rp............. Rp....... Rp.. Koreksi Nilai/Kuantitas Revaluasi Rp………………........................................ Pembatalan Penghapusan Rp......... Rp................... Reklasifikasi keluar Rp...................... Reklasifikasi Masuk Rp.......... Rp...............Mutasi tambah Aset Tetap Lainnya tersebut meliputi: Intrakomptabel Pembelian - Ekstrakomptabel Rp..... Rp............................................ Mutasi kurang Aset Tetap Lainnya tersebut meliputi: Intrakomptabel Penghapusan - Ekstrakomptabel Rp......... Rp........ - - - - - Rp………………............................... Rp............... - Pengurangan Rp........ - - - Koreksi pencatatan Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah 23 ..........................................

........... BMN yang diperoleh dari dana dekonsentrasi dan dana tugas pembantuan yang belum diserahkan dengan rincian sebagai berikut: Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah 24 . KONSTRUKSI DALAM PENGERJAAN (132111) Disamping aset tetap yang tertuang dalam Laporan BMN pada tanggal ........ BMN BADAN LAYANAN UMUM Total BMN yang yang dikelola BLU senilai Rp........... dengan rincian sebagai berikut: Saldo Awal Mutasi Tambah Tanah Peralatan dan Mesin Gedung dan Bangunan Jalan....... Kementerian Negara/Lembaga/Eselon I/Satuan Kerja dengan rincian sebagai berikut: Tanah Peralatan dan Mesin Gedung dan Bangunan Jalan.... .............. ... .. Saldo .... dan Jaringan Aset Tetap Lainnya ... ..... .......... Rp............... Rp........ Rp... dan Jaringan Aset Tetap Lainnya Rp.. Irigasi............ Mutasi Kurang .............. .......... ................................... yang terdiri dari:... .............. .... Irigasi........................ ..... .... .........(disampaikan jenis persediaan yang masih tersisa dan kondisi dari persediaan tersebut).......... 2...... ........ .............II.... juga menguasai sejumlah aset tetap berbentuk Konstruksi Dalam Pengerjaan senilai Rp........ ................. adalah Rp............................ PERSEDIAAN Saldo persediaan pada tanggal ....................................... ........... INFORMASI TAMBAHAN 1........... .......... Rp........... INFORMASI LAINNYA a.. .... ....................................................... ......... 4..................... 3.

.............................. .................... dan Jaringan............................ ............ .. .... ..... ...... ..... ... Irigasi. Jalan....... Aset Tetap Lainnya ..................... dan Jaringan............Saldo awal mutasi tambah Tanah Peralatan dan Mesin Gedung dan Bangunan .................... ............ ........... Jalan.... ........... .......... .... saldo .............................. .............. saldo ...... ....... mutasi kurang ......... Mutasi kurang dari BMN tersebut di atas antara lain disebabkan oleh penyerahan kepada Kementeritan Negara/Lembaga ..................... .......... mutasi kurang ...... ............. .. Irigasi...................... ....... ..................... .......... .............. . ............................. . Informasi lainnya terkait dengan BMN yang perlu diungkapkan Disamping itu dilampirkan cetakan Laporan Barang Semester/Tahunan yang berasal dari proses penginputan data BMN melalui Aplikasi SIMAK-BMN Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah 25 . sebagai pelaksana BA b....................... ... . ........ ........ ....... Mutasi kurang dari BMN tersebut di atas antara lain disebabkan oleh penyerahan kepada Pemerintah Daerah................ Dari total BMN tersebut di atas termasuk BMN yang diperoleh dari Anggaran Pembiayaan dan Perhitungan yang belum diserahkan dengan rincian sebagai berikut: Saldo awal mutasi tambah Tanah Peralatan dan Mesin Gedung dan Bangunan . Aset Tetap Lainnya .........

Kebijakan akuntansi mencakup pengakuan. pengukuran dan pengungkapan pos aset berwujud barang ke dalam Laporan Keuangan. Oleh karena itu. suku cadang. Persediaan dapat meliputi barang konsumsi. pembahasan kebijakan akuntansi disajikan berdasarkan klasifikasi BMN berdasarkan pos-pos neraca. aset lain-lain untuk diserahkan kepada masyarakat. Barang Milik Negara disajikan di dalam Laporan Keuangan dalam klasifikasi sebagaimana diatur dalam Bagan Akun Standar. bahan baku. jalan. Persediaan untuk tujuan strategis/berjaga-jaga antara lain berupa cadangan energi (misalnya minyak) atau cadangan pangan (misalnya beras). Pengertian dan Cakupan Persediaan Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah 26 .BAB III Kebijakan Akuntansi atas Barang Milik Negara Bab ini membahas kebijakan akuntansi BMN dalam Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat (SAPP). tanah/bangunan untuk dijual atau diserahkan kepada masyarakat. dan barang bekas pakai seperti komponen bekas. Aset tetap lainnya untuk diserahkan kepada masyarakat dan hewan dan tanaman untuk dijual atau diserahkan kepada masyarakat. bahan untuk pemeliharaan. pita cukai dan leges. irigasi dan jaringan untuk diserahkan kepada masyarakat. peralatan dan mesin untuk dijual atau diserahkan kepada masyarakat. Aset Lancar Persediaan Persediaan adalah aset lancar dalam bentuk barang atau perlengkapan yang dimaksudkan untuk mendukung kegiatan operasional pemerintah. amunisi. barang tak habis pakai seperti komponen peralatan dan pipa. Persediaan mencakup barang atau perlengkapan yang dibeli dan disimpan untuk digunakan. dan barang-barang yang dimaksudkan untuk dijual dan/atau diserahkan dalam rangka pelayanan kepada masyarakat. persediaan untuk tujuan strategis/berjaga-jaga. barang dalam proses/setengah jadi. misalnya barang habis pakai seperti alat tulis kantor.

Meterai dan leges Tanah dan Bangunan untuk dijual atau diserahkan kepada Masyarakat Hewan dan Tanaman untuk dijual atau diserahkan kepada Masyarakat Peralatan dan Mesin untuk dijual atau diserahkan kepada Masyarakat Jalan. Irigasi dan Jaringan untuk diserahkan kepada Masyarakat Aset Tetap Lainnya untuk diserahkan kepada Masyarakat Aset Lain-Lain untuk diserahkan kepada Masyarakat Persediaan Bahan untuk Proses Produksi Bahan Baku Barang dalam Proses Persediaan Bahan Lainnya Persediaan untuk tujuan strategis/ berjaga-jaga Persediaan Barang Hasil Sitaan Persediaan Lainnya Nama Perkiraan Pengakuan Persediaan Persediaan diakui pada saat diterima atau hak kepemilikannya dan/atau kepenguasaannya berpindah. Persediaan bahan baku dan perlengkapan yang dimiliki dan akan dipakai dalam pekerjaan pembangunan fisik yang dikerjakan secara swakelola. dimasukkan sebagai perkiraan aset untuk Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah 27 .06/2007 tentang Bagan Akun Standar: Kode BB 1151 11511 115111 115112 115113 115114 11512 115121 115122 115123 115124 115125 115126 115127 11513 115131 115132 115199 115191 115192 115199 Persediaan Persediaan untuk Bahan Operasional Barang Konsumsi Amunisi Bahan untuk Pemeliharaan Suku Cadang Persediaan untuk dijual/ diserahkan kepada Masyarakat Pita Cukai. persediaan dicatat berdasarkan hasil inventarisasi fisik.Berikut adalah kode buku besar dan perkiraan/akun Persediaan sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan RI Nomor: 91/PMK. Pada akhir periode akuntansi.

misalnya persediaan yang diperoleh melalui hibah atau rampasan. (3) Nilai wajar. Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah 28 . rabat. biaya penanganan dan biaya lainnya yang secara langsung dapat dibebankan pada perolehan persediaan. Biaya standar persediaan meliputi biaya langsung yang terkait dengan persediaan yang diproduksi dan biaya overhead tetap dan variabel yang dialokasikan secara sistematis.kontruksi dalam pengerjaan. Pengungkapan Persediaan Persediaan disajikan di Neraca sebesar nilai moneternya. apabila diperoleh dengan pembelian. (2) Biaya standar. Potongan harga. Hal-hal lain yang perlu diungkapkan berkaitan dengan persediaan. Penjelasan lebih lanjut persediaan seperti barang atau perlengkapan yang digunakan dalam pelayanan masyarakat. barang yang disimpan untuk dijual atau diserahkan kepada masyarakat. Biaya perolehan persediaan meliputi harga pembelian. apabila diperoleh dengan memproduksi sendiri. Pengukuran Persediaan Persediaan disajikan sebesar: (1) Biaya perolehan. Persediaan dengan kondisi rusak atau usang tidak dilaporkan dalam neraca. barang atau perlengkapan yang digunakan dalam proses produksi. Selain itu di dalam catatan atas laporan keuangan harus diungkapkan pula: (1) (2) Kebijakan akuntansi yang digunakan dalam pengukuran persediaan. tetapi diungkapkan dalam Catatan atas Laporan Keuangan. (3) (4) Kondisi persediaan. Nilai pembelian yang digunakan adalah biaya perolehan persediaan yang terakhir diperoleh. dan lainnya yang serupa mengurangi biaya perolehan. dan tidak dimasukkan sebagai persediaan. biaya pengangkutan. dan barang yang masih dalam proses produksi yang dimaksudkan untuk dijual atau diserahkan kepada masyarakat . Tata cara penatausahaan persediaan mengacu kepada perdirjen perbendaharaan Nomor : Per-40/PB/2006 tentang Pedoman Akuntansi Persediaan. apabila diperoleh dengan cara lainnya seperti donasi/rampasan. yang terjadi dalam proses konversi bahan menjadi persediaan.

biaya yang dikeluarkan dalam rangka memperoleh hak.97/PMK.06/2007 tentang Penatausahaan Barang Milik Negara.06/2007 Kode Nama Bidang Bidang 1. dan biaya lainnya yang dikeluarkan sampai tanah tersebut siap Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah 29 .01 Menurut Tanah Perkiraan Buku Besar Aset dalam BAS Kode BB Nama Perkiraan 131111 Tanah Peraturan Menteri Keuangan RI nomor 120/PMK. Pengakuan Tanah Kepemilikan atas Tanah ditunjukkan dengan adanya bukti bahwa telah terjadi perpindahan hak kepemilikan dan/atau penguasaan secara hukum seperti sertifikat tanah.06/2007 ke Perkiraan-perkiraan Aset Tetap berupa Tanah dalam Neraca Klasifikasi BMN Menurut PMK No. pengukuran. biaya pematangan. misalnya tanah yang digunakan Perwakilan Republik Indonesia di luar negeri. Biaya perolehan mencakup harga pembelian atau biaya pembebasan tanah.Aset Tetap Tanah Tanah yang dikelompokkan sebagai aset tetap ialah tanah yang diperoleh dengan maksud untuk dipakai dalam kegiatan operasional pemerintah dan dalam kondisi siap dipakai. Pengukuran Tanah Tanah dinilai dengan biaya perolehan. semua tanah harus dibukukan dalam Daftar Barang Intrakomptabel dan dilaporkan dalam Neraca berapapun nilai tanah tersebut. hanya diakui bila kepemilikan tersebut berdasarkan isi perjanjian penguasaan dan hukum serta perundang-undangan yang berlaku di negara tempat Perwakilan Republik Indonesia berada bersifat permanen. Tanah yang dimiliki atau dikuasai oleh instansi pemerintah di luar negeri. penimbunan. misalnya telah terjadi pembayaran dan penguasaan atas sertifikat tanah atas nama pemilik sebelumnya.97/PMK. Mapping PMK No. Apabila perolehan tanah belum didukung dengan bukti secara hukum maka tanah tersebut harus diakui pada saat terdapat bukti bahwa penguasaannya telah berpindah.

alat elektronik. Alat Kedokteran dan Kesehatan. Aset Tetap Peralatan dan Mesin Peralatan dan mesin mencakup mesin-mesin dan kendaraan bermotor. Komunikasi dan Pemancar. Pengolahan dan Pemurnian.97/PMK. Alat Kantor dan Rumah Tangga. Dasar penilaian yang digunakan 2. dan seluruh inventaris kantor yang nilainya signifikan dan masa manfaatnya lebih dari 12 (dua belas) bulan dan dalam kondisi siap pakai. Pengungkapan Tanah Tanah disajikan di Neraca sebesar nilai moneternya. Alat Bantu Eksplorasi. Alat Peraga. Saldo awal. Selain itu di dalam catatan atas laporan keuangan harus diungkapkan pula: 1. Nilai tanah juga meliputi nilai bangunan tua yang terletak pada tanah yang dibeli tersebut jika bangunan tua tersebut dimaksudkan untuk dimusnahkan. Mutasi kurang beserta jenis transaksi untuk pengurangannya. Mapping PMK No. serta Unit Proses/Produksi. Alat Bengkel dan Alat Ukur. Apabila penilaian tanah dengan menggunakan biaya perolehan tidak memungkinkan maka nilai tanah didasarkan pada nilai wajar/harga taksiran pada saat perolehan. Alat Keselamatan Kerja. Alat Laboratorium.06/2007 Kode Bidang Nama Bidang Kode BB Perkiraan Buku Besar Aset dalam BAS Nama Perkiraan Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah 30 . Alat Studio. Rekonsiliasi jumlah tercatat pada awal dan akhir periode menurut jenis tanah yang menunjukkan: a.06/2007 ke Perkiraan-perkiraan Aset Tetap berupa Peralatan dan Mesin dalam Neraca Klasifikasi BMN Menurut PMK No. Wujud fisik Peralatan dan Mesin bisa meliputi: Alat Besar. Alat Eksplorasi. Alat Pemboran.pakai. Alat Pertanian. Alat Produksi. c. Alat Persenjataan. Mutasi tambah /penambahan dan jenis transaksi untuk penambahannya. Komputer.97/PMK. Alat Angkutan. b.

18 2.08 2.03 2. Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah 31 .07 2.01 2.97/PMK.19 Menurut Alat Besar Alat Angkutan Alat Bengkel dan Alat Ukur Alat Pertanian Alat Kantor & Rumah Tangga Alat Studio. Pengakuan Peralatan dan Mesin Peralatan dan Mesin yang diperoleh bukan dari donasi diakui pada periode akuntansi ketika aset tersebut siap digunakan berdasarkan jumlah belanja modal yang diakui untuk aset tersebut. Peralatan dan Mesin yang harus dibukukan dalam Daftar Barang Intrakomptabel dan dilaporkan dalam Neraca adalah: • • Semua Peralatan dan Mesin yag diperoleh sebelum 1 Januari 2002.05 2. Peralatan dan mesin yang tidak memenuhi kriteria di atas dibukukan dalam daftar barang ekstrakomptabel dan tidak dilaporkan dalam neraca.16 2.06/2007 2.17 2. atas Peralatan dan Mesin ditentukan jenis dan meliputi: penambahan.12 2. Komunikasi dan Pemancar Alat Kedokteran dan Kesehatan Alat Laboratorium Alat Persenjataan Komputer Alat Eksplorasi Alat Pemboran Alat Produksi.000.04 2. Pengolahan & Pemurnian Alat Bantu Eksplorasi Alat Keselamatan Kerja Alat Peraga Unit Peralatan Proses/ Produksi 131311 Perkiraan Buku Besar Aset dalam BAS Peralatan dan Mesin Peraturan Menteri Keuangan RI nomor 120/PMK.06 2.02 2.13 2. Peralatan dan Mesin yang diperoleh dari donasi diakui pada saat Peralatan dan Mesin tersebut diterima dan hak kepemilikannya berpindah. Peralatan dan Mesin yang diperoleh setelah 1 Januari 2002 dengan biaya perolehannya lebih besar atau sama dengan Rp 300. Pengakuan transaksinya pengurangan.Klasifikasi BMN Menurut PMK No.15 2.14 2.06/2007 tentang Penatausahaan Barang Milik Negara. pengembangan.11 2.

2) Rekonsiliasi jumlah tercatat pada awal dan akhir periode yang menunjukkan: Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah 32 . Biaya penambahan dikapitalisasi dan ditambahkan pada harga perolehan Peralatan dan Mesin tersebut. Pengungkapan Peralatan dan Mesin Peralatan dan Mesin disajikan di Neraca sebesar nilai moneternya. bahan baku. biaya perizinan dan jasa konsultan. Pengurangan adalah penurunan nilai Peralatan dan Mesin dikarenakan berkurangnya kuantitas aset tersebut. serta biaya langsung lainnya untuk memperoleh dan mempersiapkan sampai peralatan dan mesin tersebut siap digunakan. Biaya perolehan Peralatan dan Mesin yang diperoleh melalui kontrak meliputi nilai kontrak. dan biaya tidak langsung termasuk biaya perencanaan dan pengawasan. biaya pengangkutan. tenaga listrik. Pengembangan adalah peningkatan nilai Peralatan dan Mesin karena peningkatan manfaat yang berakibat pada: durasi masa manfaat. peningkatan efisiensiensi dan penurunan biaya pengoperasian. Pengukuran Peralatan dan Mesin Biaya perolehan peralatan dan mesin menggambarkan jumlah pengeluaran yang telah dilakukan untuk memperoleh peralatan dan mesin tersebut sampai siap pakai. Biaya perolehan atas Peralatan dan Mesin yang berasal dari pembelian meliputi harga pembelian. biaya perencanaan dan pengawasan. Selain itu di dalam catatan atas laporan keuangan diungkapkan pula: 1) Dasar penilaian yang digunakan untuk menentukan nilai.Penambahan adalah peningkatan nilai Peralatan dan Mesin yang disebabkan pengadaan baru. biaya instalasi. Biaya perolehan Peralatan dan Mesin yang dibangun dengan cara swakelola meliputi biaya langsung untuk tenaga kerja. dan semua biaya lainnya yang terjadi berkenaan dengan pembangunan Peralatan dan Mesin tersebut. diperluas atau diperbesar. sewa peralatan. perlengkapan.

• Gedung dan Bangunan yang diperoleh setelah 1 Januari 2002 dengan biaya perolehannya lebih besar atau sama dengan Rp 10. Gedung dan Bangunan yang tidak memenuhi kriteria di atas dibukukan dalam daftar barang ekstrakomptabel dan tidak dilaporkan. Termasuk dalam kategori Gedung dan Bangunan adalah BMN yang berupa Bangunan Gedung. 3) Kebijakan akuntansi untuk kapitalisasi yang berkaitan dengan Peralatan dan Mesin.08 1.10 Nama Bidang Bangunan Gedung Bangunan Menara Rambu-rambu Tugu Titik Kontrol/Pasti Kode BB 131511 Perkiraan Buku Besar Aset dalam BAS Nama Perkiraan Gedung dan Bangunan Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah 33 . Mapping PMK No.06/2007 Kode Bidang 1. Jumlah mutasi kurang beserta jenis transaksi untuk pengurangannya.97/PMK. Gedung dan Bangunan yang harus dibukukan dalam Daftar Barang Intrakomptabel dan dilaporkan dalam Neraca adalah: • Semua Gedung dan Bangunan yag diperoleh sebelum 1 Januari 2002. Menurut Peraturan Menteri Keuangan RI nomor 120/PMK. Ramburambu.06/2007 tentang Penatausahaan Barang Milik Negara.06 1. Jumlah penambahan dan jenis transaksinya.a.09 1. serta Tugu Titik Kontrol.000. b. Bangunan Menara.97/PMK.06/2007 ke Perkiraan-perkiraan Aset Tetap berupa Gedung dan Bangunan dalam Neraca Klasifikasi BMN Menurut PMK No. Saldo awal. Aset Tetap Gedung dan Bangunan Gedung dan bangunan mencakup seluruh gedung dan bangunan yang dibeli atau dibangun dengan maksud untuk dipakai dalam kegiatan operasional pemerintah dan dalam kondisi siap dipakai. c.000.

peningkatan efisiensiensi dan penurunan biaya pengoperasian. dan semua biaya lainnya yang terjadi berkenaan dengan pembangunan aset tetap tersebut. bahan baku. diperluas atau diperbesar.Pengakuan Gedung dan Bangunan Gedung dan Bangunan yang diperoleh bukan dari donasi diakui pada periode akuntansi ketika asset tersebut siap digunakan berdasarkan jumlah belanja modal yang diakui untuk aset tersebut. Pengakuan transaksinya pengurangan. sewa peralatan. Biaya perolehan Gedung dan Bangunan yang dibangun dengan cara swakelola meliputi biaya langsung untuk tenaga kerja. perlengkapan. Gedung dan Bangunan yang diperoleh dari donasi diakui pada saat Gedung dan Bangunan tersebut diterima dan hak kepemilikannya berpindah. Pengembangan adalah peningkatan nilai Gedung dan Bangunan karena peningkatan manfaat yang berakibat pada: durasi masa manfaat. Pengurangan adalah penurunan nilai Gedung dan Bangunan dikarenakan berkurangnya kuantitas aset tersebut. Apabila penilaian Gedung dan Bangunan dengan menggunakan biaya perolehan tidak memungkinkan maka nilai aset tetap didasarkan pada nilai wajar/taksiran pada saat perolehan. atas Gedung dan Bangunan ditentukan jenis dan meliputi: penambahan. Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah 34 . pengembangan. Pengukuran Gedung dan Bangunan Gedung dan Bangunan dinilai dengan biaya perolehan. Biaya penambahan dikapitalisasi dan ditambahkan pada harga perolehan Gedung dan Bangunan tersebut. dan biaya tidak langsung termasuk biaya perencanaan dan pengawasan. Penambahan adalah peningkatan nilai Gedung dan Bangunan yang disebabkan pengadaan baru. tenaga listrik.

BMN yang termasuk dalam kategori aset ini adalah Instalasi. biaya perencanaan dan pengawasan. dan Jaringan. Menurut Peraturan Menteri Keuangan RI nomor 120/PMK. Pengembangan. dan jaringan yang dibangun oleh pemerintah serta dikuasai oleh pemerintah dan dalam kondisi siap dipakai. Bangunan Air. Irigasi dan Jaringan tersebut. dan dilaporkan dalam Neraca Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah 35 . Pengungkapan Gedung dan Bangunan Gedung dan Bangunan disajikan di Neraca sebesar nilai moneternya. biaya perolehan meliputi nilai kontrak. dan jaringan mencakup jalan. biaya perizinan. serta jasa konsultan. irigasi. irigasi. Kebijakan akuntansi untuk kapitalisasi yang berkaitan dengan Gedung dan Bangunan. irigasi dan jaringan harus dibukukan dalam daftar barang Intrakomptabel berapapun nilai Jalan. dan Penghapusan. Selain itu di dalam catatan atas laporan keuangan diungkapkan pula: (1) Dasar penilaian yang digunakan untuk menentukan nilai. Irigasi dan Jaringan Jalan.06/2007 tentang Jalan dan Jembatan. (2) Rekonsiliasi jumlah tercatat pada awal dan akhir periode yang menunjukkan: • • • (3) Penambahan.Jika Gedung dan Bangunan diperoleh melalui kontrak. Aset Tetap Jalan. Penatausahaan Barang Milik Negara. semua jalan.

Jalan.97/PMK. Irigasi dan Jaringan Jalan. Irigasi dan Jaringan karena peningkatan manfaat yang berakibat pada: durasi masa manfaat. Penambahan adalah peningkatan nilai Jalan. Pengakuan atas Jalan. diperluas atau diperbesar. Irigasi dan Jaringan dalam Neraca Klasifikasi BMN Menurut PMK No.06/2007 ke Perkiraan-perkiraan Aset Tetap berupa Jalan.97/PMK.05 Jalan dan jembatan Bangunan Air Instalasi Jaringan Perkiraan Buku Besar Aset dalam BAS Kode BB Nama Perkiraan 131711 Jalan. Irigasi dan Jaringan Biaya perolehan jalan. dan jaringan menggambarkan seluruh biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh jalan. dan pengurangan. pengembangan.Mapping PMK No.02 1. Irigasi dan Jaringan yang diperoleh dari donasi diakui pada saat Jalan.04 1. Irigasi dan Jaringan dikarenakan berkurangnya kuantitas aset tersebut.03 1. peningkatan efisiensiensi dan penurunan biaya pengoperasian.06/2007 Kode Nama Bidang Bidang 1. Irigasi dan Jaringan yang diperoleh bukan dari donasi diakui pada periode akuntansi ketika aset tersebut siap digunakan berdasarkan jumlah belanja modal yang diakui untuk aset tersebut. Pengukuran Jalan. Irigasi dan Jaringan Pengakuan Jalan. Pengurangan adalah penurunan nilai Jalan. irigasi. Irigasi dan Jaringan yang disebabkan pengadaan baru. dan jaringan sampai Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah 36 . Irigasi dan Jaringan ditentukan jenis transaksinya meliputi: penambahan. irigasi. Irigasi dan Jaringan tersebut diterima dan hak kepemilikannya berpindah. Biaya penambahan dikapitalisasi dan ditambahkan pada harga perolehan Jalan. Pengembangan adalah peningkatan nilai Jalan. Irigasi dan Jaringan tersebut.

biaya perizinan. irigasi dan jaringan yang diperoleh melalui kontrak meliputi biaya perencanaan dan pengawasan. Irigasi dan Jaringan. Irigasi dan Jaringan disajikan di Neraca sebesar nilai moneternya. Selain itu di dalam catatan atas laporan keuangan diungkapkan pula: (1) Dasar penilaian yang digunakan untuk menentukan nilai. biaya perencanaan dan pengawasan. sewa peralatan. Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah 37 .siap pakai. Jalan. Biaya perolehan untuk jalan. Ikan dan Tanaman. Irigasi dan Jaringan. Barang Bercorak Kesenian/Kebudayaan/Olah Raga. Pengembangan. (2) Rekonsiliasi jumlah tercatat pada awal dan akhir periode yang menunjukkan: • • • (3) Penambahan. jasa konsultan. biaya perizinan. Aset Tetap Aset Tetap Lainnya Aset tetap lainnya mencakup aset tetap yang tidak dapat dikelompokkan ke dalam kelompok Tanah. dan pembongkaran bangunan lama. Peralatan dan Mesin. Irigasi dan Jaringan Jalan. irigasi dan jaringan yang dibangun secara swakelola meliputi biaya langsung dan tidak langsung. Gedung dan Bangunan. dan Penghapusan. yang terdiri dari meliputi biaya bahan baku. irigasi dan jaringan tersebut siap pakai. biaya pengosongan dan pembongkaran bangunan lama. tenaga kerja. Kebijakan akuntansi untuk kapitalisasi yang berkaitan dengan Jalan. Hewan. BMN yang termasuk dalam kategori aset ini adalah Koleksi Perpustakaan/ Buku. Biaya ini meliputi biaya perolehan atau biaya konstruksi dan biaya-biaya lain yang dikeluarkan sampai jalan. yang diperoleh dan dimanfaatkan untuk kegiatan operasional pemerintah dan dalam kondisi siap dipakai. biaya pengosongan. Pengungkapan Jalan. Biaya perolehan untuk jalan.

Aset Tetap Lainnya yang diperoleh dari donasi diakui pada saat Aset Tetap Lainnya tersebut diterima dan hak kepemilikannya berpindah. diperluas atau diperbesar. Biaya penambahan dikapitalisasi dan ditambahkan pada harga perolehan Aset Tetap Lainnya tersebut.06/2007 ke Perkiraan-perkiraan Aset Tetap berupa Aset Tetap Lainnya dalam Neraca Klasifikasi BMN Menurut PMK No.97/PMK.06/2007 Kode Bidang 2.01 3.06/2007 tentang Penatausahaan Barang Milik Negara. Penambahan adalah peningkatan nilai Aset Tetap Lainnya yang disebabkan pengadaan baru.Menurut Peraturan Menteri Keuangan RI nomor 120/PMK. ikan dan tanaman yang dimasukkan ke dalam Aset Tetap Lainnya adalah yang diperoleh sebelum 1 Januari 2002.97/PMK. Pengakuan Aset Tetap Lainnya Aset Tetap Lainnya yang diperoleh bukan dari donasi diakui pada periode akuntansi ketika aset tersebut siap digunakan berdasarkan jumlah belanja modal yang diakui untuk aset tersebut.03 Nama Bidang Koleksi Perpustakaan/Buku Barang Bercorak Kesenian/ Kebudayaan/Olah Raga Hewan Ikan Tanaman Kode BB 131911 Perkiraan Buku Besar Aset dalam BAS Nama Perkiraan Aset Tetap Lainnya Hewan. dan dilaporkan dalam Neraca berapapun nilai Aset Mapping PMK No.02 3.10 3. semua aset tetap lainnya harus dibukukan dalam daftar barang Intrakomptabel Tetap Lainnya tersebut.09 2. Untuk yang diperoleh setelah tanggal tersebut dibukukan dalam Daftar Barang Ekstrakomptabel dan tidak dilaporkan dalam Neraca. Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah 38 . Pengakuan atas Aset Tetap Lainnya ditentukan jenis transaksinya meliputi: penambahan dan pengurangan.

irigasi dan jaringan.97/PMK.06/2007 ke Perkiraan-perkiraan Aset Tetap berupa Konstruksi Dalam Pengerjaan dalam Neraca membutuhkan suatu periode waktu Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah 39 . gedung dan bangunan. Penambahan dan Penghapusan. (2) Rekonsiliasi jumlah tercatat pada awal dan akhir periode yang menunjukkan Aset Tetap Konstruksi Dalam Pengerjaan Konstruksi dalam pengerjaan adalah aset-aset yang sedang dalam proses pembangunan pada tanggal laporan keuangan. Pengukuran Aset Tetap Lainnya Biaya perolehan aset tetap lainnya menggambarkan seluruh biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh aset tersebut sampai siap pakai. Konstruksi Dalam Pengerjaan mencakup tanah. Selain itu di dalam catatan atas laporan keuangan diungkapkan pula: (1) Dasar penilaian yang digunakan untuk menentukan nilai. yang terdiri dari biaya bahan baku. Biaya perolehan aset tetap lainnya yang diperoleh melalui kontrak meliputi pengeluaran nilai kontrak. biaya perencanaan dan pengawasan. jalan. (3) Kebijakan akuntansi untuk kapitalisasi yang berkaitan dengan Aset Tetap Lainnya. dan aset tetap lainnya yang proses perolehannya dan/atau pembangunannya tertentu dan belum selesai. serta biaya perizinan. Mapping PMK No. tenaga kerja. biaya perizinan. dan pengawasan.Pengurangan adalah penurunan nilai Aset Tetap Lainnya dikarenakan berkurangnya kuantitas aset tersebut. dan jasa Pengungkapan Aset Tetap Lainnya Aset Tetap Lainnya disajikan di Neraca sebesar nilai moneternya. biaya perencanaan konsultan. sewa peralatan. Biaya perolehan aset tetap lainnya yang diadakan melalui swakelola meliputi biaya langsung dan tidak langsung. peralatan dan mesin.

Biaya perolehan konstruksi yang dikerjakan secara swakelola meliputi: • biaya yang berhubungan langsung dengan kegiatan konstruksi yang mencakup biaya pekerja lapangan termasuk penyelia. penyewaan sarana dan peralatan. • biaya yang dapat diatribusikan pada kegiatan pada umumnya dan dapat dialokasikan ke konstruksi tersebut mencakup biaya asuransi. Biaya rancangan dan bantuan teknis yang tidak secara langsung berhubungan dengan konstruksi tertentu. Pengukuran Konstruksi Dalam Pengerjaan Konstruksi Dalam Pengerjaan dicatat sebesar biaya perolehan. biaya bahan.06/2007 Kode Golongan 5. serta biaya rancangan dan bantuan teknis yang berhubungan langsung dengan kegiatan konstruksi. Nama Golongan Konstruksi Pengerjaan Dalam Kode BB 132111 Perkiraan Buku Besar Aset dalam BAS Nama Perkiraan Konstruksi Pengerjaan Dalam Pengakuan Konstruksi Dalam Pengerjaan Dalam Pengerjaan merupakan masyarakat dalam jangka Konstruksi aset yang dimaksudkan untuk panjang dan oleh karenanya digunakan dalam operasional pemerintah atau dimanfaatkan oleh diklasifikasikan dalam aset tetap. dan biaya-biaya lain yang dapat diidentifikasikan untuk kegiatan konstruksi yang bersangkutan seperti biaya inspeksi.Klasifikasi BMN Menurut PMK No. pemindahan sarana. peralatan dan bahan-bahan dari dan ke lokasi konstruksi. Suatu aset berwujud harus diakui sebagai Konstruksi Dalam Pengerjaan jika biaya perolehan tersebut dapat diukur secara andal dan masih dalam proses pengerjaan.97/PMK. Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah 40 . Konstruksi Dalam Pengerjaan dipindahkan ke aset tetap yang bersangkutan setelah pekerjaan konstruksi tersebut dinyatakan selesai dan siap digunakan sesuai dengan tujuan perolehannya.

000 Rp9.000 dan harga printer sejenis adalah Rp3.000 = x Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah 41 .000 Rp7. (3) Jumlah biaya yang telah dikeluarkan. Selain itu di dalam catatan atas laporan keuangan diungkapkan pula: (1) Rincian kontrak konstruksi dalam pengerjaan berikut tingkat penyelesaian dan jangka waktu penyelesaiannya.000. Jika ke dua barang tersebut dibeli secara terpisah.000=Rp2.000 Rp9. Karena pencatatan akuntansi untuk PC Unit dan Printer dilakukan secara terpisah. (4) Uang muka kerja yang diberikan.000. Pengungkapan Konstruksi Dalam Pengerjaan Konstruksi dalam pengerjaan disajikan di Neraca sebesar nilai moneternya.000. Sebagai contoh.Biaya perolehan konstruksi yang dikerjakan kontrak konstruksi meliputi: • • Termin yang telah dibayarkan kepada kontraktor sehubungan dengan tingkat penyelesaian pekerjaan.000 Rp10.500.000.000.500. maka harga PC Unit sejenis berharga Rp9.000.000+Rp3. Pembayaran klaim kepada kontraktor atau pihak ketiga sehubungan dengan pelaksanaan kontrak konstruksi.500. (2) Nilai kontrak konstruksi dan sumber pembiayaanya.000+Rp3. maka perhitungan harga untuk masing-masing barang tersebut adalah sebagai berikut: PC Unit: Rp9.000.000. Perolehan BMN Secara Gabungan Biaya perolehan dari masing-masing aset tetap yang diperoleh secara gabungan ditentukan dengan mengalokasikan harga gabungan tersebut berdasarkan perbandingan nilai wajar masingmasing aset yang bersangkutan.875.625.000.000.000 x Rp10. Kuasa Pengguna Barang membeli PC Unit dan Printer dengan harga gabungan yaitu Rp10. (5) Retensi.000 Printer: Rp3.

Dalam PMK No. dan karya seni (works of art). Beberapa aset tetap dijelaskan sebagai aset bersejarah dikarenakan kepentingan budaya. Karakteristik-karakteristik di bawah ini sering dianggap sebagai ciri khas dari suatu aset bersejarah. Biaya untuk perolehan. Biaya tersebut termasuk seluruh biaya yang berlangsung untuk menjadikan aset bersejarah tersebut dalam kondisi dan lokasi yang ada pada periode berjalan. pendidikan. ataupun sitaan.07. misalnya jumlah unit koleksi yang dimiliki atau jumlah unit monumen. rekonstruksi harus dibebankan sebagai belanja tahun terjadinya pengeluaran tersebut. peningkatan. monumen. tempat-tempat purbakala (archaeological sites) seperti candi. konstruksi. Sulit untuk mengestimasikan masa manfaatnya. dan sejarahnya tidak mungkin secara penuh dilambangkan dengan nilai keuangan berdasarkan harga pasar.Aset Bersejarah Aset bersejarah tidak disajikan di neraca namun aset tersebut harus diungkapkan dalam Catatan atas Laporan Keuangan. rampasan. dan sejarah. warisan. b. Aset bersejarah dibuktikan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Tidak mudah untuk diganti dan nilainya akan terus meningkat selama waktu berjalan walaupun kondisi fisiknya semakin menurun. c. lingkungan. donasi. Aset bersejarah biasanya diharapkan untuk dipertahankan dalam waktu yang tak terbatas. Contoh dari aset bersejarah adalah bangunan bersejarah. Nilai kultural. Peraturan dan hukum yang berlaku melarang atau membatasi secara ketat pelepasannya untuk dijual. a. Pemerintah mungkin mempunyai banyak aset bersejarah yang diperoleh selama bertahun-tahun dan dengan cara perolehan beragam termasuk pembelian. lingkungan. Beberapa aset bersejarah juga memberikan potensi manfaat lainnya kepada pemerintah selain nilai sejarahnya.06/2007 Aset Bersejarah adalah BMN yang termasuk dalam bidang dengan kode 1. Aset bersejarah dicatat dalam kuantitasnya tanpa nilai.97/PMK. Untuk beberapa kasus dapat mencapai ratusan tahun. sebagai contoh Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah 42 .

apabila renovasi gedung kantor telah mengakibatkan peningkatan manfaat dan nilai teknis gedung kantor. maka dianggap tidak disajikan sebagai aset tetap dalam renovasi. sebagai berikut: 1. Apabila renovasi di atas meningkatkan manfaat ekonomik gedung.. Secara umum. SABMN diselenggarakan melalui serangkaian prosedur baik manual maupun komputerisasi. aset ini akan diterapkan prinsip-prinsip yang sama seperti aset tetap lainnya. dan memenuhi butir 1 di atas. Apabila manfaat ekonomik renovasi tersebut lebih dari satu tahun buku. BAB IV Prosedur Akuntansi atas Barang Milik Negara Bab ini membahas prosedur akuntansi BMN dalam Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat (SAPP). sedangkan apabila manfaat ekonomik renovasi kurang dari 1 tahun buku. organisasi akuntansi dan proses akuntansi dalam rangka menghasilkan berbagai keluaran yang diperlukan baik dalam pengelolaan maupun pertanggungjawaban BMN.bangunan bersejarah digunakan untuk ruang perkantoran. maka pengeluaran belanja tersebut akan disajikan oleh instansi yang melakukan renovasi tersebut sebagai aset tetap dalam renovasi pada akun aset tetap lainnya di neraca instansi yang bersangkutan. Untuk kasus tersebut. Aset Tetap dalam Renovasi Aset tetap dalam renovasi terjadi bila instansi telah melakukan renovasi atas gedung kantor yang bukan miliknya. Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah 43 . misalnya perubahan fungsi gedung dari gudang menjadi ruangan kerja dan kapasitasnya naik. Prosedur tersebut melibatkan dokumen sumber. maka dianggap tidak disajikan sebagai aset tetap dalam renovasi. maka renovasi tersebut dikapitalisasi sebagai Aset Tetap-Renovasi. Perlakuan atas renovasi pada gedung dan bangunan yang bukan milik instansi yang melaksanakan renovasi. biaya renovasi dikapitalisasi sebagai Aset Tetap-Renovasi. Apabila renovasi atas aset tetap yang disewa tidak menambah manfaat ekonomik. 2.

maka organisasi akuntansinya dapat digambarkan sebagai berikut: Unit Akuntansi Pengguna Anggaran (UAPA) Unit Akuntansi Pengguna Barang (UAPB) Unit Akuntansi pada Tingkat Kementerian Negara/ Lembaga Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Anggaran Eselon I (UAPPA-E1) Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Barang Eselon I (UAPPB-E1) Unit Akuntansi pada Tingkat Eselon I Pengertian dan Cakupan Persediaan Unit Akuntansi pada Tingkat Program Percepatan AkuntabilitasKantor Wilayah/ Keuangan Pemerintah 44 Koordinator Wilayah .Organisasi Sistem Akuntansi Instansi Sebagaimana dikemukakan pada Bab I. Sistem Akuntansi Instansi (SAI) memiliki dua sub sistem: Sistem Akuntansi Keuangan (SAK) dan Sistem Akuntansi BMN (SABMN). Secara grafis organisasi tersebut dapat digambarkan sebagai berikut: SAK Unit Akuntansi Pengguna Anggaran (UAPA) SABMN Unit Akuntansi Pengguna Barang (UAPB) Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Anggaran Eselon I (UAPPA-E1) Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Barang Eselon I (UAPPB-E1) Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Anggaran Wilayah (UAPPA-W) Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Barang Wilayah (UAPPB-W) Unit Akuntansi Kuasa Pengguna Anggaran (UAKPA) Unit Akuntansi Kuasa Pengguna Barang Bila struktur akuntansi tersebut di atas dikaitkan dengan struktur organisasi di Kementerian Negara/Lembaga.

2. Bupati. Unit Akuntansi Kuasa Pengguna Barang (UAKPB) UAKPB merupakan unit akuntansi BMN pada tingkat satuan kerja (kuasa pengguna barang) yang memiliki wewenang mengurus dan atau menggunakan BMN. Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah 45 . Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Barang (UAPPB-E1) UAPPB-E1 merupakan unit akuntansi BMN pada tingkat eselon I. Unit Akuntansi Pengguna Barang (UAPB) UAPB merupakan unit akuntansi BMN pada tingkat kementerian negara/lembaga (pengguna barang). penanggung jawabnya adalah Menteri/Pimpinan Lembaga. Penanggung jawab UAKPB adalah Kepala Kantor/Kepala Satuan Kerja. penanggungjawabnya adalah Kepala Kantor Wilayah atau Kepala unit kerja yang ditetapkan sebagai UAPPB-W. penanggungjawabnya adalah pejabat eselon I. struktur organisasi akuntansi Barang Milik Negara (BMN) ditetapkan sebagai berikut: 1. 3. 4. Unit Akuntasi Pembantu Pengguna Barang Wilayah (UAPPB-W) UAPPB-W merupakan unit akuntansi BMN pada tingkat kantor wilayah atau unit kerja lain di wilayah yang ditetapkan sebagai koordinator. Untuk UAPPB-W Dekonsentrasi penanggungjawabnya adalah Gubernur sedangkan untuk UAPPB-W Tugas Pembantuan penanggungjawabnya adalah Gubernur.Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Anggaran Wilayah (UAPPA-W) Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Barang Wilayah (UAPPBW) Unit Akuntansi Kuasa Pengguna Anggaran (UAKPA) Unit Akuntansi Kuasa Pengguna Barang (UAKPB) Unit Akuntansi pada Tingkat Satuan Kerja Organisasi Akuntansi BMN Secara umum. atau Walikota sesuai dengan penugasan yang diberikan oleh pemerintah melalui kementerian negara/lembaga.

Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah 46 . Tingkat Kementerian Negara/Lembaga Unit Akuntansi Pengguna Barang (UAPB) Tingkat Eselon 1 Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Barang-Eselon 1 (UAPPB-E1) Tingkat Wilayah Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Barang-Wilayah (UAPPB-W) Tingkat Satuan Kerja Unit Akuntansi Kuasa Pengguna Barang (UAKPB) Jenis-jenis Transaksi dalam Akuntansi BMN Saldo Awal Saldo Awal.Untuk UAKPB Dekonsentrasi/Tugas Pembantuan penanggungjawabnya adalah Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). merupakan saldo BMN pada awal tahun anggaran berjalan atau awal tahun mulai diimplementasikannnya SIMAK-BMN yang merupakan akumulasi dari seluruh transaksi BMN tahun sebelumnya.

bangun guna serah/bangun serah guna. merupakan koreksi pencatatan atas nilai BMN yang telah dicatat dan telah dilaporkan sebelumnya.Perolehan BMN merupakan transaksi penambahan BMN yang tahun tanggal perolehannya sama dengan tahun anggaran berjalan. • Pelaksanaan dari Perjanjian/Kontrak. merupakan transaksi pengurangan kuantitas/nilai BMN yang menggunakan satuan luas atau satuan lain yang pengurangannya tidak menyebabkan keseluruhan BMN hilang. • Penyelesaian Pembangunan. merupakan pencatatan BMN dari hasil pembatalan penghapusan yang sebelumnya telah dihapuskan/ dikeluarkan dari pembukuan. merupakan transaksi perolehan BMN dari hasil transfer masuk dari UAKPB yang lain. Transaksi ini biasanya digunakan karena adanya perubahan peruntukan BMN atau untuk mengoreksi kesalahan kodifikasi pada pembukuan BMN sebelumnya. merupakan transaksi BMN yang sebelumnya telah dicatat dengan klasifikasi BMN yang lain. merupakan transaksi perolehan BMN dari hasil pembelian. Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah 47 . merupakan transaksi perolehan barang dari pelaksanaan kerja sama pemanfaatan. Transaksi perolehan BMN meliputi: • Pembelian. • • Perubahan Kondisi. Koreksi Perubahan Nilai/Kuantitas. merupakan transaksi pengembangan BMN yang dikapitalisir yang mengakibatkan pemindahbukuan dari pembukuan Ekstrakomptabel ke pembukuan Intrakomptabel atau perubahan nilai/satuan BMN dalam pembukua Intrakomptabel. • Reklasifikasi Masuk. • Pengembangan. • Rampasan. merupakan pencatatan perubahan kondisi BMN. merupakan transaksi perolehan BMN dari hasil penerimaan dari pihak ketiga. merupakan transaksi perolehan BMN dari hasil penyelesaian pembangunan berupa bangunan/ gedung dan BMN lainnya yang telah diserahterimakan dengan Berita Acara Serah Terima. • Pembatalan Penghapusan. dan perjanjian kontrak lainnya. • Transfer Masuk. Perubahan BMN Transaksi perubahan BMN meliputi: • Pengurangan Kuantitas/Nilai. • Hibah. tukar menukar. merupakan transaksi perolehan BMN dari hasil rampasan berdasarkan putusan pengadilan.

Untuk transaksi Saldo Awal. Untuk transaksi Perolehan/Pengembangan/Penghapusan. Proses Bulanan dan Semesteran Pengertian dan Cakupan Persediaan Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah 48 . Reklasifikasi Keluar. • • • Transfer Keluar. kartu dan laporan. Hibah. Penghapusan BMN Transaksi penghapusan BMN meliputi: • Penghapusan.• Perubahan/ Pengembangan BMN dari penyerahan Aset Tetap Hasil Renovasi. merupakan transaksi BMN ke dalam klasifikasi BMN yang lain. Surat Keputusan Penghapusan. Dokumen sumber yang sahih diproses melalui entry data. dokumen sumber yang diperlukan meliputi Berita Acara Serah Terima BMN. merupakan transaksi penyerahan BMN ke UAKPB lain. Input/Dokumen sumber 1. merupakan transaksi untuk menghapus BMN dari pembukuan berdasarkan suatu surat keputusan pengahapusan oleh instansi yang berwenang. Faktur pembelian. Prosedur Akuntansi BMN pada Tingkat UAKPB Prosedur akuntansi BMN pada UAKPB berawal dari input yang berupa dokumen sumber. dan dokumen lain yang sah. Pemrosesan akan menghasilkan keluaran berupa berbagai macam buku/daftar. Bukti Kepemilikan BMN. Kuitansi. merupakan transaksi untuk mengoreksi/mengurangi jumlah barang pada catatan BMN karena kelebihan catat pada pelaporan BMN sebelumnya. merupakan transaksi perubahan BMN suatu UAKPB karena adanya penyerahan aset tetap hasil renovasi dari satker/ pihak lain yang telah mengembangkan BMN UAKPB tersebut. Proses SIMAK-BMN Tingkat UAKPB 1. dokumen sumber yang diperlukan meliputi catatan dan atau Laporan BMN periode sebelumnya dan apabila diperlukan dapat dilakukan inventarisasi. merupakan transaksi yang menyebabkan perubahan klasifikasi BMN dalam neraca umumnya dari aset tetap menjadi aset lainnya. 2. • Penghentian BMN dari penggunaan aktif. • Koreksi Pencatatan. SPM/ SP2D. Transaksi ini berkaitan dengan transaksi Reklasifikasi Masuk. merupakan transaksi penyerahan BMN kepada pihak ketiga.

ADK dan Catatan Ringkas BMN ke UAPPB-E1 pada Kementerian Negara/Lembaga yang mengalokasikan dana dekonsentrasi/tugas pembantuan. Daftar Barang Persediaan dan Kartu Konstruksi Dalam Pengerjaan (manual) berdasarkan dokumen sumber. Menyampaikan data transaksi BMN ke Unit Akuntansi Keuangan selambatlambatnya tanggal 5 bulan berikutnya untuk penyusunan neraca tingkat UAKPA. • • • Membuat dan atau memutakhirkan KIB. Barang-barang yang belum jelas status kepemilikannya seperti penerimaan hibah yang belum ada BAST-nya. Membuat Laporan Barang pada akhir semester. 2. penambahan nilai aset yang mencapai jumlah melebihi nilai kapitalisasi atas BMN pihak lain juga harus diungkapkan. Penyampaian ADK ke UAKPA untuk bulan Juni dan Desember dilengkapi pula dengan Catatan Ringkas BMN yang antara lain berisi kemungkinan masih adanya barang-barang yang bermasalah seperti tidak dapat dimasukkannya item BMN tertentu ke dalam aplikasi karena tabel barangnya belum mampu menampung nama barang tersebut—meskipun sudah didekatkan dengan nama barang lain yang sudah ada dalam tabel. Catatan ini akan melengkapi Catatan atas Laporan Keuangan pada UAKPA. Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah 49 . ADK dan Catatan Ringkas BMN ke UAPPBW/UAPPB-E1. Menyampaikan Laporan BMN. DIR/DBR. Daftar Barang Ekstrakomptabel. Meminta pengesahan Penanggung jawab UAKPB atas Laporan Barang. selambat-lambatnya 10 (sepuluh) hari setelah berakhirnya suatu semester.• Membukukan data transaksi BMN ke dalam Daftar Barang Intrakomptabel. • Mengarsipkan Laporan BMN secara tertib. Proses Akhir Periode Akuntansi • Menginstruksikan kepada setiap Penanggungjawab Ruangan untuk melakukan pengecekan ulang kondisi BMN yang berada di ruangan masing-masing. • • • Menyampaikan Laporan Barang Persediaan dan Laporan Konstruksi Dalam Pengerjaan kepada UAKPA untuk dibukukan pada akhir semester. dan DIL/DBL. • Untuk UAKPB Dekonsentrasi/Tugas Pembantuan selain mengirimkan Laporan BMN dan Catatan Ringkas BMN beserta ADK ke UAPPB-W Dekonsentrasi/Tugas Pembantuan juga wajib mengirimkan Laporan BMN. Daftar Barang Barang Bersejarah.

Laporan Barang Kuasa Pengguna Semesteran m. Kartu Inventaris/ Identitas Barang (KIB) Bangunan Gedung h. Menyampaikan Laporan BMN Tahunan dan LKB beserta ADK ke UAPPB-W atau ke UAPPB-E1 untuk UAKPB Pusat selambat-lambatnya 15 (lima belas) hari setelah berakhirnya tahun anggaran. Daftar Barang Barang Bersejarah. Kartu Inventaris/ Identitas Barang (KIB) Alat Angkutan Bermotor i. Keluaran SIMAK-BMN Tingkat KPB Keluaran/laporan yang dihasilkan dari SIMAK-BMN tingkat UAKPB antara lain meliputi: a. salinan LKB. Membuat Bersejarah. Laporan Persediaan e. Laporan Barang Tahunan berdasarkan saldo Daftar Barang Intrakomptabel. Daftar Barang Ekstrakomptabel. Meminta pengesahan Penanggungjawab UAKPB atas LKB. Daftar Inventaris/ Barang Lainnya (DIL/DBL) k. • • Mengarsipkan Daftar Barang Intrakomptabel. Kartu Inventaris/ Identitas Barang (KIB) Tanah g. Daftar Barang Barang Bersejarah d. Membuat Laporan Kondisi Barang . Daftar Barang Ekstrakomptabel. dan Daftar Barang Barang • Meminta persetujuan Penanggungjawab UAKPB atas Laporan Barang.• • • • Mencatat perubahan kondisi barang yang telah disahkan oleh Penanggungjawab Ruangan ke dalam SIMAK-BMN. Laporan Konstruksi Dalam Pengerjaan f. Daftar Barang Intrakomptabel b. Daftar Barang Ekstrakomptabel c. dan salinan Laporan Barang secara tertib. Untuk UAKPB Dekonsentrasi/Tugas Pembantuan selain mengirimkan Laporan BMN beserta ADK ke UAPPB-W Dekonsentrasi/Tugas Pembantuan juga wajib mengirimkan Laporan BMN beserta ADK ke UAPPB-E1 pada kementerian negara/lembaga yang mengalokasikan dana dekonsentrasi/tugas pembantuan. Kartu Inventaris/ Identitas Barang (KIB) Alat Persenjataan j. • Melakukan proses back up data dan tutup tahun. Daftar Inventaris/ Barang Ruangan (DIR/DBR) l. Laporan Barang Kuasa Pengguna Tahunan Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah 50 .

Input Input UAPPB-W adalah laporan dan/Arsip Data Komputer dari UAKPB . • UAPPB-W Dekonsentrasi/Tugas Pembantuan menyampaikan Laporan BMN ke UAPPB-E1 pada kementerian negara/lembaga yang mengalokasikan dana dekonsentrasi/tugas pembantuan tanpa ADK. selambat-lambatnya 20 (dua puluh) hari setelah berakhirnya semester yang bersangkutan. Menggabungkan ADK/Laporan Barang yang diterima dari UAKPB ke dalam Daftar Barang Intrakomptabel. Masukan tersebut kemudian diproses. Laporan Kondisi Barang (LKB) Prosedur Akuntansi BMN pada Tingkat UAPPBW Prosedur akuntansi BMN pada UAPPB-W berawal dari penerimaan laporan dari UAKPB sebagai masukan.n. • Mengarsipkan salinan Laporan Barang secara tertib. Proses SIMAK-BMN pada UAPPB-W 1. Semesteran dan Catatan Ringkas BMN Barang Pembantu Pengguna Barang Wilayah Semesteran. Proses Semesteran • • Menerima ADK . dan Daftar Barang Barang Bersejarah UAPPB-W. 2. Daftar Barang Ekstrakomptabel. • • • • Membuat Laporan Barang Pembantu Pengguna Barang Wilayah Meminta pengesahan Penanggung jawab UAPPB-W atas Laporan Melakukan rekonsiliasi internal Laporan BMN dengan Laporan Keuangan Menyampaikan Laporan BMN. Pemrosesan akan menghasilkan keluaran berupa gabungan laporan dari unit UAKPB. Membuat Laporan BMN Tahunan dan Catatan Ringkas BMN. Laporan BMN dan Catatan Ringkas BMN dari UAKPB. ADK dan Catatan Ringkas ke UAPPB-E1. Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah 51 . bersama UAPPA-W dan melakukan koreksi apabila ditemukan kesalahan. Proses Akhir Periode Akuntansi • • Pengertian dan Cakupan Persediaan Membuat dan meminta pengesahan Penanggung jawab UAPPB-W atas LKB.

Prosedur Akuntansi BMN pada Tingkat UAPPB-E1 Prosedur akuntansi BMN pada UAPPB-E1 berawal dari penerimaan laporan dari UAPPB-W sebagai masukan. selambatlambatnya 25 (dua puluh lima) hari setelah berakhirnya satu Periode Akuntansi. Menyampaikan Laporan BMN dan LKB ke UAPPB-E1 beserta ADK. Daftar Barang Ekstrakomptabel.• • • Melakukan rekonsiliasi internal Laporan BMN dengan Laporan Keuangan bersama UAPPA-W dan melakukan koreksi apabila ditemukan kesalahan. Melakukan back up data dan tutup tahun. d. Masukan tersebut kemudian diproses. b. Keluaran SIMAK-BMN Tingkat UAPPB-W Keluaran/Laporan yang dihasilkan dari Sistem Informasi Manajemen dan Akuntansi BMN tingkat UAPPB-W sebagai berikut: a. f. Daftar Barang Intrakomptabel Daftar Barang Ekstrakomptabel Daftar Barang Bersejarah Laporan Barang Pembantu Pengguna Barang Eselon I Semesteran Laporan Barang Pembantu Pengguna Barang Wilayah Tahunan Catatan Ringkas BMN LKB g. c. Proses SIMAK-BMN Tingkat UAPPB-E1 Pengertian dan Cakupan Persediaan Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah 52 . Buku Barang Bersejarah. Pemrosesan akan menghasilkan keluaran berupa gabungan laporan dari unit akuntansi di level lebih rendah. e. Input Input UAPPB-E1 berupa laporan dan/Arsip Data Komputer dari UAPPB-W dan UAKPB yang melekat di Eselon 1 . • • Mengarsipkan Daftar Barang Intrakomptabel. salinan LKB dan salinan Laporan BMN secara tertib. UAPPB-W Dekonsentrasi/Tugas Pembantuan menyampaikan Laporan BMN ke UAPPB-E1 pada Kementerian negara/lembaga yang mengalokasikan dana dekonsentrasi/tugas pembantuan tanpa ADK.

selambatlambatnya 28 (dua puluh delapan) hari setelah berakhirnya semester yang bersangkutan. • • • Membuat Laporan BMN Semesteran dan Catatan Ringkas BMN. UAKPB Pusat di lingkungan UAPPB-E1. salinan LKB. • Mengarsipkan salinan Laporan BMN secara tertib dan teratur. Melakukan proses back up data dan tutup tahun. Menyampaikan Laporan BMN dan LKB ke UAPB selambat-lambatnya 33 (tiga puluh tiga) hari setelah berakhirnya Periode Akuntansi.1. dan Buku Barang Bersejarah UAPPB-E1. Daftar Barang Ekstrakomptabel. UAKPB Pusat di lingkungan UAPPB-E1. Laporan BMN. • Menyampaikan Laporan BMN ke UAPB dan Ditjen Kekayaan Negara. Buku Barang Bersejarah. Melakukan rekonsiliasi internal Laporan BMN dengan Laporan Keuangan bersama UAPPA-E1 dan melakukan koreksi apabila ditemukan kesalahan. Melakukan rekonsiliasi internal Laporan BMN dengan Laporan Keuangan bersama UAPPA-E1 dan melakukan koreksi apabila ditemukan kesalahan. Daftar Barang Ekstrakomptabel. Daftar Barang Ekstrakomptabel. Buku Bersejarah. Meminta pengesahan Penanggung jawab UAPPB-E1 atas Laporan BMN Semesteran. dan salinan Laporan BMN secara tertib dan teratur. Proses Akhir Periode Akuntansi • • • • • Menyusun Daftar Barang Intrakomptabel. Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah 53 . Proses Semesteran • Menerima ADK. dan UAKPB Dekonsentrasi/ Tugas Pembantuan ke dalam Daftar Barang Intrakomptabel. 2. • • Mengarsipkan Daftar Barang Intrakomptabel. dan LKB. • Menggabungkan ADK/Laporan BMN yang diterima dari UAPPB-W. UAKPB Dekonsentrasi/Tugas Pembantuan. Laporan BMN dan Catatan Ringkas BMN dari UAPPB-W. Menyusun Catatan Ringkas BMN Meminta pengesahan Penanggung jawab UAPPB-E1 atas Laporan BMN dan LKB.

Dirjen Kekayaan Negara paling lambat 35 (tiga puluh lima) hari setelah berakhirnya semester yang bersangkutan. Masukan tersebut kemudian diproses. Input Input UAPB berupa laporan dan/Arsip Data Komputer dari UAPPB-E1. f. b. Melakukan rekonsiliasi internal Laporan BMN dengan Laporan Keuangan bersama UAPA dan melakukan koreksi apabila ditemukan kesalahan. dan Buku Barang Bersejarah UAPB. Menggabungkan ADK/Laporan BMN yang diterima dari UAPPB-E1 ke dalam Daftar Barang Intrakomptabel.Keluaran SIMAK-BMN Tingkat UAPPB-E1 Dokumen/Laporan yang dihasilkan dari Sistem Informasi Manajemen dan Akuntansi BMN tingkat UAPPB-E1 sebagai berikut: a. Pemrosesan akan menghasilkan keluaran berupa gabungan laporan dari UAPPB-E1. c. Laporan BMN dan Catatan Ringkas BMN dari UAPPB-E1. Proses Semesteran • Menerima ADK . Daftar Barang Intrakomptabel Daftar Barang Ekstrakomptabel Daftar Barang Bersejarah Laporan Barang Pembantu Pengguna Barang Eselon I Semesteran Laporan Barang Pembantu Pengguna Barang Eselon I Semesteran Tahunan Catatan Ringkas BMN LKB Prosedur Akuntansi BMN pada Tingkat UAPB Prosedur akuntansi BMN pada UAPB berawal dari penerimaan laporan dari UAPPBE1 sebagai masukan. d. Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah 54 . g. Proses SIMAK-BMN Tingkat UAPB 1. Daftar Barang Ekstrakomptabel. • • Menyampaikan Laporan BMN ke Menteri Keuangan cq. e. • Pengertian dan Cakupan Persediaan Mengarsipkan Laporan BMN secara tertib. • • Membuat Laporan BMN Semesteran dan meminta pengesahan Penanggung jawab UAPB atas Laporan BMN Semesteran.

d. Mengarsipkan salinan. • • • • Mencetak LKB. e. Daftar Barang Intrakomptabel. g. h. Daftar Barang Intrakomptabel Daftar Barang Ekstrakomptabel Daftar Barang Barang Bersejarah Daftar Barang Persediaan Laporan Barang Pengguna Semesteran Laporan Barang Pengguna Tahunan Catatan Ringkas BMN LKB Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah 55 . • • Melakukan pemutakhiran data Laporan BMN dengan Ditjen Kekayaan Negara dan melakukan koreksi apabila ditemukan kesalahan.2. Menyusun Catatan Ringkas BMN. f. • • • Menyampaikan Laporan BMN yang telah dimutakhirkan ke Menteri Keuangan paling lambat 50 (lima puluh) hari setelah berakhirnya tahun anggaran. Menyampaikan Laporan BMN dan Catatan Ringkas BMN ke Menteri Keuangan selambat-lambatnya 40 (empat puluh) hari setelah berakhirnya tahun anggaran. b. LKB. Melakukan proses back up data dan tutup tahun. Keluaran SIMAK-BMN Tingkat UAPB Keluaran/Laporan yang dihasilkan dari Sistem Informasi Manajemen dan Akuntansi BMN tingkat UAPB sebagai berikut: a. c. dan Laporan BMN secara tertib dan teratur. Proses Akhir Periode Akuntansi. Melakukan rekonsiliasi internal Laporan BMN dengan Laporan Keuangan bersama UAPA dan melakukan koreksi apabila ditemukan kesalahan. Meminta pengesahan Penanggung jawab UAPB atas Laporan BMN. Daftar Barang Intrakomptabel dan Laporan BMN Tahunan.

BAB V KEBIJAKAN AKUNTANSI KONSTRUKSI DALAM PENGERJAAN Penatausahaan Konstruksi dalam Pengerjaan Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah 56 .

Laporan Konstruksi Dalam Pengerjaan (L-KDP). 4.Penatausahaan KDP adalah melakukan serangkaian kegiatan yang meliputi pembukuan. Pembangunan melalui kontrak: Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah 57 . 2. berita acara serah terima. 3. kontrak. berita acara penyelesaian pekerjaan. dan Jaringan • Aset Tetap Lainnya. yaitu: 1. Surat Perintah Membayar (SPM). SPM/SP2D beserta Surat Pengantar (SP) dan Dokumen Pendukung (DP) yang diterima dari UAKPA untuk menentukan jenis-jenis KDP dan besaran belanja yang dapat dikapitalisasi sebagai biaya pembangunan aset. Biaya-biaya yang dapat dikapitalisasikan untuk KDP adalah sebagai berikut: 1. faktur. 2. dan dokumen lain yang dipersamakan. KDP dapat mencakup pembangunan: • Tanah • Peralatan dan Mesin • Gedung dan Bangunan • Jalan. Unit Akuntansi Kuasa Pengguna Barang (UAKPB). Unit Akuntansi Pengguna Barang (UAPB). Dokumen yang digunakan Dokumen yang digunakan dalam pelaksanaan penatausahaan KDP adalah sebagai berikut: 1. dan pelaporan KDP sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Penatausahaan KDP dilaksanakan oleh organisasi terkait. Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Barang – Wilayah (UAPPB-W). PENATAUSAHAAN KDP OLEH UAKPB Penatausahaan KDP oleh UAKPB dimulai dengan menganalisa salinan B. Kartu Konstruksi Dalam Pengerjaan (K-KDP). inventarisasi. Lembar Analisis SPM (LA-SPM/SP2D). dokumen pendukung seperti kuitansi. Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D). Biaya-biaya yang dapat dikapitalisasi sebagai biaya pembangunan aset mengacu kepada Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 120/PMK.06/2007 tentang Penatausahaan Barang Milik Negara. A. 4. Irigasi. Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Barang – Eselon 1 (UAPPB-E1). 3.

Hasil analisis tersebut dicantumkan dalam Lembar Analisis SPM/SP2D (LA-SPM/SP2D) sebagai dasar pembuatan K-KDP. rangkap ke-2 untuk dikirim ke level atasnya. Apabila dalam UAKPB terdapat lebih dari 1 (satu) bangunan yang sedang dibangun dengan bentuk dan harga pembangunan per unit yang berbeda. Setiap akhir semester/tahun UAKPB harus membuat L-KDP berdasarkan K-KDP. Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah 58 . Apabila terdapat 1 (satu) SPM/SP2D yang membiayai lebih dari 1 (satu) jenis KDP maka SPM/SP2D tersebut harus dianalisis berdasarkan dokumen pendukung SPM/SP2D agar diperoleh kepastian aset KDP mana saja yang dibiayai oleh SPM/SP2D tersebut. Untuk SPM/SP2D yang hanya membiayai 1 (satu) aset KDP tidak perlu dibuatkan LA-SPM/SP2D kecuali jika hasil analisis menentukan bahwa sebagian nilai SPM/SP2D tersebut tidak dapat dikapitalisasi. maka K-KDP harus dibuat untuk setiap bangunan. rangkap ke-3 untuk dikirim ke UAKPA. mulai pada awal pembangunan sampai selesai.• • • • • Nilai kontrak Biaya perencanaan dan pengawasan Biaya perijinan Jasa konsultan Biaya pengosongan dan pembongkaran bangunan lama Biaya bahan baku Upah tenaga kerja Sewa peralatan Biaya perencanaan dan pengawasan Biaya perijinan Biaya pengosongan dan pembongkaran bangunan lama 2. cukup dibuatkan 1 (satu) K-KDP tetapi harus dicantumkan jumlah/banyaknya bangunan yang dibangun. yaitu: rangkap ke-1 untuk arsip. L-KDP tersebut dibuat sebanyak 3 (tiga) rangkap. Pembangunan secara swakelola: • • • • • • UAKPB harus memelihara Kartu KDP (K-KDP) sebagai catatan untuk mengakumulasikan semua biaya pembangunan yang dapat dikapitalisasi. Tetapi jika yang dibangun adalah lebih dari 1 (satu) bangunan yang sejenis dengan bentuk dan harga pembangunan yang sama untuk setiap unit.

UAKPB mengirimkan Lap.q. dan salinan SPM/SP2D. Lap. Kontrak konstruksi meliputi: a. yaitu: rangkap ke-1 untuk arsip. UAKPB mengirimkan Lap.BMN beserta ADKnya ke unit akuntansi barang level atasnya yaitu UAPPB-W sampai dengan UAPB untuk disampaikan ke Menteri Keuangan c. b. A. berhubungan erat atau saling tergantung satu sama lain dalam hal rancangan. seperti jasa arsitektur. proses SIMAK-BMN melalui Aplikasi SIMAK-BMN juga menghasilkan arsip data komputer (ADK). Setelah KDP selesai dibangun dan sudah menjadi aset definitif sebagai barang milik negara. pengklasifikasian. berdasarkan BAST. UAKPB melakukan perekaman Barang Milik Negara melalui Aplikasi SIMAK-BMN untuk menyusun Laporan Barang Milik Negara (Lap. Selain menghasilkan Lap. rangkap ke-3 untuk dikirim ke UAKPA. UAKPB mengirimkan L-KDP setiap akhir semester/tahun ke UAKPA untuk digunakan sebagai dasar akuntansi aset KDP. kontrak untuk perolehan atau konstruksi aset. Kontrak Konstruksi Perolehan KDP melalui kontrak konstruksi berkaitan. Ditjen Kekayaan Negara.UAKPB mengirimkan L-KDP setiap akhir semester/tahun ke unit akuntansi barang level atasnya yaitu UAPPB-W sampai dengan UAPB untuk digunakan sebagai dasar monitoring KDP. K-KDP.q. Ditjen. serta penyajian KDP dalam neraca.BMN). Akuntansi dan Pelaporan Konstruksi dalam Pengerjaan Akuntansi KDP adalah melakukan serangkaian kegiatan yang meliputi proses pencatatan. UAPB menyampaikan L-KDP tingkat Kementerian Negara/Lembaga ke Menteri Keuangan c. rangkap ke-2 untuk dikirim ke level atasnya. Kebijakan Akuntansi 1. pengikhtisaran transaksi dan kejadian keuangan. pemgukuran.BMN dan ADK dibuat sebanyak 3 (tiga) rangkap.BMN. penginterprestasian atas hasilnya. c.BMN beserta ADK ke UAKPA untuk digunakan sebagai dasar akuntansi aset KDP. kontrak untuk perolehan jasa yang berhubungan langsung pengawasan konstruksi aset yang meliputi manajemen konstruksi dan value Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah 59 . dan penggunaan utama. kontrak untuk perolehan jasa yang berhubungan langsung dengan perencanaan konstruksi aset. Kekayaan Negara. teknologi. BAP. fungsi atau tujuan.

irigasi dan jaringan. dan aset tetap lainnya yang proses perolehannya dan/atau pembangunannya membutuhkan suatu periode waktu tertentu dan belum selesai. b. teknologi. Pengakuan KDP KDP mencakup tanah. c. d. 2. jalan. Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah 60 . aset tersebut masih dalam proses pengerjaan.engineering. maka konstruksi dari setiap aset diperlakukan sebagai suatu kontrak konstruksi yang terpisah apabila semua syarat di bawah ini terpenuhi: a. setiap aset telah dinegosiasikan secara terpisah dan kontraktor serta pemberi kerja dapat menerima atau menolak bagian kontrak yang berhubungan dengan masing-masing aset tersebut. harga aset tambahan tersebut ditetapkan tanpa memperhatikan harga kontrak semula. gedung dan bangunan. biaya masing-masing aset dapat diidentifikasikan. kontrak untuk membongkar atau merestorasi aset dan restorasi lingkungan. Suatu kontrak dapat berisi klausul yang memungkinkan konstruksi aset tambahan atas permintaan pemberi kerja dan dapat diubah sehingga konstruksi aset tambahan diperlakukan sebagai suatu kontrak konstruksi terpisah jika: a. aset tambahan tersebut berbeda secara signifikan dalam rancangan. Jika suatu kontrak konstruksi mencakup sejumlah aset. biaya perolehan tersebut dapat diukur secara andal. Suatu benda berwujud diakui sebagai KDP jika: a. dan c. b. atau fungsi dengan aset yang tercakup dalam kontrak semula. proposal terpisah telah diajukan untuk setiap aset. KDP biasanya merupakan aset yang dimaksudkan digunakan untuk operasional pemerintah atau dimanfaatkan oleh masyarakat dalam jangka panjang dan oleh karenanya diklasifikasikan dalam aset tetap. atau b. besar kemungkinan bahwa manfaat ekonomi masa yang akan datang berkaitan dengan aset tersebut akan diperoleh. peralatan dan mesin.

peralatan. biaya pemindahan sarana. biaya yang berhubungan langsung dengan kegiatan konstruksi. Pengukuran KDP dicatat dengan biaya perolehan. 4. Biaya Konstruksi Perolehan aset dapat dilakukan dengan membangun sendiri (swakelola) atau melalui pihak ketiga dengan kontrak konstruksi. Nilai KDP yang dikerjakan secara swakelola antara lain: a. biaya rancangan dan bantuan teknis yang tidak secara langsung berhubungan dengan konstruksi tertentu. Biaya-biaya yang dapat dikapitalisasikan untuk KDP adalah sebagai berikut: 1. dan b. biaya yang dapat diatribusikan pada kegiatan pada umumnya dan dapat dialokasikan ke konstruksi tersebut. konstruksi yang secara substansi telah selesai dikerjakan. biaya rancangan dan bantuan teknis yang secara langsung berhubungan dengan konstruksi. dan c. Biaya-biaya yang dapat diatribusikan ke kegiatan konstruksi pada umumnya dan dapat dialokasikan ke konstruksi tertentu meliputi: asuransi. Biaya-biaya yang berhubungan langsung dengan suatu kegiatan konstruksi antara lain meliputi: biaya pekerja lapangan termasuk penyelia. b. biaya-biaya lain yang dapat diidentifikasikan untuk kegiatan konstruksi yang bersangkutan seperti biaya inspeksi. Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah 61 . biaya lain yang secara khusus dibayarkan sehubungan konstruksi yang bersangkutan.KDP dipindahkan ke pos aset tetap yang bersangkutan jika kriteria berikut ini terpenuhi: a. biaya bahan yang digunakan dalam konstruksi. 3. biaya penyewaan sarana dan peralatan. dan bahan-bahan dari dan ke lokasi pelaksanaan konstruksi. dapat memberikan manfaat/jasa sesuai dengan tujuan perolehan.

Perlakuan Akuntansi dari KDP yang dibiayai dari pinjaman: 1 Jika konstruksi dibiayai dari pinjaman maka biaya pinjaman yang timbul selama masa konstruksi dikapitalisasi dan menambah biaya konstruksi. 3 Apabila pinjaman digunakan untuk membiayai beberapa jenis aset yang diperoleh dalam suatu periode tertentu. pembayaran klaim pada kontraktor atau pihak ketiga sehubungan dengan pelaksanaan kontrak konstruksi. 2 Jumlah biaya pinjaman yang dapat dikapitalisasi tidak boleh melebihi jumlah biaya bunga yang dibayarkan pada periode bersangkutan. Biaya pinjaman yang secara langsung dapat diatribusikan dengan perolehan atau produksi suatu aset tertentu (qualifying asset) harus dikapitalisasi sebagai bagian dari biaya perolehan aset tertentu tersebut. Biaya pinjaman hanya dikapitalisasi untuk jenis pekerjaan yang masih dalam proses pengerjaan. Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah 62 . Biaya pinjaman yang dimaksud di atas adalah biaya bunga dan biaya lainnya yang timbul dalam kaitan dengan pinjaman dana. sepanjang biaya tersebut dapat diidentifikasikan dan ditetapkan secara andal. b. Nilai KDP yang dikerjakan oleh kontraktor melalui kontrak konstruksi meliputi: a. pembangunan konstruksi dikapitalisasi. termin yang telah dibayarkan kepada kontraktor sehubungan dengan tingkat penyelesaian pekerjaan. 4 Apabila pembangunan konstruksi dihentikan sementara tidak disebabkan oleh hal-hal yang bersifat force majeur maka biaya pinjaman yang dibayarkan selama masa pemberhentian sementara. biaya pinjaman periode yang bersangkutan dialokasikan ke masing-masing konstruksi dengan metode rata-rata tertimbang atas total pengeluaran biaya konstruksi. 5 Kontrak konstruksi yang mencakup beberapa jenis pekerjaan yang penyelesaiannya jatuh pada waktu yang berbeda-beda. kewajiban yang masih harus dibayar kepada kontraktor berhubung dengan pekerjaan yang telah diterima tetapi belum dibayar pada tanggal pelaporan. c.2. maka jenis pekerjaan yang sudah selesai tidak diperhitungkan biaya pinjaman.

Lap. UAKPA membuat Formulir Jurnal Aset (F-JA) untuk mencatat penambahan nilai aset KDP. 2. uang muka kerja yang diberikan. b. rincian Kontrak Konstruksi Dalam Pengerjaan berikut tingkat penyelesaian dan jangka waktu penyelesaiaanya.1. AKUNTANSI KDP OLEH UAKPA B. Dalam hal ini. Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Anggaran – Eselon 1 (UAPPA-E1). jumlah biaya yang telah dikeluarkan. e. Kesulitan juga dapat terjadi bila suatu entitas menggunakan beberapa jenis sumber pembiayaan dengan tingkat bunga yang berbeda-beda. Penambahan dalam aset KDP Berdasarkan L-KDP yang diterima dari UAKPB. yaitu: 1. c. B. Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Anggaran – Wilayah (UAPPA-W).BMN dan ADK.Dalam keadaan tertentu sulit untuk mengidentifikasikan adanya hubungan langsung antara pinjaman tertentu dengan perolehan suatu aset tertentu dan untuk menentukan bahwa pinjaman tertentu tidak perlu ada apabila perolehan aset tertentu tidak terjadi. sehingga diperlukan pertimbangan profesional (professional judgement) untuk menentukan hal tersebut. Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah 63 . nilai kontrak konstruksi dan sumber pembiayaannya. L-KDP. sulit untuk menentukan jumlah biaya pinjaman yang dapat secara langsung diatribusikan. 5. d. 3. retensi. Dasar yang digunakan dalam pelaksanaan akuntansi KDP adalah sebagai berikut: 1. Unit Akuntansi Pengguna Anggaran (UAPA). 4. Akuntansi KDP dilaksanakan oleh organisasi terkait. Unit Akuntansi Kuasa Pengguna Anggaran. Pengungkapan Entitas harus mengungkapkan informasi mengenai KDP pada akhir periode akuntansi: a. 2.

d.3. jumlah biaya yang telah dikeluarkan. uang muka kerja yang diberikan. dan Jaringan Aset Tetap Lainnya Konstruksi Dalam Pengerjaan C. b. c. Irigasi. PELAPORAN KDP OLEH UAKPA KDP dilaporkan dan disajikan di neraca secara periodik yaitu C. Pengiriman Neraca dan CALK ke UAPPA-W s/d UAPA Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah 64 . rincian kontrak konstruksi dalam pengerjaan berikut tingkat penyelesaian dan jangka waktu penyelesaiaanya. Penyusunan CALK Setiap satuan kerja mengungkapkan informasi mengenai konstruksi dalam pengerjaan dalam CALK per jenis KDP sesuai laporan KDP. F-JA tersebut direkam melalui Aplikasi SAKPA untuk menyusun Laporan Keuangan berupa Neraca. UAKPA mengirimkan Neraca beserta CALK kepada unit akuntansi keuangan level atasnya yaitu UAPPA-W s/d UAPA. retensi. e. termasuk: a. C. C. Penyajian KDP dalam Neraca semesteran/tahunan sebagai akun terpisah dari masing-masing aset tetap.1.Jurnal untuk penambahan nilai aset KDP adalah: Dr 132111 Konstruksi Dalam Pengerjaan Cr 321211 Diinvestasikan dlm Aset Tetap Jurnal untuk membatalkan jurnal korolari adalah: Dr 321211 Cr 131611 Diinvestasikan dlm Aset Tetap Aset tetap sblm Disesuaikan XXXXXX XXXXXX XXXXXX XXXXXX Nilai rupiah yang dicantumkan dalam F-JA sesuai L-KDP.2. nilai kontrak konstruksi dan sumber pembiayaannya. Contoh penyajian akun KDP dalam neraca: ASET TETAP Tanah Peralatan dan Mesin Gedung dan Bangunan Jalan.

Setiap akhir semester/tahun Neraca beserta CALK dikirimkan kepada unit akuntansi keuangan level atasnya yaitu UAPPA-W s.d. UAPA.

BAB VI KEBIJAKAN AKUNTANSI PERSEDIAAN

A.

Mekanisme Penatausahaan Persediaan Penatausahaan persediaan dilaksanakan oleh UAKPB sesuai dengan PMK nomor 171/PMK.05/2007 tentang Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat. Dalam menatausahakan persediaan, UAKPB juga harus mengacu kepada Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia nomor 96/PMK.06/2007 tentang Tata Cara Penggunaan, Pemanfaatan, Penghapusan dan
Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah 65

Pemindahtangan Barang Milik Negara dan nomor 97/PMK.06/2007 tentang Pengolongan dan Kodefikasi Barang Milik Negara. Persediaan dicatat dalam Buku Persediaan (dalam bentuk kartu) untuk setiap jenis barang. Berdasarkan saldo per jenis persediaan pada Buku Persediaan disusun Laporan Persediaan. Laporan Persediaan disusun menurut Subkelompok Barang dan dilaporkan setiap semester. Laporan Persediaan dibuat didasarkan pada saldo pada akhir periode pelaporan berdasarkan hasil opname fisik. Laporan Persediaan dari UAKPB dikirimkan ke UAPPB-W. Laporan Persediaan pada tingkat UAPPB-W sampai dengan UAPB dibuat berdasarkan penggabungan Laporan Persediaan organisasi BMN di bawahnya dan disajikan dalam Bidang Barang. Sebagai pengganti Buku Persediaan pada tingkat UAPPB-W/UAPPB-E1/UAPB adalah arsip Laporan Persediaan dari seluruh organisasi BMN di bawahnya. UAKPB membuat mapping data persediaan berdasarkan Laporan Persediaan dan harga pembelian terakhir yang diperoleh dari UAKPA. Penyajian perkiraan persediaan dalam Neraca didasarkan pada hasil proses mapping klasifikasi BMN sesuai Peraturan Menteri Keuangan nomor 97/PMK.06/2007 dengan perkiraan buku besar neraca pada PMK No. 91/PMK.05/2007 tentang Bagan Akun Standar. B. Formulir dan Pelaporan Dokumen yang digunakan dalam pelaksanaan pencatatan persediaan adalah sebagai berikut :
• Surat

Perintah Pencairan Dana (SP2D), Surat Perintah Membayar (SPM) dan

dokumen pendukung lainnya.( Faktur, Kuitansi, Kontrak/SPK, Berita Acara Serah Terima); • • • Buku Persediaan. Laporan yang dihasilkan: Laporan Persediaan; Hasil Mapping.

• Laporan

Berikut ini adalah contoh petunjuk pengisian dan bentuk Buku Persediaan, Laporan Persediaan, dan Laporan Hasil Mapping. 1. Buku Persediaan

Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah 66

a. Buku Persediaan dibuat dalam bentuk kartu untuk setiap jenis (item) barang.
Pada setiap buku persediaan dicantumkan kode dan uraian sub-sub kelompok barang untuk barang yang dapat diklasifikasikan sesuai PMK nomor 97/PMK.06/2007; b. Buku persediaan diisi setiap ada mutasi barang persediaan, seperti pembelian, hibah dan mutasi penggunaan barang persediaan;

c. Setiap akhir tahun perlu diadakan inventarisasi persediaan untuk menentukan
kuantitas dari setiap item persediaan dan selanjutnya buku persediaan disesuaikan berdasarkan hasil inventarisasi tersebut; d. 2. Buku Persediaan dikelola oleh petugas yang menangani persediaan.

Laporan Persediaan a. b. c. Laporan Persediaan dibuat setiap akhir semester pada suatu periode akuntansi untuk melaporkan nilai persediaan pada akhir semester; Laporan Persediaan dibuat oleh Petugas yang menangani persediaan dan diketahui oleh penanggung jawab UAKPB; Laporan Persediaan harus memberikan informasi jumlah persediaan yang rusak atau usang. Persediaan yang telah usang adalah persediaan yang tidak dapat dimanfaatkan untuk kegiatan operasional bukan hanya karena usianya tapi juga karena sudah ketinggalan teknologi atau ketidaksesuaian spesifikasi.

C. Kebijakan Akuntansi Kebijakan akuntansi mencakup pengertian, pengakuan, pengukuran, dan pengungkapan pos persediaan dalam Laporan Keuangan. 1. Pengertian Persediaan Secara umum Persediaan adalah merupakan aset yang berwujud yang meliputi:
a.

Barang atau perlengkapan (supplies) yang digunakan dalam rangka kegiatan operasional pemerintah; Bahan atau perlengkapan (supplies) yang digunakan dalam proses produksi; Barang dalam proses produksi yang dimaksudkan untuk dijual atau diserahkan kepada masyarakat; Barang yang disimpan untuk dijual atau diserahkan kepada masyarakat dalam rangka kegiatan pemerintahan.

b.

c. d.

Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah 67

c. Pada akhir periode akuntansi. e. Persediaan dengan kondisi rusak atau usang tidak dilaporkan dalam neraca. h. 3. tidak dimasukkan sebagai persediaan. Pengukuran Persediaan Persediaan disajikan sebesar: a. ikan. Hewan dan tanaman. 2. Persediaan untuk tujuan strategis/berjaga-jaga. Persediaan bahan baku dan perlengkapan yang dimiliki proyek swakelola dan dibebankan ke suatu perkiraan aset untuk kontruksi dalam pengerjaan. g. Tanah/bangunan untuk dijual atau diserahkan kepada masyarakat.Persediaan juga mencakup barang atau perlengkapan yang dibeli dan disimpan untuk digunakan. Pengakuan Persediaan Persediaan diakui pada saat potensi manfaat ekonomi masa depan diperoleh pemerintah dan mempunyai nilai atau biaya yang dapat diukur dengan andal. Persediaan dapat meliputi: a. Bahan untuk pemeliharaan. f. j. i. benih padi. dan barang bekas pakai seperti komponen bekas. misalnya barang habis pakai seperti alat tulis kantor. kuda. barang tak habis pakai seperti komponen peralatan dan pipa. Amunisi. Bahan baku. Suku cadang. Barang dalam proses/setengah jadi. untuk dijual atau diserahkan kepada masyarakat Persediaan untuk tujuan strategis seperti cadangan energi (misalnya minyak) atau untuk tujuan berjaga-jaga seperti cadangan pangan (misalnya beras). persediaan dicatat berdasarkan hasil inventarisasi fisik. d. Hewan dan tanaman untuk dijual atau diserahkan kepada masyarakat antara lain berupa sapi. dan bibit tanaman. Pita cukai dan leges. Persediaan diakui pada saat diterima atau hak kepemilikannya dan/atau kepenguasaannya berpindah. Barang konsumsi. Biaya perolehan apabila diperoleh dengan pembelian Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah 68 . tetapi diungkapkan dalam Catatan atas Laporan Keuangan. b. barang-barang dimaksud diakui sebagai persediaan.

b. barang atau perlengkapan yang digunakan dalam proses produksi. biaya penanganan dan biaya lainnya yang secara langsung dapat dibebankan pada perolehan persediaan. dinilai dengan biaya perolehan terakhir. dan lainnya yang serupa mengurangi biaya perolehan. Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah 69 .Biaya perolehan persediaan meliputi harga pembelian. barang yang disimpan untuk dijual atau diserahkan kepada masyarakat. Hal-hal lain yang perlu diungkapkan berkaitan dengan persediaan. 4. Potongan harga. Pengungkapan Persediaan Persediaan disajikan di neraca sebesar nilai moneternya dan diungkapkan dalam Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK). Sedangkan untuk persediaan bahan baku dan perlengkapan yang dimiliki proyek swakelola dan dibebankan ke suatu perkiraan aset untuk kontruksi dalam pengerjaan. Kebijakan akuntansi yang digunakan dalam pengukuran persediaan. apabila diperoleh dengan cara lainnya seperti donasi/rampasan Harga/nilai wajar persediaan meliputi nilai tukar aset atau penyelesaian kewajiban antar pihak yang memahami dan berkeinginan melakukan transaksi wajar. berupa: a. c. Penjelasan lebih lanjut persediaan seperti barang atau perlengkapan yang digunakan dalam pelayanan masyarakat. dan barang yang masih dalam proses produksi yang dimaksudkan untuk dijual atau diserahkan kepada masyarakat. b. tidak dimasukkan sebagai persediaan. Nilai pembelian yang digunakan adalah biaya perolehan persediaan yang terakhir diperoleh. Biaya standar apabila diperoleh dengan memproduksi sendiri Biaya standar persediaan meliputi biaya langsung yang terkait dengan persediaan yang diproduksi dan biaya overhead tetap dan variabel yang dialokasikan secara sistematis. rabat. seperti pita cukai. biaya pengangkutan. c. Barang persediaan yang memiliki nilai nominal yang dimaksudkan untuk dijual. yang terjadi dalam proses konversi bahan menjadi persediaan. misalnya persediaan yang diperoleh melalui hibah atau rampasan. d. Nilai wajar. Kondisi persediaan. Persediaan hewan dan tanaman yang dikembangbiakkan serta persediaan yang diperoleh dengan cara lainnya seperti donasi/rampasan dinilai dengan menggunakan nilai wajar.

maka jurnal penyesuaian persediaan dibuat dengan menggunakan formulir jurnal aset (FJA) oleh UAKPA. kode kelompok. Apabila akuntansi persediaan belum menggunakan aplikasi persediaan. Jurnal tersebut direkam melalui Aplikasi SAK untuk menyusun Laporan Keuangan berupa Neraca. pada setiap akhir semester harus membuat jurnal aset untuk mencatat nilai persediaan berdasarkan Laporan Persediaaan dan Laporan Hasil Mapping yang diterima dari UAKPB. PMK Nomor 97/PMK. Kode barang persediaan yang tercantum dalam KMK nomor 97/PMK. 2. kode bidang. maksudnya: 1. hal yang selanjutnya dilakukan adalah menyesuaikan kode barang persediaan berdasarkan PMK nomor 97/PMK. Siklus Akuntansi Persediaan Akuntansi persediaan oleh UAKPB dapat dilakukan secara manual atau menggunakan aplikasi persediaan. Selanjutnya UAKPA merekam data persediaan menggunakan aplikasi SAI tingkat Satuan Kerja. Nilai rupiah yang dicantumkan dalam jurnal adalah nilai rupiah persediaan hasil mapping. kode sub kelompok. UAKPB mengirimkan file data jurnal penyesuaian kepada UAKPA.06/2007 dimulai dengan kode golongan. Setiap semester neraca beserta CaLK dikirimkan kepada unit akuntansi keuangan level atasnya. Proses Akuntansi 1. Untuk UAKPA yang belum menggunakan aplikasi persediaan.06/2007 tentang Penggolongan dan Kodefikasi Barang Milik Negara Setelah UAKPB melakukan inventarisasi fisik. Hasil mapping disajikan dalam CaLK. E. dan Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah 70 . Apabila akuntansi persediaan sudah dilakukan dengan menggunakan aplikasi persediaan maka jurnal penyesuaian persediaan akan terbentuk secara otomatis dari sistem aplikasi persediaan.D.06/2007 tentang Kodefikasi Barang Milik Negara.

Hasil mapping tersebut digunakan sebagai dasar penyajian nilai perkiraan persediaan dalam neraca. b.06/2007. Bentuk jurnal persediaan sebagai berikut : No 1. 3. Satuan kerja membuat jurnal persediaan agar dapat menyajikan nilai persediaan dalam neraca. Laporan Persediaan dibuat oleh Petugas yang menangani persediaan dan diketahui oleh penanggung jawab UAKPB. Uraian Mencatat Nilai awal persediaan Jenis Persediaan Cadangan Persediaan Debet Xxx Xxx Kredit 2 Mencatat penambahan nilai persediaan Jenis Persediaan Cadangan Persediaan Mencatat pengurangan nilai persediaan Cadangan Persediaan Xxx Xxx xxx 3 Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah 71 .kode sub-sub kelompok. 2. Laporan Hasil Mapping memberikan informasi jumlah nilai serta kuantitas persediaan berdasarkan Laporan Persediaan yang disesuaikan menjadi nilai serta kuantitas persediaan berdasarkan Bagan Akun Standar (PMK nomor 91/PMK. Kode barang persediaan dimulai dengan kode golongan 4 (empat). Laporan Hasil Mapping a. Mapping BAS Setelah kode barang persediaan disesuaikan dengan PMK nomor 97/PMK. UAKPB membuat mapping data persediaan berdasarkan harga pembelian yang diperoleh dari UAKPA. UAKPB melakukan mapping atas kode barang persediaan terhadap kode barang sesuai PMK nomor 91/PMK. satu sisi sebagai debet dan sisi lainnya sebagai kredit. c.05/2007 tentang Bagan Akun Standar. Laporan Hasil Mapping dibuat setiap akhir semester pada suatu periode akuntansi serta setelah membuat Laporan Persediaan.05/2007). Jurnal Persediaan Jurnal adalah pencatatan transaksi pertama kali dimana satu transaksi akan mempengaruhi dua atau lebih perkiraan.

Jenis Persediaan xxx Jenis-jenis persediaan dalam jurnal standar mengacu kepada klasifikasi persediaan sesuai dengan BPS. Nilai per jenis persediaan dihitung sebagai berikut : NP = QP x HP Dimana: NP QP HP : : : Nilai per jenis persediaan pada tanggal Neraca kuantitas/jumlah persediaan pada tanggal pelaporan ( dalam harga pembelian terakhir persediaan ( dalam rupiah per unit). Penyajian Persediaan dalam Neraca. Setiap semester UAKPB membuat Laporan Persediaan beserta data transaksi serta menyerahkan laporan beserta data transaksi tersebut kepada unit vertikal di atasnya untuk dikompilasi. Pelaporan persediaan 1. unit) berdasarkan Laporan Persediaan berdasarkan faktur pembelian Jurnal persediaan selanjutnya dituangkan dalam formulir jurnal aset (FJA) sebagai dokumen sumber perekaman data. Contoh penyajian akun persediaan dalam neraca : ASET LANCAR Kas di Bendaharawan Pengeluaran Kas di Bendaharawan Penerimaan Piutang KEWAJIBAN LANCAR Uang Muka dari KPPN Hutang kepada KUN Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah 72 . F. akun persediaan disajikan neraca. Berdasarkan jurnal tersebut. Untuk selanjutnya berdasarkan laporan tersebut. UAKPB juga menyerahkan laporan beserta data transaksi tersebut kepada UAKPA. UAKPA membuat jurnal penambahan/pengurangan nilai persediaan.

Hal-hal lain yang perlu diungkapkan berkaitan dengan persediaan. Penjelasan lebih lanjut persediaan seperti barang atau perlengkapan yang digunakan dalam pelayanan masyarakat. Jenjang Pelaporan Persediaan Sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan No. 2. Unit Akuntansi Keuangan Unit Akuntansi Kuasa Pengguna Anggaran Unit Akuntansi Pembantu pengguna Anggaran Wilayah Unit Akuntansi Barang Unit Akuntansi Kuasa Pengguna Barang Unit Akuntansi Pembantu pengguna Barang Wilayah Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah 73 . c.06/2005. misalnya persediaan yang diperoleh melalui hibah atau rampasan. dan barang yang masih dalam proses produksi yang dimaksudkan untuk dijual atau diserahkan kepada masyarakat. Kondisi persediaan. 3. tidak dimasukkan sebagai persediaan. 59/PMK.Persediaan EKUITAS LANCAR Cadangan Piutang Cadangan Persediaan ASET TETAP Peralatan dan Mesin EKUITAS DIINVESTASIKAN Diinvestasikan dalam aset tetap 2. d. Sedangkan untuk persediaan bahan baku dan perlengkapan yang dimiliki proyek swakelola dan dibebankan ke suatu perkiraan aset untuk kontruksi dalam pengerjaan. Kebijakan akuntansi yang digunakan dalam pengukuran persediaan. jenjang pelaporan persediaan sebagai berikut : No 1. berupa : a. barang yang disimpan untuk dijual atau diserahkan kepada masyarakat. barang atau perlengkapan yang digunakan dalam proses produksi. Pengungkapan Persediaan dalam Catatan atas Laporan Keuangan. b. Persediaan disajikan di neraca sebesar nilai moneternya dan diungkapkan dalam Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK).

3. sehingga memudahkan pelaksanaan tugas di dalam pelaksanaan SIMAK-BMN sekaligus dapat mengidentifikasi permasalahan dan mencari solusi penyelesaiannya yang dilakukan dalam rangka memberikan kontribusi nilai aset pada pembuatan Laporan Keuangan Pemerintah Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah 74 . Neraca/CaLK termasuk data persediaan kepada UAPA. maka terdapat beberapa hal yang perlu diketahui. 2. dalam hal ini satuan kerja Kementerian Negara / Lembaga. UAPPB.3. UAKPB mengirimkan Laporan Persediaan kepada UAPPB-W. 2. jenjang pelaporan persediaan di Unit Akuntansi Barang adalah sebagai berikut: 1.W mengirimkan Laporan Persediaan kepada UAPPB-E1. 4. Neraca/CaLK termasuk data persediaan kepada UAPPA-E1. 3. BAB VII PENUTUP A. dipahami dan dimengerti oleh setiap pelaku dalam pelaksanaan SIMAK-BMN. Sedangkan. UAKPA UAPPA-W UAPPAE1 mengirimkan mengirimkan mengirimkan Neraca/CaLK termasuk data persediaan kepada UAPPA-W.E1 mengirimkan Laporan Persediaan kepada UAPB. UAPPB. Rangkuman Setelah diuraikan mengenai Sistem Informasi Manajemen dan Akuntansi Barang Milik Negara dalam kerangka Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat beserta kebijakan akuntansinya. Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Anggaran Eselon I Unit Akuntansi Pengguna Anggaran Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Barang Eselon I Unit Akuntansi Pengguna Barang Jenjang pelaporan persediaan di Unit Akuntansi Keuangan adalah sebagai berikut: 1.

Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah 75 . Menteri Menteri 97/PMK. c. Barang-barang yang dibeli/diperoleh atas beban APBN baik sebagian atau seluruhnya atau dari perolehan lain yang sah. f. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355). Kesimpulan atas uraian SIMAK-BMN beserta kebijakan akuntansinya sebagai berikut : 1. disebut Barang Milik Negara (BMN).06/2007 tentang Tata Pelaksanaan Peraturan Peraturan Penggunaan. Barang Milik Negara/Daerah. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438).Pusat. Nomor Nomor Penghapusan dan Akuntansi Pemerintahan. Akuntansi dan Pelaporan Pemerintah Pusat.06/2007 tentang tentang Penggolongan dan Kodefikasi Barang Milik Negara. g. Dasar hukum pengelolaan dan pelaporan barang milik Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara negara (BMN) saat ini mengacu kepada : (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47. Undang-undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5. b. Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286). Cara Pemindahtanganan Barang Milik Negara. e. j. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 171/PMK. d. Penatausahaan Barang Milik Negara. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4400).05/2007 tentang Sistem Peraturan Menteri Keuangan Nomor 96/PMK. Undang-undang Nomor 15 tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggungjawab Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 66. a.06/2007 120/PMK. i. h. Keuangan Keuangan Pemanfaatan. sesuia UndangUndang No. 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. 2.

sebelumnya UPB. Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Barang Eselon 1 (UAPPB-E1) untuk tingkat Eselon 1. sebelumnya PEBIN b. 7.05/2007 tentang Bagan Akun Standar. Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah 76 . Jika terdapat perbedaan dengan nilai dengan laporan BMN maka harus dilakukan koreksi melalui jurnal koreksi pada aplikasi SIMAK-BMN.06/2007 tentang Penggolongan dan Kodefikasi Barang milik Negara dan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 91/PMK. 6.3. Lembaga adalah Pengguna Barang. 4. Unit Akuntansi Pengguna Barang (UAPB) untuk tingkat Kementerian Negara / Lembaga. dan Undang-Undang no. Struktur Organisasi Unit Akuntansi Barang yang melakukan pengelolaan dan atau penatausahaan dan pelaporan Barang Milik Negara adalah: a. nilai dan kondisi BMN sebagai saldo awal aset tetap untuk neraca pada setiap Kementerian Negara / Lembaga harus dilaksanakan inventarisasi BMN yang berada dalam penguasaannya. sebelumnya PPBI. 5. Untuk mengetahui jumlah. Pengguna Barang. Pengguna Barang dan atau Kuasa Pengguna Barang wajib mengelola dan menatausahakan BMN yang berada dalam penguasaannya dengan sebaikbaiknya. Menteri Para / Pimpinan satuan kepala kerja selaku KPA di lingkungan Kementerian Negara / Lembaga adalah Kuasa Menurut Undang-Undang No. Unit Akuntansi Kuasa Pengguna Barang Menurut Undang-Undang No. c. 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. c. selaku Pengelola Fiskal dan wakil pemerintah dalam pengelolaan kekayaan negara yang dpisahkan adalah Pengelola Barang. Tata cara pencatatan atau registrasi kode tabel BMN dilakukan dengan cara mapping ke kode buku besar termasuk untuk Konstruksi Dalam Pengerjaan dan Persediaan berdasarkan kepada Peraturan Menteri Keuangan Nomor 97/PMK. b. Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Barang Wilayah (UAPPB-W) untuk tingkat Eselon 2 di wilayah atau yang mendapatkan penunjukan bagi yang tidak memiliki Eselon 2 di wilayah yang bersangkutan. 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara: a. 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara Menteri Keuangan (UAKPB) untuk tingkat kantor/satuan kerja. sebelumnya PBI b.

UAKPB juga menyerahkan laporan beserta data transaksi tersebut kepada UAKPA. Pengakuan Kontruksi dalam Pengerjaan mencakup tanah. Persediaan diakui pada saat diterima atau hak kepemilikannya dan/atau kepenguasaannya berpindah. 12. Selanjutnya berdasarkan laporan tersebut. persediaan disajikan neraca. maka pertanggungjawaban Pemerintah dalam pelaksanaan APBN sebelum lahirnya 3 (tiga) paket UU bidang Keuangan Negara berupa Perhitungan Anggaran Negara (PAN) yang disusun berdasarkan gabungan seluruh Perhitungan Anggaran Kementerian Negara / Lembaga. 22 Tahun 2006 tentang Pertanggungjawaban atas Pelaksanaan APBN Tahun 2004 tertanggal 29 Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah 77 . UAKPA membuat jurnal penambahan/pengurangan nilai persediaan. peralatan dan mesin. Berdasarkan jurnal tersebut. Pada akhir periode akuntansi. akun B.8. persediaan dicatat berdasarkan hasil inventarisasi fisik. dan aset tetap lainnya yang proses perolehannya dan/atau pembangunannya membutuhkan suatu periode waktu tertentu dan belum selesai. KDP dipindahkan ke pos aset tetap yang bersangkutan jika konstruksi yang dilaksanakan secara substansi telah selesai dikerjakan. Penyajian persediaan dalam neraca dilakukan setiap semester dengan cara UAKPB membuat Laporan Persediaan beserta data transaksi serta menyerahkan laporan beserta data transaksi tersebut kepada unit vertikal di atasnya untuk dikompilasi. 9. Biaya-biaya yang dapat dikapitalisasi sebagai biaya pembangunan aset mengacu kepada Peraturan Menteri Keuangan Nomor 120/PMK. jalan. Persediaan diakui pada saat potensi manfaat ekonomi masa depan diperoleh pemerintah dan mempunyai nilai atau biaya yang dapat diukur dengan andal. irigasi dan jaringan. Pertanggungjawaban Pemerintah dalam pelaksanaan APBN tahun 2004 berupa Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) yang disusun berdasarkan gabungan seluruh Laporan Keuangan Kementerian Negara / Lembaga. Undang-Undang No. dan dapat memberikan manfaat/jasa sesuai dengan tujuan perolehan 10. gedung dan bangunan. 11. Umpan Balik Sehubungan dengan Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) LKPP Tahun 2006 perihal neraca awal pemerintah pusat.06/2007 tentang Penatausahaan Barang Milik Negara. KDP dicatat dengan biaya perolehan.

2004 (ii) Neraca Pemerintah Pusat per 31 Desember 2004 (iii) Laporan Arus Kas T. Kementerian Negara / Lembaga dalam melakukan dari Menteri Keuangan. pasal 2 beserta penjelasannya menyatakan bahwa pertanggungjawaban APBN berupa (i) Laporan Realisasi APBN T. Penghapusan dan Pemindahtanganan Barang Milik Negara tanggal 4 September 2007 menyebutkan bahwa penggunaan BMN untuk menjalankan tugas pokok dan fungsi dilakukan berdasarkan penetapan status penggunaan oleh Pengelola Barang sehingga akan menjadi pekerjaan utama setiap Kementerian Negara / Lembaga terhadap aset yang dikuasainya. 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan termasuk buletin teknisnya. Atas dasar hal tersebut maka setiap kementerian Negara / Lembaga: 1. sedangkan dalam rangka penilaian BMN harus mendasarkan pada ketentuan sesuai PP No. atau dapat dilakukan tanpa menunggu selesainya penetapan tersebut yang tentu memerlukan waktu yang tidak sebentar. Pemanfaatan. 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah telah mendapatkan opini dari BPK sehingga menjadi saldo awal aset tetap Kementerian Negara/Lembaga per 1 Januari 2007. 2004 dan (iv) Catatan atas laporan Keuangan. Inventarisasi dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui keberadaan fisik dari BMN dimaksud. penilaian BMN tidak dibenarkan melakukan Revaluasi BMN sebelum adanya surat keputusan revaluasi Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah 78 . Di lain pihak pada Peraturan Menteri Keuangan Nomor 96/PMK.06/2007 tentang Tata Cara Pelaksanaan Penggunaan. 3.Desember 2006. Pelaksanaan Inventarisasi dilakukan apakah menunggu setelah adanya penetapan status penggunaan oleh Pengelola Barang dalam hal ini menteri Keuangan. 4.A. Neraca Pemerintah Pusat tersebut merupakan Neraca awal Pemerintah Pusat per 31 Desember 2004 yang dapat disajikan sebagai perbandingan dalam laporan keuangan periode berikutnya yang disusun berdasarkan gabungan Neraca seluruh Kementerian Negara / Lembaga.A. 2. Hasil inventarisasi BMN menjadi dasar bagi Kementerian Negara / Lembaga untuk membuat Memo Penyesuaian / Koreksi yang selanjutnya akan dijadikan penetapan sebagai saldo awal aset tetap tahun anggaran 2007. Laporan Keuangan Kementerian Negara/Lembaga TA 2006 audited sebagai hasil dari salah satu entitas pelaporan sebagaimana yang terdapat Peraturan Pemerintah No. Melakukan inventarisasi BMN dalam rangka kebenaran saldo awal aset tetap tahun anggaran 2007.

Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah 79 .