P. 1
Makalah UD Peranan Pemerinah Daerah Dalam an Agribisnis

Makalah UD Peranan Pemerinah Daerah Dalam an Agribisnis

|Views: 447|Likes:
Published by AdietAnyar

More info:

Published by: AdietAnyar on Jun 19, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/16/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

A.

LATAR BELAKANG MASALAH Program Revitalisasi Pertanian merupakan pernyataan politik pemerintah untuk

menjadikan sektor pertanian sebagai prioritas pembangunan nasional. Agenda pokok Revitalisasi Pertanian ialah membalik tren penurunan dan mengakselerasi peningkatan produksi dan nilai tambah usaha pertanian. Faktor kunci untuk itu ialah peningkatan dan perluasan kapasitas produksi melalui renovasi, penumbuhkembangan dan restrukturisasi agribisnis, kelembagaan maupun infrastruktur penunjang. Peningkatan dan perluasan kapasitas produksi diwujudkan melalui investasi bisnis maupun investasi infrastruktur. Pada intinya,investasi adalah modal yang digunakan untuk meningkatkan atau memfasilitasi peningkatan kapasitas produksi. Pemerintah bukanlah pelaku usaha. Usaha ekonomi sebesarbesarnya dilaksanakan oleh swasta, baik perorangan (masyarakat) maupun perusahaan. Oleh karena itu, investasi usaha sepenuhnya dilakukan oleh swasta. Peran pemerintah terutama adalah dalam pembangunan infrastruktur publik, insentif dan regulasi yang esensial untuk penumbuh-kembangan perusahaan swasta. Investasi infrastruktur yang dilaksanakan pemerintah merupakan komplementer dan fasilitator bagi investasi usaha yang dilaksanakan pengusaha. Tujuan swasta melakukan investasi ialah untuk memperoleh laba sebesarbesarnya. Informasi mengenai peluang bidang usaha dan lokasi yang prospektif untuk meraih laba amatlah esensial bagi investor swasta. Termasuk dalam hal ini adalah arah kebijakan pemerintah yang akan menentukan ketersediaan fasilitasi pendukung, utamanya infrastruktur publik dan insentif berusaha. Sehubungan dengan itu, sebagai salah satu agenda operasionalisasi Revitalisasi Pertanian, Pemerintah mengambil tindakan proaktif kebijakan dan prospek investasi untuk 17 komoditas pertanian, usaha jasa alat dan mesin pertanian, serta potensi

pengembangan lahan pertanian yang dipandang diperlukan oleh swasta dalam merencanakan investasinya.

B. IDENTIFIKASI MASALAH Dalam penulisan Karya Tulis ini tentang “Peranan Pemerintah Daerah Dalam Pengembangan Sentra Agribisnis di Provinsi Sumatera Utara”. Adapun permasalahan yang dapat diidentifikasi dalam bentuk pertanyaan adalah sebagai berikut : 1. Mengapa kinerja Pemerintahan Daerah belum maksimal? 2. Upaya – Upaya apa sajakah yang dapat meningkatkan kinerja Pemerintahan Daerah? Pada pertanyaan pertama penulis menjabarkan tentang timbulnya wacana tentang mengapa kinerja pemerintahan daerah itu belum maksimal. Pertanyaan kedua akan memaparkan tentang bagaimana / upaya – upaya yang dapat meningkatkan kinerja pemerintah daerah.

C. METODE PENULISAN Penulisan karya ilmiah, metode penulisan diperlukan sebagai frame dalam malakukan analisa data dan penyajian data sehingga terintegrasi dalam satu garis pemikiran dan tidak bias. Ada beberapa jenis penulisan karya tulis ilmiah dalam khazanah keilmuan, seperti metode observasi, pemikiran yang didasarkan atas fakta, serta pemikiran yang didasarkan atas hal hal teoritis. Untuk menggali informasi yang dibutuhkan dalam upaya menjawab pertanyaan dalam identifikasi masalah sebagaimana telah diformulasikan diatas, penulis menggunakan metode deskriptif, di mana dalam metode ini dibutuhkan tehnik penulisan yang dilakukan dengan penggambaran dan penjabaran hal yang terjadi berdasarkan data dan pengalaman yang ada serta hasil pengamatan itu sendiri. Hal ini dilakukan dengan mengkombinasikan pendekatan kualitatif, analisa data sekunder dan untuk menggali data primer yang ada.

Adapun uraian bab selengkapnya adalah : BAB I Pendahuluan Bab ini menguraikan tentang latar belakang masalah. BAB II Tinjauan Pustaka Bab ini membahas tentang kinerja pemerintahan daerah dan upaya – upaya apa saja yang dapat meningkatkan kinerja pemerintahan daerah. identifikasi masalah.D. BAB IV PENUTUP Pada Bab ini menjabarkan tentang kesimpulan dan saran yang diberikan oleh penulis dalam menyelesaikan Makalah ini. . BAB III Pembahasan / Analisis Pada Bab ini menjabarkan tentang peraturan yang mengatur tentang Pemerintahan Daerah yang didalamnya terdapat pasal-pasal mengenai upaya – upaya yang dapat meningkatkan kinerja pemerintah daerah khususnya melalaui evaluasi penyelenggaraan pemerintahan daerah. metode penulisan dan sistimatika penulisan. SISTIMATIKA PENULISAN Secara keseluruhan karya tulis ini terdiri dari Empat Bab.

Disamping itu kakao juga berperan dalam mendorong pengembangan wilayah dan pengembangan agroindustri. Meskipun demikian. mutu produk masih rendah serta masih belum optimalnya pengembangan produk hilir kakao. Pada tahun 2002.BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. PENDAHULUAN Kakao merupakan salah satu komoditas perkebunan yang peranannya cukup penting bagi perekonomian nasional. khususnya sebagai penyedia lapangan kerja. perkebunan kakao telah menyediakan lapangan kerja dan sumber pendapatan bagi sekitar 900 ribu kepala keluarga petani yang sebagian besar berada di Kawasan Timur Indonesia (KTI) serta memberikan sumbangan devisa terbesar ke tiga sub sektor perkebunan setelah karet dan kelapa sawit dengan nilai sebesar US $ 701 juta. walaupun kembali tergeser ke posisi ketiga oleh . sumber pendapatan dan devisa negara. Indonesia berhasil menempatkan diri sebagai produsen kakao terbesar kedua dunia setelah Pantai Gading (Cote d’Ivoire) pada tahun 2002. Keberhasilan perluasan areal tersebut telah memberikan hasil nyata bagi peningkatan pangsa pasar kakao Indonesia di kancah perkakaoan dunia. kakao Indonesia tidak kalah dengan kakao dunia dimana bila dilakukan fermentasi dengan baik dapat mencapai cita rasa setara dengan kakao yang berasal dari Ghana dan kakao Indonesia mempunyai kelebihan yaitu tidak mudah meleleh sehingga cocok bila dipakai untuk blending. Sejalan dengan keunggulan tersebut. agribisnis kakao Indonesia masih menghadapi berbagai masalah kompleks antara lain produktivitas kebun masih rendah akibat serangan hama penggerek buah kakao (PBK). peluang pasar kakao Indonesia cukup terbuka baik ekspor maupun kebutuhan dalam negeri. Dengan kata lain. Dari segi kualitas. Hal ini menjadi suatu tantangan sekaligus peluang bagi para investor untuk mengembangkan usaha dan meraih nilai tambah yang lebih besar dari agribisnis kakao. potensi untuk menggunakan industri kakao sebagai salah satu pendorong pertumbuhan dan distribusi pendapatan cukup terbuka.

Tergesernya posisi Indonesia tersebut salah satunya disebabkan oleh makin mengganasnya serangan hama PBK. dukungan gerakan pengendalian hama PBK. Di samping itu. Untuk mencapai sasaran produksi tersebut diperlukan investasi dukungan berbagai kebijakan untuk menciptakan iklim usaha yang kondusif.Ghana pada tahun 2003. dukungan untuk kegiatan penelitian dan pengembangan industri hilir. Dana investasi tersebut sebagian besar bersumber dari masyarakat karena pengembangan kakao selama ini umumnya dilakukan secara swadaya oleh petani. . Dana pemerintah diharapkan dapat berperan dalam memberikan pelayanan yang baik dan dukungan fasilitas yang tidak bisa ditanggulangi petani seperti biaya penyuluhan dan bimbingan. pembangunan sarana dan prasarana jalan dan telekomunikasi. Hal ini menjadi suatu tantangan sekaligus peluang bagi para investor untuk mengembangkan usaha dan meraih nilai tambah yang lebih besar dari agribisnis kakao. perkakaoan Indonesia dihadapkan pada beberapa permasalahan antara lain: mutu produk yang masih rendah dan masih belum optimalnya pengembangan produk hilir kakao.

Meskipun hama PBK terus mengancam. KONDISI AGRIBISNIS KAKAO SAAT INI Tanaman kakao bukan tanaman asli Indonesia. Malang dan Jember.411 ha (24. Pada tahun 2002 tersebut komposisi tanaman perkebunan kakao Indonesia tercatat seluas 224. Tanaman tersebut diperkirakan berasal dari lembah hulu sungai Amazon. Amerika Selatan yang dibawa masuk ke Indonesia melalui Sulawesi Utara oleh Bangsa Spanyol sekitar tahun 1560. dan 71. perkebunan kakao Indonesia berkembang pesat lebih dari 24 kali lipat dari 37 ribu ha tahun 1980 menjadi 914 ribu ha tahun 2002.6%) tanaman menghasilkan (TM).551/ha (7.BAB III PEMBAHASAN / ANALISIS A. 618.6%) tanaman belum menghasilkan (TBM). Surakarta. Namun sejak kapan mulai dibudidayakan masih belum begitu jelas. Namun sebelum mencapai kejayaannya. Salatiga. Hanya dalam waktu sekitar 20 tahun. dan produksi meningkat lebih dari 57 kali lipat dari 10 ribu ton tahun 1980 menjadi 571 ribu ton tahun 2002. Ada yang berpendapat pembudidayaannya bersamaan dengan pembudidayaan kopi tahun 1820. tetapi budidaya kakao tetap menarik perhatian petani. Kediri. Produktivitas rata- . Akibatnya kebun tidak terpelihara dan menjadi rusak.089 ha (67. Membaiknya harga kakao dunia sejak awal tahun 1970-an telah membangkitkan kembali semangat petani untuk mengembangkan perkebunan kakao secara besar-besaran. perkebunan kakao di Jawa juga mengalami kehancuran akibat serangan hama PBK sejak tahun 1886 dan setelah tahun 1900 praktis tidak ada lagi perkebunan kakao di Jawa. Perkebunan kakao telahdikembangkan di Jawa Tengah dan Jawa Timur meliputi daerah Ungaran.8%) tanaman tua/rusak. tetapi pendapat lain mengatakan lebih awal lagi yaitu tahun 1780 i Minahasa. Pembudidayaan kakao di Daerah Minahasa tersebut tidak berlangsung lama karena sejak tahun 1845 terjadi serangan hama penggerek buah kakao (PBK).

khususnya di sentra utama produksi kakao dengan kerugian sekitar US$ 150 juta per tahun. Pada saat ini teknologi pengendalian hama PBK sudah diperoleh. USAHA AGRIBISNIS HULU Pada agribisnis hulu telah berkembang beberapa sumber benih kakao yang secara resmi tergabung dalam Forum Masyarakat Perbenihan Kopi dan Kakao (FORMABIKOKA) sehingga baik jumlah maupun kualitas benih yang disebar dapat diawasi. Namun karena adanya keterbatasan bahan tanam dan penyebaran sumber benih belum merata keseluruh sentra produksi menyebabkan penggunaan bahan tanam asalan masih berlanjut. Disamping itu rendahnya produktivitas tanaman kakao disebabkan oleh masih dominannya kebun yang dibangun dengan benih asalan. tetapi penerapannya masih menghadapi berbagai kendala.13 kg/ha dan produktivitas perkebunan besar swasta (PBS) rata-rata 681.1 kg/ha. Hal ini memberikan peluang bagi investor untuk mengembangkan usahanya di sub sektor . dimana produktivitas perkebunan rakyat (PR) sebesar 963. Sementara mengganasnya serangan hama penggerek buah kakao (PBK) antara lain disebabkan oleh belum ditemukannya klon kakao yang tahan terhadap hama PBK. terutama perkebunan rakyat dan belum banyaknya adopsi penggunaan tanaman klonal. 2003). Pada saat ini teridentifikasi serangan hama PBK sudah mencapai 40% dari total areal kakao. walaupun kembali tergeser ke posisi ketiga oleh Ghana pada tahun 2003 (International Cocoa Organization.3 kg/ha. Tergesernya posisi Indonesia tersebut salah satunya disebabkan oleh makin mengganasnya serangan hama PBK. Indonesia berhasil menempatkan diri sebagai produsen kakao terbesar kedua dunia setelah Pantai Gading (Cote d’Ivoire) pada tahun 2002. Hal ini menjadi tantangan bagi pelaku bisnis kakao untuk segera mengatasi permasalahan hama PBK. produktivitas perkebunan besar negara (PBN) rata-rata 688. Keberhasilan perluasan areal dan peningkatan produksi tersebut telah memberikan hasil nyata bagi peningkatan pangsa pasar kakao Indonesia di kancah perkakaoan dunia.rata nasional tercatat 924 kg/ha.

Akibatnya ekspor kakao sebagian besar dalam bentuk produk primer sehingga nilai tambah tidak diterima oleh petani. tetapi baru dimanfaatkan sekitar 30% karena berbagai alasan. gunting tanaman. Di sisi lain. Akibatnya harga kakao Indonesia dikenakan diskon (automatic detention) yang besarnya antara US $ 90-150/ton khususnya untuk pasar Amerika Serikat.5%) dalam bentuk biji kering (produk primer) dan hanya sebagian kecil (21. Malaysia. Brazil dan Singapura. Sementara itu industri pengolahan skala kecil dan menengah belum berkembang. .000 ton/tahun. Produk yang diekspor sebagian besar (78. Pada saat ini tercatat sebanyak 14 unit industri kakao dengan kapasitas terpasang mencapai 293. Peluang investasi lainnya adalah memproduksi peralatan dan sarana produksi kakao seperti pisau. USAHA AGRIBISNIS HILIR Produk kakao Indonesia sebagian besar dihasilkan oleh perkebunan rakyat dan umumnya tidak diolah secara baik (tidak difermentasi). bahkan nilai tambahnya dapat diraih jika industri hilir kakao Indonesia beroperasi secara optimal. padahal sudah diperkenalkan industri pembuatan makanan dan minuman cokelat rancangan Puslit Kopi dan Kakao untuk industri skala kecil dan menengah. gergaji. tetapi dinikmati oleh pengusaha di negara pengimpor biji kakao. sehingga menyebabkan tingginya harga bahan baku.agribisnis hulu kakao. Kerugian tersebut seharusnya dapat dikurangi. Indonesia juga mengimpor biji kakao yang akan digunakan untuk campuran bahan baku industri pengolahan dalam negeri. Tujuan utama ekspor kakao Indonesia adalah Amerika Serikat. PASAR DAN HARGA Produksi kakao Indonesia sebagian besar diekspor dan hanya sebagian kecil yang digunakan untuk konsumsi dalam negeri. Diskon harga tersebut cukup memberatkan pekebun kakao dan sangat merugikan karena mengurangi nilai devisa yang diperoleh. sehinga kakao Indonesia dikenal bermutu rendah. sprayer hama dan lain-lain.5%) dalam bentuk hasil olahan. Alasan yang paling banyak dikeluhkan adalah adanya beban PPN sebesar 10%.

B.6 ribu ton atau 18.4% dan 12. Asia Oceania dan Amerika Latin.7% produksi dunia. Sementara Asia Oceania dan Amerika Latin masing masing memproduksi 549. produksi kakao dunia diperkirakan sebesar 2. POTENSI DAN PENGEMBANGAN Kakao diproduksi oleh lebih dari 50 negara yang berada di kawasan tropis yang secara geografis dapat dibagi dalam tiga wilayah yaitu Afrika. PROSPEK. Kebijakan lain yang perlu segera dikeluarkan adalah kebijakan untuk pengendalian hama PBK secara nasional dan kebijakan untuk menghapuskan diskon harga (automatic detention) yang dikenakan terhadap ekspor biji kakao Indonesia oleh Amerika Serikat. Padahal jalan dan khususnya jembatan sebagai infrastruktur yang menghubungkan sentrasentra produksi kakao belum terbangun dengan baik.8 ribu ton atau 68. KEBIJAKAN Terdapat beberapa kebijakan yang harus diregulasi antara lain: perlu penghapusan PPN 10% terhadap transaksi lokal atas biji kakao karena menghambat perkembangan industri pengolahan kakao dalam negeri dan perlu pengenaan pajak ekspor untuk memacu pertumbuhan industri pengolahan kakao dalam negeri. Wilayah Afrika memproduksi biji kakao sebesar 2. Produsen utama kakao .INFRASTRUKTUR Sebagian besar sentra-sentra produksi kakao nasional terdapat di daerah – daerah yang jaraknya cukup terpencil dari kota besar tempat penampungan ataupun pelabuhan. Kondisi ini terutama disebabkan oleh terbatasnya tenaga penyuluh dan pembina petani serta terbatasnya dana penyebarluasan teknologi maju.9% produksi dunia.7 ribu ton dan 387.058. jumlah dan kualitas sarana gudang dan pelabuhan kurang memenuhi syarat untuk menjangkau sentra-sentra produksi kakao. Kondisi ini menjadi kendala bagi pengembangan agribisnis kakao khususnya pada sentra produksi yang belum memiliki pelabuhan ekspor. Kendala lain yang dihadapi dalam pengembangan agribisnis kakao adalah masih lambatnya penyebarluasan teknologi maju hasil penelitian.996 ribu ton. Disamping itu. Pada tahun 2002/03.

165.000/kg biji kering Keseimbangan produksi dan konsumsi kakao dunia tersebut diperkirakan terus berlanjut. Pantai Gading menghadapi masalah karena ada .000 ton. kemudian sedikit berfluktuasi hingga mencapai tingkat tertinggi pada bulan Desember 2001 yaitu US $ 1. 200.550-1. Produsen utama lainnya adalah Indonesia.dunia adalah Pantai Gading dengan total produksi 1.658/ton. Pergerakan harga kakao dunia sangat dipengaruhi oleh rasio stock/pengolahan biji kakao dunia. 450. harga kakao di tingkat petani berkisar antara Rp 9. Tengah dan Tenggara menggunakan harga bursa New York sebagai acuan dalam menetapkan harga kakao di tingkat petani.000/ton pada bulan September 2002 dan mencapai puncaknya pada pertengahan Oktober 2002 yaitu US $ 2. bahkan lebih cenderung mengalami defisit karena beberapa Negara produsen utama menghadapi berbagai kendala dalam upaya meningkatkan produksinya untuk mengimbangi kenaikan konsumsi. Dengan tingkat harga sekitar US $ 1.500/ton di bursa New York. Harga kakao dunia (indikator ICCO) merambat naik menembus US $ 1. Negeria dan Brazil dengan produksi pada tahun 2002/03 masing masing 450.28 juta ton pada tahun 2002/03. 285. Brazil dan Jerman dengan konsumsi masing – masing 410. Kenaikan harga kakao dunia terus berlanjut hingga menembus US $ 2. sehingga beberapa tahun terakhir terjadi deficit produksi. Di sisi lain konsumsi biji kakao dunia sedikit berfluktuasi dengan kecenderungan terus meningkat.000 ton dan 190.000 ton dan 145.336.79/ton.000 ton.26/ton.000 ton. Harga kakao dunia mempunyai keterkaitan yang sangat kuat dengan harga kakao domestik karena pedagang kakao di sentra-sentra utama produksi kakao Indonesia seperti Sulawesi Selatan. Pantai Gading.000/ton pada bulan Februari 2001.205. Selanjutnya harga kakao dunia kembali melemah hingga bulan juni 2004 dan sedikit menguat pada awal tahun 2005.00010.000 ton. Negara konsumen utama biji kakao dunia adalah Belanda dengan tingkat konsumsi 440. Harga kakao dunia di awal tahun 2005 berkisar antara US $ 1.000 ton pada tahun 2002/03.000 ton. Konsumen utama lainnya adalah Amerika Serikat.000 ton. Ghana.

Perbaikan tersebut dapat dilakukan melalui berbagai upaya terutama rehabilitasi kebun. Indonesia masih memiliki lahan yang cukup luas untuk pengembangan perkebunan kakao. modal dan sarana serta prasarana yang memadai. karena animo masyarakat untuk mengembangkan perkebunan kakao beberapa tahun terakhir sangat besar. POTENSI LAHAN Pengembangan usaha perkebunan kakao membutuhkan ketersediaan lahan yang luas. Kondisi tersebut sangat menguntungkan Indonesia. Indonesia yang saat ini berada pada posisi ketiga produsen kakao dunia dapat menjadi produsen utama kakao dunia jika kondisi kebun dapat diperbaiki. Kondisi ini membuka peluang bagi para investor untuk berperan dalam upaya peningkatan potensi kebun dan pengembangan industri hilir kakao. Areal perkebunan kakao berkembang rata-rata hampir 10% per tahun selama lima tahun terakhir dan hal tersebut merupakan suatu tingkat pertumbunhan yang sangat besar pada posisi areal perkebunan kakao mendekati sejuta hektar. peremajaan dan perluasan areal disamping perbaikan mutu produk dan pengembangan industri hilirnya. tenaga kerja yang cukup. Ghana dan Kamerun juga menghadapi masalah subsidi dan insentif harga dari pemerintah. hama PBK dapat diatasi dan mutu produk dapat diperbaiki. Sedangkan Malaysia menghadapi masalah ganasnya serangan hama PBK dan adanya kebijakan untuk berkonsentrasi ke kelapa sawit. Keterlibatan investor sangat diharapkan untuk mengembangkan dan membenahi agribinis kakao.keharusan untuk mengurangi subsidi dan kestabilan politik dalam negeri. sumberdaya lahan masih tersedia dan keinginan masyarakat tersebut dapat terwujud dengan mengandalkan pendanaan sendiri. Akibatnya kebun yang berhasil dibangun produksinya relatif masih rendah dan sebagian besar produksinya dipasarkan dalam bentuk produk primer. sehingga posisi dan daya saing kakao Indonesia di pasar internasional dapat terus ditingkatkan. Namun percepatan perluasan areal yang dimulai sejak awal tahun 1980-an tersebut kurang mendapat dukungan dari sub sistem pengadaan sarana produksi dan pengembangan industri hilirnya. Pengembangan agribisnis kakao ke depan lebih diprioritaskan pada upaya rehabilitasi dan .

walaupun tidak setajam periode 1985-1995 yang laju perluasannya rata-rata diatas 20%/tahun dan periode 1995-2002 yang rata-rata tumbuh 7. di samping terus melakukan perluasan. Perbaikan perkebunan kakao dapat dilakukan melalui upaya rehabilitasi. maka perbaikan potensi kebun dapat dilakukan melalui peremajaan. Sulawesi Tengah. Kedua kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan produktivitas kebun-kebun kakao petani yang telah dibangun. areal perkebunan kakao diperkirakan masih tumbuh dengan laju 2. Pengembangan agribisnis kakao difokuskan terutama di sentra-sentra perkebunan kakao yang ada saat ini yaitu Sulawesi Selatan. (2) serangan hama PBK sudah menjadi ancaman bagi produksi kakao nasional. upaya pengendalian hama PBK perlu terus digalakkan. ARAH PENGEMBANGAN Pada saat ini kecenderungan perluasan areal kakao terus berlanjut.peremajaan untuk meningkatkan produktivitas kebun kakao. peremajaan dan perluasan areal dengan bahan tanam unggul dan penerapan teknologi maju.5%/tahun. Upaya rehabilitasi perlu dilakukan untuk meningkatkan potensi kebun yang sudah ada melalui perbaikan bahan tanaman dengan teknologi sambung samping ataupun penyulaman dengan bibit unggul. Sementara itu upaya perluasan areal perlu didukung dengan penyediaan bibit unggul dan dukungan teknologi budidaya maju. dan Sumatera Utara. Dengan melakukan berbagai upaya perbaikan tersebut maka perluasan areal perkebunan kakao diharapkan terus berlanjut. Oleh karena itu upaya perbaikan perlu segera dilakukan agar produksi kakao nasional dapat dipertahankan bahkan ditingkatkan. Dengan kondisi areal yang ada dan masalah serangan hama PBK yang cenderung terus meluas maka produksi kakao nasional dapat menurun dalam satu dasawarsa mendatang. Disamping itu. Hal ini disebabkan karena (1) peningkatan produksi dengan perluasan areal saat ini tidak dapat mengimbangi penurunan produksi tanaman tua dan tua renta.5%/tahun sehingga total areal perkebunan . Sulawesi Tenggara. Tetapi apabila upaya rehabilitasi tidak memungkinkan. sehingga produktivitas kebun yang berhasil dibangun cukup tinggi. Pada periode 2005-2010.

 Pengembangan industri pengolahan hasil mulai dari hulu sampai hilir.kakao diharapkan mencapai 1. mutu produk yang baik.5%/tahun.430 ha dengan total produksi 730.105.  Perluasan areal pada lahan-lahan potensial dengan menggunakan bibit unggul. potensi dan peluang yang ada.  Meningkatkan upaya pengendalian hama penggerek buah kakao (PBK). Pada periode 2010-2025 diharapkan pertumbuhan areal perkebunan kakao Indonesia terus berlanjut dengan laju 1.  Perbaikan mutu produksi sesuai dengan tuntutan pasar. .  Pengembangan sub sistem penunjang aggribisnis kakao yang meliputi : bidang usaha pengadaan sarana produksi. dan mampu menghasilkan produk dengan jumlah dan ragam sesuai dengan permintaan pasar.  Peremajaan kebun tua/rusak dengan bibit unggul.152 ha pada tahun 2025 dengan produksi 1.354.  Meningkatkan mutu produk kakao secara nasional.000 ton. sehingga total arealnya mencapai 1.  Peningkatan upaya pengendalian hama PBK. Secara rinci tujuan tersebut adalah sebagai berikut :  Meningkatkan produksi kakao lewat perluasan areal tanam maupun produktivitas perkebunan kakao. maka tujuan umum pengembangan agribisnis kakao adalah terwujudnya agribisnis kakao berdaya saing kuat yang dicirikan oleh produktivitas tinggi. C. Jadi secara ringkas arah pengembangan agribisnis kakao adalah sebagai berikut:  Rehabilitasi kebun dengan menggunakan bibit unggul dengan teknik sambung samping. kelembagaan petani dan lembaga keuangan. sesuai dengan kebutuhan.3 juta ton. TUJUAN DAN SASARAN PENGEMBANGAN TUJUAN Sesuai dengan visi dan misi pembangunan perkebunan serta memperhatikan prospek.

 Produksi kakao pada tahun 2025 diproyeksikan menjadi 1.  Pada tahun 2025 sekitar 80 % dari total areal tanam diproyeksikan berupa tanaman unggul.  Mempercepat pengembangan industri hilir kakao. Mendorong terwujudnya agribisnis perkebunan yang terintegrasi dengan berbagai cabang usaha lain yang sesuai.  Harga produk ditingkat petani pada tahun 2025 diproyeksikan sebesar 85 % dari harga FOB dan loko pabrik dalam negeri  Petani telah dikonsolidasikan kedalam kelembagaan yang efektif (corporate community) .  Jenis produk yang di ekspor beragam dan jumlahnya meningkat  Terciptanya sistem usahatani terpadu khususnya kebun kakao dan ternak serta usahatani lainnya yang sesuai  Pendapatan petani pada tahun 2025 diproyeksikan US$ 2000/tahun (termasuk pendapatan dari diversifikasi usaha). SASARAN Berdasarkan tujuan tersebut maka dalam jangka panjang (2005-2025) sasaran yang akan dicapai adalah sebagai berikut :  Produktivitas tanaman pada tahun 2025 diproyeksikan menjadi 1.  Mengoptimalkan pemanfaatan kapasitas terpasang industri pengolahan.3 juta ton/tahun.26 ton/ha/tahun.  Meningkatkan pendapatan pekebun kakao.  Memperkuat subsistem pengadaan sarana produksi.

2. Peranan partai politik atau gabungan partai politik peserta pemilihan umum. dan Pasal 28D Ayat (1) dan Ayat (3) UUD 1945. KESIMPULAN 1. Perkembangan pengaturan pilkada sebagaimana dipraktikkan di Aceh telah melahirkan realitas baru dalam dinamika ketatanegaraan yang telah menimbulkan dampak kesadaran konstitusi secara nasional. baik yang mendapatkan kursi di DPRD maupun yang tidak memiliki kursi di DPRD memiliki kesempatan yang sama untuk mengusung atau mengajukan pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah yang dipilih secara demokratis melalui pemilihan langsung oleh rakyat. sebagaimana dijamin oleh ketentuan Pasal 18 Ayat (4). dilain pihak setiap orang juga memiliki hak yang sama untuk mencalonkan diri untuk menjadi kepala daerah maupun wakil kepala daerah. . Pasal 27 Ayat (1). sehingga melalui pemilihan secara langsung tersebut masyarakat dapat menentukan hak pilihnya. yakni dibukanya kesempatan bagi calon perseorangan dalam pilkada. 3. Setiap warga negara diberikan yang sama untuk ikut serta di dalam pemerintahan dengan tanpa kecualinya. juga dengan model pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah yang dipilih secara langsung oleh rakyat menunjukkan adanya mekanisme yang transparan dan demokratis.BAB IV PENUTUP A.

Untuk itu perlu bagi kepala daerah yang menjabat untuk melepaskan jabatannya sebelum pelaksanaan pemilihan Kepala Daerah. Menurut Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 calon perseorangan tanpa melalui parpol atau gabungan parpol dimungkinkan dalam pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. B. serta memanfaatkan jaringan birokrasi tidak dapat dihindari. Untuk itu penyelenggaraan tahapan tahapan pemilihan Kepala daerah harus dilaksanakan secara profesional. Untuk melaksanakan hal tersebut dibutuhkan sumber daya aparatur yang mampu dan memiliki pengetahuan dalam melaksanakan pemilihan Kepala Daerah baik secara teoritis maupun praktis. SARAN 1 Sukses tidaknya pelaksanaan pemilihan Kepala daerah sangat ditentukan oleh sukses tidaknya tahapan-tahapan pelaksanaannya. Berdasarkan pengalaman selama ini kesan intervensi. efektif dan efisien sesuai dengan azas pemilu yang ada. pemihakan. .4. 2 Konflik kepentingan dalam pelaksanaan pilkada akan terjadi jika kepala daerah yang masih menjabat iktu mencalonkan diri sebagai Kepala Daerah pada pemilihan Kepala daerah untuk periode berikutnya.

2006. . D. PT Gramedia Pustaka Utama.2005. Otonomi Penyelenggaraan PemerintahanDaerah. Yogyakarta ------------. Yogyakarta Gaffar. Priyo B.Perkara Nomor 006/PUU-III/2005 tentang Pengujian Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Affan. Pustaka Belajar.S. 1995. Birokrasi Pemerintah Orde Baru: Perspektif Kultural dan Struktural. D. Solihin. Unirta Press. Urgensi Peningkatan Mutu Layanan Masyarakat. Strategi Pemberdayaan Daerah dalam Konteks Otonomi Philosophy Press. Pustaka Belajar. Jakarta.DAFTAR PUSTAKA Affandi. Philosophy Press. Yogyakarta Santosa. Transisi Menuju Demokrasi. Amiruddin. Politik & Otonomi Daerah. 2001. Rajawali Press. Nur Achmad. 2001. Jakarta. Politik Indonesia. Banten. Putusan Mahkamah Konstitusi. 2002. Strategi Pemberdayaan Daerah Dalam Konteks Otonomi. 2000. Leo. Bratakusumah. Problem dan Prospek. Urgensi ‘Clean Goverment’ dalam implementasi otonomi daerah. Yogyakarta Agustino. Pilkada Langsung.

P e n u l i s. Tanjungbalai. Karya tulis ini mudah-mudahan bermanfaat bagi pembacanya dan untuk kemajuan demokrasi di Indonesia.KATA PENGANTAR Dengan mengucap Puji dan Syukyur pada Allah Swt Penulis dapat menyelesaikan karya tulis yang berjudul Keberadaan Calon Independen dalam Pemilihan Presiden dan Kepala Daerah di Indonesia. Saran yang membangun diharapkan untuk perbaikan bagi penulis dan diucapkan terima kasih. 2008 IMRON . Karya tulis ini dibuat untuk memberikan pemahaman tentang keberadaan calon Independen dan pemahaman tentang pelaksaaan Pemilu khususnya Pemilhan Kepala/Wakil Kepala Daerah.

...................................................................................DAFTAR ISI KATA PENGANTAR.. PENDAHULUAN..... 4 D............................................................ 6 B.......................... PENGERTIAN CALON INDEPENDEN................................................................................................................ SARAN.......................... KESIMPULAN................................ PENDAHULUAN... KEBERADAAN CALON INDEPENDEN DALAM ................... 4 C.... 28 ......................... 16 DEMOKRASI PERWAKILAN...... SISTIMATIKA PENULISAN......................... 6 A......... 14 B.................................... 28 B.............................. IDENTIFIKAS MASALAH........ CALON INDEPENDEN MENURUT UU NO 32 TAHUN 2004 ................................................................ 7 KEPALA DAERAH BAB III PEMBAHASAN A.... 1 B............................... 17 PILKADA DI INDONESIA D....................................................................................................... LATAR BELAKANG MASALAH.................................................. i DAFTAR ISI...................................... 6 C................ METODE PENULISAN...................................... 21 DAN UU NO 12 TAHUN 2008 BAB IV PENUTUP A.. PERANAN PARTAI POLITIK DALAM SISTEM .................................. C.......... MODEL-MODEL PEMILIHAN PRESIDEN DAN ...... 5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA.......................................................................................... ii BAB I PENDAHULUAN A................................

..................DAFTAR PUSTAKA............................................................................... 30 .......

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->