P. 1
Penghantar Listrik

Penghantar Listrik

|Views: 6,119|Likes:

More info:

Published by: Aditia Putra Kurniawan on Jun 19, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/09/2013

pdf

text

original

Makalah Pembinaan Teori Instalasi Listrik

PENGHANTAR LISTRIK
Makalah Ini Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Pembinaan Teori Instalasi
Listrik
Dosen Pengampu Djoko Laras BT, M.Pd



Disusun oleh :
Koko Prayaka (08506131012)
Aditia Putra Kurniawan (08506131029)


JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRO
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2011


i

ABSTRAK
Listrik termasuk salah satu sumber energi yang terbarukan dan merupakan
energy yang paling mudah untuk dikonversikan. Tidak seperti energy lainnya
karena harus mengunakan piranti yang sangat kompleks. Selain itu, listrik sangat
bermanfaat bagi umat manusia. Terutama disaat malam hari yang gelap gulita.
Denga adanya listrik, energy cahaya dapat dimunculkan.
Seiring dengan perkembangan zaman, listrik semakin dibutuhkan oleh
manusia dimanapun berada. Tidak hanya di kota besar saja, di desa-desa dan
pelosok negeri ini juga sangat membutuhkan energy listrik. Namun demikian,
permasalahan yang dihadapi adalah bagaimana mendistribusikan listrik dari suatu
pembangkit atau generator sampai ke pelosok negeri ini yang jaraknya bisa
dibilang sangat jauh, bahkan sampai antar pulau.
Pada tahun 1900-an telah di kembangkan penghantar yang bagus sehingga
dapat digunakan untuk mendistribusikan energy listrik dari pembangkit sapai ke
kota besar namun belum sampai ke pelosok negeri. Dan pada era-era sekarang
inilah listrik sudah bisa dinikmati oleh penduduk desa. Ini semua berkat
penghantar listrik yang digunakan sangat baik dan andal. Sehingga dapat
digunakan untuk mendistribusikan energy listrik tanpa hentinya.
Penghantar disini sangat berperan penting untuk mendistribusikan energy
listik karena energy listrik hanya bisa di salurkan melalui sebuah penghantar atau
yang sering disebut kabel. Kabel yang baik adalah yang memiliki daya tahan
terhadap suhu tinggi, tekannan, dan tentu saja hambatan yang rendah. Karena
semakin besar hambatannya, maka pembangkit harus membangkitkan energy
listrik yang sangat besar.

kata kunci : listrik, penghantar, distribusi.



ii

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan
rahmat dan hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini
dengan lancar dan baik.
Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Instalasi Listrik
Makalah ini berisi mengenai hantaran dan sambungannya pada instalasi listrik.
Dalam penggunaanya, makalah ini diharapkan dapat membantu proses
pembelajaran yang berlangsung, guna merealisasikan pembelajaran di universitas.
Demikian, “tiada gading yang tak pernah retak” begitu pepatah
mengatakannya. Segala bentuk kritik dan saran, penyusun terima guna
kesempurnaan makalah ini. Mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat dalam
mendukung pengembangan pendidikan, khususnya mahasiswa Teknik Elektro
Universitas Negeri Yogyakarta.


Yogyakarta, 22 Maret 2011

Penyusun







iii

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL.................................................................................................i
ABSTRAK...............................................................................................................ii
KATA PENGANTAR............................................................................................iii
DAFTAR ISI...........................................................................................................iv
DAFTAR GAMBAR............................................................................................vii
DAFTAR TABEL.................................................................................................viii

BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG...................................................................................1
B. IDENTIFIKASI MASALAH........................................................................2
C. TUJUAN PEMBAHASAN………………………………………………...2
D. BATASAN MASALAH………………………………………………..…...2
E. TEKNIK PENGUMPULAN DATA………………….………………..……2
F. SISTEMATIKA PENULISAN………………………….……………..……3

BAB II PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN..............................................................................................4
B. JENIS-JENIS KABEL.................................................................................13
C. KABEL PADA INSTALASI RESIDENSIAL..........................................17
D. NOMENKLATUR KABEL.......................................................................22
E. SPESIFIKASI KABEL..............................................................................24
F. RUGI TEGANGAN / DROP VOLTAGE.................................................24
G. KHA (KEMAMPUAN HANTAR ARUS)................................................25
H. MACAM-MACAM SAMBUNGAN KABEL..........................................27
I. PENGGUNAAN WARNA KABEL..........................................................29


iv

J. APLIKASI PENGHANTAR PADA DISTRIBUSI LISTRIK..................31

BAB III KESIMPULAN
A. KESIMPULAN.................................................................................37
.
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................ix


















v

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Gambar kabel NYA………………………………………………….18
Gambar 2. Bentuk kabel NYM…………………………………………………..18
Gambar 3. Penampang melintang dan membujur kabel NYAF…………………19
Gambar 4. Penampang melintang dan membujur kabel NYY………………….19
Gambar 5. Gambar kabel NYAFGbY…………………………………………...20
Gambar 6. Kabel ACSR………………………………………………………….20
Gambar 7. Kabel AAAC…………………………………………………………21
Gambar 8. Penampang kabel BC………………………………………………...21













vi

DAFTAR TABEL

Tabel. 1. Hambatan Logam Jenis…………………………………………………8
Tabel 2. Hambatan Logam Jenis dalam Ohm-mm
2
………………………………9
Tabel 3. Nomenklatur Kabel.................................................................................22
Tabel 4. Kemampuan Hantar Arus Kabel Instalasi Pada Suhu Keliling 30°C
dengan Kondisi Suhu Kabel Maksimum 70°C………………………….……….26
Table 5. table KHA. berdasarkan jumlah penghantar……………………..…….27















1

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Pada era modern sekarang ini, telah banyak masyarakat mengunakan
peralatan listrik. Seiring dengan perkembangan jaman, banyak bermunculan
peralatan listrik dengan berbagai varian dan fungsi. Masyarakat setiap hari telah
menggunakan alat - alat tersebut, maka secara tidak langsung mereka telah
memanfaatkan energi listrik, yang mana semakin banyak peralatan listrik yang
digunakan maka banyak pula energi listrik yang dibutuhkan. Dengan banyaknya
energi listrik yang digunakan tersebut, tentunya akan banyak dampak yang
diakibatkan. Selain biaya rekening listrik yang melonjak tentunya ada juga
dampak kebakaran karena kegagalan ataupun kurangnya sistem proteksi pada
hantaran instalasi.
Perkembangan listrik sekarang sangat pesat, karena kebutuhan konsumtif
masyarakat yang berangsur-angsur bertambah. Sehingga hal tersebut harus
diimbangi dengan tingkat keamanan pada jenis panghantar sesuai dengan
kemampuan daya hantar dan kebutuhan instalasi listrik. Keamanan listrik sangat
penting karena semakin besar arus listrik yang digunakan maka semakin besar
pula resiko yang dapat ditimbulkan. Dengan demikian kawat penghantar harus
dapat menghantarkan arus listrik dengan tingkat keamanan yang terjaga agar tidak
menimbulkan kerugian baik materi maupun non materi.
Dengan demikian perlu adanya suatu penegasan atau pendidikan tentang
peraturan paraturan standardisasi keamanan pada penghantar listrik sesuai dengan
peraturan-peraturan yang sah. Agar masyarakat dapat lebih banyak pengetahuan
tentang kemungkinan resiko yang dapat ditimbulkan dari arus listrik itu sendiri.
Serta solusi yang akan sangat bermanfaat untuk mencegah bahaya dari kurangnya
pengetahuan masyarakat terutama pada hantaran listik. Maka di sini kita akan
2



mengulas lebih banyak tentang hantaran, dan sambungan kabel serta drop
voltage, dll.

B. IDENTIFIKASI MASALAH
Berdasarkan hal-hal yang telah diuraikan pada latar belakang di atas, maka
rumusan masalah dalam makalah ini meliputi :
1. Apakah yang dimaksud dengan hantaran ?
2. Sambungan apa saja yang digunakan?
3. Penyebab dropvoltage ?
4. Kehandalan dari kriteria atau jenis kabel?

C. TUJUAN PEMBAHASAN
Tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan yang dilakukan secara
berkelompok ini adalah:
1. Mahasiswa dapat mengetahui pemanfaatan hantaran listrik.
2. Mahasiswa dapat mengetahui apa sajakah jenis dan macam-macam
sambungan kabel.
3. Mahasiswa dapat mengetahui penyebab dropvoltage serta kehandalan dari
kriteria atau jenis kabel.

D. BATASAN MASALAH
Mengingat materi hantaran listrik sangat luas maka penulisan makalah ini
akan dibatasi pada pemanfaatan hantaran listrik, jenis dan macam-macam
sambungan kabel, dan penyebab dropvoltage serta kehandalan dari kriteria atau
jenis kabel.

E. TEKNIK PENGUMPULAN DATA
Dalam penyusunan makalah yang dilakukan secara berkelompok ini kami
mengambil materi dari internet dan buku.
3



F. SISTEMATIKA PENULISAN
Adapun dalam sistematika penulisan ini dibuat dalam beberapa bab yaitu:
BAB I PENDAHULUAN
Dalam pendahuluan berisi tentang latar belakang, identifikasi masalah,
tujuan pembahasan,ruang lingkup kajian,teknik pengumpula data dan
sistematika penulisan.
BAB II PEMBAHASAN
Dalam pembahasan berisi tentang definisi paenghantar listrik, jenis
dan macam-macam sambungan kabel, dan penyebab dropvoltage serta
kehandalan dari kriteria atau jenis kabel.
BAB III PENUTUP
Berisi tentang kesimpulan dan saran yang disampaikan guna
menyempurnakan penulisan tugas kelompok yang telah dibuat.













4

BAB II
PENGHANTAR LISTRIK

A. PENGERTIAN
Penghantar listrik atau kabel menurut KBBI tahun 1997 adalah Penghantar
listrik atau kabel adalah kawat penghantar arus listrik berbungkus karet atau
plastik. Menurut wikipedia Kabel listrik adalah media untuk menyalurkan energi
listrik. Isolator disini adalah bahan pembungkus kabel yang biasanya terbuat dari
karet atau plastik, sedangkan konduktornya terbuat dari serabut tembaga ataupun
tembaga pejal. Menurut http://www.total.or.id/info dalam situsnya, kabel adalah
media untuk mengantarkan arus listrik atau informasi. Secara umum pengertian
Kabel adalah media penghantar tenaga listrik dari sumber tegangan listrik ke
peralatan yang menggunakan tenaga listrik atau menghubungkan suatu peralatan
listrik ke peralatan listrik lainnya.
Bahan dari kabel ini beraneka ragam, khusus sebagai pengantar arus
listrik, umumnya terbuat dari tembaga dan umumnya dilapisi dengan pelindung.
Selain tembaga, ada juga kabel yang terbuat dari serat optik, yang disebut dengan
fiber optic cable. Namun dalam hal ini yang akan kita bahas adalah kabel yang
berfungsi untuk menghantarkan energi listrik. Dalam penyaluran tenaga listrik,
ada banyak faktor yang mempengaruhi baik atau tidaknya penyaluran tersebut.
Bahan hantaran listrik dibagi menjadi beberapa bagian yaitu :

1. Konduktor
Penghantar dalam teknik elektro adalah zat yang dapat menghantarkan
arus listrik, baik berupa zat padat, cair atau gas. Karena sifatnya yang konduktif
maka disebut konduktor. Konduktor yang baik adalah yang memiliki tahanan
jenis yang kecil. Pada umumnya logam bersifat konduktif. Emas, perak, tembaga,
5



alumunium, zink, besi berturut-turut memiliki tahanan jenis semakin
besar. Jadi sebagai penghantar emas adalah sangat baik, tetapi karena sangat
mahal harganya, maka secara ekonomis tembaga dan alumunium paling banyak
digunakan.
a. Karakteristik Konduktor
Ada 2 (dua) jenis karakteristik konduktor, yaitu:
· karakteristik mekanik, yang menunjukkan keadaan fisik dari
konduktor yang menyatakan kekuatan tarik dari pada konduktor
(dari SPLN 41-8:1981, untuk konduktor 70 mm berselubung
AAAC-S pada suhu sekitar 30 C, maka kemampuan maksimal
dari konduktor untuk menghantar arus adalah 275 A).
· karakteristik listrik, yang menunjukkan kemampuan dari konduktor
terhadap arus listrik yang melewatinya (dari SPLN 41-10 : 1991,
untuk konduktor 70 mm2 berselubung AAAC-S pada suhu sekitar
30o C, maka kemampuan maksimum dari konduktor untuk
menghantar arus adalah 275 A).

b. Sifat Bahan Konduktor
Bahan penghantar memiliki sifat-sifat penting, yaitu:
1) Daya Hantar Listrik
Arus yang mengalir dalam suatu penghantar selalu mengalami
hambatan dari penghantar itu sendiri. Besar hambatan tersebut
tergantung dari bahannya. Besar hambatan tiap meternya dengan luas
penampang 1mm2 pada temperatur200C dinamakan hambatan jenis.
Besarnya hambatan jenis suatu bahan dapat dihitung dengan
menggunakan persamaan :
R=
ρ.I

dimana :
R : Hambatan dalam penghantar, satuanya ohm (Ω)
6



ρ : hambatan jenis bahan, dalam satuan ohm.mm²/m
l : panjang penghantar, satuannya meter (m)
A : luas penampang kawat penghantar, satuanya mm²
2) Koefisien Temperatur Hambatan
Telah kita ketahui bahwa dalam suatu bahan akan mengalami
perubahan volume bila terjadi perubahan temperatur. Bahan akan
memuai jika temperatur suhu naik dan akan menyusut jika temperatur
suhu turun. Besarnya perubahan hambatan akibat perubahan suhu
dapat diketahui dengan persamaan ;

R = R
0
{ 1 + α (t – t
0
)}

dimana :
R : besar hambatan setelah terjadinya perubahan suhu
R
0
: besar hambatan awal, sebelum terjadinya perubahan suhu.
T : temperatur suhu akhir, dalam 0º C
t
0
: temperatur suhu awal, dalam 0º C
α : koefisien temperatur tahanan

3) Daya Hantar Panas
Daya hantar panas menunjukkan jumlah panas yang melalui lapisan
bahan tiap satuan waktu. Diperhitungkan dalam satuan Kkal/jam 0C.
Terutama diperhitungkan dalam pemakaian mesin listrik beserta
perlengkapanya. Pada umumnya logam mempunyai daya hantar panas
yang tinggi.

4) Daya Tegangan Tarik
Sifat mekanis bahan sangat penting, terutama untuk hantaran diatas
tanah. Oleh sebab itu, bahan yang dipakai untuk keperluan tersebut
harus diketahui kekuatanya. Terutama menyangkut penggunaan dalam
pendistribusian tegangan tinggi.
7



5) Timbulnya Daya Elektro-Motoris Termo
Sifat ini sangat penting sekali terhadap dua titik kontak yang terbuat
dari dua bahan logam yang berlainan jenis, karena dalam suatu
rangkaian, arus akan menimbulkan daya elektro-motoris termo
tersendiri bila terjadi perubahan temperatur suhu.

6) Daya Elektro-Motoris Termo
Daya elektro-motoris termo dapat terjadi lebih tinggi, sehingga dalam
pengaturan arus dan tegangan dapat menyimpang meskipun sangat
kecil. Besarnya perbedaan tegangan yang dibangkitkan tergantung
pada sifat-sifat kedua bahan yang digunakan dan sebanding dengan
perbedaan temperaturnya. Daya elektro-motoris yang dibangkitkan
oleh perbedaan temperatur disebut dengan daya elektro-motoris termo.

c. Konduktivitas listrik
Sifat daya hantar listrik material dinyatakan dengan konduktivitas, yaitu
kebalikan dari resistivitas atau tahanan jenis penghantar, dimana tahanan
jenis penghantar tersebut didefinisikan sebagai:

ρ =
.

Dimana:
A : luas penampang (m2)
l : Panjang penghantar (m)
R : tahanan penghantar (ohm)
ρ : konduktivitas (ohm.m)
Memberikan kemudahan suatu material untuk menghantarkan arus listrik.
Satuan konduktivitas adalah (ohm meter). Konduktivitas merupakan sifat
8



listrik yang diperlukan dalam berbagai pemakaian sebagai penghantar
tenaga listrik dan mempunyai rentang harga yang sangat luas. Logam atau
material yang merupakan penghantar listrik yang baik, memiliki
konduktivitas listrik dengan orde 107 (ohm.meter) -1 dan sebaliknya
material isolator memiliki konduktivitas yang sangat rendah, yaitu antara
10-10 sampai dengan 10-20 (ohm.m)-1. Diantara kedua sifat ekstrim
tersebut, ada material semi konduktor yang konduktivitasnya berkisar
antara 10-6 sampai dengan 10-4 (ohm.m)-1. Berbeda pada kabel tegangan
rendah, pada kabel tegangan menengah untuk pemenuhan fungsi
penghantar dan pengaman terhadap penggunaan, ketiga jenis atau sifat
konduktivitas tersebut diatas digunakan semuanya.

Konduktivitas Listrik Berbagai Logam dan Paduannya Pada Suhu Kamar
20ºC.

Tabel. 1. Hambatan Logam Jenis
Sumber: (http://dunia-listrik.blogspot.com/2008/09/konduktor.html)
Logam Konduktivitas listrik ohm meter
Perak ( Ag ) 6,8 x 10
7

Tembaga ( Cu ) 6,0 x 10
7

Emas ( Au ) 4,3 x 10
7

Alumunium ( Ac ) 3,8 x 10
7

Kuningan ( 70% Cu – 30% Zn ) 1,6 x 10
7

Besi ( Fe ) 1,0 x 10
7

Baja karbon ( Ffe – C ) 0,6 x 10
7

Baja tahan karat ( Ffe – Cr ) 0,2 x 10
7

9



Ada beberapa resistivitas rendah (atau tinggi konduktivitas) logam yang
dapat digunakan sebagai konduktor untuk kabel listrik. Contoh ini sebagai
peringkat oleh resistivitas rendah pada 20 "C ditunjukkan pada Tabel 2.
Tabel 2. Hambatan Logam Jenis dalam Ohm-mm
2

Sumber : Lawrence J. Kelly and Carl C. Landinger Copyright © 1999 by
Marcel Dekker, Inc.
Lawrence J. Kelly, adapted from class notes for “Power Cable Engineer-
ing Clinic,” University of Wisconsin-Madison, 1995.
Resistansi logam pada suhu ruang 20ºC
Metal Ohm-mm²/m x 10

Ohm-cmi/ft x 10

Silver 1.629 9.80
Copper, annealed 1.724 10.371
Copper, hard drawn 1.777 10.69
Copper, tinned 1.741-1.814 10.47-10.91
Aluminum, soft, 61.2%
cond.
2.803 16.82
Aluminum. 1/2 hard to fill
hard
2.828 16.946
Sodium 4.3 25.87
Nickel 7.8 46.9

d. Kriteria mutu penghantar
Konduktivitas logam penghantar sangat dipengaruhi oleh unsur – unsur
pemadu, impurity atau ketidaksempurnaan dalam kristal logam, yang
ketiganya banyak berperan dalam proses pembuatan pembuatan
penghantar itu sendiri. Unsur – unsur pemandu selain mempengaruhi
konduktivitas listrik, akan mempengaruhi sifat – sifat mekanika dan fisika
10



lainnya. Logam murni memiliki konduktivitas listrik yang lebih baik dari
pada yang lebih rendah kemurniannya. Akan tetapi kekuatan mekanis
logam murni adalah rendah.
Penghantar tenaga listrik, selain mensyaratkan konduktivitas yang tinggi
juga membutuhkan sifat mekanis dan fisika tertentu yang disesuaikan
dengan penggunaan penghantar itu sendiri.
Selain masalah teknis, penggunaan logam sebagai penghantar ternyata
juga sangat ditentukan oleh nilai ekonomis logam tersebut dimasyarakat.
Sehingga suatu kompromi antara nilai teknis dan ekonomi logam yang
akan digunakan mutlak diperhatikan. Nilai kompromi termurahlah yang
akan menentukan logam mana yang akan digunakan. Pada saat ini, logam
Tembaga dan Aluminium adalah logam yang terpilih diantara jenis logam
penghantar lainnya yang memenuhi nilai kompromi teknis ekonomis
termurah.
Dari jenis–jenis logam penghantar pada tabel 1. diatas, tembaga
merupakan penghantar yang paling lama digunakan dalam bidang
kelistrikan. Pada tahun 1913, oleh International Electrochemical
Comission (IEC) ditetapkan suatu standar yang menunjukkan daya hantar
kawat tembaga yang kemudian dikenal sebagai International Annealed
Copper Standard (IACS). Standar tersebut menyebutkan bahwa untuk
kawat tembaga yang telah dilunakkan dengan proses anil (annealing),
mempunyai panjang 1m dan luas penampang 1mm2, serta mempunyai
tahanan listrik (resistance) tidak lebih dari 0.017241 ohm pada suhu 20oC,
dinyatakan mempunyai konduktivitas listrik 100% IACS.
Akan tetapi dengan kemajuan teknologi proses pembuatan tembaga yang
dicapai dewasa ini, dimana tingkat kemurnian tembaga pada kawat
penghantar jauh lebih tinggi jika dibandingkan pada tahun 1913, maka
konduktivitas listrik kawat tembaga sekarang ini bisa mencapai diatas
100% IACS.
Untuk kawat Aluminium, konduktivitas listriknya biasa dibandingkan
terhadap standar kawat tembaga. Menurut standar ASTM B 609 untuk
11



kawat aluminium dari jenis EC grade atau seri AA 1350(*), konduktivitas
listriknya berkisar antara 61.0 – 61.8% IACS, tergantung pada kondisi
kekerasan atau temper. Sedangkan untuk kawat penghantar dari paduan
aluminium seri AA 6201, menurut standar ASTM B 3988 persaratan
konduktivitas listriknya tidak boleh kurang dari 52.5% IACS. Kawat
penghantar 6201 ini biasanya digunakan untuk bahan kabel dari jenis All
Aluminium Alloy Conductor (AAAC).
Disamping persyaratan sifat listrik seperti konduktivitas listrik diatas,
kriteria mutu lainnya yang juga harus dipenuhi meliputi seluruh atau
sebagian dari sifat – sifat atau kondisi berikut ini, yaitu:
(1) komposisi kimia.
(2) sifat tarik seperti kekuatan tarik (tensile strength) dan regangan tarik
(elongation).
(3) sifat bending atau pembengkokan
(4) diameter dan variasi yang diijinkan.
(5) kondisi permukaan kawat harus bebas dari cacat, dan lain-lain.

Sedangkan pengertian kawat adalah sebuah penghantar masif ( single
solid conductor ) atau beberapa buah yang tergabung menjadi satu dan
terbungkus oleh bahan isolasi. kabel berisolasi atau disingkat kabel rakitan
yang terdiri atas :
(1) satu inti atau lebih
(2) selubung individual (jika ada)
(3) pelindung rakitan (jika ada)
(4) selubung kabel (jika ada).

Penghantar yang tidak berisolasi tambahan dapat digolongkan sebagai
kabel. (insulated cable) IEV 461-06-01. Kabel listrik adalah media untuk
menyalurkan energi listrik. Sebuah kabel listrik terdiri dari isolator dan
konduktor.
12



Isolator disini adalah bahan pembungkus kabel yang biasanya terbuat dari
karet atau plastik, sedangkan konduktornya terbuat dari serabut tembaga
ataupun tembaga pejal.
Kemampuan hantar sebuah kabel listrik ditentukan oleh KHA
(kemampuan hantar arus) yang dimilikinya, sebab parameter hantaran
listrik ditentukan dalam satuan Ampere. Kemampuan hantar arus
ditentukan oleh luas penampang konduktor yang berada dalam kabel
listrik, adapun ketentuan mengenai KHA kabel listrik diatur dalam
spesifikasi SPLN.
Sedangkan tegangan listrik dinyatakan dalam Volt, besar daya yang
diterima dinyatakan dalam satuan Watt, yang merupakan perkalian dari
Ampere x Volt = Watt. Pada tegangan 220 Volt dan KHA 10 Ampere,
sebuah kabel listrik dapat menyalurkan daya sebesar 220V x 10A = 2200
Watt.
2. Semikonduktor
Bahan semikonduktor adalah bahan yang mempunyai level konduktiviti
(kemampuan menghantarkan arus listrik) diantara bahan konduktor dan
isolator. Kebalikan dari konduktiviti adalah resistansi , yaitu kemampuan
menahan arus listrik. Semakin tinggi level konduktiviti maka semakin rendah
level resistansi. Istilah resistivity (rho, yunani) biasanya digunakan untuk
membandingkan level resistansi material. Resistivity suatu material diukur
dalam satuan Ω-m atau Ω-cm. Jadi, bahan semikonduktor mampu
menghantarkan listrik lebih baik daripada isolator, tapi lebih rendah
dibandingkan konduktor.
3. Isolator
Dalam istilah elektronika, Isolator listrik adalah sesuatu benda yang
merupakan bukan benda penghantar listrik yang berguna untuk menahan
penghantar listrik. Isolator dapat berupa karet, kayu, kertas, dan biasanya
adalah benda-benda selain golongan logam. Isolator contohnya dapat kita lihat
13



pada setiap kabel yaitu berupa karet yang berguna untuk melapisi
tembaga(logam) agar arus tetap mengalir pada tembaga. Dengan kata lain
berguna untuk melindungi kita dari sengatan listrik.oleh sebab itu isolator
merupakan penghantar listrik yang paling buruk diantara konduktor maupun
semikonduktor.
Isolator memiliki karakteristik lebih lunak daripada logam namun tidak
berair, karena sebagus apapun suatu isolator jika terkena air maka arus listrik
akan dapat mengalir. Isolator memiliki daya resistansi yang tinggi terhadap
arus listrik. Karena sifatnya yang resistant/ menghambat aliran arus listrik
maka benda-benda tersebut disebut isolator.
B. JENIS-JENIS KABEL
a. Metode Pemilihan Kabel
Sebelum memilih kabel kita harus memahami konsep dasar penggunaan
kabel yaitu :
a. Kapasitas dan fungsi
b. Pemilihan kabel (harus memiliki perencanaan)
i. Design layout instalasi/single line diagram
ii. Sambungan dan hubungan
iii. Luas penampang kabel
iv. Nomenklatur/kode huruf bahan kabel
v. Warna standar
c. Manufacturer recommendation (usia–Standar Nasional (SPLN)
dan/atau Standar Internasional).
d. Perawatan kabel – recondition cable.

b. Klasifikasikan dari bahan baku
Adapun bila ditinjau dari bahan baku, penghantar dapat diklasifikasikan
menjadi:
a. Tembaga
14



Ciri-ciri: logam coklat kemerahan.
Sifat: mudah ditempa, konduktor yang baik, non magnetik, tahan
terhadap korosi dengan peleburan dan elektrolisa.
Ilustrasi: Penyambungan kabel antara kabel jenis serabut dan kabel
pejal yang tidak sesuai standar adalah salah satu penyebab short circuit
yang merupakan awal dari pemicu kebakaran.
Kegunaan: membuat kabel listrik, sistem pemanas, tabung pendingin,
radiator kendaraan, untuk keperluan listrik, komponen terbesar dari
logam campuran kuningan ini disaring sampai kemurnian 98.8 %,
kotoran dikeluarkan dari bijih-bijih tembaga
b. Alumunium
Ciri-ciri: logam putih keabu-abuan
Sifat: konduktor yang sangat baik, non magnetik, tahan korosi, sangat
lunak dan ringan
c. Kuningan
Kuningan adalah alloy non-ferrous terbuat dari campuran tembaga dan
seng.
Sifat: mudah dibentuk, lebih keras dari tembaga maupun alumunium,
karenanya lebih mudah dikerjakan dengan mesin
c. Konstruksi jenis kabel
Ada beberapa jenis kabel yang sering digunakan. Yaitu dilihat dari segi
konstruksinya dan dari segi jumlah penghantar dalam satu kabel. Berikut ini
adalah jenis kabel dilihat dari jenis konstruksinya.
a. Penghantar pejal (solid); yaitu penghantar yang berbentuk kawat pejal
yang berukuran sampai 10 mm². Tidak dibuat lebih besar lagi dengan
maksud untuk memudahkan penggulungan maupun pemasangannya.
b. Penghantar berlilit (stranded); penghantarnya terdiri dari beberapa urat
kawat yang berlilit dengan ukuran 1 mm² – 500 mm².
c. Penghantar serabut (fleksibel); banyak digunakan untuk tempat yang
sulit dan sempit, alat-alat portabel, alat-alat ukur listrik
15



11 dan pada kendaraan bermotor. Ukuran kabel ini antara 0,5 mm² –
400 mm².
d. Penghantar persegi (busbar); penampang penghantar ini berbentuk
persegi empat yang biasanya digunakan pada PHB (Papan Hubung
Bagi) sebagai rel-rel pembagi atau rel penghubung. Penghantar ini
tidak berisolasi.
d. Jumlah Penghantar
Adapun bila ditinjau dari jumlah penghantar dalam satu kabel, penghantar
dapat diklasifikasikan menjadi:
a. Penghantar simplex; ialah kabel yang dapat berfungsi untuk satu
mecam penghantar saja (misal: untuk fasa atau netral saja). Contoh
penghantar simplex ini antara lain: NYA 1,5 mm²; NYAF 2,5 mm² dan
sebagainya.
b. Penghantar duplex; ialah kabel yang dapat menghantarkan dua aliran
(dua fasa yang berbeda atau fasa dengan netral). Setiap penghantarnya
diisolasi kemudian diikat menjadi satu menggunakan selubung.
Penghantar jenis ini contohnya NYM 2×2,5 mm², NYY 2×2,5mm².
c. Penghantar triplex; yaitu kabel dengan tiga pengantar yang dapat
menghantarkan aliran 3 fasa (R, S dan T) atau fasa, netral dan arde.
Contoh kabel jenis ini: NYM 3×2,5 mm², NYY 3×2,5 mm² dan
sebagainya.
d. Penghantar quadruplex; kabel dengan empat penghantar untuk
mengalirkan arus 3 fasa dan netral atau 3 fasa dan pentanahan.
Susunan hantarannya ada yang pejal, berlilit ataupun serabut. Contoh
penghantar quadruplex misalnya NYM 4×2,5 mm², NYMHY
4×2,5mm² dan sebagainya. Jenis penghantar yang paling banyak
digunakan pada instalasi rumah tinggal yang dibangun permanen saat
ini adalah kabel rumah NYA dan kabel NYM.


16



e. kegunaan dan fungsi penghantar
Adapun bila ditinjau dari kegunaan dan fungsi penghantar dapat
diklasifikasikan menjadi:
a. Kabel fleksibel
Kabel yang disyaratkan untuk mampu melentur pada waktu digunakan,
dan yang struktur dan bahannya memenuhi persyaratan. (flexible
cable) - IEV 461-06-14.

b. Kabel tanah
Jenis kabel yang dibuat khusus untuk dipasang di permukaan atau
dalam tanah, atau dalam air. (underground cable) IEV 601-03-05.
c. Keadaan darurat
Keadaan yang tidak biasa atau tidak dikehendaki yang membahayakan
keselamatan manusia dan keamanan bangunan serta isinya, yang
ditimbulkan oleh gangguan suplai utama listrik.
d. Kabel kedap
Sifat tidak dapat dimasuki sesuatu; misalnya kedap air atau kedap
debu.


e. Penghantar aktif
Setiap penghantar dari sistem suplai yang mempunyai beda potensial
dengan netral atau dengan penghantar yang dibumikan. Dalam sistem
yang tidak memiliki titik netral, semua penghantar harus dianggap
sebagai penghantar aktif (active conductor ) - SAA 0.5.4
f. Penghantar bumi
Penghantar dengan impedans rendah, yang secara listrik
menghubungkan titik yang tertentu pada suatu perlengkapan (instalasi
atau sistem) dengan elektrode bumi. (earth conductor) – IEC MDE,
1983, p.76
17



g. Penghantar netral (N)
Penghantar (berwarna biru) yang dihubungkan ke titik netral sistem
dan mampu membantu mengalirkan energi listrik. (neutral conductor)
– IEC MDE, 1983, p.76
h. Penghantar PEN (nol)
Penghantar netral yang dibumikan dengan menggabungkan fungsi
sebagai penghantar proteksi dan penghantar netral. Catatan singkatan
PEN dihasilkan dari penggabungan lambang PE untuk penghantar
proteksi dan N untuk penghantar netral.(PEN conductor) – IEC MDE,
1983, p.76, IEV 826-04-06.

i. Penghantar pembumian
· Penghantar berimpedans rendah yang dihubungkan ke bumi;
· Penghantar proteksi yang menghubungkan terminal pembumi
utama atau batang ke elektrode bumi. (earthing conductor) –
IEC MDE, 1983, p.76
j. Penghantar pilin
Penghantar yang terdiri atas satu pilinan, atau sejumlah pilinan yang
dipintal jadi satu tanpa isolasi di antaranya.


k. Penghantar proteksi (PE)
Penghantar untuk proteksi dari kejut listrik yang menghubungkan
bagian berikut : bagian konduktif terbuka, bagian konduktif ekstra,
terminal pembumian utama, elektrode bumi, titik sumber yang
dibumikan atau netral buatan. (protective conductor) – IEC MDE,
1983, p.77



18



C. KABEL PADA INSTALASI RESIDENSIAL
Pada instalasi residensial yang sering digunakan dalam instalasi listrik di
Indonesia adalah berikut ini :
a. Kabel NYA
Kabel NYA berinti tunggal, berlapis bahan isolasi PVC, untuk instalasi
luar/kabel udara. Kode warna isolasi ada warna merah, kuning, biru dan hitam.
Kabel tipe ini umum dipergunakan di perumahan karena harganya yang relatif
murah. Lapisan isolasinya hanya 1 lapis sehingga mudah cacat, tidak tahan air
(NYA adalah tipe kabel udara) dan mudah digigit tikus. Agar aman memakai
kabel tipe ini, kabel harus dipasang dalam pipa/conduit jenis PVC atau saluran
tertutup. Sehingga tidak mudah menjadi sasaran gigitan tikus, dan apabila ada
isolasi yang terkelupas tidak tersentuh langsung oleh orang.



Gambar 1. Gambar kabel NYA.
Sumber : http://technoku.blogspot.com/2009/01/jenis-jenis-kabel.html

b. Kabel NYM
Kabel NYM memiliki lapisan isolasi PVC (biasanya warna putih atau abu-
abu), ada yang berinti 2, 3 atau 4. Kabel NYM memiliki lapisan isolasi dua lapis,
sehingga tingkat keamanannya lebih baik dari kabel NYA (harganya lebih mahal
19



dari NYA). Kabel ini dapat dipergunakan dilingkungan yang kering dan basah,
namun tidak boleh ditanam.

Gambar 2. Bentuk kabel NYM.
Sumber : http://technoku.blogspot.com/2009/01/jenis-jenis-kabel.html
c. Kabel NYAF
Kabel NYAF merupakan jenis kabel fleksibel dengan penghantar tembaga
serabut berisolasi PVC. Digunakan untuk instalasi panel-panel yang memerlukan
fleksibelitas yang tinggi.

Gambar 3. Penampang melintang dan membujur kabel NYAF.
Sumber : http://technoku.blogspot.com/2009/01/jenis-jenis-kabel.html

d. Kabel NYY
Kabel NYY memiliki lapisan isolasi PVC (biasanya warna hitam), ada
yang berinti 2, 3 atau 4. Kabel NYY dipergunakan untuk instalasi tertanam (kabel
20



tanah), dan memiliki lapisan isolasi yang lebih kuat dari kabel NYM (harganya
lebih mahal dari NYM). Kabel NYY memiliki isolasi yang terbuat dari bahan
yang tidak disukai tikus.

Gambar 4. Penampang melintang dan membujur kabel NYY.
Sumber : http://technoku.blogspot.com/2009/01/jenis-jenis-kabel.html
e. Kabel NYFGbY
Kabel NYFGbY ini digunakan untuk instalasi bawah tanah, di dalam
ruangan di dalam saluran-saluran dan pada tempat-tempat yang terbuka dimana
perlindungan terhadap gangguan mekanis dibutuhkan, atau untuk tekanan
rentangan yang tinggi selama dipasang dan dioperasikan.

Gambar 5. Gambar kabel NYAFGbY.
Sumber : http://technoku.blogspot.com/2009/01/jenis-jenis-kabel.html

f. Kabel ACSR
Kabel ACSR merupakan kawat penghantar yang terdiri dari aluminium
berinti kawat baja.Kabel ini digunakan untuk saluran-saluran transmisi tegangan
21



tinggi, dimana jarak antara menara/tiang berjauhan, mencapai ratusan meter, maka
dibutuhkan kuat tarik yang lebih tinggi, untuk itu digunakan kawat penghantar
ACSR.

Gambar 6. Kabel ACSR.
Sumber : http://technoku.blogspot.com/2009/01/jenis-jenis-kabel.html
g. Kabel AAAC
Kabel ini terbuat dari aluminium-magnesium-silicon campuran logam,
keterhantaran elektris tinggi yang berisi magnesium silicide, untuk memberi sifat
yang lebih baik. Kabel ini biasanya dibuat dari paduan aluminium 6201. AAAC
mempunyai suatu anti karat dan kekuatan yang baik, sehingga daya hantarnya
lebih baik.

Gambar 7. Kabel AAAC.
Sumber : http://technoku.blogspot.com/2009/01/jenis-jenis-kabel.html
h. Kabel ACAR
Kabel ACAR yaitu kawat penghantar aluminium yang diperkuat dengan
logam campuran, sehingga kabel ini lebih kuat daripada kabel ACSR.
i. Kabel BC (Bar Cable)
22



Kabel ini dipilin/stranded, disatukan. Ukuran / tegangan mak = 6 – 500 mm
2
/ 500 V. Pemakaian = saluran diatas tanah dan penghantar pentanahan

Gambar 8. Penampang kabel BC.
Sumber :
http://www.panellistrik.org/?go=tum&tum=40&ktum=13&q=Kabel%20%
20%20Grounding%20%20Penangkal%20%20Petir


D. NOMENKLATUR KABEL
TABEL 3. NOMENKLATUR KABEL
KODE
KABEL
KETERANGAN DAN CONTOH
A Selubung atau lapisan perlindungan luar bahan serat (misalnya goni/jute). Contoh NKRA,
NAKBA
AA Selubung atau perlindungan luar dua lapis dari bahan serat goni (jute). Contoh : NAHKZAA,
NKZAA
B Perisai dari pita baja ganda. Contoh : NYBY,NEKBA
C penghantar konsentris tembaga. Contoh : NYCY
CE penghantar konsentris pada masing-masing inti, dalam hal kabel berinti banyak. Contoh :
NYCEY
CW penghantar konsentris pada masing-masing inti, yang dipasang secara berlawanan arah untuk
kabel tegangan nominal 0,6/1 kV (1,2 kV). Contoh : NYCWY
D spriral anti tekan – pita penguat non-magnetis
E kabel dengan masing-masing intinya beselubung logam. Contoh : NEKBA
F perisai kawat baja pipih. Contoh : NYFGbY
G Spiral dari kawat baja pipih. Contoh NYKRG
23



isolasi karet / EPR. Contoh : NGA
selubung isolasi dari karet
2G Isolasi karet butil dengan daya tahan lebih tinggi terhadap panas. Contoh : N2GAU
Gb Spiral pita baja (mengikuti F atau R . Contoh : NYRGbY, N2XSEYFGby
H Lapisan penghantar di luar isolasi untuk membatasi medan listrik. Contoh :
NHKBA,NHKRA
K Selubung timbal. Contoh : NKBA,NAKBY
KL Selubung alumunium. Contoh : NKLY,NAHKLY
KWK Selubung dari pita tembaga yang terpasang dan dilas memanjang. Contoh : NKWKZY
L Perisai dari jalinan kawat baja bulat (braid)
MK Kabel dengan selubung timah hitam untuk pemasangan dalam kapal laut. Contoh MK
N Kabel standar penghantar tembaha. Contoh : NYA,NYY
NA Kabel standar penghantar alumunium. Contoh : NAYFGbY,NAKBA
NF Kabel udara berisolasi di pilin. Contoh : NF2X,NFAY
NI Kabel bertekanan gas. Contoh : NIKLDEY
NO Kabel bertekanan minyak. Contoh : NOKDEFOA
NP Kabel dalam pipa bertekanan gas. Contoh NPKDvFSt2Y
O Perisai terbuka dari kawat-kawat baja. Contoh : NNKROA
Kabel berpenangkal oval. Contoh : NYM-O
Kabel tanpa ini berwarna hijau kuning. Contoh : NYFGbY-O
Q Jalinan (braid) dari kawat-kawat baja berselubung seng (zing-coated). Contoh : NYKQ
R Perisai dari kawat-kawat baja bulat. Contoh : NYRGbY
RR Dua lapisan perisai dari kawat-kawat baja bulat. Contoh : NKRRGbY
S Perisai dari tembaga, pelindung listrik dari pita tembaga yang dibalutkan pada semua inti
kabel bersama-sama. Contoh : N2XSY
SE Pelindung listrik dari pita tembaga yang melindungi masing-masing inti kabel. Contoh
N2XSEY
T Tali penggantung dari baja
24



2X Selubung isolasi dari XLPE. Contoh : NF2X,N2XSY
Y Selubung isolasi dari PVC. Contoh : NYA
2Y Selubung isolasi dari polyethylene
Z Perisai dari kawat-kawat yang masing-masing mempunyai bentuk “Z”. Contoh : NKZAA
Z Penghantar berisolasi dengan beban tarik. Contoh : NYMZ
Selubung logam dan pita seng. Contoh : NYRUZY

E. SPESIFIKASI KABEL
Spesifikasi kabel telah ditentukan dalam PUIL 2000 sebagaimana dalam
tabel berikut ini :
a. Kabel instalasi dalam tabel di atas tidak boleh dipasang pada atau di dalam
tanah, serta tidak boleh pula dipasang sebagai kabel udara.
b. Nilai tegangan pengenal di dalam tanda kurung adalah nilai kerja tegangan
tertinggi antara fase dan netral yang diperbolehkan.
c. Untuk kabel berpenghantar tembaga, Nomenklaturnya dimulai dengan
huruf N…

F. RUGI TEGANGAN / DROP VOLTAGE
Kerugian tegangan atau susut tegangan dalam saluran tenaga listrik adalah
berbanding lurus dengan panjang saluran dan beban, berbanding terbalik
dengan penampang saluran. Kerugian ini dalam persen ditentukan dalam batas-
batas tertentu. Pada instalasi bangunan rugi tegangan dihitung dari alat
pengontrol adalah maksimum 2% untuk instalasi penerangan dan maksimum
5% untuk instalasi tenaga listrik seperti motor. Untuk menghitung rugi
tengangan, maka menggunkan rumus berikut ini :



25



Rugi tegangan dalam % :

q =
ƼƼ
λ λ
atau q =
ƼƼ
λ


Rugi tegangan dalam volt :
q =

∆ λ
atau q =

∆ λ


Keterangan :
P : beban dalam watt
f : tegangan antar 2 saluran (fase-netral)
q : penampang saluran (mm2)
∆√ : rugi tegangan dalam (volt)
∆U : rugi tegangan dalam %
L : panjang rute saluran (bukan panjang kawat)
λ : daya hantar jenis tembaga = 56, besi = 7, aluminium = 32,7
I : arus beban.
G. KHA (KEMAMPUAN HANTAR ARUS)
Kemampuan Hantar Arus dipengaruhi oleh suhu penghantar yang di
izinkan dan kondisi sekitar sejauh panas yang dipindahkan. Berarti kemampuan
hantar arus untuk masing-masing penghantar berbeda ukuran dan
spesifikasinya. KHA (Kekuatan Hantar Arus), dengan melihat pada jenis
isolasi dan cara pemasangannya; susut tegangan maksimum sesuai impedansi
kabel dan karakteristik beban; kinerja pada hubungan pendek dari arus


gangguan yang mungkin terjadi dan karakteristik gawai proteksi; kekuatan
mekanik dan pertimbangan fisik lainnya.
Seperti yang disebutkan dalam PUIL 2000 pasal 5.5.3
sirkit akhir yang menyuplai motor tunggal tidak boleh mempunyai KHA
kurang dari 125 % arus pengenal beban penuh. Di samping itu, untuk jarak
jauh perlu digunakan penghantar yang cukup ukurannya hingga tidak terjadi
susut tegangan yang berle
berbagai daur kerja dapat menyimpang dari ketentuan di atas asalkan jenis dan
penampang penghantar serta pemasangannya disesuaikan dengan daur kerja
tersebut”.
Faktor-faktor yang mempengaruhi nilai arus
l. Arus desain, yaitu kabel harus membawa arus penuh
2. tipe kabel seperti PVC, konduktor te
3. Kondisi instalasi atau penempatan kabel tersebut
4. Temperatur lingkungan
5. Tipe perlindungan, artinya berapa lama kabel
KHA jenis-jenis kabel dapat kita lihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 4. Kemampuan Hantar Arus Kabel Instalasi Pada Suhu Keliling 30°C
dengan Kondisi Suhu Kabel Maksimum 70°C

gangguan yang mungkin terjadi dan karakteristik gawai proteksi; kekuatan
mekanik dan pertimbangan fisik lainnya.
Seperti yang disebutkan dalam PUIL 2000 pasal 5.5.3.1 “Penghantar
sirkit akhir yang menyuplai motor tunggal tidak boleh mempunyai KHA
kurang dari 125 % arus pengenal beban penuh. Di samping itu, untuk jarak
jauh perlu digunakan penghantar yang cukup ukurannya hingga tidak terjadi
susut tegangan yang berlebihan. Penghantar sirkit akhir untuk motor dengan
berbagai daur kerja dapat menyimpang dari ketentuan di atas asalkan jenis dan
penampang penghantar serta pemasangannya disesuaikan dengan daur kerja
faktor yang mempengaruhi nilai arus (KHA) adalah:
kabel harus membawa arus penuh.
tipe kabel seperti PVC, konduktor tembaga, atau konduktor alumunium
Kondisi instalasi atau penempatan kabel tersebut.
Temperatur lingkungan.
Tipe perlindungan, artinya berapa lama kabel harus membawa arus besar.
jenis kabel dapat kita lihat pada tabel di bawah ini :
. Kemampuan Hantar Arus Kabel Instalasi Pada Suhu Keliling 30°C
dengan Kondisi Suhu Kabel Maksimum 70°C

26
gangguan yang mungkin terjadi dan karakteristik gawai proteksi; kekuatan
.1 “Penghantar
sirkit akhir yang menyuplai motor tunggal tidak boleh mempunyai KHA
kurang dari 125 % arus pengenal beban penuh. Di samping itu, untuk jarak
jauh perlu digunakan penghantar yang cukup ukurannya hingga tidak terjadi
bihan. Penghantar sirkit akhir untuk motor dengan
berbagai daur kerja dapat menyimpang dari ketentuan di atas asalkan jenis dan
penampang penghantar serta pemasangannya disesuaikan dengan daur kerja
mbaga, atau konduktor alumunium.
harus membawa arus besar.
. Kemampuan Hantar Arus Kabel Instalasi Pada Suhu Keliling 30°C


Untuk menentukan kemampuan hantar arus suatu peng
peralatan listrik, terlebih dahulu harus diketahui besarnya arus nominal dari
peralatan tersebut, yang biasanya arus nominal sudah tertera pada name plate
pada peralatan tersebut.
Jika tidak tertera pada name plate
dari suatu penghantar dapat dicari dengan rumus dibawah ini, rumus ini
digunakan untuk menentukan arus nominal dari peralatan yang digunakan :
Arus nominal 1 fase : In = P / (V x I x Cos φ)
Arus nominal 3 fase : In = P / (
Sedangkan rumus untuk mencari KHA adalah 125% arus nominal.
Keterangan :
I = Arus peralatan (Ampere)
P = Daya masukan peralatan (Watt)
V = Tegangan (Volt)
Cos φ = Faktor daya
Table 5. table KHA.
Sumber : http://dunia-listrik.blogspot.com/2009/01/teori

Untuk menentukan kemampuan hantar arus suatu penghantar yang mensuplai
peralatan listrik, terlebih dahulu harus diketahui besarnya arus nominal dari
peralatan tersebut, yang biasanya arus nominal sudah tertera pada name plate

Jika tidak tertera pada name plate-nya maka kemampuan hantar arus
dari suatu penghantar dapat dicari dengan rumus dibawah ini, rumus ini
digunakan untuk menentukan arus nominal dari peralatan yang digunakan :
Arus nominal 1 fase : In = P / (V x I x Cos φ)
Arus nominal 3 fase : In = P / (√3 x V x I x Cos φ )
edangkan rumus untuk mencari KHA adalah 125% arus nominal.
I = Arus peralatan (Ampere)
P = Daya masukan peralatan (Watt)
listrik.blogspot.com/2009/01/teori-dasar-listrik.html


27
hantar yang mensuplai
peralatan listrik, terlebih dahulu harus diketahui besarnya arus nominal dari
peralatan tersebut, yang biasanya arus nominal sudah tertera pada name plate
hantar arus
dari suatu penghantar dapat dicari dengan rumus dibawah ini, rumus ini
digunakan untuk menentukan arus nominal dari peralatan yang digunakan :
listrik.html

28



H. MACAM-MACAM SAMBUNGAN KABEL
Menurut PUIL 2000 pasal 7.11.1.1 “Penyambungan antar penghantar
harus dilakukan dengan baik dan kuat dengan cara sebagai berikut:
a. Penyambungan selongsong dengan sekrup.
b. Penyambungan selongsong tanpa sekrup.
c. Penyambungan selongsong dipres.
d. Penyambungan solder (sambungan mati).
e. Penyambungan dengan lilitan kawat.
f. Penyambungan las atau las perak (sambungan mati).
g. Penyambungan puntiran kawat padat dengan memuntir dan memakai las
dop.
Berdasarkan PUIL 2000 pasal 2.5.4 tentang Sambungan listrik dijelaskan
bahwa :
2.5.4.1 Semua sambungan listrik harus baik dan bebas dari gaya tarik.
2.5.4.2 Sambungan antarpenghantar dan antara penghantar dan perlengkapan
listrik yang lain harus dibuat sedemikian sehingga terjamin kontak yang aman
dan andal.
2.5.4.3 Gawai penyambung seperti terminal tekan, penyambung puntir tekan,
atau penyambung dengan solder harus sesuai dengan bahan penghantar yang
disambungnya dan harus dipasang dengan baik (lihat juga 2.5.4.4).
2.5.4.4 Dua penghantar logam yang tidak sejenis (seperti tembaga dan
aluminium atau tembaga berlapis aluminium) tidak boleh disatukan dalam
terminal atau penyambung punter kecuali jika alat penyambung itu cocok untuk
maksud dan keadaan penggunaannya.
2.5.4.5 Sambungan penghantar pada terminal harus terjamin kebaikannya dan
tidak merusakkan penghantar. Menyambung kabel fleksibel harus
menggunakan sambung tekan (termasuk jenis sekrup), sambung solder atau
29



sambung puntir. Sepatu kabel harus disambungkan dengan mur baut secara
baik.
2.5.4.6 Sambung puntir harus dilaksanakan dengan:
a) menggunakan penyambung puntir; atau
b) cara dilas atau disolder. Sebelum dilas atau disolder, sambungan itu harus
dipuntir dahulu agar diperoleh sambungan yang baik secara mekanis dan
listrik.
2.5.4.7 Bahan yang digunakan seperti solder, fluks, dan pasta harus terbuat dari
jenis yang tidak berakibat buruk terhadap instalasi dan perlengkapan listrik.
Macam sambungan kabel tersebut adalah :
a. Ekor babi. Yaitu cara penyambungan kabel yang paling sederhana
berbentuk ekor babi. Ini digunakan untuk mencabangkan atau menyambung
dua atau lebih kabel.
b. Sambungan punter. Yaitu menyambung dua kabel yang berbentuk garis
lurus. Ada dua macam pada sambungan ini, yakni bell hangers dan western
union.
c. Turn Back. Yaitu menyambung dua kabel yang berbentuk satu garis lurus,
dimana kabel ditekuk balik, dimaksudkan untuk mendapatkan sambungan
yang lebih kuat.
d. Single wrapped cable spice. Yaitu menyambung kabel yang bernadi
banyak, menganyam sesuai dengan arah alurnya.
e. Knotted tap joint. Adalah cara untuk mencabangkan kabel yang posisinya
dalam satu bidang datar degan member suatu simpul agar sambungan lebih
kuat.
I. PENGGUNAAN WARNA KABEL
Menurut PUIL 2000 pasal 7.2 Tentang Identifikasi penghantar dengan
warna dijelaskan bahwa :
30



7.2.1.1 Peraturan warna selubung penghantar dan warna isolasi inti penghantar
yang tercantum dalam pasal ini berlaku untuk semua instalasi tetap atau
sementara, termasuk instalasi dalam perlengkapan listrik.
Hal tersebut di atas diperlukan untuk mendapatkan kesatuan pengertian
mengenai
penggunaan sesuatu warna atau warna loreng yang digunakan untuk mengenal
penghantar, guna keseragaman dan mempertinggi keamanan.
7.2.2.1 Warna loreng hijau-kuning hanya boleh digunakan untuk menandai
penghantar pembumian, penghantar pengaman, dan penghantar yang
menghubungkan ikatan penyama potensial ke bumi.
7.2.3.1 Warna biru digunakan untuk menandai penghantar netral atau kawat
tengah, pada instalasi listrik dengan penghantar netral. Untuk menghindarkan
kesalahan, warna biru tersebut tidak boleh digunakan untuk menandai
penghantar lainnya. Warna biru hanya dapat digunakan untuk maksud lain,
jika pada instalasi listrik tersebut tidak terdapat penghantar netral atau kawat
tengah. Warna biru tidak boleh digunakan untuk menandai penghantar
pembumian.
7.2.4.1 Untuk pengawatan di dalam perlengkapan listrik disarankan agar hanya
digunakan satu warna, khususnya warna hitam, selama tidak bertentangan
dengan 7.2.2.1 dan 7.2.3.1. Bila dalam pembuatan dan pemeliharaan
perlengkapan tersebut, dianggap perlu menggunakan lebih dari satu warna,
maka penggunaan warna lain dan warna loreng lain tidak dilarang. Jika
diperlukan satu warna tambahan lagi untuk mengidentifikasi bagian
pengawatan secara terpisah, dianjurkan mendahulukan pemakaian warna
coklat.
7.2.6.1 Kabel berselubung berinti tunggal boleh digunakan untuk fase, netral,
kawat tengah, atau penghantar pembumian asalkan isolasi kedua ujung kabel
31



yang terlihat (bagian yang dikupas selubungnya) dibalut dengan pembalut
berwarna yang dibuat khusus untuk itu, atau dengan cara lain yang memenuhi
Tabel 7.2-1.
Guna mendapatkan kesamaan pengenal menggunakan kabel pada instalasi
digunakan teknik identifikasi warna atau lambang.
- Fasa 1 à L1/R à merah à U/X
- Fasa 2 à L2/S à kuning à V/Y
- Fasa 3 à L3/T à hitam à W/Z
- Netral à N à biru
- Pembumian à PE à Loreng setrip hijau kuning
- Kutub positif à L+
- Kutub negative à L-
- Kawat tengah à m
J. Aplikasi Penghantar Pada Distribusi Listrik
Klasifikasi Saluran Transmisi Berdasarkan Tegangan
Sumber:(http://dunia-listrik.blogspot.com/2009/11/klasifikasi-saluran
transmisi.html)
Selama ini ada pemahaman bahwa yang dimaksud transmisi adalah proses
penyaluran energi listrik dengan menggunakan tegangan tinggi saja. Bahkan ada
yang memahami bahwa transmisi adalah proses penyaluran energi listrik dengan
menggunakan tegangan tinggi dan melalui saluran udara (over head line). Namun
sebenarnya, transmisi adalah proses penyaluran energi listrik dari satu tempat ke
tempat lainnya, yang besaran tegangannya adalah Tegangan Ultra Tinggi (UHV),
Tegangan Ekstra Tinggi (EHV), Tegangan Tinggi (HV), Tegangan Menengah
(MHV), dan Tegangan Rendah (LV).
Sedangkan Transmisi Tegangan Tinggi, adalah:
1. Berfungsi menyalurkan energi listrik dari satu gardu induk ke gardu induk
lainnya.
32



2. Terdiri dari konduktor yang direntangkan antara tiang-tiang (tower)
melalui isolator-isolator, dengan sistem tegangan tinggi.
3. Standar tegangan tinggi yang berlaku di Indonesia adalah : 30 KV, 70 KV
dan 150 KV.
Beberapa hal yang perlu diketahui:
1. Transmisi 30 KV dan 70 KV yang ada di Indonesia, secara berangsur-
angsur mulai ditiadakan (tidak digunakan).
2. Transmisi 70 KV dan 150 KV ada di Pulau Jawa dan Pulau lainnya di
Indonesia. Sedangkan transmisi 275 KV dikembangkan di Sumatera.
3. Transmisi 500 KV ada di Pulau Jawa.
Di Indonesia, kosntruksi transmisi terdiri dari :
1. Menggunakan kabel udara dan kabel tanah, untuk tegangan rendah,
tegangan menengah dan tegangan tinggi.
2. Menggunakan kabel udara untuktegangan tingg dan tegangan ekstra
tinggi.
Berikut ini disampaikan pembahasan tentang transmisi ditinjau dari klasifikasi
tegangannya:
1. Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (Sutet) 200 Kv - 500 Kv
Pada umumnya digunakan pada pembangkitan dengan kapasitas di atas
500 MW. Tujuannya adalah agar drop tegangan dan penampang kawat dapat
direduksi secara maksimal, sehingga diperoleh operasional yang efektif dan
efisien. Permasalahan mendasar pembangunan SUTET adalah: konstruksi tiang
(tower) yang besar dan tinggi, memerlukan tapak tanah yang luas, memerlukan
isolator yang banyak, sehingga pembangunannya membutuhkan biaya yang besar.
Pembangunan transmisi ini cukup efektif untuk jarak 100 km sampai dengan 500
km.
2. Saluran Udara Tegangan Tinggi (Sutt) 30 Kv – 150 Kv
Tegangan operasi antara 30 KV sampai dengan 150 KV. Konfigurasi
jaringan pada umumnya single atau double sirkuit, dimana 1 sirkuit terdiri dari 3
33



phasa dengan 3 atau 4 kawat. Biasanya hanya 3 kawat dan penghantar netralnya
digantikan oleh tanah sebagai saluran kembali. Apabila kapasitas daya yang
disalurkan besar, maka penghantar pada masing-masing phasa terdiri dari dua atau
empat kawat (Double atau Qudrapole) dan Berkas konduktor disebut Bundle
Conductor.
Jika transmisi ini beroperasi secara parsial, jarak terjauh yang paling
efektif adalah 100 km. Jika jarak transmisi lebih dari 100 km maka tegangan jatuh
(drop voltage) terlalu besar, sehingga tegangan diujung transmisi menjadi rendah.
Untuk mengatasi hal tersebut maka sistem transmisi dihubungkan secara ring
system atau interconnection system. Ini sudah diterapkan di Pulau Jawa dan akan
dikembangkan di Pulau-pulau besar lainnya di Indonesia.
3. Saluran Kabel Tegangan Tinggi (Sktt) 30 Kv – 150 Kv
SKTT (Saluran Kabel Tegangan Tinggi) dipasang di kota-kota besar di
Indonesia (khususnya di Pulau Jawa), dengan beberapa pertimbangan :
a. Di tengah kota besar tidak memungkinkan dipasang SUTT, karena
sangat sulit mendapatkan tanah untuk tapak tower.
b. Untuk Ruang Bebas juga sangat sulit dan pasti timbul protes dari
masyarakat, karena padat bangunan dan banyak gedung-gedung tinggi.
c. Pertimbangan keamanan dan estetika.
d. Adanya permintaan dan pertumbuhan beban yang sangat tinggi.
Jenis kabel yang digunakan:
a. Kabel yang berisolasi (berbahan) Poly Etheline atau kabel jenis Cross
Link Poly Etheline (XLPE).
b. Kabel yang isolasinya berbahan kertas yang diperkuat dengan minyak
(oil paper impregnated).
Inti (core) kabel dan pertimbangan pemilihan:
a. Single core dengan penampang 240 mm2 – 300 mm2 tiap core.
b. Three core dengan penampang 240 mm2 – 800 mm2 tiap core.
c. Pertimbangan fabrikasi.
34



d. Pertimbangan pemasangan di lapangan.
Panjang SKTT pada tiap haspel (cable drum), maksimum 300 meter. Untuk
desain dan pesanan khusus, misalnya untuk kabel laut, bisa dibuat tanpa
sambungan sesuai kebutuhan. Pada saat ini di Indonesia telah terpasang SKTT
bawah laut (Sub Marine Cable) dengan tegangan operasi 150 KV, yaitu:
a. Sub marine cable 150 KV Gresik – Tajungan (Jawa – Madura).
b. Sub marine cable 150 KV Ketapang – Gilimanuk (Jawa – Bali).

4. Saluran Udara Tegangan Menengah (Sutm) 6 Kv – 30 Kv
Di Indonesia, pada umumnya tegangan operasi SUTM adalah 6 KV dan 20
KV. Namun secara berangsur-angsur tegangan operasi 6 KV dihilangkan dan saat
ini hampir semuanya menggunakan tegangan operasi 20 KV. Transmisi SUTM
digunakan pada jaringan tingkat tiga, yaitu jaringan distribusi yang
menghubungkan dari Gardu Induk, Penyulang (Feeder), SUTM, Gardu Distribusi,
sampai dengan ke Instalasi Pemanfaatan (Pelanggan/ Konsumen).
Berdasarkan sistem pentanahan titik netral trafo, efektifitas penyalurannya
hanya pada jarak (panjang) antara 15 km sampai dengan 20 km. Jika transmisi
lebih dari jarak tersebut, efektifitasnya menurun, karena relay pengaman tidak
bisa bekerja secara selektif.
Dengan mempertimbangkan berbagai kondisi yang ada (kemampuan
likuiditas atau keuangan, kondisi geografis dan lain-lain) transmisi SUTM di
Indonesia melebihi kondisi ideal di atas.
5. Saluran Kabel Tegangan Menengah (Sktm) 6 Kv – 20 Kv
Ditinjau dari segi fungsi , transmisi SKTM memiliki fungsi yang sama
dengan transmisi SUTM. Perbedaan mendasar adalah, SKTM ditanam di dalam
tanah.
Beberapa pertimbangan pembangunan transmisi SKTM adalah:
a. Kondisi setempat yang tidak memungkinkan dibangun SUTM.
35



b. Kesulitan mendapatkan ruang bebas (ROW), karena berada di tengah
kota dan pemukiman padat.
c. Pertimbangan segi estetika.
Beberapa hal yang perlu diketahui:
a. Pembangunan transmisi SKTM lebih mahal dan lebih rumit, karena
harga kabel yang jauh lebih mahal dibanding penghantar udara dan
dalam pelaksanaan pembangunan harus melibatkan serta berkoordinasi
dengan banyak pihak.
b. Pada saat pelaksanaan pembangunan transmisi SKTM sering
menimbulkan masalah, khususnya terjadinya kemacetan lalu lintas.
c. Jika terjadi gangguan, penanganan (perbaikan) transmisi SKTM relatif
sulit dan memerlukan waktu yang lebih lama jika dibandingkan
SUTM.
d. Hampir seluruh (sebagian besar) transmisi SKTM telah terpasang di
wilayah PT. PLN (Persero) Distribusi DKI Jakarta & Tangerang.
6. Saluran Udara Tegangan Rendah (Sutr) 40 Volt – 1000 Volt
Transmisi SUTR adalah bagian hilir dari sistem tenaga listrik pada tegangan
distribusi di bawah 1000 Volt, yang langsung memasok kebutuhan listrik
tegangan rendah ke konsumen. Di Indonesia, tegangan operasi transmisi SUTR
saat ini adalah 220/ 380 Volt.
Radius operasi jaringan distribusi tegangan rendah dibatasi oleh:
a. Susut tegangan yang disyaratkan.
b. Luas penghantar jaringan.
c. Distribusi pelanggan sepanjang jalur jaringan distribusi.
d. Sifat daerah pelayanan (desa, kota, dan lain-lain).
e. Susut tegangan yang diijinkan adalah + 5% dan – 10 %, dengan radius
pelayanan berkisar 350 meter.
Saat ini transmisi SUTR pada umumnya menggunakan penghantar Low
Voltage Twisted Cable (LVTC).
36



7. Saluran Kabel Tegangan Rendah (Sktr) 40 Volt – 1000 Volt
Ditinjau dari segi fungsi, transmisi SKTR memiliki fungsi yang sama
dengan transmisi SUTR. Perbedaan mendasar adalah SKTR di tanam didalam di
dalam tanah. Jika menggunakan SUTR sebenarnya dari segi jarak aman/ ruang
bebas (ROW) tidak ada masalah, karena SUTR menggunakan penghantar
berisolasi.
Penggunaan SKTR karena mempertimbangkan:
a. Sistem transmisi tegangan menengah yang ada, misalnya karena
menggunakan transmisi SKTM.
b. Faktor estetika.
Oleh karenanya transmisi SKTR pada umumnya dipasang di daerah
perkotaan, terutama di tengah-tengah kota yang padat bangunan dan
membutuhkan aspek estetika.
Dibanding transmisi SUTR, transmisi SKTR memiliki beberapa
kelemahan, antaralain:
1) Biaya investasi mahal.
2) Pada saat pembangunan sering menimbulkan masalah.
3) Jika terjadi gangguan, perbaikan lebih sulit dan memerlukan
waktu relatif lama untuk perbaikannya.












37

BAB III
A. KESIMPULAN
1. Penghantar listrik atau kabel adalah media untuk mengantarkan
arus listrik atau informasi. Bahan dari kabel ini beraneka ragam,
khusus sebagai pengantar arus listrik, umumnya terbuat dari
tembaga dan umumnya dilapisi dengan pelindung. Selain tembaga,
ada juga kabel yang terbuat dari serat optik, yang disebut
dengan fiber optic cable. Dalam penyaluran tenaga listrik, ada
banyak faktor yang mempengaruhi baik atau tidaknya penyaluran
tersebut. Bahan hantaran listrik dibagi menjadi beberapa bagian
yaitu :
a. Konduktor.
b. Semikonduktor.
c. Isolator

2. Kabel terdiri dari beberapa macam berdasarkan klasifikasinya.
Adapun klasifikasi tersebut adalah :
a. Bahan baku terdiri dari :
1) Tembaga
2) Alumunium
3) Kuningan
b. Konstruksi jenis kabel terdiri dari :
1) Penghantar pejal (solid)
2) Penghantar berlilit (stranded)
3) Penghantar serabut (fleksibel)
4) Penghantar persegi (busbar)
c. Jumlah Penghantar terdiri dari :
1) Penghantar simplex
2) Penghantar duplex
3) Penghantar triplex
38



4) Penghantar quadruplex
d. Kegunaa dan fungsi penghantar terdiri dari :
1) Kabel fleksibel
2) Kabel tanah
3) Keadaan darurat
4) Kabel kedap
5) Penghantar aktif
6) Penghantar bumi
7) Penghantar netral (N)
8) Penghantar PEN (nol)
9) Penghantar pembumian
10) Penghantar pilin
11) Penghantar proteksi (PE)

3. Ada beberapa macam kabel yang biasanya dipakai pada instalasi
listrik residensial. Yaitu :
a. Kabel NYA
b. Kabel NYM
c. Kabel NYAF
d. Kabel NYY
e. Kabel NYFGbY
f. Kabel ACSR
g. Kabel AAAC
h. Kabel ACAR
i. Kabel BC (Bar Cable)

4. Untuk nomenklatur kabel dapat dilihat pada tabel nomenklatur
kabel diatas pada bab dua.
5. Spesifikasi kabel telah ditentukan dalam PUIL 2000 sebagaimana
dalam tabel berikut ini :
39



a. Kabel instalasi dalam tabel di atas tidak boleh dipasang
pada atau di dalam tanah, serta tidak boleh pula dipasang
sebagai kabel udara.
b. Nilai tegangan pengenal di dalam tanda kurung adalah nilai
kerja tegangan tertinggi antara fase dan netral yang
diperbolehkan.
c. Untuk kabel berpenghantar tembaga, Nomenklaturnya
dimulai dengan huruf N…

6. Rugi tegangan dalam penerangan yang hanya diperbolehkan adalah
sebesar 5 persen dari arus nominal. Namun jiga pada instalasi
industry seperti motor, rugi tegangannya maksimal sebesar 10
persen.

7. Kemampuan Hantar Arus dipengaruhi oleh suhu penghantar yang
di izinkan dan kondisi sekitar sejauh panas yang dipindahkan.
Berarti kemampuan hantar arus untuk masing-masing penghantar
berbeda ukuran dan spesifikasinya. KHA (Kekuatan Hantar Arus),
dengan melihat pada jenis isolasi dan cara pemasangannya; susut
tegangan maksimum sesuai impedansi kabel dan karakteristik
beban; kinerja pada hubungan pendek dari arus gangguan yang
mungkin terjadi dan karakteristik gawai proteksi; kekuatan
mekanik dan pertimbangan fisik lainnya.

8. Menurut PUIL 2000 pasal 7.11.1.1 “Penyambungan antar
penghantar harus dilakukan dengan baik dan kuat dengan cara
sebagai berikut:
i. Penyambungan selongsong dengan sekrup.
ii. Penyambungan selongsong tanpa sekrup.
iii. Penyambungan selongsong dipres.
iv. Penyambungan solder (sambungan mati).
40



v. Penyambungan dengan lilitan kawat.
vi. Penyambungan las atau las perak (sambungan mati).
vii. Penyambungan puntiran kawat padat dengan memuntir dan
memakai las dop.

Menurut PUIL 2000 pasal 7.2 Tentang Identifikasi penghantar dengan
warna dijelaskan bahwa :
7.2.1.1 Peraturan warna selubung penghantar dan warna isolasi inti penghantar
yang tercantum dalam pasal ini berlaku untuk semua instalasi tetap atau
sementara, termasuk instalasi dalam perlengkapan listrik.
Hal tersebut di atas diperlukan untuk mendapatkan kesatuan pengertian
mengenai penggunaan sesuatu warna atau warna loreng yang digunakan untuk
mengenal penghantar, guna keseragaman dan mempertinggi keamanan.
7.2.2.1 Warna loreng hijau-kuning hanya boleh digunakan untuk menandai
penghantar pembumian, penghantar pengaman, dan penghantar yang
menghubungkan ikatan penyama potensial ke bumi.
7.2.3.1 Warna biru digunakan untuk menandai penghantar netral atau kawat
tengah, pada instalasi listrik dengan penghantar netral. Untuk menghindarkan
kesalahan, warna biru tersebut tidak boleh digunakan untuk menandai
penghantar lainnya. Warna biru hanya dapat digunakan untuk maksud lain,
jika pada instalasi listrik tersebut tidak terdapat penghantar netral atau kawat
tengah. Warna biru tidak boleh digunakan untuk menandai penghantar
pembumian.
7.2.4.1 Untuk pengawatan di dalam perlengkapan listrik disarankan agar hanya
digunakan satu warna, khususnya warna hitam, selama tidak bertentangan
dengan 7.2.2.1 dan 7.2.3.1. Bila dalam pembuatan dan pemeliharaan
perlengkapan tersebut, dianggap perlu menggunakan lebih dari satu warna,
maka penggunaan warna lain dan warna loreng lain tidak dilarang. Jika
diperlukan satu warna tambahan lagi untuk mengidentifikasi bagian
41



pengawatan secara terpisah, dianjurkan mendahulukan pemakaian warna
coklat.
7.2.6.1 Kabel berselubung berinti tunggal boleh digunakan untuk fase, netral,
kawat tengah, atau penghantar pembumian asalkan isolasi kedua ujung kabel
yang terlihat (bagian yang dikupas selubungnya) dibalut dengan pembalut
berwarna yang dibuat khusus untuk itu, atau dengan cara lain yang memenuhi
Tabel 7.2-1.
Guna mendapatkan kesamaan pengenal menggunakan kabel pada instalasi
digunakan teknik identifikasi warna atau lambang.
- Fasa 1 à L1/R à merah à U/X
- Fasa 2 à L2/S à kuning à V/Y
- Fasa 3 à L3/T à hitam à W/Z
- Netral à N à biru
- Pembumian à PE à Loreng setrip hijau kuning
- Kutub positif à L+
- Kutub negative à L-
- Kawat tengah à m

9. Aplikasi penggunaan kabel terbagi menjadi beberapa macam menurut
kebutuhannya. Diantaranya adalah :
a. Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (Sutet) 200 Kv - 500 Kv
b. Saluran Udara Tegangan Tinggi (Sutt) 30 Kv – 150 Kv
c. Saluran Kabel Tegangan Tinggi (Sktt) 30 Kv – 150 Kv
d. Saluran Udara Tegangan Menengah (Sutm) 6 Kv – 30 Kv
e. Saluran Kabel Tegangan Menengah (Sktm) 6 Kv – 20 Kv
f. Saluran Udara Tegangan Rendah (Sutr) 40 Volt – 1000 Volt
g. Saluran Kabel Tegangan Rendah (Sktr) 40 Volt – 1000 Volt





DAFTAR PUSTAKA
APEI. 2004. Materi Kursus / Pembekalan Uji Keahlian Bidang Teknik Tenaga
Listrik Kualifikasi : Ahli Muda. Jakarta : PUK2P.
Diakses dari http://dekop.wordpress.com/2010/09/22/persyaratan-umum-instalasi-
listrik/ pada tanggal 4 Maret 2011 pukul 23.00
Diakses dari http://ecaknyo.blogspot.com/2009/08/kemampuan-hantar-arus-
kha.html pada tanggal 4 Maret 2011 pukul 23.00
Diakses dari http://id.wikipedia.org/wiki/Kabel_listrik pada tanggal 4 Maret 2011
pukul 23.00
Diakses dari http://kamuslistrik.blogspot.com/2010/02/jenis-kabel-dan-
nomenklatur-kabel.html pada tanggal 4 Maret 2011 pukul 23.00
Diakses dari http://technoku.blogspot.com/2009/01/jenis-jenis-kabel.html pada
tanggal 4 Maret 2011 pukul 23.00
Diakses dari http://www.gtkabel.co.id/ pada tanggal 4 Maret 2011 pukul 23.00
Diakses dari http://www.total.or.id/info.php?kk=kabel pada tanggal 4 Maret 2011
pukul 23.00
John B Robertson (1985). Ketrampilan Teknik Listrik Praktis. Bandung: Penerbit
Yrama Widya.
Panitia PUIL. 2000. Persyaratan Umum Instalasi Listrik 2000 (PUIL 2000).
Jakarta : Yayasan PUIL.
Peraturan Umum Instalasi Listrik (PUIL) Tahun 2000, Jakarta – LIPI
Setiawan dan Van Harten (1985). Instalasi Listrik Arus Kuat I. Bandung: Penerbit
Bina Aksara.
Syam Hardy (1985). Listrik Elektronika Rumah Tangga. Bandung: Penerbit Bina
Aksara.




Tim redaksi KAMUS BESAR BAHASA INDONESIA. 1997. Kamus Besar
Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka


ABSTRAK Listrik termasuk salah satu sumber energi yang terbarukan dan merupakan energy yang paling mudah untuk dikonversikan. Tidak seperti energy lainnya karena harus mengunakan piranti yang sangat kompleks. Selain itu, listrik sangat bermanfaat bagi umat manusia. Terutama disaat malam hari yang gelap gulita. Denga adanya listrik, energy cahaya dapat dimunculkan. Seiring dengan perkembangan zaman, listrik semakin dibutuhkan oleh manusia dimanapun berada. Tidak hanya di kota besar saja, di desa-desa dan pelosok negeri ini juga sangat membutuhkan energy listrik. Namun demikian, permasalahan yang dihadapi adalah bagaimana mendistribusikan listrik dari suatu pembangkit atau generator sampai ke pelosok negeri ini yang jaraknya bisa dibilang sangat jauh, bahkan sampai antar pulau. Pada tahun 1900-an telah di kembangkan penghantar yang bagus sehingga dapat digunakan untuk mendistribusikan energy listrik dari pembangkit sapai ke kota besar namun belum sampai ke pelosok negeri. Dan pada era-era sekarang inilah listrik sudah bisa dinikmati oleh penduduk desa. Ini semua berkat penghantar listrik yang digunakan sangat baik dan andal. Sehingga dapat digunakan untuk mendistribusikan energy listrik tanpa hentinya. Penghantar disini sangat berperan penting untuk mendistribusikan energy listik karena energy listrik hanya bisa di salurkan melalui sebuah penghantar atau yang sering disebut kabel. Kabel yang baik adalah yang memiliki daya tahan terhadap suhu tinggi, tekannan, dan tentu saja hambatan yang rendah. Karena semakin besar hambatannya, maka pembangkit harus membangkitkan energy listrik yang sangat besar.

kata kunci : listrik, penghantar, distribusi.

i

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini dengan lancar dan baik. Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Instalasi Listrik Makalah ini berisi mengenai hantaran dan sambungannya pada instalasi listrik. Dalam penggunaanya, makalah ini diharapkan dapat membantu proses pembelajaran yang berlangsung, guna merealisasikan pembelajaran di universitas. Demikian, “tiada gading yang tak pernah retak” begitu pepatah mengatakannya. Segala bentuk kritik dan saran, penyusun terima guna kesempurnaan makalah ini. Mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat dalam mendukung pengembangan pendidikan, khususnya mahasiswa Teknik Elektro Universitas Negeri Yogyakarta.

Yogyakarta, 22 Maret 2011

Penyusun

ii

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL.................................................................................................i ABSTRAK...............................................................................................................ii KATA PENGANTAR............................................................................................iii DAFTAR ISI...........................................................................................................iv DAFTAR GAMBAR............................................................................................vii DAFTAR TABEL.................................................................................................viii

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG...................................................................................1 B. C. IDENTIFIKASI MASALAH........................................................................2 TUJUAN PEMBAHASAN………………………………………………...2

D. BATASAN MASALAH………………………………………………..…...2 E. TEKNIK PENGUMPULAN DATA………………….………………..……2 F. SISTEMATIKA PENULISAN………………………….……………..……3

BAB II PEMBAHASAN A. PENGERTIAN..............................................................................................4 B. JENIS-JENIS KABEL.................................................................................13 C. KABEL PADA INSTALASI RESIDENSIAL..........................................17 D. NOMENKLATUR KABEL.......................................................................22 E. SPESIFIKASI KABEL..............................................................................24 F. RUGI TEGANGAN / DROP VOLTAGE.................................................24 G. KHA (KEMAMPUAN HANTAR ARUS)................................................25 H. MACAM-MACAM SAMBUNGAN KABEL..........................................27 I. PENGGUNAAN WARNA KABEL..........................................................29
iii

J. APLIKASI PENGHANTAR PADA DISTRIBUSI LISTRIK..................31

BAB III KESIMPULAN A. KESIMPULAN.................................................................................37 . DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................ix

iv

19 Gambar 5.20 Gambar 6. Kabel AAAC…………………………………………………………21 Gambar 8.20 Gambar 7....21 v . Kabel ACSR…………………………………………………………. Gambar kabel NYA…………………………………………………. Penampang melintang dan membujur kabel NYAF…………………19 Gambar 4. Bentuk kabel NYM…………………………………………………...18 Gambar 2. Gambar kabel NYAFGbY………………………………………….DAFTAR GAMBAR Gambar 1.18 Gambar 3. Penampang kabel BC………………………………………………. Penampang melintang dan membujur kabel NYY………………….

. Hambatan Logam Jenis dalam Ohm-mm2………………………………9 Tabel 3..... 1..............22 Tabel 4.27 vi .... Kemampuan Hantar Arus Kabel Instalasi Pada Suhu Keliling 30°C dengan Kondisi Suhu Kabel Maksimum 70°C…………………………. Nomenklatur Kabel........................26 Table 5. berdasarkan jumlah penghantar……………………. table KHA.............. Hambatan Logam Jenis…………………………………………………8 Tabel 2....………...…….................DAFTAR TABEL Tabel....

BAB I PENDAHULUAN A. Maka di sini kita akan 1 . Serta solusi yang akan sangat bermanfaat untuk mencegah bahaya dari kurangnya pengetahuan masyarakat terutama pada hantaran listik. Masyarakat setiap hari telah menggunakan alat . banyak bermunculan peralatan listrik dengan berbagai varian dan fungsi. Dengan demikian perlu adanya suatu penegasan atau pendidikan tentang peraturan paraturan standardisasi keamanan pada penghantar listrik sesuai dengan peraturan-peraturan yang sah. karena kebutuhan konsumtif masyarakat yang berangsur-angsur bertambah.alat tersebut. Selain biaya rekening listrik yang melonjak tentunya ada juga dampak kebakaran karena kegagalan ataupun kurangnya sistem proteksi pada hantaran instalasi. telah banyak masyarakat mengunakan peralatan listrik. Dengan demikian kawat penghantar harus dapat menghantarkan arus listrik dengan tingkat keamanan yang terjaga agar tidak menimbulkan kerugian baik materi maupun non materi. Sehingga hal tersebut harus diimbangi dengan tingkat keamanan pada jenis panghantar sesuai dengan kemampuan daya hantar dan kebutuhan instalasi listrik. Seiring dengan perkembangan jaman. yang mana semakin banyak peralatan listrik yang digunakan maka banyak pula energi listrik yang dibutuhkan. Perkembangan listrik sekarang sangat pesat. tentunya akan banyak dampak yang diakibatkan. LATAR BELAKANG Pada era modern sekarang ini. Keamanan listrik sangat penting karena semakin besar arus listrik yang digunakan maka semakin besar pula resiko yang dapat ditimbulkan. Agar masyarakat dapat lebih banyak pengetahuan tentang kemungkinan resiko yang dapat ditimbulkan dari arus listrik itu sendiri. maka secara tidak langsung mereka telah memanfaatkan energi listrik. Dengan banyaknya energi listrik yang digunakan tersebut.

BATASAN MASALAH Mengingat materi hantaran listrik sangat luas maka penulisan makalah ini akan dibatasi pada pemanfaatan hantaran listrik. dll. IDENTIFIKASI MASALAH Berdasarkan hal-hal yang telah diuraikan pada latar belakang di atas. Kehandalan dari kriteria atau jenis kabel? C.2 mengulas lebih banyak tentang hantaran. dan penyebab dropvoltage serta kehandalan dari kriteria atau jenis kabel. D. 3. Mahasiswa dapat mengetahui pemanfaatan hantaran listrik. Apakah yang dimaksud dengan hantaran ? 2. B. 2. TUJUAN PEMBAHASAN Tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan yang dilakukan secara berkelompok ini adalah: 1. Mahasiswa dapat mengetahui apa sajakah jenis dan macam-macam sambungan kabel. . Sambungan apa saja yang digunakan? 3. TEKNIK PENGUMPULAN DATA Dalam penyusunan makalah yang dilakukan secara berkelompok ini kami mengambil materi dari internet dan buku. dan sambungan kabel serta drop voltage. Penyebab dropvoltage ? 4. E. maka rumusan masalah dalam makalah ini meliputi : 1. jenis dan macam-macam sambungan kabel. Mahasiswa dapat mengetahui penyebab dropvoltage serta kehandalan dari kriteria atau jenis kabel.

BAB II PEMBAHASAN Dalam pembahasan berisi tentang definisi paenghantar listrik. BAB III PENUTUP Berisi tentang kesimpulan dan saran yang disampaikan guna menyempurnakan penulisan tugas kelompok yang telah dibuat.teknik pengumpula data dan sistematika penulisan. SISTEMATIKA PENULISAN Adapun dalam sistematika penulisan ini dibuat dalam beberapa bab yaitu: BAB I PENDAHULUAN Dalam pendahuluan berisi tentang latar belakang. jenis dan macam-macam sambungan kabel. identifikasi masalah.ruang lingkup kajian. . tujuan pembahasan.3 F. dan penyebab dropvoltage serta kehandalan dari kriteria atau jenis kabel.

baik berupa zat padat. Secara umum pengertian Kabel adalah media penghantar tenaga listrik dari sumber tegangan listrik ke peralatan yang menggunakan tenaga listrik atau menghubungkan suatu peralatan listrik ke peralatan listrik lainnya. PENGERTIAN Penghantar listrik atau kabel menurut KBBI tahun 1997 adalah Penghantar listrik atau kabel adalah kawat penghantar arus listrik berbungkus karet atau plastik.or. umumnya terbuat dari tembaga dan umumnya dilapisi dengan pelindung. tembaga. Pada umumnya logam bersifat konduktif. kabel adalah media untuk mengantarkan arus listrik atau informasi. Menurut http://www. Dalam penyaluran tenaga listrik. Konduktor yang baik adalah yang memiliki tahanan jenis yang kecil. Konduktor Penghantar dalam teknik elektro adalah zat yang dapat menghantarkan arus listrik. perak. Bahan dari kabel ini beraneka ragam. ada banyak faktor yang mempengaruhi baik atau tidaknya penyaluran tersebut. Menurut wikipedia Kabel listrik adalah media untuk menyalurkan energi listrik. 4 .id/info dalam situsnya. sedangkan konduktornya terbuat dari serabut tembaga ataupun tembaga pejal. Isolator disini adalah bahan pembungkus kabel yang biasanya terbuat dari karet atau plastik. Selain tembaga. cair atau gas.BAB II PENGHANTAR LISTRIK A. ada juga kabel yang terbuat dari serat optik. Namun dalam hal ini yang akan kita bahas adalah kabel yang berfungsi untuk menghantarkan energi listrik. khusus sebagai pengantar arus listrik. Bahan hantaran listrik dibagi menjadi beberapa bagian yaitu : 1.total. Karena sifatnya yang konduktif maka disebut konduktor. yang disebut dengan fiber optic cable. Emas.

Sifat Bahan Konduktor Bahan penghantar memiliki sifat-sifat penting. b. Besar hambatan tiap meternya dengan luas penampang 1mm2 pada temperatur200C dinamakan hambatan jenis. yaitu: · karakteristik mekanik. untuk konduktor 70 mm2 berselubung AAAC-S pada suhu sekitar 30o C. yang menunjukkan kemampuan dari konduktor terhadap arus listrik yang melewatinya (dari SPLN 41-10 : 1991. Karakteristik Konduktor Ada 2 (dua) jenis karakteristik konduktor. untuk konduktor 70 mm berselubung AAAC-S pada suhu sekitar 30 C. maka secara ekonomis tembaga dan alumunium paling banyak digunakan. zink. · karakteristik listrik. Besar hambatan tersebut tergantung dari bahannya.5 alumunium. Jadi sebagai penghantar emas adalah sangat baik. satuanya ohm (Ω) . Besarnya hambatan jenis suatu bahan dapat dihitung dengan menggunakan persamaan : R= ρ. yaitu: 1) Daya Hantar Listrik Arus yang mengalir dalam suatu penghantar selalu mengalami hambatan dari penghantar itu sendiri. a. maka kemampuan maksimal dari konduktor untuk menghantar arus adalah 275 A). maka kemampuan maksimum dari konduktor untuk menghantar arus adalah 275 A). besi berturut-turut memiliki tahanan jenis semakin besar.º dimana : R : Hambatan dalam penghantar. tetapi karena sangat mahal harganya. yang menunjukkan keadaan fisik dari konduktor yang menyatakan kekuatan tarik dari pada konduktor (dari SPLN 41-8:1981.

R = R0 { 1 + α (t – t0)} dimana : R : besar hambatan setelah terjadinya perubahan suhu R0 : besar hambatan awal. satuanya mm² 2) Koefisien Temperatur Hambatan Telah kita ketahui bahwa dalam suatu bahan akan mengalami perubahan volume bila terjadi perubahan temperatur. Besarnya perubahan hambatan akibat perubahan suhu dapat diketahui dengan persamaan . Terutama diperhitungkan dalam pemakaian mesin listrik beserta perlengkapanya. Bahan akan memuai jika temperatur suhu naik dan akan menyusut jika temperatur suhu turun. dalam 0º C t0 : temperatur suhu awal.6 ρ : hambatan jenis bahan. 4) Daya Tegangan Tarik Sifat mekanis bahan sangat penting. dalam 0º C α : koefisien temperatur tahanan 3) Daya Hantar Panas Daya hantar panas menunjukkan jumlah panas yang melalui lapisan bahan tiap satuan waktu. Pada umumnya logam mempunyai daya hantar panas yang tinggi. bahan yang dipakai untuk keperluan tersebut harus diketahui kekuatanya.mm²/m l : panjang penghantar. . Oleh sebab itu. dalam satuan ohm. Terutama menyangkut penggunaan dalam pendistribusian tegangan tinggi. satuannya meter (m) A : luas penampang kawat penghantar. T : temperatur suhu akhir. Diperhitungkan dalam satuan Kkal/jam 0C. sebelum terjadinya perubahan suhu. terutama untuk hantaran diatas tanah.

Konduktivitas merupakan sifat . arus akan menimbulkan daya elektro-motoris termo tersendiri bila terjadi perubahan temperatur suhu. yaitu kebalikan dari resistivitas atau tahanan jenis penghantar.m) Memberikan kemudahan suatu material untuk menghantarkan arus listrik. Satuan konduktivitas adalah (ohm meter). Daya elektro-motoris yang dibangkitkan oleh perbedaan temperatur disebut dengan daya elektro-motoris termo. sehingga dalam pengaturan arus dan tegangan dapat menyimpang meskipun sangat kecil. dimana tahanan jenis penghantar tersebut didefinisikan sebagai: ρ= . Besarnya perbedaan tegangan yang dibangkitkan tergantung pada sifat-sifat kedua bahan yang digunakan dan sebanding dengan perbedaan temperaturnya.7 5) Timbulnya Daya Elektro-Motoris Termo Sifat ini sangat penting sekali terhadap dua titik kontak yang terbuat dari dua bahan logam yang berlainan jenis. 6) Daya Elektro-Motoris Termo Daya elektro-motoris termo dapat terjadi lebih tinggi. Konduktivitas listrik Sifat daya hantar listrik material dinyatakan dengan konduktivitas. Dimana: A : luas penampang (m2) l : Panjang penghantar (m) R : tahanan penghantar (ohm) ρ : konduktivitas (ohm. karena dalam suatu rangkaian. c.

Diantara kedua sifat ekstrim tersebut.3 x 10Ê 3.0 x 10Ê 0.html) Logam Konduktivitas listrik Perak ( Ag ) Tembaga ( Cu ) Emas ( Au ) Alumunium ( Ac ) Kuningan ( 70% Cu – 30% Zn ) Besi ( Fe ) Baja karbon ( Ffe – C ) Baja tahan karat ( Ffe – Cr ) 6.2 x 10Ê ohm meter .m)-1.8 x 10Ê 1. pada kabel tegangan menengah untuk pemenuhan fungsi penghantar dan pengaman terhadap penggunaan.blogspot.6 x 10Ê 0. Tabel. memiliki konduktivitas listrik dengan orde 107 (ohm. Logam atau material yang merupakan penghantar listrik yang baik.8 listrik yang diperlukan dalam berbagai pemakaian sebagai penghantar tenaga listrik dan mempunyai rentang harga yang sangat luas. Berbeda pada kabel tegangan rendah. 1.m)-1. ketiga jenis atau sifat konduktivitas tersebut diatas digunakan semuanya.com/2008/09/konduktor.meter) -1 dan sebaliknya material isolator memiliki konduktivitas yang sangat rendah. yaitu antara 10-10 sampai dengan 10-20 (ohm.6 x 10Ê 1.0 x 10Ê 4. ada material semi konduktor yang konduktivitasnya berkisar antara 10-6 sampai dengan 10-4 (ohm. Hambatan Logam Jenis Sumber: (http://dunia-listrik.8 x 10Ê 6. Konduktivitas Listrik Berbagai Logam dan Paduannya Pada Suhu Kamar 20ºC.

946 25.” University of Wisconsin-Madison.828 hard Sodium Nickel 4. soft. hard drawn Copper.724 1.87 46. tinned Aluminum. yang ketiganya banyak berperan dalam proses pembuatan pembuatan penghantar itu sendiri.2% 2. Unsur – unsur pemandu selain mempengaruhi konduktivitas listrik.91 16.80 10. Contoh ini sebagai peringkat oleh resistivitas rendah pada 20 "C ditunjukkan pada Tabel 2. Inc. Kelly and Carl C.741-1. adapted from class notes for “Power Cable Engineering Clinic.777 1.69 10.803 cond. impurity atau ketidaksempurnaan dalam kristal logam.814 Ohm-cmi/ft x 10 9. 61.629 1. Tabel 2.9 Ada beberapa resistivitas rendah (atau tinggi konduktivitas) logam yang dapat digunakan sebagai konduktor untuk kabel listrik.82 Silver Copper. Kelly. 1995. Kriteria mutu penghantar Konduktivitas logam penghantar sangat dipengaruhi oleh unsur – unsur pemadu. Hambatan Logam Jenis dalam Ohm-mm2 Sumber : Lawrence J.371 10.3 7. Aluminum. 1/2 hard to fill 2. annealed Copper. Resistansi logam pada suhu ruang 20ºC Metal Ohm-mm²/m x 10 1.8 16. akan mempengaruhi sifat – sifat mekanika dan fisika .9 d. Landinger Copyright © 1999 by Marcel Dekker.47-10. Lawrence J.

logam Tembaga dan Aluminium adalah logam yang terpilih diantara jenis logam penghantar lainnya yang memenuhi nilai kompromi teknis ekonomis termurah. Standar tersebut menyebutkan bahwa untuk kawat tembaga yang telah dilunakkan dengan proses anil (annealing).10 lainnya. dimana tingkat kemurnian tembaga pada kawat penghantar jauh lebih tinggi jika dibandingkan pada tahun 1913. Pada tahun 1913. serta mempunyai tahanan listrik (resistance) tidak lebih dari 0. Selain masalah teknis. tembaga merupakan penghantar yang paling lama digunakan dalam bidang kelistrikan. Logam murni memiliki konduktivitas listrik yang lebih baik dari pada yang lebih rendah kemurniannya. selain mensyaratkan konduktivitas yang tinggi juga membutuhkan sifat mekanis dan fisika tertentu yang disesuaikan dengan penggunaan penghantar itu sendiri. mempunyai panjang 1m dan luas penampang 1mm2.017241 ohm pada suhu 20oC. Akan tetapi dengan kemajuan teknologi proses pembuatan tembaga yang dicapai dewasa ini. Sehingga suatu kompromi antara nilai teknis dan ekonomi logam yang akan digunakan mutlak diperhatikan. maka konduktivitas listrik kawat tembaga sekarang ini bisa mencapai diatas 100% IACS. Menurut standar ASTM B 609 untuk . Untuk kawat Aluminium. Nilai kompromi termurahlah yang akan menentukan logam mana yang akan digunakan. penggunaan logam sebagai penghantar ternyata juga sangat ditentukan oleh nilai ekonomis logam tersebut dimasyarakat. konduktivitas listriknya biasa dibandingkan terhadap standar kawat tembaga. dinyatakan mempunyai konduktivitas listrik 100% IACS. Dari jenis–jenis logam penghantar pada tabel 1. oleh International Electrochemical Comission (IEC) ditetapkan suatu standar yang menunjukkan daya hantar kawat tembaga yang kemudian dikenal sebagai International Annealed Copper Standard (IACS). diatas. Penghantar tenaga listrik. Akan tetapi kekuatan mekanis logam murni adalah rendah. Pada saat ini.

kriteria mutu lainnya yang juga harus dipenuhi meliputi seluruh atau sebagian dari sifat – sifat atau kondisi berikut ini. konduktivitas listriknya berkisar antara 61. (insulated cable) IEV 461-06-01. . menurut standar ASTM B 3988 persaratan konduktivitas listriknya tidak boleh kurang dari 52.0 – 61. Sedangkan untuk kawat penghantar dari paduan aluminium seri AA 6201. Kabel listrik adalah media untuk menyalurkan energi listrik. (2) sifat tarik seperti kekuatan tarik (tensile strength) dan regangan tarik (elongation).5% IACS. Sebuah kabel listrik terdiri dari isolator dan konduktor. dan lain-lain. (3) sifat bending atau pembengkokan (4) diameter dan variasi yang diijinkan.11 kawat aluminium dari jenis EC grade atau seri AA 1350(*). Kawat penghantar 6201 ini biasanya digunakan untuk bahan kabel dari jenis All Aluminium Alloy Conductor (AAAC). yaitu: (1) komposisi kimia. kabel berisolasi atau disingkat kabel rakitan yang terdiri atas : (1) satu inti atau lebih (2) selubung individual (jika ada) (3) pelindung rakitan (jika ada) (4) selubung kabel (jika ada). tergantung pada kondisi kekerasan atau temper. Penghantar yang tidak berisolasi tambahan dapat digolongkan sebagai kabel.8% IACS. Disamping persyaratan sifat listrik seperti konduktivitas listrik diatas. (5) kondisi permukaan kawat harus bebas dari cacat. Sedangkan pengertian kawat adalah sebuah penghantar masif ( single solid conductor ) atau beberapa buah yang tergabung menjadi satu dan terbungkus oleh bahan isolasi.

bahan semikonduktor mampu menghantarkan listrik lebih baik daripada isolator.12 Isolator disini adalah bahan pembungkus kabel yang biasanya terbuat dari karet atau plastik. Kemampuan hantar arus ditentukan oleh luas penampang konduktor yang berada dalam kabel listrik. Istilah resistivity (rho. sedangkan konduktornya terbuat dari serabut tembaga ataupun tembaga pejal. Jadi. Isolator listrik adalah sesuatu benda yang merupakan bukan benda penghantar listrik yang berguna untuk menahan penghantar listrik. adapun ketentuan mengenai KHA kabel listrik diatur dalam spesifikasi SPLN. 3. Isolator contohnya dapat kita lihat . sebab parameter hantaran listrik ditentukan dalam satuan Ampere. besar daya yang diterima dinyatakan dalam satuan Watt. yunani) biasanya digunakan untuk membandingkan level resistansi material. Semikonduktor Bahan semikonduktor adalah bahan yang mempunyai level konduktiviti (kemampuan menghantarkan arus listrik) diantara bahan konduktor dan isolator. 2. Isolator Dalam istilah elektronika. Pada tegangan 220 Volt dan KHA 10 Ampere. kertas. yang merupakan perkalian dari Ampere x Volt = Watt. kayu. yaitu kemampuan menahan arus listrik. sebuah kabel listrik dapat menyalurkan daya sebesar 220V x 10A = 2200 Watt. Resistivity suatu material diukur dalam satuan Ω-m atau Ω-cm. Isolator dapat berupa karet. Sedangkan tegangan listrik dinyatakan dalam Volt. Semakin tinggi level konduktiviti maka semakin rendah level resistansi. tapi lebih rendah dibandingkan konduktor. Kemampuan hantar sebuah kabel listrik ditentukan oleh KHA (kemampuan hantar arus) yang dimilikinya. Kebalikan dari konduktiviti adalah resistansi . dan biasanya adalah benda-benda selain golongan logam.

13 pada setiap kabel yaitu berupa karet yang berguna untuk melapisi tembaga(logam) agar arus tetap mengalir pada tembaga. karena sebagus apapun suatu isolator jika terkena air maka arus listrik akan dapat mengalir. JENIS-JENIS KABEL a. Isolator memiliki karakteristik lebih lunak daripada logam namun tidak berair. Klasifikasikan dari bahan baku Adapun bila ditinjau dari bahan baku. Isolator memiliki daya resistansi yang tinggi terhadap arus listrik. Pemilihan kabel (harus memiliki perencanaan) i. Dengan kata lain berguna untuk melindungi kita dari sengatan listrik. Kapasitas dan fungsi b. Tembaga . Warna standar c. Design layout instalasi/single line diagram ii. Perawatan kabel – recondition cable. b. Sambungan dan hubungan iii. B.oleh sebab itu isolator merupakan penghantar listrik yang paling buruk diantara konduktor maupun semikonduktor. penghantar dapat diklasifikasikan menjadi: a. Karena sifatnya yang resistant/ menghambat aliran arus listrik maka benda-benda tersebut disebut isolator. Luas penampang kabel iv. d. Metode Pemilihan Kabel Sebelum memilih kabel kita harus memahami konsep dasar penggunaan kabel yaitu : a. Nomenklatur/kode huruf bahan kabel v. Manufacturer recommendation (usia–Standar Nasional (SPLN) dan/atau Standar Internasional).

karenanya lebih mudah dikerjakan dengan mesin c. Kegunaan: membuat kabel listrik. sistem pemanas. penghantarnya terdiri dari beberapa urat kawat yang berlilit dengan ukuran 1 mm² – 500 mm². kotoran dikeluarkan dari bijih-bijih tembaga b. tabung pendingin. tahan terhadap korosi dengan peleburan dan elektrolisa. Berikut ini adalah jenis kabel dilihat dari jenis konstruksinya. untuk keperluan listrik. lebih keras dari tembaga maupun alumunium. yaitu penghantar yang berbentuk kawat pejal yang berukuran sampai 10 mm². Sifat: mudah dibentuk. alat-alat portabel. a. b. komponen terbesar dari logam campuran kuningan ini disaring sampai kemurnian 98. Konstruksi jenis kabel Ada beberapa jenis kabel yang sering digunakan. konduktor yang baik.8 %. Sifat: mudah ditempa. Tidak dibuat lebih besar lagi dengan maksud untuk memudahkan penggulungan maupun pemasangannya. Ilustrasi: Penyambungan kabel antara kabel jenis serabut dan kabel pejal yang tidak sesuai standar adalah salah satu penyebab short circuit yang merupakan awal dari pemicu kebakaran. non magnetik. Yaitu dilihat dari segi konstruksinya dan dari segi jumlah penghantar dalam satu kabel.14 Ciri-ciri: logam coklat kemerahan. sangat lunak dan ringan c. non magnetik. Penghantar berlilit (stranded). Penghantar serabut (fleksibel). alat-alat ukur listrik . radiator kendaraan. Penghantar pejal (solid). Kuningan Kuningan adalah alloy non-ferrous terbuat dari campuran tembaga dan seng. c. Alumunium Ciri-ciri: logam putih keabu-abuan Sifat: konduktor yang sangat baik. banyak digunakan untuk tempat yang sulit dan sempit. tahan korosi.

NYMHY 4×2. Contoh penghantar quadruplex misalnya NYM 4×2. Contoh penghantar simplex ini antara lain: NYA 1. NYY 2×2.5 mm². ialah kabel yang dapat berfungsi untuk satu mecam penghantar saja (misal: untuk fasa atau netral saja). NYAF 2.5mm² dan sebagainya. Contoh kabel jenis ini: NYM 3×2. ialah kabel yang dapat menghantarkan dua aliran (dua fasa yang berbeda atau fasa dengan netral). . d.5 mm² dan sebagainya.5mm². yaitu kabel dengan tiga pengantar yang dapat menghantarkan aliran 3 fasa (R. d. penghantar dapat diklasifikasikan menjadi: a. Penghantar persegi (busbar). NYY 3×2. berlilit ataupun serabut. Penghantar jenis ini contohnya NYM 2×2. Setiap penghantarnya diisolasi kemudian diikat menjadi satu menggunakan selubung. Penghantar triplex. S dan T) atau fasa.5 mm² – 400 mm². Ukuran kabel ini antara 0. b. c. Susunan hantarannya ada yang pejal. Penghantar quadruplex.5 mm². Jumlah Penghantar Adapun bila ditinjau dari jumlah penghantar dalam satu kabel. Penghantar duplex. Jenis penghantar yang paling banyak digunakan pada instalasi rumah tinggal yang dibangun permanen saat ini adalah kabel rumah NYA dan kabel NYM.5 mm². penampang penghantar ini berbentuk persegi empat yang biasanya digunakan pada PHB (Papan Hubung Bagi) sebagai rel-rel pembagi atau rel penghubung. d. kabel dengan empat penghantar untuk mengalirkan arus 3 fasa dan netral atau 3 fasa dan pentanahan.5 mm².5 mm² dan sebagainya.15 11 dan pada kendaraan bermotor. Penghantar simplex. netral dan arde. Penghantar ini tidak berisolasi.

semua penghantar harus dianggap sebagai penghantar aktif (active conductor ) . Kabel tanah Jenis kabel yang dibuat khusus untuk dipasang di permukaan atau dalam tanah. misalnya kedap air atau kedap debu. Penghantar bumi Penghantar dengan impedans rendah. dan yang struktur dan bahannya memenuhi persyaratan.IEV 461-06-14. c. yang secara listrik menghubungkan titik yang tertentu pada suatu perlengkapan (instalasi atau sistem) dengan elektrode bumi. Kabel kedap Sifat tidak dapat dimasuki sesuatu.4 f. 1983. p. atau dalam air.SAA 0. Penghantar aktif Setiap penghantar dari sistem suplai yang mempunyai beda potensial dengan netral atau dengan penghantar yang dibumikan. d. e. (flexible cable) . dapat b. Keadaan darurat Keadaan yang tidak biasa atau tidak dikehendaki yang membahayakan keselamatan manusia dan keamanan bangunan serta isinya. (earth conductor) – IEC MDE.76 . (underground cable) IEV 601-03-05.16 e. Kabel fleksibel Kabel yang disyaratkan untuk mampu melentur pada waktu digunakan. yang ditimbulkan oleh gangguan suplai utama listrik. Dalam sistem yang tidak memiliki titik netral. kegunaan dan fungsi penghantar Adapun bila ditinjau dari kegunaan dan fungsi penghantar diklasifikasikan menjadi: a.5.

i. p. p. titik sumber yang dibumikan atau netral buatan. Penghantar proteksi yang menghubungkan terminal pembumi utama atau batang ke elektrode bumi.76. p. (neutral conductor) – IEC MDE. bagian konduktif ekstra.77 . Penghantar PEN (nol) Penghantar netral yang dibumikan dengan menggabungkan fungsi sebagai penghantar proteksi dan penghantar netral. atau sejumlah pilinan yang dipintal jadi satu tanpa isolasi di antaranya. (earthing conductor) – IEC MDE. IEV 826-04-06. 1983. elektrode bumi. 1983.(PEN conductor) – IEC MDE. Penghantar netral (N) Penghantar (berwarna biru) yang dihubungkan ke titik netral sistem dan mampu membantu mengalirkan energi listrik. (protective conductor) – IEC MDE. 1983. terminal pembumian utama. 1983.17 g. Penghantar proteksi (PE) Penghantar untuk proteksi dari kejut listrik yang menghubungkan bagian berikut : bagian konduktif terbuka. Penghantar pembumian · · Penghantar berimpedans rendah yang dihubungkan ke bumi. Catatan singkatan PEN dihasilkan dari penggabungan lambang PE untuk penghantar proteksi dan N untuk penghantar netral. k. Penghantar pilin Penghantar yang terdiri atas satu pilinan.76 j. p.76 h.

untuk instalasi luar/kabel udara. Kabel NYA Kabel NYA berinti tunggal. berlapis bahan isolasi PVC. Kabel NYM memiliki lapisan isolasi dua lapis. dan apabila ada isolasi yang terkelupas tidak tersentuh langsung oleh orang. Sehingga tidak mudah menjadi sasaran gigitan tikus. KABEL PADA INSTALASI RESIDENSIAL Pada instalasi residensial yang sering digunakan dalam instalasi listrik di Indonesia adalah berikut ini : a. biru dan hitam. Kabel NYM Kabel NYM memiliki lapisan isolasi PVC (biasanya warna putih atau abuabu). Agar aman memakai kabel tipe ini. tidak tahan air (NYA adalah tipe kabel udara) dan mudah digigit tikus. Lapisan isolasinya hanya 1 lapis sehingga mudah cacat.blogspot.18 C.html b. sehingga tingkat keamanannya lebih baik dari kabel NYA (harganya lebih mahal . kuning. Kode warna isolasi ada warna merah. ada yang berinti 2. Kabel tipe ini umum dipergunakan di perumahan karena harganya yang relatif murah. Gambar kabel NYA. Gambar 1. kabel harus dipasang dalam pipa/conduit jenis PVC atau saluran tertutup. 3 atau 4. Sumber : http://technoku.com/2009/01/jenis-jenis-kabel.

html c. Gambar 2. Kabel ini dapat dipergunakan dilingkungan yang kering dan basah. Digunakan untuk instalasi panel-panel yang memerlukan fleksibelitas yang tinggi. Sumber : http://technoku. namun tidak boleh ditanam.com/2009/01/jenis-jenis-kabel. Kabel NYY Kabel NYY memiliki lapisan isolasi PVC (biasanya warna hitam). Bentuk kabel NYM. Gambar 3.html d.blogspot. ada yang berinti 2. 3 atau 4.blogspot. Sumber : http://technoku. Kabel NYAF Kabel NYAF merupakan jenis kabel fleksibel dengan penghantar tembaga serabut berisolasi PVC. Penampang melintang dan membujur kabel NYAF. Kabel NYY dipergunakan untuk instalasi tertanam (kabel .19 dari NYA).com/2009/01/jenis-jenis-kabel.

html f. Kabel NYFGbY Kabel NYFGbY ini digunakan untuk instalasi bawah tanah. atau untuk tekanan rentangan yang tinggi selama dipasang dan dioperasikan. Penampang melintang dan membujur kabel NYY. dan memiliki lapisan isolasi yang lebih kuat dari kabel NYM (harganya lebih mahal dari NYM). Gambar 4.Kabel ini digunakan untuk saluran-saluran transmisi tegangan . Gambar kabel NYAFGbY.20 tanah).blogspot.com/2009/01/jenis-jenis-kabel. Sumber : http://technoku. Sumber : http://technoku.com/2009/01/jenis-jenis-kabel. Kabel ACSR Kabel ACSR merupakan kawat penghantar yang terdiri dari aluminium berinti kawat baja. di dalam ruangan di dalam saluran-saluran dan pada tempat-tempat yang terbuka dimana perlindungan terhadap gangguan mekanis dibutuhkan. Kabel NYY memiliki isolasi yang terbuat dari bahan yang tidak disukai tikus. Gambar 5.html e.blogspot.

dimana jarak antara menara/tiang berjauhan. Sumber : http://technoku. sehingga daya hantarnya lebih baik.blogspot. maka dibutuhkan kuat tarik yang lebih tinggi. Sumber : http://technoku. Kabel AAAC. untuk memberi sifat yang lebih baik. Kabel ACAR Kabel ACAR yaitu kawat penghantar aluminium yang diperkuat dengan logam campuran.html h. untuk itu digunakan kawat penghantar ACSR. Gambar 7. i.21 tinggi. sehingga kabel ini lebih kuat daripada kabel ACSR. Kabel AAAC Kabel ini terbuat dari aluminium-magnesium-silicon campuran logam. Kabel ACSR.com/2009/01/jenis-jenis-kabel.blogspot.html g.com/2009/01/jenis-jenis-kabel. mencapai ratusan meter. AAAC mempunyai suatu anti karat dan kekuatan yang baik. Gambar 6. Kabel BC (Bar Cable) . keterhantaran elektris tinggi yang berisi magnesium silicide. Kabel ini biasanya dibuat dari paduan aluminium 6201.

6/1 kV (1. Contoh NKRA. Penampang kabel BC. Contoh : NYCEY CW penghantar konsentris pada masing-masing inti. NKZAA B C CE Perisai dari pita baja ganda. disatukan. Pemakaian = saluran diatas tanah dan penghantar pentanahan Gambar 8. Contoh NYKRG KETERANGAN DAN CONTOH . Contoh : NEKBA perisai kawat baja pipih.NEKBA penghantar konsentris tembaga. yang dipasang secara berlawanan arah untuk kabel tegangan nominal 0.panellistrik.22 Kabel ini dipilin/stranded. Contoh : NYFGbY Spiral dari kawat baja pipih. Contoh : NYCY penghantar konsentris pada masing-masing inti. Contoh : NAHKZAA.org/?go=tum&tum=40&ktum=13&q=Kabel%20% 20%20Grounding%20%20Penangkal%20%20Petir D. NOMENKLATUR KABEL TABEL 3. Sumber : http://www. Contoh : NYBY. NAKBA AA Selubung atau perlindungan luar dua lapis dari bahan serat goni (jute). dalam hal kabel berinti banyak. NOMENKLATUR KABEL KODE KABEL A Selubung atau lapisan perlindungan luar bahan serat (misalnya goni/jute). Contoh : NYCWY D E F G spriral anti tekan – pita penguat non-magnetis kabel dengan masing-masing intinya beselubung logam.2 kV). Ukuran / tegangan mak = 6 – 500 mm2 / 500 V.

Contoh : NKRRGbY Perisai dari tembaga. Contoh N2XSEY T Tali penggantung dari baja .NYY Kabel standar penghantar alumunium. Contoh : NYFGbY-O Q R RR S Jalinan (braid) dari kawat-kawat baja berselubung seng (zing-coated). Contoh : NGA selubung isolasi dari karet 2G Gb H Isolasi karet butil dengan daya tahan lebih tinggi terhadap panas. Contoh : NKWKZY Perisai dari jalinan kawat baja bulat (braid) Kabel dengan selubung timah hitam untuk pemasangan dalam kapal laut. Contoh : N2GAU Spiral pita baja (mengikuti F atau R . Contoh MK Kabel standar penghantar tembaha.NAKBA Kabel udara berisolasi di pilin. Contoh : NKLY. Contoh : NYRGbY Dua lapisan perisai dari kawat-kawat baja bulat. Contoh : NYA. Contoh NPKDvFSt2Y Perisai terbuka dari kawat-kawat baja.NFAY Kabel bertekanan gas. Contoh : NHKBA.NHKRA K KL KWK L MK N NA NF NI NO NP O Selubung timbal.NAKBY Selubung alumunium. Contoh : NYKQ Perisai dari kawat-kawat baja bulat. Contoh : NNKROA Kabel berpenangkal oval. Contoh : NIKLDEY Kabel bertekanan minyak. Contoh : NF2X. Contoh : NAYFGbY. pelindung listrik dari pita tembaga yang dibalutkan pada semua inti kabel bersama-sama. Contoh : N2XSY SE Pelindung listrik dari pita tembaga yang melindungi masing-masing inti kabel. N2XSEYFGby Lapisan penghantar di luar isolasi untuk membatasi medan listrik.23 isolasi karet / EPR. Contoh : NYM-O Kabel tanpa ini berwarna hijau kuning. Contoh : NKBA.NAHKLY Selubung dari pita tembaga yang terpasang dan dilas memanjang. Contoh : NOKDEFOA Kabel dalam pipa bertekanan gas. Contoh : NYRGbY.

c. Pada instalasi bangunan rugi tegangan dihitung dari alat pengontrol adalah maksimum 2% untuk instalasi penerangan dan maksimum 5% untuk instalasi tenaga listrik seperti motor.N2XSY Selubung isolasi dari PVC. Nilai tegangan pengenal di dalam tanda kurung adalah nilai kerja tegangan tertinggi antara fase dan netral yang diperbolehkan. Contoh : NKZAA Penghantar berisolasi dengan beban tarik. maka menggunkan rumus berikut ini : . Untuk menghitung rugi tengangan. Kerugian ini dalam persen ditentukan dalam batasbatas tertentu. SPESIFIKASI KABEL Spesifikasi kabel telah ditentukan dalam PUIL 2000 sebagaimana dalam tabel berikut ini : a. Contoh : NYRUZY E. Untuk kabel berpenghantar tembaga. Contoh : NYA Selubung isolasi dari polyethylene Perisai dari kawat-kawat yang masing-masing mempunyai bentuk “Z”. Contoh : NF2X. serta tidak boleh pula dipasang sebagai kabel udara. berbanding terbalik dengan penampang saluran. b.24 2X Y 2Y Z Z Selubung isolasi dari XLPE. Nomenklaturnya dimulai dengan huruf N… F. Contoh : NYMZ Selubung logam dan pita seng. RUGI TEGANGAN / DROP VOLTAGE Kerugian tegangan atau susut tegangan dalam saluran tenaga listrik adalah berbanding lurus dengan panjang saluran dan beban. Kabel instalasi dalam tabel di atas tidak boleh dipasang pada atau di dalam tanah.

aluminium = 32. KHA (Kekuatan Hantar Arus).25 Rugi tegangan dalam % : q = q = ƼƼ λ λ atau q = q = λ ƼƼ Rugi tegangan dalam volt : ∆ λ atau ∆ λ Keterangan : P : beban dalam watt f : tegangan antar 2 saluran (fase-netral) q : penampang saluran (mm2) ∆√ : rugi tegangan dalam (volt) ∆U : rugi tegangan dalam % L : panjang rute saluran (bukan panjang kawat) λ : daya hantar jenis tembaga = 56. KHA (KEMAMPUAN HANTAR ARUS) Kemampuan Hantar Arus dipengaruhi oleh suhu penghantar yang di izinkan dan kondisi sekitar sejauh panas yang dipindahkan. susut tegangan maksimum sesuai impedansi kabel dan karakteristik beban. dengan melihat pada jenis isolasi dan cara pemasangannya. Berarti kemampuan hantar arus untuk masing-masing penghantar berbeda ukuran dan spesifikasinya.7 I : arus beban. kinerja pada hubungan pendek dari arus . G. besi = 7.

yaitu kabel harus membawa arus penuh penuh.26 gangguan yang mungkin terjadi dan karakteristik gawai proteksi. atau konduktor alumunium tembaga. Arus desain.5.1 sirkit akhir yang menyuplai motor tunggal tidak boleh mempunyai KHA kurang dari 125 % arus pengenal beban penuh. kekuatan mekanik dan pertimbangan fisik lainnya. Kemampuan Hantar Arus Kabel Instalasi Pada Suhu Keliling 30°C . Faktor-faktor yang mempengaruhi nilai arus (KHA) adalah: faktor l. konduktor tembaga. tipe kabel seperti PVC. 3. berbagai daur kerja dapat menyimpang dari ketentuan di atas asalkan jenis dan penampang penghantar serta pemasangannya disesuaikan dengan daur kerja tersebut”. Seperti yang disebutkan dalam PUIL 2000 pasal 5. dengan Kondisi Suhu Kabel Maksimum 70°C .5.3.1 “Penghantar 5. artinya berapa lama kabel harus membawa arus besar. KHA jenis-jenis kabel dapat kita lihat pada tabel di bawah ini : jenis Tabel 4. Temperatur lingkungan lingkungan. Penghantar sirkit akhir untuk motor dengan berlebihan. 5. 4. 2. Tipe perlindungan. Kondisi instalasi atau penempatan kabel tersebut tersebut. alumunium. Di samping itu.3. untuk jarak jauh perlu digunakan penghantar yang cukup ukurannya hingga tidak terjadi susut tegangan yang berlebihan.

table KHA. terlebih dahulu harus diketahui besarnya arus nominal dari peralatan tersebut. Jika tidak tertera pada name plate plate-nya maka kemampuan hantar arus dari suatu penghantar dapat dicari dengan rumus dibawah ini.com/2009/01/teori listrik.blogspot. rumus ini digunakan untuk menentukan arus nominal dari peralatan yang digunakan : Arus nominal 1 fase : In = P / (V x I x Cos φ) Arus nominal 3 fase : In = P / ( x V x I x Cos φ ) (√3 Sedangkan rumus untuk mencari KHA adalah 125% arus nominal.blogspot.com/2009/01/teori-dasar-listrik. Sumber : http://dunia-listrik.html listrik. edangkan Keterangan : I = Arus peralatan (Ampere) P = Daya masukan peralatan (Watt) V = Tegangan (Volt) Cos φ = Faktor daya Table 5.27 Untuk menentukan kemampuan hantar arus suatu penghantar yang mensuplai penghantar peralatan listrik.html . yang biasanya arus nominal sudah tertera pada name plate pada peralatan tersebut.

Penyambungan puntiran kawat padat dengan memuntir dan memakai las dop. g.28 H. Penyambungan dengan lilitan kawat. 2. Penyambungan las atau las perak (sambungan mati).5.1 Semua sambungan listrik harus baik dan bebas dari gaya tarik. d.11.5.2 Sambungan antarpenghantar dan antara penghantar dan perlengkapan listrik yang lain harus dibuat sedemikian sehingga terjamin kontak yang aman dan andal.4. e.5. sambung solder atau . Penyambungan selongsong dipres. penyambung puntir tekan.5.1 “Penyambungan antar penghantar harus dilakukan dengan baik dan kuat dengan cara sebagai berikut: a.5. atau penyambung dengan solder harus sesuai dengan bahan penghantar yang disambungnya dan harus dipasang dengan baik (lihat juga 2. Berdasarkan PUIL 2000 pasal 2.4.4 tentang Sambungan listrik dijelaskan bahwa : 2.4. Menyambung kabel fleksibel harus menggunakan sambung tekan (termasuk jenis sekrup). Penyambungan selongsong dengan sekrup. Penyambungan selongsong tanpa sekrup.5. MACAM-MACAM SAMBUNGAN KABEL Menurut PUIL 2000 pasal 7.3 Gawai penyambung seperti terminal tekan. c.4.4 Dua penghantar logam yang tidak sejenis (seperti tembaga dan aluminium atau tembaga berlapis aluminium) tidak boleh disatukan dalam terminal atau penyambung punter kecuali jika alat penyambung itu cocok untuk maksud dan keadaan penggunaannya.4. 2. 2.4). f. Penyambungan solder (sambungan mati). 2.4.1.5 Sambungan penghantar pada terminal harus terjamin kebaikannya dan tidak merusakkan penghantar. b.5.

Ekor babi. Sebelum dilas atau disolder. fluks. Yaitu menyambung dua kabel yang berbentuk satu garis lurus.7 Bahan yang digunakan seperti solder. Knotted tap joint. PENGGUNAAN WARNA KABEL Menurut PUIL 2000 pasal 7.6 Sambung puntir harus dilaksanakan dengan: a) menggunakan penyambung puntir.5. I. Sambungan punter. yakni bell hangers dan western union. e. Yaitu menyambung dua kabel yang berbentuk garis lurus.2 Tentang Identifikasi penghantar dengan warna dijelaskan bahwa : . dan pasta harus terbuat dari jenis yang tidak berakibat buruk terhadap instalasi dan perlengkapan listrik. Macam sambungan kabel tersebut adalah : a. 2. Single wrapped cable spice. sambungan itu harus dipuntir dahulu agar diperoleh sambungan yang baik secara mekanis dan listrik. Turn Back. Yaitu menyambung kabel yang bernadi banyak. Adalah cara untuk mencabangkan kabel yang posisinya dalam satu bidang datar degan member suatu simpul agar sambungan lebih kuat. c.29 sambung puntir. Sepatu kabel harus disambungkan dengan mur baut secara baik. menganyam sesuai dengan arah alurnya. dimana kabel ditekuk balik. Ada dua macam pada sambungan ini. atau b) cara dilas atau disolder. Yaitu cara penyambungan kabel yang paling sederhana berbentuk ekor babi.4.4. 2.5. dimaksudkan untuk mendapatkan sambungan yang lebih kuat. d. b. Ini digunakan untuk mencabangkan atau menyambung dua atau lebih kabel.

2.30 7.2. kawat tengah.2.2. Bila dalam pembuatan dan pemeliharaan perlengkapan tersebut. jika pada instalasi listrik tersebut tidak terdapat penghantar netral atau kawat tengah.1. termasuk instalasi dalam perlengkapan listrik.1 dan 7. warna biru tersebut tidak boleh digunakan untuk menandai penghantar lainnya.1 Kabel berselubung berinti tunggal boleh digunakan untuk fase. pada instalasi listrik dengan penghantar netral. Warna biru hanya dapat digunakan untuk maksud lain.2. Hal tersebut di atas diperlukan untuk mendapatkan kesatuan pengertian mengenai penggunaan sesuatu warna atau warna loreng yang digunakan untuk mengenal penghantar. maka penggunaan warna lain dan warna loreng lain tidak dilarang. Warna biru tidak boleh digunakan untuk menandai penghantar pembumian.4.2.3. khususnya warna hitam. Jika diperlukan satu warna tambahan lagi untuk mengidentifikasi bagian pengawatan secara terpisah. Untuk menghindarkan kesalahan. 7.6. 7.1 Untuk pengawatan di dalam perlengkapan listrik disarankan agar hanya digunakan satu warna. netral.1.1 Warna biru digunakan untuk menandai penghantar netral atau kawat tengah.3.1 Warna loreng hijau-kuning hanya boleh digunakan untuk menandai penghantar pembumian.2.1 Peraturan warna selubung penghantar dan warna isolasi inti penghantar yang tercantum dalam pasal ini berlaku untuk semua instalasi tetap atau sementara. penghantar pengaman.2. atau penghantar pembumian asalkan isolasi kedua ujung kabel . guna keseragaman dan mempertinggi keamanan. 7. dianjurkan mendahulukan pemakaian warna coklat.2. selama tidak bertentangan dengan 7. 7. dan penghantar yang menghubungkan ikatan penyama potensial ke bumi. dianggap perlu menggunakan lebih dari satu warna.

Berfungsi menyalurkan energi listrik dari satu gardu induk ke gardu induk lainnya. .31 yang terlihat (bagian yang dikupas selubungnya) dibalut dengan pembalut berwarna yang dibuat khusus untuk itu. Tegangan Tinggi (HV). Tegangan Menengah (MHV). Namun sebenarnya. Sedangkan Transmisi Tegangan Tinggi.html) Selama ini ada pemahaman bahwa yang dimaksud transmisi adalah proses penyaluran energi listrik dengan menggunakan tegangan tinggi saja. Fasa 1 à L1/R à merah à U/X Fasa 2 à L2/S à kuning à V/Y Fasa 3 à L3/T à hitam à W/Z Netral à N à biru Pembumian à PE à Loreng setrip hijau kuning Kutub positif à L+ Kutub negative à LKawat tengah à m J. Aplikasi Penghantar Pada Distribusi Listrik Klasifikasi Saluran Transmisi Berdasarkan Tegangan Sumber:(http://dunia-listrik.blogspot. adalah: 1. transmisi adalah proses penyaluran energi listrik dari satu tempat ke tempat lainnya. Bahkan ada yang memahami bahwa transmisi adalah proses penyaluran energi listrik dengan menggunakan tegangan tinggi dan melalui saluran udara (over head line). yang besaran tegangannya adalah Tegangan Ultra Tinggi (UHV). Guna mendapatkan kesamaan pengenal menggunakan kabel pada instalasi digunakan teknik identifikasi warna atau lambang. Tegangan Ekstra Tinggi (EHV).2-1. dan Tegangan Rendah (LV).com/2009/11/klasifikasi-saluran transmisi. atau dengan cara lain yang memenuhi Tabel 7.

3. 2. sehingga diperoleh operasional yang efektif dan efisien. dimana 1 sirkuit terdiri dari 3 . untuk tegangan rendah. 70 KV dan 150 KV. Menggunakan kabel udara dan kabel tanah. tegangan menengah dan tegangan tinggi. Di Indonesia. Saluran Udara Tegangan Tinggi (Sutt) 30 Kv – 150 Kv Tegangan operasi antara 30 KV sampai dengan 150 KV. Pembangunan transmisi ini cukup efektif untuk jarak 100 km sampai dengan 500 km. Standar tegangan tinggi yang berlaku di Indonesia adalah : 30 KV. dengan sistem tegangan tinggi.32 2. sehingga pembangunannya membutuhkan biaya yang besar. Transmisi 500 KV ada di Pulau Jawa.500 Kv Pada umumnya digunakan pada pembangkitan dengan kapasitas di atas 500 MW. Berikut ini disampaikan pembahasan tentang transmisi ditinjau dari klasifikasi tegangannya: 1. memerlukan isolator yang banyak. Terdiri dari konduktor yang direntangkan antara tiang-tiang (tower) melalui isolator-isolator. secara berangsurangsur mulai ditiadakan (tidak digunakan). memerlukan tapak tanah yang luas. 2. Konfigurasi jaringan pada umumnya single atau double sirkuit. Permasalahan mendasar pembangunan SUTET adalah: konstruksi tiang (tower) yang besar dan tinggi. 3. Beberapa hal yang perlu diketahui: 1. Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (Sutet) 200 Kv . kosntruksi transmisi terdiri dari : 1. 2. Sedangkan transmisi 275 KV dikembangkan di Sumatera. Transmisi 30 KV dan 70 KV yang ada di Indonesia. Transmisi 70 KV dan 150 KV ada di Pulau Jawa dan Pulau lainnya di Indonesia. Tujuannya adalah agar drop tegangan dan penampang kawat dapat direduksi secara maksimal. Menggunakan kabel udara untuktegangan tingg dan tegangan ekstra tinggi.

Kabel yang isolasinya berbahan kertas yang diperkuat dengan minyak (oil paper impregnated). Pertimbangan fabrikasi. c. Adanya permintaan dan pertumbuhan beban yang sangat tinggi. Untuk mengatasi hal tersebut maka sistem transmisi dihubungkan secara ring system atau interconnection system. jarak terjauh yang paling efektif adalah 100 km. karena sangat sulit mendapatkan tanah untuk tapak tower. Jenis kabel yang digunakan: a. Untuk Ruang Bebas juga sangat sulit dan pasti timbul protes dari masyarakat. Biasanya hanya 3 kawat dan penghantar netralnya digantikan oleh tanah sebagai saluran kembali. karena padat bangunan dan banyak gedung-gedung tinggi. 3. c. d. Saluran Kabel Tegangan Tinggi (Sktt) 30 Kv – 150 Kv SKTT (Saluran Kabel Tegangan Tinggi) dipasang di kota-kota besar di Indonesia (khususnya di Pulau Jawa). Di tengah kota besar tidak memungkinkan dipasang SUTT. Inti (core) kabel dan pertimbangan pemilihan: a. Jika jarak transmisi lebih dari 100 km maka tegangan jatuh (drop voltage) terlalu besar. Single core dengan penampang 240 mm2 – 300 mm2 tiap core. Kabel yang berisolasi (berbahan) Poly Etheline atau kabel jenis Cross Link Poly Etheline (XLPE). maka penghantar pada masing-masing phasa terdiri dari dua atau empat kawat (Double atau Qudrapole) dan Berkas konduktor disebut Bundle Conductor. Pertimbangan keamanan dan estetika. Ini sudah diterapkan di Pulau Jawa dan akan dikembangkan di Pulau-pulau besar lainnya di Indonesia. b. Apabila kapasitas daya yang disalurkan besar. sehingga tegangan diujung transmisi menjadi rendah. Jika transmisi ini beroperasi secara parsial. dengan beberapa pertimbangan : a. .33 phasa dengan 3 atau 4 kawat. b. Three core dengan penampang 240 mm2 – 800 mm2 tiap core. b.

SUTM. transmisi SKTM memiliki fungsi yang sama dengan transmisi SUTM. . Saluran Kabel Tegangan Menengah (Sktm) 6 Kv – 20 Kv Ditinjau dari segi fungsi . Jika transmisi lebih dari jarak tersebut. Pada saat ini di Indonesia telah terpasang SKTT bawah laut (Sub Marine Cable) dengan tegangan operasi 150 KV. Pertimbangan pemasangan di lapangan. Panjang SKTT pada tiap haspel (cable drum). bisa dibuat tanpa sambungan sesuai kebutuhan. 4. Perbedaan mendasar adalah. Penyulang (Feeder). sampai dengan ke Instalasi Pemanfaatan (Pelanggan/ Konsumen). Transmisi SUTM digunakan pada jaringan tingkat tiga. Dengan mempertimbangkan berbagai kondisi yang ada (kemampuan likuiditas atau keuangan. Untuk desain dan pesanan khusus. maksimum 300 meter. 5. Saluran Udara Tegangan Menengah (Sutm) 6 Kv – 30 Kv Di Indonesia. Gardu Distribusi. b. misalnya untuk kabel laut. kondisi geografis dan lain-lain) transmisi SUTM di Indonesia melebihi kondisi ideal di atas. yaitu jaringan distribusi yang menghubungkan dari Gardu Induk.34 d. yaitu: a. pada umumnya tegangan operasi SUTM adalah 6 KV dan 20 KV. Namun secara berangsur-angsur tegangan operasi 6 KV dihilangkan dan saat ini hampir semuanya menggunakan tegangan operasi 20 KV. Beberapa pertimbangan pembangunan transmisi SKTM adalah: a. efektifitas penyalurannya hanya pada jarak (panjang) antara 15 km sampai dengan 20 km. Sub marine cable 150 KV Gresik – Tajungan (Jawa – Madura). SKTM ditanam di dalam tanah. Sub marine cable 150 KV Ketapang – Gilimanuk (Jawa – Bali). Berdasarkan sistem pentanahan titik netral trafo. efektifitasnya menurun. Kondisi setempat yang tidak memungkinkan dibangun SUTM. karena relay pengaman tidak bisa bekerja secara selektif.

d. Kesulitan mendapatkan ruang bebas (ROW). e. tegangan operasi transmisi SUTR saat ini adalah 220/ 380 Volt. Susut tegangan yang disyaratkan. penanganan (perbaikan) transmisi SKTM relatif sulit dan memerlukan waktu yang lebih lama jika dibandingkan SUTM. Di Indonesia. d. c. Sifat daerah pelayanan (desa. yang langsung memasok kebutuhan listrik tegangan rendah ke konsumen. Distribusi pelanggan sepanjang jalur jaringan distribusi. c.35 b. Radius operasi jaringan distribusi tegangan rendah dibatasi oleh: a. kota. dengan radius pelayanan berkisar 350 meter. Hampir seluruh (sebagian besar) transmisi SKTM telah terpasang di wilayah PT. Pembangunan transmisi SKTM lebih mahal dan lebih rumit. b. Pada saat pelaksanaan pembangunan transmisi SKTM sering menimbulkan masalah. Jika terjadi gangguan. Beberapa hal yang perlu diketahui: a. dan lain-lain). c. Luas penghantar jaringan. . khususnya terjadinya kemacetan lalu lintas. Saat ini transmisi SUTR pada umumnya menggunakan penghantar Low Voltage Twisted Cable (LVTC). PLN (Persero) Distribusi DKI Jakarta & Tangerang. Susut tegangan yang diijinkan adalah + 5% dan – 10 %. karena harga kabel yang jauh lebih mahal dibanding penghantar udara dan dalam pelaksanaan pembangunan harus melibatkan serta berkoordinasi dengan banyak pihak. karena berada di tengah kota dan pemukiman padat. Pertimbangan segi estetika. Saluran Udara Tegangan Rendah (Sutr) 40 Volt – 1000 Volt Transmisi SUTR adalah bagian hilir dari sistem tenaga listrik pada tegangan distribusi di bawah 1000 Volt. 6. b.

Faktor estetika. 3) Jika terjadi gangguan. Oleh karenanya transmisi SKTR pada umumnya dipasang di daerah perkotaan. misalnya karena menggunakan transmisi SKTM.36 7. Saluran Kabel Tegangan Rendah (Sktr) 40 Volt – 1000 Volt Ditinjau dari segi fungsi. Penggunaan SKTR karena mempertimbangkan: a. b. antaralain: 1) Biaya investasi mahal. Jika menggunakan SUTR sebenarnya dari segi jarak aman/ ruang bebas (ROW) tidak ada masalah. Sistem transmisi tegangan menengah yang ada. Dibanding transmisi SUTR. . terutama di tengah-tengah kota yang padat bangunan dan membutuhkan aspek estetika. karena SUTR menggunakan penghantar berisolasi. transmisi SKTR memiliki fungsi yang sama dengan transmisi SUTR. transmisi SKTR memiliki beberapa kelemahan. perbaikan lebih sulit dan memerlukan waktu relatif lama untuk perbaikannya. Perbedaan mendasar adalah SKTR di tanam didalam di dalam tanah. 2) Pada saat pembangunan sering menimbulkan masalah.

Selain tembaga. c. Konstruksi jenis kabel terdiri dari : 1) Penghantar pejal (solid) 2) Penghantar berlilit (stranded) 3) Penghantar serabut (fleksibel) 4) Penghantar persegi (busbar) c. Konduktor. Kabel terdiri dari beberapa macam berdasarkan klasifikasinya. Semikonduktor. Jumlah Penghantar terdiri dari : 1) Penghantar simplex 2) Penghantar duplex 3) Penghantar triplex 37 . ada banyak faktor yang mempengaruhi baik atau tidaknya penyaluran tersebut. Adapun klasifikasi tersebut adalah : a. Penghantar listrik atau kabel adalah media untuk mengantarkan arus listrik atau informasi. khusus sebagai pengantar arus listrik. umumnya terbuat dari tembaga dan umumnya dilapisi dengan pelindung. Bahan baku terdiri dari : 1) Tembaga 2) Alumunium 3) Kuningan b.BAB III A. Isolator 2. b. Bahan dari kabel ini beraneka ragam. Bahan hantaran listrik dibagi menjadi beberapa bagian yaitu : a. ada juga kabel yang terbuat dari serat optik. yang disebut dengan fiber optic cable. Dalam penyaluran tenaga listrik. KESIMPULAN 1.

Kabel NYFGbY f. Yaitu : a.38 4) Penghantar quadruplex d. Kabel AAAC h. 5. Kabel NYM c. Kabel BC (Bar Cable) 4. Kabel NYA b. Ada beberapa macam kabel yang biasanya dipakai pada instalasi listrik residensial. Untuk nomenklatur kabel dapat dilihat pada tabel nomenklatur kabel diatas pada bab dua. Spesifikasi kabel telah ditentukan dalam PUIL 2000 sebagaimana dalam tabel berikut ini : . Kabel NYAF d. Kegunaa dan fungsi penghantar terdiri dari : 1) Kabel fleksibel 2) Kabel tanah 3) Keadaan darurat 4) Kabel kedap 5) Penghantar aktif 6) Penghantar bumi 7) Penghantar netral (N) 8) Penghantar PEN (nol) 9) Penghantar pembumian 10) Penghantar pilin 11) Penghantar proteksi (PE) 3. Kabel NYY e. Kabel ACSR g. Kabel ACAR i.

rugi tegangannya maksimal sebesar 10 persen. iv. Untuk kabel berpenghantar tembaga. Penyambungan solder (sambungan mati).1 “Penyambungan antar penghantar harus dilakukan dengan baik dan kuat dengan cara sebagai berikut: i. Menurut PUIL 2000 pasal 7. Penyambungan selongsong dengan sekrup. kekuatan mekanik dan pertimbangan fisik lainnya. Nomenklaturnya dimulai dengan huruf N… 6.39 a. susut tegangan maksimum sesuai impedansi kabel dan karakteristik beban. kinerja pada hubungan pendek dari arus gangguan yang mungkin terjadi dan karakteristik gawai proteksi. Rugi tegangan dalam penerangan yang hanya diperbolehkan adalah sebesar 5 persen dari arus nominal. Penyambungan selongsong dipres. . c.11. KHA (Kekuatan Hantar Arus). Penyambungan selongsong tanpa sekrup. Kemampuan Hantar Arus dipengaruhi oleh suhu penghantar yang di izinkan dan kondisi sekitar sejauh panas yang dipindahkan. Nilai tegangan pengenal di dalam tanda kurung adalah nilai kerja tegangan tertinggi antara fase dan netral yang diperbolehkan. dengan melihat pada jenis isolasi dan cara pemasangannya. 8. ii. serta tidak boleh pula dipasang sebagai kabel udara. iii.1. Berarti kemampuan hantar arus untuk masing-masing penghantar berbeda ukuran dan spesifikasinya. b. 7. Kabel instalasi dalam tabel di atas tidak boleh dipasang pada atau di dalam tanah. Namun jiga pada instalasi industry seperti motor.

1 Warna biru digunakan untuk menandai penghantar netral atau kawat tengah.2. khususnya warna hitam.1. penghantar pengaman. maka penggunaan warna lain dan warna loreng lain tidak dilarang.2. Warna biru tidak boleh digunakan untuk menandai penghantar pembumian.3.2. guna keseragaman dan mempertinggi keamanan.2 Tentang Identifikasi penghantar dengan warna dijelaskan bahwa : 7.1 dan 7. pada instalasi listrik dengan penghantar netral.2.2.40 v. selama tidak bertentangan dengan 7. Bila dalam pembuatan dan pemeliharaan perlengkapan tersebut.2. Menurut PUIL 2000 pasal 7. Hal tersebut di atas diperlukan untuk mendapatkan kesatuan pengertian mengenai penggunaan sesuatu warna atau warna loreng yang digunakan untuk mengenal penghantar. Penyambungan puntiran kawat padat dengan memuntir dan memakai las dop. vii. 7. jika pada instalasi listrik tersebut tidak terdapat penghantar netral atau kawat tengah. vi. Jika diperlukan satu warna tambahan lagi untuk mengidentifikasi bagian .1.2.1 Untuk pengawatan di dalam perlengkapan listrik disarankan agar hanya digunakan satu warna.1 Peraturan warna selubung penghantar dan warna isolasi inti penghantar yang tercantum dalam pasal ini berlaku untuk semua instalasi tetap atau sementara.1 Warna loreng hijau-kuning hanya boleh digunakan untuk menandai penghantar pembumian. 7. Penyambungan dengan lilitan kawat.3.2.4. Penyambungan las atau las perak (sambungan mati). dan penghantar yang menghubungkan ikatan penyama potensial ke bumi. 7. warna biru tersebut tidak boleh digunakan untuk menandai penghantar lainnya. dianggap perlu menggunakan lebih dari satu warna. Warna biru hanya dapat digunakan untuk maksud lain. Untuk menghindarkan kesalahan. termasuk instalasi dalam perlengkapan listrik.

2-1. Saluran Kabel Tegangan Rendah (Sktr) 40 Volt – 1000 Volt .1 Kabel berselubung berinti tunggal boleh digunakan untuk fase. kawat tengah.41 pengawatan secara terpisah. Saluran Udara Tegangan Rendah (Sutr) 40 Volt – 1000 Volt g.500 Kv b. dianjurkan mendahulukan pemakaian warna coklat. Saluran Udara Tegangan Menengah (Sutm) 6 Kv – 30 Kv e. Saluran Kabel Tegangan Menengah (Sktm) 6 Kv – 20 Kv f. 7. Fasa 1 à L1/R à merah à U/X Fasa 2 à L2/S à kuning à V/Y Fasa 3 à L3/T à hitam à W/Z Netral à N à biru Pembumian à PE à Loreng setrip hijau kuning Kutub positif à L+ Kutub negative à LKawat tengah à m 9.2. atau penghantar pembumian asalkan isolasi kedua ujung kabel yang terlihat (bagian yang dikupas selubungnya) dibalut dengan pembalut berwarna yang dibuat khusus untuk itu. Guna mendapatkan kesamaan pengenal menggunakan kabel pada instalasi digunakan teknik identifikasi warna atau lambang. Saluran Kabel Tegangan Tinggi (Sktt) 30 Kv – 150 Kv d.6. netral. atau dengan cara lain yang memenuhi Tabel 7. Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (Sutet) 200 Kv . Diantaranya adalah : a. Saluran Udara Tegangan Tinggi (Sutt) 30 Kv – 150 Kv c. Aplikasi penggunaan kabel terbagi menjadi beberapa macam menurut kebutuhannya.

html pada tanggal 4 Maret 2011 pukul 23.html pada tanggal 4 Maret 2011 pukul 23. Instalasi Listrik Arus Kuat I. Bandung: Penerbit Bina Aksara. Jakarta : PUK2P.blogspot. Jakarta – LIPI Setiawan dan Van Harten (1985).wikipedia. Persyaratan Umum Instalasi Listrik 2000 (PUIL 2000).00 Diakses dari http://technoku. 2000.00 John B Robertson (1985).00 Diakses dari http://www.wordpress.com/2009/08/kemampuan-hantar-arus- kha.or.00 Diakses dari http://ecaknyo.00 Diakses dari http://www.com/2009/01/jenis-jenis-kabel.com/2010/09/22/persyaratan-umum-instalasilistrik/ pada tanggal 4 Maret 2011 pukul 23.00 Diakses dari http://id.gtkabel. Bandung: Penerbit Yrama Widya.blogspot. Diakses dari http://dekop.00 Diakses dari http://kamuslistrik.org/wiki/Kabel_listrik pada tanggal 4 Maret 2011 pukul 23. Ketrampilan Teknik Listrik Praktis. Bandung: Penerbit Bina Aksara.co. 2004.php?kk=kabel pada tanggal 4 Maret 2011 pukul 23.id/info. Jakarta : Yayasan PUIL. Syam Hardy (1985).blogspot.DAFTAR PUSTAKA APEI.html pada tanggal 4 Maret 2011 pukul 23. . Materi Kursus / Pembekalan Uji Keahlian Bidang Teknik Tenaga Listrik Kualifikasi : Ahli Muda.total. Peraturan Umum Instalasi Listrik (PUIL) Tahun 2000. Panitia PUIL.id/ pada tanggal 4 Maret 2011 pukul 23. Listrik Elektronika Rumah Tangga.com/2010/02/jenis-kabel-dan- nomenklatur-kabel.

Tim redaksi KAMUS BESAR BAHASA INDONESIA. 1997. Jakarta : Balai Pustaka . Kamus Besar Bahasa Indonesia.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->