PEMBAHASAN

Struma adalah tumor (pembesaran) pada kelenjar tiroid. Biasanya dianggap membesar bila kelenjar tiroid lebih dari 2x ukuran normal. Pembesaran kelenjar tiroid sangat bervariasi dari tidak terlihat sampai besar sekali dan mengadakan penekanan pada trakea, membuat dilatasi sistem vena serta pembentukan vena kolateral Struma nodosa atau struma adenomatosa terutama di temukan di daerah pegunungan karena defisiensi iodium. Struma endemik ini dapat dicegah dengan substitusi iodium. Di luar daerah en demik, struma nodosa ditemukan secara insidental atau pada keluarga tertentu. Etiologinya umumnya multifaktorial. Biasanya tiroid sudah membesar sejak usia muda dan berkembang menjadi multinodular pada saat dewasa. Struma multinodosa biasanya ditemukan pa da wanita berusia lanjut, dan perubahan yang terdapat pada kelenjar berupa hiperplasia sampai bentuk involusi. Kebanyakan struma multinodosa dapat dihambat oleh tiroksin. Penderita struma nodosa biasanya tidak mengalami keluhan karena tidak ada hipotiroidi sme atau hipertiroidisme. Nodul mungkin tunggal, tetapi kebanyakan berkembang menjadi multinoduler yang tidak berfungsi. Degenerasi jaringan menyebabkan kista atau adenoma. Karena pertumbuhannya yang sering berangsur-angsur, struma dapat menjadi besar tanpa gejala kecuali benjolan di leher. Sebagian penderita dengan struma nodosa dapat hidup dengan strumanya tanpa gangguan . Klasifikasi: Pada struma gondok endemik, Perez membagi klasifikasi menjadi: ‡ Derajat 0: tidak teraba pada pemeriksaan ‡ Derajat I: teraba pada pemeriksaan, terlihat hanya kalau kepala ditegakkan ‡ Derajat II: mudah terlihat pada posisi kepala normal ‡ Derajat III: terlihat pada jarak jauh. Pada keadaan tertentu derajat 0 dibagi menjadi: ‡ Derajat 0a: tidak terlihat atau teraba tidak besar dari ukuran normal. ‡ Derajat 0b: jelas teraba lebih besar dari normal, tetapi tidak terlihat bila kepala ditegakkan.2 Burrow menggolongkan struma nontoksik sebagai berikut: Nontoxic diffuse goiter Endemic Iodine deficiency Iodine excess Dietary goitrogenic Sporadic Conngenital defect in thyroid hormone biosyntesis Chemichal agents, e.g lithium, thiocyanate, p aminosalicylic acid Iodine deficiency Compensatory following thyroidectomy Nontoxic nodular goiter due to causes listed above Uninodular or multinodular Functional, nonfunctional, or both.1,7 Dari aspek fungsi kelenjar tiroid, yang tugasnya memproduksi hormon tiroksin, maka bisa dibagi menjadi: ‡ Hipertiroidi; sering juga disebut toksik (walaupun pada kenyataannya pada penderita

ini tidak diju mpai adanya toksin), bila produksi hormon tiroksin berlebihan. ‡ Eutiroid; bila produksi hormon tiroksin normal. ‡ Hipotiroidi; bila produksi hormon tiroksin kurang. ‡ Struma nodosa non toksik; bila tanpa tanda tanda hipertiroidi Berdasarkan kemampuan mena ngkap iodium radioaktif, nodul dibedakan menjadi: - nodul dingin (cold nodule) - nodul hangat (warm nodule) - nodul panas (hot nodule) Berdasarkan konsistensinya dibagi menjadi: (-) nodul lunak (-) nodul kistik (-) nodul keras (-) nodul sangat keras STRUMA NON TOKSIK Struma non toksik adalah pembesaran kelenjar tiroid pada pasien eutiroid, tidak berhubungan dengan neoplastik atau proses inflamasi. Dapat difus dan simetri atau nodular. Apabila dalam pemeriksaan kelenjar tiroid teraba suatu nodul, maka pembesaran ini disebut struma nodosa. Struma nodosa tanpa disertai tanda tanda hipertiroidisme disebut struma nodosa non toksik. Struma nodosa atau adenomatosa terutama ditemukan di daerah pegunungan karena defisiensi iodium. Biasanya tiroid sudah mlai mem besar pada usia muda dan berkembang menjadi multinodular pada saat dewasa. Struma multinodosa terjadi pada wanita usia lanjut dan perubahan yang terdapat pada kelenjar berupa hiperplasi sampai bentuk involusi. Kebanyakan penderita struma nodosa tidak mengalami keluhan karena tidak ada hipotiroidisme atau hipertiroidisme. Nodul mungkin tunggal tetapi kebanyakan berkembang menjadi multinoduler yang tidak berfungsi. Degenerasi jaringan menyebabkan kista atau adenoma. Karena pertumbuhannya sering berangsur-angsur, struma dapat menjadi besar tanpa gejala kecuali benjolan di leher. Walaupun sebagian struma nodosa tidak mengganggu pernapasan karena menonjol ke depan, sebagian lain dapat menyebabkan penyempitan trakea jika pembesarannya bilateral. Pendorongan bilate ral demikian dapat dicitrakan dengan foto Roentgen polos (trakea pedang). Penyempitan yang berarti menyebabkan gangguan pernapasan sampai akhirnya terjadi dispnea dengan stridor inspirator (Noer, 1996) .

Manifestasi klinis Struma nodosa dapat diklasifik asikan berdasarkan beberapa hal (Mansjoer, 2001) : Berdasarkan jumlah nodul : bila jumlah nodul hanya satu disebut struma nodosa soliter (uninodosa) dan bila lebih dari satu disebut multinodosa. Berdasarkan kemampuan menangkap yodium radoiaktif : nodul dingin, nodul hangat, dan nodul panas. Berdasarkan konsistensinya : nodul lunak, kistik, keras, atau sangat keras. Pada umumnya pasien struma nodosa datang berobat karena keluhan kosmetik atau ketakutan akan keganasan. Sebagian kecil pasien, khususnya yan g

1994). bahkan tidak jarang intuk konfirmasi diagnostik tersebut sampai memelukan CT-scan leher. seperti kulit jeruk. T3 sangat membantu untuk hipertiroidisme. 1994).0-2. Palpasi dari belakang penderita dengan ibu j ari kedua tangan pada tengkuk penderita dan jari jari lain meraba benjolan pada leher penderita. 1994). kadar normal pada orang dewasa antara 1. Pada palpasi harus diperhatikan : lokalisasi benjolan terhadap trakea (mengenai lobus kiri. Antibodi terhadap macam-macam antigen tiroid ditemukan pada serum penderita dengan penyakit tiroid autoimun. tetapi belum dapat membedakan dengan pasti ganas atau . Apakah sebelumnya penderita pernah mengalami sakit leher bagian depan bawah disertai peningkatan suhu tubuh (tiroiditis kronis). Diperhatikan kulit di atasnya apakah hiperemi. Gejala penekanan ini data juga oleh tiroiditis kronis karena konsistensinya yang keras (Tim penyusun. 1994). 2001) : jumlah nodul konsistensi nyeri pada penekanan : ada atau tidak pembesaran gelenjar getah bening Inspeksi dari depan penderita. Pemeriksaan T4 total dikerjakan pada semua penderita penyakit tiroid. dan beberapa bentuk kelainan.antibodi antigen koloid ke dua (CA2 antibodies) .thyroid stimulating hormone antibody (TSA) DIAGNOSIS Anamnesa sangatlah pentinglah untuk mengetahui patogenesis atau macam kelainan dari struma nodosa non toksika tersebut.antibodi mikrosomal . umumnya metastase karsinoma tiroid pada rantai juguler (Tim penyusun. PEMERIKSAAN PENUNJANG MELIPUTI: Pemerikasaan laboratorium yang digunakan dalam diagnosa penyakit tiroid terbagi atas: a. foto rontgen leher [posisi AP dan Lateral diperlukan untuk evaluasi kondisi jalan nafas sehubungan dengan intubasi anastesinya. namun pada umumnya pada keganasan nodulnya biasanya soliter dan konsistensinya keras sampai sangat keras. Atau penderita datang karena benjolan di kepala yang ternyata suatu metastase karsino ma tiroid pada kranium (Tim penyusun. sedangkan ion pertechnetate hanya ikut dalam proses trapping. 1996). Perlu ditanyakan apakah penderita dari daerah endemis dan banyak tetangga yang sakit seperti penderita (struma endemik). atau pembesaran struma retrosternal yang pada umumnya secara klinis pun sudah bisa diduga. Penilaian fungsi kelenjar tiroid dapat juga dilakukan karena adanya sistem transport pada membran sel tiroid yang menangkap iodida dan anion lain.7 ng/dL. mengeluh adanya gejala mekanis. TSH sangat membantu untuk mengetahui hipotiroidisme primer di mana basal TSH meningkat 6 mU/L.dengan struma nodosa besar. nampak suatu benjolan pada leher bagian depan bawah yang bergerak ke atas pada waktu penderita menelan ludah. Biasanya tidak disertai rasa nyeri kecuali bila timbul perdarahan di dalam nodul (Noer.6 nmol/L atau 0. Keganasan tiroid yang infiltrasi nervus rekurens menyebabkan terjadinya suara parau (Tim penyusun. cair. ulserasi.65-1. . Iodida selain mengalami prose s trapping juga ikut dalam proses organifikasi. b. 1994). Pemeriksaan Ultrasonografi (USG) Pemeriksaan ini dapat membedakan antara padat. yaitu penekanan pada esophagus (disfagia) atau trakea (sesak napas) (Noer. c. Harus juga diraba kemungkinan pembesaran kelenjar getah bening leher.antibodi tiroglobulin . Pemeriksaan Rontgen Pemeriksaan radiologis dengan foto rontgen dapat memperjelas adanya deviasi trakea . Yang multiple biasanya tidak ganas kecuali bila salah satu nodul tersebut lebih menonjol dan lebih keras dari pada yang lainnya. Kadang-kadang meningkat sampai 3 kali normal. 1996).antibodi permukaan sel (cell surface antibody) . kanan atau keduanya) ukuran (diameter terbesar dari benjolan. Pemeriksaan untuk mengukur fungsi tiroid Pemerikasaan hormon tiroid dan TSH paling sering menggunakan radioimmuno -assay (RIA) dan cara enzyme-linked immuno-assay (ELISA) dalam serum atau plasma darah. Pada status lokalis pemeriksaan fisik perlu dinilai (Mansjoer. nyatakan dalam sentimeter) konsistensi mobilitas infiltrat terhadap kulit/jaringan sekitar apakah batas bawah benjolan dapat diraba (bila tak teraba mungkin ada bagian yang masuk ke retrosternal) Meskipun keganasan dapat saja terjadi pada nodul yang multiple. Uji tangkap tiroid ini berguna untuk menentukan fungsi dan sekaligus membedakan berbagaii penyebab hipertiroidisme dan juga menentukan dosis iodiu m radioaktif untuk pengobatan hipertiroidisme. Apakah ada yang meninggal akibat penyakit yang sama dengan penderita (karsinoma tiroi d tipe meduler) (Tim penyusun. d. kadar normal pada orang dewasa 60 -150 nmol/L atau 50-120 ng/dL. Pemeriksaan untuk menunjukkan penyebab gangguan tiroid. sedangkan tumor primernya sendiri ukurannya masih kecil. Kadang-kadang penderita datang dengan karena adanya benjolan pada leher sebelah lateral atas yang ternyata adalah metastase karsinoma tiroid pada kelenjar getah bening.

Pemeriksaan tiroid d engan menggunakan radioisotop dengan memanfaatkan metabolisme iodium yang erat hubungannya dengan kinerja tiroid bisa menggambarkan aktifitas kelenjar tiroid maupun bentuk lesinya.Jinak (negatif) Tiroid normal Nodul koloid Kista Tiroiditis subakut Tiroiditis Hashimoto . 22 -27. Kerugian pemeriksaan ini dapat memberika hasil negatif palsu karena lokasi biopsi kurang tepat. . Berikut ini penilaian FNAB untuk nodul tiroid.5 Termografi Metode pemeriksaan berdasarkan pengukuran suhu kulit pada suatu tempat dengan memakai Dynamic Telethermography. Pemeriksaan ini dilakukan khusus pada keadaan yang mencurigakan suatu keganasan.Dapat dipakai sebagai pengamatan lanjut hasil pengobatan. y Nodul panas bila penangkapan yodium lebih banyak dari pada sekitarnya. Pemerikasaan histopatologis dengan biopsi jarum halus (fine needle aspiration biopsy FNAB) akurasinya 80%.Dapat mendeteksi adanya jaringan kanker tiroid residif yang tidak menangkap iodium.5-3.0 ng/ml. pemeriksaan USG sangat membantu mengetahui adanya pembesaran tiroid. Dari hasil sidik tiroid dibedakan 3 bentuk : y Nodul dingin bila penangkapan yodium nihil atau kurang dibandingkan sekitarnya. Lesi tiroid atau sisa tiroid yang dilakukan VC dilakukan pemeriksaan patologi anatomis untuk memastika n proses ganas atau jinak serta mengetahui jenis kelainan histopatologis dari nodul tiroid dengan parafin block.Dapat menentukan jumlah nodul .Pada kehamilan di mana pemeriksaan sidik tiroid tidak dapat dilakukan. Uji tangkap tiroid tidak selalu sejalan dengan keadaan klinik dan kadar ho rmon tiroid. yaitu dengan prinsip daerah dengan fungsi yang lebih aktif akan menangkap radioaktivitas yang lebih tinggi. Radio isotop (Pemeriksaan sidik tiroid) Hasil pemeriksaan dengan radioisotop adala h teraan ukuran. Bila : Uptake > normal disebut Hot area Nodul hangat bila penangkapan yodium sama dengan sekitarnya.jinak. Petanda Tumor Pada pemeriksaan ini yang diukur adalah peninggian tiroglobulin (Tg) serum. pembuatan preparat yang kurang baik atau positif palsu karena salah interpretasi oleh ahli sitologi. Pemeriksaan dengan sidik tiroid sama dengan uji angkap tiroid. Mempergunakan jarum suntik no. teknik bi opsi kurang benar. .9o C dan dingin apabila <>o C. . hampir tidak menyababkan bahaya penyebaran sel-sel ganas. Pada pemeriksaan ini pasien diberi Nal peroral dan setelah 24 jam secara fotografik ditentukan konsentrasi yodium radioaktif yang ditangkap oleh tiroid. . 1996). Pembesaran kelenjar thyroid dengan gejala penekanan berupa : y Gangguan menelan . Normal : 15 ± 40 % dalam 24 jam f. Uptake < normal disebut Cold area (pada neoplasma) Dilakukan khusus pada keadaan yang mencurigakan suatu keganasan. Biopsi aspirasi jarum halus (Fine Needle Aspiration/FNA) y Potong Beku Pemeriksaan potong beku (VC = Vries coupe) pada operasi tiroidektomi diperlukan untuk meyakinkan bahwa nodul yang dioperasi tersebut suatu keganasan atau bukan. e. sehingga dapat mengecilkan nodul (Noer. Keadaan ini memperlihatkan aktivitas yang berlebih. yang tidak terlihat dengan sidik tiroid.Ganas (positif) Karsinoma tiroid papiler Karsinoma tiroid meduler Karsinoma tiroid anaplastik. Hal ini perlu diingat agar ja ngan sampai menentukan terapi definitif hanya berdasarkan hasil FNAB saja. Hasilnya disebut panas apabila perbedaan panas dengan sekitarnya > 0. Biopsi aspirasi jarum halus tidak nyeri. pada kelainan jinak rataa-rata 323 ng/ml.Dapat mengukur volume dari nodul t iroid .Dapat membedakan antara lesi tiroid padat dan kistik. Kadar Tg serum normal antara 1. Pemeriksaan ini paling sensitif dan spesifik bila dibanding dengan pemeriksaan lain. y Memakai uptake J131 yang didistribusikan ke tiroid untuk menentukan fu ngsi tiroid. dan pada keganasan rata -rata 424 ng/ml. bentuk lokasi.Curiga (indeterminate) Neoplasma sel folikuler Neoplasma Hurthle Temuan kecurigaan keganasan tai tidak pasti . Hal ini menunjukkan sekitarnya. Pada penelitian Alves didapatkan bahwa pada yang ganas semua hasilnya panas.Untuk mengetahui lokasi dengan tepat benjolan tiroid yang akan dilakukan biopsi terarah . dan yang utama ialah fungsi bagian-bagian tiroid. Kelainan-kelainan yang dapat didiagnosis dengan USG : kista adenoma kemungkinan karsinoma tiroiditis USG bermanfaat pada pemeriksaan tiroid untuk: . PENATALAKSANAAN Operatif Indikasi : 1. Ini berarti fungsi nodul sama dengan bagian tiroid yang lain. Pada kista dapat juga dihisap cairan secukupnya.

nyeri saat menoleh. Ascessorius y Modifikasi 2 : mempertahankan n. semua kelenjar tiroid diangkat y Tiroidectomy subtotal bilateral Mengangkat sebagian besar tiroid lobus kanan dan sebagian kiri. bila subtotal sisa 3 gram VII. Preparat : Thyrax tablet Dosis : 3x75 Ug/hari p. diagnosa mengarah pada Struma Nodusa Non Toksik non difus Dari pemeriksaan penunjang: Tidak didapatkan gangguan pada fungsi Tiroid (menyingkirkan dugaan toksik) USG: Kista Tiroid kiri. Segera y Perdarahan dari a. Keganasan kelenjar thyroid 3. Terapai supresif ini juga ditujukan terhadap metastase jauh yang tidak resektabel dan terapi adjuvan pada karsinoma tiroid diferensiasi baik yang inoperabel.maupun musculus) Inoperabel kontraindikasi operasi ada residu tumor setelah operasi metastase yang non resektabel Hormonal terapi dengan ekstrak tiroid diberikan selain untuk suplemen juga sebagai supresif untuk mencegah terjadinya kekambuhan pada pasca bedah karsinoma tiroid difere nsiasi baik (TSH dependence). Gangguan n.o KOMPLIKASI OPERASI : a.Gangguan pernafasan Suara parau 2. Kosmetik Macam Teknik Operasi : y y 3.6 x 20 mm dengan cairan koloid di dalam kista dan kalsifikasi 1 -2 biji. y Dari anamnesa tersebut. Bila terdapat pembesaran kelenjar getah bening leher maka dikerjakan juga deseksi kelenjar leher funsional atau deseksi kelenjar leher radikal/modifikasi tergantung ada tidaknya ekstensi dan luasnya ekstensi di luar kelenjar getah bening. Bila hanya satu sisi saja dilakukan subtotal lobektomi.omohyoideus dan kelenjar ludah submandibularis dan tail parotis. vena jugularis interna. sisa jaringan 2 -4 gram dibagian posterior untuk mencegah kerusakan parathyroid atau syaraf reccurent laryngeus.Jugularis interna y Fungsional: n. Tracheomalacia atau trachea kolaps Krisis tiroid . sisa jaringan tiroid 1 -2 gram. Pasien baru mengetahui benjolan tersebut 2-3 minggu yang lalu. m. Dari pemeriksaan fisik: Status generalisata: DBN. sternocleidomastoideus dan m. mengangkat satu lobus. benjolan ikut bergerak Benjolan berbatas tegas Benjolan lunak Benjolan tidak terfiksir (melekat pada trakhea. mengarah pada diagnosis struma.27.Acessorius. tiroidea superior y Dispneu 1. Ada 3 modifikasi : y Modifikasi 1 : mempertahankan n. reccurent laryngeus y y Kelenjar paratiroid terangkat menyebabkan hipokalsemia sehingga terjadi tetani (sindrom carpo-pedal : kejang fokal pada tangan dan kaki) y y y Tiroidectomi Total. Mengangkat semua nodi yang terlibat y RND (Diseksi Neck Radikal) Mengangkat seluruh jaringan limfoid pada leher sisi yang bersangkutan dengan menyertakan n. serta nyeri saat berbicara. assesorius . sedangkan kedua lobus terkena dilakukan subtotal tiroidektomi. Struma nodus dan diffusa toxica 4. Biasanya dilakukan pemeriksaan Frosen section Near Total tiroidectomi Isthmulobectomy dextra dan lobectomy subtotal sinistra dan sebaliknya. diagnosa mengarah pada Struma Nodusa Non Toksik dan menyingkirkan DD difus Penegakan Diagnosa: Struma Nodusa Non Toksik . tanpa exolpthalmus Status lokalis: y y y y y y Teraba benjolan sebesar + 3cm Benjolan tidak multi Saat pasien menelan. tanpa tremor.Acessorius dan v. recurrens 2. Dari pemeriksaan penunjang.sterrnocleidomastoideus Radio Terapi: Radioterapi diberikan pada keganasan tiroid yang : Hypotyroid terjadi setelah 2 tahun PROGNOSA Dubia ad Bonam RESUME KASUS Penegakan Diagnosa: Dari anamnese: y y y y Pasien kurang mengonsumsi yodium Pasien merasa nyeri telan. Tindakan operasi yang dikerjakan tergantung jumlah lobus tiroid yang terkena. Lama y Suara kasar karena kerusakan n. mengangkat isthmus Lobectomy. Isthmulobectomy . Hamorragi Dari pemeriksaan fisik.terjadi 8 ± 24 jam pasca operasi Tanda-tanda : Gelisah Gangguan saluran gastrointestinal Kulit hangat & basah Suhu > 38 C Nadi > 160 x/menit Tekanan darah naik b. m. v.jugularis eksterna dan interna.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful