BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama menjadi pemandu dalam upaya mewujudkan suatu kehidupan yang bermakna, damai dan bermartabat. Menyadari betapa pentingnya peran agama bagi kehidupan umat manusia maka internalisasi nilai-nilai agama dalam kehidupan setiap pribadi menjadi sebuah keniscayaan, yang ditempuh melalui pendidikan baik pendidikan di lingkungan keluarga, di Satuan pendidikan nonformal penyelenggara pendidikan kesetaraan maupun masyarakat. Pendidikan Agama dimaksudkan untuk peningkatan potensi spiritual dan membentuk peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertidakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia. Akhlak mulia mencakup etika, budi pekerti, dan moral sebagai perwujudan dari pendidikan Agama. Peningkatan potensi spritual mencakup pengenalan, pemahaman, dan penanaman nilai-nilai keagamaan, serta pengamalan nilainilai tersebut dalam kehidupan individual ataupun kolektif kemasyarakatan. Peningkatan potensi spritual tersebut pada akhirnya bertujuan pada optimalisasi berbagai potensi yang dimiliki manusia yang aktualisasinya mencerminkan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan. Pendidikan Agama Islam diberikan dengan mengikuti tuntunan bahwa agama diajarkan kepada manusia dengan visi untuk mewujudkan manusia yang bertidakwa kepada Allah SWT dan berakhlak mulia, serta bertujuan untuk menghasilkan manusia yang jujur, adil, berbudi pekerti, etis, saling menghargai, disiplin, harmonis dan produktif, baik personal maupun sosial. Tuntutan visi ini mendorong dikembangkannya standar kompetesi sesuai dengan jenjang pendidikan yang secara nasional ditandai dengan ciri-ciri:

1

Menumbuhkembangkan akidah melalui pemberian. pembiasaan. dan pengembangan pengetahuan. penghayatan. Tujuan Pendidikan Agama Islam bertujuan untuk: 1. tidakwa. khususnya dalam memajukan peradaban bangsa yang bermartabat. 2 . pengamalan. orang tua peserta didik dan masyarakat sangat penting dalam mendukung keberhasilan pencapaian tujuan Pendidikan Agama Islam.2. 2. Mengakomodasikan keragaman kebutuhan dan sumber daya pendidikan yang tersedia. dan perubahan yang muncul dalam pergaulan masyarakat baik dalam lingkup lokal. Pendidik diharapkan dapat mengembangkan metode pembelajaran sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar. Manusia seperti itu diharapkan tangguh dalam menghadapi tantangan.1. Lebih menitik beratkan pencapaian kompetensi secata utuh selain penguasaaan materi. 1. nasional. regional maupun global. serta aktif membangun peradaban dan keharmonisan kehidupan. Peran semua unsur Satuan pendidikan nonformal penyelenggara pendidikan kesetaraan. Pendidikan Agama Islam diharapkan menghasilkan manusia yang selalu berupaya menyempurnakan iman. dan akhlak. Pencapaian seluruh kompetensi dasar perilaku terpuji dapat dilakukan tidak beraturan. serta pengalaman peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang keimanan dan ketakwaannya kepada Allah SWT. pemupukan. hambatan. Memberiklan kebebasan yang lebih luas kepada pendidik di lapangan untuk mengembangkan strategi dan program pembelajaran seauai dengan kebutuhan dan ketersedian sumber daya pendidikan. 3.

keselarasan. Mewujudkan manuasia Indonesia yang taat beragama mulia dan berakhlak yaitu manusia yang berpengetahuan. berdisiplin. adil. menjaga keharmonisan secara personal dan sosial serta mengembangkan budaya agama dalam komunitas masyarakat. Al Qur’an dan Hadits 2. bertoleransi (tasamuh). produktif. hubungan manusia dengan diri sendiri.3.2. Ruang Lingkup Ruang lingkup Pendidikan Agama Islam meliputi aspek-aspek sebagai berikut. jujur. 3 . Tarikh dan Kebudayaan Islam. hubungan manusia dengan sesama manusia. etis. Akhlak 4. 1. Aqidah 3. dan keserasian antara hubungan manusia dengan Allah SWT. 1. rajin beribadah. Fiqih 5. dan hubungan manusia dengan alam sekitarnya. cerdas. Pendidikan Agama Islam menekankan keseimbangan.

3. Mendidik anak agar beramal di dunia ini untuk memetik hasil di akhirat. Pendidikan Islam merupakan pendidikan yang bertujuan membentuk individu menjadi makhluk yang bercorak diri berderajat tinggi menurut ukuran Allah dan isi pendidikan adalah mewujudkan tujuan ajaran Allah . Menyiapkan generasi muda untuk memegang peranan-peranan tertentu dalam masyarakat pada masa yang akan datang. An-Naquib Al-Atas yang dikutip oleh Ali mengartikan pendidikan Islam ialah usaha yang dialakukan pendidik terhadap anak didik untuk pengenalan dan pengakuan tempat-tempat yang benar dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan sehingga membimbing kearah pengenalan dan pengakuan akan tempat Tuhan yang tepat di dalam tatanan wujud dan keberadaan. Menurut Hasan Langgulung Pendidikan Islam ialah pendidikan yang memiliki empat macam fungsi yaitu : 1. Memindahkan ilmu pengetahuan yang bersangkutan dengan peranan-peranan tersebut dari generasi tua kepada generasi muda. Memindahkan nilai-nilai yang bertujuan untuk memilihara keutuhan dan kesatuan masyarakat yang menjadi syarat mutlak bagi kelanjutan hidup suatu masyarakat dan peradaban. Adapun Mukhtar Bukhari yang dikutip oleh Halim Soebahar mengartikan 4 . Dengan pengertian lain Pendidikan Islam merupakan suatu bentuk kepribadian utama yakni kepribadian muslim.BAB II KAJIAN TEORI Pendidikan Islam yaitu bimbingan jasmani dan rohani menuju terbentuk kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam. 4. kepribadian yang memiliki nilai-nilai agama Islam memilih dan memutuskan serta berbuat berdasarkan nilai-nilai Islam dan bertanggung jawab sesuai dengan nilai-nilai Islam. 2. Peranan ini berkaitan erat dengan kelanjutan hidup masyarakat sendiri.

Pendidikan penyelenggaraan Islam didorong adalah oleh jenis hasrat pendidikan dan yang pendirian cita-cita dan untuk semangat mengejewantahkan nilai-nilai Islam baik yang tercermin dalam nama lembaga maupun dalam kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan. Kedua merupakan usaha yang sistimatis pragmatis dan metodologis dalam membimbing anak didik atau tiap individu dalam memahami menghayati dan mengamalkan ajaran Islam secara utuh demi terbentuk kepribadian yang utama menurut ukuran Islam. Menurut Fadalahil Al-Jamali yang dikutip oleh Muzayyin Arifin pendidikan Islam adalah proses yang mengarahkan manusia kepada kehidupan 5 . Kendati dalam peta pemikiran Islam upaya menghubungkan Islam dengan pendidikan masih diwarnai banyak perdebatan namun yang pasti relasi Islam dengan pendidikan bagaikan dua sisi mata uang mereka sejak awal mempunyai hubungan filosofis yang sangat mendasar baik secara ontologis epistimologis maupun aksiologis.pendidikan Ialam adalah seganap kegiatan yang dilakukan seseorang atau suatu lembaga untuk menanamkan nilai-nilai Islam dalam diri sejumlah siswa dan keseluruhan lembaga-lembaga pendidikan yang mendasarkan program pendidikan atau pandangan dan nilai-nilai Islam. Dan ketiga merupakan segala upaya pembinaan dan pengembangan potensi anak didik untuk diarahkan mengikuti jalan yang Islami demi memperoleh keutamaan dan kebahagiaan hidup di dunia dan di akherat. Yang dimaksud dengan pendidikan Islam disini adalah : pertama ia merupakan suatu upaya atau proses yang dilakukan secara sadar dan terencana membantu peserta didik melalui pembinaan asuhan bimbingan dan pengembangan potensi mereka secara optimal agar nanti dapat memahami menghayati dan mengamalkan ajaran Islam sebagai keyakinan dan pandangan hidup demi keselamatan di dunia dan akherat.

• Membantu peserta didik mencapai kesejahteraan lahir batin dangan membentuk mereka menjadi manusia beriman bertaqwa berakhlak mulia memiliki pengetahuan dan keterampilan berkepribadian integratif mandiri 6 . Pendidikan Islam sebagaimana rumusan diatas menurut Abd Halim Subahar memiliki beberapa prinsip yang membedakan dengan pendidikan lain Prinsip Pendidikan Islam antara lain : 1. 3. 6. oleh karena itu pendidikan Islam merupakan suatu proses kematangan perkembangan atau pertumbuhan baru dapat tercapai bilamana berlangsung melalui proses demi proses kearah tujuan transformatif dan inovatif.yang baik dan mengangkat derajat kemanusiaan sesuai dengan kemampuan dasar (fitroh) dan kemampuan ajar (2003: 18). 5. 2. Maka dengan demikian pendidikan Islam dari beberapa pengertian di atas penulis menyimpulkan bahwa pendidikan Islam sebagai usaha membina dan mengembangkan pribadi manusia baik dari aspek rohaniah jasmaniah dan juga harus berlangsung secara hirarkis. Prinsip tauhid Prinsip Integrasi Prinsip Keseimbangan Prinsip persamaan Prinsip pendidikan seumur hidup dan Prinsip keutamaan. 4. Sedangkan tujuan pendidikan Islam dapat dirumuskan sebagai berikut : • • Untuk membentuk akhlakul karimah. Membantu peserta didik dalam mengembangkan kognisi afeksi dan psikomotori guna memahami menghayati dan mengamalkan ajaran Islam sebagai pedoman hidup sekaligus sebagai kontrol terhadap pola fikir pola laku dan sikap mental.

7 . Dalam pandangan Islam karena salah satu misi utama pendidikan Islam adalah dalam rangka membantu peserta didik mencapai kesejahteraan lahir batin maka ia harus seimbang sebab bila ia hanya fokus pada pengembangan kreatifiats rasional semata tanpa diimbangi oleh kecerdasan emosional maka manusia tidak akan dapat menikmati nilai kemajuan itu sendiri bahkan yang terjadi adalah demartabatisasi yang menyebabkan manusia kehilangan identitas dan mengalami kegersangan psikologis dia hanya meraksasa dalam tehnik tapi merayap dalam etik. Demikian pula pendidikan Islam mesti bersifat integralitik arti ia harus memandang manusia sebagai satu kesatuan utuh kesatuan jasmani rohani kesatuan intelektual emosional dan spiritual kesatuan pribadi dan sosial dan kesatuan dalam melangsungkan mempertahankan dan mengembangkan hidup dan kehidupannya.dan menyadari sepenuh peranan dan tanggung jawab diri di muka bumi ini sebagai abdulloh dan kholifatulloh. Dengan demikian sesungguh pendidikan Islam tidak saja fokus pada education for the brain tetapi juga pada education for the heart.

BAB III PEMBAHASAN 3. Permasalahan pendidikan di kualitas. umum. 2007 : 7). Kondisi ironis pendidikan tersebut adalah mengenai goal setting yang ingin dicapai system pendidikan. Artinya. apa yang terjadi kemudian. Keempat merupakan masalah multidimensional. sehingga sulit dicari ujung pangkal pemecahannya (Tilaar. maka muncul adigium lelang pendidikan (Ahmad Baharuddin. Berbagai indicator kuantitatif dikemukakan berkenaan dengan membandingkan situasi pendidikan antara negara di kawasan Asia. Akan tetapi. pemakaian seragam baru. yakni lahirnya ambiguisitas dalam wilyah pendidikan yang terus berjalan di Indonesia. munculnya mitologi ruang pendidikan yang dikukuhkan dengan ritual pendidikan. antara lain Indonesia relevansi. penyuguhan uang “persembahan”. ambiguisitas kebijakan pemerintah yang sebenarnya sebagai pengelola potensi anak bangsa. analisis besar. 1991). anak bangsa dihadapkan pada ritual kompetisi. manajemen. justru pendidikan di bumi Indonesia semakin menjadi problem baru. dan yang dan GLLGHQWLÀNDVL?GDODP?HPSDW?NULVLV?SRNRN??\DLWX? PHQ\DQJNXW?PDVDODK?? keempat masalah masalah tersebut di atas. pembelian ramuan-ramuan” buku-buku paket baru. Pemerintah dengan sangat percaya diri memilih posisi lebih berpihak pada kelangan elite. pemilihan sekolah favorit. komparatif mendasar. secara elitisme. Muncul. Selain itu.1. dan segudang ritual lain. PERMASALAHAN YANG TERJADI Reformasi di Indonesia seakan menjadi cahaya impian yang akan memberikan banyak perubahan kehidupan bagi bangsa ini. namun pemerintah justru menjadi penjaga mitos pendidikan. khusunya pada sektor pendidikan. Permasalahan ini terjadi pada pendidikan secara umum di 8 . Gambaran riil adalah lahirnya tipe mechanic student di mana setiap peserta didik sudah diposisikan pada orientasi pasar sehingga pendidikan bukan lagi berbasis keilmuan dan kebutuhan bakat peserta didik.

Walaupun “anggapan” ini keliru dan dapat ditolak. Pendidikan Islam menjadi satu dalam dan sistem pendidikan tetap nasional. Tetapi pendidikan Islam dipandang selalu berada pada posisi deretan kedua atau posisi marginal dalam sistem pendidikan nasional di Indonesia. sebagaimana pula yang dialami oleh sebagian besar negara dan masyarakat Islam dibandingkan dengan mereka yang non Islam. masyarakat. dsb]. universitas. dan bahkan pada tingkah yang sangat menyedihkan yaitu “terorisme-pun” dianggap berasal dari lembaga pendidikan Islam. termasuk pendidikan Islam yang dinilai justru lebih besar problematikanya. tetapi pendidikan memiliki banyak wajah. 1991: 77). program diploma. 9 . keterbelakangan. fanatik. dan bahkan pendidikan apabila diberi “embel-embel Islam”. memproduk orang yang eksklusif. predikat bahkan keterbelakangan kemunduran pendidikan Islam sering “dinobatkan” hanya untuk kepentingan orang-orang yang tidak mampu atau miskin. Jadi sistem pendidikan itu satu yaitu memanusiakan manusia. sekolah tinggi. memanusiakan manusia agar benar-benar mampu menjadi khalifah (Mastuhu. 2003). meskipun sekarang secara berangsur-angsur banyak diantara lembaga pendidikan Islam yang telah menunjukkan kemajuan (Soeroyo. sifat. perubahan zaman. relevansi dengan kebutuhan.Indonesia. sekolah. dianggap berkonotasi kemunduran dan keterbelakangan. institusi. jenis dan jenjang [pendidikan keluarga. ketidak berdayaan. dan hakekat pendidikan adalah mengembangkan harkat dan martabat manusia. pondok pesantren. pendidikan Islam terjebak dalam lingkaran yang tak kunjung selesai yaitu persoalan tuntutan kualitas. madrasah. Pendidikan Islam juga dihadapkan dan terperangkap pada persoalan yang sama. karena pada kenyataannya beberapa lembaga pendidikan Islam “dianggap” sebagai tempat berasalnya kelompok tersebut. bahkan apabila diamati dan kemudian disimpulkan pendidikan Islam terkukung dalam kemunduran. melekat tetapi padanya. dan kemiskinan. Katakan saja. Dalam Undang-Undang sistem pendidikan nasional menyebutkan pendidikan Islam merupakan sub-sistem pendidikan nasional.

dana. Apakah ada sesuatu yang salah dalam sistem. visi. proses. sistem dan proses pendidikan Islam di Indonesia merupakan suatu yang tidak terelakkan. strategi pengembangan pendidikan Islam hendaknya dipilih dari kegiatan pendidikan yang paling mendesak. terutama pada sistem pendidikan persekolahan harus diupayakan secara terus menerus. dan orientasi pendidikan Islam. misi. penataan model.2. berkelanjutan. berposisi senteral yang akan menjadi modal dasar untuk usaha penataan dan pengembangan selanjutnya. Hal ini. perubahan paradigama. dan mampu menjawab perubahan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia.sebab tidak ada lembaga-lembaga pendidikan Islam manapun yang bertujuan untuk memproduk atau mencetak kelompok-kelompok orang seperti itu. berkesinambungan. sehingga usahanya dapat menjangkau pada perluasan dan pengembangan sistem pendidikan Islam luar sekolah. 3. tujuan. Tetapi realitas di masyakarat banyak perilaku kekerasan yang mengatasnamakan Islam. Harus dilakukan inovasi kelembagaan dan tenaga kependidikan. Katakan saja. menurut hemat penulis bahwa inovasi atau penataan fungsi pendidikan Islam harus dilakukan. Dengan demikian. PENATAAN PENDIDIKAN ISLAM Dari paparan di atas. seperti: perubahan kurikulum pendidikan secara terarah dan kontinu agar dapat mengikuti perubahan ilmu pengetahuan dan teknologi. muncul tuntutan masyarakat sebagai pengguna pendidikan Islam agar ada upaya penataan dan modernisasi sistem dan proses pendidikan Islam aga menjadi pendidikan yang bermutu. untuk menjawab permintaan dari arus globalisasi yang tidak dapat dibendung lagi (Proposal Jurnal Pendidikan Islam PAI FIAI UII : 2008) dan menjawab predikat keterbelakangan dan kemunduran yang selalu melekat pada pendidikan Islam. merupakan suatu kenyataan yang selama ini dihadapi oleh lembaga pendidikan Islam di Indonesia. dan sampai pada program-program pendidikan yang sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan dalam negeri ini. Hemat penulis. Olah karena itu. Tenaga 10 . relevan.

lembaga pendidikan. koordinasi. baik pada tingkat konsep maupun penyelenggaraan. Seluruh aktivitas intelektual dan proses pendidikan senantiasa dilandasi oleh nilai-nilai agama. strategi. Dengan kata lain. Kedua. Penataan fungsi pendidikan Islam. materi [kurikulum]. dan metodologi yang masih berorientasi pada sistem tradisional. 2002 :17). Perbaikan pada aspek materi [kurikulum]. artinya perpaduan. perlu ada perimbangan [balancing] antara disiplin atau kajiankajian agama dengan pengembangan intelektualitas dalam program kurikulum pendidikan. mulai dari fungsi. dan pengelolaannya. tanpaknya kita perlu menyusun langkah-langkah strategi sebagai upaya untuk kembali membangkitkan dan menempatkan pendidikan Islam pada peran yang semestinya dengan berusaha menata ulang paradigm pendidikan Islam sehingga pendidikan Islam kembali bersifat aktif-progresif. Perlu menempatkan kembali seluruh aktivitas pendidikan di bawah “kerangka dasar kerja spritual”. Langkah-langkah strategi tersebut diantaranya. dimana tujuan akhir dari seluruh aktivitas pendidikan sebagai upaya menegakkan ajaran agama dengan memanusiakan manusia dalam konteks kehidupannya. Sistem pendidikan Islam harus menganut integrated curriculum. ODQGDVDQ?ÀORVRÀV?GDQ?WHURUL??YLVL?GDQ?PLVL? SHQGLGLNDQ??KDUXV? dikembangkan dan dijabarkan atas konsep dasar kebutuhanan manusia. tetapi harus secara mendasar dan menyeluruh. pendekatan. tidak lagi adhoc dan incremental seperti sering terjadi di masa silam (Azyumardi Azra. perbaikan pada aspek manajemen pendidikan itu sendiri. metode. penataan pendidikan Islam haruslah bersifat komprehensif dan menyeluruh. harmonis. yaitu : Pertama. tentu dengan memperhatikan dunia kerja. tujuan. Dari gambaran tersebut di atas.kependidikan harus ditingkatkan etos kerja dan profesionalismenya. sebab dunia kerja mempunyai andil dan rentang waktu yang cukup besar dalam jangka kehidupan pribadi dan kolektif. dan kebulatan materimateri pendidikan dengan ajaran Islam. Tetapi usaha melakukan inovasi tidak hanya sekedar tanbal sulam. dan bukan separated subject 11 .

dan gagasan. karena selama masa kemunduran Islam.curriculum maunpun correlated curriculum (S. proses pendidikan akan memberikan penyeimbangan antara kajian-kajian agama dengan kajian lain [non-agama] dalam pendidikan Islam yang merupakan suatu keharusan. dengan upaya menghilkangkan atau minimal membuka kembali sekat dan wilayah-wilayah yang selama ini terlarang bagi perdebatan dan kajian. Ketiga. akan menjadikan wilayah pengembangan intelektual semakin luas yang tentu membuka peluang lebar bagi pengembangan keilmuan di dunia pendidikan Islam pada khususnya dan Islam pada umumnya. Mengembangkan pendidikan Islam berwawasan kebudya dan masyarakat. perlu dikembangkan pendidikan yang berwawasan kebebasan. Kita tidak mempunyai ruang bebas untuk mengekspresikan pemikiran. nabi dan lain-lain. Maka. penyesetan dan penyimpangan dari agama dan kadang kala. kritik terhadapan pandangan dan pemikiran keagamaanpun dianggap sebagai kritik terhadap otoritas Tuhan. Nasution. telah tercipta stigma dengan dikondisikan banyak sekat dan wilayah terlarang bagi perdebatan. Kenapa demikian. apabila menginginkan pendidikan Islam kembali survive di tengah perubahan masyarakat. 1990 : 162). sering kali dianggap sebagai pengkaburan. Agama kemudian dijadikan sebagai otoritas baru untuk memasung dan mengkerdilkan [membonsai] pemikiran-pemikiran inovatif yang muncul. mulai melakukan strategi pendidikan yang membumi pada kebutuhan nyata masyarakat yang akan menghartar peserta didik pada kebutuhan akhirat. Kesempatan berijtihad yang selama ini di anggap tertutup juga menjadi malapetaka bagi perkembangan pemikiran “rasional intelektual” dan ikut terkubur. 12 . sehingga insan akademik dapat melakukan pengembangan keilmuan secara maksimal. perbedaan pandapat dan pandangan yang mengakibatkan sempitnya wilayah pengembangan intelektual rasional. Keempat. pandangan. Maka dengan konsep integrated curriculum. pendidikan yang berwawasan kebebasan dan demokrasi. Apabila muncul pemikiran baru yang berbeda dengan mainstream.

tidak terbangun jiwa NHPDQGLULDQ? GDQ?NUHDWLÀWDVQ\D??/HELK?SDUDK?GDQ?PHQ\HGLKNDQ? ODJL? jika out put pendidikannya menambah beban masyarakat. transformatif. MENUJU PENDIDIKAN ISLAM BERMUTU DAN UNGGUL Mutu pendidikan merupakan hal yang harus diperhatikan dan diupayakan untuk dicapai. keluarga.pendidikan yang menyenangkan dan mencerdaskan. Mukti Ali. Agama dan kebebasan berpikir merupakan dua mata uang logam yang tidak dapat dipisahkan (=XKDLULQL? 0LVZDUL?? ?????. inovatif. Diperlukan pendidikan yang menghidupkan kembali tradisi intelektual yang bebas. disebabkan oleh faktor penguasaan sistem dan metode. segar. menjadi era berhembusnya kebebasan berpikir. dan konstruktif dalam menghadapi tantang perubahan. sehingga mendorong lahirnya pemikir-pemikir keagamaan yang memiliki kemampuan bersaing. ada keinginan dari masyarakat dan berbagai lembaga pendidikan Islam untuk menjadikan pendidikan Islam sebagai salah satu pendidikan alternatif. era globalisasi. Kita berharap disain pendidikan Islam pada era informasi. bahasa sebagai alat untuk memperkaya persepsi. bahwa kelemahan pendidikan Islam dewasa ini. dan jernih.3. 2007: 129). kelemahan ilmu dan teknologi. dialogis. Pertanyaannya. dan negaranya (Ahmad Baharuddin. Sebab pendidikan akan menjadi sia-sia bila mutu proses dan lulusannya rendah. 3. Dari pandangan ini kebebasan berpikir mutlak diperlukan untuk melahirkan intelektual-intelektual yang memiliki pandangan keagamaan yang baru.EQX? 5XVKG?? PHQ\DWDNDQ? EDKZD? KLNPDK?? SHQDODUDQ?? GDQ? ÀOVDIDW? adalah sahabat agama [syariah]. kritis. 13 . inovatif. pendidikan Islam yang mutu dan unggul yang bagaimana? Apakah kita harus memperbaiki secara radikal terhadap kelemahan-kelemahan pendidikan Islam yang telah diproyeksikan oleh A. kelemahan kelembagaan [organisasi]. Saat sekarang ini. . dan kreatif. dan ketajaman interpretasi [insight]. Tetapi pemikiran ini memerlukan paradigm baru untuk meningkatkan kualitan pendidikannya. dan saudara sesunya.

Apakah pendidikan bermutu GDQ?XQJJXO??GLOLKDW?GDUL?VLVL? JHGXQJ?>ÀVLNQ\D@??PDQDMHPHQQ\D??DWDX? kedua-duanya? Apakah manusianya. Pertanyaan lulusan berkualitas seperti apa yang dianggap mutu dan unggul? Misalnya saja para siswa dan sarjana yang lulus dengan nilai tinggi. bahkan sampai menuntut perombakan model-model sampai dengan institusi-institusinya VHKLQJJD?OHELK?HIHNWLI? GDQ?HÀVLHQ??GDODP?DUWL?SDHGDJRJLV??VRVLRORJLV?? dan cultural dalam menunjukkan perannya (+?0?$ULÀQ??????????. untuk mewujudkan pendidikan Islam yang bermutu dan unggul. ataukah dinilai oleh Badang Akreditasi Nasional [BAN] dengan predikat terakreditasi dengan nilai A. apakah dilihat dari RXWSXW?Q\D. unggul. dan C atau tidak terakreditas (Hujair AH. tidak hanya terkait dengan kurikulum dan perangkat manajemen. Berbicara tentang pendidikan yang mutu dan unggul. maka pendidikan Islam harus didesak untuk melakukan inovasi.Apabila hal ini menjadi fokus. Ada sebagian orang justru mencurigai motto “pendidikan unggulan” ini GHQJDQ?PHQVLQ\DOLU? VHEDJDL?EHQWXN?NDÀWDOLVDVL?GDQ? NRPHUVLDOLVDVL??GL? PDQD?GLPHQVL?ÀVLN??PDWHUL?? EDQJXQDQ??OHELK?GLNHGHSDQNDQ?GDUL?SDGD? “isi”. tetapi juga strategi dan taktik operasional dan metodologinya. Apakah pendidikan yang bermutu dan unggul dapat dilihat dari lulusan dengan nilai tinggi atau dilihat dari lulusannya dapat diserap pasar dengan cepat. Pendidikan mutu dan unggul. 2006: 409) ??DWDX?PHPLOLNL?JXUX?GDQ?GRVHQ?\DQJ? WHUVHUWLÀNDVL?GHQJDQ? memiliki kompetensi untuk mengajar. apakah ada NRUHODVL? 14 . Sanaky. sehingga public dengan mudah mengikuti dan menilai kemajuan pendidikan yang ada (Ade Cahyana. tentu saja harus didasarkan pada suatu standar dan ukuran kemajuan [benchmark] tertentu yang terbuka [accountable]. B. dan profesional dalam bidang apa. dilihat dari nilai yang diperoleh para lulusannya. 2006). Strategi dan taktik itu. dilihat manusia seperti apa yang dianggap mutu. proses atau substansi pendidikan itu sendiri.

tapi tidak dapat meneruskan ke perguruan tinggi. memiliki sumberdaya yang profesional. memiliki kemampuan psikomotorik yang tinggi. memiliki program pendidikan dan pembelajaran yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat. karena bukan sekedar pendidikan yang unggulan. manusia yang dapat dijadikan teladan adalah menusia yang dikategori unggulan bukanlah semata-mata ditentukan lembaga pendidikan yang membesarkannya. Lembaga pendidikan pesantren. manusia unggul seperti apa yang dikehendari dari prodak pendidikan. walaupun hal yang ditekuni dan dikerjakan memang tidak salah. Inilah kondisi yang dihadapi pendidikan di negeri ini. Dalam konteks historis. misi. memiliki manajemen yang profesional dan bertanggungjawab. jujur. Sarjana lulus dengan nilai tinggi. ujung-ujungnya menjadi buruh/pedagang. Selain itu. proses pendidikan di pesantren lebih berlaku dan faktor utamanya adalah keteladanan. dan tujuan yang jelas. Maka dalam konteks ini. yaitu memiliki kepribadian dan moral yang tinggi. santri banyak yang gratis. Lulusannya memiliki standar kompetensi pengetahuan [knowledge] kognitif yang memadai. orang tua tidak mampu. yang dibangun oleh kiai dan para gurunya dalam proses. kesederhanaan. biayanya murah. Dari sekian pertanyaan di atas. kerendahan hati. karena disebabkan oleh biaya. dan bersamangat untuk melakukan inovasi. dapat dikatakan bahwa pendidikan yang bermutu dan unggul adalah memiliki visi. dianggap tradisonal. tetapi nilai-nilai ini pada zaman sekarang lebih mendapatkan respons yang kurang baik.VLJQLÀNDQVLQ\D? GHQJDQ? NHPDQGLULDQ? DWDX? NHLVWLPHZDDQ? yang akan mereka dapatkan? Realitas menunjukkan banyak siswa lulus SLTA memiliki nilai tinggi. tetapi banyak melaihrkan para pahlawan. malahan lebih banyak dihasilkan oleh keluarga atau masyarakat yang mengelilinginya. pengangguran. kesungguhan. 15 . bertanggungjawan. tetapi tidak macht atau mismacht dengan pendidikan yang ditekuni. memiliki kemampuani afektif yang anggun. inovatif dan pengembangan ilmu dan teknologi. para tokoh pemikir bangsa. keikhlasan. lantaran tidak memiliki koneksi. memiliki skill untuk menjawab kabutuhan masyarakat.

artinya ketika lulusan dari satuan pendidikan Islam. mengembangkan konsep pendidikan integralistik. sudah memiliki pengalaman yang cukup memadai dari kehidupan pendidikannya untuk melakukan sesuatu di masyarakat. mengembangkan potensi berpikir. serta memenuhi permintaan perubahan arus globalisasi. berkemauan dan bertindak sesuai dengan nilai-nilai luhur kemanusiaan. 2008). Ketiga. yaitu pendidikan yang berorieintasi dan memandang manusia sebagai manusia [humanisasi] dengan menghargai hah-hak asasi manusia. Kemampuan bertindak terkait erat dengan pendidikan life skills (Suharsimi Arikunto. afektik. Dalam kerangka ini. menyerap aspirasi dan mendayagunakan potensi masyarakat. lingkungan dan berbudaya. mengembangkan konsep pendidikan pragmatis. berorientasi pada otonomi. maka pendidikan Islam perlu membangun sistem pendidikan yang mampu mengembangkan sumber daya manusia yang berkualitas. Kedua. kemanusian [insaniyah]. menurut penulis pendidikan Islam harus berupaya untuk: Pertama. yaitu berkewajiban mencari. serta dapat diserap pasar atau pengguna pendidikan. psikomotorik. 2007: 122). menemukan dan memanfaatkan ilmu bagi keperluan kehidupan umat manusia. hak untuk menyuarakan pendapat walaupun berbeda. meningkatkan demokratisasi penyenggaraan pendidikan. konsep hasil belajar yang lebih baik tentu saja berorientasi pada kemampuan kognitif. mengembangkan konsep pendidikan huhanistik. dan tindakan. kemanusiaan dan alam pada umumnya sebagai suatu yang integralistik bagi perwujudan kehidupan yang rahmatan lil ¶DODPLQ. yaitu pendidikan secara utuh yang berorientasi pada Ketuhanan. dan memiliki kemampuan bertindak yaitu menghasilkan sesuatu yang konkrit dan menghasilkan jasa. Katakan saja. dilandasai dengan nilai-nilai ilahiyah. yaitu memandang manusia 16 . sekaligus juga harus bertanggungjawab atas apa yang terjadi selanjutnya jika dengan ilmu itu menimbulkan kerusakan lingkngan (Syamsul Ma’arif. Dengan dasar ini. manajemen pendidikan dengan berorientasi pada profesionalisme dan mutu.melakukan kegiatan secara terampil.

misi. knowledge. ability. Keempat. konsep pendidikan Islam yang ditawarkan adalah pendidikan yang berorientasi pada kompetensi nilai-nilai ilahiyah. dan bukan didominasi oleh model ceramah yang berorientasi pada hanya ”memiliki”. serta tujuan yang jelas. kreativitas. berkemampuan mengevaluasi diri sendiri. mempertahankan dan mengembangkan hidupnya baik jasmani maupun rohani dan mewujudkan manusia yang sadar akan kebutuhan-kebutuhan hidupnya dan peka terhadap masalah-masalah kemanusiaan.sebagai makhluk yang selalu membutuhkan sesuatu untuk melangsungkan. penilaian terhadap mutu dan unggul suatu pendidikan tidak perlu direkayasa dan diformalkan. dan meteri pembelajaran yang diorientasikan pada kebutuhan peserta didik dan kebutuhan masyarakat untuk dapat menjawab tantangan perubahan. sehingga puncak keberhasilan pembelajaran adalah ketika pembelajar menemukan sendiri. skill. 2007: 13 . membangun jiwa kemandirian. social-kultural dan harus berfungsi untuk memberikan kaitan secara operasional antara peserta didik dengan masyarakatnya. 30). dan selalu menerima dan ikut serta melakukan perubahan (Hujair AH. 2003: 301). Dari semua dipaparkan di atas. pendidikan dan pembelajaran berbasis ”kebutuhan”. percaya pada kemampuan sendiri. dengan merumuskan visi. Sanaky. dan keberanian berpikir untuk menghadapi realitas kehidupan harus dikembang dalam proses pendidikan. Dengan demikian. Oleh karena itu. metode pembelajaran diorientasikan kepada upaya mencari dan mecahkan masalah yang berorientasi pada ”menjadi”. Kata Ahmad Baharuddin. mengembangkan konsep pendidikan yang berakar pada budaya yang akan dapat mewujudkan manusia yang mempunyai kepribadiaan. Secara umum. sehingga pembelajar tahu persis potensi yang dimilikinya (Ahmad Bahruddin. kepekaan sosial. 17 . membangun budaya berdasarkan budaya sendiri dan berdasarkan nilai-nilai ilahiyah. kurikulum. harga diri. lingkungan sosial-kulturalnya. kita harus berani menata dan mendesain ulang model pendidikan Islam yang berkualitas dan bermutu. tetapi akan datang dengan sendirinya dari masyarakat pengguna.

18 .