BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama menjadi pemandu dalam upaya mewujudkan suatu kehidupan yang bermakna, damai dan bermartabat. Menyadari betapa pentingnya peran agama bagi kehidupan umat manusia maka internalisasi nilai-nilai agama dalam kehidupan setiap pribadi menjadi sebuah keniscayaan, yang ditempuh melalui pendidikan baik pendidikan di lingkungan keluarga, di Satuan pendidikan nonformal penyelenggara pendidikan kesetaraan maupun masyarakat. Pendidikan Agama dimaksudkan untuk peningkatan potensi spiritual dan membentuk peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertidakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia. Akhlak mulia mencakup etika, budi pekerti, dan moral sebagai perwujudan dari pendidikan Agama. Peningkatan potensi spritual mencakup pengenalan, pemahaman, dan penanaman nilai-nilai keagamaan, serta pengamalan nilainilai tersebut dalam kehidupan individual ataupun kolektif kemasyarakatan. Peningkatan potensi spritual tersebut pada akhirnya bertujuan pada optimalisasi berbagai potensi yang dimiliki manusia yang aktualisasinya mencerminkan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan. Pendidikan Agama Islam diberikan dengan mengikuti tuntunan bahwa agama diajarkan kepada manusia dengan visi untuk mewujudkan manusia yang bertidakwa kepada Allah SWT dan berakhlak mulia, serta bertujuan untuk menghasilkan manusia yang jujur, adil, berbudi pekerti, etis, saling menghargai, disiplin, harmonis dan produktif, baik personal maupun sosial. Tuntutan visi ini mendorong dikembangkannya standar kompetesi sesuai dengan jenjang pendidikan yang secara nasional ditandai dengan ciri-ciri:

1

1. tidakwa. regional maupun global. 3. Mengakomodasikan keragaman kebutuhan dan sumber daya pendidikan yang tersedia. pemupukan. Pencapaian seluruh kompetensi dasar perilaku terpuji dapat dilakukan tidak beraturan. Manusia seperti itu diharapkan tangguh dalam menghadapi tantangan. Pendidikan Agama Islam diharapkan menghasilkan manusia yang selalu berupaya menyempurnakan iman. khususnya dalam memajukan peradaban bangsa yang bermartabat. Peran semua unsur Satuan pendidikan nonformal penyelenggara pendidikan kesetaraan. dan pengembangan pengetahuan. Tujuan Pendidikan Agama Islam bertujuan untuk: 1. orang tua peserta didik dan masyarakat sangat penting dalam mendukung keberhasilan pencapaian tujuan Pendidikan Agama Islam. dan perubahan yang muncul dalam pergaulan masyarakat baik dalam lingkup lokal. penghayatan. Lebih menitik beratkan pencapaian kompetensi secata utuh selain penguasaaan materi.2. hambatan.1. Pendidik diharapkan dapat mengembangkan metode pembelajaran sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar. pembiasaan. 2 . serta pengalaman peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang keimanan dan ketakwaannya kepada Allah SWT. serta aktif membangun peradaban dan keharmonisan kehidupan. dan akhlak. Menumbuhkembangkan akidah melalui pemberian. pengamalan. nasional. Memberiklan kebebasan yang lebih luas kepada pendidik di lapangan untuk mengembangkan strategi dan program pembelajaran seauai dengan kebutuhan dan ketersedian sumber daya pendidikan. 2.

1. menjaga keharmonisan secara personal dan sosial serta mengembangkan budaya agama dalam komunitas masyarakat. Mewujudkan manuasia Indonesia yang taat beragama mulia dan berakhlak yaitu manusia yang berpengetahuan. Aqidah 3. Pendidikan Agama Islam menekankan keseimbangan. 3 . Ruang Lingkup Ruang lingkup Pendidikan Agama Islam meliputi aspek-aspek sebagai berikut. dan keserasian antara hubungan manusia dengan Allah SWT. hubungan manusia dengan sesama manusia. bertoleransi (tasamuh). jujur. Akhlak 4. etis. keselarasan. hubungan manusia dengan diri sendiri. cerdas. produktif. Fiqih 5. adil.3.2. Al Qur’an dan Hadits 2. rajin beribadah. Tarikh dan Kebudayaan Islam. berdisiplin. dan hubungan manusia dengan alam sekitarnya. 1.

BAB II KAJIAN TEORI Pendidikan Islam yaitu bimbingan jasmani dan rohani menuju terbentuk kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam. Menurut Hasan Langgulung Pendidikan Islam ialah pendidikan yang memiliki empat macam fungsi yaitu : 1. Memindahkan ilmu pengetahuan yang bersangkutan dengan peranan-peranan tersebut dari generasi tua kepada generasi muda. Dengan pengertian lain Pendidikan Islam merupakan suatu bentuk kepribadian utama yakni kepribadian muslim. kepribadian yang memiliki nilai-nilai agama Islam memilih dan memutuskan serta berbuat berdasarkan nilai-nilai Islam dan bertanggung jawab sesuai dengan nilai-nilai Islam. Pendidikan Islam merupakan pendidikan yang bertujuan membentuk individu menjadi makhluk yang bercorak diri berderajat tinggi menurut ukuran Allah dan isi pendidikan adalah mewujudkan tujuan ajaran Allah . 3. Mendidik anak agar beramal di dunia ini untuk memetik hasil di akhirat. Memindahkan nilai-nilai yang bertujuan untuk memilihara keutuhan dan kesatuan masyarakat yang menjadi syarat mutlak bagi kelanjutan hidup suatu masyarakat dan peradaban. An-Naquib Al-Atas yang dikutip oleh Ali mengartikan pendidikan Islam ialah usaha yang dialakukan pendidik terhadap anak didik untuk pengenalan dan pengakuan tempat-tempat yang benar dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan sehingga membimbing kearah pengenalan dan pengakuan akan tempat Tuhan yang tepat di dalam tatanan wujud dan keberadaan. Menyiapkan generasi muda untuk memegang peranan-peranan tertentu dalam masyarakat pada masa yang akan datang. 4. Peranan ini berkaitan erat dengan kelanjutan hidup masyarakat sendiri. 2. Adapun Mukhtar Bukhari yang dikutip oleh Halim Soebahar mengartikan 4 .

pendidikan Ialam adalah seganap kegiatan yang dilakukan seseorang atau suatu lembaga untuk menanamkan nilai-nilai Islam dalam diri sejumlah siswa dan keseluruhan lembaga-lembaga pendidikan yang mendasarkan program pendidikan atau pandangan dan nilai-nilai Islam. Dan ketiga merupakan segala upaya pembinaan dan pengembangan potensi anak didik untuk diarahkan mengikuti jalan yang Islami demi memperoleh keutamaan dan kebahagiaan hidup di dunia dan di akherat. Yang dimaksud dengan pendidikan Islam disini adalah : pertama ia merupakan suatu upaya atau proses yang dilakukan secara sadar dan terencana membantu peserta didik melalui pembinaan asuhan bimbingan dan pengembangan potensi mereka secara optimal agar nanti dapat memahami menghayati dan mengamalkan ajaran Islam sebagai keyakinan dan pandangan hidup demi keselamatan di dunia dan akherat. Kendati dalam peta pemikiran Islam upaya menghubungkan Islam dengan pendidikan masih diwarnai banyak perdebatan namun yang pasti relasi Islam dengan pendidikan bagaikan dua sisi mata uang mereka sejak awal mempunyai hubungan filosofis yang sangat mendasar baik secara ontologis epistimologis maupun aksiologis. Kedua merupakan usaha yang sistimatis pragmatis dan metodologis dalam membimbing anak didik atau tiap individu dalam memahami menghayati dan mengamalkan ajaran Islam secara utuh demi terbentuk kepribadian yang utama menurut ukuran Islam. Pendidikan penyelenggaraan Islam didorong adalah oleh jenis hasrat pendidikan dan yang pendirian cita-cita dan untuk semangat mengejewantahkan nilai-nilai Islam baik yang tercermin dalam nama lembaga maupun dalam kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan. Menurut Fadalahil Al-Jamali yang dikutip oleh Muzayyin Arifin pendidikan Islam adalah proses yang mengarahkan manusia kepada kehidupan 5 .

Prinsip tauhid Prinsip Integrasi Prinsip Keseimbangan Prinsip persamaan Prinsip pendidikan seumur hidup dan Prinsip keutamaan. Sedangkan tujuan pendidikan Islam dapat dirumuskan sebagai berikut : • • Untuk membentuk akhlakul karimah. 3. Pendidikan Islam sebagaimana rumusan diatas menurut Abd Halim Subahar memiliki beberapa prinsip yang membedakan dengan pendidikan lain Prinsip Pendidikan Islam antara lain : 1. • Membantu peserta didik mencapai kesejahteraan lahir batin dangan membentuk mereka menjadi manusia beriman bertaqwa berakhlak mulia memiliki pengetahuan dan keterampilan berkepribadian integratif mandiri 6 . 2.yang baik dan mengangkat derajat kemanusiaan sesuai dengan kemampuan dasar (fitroh) dan kemampuan ajar (2003: 18). Membantu peserta didik dalam mengembangkan kognisi afeksi dan psikomotori guna memahami menghayati dan mengamalkan ajaran Islam sebagai pedoman hidup sekaligus sebagai kontrol terhadap pola fikir pola laku dan sikap mental. Maka dengan demikian pendidikan Islam dari beberapa pengertian di atas penulis menyimpulkan bahwa pendidikan Islam sebagai usaha membina dan mengembangkan pribadi manusia baik dari aspek rohaniah jasmaniah dan juga harus berlangsung secara hirarkis. 4. 6. oleh karena itu pendidikan Islam merupakan suatu proses kematangan perkembangan atau pertumbuhan baru dapat tercapai bilamana berlangsung melalui proses demi proses kearah tujuan transformatif dan inovatif. 5.

Demikian pula pendidikan Islam mesti bersifat integralitik arti ia harus memandang manusia sebagai satu kesatuan utuh kesatuan jasmani rohani kesatuan intelektual emosional dan spiritual kesatuan pribadi dan sosial dan kesatuan dalam melangsungkan mempertahankan dan mengembangkan hidup dan kehidupannya. Dalam pandangan Islam karena salah satu misi utama pendidikan Islam adalah dalam rangka membantu peserta didik mencapai kesejahteraan lahir batin maka ia harus seimbang sebab bila ia hanya fokus pada pengembangan kreatifiats rasional semata tanpa diimbangi oleh kecerdasan emosional maka manusia tidak akan dapat menikmati nilai kemajuan itu sendiri bahkan yang terjadi adalah demartabatisasi yang menyebabkan manusia kehilangan identitas dan mengalami kegersangan psikologis dia hanya meraksasa dalam tehnik tapi merayap dalam etik. 7 . Dengan demikian sesungguh pendidikan Islam tidak saja fokus pada education for the brain tetapi juga pada education for the heart.dan menyadari sepenuh peranan dan tanggung jawab diri di muka bumi ini sebagai abdulloh dan kholifatulloh.

1991). anak bangsa dihadapkan pada ritual kompetisi. dan segudang ritual lain. Permasalahan pendidikan di kualitas. Muncul. manajemen. justru pendidikan di bumi Indonesia semakin menjadi problem baru.1. Gambaran riil adalah lahirnya tipe mechanic student di mana setiap peserta didik sudah diposisikan pada orientasi pasar sehingga pendidikan bukan lagi berbasis keilmuan dan kebutuhan bakat peserta didik. PERMASALAHAN YANG TERJADI Reformasi di Indonesia seakan menjadi cahaya impian yang akan memberikan banyak perubahan kehidupan bagi bangsa ini. komparatif mendasar.BAB III PEMBAHASAN 3. munculnya mitologi ruang pendidikan yang dikukuhkan dengan ritual pendidikan. yakni lahirnya ambiguisitas dalam wilyah pendidikan yang terus berjalan di Indonesia. Selain itu. pembelian ramuan-ramuan” buku-buku paket baru. Berbagai indicator kuantitatif dikemukakan berkenaan dengan membandingkan situasi pendidikan antara negara di kawasan Asia. secara elitisme. Pemerintah dengan sangat percaya diri memilih posisi lebih berpihak pada kelangan elite. maka muncul adigium lelang pendidikan (Ahmad Baharuddin. antara lain Indonesia relevansi. Kondisi ironis pendidikan tersebut adalah mengenai goal setting yang ingin dicapai system pendidikan. pemilihan sekolah favorit. Artinya. penyuguhan uang “persembahan”. analisis besar. sehingga sulit dicari ujung pangkal pemecahannya (Tilaar. khusunya pada sektor pendidikan. ambiguisitas kebijakan pemerintah yang sebenarnya sebagai pengelola potensi anak bangsa. 2007 : 7). Akan tetapi. dan yang dan GLLGHQWLÀNDVL?GDODP?HPSDW?NULVLV?SRNRN??\DLWX? PHQ\DQJNXW?PDVDODK?? keempat masalah masalah tersebut di atas. apa yang terjadi kemudian. Permasalahan ini terjadi pada pendidikan secara umum di 8 . Keempat merupakan masalah multidimensional. umum. namun pemerintah justru menjadi penjaga mitos pendidikan. pemakaian seragam baru.

institusi. fanatik. ketidak berdayaan. universitas. dan hakekat pendidikan adalah mengembangkan harkat dan martabat manusia. perubahan zaman. sekolah tinggi. karena pada kenyataannya beberapa lembaga pendidikan Islam “dianggap” sebagai tempat berasalnya kelompok tersebut. Jadi sistem pendidikan itu satu yaitu memanusiakan manusia. memproduk orang yang eksklusif. melekat tetapi padanya. sekolah. tetapi pendidikan memiliki banyak wajah. sifat. pendidikan Islam terjebak dalam lingkaran yang tak kunjung selesai yaitu persoalan tuntutan kualitas. meskipun sekarang secara berangsur-angsur banyak diantara lembaga pendidikan Islam yang telah menunjukkan kemajuan (Soeroyo. Dalam Undang-Undang sistem pendidikan nasional menyebutkan pendidikan Islam merupakan sub-sistem pendidikan nasional. Pendidikan Islam menjadi satu dalam dan sistem pendidikan tetap nasional. relevansi dengan kebutuhan. termasuk pendidikan Islam yang dinilai justru lebih besar problematikanya. keterbelakangan. dan bahkan pendidikan apabila diberi “embel-embel Islam”. 9 . program diploma. jenis dan jenjang [pendidikan keluarga. Tetapi pendidikan Islam dipandang selalu berada pada posisi deretan kedua atau posisi marginal dalam sistem pendidikan nasional di Indonesia. memanusiakan manusia agar benar-benar mampu menjadi khalifah (Mastuhu. 1991: 77). Walaupun “anggapan” ini keliru dan dapat ditolak. bahkan apabila diamati dan kemudian disimpulkan pendidikan Islam terkukung dalam kemunduran. sebagaimana pula yang dialami oleh sebagian besar negara dan masyarakat Islam dibandingkan dengan mereka yang non Islam.Indonesia. Katakan saja. 2003). pondok pesantren. masyarakat. dan kemiskinan. Pendidikan Islam juga dihadapkan dan terperangkap pada persoalan yang sama. dsb]. predikat bahkan keterbelakangan kemunduran pendidikan Islam sering “dinobatkan” hanya untuk kepentingan orang-orang yang tidak mampu atau miskin. dan bahkan pada tingkah yang sangat menyedihkan yaitu “terorisme-pun” dianggap berasal dari lembaga pendidikan Islam. dianggap berkonotasi kemunduran dan keterbelakangan. madrasah.

menurut hemat penulis bahwa inovasi atau penataan fungsi pendidikan Islam harus dilakukan. seperti: perubahan kurikulum pendidikan secara terarah dan kontinu agar dapat mengikuti perubahan ilmu pengetahuan dan teknologi. penataan model. Tenaga 10 . dana. misi.sebab tidak ada lembaga-lembaga pendidikan Islam manapun yang bertujuan untuk memproduk atau mencetak kelompok-kelompok orang seperti itu. dan sampai pada program-program pendidikan yang sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan dalam negeri ini. strategi pengembangan pendidikan Islam hendaknya dipilih dari kegiatan pendidikan yang paling mendesak. Hemat penulis. Olah karena itu. Harus dilakukan inovasi kelembagaan dan tenaga kependidikan. Apakah ada sesuatu yang salah dalam sistem.2. relevan. terutama pada sistem pendidikan persekolahan harus diupayakan secara terus menerus. sistem dan proses pendidikan Islam di Indonesia merupakan suatu yang tidak terelakkan. sehingga usahanya dapat menjangkau pada perluasan dan pengembangan sistem pendidikan Islam luar sekolah. dan orientasi pendidikan Islam. muncul tuntutan masyarakat sebagai pengguna pendidikan Islam agar ada upaya penataan dan modernisasi sistem dan proses pendidikan Islam aga menjadi pendidikan yang bermutu. untuk menjawab permintaan dari arus globalisasi yang tidak dapat dibendung lagi (Proposal Jurnal Pendidikan Islam PAI FIAI UII : 2008) dan menjawab predikat keterbelakangan dan kemunduran yang selalu melekat pada pendidikan Islam. berposisi senteral yang akan menjadi modal dasar untuk usaha penataan dan pengembangan selanjutnya. tujuan. Katakan saja. Tetapi realitas di masyakarat banyak perilaku kekerasan yang mengatasnamakan Islam. dan mampu menjawab perubahan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia. merupakan suatu kenyataan yang selama ini dihadapi oleh lembaga pendidikan Islam di Indonesia. visi. Dengan demikian. perubahan paradigama. proses. berkesinambungan. PENATAAN PENDIDIKAN ISLAM Dari paparan di atas. Hal ini. berkelanjutan. 3.

lembaga pendidikan. dan pengelolaannya. strategi. dan bukan separated subject 11 . dimana tujuan akhir dari seluruh aktivitas pendidikan sebagai upaya menegakkan ajaran agama dengan memanusiakan manusia dalam konteks kehidupannya. Langkah-langkah strategi tersebut diantaranya. tetapi harus secara mendasar dan menyeluruh. mulai dari fungsi. tidak lagi adhoc dan incremental seperti sering terjadi di masa silam (Azyumardi Azra. ODQGDVDQ?ÀORVRÀV?GDQ?WHURUL??YLVL?GDQ?PLVL? SHQGLGLNDQ??KDUXV? dikembangkan dan dijabarkan atas konsep dasar kebutuhanan manusia. 2002 :17).kependidikan harus ditingkatkan etos kerja dan profesionalismenya. metode. pendekatan. Seluruh aktivitas intelektual dan proses pendidikan senantiasa dilandasi oleh nilai-nilai agama. tujuan. artinya perpaduan. sebab dunia kerja mempunyai andil dan rentang waktu yang cukup besar dalam jangka kehidupan pribadi dan kolektif. harmonis. Tetapi usaha melakukan inovasi tidak hanya sekedar tanbal sulam. penataan pendidikan Islam haruslah bersifat komprehensif dan menyeluruh. koordinasi. Dari gambaran tersebut di atas. Dengan kata lain. tanpaknya kita perlu menyusun langkah-langkah strategi sebagai upaya untuk kembali membangkitkan dan menempatkan pendidikan Islam pada peran yang semestinya dengan berusaha menata ulang paradigm pendidikan Islam sehingga pendidikan Islam kembali bersifat aktif-progresif. Penataan fungsi pendidikan Islam. perbaikan pada aspek manajemen pendidikan itu sendiri. Kedua. dan kebulatan materimateri pendidikan dengan ajaran Islam. materi [kurikulum]. tentu dengan memperhatikan dunia kerja. Perlu menempatkan kembali seluruh aktivitas pendidikan di bawah “kerangka dasar kerja spritual”. Perbaikan pada aspek materi [kurikulum]. yaitu : Pertama. dan metodologi yang masih berorientasi pada sistem tradisional. perlu ada perimbangan [balancing] antara disiplin atau kajiankajian agama dengan pengembangan intelektualitas dalam program kurikulum pendidikan. Sistem pendidikan Islam harus menganut integrated curriculum. baik pada tingkat konsep maupun penyelenggaraan.

akan menjadikan wilayah pengembangan intelektual semakin luas yang tentu membuka peluang lebar bagi pengembangan keilmuan di dunia pendidikan Islam pada khususnya dan Islam pada umumnya. Maka dengan konsep integrated curriculum. Mengembangkan pendidikan Islam berwawasan kebudya dan masyarakat. penyesetan dan penyimpangan dari agama dan kadang kala. 1990 : 162). mulai melakukan strategi pendidikan yang membumi pada kebutuhan nyata masyarakat yang akan menghartar peserta didik pada kebutuhan akhirat. Maka. Kenapa demikian.curriculum maunpun correlated curriculum (S. Ketiga. karena selama masa kemunduran Islam. sehingga insan akademik dapat melakukan pengembangan keilmuan secara maksimal. proses pendidikan akan memberikan penyeimbangan antara kajian-kajian agama dengan kajian lain [non-agama] dalam pendidikan Islam yang merupakan suatu keharusan. dan gagasan. Apabila muncul pemikiran baru yang berbeda dengan mainstream. nabi dan lain-lain. pendidikan yang berwawasan kebebasan dan demokrasi. perbedaan pandapat dan pandangan yang mengakibatkan sempitnya wilayah pengembangan intelektual rasional. kritik terhadapan pandangan dan pemikiran keagamaanpun dianggap sebagai kritik terhadap otoritas Tuhan. sering kali dianggap sebagai pengkaburan. pandangan. dengan upaya menghilkangkan atau minimal membuka kembali sekat dan wilayah-wilayah yang selama ini terlarang bagi perdebatan dan kajian. perlu dikembangkan pendidikan yang berwawasan kebebasan. Nasution. Keempat. Kita tidak mempunyai ruang bebas untuk mengekspresikan pemikiran. 12 . Agama kemudian dijadikan sebagai otoritas baru untuk memasung dan mengkerdilkan [membonsai] pemikiran-pemikiran inovatif yang muncul. Kesempatan berijtihad yang selama ini di anggap tertutup juga menjadi malapetaka bagi perkembangan pemikiran “rasional intelektual” dan ikut terkubur. telah tercipta stigma dengan dikondisikan banyak sekat dan wilayah terlarang bagi perdebatan. apabila menginginkan pendidikan Islam kembali survive di tengah perubahan masyarakat.

Diperlukan pendidikan yang menghidupkan kembali tradisi intelektual yang bebas. disebabkan oleh faktor penguasaan sistem dan metode. dan ketajaman interpretasi [insight]. Sebab pendidikan akan menjadi sia-sia bila mutu proses dan lulusannya rendah. dan jernih. kelemahan kelembagaan [organisasi]. . Tetapi pemikiran ini memerlukan paradigm baru untuk meningkatkan kualitan pendidikannya. bahwa kelemahan pendidikan Islam dewasa ini. sehingga mendorong lahirnya pemikir-pemikir keagamaan yang memiliki kemampuan bersaing. dan konstruktif dalam menghadapi tantang perubahan. dialogis. keluarga. Pertanyaannya. bahasa sebagai alat untuk memperkaya persepsi.EQX? 5XVKG?? PHQ\DWDNDQ? EDKZD? KLNPDK?? SHQDODUDQ?? GDQ? ÀOVDIDW? adalah sahabat agama [syariah]. Kita berharap disain pendidikan Islam pada era informasi. Mukti Ali. dan saudara sesunya. 13 . Agama dan kebebasan berpikir merupakan dua mata uang logam yang tidak dapat dipisahkan (=XKDLULQL? 0LVZDUL?? ?????. 2007: 129). MENUJU PENDIDIKAN ISLAM BERMUTU DAN UNGGUL Mutu pendidikan merupakan hal yang harus diperhatikan dan diupayakan untuk dicapai. kritis. 3. era globalisasi. pendidikan Islam yang mutu dan unggul yang bagaimana? Apakah kita harus memperbaiki secara radikal terhadap kelemahan-kelemahan pendidikan Islam yang telah diproyeksikan oleh A. dan kreatif. transformatif. Dari pandangan ini kebebasan berpikir mutlak diperlukan untuk melahirkan intelektual-intelektual yang memiliki pandangan keagamaan yang baru.pendidikan yang menyenangkan dan mencerdaskan. ada keinginan dari masyarakat dan berbagai lembaga pendidikan Islam untuk menjadikan pendidikan Islam sebagai salah satu pendidikan alternatif. tidak terbangun jiwa NHPDQGLULDQ? GDQ?NUHDWLÀWDVQ\D??/HELK?SDUDK?GDQ?PHQ\HGLKNDQ? ODJL? jika out put pendidikannya menambah beban masyarakat. menjadi era berhembusnya kebebasan berpikir. segar. kelemahan ilmu dan teknologi. Saat sekarang ini. inovatif. dan negaranya (Ahmad Baharuddin.3. inovatif.

dilihat manusia seperti apa yang dianggap mutu. unggul. dan C atau tidak terakreditas (Hujair AH. apakah ada NRUHODVL? 14 . ataukah dinilai oleh Badang Akreditasi Nasional [BAN] dengan predikat terakreditasi dengan nilai A. sehingga public dengan mudah mengikuti dan menilai kemajuan pendidikan yang ada (Ade Cahyana. B. apakah dilihat dari RXWSXW?Q\D. Apakah pendidikan bermutu GDQ?XQJJXO??GLOLKDW?GDUL?VLVL? JHGXQJ?>ÀVLNQ\D@??PDQDMHPHQQ\D??DWDX? kedua-duanya? Apakah manusianya. tetapi juga strategi dan taktik operasional dan metodologinya. Ada sebagian orang justru mencurigai motto “pendidikan unggulan” ini GHQJDQ?PHQVLQ\DOLU? VHEDJDL?EHQWXN?NDÀWDOLVDVL?GDQ? NRPHUVLDOLVDVL??GL? PDQD?GLPHQVL?ÀVLN??PDWHUL?? EDQJXQDQ??OHELK?GLNHGHSDQNDQ?GDUL?SDGD? “isi”.Apabila hal ini menjadi fokus. 2006: 409) ??DWDX?PHPLOLNL?JXUX?GDQ?GRVHQ?\DQJ? WHUVHUWLÀNDVL?GHQJDQ? memiliki kompetensi untuk mengajar. 2006). Pendidikan mutu dan unggul. bahkan sampai menuntut perombakan model-model sampai dengan institusi-institusinya VHKLQJJD?OHELK?HIHNWLI? GDQ?HÀVLHQ??GDODP?DUWL?SDHGDJRJLV??VRVLRORJLV?? dan cultural dalam menunjukkan perannya (+?0?$ULÀQ??????????. Sanaky. tidak hanya terkait dengan kurikulum dan perangkat manajemen. dilihat dari nilai yang diperoleh para lulusannya. tentu saja harus didasarkan pada suatu standar dan ukuran kemajuan [benchmark] tertentu yang terbuka [accountable]. Strategi dan taktik itu. dan profesional dalam bidang apa. untuk mewujudkan pendidikan Islam yang bermutu dan unggul. maka pendidikan Islam harus didesak untuk melakukan inovasi. Pertanyaan lulusan berkualitas seperti apa yang dianggap mutu dan unggul? Misalnya saja para siswa dan sarjana yang lulus dengan nilai tinggi. Apakah pendidikan yang bermutu dan unggul dapat dilihat dari lulusan dengan nilai tinggi atau dilihat dari lulusannya dapat diserap pasar dengan cepat. Berbicara tentang pendidikan yang mutu dan unggul. proses atau substansi pendidikan itu sendiri.

Selain itu. ujung-ujungnya menjadi buruh/pedagang. memiliki kemampuan psikomotorik yang tinggi. memiliki program pendidikan dan pembelajaran yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat. lantaran tidak memiliki koneksi. yaitu memiliki kepribadian dan moral yang tinggi. Dalam konteks historis. Maka dalam konteks ini. yang dibangun oleh kiai dan para gurunya dalam proses. dianggap tradisonal. dan tujuan yang jelas. tetapi nilai-nilai ini pada zaman sekarang lebih mendapatkan respons yang kurang baik.VLJQLÀNDQVLQ\D? GHQJDQ? NHPDQGLULDQ? DWDX? NHLVWLPHZDDQ? yang akan mereka dapatkan? Realitas menunjukkan banyak siswa lulus SLTA memiliki nilai tinggi. kerendahan hati. malahan lebih banyak dihasilkan oleh keluarga atau masyarakat yang mengelilinginya. manusia unggul seperti apa yang dikehendari dari prodak pendidikan. 15 . santri banyak yang gratis. tetapi banyak melaihrkan para pahlawan. memiliki sumberdaya yang profesional. memiliki manajemen yang profesional dan bertanggungjawab. tetapi tidak macht atau mismacht dengan pendidikan yang ditekuni. jujur. karena bukan sekedar pendidikan yang unggulan. memiliki kemampuani afektif yang anggun. misi. dapat dikatakan bahwa pendidikan yang bermutu dan unggul adalah memiliki visi. manusia yang dapat dijadikan teladan adalah menusia yang dikategori unggulan bukanlah semata-mata ditentukan lembaga pendidikan yang membesarkannya. para tokoh pemikir bangsa. kesungguhan. memiliki skill untuk menjawab kabutuhan masyarakat. orang tua tidak mampu. biayanya murah. kesederhanaan. bertanggungjawan. walaupun hal yang ditekuni dan dikerjakan memang tidak salah. inovatif dan pengembangan ilmu dan teknologi. karena disebabkan oleh biaya. Sarjana lulus dengan nilai tinggi. Inilah kondisi yang dihadapi pendidikan di negeri ini. Lembaga pendidikan pesantren. dan bersamangat untuk melakukan inovasi. pengangguran. Lulusannya memiliki standar kompetensi pengetahuan [knowledge] kognitif yang memadai. keikhlasan. tapi tidak dapat meneruskan ke perguruan tinggi. Dari sekian pertanyaan di atas. proses pendidikan di pesantren lebih berlaku dan faktor utamanya adalah keteladanan.

mengembangkan potensi berpikir. berorientasi pada otonomi. meningkatkan demokratisasi penyenggaraan pendidikan. artinya ketika lulusan dari satuan pendidikan Islam. Ketiga. Kemampuan bertindak terkait erat dengan pendidikan life skills (Suharsimi Arikunto. menyerap aspirasi dan mendayagunakan potensi masyarakat. lingkungan dan berbudaya. dilandasai dengan nilai-nilai ilahiyah. 2007: 122). manajemen pendidikan dengan berorientasi pada profesionalisme dan mutu. 2008). Kedua. sekaligus juga harus bertanggungjawab atas apa yang terjadi selanjutnya jika dengan ilmu itu menimbulkan kerusakan lingkngan (Syamsul Ma’arif. yaitu pendidikan yang berorieintasi dan memandang manusia sebagai manusia [humanisasi] dengan menghargai hah-hak asasi manusia. hak untuk menyuarakan pendapat walaupun berbeda. yaitu memandang manusia 16 . psikomotorik.melakukan kegiatan secara terampil. afektik. kemanusiaan dan alam pada umumnya sebagai suatu yang integralistik bagi perwujudan kehidupan yang rahmatan lil ¶DODPLQ. menurut penulis pendidikan Islam harus berupaya untuk: Pertama. serta dapat diserap pasar atau pengguna pendidikan. Dalam kerangka ini. berkemauan dan bertindak sesuai dengan nilai-nilai luhur kemanusiaan. konsep hasil belajar yang lebih baik tentu saja berorientasi pada kemampuan kognitif. sudah memiliki pengalaman yang cukup memadai dari kehidupan pendidikannya untuk melakukan sesuatu di masyarakat. mengembangkan konsep pendidikan huhanistik. Katakan saja. yaitu berkewajiban mencari. kemanusian [insaniyah]. dan memiliki kemampuan bertindak yaitu menghasilkan sesuatu yang konkrit dan menghasilkan jasa. dan tindakan. maka pendidikan Islam perlu membangun sistem pendidikan yang mampu mengembangkan sumber daya manusia yang berkualitas. mengembangkan konsep pendidikan pragmatis. menemukan dan memanfaatkan ilmu bagi keperluan kehidupan umat manusia. yaitu pendidikan secara utuh yang berorientasi pada Ketuhanan. serta memenuhi permintaan perubahan arus globalisasi. mengembangkan konsep pendidikan integralistik. Dengan dasar ini.

dengan merumuskan visi. pendidikan dan pembelajaran berbasis ”kebutuhan”. misi. konsep pendidikan Islam yang ditawarkan adalah pendidikan yang berorientasi pada kompetensi nilai-nilai ilahiyah. mempertahankan dan mengembangkan hidupnya baik jasmani maupun rohani dan mewujudkan manusia yang sadar akan kebutuhan-kebutuhan hidupnya dan peka terhadap masalah-masalah kemanusiaan. 2003: 301). social-kultural dan harus berfungsi untuk memberikan kaitan secara operasional antara peserta didik dengan masyarakatnya.sebagai makhluk yang selalu membutuhkan sesuatu untuk melangsungkan. Dari semua dipaparkan di atas. mengembangkan konsep pendidikan yang berakar pada budaya yang akan dapat mewujudkan manusia yang mempunyai kepribadiaan. Sanaky. tetapi akan datang dengan sendirinya dari masyarakat pengguna. Kata Ahmad Baharuddin. kurikulum. 30). berkemampuan mengevaluasi diri sendiri. serta tujuan yang jelas. kepekaan sosial. penilaian terhadap mutu dan unggul suatu pendidikan tidak perlu direkayasa dan diformalkan. sehingga puncak keberhasilan pembelajaran adalah ketika pembelajar menemukan sendiri. dan selalu menerima dan ikut serta melakukan perubahan (Hujair AH. harga diri. 17 . ability. sehingga pembelajar tahu persis potensi yang dimilikinya (Ahmad Bahruddin. Secara umum. Keempat. metode pembelajaran diorientasikan kepada upaya mencari dan mecahkan masalah yang berorientasi pada ”menjadi”. membangun jiwa kemandirian. percaya pada kemampuan sendiri. dan bukan didominasi oleh model ceramah yang berorientasi pada hanya ”memiliki”. Oleh karena itu. kita harus berani menata dan mendesain ulang model pendidikan Islam yang berkualitas dan bermutu. membangun budaya berdasarkan budaya sendiri dan berdasarkan nilai-nilai ilahiyah. dan meteri pembelajaran yang diorientasikan pada kebutuhan peserta didik dan kebutuhan masyarakat untuk dapat menjawab tantangan perubahan. knowledge. dan keberanian berpikir untuk menghadapi realitas kehidupan harus dikembang dalam proses pendidikan. kreativitas. Dengan demikian. skill. 2007: 13 . lingkungan sosial-kulturalnya.

18 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful