BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama menjadi pemandu dalam upaya mewujudkan suatu kehidupan yang bermakna, damai dan bermartabat. Menyadari betapa pentingnya peran agama bagi kehidupan umat manusia maka internalisasi nilai-nilai agama dalam kehidupan setiap pribadi menjadi sebuah keniscayaan, yang ditempuh melalui pendidikan baik pendidikan di lingkungan keluarga, di Satuan pendidikan nonformal penyelenggara pendidikan kesetaraan maupun masyarakat. Pendidikan Agama dimaksudkan untuk peningkatan potensi spiritual dan membentuk peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertidakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia. Akhlak mulia mencakup etika, budi pekerti, dan moral sebagai perwujudan dari pendidikan Agama. Peningkatan potensi spritual mencakup pengenalan, pemahaman, dan penanaman nilai-nilai keagamaan, serta pengamalan nilainilai tersebut dalam kehidupan individual ataupun kolektif kemasyarakatan. Peningkatan potensi spritual tersebut pada akhirnya bertujuan pada optimalisasi berbagai potensi yang dimiliki manusia yang aktualisasinya mencerminkan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan. Pendidikan Agama Islam diberikan dengan mengikuti tuntunan bahwa agama diajarkan kepada manusia dengan visi untuk mewujudkan manusia yang bertidakwa kepada Allah SWT dan berakhlak mulia, serta bertujuan untuk menghasilkan manusia yang jujur, adil, berbudi pekerti, etis, saling menghargai, disiplin, harmonis dan produktif, baik personal maupun sosial. Tuntutan visi ini mendorong dikembangkannya standar kompetesi sesuai dengan jenjang pendidikan yang secara nasional ditandai dengan ciri-ciri:

1

tidakwa. khususnya dalam memajukan peradaban bangsa yang bermartabat. pengamalan. Peran semua unsur Satuan pendidikan nonformal penyelenggara pendidikan kesetaraan. dan akhlak. 2 . nasional. 2. Pendidikan Agama Islam diharapkan menghasilkan manusia yang selalu berupaya menyempurnakan iman. Menumbuhkembangkan akidah melalui pemberian. serta pengalaman peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang keimanan dan ketakwaannya kepada Allah SWT. pemupukan. Memberiklan kebebasan yang lebih luas kepada pendidik di lapangan untuk mengembangkan strategi dan program pembelajaran seauai dengan kebutuhan dan ketersedian sumber daya pendidikan. Mengakomodasikan keragaman kebutuhan dan sumber daya pendidikan yang tersedia. 1. 3. Tujuan Pendidikan Agama Islam bertujuan untuk: 1. pembiasaan. Lebih menitik beratkan pencapaian kompetensi secata utuh selain penguasaaan materi. dan pengembangan pengetahuan.1. hambatan. dan perubahan yang muncul dalam pergaulan masyarakat baik dalam lingkup lokal. penghayatan. regional maupun global. orang tua peserta didik dan masyarakat sangat penting dalam mendukung keberhasilan pencapaian tujuan Pendidikan Agama Islam. Pencapaian seluruh kompetensi dasar perilaku terpuji dapat dilakukan tidak beraturan.2. serta aktif membangun peradaban dan keharmonisan kehidupan. Pendidik diharapkan dapat mengembangkan metode pembelajaran sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar. Manusia seperti itu diharapkan tangguh dalam menghadapi tantangan.

Ruang Lingkup Ruang lingkup Pendidikan Agama Islam meliputi aspek-aspek sebagai berikut. Akhlak 4. jujur. berdisiplin. cerdas. keselarasan. menjaga keharmonisan secara personal dan sosial serta mengembangkan budaya agama dalam komunitas masyarakat. Al Qur’an dan Hadits 2. bertoleransi (tasamuh). etis. Aqidah 3. hubungan manusia dengan diri sendiri. produktif. adil. dan hubungan manusia dengan alam sekitarnya. hubungan manusia dengan sesama manusia. Tarikh dan Kebudayaan Islam.2.3. rajin beribadah. 1. 1. Mewujudkan manuasia Indonesia yang taat beragama mulia dan berakhlak yaitu manusia yang berpengetahuan. dan keserasian antara hubungan manusia dengan Allah SWT. Pendidikan Agama Islam menekankan keseimbangan. Fiqih 5. 3 .

kepribadian yang memiliki nilai-nilai agama Islam memilih dan memutuskan serta berbuat berdasarkan nilai-nilai Islam dan bertanggung jawab sesuai dengan nilai-nilai Islam. An-Naquib Al-Atas yang dikutip oleh Ali mengartikan pendidikan Islam ialah usaha yang dialakukan pendidik terhadap anak didik untuk pengenalan dan pengakuan tempat-tempat yang benar dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan sehingga membimbing kearah pengenalan dan pengakuan akan tempat Tuhan yang tepat di dalam tatanan wujud dan keberadaan. Mendidik anak agar beramal di dunia ini untuk memetik hasil di akhirat. Memindahkan ilmu pengetahuan yang bersangkutan dengan peranan-peranan tersebut dari generasi tua kepada generasi muda. 2. Dengan pengertian lain Pendidikan Islam merupakan suatu bentuk kepribadian utama yakni kepribadian muslim. 4. Adapun Mukhtar Bukhari yang dikutip oleh Halim Soebahar mengartikan 4 . Menurut Hasan Langgulung Pendidikan Islam ialah pendidikan yang memiliki empat macam fungsi yaitu : 1. Peranan ini berkaitan erat dengan kelanjutan hidup masyarakat sendiri. Memindahkan nilai-nilai yang bertujuan untuk memilihara keutuhan dan kesatuan masyarakat yang menjadi syarat mutlak bagi kelanjutan hidup suatu masyarakat dan peradaban. 3. Pendidikan Islam merupakan pendidikan yang bertujuan membentuk individu menjadi makhluk yang bercorak diri berderajat tinggi menurut ukuran Allah dan isi pendidikan adalah mewujudkan tujuan ajaran Allah . Menyiapkan generasi muda untuk memegang peranan-peranan tertentu dalam masyarakat pada masa yang akan datang.BAB II KAJIAN TEORI Pendidikan Islam yaitu bimbingan jasmani dan rohani menuju terbentuk kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam.

pendidikan Ialam adalah seganap kegiatan yang dilakukan seseorang atau suatu lembaga untuk menanamkan nilai-nilai Islam dalam diri sejumlah siswa dan keseluruhan lembaga-lembaga pendidikan yang mendasarkan program pendidikan atau pandangan dan nilai-nilai Islam. Menurut Fadalahil Al-Jamali yang dikutip oleh Muzayyin Arifin pendidikan Islam adalah proses yang mengarahkan manusia kepada kehidupan 5 . Dan ketiga merupakan segala upaya pembinaan dan pengembangan potensi anak didik untuk diarahkan mengikuti jalan yang Islami demi memperoleh keutamaan dan kebahagiaan hidup di dunia dan di akherat. Yang dimaksud dengan pendidikan Islam disini adalah : pertama ia merupakan suatu upaya atau proses yang dilakukan secara sadar dan terencana membantu peserta didik melalui pembinaan asuhan bimbingan dan pengembangan potensi mereka secara optimal agar nanti dapat memahami menghayati dan mengamalkan ajaran Islam sebagai keyakinan dan pandangan hidup demi keselamatan di dunia dan akherat. Pendidikan penyelenggaraan Islam didorong adalah oleh jenis hasrat pendidikan dan yang pendirian cita-cita dan untuk semangat mengejewantahkan nilai-nilai Islam baik yang tercermin dalam nama lembaga maupun dalam kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan. Kendati dalam peta pemikiran Islam upaya menghubungkan Islam dengan pendidikan masih diwarnai banyak perdebatan namun yang pasti relasi Islam dengan pendidikan bagaikan dua sisi mata uang mereka sejak awal mempunyai hubungan filosofis yang sangat mendasar baik secara ontologis epistimologis maupun aksiologis. Kedua merupakan usaha yang sistimatis pragmatis dan metodologis dalam membimbing anak didik atau tiap individu dalam memahami menghayati dan mengamalkan ajaran Islam secara utuh demi terbentuk kepribadian yang utama menurut ukuran Islam.

Sedangkan tujuan pendidikan Islam dapat dirumuskan sebagai berikut : • • Untuk membentuk akhlakul karimah. 2. Prinsip tauhid Prinsip Integrasi Prinsip Keseimbangan Prinsip persamaan Prinsip pendidikan seumur hidup dan Prinsip keutamaan. 5. 4. Membantu peserta didik dalam mengembangkan kognisi afeksi dan psikomotori guna memahami menghayati dan mengamalkan ajaran Islam sebagai pedoman hidup sekaligus sebagai kontrol terhadap pola fikir pola laku dan sikap mental. Pendidikan Islam sebagaimana rumusan diatas menurut Abd Halim Subahar memiliki beberapa prinsip yang membedakan dengan pendidikan lain Prinsip Pendidikan Islam antara lain : 1.yang baik dan mengangkat derajat kemanusiaan sesuai dengan kemampuan dasar (fitroh) dan kemampuan ajar (2003: 18). 6. Maka dengan demikian pendidikan Islam dari beberapa pengertian di atas penulis menyimpulkan bahwa pendidikan Islam sebagai usaha membina dan mengembangkan pribadi manusia baik dari aspek rohaniah jasmaniah dan juga harus berlangsung secara hirarkis. 3. oleh karena itu pendidikan Islam merupakan suatu proses kematangan perkembangan atau pertumbuhan baru dapat tercapai bilamana berlangsung melalui proses demi proses kearah tujuan transformatif dan inovatif. • Membantu peserta didik mencapai kesejahteraan lahir batin dangan membentuk mereka menjadi manusia beriman bertaqwa berakhlak mulia memiliki pengetahuan dan keterampilan berkepribadian integratif mandiri 6 .

7 .dan menyadari sepenuh peranan dan tanggung jawab diri di muka bumi ini sebagai abdulloh dan kholifatulloh. Dengan demikian sesungguh pendidikan Islam tidak saja fokus pada education for the brain tetapi juga pada education for the heart. Demikian pula pendidikan Islam mesti bersifat integralitik arti ia harus memandang manusia sebagai satu kesatuan utuh kesatuan jasmani rohani kesatuan intelektual emosional dan spiritual kesatuan pribadi dan sosial dan kesatuan dalam melangsungkan mempertahankan dan mengembangkan hidup dan kehidupannya. Dalam pandangan Islam karena salah satu misi utama pendidikan Islam adalah dalam rangka membantu peserta didik mencapai kesejahteraan lahir batin maka ia harus seimbang sebab bila ia hanya fokus pada pengembangan kreatifiats rasional semata tanpa diimbangi oleh kecerdasan emosional maka manusia tidak akan dapat menikmati nilai kemajuan itu sendiri bahkan yang terjadi adalah demartabatisasi yang menyebabkan manusia kehilangan identitas dan mengalami kegersangan psikologis dia hanya meraksasa dalam tehnik tapi merayap dalam etik.

munculnya mitologi ruang pendidikan yang dikukuhkan dengan ritual pendidikan. maka muncul adigium lelang pendidikan (Ahmad Baharuddin. Gambaran riil adalah lahirnya tipe mechanic student di mana setiap peserta didik sudah diposisikan pada orientasi pasar sehingga pendidikan bukan lagi berbasis keilmuan dan kebutuhan bakat peserta didik. dan segudang ritual lain. Keempat merupakan masalah multidimensional. apa yang terjadi kemudian. yakni lahirnya ambiguisitas dalam wilyah pendidikan yang terus berjalan di Indonesia. manajemen. Akan tetapi. Artinya. komparatif mendasar. Selain itu. anak bangsa dihadapkan pada ritual kompetisi. secara elitisme. antara lain Indonesia relevansi. 1991). sehingga sulit dicari ujung pangkal pemecahannya (Tilaar. Pemerintah dengan sangat percaya diri memilih posisi lebih berpihak pada kelangan elite. ambiguisitas kebijakan pemerintah yang sebenarnya sebagai pengelola potensi anak bangsa. pemilihan sekolah favorit. namun pemerintah justru menjadi penjaga mitos pendidikan. pemakaian seragam baru. Muncul. Permasalahan pendidikan di kualitas. PERMASALAHAN YANG TERJADI Reformasi di Indonesia seakan menjadi cahaya impian yang akan memberikan banyak perubahan kehidupan bagi bangsa ini. Permasalahan ini terjadi pada pendidikan secara umum di 8 . pembelian ramuan-ramuan” buku-buku paket baru. khusunya pada sektor pendidikan. penyuguhan uang “persembahan”. 2007 : 7). justru pendidikan di bumi Indonesia semakin menjadi problem baru. Berbagai indicator kuantitatif dikemukakan berkenaan dengan membandingkan situasi pendidikan antara negara di kawasan Asia. Kondisi ironis pendidikan tersebut adalah mengenai goal setting yang ingin dicapai system pendidikan. umum.BAB III PEMBAHASAN 3. dan yang dan GLLGHQWLÀNDVL?GDODP?HPSDW?NULVLV?SRNRN??\DLWX? PHQ\DQJNXW?PDVDODK?? keempat masalah masalah tersebut di atas.1. analisis besar.

predikat bahkan keterbelakangan kemunduran pendidikan Islam sering “dinobatkan” hanya untuk kepentingan orang-orang yang tidak mampu atau miskin. dan hakekat pendidikan adalah mengembangkan harkat dan martabat manusia. memproduk orang yang eksklusif. sifat. termasuk pendidikan Islam yang dinilai justru lebih besar problematikanya. institusi. keterbelakangan. jenis dan jenjang [pendidikan keluarga. dan kemiskinan. masyarakat. sekolah. 2003). meskipun sekarang secara berangsur-angsur banyak diantara lembaga pendidikan Islam yang telah menunjukkan kemajuan (Soeroyo. pendidikan Islam terjebak dalam lingkaran yang tak kunjung selesai yaitu persoalan tuntutan kualitas. Katakan saja. bahkan apabila diamati dan kemudian disimpulkan pendidikan Islam terkukung dalam kemunduran. perubahan zaman. 9 . Walaupun “anggapan” ini keliru dan dapat ditolak. Tetapi pendidikan Islam dipandang selalu berada pada posisi deretan kedua atau posisi marginal dalam sistem pendidikan nasional di Indonesia. melekat tetapi padanya. karena pada kenyataannya beberapa lembaga pendidikan Islam “dianggap” sebagai tempat berasalnya kelompok tersebut. madrasah.Indonesia. Pendidikan Islam juga dihadapkan dan terperangkap pada persoalan yang sama. Jadi sistem pendidikan itu satu yaitu memanusiakan manusia. program diploma. memanusiakan manusia agar benar-benar mampu menjadi khalifah (Mastuhu. ketidak berdayaan. fanatik. dsb]. universitas. pondok pesantren. dianggap berkonotasi kemunduran dan keterbelakangan. sebagaimana pula yang dialami oleh sebagian besar negara dan masyarakat Islam dibandingkan dengan mereka yang non Islam. Pendidikan Islam menjadi satu dalam dan sistem pendidikan tetap nasional. dan bahkan pendidikan apabila diberi “embel-embel Islam”. tetapi pendidikan memiliki banyak wajah. relevansi dengan kebutuhan. 1991: 77). Dalam Undang-Undang sistem pendidikan nasional menyebutkan pendidikan Islam merupakan sub-sistem pendidikan nasional. sekolah tinggi. dan bahkan pada tingkah yang sangat menyedihkan yaitu “terorisme-pun” dianggap berasal dari lembaga pendidikan Islam.

Hemat penulis. sistem dan proses pendidikan Islam di Indonesia merupakan suatu yang tidak terelakkan.2.sebab tidak ada lembaga-lembaga pendidikan Islam manapun yang bertujuan untuk memproduk atau mencetak kelompok-kelompok orang seperti itu. dan sampai pada program-program pendidikan yang sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan dalam negeri ini. Apakah ada sesuatu yang salah dalam sistem. Dengan demikian. berposisi senteral yang akan menjadi modal dasar untuk usaha penataan dan pengembangan selanjutnya. 3. menurut hemat penulis bahwa inovasi atau penataan fungsi pendidikan Islam harus dilakukan. untuk menjawab permintaan dari arus globalisasi yang tidak dapat dibendung lagi (Proposal Jurnal Pendidikan Islam PAI FIAI UII : 2008) dan menjawab predikat keterbelakangan dan kemunduran yang selalu melekat pada pendidikan Islam. dana. proses. merupakan suatu kenyataan yang selama ini dihadapi oleh lembaga pendidikan Islam di Indonesia. tujuan. Katakan saja. Hal ini. penataan model. berkelanjutan. dan orientasi pendidikan Islam. terutama pada sistem pendidikan persekolahan harus diupayakan secara terus menerus. Harus dilakukan inovasi kelembagaan dan tenaga kependidikan. strategi pengembangan pendidikan Islam hendaknya dipilih dari kegiatan pendidikan yang paling mendesak. misi. dan mampu menjawab perubahan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia. sehingga usahanya dapat menjangkau pada perluasan dan pengembangan sistem pendidikan Islam luar sekolah. perubahan paradigama. visi. relevan. berkesinambungan. Olah karena itu. seperti: perubahan kurikulum pendidikan secara terarah dan kontinu agar dapat mengikuti perubahan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tenaga 10 . Tetapi realitas di masyakarat banyak perilaku kekerasan yang mengatasnamakan Islam. muncul tuntutan masyarakat sebagai pengguna pendidikan Islam agar ada upaya penataan dan modernisasi sistem dan proses pendidikan Islam aga menjadi pendidikan yang bermutu. PENATAAN PENDIDIKAN ISLAM Dari paparan di atas.

perlu ada perimbangan [balancing] antara disiplin atau kajiankajian agama dengan pengembangan intelektualitas dalam program kurikulum pendidikan. yaitu : Pertama. Perlu menempatkan kembali seluruh aktivitas pendidikan di bawah “kerangka dasar kerja spritual”. Tetapi usaha melakukan inovasi tidak hanya sekedar tanbal sulam. penataan pendidikan Islam haruslah bersifat komprehensif dan menyeluruh. tujuan. Penataan fungsi pendidikan Islam. dan bukan separated subject 11 . lembaga pendidikan. sebab dunia kerja mempunyai andil dan rentang waktu yang cukup besar dalam jangka kehidupan pribadi dan kolektif. dan pengelolaannya. tetapi harus secara mendasar dan menyeluruh. strategi. tidak lagi adhoc dan incremental seperti sering terjadi di masa silam (Azyumardi Azra. materi [kurikulum]. Sistem pendidikan Islam harus menganut integrated curriculum. Seluruh aktivitas intelektual dan proses pendidikan senantiasa dilandasi oleh nilai-nilai agama. tentu dengan memperhatikan dunia kerja. Perbaikan pada aspek materi [kurikulum]. dan kebulatan materimateri pendidikan dengan ajaran Islam. koordinasi. metode. harmonis. Kedua. tanpaknya kita perlu menyusun langkah-langkah strategi sebagai upaya untuk kembali membangkitkan dan menempatkan pendidikan Islam pada peran yang semestinya dengan berusaha menata ulang paradigm pendidikan Islam sehingga pendidikan Islam kembali bersifat aktif-progresif. perbaikan pada aspek manajemen pendidikan itu sendiri. 2002 :17). dimana tujuan akhir dari seluruh aktivitas pendidikan sebagai upaya menegakkan ajaran agama dengan memanusiakan manusia dalam konteks kehidupannya. mulai dari fungsi. Dengan kata lain. pendekatan.kependidikan harus ditingkatkan etos kerja dan profesionalismenya. Langkah-langkah strategi tersebut diantaranya. artinya perpaduan. ODQGDVDQ?ÀORVRÀV?GDQ?WHURUL??YLVL?GDQ?PLVL? SHQGLGLNDQ??KDUXV? dikembangkan dan dijabarkan atas konsep dasar kebutuhanan manusia. Dari gambaran tersebut di atas. dan metodologi yang masih berorientasi pada sistem tradisional. baik pada tingkat konsep maupun penyelenggaraan.

nabi dan lain-lain. dengan upaya menghilkangkan atau minimal membuka kembali sekat dan wilayah-wilayah yang selama ini terlarang bagi perdebatan dan kajian. pandangan. Kesempatan berijtihad yang selama ini di anggap tertutup juga menjadi malapetaka bagi perkembangan pemikiran “rasional intelektual” dan ikut terkubur. kritik terhadapan pandangan dan pemikiran keagamaanpun dianggap sebagai kritik terhadap otoritas Tuhan. pendidikan yang berwawasan kebebasan dan demokrasi. Kita tidak mempunyai ruang bebas untuk mengekspresikan pemikiran. telah tercipta stigma dengan dikondisikan banyak sekat dan wilayah terlarang bagi perdebatan. 12 . karena selama masa kemunduran Islam. apabila menginginkan pendidikan Islam kembali survive di tengah perubahan masyarakat. sering kali dianggap sebagai pengkaburan.curriculum maunpun correlated curriculum (S. 1990 : 162). Ketiga. Nasution. Agama kemudian dijadikan sebagai otoritas baru untuk memasung dan mengkerdilkan [membonsai] pemikiran-pemikiran inovatif yang muncul. Keempat. proses pendidikan akan memberikan penyeimbangan antara kajian-kajian agama dengan kajian lain [non-agama] dalam pendidikan Islam yang merupakan suatu keharusan. Maka dengan konsep integrated curriculum. Mengembangkan pendidikan Islam berwawasan kebudya dan masyarakat. Maka. perlu dikembangkan pendidikan yang berwawasan kebebasan. mulai melakukan strategi pendidikan yang membumi pada kebutuhan nyata masyarakat yang akan menghartar peserta didik pada kebutuhan akhirat. Kenapa demikian. sehingga insan akademik dapat melakukan pengembangan keilmuan secara maksimal. Apabila muncul pemikiran baru yang berbeda dengan mainstream. dan gagasan. penyesetan dan penyimpangan dari agama dan kadang kala. perbedaan pandapat dan pandangan yang mengakibatkan sempitnya wilayah pengembangan intelektual rasional. akan menjadikan wilayah pengembangan intelektual semakin luas yang tentu membuka peluang lebar bagi pengembangan keilmuan di dunia pendidikan Islam pada khususnya dan Islam pada umumnya.

keluarga. ada keinginan dari masyarakat dan berbagai lembaga pendidikan Islam untuk menjadikan pendidikan Islam sebagai salah satu pendidikan alternatif. menjadi era berhembusnya kebebasan berpikir. inovatif. transformatif. Dari pandangan ini kebebasan berpikir mutlak diperlukan untuk melahirkan intelektual-intelektual yang memiliki pandangan keagamaan yang baru. bahasa sebagai alat untuk memperkaya persepsi. kritis.pendidikan yang menyenangkan dan mencerdaskan. bahwa kelemahan pendidikan Islam dewasa ini. Mukti Ali. dan konstruktif dalam menghadapi tantang perubahan. kelemahan kelembagaan [organisasi]. dan kreatif. Tetapi pemikiran ini memerlukan paradigm baru untuk meningkatkan kualitan pendidikannya. 13 . kelemahan ilmu dan teknologi. era globalisasi. Agama dan kebebasan berpikir merupakan dua mata uang logam yang tidak dapat dipisahkan (=XKDLULQL? 0LVZDUL?? ?????. dialogis. Sebab pendidikan akan menjadi sia-sia bila mutu proses dan lulusannya rendah. dan jernih.EQX? 5XVKG?? PHQ\DWDNDQ? EDKZD? KLNPDK?? SHQDODUDQ?? GDQ? ÀOVDIDW? adalah sahabat agama [syariah]. dan negaranya (Ahmad Baharuddin. inovatif. Kita berharap disain pendidikan Islam pada era informasi. Diperlukan pendidikan yang menghidupkan kembali tradisi intelektual yang bebas. MENUJU PENDIDIKAN ISLAM BERMUTU DAN UNGGUL Mutu pendidikan merupakan hal yang harus diperhatikan dan diupayakan untuk dicapai.3. disebabkan oleh faktor penguasaan sistem dan metode. dan saudara sesunya. Pertanyaannya. sehingga mendorong lahirnya pemikir-pemikir keagamaan yang memiliki kemampuan bersaing. Saat sekarang ini. tidak terbangun jiwa NHPDQGLULDQ? GDQ?NUHDWLÀWDVQ\D??/HELK?SDUDK?GDQ?PHQ\HGLKNDQ? ODJL? jika out put pendidikannya menambah beban masyarakat. 3. segar. 2007: 129). dan ketajaman interpretasi [insight]. pendidikan Islam yang mutu dan unggul yang bagaimana? Apakah kita harus memperbaiki secara radikal terhadap kelemahan-kelemahan pendidikan Islam yang telah diproyeksikan oleh A. .

dan profesional dalam bidang apa. maka pendidikan Islam harus didesak untuk melakukan inovasi. Ada sebagian orang justru mencurigai motto “pendidikan unggulan” ini GHQJDQ?PHQVLQ\DOLU? VHEDJDL?EHQWXN?NDÀWDOLVDVL?GDQ? NRPHUVLDOLVDVL??GL? PDQD?GLPHQVL?ÀVLN??PDWHUL?? EDQJXQDQ??OHELK?GLNHGHSDQNDQ?GDUL?SDGD? “isi”.Apabila hal ini menjadi fokus. proses atau substansi pendidikan itu sendiri. Apakah pendidikan bermutu GDQ?XQJJXO??GLOLKDW?GDUL?VLVL? JHGXQJ?>ÀVLNQ\D@??PDQDMHPHQQ\D??DWDX? kedua-duanya? Apakah manusianya. apakah dilihat dari RXWSXW?Q\D. ataukah dinilai oleh Badang Akreditasi Nasional [BAN] dengan predikat terakreditasi dengan nilai A. Pendidikan mutu dan unggul. Apakah pendidikan yang bermutu dan unggul dapat dilihat dari lulusan dengan nilai tinggi atau dilihat dari lulusannya dapat diserap pasar dengan cepat. tentu saja harus didasarkan pada suatu standar dan ukuran kemajuan [benchmark] tertentu yang terbuka [accountable]. unggul. sehingga public dengan mudah mengikuti dan menilai kemajuan pendidikan yang ada (Ade Cahyana. tetapi juga strategi dan taktik operasional dan metodologinya. Berbicara tentang pendidikan yang mutu dan unggul. dilihat dari nilai yang diperoleh para lulusannya. B. tidak hanya terkait dengan kurikulum dan perangkat manajemen. untuk mewujudkan pendidikan Islam yang bermutu dan unggul. 2006). Strategi dan taktik itu. apakah ada NRUHODVL? 14 . 2006: 409) ??DWDX?PHPLOLNL?JXUX?GDQ?GRVHQ?\DQJ? WHUVHUWLÀNDVL?GHQJDQ? memiliki kompetensi untuk mengajar. Pertanyaan lulusan berkualitas seperti apa yang dianggap mutu dan unggul? Misalnya saja para siswa dan sarjana yang lulus dengan nilai tinggi. bahkan sampai menuntut perombakan model-model sampai dengan institusi-institusinya VHKLQJJD?OHELK?HIHNWLI? GDQ?HÀVLHQ??GDODP?DUWL?SDHGDJRJLV??VRVLRORJLV?? dan cultural dalam menunjukkan perannya (+?0?$ULÀQ??????????. dilihat manusia seperti apa yang dianggap mutu. dan C atau tidak terakreditas (Hujair AH. Sanaky.

bertanggungjawan. Selain itu. memiliki sumberdaya yang profesional. yang dibangun oleh kiai dan para gurunya dalam proses. kesungguhan. misi. tapi tidak dapat meneruskan ke perguruan tinggi. dianggap tradisonal. ujung-ujungnya menjadi buruh/pedagang. memiliki skill untuk menjawab kabutuhan masyarakat. Maka dalam konteks ini. kerendahan hati. memiliki program pendidikan dan pembelajaran yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat. memiliki kemampuan psikomotorik yang tinggi. orang tua tidak mampu. malahan lebih banyak dihasilkan oleh keluarga atau masyarakat yang mengelilinginya. dan tujuan yang jelas. 15 . walaupun hal yang ditekuni dan dikerjakan memang tidak salah. Dari sekian pertanyaan di atas. Lulusannya memiliki standar kompetensi pengetahuan [knowledge] kognitif yang memadai. pengangguran. inovatif dan pengembangan ilmu dan teknologi. Dalam konteks historis. karena disebabkan oleh biaya. tetapi banyak melaihrkan para pahlawan. tetapi nilai-nilai ini pada zaman sekarang lebih mendapatkan respons yang kurang baik. memiliki kemampuani afektif yang anggun. dapat dikatakan bahwa pendidikan yang bermutu dan unggul adalah memiliki visi. Sarjana lulus dengan nilai tinggi. para tokoh pemikir bangsa. manusia unggul seperti apa yang dikehendari dari prodak pendidikan. santri banyak yang gratis. Lembaga pendidikan pesantren. keikhlasan. lantaran tidak memiliki koneksi. karena bukan sekedar pendidikan yang unggulan.VLJQLÀNDQVLQ\D? GHQJDQ? NHPDQGLULDQ? DWDX? NHLVWLPHZDDQ? yang akan mereka dapatkan? Realitas menunjukkan banyak siswa lulus SLTA memiliki nilai tinggi. manusia yang dapat dijadikan teladan adalah menusia yang dikategori unggulan bukanlah semata-mata ditentukan lembaga pendidikan yang membesarkannya. tetapi tidak macht atau mismacht dengan pendidikan yang ditekuni. dan bersamangat untuk melakukan inovasi. Inilah kondisi yang dihadapi pendidikan di negeri ini. kesederhanaan. biayanya murah. yaitu memiliki kepribadian dan moral yang tinggi. memiliki manajemen yang profesional dan bertanggungjawab. jujur. proses pendidikan di pesantren lebih berlaku dan faktor utamanya adalah keteladanan.

artinya ketika lulusan dari satuan pendidikan Islam.melakukan kegiatan secara terampil. sudah memiliki pengalaman yang cukup memadai dari kehidupan pendidikannya untuk melakukan sesuatu di masyarakat. psikomotorik. mengembangkan konsep pendidikan integralistik. 2008). menyerap aspirasi dan mendayagunakan potensi masyarakat. 2007: 122). mengembangkan konsep pendidikan pragmatis. hak untuk menyuarakan pendapat walaupun berbeda. yaitu berkewajiban mencari. konsep hasil belajar yang lebih baik tentu saja berorientasi pada kemampuan kognitif. Katakan saja. menemukan dan memanfaatkan ilmu bagi keperluan kehidupan umat manusia. lingkungan dan berbudaya. berkemauan dan bertindak sesuai dengan nilai-nilai luhur kemanusiaan. maka pendidikan Islam perlu membangun sistem pendidikan yang mampu mengembangkan sumber daya manusia yang berkualitas. yaitu pendidikan yang berorieintasi dan memandang manusia sebagai manusia [humanisasi] dengan menghargai hah-hak asasi manusia. meningkatkan demokratisasi penyenggaraan pendidikan. dan tindakan. berorientasi pada otonomi. kemanusian [insaniyah]. afektik. mengembangkan konsep pendidikan huhanistik. dan memiliki kemampuan bertindak yaitu menghasilkan sesuatu yang konkrit dan menghasilkan jasa. Kemampuan bertindak terkait erat dengan pendidikan life skills (Suharsimi Arikunto. yaitu memandang manusia 16 . yaitu pendidikan secara utuh yang berorientasi pada Ketuhanan. serta memenuhi permintaan perubahan arus globalisasi. dilandasai dengan nilai-nilai ilahiyah. serta dapat diserap pasar atau pengguna pendidikan. Kedua. menurut penulis pendidikan Islam harus berupaya untuk: Pertama. Dengan dasar ini. kemanusiaan dan alam pada umumnya sebagai suatu yang integralistik bagi perwujudan kehidupan yang rahmatan lil ¶DODPLQ. mengembangkan potensi berpikir. Dalam kerangka ini. Ketiga. manajemen pendidikan dengan berorientasi pada profesionalisme dan mutu. sekaligus juga harus bertanggungjawab atas apa yang terjadi selanjutnya jika dengan ilmu itu menimbulkan kerusakan lingkngan (Syamsul Ma’arif.

berkemampuan mengevaluasi diri sendiri. Kata Ahmad Baharuddin. 2007: 13 . Secara umum. sehingga puncak keberhasilan pembelajaran adalah ketika pembelajar menemukan sendiri. dan bukan didominasi oleh model ceramah yang berorientasi pada hanya ”memiliki”. dan meteri pembelajaran yang diorientasikan pada kebutuhan peserta didik dan kebutuhan masyarakat untuk dapat menjawab tantangan perubahan. dan keberanian berpikir untuk menghadapi realitas kehidupan harus dikembang dalam proses pendidikan.sebagai makhluk yang selalu membutuhkan sesuatu untuk melangsungkan. Keempat. 30). misi. Sanaky. membangun jiwa kemandirian. percaya pada kemampuan sendiri. kurikulum. mempertahankan dan mengembangkan hidupnya baik jasmani maupun rohani dan mewujudkan manusia yang sadar akan kebutuhan-kebutuhan hidupnya dan peka terhadap masalah-masalah kemanusiaan. dengan merumuskan visi. serta tujuan yang jelas. harga diri. penilaian terhadap mutu dan unggul suatu pendidikan tidak perlu direkayasa dan diformalkan. 2003: 301). ability. mengembangkan konsep pendidikan yang berakar pada budaya yang akan dapat mewujudkan manusia yang mempunyai kepribadiaan. lingkungan sosial-kulturalnya. kreativitas. social-kultural dan harus berfungsi untuk memberikan kaitan secara operasional antara peserta didik dengan masyarakatnya. kita harus berani menata dan mendesain ulang model pendidikan Islam yang berkualitas dan bermutu. dan selalu menerima dan ikut serta melakukan perubahan (Hujair AH. Dari semua dipaparkan di atas. sehingga pembelajar tahu persis potensi yang dimilikinya (Ahmad Bahruddin. 17 . konsep pendidikan Islam yang ditawarkan adalah pendidikan yang berorientasi pada kompetensi nilai-nilai ilahiyah. kepekaan sosial. Oleh karena itu. Dengan demikian. metode pembelajaran diorientasikan kepada upaya mencari dan mecahkan masalah yang berorientasi pada ”menjadi”. skill. tetapi akan datang dengan sendirinya dari masyarakat pengguna. membangun budaya berdasarkan budaya sendiri dan berdasarkan nilai-nilai ilahiyah. knowledge. pendidikan dan pembelajaran berbasis ”kebutuhan”.

18 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful