Skenario Case story A 4 years old boy came to the hospital with complaint of pale and abdominal distention

. He lives in Kayu Agung. He has already been hospitalized three times before (2007, 2008) in Kayu Agung General Hospital and alwas got blood transfusion. His younger brother, 3 years old, looks taller than him. His uncle died when he was 14 years old due to the similar disease like him. Physical examination Compos mentis, anemis (+), wide epicanthus prominent upper-jaw HR: 92 x/mnt, RR 26x/min, TD: 100/80 mmHg, Temp. 36,8˚C Heart and lung: within normal limit Abdomen: hepatic enlargement ¼ x ¼, spleen: schoeffner II Extremities: pallor palm of hand. Others: normal Laboratory Hb: 6 gr/dl, Ret: 2,4 %, leucocyte: 8x109/lt, thrombocyte: 220x109/lt, diff. count: 0/0/36/48/14/2 Blood film: anisocytosis, poikilocytosis, hypochrome, target cell (+) MCV: 60 fl, MCH 27,4 pg, MCHC 28 gr/dl, SI within normal limit, TIBC within normal limit, Serum Ferritin within normal limit. Questions 1. What do you think about this boy suffered from? 2. What is the most likely diagnosis? 3. What is differential diagnosis of this case? 4. How to manage this patient and his family?

1

I. Klarifikasi Istilah 1. 2. Pale Abdominal disention : Pucat : Peregangan rongga abdomen

akibat suatu masa, akumulasi 3. Blood transfusion gas dan cairan : Proses pemindahan darah atau komponennya dari donor ke 4. Epicanthus prominent upper-jaw resipien : Lipatan vertical yangmelebar apda 5. Schoeffner sisi nasal; penonjolan tulang maksila : Garis khayal yang digunakan untuk 6. 7. 8. 9. 10. Pallor of palm of hand Anisocytosis Poikilocytosis Hypochrome Target cell mengukur pembesaran limpa : Pucat pada telapak tangan : Adanya eritrosit dalam bentuk yang abnormal : Adanya eritrosit dalam bentuk yang abnormal : Pewarnaan pada eritrosit yang lebih pucat dari normal : Sentral eritrosit nampak lebih terang II. Identifikasi Masalah 1. A, 4 tahun, tinggal di Kayu Agung, datang dengan keluhan pucat dan distensi abdomen. 2. A pernah tiga kali dirawat di RSUD Kayu Agung dan selalu mendapat transfusi darah. 3. Adik A yang berusia 3 tahun lebih tinggi daripada A. 4. Paman A meninggal pada usia 14 tahun karena penyakit yang sama dengan A. 5. Pada pemeriksaan fisik didapatkan: Anemis (+), wide epicanthus prominent upper-jaw 2

Abdomen: hepatic enlargement ¼ x ¼, spleen: schoeffner II Extremities: pallor palm of hand. 6. Pada pemeriksaan lab didapatkan: Hb: 6 gr/dl, Ret: 2,4 %, leucocyte: 8x109/lt, thrombocyte: 220x109/lt, diff. count: 0/0/36/48/14/2 Blood film: anisocytosis, poikilocytosis, hypochrome, target cell (+) MCV: 60 fl, MCH 27,4 pg, MCHC 28 gr/dl, III.Analisis Masalah 1. a. Apa penyebab pucat dan distensi abdomen? b. Bagaimana mekanisme pucat dan distensi abdomen? c. Bagaimana hubungan tempat tinggal, usia, dan jenis kelamin dengan penyakit ini? 2. a. Apa indikasi tranfusi darah? b. Apa saja jenis-jenis transfusi darah? c. Apa manfaat dan dampak dari tranfusi darah? 3. a. Mengapa adik A memiliki badan yang lebih tinggi? b. Bagaimana hubungan penyakit ini dengan pertumbuhan tubuh? 4. Bagaimana hubungan penyakit yang diderita A dengan yang diderita paman A? 5. a. Bagaimana interpretasi pemeriksaan fisik? b. Bagaimana mekanismenya? c. Bagaimana hubungannya dengan gejala? 6. a. Bagaimana interpretasi pemeriksaan lab? b. Bagaimana mekanismenya? c. Bagaimana hubungannya dengan gejala? 7. Mengapa pasien thalasemia tidak terkena malaria? 8. Apa saja diagnosis banding kasus ini? 9. Bagaimana penegakan diagnosisnya? 10. Apa diagnosis kerja kasus ini? 11. Bagaimana penatalaksanaan kasus ini? 3

V. Pada kasus ini. Bagaimana kompetensi doker umum pada kasus ini? IV.12. Penyebab dan mekanisme pucat Warna merah dari darah manusia disebabkan oleh hemoglobin yang terdapat di dalam sel darah merah. Bagaiaman prognosis kasus ini? 13. Penyebab dan mekanisme distensi abdomen Distensi abdomen terjadi karena adanya penumpukan cairan. Pada penderita thalassemia beta. mengalami pucat dan distensi abdomen akibat thalasemia. distensi abdomen terjadi karena pembesaran hati dan limpa (hepatosplenomegaly). secara umum dapat dilihat mekanisme oucat sebagai berikut: Kelainan genetik (delesi pada gen yang mengkode protein globin di kromosom 11 atau 16)  Tidak terbentuknya salah satu atau kedua rantai globin  Rantai β tidak terbentuk  peningkatan relative rantai α  rantai α berikatan dengan rantai γ membentuk HbF (α2γ2)  peningkatan 4 . produksi rantai globin beta tidak ada tau berkurang. Apa komplikasi dari penyakit ini? 14. Pada penderita thalassemia. Hipotesis A. Sehingga hemoglobin yang dibentuk berkurang. Selain itu berkurangnya rantai globin beta mengakitbatkan rantai globin alfa berlebihan dan akan saling mengikat membentuk suatu benda yang menyebabkan sel darah merah mudah rusak. 2. Hemoglobin terdiri atas zat besi dan protein yang dibentuk oleh rantai globin alpha dan rantai globin beta. Sintesis 1. 4 tahun. udara atau karena ada massa dan organomegaly pada rongga abdomen. Berkurangnya produksi hemoglobin dan mudah rusaknya sel darah merah mengakibatkan penderita menjadi pucat atau anemia atau kadar Hbnya rendah.

Akibatnya limpa menjadi membengkak. karena laki-laki dan perempuan mempunyai prevalensi yang sama untuk menderita kelainan ini. sel darah merah yang rusak sangat berlebihan sehingga kerja limpa sangat berat. limpa. Daerah endemi malaria cenderung memiliki angka 5 . Selain itu tugas limpa lebih diperberat untuk memproduksi sel darah merah lebih banyak. sehingga kelainan ini sudah terjadi sejak awal pembuahan. Hubungan usia. secara umum dapat dilihat mekanisme distensi abdomen sebagai berikut: Kelainan genetik (delesi pada gen yang mengkode protein globin di kromosom 11 atau 16)  Tidak terbentuknya salah satu atau kedua rantai globin  Rantai β tidak terbentuk  peningkatan relative rantai α  rantai α berikatan dengan rantai γ membentuk HbF (α2γ2)  peningkatan HbF  mengendap di membran (Heinz bodies)  RBC mudah dihancurkan (di hati. jenis kelamin. karena si A menderita thalassemia yang merupakan kelainan yang diturunkan. dan tempat tinggal dengan penyakit Secara umum. Pada penderita thalassemia.HbF  mengendap di membran (Heinz bodies)  RBC mudah dihancurkan  Penurunan jumlah hemoglobin  (oksigenasi ke perifer berkurang)  pucat Limpa berfungsi membersihkan sel darah yang sudah rusak. dan sistem retikuloendotelial lain)  peningkatan kerja hati dan limpa  hepatosplenomegali  distensi abdomen 3. Jenis kelamin juga tidak memengaruhi kelainan yang di derita. tidak ada hubungan antara usia dengan gejala-gejala yang dialami A. Pada kasus ini. Tempat tinggal mempunyai pengaruh yang cukup besar pada kejadian thalassemia.

Anemia pada perdarahan akut setelah didahului penggantian volume dengan cairan. Indikasi transfusi darah Transfusi darah adalah pemindahan darah atau suatu komponen darah dari seseorang (donor) kepada orang lain (resipien). 5. Indikasi transfusi darah dan komponen-konponennya adalah : 1. Jenis-jenis transfusi darah a. 3. Gangguan pembekuan darah karena defisiensi komponen. 4. b. misal pada pasien gagal ginjal dan keganasan. 4. Penurunan kadar Hb disertai gangguan hemodinamik 5. Anemia kronis jika Hb tidak dapat ditingkatkan dengan cara lain. Sel darah merah pekat (packed red cell) Digunakan untuk meningkatkkan sel darh merah pada pasien yang menunjukkan gejala anemia. Di Indonesia sendiri prevalensi thalassemia cukup tinggi di daerah Sumatera Selatan. Darah lengkap (whole blood) Berguna untuk meningkatkan jumlah sel darah merah dan volume plasma dalam waktu yang bersamaan. misal pada perdarahan aktif dengan kehilangan darah lebih dari 25 -35 % volume darah total. 6 . Plasma loss atau hipoalbuminemia jika tidak dapat lagi diberikan plasma subtitute atau larutan albumin. karena penderita thalassemia resisten terhadap infeksi malaria. 2.prevalensi thalssemia yang lebih tinggi.

Trombosit dengan sedikit leukosit (platelets leukocytes reduced) Digunakan untuk pencegahan terjadinya alloimunisasi terhadap HLA. Juga diindikasikan untuk mereka selama operasi atau prosedur invasive dengan trombosit < 50.c. Trombosit pekat (concentrate platelets) Diindikasikan pada kasus perdarahan karena trombositopenia atau trombositopati congenital/didapat. f. mengganti cairan plasma yang hilang karena perdarahan akut b. h. e. 6. Sel darah merah pekat dengan sedikit leukosit (packed red blood cell leucocyte reduced) Digunakan untuk meningkatkan jumlah RBC pada pasien yang sering mendapat/tergantung pada transfusi darah dan pada mereka yang mendapat reaksi transfusi panas dan reaksi alergi yang berulang. Manfaat dan dampak dari tranfusi darah Manfaat transfusi darah: a. Sel darah merah pekat cuci (packed red blood cell washed) Pada orang dewasa komponen ini dipakai untuk mencegah reaksi alergi yang berat atau alergi yang berulang. Sel darah merah pekat beku yang dicuci (packed red blood cell frozen) Hanya digunakan untuk menyaimpan darah langka. Plasma segar beku (fresh frozen plasma) Dipakai untuk pasien denagn gangguan proses pembekuan pembekuan bila tidak tersedia faktor pembekuan pekat atau kriopresipitat.000/Ul g. mengatasi anemia 7 . terutama pada pasien yang menerima kemotrrapi jangka panjang. misalnya pada defisiensi faktor pembekuan multiple. d.

Komplikasi dini 1) Reaksi hemolitik Reaksi ini terjadi karena destruksi sel darah merah yang inkompatibel.c. atau protein Renjatan anafilaktik terjadi 1 pada 20. TRALI) 8 . transfuse darah yang lisis. memperbaiki masalah pembekuan. 3) Reaksi pirogenik Peningkatan suhu tubuh dapat disebabkan oleh antibody leukosit. Reaksi hemoliik juga dapat terjadi karena transfusi eritrosit yang rusak akibat paparan dekstrose 5%. transfuse denagn darah yang terinfeksi. d.000 transfusi. mempertahankan kadar Hb tidak turun di bawah 10 gr% pada pasien thalassemia. Reaksi anafilaktik yang berat terjadi akibat interaksi antara IgA pada darah donor dengan anti-IgA spesifik pada plasma resipien. Dampak transfusi darah: a. transfuse darah dengan pemanasan berlebihan. antibodi trombosit. atau senyawa pirogen. injeksi air ke sirkulasi. meningkatkan kemampuan darah dalam mengangkut oksigen e. Reaksi alergi ringan yang menyerupai urtikaria timbul pada 3% transfusi. memperbaiki volume darah tubuh f. transfuse darah beku. transfuse darah dengan tekanan tinggi. trombosit. memperbaiki kekebalan g. 4) Kelebihan beban sirkulasi 5) Emboli udara 6) Hiperkalemia 7) Kelainan pembekuan 8) Cedera paru akut yang berhubungan dengan transfusi (transfusion related acute lung injury. 2) Reaksi alergi terhadap leukosit.

Komplikasi lanjut 1) Transmisi penyakit Virus (Hepatitis A. toxoplasma.000 transfusi. Hal ini mengakibatkan tulangtulang tersebut mengalami penonjolan dan pelebaran. b. mikrofilaria) 2) Kelebihan timbunan besi akibat transfuse 3) Sensitisasi imun 7. C. demam. dan leucopenia akut sementara. os radius. Pada pasien thalasemia. B. os femur. os fibula. terjadi destruksi dini eritrosit sehingga sumsum tulang merah berkompensasi dengan cara meningkatkan eritropoiesis. Manifestasi klinis yang ditemui adalah dispnea. Sumsum tulang putih terdapat pada tulangtulang panjang seperti os tibia. Salmonella) Parasit (malaria.200-25. Sumsum tulang merah terdapat di tulang pipih seperti os maxilla. destruksi dini sel darah merah terus berlanjut sehingga sumsum tulang putih yang normalnya berfungsi untuk membangun bentuk tubuh dan pertumbuhan berubah fungsi menjadi sumsum tulang merah yang menghasilkan eritrosit. dan os parietal. dan os ulna. CMV) Bakteri (Treponema pallidum. Brucella. Hubungan penyakit dengan hambatan pertumbuhan pasien (mengapa adik A lebih tinggi dari A) Hambatan pertumbuhan terjadi akibat: a.Kondisi ini adalah suatu diagnosis klinik berupa manifestasi hipoksemia akut dan edema pulmoner. takikardi. Perubahan fungsi tulang-tulang ini dari pembangun tubuh menjadi pembentuk eritrosit mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan A. Angka kejadiannya adalah sekitar 1 dari 1. Namun. bilateral yang terjadi 6 jam setelah transfuse. 9 . os frontal. takipnea. HIV.

Massa jaringan eritropetik yang membesar tetapi inefektif bisa menghabiskan nutrient sehingga menyebabkan retardasi pertumbuhan (Patologi Robbins-Kumar volume 2 hal. kematian terjadi pada dekade kedua atau ketiga. c. Penimbunan besi pada pasien thalassemia dapat merusak organ endokrin sehingga terjadi kegagalan pertumbuhan dan gangguan pubertas. atau dilakukan transplantasi sumsum tulang). 454). ayah carrier-ibu carrier Persentase F1: 25% normal 50% carrier 25% thalassemia 10 . ayah normal-ibu carrier Persentase F1: 50% normal 50% carrier  Bila. Gejala pada A cocok dengan gejala thalasemia B mayor yang dapat mematikan bila tidak ditangani dengan benar (diberikan transfusi darah secara rutin. Hubungan penyakit yang diderita A dengan yang diderita paman A Thalasemia merupakan suatu kelainan genetik yang diturunkan. yaitu merupakan suatu penyakit autosomal resesif dengan delesi di kromosom 11 (Thalassemia β) atau 16 (Thalassemia α) sehingga kemungkinan paman A juga menderita thalasemia. Dalam kasus thalasemia mayor. biasanya akibat gagal jantung kongestif atau aritmia jantung. 8. Berikut adalah asumsi pedigree pada kasus pasien A ini: Keterangan pedigree:   Thalassemia”Autosomal Resesif” Bila.b.

Riset oleh Dr. dan Amerika. Dari beberapa data riset diketahui bahwa frekuensi gen beta thalasemia berhubungan dengan tingkat endemik malaria pada suatu daerah. Anak dengan thalasemia mempunyai sel darah merah dengan ukuran lebih kecil dan hemoglobin yang lebih sedikit. 11 . Penyakit ini sendiri terdiri dari dua fase. termasuk sebagian dari Asia. Ph. misalnya pada Papua Nuguini. merozoid keluar dan menyebabkan lisisnya eritrosit.D dari Universitas Oxford menunjukkan 68% anak di Papua hidup dengan thalasemia a dan dari hasil risetnya di Papua. Karen Day. Malaria tersebar pada daerah tropis dan sub-tropis. diketahuia bahwa anak dengan thalasemia dapat mentolerir hilangnya darah secara masif yang diakibatkan oleh malaria karena mereka mempunyai darah 10-20% lebih banyak daripada anak tanpa thalasemia. Sporozoid masuk ke liver kemudian berubah menjadi merozoid lalu keluar dari hepatosit dan menginfeksi eritrosit dan setelah bereplikasi di dalam eritrosit. Pasien thalassemia resisten terhadap malaria Malaria merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit protozoa (genus plasmodium). yaitu fase eksoeritrositik dan fase eritrositik. Afrika.Keterangan: Laki-laki normal Wanita normal Laki-laki carier Wanita Carier Laki-laki thalasemia 9. tetapi dengan jumlah yang lebih banyak.

8˚C Within limit Nilai Normal Compos mentis Normal Interpretasi Normal Pucat Ekspansi massif sumsum tulang wajah Normal Normal Normal Normal Normal Hepatomegali Splenomegali Anemia 65-110 20-25 95-110/60-75 Temp Heart and lung Abdomen: Hepar Spleen Ekstremitas: Telapak tangan 36.5 normal Normal Enlargement ¼ x ¼ Schoeffner II Pucat Kemerahan 11. Interpretasi pemeriksaan fisik Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan Kasus Keadaan umum: Kesadaran Compos mentis wajah Vital sign: HR RR TD Anemis Morfologi + Wide epicanthus prominent upperjaw 92 x/menit 26 x/menit 100/80 mm/Hg 36. Mekanisme pemeriksaan fisik (hubungan dengan gejala pasien) Keadaan umum anemis: defek gen  produksi globin terganggu  hemoglobin ↓  eritropoiesis berjalan tidak efektif  eritrosit lebih rapuh-usia memendek  hemolitik dari eritosit  jumlah eritrosit ↓  suplai ke perifer menurun  anemia Wide epicanthus  lipatan vertical pada sisi nasal yang melebar 12 .10.5-37.

chronic anemia. anemia def. besi. besi. dll 13 . tulang panjang kembali memproduksi sel darah merah  hiperplasia sumsum tulang  bentuk tulang berubah Hepatic enlargement ¼ x ¼ dan spleen schoeffner II Mekanismenya: Eritrosit abnormal  membran eritrosit lebih rapuh  hemolisis meningkat  hemoglobin bebas yang meningkat diambil oleh hati dan limpa  hepatosplenomegali  distensi abdomen 12.0 gr/dl Nilai normal 11.Prominent upper jaw  penonjolan rahang atas Mekanismenya: Anemia hemolitik  produksi eritrosit ditingkatkan  tulang wajah. dll MCH 27.000/mm3 60 5000-10. dll WBC Platelet MCV 8000/mm3 220. anemia def.4 27-33 pg Normal rendah MCHC 28 % 32-36g/dl Thalasemia.7-15.000 µl 150-450x103/µL 80-95 fl Normal Normal Thalasemia. Interpretasi pemeriksaan lab Pemeriksaan Hemoglobin Kasus 6.5 g/dl Interpretasi Thalasemia.

pemberian cairan IV berlebihan dan penyakit Hodkins.2 % 0.5 % Perdarahan/ proses hemolitik Darah perifer anysositosis Normal (-) Ukuran RBC banyak variasi poikylositosis Normal (-) Bentuk RBC banyak variasi RBC tampak lebih pucat hipokrom target cell (+) Normokrom RBC daerah sentral lebih Normal (-) terang Neutrofil batang >> Diff. indometasin.Retikulosit 2. penyakit ginjal. primaquin. rifampin dan trimetadin. Count 0/0/36/48/14/2 0/1/4/66/25/4 Infeksi bakteri/ keganasan? Normal Serum besi TIBC Serum ferritin Normal Normal Normal : 6 gr/dl :↓ 50-150 250-400 50-300 Normal Normal Hasil Hb pasien Interpretasi Penurunan Hb terdapat pada penderita anemia. sulfonamide. aspirin. Ab.5-1. antineoplastik. Ca. Dapat juga diakibatkan karena obat-obatan . 14 .

talasemia major. 3. 13. kehamilan dan kondisi pasca perdarahan akut. 5. RA. 4. Hasil MCHC : 28 (gr/dl) Interpretasi talasemia. Talasemia. eritoblastosis fetalis. Diagnosis banding Anemia 1. leukemia. keracunan timah dan radiasi. Besi Sumsum Tulang 8. Hb C dan D positif. keganasan.4 % :↑ :↓ Penurunan MCHC terdapat pada penderita anemia hipokromik dan Peningkatan retikulosit terjadi pada anemia hemolitik. HbC. 6. Hasil Retikulosit Interpretasi : 2. Apusan darah: sel target . sel sabit. Ferritin serum 10. 2. Derajat Anemia MCV MCH Besi Serum TIBC Saturasi Defisiensi Besi Ringan-Berat ↓ ↓ ↓ <30 ↑ >360 ↓<15% (-) ↑ ↓<20 (-) Thallasemia β Mayor Berat ↓ ↓ N/↑ N/↓ ↑ >20% (+) N ↑ >50 (+) Anemia Sideroblastik Ringan-Berat N/↓ N/↓ N/↑ N/↓ ↑ >20% (+) dengan ring sideroblast N ↑ >50 (-) 15 Transferin 7. Protoporfirin eritrosit 9. anemia sel sabit.Hasil MCV : 60 (fl) Interpretasi : ↓ Penurunan MCV terdapat pada pasien anemia mikrositik def besi.

Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan laboratorium Diagnosis dari talasemia dapat diketahui dengan melakukan beberapa pemeriksaan darah. Pada ekstremitas : pucat pada telapak tangan. c. seperti:  FBC (Full Blood Count) Pemeriksaan ini akan memberikan informasi mengenai berapa jumlah sel darah merah yang ada. pembesaran limpa: schoeffner II. pada kasus A pernah dirawat di rumah sakit umum Kayu Agung sebanyak tiga kali (2007. wide epicanthus prominent upper-jaw. pada kasus adik A berusia 3 tahun terlihat lebih tinggi dari A dan paman A meninggal pada usia 14 tahun karena penyakit yang sama seperti yang dialami A. Pada pemeriksaan abdomen ditemukan pembesaran hati ¼ x ¼. Pada kasus-kasus lain terdapat juga murmur jantung ataupun tanda-tanda gagal jantung dan intolerance terhadap aktivitas akibat komplikasi dari anemia yang berat. Pemeriksaan fisik Pada pemeriksaan fisik ditemukannya anemis (+). Tanyakan keluhan yang dialaminya. Lalu tanyakan juga riwayat penyakit. Perlu ditanyakan juga pekerjaan orang tua untuk menunjang pengobatan nantinya. pada kasus mengeluh pucat dan distensi abdomen. Pada pasien yang kelebihan besi akan timbul tanda-tanda endokrinipati. Penegakan diagnosis a. Terdapat juga retardasi pertumbuhan. berapa jumlah hemoglobin yang 16 . Amanmesis Tanyakan kepada pasien ataupun keluarganya mengenai identitas pasien.14. Tanyakan juga riwayat keluarga.2008) dan selalu mendapatkan transfusi darah. b. pada kasus didapat seorang anak laki-laki berumur 4 tahun yang tinggal di Kayu Agung.

Selain itu dapat juga dievaluasi bentuk darah.  Iron studies Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui segala aspek penggunaan dan penyimpanan zat besi dalam tubuh. dan ukuran serta bentuk dari sel darah merah. sel target dan titik basofilik. kepucatan darah. Sediaan Darah Apus  Pada pemeriksaan ini darah akan diperiksa dengan mikroskop untuk melihat jumlah dan bentuk dari sel darah merah. dan maturasi darah. sel darah putih dan platelet. Pada talasemi mayor dapat dijumpai gambaran anemia mikrositik hipokrom berat dengan persentase retikulosit tinggi disertai normoblas. Tujuan dari pemeriksaan ini adalah untuk membedakan apakah penyakit disebabkan oleh anemia defisiensi besi biasa atau talasemia.ada di sel darah merah. 17 .

serta cairan amnion. Pemeriksaan auditorik dan funduskopi secara teratur apabila telah dilakukan program transfusi darah untuk menghindari terjadinya komplikasi akibat efek samping obat desferioksamin diantaranya tuli nada tinggi dan kerusakan retina. Tulang tengkorak memperlihatkan diploe dan pada anak besar kadang-kadang terlihat brush appearance. Pemeriksaan sitogenetik Merupakan pemeriksaan komposisi kromosom sel. limpa. Elektroforesis hemoglobin Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui tipe dan jumlah relatif hemoglobin yang ada dalam darah (HbA. hati. Sering pula ditemukan gangguan pneumatisasi rongga sinus paranasalis. dan setiap deviasi dari yang normal. HbF. dan pada kelenjar getah bening. korteks tipis dan trabekula kasar. Pemeriksaan ini merupakan tes yang paling efektif untuk mendiagnosa keadaan karier pada talasemia. Analisis DNA  Analisis DNA digunakan untuk mengetahui adanya mutasi pada gen yang memproduksi rantai alpha dan beta. fungsi normal. Analisis sitogenetik bisa dilakukan pada jaringan yang diambil aspirasi dan biopsi sumsum tulang pada darah tepi jika jumlahnya meningkat. dan HbA2). 15. Diagnosis kerja Diagnosis Kerja 18 . Pemeriksaan radiologis Gambaran radiologis tulang akan memperlihatkan medulla yang lebar.

Afrika dan Asia. Talasemia bersifat diturunkan sebagai keadaan autosom kodominan. 1995) Epidemiologi  Frekuensi Indonesia  Di Indonesia berdasarkan parameter hematologi. Penyakit Genetika Molekular Parah.Thalassemia β mayor Definisi thalassemia Talasemia adalah sekelompok heterogen pada kelainan genetik sintesis hemoglobin. Gen yang mengalami mutasi khususnya terdapat di antara penduduk Timur Tengah. Bentuk heterozigot (talasemia minor atau ciri berbakat talasemia) dapat asimptomatik atau bergejala ringan. Robbins & Kumar – Jakarta :EGC. Bentuk homozigot yang disebut talasemia mayor. sedang pada β -talasemia sintesis rantai globin-β tidak ada (dinyatakan sebagai β o-talasemia) ataupun nyata berkurang (β +-talasemi). (Buku Ajar Patologi II. Diperkirakan lebih 2000 penderita baru dilahirkan setiap tahunnya di Klasifikasi thalasemia secara klinis dan genetis Tatanama Klinis Talasemia β Talasemia mayor Genotipe Talasemia β0 homozigot (β0 /β0). gen thalassemia di Indonesia berkisar 3-10%. Pada α-talasemia sintesin rantai α-globin berkurang. ditandai oleh tiadanya atau berkurangnya sintesis rantai globin. frekuensi pembawa sifat thalassemia β di Sumatera Selatan sekitar 8%. disertai anemia hemolisis yang parah. memerlukan Delesi gen yang jarang transfusi darah pada β0 /β0 19 .

talasemia minor Anemia tetramer SDM berat. begitu juga langkah-langkah yang terlibat dalam biosintesis rantai globin adalah sama. 20 . Setiap gen globin memiliki tiga rangkaian pengkodean (ekson) yang diganggu oleh dua rangkaina peratara (intron). hitam) Asimtomatik. β-globin -α/-α (Afrika kulit seperti Penyakit HbH --/-α (HbH) terbentuk di Hidrops fetalis Patogenesis --/-- Letal in utero Hemoglobin dewasa atau HbA mengandung dua rantai α dan dua rantai β . Dan. dua pasang gen α-globin yang fungsional berada pada setiap kromosom nomor 16. Ditandai oleh dua gen globin β yang bertempat pada masing-masing dari dua kromosom nomor 11. Struktur dasar gen αglobin dan β .talasemia β+ homozigot (β+ /β+) secara berkala Defek pada pemrosesan transkripsi atau translasi mRNA β-globin Talasemia minor β0 /β β+ /β Asimtomatik dengan anemia ringan atau tanpa anemia. ditemukan kelainan SDM Talasemia α Sillent carrier -α/αα Asimtomatik: tidak Terutama delesi gen tampak SDM kelainan Sifat talasemia α -α/αα (Asia).

mRNa dewasa yang terbentuk meninggalkan nucleus dan menjadi terkait ribosom pada tempat translasi berlaku. Adanya kelainan gen-α lebih kompleks dibandingan dengan kelainan gen-β yang hanya terdapat satu pasang. sehingga pada kasus ini tidak terjadi kelainan hematologis. biosintesis rantai globin mulai dengan transkripsi gen globin di dalam nucleus. yang diperlukan untuk inisiasi sintesis mRNA β -globin. Identifikasi hanya dapat dilakukan dengan analisis molekular menggunakan RFLP atau sekuensing. Kelainan klinis pada sintesis rantai globin-alfa dan beta dapat terjadi.Pengapitan sisi 5’ gen globin merupakan serentetan “rangkaian promoter” yang tidak dapat diterjemahkan. (Buku Ajar Patologi II. Seperti pada semua gen eukariotik. Transkripsi mRNA awal mengandung suatu salinan seluruh gen. sebagai berikut: 1. 21 . sedangkan gangguan pada sintesis rantai-β disebut thalassemia-β. Precursor mRNA yang besar ini mengalami beberapa modifikasi pascatranskripsi (proses) sebelum diubah menjadi mRNA sitoplasma dewasa yang siap untuk translasi yaitu penyambungan dua intron dan mengikat kembali ekson. Robbins & Kumar – Jakarta :EGC. Gangguan pada sintesis rantai-α dikenal dengan penyakit thalassemia-α. maka dalam pewarisannya akan terjadi kombinasi gen yang sangat bervariasi. Silent carrier yang hanya mengalami kerusakan 1 gen. Abnormalitas dapat terjadi pada setiap gen yang menyandi sintesis rantai polipeptid globin. tetapi yang mempunyai arti klinis hanya gen-β dan gen-α. Bila terdapat kelainan pada keempat gen-α maka akan timbul manifestasi klinis dan masalah. 1981). 1995) Thalassemia diartikan sebagai sekumpulan gangguan genetik yang mengakibatkan berkurang atau tidak ada sama sekali sintesis satu atau lebih rantai globin (Weatherall and Clegg. Jalur ekspresi gen α-globin sangat serupa. termasuk semua ekson dan intron. Karena ada 2 pasang gen-α.

abnormal (hemolisis) Kelimpahan zat besi sistemik Transfusi Anoksi (hemokromatosis darah jaringan sekunder) Patogenesis Thalasemia β Mayor Produksi EPO Hemopoeiesis ekstramedula Pengembangan sumsum / hiperaktifitas sumsum tulang Deformitas tulang Hepatomegali Splenomegali Distensi Abdomen 22 Facies talasemia dan penipisan korteks di banyak tulang . MCV: 80 Anemia eritrosit MCH: 27 – 34 g/dl.5 g/dl dan pada wanita: 12 – 14 g/dl. Pada Hb-Bart’s hydrop fetalis disebabkan oleh kerusakan keempat gen globin-alfa dan bayi terlahir sebagai Hb-Bart’s hydrop fetalis akan NORMAL mengalami oedema dan asites karena β . Rentang normalKerusakan – 100 g/dl. Bila terjadi kerusakan pada 2 gen-α atau thalassemia-α minor atau carrier thalassemia-α menyebabkan kelainan hematologis. Pucat Namun emikian nilai indeks hematologis. berkurang / tidak ada Hb A thalassemia-β mayor bentuk homozigot (β0) dan thalassemia-β 5. Pada Kumpulan globin α yang (α2β 2) tidak larut mengendap di minor (β+) bentuk heterozigot yang tidak menunjukkan gejala klinis yang berat. 4.2. Thalassemia trait disebut uga & eritrosit peka thd fagositosis RES thalassemia minor tidak menunjukkan gejala klinis yang berarti sama alnya seperti orang normal kalaupun ada hanya berupa anemia ringan. 3. RBC normal Eritoblast dalam sum-sum tulang eritrosit Gangguan yang terjadi pada sintesis rantai globin-α ataupun-β jika terjadi Selaput eritrosit serius Eritropoiesis tidak pada satu atau dua gen saja tidak menimbulkan masalah yang jadi hanya mudah rusak. Absorpsi Fe dalam LIEN Kadar usus ↑ Hb normal aki-laki: 13.TALASEMIA penumpukan cairan dalam Sintesin globin β jaringan fetus akibat anemia berat.5 – 17. Bila terjadi kerusakan 3 gen-α yaitu pada penyakit HbH secara klinis termasuk thalassemia intermedia. kelenturan ↓ efektif sebatas pengemban sifat (trait atau carrier). yaitu nilai MCV dan MCH berada di bawah ilai rentang normal.

sedangkan hilangnya keempat gen α-globin berkaitan dengan kematian janin dalam uterus. maka terdapat empat kemungkinan keparahan α-talasemi berdasarkan hilangnya satu sampai keempat gen α-globin pada kromosom-kromosom tersebut.Berdasarkan patogenesis β -talasemi di atas. karena tidak ada daya 23 . dasar molekul αtalasemi sangat berbeda. Hilangnya suatu gen α-globin tunggal berkaitan dengan status pembawa penyakit tersembunyi. α-talasemi disebabkan oleh penghapusan lokus gen α-globin. Karena ada empat gen α-globin yang berfungsi.

Kondisi ini disebut thallasemia trait/beta thalassemia minor.  Jika salah satu gen dipengaruhi. 24 . Dengan hilangnya tiga gen β -globin relative berlebihan.dukung oksigen. (Buku Ajar Patologi II. masing-masing satu dari setiap orangtua. yang membentuk tetramer tak larut dalam sel darah merah. Beta thalassemia terjadi ketika satu atau kedua gen mengalami variasi. seseorang akan menjadi carrier dan menderita anemia ringan. Robbins & Kumar – Jakarta :EGC. sehingga sel peka terhadap fagositosi dan kerusakan. 1995) Skema Penurunan Gen Thalassemia Menurut Hukum Mendel Thalassemia β melibatkan dua gen (kromosom 11) didalam membuat beta globin yang merupakan bagian dari hemoglobin. Dasar hemolisis sama dengan yang terdapat pada β talasemi.

atau anemia Cooley’s). Ketimuran Pertengahan) dan orang dari Asia dan Afrika Pendaratan. Suatu survei tahun 1993 ditemukan 518 pasien anemia Cooley’s di Amerika Serikat. atau beta thalassemia mayor jarang terjadi. Manifestasi klinis Sebagai sindrom klinik penderita thalassemia mayor (homozigot) yang telah agak besar menunjukkan gejala-gejala fisik yang unik berupa hambatan pertumbuhan. anak menjadi kurus bahkan kurang gizi. Jika kedua gen dipengaruhi. Orang India. Italia. • Alfa thalassemia kebanyakan mengenai orang tenggara Asia. Anemia Cooley’s. Cina.  Faktor risiko • Anak dengan orang tua yang memiliki gen thalassemia  Anak dengan salah satu/kedua orang tua thalasemia minor  Anak dengan salah satu orang tua thalasemia • Resiko laki-laki atau perempuan untuk terkena sama • Thalassemia Beta mengenai orang asli dari Mediterania atau ancestry (Yunani. perut membuncit akibat hepatosplenomegali dengan wajah yang khas 25 . seseorang akan menderita anemia sedang (thalassemia beta intermedia atau anemia Cooley’s yang ringan) atau anemia yang berat ( beta thalassemia utama. Kebanyakan dari mereka mempunyai bentuk berat dari penyakit. atau orang Philipina. tetapi mungkin kebanyakan dari mereka tidak terdiagnosis .

menghasilkan eritrosit dengan ketahanan yang terbaik dan reaksi paling sedikit. Terapi khelasi besi digunakan untuk mengatasi kelebihan besi. bibir agak tertarik. Pelebaran tulang yang disebabkan oleh hyperplasia sumsum tulang yang hebat yang menyebabkan terjadinya fasies thalasemia dan penipisan korteks di banyak tulang dengan suatu kecenderungan terjadinya fraktur dan penonjolan tengkorak dengan suatu gambaran rambut berdiri (hair-onend) pada foto roentgen. Asam folat diberikan secara teratur (misal 5 mg/hari) jika asupan diet buruk c. Pasien harus diperiksa genotipnya pada permulaan program transfuse untuk mengantisipasi bila timbul antibody eritrosit terhadap eritrosit yang ditransfusikan. yang telah disaring untuk memisahkan leukosist. Penatalaksanaan a. b. pubertas yang terlambat atau tidak terjadi). Hal ini biasanya membutuhkan 2-3 unit tiap 4-6 minggu. mulut tongos (rodent like mouth). frontal bossing.mongoloid. Penumpukan besi akibat transfuse darah menyebabkan kerusakan organ endokrin (dengan kegagalan pertumbuhan. 16. Anak yang melakukan transfusi darah rentan terhadap infeksi bakteri. hemopoesis ekstramedula. Limpa yang besar meningkatkan kebutuhan darah dengan meningkatkan volume plasma dan meningkatkan destruksi eritrosit dan cadangan eritrosit. Pembesaran limpa dan hati terjadi karena destruksi eritrosit yang berlebihan. Transfusi darah teratur yang perlu dilakukan untuk mempertahankan Hb di atas 10 gr/dl tiap saat. Infeksi dapat terjadi. Desferioksamin dapat diberikan melalui kantung infus terpisah 26 . dan lebih lanjut akibat penimbunan besi. Anemia berat menjadi nyata pada usia 3-6 bulan. miokardium. maloklusi gigi. Darah segar.

Bangkok. d. Radikal bebas ini dapat merusak lapisan lemak dan protein pada membram sel. e. Imunisasi hepatitis B j. Vitamin E 200-400 IU setiap hari sebagai antioksidan dapat memperpanjang umur sel darah merah. ditemukan bahwa kadar koenzim Q 10 pada penderita talasemia sangat rendah. Hal ini dilaksanakan pada bayi setelah pemberian transfusi 10-15 unit darah. untuk mengatasi radikal bebas. dan organel sel.sebanyak 1-2 g untuk tiap unit darah yang ditransfusikan dan melalui infus subkutan 20-40 mg/kg dalam 8-12 jam. Universitas Mahidol . h. Tingkat kesuksesan adalah lebih dari 80% pada pasien muda yang mendapat khelasi secara baik tanpa disertai adanya fibrosis hati atau hepatomegali. f. Splenektomi harus ditunda sampai pasien berusia > 6 tahun karena tingginya resiko infeksi pasca splenektomi. g. Pemberian suplemen koenzim Q 10 pada penderita talasemia terbukti secara signifikan mampu 27 . pankreas. Vitamin C (200 mg perhari) meningkatkan eksresi besi yang disebabkan oleh desferioksamin. Biasanya kerusakan ini terjadi di organ-organ vital dalam tubuh seperti hati. jantung dan kelenjar pituitari. Oleh sebab itu penggunaan antioksidan. yang pada akhirnya dapat menyebabkan kerusakan dan kematian sel. Thailand. Splenektomi mungkin perlu untuk mengurangi kebutuhan darah. Koenzim Q10 dan Talasemia Adanya kerusakan sel darah merah dan zat besi yang menumpuk di dalam tubuh akibat talasemia. Dari penelitian yang dilakukan oleh Siriraj Hospital. 5-7 hari seminggu. sangat diperlukan pada keadaan talasemia. Transplantasi sum-sum tulang alogenik memberi prospek kesembuhan permanent. Terapi endokrin i. menyebabkan timbulnya aktifasi oksigen atau yang lebih dikenal dengan radikal bebas.

sehingga ditimbun dalam berbagai jaringan tubuh seperti hepar.  Komplikasi hematologic. seperti terjadi hypogonadotrophic hypogonadism dan gangguan kehamilan. Limpa yang besar mudah rupture akibat trauma yang ringan.  Komplikasi pada endokrin. Kematian terutama disebabkan oleh infeksi dan gagal jantung.  Kelebihan Fe (khususnya pada pemberian transfusi)  Komplikasi pada jantung. contoh hepatomegali sampai cirrhosis. Oleh sebab itu pemberian koenzim Q 10 dapat berguna sebagai terapi ajuvan pada penderita talasemia untuk meningkatkan kualitas hidup. sering terjadi gagal jantung. Transfusi darah yang berulang-ulang dan proses hemolisis menyebabkan kadar besi dalam darah tinggi.lit. seperti endokrinopati. DM. Komplikasi Akibat anemia yang berat dan lama.menurunkan radikal bebas pada penderita talasemia.  Gagal tumbuh karena diversi dari sumber kalori untuk eritropoesis. Pencegahan dan edukasi 28 .  Komplikasi jangka panjang. ku. contoh constrictive pericarditis to heart failure and arrhythmias. Prognosis Dubia 18. k. 19. limpa. contoh VTE. Kadang-kadang thalasemia disertai oleh tanda hipersplenisme seperti leukopenia dan trombopenia. Hal ini dapat mengakibatkan gangguan fungsi alat tersebut.  Komplikasi pada hati.  Fertil. contoh HCV. jantung dan lainnya. Terapi genetik (masih dalam penelitian) 17.

Diagnosis prenatal melalui pemeriksaan DNA cairan amnion merupakan suatu kemajuan dan digunakan untuk mendiagnosis kasus homozigot intra-uterin sehingga dapat dipertimbangkan tindakan abortus provokotus (Soeparman dkk. penisilin. 50 % carrier (heterozigot) dan 25 normal. dan sulfonamid. klorpromazin (tranquilizer). Perkawinan antara 2 hetarozigot (carrier) menghasilkan keturunan: 25 % Thalasemia (homozigot). Pencegahan sekunder Pencegahan kelahiran bagi homozigot dari pasangan suami istri dengan Thalasemia heterozigot salah satunya adalah dengan inseminasi buatan dengan sperma berasal dari donor yang bebas dan Thalasemia trait. kina. Kompetensi doker umum Mendiagnosis. 20.Pencegahan primer Penyuluhan sebelum perkawinan (marriage counselling) untuk mencegah perkawinan diantara pasien Thalasemia agar tidak mendapatkan keturunan yang homozigot. memberi terapi inisiasi hingga transfusi (bila berada pada daerah perifer) dan merujuk pada dokter yang lebih ahli.Beri saran agar sebelum melakukan pernikahan. .Hindari pemakaian obat pencetus hemolitik seperti fenasetin. . cek pasangan untuk kemungkinan thalasemia.Sampaikan kepada pasien dan keluarga mengenai kondisinya sekarang. Daftar Pustaka 29 .Makan-makanan bernutrisi khususnya asupan B12 dan folic acid. Edukasi . misalnya untuk tindakan bedah. 1996). .

Jakarta: Badan Penerbit IDAI \ Ilmu Penyakit dalam Jakarta: Penerbit Buku Univertas Indonesia Jones. Jakarta: EGC 30 . Hoffbrand. Catatan Kuliah Hematologi Edisi 5. 15. IKA Nelson Vol. EGC: Jakarta. Buku Ajar Hematologi-Onkologi Anak. H. Robbins. 2 Ed. P. Hematologi Klinik Ringkas. V. J. I Made. 2005. Moss. A. 2006.2. Jakarta: EGC Sutedjo. 2005. C. Buku Ajar Patologi Vol. Kumar Cotran.Hughes dkk. Jakarta: EGC Ikatan Dokter Anak Indonesia. . AY. A. Wahab. EGC: Jakarta. Buku Saku Mengenal Penyakit Melalaui Hasil Pemeriksaan Lab. Kapita Selekta Hematologi.Bakta. A. Samik (editor).E. 2005. Pettit. 1999.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful