BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang-orang yang pengelolaannya dilaksanakan oleh sekelompok orang yang ditunjuk. Atau dengan kata lain pengelolaannya dilakukan oleh pengurus yang dibantu oleh manajemen, oleh sebab itu akan timbul pemisahan antara pemilik (anggota) dan pengelola (pengurus). Tanggung jawab pengurus terhadap anggota biasanya diwujudkan dalam penyampaian laporan keuangan dalam Rapat Anggota Tahunan (RAT) atau waktuwaktu tertentu. Laporan keuangan merupakan salah satu bentuk dari bagian pertanggungjawaban yang akan dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang berkepentingan dalam membuat keputusan ekonomis sehingga laporan keuangan harus mencerminkan secara wajar kejadian-kejadian finansial badan usaha koperasi. Seperti diketahui, bahwa untuk pengambilan keputusan dibutuhkan suatu informasi yang dapat dipercaya (reliable) sehingga tidak menyesatkan bagi pemakai. Arens, (1998) menyatakan bahwa untuk mengatasi problema ynag berkaitan dengan informasi un reliable, pembuat keputusan haruslah mengembangkan suatu metode yang memberikan keyakinan bagi dirinya bahwa informasi tersebut cukup dipercaya dalam pengambilan keputusan. Cara yang umum dilakukan adalah menggunakan jasa pemeriksaan yang dilakukan oleh akuntansi publik. Dengan demikian, informasi yang sudah diperiksa akn menjadi lebih akurat, wajar dan tidak bias apabila digunakan untuk pengambilan keputusan bagi pihak yang berkepentingan. Financial Accounting Standar Board (1986) dalam Statement of Financial Accounting Concept No. 2 juga menyatakan bahwa relevansi dan reliabilitas merupakan dua kualitas yang membuat informasi akuntansi bermanfaat dalam pengambilan keputusan. Untuk memenuhi dua kriteria diatas maka laporan keuangan harus diperiksa oleh pihak yang independen (Akuntansi Publik). Akuntansi Publik adalah pihak independen yang memberikan jasa pemeriksaan terhadap laporan keuangan sehingga laporan keuangan tersebut menjadi bebas salah saji sesuai standar yang berlaku. Lebih lanjut, Kell, Boynton dan Ziegler (1992) menjelaskan bahwa kebutuhan akan independen audit atau eksternal audit atas laporan keuangan Audit Koperasi 1

sesuai aturan perusahaan dan praktek akuntansi yang berlaku (Standar Akuntansi Keuangan) tidak berisi penyimpangan maupun kesalahan yang disengaja dan lainnya yang material. laporan keuangan yang disajikan tidak ada kecenderungan untuk mementingkan salah satu pihak. Boynton dan Ziegler (1992) menjelaskan bahwa laporan keuangan yang diaudit mempunyai dampak yang cukup menguntungkan bagi efisiensi dan integritas karyawan. Kell. kompleksnya masalah dan usaha (complexity). Pemakai laporan keuangan mungkin mempunyai kepentingan yang berbeda satu sama lainnya. yaitu: perbedaan kepentingan (conflict of interest). bermanfaat. Agar laporan keuangan tersebut dapat dipercaya oleh setiap pemakai. Oleh karena itu pemeriksaan yang dilakukan oleh eksternal auditor diharapkan dapat memberikan pertimbangan yang sama bagi setiap pemakai. dan untuk pengendalian (remoteness). Maksudnya. Karena apa yang dikerjakan dan dilaporkan oleh karyawan selama ini sudah teruji keakuratan dan kewajarannya. dan membantu manajemen dalam hal pernyataan pendapat yang digunakan oleh manajemen untuk mendukung pertanggungjawaban seperti yang dilaporkan dalam laporan keuangan (Zaki Baridwan. yaitu memberikan kepastian bahwa laporan keuangan yang disajikan tidak mengandung informasi yang menyesatkan. Karyawan dapat mengetahui laba sebenarnya sehingga dapat mengharapkan imbalan yang diperoleh. Dampak lain bagi manajemen adalah berdasarkan pemeriksaan tersebut. Dalam perkembangannya koperasi memerlukan dana yang besar untuk menunjang operasionalnya dan hal itu tidak mungkin hanya dipenuhi dari dalam saja tetapi juga melibatkan investor luar seperti bank dan kreditur lainnya. Audit Koperasi 2 . Holt dan Moizer (1990) menyimpulkan bahwa informasi akuntansi yang disajikan dikatakan wajar bila informasi tersebut dapat dipercaya. 1996). Ada dua peran akuntan publik. maka data yang disajikan haruslah netral. Sebelum bank atau pihak ketiga memutuskan untuk memberi kredit mereka membutuhkan informasi laporan keuangan debitur guna mengurangi ketidakpastian debitur dimasa mendatang. Salah satu alat yang digunakan oleh kreditur untuk pengambilan keputusan adalah laporan keuangan yang telah diaudit oleh akuntan publik. laporan yang diaudit akan memberi hasil paling tidak dalam memperbaiki kesalahan proses akuntansi dan mengurangi kemungkinan kesalahan penilaian asset oleh karyawan.disebabkan adanya 4 (empat) kondisi. Disamping itu. konsekuensi (consequence).

sebagai laporan pertanggungjawaban pada anggota. Contoh kasus audit koperasi Audit Koperasi 3 . Apa itu audit koperasi? 2. I. Mengapa dibutuhkan audit dalam koperasi? 3.2 Perumusan Masalah 1. Bagaimana melakukan audit koperasi? 5.Eksternal auditor dapat memberikan semacam sugesti untuk memperbaiki pengendalian dan mencapai efisiensi operasi yang lebih besar. Dengan demikain diharapkan laporan keuangan badan usaha koperasi harus diaudit. Siapa yang berhak mengaudit koperasi? 4.

tata laksana. proses akuntansi dan mengurangi kemungkinan kesalahn penilaian asset oleh karyawan. kecakapan. 2) Memberikan saran perbaikan atas aspek organisasi. Tujuan lain diadakannya audit pada koperasi antara lain: 1) Memberikan pendapat atas kewajaran penyajian laporan keuangan koperasi yang sesuai dengan prinsip akuntansi Indonesia yang diterapkan secra konsisten. II. 5) Memastikan sumber-sumber digunakan dengan tepat dan ekonomis. kecukupan. dan memberika sugesti untuk memperbaiki pengendalian dan mencapai efisiensi operasi yang lebih besar. dan keberkesanannya.2 Tujuan Audit pada Koperasi Audit pada koperasi dapat digunakan untuk menguji atau mengukur keakuratan dan kewajaran atas apa yang telah dikerjakan dan dilaporkan oleh karyawan. Audit Koperasi 4 . Peraturan-Peraturan Koperasi 1995 dan Undang-Undang Kecil Koperasi.BAB II PEMBAHASAN II. 4) Memastikan perbelanjaan dibuat dengan berhemat. usaha dan ekonomi dalam kaitannya dengan pelaksanaannya asas dan sendi dasar koperasi. 3) Memastikan koperasi mematuhi kehendak Akta Koperasi 1993. 6) Meningkatkan keyakinan anggota-anggota dan pihak-pihak lain yang berkepentingan.1 Pengertian Audit pada Koperasi Audit koperasi diartikan sebagai satu aktivitas atau fungsi penilaian bebas yang diwujudkan dalam sesuatu koperasi bertujuan memeriksa semua sistem operasi (pengurusan dan keuangan) dan sistem kawalan dalam bagi menentukan pematuhan. memperbaiki kesalahan.

3 Yang Berhak Mengaudit Koperasi Proses pemeriksaan koperasi dapat dilakukan oleh badan pemeriksa yang ada dalam organisasi koperasi (internal audit) yang diangkat oleh pengawas dengan persetujuan anggota atau dilakukan oleh pengawas sendiri yang pemeriksaan yang sesuai dengan aturan hokum yang berlaku dan juga memiliki sifat yang jujur dan tidak dapat dipengaruhi oleh siapapun (independen). 4 Prosedur dan Tata Cara Pemeriksaan Sebelum melakukan pemeriksaan. bagian yang akan diperiksa serta waktu yang tersedia untuk memeriksa. 25 Tahun 1992 Tentang Perkoperasian yang berbunyi “koperasi dapat meminta jasa audit kepada akuntan publi”. Maka dalam hal ini pengawas dan anggota koperasi berhak untuk meminta auditor selaku pemeriksa kinerja keuangan organisasi koperasi yang diberikan wewenang penuh untuk memeriksa keabsahan laporan keuangan yang telah dibuat oleh manajemen koperasi yang bersangkutan jika pengawas tidak mampu melakukannya atau untuk menghindari ketidak jujuran yang dimiliki oleh penyusun laporan keuangan intern sehingga terjadi manipulasi data unutk mencapai tujuan tertentu.II. setelah itu lakukan langkah-langkah pemeriksaan di bawah ini: 1) Tentukan Jenis Pemeriksaan Ada dua jenis pemeriksaan. b) Pemeriksaan setempat (On The Spot). Pemeriksaan ini terdiri dari : (1) Pemeriksaan Keuangan (Financial Audit) Audit Koperasi 5 . yaitu pemeriksaan yang dilakukan dengan mengunjungi lokasi objek yang diperiksa dan dilakukan dengan cara memeriksa secara langsung catatan-catatan yang ada. Akan tetapi. pemeriksa seharusnya mengetahui dulu tujuan pemeriksaan. yaitu: a) Pemeriksaan laporan. seperti yang diatur dalam pasal 40 UU No. II. yaitu pemeriksaan yang dilakukan melalui laporan-laporan periodik yang harus disampaikan. misalnya laporan yang bersifat harian dan bulanan. lebih baik lagi jika pemeriksaan dilakukan oleh ekternal audit yang dianggap lebih netral dan objektif.

Audit Koperasi 6 . 2) Tentukan Teknik Pemeriksaan Teknik pemeriksaan adalah cara-cara yang digunakan oleh pemeriksa untuk memperoleh pembuktian dalam membandingkan keadaan yang sebenarnya dengan keadaan yang seharusnya. perhitungan kembali. prosedur transaksi/operasi dan pedoman lainnya. buku pedoman akuntansi. b) Pemeriksaan atas bukti tertulis. Pengertian ketaatan meliputi ketaatan terhadap prinsip akuntansi.(2) (3) Pemeriksaan Ketaatan (Compliance Audit) Pemeriksaan Operasional (Operational Audit). kebijaksanaan dan prosedur Koperasi. c) Prosedur pemeriksaan On the Spot meliputi beberapa kegiatan. (3) Compliance Test merupakan suatu bentuk pengujian yang bertujuan untuk memberikan keyakinan kepada petugas pemeriksa bahwa prosedur yang telah ditetapkan dilaksanakan sebagaimana mestinya. (4) Substantive test merupakan bentuk pengujian terhadap saldo perkiraan yang terdapat dalam laporan keuangan yang bertujuan untuk mendapatkan bukti keabsahan dan kebenaran dari pelaksanaan akuntansi terhadap transaksitransaksi dan saldosaldo perkiraan. yaitu usaha mencari kesamaan dan perbedaan antara dua atau lebih data/informasi. Berbagai teknik pemeriksaan adalah sebagai berikut : a) Memperbandingkan. yaitu memeriksa otentik tidaknya serta lengkap tidaknya bukti-bukti yang mendukung transaksi. yaitu pemeriksaan yang menilai daya guna dan kehematan dalam penggunaan sumber dana serta hasil guna atau manfaat yang direncanakan dari suatu kegiatan/program. observasi dan lain-lain. Hal ini dapat dilakukan dengan cara konfirmasi. yaitu: (1) (2) Perencanaan pemeriksaan Penilaian atas sistem pengendalian intern dengan cara mempelajari bagan organisasi dan uraian tugas. serta persyaratan/peraturan pemerintah. mempelajari laporan periodik serta wawancara dengan pejabat yang berkepentingan.

j) Scanning. e) Analisis. Baik lisan maupun tulisan dalam rangka pembuktian pemeriksaan. yaitu penyesuaian antara dua golongan data yang berhubungan tapi masing-masing dibuat oleh pihak yang terpisah dengan tujuan untuk meneliti sebab-sebab timbulnya perbedaan tersebut yang diduga karena adanya unsur-unsur manipulasi. yaitu pemeriksaan kebenaran hasil penjumlahan atau pengurangan kebawah dan kesamping untuk mengetahui apakah penjumlahan tersebut sama satu dengan lainnya dengan tujuan untuk mengadakan balancing atas saldo transaksi dan posisi berbagai posisi keuangan. k) Rekomputasi.c) Rekonsiliasi. g) Melakukan Cek (Checking). maka perlu pemilihan sampel yang diperiksa. 3) Tentukan Sampel Yang Akan Diperiksa Karena keterbatasan petugas pemeriksa dan waktu serta untuk memudahkan pemeriksaan. yaitu menghitung kembali kalkulasi yang telah ada untuk menetapkan kecermatannya. yaitu usaha meneliti ulang atas sesuatu hal yang telah dilakukan oleh pihak lain. d) Konfirmasi. h) Inspeksi. yaitu memecah dan menguraikan suatu keadaan/masalah kedalam beberapa bagian/elemen dan memisahkan bagian tersebut untuk dihubungkan dengan keseluruhan/dibandingkan dengan lainnya. Dalam penentuan sampel ini dilakukan dengan cara statistik atau dengan pertimbangan pemeriksa. Pengambilan sampel dengan pertimbangan pemeriksa terdiri dari : Audit Koperasi 7 . f) Footing & Cross Footing. yaitu cara pemeriksaan dengan jalan menelusuri proses suatu kegiatan untuk meyakini kebenaran transaksi dengan memeriksa tahapan kegiatan tersebut. i) Trasir. yaitu melakukan penelaahan secara umum dan cepat untuk menemukan hal-hal yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut. adalah usaha pemeriksa untuk memperoleh bukti-bukti secara langsung dengan cara hadir ke tempat kegiatan untuk melihat langsung situasi dan kondisi suatu kegiatan. yaitu upaya untuk memperoleh informasi/penegasan dari sumber lain.

b) Block Sampling. dan relevan. Laporan ini berisi hal-hal yang penting untuk dilaporkan yaitu berupa temuan yang objektif. Tindak lanjut ini juga tetap harus dipantau oleh pemeriksa. b) Bukti Dokumentasi c) Bukti Kesaksian d) Bukti Analisis e) Bukti dari spesialis 7) Buat Laporan Pemeriksa Laporan hasil pemeriksaan harus disampaikan secara tertulis dan disampaikan kepada pejabat yang berwenang. 8) Tindak Lanjut Pemeriksaan Dalam hal ini objek yang diperiksa harus mengambil langkah dan tindakan perbaikan. lengkap serta bersifat konstruktif serta dilengkapi bukti-bukti yang cukup. yaitu pemilihan sampel dilakukan atas kehendak pemeriksa dengan menentukan kelompok untuk sampel yang dipilih. Jenis bukti pemeriksaan terdiri dari : a) Bukti Fisik. relevan dan obyektif. 4) Lakukan Pemeriksaan Sesuai Dengan Tujuan Pemeriksaan 5) Siapkan Kertas Kerja Pemeriksaan. Bukti pemeriksaan harus cukup. yaitu pemilihan sampel dilakukan betul-betul atas kehendak pemeriksa sehingga sangat dipengaruhi oleh pertimbangan subyektif pemeriksa. 9) Filling dan Dokumentasi Audit Koperasi 8 . kompeten. pihak luar atau dibuat sendiri oleh pemeriksa. 6) Kumpulkan bukti-bukti Pemeriksaan. yaitu bukti yang diperoleh dengan jalan inspeksi atau observasi terhadap kegiatan harta milik obyek pemeriksaan. singkat. sederhana. Penulisan laporan harus jelas.a) Hapharari Sampling. kesimpulan dan rekomendasi yang meyakinkan. yaitu catatan-catatan yang dibuat dari data yang dikumpulkan oleh pemeriksa pada saat melaksanakan tugas pemeriksaan. Bukti pemeriksaan merupakan informasi yang diperoleh selama pemeriksaan melalui teknik pemeriksaan yang diperoleh dari obyek pemeriksaan.

Berkas yang dikumpulkan selama suatu kegiatan pemeriksaan harus disimpan karena mempunyai fungsi yang penting. yaitu : a) Pusat Ingatan b) Sumber Informasi c) Alat Pengawasan. 2 bulanan. dan sebagainya (Masuk dalam jadual kerja) Sewaktu-waktu sesuai kebutuhan dan 3 Insidentil perencanaan (masuk dalam jadual kerja) Audit Koperasi 9 . profit distribusi. pembuktian. 3 2 Periodic bulanan. serta transaksitransaksi yang dilakukan tiaptiap bagian operasional) 2 Mingguan. 1 Harian laporan laba. 6 bulanan. bulanan. penelitian d) Sumber Sejarah e) Program Kerja Pengawasan 1) Frekuensi Pemeriksaan Program kerja pengawasan internal berdasarkan periode frekuensi pemeriksaan dilakukan secara: JENIS PROGRAM NO PROGRAM KERJA Setiap hari melakukan pemeriksaan terhadap pembukuan harian (neraca.

insidentil Periodik. pemeriksaan ini meliputi semua bidang dengan perencanaan minimal sebagai berikut: NO 1 2 3 4 5 6 7 BAGIAN YANG DIAUDIT Operasional KPO & KK Pembiayaan Administrasi / Legal Pendanaan Sekretaris/Modal/ALCO Umum / Personalia Remedial PROGRAM KERJA Harian. Insidentil Harian. periodik. Insidentil Periodik.2) Berdasarkan Bidang dan Frekuensi Minimal Pemeriksaan Secara garis besar. Insidentil Audit Koperasi 10 . insidentil Periodik. periodik. periodik. Insidentil Harian. insidentil Periodik.