P. 1
Teori Belajar Classical Conditioning Menurut Ivan Pavlov

Teori Belajar Classical Conditioning Menurut Ivan Pavlov

|Views: 2,471|Likes:
Published by Ghea Amanda Nadzia

More info:

Published by: Ghea Amanda Nadzia on Jun 20, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/20/2013

pdf

text

original

TEORI BELAJAR CLASSICAL CONDITIONING MENURUT IVAN PAVLOVµ ´DAN PIAGETµ

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Teori belajar merupakan landasan terjadinya suatu proses belajar yang menuntun terbentuknya kondisi untuk belajar. Teori belajar dapat didefenisikan sebagai integrasi prinsip-prinsip yang menuntun di dalam merancang kondisi demi tercapainya tujuan pendidikan. Dengan adanya teori belajar akan memberikan kemudahan bagi guru dalam menjalankan model-model pembelajaran yang akan dilaksanakan. Banyak telah ditemukan teori belajar yang pada dasarnya menitikberatkan ketercapaian perubahan tingkah laku setelah proses pembelajaran. Teori belajar merupakan suatu ilmu pengetahuan tentang pengkondisian situasi belajar dalam usaha pencapaian perubahan tingkah laku yang diharapkan. Teori belajar yang berpengaruh terhadap pelaksanaan pembelajaran adalah teori belajar konstruktivisme dan teori belajar pemrosesan informasi. Teori belajar konstruktivisme adalah Teori yang menyatakan bahwa siswa harus menemukan sendiri dan mentranformasikan informasi kompleks, mengecek informasi baru dengan aturan-aturan lama dan merevisinya apabila aturanaturan lama itu tidak lagi sesuai. Teori belajar pemrosesan informasi merupakan teori yang menitikberatkan tentang bagaimana informasi yang didapat tersebut dapat diolah oleh siswa dengan pemahamannya sendiri. Pemanfaatan lingkungan sebebas-bebasnya untuk pencapaian tujuan belajar haruslah diberikan pada siswa, sehingga kreatifitas siswa lebih tampak.

BAB II PEMBAHASAN ´TEORI BELAJAR CLASSICAL CONDITIONING MENURUT IVAN PAVLOVµ ´DAN PIAGETµ A. TEORI BELAJAR CLASSICAL CONDITIONING MENURUT IVAN PAVLOV Ivan Petrovich Pavlov (1849-1936). Ivan Petrovich Pavlov lahir 14 September 1849 di Ryazan Rusia yaitu desa tempat ayahnya Peter Dmitrievich Pavlov menjadi seorang pendeta. Ia dididik di sekolah gereja dan melanjutkan ke Seminari Teologi. Pavlov lulus sebagai sarjana kedokteran dengan bidang dasar fisiologi. Pada tahun 1884 ia menjadi direktur departemen fisiologi pada institute of Experimental Medicine dan memulai penelitian mengenai fisiologi pencernaan. Ivan Pavlov meraih penghargaan nobel pada bidang Physiology or Medicine tahun 1904. Karyanya mengenai pengkondisian sangat mempengaruhi psikology behavioristik di Amerika. Karya tulisnya adalah Work of Digestive Glands(1902) dan Conditioned Reflexes(1927). Ia meninggal di Leningrad pada tanggal 27 Februari 1936. Sebenarnya ia bukan seorang sarjana psikologi dan ia pun tidak mau disebut sebagai ahli psikologi, karena ia adalah seorang sarjana ilmu faal yang fanatik. Cara berpikirnya adalah sepenuhnya cara berpikir ahli ilmu faal, bahkan ia sangat anti terhadap psikologi karena dianggapnya kurang ilmiah. Dalam penelitian-penelitiannya ia selalu berusaha menghindari konsep-konsep meupun istilah-istilah psikologi. Sekalipun demikian, peranan Pavlov dalam psikologi sangat penting, karena studinya mengenai refleks-refleks akan merupakan dasar bagi perkembangan aliran psikologi behaviorisme. Pandangannya yang paling penting adalah bahwa aktivitas psikis sebenarnya tidak lain daripada rangkaianrangkaian refleks belaka. Karena itu, untuk mempelajari aktivitas psikis (psikologi) kita cukup mempelajari refleks-refleks saja. Pandangan yang sebenarnya bermula dari seorang tokoh Rusia lain bernama I.M. Sechenov. I.M. yang banyak mempengaruhi Pavlov ini, kemudian dijadikan dasar pandangan pula oleh J.B. Watson di Amerika Serikat dalam aliran Behaviorismenya setelah mendapat perubahan-perubahan seperlunya.

Classic conditioning ( pengkondisian atau persyaratan klasik) adalah proses yang ditemukan Pavlov melalui percobaannya terhadap anjing, dimana perangsang asli dan netral dipasangkan dengan stimulus bersyarat secara berulang-ulang sehingga memunculkan reaksi yang diinginkan. Eksperimen-eksperimen yang dilakukan Pavlov dan ahli lain tampaknya sangat terpengaruh pandangan behaviorisme, dimana gejala-gejala kejiwaan seseorang dilihat dari perilakunya. Hal ini sesuai dengan pendapat Bakker bahwa yang paling sentral dalam hidup manusia bukan hanya pikiran, peranan maupun bicara, melainkan tingkah lakunya. Pikiran mengenai tugas atau rencana baru akan mendapatkan arti yang benar jika ia berbuat sesuatu. Bertitik tolak dari asumsinya bahwa dengan menggunakan rangsangan-rangsangan tertentu, perilaku manusia dapat berubah sesuai dengan apa yang di inginkan. Kemudian Pavlov mengadakan eksperimen dengan menggunakan binatang (anjing) karena ia menganggap binatang memiliki kesamaan dengan manusia. Namun

P. Kalau latihan itu diteruskan. Dengan perkataan lain. Dengan demikian anjing akan mendengar bel dahulu sebelum ia melihat makanan muncul di depanny. Sebagai contoh. Kini sebelum makanan diperlihatkan. anjing itu mengeluarkan air liur yang dapat terlihat jelas pada alat pengukur. maka pada suatu waktu keluarnya air liur setelah anjing mendengar bunyi bel akan tetap terjadi walaupun tidak ada lagi makanan yang mengikuti bunyi bel itu. Makanan yang keluar disebut sebagai perangsang tak berkondisi (unconditioned stimulus) dan air lliur yang keluar setelah anjiing melihat makanan disebut refleks tak berkondisi (unconditioned reflex). Keluarnya air liur setelah anjing mendengar bel disebut sebagai refleks berkondisi (conditioned reflects. maka akan keluarlah air liur anjing tersebut. sehingga tiap-tiap air liur yang keluar dapat ditampung dan diukur jumlahnya. sekaligus meletakkan dasar-dasar bagi penelitian-penelitian mengenai proses belajar dan pengembangan teori-teori tentang belajar. secara hakiki manusia berbeda dengan binatang.) mengakui bahwa Pavlov adalah orang yang terbesar pengaruhnya dalam psikologi modern di sampingFreud. karena setiap anjing akan melakukan refleks yang sama (mengeluarkan air liur) kalau melihat rangsang yang sama pula (makanan). Tentu saja tidak adanya rangsang tak berkondisi hanya bisa dilakukan sampai pada taraf tertentu. Awalnya mungkin suara itu asing. bunyi bel didahului oleh sebuah lampu yang menyala. maka pada suatu ketika dengan hanya memperlihatkan sinar merah saja tanpa makanan maka air liurpun akan keluar pula. terjadi proses menandai sesuatu yaitu membedakan bunyi-bunyian dari pedagang makanan(rujak. Pavlov kemudian menekan sebuah tombol dan keluarlah semangkuk makanan di hadapan anjing percobaan. Pada tingkat yang lebih lanjut. Bayangkan. Ia mengadakan percobaan dengan cara mengadakan operasi leher pada seekor anjing. tetapi setelah si pejual es krim sering lewat. refleks berkondisi akan bertahan walaupun rangsang tak berkondisi tidak ada lagi. maka yang diperlihatkan adalah sinar merah terlebih dahulu. yaitu refleks-refleks yang terjadi setelah adanya proses kondisioning (conditioning process) di mana refleks-refleks yang tadinya dihubungkan dengan rangsang-rangsang tak berkondisi lama-kelamaan dihubungkan dengan rangsang berkondisi. Makanan adalah rangsangan wajar. bahwa kelenjar-kelenjar yang lain pun dapat dilatih. nasi goreng. Apabila diperlihatkan sesuatu makanan. karena terlalu lama tidak adarangsang tak berkondisi. Bahkan Amerika Psychological Association (A. es. suara lagu dari penjual es krim Walls yang berkeliling dari rumah ke rumah. Bectrev murid Pavlov menggunakan prinsip-prinsip tersebut dilakukan pada manusia. Tanpa disadari. bila tidak ada lagu tersebut betapa lelahnya si penjual berteriak-teriak menjajakan dagangannya. Kesimpulan yang didapat dari percobaan ini adalah bahwa tingkah laku sebenarnya tidak lain daripada rangkaian refleks berkondisi. yang ternyata diketemukan banyak reflek bersyarat yang timbul tidak disadari manusia.demikian. Apabila perbuatan yang demikian dilakukan berulang-ulang. binatang percobaan itu tidak akan mendapat imbalan (reward) atas refleks yang sudah dilakukannya dan karena itu refleks itu makin lama akan semakin menghilang dan terjadilah ekstinksi atau proses penghapusan refleks (extinction). Sehingga kelihatan kelenjar air liurnya dari luar. Apakah situasi ini bisa diterapkan pada manusia? Ternyata dalam kehidupan sehari-hari ada situasi yang sama seperti pada anjing. rangsangan buatan ini akan menimbulkan syarat(kondisi) untuk timbulnya air liur pada anjing tersebut. Dari contoh tersebut dapat diketahui bahwa dengan menerapkan strategi Pavlov ternyata individu dapat dikendalikan melalui cara mengganti stimulus alami dengan stimulus yang tepat untuk mendapatkan pengulangan respon yang diinginkan. Percobaan ini dilakukan berkali-kali dan selama itu keluarnya air liur diamati terus. Anjing itu diikat dan dioperasi pada bagian rahangnya sedemikian rupa. Ternyata kalau perbuatan yang demikian dilakukan berulang-ulang.A. . sedang merah adalah rangsangan buatan. Peristiwa ini disebut: Reflek Bersyarat atau Conditioned Respons. Pavlov berpendapat. Dengan penemuannya ini Pavlov meletakkan dasar-dasar Behaviorisme. Adapun jalan eksperimen tentang refleks berkondisi yang dilakukan Pavlov adalah sebagai berikut: Pavlov menggunakan seekor anjing sebagai binatang percobaan. maka lamakelamaan air liur sudah keluar setelah anjing melihat nyala lampu walaupun ia tidak mendengar bel atau melihat makanan sesudahnya. sementara individu tidak menyadari bahwa ia dikendalikan oleh stimulus yang berasal dari luar dirinya. baru makanan. Dengan sendirinya air liurpun akan keluar pula. Kemudian dalam percobaan selanjutnya Pavlov membunyikan bel setiap kali ia hendak mengeluarkan makanan. dengan segala kelebihannya. Contoh lain bunyi bel di kelas untuk penanda waktu atau tombol antrian di bank. Penemuan Pavlov yang sangat menentukan dalam sejarah psikologi adalah hasil penyelidikannya tentang refleks berkondisi (conditioned reflects). Sebagai reaksi atas munculnya makanan. maka nada lagu tersebut bisa menerbitkan air liur apalagi pada siang hari yang panas. karena refleks itu merupakan hasil latihan yang terus-menerus dan hanya anjing yang sudah mendapat latihan itu saja yang dapat melakukannya. Bunyi bel jadinya rangsang berkondisi (conditioned reflects). siomay) yang sering lewat di rumah. Demikianlah satu rangsang berkondisi dapat dihubungkan dengan rangsang berkondisi lainnya sehingga binatang percobaan tetap dapat mempertahankan refleks berkondisi walaupun rangsang tak berkondisi tidak lagi dipertahankan. Mula -mula air liur hanya keluar setelah anjing melihat makanan (refleks tak berkondisi). tetapi lama-kelamaan air liur sudah keluar pada waktu anjing baru mendengar bel. bel masuk kelas-istirahat atau usai sekolah dan antri di bank tanpa harus berdiri lama.

Guru hendaknya banyak memberikan rangsangan kepada peserta didik agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif. minat dan perasaan individu dalam suatu belajar. Sebelum membicarakan tentang teori kognitif Jean Piaget. kanak-kanak tersebut akan menggunakan skema memegang (skema yang sedia ada) dan sekaligus merasanya. serta menggerakkan tangan dan kaki. -Skema yang ada pada bayi akan menentukan bagaimana bayi bertindakbalas dengan persekitarannya. Asimilasi -Asimilasi merupakan satu proses penyesuaian antara objek yang baru diperolehi dengan skema yang sedia ada. Skema -Ia merujuk kepada potensi am yang ada dalam diri manusia untuk melakukan sesuatu dengan cara tertentu. -Contohnya. -Proses asimilasi yang berlaku membolehkan manusia mengikuti sesuatu modifikasi skema hasil daripada pengalaman yang baru diperolehi. Pemikiran lain dari Piaget tentang proses rekonstruksi pengetahuan individu yaitu asimilasi dan akomodasi. Menurut Piaget bahwa perkembangan kognitif individu meliputi empat tahap yaitu : (1) sensory motor. maka kekuatannya akan menurun. -Oleh itu. bayi juga akan cenderung memegang benda-benda yang tidak menyakitkan seperti contoh. Peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan obyek fisik. mencapai. merasa. dan mengabaikan aspek ² aspek mental. bahwa belajar akan lebih berhasil apabila disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik. B. A. memandang. -Bagi gerakan memegang. memegang. (2) pre operational. diantaranya : Ivan Pavlov dengan ´classical conditioningµ nya: Dari eksperimen yang dilakukan Pavlov terhadap seekor anjing menghasilkan hukum-hukum belajar. diantaranya : ‡ Law of Respondent Conditioning yakni hukum pembiasaan yang dituntut. kita perlu terlebih dahulu mengetahui beberapa konsep penting yang diutarakan oleh beliau. 2. -Contohnya. mencari dan menemukan berbagai hal dari lingkungan. Melaluinya. ‡ Law of Respondent Extinction yakni hukum pemusnahan yang dituntut. Peristiwa belajar semata-mata melatih refleks-refleks sedemikian rupa sehingga menjadi kebiasaan yang dikuasai individu. (3) concrete operational dan (4) formal operational. bakat. Akomodasi -Merupakan suatu proses di mana struktur kognitif mengalami perubahan. kandungan skemanya adalah memegang benda yang tidak menyakitkan. maka refleks dan stimulus lainnya akan meningkat. yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh pertanyaan tilikan dari guru. Salah satu sumbangan pemikirannya yang banyak digunakan sebagai rujukan untuk memahami perkembangan kognitif individu yaitu teori tentang tahapan perkembangan individu. Jika refleks yang sudah diperkuat melalui Respondent conditioning itu didatangkan kembali tanpa menghadirkan reinforcer. Antara konsep-konsep penting tersebut adalah : 1. behaviorisme tidak mengakui adanya kecerdasan. kanak-kanak tersebut akan mendapat pengetahuan yang baru baginya berkenaan "sebiji epal". bayi telah dilengkapkan dengan beberapa gerakan pantulan yang dikenali sebagai skema seperti gerakan menghisap. jari ibu. seorang kanak-kanak yang baru pertama kali melihat sebiji epal. Beberapa hukum belajar yang dihasilkan dari pendekatan behaviorisme ini. which may mean changing the evidence of their senses to make it fitµ dan akomodasi adalah ´the difference made to one·s mind or concepts by the process of assimilationµ Dikemukakannya pula. Dengan kata lain. TEORI BELAJAR KOGNITIF MENURUT PIAGET Piaget merupakan salah seorang tokoh yang disebut-sebut sebagai pelopor aliran konstruktivisme. 3. sewaktu dilahirkan. . Jika dua macam stimulus dihadirkan secara simultan (yang salah satunya berfungsi sebagai reinforcer).Teori Behaviorisme Behaviorisme merupakan salah aliran psikologi yang memandang individu hanya dari sisi fenomena jasmaniah. Oleh itu. James Atherton (2005) menyebutkan bahwa asisimilasi adalah ´the process by which a person takes material into their mind from the environment.

Namun. Oleh yang demikian. -Jean Piaget menganggap perubahan ini sebagai suatu proses pembelajaran. teori dan kajiannya tetap menerima kritikan teutama berkaitan kelemahan teori dan metodologi yang digunakan. maka berdasarkan teori Piaget.Tidak adanya kebenaran wujudnya empat peringkat perkembangan kognitif yang disarankan oleh Piaget (Gelman dan Baillargeon. mereka sepatutnya juga dapat menyelesaikan semua masalah yang memerlukan set operasi yang sama. kanak-kanak yang berumur dua tahun yang tidak ditunjukkan magnet akan menyatukan objek baru ke dalam skemanya dan mewujudkan penyesuaian konsep terhadap magnet itu. Menurut beliau lagi. dia sepatutnya dapat menunjukkan kemampuan pemuliharaannya dalam angka dan berat pada masa yang sama. -Contohnya. Namun. kanak-kanak dianggap tidak mampu mencapai tahap perkembangan kognitif yang tinggi.menyatakan bahawa teori Piaget tidak mampu menerangkan struktur. Di dalam kelas. proses dan fungsi kognitif dengan jelas.-Akomodasi berfungsi apabila skema tidak dapat mengasimilasi (menyesuaikan) persekitaranbaru yang belum lagi berada dalam perolehan kognitif kanak-kanak. anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan diskusi dengan temantemanya. KELEMAHAN Dari segi kelemahan teori ini adalah: 1. Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik. Tahap-tahap perkembangan tersebut ialah ‡ Tahap Sensorimotor @ deria motor (dari lahir hingga 2 tahun) ‡ Tahap Praoperasi ( 2 hingga 7 tahun) ‡ Tahap Operasi Konkrit (7 hingga 12 tahun) ‡ Tahap Operasi Formal (12 tahun hingga dewasa) Teori Perkembangan Kognitif Piaget telah mendapat perhatian meluas dalam bidang Psikologi sejak kajiannya dikemukakan. Dapat dikataka masa kanak-kanak melalui setiap peringkat perkembangan kognitif berasaskan set operasi yang khusus. Oleh karena itu guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak. Guru harus membantu anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungan sebaik-baiknya. Keadaan ini adalah bercanggah . maka apabila kanak-kanak tersebut berjaya memahirkan set operasi tertentu. 4. Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing. Kajian Piaget menerangkan peringkat-peringkat perkembangan kognitif kanak-kanak dan proses pemikiran berasaskan perkembangan skema. 4. perubahan daripada satu peringkat ke satu peringkat seterusnya hanya akan berlaku apabila kanak-kanak mencapai tahap kematangan yang sesuai dan terdedah kepada pengalaman yang relevan. 2. Tanpa pengalaman-pengalaman tersebut. 3. Jean Piaget mendapati kemampuan mental manusia muncul di tahap tertentu dalam proses perkembangan yang dilalui. 5. Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. apabila kanak-kanak menunjukkan kemampuan pemuliharaan iaitu yang terdapat pada tahap operasi konkrit. 1983). Berikan peluang agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya. dalam kajian yang dilakukan oleh Klausmeier dan Sipple (1982) menunjukkan keadaan yang berbeza di mana kanak-kanak sentiasa menunjukkan kemampuan pemuliharaan berat lebih lewat daripada pemuliharaan angka. 2. KEUNGGULAN Keunggulan dalam pembelajaran adalah : 1. beliau telah membahagikan perkembangan kognitif kepada empat tahap yang mengikut turutan umur. Adaptasi -Ia merupakan satu keadaan di mana wujud keseimbangan di antara akomodasi dan asimilasi untuk disesuaikan dengan persekitaran. Sebagai contoh. -Keadaan keseimbangan akan wujud apabila kanak-kanak mempunyai kecenderungan sejadi untuk mencipta hubungan apa yang dipelajari dengan kehendak persekitaran.

Peristiwa belajar semata-mata melatih refleks-refleks sedemikian rupa sehingga menjadi kebiasaan yang dikuasai individu. bakat. Law of Readiness.KESIMPULAN Dari kterangan diatas dapanp kita simpulkan bahwa teori belajar yang telah dikemukan oleh para ahli tersebut sangatlah berguna dalam pembelajaran yang diterapkan disekolah.SARAN Demi kemajuan makalah ini penulis mengharapkan saran dan kritik agar makalah ini lebih sempurna lagi. dimana unit unit ini menimbulkan kecenderungan yang mendorong organisme untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu. kesahihannya adalah diragui. Law of Exercise. BAB III PENUTUP A. artinya bahwa jika sebuah respons menghasilkan efek yang memuaskan. minat dan perasaan individu dalam suatu belajar.1997.Belajar Dan Pembelajaran I. Behaviorisme memandang individu hanya dari sisi fenomena jasmaniah.Surakarta:UNS Press Disadur dari: Sarlito W.com/2008/02/02/teori-teori-belajar/ TEORI-TEORI BELAJAR 1. 3. Teori itu tdak semuanya benar. diantaranya: a. Untuk itu poerlulah kita menerapkan teori itu demi kemajuan belajar disekolah. c. tetapi ambillah yang dirasa perlu demi kemajuan proses belajar mengajar disekolah. Oleh itu. dan mengabaikan aspek ± aspek mental. Dengan kata lain.com http://akhmadsudrajat. artinya bahwa hubungan antara Stimulus dengan Respons akan semakin bertambah erat. Gino. b. kaedah klinikal yang digunakan dalam kajian Piaget di mana kajian dengan kaedah klinikal sukar untuk diulang. BAB IV DAFTAR PUSTAKA Buku :Drs. Pengkritiknya juga menuduh Piaget membuat generalisasi daripada sampel-sampel yang saiznya terlalu kecil dan tidak menepati piawaian. 2002. maka semakin lemah pula hubungan yang terjadi antara Stimulus Respons. behaviorisme tidak mengakui adanya kecerdasan. Law of Effect. B.wordpress. H. Berkenalan dengan ALiran-Aliran dan Tokoh-tokoh Psikologi. maka hubungan Stimulus . diantaranya : 1. Sebaliknya.dengan teori Piaget. Connectionism ( S-R Bond) menurut Thorndike.Respons akan semakin kuat. (PT Bulan Bintang: Jakarta) Trimanjuniarso. artinya bahwa kesiapan mengacu pada asumsi bahwa kepuasan organisme itu berasal dari pemdayagunaan satuan pengantar (conduction unit). . Beberapa hukum belajar yang dihasilkan dari pendekatan behaviorisme ini.Dari segi metodologi juga. semakin tidak memuaskan efek yang dicapai respons.J. Sarwono. Dari eksperimen yang dilakukan Thorndike terhadap kucing menghasilkan hukum hukum belajar.wordpress.Teori Belajar Behaviorisme Behaviorisme merupakan salah satu pendekatan untuk memahami perilaku individu. dkk. Dan dapat diperbaiki kedepannya. jika sering dilatih dan akan semakin berkurang apabila jarang atau tidak dilatih.

F. Jika dua macam stimulus dihadirkan secara simultan (yang salah satunya berfungsi sebagai reinforc er). seperti : Watson yang menghasilkan prinsip kekerapan dan prinsip kebaruan. Prinsip dasar belajar r menurut teori ini. seorang individu akan berfikir dan memutuskan perilaku sosial mana yang perlu dilakukan. b. Law of Respondent Extinction yakni hukum pemusnahan yang dituntut. Respons dalam operant conditioning terjadi tanpa didahului oleh stimulus. Bandura memandang Perilaku individu tidak semata -mata refleks otomatis atas stimulus (S-R Bond).F. Operant Conditioning menurut B. . Reber (Muhibin Syah. Skinner terhadap tikus dan selanjutnya terhadap burung merpati menghasilkan hukum-hukum belajar. Classical Conditioning menurut Ivan Pavlov Dari eksperimen yang dilakukan Pavlov terhadap seekor anjing menghasilkan hukum -hukum belajar. 3. bahwa yang dipelajari individu terutama dalam belajar sosial dan moral terjadi melalui peniruan (imitation) dan penyajian contoh perilaku (modeling). maka kekua tan perilaku tersebut akan menurun bahkan musnah. Reinforcer itu sendiri pada dasarnya adalah stimulus yang meningkatkan kemungkinan timbulnya sejumlah respons tertentu. Law of Respondent Conditioning yakni hukum pembiasaan yang dituntut. namun tidak sengaja diadakan sebagai pasangan stimulus lainnya seperti dalam classical conditioning. maka kekuatannya akan menurun. maka refleks dan stimulus lainnya akan meningkat. melainkan oleh efek yang ditimbulkan oleh reinforcer. melainkan juga akibat reaksi yang timbul sebagai hasil interaksi antara lingkungan dengan skema kognitif individu itu sendi i. 2003) menyebutkan bahwa yang dimaksud denganoperant adalah sejumlah perilaku yang membawa efek yang sama terhadap lingkungan. Jika refleks yang sudah diperkuat melalui Respondent conditioning itu didatangkan kembali tanpa menghadirkan reinforcer. 4. Teori ini juga masih memandang pentingnyaconditioning. Berbeda dengan penganut Behaviorisme lainnya. diantaranya : a.2. diantaranya : a. Miller dan Dollard dengan teori pengurangan dorongan. maka kekuatan perilaku tersebut akan meningkat. metode meletihkan (The Fatigue Method) dan Metode rangsangan tak serasi (The Incompatible Response Method). b. Sebetulnya masih banyak tokoh-tokoh lain yang mengembangkan teori belajar behavioristik ini. Melalui pemberian reward dan punishment. Social Learning menurut Albert Bandura Teori belajar sosial atau disebut juga teori observational learning adalah sebuah teori belajar yang relatif masih baru dibandingkan dengan teori teori belajar lainnya. Law of operant extinction yaitu jika timbulnya perilaku operant telah diperkuat melalui proses conditioning itu tidak diiringi stimulus penguat. Guthrie dengan teorinya yang disebut Contiguity Theory yang menghasilkan Metode Ambang (the treshold method). Skinner Dari eksperimen yang dilakukan B. Law of operant conditining yaitu jika timbulnya perilaku diiringi dengan stimuluspenguat.

Penyajian isi KBM fakta diinterpretasi untuk mengkonstruksikan pemahaman individu melalui interaksi sosial. karena siswa masih berada pada tingkatan mengkonsumsi pengetahuan.Sedangkan teori belajar yang dikemukakan oleh seorang psikologis bernama Pavlov dengan penelitian pembiasaan perilaku (behaviour) terhadap sapi yang mengeluarkan air liur manakala dibunyikan lonceng dan diberi makanan untuk sapi tersebut. Tujuan pembelajaran adalah belajar how to learn. Untuk mendukung kualitas pembelajaran maka sumber belajar membutuhkan data primer. buku. belumlah cukup. Pembelajaran yang sedang dikampanyekan. Sistematika evaluasi lebih menekankan pada penyusunan makna secara aktif. Selama ini masyarakat kita berada dalam suatu budaya dimana belajar dipandang sebagai suatu proses mengkonsumsi pengetahuan. fungsi pikiran menginterpretasi peristiwa. pengetahuan. 3. Setiap lonceng dibunyikan. bahan manipulatif dengan penekanan pada proses penalaran dalam pengambilan kesimpulan. Suatu kegagalan dan kesuksesan dilihat sebagai beda interpretasi yang patut dihargai dan sukses belajar sangat ditentukan oleh kebebasan siswa melakukan pengaturan dari dalam diri siswa. sehingga makna hasil belajar bersifat individualistik. manakala stimulus itu dilakukan terus-menerus untuk memancing timbulnya perilaku yang diinginkan. sedang mengajar adalah schaffolding atau memfasilitasi. obyek. disosialisasikan justru berbeda dengan pandangan tersebut. Oleh karena itu skenario suatu pembelajaran maupun kegiatan belajar mengajar yang hanya terhenti pada tahapan dimana siswa mengumpulkan data dan memperoleh informasi dari luar yakni guru. serta mengkonstruksi gagasan.Sehingga teori ini memberikan keaktifan terhadap manusia untuk belajar men emukan sendiri kompetensi. Belajar adalah suatu proses dimana siswa memproduki pengetahuan. Siswa menyusun pengetahuan. melainkan sebagai sumber tunggal pengetahuan di depan kelas. keterampilan intergratif dalam masalah nyata. Langkah-langkah inilah yang sedang disosialisasikan dua tahun terakhir . Guru bukan sekadar fasilitator. maka sapi tersebut mengeluarkan air liur sebagai perilaku akibat pembiasaan dibunyikannya lonceng tersebut. meskipun kemudian makanan tidak diberikan. membangun makna (meaning making). Pada dasarnya teori kontruktivisme menekankan bahwa belajar adalah meaning making atau membangun makna. narasumber. perspektif yang dipakai. atau teknologi dan hal lain yang diperlukan guna mengembangkan dirinya sendiri.Teori Belajar Alternatif Konstruktivisme Teori belajar konstruktivisme adalah sebuah teori yang memberikan kebebasan terhadap manusia yang ingin belajar atau mencari kebutuhannya dengan kemampuan menemukan keinginan atau kebutuhannya tersebut dengan bantuan fasilitasi orang lain. Evaluasi dilihat sebagai suatu bagian kegiatan belajar mengajar dengan penugasan untuk menerapkan pengetahuan dalam konteks nyata sekaligus sebagai evaluasi proses untuk memecahkan masalah. menggali munculnya jawaban dive rgen dan pemecahan ganda. Karena itu perlu langkah -langkah yang menunjukkan tindakan siswa mengkonstruksi gagasan untuk memproduksi pengetahuan. Hasil belajar bergantung pada pengalaman dan perspektif yang dipakai dalam interpretasi pribadi. Sebaliknya. Sehingga seorang manusia akan berperilaku sesuai keinginan orang yang memberikan stimulus kepadanya. laboratorium dan lingkungan ke dalam ingatan siswa saja.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->