Demokrasi Lokal (di Desa): Quo Vadis?

*
Januari 12, 2010 tags: Aceh, BPD, deca, desa, desentralisasi, GAM, Irine H. Gayatri, jawa, kepala desa, muatan lokal, Orde Baru, UU 22/1999, UU 32/2004, UU No. 11/ 2006, UU No. 5/1979, Yayasan Interseksi oleh syukriy Irine H. Gayatri (Peneliti YAYASAN INTERSEKSI, Jakarta) Pengantar Pada masa Orde Baru dengan alasan stabilitas politik untuk menunjang pembangunan nasional, desa diartikan sebagai konsep administratif yang berkedudukan di bawah kecamatan. Struktur pemerintahan desa diseragamkan melalui UU No. 5/1979. Masa µreformasi¶ merupakan titik tolak dari slogan kembali ke desa, yang menekankan pada pembaruan otonomi desa, yang ditandai oleh desentralisasi kekuasaan dengan terbitnya UU No. 22/1999. Dalam konteks ini, pembentukan Badan Perwakilan Desa (BPD) dipandang mencerminkan berjalannya prinsip demokrasi desa. Namun tak lama muncul kecenderungan resentralisasi melalui UU No. 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah yang dilatarbelakangi dengan perubahan fungsi BPD menjadi Badan Permusyawaratan Desa, sehingga tidak ada lagi fungsi kontrol terhadap kepala desa. Hal ini mengisyaratkan bahwa desa belum sepenuhnya otonom sebagai suatu entitas yang berdaya secara politik dan ekonomi. Inti tulisan ini adalah µprospek demokrasi lokal di desa dengan berlakunya UU No. 32/2004 dilihat dari (1) aspek kelembagaan (pemerintahan) desa sebagai media perangkat politik pemerintahan desa melakukan praktek politik; dan (2) partisipasi rakyat desa terhadap proses politik dan ekonomi di desa. Kata kunci: desa, dentralisasi, otonomi, demokrasi, sistem politik. Demokrasi Lokal = Demokrasi Desa? Konsep demokrasi secara umum mengandaikan pemerintahan dari, oleh dan untuk rakyat. Ide dasar demokrasi mensyaratkan keikutsertaan rakyat, serta kesepakatan bersama atau konsensus untuk mencapai tujuan yang dirumuskan bersama. Demokrasi di Indonesia pasca Orde Baru hampir selalu dibicarakan secara berkaitan dengan pembentukan sistem politik yang mencerminkan prinsip keterwakilan, partisipasi, dan kontrol. Oleh karenanya, pemerintahan yang demokratis mengandaikan pemisahan kekuasaan dalam tiga wilayah institusi yaitu eksekutif, legislatif dan yudikatif. Suatu pemerintahan dikatakan demokratis jika terdapat indikator utama yaitu keterwakilan, partisipasi dan kontrol terhadap penyelenggaraan pemerintahan oleh ketiga institusi tersebut. Prinsip partisipasi menjamin aspek keikutsertaan rakyat dalam proses perencanaan pembangunan daerah; atau keikutsertaan rakyat dalam proses pemilihan wakil dalam lembaga politik; sedangkan prinsip kontrol menekankan pada aspek akuntabilitas pemerintahan. Dalam demokrasi, aspek kelembagaan merupakan keutamaan dari berlangsungnya praktik politik yang demokratis, sehingga, terdapat partai politik, pemilihan umum dan pers bebas. Sedangkan, istilah µ lokal¶ mengacu kepada µarena¶ tempat praktek demokrasi itu berlangsung, yaitu pada entitas politik yang terkecil, desa.

[5] Jika desentralisasi merupakan arena hubungan antara desa dengan pemerintah supra desa (Negara) yang bertujuan untuk memberikan pengakuan terhadap eksistensi desa. Perspektif desentralisasi politik menerjemahkan desentralisasi sebagai devolusi kekuasaan dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah. sebutan untuk wilayah dengan pengertian serupa desa sangat beranekaragam. memperkuat identitas lokal. dasarnya adalah pemilikan tanah yang komunal yaitu setiap orang merasa bahwa ia harus bertindak berdasarkan persetujuan bersama. pada tataran realitas terdapat keterkaitan antara aspek ekonomi dan politik dalam konteks rakyat pedesaan. sebagai sebuah entitas budaya. atau desa penambang emas) dan sebagainya. [3] Ciri-ciri dari demokrasi desa antara lain adanya mekanisme pertemuan antar warga desa dalam bentuk-bentuk pertemuan publik seperti musyawarah/ rapat. atau ikatan teritorial. sedangkan perspektif desentralisasi administrasi diartikan sebagai pendelegasian wewenang administratif dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah. tanah asal atau tanah kelahiran. Desentralisasi secara umum dikategorikan ke dalam dua perspektif utama. Bagaimanakah konsep demokrasi tersebut diimplementasikan di tingkat desa? Demokrasi desa merupakan demokrasi asli yang lebih dahulu terbentuk sebelum negara Indonesia berdiri. [2] Desa atau nama lainnya.sesuai dengan asal mula terbentuknya area desa tersebut. Dengan pengertian demokrasi desa seperti di atas. Dari perspektif geografis. Saat ini. serta kebutuhan dari rakyatnya. smaller than a town¶. misalnya migrasi penduduk.´ Ia juga menambahkan. bahkan pada masa kerajaan sebelum era kolonial. Misalnya di Jawa pada kurun waktu pasca revolusi kemerdekaan hingga 1960an. membangkitkan prakarsa dan inisiatif lokal. mendorong parlemen desa berfungsi sebagai badan perwakilan dan intermediary agent (dalam aspek artikulasi dan agregasi kepentingan.[4] Perkembangan jaman menunjukkan desa-desa di Jawa mengalami perubahan yang diakibatkan oleh kemampuan adaptasi desa terhadap tekanan eksternal. Moh. atau terhadap bentuk proyek kebijakan ekonomi dan politik lainnya. dan ada kalanya mengadakan protes terhadap penguasa (raja) secara bersama-sama. Hatta berpendapat. Kalimantan dan Sulawesi. yakni perspektif desentralisasi politik dan desentralisasi administrasi. µdi desa-desa yang sistem demokrasinya masih kuat dan hidup sehat sebagai bagian (dari) adat istiadat yang hakiki. ekonomi dan politik yang telah ada sebelum produk-produk hukum masa kolonial dan sesudahnya. telah memiliki asas-asas pemerintahan sendiri yang asli.Desa secara etimologi berasal dari bahasa Sansekerta. baik berdasarkan pada prinsip-prinsip ikatan genealogis. demokrasi (lokal) dan desentralisasi. [1] Istilah desa hanya dikenal di Jawa. Konsep desa tidak hanya sebatas unit geografis dengan jumlah penduduk tertentu melainkan sebagai sebuah unit teritorial yang dihuni oleh sekumpulan orang dengan kelengkapan budaya termasuk sistem politik dan ekonomi yang otonom. ³struktur demokrasi yang hidup dalam diri bangsa Indonesia harus berdasarkan pada demokrasi asli yang berlaku di desa´. maka demokratisasi merupakan upaya untuk menjadikan penyelenggaraan pemerintah (desa) menjadi lebih akuntabel. diakui oleh rakyat. serta membagi kekuasaan dan kekayaan kepada desa. responsif. dan mewujudkan otonomi desa[6]. . merupakan dua isu utama dalam statecraft Indonesia pasca Orde Baru. sewaktu mengadakan kegiatan ekonomi. dan bahkan berdasarkan tujuan fungsional tertentu (semisal desa petani atau desa nelayan. sedangkan di luar Jawa misalnya di Sumatra. diberlakukan. sesuai dengan karakteristik sosial dan ekonomi. desa atau village diartikan sebagai µa group of houses and shops in a country area. deca yang berarti tanah air.

meskipun demikian secara tradisional struktur pemerintahan ini bersifat otonom. yang menyebabkan penciutan lahan pertanian untuk pembangunan pabrik. Sedangkan desentralisasi politik ini pada tingkat desa menekankan pada aspek kelembagaan desa. [8] Hal ini sesuai dengan skema dimana pemerintah kolonial melakukan penguasaan sumberdaya dengan µmemegang¶ elite politik lokal. Perspektif desentralisasi politik menekankan bahwa tujuan utama dari desentralisasi adalah untuk mewujudkan demokratisasi di tingkat lokal sebagai persamaan politik. Penekanan terhadap stabilitas politik untuk mendorong laju ekonomi ini dalam penataan pemerintahan diwujudkan dalam UU No. dengan penguasa pribumi memegang jabatan mulai dari karesidenan. Medan. melalui penerbitan Indlandsche Gemeente Ordonanntie (IGO) Stbl. Kepala desa dan dewan desa bertanggungjawab kepada pemerintah supra desa. dan alih profesi para petani tradisional menjadi buruh pabrik atau pekerja tambang. dan bagaimana pengaruhnya pada pemerintahan asli desa? Pada masa rejim Orde Baru yang berkarakter represif secara politik untuk mendukung µpembangunan ekonomi¶. serta memperkuat partisipasi masyarakat desa dalam proses pemerintahan dan pembangunan desa. sehingga desa lebih merupakan kepanjangan tangan dari birokrasi pemerintah pusat. Sedangkan. . aktivitas ekonomi desa terseret dalam pusaran modernisasi sektoral. yaitu aturan hukum yang memberikan ruang bagi desa untuk menjalankan pemerintahan sendiri (self governing community) dalam bentuk pengakuan hak-hak budaya desa. namun secara geografis berjarak cukup jauh dari pusat kekuasaan di tingkat atasnya. pembagian peran serta berfungsi atau tidaknya kelembagaan desa. dan kepekaan lokal. maka desa terletak di bawah struktur pemerintahan kecamatan. Hal itu menyebabkan desa memiliki arti penting sebagai basis penyelenggaraan pelayanan publik dan memfasilitasi pemenuhan hak-hak publik rakyat lokal. sebagai tujuan utama dari desentralisasi. desentralisasi pemerintahan pada tingkat desa. Partisipasi juga menandai keikutsertaan kalangan marjinal yang selama ini disingkirkan dari proses politik dan ekonomi. semisal di Sumatra (Aceh. Akibatnya terjadi kecenderungan pemusatan kekuasaan di tangan kepala desa. Peran penting desa ini disadari oleh pemerintah Hindia Belanda pada masa politik kolonial. dan secara tidak langsung oleh penguasa Belanda. 83. akuntabilitas lokal. memperlakukan desa dalam wawasan pemerintah pusat. dan membawahi kepala desa. [7] Pada masa ini penduduk µpribumi¶ diperintah secara langsung oleh penguasa pribumi. proyek politik untuk menata pemerintahan negara Indonesia pada kurun waktu paska kemerdekaan. Kelembagaan Politik Desa Desa merupakan entitas pemerintahan yang langsung berhubungan dengan rakyat. dilakukan dalam konteks penataan institusi pemerintahan di daerah. Strategi µindirect rule¶[9] melalui elite lokal ini juga berlangsung di luar Jawa. ekploitasi hutan untuk kepentingan ekspor kayu. Dengan mengartikan desa sebagai konsep administratif. Sistem pemerintahan berdasarkan ras ini berlangsung hingga 1942. tetapi masih dalam bingkai negaraisasi. Bagaimana hal ini direfleksikan dalam praktek berlakunya UU tersebut. Palembang) yang memudahkan pemerintah kolonial mengekspoitasi sumberdaya alam dan manusia untuk kepentingan perdagangan internasionalnya.formulasi kebijakan serta kontrol terhadap eksekutif desa). bukan kepada warga. Perspektif desentralisasi administrasi lebih menekankan pada aspek efisiensi penyelenggaraan pemerintah daerah dan pembangunan ekonomi di daerah. 1906 No. sistem pemilihan kepala desa. Desa tidak ubahnya sebagai mesin birokrasi kepanjangan dari birokrasi negara. 5/1979 yang berwawasan µkontrol¶. parlemen desa dan sebagainya. kawedanan hingga tingkat kecamatan.

pemerintah daerah mengakomodasi struktur pemerintah adat µkedemangan¶ dalam struktur pemerintahan modern berdasarkan UU No. 11/ 2006 mengakomodasi kembalinya format otonomi asli pemerintahan Aceh tersebut. [12] untuk tujuan meningkatkan demokratisasi lokal melalui perluasan ruang partisipasi politik rakyat. Di Kalimantan Tengah. misalnya. terdapat juga LKMD (lembaga Ketahanan Masyarakat Desa) yang No. 28/ 1980 dan dikukuhkan oleh Instruksi Mendagri No. budaya dan ekonomi desa. Selain LMD. Di Aceh.Oleh karenanya baik LKMD maupun LMD tidak bisa menyuarakan pandangan kritis terhadap kepala desa. Ruang politik yang semakin terbuka juga ditandai oleh munculnya asosiasi-asosiasi kemasyarakatan desa serta seruan dari berbagai pihak untuk menghidupan kembali struktur pemerintahan adat. Harus diakui bahwa satu keutamaan reformasi adalah keberhasilan mengakomodasi dan µmenyesuaikan¶format pemerintahan asli ini ke dalam penyelenggaraan negara.Pasal 3 UU No. kabupaten-kabupaten di Aceh mengeluarkan qanun atau peraturan daerah untuk menjadi dasar pembentukan lembaga daerah sampai tingkat gampong. dalam kerangka desentralisasi politik dan demokratisasi maka ketentuan tentang pemerintahan desa disesuaikan dengan keanekaan kekhasan sosial. yang ditandai oleh pembatasan kekuasaan pusat dan pemberian otoritas yang lebih luas kepada pemerintah daerah [11]. Secara perlahan.[10] Pada masa reformasi. Secara praktis. 4/ 1981 yang berfungsi sebagai koordinator pelaksanaan proyek pembangunan desa. kemudian struktur di atasnya yaitu mukim (federasi gampong). . UU No. meskipun masih banyak kekurangannya di sana-sini. yang merupakan lembaga musyawarah atau permufakatan antar elite pemerintahan desa dengan tokoh masyarakat desa. yang dikomandoi oleh para µklien negara¶ di desa. 5/1979 menyebutkan bahwa pemerintahan desa terdiri dari kepala desa dan Lembaga Musyawarah Desa (LMD). Pada tataran implementasinya. eksekutif dan yudikatif. Setiap elemen ini memiliki perangkat pemerintahan sendiri yang dapat dipersamakan dengan fungsi legislatif. UU No. (dalam konteks desentralisasi. 22/1999 menjadi prinsip utama untuk menghidupkan kembali parlemen desa dengan keberadaan BPD. dan khususnya sebagai bagian dari proses resolusi konflik antara pihak RI dan GAM). diselenggarakan secara periodik diadakan lima tahun sekali. sementara pembentukan pengurus LKMD harus disetujui oleh kepala desa. camat. Pada masa kini. 22/1999. Di Sumatra Barat. Desa menjadi sumber untuk mobilisasi dukungan terhadap partai-partai politik. Keanggotaan LKMD seperti halnya LMD terdiri dari para elite desa yang cenderung dekat dengan kepala desa. Untuk menjaga µloyalitas¶ dari kalangan masyarakat desa. dikenal sebutan µnagari¶ yang tingkatan sistem pemerintahannya hampir serupa dengan Nanggroe. µpesta demokrasi¶. UUPA No. dan bupati atau walikota untuk disahkan. terdapat pola struktur pemerintahan nanggroe yang federatif menggambarkan tingkatan-tingkatan mulai dari unit terendah setingkat desa yaitu gampong. 22/1999 pada intinya menerapkan kerangka desentralisasi politik. federasi mukim yaitu sagoe dan strata pemerintahan teratas yaitu nanggroe. serta adanya pemberdayaan peran dan fungsi parlemen daerah. demikian juga dengan fungsi perangkat pemerintahannya. otonomi asli dan masyarakat hukum yang otonom semakin menghilang. UU tersebut mengesahkan posisi dan fungsi kepala desa sebagai kepala pemerintahan sekaligus sebagai ketua LMD. dengan praktek ekonomi dan politik seperti di atas.

Para pengambil keputusan seharusnya memahami latar belakang sosial. Hal ini menandakan perubahan signifikan dalam struktur dan fungsi kelembagaan desa. yang terbentuk pada masa Orde Baru. konsep pemerintahan desa yang diperbarui oleh UU ini µdipertemukan¶ dengan sisa-sisa pola patron-klien di kalangan masyarakat desa. ironisnya. sebab terjadi transformasi besar-besaran . karena tidak lagi tradisional sepenuhnya. 22/1999. Belum lagi faktor-faktor keanekaragaman pola budaya yang terus berubah. anggaran dan pembuatan keputusan desa. budaya dan ekonomi di daerah-daerah di Indonesia menjadikan corak kelembagaan pemerintah desa pun menjadi beragam. Pasal 105 mengatur bahwa anggota BPD sebagai wakil rakyat desa dipilih dari dan oleh masyarakat desa. [13] Pasal 104 mencantumkan keberadaan BPD (Badan Perwakilan Desa) yang befungsi sebagai pengayom adat istiadat.[16] Pemilihan kepala desa dan BPD juga seringkali diwarnai oleh isu politik uang atau intrik politik lainnya.[17] Perbedaan budaya di antara warga juga seringkali disikapi dengan kekerasan sebagaimana jaman penjajahan atas dalih µrust en orde¶. Dalam pasal 95. untuk memuluskan pencapaian tujuan kepentingan politik atau ekonomi. yaitu bahwa masyarakat Indonesia adalah µmasyarakat transisi yang permanen¶[15]. maka solusi terhadap praktek demokrasi yang hanya terjadi di tingkat prosedural± artinya demokrasi hanya sebatas aspek prosedur. dan dalam Pasal 102 diatur bahwa kepala desa melaporkan pelaksanaan tugasnya kepada bupati. upaya demokratisasi di desa-desa memang memerlukan proses yang panjang. Sebagai contoh. dan malangnya. budaya dan ekonomi di pedesaan. namun tidak diikuti oleh proses politik yang mencerminkan perilaku atau budaya demokratis± tidak hanya sebatas dengan keluarnya peraturan baru yang dampaknya tambal sulam. Seperti disampaikan di muka. menggunakan akses komunikasi politik langsung ke Bupati untuk menjatuhkan kepala desa. Ada kalanya. jika alasan tersebut di atas dapat dipahami oleh para pembuat keputusan. tetap µmenyeragamkan¶ struktur pemerintahan desa. ini dilakukan oleh sesama warga Negara.[18] Meskipun terdapat fenomena negatif dalam praktek politik seperti di atas. Sehingga. UU No. yang sesuai dengan asas demokrasi. 22/1979. Hal ini berarti bahwa suatu sistem demokrasi tidak bisa berlangsung tanpa adanya jaminan penegakan hukum oleh Negara di satu pihak. Kepala desa bertanggungjawab kepada rakyat melalui BPD. yang terpilih secara demokratis. yang substansinya mendukung keanekaragaman dalam masyarakat desa. Secara khusus. 22/1979 diatur dalam pasal-pasal 93 hingga 111.Pemerintahan desa dalam UU No.atau disebut dengan nama lain. Dalam prakteknya. idealnya para pembuat keputusan mengenai pemerintahan desa harus mempertimbangkan pengaruh dari apa yang oleh kalangan pengamat politik pedesaan disebut sebagai fenomena khas. kades juga dapat berkolaborasi dengan BPD (kolusi) sehingga tidak lagi mengawasinya. dan kemudian menjadikan faktor-faktor tersebut sebagai variabel penentu dalam penataan pemerintah desa. tidak semudah itu menerapkan konsep-konsep ideal demokrasi sesuai dengan UU No. namun juga belum bergerak ke arah µmasyarakat modern¶ (dalam pengertian modernisme Barat yang menekankan pada asas rasionalitas dan individualisme). dan kultur demokratis (dari masyarakat dan elite politik ) di pihak lain. penampung dan penyalur aspirasi masyarakat. Namun demikian. pembuat peraturan desa (perdes). keberagaman latar belakang sosial. yang tidak lagi memainkan peran sentral dalam perpolitikan desa. baik dari aspek kelembagaan maupun pranata desa. yang diikuti pula dengan kecenderungan anarkisme dari massa pendukung yang tidak puas.[14] Dari aspek keanggotaan. serta pengawas penyelenggaraan pemerintahan desa. terdapat kasus di beberapa daerah dimana anggota BPD.terdiri atas kepala desa dan perangkat desa. dimana kepala desa harus bersama-sama BPD menjalankan fungsi administrasi. pemerintah desa.

di samping itu keanggotaan BPD yang awalnya dalam UU No. Tak pelak lagi. selain adanya anggapan bahwa kecenderungan konfliktual antara BPD dan kepala desa sudah tidak dapat dikontrol lagi. setelah sekian lama terbiasa dalam proses politik yang serba ditentukan dari atas. 22/1999 dipilih secara demokratis. dengan memperkuat kapasitas masyarakat akar rumput di desa menjadi percuma ketika pemerintah pusat mengeluarkan UU No. 32/2004 memberikan pengertian µpemerintah desa terdiri atas kepala desa dan perangkat desa¶. padahal yang perlu dipertimbangkan oleh mereka adalah bahwa reformasi politik mengandung konsekuensi tampilnya diskursus-diskursus baru (pembaruan diskursus) dalam politik desa. pola berpikir dan praktek politik para elite desa.[20] Tentu saja ini berarti tidak ada lagi fungsi check and balances sebagai prinsip demokrasi dalam pola hubungan antara BPD dan kepala desa. serta pelbagai pemangku kepentingan di desa. dan sekali lagi. Masyarakat desa memerlukan µperenungan¶ atau penyesuaian terhadap mekanisme pemilihan langsung wakilwakilnya. dan kedua. Bahkan. Sebagai peraturan pelaksanaan UU No. masyarakat desa. yang memerlukan proses penyesuaian dalam prakteknya oleh masyarakat desa dan elite politik desa.pada dua aras yaitu pertama. tanpa memiliki daya tawar terhadap berbagai kebijakan negara. upaya untuk mengintrodusir demokrasi di tingkat desa. [19] Kecenderungan µpemusatan kembali ke atas¶ dalam pertanggungjawaban kepala desa sangat tampak dalam pasal 15 ayat (2) PP No.32/2004 diterbitkanlah PP No. serta hubungan BPD dengan lembaga supra desa. Sementara pasal 202 ayat (1) UU No. serta tentang peran dan kedudukan kepala desa. Maka. BPD dikurangi kedudukan dan perannya dari fungsi badan legislatif menjadi µbadan permusyawaratan¶. BPD saja baru terbentuk kurang dari 5 tahun (terhitung sejak 2004). Pasal 29 PP menegaskan bahwa µkedudukan BPD sebagai unsur penyelenggaraan pemerintahan desa¶. artinya posisi BPD berada di bawah eksekutif.32/2004 tersebut keluar dengan latar belakang dominannya perspektif resentralisasi pemerintah pusat (Depdagri). UU No. 72/2005 yang menyebutkan bahwa kepala desa berkewajiban untuk memberikan laporan penyelenggaraan pemerintahan desa kepada bupati atau walikota. sedangkan tanggung jawab kepala desa kepada BPD hanya dalam bentuk penyampaian laporan keterangan pertanggungjawaban. pada internal masyarakat desa sendiri. terdapat kontradiksi antara pasal 15 ayat (2) PP yang mengatur bahwa µBPD memiliki salah satu wewenang untuk melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan peraturan desa dan .72/2005 yang memuat beberapa perubahan penting berkaitan dengan peran µBadan Permusyawaratan Desa¶ sebagai parlemen desa untuk melakukan pengawasan terhadap kebijakan desa. 32/2004 yang cenderung mengembalikan kekuasaan di tangan kepala desa dan mencabut peran badan perwakilan desa. µgerakan resentralisasi¶ oleh pemerintah pusat menyebabkan desa kembali dimaknai sekedar sebagai saluran administratif kewenangan negara lewat kabupaten/kota. 32/2004 ditetapkan secara µmusyawarah dan mufakat dengan basis perwakilan wilayah¶. sudah tentu memerlukan waktu untuk sepenuhnya menjalankan fungsi sebagai Badan Perwakilan Desa. kini dalam UU No. dalam konteks transisi politik sejak 1998. Sesungguhnya kurun waktu antara 1999 hingga 2004 inilah periode penting untuk memperkuat nilai-nilai demokrasi (baik µasli¶ maupun µdemokrasi Barat¶) dalam praktek politik desa yang peluangnya ada di tangan organisasi non pemerintah. termasuk konsep demokrasi. dan mereka hanya menginformasikan laporan penyelenggaraan pemerintahan desa kepada rakyat. menyeragamkan struktur kelembagaan pemerintah desa. Tampaknya pemikiran bahwa desentralisasi politik hanya melahirkan konflik politik dan akibat negatif lainnya masih mendominasi pemerintah pusat.

perencanaan pembangunan desa pun disesuaikan dengan perencanaan pembangunan nasional. selain melemahkan otonomi pembangunan desa. Collin.. 2006). (London: Bloomsbury. namun jika mengacu pada pasal 15 (2) PP Desa di atas. 2005). 32/2004) yang menekankan pada tingkat provinsi. 2006) Chabal. berbasis jaringan antar komunits. Meskipun pada pasal 35(c) PP tentang desa disebutkan bahwa BPD diberikan kewenangan untuk mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian kepala desa kepada bupati/walikota. Pasal 63 PP Desa menempatkan perencanaan desa sebagai satu kesatuan dengan sistem perencanaan pembangunan daerah kabupaten/kota. resentralisasi[23]. serta upaya untuk memperkuat ekonomi desa. dengan demikian mengesampingkan posisi desa sebagai unit terkecil dalam struktur pemerintahan negara. Kerja ke Depan Untuk konteks negara Indonesia yang tengah melakukan eksperimen politik sejak kemerdekaannya tahun 1945.peraturan kepala desa¶. 2004). Dinamika Demokratisasi Desa di Beberapa Daerah di Indonesia Pasca 1999. Demokrasi Desa. Artinya. (Jakarta: LIPI. sebagaimana ditampilkan oleh UU No. (London: Hurst & Co. and Jean Pascal-Daloz. terlihat ambivalensi pengaturan kewenangan pengawasan BPD.H. (Yogya: Pustaka Pelajar. Heru (ed. desa masih dipandang setengah mata sebagai wilayah yang memiliki demokrasi asli dan otonomi sendiri. 2006. dan dapat memperkuat kehidupan demokrasi di kabupaten/kota. Mencermati narasi di atas tampaklah bahwa kecenderungan penyeragaman. dengan pasal 35 (b) PP tentang desa. Culture Troubles. [22] Penerapan µotonomi daerah¶ ala UU No. malahan melemahkannya dengan mengembalikan pemusatan kekuasaan di tangan kepala desa. Beberapa persoalan pokok yang ditampilkan oleh UU no 32/2004 adalah masalah keterwakilan masyarakat desa dalam lembaga BPD dan fungsi kontrol dan pengawasan terhadap jalannya pemerintahan desa. sedangkan pasal 150 UU No. Padahal dalam kerangka UU No. Keluarnya UU ini cenderung menghasilkan democratic defisit atau kegagalan sistem demokrasi (yang telngah dirancang) untuk berjalan sesuai dengan prinsip-prinsip demokrasi. dkk. meskipun beberapa di antaranya sebelum masa kolonial sudah memiliki µotonomi asli¶. Perlukah Diatur?. bagaimana nasib demokrasi desa? Mesti ada mekanisme yang diciptakan. dan pembentukan lembaga baru oleh pemerintah pusat terhadap pemerintahan desa masih tetap dominan. untuk memberikan perlindungan dan penguatan lembaga-lembaga asli desa. kertas kerja. . 32/2004. Referensi Cahyono. Cahyono. Politics and The Interpretation of Meaning. 32/2004 menegaskan bahwa sistem perencanaan daerah merupakan satu kesatuan dengan perencanaan pembangunan nasional. kabupaten/kota dan kecamatan. 22/1999. [21] Selain sentralisasi politik dalam penyelenggaraan pemerintahan desa. Patrick. P. Dengan kondisi sedemikian. Singkatnya. desa tidak lagi memiliki otonomi untuk mengatur pembangunan ekonominya sendiri. Dictionary of Politics and Government.). provinsi dan akhirnya negara. penguatan kapasitas politik kelembagaan desa yang mencerminkan asas keterwakilan rakyat desa yang hakiki. Syamsuddin. PP itu tidak menawarkan rumusan untuk memperkuat demokrasi di desa. Heru. 22/1999 maupun UU No. Konflik Elite Politik di Pedesaan. Haris.. dan µmempreteli¶ fungsi dan wewenang BPD. demokrasi pada tingkat desa sedang mulai tumbuh.

hal. misalnya. Otonomi versus Negara: Demokrasi di Bawah Bayang-Bayang Otoriterisme. 2000) Reid. 2000). 8 April 2007. 318-319. (Jakarta: Pustaka Quantum.). 22 April 2005. (Jakarta: Pustaka Quantum. 153. 2006). ibid. (Yogya: Pustaka Pelajar. the Background to the Aceh Problem. Prijono. ed. 2006) Tjiptoherijanto.Hidayat. ³Sejarah Perkembangan Demokrasi Desa di Indonesia´.Lihat.forumdesa. hal. ³Local Leadership and the Aceh Conflict´. Dinamika Demokratisasi Desa di Beberapa Daerah di Indonesia Pasca 1999. (Singapore: NUS Publishing. 2004).. UU 32/2004 Mengulang Orba * Makalah untuk diskusi Perkumpulan INISIATIF. penguasa territorial dari kelompok elite keturunan bangsawan yang disebut uleebalang. Refleksi Realitas Otonomi Daerah dan Tantangan Ke Depan. . [8] Agus R. 1983). Prijono. hal.H. dkk. Rahman. dalam Kolom Demokrasi Desa http://www. Entitas Demokrasi Riil´. Demokrasi di Pedesaan Jawa. (Jakarta: Penerbit Sinar Harapan. PNBK Ajukan Hak Uji UU No 32/2004 WASPADA. selain merupakan tangan kanan sultan juga dikenal dekat dengan Belanda posisi mereka yang secara politik. [3] Ibid. [4] Prijono Tjiptoherijanto dan Yumiko M. [7] W.340. [10] Heru Cahyono (b). 03 Mei 2005.org/mudik/mudik6/kolom diakses pada 5 April 2007. [2] Heru Cahyono (a) (ed. 17-18. hal. UU No 32 Halangi Calon Independen Pikiran Rakyat. 65-106. (Jakarta: Penerbit Sinar Harapan.. 22 Tahun 1999. Riawan Tjandra..´ Desa.Collin. (Singapore: NUS Publishing. (Yogya: Lapera Pustaka Utama. (ed. the Background to the Aceh Problem. Verandah of Violence. Syarif. 16 April 2007. Dictionary of Politics and Government. Prijono dan Yumiko M. Demokrasi di Pedesaan Jawa. Refleksi Realitas Otonomi Daerah dan Tantangan Ke Depan. Konflik Elite Politik di Pedesaan. [11] Lihat Pasal 7 (1) UU No. 2006). Rodd McGibbon. Selasa. [5] Syarif Hidayat. [6] Tim Lapera. dalam Heru Cahyono (a). (London: Bloomsbury. dalam Anthony Reid. Anthony (ed. 2005). [9] Di Aceh. Verandah of Violence. Catatan Kaki [1] P. hal. hal. Bandung. 1983) KOMPAS. hal. (Jakarta: LIPI. kultural dan ekonomi strategis.).).257. 2005).

22/ tahun 1999. ³Sejarah Perkembangan Demokrasi Desa di Indonesia´. [14] Op..22/1999 memperlihatkan besarnya peran DPRD sebagai ujung tombak demokratisasi pada tingkat lokal. 22 April 2005. UU 32/2004 Mengulang Orba. Riawan Tjandra.. ibid. (ed). [21] Tjandra. [20] Op.cit. kertas kerja seminar FPPM. hal.cit. dalam Heru Cahyono (a). tt. [22] Mengenai sejarah demokrasi desa-desa sebelum era kolonial. Rahman.ibid. [16] Cahyono (b). UU No. Agricultural Involution and 1965.. yang idealnya membawa perbaikan bagi transparansi dan akuntabilitas di daerah. termasuk masa Kerajaan baca selengkapnya pada Agus R. Demokrasi Desa. [15] Clifford Geertz. 19. [18] Ibid. [19] W. Sumber: Yayasan Interseksi Jakarta.. The Social History of an Indonesian Town. 65-106. ibid. Perlukah Diatur?. op. [23] Pikiran Rakyat. hal. ed. 3-5. 2006. . [13] Heru Cahyono(b). [17] Syamsuddin Haris.[12] Lihat pasal 14. 20 dalam UU No. juga pasal-pasal 18.cit. ibid.

3 Hal ini menggambarkan bahwa permasalahan utama yang menyebabkan rendahnya tingkat sosial dan ekonomi masyarakat pedesaan disebabkan karena ketidakmampuan masyarakat desa (dalam hal ini pemerintah desa) dalam mengelola potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia yang mereka miliki dalam rangka membangun desa. disamping peranannya dalam usaha pemenuhan kebutuhan (pangan) masyarakat perkotaan. lebih lanjut dijelaskan bahwa percepatan (peningkatan) kemajuan perekonomian masyarakat akan tercapai sejalan dengan meningkatnya pendapatan masyarakat desa.Pengantar Ekonomi Politik Pedesaan PENDAHULUAN Dalam Ministry of Environment (2002) dikatakan bahwa pada saat ini dunia internasional tengah menghadapi situasi serius terkait dengan eksploitasi sumber daya alam dan energi dunia. dimana hal tersebut justru semakin memperlebar kesenjangan ekonomi dan sosial masyarakat (khususnya didaerah pedesaan). hingga tersedianya bahan konsumsi dan produksi untuk masyarakat itu sendiri.4 Misalnya peningkatan arus migrasi penduduk desa ke kota. Karena luasnya ranah kerja pemerintah pusat dan desakan dari pemerintah daerah untuk mengambil alih pemerintahan dalam rangka mengembangkan perekonomian di desa maka munculah gagasan desentralisasi daerah. Kesenjangan menurut Soemadiningrat (1997) dikenal sebagai kenyataan yang ada didalam sebuah pembangunan dan membutuhkan sebuah solusi pemecahan permasalahan melalui keberpihakan terhadap pemberdayaan pelaku ekonomi lemah secara nyata. jalan.1 Hal ini sejalan dengan kondisi masyarakat Indonesia yang sebagian besar berada dibawah garis kemiskinan. pertama munculnya inisiatif dari pemerintah untuk memberdayakan masyarakat guna menunjang perekonomian secara umum. Berangkat dari tahapan tersebut maka dapat diketahui bahwa dalam rangka memberdayakan masyarakat dibutuhakan keseriusan pemerintah untuk merumuskan apa yang dibutuhkan oleh masyarakat untuk mengembangkan potensi suatu daerah dan partisipasi aktif dari para stakeholders terkait. Menurut Kurnia modernisasi perekonomian negara dapat dilakukan karena adanya dukungan / tersedianya infrastruktur pedesaan (pasar. yang mampu meredam arus urbanisasi dan ikut berpartisipasi dalam pembangunan negara. dimana jumlah desa hingga tahun 2003 mencapai 58.858 desa atau 5.509 keluruhan. . Disamping itu penguatan hubungan desa dan kota serta meningkatnya lembaga organisasi ekonomi masyarakat desa juga dianggap mampu memecahkan permasalahan kesenjangan ekonmi desa. ketidakjelasan struktur ekonomi sektoral yang mampu membuka lapangan pekerjaan dan peningkatan pendapatan masyarakat. listrik dll). dimana fungsi dari pembangunan pedesaan seharusnya mampu melestarikan kehidupan masyarakat desa yang berkelanjutan. kedua tumbuhnya kesadaran untuk ikut serta dalam program pemberdayaan masyarakat yang dirumuskan oleh pemerintah melalui berbagai macam program kerja pemberdayaan masyarakat. Menurut Hasan Basri (199) mengatakan bahwa penyebab rendahnya tingkat sosial dan ekonomi masyarakat pedesaan disebabkan karena lemahnya lembaga sosial ekonomi masyarakat dalam membentuk jaringan produksi dan distribusi desa. rendahnya daya dukung potensi desa tersebut (sumber daya alam. sarana dan prasarana yang mampu mempengaruhi pola produksi dan distribusi komoditas desa. Data yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan bahwa 80 % penduduk miskin Indonesia bermukim didaerah pedesaan. Disisi lain Erwidodo menjelaskan bahwa kesenjangan yang terjadi antara pedesaan dan perkotaan telah memunculkan kompleksitas permasalahan yang ada.2 Desa sendiri secara ideal diharapkan memiliki kemampuan untuk memenuhi kebuhtuhannya sendiri. kondisi geografis.5 Dimana ia menjelaskan tahapan pemberdayan masyarakat itu sendiri dapat dilakukan melalui beberapa tahapan yang harus dilalui secara bertingkat. tersedianya lapangan kerja secara merata.

hingga terjadinya sebuah ketimpangan sosial dalam struktur masyarakat itu sendiri. Hal ini disinyalir dapat membendung derasnya arus intervensi modal asing yang selama ini membawa keuntungan secara sepihak. media massa yang akuntabel. Peranan pemerintah pusat sendiri terkait dengan hal ini terbatas pada pengawasan dan evaluasi terhadap pelaksanaan desentralisasi pemerintahan itu sendiri. dan penyesuaian angka urbanisasi. Dari sudut pandang yang berbeda desentralisasi diharapkan dengan adanya desentralisasi kewenangan maka daerah akan cenderung mengalami pemberdayaan yang cukup signifikan. Termasuk masuknya kepentingan para pemodal dalam ranah kerja pelayanan publik. BUMDes sendiri memiliki peranan strategis dalam perkembangannya didesa karena bersentuhan langsung dengan masyarakat desa. bahkan mengesampingkan masyarakat itu sendiri. atau dengan kata lain pemerintah pusat tidak lagi memiliki hak untuk mendominasi jalannya pemerintahan daerah. penerapan teknologi dan ilmu pengetahuan dalam usaha peningkatan produktivitas kerja.22 Tahun 1999 dan UU No.25 Tahun 1999 pemerintah dan masyarakat daerah dipersilahkan oleh pemerintah pusat untuk urusannya masing-masing supaya lebih bertanggung jawab. yang tercipta sebaga konsekuensi dari apa yang dikatakan Smith sebaga spesialisasi. etos kerja efektif dan efisien. Lebih lanjut dijelaskan bahwa desentralisasi merupakana simbolisme kepercayaan dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah. Menurutnya melalui pemberlakuan UU No. pemberian sanksi secara proporsional secara bertingkat. sistem persaingan pasar tebuka.Modernisasi dan Globalisasi Menurut Soejono Soekanto (2005) Modernisasi dipandang sebagai proses transformasi nilai-nilai menuju kehidupan yang lebih baik. yang mendasarkan dirinya pada pertimbangan-pertimbangan rasional dan ekonomis. dll. yang sebenarnya menjadi tanggung jawab pemerintah itu sendiri. Menurut Giddens modernisasi (globalisasi) terkesan menyenangkan bagi negara-negara maju karena mereka bisa memperluas kewenangan mereka atas negara-negara berkembang. Adapun efek dari modernisasi tersebut antara lain ialah terjadinya pembagian kerja yang menjadi semakin rumit. Menurut Marx kesenjangan seperti inilah yang menyebabkan terjadinya konflik sosial dalam masyarakat Hal tersebut menunjukan telah terjadi peningkatan peranan individual dalam sistem sosial.32 Tahun 2004. Disisi lain pemerintah pusat juga dituntut berkonsentrasi dalam merumuskan kebijakan makro nasionalyang sifatnya strategis. Secara spesifik desentralisasi dibidang ekonomi dinyatakan sebagai kebebasan pemerintah daerah dalam mengembangkan kebijakan lokal dan regional untuk mendayagunakan potensi ekonomi yang ada . Semangat kemandirian ekonomi di Indonesia sendri dapat dilihat melalui UU No. termasuk melndungi masyarakat desa dar intervensi para tengkulak dalam mengatur harga pasar. Ketimpangan tersebut disebabkan karena tidak terjadi pemerataan pendapatan masyarakat. Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa karakteristik masyarakat modern antara lain ialah adanya pemusatan tenaga kerja diwilayah urban. secara khusus pasal 214 (BUMDes) berbunyi bahwa desa dapat mendirikan badan usaha sesuai dengan kebutuhan dan potensi desa itu sendiri. memiliki tolak ukur penilaian kerja.6 Dalam hal ini modernisasi diarahkan sebagai usaha untuk memperbaiki keadaan supaya menjadi lebih baik lagi. dimana perwujudan dari transformasi tersebut adalah berkembangnya aspek kehidupan modern (peningkatan pendapatan. begitu pula sebaliknya. Desentralisasi Menurut Syaukani dkk bahwa tujuan utama desentralisasi adalah membebaskan pemerintah pusat dari berbagai macam beban-beban domestik pemerintahan daerah sehingga pemerintah pusat dapat belajar dari berbagai macam permasalahan yang ada untuk dijadikan refrensi dalam konteks persaingan global guna memperoleh manfaatnya. meskipun terjadi peningkatan pendapatan. penerimaan status seseorang berdasarkan prestasi kerja.

hal ini bertujuan untuk meningkatkan partisipas masyarakat desa itu sendiri dalam sistem ekonomi pedesaan. penerimaan status seseorang berdasarkan prestasi kerja. Misalnya pemerintah membutuhkan modal para pemilik modal untuk membangun daerahnya. namun disisi lain para pemilik modal juga diuntungkan karena dapat menuntut kemudahan perizinan birokrasi. Termasuk tukar menukar komoditas kepentingan dan kekuasaan antar elit pejabat pemerintahan yang menimbulkan ketergantungan satu sama lain. yang sebenarnya menjadi tanggung jawab pemerintah itu sendiri. keamanan dalam berbisnis hingga fasilitas-fasilitas lainnya yang menguntungkan para pemilik modal. modernisasi diarahkan sebagai usaha untuk memperbaiki keadaan supaya menjadi lebih baik lagi. dimana patron yang memiliki kekuasaan atas klien-klien dengan pertimbanganpertimbangan kemampuan maupun akses melakukan transaksi untuk memenuhi kebutuhan client. Hubungan yang real dalam kehidupan demokrasi era desentralisasi seolah menempatkan pemerintah dan para pemilik modal dapat melakukan transaksi politis yang saling menguntungkan. PEMBAHASAN Pada dasarnya kita sepakat bahwa modernisasi memang dipandang sebagai proses transformasi nilainilai menuju kehidupan yang lebih baik. dimana perwujudan dari transformasi tersebut adalah berkembangnya aspek kehidupan modern. pemberian sanksi secara proporsional secara bertingkat. Termasuk masuknya kepentingan para pemodal dalam ranah kerja pelayanan publik. Patron-client Relationship Hubungan antara modernisasi dan desentralisasi bermula pada keinginan pemerintah daerah untuk mengoptimalkan potensi daerahnya masing-masing. memiliki tolak ukur penilaian kerja. bahkan memelihara apa yang disebut Maswadi Rauf sebagai Patron-client Relationship.diaerahnya masing-masing. karena usaha-usaha untuk memenuhi kebutuhan hidup merupakan merupakan kegiatan pokok manusia (baik personal maupun kelompok). Adapun efek dari modernisasi tersebut antara lain ialah terjadinya pembagian kerja yang menjadi semakin rumit. dll. Kedua peran aktif pemerintah dalam merangsang kreatifitas perekonomian masyarakat desa yang berbasis kearifan lokal guna menjaga nilai-nilai luhur masyarakat desa setempat. termasuk membangun daerahnya (modernisasi) secara maksimal. Menurut Geertz relasi seperti dapat bertahan lama karena adanya solidaritas kelompok yang berusaha menjaga dan memelihara kondisi seperti ini. sehngga munculah gagasan pembagan kewenangan yang kita kenal sebaga desentralisasi yang disinyalir sebagai manifestasi pemeliharaan relas kekuasan patron-client. dalam hal ini termasuk gagasan tawaran fasilitas investasi terhadap berbagai macam infrastruktur hingga perizinan usaha yang mampu menunjang perputaran ekonomi didaerahnya. pertama kewajiban dan keinginan untuk mewujudkan pemerintahan desa yang bersih dengan mengedepankan sistem ekonomi masyarakat setempat. Namun dalam kenyataannya desentralisasi daerah terasa seperti melahirkan. dimana terjadi hubungan mutualisme satu sama lain. ketiga pengutatan kemampuan dan ketrampilan masyarakat melalui berbagai macam keterampilan yang mendukung perkembangan potensi . Memang gagasan desentralisasi tidak mutlak keinginan dari pemerintah daerah karena terjadi reduksi kewenangan dari pemerintah pusat yang tidak mampu mengelola daerah secara khusus. Ada tiga peluang yang mampu menguntungkan pemerintahan desa.7 Adapun elemen penting dari patron-client relationship itu sendiri adalah hubungan kekuasaan. Namun dalam perkembangan pengelolaan pemerntahan desa justru diwarnai oleh relasi kekuasaan patron-client antara pemerintah dengan pihak-pihak yang mencoba mengambil keuntungan dari situasi tersebut. maka dari itu pemerintah daerah mendapatkan mandataris untuk mengelola pemerintahan daerah dalam rangka mencapa tujuan bersama yakni kesejahteraan bangsa dan negara. Oleh karena itu munculah gagasan desentralisasi sebagai wujud aktif kepentingan pemerintah daerah dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat lokal.

oknum nakal para elit pemerintah. Hal ini tentu sejalan dengan ranah kajian ekonomi politik pedesaan. Berdasarkan uraian diatas maka ada baiknya pemerintah menghindari transaksi politik yang berusaha menguntungkan pihak-pihak tertentu dalam perumusan maupun mplementasi kebijakan karena hanya akan merugikan masyarakat desa itu sendiri. tokoh agama. dimana seluruh elemen ini membangun dan memelihara relasi kekuasaan patron-client untuk mencapai kepentingan tertentu. terakhir adanya jeminan dari pemerintah erhadap kelangsungan kehidupan masyarakat pedesaan dalam menjalankan roda ekonomi pedesaan. Karena pada dasarnya kemandirian ekonmi akan sejalan dengan interaksi masyarakat dengan lembaga sosial setempat. dan orang-orang yang punya pengaruh didesa). Padahal ketika bicara soal pemerintahan maka tidak akan lepas dari tujuan utama dari pemerintahan itu sendiri yakni menciptakan kesejahteraan umum. dan penghormatan (prestige). termasuk adanya intervensi dominan dari para pemilik modal dalam merumuskan kebijakan yang akan berlaku untuk masyarakat desa. disamping pengoptimalisasian pengelolaan potensi yang ada. melainkan secara bertahap dan bertingkat serta dilakukan secara berkelanjutan sehingga apa yang sudah dicita-citakan sebelumnya tidak berhenti ditengah jalan ketika terjadi pergantian rezim pemerintahan (khususnya pemerntahan desa). dan mereka yang memiliki kuasa atas daerah (tokoh masyarakat. Dan elemen penting dalam usaha pengentasan kemiskinan tersebut dapat dilakukan melalui peningkatan kemandirian masyaraka desa itu sendiri. Adapun konsekuensi dari relasi kekuasaan patron-client tersebut adalah terjadinya ketimpangan atau kesenjanagan dibidang ekonomi masyarakat desa itu sendiri secara signifikan. kekayaan. Dimana transaksi tersebut hanya akan menguntungkan dua belah pihak saja. Kemiskinan sebagai wujud nyata dari hadirnya kesenjangan ekonomi sosial masyarakat dapat diartikan sebagai ketiadaan kemampuan dari masyarakat desa itu sendiri. maka tidak heran ketika terjadi penyimpangan akan berdampak langsung terhadap terciptanya kesenjangan sosial ekonomi masyarakat desa itu sendiri. Kesadaran masyarakat sendiri pada dasarnya hanya dapat ditumbuhkan melalui penyadaran terhadap permasalahan mereka sehingga mereka paham akan hak dan kewajiban mereka sebagai bagian dari sistem kemasyarakatan. tokoh masyarakat setempat sebagai orang yang memiliki pengaruh dalam masyarakat desa. KESIMPULAN Bahwa pihak-pihak yang dituntungkan dalam isu desentralisasi desa adalah oknum pejabat tingkat atas. yang menempatkan desa sebagai fokus kajian utamanya. khususnya pemerintah lokal setempat. Penguatan sektor ekonomi menengah-kebawah pada dasarnya dirasa mampu untuk membawa desa sebagai kekuatan penopang inti kehidupan negara (dengan tetap mengedepankan prinsip Spesialisasi Smith yang mengedepankan optimalisasi potensi dalam pasar). Pada dasarnya proses pembangunan dan pemerataan (modernisasi) desa merupakan tanggung jawab bersama. mengesampingkan pemenuhan kebutuhan masyarakat desa sebagai prioritas pembangunan desa. hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Soejono Soekanto bahwa perubahan sosial (khsusnya masyarakat desa) tidak dapat dilakukan secara revolusioner.ekonomi masyarakat pedesaan itu sendiri. pemilik modal. Padahal jika masyarakat desa itu sendiri mengalam kelumpuhan dibidang perekonomian maka secara tidak langsung akan menghambat perekonomian . kewenangan. Adapun hal-hal yang menjadi obyek transaksi politik yang dalam kehidupan masyarakat pedesaan patron-client adalah kekuasaan. Memang dalam usaha membangun sebuah desa dibutuhkan modal yang cukup besar dan butuh waktu yang lama untuk menciptakan kondsi sejahtera. Namun menjadi ironis ketika ranah pelayanan publik ini justru dikotori oleh hubungan patron-client karena hanya akan berbicara soal keuntungan pihak-pihak tertentu saja dalam hal ini tentu saja pihakpihak seperti para pemilik modal.

suatu pemerintahan desa yang sangat ketergantungan pada komoditas desa itu sendiri DAFTAR PUSTAKA Basri. Revolus dari Luar : Demokratisasi Indonesia. 2000. Hasan. 2008. 2005. : PT Bina Rena Pariwira Biro Pusat Statistik. 1997. Global Enviromental Nurgoho. Riant. Maswadi. Willaim. Jogjakarta : IDEA dan Pustaka Pelajar . Liddle. Jakarta : Freedom Institute Ministry of Enviroment. 2003. Gunawan. 1999. Jakarta : Gramedia Rauf. dan Metode Penelitian Kebjakan. Jakarta : Indonesia Erwidodo. Membangun Perekonmian Rakyat. Proses Kebijakan. Modernisasi dan Penguatan Ekonomi Rakyat di Pedesaan. Jakarta : Depdiknas Soemardiningrat. Konsensus dan Konflik Politik : Sebuah Penjagaan Teoritis. Kebijakan Publik : Teori Kebijakan. 1999. Pembangunan Ekonomi Rakyat di Pedesaan. 2001. Survey Usaha Terintegrasi Profil Usaha Kecil dan Menengah Tidak Berbadan Hukum Indonesia Tahun 2003 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful