1

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Undang-undang Dasar 1945 menyatakan bahwa Negara Indonesia berdasarkan atas hukum dan bukan berdasarkan atas kekuasaan. Penegakan hukum harus sesuai dengan peraturan yang berlaku dan juga berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945, yang menjunjung tinggi hak asasi manusia serta yang menjamin kedudukan yang sama bagi warga Negara di dalam hukum dan pemerintahan. Setiap pelanggar peraturan hukum yang ada akan dikenakan sanksi yang berupa hukuman sebagai reaksi terhadap perbuatan yang melanggar hukum yang dilakukannya. Untuk menjaga agar peraturan itu dapat berlangsung terus dan diterima seluruh anggota masyarakat, maka peraturan-peraturan hukum yang ada harus sesuai dan tidak boleh bertentangan dengan asas-asas keadilan dari masyarakat tersebut. Dengan demikian, hukum itu bertujuan menjamin adanya kepastian hukum dalam masyarakat dan hukum itu harus pula bersendikan pada keadilan, yaitu asasasas keadilan dari masyarakat. Perkembangan system hukum di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari system hukum civil law atau system Eropa Kontinental. Hal ini disebabkan karena Indonesia terlalu lama dijajah oleh Belanda yang kemudian menerapkan system hukum Eropa dengan asas konkordansi di Hindia Belanda seabgai Negara jajahannya. Bahkan hingga kini setelah lebih dari setengah abad Indonesia merdeka, masih banyak ketentuan hukum peninggalan Belanda yang masih digunakan sebagai hukum positif. Sebagai contoh KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana) dan HIR (Het Herziene Inlands Reglement atau Hukum Acara Perdata) yang banyak dipengaruhi oleh system hukum civil

2

law, yaitu mengutamakan kodifikasi hukum dan Undang-undang/hukum tertulis sebagai sumber hukum utama untuk menjamin asas legalitas dan kepastian hukum. Namun praktek seiring dengan perjalanan waktu, terutama setelah adanya pengaruh globalisasi di segala bidang kehidupan berbangsa dan bernegara, nampaknya penerapan sitem hukum civil law di Indonesia mulai mengalami pergeseran. Terlebih setelah adanya akademisi maupun praktisi hukum dari Indonesia yang belajar hukum di Negara-negara yang menganut system Common law seperti Inggris. Dari sini timbul kesadaran akan pentingnya mempelajari perbandingan system hukum untuk memperoleh pemahaman yang komprehensif tentang system hukum yang ada di dunia secara global guna memperoleh manfaat internal yaitu mengadopsi hal-hal positif guna pembangunan hukum nasional. Maupun manfaat eksternal yaitu dapat mengambil sikap yang tepat dalam melakukan hubungan hukum dengan Negara lain yang berbeda system hukumnya. Hal ini tidak teerkecuali dalam pengaturan hak untuk diam the right to remain silent bagi terdakwa, baik yang terjadi pada peradilan pidana Ianggris maupun di Indonesia. Salah satu asas terpenting dalam hukum acara pidana ialah asas praduga tak bersalah. Asas tersebut dicantumkan di dalam Pasal 8 UndangUndang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman sebagaimana bersumber pada asas praduga tak bersalah, maka sudah sewajarnya bahwa tersangka atau terdakwa dalam proses peradilan pidana wajib mendapatkan hak-haknya. Rumusan kalimat dalam Pasal 8 Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, dan Penjelasan Umum Hukum Acara Pidana menyatakan bahwa “Setiap orang yang disangka, ditangkap, ditahan, dituntut, dan/atau dihadapkan di depan pengadilan wajib dianggap tidak

3

bersalah sebelum ada putusan pengadilan yang menyatakan kesalahannya, dan telah memperoleh kekuatan hukum tetap”. Hakikat asas ini cukup fundamental sifatnya dalam Hukum Acara Pidana, karena ketentuan asas praduga tak bersalah sangat tampak eksistensinya dalam Pasal 8 Undang-Undang Nomor 48 tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman. (Lilik Mulyadi, 2007 : 13). Berdasarkan hukum acara pidana di Indonesia, kendati secara universal asas praduga tak bersalah diakui dan dijunjung tinggi, tetapi secara legal formal Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) juga menganut asas praduga bersalah. Sikap itu paling tidak dapat disimpulkan dari ketentuan Pasal 17 KUHAP yang menyebutkan, “Perintah penangkapan dilakukan terhadap seseorang yang diduga keras melakukan tindak pidana berdasarkan bukti permulaan yang cukup” artinya, untuk melakukan proses pidana terhadap seseorang berdasar deskriptif faktual dan bukti permulaan yang cukup, harus ada suatu praduga bahwa orang itu telah melakukan suatu perbuatan pidana yang dimaksud. Asas praduga tak bersalah adalah pengarahan bagi para aparat penegak hukum tentang bagaimana mereka harus bertindak lebih lanjut dan mengesampingkan asas praduga tak bersalah dalam tingkah laku mereka terhadap tersangka. Intinya, praduga tak bersalah bersifat legal normatif dan tidak berorientasi pada hasil akhir. Asas praduga bersalah bersifat deskriptif faktual artinya berdasar fakta-fakta yang ada si tersangka akhirnya akan dinyatakan bersalah. Karena itu, terhadapnya harus dilakukan proses hukum mulai dari tahap penyelidikan, penyidikan, penuntutan, sampai tahap peradilan. Tidak boleh berhenti di tengah jalan. Sebagai seseorang yang belum dinyatakan bersalah, maka ia mendapatkan hak-hak seperti hak untuk segera mendapatkan pemeriksaan dalam fase penyidikan, hak untuk segera mendapatkan pemeriksaan oleh

. dan lain sebagainya. 2007: 13). Terdakwa belum dapat dikategorisasikan bersalah sebagai pelaku dari tindak pidana sehingga selama proses peradilan pidana tersebut haruslah mendapatkan haknya sebagaimana diatur Undang-Undang. (Lilik Mulyadi. manifestasi asas ini dapat diartikan lebih lanjut selama proses peradilan masih berjalan (Pengadilan Negeri. yaitu: hak untuk segera mendapatkan pemeriksaan dalam tahap penyidikan. hak untuk diberitahu tentang apa yang disangkakan atau didakwakan kepadanya dengan bahasa yang dimengerti olehnya. Tidak kalah pentingnya sebagai perwujudan asas praduga tak bersalah ialah bahwa seseorang terdakwa tidak dapat dibebani kewajiban pembuktian. Dalam praktik peradilan. hak segera mendapatkan pemeriksaan oleh pengadilan dan mendapatkan putusan seadiladilnya. Penuntut Umum adalah pihak yang mengajukan dakwaan kepada terdakwa. Pengadilan Tinggi dan Mahkamah Agung) dan belum memperoleh kekuaan hukum tetap (inkracht van gewijsde). hak untuk menyiapkan pembelaan hak untuk mendapatkan juru bahasa. maka penuntut umumlah yang dibebani tugas membuktikan kesalahan terdakwa dengan upaya-upaya pembuktian yang diperkenankan oleh undang-undang. maka kepada tersangka atau terdakwa diberikan hak oleh hukum untuk tidak memberikan jawaban baik dalam proses penyidikan maupun dalam proses persidangan (the right to remain silent). Konsekuensi logis dari asas praduga tak bersalah ini. hak untuk memperoleh bantuan hukum. hak untuk mendapatkan bantuan hukum dan hak untuk mendapatkan kunjungan keluarganya.4 pengadilan dan mendapatkan putusan yang seadil-adilnya.

selain itu untuk mencegah adanya kekerasan terhadap tersangka atau terdakwa dalam proses penyidikan.Asas praduga tak bersalah yang dimiliki KUHAP. maupun oleh hakim. memberi pedoman bahwa tersangka atau terdakwa mempunyai hak yang diberikan oleh hukum untuk tidak memberikan jawaban. maupun proses di persidangan.5 Asas praduga tak bersalah telah dirumuskan dalam Pasal 8 UndangUndang Pokok Kekuasaan Kehakiman Nomor 48 Tahun 2009 yang berbunyi: “Setiap orang yang sudah disangka. Potensi negatif asas the right to remain silent yaitu dapat menyulitkan penyidik untuk mengungkap suatu kasus tindak pidana. Potensi positif dengan adanya asas the right to remain silent yaitu dapat melindungi hak asasi tersangka atau terdakwa dalam proses penyidikan. Salah satu hak yang sering menimbulkan pro dan kontra ialah hak tersangka atau terdakwa untuk memilih menjawab atau tidak menjawab pertanyaan baik oleh penyidik. Jika demikian yang terjadi sehingga asas tersebut memberikan potensi baik dalam hal positif maupun negatif dalam proses perkara pidana . penuntut umum. kerapkali terjadi hal yang kontroversial. baik di waktu penyidikan maupun pemeriksaan di depan sidang. dituntut dan atau dihadapkan di muka sidang pengadilan. pemeriksaan. Sering kali ketentuan ini dipandang sebagai pencerminan dari asas akusator (accusatoir). ditangkap. baik dalam proses penyidikan maupun dalam proses persidangan the right to remain silent. ditahan. Di dalam KUHAP pada Pasal 52: “ dalam pemeriksaan pada tingkat penyidik dan pengadilan. wajib dianggap tidak bersalah sampai adanya putusan pengadilan yang menyatakan kesalahannya dan memperoleh kekuatan hukum tetap”. misalnya tersangka tidak mau menjawab pertanyaan yang diajukan penyidik atau tersangka mempunyai hak-hak sejak ia mulai diperiksa. tersangka atau terdakwa berhak memberikan keterangan secara bebas kepada . Dalam pemeriksaan kasus pidana.

Justru pemeriksaan pengadilan pada tingkat yang lebih tinggi akhirnya diharapkan memberikan putusan yang tegas terhadap nilai alat bukti yang diberikan karena tidak dijawabnya atau tidak dibantahnya suatu pertanyaan atas suatu pernyataan. atau meninggalkan ruang sidang.6 penyidik atau hakim”. Sehingga apa yang diutarakan di depan sidang sebagai pembuktian oleh Jaksa Penuntut Umum tidak ada yang dibantahnya atau dibenarkannya. Oleh karena itu wajib dicegah adanya paksaan atau tekanan terhadap tersangka atau terdakwa. Penjelasan pasal dimaksud menyatakan: “ Supaya pemeriksaan dapat mencapai hasil yang tidak menyimpang daripada yang sebenarnya. Pemeriksaan di sidang pengadilan pada dasarnya harus dihadiri oleh terdakwa. Dalam hal demikian sidang dapat dilangsungkan dengan memeriksa alat bukti lain yang diajukan oleh Jaksa Penuntut Umum dimana karena terdakwa tidak menjawab. akan tetapi apabila terdakwa tidak berkehendak untuk menjawab. artinya harus dilakukan pemeriksaan dengan hadirnya terdakwa. Akan tetapi hal demikian akan merugikan terhadap penggunaan hak tersangka atau terdakwa. seperti misalnya dalam perkara ekonomi. atau subversi dapat dilakukan persidangan in absensia. kecuali di dalam beberapa kekhususan. korupsi. hal ini merupakan suatu kerugian bagi terdakwa. Karena dengan demikian terdakwa tidak menggunakan hak yang diberikan kepadanya. namun tidak dijelaskan apakah tersangka atau terdakwa berhak berdiam untuk tidak menjawab pertanyaan. Sikap diam tersebut akan dicatat dalam berita acara pemeriksaan atau berita acara persidangan. maka tersangka atau terdakwa harus dijauhkan dari rasa takut. Kekecewaan atas suatu proses dalam suatu pemeriksaan bagi seorang tersangka maupun terdakwa menyebabkan sikap tersebut. Karena tidak ada yang membantah maka alat . Asas pemeriksaan di depan sidang pengadilan bersifat oral. Jelas pada Pasal itu bahwa tersangka tidak boleh dipaksa atau ditekan.

Pengetahuan perbandingan hukum sudah barang tentu tidaklah cukup jika hanya sekedar pencatatan belaka tentang persamaan dan perbedaan dari dua sistem hukum yang berlaku. namun hal demikian akan menyulitkan terdakwa sendiri untuk melakukan pembelaan atas perkara yang dituduhkan kepadanya. namun hukum itu memiliki ciri karakteristik yang berbeda dari satu bangsa kepada bangsa lain. dalam hal ini dapat diartikan pula bahwa terdakwa mempunyai hak untuk berbohong ataupun berkelit. Tidak kooperatifnya terdakwa dalam mengungkapkan peristiwa yang sesungguhnya. berusaha menutup-nutupi atau memilih untuk diam tidak menjawab setiap pertanyaan yang diajukan kepadanya tidak menutup kemungkinan akan menjadi factor yang memberatkan putusan yang akan dijatuhkan kepadanya. Hukum merupakan suatu gejala universal. melainkan juga diperlukan keterangannya. Bagi pendidikan hukum di Indonesia jelas bahwa pemahaman karakteristik hukum . karena dalam Pasal 184 ayat (1) KUHAP keterangan terdakwa diletakkan paling akhir. dalam arti bahwa hukum itu di seluruh bangsa dan negara akan selalu ada dan diperlukan. namun KUHAP mengatur bahwa terdakwa dapat memberikan keterangannya secara bebas tanpa tekanan atau paksaan.7 bukti tersebut dianggap benar adanya. Dalam proses pemeriksaan di persidangan segala sesuatu yang dapat dijadikan bukti atau setidak-tidaknya keterangan yang dapat membuat terang terhadap terjadinya tindak pidana tentu akan menjadi pertimbangan hakim dalam menjatuhkan putusannya termasuk sikap terdakwa selama dalam persidangan. Tidak menjawab memang hak seseorang Tersangka atau terdakwa. Meskipun demikian majelis hakim juga tidak diperkenankan hanya mempertimbangkan putusannya hanya berdasarkan keterangan terdakwa. Dalam KUHAP tidak ada yang mengatur mengenai pemaknaan bahwa “diam berarti ya”.

termasuk di dalamnya hak diam . Hal ini disebabkan karena sebagai negara berkembang Indonesia masih mempergunakan sebagian besar hukum tertulis yang berasal dari “warisan” Pemerintah Kolonial Belanda. sebagai negara dengan sistem hukum Common Law tentu mempunyai banyak perbedaan karakteristik dengan Indonesia yang menganut sistem hukum Civil Law. sedangkan sistem yang dianut dalam Hukum Acara Pidana Civil Law System adalah “Sistem Inquisitoir” atau dikenal dengan sebutan “Non-advesary system”. Sistem Accusatoir menempatkan terangka dalam proses pemeriksaan pendahuluan dan pemeriksaan di muka sidang-sidang pengadilan sebagai subjek hukum yang memiliki hak (asasi) dan kepentingan yang harus dilindungi. Sedangkan Inquisitoir justru tidak menempatkan tersangka secara layak sebagai sebagai subjek hukum yang memiliki hak (asasi) dan kepentingan. Apalagi jika hukum tidak berkehendak atau harus merupakan diingat bahwa pembangunan bidang hukum di Indonesia melalui pendidikan perbandingan pengambilalihan hukum asing ke dalam sistem hukum Indonesia dengan label/cap “nasional”. Inggris. terutama dalam hal pengaturan tentang penempatan hak tersangka/terdakwa dalam proses pemeriksaan terkait hak-hak tersangka/terdakwa tersebut.8 asing dimaksud sangat diperlukan. Salah satu perbedaan karakteristik terkait dengan hak-hak tersangka/terdakwa ialah sistem hukum acara pidana yang berlaku di negara-negara yang menganut sistem Common Law pada prinsipnya menganut “Sistem Accusatoir” atau yang secara populer dikenal dengan sebutan “Advesary System”. melainkan hanya semata-mata sebagai objek pemeriksaan baik pada tingkat pemeriksaan pendahuluan maupun pada pemeriksaan di muka sidang pengadilan. Bertolak dari perbedaan sistem hukum acara pidana antara Inggris dengan Indonesia ini sangat bertolak belakang.

sehingga penelitian akan lebih terarah pada tujuan yang ingin dicapai. Oleh karena itu peneliti ingin menuangkan hasil penelitian tersebut dalam penulisan hukum yang berjudul “PERBANDINGAN PENGATURAN TENTANG HAK UNTUK TIDAK MENJAWAB (RIGHTS TO REMAIN SILENT) BAGI TERDAKWA ANTARA KETENTUAN HUKUM ACARA PIDANA INDONESIA DENGAN KETENTUAN HUKUM ACARA PIDANA INGGRIS”. Perumusan masalah digunakan untuk mengetahui dan menegaskan masalah-masalah apa yang hendak diteliti. peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai pengaturan tentang hak terdakwa untuk tidak menjawab pertanyaan (right to remain silent) dalam hukum acara pidana antara dua sistem hukum yang berbeda yaitu sistem hukum Civil Law (Indonesia) dengan sistem hukum Common Law (Inggris). Untuk mempermudah dalam pembahasan permasalahan yang akan diteliti maka peneliti merumuskan masalah sebagai berikut: 1.9 tersangka/terdakwa (Rights to Remain Silent). Tujuan Penelitian . Apakah persamaan dan perbedaan pengaturan hak untuk tidak menjawab (Rights to remain silent) oleh terdakwa antara sistem peradilan pidana Inggris dan Indonesia? C. Rumusan Masalah Dalam suatu penelitian diperlukan adanya perumusan masalah untuk mengidentifikasi persoalan yang diteliti. Berdasarkan uraian diatas. B. yang dapat memudahkan peneliti dalam mengumpulkan. dan menganalisa data. menyusun. Bagaimanakah apabila diperbandingkan pengaturan hak untuk tidak menjawab (Rights to remain silent) bagi terdakwa antara Indonesia (Civil Law) dan Inggris (Common Law)? 2.

10 Tujuan penelitian diperlukan karena terkait erat dengan perumusan masalah dari judul penelitian ini untuk memberikan arah yang tepat dalam proses penelitian agar penelitian berjalan sesuai dengan apa yang dikehendaki. b. Tujuan Subyektif Tujuan Subyektif penelitian ini adalah : a. Untuk memperoleh bahan hukum sebagai bahan utama dalam penyusunan skripsi dalam rangka memenuhi persyaratan akademis guna memperoleh gelar sarjana (Strata Satu) dalam bidang ilmu hukum di Fakultas Hukum Universitas Sebelas . Untuk mengetahui perbandingan pengaturan hak untuk tidak menjawab (Rights to remain silent) bagi terdakwa antara Indonesia (Civil Law) dan Inggris (Common Law). 2. Untuk mengetahui persamaan dan perbedaan pengaturan hak untuk tidak menjawab (Rifhts to remain silent) oleh terdakwa antara sistem peradilan pidana Inggris dan Indonesia. Tujuan Obyektif Tujuan Obyektif penelitian ini adalah : a. Untuk menambah wawasan dan pengetahuan peneliti di bidang Hukum Acara Pidana khususnya mengenai perbandingan pengaturan dalam peradilan pidana antara Indonesia dan Inggris terkait hak untuk tidak menjawab (Rights to remain silent) oleh terdakwa. b. Adapun tujuan obyektif dan subyektif yang hendak dicapai peneliti adalah sebagai berikut: 1. Oleh karena itu peneliti mempunyai tujuan atau hal-hal yang ingin dicapai melalui penelitian ini.

c.11 Maret Surakarta D. Manfaat Teoritis a. Hasil penelitian dapat memberikan jawaban atas permasalahanpermasalahan yang menjadi pokok pembahasan dalam penelitian ini. 2. Menambah ilmu dan pengalaman peneliti di bidang penelitian karya ilmiah khususnya karya penelitian ilmu hukum. b. Manfaat Praktis Manfaat Praktis penelitian ini adalah: a. Hasil penelitian diharapkan dapat bermanfaat bagi pihak-pihak yang terkait dengan permasalahan dalam penelitian ini. b.. Diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran di bidang Hukum Acara Pidana secara teoritis khususnya mengenai perbandingan pengaturan tentang hak untuk tidak menjawab (Rights to remain silent) oleh terdakwa pada peradilan pidana Inggris dan Indonesia. bagi masyarakat pada umumnya dan mahasiswa fakultas hukum terkhususnya dalam Manfaat Teoretis Penelitian ini adalah: . Manfaat Penelitian Peneliti berharap bahwa kegiatan penelitian dalam penulisan hukum ini akan bermanfaat bagi peneliti maupun orang lain. Hasil penelitian dapat digunakan sebagai bahan acuan untuk mengetahui lebih jauh mengenai perbandingan sistem peradilan pidana antara Indonesia dan Inggris terkait hak untuk tidak menjawab (Rights to remain silent) oleh terdakwa. Adapun manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini antara lain: 1.

penelitian hukum merupakan suatu penelitian di dalam kerangka know-how di dalam hukum. Akan tetapi. Penelitian dapat diartikan pula suatu usaha untuk menemukan.12 menyikapi perbandingan pengaturan hak untuk tidak menjawab (Rights to remain silent) oleh terdakwa. gejala atau hipotesa. Penelitian hukum dilakukan untuk mencari pemecahan atas isu hukum yang timbul. Penelitian Hukum adalah suatu proses untuk menemukan aturan hukum. 2006:35). prinsipprinsip hukum. dapat ditentukan teratur dan terpikirnya alur yang runtut dan baik untuk mencapai maksud (Winarno Surachmad. 1990: 31).dalam peradilan pidana antara Indonesia dan Inggris. Penelitian merupakan suatu kegiatan ilmiah yang berkaitan dengan analisa dan konstruksi. dengan mengadakan klarifikasi yang berdasarkan pada pengalaman. jumlah dan jenis yang dihadapi. mengembangkan dan menguji kebenaran suatu pengetahuan. maupun doktrin-doktrin hukum guna menjawab isu hukum yang dihadapi. mengembangkan maupun guna menguji kebenaran maupun ketidakbenaran dari suatu pengetahuan. yang dilakukan secara metodologis. dan konsisten (Soerjono Soekanto. dapat disimpulkan bahwa metode penelitian adalah cara yang teratur dan terpikir secara runtut dan baik dengan menggunakan metode ilmiah yang bertujuan untuk menemukan. Oleh karena itu. Hasil yang dicapai adalah untuk memberikan preskripsi dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi . usaha mana dilakukan dengan metode ilmiah (Sutrisno Hadi. E. gejala atau hipotesa. sistematis. 2005: 42). Berdasarkan uraian di atas. untuk mencapai tingkat ketelitian. (Peter Mahmud Marzuki. Metode Penelitian Metode merupakan cara yang utama yang digunakan untuk mencapai suatu tujuan. 1989: 4).

2006:41). Ilmu hukum mempunyai sifat sebagai ilmu yang preskriptif. Penelitian Hukum normatif memiliki definisi yang sama dengan penelitian doktrinal (doctrinal research) yaitu penelitian berdasarkan bahanbahan hukum (library based) yang fokusnya pada membaca dan mempelajari bahan-bahan hukum primer dan sekunder (Johny Ibrahim.13 (Peter Mahmud Marzuki. 2006:44) 2. Penelitian hukum normatif adalah suatu prosedur penelitian ilmiah untuk menemukan kebenaran berdasarkan logika keilmuan hukum dari sisi normatifnya. artinya sebagai ilmu yang bersifat preskriptif ilmu hukum mempelajari tujuan hukum. dan norma-norma hukum (Peter . 2006: 28). 2006:26). Ada dua syarat yang harus dipenuhi sebelum mengadakan penelitian dengan baik dan dapat dipertanggungjawabkan adalah peneliti harus terlebih dulu memahami konsep dasar ilmunya dan metodologi penelitian disiplin ilmunya (Johnny Ibrahim. konsep ilmu hukum dan metodologi yang digunakan di dalam suatu penelitian memainkan peran yang sangat signifikan agar ilmu hukum beserta temuan-temuannya tidak terjebak dalam kemiskinan relevansi dam aktualitasnya (Johnny Ibrahim. maka pada penelitian ini termasuk jenis penelitian hukum normatif. Dalam penelitian hukum. Sifat Penelitian Sifat penelitian hukum ini sejalan dengan sifat ilmu hukum itu sendiri. Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode penelitian sebagai berikut: 1. konsep-konsep hukum. Jenis Penelitian Ditinjau dari sudut penelitian hukum.

Pendekatan Filsafat (philosophical approach) dan pendekatan kasus (case approach) (Johnny Ibrahim. 2006:300). 2005:22). 3. Pendekatan Perundang-undangan Suatu penelitian normatif tentu harus menggunakan pendekatan perundang-undangan. Dalam penelitian ini penulis akan memberikan preskriptif mengenai perbandingan pengaturan tentang hak untuk tidak menjawab (Rights to remain silent) oleh terdakwa antara ketentuan peradilan pidana antara Indonesia dan Inggris. Pendekatan yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah: a. pendekatan historis (historical approach). karena yang akan diteliti adalah berbagai aturan hukum yang menjadi fokus sekaligus tema sentral suatu penelitian. di dalam penelitian hukum terdapat beberapa pendekatan. Pendekatan Penelitian Sehubungan dengan jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian hukum normatif. Pendekatan Analitis (analytical approach). Untuk itu penulis harus melihat hukum sebagai system tertutup yang mempunyai sifat-sifat sebagai berikut: 1) Comprehensive artinya norma-norma hukum yang ada didalamnya terkait antara satu dengan lain secara logis.14 Mahmud Marzuki. bebarapa pendekatan penelitian tersebut yaitu pendekatan perundang-undangan (satute approach). Menurut Johnny Ibrahim. pendekatan konseptual (concentual approach). 2) All-inclusive artinya bahwa kumpulan . Pendekatan Perbandingan (comparative approach).

norma-norma hukum hierarkis.15 norma hukum tersebut cukup mampu menampung permasalahan hukum yang ada. Pendekatan Perbandingan Pentingnya pendekatan ilmu hukum karena dalam bidang hukum tidak memungkinkan dilakukan suatu eksperimen. 4. sebagaimana yang biasa dilakukan dalam ilmu empiris. sehingga tidak akan kekurangan hukum. bahwa disamping bertautan antara satu dengan yang lain. 3) Systematic. Adapun pendekatan yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan undang-undang. Jenis Data tersebut juga tersusun secara . Dari perbandingan tersebut dapat ditemukan unsur-unsur persamaan dan perbedaan kedua system hukum itu. b. Pendekatan Undang-Undang digunakan untuk mengkaji tentang pengaturan hak untuk tidak menjawab (rights to remain silent) bagi terdakwa dalam hukum acara Pidana Indonesia dan Hukum Acara di Inggris. Jenis dan Sumber Bahan Hukum Jenis dan sumber bahan hukum dalam penelitian ini meliputi: a. Pendekatan perbandingan merupakan salah satu cara yang digunakan dalam penelitian normatif untuk membandingkan salah satu lembaga hukum (legal institution) dari sistem hukum yang satu dengan lembaga hukum (yang kurang lebih sama dari system hukum) yang lain.

atau risalah di dalam pembuatan peraturan perundang-undangan dan putusan-putusan hakim. literatur. Bahan hukum primer terdiri dari perundang-undangan. 48 tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman 2) Bahan Hukum sekunder Bahan hukum sekunder berupa publikasi tentang hukum yang bukan merupakan dokumen-dokumen resmi (Peter Mahmud Marzuki. bahan kepustakaan seperti buku-buku. 1) Bahan Hukum Primer Bahan hukum primer merupakan bahan hukum yang bersifat autoratif . jurnal maupun arsip-arsip yang berkesesuaian dengan penelitian yang dibahas. Data sekunder yaitu data atau informasi hasil penelaahan dokumen penelitian serupa yang pernah dilakukan sebelumnya. Bahan hukum primer dalam penelitian ini adalah: a) Undang-Undang Dasar RI tahun 1945 b) Batang Tubuh UUD RI tahun 1945 c) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana d) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana e) Undang-Undang No. catatan-catatan resmi. b.16 Jenis data yang penulis pergunakan dalam penelitian ini berupa data sekunder. artinya mempunyai otoritas. 2005:141) Bahan hukum sekunder sebagai pendukung dari data yang digunakan dalam penelitian ini ini yaitu buku- . Sumber bahan Hukum Sumber Bahan hukum dalam penelitian ini meliputi : . koran. majalah.

Agar data yang terkumpul dapat dipertanggungjawabkan .17 buku teks yang ditulis para ahli hukum. dan sebagainya. yaitu bahan yang memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder. 6. Dengan cara menelusuri buku-buku yang berkaitan dengan pengaturan hak untuk tidak menjawab (rights to remain silent) bagi terdakwa dalam peradilan pidana di Inggris dan Indonesia. Studi Pustaka adalah teknik pengumpulan data adalah suatu cara yang dipergunakan untuk mengumpulkan data yang ada ditempat penelitian sehingga memperoleh data yang diperlukan. ensiklopedia. dan terkait dengan topik bahasan yaitu bahan dari media internet. internet. Teknik Pengumpulan Bahan Hukum Teknik Pengumpulan data yang akan dipergunakan dalam penelitian ini adalah dengan Studi pustaka. Dalam studi ini penulis mempergunakan content identification terhadap bahan-bahan Hukum yang akan diteliti. kamus besar bahasa Indonesia. yaitu dengan membuat lembar dokumen yang berfungsi untuk mencatat informasi atau data dari bahan-bahan hukum yang diteliti yang berkaitan dengan masalah penelitian yang sudah dirumuskan. indeks kumulatif. Teknik Analisis Bahan Hukum Analisis data merupakan tahap yang paling penting dalam suatu penelitian. jurnal hukum. 5. artikel. dan sumber lainnya yang memiliki korelasi untuk mendukung penelitian ini. 3) Bahan Hukum Tersier atau penunjang.

Adapun penulis menyususn sistematika penelitian hukum sebagai berikut: Bab I : PENDAHULUAN Dalam bab ini berisi tentang Latar Belakang Masalah. Manfaat Penelitian. Analisis data adalah proses pengorganisasian dan pengurutan data dalam pola. Dalam penelitian ini. Tujuan Penelitian. Sistematika Penulisan Hukum Untuk mempermudah pemahaman mengenai pembahasan dan memberikan gambaran mengenai sistematika penelitian hukum yang sesuai dengan aturan dalam penelitian hukum. sehingga akan dapat ditemukan tema dan dapat ditemukan hipotesis kerja yang disarankan oleh data (Lexi J. J. maka perlu suatu teknis analisis data yang tepat.18 dan dapat menghasilkan jawaban yang tepat dari suatu permasalahan. Perumusan Masalah. Moleong. kategori dan uraian dasar. : TINJAUAN PUSTAKA . Analisis data merupakan langkah selanjutnya untuk mengolah hasil penelitian menjadi suatu laporan. 2009:103). penulis menggunakan teknik analisis data kualitatif yaitu dengan mengumpulkan data. Bab II Metode Penelitian Hukum serta Sistematika Penulisan Hukum. maka penulis menjabarkannya dalam bentuk sistematika penelitian hukum yang terdiri dari 4 (empat) bab dimana tiap-tiap bab terbagi dalam sub-sub bagian yang dimaksudkan untuk memudahkan pemahaman terhadap keseluruhan hasil penelitian. mengkualifikasikan kemudian menghubungkan teori yang berhubungan dengan masalah dan menarik kesimpulan untuk menentukan hasil.

Tinjauan Tentang Asas The Right To Remain Silent. Asas-asas Hukum Acara Pidana. Bab IV : PENUTUP Pada bagian penutup ini berisi simpulan serta disampaikan beberapa saran. Hak-hak Tersangka. Pengertian Tersangka dan Terdakwa. . Tinjauan Tentang Asas The Rights To Remain Silent dan Terdakwa. Tinjauan tentang Istilah Perbandingan Hukum..19 Dalam Bab II ini dijelaskan mengenai Kerangka Teori yang berisi tentang tinjauan tentang Hukum Acara Pidana yang berisi sub bab yaitu Batasan Hukum Acara Pidana. Tinjauan Asas Asas The right To Remain Silent di Beberapa Negara serta serta Kerangka Pemikiran Bab III : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Perbandingan pengaturan tentang hak untuk tidak menjawab (Rights to remain silent) bagi terdakwa antara peradilan pidana Inggris (Common Indonesia (Civil Law) dan serta Persamaan dan Law) perbedaan pengaturan hak untuk tidak menjawab (Rights to remain silent) oleh terdakwa antara sistem peradilan pidana Inggris dan IndonesiaPerbandingan sistem peradilan pidana antara Indonesia dan Inggris terkait hak untuk tidak menjawab (Rights to remain silent) oleh terdakwa. Tinjauan Tentang Hak Tersangka dan Terdakwa.

a. Dengan terciptanya Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana. bekas Ketua Mahkamah Agung yang dikutip oleh Andi Hamzah. maka pertama kali di Indonesia diadakan kodifikasi dan unifikasi yang lengkap dalam artian meliputi seluruh proses pidana dari awal (mencari kebenaran) sampai pada kasasi di Mahkamah Agung. merumuskan bahwa hukum acara pidana adalah Hukum acara pidana berhubungan erat dengan . Seperti rumusan Wirdjono Prodjodikoro. Tinjauan tentang Hukum Acara Pidana. Hukum acara pidana yang berlaku di Indonesia berdasar pada peraturan yang terdapat pada Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP). yang berlaku sejak diundangkannya Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 Tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP). bahkan sampai meliputi peninjauan kembali (herziening) (Andi Hamzah. Batasan Hukum Acara Pidana Hukum acara pidana merupakan peraturan yang melaksanakan hukum pidana.20 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. 2002:3). Kerangka Teori 1. Hukum acara pidana (hukum pidana formal) adalah hukum yang menyelenggarakan hukum pidana materiil yaitu merupakan sistem kaidah atau norma yang diberlakukan oleh negara untuk melaksanakan hukum pidana atau menjatuhkan pidana.

Yahya Harahap. Yahya Harahap berpendapat bahwa Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) sebagai hukum acara pidana yang berisi ketentuan mengenai proses penyelesaian perkara pidana sekaligus menjamin hak asasi tersangka atau terdakwa. Pengakuan hukum yang tegas akan hak asasi yang melekat pada diri mereka dari tindakan sewenang-wenang. 2002:7). Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) sebagai hukum acara pidana yang berisi ketentuan tata tertib proses penyelesaian penanganan kasus tindak pidana. Definisi mengenai hukum acara pidana lainnya adalah seperti yang dikemukakan oleh Van Bemmelen seperti yang dikutip oleh Andi Hamzah (2002:6). kejaksaan dan pengadilan harus bertindak guna mencapai tujuan Negara dengan mengadakan hukum pidana (Andi Hamzah. tersangka atau terdakwa harus diberlakukan berdasar nilai-nilai yang manusiawi (M. maka dari itu merupakan suatu rangkaian peraturan-peraturan yang memuat cara bagaimana badan-badan pemerintah yang berkuasa. adalah sebagai berikut: Ilmu hukum acara pidana mempelajari peraturan-peraturan . 2002:4). sekaligus telah memberi “legalisasi hak asasi” kepada tersangka atau terdakwa untuk membela kepentingannya di depan pemeriksaan aparat penegak hukum. Kitab UndangUndang Hukum Acara Pidana (KUHAP) telah mencoba menggariskan tata tertib hukum yang antara lain akan melepaskan tersangka atau terdakwa maupun keluarganya dari kesengsaraan putus asa di belantara penegakan hukum yang tak bertepi. yaitu kepolisian. karena sesuai dengan jiwa dan semangat yang diamanatkannya.21 adanya hukum pidana.

hukum acara pidana mengatur bagaimana Negara dengan alat-alat pemerintahannya menggunakan hakhaknya untuk memidana. 3) Mengambil tindakan-tindakan yang perlu guna menangkap si pembuat dan kalau perlu menahannya. 2) Sedapat mungkin menyidik pelaku perbuatan itu. . 5) Hakim memberikan keputusan tentang terbukti tidaknya perbuatan yang dituduhkan kepada terdakwa dan untuk itu menjatuhkan pidana atau tindakan tata tertib. 4) Mengumpulkan bahan-bahan bukti (bewijsmateriaal) yang telah dipeoleh pada penyidikan kebenaran guna dilimpahkan kepada hakim dan membawa terdakwa ke depan hakim tersebut. 7) Akhirnya melaksanakan keputusan tentang pidana dan tindakan tata tertib. Menurut Simon. karena adanya terjadi pelanggaranpelanggaran undang-undang pidana : 1) Negara melalui alat-alatnya menyidik kebenaran. Hukum acara pidana Indonesia adalah hukum yang mengatur tentang tata cara beracara (berperkara di badan peradilan) dalam lingkup hukum pidana. hal ini dikarenakan KUHAP tidak memberikan definisi secara eksplisit mengenai pengertian hukum acara pidana. Menurut de bos kemper. definisi dari hukum acara pidana ialah sejumlah asas dan peraturan undangundang yang menngtur bagaimana undang dilanggar negara menggunakan hak-haknya untuk memidana.22 yang diciptakan oleh Negara. Dalam perkembangannya muncul berbagai definisi mengenai hukum acara pidana oleh para ahli hukum. 6) Upaya hukum untuk melawan putusan tersebut.

Definisi-definisi tersebut di atas dikemukakan oleh para ahli hukum. 5) Setelah selesai dilakukan pemeriksaan permulaan atau penyidikan oleh polisi. Hal ini dikarenakan dalam Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana sendiri tidak memberikan definisi hukum acara pidana secara implisit. 4) Untuk membuktikan apakah tersanghka benarbenar melakukan suatu tindak pidana. 2001:3).23 Dengan kata lain bahwa hukum acara pidana adalah kumpulan peraturan-peraturan hukum yang memuat ketentuan-ketentuan yang mengatur hal-hal sebagai berikut: 1) Tindakan-tindakan apa yang harus diambil apabila ada dugaan bahwa telah terjadi suatu tindak pidana dilakukan oleh seseorang. 3) Apabila telah diketahui pelakunya maka penyelidik perlu menangkap.menahan kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan permulaan atau dilakukan penyidikan. . 2) Apabila benar telah terjadi suatu tindak pidana yang dilakukan oleh seseorang. Faisal Salam. maka perlu mengumpulkan barang-barang bukti. maka berkas perkara diserahkan pada kejaksaan negeri selanjutnya pemeriksaan dalam sidang pengadilan terhadap terdakwa oleh hakim sampai dapat dijatuhkan pidana (Moch. menggeledah badan dan tempat-tempat serta menyita barang-barang bukti yang diduga ada hubungannya dengan perbuatan tersebut. Tujuan dan Fungsi Hukum Acara Pidana 1) Tujuan Hukum Acara Pidana Pemahaman mengenai tujuan KUHAP dapat dilihat dalam b. maka perlu diketahui siapa pelakunya dan cara bagaimana melakukan penyelidikan terhadap pelaku.

pelayanan. yang pembinaan keterampilan. ke arah tegaknya hukum. Berdasarkan bunyi konsideran tersebut dapat dirumuskan beberapa landasan tujuan KUHAP. yaitu : a) Peningkatan masyarakat. keadilan dan perlindungan terhadap harkat dan martabat manusia.24 konsideran huruf c KUHAP yang berbunyi: “Bahwa pembangunan hukum nasional yang sedemikian itu di bidang hukum acara pidana adalah agar masyarakat menghayati hak dan kewajibannya dan untuk meningkatkan pembinaan sikap para pelaksana penegak hukum sesuai dengan fungsi dan wewenang masing-masing. setiap hak hukum lebih dan Yaitu anggota dititikberatkan kepada peningkatan masyarakat mengetahui apa hak yang diberikan hukum atau undangundang kepadanya. serta apa pula kewajiban yang dibebankan hukum kepadanya. kejujuran . b) Meningkatkan sikap mental aparat penegak hukum. hal ini sudah barang tentu termuat di dalam KUHAP pelaksanaan menyangkut menurut yang cara-cara baik. ketertiban serta kepastian hukum sesuai dengan Undang-Undang Dasar 1945 dan Pancasila”. penghayatan kewajiban menjadikan kesadaran yang akan hukum.

pada setiap keluhuran Sebagai martabatnya. manusia memiliki hak dan kodrat kemanusiaan yang menopang harkat . harus UUD sesuai 1945 dengan serta didasarkan atas nilai-nilai keadilan yang hidup dalam masyarakat.25 dan kewibawaan. d) Melindungi manusia. Manusia sebagai hamba Tuhan. hal tersebut hanya dapat tercipta apabila segala aturan hukum yang ada serta keadilan Pancasila. Tidak ada kelebihan dan kemuliaan antara yang satu dengan yang lain. semua mempunyai harkat dan martabat kemanusiaan sesuai dengan hak-hak asasi yang melekat pada diri tiap manusia. bahwa harkat hal semua ini dan tidak matabat dapat ciptaan dilepaskan dari suatu kenyataan manusia Tuhan dan semua akan kembali kepada-Nya. c) Tegaknya hukum dan keadilan. juga sebagai manusia yang sama derajatnya dengan manusia lain harus ditempatkan harkat mahluk Tuhan.

Tujuan hukum acara pidana dirumuskan dalam Pedoman Pelaksanaan KUHAP yang dikeluarkan oleh Menteri Kehakiman. ialah kebenaran yang selengkap-lengkapnya dari suatu perkara pidana dengan menerapkan ketentuan hukum . e) Menegakkan kehidupan mencari ketertiban masyarakat dan dan adalah kepastian hukum. sehingga lalu lintas tata pergaulan masyarakat yang bersangkutuan bisa berjalan dengan tertib dan lancar. Tujuan tersebut hanya dapat jalan dan diwujudkan menegakkan dengan ketertiban kepastian hukum dalam setiap aspek kehidupan sesuai dengan kaidahkaidah dan nilai hukum yang telah mereka sepakati (M. yang bunyinya adalah sebagai berikut: Tujuan dari hukum acara pidana adalah untuk mencari dan mendapatkan atau setidak-tidaknya mendekati kebenaran material. arti dan tujuan mewujudkan ketenteraman dan ketertiban yaitu kehidupan bersama antara anggota masyarakat yang dituntut dan dibina dalam ikatan yang teratur dan layak. yang harus dihormati oleh orang lain. Yahya Harahap. 2002:58-79).26 dan martabat pribadinya.

b) Mengadakan tindakan penuntutan secara benar dan tepat. Menurut Andi Hamzah.27 acara pidana secara jujur dan tepat dengan tujuan untuk mencari siapakah pelaku yang dapat didakwakan melakukan suatu pelanggaran hukum. 2002:9) 2) Fungsi Hukum Acara Pidana Fungsi hukum acara pidana berawal dari tugas mencari dan menemukan kebenaran hukum. sebagai tugas awal hukum acara pidana tersebut menjadi landasan dari tugas berikutnya dalam memberikan suatu putusan hakim dan melaksanakan tugas putusan hakim. Menurut Bambang Poernomo (1988:18) bahwa tugas dan fungsi pokok hukum acara pidana dalam pertumbuhannya meliputi empat tugas pokok. bahwa tujuan hukum acara pidana mencari kebenaran itu hanyalah merupakan tujuan antara. Tujuan akhirnya ialah mencari suatu ketertiban. keadilan dan kesejahteraan dalam masyarakat (Andi Hamzah. kedamaian. ketenteraman. Hakekat mencari kebenaran hukum. yaitu : a) Mencari dan menemukan kebenaran. . 2002:8). dan selanjutnya meminta pemeriksaan dan putusan dari pengadilan guna menemukan apakah terbukti bahwa suatu tindak pidana telah dilakukan dan apakah orang yang didakwa itu dapat dipersalahkan (Andi Hamzah.

fundamental. prinsip dan jiwa atau cita-cita. landasan. d) Melaksanaka n (eksekusi) putusan hakim. Asas dapat juga disebut pengertian-pengertian dan nilai-nilai yang menjadi titik tolak berpikir tentang sesuatu. Menurut Van Bemmelen. mengenai fungsi hukum acara pidana. Asas-asas hukum Acara Pidana Asas dapat berarti dasar. mengemukakan terdapat tiga fungsi hukum acara pidana yaitu : 1) Mencari dan menemukan kebenaran. 2) Pemberian keputusan hakim. seperti yang dikutip oleh Andi Hamzah (2002:9).28 c) Memberikan suatu keputusan hakim. c. 3) Pelaksanaan putusan. Asas adalah suatu dalil umum yang dinyatakan dalam istilah umum dengan tidak menyebutkan secara khusus cara pelaksanaannya. Asas hukum adalah prinsip yang dianggap dasar atau fundamen hukum yang terdiri dari pengertian-pengertian atau nilainilai yang menjadi titik tolak berpikir tentang hukum. kecuali itu Asas hukum dapat disebut landasan atau alasan bagi terbentuknya suatu peraturan hukum atau merupakan suatu ratio-legis dari suatu .

cita-cita sosial atau perundangan etis yang ingin diwujudkan. jiwa. asas hukum umum adalah norma yang dijabarkan dari hukum positif dan oleh ilmu hukum tidak dianggap berasal dari aturan-aturan yang lebih umum. . yang merupakan pengendapan hukum positif dalam suatu masyarakat. Sebaliknya van Eikema Hommes sebagaimana dikutip oleh Sudikno Mertokusumo. menyatakan asas hukum tidak boleh dianggap sebagai norma-norma hukum konkret.29 peraturan hukum yang memuat nila-nilai. Asas yang menyangkut hak-hak asasi manusia. Karena itu asas hukum merupakan jantung atau jembatan suatu peraturan hukum dan hukum positif dengan cita-cita sosial dan pandangan etis masyarakat. Pengertian asas hukum umum yang dirumuskan oleh Bellefroid merupakan pengertian yang berbeda dengan rumusan asas dalam ilmu hukum. tetapi harus dpandang sebagai dasar-dasar umum atau petunjuk bagi hukum yang berlaku. Pada dasarnya asas-asas dalam hukum acara pidana terbagi 2: 1. Asas hukum objektif adalah prinsip-pronsip yang menjadi dasar bagi pembentukan peraturan-peraturan hukum. sehingga menjadi dasar atau petunjuk arah dalam pembentukan hukum positif. Menurut Bellefroid sebagaimana dikutip oleh Sudikno Mertokusumo. sedangkan asas hukum subjektif adalah prinsip-prinsip yang menyatakan kedudukan subjek berhubungan dengan hukum. Pembentukan hukum harus berorientasi pada asas-asas hukum tersebut. Asas dapat dibedakan antara asas hukum objektif dan asas hukum subjektif . Asas-asas yang menyangkut peradilan 2.

penahanan. dan biaya ringan serta bebas. jujur dan tidak memihak harus diterapkan secara konsekuen dalam seluruh tingkat peradilan (asas peradilan yang cepat. wajib dianggap tidak bersalah sampai adanya putusan pengadilan yang menyatakan kesalahannya dan memperoleh kekuatan hukum tetap (asas praduga tidak bersalah). dituntut. c. e. Setiap orang yang disangka.30 Dalam Penjelasan KUHAP butir ke-3 memuat asas-asas hukum acara pidana yang terdapat dalam KUHAP yaitu sebagai berikut: a. Kepada seorang yang ditangkap. Penangkapan. ditahan. sederhana. Setiap orang yang tersangkut perkara wajib diberi kesempatan untuk memperoleh bantuan hukum yang semata-mata diberikan untuk melaksanakan . dipidana dan atau dikenakan hukuman administrasi (asas pemberian ganti kerugian dan rehabilitasi atas salah tangkap. Perlakuan yang sama atas diri setiap orang di muka huku dengan tidak mengadakan pembedaan perlakukan (asas persamaan dimuka hukum). salah tahan dan salah tuntut). jujur dan tidak memihak). d. ditangkap. f. ditahan. sederhana. penggeledahan dan penyitaan harus dilakukan berdasarkan perintah tertulis oleh pejabat yang diberi wewenang oleh Undang-Undang dan hanya dalam hal dan dengan cara yang diatur dengan Undang-Undang (asas perintah tertulis). b. dan biaya ringan serta bebas. Pengadilan yang harus dilakukan dengan cepat. dituntut dan dihadapkan di muka sidang pengadilan. dituntut ataupun diadili tanpa alasan yang berdasarkan Undang-Undang dan atau kekeliruan mengenai orangnya atau hukum yang diterapkan wajib diberi ganti kerugian dan rehabilitasi sejak tingkat penyidikan dan para pejabat penegak hukum yang dengan sengaja atau karena kelalaiannya menyebabkan asas hukum tersebut dilanggar.

k. Kepada seorang tersangka sejak dilakukan penangkapan dan atau penahanan selain wajib diberitahu dakwaan atas dasar hukum apa yang didakwakan kepadanya. 2. Tinjauan Tentang Hak Tersangka dan Terdakwa a. j. Pengertian Tersangka dan Terdakwa Tersangka atau terdakwa adalah orang-orang yang diduga telah melakukan tindak pidana. 2002:40). kepentingan pembelaan atas dirinya ( asas memperoleh bantuan hukum seluas-luasnya).31 g. berdasarkan bukti permulan patut diduga sebagai . Yahya Harahap. h. Pengadilan memeriksa perkara pidana dengan hadirnya terdakwa (asas hadirnya terdakwa). i. Hal ini dijelaskan dalam KUHAP Pasal 1 butir 14 dan butir 15. dalam Pasal 1 butir 14 KUHAP dijelaskan: “Tersangka adalah seorang yang karena perbuatannya atau keadaannya. yaitu tersangka dalam pemeriksaan dipandang sebagai subjek berhadap-hadapan dengan pihak lain yang memeriksa atau mendakwa yaitu kepolisian atau kejaksaan sedemikian rupa sehingga kedua pihak mempunyai hak-hak yang sama nilainya (asas accusatoir) (M. juga wajib diberitahu haknya termasuk hak untuk menghubingi dan meminta bantuan penasihat hukum (asas wajib diberitahu dakwaan dan dasar hukum dakwaan). Sidang pemeriksaan pengadilan adalah terbuka untuk umum kecuali dalam hal yang diatur dalam Undang-Undang (asas pemeriksaan pengadilan terbuka untuk umum). Tersangka diberi kebebasan memberi dan mendapatkan penasihat hukum. Pengawasan pelaksanaan putusan pengadilan dalam perkara pidana dilakukan oleh ketua pengadilan negeri yang bersangkutan (asas Pengawasan pelaksanaan putusan). menunjukkan bahwa KUHAP menganut asas akusator.

. mirip pula dengan butir 14 Pasal 1 KUHAP. diperiksa dan diadili dalam sidang pengadilan”. Kemudian harus dilakukan tindakan penuntutan dimuka sidang oleh penuntut umum dan hakim dan jika perlu dapat dilakukan tindakan upaya paksa seperti penangkapan. disidik. Sv. Sv. menjelaskan: “Terdakwa adalah seorang tersangka yang dituntut. kecuali kata-kata tersebut dimuka. dan diperiksa oleh penyidik. Dalam definisi tersebut terdapat kata-kata “karena perbuatannya atau keadaannya. Jadi fakta-fakta atau keadaan-keadaan yang menjurus kepada dugaan yang patut bahwa tersangkalah yang berbuat perbuatan itu. Berdasarkan penjelasan tersebut dapat diketahui bahwa seorang tersangka atau terdakwa adalah orang yang diduga melakukan tindak pidana sesuai dengan bukti permulaan yang cukup. Hak asasi. Sementara Pasal 1 butir 15 KUHAP.” Kata yang dipakai Ned. harkat dan martabat dari tersangka atau terdakwa tidak pernah dihargai. untuk itu. yang tersebut pada Pasal 27 ayat (2)” … feiten of omstandingheden” (fakta-fakta atau keadaan-keadaan) lebih tepat karena lebih objektif.32 pelaku tindak pidana”. penyitaan sesuai cara yang diatur dalam Undang-Undang. penggeledahan. sehingga orang tersebut harus diselidik. Wet boek strafvordering Belanda tidak membedakan istilah tersangka dan terdakwa (tidak lagi memakai dua istilah beklaadge dan verdachte. Definisi Ned. penahanan. Pada saat ini tersangka atau terdakwa tidak lebih dari objek pemeriksaan yang dapat diperlakukan sekehendak hati oleh aparat penegak hukum.

Menurut Duisterinkel. harus dibedakan patut diduga (redelijk vermoeden) dengan sangat diduga (ernstig vermoeden). baik sengaja maupun kulpa. Hak-hak Tersangka dan Terdakwa Pada hakekatnya proses penyelenggaraan peradilan pidana melalui implementasi ketentuan-ketentuan hukum acara pidana bertujuan untuk mencari kebenaran materiil. yaitu kepentingtan negara dan kepentingan para pencari keadilan (tersangka atau terdakwa). b.33 Pasal 27 ayat (1) Ned. Kedua kepentingan tersebut mesti dijaga dan dijamin . Dalam hal ini ada dua kerangka penting yang harus di perhatikan. ed. : “…als verdache wordi aangemerkt degene te weins aanzien uit feitenof omstadig heden een redejelijk vermoden van schuld aan eeinig strafbaar feit voorvloeit….” (…yang dipandang sebagai tersangka ialah orang karena fakta-fakta atau keadaan-keadaan menunjukan ia patut diduga bersalah melakukan suatu delik). seharusnya penafsiran itu objektif. Persamaan dengan perumusan atau definisi KUHAP ialah kata patut diduga (redelijk vermoeden). Jika sesorang ditahan sedangkan menurut ukuran objectif tidak patut dipandang telah melakukan delik itu. pendapat-pendapat sarjana belanda terutama suatu dewan redaksi yang menyusun komentar patut diduga melakukan perbuatan delik ialah penyidik dan penuntut umum. namun demikian. Oleh karena itu. maka penyidik atau penuntut umum dapat diancam pidana melanggar kemerdekaan orang. Sv.

Berbagai pembelaan yang dapat dilakukan oleh tersangka atau terdakwa . Seorang terdakwa atau tersangka mempunyai hak untuk segera mendapatkan pemeriksaan baik dalam penyidikan atau dalam persidangan. Seorang tersangka atau terdakwa mempunyai hak untuk membela diri baik dengan penasehat hukum atau tidak. jelas dan transparan. Seperti disebutkan dalam KUHAP Pasal 50 disebutkan bahwa seorang tersangka berhak segera mendapatkan pemeriksaan oleh penyidik dan selanjutnya dihadapkan pada penuntut umum. Hak-hak tersebut meliputi: 1) Hak untuk segera mendapat pemeriksaan. Hukum acara merupakan salah satu instrumen utama dalam sistem peradilan pidana di Indonesia yang dimaksudkan memberikan jaminan kepastian hukum terhadap tersangka/ terdakwa.34 keseimbangannya oleh hukum acara pidana. agar terlaksana dengan seimbang hak. Kepastian hukum tersangka/ terdakwa berarti setiap tersangka/terdakwa harus diproses melalui hukum dengan standar yang sama atas semua kasus yang sama dan terhadap orang yang sama. Kemudian hak tersangka untuk perkaranya segera diajukan ke Pengadilan dan berhak segera diadili oleh Pengadilan. 2) Hak untuk melakukan pembelaan.hak asasi tersangka/ terdakwa. Tersangka atau terdakwa diberi seperangkat hak-hak oleh KUHAP mulai dari Pasal 50 sampai dengan Pasal 68. Pasti berarti juga terukur.

3) Hak untuk melakukan upaya hukum. (d) Berhak untuk mendapatkan bantuan hukum oleh seorang atau beberapa penasehat hukum dalam semua tingkat pemeriksaan. mulai dari penyidikan sampai pemeriksaan di Pengadilan. (b) Upaya hukum luar biasa. yang dapat diuraikan sebagai berikut: (a) Berhak diberitahukan dengan jelas dan dengan bahasa yang dimengerti olehnya tentang apa yang disangkakan kepadanya. yaitu: (a) Upaya hukum biasa. Ketidak puasan atas putusan pengadilan bisa dimanfaatkan untuk melakukan upaya hukum yang di bagi menjadi dua.35 diatur dalam KUHAP Pasal 51-57. Upaya hukum biasa dapat berupa permintaan banding kepada Pengadilan Tinggi dan Upaya permintaan kasasi kepada Mahkamah Agung. (c) Berhak untuk mendapatkan juru bahasa dalam semua tingkat pemeriksaan baik dari penyidikan sampai proses pengadilan. Upaya hukum luar biasa dapat berupa permintaan pemeriksaan Peninjauan kembali terhadap putusan pengadilan . (b) Berhak memberikan keterangan secara bebas dalam berbagai tingkat pemeriksaan. Berdasarkan pada Undang-Undang seorang terdakwa yang dijatuhi hukuman dapat menerima atau menolak putusan yang dijatuhkan.

dan diadili (Pasal 50 ayat 91). Apabila dilihat dalam Pasal-Pasal KUHAP antara lain sebagai berikut: 1) hak untuk diperiksa. 4) hak untuk mendapat juru bahasa (Pasal 53 ayat (1)). penahanan. Ganti rugi atau rehabilitasi dapat dilakukan oleh tersangka atau terdakwa apabila: (a) Penangkapan. 5) hak untuk mendapatkan bantuan hukum pada setiap tingkat pemeriksaan (Pasal 54). 7) hak tersangka atau terdakwa yang berkebangsaan asing untuk menghubungi atau berbicara dengan perwakilan negaranya (Pasal . penggeledahan. (b) Apabila putusan pengadilan menyatakan terdakwa bebas karena tindak pidana yang didakwakan tidak terbukti atau tindak pidana yang didakwakan kepadanya bukan merupakan suatu kejahatan atau pelanggaran. atau penyitaan yang dilakukan tanpa alasan hukum yang sah. (2).36 yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. 6) hak terdakwa untuk menuntut terhadap hakim yang mengadili perkaranya (Pasal 27 ayat (1) Undang-Undang Pokok kekuasaan Kehakiman). 3) hak untuk memberikan keterangan secara bebas kepada penyidik dan hakim seperti tersebut dimuka (Pasal 52). dan (3)). 4) Hak untuk mendapat ganti rugi dan rehabilitasi. 2) hak untuk mengetahui dengan jelas dan bahasa yang dimengerti olehnya tentang apa yang disangkakan dan apa yang didakwakan (Pasal 51 huruf a dan b). diajukan ke pengadilan.

11) hak tersangka atau terdakwa untuk berhubungan surat-menyurat dengan penasihat hukumnya (Pasal 62). 15) hak untuk mendapat nasihat hukum dari penasihat hukum yang ditunjuk oleh pejabat yang bersangkutan pada semua tingkat pemeriksaan bagi tersangka atau terdakwa yang diancam pidana mati dengan biaya cuma-cuma. Untuk kepentingan pekerjaan atau kepentingan keluarga (Pasal 61). 10) hak untuk dikunjungi sanak keluarga yang tidak ada hubungan dengan perkara tersangka atau terdakwa. vergleihende rechstlehre (bahasa Belanda). dalam bahasa asing. 14) hak tersangka atau terdakwa untuk menuntut ganti kerugian (Pasal 68).37 57 ayat (2)). 12) hak tersangka atau terdakwa untuk menghubungi dan menerima kunjungan rohaniawan (Pasal 63) 13) hak tersangka atau terdakwa untuk mengajukan saksi dan ahli yang a de charge (Pasal 65). 8) hak untuk menghubungi dokter bagi tersangka atau terdakwa yang ditahan (Pasal 58). diterjemahkan: comparative law (bahasa Inggris). . Tinjauan tentang Istilah Perbandingan Hukum Istilah perbandingan hukum. 3. droit comparé (bahasa Perancis). 9) hak untuk diberitahu kepada keluarganya atau orang lain yang serumah dengan tersangka atau terdakwa yang ditahan untuk mendapat bantuan hukum atau jaminan bagi penangguhannya dan hak untuk berhubungan dengan keluarga dengan maksud yang sama diatas (Pasal 59-60).

2000 : 7). Istilah ini sudah memasyarakat di kalangan teoritikus hukum di Indonesia. Istilah yang dipergunakan dalam penulisan hukum ini. Untuk memperoleh bahan yang lebih lengkap. perbandingan hukum merupakan metoda penyelidikan dengan tujuan untuk memperoleh pengetahuan yang lebih dalam tentang bahan hukum tertentu. Rudolf B.38 Istilah ini. sering diterjemahkan lain. Perbandingan hukum bukanlah perangkat peraturan dan asas-asas hukum dan bukan suatu cabang hukum. dan tampaknya sudah sejalan dengan istilah yang telah dipergunakan untuk hal yang sama di bidang hukum perdata. maka perlu dikemukakan definisi perbandingan hukum dari beberapa pakar hukum terkenal. Gutteridge membedakan antara . Gutteridge menyatakan bahwa perbandingan hukum adalah suatu metoda yaitu metoda perbandingan yang dapat digunakan dalam semua cabang hukum. yang artinya menjadi lain bagi pendidikan hukum di Indonesia (Romli Atmasasmita. menjadi hukum perselisihan. melainkan merupakan teknik untuk menghadapi unsur hukum asing dari suatu masalah hukum (Romli Atmasasmita. 2000 : 7). bahwa perbandingan hukum adalah suatu metoda yaitu perbandingan sistem-sistem hukum dan perbandingan tersebut menghasilkan data sistem hukum yang dibandingkan (Romli Atmasasmita. Winterton mengemukakan. dalam pendidikan tinggi hukum di Amerika Serikat. yaitu sebagai conflict law atau dialihbahasakan. yaitu perbandingan hukum perdata. 2000 : 6). Schlesinger mengatakan bahwa. adalah perbandingan hukum (pidana).

adalah mempelajari hukum asing tanpa secara nyata membandingkannya dengan sistem hukum yang lain (Winterton. 2000 : 9). dan George Winterton (Romli Atmasasmita. the problems of justice are basically the same in time and space throughout the world. sedangkan pengertian istilah yang kedua. Hesel Yutena mengemukakan definisi perbandingan hukum sebagai berikut: Comparative law is simply another name for legal science.( Perbandingan hukum hanya suatu nama lain untuk ilmu hukum dan merupakan bagian yang menyatu . 2000 : 8). persamaan dan perbedaannya.39 comparative law dan foreign law (hukum asing). 1975 : 72 di terjemahkan dalam buku Romli Atmasasmita. pengertian istilah yang pertama untuk membandingkan dua sistem hukum atau lebih. dalam The Am. Gutteridge.of Comp. sebab-sebabnya dan dasar-dasar kemasyarakatannya (Romli Atmasasmita. Para pakar hukum ini adalah : Frederik Pollock. Rene David. 2000 : 7).J. Ole Lando mengemukakan antara lain bahwa perbandingan hukum mencakup : “analysis and comparison of the laws”. Pendapat tersebut sudah menunjukkan kecenderungan untuk mengakui perbandingan sebagai cabang ilmu hukum (Romli Atmasasmita.. perbandingan hukum sebagai cabang ilmu pengetahuan (yang juga mempergunakan metoda perbandingan) mempunyai lingkup : (isi dari) kaidah-kaidah hukum. 2000 : 9). it contemplates that while the technique nay vary. Perbandingan hukum adalah metoda umum dari suatu perbandingan dan penelitian perbandingan yang dapat diterapkan dalam bidang hukum. or like other branches of science it has a universal humanistic outlook . Lemaire mengemukakan. L.

melihat perbandingan lembaga-lembaga hukum konsep-konsep serta mencoba menentukan suatu penyelesaian atas masalah-masalah tertentu dalam sistem-sistem hukum dimaksud dengan tujuan seperti pembaharuan hukum. 2000 : 10).40 dari suatu ilmu sosial. sekalipun caranya berlainan. such as law reform. 2000 : 9). unification etc. their essence and style. (Perbandingan hukum adalah perbandingan dari jiwa dan gaya dari system hukum yang berbedabeda atau lembaga-lembagahukum yang berbeda-beda atau penyelesaian masalah hukum yang dapat diperbandingkan dalam . atau seperti cabang ilmu lainnya perbandingan hukum memiliki wawasan yang universal. unifikasi hukum dan lain-lain) (Romli Atmasasmita. masalah keadilan pada dasarnya sama baik menurut waktu dan tempat di seluruh dunia) (Romli Atmasasmita. (Perbandingan hukum merupakan suatu disiplin ilmu hukum yang bertujuan menemukan persamaan dan perbedaan serta menemukan pula hubungan-hubungan erat antara berbagai system-sistem hukum. Definisi lain mengenai kedudukan perbandingan hukum dikemukakan oleh Zweigert dan Kort yaitu : Comparative law is the comparison of the spirit and style of different legal sistem or of comparable legal institutions of the solution of comparable legal problems in different sistem. Orucu mengemukakan suatu definisi perbandingan hukum sebagai berikut : Comparative law is legal discipline aiming at ascertaining similarities and differences and finding out relationship between various legal sistems. looking at comparable legal institutions and concepts and typing to determine solutions to certain problems in these sistems with a definite goal in mind.

41

system hukum yang berbeda-beda) (Romli Atmasasmita, 2000 : 10). Romli Atmasasmita yang berpendapat perbandingan hukum adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari secara sistematis hukum (pidana) dari dua atau lebih sistem hukum dengan mempergunakan metoda perbandingan (Romli Atmasasmita, 2000 : 12). 4. Tinjauan Tentang Asas The Right To Remain Silent KUHAP tidak menganut asas the right to remain silent atau asas the right of non self incrimination (M.Yahya Harahap, 1988:725). Jadi KUHAP tidak mengenal asas yang memberi hak kepada terdakwa untuk menolak menjawab pertanyaan, karena ketika seseorang menjadi terperiksa/ terdakwa, akan menjadi sesuatu hal yang wajar dan diperkenankan untuk berbohong sesuai dengan asas the right to remain silent dan hak ingkar. Adanya asas the right to remain silent semata- mata adalah usaha untuk mencegah tindakan menyimpang seperti penggunaan penyiksaan dalam proses penyidikan. Hal ini sebenarnya telah ditoleransi dan menjadi perhatian penyusun undang-undang sebagai bagian dari hak-hak tersangka/terdakwa dalam KUHAP. Pasal 52 KUHAP menyatakan, ''Dalam pemeriksaan pada tingkat penyidikan dan peradilan, tersangka atau terdakwa berhak memberikan keterangan secara bebas kepada penyidik atau hakim''. Menurut penjelasan Pasal 52 KUHAP, supaya pemeriksaan dapat mencapai hasil yang tidak menyimpang dari yang sebenarnya, maka tersangka atau terdakwa harus dijauhkan dari rasa takut. Oleh karena itu wajib dicegah adanya paksaan atau tekanan terhadap

42

tersangka atau terdakwa. Hak untuk diam adalah hukum hak setiap orang dikenakan kepada polisi interogasi atau dipanggil untuk pergi ke persidangan di pengadilan hukum. Hak ini diakui, secara eksplisit atau dengan konvensi, di banyak sistem hukum di dunia. Hak ini mencakup sejumlah isu berpusat sekitar hak terdakwa atau terdakwa menolak memberikan komentar atau memberikan jawaban ketika ditanya, baik sebelum atau selama proses hukum di pengadilan hukum. Hal ini dapat hak untuk menghindari diri inkriminasi atau hak untuk tetap diam ketika ditanya. Hak biasanya mencakup ketentuan bahwa komentar yang merugikan atau kesimpulan tidak dapat dibuat oleh hakim atau juri tentang penolakan oleh terdakwa untuk menjawab pertanyaan sebelum atau selama sidang berlangsung, pendengaran atau upaya hukum lainnya. Hak ini hanya merupakan sebagian kecil dari hakhak terdakwa secara keseluruhan Di beberapa negara seperti Australia, tidak memiliki perlindungan konstitusional hak untuk diam, tetapi secara luas diakui oleh Negara dan Kejahatan Federal Kisah dan Kode dan dianggap oleh pengadilan sebagai hak hukum umum penting. Secara umum, tersangka kriminal di Australia memiliki hak untuk menolak untuk menjawab pertanyaan yang diajukan kepada mereka oleh polisi sebelum persidangan dan menolak untuk memberikan bukti di pengadilan. Sebagai hakim aturan umum tidak dapat langsung juri untuk menarik kesimpulan yang merugikan dari terdakwa diam (R v Petty) tetapi ada pengecualian untuk aturan ini, terutama dalam kasus-kasus yang bergantung sepenuhnya pada

43

bukti-bukti yang hanya mungkin bagi terdakwa untuk bersaksi tentang (v Weissensteiner). Hak ini tidak berlaku untuk perusahaan (EPA v Caltex). Ada berbagai hukum abrogations hak, khususnya di wilayah kebangkrutan. Ada juga abrogations hak dalam antiterorisme baru-baru ini Federal dan Victoria Kisah kejahatan terorganisi. Masing-masing menyiapkan mempertanyakan tindakan koersif rezim yang beroperasi di luar proses pidana biasa. Namun, bukti kesaksian langsung yang diperoleh dari pertanyaan ini memaksa tidak dapat digunakan dalam pengadilan kriminal berikutnya dari orang yang memberikan bukti. Di Perancis, pada Hukum Acara Pidana (Pasal L116) membuat mewajibkan bahwa ketika mendengar hakim yang menyelidiki tersangka, ia harus memperingatkan bahwa ia berhak untuk tetap diam, untuk membuat pernyataan, atau menjawab pertanyaan. Seseorang berbaring kecurigaan terhadap yang tidak bisa secara legal diinterogasi oleh keadilan sebagai saksi biasa. Pada sidang yang sebenarnya, terdakwa dapat dipaksa untuk membuat pernyataan. Namun, kode tersebut juga melarang mendengar tersangka di bawah sumpah; demikian, tersangka dapat mengatakan apa saja yang dia merasa cocok untuk pembelaannya, tanpa takut sanksi untuk sumpah palsu. Larangan ini diperpanjang menjadi tersangka pasangan dan anggota keluarga dekatnya (ini perpanjangan larangan dapat diabaikan jika kedua penuntutan dan pembelaan pengacara setuju untuk surat pembatalan tersebut). Di Belanda, setiap tersangka dituduh memiliki hak untuk tetap diam untuk pertanyaan dari polisi dan jaksa, selama interogasi atau pemeriksaan di sidang. Ada pengecualian: Terdakwa harus

Hal ini sebenarnya telah ditoleransi dan menjadi perhatian penyusun Undang-Undang sebagai bagian dari hak-hak tersangka/terdakwa dalam KUHAP. akan menjadi sesuatu hal yang wajar dan diperkenankan untuk berbohong sesuai dengan asas the rights to remain silent dan hak ingkar. Ada juga harus keberatan serius terhadap terdakwa.44 bekerja sama bila ada "een aan de wil van de verdachte onafhankelijk goed" (terjemahan diperlukan). Atau terdakwa harus bekerja sama dalam penyerahan lendir. Dalam penjelasan Pasal 52 KUHAP dimaksudkan . Seperti tes DNA hanya dapat dilakukan atas permintaan Jaksa dan diperintahkan oleh hakim. Beberapa Pasal dalam KUHAP yang berkaitan dengan asas Rights to remain silent antara lain: a. Sebagai contoh. Pasal 52 menyatakan: “ Dalam pemeriksaan pada tingkat penyidikan dan pengadilan. Asas Rights to remain silent keberadaannya semata-mata adalah usaha untuk mencegah tindakan menyimpang seperti penggunaan penyiksaan dalam proses penyidikan. KUHAP tidak mengenal asas yang memberi hak kepada terdakwa untuk menolak menjawab pertanyaan. ketombe atau rambut untuk tes DNA. karena ketika seseorang menjadi terperiksa/terdakwa. Dan penahanan sementara telah menjadi untuk berlaku. seorang tersangka harus bekerja sama dengan memberikan sampel darah (dengan kecurigaan alkohol dalam lalu lintas). tersangka atau terdakwa berhak memberikan keterangan secara bebas kepada penyidik atau hakim”.

Oleh karena itu wajib dicegah adanya paksaan atau tekanan terhadap tersangka atau terdakwa. karena dalam perundang-undangan hukum acara pidana adanya suatu pengakuan terdakwa tidaklah dipergunakan sebagai alat bukti bahkan hanya menempati urutan terakhir sebagai alat bukti yang termuat dalam Pasal 184 ayat (1) KUHAP dengan penyebutan “keterangan terdakwa” bukan suatu “pengakuan terdakwa”. Pasal 117 menyatakan: “Bahwa keterangan tersangka dan atau saksi kepada penyidik diberikan tanpa tekanan dari siapapun dan atau dalam bentuk apapun.45 supaya pemeriksaan dapat mencapai hasil yang tidak menyimpang dari yang sebenarnya. Pasal 52 dan Pasal 117 KUHAP berkaitan erat dengan asas rights to remain silent yaitu suatu hak tersangka untuk tidak menjawab. c. maka tersangka atau terdakwa harus dijauhkan dari rasa takut. Namun sangat disayangkan karena kedua Pasal ini tidak menyebutkan sama sekali tentang masalah keabsahan hasil penyidikan yang diperoleh dengan cara penyiksaan. Pasal 175 KUHAP menyatakan: “ Jika . maksudnya keterangan tersangka atau terdakwa hanya dapat dipergunakan bagi dirinya sendiri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 189 ayat (3) KUHAP. b.

keteertiban pada sisi lain tanpa mengorbankan hak-hak asasi manusia demi mengejar kepentingan umum. apalagi sampai mempertimbangkan dan menarik kesimpulan bahwa keengganan menjawab sebagai keadaan yang membertakan kesalahan dan hukuman terdakwa. Diamnya terdakwa harus dinilai secara kasuistis dan realistis. hakim ketua sidang menganjurkan untuk menjawab dan setelah itu pemeriksaan dilanjutkan”. Selain itu hakim ataupun penuntut umum tidak boleh mengartikan diamnya terdakwa sebagai tingkah laku dan perbuatan menghalangi dan mengganggu ketertiban sidang. Dari asas yang telah dibahas di atas. pemeriksaan terdakwa dititiksentralkan pada asas keseimbangan antara kepentingan . maka hakim. Hakim tidak boleh memaksa terdakwa untuk menjawab.46 terdakwa tidak mau menjawab atau menolak untuk menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya. Dalam upaya menciptakan keseimbangan dan keselarasan kepentingan dan perlindungan hukum. penasihat hukum dan terdakwa harus menyadari bahwa pelaksanaan asas rights to remain silent dilaksanakan sesuai asas keseimbangan menurut Pasal 175 KUHAP yaitu pemeriksaan terdakwa di sidang pengadilan harus melindungi kepentingan terdakwa sebagai manusia yang memiliki hak-hak asasi dan kepentingan. jika terdakwa tidak mau menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya. dengan argumentasi yang matang dan cukup pertimbangannya. yang sebaiknya dilakukan adalah “menganjurkan” terdakwa untuk menjawab.

karena polisi tidak perlu menasihati seseorang dari hak-hak nya sampai setelah ia mendakwa diri pemberitahuan . Amerika Serikat Perlu dicatat bahwa ada konflik yang mencolok antara Miranda dan Raffel v United State yang tetap tidak terpecahkan oleh Mahkamah Agung AS. 5. pengadilan menemukan bahwa pada saat seorang tersangka bekerja sama dan jawaban pertanyaan dan / atau mengizinkan untuk mencari. setelah penangkapan dan Miranda atas hak-hak tersebut. seseorang menyerah Amandemen Keempat dan Kelima hak-hak yang di bawah Raffel secara teknis tidak dapat diminta kembali. untuk mengungkap kebenaran yang sebenarnya dalam pemeriksaan. tidak semata. Dalam praktek penegakan hukum.mata digunakan begitu saja karena terdakwa bisa dengan mudah lepas dari tanggung jawab tindak pidana yang dilakukan. Oleh karena itu. di Amerika Serikat. pengadilan dan pemidanaan. Tinjauan Asas Asas The right To Remain Silent di Beberapa Negara a. Raffel v di AS. dengan bekerja sama dengan polisi dengan cara apapun sebelum penangkapan. Keberadaan Pasal 175 untuk melegalkan terdakwa tidak menjawab pertanyaan yang diajukan ketika pemeriksaan. Dalam kenyataan ini menjadikan peringatan Miranda berlaku agak terbatas.47 terdakwa pada satu pihak dan kepentingan umum di pihak lain. tersangka menyerahkan hakhak tersebut dan harus terus kerja sama dan persetujuan melalui orang itu mungkin / akhirnya penangkapan.

In Re Grand Jury subpoena untuk Sebastien Boucher. Aparat penegak hukum di Amerika Serikat sangat tergantung pada intimidasi halus posisi mereka dan kekuasaan dan ketidaktahuan masyarakat untuk hak-hak mereka untuk membuat orang-orang yang memberatkan diri mereka sendiri sehingga mereka kemudian dapat menangkap mereka. Pengadilan Distrik AS untuk Vermont memutuskan bahwa karena terdakwa telah bekerja sama sejauh . Di Amerika Serikat. Polisi tidak perlu memberitahu sipil kebenaran mengenai apa saja.48 sendiri dan / atau ditahan. satu-satunya cara untuk satu untuk melindungi hak-hak seseorang sepenuhnya adalah untuk menolak menjawab pertanyaan apa pun di luar memberikan satu nama dan mengidentifikasi makalah jika diminta dan untuk menolak memberikan persetujuan terhadap apa pun (seperti pencarian) sebelum penangkapan seseorang. Amerika Serikat warga negara harus tahu hakhak mereka untuk menghindari kehilangan mereka dengan sengaja memberikan mereka pergi Raffel terus ditegakkan di Pengadilan AS meskipun kontradiksi dengan Miranda. maka tahanan telah menyerahkan sebagian besar hak-hak yang memberikan nasehat kepada polisi bahwa tahanan. jika orang yang telah bekerja sama sebelum penangkapan. Mereka dapat membuat janji dan klaim yang mereka sukai dalam rangka untuk mendorong seseorang untuk memberatkan dirinya sendiri atau mengizinkan polisi untuk melakukan pencarian. dan polisi tidak terikat oleh apa pun mereka berjanji untuk tersangka atau saksi (yaitu janji-janji bantuan atau perlindungan ).

Australia Australia tidak memiliki perlindungan konstitusional hak untuk diam. tetapi secara luas diakui oleh Negara dan Kejahatan Federal Kisah dan Kode dan dianggap oleh pengadilan sebagai hukum umum yang penting benar. Seperti yang tertera di bawah ini. b. beberapa negara termasuk Kanada telah dengan hati-hati menghindari kontradiksi tersebut dengan jelas dapat diterima di pengadilan membuat segala informasi / pernyataan yang diberikan oleh tersangka sebelum konsultasi hak-hak mereka untuk membungkam dan perwakilan. Secara umum. bahwa ia sekarang harus menyerahkan akses lengkap untuk semua informasi pada laptop. dengan menyatakan kepemilikan laptop-nya dan memberikan sebagian penegakan hukum dengan akses ke sana sebelum penangkapannya. bahkan dienkripsi dan berpotensi memberatkan diri atau informasi rahasia. Hal ini sangat penting karena sebelum putusan Mahkamah Agung AS biasanya melindungi tersangka bahkan setelah keyakinan dari persyaratan yg memberatkan diri sendiri mengungkapkan informasi seperti lokasi korban mereka 'tubuh dan / atau properti. tersangka kriminal di Australia memiliki hak untuk menolak untuk . Karena terdakwa telah bekerja sama dalam bagian. Mahkamah menyatakan bahwa terdakwa harus terus kerjasama dan menyediakan terdekrip dan berpotensi membahayakan informasi kepada pemerintah.49 yang ia miliki dan sudah berpotensi memberatkan dirinya sendiri.

bukti kesaksian langsung yang diperoleh dari pertanyaan koersif ini tidak dapat digunakan dalam pengadilan kriminal berikutnya dari orang yang memberikan bukti. Sebelum seorang terdakwa mendapat informasi tentang hak mereka untuk penasihat hukum. Namun. khususnya di bidang kebangkrutan. Terdakwa tidak dapat dipaksa sebagai saksi terhadap dirinya sendiri dalam proses pidana. c. dan karena itu hanya pernyataan yang dibuat secara sukarela kepada polisi yang diterima sebagai bukti. Sebagai aturan umum hakim tidak dapat langsung merugikan juri untuk menarik kesimpulan dari terdakwa diam (Petty v R) tetapi ada beberapa pengecualian terhadap aturan ini. Masing-masing menyiapkan tindakan koersif rezim pertanyaan yang beroperasi di luar proses pidana biasa. Ada banyak abrogations perundang-undangan yang tepat. setiap pernyataan yang mereka buat polisi dianggap tanpa sadar dipaksa dan tidak dapat . Kanada Hak untuk diam adalah dilindungi di bawah bagian 7 dan pasal 11 (c) dari Kanada Piagam Hak dan Kebebasan. Hak ini tidak berlaku untuk perusahaan (EPA v Caltex).50 menjawab pertanyaan yang diajukan kepada mereka oleh polisi sebelum persidangan dan menolak untuk memberikan bukti di pengadilan. Ada juga abrogations hak Federal baru-baru ini anti-terorisme dan kejahatan terorganisir Victoria Kisah. terutama dalam kasus-kasus yang mengandalkan sepenuhnya pada bukti-bukti yang itu hanya mungkin bagi terdakwa untuk bersaksi tentang (Weissensteiner v).

Hal ini mungkin berlawanan dengan AS hak untuk menolak untuk menjawab pertanyaan memberatkan di bawah Amandemen ke-5 bahkan ketika di kursi saksi. yang menyatakan bahwa terdakwa tidak bisa tertipu untuk memberitahukan informasi apapun sampai mereka berkonsultasi dengan seorang pengacara . Akibatnya. Dalam kebanyakan kasus. Namun bagian 13 dari Canadian Piagam Hak dan Kebebasan menjamin bahwa seorang saksi tidak memiliki bukti memberatkan yang mereka berikan sebagai kesaksian digunakan untuk melawan mereka dalam proses terpisah. Perancis Di Perancis. di mana seorang terdakwa dengan bebas memilih untuk mengambil saksi dan bersaksi. terdakwa dapat memilih untuk secara sukarela menjawab pertanyaan dan pernyataan yang akan diterima.. pasangan tidak dapat dipaksa untuk bersaksi melawan satu sama lain. Setelah mendapat informasi tentang hak untuk pengacara. Meskipun seorang terdakwa berhak untuk tetap diam dan tidak dapat dipaksa untuk bersaksi melawan dirinya sendiri.51 diterima sebagai bukti. tidak ada lagi hak untuk diam dan tidak ada batasan umum jenis pertanyaan apa yang mereka mungkin diminta untuk menjawab. Kasus terkemuka di kanan untuk keheningan adalah R. v. seseorang dapat tidak disengaja dipaksa untuk memberikan bukti yg memberatkan diri sendiri tetapi hanya di mana bukti yang akan digunakan terhadap pihak ketiga. kecuali untuk pelanggaran seks tertentu atau di mana korban adalah anak-anak. d. Hukum Acara Pidana (pasal L116) . Hebert.

seorang terdakwa dapat dipaksa untuk membuat pernyataan. ditahan atau tidak.52 mewajibkan bahwa ketika seorang hakim menyelidiki tersangka. untuk membuat pernyataan. harus diinformasikan sebelum interogasi tentang haknya untuk tetap diam. atau menjawab pertanyaan. demikian. yaitu Hukum Acara Pidana) seorang tersangka. Tersangka tidak dapat didengar di bawah sumpah. kode ini juga melarang mendengar seorang tersangka di bawah sumpah. ia harus memperingatkan dia bahwa ia memiliki hak untuk tetap diam. Seseorang kecurigaan terhadap yang terletak tidak dapat secara legal dapat diinterogasi oleh keadilan sebagai saksi biasa. dalam kasus ini . diperbolehkan untuk menarik kesimpulan jika terdakwa tetap diam hanya untuk pertanyaanpertanyaan tertentu mengenai kejahatan yang sama. seorang tersangka dapat mengatakan apa saja yang dia merasa cocok untuk pertahanan. Hal ini tidak diperbolehkan untuk menarik semua gangguan dari keheningan lengkap terdakwa dalam setiap tahap proses pidana. tanpa takut sanksi bagi sumpah palsu. Larangan ini diperluas untuk tersangka pasangan dan anggota keluarga dekat (ini perpanjangan larangan mungkin akan dibebaskan jika kedua pihak penuntut dan pembela setuju dengan pembatalan) e. Jerman Menurut § 136 Strafprozessordnung (StPO. Pada sidang yang sebenarnya. Seseorang yang masuk akal terhadap yang ada menyebabkan kecurigaan dapat diperiksa sebagai saksi biasa dalam pidana terhadap orang lain. Namun. Namun. Namun.

Saksi yang mencurigakan juga harus memperingatkan f. Sedangkan Sumber Hukum dalam Sistem Peradilan Pidana Inggris terdiri dari : 1) Custom Custom merupakan sumber hukum tertua. Di Inggris terdapat 31 Kejaksaan atau CPS yang terdiri dari Crown Prosecutor. Inggris Sampai akhir 1986. yang menentukan apakah perkara yang disidik Polisi dapat diajukan ke pengadilan atau tidak adalah Jaksa yang tergabung dalam Crown Prosecution Service (CPS). tentang haknya untuk tetap diam. Assistant Branch CPS.53 menurut § 55 StPO. proses penuntutan bagi perkaraperkara ringan di Inggris dilakukan oleh Polisi sendiri (Polise Prosecutor). Mencurigakan saksi tidak dapat didengar di bawah sumpah. saksi dapat menolak untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dapat memberatkan dirinya sendiri (atau salah satu kerabat). Sedangkan perkara yang agak berat dilakukan oleh pengacara yang disebut Solicitor. Branch Prosecutor (di Indonesia setingkat Kepala Kejaksaan Negeri) dan Chief Prosecutor (setingkat Kepala Kejaksaan Tinggi). Sejak 1986. . Tumbuh dan berkembang dari kebiasaan suku Anglo Saxon pada abad pertengahan yang melahirkan Common Law. Senior Crown Prosecutor. Dan perkara-perkara yang berat disidangkan di pengadilan tinggi (tingkat banding) dengan penuntut umum pengacara yang disebut Barister. sehingga sistem hukum Inggris disebut juga sistem Anglo Saxon.

3) Case Law atau Judge Made Law. Asas ini mewajibkan hakim untuk mengikuti putusan hakim yang sebelumnya. precedent tidak diatur baik dalam Konstitusi. Selain hal tersebut di atas. Dalam sistem Common Law. adat istiadat atau kebiasaan masyarakat (custom) yang dikembangkan berdasar putusan pengadilan mempunyai kedudukan yang sangat kuat karena berlaku asas stare decisis atau asas binding force of precedent.54 2) Legislation atau Statuta. Legislation atau Statuta berupa undang-undang yang dibuat melalui parlemen. Precedent adalah merupakan karakteristik Common Law. Undang-Undang yang dibentuk itu disebut Statutes. dalam system hukum common Law dikenal dengan adanya doktrin Presedent. Perkembangan Precedent bersifat tradisionil dalam arti bahwa ia merupakan bagian dari tradisi dalam Common Law. . Sebagai suatu bagian dari tradisi dalam Common Law. Pembentukan precedent tersebut adalah merupakan salah satu fungsi peradilan pidana dalam yurisdiksi system hukum common law. Case Law atau Judge Made Law adalah hukum kebiasaan yang berkembang di masayarakat melalui putusan hakim yang kemudian diikuti oleh hakim berikutnya melahirkan asas precedent. Bagian pututsan hakim yang harus diikuti dan mengikat adalah nagian pertimbangan hukum yang disebut sebagai ratio decidendi sedangkan hal selebihnya yang disebut obiter dicta tidak mengikat.

Terdapat empat factor yang melandasi dipergunakannya “precedent” dalam system hukum Common Law yaitu sebagai berikut : 1) Faktor Equality.55 Undang-Undang atau dalam sumpah. Mengandung arti bahwa jika proses peradilan pidana sama) terutama jelas dalam pengambilan penghargaan putusannya terhadap konsisten dengan putusan terdahulu (dalam perkara yang menunjukkan kebijakan dan pengalaman serta keahlian generasi . Mengandung arti bahwa jika dipergunakan criteria yang tetap dan sama untuk menyelesaikan kasus-kasus baru di masa yang akan datang adalah menghemat waktu dan tenaga. 2) Faktor Predictability. 4) Faktor Respect. Mengandung arti bahwa jika secara konsisten mengikuti “precedent” akan menunjang/mendorong arah yang jelas dalam pelaksanaan hukum di masa yang akan datang dan jauh sebelumnya dapat diperkirakan kemungkinana “judicial-decision” yang akan diberikan terhadap suatu kasus yang sama di kemudian hari. 3) Faktor Economy. Mengandung arti bahwa pelaksanaan penerapan peraturan hukum yang sama terhadap kasus yang sama akan menghasilkan persamaan perlakuan terhadap setiap orang yang dihadapkan ke muka sidang pengadilan.

Right to remain silent tentu tidak membantu polisi dalam proses penyelidikan. rights to remain silent tersangka/terdakwa tidak diabaikan dan diberi penilain tertentu oleh hakim. Sistem Common Law pada prinsipnya menganut “Sistem Accusatoir” atau yang secara populer dikenal dengan sebutan “Advesary System”. Mengenai Asas Right to Remain Silent dalam Sistem Peradilan Inggris dapat penulis jelaskan bahwa Judge’s akan Rules. The rights to remain silent dalam suatu pertama kali dikodifikasi pada tahun 1912 dalam Tersangka/terdakwa atau tidak percobaan kejahatan mempunyai suatu pilihan apakah ia memberikan memberikan fakta/keterangan dalam proses pemeriksaan. Sistem Accusatoir menempatkan terangka dalam proses pemeriksaan pendahuluan dan pemeriksaan di muka sidang-sidang pengadilan sebagai subjek hukum yang memiliki hak (asasi) dan kepentingan yang harus dilindungi. suatu kesimpulan yang merugikan bagi terdakwa dapat ditarik pada kondisi tertentu antara lain : 1) Kegagalan/kesalahan dalam menyebutkan/ . Dalam sistem hukum Common Law. Pelaksanaan precedent di Inggris menganut “the binding precedent” atau precedent yang mengikat.56 hakim-hakim terdahulu (senior). berdasarkan Criminal Justice and Public Order Act 1994. Sehingga dalam sistem hukum Common Law.

isi. 2) Kegagalan/kesalahan untuk memberikan keterangan/fakta saat proses persidangan atau saat menjawab berbagai pertanyaan yang diajukan. tempat atau segala hal yang berhubungan dengan perkara tersebut. berikut digambarkan alur kerangka pemikiran sebagai berikut : . pelaku.Tindak Pidana Sidang di Pengadilan Terdakwa tidak Menjawab pertanyaan dakwa Menjawab Pembuktian oleh Penuntut Umum pertanyaan 57 memberikan berbagai fakta atau keterangan yang disadari setelah keterangan tersebut diberikan. Di Inggris tidak terdapat konvensi-konvensi yang mengatur mengenai Rights to remain silent. B. Kerangka Pemikiran Untuk memperjelas alur berpikir penulisan hukum ini. 4) Kesalahan dalam menyebut tempat terkait perkara. 3) Kegagalan/kesalahan dalam menyebutkan objek.

Dalam rangka mengemban asas praduga tidak bersalah dan prinsip akusatir tersebut. KUHAP memberikan seperangkat hak-hak bagi terdakwa atau tersangka yang wajib dihormati dan dilindungi. Aparat penegak hukum diharapkan menggunakan prinsip akusator dan menjauhkan diri dari pemeriksaan yang bersifat inkuisitur yang menempatkan tersangka atau terdakwa sebagai objek dalam setiap pemeriksaan. salah satunya adalah hak terdakwa untuk tidak menjawab pertanyaan pada setiap tahap . 1 Bagan Kerangka Pemikiran Keterangan : Dalam proses peradilan di Indonesia dalam menerapkan hukum acara pidana tidak bisa dilepaskan dari asas-asas yang melekat dalam hukum acara pidana itu sendiri. dan salah satu asas yang harus dijunjung tinggi dalam menjalankan due process of law adalah asas praduga tidak bersalah atau presumption of innocence untuk menghormati hak-hak tersangka atau terdakwa.Perbandingan dalam SistemRemain Silent dan Inggris Rights to Hukum Indonesia Persamaan/Perbedaan 58 Gambar.

.59 pemeriksaan. menganut system hukum Common Law yang memiliki perbedaan mendasar dengan system hukum Civil Law (Indonesia). Kondisi demikian tentu saja akan mempengaruhi sikap dan sudut pandang hakim dalam memberikan pertimbangan hukumnya dalam putusan yang akan dijatuhkan kepada terdakwa. termasuk dalam hal penempatan dan perlindungan hak-hak (asasi) tersangka/terdakwa pada proses pemeriksaan bahwa terkadang tersangka/terdaka bersikap diam (Rights to Remain Silent). Ada kemungkinan factor-factor internal atau eksternal tertentu yang menyebabkan terdakwa enggan menjawab pertanyaan. Dalam penelitian ini diharapkan dapat diketahui masalah pengaturan tentang hak untuk diam (Rights to Remain Silent). dipaksa dan lain sebagainya. dilihat dari sisi persamaan maupun perbedaannya. merasa bersalah. baik dalam ketentuan peradilan pidana di Inggris maupun Indonesia. sikap diam terdakwa yang tidak membenarkan atau membantah pertanyaan dan/atau pernyataan justru dapat dianggap oleh majelis hakim sebagai upaya untuk menutupi tindak pidana yang dilakukan atau dengan kata lain terdakwa berbelit-belit dalam mengungkapkan fakta. Sedangkan di Inggris. disamping mempertimbangkan setiap alat bukti yang ada. malu. misalnya takut. hal ini tidak menutup kemungkinan akan memperberat putusan yang dijatuhkan oleh Majelis Hakim. selain mempersulit penuntut umum untuk membuktikan dakwaannya juga justru merugikan terdakwa dalam mengajukan pembelaan atau pledoi. Penggunaan hak ini sebenarnya memang tidak efektif untuk mengungkap tindak pidana yang didakwakan kepada seorang terdakwa. diancam oleh pihak tertentu. Tentu ada perbedaan bagi hakim dalam menghadapi tersangka/terdakwa yang bersikap diam tentu berbeda antara hakim di Indonesia dengan hakim di Inggris dan perbedaan mendasar kedua system ini berpengaruh terhadap putusan yang dijatuhkan kepada tersangka/terdakwa.

Perbandingan Pengaturan Hak untuk Tidak Menjawab (Rights to remain silent ) bagi terdakwa dalam Peradilan Pidana antara Indonesia (Civil Law) dan Inggris (Common Law) Berbicara mengenai pengaturan hak untuk tidak menjawab (Rights to remain silent ) bagi terdakwa dalam hokum acara pidana .60 BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A.

Dari sini timbul kesadaran akan pentingnya mempelajari perbandingan system hukum untuk memperoleh pemahaman yang komprehensif tentang system hukum yang ada di dunia secara global guna memperoleh manfaat internal yaitu mengadopsi hal-hal positif guna pembangunan hukum nasional. Namun praktek seiring dengan perjalanan waktu. nampaknya penerapan sitem hukum civil law di Indonesia mulai mengalami pergeseran. masih banyak ketentuan hukum peninggalan Belanda yang masih digunakan sebagai hukum positif. yaitu mengutamakan kodifikasi hukum dan Undangundang/hukum tertulis sebagai sumber hukum utama untuk menjamin asas legalitas dan kepastian hukum. Maupun manfaat eksternal yaitu dapat mengambil sikap yang tepat dalam melakukan hubungan . Hal ini disebabkan karena Indonesia terlalu lama dijajah oleh Belanda yang kemudian menerapkan system hukum Eropa dengan asas konkordansi di Hindia Belanda seabgai Negara jajahannya. Perkembangan system hukum di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari system hukum civil law atau system Eropa Kontinental. tidak terlepas dengan adanya system peradilan pidana itu sendiri di masing-masing Negara. Bahkan hingga kini setelah lebih dari setengah abad Indonesia merdeka. Terlebih setelah adanya akademisi maupun praktisi hukum dari Indonesia yang belajar hukum di Negara-negara yang menganut system Common law seperti Inggris.61 Indonesia dan Indonesia. Sebagai contoh KUHP (Kitab UndangUndang Hukum Pidana) dan HIR (Het Herziene Inlands Reglement atau Hukum acara perdata) yang banyak dipengaruhi oleh system hukum civil law. terutama setelah adanya pengaruh globalisasi di segala bidang kehidupan berbangsa dan bernegara.

Namun sejak 1986 yang menentukan apakah perkara yang disidik polisis dapat diajukan ke pengadilan atau tidak adalah Jaksa yang tergabung dalam Crown Prosecution Service (CPS). Sedangkan perkara yang agak berat dilakukan oleh pengacara yang disebut soliocitor. Karakteristik Sistem hokum di Inggris terkait Hukum pidana dan acara Pidana Pertama. Padahal menurut system civil law sumber hukum utama adalah Undangundang dan hakim tidak terikat oleh putusan hakim sebelumnya meskipun dalam perkara yang sama. Branch prosecutor (di Indonesia setingkat Kepala Kejaksaan Negeri). senior Crown prosecutor. dan Chief prosecutor (setingkat kepala kajaksaan tinggi). Dalam peradilan yang ada di Inggris. Dan perkaraperkara yang berat disidangkan di pengadilan tinggi (tingkat banding) dengan penuntut umum pengacara yang disebut Barrister. assistan branch CPS. proses penuntutan bagi perkara-perkara ringan di inggris dilakukan oleh Polisi sendiri (Police prosecutor).62 hukum dengan Negara lain yang berbeda system hukumnya Pergeseran itu antara lain mulai diakuinya sumber hukum Juriprudensi yaitu putusan hakim (judge made law) yang telah berkekuatan hukum tetap oleh hakim-hakim di Indonesia. Karakteristik itu adalah: 1. Secara garis besar dapat dijelaskan karakteristik peradilan di kedua Negara yaitu peradilan di Inggris dan Indonesia. Dan di Inggris terdapat 31 kejaksaan atau CPS yang terdiri dari Crown Prosecutor. Sistem hukum Inggris (Common Law Sistem) . sampai akhir 1986.

Legislation.63 bersumber pada : a. merupakan sumber hukum yang tertua di inggris. kemudian dikenal sebagai Parlemen (Parliament). Selama abad ke 13 dan 14 Grand Council kemudian dirombak dan terdiri dari dua badan yaitu. Sebelum abad ke 15. Tumbuh dan berkembang dari kebiasaan suku Anglo Saxon yang hidup pada abad pertengahan. Pada masa itu undang-undang dikeluarkan oleh Raja dan “Grand-Council” (terdiri dari kaum bangsawan terkemuka dan Penguasa Kota London). telah ditetapkan bahwa di masa yang akan datang semua undang-undang harus memperoleh (Reformasi persetujuan Parlemen sejak tahun 1832 dengan Undang-Undang Pembaharuan . berarti undang-undang yang dibentuk melalui parleman. undang-undang yang dibentuk itu disebut statutes. legislation bukanlah merupakan salah satu sumber hukum di Inggris. Lords dan Common. b. Sampai abad ke 17. Pada abad ke 14 Custom melahirkan “common law” dan kemudian digantikan dengan precedent. Raja dapat bertindak tanpa melalui Parlemen. Lahir dan berasal dari (sebagian) hukum romawi. Custom. Akan tetapi sesudah abad ke 17 dengan adanya perang saudara di Inggris.

Sebagai konsekwensi dipergunakannya case-law dengan doktrin precedent yang merupakan ciri utama maka sistem hukum Inggris tidak sepenuhnya menganut asas legalitas. Seluruh hukum kebiasaan yang berkembang dalam masyarakat tidak melalui Parlemen. Sejak saat itu Legislation merupakan salah satu sumber hukum yang penting sejak Code Napoleon (1805) dikembangkan. dan legislation dipergunakan sebagai alat pembaharuan hukum di Inggris. akan tetapi dilakukan oleh para hakim. Inggris telah mengambil manfaat dari apa yang terjadi di Perancis. c. sebagai salah satu sumber hukum Inggris mempunyai karakteristik yang utama. sehingga lahirlah doktrin Precedent sampai sekarang. Setiap putusan hakim di inggris merupakan precedent bagi hakim yang akan datang. Case-law. maka kekuasaan hakim di dalam sistem hukum Common Law sangat luas dalam memberikan penafsiran terhadap suatu ketentuan yang tercantum dalam undang-undang.64 Act). Kedua. Bahkan hakim di Inggris . sehingga dikenal dengan istilah ”Judge-made law”. House of Common merupakan suatu badan yang demokratis dan mewakili seluruh penduduk Inggris dan karena itu merupakan wakil perasaan keadilan seluruh rakyat Inggris. Ketiga. Bertitik tolak dari doktrin precedent tersebut.

dan karenanya perbuatan tersebut dianggap merupakan dosa. seorang hakim terkemuka di Inggris memberikan komentar atas doktrin MensRea. Pada sistem hukum Common Law. Sedangkan Jerome Hall. yang berarti: “suatu perbutan tidak mengakibatkan seseorang bersalah kecuali jika pikiran orang itu jahat”. Ajaran Kesalahan dalam sistem hukum Common Law (Inggris) dikenal melalui doktrin Mens-Rea yang dilandaskan pada maxim: “Actus non est reus nisi mens sit rea”. Dilihat dari segi kekuasaan hakim Inggris yang sangat luas dalam memberikan penafsiran tersebut. Ajaran Mens-Rea ini dalam sistem hukum Inggris dirumuskan berbeda-beda tergantung dari kwalifikasi delik yang dilakukan seseorang. Dalam hal demikian hakim dapat menjatuhkan putusannya sesuai dengan kebiasaan-kebiasaan atau melaksanakan asas precedent sepenuhnya.65 diperbolehkan tidak sepenuhnya bertumpu pada ketentuan suatu undang-undang jika diyakini olehnya bahwa ketentuan tersebut tidak dapat diterapkan dalam kasus pidana yang sedang dihadapinya. mengatakan bahwa Means-Rea adalah “a voluntary doing of morally wrong act forbidden by penal law”.(Roeslan . doktrin Mens-Rea secara klasik diartikan setiap perkara pelanggaran hukum yang dilakukan adalah disebabkan karena pada diri orang itu sudah melekat sikap batin yang jahat (evil will). dengan mengatakan: “In order that an act should be punishable it must be morally blame-worthy”. sehingga dapat membentuk hukum baru. maka nampaknya sistem hukum Common Law kurang memperhatikan kepastian hukum. Lord Denning. Keempat.

2000: 37) Kelima. Dewasa ini dalam peraturan perundangan modern unsur “mens-rea” ini tidak lagi dianggap sebagai syarat utama.66 Saleh. Keenam. adalah kejahatan-kejahatan kurang berat yang hanya dapat diadili oleh suatu pengadilan (magistrate court) tanpa .1982:23 sebagaimana telah dikutip oleh Romli Atmasasmita. Namun demikian unsur “mens-rea” ini adalah merupakan unsur yang mutlak dalam pertanggungjawaban pidana dan harus ada terlebih dulu pada perbuatan tersebut sebelum dilakukan penuntutan (Roeslan Saleh. Dalam sistem Common Law (Inggris) pertanggungjawaban pidana tergantung dari ada atau tidaknya: a) actus-reus dan b) mens-rea. misalnya pada delik-delik tentang ketertiban umum atau kesejahteraan umum. Sistem Common Law membedakan tindak pidana (secara klasik) dalam: Kejahatan berat atau “felonies”. kejahatan ringan atau “misdemeanors” dan kejahatan terhadap negara atau “treason”.1982:28). adalah kejahatan- kejahatan berat yang hanya dapat diadili dengan sistem Juri melalui pengadilan yang disebut Crown Court. Sistem hukum Inggris dan negara-negara yang menganut sistem Common Law tidak mengenal perbedaan antara Kejahatan dan Pelanggaran. b) Summary Offences. Setelah dikeluarkannya “Criminal Law Act” (1967) pembedaan sebagai berikut: a) Indictable Offences.

c) Arrestable Offence. Jika kesemua tuntutan tersebut terbukti di muka sidang pengadilan maka pelaku tindak pidana tersebut dijatuhi sekaligus semua ancaman hukuman yang . Klasifikasi terbaru mengenai tindak pidana dalam sistem hukum pidana Inggris dicantumkan dalam criminal law act tahun 1977 yang akan diuraikan secara khusus dalam bab mengenai klasifikasi Tindak Pidana. Ketujuh. Kedelapan. Penangkapan terhadap pelaku tersebut dilakukan tanpa surat perintah penangkapan.67 dengan sistem Juri. Sistem pemidanaan tersebut memungkinkan seseorang dituntut dan dijatuhi pidana karena melakukan lebih dari satu tindak pidana. Sistem accusatoir atau Adversary sistem menempatkan tersangka dalam proses pemeriksaan pendahuluan dan pemeriksaan di muka sidang-sidang pengadilan sebagai subjek hukum yang memiliki hak (asasi) dan kepentingan yang harus dilindungi. Sistem pemidanaan yang berlaku pada umumnya negara-negara yang menganut sistem Common Law adalah bersifat kumulatif. adalah kejahatan-kejahatan yang diancam dengan hukuman di bawah 5 (lima) tahun kepada seorang pelaku kejahatan yang belum pernah melakukan kejahatan. Sistem hukum acara pidana yang berlaku di negara-negara Common Law pada prinsipnya menganut “sistem Accusatoir” atau yang secara populer dikenal dengan sebutan “Advesary Sistem”.

Pada tahun 1994 telah terjadi pergeseran system akusator menjadi system inquisitor dalam hukum acara pidana Inggris. tugas jaksa dan pengacara dalam persidangan adalah meyakinkan juri bahwa terdakwa bersalah atau tidak. Hal ini dilatarbelakangi karena polisi di Inggris kesulitan untuk mengungkap atau menyelesaikan berbagai kasus yang menimbulkan ancaman serius bagi masyarakat terutama terorisme. maka tugas hakim di pengadilan lebih berat karena selain harus menentukan benar slahnya terdakwa juga menentapkan hukuman (vonis)nya. adat istiadat atau kebiasasn masyarakat (custom) yang dikembangkan berdasarkan putusan pengadilan mempunyai kedudukan yang sangat kuat karena berlaku asas stare decisis atau asas binding force of precedent. Bagian putusan hakim yang harus diikuti dan mengikat adalah bagian pertimbangan hukum yang disebut sebagai ratio decidendi sedangkan hal selebihnya yang disebut obiter dicta tidak mengikat. Dalam system peradilan Inggris benar salahnya terdakwa ditentukan oleh juri yang direkrut dari masyarakat biasa. Asas ini mewajibkan hakim untuk mengikuti putusan hakim yang ada sebelumnya. Berbeda dengan system civil law yang dianut Indonesia sebagai kelanjutan dari system hukum yang dianut Belanda. Dapat dijelaskan bahwa dalam system common law seperti di Inggris. 1990: 23). (Barda Nawai Arief. Karena tersangka berlindung dibalik kekebalan hukum . Tugas hakim hanya memastikan persidangan berjalan sesuai prosedur dan menjatuhkan hukuman sesuai hukum. Oleh karena itu.68 dikenakan kepadanya.

69 yang diberikan uleh Undang-Undang antara lain hak untuk diam (right to remain silent). organisasi. Perubahan tersebut dilihat dari konteks keberadaan system hukum yang ada di dunia (civil law dan common law) ternyata saat ini bukan saatnya lagi memperbebatkan secara tajam perbedaan antara kedua system hukum tersebut. ( Moch. khususnya dalam hukum pidana dan acara pidana Indonesia Pertama. d. Undang-undang. Undang-Undang Dasar. b. Kedua. Kebiasaan case-law. 2) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (Code of Crime Procedure atau Wetboek van Strafvordering). Karakateristik kedua dari sistem hukum Belanda (Civil Law Sistem) adalah dianutnya asas legalitas atau “the . Karakteristik Sistem Hukum Belanda pada umumnya. kekuasaan dan tugas-tugas Pengadilan dan Sistem Penuntutan (Judicial Act atau Wet op de Rechterlijke Organisatie). Sistem hukum Belanda (Civil Law Sistem) bersumber pada : a. 2008: 4) 2. c. 3) Undang-Undang tentang Susunan. Yuliadi. Doktrin Peraturan perundang-undangan yang mengatur hukum pidana umum adalah sebagai berikut : 1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (Penal Code atau Wetboek van Strafrecht).

2000 : 48). jaksa dan hakim. Mengingat penafsiran yang bersifat kaku terhadap ketentuan undang-undang menurut asas legalitas ini. Dianutnya asas legalitas sebagaimana diuraikan dalam . d) Mentapkan bahwa hanya pidana yang tercantum secara jelas dalam undangundang yang boleh dijatuhkan. Undang-undang dimaksud adalah hasil dari perundingan Pemerintah Parlemen. seperti.70 principles of legality”. maka peranan putusan Mahkamah Agung menjadi lebih penting (Romli Atmasasmita. Dalam praktik penyelesaian perkara pidana di negeri belanda prinsip legalitas dan penafsiran yang diperbolehkan dari prinsip tersebut diserahkan sepenuhnya kepada para pelaksana atau praktisi hukum. b) Ketentuan undang-undang harus ditafsirkan secara harfiah dan pengadilan tidak suatu diperkenankan memberikan penafsiran analogis untuk menetapkan suatu perbuatan sebagai tindak pidana. c) Ketentuan undang-undang tidak berlaku surut. Ketiga. Asas ini mengandung makna sebagi berikut: a) Tiada suatu perbuatan merupakan suatu tindak pidana. kecuali telah ditentukan dalam undang-undang terlebih dahulu.

sangat pidana berpengaruh (criminal terhadap liability soal atau pertanggungjawaban strafbaarheid). Perbuatan pelanggaran hukum dari pelaku harus memenuhi syarat sebagai berikut : a) Bahwa perbuatan tersebut (berbuat atau tidak berbuat) dilakukan seseorang. Sistem hukum pidana belanda mengenal pembedaan antara Kejahatan (Misdrijven) dan Pelanggaran . Syarat umum bagi adanya pertanggungjawaban pidana menurut hukum pidana Belanda adalah adanya gabungan antara perbuatan yang dilarang dan pelaku yang diancam dengan pidana. Kelima. Dianutnya asas legalitas dalam sistem hukum pidana Belanda mengakibatkan keterikatn hakim terhadap isi ketentuan undang-undang dalam menyelesaikan perkara pidana. c) Bersifat melawan hukum. Hakim tidak diperbolehkan memperluas penafsiran terhadap isi ketentuan undang-undang sedemikian rupa sehingga dapat membentuk delik-delik baru. Dalam soal pertanggungjawaban pidana sistem hukum pidana Belanda (Civil Law) menganut asas kesalahan pada perbuatannya (dodex-strafrecht). Keempat.71 butir kedua diatas. b) Diatur dalam ketentuan undang-undang termasuk lingkup definisi pelanggaran. Ketiga syarat bagi adanya suatu pertanggungjawaban pidana tersebut di atas sesungguhnya merupakan suatu konstruksi gabungan dari syarat-syarat adanya sifat pertanggungjawaban pidana dan kekecualian-kekecualian dari pertanggungjawaban pidana.

Sistem peradilan yang dianut di semua negara yang berlandaskan “Civil Law Sistem” pada umumnya adalah sistem Inquisatoir. Sedangkan Mala prohibita. kejahatan memperoleh ancaman hukum yang lebih berat dari pelanggaran. suatu perbuatan yang dilarang.72 (Overtredingen). Pembedaan antara kejahatan karena undang-undang menetapkan sebagai perbuatan yang dilarang. Sistem pemidanaan yang dianut pada umumnya di negara-negara yang berlandaskan Civil Law Sistem adalah sistem pemidanaan alternatif dan alternatif-kumulatif. dengan batas minimum dan maksimum anaman pidana yang diperkenankan menurut undang-undang. Ketujuh. Pembedaan anatara kejahatan dan pelanggarab tersebut semula didasarkan atas pertimbangan tentang adanya pengertian istilah “rechtedelict” dan ”wetdelict”. Keenam. Perbedaan kejahatan dan pelanggaran dewasa ini didasarkan atas ancaman hukumannya. Sistem Inquisatoir menempatkan tersangka sebagai objek pemeriksaan baik pada tahap pemeriksaan pendahuluan maupun pada tahap pemeriksaan di muka sidang pengadilan. Pembedaan dimaksud berasal dari perbedaan antara mala in se dan mala prohibita yaitu perbedaan yang dikenal dalam hukum Yunani. Sesungguhnya apabila kita telusuri karakteristik yang melekat pada kedua sistem hukum sebagaimana telah diuraikan di atas. Mala in se adalah perbuatan yang disebut sebagai kejahatan karena menurut sifatnya adalah jahat. pendekatan dari segi historis. khususnya mengenai . namun perbedaan tersebut tidak dianut lagi dalam doktrin.

Dapat dijelaskan bahwa peradilan pidana di Indonesia sebagaimana diatur dalam KUHAP (Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana) atau Undang-Undang No. 4. sebenarnya identik dengan penegakan hukum pidana yang merupakan suatu system kekuasaan/kewenangan dalam menegakkan hukum pidana. 8 tahun 1981. System penegakan hukum pidana ini sesuai ketentuan dalam KUHAP dilaksanakan oleh sub system yaitu: 1. kekuasaan penuntutan oleh lembaga penuntut umum atau kejaksaan. 2000 :50).73 perkembangan hukum pidana di Eropa Continental yang menganut sistem “Civil Law” lebih menonjol dan lebih menampakkan dirinya keluar dari batas wilayah yuridiksi sistem “Common Law”. Sebagai contoh penggunaan dan pemakaian sistem hukum Belanda di Indonesia dan sestem hukum Inggris dan Malaysia atau Singapura. Kekuasaan pelaksanaan hukuman oleh aparat pelaksana eksekusi (jaksa dan lembaga pemasyarakatan) Keempat subsistem itu merupakan satu kesatuan system . 2. 3. Kekuasaan penyidikan oleh lembaga kepolisian. Kekuasaan mengadili oleh badan peradilan atau hakim. Satu-satunya karakteristik yang sama antara kedua sistem hukum (legal sistem) tersebut adalah bahwa keduanya menganut falsafah dan doktrin liberalisme (Romli Atmasasmita. Perkembangan penerapan sistem “Civil Law” di negara dunia ketiga pada awalnya dipaksakan jika dibandingkan dengan penerapan penggunaan sistem “Common Law” di negaranegara bekas jajahan-jajahannya.

Karena disana (dalam hukum acara pidana) telah diatur hak dan kewajiban masing-masing penegak hukum dalam sub system peradilan pidana terpadu maupun hak-hak dan kewajiban tersangka/terdakwa. Dengan cara melaksanakan tugas dan wewenang masing-masing sebagaimana telah diberikan uleh undang-undang. Dalam hukum system kita. kata putus terakhir ada pada hakim. pengadilan dan lembaga pemasyarakatan seharusnya konsisten menjaga agar system berjalan secara terpadu.. masing-masing memiliki kelebihan dan kelemahan. advokat. Melihat dari penerapan system juri di Inggris dan hakim di Indonesia. Menilik system peradilan pidana terpadu yang diatur dalam KUHAP maka keempat komponen penegakan hukum kepolisian. bagaimana pendidikan. Apapun yang dikemukakan oleh jaksa. berapa usianya. Predisposisi psikologis hakim menentukan kualitas putusan. dan lain . sebaiknya didorong agar menghasilkan putusan-putusan yang progresif. ekonomi. Karena dalam system civil law yang kita anut. dan terdakwa dalam persidangan. kulturalnya. tetapi psikologis. Undang-undang merupakan sumber hukum tertinggi. Sejak system ini kita memberi kekuasaan besar kepada hakim. kejaksaan. bagaimana latar belakang social. Siapa hakimnmya.74 penegakan hukum pidana yang integral atau sering disebut dengan istilah integrated criminal justice system atau system peradilan pidana terpadu. Jika sudah begini. dimensi persoalan sebenarnya tidak lagi murni hukum. masing-masing ada karakteristiknya. System juri maupun system hakim. putusan akhirnya diserahkan kepada hakim dan ia akan memutus berdasar keyakinannya.

75 menjadi acuan penting. hak untuk mendapatkan bantuan hukum dan hak untuk mendapatkan kunjungan keluarganya. hak untuk segera mendapatkan pemeriksaan oleh pengadilan dan mendapatkan putusan yang seadiladilnya. Ilmu hukum perilaku (behavioral jurisprudence) banyak meneliti masalah ini. Salah satu asas terpenting dalam hukum acara pidana ialah asas praduga tidak bersalah. terakhir diubah dengan Undang-Undang No. Hal yang perlu dibenahi adalah sikap karakter intelektual dan moral dari hakim kita saat ini demi terciptanya putusan yang adil. Sebagai seseorang yang belum dinyatakan bersalah. maka ia mendapatkan hak-hak seperti : hak untuk segera mendapatkan pemeriksaan dalam fase penyidikan. hak untuk diberitahu tentang apa yang disangkakan/ didakwakan kepadanya dengan bahasa yang dimengerti olehnya. 14 tahun 1970 tentang KetentuanKetentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman sebagaimana diubah dengan Undang-Undang nomor 4 tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman. Tidak kalah pentingnya sebagai perwujudan . Asas tersebut dicantumkan di dalam pasal 8 Undang-Undang No. hak untuk menyiapkan pembelaan hak untuk mendapatkan juru bahasa. yaitu predisposisi psikologis hakim dihubungkan dengan putusannya. maka sudah sewajarnya bahwa tersangka/ terdakwa dalam proses peradilan pidana wajib mendapatkan hak-haknya. Hal yang terpenting tanpa adanya system juri karena mungkin justru nantinya jadi mengacau proses peradilan karena adanya system baru yang diterapkan di Indonesia. Bersumber pada asas tidak bersalah. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan kehakiman. Sehingga menurut saya tetap saja dipertahankan system hakim yang telah ada.

76 asas praduga tidak bersalah ialah bahwa seseorang terdakwa tidak dapat dibebani kewajiban pembuktian. untuk melakukan proses pidana terhadap seseorang berdasar deskriptif faktual dan bukti permulaan yang cukup. maka penuntut umumlah yang dibebani tugas membuktikan kesalahan terdakwa dengan upaya-upaya pembuktian yang diperkenankan oleh undangundang. kendati secara universal asas praduga tidak bersalah diakui dan dijunjung tinggi. Sikap itu paling tidak dapat disimpulkan dari ketentuan Pasal 17 KUHAP yang menyebutkan. Tidak boleh berhenti di tengah jalan. Penuntut Umum adalah pihak yang mengajukan dakwaan kepada terdakwa. . harus ada suatu praduga bahwa orang itu telah melakukan suatu perbuatan pidana yang dimaksud. tetapi secara legal formal Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) kita juga menganut asas praduga bersalah. Karena itu. praduga tidak bersalah bersifat legal normatif dan tidak berorientasi pada hasil akhir. sampai tahap peradilan. Intinya. Dalam konteks hukum acara pidana di Indonesia. penyidikan. terhadapnya harus dilakukan proses hukum mulai dari tahap penyelidikan. Perintah penangkapan dilakukan terhadap seseorang yang diduga keras melakukan tindak pidana berdasarkan bukti permulaan yang cukup. Artinya. berdasar fakta-fakta yang ada si tersangka akhirnya akan dinyatakan bersalah. Artinya. Asas praduga bersalah bersifat deskriptif faktual. penuntutan. Asas praduga tidak bersalah adalah pengarahan bagi para aparat penegak hukum tentang bagaimana mereka harus bertindak lebih lanjut dan mengesampingkan asas praduga tidak bersalah dalam tingkah laku mereka terhadap tersangka.

dan/atau dihadapkan di depan pengadilan wajib dianggap tidak bersalah sebelum ada putusan pengadilan yang menyatakan kesalahannya. Hakikat asas ini cukup fundamental sifatnya dalam Hukum Acara Pidana. 2007 : 13). Rumusan kalimat dalam Pasal 8 ayat (1) Undang-Undang No. Karena itu. Pengadilan Tinggi dan Mahkamah Agung) dan belum memperoleh kekuaan hukum tetap (inkracht van gewijsde). karena hak ini tidak termasuk ”non-derogable rights” seperti halnya hak untuk hidup atau hak untuk tidak dituntut dengan hukum yang berlaku surut (non-retroaktif). ditahan. asas ini hanya dimuat dalam Pasal 8 UU Nomor 48 tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman.48 Tahun 2008 tentang Kekuasaan Kehakiman (2004). selama proses peradilan masih berjalan (Pengadilan Negeri. baik dari sisi formil maupun sisi materiil. dituntut. dan telah memperoleh kekuatan hukum tetap”. Bahkan UUD 1945 dan perubahannya.77 Hak seseorang tersangka untuk tidak dianggap bersalah sampai ada putusan pengadilan yang menyatakan sebaliknya (praduga tak bersalah) sesungguhnya juga bukan hak yang bersifat absolut. sama sekali tidak memuat hak. dan Penjelasan Umum KUHAP adalah: ”Setiap orang yang disangka. dan di dalam Penjelasan Umum UU Nomor 8 tahun 1981 tentang KUHAP. Dalam praktik peradilan.(Lilik Mulyadi. karena ketentuan asas praduga tidak bersalah sangat tampak eksistensinya dalam Pasal 8 ayat (1) Undang-Undang Nomor 48 tahun 2009 tentang kekuasaan kehakiman. manifestasi asas ini dapat diartikan lebih lanjut. ditangkap. praduga tak bersalah . terdakwa belum dapat dikategorisasikan bersalah sebagai pelaku .

dalam Bill of Rights (1648). Asas hukum praduga tak bersalah. maka kepada tersangka atau terdakwa diberikan hak oleh hukum untuk tidak memberikan keterangan yang akan memberatkan/ merugikan dirinya di muka persidangan (the right of non-self incrimination).78 dari tindak pidana sehingga selama proses peradilan pidana tersebut haruslah mendapatkan haknya sebagaimana diatur undang-undang. Konsekuensi logis dari asas praduga tak bersalah ini. khususnya di Inggris.(Lilik Mulyadi. asas hukum ini merupakan prasyarat utama untuk menetapkan bahwa suatu proses telah berlangsung jujur. yaitu: hak untuk segera mendapatkan pemeriksaan dalam tahap penyidikan. Prinsip tersebut telah menjadi bagian dari ”budaya (masyarakat) Inggris”. hak untuk memperoleh bantuan hukum. yang telah mengalami perubahan cepat sesuai dengan perubahan masyarakatnya dan perkembangan internasional yang terjadi sejak pertengahan abad 19 sampai saat ini. dan lain sebagainya. Asas hukum ini dilatarbelakangi oleh pemikiran individualistik –liberalistik yang berkembang sejak pertengahan abad ke 19 sampai saat ini. dan untuk tidak memberikan jawaban baik dalam proses penyidikan maupun dalam . Prinsip ”due process” yang telah melembaga dalam proses peradilan sejak dua ratus tahun yang lampau. dan tidak memihak (due process of law). adil. sejak abad ke 11 dikenal di dalam sistem hukum Common Law. 2007 : 13). hak segera mendapatkan pemeriksaan oleh pengadilan dan mendapatkan putusan seadil-adilnya. Asas praduga tak bersalah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari prinsip due process tersebut. Di dalam sistem peradilan pidana (criminal justice system/CJS) berdasarkan sistem hukum Common Law (sistem adversarial/ sistem kontest).

(Romli Atmasasmita.79 proses persidangan( the right to remain silent). Hal ini menciptakan apa yang disebut dengan istilah dakwaan kejam dimana terdakwa ini menghadapi suatu prospek sumpah palsu (yang diyakini sebagai dosa) (jika mereka berbohong di bawah sumpah untuk melindungi diri mereka sendiri). hukuman yang berat karena menghina pengadilan (jika mereka menolak untuk menjawab). Penolakan terhadap prosedur Pengadilan Star Chamber dan Komisi Tinggi akhirnya mengakibatkan munculnya prinsip. "bahwa tidak ada seorangpun yang terikat untuk memberatkan dirinya. 12. 2007) Baik alasan maupun sejarah dibalik hak untuk diam sepenuhnya jelas. pada setiap kasus ( tak . menurut beberapa catatan sejarah. Orang-orang tersebut yang datang ke pengadilan ini dipaksa bersumpah untuk jujur menjawab pertanyaanpertanyaan yang diajukan kepada mereka tanpa mengetahui apa yang didakwakan. menurut ahli hukum AS dan hukum bukti ahli John Henry Wigmore. hak untuk diam disediakan oleh hukum sebagai reaksi dari masyarakat untuk ekses sistem pemeriksaan tertutup oleh kerajaan di pengadilan ini.. Setelah revolusi parlemen pada akhir 1600-an. Ada pepatah dalam bahasa Latin yang berbunyi “nemo ipsum tenetur se accusare” (tidak ada seorangpun yang terikat untuk menuduh dirinya sendiri) menjadi seruan untuk tokoh agama dan pembangkang politik yang dituntut di Star Chamber dan Komisi Tinggi Inggris abad ke-16. atau mengkhianati mereka "alami" kewajiban mempertahankan diri (jika mereka mengatakan yang sebenarnya untuk menghormati sumpah mereka).

standar pergeseran bukti. dan umumnya sistem diam tidak percaya kepada terdakwa. praktek peradilan memeriksa terdakwa dalam sidang (sebagai berbeda dari pemeriksaan Pada sidang sebelumnya). Di Inggris. yang juga mewarisi tradisi hukumnya dari Inggris. Di Amerika Serikat. Hal ini diperpanjang selama Restorasi Inggris (pada tahun 1660 ) untuk menyertakan "saksi biasa. Hal ini dianggap sebagai salah satu pengamanan yang paling . Namun. atau dalam setiap Pengadilan (bukan hanya dalam gerejawi atau Bintang Chamber pengadilan) ". Namun demikian. itu ada sebelum Revolusi Amerika. tidak benar-benar menghilang abad kesembilan belas. hak untuk diam tetap diabadikan di common-tradisi hukum yang diwarisi dari Inggris. hak untuk diam itu tidak selalu menjadi kenyataan praktis untuk semua terdakwa dalam pengadilan Inggris untuk beberapa periode sesudahnya. dimana telah dilonggarkan sedikit). itu tetap menjadi hak dasar yang tersedia bagi para terdakwa dan telah menjadi diterima dalam praktek selama beberapa abad.80 peduli betapa benar dilembagakan). diperbolehkan untuk memberikan bukti atas sumpah bahkan jika mereka ingin .juga dikatakan sebagai reaksi terhadap ketidakadilan dari Star Chamber dan Komisi Tinggi. dan tidak hanya pada pihak-pihak yang didakwa. Dengan akses terbatas ke penasihat hukum (seringkali tergantung pada status sosial terdakwa). mantan anggota. seorang penjahat yang tetap diam dituduh sering melakukan bunuh diri kiasan atau literal. Di Britania dan negara-negara Persemakmuran (dan termasuk di Irlandia. para terdakwa tidak hingga memasuki abad kedelapan belas.

hak untuk diam seperti dipraktikkan di Amerika hukum tidak berasal dari sana dan tidak menyebar ke bagian lain dari dunia.81 penting melindungi warga terhadap tindakan sewenang-wenang negara. dan itu diabadikan dalam Amandemen Kelima UndangUndang Dasar. Di Britania Raya. Jadi KUHAP tidak mengenal asas yang memberi hak kepada terdakwa untuk menolak menjawab pertanyaan. ''Dalam pemeriksaan pada tingkat penyidikan dan peradilan. yang pertama kali disebutkan dalam undang-undang Edward III di tahun 1354 dan berisi kata-kata yang serupa dengan Amandemen Kelima. KUHAP tidak menganut asas the right to remain silent (M. sementara masih mendukung praduga tak bersalah. karena ketika seseorang menjadi terperiksa/ terdakwa. 1988:725). Berlawanan dengan pandangan kadang-kadang diungkapkan di Amerika Serikat. Sedangkan. Pasal 52 KUHAP menyatakan. telah mengayunkan hak untuk diam sedikit kembali ke arah lain: tersangka diberitahu bahwa mereka memiliki hak untuk tetap diam.dan khususnya di negara-negara di mana telah terjadi kehadiran kolonial. akan menjadi sesuatu hal yang wajar dan diperkenankan untuk berbohong sesuai dengan asas the right to remain silent dan hak ingkar. namun kini juga memperingatkan bahwa apa saja yang tidak merek ungkapkan dalam interogasi tetapi kemudian dinyatakan di pengadilan dapat membahayakan pembelaan mereka. tersangka atau terdakwa berhak memberikan keterangan secara bebas kepada penyidik atau hakim''. undang-undang yang diperkenalkan pada dekade yang lalu. dalam beberapa kasus dapat ditarik kesimpulan. bersama dengan kata-kata "proses". tetapi berasal dari hukum Inggris . Dengan kata lain.Yahya Harahap. .

Pasal 117 KUHAP menyatakan bahwa keterangan tersangka dan atau saksi kepada penyidik diberikan tanpa tekanan dari siapapun dan atau dalam bentuk apa pun. Oleh karena itu.82 Menurut penjelasan Pasal 52 KUHAP. karena di dalam perundang-undangan hukum acara pidana kita yang baru ini adanya suatu pengakuan terdakwa tidaklah dipergunakan sebagai alat bukti lagi. Artinya keterangan tersangka/terdakwa hanya dapat dipergunakan bagi dirinya sendiri. suatu hak tersangka untuk tidak menjawab. Maka masing. Namun demikian sayangnya kedua Pasal ini tidak menyebutkan sama sekali tentang masalah keabsahan hasil penyidikan yang diperoleh dengan cara penyiksaan itu. supaya pemeriksaan dapat mencapai hasil yang tidak menyimpang dari yang sebenarnya. Oleh karena itu wajib dicegah adanya paksaan atau tekanan terhadap tersangka atau terdakwa. sebagaimana dimaksud dengan Pasal 189 ayat 3 KUHAP. maka tersangka atau terdakwa harus dijauhkan dari rasa takut. Selain itu. bahkan hanya menempati urutan terakhir sebagai alat bukti seperti dalam Pasal 184 ayat (1) KUHAP dengan penyebutan "keterangan terdakwa". Yaitu. Pasal 52 KUHAP maupun Pasal 117 KUHAP itu sebenarnya berkaitan erat dengan asas. bukan suatu "pengakuan terdakwa". harus dilaksanakan dengan asas keseimbangan sesuai Pasal 175 KUHAP yaitu pemeriksaan terdakwa di sidang pengadilan harus melindungi . Untuk menciptakan keseimbangan dan keselarasan kepentingan serta perlindungan kepentingan hukum para hakim dan terdakwa serta penasehat hukum.masing pihak harus menyadari bahwa pelaksanaan asas the right to remain silent.asas pemeriksaan keterangan terdakwa/ tersangka the right to remain silent.

kalau terdakwa tidak mau menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya. pemeriksaan terdakwa dititiksentralkan pada asas keseimbangan antara kepentingan terdakwa pada satu pihak dan kepentingan umum di .83 kepentingan terdakwa sebagai manusia yang memiliki hak.hak asasi dan kepentingan ketertiban masyarakat pada sisi lain tanpa mengorbankan hak. Selain itu. hakim ataupun penuntut umum tidak boleh mengartikan diamnya terdakwa sebagai tingkah laku dan perbuatan menghalangi dan mengganggu ketertiban sidang.hak asasi manusia demi mengejar kepentingan umum. dengan argumentasi yang matang dan cukup pertimbangannya. Hakim juga tidak boleh memaksa terdakwa untuk menjawab. Sebaliknya. Diamnya terdakwa harus dinilai secara kasuistis dan realistis. terdakwa seharusnya menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya. Yang boleh dilakukannya. Apalagi sampai mempertimbangkan dan menarik kesimpulan bahwa keengganan menjawab sebagai keadaan yang memberatkan kesalahan dan hukuman terdakwa. hanya “menganjurkan” terdakwa untuk menjawab. Hal ini dimaksudkan agar seorang yang bersalah mendapat hukuman yang sesuai dengan peraturan yang ada.Yahya Harahap. tidak mendapat hukuman yang tidak sepantasnya diberikan kepadanya. 1988:726). Dalam penerapan Pasal 175 KUHAP sebagai suatu keseimbangan. kita juga menghendaki seorang yang tidak bersalah. Terdakwa dalam kedudukannya sebagai orang yang diduga melakukan tindak pidana adalah anggota masyarakat ikut bertanggung jawab tegaknya hukum dalam kehidupan masyarakat (M. Berdasarkan asas yang telah dibahas di atas.

B. dan/atau dihadapkan di depan pengadilan wajib dianggap tidak bersalah sebelum ada putusan pengadilan yang . untuk mengungkap kebenaran yang sebenarnya dalam pemeriksaan. dituntut. Persamaan dan Perbedaan Pengaturan hak untuk tidak menjawab (Rights to remain silent) oleh terdakwa antara sistem peradilan Pidana Inggris dan Indonesia Sebelum membahas lebih lanjut tentang perbedaan dan persamaan tentang Pengaturan hak untuk tidak menjawab (Rights to remain silent) oleh terdakwa antara sistem peradilan Pidana Inggris dan Indonesia. Rumusan kalimat dalam Pasal 8 Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman. tidak semata. Salah satu asas terpenting dalam hukum acara pidana ialah asas praduga tak bersalah. Keberadaan Pasal 175 untuk melegalkan terdakwa tidak menjawab pertanyaan yang diajukan ketika pemeriksaan. Asas tersebut dicantumkan di dalam Pasal 8 Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang KetentuanKetentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman sebagaimana bersumber pada asas praduga tak bersalah. dan Penjelasan Umum Hukum Acara Pidana menyatakan bahwa “Setiap orang yang disangka. maka sudah sewajarnya bahwa tersangka atau terdakwa dalam proses peradilan pidana wajib mendapatkan hakhaknya.mata digunakan begitu saja karena terdakwa bisa dengan mudah lepas dari tanggung jawab tindak pidana yang dilakukan. ditangkap. ditahan. penulis akan menjelaskan hal-hal terkait Rights to remain silent. Mengingat adanya Rights to remain silent merupakan bentuk perlindungan hukum bagi terdakwa selama dalam proses dalam hukum acara pidana.84 pihak lain.

tetapi secara legal formal Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) juga menganut asas praduga bersalah. harus ada suatu praduga bahwa orang itu telah melakukan suatu perbuatan pidana yang dimaksud. Sebagai seseorang yang belum dinyatakan bersalah. Intinya.85 menyatakan kesalahannya. “Perintah penangkapan dilakukan terhadap seseorang yang diduga keras melakukan tindak pidana berdasarkan bukti permulaan yang cukup” artinya. karena ketentuan asas praduga tak bersalah sangat tampak eksistensinya dalam Pasal 8 Undang-Undang Nomor 48 tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman. penyidikan. (Lilik Mulyadi. Berdasarkan hukum acara pidana di Indonesia. maka ia . sampai tahap peradilan. Asas praduga bersalah bersifat deskriptif faktual artinya berdasar fakta-fakta yang ada si tersangka akhirnya akan dinyatakan bersalah. kendati secara universal asas praduga tak bersalah diakui dan dijunjung tinggi. Sikap itu paling tidak dapat disimpulkan dari ketentuan Pasal 17 KUHAP yang menyebutkan. penuntutan. Asas praduga tak bersalah adalah pengarahan bagi para aparat penegak hukum tentang bagaimana mereka harus bertindak lebih lanjut dan mengesampingkan asas praduga tak bersalah dalam tingkah laku mereka terhadap tersangka. untuk melakukan proses pidana terhadap seseorang berdasar deskriptif faktual dan bukti permulaan yang cukup. terhadapnya harus dilakukan proses hukum mulai dari tahap penyelidikan. Karena itu. Hakikat asas ini cukup fundamental sifatnya dalam Hukum Acara Pidana. Tidak boleh berhenti di tengah jalan. praduga tak bersalah bersifat legal normatif dan tidak berorientasi pada hasil akhir. 2007 : 13). dan telah memperoleh kekuatan hukum tetap”.

yaitu: hak untuk segera mendapatkan pemeriksaan dalam tahap penyidikan. hak untuk segera mendapatkan pemeriksaan oleh pengadilan dan mendapatkan putusan yang seadiladilnya. hak segera mendapatkan pemeriksaan oleh pengadilan dan mendapatkan putusan seadil-adilnya. 2007: 13). dan lain sebagainya. Konsekuensi logis dari asas praduga tak bersalah ini. hak untuk menyiapkan pembelaan hak untuk mendapatkan juru bahasa. Tidak kalah pentingnya sebagai perwujudan asas praduga tak bersalah ialah bahwa seseorang terdakwa tidak dapat dibebani kewajiban pembuktian. hak untuk diberitahu tentang apa yang disangkakan atau didakwakan kepadanya dengan bahasa yang dimengerti olehnya. (Lilik Mulyadi.86 mendapatkan hak-hak seperti hak untuk segera mendapatkan pemeriksaan dalam fase penyidikan. manifestasi asas ini dapat diartikan lebih lanjut selama proses peradilan masih berjalan (Pengadilan Negeri. Terdakwa belum dapat dikategorisasikan bersalah sebagai pelaku dari tindak pidana sehingga selama proses peradilan pidana tersebut haruslah mendapatkan haknya sebagaimana diatur Undang-Undang. maka penuntut umumlah yang dibebani tugas membuktikan kesalahan terdakwa oleh dengan upaya-upaya Dalam pembuktian praktik yang diperkenankan undang-undang. Pengadilan Tinggi dan Mahkamah Agung) dan belum memperoleh kekuaan hukum tetap (inkracht van gewijsde). hak untuk mendapatkan bantuan hukum dan hak untuk mendapatkan kunjungan keluarganya. hak untuk memperoleh bantuan hukum. maka kepada tersangka atau terdakwa diberikan hak oleh hukum untuk tidak . peradilan. Penuntut Umum adalah pihak yang mengajukan dakwaan kepada terdakwa.

meringkuk dalam penjara. sama sekali tidak memberi hak dan kesempatan yang wajar bagi tersangka/ terdakwa untuk membela diri dan mempertahankan hak dan kebenarannya. KUHAP telah memberi perisai . Prinsip inkuisitur ini dulu dijadikan landasan pemeriksaan dalam periode HIR. memberi pedoman kepada aparat penegak hukum untuk mempergunakan prinsip akusatur dalam setiap tingkat pemeriksaan.87 memberikan jawaban baik dalam proses penyidikan maupun dalam proses persidangan (the right to remain silent). Akibatnya. sebab sejak semula aparat penegak hukum sudah apriori menganggap tersangka/ terdakwa bersalah. Dengan asas praduga tidak bersalah yang dianut oleh KUHAP. Ada beberapa Persamaan dan Perbedaan Pengaturan hak untuk tidak menjawab (Rights to remain silent) oleh terdakwa antara sistem peradilan Pidana Inggris dan Indonesia. seorang yang benar-benar tidak bersalah terpaksa menerima nasib sial. tersangka/ terdakwa dianggap dan dijadikan sebagai obyek pemeriksaan tanpa mempedulikan hak-hak asasi manusia dan haknya untuk membela dan mempertahankan martabatserta kebenaran yang dimilikinya. Hal tersebut tidak terlepas adanya pengertian negara hukum atau rule of law.(M. Seolah-olah si tersangka sudah divonis sejak saat pertama diperiksa di hadapan penyidik. Aparat penegak hukum menjauhkan diri dari caa-cara pemeriksaan yang ”inkuisitur” atau ”inquisitorial system” yang menempatkan tersangka/ terdakwa dalam pemeriksaan sebagai obyek yang dapat diperlakukan dengan sewenang-wenang. 2002: 41) Untuk menopang asas praduga tidak bersalah dan prinsip akusatur dalam penegakan hukum. Yahya Harahap. sering terjadi dalam praktek.

Tabel 1 Persamaan hak untuk tidak menjawab (Rights to remain silent) dalam Peradilan Inggris dan Indonesia NO 1. 3. secara teoritis sejak semula tahap pemeriksaan. Dengan perisai hak-hak yang diakui hukum. tersangka/terdakwa sudah mempunyai posisi yang setaraf dengan pejabat pemeriksa dalam kedudukan hukum. berhak menuntut perlakuan yang digariskan oleh KUHAP. Terkait persamaan dan perbedaan hak untuk tidak menjawab dalam system peradilan pidana Inggris dan Indonesia berikut persamaan dan Perbedaan. Menempatkan dalam posisi Proses Hak INDONESIA Asasi Perlindungan Hak Asasi Terhadap Manusia Terhadap Terdakwa Manusia Peradilan Terdakwa dalam Proses Peradilan Pidana kedudukan Pengakuan yang akan tersangka/ sama dengan tersangka/ terdakwa berada kedudukan derajatnya dengan pejabat posisi aparat penegak hukum. Usaha untuk sama terdakwa berada dalam yang pejabat aparat penegak mencegah Usaha untuk mencegah menyimpang penggunaan penyiksaan seperti tindakan menyimpang seperti tindakan penggunaan dalam proses penyidikan penyiksaan dalam proses . derajatnya hukum.88 kepada tersangka/ terdakwa berupa seperangkat hak-hak kemanusiaan yang wajib dihormati dan dilindungi pihak aparat penegak hukum. INGGRIS Perlindungan dalam Pidana 2.

. Hak ini mencakup sejumlah isu berpusat sekitar hak terdakwa atau terdakwa menolak memberikan komentar atau memberikan jawaban ketika ditanya. Hal ini dapat hak untuk menghindari diri inkriminasi atau hak untuk tetap diam ketika ditanya. Suatu Perwujudan Untuk mewujudkan sistem peradilan pidana Pemerintah Inggris dalam yang adil dan benar mewujudkan sistem sesuai dengan tujuan dan harapan masyarak peradilan pidana yang adil dan benar sesuai dengan tujuan dan harapan masyarak Usaha Perbandingan Sistem Peradilan Pidana antara Indonesia (Civil Law) dan Inggris (Common Law) Terkait Hak untuk Tidak Menjawab (Rights to Remain Silent) bagi Terdakwa dengan Legal Raisonee dalam Putusan yang Diambil oleh Majelis Hakim ada beberapa hal yang perlu digaris bawahi di sini. Hak ini diakui. secara eksplisit atau dengan konvensi. Hak ini hanya merupakan sebagian kecil dari hakhak terdakwa secara keseluruhan. 4. di banyak sistem hukum di dunia. baik sebelum atau selama proses hukum di pengadilan hukum.89 penyidikan. bahwa hak untuk diam adalah hukum hak setiap orang dikenakan kepada polisi interogasi atau dipanggil untuk pergi ke persidangan di pengadilan hukum. pendengaran atau upaya hukum lainnya. Hak biasanya mencakup ketentuan bahwa komentar yang merugikan atau kesimpulan tidak dapat dibuat oleh hakim atau juri tentang penolakan oleh terdakwa untuk menjawab pertanyaan sebelum atau selama sidang berlangsung.

90 Seperti yang disinggung di atas. Barangkali kita merasa optimis. sangat relevan apabila dilakukan kajian mengenai proses peradilan pidana. Oleh karena itu. Berkaitan dengan adanya jaminan terhadap Hak Asasi Manusia (HAM). baik tentang pengertiannya secara umum maupun tentang perkembangan proses peradilan pidana itu sendiri dalam menjamin dan melindungi hak-hak asasi tersangka dan terdakwa. Namun dalam praktek. dapat diartikan bahwa dalam setiap konstitusi selalu ditemukan adanya jaminan terhadap Hak Asasi Manusia.(M Yahya Harahap. 2002: 42).mata adalah usaha untuk mencegah tindakan menyimpang seperti penggunaan penyiksaan dalam proses penyidikan. Hal ini sebenarnya telah ditoleransi dan menjadi perhatian penyusun undang-undang sebagai bagian dari hak-hak tersangka/terdakwa dalam KUHAP Hak Asasi Manusia di Indonesia merupakan masalah yang sangat erat kaitanya dengan sistem peradilan pidana. hak-hak yang diakui hukum ini masih merupakan pertaruhan. sebab kalau halhal tadi dilanggar dapat mengajukan sah tidaknya pelanggaran itu kepada pra peradilan dan sekaligus dapat menuntut ganti rugi dan rehabilitasi. Dalam Undang-Undang Dasar 1945 melalui beberapa Pasal yang mengatur tentang HAM. teoritis pemberian hak ini telah menempatkan kedudukan tersangka/ terdakwa berada dalam posisi yang sama derajatnya dengan pejabat aparat penegak hukum. salah satunya adalah Pasal 27 ayat (1) . untuk mewujudkan sistem peradilan pidana yang adil dan benar sesuai dengan tujuan dan harapan masyarakat. apakah benar-benar dapat diwujudkan dalam konkreto. Adanya asas the right to remain silent semata.

91 yang berbunyi “Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya”. tetapi pada kenyataannya. Bertitik dari hal tersebut. asas Rights to remain silent keberadaannya juga tidak tertulis dalam peraturan perundang-undangan manapun sehingga secara teori mengenai keberadaannya tidak diketahui secara pasti. Hal ini sebenarnya telah ditoleransi dan menjadi perhatian penyusun Undang-Undang sebagai bagian dari hak-hak tersangka/terdakwa dalam KUHAP. dalam KUHAP tidak ditulis mengenai asas yang memberi hak kepada terdakwa untuk menolak menjawab pertanyaan ketika proses pemeriksaan sidang berlangsung. rights to remain silent keberadaannya semata-mata adalah usaha untuk mencegah tindakan menyimpang seperti penggunaan penyiksaan dalam proses penyidikan. Pasal 27 ayat (1) ini diimplementasikan dalam proses peradilan pidana sebagai Azas Praduga Tidak Bersalah yang diatur dalam Pasal 8 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970 Jo Pasal 18 UndangUndang Nomor 4 Tahun 2004 terakhir dengan Undang-Undang No. Beberapa Pasal dalam KUHAP yang berkaitan dengan asas Rights to remain silent antara lain: . 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman serta Pasal 8 Undang-Undang No. 48 Tahun 2009 tentang tentang Kekuasaan Kehakiman. Pada dasarnya. Selain itu. Dalam pasal ini terkandung Azas Persamaan Kedudukan di Dalam Hukum. seringkali dijumpai tersangka / terdakwa tidak menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Hakim atau Jaksa Penuntut Umum dalam proses penyidikan.

92 a. tersangka atau terdakwa berhak memberikan keterangan secara bebas kepada penyidik atau hakim”. Pasal “ 52 Dalam menyatakan: pemeriksaan pada tingkat penyidikan dan pengadilan. Dalam penjelasan Pasal KUHAP dimaksudkan supaya pemeriksaan dapat mencapai 52 .

b. Pasal “Bahwa keterangan 117 menyatakan: rasa Oleh itu yang sebenarnya.93 hasil tidak yang menyimpang dari maka tersangka atau terdakwa harus dijauhkan dari takut. . karena wajib dicegah adanya paksaan atau tekanan terhadap tersangka atau terdakwa.

94 tersangka dan atau kepada penyidik diberikan tanpa tekanan dari siapapun dan apapun. sekali ini atau dalam bentuk saksi . Namun sangat disayangkan karena kedua Pasal tidak menyebutkan sama tentang masalah keabsahan hasil penyidikan yang diperoleh dengan cara penyiksaan.

Dalam upaya menciptakan keseimbangan dan keselarasan kepentingan dan perlindungan hukum. maka hakim. tidak memihak dan tidak dipengaruhi oleh Kekuasaan Legislatif dan Eksekutif. hakim ketua sidang menganjurkan untuk menjawab dan setelah itu pemeriksaan dilanjutkan”. Pasal 175 KUHAP menyatakan: “ Jika terdakwa tidak mau menjawab atau menolak untuk menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya. Salah satu ciri dari Negara hukum adalah terdapat suatu kemerdekaan hakim yang bebas. maksudnya keterangan tersangka atau terdakwa hanya dapat dipergunakan bagi dirinya sendiri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 189 ayat (3) KUHAP. karena dalam perundangundangan hukum acara pidana adanya suatu pengakuan terdakwa tidaklah dipergunakan sebagai alat bukti bahkan hanya menempati urutan terakhir sebagai alat bukti yang termuat dalam Pasal 184 ayat (1) KUHAP dengan penyebutan “keterangan terdakwa” bukan suatu “pengakuan terdakwa”. Kebebasan hakim tersebut tidak dapat diartikan bahwa hakim dapat melakukan dan kepentingan.95 Pasal 52 dan Pasal 117 KUHAP berkaitan erat dengan asas rights to remain silent yaitu suatu hak tersangka untuk tidak menjawab. ketertiban pada sisi lain tanpa mengorbankan hak-hak asasi manusia demi mengejar kepentingan . penasihat hukum dan terdakwa harus menyadari bahwa pelaksanaan asas rights to remain silent dilaksanakan sesuai asas keseimbangan menurut Pasal 175 KUHAP yaitu pemeriksaan terdakwa di sidang pengadilan harus melindungi kepentingan terdakwa sebagai manusia yang memiliki hak-hak asasi umum.

96

tindakan sewenang-wenang terhadap suatu perkara yang sedang ditanganinya, akan tetapi hakim tetap terikat pada peraturan hukum yang ada. Hakim berbeda dengan pejabat-pejabat yang lain, ia harus benar-benar menguasai hukum, bukan sekedar mengandalkan kejujuran dan kemauan baiknya. Masalah kebebasan hakim perlu dihubungkan dengan masalah bagaimana hakim dapat menemukan hukum berdasarkan keyakinannya dalam menangani suatu perkara. Kebebasan hakim dalam menemukan hukum tidaklah berarti ia menciptakan hukum. Tetapi untuk menemukan hukum, hakim dapat bercermin pada yurisprudensi dan pendapat ahli hukum terkenal yang biasa disebut dengan doktrin. Begitu juga dengan kebebasan hakim dalam menilai hak diam tersangka/terdakwa saat proses persidangan berlangsung. Hakim dalam menangani suatu perkara harus berpedoman pada asas-asas pemeriksaan perkara pidana. Salah satu asas yang terkait dengan rigts to remain silent ialah asas keseimbangan. Suatu prinsip yang menuntut keseimbangan yang serasi antara perlindungan terhadap harkat dan martabat manusia dengan perlindungan terhadap kepentingan dan ketertiban masyarakat. Hakim dalam melaksanakan fungsi dan wewenang penegakan hukum tidak boleh berorientasi kepada kekuasaan semata-mata, hakim harus menghindari tindakan-tindakan yang dapat menimbulkan pelanggaran HAM, seperti tidak menghargai rigts to remain silent tersangka/terdakwa. Untuk menjatuhkan pidana, hakim harus mendasarkan atas alat-alat bukti setidaknya dua alat bukti sah sehingga ia mendapat

97

keyakinan, suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan pelakunya adalah terdakwa, serta dia bersalah melakukannya (Pasal 183 KUHAP). Keterangan tersangka hanya salah satu dari lima jenis alat bukti dan tidak harus selalu ada atau diperlukan untuk membuktikan kesalahan terdakwa. Dalam praktik, penyidikan suatu perkara pidana maupun proses persidangan di pengadilan, pengakuan terdakwa tidak dijadikan alat bukti penting karena setiap saat dapat berubah di persidangan sesuai kemauan terdakwa. Bahkan, seandainya terdakwa bersikap diam sejak penyidikan sampai ke persidangan di pengadilan, tidak akan dapat memengaruhi hakim guna menghukum terdakwa jika alat-alat bukti lain telah terpenuhi secara sah dan meyakinkan.

Ada perbedaan terkait dengan hak untuk tidak menjawab dalam system peradilan Inggris dan Indinesia. Tabel 2 Perbedaan hak untuk tidak menjawab (Rights to remain silent) dalam Peradilan Inggris dan Indonesia NO INGGRIS INDONESIA 1. Menganut system Accusatoir Menganut yaitu menempatkan tersangka Inquisatoir pemeriksaan di muka sidang- sebagai sidang pengadilan subjek hokum yang memiliki tahap yang harus dilaindungi. pada system yaitu onjek pemeriksaan maupun tahap

dalam proses pendahuluan dan memempatkan tersangka sebagai pemeriksaan baik pada

hak (asasi) dan kepentingan pendahuluan

98

penmeriksaan di muka siding pengadilan. 2. Di Inggris tidak terdapat Di yang tegas Indonesia memang secara tidak konvensi-konvensi remain silent

mengatur mengenai Rights to

megatur tentang Rights to remain silent. Asas ini semata-mata adalah usaha untuk mencegah tindakan penyimpangan seperti penggunaan penyiksaan dalam proses penyidikan. (Pasal 52 dan 117 KUHAP)

3.

Proses

penuntutan ringan

bagi Di Indonesia rangkaian di penyelesaian peradilan atas tahapan. penyidikan penuntutan terdiri

perkara-perkara

Inggris dilakukan oleh Polisi pidana sendiri (Polise Prosecutor). beberapa

Sedangkan perkara yang agak Kekuasaan berat pengacara dilakukan yang disebut kekuasaan

oleh oleh lembaga kepolisian,

Solicitor. Dan perkara-perkara oleh lembaga penuntut yang berat disidangkan di umum atau kejaksaan, pengadilan banding) Barister. tinggi dengan (tingkat Kekuasaan penuntut oleh badan hakim oleh mengadili peradilan serta aparat

umum pengacara yang disebut atau

Kekuasaan pelaksanaan hukuman

Dalam apabila diam proses tersangka atau investigasi.penyidikan tersebut apapun tidak hal ini diajukan. Jadi.99 pelaksana (jaksa dan eksekusi lembaga pemasyarakatan) 4. mempunyai atau tidak suatu pilihan tidak Tersangka/terdakwa KUHAP. dan birokrasi lebih panjang penyidik tidak memaksa untuk sehingga menadapatkan keterangan dari penyidikan tersangka. diinterogasi oleh Polisi. The rights to remain silent The rights to remain 52 dan 117 dalam pertama kali dikodifikasi pada silent di akomodir dalam tahun 1912 dalam Judge’s Pasal Rules. Right to remain silent tentu tidak membantu polisi dalam proses penyelidikan. tersangka tidak dapat diikuti oleh . Sedara tegas diatur apakah ia akan memberikan KUHAP memberikan fakta/keterangan dalam proses pemeriksaan. 5. Di Indonesia karena proses dan tersangka menyebabkan di kepolisian tersangka bersikap dalam untuk penyelidikan menolak yang menjawab pertanyaan maka hal berpengaruh pertanyaan.

sebelumnya. Bagian putusan hakim yang harus diikuti dan . (custom) yang dikembangkan Indonesia menggunakan perundang- kedudukan yang sangat kuat karena berlaku asas stare decisis atau asas binding force of precedent 7.100 boleh bersikap diam. Bagian putusan hakim untuk mengikuti putusan hakim yang ada sebelumnya. adat istiadat atau kebiasaan masyarakat (custom) yang dikembangkan berdasarkan putusan Pengadilan mempunyai kedudukan yang sangat kuat karena berlaku asas stare decisis atau asas binding force of precedent. memutuskan/ menilai sikap diam tersangka adalah Jury 6. masyarakat mengenal putusan peraturan mempunyai undangan. System common law seperti di Tidak demikian dengan Inggris. yang pihak Pengadilan. Asas ini mewajibkan hakim untuk mengikuti putusan hakim yang ada. kebiasasn berdasarkan pengadilan adat istiadat atau Indonesia yang asas tidak ini. Keputusan ada di tangan Juri Keputusan ada di tangan hakim yang mempunyai yang memutus perkara yang kewenangnan memutus ditangani perkara Dalam system Common Law seperti di Inggris.

Pada tahun 1994 telah terjadi perjadi pergeseran system accusator menjadi system hukum inquisitoir dalam hukum acara Pidana Inggris. Hal ini dilatarbelakangi karena polisi Inggris kesulitan untuk mengungkap atau menyelesaikan berbagai kasus yang menimbulkan ancaman serius bagi masyrakat terutama terorisme. tugas jaksa dan pengacara dalam persidangan adalah meyakinkan juri bahwa terdakwa bersalah atau tidak. Ada perbedaan antara keberlakuan hak diam (rights to tajam . Dalam system peradilan Inggris benar salahnya terdakwa ditentukan oleh juri yang direkrut dari masyarakat biasa. Karena tersangka berlindung dibalik kekebalan hukum yang diberikan oleh UndangUnadang antara lain hak untuk diam (right to remain silent).101 mengikat adalah bagian pertimbangan hukum yang disebut sebagai ratio decidendi sedangkan hal selebihnya yang disebut obiter dicta tidak mengikat. Berbeda dengan system civil law yang dianut Indonesia sebagai kelanjutan dari system hukum yang dianut Belanda. Tugas hakim hanya memastikan persidangan berjalan sesuai prosedur dan menjatuhkan hukuman sesuai hukum. maka tugas hakim di pengadilan berat karena selain harus menentukan benar salahnya terdakwa juga menetapkan hukumannya. Perubahan tersebut dilihat dari konteks keberadaan system hukum yang ada di dunia (civil law dan common law) ternyata saat bukan saatnya lagi memperbedakan secara perbedaan antara kedua system hukum tersebut. Oleh karena itu.

kewenangan untuk melakukan penyelidikan dan penyidik berada di tangan polisi. Menurut KUHP diartikan bahwa penyelidikan adalah serangkaian tindakan untuk mencari dan menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana guna menentukan dapat atau tidak nya dilakukannya penyidikan (Pasal 1 butir lima KUHAP). maka dilakukan penyidikan terhadap perkara tindak pidana tersebut. penyidik akan menyusun BAP (Berita Acara Pemeriksaan) untuk kemudian melimpahkan BAP perkara tersebut ke Kejaksaan yang berwenang. Dengan demikian fungsi penyelidikan dilaksanakan sebelum dilakukan penyidikan.102 remain silent) tersangka/terdakwa dalam penyelesaian suatu perkara pidana di Indonesia yang menganut Civil Law System dengan Inggirs yang menganut Common Law System. Yang perlu digarisbawahi disini . untuk meyakinkan suatu peristiwa tersebut merupakan tindak pidana atau tidak maka dilakukan penyelidikan. yang bertugas untuk mengetahui dan menentukan peristiwa apa yang telah terjadi dan bertugas membuat berita acara serta laporannya yang nantinya merupakan dasar permulaan penyidikan. sebagaimana Pasal 4 KUHAP yang menyatakan bahwa petugas penyidik ialah setiap pejabat polisi Negara Republik Indonesia. Di Indonesia. Di Indonesia rangkaian penyelesaian peradilan pidana terdiri atas beberapa tahapan. Setelah proses penyidikan selesai. Suatu proses penyelesaian peradilan dimulai dari adanya suatu peristiwa hukum. Setelah peristiwa tersebut terbukti merupakan suatu tindak pidana. perbedaan tersebut antara lain : Pertama.

Jury yang teridiri dari 6 sampai 10 orang tersbut mengadakan voting untuk mengambil suara. suara dari voting mayoritas inilah yang menentukan perkara tersebut layak atau tidak untuk disidangkan. Dalam hal ini yang membedakan antara Common Law System dengan Civil Law System ialah di Inggris seluruh jajaran kepolisian di wilayah dapat mengakses langsung ke Pengadilan terhadap perkara yang ia temukan. hal ini menyebabkan birokrasi lebih panjang sehingga di kepolisian . Kemudian. ada yang disebut dengan Hakim Wilayah. seluruh jajaran Polri berhenti di Kejaksaan. Kemudian Kejaksaan setelah meneliti BAP dari pihak kepolisian dan menyatakan kelengkapan BAP tersebut.103 ialah bahwa dalam menangani perkara tindak pidana di Indonesia. Sedangkan di Inggris. dalam penyelesaian perkara pidana. yang menentukan suatu perkara itu layak atau tidak layak untuk disidangkan ialah Jury. Hal ini berarti. hakim wilayah atau yang sering disebut dengan hakim distrik ialah seorang petugas pengadilan dari Pengadilan yang beertugas untuk menangani perkara dan memberikan putusan terhadap perkara tersbut dan tunduk pada batas yurisdiksi yang ditentukan. Di Indonesia karena dalam proses penyelidikan dan penyidikan tersangka diinterogasi oleh Polisi. yang memutuskan layak tidaknya suatu perkara disidangkan adalah Jaksa Penuntut Umum. Kejaksaan melimpahkan perkara ke Pengadilan Negeri untuk kemudian diadakan pemeriksaan di pengadilan.

yang memutuskan/ menilai sikap diam tersangka adalah Jury. maka hal tersebut tidak berpengaruh apapun dan penyidik tidak memaksa untuk menadapatkan keterangan dari tersangka. tersangka boleh bersikap diam. suap menyuap. selama masa penahanan tersebut tersangka diinterogasi oleh pihak kepolisian dan pada faktanya tersangka harus menjawab. sehingga keberadaan hak diam ini dinilai kurang dihargai dalam proses penyelesaian perkara pidana di Indonesia. kekerasan. Selain itu di Indonesia harus dilakukan upaya penangkapan atau penahanan. hal tersebut sudah di luar area Kejaksaan dan Pengadilan sehingga pihak kepolisian mencari data selengkap-lengkapnya di tahap penyidikan. pihak kepolisian harus melakukan investigasi terlebih dahulu untuk mencari data-data terkait tindak pidana yang terjadi. ketika keterangan atau laporan terbukti cukup atau tidak cukup. Di Inggris. Jadi. .104 penyidikan tersangka tidak dapat diikuti oleh pihak Pengadilan sehingga apabila terdapat hal-hal yang tidak fair di kepolisian seperti tindak penekanan. Ketika tersangka diam atau tidak menjawab (Rights to Remain Silent) pihak kepolisisan seringkali memaksa untuk manjawab. Dalam proses investigasi. apabila tersangka bersikap diam atau menolak untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan.

105 BAB IV PENUTUP A. Perbandingan pengaturan hak untuk tidak menjawab (Rights to remain silent) sistem peradilan pidana antara Indonesia (Civil Law) dan Inggris (Common Law) a. maka penulis dapat mengambil simpulan tentang perbandingan sistem peradilan pidana antara Indonesia dan Inggris terkait hak untuk tidak menjawab (Rights to remain silent) oleh terdakwa. KUHAP secara tegas tidak mengatur asas the right si temain silent. Adapun simpulan yang dapat diambil tersebut adalah : 1. Simpulan Berdasarkan Dari serangkaian penelitian yang telah dilakukan. Hal demikian bisa dilihat dalam .

Di Inggris juga tidak ditemukan adanya asas the right to remain silent. Asas ini hanyalah merupakan kebiasaanatau adat istiadat hakim terdahulu. Suatu prinsip yang menuntut keseimbangan yang serasi antara perlindungan terhadap harkat dan martabat manusia dengan perlindungan terhadap kepentingan dan ketertiban masyarakat. yang melakukan proses hukum. dalam menghadapi proses hukum. Hukum Positif di Indonesia tidak mengatur asas the right to remain silent. KUHAP hanya menyinggung masalah asas the right to remain silent dalam tahap pemeriksaan di persidangan. b. hakim harus menghindari tindakan- . sebagai bentuk perlindungan terhadap hak asasi manusia.106 ketentuan Pasal 175 KUHAP yang menyebutkan bahwa jika terdakwa tidak tidak mau menjawab atau menolak untuk menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya. terkait adanya asas ini adalah sebagai bentuk perlindungan Hukum terhadap terdakwa terkait tentang kepentingannya sebagai perlindungan hak asasi manusia. Hakim dalam melaksanakan fungsi dan wewenang penegakan hukum tidak boleh berorientasi kepada kekuasaan semata-mata. Sedangkan Pasal 52 dan 117 KUAP. hakim ketua sidang menganjurkan untuk menjawab dan setelah itu pemeriksaan dilanjutkan. KUHAP tidak mengakui keberadaan asas the right to remain silent.

Dengan kedua asas tersebut maka pelaku tindak pidana ditempatkan tidak sekedar menjadi obyek pemeriksaan. Pada intinya dari sistem peradilan di Inggris dan Indonesia munculnya hak the right to remain silent sebagai bentuk perlindungan terhadap terdakwa.107 tindakan yang dapat menimbulkan pelanggaran HAM. b. 2.mata adalah usaha untuk mencegah tindakan menyimpang seperti penggunaan penyiksaan dalam proses penyidikan. Dengan demikian semua proses penegakan hukum harus dilandasi oleh norma perlindungan hak asasi manusia pelaku. (b) Di Inggris tidak terdapat konvensi-konvensi yang mengatur . akan tetapi diperlakukan secara manusiawi. Perbedaanya 1) Di Inggris. (a) Menganut system Accusatoir yaitu menempatkan tersangka dalam proses pendahuluan dan pemeriksaan di muka sidangsidang pengadilan sebagai subjek hokum yang memiliki hak (asasi) dan kepentingan yang harus dilaindungi. Persamaan dan perbedaan pengaturan hak untuk tidak menjawab (Rifhts to remain silent) oleh terdakwa antara sistem peradilan pidana Inggris dan Indonesia a. Persamannya Asas the right to remain silent semata. seperti tidak menghargai rigts to remain silent tersangka/terdakwa.

Right to remain silent tentu tidak membantu polisi dalam proses penyelidikan. tersangka boleh bersikap diam. apabila tersangka bersikap diam atau menolak untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. yang memutuskan/ menilai sikap diam tersangka adalah Jury (f) System common law seperti di Inggris. (e) Dalam proses investigasi. (d) The rights to remain silent pertama kali dikodifikasi pada tahun 1912 dalam Judge’s Rules. maka hal tersebut tidak berpengaruh apapun dan penyidik tidak memaksa untuk menadapatkan keterangan dari tersangka.108 mengenai Rights to remain silent (c) Proses penuntutan bagi perkara-perkara ringan di Inggris dilakukan oleh Polisi sendiri (Polise Prosecutor). Sedangkan perkara yang agak berat dilakukan oleh pengacara yang disebut Solicitor. adat istiadat atau kebiasasn masyarakat (custom) yang dikembangkan berdasarkan putusan pengadilan mempunyai kedudukan yang sangat kuat karena berlaku asas stare decisis atau asas binding force of precedent 2) Di Indonesia (a) Menganut system Inquisatoir yaitu memempatkan tersangka sebagai onjek pemeriksaan baik pada tahap pemeriksaan . Jadi. Dan perkara-perkara yang berat disidangkan di pengadilan tinggi (tingkat banding) dengan penuntut umum pengacara yang disebut Barister. Tersangka/terdakwa mempunyai suatu pilihan apakah ia akan memberikan atau tidak memberikan fakta/keterangan dalam proses pemeriksaan.

kekuasaan penuntutan oleh lembaga penuntut umum atau kejaksaan. hal ini tersangka tidak dapat diikuti oleh pihak menyebabkan birokrasi lebih panjang sehingga di kepolisian . Indonesia menggunakan peraturan perundang-undangan. (f) Tidak demikian dengan Indonesia yang tidak mengenal asas ini. Kekuasaan mengadili oleh badan peradilan atau hakim serta Kekuasaan pelaksanaan hukuman oleh aparat pelaksana eksekusi (jaksa dan lembaga pemasyarakatan) (d) The rights to remain silent di akomodir dalam Pasal 52 dan 117 KUHAP. (b) Di Indonesia secara tegas memang tidak megatur tentang Rights to remain silent. Kekuasaan penyidikan oleh lembaga kepolisian. (Pasal 52 dan 117 KUHAP) (c) Di Indonesia rangkaian penyelesaian peradilan pidana terdiri atas beberapa tahapan. Sedara tegas tidak diatur dalam KUHAP (e) Di Indonesia karena dalam proses penyelidikan dan penyidikan penyidikan Pengadilan. B. Saran Saran-saran yang penulis sampaikan adalah: 1. Dalam menerapkan proses penyidikan hendaknya menghargai tersangka diinterogasi oleh Polisi. Asas ini semata-mata adalah usaha untuk mencegah tindakan penyimpangan seperti penggunaan penyiksaan dalam proses penyidikan.109 pendahuluan maupun pada tahap penmeriksaan di muka siding pengadilan.

2. 3. Asas to remain silent merupakan perwujudan dari asas praduga tidak bersalah yang bersifat universal. Dengan pengaturan yang tegas diharapkan tidak ada keraguan dari para aparat penegak hukum untuk menjadikannya sebagai pedoman dalam pelaksanaan penegakan hukum.110 prinsip-prinsip hak asasi manusia terkait hak-hak sebagai tersangka. juga harus memperhatikan kepentingan pihak korban atau masyarakat yang telah dirugikan oleh perbuatan pelaku kejahatan tersebut. dan salah satu diantara tuntutan itu berkenaan dengan kualitas penegakan asas the right to remain silent. Sehubungan dengan semakin gencarnya tuntutan peningkatan hak asasi manusia dalam penegakan hukum. sudah selayaknya kepolisian menyiapkan sumber daya manusia yang memahami dengan baik pengertian dan penerapan asas the right to remain silent. karena sering dijumpai tindakan kekerasan oleh kepolisian dalam melakukan penyidikan. Harus selalu diingat bahwa penegakan hukum selain harus memperhatikan hak-hak tersangka/terdakwa. . 4. Penggunaan asas to remain silent harus dilakukan secara bijaksana dan hati-hati agar tidak menjadi bumerang dalam penegakan hukum. Untuk itu perlu ada pengaturan secara tegas dan terperinci di dalam rancangan KUHAP. secara komprehensif.

1988. 2006. Barda Nawawi Arief. Yogyakarta: Amarta Buku.J Van Apeldorn. Perbandingan Hukum Pidana. 1998. Pelajaran Hukum Pidana Bagian I (Stelsel pidana. 2003. 2009. Metodologi Penelitian Kualitatif. Moleong. Johnny Ibrahim. 2002. Yahya Harahap. Pengantar Hukum Acara Pidana Indonesia. Hukum Acara Pidana Indonesia. 2002. Pengantar Ilmu Hukum. Malang: Bayumedia Publishing. Jakarta. Bandung: Mandar Maju. Hukum Acara Pidana Indonesia. L. Orientasi Hukum Acara Pidana. Kapita Selekta Hukum Pidana. Jakarta: Sinar Grafika. Hukum Acara Pidana dalam Teori dan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta. Jakarta: PT Pradnya M. 2002. Jakarta: Ghalia Indonesia. 2001. Edisi Revisi. 1998. 2005. Andi Hamzah. Moch. Bandung: PT. Lexy J. Citra Aditya Bakti. Pembahasan Permasalahan Dan Penerapan KUHAP (Ruang lingkup pemeriksaan Terdakwa). KUHP dan KUHAP. Faisal salam. Edisi Revisi. ____________. Bambang Poernomo. Rajawali Pers ___________. Jakarta : Sinar Grafika. Barda Nawai Arief.111 DAFTAR PUSTAKA Adami Chazawi. Jakarta: Sinar Grafika ____________. Tindak Pidana. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 1990. Teori Dan Metodologi Penelitian Hukum Normatif. 1999. RajaGrafindo Persada. . Teori-Teori Pemidanaan dan Batas Berlakunya Hukum Pidana). Jakarta: PT.

M Sofyan Lubis. Otje Salman dan Anton F. Susanto. Teori Hukum (Mengingat. Penelitian Hukum.Hak Asasi Manusia dalam KUHAP. Hak Asasi Manusia (Hakekat. Mengumpulkan dan Membuka kembali). Penguak Hak. Bandung: Alumni Vide Indriyanto Seno Adji.1990. Sutrisno Hadi. Penyiksaan Tersangka dan Antisipasi Perlaindungan HAM. Jakarta: Sinar Harapan. Konsep dan Implikasinya dalam Perspektif Hukum dan Masyarakat). Peter Mahmud Marzuki. Semarang. Perundang-Undangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) atau Undang-Undang Nomor 8 tahun 1981 Undang-Undang Dasar Tahun 1945 (UUD 1945) Batang Tubuh Undang-Undang Dasar Tahun 1945 Undang-Undang Nomor 48 tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman Internet Indriyanto Seno Adji. Penyiksaan dan Hak. Yogyakarta: Transito.hamline. http://www. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Winarno Surakhmad. Jakarta: Sinar Harapan. 1998. Unisula Muladi. 2008.html. . Metodologi Penelitian Hukum. Bandung: Mandar Maju. 2006. Pengantar Penelitian Ilmiah. Romli Atmasasmita. 1989.edu/apakabar/basisdata/1996/11/08/0015.Hak Asasi Manusia dalam Perspektif KUHAP. Perbandingan Hukum Pidana. SH. Bandung: PT Refika Aditama.112 Moch. Miranda Rule dalam KUHAP. Bandung: PT Refika Aditama. 2005. Yuliandi. Sistem Peradilan Pidana Perbandingan Antara Inggris dan Indonesia. 2005. 2000. Roslan Saleh. 1998.

SH.legalitas.com/read/2008/08/21/91222/77/68/11/mengenai dakwaan batal demi hukum [13 April 2010 pukul 14. http://www.20] Romli Atmasasmita. MSi.113 http://www. http://mediaindonesia. .00] Zaenal Arifin.org/?q=miranda +rules +dalam +kuhap > [ 30 April 2010. pukul 12.00].legalitas.org/? q=logika+hukum+Asas+praduga+tak+bersalah %3A+Reaksi+atas+Paradigma+Individualistik> [ 1 Mei 2010. pukul 14. Mengenai Dakwaan Batal Demi Hukum. Logika Hukum Asas Praduga Tidak Bersalah: Reaksi atas Paradigma Individualistik.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful