P. 1
Skripsi Hafid Terakhrir Refisi, 30 Januari 2011

Skripsi Hafid Terakhrir Refisi, 30 Januari 2011

|Views: 454|Likes:

More info:

Published by: Tuan_Muda_Otonx_8797 on Jun 20, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/05/2012

pdf

text

original

1

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Undang-undang Dasar 1945 menyatakan bahwa Negara Indonesia berdasarkan atas hukum dan bukan berdasarkan atas kekuasaan. Penegakan hukum harus sesuai dengan peraturan yang berlaku dan juga berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945, yang menjunjung tinggi hak asasi manusia serta yang menjamin kedudukan yang sama bagi warga Negara di dalam hukum dan pemerintahan. Setiap pelanggar peraturan hukum yang ada akan dikenakan sanksi yang berupa hukuman sebagai reaksi terhadap perbuatan yang melanggar hukum yang dilakukannya. Untuk menjaga agar peraturan itu dapat berlangsung terus dan diterima seluruh anggota masyarakat, maka peraturan-peraturan hukum yang ada harus sesuai dan tidak boleh bertentangan dengan asas-asas keadilan dari masyarakat tersebut. Dengan demikian, hukum itu bertujuan menjamin adanya kepastian hukum dalam masyarakat dan hukum itu harus pula bersendikan pada keadilan, yaitu asasasas keadilan dari masyarakat. Perkembangan system hukum di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari system hukum civil law atau system Eropa Kontinental. Hal ini disebabkan karena Indonesia terlalu lama dijajah oleh Belanda yang kemudian menerapkan system hukum Eropa dengan asas konkordansi di Hindia Belanda seabgai Negara jajahannya. Bahkan hingga kini setelah lebih dari setengah abad Indonesia merdeka, masih banyak ketentuan hukum peninggalan Belanda yang masih digunakan sebagai hukum positif. Sebagai contoh KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana) dan HIR (Het Herziene Inlands Reglement atau Hukum Acara Perdata) yang banyak dipengaruhi oleh system hukum civil

2

law, yaitu mengutamakan kodifikasi hukum dan Undang-undang/hukum tertulis sebagai sumber hukum utama untuk menjamin asas legalitas dan kepastian hukum. Namun praktek seiring dengan perjalanan waktu, terutama setelah adanya pengaruh globalisasi di segala bidang kehidupan berbangsa dan bernegara, nampaknya penerapan sitem hukum civil law di Indonesia mulai mengalami pergeseran. Terlebih setelah adanya akademisi maupun praktisi hukum dari Indonesia yang belajar hukum di Negara-negara yang menganut system Common law seperti Inggris. Dari sini timbul kesadaran akan pentingnya mempelajari perbandingan system hukum untuk memperoleh pemahaman yang komprehensif tentang system hukum yang ada di dunia secara global guna memperoleh manfaat internal yaitu mengadopsi hal-hal positif guna pembangunan hukum nasional. Maupun manfaat eksternal yaitu dapat mengambil sikap yang tepat dalam melakukan hubungan hukum dengan Negara lain yang berbeda system hukumnya. Hal ini tidak teerkecuali dalam pengaturan hak untuk diam the right to remain silent bagi terdakwa, baik yang terjadi pada peradilan pidana Ianggris maupun di Indonesia. Salah satu asas terpenting dalam hukum acara pidana ialah asas praduga tak bersalah. Asas tersebut dicantumkan di dalam Pasal 8 UndangUndang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman sebagaimana bersumber pada asas praduga tak bersalah, maka sudah sewajarnya bahwa tersangka atau terdakwa dalam proses peradilan pidana wajib mendapatkan hak-haknya. Rumusan kalimat dalam Pasal 8 Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, dan Penjelasan Umum Hukum Acara Pidana menyatakan bahwa “Setiap orang yang disangka, ditangkap, ditahan, dituntut, dan/atau dihadapkan di depan pengadilan wajib dianggap tidak

3

bersalah sebelum ada putusan pengadilan yang menyatakan kesalahannya, dan telah memperoleh kekuatan hukum tetap”. Hakikat asas ini cukup fundamental sifatnya dalam Hukum Acara Pidana, karena ketentuan asas praduga tak bersalah sangat tampak eksistensinya dalam Pasal 8 Undang-Undang Nomor 48 tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman. (Lilik Mulyadi, 2007 : 13). Berdasarkan hukum acara pidana di Indonesia, kendati secara universal asas praduga tak bersalah diakui dan dijunjung tinggi, tetapi secara legal formal Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) juga menganut asas praduga bersalah. Sikap itu paling tidak dapat disimpulkan dari ketentuan Pasal 17 KUHAP yang menyebutkan, “Perintah penangkapan dilakukan terhadap seseorang yang diduga keras melakukan tindak pidana berdasarkan bukti permulaan yang cukup” artinya, untuk melakukan proses pidana terhadap seseorang berdasar deskriptif faktual dan bukti permulaan yang cukup, harus ada suatu praduga bahwa orang itu telah melakukan suatu perbuatan pidana yang dimaksud. Asas praduga tak bersalah adalah pengarahan bagi para aparat penegak hukum tentang bagaimana mereka harus bertindak lebih lanjut dan mengesampingkan asas praduga tak bersalah dalam tingkah laku mereka terhadap tersangka. Intinya, praduga tak bersalah bersifat legal normatif dan tidak berorientasi pada hasil akhir. Asas praduga bersalah bersifat deskriptif faktual artinya berdasar fakta-fakta yang ada si tersangka akhirnya akan dinyatakan bersalah. Karena itu, terhadapnya harus dilakukan proses hukum mulai dari tahap penyelidikan, penyidikan, penuntutan, sampai tahap peradilan. Tidak boleh berhenti di tengah jalan. Sebagai seseorang yang belum dinyatakan bersalah, maka ia mendapatkan hak-hak seperti hak untuk segera mendapatkan pemeriksaan dalam fase penyidikan, hak untuk segera mendapatkan pemeriksaan oleh

Dalam praktik peradilan. hak untuk mendapatkan bantuan hukum dan hak untuk mendapatkan kunjungan keluarganya. Konsekuensi logis dari asas praduga tak bersalah ini. Pengadilan Tinggi dan Mahkamah Agung) dan belum memperoleh kekuaan hukum tetap (inkracht van gewijsde). maka kepada tersangka atau terdakwa diberikan hak oleh hukum untuk tidak memberikan jawaban baik dalam proses penyidikan maupun dalam proses persidangan (the right to remain silent). . dan lain sebagainya. hak untuk memperoleh bantuan hukum. Penuntut Umum adalah pihak yang mengajukan dakwaan kepada terdakwa. 2007: 13). (Lilik Mulyadi. Tidak kalah pentingnya sebagai perwujudan asas praduga tak bersalah ialah bahwa seseorang terdakwa tidak dapat dibebani kewajiban pembuktian. Terdakwa belum dapat dikategorisasikan bersalah sebagai pelaku dari tindak pidana sehingga selama proses peradilan pidana tersebut haruslah mendapatkan haknya sebagaimana diatur Undang-Undang. hak untuk menyiapkan pembelaan hak untuk mendapatkan juru bahasa. hak untuk diberitahu tentang apa yang disangkakan atau didakwakan kepadanya dengan bahasa yang dimengerti olehnya.4 pengadilan dan mendapatkan putusan yang seadil-adilnya. yaitu: hak untuk segera mendapatkan pemeriksaan dalam tahap penyidikan. maka penuntut umumlah yang dibebani tugas membuktikan kesalahan terdakwa dengan upaya-upaya pembuktian yang diperkenankan oleh undang-undang. manifestasi asas ini dapat diartikan lebih lanjut selama proses peradilan masih berjalan (Pengadilan Negeri. hak segera mendapatkan pemeriksaan oleh pengadilan dan mendapatkan putusan seadiladilnya.

maupun proses di persidangan. maupun oleh hakim. baik di waktu penyidikan maupun pemeriksaan di depan sidang. Salah satu hak yang sering menimbulkan pro dan kontra ialah hak tersangka atau terdakwa untuk memilih menjawab atau tidak menjawab pertanyaan baik oleh penyidik. pemeriksaan. ditahan.5 Asas praduga tak bersalah telah dirumuskan dalam Pasal 8 UndangUndang Pokok Kekuasaan Kehakiman Nomor 48 Tahun 2009 yang berbunyi: “Setiap orang yang sudah disangka. memberi pedoman bahwa tersangka atau terdakwa mempunyai hak yang diberikan oleh hukum untuk tidak memberikan jawaban. kerapkali terjadi hal yang kontroversial. tersangka atau terdakwa berhak memberikan keterangan secara bebas kepada . wajib dianggap tidak bersalah sampai adanya putusan pengadilan yang menyatakan kesalahannya dan memperoleh kekuatan hukum tetap”.Asas praduga tak bersalah yang dimiliki KUHAP. Dalam pemeriksaan kasus pidana. Potensi negatif asas the right to remain silent yaitu dapat menyulitkan penyidik untuk mengungkap suatu kasus tindak pidana. penuntut umum. Jika demikian yang terjadi sehingga asas tersebut memberikan potensi baik dalam hal positif maupun negatif dalam proses perkara pidana . Sering kali ketentuan ini dipandang sebagai pencerminan dari asas akusator (accusatoir). dituntut dan atau dihadapkan di muka sidang pengadilan. Potensi positif dengan adanya asas the right to remain silent yaitu dapat melindungi hak asasi tersangka atau terdakwa dalam proses penyidikan. ditangkap. misalnya tersangka tidak mau menjawab pertanyaan yang diajukan penyidik atau tersangka mempunyai hak-hak sejak ia mulai diperiksa. selain itu untuk mencegah adanya kekerasan terhadap tersangka atau terdakwa dalam proses penyidikan. baik dalam proses penyidikan maupun dalam proses persidangan the right to remain silent. Di dalam KUHAP pada Pasal 52: “ dalam pemeriksaan pada tingkat penyidik dan pengadilan.

Jelas pada Pasal itu bahwa tersangka tidak boleh dipaksa atau ditekan. korupsi. Sikap diam tersebut akan dicatat dalam berita acara pemeriksaan atau berita acara persidangan. Oleh karena itu wajib dicegah adanya paksaan atau tekanan terhadap tersangka atau terdakwa. Akan tetapi hal demikian akan merugikan terhadap penggunaan hak tersangka atau terdakwa. Karena dengan demikian terdakwa tidak menggunakan hak yang diberikan kepadanya. maka tersangka atau terdakwa harus dijauhkan dari rasa takut.6 penyidik atau hakim”. Asas pemeriksaan di depan sidang pengadilan bersifat oral. Justru pemeriksaan pengadilan pada tingkat yang lebih tinggi akhirnya diharapkan memberikan putusan yang tegas terhadap nilai alat bukti yang diberikan karena tidak dijawabnya atau tidak dibantahnya suatu pertanyaan atas suatu pernyataan. artinya harus dilakukan pemeriksaan dengan hadirnya terdakwa. Pemeriksaan di sidang pengadilan pada dasarnya harus dihadiri oleh terdakwa. kecuali di dalam beberapa kekhususan. namun tidak dijelaskan apakah tersangka atau terdakwa berhak berdiam untuk tidak menjawab pertanyaan. Dalam hal demikian sidang dapat dilangsungkan dengan memeriksa alat bukti lain yang diajukan oleh Jaksa Penuntut Umum dimana karena terdakwa tidak menjawab. akan tetapi apabila terdakwa tidak berkehendak untuk menjawab. atau meninggalkan ruang sidang. hal ini merupakan suatu kerugian bagi terdakwa. Sehingga apa yang diutarakan di depan sidang sebagai pembuktian oleh Jaksa Penuntut Umum tidak ada yang dibantahnya atau dibenarkannya. Karena tidak ada yang membantah maka alat . atau subversi dapat dilakukan persidangan in absensia. Kekecewaan atas suatu proses dalam suatu pemeriksaan bagi seorang tersangka maupun terdakwa menyebabkan sikap tersebut. seperti misalnya dalam perkara ekonomi. Penjelasan pasal dimaksud menyatakan: “ Supaya pemeriksaan dapat mencapai hasil yang tidak menyimpang daripada yang sebenarnya.

dalam arti bahwa hukum itu di seluruh bangsa dan negara akan selalu ada dan diperlukan. Dalam KUHAP tidak ada yang mengatur mengenai pemaknaan bahwa “diam berarti ya”. Tidak menjawab memang hak seseorang Tersangka atau terdakwa. Hukum merupakan suatu gejala universal. Tidak kooperatifnya terdakwa dalam mengungkapkan peristiwa yang sesungguhnya. dalam hal ini dapat diartikan pula bahwa terdakwa mempunyai hak untuk berbohong ataupun berkelit. Bagi pendidikan hukum di Indonesia jelas bahwa pemahaman karakteristik hukum . Meskipun demikian majelis hakim juga tidak diperkenankan hanya mempertimbangkan putusannya hanya berdasarkan keterangan terdakwa. karena dalam Pasal 184 ayat (1) KUHAP keterangan terdakwa diletakkan paling akhir. berusaha menutup-nutupi atau memilih untuk diam tidak menjawab setiap pertanyaan yang diajukan kepadanya tidak menutup kemungkinan akan menjadi factor yang memberatkan putusan yang akan dijatuhkan kepadanya. melainkan juga diperlukan keterangannya.7 bukti tersebut dianggap benar adanya. namun hukum itu memiliki ciri karakteristik yang berbeda dari satu bangsa kepada bangsa lain. namun KUHAP mengatur bahwa terdakwa dapat memberikan keterangannya secara bebas tanpa tekanan atau paksaan. Dalam proses pemeriksaan di persidangan segala sesuatu yang dapat dijadikan bukti atau setidak-tidaknya keterangan yang dapat membuat terang terhadap terjadinya tindak pidana tentu akan menjadi pertimbangan hakim dalam menjatuhkan putusannya termasuk sikap terdakwa selama dalam persidangan. Pengetahuan perbandingan hukum sudah barang tentu tidaklah cukup jika hanya sekedar pencatatan belaka tentang persamaan dan perbedaan dari dua sistem hukum yang berlaku. namun hal demikian akan menyulitkan terdakwa sendiri untuk melakukan pembelaan atas perkara yang dituduhkan kepadanya.

Bertolak dari perbedaan sistem hukum acara pidana antara Inggris dengan Indonesia ini sangat bertolak belakang. Apalagi jika hukum tidak berkehendak atau harus merupakan diingat bahwa pembangunan bidang hukum di Indonesia melalui pendidikan perbandingan pengambilalihan hukum asing ke dalam sistem hukum Indonesia dengan label/cap “nasional”. melainkan hanya semata-mata sebagai objek pemeriksaan baik pada tingkat pemeriksaan pendahuluan maupun pada pemeriksaan di muka sidang pengadilan.8 asing dimaksud sangat diperlukan. terutama dalam hal pengaturan tentang penempatan hak tersangka/terdakwa dalam proses pemeriksaan terkait hak-hak tersangka/terdakwa tersebut. Sistem Accusatoir menempatkan terangka dalam proses pemeriksaan pendahuluan dan pemeriksaan di muka sidang-sidang pengadilan sebagai subjek hukum yang memiliki hak (asasi) dan kepentingan yang harus dilindungi. Inggris. sebagai negara dengan sistem hukum Common Law tentu mempunyai banyak perbedaan karakteristik dengan Indonesia yang menganut sistem hukum Civil Law. Hal ini disebabkan karena sebagai negara berkembang Indonesia masih mempergunakan sebagian besar hukum tertulis yang berasal dari “warisan” Pemerintah Kolonial Belanda. Sedangkan Inquisitoir justru tidak menempatkan tersangka secara layak sebagai sebagai subjek hukum yang memiliki hak (asasi) dan kepentingan. termasuk di dalamnya hak diam . sedangkan sistem yang dianut dalam Hukum Acara Pidana Civil Law System adalah “Sistem Inquisitoir” atau dikenal dengan sebutan “Non-advesary system”. Salah satu perbedaan karakteristik terkait dengan hak-hak tersangka/terdakwa ialah sistem hukum acara pidana yang berlaku di negara-negara yang menganut sistem Common Law pada prinsipnya menganut “Sistem Accusatoir” atau yang secara populer dikenal dengan sebutan “Advesary System”.

B. dan menganalisa data. Perumusan masalah digunakan untuk mengetahui dan menegaskan masalah-masalah apa yang hendak diteliti. Apakah persamaan dan perbedaan pengaturan hak untuk tidak menjawab (Rights to remain silent) oleh terdakwa antara sistem peradilan pidana Inggris dan Indonesia? C. Rumusan Masalah Dalam suatu penelitian diperlukan adanya perumusan masalah untuk mengidentifikasi persoalan yang diteliti.9 tersangka/terdakwa (Rights to Remain Silent). sehingga penelitian akan lebih terarah pada tujuan yang ingin dicapai. Oleh karena itu peneliti ingin menuangkan hasil penelitian tersebut dalam penulisan hukum yang berjudul “PERBANDINGAN PENGATURAN TENTANG HAK UNTUK TIDAK MENJAWAB (RIGHTS TO REMAIN SILENT) BAGI TERDAKWA ANTARA KETENTUAN HUKUM ACARA PIDANA INDONESIA DENGAN KETENTUAN HUKUM ACARA PIDANA INGGRIS”. menyusun. peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai pengaturan tentang hak terdakwa untuk tidak menjawab pertanyaan (right to remain silent) dalam hukum acara pidana antara dua sistem hukum yang berbeda yaitu sistem hukum Civil Law (Indonesia) dengan sistem hukum Common Law (Inggris). Bagaimanakah apabila diperbandingkan pengaturan hak untuk tidak menjawab (Rights to remain silent) bagi terdakwa antara Indonesia (Civil Law) dan Inggris (Common Law)? 2. Tujuan Penelitian . Berdasarkan uraian diatas. yang dapat memudahkan peneliti dalam mengumpulkan. Untuk mempermudah dalam pembahasan permasalahan yang akan diteliti maka peneliti merumuskan masalah sebagai berikut: 1.

Oleh karena itu peneliti mempunyai tujuan atau hal-hal yang ingin dicapai melalui penelitian ini. Tujuan Obyektif Tujuan Obyektif penelitian ini adalah : a. Untuk memperoleh bahan hukum sebagai bahan utama dalam penyusunan skripsi dalam rangka memenuhi persyaratan akademis guna memperoleh gelar sarjana (Strata Satu) dalam bidang ilmu hukum di Fakultas Hukum Universitas Sebelas . Tujuan Subyektif Tujuan Subyektif penelitian ini adalah : a. Untuk menambah wawasan dan pengetahuan peneliti di bidang Hukum Acara Pidana khususnya mengenai perbandingan pengaturan dalam peradilan pidana antara Indonesia dan Inggris terkait hak untuk tidak menjawab (Rights to remain silent) oleh terdakwa. Untuk mengetahui perbandingan pengaturan hak untuk tidak menjawab (Rights to remain silent) bagi terdakwa antara Indonesia (Civil Law) dan Inggris (Common Law). Adapun tujuan obyektif dan subyektif yang hendak dicapai peneliti adalah sebagai berikut: 1. Untuk mengetahui persamaan dan perbedaan pengaturan hak untuk tidak menjawab (Rifhts to remain silent) oleh terdakwa antara sistem peradilan pidana Inggris dan Indonesia. b. 2. b.10 Tujuan penelitian diperlukan karena terkait erat dengan perumusan masalah dari judul penelitian ini untuk memberikan arah yang tepat dalam proses penelitian agar penelitian berjalan sesuai dengan apa yang dikehendaki.

. Hasil penelitian dapat memberikan jawaban atas permasalahanpermasalahan yang menjadi pokok pembahasan dalam penelitian ini. Hasil penelitian diharapkan dapat bermanfaat bagi pihak-pihak yang terkait dengan permasalahan dalam penelitian ini. Adapun manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini antara lain: 1. bagi masyarakat pada umumnya dan mahasiswa fakultas hukum terkhususnya dalam Manfaat Teoretis Penelitian ini adalah: . Manfaat Penelitian Peneliti berharap bahwa kegiatan penelitian dalam penulisan hukum ini akan bermanfaat bagi peneliti maupun orang lain. c. Manfaat Praktis Manfaat Praktis penelitian ini adalah: a.11 Maret Surakarta D. Hasil penelitian dapat digunakan sebagai bahan acuan untuk mengetahui lebih jauh mengenai perbandingan sistem peradilan pidana antara Indonesia dan Inggris terkait hak untuk tidak menjawab (Rights to remain silent) oleh terdakwa. 2. b. Menambah ilmu dan pengalaman peneliti di bidang penelitian karya ilmiah khususnya karya penelitian ilmu hukum. Manfaat Teoritis a. b. Diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran di bidang Hukum Acara Pidana secara teoritis khususnya mengenai perbandingan pengaturan tentang hak untuk tidak menjawab (Rights to remain silent) oleh terdakwa pada peradilan pidana Inggris dan Indonesia.

mengembangkan maupun guna menguji kebenaran maupun ketidakbenaran dari suatu pengetahuan. mengembangkan dan menguji kebenaran suatu pengetahuan. 2006:35). maupun doktrin-doktrin hukum guna menjawab isu hukum yang dihadapi. E.12 menyikapi perbandingan pengaturan hak untuk tidak menjawab (Rights to remain silent) oleh terdakwa. dapat disimpulkan bahwa metode penelitian adalah cara yang teratur dan terpikir secara runtut dan baik dengan menggunakan metode ilmiah yang bertujuan untuk menemukan. Berdasarkan uraian di atas.dalam peradilan pidana antara Indonesia dan Inggris. usaha mana dilakukan dengan metode ilmiah (Sutrisno Hadi. yang dilakukan secara metodologis. 2005: 42). Penelitian Hukum adalah suatu proses untuk menemukan aturan hukum. 1989: 4). sistematis. 1990: 31). dan konsisten (Soerjono Soekanto. untuk mencapai tingkat ketelitian. prinsipprinsip hukum. gejala atau hipotesa. Hasil yang dicapai adalah untuk memberikan preskripsi dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi . Metode Penelitian Metode merupakan cara yang utama yang digunakan untuk mencapai suatu tujuan. Akan tetapi. dapat ditentukan teratur dan terpikirnya alur yang runtut dan baik untuk mencapai maksud (Winarno Surachmad. dengan mengadakan klarifikasi yang berdasarkan pada pengalaman. Penelitian merupakan suatu kegiatan ilmiah yang berkaitan dengan analisa dan konstruksi. Penelitian dapat diartikan pula suatu usaha untuk menemukan. penelitian hukum merupakan suatu penelitian di dalam kerangka know-how di dalam hukum. jumlah dan jenis yang dihadapi. gejala atau hipotesa. Oleh karena itu. Penelitian hukum dilakukan untuk mencari pemecahan atas isu hukum yang timbul. (Peter Mahmud Marzuki.

Penelitian Hukum normatif memiliki definisi yang sama dengan penelitian doktrinal (doctrinal research) yaitu penelitian berdasarkan bahanbahan hukum (library based) yang fokusnya pada membaca dan mempelajari bahan-bahan hukum primer dan sekunder (Johny Ibrahim. 2006:41). Sifat Penelitian Sifat penelitian hukum ini sejalan dengan sifat ilmu hukum itu sendiri. 2006:44) 2. maka pada penelitian ini termasuk jenis penelitian hukum normatif. konsep-konsep hukum. 2006:26). konsep ilmu hukum dan metodologi yang digunakan di dalam suatu penelitian memainkan peran yang sangat signifikan agar ilmu hukum beserta temuan-temuannya tidak terjebak dalam kemiskinan relevansi dam aktualitasnya (Johnny Ibrahim. 2006: 28). Ilmu hukum mempunyai sifat sebagai ilmu yang preskriptif. dan norma-norma hukum (Peter .13 (Peter Mahmud Marzuki. Penelitian hukum normatif adalah suatu prosedur penelitian ilmiah untuk menemukan kebenaran berdasarkan logika keilmuan hukum dari sisi normatifnya. Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode penelitian sebagai berikut: 1. Dalam penelitian hukum. artinya sebagai ilmu yang bersifat preskriptif ilmu hukum mempelajari tujuan hukum. Jenis Penelitian Ditinjau dari sudut penelitian hukum. Ada dua syarat yang harus dipenuhi sebelum mengadakan penelitian dengan baik dan dapat dipertanggungjawabkan adalah peneliti harus terlebih dulu memahami konsep dasar ilmunya dan metodologi penelitian disiplin ilmunya (Johnny Ibrahim.

Pendekatan Perundang-undangan Suatu penelitian normatif tentu harus menggunakan pendekatan perundang-undangan. Pendekatan Penelitian Sehubungan dengan jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian hukum normatif. 2005:22). 3. 2) All-inclusive artinya bahwa kumpulan . Pendekatan Filsafat (philosophical approach) dan pendekatan kasus (case approach) (Johnny Ibrahim.14 Mahmud Marzuki. Pendekatan Perbandingan (comparative approach). Untuk itu penulis harus melihat hukum sebagai system tertutup yang mempunyai sifat-sifat sebagai berikut: 1) Comprehensive artinya norma-norma hukum yang ada didalamnya terkait antara satu dengan lain secara logis. di dalam penelitian hukum terdapat beberapa pendekatan. 2006:300). Menurut Johnny Ibrahim. bebarapa pendekatan penelitian tersebut yaitu pendekatan perundang-undangan (satute approach). pendekatan historis (historical approach). Pendekatan yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah: a. karena yang akan diteliti adalah berbagai aturan hukum yang menjadi fokus sekaligus tema sentral suatu penelitian. Pendekatan Analitis (analytical approach). Dalam penelitian ini penulis akan memberikan preskriptif mengenai perbandingan pengaturan tentang hak untuk tidak menjawab (Rights to remain silent) oleh terdakwa antara ketentuan peradilan pidana antara Indonesia dan Inggris. pendekatan konseptual (concentual approach).

Pendekatan Undang-Undang digunakan untuk mengkaji tentang pengaturan hak untuk tidak menjawab (rights to remain silent) bagi terdakwa dalam hukum acara Pidana Indonesia dan Hukum Acara di Inggris. Jenis Data tersebut juga tersusun secara . 4. Jenis dan Sumber Bahan Hukum Jenis dan sumber bahan hukum dalam penelitian ini meliputi: a. sebagaimana yang biasa dilakukan dalam ilmu empiris. Pendekatan Perbandingan Pentingnya pendekatan ilmu hukum karena dalam bidang hukum tidak memungkinkan dilakukan suatu eksperimen. 3) Systematic.15 norma hukum tersebut cukup mampu menampung permasalahan hukum yang ada. Dari perbandingan tersebut dapat ditemukan unsur-unsur persamaan dan perbedaan kedua system hukum itu. sehingga tidak akan kekurangan hukum. b. Adapun pendekatan yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan undang-undang. norma-norma hukum hierarkis. Pendekatan perbandingan merupakan salah satu cara yang digunakan dalam penelitian normatif untuk membandingkan salah satu lembaga hukum (legal institution) dari sistem hukum yang satu dengan lembaga hukum (yang kurang lebih sama dari system hukum) yang lain. bahwa disamping bertautan antara satu dengan yang lain.

Sumber bahan Hukum Sumber Bahan hukum dalam penelitian ini meliputi : . catatan-catatan resmi. majalah. Bahan hukum primer terdiri dari perundang-undangan. Bahan hukum primer dalam penelitian ini adalah: a) Undang-Undang Dasar RI tahun 1945 b) Batang Tubuh UUD RI tahun 1945 c) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana d) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana e) Undang-Undang No. artinya mempunyai otoritas. koran.16 Jenis data yang penulis pergunakan dalam penelitian ini berupa data sekunder. atau risalah di dalam pembuatan peraturan perundang-undangan dan putusan-putusan hakim. bahan kepustakaan seperti buku-buku. 1) Bahan Hukum Primer Bahan hukum primer merupakan bahan hukum yang bersifat autoratif . jurnal maupun arsip-arsip yang berkesesuaian dengan penelitian yang dibahas. literatur. Data sekunder yaitu data atau informasi hasil penelaahan dokumen penelitian serupa yang pernah dilakukan sebelumnya. b. 48 tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman 2) Bahan Hukum sekunder Bahan hukum sekunder berupa publikasi tentang hukum yang bukan merupakan dokumen-dokumen resmi (Peter Mahmud Marzuki. 2005:141) Bahan hukum sekunder sebagai pendukung dari data yang digunakan dalam penelitian ini ini yaitu buku- .

indeks kumulatif. Agar data yang terkumpul dapat dipertanggungjawabkan . ensiklopedia. 5.17 buku teks yang ditulis para ahli hukum. internet. Teknik Pengumpulan Bahan Hukum Teknik Pengumpulan data yang akan dipergunakan dalam penelitian ini adalah dengan Studi pustaka. artikel. yaitu dengan membuat lembar dokumen yang berfungsi untuk mencatat informasi atau data dari bahan-bahan hukum yang diteliti yang berkaitan dengan masalah penelitian yang sudah dirumuskan. 6. dan sebagainya. yaitu bahan yang memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder. Studi Pustaka adalah teknik pengumpulan data adalah suatu cara yang dipergunakan untuk mengumpulkan data yang ada ditempat penelitian sehingga memperoleh data yang diperlukan. Teknik Analisis Bahan Hukum Analisis data merupakan tahap yang paling penting dalam suatu penelitian. jurnal hukum. kamus besar bahasa Indonesia. dan terkait dengan topik bahasan yaitu bahan dari media internet. Dengan cara menelusuri buku-buku yang berkaitan dengan pengaturan hak untuk tidak menjawab (rights to remain silent) bagi terdakwa dalam peradilan pidana di Inggris dan Indonesia. 3) Bahan Hukum Tersier atau penunjang. dan sumber lainnya yang memiliki korelasi untuk mendukung penelitian ini. Dalam studi ini penulis mempergunakan content identification terhadap bahan-bahan Hukum yang akan diteliti.

Adapun penulis menyususn sistematika penelitian hukum sebagai berikut: Bab I : PENDAHULUAN Dalam bab ini berisi tentang Latar Belakang Masalah. Perumusan Masalah. Analisis data adalah proses pengorganisasian dan pengurutan data dalam pola. maka perlu suatu teknis analisis data yang tepat. Manfaat Penelitian. Bab II Metode Penelitian Hukum serta Sistematika Penulisan Hukum. J. : TINJAUAN PUSTAKA . Tujuan Penelitian. Analisis data merupakan langkah selanjutnya untuk mengolah hasil penelitian menjadi suatu laporan. sehingga akan dapat ditemukan tema dan dapat ditemukan hipotesis kerja yang disarankan oleh data (Lexi J. penulis menggunakan teknik analisis data kualitatif yaitu dengan mengumpulkan data. Sistematika Penulisan Hukum Untuk mempermudah pemahaman mengenai pembahasan dan memberikan gambaran mengenai sistematika penelitian hukum yang sesuai dengan aturan dalam penelitian hukum.18 dan dapat menghasilkan jawaban yang tepat dari suatu permasalahan. Dalam penelitian ini. Moleong. 2009:103). kategori dan uraian dasar. maka penulis menjabarkannya dalam bentuk sistematika penelitian hukum yang terdiri dari 4 (empat) bab dimana tiap-tiap bab terbagi dalam sub-sub bagian yang dimaksudkan untuk memudahkan pemahaman terhadap keseluruhan hasil penelitian. mengkualifikasikan kemudian menghubungkan teori yang berhubungan dengan masalah dan menarik kesimpulan untuk menentukan hasil.

. Asas-asas Hukum Acara Pidana. Bab IV : PENUTUP Pada bagian penutup ini berisi simpulan serta disampaikan beberapa saran.19 Dalam Bab II ini dijelaskan mengenai Kerangka Teori yang berisi tentang tinjauan tentang Hukum Acara Pidana yang berisi sub bab yaitu Batasan Hukum Acara Pidana. Tinjauan tentang Istilah Perbandingan Hukum. Tinjauan Tentang Hak Tersangka dan Terdakwa. Tinjauan Asas Asas The right To Remain Silent di Beberapa Negara serta serta Kerangka Pemikiran Bab III : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Perbandingan pengaturan tentang hak untuk tidak menjawab (Rights to remain silent) bagi terdakwa antara peradilan pidana Inggris (Common Indonesia (Civil Law) dan serta Persamaan dan Law) perbedaan pengaturan hak untuk tidak menjawab (Rights to remain silent) oleh terdakwa antara sistem peradilan pidana Inggris dan IndonesiaPerbandingan sistem peradilan pidana antara Indonesia dan Inggris terkait hak untuk tidak menjawab (Rights to remain silent) oleh terdakwa. Hak-hak Tersangka. Tinjauan Tentang Asas The Right To Remain Silent. Pengertian Tersangka dan Terdakwa. Tinjauan Tentang Asas The Rights To Remain Silent dan Terdakwa..

a. Kerangka Teori 1. Tinjauan tentang Hukum Acara Pidana. yang berlaku sejak diundangkannya Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 Tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP). bahkan sampai meliputi peninjauan kembali (herziening) (Andi Hamzah. bekas Ketua Mahkamah Agung yang dikutip oleh Andi Hamzah. Dengan terciptanya Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana. maka pertama kali di Indonesia diadakan kodifikasi dan unifikasi yang lengkap dalam artian meliputi seluruh proses pidana dari awal (mencari kebenaran) sampai pada kasasi di Mahkamah Agung. 2002:3). Hukum acara pidana yang berlaku di Indonesia berdasar pada peraturan yang terdapat pada Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP).20 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. merumuskan bahwa hukum acara pidana adalah Hukum acara pidana berhubungan erat dengan . Batasan Hukum Acara Pidana Hukum acara pidana merupakan peraturan yang melaksanakan hukum pidana. Hukum acara pidana (hukum pidana formal) adalah hukum yang menyelenggarakan hukum pidana materiil yaitu merupakan sistem kaidah atau norma yang diberlakukan oleh negara untuk melaksanakan hukum pidana atau menjatuhkan pidana. Seperti rumusan Wirdjono Prodjodikoro.

adalah sebagai berikut: Ilmu hukum acara pidana mempelajari peraturan-peraturan . Yahya Harahap berpendapat bahwa Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) sebagai hukum acara pidana yang berisi ketentuan mengenai proses penyelesaian perkara pidana sekaligus menjamin hak asasi tersangka atau terdakwa. Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) sebagai hukum acara pidana yang berisi ketentuan tata tertib proses penyelesaian penanganan kasus tindak pidana. yaitu kepolisian. tersangka atau terdakwa harus diberlakukan berdasar nilai-nilai yang manusiawi (M. karena sesuai dengan jiwa dan semangat yang diamanatkannya. Kitab UndangUndang Hukum Acara Pidana (KUHAP) telah mencoba menggariskan tata tertib hukum yang antara lain akan melepaskan tersangka atau terdakwa maupun keluarganya dari kesengsaraan putus asa di belantara penegakan hukum yang tak bertepi. 2002:7). Pengakuan hukum yang tegas akan hak asasi yang melekat pada diri mereka dari tindakan sewenang-wenang. kejaksaan dan pengadilan harus bertindak guna mencapai tujuan Negara dengan mengadakan hukum pidana (Andi Hamzah. 2002:4). sekaligus telah memberi “legalisasi hak asasi” kepada tersangka atau terdakwa untuk membela kepentingannya di depan pemeriksaan aparat penegak hukum.21 adanya hukum pidana. maka dari itu merupakan suatu rangkaian peraturan-peraturan yang memuat cara bagaimana badan-badan pemerintah yang berkuasa. Yahya Harahap. Definisi mengenai hukum acara pidana lainnya adalah seperti yang dikemukakan oleh Van Bemmelen seperti yang dikutip oleh Andi Hamzah (2002:6).

Dalam perkembangannya muncul berbagai definisi mengenai hukum acara pidana oleh para ahli hukum. Menurut de bos kemper.22 yang diciptakan oleh Negara. hukum acara pidana mengatur bagaimana Negara dengan alat-alat pemerintahannya menggunakan hakhaknya untuk memidana. Menurut Simon. karena adanya terjadi pelanggaranpelanggaran undang-undang pidana : 1) Negara melalui alat-alatnya menyidik kebenaran. 6) Upaya hukum untuk melawan putusan tersebut. Hukum acara pidana Indonesia adalah hukum yang mengatur tentang tata cara beracara (berperkara di badan peradilan) dalam lingkup hukum pidana. hal ini dikarenakan KUHAP tidak memberikan definisi secara eksplisit mengenai pengertian hukum acara pidana. 3) Mengambil tindakan-tindakan yang perlu guna menangkap si pembuat dan kalau perlu menahannya. 4) Mengumpulkan bahan-bahan bukti (bewijsmateriaal) yang telah dipeoleh pada penyidikan kebenaran guna dilimpahkan kepada hakim dan membawa terdakwa ke depan hakim tersebut. definisi dari hukum acara pidana ialah sejumlah asas dan peraturan undangundang yang menngtur bagaimana undang dilanggar negara menggunakan hak-haknya untuk memidana. 2) Sedapat mungkin menyidik pelaku perbuatan itu. 7) Akhirnya melaksanakan keputusan tentang pidana dan tindakan tata tertib. . 5) Hakim memberikan keputusan tentang terbukti tidaknya perbuatan yang dituduhkan kepada terdakwa dan untuk itu menjatuhkan pidana atau tindakan tata tertib.

Faisal Salam. maka perlu mengumpulkan barang-barang bukti. 5) Setelah selesai dilakukan pemeriksaan permulaan atau penyidikan oleh polisi. 2001:3). 2) Apabila benar telah terjadi suatu tindak pidana yang dilakukan oleh seseorang.menahan kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan permulaan atau dilakukan penyidikan. 4) Untuk membuktikan apakah tersanghka benarbenar melakukan suatu tindak pidana. Hal ini dikarenakan dalam Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana sendiri tidak memberikan definisi hukum acara pidana secara implisit. menggeledah badan dan tempat-tempat serta menyita barang-barang bukti yang diduga ada hubungannya dengan perbuatan tersebut. Tujuan dan Fungsi Hukum Acara Pidana 1) Tujuan Hukum Acara Pidana Pemahaman mengenai tujuan KUHAP dapat dilihat dalam b. maka perlu diketahui siapa pelakunya dan cara bagaimana melakukan penyelidikan terhadap pelaku. 3) Apabila telah diketahui pelakunya maka penyelidik perlu menangkap. .23 Dengan kata lain bahwa hukum acara pidana adalah kumpulan peraturan-peraturan hukum yang memuat ketentuan-ketentuan yang mengatur hal-hal sebagai berikut: 1) Tindakan-tindakan apa yang harus diambil apabila ada dugaan bahwa telah terjadi suatu tindak pidana dilakukan oleh seseorang. maka berkas perkara diserahkan pada kejaksaan negeri selanjutnya pemeriksaan dalam sidang pengadilan terhadap terdakwa oleh hakim sampai dapat dijatuhkan pidana (Moch. Definisi-definisi tersebut di atas dikemukakan oleh para ahli hukum.

kejujuran . ketertiban serta kepastian hukum sesuai dengan Undang-Undang Dasar 1945 dan Pancasila”. keadilan dan perlindungan terhadap harkat dan martabat manusia. serta apa pula kewajiban yang dibebankan hukum kepadanya. hal ini sudah barang tentu termuat di dalam KUHAP pelaksanaan menyangkut menurut yang cara-cara baik. b) Meningkatkan sikap mental aparat penegak hukum. Berdasarkan bunyi konsideran tersebut dapat dirumuskan beberapa landasan tujuan KUHAP. setiap hak hukum lebih dan Yaitu anggota dititikberatkan kepada peningkatan masyarakat mengetahui apa hak yang diberikan hukum atau undangundang kepadanya. yang pembinaan keterampilan. penghayatan kewajiban menjadikan kesadaran yang akan hukum. yaitu : a) Peningkatan masyarakat. pelayanan.24 konsideran huruf c KUHAP yang berbunyi: “Bahwa pembangunan hukum nasional yang sedemikian itu di bidang hukum acara pidana adalah agar masyarakat menghayati hak dan kewajibannya dan untuk meningkatkan pembinaan sikap para pelaksana penegak hukum sesuai dengan fungsi dan wewenang masing-masing. ke arah tegaknya hukum.

juga sebagai manusia yang sama derajatnya dengan manusia lain harus ditempatkan harkat mahluk Tuhan. manusia memiliki hak dan kodrat kemanusiaan yang menopang harkat . harus UUD sesuai 1945 dengan serta didasarkan atas nilai-nilai keadilan yang hidup dalam masyarakat. hal tersebut hanya dapat tercipta apabila segala aturan hukum yang ada serta keadilan Pancasila. Tidak ada kelebihan dan kemuliaan antara yang satu dengan yang lain. pada setiap keluhuran Sebagai martabatnya. semua mempunyai harkat dan martabat kemanusiaan sesuai dengan hak-hak asasi yang melekat pada diri tiap manusia. d) Melindungi manusia. bahwa harkat hal semua ini dan tidak matabat dapat ciptaan dilepaskan dari suatu kenyataan manusia Tuhan dan semua akan kembali kepada-Nya. c) Tegaknya hukum dan keadilan. Manusia sebagai hamba Tuhan.25 dan kewibawaan.

Tujuan hukum acara pidana dirumuskan dalam Pedoman Pelaksanaan KUHAP yang dikeluarkan oleh Menteri Kehakiman. Yahya Harahap. ialah kebenaran yang selengkap-lengkapnya dari suatu perkara pidana dengan menerapkan ketentuan hukum . arti dan tujuan mewujudkan ketenteraman dan ketertiban yaitu kehidupan bersama antara anggota masyarakat yang dituntut dan dibina dalam ikatan yang teratur dan layak. 2002:58-79). yang harus dihormati oleh orang lain. e) Menegakkan kehidupan mencari ketertiban masyarakat dan dan adalah kepastian hukum. Tujuan tersebut hanya dapat jalan dan diwujudkan menegakkan dengan ketertiban kepastian hukum dalam setiap aspek kehidupan sesuai dengan kaidahkaidah dan nilai hukum yang telah mereka sepakati (M. sehingga lalu lintas tata pergaulan masyarakat yang bersangkutuan bisa berjalan dengan tertib dan lancar. yang bunyinya adalah sebagai berikut: Tujuan dari hukum acara pidana adalah untuk mencari dan mendapatkan atau setidak-tidaknya mendekati kebenaran material.26 dan martabat pribadinya.

2002:9) 2) Fungsi Hukum Acara Pidana Fungsi hukum acara pidana berawal dari tugas mencari dan menemukan kebenaran hukum. yaitu : a) Mencari dan menemukan kebenaran. Hakekat mencari kebenaran hukum. Menurut Bambang Poernomo (1988:18) bahwa tugas dan fungsi pokok hukum acara pidana dalam pertumbuhannya meliputi empat tugas pokok. Tujuan akhirnya ialah mencari suatu ketertiban.27 acara pidana secara jujur dan tepat dengan tujuan untuk mencari siapakah pelaku yang dapat didakwakan melakukan suatu pelanggaran hukum. ketenteraman. kedamaian. Menurut Andi Hamzah. bahwa tujuan hukum acara pidana mencari kebenaran itu hanyalah merupakan tujuan antara. b) Mengadakan tindakan penuntutan secara benar dan tepat. sebagai tugas awal hukum acara pidana tersebut menjadi landasan dari tugas berikutnya dalam memberikan suatu putusan hakim dan melaksanakan tugas putusan hakim. dan selanjutnya meminta pemeriksaan dan putusan dari pengadilan guna menemukan apakah terbukti bahwa suatu tindak pidana telah dilakukan dan apakah orang yang didakwa itu dapat dipersalahkan (Andi Hamzah. . 2002:8). keadilan dan kesejahteraan dalam masyarakat (Andi Hamzah.

mengemukakan terdapat tiga fungsi hukum acara pidana yaitu : 1) Mencari dan menemukan kebenaran. Asas dapat juga disebut pengertian-pengertian dan nilai-nilai yang menjadi titik tolak berpikir tentang sesuatu. prinsip dan jiwa atau cita-cita. Asas hukum adalah prinsip yang dianggap dasar atau fundamen hukum yang terdiri dari pengertian-pengertian atau nilainilai yang menjadi titik tolak berpikir tentang hukum. Asas adalah suatu dalil umum yang dinyatakan dalam istilah umum dengan tidak menyebutkan secara khusus cara pelaksanaannya. kecuali itu Asas hukum dapat disebut landasan atau alasan bagi terbentuknya suatu peraturan hukum atau merupakan suatu ratio-legis dari suatu . c. 3) Pelaksanaan putusan. Menurut Van Bemmelen.28 c) Memberikan suatu keputusan hakim. d) Melaksanaka n (eksekusi) putusan hakim. seperti yang dikutip oleh Andi Hamzah (2002:9). Asas-asas hukum Acara Pidana Asas dapat berarti dasar. mengenai fungsi hukum acara pidana. fundamental. landasan. 2) Pemberian keputusan hakim.

yang merupakan pengendapan hukum positif dalam suatu masyarakat. menyatakan asas hukum tidak boleh dianggap sebagai norma-norma hukum konkret. Sebaliknya van Eikema Hommes sebagaimana dikutip oleh Sudikno Mertokusumo.29 peraturan hukum yang memuat nila-nilai. Asas yang menyangkut hak-hak asasi manusia. Asas-asas yang menyangkut peradilan 2. Pada dasarnya asas-asas dalam hukum acara pidana terbagi 2: 1. Karena itu asas hukum merupakan jantung atau jembatan suatu peraturan hukum dan hukum positif dengan cita-cita sosial dan pandangan etis masyarakat. . sedangkan asas hukum subjektif adalah prinsip-prinsip yang menyatakan kedudukan subjek berhubungan dengan hukum. Pembentukan hukum harus berorientasi pada asas-asas hukum tersebut. cita-cita sosial atau perundangan etis yang ingin diwujudkan. tetapi harus dpandang sebagai dasar-dasar umum atau petunjuk bagi hukum yang berlaku. Asas hukum objektif adalah prinsip-pronsip yang menjadi dasar bagi pembentukan peraturan-peraturan hukum. Asas dapat dibedakan antara asas hukum objektif dan asas hukum subjektif . sehingga menjadi dasar atau petunjuk arah dalam pembentukan hukum positif. jiwa. Menurut Bellefroid sebagaimana dikutip oleh Sudikno Mertokusumo. asas hukum umum adalah norma yang dijabarkan dari hukum positif dan oleh ilmu hukum tidak dianggap berasal dari aturan-aturan yang lebih umum. Pengertian asas hukum umum yang dirumuskan oleh Bellefroid merupakan pengertian yang berbeda dengan rumusan asas dalam ilmu hukum.

dipidana dan atau dikenakan hukuman administrasi (asas pemberian ganti kerugian dan rehabilitasi atas salah tangkap. penahanan. ditahan. dan biaya ringan serta bebas. ditangkap. Perlakuan yang sama atas diri setiap orang di muka huku dengan tidak mengadakan pembedaan perlakukan (asas persamaan dimuka hukum). dituntut ataupun diadili tanpa alasan yang berdasarkan Undang-Undang dan atau kekeliruan mengenai orangnya atau hukum yang diterapkan wajib diberi ganti kerugian dan rehabilitasi sejak tingkat penyidikan dan para pejabat penegak hukum yang dengan sengaja atau karena kelalaiannya menyebabkan asas hukum tersebut dilanggar. sederhana. Pengadilan yang harus dilakukan dengan cepat. jujur dan tidak memihak harus diterapkan secara konsekuen dalam seluruh tingkat peradilan (asas peradilan yang cepat. wajib dianggap tidak bersalah sampai adanya putusan pengadilan yang menyatakan kesalahannya dan memperoleh kekuatan hukum tetap (asas praduga tidak bersalah). Setiap orang yang disangka. Penangkapan. sederhana. dituntut dan dihadapkan di muka sidang pengadilan.30 Dalam Penjelasan KUHAP butir ke-3 memuat asas-asas hukum acara pidana yang terdapat dalam KUHAP yaitu sebagai berikut: a. jujur dan tidak memihak). d. ditahan. Kepada seorang yang ditangkap. c. e. dan biaya ringan serta bebas. Setiap orang yang tersangkut perkara wajib diberi kesempatan untuk memperoleh bantuan hukum yang semata-mata diberikan untuk melaksanakan . penggeledahan dan penyitaan harus dilakukan berdasarkan perintah tertulis oleh pejabat yang diberi wewenang oleh Undang-Undang dan hanya dalam hal dan dengan cara yang diatur dengan Undang-Undang (asas perintah tertulis). dituntut. f. salah tahan dan salah tuntut). b.

2002:40). Sidang pemeriksaan pengadilan adalah terbuka untuk umum kecuali dalam hal yang diatur dalam Undang-Undang (asas pemeriksaan pengadilan terbuka untuk umum). Tinjauan Tentang Hak Tersangka dan Terdakwa a. yaitu tersangka dalam pemeriksaan dipandang sebagai subjek berhadap-hadapan dengan pihak lain yang memeriksa atau mendakwa yaitu kepolisian atau kejaksaan sedemikian rupa sehingga kedua pihak mempunyai hak-hak yang sama nilainya (asas accusatoir) (M. Pengertian Tersangka dan Terdakwa Tersangka atau terdakwa adalah orang-orang yang diduga telah melakukan tindak pidana. j. h. k. Yahya Harahap. menunjukkan bahwa KUHAP menganut asas akusator. Kepada seorang tersangka sejak dilakukan penangkapan dan atau penahanan selain wajib diberitahu dakwaan atas dasar hukum apa yang didakwakan kepadanya. berdasarkan bukti permulan patut diduga sebagai .31 g. dalam Pasal 1 butir 14 KUHAP dijelaskan: “Tersangka adalah seorang yang karena perbuatannya atau keadaannya. kepentingan pembelaan atas dirinya ( asas memperoleh bantuan hukum seluas-luasnya). juga wajib diberitahu haknya termasuk hak untuk menghubingi dan meminta bantuan penasihat hukum (asas wajib diberitahu dakwaan dan dasar hukum dakwaan). 2. i. Pengadilan memeriksa perkara pidana dengan hadirnya terdakwa (asas hadirnya terdakwa). Tersangka diberi kebebasan memberi dan mendapatkan penasihat hukum. Hal ini dijelaskan dalam KUHAP Pasal 1 butir 14 dan butir 15. Pengawasan pelaksanaan putusan pengadilan dalam perkara pidana dilakukan oleh ketua pengadilan negeri yang bersangkutan (asas Pengawasan pelaksanaan putusan).

Berdasarkan penjelasan tersebut dapat diketahui bahwa seorang tersangka atau terdakwa adalah orang yang diduga melakukan tindak pidana sesuai dengan bukti permulaan yang cukup. penggeledahan. penahanan. mirip pula dengan butir 14 Pasal 1 KUHAP. disidik. Pada saat ini tersangka atau terdakwa tidak lebih dari objek pemeriksaan yang dapat diperlakukan sekehendak hati oleh aparat penegak hukum. Hak asasi. penyitaan sesuai cara yang diatur dalam Undang-Undang. Kemudian harus dilakukan tindakan penuntutan dimuka sidang oleh penuntut umum dan hakim dan jika perlu dapat dilakukan tindakan upaya paksa seperti penangkapan. untuk itu. harkat dan martabat dari tersangka atau terdakwa tidak pernah dihargai.32 pelaku tindak pidana”. Definisi Ned. kecuali kata-kata tersebut dimuka. sehingga orang tersebut harus diselidik. . dan diperiksa oleh penyidik. Sementara Pasal 1 butir 15 KUHAP. Sv. diperiksa dan diadili dalam sidang pengadilan”.” Kata yang dipakai Ned. Sv. Wet boek strafvordering Belanda tidak membedakan istilah tersangka dan terdakwa (tidak lagi memakai dua istilah beklaadge dan verdachte. menjelaskan: “Terdakwa adalah seorang tersangka yang dituntut. Jadi fakta-fakta atau keadaan-keadaan yang menjurus kepada dugaan yang patut bahwa tersangkalah yang berbuat perbuatan itu. yang tersebut pada Pasal 27 ayat (2)” … feiten of omstandingheden” (fakta-fakta atau keadaan-keadaan) lebih tepat karena lebih objektif. Dalam definisi tersebut terdapat kata-kata “karena perbuatannya atau keadaannya.

baik sengaja maupun kulpa. pendapat-pendapat sarjana belanda terutama suatu dewan redaksi yang menyusun komentar patut diduga melakukan perbuatan delik ialah penyidik dan penuntut umum. Jika sesorang ditahan sedangkan menurut ukuran objectif tidak patut dipandang telah melakukan delik itu. Kedua kepentingan tersebut mesti dijaga dan dijamin . Hak-hak Tersangka dan Terdakwa Pada hakekatnya proses penyelenggaraan peradilan pidana melalui implementasi ketentuan-ketentuan hukum acara pidana bertujuan untuk mencari kebenaran materiil. Sv. Menurut Duisterinkel. seharusnya penafsiran itu objektif.33 Pasal 27 ayat (1) Ned. ed. b. harus dibedakan patut diduga (redelijk vermoeden) dengan sangat diduga (ernstig vermoeden). maka penyidik atau penuntut umum dapat diancam pidana melanggar kemerdekaan orang. : “…als verdache wordi aangemerkt degene te weins aanzien uit feitenof omstadig heden een redejelijk vermoden van schuld aan eeinig strafbaar feit voorvloeit…. Dalam hal ini ada dua kerangka penting yang harus di perhatikan. Oleh karena itu. yaitu kepentingtan negara dan kepentingan para pencari keadilan (tersangka atau terdakwa). Persamaan dengan perumusan atau definisi KUHAP ialah kata patut diduga (redelijk vermoeden).” (…yang dipandang sebagai tersangka ialah orang karena fakta-fakta atau keadaan-keadaan menunjukan ia patut diduga bersalah melakukan suatu delik). namun demikian.

34 keseimbangannya oleh hukum acara pidana. Seperti disebutkan dalam KUHAP Pasal 50 disebutkan bahwa seorang tersangka berhak segera mendapatkan pemeriksaan oleh penyidik dan selanjutnya dihadapkan pada penuntut umum. Pasti berarti juga terukur. Seorang tersangka atau terdakwa mempunyai hak untuk membela diri baik dengan penasehat hukum atau tidak. 2) Hak untuk melakukan pembelaan. Berbagai pembelaan yang dapat dilakukan oleh tersangka atau terdakwa . jelas dan transparan. Kepastian hukum tersangka/ terdakwa berarti setiap tersangka/terdakwa harus diproses melalui hukum dengan standar yang sama atas semua kasus yang sama dan terhadap orang yang sama. Hak-hak tersebut meliputi: 1) Hak untuk segera mendapat pemeriksaan. Kemudian hak tersangka untuk perkaranya segera diajukan ke Pengadilan dan berhak segera diadili oleh Pengadilan. Seorang terdakwa atau tersangka mempunyai hak untuk segera mendapatkan pemeriksaan baik dalam penyidikan atau dalam persidangan. Tersangka atau terdakwa diberi seperangkat hak-hak oleh KUHAP mulai dari Pasal 50 sampai dengan Pasal 68. Hukum acara merupakan salah satu instrumen utama dalam sistem peradilan pidana di Indonesia yang dimaksudkan memberikan jaminan kepastian hukum terhadap tersangka/ terdakwa. agar terlaksana dengan seimbang hak.hak asasi tersangka/ terdakwa.

mulai dari penyidikan sampai pemeriksaan di Pengadilan. Ketidak puasan atas putusan pengadilan bisa dimanfaatkan untuk melakukan upaya hukum yang di bagi menjadi dua. Upaya hukum biasa dapat berupa permintaan banding kepada Pengadilan Tinggi dan Upaya permintaan kasasi kepada Mahkamah Agung.35 diatur dalam KUHAP Pasal 51-57. yang dapat diuraikan sebagai berikut: (a) Berhak diberitahukan dengan jelas dan dengan bahasa yang dimengerti olehnya tentang apa yang disangkakan kepadanya. (c) Berhak untuk mendapatkan juru bahasa dalam semua tingkat pemeriksaan baik dari penyidikan sampai proses pengadilan. (b) Berhak memberikan keterangan secara bebas dalam berbagai tingkat pemeriksaan. yaitu: (a) Upaya hukum biasa. (b) Upaya hukum luar biasa. (d) Berhak untuk mendapatkan bantuan hukum oleh seorang atau beberapa penasehat hukum dalam semua tingkat pemeriksaan. Berdasarkan pada Undang-Undang seorang terdakwa yang dijatuhi hukuman dapat menerima atau menolak putusan yang dijatuhkan. 3) Hak untuk melakukan upaya hukum. Upaya hukum luar biasa dapat berupa permintaan pemeriksaan Peninjauan kembali terhadap putusan pengadilan .

atau penyitaan yang dilakukan tanpa alasan hukum yang sah. 7) hak tersangka atau terdakwa yang berkebangsaan asing untuk menghubungi atau berbicara dengan perwakilan negaranya (Pasal . penggeledahan. Ganti rugi atau rehabilitasi dapat dilakukan oleh tersangka atau terdakwa apabila: (a) Penangkapan. 4) Hak untuk mendapat ganti rugi dan rehabilitasi.36 yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. 6) hak terdakwa untuk menuntut terhadap hakim yang mengadili perkaranya (Pasal 27 ayat (1) Undang-Undang Pokok kekuasaan Kehakiman). 4) hak untuk mendapat juru bahasa (Pasal 53 ayat (1)). 3) hak untuk memberikan keterangan secara bebas kepada penyidik dan hakim seperti tersebut dimuka (Pasal 52). (b) Apabila putusan pengadilan menyatakan terdakwa bebas karena tindak pidana yang didakwakan tidak terbukti atau tindak pidana yang didakwakan kepadanya bukan merupakan suatu kejahatan atau pelanggaran. Apabila dilihat dalam Pasal-Pasal KUHAP antara lain sebagai berikut: 1) hak untuk diperiksa. dan (3)). dan diadili (Pasal 50 ayat 91). 2) hak untuk mengetahui dengan jelas dan bahasa yang dimengerti olehnya tentang apa yang disangkakan dan apa yang didakwakan (Pasal 51 huruf a dan b). 5) hak untuk mendapatkan bantuan hukum pada setiap tingkat pemeriksaan (Pasal 54). diajukan ke pengadilan. penahanan. (2).

15) hak untuk mendapat nasihat hukum dari penasihat hukum yang ditunjuk oleh pejabat yang bersangkutan pada semua tingkat pemeriksaan bagi tersangka atau terdakwa yang diancam pidana mati dengan biaya cuma-cuma. 12) hak tersangka atau terdakwa untuk menghubungi dan menerima kunjungan rohaniawan (Pasal 63) 13) hak tersangka atau terdakwa untuk mengajukan saksi dan ahli yang a de charge (Pasal 65). Untuk kepentingan pekerjaan atau kepentingan keluarga (Pasal 61). 11) hak tersangka atau terdakwa untuk berhubungan surat-menyurat dengan penasihat hukumnya (Pasal 62). droit comparé (bahasa Perancis). 10) hak untuk dikunjungi sanak keluarga yang tidak ada hubungan dengan perkara tersangka atau terdakwa. 9) hak untuk diberitahu kepada keluarganya atau orang lain yang serumah dengan tersangka atau terdakwa yang ditahan untuk mendapat bantuan hukum atau jaminan bagi penangguhannya dan hak untuk berhubungan dengan keluarga dengan maksud yang sama diatas (Pasal 59-60). diterjemahkan: comparative law (bahasa Inggris). 14) hak tersangka atau terdakwa untuk menuntut ganti kerugian (Pasal 68). . dalam bahasa asing. vergleihende rechstlehre (bahasa Belanda). Tinjauan tentang Istilah Perbandingan Hukum Istilah perbandingan hukum.37 57 ayat (2)). 3. 8) hak untuk menghubungi dokter bagi tersangka atau terdakwa yang ditahan (Pasal 58).

dan tampaknya sudah sejalan dengan istilah yang telah dipergunakan untuk hal yang sama di bidang hukum perdata. menjadi hukum perselisihan. maka perlu dikemukakan definisi perbandingan hukum dari beberapa pakar hukum terkenal. bahwa perbandingan hukum adalah suatu metoda yaitu perbandingan sistem-sistem hukum dan perbandingan tersebut menghasilkan data sistem hukum yang dibandingkan (Romli Atmasasmita. Istilah yang dipergunakan dalam penulisan hukum ini. 2000 : 7). Istilah ini sudah memasyarakat di kalangan teoritikus hukum di Indonesia. Untuk memperoleh bahan yang lebih lengkap. Perbandingan hukum bukanlah perangkat peraturan dan asas-asas hukum dan bukan suatu cabang hukum. Rudolf B. melainkan merupakan teknik untuk menghadapi unsur hukum asing dari suatu masalah hukum (Romli Atmasasmita. Schlesinger mengatakan bahwa.38 Istilah ini. yang artinya menjadi lain bagi pendidikan hukum di Indonesia (Romli Atmasasmita. yaitu perbandingan hukum perdata. 2000 : 7). dalam pendidikan tinggi hukum di Amerika Serikat. sering diterjemahkan lain. adalah perbandingan hukum (pidana). perbandingan hukum merupakan metoda penyelidikan dengan tujuan untuk memperoleh pengetahuan yang lebih dalam tentang bahan hukum tertentu. yaitu sebagai conflict law atau dialihbahasakan. 2000 : 6). Gutteridge membedakan antara . Winterton mengemukakan. Gutteridge menyatakan bahwa perbandingan hukum adalah suatu metoda yaitu metoda perbandingan yang dapat digunakan dalam semua cabang hukum.

the problems of justice are basically the same in time and space throughout the world.( Perbandingan hukum hanya suatu nama lain untuk ilmu hukum dan merupakan bagian yang menyatu . L. Lemaire mengemukakan. Hesel Yutena mengemukakan definisi perbandingan hukum sebagai berikut: Comparative law is simply another name for legal science. Gutteridge. Ole Lando mengemukakan antara lain bahwa perbandingan hukum mencakup : “analysis and comparison of the laws”. or like other branches of science it has a universal humanistic outlook . Pendapat tersebut sudah menunjukkan kecenderungan untuk mengakui perbandingan sebagai cabang ilmu hukum (Romli Atmasasmita. pengertian istilah yang pertama untuk membandingkan dua sistem hukum atau lebih. it contemplates that while the technique nay vary. dan George Winterton (Romli Atmasasmita. 2000 : 9). sedangkan pengertian istilah yang kedua. sebab-sebabnya dan dasar-dasar kemasyarakatannya (Romli Atmasasmita. persamaan dan perbedaannya. 2000 : 9). perbandingan hukum sebagai cabang ilmu pengetahuan (yang juga mempergunakan metoda perbandingan) mempunyai lingkup : (isi dari) kaidah-kaidah hukum.of Comp.J. Para pakar hukum ini adalah : Frederik Pollock. Perbandingan hukum adalah metoda umum dari suatu perbandingan dan penelitian perbandingan yang dapat diterapkan dalam bidang hukum.39 comparative law dan foreign law (hukum asing). Rene David. dalam The Am. adalah mempelajari hukum asing tanpa secara nyata membandingkannya dengan sistem hukum yang lain (Winterton. 2000 : 8). 2000 : 7).. 1975 : 72 di terjemahkan dalam buku Romli Atmasasmita.

masalah keadilan pada dasarnya sama baik menurut waktu dan tempat di seluruh dunia) (Romli Atmasasmita. looking at comparable legal institutions and concepts and typing to determine solutions to certain problems in these sistems with a definite goal in mind. 2000 : 10). (Perbandingan hukum adalah perbandingan dari jiwa dan gaya dari system hukum yang berbedabeda atau lembaga-lembagahukum yang berbeda-beda atau penyelesaian masalah hukum yang dapat diperbandingkan dalam . 2000 : 9). (Perbandingan hukum merupakan suatu disiplin ilmu hukum yang bertujuan menemukan persamaan dan perbedaan serta menemukan pula hubungan-hubungan erat antara berbagai system-sistem hukum.40 dari suatu ilmu sosial. their essence and style. melihat perbandingan lembaga-lembaga hukum konsep-konsep serta mencoba menentukan suatu penyelesaian atas masalah-masalah tertentu dalam sistem-sistem hukum dimaksud dengan tujuan seperti pembaharuan hukum. unifikasi hukum dan lain-lain) (Romli Atmasasmita. Orucu mengemukakan suatu definisi perbandingan hukum sebagai berikut : Comparative law is legal discipline aiming at ascertaining similarities and differences and finding out relationship between various legal sistems. sekalipun caranya berlainan. unification etc. atau seperti cabang ilmu lainnya perbandingan hukum memiliki wawasan yang universal. such as law reform. Definisi lain mengenai kedudukan perbandingan hukum dikemukakan oleh Zweigert dan Kort yaitu : Comparative law is the comparison of the spirit and style of different legal sistem or of comparable legal institutions of the solution of comparable legal problems in different sistem.

41

system hukum yang berbeda-beda) (Romli Atmasasmita, 2000 : 10). Romli Atmasasmita yang berpendapat perbandingan hukum adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari secara sistematis hukum (pidana) dari dua atau lebih sistem hukum dengan mempergunakan metoda perbandingan (Romli Atmasasmita, 2000 : 12). 4. Tinjauan Tentang Asas The Right To Remain Silent KUHAP tidak menganut asas the right to remain silent atau asas the right of non self incrimination (M.Yahya Harahap, 1988:725). Jadi KUHAP tidak mengenal asas yang memberi hak kepada terdakwa untuk menolak menjawab pertanyaan, karena ketika seseorang menjadi terperiksa/ terdakwa, akan menjadi sesuatu hal yang wajar dan diperkenankan untuk berbohong sesuai dengan asas the right to remain silent dan hak ingkar. Adanya asas the right to remain silent semata- mata adalah usaha untuk mencegah tindakan menyimpang seperti penggunaan penyiksaan dalam proses penyidikan. Hal ini sebenarnya telah ditoleransi dan menjadi perhatian penyusun undang-undang sebagai bagian dari hak-hak tersangka/terdakwa dalam KUHAP. Pasal 52 KUHAP menyatakan, ''Dalam pemeriksaan pada tingkat penyidikan dan peradilan, tersangka atau terdakwa berhak memberikan keterangan secara bebas kepada penyidik atau hakim''. Menurut penjelasan Pasal 52 KUHAP, supaya pemeriksaan dapat mencapai hasil yang tidak menyimpang dari yang sebenarnya, maka tersangka atau terdakwa harus dijauhkan dari rasa takut. Oleh karena itu wajib dicegah adanya paksaan atau tekanan terhadap

42

tersangka atau terdakwa. Hak untuk diam adalah hukum hak setiap orang dikenakan kepada polisi interogasi atau dipanggil untuk pergi ke persidangan di pengadilan hukum. Hak ini diakui, secara eksplisit atau dengan konvensi, di banyak sistem hukum di dunia. Hak ini mencakup sejumlah isu berpusat sekitar hak terdakwa atau terdakwa menolak memberikan komentar atau memberikan jawaban ketika ditanya, baik sebelum atau selama proses hukum di pengadilan hukum. Hal ini dapat hak untuk menghindari diri inkriminasi atau hak untuk tetap diam ketika ditanya. Hak biasanya mencakup ketentuan bahwa komentar yang merugikan atau kesimpulan tidak dapat dibuat oleh hakim atau juri tentang penolakan oleh terdakwa untuk menjawab pertanyaan sebelum atau selama sidang berlangsung, pendengaran atau upaya hukum lainnya. Hak ini hanya merupakan sebagian kecil dari hakhak terdakwa secara keseluruhan Di beberapa negara seperti Australia, tidak memiliki perlindungan konstitusional hak untuk diam, tetapi secara luas diakui oleh Negara dan Kejahatan Federal Kisah dan Kode dan dianggap oleh pengadilan sebagai hak hukum umum penting. Secara umum, tersangka kriminal di Australia memiliki hak untuk menolak untuk menjawab pertanyaan yang diajukan kepada mereka oleh polisi sebelum persidangan dan menolak untuk memberikan bukti di pengadilan. Sebagai hakim aturan umum tidak dapat langsung juri untuk menarik kesimpulan yang merugikan dari terdakwa diam (R v Petty) tetapi ada pengecualian untuk aturan ini, terutama dalam kasus-kasus yang bergantung sepenuhnya pada

43

bukti-bukti yang hanya mungkin bagi terdakwa untuk bersaksi tentang (v Weissensteiner). Hak ini tidak berlaku untuk perusahaan (EPA v Caltex). Ada berbagai hukum abrogations hak, khususnya di wilayah kebangkrutan. Ada juga abrogations hak dalam antiterorisme baru-baru ini Federal dan Victoria Kisah kejahatan terorganisi. Masing-masing menyiapkan mempertanyakan tindakan koersif rezim yang beroperasi di luar proses pidana biasa. Namun, bukti kesaksian langsung yang diperoleh dari pertanyaan ini memaksa tidak dapat digunakan dalam pengadilan kriminal berikutnya dari orang yang memberikan bukti. Di Perancis, pada Hukum Acara Pidana (Pasal L116) membuat mewajibkan bahwa ketika mendengar hakim yang menyelidiki tersangka, ia harus memperingatkan bahwa ia berhak untuk tetap diam, untuk membuat pernyataan, atau menjawab pertanyaan. Seseorang berbaring kecurigaan terhadap yang tidak bisa secara legal diinterogasi oleh keadilan sebagai saksi biasa. Pada sidang yang sebenarnya, terdakwa dapat dipaksa untuk membuat pernyataan. Namun, kode tersebut juga melarang mendengar tersangka di bawah sumpah; demikian, tersangka dapat mengatakan apa saja yang dia merasa cocok untuk pembelaannya, tanpa takut sanksi untuk sumpah palsu. Larangan ini diperpanjang menjadi tersangka pasangan dan anggota keluarga dekatnya (ini perpanjangan larangan dapat diabaikan jika kedua penuntutan dan pembelaan pengacara setuju untuk surat pembatalan tersebut). Di Belanda, setiap tersangka dituduh memiliki hak untuk tetap diam untuk pertanyaan dari polisi dan jaksa, selama interogasi atau pemeriksaan di sidang. Ada pengecualian: Terdakwa harus

akan menjadi sesuatu hal yang wajar dan diperkenankan untuk berbohong sesuai dengan asas the rights to remain silent dan hak ingkar.44 bekerja sama bila ada "een aan de wil van de verdachte onafhankelijk goed" (terjemahan diperlukan). Seperti tes DNA hanya dapat dilakukan atas permintaan Jaksa dan diperintahkan oleh hakim. Beberapa Pasal dalam KUHAP yang berkaitan dengan asas Rights to remain silent antara lain: a. Atau terdakwa harus bekerja sama dalam penyerahan lendir. Pasal 52 menyatakan: “ Dalam pemeriksaan pada tingkat penyidikan dan pengadilan. Ada juga harus keberatan serius terhadap terdakwa. seorang tersangka harus bekerja sama dengan memberikan sampel darah (dengan kecurigaan alkohol dalam lalu lintas). ketombe atau rambut untuk tes DNA. KUHAP tidak mengenal asas yang memberi hak kepada terdakwa untuk menolak menjawab pertanyaan. tersangka atau terdakwa berhak memberikan keterangan secara bebas kepada penyidik atau hakim”. Dalam penjelasan Pasal 52 KUHAP dimaksudkan . Hal ini sebenarnya telah ditoleransi dan menjadi perhatian penyusun Undang-Undang sebagai bagian dari hak-hak tersangka/terdakwa dalam KUHAP. Asas Rights to remain silent keberadaannya semata-mata adalah usaha untuk mencegah tindakan menyimpang seperti penggunaan penyiksaan dalam proses penyidikan. karena ketika seseorang menjadi terperiksa/terdakwa. Sebagai contoh. Dan penahanan sementara telah menjadi untuk berlaku.

Pasal 175 KUHAP menyatakan: “ Jika . b. Namun sangat disayangkan karena kedua Pasal ini tidak menyebutkan sama sekali tentang masalah keabsahan hasil penyidikan yang diperoleh dengan cara penyiksaan. karena dalam perundang-undangan hukum acara pidana adanya suatu pengakuan terdakwa tidaklah dipergunakan sebagai alat bukti bahkan hanya menempati urutan terakhir sebagai alat bukti yang termuat dalam Pasal 184 ayat (1) KUHAP dengan penyebutan “keterangan terdakwa” bukan suatu “pengakuan terdakwa”. maksudnya keterangan tersangka atau terdakwa hanya dapat dipergunakan bagi dirinya sendiri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 189 ayat (3) KUHAP. c.45 supaya pemeriksaan dapat mencapai hasil yang tidak menyimpang dari yang sebenarnya. Pasal 117 menyatakan: “Bahwa keterangan tersangka dan atau saksi kepada penyidik diberikan tanpa tekanan dari siapapun dan atau dalam bentuk apapun. Oleh karena itu wajib dicegah adanya paksaan atau tekanan terhadap tersangka atau terdakwa. maka tersangka atau terdakwa harus dijauhkan dari rasa takut. Pasal 52 dan Pasal 117 KUHAP berkaitan erat dengan asas rights to remain silent yaitu suatu hak tersangka untuk tidak menjawab.

keteertiban pada sisi lain tanpa mengorbankan hak-hak asasi manusia demi mengejar kepentingan umum. maka hakim. Diamnya terdakwa harus dinilai secara kasuistis dan realistis. apalagi sampai mempertimbangkan dan menarik kesimpulan bahwa keengganan menjawab sebagai keadaan yang membertakan kesalahan dan hukuman terdakwa. Selain itu hakim ataupun penuntut umum tidak boleh mengartikan diamnya terdakwa sebagai tingkah laku dan perbuatan menghalangi dan mengganggu ketertiban sidang. pemeriksaan terdakwa dititiksentralkan pada asas keseimbangan antara kepentingan .46 terdakwa tidak mau menjawab atau menolak untuk menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya. Hakim tidak boleh memaksa terdakwa untuk menjawab. jika terdakwa tidak mau menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya. yang sebaiknya dilakukan adalah “menganjurkan” terdakwa untuk menjawab. Dari asas yang telah dibahas di atas. hakim ketua sidang menganjurkan untuk menjawab dan setelah itu pemeriksaan dilanjutkan”. penasihat hukum dan terdakwa harus menyadari bahwa pelaksanaan asas rights to remain silent dilaksanakan sesuai asas keseimbangan menurut Pasal 175 KUHAP yaitu pemeriksaan terdakwa di sidang pengadilan harus melindungi kepentingan terdakwa sebagai manusia yang memiliki hak-hak asasi dan kepentingan. Dalam upaya menciptakan keseimbangan dan keselarasan kepentingan dan perlindungan hukum. dengan argumentasi yang matang dan cukup pertimbangannya.

untuk mengungkap kebenaran yang sebenarnya dalam pemeriksaan. pengadilan dan pemidanaan. Oleh karena itu. Keberadaan Pasal 175 untuk melegalkan terdakwa tidak menjawab pertanyaan yang diajukan ketika pemeriksaan. Raffel v di AS. tidak semata. setelah penangkapan dan Miranda atas hak-hak tersebut.47 terdakwa pada satu pihak dan kepentingan umum di pihak lain. di Amerika Serikat. 5. Dalam praktek penegakan hukum. Tinjauan Asas Asas The right To Remain Silent di Beberapa Negara a.mata digunakan begitu saja karena terdakwa bisa dengan mudah lepas dari tanggung jawab tindak pidana yang dilakukan. seseorang menyerah Amandemen Keempat dan Kelima hak-hak yang di bawah Raffel secara teknis tidak dapat diminta kembali. pengadilan menemukan bahwa pada saat seorang tersangka bekerja sama dan jawaban pertanyaan dan / atau mengizinkan untuk mencari. dengan bekerja sama dengan polisi dengan cara apapun sebelum penangkapan. Dalam kenyataan ini menjadikan peringatan Miranda berlaku agak terbatas. karena polisi tidak perlu menasihati seseorang dari hak-hak nya sampai setelah ia mendakwa diri pemberitahuan . Amerika Serikat Perlu dicatat bahwa ada konflik yang mencolok antara Miranda dan Raffel v United State yang tetap tidak terpecahkan oleh Mahkamah Agung AS. tersangka menyerahkan hakhak tersebut dan harus terus kerja sama dan persetujuan melalui orang itu mungkin / akhirnya penangkapan.

Di Amerika Serikat. jika orang yang telah bekerja sama sebelum penangkapan.48 sendiri dan / atau ditahan. dan polisi tidak terikat oleh apa pun mereka berjanji untuk tersangka atau saksi (yaitu janji-janji bantuan atau perlindungan ). Pengadilan Distrik AS untuk Vermont memutuskan bahwa karena terdakwa telah bekerja sama sejauh . In Re Grand Jury subpoena untuk Sebastien Boucher. satu-satunya cara untuk satu untuk melindungi hak-hak seseorang sepenuhnya adalah untuk menolak menjawab pertanyaan apa pun di luar memberikan satu nama dan mengidentifikasi makalah jika diminta dan untuk menolak memberikan persetujuan terhadap apa pun (seperti pencarian) sebelum penangkapan seseorang. Mereka dapat membuat janji dan klaim yang mereka sukai dalam rangka untuk mendorong seseorang untuk memberatkan dirinya sendiri atau mengizinkan polisi untuk melakukan pencarian. Polisi tidak perlu memberitahu sipil kebenaran mengenai apa saja. Amerika Serikat warga negara harus tahu hakhak mereka untuk menghindari kehilangan mereka dengan sengaja memberikan mereka pergi Raffel terus ditegakkan di Pengadilan AS meskipun kontradiksi dengan Miranda. Aparat penegak hukum di Amerika Serikat sangat tergantung pada intimidasi halus posisi mereka dan kekuasaan dan ketidaktahuan masyarakat untuk hak-hak mereka untuk membuat orang-orang yang memberatkan diri mereka sendiri sehingga mereka kemudian dapat menangkap mereka. maka tahanan telah menyerahkan sebagian besar hak-hak yang memberikan nasehat kepada polisi bahwa tahanan.

49 yang ia miliki dan sudah berpotensi memberatkan dirinya sendiri. beberapa negara termasuk Kanada telah dengan hati-hati menghindari kontradiksi tersebut dengan jelas dapat diterima di pengadilan membuat segala informasi / pernyataan yang diberikan oleh tersangka sebelum konsultasi hak-hak mereka untuk membungkam dan perwakilan. Secara umum. tersangka kriminal di Australia memiliki hak untuk menolak untuk . b. Australia Australia tidak memiliki perlindungan konstitusional hak untuk diam. bahwa ia sekarang harus menyerahkan akses lengkap untuk semua informasi pada laptop. dengan menyatakan kepemilikan laptop-nya dan memberikan sebagian penegakan hukum dengan akses ke sana sebelum penangkapannya. tetapi secara luas diakui oleh Negara dan Kejahatan Federal Kisah dan Kode dan dianggap oleh pengadilan sebagai hukum umum yang penting benar. Karena terdakwa telah bekerja sama dalam bagian. bahkan dienkripsi dan berpotensi memberatkan diri atau informasi rahasia. Mahkamah menyatakan bahwa terdakwa harus terus kerjasama dan menyediakan terdekrip dan berpotensi membahayakan informasi kepada pemerintah. Hal ini sangat penting karena sebelum putusan Mahkamah Agung AS biasanya melindungi tersangka bahkan setelah keyakinan dari persyaratan yg memberatkan diri sendiri mengungkapkan informasi seperti lokasi korban mereka 'tubuh dan / atau properti. Seperti yang tertera di bawah ini.

setiap pernyataan yang mereka buat polisi dianggap tanpa sadar dipaksa dan tidak dapat .50 menjawab pertanyaan yang diajukan kepada mereka oleh polisi sebelum persidangan dan menolak untuk memberikan bukti di pengadilan. Ada juga abrogations hak Federal baru-baru ini anti-terorisme dan kejahatan terorganisir Victoria Kisah. Sebagai aturan umum hakim tidak dapat langsung merugikan juri untuk menarik kesimpulan dari terdakwa diam (Petty v R) tetapi ada beberapa pengecualian terhadap aturan ini. Terdakwa tidak dapat dipaksa sebagai saksi terhadap dirinya sendiri dalam proses pidana. Sebelum seorang terdakwa mendapat informasi tentang hak mereka untuk penasihat hukum. c. Hak ini tidak berlaku untuk perusahaan (EPA v Caltex). bukti kesaksian langsung yang diperoleh dari pertanyaan koersif ini tidak dapat digunakan dalam pengadilan kriminal berikutnya dari orang yang memberikan bukti. Kanada Hak untuk diam adalah dilindungi di bawah bagian 7 dan pasal 11 (c) dari Kanada Piagam Hak dan Kebebasan. terutama dalam kasus-kasus yang mengandalkan sepenuhnya pada bukti-bukti yang itu hanya mungkin bagi terdakwa untuk bersaksi tentang (Weissensteiner v). Ada banyak abrogations perundang-undangan yang tepat. Namun. Masing-masing menyiapkan tindakan koersif rezim pertanyaan yang beroperasi di luar proses pidana biasa. khususnya di bidang kebangkrutan. dan karena itu hanya pernyataan yang dibuat secara sukarela kepada polisi yang diterima sebagai bukti.

Hukum Acara Pidana (pasal L116) . yang menyatakan bahwa terdakwa tidak bisa tertipu untuk memberitahukan informasi apapun sampai mereka berkonsultasi dengan seorang pengacara . Setelah mendapat informasi tentang hak untuk pengacara. Hebert. Kasus terkemuka di kanan untuk keheningan adalah R. Dalam kebanyakan kasus. Hal ini mungkin berlawanan dengan AS hak untuk menolak untuk menjawab pertanyaan memberatkan di bawah Amandemen ke-5 bahkan ketika di kursi saksi. v. d. Namun bagian 13 dari Canadian Piagam Hak dan Kebebasan menjamin bahwa seorang saksi tidak memiliki bukti memberatkan yang mereka berikan sebagai kesaksian digunakan untuk melawan mereka dalam proses terpisah. pasangan tidak dapat dipaksa untuk bersaksi melawan satu sama lain. tidak ada lagi hak untuk diam dan tidak ada batasan umum jenis pertanyaan apa yang mereka mungkin diminta untuk menjawab.. terdakwa dapat memilih untuk secara sukarela menjawab pertanyaan dan pernyataan yang akan diterima. di mana seorang terdakwa dengan bebas memilih untuk mengambil saksi dan bersaksi. seseorang dapat tidak disengaja dipaksa untuk memberikan bukti yg memberatkan diri sendiri tetapi hanya di mana bukti yang akan digunakan terhadap pihak ketiga. Akibatnya. kecuali untuk pelanggaran seks tertentu atau di mana korban adalah anak-anak. Perancis Di Perancis.51 diterima sebagai bukti. Meskipun seorang terdakwa berhak untuk tetap diam dan tidak dapat dipaksa untuk bersaksi melawan dirinya sendiri.

ia harus memperingatkan dia bahwa ia memiliki hak untuk tetap diam. ditahan atau tidak. Hal ini tidak diperbolehkan untuk menarik semua gangguan dari keheningan lengkap terdakwa dalam setiap tahap proses pidana. Seseorang kecurigaan terhadap yang terletak tidak dapat secara legal dapat diinterogasi oleh keadilan sebagai saksi biasa. seorang terdakwa dapat dipaksa untuk membuat pernyataan. yaitu Hukum Acara Pidana) seorang tersangka. dalam kasus ini . diperbolehkan untuk menarik kesimpulan jika terdakwa tetap diam hanya untuk pertanyaanpertanyaan tertentu mengenai kejahatan yang sama. seorang tersangka dapat mengatakan apa saja yang dia merasa cocok untuk pertahanan.52 mewajibkan bahwa ketika seorang hakim menyelidiki tersangka. Pada sidang yang sebenarnya. kode ini juga melarang mendengar seorang tersangka di bawah sumpah. Namun. Jerman Menurut § 136 Strafprozessordnung (StPO. untuk membuat pernyataan. Namun. tanpa takut sanksi bagi sumpah palsu. atau menjawab pertanyaan. Seseorang yang masuk akal terhadap yang ada menyebabkan kecurigaan dapat diperiksa sebagai saksi biasa dalam pidana terhadap orang lain. Larangan ini diperluas untuk tersangka pasangan dan anggota keluarga dekat (ini perpanjangan larangan mungkin akan dibebaskan jika kedua pihak penuntut dan pembela setuju dengan pembatalan) e. Tersangka tidak dapat didengar di bawah sumpah. demikian. harus diinformasikan sebelum interogasi tentang haknya untuk tetap diam. Namun.

Sedangkan perkara yang agak berat dilakukan oleh pengacara yang disebut Solicitor. proses penuntutan bagi perkaraperkara ringan di Inggris dilakukan oleh Polisi sendiri (Polise Prosecutor). Senior Crown Prosecutor. yang menentukan apakah perkara yang disidik Polisi dapat diajukan ke pengadilan atau tidak adalah Jaksa yang tergabung dalam Crown Prosecution Service (CPS). Saksi yang mencurigakan juga harus memperingatkan f. Mencurigakan saksi tidak dapat didengar di bawah sumpah. Assistant Branch CPS. Di Inggris terdapat 31 Kejaksaan atau CPS yang terdiri dari Crown Prosecutor. . tentang haknya untuk tetap diam. saksi dapat menolak untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dapat memberatkan dirinya sendiri (atau salah satu kerabat). Dan perkara-perkara yang berat disidangkan di pengadilan tinggi (tingkat banding) dengan penuntut umum pengacara yang disebut Barister. Sedangkan Sumber Hukum dalam Sistem Peradilan Pidana Inggris terdiri dari : 1) Custom Custom merupakan sumber hukum tertua. Tumbuh dan berkembang dari kebiasaan suku Anglo Saxon pada abad pertengahan yang melahirkan Common Law. Branch Prosecutor (di Indonesia setingkat Kepala Kejaksaan Negeri) dan Chief Prosecutor (setingkat Kepala Kejaksaan Tinggi). Inggris Sampai akhir 1986.53 menurut § 55 StPO. sehingga sistem hukum Inggris disebut juga sistem Anglo Saxon. Sejak 1986.

Perkembangan Precedent bersifat tradisionil dalam arti bahwa ia merupakan bagian dari tradisi dalam Common Law. Legislation atau Statuta berupa undang-undang yang dibuat melalui parlemen. adat istiadat atau kebiasaan masyarakat (custom) yang dikembangkan berdasar putusan pengadilan mempunyai kedudukan yang sangat kuat karena berlaku asas stare decisis atau asas binding force of precedent. Sebagai suatu bagian dari tradisi dalam Common Law. Selain hal tersebut di atas. Precedent adalah merupakan karakteristik Common Law. Dalam sistem Common Law. 3) Case Law atau Judge Made Law. dalam system hukum common Law dikenal dengan adanya doktrin Presedent.54 2) Legislation atau Statuta. Asas ini mewajibkan hakim untuk mengikuti putusan hakim yang sebelumnya. Pembentukan precedent tersebut adalah merupakan salah satu fungsi peradilan pidana dalam yurisdiksi system hukum common law. precedent tidak diatur baik dalam Konstitusi. Undang-Undang yang dibentuk itu disebut Statutes. Bagian pututsan hakim yang harus diikuti dan mengikat adalah nagian pertimbangan hukum yang disebut sebagai ratio decidendi sedangkan hal selebihnya yang disebut obiter dicta tidak mengikat. . Case Law atau Judge Made Law adalah hukum kebiasaan yang berkembang di masayarakat melalui putusan hakim yang kemudian diikuti oleh hakim berikutnya melahirkan asas precedent.

Mengandung arti bahwa pelaksanaan penerapan peraturan hukum yang sama terhadap kasus yang sama akan menghasilkan persamaan perlakuan terhadap setiap orang yang dihadapkan ke muka sidang pengadilan. Mengandung arti bahwa jika proses peradilan pidana sama) terutama jelas dalam pengambilan penghargaan putusannya terhadap konsisten dengan putusan terdahulu (dalam perkara yang menunjukkan kebijakan dan pengalaman serta keahlian generasi . Mengandung arti bahwa jika secara konsisten mengikuti “precedent” akan menunjang/mendorong arah yang jelas dalam pelaksanaan hukum di masa yang akan datang dan jauh sebelumnya dapat diperkirakan kemungkinana “judicial-decision” yang akan diberikan terhadap suatu kasus yang sama di kemudian hari. 3) Faktor Economy. Mengandung arti bahwa jika dipergunakan criteria yang tetap dan sama untuk menyelesaikan kasus-kasus baru di masa yang akan datang adalah menghemat waktu dan tenaga.55 Undang-Undang atau dalam sumpah. 4) Faktor Respect. 2) Faktor Predictability. Terdapat empat factor yang melandasi dipergunakannya “precedent” dalam system hukum Common Law yaitu sebagai berikut : 1) Faktor Equality.

Pelaksanaan precedent di Inggris menganut “the binding precedent” atau precedent yang mengikat. berdasarkan Criminal Justice and Public Order Act 1994. Mengenai Asas Right to Remain Silent dalam Sistem Peradilan Inggris dapat penulis jelaskan bahwa Judge’s akan Rules. Dalam sistem hukum Common Law. The rights to remain silent dalam suatu pertama kali dikodifikasi pada tahun 1912 dalam Tersangka/terdakwa atau tidak percobaan kejahatan mempunyai suatu pilihan apakah ia memberikan memberikan fakta/keterangan dalam proses pemeriksaan. suatu kesimpulan yang merugikan bagi terdakwa dapat ditarik pada kondisi tertentu antara lain : 1) Kegagalan/kesalahan dalam menyebutkan/ . Right to remain silent tentu tidak membantu polisi dalam proses penyelidikan. Sehingga dalam sistem hukum Common Law. rights to remain silent tersangka/terdakwa tidak diabaikan dan diberi penilain tertentu oleh hakim.56 hakim-hakim terdahulu (senior). Sistem Accusatoir menempatkan terangka dalam proses pemeriksaan pendahuluan dan pemeriksaan di muka sidang-sidang pengadilan sebagai subjek hukum yang memiliki hak (asasi) dan kepentingan yang harus dilindungi. Sistem Common Law pada prinsipnya menganut “Sistem Accusatoir” atau yang secara populer dikenal dengan sebutan “Advesary System”.

Di Inggris tidak terdapat konvensi-konvensi yang mengatur mengenai Rights to remain silent. isi. tempat atau segala hal yang berhubungan dengan perkara tersebut. 4) Kesalahan dalam menyebut tempat terkait perkara. Kerangka Pemikiran Untuk memperjelas alur berpikir penulisan hukum ini. berikut digambarkan alur kerangka pemikiran sebagai berikut : . pelaku. B. 3) Kegagalan/kesalahan dalam menyebutkan objek.Tindak Pidana Sidang di Pengadilan Terdakwa tidak Menjawab pertanyaan dakwa Menjawab Pembuktian oleh Penuntut Umum pertanyaan 57 memberikan berbagai fakta atau keterangan yang disadari setelah keterangan tersebut diberikan. 2) Kegagalan/kesalahan untuk memberikan keterangan/fakta saat proses persidangan atau saat menjawab berbagai pertanyaan yang diajukan.

1 Bagan Kerangka Pemikiran Keterangan : Dalam proses peradilan di Indonesia dalam menerapkan hukum acara pidana tidak bisa dilepaskan dari asas-asas yang melekat dalam hukum acara pidana itu sendiri. Aparat penegak hukum diharapkan menggunakan prinsip akusator dan menjauhkan diri dari pemeriksaan yang bersifat inkuisitur yang menempatkan tersangka atau terdakwa sebagai objek dalam setiap pemeriksaan. KUHAP memberikan seperangkat hak-hak bagi terdakwa atau tersangka yang wajib dihormati dan dilindungi. Dalam rangka mengemban asas praduga tidak bersalah dan prinsip akusatir tersebut. dan salah satu asas yang harus dijunjung tinggi dalam menjalankan due process of law adalah asas praduga tidak bersalah atau presumption of innocence untuk menghormati hak-hak tersangka atau terdakwa.Perbandingan dalam SistemRemain Silent dan Inggris Rights to Hukum Indonesia Persamaan/Perbedaan 58 Gambar. salah satunya adalah hak terdakwa untuk tidak menjawab pertanyaan pada setiap tahap .

. malu. Sedangkan di Inggris. Kondisi demikian tentu saja akan mempengaruhi sikap dan sudut pandang hakim dalam memberikan pertimbangan hukumnya dalam putusan yang akan dijatuhkan kepada terdakwa. misalnya takut. disamping mempertimbangkan setiap alat bukti yang ada. Tentu ada perbedaan bagi hakim dalam menghadapi tersangka/terdakwa yang bersikap diam tentu berbeda antara hakim di Indonesia dengan hakim di Inggris dan perbedaan mendasar kedua system ini berpengaruh terhadap putusan yang dijatuhkan kepada tersangka/terdakwa. termasuk dalam hal penempatan dan perlindungan hak-hak (asasi) tersangka/terdakwa pada proses pemeriksaan bahwa terkadang tersangka/terdaka bersikap diam (Rights to Remain Silent). Dalam penelitian ini diharapkan dapat diketahui masalah pengaturan tentang hak untuk diam (Rights to Remain Silent).59 pemeriksaan. hal ini tidak menutup kemungkinan akan memperberat putusan yang dijatuhkan oleh Majelis Hakim. Penggunaan hak ini sebenarnya memang tidak efektif untuk mengungkap tindak pidana yang didakwakan kepada seorang terdakwa. menganut system hukum Common Law yang memiliki perbedaan mendasar dengan system hukum Civil Law (Indonesia). diancam oleh pihak tertentu. baik dalam ketentuan peradilan pidana di Inggris maupun Indonesia. sikap diam terdakwa yang tidak membenarkan atau membantah pertanyaan dan/atau pernyataan justru dapat dianggap oleh majelis hakim sebagai upaya untuk menutupi tindak pidana yang dilakukan atau dengan kata lain terdakwa berbelit-belit dalam mengungkapkan fakta. merasa bersalah. dipaksa dan lain sebagainya. selain mempersulit penuntut umum untuk membuktikan dakwaannya juga justru merugikan terdakwa dalam mengajukan pembelaan atau pledoi. dilihat dari sisi persamaan maupun perbedaannya. Ada kemungkinan factor-factor internal atau eksternal tertentu yang menyebabkan terdakwa enggan menjawab pertanyaan.

Perbandingan Pengaturan Hak untuk Tidak Menjawab (Rights to remain silent ) bagi terdakwa dalam Peradilan Pidana antara Indonesia (Civil Law) dan Inggris (Common Law) Berbicara mengenai pengaturan hak untuk tidak menjawab (Rights to remain silent ) bagi terdakwa dalam hokum acara pidana .60 BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A.

Dari sini timbul kesadaran akan pentingnya mempelajari perbandingan system hukum untuk memperoleh pemahaman yang komprehensif tentang system hukum yang ada di dunia secara global guna memperoleh manfaat internal yaitu mengadopsi hal-hal positif guna pembangunan hukum nasional. Terlebih setelah adanya akademisi maupun praktisi hukum dari Indonesia yang belajar hukum di Negara-negara yang menganut system Common law seperti Inggris. terutama setelah adanya pengaruh globalisasi di segala bidang kehidupan berbangsa dan bernegara. yaitu mengutamakan kodifikasi hukum dan Undangundang/hukum tertulis sebagai sumber hukum utama untuk menjamin asas legalitas dan kepastian hukum.61 Indonesia dan Indonesia. Bahkan hingga kini setelah lebih dari setengah abad Indonesia merdeka. Perkembangan system hukum di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari system hukum civil law atau system Eropa Kontinental. Sebagai contoh KUHP (Kitab UndangUndang Hukum Pidana) dan HIR (Het Herziene Inlands Reglement atau Hukum acara perdata) yang banyak dipengaruhi oleh system hukum civil law. Hal ini disebabkan karena Indonesia terlalu lama dijajah oleh Belanda yang kemudian menerapkan system hukum Eropa dengan asas konkordansi di Hindia Belanda seabgai Negara jajahannya. Maupun manfaat eksternal yaitu dapat mengambil sikap yang tepat dalam melakukan hubungan . masih banyak ketentuan hukum peninggalan Belanda yang masih digunakan sebagai hukum positif. Namun praktek seiring dengan perjalanan waktu. nampaknya penerapan sitem hukum civil law di Indonesia mulai mengalami pergeseran. tidak terlepas dengan adanya system peradilan pidana itu sendiri di masing-masing Negara.

Dan di Inggris terdapat 31 kejaksaan atau CPS yang terdiri dari Crown Prosecutor. Branch prosecutor (di Indonesia setingkat Kepala Kejaksaan Negeri). proses penuntutan bagi perkara-perkara ringan di inggris dilakukan oleh Polisi sendiri (Police prosecutor). Namun sejak 1986 yang menentukan apakah perkara yang disidik polisis dapat diajukan ke pengadilan atau tidak adalah Jaksa yang tergabung dalam Crown Prosecution Service (CPS). Dalam peradilan yang ada di Inggris. Dan perkaraperkara yang berat disidangkan di pengadilan tinggi (tingkat banding) dengan penuntut umum pengacara yang disebut Barrister. Padahal menurut system civil law sumber hukum utama adalah Undangundang dan hakim tidak terikat oleh putusan hakim sebelumnya meskipun dalam perkara yang sama. Secara garis besar dapat dijelaskan karakteristik peradilan di kedua Negara yaitu peradilan di Inggris dan Indonesia. sampai akhir 1986. Karakteristik Sistem hokum di Inggris terkait Hukum pidana dan acara Pidana Pertama. senior Crown prosecutor. Sistem hukum Inggris (Common Law Sistem) . dan Chief prosecutor (setingkat kepala kajaksaan tinggi).62 hukum dengan Negara lain yang berbeda system hukumnya Pergeseran itu antara lain mulai diakuinya sumber hukum Juriprudensi yaitu putusan hakim (judge made law) yang telah berkekuatan hukum tetap oleh hakim-hakim di Indonesia. Karakteristik itu adalah: 1. assistan branch CPS. Sedangkan perkara yang agak berat dilakukan oleh pengacara yang disebut soliocitor.

Custom. Pada abad ke 14 Custom melahirkan “common law” dan kemudian digantikan dengan precedent. kemudian dikenal sebagai Parlemen (Parliament). undang-undang yang dibentuk itu disebut statutes. Pada masa itu undang-undang dikeluarkan oleh Raja dan “Grand-Council” (terdiri dari kaum bangsawan terkemuka dan Penguasa Kota London). Legislation. Tumbuh dan berkembang dari kebiasaan suku Anglo Saxon yang hidup pada abad pertengahan. Raja dapat bertindak tanpa melalui Parlemen. berarti undang-undang yang dibentuk melalui parleman.63 bersumber pada : a. Sampai abad ke 17. merupakan sumber hukum yang tertua di inggris. Selama abad ke 13 dan 14 Grand Council kemudian dirombak dan terdiri dari dua badan yaitu. b. Lords dan Common. Akan tetapi sesudah abad ke 17 dengan adanya perang saudara di Inggris. Lahir dan berasal dari (sebagian) hukum romawi. telah ditetapkan bahwa di masa yang akan datang semua undang-undang harus memperoleh (Reformasi persetujuan Parlemen sejak tahun 1832 dengan Undang-Undang Pembaharuan . legislation bukanlah merupakan salah satu sumber hukum di Inggris. Sebelum abad ke 15.

Inggris telah mengambil manfaat dari apa yang terjadi di Perancis. Kedua. Seluruh hukum kebiasaan yang berkembang dalam masyarakat tidak melalui Parlemen. akan tetapi dilakukan oleh para hakim. Sejak saat itu Legislation merupakan salah satu sumber hukum yang penting sejak Code Napoleon (1805) dikembangkan. Bertitik tolak dari doktrin precedent tersebut.64 Act). Setiap putusan hakim di inggris merupakan precedent bagi hakim yang akan datang. Sebagai konsekwensi dipergunakannya case-law dengan doktrin precedent yang merupakan ciri utama maka sistem hukum Inggris tidak sepenuhnya menganut asas legalitas. Bahkan hakim di Inggris . sehingga lahirlah doktrin Precedent sampai sekarang. House of Common merupakan suatu badan yang demokratis dan mewakili seluruh penduduk Inggris dan karena itu merupakan wakil perasaan keadilan seluruh rakyat Inggris. maka kekuasaan hakim di dalam sistem hukum Common Law sangat luas dalam memberikan penafsiran terhadap suatu ketentuan yang tercantum dalam undang-undang. Case-law. sebagai salah satu sumber hukum Inggris mempunyai karakteristik yang utama. dan legislation dipergunakan sebagai alat pembaharuan hukum di Inggris. sehingga dikenal dengan istilah ”Judge-made law”. c. Ketiga.

Dalam hal demikian hakim dapat menjatuhkan putusannya sesuai dengan kebiasaan-kebiasaan atau melaksanakan asas precedent sepenuhnya. yang berarti: “suatu perbutan tidak mengakibatkan seseorang bersalah kecuali jika pikiran orang itu jahat”. sehingga dapat membentuk hukum baru. doktrin Mens-Rea secara klasik diartikan setiap perkara pelanggaran hukum yang dilakukan adalah disebabkan karena pada diri orang itu sudah melekat sikap batin yang jahat (evil will).65 diperbolehkan tidak sepenuhnya bertumpu pada ketentuan suatu undang-undang jika diyakini olehnya bahwa ketentuan tersebut tidak dapat diterapkan dalam kasus pidana yang sedang dihadapinya. seorang hakim terkemuka di Inggris memberikan komentar atas doktrin MensRea. mengatakan bahwa Means-Rea adalah “a voluntary doing of morally wrong act forbidden by penal law”. Dilihat dari segi kekuasaan hakim Inggris yang sangat luas dalam memberikan penafsiran tersebut. dan karenanya perbuatan tersebut dianggap merupakan dosa. dengan mengatakan: “In order that an act should be punishable it must be morally blame-worthy”. Sedangkan Jerome Hall. Ajaran Mens-Rea ini dalam sistem hukum Inggris dirumuskan berbeda-beda tergantung dari kwalifikasi delik yang dilakukan seseorang. maka nampaknya sistem hukum Common Law kurang memperhatikan kepastian hukum. Lord Denning.(Roeslan . Keempat. Pada sistem hukum Common Law. Ajaran Kesalahan dalam sistem hukum Common Law (Inggris) dikenal melalui doktrin Mens-Rea yang dilandaskan pada maxim: “Actus non est reus nisi mens sit rea”.

misalnya pada delik-delik tentang ketertiban umum atau kesejahteraan umum. Setelah dikeluarkannya “Criminal Law Act” (1967) pembedaan sebagai berikut: a) Indictable Offences. Keenam. Dewasa ini dalam peraturan perundangan modern unsur “mens-rea” ini tidak lagi dianggap sebagai syarat utama. adalah kejahatan- kejahatan berat yang hanya dapat diadili dengan sistem Juri melalui pengadilan yang disebut Crown Court. Namun demikian unsur “mens-rea” ini adalah merupakan unsur yang mutlak dalam pertanggungjawaban pidana dan harus ada terlebih dulu pada perbuatan tersebut sebelum dilakukan penuntutan (Roeslan Saleh.66 Saleh.1982:28). 2000: 37) Kelima.1982:23 sebagaimana telah dikutip oleh Romli Atmasasmita. Dalam sistem Common Law (Inggris) pertanggungjawaban pidana tergantung dari ada atau tidaknya: a) actus-reus dan b) mens-rea. adalah kejahatan-kejahatan kurang berat yang hanya dapat diadili oleh suatu pengadilan (magistrate court) tanpa . b) Summary Offences. Sistem hukum Inggris dan negara-negara yang menganut sistem Common Law tidak mengenal perbedaan antara Kejahatan dan Pelanggaran. kejahatan ringan atau “misdemeanors” dan kejahatan terhadap negara atau “treason”. Sistem Common Law membedakan tindak pidana (secara klasik) dalam: Kejahatan berat atau “felonies”.

Sistem accusatoir atau Adversary sistem menempatkan tersangka dalam proses pemeriksaan pendahuluan dan pemeriksaan di muka sidang-sidang pengadilan sebagai subjek hukum yang memiliki hak (asasi) dan kepentingan yang harus dilindungi. Jika kesemua tuntutan tersebut terbukti di muka sidang pengadilan maka pelaku tindak pidana tersebut dijatuhi sekaligus semua ancaman hukuman yang . Kedelapan. Ketujuh. Klasifikasi terbaru mengenai tindak pidana dalam sistem hukum pidana Inggris dicantumkan dalam criminal law act tahun 1977 yang akan diuraikan secara khusus dalam bab mengenai klasifikasi Tindak Pidana. Penangkapan terhadap pelaku tersebut dilakukan tanpa surat perintah penangkapan. c) Arrestable Offence.67 dengan sistem Juri. Sistem hukum acara pidana yang berlaku di negara-negara Common Law pada prinsipnya menganut “sistem Accusatoir” atau yang secara populer dikenal dengan sebutan “Advesary Sistem”. adalah kejahatan-kejahatan yang diancam dengan hukuman di bawah 5 (lima) tahun kepada seorang pelaku kejahatan yang belum pernah melakukan kejahatan. Sistem pemidanaan yang berlaku pada umumnya negara-negara yang menganut sistem Common Law adalah bersifat kumulatif. Sistem pemidanaan tersebut memungkinkan seseorang dituntut dan dijatuhi pidana karena melakukan lebih dari satu tindak pidana.

Pada tahun 1994 telah terjadi pergeseran system akusator menjadi system inquisitor dalam hukum acara pidana Inggris. Oleh karena itu. maka tugas hakim di pengadilan lebih berat karena selain harus menentukan benar slahnya terdakwa juga menentapkan hukuman (vonis)nya. Asas ini mewajibkan hakim untuk mengikuti putusan hakim yang ada sebelumnya.68 dikenakan kepadanya. tugas jaksa dan pengacara dalam persidangan adalah meyakinkan juri bahwa terdakwa bersalah atau tidak. Hal ini dilatarbelakangi karena polisi di Inggris kesulitan untuk mengungkap atau menyelesaikan berbagai kasus yang menimbulkan ancaman serius bagi masyarakat terutama terorisme. Berbeda dengan system civil law yang dianut Indonesia sebagai kelanjutan dari system hukum yang dianut Belanda. (Barda Nawai Arief. Bagian putusan hakim yang harus diikuti dan mengikat adalah bagian pertimbangan hukum yang disebut sebagai ratio decidendi sedangkan hal selebihnya yang disebut obiter dicta tidak mengikat. Dapat dijelaskan bahwa dalam system common law seperti di Inggris. Dalam system peradilan Inggris benar salahnya terdakwa ditentukan oleh juri yang direkrut dari masyarakat biasa. Karena tersangka berlindung dibalik kekebalan hukum . adat istiadat atau kebiasasn masyarakat (custom) yang dikembangkan berdasarkan putusan pengadilan mempunyai kedudukan yang sangat kuat karena berlaku asas stare decisis atau asas binding force of precedent. Tugas hakim hanya memastikan persidangan berjalan sesuai prosedur dan menjatuhkan hukuman sesuai hukum. 1990: 23).

Doktrin Peraturan perundang-undangan yang mengatur hukum pidana umum adalah sebagai berikut : 1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (Penal Code atau Wetboek van Strafrecht). c. ( Moch. organisasi. 3) Undang-Undang tentang Susunan. 2) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (Code of Crime Procedure atau Wetboek van Strafvordering). Karakteristik Sistem Hukum Belanda pada umumnya. d. b. Kebiasaan case-law. Undang-undang. khususnya dalam hukum pidana dan acara pidana Indonesia Pertama. Kedua. Perubahan tersebut dilihat dari konteks keberadaan system hukum yang ada di dunia (civil law dan common law) ternyata saat ini bukan saatnya lagi memperbebatkan secara tajam perbedaan antara kedua system hukum tersebut. 2008: 4) 2. kekuasaan dan tugas-tugas Pengadilan dan Sistem Penuntutan (Judicial Act atau Wet op de Rechterlijke Organisatie). Karakateristik kedua dari sistem hukum Belanda (Civil Law Sistem) adalah dianutnya asas legalitas atau “the . Yuliadi.69 yang diberikan uleh Undang-Undang antara lain hak untuk diam (right to remain silent). Undang-Undang Dasar. Sistem hukum Belanda (Civil Law Sistem) bersumber pada : a.

seperti. d) Mentapkan bahwa hanya pidana yang tercantum secara jelas dalam undangundang yang boleh dijatuhkan. Mengingat penafsiran yang bersifat kaku terhadap ketentuan undang-undang menurut asas legalitas ini. b) Ketentuan undang-undang harus ditafsirkan secara harfiah dan pengadilan tidak suatu diperkenankan memberikan penafsiran analogis untuk menetapkan suatu perbuatan sebagai tindak pidana. 2000 : 48). Dianutnya asas legalitas sebagaimana diuraikan dalam . jaksa dan hakim. Asas ini mengandung makna sebagi berikut: a) Tiada suatu perbuatan merupakan suatu tindak pidana. Dalam praktik penyelesaian perkara pidana di negeri belanda prinsip legalitas dan penafsiran yang diperbolehkan dari prinsip tersebut diserahkan sepenuhnya kepada para pelaksana atau praktisi hukum. Ketiga. maka peranan putusan Mahkamah Agung menjadi lebih penting (Romli Atmasasmita.70 principles of legality”. Undang-undang dimaksud adalah hasil dari perundingan Pemerintah Parlemen. c) Ketentuan undang-undang tidak berlaku surut. kecuali telah ditentukan dalam undang-undang terlebih dahulu.

b) Diatur dalam ketentuan undang-undang termasuk lingkup definisi pelanggaran. Dalam soal pertanggungjawaban pidana sistem hukum pidana Belanda (Civil Law) menganut asas kesalahan pada perbuatannya (dodex-strafrecht). Hakim tidak diperbolehkan memperluas penafsiran terhadap isi ketentuan undang-undang sedemikian rupa sehingga dapat membentuk delik-delik baru. Syarat umum bagi adanya pertanggungjawaban pidana menurut hukum pidana Belanda adalah adanya gabungan antara perbuatan yang dilarang dan pelaku yang diancam dengan pidana. Perbuatan pelanggaran hukum dari pelaku harus memenuhi syarat sebagai berikut : a) Bahwa perbuatan tersebut (berbuat atau tidak berbuat) dilakukan seseorang. Sistem hukum pidana belanda mengenal pembedaan antara Kejahatan (Misdrijven) dan Pelanggaran . Keempat. sangat pidana berpengaruh (criminal terhadap liability soal atau pertanggungjawaban strafbaarheid). Dianutnya asas legalitas dalam sistem hukum pidana Belanda mengakibatkan keterikatn hakim terhadap isi ketentuan undang-undang dalam menyelesaikan perkara pidana. Kelima. Ketiga syarat bagi adanya suatu pertanggungjawaban pidana tersebut di atas sesungguhnya merupakan suatu konstruksi gabungan dari syarat-syarat adanya sifat pertanggungjawaban pidana dan kekecualian-kekecualian dari pertanggungjawaban pidana.71 butir kedua diatas. c) Bersifat melawan hukum.

Pembedaan anatara kejahatan dan pelanggarab tersebut semula didasarkan atas pertimbangan tentang adanya pengertian istilah “rechtedelict” dan ”wetdelict”. Perbedaan kejahatan dan pelanggaran dewasa ini didasarkan atas ancaman hukumannya. Sistem pemidanaan yang dianut pada umumnya di negara-negara yang berlandaskan Civil Law Sistem adalah sistem pemidanaan alternatif dan alternatif-kumulatif. namun perbedaan tersebut tidak dianut lagi dalam doktrin. Ketujuh. pendekatan dari segi historis. khususnya mengenai . Pembedaan dimaksud berasal dari perbedaan antara mala in se dan mala prohibita yaitu perbedaan yang dikenal dalam hukum Yunani. Keenam. kejahatan memperoleh ancaman hukum yang lebih berat dari pelanggaran. Sistem peradilan yang dianut di semua negara yang berlandaskan “Civil Law Sistem” pada umumnya adalah sistem Inquisatoir.72 (Overtredingen). Pembedaan antara kejahatan karena undang-undang menetapkan sebagai perbuatan yang dilarang. Sistem Inquisatoir menempatkan tersangka sebagai objek pemeriksaan baik pada tahap pemeriksaan pendahuluan maupun pada tahap pemeriksaan di muka sidang pengadilan. dengan batas minimum dan maksimum anaman pidana yang diperkenankan menurut undang-undang. suatu perbuatan yang dilarang. Mala in se adalah perbuatan yang disebut sebagai kejahatan karena menurut sifatnya adalah jahat. Sesungguhnya apabila kita telusuri karakteristik yang melekat pada kedua sistem hukum sebagaimana telah diuraikan di atas. Sedangkan Mala prohibita.

sebenarnya identik dengan penegakan hukum pidana yang merupakan suatu system kekuasaan/kewenangan dalam menegakkan hukum pidana. Perkembangan penerapan sistem “Civil Law” di negara dunia ketiga pada awalnya dipaksakan jika dibandingkan dengan penerapan penggunaan sistem “Common Law” di negaranegara bekas jajahan-jajahannya. System penegakan hukum pidana ini sesuai ketentuan dalam KUHAP dilaksanakan oleh sub system yaitu: 1. 4. Dapat dijelaskan bahwa peradilan pidana di Indonesia sebagaimana diatur dalam KUHAP (Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana) atau Undang-Undang No. 3. Kekuasaan penyidikan oleh lembaga kepolisian. Kekuasaan pelaksanaan hukuman oleh aparat pelaksana eksekusi (jaksa dan lembaga pemasyarakatan) Keempat subsistem itu merupakan satu kesatuan system . 8 tahun 1981.73 perkembangan hukum pidana di Eropa Continental yang menganut sistem “Civil Law” lebih menonjol dan lebih menampakkan dirinya keluar dari batas wilayah yuridiksi sistem “Common Law”. Kekuasaan mengadili oleh badan peradilan atau hakim. 2000 :50). 2. Sebagai contoh penggunaan dan pemakaian sistem hukum Belanda di Indonesia dan sestem hukum Inggris dan Malaysia atau Singapura. kekuasaan penuntutan oleh lembaga penuntut umum atau kejaksaan. Satu-satunya karakteristik yang sama antara kedua sistem hukum (legal sistem) tersebut adalah bahwa keduanya menganut falsafah dan doktrin liberalisme (Romli Atmasasmita.

Undang-undang merupakan sumber hukum tertinggi. Apapun yang dikemukakan oleh jaksa. Dalam hukum system kita. putusan akhirnya diserahkan kepada hakim dan ia akan memutus berdasar keyakinannya. dan lain . advokat. Siapa hakimnmya. pengadilan dan lembaga pemasyarakatan seharusnya konsisten menjaga agar system berjalan secara terpadu. kata putus terakhir ada pada hakim. sebaiknya didorong agar menghasilkan putusan-putusan yang progresif. kejaksaan. Menilik system peradilan pidana terpadu yang diatur dalam KUHAP maka keempat komponen penegakan hukum kepolisian.74 penegakan hukum pidana yang integral atau sering disebut dengan istilah integrated criminal justice system atau system peradilan pidana terpadu. masing-masing memiliki kelebihan dan kelemahan. dimensi persoalan sebenarnya tidak lagi murni hukum. tetapi psikologis. masing-masing ada karakteristiknya. Predisposisi psikologis hakim menentukan kualitas putusan. kulturalnya. Karena disana (dalam hukum acara pidana) telah diatur hak dan kewajiban masing-masing penegak hukum dalam sub system peradilan pidana terpadu maupun hak-hak dan kewajiban tersangka/terdakwa. ekonomi. berapa usianya. Dengan cara melaksanakan tugas dan wewenang masing-masing sebagaimana telah diberikan uleh undang-undang. bagaimana latar belakang social. bagaimana pendidikan. Karena dalam system civil law yang kita anut. Jika sudah begini. System juri maupun system hakim. Sejak system ini kita memberi kekuasaan besar kepada hakim.. Melihat dari penerapan system juri di Inggris dan hakim di Indonesia. dan terdakwa dalam persidangan.

Hal yang perlu dibenahi adalah sikap karakter intelektual dan moral dari hakim kita saat ini demi terciptanya putusan yang adil. terakhir diubah dengan Undang-Undang No.75 menjadi acuan penting. hak untuk segera mendapatkan pemeriksaan oleh pengadilan dan mendapatkan putusan yang seadiladilnya. Sehingga menurut saya tetap saja dipertahankan system hakim yang telah ada. hak untuk diberitahu tentang apa yang disangkakan/ didakwakan kepadanya dengan bahasa yang dimengerti olehnya. Bersumber pada asas tidak bersalah. hak untuk menyiapkan pembelaan hak untuk mendapatkan juru bahasa. maka ia mendapatkan hak-hak seperti : hak untuk segera mendapatkan pemeriksaan dalam fase penyidikan. 14 tahun 1970 tentang KetentuanKetentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman sebagaimana diubah dengan Undang-Undang nomor 4 tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman. Ilmu hukum perilaku (behavioral jurisprudence) banyak meneliti masalah ini. yaitu predisposisi psikologis hakim dihubungkan dengan putusannya. maka sudah sewajarnya bahwa tersangka/ terdakwa dalam proses peradilan pidana wajib mendapatkan hak-haknya. hak untuk mendapatkan bantuan hukum dan hak untuk mendapatkan kunjungan keluarganya. Hal yang terpenting tanpa adanya system juri karena mungkin justru nantinya jadi mengacau proses peradilan karena adanya system baru yang diterapkan di Indonesia. Tidak kalah pentingnya sebagai perwujudan . 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan kehakiman. Salah satu asas terpenting dalam hukum acara pidana ialah asas praduga tidak bersalah. Sebagai seseorang yang belum dinyatakan bersalah. Asas tersebut dicantumkan di dalam pasal 8 Undang-Undang No.

. Artinya. Penuntut Umum adalah pihak yang mengajukan dakwaan kepada terdakwa. penyidikan. untuk melakukan proses pidana terhadap seseorang berdasar deskriptif faktual dan bukti permulaan yang cukup. penuntutan. Intinya. kendati secara universal asas praduga tidak bersalah diakui dan dijunjung tinggi. maka penuntut umumlah yang dibebani tugas membuktikan kesalahan terdakwa dengan upaya-upaya pembuktian yang diperkenankan oleh undangundang. Dalam konteks hukum acara pidana di Indonesia. Karena itu. Asas praduga bersalah bersifat deskriptif faktual.76 asas praduga tidak bersalah ialah bahwa seseorang terdakwa tidak dapat dibebani kewajiban pembuktian. sampai tahap peradilan. berdasar fakta-fakta yang ada si tersangka akhirnya akan dinyatakan bersalah. terhadapnya harus dilakukan proses hukum mulai dari tahap penyelidikan. praduga tidak bersalah bersifat legal normatif dan tidak berorientasi pada hasil akhir. Asas praduga tidak bersalah adalah pengarahan bagi para aparat penegak hukum tentang bagaimana mereka harus bertindak lebih lanjut dan mengesampingkan asas praduga tidak bersalah dalam tingkah laku mereka terhadap tersangka. Tidak boleh berhenti di tengah jalan. harus ada suatu praduga bahwa orang itu telah melakukan suatu perbuatan pidana yang dimaksud. Perintah penangkapan dilakukan terhadap seseorang yang diduga keras melakukan tindak pidana berdasarkan bukti permulaan yang cukup. Sikap itu paling tidak dapat disimpulkan dari ketentuan Pasal 17 KUHAP yang menyebutkan. Artinya. tetapi secara legal formal Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) kita juga menganut asas praduga bersalah.

Dalam praktik peradilan. Pengadilan Tinggi dan Mahkamah Agung) dan belum memperoleh kekuaan hukum tetap (inkracht van gewijsde). sama sekali tidak memuat hak. terdakwa belum dapat dikategorisasikan bersalah sebagai pelaku . asas ini hanya dimuat dalam Pasal 8 UU Nomor 48 tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman. karena hak ini tidak termasuk ”non-derogable rights” seperti halnya hak untuk hidup atau hak untuk tidak dituntut dengan hukum yang berlaku surut (non-retroaktif).48 Tahun 2008 tentang Kekuasaan Kehakiman (2004). dan/atau dihadapkan di depan pengadilan wajib dianggap tidak bersalah sebelum ada putusan pengadilan yang menyatakan kesalahannya. manifestasi asas ini dapat diartikan lebih lanjut. praduga tak bersalah . karena ketentuan asas praduga tidak bersalah sangat tampak eksistensinya dalam Pasal 8 ayat (1) Undang-Undang Nomor 48 tahun 2009 tentang kekuasaan kehakiman. ditahan. dan di dalam Penjelasan Umum UU Nomor 8 tahun 1981 tentang KUHAP. dituntut. baik dari sisi formil maupun sisi materiil. 2007 : 13).77 Hak seseorang tersangka untuk tidak dianggap bersalah sampai ada putusan pengadilan yang menyatakan sebaliknya (praduga tak bersalah) sesungguhnya juga bukan hak yang bersifat absolut. Bahkan UUD 1945 dan perubahannya. dan Penjelasan Umum KUHAP adalah: ”Setiap orang yang disangka. Rumusan kalimat dalam Pasal 8 ayat (1) Undang-Undang No.(Lilik Mulyadi. selama proses peradilan masih berjalan (Pengadilan Negeri. Karena itu. Hakikat asas ini cukup fundamental sifatnya dalam Hukum Acara Pidana. ditangkap. dan telah memperoleh kekuatan hukum tetap”.

Asas hukum ini dilatarbelakangi oleh pemikiran individualistik –liberalistik yang berkembang sejak pertengahan abad ke 19 sampai saat ini. sejak abad ke 11 dikenal di dalam sistem hukum Common Law. Prinsip tersebut telah menjadi bagian dari ”budaya (masyarakat) Inggris”. dan lain sebagainya.78 dari tindak pidana sehingga selama proses peradilan pidana tersebut haruslah mendapatkan haknya sebagaimana diatur undang-undang. hak untuk memperoleh bantuan hukum. dan untuk tidak memberikan jawaban baik dalam proses penyidikan maupun dalam . yang telah mengalami perubahan cepat sesuai dengan perubahan masyarakatnya dan perkembangan internasional yang terjadi sejak pertengahan abad 19 sampai saat ini. Asas praduga tak bersalah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari prinsip due process tersebut. yaitu: hak untuk segera mendapatkan pemeriksaan dalam tahap penyidikan. khususnya di Inggris. adil. Asas hukum praduga tak bersalah. Di dalam sistem peradilan pidana (criminal justice system/CJS) berdasarkan sistem hukum Common Law (sistem adversarial/ sistem kontest).(Lilik Mulyadi. hak segera mendapatkan pemeriksaan oleh pengadilan dan mendapatkan putusan seadil-adilnya. 2007 : 13). dan tidak memihak (due process of law). Prinsip ”due process” yang telah melembaga dalam proses peradilan sejak dua ratus tahun yang lampau. asas hukum ini merupakan prasyarat utama untuk menetapkan bahwa suatu proses telah berlangsung jujur. dalam Bill of Rights (1648). maka kepada tersangka atau terdakwa diberikan hak oleh hukum untuk tidak memberikan keterangan yang akan memberatkan/ merugikan dirinya di muka persidangan (the right of non-self incrimination). Konsekuensi logis dari asas praduga tak bersalah ini.

atau mengkhianati mereka "alami" kewajiban mempertahankan diri (jika mereka mengatakan yang sebenarnya untuk menghormati sumpah mereka). Ada pepatah dalam bahasa Latin yang berbunyi “nemo ipsum tenetur se accusare” (tidak ada seorangpun yang terikat untuk menuduh dirinya sendiri) menjadi seruan untuk tokoh agama dan pembangkang politik yang dituntut di Star Chamber dan Komisi Tinggi Inggris abad ke-16. pada setiap kasus ( tak .79 proses persidangan( the right to remain silent). "bahwa tidak ada seorangpun yang terikat untuk memberatkan dirinya. hukuman yang berat karena menghina pengadilan (jika mereka menolak untuk menjawab). hak untuk diam disediakan oleh hukum sebagai reaksi dari masyarakat untuk ekses sistem pemeriksaan tertutup oleh kerajaan di pengadilan ini. 2007) Baik alasan maupun sejarah dibalik hak untuk diam sepenuhnya jelas. menurut beberapa catatan sejarah. Orang-orang tersebut yang datang ke pengadilan ini dipaksa bersumpah untuk jujur menjawab pertanyaanpertanyaan yang diajukan kepada mereka tanpa mengetahui apa yang didakwakan.. Hal ini menciptakan apa yang disebut dengan istilah dakwaan kejam dimana terdakwa ini menghadapi suatu prospek sumpah palsu (yang diyakini sebagai dosa) (jika mereka berbohong di bawah sumpah untuk melindungi diri mereka sendiri). menurut ahli hukum AS dan hukum bukti ahli John Henry Wigmore. Penolakan terhadap prosedur Pengadilan Star Chamber dan Komisi Tinggi akhirnya mengakibatkan munculnya prinsip.(Romli Atmasasmita. Setelah revolusi parlemen pada akhir 1600-an. 12.

atau dalam setiap Pengadilan (bukan hanya dalam gerejawi atau Bintang Chamber pengadilan) ". Namun demikian. praktek peradilan memeriksa terdakwa dalam sidang (sebagai berbeda dari pemeriksaan Pada sidang sebelumnya). seorang penjahat yang tetap diam dituduh sering melakukan bunuh diri kiasan atau literal.80 peduli betapa benar dilembagakan). dimana telah dilonggarkan sedikit).juga dikatakan sebagai reaksi terhadap ketidakadilan dari Star Chamber dan Komisi Tinggi. dan tidak hanya pada pihak-pihak yang didakwa. hak untuk diam itu tidak selalu menjadi kenyataan praktis untuk semua terdakwa dalam pengadilan Inggris untuk beberapa periode sesudahnya. mantan anggota. Dengan akses terbatas ke penasihat hukum (seringkali tergantung pada status sosial terdakwa). tidak benar-benar menghilang abad kesembilan belas. itu tetap menjadi hak dasar yang tersedia bagi para terdakwa dan telah menjadi diterima dalam praktek selama beberapa abad. diperbolehkan untuk memberikan bukti atas sumpah bahkan jika mereka ingin . Di Britania dan negara-negara Persemakmuran (dan termasuk di Irlandia. hak untuk diam tetap diabadikan di common-tradisi hukum yang diwarisi dari Inggris. itu ada sebelum Revolusi Amerika. standar pergeseran bukti. Namun. para terdakwa tidak hingga memasuki abad kedelapan belas. dan umumnya sistem diam tidak percaya kepada terdakwa. Di Amerika Serikat. yang juga mewarisi tradisi hukumnya dari Inggris. Hal ini diperpanjang selama Restorasi Inggris (pada tahun 1660 ) untuk menyertakan "saksi biasa. Di Inggris. Hal ini dianggap sebagai salah satu pengamanan yang paling .

dan khususnya di negara-negara di mana telah terjadi kehadiran kolonial. 1988:725). namun kini juga memperingatkan bahwa apa saja yang tidak merek ungkapkan dalam interogasi tetapi kemudian dinyatakan di pengadilan dapat membahayakan pembelaan mereka. Sedangkan. KUHAP tidak menganut asas the right to remain silent (M. Pasal 52 KUHAP menyatakan. Di Britania Raya. yang pertama kali disebutkan dalam undang-undang Edward III di tahun 1354 dan berisi kata-kata yang serupa dengan Amandemen Kelima.Yahya Harahap. Jadi KUHAP tidak mengenal asas yang memberi hak kepada terdakwa untuk menolak menjawab pertanyaan. Berlawanan dengan pandangan kadang-kadang diungkapkan di Amerika Serikat. tetapi berasal dari hukum Inggris . karena ketika seseorang menjadi terperiksa/ terdakwa. ''Dalam pemeriksaan pada tingkat penyidikan dan peradilan. bersama dengan kata-kata "proses". telah mengayunkan hak untuk diam sedikit kembali ke arah lain: tersangka diberitahu bahwa mereka memiliki hak untuk tetap diam. dan itu diabadikan dalam Amandemen Kelima UndangUndang Dasar. tersangka atau terdakwa berhak memberikan keterangan secara bebas kepada penyidik atau hakim''.81 penting melindungi warga terhadap tindakan sewenang-wenang negara. akan menjadi sesuatu hal yang wajar dan diperkenankan untuk berbohong sesuai dengan asas the right to remain silent dan hak ingkar. hak untuk diam seperti dipraktikkan di Amerika hukum tidak berasal dari sana dan tidak menyebar ke bagian lain dari dunia. Dengan kata lain. dalam beberapa kasus dapat ditarik kesimpulan. . undang-undang yang diperkenalkan pada dekade yang lalu. sementara masih mendukung praduga tak bersalah.

masing pihak harus menyadari bahwa pelaksanaan asas the right to remain silent. Maka masing. Yaitu. suatu hak tersangka untuk tidak menjawab. bahkan hanya menempati urutan terakhir sebagai alat bukti seperti dalam Pasal 184 ayat (1) KUHAP dengan penyebutan "keterangan terdakwa". bukan suatu "pengakuan terdakwa". Pasal 117 KUHAP menyatakan bahwa keterangan tersangka dan atau saksi kepada penyidik diberikan tanpa tekanan dari siapapun dan atau dalam bentuk apa pun. Pasal 52 KUHAP maupun Pasal 117 KUHAP itu sebenarnya berkaitan erat dengan asas.82 Menurut penjelasan Pasal 52 KUHAP. supaya pemeriksaan dapat mencapai hasil yang tidak menyimpang dari yang sebenarnya. sebagaimana dimaksud dengan Pasal 189 ayat 3 KUHAP. Oleh karena itu wajib dicegah adanya paksaan atau tekanan terhadap tersangka atau terdakwa. maka tersangka atau terdakwa harus dijauhkan dari rasa takut. Untuk menciptakan keseimbangan dan keselarasan kepentingan serta perlindungan kepentingan hukum para hakim dan terdakwa serta penasehat hukum. karena di dalam perundang-undangan hukum acara pidana kita yang baru ini adanya suatu pengakuan terdakwa tidaklah dipergunakan sebagai alat bukti lagi. Artinya keterangan tersangka/terdakwa hanya dapat dipergunakan bagi dirinya sendiri. harus dilaksanakan dengan asas keseimbangan sesuai Pasal 175 KUHAP yaitu pemeriksaan terdakwa di sidang pengadilan harus melindungi . Selain itu. Namun demikian sayangnya kedua Pasal ini tidak menyebutkan sama sekali tentang masalah keabsahan hasil penyidikan yang diperoleh dengan cara penyiksaan itu. Oleh karena itu.asas pemeriksaan keterangan terdakwa/ tersangka the right to remain silent.

Dalam penerapan Pasal 175 KUHAP sebagai suatu keseimbangan. kita juga menghendaki seorang yang tidak bersalah. Sebaliknya. Berdasarkan asas yang telah dibahas di atas. kalau terdakwa tidak mau menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya. pemeriksaan terdakwa dititiksentralkan pada asas keseimbangan antara kepentingan terdakwa pada satu pihak dan kepentingan umum di . terdakwa seharusnya menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya. Terdakwa dalam kedudukannya sebagai orang yang diduga melakukan tindak pidana adalah anggota masyarakat ikut bertanggung jawab tegaknya hukum dalam kehidupan masyarakat (M.hak asasi manusia demi mengejar kepentingan umum. dengan argumentasi yang matang dan cukup pertimbangannya. Hal ini dimaksudkan agar seorang yang bersalah mendapat hukuman yang sesuai dengan peraturan yang ada. Selain itu. tidak mendapat hukuman yang tidak sepantasnya diberikan kepadanya. Hakim juga tidak boleh memaksa terdakwa untuk menjawab. Yang boleh dilakukannya. Diamnya terdakwa harus dinilai secara kasuistis dan realistis.hak asasi dan kepentingan ketertiban masyarakat pada sisi lain tanpa mengorbankan hak.83 kepentingan terdakwa sebagai manusia yang memiliki hak. Apalagi sampai mempertimbangkan dan menarik kesimpulan bahwa keengganan menjawab sebagai keadaan yang memberatkan kesalahan dan hukuman terdakwa. 1988:726). hanya “menganjurkan” terdakwa untuk menjawab. hakim ataupun penuntut umum tidak boleh mengartikan diamnya terdakwa sebagai tingkah laku dan perbuatan menghalangi dan mengganggu ketertiban sidang.Yahya Harahap.

ditangkap. penulis akan menjelaskan hal-hal terkait Rights to remain silent. ditahan. Asas tersebut dicantumkan di dalam Pasal 8 Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang KetentuanKetentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman sebagaimana bersumber pada asas praduga tak bersalah.84 pihak lain. dituntut.mata digunakan begitu saja karena terdakwa bisa dengan mudah lepas dari tanggung jawab tindak pidana yang dilakukan. B. tidak semata. Salah satu asas terpenting dalam hukum acara pidana ialah asas praduga tak bersalah. Keberadaan Pasal 175 untuk melegalkan terdakwa tidak menjawab pertanyaan yang diajukan ketika pemeriksaan. dan/atau dihadapkan di depan pengadilan wajib dianggap tidak bersalah sebelum ada putusan pengadilan yang . untuk mengungkap kebenaran yang sebenarnya dalam pemeriksaan. Rumusan kalimat dalam Pasal 8 Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman. dan Penjelasan Umum Hukum Acara Pidana menyatakan bahwa “Setiap orang yang disangka. Persamaan dan Perbedaan Pengaturan hak untuk tidak menjawab (Rights to remain silent) oleh terdakwa antara sistem peradilan Pidana Inggris dan Indonesia Sebelum membahas lebih lanjut tentang perbedaan dan persamaan tentang Pengaturan hak untuk tidak menjawab (Rights to remain silent) oleh terdakwa antara sistem peradilan Pidana Inggris dan Indonesia. Mengingat adanya Rights to remain silent merupakan bentuk perlindungan hukum bagi terdakwa selama dalam proses dalam hukum acara pidana. maka sudah sewajarnya bahwa tersangka atau terdakwa dalam proses peradilan pidana wajib mendapatkan hakhaknya.

Sebagai seseorang yang belum dinyatakan bersalah. Intinya. Sikap itu paling tidak dapat disimpulkan dari ketentuan Pasal 17 KUHAP yang menyebutkan. penyidikan. Asas praduga tak bersalah adalah pengarahan bagi para aparat penegak hukum tentang bagaimana mereka harus bertindak lebih lanjut dan mengesampingkan asas praduga tak bersalah dalam tingkah laku mereka terhadap tersangka. untuk melakukan proses pidana terhadap seseorang berdasar deskriptif faktual dan bukti permulaan yang cukup. tetapi secara legal formal Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) juga menganut asas praduga bersalah. 2007 : 13). dan telah memperoleh kekuatan hukum tetap”. harus ada suatu praduga bahwa orang itu telah melakukan suatu perbuatan pidana yang dimaksud. Hakikat asas ini cukup fundamental sifatnya dalam Hukum Acara Pidana. terhadapnya harus dilakukan proses hukum mulai dari tahap penyelidikan. Berdasarkan hukum acara pidana di Indonesia. penuntutan. Asas praduga bersalah bersifat deskriptif faktual artinya berdasar fakta-fakta yang ada si tersangka akhirnya akan dinyatakan bersalah. praduga tak bersalah bersifat legal normatif dan tidak berorientasi pada hasil akhir. maka ia . Karena itu.85 menyatakan kesalahannya. kendati secara universal asas praduga tak bersalah diakui dan dijunjung tinggi. Tidak boleh berhenti di tengah jalan. (Lilik Mulyadi. sampai tahap peradilan. karena ketentuan asas praduga tak bersalah sangat tampak eksistensinya dalam Pasal 8 Undang-Undang Nomor 48 tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman. “Perintah penangkapan dilakukan terhadap seseorang yang diduga keras melakukan tindak pidana berdasarkan bukti permulaan yang cukup” artinya.

hak untuk memperoleh bantuan hukum. maka penuntut umumlah yang dibebani tugas membuktikan kesalahan terdakwa oleh dengan upaya-upaya Dalam pembuktian praktik yang diperkenankan undang-undang. hak untuk diberitahu tentang apa yang disangkakan atau didakwakan kepadanya dengan bahasa yang dimengerti olehnya.86 mendapatkan hak-hak seperti hak untuk segera mendapatkan pemeriksaan dalam fase penyidikan. hak untuk segera mendapatkan pemeriksaan oleh pengadilan dan mendapatkan putusan yang seadiladilnya. yaitu: hak untuk segera mendapatkan pemeriksaan dalam tahap penyidikan. Konsekuensi logis dari asas praduga tak bersalah ini. Tidak kalah pentingnya sebagai perwujudan asas praduga tak bersalah ialah bahwa seseorang terdakwa tidak dapat dibebani kewajiban pembuktian. 2007: 13). hak untuk mendapatkan bantuan hukum dan hak untuk mendapatkan kunjungan keluarganya. maka kepada tersangka atau terdakwa diberikan hak oleh hukum untuk tidak . hak untuk menyiapkan pembelaan hak untuk mendapatkan juru bahasa. peradilan. Terdakwa belum dapat dikategorisasikan bersalah sebagai pelaku dari tindak pidana sehingga selama proses peradilan pidana tersebut haruslah mendapatkan haknya sebagaimana diatur Undang-Undang. hak segera mendapatkan pemeriksaan oleh pengadilan dan mendapatkan putusan seadil-adilnya. (Lilik Mulyadi. Pengadilan Tinggi dan Mahkamah Agung) dan belum memperoleh kekuaan hukum tetap (inkracht van gewijsde). manifestasi asas ini dapat diartikan lebih lanjut selama proses peradilan masih berjalan (Pengadilan Negeri. Penuntut Umum adalah pihak yang mengajukan dakwaan kepada terdakwa. dan lain sebagainya.

meringkuk dalam penjara. Prinsip inkuisitur ini dulu dijadikan landasan pemeriksaan dalam periode HIR. sebab sejak semula aparat penegak hukum sudah apriori menganggap tersangka/ terdakwa bersalah. sama sekali tidak memberi hak dan kesempatan yang wajar bagi tersangka/ terdakwa untuk membela diri dan mempertahankan hak dan kebenarannya.(M. memberi pedoman kepada aparat penegak hukum untuk mempergunakan prinsip akusatur dalam setiap tingkat pemeriksaan. KUHAP telah memberi perisai . tersangka/ terdakwa dianggap dan dijadikan sebagai obyek pemeriksaan tanpa mempedulikan hak-hak asasi manusia dan haknya untuk membela dan mempertahankan martabatserta kebenaran yang dimilikinya. seorang yang benar-benar tidak bersalah terpaksa menerima nasib sial. Ada beberapa Persamaan dan Perbedaan Pengaturan hak untuk tidak menjawab (Rights to remain silent) oleh terdakwa antara sistem peradilan Pidana Inggris dan Indonesia. Akibatnya. Seolah-olah si tersangka sudah divonis sejak saat pertama diperiksa di hadapan penyidik.87 memberikan jawaban baik dalam proses penyidikan maupun dalam proses persidangan (the right to remain silent). Dengan asas praduga tidak bersalah yang dianut oleh KUHAP. sering terjadi dalam praktek. Hal tersebut tidak terlepas adanya pengertian negara hukum atau rule of law. 2002: 41) Untuk menopang asas praduga tidak bersalah dan prinsip akusatur dalam penegakan hukum. Aparat penegak hukum menjauhkan diri dari caa-cara pemeriksaan yang ”inkuisitur” atau ”inquisitorial system” yang menempatkan tersangka/ terdakwa dalam pemeriksaan sebagai obyek yang dapat diperlakukan dengan sewenang-wenang. Yahya Harahap.

derajatnya hukum. tersangka/terdakwa sudah mempunyai posisi yang setaraf dengan pejabat pemeriksa dalam kedudukan hukum. berhak menuntut perlakuan yang digariskan oleh KUHAP. Usaha untuk sama terdakwa berada dalam yang pejabat aparat penegak mencegah Usaha untuk mencegah menyimpang penggunaan penyiksaan seperti tindakan menyimpang seperti tindakan penggunaan dalam proses penyidikan penyiksaan dalam proses . Menempatkan dalam posisi Proses Hak INDONESIA Asasi Perlindungan Hak Asasi Terhadap Manusia Terhadap Terdakwa Manusia Peradilan Terdakwa dalam Proses Peradilan Pidana kedudukan Pengakuan yang akan tersangka/ sama dengan tersangka/ terdakwa berada kedudukan derajatnya dengan pejabat posisi aparat penegak hukum. INGGRIS Perlindungan dalam Pidana 2. secara teoritis sejak semula tahap pemeriksaan. Dengan perisai hak-hak yang diakui hukum. 3. Tabel 1 Persamaan hak untuk tidak menjawab (Rights to remain silent) dalam Peradilan Inggris dan Indonesia NO 1.88 kepada tersangka/ terdakwa berupa seperangkat hak-hak kemanusiaan yang wajib dihormati dan dilindungi pihak aparat penegak hukum. Terkait persamaan dan perbedaan hak untuk tidak menjawab dalam system peradilan pidana Inggris dan Indonesia berikut persamaan dan Perbedaan.

Hak biasanya mencakup ketentuan bahwa komentar yang merugikan atau kesimpulan tidak dapat dibuat oleh hakim atau juri tentang penolakan oleh terdakwa untuk menjawab pertanyaan sebelum atau selama sidang berlangsung. secara eksplisit atau dengan konvensi. Hak ini diakui. . pendengaran atau upaya hukum lainnya. Hak ini mencakup sejumlah isu berpusat sekitar hak terdakwa atau terdakwa menolak memberikan komentar atau memberikan jawaban ketika ditanya.89 penyidikan. 4. Hal ini dapat hak untuk menghindari diri inkriminasi atau hak untuk tetap diam ketika ditanya. baik sebelum atau selama proses hukum di pengadilan hukum. Hak ini hanya merupakan sebagian kecil dari hakhak terdakwa secara keseluruhan. bahwa hak untuk diam adalah hukum hak setiap orang dikenakan kepada polisi interogasi atau dipanggil untuk pergi ke persidangan di pengadilan hukum. Suatu Perwujudan Untuk mewujudkan sistem peradilan pidana Pemerintah Inggris dalam yang adil dan benar mewujudkan sistem sesuai dengan tujuan dan harapan masyarak peradilan pidana yang adil dan benar sesuai dengan tujuan dan harapan masyarak Usaha Perbandingan Sistem Peradilan Pidana antara Indonesia (Civil Law) dan Inggris (Common Law) Terkait Hak untuk Tidak Menjawab (Rights to Remain Silent) bagi Terdakwa dengan Legal Raisonee dalam Putusan yang Diambil oleh Majelis Hakim ada beberapa hal yang perlu digaris bawahi di sini. di banyak sistem hukum di dunia.

mata adalah usaha untuk mencegah tindakan menyimpang seperti penggunaan penyiksaan dalam proses penyidikan. Dalam Undang-Undang Dasar 1945 melalui beberapa Pasal yang mengatur tentang HAM. sebab kalau halhal tadi dilanggar dapat mengajukan sah tidaknya pelanggaran itu kepada pra peradilan dan sekaligus dapat menuntut ganti rugi dan rehabilitasi. baik tentang pengertiannya secara umum maupun tentang perkembangan proses peradilan pidana itu sendiri dalam menjamin dan melindungi hak-hak asasi tersangka dan terdakwa. Oleh karena itu. 2002: 42). Barangkali kita merasa optimis. teoritis pemberian hak ini telah menempatkan kedudukan tersangka/ terdakwa berada dalam posisi yang sama derajatnya dengan pejabat aparat penegak hukum. apakah benar-benar dapat diwujudkan dalam konkreto. Namun dalam praktek. dapat diartikan bahwa dalam setiap konstitusi selalu ditemukan adanya jaminan terhadap Hak Asasi Manusia.(M Yahya Harahap. hak-hak yang diakui hukum ini masih merupakan pertaruhan. Berkaitan dengan adanya jaminan terhadap Hak Asasi Manusia (HAM). sangat relevan apabila dilakukan kajian mengenai proses peradilan pidana. Hal ini sebenarnya telah ditoleransi dan menjadi perhatian penyusun undang-undang sebagai bagian dari hak-hak tersangka/terdakwa dalam KUHAP Hak Asasi Manusia di Indonesia merupakan masalah yang sangat erat kaitanya dengan sistem peradilan pidana. Adanya asas the right to remain silent semata. untuk mewujudkan sistem peradilan pidana yang adil dan benar sesuai dengan tujuan dan harapan masyarakat. salah satunya adalah Pasal 27 ayat (1) .90 Seperti yang disinggung di atas.

Beberapa Pasal dalam KUHAP yang berkaitan dengan asas Rights to remain silent antara lain: . Pasal 27 ayat (1) ini diimplementasikan dalam proses peradilan pidana sebagai Azas Praduga Tidak Bersalah yang diatur dalam Pasal 8 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970 Jo Pasal 18 UndangUndang Nomor 4 Tahun 2004 terakhir dengan Undang-Undang No. rights to remain silent keberadaannya semata-mata adalah usaha untuk mencegah tindakan menyimpang seperti penggunaan penyiksaan dalam proses penyidikan. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman serta Pasal 8 Undang-Undang No. dalam KUHAP tidak ditulis mengenai asas yang memberi hak kepada terdakwa untuk menolak menjawab pertanyaan ketika proses pemeriksaan sidang berlangsung. Bertitik dari hal tersebut. 48 Tahun 2009 tentang tentang Kekuasaan Kehakiman. Dalam pasal ini terkandung Azas Persamaan Kedudukan di Dalam Hukum. asas Rights to remain silent keberadaannya juga tidak tertulis dalam peraturan perundang-undangan manapun sehingga secara teori mengenai keberadaannya tidak diketahui secara pasti.91 yang berbunyi “Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya”. seringkali dijumpai tersangka / terdakwa tidak menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Hakim atau Jaksa Penuntut Umum dalam proses penyidikan. tetapi pada kenyataannya. Hal ini sebenarnya telah ditoleransi dan menjadi perhatian penyusun Undang-Undang sebagai bagian dari hak-hak tersangka/terdakwa dalam KUHAP. Pada dasarnya. Selain itu.

Pasal “ 52 Dalam menyatakan: pemeriksaan pada tingkat penyidikan dan pengadilan.92 a. Dalam penjelasan Pasal KUHAP dimaksudkan supaya pemeriksaan dapat mencapai 52 . tersangka atau terdakwa berhak memberikan keterangan secara bebas kepada penyidik atau hakim”.

93 hasil tidak yang menyimpang dari maka tersangka atau terdakwa harus dijauhkan dari takut. b. Pasal “Bahwa keterangan 117 menyatakan: rasa Oleh itu yang sebenarnya. karena wajib dicegah adanya paksaan atau tekanan terhadap tersangka atau terdakwa. .

94 tersangka dan atau kepada penyidik diberikan tanpa tekanan dari siapapun dan apapun. Namun sangat disayangkan karena kedua Pasal tidak menyebutkan sama tentang masalah keabsahan hasil penyidikan yang diperoleh dengan cara penyiksaan. sekali ini atau dalam bentuk saksi .

karena dalam perundangundangan hukum acara pidana adanya suatu pengakuan terdakwa tidaklah dipergunakan sebagai alat bukti bahkan hanya menempati urutan terakhir sebagai alat bukti yang termuat dalam Pasal 184 ayat (1) KUHAP dengan penyebutan “keterangan terdakwa” bukan suatu “pengakuan terdakwa”. Kebebasan hakim tersebut tidak dapat diartikan bahwa hakim dapat melakukan dan kepentingan. hakim ketua sidang menganjurkan untuk menjawab dan setelah itu pemeriksaan dilanjutkan”. Pasal 175 KUHAP menyatakan: “ Jika terdakwa tidak mau menjawab atau menolak untuk menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya. tidak memihak dan tidak dipengaruhi oleh Kekuasaan Legislatif dan Eksekutif. maksudnya keterangan tersangka atau terdakwa hanya dapat dipergunakan bagi dirinya sendiri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 189 ayat (3) KUHAP. Salah satu ciri dari Negara hukum adalah terdapat suatu kemerdekaan hakim yang bebas. penasihat hukum dan terdakwa harus menyadari bahwa pelaksanaan asas rights to remain silent dilaksanakan sesuai asas keseimbangan menurut Pasal 175 KUHAP yaitu pemeriksaan terdakwa di sidang pengadilan harus melindungi kepentingan terdakwa sebagai manusia yang memiliki hak-hak asasi umum. ketertiban pada sisi lain tanpa mengorbankan hak-hak asasi manusia demi mengejar kepentingan . Dalam upaya menciptakan keseimbangan dan keselarasan kepentingan dan perlindungan hukum. maka hakim.95 Pasal 52 dan Pasal 117 KUHAP berkaitan erat dengan asas rights to remain silent yaitu suatu hak tersangka untuk tidak menjawab.

96

tindakan sewenang-wenang terhadap suatu perkara yang sedang ditanganinya, akan tetapi hakim tetap terikat pada peraturan hukum yang ada. Hakim berbeda dengan pejabat-pejabat yang lain, ia harus benar-benar menguasai hukum, bukan sekedar mengandalkan kejujuran dan kemauan baiknya. Masalah kebebasan hakim perlu dihubungkan dengan masalah bagaimana hakim dapat menemukan hukum berdasarkan keyakinannya dalam menangani suatu perkara. Kebebasan hakim dalam menemukan hukum tidaklah berarti ia menciptakan hukum. Tetapi untuk menemukan hukum, hakim dapat bercermin pada yurisprudensi dan pendapat ahli hukum terkenal yang biasa disebut dengan doktrin. Begitu juga dengan kebebasan hakim dalam menilai hak diam tersangka/terdakwa saat proses persidangan berlangsung. Hakim dalam menangani suatu perkara harus berpedoman pada asas-asas pemeriksaan perkara pidana. Salah satu asas yang terkait dengan rigts to remain silent ialah asas keseimbangan. Suatu prinsip yang menuntut keseimbangan yang serasi antara perlindungan terhadap harkat dan martabat manusia dengan perlindungan terhadap kepentingan dan ketertiban masyarakat. Hakim dalam melaksanakan fungsi dan wewenang penegakan hukum tidak boleh berorientasi kepada kekuasaan semata-mata, hakim harus menghindari tindakan-tindakan yang dapat menimbulkan pelanggaran HAM, seperti tidak menghargai rigts to remain silent tersangka/terdakwa. Untuk menjatuhkan pidana, hakim harus mendasarkan atas alat-alat bukti setidaknya dua alat bukti sah sehingga ia mendapat

97

keyakinan, suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan pelakunya adalah terdakwa, serta dia bersalah melakukannya (Pasal 183 KUHAP). Keterangan tersangka hanya salah satu dari lima jenis alat bukti dan tidak harus selalu ada atau diperlukan untuk membuktikan kesalahan terdakwa. Dalam praktik, penyidikan suatu perkara pidana maupun proses persidangan di pengadilan, pengakuan terdakwa tidak dijadikan alat bukti penting karena setiap saat dapat berubah di persidangan sesuai kemauan terdakwa. Bahkan, seandainya terdakwa bersikap diam sejak penyidikan sampai ke persidangan di pengadilan, tidak akan dapat memengaruhi hakim guna menghukum terdakwa jika alat-alat bukti lain telah terpenuhi secara sah dan meyakinkan.

Ada perbedaan terkait dengan hak untuk tidak menjawab dalam system peradilan Inggris dan Indinesia. Tabel 2 Perbedaan hak untuk tidak menjawab (Rights to remain silent) dalam Peradilan Inggris dan Indonesia NO INGGRIS INDONESIA 1. Menganut system Accusatoir Menganut yaitu menempatkan tersangka Inquisatoir pemeriksaan di muka sidang- sebagai sidang pengadilan subjek hokum yang memiliki tahap yang harus dilaindungi. pada system yaitu onjek pemeriksaan maupun tahap

dalam proses pendahuluan dan memempatkan tersangka sebagai pemeriksaan baik pada

hak (asasi) dan kepentingan pendahuluan

98

penmeriksaan di muka siding pengadilan. 2. Di Inggris tidak terdapat Di yang tegas Indonesia memang secara tidak konvensi-konvensi remain silent

mengatur mengenai Rights to

megatur tentang Rights to remain silent. Asas ini semata-mata adalah usaha untuk mencegah tindakan penyimpangan seperti penggunaan penyiksaan dalam proses penyidikan. (Pasal 52 dan 117 KUHAP)

3.

Proses

penuntutan ringan

bagi Di Indonesia rangkaian di penyelesaian peradilan atas tahapan. penyidikan penuntutan terdiri

perkara-perkara

Inggris dilakukan oleh Polisi pidana sendiri (Polise Prosecutor). beberapa

Sedangkan perkara yang agak Kekuasaan berat pengacara dilakukan yang disebut kekuasaan

oleh oleh lembaga kepolisian,

Solicitor. Dan perkara-perkara oleh lembaga penuntut yang berat disidangkan di umum atau kejaksaan, pengadilan banding) Barister. tinggi dengan (tingkat Kekuasaan penuntut oleh badan hakim oleh mengadili peradilan serta aparat

umum pengacara yang disebut atau

Kekuasaan pelaksanaan hukuman

99 pelaksana (jaksa dan eksekusi lembaga pemasyarakatan) 4. Right to remain silent tentu tidak membantu polisi dalam proses penyelidikan. mempunyai atau tidak suatu pilihan tidak Tersangka/terdakwa KUHAP. The rights to remain silent The rights to remain 52 dan 117 dalam pertama kali dikodifikasi pada silent di akomodir dalam tahun 1912 dalam Judge’s Pasal Rules. diinterogasi oleh Polisi. 5.penyidikan tersebut apapun tidak hal ini diajukan. Jadi. dan birokrasi lebih panjang penyidik tidak memaksa untuk sehingga menadapatkan keterangan dari penyidikan tersangka. Di Indonesia karena proses dan tersangka menyebabkan di kepolisian tersangka bersikap dalam untuk penyelidikan menolak yang menjawab pertanyaan maka hal berpengaruh pertanyaan. tersangka tidak dapat diikuti oleh . Dalam apabila diam proses tersangka atau investigasi. Sedara tegas diatur apakah ia akan memberikan KUHAP memberikan fakta/keterangan dalam proses pemeriksaan.

(custom) yang dikembangkan Indonesia menggunakan perundang- kedudukan yang sangat kuat karena berlaku asas stare decisis atau asas binding force of precedent 7.100 boleh bersikap diam. sebelumnya. memutuskan/ menilai sikap diam tersangka adalah Jury 6. adat istiadat atau kebiasaan masyarakat (custom) yang dikembangkan berdasarkan putusan Pengadilan mempunyai kedudukan yang sangat kuat karena berlaku asas stare decisis atau asas binding force of precedent. yang pihak Pengadilan. kebiasasn berdasarkan pengadilan adat istiadat atau Indonesia yang asas tidak ini. Bagian putusan hakim yang harus diikuti dan . Keputusan ada di tangan Juri Keputusan ada di tangan hakim yang mempunyai yang memutus perkara yang kewenangnan memutus ditangani perkara Dalam system Common Law seperti di Inggris. Asas ini mewajibkan hakim untuk mengikuti putusan hakim yang ada. Bagian putusan hakim untuk mengikuti putusan hakim yang ada sebelumnya. System common law seperti di Tidak demikian dengan Inggris. masyarakat mengenal putusan peraturan mempunyai undangan.

Karena tersangka berlindung dibalik kekebalan hukum yang diberikan oleh UndangUnadang antara lain hak untuk diam (right to remain silent). Perubahan tersebut dilihat dari konteks keberadaan system hukum yang ada di dunia (civil law dan common law) ternyata saat bukan saatnya lagi memperbedakan secara perbedaan antara kedua system hukum tersebut. maka tugas hakim di pengadilan berat karena selain harus menentukan benar salahnya terdakwa juga menetapkan hukumannya. tugas jaksa dan pengacara dalam persidangan adalah meyakinkan juri bahwa terdakwa bersalah atau tidak.101 mengikat adalah bagian pertimbangan hukum yang disebut sebagai ratio decidendi sedangkan hal selebihnya yang disebut obiter dicta tidak mengikat. Tugas hakim hanya memastikan persidangan berjalan sesuai prosedur dan menjatuhkan hukuman sesuai hukum. Hal ini dilatarbelakangi karena polisi Inggris kesulitan untuk mengungkap atau menyelesaikan berbagai kasus yang menimbulkan ancaman serius bagi masyrakat terutama terorisme. Pada tahun 1994 telah terjadi perjadi pergeseran system accusator menjadi system hukum inquisitoir dalam hukum acara Pidana Inggris. Dalam system peradilan Inggris benar salahnya terdakwa ditentukan oleh juri yang direkrut dari masyarakat biasa. Oleh karena itu. Ada perbedaan antara keberlakuan hak diam (rights to tajam . Berbeda dengan system civil law yang dianut Indonesia sebagai kelanjutan dari system hukum yang dianut Belanda.

Suatu proses penyelesaian peradilan dimulai dari adanya suatu peristiwa hukum. Setelah proses penyidikan selesai. Di Indonesia rangkaian penyelesaian peradilan pidana terdiri atas beberapa tahapan. penyidik akan menyusun BAP (Berita Acara Pemeriksaan) untuk kemudian melimpahkan BAP perkara tersebut ke Kejaksaan yang berwenang. Setelah peristiwa tersebut terbukti merupakan suatu tindak pidana. untuk meyakinkan suatu peristiwa tersebut merupakan tindak pidana atau tidak maka dilakukan penyelidikan. Yang perlu digarisbawahi disini . perbedaan tersebut antara lain : Pertama. Di Indonesia.102 remain silent) tersangka/terdakwa dalam penyelesaian suatu perkara pidana di Indonesia yang menganut Civil Law System dengan Inggirs yang menganut Common Law System. yang bertugas untuk mengetahui dan menentukan peristiwa apa yang telah terjadi dan bertugas membuat berita acara serta laporannya yang nantinya merupakan dasar permulaan penyidikan. Dengan demikian fungsi penyelidikan dilaksanakan sebelum dilakukan penyidikan. sebagaimana Pasal 4 KUHAP yang menyatakan bahwa petugas penyidik ialah setiap pejabat polisi Negara Republik Indonesia. kewenangan untuk melakukan penyelidikan dan penyidik berada di tangan polisi. maka dilakukan penyidikan terhadap perkara tindak pidana tersebut. Menurut KUHP diartikan bahwa penyelidikan adalah serangkaian tindakan untuk mencari dan menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana guna menentukan dapat atau tidak nya dilakukannya penyidikan (Pasal 1 butir lima KUHAP).

Sedangkan di Inggris. Kemudian.103 ialah bahwa dalam menangani perkara tindak pidana di Indonesia. hakim wilayah atau yang sering disebut dengan hakim distrik ialah seorang petugas pengadilan dari Pengadilan yang beertugas untuk menangani perkara dan memberikan putusan terhadap perkara tersbut dan tunduk pada batas yurisdiksi yang ditentukan. yang memutuskan layak tidaknya suatu perkara disidangkan adalah Jaksa Penuntut Umum. Kemudian Kejaksaan setelah meneliti BAP dari pihak kepolisian dan menyatakan kelengkapan BAP tersebut. Kejaksaan melimpahkan perkara ke Pengadilan Negeri untuk kemudian diadakan pemeriksaan di pengadilan. yang menentukan suatu perkara itu layak atau tidak layak untuk disidangkan ialah Jury. Hal ini berarti. Dalam hal ini yang membedakan antara Common Law System dengan Civil Law System ialah di Inggris seluruh jajaran kepolisian di wilayah dapat mengakses langsung ke Pengadilan terhadap perkara yang ia temukan. ada yang disebut dengan Hakim Wilayah. hal ini menyebabkan birokrasi lebih panjang sehingga di kepolisian . seluruh jajaran Polri berhenti di Kejaksaan. Jury yang teridiri dari 6 sampai 10 orang tersbut mengadakan voting untuk mengambil suara. Di Indonesia karena dalam proses penyelidikan dan penyidikan tersangka diinterogasi oleh Polisi. suara dari voting mayoritas inilah yang menentukan perkara tersebut layak atau tidak untuk disidangkan. dalam penyelesaian perkara pidana.

suap menyuap. sehingga keberadaan hak diam ini dinilai kurang dihargai dalam proses penyelesaian perkara pidana di Indonesia. kekerasan. Di Inggris. Dalam proses investigasi. maka hal tersebut tidak berpengaruh apapun dan penyidik tidak memaksa untuk menadapatkan keterangan dari tersangka. selama masa penahanan tersebut tersangka diinterogasi oleh pihak kepolisian dan pada faktanya tersangka harus menjawab. hal tersebut sudah di luar area Kejaksaan dan Pengadilan sehingga pihak kepolisian mencari data selengkap-lengkapnya di tahap penyidikan. ketika keterangan atau laporan terbukti cukup atau tidak cukup. Selain itu di Indonesia harus dilakukan upaya penangkapan atau penahanan. pihak kepolisian harus melakukan investigasi terlebih dahulu untuk mencari data-data terkait tindak pidana yang terjadi. . apabila tersangka bersikap diam atau menolak untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Ketika tersangka diam atau tidak menjawab (Rights to Remain Silent) pihak kepolisisan seringkali memaksa untuk manjawab. Jadi.104 penyidikan tersangka tidak dapat diikuti oleh pihak Pengadilan sehingga apabila terdapat hal-hal yang tidak fair di kepolisian seperti tindak penekanan. yang memutuskan/ menilai sikap diam tersangka adalah Jury. tersangka boleh bersikap diam.

Simpulan Berdasarkan Dari serangkaian penelitian yang telah dilakukan. Perbandingan pengaturan hak untuk tidak menjawab (Rights to remain silent) sistem peradilan pidana antara Indonesia (Civil Law) dan Inggris (Common Law) a. KUHAP secara tegas tidak mengatur asas the right si temain silent. Adapun simpulan yang dapat diambil tersebut adalah : 1. maka penulis dapat mengambil simpulan tentang perbandingan sistem peradilan pidana antara Indonesia dan Inggris terkait hak untuk tidak menjawab (Rights to remain silent) oleh terdakwa.105 BAB IV PENUTUP A. Hal demikian bisa dilihat dalam .

hakim ketua sidang menganjurkan untuk menjawab dan setelah itu pemeriksaan dilanjutkan. Hukum Positif di Indonesia tidak mengatur asas the right to remain silent. Sedangkan Pasal 52 dan 117 KUAP. sebagai bentuk perlindungan terhadap hak asasi manusia. dalam menghadapi proses hukum. Di Inggris juga tidak ditemukan adanya asas the right to remain silent. Suatu prinsip yang menuntut keseimbangan yang serasi antara perlindungan terhadap harkat dan martabat manusia dengan perlindungan terhadap kepentingan dan ketertiban masyarakat. KUHAP tidak mengakui keberadaan asas the right to remain silent. b.106 ketentuan Pasal 175 KUHAP yang menyebutkan bahwa jika terdakwa tidak tidak mau menjawab atau menolak untuk menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya. Asas ini hanyalah merupakan kebiasaanatau adat istiadat hakim terdahulu. KUHAP hanya menyinggung masalah asas the right to remain silent dalam tahap pemeriksaan di persidangan. yang melakukan proses hukum. terkait adanya asas ini adalah sebagai bentuk perlindungan Hukum terhadap terdakwa terkait tentang kepentingannya sebagai perlindungan hak asasi manusia. hakim harus menghindari tindakan- . Hakim dalam melaksanakan fungsi dan wewenang penegakan hukum tidak boleh berorientasi kepada kekuasaan semata-mata.

Dengan kedua asas tersebut maka pelaku tindak pidana ditempatkan tidak sekedar menjadi obyek pemeriksaan. Perbedaanya 1) Di Inggris.107 tindakan yang dapat menimbulkan pelanggaran HAM. Persamannya Asas the right to remain silent semata. Persamaan dan perbedaan pengaturan hak untuk tidak menjawab (Rifhts to remain silent) oleh terdakwa antara sistem peradilan pidana Inggris dan Indonesia a. (b) Di Inggris tidak terdapat konvensi-konvensi yang mengatur . seperti tidak menghargai rigts to remain silent tersangka/terdakwa.mata adalah usaha untuk mencegah tindakan menyimpang seperti penggunaan penyiksaan dalam proses penyidikan. (a) Menganut system Accusatoir yaitu menempatkan tersangka dalam proses pendahuluan dan pemeriksaan di muka sidangsidang pengadilan sebagai subjek hokum yang memiliki hak (asasi) dan kepentingan yang harus dilaindungi. Dengan demikian semua proses penegakan hukum harus dilandasi oleh norma perlindungan hak asasi manusia pelaku. Pada intinya dari sistem peradilan di Inggris dan Indonesia munculnya hak the right to remain silent sebagai bentuk perlindungan terhadap terdakwa. 2. akan tetapi diperlakukan secara manusiawi. b.

108 mengenai Rights to remain silent (c) Proses penuntutan bagi perkara-perkara ringan di Inggris dilakukan oleh Polisi sendiri (Polise Prosecutor). adat istiadat atau kebiasasn masyarakat (custom) yang dikembangkan berdasarkan putusan pengadilan mempunyai kedudukan yang sangat kuat karena berlaku asas stare decisis atau asas binding force of precedent 2) Di Indonesia (a) Menganut system Inquisatoir yaitu memempatkan tersangka sebagai onjek pemeriksaan baik pada tahap pemeriksaan . Dan perkara-perkara yang berat disidangkan di pengadilan tinggi (tingkat banding) dengan penuntut umum pengacara yang disebut Barister. (e) Dalam proses investigasi. Tersangka/terdakwa mempunyai suatu pilihan apakah ia akan memberikan atau tidak memberikan fakta/keterangan dalam proses pemeriksaan. maka hal tersebut tidak berpengaruh apapun dan penyidik tidak memaksa untuk menadapatkan keterangan dari tersangka. yang memutuskan/ menilai sikap diam tersangka adalah Jury (f) System common law seperti di Inggris. Sedangkan perkara yang agak berat dilakukan oleh pengacara yang disebut Solicitor. Right to remain silent tentu tidak membantu polisi dalam proses penyelidikan. apabila tersangka bersikap diam atau menolak untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. (d) The rights to remain silent pertama kali dikodifikasi pada tahun 1912 dalam Judge’s Rules. tersangka boleh bersikap diam. Jadi.

Saran Saran-saran yang penulis sampaikan adalah: 1. Asas ini semata-mata adalah usaha untuk mencegah tindakan penyimpangan seperti penggunaan penyiksaan dalam proses penyidikan. Dalam menerapkan proses penyidikan hendaknya menghargai tersangka diinterogasi oleh Polisi.109 pendahuluan maupun pada tahap penmeriksaan di muka siding pengadilan. kekuasaan penuntutan oleh lembaga penuntut umum atau kejaksaan. Sedara tegas tidak diatur dalam KUHAP (e) Di Indonesia karena dalam proses penyelidikan dan penyidikan penyidikan Pengadilan. B. (b) Di Indonesia secara tegas memang tidak megatur tentang Rights to remain silent. (Pasal 52 dan 117 KUHAP) (c) Di Indonesia rangkaian penyelesaian peradilan pidana terdiri atas beberapa tahapan. (f) Tidak demikian dengan Indonesia yang tidak mengenal asas ini. Kekuasaan penyidikan oleh lembaga kepolisian. Kekuasaan mengadili oleh badan peradilan atau hakim serta Kekuasaan pelaksanaan hukuman oleh aparat pelaksana eksekusi (jaksa dan lembaga pemasyarakatan) (d) The rights to remain silent di akomodir dalam Pasal 52 dan 117 KUHAP. hal ini tersangka tidak dapat diikuti oleh pihak menyebabkan birokrasi lebih panjang sehingga di kepolisian . Indonesia menggunakan peraturan perundang-undangan.

2. Harus selalu diingat bahwa penegakan hukum selain harus memperhatikan hak-hak tersangka/terdakwa. Untuk itu perlu ada pengaturan secara tegas dan terperinci di dalam rancangan KUHAP. Dengan pengaturan yang tegas diharapkan tidak ada keraguan dari para aparat penegak hukum untuk menjadikannya sebagai pedoman dalam pelaksanaan penegakan hukum. Asas to remain silent merupakan perwujudan dari asas praduga tidak bersalah yang bersifat universal. 3. . secara komprehensif. sudah selayaknya kepolisian menyiapkan sumber daya manusia yang memahami dengan baik pengertian dan penerapan asas the right to remain silent. karena sering dijumpai tindakan kekerasan oleh kepolisian dalam melakukan penyidikan. 4. dan salah satu diantara tuntutan itu berkenaan dengan kualitas penegakan asas the right to remain silent.110 prinsip-prinsip hak asasi manusia terkait hak-hak sebagai tersangka. Sehubungan dengan semakin gencarnya tuntutan peningkatan hak asasi manusia dalam penegakan hukum. juga harus memperhatikan kepentingan pihak korban atau masyarakat yang telah dirugikan oleh perbuatan pelaku kejahatan tersebut. Penggunaan asas to remain silent harus dilakukan secara bijaksana dan hati-hati agar tidak menjadi bumerang dalam penegakan hukum.

Tindak Pidana. Teori Dan Metodologi Penelitian Hukum Normatif. Malang: Bayumedia Publishing. KUHP dan KUHAP. Perbandingan Hukum Pidana. Hukum Acara Pidana Indonesia. 1998.J Van Apeldorn. 2001. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. RajaGrafindo Persada. 1990. 1999. Rajawali Pers ___________. Jakarta. Lexy J. Pembahasan Permasalahan Dan Penerapan KUHAP (Ruang lingkup pemeriksaan Terdakwa). L. Faisal salam. Jakarta: PT Pradnya M. Andi Hamzah. 2003. Jakarta: Sinar Grafika. 2009. Teori-Teori Pemidanaan dan Batas Berlakunya Hukum Pidana). Jakarta: Rineka Cipta. Jakarta: Ghalia Indonesia. Hukum Acara Pidana Indonesia. Jakarta : Sinar Grafika. 2005. 2006. Jakarta: PT. Edisi Revisi. 1988. Orientasi Hukum Acara Pidana. Pengantar Ilmu Hukum. Bandung: Mandar Maju. Johnny Ibrahim. Barda Nawawi Arief. Moch. Pengantar Hukum Acara Pidana Indonesia. Bambang Poernomo. 1998. Kapita Selekta Hukum Pidana. Moleong. 2002.111 DAFTAR PUSTAKA Adami Chazawi. Barda Nawai Arief. Hukum Acara Pidana dalam Teori dan Praktik. Jakarta: Sinar Grafika ____________. Metodologi Penelitian Kualitatif. Yahya Harahap. ____________. 2002. 2002. Bandung: PT. Citra Aditya Bakti. . Edisi Revisi. Yogyakarta: Amarta Buku. Pelajaran Hukum Pidana Bagian I (Stelsel pidana.

Hak Asasi Manusia (Hakekat. 1998. Otje Salman dan Anton F. Penyiksaan dan Hak. SH. Bandung: Alumni Vide Indriyanto Seno Adji. Sistem Peradilan Pidana Perbandingan Antara Inggris dan Indonesia. Penguak Hak. Bandung: PT Refika Aditama. Semarang. Jakarta: Sinar Harapan. Yogyakarta: Transito.Hak Asasi Manusia dalam Perspektif KUHAP. Jakarta: Sinar Harapan.Hak Asasi Manusia dalam KUHAP. Pengantar Penelitian Ilmiah. Roslan Saleh.edu/apakabar/basisdata/1996/11/08/0015. Unisula Muladi. Penyiksaan Tersangka dan Antisipasi Perlaindungan HAM. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. 2000. 1998. Susanto. 2008. 2005.hamline. Perundang-Undangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) atau Undang-Undang Nomor 8 tahun 1981 Undang-Undang Dasar Tahun 1945 (UUD 1945) Batang Tubuh Undang-Undang Dasar Tahun 1945 Undang-Undang Nomor 48 tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman Internet Indriyanto Seno Adji. Peter Mahmud Marzuki. Romli Atmasasmita. Miranda Rule dalam KUHAP. Perbandingan Hukum Pidana. 2005.1990. Penelitian Hukum. Sutrisno Hadi. Teori Hukum (Mengingat.112 Moch. Bandung: Mandar Maju.html. Bandung: PT Refika Aditama. 2006. http://www. Metodologi Penelitian Hukum. 1989. Konsep dan Implikasinya dalam Perspektif Hukum dan Masyarakat). . Yuliandi. M Sofyan Lubis. Mengumpulkan dan Membuka kembali). Winarno Surakhmad.

pukul 12.00] Zaenal Arifin. http://mediaindonesia. Logika Hukum Asas Praduga Tidak Bersalah: Reaksi atas Paradigma Individualistik.org/? q=logika+hukum+Asas+praduga+tak+bersalah %3A+Reaksi+atas+Paradigma+Individualistik> [ 1 Mei 2010.00].legalitas.com/read/2008/08/21/91222/77/68/11/mengenai dakwaan batal demi hukum [13 April 2010 pukul 14.legalitas.113 http://www. SH. MSi.20] Romli Atmasasmita. pukul 14. Mengenai Dakwaan Batal Demi Hukum.org/?q=miranda +rules +dalam +kuhap > [ 30 April 2010. . http://www.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->