1

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Undang-undang Dasar 1945 menyatakan bahwa Negara Indonesia berdasarkan atas hukum dan bukan berdasarkan atas kekuasaan. Penegakan hukum harus sesuai dengan peraturan yang berlaku dan juga berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945, yang menjunjung tinggi hak asasi manusia serta yang menjamin kedudukan yang sama bagi warga Negara di dalam hukum dan pemerintahan. Setiap pelanggar peraturan hukum yang ada akan dikenakan sanksi yang berupa hukuman sebagai reaksi terhadap perbuatan yang melanggar hukum yang dilakukannya. Untuk menjaga agar peraturan itu dapat berlangsung terus dan diterima seluruh anggota masyarakat, maka peraturan-peraturan hukum yang ada harus sesuai dan tidak boleh bertentangan dengan asas-asas keadilan dari masyarakat tersebut. Dengan demikian, hukum itu bertujuan menjamin adanya kepastian hukum dalam masyarakat dan hukum itu harus pula bersendikan pada keadilan, yaitu asasasas keadilan dari masyarakat. Perkembangan system hukum di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari system hukum civil law atau system Eropa Kontinental. Hal ini disebabkan karena Indonesia terlalu lama dijajah oleh Belanda yang kemudian menerapkan system hukum Eropa dengan asas konkordansi di Hindia Belanda seabgai Negara jajahannya. Bahkan hingga kini setelah lebih dari setengah abad Indonesia merdeka, masih banyak ketentuan hukum peninggalan Belanda yang masih digunakan sebagai hukum positif. Sebagai contoh KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana) dan HIR (Het Herziene Inlands Reglement atau Hukum Acara Perdata) yang banyak dipengaruhi oleh system hukum civil

2

law, yaitu mengutamakan kodifikasi hukum dan Undang-undang/hukum tertulis sebagai sumber hukum utama untuk menjamin asas legalitas dan kepastian hukum. Namun praktek seiring dengan perjalanan waktu, terutama setelah adanya pengaruh globalisasi di segala bidang kehidupan berbangsa dan bernegara, nampaknya penerapan sitem hukum civil law di Indonesia mulai mengalami pergeseran. Terlebih setelah adanya akademisi maupun praktisi hukum dari Indonesia yang belajar hukum di Negara-negara yang menganut system Common law seperti Inggris. Dari sini timbul kesadaran akan pentingnya mempelajari perbandingan system hukum untuk memperoleh pemahaman yang komprehensif tentang system hukum yang ada di dunia secara global guna memperoleh manfaat internal yaitu mengadopsi hal-hal positif guna pembangunan hukum nasional. Maupun manfaat eksternal yaitu dapat mengambil sikap yang tepat dalam melakukan hubungan hukum dengan Negara lain yang berbeda system hukumnya. Hal ini tidak teerkecuali dalam pengaturan hak untuk diam the right to remain silent bagi terdakwa, baik yang terjadi pada peradilan pidana Ianggris maupun di Indonesia. Salah satu asas terpenting dalam hukum acara pidana ialah asas praduga tak bersalah. Asas tersebut dicantumkan di dalam Pasal 8 UndangUndang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman sebagaimana bersumber pada asas praduga tak bersalah, maka sudah sewajarnya bahwa tersangka atau terdakwa dalam proses peradilan pidana wajib mendapatkan hak-haknya. Rumusan kalimat dalam Pasal 8 Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, dan Penjelasan Umum Hukum Acara Pidana menyatakan bahwa “Setiap orang yang disangka, ditangkap, ditahan, dituntut, dan/atau dihadapkan di depan pengadilan wajib dianggap tidak

3

bersalah sebelum ada putusan pengadilan yang menyatakan kesalahannya, dan telah memperoleh kekuatan hukum tetap”. Hakikat asas ini cukup fundamental sifatnya dalam Hukum Acara Pidana, karena ketentuan asas praduga tak bersalah sangat tampak eksistensinya dalam Pasal 8 Undang-Undang Nomor 48 tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman. (Lilik Mulyadi, 2007 : 13). Berdasarkan hukum acara pidana di Indonesia, kendati secara universal asas praduga tak bersalah diakui dan dijunjung tinggi, tetapi secara legal formal Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) juga menganut asas praduga bersalah. Sikap itu paling tidak dapat disimpulkan dari ketentuan Pasal 17 KUHAP yang menyebutkan, “Perintah penangkapan dilakukan terhadap seseorang yang diduga keras melakukan tindak pidana berdasarkan bukti permulaan yang cukup” artinya, untuk melakukan proses pidana terhadap seseorang berdasar deskriptif faktual dan bukti permulaan yang cukup, harus ada suatu praduga bahwa orang itu telah melakukan suatu perbuatan pidana yang dimaksud. Asas praduga tak bersalah adalah pengarahan bagi para aparat penegak hukum tentang bagaimana mereka harus bertindak lebih lanjut dan mengesampingkan asas praduga tak bersalah dalam tingkah laku mereka terhadap tersangka. Intinya, praduga tak bersalah bersifat legal normatif dan tidak berorientasi pada hasil akhir. Asas praduga bersalah bersifat deskriptif faktual artinya berdasar fakta-fakta yang ada si tersangka akhirnya akan dinyatakan bersalah. Karena itu, terhadapnya harus dilakukan proses hukum mulai dari tahap penyelidikan, penyidikan, penuntutan, sampai tahap peradilan. Tidak boleh berhenti di tengah jalan. Sebagai seseorang yang belum dinyatakan bersalah, maka ia mendapatkan hak-hak seperti hak untuk segera mendapatkan pemeriksaan dalam fase penyidikan, hak untuk segera mendapatkan pemeriksaan oleh

yaitu: hak untuk segera mendapatkan pemeriksaan dalam tahap penyidikan. . Konsekuensi logis dari asas praduga tak bersalah ini. manifestasi asas ini dapat diartikan lebih lanjut selama proses peradilan masih berjalan (Pengadilan Negeri. hak untuk memperoleh bantuan hukum. Pengadilan Tinggi dan Mahkamah Agung) dan belum memperoleh kekuaan hukum tetap (inkracht van gewijsde). hak untuk diberitahu tentang apa yang disangkakan atau didakwakan kepadanya dengan bahasa yang dimengerti olehnya. (Lilik Mulyadi.4 pengadilan dan mendapatkan putusan yang seadil-adilnya. hak untuk mendapatkan bantuan hukum dan hak untuk mendapatkan kunjungan keluarganya. Tidak kalah pentingnya sebagai perwujudan asas praduga tak bersalah ialah bahwa seseorang terdakwa tidak dapat dibebani kewajiban pembuktian. 2007: 13). Penuntut Umum adalah pihak yang mengajukan dakwaan kepada terdakwa. dan lain sebagainya. hak untuk menyiapkan pembelaan hak untuk mendapatkan juru bahasa. Terdakwa belum dapat dikategorisasikan bersalah sebagai pelaku dari tindak pidana sehingga selama proses peradilan pidana tersebut haruslah mendapatkan haknya sebagaimana diatur Undang-Undang. hak segera mendapatkan pemeriksaan oleh pengadilan dan mendapatkan putusan seadiladilnya. Dalam praktik peradilan. maka kepada tersangka atau terdakwa diberikan hak oleh hukum untuk tidak memberikan jawaban baik dalam proses penyidikan maupun dalam proses persidangan (the right to remain silent). maka penuntut umumlah yang dibebani tugas membuktikan kesalahan terdakwa dengan upaya-upaya pembuktian yang diperkenankan oleh undang-undang.

Dalam pemeriksaan kasus pidana. Jika demikian yang terjadi sehingga asas tersebut memberikan potensi baik dalam hal positif maupun negatif dalam proses perkara pidana . baik di waktu penyidikan maupun pemeriksaan di depan sidang. kerapkali terjadi hal yang kontroversial. dituntut dan atau dihadapkan di muka sidang pengadilan. selain itu untuk mencegah adanya kekerasan terhadap tersangka atau terdakwa dalam proses penyidikan. Potensi negatif asas the right to remain silent yaitu dapat menyulitkan penyidik untuk mengungkap suatu kasus tindak pidana. Sering kali ketentuan ini dipandang sebagai pencerminan dari asas akusator (accusatoir). pemeriksaan. Di dalam KUHAP pada Pasal 52: “ dalam pemeriksaan pada tingkat penyidik dan pengadilan. baik dalam proses penyidikan maupun dalam proses persidangan the right to remain silent. Salah satu hak yang sering menimbulkan pro dan kontra ialah hak tersangka atau terdakwa untuk memilih menjawab atau tidak menjawab pertanyaan baik oleh penyidik.5 Asas praduga tak bersalah telah dirumuskan dalam Pasal 8 UndangUndang Pokok Kekuasaan Kehakiman Nomor 48 Tahun 2009 yang berbunyi: “Setiap orang yang sudah disangka. maupun proses di persidangan. Potensi positif dengan adanya asas the right to remain silent yaitu dapat melindungi hak asasi tersangka atau terdakwa dalam proses penyidikan. memberi pedoman bahwa tersangka atau terdakwa mempunyai hak yang diberikan oleh hukum untuk tidak memberikan jawaban. tersangka atau terdakwa berhak memberikan keterangan secara bebas kepada . ditangkap. maupun oleh hakim. ditahan. wajib dianggap tidak bersalah sampai adanya putusan pengadilan yang menyatakan kesalahannya dan memperoleh kekuatan hukum tetap”. penuntut umum. misalnya tersangka tidak mau menjawab pertanyaan yang diajukan penyidik atau tersangka mempunyai hak-hak sejak ia mulai diperiksa.Asas praduga tak bersalah yang dimiliki KUHAP.

atau subversi dapat dilakukan persidangan in absensia. namun tidak dijelaskan apakah tersangka atau terdakwa berhak berdiam untuk tidak menjawab pertanyaan.6 penyidik atau hakim”. akan tetapi apabila terdakwa tidak berkehendak untuk menjawab. seperti misalnya dalam perkara ekonomi. artinya harus dilakukan pemeriksaan dengan hadirnya terdakwa. kecuali di dalam beberapa kekhususan. Kekecewaan atas suatu proses dalam suatu pemeriksaan bagi seorang tersangka maupun terdakwa menyebabkan sikap tersebut. Pemeriksaan di sidang pengadilan pada dasarnya harus dihadiri oleh terdakwa. Dalam hal demikian sidang dapat dilangsungkan dengan memeriksa alat bukti lain yang diajukan oleh Jaksa Penuntut Umum dimana karena terdakwa tidak menjawab. Jelas pada Pasal itu bahwa tersangka tidak boleh dipaksa atau ditekan. Penjelasan pasal dimaksud menyatakan: “ Supaya pemeriksaan dapat mencapai hasil yang tidak menyimpang daripada yang sebenarnya. atau meninggalkan ruang sidang. Sehingga apa yang diutarakan di depan sidang sebagai pembuktian oleh Jaksa Penuntut Umum tidak ada yang dibantahnya atau dibenarkannya. Karena tidak ada yang membantah maka alat . hal ini merupakan suatu kerugian bagi terdakwa. Akan tetapi hal demikian akan merugikan terhadap penggunaan hak tersangka atau terdakwa. maka tersangka atau terdakwa harus dijauhkan dari rasa takut. Oleh karena itu wajib dicegah adanya paksaan atau tekanan terhadap tersangka atau terdakwa. Karena dengan demikian terdakwa tidak menggunakan hak yang diberikan kepadanya. Sikap diam tersebut akan dicatat dalam berita acara pemeriksaan atau berita acara persidangan. korupsi. Justru pemeriksaan pengadilan pada tingkat yang lebih tinggi akhirnya diharapkan memberikan putusan yang tegas terhadap nilai alat bukti yang diberikan karena tidak dijawabnya atau tidak dibantahnya suatu pertanyaan atas suatu pernyataan. Asas pemeriksaan di depan sidang pengadilan bersifat oral.

Pengetahuan perbandingan hukum sudah barang tentu tidaklah cukup jika hanya sekedar pencatatan belaka tentang persamaan dan perbedaan dari dua sistem hukum yang berlaku. dalam arti bahwa hukum itu di seluruh bangsa dan negara akan selalu ada dan diperlukan. dalam hal ini dapat diartikan pula bahwa terdakwa mempunyai hak untuk berbohong ataupun berkelit. berusaha menutup-nutupi atau memilih untuk diam tidak menjawab setiap pertanyaan yang diajukan kepadanya tidak menutup kemungkinan akan menjadi factor yang memberatkan putusan yang akan dijatuhkan kepadanya. Bagi pendidikan hukum di Indonesia jelas bahwa pemahaman karakteristik hukum . Dalam KUHAP tidak ada yang mengatur mengenai pemaknaan bahwa “diam berarti ya”. namun hal demikian akan menyulitkan terdakwa sendiri untuk melakukan pembelaan atas perkara yang dituduhkan kepadanya. namun hukum itu memiliki ciri karakteristik yang berbeda dari satu bangsa kepada bangsa lain.7 bukti tersebut dianggap benar adanya. namun KUHAP mengatur bahwa terdakwa dapat memberikan keterangannya secara bebas tanpa tekanan atau paksaan. Tidak kooperatifnya terdakwa dalam mengungkapkan peristiwa yang sesungguhnya. Dalam proses pemeriksaan di persidangan segala sesuatu yang dapat dijadikan bukti atau setidak-tidaknya keterangan yang dapat membuat terang terhadap terjadinya tindak pidana tentu akan menjadi pertimbangan hakim dalam menjatuhkan putusannya termasuk sikap terdakwa selama dalam persidangan. Hukum merupakan suatu gejala universal. Tidak menjawab memang hak seseorang Tersangka atau terdakwa. Meskipun demikian majelis hakim juga tidak diperkenankan hanya mempertimbangkan putusannya hanya berdasarkan keterangan terdakwa. karena dalam Pasal 184 ayat (1) KUHAP keterangan terdakwa diletakkan paling akhir. melainkan juga diperlukan keterangannya.

sedangkan sistem yang dianut dalam Hukum Acara Pidana Civil Law System adalah “Sistem Inquisitoir” atau dikenal dengan sebutan “Non-advesary system”. Bertolak dari perbedaan sistem hukum acara pidana antara Inggris dengan Indonesia ini sangat bertolak belakang. termasuk di dalamnya hak diam . sebagai negara dengan sistem hukum Common Law tentu mempunyai banyak perbedaan karakteristik dengan Indonesia yang menganut sistem hukum Civil Law. terutama dalam hal pengaturan tentang penempatan hak tersangka/terdakwa dalam proses pemeriksaan terkait hak-hak tersangka/terdakwa tersebut. Sedangkan Inquisitoir justru tidak menempatkan tersangka secara layak sebagai sebagai subjek hukum yang memiliki hak (asasi) dan kepentingan. Hal ini disebabkan karena sebagai negara berkembang Indonesia masih mempergunakan sebagian besar hukum tertulis yang berasal dari “warisan” Pemerintah Kolonial Belanda. Inggris. Sistem Accusatoir menempatkan terangka dalam proses pemeriksaan pendahuluan dan pemeriksaan di muka sidang-sidang pengadilan sebagai subjek hukum yang memiliki hak (asasi) dan kepentingan yang harus dilindungi.8 asing dimaksud sangat diperlukan. melainkan hanya semata-mata sebagai objek pemeriksaan baik pada tingkat pemeriksaan pendahuluan maupun pada pemeriksaan di muka sidang pengadilan. Salah satu perbedaan karakteristik terkait dengan hak-hak tersangka/terdakwa ialah sistem hukum acara pidana yang berlaku di negara-negara yang menganut sistem Common Law pada prinsipnya menganut “Sistem Accusatoir” atau yang secara populer dikenal dengan sebutan “Advesary System”. Apalagi jika hukum tidak berkehendak atau harus merupakan diingat bahwa pembangunan bidang hukum di Indonesia melalui pendidikan perbandingan pengambilalihan hukum asing ke dalam sistem hukum Indonesia dengan label/cap “nasional”.

yang dapat memudahkan peneliti dalam mengumpulkan. Perumusan masalah digunakan untuk mengetahui dan menegaskan masalah-masalah apa yang hendak diteliti. sehingga penelitian akan lebih terarah pada tujuan yang ingin dicapai. Oleh karena itu peneliti ingin menuangkan hasil penelitian tersebut dalam penulisan hukum yang berjudul “PERBANDINGAN PENGATURAN TENTANG HAK UNTUK TIDAK MENJAWAB (RIGHTS TO REMAIN SILENT) BAGI TERDAKWA ANTARA KETENTUAN HUKUM ACARA PIDANA INDONESIA DENGAN KETENTUAN HUKUM ACARA PIDANA INGGRIS”. Rumusan Masalah Dalam suatu penelitian diperlukan adanya perumusan masalah untuk mengidentifikasi persoalan yang diteliti. menyusun. Apakah persamaan dan perbedaan pengaturan hak untuk tidak menjawab (Rights to remain silent) oleh terdakwa antara sistem peradilan pidana Inggris dan Indonesia? C. Untuk mempermudah dalam pembahasan permasalahan yang akan diteliti maka peneliti merumuskan masalah sebagai berikut: 1. peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai pengaturan tentang hak terdakwa untuk tidak menjawab pertanyaan (right to remain silent) dalam hukum acara pidana antara dua sistem hukum yang berbeda yaitu sistem hukum Civil Law (Indonesia) dengan sistem hukum Common Law (Inggris).9 tersangka/terdakwa (Rights to Remain Silent). dan menganalisa data. B. Tujuan Penelitian . Bagaimanakah apabila diperbandingkan pengaturan hak untuk tidak menjawab (Rights to remain silent) bagi terdakwa antara Indonesia (Civil Law) dan Inggris (Common Law)? 2. Berdasarkan uraian diatas.

Tujuan Subyektif Tujuan Subyektif penelitian ini adalah : a. Adapun tujuan obyektif dan subyektif yang hendak dicapai peneliti adalah sebagai berikut: 1.10 Tujuan penelitian diperlukan karena terkait erat dengan perumusan masalah dari judul penelitian ini untuk memberikan arah yang tepat dalam proses penelitian agar penelitian berjalan sesuai dengan apa yang dikehendaki. Untuk mengetahui perbandingan pengaturan hak untuk tidak menjawab (Rights to remain silent) bagi terdakwa antara Indonesia (Civil Law) dan Inggris (Common Law). Untuk mengetahui persamaan dan perbedaan pengaturan hak untuk tidak menjawab (Rifhts to remain silent) oleh terdakwa antara sistem peradilan pidana Inggris dan Indonesia. Oleh karena itu peneliti mempunyai tujuan atau hal-hal yang ingin dicapai melalui penelitian ini. Tujuan Obyektif Tujuan Obyektif penelitian ini adalah : a. b. Untuk menambah wawasan dan pengetahuan peneliti di bidang Hukum Acara Pidana khususnya mengenai perbandingan pengaturan dalam peradilan pidana antara Indonesia dan Inggris terkait hak untuk tidak menjawab (Rights to remain silent) oleh terdakwa. Untuk memperoleh bahan hukum sebagai bahan utama dalam penyusunan skripsi dalam rangka memenuhi persyaratan akademis guna memperoleh gelar sarjana (Strata Satu) dalam bidang ilmu hukum di Fakultas Hukum Universitas Sebelas . b. 2.

Adapun manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini antara lain: 1.11 Maret Surakarta D. Diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran di bidang Hukum Acara Pidana secara teoritis khususnya mengenai perbandingan pengaturan tentang hak untuk tidak menjawab (Rights to remain silent) oleh terdakwa pada peradilan pidana Inggris dan Indonesia. Menambah ilmu dan pengalaman peneliti di bidang penelitian karya ilmiah khususnya karya penelitian ilmu hukum. Manfaat Teoritis a. Manfaat Penelitian Peneliti berharap bahwa kegiatan penelitian dalam penulisan hukum ini akan bermanfaat bagi peneliti maupun orang lain. Manfaat Praktis Manfaat Praktis penelitian ini adalah: a. b. Hasil penelitian dapat digunakan sebagai bahan acuan untuk mengetahui lebih jauh mengenai perbandingan sistem peradilan pidana antara Indonesia dan Inggris terkait hak untuk tidak menjawab (Rights to remain silent) oleh terdakwa. Hasil penelitian diharapkan dapat bermanfaat bagi pihak-pihak yang terkait dengan permasalahan dalam penelitian ini. c. bagi masyarakat pada umumnya dan mahasiswa fakultas hukum terkhususnya dalam Manfaat Teoretis Penelitian ini adalah: . Hasil penelitian dapat memberikan jawaban atas permasalahanpermasalahan yang menjadi pokok pembahasan dalam penelitian ini.. 2. b.

2005: 42). Penelitian Hukum adalah suatu proses untuk menemukan aturan hukum. gejala atau hipotesa. Akan tetapi. yang dilakukan secara metodologis.dalam peradilan pidana antara Indonesia dan Inggris. Metode Penelitian Metode merupakan cara yang utama yang digunakan untuk mencapai suatu tujuan. dengan mengadakan klarifikasi yang berdasarkan pada pengalaman. prinsipprinsip hukum. Berdasarkan uraian di atas. 1990: 31). maupun doktrin-doktrin hukum guna menjawab isu hukum yang dihadapi. Penelitian dapat diartikan pula suatu usaha untuk menemukan. dapat disimpulkan bahwa metode penelitian adalah cara yang teratur dan terpikir secara runtut dan baik dengan menggunakan metode ilmiah yang bertujuan untuk menemukan. Penelitian hukum dilakukan untuk mencari pemecahan atas isu hukum yang timbul. dan konsisten (Soerjono Soekanto. jumlah dan jenis yang dihadapi. dapat ditentukan teratur dan terpikirnya alur yang runtut dan baik untuk mencapai maksud (Winarno Surachmad. sistematis. E. (Peter Mahmud Marzuki.12 menyikapi perbandingan pengaturan hak untuk tidak menjawab (Rights to remain silent) oleh terdakwa. untuk mencapai tingkat ketelitian. gejala atau hipotesa. 1989: 4). Penelitian merupakan suatu kegiatan ilmiah yang berkaitan dengan analisa dan konstruksi. mengembangkan dan menguji kebenaran suatu pengetahuan. mengembangkan maupun guna menguji kebenaran maupun ketidakbenaran dari suatu pengetahuan. usaha mana dilakukan dengan metode ilmiah (Sutrisno Hadi. Oleh karena itu. penelitian hukum merupakan suatu penelitian di dalam kerangka know-how di dalam hukum. 2006:35). Hasil yang dicapai adalah untuk memberikan preskripsi dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi .

2006:41). Sifat Penelitian Sifat penelitian hukum ini sejalan dengan sifat ilmu hukum itu sendiri. konsep ilmu hukum dan metodologi yang digunakan di dalam suatu penelitian memainkan peran yang sangat signifikan agar ilmu hukum beserta temuan-temuannya tidak terjebak dalam kemiskinan relevansi dam aktualitasnya (Johnny Ibrahim. dan norma-norma hukum (Peter . Penelitian Hukum normatif memiliki definisi yang sama dengan penelitian doktrinal (doctrinal research) yaitu penelitian berdasarkan bahanbahan hukum (library based) yang fokusnya pada membaca dan mempelajari bahan-bahan hukum primer dan sekunder (Johny Ibrahim. Ada dua syarat yang harus dipenuhi sebelum mengadakan penelitian dengan baik dan dapat dipertanggungjawabkan adalah peneliti harus terlebih dulu memahami konsep dasar ilmunya dan metodologi penelitian disiplin ilmunya (Johnny Ibrahim. Penelitian hukum normatif adalah suatu prosedur penelitian ilmiah untuk menemukan kebenaran berdasarkan logika keilmuan hukum dari sisi normatifnya. Ilmu hukum mempunyai sifat sebagai ilmu yang preskriptif. Dalam penelitian hukum. Jenis Penelitian Ditinjau dari sudut penelitian hukum. artinya sebagai ilmu yang bersifat preskriptif ilmu hukum mempelajari tujuan hukum. 2006:26). Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode penelitian sebagai berikut: 1. 2006: 28).13 (Peter Mahmud Marzuki. konsep-konsep hukum. 2006:44) 2. maka pada penelitian ini termasuk jenis penelitian hukum normatif.

Menurut Johnny Ibrahim. karena yang akan diteliti adalah berbagai aturan hukum yang menjadi fokus sekaligus tema sentral suatu penelitian. 2) All-inclusive artinya bahwa kumpulan . Pendekatan Perbandingan (comparative approach). pendekatan konseptual (concentual approach). di dalam penelitian hukum terdapat beberapa pendekatan. 2006:300). bebarapa pendekatan penelitian tersebut yaitu pendekatan perundang-undangan (satute approach).14 Mahmud Marzuki. Pendekatan Penelitian Sehubungan dengan jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian hukum normatif. Pendekatan yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah: a. Pendekatan Filsafat (philosophical approach) dan pendekatan kasus (case approach) (Johnny Ibrahim. Pendekatan Perundang-undangan Suatu penelitian normatif tentu harus menggunakan pendekatan perundang-undangan. Untuk itu penulis harus melihat hukum sebagai system tertutup yang mempunyai sifat-sifat sebagai berikut: 1) Comprehensive artinya norma-norma hukum yang ada didalamnya terkait antara satu dengan lain secara logis. Pendekatan Analitis (analytical approach). 2005:22). Dalam penelitian ini penulis akan memberikan preskriptif mengenai perbandingan pengaturan tentang hak untuk tidak menjawab (Rights to remain silent) oleh terdakwa antara ketentuan peradilan pidana antara Indonesia dan Inggris. 3. pendekatan historis (historical approach).

Pendekatan perbandingan merupakan salah satu cara yang digunakan dalam penelitian normatif untuk membandingkan salah satu lembaga hukum (legal institution) dari sistem hukum yang satu dengan lembaga hukum (yang kurang lebih sama dari system hukum) yang lain. bahwa disamping bertautan antara satu dengan yang lain. 4. sehingga tidak akan kekurangan hukum. Jenis Data tersebut juga tersusun secara . Jenis dan Sumber Bahan Hukum Jenis dan sumber bahan hukum dalam penelitian ini meliputi: a.15 norma hukum tersebut cukup mampu menampung permasalahan hukum yang ada. Dari perbandingan tersebut dapat ditemukan unsur-unsur persamaan dan perbedaan kedua system hukum itu. Pendekatan Undang-Undang digunakan untuk mengkaji tentang pengaturan hak untuk tidak menjawab (rights to remain silent) bagi terdakwa dalam hukum acara Pidana Indonesia dan Hukum Acara di Inggris. Adapun pendekatan yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan undang-undang. Pendekatan Perbandingan Pentingnya pendekatan ilmu hukum karena dalam bidang hukum tidak memungkinkan dilakukan suatu eksperimen. norma-norma hukum hierarkis. b. sebagaimana yang biasa dilakukan dalam ilmu empiris. 3) Systematic.

1) Bahan Hukum Primer Bahan hukum primer merupakan bahan hukum yang bersifat autoratif . b. Data sekunder yaitu data atau informasi hasil penelaahan dokumen penelitian serupa yang pernah dilakukan sebelumnya. majalah. Sumber bahan Hukum Sumber Bahan hukum dalam penelitian ini meliputi : . koran. Bahan hukum primer dalam penelitian ini adalah: a) Undang-Undang Dasar RI tahun 1945 b) Batang Tubuh UUD RI tahun 1945 c) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana d) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana e) Undang-Undang No. bahan kepustakaan seperti buku-buku. jurnal maupun arsip-arsip yang berkesesuaian dengan penelitian yang dibahas. catatan-catatan resmi. Bahan hukum primer terdiri dari perundang-undangan. literatur. artinya mempunyai otoritas. 48 tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman 2) Bahan Hukum sekunder Bahan hukum sekunder berupa publikasi tentang hukum yang bukan merupakan dokumen-dokumen resmi (Peter Mahmud Marzuki.16 Jenis data yang penulis pergunakan dalam penelitian ini berupa data sekunder. atau risalah di dalam pembuatan peraturan perundang-undangan dan putusan-putusan hakim. 2005:141) Bahan hukum sekunder sebagai pendukung dari data yang digunakan dalam penelitian ini ini yaitu buku- .

dan terkait dengan topik bahasan yaitu bahan dari media internet. artikel. Teknik Pengumpulan Bahan Hukum Teknik Pengumpulan data yang akan dipergunakan dalam penelitian ini adalah dengan Studi pustaka. jurnal hukum. Agar data yang terkumpul dapat dipertanggungjawabkan . dan sumber lainnya yang memiliki korelasi untuk mendukung penelitian ini. Studi Pustaka adalah teknik pengumpulan data adalah suatu cara yang dipergunakan untuk mengumpulkan data yang ada ditempat penelitian sehingga memperoleh data yang diperlukan. 3) Bahan Hukum Tersier atau penunjang. dan sebagainya. Dalam studi ini penulis mempergunakan content identification terhadap bahan-bahan Hukum yang akan diteliti. kamus besar bahasa Indonesia. internet. Dengan cara menelusuri buku-buku yang berkaitan dengan pengaturan hak untuk tidak menjawab (rights to remain silent) bagi terdakwa dalam peradilan pidana di Inggris dan Indonesia. yaitu dengan membuat lembar dokumen yang berfungsi untuk mencatat informasi atau data dari bahan-bahan hukum yang diteliti yang berkaitan dengan masalah penelitian yang sudah dirumuskan. Teknik Analisis Bahan Hukum Analisis data merupakan tahap yang paling penting dalam suatu penelitian. indeks kumulatif. 5. yaitu bahan yang memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder. 6.17 buku teks yang ditulis para ahli hukum. ensiklopedia.

Sistematika Penulisan Hukum Untuk mempermudah pemahaman mengenai pembahasan dan memberikan gambaran mengenai sistematika penelitian hukum yang sesuai dengan aturan dalam penelitian hukum. Moleong. Perumusan Masalah. 2009:103). Manfaat Penelitian.18 dan dapat menghasilkan jawaban yang tepat dari suatu permasalahan. maka perlu suatu teknis analisis data yang tepat. sehingga akan dapat ditemukan tema dan dapat ditemukan hipotesis kerja yang disarankan oleh data (Lexi J. Analisis data merupakan langkah selanjutnya untuk mengolah hasil penelitian menjadi suatu laporan. mengkualifikasikan kemudian menghubungkan teori yang berhubungan dengan masalah dan menarik kesimpulan untuk menentukan hasil. maka penulis menjabarkannya dalam bentuk sistematika penelitian hukum yang terdiri dari 4 (empat) bab dimana tiap-tiap bab terbagi dalam sub-sub bagian yang dimaksudkan untuk memudahkan pemahaman terhadap keseluruhan hasil penelitian. kategori dan uraian dasar. Adapun penulis menyususn sistematika penelitian hukum sebagai berikut: Bab I : PENDAHULUAN Dalam bab ini berisi tentang Latar Belakang Masalah. Dalam penelitian ini. J. : TINJAUAN PUSTAKA . Tujuan Penelitian. Bab II Metode Penelitian Hukum serta Sistematika Penulisan Hukum. Analisis data adalah proses pengorganisasian dan pengurutan data dalam pola. penulis menggunakan teknik analisis data kualitatif yaitu dengan mengumpulkan data.

. Tinjauan Asas Asas The right To Remain Silent di Beberapa Negara serta serta Kerangka Pemikiran Bab III : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Perbandingan pengaturan tentang hak untuk tidak menjawab (Rights to remain silent) bagi terdakwa antara peradilan pidana Inggris (Common Indonesia (Civil Law) dan serta Persamaan dan Law) perbedaan pengaturan hak untuk tidak menjawab (Rights to remain silent) oleh terdakwa antara sistem peradilan pidana Inggris dan IndonesiaPerbandingan sistem peradilan pidana antara Indonesia dan Inggris terkait hak untuk tidak menjawab (Rights to remain silent) oleh terdakwa.19 Dalam Bab II ini dijelaskan mengenai Kerangka Teori yang berisi tentang tinjauan tentang Hukum Acara Pidana yang berisi sub bab yaitu Batasan Hukum Acara Pidana. . Tinjauan Tentang Asas The Right To Remain Silent. Pengertian Tersangka dan Terdakwa. Bab IV : PENUTUP Pada bagian penutup ini berisi simpulan serta disampaikan beberapa saran. Tinjauan Tentang Asas The Rights To Remain Silent dan Terdakwa. Tinjauan Tentang Hak Tersangka dan Terdakwa. Hak-hak Tersangka. Tinjauan tentang Istilah Perbandingan Hukum. Asas-asas Hukum Acara Pidana.

yang berlaku sejak diundangkannya Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 Tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP). Hukum acara pidana yang berlaku di Indonesia berdasar pada peraturan yang terdapat pada Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP). maka pertama kali di Indonesia diadakan kodifikasi dan unifikasi yang lengkap dalam artian meliputi seluruh proses pidana dari awal (mencari kebenaran) sampai pada kasasi di Mahkamah Agung. a. Tinjauan tentang Hukum Acara Pidana. Hukum acara pidana (hukum pidana formal) adalah hukum yang menyelenggarakan hukum pidana materiil yaitu merupakan sistem kaidah atau norma yang diberlakukan oleh negara untuk melaksanakan hukum pidana atau menjatuhkan pidana. Batasan Hukum Acara Pidana Hukum acara pidana merupakan peraturan yang melaksanakan hukum pidana. merumuskan bahwa hukum acara pidana adalah Hukum acara pidana berhubungan erat dengan .20 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kerangka Teori 1. 2002:3). Dengan terciptanya Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana. Seperti rumusan Wirdjono Prodjodikoro. bekas Ketua Mahkamah Agung yang dikutip oleh Andi Hamzah. bahkan sampai meliputi peninjauan kembali (herziening) (Andi Hamzah.

Pengakuan hukum yang tegas akan hak asasi yang melekat pada diri mereka dari tindakan sewenang-wenang. Yahya Harahap berpendapat bahwa Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) sebagai hukum acara pidana yang berisi ketentuan mengenai proses penyelesaian perkara pidana sekaligus menjamin hak asasi tersangka atau terdakwa. maka dari itu merupakan suatu rangkaian peraturan-peraturan yang memuat cara bagaimana badan-badan pemerintah yang berkuasa. Definisi mengenai hukum acara pidana lainnya adalah seperti yang dikemukakan oleh Van Bemmelen seperti yang dikutip oleh Andi Hamzah (2002:6). Kitab UndangUndang Hukum Acara Pidana (KUHAP) telah mencoba menggariskan tata tertib hukum yang antara lain akan melepaskan tersangka atau terdakwa maupun keluarganya dari kesengsaraan putus asa di belantara penegakan hukum yang tak bertepi. adalah sebagai berikut: Ilmu hukum acara pidana mempelajari peraturan-peraturan . 2002:7). sekaligus telah memberi “legalisasi hak asasi” kepada tersangka atau terdakwa untuk membela kepentingannya di depan pemeriksaan aparat penegak hukum. Yahya Harahap.21 adanya hukum pidana. tersangka atau terdakwa harus diberlakukan berdasar nilai-nilai yang manusiawi (M. yaitu kepolisian. karena sesuai dengan jiwa dan semangat yang diamanatkannya. kejaksaan dan pengadilan harus bertindak guna mencapai tujuan Negara dengan mengadakan hukum pidana (Andi Hamzah. Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) sebagai hukum acara pidana yang berisi ketentuan tata tertib proses penyelesaian penanganan kasus tindak pidana. 2002:4).

hukum acara pidana mengatur bagaimana Negara dengan alat-alat pemerintahannya menggunakan hakhaknya untuk memidana. karena adanya terjadi pelanggaranpelanggaran undang-undang pidana : 1) Negara melalui alat-alatnya menyidik kebenaran. hal ini dikarenakan KUHAP tidak memberikan definisi secara eksplisit mengenai pengertian hukum acara pidana. 5) Hakim memberikan keputusan tentang terbukti tidaknya perbuatan yang dituduhkan kepada terdakwa dan untuk itu menjatuhkan pidana atau tindakan tata tertib. 6) Upaya hukum untuk melawan putusan tersebut. Hukum acara pidana Indonesia adalah hukum yang mengatur tentang tata cara beracara (berperkara di badan peradilan) dalam lingkup hukum pidana. Dalam perkembangannya muncul berbagai definisi mengenai hukum acara pidana oleh para ahli hukum. 3) Mengambil tindakan-tindakan yang perlu guna menangkap si pembuat dan kalau perlu menahannya. 2) Sedapat mungkin menyidik pelaku perbuatan itu. Menurut de bos kemper. 7) Akhirnya melaksanakan keputusan tentang pidana dan tindakan tata tertib.22 yang diciptakan oleh Negara. Menurut Simon. definisi dari hukum acara pidana ialah sejumlah asas dan peraturan undangundang yang menngtur bagaimana undang dilanggar negara menggunakan hak-haknya untuk memidana. 4) Mengumpulkan bahan-bahan bukti (bewijsmateriaal) yang telah dipeoleh pada penyidikan kebenaran guna dilimpahkan kepada hakim dan membawa terdakwa ke depan hakim tersebut. .

maka perlu mengumpulkan barang-barang bukti. 4) Untuk membuktikan apakah tersanghka benarbenar melakukan suatu tindak pidana. . 2) Apabila benar telah terjadi suatu tindak pidana yang dilakukan oleh seseorang. maka perlu diketahui siapa pelakunya dan cara bagaimana melakukan penyelidikan terhadap pelaku. Faisal Salam. menggeledah badan dan tempat-tempat serta menyita barang-barang bukti yang diduga ada hubungannya dengan perbuatan tersebut. 3) Apabila telah diketahui pelakunya maka penyelidik perlu menangkap. maka berkas perkara diserahkan pada kejaksaan negeri selanjutnya pemeriksaan dalam sidang pengadilan terhadap terdakwa oleh hakim sampai dapat dijatuhkan pidana (Moch.menahan kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan permulaan atau dilakukan penyidikan. Tujuan dan Fungsi Hukum Acara Pidana 1) Tujuan Hukum Acara Pidana Pemahaman mengenai tujuan KUHAP dapat dilihat dalam b.23 Dengan kata lain bahwa hukum acara pidana adalah kumpulan peraturan-peraturan hukum yang memuat ketentuan-ketentuan yang mengatur hal-hal sebagai berikut: 1) Tindakan-tindakan apa yang harus diambil apabila ada dugaan bahwa telah terjadi suatu tindak pidana dilakukan oleh seseorang. 5) Setelah selesai dilakukan pemeriksaan permulaan atau penyidikan oleh polisi. Definisi-definisi tersebut di atas dikemukakan oleh para ahli hukum. 2001:3). Hal ini dikarenakan dalam Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana sendiri tidak memberikan definisi hukum acara pidana secara implisit.

serta apa pula kewajiban yang dibebankan hukum kepadanya. hal ini sudah barang tentu termuat di dalam KUHAP pelaksanaan menyangkut menurut yang cara-cara baik. keadilan dan perlindungan terhadap harkat dan martabat manusia. yaitu : a) Peningkatan masyarakat. setiap hak hukum lebih dan Yaitu anggota dititikberatkan kepada peningkatan masyarakat mengetahui apa hak yang diberikan hukum atau undangundang kepadanya. ketertiban serta kepastian hukum sesuai dengan Undang-Undang Dasar 1945 dan Pancasila”. kejujuran . penghayatan kewajiban menjadikan kesadaran yang akan hukum.24 konsideran huruf c KUHAP yang berbunyi: “Bahwa pembangunan hukum nasional yang sedemikian itu di bidang hukum acara pidana adalah agar masyarakat menghayati hak dan kewajibannya dan untuk meningkatkan pembinaan sikap para pelaksana penegak hukum sesuai dengan fungsi dan wewenang masing-masing. b) Meningkatkan sikap mental aparat penegak hukum. pelayanan. ke arah tegaknya hukum. Berdasarkan bunyi konsideran tersebut dapat dirumuskan beberapa landasan tujuan KUHAP. yang pembinaan keterampilan.

bahwa harkat hal semua ini dan tidak matabat dapat ciptaan dilepaskan dari suatu kenyataan manusia Tuhan dan semua akan kembali kepada-Nya. c) Tegaknya hukum dan keadilan. semua mempunyai harkat dan martabat kemanusiaan sesuai dengan hak-hak asasi yang melekat pada diri tiap manusia. harus UUD sesuai 1945 dengan serta didasarkan atas nilai-nilai keadilan yang hidup dalam masyarakat. d) Melindungi manusia. hal tersebut hanya dapat tercipta apabila segala aturan hukum yang ada serta keadilan Pancasila. juga sebagai manusia yang sama derajatnya dengan manusia lain harus ditempatkan harkat mahluk Tuhan. manusia memiliki hak dan kodrat kemanusiaan yang menopang harkat . pada setiap keluhuran Sebagai martabatnya. Manusia sebagai hamba Tuhan.25 dan kewibawaan. Tidak ada kelebihan dan kemuliaan antara yang satu dengan yang lain.

Tujuan hukum acara pidana dirumuskan dalam Pedoman Pelaksanaan KUHAP yang dikeluarkan oleh Menteri Kehakiman.26 dan martabat pribadinya. yang bunyinya adalah sebagai berikut: Tujuan dari hukum acara pidana adalah untuk mencari dan mendapatkan atau setidak-tidaknya mendekati kebenaran material. yang harus dihormati oleh orang lain. e) Menegakkan kehidupan mencari ketertiban masyarakat dan dan adalah kepastian hukum. 2002:58-79). Tujuan tersebut hanya dapat jalan dan diwujudkan menegakkan dengan ketertiban kepastian hukum dalam setiap aspek kehidupan sesuai dengan kaidahkaidah dan nilai hukum yang telah mereka sepakati (M. Yahya Harahap. ialah kebenaran yang selengkap-lengkapnya dari suatu perkara pidana dengan menerapkan ketentuan hukum . arti dan tujuan mewujudkan ketenteraman dan ketertiban yaitu kehidupan bersama antara anggota masyarakat yang dituntut dan dibina dalam ikatan yang teratur dan layak. sehingga lalu lintas tata pergaulan masyarakat yang bersangkutuan bisa berjalan dengan tertib dan lancar.

. dan selanjutnya meminta pemeriksaan dan putusan dari pengadilan guna menemukan apakah terbukti bahwa suatu tindak pidana telah dilakukan dan apakah orang yang didakwa itu dapat dipersalahkan (Andi Hamzah. ketenteraman. yaitu : a) Mencari dan menemukan kebenaran. Tujuan akhirnya ialah mencari suatu ketertiban. b) Mengadakan tindakan penuntutan secara benar dan tepat. sebagai tugas awal hukum acara pidana tersebut menjadi landasan dari tugas berikutnya dalam memberikan suatu putusan hakim dan melaksanakan tugas putusan hakim. kedamaian. Hakekat mencari kebenaran hukum. 2002:9) 2) Fungsi Hukum Acara Pidana Fungsi hukum acara pidana berawal dari tugas mencari dan menemukan kebenaran hukum. bahwa tujuan hukum acara pidana mencari kebenaran itu hanyalah merupakan tujuan antara. 2002:8). Menurut Bambang Poernomo (1988:18) bahwa tugas dan fungsi pokok hukum acara pidana dalam pertumbuhannya meliputi empat tugas pokok. keadilan dan kesejahteraan dalam masyarakat (Andi Hamzah. Menurut Andi Hamzah.27 acara pidana secara jujur dan tepat dengan tujuan untuk mencari siapakah pelaku yang dapat didakwakan melakukan suatu pelanggaran hukum.

d) Melaksanaka n (eksekusi) putusan hakim. mengenai fungsi hukum acara pidana. Menurut Van Bemmelen. 2) Pemberian keputusan hakim. seperti yang dikutip oleh Andi Hamzah (2002:9).28 c) Memberikan suatu keputusan hakim. Asas dapat juga disebut pengertian-pengertian dan nilai-nilai yang menjadi titik tolak berpikir tentang sesuatu. mengemukakan terdapat tiga fungsi hukum acara pidana yaitu : 1) Mencari dan menemukan kebenaran. c. Asas-asas hukum Acara Pidana Asas dapat berarti dasar. kecuali itu Asas hukum dapat disebut landasan atau alasan bagi terbentuknya suatu peraturan hukum atau merupakan suatu ratio-legis dari suatu . fundamental. Asas adalah suatu dalil umum yang dinyatakan dalam istilah umum dengan tidak menyebutkan secara khusus cara pelaksanaannya. landasan. 3) Pelaksanaan putusan. Asas hukum adalah prinsip yang dianggap dasar atau fundamen hukum yang terdiri dari pengertian-pengertian atau nilainilai yang menjadi titik tolak berpikir tentang hukum. prinsip dan jiwa atau cita-cita.

Pengertian asas hukum umum yang dirumuskan oleh Bellefroid merupakan pengertian yang berbeda dengan rumusan asas dalam ilmu hukum. tetapi harus dpandang sebagai dasar-dasar umum atau petunjuk bagi hukum yang berlaku. Asas-asas yang menyangkut peradilan 2. . cita-cita sosial atau perundangan etis yang ingin diwujudkan. Asas dapat dibedakan antara asas hukum objektif dan asas hukum subjektif . jiwa. yang merupakan pengendapan hukum positif dalam suatu masyarakat. Pada dasarnya asas-asas dalam hukum acara pidana terbagi 2: 1. Karena itu asas hukum merupakan jantung atau jembatan suatu peraturan hukum dan hukum positif dengan cita-cita sosial dan pandangan etis masyarakat. sedangkan asas hukum subjektif adalah prinsip-prinsip yang menyatakan kedudukan subjek berhubungan dengan hukum. asas hukum umum adalah norma yang dijabarkan dari hukum positif dan oleh ilmu hukum tidak dianggap berasal dari aturan-aturan yang lebih umum. Asas yang menyangkut hak-hak asasi manusia. Asas hukum objektif adalah prinsip-pronsip yang menjadi dasar bagi pembentukan peraturan-peraturan hukum. menyatakan asas hukum tidak boleh dianggap sebagai norma-norma hukum konkret. Pembentukan hukum harus berorientasi pada asas-asas hukum tersebut.29 peraturan hukum yang memuat nila-nilai. Sebaliknya van Eikema Hommes sebagaimana dikutip oleh Sudikno Mertokusumo. sehingga menjadi dasar atau petunjuk arah dalam pembentukan hukum positif. Menurut Bellefroid sebagaimana dikutip oleh Sudikno Mertokusumo.

ditahan. Pengadilan yang harus dilakukan dengan cepat. Kepada seorang yang ditangkap. ditangkap. dipidana dan atau dikenakan hukuman administrasi (asas pemberian ganti kerugian dan rehabilitasi atas salah tangkap. sederhana. Setiap orang yang tersangkut perkara wajib diberi kesempatan untuk memperoleh bantuan hukum yang semata-mata diberikan untuk melaksanakan . e. penggeledahan dan penyitaan harus dilakukan berdasarkan perintah tertulis oleh pejabat yang diberi wewenang oleh Undang-Undang dan hanya dalam hal dan dengan cara yang diatur dengan Undang-Undang (asas perintah tertulis). Penangkapan. ditahan. dan biaya ringan serta bebas. Setiap orang yang disangka. dan biaya ringan serta bebas. jujur dan tidak memihak harus diterapkan secara konsekuen dalam seluruh tingkat peradilan (asas peradilan yang cepat. b. dituntut. c. sederhana. wajib dianggap tidak bersalah sampai adanya putusan pengadilan yang menyatakan kesalahannya dan memperoleh kekuatan hukum tetap (asas praduga tidak bersalah). f. jujur dan tidak memihak).30 Dalam Penjelasan KUHAP butir ke-3 memuat asas-asas hukum acara pidana yang terdapat dalam KUHAP yaitu sebagai berikut: a. dituntut dan dihadapkan di muka sidang pengadilan. penahanan. dituntut ataupun diadili tanpa alasan yang berdasarkan Undang-Undang dan atau kekeliruan mengenai orangnya atau hukum yang diterapkan wajib diberi ganti kerugian dan rehabilitasi sejak tingkat penyidikan dan para pejabat penegak hukum yang dengan sengaja atau karena kelalaiannya menyebabkan asas hukum tersebut dilanggar. d. Perlakuan yang sama atas diri setiap orang di muka huku dengan tidak mengadakan pembedaan perlakukan (asas persamaan dimuka hukum). salah tahan dan salah tuntut).

h. Yahya Harahap. 2. Pengadilan memeriksa perkara pidana dengan hadirnya terdakwa (asas hadirnya terdakwa). menunjukkan bahwa KUHAP menganut asas akusator.31 g. Tersangka diberi kebebasan memberi dan mendapatkan penasihat hukum. Tinjauan Tentang Hak Tersangka dan Terdakwa a. Pengawasan pelaksanaan putusan pengadilan dalam perkara pidana dilakukan oleh ketua pengadilan negeri yang bersangkutan (asas Pengawasan pelaksanaan putusan). dalam Pasal 1 butir 14 KUHAP dijelaskan: “Tersangka adalah seorang yang karena perbuatannya atau keadaannya. kepentingan pembelaan atas dirinya ( asas memperoleh bantuan hukum seluas-luasnya). i. Sidang pemeriksaan pengadilan adalah terbuka untuk umum kecuali dalam hal yang diatur dalam Undang-Undang (asas pemeriksaan pengadilan terbuka untuk umum). juga wajib diberitahu haknya termasuk hak untuk menghubingi dan meminta bantuan penasihat hukum (asas wajib diberitahu dakwaan dan dasar hukum dakwaan). Pengertian Tersangka dan Terdakwa Tersangka atau terdakwa adalah orang-orang yang diduga telah melakukan tindak pidana. Kepada seorang tersangka sejak dilakukan penangkapan dan atau penahanan selain wajib diberitahu dakwaan atas dasar hukum apa yang didakwakan kepadanya. berdasarkan bukti permulan patut diduga sebagai . k. 2002:40). j. Hal ini dijelaskan dalam KUHAP Pasal 1 butir 14 dan butir 15. yaitu tersangka dalam pemeriksaan dipandang sebagai subjek berhadap-hadapan dengan pihak lain yang memeriksa atau mendakwa yaitu kepolisian atau kejaksaan sedemikian rupa sehingga kedua pihak mempunyai hak-hak yang sama nilainya (asas accusatoir) (M.

harkat dan martabat dari tersangka atau terdakwa tidak pernah dihargai. . Jadi fakta-fakta atau keadaan-keadaan yang menjurus kepada dugaan yang patut bahwa tersangkalah yang berbuat perbuatan itu. sehingga orang tersebut harus diselidik. Kemudian harus dilakukan tindakan penuntutan dimuka sidang oleh penuntut umum dan hakim dan jika perlu dapat dilakukan tindakan upaya paksa seperti penangkapan. dan diperiksa oleh penyidik. Sv. mirip pula dengan butir 14 Pasal 1 KUHAP. penyitaan sesuai cara yang diatur dalam Undang-Undang. kecuali kata-kata tersebut dimuka. penahanan. menjelaskan: “Terdakwa adalah seorang tersangka yang dituntut. untuk itu. penggeledahan. Berdasarkan penjelasan tersebut dapat diketahui bahwa seorang tersangka atau terdakwa adalah orang yang diduga melakukan tindak pidana sesuai dengan bukti permulaan yang cukup. disidik. Pada saat ini tersangka atau terdakwa tidak lebih dari objek pemeriksaan yang dapat diperlakukan sekehendak hati oleh aparat penegak hukum. diperiksa dan diadili dalam sidang pengadilan”. yang tersebut pada Pasal 27 ayat (2)” … feiten of omstandingheden” (fakta-fakta atau keadaan-keadaan) lebih tepat karena lebih objektif. Wet boek strafvordering Belanda tidak membedakan istilah tersangka dan terdakwa (tidak lagi memakai dua istilah beklaadge dan verdachte. Sementara Pasal 1 butir 15 KUHAP. Hak asasi. Dalam definisi tersebut terdapat kata-kata “karena perbuatannya atau keadaannya.32 pelaku tindak pidana”. Definisi Ned. Sv.” Kata yang dipakai Ned.

Jika sesorang ditahan sedangkan menurut ukuran objectif tidak patut dipandang telah melakukan delik itu. baik sengaja maupun kulpa. namun demikian. Menurut Duisterinkel. yaitu kepentingtan negara dan kepentingan para pencari keadilan (tersangka atau terdakwa). Dalam hal ini ada dua kerangka penting yang harus di perhatikan. seharusnya penafsiran itu objektif. pendapat-pendapat sarjana belanda terutama suatu dewan redaksi yang menyusun komentar patut diduga melakukan perbuatan delik ialah penyidik dan penuntut umum. b. Kedua kepentingan tersebut mesti dijaga dan dijamin .” (…yang dipandang sebagai tersangka ialah orang karena fakta-fakta atau keadaan-keadaan menunjukan ia patut diduga bersalah melakukan suatu delik). : “…als verdache wordi aangemerkt degene te weins aanzien uit feitenof omstadig heden een redejelijk vermoden van schuld aan eeinig strafbaar feit voorvloeit…. Persamaan dengan perumusan atau definisi KUHAP ialah kata patut diduga (redelijk vermoeden). Sv. Hak-hak Tersangka dan Terdakwa Pada hakekatnya proses penyelenggaraan peradilan pidana melalui implementasi ketentuan-ketentuan hukum acara pidana bertujuan untuk mencari kebenaran materiil. Oleh karena itu. harus dibedakan patut diduga (redelijk vermoeden) dengan sangat diduga (ernstig vermoeden). ed. maka penyidik atau penuntut umum dapat diancam pidana melanggar kemerdekaan orang.33 Pasal 27 ayat (1) Ned.

Hak-hak tersebut meliputi: 1) Hak untuk segera mendapat pemeriksaan.hak asasi tersangka/ terdakwa. jelas dan transparan. Hukum acara merupakan salah satu instrumen utama dalam sistem peradilan pidana di Indonesia yang dimaksudkan memberikan jaminan kepastian hukum terhadap tersangka/ terdakwa. Seperti disebutkan dalam KUHAP Pasal 50 disebutkan bahwa seorang tersangka berhak segera mendapatkan pemeriksaan oleh penyidik dan selanjutnya dihadapkan pada penuntut umum. Pasti berarti juga terukur. Tersangka atau terdakwa diberi seperangkat hak-hak oleh KUHAP mulai dari Pasal 50 sampai dengan Pasal 68.34 keseimbangannya oleh hukum acara pidana. agar terlaksana dengan seimbang hak. 2) Hak untuk melakukan pembelaan. Kemudian hak tersangka untuk perkaranya segera diajukan ke Pengadilan dan berhak segera diadili oleh Pengadilan. Kepastian hukum tersangka/ terdakwa berarti setiap tersangka/terdakwa harus diproses melalui hukum dengan standar yang sama atas semua kasus yang sama dan terhadap orang yang sama. Seorang terdakwa atau tersangka mempunyai hak untuk segera mendapatkan pemeriksaan baik dalam penyidikan atau dalam persidangan. Berbagai pembelaan yang dapat dilakukan oleh tersangka atau terdakwa . Seorang tersangka atau terdakwa mempunyai hak untuk membela diri baik dengan penasehat hukum atau tidak.

Upaya hukum biasa dapat berupa permintaan banding kepada Pengadilan Tinggi dan Upaya permintaan kasasi kepada Mahkamah Agung. (b) Berhak memberikan keterangan secara bebas dalam berbagai tingkat pemeriksaan. Berdasarkan pada Undang-Undang seorang terdakwa yang dijatuhi hukuman dapat menerima atau menolak putusan yang dijatuhkan. yang dapat diuraikan sebagai berikut: (a) Berhak diberitahukan dengan jelas dan dengan bahasa yang dimengerti olehnya tentang apa yang disangkakan kepadanya. yaitu: (a) Upaya hukum biasa. Upaya hukum luar biasa dapat berupa permintaan pemeriksaan Peninjauan kembali terhadap putusan pengadilan . (c) Berhak untuk mendapatkan juru bahasa dalam semua tingkat pemeriksaan baik dari penyidikan sampai proses pengadilan. Ketidak puasan atas putusan pengadilan bisa dimanfaatkan untuk melakukan upaya hukum yang di bagi menjadi dua. 3) Hak untuk melakukan upaya hukum. (d) Berhak untuk mendapatkan bantuan hukum oleh seorang atau beberapa penasehat hukum dalam semua tingkat pemeriksaan. mulai dari penyidikan sampai pemeriksaan di Pengadilan. (b) Upaya hukum luar biasa.35 diatur dalam KUHAP Pasal 51-57.

6) hak terdakwa untuk menuntut terhadap hakim yang mengadili perkaranya (Pasal 27 ayat (1) Undang-Undang Pokok kekuasaan Kehakiman). penahanan. 4) hak untuk mendapat juru bahasa (Pasal 53 ayat (1)). 3) hak untuk memberikan keterangan secara bebas kepada penyidik dan hakim seperti tersebut dimuka (Pasal 52). diajukan ke pengadilan. Ganti rugi atau rehabilitasi dapat dilakukan oleh tersangka atau terdakwa apabila: (a) Penangkapan. 4) Hak untuk mendapat ganti rugi dan rehabilitasi. (2). 5) hak untuk mendapatkan bantuan hukum pada setiap tingkat pemeriksaan (Pasal 54). Apabila dilihat dalam Pasal-Pasal KUHAP antara lain sebagai berikut: 1) hak untuk diperiksa.36 yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. dan diadili (Pasal 50 ayat 91). atau penyitaan yang dilakukan tanpa alasan hukum yang sah. 7) hak tersangka atau terdakwa yang berkebangsaan asing untuk menghubungi atau berbicara dengan perwakilan negaranya (Pasal . dan (3)). penggeledahan. 2) hak untuk mengetahui dengan jelas dan bahasa yang dimengerti olehnya tentang apa yang disangkakan dan apa yang didakwakan (Pasal 51 huruf a dan b). (b) Apabila putusan pengadilan menyatakan terdakwa bebas karena tindak pidana yang didakwakan tidak terbukti atau tindak pidana yang didakwakan kepadanya bukan merupakan suatu kejahatan atau pelanggaran.

Tinjauan tentang Istilah Perbandingan Hukum Istilah perbandingan hukum. 3. 11) hak tersangka atau terdakwa untuk berhubungan surat-menyurat dengan penasihat hukumnya (Pasal 62).37 57 ayat (2)). 14) hak tersangka atau terdakwa untuk menuntut ganti kerugian (Pasal 68). diterjemahkan: comparative law (bahasa Inggris). droit comparé (bahasa Perancis). dalam bahasa asing. 10) hak untuk dikunjungi sanak keluarga yang tidak ada hubungan dengan perkara tersangka atau terdakwa. vergleihende rechstlehre (bahasa Belanda). 9) hak untuk diberitahu kepada keluarganya atau orang lain yang serumah dengan tersangka atau terdakwa yang ditahan untuk mendapat bantuan hukum atau jaminan bagi penangguhannya dan hak untuk berhubungan dengan keluarga dengan maksud yang sama diatas (Pasal 59-60). Untuk kepentingan pekerjaan atau kepentingan keluarga (Pasal 61). 8) hak untuk menghubungi dokter bagi tersangka atau terdakwa yang ditahan (Pasal 58). 12) hak tersangka atau terdakwa untuk menghubungi dan menerima kunjungan rohaniawan (Pasal 63) 13) hak tersangka atau terdakwa untuk mengajukan saksi dan ahli yang a de charge (Pasal 65). 15) hak untuk mendapat nasihat hukum dari penasihat hukum yang ditunjuk oleh pejabat yang bersangkutan pada semua tingkat pemeriksaan bagi tersangka atau terdakwa yang diancam pidana mati dengan biaya cuma-cuma. .

menjadi hukum perselisihan. Rudolf B. maka perlu dikemukakan definisi perbandingan hukum dari beberapa pakar hukum terkenal. yaitu perbandingan hukum perdata. sering diterjemahkan lain. 2000 : 7). Perbandingan hukum bukanlah perangkat peraturan dan asas-asas hukum dan bukan suatu cabang hukum. bahwa perbandingan hukum adalah suatu metoda yaitu perbandingan sistem-sistem hukum dan perbandingan tersebut menghasilkan data sistem hukum yang dibandingkan (Romli Atmasasmita. adalah perbandingan hukum (pidana). Gutteridge membedakan antara . yaitu sebagai conflict law atau dialihbahasakan. yang artinya menjadi lain bagi pendidikan hukum di Indonesia (Romli Atmasasmita. Istilah yang dipergunakan dalam penulisan hukum ini. 2000 : 7). melainkan merupakan teknik untuk menghadapi unsur hukum asing dari suatu masalah hukum (Romli Atmasasmita. perbandingan hukum merupakan metoda penyelidikan dengan tujuan untuk memperoleh pengetahuan yang lebih dalam tentang bahan hukum tertentu.38 Istilah ini. Winterton mengemukakan. Schlesinger mengatakan bahwa. Gutteridge menyatakan bahwa perbandingan hukum adalah suatu metoda yaitu metoda perbandingan yang dapat digunakan dalam semua cabang hukum. Istilah ini sudah memasyarakat di kalangan teoritikus hukum di Indonesia. dalam pendidikan tinggi hukum di Amerika Serikat. Untuk memperoleh bahan yang lebih lengkap. dan tampaknya sudah sejalan dengan istilah yang telah dipergunakan untuk hal yang sama di bidang hukum perdata. 2000 : 6).

39 comparative law dan foreign law (hukum asing). or like other branches of science it has a universal humanistic outlook . Ole Lando mengemukakan antara lain bahwa perbandingan hukum mencakup : “analysis and comparison of the laws”. it contemplates that while the technique nay vary. dan George Winterton (Romli Atmasasmita. dalam The Am. sedangkan pengertian istilah yang kedua. 2000 : 7).J. persamaan dan perbedaannya. Lemaire mengemukakan.. Pendapat tersebut sudah menunjukkan kecenderungan untuk mengakui perbandingan sebagai cabang ilmu hukum (Romli Atmasasmita. Hesel Yutena mengemukakan definisi perbandingan hukum sebagai berikut: Comparative law is simply another name for legal science. perbandingan hukum sebagai cabang ilmu pengetahuan (yang juga mempergunakan metoda perbandingan) mempunyai lingkup : (isi dari) kaidah-kaidah hukum. L. Gutteridge. the problems of justice are basically the same in time and space throughout the world. adalah mempelajari hukum asing tanpa secara nyata membandingkannya dengan sistem hukum yang lain (Winterton. pengertian istilah yang pertama untuk membandingkan dua sistem hukum atau lebih. 2000 : 8).of Comp. 1975 : 72 di terjemahkan dalam buku Romli Atmasasmita. Para pakar hukum ini adalah : Frederik Pollock. 2000 : 9). Rene David.( Perbandingan hukum hanya suatu nama lain untuk ilmu hukum dan merupakan bagian yang menyatu . Perbandingan hukum adalah metoda umum dari suatu perbandingan dan penelitian perbandingan yang dapat diterapkan dalam bidang hukum. sebab-sebabnya dan dasar-dasar kemasyarakatannya (Romli Atmasasmita. 2000 : 9).

melihat perbandingan lembaga-lembaga hukum konsep-konsep serta mencoba menentukan suatu penyelesaian atas masalah-masalah tertentu dalam sistem-sistem hukum dimaksud dengan tujuan seperti pembaharuan hukum.40 dari suatu ilmu sosial. (Perbandingan hukum adalah perbandingan dari jiwa dan gaya dari system hukum yang berbedabeda atau lembaga-lembagahukum yang berbeda-beda atau penyelesaian masalah hukum yang dapat diperbandingkan dalam . (Perbandingan hukum merupakan suatu disiplin ilmu hukum yang bertujuan menemukan persamaan dan perbedaan serta menemukan pula hubungan-hubungan erat antara berbagai system-sistem hukum. unifikasi hukum dan lain-lain) (Romli Atmasasmita. unification etc. 2000 : 10). Definisi lain mengenai kedudukan perbandingan hukum dikemukakan oleh Zweigert dan Kort yaitu : Comparative law is the comparison of the spirit and style of different legal sistem or of comparable legal institutions of the solution of comparable legal problems in different sistem. sekalipun caranya berlainan. such as law reform. 2000 : 9). Orucu mengemukakan suatu definisi perbandingan hukum sebagai berikut : Comparative law is legal discipline aiming at ascertaining similarities and differences and finding out relationship between various legal sistems. atau seperti cabang ilmu lainnya perbandingan hukum memiliki wawasan yang universal. looking at comparable legal institutions and concepts and typing to determine solutions to certain problems in these sistems with a definite goal in mind. masalah keadilan pada dasarnya sama baik menurut waktu dan tempat di seluruh dunia) (Romli Atmasasmita. their essence and style.

41

system hukum yang berbeda-beda) (Romli Atmasasmita, 2000 : 10). Romli Atmasasmita yang berpendapat perbandingan hukum adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari secara sistematis hukum (pidana) dari dua atau lebih sistem hukum dengan mempergunakan metoda perbandingan (Romli Atmasasmita, 2000 : 12). 4. Tinjauan Tentang Asas The Right To Remain Silent KUHAP tidak menganut asas the right to remain silent atau asas the right of non self incrimination (M.Yahya Harahap, 1988:725). Jadi KUHAP tidak mengenal asas yang memberi hak kepada terdakwa untuk menolak menjawab pertanyaan, karena ketika seseorang menjadi terperiksa/ terdakwa, akan menjadi sesuatu hal yang wajar dan diperkenankan untuk berbohong sesuai dengan asas the right to remain silent dan hak ingkar. Adanya asas the right to remain silent semata- mata adalah usaha untuk mencegah tindakan menyimpang seperti penggunaan penyiksaan dalam proses penyidikan. Hal ini sebenarnya telah ditoleransi dan menjadi perhatian penyusun undang-undang sebagai bagian dari hak-hak tersangka/terdakwa dalam KUHAP. Pasal 52 KUHAP menyatakan, ''Dalam pemeriksaan pada tingkat penyidikan dan peradilan, tersangka atau terdakwa berhak memberikan keterangan secara bebas kepada penyidik atau hakim''. Menurut penjelasan Pasal 52 KUHAP, supaya pemeriksaan dapat mencapai hasil yang tidak menyimpang dari yang sebenarnya, maka tersangka atau terdakwa harus dijauhkan dari rasa takut. Oleh karena itu wajib dicegah adanya paksaan atau tekanan terhadap

42

tersangka atau terdakwa. Hak untuk diam adalah hukum hak setiap orang dikenakan kepada polisi interogasi atau dipanggil untuk pergi ke persidangan di pengadilan hukum. Hak ini diakui, secara eksplisit atau dengan konvensi, di banyak sistem hukum di dunia. Hak ini mencakup sejumlah isu berpusat sekitar hak terdakwa atau terdakwa menolak memberikan komentar atau memberikan jawaban ketika ditanya, baik sebelum atau selama proses hukum di pengadilan hukum. Hal ini dapat hak untuk menghindari diri inkriminasi atau hak untuk tetap diam ketika ditanya. Hak biasanya mencakup ketentuan bahwa komentar yang merugikan atau kesimpulan tidak dapat dibuat oleh hakim atau juri tentang penolakan oleh terdakwa untuk menjawab pertanyaan sebelum atau selama sidang berlangsung, pendengaran atau upaya hukum lainnya. Hak ini hanya merupakan sebagian kecil dari hakhak terdakwa secara keseluruhan Di beberapa negara seperti Australia, tidak memiliki perlindungan konstitusional hak untuk diam, tetapi secara luas diakui oleh Negara dan Kejahatan Federal Kisah dan Kode dan dianggap oleh pengadilan sebagai hak hukum umum penting. Secara umum, tersangka kriminal di Australia memiliki hak untuk menolak untuk menjawab pertanyaan yang diajukan kepada mereka oleh polisi sebelum persidangan dan menolak untuk memberikan bukti di pengadilan. Sebagai hakim aturan umum tidak dapat langsung juri untuk menarik kesimpulan yang merugikan dari terdakwa diam (R v Petty) tetapi ada pengecualian untuk aturan ini, terutama dalam kasus-kasus yang bergantung sepenuhnya pada

43

bukti-bukti yang hanya mungkin bagi terdakwa untuk bersaksi tentang (v Weissensteiner). Hak ini tidak berlaku untuk perusahaan (EPA v Caltex). Ada berbagai hukum abrogations hak, khususnya di wilayah kebangkrutan. Ada juga abrogations hak dalam antiterorisme baru-baru ini Federal dan Victoria Kisah kejahatan terorganisi. Masing-masing menyiapkan mempertanyakan tindakan koersif rezim yang beroperasi di luar proses pidana biasa. Namun, bukti kesaksian langsung yang diperoleh dari pertanyaan ini memaksa tidak dapat digunakan dalam pengadilan kriminal berikutnya dari orang yang memberikan bukti. Di Perancis, pada Hukum Acara Pidana (Pasal L116) membuat mewajibkan bahwa ketika mendengar hakim yang menyelidiki tersangka, ia harus memperingatkan bahwa ia berhak untuk tetap diam, untuk membuat pernyataan, atau menjawab pertanyaan. Seseorang berbaring kecurigaan terhadap yang tidak bisa secara legal diinterogasi oleh keadilan sebagai saksi biasa. Pada sidang yang sebenarnya, terdakwa dapat dipaksa untuk membuat pernyataan. Namun, kode tersebut juga melarang mendengar tersangka di bawah sumpah; demikian, tersangka dapat mengatakan apa saja yang dia merasa cocok untuk pembelaannya, tanpa takut sanksi untuk sumpah palsu. Larangan ini diperpanjang menjadi tersangka pasangan dan anggota keluarga dekatnya (ini perpanjangan larangan dapat diabaikan jika kedua penuntutan dan pembelaan pengacara setuju untuk surat pembatalan tersebut). Di Belanda, setiap tersangka dituduh memiliki hak untuk tetap diam untuk pertanyaan dari polisi dan jaksa, selama interogasi atau pemeriksaan di sidang. Ada pengecualian: Terdakwa harus

Sebagai contoh. Atau terdakwa harus bekerja sama dalam penyerahan lendir. Asas Rights to remain silent keberadaannya semata-mata adalah usaha untuk mencegah tindakan menyimpang seperti penggunaan penyiksaan dalam proses penyidikan. Pasal 52 menyatakan: “ Dalam pemeriksaan pada tingkat penyidikan dan pengadilan. Dalam penjelasan Pasal 52 KUHAP dimaksudkan . Seperti tes DNA hanya dapat dilakukan atas permintaan Jaksa dan diperintahkan oleh hakim. seorang tersangka harus bekerja sama dengan memberikan sampel darah (dengan kecurigaan alkohol dalam lalu lintas). tersangka atau terdakwa berhak memberikan keterangan secara bebas kepada penyidik atau hakim”. Dan penahanan sementara telah menjadi untuk berlaku. karena ketika seseorang menjadi terperiksa/terdakwa. Hal ini sebenarnya telah ditoleransi dan menjadi perhatian penyusun Undang-Undang sebagai bagian dari hak-hak tersangka/terdakwa dalam KUHAP. Ada juga harus keberatan serius terhadap terdakwa. Beberapa Pasal dalam KUHAP yang berkaitan dengan asas Rights to remain silent antara lain: a.44 bekerja sama bila ada "een aan de wil van de verdachte onafhankelijk goed" (terjemahan diperlukan). KUHAP tidak mengenal asas yang memberi hak kepada terdakwa untuk menolak menjawab pertanyaan. akan menjadi sesuatu hal yang wajar dan diperkenankan untuk berbohong sesuai dengan asas the rights to remain silent dan hak ingkar. ketombe atau rambut untuk tes DNA.

b. Pasal 52 dan Pasal 117 KUHAP berkaitan erat dengan asas rights to remain silent yaitu suatu hak tersangka untuk tidak menjawab. c. Namun sangat disayangkan karena kedua Pasal ini tidak menyebutkan sama sekali tentang masalah keabsahan hasil penyidikan yang diperoleh dengan cara penyiksaan.45 supaya pemeriksaan dapat mencapai hasil yang tidak menyimpang dari yang sebenarnya. karena dalam perundang-undangan hukum acara pidana adanya suatu pengakuan terdakwa tidaklah dipergunakan sebagai alat bukti bahkan hanya menempati urutan terakhir sebagai alat bukti yang termuat dalam Pasal 184 ayat (1) KUHAP dengan penyebutan “keterangan terdakwa” bukan suatu “pengakuan terdakwa”. Pasal 175 KUHAP menyatakan: “ Jika . Oleh karena itu wajib dicegah adanya paksaan atau tekanan terhadap tersangka atau terdakwa. maksudnya keterangan tersangka atau terdakwa hanya dapat dipergunakan bagi dirinya sendiri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 189 ayat (3) KUHAP. maka tersangka atau terdakwa harus dijauhkan dari rasa takut. Pasal 117 menyatakan: “Bahwa keterangan tersangka dan atau saksi kepada penyidik diberikan tanpa tekanan dari siapapun dan atau dalam bentuk apapun.

dengan argumentasi yang matang dan cukup pertimbangannya. Selain itu hakim ataupun penuntut umum tidak boleh mengartikan diamnya terdakwa sebagai tingkah laku dan perbuatan menghalangi dan mengganggu ketertiban sidang. Diamnya terdakwa harus dinilai secara kasuistis dan realistis. apalagi sampai mempertimbangkan dan menarik kesimpulan bahwa keengganan menjawab sebagai keadaan yang membertakan kesalahan dan hukuman terdakwa. penasihat hukum dan terdakwa harus menyadari bahwa pelaksanaan asas rights to remain silent dilaksanakan sesuai asas keseimbangan menurut Pasal 175 KUHAP yaitu pemeriksaan terdakwa di sidang pengadilan harus melindungi kepentingan terdakwa sebagai manusia yang memiliki hak-hak asasi dan kepentingan. hakim ketua sidang menganjurkan untuk menjawab dan setelah itu pemeriksaan dilanjutkan”. keteertiban pada sisi lain tanpa mengorbankan hak-hak asasi manusia demi mengejar kepentingan umum. Hakim tidak boleh memaksa terdakwa untuk menjawab. Dalam upaya menciptakan keseimbangan dan keselarasan kepentingan dan perlindungan hukum. Dari asas yang telah dibahas di atas. jika terdakwa tidak mau menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya. yang sebaiknya dilakukan adalah “menganjurkan” terdakwa untuk menjawab. pemeriksaan terdakwa dititiksentralkan pada asas keseimbangan antara kepentingan .46 terdakwa tidak mau menjawab atau menolak untuk menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya. maka hakim.

Keberadaan Pasal 175 untuk melegalkan terdakwa tidak menjawab pertanyaan yang diajukan ketika pemeriksaan. karena polisi tidak perlu menasihati seseorang dari hak-hak nya sampai setelah ia mendakwa diri pemberitahuan .47 terdakwa pada satu pihak dan kepentingan umum di pihak lain. seseorang menyerah Amandemen Keempat dan Kelima hak-hak yang di bawah Raffel secara teknis tidak dapat diminta kembali. Oleh karena itu. Dalam praktek penegakan hukum. 5. pengadilan dan pemidanaan. di Amerika Serikat. Amerika Serikat Perlu dicatat bahwa ada konflik yang mencolok antara Miranda dan Raffel v United State yang tetap tidak terpecahkan oleh Mahkamah Agung AS. Dalam kenyataan ini menjadikan peringatan Miranda berlaku agak terbatas. tersangka menyerahkan hakhak tersebut dan harus terus kerja sama dan persetujuan melalui orang itu mungkin / akhirnya penangkapan.mata digunakan begitu saja karena terdakwa bisa dengan mudah lepas dari tanggung jawab tindak pidana yang dilakukan. pengadilan menemukan bahwa pada saat seorang tersangka bekerja sama dan jawaban pertanyaan dan / atau mengizinkan untuk mencari. dengan bekerja sama dengan polisi dengan cara apapun sebelum penangkapan. tidak semata. untuk mengungkap kebenaran yang sebenarnya dalam pemeriksaan. Raffel v di AS. Tinjauan Asas Asas The right To Remain Silent di Beberapa Negara a. setelah penangkapan dan Miranda atas hak-hak tersebut.

satu-satunya cara untuk satu untuk melindungi hak-hak seseorang sepenuhnya adalah untuk menolak menjawab pertanyaan apa pun di luar memberikan satu nama dan mengidentifikasi makalah jika diminta dan untuk menolak memberikan persetujuan terhadap apa pun (seperti pencarian) sebelum penangkapan seseorang. In Re Grand Jury subpoena untuk Sebastien Boucher. maka tahanan telah menyerahkan sebagian besar hak-hak yang memberikan nasehat kepada polisi bahwa tahanan. Polisi tidak perlu memberitahu sipil kebenaran mengenai apa saja. Amerika Serikat warga negara harus tahu hakhak mereka untuk menghindari kehilangan mereka dengan sengaja memberikan mereka pergi Raffel terus ditegakkan di Pengadilan AS meskipun kontradiksi dengan Miranda. dan polisi tidak terikat oleh apa pun mereka berjanji untuk tersangka atau saksi (yaitu janji-janji bantuan atau perlindungan ). Mereka dapat membuat janji dan klaim yang mereka sukai dalam rangka untuk mendorong seseorang untuk memberatkan dirinya sendiri atau mengizinkan polisi untuk melakukan pencarian.48 sendiri dan / atau ditahan. Pengadilan Distrik AS untuk Vermont memutuskan bahwa karena terdakwa telah bekerja sama sejauh . Aparat penegak hukum di Amerika Serikat sangat tergantung pada intimidasi halus posisi mereka dan kekuasaan dan ketidaktahuan masyarakat untuk hak-hak mereka untuk membuat orang-orang yang memberatkan diri mereka sendiri sehingga mereka kemudian dapat menangkap mereka. Di Amerika Serikat. jika orang yang telah bekerja sama sebelum penangkapan.

Mahkamah menyatakan bahwa terdakwa harus terus kerjasama dan menyediakan terdekrip dan berpotensi membahayakan informasi kepada pemerintah. tetapi secara luas diakui oleh Negara dan Kejahatan Federal Kisah dan Kode dan dianggap oleh pengadilan sebagai hukum umum yang penting benar. beberapa negara termasuk Kanada telah dengan hati-hati menghindari kontradiksi tersebut dengan jelas dapat diterima di pengadilan membuat segala informasi / pernyataan yang diberikan oleh tersangka sebelum konsultasi hak-hak mereka untuk membungkam dan perwakilan. bahwa ia sekarang harus menyerahkan akses lengkap untuk semua informasi pada laptop. dengan menyatakan kepemilikan laptop-nya dan memberikan sebagian penegakan hukum dengan akses ke sana sebelum penangkapannya. Hal ini sangat penting karena sebelum putusan Mahkamah Agung AS biasanya melindungi tersangka bahkan setelah keyakinan dari persyaratan yg memberatkan diri sendiri mengungkapkan informasi seperti lokasi korban mereka 'tubuh dan / atau properti.49 yang ia miliki dan sudah berpotensi memberatkan dirinya sendiri. Australia Australia tidak memiliki perlindungan konstitusional hak untuk diam. Karena terdakwa telah bekerja sama dalam bagian. Secara umum. bahkan dienkripsi dan berpotensi memberatkan diri atau informasi rahasia. Seperti yang tertera di bawah ini. tersangka kriminal di Australia memiliki hak untuk menolak untuk . b.

c. Terdakwa tidak dapat dipaksa sebagai saksi terhadap dirinya sendiri dalam proses pidana.50 menjawab pertanyaan yang diajukan kepada mereka oleh polisi sebelum persidangan dan menolak untuk memberikan bukti di pengadilan. Ada juga abrogations hak Federal baru-baru ini anti-terorisme dan kejahatan terorganisir Victoria Kisah. khususnya di bidang kebangkrutan. dan karena itu hanya pernyataan yang dibuat secara sukarela kepada polisi yang diterima sebagai bukti. Namun. setiap pernyataan yang mereka buat polisi dianggap tanpa sadar dipaksa dan tidak dapat . Ada banyak abrogations perundang-undangan yang tepat. Masing-masing menyiapkan tindakan koersif rezim pertanyaan yang beroperasi di luar proses pidana biasa. Hak ini tidak berlaku untuk perusahaan (EPA v Caltex). terutama dalam kasus-kasus yang mengandalkan sepenuhnya pada bukti-bukti yang itu hanya mungkin bagi terdakwa untuk bersaksi tentang (Weissensteiner v). bukti kesaksian langsung yang diperoleh dari pertanyaan koersif ini tidak dapat digunakan dalam pengadilan kriminal berikutnya dari orang yang memberikan bukti. Sebagai aturan umum hakim tidak dapat langsung merugikan juri untuk menarik kesimpulan dari terdakwa diam (Petty v R) tetapi ada beberapa pengecualian terhadap aturan ini. Sebelum seorang terdakwa mendapat informasi tentang hak mereka untuk penasihat hukum. Kanada Hak untuk diam adalah dilindungi di bawah bagian 7 dan pasal 11 (c) dari Kanada Piagam Hak dan Kebebasan.

. Meskipun seorang terdakwa berhak untuk tetap diam dan tidak dapat dipaksa untuk bersaksi melawan dirinya sendiri. di mana seorang terdakwa dengan bebas memilih untuk mengambil saksi dan bersaksi. pasangan tidak dapat dipaksa untuk bersaksi melawan satu sama lain. v. Setelah mendapat informasi tentang hak untuk pengacara. Hebert.51 diterima sebagai bukti. d. Hal ini mungkin berlawanan dengan AS hak untuk menolak untuk menjawab pertanyaan memberatkan di bawah Amandemen ke-5 bahkan ketika di kursi saksi. Namun bagian 13 dari Canadian Piagam Hak dan Kebebasan menjamin bahwa seorang saksi tidak memiliki bukti memberatkan yang mereka berikan sebagai kesaksian digunakan untuk melawan mereka dalam proses terpisah. Hukum Acara Pidana (pasal L116) . terdakwa dapat memilih untuk secara sukarela menjawab pertanyaan dan pernyataan yang akan diterima. Akibatnya. Perancis Di Perancis. kecuali untuk pelanggaran seks tertentu atau di mana korban adalah anak-anak. yang menyatakan bahwa terdakwa tidak bisa tertipu untuk memberitahukan informasi apapun sampai mereka berkonsultasi dengan seorang pengacara . seseorang dapat tidak disengaja dipaksa untuk memberikan bukti yg memberatkan diri sendiri tetapi hanya di mana bukti yang akan digunakan terhadap pihak ketiga. tidak ada lagi hak untuk diam dan tidak ada batasan umum jenis pertanyaan apa yang mereka mungkin diminta untuk menjawab. Dalam kebanyakan kasus. Kasus terkemuka di kanan untuk keheningan adalah R.

atau menjawab pertanyaan. untuk membuat pernyataan. Seseorang yang masuk akal terhadap yang ada menyebabkan kecurigaan dapat diperiksa sebagai saksi biasa dalam pidana terhadap orang lain. Larangan ini diperluas untuk tersangka pasangan dan anggota keluarga dekat (ini perpanjangan larangan mungkin akan dibebaskan jika kedua pihak penuntut dan pembela setuju dengan pembatalan) e. dalam kasus ini . ia harus memperingatkan dia bahwa ia memiliki hak untuk tetap diam. Namun. kode ini juga melarang mendengar seorang tersangka di bawah sumpah. tanpa takut sanksi bagi sumpah palsu. diperbolehkan untuk menarik kesimpulan jika terdakwa tetap diam hanya untuk pertanyaanpertanyaan tertentu mengenai kejahatan yang sama. Jerman Menurut § 136 Strafprozessordnung (StPO. seorang terdakwa dapat dipaksa untuk membuat pernyataan. Tersangka tidak dapat didengar di bawah sumpah. Namun. harus diinformasikan sebelum interogasi tentang haknya untuk tetap diam. ditahan atau tidak. Namun. Pada sidang yang sebenarnya. Seseorang kecurigaan terhadap yang terletak tidak dapat secara legal dapat diinterogasi oleh keadilan sebagai saksi biasa. seorang tersangka dapat mengatakan apa saja yang dia merasa cocok untuk pertahanan.52 mewajibkan bahwa ketika seorang hakim menyelidiki tersangka. yaitu Hukum Acara Pidana) seorang tersangka. demikian. Hal ini tidak diperbolehkan untuk menarik semua gangguan dari keheningan lengkap terdakwa dalam setiap tahap proses pidana.

yang menentukan apakah perkara yang disidik Polisi dapat diajukan ke pengadilan atau tidak adalah Jaksa yang tergabung dalam Crown Prosecution Service (CPS). Inggris Sampai akhir 1986. Senior Crown Prosecutor. proses penuntutan bagi perkaraperkara ringan di Inggris dilakukan oleh Polisi sendiri (Polise Prosecutor). Di Inggris terdapat 31 Kejaksaan atau CPS yang terdiri dari Crown Prosecutor. Dan perkara-perkara yang berat disidangkan di pengadilan tinggi (tingkat banding) dengan penuntut umum pengacara yang disebut Barister. saksi dapat menolak untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dapat memberatkan dirinya sendiri (atau salah satu kerabat). tentang haknya untuk tetap diam.53 menurut § 55 StPO. Branch Prosecutor (di Indonesia setingkat Kepala Kejaksaan Negeri) dan Chief Prosecutor (setingkat Kepala Kejaksaan Tinggi). Sedangkan perkara yang agak berat dilakukan oleh pengacara yang disebut Solicitor. Sejak 1986. Mencurigakan saksi tidak dapat didengar di bawah sumpah. Tumbuh dan berkembang dari kebiasaan suku Anglo Saxon pada abad pertengahan yang melahirkan Common Law. Sedangkan Sumber Hukum dalam Sistem Peradilan Pidana Inggris terdiri dari : 1) Custom Custom merupakan sumber hukum tertua. Saksi yang mencurigakan juga harus memperingatkan f. . sehingga sistem hukum Inggris disebut juga sistem Anglo Saxon. Assistant Branch CPS.

Undang-Undang yang dibentuk itu disebut Statutes. Case Law atau Judge Made Law adalah hukum kebiasaan yang berkembang di masayarakat melalui putusan hakim yang kemudian diikuti oleh hakim berikutnya melahirkan asas precedent.54 2) Legislation atau Statuta. 3) Case Law atau Judge Made Law. Dalam sistem Common Law. . Bagian pututsan hakim yang harus diikuti dan mengikat adalah nagian pertimbangan hukum yang disebut sebagai ratio decidendi sedangkan hal selebihnya yang disebut obiter dicta tidak mengikat. adat istiadat atau kebiasaan masyarakat (custom) yang dikembangkan berdasar putusan pengadilan mempunyai kedudukan yang sangat kuat karena berlaku asas stare decisis atau asas binding force of precedent. dalam system hukum common Law dikenal dengan adanya doktrin Presedent. precedent tidak diatur baik dalam Konstitusi. Perkembangan Precedent bersifat tradisionil dalam arti bahwa ia merupakan bagian dari tradisi dalam Common Law. Precedent adalah merupakan karakteristik Common Law. Pembentukan precedent tersebut adalah merupakan salah satu fungsi peradilan pidana dalam yurisdiksi system hukum common law. Selain hal tersebut di atas. Legislation atau Statuta berupa undang-undang yang dibuat melalui parlemen. Asas ini mewajibkan hakim untuk mengikuti putusan hakim yang sebelumnya. Sebagai suatu bagian dari tradisi dalam Common Law.

Mengandung arti bahwa jika secara konsisten mengikuti “precedent” akan menunjang/mendorong arah yang jelas dalam pelaksanaan hukum di masa yang akan datang dan jauh sebelumnya dapat diperkirakan kemungkinana “judicial-decision” yang akan diberikan terhadap suatu kasus yang sama di kemudian hari. Mengandung arti bahwa pelaksanaan penerapan peraturan hukum yang sama terhadap kasus yang sama akan menghasilkan persamaan perlakuan terhadap setiap orang yang dihadapkan ke muka sidang pengadilan. Terdapat empat factor yang melandasi dipergunakannya “precedent” dalam system hukum Common Law yaitu sebagai berikut : 1) Faktor Equality. Mengandung arti bahwa jika proses peradilan pidana sama) terutama jelas dalam pengambilan penghargaan putusannya terhadap konsisten dengan putusan terdahulu (dalam perkara yang menunjukkan kebijakan dan pengalaman serta keahlian generasi .55 Undang-Undang atau dalam sumpah. 3) Faktor Economy. 2) Faktor Predictability. Mengandung arti bahwa jika dipergunakan criteria yang tetap dan sama untuk menyelesaikan kasus-kasus baru di masa yang akan datang adalah menghemat waktu dan tenaga. 4) Faktor Respect.

Sehingga dalam sistem hukum Common Law. Sistem Common Law pada prinsipnya menganut “Sistem Accusatoir” atau yang secara populer dikenal dengan sebutan “Advesary System”. The rights to remain silent dalam suatu pertama kali dikodifikasi pada tahun 1912 dalam Tersangka/terdakwa atau tidak percobaan kejahatan mempunyai suatu pilihan apakah ia memberikan memberikan fakta/keterangan dalam proses pemeriksaan. Mengenai Asas Right to Remain Silent dalam Sistem Peradilan Inggris dapat penulis jelaskan bahwa Judge’s akan Rules. Pelaksanaan precedent di Inggris menganut “the binding precedent” atau precedent yang mengikat.56 hakim-hakim terdahulu (senior). Dalam sistem hukum Common Law. Right to remain silent tentu tidak membantu polisi dalam proses penyelidikan. rights to remain silent tersangka/terdakwa tidak diabaikan dan diberi penilain tertentu oleh hakim. berdasarkan Criminal Justice and Public Order Act 1994. Sistem Accusatoir menempatkan terangka dalam proses pemeriksaan pendahuluan dan pemeriksaan di muka sidang-sidang pengadilan sebagai subjek hukum yang memiliki hak (asasi) dan kepentingan yang harus dilindungi. suatu kesimpulan yang merugikan bagi terdakwa dapat ditarik pada kondisi tertentu antara lain : 1) Kegagalan/kesalahan dalam menyebutkan/ .

2) Kegagalan/kesalahan untuk memberikan keterangan/fakta saat proses persidangan atau saat menjawab berbagai pertanyaan yang diajukan. 3) Kegagalan/kesalahan dalam menyebutkan objek.Tindak Pidana Sidang di Pengadilan Terdakwa tidak Menjawab pertanyaan dakwa Menjawab Pembuktian oleh Penuntut Umum pertanyaan 57 memberikan berbagai fakta atau keterangan yang disadari setelah keterangan tersebut diberikan. isi. B. pelaku. berikut digambarkan alur kerangka pemikiran sebagai berikut : . 4) Kesalahan dalam menyebut tempat terkait perkara. tempat atau segala hal yang berhubungan dengan perkara tersebut. Di Inggris tidak terdapat konvensi-konvensi yang mengatur mengenai Rights to remain silent. Kerangka Pemikiran Untuk memperjelas alur berpikir penulisan hukum ini.

Perbandingan dalam SistemRemain Silent dan Inggris Rights to Hukum Indonesia Persamaan/Perbedaan 58 Gambar. salah satunya adalah hak terdakwa untuk tidak menjawab pertanyaan pada setiap tahap . dan salah satu asas yang harus dijunjung tinggi dalam menjalankan due process of law adalah asas praduga tidak bersalah atau presumption of innocence untuk menghormati hak-hak tersangka atau terdakwa. KUHAP memberikan seperangkat hak-hak bagi terdakwa atau tersangka yang wajib dihormati dan dilindungi. Aparat penegak hukum diharapkan menggunakan prinsip akusator dan menjauhkan diri dari pemeriksaan yang bersifat inkuisitur yang menempatkan tersangka atau terdakwa sebagai objek dalam setiap pemeriksaan. 1 Bagan Kerangka Pemikiran Keterangan : Dalam proses peradilan di Indonesia dalam menerapkan hukum acara pidana tidak bisa dilepaskan dari asas-asas yang melekat dalam hukum acara pidana itu sendiri. Dalam rangka mengemban asas praduga tidak bersalah dan prinsip akusatir tersebut.

Penggunaan hak ini sebenarnya memang tidak efektif untuk mengungkap tindak pidana yang didakwakan kepada seorang terdakwa. Tentu ada perbedaan bagi hakim dalam menghadapi tersangka/terdakwa yang bersikap diam tentu berbeda antara hakim di Indonesia dengan hakim di Inggris dan perbedaan mendasar kedua system ini berpengaruh terhadap putusan yang dijatuhkan kepada tersangka/terdakwa. menganut system hukum Common Law yang memiliki perbedaan mendasar dengan system hukum Civil Law (Indonesia). diancam oleh pihak tertentu. dilihat dari sisi persamaan maupun perbedaannya. merasa bersalah. Ada kemungkinan factor-factor internal atau eksternal tertentu yang menyebabkan terdakwa enggan menjawab pertanyaan. termasuk dalam hal penempatan dan perlindungan hak-hak (asasi) tersangka/terdakwa pada proses pemeriksaan bahwa terkadang tersangka/terdaka bersikap diam (Rights to Remain Silent). . Sedangkan di Inggris. malu. hal ini tidak menutup kemungkinan akan memperberat putusan yang dijatuhkan oleh Majelis Hakim. selain mempersulit penuntut umum untuk membuktikan dakwaannya juga justru merugikan terdakwa dalam mengajukan pembelaan atau pledoi. baik dalam ketentuan peradilan pidana di Inggris maupun Indonesia. disamping mempertimbangkan setiap alat bukti yang ada.59 pemeriksaan. Kondisi demikian tentu saja akan mempengaruhi sikap dan sudut pandang hakim dalam memberikan pertimbangan hukumnya dalam putusan yang akan dijatuhkan kepada terdakwa. dipaksa dan lain sebagainya. misalnya takut. Dalam penelitian ini diharapkan dapat diketahui masalah pengaturan tentang hak untuk diam (Rights to Remain Silent). sikap diam terdakwa yang tidak membenarkan atau membantah pertanyaan dan/atau pernyataan justru dapat dianggap oleh majelis hakim sebagai upaya untuk menutupi tindak pidana yang dilakukan atau dengan kata lain terdakwa berbelit-belit dalam mengungkapkan fakta.

60 BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Perbandingan Pengaturan Hak untuk Tidak Menjawab (Rights to remain silent ) bagi terdakwa dalam Peradilan Pidana antara Indonesia (Civil Law) dan Inggris (Common Law) Berbicara mengenai pengaturan hak untuk tidak menjawab (Rights to remain silent ) bagi terdakwa dalam hokum acara pidana .

tidak terlepas dengan adanya system peradilan pidana itu sendiri di masing-masing Negara. Dari sini timbul kesadaran akan pentingnya mempelajari perbandingan system hukum untuk memperoleh pemahaman yang komprehensif tentang system hukum yang ada di dunia secara global guna memperoleh manfaat internal yaitu mengadopsi hal-hal positif guna pembangunan hukum nasional.61 Indonesia dan Indonesia. Perkembangan system hukum di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari system hukum civil law atau system Eropa Kontinental. Hal ini disebabkan karena Indonesia terlalu lama dijajah oleh Belanda yang kemudian menerapkan system hukum Eropa dengan asas konkordansi di Hindia Belanda seabgai Negara jajahannya. Bahkan hingga kini setelah lebih dari setengah abad Indonesia merdeka. terutama setelah adanya pengaruh globalisasi di segala bidang kehidupan berbangsa dan bernegara. Terlebih setelah adanya akademisi maupun praktisi hukum dari Indonesia yang belajar hukum di Negara-negara yang menganut system Common law seperti Inggris. Maupun manfaat eksternal yaitu dapat mengambil sikap yang tepat dalam melakukan hubungan . yaitu mengutamakan kodifikasi hukum dan Undangundang/hukum tertulis sebagai sumber hukum utama untuk menjamin asas legalitas dan kepastian hukum. Namun praktek seiring dengan perjalanan waktu. Sebagai contoh KUHP (Kitab UndangUndang Hukum Pidana) dan HIR (Het Herziene Inlands Reglement atau Hukum acara perdata) yang banyak dipengaruhi oleh system hukum civil law. nampaknya penerapan sitem hukum civil law di Indonesia mulai mengalami pergeseran. masih banyak ketentuan hukum peninggalan Belanda yang masih digunakan sebagai hukum positif.

Branch prosecutor (di Indonesia setingkat Kepala Kejaksaan Negeri). assistan branch CPS. Secara garis besar dapat dijelaskan karakteristik peradilan di kedua Negara yaitu peradilan di Inggris dan Indonesia. sampai akhir 1986. Karakteristik itu adalah: 1. Dalam peradilan yang ada di Inggris. Namun sejak 1986 yang menentukan apakah perkara yang disidik polisis dapat diajukan ke pengadilan atau tidak adalah Jaksa yang tergabung dalam Crown Prosecution Service (CPS). Karakteristik Sistem hokum di Inggris terkait Hukum pidana dan acara Pidana Pertama.62 hukum dengan Negara lain yang berbeda system hukumnya Pergeseran itu antara lain mulai diakuinya sumber hukum Juriprudensi yaitu putusan hakim (judge made law) yang telah berkekuatan hukum tetap oleh hakim-hakim di Indonesia. dan Chief prosecutor (setingkat kepala kajaksaan tinggi). Sistem hukum Inggris (Common Law Sistem) . Padahal menurut system civil law sumber hukum utama adalah Undangundang dan hakim tidak terikat oleh putusan hakim sebelumnya meskipun dalam perkara yang sama. Dan perkaraperkara yang berat disidangkan di pengadilan tinggi (tingkat banding) dengan penuntut umum pengacara yang disebut Barrister. Sedangkan perkara yang agak berat dilakukan oleh pengacara yang disebut soliocitor. Dan di Inggris terdapat 31 kejaksaan atau CPS yang terdiri dari Crown Prosecutor. senior Crown prosecutor. proses penuntutan bagi perkara-perkara ringan di inggris dilakukan oleh Polisi sendiri (Police prosecutor).

Sampai abad ke 17. Custom. b. telah ditetapkan bahwa di masa yang akan datang semua undang-undang harus memperoleh (Reformasi persetujuan Parlemen sejak tahun 1832 dengan Undang-Undang Pembaharuan . Sebelum abad ke 15. Raja dapat bertindak tanpa melalui Parlemen.63 bersumber pada : a. undang-undang yang dibentuk itu disebut statutes. Selama abad ke 13 dan 14 Grand Council kemudian dirombak dan terdiri dari dua badan yaitu. berarti undang-undang yang dibentuk melalui parleman. Legislation. Lahir dan berasal dari (sebagian) hukum romawi. legislation bukanlah merupakan salah satu sumber hukum di Inggris. Pada abad ke 14 Custom melahirkan “common law” dan kemudian digantikan dengan precedent. Pada masa itu undang-undang dikeluarkan oleh Raja dan “Grand-Council” (terdiri dari kaum bangsawan terkemuka dan Penguasa Kota London). kemudian dikenal sebagai Parlemen (Parliament). Lords dan Common. Tumbuh dan berkembang dari kebiasaan suku Anglo Saxon yang hidup pada abad pertengahan. merupakan sumber hukum yang tertua di inggris. Akan tetapi sesudah abad ke 17 dengan adanya perang saudara di Inggris.

Case-law. c. Ketiga. maka kekuasaan hakim di dalam sistem hukum Common Law sangat luas dalam memberikan penafsiran terhadap suatu ketentuan yang tercantum dalam undang-undang. Sejak saat itu Legislation merupakan salah satu sumber hukum yang penting sejak Code Napoleon (1805) dikembangkan. House of Common merupakan suatu badan yang demokratis dan mewakili seluruh penduduk Inggris dan karena itu merupakan wakil perasaan keadilan seluruh rakyat Inggris. Bertitik tolak dari doktrin precedent tersebut. Bahkan hakim di Inggris . sebagai salah satu sumber hukum Inggris mempunyai karakteristik yang utama.64 Act). Seluruh hukum kebiasaan yang berkembang dalam masyarakat tidak melalui Parlemen. Setiap putusan hakim di inggris merupakan precedent bagi hakim yang akan datang. akan tetapi dilakukan oleh para hakim. Sebagai konsekwensi dipergunakannya case-law dengan doktrin precedent yang merupakan ciri utama maka sistem hukum Inggris tidak sepenuhnya menganut asas legalitas. dan legislation dipergunakan sebagai alat pembaharuan hukum di Inggris. sehingga lahirlah doktrin Precedent sampai sekarang. sehingga dikenal dengan istilah ”Judge-made law”. Inggris telah mengambil manfaat dari apa yang terjadi di Perancis. Kedua.

Ajaran Kesalahan dalam sistem hukum Common Law (Inggris) dikenal melalui doktrin Mens-Rea yang dilandaskan pada maxim: “Actus non est reus nisi mens sit rea”. Sedangkan Jerome Hall. Lord Denning. seorang hakim terkemuka di Inggris memberikan komentar atas doktrin MensRea. mengatakan bahwa Means-Rea adalah “a voluntary doing of morally wrong act forbidden by penal law”. Dalam hal demikian hakim dapat menjatuhkan putusannya sesuai dengan kebiasaan-kebiasaan atau melaksanakan asas precedent sepenuhnya. Pada sistem hukum Common Law. doktrin Mens-Rea secara klasik diartikan setiap perkara pelanggaran hukum yang dilakukan adalah disebabkan karena pada diri orang itu sudah melekat sikap batin yang jahat (evil will). Dilihat dari segi kekuasaan hakim Inggris yang sangat luas dalam memberikan penafsiran tersebut. dan karenanya perbuatan tersebut dianggap merupakan dosa. sehingga dapat membentuk hukum baru.(Roeslan . Keempat.65 diperbolehkan tidak sepenuhnya bertumpu pada ketentuan suatu undang-undang jika diyakini olehnya bahwa ketentuan tersebut tidak dapat diterapkan dalam kasus pidana yang sedang dihadapinya. maka nampaknya sistem hukum Common Law kurang memperhatikan kepastian hukum. Ajaran Mens-Rea ini dalam sistem hukum Inggris dirumuskan berbeda-beda tergantung dari kwalifikasi delik yang dilakukan seseorang. dengan mengatakan: “In order that an act should be punishable it must be morally blame-worthy”. yang berarti: “suatu perbutan tidak mengakibatkan seseorang bersalah kecuali jika pikiran orang itu jahat”.

Dewasa ini dalam peraturan perundangan modern unsur “mens-rea” ini tidak lagi dianggap sebagai syarat utama. misalnya pada delik-delik tentang ketertiban umum atau kesejahteraan umum. kejahatan ringan atau “misdemeanors” dan kejahatan terhadap negara atau “treason”. 2000: 37) Kelima. Dalam sistem Common Law (Inggris) pertanggungjawaban pidana tergantung dari ada atau tidaknya: a) actus-reus dan b) mens-rea. Sistem hukum Inggris dan negara-negara yang menganut sistem Common Law tidak mengenal perbedaan antara Kejahatan dan Pelanggaran. Namun demikian unsur “mens-rea” ini adalah merupakan unsur yang mutlak dalam pertanggungjawaban pidana dan harus ada terlebih dulu pada perbuatan tersebut sebelum dilakukan penuntutan (Roeslan Saleh. Sistem Common Law membedakan tindak pidana (secara klasik) dalam: Kejahatan berat atau “felonies”.1982:23 sebagaimana telah dikutip oleh Romli Atmasasmita. adalah kejahatan-kejahatan kurang berat yang hanya dapat diadili oleh suatu pengadilan (magistrate court) tanpa . Setelah dikeluarkannya “Criminal Law Act” (1967) pembedaan sebagai berikut: a) Indictable Offences.1982:28). b) Summary Offences. adalah kejahatan- kejahatan berat yang hanya dapat diadili dengan sistem Juri melalui pengadilan yang disebut Crown Court. Keenam.66 Saleh.

c) Arrestable Offence. Klasifikasi terbaru mengenai tindak pidana dalam sistem hukum pidana Inggris dicantumkan dalam criminal law act tahun 1977 yang akan diuraikan secara khusus dalam bab mengenai klasifikasi Tindak Pidana. Sistem pemidanaan yang berlaku pada umumnya negara-negara yang menganut sistem Common Law adalah bersifat kumulatif. Ketujuh. Sistem pemidanaan tersebut memungkinkan seseorang dituntut dan dijatuhi pidana karena melakukan lebih dari satu tindak pidana. adalah kejahatan-kejahatan yang diancam dengan hukuman di bawah 5 (lima) tahun kepada seorang pelaku kejahatan yang belum pernah melakukan kejahatan. Sistem accusatoir atau Adversary sistem menempatkan tersangka dalam proses pemeriksaan pendahuluan dan pemeriksaan di muka sidang-sidang pengadilan sebagai subjek hukum yang memiliki hak (asasi) dan kepentingan yang harus dilindungi. Jika kesemua tuntutan tersebut terbukti di muka sidang pengadilan maka pelaku tindak pidana tersebut dijatuhi sekaligus semua ancaman hukuman yang .67 dengan sistem Juri. Penangkapan terhadap pelaku tersebut dilakukan tanpa surat perintah penangkapan. Sistem hukum acara pidana yang berlaku di negara-negara Common Law pada prinsipnya menganut “sistem Accusatoir” atau yang secara populer dikenal dengan sebutan “Advesary Sistem”. Kedelapan.

tugas jaksa dan pengacara dalam persidangan adalah meyakinkan juri bahwa terdakwa bersalah atau tidak. adat istiadat atau kebiasasn masyarakat (custom) yang dikembangkan berdasarkan putusan pengadilan mempunyai kedudukan yang sangat kuat karena berlaku asas stare decisis atau asas binding force of precedent. Hal ini dilatarbelakangi karena polisi di Inggris kesulitan untuk mengungkap atau menyelesaikan berbagai kasus yang menimbulkan ancaman serius bagi masyarakat terutama terorisme. Bagian putusan hakim yang harus diikuti dan mengikat adalah bagian pertimbangan hukum yang disebut sebagai ratio decidendi sedangkan hal selebihnya yang disebut obiter dicta tidak mengikat.68 dikenakan kepadanya. 1990: 23). maka tugas hakim di pengadilan lebih berat karena selain harus menentukan benar slahnya terdakwa juga menentapkan hukuman (vonis)nya. Karena tersangka berlindung dibalik kekebalan hukum . Berbeda dengan system civil law yang dianut Indonesia sebagai kelanjutan dari system hukum yang dianut Belanda. Asas ini mewajibkan hakim untuk mengikuti putusan hakim yang ada sebelumnya. (Barda Nawai Arief. Oleh karena itu. Dapat dijelaskan bahwa dalam system common law seperti di Inggris. Tugas hakim hanya memastikan persidangan berjalan sesuai prosedur dan menjatuhkan hukuman sesuai hukum. Pada tahun 1994 telah terjadi pergeseran system akusator menjadi system inquisitor dalam hukum acara pidana Inggris. Dalam system peradilan Inggris benar salahnya terdakwa ditentukan oleh juri yang direkrut dari masyarakat biasa.

Sistem hukum Belanda (Civil Law Sistem) bersumber pada : a. b. Kebiasaan case-law. Yuliadi. 3) Undang-Undang tentang Susunan. c. Undang-undang. Doktrin Peraturan perundang-undangan yang mengatur hukum pidana umum adalah sebagai berikut : 1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (Penal Code atau Wetboek van Strafrecht).69 yang diberikan uleh Undang-Undang antara lain hak untuk diam (right to remain silent). Karakteristik Sistem Hukum Belanda pada umumnya. 2008: 4) 2. ( Moch. Kedua. organisasi. kekuasaan dan tugas-tugas Pengadilan dan Sistem Penuntutan (Judicial Act atau Wet op de Rechterlijke Organisatie). Undang-Undang Dasar. Karakateristik kedua dari sistem hukum Belanda (Civil Law Sistem) adalah dianutnya asas legalitas atau “the . khususnya dalam hukum pidana dan acara pidana Indonesia Pertama. Perubahan tersebut dilihat dari konteks keberadaan system hukum yang ada di dunia (civil law dan common law) ternyata saat ini bukan saatnya lagi memperbebatkan secara tajam perbedaan antara kedua system hukum tersebut. d. 2) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (Code of Crime Procedure atau Wetboek van Strafvordering).

Dianutnya asas legalitas sebagaimana diuraikan dalam . c) Ketentuan undang-undang tidak berlaku surut. Ketiga. jaksa dan hakim. Mengingat penafsiran yang bersifat kaku terhadap ketentuan undang-undang menurut asas legalitas ini. kecuali telah ditentukan dalam undang-undang terlebih dahulu. 2000 : 48).70 principles of legality”. b) Ketentuan undang-undang harus ditafsirkan secara harfiah dan pengadilan tidak suatu diperkenankan memberikan penafsiran analogis untuk menetapkan suatu perbuatan sebagai tindak pidana. Undang-undang dimaksud adalah hasil dari perundingan Pemerintah Parlemen. Dalam praktik penyelesaian perkara pidana di negeri belanda prinsip legalitas dan penafsiran yang diperbolehkan dari prinsip tersebut diserahkan sepenuhnya kepada para pelaksana atau praktisi hukum. Asas ini mengandung makna sebagi berikut: a) Tiada suatu perbuatan merupakan suatu tindak pidana. seperti. maka peranan putusan Mahkamah Agung menjadi lebih penting (Romli Atmasasmita. d) Mentapkan bahwa hanya pidana yang tercantum secara jelas dalam undangundang yang boleh dijatuhkan.

Kelima. c) Bersifat melawan hukum. Dianutnya asas legalitas dalam sistem hukum pidana Belanda mengakibatkan keterikatn hakim terhadap isi ketentuan undang-undang dalam menyelesaikan perkara pidana. Syarat umum bagi adanya pertanggungjawaban pidana menurut hukum pidana Belanda adalah adanya gabungan antara perbuatan yang dilarang dan pelaku yang diancam dengan pidana. b) Diatur dalam ketentuan undang-undang termasuk lingkup definisi pelanggaran.71 butir kedua diatas. Dalam soal pertanggungjawaban pidana sistem hukum pidana Belanda (Civil Law) menganut asas kesalahan pada perbuatannya (dodex-strafrecht). sangat pidana berpengaruh (criminal terhadap liability soal atau pertanggungjawaban strafbaarheid). Keempat. Hakim tidak diperbolehkan memperluas penafsiran terhadap isi ketentuan undang-undang sedemikian rupa sehingga dapat membentuk delik-delik baru. Sistem hukum pidana belanda mengenal pembedaan antara Kejahatan (Misdrijven) dan Pelanggaran . Ketiga syarat bagi adanya suatu pertanggungjawaban pidana tersebut di atas sesungguhnya merupakan suatu konstruksi gabungan dari syarat-syarat adanya sifat pertanggungjawaban pidana dan kekecualian-kekecualian dari pertanggungjawaban pidana. Perbuatan pelanggaran hukum dari pelaku harus memenuhi syarat sebagai berikut : a) Bahwa perbuatan tersebut (berbuat atau tidak berbuat) dilakukan seseorang.

Pembedaan antara kejahatan karena undang-undang menetapkan sebagai perbuatan yang dilarang.72 (Overtredingen). Perbedaan kejahatan dan pelanggaran dewasa ini didasarkan atas ancaman hukumannya. Sistem pemidanaan yang dianut pada umumnya di negara-negara yang berlandaskan Civil Law Sistem adalah sistem pemidanaan alternatif dan alternatif-kumulatif. Sesungguhnya apabila kita telusuri karakteristik yang melekat pada kedua sistem hukum sebagaimana telah diuraikan di atas. namun perbedaan tersebut tidak dianut lagi dalam doktrin. Sedangkan Mala prohibita. Sistem Inquisatoir menempatkan tersangka sebagai objek pemeriksaan baik pada tahap pemeriksaan pendahuluan maupun pada tahap pemeriksaan di muka sidang pengadilan. kejahatan memperoleh ancaman hukum yang lebih berat dari pelanggaran. khususnya mengenai . Pembedaan dimaksud berasal dari perbedaan antara mala in se dan mala prohibita yaitu perbedaan yang dikenal dalam hukum Yunani. Pembedaan anatara kejahatan dan pelanggarab tersebut semula didasarkan atas pertimbangan tentang adanya pengertian istilah “rechtedelict” dan ”wetdelict”. Keenam. pendekatan dari segi historis. Mala in se adalah perbuatan yang disebut sebagai kejahatan karena menurut sifatnya adalah jahat. Sistem peradilan yang dianut di semua negara yang berlandaskan “Civil Law Sistem” pada umumnya adalah sistem Inquisatoir. suatu perbuatan yang dilarang. Ketujuh. dengan batas minimum dan maksimum anaman pidana yang diperkenankan menurut undang-undang.

Kekuasaan penyidikan oleh lembaga kepolisian. 2000 :50). 3. Sebagai contoh penggunaan dan pemakaian sistem hukum Belanda di Indonesia dan sestem hukum Inggris dan Malaysia atau Singapura. Kekuasaan mengadili oleh badan peradilan atau hakim. Perkembangan penerapan sistem “Civil Law” di negara dunia ketiga pada awalnya dipaksakan jika dibandingkan dengan penerapan penggunaan sistem “Common Law” di negaranegara bekas jajahan-jajahannya. Kekuasaan pelaksanaan hukuman oleh aparat pelaksana eksekusi (jaksa dan lembaga pemasyarakatan) Keempat subsistem itu merupakan satu kesatuan system .73 perkembangan hukum pidana di Eropa Continental yang menganut sistem “Civil Law” lebih menonjol dan lebih menampakkan dirinya keluar dari batas wilayah yuridiksi sistem “Common Law”. Satu-satunya karakteristik yang sama antara kedua sistem hukum (legal sistem) tersebut adalah bahwa keduanya menganut falsafah dan doktrin liberalisme (Romli Atmasasmita. System penegakan hukum pidana ini sesuai ketentuan dalam KUHAP dilaksanakan oleh sub system yaitu: 1. kekuasaan penuntutan oleh lembaga penuntut umum atau kejaksaan. Dapat dijelaskan bahwa peradilan pidana di Indonesia sebagaimana diatur dalam KUHAP (Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana) atau Undang-Undang No. 2. 4. 8 tahun 1981. sebenarnya identik dengan penegakan hukum pidana yang merupakan suatu system kekuasaan/kewenangan dalam menegakkan hukum pidana.

Karena dalam system civil law yang kita anut. ekonomi. dan lain . Sejak system ini kita memberi kekuasaan besar kepada hakim. sebaiknya didorong agar menghasilkan putusan-putusan yang progresif. Dengan cara melaksanakan tugas dan wewenang masing-masing sebagaimana telah diberikan uleh undang-undang. Siapa hakimnmya. kejaksaan. Menilik system peradilan pidana terpadu yang diatur dalam KUHAP maka keempat komponen penegakan hukum kepolisian. tetapi psikologis. advokat. Predisposisi psikologis hakim menentukan kualitas putusan. pengadilan dan lembaga pemasyarakatan seharusnya konsisten menjaga agar system berjalan secara terpadu. Undang-undang merupakan sumber hukum tertinggi. bagaimana latar belakang social. dimensi persoalan sebenarnya tidak lagi murni hukum. Dalam hukum system kita. kata putus terakhir ada pada hakim. Jika sudah begini. System juri maupun system hakim.74 penegakan hukum pidana yang integral atau sering disebut dengan istilah integrated criminal justice system atau system peradilan pidana terpadu.. masing-masing memiliki kelebihan dan kelemahan. masing-masing ada karakteristiknya. dan terdakwa dalam persidangan. putusan akhirnya diserahkan kepada hakim dan ia akan memutus berdasar keyakinannya. berapa usianya. Apapun yang dikemukakan oleh jaksa. bagaimana pendidikan. kulturalnya. Melihat dari penerapan system juri di Inggris dan hakim di Indonesia. Karena disana (dalam hukum acara pidana) telah diatur hak dan kewajiban masing-masing penegak hukum dalam sub system peradilan pidana terpadu maupun hak-hak dan kewajiban tersangka/terdakwa.

75 menjadi acuan penting. Ilmu hukum perilaku (behavioral jurisprudence) banyak meneliti masalah ini. 14 tahun 1970 tentang KetentuanKetentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman sebagaimana diubah dengan Undang-Undang nomor 4 tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman. Hal yang terpenting tanpa adanya system juri karena mungkin justru nantinya jadi mengacau proses peradilan karena adanya system baru yang diterapkan di Indonesia. maka ia mendapatkan hak-hak seperti : hak untuk segera mendapatkan pemeriksaan dalam fase penyidikan. Salah satu asas terpenting dalam hukum acara pidana ialah asas praduga tidak bersalah. maka sudah sewajarnya bahwa tersangka/ terdakwa dalam proses peradilan pidana wajib mendapatkan hak-haknya. Bersumber pada asas tidak bersalah. hak untuk diberitahu tentang apa yang disangkakan/ didakwakan kepadanya dengan bahasa yang dimengerti olehnya. yaitu predisposisi psikologis hakim dihubungkan dengan putusannya. Sehingga menurut saya tetap saja dipertahankan system hakim yang telah ada. hak untuk mendapatkan bantuan hukum dan hak untuk mendapatkan kunjungan keluarganya. hak untuk menyiapkan pembelaan hak untuk mendapatkan juru bahasa. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan kehakiman. Sebagai seseorang yang belum dinyatakan bersalah. Asas tersebut dicantumkan di dalam pasal 8 Undang-Undang No. hak untuk segera mendapatkan pemeriksaan oleh pengadilan dan mendapatkan putusan yang seadiladilnya. Hal yang perlu dibenahi adalah sikap karakter intelektual dan moral dari hakim kita saat ini demi terciptanya putusan yang adil. terakhir diubah dengan Undang-Undang No. Tidak kalah pentingnya sebagai perwujudan .

untuk melakukan proses pidana terhadap seseorang berdasar deskriptif faktual dan bukti permulaan yang cukup. penyidikan. Artinya. Dalam konteks hukum acara pidana di Indonesia. Penuntut Umum adalah pihak yang mengajukan dakwaan kepada terdakwa. sampai tahap peradilan. Asas praduga tidak bersalah adalah pengarahan bagi para aparat penegak hukum tentang bagaimana mereka harus bertindak lebih lanjut dan mengesampingkan asas praduga tidak bersalah dalam tingkah laku mereka terhadap tersangka. berdasar fakta-fakta yang ada si tersangka akhirnya akan dinyatakan bersalah. Asas praduga bersalah bersifat deskriptif faktual.76 asas praduga tidak bersalah ialah bahwa seseorang terdakwa tidak dapat dibebani kewajiban pembuktian. harus ada suatu praduga bahwa orang itu telah melakukan suatu perbuatan pidana yang dimaksud. tetapi secara legal formal Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) kita juga menganut asas praduga bersalah. Tidak boleh berhenti di tengah jalan. Perintah penangkapan dilakukan terhadap seseorang yang diduga keras melakukan tindak pidana berdasarkan bukti permulaan yang cukup. Sikap itu paling tidak dapat disimpulkan dari ketentuan Pasal 17 KUHAP yang menyebutkan. Artinya. . maka penuntut umumlah yang dibebani tugas membuktikan kesalahan terdakwa dengan upaya-upaya pembuktian yang diperkenankan oleh undangundang. terhadapnya harus dilakukan proses hukum mulai dari tahap penyelidikan. Karena itu. praduga tidak bersalah bersifat legal normatif dan tidak berorientasi pada hasil akhir. penuntutan. Intinya. kendati secara universal asas praduga tidak bersalah diakui dan dijunjung tinggi.

terdakwa belum dapat dikategorisasikan bersalah sebagai pelaku . Pengadilan Tinggi dan Mahkamah Agung) dan belum memperoleh kekuaan hukum tetap (inkracht van gewijsde). dan di dalam Penjelasan Umum UU Nomor 8 tahun 1981 tentang KUHAP. dan/atau dihadapkan di depan pengadilan wajib dianggap tidak bersalah sebelum ada putusan pengadilan yang menyatakan kesalahannya. dituntut. Dalam praktik peradilan. Bahkan UUD 1945 dan perubahannya. dan telah memperoleh kekuatan hukum tetap”.48 Tahun 2008 tentang Kekuasaan Kehakiman (2004). Hakikat asas ini cukup fundamental sifatnya dalam Hukum Acara Pidana. Karena itu. asas ini hanya dimuat dalam Pasal 8 UU Nomor 48 tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman. manifestasi asas ini dapat diartikan lebih lanjut. baik dari sisi formil maupun sisi materiil. praduga tak bersalah . sama sekali tidak memuat hak. karena ketentuan asas praduga tidak bersalah sangat tampak eksistensinya dalam Pasal 8 ayat (1) Undang-Undang Nomor 48 tahun 2009 tentang kekuasaan kehakiman. ditahan.(Lilik Mulyadi. Rumusan kalimat dalam Pasal 8 ayat (1) Undang-Undang No. 2007 : 13). karena hak ini tidak termasuk ”non-derogable rights” seperti halnya hak untuk hidup atau hak untuk tidak dituntut dengan hukum yang berlaku surut (non-retroaktif).77 Hak seseorang tersangka untuk tidak dianggap bersalah sampai ada putusan pengadilan yang menyatakan sebaliknya (praduga tak bersalah) sesungguhnya juga bukan hak yang bersifat absolut. selama proses peradilan masih berjalan (Pengadilan Negeri. ditangkap. dan Penjelasan Umum KUHAP adalah: ”Setiap orang yang disangka.

khususnya di Inggris. hak segera mendapatkan pemeriksaan oleh pengadilan dan mendapatkan putusan seadil-adilnya. dan lain sebagainya. Prinsip ”due process” yang telah melembaga dalam proses peradilan sejak dua ratus tahun yang lampau. adil. dalam Bill of Rights (1648). Asas hukum praduga tak bersalah. hak untuk memperoleh bantuan hukum. sejak abad ke 11 dikenal di dalam sistem hukum Common Law. dan untuk tidak memberikan jawaban baik dalam proses penyidikan maupun dalam . 2007 : 13). maka kepada tersangka atau terdakwa diberikan hak oleh hukum untuk tidak memberikan keterangan yang akan memberatkan/ merugikan dirinya di muka persidangan (the right of non-self incrimination). dan tidak memihak (due process of law). Di dalam sistem peradilan pidana (criminal justice system/CJS) berdasarkan sistem hukum Common Law (sistem adversarial/ sistem kontest). Asas hukum ini dilatarbelakangi oleh pemikiran individualistik –liberalistik yang berkembang sejak pertengahan abad ke 19 sampai saat ini. Konsekuensi logis dari asas praduga tak bersalah ini.78 dari tindak pidana sehingga selama proses peradilan pidana tersebut haruslah mendapatkan haknya sebagaimana diatur undang-undang. yang telah mengalami perubahan cepat sesuai dengan perubahan masyarakatnya dan perkembangan internasional yang terjadi sejak pertengahan abad 19 sampai saat ini. yaitu: hak untuk segera mendapatkan pemeriksaan dalam tahap penyidikan. asas hukum ini merupakan prasyarat utama untuk menetapkan bahwa suatu proses telah berlangsung jujur. Asas praduga tak bersalah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari prinsip due process tersebut.(Lilik Mulyadi. Prinsip tersebut telah menjadi bagian dari ”budaya (masyarakat) Inggris”.

Orang-orang tersebut yang datang ke pengadilan ini dipaksa bersumpah untuk jujur menjawab pertanyaanpertanyaan yang diajukan kepada mereka tanpa mengetahui apa yang didakwakan. 2007) Baik alasan maupun sejarah dibalik hak untuk diam sepenuhnya jelas. hukuman yang berat karena menghina pengadilan (jika mereka menolak untuk menjawab).(Romli Atmasasmita.. Penolakan terhadap prosedur Pengadilan Star Chamber dan Komisi Tinggi akhirnya mengakibatkan munculnya prinsip. Setelah revolusi parlemen pada akhir 1600-an. pada setiap kasus ( tak . Hal ini menciptakan apa yang disebut dengan istilah dakwaan kejam dimana terdakwa ini menghadapi suatu prospek sumpah palsu (yang diyakini sebagai dosa) (jika mereka berbohong di bawah sumpah untuk melindungi diri mereka sendiri). "bahwa tidak ada seorangpun yang terikat untuk memberatkan dirinya. menurut ahli hukum AS dan hukum bukti ahli John Henry Wigmore. 12. Ada pepatah dalam bahasa Latin yang berbunyi “nemo ipsum tenetur se accusare” (tidak ada seorangpun yang terikat untuk menuduh dirinya sendiri) menjadi seruan untuk tokoh agama dan pembangkang politik yang dituntut di Star Chamber dan Komisi Tinggi Inggris abad ke-16.79 proses persidangan( the right to remain silent). atau mengkhianati mereka "alami" kewajiban mempertahankan diri (jika mereka mengatakan yang sebenarnya untuk menghormati sumpah mereka). menurut beberapa catatan sejarah. hak untuk diam disediakan oleh hukum sebagai reaksi dari masyarakat untuk ekses sistem pemeriksaan tertutup oleh kerajaan di pengadilan ini.

dan umumnya sistem diam tidak percaya kepada terdakwa. Namun demikian. Hal ini dianggap sebagai salah satu pengamanan yang paling . hak untuk diam tetap diabadikan di common-tradisi hukum yang diwarisi dari Inggris. standar pergeseran bukti. itu ada sebelum Revolusi Amerika. dimana telah dilonggarkan sedikit). Di Britania dan negara-negara Persemakmuran (dan termasuk di Irlandia. para terdakwa tidak hingga memasuki abad kedelapan belas. Namun.80 peduli betapa benar dilembagakan). Dengan akses terbatas ke penasihat hukum (seringkali tergantung pada status sosial terdakwa).juga dikatakan sebagai reaksi terhadap ketidakadilan dari Star Chamber dan Komisi Tinggi. seorang penjahat yang tetap diam dituduh sering melakukan bunuh diri kiasan atau literal. Hal ini diperpanjang selama Restorasi Inggris (pada tahun 1660 ) untuk menyertakan "saksi biasa. hak untuk diam itu tidak selalu menjadi kenyataan praktis untuk semua terdakwa dalam pengadilan Inggris untuk beberapa periode sesudahnya. dan tidak hanya pada pihak-pihak yang didakwa. Di Inggris. itu tetap menjadi hak dasar yang tersedia bagi para terdakwa dan telah menjadi diterima dalam praktek selama beberapa abad. praktek peradilan memeriksa terdakwa dalam sidang (sebagai berbeda dari pemeriksaan Pada sidang sebelumnya). diperbolehkan untuk memberikan bukti atas sumpah bahkan jika mereka ingin . tidak benar-benar menghilang abad kesembilan belas. yang juga mewarisi tradisi hukumnya dari Inggris. Di Amerika Serikat. mantan anggota. atau dalam setiap Pengadilan (bukan hanya dalam gerejawi atau Bintang Chamber pengadilan) ".

telah mengayunkan hak untuk diam sedikit kembali ke arah lain: tersangka diberitahu bahwa mereka memiliki hak untuk tetap diam. KUHAP tidak menganut asas the right to remain silent (M. sementara masih mendukung praduga tak bersalah. Sedangkan. tersangka atau terdakwa berhak memberikan keterangan secara bebas kepada penyidik atau hakim''. bersama dengan kata-kata "proses". Berlawanan dengan pandangan kadang-kadang diungkapkan di Amerika Serikat. dalam beberapa kasus dapat ditarik kesimpulan. .Yahya Harahap. undang-undang yang diperkenalkan pada dekade yang lalu. karena ketika seseorang menjadi terperiksa/ terdakwa.81 penting melindungi warga terhadap tindakan sewenang-wenang negara. tetapi berasal dari hukum Inggris . 1988:725). dan itu diabadikan dalam Amandemen Kelima UndangUndang Dasar. namun kini juga memperingatkan bahwa apa saja yang tidak merek ungkapkan dalam interogasi tetapi kemudian dinyatakan di pengadilan dapat membahayakan pembelaan mereka. Pasal 52 KUHAP menyatakan. ''Dalam pemeriksaan pada tingkat penyidikan dan peradilan. yang pertama kali disebutkan dalam undang-undang Edward III di tahun 1354 dan berisi kata-kata yang serupa dengan Amandemen Kelima.dan khususnya di negara-negara di mana telah terjadi kehadiran kolonial. hak untuk diam seperti dipraktikkan di Amerika hukum tidak berasal dari sana dan tidak menyebar ke bagian lain dari dunia. Dengan kata lain. akan menjadi sesuatu hal yang wajar dan diperkenankan untuk berbohong sesuai dengan asas the right to remain silent dan hak ingkar. Jadi KUHAP tidak mengenal asas yang memberi hak kepada terdakwa untuk menolak menjawab pertanyaan. Di Britania Raya.

Untuk menciptakan keseimbangan dan keselarasan kepentingan serta perlindungan kepentingan hukum para hakim dan terdakwa serta penasehat hukum. Namun demikian sayangnya kedua Pasal ini tidak menyebutkan sama sekali tentang masalah keabsahan hasil penyidikan yang diperoleh dengan cara penyiksaan itu. Yaitu. Maka masing. Oleh karena itu wajib dicegah adanya paksaan atau tekanan terhadap tersangka atau terdakwa. harus dilaksanakan dengan asas keseimbangan sesuai Pasal 175 KUHAP yaitu pemeriksaan terdakwa di sidang pengadilan harus melindungi . sebagaimana dimaksud dengan Pasal 189 ayat 3 KUHAP. Selain itu. Pasal 52 KUHAP maupun Pasal 117 KUHAP itu sebenarnya berkaitan erat dengan asas. bukan suatu "pengakuan terdakwa".asas pemeriksaan keterangan terdakwa/ tersangka the right to remain silent. suatu hak tersangka untuk tidak menjawab.82 Menurut penjelasan Pasal 52 KUHAP. Artinya keterangan tersangka/terdakwa hanya dapat dipergunakan bagi dirinya sendiri.masing pihak harus menyadari bahwa pelaksanaan asas the right to remain silent. maka tersangka atau terdakwa harus dijauhkan dari rasa takut. Oleh karena itu. bahkan hanya menempati urutan terakhir sebagai alat bukti seperti dalam Pasal 184 ayat (1) KUHAP dengan penyebutan "keterangan terdakwa". karena di dalam perundang-undangan hukum acara pidana kita yang baru ini adanya suatu pengakuan terdakwa tidaklah dipergunakan sebagai alat bukti lagi. Pasal 117 KUHAP menyatakan bahwa keterangan tersangka dan atau saksi kepada penyidik diberikan tanpa tekanan dari siapapun dan atau dalam bentuk apa pun. supaya pemeriksaan dapat mencapai hasil yang tidak menyimpang dari yang sebenarnya.

terdakwa seharusnya menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya. Hakim juga tidak boleh memaksa terdakwa untuk menjawab. Dalam penerapan Pasal 175 KUHAP sebagai suatu keseimbangan. Hal ini dimaksudkan agar seorang yang bersalah mendapat hukuman yang sesuai dengan peraturan yang ada. pemeriksaan terdakwa dititiksentralkan pada asas keseimbangan antara kepentingan terdakwa pada satu pihak dan kepentingan umum di .Yahya Harahap. Selain itu. Yang boleh dilakukannya. Berdasarkan asas yang telah dibahas di atas.hak asasi manusia demi mengejar kepentingan umum. Diamnya terdakwa harus dinilai secara kasuistis dan realistis. kalau terdakwa tidak mau menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya. dengan argumentasi yang matang dan cukup pertimbangannya. Apalagi sampai mempertimbangkan dan menarik kesimpulan bahwa keengganan menjawab sebagai keadaan yang memberatkan kesalahan dan hukuman terdakwa. 1988:726). Sebaliknya. tidak mendapat hukuman yang tidak sepantasnya diberikan kepadanya.83 kepentingan terdakwa sebagai manusia yang memiliki hak. kita juga menghendaki seorang yang tidak bersalah.hak asasi dan kepentingan ketertiban masyarakat pada sisi lain tanpa mengorbankan hak. hanya “menganjurkan” terdakwa untuk menjawab. hakim ataupun penuntut umum tidak boleh mengartikan diamnya terdakwa sebagai tingkah laku dan perbuatan menghalangi dan mengganggu ketertiban sidang. Terdakwa dalam kedudukannya sebagai orang yang diduga melakukan tindak pidana adalah anggota masyarakat ikut bertanggung jawab tegaknya hukum dalam kehidupan masyarakat (M.

tidak semata.84 pihak lain. penulis akan menjelaskan hal-hal terkait Rights to remain silent. B. Mengingat adanya Rights to remain silent merupakan bentuk perlindungan hukum bagi terdakwa selama dalam proses dalam hukum acara pidana. dan/atau dihadapkan di depan pengadilan wajib dianggap tidak bersalah sebelum ada putusan pengadilan yang . ditangkap. Keberadaan Pasal 175 untuk melegalkan terdakwa tidak menjawab pertanyaan yang diajukan ketika pemeriksaan. dan Penjelasan Umum Hukum Acara Pidana menyatakan bahwa “Setiap orang yang disangka. Salah satu asas terpenting dalam hukum acara pidana ialah asas praduga tak bersalah. Rumusan kalimat dalam Pasal 8 Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman.mata digunakan begitu saja karena terdakwa bisa dengan mudah lepas dari tanggung jawab tindak pidana yang dilakukan. untuk mengungkap kebenaran yang sebenarnya dalam pemeriksaan. dituntut. maka sudah sewajarnya bahwa tersangka atau terdakwa dalam proses peradilan pidana wajib mendapatkan hakhaknya. Persamaan dan Perbedaan Pengaturan hak untuk tidak menjawab (Rights to remain silent) oleh terdakwa antara sistem peradilan Pidana Inggris dan Indonesia Sebelum membahas lebih lanjut tentang perbedaan dan persamaan tentang Pengaturan hak untuk tidak menjawab (Rights to remain silent) oleh terdakwa antara sistem peradilan Pidana Inggris dan Indonesia. ditahan. Asas tersebut dicantumkan di dalam Pasal 8 Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang KetentuanKetentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman sebagaimana bersumber pada asas praduga tak bersalah.

(Lilik Mulyadi. maka ia . Asas praduga bersalah bersifat deskriptif faktual artinya berdasar fakta-fakta yang ada si tersangka akhirnya akan dinyatakan bersalah. dan telah memperoleh kekuatan hukum tetap”. harus ada suatu praduga bahwa orang itu telah melakukan suatu perbuatan pidana yang dimaksud. 2007 : 13). sampai tahap peradilan. “Perintah penangkapan dilakukan terhadap seseorang yang diduga keras melakukan tindak pidana berdasarkan bukti permulaan yang cukup” artinya. Sikap itu paling tidak dapat disimpulkan dari ketentuan Pasal 17 KUHAP yang menyebutkan. kendati secara universal asas praduga tak bersalah diakui dan dijunjung tinggi. terhadapnya harus dilakukan proses hukum mulai dari tahap penyelidikan. penuntutan. Asas praduga tak bersalah adalah pengarahan bagi para aparat penegak hukum tentang bagaimana mereka harus bertindak lebih lanjut dan mengesampingkan asas praduga tak bersalah dalam tingkah laku mereka terhadap tersangka. Berdasarkan hukum acara pidana di Indonesia. karena ketentuan asas praduga tak bersalah sangat tampak eksistensinya dalam Pasal 8 Undang-Undang Nomor 48 tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman. Intinya. Karena itu. untuk melakukan proses pidana terhadap seseorang berdasar deskriptif faktual dan bukti permulaan yang cukup. Sebagai seseorang yang belum dinyatakan bersalah. praduga tak bersalah bersifat legal normatif dan tidak berorientasi pada hasil akhir. Hakikat asas ini cukup fundamental sifatnya dalam Hukum Acara Pidana. penyidikan.85 menyatakan kesalahannya. Tidak boleh berhenti di tengah jalan. tetapi secara legal formal Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) juga menganut asas praduga bersalah.

maka kepada tersangka atau terdakwa diberikan hak oleh hukum untuk tidak .86 mendapatkan hak-hak seperti hak untuk segera mendapatkan pemeriksaan dalam fase penyidikan. Pengadilan Tinggi dan Mahkamah Agung) dan belum memperoleh kekuaan hukum tetap (inkracht van gewijsde). Konsekuensi logis dari asas praduga tak bersalah ini. peradilan. hak segera mendapatkan pemeriksaan oleh pengadilan dan mendapatkan putusan seadil-adilnya. Terdakwa belum dapat dikategorisasikan bersalah sebagai pelaku dari tindak pidana sehingga selama proses peradilan pidana tersebut haruslah mendapatkan haknya sebagaimana diatur Undang-Undang. Penuntut Umum adalah pihak yang mengajukan dakwaan kepada terdakwa. maka penuntut umumlah yang dibebani tugas membuktikan kesalahan terdakwa oleh dengan upaya-upaya Dalam pembuktian praktik yang diperkenankan undang-undang. manifestasi asas ini dapat diartikan lebih lanjut selama proses peradilan masih berjalan (Pengadilan Negeri. hak untuk memperoleh bantuan hukum. 2007: 13). hak untuk segera mendapatkan pemeriksaan oleh pengadilan dan mendapatkan putusan yang seadiladilnya. Tidak kalah pentingnya sebagai perwujudan asas praduga tak bersalah ialah bahwa seseorang terdakwa tidak dapat dibebani kewajiban pembuktian. yaitu: hak untuk segera mendapatkan pemeriksaan dalam tahap penyidikan. hak untuk diberitahu tentang apa yang disangkakan atau didakwakan kepadanya dengan bahasa yang dimengerti olehnya. (Lilik Mulyadi. hak untuk menyiapkan pembelaan hak untuk mendapatkan juru bahasa. hak untuk mendapatkan bantuan hukum dan hak untuk mendapatkan kunjungan keluarganya. dan lain sebagainya.

Dengan asas praduga tidak bersalah yang dianut oleh KUHAP. Yahya Harahap. memberi pedoman kepada aparat penegak hukum untuk mempergunakan prinsip akusatur dalam setiap tingkat pemeriksaan. KUHAP telah memberi perisai . Prinsip inkuisitur ini dulu dijadikan landasan pemeriksaan dalam periode HIR. meringkuk dalam penjara. Aparat penegak hukum menjauhkan diri dari caa-cara pemeriksaan yang ”inkuisitur” atau ”inquisitorial system” yang menempatkan tersangka/ terdakwa dalam pemeriksaan sebagai obyek yang dapat diperlakukan dengan sewenang-wenang.(M. Hal tersebut tidak terlepas adanya pengertian negara hukum atau rule of law. sebab sejak semula aparat penegak hukum sudah apriori menganggap tersangka/ terdakwa bersalah. Akibatnya.87 memberikan jawaban baik dalam proses penyidikan maupun dalam proses persidangan (the right to remain silent). Ada beberapa Persamaan dan Perbedaan Pengaturan hak untuk tidak menjawab (Rights to remain silent) oleh terdakwa antara sistem peradilan Pidana Inggris dan Indonesia. seorang yang benar-benar tidak bersalah terpaksa menerima nasib sial. sering terjadi dalam praktek. tersangka/ terdakwa dianggap dan dijadikan sebagai obyek pemeriksaan tanpa mempedulikan hak-hak asasi manusia dan haknya untuk membela dan mempertahankan martabatserta kebenaran yang dimilikinya. sama sekali tidak memberi hak dan kesempatan yang wajar bagi tersangka/ terdakwa untuk membela diri dan mempertahankan hak dan kebenarannya. Seolah-olah si tersangka sudah divonis sejak saat pertama diperiksa di hadapan penyidik. 2002: 41) Untuk menopang asas praduga tidak bersalah dan prinsip akusatur dalam penegakan hukum.

Terkait persamaan dan perbedaan hak untuk tidak menjawab dalam system peradilan pidana Inggris dan Indonesia berikut persamaan dan Perbedaan. Usaha untuk sama terdakwa berada dalam yang pejabat aparat penegak mencegah Usaha untuk mencegah menyimpang penggunaan penyiksaan seperti tindakan menyimpang seperti tindakan penggunaan dalam proses penyidikan penyiksaan dalam proses . secara teoritis sejak semula tahap pemeriksaan. Tabel 1 Persamaan hak untuk tidak menjawab (Rights to remain silent) dalam Peradilan Inggris dan Indonesia NO 1. tersangka/terdakwa sudah mempunyai posisi yang setaraf dengan pejabat pemeriksa dalam kedudukan hukum.88 kepada tersangka/ terdakwa berupa seperangkat hak-hak kemanusiaan yang wajib dihormati dan dilindungi pihak aparat penegak hukum. INGGRIS Perlindungan dalam Pidana 2. Dengan perisai hak-hak yang diakui hukum. berhak menuntut perlakuan yang digariskan oleh KUHAP. 3. Menempatkan dalam posisi Proses Hak INDONESIA Asasi Perlindungan Hak Asasi Terhadap Manusia Terhadap Terdakwa Manusia Peradilan Terdakwa dalam Proses Peradilan Pidana kedudukan Pengakuan yang akan tersangka/ sama dengan tersangka/ terdakwa berada kedudukan derajatnya dengan pejabat posisi aparat penegak hukum. derajatnya hukum.

4. bahwa hak untuk diam adalah hukum hak setiap orang dikenakan kepada polisi interogasi atau dipanggil untuk pergi ke persidangan di pengadilan hukum. Suatu Perwujudan Untuk mewujudkan sistem peradilan pidana Pemerintah Inggris dalam yang adil dan benar mewujudkan sistem sesuai dengan tujuan dan harapan masyarak peradilan pidana yang adil dan benar sesuai dengan tujuan dan harapan masyarak Usaha Perbandingan Sistem Peradilan Pidana antara Indonesia (Civil Law) dan Inggris (Common Law) Terkait Hak untuk Tidak Menjawab (Rights to Remain Silent) bagi Terdakwa dengan Legal Raisonee dalam Putusan yang Diambil oleh Majelis Hakim ada beberapa hal yang perlu digaris bawahi di sini. Hak ini diakui. baik sebelum atau selama proses hukum di pengadilan hukum. Hak biasanya mencakup ketentuan bahwa komentar yang merugikan atau kesimpulan tidak dapat dibuat oleh hakim atau juri tentang penolakan oleh terdakwa untuk menjawab pertanyaan sebelum atau selama sidang berlangsung. . Hak ini mencakup sejumlah isu berpusat sekitar hak terdakwa atau terdakwa menolak memberikan komentar atau memberikan jawaban ketika ditanya. Hal ini dapat hak untuk menghindari diri inkriminasi atau hak untuk tetap diam ketika ditanya. Hak ini hanya merupakan sebagian kecil dari hakhak terdakwa secara keseluruhan. pendengaran atau upaya hukum lainnya. di banyak sistem hukum di dunia. secara eksplisit atau dengan konvensi.89 penyidikan.

Barangkali kita merasa optimis. sebab kalau halhal tadi dilanggar dapat mengajukan sah tidaknya pelanggaran itu kepada pra peradilan dan sekaligus dapat menuntut ganti rugi dan rehabilitasi. Dalam Undang-Undang Dasar 1945 melalui beberapa Pasal yang mengatur tentang HAM. Adanya asas the right to remain silent semata. Oleh karena itu. dapat diartikan bahwa dalam setiap konstitusi selalu ditemukan adanya jaminan terhadap Hak Asasi Manusia. untuk mewujudkan sistem peradilan pidana yang adil dan benar sesuai dengan tujuan dan harapan masyarakat. 2002: 42). hak-hak yang diakui hukum ini masih merupakan pertaruhan. Berkaitan dengan adanya jaminan terhadap Hak Asasi Manusia (HAM). Namun dalam praktek.(M Yahya Harahap. apakah benar-benar dapat diwujudkan dalam konkreto. Hal ini sebenarnya telah ditoleransi dan menjadi perhatian penyusun undang-undang sebagai bagian dari hak-hak tersangka/terdakwa dalam KUHAP Hak Asasi Manusia di Indonesia merupakan masalah yang sangat erat kaitanya dengan sistem peradilan pidana. baik tentang pengertiannya secara umum maupun tentang perkembangan proses peradilan pidana itu sendiri dalam menjamin dan melindungi hak-hak asasi tersangka dan terdakwa. sangat relevan apabila dilakukan kajian mengenai proses peradilan pidana.90 Seperti yang disinggung di atas. teoritis pemberian hak ini telah menempatkan kedudukan tersangka/ terdakwa berada dalam posisi yang sama derajatnya dengan pejabat aparat penegak hukum. salah satunya adalah Pasal 27 ayat (1) .mata adalah usaha untuk mencegah tindakan menyimpang seperti penggunaan penyiksaan dalam proses penyidikan.

asas Rights to remain silent keberadaannya juga tidak tertulis dalam peraturan perundang-undangan manapun sehingga secara teori mengenai keberadaannya tidak diketahui secara pasti. Selain itu. Pada dasarnya. tetapi pada kenyataannya. Hal ini sebenarnya telah ditoleransi dan menjadi perhatian penyusun Undang-Undang sebagai bagian dari hak-hak tersangka/terdakwa dalam KUHAP. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman serta Pasal 8 Undang-Undang No. Pasal 27 ayat (1) ini diimplementasikan dalam proses peradilan pidana sebagai Azas Praduga Tidak Bersalah yang diatur dalam Pasal 8 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970 Jo Pasal 18 UndangUndang Nomor 4 Tahun 2004 terakhir dengan Undang-Undang No. Bertitik dari hal tersebut. Beberapa Pasal dalam KUHAP yang berkaitan dengan asas Rights to remain silent antara lain: . 48 Tahun 2009 tentang tentang Kekuasaan Kehakiman.91 yang berbunyi “Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya”. dalam KUHAP tidak ditulis mengenai asas yang memberi hak kepada terdakwa untuk menolak menjawab pertanyaan ketika proses pemeriksaan sidang berlangsung. seringkali dijumpai tersangka / terdakwa tidak menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Hakim atau Jaksa Penuntut Umum dalam proses penyidikan. rights to remain silent keberadaannya semata-mata adalah usaha untuk mencegah tindakan menyimpang seperti penggunaan penyiksaan dalam proses penyidikan. Dalam pasal ini terkandung Azas Persamaan Kedudukan di Dalam Hukum.

Pasal “ 52 Dalam menyatakan: pemeriksaan pada tingkat penyidikan dan pengadilan. Dalam penjelasan Pasal KUHAP dimaksudkan supaya pemeriksaan dapat mencapai 52 . tersangka atau terdakwa berhak memberikan keterangan secara bebas kepada penyidik atau hakim”.92 a.

93 hasil tidak yang menyimpang dari maka tersangka atau terdakwa harus dijauhkan dari takut. . karena wajib dicegah adanya paksaan atau tekanan terhadap tersangka atau terdakwa. Pasal “Bahwa keterangan 117 menyatakan: rasa Oleh itu yang sebenarnya. b.

sekali ini atau dalam bentuk saksi .94 tersangka dan atau kepada penyidik diberikan tanpa tekanan dari siapapun dan apapun. Namun sangat disayangkan karena kedua Pasal tidak menyebutkan sama tentang masalah keabsahan hasil penyidikan yang diperoleh dengan cara penyiksaan.

95 Pasal 52 dan Pasal 117 KUHAP berkaitan erat dengan asas rights to remain silent yaitu suatu hak tersangka untuk tidak menjawab. tidak memihak dan tidak dipengaruhi oleh Kekuasaan Legislatif dan Eksekutif. maka hakim. Dalam upaya menciptakan keseimbangan dan keselarasan kepentingan dan perlindungan hukum. penasihat hukum dan terdakwa harus menyadari bahwa pelaksanaan asas rights to remain silent dilaksanakan sesuai asas keseimbangan menurut Pasal 175 KUHAP yaitu pemeriksaan terdakwa di sidang pengadilan harus melindungi kepentingan terdakwa sebagai manusia yang memiliki hak-hak asasi umum. Salah satu ciri dari Negara hukum adalah terdapat suatu kemerdekaan hakim yang bebas. Pasal 175 KUHAP menyatakan: “ Jika terdakwa tidak mau menjawab atau menolak untuk menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya. Kebebasan hakim tersebut tidak dapat diartikan bahwa hakim dapat melakukan dan kepentingan. maksudnya keterangan tersangka atau terdakwa hanya dapat dipergunakan bagi dirinya sendiri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 189 ayat (3) KUHAP. hakim ketua sidang menganjurkan untuk menjawab dan setelah itu pemeriksaan dilanjutkan”. karena dalam perundangundangan hukum acara pidana adanya suatu pengakuan terdakwa tidaklah dipergunakan sebagai alat bukti bahkan hanya menempati urutan terakhir sebagai alat bukti yang termuat dalam Pasal 184 ayat (1) KUHAP dengan penyebutan “keterangan terdakwa” bukan suatu “pengakuan terdakwa”. ketertiban pada sisi lain tanpa mengorbankan hak-hak asasi manusia demi mengejar kepentingan .

96

tindakan sewenang-wenang terhadap suatu perkara yang sedang ditanganinya, akan tetapi hakim tetap terikat pada peraturan hukum yang ada. Hakim berbeda dengan pejabat-pejabat yang lain, ia harus benar-benar menguasai hukum, bukan sekedar mengandalkan kejujuran dan kemauan baiknya. Masalah kebebasan hakim perlu dihubungkan dengan masalah bagaimana hakim dapat menemukan hukum berdasarkan keyakinannya dalam menangani suatu perkara. Kebebasan hakim dalam menemukan hukum tidaklah berarti ia menciptakan hukum. Tetapi untuk menemukan hukum, hakim dapat bercermin pada yurisprudensi dan pendapat ahli hukum terkenal yang biasa disebut dengan doktrin. Begitu juga dengan kebebasan hakim dalam menilai hak diam tersangka/terdakwa saat proses persidangan berlangsung. Hakim dalam menangani suatu perkara harus berpedoman pada asas-asas pemeriksaan perkara pidana. Salah satu asas yang terkait dengan rigts to remain silent ialah asas keseimbangan. Suatu prinsip yang menuntut keseimbangan yang serasi antara perlindungan terhadap harkat dan martabat manusia dengan perlindungan terhadap kepentingan dan ketertiban masyarakat. Hakim dalam melaksanakan fungsi dan wewenang penegakan hukum tidak boleh berorientasi kepada kekuasaan semata-mata, hakim harus menghindari tindakan-tindakan yang dapat menimbulkan pelanggaran HAM, seperti tidak menghargai rigts to remain silent tersangka/terdakwa. Untuk menjatuhkan pidana, hakim harus mendasarkan atas alat-alat bukti setidaknya dua alat bukti sah sehingga ia mendapat

97

keyakinan, suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan pelakunya adalah terdakwa, serta dia bersalah melakukannya (Pasal 183 KUHAP). Keterangan tersangka hanya salah satu dari lima jenis alat bukti dan tidak harus selalu ada atau diperlukan untuk membuktikan kesalahan terdakwa. Dalam praktik, penyidikan suatu perkara pidana maupun proses persidangan di pengadilan, pengakuan terdakwa tidak dijadikan alat bukti penting karena setiap saat dapat berubah di persidangan sesuai kemauan terdakwa. Bahkan, seandainya terdakwa bersikap diam sejak penyidikan sampai ke persidangan di pengadilan, tidak akan dapat memengaruhi hakim guna menghukum terdakwa jika alat-alat bukti lain telah terpenuhi secara sah dan meyakinkan.

Ada perbedaan terkait dengan hak untuk tidak menjawab dalam system peradilan Inggris dan Indinesia. Tabel 2 Perbedaan hak untuk tidak menjawab (Rights to remain silent) dalam Peradilan Inggris dan Indonesia NO INGGRIS INDONESIA 1. Menganut system Accusatoir Menganut yaitu menempatkan tersangka Inquisatoir pemeriksaan di muka sidang- sebagai sidang pengadilan subjek hokum yang memiliki tahap yang harus dilaindungi. pada system yaitu onjek pemeriksaan maupun tahap

dalam proses pendahuluan dan memempatkan tersangka sebagai pemeriksaan baik pada

hak (asasi) dan kepentingan pendahuluan

98

penmeriksaan di muka siding pengadilan. 2. Di Inggris tidak terdapat Di yang tegas Indonesia memang secara tidak konvensi-konvensi remain silent

mengatur mengenai Rights to

megatur tentang Rights to remain silent. Asas ini semata-mata adalah usaha untuk mencegah tindakan penyimpangan seperti penggunaan penyiksaan dalam proses penyidikan. (Pasal 52 dan 117 KUHAP)

3.

Proses

penuntutan ringan

bagi Di Indonesia rangkaian di penyelesaian peradilan atas tahapan. penyidikan penuntutan terdiri

perkara-perkara

Inggris dilakukan oleh Polisi pidana sendiri (Polise Prosecutor). beberapa

Sedangkan perkara yang agak Kekuasaan berat pengacara dilakukan yang disebut kekuasaan

oleh oleh lembaga kepolisian,

Solicitor. Dan perkara-perkara oleh lembaga penuntut yang berat disidangkan di umum atau kejaksaan, pengadilan banding) Barister. tinggi dengan (tingkat Kekuasaan penuntut oleh badan hakim oleh mengadili peradilan serta aparat

umum pengacara yang disebut atau

Kekuasaan pelaksanaan hukuman

Jadi. tersangka tidak dapat diikuti oleh . 5. The rights to remain silent The rights to remain 52 dan 117 dalam pertama kali dikodifikasi pada silent di akomodir dalam tahun 1912 dalam Judge’s Pasal Rules. mempunyai atau tidak suatu pilihan tidak Tersangka/terdakwa KUHAP. Di Indonesia karena proses dan tersangka menyebabkan di kepolisian tersangka bersikap dalam untuk penyelidikan menolak yang menjawab pertanyaan maka hal berpengaruh pertanyaan. Dalam apabila diam proses tersangka atau investigasi. Sedara tegas diatur apakah ia akan memberikan KUHAP memberikan fakta/keterangan dalam proses pemeriksaan. diinterogasi oleh Polisi. dan birokrasi lebih panjang penyidik tidak memaksa untuk sehingga menadapatkan keterangan dari penyidikan tersangka.99 pelaksana (jaksa dan eksekusi lembaga pemasyarakatan) 4.penyidikan tersebut apapun tidak hal ini diajukan. Right to remain silent tentu tidak membantu polisi dalam proses penyelidikan.

Keputusan ada di tangan Juri Keputusan ada di tangan hakim yang mempunyai yang memutus perkara yang kewenangnan memutus ditangani perkara Dalam system Common Law seperti di Inggris. System common law seperti di Tidak demikian dengan Inggris. sebelumnya. Bagian putusan hakim untuk mengikuti putusan hakim yang ada sebelumnya. masyarakat mengenal putusan peraturan mempunyai undangan. kebiasasn berdasarkan pengadilan adat istiadat atau Indonesia yang asas tidak ini.100 boleh bersikap diam. Bagian putusan hakim yang harus diikuti dan . yang pihak Pengadilan. memutuskan/ menilai sikap diam tersangka adalah Jury 6. Asas ini mewajibkan hakim untuk mengikuti putusan hakim yang ada. adat istiadat atau kebiasaan masyarakat (custom) yang dikembangkan berdasarkan putusan Pengadilan mempunyai kedudukan yang sangat kuat karena berlaku asas stare decisis atau asas binding force of precedent. (custom) yang dikembangkan Indonesia menggunakan perundang- kedudukan yang sangat kuat karena berlaku asas stare decisis atau asas binding force of precedent 7.

Tugas hakim hanya memastikan persidangan berjalan sesuai prosedur dan menjatuhkan hukuman sesuai hukum. Ada perbedaan antara keberlakuan hak diam (rights to tajam . Pada tahun 1994 telah terjadi perjadi pergeseran system accusator menjadi system hukum inquisitoir dalam hukum acara Pidana Inggris. Oleh karena itu. maka tugas hakim di pengadilan berat karena selain harus menentukan benar salahnya terdakwa juga menetapkan hukumannya. Karena tersangka berlindung dibalik kekebalan hukum yang diberikan oleh UndangUnadang antara lain hak untuk diam (right to remain silent).101 mengikat adalah bagian pertimbangan hukum yang disebut sebagai ratio decidendi sedangkan hal selebihnya yang disebut obiter dicta tidak mengikat. Berbeda dengan system civil law yang dianut Indonesia sebagai kelanjutan dari system hukum yang dianut Belanda. Dalam system peradilan Inggris benar salahnya terdakwa ditentukan oleh juri yang direkrut dari masyarakat biasa. Perubahan tersebut dilihat dari konteks keberadaan system hukum yang ada di dunia (civil law dan common law) ternyata saat bukan saatnya lagi memperbedakan secara perbedaan antara kedua system hukum tersebut. tugas jaksa dan pengacara dalam persidangan adalah meyakinkan juri bahwa terdakwa bersalah atau tidak. Hal ini dilatarbelakangi karena polisi Inggris kesulitan untuk mengungkap atau menyelesaikan berbagai kasus yang menimbulkan ancaman serius bagi masyrakat terutama terorisme.

untuk meyakinkan suatu peristiwa tersebut merupakan tindak pidana atau tidak maka dilakukan penyelidikan. Setelah peristiwa tersebut terbukti merupakan suatu tindak pidana. yang bertugas untuk mengetahui dan menentukan peristiwa apa yang telah terjadi dan bertugas membuat berita acara serta laporannya yang nantinya merupakan dasar permulaan penyidikan. penyidik akan menyusun BAP (Berita Acara Pemeriksaan) untuk kemudian melimpahkan BAP perkara tersebut ke Kejaksaan yang berwenang. Yang perlu digarisbawahi disini . Suatu proses penyelesaian peradilan dimulai dari adanya suatu peristiwa hukum. Di Indonesia. maka dilakukan penyidikan terhadap perkara tindak pidana tersebut. kewenangan untuk melakukan penyelidikan dan penyidik berada di tangan polisi. sebagaimana Pasal 4 KUHAP yang menyatakan bahwa petugas penyidik ialah setiap pejabat polisi Negara Republik Indonesia. Dengan demikian fungsi penyelidikan dilaksanakan sebelum dilakukan penyidikan. Di Indonesia rangkaian penyelesaian peradilan pidana terdiri atas beberapa tahapan.102 remain silent) tersangka/terdakwa dalam penyelesaian suatu perkara pidana di Indonesia yang menganut Civil Law System dengan Inggirs yang menganut Common Law System. Menurut KUHP diartikan bahwa penyelidikan adalah serangkaian tindakan untuk mencari dan menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana guna menentukan dapat atau tidak nya dilakukannya penyidikan (Pasal 1 butir lima KUHAP). perbedaan tersebut antara lain : Pertama. Setelah proses penyidikan selesai.

hal ini menyebabkan birokrasi lebih panjang sehingga di kepolisian .103 ialah bahwa dalam menangani perkara tindak pidana di Indonesia. Dalam hal ini yang membedakan antara Common Law System dengan Civil Law System ialah di Inggris seluruh jajaran kepolisian di wilayah dapat mengakses langsung ke Pengadilan terhadap perkara yang ia temukan. Kemudian. ada yang disebut dengan Hakim Wilayah. yang menentukan suatu perkara itu layak atau tidak layak untuk disidangkan ialah Jury. suara dari voting mayoritas inilah yang menentukan perkara tersebut layak atau tidak untuk disidangkan. Di Indonesia karena dalam proses penyelidikan dan penyidikan tersangka diinterogasi oleh Polisi. seluruh jajaran Polri berhenti di Kejaksaan. Jury yang teridiri dari 6 sampai 10 orang tersbut mengadakan voting untuk mengambil suara. yang memutuskan layak tidaknya suatu perkara disidangkan adalah Jaksa Penuntut Umum. Hal ini berarti. Sedangkan di Inggris. dalam penyelesaian perkara pidana. Kemudian Kejaksaan setelah meneliti BAP dari pihak kepolisian dan menyatakan kelengkapan BAP tersebut. hakim wilayah atau yang sering disebut dengan hakim distrik ialah seorang petugas pengadilan dari Pengadilan yang beertugas untuk menangani perkara dan memberikan putusan terhadap perkara tersbut dan tunduk pada batas yurisdiksi yang ditentukan. Kejaksaan melimpahkan perkara ke Pengadilan Negeri untuk kemudian diadakan pemeriksaan di pengadilan.

tersangka boleh bersikap diam. maka hal tersebut tidak berpengaruh apapun dan penyidik tidak memaksa untuk menadapatkan keterangan dari tersangka. selama masa penahanan tersebut tersangka diinterogasi oleh pihak kepolisian dan pada faktanya tersangka harus menjawab. sehingga keberadaan hak diam ini dinilai kurang dihargai dalam proses penyelesaian perkara pidana di Indonesia. kekerasan. .104 penyidikan tersangka tidak dapat diikuti oleh pihak Pengadilan sehingga apabila terdapat hal-hal yang tidak fair di kepolisian seperti tindak penekanan. pihak kepolisian harus melakukan investigasi terlebih dahulu untuk mencari data-data terkait tindak pidana yang terjadi. apabila tersangka bersikap diam atau menolak untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. hal tersebut sudah di luar area Kejaksaan dan Pengadilan sehingga pihak kepolisian mencari data selengkap-lengkapnya di tahap penyidikan. suap menyuap. ketika keterangan atau laporan terbukti cukup atau tidak cukup. Di Inggris. Jadi. Ketika tersangka diam atau tidak menjawab (Rights to Remain Silent) pihak kepolisisan seringkali memaksa untuk manjawab. Selain itu di Indonesia harus dilakukan upaya penangkapan atau penahanan. yang memutuskan/ menilai sikap diam tersangka adalah Jury. Dalam proses investigasi.

Hal demikian bisa dilihat dalam . maka penulis dapat mengambil simpulan tentang perbandingan sistem peradilan pidana antara Indonesia dan Inggris terkait hak untuk tidak menjawab (Rights to remain silent) oleh terdakwa. Simpulan Berdasarkan Dari serangkaian penelitian yang telah dilakukan. Adapun simpulan yang dapat diambil tersebut adalah : 1. Perbandingan pengaturan hak untuk tidak menjawab (Rights to remain silent) sistem peradilan pidana antara Indonesia (Civil Law) dan Inggris (Common Law) a. KUHAP secara tegas tidak mengatur asas the right si temain silent.105 BAB IV PENUTUP A.

Sedangkan Pasal 52 dan 117 KUAP. Di Inggris juga tidak ditemukan adanya asas the right to remain silent. terkait adanya asas ini adalah sebagai bentuk perlindungan Hukum terhadap terdakwa terkait tentang kepentingannya sebagai perlindungan hak asasi manusia. hakim harus menghindari tindakan- . b. Asas ini hanyalah merupakan kebiasaanatau adat istiadat hakim terdahulu. KUHAP tidak mengakui keberadaan asas the right to remain silent. yang melakukan proses hukum. dalam menghadapi proses hukum. Hukum Positif di Indonesia tidak mengatur asas the right to remain silent. sebagai bentuk perlindungan terhadap hak asasi manusia.106 ketentuan Pasal 175 KUHAP yang menyebutkan bahwa jika terdakwa tidak tidak mau menjawab atau menolak untuk menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya. Suatu prinsip yang menuntut keseimbangan yang serasi antara perlindungan terhadap harkat dan martabat manusia dengan perlindungan terhadap kepentingan dan ketertiban masyarakat. hakim ketua sidang menganjurkan untuk menjawab dan setelah itu pemeriksaan dilanjutkan. Hakim dalam melaksanakan fungsi dan wewenang penegakan hukum tidak boleh berorientasi kepada kekuasaan semata-mata. KUHAP hanya menyinggung masalah asas the right to remain silent dalam tahap pemeriksaan di persidangan.

seperti tidak menghargai rigts to remain silent tersangka/terdakwa. b. Persamaan dan perbedaan pengaturan hak untuk tidak menjawab (Rifhts to remain silent) oleh terdakwa antara sistem peradilan pidana Inggris dan Indonesia a. Dengan demikian semua proses penegakan hukum harus dilandasi oleh norma perlindungan hak asasi manusia pelaku.107 tindakan yang dapat menimbulkan pelanggaran HAM. (a) Menganut system Accusatoir yaitu menempatkan tersangka dalam proses pendahuluan dan pemeriksaan di muka sidangsidang pengadilan sebagai subjek hokum yang memiliki hak (asasi) dan kepentingan yang harus dilaindungi. Persamannya Asas the right to remain silent semata. Perbedaanya 1) Di Inggris. Dengan kedua asas tersebut maka pelaku tindak pidana ditempatkan tidak sekedar menjadi obyek pemeriksaan. 2.mata adalah usaha untuk mencegah tindakan menyimpang seperti penggunaan penyiksaan dalam proses penyidikan. (b) Di Inggris tidak terdapat konvensi-konvensi yang mengatur . Pada intinya dari sistem peradilan di Inggris dan Indonesia munculnya hak the right to remain silent sebagai bentuk perlindungan terhadap terdakwa. akan tetapi diperlakukan secara manusiawi.

Tersangka/terdakwa mempunyai suatu pilihan apakah ia akan memberikan atau tidak memberikan fakta/keterangan dalam proses pemeriksaan. adat istiadat atau kebiasasn masyarakat (custom) yang dikembangkan berdasarkan putusan pengadilan mempunyai kedudukan yang sangat kuat karena berlaku asas stare decisis atau asas binding force of precedent 2) Di Indonesia (a) Menganut system Inquisatoir yaitu memempatkan tersangka sebagai onjek pemeriksaan baik pada tahap pemeriksaan . Right to remain silent tentu tidak membantu polisi dalam proses penyelidikan. (d) The rights to remain silent pertama kali dikodifikasi pada tahun 1912 dalam Judge’s Rules. (e) Dalam proses investigasi. tersangka boleh bersikap diam. Dan perkara-perkara yang berat disidangkan di pengadilan tinggi (tingkat banding) dengan penuntut umum pengacara yang disebut Barister. yang memutuskan/ menilai sikap diam tersangka adalah Jury (f) System common law seperti di Inggris. Jadi. maka hal tersebut tidak berpengaruh apapun dan penyidik tidak memaksa untuk menadapatkan keterangan dari tersangka. apabila tersangka bersikap diam atau menolak untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Sedangkan perkara yang agak berat dilakukan oleh pengacara yang disebut Solicitor.108 mengenai Rights to remain silent (c) Proses penuntutan bagi perkara-perkara ringan di Inggris dilakukan oleh Polisi sendiri (Polise Prosecutor).

109 pendahuluan maupun pada tahap penmeriksaan di muka siding pengadilan. hal ini tersangka tidak dapat diikuti oleh pihak menyebabkan birokrasi lebih panjang sehingga di kepolisian . Asas ini semata-mata adalah usaha untuk mencegah tindakan penyimpangan seperti penggunaan penyiksaan dalam proses penyidikan. B. Saran Saran-saran yang penulis sampaikan adalah: 1. Indonesia menggunakan peraturan perundang-undangan. Sedara tegas tidak diatur dalam KUHAP (e) Di Indonesia karena dalam proses penyelidikan dan penyidikan penyidikan Pengadilan. (b) Di Indonesia secara tegas memang tidak megatur tentang Rights to remain silent. Kekuasaan mengadili oleh badan peradilan atau hakim serta Kekuasaan pelaksanaan hukuman oleh aparat pelaksana eksekusi (jaksa dan lembaga pemasyarakatan) (d) The rights to remain silent di akomodir dalam Pasal 52 dan 117 KUHAP. Dalam menerapkan proses penyidikan hendaknya menghargai tersangka diinterogasi oleh Polisi. (f) Tidak demikian dengan Indonesia yang tidak mengenal asas ini. Kekuasaan penyidikan oleh lembaga kepolisian. (Pasal 52 dan 117 KUHAP) (c) Di Indonesia rangkaian penyelesaian peradilan pidana terdiri atas beberapa tahapan. kekuasaan penuntutan oleh lembaga penuntut umum atau kejaksaan.

Untuk itu perlu ada pengaturan secara tegas dan terperinci di dalam rancangan KUHAP. Harus selalu diingat bahwa penegakan hukum selain harus memperhatikan hak-hak tersangka/terdakwa.110 prinsip-prinsip hak asasi manusia terkait hak-hak sebagai tersangka. . juga harus memperhatikan kepentingan pihak korban atau masyarakat yang telah dirugikan oleh perbuatan pelaku kejahatan tersebut. karena sering dijumpai tindakan kekerasan oleh kepolisian dalam melakukan penyidikan. Penggunaan asas to remain silent harus dilakukan secara bijaksana dan hati-hati agar tidak menjadi bumerang dalam penegakan hukum. sudah selayaknya kepolisian menyiapkan sumber daya manusia yang memahami dengan baik pengertian dan penerapan asas the right to remain silent. secara komprehensif. 3. Sehubungan dengan semakin gencarnya tuntutan peningkatan hak asasi manusia dalam penegakan hukum. Asas to remain silent merupakan perwujudan dari asas praduga tidak bersalah yang bersifat universal. Dengan pengaturan yang tegas diharapkan tidak ada keraguan dari para aparat penegak hukum untuk menjadikannya sebagai pedoman dalam pelaksanaan penegakan hukum. 4. 2. dan salah satu diantara tuntutan itu berkenaan dengan kualitas penegakan asas the right to remain silent.

Malang: Bayumedia Publishing. Andi Hamzah. Bandung: PT. Yogyakarta: Amarta Buku. Moch. Edisi Revisi. Faisal salam. Hukum Acara Pidana Indonesia. Yahya Harahap. 2001. Jakarta: PT Pradnya M. Lexy J. 2002. Pengantar Hukum Acara Pidana Indonesia. Tindak Pidana. Pengantar Ilmu Hukum. ____________.111 DAFTAR PUSTAKA Adami Chazawi. Edisi Revisi. Hukum Acara Pidana Indonesia. Pembahasan Permasalahan Dan Penerapan KUHAP (Ruang lingkup pemeriksaan Terdakwa). . Bandung: Mandar Maju. 2009. Jakarta : Sinar Grafika. Jakarta. 1990. 2002. 1988. 1998. Hukum Acara Pidana dalam Teori dan Praktik. Jakarta: PT. Jakarta: Sinar Grafika ____________. Citra Aditya Bakti. Jakarta: Sinar Grafika. Bambang Poernomo. 2005. L. Perbandingan Hukum Pidana. Barda Nawai Arief. Teori-Teori Pemidanaan dan Batas Berlakunya Hukum Pidana). Moleong. 2003. 1998. Teori Dan Metodologi Penelitian Hukum Normatif. RajaGrafindo Persada. Jakarta: Rineka Cipta. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Johnny Ibrahim. KUHP dan KUHAP. Pelajaran Hukum Pidana Bagian I (Stelsel pidana. Kapita Selekta Hukum Pidana. Jakarta: Ghalia Indonesia. 2002.J Van Apeldorn. 1999. 2006. Metodologi Penelitian Kualitatif. Orientasi Hukum Acara Pidana. Rajawali Pers ___________. Barda Nawawi Arief.

2008. Bandung: Alumni Vide Indriyanto Seno Adji. Penyiksaan dan Hak. SH. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. http://www. 1998. Susanto.Hak Asasi Manusia dalam KUHAP.1990. Penyiksaan Tersangka dan Antisipasi Perlaindungan HAM. . Bandung: PT Refika Aditama. Bandung: PT Refika Aditama. Otje Salman dan Anton F. Pengantar Penelitian Ilmiah. 2006. Peter Mahmud Marzuki.Hak Asasi Manusia dalam Perspektif KUHAP. Konsep dan Implikasinya dalam Perspektif Hukum dan Masyarakat).html. Perbandingan Hukum Pidana. Penguak Hak. M Sofyan Lubis. Sistem Peradilan Pidana Perbandingan Antara Inggris dan Indonesia. Miranda Rule dalam KUHAP. Penelitian Hukum. Jakarta: Sinar Harapan. Roslan Saleh. Bandung: Mandar Maju. Jakarta: Sinar Harapan. 1989. Semarang. Unisula Muladi. Winarno Surakhmad. 2000.112 Moch. Yuliandi. 1998. Yogyakarta: Transito. Perundang-Undangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) atau Undang-Undang Nomor 8 tahun 1981 Undang-Undang Dasar Tahun 1945 (UUD 1945) Batang Tubuh Undang-Undang Dasar Tahun 1945 Undang-Undang Nomor 48 tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman Internet Indriyanto Seno Adji. Sutrisno Hadi.hamline. Mengumpulkan dan Membuka kembali). Romli Atmasasmita. Metodologi Penelitian Hukum. Hak Asasi Manusia (Hakekat. 2005.edu/apakabar/basisdata/1996/11/08/0015. 2005. Teori Hukum (Mengingat.

00] Zaenal Arifin. pukul 14. SH. pukul 12.00]. http://www.org/? q=logika+hukum+Asas+praduga+tak+bersalah %3A+Reaksi+atas+Paradigma+Individualistik> [ 1 Mei 2010.20] Romli Atmasasmita. . Logika Hukum Asas Praduga Tidak Bersalah: Reaksi atas Paradigma Individualistik.com/read/2008/08/21/91222/77/68/11/mengenai dakwaan batal demi hukum [13 April 2010 pukul 14.legalitas.113 http://www. MSi.legalitas. Mengenai Dakwaan Batal Demi Hukum. http://mediaindonesia.org/?q=miranda +rules +dalam +kuhap > [ 30 April 2010.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful