P. 1
Belanja Daerah

Belanja Daerah

|Views: 257|Likes:
Published by Hario Akhmad Rifai

More info:

Published by: Hario Akhmad Rifai on Jun 21, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/10/2014

pdf

text

original

Belanja Daerah Dana Alokasi Umum (DAU) adalah sejumlah dana yang dialokasikan kepada setiap Daerah Otonom

(provinsi/kabupaten/kota) di Indonesia setiap tahunnya sebagai dana pembangunan. DAU merupakan salah satu komponen belanja pada APBN, dan menjadi salah satu komponen pendapatan pada APBD. Tujuan DAU adalah sebagai pemerataan kemampuan keuangan antardaerah untuk mendanai kebutuhan Daerah Otonom dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. Dana Alokasi Umum terdiri dari:
1. Dana Alokasi Umum untuk Daerah Provinsi 2. Dana Alokasi Umum untuk Daerah Kabupaten/Kota

Jumlah Dana Alokasi Umum setiap tahun ditentukan berdasarkan Keputusan Presiden. Setiap provinsi/kabupaten/kota menerima DAU dengan besaran yang tidak sama, dan ini diatur secara mendetail dalam Peraturan Pemerintah. Besaran DAU dihitung menggunakan rumus/formulasi statistik yang kompleks, antara lain dengan variabel jumlah penduduk dan luas wilayah. Point-point penting untuk pembahasan dalam Panja: 1. Berapa jumlah yang harus diberikan ke suatu daerah? Ini adalah pertanyaan terpenting yang untuk menjawabnya kita harus mulai dengan pendekatan “pembiayaan yang mengacu pada beban fungsi” (finance follows function). Pada esensinya, prinsip ini mengatakan bahwa pendekatan kebijakan alokasi fiskal harus dimulai dari penilaian terhadap fungsi-fungsi yang dijalankan oleh daerah. Dari penilaian itu, ditemukanlah total beban anggaran yang harus dipikul oleh daerah. Dari perkiraan beban anggaran tersebut kemudian dibuat kebutuhan jumlah uang yang perlu diberikan kepada daerah (untuk menjalankan fungsi–fungsi tersebut). Tentu saja, setelah memperhitungkan sumbersumber finansial yang dimiliki oleh daerah.
2. Ada dua faktor utama yang menentukan besarnya transfer dari

pemerintah pusat ke pemerintah daerah. Faktor pertama adalah faktor beban fungsi yang merupakan sisi kebutuhan daerah (needs). Faktor kedua adalah faktor kemampuan finansial daerah yang adalah kemampuan dasar dalam membiayai fungsi (revenue capacity). 3. Sistem alokasi DAU sejauh mungkin harus mengacu pada tujuan pemberian alokasi

kemampuan daerah dalam melayani masyarakat. Perlu diingat bahwa UU telah mencantumkan secara eksplisit beberapa hal yang menjadi tujuan yang ingin dicapai lewat program desentralisasi. alokasi DAU mampu mengurangi dampak negatif dari eksternalitas negatif yang ditimbulkan oleh daerah sekitarnya. masalah pembobotan variabel penentu alokasi DAU. keadilan/pemerataan. DAU menyumbang pada stimulasi ekonomi daerah lewat efeknya terhadap perbaikan efisiensi produksi. alokasi DAU bisa didesain sedemikian rupa dikaitkan dengan upaya peningkatan PAD dan Bagi Hasil sehingga upaya penerimaan pajak. Bila ini terjadi. lewat alokasi DAU maka daerah-daerah yang kekurangan modal akan bisa terbantu. ada empat isu pokok penting yang perlu diklarifikasi berkaitan dengan perhitungan alokasi DAU untuk tiap daerah. pengertian dan pengukuran kebutuhan. Sistem alokasi DAU bukan pula semata-mata ditujukan untuk pencapaian keadilan/pemerataan. Artinya. misalnya. Namun. Maka sudah selayaknyalah alokasi DAU ditujukan untuk membiayai sebagian dari: (1) beban fungsi yang dijalankan. Pertama. Ketiga. pengertian dan pengukuran potensi ekonomi. peningkatan demokrasi. Ketiga. maka dalam formula . Lewat alokasi DAU. Ketiga. Keempat. Dengan demikian jelas terlihat bahwa sistem alokasi DAU bukanlah semata-mata ditujukan untuk pembiayaan pelayanan jasapublik. Bila ini terjadi maka DAU sebenarnya menyumbang pada penciptaan efisiensi alokasi yang pada gilirannya akan membantu stimulasi ekonomi daerah. Kedua. Efek DAU dengan demikian adalah membantu menciptakan kombinasi input produksi yang lebih optimal. stimulasi ekonomi daerah. (2) hal-hal yang merupakan prioritas dan target-target nasional yang harus dicapai. Pertama. retribusi dan bagi hasil menjadi semakin meningkat. Pertama. Pertama. Terakhir ada beberapa pelajaran sangat penting yang dapat ditarik untuk kepentingan alokasi DAU di Indonesia.sebagaimana dimaksudkan dalam UU. Karena sewaktu-waktu tujuan tersebut dapat berubah (karena alasan ekonomi atau politik). 5. bantuan DAU harus memiliki tujuan yang jelas dan tercermin dalam formula alokasinya. lebih luas dari itu. Kedua. bagaimana secara baik memasukkan elemen insentif kedalam sistem alokasi. Keempat. DAU menyumbang pada mobilisasi sumberdaya keuangan 4.Bekasi dapat dikurangi. kemampuan daerah Bekasi dalam membangun jalan akan dapat ditingkatkan sehingga dampak negatif dari kemacetan lalu lintas di perbatasan Jakarta. Secara teoritis. DAU yang diterima daerah mampu menstimulasi ekonomi daerah lewat tiga cara. Mengacu pada prinsip-prinsip diatas dan juga mengacu pada UU. Kedua.

alokasi tersebut. Selain mencari solusi jangka panjang misalnya pengubahan persyaratan Pasal 41 ini. harus terdapat faktor-faktor yang dapat mencerminkan perubahan kondisi Kedua. Pemetaan potensi-potensi secara terintegrasi perlu dilakukan untuk dijadikan acuan pembagian dana pusat. Penekanan pada strategi nasional dan bukan strategi daerah sangat diperlukan untuk menjamin keoptimalan alokasi anggaran ke daerah-daerah dan tidak terlalu terhanyut pada aspirasi tiap daerah. (3) kebutuhan daerah yang sejalan dengan kebutuhan nasional DANA ALOKASI KHUSUS 1. Kriteria ini tentu saja tidak menjamin bahwa alokasi anggaran ke daerah-daerah akan optimal dalam rangka mendorong kemajuan ekonomi nasional secara bersama-sama. Lokasi-lokasi tertentu perlu mendapat perhatian khusus secara finansial. Dalam prakteknya. Hal ini perlu ditinjau kembali. Dalam UU No. (2) perilaku daerah atas setiap kebutuhan daerah. termasuk DAK. mestinya pemerintah pusat lebih banyak menggunakan kemungkinan dispensasi seperti yang diatur dalam pasal 41 ayat 3: daerah dengan kemampuan fiskal tertentu tidak diwajibkan menyediakan Dana Pendamping. banyak daerah mengeluh berkesulitan dalam menyediakan Dana Pendamping 10% ini. 2. pemerintah menetapkan kriteria umum (Kemampuan keuangan daerah ybs). misalnya lokasi yang layak untuk dikembangkan menjadi gerbang ekonomi karena adanya pelabuhan laut atau aglomerasi industri yang layak dikembangkan untuk dijadikan gerbang ke negara-negara lain. kriteria khusus (peraturan perundang-undangan dan karakteristik daerah) dan kriteria teknis (ditetapkan oleh kementerian negara atau kementerian teknis). Pembagian dana pusat yang cenderung merata secara nominal harus dihindari karena tidak optimal. 33 tahun 2004 Pasal 41 ayat 1 dan 2 disebutkan bahwa daerah penerima DAK wajib menyediakan Dana Pendamping dalam APBD sekurang-kurangnya 10% dari alokasi DAK. Dalam pasal 40 UU ini diatur bahwa sebagai dasar penentuan alokasi. Berdasarkan UU No. terdapat perbedaan mendasar antara estimasi kebutuhan anggaran dan kapasitas fiskal. Pada dasarnya estimasi kebutuhan anggaran harus dapat mencerminkan paling tidak tiga hal: (1) kebutuhan pokok yang menjadi standar daerah. Dana Alokasi Khusus (DAK) adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada Daerah tertentu dengan tujuan untuk membantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan Daerah dan sesuai dengan prioritas nasional. 33 tahun 2004. Alokasi yang optimal adalah bila . Akibatnya banyak kasus dimana daerah tidak bisa memanfaatkan DAK tertentu.

8 80. Ini menunjukkan adanya penurunan dari waktu ke waktu.49. shg DAU yg diterima minimal sama dgn tahun sebelumnya.800. Dalam tabel V.59.2 1.14 tersebut dipaparkan bahwa Indeks Williamson tahun 2006. Dana Penyesuaian APBN-P 2010 Tunjangan 5. DANA PENYESUAIAN • Keberadaan Dana Penyesuaian pd awalnya sebagai penyeimbang bagi daerah yg memiliki DAU lebih kecil dr tahun sebelumnya.3.387. Dana Insentif Daerah 5. bukan hanya Biak saja.0 RAPBN 2011 17.2 dan 0.48 dan 0. 0. Dalam Bab V Nota Keuangan 2011. Bantuan Operasional Sekolah (BOS) 3. perbaikan distribusi pendapatan antar daerah digambarkan melalui penghitungan angka Indeks Williamson (tabel V. Pengalokasian Dana penyesuaian jg menampung program tertentu utk jangka waktu tertentu (ad hoc) dgn nomenklatur yg berganti-ganti hingga tahun 2010.0 3.2 32. Dana Tambahan Penghasilan Guru PNSD 4.0 16. Dana Tambahan Profesi Guru 2. Kurang Bayar DAK 2008 6. Pemerintah setiap tahun perlu memaparkan analisis dampak pembagian Dana Pusat ke daerah termasuk DAK pada perbaikan distribusi pendapatan antar daerah. dsb antar regio.696. Kurang Bayar DISP 2008 . Indeks ini secara teoretis akan berada di antara 0 dan 1. 2008 dan 2009 di negara kita berturut-turut 0.47. 3.didasarkan pada potensi yang ada di tiap daerah yang mendukung kemajuan bersama seluruh daerah.149.0 1. 0.8 - 1. perlu dimunculkan berbagai skor lain yang melengkapi gambaran tentang dampak atau keberhasilan alokasi keuangan negara dalam memperbaiki perbedaan tingkat ekonomi. Selain indeks Williamson. semakin buruk distribusi pendapatan antar regio. pengembangan pelabuhan yang modern di daerah Biak akan menjadi lokomotif kemajuan seluruh daerah di sekitarnya. Namun prinsip nonhold harmles ini telah dihapuskan thn 2009. Sebagai contoh. tingkat ketersediaan fasilitas ekonomi.812.14). 2007.387. Semakin tinggi angka indeks Williamson. Namun angka-angka tersebut masih sangat tinggi jika dibandingkan dengan indeks yang sama di negara-negara lain yang cenderung berada pada kisaran 0.

0 atau 0.045. 39. dan UU Nomor 39 Tahun 2007 tentang Perubahan UU Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai.100.0 Fiskal & percepatan pembangunan daerah 8.250. Pada tahun 2010 besar Dana Penyesuain Rp. Sumber-sumber penerimaan negara yang berasal dari daerah dibagi antara Pemerintah . Kebijakan pelaksanaan alokasi DBH tahun 2011 mengacu kepada ketentuan-ketentuan yang diatur dalam UU Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. Meskipun demikian dpt terlihat bahwa alokasi Dana Penyesuaian pada tahun 2011 ini lagi-lagi dipergunakan bagi kebutuhan PNSD dan turunannya. serta PP Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan.3% dr PDB dan mengalami peningkatan pada 2011 sebesar Rp.045.21.500. Padahal kebutuhan infrastruktur hanya mampu dicukupi oleh APBN sebesar 30% saja. Dan mengingat begitu besarnya kebutuhan PNSD yg harus ditanggung APBN.0 39. padahal alokasi untuk kebutuhan birokrasi PNSD ini sudah menyerap hampir 80% alokasi DAU nasional sehingga nyaris sedikit sekali bagian DAU yg dpt dipergunakan utk kebutuhan yg lain yg lebih berdaya kembang (multiplier effect) seperti infrastruktur dan kebutuhan yang bersifat ‘modal’. Karena makin besarnya alokasi Dana Penyesuaian setiap tahunnya. Dana percepatan pembangunan 1. naik hampir 2x lipat.150.0 atau 0. maka perlu dilakukan kajian mengenai kualitas PNSD dan dampaknya terhadap pembangunan. DBH adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN. maka perlu disusun kriteria yg lebih jelas bagi peruntukan Dana Penyesuaian ini sehingga tdk tumpang tindih dengan alokasi belanja yg sudah dicover pada alokasi sumber Dana yg lain.0 infrastruktur pendidikan (DPPIP) TOTAL 21.6% dr PDB. Dana penguatan infrastruktur & 5.150. dan evaluasi mengenai hal ini harus terus menerus dilakukan.0 Dari tahun ke tahun jumlah anggaran Dana Penyesuaian mengalami peningkatan dengan alokasi yang berubah-ubah. UU Nomor 35 Tahun 2008 tentang Penetapan Perpu Nomor 1 Tahun 2008 tentang Perubahan atas UU Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua menjadi Undang-undang. Dana Penguatan Desentralisasi 7. yang dialokasikan kepada daerah berdasarkan persentase tertentu untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi.0 prasarana daerah 9.• 7. UU Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh.

Jumlah tersebut berarti secara nominal lebih rendah Rp7. Kehutanan dan Perikanan. serta lebih rendahnya alokasi DBH SDA terutama karena menurunnya target penerimaan minyak bumi dan gas bumi yang dibagihasilkan. Formula DBH menjadi makin kompleks lagi karena pemberlakuan formula yang berbeda untuk daerah-daerah dengan fasilitas otonomi khusus. Formula alokasi DBH saat ini terlalu komplek dan kurang memiliki landasan yang kuat.4 persen dan alokasi DBH SDA sebesar 50. Sedangkan untuk Pertambangan. DBH terdiri dari DBH Pajak dan DBH Sumber Daya Alam (SDA). PPN. alokasi DBH direncanakan mencapai Rp82. nilai yang dibagihasilkan pada dasarnya ada dua jenis. atau 1. dan semenjak ditetapkan rumusan alokasi ini pada tahun 2001. Rumusan bagi hasil untuk setiap jenis pajak dan juga penerimaan sumber daya alam sangat bervariasi satu dengan yang lain. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam dan Papua. Catatan : 1.6 persen. karena hal ini sering membingungkan daerah. . Dasar penetapan untuk bagi hasil harus dijelaskan lebih jelas kepada daerah. Dalam RAPBN 2011. Penurunan DBH dalam RAPBN 2011 tersebut disebabkan oleh lebih rendahnya alokasi DBH Pajak karena adanya pengalihan BPHTB menjadi pajak kabupaten/kota. Dana bagi hasil minyak dan gas bumi kepada daerah didasarkan pada nilai net‐operating income setelah dikurangi berbagai jenis pajak (PPh. misalnya pembangunan lapangan udara pada lokasi yang berdekatan dengan anggaran berbeda. dengan formula yang berbeda untuk minyak bumi dan gas alam. bahkan terkadang terjadi tumpang tindih program kegiatan antara Provinsi dan Kabupaten/Kota.4 persen terhadap PDB. tidak ada argumentasi yang jelas tentang formula bagi hasil tersebut. Diperlukan koordinasi yang jelas pada setiap program yang sama dan berdekatan antara provinsi dan kabupaten kota. Berdasarkan jenis penerimaannya.5 persen dari alokasi DBH dalam APBN-P tahun 2010 sebesar Rp89. 2.6 triliun. dengan proporsi yang lebih besar bagi daerah penghasil.dan daerah dengan prinsip by origin.6 triliun atau 8. dan PBB) . 3. Pemanfaatan DBH juga ditengarai belum jelas di daerah. serta memperhitungkan porsi pemerataan di wilayah provinsi yang bersangkutan.0 triliun. yaitu dari provinsi dan yang satunya dari kabupaten. Alokasi DBH tahun 2011 tersebut terdiri dari alokasi DBH Pajak sebesar 49. yaitu biaya sewa perijinan usaha dan royalti untuk produksi yang dihasilkan.

bagaimana pemerintah dengan instrument APBD dapat merangsang peningkatan aktivitas perekonomian di daerah-daerah dengan DBH rendah? Pemerintah perlu mengalokasikan secara khusus pos pendanaan untuk menunjang pembangunan perekonomian daerah. dimana nilai yang disalurkan pada 3 kuartal pertama adalah nilai yang didasarkan kepada angka yang disepakati di APBN. dikarenakan target lifting pada RAPBN 2011 sebesar 0. Mekanisme penyaluran DBH di daerah juga harus diatur agar tidak terjadi keterlambatan penyaluran DBH ke daerah.4.5 persen dari alokasi DBH dalam APBN-P tahun 2010 sebesar Rp89. dana bagi hasil minyak Bojonegoro. namun kemudian turun surat lagi dari Departemen Keuangan. 5. Anggaran DBH dalam RAPBN 2011 sebesar Rp82. Seharusnya penyaluran dilakukan pada setiap akhir kuartal. Namun setelah itu.0 triliun. ." katanya seraya menambahkan. "Karena ketidakjelasan itu. sedangkan nilai yang disalurkan pada kuartal terakhir sudah memperhitungkan berbagai penyesuaian terhadap realisasi yang terjadi.970juta barel/ hari lebih besar dari APBN-P 2010 sebesar 0. 6. Semula Bojonegoro mendapat pemberitahuan surat dana bagi hasil minyak sebesar Rp102 miliar. khususnya untuk DBH yang berasal dari sumber daya alam.965 juta barel/ hari. pada 2008 yang seharusnya Rp20 miliar. yang diterima baru Rp14 miliar. mengakibatkan pemerintah kabupaten (pemkab) mengalami masalah gagal bayar. seharusnya tidak turun 8. dana bagi hasil minyak Bojonegoro. hanya Rp62 miliar. Contohnya dana bagi hasil migas daerah penghasil Bojonegoro dari blok Cepu oduksi minyak di Bojonegoro selama 2009 naik.6 triliun. khususnya yang ber-DBH kecil. Jumlah yang bisa dibagihasilkan untuk realisasi minyak dan gas bumi adalah maksimum 130% dari harga asumsi awal di APBN." katanya. Menurutnya. dana bagi hasil minyak yang diterima Bojonegoro 2009 hanya Rp37 miliar. turun surat dari Departemen Keuangan. Sementara itu. Adanya kejelasan dalam penyaluran DBH serta transparansi dalam perhitungan DBH khususnya migas. "Ini setelah dilakukan revisi. 7. dengan adanya surat tersebut akhirnya Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) memasukkan perolehan dana bagi hasil minyak itu. namun pada kenyataannya dana bagi hasil yang diterima malah turun. Terkait Dana Bagi Hasil.

000 3. Jika Pemerintah Aceh mendapatkan alokasi Dana Otsus pada tahun 2008.59 T.000 2.24% dan pada tahun 2009 hanya berkisar 22.437. 0 8 . 0 2 .000 5. Hal ini karena masih terkendala pada perbedaan pemahaman mengenai pengelolaan Dana OtSus antara Pemerintah Aceh & Pemerintah Kab/Kota • 10 0 . 0 5 . 0 0 .71% (per • .849.000 1. transfer dana otsus ke Aceh telah mencapai 100%. namun berdasar data Pemerintah Aceh penyerapan pada tahun 2008 berkisar 67. 0 1 . Miliar Rupiah 6. 3. Penerimaan Otsus merupakan porsi hampir 50% dari Total Penerimaan Pemerintah Aceh. pemerintah Kab/Kota belum memperoleh alokasi dana otsus yg pada tahun 2008 alokasi OtSus untuk Aceh adalah Rp. 0 6 .000 4. n u l i r T h p R 9 . 0 7 . 0 28 0 0 29 0 0 2 6 % 3 5 % Baa en l j Sa ip l 1 4 % 20 0* 1 Berdasarkan data DJPK. maka pada tahun 2008. 0 4 .4 • Dasar Hukum Otonomi Khusus Aceh adalah UU No 11 Tahun 2006 Tentang Pemerintahan Aceh dan Qanun Aceh No 2 Tahun 2008 Tentang Tata Cara Pengalokasian Tambahan Dana Bagi Hasil Minyak & Gas dan Penggunaan Dana Otonomi Khusus.OTSUS ACEH Otsus Aceh APBN P 2010 3.000 1999 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Others Lainnya INPRES/DAK INPRES/DAK Non -tax Revenue Sharing DBH SDA Own Source Revenue PAD Special Autonomy Fund Dana Otsus SDO/DAU SDO/DAU DBH Pajak Tax Revenue Sharing Pada tahun 2008 Penerimaan Pemerintah Aceh mulai memperoleh alokasi Dana Otsus. 0 3 .8 RAPBN 2011 4.

maka terhadap anggaran yg tdk dapat direalisasikan baik dari kegiatan yg tdk dapat dilaksanakan maupun sisa tender yg berasal dr dana otsus Kab/Kota akan menjadi sisa perhitungan APBA yg selanjutnya akan dialokasikan pada program dan kegiatan prioritas Pemerintah Provinsi tidak dialokasikan kembali pada masing-masing Kab/Kota yg menghasilkan SILPA.53% dan sedikit menurun pada 2009.biro admin pemb. hal 35) Dimana ketentuan berlaku membatasi akses Kabupaten/Kota terhadap penggunaan dana otsus yg tidak terserap. Pengurangan jumlah penganggur adalah salah satu faktor yang diharapkan dengan telah dialokasikannya dana OtSus. Hal ini menjadi sgt mungkin karena peruntukan dana otsus salah satunya adalah anggaran kemiskinan. Indeks Pembangunan Manusia untuk Nanggroe Aceh Darussalam tetap rendah pada saat sudah mendapatkan alokasi dana otsus. (sebagai catatan bencana tsunami terjadi pada Desember 2005). Pada tahun 2008 ketika penyerapan otsus sudah mencapai 62. tingkat kemiskinan pada tahun 2004 pada kisaran 28. IPM Aceh pada ranking 17.76%.35 lebih rendah dibanding ratarata nasional yang sebesar 72.5%. Dengan maksimalisasi dana Otsus diharap angka tingkat kemiskinan bisa berada dibawah rata-rata nasional. Berdasar ketentuan yang berlaku. . angkanya makin besar).34% IPM Aceh justru turun menjadi 70. Pada level nasional. Di Aceh.Aceh 2009. dan menurun pada 2009 yaitu sebesar 22%. Hal ini merupakan kerugian bagi Pemerintah Kabupaten/Kota.80%.sept) dan 87% (per nop). • Angka Partisipasi Pendidikan NAD pada saat dana otsus sudah diberikan juga relatif tetap. dan alokasi Otsus terhadap Total Penerimaan adalah kurang lebih 50%.5%. Meskipun demikian. Artinya dana otsus tidak relevan terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat. padahal diharapkan mengalami peningkatan. Indeks keparahan kemiskinan masih di angka 4. yaitu sebesar 21.46 (makin buruk. angka ini masih diatas rata-rata nasional. padahal sempat berada dibawah rata rata nasional pada tahun 2004. Pengangguran Aceh masih berada diatas rata-rata nasional pada tahun di kurun 2005-2008. (lap. Jumlah penduduk miskin pada tahun 2008 sebesar 23. dan tetap pada posisi tersebut pada 1 tahun setelahnya di 2008. Pem. • • IPM Aceh pada tahun 2007 adalah 70. Kemiskinan masih menjadi agenda Aceh. dan berada pada peringkat 17 pada skala nasional. Penyerapan dana otsus yang maksimal diharapkan akan menurunkan lebih banyak lagi angka kemiskinan di Aceh.

Pembagian lebih lanjut antara propinsi. Menurut Kab (Delegasi & Tanggungjawab di Kab). dgn memberikan perhatian khusus pada daerah-daerah yang tertinggal. Disisi lain baik pemerintah Aceh maupun Pemerintah Kabupaten/Kota memerlukan sejumlah anggaran yang dapat dipergunakan untuk memenuhi tujuan pembangunan di Aceh. Mempersiapkan Petunjuk Pelaksanaan. pengangguran.Harapan tersebut dikarenakan salah satu peruntukan adalah untuk menaikkan partisipasi pendidikan masyarakat • Pelaksanaan Otsus masih terjadi Multi Tafsir antara prop & Kab. maka pelaksanaan program dan kegiatan dana Otsus tidak relevan terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat yg ditunjukkan pada angka-angka indikator kemiskinan. kota. Tim Koordinasi tersebut terdiri dari : Unsusr Pemerintah Aceh. Padahal komposisi dana ini cukup besar terhadap total penerimaan. secara adil dan berimbang dengan Perdasus. Tenaga Ahli Yg Relevan. besarnya setara 2% dr pagu DAU Nasional. .2 Tahun 2008 Tentang Tata Cara Pengalokasian Tambahan Dana Bagi Hasil Minyak dan Gas Bumi dan Penggunaan Dana Otonomi Khusus terdiri dari Pemerintah Aceh.Multi Tafsir mengenai wewenang pelaksanaan dan pertanggungjawaban Dana Otsus antara Pemerintah Aceh dan Pemerintah Kab/Kota menjadi kendala utama bagi terlaksananya seluruh program dan kegiatan yang didanai oleh Anggaran otsus . Tim koordinasi Otsus saat ini sedang mempersiapkan : Penyesuaian kembali Formula pengalokasian dana masing-masing Kabupaten/Kota. pemerintah Aceh dapat dibantu oleh Tim Koordinasi TDBH Migas & Otsus. terutama ditujukan untuk pembiayaan pendidikan & kesehatan. partisipasi pendidikan.Dampak dari permasalahan tersebut adalah kurang berjalannya program/kegiatan dengan basis Dana Otsus yang tercermin pada penyerapan anggaran yang rendah . maka pelaksanaan & pertanggungjawaban SKPA). • Berdasar Qanun Aceh No. pasal 12 ayat (8) menyebutkan bahwa dalam melaksanakan tugas. dan IPM (Indeks Pembangunan Manusia). Menyusun Rencana Induk Pembangunan yang bersumber dari TDBH Migas dan Dana Ot Sus. kabupaten. OTSUS PAPUA & PAPUA BARAT • Sesuai dgn UU No. Pemerintah Kabupaten/Kota. Mempersiapkan Petunjuk Teknis • Akibat konflik perbedaan pendapat tersebut. berlaku selama 20 tahun. 21 Tahun 2001. Pasal 183 ayat (4) : menurut Prop (program mrpkn bagian APBA.

118.80 (100%) • Papua mendapatkan dana otsus semenjak tahun 2002. Maka diterbitkan Keputusan Bersama Menteri Keuangan & Menteri Dalam Negeri No. Dan selanjutnya hingga 2009 realisasi dana otsus Papua mencapai 100% Papua Barat memperoleh alokasi otsus semenjak 2009. Pada tahun pertama tersebut realisasi dana otsus Papua sudah mencapai 85%. Daerah Papua Barat 2006 2007 2008 2009 1.484. dan Kota di Papua.600.48 (100%) • • 2010 3.913. 18 Tahun 2003 dan No.045..• Sampai dengan 2005.70 (100%) 3. Kabupaten. 160a/KMK.920.9 6 (100%) 1. Sesuai UU Nomor 41 Tahun 2008 tentang APBN Tahun Anggaran 2009 dan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 205/PMK. Realisasi pada tahun pertama telah mencapai 100%.718. Tambahan Infrastruktur a. dgn belum terbentuknya MRP yg menetapkan Perdasus sbg dasar pembagian dana Otsus antara Provinsi Papua.30 (100%) 4.1.079.07/2008.494.9 4 2011 Papua 2. alokasi Dana Otonomi Khusus Provinsi Papua Barat Tahun Anggaran 2009 sebesar Rp.754. Papua 2007 2008 2009 2010 2011 • 750 M 330 M 800 M 800 M .02/2003 tentang Penyaluran Dana Otonomi Khusus Dalam Rangka Pelaksanaan Otonomi Khusus Provinsi Papua Dengan ditetapkannya Undang Undang Nomor 35 Tahun 2008 mulai Tahun 2009 Dana Otsus Papua (2% DAU Nasional) dialokasikan kepada Provinsi Papua Barat dengan proporsi 70% Provinsi Papua dan 30% Propinsi Papua Barat.(30% x 2% DAU Nasional) digunakan terutama untuk pendanaan dalam bidang pendidikan dan kesehatan.14 (100%) 4.000.

Untuk Propinsi Papua.6 0 43. papua & papua barat mendapatkan dana tambahan otsus infrastruktur mulai tahun 2008. Realisai dana OtSus menurut DJPK adalah baik. yang peruntukkannya justru salah satu untuk meningkatkan partisipasi pendidikan masyarakat. Berdasar data depkeu DJPK realisasi untuk dana tambahan infrastruktur ini mencapai 100% kecuali untuk tahun Anggaran 2010.100% b. 2006 2007 SMP SM SD SMP SM 2008 SD SMP SM Provinsi SD Papu a Bara t Papu a • 88. baik di Prop Papua maupun Papua Barat.7 6 48.3 1 33.9 2 48. angka partisipasi pendidikan juga justru terus mengalami penurunan.2 3 Angka Partisipasi pendidikan di Papua Barat justru mengalami penurunan pada saat mendapatkan alokasi otsus. namun indikator peningkatan kesejahteraan tidak menunjukkan arah yang sama.9 4 47.9 0 54. IPM untuk Papua bahkan yang paling rendah untuk skala nasional. • • . yaitu stabil pada posisi 33 di tahun 2007 dan 2008. Indikator kesejahteraan Masyarakat tidak berbanding lurus dengan besaran dana otonomi khusus yang telah dialokasikan ke Papua & Papua Barat.1 6 35.6 7 80.4 7 48.1 6 78.2 0 82. padahal alokasi otsus tiap tahun disalurkan hingga 100%. mencapai 100%.6 6 91.1 1 53.3 6 35. Papua Barat 100% 670 M (sarpras) 80% 100% 600 M 100% 600 M • Selain mendapatkan alokasi dana otonomi khusus.3 6 90. Indeks Pembangunan Manusia untuk Papua Barat hanya menempati ranking 30 dalam skala nasional pada tahun 2007 dan 2008.5 6 43.1 4 35.

• • • • . namun permasalahan pengentasan kemiskinan Papua masih menjadi tugas utama Pemerintah Papua. pengangguran. karena sangat membantu kelancaran pelaksanaan program dan kegiatan. sehingga tujuan otsus dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat Papua & Papua Barat lebih mudah tercapai. artinya program pemerintah tidak mampu menurunkan jumlah penduduk miskin pada saat itu. dan angka partisipasi pendidikan.• Jumlah penduduk miskin stabil di tahun 2008 dan 2009. Tingkat Kemiskinan Papua dan Papua Barat adalah tetinggi dalam skala Nasional. Indeks Keparahan Kemiskinan dan Indeks Kedalaman kemiskinan juga berada dibawah rata-rata nasional. Pada akhirnya akan berdampak kurang baik bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. hal ini dapat menjadi kendala bagi pelaksanaan dana otsus. Ketegasan pembagian wewenang antara propinsi dan kabupaten/kota dalam penggunaan dana Otsus harus diupayakan. Dari beberapa lembaga di tingkat pusat yang berkaitan dengan Papua dan Otsus. IPM. ataupun tahapan pelaksanaan program dan kegiatan yang tidak sesuai dengan tujuan Otsus Papua dan Papua Barat Konflik Papua harus diselesaikan. Dan hal ini telah tercermin pada data angka angka indikator kesejahteraan masyarakat seperti kemiskinan. Tahapan penggunaan dana otsus bisa pada tahapan penyerapan. baik untuk Papua maupun Papua Barat. perlu dikaji lebih lanjut perlunya membentuk wadah koordinasi utamanya dalam hal pengawasan dan evaluasi penggunaan dana otsus ini. Meskipun dana otsus sudah diterima Papua semenjak tahun 2002. Hal ini mencerminkan adanya permasalahan pada tahapan penggunaan dana otsus. karena seperti pada daerah konflik pada umumnya.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->