http://educare.e-fkipunla.net/index.php?

option=com_content&task=view&id=40&Itemid=3 Penelitian Tentang Manfaat Tujuan Pembelajaran Khusus dalam Proses Belajar Mengajar Ditulis oleh Otong Kardisaputra A. Latar belakang masalah Sejak diberlakukannya Kurikulum 1975, yang waktu itu dikenal dengan sebutan Pembakuan Kurikulum, para guru diwajibkan menggunakan tujuan instruksional khusus (TIK) dalam melaksanakan tugasnya dari mulai perencanaan pengajaran, pelaksanaan proses belajar-mengajar sampai evaluasi pengajaran. Kewajiban itu merupakan implikasi dari penggunaan prinsip objective oriented sebagai salah satu asas pengembangan kurikulum. Penerapan prinsip berorientasi pada tujuan ini nampak pada Kurikulum 1975 dengan dicantumkannya berbagai jenis tujuan yang tersusun secara hierarkhis, dari mulai tujuan pendidikan nasional, tujuan institusional, tujuan kurikuler sampai ke tujuan instruksional umum. Atas dasar tujuan-tujuan itu, guru diwajibkan mengembangkan tujuan instruksional khusus untuk diusahakan pencapaiannya pada proses belajar-mengajar yang diselenggarakannya. Tujuan instruksional khusus itu menjadi tujuan antara untuk mencapai tujuan yang berada di atasnya. Sejak diimplementasikannya Kurikulum 1975 sampai dewasa ini para guru telah terbiasa merumuskan tujuan instruksional khusus yang dewasa ini biasa disebut tujuan pembelajaran khusus (TPK), sebagai bagian penting dari tugas menyusun Program Satuan Pelajaran dan Rencana Pelajaran. Jika dihitung-hitung, penggunaan TPK dalam pengajaran (proses belajar-mengajar) telah berlangsung selama lebih dari seperempat abad. Artinya suatu jangka waktu yang cukup panjang dalam menerapkan suatu gagasan, sehingga layak untuk diperiksa hasilnya, dengan mengajukan pertanyaan: apa dampak dari penerapan ide ini? Persoalan lain yang tidak kurang pentingnya adalah masalah: apakah gagasan itu telah diterapkan secara semestinya? Suatu studi kecil yang dilakukan peneliti di kalangan guru yang mengikuti lanjutan studi di IKIP Bandung (sekarang UPI) dan pada beberapa program penataran dengan pengalaman kerja kebanyakan belasan tahun yang seluruhnya berjumlah 164 orang, ternyata hanya 27, 43 % dari mereka mengaku senantiasa menginformasikan TPK pada fase pembukaan pembelajarannya. Selebihnya mengaku hanya kadang-kadang saja dan bahkan sebagian menyatakan tidak pernah sama sekali memberitahukan TPK kepada para siswanya pada waktu mengajar. Informasi lain diperoleh dari Pengawas (Dikbud) di wilayah Bogor, yang menyatakan bahwa kurang lebih 10% dari guruguru di wilayah itu yang terbiasa menginformasikan tujuan pembelajaran khusus kepada para siswanya ketika mereka mengajar. Data dan informasi itu mengindikasikan kekurang pahaman bagian terbesar dari mereka akan fungsi dan manfaat TPK dalam pembelajaran. Itu sebabnya mereka tidak memperlakukan TPK secara semestinya. Konsekuensinya TPK kehilangan fungsinya seperti digagaskan oleh penggagasnya. Jadi apa yang diharapkan dapat dicapai dari penerapan suatu ide, jika ide itu tidak diterapkan sebagaimana mestinya? Persoalan lain adalah bahwa pengunaan prinsip objective oriented dalam pengembangan kurikulum itu nampaknya tidak didahului oleh suatu kajian mendalam dan luas mengenai keampuhan prinsip itu bila diterapkan di Indonesia. Boleh jadi

penerapan prinsip itu hanya didasarkan pada expert judgement semata. Bukankah betapa pun bagusnya sebuah ide di lingkungan tertentu tidak akan serta merta bagus pula untuk diterapkan di lingkungan lainnya. Aspek sosial, budaya, dan sumber daya akan turut menentukan keberhasilan penerapan suatu gagasan. Apa lagi jika kita baca beberapa literatur, ternyata di Amerika Serikat sindiri pun tempat lahirnya gagasan perlunya TPK dalam pembelajaran, sempat menjadi sebuah isyu kontroversial di antara para pakar. Beberapa pakar, misalnya L.T. Dawley dan H.H. Dawley (1974), P.C. Duchastel dan B. Brown (1975), W.E. Hauck dan J.W. Thomas (1972), R.J. Kibler (1977), dan lain-lain, melalui penelitiannya masing-masing menemukan bahwa penggunaan TPK dalam proses belajar-mengajar ternyata dapat meningkatkan keberhasilan siswa belajar. Tetapi sebaliknya H. Hausdorf (1965), R.L. Ebel (1970), E.W. Eisner (1967) memandang penggunaan TPK dalam mengajar tidak jelas manfaatnya. W.J. Popham menulis secara rinci dan mendalam yang esensinya meragukan validitas sejumlah argumen yang diajukan sejumlah pakar mengenai kekurang bermaknaan penggunaan TPK dalam pengajaran. Fenomena yang mengindikasikan belum meratanya kematapan pemahaman guruguru akan fungsi dan kemanfaatan dan cara bagaimana memperlakukan TPK dalam mengajar serta adanya inkonsistensi hasil penelitian dan pandangan yang saling berbeda di antara sejumlah pakar di Amerika Serikat (R.J. Kibler, 1981; W. Dick dkk. 1985; R.I. Arends,1989) telah mendorong dilakukannya penelitian ini. Dengan penelitian ini diharapkan diperoleh pengetahuan empiris mengenai manfaat TPK dalam upaya meningkatkan efektifitas proses belajar-mengajar di sekolah. A. Rumusan Masalah Secara umum, masalah yang hendak diteliti dalam studi ini adalah manfaat penggunaan tujuan pembelajaran khusus dalam proses belajar-mengajar. Secara lebih khusus, masalah itu dapat dirumuskan sebagai berikut: “Apakah penggunaan tujuan pembelajaran khusus meningkatkan efektifitas proses belajar-mengajar?” Tujuan pembelajaran khusus dalam rumusan masalah itu didefinisikan sebagai: “pernyataan yang menjelaskan apa yang diharapkan dapat dilakukan siswa setelah mengikuti satu unit proses belajar-mengajar.” Satu unit proses belajar-mengajar di sini dimaksudkan sebagai satu pertemuan kelas selama dua kali 45 menit dalam mana berlangsung rangkaian hubungan edukatif antara guru dengan siswa dan interaksi antara tindakan pembelajaran guru dengan perbuatan belajar siswa yang ditujukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dimaksudkan dengan kata-kata “penggunaan tujuan pembelajaran khusus” dalam rumusan masalah tersebut adalah perlakuan guru terhadap rumusan tujuan-tujuan pembelajaran khusus yang telah dikembangkan guru sebagaimana yang dicantumkannya dalam program satuan pelajaran dan/atau rencana pelajaran yang dibuatnya. Dalam penelitian ini ditetapkan dua kondisi sebagai berikut: 1. Tujuan pembelajaran khusus telah diperlakukan secara semestinya (benar) apabila tujuan-tujuan pembelajaran khusus yang dibawa guru ke dalam kelas belajar diinformasikan kepada siswa dengan jelas pada fase pembukaan proses belajarmengajar sehingga tujuan pembelajaran khusus menjadi fungsional; 2. Tujuan pembelajaran khusus diperlakukan secara tidak semestinya apabila

Pembentukan Pengetahuan Sains, Teknologoi dan Masyarakat dalam Pandangan Pendidikan IPA Ditulis oleh Reviandari Widyatiningtyas A. Pembentukan Pengetahuan Pengetahuan yang dimiliki seseorang pada dasarnya berupa konsep-konsep. Konsepkonsep ini diproleh individu sebagai hasil berinteraksi dengan lingkungan. Dengan konsep-konsep dapat disusun suatu prinsip, yang dapat digunakan sebagai landasan dalam berpikir. Konsep didefinisikan oleh beberapa ahli sebagai berikut. Menurut Good (1973: 124), konsep adalah gambaran dari ciri-ciri, yang dengan ciri-ciri itu objek-objek dapat dibeda-bedakan. Menurut Yelon et al. (1971: 190), konsep adalah elemen umum dari sekelompok objek, peristiwa atau proses. Sedangkan menurut Kuslan dan Stone (1968: 79), konsep adalah sifat Khas yang diberikan pada sejumlah objek, proses, fenomena, atau peristiwa, yang dapat dikelompokkan berdasarkan sifat khas itu. Rumusan definisi yang dikemukakan diatas mengandung makna yang sama, yaitu konsep merupakan suatu abstraksi yang mengambarkan ciri-ciri umum dari sekelompok objek, proses, peristiwa, atau fenomena lainnya. Gagne (1985 ; III ) dan Gagne and Briggs (1974: 40) menyatakan bahwa konsep dapat digolongkan kedalam dua golongan yaitu konsep konkrit dan konsep terdefinisi. Konsep konkrit adalah konsep yang menunjukkan ciri-ciri atau atribut dari suatu objek, yaitu relatif mudah dikenali dengan indra. Contoh konsep konkrit misalnya konsep warna (merah, hijau), bentuk (bulat, datar), sifat (keras, lunak), dan sebagainya. Konsep terdefinisi adalah konsep yang dapat dikenali (dipahami) melalui definisi, jadi sifatnya abstrak. Contoh konsep terdefinisi misalnya konsep: penduduk, fertilitas, ovulasi, dan sebagainya. Praget (dalam Dahar, 1989: 159) melalui penelitiannya tentang bagaimana anak memperoleh konsep atau pengetahuan, berkesimpulan bahwa konsep atau pengetahuan itu dibangun dalam pikiran anak. Hasil penelitiannya ini yang menyebabkan ia dikenal sebagai konstruktivis pertama. Guston et-al (dalam Poedjiadi, 1995: 15) menyatakan bahwa paham konstruktivisme bertitik tolak dari mempelajari bagaimana individu belajar. Pandangan konstruktivisme dalam belajar adalah bahwa individu membangun maknanya sendiri apabila menerima input melalui sensornya. Dalam pembentukan pengetahuan melibatkan kegiatan berpikir. Ada tiga aspek yang diajukan Piaget (dalam Dahar, 1989: 110) dalam membahas berpikir pada anak, yaitu isi, struktur dan fungsi. Isi ialah pola perilaku anak yang khas yang tercermin pada respons yang diberikannya terhadap berbagai masalah atau situasi yang dihadapinya. Jadi isi mengacu kepada tingkah laku yang nampak sebagai pencerminan dari kegiatan intelektual. Kerana itu isi berbeda dari umur ke umur dan satu anak ke anak lainnya. Isi ditentukan oleh struktur kognitif yang disebut skemata atau skema. Struktur kognitif adalah berupa fakta-fakta, konsep-konsep dan generalisasi-

generalisasi yang ada dalam pikiran siswa. Struktuk mengacu pada sifat-sifat penataan (skemata) yang menjelaskan terjadinya tingkah laku tertentu. Skemata merupakan dasar untuk berpikir, untuk melakukan operasi-operasi logis, atau memahami sesuatu. Fungsi adalah cara yang digunakan organisme untuk membuat kemajuan intelektualnya. Proses terbentuknya pengetahuan pada individu sangat ditentukan oleh struktur kognitifnya, yang berupa konsep-konsep yang ada dalam pikirannya. Dengan konsepkonsep yang ada tersebut, memungkinkan individu dapat memikirkan sesuatu dengan cara adaptasi (baik asimilasi maupun akomodasi), yang kemudian hasil-hasilnya disistematikan dengan proses organisasi sehingga dihasilkan struktur (skemata) baru. Dengan stuktur ini akan dihasilkan pola prilaku yang nampak. Piaget (dalam Dahar, 1989: 159) membedakan tiga bentuk pengetahuan berdasarkan sumber utamanya dan penstrukturannya. Tiga bentuk pengetahuan tersebut adalah pengetahuan fisik, pengetahuan logiko-matematik, dan pengetahuan sosial. Pengatahuan fisik meliputi pengetahuan tentang benda-benda dan sifat-sifatnya. Pengetahuan logiko-matematik diabstraksikan dari kegiatan, atau dari koordinasi kegiatan dan bukan bersumber dari onjek itu sendiri, sumber pengetahuan logikomatematik adalah proses berfikir dari individu itu sendiri. Sedangkan proses pembentukan logiko-matematik ialah mengorganisasi tindakan menjadi pola tindakan yang lebih logis melalui modifikasi tindakan struktur kognitif. Pengetahuan sosial terjadi dari hasil interaksi manusia dengan manusia. Individu tidak mungkin memperoleh pengetahuan sosial tanpa berinteraksi dengan manusia lain. Pengetahuan ini didasarkan pada perjanjian sosial, suatu perjanjian atau kebiasaan yang dibuat manusia. Menurut Piaget (dalam Dahar, 1989: 159) pengetahuan sosial seperti nama hari dalam seminggu, tanda atom unsur-unsur, satuan besaran pokok, dapat dipelajari secara langsung, yaitu dari pikiran guru pindah ke pikiran siswa. Namun pengetahuan fisik dan pengetahuan logiko-matematik tidak secara langsung dan utuh dipindahkan dari pikiran guru ke siswa. Kedua pengetahuan ini tidak dapat diteruskan dalam bentuk sudah jadi, setiap siswa harus membangun sendiri pengetahuan itu.

A. Penguasaan Pengetahuan Sains, Teknologi dan Masysarakat Penguasaan pengetahuan sains dan teknologi akan dikaitkan dengan aspek sosial, hal ini dikarenakan satu sama lain saling berkaitan. Untuk memperjelas hal tersebut, dapat diungkap melalui definisi-definisi yang dikemukakan oleh beberapa ahli. Sains, menurut Titus (1959:78), mengandung tiga definisi yaitu sebagai sejumlah disiplin ilmu, sebagai sekumpulan pengetahuan, dan sebagai metode-metode. Disamping itu ditegaskan pula bahwa sains merupakan suatu rangkaian konsep-

konsep yang berkaitan dan berkembang dari hasil eksperimen dan observasi. Menurut Robert B. Sund (1973: 2), sains merupakan suatu tubuh pengetahuan (body of knowledge) dan proses penemuan pengetahuan. Dengan demikian, pada hakekatnya sains merupakan suatu produk dan proses. Produk sains meliputi fakta, konsep, prinsip, teori dan hukum. Proses sains meliputi cara-cara memperoleh, mengembangkan dan menerapkan pengetahuan yang mencakup cara kerja, cara berfikir, cara memecahkan masalah, dan cara bersikap. Sains dirumuskan secara sistematis, terutama didasarkan atas pengamatan eksperimen dan induksi. Teknologi, menurut Fischer (1975), adalah totalitas alat yang dikembangkan oleh masyarakat untuk memperoleh objek-objek materi bagi makanan dan kenyamanan manusia. Menurut Poerwadarminta (1983), teknologi adalah ilmu pengetahuan dan kepandaian membuat sesuatu yang berkenaan dengan hasil industri atau ilmu pengetahuan tentang cara membuat sesuatu yang berkenaan dengan hasil industri atau ilmu pengetahuan tentang cara membuat sesuatu atau melakukan sesuatu, sedangkan menurut UNESCO (1983), teknologi adalah sebagai berikut: ……..technology is the know-how and creative process that may utilize tools, resources, and systems, to solve problems, to enhance control over the natural an man-made environment in endeavour to improve the human condition. Jadi secara ringkas dapat dikatakan bahwa, teknologi merupakan suatu perangkat keras ataupun perangkat lunak yang digunakan untuk memecahkan masalah bagi pemenuhan kebutuhan manusia. Sains melandasi perkembangan teknologi, sedangkan teknologi menunjang perkembangan sains, sains terutama digunakan untuk aktivitas discovery dalam upaya memperoleh penjelasan tentang objek dan fenomena alam, namun juga untuk aktivitas penemuan (invention), misalnya dalam penemuan rumus-rumus. Pengembangan sains ini tidak selalu dikaitkan dengan aspek kebutuhan masyarakat. Sedangkan teknologi, merupakan aplikasi sains yang terutama untuk kegiatan invention, berupa alat-alat atau barang-barang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Jadi pengembangan teknologi selalu dikaitkan dengan kebutuhan masyarakat. Dengan demikian sains, teknologi dan masyarakat merupakan bagian yang tak terpisahkan (Poedjiadi, 1990 ; Yager, 1992: 4). Masyarakat , menurut Aikenhead (dalam Mariana, 1994: 29), adalah suatu lingkungan pergaulan sosial dan kaidah-kaidah yang dianut oleh suatu kelompok masyarakat. Menurut Poerwadarminta (1983), masyarakat adalah sehimpunan orang yang hidup bersama dalam suatu tempat dengan ikatan-ikatan dan aturan-aturan tertentu. Sedangkan, sosial adalah segala sesuatu yang mengenai masyarakat. Jadi, secara ringkas dapat dikatakan bahwa, masyarakat adalah sekelompok manusia yang memiliki wilayah, kebutuhan, dan norma-norma sosial tertentu. Sains, teknologi dan masyarakat satu sama lain saling berinteraksi. Interaksi ini dapat digambarkan seperti gambar sebagai berikut:

1989: 136) menyarankan bahwa sains hendaknya merupakan akumulasi dari content.SAINS TEKNOLOGI MASYARAKAT Untuk mengungkap penguasaan pengetahuan sains dan teknologi tersebut. Pendidikan sains merupakan salah satu aspek pendidikan yang menggunakan sains sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan umumnya yakni tujuan pendidikan nasional dan tujuan pendidikan sains khususnya. dapat dilakukan melalui suatu evaluasi. Penggunaan proses-proses ilmiah dalam pemecahan masalah-masalah yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. 3. Evaluasi dalam STM meliputi ruang lingkup aspek: 1. Evaluasi merupakan suatu pengukuran atau penilaian terhadap sesuatu prestasi atau hasil yang telah dicapai. 1992: 19-20). 1992:87-88) B. Pembuatan keputusan-keputusan yang berhubungan dengan kesehatan. (Varella. 2. maka kriteria pengembangan evaluasinya dapat mengacu kepada pengembangan evaluasi dalam unit STS atau STM (sains. atau hal-hal lain yang didasarkan pada konsep-konsep ilmiah. Pemahaman konsep sains dalam pengalaman kehidupan sehari-hari. Pemahaman prinsip-prinsip sains dan teknologi yang terlibat dalam alat-alat teknologi yang dimamfaatkan masyarakat. teknologi. yaitu untuk meningkatkan pengertian terhadap dunia alamiah (Amien. penyadaran. . 4. 5. nutrisi. Mengingat penguasaan sains dan teknologi dalam penelitian ini merupakan penguasaan sains dan teknologi yang berkaitan dengan aspek masyarakat. STM dan Literasi Sains dan Teknologi Pendidikan IPA atau pendidikan sains pada hakekatnya merupakan upaya pemahaman. Untuk penyusunan materi pendidikan sains. Kirham (dalam Wellington. Sains pada hakekatnya merupakan ilmu dan pengetahuan tentang fenomena alam yang meliputi produk dan proses. Penerapan konsep-konsep dan keterampilan-keterampilan sains untuk masalahmasalah teknologi sehari-hari. masyarakat). dan pengembangan nilai positif tentang hakekat sains melalui pembelajaran. process.

Melalui kegiatan eksperimen atau diskusi kelompok yang dirancang oleh guru akhirnya dibangun atau dikonstruktur pengetahuan pada peserta didik. 1994: 1). dalam hal ini pengetahuan yang berbentuk konsepkonsep . Pendekatan ScienceTechnology-Society atau STS ini pertama kali dikembangkan di Amerika Serikat pada tahun 1980-an. guru memperkenalkan atau menunjukkan kepada peserta didik adanya isu atau masalah dilingkungan peserta didik atu menunjukkan aplikasi sains atau suatu produk teknologi yang ada dilingkungan mereka. berkaitan dengan metodologi atau keterampilan untuk memperoleh dan menemukan content. Process. Untuk kepentingan itu. konsep. Content. isu atau masalah harus diangkat pada awal pembahasan topik yang diajarkan. serta perlu dapat mengantisipasi masalah-masalah sosial yang berkaitan dengan sains dan teknologi tersebut. Pada saat membahas konsep-konsep tertentu suatu topik yang relevan telah dirancang sesuai strategi pertama dapat diterapakan dalam . prinsip. mendefinisikan STS sebagai belajar/mengajar sains dan teknologi dalam konteks pengalaman manusia (Poedjiadi. menyangkut kepada hal-hal yang berkaitan dengan fakta. menyajikan suatu topik yang relevan dengan konsep-konsep tertentu yang termasuk dalam GBPP. definisi. model. Pada awal perubahan tiap topik. Berkenaan dengan strategi pelaksanaan pendekatan STM. Strategi ini mirip dengan stategi pendidikan IPA terpadu. dan terminologi. pengajaran sains dewasa ini perlu dikaitkan dengan aspek teknologi dan masyarakat. sedangkan dalam IPA terpadu tidak mutlak harus dilaksanakan demikian. dikenal dengan pengajaran dengan pendekatan STM atau STS. Strategi kedua. strategi pertama. teori. selanjutnya dikembangkan pula di Inggris dan Australia. Context.dan context. Pengajaran yang mengkaitkan sains dengan teknologi dan masyarakat. Perbedaannya ialah bahwa pada program STM. Anna Poedjiadi (1995: 4) mengemukakan hal sebagai berikut: Pelaksanaan pendekatan STM dapat dilakukan melalui tiga macam strategi. menyusun topik-topik tertentu yang menyangkut konsep-konsep yang ingin ditanamkan pada peserta didik. berkaitan dengan kepentingan sosial baik individu maupun masyarakat atau kepentingan-kepentingan lainnya yang berhubungan dengan perlunya pengembangan dan penyesuaian pendidikan sains untuk menghadapi tantangan kemajuan jaman sekarang ini. National Science Teacher Association atau NSTA. Tantangan pendidikan sains dewasa ini adalah perlu sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Masalah atau isu yang ada dilingkungan masyarakat dapat pula diusahakan agar ditemukan oleh peserta didik sendiri setelah guru membimbing dengan cara-cara tertentu.

Literasi sains (scientific literasi). dapat diartikan sebagai kemampuan melaksanakan teknologi yang didasari kemampuan identifikasi. isu atau masalah sebaiknyadperkenalkan pada awal pokok bahasan tertentu untuk meningkatkan motivasi peserta didik mempelajari konsep-konsep selanjutnya atau mengarahkan perhatian peserta didik kepada materi yang akan dibahas sebagai apersepsi. Krakteristik individu yang memilki literasi ilmiah adalah sebagai berikut: (a) bersikap positif terhadap sains. 1993: 428). 1994: 34) . STM dikembangkan untuk meningkatkan literasi ilmiah individu agar mengerti bagaimana sains. (b) sadar tentang proses dan prinsip teknologi. memiliki karakteristik: (a) tahu penggunaan dan pemeliharaan produk teknologi. teknologi dan masyarakat. efesien dan efektif. (e) memilki pengertian hubungan antara sains. Sains-Teknologi-Masyarakat (STM) merupakan perekat yang mengkaitkan sains. kreatif membuat produk teknologi sederhana. dan mampu mengambil keputusan berdasarkan nilai. Pengajaran dengan pendekatan STM dapat meningkatkan literasi sains dan teknioplogi individu. Adapun individu yang literat teknologi menurut M. (d) memilki pengetahuan tentang konsep dan prinsip sains. masyarakat dan nilai-nilai manusia. Strategi ketiga. serta untuk meningkatkan kemampuan menggunakan pengetahuan didalam membuat keputusan. serta mampu menerapkannya dalam teknologi dan masyarakat. dapat diartikan sebagai pemahaman atas sains dan aplikasinya bagi kebutuhan masyarakat.pembelajaran. Konsep ini dapat diwujudkan dalam bentuk pendekatan atau materi pelajaran.J. dapat diartikan sebagai kemampuan menyelesaikan masalah dengan menggunakan konsep-konsep sains. (b) mampu menggunakan proses sains. (f) berkemampuan membuat keputusan dan terampil menganalisis nilai untuk pemecahan masalah-masalah masyarakat yang berhubungan dengan sains tersebut (Rubba. mengajak peserta didik untuk berpikir dan menemukan aplikasi konsep sains dalam industri atau produk teknologi yang ada di masyarakat di selasela kegiatan belajar berlangsung. (e) mampu membuat hasil teknologi alternatif yang sederhana. Dyrenfurth (dalam Poedjiadi. Literasi teknologi. (c) berpengatahuan luas tentang hasil-hasil riset. teknologi. contoh-contoh adanya aplikasi konsep sains. teknologi. sadar akan efek hasil teknologi. dan masyarakat secara terintegrasi. Adapun literasi sains dan teknologi (literasi sains dan teknologi untuk semua orang yang diusulkan untuk pendidikan dasar di Indonesia). Dengan demikian individu tersebut dapat menghargai sains dan teknologi dalam . dan mampu bersikap serta mampu menggunakan alat secara aman. Literasi dapat diartikan sebagai kemampuan untuk membaca dan menulis. atau kemampuan berkomunikasi melalui tulisan dan kata-kata. STM merupakan salah satu alternatif konsep untuk penyempurnaan dan penyesuaian pendidikan sains dewasa ini. Dengan demikian program STM merupakan suplemen dari kurikulum. mengenal teknologi yang ada beserta dampaknya di sekitar. (d) mampu mengevaluasi proses dan produk teknologi. berpengaruh satu sama lain. tepat. (c) sadar tentang akibat teknologi terhadap masyarakat. mampu menggunakan produk teknologi dan memeliharanya.

New York: Holt. R. dan mengerti keterbatasan-keterbatasannya (Yager. L. (1971). Disertai Doktor FPS IKIP. W.. R. (1985). (Eds). et al. Merrill Publishing. “Partisipasi FPMIPA IKIP Bandung dalam Menunjang Perkembangan Pendidikan Sains dan Teknologi Dewasa ini “. Jakarta: Erlangga. Kesiapan Guru Mengajarkan Sains di Sekolah Dasar Ditinjau Dari Pengembangan Keterampialan Proses Sains. Poerwadarminta.’lay Company.B. (1990). (1973). Good.W.V. 17-19 Januari. Philadelphia: Saunders Co. A. Kamus Umum Bahasa Indonesia. (1971). New York: Mc Graw Hill Book Company. Kuslan.H. The Stucture of Science Education. Poedjiadi. Gagne. Bandung. Gordner. A. Jakarta. Science. “Kecenderungan Pendidikan Sains dan Teknologi dimasa yang Akan Datang. Austin: Univercity of Texas.. Makalah Disajikan pada Seminar Staff FPMIPA IKIP Bandung. Belmount: Wadsworth Publishing Company. & Stone.I.M. Columbus: Charles E. (1989). Balai Pustaka. Dictionary of Education. Principlesof Instructional Desig. Teaching Children Science: An Inquiry Approach.L. .A. (1980). (1974).S. A. & Briggs. R. R. (1968). (1985). P. Teori-teori Belajar. 1998: 276). Gagne. New York: Rinehort and Winston. Taxonomy of Educational objectives The Classification of Educational Goal Handbook I Cognitive Domain.M. IKIP Bandung: tidak diterbitkan. Makalah dan Lokakarya tentang Reorientasi dan perubahan Kurikulum Pendidikan Menengah Umum”. Inc. The Condition of Learning and Theory of Instruction. et al. G. L. Maesuring Stage of Concern about The Innovation: A Manual foe use of the Sacial Questionnaire. C. Jakarta: PN. Hall. New York: David Mc. (1975). & Sund. (1983).e. _______. Carin. Man and Siciety. Teaching Science Through Discovery. _______. Rinehort and Winston.J.B. R.masyarakat. 3 Mei. Dahar.J.(1995). DAFTAR PUSTAKA Bloom. Fischer. How Thorn Victoria Australia: Longman Australia Pty Limited. (1979).

Untuk mengetahui efektifnya model pembelajaran. Titus. “Science-Technology-Society as Reform”.W. (1992).M. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil postes siswa dari kedua pembelajaran pada umumnya sangat baik demikian pula retensinya. 407-431. hendaknya tidak hanya dari penguasaan konsep saja. P. G. 2-8.Rogers. “Greater Ability to Apply Concepts Using and Science/Technology/Sociaty Approach to Teaching Science”. tetapi lebih jauh perlu dianalisis apakah konsep-konsep yang diajarkan dapat lekat dalam ingatan siswa ataukah cepat terlupakan karena pembelajaran yang dilakukan hanya berupa transfer hapalan belaka.. Science Education. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen.H. (1992). 87-92. “Examination of Preservice and Inservice Secondary Science Teachers Beliefs about Science –Technology-Society Interactions”. R. F. H. Tes retensi dilakukan setelah tiga minggu dari pos tes. Sampel diambil secara claster random yang meliputi satu kelas eksperimen menggunakan pertanyaan pengarah dan satu kelas kontrol dengan pertanyaan biasa tanpa pengarah dalam pembelajarannya. E. New York: Free Press. ICASE YEARBOOK. retensi siswa hasil pembelajaran dengan pertanyaan penuntun lebih baik dari pertanyaan biasa. Analisis di atas dipandang kurang terungkap padahal merupakan sesuatu yang perlu diketahui dan diteliti. eranan Pertanyaan Terhadap Kekuatan Retensi dalam Pembelajaran Sains pada Siswa SMU Ditulis oleh Taufik Rahman ABSTRAK Telah dilakukan penelitian tentang peranan pertanyaan terhadap retensi dalam pembelajaran sains pada siswa SMU. namun retensinya berbeda signifikan. & Shoemaker.A. Hasil postes dari kedua pembelajaran tidak berbeda. ICASE YEARBOOK. New York: American Book Company. Macam pertanyaan yang diajukan oleh guru secara lisan atau tulisan menentukan keberhasilan siswa dalam peningkatan berpikir dan penguasaan konsep (Dahar. A. Faktor retensi atau lekatnya konsep dalam ingatan kurang mendapat perhatian padahal dapat dijadikan indikator bermutunya hasil belajar atau pembelajaran. . Varella. Communication of Innovation: Crosscultural Approach.F.F. Yager. R. Latar Belakang Masalah Keberhasilan belajar Sains di SMU umumnya diukur dari seberapa jauh siswa menguasai konsep yang diajarkan. Living Issues In Philoshophy.E. (1993). (1971).(1959). Rubba. Pendahuluan 1.

Kemampuan untuk menyimpan dalam ingatan ini dikenal sebagai retensi. 1991: 97). dapat membangkitkan minat dan rasa ingin tahu siswa terhadap masalah yang sedang dibahas. hal ini dikenal sebagai lupa (Abin Syamsudin. 2. dan untuk mengungkap gagasan siswa (Wynne Harlen. Pertanyaan biasa adalah pertanyaan-pertanyaan yang berdiri sendiri tanpa menghiraukan kaitannya dengan pertanyaan pokok.1985:122). salah satunya dengan memberikan pertanyaan. Rumusan Masalah Masalah umum penelitian ini dirumuskan sebagai berikut. 1996:458). Peranan Pertanyaan Dan Retensi Dalam pembelajaran Sains 1. Pada kenyataannya. mendorong siswa berfikir. 1996:117). Pertanyaan dalam pembelajaran antara lain digunakan untuk menguji daya ingat siswa. B. 2) Pembelajaran sains meliputi pembelajaran biologi konsep polusi air di satu SMUN di Bandung. dapat mengembangkan pola dan cara berfikir aktif siswa. dapat . Bagaimana peranan pertanyaan terhadap kuatnya retensi dalam pembelajaran sains pada siswa SMU? b. banyak hal yang telah disimpan dalam ingatan sulit untuk diproduksikan lagi. tentunya perlu dianalisis pertanyaan-pertanyaan yang bagai mana yang secara baik dapat menggali ingatan dan yang bagaimana pula yang secara baik dapat menguatkan ingatan. karena pertanyaan dapat menggali informasi dari ingatan (Winkel. Batasan Masalah 1) Pertanyaan yang diteliti meliputi pertanyaan penuntun dan pertanyaan biasa atau tidak menuntun. 3) Retensi adalah kemampuan mengingat konsep setelah selang waktu tiga minggu. Konsep yang dipahami secara baik oleh siswa dari pembelajaran dapat disimpan dalam ingatan atau memori yang kemudian akan dipergunakan pada saat diperlukan. Pertanyaan penuntun berupa rangkaian pertanyaan yang saling berkaitan untuk menjawab pertanyaan pokok. Namun. Lupa bisa dikurangi dengan berbagai cara. Peranan Pertanyaan Dalam pembelajaran Sains Pertanyaan merupakan komponen yang amat diperlukan dalam pembelajaran sains. Suatu pertanyaan yang diberikan secara tersusun dengan baik dapat memberikandampak positif sebagai berikut: Dapat meningkatkan partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran. Rumusan Dan Batasan Masalah a. mengarahkan atau menuntun pada arah tertentu. Kuatnya retensi ditentukan dengan perbandingan tes retensi (postes ke-2) dengan postes kali 100 persen.

1993: 305) diantaranya membuktikan bahwa kita menyimpan banyak ingatan terhadap apa yang telah dipelajari di sekolah. (3) memberikan suatu review informasi yang diberikan dan pertanyaan yang membantu murid untuk mengingat atau melihat jawabannya (E. Dalam materi tersebut meliputi konsep konkret dan abstrak. Uzer Usman. 1991: 97). 1996: 18)..C. Hal ini didukung oleh pernyataan yang dikemukakan oleh James Dese (1959: 236) bahwa jika tidak ada retensi. Namun. maka proses belajar siswa tidak berlangsung dengan baik dan sebaliknya jika tidak belajar maka tidak akan ada retensi. Hursh (1976). Wrag dan George Brown . al. al.menuntun proses berfikir siswa untuk menentukan jawaban yang baik. mutu pertanyaan guru sebanding dengan jawaban yang akan diperoleh dari pertanyaan tersebut (E.Wrag dan George Brown 1997: 43). yaitu: (1) mengubah susunan pertanyaan dengan kata-kata yang berbeda atau lebih sederhana yang disesuaikan dengan pengetahuan murid-muridnya. Dalam pembelajaran sains kedua jenis pertanyaan tersebut senantiasa dipergunakan. pertanyaan retoris (rhetorical questions). (1978 & 1990) (dalam Semb et. Pertanyaan pengarah berupa pertanyaan berangkai (lebih dari satu pertanyaan yang satu sama lain berkaitan) yang ditujukan untuk menuntun siswa menguasai konsep. Dengan demikian aspek retensi sangatlah diperlukan. Banyak penelitian yang telah dilakukan oleh para ahli pendidikan yang berkaitan dengan retensi. Pertanyaan biasa berupa pertanyaan tunggal untuk mengungkap penguasaan konsep. (2) menanyakan pertanyaan-pertanyaan sederhana yang membawa mereka kembali pada pertanyaan semula. Retensi erat hubungannya dengan belajar. Pertanyaan konvergen dan pertanyaan divergen (Conny Semiawan. dan dapat memusatkan perhatian siswa terhadap masalah yang sedang dibahas (Moh Uzer Usman. baik secara tertulis dalam Lembar Kerja Siswa(LKS) maupun secara lisan oleh guru di kelas. Kulik et. Retensi dan lupa merupakan dua istilah yang tidak dapat dipisahkan.1987:72). Dalam mempelajari sains biologi. 2000: 75) Bentuk pertanyaan promting dapat dibedakan menjadi 3. banyak hal yang perlu dipahami dan diingat. Namun.1997: 43) 2. dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Guskey & Gates (1985). misalnya topik polusi. Dengan demikian salah satu bentuk promting adalah menanyakan pertanyaan lain yang lebih sederhana yang jawabannya dapat dipakai menuntun siswa untuk menemukan jawaban yang tepat (Suwandi dan Tjetjep S. pertanyaan mengarahkan atau menuntun (promting question) dan pertanyaan menggali (probing questions) ( Moh. jenis pertanyaan biasa umumnya lebih mendominasi. 1995: 74) Berdasarkan karakteristiknya pertanyaan antara lain digolongkan sebagai berikut. Bentuk pertanyaan Pengarah berbeda dari pertanyaan biasa. Retensi mengacu .C.. Banyaknya pertanyaan yang diajukan dalam pembelajaran tidak menunjukkan bahwa pembelajaran tersebut lebih berkualitas (Wynne Harlen.1999:4). Peranan Retensi Dalam Pembelajaran Sains Retensi atau ingatan terhadap pengetahuan yang dipelajari merupakan faktor yang penting dalam suatu pembelajaran sains misalnya biologi. Pertanyaan produktif dan non produktif (Sheilla Jelly. dalam Nuryani Rustaman. Pertanyaan permintaan (compliance questions).

Dan sebagaimana yang telah disebutkan oleh Winkel di atas informasi tersebut dapat ditahan lebih lama melalui proses penyimpanan. Dalam tahap belajar terjadi proses internal dalam pikiran siswa. tidak diperlukan individu sehingga tidak dihiraukan. sedangkan lupa mengacu pada porsi ingatan yang hilang. tugas yang harus dipelajari. sehingga membentuk suatu kebulatan perseptual. Sedangkan dalam masalah lupa Winkel (1987: 297) menyatakan bahwa gejala lupa mudah terjadi pada pengetahuan kognitif bila individu tidak berhasil mengkonstruksi pengetahuannya sendiri atau tidak berhasil mengaitkan konsep-konsep yang dipelajarinya dengan konsep-konsep yang telah dimilikinya. menggambarkan tahapan proses tersebut terjadi dengan urutan sebagai berikut: 1) siswa menerima rangsang dari reseptor. Ilmuwan yang pertama kali meneliti tentang retensi adalah Ebbinghaus pada tahun 1885. 1993: 305) menyatakan bahwa faktor-faktor yang dapat mempengaruhi LTM tehadap pengetahuan yang telah dipelajari dalam kelas adalah tingkat dari materi yang dipelajari. dalam Susan Hanley. maka fase ke 3 dan 4 dimana ingatan dimasukkan dan ditahan dalam STM dan kemudian dimasukkan ke dalam LTM merupakan proses yang amat penting bagi retensi. Winkel (1996: 305). 5) pada saat diperlukan siswa menggali informasi yang telah dimasukkan dalam LTM untuk dimasukkan kembali ke dalam STM Dengan melihat proses internal yang terjadi dalam siswa. 1959: 236). Dalam tahap ini retensi merupakan proses penyimpanan pemahaman dan perilaku baru yang diperoleh setelah mengalami proses acquisition (fase menerima informasi). 3) pola perseptual tersebut masuk ke dalam ingatan jangka pendek (Short Term Memory / STM) dan tinggal disana selama 20 detik. Dengan demikian dalam pembelajaran dipandang perlu untuk menitik beratkan pada aspek-aspek bernalar sehingga pembelajaran menjadi bermakna. Sehingga dapat dikatakan bahwa jumlah yang dilupakan sama dengan jumlah yang telah dipelajari dikurangi dengan ingatan yang masih tersimpan (James Dese. Penelitian yang dilakukan oleh Angelo (1991. 2) rangsang yang masuk ditampung dalam sensori register dan diseleksi. Semb dan Elis (1992) (dalam Semb dan Elis. 1959: 241). Oleh karena itu tidak mengherankan apabila banyak ilmuwan dibidang pendidikan menyatakan bahwa proses pembelajaran memegang peranan penting terhadap retensi siswa. Pembelajaran yang menitik beratkan pada guru (teacher centered) dinilai telah gagal untuk mengembangkan pemahaman yang permanen. kecuali bila informasi tersebut ditahan lebih lama melalui proses penyimpanan. Tentu saja yang dimaksud dengan proses penyimpanan ini berkaitan dengan bagaimana informasi ini dapat diterima dan dikonstruksikan dan akhirnya disimpan dalam benak siswa. metode pembelajaran. 4) penampungan hasil pengolahan informasi yang berada dalam STM dan menyimpannya dalam ingatan jangka panjang (Long Term Memory / LTM) sebagai informasi yang siap pakai sewaktu-waktu pada saat diperlukan. Lupa akan terjadi apabila materi yang dipelajari tidak menarik. Retensi merupakan salah satu fase dalam tahapan belajar. Hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Ebinghaus adalah kurva retensi yang menunjukkan bahwa retensi dapat berkurang dengan cepat setelah interval waktu tertentu dan lupa atau berkurangnya retensi ini dapat terjadi beberapa jam pertama setelah proses belajar berlangsung (James Dese. dan perbedaan individual. 1994: 3) terhadap siswanya di Berkeley membuktikan bahwa dengan menggunakan metode pembelajaran secara tradisional dimana guru bertindak .pada tingkat dimana materi yang telah dipelajari masih melekat dalam ingatan.

X2= pembelajaran dengan menggunakan pertanyaan biasa. Hasil Penelitian Hasil penelitian dalam bab ini disajikan dalam bentuk tabel-tabel di bawah ini. Pembelajaran yang banyak melibatkan panca indra dalam proses berpikir dapat memungkinkan pembelajaran menjadi lebih bermakna. Desain penelitian yang digunakan adalah modifikasi Randomized Control Group Pre-test Post-test Desain. salah satunya adalah dengan memberikan pertanyaan untuk memacu keterlibatan berpikir siswa sehingga siswa dapat menggunakan dan mengaitkan konsepkonsep yang telah dimilikinya. yaitu pembelajaran dengan menggunakan pertanyaan pengarah dan pembelajaran dengan menggunakan pertanyaan biasa tanpa pengarah. X1= Pembelajaran dengan menggunakan pertanyaan pengarah. Bila konsep-konsep tersebut terkait satu sama lain maka akan terbentuk pengetahuan yang bermakna yang tidak mudah untuk dilupakan. Mereka terlalu sibuk mencatat dam memasukkan informasi tanpa melalui seleksi ke dalam ingatan mereka. Tabel 1.sebagai penyampai informasi dan siswa penerima informasi didapatkan hasil bahwa kurang dari 20% dari siswanya dapat mengingat apa yang telah disampaikan oleh guru. Rekapitulasi Rata-rata Nilai Pre-tes. Disain Penelitian Kelompok Eksperimen Kontrol Keterangan: Tes awal T1 T1 Perlakuan X1 X2 Tes akhir 1 Selang Waktu Tes akhir 2 T2(1) 3 minggu T2(2) T2(1) T2(2) T1= Tes awal / pre-test. Pos-tes. dan Retensi siswa . T2(1)= Pos-tes. Dengan demikian perlu diupayakan pembelajaran yang bermakna bagi siswa. dan T2(2)= Tes retensi (pos-test ke-2) D. yang digambarkan dengan tabel sebagai berikut: Tabel 1. C. Metode dan Desain Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen untuk membandingkan dua perlakuan pembelajaran yang berbeda. sehingga dengan demikian memungkinkan kuatnya retensi siswa terhadap konsep-konsep yang diajarkan. Untuk memenuhi hal tersebut guru sedapat mungkin melibatkan siswa dalam proses pembelajaran.

64 Z hit > Z tab Berbeda secara signifikan (Pos tes 2 kel.7%) 18 (50%) 3 3 (8.3 26 63 63 78.7 X = rata-rata nilai. T = nilai tertinggi.2%) 1 (2.36 80.7%) (91.25 98.25 1.9%) 3 (8.Posttest test Polusi Air (LKS Eksp.75 8.Keterangan Konsep Kontrol & kel.64 Z hit < Z tab Tidak berbeda secara signifikan Polusi Air Retensi 3.58 8.93 10. ngan atara Z Eksperimen hitung & Z tabel Pretes 1.1%) 3 (8. Eksperimen > Pos (Postes 2) tes 2 kel.Konsep/sub Nilai Kontrol konsep Pre. Retensi.3%) - - . Kontrol *dilakukan dengan uji t1 Tabel 3.27 8.3%) (58.3%) Retensi K 33 E 35 (97.4 33 52 59 75.1%) - Pos tes 2 K E 12 15 (33. Rekapitulasi Predikat Penguasaan Siswa Pada pos test.8%) 4 (11.48 1.03 79 74. dan Retensi Konsep Polusi Air Batas nilai 100-80 Kriteria Sangat baik Pos tes 1 K E 19 21 (52.16 1.3%) (8.9 95.6%) 4 (11.6 7.3%) 11 (30. Sd = standar deviasi. dan R = nilai terendah Tabel 2.) Keterangan: X Sd T R Eksperimen Retensi % Pre-testPos-tes Retensi % Reten-si 1 (Post-test Reten-si 2) (Pos-tes ke-2) 50.83 78 100 89 125 67 100 96 116.8%) 10 (27.4 12.4%) 5 (13. Rekapitulasi hasil uji dua rata-rata (Uji kesamaan) Konsep/Sub Uji rata-rata kel.8%) 70 – 79 Baik 60 – 69 Sedang 50 – 59 Kurang Keterangan: (41. Z hitung Z tabel Hasil perbandi.64 Z hit < Z tab Tidak berbeda secara signifikan Postes 1 1.3%) 16 (44.98 50.5 9.58 81.07 11.

sikap dan motivasi siswa untuk mengkonstruksikan pengetahuan mereka sehingga terbentuk konsepsi dan meningkatnya pemahaman siswa terhadap konsep yang mereka pelajari (Ratna Wilis Dahar. Hasil retensi siswa kelompok eksperimen memiliki nilai yang lebih tinggi dibanding siswa pada kelompok kontrol. Pertanyaan yang sifatnya mengarahkan ini merupakan salah satu jenis pertanyaan yang baik (Nuryani Rustaman. James Deese (1959:253) mengemukakan bahwa salah satu faktor penting yang dapat mempengaruhi retensi siswa adalah taraf belajar (level of learning) seseorang. Menurut Slameto (1995:123) makin jelas. Melalui pertanyaan yang mengarahkan. Dalam hal ini pertanyaan yang sifatnya mengarahkan telah menuntun siswa dalam menemukan jawaban yang tepat (Moh. Peristiwa ini dapat disimpulkan bahwa retensi siswa dengan pembelajaran yang menggunakan pertanyaan pengarah pada lebih baik dibandingkan dengan retensi siswa yang pembelajarannya menggunakan pertanyaan biasa/bukan pengarah. maka struktur kognitif siswa akan lebih terorganisasi. pada struktur kognitif yang tidak stabil. 2000:75). stabil serta terorganisasinya struktur kognitif seseorang. Pembahasan Dilihat dari hasi rata-rata nilai (tabel 1) terdapat peningkatan nilai rata-rata post tes dari pretes. jelas dan stabil. Pertanyaan baik berupa pertanyaan pengarah maupun pertanyaan biasa merupakan faktor ekstrinsik yang mempengaruhi minat. Lebih jauh lagi Richard Anderson dan Gerald Faust. pembelajaran dengan menggunakan pertanyaan pengarah antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dalamsub konsep polusi air tidak memiliki perbedaan secara signifikan pada pos tes . kabur dan tidak terorganisasi dengan baik cenderung merintangi proses belajar bermakna dan retensi. Dari rata-rata hasil yang diperoleh terhadap retensi dapat disimpulkan bahwa siswa yang menggunakan pertanyaan pengarah dalam pembelajarannya berbeda secara signifikan dibanding siswa yang pembelajarannya menggunakan pertanyaan biasa / pertanyaan bukan pengarah. Artinya bahwa hasil pembelajaran menggunakan pertanyaan pengarah unggul dalam hal retensi atau lebih kuat dapat diingat. 1989:159). maka proses belajar yang bermakna dan retensi akan mudah terjadi pada orang tersebut. dan E = kelompok eksperimen E.K= kelompok kontrol. namun berbeda signifikan pada retensi (pos tes ke-2). . Dalam proses belajar yang bermakna ini terjadi proses mengaitkan informasi baru pada konsep-konsep yang relevan yang terdapat dalam struktur kognitif siswa. 1999:8) yang dirancang untuk mendorong siswa agar terlibat secara aktif dalam pembelajaran sehingga siswa dirangsang untuk berpikir dan melakukan kegiatan bermakna. (1973:460) berpendapat bahwa taraf belajar menjadi faktor penentu bagi retensi siswa. sebaliknya. Dari hasil uji kesamaan dua rata-rata (tabel 2). Uzer Usman. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran dengan pertanyaan pengarah maupun dengan pertanyaan biasa (tanpa pertanyaan pengarah) sama-sama dapat meningkatkan penguasaan konsep siswa.

1996:305). Berdasarkan predikat skor pada postes 1. 1975 (dalam Muhibbin Syah. Sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna dan berakibat pada baiknya retensi siswa (Wyne Harlen. . Hasil postes dari kedua pembelajaran variatif berkisar antara kurang dan sangat baik. Pelaksanaan pos tes 1 diberitahukan sebelumnya kepada siswa sehingga siswa belajar terlebih dahulu menghadapi tes. mengakomodasikan. umumnya sangat baik dan tidak ada perbedaan yang signifikan antara keduanya. karena postes 2 dilaksanakan dalam selang waktu 3 minggu setelah pos tes 1 diberikan. penggunaan memori. Namun. 1996:160) mengatakan bahwa lupa dapat terjadi karena materi pelajaran yang telah dikuasai tidak pernah digunakan/dihapalkan oleh siswa. 2 dan persentase retensi (tabel 3). seperti yang dikatakan oleh Robert Travers (1982:1994) “forgetting is normal everyday and constant reminder of our limitations”. F. baik dan cukup dibandingkan dengan kelompok kontrol. 1996:102). Hal ini disebabkan karena terjadinya peristiwa lupa. Selain itu juga pertanyaan yang mengarahkan ini mendorong siswa untuk terlibat secara aktif dalam mengasimilasikan. Hal ini dapat diartikan bahwa semakin banyak siswa menguasai konsep semakin banyak ia lupa. Dengan bantuan pertanyaan pengarah pada LKS eksperimen dapat mengembangkan proses berfikir dan keterampilan proses. maka materi yang baru tersebut akan mengganggu pemanggilan kembali materi yang sudah tersimpan dalam ingatan (Muhibbin Syah. 1996:158). sehingga siswa kemungkinan tidak belajar lagi. pembelajaran yang menggunakan pertanyaan penuntun memberikan dampak terhadap retensi lebih kuat dari pada hasil pembelajaran yang menggunakan pertanyaan biasa dan berbeda secara signifikan. penemuan sendiri. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan penguasaan konsep dan terutama mengingat dengan baik. mengorganisasikan dan mengkonstruksikan konsep-konsep dalam benak siswa. sedangkan pos tes ke-2(tes retensi) tidak diberi tahu. Dengan dilakukannya postes 2 dalam jangka selang waktu dimana siswa telah mendapatkan materi yang baru. Kesimpulan Dan Saran 1. retensi siswa juga variatif berkisar antara baik dan sangat baik. Peristiwa Lupa merupakan hal yang biasa terjadi pada manusia.Dari tabel 3 dapat dilihat adanya penurunan rata-rata nilai tes dari postes 2 (retensi) dibanding rata-rata nilai postes 1. Kesimpulan Pemberian pertanyaan baik pertanyaan penuntun atau pengarah maupun pertanyaan biasa tanpa penuntun dalam pembelajaran sains (konsep polusi air) pada siswa SMU sama-sama memberikan peranan yang signifikan terhadap kuatnya retensi siswa . Perbedaan ini disebabkan karena pembelajaran pada kelompok ekperimen menggunakan LKS dengan pertanyaan pengarah yang dapat mempengaruhi proses internal yang terjadi dalam siswa ketika ingatan dimasukkan dan ditahan dalam STM yang kemudian dimasukkan ke dalam LTM (Winkel. Terutama penurunan ini terjadi lebih banyak pada kelompok eksperiemen diabandingkan dengan kelompok kontrol. secara umum jumlah siswa kelompok eksperimen lebih banyak yang menduduki peringkat sangat baik. Selain itu Hilgard dan Bower. Dalam selang waktu tiga minggu. lupa merupakan kejadian yang biasa karena keterbatan manusia dalam mengingat. umumnya sangat baik.

(271): 117-123. The condition of Learning and theory of Instruction. Jim Flower and Lou Cohen. Principoles of Instructional Design. Teknik Bertanya dan Keterampilan Bertanya. Bandung: Rosdakarya Nuryani Rustaman. New York: Harper and Row Publishers Gagne. R. 25. J. School Science Research. DAFTAR PUSTAKA Anderson. Teaching and The Science of Learning. Renehart and Winston. 1995. 1959.. 1999. Inc.85. No. Menjadi Guru Profesional. 1973. R. 1990. vol. Jakarta: Gramedia George J.2. Mengingat retensi merupakan hal yang penting dari suatu pembelajaran. Psychology for Effective Teaching. Rinehart and Winstron. 1974. 1993. maka penelitian yang berkaitan dengan retensi perlu dikembangkan misalnya yang berkaitan dengan faktor internal siswa seperti intelegensi dan faktor eksternalnya seperti jenis materi dan model pembelajaran. James Deese. Ratna Wilis Dahar. Long-term Memory For Knowledge Learned in School. 1997. New York: Holt.2: 305-316 . Dampak Pertanyaan dan Teknik Bertanya Guru Selama PBM IPA Pada Berpikir Siswa. b.. Handout Mta Kuliah SBM: Tidak diterbitkan Osborne. Practical Statistics for Field Biology.M. New York: Holt. 1992. London: Mc.M. Alternatives to Practical Work. The Psychology of Learning. B and Wragg. Pertanyaan. Graw Hill Book Comp. Laporan Penelitian: tidak diterbitkan. 1985. New York: Renehart and Winston George. Saran a. Journal of Education Psychology. and Briggs L. Milton Keyners: Open University Press Mohamad Uzer Usman. Agar hasil pembelajaran dapat memberi dampak retensi yang kuat. Semb and Ellis. 1993. R.C. Bertanya.M.J. dalam pembelajaran guru hendaknya terampil membuat LKS dan memberi pertanyaan pertanyaan untuk siswanya terutama pertanyaan pengarah yang dapat menuntun siswa memahami konsep dengan baik. Gagne. 1967.

bahwa di dalam peristiwa pendidikan. 87. Jakarta: Rasindo Wynne Harlen.S. Wragg. 1997. Bila mana ditinjau secara luas akan jelas nampak bahwa manusia yang hidup dan berkembang adalah manusia yang selalu berubah dan perubahan itu adalah hasil belajar.M. Wang and Thomas. Effect of Keywords on Long-Term Retention: Help or Hindrance?. W. Psikologi Pengajaran. Jakarta: Gramedia.3: 468-475 Winkel. Menyadari bahwa perubahan yang tak disadari dan tak diarahkan lebih banyak memberikan kemungkinan perubahan tingkah laku yang berada di luar titik tujuan. Internet Travers. pendidikan merupakan proses yang berfungsi membimbing pelajar didalam kehidupan. Constructivist Theory. New York: Mc. Processing and Learning. Graw Hill Book Comp. 1992. Jakarta: Rineka Cipta Susan Hanley. Pendahuluan Sikap dari seorang guru adalah salah satu faktor yang menentukan bagi perkembangan jiwa anak didik selanjutnya. 1995..W. Keterampilan Mengajar di Sekolah Dasar. Mengingat pada saat ini banyak sikap dari seorang guru tidak lagi mencerminkan sikapnya sebagai seorang pendidik karena adanya berbagai faktor yang mestinya tidak terjadi dalam dunia pendidikan. 1987. karenanya masalah sikap guru dalam mengajar perlu mendapat perhatian kita semua. E. 1982. Pendidikan menurut hakekatnya memang adalah suatu peristiwa yang mempunyai aspek normatif yang artinya. Hanya soalnya tidak semua peristiwa belajar itu berlangsung secara sadar dan terarah. Karena siikap seorang guru tidak hanya dilihat dalam waktu mengajar saja. Proses pendidikan berlangsung tidak tanpa alasan dan atau tujuan. London: David Futton Publishers Sikap Mengajar Guru Serta Pengaruhnya dalam Pendidikan Ditulis oleh Sungging Handoko A. Belajar Dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya. 1997. pendidik dan anak didik berlangsung pada ukuran. R. The Teaching of Science. 1987. norma atau nilai-nilai yang diyakini sebagai suatu . tetapi juga dilihat tingkah lakunya dalam kehidupan sehari-sehari oleh anak didiknya. Journal of Education Psychology vol.Slameto.C. Yakni membimbing perkembangan diri sesuai dengan tugas-tugas perkembangan tersebut. Malahan pada dasarnya lebih banyak hal-hal yang dipelajari manusia dengan tak sadar dan terencana . dalam mencukupi kebutuhan hidup baik sebagai individu maupun sebagi anggota masyarakat.. Information. No.

Walaupunn tidak semuanya dilakukannya menurut suatu rencana tertentu. antara murid dan guru dan dapat juga merupakan rasa kekeluargaan yang berdasarkan kepentingan bersama antara orang-orang yang menurut alamnya bukan satu keluarga dan banyak lagi bentuk lain. Sebab pendidikan ini sangat mempengaruhi kehidupan manusia. Adapun sikap itu muncul dalam hubungan antara manusia yang mempunyai hubungan. Memberi contoh mengenai suatu tindakkan sedang suatu hal yang lain dijauhkan dari alam sekitar anak. bahwa seseorang yang ingin mempengaruhi orang yang belum dewasa. Memang ada juga pendidikan yang dilakukan oleh orang tua dengan anaknya dan itu terjadi di rumah. A. Pada dasarnya pendidikan ini sangat penting bagi umat manusia dalam mencapai taraf hidup yang mulia. Bukanlah dengan mudah dapat dilihat bahwa pendidik mengingini atau menolak sesuatu. mempengaruhi.yang baik. Hendaknya turut diperhatikan segala sesuatu yang mengandung arti bagi seorang pendidik atau suatu lingkungan pendidikan. maka sikap itupun tergantung pada manusia itu sendiri bagaimana caranya manusia itu menggunakannya dalam kehidupannya sehari-hari. Karena mengingat sikap itu terdapat di dalam diri manusia. Namun dari sikap dan tindakkanya telah mungkin diperoleh suatu gambaran dari seorang pendidik tidak hanya cukup menguraikan tapi harus memperhatikan sifat lahirnya (bentuk). Dalam sikap seseorang itu selalu terdapat suatu ketegangan antara milik pribadi yang tunduk pada sikapnya dengan perasaan bersatu dengan pemangku kesikapannya. Dalam pada itu perlu ditegaskan. Karena dengan mencapai pendidikan yang tinggi manusia akan dihormati. itu sebabnya mengapa sikap itu tidak dapat dilepaskan dari diri/pribadi pemangku sikap itu. belum tentu ia dapat disebut seorang pendidik. Perasaan bersatu itu dapat merupakan pengikat antara orang tua dan anak. bahwa mulanya tidak dapat dilepaskan dari hadirnya pemangku sikap itu sendiri. yang mana semuanya ini bersifat memberi bantuan kepada anak dalam perkembangannya mencapai “tujuan hidupnya”. dan memeberi bantuan kepada anak tertuju kepada pendewasaan anak itu atau lebih cepat “membantu anak agar cukup cakap melaksanakan tugas kehidupannya sendiri”. disegani dan dijunjung tinggi martabatnya di masyarakat. Sebab sifat yang khas pada seorang pendidik ialah bahwa setiap usaha. bahwa manusia bersama-sama dengan manusia lainnya yang memerlukannya. maka pengertian itu relatif adanya. Sikap-sikap dan pengaruhnya dalam pendidikan Kalau kita tinjau pengertian sikap ini. Hanya usaha mempengaruhi yang demikian saja yang dapat disebut “pendidik” dan “mendidik” ialah mempengaruhi dengan maksud mencapai tujuan yang bersesuaian dengan pembentukan pribadi anak. Jadi bukan hanya bersama-sama pada suatu tempat. Karena dalam pendidikan ini biasanya dilakukan dalam keadaan sadar antara pendidik dan anak didik. memperoleh/mengharuskan atau memberantas atau sikap tertentu. .

Sikap-sikap guru dalam mengajar serta pengaruhnya. Tetapi tidak dengan begitu saja ia akan merubh sikapnya itu tanpa ia mentelaah lagi kesalahan dari sikapnya itu. kalau murid-murid belum tenang sungguh-sungguh. Karena dengan sikap bahwa orang itu mempunyai yang dapat dipertanggung jawabkan. Bergembiralah selalu (sebagai seorang guru harus pandai bermain sandiwara). jangan terlalu banyak menggunakan gerak-gerak tangan waktu berbicara. Bergeraklah dengan tengan dan berbicaralah dengan suara yang sedang dan jangan ribut. dimana orang sering sempat berani dan bebas serta progresif dalam hal berpakaian. Bagi seorang guru kita haris berani: . 1. Sikap berpakaian. Kerena itu peganglah teguh disiplin kelas. padahal ia telah membuat persiapan dengan sungguh-sungguh. Tak usah berpakaian yang gemerlapan atau dari bahan yang sangat mahal. jangan berbicara terlalu keras dan jangan pula berbicara terlalu pelan atau lemah. Kalau masih ada murid-murid yang bercanda. Jangan bercelana Napoleon atau bergaun you can see di muka kelas. yaitu. bersikap tegas berarti begini: kalau guru menyuruh murid-muridnya supaya tenang. bercakap-cakap dan guru terus melanjutkan mengajar. Ia makin bertambah bingung dan pelajaran menjadi kacau dan gagal sama sekali. Tunjukkanlah semua pertanyaan kepada semua kelas seluruhnya dan baru kemudian tunjukkanlah seorang murid-murid menjawab. Ingat bahwa seorang guru yang ganjil dalam berpakaian dapat menerbitkan geli hati dan celaan muridmurid. maka hal ini kita bicarakan. Sering suasana kelas dipengaruhi oleh sikap guru di muka kelas. mungkin guru. Ia merasa bahwa ada sesuatu yang menggelisahkan dan meragukan hatinya dengan sendirinya ia tidak dapat menyatukan segala perhatiannya dan pikirannya pada pelajaran yang sedang ia berikan. B. dan sikap adalah salah satu faktor yang terdapat di dalam diri seseorang. Memang sikap adalah hak seseorang untuk menentukan sesuatu. kalau guru ribut kelas akan segera ribut pula. Mengenai sikap di muka kelas perlu diperhatikan hal-hal yang lain. berbicaralah dengan tenang dan tegas.Sikap sesorang itu susah dipengaruhi oleh orang lain bila ia telah menentukan sikapnya. 2. sederhana tetapi terpelihara. Jadi sikap itu sangat berpengaruh dalam diri sesorang. sedang susah namun janganlah kesusahannya itu ditunjukkan kepada murid-murid. Sikap di muka kelas. Kalau mereka belum tenang dan jangan mulai mengajar atau melanjutkan pelajaran. Sebenarnya hal ini tidak perlu dibicarakan akan tetapi mengingat keadaan sekarang. jangan menggangap. Akibatnya seorang guru tidak dapat mengajar dengan tenang. Sebaiknya seorang guru berpakaian hendaknya sopan. Kelas menjadi gaduh. mereka harus mengidahkan suruhannya. maka percakapan itu akan menjadi menjalar dan kelas akan menjadi gaduh. Bersikap tegas tidak sama dengan bersikap keras. kalau guru ragu-ragu dan kelas menjadi tentang kalau guru bersikap tegas dan bijaksana. bisa sikap itu berubah bila sikapnya itu dianggap salah olehnya.

Asas-asas didaktik teleh diprektekkan Ia mengajar dengan penuh kegembiraan dan enthousianisme. Sikap sabar. 4. c. mengejek. hal ini sangat merugikan bagi perkembangan anak murid selanjutnya. d. saling tolong menolong. . Dalam kelas yang suasananya baik. Seorang guru ilmu pasti pernah melemparkan kata-kata demikian kepada seorang murid “meskipun kamu bekajar 10 tahun lagi kamu tak akan mengerti juga”.a. mencelanya. Lebih berbahaya lagi kalau seorang murid dijadikan sasaran ejekan teman-temannya. Sering guru merasa. orang yang lekas marah mudah bertindak yang kurang baik. b. Guru selalu kecewa dan kekecewaan yang terus menerus dapat menjadikan guru mudah putus asa. karena hasil pengajaran dan pendidikan kita tidak selalu segera kelihatan oleh kita. 5. Janganlah guru lekas marah karena itu. memukulnya dan sebagainya. Guru mudah marah menghukum anak. Dan kata-kata demikian ini secara paedagogis dan psychologis tidak dapat dipertanggung jawabkan. Anak-anak tidak selalu segera mengerti akan maksud kita dan mengindahkan keinginan kita. matanya. Sikap yang lekas marah Banyak hal yang dapat mengecewakan guru. yang kotor. Jangan memberi hukuman badan. dan sebagainya. bahwa ia telah mengajar dengan baik dan sungguh-sungguh. e. Jangan bersikap putus asa. yang tolol. Banyak anak murid yang menjadi sakit hati dan tak mau berbuat lagi sesuatu. Ciptakan suasana kelas yang baik. Mereka giat bekerja dan merasa suatu keluarga. murid-murid dapat bekerja bersma-sama. Sikap yang mengejek murid. namun demikian hasilnya tidak sesuai dengan apa yang diharapkannya. 3. Karena itu harap sabar. yang selalu gaduh. cintailah muridnurid seperti ibu bapak mencintai anak-anaknya. kata-kata yang demikian dapat membuat murid-murid bersikap acuh tak acuh dan menjadi putus asa. Berani memandang tiap-tiap murid. Jangan mengajak murid-murid. f. umpamanya: murid yang tidak sopan . Guru yang kecewa mudah berbuat hal-hal yang tidak baik umpamanya mengejek. mengeluarkan kata-kata yang kasar yang dapat mematahkan semangat belajar murid. Usahakanlah murid-murid bekerja sendiri. mencela.

Lagi pula kalau guru sudah sering atau biasa memberi hukuman badan ia tidak segansegan memberi hukuman yang lebih berat lagi kepada murid. ada yang meminta lebih . tetapi dalam hatinya timbul rasa tidak senang terhadap guru. Dan itu membuktikan bahwa tidak ada ketertiban. Larangan biasanya merupakan hal yang tidak menyenangkan bagi murid. Sikap guru yang bertanggungjawab Sama halnya dengan dokter. 8. 9. menedang. Guru yang banyak mengadakan larangan membuktukan bahwa perinta-perintahnya tidak dituruti oleh murid-muridnya. Guru yang baik. guru boleh memberi hukuman badan. atau ia menjadi takut kepada guru. Dengan hukuman yang demikian itu murid dapat dirugikan/disakiti karenanya. dan hukuman yang diberikan sesungguhnya tidak begitu dipertimbangkan. guru dilarang memberi hukuman badan. Dan mereka sendiri yang diperlakukan lebih manis itu merasa tidak senang akhirnya. montir. karena itu jangan banyak melarang. Sikap yang memberi hukuman badan. metode dan kecakapan dasar lainya yang perlu dapat untuk melaksanakan tugasnya. artinya: kalau ia sudah mempertimbangkan hukuman itu masak-masak. apakah guru itu bertidak adil dan jujur. 7. Bersikap jujur dan adil. ahli hukum. kalau ia sebagai orang tua terhadap anaknya. Memukul murid dengan tongkat kecil. untuk memberi hukuman badan. Menurut hemat penulis. Secara personlijk sesungguhnya tidak memberi larangan mutlak. Jadi hukuman itu tidak diartikan pada waktu guru bernyala-nyala marahnya. Ada jenis pekerjaan yang lebih banyak menuntut syarat fisik. tidak jujur. mereka lekas-lekas mengecap gurunya dengan kata-kata: tidak adil. bertanggung jawab penuh atas tindakannya itu. sebab biasanya perintahnya dituruti. mereka lekas melihat. Menurut peraturan sekolah. Larangan yang banyak dapat menimbulkan kemungkinan besar untuk melanggar peraturan tanpa disadari oleh murid-murid. Yang satu diperlakukan lebih manis dari pada yang lain. gurupun membutuhkan sejumlah pengetahuan.6. Murid-murid akan lekasa mengerti. Sikap yang banyak memberi larangan. melempar dsb. jarang melarang. bahwa hukuman itu satu-satunya obat yang manjur untuk memperbaiki murid. umpamanya: memukul. dan kedua-duanya tidak baik. Memang masih ada guru-guru yang memberi hukuman badan. Murid yang lebih kecil itu biasanya tidak berani melawan. bukan hak itu tidak jarang dilakukan. pilih kasih dan sebagainya. insinyur. ini adalah suatu bahaya bagi mereka. Suasana kelas akan menjadi lebih buruk karena sikap guru yang demikian. dan tidak diberikan untuk membalas dendam. bahwa guru memperlakukan mereka tidak sama.

dituntut memiliki sikap yang tepat sesuai dengan tuntutan tugas profesionalnya sebagai seorang pendidik yang bertanggung jawab. serta menjadikan murid-muridnya menjadi manusia dewasa susial serta bertanggung jawab moral. Memang kenyataan-kenyataan itu membenarkan teori didaktik yang meletakkan berbagai pertanggungan jawab pada pundak seorang guru disamping tugasnya mengajar suatu pengetahuan.banyak syarat-syarat emosi. Karena dengan tidak adanya rasa tanggung jawab dari guru maka anak didik itu akan berbuat hal-hal yang tidak dibenarkan dalam pendidikan. Bila seorang guru tidak mempunyai rasa tanggung jawab maka banyak pengaruhnya pada anak didik itu. maka dapat diambill beberapa kesimpulan Bahwa pendidikan merupakan unsur yang terpenting dalam kehidupan manusia.. Langevld. Dengan tidak adany rasa tanggung jawab dari seorang guru maka tidak mustahil bila tujuan pendidikan yang akan dicapai akan tidak tercapai apa yang diharapkan oleh guru itu sendiri maupun oleh orang tua sekolah dan negara. I. Karena seringkali anak didik akan mencontoh apa-apa yang dilakukan oleh pendidiknya. Beknopte Theoretische Paedagogiek. Begitu pula keadaannya dengan tugas mengajar bila ditinjau sebagi tugas yang memperoleh gambaran mengenai jenis pengetahuan dan ketrampilan dasar yang dibutuhkan setiap orang yang mempersiapakan diri untuk terjun dalam bidang ini. seorang guru harus mempunyai rasa tanggung jawab yang dalam. ada pula pada syarat intelek. Bahwa sikap guru dalam mendidik memiliki pengaruh terhadap perkembangan jiwa anak didik sehinggaGuru. Salah satu caranya ialah dengan mengamati dan menganalisa berbagai situasi pendidikan. Simanjuntak M.. Majalah Mahasiswa No. nasco. Pedoman Mengajer Oleh Raga Pendidikan Di sekolah Dasar. P.J. VI Januari 1993 M. A. cv. DR. Dan guru memjadi orang tua mereka di dalam mempelajari dan membangun sistem nilai yang dibutuhkan dalam masyarakat. Mashoed. Guru harus menjadi pembimbing dan penyuluh yang segar yang memelihara dan mengarahkan perkembangan pribadi dan keseimbangan mental murid-muridnya. Daftar pustaka Abu Ahmad. Baru Jakarta 1996. Bambang Laksono. Semarang 1995. Jakarta 1989. sosial dan sebagainya. Yang menyebabkan perbedaan-perbedaan jenis pekerjan itu adalah tuntutan yang terdapat pada setiap jenis pekerjaan. Prof. diterjemajkan. Penutup Daripembahasan diatas ini. Yang kemudian dianalisa dan dikembangkan melalui sebuah masa pendidikan. cv. .33 Thn. Dalam pendidikan hendaknya seorang guru harus dapat bertanggung jawab demi masa perkembangan anak didiknya. C. Memang dalam mendidik. Toha Putra. Didaktik Metodik.

mengajak kita untuk memperbarui pendekatan kita terhadap pembelajaran untuk memenuhi tuntutan adanya dinamika kebudayaan yang bermetabolisme tinggi ini.L. fragmentasi. Bandung 1993. lamban. cetakan ketiga. pelatih sebagai pelaksana program. Accelerated Learning (A. dan tekanan pada format “Saya-bicara-kau-mendengar” (yang juga dikenal sebagai teknik membosankan). dan program pelatihan sebagai proses jalur perakitan. pada prestasi individu. Metode-metode belajar konvensional. Dan teknologi canggih atau “teknik-teknik” cerdas apapun yang dibangun di atas landasan lama ini tidak akan dapat membantu memperbaiki permasalahan. Tarsito. bahwa pembelajaran terutama bersifat verbal dan kognitif. FKIP-UNLA 2000. penulis buku The Accelerated Learning Handbook. belajar adalah bekerja untuk menemukan cara-cara mempercepat dan mengoptimalkan belajar .) telah dipraktikkan oleh setiap anak yang dilahirkan. (A. Dasar Dan Teknik Instraksi Mengajar dan Belajar. Sebagai suatu gerakan modern yang mendobrak cara belajar di dalam pendidikan dan pelatihan terstruktur yang muncul kembali sebagai akibat adanya sejumlah pengaruh pada paro kedua abad ke-20. satu-ukuran-untuk-semua.Otang Kardi Saputra. Yang kita butuhkan adalah landasan yang benar-benar baru. pengondisian behavioristis (hadiah dan hukuman). Winarno Surakhmad. organis bukan sekedar mekanis. kontrol birokrasi terpusat. Dimana Kita merasa bahwa itulah satu-satunya cara untuk mempersiapkan pelajar menjalani kehidupan yang kering dan membosankan Idealnya Belajar ditandai dengan keterlibatan penuh pembelajar.) adalah cara belajar yang alamiah. Revolusi dalam Belajar Kepercayaan-kepercayaan abad kesembilan belas dan awal abad kedua puluh di Barat cenderung membuat pembelajaran muram. pengotak-ngotakan (orang dan pokok masalah). dan tidak efektif. motivasi internal (dan bukan sematamata eksternal). variasi dan keragaman dalam metode belajar. yang diterbitkan oleh McGraw-Hill New York tahun 2000. Dan perlu melakukan perubahan yang bersifat sistemis bukan bersifat kosmetik . cenderung menyerupai bentuk dan gaya pabrik: mekanisasi. akarnya telah tertanam sejak zaman kuno. kerja sama murni. dan integrasi belajar yang lebih menyeluruh ke dalam segenap kehidupan organisasi. Landasan lama didasarkan pada anggapan bahwa pembelajar adalah konsumen. standardisasi. Alasannya? Belajar bukan lagi persiapan untuk bekerja. kontrol luar. pada kerja sama . Accelerated Learning: Pendekatan Baru Pembelajaran Ditulis oleh Eki Baihaki Dave Meier. adanya kegembiraan dan kesenangan dalam belajar.L. Landasan baru didasarkan pada anggapan bahwa pembelajar adalah kreator. yang dilahirkan pada awal era ekonomi industri. Belajar dan Pembelajaran .

Kita harus membebaskan kecerdasan setiap orang yang unik dan bukan menindasnya atas nama staandardisasi atau “budaya perusahaan”. Buku itu mengundang perhatian banyak pendidik dan guru yang sedang mencari pendekatan belajar yang lebih efektif.dan prestasi kelompok. Lynn Schroeder dan Sheila Ostrander menerbitkan sebuah buku berjudul Superlearning yang mengemukakan karya psikiater Bulgaria. Yang dicari: membuat perilaku sejalan dengan produksi dan pemikiran rutin. bukan sesuatu yang mudah diramalkan dan tidak membutuhkan pikiran. Keadaan sudah tidak seperti dahulu lagi.) Lozanov merasa metode ini juga dapat diterapkan pada pendidikan. sugesti. kita semua harus menjadi inovator. (Dia menyebut ini “cadangan pikiran yang tersembunyi”. Pendekatan Lozanov Pada 1970-an. Tugas pendidikan dan pelatihan adalah mempersiapkan orang untuk menghadapi dunia yang relatif sederhana. Dia mendapati bahwa kombinasi musik. dan permainan kanak-kanak memungkinkan pelajar untuk belajar jauh lebih cepat dan jauh lebih efektif. kini kita harus menghasilkan “tokoh orisinal” yang dapat mengerahkan sepenuhnya energi mereka yang potensial dan menjanjikan. Dia merasa telah menemukan cara untuk melangkah masuk ke dalam sesuatu jauh di lubuk jiwa yng lebih dalam daripada kesadaran rasional. dan program belajar yang menyediakan lingkungan belajar yang kayapilihan dan cocok untuk seluruh gaya belajar. Bukannya menghasilkan manusia “fotokopi” seperti pada abad ke 19. Dengan disponsori pemerintah Bulgaria. Di setiap tingkatan. Belajar pada Abad Kedua Puluh Satu Kini. Belajar pada Abad Kesembilan Belas Cita-cita pendidikan abad kesembilan belas (yang masih mempengaruhi pemikiran banyak orang sekarang ini) adalah melatih orang dalam perilaku lahiriah yang didefinisikan secara sempit. Pendekatan belajar ini mengharuskan penumpulan diri seseorang sepenuhnya. dan kita lamban menyadarinya. Kesulitannya sekarang adalah bahwa dunia semacam itu tidak ada lagi. banyak pasien tersebut mengalami kemajuan besar. yaitu dunia tempat setiap orang harus mengerahkan seluruh kekuatan pikiran dan hati mereka sepenuhnya dan bertindak berdasarkan kreativitas yang penuh kesadaran . Lozanov mendapati bahwa dengan menenangkan pasien psikiatri dengan musik barok dan memberi mereka sugesti positif mengenai kesembuhan mereka. dia mulai melakukan penelitian mengenai pengaruh musik dan sugesti positif pada pembelajaran. kesalingterkaitan. belajar sebagai aktivitas seluruh pikiran/tubuh. statis. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Accelarated Learning . Georgi Lozanov. dan dapat diramalkan. Kabar mengenai temuannya menyulut imajinasi guru bahasa dan pendidik di mana-mana. agar dapat memperoleh hasil standar yang dapat diramalkan. dengan menggunakan bahasa asing sebagai materi subjek. tugas pendidikan dan pelatihan adalah mempersiapkan orang untuk hidup di dunia yang pasang surut.

langkah-demi-langkah) dan bangkitnya fisika kuantum telah memberi kita apresiasi baru terhadap kesalingterkaitan dari segala sesuatu dan terhadap hakikat realitas yang nonlinear. Runtuhnya Behaviorisme sebagai psikologi yang dominan dalam pembelajaran telah mendorong timbulnya keyakinan-keyakinan dan praktik-praktik yang lebih manusiawi dan holistis. dan aplikasi A. 2. seluruh tubuh. tetapi juga melibatkan seluruh tubuh/pikiran dengan segala emosi. Gerakan Pendidikan Confluent yang dimulai pada 1940-an. memakai “otak kiri”. Yang juga berpengaruh besar adalah Sekolah Montessori yang didirikan oleh Maria Montessori. nonmekanistis. Beberapa gerakan paralel pada abad ke-20 telah mendukung hidupnya berbagai pendekatan pendidikan alternatif: Gerakan Sekolah Progresif yang dimulai pada 1920an. Gerakan Pendidikan Humanistis yang dimulai pada 1950-an. rasional. Penelitian mutakhir menunjukkan bahwa belajar yang paling baik melibatkan emosi. Lenyap sudah pendapat bahwa belajar itu semata-mata aktivitas verbal dan “kognitif”. Ini telah menantang secara serius gagasan kita mengenai pendidikan dan pelatihan formal sebagai proses jalur perakitan atau ban-berjalan. dan sarafnya. 6. semua indra. Penelitian tentang gaya belajar menunjukkan orang belajar dalam cara yang berbeda-beda dan satu jenis belum tentu tepat untuk semua orang. dan segenap kedalaman serta keluasaan pribadi (yang disebut oleh Lozanov “cadangan pikiran yang tersembunyi”). Pengetahuan bukanlah sesuatu . Bukan Mengonsumsi. 1. Belajar tidak hanya menggunakan “otak” (sadar. kreatif. 4. metode. dan Gerakan Sekolah Bebas pada 1960-an. Prinsip-prinsip Accelerated Learning. linear. Ilmu kognitif modern. Evolusi yang berlangsung lambat laun (namun tidak sempurna) dari kebudayaan yang didominasi pria menjadi kebudayaan yang menyeimbangkan perasaan pria dan wanita memungkinkan berkembangnya pendekatan yang leih lembut. indra. kolaboratif. Tumbangnya pandangan-dunia Newtonian (bahwa alam bekerja seperti mesin. terutama penelitian mengenai otak dan belajar. diantaranya : 1. dan “hidup”.L. dan verbal). Kebudayaan dan keadaan di tempat kerja yang selalu berubah telah membuat banyak metode pendidikan dan pelatihan menjadi lamban dan usang dan telah membuka pintu bagi pendekatan alternatif. telah mempertanyakan banyak asumsi lama kita mengenai pembelajaran. Sekolah Waldorf oleh Rudolph Steiner. 2. 5. 3. 7. Belajar Melibatkan seluruh Pikiran dan Tubuh. dan gerakan Sekolah Summerhill di Inggris yang dipimpin oleh Alexander Sutherland Neill. secara otomatis patuh pada proses yang mandiri. Belajar adalah Berkreasi. dan bersifat mengasuh pada aktivitas belajar.Banyak faktor lain telah memberikan sumbangan pada perkembangan yang mantap dan berlangsung terus-menerus dalam filosofi.

dan otak akan berkembang pesat jika ia ditantang untuk melakukan banyak hal sekaligus 5. otak bukanlah prosesor berurutan. Pembelajaran yang baik melibatkan orang pada banyak tingkatan secara simultan (sadar dan bawah-sadar.Pd. dan cara memperhatikan kebutuhan konsumen dengan memperhatikan kebutuhannya. S. Pembelajaran Berlangsung pada Banyak Tingkatan secara Simultan. . (dosen tetap pada Universitas Langlangbuana di Bandung). mental dan fisik) dan memanfaatkan seluruh saraf reseptor. merenung. Belajar bukan hanya menyerap satu hal kecil pada satu waktu secara linear. menyakitkan. Bagaimanapun juga. mendapatkan umpan balik. Belajar Berasal dari Mengerjakan Pekerjaan Itu Sendiri (dengan Umpan Balik). dan menerjunkan diri kembali. dan pola interaksi elektrokimia baru di dalam sistem otak/tubuh secara menyeluruh. melainkan sesuatu yang diciptakan pembelajar. 3. cara menual dengan menjual. Otak-Citra Menyerap Informasi secara Langsung dan Otomatis. Persaingan di antara pembelajar memperlambat pembelajaran. 6. Hal-hal yang dipelari secara terpisah akan sulit diingat dan mudah menguap. Pembelajaran terjadi ketika seorang pembelajar memadukan pengetahuan dan ketrampilan baru ke dalam struktur dirinya sendiri yang telah ada. melainkan menyerap banyak hal sekaligus. Belajar yang penuh tekanan. dan bersuasana muram tidak dapat mengungguli hasil belajar yang menyenangkan. Gambar konkret jauh lebih mudah ditangkap dan disimpan darpada abstraksi verbal. Perasaan positif mempercepatnya. cara bernyanyi dengan bernyanyi. cara mengelola sesuatu dengan mengelolanya. Kita belajar berenang dengan berenang. Perasaan menentukan kualitas dan juga kuantitas belajar seseorang. Belajar secara harfiah adalah menciptakan makna baru. Semua usaha belajar yang baik mempunyai landasan sosial. 4. Suatu komunitas belajar selalu lebih baik hasilnya daripada beberapa individu yang belajar sendiri-sendiri. melainkan prosesor paralel. jalan dalam sistem total otak/tubuh seseorang. dan menarik hati. Sistem saraf manusia lebih merupakan prosesor citra darpada prosesor kata. jaringan saraf baru. Kerja sama di antara mereka mempercepatnya. Belajar paling baik adalah dalam konteks. Pengalaman yang nyata dan konkret dapat menjadi guru yang jauh lebih baik daripada sesuatu yang hipotetis dan abstrakasalkan di dalamnya tersedia peluang untuk terjun langsung secara total. Emosi Positif Sangat Membantu Pembelajaran. santai. Aspek Ekonomi dalam Pendidikan Ditulis oleh Cucu Lisnawati Penulis: Cucu Lisnawati. Menerjemahkan abstraksi verbal menjadi berbagai jenis gambar konkret akan membuat abstraksi verbal itu bisa lebih cepat dipejari dan lebih mudah diingat. indra. Kerja Sama Membantu Proses Belajar. Kita biasanya belajar lebih banyak dengan berinteraksi dengan kawan-kawan daripada yang kita pelajari dengan cara lain manapun. 7. Perasaan negatif menghalangi belajar.yang diserap oleh pembelajar.

Dengan demikian. tidak selamanya pendidikan dianggap sebagai konsumsi atau pembiayaan. jawaban atas pertanyaan tersebut dapat digambarkan berikut ini. Kata Kunci: Ekonomi pendidikan. Selain itu dihipotesiskan pula bahwa faktor utama yang mendukung . Konsep pembangunan dalam bidang sosial ekonomi sangat beragam tergantung konteks pengggunaanya. Teori ini didasari pertimbangan bahwa cara yang paling efisien dalam melakukan pembangunan nasional suatu negara terletak pada peningkatan kemampuan masyarakatnya. yang secara jangka panjang kontribusinya dapat dirasakan.Abstrak: Masalah pendidikan sebenarnya tidak dapat dilepaskan dari masalah ekonomi. Ahli-ahli ekonomi mengembangkan teori pembangunan yang didasari kepada kapasitas produksi tenaga manusia di dalam proses pembangunan. yang kemudian dikenal dengan istilah Invesment in Human Capital. Ukuran-ukuran Kontribusi Pendidikan Terhadap Pembangunan dan Pertumbuhan Ekonomi Bagaimanakan keterkaitan pendidikan dan pertumbuhan ekonomi? Secara sederhana. pendidikan harus dipandang sebagai investasi. pembiayaan dalam pendidikan. A. kontribusi pendidikan terhadap ekonomi dan pembangunan harus diakui. kita tidak dapat melepaskan diri dari masalah pembangunan. Sudah saatnya. Baik secara langsung maupun tidak langsung. investasi dalam pendidikan. Untuk menjawab hal tersebut di atas.

namun pendidikan tidak selalu harus menghasilkan lulusan dengan jenis pekerjaan tertentu. 5. Kepuasaan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat. Pencapaian tujuan-tujuan oleh berbagai kelompok dalam masyarakat. Adannya sumber daya manusia yang dapat memanfaatkan teknologi yang ada. tetapi sekolah bukan satu-satunya tempat dimana keterampilan itu dapat dicapai. 6. Pendapatan per-kapita 2. Perubahan peta ketenagakerjaan dari pertanian ke industri 3. Sumber daya manusis seperti itu dihasilkan melalui proses pendidikan. Menurut teori ini pertumbuhan dan pembangunan memiliki 2 syarat. Peningkatan dalam efisiensi sistem produksi masyarakat yang diukur dengan GDP dan GNP. Asumsi dasar yang melandasi keharusan adanya hubungan pendidikan dengan penyiapan tenaga kerja adalah bahwa pendidikan diselenggarakan untuk meningkatkan keterampilan dan pengatahuan untuk bekerja. diantaranya: 1. Hal inilah yang menyebabkan teori human capital percaya bahwa investasi dalam pendidikan sebagai investasi dalam meningkatkan produktivitas masyarakat. Konsumsi energi atau pemakaian barang berteknologi tinggi seperti mobil. Diantara ukuran-ukuran tersebut. Terdapat berbagai macam faktor untuk mengukur bagaimana pertumbuhan ekonomi diukur dengan baik. dan 2. Adanya pemanfaatan teknologi tinggi secara efisien. Pola keterkaitan antara pendidikan dan pembangunan berbeda sesuai dengan .pembangunan adalah pendidikan masyarakat. Namun demikian pada kenyataannya tingat pengangguran di hampir seluruh negara bertambah sekitar 2 % setiap tahunnya (World Bank:1980) Terjadinya pengangguran bukan disebabkan tidak berhasilnya proses pendidikan. telepon. yang dikaitkan dengan penggunakan sumber daya yang terbatas. Sekolah memang dapat menghasilkan tenaga kerja dengan keterampilan tertentu. Teori human capital mengasumsikan bahwa pendidikan formal merupakan instrumen terpenting untuk menghasilkan masyarakat yang memiliki produktifitas yang tinggi. Dengan kata lain. televisi Dengan demikian kriteria untuk menilai keberhasilan pembangunan: 4. yaitu 1. pendidikan menyiapkan tenaga-tenaga yang siap bekerja.

Jelas bagaimana pentingnya analisis kontribusi pendidikan dalam pembangunan. Negara Industri vs Non-Industri. memiliki konteks yang berbeda dalam mengitepretasikan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan. Dari uraian di atas. Secara ringkas tampak berikut ini. Konsumsi energi atau pemakaian barang berteknologi tinggi . perekonomiannya sangat tergantung kepada sektor pertanian sehingga persentase tenaga kerjanya lebih banyak yang bekerja di sektor non-industri. Di negara maju memiliki akumulasi modal yang lebih besar. sehingga jumlah tabungan semakin lebih besar dan pada akhirnya akan diinvestasikan lagi pada sistem ekonomi yang telah berjalan. konsumsi energi yang lebih besar dibandingkan negara kurang berkembang. artinya data diperoleh dari kejadian-kejadian yang telah lampau. maka untuk membicarakan lebih lanjut kontribusi pendidikan terhadap pembangunan harus ditemukan kriteria-kriteria atau ukuranukuran pertumbuhan atau hasil pembangunan. sebagai akibat dari kelebihan pendapatan setelah dikurangi kebutuhan konsumsi. Di Amerika Serikat yang sudah maju. Analisis terhadap pendidikan biasanya bersifat ex-post fakto. bukan ditentukan oleh masing-masing warga negara. maka dapatlah dirumuskan ukuran-ukuran sebagai berikut. 2. Kaitan antara pendidikan dengan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan seolah tidak terlihat karena pembangunan sangat diatur oleh negara. Salah satu alasan banyaknya kontroversi tentang kaitan antara pembangunan dan pendidikan disebabkan karena sedikit sekali kebijakan pendidikan yang dimonitor benar-benar dan juga dievaluasi hasilnya. Pemerintah memiliki peranan di dalam mengontrol jalannya proses produksi dan pemasaran. Di negara maju. Teknologi tinggi dan sumberdaya yang mengoperasikannya 2. 1. Metode yang sering dipakai dalam penelitian evaluasi adalahl linear regresion and the educational production. dengan memperhatikan kerangka berpikirnya dan metodologinya. Sebenarnya konsep bagaimana pendidikan itu harus dievaluasi harus dikembangkan sejak tujuannya ditetapkan. Ekonomi di negara kapitalis mengasumsikan bahwa model produksinya bebas dari intervensi pemerintah dan mensyaratkan adanya kompetisi terbuka di dalam pemasaran. Negara Kapitalis vs Negara Sosialis.karakteristik khas setiap negara. 1. persentase pekerja yang bekerja di sektor industri sebesar 33 % dan di bidang jasa/service sebesar 66 %. penduduknya memiliki pendapatan perkapita yang lebih tinggi. pemakaian teknologi yang canggih. Berdasarkan hal tersebut di atas. Hubungan antara pendidikan dan pertumbuhan ekonomi sangat erat dan pendidikan merupakan suatu hal yang diperlukan. Perubahan peta ketenagakerjaan dari pertanian ke industri 4. Ekonomi di negara sosialis. Pendapatan per-kapita 3. Di Meksiko persentase di sektor yang sama adalah 23 % dan 33 %. Di negara non-industri. Hubungan antara pendidikan dan pembangunan di negara maju sangat jelas dilihat dari adanya perubahan karakteristik individu yang berkaitan dengan tingkat pertumbuhan ekonomi.

Kenneth J. Kepuasaan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat 7. Modal atau uang yang ditanamkan bertujuan untuk mendapatkan keuntungan. Konsumsi energi A. Konsep Investasi dalam Pendidikan Investasi berarti penanaman modal atau uang. Perubahan peta ketenagakerjaan.5. Pendidikan. maka untuk mengetahui keterkaitan antara pendidikan dan pembangunan diperlukan data sebagai berikut. Biaya atau cost suatu investasi merupakan keuntungan yang diperoleh dibagi dengan penggunaan sumber daya dalam berbagai kegiatan lain. maupun Pendapatan Perkapita 3. baik dalam bentuk Pendapatan Nasional Bruto. yang meliputi partisipasi pendidikan untuk setiap jenis dan jenjang pendidikan 2. Pencapaian tujuan-tujuan oleh berbagai kelompok dalam masyarakat. Hal ini berarti bahwa inti pendidikan itu adalah pembelajaran seumur hidup (life long learning). Investasi dalam pendidikan merupakan penanaman modal dengan cara mengalokasikan biaya untuk penyelenggaraan pendidikan serta mengambil keuntungan dari sumber daya manusia yang dihasilkan melalui pendidikan itu. Peningkatan dalam efisiensi sistem produksi masyarakat yang diukur dengan GDP dan GNP 6. dengan rentangan pertanian-jasa-industri 4. Arrow (1962) mengemuikakan bahwa istilah investasi atau investment merupakan alokasi current resources yang mempunyai alternatif produktif yang berguna untuk pelaksanaan kegiatan yang dapat menambah keuntungan yang diperoleh di masa yang akan datang. Pendapatan Domestik Bruto. Sementara itu pendidikan merupakan usaha manusia untuk membangun manusia itu sendiri dengan segala masalah dan spektrumnya yang terlepas dari dimensi waktu dan ruang. Dalam konteks ini pendidikan ini diapandang sebagai industri pembalajaran manusia. Dengan demikian maka investasi dalam . sementara bentuk pendidikan formal. baik berupa uang atau modal maupun dalam bentuk barang atau jasa. pendidikan non formal (luar sekolah) dan sebagainya hanya merupakan modus operandi dari proses pendidikan. 1. artinya melalaui pendidikan dihasilkan manusia-manusia yang mempunyai kemampuan dan keterampilan yang sangat diperlukan bagi perekonomian suatu negara untuk meningkatkan pendapatanindividu dan pendapatan nasional. yang dikaitkan dengan penggunakan sumber daya yang terbatas. Berdasarkan ukuran tersebut di atas. Dengan demikian jelas bahwa investasi merupakan penanaman modal atau uang yang sengaja dilakukan untuk mendatangkan keuntungan melalui produk yang dihasilkan. Oleh sebab itu maka hasil pendidikan akan menjadi sumber daya manusia yang sangat berguna dalam pembangunan suatu negara. Pendapatan nasional. Pendidikan di sini dimaksud untuk meningkatkan martabat manusia agar mempunyai ketermapilan dan kemampuan sehinggan produktivitasnya meningkat.

Lebih lanjut dikemukakannya bahwa ada model investasi dalam bentuk sumber daya manusia yang secara langsung atau tidak melakukan hubungan antara indikator pendidikan di satu pihak dan indikator ekonomi di lain pihak. Sistem pendidikan menciptakan dan mempertahankan penawaran ketermapilan manusia di pasar pemburuhan yang luwes dan mampu mengakomodasi dan beradaptasi dalam hubungannya dengan perubahan kebutuhan akan tenaga kerja dan masyarakat teknologi modern yang sedang berubah (Komaruddin. Apabila dalam setiap sektor ekonomi kita dapatkan segala faktor yang dibutuhkan masyarakat kecuali tenaga kerja yang terampil. Model yang dimaksudkan adalah model analisis biaya dan keuntunganpendidikan (cost benefit analysis). Human capital di sini merujuk pada tenaga kerja sebagai suatu faktor produksi yang menghubungkan aspek non-ekonomi pendidikan terhadap aspek ekonomi lainnya yang mempunya dua ciri esensial. pengetahuan dan produktivitas kerjanya. kualitas manusia dan pendapatan nasional. 2. Sebagai fungsi investasi. Investasi pendidikan dapat mempertahankan keutuhan dan secara konstan menambah persediaan pengetahuan dan memungkinkan riset dan penemuan metode serta teknik baru yang berkelanjutan. Model ini merupakan metodologi yang sangat penting dalam melakukan analisis untuk investasi pendidikan dan dapat membantu pengambilan keputusan untuk . Backer. Sistem pendidikan menyiapkan landasan yang tepat bagai pembangunan dan hasilhasil rises (jaminan melekat untuk pertumbuhan masyarakat modern yang berkesinambungan). Kualitas tenaga kerja sebagai suatu input produktif tidak dapat dibagi dan digunakan secara terpisah. Investasi dalam pendidikan memusatkan perhatian pada manusia sebagai sumber daya yang akan menjadi modal (human capital) bagai capital (Gary S. Ace Suryadi (1991) mengungkapkan bahwa menurut teori human capital yang tercermin dalam keterampilan. yaitu: 1. pendidikan memberikan sumbangan yang berarti dalam kenaikan tingkat kehidupan. 1962) berkenaan dengan kegiatan-kegiatan yang mempengaruhi real income masa yang akan datang melalui penempatan sumber daya dalam bentuk manusia. melainkan keuntungan bagi pribagi yang menerima pendidikan dan bagi negara. 2. kecuali bila struktur sosial yang hidup dalam masyarakat tersebut tidak menguntungkan. Kemampuan tenaga kerja tersebut tidak dapat dipindahkan kepada orang lain. 4. terutama dalam hal-hal berikut: 1. 3.pendidikan mempunyai jangka waktu yang panjang untuk dapat mengetahui hasilnya dan hasilnya itupun tidak dalam bentuk keuntungan lansung. Dalam kaitan ini. 1991: 14). maka investasi dalam sektor pendidikan akan menaikan pendapatan perkapita dalam sektor tersebut. Proses belajar mengajar menjamin masyarakat yang terbuka (yaitu masyarakat yang senantiasa beresedia untuk mempertimbangkan gagasan-gagasan dan harapanharapan baru serta menerima sikap dan proses baru tanpa harus mengorbankan dirinya).

Ini harus menjadi dasar untuk perencanaan pendidikan. Peningkatan pendapatan ini akan mendorong pada peningkatan fungsi konsusmsi. distribusi. B. Intervensi terhadap fungsi produksi berupa penyediaan tenaga kerja untuk berbagai tingkatan yaitu top. Ia harus mampu memprediksi dan mengantisipasi kualifikasi pengetahuan dan keterampilan tenaga kerja. Sementra itu Vaizey (1962) melihat pendidikan menjdi sumber utama bakat-bakat terampil dan terlatih. Program-program perluasan produksi melalui intensifikasi dan rasionalisasi merupakan salah satu wujud nyata dari peran prangata pendidikan atas fungsi produksi ini. pendidikan perlu mengantisipasi kebutuhan. Jones melihat. korelasi antara pendidikan dengan pendapatan tampak lebih signifikan di negara yang sedang membngun. Intervensi pendidikan terhadap ekonomi merupakan upaya penyiapan pelaku-pelaku ekonomi dalam melasnakan fungsi-fungsi produksi. Bentuk intervensi lain yaitu menciptakan teknologi baru dan menyiapkan orang-orang yang menggunakannya. Pendidikan memegang peran penting dalam penyediddan tenaga kerja. dan low management. Tabungan ini akan menjadi investasi . Menurutnya. dan konsumsi. karena pranata ekonomi membutuhkan tenaga-tenga terdidik dan terlatih. Pendidikan dan Pertumbungan Ekonomi Mungkinkah ada intervensi pendidikan terhadap pertumbuhan ekonomi? Pendidikan memiliki daya dukung yang representatif atas pertumbuhan ekonomi. bahwa pendidikan memiliki suatu kemampuan untuk menyiapkan siswa menjadi tenaga kerja potensial. yang ditunjukan dengan meningkatnya jumlah tabuhan yang berasal dari pendapatan yang disisihkan. yang kemudia akanmeningkatakan pendapatannya. Oleh karena itu. midle. untuk kemudian akan meningkatkan pendapatan dan taraf hidup masyarakat berpendapatan rendah. dan menjadi lebih siap latih dalam pekerjaannya yang akan memacu tingkat produktivitas tenaga kerja. Tyler (1977) mengungkapkan bahwa pendidikan dapat meningkatkan produktivitas kerja seseorang. Sementara itu Jones (1984) melihat pendidikan sebagai alat untuk menyiapkan tenaga kerja terdidik dan terlatih yang sangat dibutuhkan dalam pertumbuhan ekonomi suatu negara. Di samping tenaga kerja.memutuskan danmemilih diantara alternatif alokasi sumber-sumber pendidikan yang terbatas agar mampu memberikan kemampuan yang paling tinggi. Permasalahan yang dihadapai adalah jarang ada ekuivalensiyang kuat antara pekerjaan dan pendidikan yang dibutuhkan yang mengakibatkan munculnya pengangguran terdidik dant erlatih. atau secara ekstrim tenagra kerja krah biru dan krah putih. juga pendidikan mengintervensi produksi untuk penyediaan entrepreneur tangguh yang mampu mengambil resiko dalam inovasi teknologi produksi. Prediksi ketenagakerjaan sebagai dasar dalam perencanaan pendidikan harus mengikuti pertumbuhan ekonomi yang ada kaitannya dengan kebijaksanaan sosial ekonomi dari pemerintah. Intervensi terhadap fungsi distribusi adalah melalui pengembangan research and development produk yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan masyarakat atau konsumen. Peningkatan pendapatan ini berpengaruh pula kepada pendapatan nasional negara yang bersangkutan. Intervensi terhadap fungsi konsumsi dilakukan melalui peningkatan produktivitas kerja yang akan mendorong peningkatan pendapatan. yang secara langsung akan meningkatakan pendapatan nasional.

dan 2. Kondisi yang digambarkan tersebut menggiring ke arah perlunya mempedulikan persoalan moralitas secara lebih serius. yaitu: 1. Ini mengimplikasikan perlunya pembenahan yang serius pada wilayah moral. Sebagai ilustrasi. Abstrak: Sebagian dari akar permasalahan dari konflik sosial adalah kondisi sosialekonomi-politik. Pertentangan antar kelompok masyarakat telah menjurus pada gejala-gejala disintegrasi bangsa. Meningkatakan suplai tenaga kerja dengan keahlian tinggi dan konsekuensinya terhadap rendahnya gaji mereka. Pendidikan dan Pekerjaan Ukuran yang paling populer dalam melihat kontribusi pendidikan terhadap pertumbuhan ekonomi adalah mempertautkan antara pendidikan dengan pekerjaan. tingkat pendalaman agama. Pemikiran ini didasarkan pada anggapan bahwa pendidikan merupakan human capital. menginkatkan tingkat pendidikan pekerja berpenghasilan rendah akan memberikan tiga pengaruh positif.kapital yang tentunya akan lebih mempercepat laju pertumbuhan ekonomi suatu negara. pendidikan dalam keluarga. Pendidikan dan Konflik Sosial Ditulis oleh Elly Retnaningrum Penulis: Dra. M. . Meningkatkan produktivitas kerja dan konsekuensinya terhadap pendapatan 2. baik di keluarga.Pd. lingkungan yang ada dalam masyarakat itu sendiri kurang kondusif. sekolah maupun masyarakat. Pemikiran ini muncul pada era industrialisasi dalam masayarkaat modern. Dan ini bisa dilakukan melalui pendidikan. yaitu: 1. Argumen ini memiliki dua sepek. C. dan 3. yang berujung pada bentrokan fisik dengan atau tanpa senjata. Kata Kunci: Konflik sosial. tingkat pendidikan. Investasi pendidikan diharapkan menghasilkan suatu peningkatan kesejahteraan dan kesempatan yang lebih luas dalam kehidupan nyata. (dosen tetap pada Universitas Langlangbuana di Bandung). Pendidikan merupakan suatu bentuk investasi nasional untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang dibutuhkan dalam pertumbuhan ekonomi modern. terbentuknya mentalitas dan moralitas yang dilandasi ketidakdewasaan perilaku sosial psikologis. Menciptakan kekurangan pekerja berkeahlian rendah dengan konsekuensi mengingkatkan gaji pekerja golongan ini. Salah satu aspek yang subtansial adalah pengenalan dan penanaman nilai-nilai kebenaran dan kesalahan atau kebaikan dan keburukan yang terdapat dalam suatu tindakan. Hj. Elly Retnaningrum.

tingkat pendalaman agama yang lebih mengutamakan dimensi ritual seremonial telah menyebabkan kurang terinternalisasikannya nilai-nilai keagamaan dalam pribadi kolektif masyarakat. baik kepentingan yang berhubungan dengan karir atau petualangan politik maupun sekadar keuntungan ekonomi. Akar permasalahan Mencermati pelbagai konflik sosial yang merebak belakangan ini. Maraknya konflik sosial yang terjadi mengisyaratkan adanya sesuatu yang salah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita. kondisi ini mengakibatkan munculnya . Ini sungguh ironis terjadi dalam masyarakat yang berfalsafah hidup Pancasila. yang hingga saat ini nampaknya masih belum beranjak dari masa transisi. kondisi sosial-ekonomi-politik yang sudah menjurus pada chaos telah membentuk sikap dan perilaku masyarakat yang sulit diduga. Ketiga. Bukankah kegiatan-kegiatan yang sifatnya spiritual dapat dikatakan marak dan frekuensinya cukup tinggi? Apabila dilihat secara sepintas. tingkat pendidikan sebagian masyarakat yang kurang menyebabkan mudah sekali tersulut isu-isu yang tidak bertanggung jawab dan provokasi-provokasi (baik yang terorganisir maupun yang spontan) dari pihak-pihak yang memanfaatkan situasi untuk memecah belah dan mengambil keuntungan politis dari situasi itu. beberapa asumsi dapat diketengahkan untuk lebih memahami akar permasalahannya. Kedua. Lebih jauh.baik yang bernuansa SARA maupun tidak-. Apalagi ada pihak-pihak tertentu yang "mengobok-obok" dengan memancing di air keruh memanfaatkan situasi sesuai dengan kepentingan primordialnya. Tatkala kerusuhan bermunculan di pelbagai kawasan nusantara ini. dari perspektif pendidikan selalu terlontar pertanyaan: adakah kaitan antara pelbagai pertentangan antarkelompok masyarakat itu-.Ini telah menjadi 'cara pemecahan masalah' bagi sebagian masyarakat di negeri yang sesungguhnya sangat menjunjung tinggi rasa kemanusiaan serta persatuan dan kesatuan bangsa. yang apabila dirunut lebih lanjut akan bermuara pada kegagalan praksis pendidikan dalam masyarakat. Pertama. Konflik sosial yang telah mengorbankan nyawa dan harta benda seperti yang terjadi di Ambon. Sambas.dengan tingkat pendidikan masyarakat? Mengapa sebagian masyarakat mudah sekali tersulut isu-isu yang tidak tidak dapat dijamin kesahihannya? Apakah ini bertemali erat dengan tingkat pendidikan masyarakat? Rasanya memang kita sulit untuk percaya semua itu dapat terjadi. atau "perang" antarpelajar di Bogor belakangan ini telah menorehkan guratan luka psikologis-sosial dalam lintasan sejarah peradaban masyarakat Indonesia pasca Orde Baru. bukankah jumlah orang yang menjalankan perintah agamanya masing-masing relatif lebih tinggi apabila dibandingkan dengan yang tidak? Apakah kegiatan spiritual yang selama ini marak tidak lebih dari seremonial ritual tanpa pendalaman hakikat? Tidak mudah memang menjawab sederet pertanyaan tersebut. Tapi setidaknya kita dapat mengkaji kemungkinan yang memicu kejadian-kejadian yang mencoreng muka bangsa Indonesia di mata dunia internasional itu.

fanatisme berlebihan atau justru fanatisme semu yang seolah-olah membela kepentingan agama tetapi sesungguhnya yang dibela adalah kepentingan diri sendiri yang jauh dari ajaran agama. lingkungan yang ada dalam masyarakat itu sendiri kurang kondusif untuk memberikan ajaran moral kepada individu-individu yang menjadi anggotanya. merusak fasilitas umum. Selain itu. Keempat. . di lingkungan keluarga para orang tua dan orang dewasa perlu memfungsikan dirinya untuk memupuk keberanian anak dengan mengkondisikannya pada situasi yang memungkinkan anak mengemukakan pendapatnya tanpa kendala hirarki yang berlebihan. serta masyarakat. Fungsi guru dalam konteks ini adalah sebagai pendidik moral bagi murid-muridnya agar dapat berpihak pada kebenaran dan keharmonisan hidup antarsesama. masyarakat mudah sekali menghujat kesalahan orang lain hanya berdasarkan isu-isu bahwa tokoh yang bersangkutan adalah figur yang memang layak dihujat. dan semacamnya. maka penguatan landasan moral menjadi kebutuhan utama. Dan yang lebih mendasar. Ini mengisyaratkan perlunya penelusuran akar permasalahan yang mendasari peristiwa-peristiwa sejenis. yang setiap saat dapat muncul dimana saja dan kapan saja. yang tidak jarang memunculkan konflik kepentingan dan konflik sosial dalam arti luas. Antisipasi Kondisi yang digambarkan tersebut menggiring ke arah perlunya mempedulikan persoalan moralitas secara lebih serius. Kelima. Hanya karena isu yang tidak jelas bisa menyulut gerakan massa yang menjurus pada perilaku destruktif yang merongrong kamtibmas. baik di lingkungan keluarga. Ini mengimplikasikan perlunya pembenahan yang serius pada wilayah moral. Mengendurnya kontrol sosial serta langkanya figur yang dapat dijadikan panutan perilaku yang berlandaskan pada kebenaran agaknya dapat dijadikan sebagai salah satu alasan untuk lebih mempedulikan pendidikan moral. Hal ini mengingat telah tergerusnya nilai-nilai kebenaran dengan pelbagai pertimbangan lain yang menyebabkan adanya ketakutan untuk menyuarakan kebenaran itu. perlu juga dibiasakan untuk secara langsung mempraktikkan kegiatan-kegiatan yang sifatnya sosial. menghilangkan nyawa orang lain. Sejalan dengan perubahan yang sangat cepat dalam pelbagai dimensi kehidupan belakangan ini. memupuk keberanian untuk mengutarakan kebenaran dan mengulurkan tangan pada yang membutuhkan pertolongan agaknya perlu menjadi prioritas. Ini bisa diperkuat di sekolah. Misalnya. Salah satu aspek yang subtansial adalah pengenalan dan penanaman nilai-nilai kebenaran dan kesalahan atau kebaikan dan keburukan yang terdapat dalam suatu tindakan. ketiga kondisi tersebut pada gilirannya menggiring ke arah terbentuknya mentalitas dan moralitas yang dilandasi ketidakdewasaan perilaku sosial psikologis. Akibat lebih jauh adalah keengganan mengulurkan bantuan karena telah tumpulnya rasa solidaritas sosial serempak dengan makin mengedepannya pertimbangan untung-rugi. Untuk mengantisipasi kondisi itu. sekolah.

Ini mengisyaratkan bahwa melalui pendidikan yang baik dapat dibentuk manusia-manusia yang setia pada rel moralitas religius yang dijadikan sebagai sandaran setiap perilaku serta tidak mudah terhasut desas-desus sehingga mengakibatkan konflik sosial. yaitu mengkondisikan siswa agar belajar aktif sehingga potensi dirinya (kognitif. serta konflik sosial pada umumnya menunjukkan adanya persoalan moralitas yang cukup serius. afektif. pembenahan yang mendasar pada cara-cara dan juga materi pendidikan moral dalam lingkungan keluarga dan masyarakat merupakan kebutuhan mendesak yang semestinya mendapatkan prioritas untuk mengantisipasi perilaku masyarakat yang menyimpang dari nilai-nilai moral. sekolah. lingkungan pendidikan membentuk perilaku peserta didik untuk melakukan sosialisasi di masyarakat agar dapat meminimalkan atau bahkan meniadakan terjadinya konflik sosial. Kondisi seperti ini mengisyaratkan belum maksimalnya fungsi keluarga. Pernyataan tersebut mengisyaratkan bahwa praksis pendidikan amat menentukan dalam pembemntukan perilaku masyarakat. M. dan konatif) dapat berkembang dengan maksimal. dan ras dapat dihindarkan. Manakala praksis pendidikan (tidak hanya di sekolah) dapat difungsikan untuk penanaman nilai moral yang menghargai keberadaan orang lain dapat diwujudkan dan etika sosial yang mengedepankan kewajiban dan tanggung jawab manusia selaku manusia yang saling mengasihi dapat terbina maka prasangka etnis. H. kekerasan. agama. guru seyogianya mengetahui bagaimana cara siswa belajar dan menguasai berbagai cara membelajarkan siswa. Hal-hal apa saja yang dilakukan oleh seseorang tatkala menghadapi situasi tertentu pada hakikatnya sudah merupakan pertimbangan moral yang paling mendasar.Demikianlah. secara langsung maupun tidak langsung. dan masyarakat dalam menanamkan nilai-nilai moral. Model belajar akan membahas bagaimana cara siswa belajar. Agar hal tersebut di atas dapat terwujud. Ia sekaligus dapat dipergunakan sebagai instrumen untuk mengembangkan nilai moral dan etika sosial yang selaras dengan tuntutan perkembangan peradaban tetapi tetap mengacu pada nilai-nilai religi dan nilai-nilai kemasyarakatan. Guru terlibat dalam kegiatan pengajaran yang secara erat berkaitan dengan penanaman nilai-nilai moral yang sesuai dengan standar perilaku yang umum diakui sebagai kebenaran.Pd. adalah dosen tetap pada FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia di Bandung Abstrak: Tugas utama guru adalah membelajarkan siswa. MODEL BELAJAR DAN PEMBELAJARAN BERORIENTASI KOMPETENSI SISWA Ditulis oleh Erman S. Erman Suherman. Drs. akan terlatih dan terbentuk kompetensi yaitu kemampuan siswa untuk melakukan sesuatu yang sifatnya positif yang pada akhirnya akan membentuk life skill sebagai bekal hidup dan penghidupannya. Ar. banyak sekali standar perilaku yang dapat dijadikan sebagai pelajaran moral bagi siapa saja. Untuk itu. melalui partisipasi dalam setiap kegiatan pembelajaran. sedangkan model pembelajaran akan membahas tentang . Standar ini dapat diajarkan dan dipelajari dalam pelbagai situasi. Dengan belajar aktif. Dalam situasi sehari-hari. tidak saja dalam situasi pengajaran yang formal. Berbagai tindak penyimpangan. dan pemaksaan kehendak dari satu pihak ke pihak lain.

dan memang itu kewajiban utama. pada pihak siswa. mereka sudah merasa enjoy dengan kondisi menerima dan tidak biasa memberi. model pembelajaran. Padahal. pelaksanaan pembelajaran di sekolah. yang diperbaharui dengan Kurikulum 2006 (KTSP). Mereka bukan tidak mau meningkatkan kualitas pemebelajaran. ini berarti bahwa guru sebagai sutradara dan siswa menjadi pemain. model-model belajar agar memahami benar bagaimana siswa belajar yang efektif. Paradigma lama masih melekat karena kebiasaan yang susah diubah. untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan. Dengan paradigma yang berubah. pada penyusunan RPP menggunakan istilah skenario pembelajaran untuk pelaksanaan pembelajaran di kelas.bagaimana cara membelajarkan siswa dengan berbagai variasinya sehingga terhindar dari rasa bosan dan tercipta suasana belajar yang nyaman dan menyenangkan. boro-boro sempat waktu untuk membaca buku yang aktual. Selain dari karena kebiasaan yang sudah melekat mendarah daging dan sukar diubah. kompetensi. Tulisan ini membahas tentang kompetensi siswa sesuai tuntutan kurikulum untuk sekedar mengingatkan. dan model pembelajaran yang bisa dipilih dan digunakan sesuai dengan situasi dan kondisi siswa. Pendahuluan Kurikulum 2004 berbasis kompetensi (KBK). mereka sangat sibuk untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. paradigma mengajar masih tetap dipertahankan dan belum berubah menjadi peradigma membelajarkan siswa. . life skill. semoga dengan sajian sederhana ini dapat dijadikan bekal untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran. karena kebiasaan menjadi penonton dalam kelas. Hal ini tampak pada RPP yang dibuat oleh guru dan dari cara guru mengajar di kelas masih tetap menggunakan cara lama. suasana belajar A. fasilitas. Demikian pula. guru aktif dan siswa pasif. Permasalahannya adalah bagaimana mengubah kebiasaan prilaku guru dalam kelas. tetapi situasi dan kondisi kurang memungkinkan. jadi guru memfasilitasi aktivitas siswa dalam mengembangkan kompetensinya sehingga memiliki kecakapan hidup (life skill) untuk bekal hidup dan penghidupannya sebagai insan mandiri. Guru masih dominan dan siswa resisten. Namun pada kenyataannya. Karena penghargaan terhadap profesi guru sangat minim. apalagi untuk membeli buku pembelajaran yang inovatif. sehingga kualitas amal sholehnya melalui profesi guru menjadi meningkat pula. Kata Kunci: model belajar. Tulisan sederhana ini sengaja dibuat untuk para guru. potensi siswa. telah berlaku selama 4 tahun dan semestinya dilaksanakan secara utuh pada setiap sekolah. mudah-mudahan kebiasaan murid yang bersifat pasif sedikit demi sedikit akan berubah pula menjadi aktif. yang saya hormati dan saya banggakan. sehingga misi KBK dapat terwujud. tuntutan KBK. guru masih menjadi pemain dan siswa penonton. yaitu dominan menggunakan metode ceramah-ekspositori. dan guru itu sendiri. kondisi ini kemungkinan disebabkan karena pengetahuan guru yang masih terbatas tentang bagaimana siswa belajar dan bagaimana cara membelajarkan siswa. mengubah paradigma mengajar menjadi membelajarkan. materi. masih kurang memperhatikan ketercapaian kompetensi siswa.

komunikasi. investigasi. presentasi. generalisasi. koneksi. Dengan demikian belajar tidak cukup hanya sampai mengetahui dan memahami. yang berkontribusi terhadap sukses individu sebesar 40 % . Ada berbagai model belajar yang akan dibahas. yaitu membekali siswa untuk bisa hidup mandiri kelak setelah ia dewasa tanpa tergantung pada orang lain. Model-model belajar yang dimaksud pada judul di atas adalah berbagai cara-gaya belajar siswa dalam aktivitas pembelajaran. konjektur. diharapkan para guru (kita semua) dapat membelajarkan siswa secara efisien sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif. dan kemampuan psikomotorik (sosialisasi dan kepribadian yang mencakup kemampuan argumentasi. Siswa yang telah memiliki kompetensi mengandung arti bahwa siswa telah memahami. C. hipotesis. atau mendengar tentang sesuatu hal berbentuk hubungan fungsional antar bagian (konsep. identifikasi. terutama kognitif) disebut dengan hard skill. karena ia telah memiliki komptensi. Kompetensi siswa yang harus dimilki selama proses dan sesudah pembelajaran adalah kemampuan kognitif (pemahaman. memaknai dan memanfaatkan materi pelajaran yang telah dipelajarinya. baik di kelas ataupun dalam kehidupannya sehari-hari antar sesama temannya atau orang yang lebih tua. pemecahan masalah). pengelolaan suasana hati. membaca. yaitu: 1. kecakapan hidup. Inilah hakikat pembelajaran. inkuiri. penalaran. Dengan perkataan lain. bagaimana siswa belajar? Dengan memahami uraian ini. prilaku). Dengan memahami model-model belajar ini. Bukankah pemberian harus diselaraskan dengan mereka yang akan menerima pemberian sehingga dapat bermanfaat secara optimal. Sedangkan kompetensi lainnya yang berkenaan dengan afektif dan psikomotorik yang berkaitan dengan kemampuan kepribadian. observasi. motivasi aktivitas positif. kemampuan afektif (pengendalian diri yang mencakup kesadaran diri. kata kunci). dan tidak sebaliknya. analisis.B. empati). eksplorasi. yang berkontribusi sukses individu sebesar 60%. Peta Pikiran Buzan (1993) mengemukakan bahwa otak manusia bekerja mengolah informasi melalui mengamati. tidak parsial terpisah satu . yang pada tahap selanjutnya menjadi kecakapan hidup (life skill). sosialisasi. Kompetensi Siswa Kompetensi (competency) adalah kata baru dalam bahasa Indonesia yang artinya setara dengan kemampuan atau pangabisa dalam bahasa Sunda. pengendalian impulsi. kompetensi / kecakapan yang berkaitan dengan kemampuan profesional (akademik. ia telah bisa melakukan (psikomotorik) sesuatu berdasarkan ilmu yang telah dimilikinya. Suatu informasi yang sangat penting dan sekaligus peringatan bagi kita semua. kreativitas. dan pengendalian diri disebut dengan soft skill. Model-model Belajar Uraian berikut ini adalah untuk menjawab pertanyaan. guru (kita) bisa menyesuaikan pelaksanaan pembelajaran dengan kondisi siswa. aplikasi. Istilah psikologi kontemporer.

sebagai instrumen kecerdasan. sederhana. setiap kesempatan dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran diri dalam segala hal. inlah yang disebut dengan sia-sia atau mubadzir (at tubadziru minasy-syaithon). kalau dalam pikiran kita ada kata (konsep) Bajuri. terbagi dua menjadi kecerdasan intelektual pada otak kiri dan kecerdasan emosional pada otak kanan. kocak. Dengan demikian konsep mendapat retensi yang kuat dalam pikiran. Demikian pula kata dalam pikiran kita terlintas FKIP Universitas Langlangbuana Bandung akan terkait alamatnya. meskipun dengan makna yang tidak berbeda. Bila terjadi kebosanan otak akan mengisinya dengan aktivitas lain. dan lain-lain dengan masing-masing karakternya. Selanjutnya Buzan mengemukakan bahwa cara belajar siswa yang alami (natural) adalah sesuai dengan cara kerja otak seperti di atas berupa pikiran. pejabatnya. Dengan demikian belajar akan efektif dengan cara membuat catatan kreatif yang merupakan peta konsep. Sebagai contoh. 2. Selanjutnya. seperti gemuk. Akuntansi. menonton. Hindun. mudah diingat dan dikembangkan pada konsep lainnya. misalnya berangan-angan. jika positif akan mengembangkan penalaran akan tetapi jika diisi dengan aktivitasa negatif. Tulisan atau gambar peta pikiran tersebut dinamakan dengan peta konsep (concept map). Dengan kemampuan otak seperti itu dibandingkan dengan kemampuan komputer sangat tinggi. Kecerdasan intelektual mengalir-bergerak (flow) antara kebosanan bila tuntutan pemikiran rendah dan kecemasan bila terjadi tuntutan banyak. atau yang lainnya. maka akan terkait dengan kata lain secara fungsional. misalnya ambil satu materi dalam pelajaran Matematika. Sebaliknya jika tuntutan kerja otak tinggi akan terjadi kecemasan-kelelahan. Mengingat hal itu. guru membumbuinya dengan narasi yang kreatif. Dalam bidang studi keahlian anda. di samping bahasa yang digunakan menggunakan gaya bahasa penulis. sehingga setiap konsep utama yang dipelajari semuanya teridentifikasi tidak ada yang terlewat dan kaitan fungsionalnya jelas. Silakan anda mencoba menuliskan / menggambarkan peta pikiran tentang Bajuri dan FKIP Unla di atas. Kalau dibuat narasinya akan ada perbedaan redaksi. dan besar penghargaan untuk perkuliahan per-sks. kemudian dinarasikan dengan gaya bahasa masing-masing. supir bajay. mengobrol atau bercanda tanpa makna. Hanya sayang banyak orang yang mengabaikannya atau digunakan untuk hal-hal yang kurang bermanfaat untuk peningkatan kualitas diri.sama lain dan tidak pula dalam bentuk narasi kalimat lengkap. Kecerdasan Ganda Goldman (2005) mengemukakan bahwa struktur otak. Kondisi ini akan bisa dinetralisir dengan relaksasi melalui penciptaan suasana kondusif. Jika benar-benar dimanfaatkan secara optimal. Agama. atau ke tokoh lain Oneng. Bagaimana dengan anda?. Silakan buat (tulis-gambar) peta pikiran yang terlintas kemudian narasikan secara lisan. sajian guru dalam pembelajaran harus pula dikondisikan berupa sajian peta konsep. Ema. Buzan mengemukakan bahwa kemampuan otak manusia dapat memproses informasi berupa bahasa sebanyak 600 – 800 kata permenit. dosen-dosen dan staf administrasi. Yang produknya berupa peta konsep. Ucup. . Belajar dengan menghafalkan kalimat lengkap tidak akan efektif. misal kenakalan atau lamunan.

Linguistic-verbal. Dengan demikian aktivitas otak kiri semestinya dibarengi dengan aktivitas otak kanan. dan strategi berpikir. kita semestinya berkeyakinan tinggi terhadap kecerdasan ini. musik. yaitu: kesadaran. Logic-thinking-reasoning. Metakognitif Secara harfiah. Sebagai orang beragama. dan regulasi. Oleh karena itu pelaksanaan pembelajaran . strategi. Penting untuk diketahui bahawa kecerdasan intelkektual berkontribusi untuk sukses individu sebesar 20% sedangkan kecerdasan emosional sebesar 40%.misalnya keramahan. Intrapersonal-reflective. pertanyaan. senyum-tertawa. pengetahuan. bukankah ada ikhtiar dan ada pula taqdir. Body-kinestic. Metakognitif bisa digolongkan pada kemampuan kognitif tinggi karena memuat unsure analisis. Komponen meta kognitif menurut Sharples & Mathew ada 7. emosional. sintesis. realitas. berpikir tentang apa yang dipikirkan dan bagaimana proses berpikirnya. yaitu Spacial-visual . Holler. intuitif. yaitu aktivitas individu untuk memikirkan kembali apa yang telah terpikir serta berpikir dampak sebagai akibat dari buah pikiran terdahulu. prediksi. Kemampuan metakognitif setiap individu akan berlainan. kompleksitas. teratur. Musical-rithmic. kesadaran diri. Interpersonalcommunication. Gardner (1983) mengemukakan tentang kecerdasan ganda yang sifatnya mulkti dengan akronim Slim n Bill. bantuan. dkk. tergantung dari variabel meta kognitif. monitoring. metakognitif bisa diterjemahkan secara bebas sebagai kesadaran berfikir. 3. linier. yaitu Kecerdasan Spiritual (nurani-keyakinan) atau kecerdasan fitrah yang berkenaan dengan nilai-nilai kehidupan beragama. ada do’a sebagai permintaan dan harapan. yaitu: refleksi kognitif. sekuensial. monitoring. rasional. dan simbolik. verbal. atau meditasi keheningan dengan prinsip kepasrahan kepada sang Pencipta. siswanya sebanyak 40% dipengaruhi oleh hal lainnya. natural. dan evaluasi sebagai cikal bakal tumbuhkembangnya kemampuan inkuiri dan kreativitas. spasial. Sedangkan sela syaraf otak kanan berkaitan dengan kecerdasan yang sifatnya acak. (2002) mengemukakan bahwa aktivitas metakognitif tergantung pada kesadaran individu. Sel syaraf pada otak kiri berfungsi sebagai alat kecerdasan yang sifatnya logis. dan regulasi. holistic. suasana nyaman dan menyenangkan. Sharples & Mathew (1998) mengemukakan pendapat bahwa metakognitrif dapat dimanfaatkan untuk menerapkan pola pikir pada situasi lain yang dihadapi. abstrak. dan aplikasi. kelembutan. yaitu kondisi individu. Sedangkan Holler berpendapat tentang komponen metakognitif. dan ibadah lainnya. Ary Ginanjar (2002) dan Jalaluddin Rahmat (2006) mengukakan kecerdasan ketiga. koneksi. ide. dan kreativitas. manfaat. pengalaman. Bukankan ketentraman individu karena keyakinan beragama ini.

ataupun dengan guru. belajar menjadi beban dan rasa ercaya dirinya berkurang. meng-identifikasi. tumbuhkan citra positif. berkomentar. ragu-ragu. siswa dengan fasilitas belajar. Kemampuan komunikasi setiap individu akan mempengaruhi proses dan hasil belajar yang bersangkutan dan membentuk kepribadiannya. Agar bermakna. Tokoh pendidikan nasional Ki Hajar Dewantoro (1908) mengemukakan tiga prinsip pembelajaran ing ngarso sung tulodo (jadi pemimpin-guru jadilah teladan bagi siswanya). Dalam bahasa Sunda ada pepatah “pok-pek-prak” yang berarti bahwa belajar mempunya indikator berkata-pok (bertanya-menjawab-diskusi. 5. menjawab. bersikap mengajak dan bukan memerintah. pemalu. untuk kita simak dan renungkan.” bukan katanya. punya alternative. menduga. Bagaimanakh menghadapi siswa dengan pola pribadi seperti irtu? Caranya anatar lain dengan cara tidak memvonis. belajar tidak cukup dengan hanya mendengar dan melihat tetapi harus dengan melakukan aktivitas (membaca. nada suara. Akibatnya sungguh mengejutkan. Perhatikan hasil penelitian Jack Canfield (1992). mengembangkan). yaitu optimis. dan mau memperbaiki diri. Berbeda dengan individu yang memiliki pribadi positif. jangan sungkan untuk apologi jika kesalahan. Dampak selanjutnya pada waktu bwersekolah. prasangka. pembenaran. tentunya akan berhadapan dengan siswa yang berkepribadian negative seperti di atas dan tentunya tidak untuk dibiarkan karena profesi guru adalah amanat. keberanian. ternyata lama kelamaan keyakinannya terguncang dan rasa percaya dirinya menurun. mengerjakan. menggunakan. dan jaga komunikasi non verbal (eksprsi wajah. ada individu yang memiliki pribadi positif dan ada pula yang berkpribadian negatif. Kebermaknaan Belajar Dalam belajar apapun. ing madyo mangun karso (dalam pembelajaran . Mencobapek (menyelidiki. mengkomunikasikan. belajar efektif (sesuai tujuan) semestinya bermakna. dan melaksanakan-prak (mengaplikasikan. Komunikasi Siswa dalam belajar tidak akan lepas dari komunikasi antar siswa. katakana “saya …. menemukan). tidak hanya berpikir sepintas dengan makna yang dangkal. dan cemas. dan sibuk dengan alasan. pribadinya berpola negative. dan sosok panutan). partisipatidf. Makin lama ia makin dewasa. menghindar.presentasi). ingin mencoba. presentasi. ingin tahu dengan pengaruh komunikasi negatif yang lebih dominant dari orang sekelilingnya. diskusi). ada kebebasan memilih. memanfaatkan. bertanya. dikendalikan keadaan . anak yang pada awalnya secara alami penuh keyakinan. membiarkan. seperti pesimis. yang selanjutnya mempengaruhi poses pembelajaran. setiap hari biasa menerima 460 komentar negatif dan 75 koentar positif dari oarng yang lebih tua dalam kehidupannya. bahwa seorang anak ayang masih polos-natural. menyimpulkan. m\udah menyerah. Mengapa demikian? Karena cara berkomunikasi akan langsung berkenaan dengan akal dan rasa.semestinya membiasakan siswa untuk melatih kemampuan metakognitif ini. mengendalikan keadaan. 4. gerak tubuh. sehingga dia tumbuh menjadi penakut. menimpakan kesalahan. suka tantangan. Sebagai guru.

yaitu: konsistensi internal. mendengar dan melihat 50%. Dengan perkataan lain. melainkan siswa sendiri ang mengemasnya. 7. Confrey (1990) menyarankan konstruksivisme secara utuh (powerfull constructivism). karena pembelajaran adalah aktivitas siswa yang sifatnbya proaktif dan reaktif dalam membangun pengetahuan. berkonjektur. tidak melalui pemberitahuan oleh guru. Mungkin saja kemasannya tidak akurat. Jika belajar hanya dngan membaca kebermaknaan bisa mencapai 10%. dan inkuiri dengan cara mereka sendiri untuk menyelesaikan persoalan yang disajikan. kontinuitas historical. da belajar dengan melakukan dan mengkomunikasikan besa mencapai 90%. justifikasi. menggeneralisasi. dan bukan dengan kegiatan mengajar. dan sintaks (SOP). dan memang pembelajaran pada hakikatnya adalah konstruksivisme. tepai harus dengan hands-on. Sehingga jenis komunikasi yang dilakukan antara gurusiswa tidak lagi bersifat transmisi sehingga menimbulkan imposisi (pembebanan). berhipotesis. Dalam kondisi tersebut suasana menjadi kondusif (tut wuri handayani) sehingga dalam belajar siswa bisa mengkonstruksi pengetahuan dan opengalaman yang diperolehnya dengan pemaknaan yang lebih baik. tidak cukuop dengan mendengar dan melihat. dan daily life (kontekstual). Drai uraian di atas implikasi terhadap pembelajaran adalah bahwa kegiatan pembelajaran identik dengan aktivitas siswa secara optimal. Hal inilah yang disebut dengan konstruksivisme dalam pembelajaran. kekonvergenan. yaitu belajar secara aktif dan secara reaktif (pasif). Agar konstruksicvisme dapat terlaksana secara optimal. Selanjutnya. guru menyajikan persoalan dan mendorong (encourage) siswa untuk mengidentifikasi. Prinsip Belajar Aktif Ada dua jenis belajar. simbolisasi. 6. atau mungkin terjadi eksalahan. Keslahan siswa merupakan bagian dari belajar. keterpaduan. mengeksplorasi. minds-on.membangun ide siswa dengan aktivitas sehingga kompetensi siswa terbentuk). Siswa tidak lagi menerima paket-paket konsep atau aturan yang telah dikemas oleh guru. tut wuri handayani (jadilah fasilitator kegiatan siswa dalam mengembangkan life skill sehingga mereka menjadi pribadi mandiri). dari melihat 30%. melainkan lebih bersifat negosiasi sehingga tumbuh suasana fasilitasi. tindak lanjut. Vernon A Madnesen (1983) san Peter Sheal (1989) mengemukakan bahwa kebermaknaan belajar tergantung bagaimana cbelajar. konstruksivis. dari mendengar 20%. ikut partisipasi dan tidak menghindar dari aktivitas pembelajaran. koherensi. pembelajaran adalah solusi tepat untuk pelaksanaan kurikulum 2006. menggunakan kesempatan . Belajar secara aktif indikatornya adalah belajar pada setiap situasi. Siswa membangun sendiri konsep atau struktur materi yang dipelajarinya. di sinilah tugas guru memberikan bantuan dan arahan (scalfolding) sebagai fasilitator dan pembimbing. siswa yang satu dengan siswa lainnya berbeda. Konstruksivisme Dalam paradigma pembelajaran. refeleksi-eksplanasi. jadi harus dihargai karena hal itu cirinya ia sedang belajar. mengatakan-komunikasi mencapai 70 %.

1. penulis yakin kreativitas para guru sangat tinggi. seperti kemampuan sosialisasi. Jadi model pembelajaran koperatif adalah kegiatan pembelajaran dengan cara berkelompok untuk bekerja sama saling membantu mengkontruksu konsep. Menurut teori dan pengalaman agar kelompok kohesif (kompak-partisipatif). belajar berkelompok secara koperatif. atau inkuiri. konstruksivis-inkuiri. untuk dipilih dan dijadikan alternatif sehingga cocok untuk situasi dan kjondisi yang dihadapi. mengabaikan kesempatan. dan realistic-human activity (aktivitas kehidupan nyata). Sedangakan belajar reaktif indikatornya adalah tidak dapat melihat adanya kesempatan belajart. maka prinsip belajar yang harus diterapkan adalah siswa harus sebaga subjek. empati dan pengendalian diri. siawa . membiarkan segalanya terjadi. melakukan-mengkomunikasikan. sehingga terpuku rasa tanggung jawab dan disiplin diri. Dari indikator belajar aktif. berupaya terlaksana. pengalaman. sifat materi bahan ajar. sitematik. Prinsip belajar yang dikemuakan leh Treffers (1991) adalah memiliki indikatro mechanistic (latihan. belajar dengan melakukan-mengkomunikasikan sehingga kecerdasan emosionalnya dapat berkembang. Model-model Pembelajaran Untuk membelajarkan siswa sesuai dengan cara-gaya belajar mereka sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai dengan optimal ada berbagai model pembelajaran. Prisip tersebut akan terwujud dengan melaksanakan pembelajaran dengan memperhatikan keterlibatan intelektual-emosional. aksionmatik). tanya-jawab. modifikasinya diserahkan kepada guru untuk melakukan penyesuaian. Dengan memanfaatkan kenyatan itu. menghindar dari kegiatan. kontekstual-trealistik. dan rasa senasib. Hal ini bisa terlatih melalui kerja individual-kelompok. mengerjakan). menyelesaikan persoalan. pembegian tugas. structuralistic (terstrutur. dalam memilih model pembelajaran yang tepat haruslah memperhatikan kondisi siswa. mempunyai tujuan dan tanggung jawab bersama. dan kondisi guru itu sendiri. tiap anggota kelompok terdiri dari 4 – 5 orang. Koperatif (CL. sesuai dengan pengertian kegiatan pembelajaran di atas. dan belajar menyadari kekurangan dan kelebihan masingmasing. Cooperative Learning).untuk meraih manfaat.diskusi. Berikut ini disajikan beberapa model pembelajaran. dan inklusif life skill. Akan tetapi sajian yang dikemukakan pengantarnya berupa pengertian dan rasional serta sintaks (prosedur) yang sifatnya prinsip. tanggung jawab. Pembelajaran koperatif sesuai dengan fitrah manusis sebagai makhluq sosial yang penuh ketergantungan dengan otrang lain. Oleh karena itu. Dalam prakteknya. empiristic (pngelaman induktif-deduktif). Saling membantu dan berlatih beinteraksi-komunikasi-sosialisasi karena koperatif adalah miniature dari hidup bermasyarakat. dan partisipatif dalam setiap kegiatan. kita (guru) harus ingat bahwa tidak ada model pembelajaran yang paling tepat untuk segala situasi dan kondisi. siswa dilatih dan dibiasakan untuk saling berbagi (sharing) pengetahuan. D. fasilitas-media yang tersedia. presentasi. tugas.

pengarahan-strategi. Sintaknya adalah menyiapkan siswa. dan meminta tanggung jawab hasil kelompok berupa laporan atau presentasi. karekter). kerja kelompok. sharing). reflection (reviu. investigasi. learning community (seluruh siswa partisipatif dalam belajar kelompok atau individual. menuntun. hands-on. constructivism (membangun pemahaman sendiri. Contextual Teaching and Learning) Pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang dimulai dengan sajian atau tanya jawab lisan (ramah. pengarahan-petunjuk. Kontekstual (CTL. mengarahkan. dan suasana menjadi kondusif . menemukan). sehingga akan terasa manfaat dari materi yang akan disajkan. negosiasi) yang terkait dengan dunia nyata kehidupan siswa (daily life modeling). hipotesis. mengembangkan. dan pengembangan kemampuan sosialisasi. questioning (eksplorasi. pemahaman (menemukan-informal daam konteks melalui refleksi. rambu-rambu. algoritma.nyaman dan menyenangkan. motivasi belajar muncul. Sintaks pembelajaran koperatif adalah informasi. inter-twinment (keterkaitan-intekoneksi antar konsep). 4. ada control dan fasilitasi. contoh). authentic assessment (penilaian selama proses dan sesudah pembelajaran. generalisasi). generalisasi. penilaian seobjektif-objektifnya darei berbagai aspek dengan berbagai cara). 3. rangkuman. minds-on. yaitu matematika horizontal (tools. aturan uantuk digunakan dalam menyelesaikan persoalan. penyampaian kompetensitujuan. proses dunia empirik) dan vertikal (reoorganisasi matematik melalui proses dalam dunia rasio. Direct Learning) Pengetahuan yang bersifat informasi dan prosedural yang menjurus pada ketrampilan dasar akan lebih efektif jika disampaikan dengan cara pembelajaran langsung. mengerjakan). konsep. informal ke formal). Realistik (RME. latihan . terbuka. evaluasi. prinsip. membentuk kelompok heterogen. dunia pikiran siswa menjadi konkret. 2. tidak hanya menonton dan mencatat. fakta. yaitu modeling (pemusatan perhatian. penilaian portofolio. dan pelaporan. Realistic Mathematics Education) Realistic Mathematics Education (RME) dikembangkan oleh Freud di Belanda dengan pola guided reinventiondalam mengkontruksi konsep-aturan melalui process of mathematization. Prinsip RME adalah aktivitas (doing) konstruksivis. Ada tujuh indokator pembelajarn kontekstual sehingga bisa dibedakan dengan model lainnya. penilaian terhadap setiap aktvitas-usaha siswa.heterogen (kemampuan. inkuiri. inquiry (identifikasi. sajian informasi dan prosedur. Pembelajaran Langsung (DL. Pensip pembelajaran kontekstual adalah aktivitas siswa. siswa melakukan dan mengalami. gender. mencoba. analisis-sintesis). realitas (kebermaknaan prosesaplikasi). presentasi hasil kelompok. konjektur. pengemabngan mateastika). dan bimbingan (dari guru dalam penemuan). tindak lanjut). motivasi. mengkonstruksi konsep-aturan. interaksi (pembelajaran sebagai aktivitas sosial. membimbing.

Model pembelajaran ini melatih dan mengembangkan kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang berorientasi pada masalah otentik dari kehidupan aktual siswa. sintesis. induksi. Problem Based Learning) Kehidupan adalah identik dengan menghadapi masalah. keterbukaan. atau pendekatan yang bervariasi dalam memperoleh jawaban. Cara ini sering disebut dengan metode ceramah atau ekspositori (ceramah bervariasi). sharing. Indikator model pembelajaran ini adalah metakognitif. siapkan rencana bimibingan (sedikit . terbuka. Sintaknya adalah: sajiakn permasalah yang memenuhi criteria di atas. Justru problem solving adalah mencari atau menemukan cara penyelesaian (menemukan pola. 8. kreativitas. diagram. demokratis. keterbukaan. Sajian masalah haruslah kontekstual kaya makna secara matematik (gunakan gambar. Siswa dituntuk unrtuk berimprovisasi mengembangkan metode. latihan mandiri. generalisasi. Denga demikian model pembelajaran ini lebih mementingkan proses daripada produk yang akan membentiuk pola piker. dan inkuiri 6. kognitif tinggi. komunikasi-interaksi. keterpasuan. 7. siswa mengidentifkasi. dan sosialisasi. Selanjtynya siswa juda diinta untuk menjelaskan proses mencapai jawaban tersebut. identifikasi kekeliruan. Open Ended) Pembelajaran dengan problem (masalah) terbuka artinya pembelajaran yang menyajikan permasalahan dengan pemecahan berbagai cara (flexibility) dan solusinya juga bisa beragam (multi jawab. untuk merangsang kemamuan berpikir tingkat tinggi. investigasi. elaborasi (analisis). Pembelajaran Berbasis masalah (PBL. refleksi. eksplorasi. Problem Solving Dalam hal ini masalah didefinisikan sebagai suatu persoalan yang tidak rutin. konjektur. yaitu merumuskan kembali masalah menjadi bagian-bagian yang lebih simple sehingga dipahami. kembangkan peremasalahan sesuai dengan kemampuan berpikir siswa. . menimalisasi tulisan-hitungan. dan akhirnya menemukan solusi. yaitu pemecahan masalah dngan melalui elaborasi.atau algoritma). dan evaluasi. Problem Posing Bentuk lain dari problem posing adaslah problem posing.terbimbing. dan ragam berpikir. Kondisi yang tetap hatrus dipelihara adalah suasana kondusif. belum dikenal cara penyelesaiannya.menginvestigasi. cara. kaitakkan dengan materui selanjutnya. Pembelajaran ini melatih dan menumbuhkan orisinilitas ide. negosiasi. jawaban siswa beragam. cari alternative. menduga. aturan. fluency). identifikasi. siswa berkelompok atau individual mengidentifikasi pola atau atuiran yang disajikan. interpretasi. suasana nyaman dan menyenangkan agar siswa dap[at berpikir optimal. kritis. jalan keluar. Problem Terbuka (OE. 5. table). mengeksplorasi. Sintaknya adalah: pemahaman. menyusun soalpertanyaan.

pengarahan. aktivitas fisik) di mana belajar dengan mengalami dan melakukan. bahwa jawaban siswa yang salah harus dihargai karena salah adalah cirinya dia sedang belajar. senyum. Sedangkan Resnik (1999) mwengemukan bhawa belajar efektif dengan cara membaca bermakna. representasi. ia telah berpartisipasi 10. 12. hipotesis. dan memotivasi diri. pengorganisasian pembelajaran. Pembelajaran Bersiklus (cycle learning) Ramsey (1993) mengemukakan bahwa pembelajaran efektif secara bersiklus.demi sedikit dilepas mandiri). eksplnasi berarti menghenalkan konsep baru dan alternative pemecahan. menyenangkan. Dengan model pembelajaran ini proses tanya jawab dilakukan dengan menunjuk siswa secara acak sehingga setiap siswa mau tidak mau harus berpartisipasi aktif. berkelompok mengerjakan LKSD-modul. merangkum. Untuk mewujudkan belajar efektif. Sintaknya adlaha menyajikan masalah. kemudian eksplanasi (empiric). dengan demikian pengetahuan baru tidak diberitahukan. mengingat. bimbingan dan pengarahan. Untuk mngurang kondisi tersebut. perhatikan dan catat reson siswa. 9. Eksplorasi berarti menggali pengetahuan rasyarat. namun demikian bisa dibiasakan. Auditory yang bermakna bahwa . dan ceria. Ada canda. dan tertawa. membaca-merangkum. berpikir. Jangan lupa. mulai dari eksplorasi (deskripsi). suara menyejukkan. setiap saat ia bisa dilibatkan dalam proses tanya jawab. sehingga suasana menjadi nyaman. 11. SAVI Pembelajaran SAVI adalah pembelajaran yang menekankan bahwa belajar haruslah memanfaatkan semua alat indar yang dimiliki siswa. yaitu bagaimana siswa belajar. bertanya. Istilah SAVI sendiri adalah kependekan dari: Somatic yang bermakna gerakan tubuh (hands-on. dan diakhiri dengan aplikasi (aduktif). Probing-prompting Teknik probing-prompting adalah pembelajaran dengan cara guru menyajikan serangkaian petanyaan yang sifatnya menuntun dan menggali sehingga terjadi proses berpikir yang mengaitkan engetahuan sisap siswa dan engalamannya dengan pengetahuan baru yang sedang dipelajari. Donna Meyer (1999) mengemukakan cara pembelajaran resiprokal. guru hendaknya serangkaian pertanyaan disertai dengan wajah ramah. dan aplikasi berarti menggunakan konsep dalam konteks yang berbeda. Kemungkinan akan terjadi sausana tegang. Reciprocal Learning Weinstein & Meyer (1998) mengemukakan bahwa dalam pembelajaran harus memperhatikan empat hal. Selanjutnya siswa memngkonstruksiu konsep-prinsip-aturan menjadi pengetahuan baru. nada lembut. yaitu: informasi. siswa tidak bisa menghindar dari prses pembelajaran. membuat kesimpulan.

c. d.belajar haruslah dengan melaluui mendengarkan. santun. pada turnamen kedua ( begitu juga untuk turnamen ketigakeempat dst. SDetelah memperoleh tugas. begitu pula untuk meja turnamen yang lainnya diisi oleh siswa dengan gelar yang sama. Siswa pada tiap meja tunamen sesua dengan skor yang dip[erolehnay diberikan sebutan (gelar) superior. dan menerapkan. Sintaknya adalah sebagai berikut: a. presentasi. dilakukan pergeseran tempat duduk pada meja turnamen sesuai dengan sebutan gelar tadi. menggambar. dan mennaggapi. sehingga diperoleh skor turnamen untuk tiap individu dan sekaligus skor kelompok asal. Selanjutnya adalah opelaksanaan turnamen. berbicara. membaca. suasana diskuisi nyaman dan menyenangkan sepeti dalam kondisi permainan (games) yaitu dengan cara guru bersikap terbuka. berikan penghargaan kelompok dan individual. menemukan. menyelidiki. medium. good. lembut. mengemukakan penndepat. mengidentifikasi.). Jika waktunya memungkinkan TGT bisa dilaksanakan dalam beberapa pertemuan. . mengkonstruksi. Usahakan dinamikia kelompok kohesif dan kompak serta tumbuh rasa kompetisi antar kelompok. menggunbakan media dan alat peraga. missal 10 meja dan untuk tiap meja ditempati 4 siswa yang berkemampuan setara. Penentuan tiap siswa yang duduk pada meja tertentu adalah hasil kesewpakatan kelompok. Visualization yang bermakna belajar haruslah menggunakan indra mata melallui mengamati. TGT (Teams Games Tournament) Penerapan model ini dengan cara mengelompokkan siswa heterogen. e. Setelah selesai kerja kelompok sajikan hasil kelompok sehuingga terjadi diskusi kelas. mencipta. argumentasi. Siswa bisda nmngerjakan lebbih dari satu soal dan hasilnya diperik\sa dan dinilai. setiap kelompok bekerja sama dalam bentuk kerja individual dan diskusi. meja I diisi oleh siswa dengan level tertinggi dari tiap kelompok dan seterusnya sampai meja ke-X ditepati oleh siswa yang levelnya paling rendah. atau dalam rangak mengisi waktu sesudah UAS menjelang pembagian raport. tugas tiap kelompok bisa sama bis aberbeda. 13. setiap siswa mengambil kartu soal yang telah disediakan pada tiap meja dan mengerjakannya untuk jangka waktu terttentu (misal 3 menit). menyimak. Buat kelompok siswa heterogen 4 orang kemudian berikan informasi pokok materi dan \mekanisme kegiatan b. ramah . dan ada sajian bodoran. Bumping. dan Intellectualy yang bermakna bahawa belajar haruslah menggunakan kemampuan berpikir (minds-on) nbelajar haruslah dengan konsentrasi pikiran dan berlatih menggunakannya melalui bernalar. mendemonstrasikan. Siapkan meja turnamen secukupnya. siswa superior dalam kelompok meja turnamen yang sama. memecahkan masalah. very good. Setelah selesai hitunglah skor untuk tiap kelompok asal dan skor individual.

bedanya hanyalah pada Repetisi yaitu pengulangan yang bermakna pendalama. (2) siswa belajar kelompok dengan dibantu oleh siswa pandai anggota kelompok secara individual. TAI (Team Assisted Individualy) Terjemahan bebas dari istilah di atas adalah Bantuan Individual dalam Kelompok (BidaK) dengan karateristirk bahwa (Driver. 15. dengan somatic ekuivalen dengan kinesthetic. .14. NHT (Numbered Head Together) NHT adalah salah satu tipe dari pembelajaran koperatif dengan sintaks: pengarahan. 18. Istilah tersebut sama halnya dengan istilah pada SAVI. kuis individual dan buat skor perkembangan tiap siswa atau kelompok. 17. (3) penghargaan kelompok dan refleksi serta tes formatif. AIR (Auditory. 16. Kinestetic) Model pebelajaran ini menganggap bahwa pembelajaran akan efektif dengan memperhatikan ketiga hal tersebut di atas. mengembangkannya. perluasan. saling tukar jawaban. buat kelompok heterogen dan tiap siswa memiliki nomor tertentu. presentasi kelompok dengan nomnor siswa yang sama sesuai tugas masing-masing sehingga terjadi diskusi kelas. pemantapan dengan cara siswa dilatih melalui pemberian tugas atau quis. kuis individual dan buat skor perkembangan tiap siswa. Sintaksi BidaK menurut Slavin (1985) adalah: (1) buat kelompok heterogen dan berikan bahan ajar berupak modul. STAD (Student Teams Achievement Division) STAD adalah salah sati model pembelajaran koperatif dengan sintaks: pengarahan. sajian-presentasi kelompok sehingga terjadi diskusi kelas. saling berbagi sehingga terjadi diskusi. umumkan hasil kuis dan beri reward. dengan perkataan lain manfaatkanlah potensi siwa yang telah dimilikinya dengan melatih. 1980) tanggung jawab vbelajar adalah pada siswa. umumkan rekor tim dan individual dan berikan reward. tiasp siswa dengan nomor sama mendapat tugas yang sama) kemudian bekerja kelompok. Oleh karena itu siswa harus membangun pengetahuan tidak menerima bentuk jadi dari guru. Intellectualy. Repetition) Model pembelajaran ini mirip dengan SAVI dan VAK. diskusikan bahan belajar-LKS-modul secara kolabratif. VAK (Visualization. berikan persoalan materi bahan ajar (untuk tiap kelompok sama tapi untuk tiap siswa tidak sama sesuai dengan nomor siswa. Pola komunikasi guru-siswa adalah negosiasi dan bukan imposisi-intruksi. buat kelompok heterogen (4-5 orang). Auditory.

Jigsaw Model p[embeajaran ini termasuk pembelajaran koperatif dengan sintaks sepeerti berikut ini. identifikasi perbedaan. MEA (Means-Ends Analysis) Model pembelajaran ini adalah variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah dengan sintaks: sajikan materi dengan pendekatan pemecahan masalah berbasis heuristic. tiap kelompok menginvestigasi proyek tertentu (bisa di luar kelas. banyak guru dan staf sekolah). presentasi dan diskusi. 21. CPS (Creative Problem Solving) Ini juga merupakan variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah melalui teknik sistematik dalam mengorganisasikan gagasan kreatif untuk menyelesaikan suatu permasalahan. 20. buat kelompok heterogen dengan orientasi tugas. tuiap kelompok bahan belajar sama. berikan bahan ajar (LKS) yang terdiri dari beberapa bagian sesuai dengan banyak siswa dalam kelompok. rencanakan pelaksanaan investigasi. 24. susun sub-sub masalah sehingga terjadli koneksivitas. berikan persoalan kepada siswa dan siswa bekerja kelompok dengan cara berpasangan sebangku-sebangku (think-pairs). refleksi. buat skor perkembangan tiap siswa. GI (Group Investigation) Model koperatif tipe GI dengan sintaks: Pengarahan. dan alternative solusi). Pengarahan. buat kelompok heterogen. identifikasi permasalahan dan fokus-pilih. hasil bacaannya dikomunikasikan dengan presentasi. diskusi. pilih strategi solusi 23. mengkritisi. elaborasi menjadi sub-sub masalah yang lebih sederhana. kuis individual. umumkan hasil kuis dan berikan reward. mengolah pikiran sehingga muncul gagasan orisinil untuk menentukan solusi.19. Sinatknya adalah: . iformasi bahan ajar. buat skor perkem\angan siswa. presentasi. Sintaksnya adalah: mulai dari fakta aktual sesuai dengan materi bahan ajar melalui tanya jawab lisan. pengoalahn data penyajian data hasi investigasi. pelaksnaa tutorial pada kelompok asal oleh anggotan kelompok ahli. dan kemudian buat laopran hasil presentasi. mendata banyak dan jenis kendaraan di dalam sekolah. penyimpulan dan evaluasi. kembali ke kelompok aasal. buat kelompok ahli sesuai bagian bahan ajar yang sama sehingga terjadi kerja sama dan diskusi. umumkan hasil kuis dan berikan reward. jenis dagangan dan keuntungan di kantin sekolah. kuis individual. TPS (Think Pairs Share) Model pembelajaran ini tergolong tipe koperatif dengan sintaks: Guru menyajikan materi klasikal. 22. tiap anggota kelompok bertugas membahasa bagian tertentu. presentasi kelompok (share). misal mengukur tinggi pohon. TTW (Think Talk Write) Pembelajaran ini dimulai dengan berpikir melalui bahan bacaan (menyimak.

29. SQ4R (Survey. Recite. 25. mendalami. menggunakan. Question. dan Review dengan cara meninjau ulang menyeluruh 28. presentasi. Ajukan pengujian pemahaman. Refleting. Review) Pembelajaran ini adalah strategi membaca yang dapat mengembangkan meta kognitif siswa. Reflect. (3) production melalui ekspresi-apresiasi konsep 30. kerja kelompok. KUASAI Pembelajaran akan efektif dengan melibatkan enam tahap berikut ini. Uraikan fakta sesuai dengan gaya belajar. Sertakan ingatan dan hafalkan kata kunci serta koneksinya. Recite. dua siswa bertamu ke kelompok lain dan dua siswa lainnya tetap di kelompoknya untuk menerima dua orang dari kelompok lain. (R) memikirkan kembali. Read. laporan kelompok. Sintaknya adalah (1) lead-in dengan melakukan kegiatan yang terkait dengan pengalaman. Organizing. (0) organisasi ide untuk memahami materi. Read. analisi pengalaman. Question dengan membuat pertanyaan (mengapa-bagaimana. dan menggali. 27. TS-TS (Two Stay – Two Stray) Pembelajaran model ini adalah dengan cara siswa berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan kelompok lain. CORE (Connecting. darimana) tentang bahan bacaan (materi bahan ajar). dengan sintaks: Survey dengan mencermati teks bacaan dan mencatatmenandai kata kunci. dan Introspeksi melalui . kelompok (membaca-mencatatat-menandai). kembali ke kelompok asal. Ambil pemaknaan (mengetahui-memahami-menggunakan-memaknai). Sintaknya adalah kerja kelompok. Question. 26. yaitu dengan menugaskan siswa untuk membaca bahan belajar secara seksamacermat. kerja kelompok. (2) reconstruction melakukan fasilitasi pengalaan belajar. (E) mengembangkan. MID (Meaningful Instructionnal Design) Model ini adalah pembnelajaran yang mengutyamakan kebermaknaan belajar dan efektifivitas dengan cara membuat kerangka kerja-aktivitas secara konseptual kognitifkonstruktivis. yaitu aktivitas memberikan contoh dari bahan bacaan dan membayangkan konteks aktual yang relevan. Extending) Sintaknya adalah (C) koneksi informasi lama-baru dan antar konsep. Read dengan membaca teks dan cari jawabanya. dan menemukan.informasi. diskusi. memperluas. dan konsep-ide. Kerangka pikir untuk sukses. SQ3R (Survey. melaporkan. Recite dengan pertimbangkan jawaban yang diberikan (cartat-bahas bersama). Review) SQ4R adalah pengembangan dari SQ3R dengan menambahkan unsur Reflect.

pengemabangan. IOC (Inside Outside Circle) IOC adalah mode pembelajaran dengan sistim lingkaran kecil dan lingkaran besar (Spencer Kagan. CRI (Certainly of Response Index) CRI digunakan untuk mengobservasi proses pembelajaran yang berkenaan dengan tingkat keyakinan siswa tentang kemampuan yang dimilkinya untuk memilih dan menggunakan pengetahuan yang telah dimilikinya. Sintaknya adalah: identifkasi. penerapan. 1993) di mana siswa saling membagi informasi pada saat yang bersamaan dengan pasangan yang berbeda dengan ssingkat dan teratur. 31. mengelompokkan gejala. jadi berkenaan dengan jawaban untuk pertanyaan mengapa. 4 untuk almost certain. deteksi kausal. separuhnya lagi membentuk lingkaran besar menghadap ke dalam. 2 untuk not sure. menemukan kata kunci. guru memberikan wacana bahan bacaan sesuai dengan materi bahan ajar. dan implementasi solusi utama. penggunaan. CIRC (Cooperative. dan penutup. solusi tentative. menuliskan pernyataan masalah yang telah direvisi. Integrated. deteksi kausal lain. dan pemanfaatan berbagai representasi dengan setting kelas dan kerja kelompok.refleksi diri tentang gaya belajar. 3 untuk sure. 33. refleksi. 1 untuk amost guest. siswa bekerja sama (membaca bergantian. analisis kausal. presentasi hasil kelompok. pendahuluan. dan rencana solusi yang terpilih. siswa yang berhadapan berbagi informasi secara bersamaan. DMR (Diskursus Multy Reprecentacy) DMR adalah pembelajaran yang berorientasi pada pembentukan. Sintaksnya adalah: membentuk kelompok heterogen 4 orang. Langkah penyelesdai maslah sebagai berikurt: menuliskan pernyataan masalah awal. and Composition) Terjemahan bebas dari CIRC adalah komposisi terpadu membaca dan menulis secara koperatif –kelompok. Hutnal (2002) mengemukakan bahwa CRI menggunakan rubric dengan penskoran 0 untuk totally guested answer. Reading. identifikasi kausal utama. DLPS (Double Loop Problem Solving) DPLS adalah variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah dengan penekanan pada pencarian kausal (penyebab) utama daritimbulnya masalah. mengidentifikasui kausal. Sintaksnya adalah: Separu dari sjumlah siswa membentuk lingkaran kecil menghadap keluar. menemukan pilihan solusi utama. Sintaksnya adalah: persiapan. imoplementasi solusi. pertimbangan solusi. memberikan tanggapan) terhadap wacana kemudian menuliskan hasil kolaboratifnya. 32. dn 5 untuk certain. 34. Selanutnya menyelesaikan masalah tersebut dengan cara menghilangkan gap uyang menyebabkan munculnya masalah tersebut. siswa yang berada di lingkran luar . 35.

38. presentasi di depan hasil diskusinya. sajian materi. kelompok siswa membahas peran yang dilakukan oleh pelakon. siswa yang berdiri di ujung salah satui jajaran pindah ke ujunug lainnya pada jajarannya. siswa mebaca materi lengkap pada wacana. siswa yang berhadapan berbagi pengalkaman dan pengetahuan. bentuk kelompok berpasangan sebangku. Role Playing Sintak dari model pembelajaran ini adalah: guru menyiapkan scenario pembelajaran.berputar keudian berbagi informasi kepada teman (baru) di depannya. Talking Stick Suintak p[embelajana ini adalah: guru menyiapkan tongkat. salah satu siswa menyampaikan materi yang baru diterima kepada pasangannya kemudian bergantian. sajian materi pokok. Artikulasi Artikulasi adlah mode pembelajaran dengan sintaks: penyampaian konpetensi. dan kembali berbagai informasi. membentuk kelompok. sajian presentasi hasil bacaan oleh perwakilan salah satu kelompok kemudian ditanggapi oleh kelompok lainnya begitu setrusnya secara bergantian. bimbingan penimpoulan dan refleksi. tongkat diberikan kepad siswa lain dan guru memberikan petanyaan lagi dan seterusnya. guru membimbing kesimpulan-refleksi-evaluasi. Debate Debat adalah model pembalajaranb dengan sisntaks: siswa menjadi 2 kelompok kemudian duduk berhadapan. dan seterusnya 36. menunjuk beberapa siswa untuk mempelajari scenario tersebut. guru mengambil tongkat dan memberikan tongkat kepada siswa dan siswa yang kebagian tongkat menjawab pertanyaan dari guru. pembentukan kelompok siswa. guru membimbing membuat kesimpulan dan menambahkannya biola perlu. siswa membaca materi bahan ajar untuk dicermati oleh masing-masing kelompok. Strategi ini cocok untuk bahan ajar yang memerlukan pertukartan pengalaman dan pengetahuan antar siswa. 39. Sintaksnya adalah: Sebagian siswa berdiri berjajar di depoan kelas atau di sela bangku-meja dan sebagian siswa lainnya berdiri berhadapan dengan kelompok siswa opertama. bekerja . penyampaian kompetensi. Snowball Throwing Sintaknya adalah: Informasi materi secara umum. presentasi hasil kelompok. menunjuk siswa untuk melakonkan scenario yang telah dipelajarinya. Tari Bambu Model pembelajaran ini memberuikan kesempatan kepada siswa untuk berbagi informasi pada saat yang bersamaan dengan pasangan yang berbeda secara teratur. pemanggilan ketua dan diberi tugas membahas materi tertentu di kelompok. 41. 40. guru membimbing siswa untuk menyimpulkan. 37.

refleksi. refleksi. refleksi. 43. siswa berkelompok mengerjakan soal dan mencari kartu soal untuk jawaban yang cocok. membagi tugas pembahasan materi untuk tiap kelompok. mengecek pemahaman dan balikan. 47. sajian materi. langkah demi langkah bertahap. Course Review Horay Langkah-langkahnya: informasi kompetensi. Student Facilitator and Explaining Langkah-langkahnya adalah: informasi kompetensi. penyuimpulan. penyimpulan dan evaluasi.kelompok. penyimpulan dan evaluasi. Explicit Instruction Pembelajaran ini cocok untuk menyampaikan materi yang sifatnya algoritmaprosedural. tiap kelompok menuliskan pertanyaan dan diberikan kepada kelompok lain. Pair Checks Siswa berkelompok berpasangan sebangku. Scramble Sintaknya adalah: buatlah kartu soal sesuai marteri bahan ajar. Langkahnya adalah: informasi kompetensi. sajian materi. membagikan kartu soal pada kelompok dan kartu jawaban. Make-A Match . bertukar peran. refleksi. dikusi kelas. penyimpulan dan evaluasi. kesimpulan dan evaluasi. 44. salah seorang menyajikan persoalan dan temannya mengerjakan. sajikan materi. penyimpulan dan evaluasi. pemberian reward. membimbing pelatihan-penerapan. menunjuk siswa atau kelompok untuk mendemonstrasikan bagiannya. Demostration Pembelajaran ini khusu untuk materi yang memerlukan peragaan media atau eksperimen. mendemontrasikan pengetahuan dan ketrampilan procedural. tanya jawab untuk pemantapan. pengecekan kebenaran jawaban. guru membacakan soal yang nomornya dipilih acak. Sintaknya adalah: sajian informasi kompetensi. siswa yang punya nomor sama dengan nomor soal yang dibacakan guru berhak menjawab jika jawaban benar diberi skor dan siswa menyambutnya dengan yel hore atau yang lainnya. kelompok lain menjawab secara bergantian. 45. buat kartu jawaban dengan diacak nomornya. siswa mengembangkannya dan menjelaskan lagi ke siswa lainnya. siswa atau kelompok menuliskan nomor sembarang dan dimasukkan ke dalam kotak. sajian gambaran umum materi bahan ajar. 46. refleksi. 48. refleksi dan evaluasi 42.

presentasi hasil kelompok. sajian materi. bimbingan penyimpulan. penyimpulan dan evaluasi. solusi. refleksi. kartu dikumpul lagi dan dikocok. 54. adakah alternative. Practicing. dan bagaimana sebaiknya mengerjakannya. sajian hasil diskusi oleh salah seorang dan yang lain menanggapi. penyimpulan. Reviewing and reducing difficulty. Obtaining mastery. sajian permasalahan terbuka. diskusi kelompok tentang sajian gambar tadi. 53. untuk badak berikutnya pembelaarn seperti babak pertama. sajikan gambar ditempel atau pakai OHP. siswa membuat ksimpulan dari hasil setiap kelompok. Cooperative Script Buat kelompok berpasangan sebangku. Metakognitive questioning. 49. guru menanamkan konsep sesuai materi bahan ajar. setiap siswa mencari kartu jawaban yang cocok dengan persoalannya siswa yang benar mendapat nilai-reward. atau tabel sesuai materi bahan ajar dan kompetensi. valuasi dan refleksi. rencana. bertukar peran. 50. evaluasi dan refleksi. siswa berkelompok untuk menanggapi dan membuat berbagai alternatiu jawababn. presentasi hasuil diskusi kelompok. siswa mempelajari wacana dan membuat rangkuman. Verivication. balikan-perbnaikan-pengayaan-interaksi. LAPS ( Logan Avenue Problem Solving) dengan kata Tanya apa masalahnya. apakah bermanfaat. bagikan wacana materi bahan ajar. Enrichment. LAPS-Heuristik Heuristik adalah rangkaian pertanyaan yang bertisfat tuntunan dalam rangaka solusi masalah. Sintaknya adalah sajian pertanyaan untuk mengantarkan konsep. evaluasi dan refleksi. penyimpulan. diagram. siswa (wakil) mengurutkan gambar sehingga sistematik. apakah solusinya. Examples Non Examples Persiapkan gambar.Guru menyiapkan kartu yang berisi persoalan-permasalahan dan kartu yang berisi jawabannya. guru mengkonfirmasi urutan gambar tersebut. . 51. Picture and Picture Sajian informasi kompetensi. Mind Mapping Pembelajara ni sangat cocok untuk mereviu pengetahuan awal siswa. perlihatkan gambar kegiatan berkaitan dengan materi. siswa latian dan bertanya. dengan petunjuk guru siswa mencermati sajian. evaluasi dan refleksi. dan pengecekan. Sintaks: pemahaman masalah. Sintaknya adalah: informasi kompetensi. setiap siswa mencari dan mendapatkan sebuah kartu soal dan berusaha menjawabnya. Improve Improve singkatan dari Introducing new concept. 52.

pengungkapan ide-konsep awal. sajian materi. 58. . Sintaksnya adalah ilustrasikan konsep konkret dan gunakan analogi. berikan latihan soal bertingkat. tantangan dan restruturisasi sajiankonsep. siswa ditugaskan membaca wacana. Sintaknya adalah kondisikan situasi belajar kondusif dan focus. Langkahnya adalah kondisikan kelas untuk melaksanakan diskusi. 1998) untuk melatih dan mengembangkan ketrampilan sosial agar siswa tidak mendominasi pembicaraan atau diam sama sekali. ranguman.55. guru menyiapkan kata kunci sesuai materi bahan ajar. Superitem Pembelajaran ini dengan cara memberikan tugas kepada siswa secara bertingkatbertahap dari simpel ke kompleks. pada tahap pemantapan tiap siswa disuruh berdiri dan mencari teman dan saling informasi tentang materi atau pendalaman-perluasannya kepada siswa lain kemudian mencatatnya pada kartu.bahan belajar . siapkan kartu dengan yang berisi nama siswa .dan nama yang diberi. evaluasi. Take and Give Model pembelajaran menerima dan memberi adalah dengan sintaks. sajian materi. Complette Sentence Pembelajaran dengan model melengkapi kalimat adalah dengan sintakas: sisapkan blanko isian berupa aparagraf yang kalimatnya belum lengkap. LKS dibagikan berupa paragraph yang kaliatnya belum lengkap. siswa berbicara (pidato-tidak membaca) berdasarkan bahan pada kupon. evaluasi dan refleksi 61. siswa berkelompok melengkapi. siswa membuat catatan kreatif sesuai dengan pola pikirnya-peta konsep-bahasa khusus. setelah selesai kupon dikembalikan. Tanya jawab dan refleksi 57. dan seterusnya dengan siswa lain secara bergantian. Concept Sentence Proseduirnya adalah poenyampaian kompetensi. sampaikan kompetensi. tiap siswa diberi kupon bahan pembicaraan (1 menit). guru membentuk kelompok. aplikasi. presentasi. tia kelompok membeuat kalimat berdasarkankata kunci. Generatif Basi gneratif adalah konstruksivisme dengan sintaks orintasi-motivasi. Time Token Model ini digunakan (Arebds. 59. Circuit Learning Pembelajaran ini adalah dengan memaksimalkan pemberdayaan pikiran dan perasaan dengan pola bertambah dan mengulang. dan refleksi 56. membentuk kelompok heterogen. presentasi. 60. berupa opemecahan masalah. informasikan kompetensi.

dan hipotesis. penciptaan suasan kondusif perlu dilakukan. dan saling menghargai. karena unsur rasa dalam berpikir selalu turut serta dan tak bisa dipisahkan. yaitu mulai dari mengolah informasi-koneksi informasi. 63. dan rayakan dengan reward dengan senyum-tawa-ramah-sejuk-nilai-harapan. lima kali salah guru membimbing. E.berikan sal tes bentuk super item. koperatifinkuiri-solusi-workshop. penggunaan ide kreatif-konflik internal-skill. menciptakan inovasi. kelompok-kerjasama. Oleh karena itu . latihan. Hibrid Model hibrid adalah gabungan dari beberapa metode yang berkenaan dengan cara siswa mengadopsi konsep. reward. Prinsip quantum adalah semua berbicara-bermakna. Rumus quantum fisika asdalah E = mc2. Sintaksnya adalah: sajian konsep. kerja individual. Guru harus menciptakan suasana kondusif. Begitu pulal dalam pembelajaran. optimalkan komunikasi + dengan aktivitas optimal. dan menjaga suasana nyaman-menyenangkan. 64. 62. interaktif. jika keliru langsung dikembalikan untuk diperbaiki dan diperiksa lagi. kebebasan-terbuka. partisipatif. ketrampilan. dinamis. virtual workshop menggunakan computer-internet. Quantum Memandang pelaksanaan pembelajaran seperti permainan musik orkestra-simfoni. tiap siswa selesai tugas langsung diperiksa-dinilai. Kumon Pembelajarn dengan mengaitkan antar konsep. namai-buat generalisasi sampai konsep. Penutup Kehidupan akan terasa indah ap[abila ada variasi. Treffinger Pembelajaran kreatif dengan basis kematangan dan pengetahuan siap. Manusia telah dibekali akal dan rasa untuk berkreasi. c = communication. Perubahan kea rah perbaikan adalah tuntutan alamiah yang menjadi kebutuhan setiap insane dalam setiap kehidupan. agar segalanya berubah ke arah yang lebih baik dengan ikhtiar mulai dari diri sendiri. semua mempunyai tujuan. integrasi. konsep harus dialami. ulangi dengan Tanya jawab-latihan-rangkuman. Sintaknya adalah pembelajaran ekspositori. dengan E = energi yang diartikan sukses. kohesif. 65. tiap usaha siswa diberi reward. Sintaks: keterbukaan-urun ide-penguatan. demonstrasikan melalui presentasikomunikasi. m = massa yaitu potensi diri (akal-rasa-fisik-religi). sebaliknya akan terasa membosankan jika segalanya monoton tak berubah. proses rasa-pikir kreatif dalam pemecahan masalah secara mandiri melalui pemanasan-minatkuriositi-tanya. Strategi quantum adalah tumbuhkan minat dengan AMBak. alami-dengan dunia realitas siswa.

Daniel (1995).:Depdiknas. dan model pembelajaran yang inovatif. New York: Dell Publishing. dkk. De Porter. melainkan memnjadi kesadaran dan kebutuhan. New York: Penguin Books. Bandung: JICA-FPMIPA. Tony (1989). komunikasi positif yang efektif. Jakarta: Arga. Emotional Spritual Quotient (ESQ). 3rd ed. New York: Bantam Books. Salah satu cara untuk menciptakan suasan yang nyaman dan menyenangkan sert terhndar dari kevbiosanan adalah dengan memahami dan melaksanakan model belajar yang dilakukan siswa. Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning. What is Contextual Learning. Frame of Mind: The Theory of Multiple Ilntelligences.. Gardner. Emotional Intelligence. L (1993). Perth: Edith Cowan University. Howard (1985). Cord (2001). Use Both Sides of Yoru Brain. CTL).penciptaan suasana kondusif perlu dilakukan sehingga dalam belajar siswa tidak lagi merasa cemas. Erman. Quantum Learning. Jakarta. Buzan. Goleman. dalam suasana perasaan yang nyaman dan menyenangkan. Bobbi (1992). The Constructivist Classroom Education in Profile. tidak lagi takut dalam berpartisipasi. WWI Publishing Texas: Waco. (2002). Daftar Pustaka Ary Ginanjar Agustian (2002). Semoga. Ditdik SLTP (2002). Burton. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. . S. New York: Basic Bools. tidak lagi dirasakan sebagai kewajiban.Ar.