http://educare.e-fkipunla.net/index.php?

option=com_content&task=view&id=40&Itemid=3 Penelitian Tentang Manfaat Tujuan Pembelajaran Khusus dalam Proses Belajar Mengajar Ditulis oleh Otong Kardisaputra A. Latar belakang masalah Sejak diberlakukannya Kurikulum 1975, yang waktu itu dikenal dengan sebutan Pembakuan Kurikulum, para guru diwajibkan menggunakan tujuan instruksional khusus (TIK) dalam melaksanakan tugasnya dari mulai perencanaan pengajaran, pelaksanaan proses belajar-mengajar sampai evaluasi pengajaran. Kewajiban itu merupakan implikasi dari penggunaan prinsip objective oriented sebagai salah satu asas pengembangan kurikulum. Penerapan prinsip berorientasi pada tujuan ini nampak pada Kurikulum 1975 dengan dicantumkannya berbagai jenis tujuan yang tersusun secara hierarkhis, dari mulai tujuan pendidikan nasional, tujuan institusional, tujuan kurikuler sampai ke tujuan instruksional umum. Atas dasar tujuan-tujuan itu, guru diwajibkan mengembangkan tujuan instruksional khusus untuk diusahakan pencapaiannya pada proses belajar-mengajar yang diselenggarakannya. Tujuan instruksional khusus itu menjadi tujuan antara untuk mencapai tujuan yang berada di atasnya. Sejak diimplementasikannya Kurikulum 1975 sampai dewasa ini para guru telah terbiasa merumuskan tujuan instruksional khusus yang dewasa ini biasa disebut tujuan pembelajaran khusus (TPK), sebagai bagian penting dari tugas menyusun Program Satuan Pelajaran dan Rencana Pelajaran. Jika dihitung-hitung, penggunaan TPK dalam pengajaran (proses belajar-mengajar) telah berlangsung selama lebih dari seperempat abad. Artinya suatu jangka waktu yang cukup panjang dalam menerapkan suatu gagasan, sehingga layak untuk diperiksa hasilnya, dengan mengajukan pertanyaan: apa dampak dari penerapan ide ini? Persoalan lain yang tidak kurang pentingnya adalah masalah: apakah gagasan itu telah diterapkan secara semestinya? Suatu studi kecil yang dilakukan peneliti di kalangan guru yang mengikuti lanjutan studi di IKIP Bandung (sekarang UPI) dan pada beberapa program penataran dengan pengalaman kerja kebanyakan belasan tahun yang seluruhnya berjumlah 164 orang, ternyata hanya 27, 43 % dari mereka mengaku senantiasa menginformasikan TPK pada fase pembukaan pembelajarannya. Selebihnya mengaku hanya kadang-kadang saja dan bahkan sebagian menyatakan tidak pernah sama sekali memberitahukan TPK kepada para siswanya pada waktu mengajar. Informasi lain diperoleh dari Pengawas (Dikbud) di wilayah Bogor, yang menyatakan bahwa kurang lebih 10% dari guruguru di wilayah itu yang terbiasa menginformasikan tujuan pembelajaran khusus kepada para siswanya ketika mereka mengajar. Data dan informasi itu mengindikasikan kekurang pahaman bagian terbesar dari mereka akan fungsi dan manfaat TPK dalam pembelajaran. Itu sebabnya mereka tidak memperlakukan TPK secara semestinya. Konsekuensinya TPK kehilangan fungsinya seperti digagaskan oleh penggagasnya. Jadi apa yang diharapkan dapat dicapai dari penerapan suatu ide, jika ide itu tidak diterapkan sebagaimana mestinya? Persoalan lain adalah bahwa pengunaan prinsip objective oriented dalam pengembangan kurikulum itu nampaknya tidak didahului oleh suatu kajian mendalam dan luas mengenai keampuhan prinsip itu bila diterapkan di Indonesia. Boleh jadi

penerapan prinsip itu hanya didasarkan pada expert judgement semata. Bukankah betapa pun bagusnya sebuah ide di lingkungan tertentu tidak akan serta merta bagus pula untuk diterapkan di lingkungan lainnya. Aspek sosial, budaya, dan sumber daya akan turut menentukan keberhasilan penerapan suatu gagasan. Apa lagi jika kita baca beberapa literatur, ternyata di Amerika Serikat sindiri pun tempat lahirnya gagasan perlunya TPK dalam pembelajaran, sempat menjadi sebuah isyu kontroversial di antara para pakar. Beberapa pakar, misalnya L.T. Dawley dan H.H. Dawley (1974), P.C. Duchastel dan B. Brown (1975), W.E. Hauck dan J.W. Thomas (1972), R.J. Kibler (1977), dan lain-lain, melalui penelitiannya masing-masing menemukan bahwa penggunaan TPK dalam proses belajar-mengajar ternyata dapat meningkatkan keberhasilan siswa belajar. Tetapi sebaliknya H. Hausdorf (1965), R.L. Ebel (1970), E.W. Eisner (1967) memandang penggunaan TPK dalam mengajar tidak jelas manfaatnya. W.J. Popham menulis secara rinci dan mendalam yang esensinya meragukan validitas sejumlah argumen yang diajukan sejumlah pakar mengenai kekurang bermaknaan penggunaan TPK dalam pengajaran. Fenomena yang mengindikasikan belum meratanya kematapan pemahaman guruguru akan fungsi dan kemanfaatan dan cara bagaimana memperlakukan TPK dalam mengajar serta adanya inkonsistensi hasil penelitian dan pandangan yang saling berbeda di antara sejumlah pakar di Amerika Serikat (R.J. Kibler, 1981; W. Dick dkk. 1985; R.I. Arends,1989) telah mendorong dilakukannya penelitian ini. Dengan penelitian ini diharapkan diperoleh pengetahuan empiris mengenai manfaat TPK dalam upaya meningkatkan efektifitas proses belajar-mengajar di sekolah. A. Rumusan Masalah Secara umum, masalah yang hendak diteliti dalam studi ini adalah manfaat penggunaan tujuan pembelajaran khusus dalam proses belajar-mengajar. Secara lebih khusus, masalah itu dapat dirumuskan sebagai berikut: “Apakah penggunaan tujuan pembelajaran khusus meningkatkan efektifitas proses belajar-mengajar?” Tujuan pembelajaran khusus dalam rumusan masalah itu didefinisikan sebagai: “pernyataan yang menjelaskan apa yang diharapkan dapat dilakukan siswa setelah mengikuti satu unit proses belajar-mengajar.” Satu unit proses belajar-mengajar di sini dimaksudkan sebagai satu pertemuan kelas selama dua kali 45 menit dalam mana berlangsung rangkaian hubungan edukatif antara guru dengan siswa dan interaksi antara tindakan pembelajaran guru dengan perbuatan belajar siswa yang ditujukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dimaksudkan dengan kata-kata “penggunaan tujuan pembelajaran khusus” dalam rumusan masalah tersebut adalah perlakuan guru terhadap rumusan tujuan-tujuan pembelajaran khusus yang telah dikembangkan guru sebagaimana yang dicantumkannya dalam program satuan pelajaran dan/atau rencana pelajaran yang dibuatnya. Dalam penelitian ini ditetapkan dua kondisi sebagai berikut: 1. Tujuan pembelajaran khusus telah diperlakukan secara semestinya (benar) apabila tujuan-tujuan pembelajaran khusus yang dibawa guru ke dalam kelas belajar diinformasikan kepada siswa dengan jelas pada fase pembukaan proses belajarmengajar sehingga tujuan pembelajaran khusus menjadi fungsional; 2. Tujuan pembelajaran khusus diperlakukan secara tidak semestinya apabila

Pembentukan Pengetahuan Sains, Teknologoi dan Masyarakat dalam Pandangan Pendidikan IPA Ditulis oleh Reviandari Widyatiningtyas A. Pembentukan Pengetahuan Pengetahuan yang dimiliki seseorang pada dasarnya berupa konsep-konsep. Konsepkonsep ini diproleh individu sebagai hasil berinteraksi dengan lingkungan. Dengan konsep-konsep dapat disusun suatu prinsip, yang dapat digunakan sebagai landasan dalam berpikir. Konsep didefinisikan oleh beberapa ahli sebagai berikut. Menurut Good (1973: 124), konsep adalah gambaran dari ciri-ciri, yang dengan ciri-ciri itu objek-objek dapat dibeda-bedakan. Menurut Yelon et al. (1971: 190), konsep adalah elemen umum dari sekelompok objek, peristiwa atau proses. Sedangkan menurut Kuslan dan Stone (1968: 79), konsep adalah sifat Khas yang diberikan pada sejumlah objek, proses, fenomena, atau peristiwa, yang dapat dikelompokkan berdasarkan sifat khas itu. Rumusan definisi yang dikemukakan diatas mengandung makna yang sama, yaitu konsep merupakan suatu abstraksi yang mengambarkan ciri-ciri umum dari sekelompok objek, proses, peristiwa, atau fenomena lainnya. Gagne (1985 ; III ) dan Gagne and Briggs (1974: 40) menyatakan bahwa konsep dapat digolongkan kedalam dua golongan yaitu konsep konkrit dan konsep terdefinisi. Konsep konkrit adalah konsep yang menunjukkan ciri-ciri atau atribut dari suatu objek, yaitu relatif mudah dikenali dengan indra. Contoh konsep konkrit misalnya konsep warna (merah, hijau), bentuk (bulat, datar), sifat (keras, lunak), dan sebagainya. Konsep terdefinisi adalah konsep yang dapat dikenali (dipahami) melalui definisi, jadi sifatnya abstrak. Contoh konsep terdefinisi misalnya konsep: penduduk, fertilitas, ovulasi, dan sebagainya. Praget (dalam Dahar, 1989: 159) melalui penelitiannya tentang bagaimana anak memperoleh konsep atau pengetahuan, berkesimpulan bahwa konsep atau pengetahuan itu dibangun dalam pikiran anak. Hasil penelitiannya ini yang menyebabkan ia dikenal sebagai konstruktivis pertama. Guston et-al (dalam Poedjiadi, 1995: 15) menyatakan bahwa paham konstruktivisme bertitik tolak dari mempelajari bagaimana individu belajar. Pandangan konstruktivisme dalam belajar adalah bahwa individu membangun maknanya sendiri apabila menerima input melalui sensornya. Dalam pembentukan pengetahuan melibatkan kegiatan berpikir. Ada tiga aspek yang diajukan Piaget (dalam Dahar, 1989: 110) dalam membahas berpikir pada anak, yaitu isi, struktur dan fungsi. Isi ialah pola perilaku anak yang khas yang tercermin pada respons yang diberikannya terhadap berbagai masalah atau situasi yang dihadapinya. Jadi isi mengacu kepada tingkah laku yang nampak sebagai pencerminan dari kegiatan intelektual. Kerana itu isi berbeda dari umur ke umur dan satu anak ke anak lainnya. Isi ditentukan oleh struktur kognitif yang disebut skemata atau skema. Struktur kognitif adalah berupa fakta-fakta, konsep-konsep dan generalisasi-

generalisasi yang ada dalam pikiran siswa. Struktuk mengacu pada sifat-sifat penataan (skemata) yang menjelaskan terjadinya tingkah laku tertentu. Skemata merupakan dasar untuk berpikir, untuk melakukan operasi-operasi logis, atau memahami sesuatu. Fungsi adalah cara yang digunakan organisme untuk membuat kemajuan intelektualnya. Proses terbentuknya pengetahuan pada individu sangat ditentukan oleh struktur kognitifnya, yang berupa konsep-konsep yang ada dalam pikirannya. Dengan konsepkonsep yang ada tersebut, memungkinkan individu dapat memikirkan sesuatu dengan cara adaptasi (baik asimilasi maupun akomodasi), yang kemudian hasil-hasilnya disistematikan dengan proses organisasi sehingga dihasilkan struktur (skemata) baru. Dengan stuktur ini akan dihasilkan pola prilaku yang nampak. Piaget (dalam Dahar, 1989: 159) membedakan tiga bentuk pengetahuan berdasarkan sumber utamanya dan penstrukturannya. Tiga bentuk pengetahuan tersebut adalah pengetahuan fisik, pengetahuan logiko-matematik, dan pengetahuan sosial. Pengatahuan fisik meliputi pengetahuan tentang benda-benda dan sifat-sifatnya. Pengetahuan logiko-matematik diabstraksikan dari kegiatan, atau dari koordinasi kegiatan dan bukan bersumber dari onjek itu sendiri, sumber pengetahuan logikomatematik adalah proses berfikir dari individu itu sendiri. Sedangkan proses pembentukan logiko-matematik ialah mengorganisasi tindakan menjadi pola tindakan yang lebih logis melalui modifikasi tindakan struktur kognitif. Pengetahuan sosial terjadi dari hasil interaksi manusia dengan manusia. Individu tidak mungkin memperoleh pengetahuan sosial tanpa berinteraksi dengan manusia lain. Pengetahuan ini didasarkan pada perjanjian sosial, suatu perjanjian atau kebiasaan yang dibuat manusia. Menurut Piaget (dalam Dahar, 1989: 159) pengetahuan sosial seperti nama hari dalam seminggu, tanda atom unsur-unsur, satuan besaran pokok, dapat dipelajari secara langsung, yaitu dari pikiran guru pindah ke pikiran siswa. Namun pengetahuan fisik dan pengetahuan logiko-matematik tidak secara langsung dan utuh dipindahkan dari pikiran guru ke siswa. Kedua pengetahuan ini tidak dapat diteruskan dalam bentuk sudah jadi, setiap siswa harus membangun sendiri pengetahuan itu.

A. Penguasaan Pengetahuan Sains, Teknologi dan Masysarakat Penguasaan pengetahuan sains dan teknologi akan dikaitkan dengan aspek sosial, hal ini dikarenakan satu sama lain saling berkaitan. Untuk memperjelas hal tersebut, dapat diungkap melalui definisi-definisi yang dikemukakan oleh beberapa ahli. Sains, menurut Titus (1959:78), mengandung tiga definisi yaitu sebagai sejumlah disiplin ilmu, sebagai sekumpulan pengetahuan, dan sebagai metode-metode. Disamping itu ditegaskan pula bahwa sains merupakan suatu rangkaian konsep-

konsep yang berkaitan dan berkembang dari hasil eksperimen dan observasi. Menurut Robert B. Sund (1973: 2), sains merupakan suatu tubuh pengetahuan (body of knowledge) dan proses penemuan pengetahuan. Dengan demikian, pada hakekatnya sains merupakan suatu produk dan proses. Produk sains meliputi fakta, konsep, prinsip, teori dan hukum. Proses sains meliputi cara-cara memperoleh, mengembangkan dan menerapkan pengetahuan yang mencakup cara kerja, cara berfikir, cara memecahkan masalah, dan cara bersikap. Sains dirumuskan secara sistematis, terutama didasarkan atas pengamatan eksperimen dan induksi. Teknologi, menurut Fischer (1975), adalah totalitas alat yang dikembangkan oleh masyarakat untuk memperoleh objek-objek materi bagi makanan dan kenyamanan manusia. Menurut Poerwadarminta (1983), teknologi adalah ilmu pengetahuan dan kepandaian membuat sesuatu yang berkenaan dengan hasil industri atau ilmu pengetahuan tentang cara membuat sesuatu yang berkenaan dengan hasil industri atau ilmu pengetahuan tentang cara membuat sesuatu atau melakukan sesuatu, sedangkan menurut UNESCO (1983), teknologi adalah sebagai berikut: ……..technology is the know-how and creative process that may utilize tools, resources, and systems, to solve problems, to enhance control over the natural an man-made environment in endeavour to improve the human condition. Jadi secara ringkas dapat dikatakan bahwa, teknologi merupakan suatu perangkat keras ataupun perangkat lunak yang digunakan untuk memecahkan masalah bagi pemenuhan kebutuhan manusia. Sains melandasi perkembangan teknologi, sedangkan teknologi menunjang perkembangan sains, sains terutama digunakan untuk aktivitas discovery dalam upaya memperoleh penjelasan tentang objek dan fenomena alam, namun juga untuk aktivitas penemuan (invention), misalnya dalam penemuan rumus-rumus. Pengembangan sains ini tidak selalu dikaitkan dengan aspek kebutuhan masyarakat. Sedangkan teknologi, merupakan aplikasi sains yang terutama untuk kegiatan invention, berupa alat-alat atau barang-barang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Jadi pengembangan teknologi selalu dikaitkan dengan kebutuhan masyarakat. Dengan demikian sains, teknologi dan masyarakat merupakan bagian yang tak terpisahkan (Poedjiadi, 1990 ; Yager, 1992: 4). Masyarakat , menurut Aikenhead (dalam Mariana, 1994: 29), adalah suatu lingkungan pergaulan sosial dan kaidah-kaidah yang dianut oleh suatu kelompok masyarakat. Menurut Poerwadarminta (1983), masyarakat adalah sehimpunan orang yang hidup bersama dalam suatu tempat dengan ikatan-ikatan dan aturan-aturan tertentu. Sedangkan, sosial adalah segala sesuatu yang mengenai masyarakat. Jadi, secara ringkas dapat dikatakan bahwa, masyarakat adalah sekelompok manusia yang memiliki wilayah, kebutuhan, dan norma-norma sosial tertentu. Sains, teknologi dan masyarakat satu sama lain saling berinteraksi. Interaksi ini dapat digambarkan seperti gambar sebagai berikut:

. Evaluasi merupakan suatu pengukuran atau penilaian terhadap sesuatu prestasi atau hasil yang telah dicapai. dan pengembangan nilai positif tentang hakekat sains melalui pembelajaran. Penerapan konsep-konsep dan keterampilan-keterampilan sains untuk masalahmasalah teknologi sehari-hari. STM dan Literasi Sains dan Teknologi Pendidikan IPA atau pendidikan sains pada hakekatnya merupakan upaya pemahaman. masyarakat). 2. Pembuatan keputusan-keputusan yang berhubungan dengan kesehatan. 5. 1992: 19-20). 1992:87-88) B. maka kriteria pengembangan evaluasinya dapat mengacu kepada pengembangan evaluasi dalam unit STS atau STM (sains. (Varella. Pemahaman prinsip-prinsip sains dan teknologi yang terlibat dalam alat-alat teknologi yang dimamfaatkan masyarakat. atau hal-hal lain yang didasarkan pada konsep-konsep ilmiah. Pemahaman konsep sains dalam pengalaman kehidupan sehari-hari. Sains pada hakekatnya merupakan ilmu dan pengetahuan tentang fenomena alam yang meliputi produk dan proses. 4. Evaluasi dalam STM meliputi ruang lingkup aspek: 1. teknologi. Penggunaan proses-proses ilmiah dalam pemecahan masalah-masalah yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. penyadaran. Mengingat penguasaan sains dan teknologi dalam penelitian ini merupakan penguasaan sains dan teknologi yang berkaitan dengan aspek masyarakat. 3. Untuk penyusunan materi pendidikan sains. Pendidikan sains merupakan salah satu aspek pendidikan yang menggunakan sains sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan umumnya yakni tujuan pendidikan nasional dan tujuan pendidikan sains khususnya. dapat dilakukan melalui suatu evaluasi. yaitu untuk meningkatkan pengertian terhadap dunia alamiah (Amien. Kirham (dalam Wellington. 1989: 136) menyarankan bahwa sains hendaknya merupakan akumulasi dari content. process.SAINS TEKNOLOGI MASYARAKAT Untuk mengungkap penguasaan pengetahuan sains dan teknologi tersebut. nutrisi.

Process. Masalah atau isu yang ada dilingkungan masyarakat dapat pula diusahakan agar ditemukan oleh peserta didik sendiri setelah guru membimbing dengan cara-cara tertentu. sedangkan dalam IPA terpadu tidak mutlak harus dilaksanakan demikian. konsep. Pada awal perubahan tiap topik. Pengajaran yang mengkaitkan sains dengan teknologi dan masyarakat. teori. isu atau masalah harus diangkat pada awal pembahasan topik yang diajarkan. model. Content. dan terminologi. Strategi kedua. Anna Poedjiadi (1995: 4) mengemukakan hal sebagai berikut: Pelaksanaan pendekatan STM dapat dilakukan melalui tiga macam strategi. strategi pertama. berkaitan dengan metodologi atau keterampilan untuk memperoleh dan menemukan content. Untuk kepentingan itu.dan context. definisi. selanjutnya dikembangkan pula di Inggris dan Australia. Berkenaan dengan strategi pelaksanaan pendekatan STM. prinsip. National Science Teacher Association atau NSTA. Tantangan pendidikan sains dewasa ini adalah perlu sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. menyusun topik-topik tertentu yang menyangkut konsep-konsep yang ingin ditanamkan pada peserta didik. guru memperkenalkan atau menunjukkan kepada peserta didik adanya isu atau masalah dilingkungan peserta didik atu menunjukkan aplikasi sains atau suatu produk teknologi yang ada dilingkungan mereka. pengajaran sains dewasa ini perlu dikaitkan dengan aspek teknologi dan masyarakat. menyajikan suatu topik yang relevan dengan konsep-konsep tertentu yang termasuk dalam GBPP. 1994: 1). Pada saat membahas konsep-konsep tertentu suatu topik yang relevan telah dirancang sesuai strategi pertama dapat diterapakan dalam . dikenal dengan pengajaran dengan pendekatan STM atau STS. Perbedaannya ialah bahwa pada program STM. Strategi ini mirip dengan stategi pendidikan IPA terpadu. serta perlu dapat mengantisipasi masalah-masalah sosial yang berkaitan dengan sains dan teknologi tersebut. dalam hal ini pengetahuan yang berbentuk konsepkonsep . Pendekatan ScienceTechnology-Society atau STS ini pertama kali dikembangkan di Amerika Serikat pada tahun 1980-an. berkaitan dengan kepentingan sosial baik individu maupun masyarakat atau kepentingan-kepentingan lainnya yang berhubungan dengan perlunya pengembangan dan penyesuaian pendidikan sains untuk menghadapi tantangan kemajuan jaman sekarang ini. Melalui kegiatan eksperimen atau diskusi kelompok yang dirancang oleh guru akhirnya dibangun atau dikonstruktur pengetahuan pada peserta didik. menyangkut kepada hal-hal yang berkaitan dengan fakta. Context. mendefinisikan STS sebagai belajar/mengajar sains dan teknologi dalam konteks pengalaman manusia (Poedjiadi.

dan masyarakat secara terintegrasi. Literasi dapat diartikan sebagai kemampuan untuk membaca dan menulis. Konsep ini dapat diwujudkan dalam bentuk pendekatan atau materi pelajaran. Adapun individu yang literat teknologi menurut M. Literasi sains (scientific literasi). dapat diartikan sebagai kemampuan melaksanakan teknologi yang didasari kemampuan identifikasi. (e) mampu membuat hasil teknologi alternatif yang sederhana. Pengajaran dengan pendekatan STM dapat meningkatkan literasi sains dan teknioplogi individu. Dengan demikian program STM merupakan suplemen dari kurikulum. STM dikembangkan untuk meningkatkan literasi ilmiah individu agar mengerti bagaimana sains. isu atau masalah sebaiknyadperkenalkan pada awal pokok bahasan tertentu untuk meningkatkan motivasi peserta didik mempelajari konsep-konsep selanjutnya atau mengarahkan perhatian peserta didik kepada materi yang akan dibahas sebagai apersepsi. Literasi teknologi. dan mampu mengambil keputusan berdasarkan nilai. 1994: 34) . teknologi.J. mengenal teknologi yang ada beserta dampaknya di sekitar. sadar akan efek hasil teknologi.pembelajaran. efesien dan efektif. kreatif membuat produk teknologi sederhana. dapat diartikan sebagai kemampuan menyelesaikan masalah dengan menggunakan konsep-konsep sains. berpengaruh satu sama lain. Dengan demikian individu tersebut dapat menghargai sains dan teknologi dalam . Adapun literasi sains dan teknologi (literasi sains dan teknologi untuk semua orang yang diusulkan untuk pendidikan dasar di Indonesia). (d) memilki pengetahuan tentang konsep dan prinsip sains. Sains-Teknologi-Masyarakat (STM) merupakan perekat yang mengkaitkan sains. (b) sadar tentang proses dan prinsip teknologi. (c) berpengatahuan luas tentang hasil-hasil riset. contoh-contoh adanya aplikasi konsep sains. (f) berkemampuan membuat keputusan dan terampil menganalisis nilai untuk pemecahan masalah-masalah masyarakat yang berhubungan dengan sains tersebut (Rubba. Strategi ketiga. masyarakat dan nilai-nilai manusia. (c) sadar tentang akibat teknologi terhadap masyarakat. tepat. 1993: 428). mengajak peserta didik untuk berpikir dan menemukan aplikasi konsep sains dalam industri atau produk teknologi yang ada di masyarakat di selasela kegiatan belajar berlangsung. (b) mampu menggunakan proses sains. atau kemampuan berkomunikasi melalui tulisan dan kata-kata. teknologi dan masyarakat. STM merupakan salah satu alternatif konsep untuk penyempurnaan dan penyesuaian pendidikan sains dewasa ini. (d) mampu mengevaluasi proses dan produk teknologi. memiliki karakteristik: (a) tahu penggunaan dan pemeliharaan produk teknologi. (e) memilki pengertian hubungan antara sains. Krakteristik individu yang memilki literasi ilmiah adalah sebagai berikut: (a) bersikap positif terhadap sains. serta mampu menerapkannya dalam teknologi dan masyarakat. dan mampu bersikap serta mampu menggunakan alat secara aman. serta untuk meningkatkan kemampuan menggunakan pengetahuan didalam membuat keputusan. teknologi. Dyrenfurth (dalam Poedjiadi. mampu menggunakan produk teknologi dan memeliharanya. dapat diartikan sebagai pemahaman atas sains dan aplikasinya bagi kebutuhan masyarakat.

P. New York: David Mc. Science. _______.(1995). “Partisipasi FPMIPA IKIP Bandung dalam Menunjang Perkembangan Pendidikan Sains dan Teknologi Dewasa ini “. 3 Mei. Jakarta: Erlangga. Inc.H. (1980). Bandung. Carin. Merrill Publishing.A. Man and Siciety. Good. The Condition of Learning and Theory of Instruction.. Teaching Science Through Discovery.V. Hall.masyarakat.J. G. A. Belmount: Wadsworth Publishing Company. Gordner. & Stone. New York: Mc Graw Hill Book Company.B.W. et al. Makalah Disajikan pada Seminar Staff FPMIPA IKIP Bandung. Jakarta.J. Kamus Umum Bahasa Indonesia. W. (1975). (1971).’lay Company. & Sund. New York: Holt. (1973).e. (1974). Kuslan. 1998: 276). (1979). Jakarta: PN. Taxonomy of Educational objectives The Classification of Educational Goal Handbook I Cognitive Domain. (1968). Philadelphia: Saunders Co. (Eds).M. 17-19 Januari. IKIP Bandung: tidak diterbitkan. L. Teaching Children Science: An Inquiry Approach. Austin: Univercity of Texas.M. Kesiapan Guru Mengajarkan Sains di Sekolah Dasar Ditinjau Dari Pengembangan Keterampialan Proses Sains.B. (1990). Poerwadarminta. Gagne. C.. Dictionary of Education. (1971). Dahar. R. R. How Thorn Victoria Australia: Longman Australia Pty Limited. Gagne. R. (1989). New York: Rinehort and Winston. L. . Maesuring Stage of Concern about The Innovation: A Manual foe use of the Sacial Questionnaire. dan mengerti keterbatasan-keterbatasannya (Yager. & Briggs. “Kecenderungan Pendidikan Sains dan Teknologi dimasa yang Akan Datang. A. Makalah dan Lokakarya tentang Reorientasi dan perubahan Kurikulum Pendidikan Menengah Umum”. Teori-teori Belajar.L. R. (1985). _______.S. (1983). A.I. Rinehort and Winston. Disertai Doktor FPS IKIP. Balai Pustaka. The Stucture of Science Education. Fischer. Columbus: Charles E. (1985). Poedjiadi. DAFTAR PUSTAKA Bloom. et al. Principlesof Instructional Desig. R.

ICASE YEARBOOK. . “Greater Ability to Apply Concepts Using and Science/Technology/Sociaty Approach to Teaching Science”. eranan Pertanyaan Terhadap Kekuatan Retensi dalam Pembelajaran Sains pada Siswa SMU Ditulis oleh Taufik Rahman ABSTRAK Telah dilakukan penelitian tentang peranan pertanyaan terhadap retensi dalam pembelajaran sains pada siswa SMU. namun retensinya berbeda signifikan. Varella. & Shoemaker.E. Untuk mengetahui efektifnya model pembelajaran.F. hendaknya tidak hanya dari penguasaan konsep saja.F. H.. retensi siswa hasil pembelajaran dengan pertanyaan penuntun lebih baik dari pertanyaan biasa. 87-92.H. Communication of Innovation: Crosscultural Approach. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen. Science Education. Pendahuluan 1.W. Titus. (1992). “Examination of Preservice and Inservice Secondary Science Teachers Beliefs about Science –Technology-Society Interactions”. P. R. 407-431. Latar Belakang Masalah Keberhasilan belajar Sains di SMU umumnya diukur dari seberapa jauh siswa menguasai konsep yang diajarkan.(1959). (1992). Tes retensi dilakukan setelah tiga minggu dari pos tes. tetapi lebih jauh perlu dianalisis apakah konsep-konsep yang diajarkan dapat lekat dalam ingatan siswa ataukah cepat terlupakan karena pembelajaran yang dilakukan hanya berupa transfer hapalan belaka. Yager. Faktor retensi atau lekatnya konsep dalam ingatan kurang mendapat perhatian padahal dapat dijadikan indikator bermutunya hasil belajar atau pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil postes siswa dari kedua pembelajaran pada umumnya sangat baik demikian pula retensinya. Hasil postes dari kedua pembelajaran tidak berbeda. Living Issues In Philoshophy. New York: Free Press.Rogers. Sampel diambil secara claster random yang meliputi satu kelas eksperimen menggunakan pertanyaan pengarah dan satu kelas kontrol dengan pertanyaan biasa tanpa pengarah dalam pembelajarannya. F. G. New York: American Book Company. (1993).M.A. Analisis di atas dipandang kurang terungkap padahal merupakan sesuatu yang perlu diketahui dan diteliti. (1971). “Science-Technology-Society as Reform”. Macam pertanyaan yang diajukan oleh guru secara lisan atau tulisan menentukan keberhasilan siswa dalam peningkatan berpikir dan penguasaan konsep (Dahar. R. A. ICASE YEARBOOK. Rubba. E. 2-8.

dan untuk mengungkap gagasan siswa (Wynne Harlen. dapat membangkitkan minat dan rasa ingin tahu siswa terhadap masalah yang sedang dibahas. Pada kenyataannya. dapat . Konsep yang dipahami secara baik oleh siswa dari pembelajaran dapat disimpan dalam ingatan atau memori yang kemudian akan dipergunakan pada saat diperlukan. Suatu pertanyaan yang diberikan secara tersusun dengan baik dapat memberikandampak positif sebagai berikut: Dapat meningkatkan partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran. hal ini dikenal sebagai lupa (Abin Syamsudin. 1996:117). Rumusan Dan Batasan Masalah a. Rumusan Masalah Masalah umum penelitian ini dirumuskan sebagai berikut. karena pertanyaan dapat menggali informasi dari ingatan (Winkel. Namun. mengarahkan atau menuntun pada arah tertentu. 3) Retensi adalah kemampuan mengingat konsep setelah selang waktu tiga minggu. Pertanyaan dalam pembelajaran antara lain digunakan untuk menguji daya ingat siswa. 1996:458). tentunya perlu dianalisis pertanyaan-pertanyaan yang bagai mana yang secara baik dapat menggali ingatan dan yang bagaimana pula yang secara baik dapat menguatkan ingatan. Pertanyaan biasa adalah pertanyaan-pertanyaan yang berdiri sendiri tanpa menghiraukan kaitannya dengan pertanyaan pokok. Pertanyaan penuntun berupa rangkaian pertanyaan yang saling berkaitan untuk menjawab pertanyaan pokok. Peranan Pertanyaan Dan Retensi Dalam pembelajaran Sains 1. Peranan Pertanyaan Dalam pembelajaran Sains Pertanyaan merupakan komponen yang amat diperlukan dalam pembelajaran sains. Bagaimana peranan pertanyaan terhadap kuatnya retensi dalam pembelajaran sains pada siswa SMU? b. 2. banyak hal yang telah disimpan dalam ingatan sulit untuk diproduksikan lagi. Kuatnya retensi ditentukan dengan perbandingan tes retensi (postes ke-2) dengan postes kali 100 persen. dapat mengembangkan pola dan cara berfikir aktif siswa. 2) Pembelajaran sains meliputi pembelajaran biologi konsep polusi air di satu SMUN di Bandung. Batasan Masalah 1) Pertanyaan yang diteliti meliputi pertanyaan penuntun dan pertanyaan biasa atau tidak menuntun. 1991: 97). Kemampuan untuk menyimpan dalam ingatan ini dikenal sebagai retensi.1985:122). mendorong siswa berfikir. Lupa bisa dikurangi dengan berbagai cara. B. salah satunya dengan memberikan pertanyaan.

2000: 75) Bentuk pertanyaan promting dapat dibedakan menjadi 3.Wrag dan George Brown 1997: 43). dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Guskey & Gates (1985). Peranan Retensi Dalam Pembelajaran Sains Retensi atau ingatan terhadap pengetahuan yang dipelajari merupakan faktor yang penting dalam suatu pembelajaran sains misalnya biologi. Retensi erat hubungannya dengan belajar. Namun. (3) memberikan suatu review informasi yang diberikan dan pertanyaan yang membantu murid untuk mengingat atau melihat jawabannya (E. yaitu: (1) mengubah susunan pertanyaan dengan kata-kata yang berbeda atau lebih sederhana yang disesuaikan dengan pengetahuan murid-muridnya. Kulik et. Pertanyaan biasa berupa pertanyaan tunggal untuk mengungkap penguasaan konsep. Dengan demikian aspek retensi sangatlah diperlukan. al. pertanyaan mengarahkan atau menuntun (promting question) dan pertanyaan menggali (probing questions) ( Moh. Hal ini didukung oleh pernyataan yang dikemukakan oleh James Dese (1959: 236) bahwa jika tidak ada retensi. 1996: 18).1997: 43) 2. Dalam pembelajaran sains kedua jenis pertanyaan tersebut senantiasa dipergunakan. Retensi dan lupa merupakan dua istilah yang tidak dapat dipisahkan.1987:72). (2) menanyakan pertanyaan-pertanyaan sederhana yang membawa mereka kembali pada pertanyaan semula. 1993: 305) diantaranya membuktikan bahwa kita menyimpan banyak ingatan terhadap apa yang telah dipelajari di sekolah. Pertanyaan konvergen dan pertanyaan divergen (Conny Semiawan. dalam Nuryani Rustaman. Uzer Usman.C. Pertanyaan permintaan (compliance questions). Retensi mengacu . Bentuk pertanyaan Pengarah berbeda dari pertanyaan biasa.1999:4). Banyak penelitian yang telah dilakukan oleh para ahli pendidikan yang berkaitan dengan retensi. misalnya topik polusi. mutu pertanyaan guru sebanding dengan jawaban yang akan diperoleh dari pertanyaan tersebut (E. Hursh (1976). dan dapat memusatkan perhatian siswa terhadap masalah yang sedang dibahas (Moh Uzer Usman. 1995: 74) Berdasarkan karakteristiknya pertanyaan antara lain digolongkan sebagai berikut. maka proses belajar siswa tidak berlangsung dengan baik dan sebaliknya jika tidak belajar maka tidak akan ada retensi.C. Pertanyaan produktif dan non produktif (Sheilla Jelly. Dalam mempelajari sains biologi. Namun. (1978 & 1990) (dalam Semb et. Banyaknya pertanyaan yang diajukan dalam pembelajaran tidak menunjukkan bahwa pembelajaran tersebut lebih berkualitas (Wynne Harlen. al. Wrag dan George Brown . Dalam materi tersebut meliputi konsep konkret dan abstrak. banyak hal yang perlu dipahami dan diingat. pertanyaan retoris (rhetorical questions)..menuntun proses berfikir siswa untuk menentukan jawaban yang baik. Dengan demikian salah satu bentuk promting adalah menanyakan pertanyaan lain yang lebih sederhana yang jawabannya dapat dipakai menuntun siswa untuk menemukan jawaban yang tepat (Suwandi dan Tjetjep S. baik secara tertulis dalam Lembar Kerja Siswa(LKS) maupun secara lisan oleh guru di kelas. Pertanyaan pengarah berupa pertanyaan berangkai (lebih dari satu pertanyaan yang satu sama lain berkaitan) yang ditujukan untuk menuntun siswa menguasai konsep. 1991: 97). jenis pertanyaan biasa umumnya lebih mendominasi..

sedangkan lupa mengacu pada porsi ingatan yang hilang. Oleh karena itu tidak mengherankan apabila banyak ilmuwan dibidang pendidikan menyatakan bahwa proses pembelajaran memegang peranan penting terhadap retensi siswa. Winkel (1996: 305). 4) penampungan hasil pengolahan informasi yang berada dalam STM dan menyimpannya dalam ingatan jangka panjang (Long Term Memory / LTM) sebagai informasi yang siap pakai sewaktu-waktu pada saat diperlukan. 1993: 305) menyatakan bahwa faktor-faktor yang dapat mempengaruhi LTM tehadap pengetahuan yang telah dipelajari dalam kelas adalah tingkat dari materi yang dipelajari. maka fase ke 3 dan 4 dimana ingatan dimasukkan dan ditahan dalam STM dan kemudian dimasukkan ke dalam LTM merupakan proses yang amat penting bagi retensi. 2) rangsang yang masuk ditampung dalam sensori register dan diseleksi. menggambarkan tahapan proses tersebut terjadi dengan urutan sebagai berikut: 1) siswa menerima rangsang dari reseptor. Dengan demikian dalam pembelajaran dipandang perlu untuk menitik beratkan pada aspek-aspek bernalar sehingga pembelajaran menjadi bermakna. 1994: 3) terhadap siswanya di Berkeley membuktikan bahwa dengan menggunakan metode pembelajaran secara tradisional dimana guru bertindak . dalam Susan Hanley. metode pembelajaran. Pembelajaran yang menitik beratkan pada guru (teacher centered) dinilai telah gagal untuk mengembangkan pemahaman yang permanen. Lupa akan terjadi apabila materi yang dipelajari tidak menarik. Sehingga dapat dikatakan bahwa jumlah yang dilupakan sama dengan jumlah yang telah dipelajari dikurangi dengan ingatan yang masih tersimpan (James Dese. 1959: 241). Dalam tahap ini retensi merupakan proses penyimpanan pemahaman dan perilaku baru yang diperoleh setelah mengalami proses acquisition (fase menerima informasi). 5) pada saat diperlukan siswa menggali informasi yang telah dimasukkan dalam LTM untuk dimasukkan kembali ke dalam STM Dengan melihat proses internal yang terjadi dalam siswa. Hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Ebinghaus adalah kurva retensi yang menunjukkan bahwa retensi dapat berkurang dengan cepat setelah interval waktu tertentu dan lupa atau berkurangnya retensi ini dapat terjadi beberapa jam pertama setelah proses belajar berlangsung (James Dese. Penelitian yang dilakukan oleh Angelo (1991. kecuali bila informasi tersebut ditahan lebih lama melalui proses penyimpanan. 3) pola perseptual tersebut masuk ke dalam ingatan jangka pendek (Short Term Memory / STM) dan tinggal disana selama 20 detik. tidak diperlukan individu sehingga tidak dihiraukan. 1959: 236). dan perbedaan individual. Retensi merupakan salah satu fase dalam tahapan belajar.pada tingkat dimana materi yang telah dipelajari masih melekat dalam ingatan. Semb dan Elis (1992) (dalam Semb dan Elis. Sedangkan dalam masalah lupa Winkel (1987: 297) menyatakan bahwa gejala lupa mudah terjadi pada pengetahuan kognitif bila individu tidak berhasil mengkonstruksi pengetahuannya sendiri atau tidak berhasil mengaitkan konsep-konsep yang dipelajarinya dengan konsep-konsep yang telah dimilikinya. Dalam tahap belajar terjadi proses internal dalam pikiran siswa. Tentu saja yang dimaksud dengan proses penyimpanan ini berkaitan dengan bagaimana informasi ini dapat diterima dan dikonstruksikan dan akhirnya disimpan dalam benak siswa. sehingga membentuk suatu kebulatan perseptual. tugas yang harus dipelajari. Ilmuwan yang pertama kali meneliti tentang retensi adalah Ebbinghaus pada tahun 1885. Dan sebagaimana yang telah disebutkan oleh Winkel di atas informasi tersebut dapat ditahan lebih lama melalui proses penyimpanan.

Pembelajaran yang banyak melibatkan panca indra dalam proses berpikir dapat memungkinkan pembelajaran menjadi lebih bermakna. Desain penelitian yang digunakan adalah modifikasi Randomized Control Group Pre-test Post-test Desain. dan Retensi siswa . Hasil Penelitian Hasil penelitian dalam bab ini disajikan dalam bentuk tabel-tabel di bawah ini. yaitu pembelajaran dengan menggunakan pertanyaan pengarah dan pembelajaran dengan menggunakan pertanyaan biasa tanpa pengarah. X2= pembelajaran dengan menggunakan pertanyaan biasa. Dengan demikian perlu diupayakan pembelajaran yang bermakna bagi siswa. Bila konsep-konsep tersebut terkait satu sama lain maka akan terbentuk pengetahuan yang bermakna yang tidak mudah untuk dilupakan. T2(1)= Pos-tes. yang digambarkan dengan tabel sebagai berikut: Tabel 1. X1= Pembelajaran dengan menggunakan pertanyaan pengarah. Untuk memenuhi hal tersebut guru sedapat mungkin melibatkan siswa dalam proses pembelajaran. Metode dan Desain Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen untuk membandingkan dua perlakuan pembelajaran yang berbeda. Tabel 1.sebagai penyampai informasi dan siswa penerima informasi didapatkan hasil bahwa kurang dari 20% dari siswanya dapat mengingat apa yang telah disampaikan oleh guru. sehingga dengan demikian memungkinkan kuatnya retensi siswa terhadap konsep-konsep yang diajarkan. Disain Penelitian Kelompok Eksperimen Kontrol Keterangan: Tes awal T1 T1 Perlakuan X1 X2 Tes akhir 1 Selang Waktu Tes akhir 2 T2(1) 3 minggu T2(2) T2(1) T2(2) T1= Tes awal / pre-test. Pos-tes. dan T2(2)= Tes retensi (pos-test ke-2) D. Mereka terlalu sibuk mencatat dam memasukkan informasi tanpa melalui seleksi ke dalam ingatan mereka. salah satunya adalah dengan memberikan pertanyaan untuk memacu keterlibatan berpikir siswa sehingga siswa dapat menggunakan dan mengaitkan konsepkonsep yang telah dimilikinya. C. Rekapitulasi Rata-rata Nilai Pre-tes.

64 Z hit > Z tab Berbeda secara signifikan (Pos tes 2 kel.6 7.25 1.3%) - - .03 79 74.3%) 16 (44.7%) 18 (50%) 3 3 (8.4 12.7%) (91.36 80.Keterangan Konsep Kontrol & kel.9 95.8%) 10 (27.Konsep/sub Nilai Kontrol konsep Pre.3%) 11 (30.5 9.93 10.58 8. Sd = standar deviasi.4 33 52 59 75.Posttest test Polusi Air (LKS Eksp.25 98.27 8. ngan atara Z Eksperimen hitung & Z tabel Pretes 1.1%) - Pos tes 2 K E 12 15 (33.64 Z hit < Z tab Tidak berbeda secara signifikan Polusi Air Retensi 3.3%) (58. Z hitung Z tabel Hasil perbandi.3 26 63 63 78.9%) 3 (8.64 Z hit < Z tab Tidak berbeda secara signifikan Postes 1 1.7 X = rata-rata nilai. Eksperimen > Pos (Postes 2) tes 2 kel.4%) 5 (13.8%) 4 (11.07 11. Rekapitulasi Predikat Penguasaan Siswa Pada pos test.98 50.1%) 3 (8.2%) 1 (2. Retensi.58 81. Rekapitulasi hasil uji dua rata-rata (Uji kesamaan) Konsep/Sub Uji rata-rata kel.3%) Retensi K 33 E 35 (97.3%) (8.16 1.75 8.6%) 4 (11. dan R = nilai terendah Tabel 2.8%) 70 – 79 Baik 60 – 69 Sedang 50 – 59 Kurang Keterangan: (41. Kontrol *dilakukan dengan uji t1 Tabel 3.48 1. dan Retensi Konsep Polusi Air Batas nilai 100-80 Kriteria Sangat baik Pos tes 1 K E 19 21 (52.83 78 100 89 125 67 100 96 116. T = nilai tertinggi.) Keterangan: X Sd T R Eksperimen Retensi % Pre-testPos-tes Retensi % Reten-si 1 (Post-test Reten-si 2) (Pos-tes ke-2) 50.

sebaliknya.K= kelompok kontrol. maka struktur kognitif siswa akan lebih terorganisasi. 2000:75). stabil serta terorganisasinya struktur kognitif seseorang. Pertanyaan yang sifatnya mengarahkan ini merupakan salah satu jenis pertanyaan yang baik (Nuryani Rustaman. Dari hasil uji kesamaan dua rata-rata (tabel 2). jelas dan stabil. maka proses belajar yang bermakna dan retensi akan mudah terjadi pada orang tersebut. namun berbeda signifikan pada retensi (pos tes ke-2). Dalam proses belajar yang bermakna ini terjadi proses mengaitkan informasi baru pada konsep-konsep yang relevan yang terdapat dalam struktur kognitif siswa. . pembelajaran dengan menggunakan pertanyaan pengarah antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dalamsub konsep polusi air tidak memiliki perbedaan secara signifikan pada pos tes . Menurut Slameto (1995:123) makin jelas. Melalui pertanyaan yang mengarahkan. Lebih jauh lagi Richard Anderson dan Gerald Faust. Artinya bahwa hasil pembelajaran menggunakan pertanyaan pengarah unggul dalam hal retensi atau lebih kuat dapat diingat. Peristiwa ini dapat disimpulkan bahwa retensi siswa dengan pembelajaran yang menggunakan pertanyaan pengarah pada lebih baik dibandingkan dengan retensi siswa yang pembelajarannya menggunakan pertanyaan biasa/bukan pengarah. 1989:159). Dalam hal ini pertanyaan yang sifatnya mengarahkan telah menuntun siswa dalam menemukan jawaban yang tepat (Moh. sikap dan motivasi siswa untuk mengkonstruksikan pengetahuan mereka sehingga terbentuk konsepsi dan meningkatnya pemahaman siswa terhadap konsep yang mereka pelajari (Ratna Wilis Dahar. Uzer Usman. (1973:460) berpendapat bahwa taraf belajar menjadi faktor penentu bagi retensi siswa. pada struktur kognitif yang tidak stabil. Dari rata-rata hasil yang diperoleh terhadap retensi dapat disimpulkan bahwa siswa yang menggunakan pertanyaan pengarah dalam pembelajarannya berbeda secara signifikan dibanding siswa yang pembelajarannya menggunakan pertanyaan biasa / pertanyaan bukan pengarah. kabur dan tidak terorganisasi dengan baik cenderung merintangi proses belajar bermakna dan retensi. Pembahasan Dilihat dari hasi rata-rata nilai (tabel 1) terdapat peningkatan nilai rata-rata post tes dari pretes. 1999:8) yang dirancang untuk mendorong siswa agar terlibat secara aktif dalam pembelajaran sehingga siswa dirangsang untuk berpikir dan melakukan kegiatan bermakna. dan E = kelompok eksperimen E. Pertanyaan baik berupa pertanyaan pengarah maupun pertanyaan biasa merupakan faktor ekstrinsik yang mempengaruhi minat. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran dengan pertanyaan pengarah maupun dengan pertanyaan biasa (tanpa pertanyaan pengarah) sama-sama dapat meningkatkan penguasaan konsep siswa. James Deese (1959:253) mengemukakan bahwa salah satu faktor penting yang dapat mempengaruhi retensi siswa adalah taraf belajar (level of learning) seseorang. Hasil retensi siswa kelompok eksperimen memiliki nilai yang lebih tinggi dibanding siswa pada kelompok kontrol.

Berdasarkan predikat skor pada postes 1. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan penguasaan konsep dan terutama mengingat dengan baik. seperti yang dikatakan oleh Robert Travers (1982:1994) “forgetting is normal everyday and constant reminder of our limitations”. Dengan dilakukannya postes 2 dalam jangka selang waktu dimana siswa telah mendapatkan materi yang baru. Terutama penurunan ini terjadi lebih banyak pada kelompok eksperiemen diabandingkan dengan kelompok kontrol. 1975 (dalam Muhibbin Syah. mengakomodasikan. maka materi yang baru tersebut akan mengganggu pemanggilan kembali materi yang sudah tersimpan dalam ingatan (Muhibbin Syah. Perbedaan ini disebabkan karena pembelajaran pada kelompok ekperimen menggunakan LKS dengan pertanyaan pengarah yang dapat mempengaruhi proses internal yang terjadi dalam siswa ketika ingatan dimasukkan dan ditahan dalam STM yang kemudian dimasukkan ke dalam LTM (Winkel. sehingga siswa kemungkinan tidak belajar lagi. Hal ini disebabkan karena terjadinya peristiwa lupa. Pelaksanaan pos tes 1 diberitahukan sebelumnya kepada siswa sehingga siswa belajar terlebih dahulu menghadapi tes. Dengan bantuan pertanyaan pengarah pada LKS eksperimen dapat mengembangkan proses berfikir dan keterampilan proses. Sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna dan berakibat pada baiknya retensi siswa (Wyne Harlen. 2 dan persentase retensi (tabel 3).Dari tabel 3 dapat dilihat adanya penurunan rata-rata nilai tes dari postes 2 (retensi) dibanding rata-rata nilai postes 1. penemuan sendiri. 1996:158). Kesimpulan Pemberian pertanyaan baik pertanyaan penuntun atau pengarah maupun pertanyaan biasa tanpa penuntun dalam pembelajaran sains (konsep polusi air) pada siswa SMU sama-sama memberikan peranan yang signifikan terhadap kuatnya retensi siswa . 1996:160) mengatakan bahwa lupa dapat terjadi karena materi pelajaran yang telah dikuasai tidak pernah digunakan/dihapalkan oleh siswa. Namun. mengorganisasikan dan mengkonstruksikan konsep-konsep dalam benak siswa. . umumnya sangat baik dan tidak ada perbedaan yang signifikan antara keduanya. secara umum jumlah siswa kelompok eksperimen lebih banyak yang menduduki peringkat sangat baik. umumnya sangat baik. penggunaan memori. karena postes 2 dilaksanakan dalam selang waktu 3 minggu setelah pos tes 1 diberikan. Hasil postes dari kedua pembelajaran variatif berkisar antara kurang dan sangat baik. F. pembelajaran yang menggunakan pertanyaan penuntun memberikan dampak terhadap retensi lebih kuat dari pada hasil pembelajaran yang menggunakan pertanyaan biasa dan berbeda secara signifikan. Selain itu juga pertanyaan yang mengarahkan ini mendorong siswa untuk terlibat secara aktif dalam mengasimilasikan. sedangkan pos tes ke-2(tes retensi) tidak diberi tahu. Selain itu Hilgard dan Bower. Hal ini dapat diartikan bahwa semakin banyak siswa menguasai konsep semakin banyak ia lupa. Peristiwa Lupa merupakan hal yang biasa terjadi pada manusia. retensi siswa juga variatif berkisar antara baik dan sangat baik. Kesimpulan Dan Saran 1. Dalam selang waktu tiga minggu. baik dan cukup dibandingkan dengan kelompok kontrol. 1996:305). 1996:102). lupa merupakan kejadian yang biasa karena keterbatan manusia dalam mengingat.

Inc.M. School Science Research. 1959.85. Principoles of Instructional Design.M. 1974. vol.. Gagne. 1992. 1993. maka penelitian yang berkaitan dengan retensi perlu dikembangkan misalnya yang berkaitan dengan faktor internal siswa seperti intelegensi dan faktor eksternalnya seperti jenis materi dan model pembelajaran. 1967. J. 1985. 1995. Bandung: Rosdakarya Nuryani Rustaman. Milton Keyners: Open University Press Mohamad Uzer Usman. New York: Holt. No.J. 1973. New York: Renehart and Winston George. Rinehart and Winstron. Graw Hill Book Comp. 25.. R. Handout Mta Kuliah SBM: Tidak diterbitkan Osborne. James Deese. B and Wragg. 1997. Renehart and Winston. Menjadi Guru Profesional. New York: Holt. Journal of Education Psychology. Dampak Pertanyaan dan Teknik Bertanya Guru Selama PBM IPA Pada Berpikir Siswa. and Briggs L. Mengingat retensi merupakan hal yang penting dari suatu pembelajaran. b. The Psychology of Learning.C. Semb and Ellis. 1990. New York: Harper and Row Publishers Gagne. (271): 117-123. London: Mc. Alternatives to Practical Work.M. 1993. Pertanyaan. Teknik Bertanya dan Keterampilan Bertanya. DAFTAR PUSTAKA Anderson. Laporan Penelitian: tidak diterbitkan. Practical Statistics for Field Biology. The condition of Learning and theory of Instruction. R. Teaching and The Science of Learning. Long-term Memory For Knowledge Learned in School. 1999. Ratna Wilis Dahar. Bertanya. Saran a. Agar hasil pembelajaran dapat memberi dampak retensi yang kuat. Jim Flower and Lou Cohen. Psychology for Effective Teaching.2: 305-316 . dalam pembelajaran guru hendaknya terampil membuat LKS dan memberi pertanyaan pertanyaan untuk siswanya terutama pertanyaan pengarah yang dapat menuntun siswa memahami konsep dengan baik. R. Jakarta: Gramedia George J.2.

Effect of Keywords on Long-Term Retention: Help or Hindrance?. W. 1982. Jakarta: Gramedia. Wragg. Belajar Dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya. pendidik dan anak didik berlangsung pada ukuran. 1997. Pendahuluan Sikap dari seorang guru adalah salah satu faktor yang menentukan bagi perkembangan jiwa anak didik selanjutnya. E.S. Jakarta: Rineka Cipta Susan Hanley. Keterampilan Mengajar di Sekolah Dasar. tetapi juga dilihat tingkah lakunya dalam kehidupan sehari-sehari oleh anak didiknya. 1987. norma atau nilai-nilai yang diyakini sebagai suatu . Yakni membimbing perkembangan diri sesuai dengan tugas-tugas perkembangan tersebut. Journal of Education Psychology vol. The Teaching of Science..C. karenanya masalah sikap guru dalam mengajar perlu mendapat perhatian kita semua. Bila mana ditinjau secara luas akan jelas nampak bahwa manusia yang hidup dan berkembang adalah manusia yang selalu berubah dan perubahan itu adalah hasil belajar. 87. Hanya soalnya tidak semua peristiwa belajar itu berlangsung secara sadar dan terarah. London: David Futton Publishers Sikap Mengajar Guru Serta Pengaruhnya dalam Pendidikan Ditulis oleh Sungging Handoko A. Internet Travers. pendidikan merupakan proses yang berfungsi membimbing pelajar didalam kehidupan.. Graw Hill Book Comp. New York: Mc. bahwa di dalam peristiwa pendidikan. Karena siikap seorang guru tidak hanya dilihat dalam waktu mengajar saja. dalam mencukupi kebutuhan hidup baik sebagai individu maupun sebagi anggota masyarakat. Pendidikan menurut hakekatnya memang adalah suatu peristiwa yang mempunyai aspek normatif yang artinya.3: 468-475 Winkel. Malahan pada dasarnya lebih banyak hal-hal yang dipelajari manusia dengan tak sadar dan terencana . 1992. 1995. Psikologi Pengajaran. Constructivist Theory. 1987. Mengingat pada saat ini banyak sikap dari seorang guru tidak lagi mencerminkan sikapnya sebagai seorang pendidik karena adanya berbagai faktor yang mestinya tidak terjadi dalam dunia pendidikan. 1997.Slameto. R. Proses pendidikan berlangsung tidak tanpa alasan dan atau tujuan. Jakarta: Rasindo Wynne Harlen.W. Information. Processing and Learning. Menyadari bahwa perubahan yang tak disadari dan tak diarahkan lebih banyak memberikan kemungkinan perubahan tingkah laku yang berada di luar titik tujuan. Wang and Thomas. No.M.

dan memeberi bantuan kepada anak tertuju kepada pendewasaan anak itu atau lebih cepat “membantu anak agar cukup cakap melaksanakan tugas kehidupannya sendiri”. Perasaan bersatu itu dapat merupakan pengikat antara orang tua dan anak. itu sebabnya mengapa sikap itu tidak dapat dilepaskan dari diri/pribadi pemangku sikap itu. Karena dalam pendidikan ini biasanya dilakukan dalam keadaan sadar antara pendidik dan anak didik. Karena mengingat sikap itu terdapat di dalam diri manusia. Sebab sifat yang khas pada seorang pendidik ialah bahwa setiap usaha. maka sikap itupun tergantung pada manusia itu sendiri bagaimana caranya manusia itu menggunakannya dalam kehidupannya sehari-hari. bahwa manusia bersama-sama dengan manusia lainnya yang memerlukannya. Dalam sikap seseorang itu selalu terdapat suatu ketegangan antara milik pribadi yang tunduk pada sikapnya dengan perasaan bersatu dengan pemangku kesikapannya. . Karena dengan mencapai pendidikan yang tinggi manusia akan dihormati. Sikap-sikap dan pengaruhnya dalam pendidikan Kalau kita tinjau pengertian sikap ini. Memang ada juga pendidikan yang dilakukan oleh orang tua dengan anaknya dan itu terjadi di rumah. Pada dasarnya pendidikan ini sangat penting bagi umat manusia dalam mencapai taraf hidup yang mulia. antara murid dan guru dan dapat juga merupakan rasa kekeluargaan yang berdasarkan kepentingan bersama antara orang-orang yang menurut alamnya bukan satu keluarga dan banyak lagi bentuk lain. bahwa mulanya tidak dapat dilepaskan dari hadirnya pemangku sikap itu sendiri. memperoleh/mengharuskan atau memberantas atau sikap tertentu. mempengaruhi. Dalam pada itu perlu ditegaskan. Hanya usaha mempengaruhi yang demikian saja yang dapat disebut “pendidik” dan “mendidik” ialah mempengaruhi dengan maksud mencapai tujuan yang bersesuaian dengan pembentukan pribadi anak. maka pengertian itu relatif adanya. bahwa seseorang yang ingin mempengaruhi orang yang belum dewasa. Sebab pendidikan ini sangat mempengaruhi kehidupan manusia. yang mana semuanya ini bersifat memberi bantuan kepada anak dalam perkembangannya mencapai “tujuan hidupnya”. Namun dari sikap dan tindakkanya telah mungkin diperoleh suatu gambaran dari seorang pendidik tidak hanya cukup menguraikan tapi harus memperhatikan sifat lahirnya (bentuk). Walaupunn tidak semuanya dilakukannya menurut suatu rencana tertentu. Adapun sikap itu muncul dalam hubungan antara manusia yang mempunyai hubungan. Hendaknya turut diperhatikan segala sesuatu yang mengandung arti bagi seorang pendidik atau suatu lingkungan pendidikan. Memberi contoh mengenai suatu tindakkan sedang suatu hal yang lain dijauhkan dari alam sekitar anak. Jadi bukan hanya bersama-sama pada suatu tempat.yang baik. disegani dan dijunjung tinggi martabatnya di masyarakat. A. belum tentu ia dapat disebut seorang pendidik. Bukanlah dengan mudah dapat dilihat bahwa pendidik mengingini atau menolak sesuatu.

berbicaralah dengan tenang dan tegas. bersikap tegas berarti begini: kalau guru menyuruh murid-muridnya supaya tenang. Jadi sikap itu sangat berpengaruh dalam diri sesorang. Ia merasa bahwa ada sesuatu yang menggelisahkan dan meragukan hatinya dengan sendirinya ia tidak dapat menyatukan segala perhatiannya dan pikirannya pada pelajaran yang sedang ia berikan. kalau guru ribut kelas akan segera ribut pula. Kalau masih ada murid-murid yang bercanda. Tetapi tidak dengan begitu saja ia akan merubh sikapnya itu tanpa ia mentelaah lagi kesalahan dari sikapnya itu. mereka harus mengidahkan suruhannya. yaitu. Sikap di muka kelas. mungkin guru. 1. Sebaiknya seorang guru berpakaian hendaknya sopan. Jangan bercelana Napoleon atau bergaun you can see di muka kelas. jangan terlalu banyak menggunakan gerak-gerak tangan waktu berbicara. kalau murid-murid belum tenang sungguh-sungguh. jangan menggangap. bisa sikap itu berubah bila sikapnya itu dianggap salah olehnya. Akibatnya seorang guru tidak dapat mengajar dengan tenang. sederhana tetapi terpelihara. sedang susah namun janganlah kesusahannya itu ditunjukkan kepada murid-murid. Karena dengan sikap bahwa orang itu mempunyai yang dapat dipertanggung jawabkan. padahal ia telah membuat persiapan dengan sungguh-sungguh. Sebenarnya hal ini tidak perlu dibicarakan akan tetapi mengingat keadaan sekarang. jangan berbicara terlalu keras dan jangan pula berbicara terlalu pelan atau lemah. kalau guru ragu-ragu dan kelas menjadi tentang kalau guru bersikap tegas dan bijaksana. Bersikap tegas tidak sama dengan bersikap keras. bercakap-cakap dan guru terus melanjutkan mengajar. Memang sikap adalah hak seseorang untuk menentukan sesuatu. Tunjukkanlah semua pertanyaan kepada semua kelas seluruhnya dan baru kemudian tunjukkanlah seorang murid-murid menjawab. Sikap berpakaian. Ingat bahwa seorang guru yang ganjil dalam berpakaian dapat menerbitkan geli hati dan celaan muridmurid. Tak usah berpakaian yang gemerlapan atau dari bahan yang sangat mahal. Kelas menjadi gaduh. dan sikap adalah salah satu faktor yang terdapat di dalam diri seseorang. dimana orang sering sempat berani dan bebas serta progresif dalam hal berpakaian. Ia makin bertambah bingung dan pelajaran menjadi kacau dan gagal sama sekali. Kerena itu peganglah teguh disiplin kelas. B. Mengenai sikap di muka kelas perlu diperhatikan hal-hal yang lain. maka hal ini kita bicarakan. Sikap-sikap guru dalam mengajar serta pengaruhnya. Sering suasana kelas dipengaruhi oleh sikap guru di muka kelas. Bergembiralah selalu (sebagai seorang guru harus pandai bermain sandiwara). Kalau mereka belum tenang dan jangan mulai mengajar atau melanjutkan pelajaran.Sikap sesorang itu susah dipengaruhi oleh orang lain bila ia telah menentukan sikapnya. maka percakapan itu akan menjadi menjalar dan kelas akan menjadi gaduh. Bagi seorang guru kita haris berani: . 2. Bergeraklah dengan tengan dan berbicaralah dengan suara yang sedang dan jangan ribut.

mengeluarkan kata-kata yang kasar yang dapat mematahkan semangat belajar murid. Jangan mengajak murid-murid. Dan kata-kata demikian ini secara paedagogis dan psychologis tidak dapat dipertanggung jawabkan. Usahakanlah murid-murid bekerja sendiri. Asas-asas didaktik teleh diprektekkan Ia mengajar dengan penuh kegembiraan dan enthousianisme. mencelanya. Sikap yang lekas marah Banyak hal yang dapat mengecewakan guru. murid-murid dapat bekerja bersma-sama. Jangan memberi hukuman badan. Guru mudah marah menghukum anak. Lebih berbahaya lagi kalau seorang murid dijadikan sasaran ejekan teman-temannya. dan sebagainya. cintailah muridnurid seperti ibu bapak mencintai anak-anaknya. b. c. Berani memandang tiap-tiap murid. mencela. Sering guru merasa. Jangan bersikap putus asa. orang yang lekas marah mudah bertindak yang kurang baik. Ciptakan suasana kelas yang baik. Anak-anak tidak selalu segera mengerti akan maksud kita dan mengindahkan keinginan kita. Janganlah guru lekas marah karena itu.a. Guru yang kecewa mudah berbuat hal-hal yang tidak baik umpamanya mengejek. e. yang tolol. d. Seorang guru ilmu pasti pernah melemparkan kata-kata demikian kepada seorang murid “meskipun kamu bekajar 10 tahun lagi kamu tak akan mengerti juga”. . matanya. 4. namun demikian hasilnya tidak sesuai dengan apa yang diharapkannya. kata-kata yang demikian dapat membuat murid-murid bersikap acuh tak acuh dan menjadi putus asa. yang kotor. bahwa ia telah mengajar dengan baik dan sungguh-sungguh. mengejek. f. saling tolong menolong. Dalam kelas yang suasananya baik. 3. Sikap yang mengejek murid. yang selalu gaduh. Guru selalu kecewa dan kekecewaan yang terus menerus dapat menjadikan guru mudah putus asa. Karena itu harap sabar. umpamanya: murid yang tidak sopan . 5. Sikap sabar. Banyak anak murid yang menjadi sakit hati dan tak mau berbuat lagi sesuatu. karena hasil pengajaran dan pendidikan kita tidak selalu segera kelihatan oleh kita. memukulnya dan sebagainya. hal ini sangat merugikan bagi perkembangan anak murid selanjutnya. Mereka giat bekerja dan merasa suatu keluarga.

bukan hak itu tidak jarang dilakukan. Suasana kelas akan menjadi lebih buruk karena sikap guru yang demikian. kalau ia sebagai orang tua terhadap anaknya. Guru yang banyak mengadakan larangan membuktukan bahwa perinta-perintahnya tidak dituruti oleh murid-muridnya. metode dan kecakapan dasar lainya yang perlu dapat untuk melaksanakan tugasnya. mereka lekas melihat. untuk memberi hukuman badan. 9. gurupun membutuhkan sejumlah pengetahuan.6. karena itu jangan banyak melarang. Menurut peraturan sekolah. artinya: kalau ia sudah mempertimbangkan hukuman itu masak-masak. Larangan yang banyak dapat menimbulkan kemungkinan besar untuk melanggar peraturan tanpa disadari oleh murid-murid. guru boleh memberi hukuman badan. insinyur. Yang satu diperlakukan lebih manis dari pada yang lain. Memang masih ada guru-guru yang memberi hukuman badan. Menurut hemat penulis. Lagi pula kalau guru sudah sering atau biasa memberi hukuman badan ia tidak segansegan memberi hukuman yang lebih berat lagi kepada murid. tetapi dalam hatinya timbul rasa tidak senang terhadap guru. Secara personlijk sesungguhnya tidak memberi larangan mutlak. Murid yang lebih kecil itu biasanya tidak berani melawan. menedang. dan hukuman yang diberikan sesungguhnya tidak begitu dipertimbangkan. Murid-murid akan lekasa mengerti. apakah guru itu bertidak adil dan jujur. Dengan hukuman yang demikian itu murid dapat dirugikan/disakiti karenanya. Sikap guru yang bertanggungjawab Sama halnya dengan dokter. ahli hukum. bahwa hukuman itu satu-satunya obat yang manjur untuk memperbaiki murid. Dan itu membuktikan bahwa tidak ada ketertiban. atau ia menjadi takut kepada guru. Memukul murid dengan tongkat kecil. ada yang meminta lebih . Bersikap jujur dan adil. ini adalah suatu bahaya bagi mereka. melempar dsb. Sikap yang banyak memberi larangan. tidak jujur. montir. dan kedua-duanya tidak baik. bahwa guru memperlakukan mereka tidak sama. umpamanya: memukul. pilih kasih dan sebagainya. sebab biasanya perintahnya dituruti. mereka lekas-lekas mengecap gurunya dengan kata-kata: tidak adil. Dan mereka sendiri yang diperlakukan lebih manis itu merasa tidak senang akhirnya. Sikap yang memberi hukuman badan. Guru yang baik. guru dilarang memberi hukuman badan. 8. Ada jenis pekerjaan yang lebih banyak menuntut syarat fisik. Jadi hukuman itu tidak diartikan pada waktu guru bernyala-nyala marahnya. 7. dan tidak diberikan untuk membalas dendam. jarang melarang. Larangan biasanya merupakan hal yang tidak menyenangkan bagi murid. bertanggung jawab penuh atas tindakannya itu.

serta menjadikan murid-muridnya menjadi manusia dewasa susial serta bertanggung jawab moral. Karena seringkali anak didik akan mencontoh apa-apa yang dilakukan oleh pendidiknya.J. dituntut memiliki sikap yang tepat sesuai dengan tuntutan tugas profesionalnya sebagai seorang pendidik yang bertanggung jawab. Guru harus menjadi pembimbing dan penyuluh yang segar yang memelihara dan mengarahkan perkembangan pribadi dan keseimbangan mental murid-muridnya. C. A. Didaktik Metodik. cv. Beknopte Theoretische Paedagogiek. Pedoman Mengajer Oleh Raga Pendidikan Di sekolah Dasar. Prof.. Dengan tidak adany rasa tanggung jawab dari seorang guru maka tidak mustahil bila tujuan pendidikan yang akan dicapai akan tidak tercapai apa yang diharapkan oleh guru itu sendiri maupun oleh orang tua sekolah dan negara. sosial dan sebagainya. Bila seorang guru tidak mempunyai rasa tanggung jawab maka banyak pengaruhnya pada anak didik itu. Toha Putra. Dalam pendidikan hendaknya seorang guru harus dapat bertanggung jawab demi masa perkembangan anak didiknya. Bahwa sikap guru dalam mendidik memiliki pengaruh terhadap perkembangan jiwa anak didik sehinggaGuru. Simanjuntak M.banyak syarat-syarat emosi. Bambang Laksono. . Semarang 1995. maka dapat diambill beberapa kesimpulan Bahwa pendidikan merupakan unsur yang terpenting dalam kehidupan manusia. Mashoed. Karena dengan tidak adanya rasa tanggung jawab dari guru maka anak didik itu akan berbuat hal-hal yang tidak dibenarkan dalam pendidikan. Jakarta 1989. Daftar pustaka Abu Ahmad. Memang kenyataan-kenyataan itu membenarkan teori didaktik yang meletakkan berbagai pertanggungan jawab pada pundak seorang guru disamping tugasnya mengajar suatu pengetahuan. Baru Jakarta 1996. DR. Yang kemudian dianalisa dan dikembangkan melalui sebuah masa pendidikan. Begitu pula keadaannya dengan tugas mengajar bila ditinjau sebagi tugas yang memperoleh gambaran mengenai jenis pengetahuan dan ketrampilan dasar yang dibutuhkan setiap orang yang mempersiapakan diri untuk terjun dalam bidang ini. P.. Langevld. Majalah Mahasiswa No. Salah satu caranya ialah dengan mengamati dan menganalisa berbagai situasi pendidikan. VI Januari 1993 M. Dan guru memjadi orang tua mereka di dalam mempelajari dan membangun sistem nilai yang dibutuhkan dalam masyarakat. cv. I.33 Thn. seorang guru harus mempunyai rasa tanggung jawab yang dalam. nasco. Memang dalam mendidik. Penutup Daripembahasan diatas ini. Yang menyebabkan perbedaan-perbedaan jenis pekerjan itu adalah tuntutan yang terdapat pada setiap jenis pekerjaan. diterjemajkan. ada pula pada syarat intelek.

lamban. Revolusi dalam Belajar Kepercayaan-kepercayaan abad kesembilan belas dan awal abad kedua puluh di Barat cenderung membuat pembelajaran muram. motivasi internal (dan bukan sematamata eksternal). Dan perlu melakukan perubahan yang bersifat sistemis bukan bersifat kosmetik . pada prestasi individu. Dimana Kita merasa bahwa itulah satu-satunya cara untuk mempersiapkan pelajar menjalani kehidupan yang kering dan membosankan Idealnya Belajar ditandai dengan keterlibatan penuh pembelajar. Alasannya? Belajar bukan lagi persiapan untuk bekerja. yang diterbitkan oleh McGraw-Hill New York tahun 2000. Landasan baru didasarkan pada anggapan bahwa pembelajar adalah kreator. Accelerated Learning: Pendekatan Baru Pembelajaran Ditulis oleh Eki Baihaki Dave Meier. bahwa pembelajaran terutama bersifat verbal dan kognitif. pelatih sebagai pelaksana program. pengondisian behavioristis (hadiah dan hukuman).) adalah cara belajar yang alamiah. penulis buku The Accelerated Learning Handbook. FKIP-UNLA 2000.L.L. variasi dan keragaman dalam metode belajar. Metode-metode belajar konvensional. adanya kegembiraan dan kesenangan dalam belajar.) telah dipraktikkan oleh setiap anak yang dilahirkan. cenderung menyerupai bentuk dan gaya pabrik: mekanisasi. Belajar dan Pembelajaran . pada kerja sama . kontrol luar. Sebagai suatu gerakan modern yang mendobrak cara belajar di dalam pendidikan dan pelatihan terstruktur yang muncul kembali sebagai akibat adanya sejumlah pengaruh pada paro kedua abad ke-20. Tarsito. Bandung 1993. kerja sama murni. cetakan ketiga. dan tekanan pada format “Saya-bicara-kau-mendengar” (yang juga dikenal sebagai teknik membosankan). standardisasi. satu-ukuran-untuk-semua. dan tidak efektif. dan program pelatihan sebagai proses jalur perakitan. Landasan lama didasarkan pada anggapan bahwa pembelajar adalah konsumen. dan integrasi belajar yang lebih menyeluruh ke dalam segenap kehidupan organisasi. fragmentasi. Winarno Surakhmad. belajar adalah bekerja untuk menemukan cara-cara mempercepat dan mengoptimalkan belajar . yang dilahirkan pada awal era ekonomi industri. Accelerated Learning (A. (A. pengotak-ngotakan (orang dan pokok masalah). mengajak kita untuk memperbarui pendekatan kita terhadap pembelajaran untuk memenuhi tuntutan adanya dinamika kebudayaan yang bermetabolisme tinggi ini. Dasar Dan Teknik Instraksi Mengajar dan Belajar. organis bukan sekedar mekanis. akarnya telah tertanam sejak zaman kuno.Otang Kardi Saputra. Yang kita butuhkan adalah landasan yang benar-benar baru. kontrol birokrasi terpusat. Dan teknologi canggih atau “teknik-teknik” cerdas apapun yang dibangun di atas landasan lama ini tidak akan dapat membantu memperbaiki permasalahan.

Belajar pada Abad Kesembilan Belas Cita-cita pendidikan abad kesembilan belas (yang masih mempengaruhi pemikiran banyak orang sekarang ini) adalah melatih orang dalam perilaku lahiriah yang didefinisikan secara sempit. Keadaan sudah tidak seperti dahulu lagi. yaitu dunia tempat setiap orang harus mengerahkan seluruh kekuatan pikiran dan hati mereka sepenuhnya dan bertindak berdasarkan kreativitas yang penuh kesadaran . kita semua harus menjadi inovator. dia mulai melakukan penelitian mengenai pengaruh musik dan sugesti positif pada pembelajaran. dan permainan kanak-kanak memungkinkan pelajar untuk belajar jauh lebih cepat dan jauh lebih efektif. Dengan disponsori pemerintah Bulgaria. Dia mendapati bahwa kombinasi musik. Georgi Lozanov. Di setiap tingkatan.dan prestasi kelompok. dan dapat diramalkan. Kesulitannya sekarang adalah bahwa dunia semacam itu tidak ada lagi. Kabar mengenai temuannya menyulut imajinasi guru bahasa dan pendidik di mana-mana. Yang dicari: membuat perilaku sejalan dengan produksi dan pemikiran rutin. bukan sesuatu yang mudah diramalkan dan tidak membutuhkan pikiran. kini kita harus menghasilkan “tokoh orisinal” yang dapat mengerahkan sepenuhnya energi mereka yang potensial dan menjanjikan. Belajar pada Abad Kedua Puluh Satu Kini. Pendekatan belajar ini mengharuskan penumpulan diri seseorang sepenuhnya. agar dapat memperoleh hasil standar yang dapat diramalkan. dan kita lamban menyadarinya. Lynn Schroeder dan Sheila Ostrander menerbitkan sebuah buku berjudul Superlearning yang mengemukakan karya psikiater Bulgaria. Bukannya menghasilkan manusia “fotokopi” seperti pada abad ke 19. Tugas pendidikan dan pelatihan adalah mempersiapkan orang untuk menghadapi dunia yang relatif sederhana. dan program belajar yang menyediakan lingkungan belajar yang kayapilihan dan cocok untuk seluruh gaya belajar. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Accelarated Learning . kesalingterkaitan. Buku itu mengundang perhatian banyak pendidik dan guru yang sedang mencari pendekatan belajar yang lebih efektif. Kita harus membebaskan kecerdasan setiap orang yang unik dan bukan menindasnya atas nama staandardisasi atau “budaya perusahaan”. sugesti.) Lozanov merasa metode ini juga dapat diterapkan pada pendidikan. Lozanov mendapati bahwa dengan menenangkan pasien psikiatri dengan musik barok dan memberi mereka sugesti positif mengenai kesembuhan mereka. Dia merasa telah menemukan cara untuk melangkah masuk ke dalam sesuatu jauh di lubuk jiwa yng lebih dalam daripada kesadaran rasional. statis. belajar sebagai aktivitas seluruh pikiran/tubuh. (Dia menyebut ini “cadangan pikiran yang tersembunyi”. tugas pendidikan dan pelatihan adalah mempersiapkan orang untuk hidup di dunia yang pasang surut. Pendekatan Lozanov Pada 1970-an. dengan menggunakan bahasa asing sebagai materi subjek. banyak pasien tersebut mengalami kemajuan besar.

dan Gerakan Sekolah Bebas pada 1960-an. Belajar Melibatkan seluruh Pikiran dan Tubuh. linear. 4. dan aplikasi A.L. Prinsip-prinsip Accelerated Learning. Penelitian tentang gaya belajar menunjukkan orang belajar dalam cara yang berbeda-beda dan satu jenis belum tentu tepat untuk semua orang. dan segenap kedalaman serta keluasaan pribadi (yang disebut oleh Lozanov “cadangan pikiran yang tersembunyi”). Sekolah Waldorf oleh Rudolph Steiner. Pengetahuan bukanlah sesuatu . telah mempertanyakan banyak asumsi lama kita mengenai pembelajaran. kreatif. dan verbal). 1. Ini telah menantang secara serius gagasan kita mengenai pendidikan dan pelatihan formal sebagai proses jalur perakitan atau ban-berjalan. memakai “otak kiri”. 5. metode. dan gerakan Sekolah Summerhill di Inggris yang dipimpin oleh Alexander Sutherland Neill. 2. Ilmu kognitif modern. Lenyap sudah pendapat bahwa belajar itu semata-mata aktivitas verbal dan “kognitif”. Bukan Mengonsumsi. Tumbangnya pandangan-dunia Newtonian (bahwa alam bekerja seperti mesin. Gerakan Pendidikan Humanistis yang dimulai pada 1950-an. Runtuhnya Behaviorisme sebagai psikologi yang dominan dalam pembelajaran telah mendorong timbulnya keyakinan-keyakinan dan praktik-praktik yang lebih manusiawi dan holistis. Belajar adalah Berkreasi. seluruh tubuh. rasional. Kebudayaan dan keadaan di tempat kerja yang selalu berubah telah membuat banyak metode pendidikan dan pelatihan menjadi lamban dan usang dan telah membuka pintu bagi pendekatan alternatif. semua indra. indra.Banyak faktor lain telah memberikan sumbangan pada perkembangan yang mantap dan berlangsung terus-menerus dalam filosofi. terutama penelitian mengenai otak dan belajar. Beberapa gerakan paralel pada abad ke-20 telah mendukung hidupnya berbagai pendekatan pendidikan alternatif: Gerakan Sekolah Progresif yang dimulai pada 1920an. langkah-demi-langkah) dan bangkitnya fisika kuantum telah memberi kita apresiasi baru terhadap kesalingterkaitan dari segala sesuatu dan terhadap hakikat realitas yang nonlinear. tetapi juga melibatkan seluruh tubuh/pikiran dengan segala emosi. nonmekanistis. 2. 7. Evolusi yang berlangsung lambat laun (namun tidak sempurna) dari kebudayaan yang didominasi pria menjadi kebudayaan yang menyeimbangkan perasaan pria dan wanita memungkinkan berkembangnya pendekatan yang leih lembut. dan sarafnya. dan “hidup”. kolaboratif. Gerakan Pendidikan Confluent yang dimulai pada 1940-an. Belajar tidak hanya menggunakan “otak” (sadar. Penelitian mutakhir menunjukkan bahwa belajar yang paling baik melibatkan emosi. secara otomatis patuh pada proses yang mandiri. 3. diantaranya : 1. 6. Yang juga berpengaruh besar adalah Sekolah Montessori yang didirikan oleh Maria Montessori. dan bersifat mengasuh pada aktivitas belajar.

jalan dalam sistem total otak/tubuh seseorang. melainkan sesuatu yang diciptakan pembelajar. Kerja sama di antara mereka mempercepatnya. Perasaan positif mempercepatnya. (dosen tetap pada Universitas Langlangbuana di Bandung). otak bukanlah prosesor berurutan. Belajar bukan hanya menyerap satu hal kecil pada satu waktu secara linear. Perasaan menentukan kualitas dan juga kuantitas belajar seseorang. Otak-Citra Menyerap Informasi secara Langsung dan Otomatis. cara menual dengan menjual. Emosi Positif Sangat Membantu Pembelajaran. 7. mendapatkan umpan balik. 4. Pengalaman yang nyata dan konkret dapat menjadi guru yang jauh lebih baik daripada sesuatu yang hipotetis dan abstrakasalkan di dalamnya tersedia peluang untuk terjun langsung secara total. Pembelajaran yang baik melibatkan orang pada banyak tingkatan secara simultan (sadar dan bawah-sadar. Aspek Ekonomi dalam Pendidikan Ditulis oleh Cucu Lisnawati Penulis: Cucu Lisnawati. Kita belajar berenang dengan berenang. Belajar secara harfiah adalah menciptakan makna baru. Pembelajaran Berlangsung pada Banyak Tingkatan secara Simultan. cara mengelola sesuatu dengan mengelolanya. Gambar konkret jauh lebih mudah ditangkap dan disimpan darpada abstraksi verbal. dan bersuasana muram tidak dapat mengungguli hasil belajar yang menyenangkan. merenung. santai. dan menarik hati. Perasaan negatif menghalangi belajar. Bagaimanapun juga. Persaingan di antara pembelajar memperlambat pembelajaran. S.yang diserap oleh pembelajar. jaringan saraf baru. melainkan prosesor paralel. 3. Kita biasanya belajar lebih banyak dengan berinteraksi dengan kawan-kawan daripada yang kita pelajari dengan cara lain manapun. dan cara memperhatikan kebutuhan konsumen dengan memperhatikan kebutuhannya. Menerjemahkan abstraksi verbal menjadi berbagai jenis gambar konkret akan membuat abstraksi verbal itu bisa lebih cepat dipejari dan lebih mudah diingat. Belajar paling baik adalah dalam konteks. cara bernyanyi dengan bernyanyi. Sistem saraf manusia lebih merupakan prosesor citra darpada prosesor kata. dan otak akan berkembang pesat jika ia ditantang untuk melakukan banyak hal sekaligus 5. Belajar yang penuh tekanan. melainkan menyerap banyak hal sekaligus. Hal-hal yang dipelari secara terpisah akan sulit diingat dan mudah menguap.Pd. dan pola interaksi elektrokimia baru di dalam sistem otak/tubuh secara menyeluruh. Semua usaha belajar yang baik mempunyai landasan sosial. 6. Pembelajaran terjadi ketika seorang pembelajar memadukan pengetahuan dan ketrampilan baru ke dalam struktur dirinya sendiri yang telah ada. Kerja Sama Membantu Proses Belajar. Suatu komunitas belajar selalu lebih baik hasilnya daripada beberapa individu yang belajar sendiri-sendiri. indra. Belajar Berasal dari Mengerjakan Pekerjaan Itu Sendiri (dengan Umpan Balik). mental dan fisik) dan memanfaatkan seluruh saraf reseptor. menyakitkan. . dan menerjunkan diri kembali.

Dengan demikian. tidak selamanya pendidikan dianggap sebagai konsumsi atau pembiayaan. pendidikan harus dipandang sebagai investasi.Abstrak: Masalah pendidikan sebenarnya tidak dapat dilepaskan dari masalah ekonomi. Sudah saatnya. jawaban atas pertanyaan tersebut dapat digambarkan berikut ini. investasi dalam pendidikan. Teori ini didasari pertimbangan bahwa cara yang paling efisien dalam melakukan pembangunan nasional suatu negara terletak pada peningkatan kemampuan masyarakatnya. Kata Kunci: Ekonomi pendidikan. A. kontribusi pendidikan terhadap ekonomi dan pembangunan harus diakui. yang kemudian dikenal dengan istilah Invesment in Human Capital. pembiayaan dalam pendidikan. Ukuran-ukuran Kontribusi Pendidikan Terhadap Pembangunan dan Pertumbuhan Ekonomi Bagaimanakan keterkaitan pendidikan dan pertumbuhan ekonomi? Secara sederhana. yang secara jangka panjang kontribusinya dapat dirasakan. Konsep pembangunan dalam bidang sosial ekonomi sangat beragam tergantung konteks pengggunaanya. Ahli-ahli ekonomi mengembangkan teori pembangunan yang didasari kepada kapasitas produksi tenaga manusia di dalam proses pembangunan. Baik secara langsung maupun tidak langsung. kita tidak dapat melepaskan diri dari masalah pembangunan. Selain itu dihipotesiskan pula bahwa faktor utama yang mendukung . Untuk menjawab hal tersebut di atas.

Diantara ukuran-ukuran tersebut. Sumber daya manusis seperti itu dihasilkan melalui proses pendidikan. Konsumsi energi atau pemakaian barang berteknologi tinggi seperti mobil. tetapi sekolah bukan satu-satunya tempat dimana keterampilan itu dapat dicapai. yang dikaitkan dengan penggunakan sumber daya yang terbatas. 5.pembangunan adalah pendidikan masyarakat. Kepuasaan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat. Dengan kata lain. Asumsi dasar yang melandasi keharusan adanya hubungan pendidikan dengan penyiapan tenaga kerja adalah bahwa pendidikan diselenggarakan untuk meningkatkan keterampilan dan pengatahuan untuk bekerja. pendidikan menyiapkan tenaga-tenaga yang siap bekerja. Peningkatan dalam efisiensi sistem produksi masyarakat yang diukur dengan GDP dan GNP. dan 2. Pencapaian tujuan-tujuan oleh berbagai kelompok dalam masyarakat. Teori human capital mengasumsikan bahwa pendidikan formal merupakan instrumen terpenting untuk menghasilkan masyarakat yang memiliki produktifitas yang tinggi. Adannya sumber daya manusia yang dapat memanfaatkan teknologi yang ada. telepon. namun pendidikan tidak selalu harus menghasilkan lulusan dengan jenis pekerjaan tertentu. Pola keterkaitan antara pendidikan dan pembangunan berbeda sesuai dengan . Perubahan peta ketenagakerjaan dari pertanian ke industri 3. Menurut teori ini pertumbuhan dan pembangunan memiliki 2 syarat. Sekolah memang dapat menghasilkan tenaga kerja dengan keterampilan tertentu. yaitu 1. televisi Dengan demikian kriteria untuk menilai keberhasilan pembangunan: 4. 6. Adanya pemanfaatan teknologi tinggi secara efisien. Pendapatan per-kapita 2. Namun demikian pada kenyataannya tingat pengangguran di hampir seluruh negara bertambah sekitar 2 % setiap tahunnya (World Bank:1980) Terjadinya pengangguran bukan disebabkan tidak berhasilnya proses pendidikan. Terdapat berbagai macam faktor untuk mengukur bagaimana pertumbuhan ekonomi diukur dengan baik. diantaranya: 1. Hal inilah yang menyebabkan teori human capital percaya bahwa investasi dalam pendidikan sebagai investasi dalam meningkatkan produktivitas masyarakat.

bukan ditentukan oleh masing-masing warga negara. Pendapatan per-kapita 3. Hubungan antara pendidikan dan pembangunan di negara maju sangat jelas dilihat dari adanya perubahan karakteristik individu yang berkaitan dengan tingkat pertumbuhan ekonomi. pemakaian teknologi yang canggih. Metode yang sering dipakai dalam penelitian evaluasi adalahl linear regresion and the educational production. Ekonomi di negara kapitalis mengasumsikan bahwa model produksinya bebas dari intervensi pemerintah dan mensyaratkan adanya kompetisi terbuka di dalam pemasaran. Analisis terhadap pendidikan biasanya bersifat ex-post fakto. 1. Di negara non-industri. maka dapatlah dirumuskan ukuran-ukuran sebagai berikut. Di negara maju. Di Amerika Serikat yang sudah maju. 1. Ekonomi di negara sosialis. sebagai akibat dari kelebihan pendapatan setelah dikurangi kebutuhan konsumsi. Berdasarkan hal tersebut di atas. penduduknya memiliki pendapatan perkapita yang lebih tinggi. Negara Kapitalis vs Negara Sosialis. memiliki konteks yang berbeda dalam mengitepretasikan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan. Salah satu alasan banyaknya kontroversi tentang kaitan antara pembangunan dan pendidikan disebabkan karena sedikit sekali kebijakan pendidikan yang dimonitor benar-benar dan juga dievaluasi hasilnya. Perubahan peta ketenagakerjaan dari pertanian ke industri 4. Teknologi tinggi dan sumberdaya yang mengoperasikannya 2. Dari uraian di atas. maka untuk membicarakan lebih lanjut kontribusi pendidikan terhadap pembangunan harus ditemukan kriteria-kriteria atau ukuranukuran pertumbuhan atau hasil pembangunan. Sebenarnya konsep bagaimana pendidikan itu harus dievaluasi harus dikembangkan sejak tujuannya ditetapkan. dengan memperhatikan kerangka berpikirnya dan metodologinya. Hubungan antara pendidikan dan pertumbuhan ekonomi sangat erat dan pendidikan merupakan suatu hal yang diperlukan. Di negara maju memiliki akumulasi modal yang lebih besar. Jelas bagaimana pentingnya analisis kontribusi pendidikan dalam pembangunan. artinya data diperoleh dari kejadian-kejadian yang telah lampau. 2. Kaitan antara pendidikan dengan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan seolah tidak terlihat karena pembangunan sangat diatur oleh negara. Konsumsi energi atau pemakaian barang berteknologi tinggi . persentase pekerja yang bekerja di sektor industri sebesar 33 % dan di bidang jasa/service sebesar 66 %. Di Meksiko persentase di sektor yang sama adalah 23 % dan 33 %. Negara Industri vs Non-Industri. sehingga jumlah tabungan semakin lebih besar dan pada akhirnya akan diinvestasikan lagi pada sistem ekonomi yang telah berjalan. konsumsi energi yang lebih besar dibandingkan negara kurang berkembang. Secara ringkas tampak berikut ini. Pemerintah memiliki peranan di dalam mengontrol jalannya proses produksi dan pemasaran. perekonomiannya sangat tergantung kepada sektor pertanian sehingga persentase tenaga kerjanya lebih banyak yang bekerja di sektor non-industri.karakteristik khas setiap negara.

Sementara itu pendidikan merupakan usaha manusia untuk membangun manusia itu sendiri dengan segala masalah dan spektrumnya yang terlepas dari dimensi waktu dan ruang. Modal atau uang yang ditanamkan bertujuan untuk mendapatkan keuntungan. Dalam konteks ini pendidikan ini diapandang sebagai industri pembalajaran manusia. maka untuk mengetahui keterkaitan antara pendidikan dan pembangunan diperlukan data sebagai berikut. yang dikaitkan dengan penggunakan sumber daya yang terbatas. Oleh sebab itu maka hasil pendidikan akan menjadi sumber daya manusia yang sangat berguna dalam pembangunan suatu negara. dengan rentangan pertanian-jasa-industri 4. Dengan demikian jelas bahwa investasi merupakan penanaman modal atau uang yang sengaja dilakukan untuk mendatangkan keuntungan melalui produk yang dihasilkan. Biaya atau cost suatu investasi merupakan keuntungan yang diperoleh dibagi dengan penggunaan sumber daya dalam berbagai kegiatan lain. yang meliputi partisipasi pendidikan untuk setiap jenis dan jenjang pendidikan 2. Pendidikan di sini dimaksud untuk meningkatkan martabat manusia agar mempunyai ketermapilan dan kemampuan sehinggan produktivitasnya meningkat. Dengan demikian maka investasi dalam . baik berupa uang atau modal maupun dalam bentuk barang atau jasa. Pendapatan Domestik Bruto. Kenneth J. Kepuasaan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat 7. Investasi dalam pendidikan merupakan penanaman modal dengan cara mengalokasikan biaya untuk penyelenggaraan pendidikan serta mengambil keuntungan dari sumber daya manusia yang dihasilkan melalui pendidikan itu. Pencapaian tujuan-tujuan oleh berbagai kelompok dalam masyarakat. 1. Pendapatan nasional. Pendidikan. maupun Pendapatan Perkapita 3. Arrow (1962) mengemuikakan bahwa istilah investasi atau investment merupakan alokasi current resources yang mempunyai alternatif produktif yang berguna untuk pelaksanaan kegiatan yang dapat menambah keuntungan yang diperoleh di masa yang akan datang. sementara bentuk pendidikan formal. baik dalam bentuk Pendapatan Nasional Bruto. artinya melalaui pendidikan dihasilkan manusia-manusia yang mempunyai kemampuan dan keterampilan yang sangat diperlukan bagi perekonomian suatu negara untuk meningkatkan pendapatanindividu dan pendapatan nasional.5. Peningkatan dalam efisiensi sistem produksi masyarakat yang diukur dengan GDP dan GNP 6. pendidikan non formal (luar sekolah) dan sebagainya hanya merupakan modus operandi dari proses pendidikan. Konsep Investasi dalam Pendidikan Investasi berarti penanaman modal atau uang. Berdasarkan ukuran tersebut di atas. Perubahan peta ketenagakerjaan. Konsumsi energi A. Hal ini berarti bahwa inti pendidikan itu adalah pembelajaran seumur hidup (life long learning).

Ace Suryadi (1991) mengungkapkan bahwa menurut teori human capital yang tercermin dalam keterampilan. terutama dalam hal-hal berikut: 1. maka investasi dalam sektor pendidikan akan menaikan pendapatan perkapita dalam sektor tersebut. yaitu: 1. Investasi dalam pendidikan memusatkan perhatian pada manusia sebagai sumber daya yang akan menjadi modal (human capital) bagai capital (Gary S. melainkan keuntungan bagi pribagi yang menerima pendidikan dan bagi negara. Model ini merupakan metodologi yang sangat penting dalam melakukan analisis untuk investasi pendidikan dan dapat membantu pengambilan keputusan untuk . Sebagai fungsi investasi. kualitas manusia dan pendapatan nasional. Model yang dimaksudkan adalah model analisis biaya dan keuntunganpendidikan (cost benefit analysis). Sistem pendidikan menciptakan dan mempertahankan penawaran ketermapilan manusia di pasar pemburuhan yang luwes dan mampu mengakomodasi dan beradaptasi dalam hubungannya dengan perubahan kebutuhan akan tenaga kerja dan masyarakat teknologi modern yang sedang berubah (Komaruddin. 1962) berkenaan dengan kegiatan-kegiatan yang mempengaruhi real income masa yang akan datang melalui penempatan sumber daya dalam bentuk manusia. 2. 4. Lebih lanjut dikemukakannya bahwa ada model investasi dalam bentuk sumber daya manusia yang secara langsung atau tidak melakukan hubungan antara indikator pendidikan di satu pihak dan indikator ekonomi di lain pihak. Kemampuan tenaga kerja tersebut tidak dapat dipindahkan kepada orang lain. Dalam kaitan ini. pengetahuan dan produktivitas kerjanya. 2. kecuali bila struktur sosial yang hidup dalam masyarakat tersebut tidak menguntungkan. Kualitas tenaga kerja sebagai suatu input produktif tidak dapat dibagi dan digunakan secara terpisah. 3. Investasi pendidikan dapat mempertahankan keutuhan dan secara konstan menambah persediaan pengetahuan dan memungkinkan riset dan penemuan metode serta teknik baru yang berkelanjutan. 1991: 14). Human capital di sini merujuk pada tenaga kerja sebagai suatu faktor produksi yang menghubungkan aspek non-ekonomi pendidikan terhadap aspek ekonomi lainnya yang mempunya dua ciri esensial. pendidikan memberikan sumbangan yang berarti dalam kenaikan tingkat kehidupan.pendidikan mempunyai jangka waktu yang panjang untuk dapat mengetahui hasilnya dan hasilnya itupun tidak dalam bentuk keuntungan lansung. Sistem pendidikan menyiapkan landasan yang tepat bagai pembangunan dan hasilhasil rises (jaminan melekat untuk pertumbuhan masyarakat modern yang berkesinambungan). Backer. Apabila dalam setiap sektor ekonomi kita dapatkan segala faktor yang dibutuhkan masyarakat kecuali tenaga kerja yang terampil. Proses belajar mengajar menjamin masyarakat yang terbuka (yaitu masyarakat yang senantiasa beresedia untuk mempertimbangkan gagasan-gagasan dan harapanharapan baru serta menerima sikap dan proses baru tanpa harus mengorbankan dirinya).

dan low management. Tabungan ini akan menjadi investasi . untuk kemudian akan meningkatkan pendapatan dan taraf hidup masyarakat berpendapatan rendah. korelasi antara pendidikan dengan pendapatan tampak lebih signifikan di negara yang sedang membngun. Bentuk intervensi lain yaitu menciptakan teknologi baru dan menyiapkan orang-orang yang menggunakannya. Ini harus menjadi dasar untuk perencanaan pendidikan. Di samping tenaga kerja. Menurutnya. karena pranata ekonomi membutuhkan tenaga-tenga terdidik dan terlatih. Intervensi pendidikan terhadap ekonomi merupakan upaya penyiapan pelaku-pelaku ekonomi dalam melasnakan fungsi-fungsi produksi. pendidikan perlu mengantisipasi kebutuhan. yang secara langsung akan meningkatakan pendapatan nasional. Pendidikan memegang peran penting dalam penyediddan tenaga kerja. Pendidikan dan Pertumbungan Ekonomi Mungkinkah ada intervensi pendidikan terhadap pertumbuhan ekonomi? Pendidikan memiliki daya dukung yang representatif atas pertumbuhan ekonomi. Intervensi terhadap fungsi produksi berupa penyediaan tenaga kerja untuk berbagai tingkatan yaitu top. Intervensi terhadap fungsi distribusi adalah melalui pengembangan research and development produk yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan masyarakat atau konsumen. Prediksi ketenagakerjaan sebagai dasar dalam perencanaan pendidikan harus mengikuti pertumbuhan ekonomi yang ada kaitannya dengan kebijaksanaan sosial ekonomi dari pemerintah. Peningkatan pendapatan ini akan mendorong pada peningkatan fungsi konsusmsi. Oleh karena itu. Intervensi terhadap fungsi konsumsi dilakukan melalui peningkatan produktivitas kerja yang akan mendorong peningkatan pendapatan. dan menjadi lebih siap latih dalam pekerjaannya yang akan memacu tingkat produktivitas tenaga kerja. B. yang ditunjukan dengan meningkatnya jumlah tabuhan yang berasal dari pendapatan yang disisihkan. yang kemudia akanmeningkatakan pendapatannya. juga pendidikan mengintervensi produksi untuk penyediaan entrepreneur tangguh yang mampu mengambil resiko dalam inovasi teknologi produksi. Peningkatan pendapatan ini berpengaruh pula kepada pendapatan nasional negara yang bersangkutan. distribusi. bahwa pendidikan memiliki suatu kemampuan untuk menyiapkan siswa menjadi tenaga kerja potensial. Ia harus mampu memprediksi dan mengantisipasi kualifikasi pengetahuan dan keterampilan tenaga kerja. Permasalahan yang dihadapai adalah jarang ada ekuivalensiyang kuat antara pekerjaan dan pendidikan yang dibutuhkan yang mengakibatkan munculnya pengangguran terdidik dant erlatih. Program-program perluasan produksi melalui intensifikasi dan rasionalisasi merupakan salah satu wujud nyata dari peran prangata pendidikan atas fungsi produksi ini. Jones melihat. dan konsumsi. atau secara ekstrim tenagra kerja krah biru dan krah putih. Sementra itu Vaizey (1962) melihat pendidikan menjdi sumber utama bakat-bakat terampil dan terlatih. Tyler (1977) mengungkapkan bahwa pendidikan dapat meningkatkan produktivitas kerja seseorang. midle.memutuskan danmemilih diantara alternatif alokasi sumber-sumber pendidikan yang terbatas agar mampu memberikan kemampuan yang paling tinggi. Sementara itu Jones (1984) melihat pendidikan sebagai alat untuk menyiapkan tenaga kerja terdidik dan terlatih yang sangat dibutuhkan dalam pertumbuhan ekonomi suatu negara.

baik di keluarga. Sebagai ilustrasi. Argumen ini memiliki dua sepek. tingkat pendalaman agama. menginkatkan tingkat pendidikan pekerja berpenghasilan rendah akan memberikan tiga pengaruh positif. Ini mengimplikasikan perlunya pembenahan yang serius pada wilayah moral. pendidikan dalam keluarga. Meningkatkan produktivitas kerja dan konsekuensinya terhadap pendapatan 2.Pd. Pendidikan dan Konflik Sosial Ditulis oleh Elly Retnaningrum Penulis: Dra. Meningkatakan suplai tenaga kerja dengan keahlian tinggi dan konsekuensinya terhadap rendahnya gaji mereka. lingkungan yang ada dalam masyarakat itu sendiri kurang kondusif. . C. Kata Kunci: Konflik sosial. dan 2. Elly Retnaningrum. sekolah maupun masyarakat. Dan ini bisa dilakukan melalui pendidikan. Kondisi yang digambarkan tersebut menggiring ke arah perlunya mempedulikan persoalan moralitas secara lebih serius. yang berujung pada bentrokan fisik dengan atau tanpa senjata. Menciptakan kekurangan pekerja berkeahlian rendah dengan konsekuensi mengingkatkan gaji pekerja golongan ini. Pertentangan antar kelompok masyarakat telah menjurus pada gejala-gejala disintegrasi bangsa. Pemikiran ini muncul pada era industrialisasi dalam masayarkaat modern. Hj. Pemikiran ini didasarkan pada anggapan bahwa pendidikan merupakan human capital. terbentuknya mentalitas dan moralitas yang dilandasi ketidakdewasaan perilaku sosial psikologis. M. Pendidikan dan Pekerjaan Ukuran yang paling populer dalam melihat kontribusi pendidikan terhadap pertumbuhan ekonomi adalah mempertautkan antara pendidikan dengan pekerjaan. (dosen tetap pada Universitas Langlangbuana di Bandung).kapital yang tentunya akan lebih mempercepat laju pertumbuhan ekonomi suatu negara. yaitu: 1. Abstrak: Sebagian dari akar permasalahan dari konflik sosial adalah kondisi sosialekonomi-politik. dan 3. yaitu: 1. Pendidikan merupakan suatu bentuk investasi nasional untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang dibutuhkan dalam pertumbuhan ekonomi modern. Investasi pendidikan diharapkan menghasilkan suatu peningkatan kesejahteraan dan kesempatan yang lebih luas dalam kehidupan nyata. Salah satu aspek yang subtansial adalah pengenalan dan penanaman nilai-nilai kebenaran dan kesalahan atau kebaikan dan keburukan yang terdapat dalam suatu tindakan. tingkat pendidikan.

Konflik sosial yang telah mengorbankan nyawa dan harta benda seperti yang terjadi di Ambon. yang apabila dirunut lebih lanjut akan bermuara pada kegagalan praksis pendidikan dalam masyarakat. Pertama. Ini sungguh ironis terjadi dalam masyarakat yang berfalsafah hidup Pancasila.baik yang bernuansa SARA maupun tidak-. Kedua. tingkat pendalaman agama yang lebih mengutamakan dimensi ritual seremonial telah menyebabkan kurang terinternalisasikannya nilai-nilai keagamaan dalam pribadi kolektif masyarakat. Ketiga. bukankah jumlah orang yang menjalankan perintah agamanya masing-masing relatif lebih tinggi apabila dibandingkan dengan yang tidak? Apakah kegiatan spiritual yang selama ini marak tidak lebih dari seremonial ritual tanpa pendalaman hakikat? Tidak mudah memang menjawab sederet pertanyaan tersebut. baik kepentingan yang berhubungan dengan karir atau petualangan politik maupun sekadar keuntungan ekonomi. Akar permasalahan Mencermati pelbagai konflik sosial yang merebak belakangan ini. kondisi ini mengakibatkan munculnya .Ini telah menjadi 'cara pemecahan masalah' bagi sebagian masyarakat di negeri yang sesungguhnya sangat menjunjung tinggi rasa kemanusiaan serta persatuan dan kesatuan bangsa. beberapa asumsi dapat diketengahkan untuk lebih memahami akar permasalahannya. Tatkala kerusuhan bermunculan di pelbagai kawasan nusantara ini. Bukankah kegiatan-kegiatan yang sifatnya spiritual dapat dikatakan marak dan frekuensinya cukup tinggi? Apabila dilihat secara sepintas.dengan tingkat pendidikan masyarakat? Mengapa sebagian masyarakat mudah sekali tersulut isu-isu yang tidak tidak dapat dijamin kesahihannya? Apakah ini bertemali erat dengan tingkat pendidikan masyarakat? Rasanya memang kita sulit untuk percaya semua itu dapat terjadi. Apalagi ada pihak-pihak tertentu yang "mengobok-obok" dengan memancing di air keruh memanfaatkan situasi sesuai dengan kepentingan primordialnya. Sambas. kondisi sosial-ekonomi-politik yang sudah menjurus pada chaos telah membentuk sikap dan perilaku masyarakat yang sulit diduga. Lebih jauh. yang hingga saat ini nampaknya masih belum beranjak dari masa transisi. Maraknya konflik sosial yang terjadi mengisyaratkan adanya sesuatu yang salah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita. tingkat pendidikan sebagian masyarakat yang kurang menyebabkan mudah sekali tersulut isu-isu yang tidak bertanggung jawab dan provokasi-provokasi (baik yang terorganisir maupun yang spontan) dari pihak-pihak yang memanfaatkan situasi untuk memecah belah dan mengambil keuntungan politis dari situasi itu. Tapi setidaknya kita dapat mengkaji kemungkinan yang memicu kejadian-kejadian yang mencoreng muka bangsa Indonesia di mata dunia internasional itu. dari perspektif pendidikan selalu terlontar pertanyaan: adakah kaitan antara pelbagai pertentangan antarkelompok masyarakat itu-. atau "perang" antarpelajar di Bogor belakangan ini telah menorehkan guratan luka psikologis-sosial dalam lintasan sejarah peradaban masyarakat Indonesia pasca Orde Baru.

Dan yang lebih mendasar. serta masyarakat. Selain itu. menghilangkan nyawa orang lain. sekolah. maka penguatan landasan moral menjadi kebutuhan utama.fanatisme berlebihan atau justru fanatisme semu yang seolah-olah membela kepentingan agama tetapi sesungguhnya yang dibela adalah kepentingan diri sendiri yang jauh dari ajaran agama. Antisipasi Kondisi yang digambarkan tersebut menggiring ke arah perlunya mempedulikan persoalan moralitas secara lebih serius. lingkungan yang ada dalam masyarakat itu sendiri kurang kondusif untuk memberikan ajaran moral kepada individu-individu yang menjadi anggotanya. Ini mengimplikasikan perlunya pembenahan yang serius pada wilayah moral. baik di lingkungan keluarga. Mengendurnya kontrol sosial serta langkanya figur yang dapat dijadikan panutan perilaku yang berlandaskan pada kebenaran agaknya dapat dijadikan sebagai salah satu alasan untuk lebih mempedulikan pendidikan moral. Ini bisa diperkuat di sekolah. Hal ini mengingat telah tergerusnya nilai-nilai kebenaran dengan pelbagai pertimbangan lain yang menyebabkan adanya ketakutan untuk menyuarakan kebenaran itu. yang setiap saat dapat muncul dimana saja dan kapan saja. Kelima. Keempat. ketiga kondisi tersebut pada gilirannya menggiring ke arah terbentuknya mentalitas dan moralitas yang dilandasi ketidakdewasaan perilaku sosial psikologis. Salah satu aspek yang subtansial adalah pengenalan dan penanaman nilai-nilai kebenaran dan kesalahan atau kebaikan dan keburukan yang terdapat dalam suatu tindakan. Fungsi guru dalam konteks ini adalah sebagai pendidik moral bagi murid-muridnya agar dapat berpihak pada kebenaran dan keharmonisan hidup antarsesama. perlu juga dibiasakan untuk secara langsung mempraktikkan kegiatan-kegiatan yang sifatnya sosial. . memupuk keberanian untuk mengutarakan kebenaran dan mengulurkan tangan pada yang membutuhkan pertolongan agaknya perlu menjadi prioritas. masyarakat mudah sekali menghujat kesalahan orang lain hanya berdasarkan isu-isu bahwa tokoh yang bersangkutan adalah figur yang memang layak dihujat. Untuk mengantisipasi kondisi itu. dan semacamnya. merusak fasilitas umum. Akibat lebih jauh adalah keengganan mengulurkan bantuan karena telah tumpulnya rasa solidaritas sosial serempak dengan makin mengedepannya pertimbangan untung-rugi. Ini mengisyaratkan perlunya penelusuran akar permasalahan yang mendasari peristiwa-peristiwa sejenis. Misalnya. yang tidak jarang memunculkan konflik kepentingan dan konflik sosial dalam arti luas. Hanya karena isu yang tidak jelas bisa menyulut gerakan massa yang menjurus pada perilaku destruktif yang merongrong kamtibmas. Sejalan dengan perubahan yang sangat cepat dalam pelbagai dimensi kehidupan belakangan ini. di lingkungan keluarga para orang tua dan orang dewasa perlu memfungsikan dirinya untuk memupuk keberanian anak dengan mengkondisikannya pada situasi yang memungkinkan anak mengemukakan pendapatnya tanpa kendala hirarki yang berlebihan.

dan masyarakat dalam menanamkan nilai-nilai moral. MODEL BELAJAR DAN PEMBELAJARAN BERORIENTASI KOMPETENSI SISWA Ditulis oleh Erman S. Standar ini dapat diajarkan dan dipelajari dalam pelbagai situasi. Erman Suherman. H. dan pemaksaan kehendak dari satu pihak ke pihak lain. dan konatif) dapat berkembang dengan maksimal. Drs. dan ras dapat dihindarkan. Ia sekaligus dapat dipergunakan sebagai instrumen untuk mengembangkan nilai moral dan etika sosial yang selaras dengan tuntutan perkembangan peradaban tetapi tetap mengacu pada nilai-nilai religi dan nilai-nilai kemasyarakatan. banyak sekali standar perilaku yang dapat dijadikan sebagai pelajaran moral bagi siapa saja. serta konflik sosial pada umumnya menunjukkan adanya persoalan moralitas yang cukup serius. sedangkan model pembelajaran akan membahas tentang . kekerasan. Dalam situasi sehari-hari. Untuk itu. guru seyogianya mengetahui bagaimana cara siswa belajar dan menguasai berbagai cara membelajarkan siswa. Hal-hal apa saja yang dilakukan oleh seseorang tatkala menghadapi situasi tertentu pada hakikatnya sudah merupakan pertimbangan moral yang paling mendasar. Pernyataan tersebut mengisyaratkan bahwa praksis pendidikan amat menentukan dalam pembemntukan perilaku masyarakat. adalah dosen tetap pada FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia di Bandung Abstrak: Tugas utama guru adalah membelajarkan siswa. Kondisi seperti ini mengisyaratkan belum maksimalnya fungsi keluarga. M. Dengan belajar aktif.Pd. secara langsung maupun tidak langsung. Berbagai tindak penyimpangan. lingkungan pendidikan membentuk perilaku peserta didik untuk melakukan sosialisasi di masyarakat agar dapat meminimalkan atau bahkan meniadakan terjadinya konflik sosial. Guru terlibat dalam kegiatan pengajaran yang secara erat berkaitan dengan penanaman nilai-nilai moral yang sesuai dengan standar perilaku yang umum diakui sebagai kebenaran. Model belajar akan membahas bagaimana cara siswa belajar. pembenahan yang mendasar pada cara-cara dan juga materi pendidikan moral dalam lingkungan keluarga dan masyarakat merupakan kebutuhan mendesak yang semestinya mendapatkan prioritas untuk mengantisipasi perilaku masyarakat yang menyimpang dari nilai-nilai moral. Ini mengisyaratkan bahwa melalui pendidikan yang baik dapat dibentuk manusia-manusia yang setia pada rel moralitas religius yang dijadikan sebagai sandaran setiap perilaku serta tidak mudah terhasut desas-desus sehingga mengakibatkan konflik sosial. sekolah. yaitu mengkondisikan siswa agar belajar aktif sehingga potensi dirinya (kognitif. akan terlatih dan terbentuk kompetensi yaitu kemampuan siswa untuk melakukan sesuatu yang sifatnya positif yang pada akhirnya akan membentuk life skill sebagai bekal hidup dan penghidupannya. Manakala praksis pendidikan (tidak hanya di sekolah) dapat difungsikan untuk penanaman nilai moral yang menghargai keberadaan orang lain dapat diwujudkan dan etika sosial yang mengedepankan kewajiban dan tanggung jawab manusia selaku manusia yang saling mengasihi dapat terbina maka prasangka etnis. Ar. afektif.Demikianlah. melalui partisipasi dalam setiap kegiatan pembelajaran. Agar hal tersebut di atas dapat terwujud. tidak saja dalam situasi pengajaran yang formal. agama.

yaitu dominan menggunakan metode ceramah-ekspositori. ini berarti bahwa guru sebagai sutradara dan siswa menjadi pemain. mudah-mudahan kebiasaan murid yang bersifat pasif sedikit demi sedikit akan berubah pula menjadi aktif.bagaimana cara membelajarkan siswa dengan berbagai variasinya sehingga terhindar dari rasa bosan dan tercipta suasana belajar yang nyaman dan menyenangkan. model pembelajaran. sehingga misi KBK dapat terwujud. Paradigma lama masih melekat karena kebiasaan yang susah diubah. Tulisan sederhana ini sengaja dibuat untuk para guru. pelaksanaan pembelajaran di sekolah. kompetensi. dan memang itu kewajiban utama. dan guru itu sendiri. Karena penghargaan terhadap profesi guru sangat minim. Kata Kunci: model belajar. apalagi untuk membeli buku pembelajaran yang inovatif. telah berlaku selama 4 tahun dan semestinya dilaksanakan secara utuh pada setiap sekolah. tuntutan KBK. materi. Selain dari karena kebiasaan yang sudah melekat mendarah daging dan sukar diubah. Demikian pula. life skill. karena kebiasaan menjadi penonton dalam kelas. suasana belajar A. fasilitas. Mereka bukan tidak mau meningkatkan kualitas pemebelajaran. pada pihak siswa. untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan. semoga dengan sajian sederhana ini dapat dijadikan bekal untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran. dan model pembelajaran yang bisa dipilih dan digunakan sesuai dengan situasi dan kondisi siswa. mereka sudah merasa enjoy dengan kondisi menerima dan tidak biasa memberi. mengubah paradigma mengajar menjadi membelajarkan. Namun pada kenyataannya. Dengan paradigma yang berubah. kondisi ini kemungkinan disebabkan karena pengetahuan guru yang masih terbatas tentang bagaimana siswa belajar dan bagaimana cara membelajarkan siswa. Hal ini tampak pada RPP yang dibuat oleh guru dan dari cara guru mengajar di kelas masih tetap menggunakan cara lama. boro-boro sempat waktu untuk membaca buku yang aktual. Guru masih dominan dan siswa resisten. Permasalahannya adalah bagaimana mengubah kebiasaan prilaku guru dalam kelas. yang diperbaharui dengan Kurikulum 2006 (KTSP). potensi siswa. Pendahuluan Kurikulum 2004 berbasis kompetensi (KBK). guru aktif dan siswa pasif. guru masih menjadi pemain dan siswa penonton. jadi guru memfasilitasi aktivitas siswa dalam mengembangkan kompetensinya sehingga memiliki kecakapan hidup (life skill) untuk bekal hidup dan penghidupannya sebagai insan mandiri. mereka sangat sibuk untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. . yang saya hormati dan saya banggakan. model-model belajar agar memahami benar bagaimana siswa belajar yang efektif. pada penyusunan RPP menggunakan istilah skenario pembelajaran untuk pelaksanaan pembelajaran di kelas. Padahal. masih kurang memperhatikan ketercapaian kompetensi siswa. paradigma mengajar masih tetap dipertahankan dan belum berubah menjadi peradigma membelajarkan siswa. Tulisan ini membahas tentang kompetensi siswa sesuai tuntutan kurikulum untuk sekedar mengingatkan. sehingga kualitas amal sholehnya melalui profesi guru menjadi meningkat pula. tetapi situasi dan kondisi kurang memungkinkan.

pemecahan masalah). Siswa yang telah memiliki kompetensi mengandung arti bahwa siswa telah memahami. Suatu informasi yang sangat penting dan sekaligus peringatan bagi kita semua. yaitu: 1. eksplorasi. pengelolaan suasana hati. bagaimana siswa belajar? Dengan memahami uraian ini. Dengan memahami model-model belajar ini. ia telah bisa melakukan (psikomotorik) sesuatu berdasarkan ilmu yang telah dimilikinya. inkuiri. diharapkan para guru (kita semua) dapat membelajarkan siswa secara efisien sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif. Istilah psikologi kontemporer. atau mendengar tentang sesuatu hal berbentuk hubungan fungsional antar bagian (konsep. komunikasi. Dengan demikian belajar tidak cukup hanya sampai mengetahui dan memahami. guru (kita) bisa menyesuaikan pelaksanaan pembelajaran dengan kondisi siswa. baik di kelas ataupun dalam kehidupannya sehari-hari antar sesama temannya atau orang yang lebih tua. generalisasi. yang berkontribusi sukses individu sebesar 60%. presentasi. kreativitas. Bukankah pemberian harus diselaraskan dengan mereka yang akan menerima pemberian sehingga dapat bermanfaat secara optimal. koneksi. identifikasi. empati). Model-model Belajar Uraian berikut ini adalah untuk menjawab pertanyaan. Peta Pikiran Buzan (1993) mengemukakan bahwa otak manusia bekerja mengolah informasi melalui mengamati. kata kunci). Dengan perkataan lain. karena ia telah memiliki komptensi. yang pada tahap selanjutnya menjadi kecakapan hidup (life skill). hipotesis. sosialisasi. observasi. Model-model belajar yang dimaksud pada judul di atas adalah berbagai cara-gaya belajar siswa dalam aktivitas pembelajaran. membaca. konjektur. motivasi aktivitas positif. tidak parsial terpisah satu . kompetensi / kecakapan yang berkaitan dengan kemampuan profesional (akademik. investigasi. Kompetensi siswa yang harus dimilki selama proses dan sesudah pembelajaran adalah kemampuan kognitif (pemahaman. Inilah hakikat pembelajaran. penalaran. Sedangkan kompetensi lainnya yang berkenaan dengan afektif dan psikomotorik yang berkaitan dengan kemampuan kepribadian. Ada berbagai model belajar yang akan dibahas. prilaku). kemampuan afektif (pengendalian diri yang mencakup kesadaran diri. terutama kognitif) disebut dengan hard skill.B. analisis. dan tidak sebaliknya. yaitu membekali siswa untuk bisa hidup mandiri kelak setelah ia dewasa tanpa tergantung pada orang lain. kecakapan hidup. yang berkontribusi terhadap sukses individu sebesar 40 % . Kompetensi Siswa Kompetensi (competency) adalah kata baru dalam bahasa Indonesia yang artinya setara dengan kemampuan atau pangabisa dalam bahasa Sunda. aplikasi. memaknai dan memanfaatkan materi pelajaran yang telah dipelajarinya. pengendalian impulsi. dan kemampuan psikomotorik (sosialisasi dan kepribadian yang mencakup kemampuan argumentasi. dan pengendalian diri disebut dengan soft skill. C.

Sebagai contoh. dan lain-lain dengan masing-masing karakternya.sama lain dan tidak pula dalam bentuk narasi kalimat lengkap. kemudian dinarasikan dengan gaya bahasa masing-masing. Kondisi ini akan bisa dinetralisir dengan relaksasi melalui penciptaan suasana kondusif. di samping bahasa yang digunakan menggunakan gaya bahasa penulis. Belajar dengan menghafalkan kalimat lengkap tidak akan efektif. Selanjutnya. kalau dalam pikiran kita ada kata (konsep) Bajuri. Dengan demikian konsep mendapat retensi yang kuat dalam pikiran. Hindun. sederhana. Kecerdasan intelektual mengalir-bergerak (flow) antara kebosanan bila tuntutan pemikiran rendah dan kecemasan bila terjadi tuntutan banyak. terbagi dua menjadi kecerdasan intelektual pada otak kiri dan kecerdasan emosional pada otak kanan. Kalau dibuat narasinya akan ada perbedaan redaksi. Jika benar-benar dimanfaatkan secara optimal. Dengan demikian belajar akan efektif dengan cara membuat catatan kreatif yang merupakan peta konsep. Akuntansi. Silakan anda mencoba menuliskan / menggambarkan peta pikiran tentang Bajuri dan FKIP Unla di atas. menonton. Dengan kemampuan otak seperti itu dibandingkan dengan kemampuan komputer sangat tinggi. jika positif akan mengembangkan penalaran akan tetapi jika diisi dengan aktivitasa negatif. Dalam bidang studi keahlian anda. Mengingat hal itu. setiap kesempatan dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran diri dalam segala hal. sajian guru dalam pembelajaran harus pula dikondisikan berupa sajian peta konsep. atau yang lainnya. maka akan terkait dengan kata lain secara fungsional. sehingga setiap konsep utama yang dipelajari semuanya teridentifikasi tidak ada yang terlewat dan kaitan fungsionalnya jelas. dan besar penghargaan untuk perkuliahan per-sks. dosen-dosen dan staf administrasi. Ema. kocak. seperti gemuk. misalnya ambil satu materi dalam pelajaran Matematika. Agama. Sebaliknya jika tuntutan kerja otak tinggi akan terjadi kecemasan-kelelahan. Silakan buat (tulis-gambar) peta pikiran yang terlintas kemudian narasikan secara lisan. Yang produknya berupa peta konsep. mengobrol atau bercanda tanpa makna. inlah yang disebut dengan sia-sia atau mubadzir (at tubadziru minasy-syaithon). Selanjutnya Buzan mengemukakan bahwa cara belajar siswa yang alami (natural) adalah sesuai dengan cara kerja otak seperti di atas berupa pikiran. meskipun dengan makna yang tidak berbeda. Demikian pula kata dalam pikiran kita terlintas FKIP Universitas Langlangbuana Bandung akan terkait alamatnya. pejabatnya. Kecerdasan Ganda Goldman (2005) mengemukakan bahwa struktur otak. Hanya sayang banyak orang yang mengabaikannya atau digunakan untuk hal-hal yang kurang bermanfaat untuk peningkatan kualitas diri. Buzan mengemukakan bahwa kemampuan otak manusia dapat memproses informasi berupa bahasa sebanyak 600 – 800 kata permenit. mudah diingat dan dikembangkan pada konsep lainnya. Bagaimana dengan anda?. supir bajay. Bila terjadi kebosanan otak akan mengisinya dengan aktivitas lain. sebagai instrumen kecerdasan. misal kenakalan atau lamunan. atau ke tokoh lain Oneng. Tulisan atau gambar peta pikiran tersebut dinamakan dengan peta konsep (concept map). Ucup. . 2. misalnya berangan-angan. guru membumbuinya dengan narasi yang kreatif.

Kemampuan metakognitif setiap individu akan berlainan. berpikir tentang apa yang dipikirkan dan bagaimana proses berpikirnya. pengalaman. yaitu aktivitas individu untuk memikirkan kembali apa yang telah terpikir serta berpikir dampak sebagai akibat dari buah pikiran terdahulu. Metakognitif Secara harfiah. natural. linier. monitoring. pengetahuan. Sedangkan sela syaraf otak kanan berkaitan dengan kecerdasan yang sifatnya acak. senyum-tertawa. yaitu Spacial-visual . kita semestinya berkeyakinan tinggi terhadap kecerdasan ini. Sebagai orang beragama. dkk. suasana nyaman dan menyenangkan. siswanya sebanyak 40% dipengaruhi oleh hal lainnya. dan ibadah lainnya. bukankah ada ikhtiar dan ada pula taqdir. yaitu kondisi individu. yaitu: refleksi kognitif. koneksi. metakognitif bisa diterjemahkan secara bebas sebagai kesadaran berfikir. dan simbolik. (2002) mengemukakan bahwa aktivitas metakognitif tergantung pada kesadaran individu. dan regulasi. Bukankan ketentraman individu karena keyakinan beragama ini. ada do’a sebagai permintaan dan harapan. holistic. manfaat. Metakognitif bisa digolongkan pada kemampuan kognitif tinggi karena memuat unsure analisis. kelembutan. teratur. Holler. tergantung dari variabel meta kognitif. kesadaran diri. Dengan demikian aktivitas otak kiri semestinya dibarengi dengan aktivitas otak kanan. dan regulasi. dan evaluasi sebagai cikal bakal tumbuhkembangnya kemampuan inkuiri dan kreativitas. dan aplikasi. Interpersonalcommunication. Ary Ginanjar (2002) dan Jalaluddin Rahmat (2006) mengukakan kecerdasan ketiga. intuitif. spasial. monitoring. atau meditasi keheningan dengan prinsip kepasrahan kepada sang Pencipta.misalnya keramahan. Komponen meta kognitif menurut Sharples & Mathew ada 7. strategi. Gardner (1983) mengemukakan tentang kecerdasan ganda yang sifatnya mulkti dengan akronim Slim n Bill. Linguistic-verbal. Sel syaraf pada otak kiri berfungsi sebagai alat kecerdasan yang sifatnya logis. pertanyaan. ide. sekuensial. dan strategi berpikir. kompleksitas. Body-kinestic. abstrak. bantuan. musik. Musical-rithmic. Logic-thinking-reasoning. yaitu Kecerdasan Spiritual (nurani-keyakinan) atau kecerdasan fitrah yang berkenaan dengan nilai-nilai kehidupan beragama. Intrapersonal-reflective. Sharples & Mathew (1998) mengemukakan pendapat bahwa metakognitrif dapat dimanfaatkan untuk menerapkan pola pikir pada situasi lain yang dihadapi. rasional. prediksi. yaitu: kesadaran. realitas. emosional. Penting untuk diketahui bahawa kecerdasan intelkektual berkontribusi untuk sukses individu sebesar 20% sedangkan kecerdasan emosional sebesar 40%. verbal. dan kreativitas. Sedangkan Holler berpendapat tentang komponen metakognitif. sintesis. 3. Oleh karena itu pelaksanaan pembelajaran .

gerak tubuh. pemalu. ternyata lama kelamaan keyakinannya terguncang dan rasa percaya dirinya menurun. jangan sungkan untuk apologi jika kesalahan. 5. setiap hari biasa menerima 460 komentar negatif dan 75 koentar positif dari oarng yang lebih tua dalam kehidupannya. keberanian. suka tantangan. belajar efektif (sesuai tujuan) semestinya bermakna. m\udah menyerah. partisipatidf. menggunakan. bertanya. prasangka. ingin tahu dengan pengaruh komunikasi negatif yang lebih dominant dari orang sekelilingnya. menyimpulkan.presentasi). mengendalikan keadaan. dan melaksanakan-prak (mengaplikasikan. membiarkan. Dampak selanjutnya pada waktu bwersekolah. ing madyo mangun karso (dalam pembelajaran . Makin lama ia makin dewasa. Mencobapek (menyelidiki. Kemampuan komunikasi setiap individu akan mempengaruhi proses dan hasil belajar yang bersangkutan dan membentuk kepribadiannya. presentasi. dikendalikan keadaan .semestinya membiasakan siswa untuk melatih kemampuan metakognitif ini. memanfaatkan. tentunya akan berhadapan dengan siswa yang berkepribadian negative seperti di atas dan tentunya tidak untuk dibiarkan karena profesi guru adalah amanat. bersikap mengajak dan bukan memerintah. belajar tidak cukup dengan hanya mendengar dan melihat tetapi harus dengan melakukan aktivitas (membaca. Tokoh pendidikan nasional Ki Hajar Dewantoro (1908) mengemukakan tiga prinsip pembelajaran ing ngarso sung tulodo (jadi pemimpin-guru jadilah teladan bagi siswanya). menduga. nada suara. meng-identifikasi. Sebagai guru. dan cemas. punya alternative. ragu-ragu. dan jaga komunikasi non verbal (eksprsi wajah. ada kebebasan memilih. Dalam bahasa Sunda ada pepatah “pok-pek-prak” yang berarti bahwa belajar mempunya indikator berkata-pok (bertanya-menjawab-diskusi. tumbuhkan citra positif. Perhatikan hasil penelitian Jack Canfield (1992). dan sibuk dengan alasan. yaitu optimis. mengerjakan. menemukan). dan sosok panutan). dan mau memperbaiki diri. untuk kita simak dan renungkan. menghindar. ataupun dengan guru.” bukan katanya. Mengapa demikian? Karena cara berkomunikasi akan langsung berkenaan dengan akal dan rasa. ingin mencoba. mengembangkan). menimpakan kesalahan. berkomentar. Kebermaknaan Belajar Dalam belajar apapun. bahwa seorang anak ayang masih polos-natural. sehingga dia tumbuh menjadi penakut. mengkomunikasikan. seperti pesimis. Agar bermakna. diskusi). katakana “saya …. Akibatnya sungguh mengejutkan. pembenaran. menjawab. tidak hanya berpikir sepintas dengan makna yang dangkal. Berbeda dengan individu yang memiliki pribadi positif. anak yang pada awalnya secara alami penuh keyakinan. belajar menjadi beban dan rasa ercaya dirinya berkurang. Komunikasi Siswa dalam belajar tidak akan lepas dari komunikasi antar siswa. yang selanjutnya mempengaruhi poses pembelajaran. siswa dengan fasilitas belajar. pribadinya berpola negative. 4. Bagaimanakh menghadapi siswa dengan pola pribadi seperti irtu? Caranya anatar lain dengan cara tidak memvonis. ada individu yang memiliki pribadi positif dan ada pula yang berkpribadian negatif.

Keslahan siswa merupakan bagian dari belajar. yaitu belajar secara aktif dan secara reaktif (pasif). minds-on. Siswa tidak lagi menerima paket-paket konsep atau aturan yang telah dikemas oleh guru. da belajar dengan melakukan dan mengkomunikasikan besa mencapai 90%. dan memang pembelajaran pada hakikatnya adalah konstruksivisme. Sehingga jenis komunikasi yang dilakukan antara gurusiswa tidak lagi bersifat transmisi sehingga menimbulkan imposisi (pembebanan). Belajar secara aktif indikatornya adalah belajar pada setiap situasi. mengeksplorasi. refeleksi-eksplanasi. berhipotesis. menggunakan kesempatan . Dalam kondisi tersebut suasana menjadi kondusif (tut wuri handayani) sehingga dalam belajar siswa bisa mengkonstruksi pengetahuan dan opengalaman yang diperolehnya dengan pemaknaan yang lebih baik. Prinsip Belajar Aktif Ada dua jenis belajar. jadi harus dihargai karena hal itu cirinya ia sedang belajar. berkonjektur. Jika belajar hanya dngan membaca kebermaknaan bisa mencapai 10%. konstruksivis. simbolisasi. 6. Siswa membangun sendiri konsep atau struktur materi yang dipelajarinya. mendengar dan melihat 50%. dan sintaks (SOP). tut wuri handayani (jadilah fasilitator kegiatan siswa dalam mengembangkan life skill sehingga mereka menjadi pribadi mandiri). ikut partisipasi dan tidak menghindar dari aktivitas pembelajaran. Dengan perkataan lain. 7. yaitu: konsistensi internal. Selanjutnya. Vernon A Madnesen (1983) san Peter Sheal (1989) mengemukakan bahwa kebermaknaan belajar tergantung bagaimana cbelajar. atau mungkin terjadi eksalahan. tidak melalui pemberitahuan oleh guru. dari melihat 30%. Confrey (1990) menyarankan konstruksivisme secara utuh (powerfull constructivism). pembelajaran adalah solusi tepat untuk pelaksanaan kurikulum 2006. justifikasi. Konstruksivisme Dalam paradigma pembelajaran. menggeneralisasi. di sinilah tugas guru memberikan bantuan dan arahan (scalfolding) sebagai fasilitator dan pembimbing. dan bukan dengan kegiatan mengajar. melainkan lebih bersifat negosiasi sehingga tumbuh suasana fasilitasi. guru menyajikan persoalan dan mendorong (encourage) siswa untuk mengidentifikasi. koherensi. tindak lanjut. dan inkuiri dengan cara mereka sendiri untuk menyelesaikan persoalan yang disajikan. Mungkin saja kemasannya tidak akurat. kontinuitas historical. Drai uraian di atas implikasi terhadap pembelajaran adalah bahwa kegiatan pembelajaran identik dengan aktivitas siswa secara optimal. kekonvergenan. mengatakan-komunikasi mencapai 70 %. Hal inilah yang disebut dengan konstruksivisme dalam pembelajaran.membangun ide siswa dengan aktivitas sehingga kompetensi siswa terbentuk). keterpaduan. karena pembelajaran adalah aktivitas siswa yang sifatnbya proaktif dan reaktif dalam membangun pengetahuan. tepai harus dengan hands-on. melainkan siswa sendiri ang mengemasnya. tidak cukuop dengan mendengar dan melihat. Agar konstruksicvisme dapat terlaksana secara optimal. dari mendengar 20%. siswa yang satu dengan siswa lainnya berbeda. dan daily life (kontekstual).

dan partisipatif dalam setiap kegiatan. presentasi. modifikasinya diserahkan kepada guru untuk melakukan penyesuaian. mengabaikan kesempatan. sesuai dengan pengertian kegiatan pembelajaran di atas. Sedangakan belajar reaktif indikatornya adalah tidak dapat melihat adanya kesempatan belajart. tanya-jawab. Dari indikator belajar aktif. atau inkuiri. Cooperative Learning). penulis yakin kreativitas para guru sangat tinggi. mengerjakan). sehingga terpuku rasa tanggung jawab dan disiplin diri. Model-model Pembelajaran Untuk membelajarkan siswa sesuai dengan cara-gaya belajar mereka sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai dengan optimal ada berbagai model pembelajaran. Berikut ini disajikan beberapa model pembelajaran. siswa dilatih dan dibiasakan untuk saling berbagi (sharing) pengetahuan. empiristic (pngelaman induktif-deduktif). Saling membantu dan berlatih beinteraksi-komunikasi-sosialisasi karena koperatif adalah miniature dari hidup bermasyarakat.untuk meraih manfaat. sifat materi bahan ajar. kontekstual-trealistik. aksionmatik). Prisip tersebut akan terwujud dengan melaksanakan pembelajaran dengan memperhatikan keterlibatan intelektual-emosional. Dengan memanfaatkan kenyatan itu. maka prinsip belajar yang harus diterapkan adalah siswa harus sebaga subjek. fasilitas-media yang tersedia. Dalam prakteknya. untuk dipilih dan dijadikan alternatif sehingga cocok untuk situasi dan kjondisi yang dihadapi. empati dan pengendalian diri. konstruksivis-inkuiri. seperti kemampuan sosialisasi.diskusi. dan kondisi guru itu sendiri. mempunyai tujuan dan tanggung jawab bersama. Koperatif (CL. menyelesaikan persoalan. Menurut teori dan pengalaman agar kelompok kohesif (kompak-partisipatif). D. kita (guru) harus ingat bahwa tidak ada model pembelajaran yang paling tepat untuk segala situasi dan kondisi. tiap anggota kelompok terdiri dari 4 – 5 orang. Oleh karena itu. 1. dan belajar menyadari kekurangan dan kelebihan masingmasing. berupaya terlaksana. pembegian tugas. Hal ini bisa terlatih melalui kerja individual-kelompok. melakukan-mengkomunikasikan. tugas. belajar berkelompok secara koperatif. sitematik. dan inklusif life skill. Jadi model pembelajaran koperatif adalah kegiatan pembelajaran dengan cara berkelompok untuk bekerja sama saling membantu mengkontruksu konsep. menghindar dari kegiatan. pengalaman. structuralistic (terstrutur. siawa . Akan tetapi sajian yang dikemukakan pengantarnya berupa pengertian dan rasional serta sintaks (prosedur) yang sifatnya prinsip. belajar dengan melakukan-mengkomunikasikan sehingga kecerdasan emosionalnya dapat berkembang. Pembelajaran koperatif sesuai dengan fitrah manusis sebagai makhluq sosial yang penuh ketergantungan dengan otrang lain. dan realistic-human activity (aktivitas kehidupan nyata). tanggung jawab. dalam memilih model pembelajaran yang tepat haruslah memperhatikan kondisi siswa. dan rasa senasib. Prinsip belajar yang dikemuakan leh Treffers (1991) adalah memiliki indikatro mechanistic (latihan. membiarkan segalanya terjadi.

sehingga akan terasa manfaat dari materi yang akan disajkan. inquiry (identifikasi. dan meminta tanggung jawab hasil kelompok berupa laporan atau presentasi. analisis-sintesis). negosiasi) yang terkait dengan dunia nyata kehidupan siswa (daily life modeling). proses dunia empirik) dan vertikal (reoorganisasi matematik melalui proses dalam dunia rasio. mengerjakan). menuntun. Direct Learning) Pengetahuan yang bersifat informasi dan prosedural yang menjurus pada ketrampilan dasar akan lebih efektif jika disampaikan dengan cara pembelajaran langsung. penyampaian kompetensitujuan. yaitu modeling (pemusatan perhatian. contoh). dan bimbingan (dari guru dalam penemuan). dan suasana menjadi kondusif .nyaman dan menyenangkan. evaluasi. penilaian portofolio. tindak lanjut). kerja kelompok. motivasi belajar muncul. generalisasi). presentasi hasil kelompok. inkuiri. aturan uantuk digunakan dalam menyelesaikan persoalan. siswa melakukan dan mengalami. Prinsip RME adalah aktivitas (doing) konstruksivis. Realistic Mathematics Education) Realistic Mathematics Education (RME) dikembangkan oleh Freud di Belanda dengan pola guided reinventiondalam mengkontruksi konsep-aturan melalui process of mathematization. inter-twinment (keterkaitan-intekoneksi antar konsep). tidak hanya menonton dan mencatat. karekter). mengarahkan. learning community (seluruh siswa partisipatif dalam belajar kelompok atau individual. ada control dan fasilitasi. rangkuman. authentic assessment (penilaian selama proses dan sesudah pembelajaran. menemukan). 2. Ada tujuh indokator pembelajarn kontekstual sehingga bisa dibedakan dengan model lainnya. investigasi. membentuk kelompok heterogen. reflection (reviu. Kontekstual (CTL. minds-on. fakta. hipotesis. Sintaknya adalah menyiapkan siswa. informal ke formal). gender. Sintaks pembelajaran koperatif adalah informasi. membimbing. konsep. penilaian terhadap setiap aktvitas-usaha siswa. mencoba. questioning (eksplorasi. pengarahan-petunjuk. hands-on. Pembelajaran Langsung (DL. yaitu matematika horizontal (tools. pemahaman (menemukan-informal daam konteks melalui refleksi. mengkonstruksi konsep-aturan. realitas (kebermaknaan prosesaplikasi). Contextual Teaching and Learning) Pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang dimulai dengan sajian atau tanya jawab lisan (ramah. rambu-rambu. penilaian seobjektif-objektifnya darei berbagai aspek dengan berbagai cara). dunia pikiran siswa menjadi konkret. interaksi (pembelajaran sebagai aktivitas sosial. latihan . prinsip. konjektur. Realistik (RME.heterogen (kemampuan. sajian informasi dan prosedur. dan pengembangan kemampuan sosialisasi. mengembangkan. algoritma. generalisasi. sharing). dan pelaporan. motivasi. Pensip pembelajaran kontekstual adalah aktivitas siswa. pengarahan-strategi. 3. 4. terbuka. constructivism (membangun pemahaman sendiri. pengemabngan mateastika).

untuk merangsang kemamuan berpikir tingkat tinggi. sintesis. aturan. interpretasi. keterpasuan. 7. latihan mandiri. siswa mengidentifkasi. kembangkan peremasalahan sesuai dengan kemampuan berpikir siswa. identifikasi. Cara ini sering disebut dengan metode ceramah atau ekspositori (ceramah bervariasi). table). kritis. Model pembelajaran ini melatih dan mengembangkan kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang berorientasi pada masalah otentik dari kehidupan aktual siswa. 8. eksplorasi. dan sosialisasi. diagram.atau algoritma). yaitu pemecahan masalah dngan melalui elaborasi. dan inkuiri 6. fluency). siswa berkelompok atau individual mengidentifikasi pola atau atuiran yang disajikan. siapkan rencana bimibingan (sedikit . Sintaknya adalah: pemahaman. kognitif tinggi. 5. Denga demikian model pembelajaran ini lebih mementingkan proses daripada produk yang akan membentiuk pola piker. atau pendekatan yang bervariasi dalam memperoleh jawaban. Kondisi yang tetap hatrus dipelihara adalah suasana kondusif. dan evaluasi.terbimbing. Siswa dituntuk unrtuk berimprovisasi mengembangkan metode. cara. Sintaknya adalah: sajiakn permasalah yang memenuhi criteria di atas. Pembelajaran ini melatih dan menumbuhkan orisinilitas ide. Problem Posing Bentuk lain dari problem posing adaslah problem posing. jalan keluar. Sajian masalah haruslah kontekstual kaya makna secara matematik (gunakan gambar. Problem Based Learning) Kehidupan adalah identik dengan menghadapi masalah. yaitu merumuskan kembali masalah menjadi bagian-bagian yang lebih simple sehingga dipahami. menyusun soalpertanyaan. refleksi. demokratis. elaborasi (analisis). belum dikenal cara penyelesaiannya. Selanjtynya siswa juda diinta untuk menjelaskan proses mencapai jawaban tersebut. Pembelajaran Berbasis masalah (PBL. keterbukaan. negosiasi. suasana nyaman dan menyenangkan agar siswa dap[at berpikir optimal. sharing. Open Ended) Pembelajaran dengan problem (masalah) terbuka artinya pembelajaran yang menyajikan permasalahan dengan pemecahan berbagai cara (flexibility) dan solusinya juga bisa beragam (multi jawab. Problem Solving Dalam hal ini masalah didefinisikan sebagai suatu persoalan yang tidak rutin. terbuka. kreativitas. komunikasi-interaksi. Justru problem solving adalah mencari atau menemukan cara penyelesaian (menemukan pola. menimalisasi tulisan-hitungan. Problem Terbuka (OE. kaitakkan dengan materui selanjutnya. cari alternative.menginvestigasi. . dan akhirnya menemukan solusi. Indikator model pembelajaran ini adalah metakognitif. mengeksplorasi. induksi. jawaban siswa beragam. menduga. investigasi. generalisasi. dan ragam berpikir. keterbukaan. konjektur. identifikasi kekeliruan.

Selanjutnya siswa memngkonstruksiu konsep-prinsip-aturan menjadi pengetahuan baru. 11. suara menyejukkan. bertanya. siswa tidak bisa menghindar dari prses pembelajaran. eksplnasi berarti menghenalkan konsep baru dan alternative pemecahan. namun demikian bisa dibiasakan. yaitu: informasi. guru hendaknya serangkaian pertanyaan disertai dengan wajah ramah. dan memotivasi diri. pengarahan. mulai dari eksplorasi (deskripsi). membuat kesimpulan. pengorganisasian pembelajaran. berkelompok mengerjakan LKSD-modul. nada lembut. yaitu bagaimana siswa belajar. bahwa jawaban siswa yang salah harus dihargai karena salah adalah cirinya dia sedang belajar. Donna Meyer (1999) mengemukakan cara pembelajaran resiprokal. bimbingan dan pengarahan. hipotesis. merangkum. setiap saat ia bisa dilibatkan dalam proses tanya jawab. 12. Reciprocal Learning Weinstein & Meyer (1998) mengemukakan bahwa dalam pembelajaran harus memperhatikan empat hal. Probing-prompting Teknik probing-prompting adalah pembelajaran dengan cara guru menyajikan serangkaian petanyaan yang sifatnya menuntun dan menggali sehingga terjadi proses berpikir yang mengaitkan engetahuan sisap siswa dan engalamannya dengan pengetahuan baru yang sedang dipelajari. Untuk mewujudkan belajar efektif. aktivitas fisik) di mana belajar dengan mengalami dan melakukan. berpikir.demi sedikit dilepas mandiri). Jangan lupa. dan tertawa. dan ceria. Kemungkinan akan terjadi sausana tegang. 9. Istilah SAVI sendiri adalah kependekan dari: Somatic yang bermakna gerakan tubuh (hands-on. dan diakhiri dengan aplikasi (aduktif). membaca-merangkum. dan aplikasi berarti menggunakan konsep dalam konteks yang berbeda. Auditory yang bermakna bahwa . menyenangkan. Pembelajaran Bersiklus (cycle learning) Ramsey (1993) mengemukakan bahwa pembelajaran efektif secara bersiklus. Eksplorasi berarti menggali pengetahuan rasyarat. SAVI Pembelajaran SAVI adalah pembelajaran yang menekankan bahwa belajar haruslah memanfaatkan semua alat indar yang dimiliki siswa. Ada canda. representasi. Dengan model pembelajaran ini proses tanya jawab dilakukan dengan menunjuk siswa secara acak sehingga setiap siswa mau tidak mau harus berpartisipasi aktif. Sintaknya adlaha menyajikan masalah. ia telah berpartisipasi 10. senyum. Sedangkan Resnik (1999) mwengemukan bhawa belajar efektif dengan cara membaca bermakna. kemudian eksplanasi (empiric). Untuk mngurang kondisi tersebut. dengan demikian pengetahuan baru tidak diberitahukan. mengingat. sehingga suasana menjadi nyaman. perhatikan dan catat reson siswa.

Selanjutnya adalah opelaksanaan turnamen. mengidentifikasi. mencipta. santun. dan mennaggapi. Setelah selesai hitunglah skor untuk tiap kelompok asal dan skor individual. begitu pula untuk meja turnamen yang lainnya diisi oleh siswa dengan gelar yang sama.belajar haruslah dengan melaluui mendengarkan. dan ada sajian bodoran. mendemonstrasikan. argumentasi. Setelah selesai kerja kelompok sajikan hasil kelompok sehuingga terjadi diskusi kelas. meja I diisi oleh siswa dengan level tertinggi dari tiap kelompok dan seterusnya sampai meja ke-X ditepati oleh siswa yang levelnya paling rendah. dan menerapkan. atau dalam rangak mengisi waktu sesudah UAS menjelang pembagian raport. Visualization yang bermakna belajar haruslah menggunakan indra mata melallui mengamati. lembut. mengemukakan penndepat. siswa superior dalam kelompok meja turnamen yang sama. missal 10 meja dan untuk tiap meja ditempati 4 siswa yang berkemampuan setara. TGT (Teams Games Tournament) Penerapan model ini dengan cara mengelompokkan siswa heterogen. dan Intellectualy yang bermakna bahawa belajar haruslah menggunakan kemampuan berpikir (minds-on) nbelajar haruslah dengan konsentrasi pikiran dan berlatih menggunakannya melalui bernalar. pada turnamen kedua ( begitu juga untuk turnamen ketigakeempat dst. Bumping. menggunbakan media dan alat peraga. mengkonstruksi. Usahakan dinamikia kelompok kohesif dan kompak serta tumbuh rasa kompetisi antar kelompok. memecahkan masalah. Siswa pada tiap meja tunamen sesua dengan skor yang dip[erolehnay diberikan sebutan (gelar) superior.). d. Buat kelompok siswa heterogen 4 orang kemudian berikan informasi pokok materi dan \mekanisme kegiatan b. presentasi. c. 13. medium. very good. ramah . e. suasana diskuisi nyaman dan menyenangkan sepeti dalam kondisi permainan (games) yaitu dengan cara guru bersikap terbuka. setiap siswa mengambil kartu soal yang telah disediakan pada tiap meja dan mengerjakannya untuk jangka waktu terttentu (misal 3 menit). menyimak. menggambar. berikan penghargaan kelompok dan individual. sehingga diperoleh skor turnamen untuk tiap individu dan sekaligus skor kelompok asal. Sintaknya adalah sebagai berikut: a. Siswa bisda nmngerjakan lebbih dari satu soal dan hasilnya diperik\sa dan dinilai. Siapkan meja turnamen secukupnya. dilakukan pergeseran tempat duduk pada meja turnamen sesuai dengan sebutan gelar tadi. Jika waktunya memungkinkan TGT bisa dilaksanakan dalam beberapa pertemuan. tugas tiap kelompok bisa sama bis aberbeda. SDetelah memperoleh tugas. good. berbicara. . menemukan. setiap kelompok bekerja sama dalam bentuk kerja individual dan diskusi. menyelidiki. membaca. Penentuan tiap siswa yang duduk pada meja tertentu adalah hasil kesewpakatan kelompok.

14. saling berbagi sehingga terjadi diskusi. kuis individual dan buat skor perkembangan tiap siswa atau kelompok. Auditory. VAK (Visualization. AIR (Auditory. 17. bedanya hanyalah pada Repetisi yaitu pengulangan yang bermakna pendalama. STAD (Student Teams Achievement Division) STAD adalah salah sati model pembelajaran koperatif dengan sintaks: pengarahan. (2) siswa belajar kelompok dengan dibantu oleh siswa pandai anggota kelompok secara individual. . 16. kuis individual dan buat skor perkembangan tiap siswa. Intellectualy. Sintaksi BidaK menurut Slavin (1985) adalah: (1) buat kelompok heterogen dan berikan bahan ajar berupak modul. diskusikan bahan belajar-LKS-modul secara kolabratif. (3) penghargaan kelompok dan refleksi serta tes formatif. Repetition) Model pembelajaran ini mirip dengan SAVI dan VAK. TAI (Team Assisted Individualy) Terjemahan bebas dari istilah di atas adalah Bantuan Individual dalam Kelompok (BidaK) dengan karateristirk bahwa (Driver. saling tukar jawaban. dengan somatic ekuivalen dengan kinesthetic. umumkan hasil kuis dan beri reward. Oleh karena itu siswa harus membangun pengetahuan tidak menerima bentuk jadi dari guru. Kinestetic) Model pebelajaran ini menganggap bahwa pembelajaran akan efektif dengan memperhatikan ketiga hal tersebut di atas. sajian-presentasi kelompok sehingga terjadi diskusi kelas. Pola komunikasi guru-siswa adalah negosiasi dan bukan imposisi-intruksi. 18. presentasi kelompok dengan nomnor siswa yang sama sesuai tugas masing-masing sehingga terjadi diskusi kelas. tiasp siswa dengan nomor sama mendapat tugas yang sama) kemudian bekerja kelompok. umumkan rekor tim dan individual dan berikan reward. mengembangkannya. dengan perkataan lain manfaatkanlah potensi siwa yang telah dimilikinya dengan melatih. perluasan. 15. buat kelompok heterogen (4-5 orang). NHT (Numbered Head Together) NHT adalah salah satu tipe dari pembelajaran koperatif dengan sintaks: pengarahan. pemantapan dengan cara siswa dilatih melalui pemberian tugas atau quis. 1980) tanggung jawab vbelajar adalah pada siswa. Istilah tersebut sama halnya dengan istilah pada SAVI. buat kelompok heterogen dan tiap siswa memiliki nomor tertentu. berikan persoalan materi bahan ajar (untuk tiap kelompok sama tapi untuk tiap siswa tidak sama sesuai dengan nomor siswa.

mengkritisi. hasil bacaannya dikomunikasikan dengan presentasi. Pengarahan. 21. mendata banyak dan jenis kendaraan di dalam sekolah. presentasi. penyimpulan dan evaluasi. berikan persoalan kepada siswa dan siswa bekerja kelompok dengan cara berpasangan sebangku-sebangku (think-pairs). buat kelompok heterogen. buat kelompok heterogen dengan orientasi tugas. TPS (Think Pairs Share) Model pembelajaran ini tergolong tipe koperatif dengan sintaks: Guru menyajikan materi klasikal. 20. mengolah pikiran sehingga muncul gagasan orisinil untuk menentukan solusi.19. 22. tiap kelompok menginvestigasi proyek tertentu (bisa di luar kelas. kuis individual. diskusi. buat skor perkembangan tiap siswa. Jigsaw Model p[embeajaran ini termasuk pembelajaran koperatif dengan sintaks sepeerti berikut ini. buat skor perkem\angan siswa. dan alternative solusi). banyak guru dan staf sekolah). GI (Group Investigation) Model koperatif tipe GI dengan sintaks: Pengarahan. MEA (Means-Ends Analysis) Model pembelajaran ini adalah variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah dengan sintaks: sajikan materi dengan pendekatan pemecahan masalah berbasis heuristic. identifikasi permasalahan dan fokus-pilih. identifikasi perbedaan. tuiap kelompok bahan belajar sama. CPS (Creative Problem Solving) Ini juga merupakan variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah melalui teknik sistematik dalam mengorganisasikan gagasan kreatif untuk menyelesaikan suatu permasalahan. buat kelompok ahli sesuai bagian bahan ajar yang sama sehingga terjadi kerja sama dan diskusi. Sinatknya adalah: . berikan bahan ajar (LKS) yang terdiri dari beberapa bagian sesuai dengan banyak siswa dalam kelompok. umumkan hasil kuis dan berikan reward. kembali ke kelompok aasal. presentasi dan diskusi. pilih strategi solusi 23. dan kemudian buat laopran hasil presentasi. refleksi. susun sub-sub masalah sehingga terjadli koneksivitas. iformasi bahan ajar. Sintaksnya adalah: mulai dari fakta aktual sesuai dengan materi bahan ajar melalui tanya jawab lisan. rencanakan pelaksanaan investigasi. jenis dagangan dan keuntungan di kantin sekolah. presentasi kelompok (share). 24. pelaksnaa tutorial pada kelompok asal oleh anggotan kelompok ahli. tiap anggota kelompok bertugas membahasa bagian tertentu. umumkan hasil kuis dan berikan reward. kuis individual. misal mengukur tinggi pohon. pengoalahn data penyajian data hasi investigasi. TTW (Think Talk Write) Pembelajaran ini dimulai dengan berpikir melalui bahan bacaan (menyimak. elaborasi menjadi sub-sub masalah yang lebih sederhana.

Review) SQ4R adalah pengembangan dari SQ3R dengan menambahkan unsur Reflect. Extending) Sintaknya adalah (C) koneksi informasi lama-baru dan antar konsep. Sintaknya adalah kerja kelompok. Read. Review) Pembelajaran ini adalah strategi membaca yang dapat mengembangkan meta kognitif siswa. KUASAI Pembelajaran akan efektif dengan melibatkan enam tahap berikut ini. yaitu dengan menugaskan siswa untuk membaca bahan belajar secara seksamacermat. dengan sintaks: Survey dengan mencermati teks bacaan dan mencatatmenandai kata kunci. (2) reconstruction melakukan fasilitasi pengalaan belajar. diskusi. laporan kelompok. Read. dan Introspeksi melalui . melaporkan. kembali ke kelompok asal. presentasi. Recite. Uraikan fakta sesuai dengan gaya belajar. 26. kerja kelompok. (0) organisasi ide untuk memahami materi. yaitu aktivitas memberikan contoh dari bahan bacaan dan membayangkan konteks aktual yang relevan. Question. mendalami. dua siswa bertamu ke kelompok lain dan dua siswa lainnya tetap di kelompoknya untuk menerima dua orang dari kelompok lain. Ambil pemaknaan (mengetahui-memahami-menggunakan-memaknai). Question dengan membuat pertanyaan (mengapa-bagaimana. darimana) tentang bahan bacaan (materi bahan ajar). dan menemukan. 27. Ajukan pengujian pemahaman. (R) memikirkan kembali. Kerangka pikir untuk sukses. menggunakan. SQ3R (Survey.informasi. Refleting. dan menggali. kerja kelompok. memperluas. dan Review dengan cara meninjau ulang menyeluruh 28. Organizing. Question. MID (Meaningful Instructionnal Design) Model ini adalah pembnelajaran yang mengutyamakan kebermaknaan belajar dan efektifivitas dengan cara membuat kerangka kerja-aktivitas secara konseptual kognitifkonstruktivis. CORE (Connecting. 29. Sertakan ingatan dan hafalkan kata kunci serta koneksinya. TS-TS (Two Stay – Two Stray) Pembelajaran model ini adalah dengan cara siswa berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan kelompok lain. analisi pengalaman. Read dengan membaca teks dan cari jawabanya. 25. (E) mengembangkan. SQ4R (Survey. Sintaknya adalah (1) lead-in dengan melakukan kegiatan yang terkait dengan pengalaman. Recite dengan pertimbangkan jawaban yang diberikan (cartat-bahas bersama). Recite. kelompok (membaca-mencatatat-menandai). Reflect. dan konsep-ide. (3) production melalui ekspresi-apresiasi konsep 30.

Reading. penggunaan. CRI (Certainly of Response Index) CRI digunakan untuk mengobservasi proses pembelajaran yang berkenaan dengan tingkat keyakinan siswa tentang kemampuan yang dimilkinya untuk memilih dan menggunakan pengetahuan yang telah dimilikinya. 32. 3 untuk sure. separuhnya lagi membentuk lingkaran besar menghadap ke dalam. menemukan kata kunci. guru memberikan wacana bahan bacaan sesuai dengan materi bahan ajar. dan penutup. CIRC (Cooperative. penerapan. pengemabangan. Integrated. DMR (Diskursus Multy Reprecentacy) DMR adalah pembelajaran yang berorientasi pada pembentukan. pertimbangan solusi. Selanutnya menyelesaikan masalah tersebut dengan cara menghilangkan gap uyang menyebabkan munculnya masalah tersebut. identifikasi kausal utama. Hutnal (2002) mengemukakan bahwa CRI menggunakan rubric dengan penskoran 0 untuk totally guested answer. Sintaksnya adalah: membentuk kelompok heterogen 4 orang. deteksi kausal. presentasi hasil kelompok. siswa yang berhadapan berbagi informasi secara bersamaan. DLPS (Double Loop Problem Solving) DPLS adalah variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah dengan penekanan pada pencarian kausal (penyebab) utama daritimbulnya masalah. memberikan tanggapan) terhadap wacana kemudian menuliskan hasil kolaboratifnya. 2 untuk not sure. 4 untuk almost certain. 33. siswa bekerja sama (membaca bergantian. analisis kausal. refleksi. deteksi kausal lain. 35.refleksi diri tentang gaya belajar. siswa yang berada di lingkran luar . mengidentifikasui kausal. solusi tentative. dan implementasi solusi utama. 1993) di mana siswa saling membagi informasi pada saat yang bersamaan dengan pasangan yang berbeda dengan ssingkat dan teratur. imoplementasi solusi. 1 untuk amost guest. Langkah penyelesdai maslah sebagai berikurt: menuliskan pernyataan masalah awal. dn 5 untuk certain. dan pemanfaatan berbagai representasi dengan setting kelas dan kerja kelompok. 34. and Composition) Terjemahan bebas dari CIRC adalah komposisi terpadu membaca dan menulis secara koperatif –kelompok. menemukan pilihan solusi utama. Sintaksnya adalah: persiapan. dan rencana solusi yang terpilih. Sintaksnya adalah: Separu dari sjumlah siswa membentuk lingkaran kecil menghadap keluar. pendahuluan. mengelompokkan gejala. Sintaknya adalah: identifkasi. 31. IOC (Inside Outside Circle) IOC adalah mode pembelajaran dengan sistim lingkaran kecil dan lingkaran besar (Spencer Kagan. jadi berkenaan dengan jawaban untuk pertanyaan mengapa. menuliskan pernyataan masalah yang telah direvisi.

menunjuk siswa untuk melakonkan scenario yang telah dipelajarinya. presentasi hasil kelompok. Talking Stick Suintak p[embelajana ini adalah: guru menyiapkan tongkat. siswa membaca materi bahan ajar untuk dicermati oleh masing-masing kelompok. Role Playing Sintak dari model pembelajaran ini adalah: guru menyiapkan scenario pembelajaran. menunjuk beberapa siswa untuk mempelajari scenario tersebut. siswa mebaca materi lengkap pada wacana. dan kembali berbagai informasi. tongkat diberikan kepad siswa lain dan guru memberikan petanyaan lagi dan seterusnya. Tari Bambu Model pembelajaran ini memberuikan kesempatan kepada siswa untuk berbagi informasi pada saat yang bersamaan dengan pasangan yang berbeda secara teratur. salah satu siswa menyampaikan materi yang baru diterima kepada pasangannya kemudian bergantian. 40. sajian materi pokok. presentasi di depan hasil diskusinya. guru mengambil tongkat dan memberikan tongkat kepada siswa dan siswa yang kebagian tongkat menjawab pertanyaan dari guru. guru membimbing siswa untuk menyimpulkan. bentuk kelompok berpasangan sebangku. Strategi ini cocok untuk bahan ajar yang memerlukan pertukartan pengalaman dan pengetahuan antar siswa. pemanggilan ketua dan diberi tugas membahas materi tertentu di kelompok. 37. membentuk kelompok. siswa yang berdiri di ujung salah satui jajaran pindah ke ujunug lainnya pada jajarannya. penyampaian kompetensi. bekerja . Sintaksnya adalah: Sebagian siswa berdiri berjajar di depoan kelas atau di sela bangku-meja dan sebagian siswa lainnya berdiri berhadapan dengan kelompok siswa opertama. sajian presentasi hasil bacaan oleh perwakilan salah satu kelompok kemudian ditanggapi oleh kelompok lainnya begitu setrusnya secara bergantian. Artikulasi Artikulasi adlah mode pembelajaran dengan sintaks: penyampaian konpetensi. 41. kelompok siswa membahas peran yang dilakukan oleh pelakon. siswa yang berhadapan berbagi pengalkaman dan pengetahuan. bimbingan penimpoulan dan refleksi. 39. guru membimbing membuat kesimpulan dan menambahkannya biola perlu. guru membimbing kesimpulan-refleksi-evaluasi. Debate Debat adalah model pembalajaranb dengan sisntaks: siswa menjadi 2 kelompok kemudian duduk berhadapan. pembentukan kelompok siswa. Snowball Throwing Sintaknya adalah: Informasi materi secara umum.berputar keudian berbagi informasi kepada teman (baru) di depannya. 38. dan seterusnya 36. sajian materi.

tanya jawab untuk pemantapan. dikusi kelas. Pair Checks Siswa berkelompok berpasangan sebangku. tiap kelompok menuliskan pertanyaan dan diberikan kepada kelompok lain. kesimpulan dan evaluasi. 47. refleksi. refleksi. siswa berkelompok mengerjakan soal dan mencari kartu soal untuk jawaban yang cocok. pengecekan kebenaran jawaban. membimbing pelatihan-penerapan. 44. sajikan materi. kelompok lain menjawab secara bergantian. salah seorang menyajikan persoalan dan temannya mengerjakan.kelompok. siswa yang punya nomor sama dengan nomor soal yang dibacakan guru berhak menjawab jika jawaban benar diberi skor dan siswa menyambutnya dengan yel hore atau yang lainnya. Make-A Match . bertukar peran. membagikan kartu soal pada kelompok dan kartu jawaban. penyuimpulan. pemberian reward. Course Review Horay Langkah-langkahnya: informasi kompetensi. siswa mengembangkannya dan menjelaskan lagi ke siswa lainnya. Demostration Pembelajaran ini khusu untuk materi yang memerlukan peragaan media atau eksperimen. 45. sajian materi. mengecek pemahaman dan balikan. guru membacakan soal yang nomornya dipilih acak. 46. penyimpulan dan evaluasi. penyimpulan dan evaluasi. 43. sajian gambaran umum materi bahan ajar. refleksi. langkah demi langkah bertahap. 48. Student Facilitator and Explaining Langkah-langkahnya adalah: informasi kompetensi. Scramble Sintaknya adalah: buatlah kartu soal sesuai marteri bahan ajar. mendemontrasikan pengetahuan dan ketrampilan procedural. refleksi dan evaluasi 42. buat kartu jawaban dengan diacak nomornya. Explicit Instruction Pembelajaran ini cocok untuk menyampaikan materi yang sifatnya algoritmaprosedural. penyimpulan dan evaluasi. sajian materi. menunjuk siswa atau kelompok untuk mendemonstrasikan bagiannya. membagi tugas pembahasan materi untuk tiap kelompok. refleksi. siswa atau kelompok menuliskan nomor sembarang dan dimasukkan ke dalam kotak. penyimpulan dan evaluasi. Sintaknya adalah: sajian informasi kompetensi. Langkahnya adalah: informasi kompetensi. refleksi.

Sintaks: pemahaman masalah. Picture and Picture Sajian informasi kompetensi. presentasi hasuil diskusi kelompok. Improve Improve singkatan dari Introducing new concept. dan pengecekan. sajian hasil diskusi oleh salah seorang dan yang lain menanggapi. Sintaknya adalah: informasi kompetensi. Obtaining mastery. apakah solusinya. siswa berkelompok untuk menanggapi dan membuat berbagai alternatiu jawababn. 51. valuasi dan refleksi. evaluasi dan refleksi. kartu dikumpul lagi dan dikocok. refleksi. penyimpulan. Reviewing and reducing difficulty. diagram. siswa (wakil) mengurutkan gambar sehingga sistematik. siswa membuat ksimpulan dari hasil setiap kelompok. presentasi hasil kelompok. 49. dan bagaimana sebaiknya mengerjakannya. evaluasi dan refleksi. Practicing. evaluasi dan refleksi. sajikan gambar ditempel atau pakai OHP. perlihatkan gambar kegiatan berkaitan dengan materi. rencana. Sintaknya adalah sajian pertanyaan untuk mengantarkan konsep. bertukar peran. dengan petunjuk guru siswa mencermati sajian. 52. . siswa mempelajari wacana dan membuat rangkuman. diskusi kelompok tentang sajian gambar tadi. atau tabel sesuai materi bahan ajar dan kompetensi. solusi.Guru menyiapkan kartu yang berisi persoalan-permasalahan dan kartu yang berisi jawabannya. penyimpulan dan evaluasi. Mind Mapping Pembelajara ni sangat cocok untuk mereviu pengetahuan awal siswa. Cooperative Script Buat kelompok berpasangan sebangku. Examples Non Examples Persiapkan gambar. bimbingan penyimpulan. penyimpulan. apakah bermanfaat. Enrichment. untuk badak berikutnya pembelaarn seperti babak pertama. setiap siswa mencari dan mendapatkan sebuah kartu soal dan berusaha menjawabnya. guru mengkonfirmasi urutan gambar tersebut. sajian materi. 50. guru menanamkan konsep sesuai materi bahan ajar. 54. Verivication. siswa latian dan bertanya. LAPS ( Logan Avenue Problem Solving) dengan kata Tanya apa masalahnya. Metakognitive questioning. setiap siswa mencari kartu jawaban yang cocok dengan persoalannya siswa yang benar mendapat nilai-reward. sajian permasalahan terbuka. adakah alternative. 53. bagikan wacana materi bahan ajar. LAPS-Heuristik Heuristik adalah rangkaian pertanyaan yang bertisfat tuntunan dalam rangaka solusi masalah. balikan-perbnaikan-pengayaan-interaksi.

sajian materi. dan seterusnya dengan siswa lain secara bergantian. guru menyiapkan kata kunci sesuai materi bahan ajar. membentuk kelompok heterogen. informasikan kompetensi. berikan latihan soal bertingkat. siapkan kartu dengan yang berisi nama siswa . Langkahnya adalah kondisikan kelas untuk melaksanakan diskusi. dan refleksi 56. Sintaknya adalah kondisikan situasi belajar kondusif dan focus. ranguman. Sintaksnya adalah ilustrasikan konsep konkret dan gunakan analogi. Concept Sentence Proseduirnya adalah poenyampaian kompetensi. siswa membuat catatan kreatif sesuai dengan pola pikirnya-peta konsep-bahasa khusus. Tanya jawab dan refleksi 57.55. Complette Sentence Pembelajaran dengan model melengkapi kalimat adalah dengan sintakas: sisapkan blanko isian berupa aparagraf yang kalimatnya belum lengkap. Generatif Basi gneratif adalah konstruksivisme dengan sintaks orintasi-motivasi. pengungkapan ide-konsep awal. setelah selesai kupon dikembalikan. evaluasi. tantangan dan restruturisasi sajiankonsep. Superitem Pembelajaran ini dengan cara memberikan tugas kepada siswa secara bertingkatbertahap dari simpel ke kompleks. berupa opemecahan masalah. presentasi. pada tahap pemantapan tiap siswa disuruh berdiri dan mencari teman dan saling informasi tentang materi atau pendalaman-perluasannya kepada siswa lain kemudian mencatatnya pada kartu. 58. siswa berbicara (pidato-tidak membaca) berdasarkan bahan pada kupon. presentasi. 60. evaluasi dan refleksi 61. Take and Give Model pembelajaran menerima dan memberi adalah dengan sintaks. 1998) untuk melatih dan mengembangkan ketrampilan sosial agar siswa tidak mendominasi pembicaraan atau diam sama sekali.bahan belajar . sajian materi.dan nama yang diberi. tia kelompok membeuat kalimat berdasarkankata kunci. sampaikan kompetensi. tiap siswa diberi kupon bahan pembicaraan (1 menit). LKS dibagikan berupa paragraph yang kaliatnya belum lengkap. guru membentuk kelompok. Time Token Model ini digunakan (Arebds. . aplikasi. siswa ditugaskan membaca wacana. 59. Circuit Learning Pembelajaran ini adalah dengan memaksimalkan pemberdayaan pikiran dan perasaan dengan pola bertambah dan mengulang. siswa berkelompok melengkapi.

Rumus quantum fisika asdalah E = mc2. Oleh karena itu . interaktif. konsep harus dialami. Perubahan kea rah perbaikan adalah tuntutan alamiah yang menjadi kebutuhan setiap insane dalam setiap kehidupan. dan rayakan dengan reward dengan senyum-tawa-ramah-sejuk-nilai-harapan. jika keliru langsung dikembalikan untuk diperbaiki dan diperiksa lagi. m = massa yaitu potensi diri (akal-rasa-fisik-religi). tiap usaha siswa diberi reward. dinamis. agar segalanya berubah ke arah yang lebih baik dengan ikhtiar mulai dari diri sendiri. E. Begitu pulal dalam pembelajaran. namai-buat generalisasi sampai konsep. dan hipotesis. dan saling menghargai. partisipatif. lima kali salah guru membimbing. 65. Treffinger Pembelajaran kreatif dengan basis kematangan dan pengetahuan siap. Quantum Memandang pelaksanaan pembelajaran seperti permainan musik orkestra-simfoni. penciptaan suasan kondusif perlu dilakukan. kebebasan-terbuka. Penutup Kehidupan akan terasa indah ap[abila ada variasi. kerja individual. alami-dengan dunia realitas siswa. Guru harus menciptakan suasana kondusif. Kumon Pembelajarn dengan mengaitkan antar konsep. penggunaan ide kreatif-konflik internal-skill. ulangi dengan Tanya jawab-latihan-rangkuman. Sintaknya adalah pembelajaran ekspositori. Sintaksnya adalah: sajian konsep. menciptakan inovasi. optimalkan komunikasi + dengan aktivitas optimal. demonstrasikan melalui presentasikomunikasi. Prinsip quantum adalah semua berbicara-bermakna. 63. tiap siswa selesai tugas langsung diperiksa-dinilai. semua mempunyai tujuan. integrasi. dengan E = energi yang diartikan sukses. virtual workshop menggunakan computer-internet. Sintaks: keterbukaan-urun ide-penguatan. kohesif. ketrampilan. karena unsur rasa dalam berpikir selalu turut serta dan tak bisa dipisahkan. proses rasa-pikir kreatif dalam pemecahan masalah secara mandiri melalui pemanasan-minatkuriositi-tanya. yaitu mulai dari mengolah informasi-koneksi informasi. 64. koperatifinkuiri-solusi-workshop. c = communication. 62. dan menjaga suasana nyaman-menyenangkan. Manusia telah dibekali akal dan rasa untuk berkreasi.berikan sal tes bentuk super item. Strategi quantum adalah tumbuhkan minat dengan AMBak. Hibrid Model hibrid adalah gabungan dari beberapa metode yang berkenaan dengan cara siswa mengadopsi konsep. reward. sebaliknya akan terasa membosankan jika segalanya monoton tak berubah. latihan. kelompok-kerjasama.

CTL). Salah satu cara untuk menciptakan suasan yang nyaman dan menyenangkan sert terhndar dari kevbiosanan adalah dengan memahami dan melaksanakan model belajar yang dilakukan siswa. Daftar Pustaka Ary Ginanjar Agustian (2002).Ar. New York: Bantam Books. L (1993). Frame of Mind: The Theory of Multiple Ilntelligences. komunikasi positif yang efektif. 3rd ed. Emotional Intelligence.:Depdiknas. tidak lagi dirasakan sebagai kewajiban.. Bandung: JICA-FPMIPA. tidak lagi takut dalam berpartisipasi. De Porter. Perth: Edith Cowan University. dan model pembelajaran yang inovatif. Emotional Spritual Quotient (ESQ). Quantum Learning. (2002). Howard (1985). dkk. S. What is Contextual Learning. New York: Basic Bools. Semoga. Use Both Sides of Yoru Brain. Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning. Daniel (1995). Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. melainkan memnjadi kesadaran dan kebutuhan. dalam suasana perasaan yang nyaman dan menyenangkan. Bobbi (1992). . Jakarta: Arga. Ditdik SLTP (2002). WWI Publishing Texas: Waco. New York: Dell Publishing. Tony (1989). The Constructivist Classroom Education in Profile. New York: Penguin Books. Jakarta. Cord (2001). Goleman. Buzan. Burton.penciptaan suasana kondusif perlu dilakukan sehingga dalam belajar siswa tidak lagi merasa cemas. Erman. Gardner.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful