http://educare.e-fkipunla.net/index.php?

option=com_content&task=view&id=40&Itemid=3 Penelitian Tentang Manfaat Tujuan Pembelajaran Khusus dalam Proses Belajar Mengajar Ditulis oleh Otong Kardisaputra A. Latar belakang masalah Sejak diberlakukannya Kurikulum 1975, yang waktu itu dikenal dengan sebutan Pembakuan Kurikulum, para guru diwajibkan menggunakan tujuan instruksional khusus (TIK) dalam melaksanakan tugasnya dari mulai perencanaan pengajaran, pelaksanaan proses belajar-mengajar sampai evaluasi pengajaran. Kewajiban itu merupakan implikasi dari penggunaan prinsip objective oriented sebagai salah satu asas pengembangan kurikulum. Penerapan prinsip berorientasi pada tujuan ini nampak pada Kurikulum 1975 dengan dicantumkannya berbagai jenis tujuan yang tersusun secara hierarkhis, dari mulai tujuan pendidikan nasional, tujuan institusional, tujuan kurikuler sampai ke tujuan instruksional umum. Atas dasar tujuan-tujuan itu, guru diwajibkan mengembangkan tujuan instruksional khusus untuk diusahakan pencapaiannya pada proses belajar-mengajar yang diselenggarakannya. Tujuan instruksional khusus itu menjadi tujuan antara untuk mencapai tujuan yang berada di atasnya. Sejak diimplementasikannya Kurikulum 1975 sampai dewasa ini para guru telah terbiasa merumuskan tujuan instruksional khusus yang dewasa ini biasa disebut tujuan pembelajaran khusus (TPK), sebagai bagian penting dari tugas menyusun Program Satuan Pelajaran dan Rencana Pelajaran. Jika dihitung-hitung, penggunaan TPK dalam pengajaran (proses belajar-mengajar) telah berlangsung selama lebih dari seperempat abad. Artinya suatu jangka waktu yang cukup panjang dalam menerapkan suatu gagasan, sehingga layak untuk diperiksa hasilnya, dengan mengajukan pertanyaan: apa dampak dari penerapan ide ini? Persoalan lain yang tidak kurang pentingnya adalah masalah: apakah gagasan itu telah diterapkan secara semestinya? Suatu studi kecil yang dilakukan peneliti di kalangan guru yang mengikuti lanjutan studi di IKIP Bandung (sekarang UPI) dan pada beberapa program penataran dengan pengalaman kerja kebanyakan belasan tahun yang seluruhnya berjumlah 164 orang, ternyata hanya 27, 43 % dari mereka mengaku senantiasa menginformasikan TPK pada fase pembukaan pembelajarannya. Selebihnya mengaku hanya kadang-kadang saja dan bahkan sebagian menyatakan tidak pernah sama sekali memberitahukan TPK kepada para siswanya pada waktu mengajar. Informasi lain diperoleh dari Pengawas (Dikbud) di wilayah Bogor, yang menyatakan bahwa kurang lebih 10% dari guruguru di wilayah itu yang terbiasa menginformasikan tujuan pembelajaran khusus kepada para siswanya ketika mereka mengajar. Data dan informasi itu mengindikasikan kekurang pahaman bagian terbesar dari mereka akan fungsi dan manfaat TPK dalam pembelajaran. Itu sebabnya mereka tidak memperlakukan TPK secara semestinya. Konsekuensinya TPK kehilangan fungsinya seperti digagaskan oleh penggagasnya. Jadi apa yang diharapkan dapat dicapai dari penerapan suatu ide, jika ide itu tidak diterapkan sebagaimana mestinya? Persoalan lain adalah bahwa pengunaan prinsip objective oriented dalam pengembangan kurikulum itu nampaknya tidak didahului oleh suatu kajian mendalam dan luas mengenai keampuhan prinsip itu bila diterapkan di Indonesia. Boleh jadi

penerapan prinsip itu hanya didasarkan pada expert judgement semata. Bukankah betapa pun bagusnya sebuah ide di lingkungan tertentu tidak akan serta merta bagus pula untuk diterapkan di lingkungan lainnya. Aspek sosial, budaya, dan sumber daya akan turut menentukan keberhasilan penerapan suatu gagasan. Apa lagi jika kita baca beberapa literatur, ternyata di Amerika Serikat sindiri pun tempat lahirnya gagasan perlunya TPK dalam pembelajaran, sempat menjadi sebuah isyu kontroversial di antara para pakar. Beberapa pakar, misalnya L.T. Dawley dan H.H. Dawley (1974), P.C. Duchastel dan B. Brown (1975), W.E. Hauck dan J.W. Thomas (1972), R.J. Kibler (1977), dan lain-lain, melalui penelitiannya masing-masing menemukan bahwa penggunaan TPK dalam proses belajar-mengajar ternyata dapat meningkatkan keberhasilan siswa belajar. Tetapi sebaliknya H. Hausdorf (1965), R.L. Ebel (1970), E.W. Eisner (1967) memandang penggunaan TPK dalam mengajar tidak jelas manfaatnya. W.J. Popham menulis secara rinci dan mendalam yang esensinya meragukan validitas sejumlah argumen yang diajukan sejumlah pakar mengenai kekurang bermaknaan penggunaan TPK dalam pengajaran. Fenomena yang mengindikasikan belum meratanya kematapan pemahaman guruguru akan fungsi dan kemanfaatan dan cara bagaimana memperlakukan TPK dalam mengajar serta adanya inkonsistensi hasil penelitian dan pandangan yang saling berbeda di antara sejumlah pakar di Amerika Serikat (R.J. Kibler, 1981; W. Dick dkk. 1985; R.I. Arends,1989) telah mendorong dilakukannya penelitian ini. Dengan penelitian ini diharapkan diperoleh pengetahuan empiris mengenai manfaat TPK dalam upaya meningkatkan efektifitas proses belajar-mengajar di sekolah. A. Rumusan Masalah Secara umum, masalah yang hendak diteliti dalam studi ini adalah manfaat penggunaan tujuan pembelajaran khusus dalam proses belajar-mengajar. Secara lebih khusus, masalah itu dapat dirumuskan sebagai berikut: “Apakah penggunaan tujuan pembelajaran khusus meningkatkan efektifitas proses belajar-mengajar?” Tujuan pembelajaran khusus dalam rumusan masalah itu didefinisikan sebagai: “pernyataan yang menjelaskan apa yang diharapkan dapat dilakukan siswa setelah mengikuti satu unit proses belajar-mengajar.” Satu unit proses belajar-mengajar di sini dimaksudkan sebagai satu pertemuan kelas selama dua kali 45 menit dalam mana berlangsung rangkaian hubungan edukatif antara guru dengan siswa dan interaksi antara tindakan pembelajaran guru dengan perbuatan belajar siswa yang ditujukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dimaksudkan dengan kata-kata “penggunaan tujuan pembelajaran khusus” dalam rumusan masalah tersebut adalah perlakuan guru terhadap rumusan tujuan-tujuan pembelajaran khusus yang telah dikembangkan guru sebagaimana yang dicantumkannya dalam program satuan pelajaran dan/atau rencana pelajaran yang dibuatnya. Dalam penelitian ini ditetapkan dua kondisi sebagai berikut: 1. Tujuan pembelajaran khusus telah diperlakukan secara semestinya (benar) apabila tujuan-tujuan pembelajaran khusus yang dibawa guru ke dalam kelas belajar diinformasikan kepada siswa dengan jelas pada fase pembukaan proses belajarmengajar sehingga tujuan pembelajaran khusus menjadi fungsional; 2. Tujuan pembelajaran khusus diperlakukan secara tidak semestinya apabila

Pembentukan Pengetahuan Sains, Teknologoi dan Masyarakat dalam Pandangan Pendidikan IPA Ditulis oleh Reviandari Widyatiningtyas A. Pembentukan Pengetahuan Pengetahuan yang dimiliki seseorang pada dasarnya berupa konsep-konsep. Konsepkonsep ini diproleh individu sebagai hasil berinteraksi dengan lingkungan. Dengan konsep-konsep dapat disusun suatu prinsip, yang dapat digunakan sebagai landasan dalam berpikir. Konsep didefinisikan oleh beberapa ahli sebagai berikut. Menurut Good (1973: 124), konsep adalah gambaran dari ciri-ciri, yang dengan ciri-ciri itu objek-objek dapat dibeda-bedakan. Menurut Yelon et al. (1971: 190), konsep adalah elemen umum dari sekelompok objek, peristiwa atau proses. Sedangkan menurut Kuslan dan Stone (1968: 79), konsep adalah sifat Khas yang diberikan pada sejumlah objek, proses, fenomena, atau peristiwa, yang dapat dikelompokkan berdasarkan sifat khas itu. Rumusan definisi yang dikemukakan diatas mengandung makna yang sama, yaitu konsep merupakan suatu abstraksi yang mengambarkan ciri-ciri umum dari sekelompok objek, proses, peristiwa, atau fenomena lainnya. Gagne (1985 ; III ) dan Gagne and Briggs (1974: 40) menyatakan bahwa konsep dapat digolongkan kedalam dua golongan yaitu konsep konkrit dan konsep terdefinisi. Konsep konkrit adalah konsep yang menunjukkan ciri-ciri atau atribut dari suatu objek, yaitu relatif mudah dikenali dengan indra. Contoh konsep konkrit misalnya konsep warna (merah, hijau), bentuk (bulat, datar), sifat (keras, lunak), dan sebagainya. Konsep terdefinisi adalah konsep yang dapat dikenali (dipahami) melalui definisi, jadi sifatnya abstrak. Contoh konsep terdefinisi misalnya konsep: penduduk, fertilitas, ovulasi, dan sebagainya. Praget (dalam Dahar, 1989: 159) melalui penelitiannya tentang bagaimana anak memperoleh konsep atau pengetahuan, berkesimpulan bahwa konsep atau pengetahuan itu dibangun dalam pikiran anak. Hasil penelitiannya ini yang menyebabkan ia dikenal sebagai konstruktivis pertama. Guston et-al (dalam Poedjiadi, 1995: 15) menyatakan bahwa paham konstruktivisme bertitik tolak dari mempelajari bagaimana individu belajar. Pandangan konstruktivisme dalam belajar adalah bahwa individu membangun maknanya sendiri apabila menerima input melalui sensornya. Dalam pembentukan pengetahuan melibatkan kegiatan berpikir. Ada tiga aspek yang diajukan Piaget (dalam Dahar, 1989: 110) dalam membahas berpikir pada anak, yaitu isi, struktur dan fungsi. Isi ialah pola perilaku anak yang khas yang tercermin pada respons yang diberikannya terhadap berbagai masalah atau situasi yang dihadapinya. Jadi isi mengacu kepada tingkah laku yang nampak sebagai pencerminan dari kegiatan intelektual. Kerana itu isi berbeda dari umur ke umur dan satu anak ke anak lainnya. Isi ditentukan oleh struktur kognitif yang disebut skemata atau skema. Struktur kognitif adalah berupa fakta-fakta, konsep-konsep dan generalisasi-

generalisasi yang ada dalam pikiran siswa. Struktuk mengacu pada sifat-sifat penataan (skemata) yang menjelaskan terjadinya tingkah laku tertentu. Skemata merupakan dasar untuk berpikir, untuk melakukan operasi-operasi logis, atau memahami sesuatu. Fungsi adalah cara yang digunakan organisme untuk membuat kemajuan intelektualnya. Proses terbentuknya pengetahuan pada individu sangat ditentukan oleh struktur kognitifnya, yang berupa konsep-konsep yang ada dalam pikirannya. Dengan konsepkonsep yang ada tersebut, memungkinkan individu dapat memikirkan sesuatu dengan cara adaptasi (baik asimilasi maupun akomodasi), yang kemudian hasil-hasilnya disistematikan dengan proses organisasi sehingga dihasilkan struktur (skemata) baru. Dengan stuktur ini akan dihasilkan pola prilaku yang nampak. Piaget (dalam Dahar, 1989: 159) membedakan tiga bentuk pengetahuan berdasarkan sumber utamanya dan penstrukturannya. Tiga bentuk pengetahuan tersebut adalah pengetahuan fisik, pengetahuan logiko-matematik, dan pengetahuan sosial. Pengatahuan fisik meliputi pengetahuan tentang benda-benda dan sifat-sifatnya. Pengetahuan logiko-matematik diabstraksikan dari kegiatan, atau dari koordinasi kegiatan dan bukan bersumber dari onjek itu sendiri, sumber pengetahuan logikomatematik adalah proses berfikir dari individu itu sendiri. Sedangkan proses pembentukan logiko-matematik ialah mengorganisasi tindakan menjadi pola tindakan yang lebih logis melalui modifikasi tindakan struktur kognitif. Pengetahuan sosial terjadi dari hasil interaksi manusia dengan manusia. Individu tidak mungkin memperoleh pengetahuan sosial tanpa berinteraksi dengan manusia lain. Pengetahuan ini didasarkan pada perjanjian sosial, suatu perjanjian atau kebiasaan yang dibuat manusia. Menurut Piaget (dalam Dahar, 1989: 159) pengetahuan sosial seperti nama hari dalam seminggu, tanda atom unsur-unsur, satuan besaran pokok, dapat dipelajari secara langsung, yaitu dari pikiran guru pindah ke pikiran siswa. Namun pengetahuan fisik dan pengetahuan logiko-matematik tidak secara langsung dan utuh dipindahkan dari pikiran guru ke siswa. Kedua pengetahuan ini tidak dapat diteruskan dalam bentuk sudah jadi, setiap siswa harus membangun sendiri pengetahuan itu.

A. Penguasaan Pengetahuan Sains, Teknologi dan Masysarakat Penguasaan pengetahuan sains dan teknologi akan dikaitkan dengan aspek sosial, hal ini dikarenakan satu sama lain saling berkaitan. Untuk memperjelas hal tersebut, dapat diungkap melalui definisi-definisi yang dikemukakan oleh beberapa ahli. Sains, menurut Titus (1959:78), mengandung tiga definisi yaitu sebagai sejumlah disiplin ilmu, sebagai sekumpulan pengetahuan, dan sebagai metode-metode. Disamping itu ditegaskan pula bahwa sains merupakan suatu rangkaian konsep-

konsep yang berkaitan dan berkembang dari hasil eksperimen dan observasi. Menurut Robert B. Sund (1973: 2), sains merupakan suatu tubuh pengetahuan (body of knowledge) dan proses penemuan pengetahuan. Dengan demikian, pada hakekatnya sains merupakan suatu produk dan proses. Produk sains meliputi fakta, konsep, prinsip, teori dan hukum. Proses sains meliputi cara-cara memperoleh, mengembangkan dan menerapkan pengetahuan yang mencakup cara kerja, cara berfikir, cara memecahkan masalah, dan cara bersikap. Sains dirumuskan secara sistematis, terutama didasarkan atas pengamatan eksperimen dan induksi. Teknologi, menurut Fischer (1975), adalah totalitas alat yang dikembangkan oleh masyarakat untuk memperoleh objek-objek materi bagi makanan dan kenyamanan manusia. Menurut Poerwadarminta (1983), teknologi adalah ilmu pengetahuan dan kepandaian membuat sesuatu yang berkenaan dengan hasil industri atau ilmu pengetahuan tentang cara membuat sesuatu yang berkenaan dengan hasil industri atau ilmu pengetahuan tentang cara membuat sesuatu atau melakukan sesuatu, sedangkan menurut UNESCO (1983), teknologi adalah sebagai berikut: ……..technology is the know-how and creative process that may utilize tools, resources, and systems, to solve problems, to enhance control over the natural an man-made environment in endeavour to improve the human condition. Jadi secara ringkas dapat dikatakan bahwa, teknologi merupakan suatu perangkat keras ataupun perangkat lunak yang digunakan untuk memecahkan masalah bagi pemenuhan kebutuhan manusia. Sains melandasi perkembangan teknologi, sedangkan teknologi menunjang perkembangan sains, sains terutama digunakan untuk aktivitas discovery dalam upaya memperoleh penjelasan tentang objek dan fenomena alam, namun juga untuk aktivitas penemuan (invention), misalnya dalam penemuan rumus-rumus. Pengembangan sains ini tidak selalu dikaitkan dengan aspek kebutuhan masyarakat. Sedangkan teknologi, merupakan aplikasi sains yang terutama untuk kegiatan invention, berupa alat-alat atau barang-barang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Jadi pengembangan teknologi selalu dikaitkan dengan kebutuhan masyarakat. Dengan demikian sains, teknologi dan masyarakat merupakan bagian yang tak terpisahkan (Poedjiadi, 1990 ; Yager, 1992: 4). Masyarakat , menurut Aikenhead (dalam Mariana, 1994: 29), adalah suatu lingkungan pergaulan sosial dan kaidah-kaidah yang dianut oleh suatu kelompok masyarakat. Menurut Poerwadarminta (1983), masyarakat adalah sehimpunan orang yang hidup bersama dalam suatu tempat dengan ikatan-ikatan dan aturan-aturan tertentu. Sedangkan, sosial adalah segala sesuatu yang mengenai masyarakat. Jadi, secara ringkas dapat dikatakan bahwa, masyarakat adalah sekelompok manusia yang memiliki wilayah, kebutuhan, dan norma-norma sosial tertentu. Sains, teknologi dan masyarakat satu sama lain saling berinteraksi. Interaksi ini dapat digambarkan seperti gambar sebagai berikut:

Evaluasi dalam STM meliputi ruang lingkup aspek: 1. maka kriteria pengembangan evaluasinya dapat mengacu kepada pengembangan evaluasi dalam unit STS atau STM (sains. 4. Pemahaman konsep sains dalam pengalaman kehidupan sehari-hari.SAINS TEKNOLOGI MASYARAKAT Untuk mengungkap penguasaan pengetahuan sains dan teknologi tersebut. Kirham (dalam Wellington. Pembuatan keputusan-keputusan yang berhubungan dengan kesehatan. teknologi. atau hal-hal lain yang didasarkan pada konsep-konsep ilmiah. penyadaran. nutrisi. Pemahaman prinsip-prinsip sains dan teknologi yang terlibat dalam alat-alat teknologi yang dimamfaatkan masyarakat. Sains pada hakekatnya merupakan ilmu dan pengetahuan tentang fenomena alam yang meliputi produk dan proses. 2. . 3. Evaluasi merupakan suatu pengukuran atau penilaian terhadap sesuatu prestasi atau hasil yang telah dicapai. Mengingat penguasaan sains dan teknologi dalam penelitian ini merupakan penguasaan sains dan teknologi yang berkaitan dengan aspek masyarakat. (Varella. 1989: 136) menyarankan bahwa sains hendaknya merupakan akumulasi dari content. process. Untuk penyusunan materi pendidikan sains. Penggunaan proses-proses ilmiah dalam pemecahan masalah-masalah yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. 1992:87-88) B. STM dan Literasi Sains dan Teknologi Pendidikan IPA atau pendidikan sains pada hakekatnya merupakan upaya pemahaman. masyarakat). dapat dilakukan melalui suatu evaluasi. yaitu untuk meningkatkan pengertian terhadap dunia alamiah (Amien. 1992: 19-20). Pendidikan sains merupakan salah satu aspek pendidikan yang menggunakan sains sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan umumnya yakni tujuan pendidikan nasional dan tujuan pendidikan sains khususnya. Penerapan konsep-konsep dan keterampilan-keterampilan sains untuk masalahmasalah teknologi sehari-hari. dan pengembangan nilai positif tentang hakekat sains melalui pembelajaran. 5.

Untuk kepentingan itu. Content. dalam hal ini pengetahuan yang berbentuk konsepkonsep . dikenal dengan pengajaran dengan pendekatan STM atau STS. Anna Poedjiadi (1995: 4) mengemukakan hal sebagai berikut: Pelaksanaan pendekatan STM dapat dilakukan melalui tiga macam strategi. Pendekatan ScienceTechnology-Society atau STS ini pertama kali dikembangkan di Amerika Serikat pada tahun 1980-an. prinsip. menyangkut kepada hal-hal yang berkaitan dengan fakta. menyusun topik-topik tertentu yang menyangkut konsep-konsep yang ingin ditanamkan pada peserta didik. Masalah atau isu yang ada dilingkungan masyarakat dapat pula diusahakan agar ditemukan oleh peserta didik sendiri setelah guru membimbing dengan cara-cara tertentu. definisi. berkaitan dengan metodologi atau keterampilan untuk memperoleh dan menemukan content. mendefinisikan STS sebagai belajar/mengajar sains dan teknologi dalam konteks pengalaman manusia (Poedjiadi. Perbedaannya ialah bahwa pada program STM. konsep. Tantangan pendidikan sains dewasa ini adalah perlu sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Strategi kedua. serta perlu dapat mengantisipasi masalah-masalah sosial yang berkaitan dengan sains dan teknologi tersebut. guru memperkenalkan atau menunjukkan kepada peserta didik adanya isu atau masalah dilingkungan peserta didik atu menunjukkan aplikasi sains atau suatu produk teknologi yang ada dilingkungan mereka. sedangkan dalam IPA terpadu tidak mutlak harus dilaksanakan demikian. Process.dan context. Pada saat membahas konsep-konsep tertentu suatu topik yang relevan telah dirancang sesuai strategi pertama dapat diterapakan dalam . model. dan terminologi. Context. menyajikan suatu topik yang relevan dengan konsep-konsep tertentu yang termasuk dalam GBPP. 1994: 1). Melalui kegiatan eksperimen atau diskusi kelompok yang dirancang oleh guru akhirnya dibangun atau dikonstruktur pengetahuan pada peserta didik. Pengajaran yang mengkaitkan sains dengan teknologi dan masyarakat. National Science Teacher Association atau NSTA. selanjutnya dikembangkan pula di Inggris dan Australia. isu atau masalah harus diangkat pada awal pembahasan topik yang diajarkan. Pada awal perubahan tiap topik. berkaitan dengan kepentingan sosial baik individu maupun masyarakat atau kepentingan-kepentingan lainnya yang berhubungan dengan perlunya pengembangan dan penyesuaian pendidikan sains untuk menghadapi tantangan kemajuan jaman sekarang ini. teori. Berkenaan dengan strategi pelaksanaan pendekatan STM. pengajaran sains dewasa ini perlu dikaitkan dengan aspek teknologi dan masyarakat. strategi pertama. Strategi ini mirip dengan stategi pendidikan IPA terpadu.

kreatif membuat produk teknologi sederhana. Literasi dapat diartikan sebagai kemampuan untuk membaca dan menulis. Literasi teknologi. teknologi dan masyarakat. efesien dan efektif. serta mampu menerapkannya dalam teknologi dan masyarakat. Konsep ini dapat diwujudkan dalam bentuk pendekatan atau materi pelajaran. dapat diartikan sebagai kemampuan melaksanakan teknologi yang didasari kemampuan identifikasi. Krakteristik individu yang memilki literasi ilmiah adalah sebagai berikut: (a) bersikap positif terhadap sains.pembelajaran. Adapun literasi sains dan teknologi (literasi sains dan teknologi untuk semua orang yang diusulkan untuk pendidikan dasar di Indonesia). Dengan demikian program STM merupakan suplemen dari kurikulum. isu atau masalah sebaiknyadperkenalkan pada awal pokok bahasan tertentu untuk meningkatkan motivasi peserta didik mempelajari konsep-konsep selanjutnya atau mengarahkan perhatian peserta didik kepada materi yang akan dibahas sebagai apersepsi. STM merupakan salah satu alternatif konsep untuk penyempurnaan dan penyesuaian pendidikan sains dewasa ini. STM dikembangkan untuk meningkatkan literasi ilmiah individu agar mengerti bagaimana sains. mengenal teknologi yang ada beserta dampaknya di sekitar. mampu menggunakan produk teknologi dan memeliharanya. Dengan demikian individu tersebut dapat menghargai sains dan teknologi dalam . 1993: 428). Pengajaran dengan pendekatan STM dapat meningkatkan literasi sains dan teknioplogi individu. Sains-Teknologi-Masyarakat (STM) merupakan perekat yang mengkaitkan sains. (c) berpengatahuan luas tentang hasil-hasil riset. Literasi sains (scientific literasi). berpengaruh satu sama lain. Strategi ketiga. masyarakat dan nilai-nilai manusia. (c) sadar tentang akibat teknologi terhadap masyarakat. dan mampu mengambil keputusan berdasarkan nilai. (d) mampu mengevaluasi proses dan produk teknologi. teknologi. (b) sadar tentang proses dan prinsip teknologi. (d) memilki pengetahuan tentang konsep dan prinsip sains. atau kemampuan berkomunikasi melalui tulisan dan kata-kata. (e) mampu membuat hasil teknologi alternatif yang sederhana. memiliki karakteristik: (a) tahu penggunaan dan pemeliharaan produk teknologi. 1994: 34) . serta untuk meningkatkan kemampuan menggunakan pengetahuan didalam membuat keputusan. Dyrenfurth (dalam Poedjiadi. (f) berkemampuan membuat keputusan dan terampil menganalisis nilai untuk pemecahan masalah-masalah masyarakat yang berhubungan dengan sains tersebut (Rubba. contoh-contoh adanya aplikasi konsep sains. tepat. dan masyarakat secara terintegrasi. (b) mampu menggunakan proses sains. mengajak peserta didik untuk berpikir dan menemukan aplikasi konsep sains dalam industri atau produk teknologi yang ada di masyarakat di selasela kegiatan belajar berlangsung. Adapun individu yang literat teknologi menurut M. sadar akan efek hasil teknologi. dan mampu bersikap serta mampu menggunakan alat secara aman. dapat diartikan sebagai kemampuan menyelesaikan masalah dengan menggunakan konsep-konsep sains. dapat diartikan sebagai pemahaman atas sains dan aplikasinya bagi kebutuhan masyarakat. teknologi. (e) memilki pengertian hubungan antara sains.J.

Teaching Science Through Discovery. Makalah dan Lokakarya tentang Reorientasi dan perubahan Kurikulum Pendidikan Menengah Umum”. (1974). Kesiapan Guru Mengajarkan Sains di Sekolah Dasar Ditinjau Dari Pengembangan Keterampialan Proses Sains.H. Makalah Disajikan pada Seminar Staff FPMIPA IKIP Bandung. (1989). _______. Austin: Univercity of Texas. (1983).L.masyarakat. (1971). Inc. Rinehort and Winston. Kuslan. DAFTAR PUSTAKA Bloom.J. (1979). L.B. Merrill Publishing. et al. Poerwadarminta. Belmount: Wadsworth Publishing Company. . Dictionary of Education. A. Teaching Children Science: An Inquiry Approach. & Briggs. Jakarta: Erlangga. 1998: 276).(1995).. C. Hall.S. W. New York: Mc Graw Hill Book Company. (1968).I.B. A. How Thorn Victoria Australia: Longman Australia Pty Limited. Taxonomy of Educational objectives The Classification of Educational Goal Handbook I Cognitive Domain. (Eds). Dahar. The Stucture of Science Education. (1980).J. Disertai Doktor FPS IKIP. Jakarta: PN. et al. Science. Philadelphia: Saunders Co. Maesuring Stage of Concern about The Innovation: A Manual foe use of the Sacial Questionnaire. A. _______. Gordner. R.V.. Teori-teori Belajar. (1985). R. (1985). Gagne. (1990). New York: Rinehort and Winston. Gagne. The Condition of Learning and Theory of Instruction. Poedjiadi. (1973). & Sund. G. 3 Mei. 17-19 Januari. R. P. Columbus: Charles E. Bandung. Fischer.’lay Company. “Partisipasi FPMIPA IKIP Bandung dalam Menunjang Perkembangan Pendidikan Sains dan Teknologi Dewasa ini “. (1975). Principlesof Instructional Desig. New York: David Mc.e. L. R. Man and Siciety.A. Jakarta. Kamus Umum Bahasa Indonesia.M. Good. R.W.M. Carin. dan mengerti keterbatasan-keterbatasannya (Yager. “Kecenderungan Pendidikan Sains dan Teknologi dimasa yang Akan Datang. New York: Holt. Balai Pustaka. (1971). IKIP Bandung: tidak diterbitkan. & Stone.

Tes retensi dilakukan setelah tiga minggu dari pos tes.W.. ICASE YEARBOOK. Rubba. Faktor retensi atau lekatnya konsep dalam ingatan kurang mendapat perhatian padahal dapat dijadikan indikator bermutunya hasil belajar atau pembelajaran.F. Science Education. Hasil postes dari kedua pembelajaran tidak berbeda. Macam pertanyaan yang diajukan oleh guru secara lisan atau tulisan menentukan keberhasilan siswa dalam peningkatan berpikir dan penguasaan konsep (Dahar. 87-92. A. Untuk mengetahui efektifnya model pembelajaran. (1971). namun retensinya berbeda signifikan. (1992). 2-8. ICASE YEARBOOK.H.Rogers. 407-431. Titus. Living Issues In Philoshophy. E. Pendahuluan 1. Latar Belakang Masalah Keberhasilan belajar Sains di SMU umumnya diukur dari seberapa jauh siswa menguasai konsep yang diajarkan. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen. Communication of Innovation: Crosscultural Approach. hendaknya tidak hanya dari penguasaan konsep saja. “Examination of Preservice and Inservice Secondary Science Teachers Beliefs about Science –Technology-Society Interactions”. New York: Free Press. Analisis di atas dipandang kurang terungkap padahal merupakan sesuatu yang perlu diketahui dan diteliti. New York: American Book Company. (1993). retensi siswa hasil pembelajaran dengan pertanyaan penuntun lebih baik dari pertanyaan biasa. H. (1992). “Greater Ability to Apply Concepts Using and Science/Technology/Sociaty Approach to Teaching Science”.E. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil postes siswa dari kedua pembelajaran pada umumnya sangat baik demikian pula retensinya. Sampel diambil secara claster random yang meliputi satu kelas eksperimen menggunakan pertanyaan pengarah dan satu kelas kontrol dengan pertanyaan biasa tanpa pengarah dalam pembelajarannya.M. P.A. R. tetapi lebih jauh perlu dianalisis apakah konsep-konsep yang diajarkan dapat lekat dalam ingatan siswa ataukah cepat terlupakan karena pembelajaran yang dilakukan hanya berupa transfer hapalan belaka.F. R. “Science-Technology-Society as Reform”. Varella. & Shoemaker. G. . Yager. eranan Pertanyaan Terhadap Kekuatan Retensi dalam Pembelajaran Sains pada Siswa SMU Ditulis oleh Taufik Rahman ABSTRAK Telah dilakukan penelitian tentang peranan pertanyaan terhadap retensi dalam pembelajaran sains pada siswa SMU. F.(1959).

mengarahkan atau menuntun pada arah tertentu. 2) Pembelajaran sains meliputi pembelajaran biologi konsep polusi air di satu SMUN di Bandung. 1996:117). tentunya perlu dianalisis pertanyaan-pertanyaan yang bagai mana yang secara baik dapat menggali ingatan dan yang bagaimana pula yang secara baik dapat menguatkan ingatan. karena pertanyaan dapat menggali informasi dari ingatan (Winkel. Suatu pertanyaan yang diberikan secara tersusun dengan baik dapat memberikandampak positif sebagai berikut: Dapat meningkatkan partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran. Pertanyaan biasa adalah pertanyaan-pertanyaan yang berdiri sendiri tanpa menghiraukan kaitannya dengan pertanyaan pokok.1985:122). Peranan Pertanyaan Dan Retensi Dalam pembelajaran Sains 1. Pertanyaan dalam pembelajaran antara lain digunakan untuk menguji daya ingat siswa. Bagaimana peranan pertanyaan terhadap kuatnya retensi dalam pembelajaran sains pada siswa SMU? b. mendorong siswa berfikir. B. Kuatnya retensi ditentukan dengan perbandingan tes retensi (postes ke-2) dengan postes kali 100 persen. Konsep yang dipahami secara baik oleh siswa dari pembelajaran dapat disimpan dalam ingatan atau memori yang kemudian akan dipergunakan pada saat diperlukan. Rumusan Masalah Masalah umum penelitian ini dirumuskan sebagai berikut. 1996:458). 3) Retensi adalah kemampuan mengingat konsep setelah selang waktu tiga minggu. dapat membangkitkan minat dan rasa ingin tahu siswa terhadap masalah yang sedang dibahas. 1991: 97). Kemampuan untuk menyimpan dalam ingatan ini dikenal sebagai retensi. Pada kenyataannya. banyak hal yang telah disimpan dalam ingatan sulit untuk diproduksikan lagi. hal ini dikenal sebagai lupa (Abin Syamsudin. Namun. dapat mengembangkan pola dan cara berfikir aktif siswa. Pertanyaan penuntun berupa rangkaian pertanyaan yang saling berkaitan untuk menjawab pertanyaan pokok. dapat . 2. Peranan Pertanyaan Dalam pembelajaran Sains Pertanyaan merupakan komponen yang amat diperlukan dalam pembelajaran sains. Lupa bisa dikurangi dengan berbagai cara. dan untuk mengungkap gagasan siswa (Wynne Harlen. salah satunya dengan memberikan pertanyaan. Rumusan Dan Batasan Masalah a. Batasan Masalah 1) Pertanyaan yang diteliti meliputi pertanyaan penuntun dan pertanyaan biasa atau tidak menuntun.

Pertanyaan biasa berupa pertanyaan tunggal untuk mengungkap penguasaan konsep. Dengan demikian salah satu bentuk promting adalah menanyakan pertanyaan lain yang lebih sederhana yang jawabannya dapat dipakai menuntun siswa untuk menemukan jawaban yang tepat (Suwandi dan Tjetjep S. 2000: 75) Bentuk pertanyaan promting dapat dibedakan menjadi 3. Dengan demikian aspek retensi sangatlah diperlukan. al. Retensi mengacu . Banyak penelitian yang telah dilakukan oleh para ahli pendidikan yang berkaitan dengan retensi. pertanyaan retoris (rhetorical questions). Retensi erat hubungannya dengan belajar.. 1995: 74) Berdasarkan karakteristiknya pertanyaan antara lain digolongkan sebagai berikut. Banyaknya pertanyaan yang diajukan dalam pembelajaran tidak menunjukkan bahwa pembelajaran tersebut lebih berkualitas (Wynne Harlen.menuntun proses berfikir siswa untuk menentukan jawaban yang baik.C. Pertanyaan konvergen dan pertanyaan divergen (Conny Semiawan. al. Uzer Usman. dalam Nuryani Rustaman. Retensi dan lupa merupakan dua istilah yang tidak dapat dipisahkan. 1993: 305) diantaranya membuktikan bahwa kita menyimpan banyak ingatan terhadap apa yang telah dipelajari di sekolah.. Bentuk pertanyaan Pengarah berbeda dari pertanyaan biasa. pertanyaan mengarahkan atau menuntun (promting question) dan pertanyaan menggali (probing questions) ( Moh. Namun. (2) menanyakan pertanyaan-pertanyaan sederhana yang membawa mereka kembali pada pertanyaan semula. mutu pertanyaan guru sebanding dengan jawaban yang akan diperoleh dari pertanyaan tersebut (E. Dalam materi tersebut meliputi konsep konkret dan abstrak. banyak hal yang perlu dipahami dan diingat.1997: 43) 2.1999:4). Pertanyaan pengarah berupa pertanyaan berangkai (lebih dari satu pertanyaan yang satu sama lain berkaitan) yang ditujukan untuk menuntun siswa menguasai konsep. Dalam pembelajaran sains kedua jenis pertanyaan tersebut senantiasa dipergunakan. yaitu: (1) mengubah susunan pertanyaan dengan kata-kata yang berbeda atau lebih sederhana yang disesuaikan dengan pengetahuan murid-muridnya. maka proses belajar siswa tidak berlangsung dengan baik dan sebaliknya jika tidak belajar maka tidak akan ada retensi. misalnya topik polusi. Kulik et. Hursh (1976). Namun. 1996: 18).Wrag dan George Brown 1997: 43). dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Guskey & Gates (1985). Wrag dan George Brown . dan dapat memusatkan perhatian siswa terhadap masalah yang sedang dibahas (Moh Uzer Usman. 1991: 97). jenis pertanyaan biasa umumnya lebih mendominasi. (1978 & 1990) (dalam Semb et.1987:72). baik secara tertulis dalam Lembar Kerja Siswa(LKS) maupun secara lisan oleh guru di kelas. Peranan Retensi Dalam Pembelajaran Sains Retensi atau ingatan terhadap pengetahuan yang dipelajari merupakan faktor yang penting dalam suatu pembelajaran sains misalnya biologi. Pertanyaan produktif dan non produktif (Sheilla Jelly. Pertanyaan permintaan (compliance questions). Hal ini didukung oleh pernyataan yang dikemukakan oleh James Dese (1959: 236) bahwa jika tidak ada retensi.C. (3) memberikan suatu review informasi yang diberikan dan pertanyaan yang membantu murid untuk mengingat atau melihat jawabannya (E. Dalam mempelajari sains biologi.

tidak diperlukan individu sehingga tidak dihiraukan. 2) rangsang yang masuk ditampung dalam sensori register dan diseleksi. Oleh karena itu tidak mengherankan apabila banyak ilmuwan dibidang pendidikan menyatakan bahwa proses pembelajaran memegang peranan penting terhadap retensi siswa. Ilmuwan yang pertama kali meneliti tentang retensi adalah Ebbinghaus pada tahun 1885. Dengan demikian dalam pembelajaran dipandang perlu untuk menitik beratkan pada aspek-aspek bernalar sehingga pembelajaran menjadi bermakna. Penelitian yang dilakukan oleh Angelo (1991. tugas yang harus dipelajari. 3) pola perseptual tersebut masuk ke dalam ingatan jangka pendek (Short Term Memory / STM) dan tinggal disana selama 20 detik. 1959: 236). 1994: 3) terhadap siswanya di Berkeley membuktikan bahwa dengan menggunakan metode pembelajaran secara tradisional dimana guru bertindak . Hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Ebinghaus adalah kurva retensi yang menunjukkan bahwa retensi dapat berkurang dengan cepat setelah interval waktu tertentu dan lupa atau berkurangnya retensi ini dapat terjadi beberapa jam pertama setelah proses belajar berlangsung (James Dese. Dalam tahap belajar terjadi proses internal dalam pikiran siswa. Winkel (1996: 305). 1959: 241). Retensi merupakan salah satu fase dalam tahapan belajar. 4) penampungan hasil pengolahan informasi yang berada dalam STM dan menyimpannya dalam ingatan jangka panjang (Long Term Memory / LTM) sebagai informasi yang siap pakai sewaktu-waktu pada saat diperlukan. 5) pada saat diperlukan siswa menggali informasi yang telah dimasukkan dalam LTM untuk dimasukkan kembali ke dalam STM Dengan melihat proses internal yang terjadi dalam siswa. Lupa akan terjadi apabila materi yang dipelajari tidak menarik. Pembelajaran yang menitik beratkan pada guru (teacher centered) dinilai telah gagal untuk mengembangkan pemahaman yang permanen. sedangkan lupa mengacu pada porsi ingatan yang hilang. dalam Susan Hanley. Sehingga dapat dikatakan bahwa jumlah yang dilupakan sama dengan jumlah yang telah dipelajari dikurangi dengan ingatan yang masih tersimpan (James Dese. Semb dan Elis (1992) (dalam Semb dan Elis. kecuali bila informasi tersebut ditahan lebih lama melalui proses penyimpanan. metode pembelajaran. maka fase ke 3 dan 4 dimana ingatan dimasukkan dan ditahan dalam STM dan kemudian dimasukkan ke dalam LTM merupakan proses yang amat penting bagi retensi. Dalam tahap ini retensi merupakan proses penyimpanan pemahaman dan perilaku baru yang diperoleh setelah mengalami proses acquisition (fase menerima informasi). menggambarkan tahapan proses tersebut terjadi dengan urutan sebagai berikut: 1) siswa menerima rangsang dari reseptor. 1993: 305) menyatakan bahwa faktor-faktor yang dapat mempengaruhi LTM tehadap pengetahuan yang telah dipelajari dalam kelas adalah tingkat dari materi yang dipelajari. Tentu saja yang dimaksud dengan proses penyimpanan ini berkaitan dengan bagaimana informasi ini dapat diterima dan dikonstruksikan dan akhirnya disimpan dalam benak siswa. dan perbedaan individual. Dan sebagaimana yang telah disebutkan oleh Winkel di atas informasi tersebut dapat ditahan lebih lama melalui proses penyimpanan. Sedangkan dalam masalah lupa Winkel (1987: 297) menyatakan bahwa gejala lupa mudah terjadi pada pengetahuan kognitif bila individu tidak berhasil mengkonstruksi pengetahuannya sendiri atau tidak berhasil mengaitkan konsep-konsep yang dipelajarinya dengan konsep-konsep yang telah dimilikinya. sehingga membentuk suatu kebulatan perseptual.pada tingkat dimana materi yang telah dipelajari masih melekat dalam ingatan.

yaitu pembelajaran dengan menggunakan pertanyaan pengarah dan pembelajaran dengan menggunakan pertanyaan biasa tanpa pengarah.sebagai penyampai informasi dan siswa penerima informasi didapatkan hasil bahwa kurang dari 20% dari siswanya dapat mengingat apa yang telah disampaikan oleh guru. Desain penelitian yang digunakan adalah modifikasi Randomized Control Group Pre-test Post-test Desain. Untuk memenuhi hal tersebut guru sedapat mungkin melibatkan siswa dalam proses pembelajaran. salah satunya adalah dengan memberikan pertanyaan untuk memacu keterlibatan berpikir siswa sehingga siswa dapat menggunakan dan mengaitkan konsepkonsep yang telah dimilikinya. Pembelajaran yang banyak melibatkan panca indra dalam proses berpikir dapat memungkinkan pembelajaran menjadi lebih bermakna. dan T2(2)= Tes retensi (pos-test ke-2) D. Metode dan Desain Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen untuk membandingkan dua perlakuan pembelajaran yang berbeda. C. Bila konsep-konsep tersebut terkait satu sama lain maka akan terbentuk pengetahuan yang bermakna yang tidak mudah untuk dilupakan. dan Retensi siswa . T2(1)= Pos-tes. Hasil Penelitian Hasil penelitian dalam bab ini disajikan dalam bentuk tabel-tabel di bawah ini. Mereka terlalu sibuk mencatat dam memasukkan informasi tanpa melalui seleksi ke dalam ingatan mereka. Dengan demikian perlu diupayakan pembelajaran yang bermakna bagi siswa. Pos-tes. X2= pembelajaran dengan menggunakan pertanyaan biasa. sehingga dengan demikian memungkinkan kuatnya retensi siswa terhadap konsep-konsep yang diajarkan. Disain Penelitian Kelompok Eksperimen Kontrol Keterangan: Tes awal T1 T1 Perlakuan X1 X2 Tes akhir 1 Selang Waktu Tes akhir 2 T2(1) 3 minggu T2(2) T2(1) T2(2) T1= Tes awal / pre-test. X1= Pembelajaran dengan menggunakan pertanyaan pengarah. yang digambarkan dengan tabel sebagai berikut: Tabel 1. Tabel 1. Rekapitulasi Rata-rata Nilai Pre-tes.

Konsep/sub Nilai Kontrol konsep Pre.3 26 63 63 78.64 Z hit < Z tab Tidak berbeda secara signifikan Postes 1 1.1%) 3 (8. Sd = standar deviasi.7%) 18 (50%) 3 3 (8.1%) - Pos tes 2 K E 12 15 (33.8%) 70 – 79 Baik 60 – 69 Sedang 50 – 59 Kurang Keterangan: (41.3%) 11 (30.3%) 16 (44. Rekapitulasi Predikat Penguasaan Siswa Pada pos test. Eksperimen > Pos (Postes 2) tes 2 kel.25 1.03 79 74.9 95. Kontrol *dilakukan dengan uji t1 Tabel 3.48 1.8%) 10 (27.2%) 1 (2.Posttest test Polusi Air (LKS Eksp.7 X = rata-rata nilai. ngan atara Z Eksperimen hitung & Z tabel Pretes 1.36 80.93 10.8%) 4 (11. Rekapitulasi hasil uji dua rata-rata (Uji kesamaan) Konsep/Sub Uji rata-rata kel.07 11.64 Z hit < Z tab Tidak berbeda secara signifikan Polusi Air Retensi 3.58 8.4 33 52 59 75.27 8. Retensi.9%) 3 (8.4%) 5 (13.25 98. Z hitung Z tabel Hasil perbandi.3%) (8. T = nilai tertinggi.7%) (91.3%) - - .58 81.4 12. dan Retensi Konsep Polusi Air Batas nilai 100-80 Kriteria Sangat baik Pos tes 1 K E 19 21 (52.16 1.) Keterangan: X Sd T R Eksperimen Retensi % Pre-testPos-tes Retensi % Reten-si 1 (Post-test Reten-si 2) (Pos-tes ke-2) 50.64 Z hit > Z tab Berbeda secara signifikan (Pos tes 2 kel.6%) 4 (11.75 8.6 7.3%) Retensi K 33 E 35 (97.5 9.98 50.3%) (58.Keterangan Konsep Kontrol & kel.83 78 100 89 125 67 100 96 116. dan R = nilai terendah Tabel 2.

Hasil retensi siswa kelompok eksperimen memiliki nilai yang lebih tinggi dibanding siswa pada kelompok kontrol.K= kelompok kontrol. pembelajaran dengan menggunakan pertanyaan pengarah antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dalamsub konsep polusi air tidak memiliki perbedaan secara signifikan pada pos tes . . stabil serta terorganisasinya struktur kognitif seseorang. pada struktur kognitif yang tidak stabil. Dalam proses belajar yang bermakna ini terjadi proses mengaitkan informasi baru pada konsep-konsep yang relevan yang terdapat dalam struktur kognitif siswa. Dari hasil uji kesamaan dua rata-rata (tabel 2). Melalui pertanyaan yang mengarahkan. maka struktur kognitif siswa akan lebih terorganisasi. James Deese (1959:253) mengemukakan bahwa salah satu faktor penting yang dapat mempengaruhi retensi siswa adalah taraf belajar (level of learning) seseorang. sebaliknya. (1973:460) berpendapat bahwa taraf belajar menjadi faktor penentu bagi retensi siswa. Pertanyaan baik berupa pertanyaan pengarah maupun pertanyaan biasa merupakan faktor ekstrinsik yang mempengaruhi minat. kabur dan tidak terorganisasi dengan baik cenderung merintangi proses belajar bermakna dan retensi. jelas dan stabil. Pertanyaan yang sifatnya mengarahkan ini merupakan salah satu jenis pertanyaan yang baik (Nuryani Rustaman. Dalam hal ini pertanyaan yang sifatnya mengarahkan telah menuntun siswa dalam menemukan jawaban yang tepat (Moh. 2000:75). maka proses belajar yang bermakna dan retensi akan mudah terjadi pada orang tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran dengan pertanyaan pengarah maupun dengan pertanyaan biasa (tanpa pertanyaan pengarah) sama-sama dapat meningkatkan penguasaan konsep siswa. Lebih jauh lagi Richard Anderson dan Gerald Faust. 1989:159). sikap dan motivasi siswa untuk mengkonstruksikan pengetahuan mereka sehingga terbentuk konsepsi dan meningkatnya pemahaman siswa terhadap konsep yang mereka pelajari (Ratna Wilis Dahar. Dari rata-rata hasil yang diperoleh terhadap retensi dapat disimpulkan bahwa siswa yang menggunakan pertanyaan pengarah dalam pembelajarannya berbeda secara signifikan dibanding siswa yang pembelajarannya menggunakan pertanyaan biasa / pertanyaan bukan pengarah. Menurut Slameto (1995:123) makin jelas. Artinya bahwa hasil pembelajaran menggunakan pertanyaan pengarah unggul dalam hal retensi atau lebih kuat dapat diingat. Peristiwa ini dapat disimpulkan bahwa retensi siswa dengan pembelajaran yang menggunakan pertanyaan pengarah pada lebih baik dibandingkan dengan retensi siswa yang pembelajarannya menggunakan pertanyaan biasa/bukan pengarah. Pembahasan Dilihat dari hasi rata-rata nilai (tabel 1) terdapat peningkatan nilai rata-rata post tes dari pretes. Uzer Usman. namun berbeda signifikan pada retensi (pos tes ke-2). 1999:8) yang dirancang untuk mendorong siswa agar terlibat secara aktif dalam pembelajaran sehingga siswa dirangsang untuk berpikir dan melakukan kegiatan bermakna. dan E = kelompok eksperimen E.

Hasil postes dari kedua pembelajaran variatif berkisar antara kurang dan sangat baik. Selain itu juga pertanyaan yang mengarahkan ini mendorong siswa untuk terlibat secara aktif dalam mengasimilasikan. 1975 (dalam Muhibbin Syah. Peristiwa Lupa merupakan hal yang biasa terjadi pada manusia. Hal ini disebabkan karena terjadinya peristiwa lupa. secara umum jumlah siswa kelompok eksperimen lebih banyak yang menduduki peringkat sangat baik. 1996:305). F. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan penguasaan konsep dan terutama mengingat dengan baik. 1996:102). mengakomodasikan. umumnya sangat baik dan tidak ada perbedaan yang signifikan antara keduanya. Dengan dilakukannya postes 2 dalam jangka selang waktu dimana siswa telah mendapatkan materi yang baru. . lupa merupakan kejadian yang biasa karena keterbatan manusia dalam mengingat. Sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna dan berakibat pada baiknya retensi siswa (Wyne Harlen. Hal ini dapat diartikan bahwa semakin banyak siswa menguasai konsep semakin banyak ia lupa. Kesimpulan Dan Saran 1. Berdasarkan predikat skor pada postes 1. sehingga siswa kemungkinan tidak belajar lagi. karena postes 2 dilaksanakan dalam selang waktu 3 minggu setelah pos tes 1 diberikan. sedangkan pos tes ke-2(tes retensi) tidak diberi tahu.Dari tabel 3 dapat dilihat adanya penurunan rata-rata nilai tes dari postes 2 (retensi) dibanding rata-rata nilai postes 1. mengorganisasikan dan mengkonstruksikan konsep-konsep dalam benak siswa. Kesimpulan Pemberian pertanyaan baik pertanyaan penuntun atau pengarah maupun pertanyaan biasa tanpa penuntun dalam pembelajaran sains (konsep polusi air) pada siswa SMU sama-sama memberikan peranan yang signifikan terhadap kuatnya retensi siswa . retensi siswa juga variatif berkisar antara baik dan sangat baik. pembelajaran yang menggunakan pertanyaan penuntun memberikan dampak terhadap retensi lebih kuat dari pada hasil pembelajaran yang menggunakan pertanyaan biasa dan berbeda secara signifikan. 1996:158). Perbedaan ini disebabkan karena pembelajaran pada kelompok ekperimen menggunakan LKS dengan pertanyaan pengarah yang dapat mempengaruhi proses internal yang terjadi dalam siswa ketika ingatan dimasukkan dan ditahan dalam STM yang kemudian dimasukkan ke dalam LTM (Winkel. Terutama penurunan ini terjadi lebih banyak pada kelompok eksperiemen diabandingkan dengan kelompok kontrol. Selain itu Hilgard dan Bower. umumnya sangat baik. seperti yang dikatakan oleh Robert Travers (1982:1994) “forgetting is normal everyday and constant reminder of our limitations”. baik dan cukup dibandingkan dengan kelompok kontrol. penggunaan memori. Pelaksanaan pos tes 1 diberitahukan sebelumnya kepada siswa sehingga siswa belajar terlebih dahulu menghadapi tes. 1996:160) mengatakan bahwa lupa dapat terjadi karena materi pelajaran yang telah dikuasai tidak pernah digunakan/dihapalkan oleh siswa. maka materi yang baru tersebut akan mengganggu pemanggilan kembali materi yang sudah tersimpan dalam ingatan (Muhibbin Syah. 2 dan persentase retensi (tabel 3). penemuan sendiri. Dengan bantuan pertanyaan pengarah pada LKS eksperimen dapat mengembangkan proses berfikir dan keterampilan proses. Dalam selang waktu tiga minggu. Namun.

J.2: 305-316 . 1973. Psychology for Effective Teaching. Rinehart and Winstron. Graw Hill Book Comp.M. R. 1995. Pertanyaan. 1993. Agar hasil pembelajaran dapat memberi dampak retensi yang kuat. London: Mc.. (271): 117-123. Inc.85. Milton Keyners: Open University Press Mohamad Uzer Usman. Jim Flower and Lou Cohen. 1974. b. maka penelitian yang berkaitan dengan retensi perlu dikembangkan misalnya yang berkaitan dengan faktor internal siswa seperti intelegensi dan faktor eksternalnya seperti jenis materi dan model pembelajaran.J. 1967.M. New York: Renehart and Winston George.C. 1990. Alternatives to Practical Work. Long-term Memory For Knowledge Learned in School. 1999. New York: Harper and Row Publishers Gagne. Renehart and Winston. Teknik Bertanya dan Keterampilan Bertanya. No. 25.2. James Deese. Teaching and The Science of Learning. Jakarta: Gramedia George J. The Psychology of Learning. Mengingat retensi merupakan hal yang penting dari suatu pembelajaran. Bertanya. R. B and Wragg. Dampak Pertanyaan dan Teknik Bertanya Guru Selama PBM IPA Pada Berpikir Siswa. New York: Holt. Journal of Education Psychology. Principoles of Instructional Design. 1993. New York: Holt. 1997. Bandung: Rosdakarya Nuryani Rustaman. Practical Statistics for Field Biology. Saran a. 1985. Menjadi Guru Profesional. dalam pembelajaran guru hendaknya terampil membuat LKS dan memberi pertanyaan pertanyaan untuk siswanya terutama pertanyaan pengarah yang dapat menuntun siswa memahami konsep dengan baik. Semb and Ellis. 1992.. Gagne. R. vol. The condition of Learning and theory of Instruction.M. DAFTAR PUSTAKA Anderson. 1959. Handout Mta Kuliah SBM: Tidak diterbitkan Osborne. School Science Research. Laporan Penelitian: tidak diterbitkan. Ratna Wilis Dahar. and Briggs L.

Jakarta: Gramedia. Journal of Education Psychology vol. Mengingat pada saat ini banyak sikap dari seorang guru tidak lagi mencerminkan sikapnya sebagai seorang pendidik karena adanya berbagai faktor yang mestinya tidak terjadi dalam dunia pendidikan. 1987. Pendidikan menurut hakekatnya memang adalah suatu peristiwa yang mempunyai aspek normatif yang artinya.S. 1992. 1982. 87. E. 1997. New York: Mc. Graw Hill Book Comp. Proses pendidikan berlangsung tidak tanpa alasan dan atau tujuan. Psikologi Pengajaran. tetapi juga dilihat tingkah lakunya dalam kehidupan sehari-sehari oleh anak didiknya. Menyadari bahwa perubahan yang tak disadari dan tak diarahkan lebih banyak memberikan kemungkinan perubahan tingkah laku yang berada di luar titik tujuan. pendidik dan anak didik berlangsung pada ukuran. Pendahuluan Sikap dari seorang guru adalah salah satu faktor yang menentukan bagi perkembangan jiwa anak didik selanjutnya. pendidikan merupakan proses yang berfungsi membimbing pelajar didalam kehidupan. W. Internet Travers. norma atau nilai-nilai yang diyakini sebagai suatu . Wragg. R. karenanya masalah sikap guru dalam mengajar perlu mendapat perhatian kita semua. Jakarta: Rasindo Wynne Harlen.C. Belajar Dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya. Information. London: David Futton Publishers Sikap Mengajar Guru Serta Pengaruhnya dalam Pendidikan Ditulis oleh Sungging Handoko A. Keterampilan Mengajar di Sekolah Dasar.. Karena siikap seorang guru tidak hanya dilihat dalam waktu mengajar saja.3: 468-475 Winkel. Hanya soalnya tidak semua peristiwa belajar itu berlangsung secara sadar dan terarah. The Teaching of Science. Bila mana ditinjau secara luas akan jelas nampak bahwa manusia yang hidup dan berkembang adalah manusia yang selalu berubah dan perubahan itu adalah hasil belajar.. Effect of Keywords on Long-Term Retention: Help or Hindrance?. dalam mencukupi kebutuhan hidup baik sebagai individu maupun sebagi anggota masyarakat. 1997.W. Malahan pada dasarnya lebih banyak hal-hal yang dipelajari manusia dengan tak sadar dan terencana . Jakarta: Rineka Cipta Susan Hanley.Slameto.M. 1995. Yakni membimbing perkembangan diri sesuai dengan tugas-tugas perkembangan tersebut. Wang and Thomas. No. Processing and Learning. Constructivist Theory. bahwa di dalam peristiwa pendidikan. 1987.

A. bahwa manusia bersama-sama dengan manusia lainnya yang memerlukannya. Karena mengingat sikap itu terdapat di dalam diri manusia. belum tentu ia dapat disebut seorang pendidik. Dalam pada itu perlu ditegaskan. Bukanlah dengan mudah dapat dilihat bahwa pendidik mengingini atau menolak sesuatu. Pada dasarnya pendidikan ini sangat penting bagi umat manusia dalam mencapai taraf hidup yang mulia. Karena dengan mencapai pendidikan yang tinggi manusia akan dihormati. Sebab pendidikan ini sangat mempengaruhi kehidupan manusia. Namun dari sikap dan tindakkanya telah mungkin diperoleh suatu gambaran dari seorang pendidik tidak hanya cukup menguraikan tapi harus memperhatikan sifat lahirnya (bentuk). maka pengertian itu relatif adanya. bahwa seseorang yang ingin mempengaruhi orang yang belum dewasa. Adapun sikap itu muncul dalam hubungan antara manusia yang mempunyai hubungan. itu sebabnya mengapa sikap itu tidak dapat dilepaskan dari diri/pribadi pemangku sikap itu. Hanya usaha mempengaruhi yang demikian saja yang dapat disebut “pendidik” dan “mendidik” ialah mempengaruhi dengan maksud mencapai tujuan yang bersesuaian dengan pembentukan pribadi anak. dan memeberi bantuan kepada anak tertuju kepada pendewasaan anak itu atau lebih cepat “membantu anak agar cukup cakap melaksanakan tugas kehidupannya sendiri”. disegani dan dijunjung tinggi martabatnya di masyarakat. maka sikap itupun tergantung pada manusia itu sendiri bagaimana caranya manusia itu menggunakannya dalam kehidupannya sehari-hari. Perasaan bersatu itu dapat merupakan pengikat antara orang tua dan anak. mempengaruhi. bahwa mulanya tidak dapat dilepaskan dari hadirnya pemangku sikap itu sendiri. Dalam sikap seseorang itu selalu terdapat suatu ketegangan antara milik pribadi yang tunduk pada sikapnya dengan perasaan bersatu dengan pemangku kesikapannya. Jadi bukan hanya bersama-sama pada suatu tempat. antara murid dan guru dan dapat juga merupakan rasa kekeluargaan yang berdasarkan kepentingan bersama antara orang-orang yang menurut alamnya bukan satu keluarga dan banyak lagi bentuk lain.yang baik. Sebab sifat yang khas pada seorang pendidik ialah bahwa setiap usaha. Hendaknya turut diperhatikan segala sesuatu yang mengandung arti bagi seorang pendidik atau suatu lingkungan pendidikan. Sikap-sikap dan pengaruhnya dalam pendidikan Kalau kita tinjau pengertian sikap ini. memperoleh/mengharuskan atau memberantas atau sikap tertentu. Walaupunn tidak semuanya dilakukannya menurut suatu rencana tertentu. . Memberi contoh mengenai suatu tindakkan sedang suatu hal yang lain dijauhkan dari alam sekitar anak. Memang ada juga pendidikan yang dilakukan oleh orang tua dengan anaknya dan itu terjadi di rumah. yang mana semuanya ini bersifat memberi bantuan kepada anak dalam perkembangannya mencapai “tujuan hidupnya”. Karena dalam pendidikan ini biasanya dilakukan dalam keadaan sadar antara pendidik dan anak didik.

jangan menggangap. Mengenai sikap di muka kelas perlu diperhatikan hal-hal yang lain. kalau guru ribut kelas akan segera ribut pula. Bergembiralah selalu (sebagai seorang guru harus pandai bermain sandiwara). mereka harus mengidahkan suruhannya. sedang susah namun janganlah kesusahannya itu ditunjukkan kepada murid-murid. mungkin guru. Sikap berpakaian. bersikap tegas berarti begini: kalau guru menyuruh murid-muridnya supaya tenang. Ingat bahwa seorang guru yang ganjil dalam berpakaian dapat menerbitkan geli hati dan celaan muridmurid. Sebaiknya seorang guru berpakaian hendaknya sopan. dan sikap adalah salah satu faktor yang terdapat di dalam diri seseorang. maka hal ini kita bicarakan. Sebenarnya hal ini tidak perlu dibicarakan akan tetapi mengingat keadaan sekarang. Ia merasa bahwa ada sesuatu yang menggelisahkan dan meragukan hatinya dengan sendirinya ia tidak dapat menyatukan segala perhatiannya dan pikirannya pada pelajaran yang sedang ia berikan. Jadi sikap itu sangat berpengaruh dalam diri sesorang. jangan berbicara terlalu keras dan jangan pula berbicara terlalu pelan atau lemah. 2. Karena dengan sikap bahwa orang itu mempunyai yang dapat dipertanggung jawabkan. Bersikap tegas tidak sama dengan bersikap keras. bercakap-cakap dan guru terus melanjutkan mengajar. padahal ia telah membuat persiapan dengan sungguh-sungguh. dimana orang sering sempat berani dan bebas serta progresif dalam hal berpakaian. Jangan bercelana Napoleon atau bergaun you can see di muka kelas. bisa sikap itu berubah bila sikapnya itu dianggap salah olehnya. 1. Kalau mereka belum tenang dan jangan mulai mengajar atau melanjutkan pelajaran. Memang sikap adalah hak seseorang untuk menentukan sesuatu. Sikap-sikap guru dalam mengajar serta pengaruhnya. Bergeraklah dengan tengan dan berbicaralah dengan suara yang sedang dan jangan ribut. Kelas menjadi gaduh. B. jangan terlalu banyak menggunakan gerak-gerak tangan waktu berbicara. Tunjukkanlah semua pertanyaan kepada semua kelas seluruhnya dan baru kemudian tunjukkanlah seorang murid-murid menjawab. Akibatnya seorang guru tidak dapat mengajar dengan tenang. maka percakapan itu akan menjadi menjalar dan kelas akan menjadi gaduh. Sering suasana kelas dipengaruhi oleh sikap guru di muka kelas. sederhana tetapi terpelihara. Bagi seorang guru kita haris berani: . Kerena itu peganglah teguh disiplin kelas. Sikap di muka kelas.Sikap sesorang itu susah dipengaruhi oleh orang lain bila ia telah menentukan sikapnya. berbicaralah dengan tenang dan tegas. Ia makin bertambah bingung dan pelajaran menjadi kacau dan gagal sama sekali. yaitu. kalau murid-murid belum tenang sungguh-sungguh. kalau guru ragu-ragu dan kelas menjadi tentang kalau guru bersikap tegas dan bijaksana. Kalau masih ada murid-murid yang bercanda. Tak usah berpakaian yang gemerlapan atau dari bahan yang sangat mahal. Tetapi tidak dengan begitu saja ia akan merubh sikapnya itu tanpa ia mentelaah lagi kesalahan dari sikapnya itu.

b. . Guru mudah marah menghukum anak. mengeluarkan kata-kata yang kasar yang dapat mematahkan semangat belajar murid. Guru yang kecewa mudah berbuat hal-hal yang tidak baik umpamanya mengejek. Sikap yang mengejek murid. umpamanya: murid yang tidak sopan .a. saling tolong menolong. Banyak anak murid yang menjadi sakit hati dan tak mau berbuat lagi sesuatu. Jangan memberi hukuman badan. d. Dan kata-kata demikian ini secara paedagogis dan psychologis tidak dapat dipertanggung jawabkan. yang tolol. Seorang guru ilmu pasti pernah melemparkan kata-kata demikian kepada seorang murid “meskipun kamu bekajar 10 tahun lagi kamu tak akan mengerti juga”. Lebih berbahaya lagi kalau seorang murid dijadikan sasaran ejekan teman-temannya. Jangan mengajak murid-murid. Karena itu harap sabar. Jangan bersikap putus asa. Asas-asas didaktik teleh diprektekkan Ia mengajar dengan penuh kegembiraan dan enthousianisme. Janganlah guru lekas marah karena itu. f. kata-kata yang demikian dapat membuat murid-murid bersikap acuh tak acuh dan menjadi putus asa. dan sebagainya. murid-murid dapat bekerja bersma-sama. 4. memukulnya dan sebagainya. yang selalu gaduh. Berani memandang tiap-tiap murid. mengejek. Sering guru merasa. Mereka giat bekerja dan merasa suatu keluarga. 3. Sikap yang lekas marah Banyak hal yang dapat mengecewakan guru. mencelanya. hal ini sangat merugikan bagi perkembangan anak murid selanjutnya. yang kotor. karena hasil pengajaran dan pendidikan kita tidak selalu segera kelihatan oleh kita. mencela. namun demikian hasilnya tidak sesuai dengan apa yang diharapkannya. Dalam kelas yang suasananya baik. cintailah muridnurid seperti ibu bapak mencintai anak-anaknya. 5. matanya. Ciptakan suasana kelas yang baik. bahwa ia telah mengajar dengan baik dan sungguh-sungguh. Usahakanlah murid-murid bekerja sendiri. Sikap sabar. e. Anak-anak tidak selalu segera mengerti akan maksud kita dan mengindahkan keinginan kita. Guru selalu kecewa dan kekecewaan yang terus menerus dapat menjadikan guru mudah putus asa. orang yang lekas marah mudah bertindak yang kurang baik. c.

tidak jujur. Guru yang baik. Menurut hemat penulis. atau ia menjadi takut kepada guru. Dan itu membuktikan bahwa tidak ada ketertiban.6. jarang melarang. bukan hak itu tidak jarang dilakukan. Dengan hukuman yang demikian itu murid dapat dirugikan/disakiti karenanya. dan kedua-duanya tidak baik. Murid yang lebih kecil itu biasanya tidak berani melawan. gurupun membutuhkan sejumlah pengetahuan. 8. Ada jenis pekerjaan yang lebih banyak menuntut syarat fisik. Secara personlijk sesungguhnya tidak memberi larangan mutlak. 9. ini adalah suatu bahaya bagi mereka. mereka lekas-lekas mengecap gurunya dengan kata-kata: tidak adil. Suasana kelas akan menjadi lebih buruk karena sikap guru yang demikian. artinya: kalau ia sudah mempertimbangkan hukuman itu masak-masak. Larangan yang banyak dapat menimbulkan kemungkinan besar untuk melanggar peraturan tanpa disadari oleh murid-murid. apakah guru itu bertidak adil dan jujur. mereka lekas melihat. kalau ia sebagai orang tua terhadap anaknya. insinyur. Murid-murid akan lekasa mengerti. guru dilarang memberi hukuman badan. Sikap guru yang bertanggungjawab Sama halnya dengan dokter. Menurut peraturan sekolah. ada yang meminta lebih . metode dan kecakapan dasar lainya yang perlu dapat untuk melaksanakan tugasnya. Yang satu diperlakukan lebih manis dari pada yang lain. bahwa guru memperlakukan mereka tidak sama. bahwa hukuman itu satu-satunya obat yang manjur untuk memperbaiki murid. Sikap yang banyak memberi larangan. sebab biasanya perintahnya dituruti. pilih kasih dan sebagainya. bertanggung jawab penuh atas tindakannya itu. Bersikap jujur dan adil. guru boleh memberi hukuman badan. 7. umpamanya: memukul. Memang masih ada guru-guru yang memberi hukuman badan. dan tidak diberikan untuk membalas dendam. menedang. karena itu jangan banyak melarang. tetapi dalam hatinya timbul rasa tidak senang terhadap guru. melempar dsb. Jadi hukuman itu tidak diartikan pada waktu guru bernyala-nyala marahnya. Memukul murid dengan tongkat kecil. untuk memberi hukuman badan. Guru yang banyak mengadakan larangan membuktukan bahwa perinta-perintahnya tidak dituruti oleh murid-muridnya. Lagi pula kalau guru sudah sering atau biasa memberi hukuman badan ia tidak segansegan memberi hukuman yang lebih berat lagi kepada murid. Larangan biasanya merupakan hal yang tidak menyenangkan bagi murid. dan hukuman yang diberikan sesungguhnya tidak begitu dipertimbangkan. montir. ahli hukum. Sikap yang memberi hukuman badan. Dan mereka sendiri yang diperlakukan lebih manis itu merasa tidak senang akhirnya.

seorang guru harus mempunyai rasa tanggung jawab yang dalam.J. Beknopte Theoretische Paedagogiek. Guru harus menjadi pembimbing dan penyuluh yang segar yang memelihara dan mengarahkan perkembangan pribadi dan keseimbangan mental murid-muridnya. VI Januari 1993 M.33 Thn. Simanjuntak M. Memang dalam mendidik. dituntut memiliki sikap yang tepat sesuai dengan tuntutan tugas profesionalnya sebagai seorang pendidik yang bertanggung jawab. Bahwa sikap guru dalam mendidik memiliki pengaruh terhadap perkembangan jiwa anak didik sehinggaGuru. Dan guru memjadi orang tua mereka di dalam mempelajari dan membangun sistem nilai yang dibutuhkan dalam masyarakat. P. A. Semarang 1995. Baru Jakarta 1996.. Penutup Daripembahasan diatas ini. Langevld. Pedoman Mengajer Oleh Raga Pendidikan Di sekolah Dasar. serta menjadikan murid-muridnya menjadi manusia dewasa susial serta bertanggung jawab moral. diterjemajkan. sosial dan sebagainya. Begitu pula keadaannya dengan tugas mengajar bila ditinjau sebagi tugas yang memperoleh gambaran mengenai jenis pengetahuan dan ketrampilan dasar yang dibutuhkan setiap orang yang mempersiapakan diri untuk terjun dalam bidang ini. . nasco. Jakarta 1989. Salah satu caranya ialah dengan mengamati dan menganalisa berbagai situasi pendidikan. Dengan tidak adany rasa tanggung jawab dari seorang guru maka tidak mustahil bila tujuan pendidikan yang akan dicapai akan tidak tercapai apa yang diharapkan oleh guru itu sendiri maupun oleh orang tua sekolah dan negara. Mashoed. Karena seringkali anak didik akan mencontoh apa-apa yang dilakukan oleh pendidiknya. Memang kenyataan-kenyataan itu membenarkan teori didaktik yang meletakkan berbagai pertanggungan jawab pada pundak seorang guru disamping tugasnya mengajar suatu pengetahuan. Majalah Mahasiswa No. Yang kemudian dianalisa dan dikembangkan melalui sebuah masa pendidikan. Daftar pustaka Abu Ahmad. ada pula pada syarat intelek. Didaktik Metodik. cv. maka dapat diambill beberapa kesimpulan Bahwa pendidikan merupakan unsur yang terpenting dalam kehidupan manusia. Prof. C. Bila seorang guru tidak mempunyai rasa tanggung jawab maka banyak pengaruhnya pada anak didik itu. DR. Dalam pendidikan hendaknya seorang guru harus dapat bertanggung jawab demi masa perkembangan anak didiknya. Bambang Laksono. Toha Putra. Yang menyebabkan perbedaan-perbedaan jenis pekerjan itu adalah tuntutan yang terdapat pada setiap jenis pekerjaan. cv. I.banyak syarat-syarat emosi. Karena dengan tidak adanya rasa tanggung jawab dari guru maka anak didik itu akan berbuat hal-hal yang tidak dibenarkan dalam pendidikan..

yang diterbitkan oleh McGraw-Hill New York tahun 2000. motivasi internal (dan bukan sematamata eksternal). dan tidak efektif. belajar adalah bekerja untuk menemukan cara-cara mempercepat dan mengoptimalkan belajar . Accelerated Learning (A. kontrol birokrasi terpusat. pengotak-ngotakan (orang dan pokok masalah).L. Bandung 1993. Landasan baru didasarkan pada anggapan bahwa pembelajar adalah kreator.L. pada prestasi individu. Yang kita butuhkan adalah landasan yang benar-benar baru. kontrol luar. adanya kegembiraan dan kesenangan dalam belajar. pelatih sebagai pelaksana program. Winarno Surakhmad. dan integrasi belajar yang lebih menyeluruh ke dalam segenap kehidupan organisasi. Dasar Dan Teknik Instraksi Mengajar dan Belajar. Dimana Kita merasa bahwa itulah satu-satunya cara untuk mempersiapkan pelajar menjalani kehidupan yang kering dan membosankan Idealnya Belajar ditandai dengan keterlibatan penuh pembelajar. Alasannya? Belajar bukan lagi persiapan untuk bekerja. FKIP-UNLA 2000. pada kerja sama . dan program pelatihan sebagai proses jalur perakitan. bahwa pembelajaran terutama bersifat verbal dan kognitif. variasi dan keragaman dalam metode belajar. dan tekanan pada format “Saya-bicara-kau-mendengar” (yang juga dikenal sebagai teknik membosankan). satu-ukuran-untuk-semua. fragmentasi.Otang Kardi Saputra. pengondisian behavioristis (hadiah dan hukuman). standardisasi. mengajak kita untuk memperbarui pendekatan kita terhadap pembelajaran untuk memenuhi tuntutan adanya dinamika kebudayaan yang bermetabolisme tinggi ini. Landasan lama didasarkan pada anggapan bahwa pembelajar adalah konsumen. yang dilahirkan pada awal era ekonomi industri. penulis buku The Accelerated Learning Handbook. kerja sama murni.) adalah cara belajar yang alamiah. Accelerated Learning: Pendekatan Baru Pembelajaran Ditulis oleh Eki Baihaki Dave Meier. Tarsito. Sebagai suatu gerakan modern yang mendobrak cara belajar di dalam pendidikan dan pelatihan terstruktur yang muncul kembali sebagai akibat adanya sejumlah pengaruh pada paro kedua abad ke-20. organis bukan sekedar mekanis.) telah dipraktikkan oleh setiap anak yang dilahirkan. cetakan ketiga. akarnya telah tertanam sejak zaman kuno. Revolusi dalam Belajar Kepercayaan-kepercayaan abad kesembilan belas dan awal abad kedua puluh di Barat cenderung membuat pembelajaran muram. Metode-metode belajar konvensional. cenderung menyerupai bentuk dan gaya pabrik: mekanisasi. Dan teknologi canggih atau “teknik-teknik” cerdas apapun yang dibangun di atas landasan lama ini tidak akan dapat membantu memperbaiki permasalahan. Dan perlu melakukan perubahan yang bersifat sistemis bukan bersifat kosmetik . lamban. (A. Belajar dan Pembelajaran .

Tugas pendidikan dan pelatihan adalah mempersiapkan orang untuk menghadapi dunia yang relatif sederhana. Buku itu mengundang perhatian banyak pendidik dan guru yang sedang mencari pendekatan belajar yang lebih efektif. dan permainan kanak-kanak memungkinkan pelajar untuk belajar jauh lebih cepat dan jauh lebih efektif. dan program belajar yang menyediakan lingkungan belajar yang kayapilihan dan cocok untuk seluruh gaya belajar. Kita harus membebaskan kecerdasan setiap orang yang unik dan bukan menindasnya atas nama staandardisasi atau “budaya perusahaan”. Dia mendapati bahwa kombinasi musik. Di setiap tingkatan. Kabar mengenai temuannya menyulut imajinasi guru bahasa dan pendidik di mana-mana. Dengan disponsori pemerintah Bulgaria. Lynn Schroeder dan Sheila Ostrander menerbitkan sebuah buku berjudul Superlearning yang mengemukakan karya psikiater Bulgaria. Belajar pada Abad Kesembilan Belas Cita-cita pendidikan abad kesembilan belas (yang masih mempengaruhi pemikiran banyak orang sekarang ini) adalah melatih orang dalam perilaku lahiriah yang didefinisikan secara sempit. kesalingterkaitan. yaitu dunia tempat setiap orang harus mengerahkan seluruh kekuatan pikiran dan hati mereka sepenuhnya dan bertindak berdasarkan kreativitas yang penuh kesadaran . kini kita harus menghasilkan “tokoh orisinal” yang dapat mengerahkan sepenuhnya energi mereka yang potensial dan menjanjikan. Kesulitannya sekarang adalah bahwa dunia semacam itu tidak ada lagi. statis. tugas pendidikan dan pelatihan adalah mempersiapkan orang untuk hidup di dunia yang pasang surut. banyak pasien tersebut mengalami kemajuan besar. Pendekatan Lozanov Pada 1970-an. (Dia menyebut ini “cadangan pikiran yang tersembunyi”. kita semua harus menjadi inovator. bukan sesuatu yang mudah diramalkan dan tidak membutuhkan pikiran. Keadaan sudah tidak seperti dahulu lagi. dengan menggunakan bahasa asing sebagai materi subjek. Belajar pada Abad Kedua Puluh Satu Kini. agar dapat memperoleh hasil standar yang dapat diramalkan. belajar sebagai aktivitas seluruh pikiran/tubuh. Yang dicari: membuat perilaku sejalan dengan produksi dan pemikiran rutin.dan prestasi kelompok. Bukannya menghasilkan manusia “fotokopi” seperti pada abad ke 19. Dia merasa telah menemukan cara untuk melangkah masuk ke dalam sesuatu jauh di lubuk jiwa yng lebih dalam daripada kesadaran rasional. Lozanov mendapati bahwa dengan menenangkan pasien psikiatri dengan musik barok dan memberi mereka sugesti positif mengenai kesembuhan mereka. dan dapat diramalkan. dan kita lamban menyadarinya. dia mulai melakukan penelitian mengenai pengaruh musik dan sugesti positif pada pembelajaran. Pendekatan belajar ini mengharuskan penumpulan diri seseorang sepenuhnya. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Accelarated Learning . sugesti.) Lozanov merasa metode ini juga dapat diterapkan pada pendidikan. Georgi Lozanov.

6. Runtuhnya Behaviorisme sebagai psikologi yang dominan dalam pembelajaran telah mendorong timbulnya keyakinan-keyakinan dan praktik-praktik yang lebih manusiawi dan holistis. kreatif. dan Gerakan Sekolah Bebas pada 1960-an. Gerakan Pendidikan Confluent yang dimulai pada 1940-an. memakai “otak kiri”. 7. dan bersifat mengasuh pada aktivitas belajar. metode. langkah-demi-langkah) dan bangkitnya fisika kuantum telah memberi kita apresiasi baru terhadap kesalingterkaitan dari segala sesuatu dan terhadap hakikat realitas yang nonlinear. 3. Ilmu kognitif modern. indra. telah mempertanyakan banyak asumsi lama kita mengenai pembelajaran.Banyak faktor lain telah memberikan sumbangan pada perkembangan yang mantap dan berlangsung terus-menerus dalam filosofi. kolaboratif. 5. dan gerakan Sekolah Summerhill di Inggris yang dipimpin oleh Alexander Sutherland Neill. rasional. Tumbangnya pandangan-dunia Newtonian (bahwa alam bekerja seperti mesin. Pengetahuan bukanlah sesuatu . dan “hidup”. seluruh tubuh. Bukan Mengonsumsi. 1. 4. semua indra. dan segenap kedalaman serta keluasaan pribadi (yang disebut oleh Lozanov “cadangan pikiran yang tersembunyi”). Prinsip-prinsip Accelerated Learning.L. Ini telah menantang secara serius gagasan kita mengenai pendidikan dan pelatihan formal sebagai proses jalur perakitan atau ban-berjalan. Belajar tidak hanya menggunakan “otak” (sadar. linear. Evolusi yang berlangsung lambat laun (namun tidak sempurna) dari kebudayaan yang didominasi pria menjadi kebudayaan yang menyeimbangkan perasaan pria dan wanita memungkinkan berkembangnya pendekatan yang leih lembut. terutama penelitian mengenai otak dan belajar. nonmekanistis. Sekolah Waldorf oleh Rudolph Steiner. Penelitian tentang gaya belajar menunjukkan orang belajar dalam cara yang berbeda-beda dan satu jenis belum tentu tepat untuk semua orang. dan aplikasi A. secara otomatis patuh pada proses yang mandiri. Belajar Melibatkan seluruh Pikiran dan Tubuh. Penelitian mutakhir menunjukkan bahwa belajar yang paling baik melibatkan emosi. Yang juga berpengaruh besar adalah Sekolah Montessori yang didirikan oleh Maria Montessori. Beberapa gerakan paralel pada abad ke-20 telah mendukung hidupnya berbagai pendekatan pendidikan alternatif: Gerakan Sekolah Progresif yang dimulai pada 1920an. 2. dan verbal). diantaranya : 1. tetapi juga melibatkan seluruh tubuh/pikiran dengan segala emosi. 2. dan sarafnya. Belajar adalah Berkreasi. Lenyap sudah pendapat bahwa belajar itu semata-mata aktivitas verbal dan “kognitif”. Kebudayaan dan keadaan di tempat kerja yang selalu berubah telah membuat banyak metode pendidikan dan pelatihan menjadi lamban dan usang dan telah membuka pintu bagi pendekatan alternatif. Gerakan Pendidikan Humanistis yang dimulai pada 1950-an.

melainkan menyerap banyak hal sekaligus. Belajar Berasal dari Mengerjakan Pekerjaan Itu Sendiri (dengan Umpan Balik). dan menarik hati. 7. santai. Belajar secara harfiah adalah menciptakan makna baru. menyakitkan. dan menerjunkan diri kembali. Aspek Ekonomi dalam Pendidikan Ditulis oleh Cucu Lisnawati Penulis: Cucu Lisnawati. Kerja Sama Membantu Proses Belajar. Belajar bukan hanya menyerap satu hal kecil pada satu waktu secara linear. Belajar paling baik adalah dalam konteks. Kita belajar berenang dengan berenang. Pengalaman yang nyata dan konkret dapat menjadi guru yang jauh lebih baik daripada sesuatu yang hipotetis dan abstrakasalkan di dalamnya tersedia peluang untuk terjun langsung secara total. Perasaan negatif menghalangi belajar.yang diserap oleh pembelajar. indra. melainkan sesuatu yang diciptakan pembelajar. Otak-Citra Menyerap Informasi secara Langsung dan Otomatis. Persaingan di antara pembelajar memperlambat pembelajaran. Emosi Positif Sangat Membantu Pembelajaran. Hal-hal yang dipelari secara terpisah akan sulit diingat dan mudah menguap. Suatu komunitas belajar selalu lebih baik hasilnya daripada beberapa individu yang belajar sendiri-sendiri. cara bernyanyi dengan bernyanyi. melainkan prosesor paralel. otak bukanlah prosesor berurutan. jalan dalam sistem total otak/tubuh seseorang. Pembelajaran yang baik melibatkan orang pada banyak tingkatan secara simultan (sadar dan bawah-sadar. mendapatkan umpan balik. Gambar konkret jauh lebih mudah ditangkap dan disimpan darpada abstraksi verbal. cara menual dengan menjual. dan bersuasana muram tidak dapat mengungguli hasil belajar yang menyenangkan. S. Perasaan menentukan kualitas dan juga kuantitas belajar seseorang. cara mengelola sesuatu dengan mengelolanya. Pembelajaran terjadi ketika seorang pembelajar memadukan pengetahuan dan ketrampilan baru ke dalam struktur dirinya sendiri yang telah ada. Belajar yang penuh tekanan. (dosen tetap pada Universitas Langlangbuana di Bandung). dan pola interaksi elektrokimia baru di dalam sistem otak/tubuh secara menyeluruh.Pd. Semua usaha belajar yang baik mempunyai landasan sosial. dan cara memperhatikan kebutuhan konsumen dengan memperhatikan kebutuhannya. mental dan fisik) dan memanfaatkan seluruh saraf reseptor. jaringan saraf baru. . 4. merenung. Perasaan positif mempercepatnya. dan otak akan berkembang pesat jika ia ditantang untuk melakukan banyak hal sekaligus 5. Kita biasanya belajar lebih banyak dengan berinteraksi dengan kawan-kawan daripada yang kita pelajari dengan cara lain manapun. Bagaimanapun juga. 3. Kerja sama di antara mereka mempercepatnya. Menerjemahkan abstraksi verbal menjadi berbagai jenis gambar konkret akan membuat abstraksi verbal itu bisa lebih cepat dipejari dan lebih mudah diingat. Sistem saraf manusia lebih merupakan prosesor citra darpada prosesor kata. 6. Pembelajaran Berlangsung pada Banyak Tingkatan secara Simultan.

Ukuran-ukuran Kontribusi Pendidikan Terhadap Pembangunan dan Pertumbuhan Ekonomi Bagaimanakan keterkaitan pendidikan dan pertumbuhan ekonomi? Secara sederhana. kita tidak dapat melepaskan diri dari masalah pembangunan. yang secara jangka panjang kontribusinya dapat dirasakan. A.Abstrak: Masalah pendidikan sebenarnya tidak dapat dilepaskan dari masalah ekonomi. investasi dalam pendidikan. Kata Kunci: Ekonomi pendidikan. Baik secara langsung maupun tidak langsung. Untuk menjawab hal tersebut di atas. Konsep pembangunan dalam bidang sosial ekonomi sangat beragam tergantung konteks pengggunaanya. kontribusi pendidikan terhadap ekonomi dan pembangunan harus diakui. yang kemudian dikenal dengan istilah Invesment in Human Capital. Dengan demikian. Ahli-ahli ekonomi mengembangkan teori pembangunan yang didasari kepada kapasitas produksi tenaga manusia di dalam proses pembangunan. jawaban atas pertanyaan tersebut dapat digambarkan berikut ini. Sudah saatnya. tidak selamanya pendidikan dianggap sebagai konsumsi atau pembiayaan. pembiayaan dalam pendidikan. Selain itu dihipotesiskan pula bahwa faktor utama yang mendukung . Teori ini didasari pertimbangan bahwa cara yang paling efisien dalam melakukan pembangunan nasional suatu negara terletak pada peningkatan kemampuan masyarakatnya. pendidikan harus dipandang sebagai investasi.

Adannya sumber daya manusia yang dapat memanfaatkan teknologi yang ada. 6. Diantara ukuran-ukuran tersebut. Menurut teori ini pertumbuhan dan pembangunan memiliki 2 syarat. Asumsi dasar yang melandasi keharusan adanya hubungan pendidikan dengan penyiapan tenaga kerja adalah bahwa pendidikan diselenggarakan untuk meningkatkan keterampilan dan pengatahuan untuk bekerja. yaitu 1. Kepuasaan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat. Terdapat berbagai macam faktor untuk mengukur bagaimana pertumbuhan ekonomi diukur dengan baik. Pola keterkaitan antara pendidikan dan pembangunan berbeda sesuai dengan . Teori human capital mengasumsikan bahwa pendidikan formal merupakan instrumen terpenting untuk menghasilkan masyarakat yang memiliki produktifitas yang tinggi. Perubahan peta ketenagakerjaan dari pertanian ke industri 3. Pendapatan per-kapita 2. yang dikaitkan dengan penggunakan sumber daya yang terbatas. tetapi sekolah bukan satu-satunya tempat dimana keterampilan itu dapat dicapai.pembangunan adalah pendidikan masyarakat. Namun demikian pada kenyataannya tingat pengangguran di hampir seluruh negara bertambah sekitar 2 % setiap tahunnya (World Bank:1980) Terjadinya pengangguran bukan disebabkan tidak berhasilnya proses pendidikan. Peningkatan dalam efisiensi sistem produksi masyarakat yang diukur dengan GDP dan GNP. 5. Sekolah memang dapat menghasilkan tenaga kerja dengan keterampilan tertentu. Adanya pemanfaatan teknologi tinggi secara efisien. dan 2. telepon. pendidikan menyiapkan tenaga-tenaga yang siap bekerja. Dengan kata lain. Sumber daya manusis seperti itu dihasilkan melalui proses pendidikan. Hal inilah yang menyebabkan teori human capital percaya bahwa investasi dalam pendidikan sebagai investasi dalam meningkatkan produktivitas masyarakat. diantaranya: 1. Pencapaian tujuan-tujuan oleh berbagai kelompok dalam masyarakat. namun pendidikan tidak selalu harus menghasilkan lulusan dengan jenis pekerjaan tertentu. Konsumsi energi atau pemakaian barang berteknologi tinggi seperti mobil. televisi Dengan demikian kriteria untuk menilai keberhasilan pembangunan: 4.

sebagai akibat dari kelebihan pendapatan setelah dikurangi kebutuhan konsumsi.karakteristik khas setiap negara. memiliki konteks yang berbeda dalam mengitepretasikan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan. 2. dengan memperhatikan kerangka berpikirnya dan metodologinya. persentase pekerja yang bekerja di sektor industri sebesar 33 % dan di bidang jasa/service sebesar 66 %. pemakaian teknologi yang canggih. sehingga jumlah tabungan semakin lebih besar dan pada akhirnya akan diinvestasikan lagi pada sistem ekonomi yang telah berjalan. Metode yang sering dipakai dalam penelitian evaluasi adalahl linear regresion and the educational production. maka dapatlah dirumuskan ukuran-ukuran sebagai berikut. Dari uraian di atas. Di negara maju memiliki akumulasi modal yang lebih besar. Di negara maju. Hubungan antara pendidikan dan pembangunan di negara maju sangat jelas dilihat dari adanya perubahan karakteristik individu yang berkaitan dengan tingkat pertumbuhan ekonomi. Negara Kapitalis vs Negara Sosialis. 1. Negara Industri vs Non-Industri. Teknologi tinggi dan sumberdaya yang mengoperasikannya 2. Pemerintah memiliki peranan di dalam mengontrol jalannya proses produksi dan pemasaran. Di Amerika Serikat yang sudah maju. perekonomiannya sangat tergantung kepada sektor pertanian sehingga persentase tenaga kerjanya lebih banyak yang bekerja di sektor non-industri. 1. penduduknya memiliki pendapatan perkapita yang lebih tinggi. Secara ringkas tampak berikut ini. Di Meksiko persentase di sektor yang sama adalah 23 % dan 33 %. Ekonomi di negara kapitalis mengasumsikan bahwa model produksinya bebas dari intervensi pemerintah dan mensyaratkan adanya kompetisi terbuka di dalam pemasaran. Berdasarkan hal tersebut di atas. Hubungan antara pendidikan dan pertumbuhan ekonomi sangat erat dan pendidikan merupakan suatu hal yang diperlukan. Salah satu alasan banyaknya kontroversi tentang kaitan antara pembangunan dan pendidikan disebabkan karena sedikit sekali kebijakan pendidikan yang dimonitor benar-benar dan juga dievaluasi hasilnya. Kaitan antara pendidikan dengan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan seolah tidak terlihat karena pembangunan sangat diatur oleh negara. Perubahan peta ketenagakerjaan dari pertanian ke industri 4. Sebenarnya konsep bagaimana pendidikan itu harus dievaluasi harus dikembangkan sejak tujuannya ditetapkan. konsumsi energi yang lebih besar dibandingkan negara kurang berkembang. Analisis terhadap pendidikan biasanya bersifat ex-post fakto. Pendapatan per-kapita 3. maka untuk membicarakan lebih lanjut kontribusi pendidikan terhadap pembangunan harus ditemukan kriteria-kriteria atau ukuranukuran pertumbuhan atau hasil pembangunan. Ekonomi di negara sosialis. Konsumsi energi atau pemakaian barang berteknologi tinggi . bukan ditentukan oleh masing-masing warga negara. artinya data diperoleh dari kejadian-kejadian yang telah lampau. Di negara non-industri. Jelas bagaimana pentingnya analisis kontribusi pendidikan dalam pembangunan.

Hal ini berarti bahwa inti pendidikan itu adalah pembelajaran seumur hidup (life long learning). Berdasarkan ukuran tersebut di atas. Peningkatan dalam efisiensi sistem produksi masyarakat yang diukur dengan GDP dan GNP 6. sementara bentuk pendidikan formal. Kenneth J. Arrow (1962) mengemuikakan bahwa istilah investasi atau investment merupakan alokasi current resources yang mempunyai alternatif produktif yang berguna untuk pelaksanaan kegiatan yang dapat menambah keuntungan yang diperoleh di masa yang akan datang. Dalam konteks ini pendidikan ini diapandang sebagai industri pembalajaran manusia. Oleh sebab itu maka hasil pendidikan akan menjadi sumber daya manusia yang sangat berguna dalam pembangunan suatu negara. baik dalam bentuk Pendapatan Nasional Bruto. Pendapatan Domestik Bruto. 1. yang dikaitkan dengan penggunakan sumber daya yang terbatas. maka untuk mengetahui keterkaitan antara pendidikan dan pembangunan diperlukan data sebagai berikut. baik berupa uang atau modal maupun dalam bentuk barang atau jasa. Dengan demikian maka investasi dalam . artinya melalaui pendidikan dihasilkan manusia-manusia yang mempunyai kemampuan dan keterampilan yang sangat diperlukan bagi perekonomian suatu negara untuk meningkatkan pendapatanindividu dan pendapatan nasional. Pencapaian tujuan-tujuan oleh berbagai kelompok dalam masyarakat. Perubahan peta ketenagakerjaan. Modal atau uang yang ditanamkan bertujuan untuk mendapatkan keuntungan. Dengan demikian jelas bahwa investasi merupakan penanaman modal atau uang yang sengaja dilakukan untuk mendatangkan keuntungan melalui produk yang dihasilkan. maupun Pendapatan Perkapita 3. Kepuasaan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat 7. Pendapatan nasional. yang meliputi partisipasi pendidikan untuk setiap jenis dan jenjang pendidikan 2. Investasi dalam pendidikan merupakan penanaman modal dengan cara mengalokasikan biaya untuk penyelenggaraan pendidikan serta mengambil keuntungan dari sumber daya manusia yang dihasilkan melalui pendidikan itu. Sementara itu pendidikan merupakan usaha manusia untuk membangun manusia itu sendiri dengan segala masalah dan spektrumnya yang terlepas dari dimensi waktu dan ruang. Pendidikan di sini dimaksud untuk meningkatkan martabat manusia agar mempunyai ketermapilan dan kemampuan sehinggan produktivitasnya meningkat. Biaya atau cost suatu investasi merupakan keuntungan yang diperoleh dibagi dengan penggunaan sumber daya dalam berbagai kegiatan lain. dengan rentangan pertanian-jasa-industri 4.5. Konsumsi energi A. Konsep Investasi dalam Pendidikan Investasi berarti penanaman modal atau uang. pendidikan non formal (luar sekolah) dan sebagainya hanya merupakan modus operandi dari proses pendidikan. Pendidikan.

Model yang dimaksudkan adalah model analisis biaya dan keuntunganpendidikan (cost benefit analysis). yaitu: 1.pendidikan mempunyai jangka waktu yang panjang untuk dapat mengetahui hasilnya dan hasilnya itupun tidak dalam bentuk keuntungan lansung. Investasi dalam pendidikan memusatkan perhatian pada manusia sebagai sumber daya yang akan menjadi modal (human capital) bagai capital (Gary S. kualitas manusia dan pendapatan nasional. melainkan keuntungan bagi pribagi yang menerima pendidikan dan bagi negara. Apabila dalam setiap sektor ekonomi kita dapatkan segala faktor yang dibutuhkan masyarakat kecuali tenaga kerja yang terampil. Human capital di sini merujuk pada tenaga kerja sebagai suatu faktor produksi yang menghubungkan aspek non-ekonomi pendidikan terhadap aspek ekonomi lainnya yang mempunya dua ciri esensial. 2. Sistem pendidikan menyiapkan landasan yang tepat bagai pembangunan dan hasilhasil rises (jaminan melekat untuk pertumbuhan masyarakat modern yang berkesinambungan). 2. Dalam kaitan ini. Ace Suryadi (1991) mengungkapkan bahwa menurut teori human capital yang tercermin dalam keterampilan. Backer. 3. maka investasi dalam sektor pendidikan akan menaikan pendapatan perkapita dalam sektor tersebut. Kualitas tenaga kerja sebagai suatu input produktif tidak dapat dibagi dan digunakan secara terpisah. 4. 1991: 14). Model ini merupakan metodologi yang sangat penting dalam melakukan analisis untuk investasi pendidikan dan dapat membantu pengambilan keputusan untuk . Sistem pendidikan menciptakan dan mempertahankan penawaran ketermapilan manusia di pasar pemburuhan yang luwes dan mampu mengakomodasi dan beradaptasi dalam hubungannya dengan perubahan kebutuhan akan tenaga kerja dan masyarakat teknologi modern yang sedang berubah (Komaruddin. pengetahuan dan produktivitas kerjanya. kecuali bila struktur sosial yang hidup dalam masyarakat tersebut tidak menguntungkan. 1962) berkenaan dengan kegiatan-kegiatan yang mempengaruhi real income masa yang akan datang melalui penempatan sumber daya dalam bentuk manusia. Kemampuan tenaga kerja tersebut tidak dapat dipindahkan kepada orang lain. Proses belajar mengajar menjamin masyarakat yang terbuka (yaitu masyarakat yang senantiasa beresedia untuk mempertimbangkan gagasan-gagasan dan harapanharapan baru serta menerima sikap dan proses baru tanpa harus mengorbankan dirinya). Investasi pendidikan dapat mempertahankan keutuhan dan secara konstan menambah persediaan pengetahuan dan memungkinkan riset dan penemuan metode serta teknik baru yang berkelanjutan. Sebagai fungsi investasi. terutama dalam hal-hal berikut: 1. Lebih lanjut dikemukakannya bahwa ada model investasi dalam bentuk sumber daya manusia yang secara langsung atau tidak melakukan hubungan antara indikator pendidikan di satu pihak dan indikator ekonomi di lain pihak. pendidikan memberikan sumbangan yang berarti dalam kenaikan tingkat kehidupan.

Menurutnya. bahwa pendidikan memiliki suatu kemampuan untuk menyiapkan siswa menjadi tenaga kerja potensial. yang ditunjukan dengan meningkatnya jumlah tabuhan yang berasal dari pendapatan yang disisihkan. korelasi antara pendidikan dengan pendapatan tampak lebih signifikan di negara yang sedang membngun. B. dan konsumsi. Jones melihat. untuk kemudian akan meningkatkan pendapatan dan taraf hidup masyarakat berpendapatan rendah. distribusi. Di samping tenaga kerja. yang secara langsung akan meningkatakan pendapatan nasional. midle. Pendidikan dan Pertumbungan Ekonomi Mungkinkah ada intervensi pendidikan terhadap pertumbuhan ekonomi? Pendidikan memiliki daya dukung yang representatif atas pertumbuhan ekonomi. yang kemudia akanmeningkatakan pendapatannya. Sementara itu Jones (1984) melihat pendidikan sebagai alat untuk menyiapkan tenaga kerja terdidik dan terlatih yang sangat dibutuhkan dalam pertumbuhan ekonomi suatu negara. atau secara ekstrim tenagra kerja krah biru dan krah putih. Permasalahan yang dihadapai adalah jarang ada ekuivalensiyang kuat antara pekerjaan dan pendidikan yang dibutuhkan yang mengakibatkan munculnya pengangguran terdidik dant erlatih. Prediksi ketenagakerjaan sebagai dasar dalam perencanaan pendidikan harus mengikuti pertumbuhan ekonomi yang ada kaitannya dengan kebijaksanaan sosial ekonomi dari pemerintah. Ia harus mampu memprediksi dan mengantisipasi kualifikasi pengetahuan dan keterampilan tenaga kerja. dan menjadi lebih siap latih dalam pekerjaannya yang akan memacu tingkat produktivitas tenaga kerja. dan low management. Oleh karena itu. Intervensi terhadap fungsi produksi berupa penyediaan tenaga kerja untuk berbagai tingkatan yaitu top. karena pranata ekonomi membutuhkan tenaga-tenga terdidik dan terlatih. Tyler (1977) mengungkapkan bahwa pendidikan dapat meningkatkan produktivitas kerja seseorang. Sementra itu Vaizey (1962) melihat pendidikan menjdi sumber utama bakat-bakat terampil dan terlatih. pendidikan perlu mengantisipasi kebutuhan. Pendidikan memegang peran penting dalam penyediddan tenaga kerja. Peningkatan pendapatan ini akan mendorong pada peningkatan fungsi konsusmsi. juga pendidikan mengintervensi produksi untuk penyediaan entrepreneur tangguh yang mampu mengambil resiko dalam inovasi teknologi produksi. Peningkatan pendapatan ini berpengaruh pula kepada pendapatan nasional negara yang bersangkutan. Intervensi pendidikan terhadap ekonomi merupakan upaya penyiapan pelaku-pelaku ekonomi dalam melasnakan fungsi-fungsi produksi. Bentuk intervensi lain yaitu menciptakan teknologi baru dan menyiapkan orang-orang yang menggunakannya.memutuskan danmemilih diantara alternatif alokasi sumber-sumber pendidikan yang terbatas agar mampu memberikan kemampuan yang paling tinggi. Tabungan ini akan menjadi investasi . Intervensi terhadap fungsi konsumsi dilakukan melalui peningkatan produktivitas kerja yang akan mendorong peningkatan pendapatan. Program-program perluasan produksi melalui intensifikasi dan rasionalisasi merupakan salah satu wujud nyata dari peran prangata pendidikan atas fungsi produksi ini. Intervensi terhadap fungsi distribusi adalah melalui pengembangan research and development produk yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan masyarakat atau konsumen. Ini harus menjadi dasar untuk perencanaan pendidikan.

tingkat pendalaman agama. Pendidikan merupakan suatu bentuk investasi nasional untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang dibutuhkan dalam pertumbuhan ekonomi modern. Kata Kunci: Konflik sosial. . Meningkatakan suplai tenaga kerja dengan keahlian tinggi dan konsekuensinya terhadap rendahnya gaji mereka. Pendidikan dan Konflik Sosial Ditulis oleh Elly Retnaningrum Penulis: Dra. C. Investasi pendidikan diharapkan menghasilkan suatu peningkatan kesejahteraan dan kesempatan yang lebih luas dalam kehidupan nyata. menginkatkan tingkat pendidikan pekerja berpenghasilan rendah akan memberikan tiga pengaruh positif. Pertentangan antar kelompok masyarakat telah menjurus pada gejala-gejala disintegrasi bangsa. tingkat pendidikan. Pendidikan dan Pekerjaan Ukuran yang paling populer dalam melihat kontribusi pendidikan terhadap pertumbuhan ekonomi adalah mempertautkan antara pendidikan dengan pekerjaan. baik di keluarga. dan 3. (dosen tetap pada Universitas Langlangbuana di Bandung). Menciptakan kekurangan pekerja berkeahlian rendah dengan konsekuensi mengingkatkan gaji pekerja golongan ini. Salah satu aspek yang subtansial adalah pengenalan dan penanaman nilai-nilai kebenaran dan kesalahan atau kebaikan dan keburukan yang terdapat dalam suatu tindakan.Pd. Kondisi yang digambarkan tersebut menggiring ke arah perlunya mempedulikan persoalan moralitas secara lebih serius. sekolah maupun masyarakat. Abstrak: Sebagian dari akar permasalahan dari konflik sosial adalah kondisi sosialekonomi-politik. Ini mengimplikasikan perlunya pembenahan yang serius pada wilayah moral. Dan ini bisa dilakukan melalui pendidikan. M. yaitu: 1. Sebagai ilustrasi. Meningkatkan produktivitas kerja dan konsekuensinya terhadap pendapatan 2. dan 2. Elly Retnaningrum. Hj. yaitu: 1.kapital yang tentunya akan lebih mempercepat laju pertumbuhan ekonomi suatu negara. pendidikan dalam keluarga. Pemikiran ini muncul pada era industrialisasi dalam masayarkaat modern. yang berujung pada bentrokan fisik dengan atau tanpa senjata. Pemikiran ini didasarkan pada anggapan bahwa pendidikan merupakan human capital. terbentuknya mentalitas dan moralitas yang dilandasi ketidakdewasaan perilaku sosial psikologis. Argumen ini memiliki dua sepek. lingkungan yang ada dalam masyarakat itu sendiri kurang kondusif.

yang hingga saat ini nampaknya masih belum beranjak dari masa transisi. baik kepentingan yang berhubungan dengan karir atau petualangan politik maupun sekadar keuntungan ekonomi.baik yang bernuansa SARA maupun tidak-. bukankah jumlah orang yang menjalankan perintah agamanya masing-masing relatif lebih tinggi apabila dibandingkan dengan yang tidak? Apakah kegiatan spiritual yang selama ini marak tidak lebih dari seremonial ritual tanpa pendalaman hakikat? Tidak mudah memang menjawab sederet pertanyaan tersebut. atau "perang" antarpelajar di Bogor belakangan ini telah menorehkan guratan luka psikologis-sosial dalam lintasan sejarah peradaban masyarakat Indonesia pasca Orde Baru. Apalagi ada pihak-pihak tertentu yang "mengobok-obok" dengan memancing di air keruh memanfaatkan situasi sesuai dengan kepentingan primordialnya. yang apabila dirunut lebih lanjut akan bermuara pada kegagalan praksis pendidikan dalam masyarakat. Akar permasalahan Mencermati pelbagai konflik sosial yang merebak belakangan ini. Konflik sosial yang telah mengorbankan nyawa dan harta benda seperti yang terjadi di Ambon. Tapi setidaknya kita dapat mengkaji kemungkinan yang memicu kejadian-kejadian yang mencoreng muka bangsa Indonesia di mata dunia internasional itu. kondisi sosial-ekonomi-politik yang sudah menjurus pada chaos telah membentuk sikap dan perilaku masyarakat yang sulit diduga. Ketiga. Bukankah kegiatan-kegiatan yang sifatnya spiritual dapat dikatakan marak dan frekuensinya cukup tinggi? Apabila dilihat secara sepintas. dari perspektif pendidikan selalu terlontar pertanyaan: adakah kaitan antara pelbagai pertentangan antarkelompok masyarakat itu-.dengan tingkat pendidikan masyarakat? Mengapa sebagian masyarakat mudah sekali tersulut isu-isu yang tidak tidak dapat dijamin kesahihannya? Apakah ini bertemali erat dengan tingkat pendidikan masyarakat? Rasanya memang kita sulit untuk percaya semua itu dapat terjadi. Maraknya konflik sosial yang terjadi mengisyaratkan adanya sesuatu yang salah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita. beberapa asumsi dapat diketengahkan untuk lebih memahami akar permasalahannya.Ini telah menjadi 'cara pemecahan masalah' bagi sebagian masyarakat di negeri yang sesungguhnya sangat menjunjung tinggi rasa kemanusiaan serta persatuan dan kesatuan bangsa. Lebih jauh. Pertama. Ini sungguh ironis terjadi dalam masyarakat yang berfalsafah hidup Pancasila. tingkat pendidikan sebagian masyarakat yang kurang menyebabkan mudah sekali tersulut isu-isu yang tidak bertanggung jawab dan provokasi-provokasi (baik yang terorganisir maupun yang spontan) dari pihak-pihak yang memanfaatkan situasi untuk memecah belah dan mengambil keuntungan politis dari situasi itu. Kedua. kondisi ini mengakibatkan munculnya . tingkat pendalaman agama yang lebih mengutamakan dimensi ritual seremonial telah menyebabkan kurang terinternalisasikannya nilai-nilai keagamaan dalam pribadi kolektif masyarakat. Tatkala kerusuhan bermunculan di pelbagai kawasan nusantara ini. Sambas.

Mengendurnya kontrol sosial serta langkanya figur yang dapat dijadikan panutan perilaku yang berlandaskan pada kebenaran agaknya dapat dijadikan sebagai salah satu alasan untuk lebih mempedulikan pendidikan moral. ketiga kondisi tersebut pada gilirannya menggiring ke arah terbentuknya mentalitas dan moralitas yang dilandasi ketidakdewasaan perilaku sosial psikologis. Antisipasi Kondisi yang digambarkan tersebut menggiring ke arah perlunya mempedulikan persoalan moralitas secara lebih serius. perlu juga dibiasakan untuk secara langsung mempraktikkan kegiatan-kegiatan yang sifatnya sosial. Untuk mengantisipasi kondisi itu. yang tidak jarang memunculkan konflik kepentingan dan konflik sosial dalam arti luas. Keempat. masyarakat mudah sekali menghujat kesalahan orang lain hanya berdasarkan isu-isu bahwa tokoh yang bersangkutan adalah figur yang memang layak dihujat. Fungsi guru dalam konteks ini adalah sebagai pendidik moral bagi murid-muridnya agar dapat berpihak pada kebenaran dan keharmonisan hidup antarsesama. Selain itu. Sejalan dengan perubahan yang sangat cepat dalam pelbagai dimensi kehidupan belakangan ini. Ini mengimplikasikan perlunya pembenahan yang serius pada wilayah moral. maka penguatan landasan moral menjadi kebutuhan utama. . Dan yang lebih mendasar. Akibat lebih jauh adalah keengganan mengulurkan bantuan karena telah tumpulnya rasa solidaritas sosial serempak dengan makin mengedepannya pertimbangan untung-rugi. Hanya karena isu yang tidak jelas bisa menyulut gerakan massa yang menjurus pada perilaku destruktif yang merongrong kamtibmas. memupuk keberanian untuk mengutarakan kebenaran dan mengulurkan tangan pada yang membutuhkan pertolongan agaknya perlu menjadi prioritas. merusak fasilitas umum. Salah satu aspek yang subtansial adalah pengenalan dan penanaman nilai-nilai kebenaran dan kesalahan atau kebaikan dan keburukan yang terdapat dalam suatu tindakan. baik di lingkungan keluarga. Ini bisa diperkuat di sekolah. Kelima. serta masyarakat. Hal ini mengingat telah tergerusnya nilai-nilai kebenaran dengan pelbagai pertimbangan lain yang menyebabkan adanya ketakutan untuk menyuarakan kebenaran itu. di lingkungan keluarga para orang tua dan orang dewasa perlu memfungsikan dirinya untuk memupuk keberanian anak dengan mengkondisikannya pada situasi yang memungkinkan anak mengemukakan pendapatnya tanpa kendala hirarki yang berlebihan. yang setiap saat dapat muncul dimana saja dan kapan saja. sekolah. dan semacamnya.fanatisme berlebihan atau justru fanatisme semu yang seolah-olah membela kepentingan agama tetapi sesungguhnya yang dibela adalah kepentingan diri sendiri yang jauh dari ajaran agama. Misalnya. menghilangkan nyawa orang lain. lingkungan yang ada dalam masyarakat itu sendiri kurang kondusif untuk memberikan ajaran moral kepada individu-individu yang menjadi anggotanya. Ini mengisyaratkan perlunya penelusuran akar permasalahan yang mendasari peristiwa-peristiwa sejenis.

Agar hal tersebut di atas dapat terwujud. adalah dosen tetap pada FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia di Bandung Abstrak: Tugas utama guru adalah membelajarkan siswa. Hal-hal apa saja yang dilakukan oleh seseorang tatkala menghadapi situasi tertentu pada hakikatnya sudah merupakan pertimbangan moral yang paling mendasar. secara langsung maupun tidak langsung.Demikianlah. dan masyarakat dalam menanamkan nilai-nilai moral. guru seyogianya mengetahui bagaimana cara siswa belajar dan menguasai berbagai cara membelajarkan siswa. banyak sekali standar perilaku yang dapat dijadikan sebagai pelajaran moral bagi siapa saja. dan pemaksaan kehendak dari satu pihak ke pihak lain. pembenahan yang mendasar pada cara-cara dan juga materi pendidikan moral dalam lingkungan keluarga dan masyarakat merupakan kebutuhan mendesak yang semestinya mendapatkan prioritas untuk mengantisipasi perilaku masyarakat yang menyimpang dari nilai-nilai moral. dan konatif) dapat berkembang dengan maksimal. Dalam situasi sehari-hari. dan ras dapat dihindarkan. agama. Guru terlibat dalam kegiatan pengajaran yang secara erat berkaitan dengan penanaman nilai-nilai moral yang sesuai dengan standar perilaku yang umum diakui sebagai kebenaran. Untuk itu. Standar ini dapat diajarkan dan dipelajari dalam pelbagai situasi. kekerasan. yaitu mengkondisikan siswa agar belajar aktif sehingga potensi dirinya (kognitif. Drs. Ia sekaligus dapat dipergunakan sebagai instrumen untuk mengembangkan nilai moral dan etika sosial yang selaras dengan tuntutan perkembangan peradaban tetapi tetap mengacu pada nilai-nilai religi dan nilai-nilai kemasyarakatan. Manakala praksis pendidikan (tidak hanya di sekolah) dapat difungsikan untuk penanaman nilai moral yang menghargai keberadaan orang lain dapat diwujudkan dan etika sosial yang mengedepankan kewajiban dan tanggung jawab manusia selaku manusia yang saling mengasihi dapat terbina maka prasangka etnis. Dengan belajar aktif. Berbagai tindak penyimpangan. MODEL BELAJAR DAN PEMBELAJARAN BERORIENTASI KOMPETENSI SISWA Ditulis oleh Erman S. Model belajar akan membahas bagaimana cara siswa belajar. akan terlatih dan terbentuk kompetensi yaitu kemampuan siswa untuk melakukan sesuatu yang sifatnya positif yang pada akhirnya akan membentuk life skill sebagai bekal hidup dan penghidupannya. Kondisi seperti ini mengisyaratkan belum maksimalnya fungsi keluarga. serta konflik sosial pada umumnya menunjukkan adanya persoalan moralitas yang cukup serius. tidak saja dalam situasi pengajaran yang formal. Erman Suherman. sedangkan model pembelajaran akan membahas tentang . melalui partisipasi dalam setiap kegiatan pembelajaran. sekolah. Pernyataan tersebut mengisyaratkan bahwa praksis pendidikan amat menentukan dalam pembemntukan perilaku masyarakat. H. afektif. M. Ini mengisyaratkan bahwa melalui pendidikan yang baik dapat dibentuk manusia-manusia yang setia pada rel moralitas religius yang dijadikan sebagai sandaran setiap perilaku serta tidak mudah terhasut desas-desus sehingga mengakibatkan konflik sosial.Pd. Ar. lingkungan pendidikan membentuk perilaku peserta didik untuk melakukan sosialisasi di masyarakat agar dapat meminimalkan atau bahkan meniadakan terjadinya konflik sosial.

masih kurang memperhatikan ketercapaian kompetensi siswa. mudah-mudahan kebiasaan murid yang bersifat pasif sedikit demi sedikit akan berubah pula menjadi aktif. Permasalahannya adalah bagaimana mengubah kebiasaan prilaku guru dalam kelas. pada penyusunan RPP menggunakan istilah skenario pembelajaran untuk pelaksanaan pembelajaran di kelas. dan model pembelajaran yang bisa dipilih dan digunakan sesuai dengan situasi dan kondisi siswa. Mereka bukan tidak mau meningkatkan kualitas pemebelajaran. jadi guru memfasilitasi aktivitas siswa dalam mengembangkan kompetensinya sehingga memiliki kecakapan hidup (life skill) untuk bekal hidup dan penghidupannya sebagai insan mandiri. fasilitas.bagaimana cara membelajarkan siswa dengan berbagai variasinya sehingga terhindar dari rasa bosan dan tercipta suasana belajar yang nyaman dan menyenangkan. semoga dengan sajian sederhana ini dapat dijadikan bekal untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran. dan memang itu kewajiban utama. Dengan paradigma yang berubah. Demikian pula. Tulisan ini membahas tentang kompetensi siswa sesuai tuntutan kurikulum untuk sekedar mengingatkan. guru aktif dan siswa pasif. Hal ini tampak pada RPP yang dibuat oleh guru dan dari cara guru mengajar di kelas masih tetap menggunakan cara lama. karena kebiasaan menjadi penonton dalam kelas. life skill. mereka sudah merasa enjoy dengan kondisi menerima dan tidak biasa memberi. tetapi situasi dan kondisi kurang memungkinkan. . Padahal. kompetensi. yang diperbaharui dengan Kurikulum 2006 (KTSP). Selain dari karena kebiasaan yang sudah melekat mendarah daging dan sukar diubah. ini berarti bahwa guru sebagai sutradara dan siswa menjadi pemain. kondisi ini kemungkinan disebabkan karena pengetahuan guru yang masih terbatas tentang bagaimana siswa belajar dan bagaimana cara membelajarkan siswa. tuntutan KBK. Karena penghargaan terhadap profesi guru sangat minim. potensi siswa. mengubah paradigma mengajar menjadi membelajarkan. guru masih menjadi pemain dan siswa penonton. untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan. suasana belajar A. sehingga kualitas amal sholehnya melalui profesi guru menjadi meningkat pula. model pembelajaran. dan guru itu sendiri. Tulisan sederhana ini sengaja dibuat untuk para guru. Kata Kunci: model belajar. yang saya hormati dan saya banggakan. boro-boro sempat waktu untuk membaca buku yang aktual. materi. yaitu dominan menggunakan metode ceramah-ekspositori. pelaksanaan pembelajaran di sekolah. Guru masih dominan dan siswa resisten. mereka sangat sibuk untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Namun pada kenyataannya. pada pihak siswa. Pendahuluan Kurikulum 2004 berbasis kompetensi (KBK). apalagi untuk membeli buku pembelajaran yang inovatif. model-model belajar agar memahami benar bagaimana siswa belajar yang efektif. sehingga misi KBK dapat terwujud. telah berlaku selama 4 tahun dan semestinya dilaksanakan secara utuh pada setiap sekolah. paradigma mengajar masih tetap dipertahankan dan belum berubah menjadi peradigma membelajarkan siswa. Paradigma lama masih melekat karena kebiasaan yang susah diubah.

presentasi. motivasi aktivitas positif. yang pada tahap selanjutnya menjadi kecakapan hidup (life skill). Inilah hakikat pembelajaran. yang berkontribusi terhadap sukses individu sebesar 40 % . membaca. Bukankah pemberian harus diselaraskan dengan mereka yang akan menerima pemberian sehingga dapat bermanfaat secara optimal. bagaimana siswa belajar? Dengan memahami uraian ini. konjektur. Kompetensi Siswa Kompetensi (competency) adalah kata baru dalam bahasa Indonesia yang artinya setara dengan kemampuan atau pangabisa dalam bahasa Sunda. observasi. Dengan memahami model-model belajar ini. kreativitas. hipotesis. generalisasi. Istilah psikologi kontemporer. kompetensi / kecakapan yang berkaitan dengan kemampuan profesional (akademik. diharapkan para guru (kita semua) dapat membelajarkan siswa secara efisien sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif. koneksi. Model-model Belajar Uraian berikut ini adalah untuk menjawab pertanyaan. Siswa yang telah memiliki kompetensi mengandung arti bahwa siswa telah memahami. dan pengendalian diri disebut dengan soft skill. tidak parsial terpisah satu . Suatu informasi yang sangat penting dan sekaligus peringatan bagi kita semua. Peta Pikiran Buzan (1993) mengemukakan bahwa otak manusia bekerja mengolah informasi melalui mengamati. terutama kognitif) disebut dengan hard skill. dan kemampuan psikomotorik (sosialisasi dan kepribadian yang mencakup kemampuan argumentasi. karena ia telah memiliki komptensi. investigasi. baik di kelas ataupun dalam kehidupannya sehari-hari antar sesama temannya atau orang yang lebih tua. Dengan demikian belajar tidak cukup hanya sampai mengetahui dan memahami. Kompetensi siswa yang harus dimilki selama proses dan sesudah pembelajaran adalah kemampuan kognitif (pemahaman. C. guru (kita) bisa menyesuaikan pelaksanaan pembelajaran dengan kondisi siswa. kecakapan hidup.B. yaitu: 1. yang berkontribusi sukses individu sebesar 60%. dan tidak sebaliknya. pengendalian impulsi. pemecahan masalah). identifikasi. penalaran. memaknai dan memanfaatkan materi pelajaran yang telah dipelajarinya. komunikasi. Model-model belajar yang dimaksud pada judul di atas adalah berbagai cara-gaya belajar siswa dalam aktivitas pembelajaran. atau mendengar tentang sesuatu hal berbentuk hubungan fungsional antar bagian (konsep. pengelolaan suasana hati. prilaku). Sedangkan kompetensi lainnya yang berkenaan dengan afektif dan psikomotorik yang berkaitan dengan kemampuan kepribadian. kata kunci). analisis. eksplorasi. aplikasi. yaitu membekali siswa untuk bisa hidup mandiri kelak setelah ia dewasa tanpa tergantung pada orang lain. Dengan perkataan lain. kemampuan afektif (pengendalian diri yang mencakup kesadaran diri. empati). Ada berbagai model belajar yang akan dibahas. inkuiri. ia telah bisa melakukan (psikomotorik) sesuatu berdasarkan ilmu yang telah dimilikinya. sosialisasi.

misalnya berangan-angan. meskipun dengan makna yang tidak berbeda. . mudah diingat dan dikembangkan pada konsep lainnya. Selanjutnya Buzan mengemukakan bahwa cara belajar siswa yang alami (natural) adalah sesuai dengan cara kerja otak seperti di atas berupa pikiran. Belajar dengan menghafalkan kalimat lengkap tidak akan efektif. Tulisan atau gambar peta pikiran tersebut dinamakan dengan peta konsep (concept map). sederhana. maka akan terkait dengan kata lain secara fungsional. supir bajay. kocak. Hanya sayang banyak orang yang mengabaikannya atau digunakan untuk hal-hal yang kurang bermanfaat untuk peningkatan kualitas diri. atau yang lainnya. dan besar penghargaan untuk perkuliahan per-sks. Dengan kemampuan otak seperti itu dibandingkan dengan kemampuan komputer sangat tinggi. seperti gemuk. Ema. jika positif akan mengembangkan penalaran akan tetapi jika diisi dengan aktivitasa negatif. Dengan demikian konsep mendapat retensi yang kuat dalam pikiran. Silakan anda mencoba menuliskan / menggambarkan peta pikiran tentang Bajuri dan FKIP Unla di atas. dan lain-lain dengan masing-masing karakternya. pejabatnya. Selanjutnya. sajian guru dalam pembelajaran harus pula dikondisikan berupa sajian peta konsep. atau ke tokoh lain Oneng. Sebagai contoh. Agama. Dengan demikian belajar akan efektif dengan cara membuat catatan kreatif yang merupakan peta konsep. Hindun. setiap kesempatan dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran diri dalam segala hal. dosen-dosen dan staf administrasi. Bila terjadi kebosanan otak akan mengisinya dengan aktivitas lain. Mengingat hal itu. Kalau dibuat narasinya akan ada perbedaan redaksi. misalnya ambil satu materi dalam pelajaran Matematika. Demikian pula kata dalam pikiran kita terlintas FKIP Universitas Langlangbuana Bandung akan terkait alamatnya. misal kenakalan atau lamunan. inlah yang disebut dengan sia-sia atau mubadzir (at tubadziru minasy-syaithon). Sebaliknya jika tuntutan kerja otak tinggi akan terjadi kecemasan-kelelahan. menonton. Bagaimana dengan anda?. guru membumbuinya dengan narasi yang kreatif. Buzan mengemukakan bahwa kemampuan otak manusia dapat memproses informasi berupa bahasa sebanyak 600 – 800 kata permenit. kalau dalam pikiran kita ada kata (konsep) Bajuri. mengobrol atau bercanda tanpa makna. Akuntansi. Kecerdasan Ganda Goldman (2005) mengemukakan bahwa struktur otak. kemudian dinarasikan dengan gaya bahasa masing-masing. sebagai instrumen kecerdasan. di samping bahasa yang digunakan menggunakan gaya bahasa penulis. Kecerdasan intelektual mengalir-bergerak (flow) antara kebosanan bila tuntutan pemikiran rendah dan kecemasan bila terjadi tuntutan banyak. Yang produknya berupa peta konsep. Ucup. 2. Jika benar-benar dimanfaatkan secara optimal. Kondisi ini akan bisa dinetralisir dengan relaksasi melalui penciptaan suasana kondusif. sehingga setiap konsep utama yang dipelajari semuanya teridentifikasi tidak ada yang terlewat dan kaitan fungsionalnya jelas.sama lain dan tidak pula dalam bentuk narasi kalimat lengkap. Dalam bidang studi keahlian anda. Silakan buat (tulis-gambar) peta pikiran yang terlintas kemudian narasikan secara lisan. terbagi dua menjadi kecerdasan intelektual pada otak kiri dan kecerdasan emosional pada otak kanan.

dan regulasi. Bukankan ketentraman individu karena keyakinan beragama ini. Metakognitif bisa digolongkan pada kemampuan kognitif tinggi karena memuat unsure analisis. dan simbolik. verbal. pertanyaan. kelembutan. Kemampuan metakognitif setiap individu akan berlainan. rasional. Interpersonalcommunication. intuitif. Intrapersonal-reflective. metakognitif bisa diterjemahkan secara bebas sebagai kesadaran berfikir. realitas. dan strategi berpikir. yaitu: kesadaran. dkk. emosional. dan evaluasi sebagai cikal bakal tumbuhkembangnya kemampuan inkuiri dan kreativitas. Ary Ginanjar (2002) dan Jalaluddin Rahmat (2006) mengukakan kecerdasan ketiga. ada do’a sebagai permintaan dan harapan. yaitu kondisi individu. spasial. holistic. suasana nyaman dan menyenangkan. ide. teratur. Dengan demikian aktivitas otak kiri semestinya dibarengi dengan aktivitas otak kanan. sintesis. manfaat. 3. prediksi. linier. Oleh karena itu pelaksanaan pembelajaran . Sedangkan Holler berpendapat tentang komponen metakognitif. (2002) mengemukakan bahwa aktivitas metakognitif tergantung pada kesadaran individu. siswanya sebanyak 40% dipengaruhi oleh hal lainnya. Komponen meta kognitif menurut Sharples & Mathew ada 7. kita semestinya berkeyakinan tinggi terhadap kecerdasan ini. strategi. Sharples & Mathew (1998) mengemukakan pendapat bahwa metakognitrif dapat dimanfaatkan untuk menerapkan pola pikir pada situasi lain yang dihadapi. Logic-thinking-reasoning. senyum-tertawa. bantuan. atau meditasi keheningan dengan prinsip kepasrahan kepada sang Pencipta. Penting untuk diketahui bahawa kecerdasan intelkektual berkontribusi untuk sukses individu sebesar 20% sedangkan kecerdasan emosional sebesar 40%. sekuensial. kompleksitas. Holler. yaitu: refleksi kognitif. yaitu Spacial-visual . dan kreativitas. Sel syaraf pada otak kiri berfungsi sebagai alat kecerdasan yang sifatnya logis. monitoring. natural. pengalaman. Musical-rithmic. tergantung dari variabel meta kognitif. Metakognitif Secara harfiah.misalnya keramahan. dan regulasi. pengetahuan. yaitu Kecerdasan Spiritual (nurani-keyakinan) atau kecerdasan fitrah yang berkenaan dengan nilai-nilai kehidupan beragama. Linguistic-verbal. monitoring. bukankah ada ikhtiar dan ada pula taqdir. berpikir tentang apa yang dipikirkan dan bagaimana proses berpikirnya. Sebagai orang beragama. yaitu aktivitas individu untuk memikirkan kembali apa yang telah terpikir serta berpikir dampak sebagai akibat dari buah pikiran terdahulu. musik. koneksi. Sedangkan sela syaraf otak kanan berkaitan dengan kecerdasan yang sifatnya acak. Body-kinestic. dan aplikasi. Gardner (1983) mengemukakan tentang kecerdasan ganda yang sifatnya mulkti dengan akronim Slim n Bill. abstrak. kesadaran diri. dan ibadah lainnya.

menggunakan. yaitu optimis. menemukan). nada suara. mengerjakan. dan melaksanakan-prak (mengaplikasikan. menimpakan kesalahan. katakana “saya …. memanfaatkan. pemalu. bersikap mengajak dan bukan memerintah. tentunya akan berhadapan dengan siswa yang berkepribadian negative seperti di atas dan tentunya tidak untuk dibiarkan karena profesi guru adalah amanat. belajar efektif (sesuai tujuan) semestinya bermakna. ragu-ragu. Tokoh pendidikan nasional Ki Hajar Dewantoro (1908) mengemukakan tiga prinsip pembelajaran ing ngarso sung tulodo (jadi pemimpin-guru jadilah teladan bagi siswanya).” bukan katanya. tumbuhkan citra positif. bahwa seorang anak ayang masih polos-natural. mengembangkan). membiarkan. ada individu yang memiliki pribadi positif dan ada pula yang berkpribadian negatif. dan jaga komunikasi non verbal (eksprsi wajah. dan sosok panutan). Akibatnya sungguh mengejutkan. dan sibuk dengan alasan. presentasi. dikendalikan keadaan . seperti pesimis. ternyata lama kelamaan keyakinannya terguncang dan rasa percaya dirinya menurun. menjawab. ing madyo mangun karso (dalam pembelajaran . Dalam bahasa Sunda ada pepatah “pok-pek-prak” yang berarti bahwa belajar mempunya indikator berkata-pok (bertanya-menjawab-diskusi. untuk kita simak dan renungkan. siswa dengan fasilitas belajar. Perhatikan hasil penelitian Jack Canfield (1992). mengkomunikasikan. ingin mencoba. yang selanjutnya mempengaruhi poses pembelajaran. Kemampuan komunikasi setiap individu akan mempengaruhi proses dan hasil belajar yang bersangkutan dan membentuk kepribadiannya. tidak hanya berpikir sepintas dengan makna yang dangkal. prasangka. Bagaimanakh menghadapi siswa dengan pola pribadi seperti irtu? Caranya anatar lain dengan cara tidak memvonis. belajar tidak cukup dengan hanya mendengar dan melihat tetapi harus dengan melakukan aktivitas (membaca. bertanya.presentasi). Makin lama ia makin dewasa. gerak tubuh. ataupun dengan guru.semestinya membiasakan siswa untuk melatih kemampuan metakognitif ini. anak yang pada awalnya secara alami penuh keyakinan. menghindar. suka tantangan. menyimpulkan. mengendalikan keadaan. menduga. keberanian. Mengapa demikian? Karena cara berkomunikasi akan langsung berkenaan dengan akal dan rasa. sehingga dia tumbuh menjadi penakut. m\udah menyerah. ingin tahu dengan pengaruh komunikasi negatif yang lebih dominant dari orang sekelilingnya. dan mau memperbaiki diri. dan cemas. Berbeda dengan individu yang memiliki pribadi positif. diskusi). Dampak selanjutnya pada waktu bwersekolah. Sebagai guru. Mencobapek (menyelidiki. 5. Komunikasi Siswa dalam belajar tidak akan lepas dari komunikasi antar siswa. meng-identifikasi. setiap hari biasa menerima 460 komentar negatif dan 75 koentar positif dari oarng yang lebih tua dalam kehidupannya. partisipatidf. pribadinya berpola negative. ada kebebasan memilih. Kebermaknaan Belajar Dalam belajar apapun. berkomentar. jangan sungkan untuk apologi jika kesalahan. pembenaran. punya alternative. Agar bermakna. 4. belajar menjadi beban dan rasa ercaya dirinya berkurang.

konstruksivis. yaitu: konsistensi internal. menggunakan kesempatan . siswa yang satu dengan siswa lainnya berbeda. Siswa tidak lagi menerima paket-paket konsep atau aturan yang telah dikemas oleh guru. Vernon A Madnesen (1983) san Peter Sheal (1989) mengemukakan bahwa kebermaknaan belajar tergantung bagaimana cbelajar. berhipotesis. tidak cukuop dengan mendengar dan melihat. Belajar secara aktif indikatornya adalah belajar pada setiap situasi. Jika belajar hanya dngan membaca kebermaknaan bisa mencapai 10%. da belajar dengan melakukan dan mengkomunikasikan besa mencapai 90%. Prinsip Belajar Aktif Ada dua jenis belajar. dan daily life (kontekstual). ikut partisipasi dan tidak menghindar dari aktivitas pembelajaran. justifikasi. dan inkuiri dengan cara mereka sendiri untuk menyelesaikan persoalan yang disajikan.membangun ide siswa dengan aktivitas sehingga kompetensi siswa terbentuk). jadi harus dihargai karena hal itu cirinya ia sedang belajar. dari melihat 30%. guru menyajikan persoalan dan mendorong (encourage) siswa untuk mengidentifikasi. koherensi. refeleksi-eksplanasi. di sinilah tugas guru memberikan bantuan dan arahan (scalfolding) sebagai fasilitator dan pembimbing. tindak lanjut. karena pembelajaran adalah aktivitas siswa yang sifatnbya proaktif dan reaktif dalam membangun pengetahuan. simbolisasi. dari mendengar 20%. Drai uraian di atas implikasi terhadap pembelajaran adalah bahwa kegiatan pembelajaran identik dengan aktivitas siswa secara optimal. Keslahan siswa merupakan bagian dari belajar. dan memang pembelajaran pada hakikatnya adalah konstruksivisme. Dalam kondisi tersebut suasana menjadi kondusif (tut wuri handayani) sehingga dalam belajar siswa bisa mengkonstruksi pengetahuan dan opengalaman yang diperolehnya dengan pemaknaan yang lebih baik. kontinuitas historical. kekonvergenan. tidak melalui pemberitahuan oleh guru. mendengar dan melihat 50%. pembelajaran adalah solusi tepat untuk pelaksanaan kurikulum 2006. minds-on. 7. berkonjektur. 6. Konstruksivisme Dalam paradigma pembelajaran. melainkan lebih bersifat negosiasi sehingga tumbuh suasana fasilitasi. menggeneralisasi. Confrey (1990) menyarankan konstruksivisme secara utuh (powerfull constructivism). dan sintaks (SOP). melainkan siswa sendiri ang mengemasnya. tepai harus dengan hands-on. atau mungkin terjadi eksalahan. keterpaduan. Mungkin saja kemasannya tidak akurat. Selanjutnya. Hal inilah yang disebut dengan konstruksivisme dalam pembelajaran. mengeksplorasi. Dengan perkataan lain. Siswa membangun sendiri konsep atau struktur materi yang dipelajarinya. Agar konstruksicvisme dapat terlaksana secara optimal. mengatakan-komunikasi mencapai 70 %. yaitu belajar secara aktif dan secara reaktif (pasif). Sehingga jenis komunikasi yang dilakukan antara gurusiswa tidak lagi bersifat transmisi sehingga menimbulkan imposisi (pembebanan). dan bukan dengan kegiatan mengajar. tut wuri handayani (jadilah fasilitator kegiatan siswa dalam mengembangkan life skill sehingga mereka menjadi pribadi mandiri).

belajar dengan melakukan-mengkomunikasikan sehingga kecerdasan emosionalnya dapat berkembang. mengerjakan). Pembelajaran koperatif sesuai dengan fitrah manusis sebagai makhluq sosial yang penuh ketergantungan dengan otrang lain. Prinsip belajar yang dikemuakan leh Treffers (1991) adalah memiliki indikatro mechanistic (latihan. Jadi model pembelajaran koperatif adalah kegiatan pembelajaran dengan cara berkelompok untuk bekerja sama saling membantu mengkontruksu konsep. dan kondisi guru itu sendiri. seperti kemampuan sosialisasi. Berikut ini disajikan beberapa model pembelajaran. tugas. pengalaman. Sedangakan belajar reaktif indikatornya adalah tidak dapat melihat adanya kesempatan belajart. Oleh karena itu. Menurut teori dan pengalaman agar kelompok kohesif (kompak-partisipatif). kita (guru) harus ingat bahwa tidak ada model pembelajaran yang paling tepat untuk segala situasi dan kondisi. dan inklusif life skill. Koperatif (CL. menyelesaikan persoalan. Dalam prakteknya. melakukan-mengkomunikasikan. kontekstual-trealistik. konstruksivis-inkuiri. Dari indikator belajar aktif. dan rasa senasib. tanya-jawab. membiarkan segalanya terjadi.untuk meraih manfaat. sifat materi bahan ajar. presentasi. mengabaikan kesempatan. Cooperative Learning). 1. dan partisipatif dalam setiap kegiatan. sitematik. dan belajar menyadari kekurangan dan kelebihan masingmasing. Dengan memanfaatkan kenyatan itu. atau inkuiri. Hal ini bisa terlatih melalui kerja individual-kelompok. menghindar dari kegiatan.diskusi. sehingga terpuku rasa tanggung jawab dan disiplin diri. untuk dipilih dan dijadikan alternatif sehingga cocok untuk situasi dan kjondisi yang dihadapi. Akan tetapi sajian yang dikemukakan pengantarnya berupa pengertian dan rasional serta sintaks (prosedur) yang sifatnya prinsip. mempunyai tujuan dan tanggung jawab bersama. structuralistic (terstrutur. Saling membantu dan berlatih beinteraksi-komunikasi-sosialisasi karena koperatif adalah miniature dari hidup bermasyarakat. Model-model Pembelajaran Untuk membelajarkan siswa sesuai dengan cara-gaya belajar mereka sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai dengan optimal ada berbagai model pembelajaran. dalam memilih model pembelajaran yang tepat haruslah memperhatikan kondisi siswa. penulis yakin kreativitas para guru sangat tinggi. siswa dilatih dan dibiasakan untuk saling berbagi (sharing) pengetahuan. modifikasinya diserahkan kepada guru untuk melakukan penyesuaian. D. maka prinsip belajar yang harus diterapkan adalah siswa harus sebaga subjek. empiristic (pngelaman induktif-deduktif). dan realistic-human activity (aktivitas kehidupan nyata). empati dan pengendalian diri. sesuai dengan pengertian kegiatan pembelajaran di atas. belajar berkelompok secara koperatif. aksionmatik). tanggung jawab. Prisip tersebut akan terwujud dengan melaksanakan pembelajaran dengan memperhatikan keterlibatan intelektual-emosional. pembegian tugas. siawa . tiap anggota kelompok terdiri dari 4 – 5 orang. berupaya terlaksana. fasilitas-media yang tersedia.

3. presentasi hasil kelompok. kerja kelompok. dan pengembangan kemampuan sosialisasi.heterogen (kemampuan. negosiasi) yang terkait dengan dunia nyata kehidupan siswa (daily life modeling). evaluasi. inquiry (identifikasi. questioning (eksplorasi. reflection (reviu. penilaian seobjektif-objektifnya darei berbagai aspek dengan berbagai cara). generalisasi. Contextual Teaching and Learning) Pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang dimulai dengan sajian atau tanya jawab lisan (ramah. minds-on. proses dunia empirik) dan vertikal (reoorganisasi matematik melalui proses dalam dunia rasio. rambu-rambu. tindak lanjut). sajian informasi dan prosedur. dan meminta tanggung jawab hasil kelompok berupa laporan atau presentasi. gender. menemukan). pemahaman (menemukan-informal daam konteks melalui refleksi. 2. Pembelajaran Langsung (DL. analisis-sintesis). fakta. mencoba. dan bimbingan (dari guru dalam penemuan). Pensip pembelajaran kontekstual adalah aktivitas siswa. Realistic Mathematics Education) Realistic Mathematics Education (RME) dikembangkan oleh Freud di Belanda dengan pola guided reinventiondalam mengkontruksi konsep-aturan melalui process of mathematization. terbuka. karekter).nyaman dan menyenangkan. Sintaks pembelajaran koperatif adalah informasi. dan pelaporan. mengerjakan). konsep. Sintaknya adalah menyiapkan siswa. menuntun. motivasi belajar muncul. pengemabngan mateastika). Kontekstual (CTL. contoh). sehingga akan terasa manfaat dari materi yang akan disajkan. informal ke formal). aturan uantuk digunakan dalam menyelesaikan persoalan. realitas (kebermaknaan prosesaplikasi). pengarahan-strategi. algoritma. rangkuman. hipotesis. dunia pikiran siswa menjadi konkret. inter-twinment (keterkaitan-intekoneksi antar konsep). 4. generalisasi). penilaian terhadap setiap aktvitas-usaha siswa. motivasi. mengarahkan. membentuk kelompok heterogen. siswa melakukan dan mengalami. investigasi. authentic assessment (penilaian selama proses dan sesudah pembelajaran. interaksi (pembelajaran sebagai aktivitas sosial. yaitu modeling (pemusatan perhatian. penyampaian kompetensitujuan. pengarahan-petunjuk. Prinsip RME adalah aktivitas (doing) konstruksivis. learning community (seluruh siswa partisipatif dalam belajar kelompok atau individual. mengkonstruksi konsep-aturan. Realistik (RME. membimbing. inkuiri. Ada tujuh indokator pembelajarn kontekstual sehingga bisa dibedakan dengan model lainnya. dan suasana menjadi kondusif . yaitu matematika horizontal (tools. sharing). penilaian portofolio. constructivism (membangun pemahaman sendiri. latihan . Direct Learning) Pengetahuan yang bersifat informasi dan prosedural yang menjurus pada ketrampilan dasar akan lebih efektif jika disampaikan dengan cara pembelajaran langsung. mengembangkan. tidak hanya menonton dan mencatat. hands-on. konjektur. prinsip. ada control dan fasilitasi.

demokratis. Problem Solving Dalam hal ini masalah didefinisikan sebagai suatu persoalan yang tidak rutin. siapkan rencana bimibingan (sedikit . menduga. konjektur. Model pembelajaran ini melatih dan mengembangkan kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang berorientasi pada masalah otentik dari kehidupan aktual siswa. investigasi.terbimbing. Problem Based Learning) Kehidupan adalah identik dengan menghadapi masalah. Sintaknya adalah: sajiakn permasalah yang memenuhi criteria di atas. kreativitas. fluency). Selanjtynya siswa juda diinta untuk menjelaskan proses mencapai jawaban tersebut. menyusun soalpertanyaan. Denga demikian model pembelajaran ini lebih mementingkan proses daripada produk yang akan membentiuk pola piker.atau algoritma). dan evaluasi. Justru problem solving adalah mencari atau menemukan cara penyelesaian (menemukan pola. Siswa dituntuk unrtuk berimprovisasi mengembangkan metode. siswa mengidentifkasi. Problem Posing Bentuk lain dari problem posing adaslah problem posing. . Open Ended) Pembelajaran dengan problem (masalah) terbuka artinya pembelajaran yang menyajikan permasalahan dengan pemecahan berbagai cara (flexibility) dan solusinya juga bisa beragam (multi jawab. dan akhirnya menemukan solusi.menginvestigasi. jalan keluar. kritis. 8. diagram. atau pendekatan yang bervariasi dalam memperoleh jawaban. induksi. suasana nyaman dan menyenangkan agar siswa dap[at berpikir optimal. yaitu pemecahan masalah dngan melalui elaborasi. latihan mandiri. Sintaknya adalah: pemahaman. yaitu merumuskan kembali masalah menjadi bagian-bagian yang lebih simple sehingga dipahami. Pembelajaran ini melatih dan menumbuhkan orisinilitas ide. aturan. Sajian masalah haruslah kontekstual kaya makna secara matematik (gunakan gambar. terbuka. keterpasuan. table). keterbukaan. dan ragam berpikir. kognitif tinggi. menimalisasi tulisan-hitungan. Cara ini sering disebut dengan metode ceramah atau ekspositori (ceramah bervariasi). refleksi. keterbukaan. 5. mengeksplorasi. komunikasi-interaksi. kaitakkan dengan materui selanjutnya. dan inkuiri 6. sintesis. identifikasi kekeliruan. identifikasi. 7. interpretasi. sharing. eksplorasi. Kondisi yang tetap hatrus dipelihara adalah suasana kondusif. cari alternative. Problem Terbuka (OE. negosiasi. siswa berkelompok atau individual mengidentifikasi pola atau atuiran yang disajikan. kembangkan peremasalahan sesuai dengan kemampuan berpikir siswa. jawaban siswa beragam. belum dikenal cara penyelesaiannya. elaborasi (analisis). untuk merangsang kemamuan berpikir tingkat tinggi. cara. dan sosialisasi. generalisasi. Pembelajaran Berbasis masalah (PBL. Indikator model pembelajaran ini adalah metakognitif.

9. 11. Kemungkinan akan terjadi sausana tegang. siswa tidak bisa menghindar dari prses pembelajaran. Donna Meyer (1999) mengemukakan cara pembelajaran resiprokal. mengingat. Reciprocal Learning Weinstein & Meyer (1998) mengemukakan bahwa dalam pembelajaran harus memperhatikan empat hal. dan aplikasi berarti menggunakan konsep dalam konteks yang berbeda. dan memotivasi diri. hipotesis. Auditory yang bermakna bahwa . namun demikian bisa dibiasakan. Sedangkan Resnik (1999) mwengemukan bhawa belajar efektif dengan cara membaca bermakna. Ada canda. Untuk mngurang kondisi tersebut. 12.demi sedikit dilepas mandiri). representasi. senyum. pengarahan. membuat kesimpulan. Untuk mewujudkan belajar efektif. bertanya. suara menyejukkan. sehingga suasana menjadi nyaman. Dengan model pembelajaran ini proses tanya jawab dilakukan dengan menunjuk siswa secara acak sehingga setiap siswa mau tidak mau harus berpartisipasi aktif. kemudian eksplanasi (empiric). SAVI Pembelajaran SAVI adalah pembelajaran yang menekankan bahwa belajar haruslah memanfaatkan semua alat indar yang dimiliki siswa. eksplnasi berarti menghenalkan konsep baru dan alternative pemecahan. nada lembut. dan tertawa. yaitu: informasi. setiap saat ia bisa dilibatkan dalam proses tanya jawab. merangkum. Selanjutnya siswa memngkonstruksiu konsep-prinsip-aturan menjadi pengetahuan baru. dan ceria. bahwa jawaban siswa yang salah harus dihargai karena salah adalah cirinya dia sedang belajar. aktivitas fisik) di mana belajar dengan mengalami dan melakukan. berpikir. dan diakhiri dengan aplikasi (aduktif). ia telah berpartisipasi 10. Jangan lupa. bimbingan dan pengarahan. mulai dari eksplorasi (deskripsi). dengan demikian pengetahuan baru tidak diberitahukan. Pembelajaran Bersiklus (cycle learning) Ramsey (1993) mengemukakan bahwa pembelajaran efektif secara bersiklus. perhatikan dan catat reson siswa. berkelompok mengerjakan LKSD-modul. membaca-merangkum. guru hendaknya serangkaian pertanyaan disertai dengan wajah ramah. Probing-prompting Teknik probing-prompting adalah pembelajaran dengan cara guru menyajikan serangkaian petanyaan yang sifatnya menuntun dan menggali sehingga terjadi proses berpikir yang mengaitkan engetahuan sisap siswa dan engalamannya dengan pengetahuan baru yang sedang dipelajari. Sintaknya adlaha menyajikan masalah. Eksplorasi berarti menggali pengetahuan rasyarat. menyenangkan. Istilah SAVI sendiri adalah kependekan dari: Somatic yang bermakna gerakan tubuh (hands-on. yaitu bagaimana siswa belajar. pengorganisasian pembelajaran.

dan ada sajian bodoran. berbicara. Jika waktunya memungkinkan TGT bisa dilaksanakan dalam beberapa pertemuan. Buat kelompok siswa heterogen 4 orang kemudian berikan informasi pokok materi dan \mekanisme kegiatan b. mendemonstrasikan. berikan penghargaan kelompok dan individual. Setelah selesai kerja kelompok sajikan hasil kelompok sehuingga terjadi diskusi kelas. begitu pula untuk meja turnamen yang lainnya diisi oleh siswa dengan gelar yang sama. santun. tugas tiap kelompok bisa sama bis aberbeda. Visualization yang bermakna belajar haruslah menggunakan indra mata melallui mengamati. membaca. dan mennaggapi. atau dalam rangak mengisi waktu sesudah UAS menjelang pembagian raport. Siapkan meja turnamen secukupnya. dan menerapkan. medium. ramah .). mengemukakan penndepat. dilakukan pergeseran tempat duduk pada meja turnamen sesuai dengan sebutan gelar tadi. Bumping. Siswa bisda nmngerjakan lebbih dari satu soal dan hasilnya diperik\sa dan dinilai. missal 10 meja dan untuk tiap meja ditempati 4 siswa yang berkemampuan setara. memecahkan masalah. menemukan. menggunbakan media dan alat peraga. Setelah selesai hitunglah skor untuk tiap kelompok asal dan skor individual. Siswa pada tiap meja tunamen sesua dengan skor yang dip[erolehnay diberikan sebutan (gelar) superior. TGT (Teams Games Tournament) Penerapan model ini dengan cara mengelompokkan siswa heterogen. d. menyelidiki. presentasi. mengidentifikasi. menyimak. very good. dan Intellectualy yang bermakna bahawa belajar haruslah menggunakan kemampuan berpikir (minds-on) nbelajar haruslah dengan konsentrasi pikiran dan berlatih menggunakannya melalui bernalar. Sintaknya adalah sebagai berikut: a. mencipta. setiap siswa mengambil kartu soal yang telah disediakan pada tiap meja dan mengerjakannya untuk jangka waktu terttentu (misal 3 menit). Usahakan dinamikia kelompok kohesif dan kompak serta tumbuh rasa kompetisi antar kelompok. Selanjutnya adalah opelaksanaan turnamen. .belajar haruslah dengan melaluui mendengarkan. setiap kelompok bekerja sama dalam bentuk kerja individual dan diskusi. menggambar. c. meja I diisi oleh siswa dengan level tertinggi dari tiap kelompok dan seterusnya sampai meja ke-X ditepati oleh siswa yang levelnya paling rendah. suasana diskuisi nyaman dan menyenangkan sepeti dalam kondisi permainan (games) yaitu dengan cara guru bersikap terbuka. good. e. 13. Penentuan tiap siswa yang duduk pada meja tertentu adalah hasil kesewpakatan kelompok. argumentasi. sehingga diperoleh skor turnamen untuk tiap individu dan sekaligus skor kelompok asal. mengkonstruksi. lembut. pada turnamen kedua ( begitu juga untuk turnamen ketigakeempat dst. siswa superior dalam kelompok meja turnamen yang sama. SDetelah memperoleh tugas.

diskusikan bahan belajar-LKS-modul secara kolabratif. 15. Kinestetic) Model pebelajaran ini menganggap bahwa pembelajaran akan efektif dengan memperhatikan ketiga hal tersebut di atas. (3) penghargaan kelompok dan refleksi serta tes formatif.14. Auditory. umumkan rekor tim dan individual dan berikan reward. (2) siswa belajar kelompok dengan dibantu oleh siswa pandai anggota kelompok secara individual. mengembangkannya. Oleh karena itu siswa harus membangun pengetahuan tidak menerima bentuk jadi dari guru. 17. 18. dengan perkataan lain manfaatkanlah potensi siwa yang telah dimilikinya dengan melatih. Repetition) Model pembelajaran ini mirip dengan SAVI dan VAK. . AIR (Auditory. berikan persoalan materi bahan ajar (untuk tiap kelompok sama tapi untuk tiap siswa tidak sama sesuai dengan nomor siswa. 16. VAK (Visualization. saling tukar jawaban. Istilah tersebut sama halnya dengan istilah pada SAVI. buat kelompok heterogen (4-5 orang). bedanya hanyalah pada Repetisi yaitu pengulangan yang bermakna pendalama. buat kelompok heterogen dan tiap siswa memiliki nomor tertentu. NHT (Numbered Head Together) NHT adalah salah satu tipe dari pembelajaran koperatif dengan sintaks: pengarahan. sajian-presentasi kelompok sehingga terjadi diskusi kelas. dengan somatic ekuivalen dengan kinesthetic. kuis individual dan buat skor perkembangan tiap siswa. kuis individual dan buat skor perkembangan tiap siswa atau kelompok. TAI (Team Assisted Individualy) Terjemahan bebas dari istilah di atas adalah Bantuan Individual dalam Kelompok (BidaK) dengan karateristirk bahwa (Driver. pemantapan dengan cara siswa dilatih melalui pemberian tugas atau quis. Pola komunikasi guru-siswa adalah negosiasi dan bukan imposisi-intruksi. perluasan. presentasi kelompok dengan nomnor siswa yang sama sesuai tugas masing-masing sehingga terjadi diskusi kelas. tiasp siswa dengan nomor sama mendapat tugas yang sama) kemudian bekerja kelompok. 1980) tanggung jawab vbelajar adalah pada siswa. Intellectualy. STAD (Student Teams Achievement Division) STAD adalah salah sati model pembelajaran koperatif dengan sintaks: pengarahan. Sintaksi BidaK menurut Slavin (1985) adalah: (1) buat kelompok heterogen dan berikan bahan ajar berupak modul. saling berbagi sehingga terjadi diskusi. umumkan hasil kuis dan beri reward.

refleksi. buat kelompok heterogen dengan orientasi tugas. CPS (Creative Problem Solving) Ini juga merupakan variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah melalui teknik sistematik dalam mengorganisasikan gagasan kreatif untuk menyelesaikan suatu permasalahan.19. presentasi kelompok (share). dan kemudian buat laopran hasil presentasi. identifikasi perbedaan. tuiap kelompok bahan belajar sama. rencanakan pelaksanaan investigasi. 21. presentasi. misal mengukur tinggi pohon. pengoalahn data penyajian data hasi investigasi. MEA (Means-Ends Analysis) Model pembelajaran ini adalah variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah dengan sintaks: sajikan materi dengan pendekatan pemecahan masalah berbasis heuristic. berikan bahan ajar (LKS) yang terdiri dari beberapa bagian sesuai dengan banyak siswa dalam kelompok. GI (Group Investigation) Model koperatif tipe GI dengan sintaks: Pengarahan. TPS (Think Pairs Share) Model pembelajaran ini tergolong tipe koperatif dengan sintaks: Guru menyajikan materi klasikal. kuis individual. umumkan hasil kuis dan berikan reward. Jigsaw Model p[embeajaran ini termasuk pembelajaran koperatif dengan sintaks sepeerti berikut ini. Pengarahan. buat skor perkembangan tiap siswa. 24. mendata banyak dan jenis kendaraan di dalam sekolah. presentasi dan diskusi. pilih strategi solusi 23. umumkan hasil kuis dan berikan reward. 20. kembali ke kelompok aasal. buat kelompok ahli sesuai bagian bahan ajar yang sama sehingga terjadi kerja sama dan diskusi. diskusi. kuis individual. susun sub-sub masalah sehingga terjadli koneksivitas. 22. buat kelompok heterogen. jenis dagangan dan keuntungan di kantin sekolah. tiap anggota kelompok bertugas membahasa bagian tertentu. pelaksnaa tutorial pada kelompok asal oleh anggotan kelompok ahli. dan alternative solusi). hasil bacaannya dikomunikasikan dengan presentasi. tiap kelompok menginvestigasi proyek tertentu (bisa di luar kelas. TTW (Think Talk Write) Pembelajaran ini dimulai dengan berpikir melalui bahan bacaan (menyimak. berikan persoalan kepada siswa dan siswa bekerja kelompok dengan cara berpasangan sebangku-sebangku (think-pairs). elaborasi menjadi sub-sub masalah yang lebih sederhana. identifikasi permasalahan dan fokus-pilih. buat skor perkem\angan siswa. mengolah pikiran sehingga muncul gagasan orisinil untuk menentukan solusi. iformasi bahan ajar. banyak guru dan staf sekolah). penyimpulan dan evaluasi. Sintaksnya adalah: mulai dari fakta aktual sesuai dengan materi bahan ajar melalui tanya jawab lisan. Sinatknya adalah: . mengkritisi.

27. KUASAI Pembelajaran akan efektif dengan melibatkan enam tahap berikut ini. Organizing. kerja kelompok. Kerangka pikir untuk sukses. dan Introspeksi melalui . Read. dan Review dengan cara meninjau ulang menyeluruh 28. Reflect. analisi pengalaman. Extending) Sintaknya adalah (C) koneksi informasi lama-baru dan antar konsep. 26. menggunakan. dengan sintaks: Survey dengan mencermati teks bacaan dan mencatatmenandai kata kunci. Question. (0) organisasi ide untuk memahami materi. memperluas. Sintaknya adalah (1) lead-in dengan melakukan kegiatan yang terkait dengan pengalaman. Refleting. Question dengan membuat pertanyaan (mengapa-bagaimana. CORE (Connecting. 29. Ambil pemaknaan (mengetahui-memahami-menggunakan-memaknai). TS-TS (Two Stay – Two Stray) Pembelajaran model ini adalah dengan cara siswa berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan kelompok lain. dan menemukan. Review) SQ4R adalah pengembangan dari SQ3R dengan menambahkan unsur Reflect. diskusi. mendalami. MID (Meaningful Instructionnal Design) Model ini adalah pembnelajaran yang mengutyamakan kebermaknaan belajar dan efektifivitas dengan cara membuat kerangka kerja-aktivitas secara konseptual kognitifkonstruktivis. yaitu dengan menugaskan siswa untuk membaca bahan belajar secara seksamacermat. Sintaknya adalah kerja kelompok. Sertakan ingatan dan hafalkan kata kunci serta koneksinya. (R) memikirkan kembali. melaporkan. presentasi. (3) production melalui ekspresi-apresiasi konsep 30. Recite dengan pertimbangkan jawaban yang diberikan (cartat-bahas bersama). Uraikan fakta sesuai dengan gaya belajar. (2) reconstruction melakukan fasilitasi pengalaan belajar. laporan kelompok. Read dengan membaca teks dan cari jawabanya. Question. kelompok (membaca-mencatatat-menandai). yaitu aktivitas memberikan contoh dari bahan bacaan dan membayangkan konteks aktual yang relevan. dan menggali. darimana) tentang bahan bacaan (materi bahan ajar). kembali ke kelompok asal. SQ3R (Survey. SQ4R (Survey. kerja kelompok. Recite. (E) mengembangkan. Review) Pembelajaran ini adalah strategi membaca yang dapat mengembangkan meta kognitif siswa. 25. Ajukan pengujian pemahaman. dan konsep-ide. Recite.informasi. Read. dua siswa bertamu ke kelompok lain dan dua siswa lainnya tetap di kelompoknya untuk menerima dua orang dari kelompok lain.

Hutnal (2002) mengemukakan bahwa CRI menggunakan rubric dengan penskoran 0 untuk totally guested answer. DLPS (Double Loop Problem Solving) DPLS adalah variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah dengan penekanan pada pencarian kausal (penyebab) utama daritimbulnya masalah. siswa yang berada di lingkran luar . CIRC (Cooperative. 33. Langkah penyelesdai maslah sebagai berikurt: menuliskan pernyataan masalah awal. 34. 2 untuk not sure. IOC (Inside Outside Circle) IOC adalah mode pembelajaran dengan sistim lingkaran kecil dan lingkaran besar (Spencer Kagan. identifikasi kausal utama. presentasi hasil kelompok. mengidentifikasui kausal. penerapan. pengemabangan. penggunaan. separuhnya lagi membentuk lingkaran besar menghadap ke dalam. memberikan tanggapan) terhadap wacana kemudian menuliskan hasil kolaboratifnya. DMR (Diskursus Multy Reprecentacy) DMR adalah pembelajaran yang berorientasi pada pembentukan. Sintaksnya adalah: membentuk kelompok heterogen 4 orang. deteksi kausal lain. solusi tentative. imoplementasi solusi. dan implementasi solusi utama. 35. deteksi kausal. jadi berkenaan dengan jawaban untuk pertanyaan mengapa. dn 5 untuk certain. dan penutup. menuliskan pernyataan masalah yang telah direvisi. dan rencana solusi yang terpilih. Sintaknya adalah: identifkasi. Sintaksnya adalah: Separu dari sjumlah siswa membentuk lingkaran kecil menghadap keluar. pendahuluan. Reading. mengelompokkan gejala. siswa yang berhadapan berbagi informasi secara bersamaan.refleksi diri tentang gaya belajar. 32. menemukan kata kunci. Integrated. analisis kausal. 3 untuk sure. and Composition) Terjemahan bebas dari CIRC adalah komposisi terpadu membaca dan menulis secara koperatif –kelompok. Sintaksnya adalah: persiapan. 4 untuk almost certain. guru memberikan wacana bahan bacaan sesuai dengan materi bahan ajar. menemukan pilihan solusi utama. pertimbangan solusi. dan pemanfaatan berbagai representasi dengan setting kelas dan kerja kelompok. siswa bekerja sama (membaca bergantian. Selanutnya menyelesaikan masalah tersebut dengan cara menghilangkan gap uyang menyebabkan munculnya masalah tersebut. 31. 1 untuk amost guest. 1993) di mana siswa saling membagi informasi pada saat yang bersamaan dengan pasangan yang berbeda dengan ssingkat dan teratur. refleksi. CRI (Certainly of Response Index) CRI digunakan untuk mengobservasi proses pembelajaran yang berkenaan dengan tingkat keyakinan siswa tentang kemampuan yang dimilkinya untuk memilih dan menggunakan pengetahuan yang telah dimilikinya.

siswa membaca materi bahan ajar untuk dicermati oleh masing-masing kelompok. 40. presentasi hasil kelompok. guru mengambil tongkat dan memberikan tongkat kepada siswa dan siswa yang kebagian tongkat menjawab pertanyaan dari guru. sajian materi. pembentukan kelompok siswa. guru membimbing kesimpulan-refleksi-evaluasi. guru membimbing membuat kesimpulan dan menambahkannya biola perlu. menunjuk siswa untuk melakonkan scenario yang telah dipelajarinya. 38. sajian materi pokok. tongkat diberikan kepad siswa lain dan guru memberikan petanyaan lagi dan seterusnya. 41. 37. penyampaian kompetensi. Strategi ini cocok untuk bahan ajar yang memerlukan pertukartan pengalaman dan pengetahuan antar siswa. Tari Bambu Model pembelajaran ini memberuikan kesempatan kepada siswa untuk berbagi informasi pada saat yang bersamaan dengan pasangan yang berbeda secara teratur. presentasi di depan hasil diskusinya. salah satu siswa menyampaikan materi yang baru diterima kepada pasangannya kemudian bergantian. Snowball Throwing Sintaknya adalah: Informasi materi secara umum. siswa yang berhadapan berbagi pengalkaman dan pengetahuan. Debate Debat adalah model pembalajaranb dengan sisntaks: siswa menjadi 2 kelompok kemudian duduk berhadapan. Talking Stick Suintak p[embelajana ini adalah: guru menyiapkan tongkat. siswa yang berdiri di ujung salah satui jajaran pindah ke ujunug lainnya pada jajarannya. Sintaksnya adalah: Sebagian siswa berdiri berjajar di depoan kelas atau di sela bangku-meja dan sebagian siswa lainnya berdiri berhadapan dengan kelompok siswa opertama. dan seterusnya 36. Artikulasi Artikulasi adlah mode pembelajaran dengan sintaks: penyampaian konpetensi. guru membimbing siswa untuk menyimpulkan. Role Playing Sintak dari model pembelajaran ini adalah: guru menyiapkan scenario pembelajaran. 39. siswa mebaca materi lengkap pada wacana. dan kembali berbagai informasi. membentuk kelompok. sajian presentasi hasil bacaan oleh perwakilan salah satu kelompok kemudian ditanggapi oleh kelompok lainnya begitu setrusnya secara bergantian.berputar keudian berbagi informasi kepada teman (baru) di depannya. kelompok siswa membahas peran yang dilakukan oleh pelakon. bekerja . menunjuk beberapa siswa untuk mempelajari scenario tersebut. pemanggilan ketua dan diberi tugas membahas materi tertentu di kelompok. bentuk kelompok berpasangan sebangku. bimbingan penimpoulan dan refleksi.

siswa atau kelompok menuliskan nomor sembarang dan dimasukkan ke dalam kotak. 45. Demostration Pembelajaran ini khusu untuk materi yang memerlukan peragaan media atau eksperimen. 43. siswa mengembangkannya dan menjelaskan lagi ke siswa lainnya. tanya jawab untuk pemantapan. refleksi. Scramble Sintaknya adalah: buatlah kartu soal sesuai marteri bahan ajar. sajikan materi.kelompok. menunjuk siswa atau kelompok untuk mendemonstrasikan bagiannya. penyuimpulan. guru membacakan soal yang nomornya dipilih acak. pemberian reward. Course Review Horay Langkah-langkahnya: informasi kompetensi. Make-A Match . refleksi. bertukar peran. membimbing pelatihan-penerapan. 44. penyimpulan dan evaluasi. sajian materi. Langkahnya adalah: informasi kompetensi. sajian materi. refleksi. refleksi. membagi tugas pembahasan materi untuk tiap kelompok. kelompok lain menjawab secara bergantian. penyimpulan dan evaluasi. sajian gambaran umum materi bahan ajar. Pair Checks Siswa berkelompok berpasangan sebangku. siswa yang punya nomor sama dengan nomor soal yang dibacakan guru berhak menjawab jika jawaban benar diberi skor dan siswa menyambutnya dengan yel hore atau yang lainnya. tiap kelompok menuliskan pertanyaan dan diberikan kepada kelompok lain. siswa berkelompok mengerjakan soal dan mencari kartu soal untuk jawaban yang cocok. pengecekan kebenaran jawaban. salah seorang menyajikan persoalan dan temannya mengerjakan. penyimpulan dan evaluasi. dikusi kelas. 48. buat kartu jawaban dengan diacak nomornya. Student Facilitator and Explaining Langkah-langkahnya adalah: informasi kompetensi. penyimpulan dan evaluasi. Sintaknya adalah: sajian informasi kompetensi. mengecek pemahaman dan balikan. refleksi. membagikan kartu soal pada kelompok dan kartu jawaban. mendemontrasikan pengetahuan dan ketrampilan procedural. Explicit Instruction Pembelajaran ini cocok untuk menyampaikan materi yang sifatnya algoritmaprosedural. refleksi dan evaluasi 42. 46. kesimpulan dan evaluasi. 47. langkah demi langkah bertahap.

Improve Improve singkatan dari Introducing new concept. Cooperative Script Buat kelompok berpasangan sebangku. siswa membuat ksimpulan dari hasil setiap kelompok. siswa (wakil) mengurutkan gambar sehingga sistematik. bertukar peran. atau tabel sesuai materi bahan ajar dan kompetensi. Enrichment. Metakognitive questioning. penyimpulan dan evaluasi. 51. Practicing. siswa latian dan bertanya. penyimpulan. setiap siswa mencari kartu jawaban yang cocok dengan persoalannya siswa yang benar mendapat nilai-reward. Reviewing and reducing difficulty. penyimpulan. diskusi kelompok tentang sajian gambar tadi. Verivication. untuk badak berikutnya pembelaarn seperti babak pertama. siswa mempelajari wacana dan membuat rangkuman. siswa berkelompok untuk menanggapi dan membuat berbagai alternatiu jawababn. Sintaknya adalah sajian pertanyaan untuk mengantarkan konsep. setiap siswa mencari dan mendapatkan sebuah kartu soal dan berusaha menjawabnya. Picture and Picture Sajian informasi kompetensi. solusi. LAPS ( Logan Avenue Problem Solving) dengan kata Tanya apa masalahnya. presentasi hasil kelompok. guru mengkonfirmasi urutan gambar tersebut. 53. Sintaknya adalah: informasi kompetensi. rencana. balikan-perbnaikan-pengayaan-interaksi. diagram.Guru menyiapkan kartu yang berisi persoalan-permasalahan dan kartu yang berisi jawabannya. evaluasi dan refleksi. evaluasi dan refleksi. perlihatkan gambar kegiatan berkaitan dengan materi. apakah bermanfaat. Obtaining mastery. LAPS-Heuristik Heuristik adalah rangkaian pertanyaan yang bertisfat tuntunan dalam rangaka solusi masalah. Mind Mapping Pembelajara ni sangat cocok untuk mereviu pengetahuan awal siswa. Sintaks: pemahaman masalah. 49. dan bagaimana sebaiknya mengerjakannya. presentasi hasuil diskusi kelompok. valuasi dan refleksi. apakah solusinya. bagikan wacana materi bahan ajar. kartu dikumpul lagi dan dikocok. Examples Non Examples Persiapkan gambar. bimbingan penyimpulan. dan pengecekan. 54. sajian permasalahan terbuka. evaluasi dan refleksi. sajian materi. adakah alternative. . guru menanamkan konsep sesuai materi bahan ajar. sajikan gambar ditempel atau pakai OHP. sajian hasil diskusi oleh salah seorang dan yang lain menanggapi. refleksi. 50. dengan petunjuk guru siswa mencermati sajian. 52.

Superitem Pembelajaran ini dengan cara memberikan tugas kepada siswa secara bertingkatbertahap dari simpel ke kompleks. ranguman. Sintaksnya adalah ilustrasikan konsep konkret dan gunakan analogi.55. LKS dibagikan berupa paragraph yang kaliatnya belum lengkap. setelah selesai kupon dikembalikan. dan refleksi 56. sampaikan kompetensi. Complette Sentence Pembelajaran dengan model melengkapi kalimat adalah dengan sintakas: sisapkan blanko isian berupa aparagraf yang kalimatnya belum lengkap. Time Token Model ini digunakan (Arebds. siswa berkelompok melengkapi. Take and Give Model pembelajaran menerima dan memberi adalah dengan sintaks. siapkan kartu dengan yang berisi nama siswa . siswa berbicara (pidato-tidak membaca) berdasarkan bahan pada kupon. 1998) untuk melatih dan mengembangkan ketrampilan sosial agar siswa tidak mendominasi pembicaraan atau diam sama sekali. evaluasi dan refleksi 61. pada tahap pemantapan tiap siswa disuruh berdiri dan mencari teman dan saling informasi tentang materi atau pendalaman-perluasannya kepada siswa lain kemudian mencatatnya pada kartu. presentasi. . tia kelompok membeuat kalimat berdasarkankata kunci. aplikasi. sajian materi. membentuk kelompok heterogen. Generatif Basi gneratif adalah konstruksivisme dengan sintaks orintasi-motivasi.dan nama yang diberi. evaluasi. 59. tiap siswa diberi kupon bahan pembicaraan (1 menit). guru menyiapkan kata kunci sesuai materi bahan ajar. Langkahnya adalah kondisikan kelas untuk melaksanakan diskusi. Sintaknya adalah kondisikan situasi belajar kondusif dan focus. siswa membuat catatan kreatif sesuai dengan pola pikirnya-peta konsep-bahasa khusus. informasikan kompetensi. dan seterusnya dengan siswa lain secara bergantian. 58. sajian materi. siswa ditugaskan membaca wacana. Circuit Learning Pembelajaran ini adalah dengan memaksimalkan pemberdayaan pikiran dan perasaan dengan pola bertambah dan mengulang. tantangan dan restruturisasi sajiankonsep. berupa opemecahan masalah. presentasi. Tanya jawab dan refleksi 57. guru membentuk kelompok. berikan latihan soal bertingkat.bahan belajar . Concept Sentence Proseduirnya adalah poenyampaian kompetensi. 60. pengungkapan ide-konsep awal.

menciptakan inovasi. virtual workshop menggunakan computer-internet. tiap siswa selesai tugas langsung diperiksa-dinilai. alami-dengan dunia realitas siswa. dinamis. penggunaan ide kreatif-konflik internal-skill. m = massa yaitu potensi diri (akal-rasa-fisik-religi). dan menjaga suasana nyaman-menyenangkan. sebaliknya akan terasa membosankan jika segalanya monoton tak berubah. proses rasa-pikir kreatif dalam pemecahan masalah secara mandiri melalui pemanasan-minatkuriositi-tanya. agar segalanya berubah ke arah yang lebih baik dengan ikhtiar mulai dari diri sendiri. 63. partisipatif. Perubahan kea rah perbaikan adalah tuntutan alamiah yang menjadi kebutuhan setiap insane dalam setiap kehidupan. Quantum Memandang pelaksanaan pembelajaran seperti permainan musik orkestra-simfoni. ketrampilan. Strategi quantum adalah tumbuhkan minat dengan AMBak.berikan sal tes bentuk super item. dan saling menghargai. kelompok-kerjasama. kohesif. Prinsip quantum adalah semua berbicara-bermakna. Rumus quantum fisika asdalah E = mc2. semua mempunyai tujuan. E. 62. reward. namai-buat generalisasi sampai konsep. Manusia telah dibekali akal dan rasa untuk berkreasi. Hibrid Model hibrid adalah gabungan dari beberapa metode yang berkenaan dengan cara siswa mengadopsi konsep. interaktif. dan rayakan dengan reward dengan senyum-tawa-ramah-sejuk-nilai-harapan. kebebasan-terbuka. Oleh karena itu . c = communication. optimalkan komunikasi + dengan aktivitas optimal. koperatifinkuiri-solusi-workshop. lima kali salah guru membimbing. Sintaks: keterbukaan-urun ide-penguatan. tiap usaha siswa diberi reward. Penutup Kehidupan akan terasa indah ap[abila ada variasi. Kumon Pembelajarn dengan mengaitkan antar konsep. demonstrasikan melalui presentasikomunikasi. Sintaknya adalah pembelajaran ekspositori. Guru harus menciptakan suasana kondusif. 65. latihan. Begitu pulal dalam pembelajaran. Treffinger Pembelajaran kreatif dengan basis kematangan dan pengetahuan siap. karena unsur rasa dalam berpikir selalu turut serta dan tak bisa dipisahkan. 64. konsep harus dialami. jika keliru langsung dikembalikan untuk diperbaiki dan diperiksa lagi. ulangi dengan Tanya jawab-latihan-rangkuman. penciptaan suasan kondusif perlu dilakukan. integrasi. yaitu mulai dari mengolah informasi-koneksi informasi. dengan E = energi yang diartikan sukses. dan hipotesis. Sintaksnya adalah: sajian konsep. kerja individual.

New York: Dell Publishing.:Depdiknas.Ar. Goleman. Jakarta: Arga. Jakarta. dalam suasana perasaan yang nyaman dan menyenangkan. Daniel (1995). Perth: Edith Cowan University. Cord (2001). CTL). L (1993). Buzan. Semoga. Gardner. tidak lagi dirasakan sebagai kewajiban. (2002). What is Contextual Learning. melainkan memnjadi kesadaran dan kebutuhan. Burton. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. komunikasi positif yang efektif. . WWI Publishing Texas: Waco. Daftar Pustaka Ary Ginanjar Agustian (2002). S. New York: Penguin Books. Bandung: JICA-FPMIPA. De Porter. Salah satu cara untuk menciptakan suasan yang nyaman dan menyenangkan sert terhndar dari kevbiosanan adalah dengan memahami dan melaksanakan model belajar yang dilakukan siswa.penciptaan suasana kondusif perlu dilakukan sehingga dalam belajar siswa tidak lagi merasa cemas. Ditdik SLTP (2002). Quantum Learning. dkk. The Constructivist Classroom Education in Profile. New York: Basic Bools. Erman. 3rd ed. tidak lagi takut dalam berpartisipasi. Emotional Intelligence. New York: Bantam Books. Bobbi (1992). Howard (1985). Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning. Use Both Sides of Yoru Brain. Tony (1989). Frame of Mind: The Theory of Multiple Ilntelligences. Emotional Spritual Quotient (ESQ).. dan model pembelajaran yang inovatif.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful