http://educare.e-fkipunla.net/index.php?

option=com_content&task=view&id=40&Itemid=3 Penelitian Tentang Manfaat Tujuan Pembelajaran Khusus dalam Proses Belajar Mengajar Ditulis oleh Otong Kardisaputra A. Latar belakang masalah Sejak diberlakukannya Kurikulum 1975, yang waktu itu dikenal dengan sebutan Pembakuan Kurikulum, para guru diwajibkan menggunakan tujuan instruksional khusus (TIK) dalam melaksanakan tugasnya dari mulai perencanaan pengajaran, pelaksanaan proses belajar-mengajar sampai evaluasi pengajaran. Kewajiban itu merupakan implikasi dari penggunaan prinsip objective oriented sebagai salah satu asas pengembangan kurikulum. Penerapan prinsip berorientasi pada tujuan ini nampak pada Kurikulum 1975 dengan dicantumkannya berbagai jenis tujuan yang tersusun secara hierarkhis, dari mulai tujuan pendidikan nasional, tujuan institusional, tujuan kurikuler sampai ke tujuan instruksional umum. Atas dasar tujuan-tujuan itu, guru diwajibkan mengembangkan tujuan instruksional khusus untuk diusahakan pencapaiannya pada proses belajar-mengajar yang diselenggarakannya. Tujuan instruksional khusus itu menjadi tujuan antara untuk mencapai tujuan yang berada di atasnya. Sejak diimplementasikannya Kurikulum 1975 sampai dewasa ini para guru telah terbiasa merumuskan tujuan instruksional khusus yang dewasa ini biasa disebut tujuan pembelajaran khusus (TPK), sebagai bagian penting dari tugas menyusun Program Satuan Pelajaran dan Rencana Pelajaran. Jika dihitung-hitung, penggunaan TPK dalam pengajaran (proses belajar-mengajar) telah berlangsung selama lebih dari seperempat abad. Artinya suatu jangka waktu yang cukup panjang dalam menerapkan suatu gagasan, sehingga layak untuk diperiksa hasilnya, dengan mengajukan pertanyaan: apa dampak dari penerapan ide ini? Persoalan lain yang tidak kurang pentingnya adalah masalah: apakah gagasan itu telah diterapkan secara semestinya? Suatu studi kecil yang dilakukan peneliti di kalangan guru yang mengikuti lanjutan studi di IKIP Bandung (sekarang UPI) dan pada beberapa program penataran dengan pengalaman kerja kebanyakan belasan tahun yang seluruhnya berjumlah 164 orang, ternyata hanya 27, 43 % dari mereka mengaku senantiasa menginformasikan TPK pada fase pembukaan pembelajarannya. Selebihnya mengaku hanya kadang-kadang saja dan bahkan sebagian menyatakan tidak pernah sama sekali memberitahukan TPK kepada para siswanya pada waktu mengajar. Informasi lain diperoleh dari Pengawas (Dikbud) di wilayah Bogor, yang menyatakan bahwa kurang lebih 10% dari guruguru di wilayah itu yang terbiasa menginformasikan tujuan pembelajaran khusus kepada para siswanya ketika mereka mengajar. Data dan informasi itu mengindikasikan kekurang pahaman bagian terbesar dari mereka akan fungsi dan manfaat TPK dalam pembelajaran. Itu sebabnya mereka tidak memperlakukan TPK secara semestinya. Konsekuensinya TPK kehilangan fungsinya seperti digagaskan oleh penggagasnya. Jadi apa yang diharapkan dapat dicapai dari penerapan suatu ide, jika ide itu tidak diterapkan sebagaimana mestinya? Persoalan lain adalah bahwa pengunaan prinsip objective oriented dalam pengembangan kurikulum itu nampaknya tidak didahului oleh suatu kajian mendalam dan luas mengenai keampuhan prinsip itu bila diterapkan di Indonesia. Boleh jadi

penerapan prinsip itu hanya didasarkan pada expert judgement semata. Bukankah betapa pun bagusnya sebuah ide di lingkungan tertentu tidak akan serta merta bagus pula untuk diterapkan di lingkungan lainnya. Aspek sosial, budaya, dan sumber daya akan turut menentukan keberhasilan penerapan suatu gagasan. Apa lagi jika kita baca beberapa literatur, ternyata di Amerika Serikat sindiri pun tempat lahirnya gagasan perlunya TPK dalam pembelajaran, sempat menjadi sebuah isyu kontroversial di antara para pakar. Beberapa pakar, misalnya L.T. Dawley dan H.H. Dawley (1974), P.C. Duchastel dan B. Brown (1975), W.E. Hauck dan J.W. Thomas (1972), R.J. Kibler (1977), dan lain-lain, melalui penelitiannya masing-masing menemukan bahwa penggunaan TPK dalam proses belajar-mengajar ternyata dapat meningkatkan keberhasilan siswa belajar. Tetapi sebaliknya H. Hausdorf (1965), R.L. Ebel (1970), E.W. Eisner (1967) memandang penggunaan TPK dalam mengajar tidak jelas manfaatnya. W.J. Popham menulis secara rinci dan mendalam yang esensinya meragukan validitas sejumlah argumen yang diajukan sejumlah pakar mengenai kekurang bermaknaan penggunaan TPK dalam pengajaran. Fenomena yang mengindikasikan belum meratanya kematapan pemahaman guruguru akan fungsi dan kemanfaatan dan cara bagaimana memperlakukan TPK dalam mengajar serta adanya inkonsistensi hasil penelitian dan pandangan yang saling berbeda di antara sejumlah pakar di Amerika Serikat (R.J. Kibler, 1981; W. Dick dkk. 1985; R.I. Arends,1989) telah mendorong dilakukannya penelitian ini. Dengan penelitian ini diharapkan diperoleh pengetahuan empiris mengenai manfaat TPK dalam upaya meningkatkan efektifitas proses belajar-mengajar di sekolah. A. Rumusan Masalah Secara umum, masalah yang hendak diteliti dalam studi ini adalah manfaat penggunaan tujuan pembelajaran khusus dalam proses belajar-mengajar. Secara lebih khusus, masalah itu dapat dirumuskan sebagai berikut: “Apakah penggunaan tujuan pembelajaran khusus meningkatkan efektifitas proses belajar-mengajar?” Tujuan pembelajaran khusus dalam rumusan masalah itu didefinisikan sebagai: “pernyataan yang menjelaskan apa yang diharapkan dapat dilakukan siswa setelah mengikuti satu unit proses belajar-mengajar.” Satu unit proses belajar-mengajar di sini dimaksudkan sebagai satu pertemuan kelas selama dua kali 45 menit dalam mana berlangsung rangkaian hubungan edukatif antara guru dengan siswa dan interaksi antara tindakan pembelajaran guru dengan perbuatan belajar siswa yang ditujukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dimaksudkan dengan kata-kata “penggunaan tujuan pembelajaran khusus” dalam rumusan masalah tersebut adalah perlakuan guru terhadap rumusan tujuan-tujuan pembelajaran khusus yang telah dikembangkan guru sebagaimana yang dicantumkannya dalam program satuan pelajaran dan/atau rencana pelajaran yang dibuatnya. Dalam penelitian ini ditetapkan dua kondisi sebagai berikut: 1. Tujuan pembelajaran khusus telah diperlakukan secara semestinya (benar) apabila tujuan-tujuan pembelajaran khusus yang dibawa guru ke dalam kelas belajar diinformasikan kepada siswa dengan jelas pada fase pembukaan proses belajarmengajar sehingga tujuan pembelajaran khusus menjadi fungsional; 2. Tujuan pembelajaran khusus diperlakukan secara tidak semestinya apabila

Pembentukan Pengetahuan Sains, Teknologoi dan Masyarakat dalam Pandangan Pendidikan IPA Ditulis oleh Reviandari Widyatiningtyas A. Pembentukan Pengetahuan Pengetahuan yang dimiliki seseorang pada dasarnya berupa konsep-konsep. Konsepkonsep ini diproleh individu sebagai hasil berinteraksi dengan lingkungan. Dengan konsep-konsep dapat disusun suatu prinsip, yang dapat digunakan sebagai landasan dalam berpikir. Konsep didefinisikan oleh beberapa ahli sebagai berikut. Menurut Good (1973: 124), konsep adalah gambaran dari ciri-ciri, yang dengan ciri-ciri itu objek-objek dapat dibeda-bedakan. Menurut Yelon et al. (1971: 190), konsep adalah elemen umum dari sekelompok objek, peristiwa atau proses. Sedangkan menurut Kuslan dan Stone (1968: 79), konsep adalah sifat Khas yang diberikan pada sejumlah objek, proses, fenomena, atau peristiwa, yang dapat dikelompokkan berdasarkan sifat khas itu. Rumusan definisi yang dikemukakan diatas mengandung makna yang sama, yaitu konsep merupakan suatu abstraksi yang mengambarkan ciri-ciri umum dari sekelompok objek, proses, peristiwa, atau fenomena lainnya. Gagne (1985 ; III ) dan Gagne and Briggs (1974: 40) menyatakan bahwa konsep dapat digolongkan kedalam dua golongan yaitu konsep konkrit dan konsep terdefinisi. Konsep konkrit adalah konsep yang menunjukkan ciri-ciri atau atribut dari suatu objek, yaitu relatif mudah dikenali dengan indra. Contoh konsep konkrit misalnya konsep warna (merah, hijau), bentuk (bulat, datar), sifat (keras, lunak), dan sebagainya. Konsep terdefinisi adalah konsep yang dapat dikenali (dipahami) melalui definisi, jadi sifatnya abstrak. Contoh konsep terdefinisi misalnya konsep: penduduk, fertilitas, ovulasi, dan sebagainya. Praget (dalam Dahar, 1989: 159) melalui penelitiannya tentang bagaimana anak memperoleh konsep atau pengetahuan, berkesimpulan bahwa konsep atau pengetahuan itu dibangun dalam pikiran anak. Hasil penelitiannya ini yang menyebabkan ia dikenal sebagai konstruktivis pertama. Guston et-al (dalam Poedjiadi, 1995: 15) menyatakan bahwa paham konstruktivisme bertitik tolak dari mempelajari bagaimana individu belajar. Pandangan konstruktivisme dalam belajar adalah bahwa individu membangun maknanya sendiri apabila menerima input melalui sensornya. Dalam pembentukan pengetahuan melibatkan kegiatan berpikir. Ada tiga aspek yang diajukan Piaget (dalam Dahar, 1989: 110) dalam membahas berpikir pada anak, yaitu isi, struktur dan fungsi. Isi ialah pola perilaku anak yang khas yang tercermin pada respons yang diberikannya terhadap berbagai masalah atau situasi yang dihadapinya. Jadi isi mengacu kepada tingkah laku yang nampak sebagai pencerminan dari kegiatan intelektual. Kerana itu isi berbeda dari umur ke umur dan satu anak ke anak lainnya. Isi ditentukan oleh struktur kognitif yang disebut skemata atau skema. Struktur kognitif adalah berupa fakta-fakta, konsep-konsep dan generalisasi-

generalisasi yang ada dalam pikiran siswa. Struktuk mengacu pada sifat-sifat penataan (skemata) yang menjelaskan terjadinya tingkah laku tertentu. Skemata merupakan dasar untuk berpikir, untuk melakukan operasi-operasi logis, atau memahami sesuatu. Fungsi adalah cara yang digunakan organisme untuk membuat kemajuan intelektualnya. Proses terbentuknya pengetahuan pada individu sangat ditentukan oleh struktur kognitifnya, yang berupa konsep-konsep yang ada dalam pikirannya. Dengan konsepkonsep yang ada tersebut, memungkinkan individu dapat memikirkan sesuatu dengan cara adaptasi (baik asimilasi maupun akomodasi), yang kemudian hasil-hasilnya disistematikan dengan proses organisasi sehingga dihasilkan struktur (skemata) baru. Dengan stuktur ini akan dihasilkan pola prilaku yang nampak. Piaget (dalam Dahar, 1989: 159) membedakan tiga bentuk pengetahuan berdasarkan sumber utamanya dan penstrukturannya. Tiga bentuk pengetahuan tersebut adalah pengetahuan fisik, pengetahuan logiko-matematik, dan pengetahuan sosial. Pengatahuan fisik meliputi pengetahuan tentang benda-benda dan sifat-sifatnya. Pengetahuan logiko-matematik diabstraksikan dari kegiatan, atau dari koordinasi kegiatan dan bukan bersumber dari onjek itu sendiri, sumber pengetahuan logikomatematik adalah proses berfikir dari individu itu sendiri. Sedangkan proses pembentukan logiko-matematik ialah mengorganisasi tindakan menjadi pola tindakan yang lebih logis melalui modifikasi tindakan struktur kognitif. Pengetahuan sosial terjadi dari hasil interaksi manusia dengan manusia. Individu tidak mungkin memperoleh pengetahuan sosial tanpa berinteraksi dengan manusia lain. Pengetahuan ini didasarkan pada perjanjian sosial, suatu perjanjian atau kebiasaan yang dibuat manusia. Menurut Piaget (dalam Dahar, 1989: 159) pengetahuan sosial seperti nama hari dalam seminggu, tanda atom unsur-unsur, satuan besaran pokok, dapat dipelajari secara langsung, yaitu dari pikiran guru pindah ke pikiran siswa. Namun pengetahuan fisik dan pengetahuan logiko-matematik tidak secara langsung dan utuh dipindahkan dari pikiran guru ke siswa. Kedua pengetahuan ini tidak dapat diteruskan dalam bentuk sudah jadi, setiap siswa harus membangun sendiri pengetahuan itu.

A. Penguasaan Pengetahuan Sains, Teknologi dan Masysarakat Penguasaan pengetahuan sains dan teknologi akan dikaitkan dengan aspek sosial, hal ini dikarenakan satu sama lain saling berkaitan. Untuk memperjelas hal tersebut, dapat diungkap melalui definisi-definisi yang dikemukakan oleh beberapa ahli. Sains, menurut Titus (1959:78), mengandung tiga definisi yaitu sebagai sejumlah disiplin ilmu, sebagai sekumpulan pengetahuan, dan sebagai metode-metode. Disamping itu ditegaskan pula bahwa sains merupakan suatu rangkaian konsep-

konsep yang berkaitan dan berkembang dari hasil eksperimen dan observasi. Menurut Robert B. Sund (1973: 2), sains merupakan suatu tubuh pengetahuan (body of knowledge) dan proses penemuan pengetahuan. Dengan demikian, pada hakekatnya sains merupakan suatu produk dan proses. Produk sains meliputi fakta, konsep, prinsip, teori dan hukum. Proses sains meliputi cara-cara memperoleh, mengembangkan dan menerapkan pengetahuan yang mencakup cara kerja, cara berfikir, cara memecahkan masalah, dan cara bersikap. Sains dirumuskan secara sistematis, terutama didasarkan atas pengamatan eksperimen dan induksi. Teknologi, menurut Fischer (1975), adalah totalitas alat yang dikembangkan oleh masyarakat untuk memperoleh objek-objek materi bagi makanan dan kenyamanan manusia. Menurut Poerwadarminta (1983), teknologi adalah ilmu pengetahuan dan kepandaian membuat sesuatu yang berkenaan dengan hasil industri atau ilmu pengetahuan tentang cara membuat sesuatu yang berkenaan dengan hasil industri atau ilmu pengetahuan tentang cara membuat sesuatu atau melakukan sesuatu, sedangkan menurut UNESCO (1983), teknologi adalah sebagai berikut: ……..technology is the know-how and creative process that may utilize tools, resources, and systems, to solve problems, to enhance control over the natural an man-made environment in endeavour to improve the human condition. Jadi secara ringkas dapat dikatakan bahwa, teknologi merupakan suatu perangkat keras ataupun perangkat lunak yang digunakan untuk memecahkan masalah bagi pemenuhan kebutuhan manusia. Sains melandasi perkembangan teknologi, sedangkan teknologi menunjang perkembangan sains, sains terutama digunakan untuk aktivitas discovery dalam upaya memperoleh penjelasan tentang objek dan fenomena alam, namun juga untuk aktivitas penemuan (invention), misalnya dalam penemuan rumus-rumus. Pengembangan sains ini tidak selalu dikaitkan dengan aspek kebutuhan masyarakat. Sedangkan teknologi, merupakan aplikasi sains yang terutama untuk kegiatan invention, berupa alat-alat atau barang-barang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Jadi pengembangan teknologi selalu dikaitkan dengan kebutuhan masyarakat. Dengan demikian sains, teknologi dan masyarakat merupakan bagian yang tak terpisahkan (Poedjiadi, 1990 ; Yager, 1992: 4). Masyarakat , menurut Aikenhead (dalam Mariana, 1994: 29), adalah suatu lingkungan pergaulan sosial dan kaidah-kaidah yang dianut oleh suatu kelompok masyarakat. Menurut Poerwadarminta (1983), masyarakat adalah sehimpunan orang yang hidup bersama dalam suatu tempat dengan ikatan-ikatan dan aturan-aturan tertentu. Sedangkan, sosial adalah segala sesuatu yang mengenai masyarakat. Jadi, secara ringkas dapat dikatakan bahwa, masyarakat adalah sekelompok manusia yang memiliki wilayah, kebutuhan, dan norma-norma sosial tertentu. Sains, teknologi dan masyarakat satu sama lain saling berinteraksi. Interaksi ini dapat digambarkan seperti gambar sebagai berikut:

Penggunaan proses-proses ilmiah dalam pemecahan masalah-masalah yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. 3. 1992: 19-20). 4. Untuk penyusunan materi pendidikan sains. Pembuatan keputusan-keputusan yang berhubungan dengan kesehatan. 2. Pemahaman prinsip-prinsip sains dan teknologi yang terlibat dalam alat-alat teknologi yang dimamfaatkan masyarakat. STM dan Literasi Sains dan Teknologi Pendidikan IPA atau pendidikan sains pada hakekatnya merupakan upaya pemahaman. 1992:87-88) B. Evaluasi dalam STM meliputi ruang lingkup aspek: 1. maka kriteria pengembangan evaluasinya dapat mengacu kepada pengembangan evaluasi dalam unit STS atau STM (sains. Penerapan konsep-konsep dan keterampilan-keterampilan sains untuk masalahmasalah teknologi sehari-hari. dapat dilakukan melalui suatu evaluasi. 5. Pemahaman konsep sains dalam pengalaman kehidupan sehari-hari. Kirham (dalam Wellington. Mengingat penguasaan sains dan teknologi dalam penelitian ini merupakan penguasaan sains dan teknologi yang berkaitan dengan aspek masyarakat. penyadaran. Pendidikan sains merupakan salah satu aspek pendidikan yang menggunakan sains sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan umumnya yakni tujuan pendidikan nasional dan tujuan pendidikan sains khususnya. (Varella. dan pengembangan nilai positif tentang hakekat sains melalui pembelajaran. . Evaluasi merupakan suatu pengukuran atau penilaian terhadap sesuatu prestasi atau hasil yang telah dicapai. atau hal-hal lain yang didasarkan pada konsep-konsep ilmiah. yaitu untuk meningkatkan pengertian terhadap dunia alamiah (Amien. process.SAINS TEKNOLOGI MASYARAKAT Untuk mengungkap penguasaan pengetahuan sains dan teknologi tersebut. teknologi. masyarakat). nutrisi. Sains pada hakekatnya merupakan ilmu dan pengetahuan tentang fenomena alam yang meliputi produk dan proses. 1989: 136) menyarankan bahwa sains hendaknya merupakan akumulasi dari content.

isu atau masalah harus diangkat pada awal pembahasan topik yang diajarkan. pengajaran sains dewasa ini perlu dikaitkan dengan aspek teknologi dan masyarakat. serta perlu dapat mengantisipasi masalah-masalah sosial yang berkaitan dengan sains dan teknologi tersebut. prinsip. Tantangan pendidikan sains dewasa ini adalah perlu sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Masalah atau isu yang ada dilingkungan masyarakat dapat pula diusahakan agar ditemukan oleh peserta didik sendiri setelah guru membimbing dengan cara-cara tertentu. Pengajaran yang mengkaitkan sains dengan teknologi dan masyarakat. National Science Teacher Association atau NSTA. Strategi ini mirip dengan stategi pendidikan IPA terpadu. Strategi kedua. Untuk kepentingan itu. guru memperkenalkan atau menunjukkan kepada peserta didik adanya isu atau masalah dilingkungan peserta didik atu menunjukkan aplikasi sains atau suatu produk teknologi yang ada dilingkungan mereka. Pada saat membahas konsep-konsep tertentu suatu topik yang relevan telah dirancang sesuai strategi pertama dapat diterapakan dalam . konsep. Pada awal perubahan tiap topik. menyajikan suatu topik yang relevan dengan konsep-konsep tertentu yang termasuk dalam GBPP. mendefinisikan STS sebagai belajar/mengajar sains dan teknologi dalam konteks pengalaman manusia (Poedjiadi. Process. dan terminologi. berkaitan dengan kepentingan sosial baik individu maupun masyarakat atau kepentingan-kepentingan lainnya yang berhubungan dengan perlunya pengembangan dan penyesuaian pendidikan sains untuk menghadapi tantangan kemajuan jaman sekarang ini. 1994: 1). Anna Poedjiadi (1995: 4) mengemukakan hal sebagai berikut: Pelaksanaan pendekatan STM dapat dilakukan melalui tiga macam strategi.dan context. Melalui kegiatan eksperimen atau diskusi kelompok yang dirancang oleh guru akhirnya dibangun atau dikonstruktur pengetahuan pada peserta didik. definisi. Context. menyusun topik-topik tertentu yang menyangkut konsep-konsep yang ingin ditanamkan pada peserta didik. strategi pertama. Berkenaan dengan strategi pelaksanaan pendekatan STM. Content. berkaitan dengan metodologi atau keterampilan untuk memperoleh dan menemukan content. dikenal dengan pengajaran dengan pendekatan STM atau STS. teori. selanjutnya dikembangkan pula di Inggris dan Australia. sedangkan dalam IPA terpadu tidak mutlak harus dilaksanakan demikian. model. dalam hal ini pengetahuan yang berbentuk konsepkonsep . Perbedaannya ialah bahwa pada program STM. Pendekatan ScienceTechnology-Society atau STS ini pertama kali dikembangkan di Amerika Serikat pada tahun 1980-an. menyangkut kepada hal-hal yang berkaitan dengan fakta.

efesien dan efektif. Literasi dapat diartikan sebagai kemampuan untuk membaca dan menulis. Sains-Teknologi-Masyarakat (STM) merupakan perekat yang mengkaitkan sains. (c) berpengatahuan luas tentang hasil-hasil riset. Dengan demikian individu tersebut dapat menghargai sains dan teknologi dalam . dan masyarakat secara terintegrasi. mengenal teknologi yang ada beserta dampaknya di sekitar. serta untuk meningkatkan kemampuan menggunakan pengetahuan didalam membuat keputusan. (d) mampu mengevaluasi proses dan produk teknologi. (c) sadar tentang akibat teknologi terhadap masyarakat. isu atau masalah sebaiknyadperkenalkan pada awal pokok bahasan tertentu untuk meningkatkan motivasi peserta didik mempelajari konsep-konsep selanjutnya atau mengarahkan perhatian peserta didik kepada materi yang akan dibahas sebagai apersepsi. (e) memilki pengertian hubungan antara sains. dan mampu mengambil keputusan berdasarkan nilai. (b) sadar tentang proses dan prinsip teknologi. memiliki karakteristik: (a) tahu penggunaan dan pemeliharaan produk teknologi. kreatif membuat produk teknologi sederhana. dapat diartikan sebagai pemahaman atas sains dan aplikasinya bagi kebutuhan masyarakat. serta mampu menerapkannya dalam teknologi dan masyarakat. Konsep ini dapat diwujudkan dalam bentuk pendekatan atau materi pelajaran.pembelajaran. STM merupakan salah satu alternatif konsep untuk penyempurnaan dan penyesuaian pendidikan sains dewasa ini. 1993: 428). Pengajaran dengan pendekatan STM dapat meningkatkan literasi sains dan teknioplogi individu. 1994: 34) . atau kemampuan berkomunikasi melalui tulisan dan kata-kata. (d) memilki pengetahuan tentang konsep dan prinsip sains. mengajak peserta didik untuk berpikir dan menemukan aplikasi konsep sains dalam industri atau produk teknologi yang ada di masyarakat di selasela kegiatan belajar berlangsung. berpengaruh satu sama lain. Literasi sains (scientific literasi). Adapun literasi sains dan teknologi (literasi sains dan teknologi untuk semua orang yang diusulkan untuk pendidikan dasar di Indonesia). Adapun individu yang literat teknologi menurut M. Strategi ketiga. (f) berkemampuan membuat keputusan dan terampil menganalisis nilai untuk pemecahan masalah-masalah masyarakat yang berhubungan dengan sains tersebut (Rubba.J. (e) mampu membuat hasil teknologi alternatif yang sederhana. Krakteristik individu yang memilki literasi ilmiah adalah sebagai berikut: (a) bersikap positif terhadap sains. teknologi. Dengan demikian program STM merupakan suplemen dari kurikulum. dan mampu bersikap serta mampu menggunakan alat secara aman. tepat. contoh-contoh adanya aplikasi konsep sains. Literasi teknologi. masyarakat dan nilai-nilai manusia. dapat diartikan sebagai kemampuan melaksanakan teknologi yang didasari kemampuan identifikasi. (b) mampu menggunakan proses sains. dapat diartikan sebagai kemampuan menyelesaikan masalah dengan menggunakan konsep-konsep sains. mampu menggunakan produk teknologi dan memeliharanya. STM dikembangkan untuk meningkatkan literasi ilmiah individu agar mengerti bagaimana sains. sadar akan efek hasil teknologi. Dyrenfurth (dalam Poedjiadi. teknologi. teknologi dan masyarakat.

“Kecenderungan Pendidikan Sains dan Teknologi dimasa yang Akan Datang. New York: Holt.. Belmount: Wadsworth Publishing Company.M. Jakarta. G. 1998: 276).S. 3 Mei.W. The Condition of Learning and Theory of Instruction. Hall..J. . Teori-teori Belajar. (1971). (1983). Austin: Univercity of Texas. & Stone. 17-19 Januari. (1980). Inc. Teaching Children Science: An Inquiry Approach. (1985). The Stucture of Science Education. New York: Mc Graw Hill Book Company. dan mengerti keterbatasan-keterbatasannya (Yager. L.V. et al. Philadelphia: Saunders Co. R. Dahar. Makalah Disajikan pada Seminar Staff FPMIPA IKIP Bandung. C. Gordner. R. Poerwadarminta.masyarakat. New York: Rinehort and Winston. R. Bandung. Kamus Umum Bahasa Indonesia.’lay Company. & Sund. _______. (1968).A. How Thorn Victoria Australia: Longman Australia Pty Limited. Disertai Doktor FPS IKIP. R. (1985). Kesiapan Guru Mengajarkan Sains di Sekolah Dasar Ditinjau Dari Pengembangan Keterampialan Proses Sains. (1975). _______. A. Balai Pustaka.L. et al. IKIP Bandung: tidak diterbitkan.J. Gagne.M. Poedjiadi.H. (1971). Kuslan. L. (1973).B. Carin.I. Merrill Publishing. Good. Man and Siciety. “Partisipasi FPMIPA IKIP Bandung dalam Menunjang Perkembangan Pendidikan Sains dan Teknologi Dewasa ini “. (1974). Rinehort and Winston. R. Principlesof Instructional Desig. (1979). A. W.e. New York: David Mc. Jakarta: PN.B. Science. Maesuring Stage of Concern about The Innovation: A Manual foe use of the Sacial Questionnaire. Columbus: Charles E. Taxonomy of Educational objectives The Classification of Educational Goal Handbook I Cognitive Domain. Fischer. Teaching Science Through Discovery. P. Makalah dan Lokakarya tentang Reorientasi dan perubahan Kurikulum Pendidikan Menengah Umum”. A.(1995). DAFTAR PUSTAKA Bloom. Dictionary of Education. (1990). (Eds). & Briggs. Gagne. Jakarta: Erlangga. (1989).

407-431. A. Latar Belakang Masalah Keberhasilan belajar Sains di SMU umumnya diukur dari seberapa jauh siswa menguasai konsep yang diajarkan. & Shoemaker. Sampel diambil secara claster random yang meliputi satu kelas eksperimen menggunakan pertanyaan pengarah dan satu kelas kontrol dengan pertanyaan biasa tanpa pengarah dalam pembelajarannya. Communication of Innovation: Crosscultural Approach. Titus. (1992). Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil postes siswa dari kedua pembelajaran pada umumnya sangat baik demikian pula retensinya. “Greater Ability to Apply Concepts Using and Science/Technology/Sociaty Approach to Teaching Science”. hendaknya tidak hanya dari penguasaan konsep saja.H. Faktor retensi atau lekatnya konsep dalam ingatan kurang mendapat perhatian padahal dapat dijadikan indikator bermutunya hasil belajar atau pembelajaran. “Science-Technology-Society as Reform”. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen. R.Rogers.F. ICASE YEARBOOK. Yager. 87-92. Science Education. Hasil postes dari kedua pembelajaran tidak berbeda.F..M. “Examination of Preservice and Inservice Secondary Science Teachers Beliefs about Science –Technology-Society Interactions”. G. Varella. (1993). eranan Pertanyaan Terhadap Kekuatan Retensi dalam Pembelajaran Sains pada Siswa SMU Ditulis oleh Taufik Rahman ABSTRAK Telah dilakukan penelitian tentang peranan pertanyaan terhadap retensi dalam pembelajaran sains pada siswa SMU.(1959). namun retensinya berbeda signifikan. F. Rubba.E. Pendahuluan 1. Untuk mengetahui efektifnya model pembelajaran.A. Macam pertanyaan yang diajukan oleh guru secara lisan atau tulisan menentukan keberhasilan siswa dalam peningkatan berpikir dan penguasaan konsep (Dahar. (1992). New York: American Book Company. . P. Tes retensi dilakukan setelah tiga minggu dari pos tes. ICASE YEARBOOK. retensi siswa hasil pembelajaran dengan pertanyaan penuntun lebih baik dari pertanyaan biasa. R. tetapi lebih jauh perlu dianalisis apakah konsep-konsep yang diajarkan dapat lekat dalam ingatan siswa ataukah cepat terlupakan karena pembelajaran yang dilakukan hanya berupa transfer hapalan belaka. Analisis di atas dipandang kurang terungkap padahal merupakan sesuatu yang perlu diketahui dan diteliti. Living Issues In Philoshophy.W. E. H. (1971). New York: Free Press. 2-8.

hal ini dikenal sebagai lupa (Abin Syamsudin. mendorong siswa berfikir. Batasan Masalah 1) Pertanyaan yang diteliti meliputi pertanyaan penuntun dan pertanyaan biasa atau tidak menuntun. dapat membangkitkan minat dan rasa ingin tahu siswa terhadap masalah yang sedang dibahas. B. Rumusan Masalah Masalah umum penelitian ini dirumuskan sebagai berikut. Lupa bisa dikurangi dengan berbagai cara. karena pertanyaan dapat menggali informasi dari ingatan (Winkel. 3) Retensi adalah kemampuan mengingat konsep setelah selang waktu tiga minggu. Pertanyaan dalam pembelajaran antara lain digunakan untuk menguji daya ingat siswa. mengarahkan atau menuntun pada arah tertentu. Peranan Pertanyaan Dan Retensi Dalam pembelajaran Sains 1. 1996:458).1985:122). Rumusan Dan Batasan Masalah a. Namun. banyak hal yang telah disimpan dalam ingatan sulit untuk diproduksikan lagi. Peranan Pertanyaan Dalam pembelajaran Sains Pertanyaan merupakan komponen yang amat diperlukan dalam pembelajaran sains. Pertanyaan penuntun berupa rangkaian pertanyaan yang saling berkaitan untuk menjawab pertanyaan pokok. 1996:117). Suatu pertanyaan yang diberikan secara tersusun dengan baik dapat memberikandampak positif sebagai berikut: Dapat meningkatkan partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran. tentunya perlu dianalisis pertanyaan-pertanyaan yang bagai mana yang secara baik dapat menggali ingatan dan yang bagaimana pula yang secara baik dapat menguatkan ingatan. Bagaimana peranan pertanyaan terhadap kuatnya retensi dalam pembelajaran sains pada siswa SMU? b. 2) Pembelajaran sains meliputi pembelajaran biologi konsep polusi air di satu SMUN di Bandung. Kemampuan untuk menyimpan dalam ingatan ini dikenal sebagai retensi. Konsep yang dipahami secara baik oleh siswa dari pembelajaran dapat disimpan dalam ingatan atau memori yang kemudian akan dipergunakan pada saat diperlukan. dapat . Kuatnya retensi ditentukan dengan perbandingan tes retensi (postes ke-2) dengan postes kali 100 persen. salah satunya dengan memberikan pertanyaan. 2. dan untuk mengungkap gagasan siswa (Wynne Harlen. Pada kenyataannya. dapat mengembangkan pola dan cara berfikir aktif siswa. Pertanyaan biasa adalah pertanyaan-pertanyaan yang berdiri sendiri tanpa menghiraukan kaitannya dengan pertanyaan pokok. 1991: 97).

Banyak penelitian yang telah dilakukan oleh para ahli pendidikan yang berkaitan dengan retensi. Retensi dan lupa merupakan dua istilah yang tidak dapat dipisahkan. Pertanyaan produktif dan non produktif (Sheilla Jelly. maka proses belajar siswa tidak berlangsung dengan baik dan sebaliknya jika tidak belajar maka tidak akan ada retensi. Dengan demikian aspek retensi sangatlah diperlukan. Bentuk pertanyaan Pengarah berbeda dari pertanyaan biasa. dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Guskey & Gates (1985). Banyaknya pertanyaan yang diajukan dalam pembelajaran tidak menunjukkan bahwa pembelajaran tersebut lebih berkualitas (Wynne Harlen. al.C. dan dapat memusatkan perhatian siswa terhadap masalah yang sedang dibahas (Moh Uzer Usman. Uzer Usman. Peranan Retensi Dalam Pembelajaran Sains Retensi atau ingatan terhadap pengetahuan yang dipelajari merupakan faktor yang penting dalam suatu pembelajaran sains misalnya biologi.C. Dengan demikian salah satu bentuk promting adalah menanyakan pertanyaan lain yang lebih sederhana yang jawabannya dapat dipakai menuntun siswa untuk menemukan jawaban yang tepat (Suwandi dan Tjetjep S. (1978 & 1990) (dalam Semb et. jenis pertanyaan biasa umumnya lebih mendominasi. 1991: 97). 1995: 74) Berdasarkan karakteristiknya pertanyaan antara lain digolongkan sebagai berikut. Namun. (2) menanyakan pertanyaan-pertanyaan sederhana yang membawa mereka kembali pada pertanyaan semula. Hal ini didukung oleh pernyataan yang dikemukakan oleh James Dese (1959: 236) bahwa jika tidak ada retensi. 1996: 18). Wrag dan George Brown . Namun. banyak hal yang perlu dipahami dan diingat.1999:4). Pertanyaan pengarah berupa pertanyaan berangkai (lebih dari satu pertanyaan yang satu sama lain berkaitan) yang ditujukan untuk menuntun siswa menguasai konsep. (3) memberikan suatu review informasi yang diberikan dan pertanyaan yang membantu murid untuk mengingat atau melihat jawabannya (E. al.. misalnya topik polusi. Pertanyaan biasa berupa pertanyaan tunggal untuk mengungkap penguasaan konsep. pertanyaan retoris (rhetorical questions). Dalam materi tersebut meliputi konsep konkret dan abstrak.Wrag dan George Brown 1997: 43). Kulik et. Dalam mempelajari sains biologi. Pertanyaan permintaan (compliance questions). Dalam pembelajaran sains kedua jenis pertanyaan tersebut senantiasa dipergunakan. Retensi mengacu .menuntun proses berfikir siswa untuk menentukan jawaban yang baik.1987:72). dalam Nuryani Rustaman.1997: 43) 2. pertanyaan mengarahkan atau menuntun (promting question) dan pertanyaan menggali (probing questions) ( Moh. 1993: 305) diantaranya membuktikan bahwa kita menyimpan banyak ingatan terhadap apa yang telah dipelajari di sekolah. baik secara tertulis dalam Lembar Kerja Siswa(LKS) maupun secara lisan oleh guru di kelas. Retensi erat hubungannya dengan belajar. yaitu: (1) mengubah susunan pertanyaan dengan kata-kata yang berbeda atau lebih sederhana yang disesuaikan dengan pengetahuan murid-muridnya. mutu pertanyaan guru sebanding dengan jawaban yang akan diperoleh dari pertanyaan tersebut (E. Pertanyaan konvergen dan pertanyaan divergen (Conny Semiawan. Hursh (1976).. 2000: 75) Bentuk pertanyaan promting dapat dibedakan menjadi 3.

1959: 236). tidak diperlukan individu sehingga tidak dihiraukan. Penelitian yang dilakukan oleh Angelo (1991. Dengan demikian dalam pembelajaran dipandang perlu untuk menitik beratkan pada aspek-aspek bernalar sehingga pembelajaran menjadi bermakna. 5) pada saat diperlukan siswa menggali informasi yang telah dimasukkan dalam LTM untuk dimasukkan kembali ke dalam STM Dengan melihat proses internal yang terjadi dalam siswa.pada tingkat dimana materi yang telah dipelajari masih melekat dalam ingatan. Lupa akan terjadi apabila materi yang dipelajari tidak menarik. Winkel (1996: 305). 1993: 305) menyatakan bahwa faktor-faktor yang dapat mempengaruhi LTM tehadap pengetahuan yang telah dipelajari dalam kelas adalah tingkat dari materi yang dipelajari. dalam Susan Hanley. 3) pola perseptual tersebut masuk ke dalam ingatan jangka pendek (Short Term Memory / STM) dan tinggal disana selama 20 detik. 1994: 3) terhadap siswanya di Berkeley membuktikan bahwa dengan menggunakan metode pembelajaran secara tradisional dimana guru bertindak . menggambarkan tahapan proses tersebut terjadi dengan urutan sebagai berikut: 1) siswa menerima rangsang dari reseptor. tugas yang harus dipelajari. Retensi merupakan salah satu fase dalam tahapan belajar. kecuali bila informasi tersebut ditahan lebih lama melalui proses penyimpanan. 2) rangsang yang masuk ditampung dalam sensori register dan diseleksi. metode pembelajaran. Dan sebagaimana yang telah disebutkan oleh Winkel di atas informasi tersebut dapat ditahan lebih lama melalui proses penyimpanan. Oleh karena itu tidak mengherankan apabila banyak ilmuwan dibidang pendidikan menyatakan bahwa proses pembelajaran memegang peranan penting terhadap retensi siswa. Sedangkan dalam masalah lupa Winkel (1987: 297) menyatakan bahwa gejala lupa mudah terjadi pada pengetahuan kognitif bila individu tidak berhasil mengkonstruksi pengetahuannya sendiri atau tidak berhasil mengaitkan konsep-konsep yang dipelajarinya dengan konsep-konsep yang telah dimilikinya. Pembelajaran yang menitik beratkan pada guru (teacher centered) dinilai telah gagal untuk mengembangkan pemahaman yang permanen. 1959: 241). Dalam tahap ini retensi merupakan proses penyimpanan pemahaman dan perilaku baru yang diperoleh setelah mengalami proses acquisition (fase menerima informasi). maka fase ke 3 dan 4 dimana ingatan dimasukkan dan ditahan dalam STM dan kemudian dimasukkan ke dalam LTM merupakan proses yang amat penting bagi retensi. Semb dan Elis (1992) (dalam Semb dan Elis. Sehingga dapat dikatakan bahwa jumlah yang dilupakan sama dengan jumlah yang telah dipelajari dikurangi dengan ingatan yang masih tersimpan (James Dese. sehingga membentuk suatu kebulatan perseptual. Dalam tahap belajar terjadi proses internal dalam pikiran siswa. dan perbedaan individual. Hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Ebinghaus adalah kurva retensi yang menunjukkan bahwa retensi dapat berkurang dengan cepat setelah interval waktu tertentu dan lupa atau berkurangnya retensi ini dapat terjadi beberapa jam pertama setelah proses belajar berlangsung (James Dese. Ilmuwan yang pertama kali meneliti tentang retensi adalah Ebbinghaus pada tahun 1885. sedangkan lupa mengacu pada porsi ingatan yang hilang. Tentu saja yang dimaksud dengan proses penyimpanan ini berkaitan dengan bagaimana informasi ini dapat diterima dan dikonstruksikan dan akhirnya disimpan dalam benak siswa. 4) penampungan hasil pengolahan informasi yang berada dalam STM dan menyimpannya dalam ingatan jangka panjang (Long Term Memory / LTM) sebagai informasi yang siap pakai sewaktu-waktu pada saat diperlukan.

Desain penelitian yang digunakan adalah modifikasi Randomized Control Group Pre-test Post-test Desain. sehingga dengan demikian memungkinkan kuatnya retensi siswa terhadap konsep-konsep yang diajarkan. Rekapitulasi Rata-rata Nilai Pre-tes. yang digambarkan dengan tabel sebagai berikut: Tabel 1. Mereka terlalu sibuk mencatat dam memasukkan informasi tanpa melalui seleksi ke dalam ingatan mereka. X2= pembelajaran dengan menggunakan pertanyaan biasa. dan T2(2)= Tes retensi (pos-test ke-2) D. Disain Penelitian Kelompok Eksperimen Kontrol Keterangan: Tes awal T1 T1 Perlakuan X1 X2 Tes akhir 1 Selang Waktu Tes akhir 2 T2(1) 3 minggu T2(2) T2(1) T2(2) T1= Tes awal / pre-test.sebagai penyampai informasi dan siswa penerima informasi didapatkan hasil bahwa kurang dari 20% dari siswanya dapat mengingat apa yang telah disampaikan oleh guru. Pembelajaran yang banyak melibatkan panca indra dalam proses berpikir dapat memungkinkan pembelajaran menjadi lebih bermakna. dan Retensi siswa . C. yaitu pembelajaran dengan menggunakan pertanyaan pengarah dan pembelajaran dengan menggunakan pertanyaan biasa tanpa pengarah. T2(1)= Pos-tes. Untuk memenuhi hal tersebut guru sedapat mungkin melibatkan siswa dalam proses pembelajaran. Hasil Penelitian Hasil penelitian dalam bab ini disajikan dalam bentuk tabel-tabel di bawah ini. Tabel 1. Dengan demikian perlu diupayakan pembelajaran yang bermakna bagi siswa. Pos-tes. Bila konsep-konsep tersebut terkait satu sama lain maka akan terbentuk pengetahuan yang bermakna yang tidak mudah untuk dilupakan. X1= Pembelajaran dengan menggunakan pertanyaan pengarah. salah satunya adalah dengan memberikan pertanyaan untuk memacu keterlibatan berpikir siswa sehingga siswa dapat menggunakan dan mengaitkan konsepkonsep yang telah dimilikinya. Metode dan Desain Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen untuk membandingkan dua perlakuan pembelajaran yang berbeda.

dan Retensi Konsep Polusi Air Batas nilai 100-80 Kriteria Sangat baik Pos tes 1 K E 19 21 (52.36 80.9%) 3 (8.98 50.8%) 4 (11.1%) 3 (8.03 79 74. Kontrol *dilakukan dengan uji t1 Tabel 3.Konsep/sub Nilai Kontrol konsep Pre.3%) Retensi K 33 E 35 (97.4%) 5 (13.) Keterangan: X Sd T R Eksperimen Retensi % Pre-testPos-tes Retensi % Reten-si 1 (Post-test Reten-si 2) (Pos-tes ke-2) 50. dan R = nilai terendah Tabel 2.2%) 1 (2.3%) 16 (44.25 1.58 81.4 33 52 59 75.5 9.58 8.8%) 70 – 79 Baik 60 – 69 Sedang 50 – 59 Kurang Keterangan: (41.07 11.7%) (91.1%) - Pos tes 2 K E 12 15 (33. Retensi.Posttest test Polusi Air (LKS Eksp.6 7.75 8.4 12.3%) 11 (30. Eksperimen > Pos (Postes 2) tes 2 kel.3%) (58.25 98.6%) 4 (11.8%) 10 (27.7%) 18 (50%) 3 3 (8.64 Z hit < Z tab Tidak berbeda secara signifikan Postes 1 1.3%) - - . Sd = standar deviasi.16 1.27 8.Keterangan Konsep Kontrol & kel. Rekapitulasi Predikat Penguasaan Siswa Pada pos test.9 95.64 Z hit < Z tab Tidak berbeda secara signifikan Polusi Air Retensi 3.83 78 100 89 125 67 100 96 116.93 10. T = nilai tertinggi. Rekapitulasi hasil uji dua rata-rata (Uji kesamaan) Konsep/Sub Uji rata-rata kel. ngan atara Z Eksperimen hitung & Z tabel Pretes 1. Z hitung Z tabel Hasil perbandi.3 26 63 63 78.7 X = rata-rata nilai.3%) (8.48 1.64 Z hit > Z tab Berbeda secara signifikan (Pos tes 2 kel.

Uzer Usman. Artinya bahwa hasil pembelajaran menggunakan pertanyaan pengarah unggul dalam hal retensi atau lebih kuat dapat diingat. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran dengan pertanyaan pengarah maupun dengan pertanyaan biasa (tanpa pertanyaan pengarah) sama-sama dapat meningkatkan penguasaan konsep siswa. Dari rata-rata hasil yang diperoleh terhadap retensi dapat disimpulkan bahwa siswa yang menggunakan pertanyaan pengarah dalam pembelajarannya berbeda secara signifikan dibanding siswa yang pembelajarannya menggunakan pertanyaan biasa / pertanyaan bukan pengarah. 1989:159). Pertanyaan yang sifatnya mengarahkan ini merupakan salah satu jenis pertanyaan yang baik (Nuryani Rustaman. Hasil retensi siswa kelompok eksperimen memiliki nilai yang lebih tinggi dibanding siswa pada kelompok kontrol. (1973:460) berpendapat bahwa taraf belajar menjadi faktor penentu bagi retensi siswa. kabur dan tidak terorganisasi dengan baik cenderung merintangi proses belajar bermakna dan retensi. Menurut Slameto (1995:123) makin jelas. Pembahasan Dilihat dari hasi rata-rata nilai (tabel 1) terdapat peningkatan nilai rata-rata post tes dari pretes. pembelajaran dengan menggunakan pertanyaan pengarah antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dalamsub konsep polusi air tidak memiliki perbedaan secara signifikan pada pos tes . Melalui pertanyaan yang mengarahkan. sikap dan motivasi siswa untuk mengkonstruksikan pengetahuan mereka sehingga terbentuk konsepsi dan meningkatnya pemahaman siswa terhadap konsep yang mereka pelajari (Ratna Wilis Dahar. maka proses belajar yang bermakna dan retensi akan mudah terjadi pada orang tersebut. Dalam hal ini pertanyaan yang sifatnya mengarahkan telah menuntun siswa dalam menemukan jawaban yang tepat (Moh. James Deese (1959:253) mengemukakan bahwa salah satu faktor penting yang dapat mempengaruhi retensi siswa adalah taraf belajar (level of learning) seseorang. Peristiwa ini dapat disimpulkan bahwa retensi siswa dengan pembelajaran yang menggunakan pertanyaan pengarah pada lebih baik dibandingkan dengan retensi siswa yang pembelajarannya menggunakan pertanyaan biasa/bukan pengarah. 2000:75). . Dari hasil uji kesamaan dua rata-rata (tabel 2). stabil serta terorganisasinya struktur kognitif seseorang. jelas dan stabil. dan E = kelompok eksperimen E. Dalam proses belajar yang bermakna ini terjadi proses mengaitkan informasi baru pada konsep-konsep yang relevan yang terdapat dalam struktur kognitif siswa.K= kelompok kontrol. Lebih jauh lagi Richard Anderson dan Gerald Faust. Pertanyaan baik berupa pertanyaan pengarah maupun pertanyaan biasa merupakan faktor ekstrinsik yang mempengaruhi minat. sebaliknya. maka struktur kognitif siswa akan lebih terorganisasi. namun berbeda signifikan pada retensi (pos tes ke-2). 1999:8) yang dirancang untuk mendorong siswa agar terlibat secara aktif dalam pembelajaran sehingga siswa dirangsang untuk berpikir dan melakukan kegiatan bermakna. pada struktur kognitif yang tidak stabil.

karena postes 2 dilaksanakan dalam selang waktu 3 minggu setelah pos tes 1 diberikan. umumnya sangat baik. Dalam selang waktu tiga minggu. Berdasarkan predikat skor pada postes 1. secara umum jumlah siswa kelompok eksperimen lebih banyak yang menduduki peringkat sangat baik. mengakomodasikan. Dengan dilakukannya postes 2 dalam jangka selang waktu dimana siswa telah mendapatkan materi yang baru. Selain itu Hilgard dan Bower. 1996:158). Hal ini dapat diartikan bahwa semakin banyak siswa menguasai konsep semakin banyak ia lupa. penggunaan memori. Perbedaan ini disebabkan karena pembelajaran pada kelompok ekperimen menggunakan LKS dengan pertanyaan pengarah yang dapat mempengaruhi proses internal yang terjadi dalam siswa ketika ingatan dimasukkan dan ditahan dalam STM yang kemudian dimasukkan ke dalam LTM (Winkel. 2 dan persentase retensi (tabel 3). mengorganisasikan dan mengkonstruksikan konsep-konsep dalam benak siswa. Peristiwa Lupa merupakan hal yang biasa terjadi pada manusia. seperti yang dikatakan oleh Robert Travers (1982:1994) “forgetting is normal everyday and constant reminder of our limitations”. lupa merupakan kejadian yang biasa karena keterbatan manusia dalam mengingat. Hasil postes dari kedua pembelajaran variatif berkisar antara kurang dan sangat baik. Selain itu juga pertanyaan yang mengarahkan ini mendorong siswa untuk terlibat secara aktif dalam mengasimilasikan. retensi siswa juga variatif berkisar antara baik dan sangat baik. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan penguasaan konsep dan terutama mengingat dengan baik. Terutama penurunan ini terjadi lebih banyak pada kelompok eksperiemen diabandingkan dengan kelompok kontrol. Kesimpulan Dan Saran 1. Sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna dan berakibat pada baiknya retensi siswa (Wyne Harlen. Dengan bantuan pertanyaan pengarah pada LKS eksperimen dapat mengembangkan proses berfikir dan keterampilan proses. 1975 (dalam Muhibbin Syah. umumnya sangat baik dan tidak ada perbedaan yang signifikan antara keduanya.Dari tabel 3 dapat dilihat adanya penurunan rata-rata nilai tes dari postes 2 (retensi) dibanding rata-rata nilai postes 1. sedangkan pos tes ke-2(tes retensi) tidak diberi tahu. Pelaksanaan pos tes 1 diberitahukan sebelumnya kepada siswa sehingga siswa belajar terlebih dahulu menghadapi tes. F. sehingga siswa kemungkinan tidak belajar lagi. Kesimpulan Pemberian pertanyaan baik pertanyaan penuntun atau pengarah maupun pertanyaan biasa tanpa penuntun dalam pembelajaran sains (konsep polusi air) pada siswa SMU sama-sama memberikan peranan yang signifikan terhadap kuatnya retensi siswa . . baik dan cukup dibandingkan dengan kelompok kontrol. Namun. maka materi yang baru tersebut akan mengganggu pemanggilan kembali materi yang sudah tersimpan dalam ingatan (Muhibbin Syah. Hal ini disebabkan karena terjadinya peristiwa lupa. 1996:305). pembelajaran yang menggunakan pertanyaan penuntun memberikan dampak terhadap retensi lebih kuat dari pada hasil pembelajaran yang menggunakan pertanyaan biasa dan berbeda secara signifikan. penemuan sendiri. 1996:160) mengatakan bahwa lupa dapat terjadi karena materi pelajaran yang telah dikuasai tidak pernah digunakan/dihapalkan oleh siswa. 1996:102).

1973. b. 1993. R.J. Ratna Wilis Dahar.85. New York: Harper and Row Publishers Gagne. 1997. Handout Mta Kuliah SBM: Tidak diterbitkan Osborne. 1992. Teaching and The Science of Learning. Semb and Ellis. Bandung: Rosdakarya Nuryani Rustaman. R. Laporan Penelitian: tidak diterbitkan. Dampak Pertanyaan dan Teknik Bertanya Guru Selama PBM IPA Pada Berpikir Siswa. The Psychology of Learning. Principoles of Instructional Design. New York: Holt. Long-term Memory For Knowledge Learned in School.M. 1985. J. 1990.M. 1995. No.M. Psychology for Effective Teaching. Alternatives to Practical Work. Bertanya. Agar hasil pembelajaran dapat memberi dampak retensi yang kuat. Gagne. Jakarta: Gramedia George J.C.. Milton Keyners: Open University Press Mohamad Uzer Usman. Graw Hill Book Comp.. Practical Statistics for Field Biology. 25. 1959. Pertanyaan. 1993. Journal of Education Psychology. dalam pembelajaran guru hendaknya terampil membuat LKS dan memberi pertanyaan pertanyaan untuk siswanya terutama pertanyaan pengarah yang dapat menuntun siswa memahami konsep dengan baik. R. Jim Flower and Lou Cohen. 1967.2. The condition of Learning and theory of Instruction. 1999. Teknik Bertanya dan Keterampilan Bertanya. London: Mc. Menjadi Guru Profesional. B and Wragg. DAFTAR PUSTAKA Anderson. Mengingat retensi merupakan hal yang penting dari suatu pembelajaran.2: 305-316 . Rinehart and Winstron. and Briggs L. vol. 1974. Inc. Saran a. New York: Renehart and Winston George. Renehart and Winston. maka penelitian yang berkaitan dengan retensi perlu dikembangkan misalnya yang berkaitan dengan faktor internal siswa seperti intelegensi dan faktor eksternalnya seperti jenis materi dan model pembelajaran. (271): 117-123. School Science Research. New York: Holt. James Deese.

Information.M. 1997.. Malahan pada dasarnya lebih banyak hal-hal yang dipelajari manusia dengan tak sadar dan terencana . E. R. No.W. New York: Mc. pendidik dan anak didik berlangsung pada ukuran. Menyadari bahwa perubahan yang tak disadari dan tak diarahkan lebih banyak memberikan kemungkinan perubahan tingkah laku yang berada di luar titik tujuan. 1987. Bila mana ditinjau secara luas akan jelas nampak bahwa manusia yang hidup dan berkembang adalah manusia yang selalu berubah dan perubahan itu adalah hasil belajar. 1995. tetapi juga dilihat tingkah lakunya dalam kehidupan sehari-sehari oleh anak didiknya. Hanya soalnya tidak semua peristiwa belajar itu berlangsung secara sadar dan terarah. 1982.S. Psikologi Pengajaran. The Teaching of Science. Jakarta: Rineka Cipta Susan Hanley. Karena siikap seorang guru tidak hanya dilihat dalam waktu mengajar saja. bahwa di dalam peristiwa pendidikan. pendidikan merupakan proses yang berfungsi membimbing pelajar didalam kehidupan. dalam mencukupi kebutuhan hidup baik sebagai individu maupun sebagi anggota masyarakat. W. 1992. 87. Effect of Keywords on Long-Term Retention: Help or Hindrance?. Proses pendidikan berlangsung tidak tanpa alasan dan atau tujuan. karenanya masalah sikap guru dalam mengajar perlu mendapat perhatian kita semua. Wang and Thomas. London: David Futton Publishers Sikap Mengajar Guru Serta Pengaruhnya dalam Pendidikan Ditulis oleh Sungging Handoko A. Wragg. Jakarta: Rasindo Wynne Harlen. Keterampilan Mengajar di Sekolah Dasar. Processing and Learning. Yakni membimbing perkembangan diri sesuai dengan tugas-tugas perkembangan tersebut. 1997. Jakarta: Gramedia. 1987. Pendahuluan Sikap dari seorang guru adalah salah satu faktor yang menentukan bagi perkembangan jiwa anak didik selanjutnya. Journal of Education Psychology vol. Internet Travers.C. Pendidikan menurut hakekatnya memang adalah suatu peristiwa yang mempunyai aspek normatif yang artinya. Constructivist Theory.. Graw Hill Book Comp.Slameto. Belajar Dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya. norma atau nilai-nilai yang diyakini sebagai suatu . Mengingat pada saat ini banyak sikap dari seorang guru tidak lagi mencerminkan sikapnya sebagai seorang pendidik karena adanya berbagai faktor yang mestinya tidak terjadi dalam dunia pendidikan.3: 468-475 Winkel.

Dalam pada itu perlu ditegaskan. belum tentu ia dapat disebut seorang pendidik. itu sebabnya mengapa sikap itu tidak dapat dilepaskan dari diri/pribadi pemangku sikap itu. maka sikap itupun tergantung pada manusia itu sendiri bagaimana caranya manusia itu menggunakannya dalam kehidupannya sehari-hari. Adapun sikap itu muncul dalam hubungan antara manusia yang mempunyai hubungan. Sebab pendidikan ini sangat mempengaruhi kehidupan manusia. memperoleh/mengharuskan atau memberantas atau sikap tertentu.yang baik. Bukanlah dengan mudah dapat dilihat bahwa pendidik mengingini atau menolak sesuatu. Karena mengingat sikap itu terdapat di dalam diri manusia. Namun dari sikap dan tindakkanya telah mungkin diperoleh suatu gambaran dari seorang pendidik tidak hanya cukup menguraikan tapi harus memperhatikan sifat lahirnya (bentuk). . yang mana semuanya ini bersifat memberi bantuan kepada anak dalam perkembangannya mencapai “tujuan hidupnya”. Perasaan bersatu itu dapat merupakan pengikat antara orang tua dan anak. Pada dasarnya pendidikan ini sangat penting bagi umat manusia dalam mencapai taraf hidup yang mulia. Walaupunn tidak semuanya dilakukannya menurut suatu rencana tertentu. Hendaknya turut diperhatikan segala sesuatu yang mengandung arti bagi seorang pendidik atau suatu lingkungan pendidikan. bahwa manusia bersama-sama dengan manusia lainnya yang memerlukannya. Karena dalam pendidikan ini biasanya dilakukan dalam keadaan sadar antara pendidik dan anak didik. Sebab sifat yang khas pada seorang pendidik ialah bahwa setiap usaha. Sikap-sikap dan pengaruhnya dalam pendidikan Kalau kita tinjau pengertian sikap ini. Hanya usaha mempengaruhi yang demikian saja yang dapat disebut “pendidik” dan “mendidik” ialah mempengaruhi dengan maksud mencapai tujuan yang bersesuaian dengan pembentukan pribadi anak. bahwa seseorang yang ingin mempengaruhi orang yang belum dewasa. A. antara murid dan guru dan dapat juga merupakan rasa kekeluargaan yang berdasarkan kepentingan bersama antara orang-orang yang menurut alamnya bukan satu keluarga dan banyak lagi bentuk lain. Karena dengan mencapai pendidikan yang tinggi manusia akan dihormati. Jadi bukan hanya bersama-sama pada suatu tempat. dan memeberi bantuan kepada anak tertuju kepada pendewasaan anak itu atau lebih cepat “membantu anak agar cukup cakap melaksanakan tugas kehidupannya sendiri”. bahwa mulanya tidak dapat dilepaskan dari hadirnya pemangku sikap itu sendiri. Memberi contoh mengenai suatu tindakkan sedang suatu hal yang lain dijauhkan dari alam sekitar anak. maka pengertian itu relatif adanya. Dalam sikap seseorang itu selalu terdapat suatu ketegangan antara milik pribadi yang tunduk pada sikapnya dengan perasaan bersatu dengan pemangku kesikapannya. Memang ada juga pendidikan yang dilakukan oleh orang tua dengan anaknya dan itu terjadi di rumah. mempengaruhi. disegani dan dijunjung tinggi martabatnya di masyarakat.

jangan terlalu banyak menggunakan gerak-gerak tangan waktu berbicara. B. maka percakapan itu akan menjadi menjalar dan kelas akan menjadi gaduh. kalau murid-murid belum tenang sungguh-sungguh. Mengenai sikap di muka kelas perlu diperhatikan hal-hal yang lain. Ingat bahwa seorang guru yang ganjil dalam berpakaian dapat menerbitkan geli hati dan celaan muridmurid. sedang susah namun janganlah kesusahannya itu ditunjukkan kepada murid-murid. maka hal ini kita bicarakan. yaitu. berbicaralah dengan tenang dan tegas. Jadi sikap itu sangat berpengaruh dalam diri sesorang. bersikap tegas berarti begini: kalau guru menyuruh murid-muridnya supaya tenang. Kerena itu peganglah teguh disiplin kelas. Sering suasana kelas dipengaruhi oleh sikap guru di muka kelas. sederhana tetapi terpelihara. bercakap-cakap dan guru terus melanjutkan mengajar. Kelas menjadi gaduh. Bagi seorang guru kita haris berani: . Tak usah berpakaian yang gemerlapan atau dari bahan yang sangat mahal. Bersikap tegas tidak sama dengan bersikap keras. Jangan bercelana Napoleon atau bergaun you can see di muka kelas. Bergembiralah selalu (sebagai seorang guru harus pandai bermain sandiwara). Sebenarnya hal ini tidak perlu dibicarakan akan tetapi mengingat keadaan sekarang. jangan menggangap. dimana orang sering sempat berani dan bebas serta progresif dalam hal berpakaian. Akibatnya seorang guru tidak dapat mengajar dengan tenang. Karena dengan sikap bahwa orang itu mempunyai yang dapat dipertanggung jawabkan.Sikap sesorang itu susah dipengaruhi oleh orang lain bila ia telah menentukan sikapnya. kalau guru ribut kelas akan segera ribut pula. Kalau masih ada murid-murid yang bercanda. 2. kalau guru ragu-ragu dan kelas menjadi tentang kalau guru bersikap tegas dan bijaksana. jangan berbicara terlalu keras dan jangan pula berbicara terlalu pelan atau lemah. Memang sikap adalah hak seseorang untuk menentukan sesuatu. Kalau mereka belum tenang dan jangan mulai mengajar atau melanjutkan pelajaran. Ia merasa bahwa ada sesuatu yang menggelisahkan dan meragukan hatinya dengan sendirinya ia tidak dapat menyatukan segala perhatiannya dan pikirannya pada pelajaran yang sedang ia berikan. bisa sikap itu berubah bila sikapnya itu dianggap salah olehnya. 1. Sikap-sikap guru dalam mengajar serta pengaruhnya. Ia makin bertambah bingung dan pelajaran menjadi kacau dan gagal sama sekali. padahal ia telah membuat persiapan dengan sungguh-sungguh. mereka harus mengidahkan suruhannya. mungkin guru. Sebaiknya seorang guru berpakaian hendaknya sopan. Sikap berpakaian. Bergeraklah dengan tengan dan berbicaralah dengan suara yang sedang dan jangan ribut. Tetapi tidak dengan begitu saja ia akan merubh sikapnya itu tanpa ia mentelaah lagi kesalahan dari sikapnya itu. Tunjukkanlah semua pertanyaan kepada semua kelas seluruhnya dan baru kemudian tunjukkanlah seorang murid-murid menjawab. Sikap di muka kelas. dan sikap adalah salah satu faktor yang terdapat di dalam diri seseorang.

yang selalu gaduh. kata-kata yang demikian dapat membuat murid-murid bersikap acuh tak acuh dan menjadi putus asa. mencela. murid-murid dapat bekerja bersma-sama. mengejek. Jangan bersikap putus asa. memukulnya dan sebagainya. namun demikian hasilnya tidak sesuai dengan apa yang diharapkannya.a. c. Sikap yang lekas marah Banyak hal yang dapat mengecewakan guru. saling tolong menolong. Mereka giat bekerja dan merasa suatu keluarga. bahwa ia telah mengajar dengan baik dan sungguh-sungguh. umpamanya: murid yang tidak sopan . yang kotor. Sikap yang mengejek murid. d. 3. karena hasil pengajaran dan pendidikan kita tidak selalu segera kelihatan oleh kita. Lebih berbahaya lagi kalau seorang murid dijadikan sasaran ejekan teman-temannya. Dalam kelas yang suasananya baik. Janganlah guru lekas marah karena itu. Guru yang kecewa mudah berbuat hal-hal yang tidak baik umpamanya mengejek. e. 5. Sering guru merasa. 4. Berani memandang tiap-tiap murid. mencelanya. Usahakanlah murid-murid bekerja sendiri. matanya. Dan kata-kata demikian ini secara paedagogis dan psychologis tidak dapat dipertanggung jawabkan. Karena itu harap sabar. Jangan mengajak murid-murid. dan sebagainya. Anak-anak tidak selalu segera mengerti akan maksud kita dan mengindahkan keinginan kita. yang tolol. Seorang guru ilmu pasti pernah melemparkan kata-kata demikian kepada seorang murid “meskipun kamu bekajar 10 tahun lagi kamu tak akan mengerti juga”. Sikap sabar. mengeluarkan kata-kata yang kasar yang dapat mematahkan semangat belajar murid. Banyak anak murid yang menjadi sakit hati dan tak mau berbuat lagi sesuatu. Asas-asas didaktik teleh diprektekkan Ia mengajar dengan penuh kegembiraan dan enthousianisme. cintailah muridnurid seperti ibu bapak mencintai anak-anaknya. Ciptakan suasana kelas yang baik. hal ini sangat merugikan bagi perkembangan anak murid selanjutnya. Guru mudah marah menghukum anak. Jangan memberi hukuman badan. f. Guru selalu kecewa dan kekecewaan yang terus menerus dapat menjadikan guru mudah putus asa. orang yang lekas marah mudah bertindak yang kurang baik. . b.

umpamanya: memukul. mereka lekas melihat. 9. 8. tidak jujur. montir. dan kedua-duanya tidak baik. mereka lekas-lekas mengecap gurunya dengan kata-kata: tidak adil. Sikap guru yang bertanggungjawab Sama halnya dengan dokter. dan tidak diberikan untuk membalas dendam. 7. bertanggung jawab penuh atas tindakannya itu. tetapi dalam hatinya timbul rasa tidak senang terhadap guru. Guru yang banyak mengadakan larangan membuktukan bahwa perinta-perintahnya tidak dituruti oleh murid-muridnya. Dan itu membuktikan bahwa tidak ada ketertiban. bukan hak itu tidak jarang dilakukan. bahwa guru memperlakukan mereka tidak sama. pilih kasih dan sebagainya. Guru yang baik. guru boleh memberi hukuman badan. atau ia menjadi takut kepada guru. sebab biasanya perintahnya dituruti. insinyur. Larangan biasanya merupakan hal yang tidak menyenangkan bagi murid. Jadi hukuman itu tidak diartikan pada waktu guru bernyala-nyala marahnya. Ada jenis pekerjaan yang lebih banyak menuntut syarat fisik. Lagi pula kalau guru sudah sering atau biasa memberi hukuman badan ia tidak segansegan memberi hukuman yang lebih berat lagi kepada murid. artinya: kalau ia sudah mempertimbangkan hukuman itu masak-masak. gurupun membutuhkan sejumlah pengetahuan. Memang masih ada guru-guru yang memberi hukuman badan. Menurut hemat penulis. Suasana kelas akan menjadi lebih buruk karena sikap guru yang demikian. Bersikap jujur dan adil. Murid yang lebih kecil itu biasanya tidak berani melawan.6. Menurut peraturan sekolah. Dengan hukuman yang demikian itu murid dapat dirugikan/disakiti karenanya. ahli hukum. dan hukuman yang diberikan sesungguhnya tidak begitu dipertimbangkan. Memukul murid dengan tongkat kecil. ada yang meminta lebih . Yang satu diperlakukan lebih manis dari pada yang lain. metode dan kecakapan dasar lainya yang perlu dapat untuk melaksanakan tugasnya. menedang. bahwa hukuman itu satu-satunya obat yang manjur untuk memperbaiki murid. Larangan yang banyak dapat menimbulkan kemungkinan besar untuk melanggar peraturan tanpa disadari oleh murid-murid. apakah guru itu bertidak adil dan jujur. Murid-murid akan lekasa mengerti. Sikap yang banyak memberi larangan. karena itu jangan banyak melarang. untuk memberi hukuman badan. jarang melarang. kalau ia sebagai orang tua terhadap anaknya. Dan mereka sendiri yang diperlakukan lebih manis itu merasa tidak senang akhirnya. Secara personlijk sesungguhnya tidak memberi larangan mutlak. Sikap yang memberi hukuman badan. guru dilarang memberi hukuman badan. ini adalah suatu bahaya bagi mereka. melempar dsb.

Bahwa sikap guru dalam mendidik memiliki pengaruh terhadap perkembangan jiwa anak didik sehinggaGuru. Dengan tidak adany rasa tanggung jawab dari seorang guru maka tidak mustahil bila tujuan pendidikan yang akan dicapai akan tidak tercapai apa yang diharapkan oleh guru itu sendiri maupun oleh orang tua sekolah dan negara. nasco. cv. Beknopte Theoretische Paedagogiek. Semarang 1995. Didaktik Metodik. Memang dalam mendidik. Majalah Mahasiswa No.33 Thn. Yang menyebabkan perbedaan-perbedaan jenis pekerjan itu adalah tuntutan yang terdapat pada setiap jenis pekerjaan. Prof. VI Januari 1993 M. Langevld. P. Memang kenyataan-kenyataan itu membenarkan teori didaktik yang meletakkan berbagai pertanggungan jawab pada pundak seorang guru disamping tugasnya mengajar suatu pengetahuan.banyak syarat-syarat emosi. C. Guru harus menjadi pembimbing dan penyuluh yang segar yang memelihara dan mengarahkan perkembangan pribadi dan keseimbangan mental murid-muridnya. maka dapat diambill beberapa kesimpulan Bahwa pendidikan merupakan unsur yang terpenting dalam kehidupan manusia. Begitu pula keadaannya dengan tugas mengajar bila ditinjau sebagi tugas yang memperoleh gambaran mengenai jenis pengetahuan dan ketrampilan dasar yang dibutuhkan setiap orang yang mempersiapakan diri untuk terjun dalam bidang ini. Penutup Daripembahasan diatas ini. Karena dengan tidak adanya rasa tanggung jawab dari guru maka anak didik itu akan berbuat hal-hal yang tidak dibenarkan dalam pendidikan. cv. ada pula pada syarat intelek. diterjemajkan. . A. Pedoman Mengajer Oleh Raga Pendidikan Di sekolah Dasar. Simanjuntak M. seorang guru harus mempunyai rasa tanggung jawab yang dalam. Karena seringkali anak didik akan mencontoh apa-apa yang dilakukan oleh pendidiknya.. Salah satu caranya ialah dengan mengamati dan menganalisa berbagai situasi pendidikan. DR. Mashoed. serta menjadikan murid-muridnya menjadi manusia dewasa susial serta bertanggung jawab moral.J. Jakarta 1989. Baru Jakarta 1996. Bila seorang guru tidak mempunyai rasa tanggung jawab maka banyak pengaruhnya pada anak didik itu. Toha Putra. Daftar pustaka Abu Ahmad.. Bambang Laksono. I. Dan guru memjadi orang tua mereka di dalam mempelajari dan membangun sistem nilai yang dibutuhkan dalam masyarakat. Dalam pendidikan hendaknya seorang guru harus dapat bertanggung jawab demi masa perkembangan anak didiknya. sosial dan sebagainya. dituntut memiliki sikap yang tepat sesuai dengan tuntutan tugas profesionalnya sebagai seorang pendidik yang bertanggung jawab. Yang kemudian dianalisa dan dikembangkan melalui sebuah masa pendidikan.

dan tidak efektif. Revolusi dalam Belajar Kepercayaan-kepercayaan abad kesembilan belas dan awal abad kedua puluh di Barat cenderung membuat pembelajaran muram. Landasan lama didasarkan pada anggapan bahwa pembelajar adalah konsumen. Yang kita butuhkan adalah landasan yang benar-benar baru. pada prestasi individu. penulis buku The Accelerated Learning Handbook. standardisasi. cetakan ketiga. Dan teknologi canggih atau “teknik-teknik” cerdas apapun yang dibangun di atas landasan lama ini tidak akan dapat membantu memperbaiki permasalahan.) telah dipraktikkan oleh setiap anak yang dilahirkan. yang dilahirkan pada awal era ekonomi industri. Dan perlu melakukan perubahan yang bersifat sistemis bukan bersifat kosmetik . variasi dan keragaman dalam metode belajar. (A. satu-ukuran-untuk-semua. Belajar dan Pembelajaran . dan program pelatihan sebagai proses jalur perakitan. dan tekanan pada format “Saya-bicara-kau-mendengar” (yang juga dikenal sebagai teknik membosankan). akarnya telah tertanam sejak zaman kuno. organis bukan sekedar mekanis. pada kerja sama . Metode-metode belajar konvensional.Otang Kardi Saputra. cenderung menyerupai bentuk dan gaya pabrik: mekanisasi. Dimana Kita merasa bahwa itulah satu-satunya cara untuk mempersiapkan pelajar menjalani kehidupan yang kering dan membosankan Idealnya Belajar ditandai dengan keterlibatan penuh pembelajar. Tarsito. bahwa pembelajaran terutama bersifat verbal dan kognitif.L. mengajak kita untuk memperbarui pendekatan kita terhadap pembelajaran untuk memenuhi tuntutan adanya dinamika kebudayaan yang bermetabolisme tinggi ini. kerja sama murni. Winarno Surakhmad. kontrol birokrasi terpusat. Accelerated Learning (A. pengondisian behavioristis (hadiah dan hukuman). adanya kegembiraan dan kesenangan dalam belajar. Landasan baru didasarkan pada anggapan bahwa pembelajar adalah kreator.) adalah cara belajar yang alamiah. fragmentasi. Sebagai suatu gerakan modern yang mendobrak cara belajar di dalam pendidikan dan pelatihan terstruktur yang muncul kembali sebagai akibat adanya sejumlah pengaruh pada paro kedua abad ke-20. yang diterbitkan oleh McGraw-Hill New York tahun 2000.L. motivasi internal (dan bukan sematamata eksternal). dan integrasi belajar yang lebih menyeluruh ke dalam segenap kehidupan organisasi. pelatih sebagai pelaksana program. FKIP-UNLA 2000. belajar adalah bekerja untuk menemukan cara-cara mempercepat dan mengoptimalkan belajar . lamban. Bandung 1993. Accelerated Learning: Pendekatan Baru Pembelajaran Ditulis oleh Eki Baihaki Dave Meier. Dasar Dan Teknik Instraksi Mengajar dan Belajar. kontrol luar. Alasannya? Belajar bukan lagi persiapan untuk bekerja. pengotak-ngotakan (orang dan pokok masalah).

Dia mendapati bahwa kombinasi musik. dan permainan kanak-kanak memungkinkan pelajar untuk belajar jauh lebih cepat dan jauh lebih efektif. dan dapat diramalkan. sugesti. Kabar mengenai temuannya menyulut imajinasi guru bahasa dan pendidik di mana-mana. kita semua harus menjadi inovator. bukan sesuatu yang mudah diramalkan dan tidak membutuhkan pikiran. Lynn Schroeder dan Sheila Ostrander menerbitkan sebuah buku berjudul Superlearning yang mengemukakan karya psikiater Bulgaria. dan program belajar yang menyediakan lingkungan belajar yang kayapilihan dan cocok untuk seluruh gaya belajar. Georgi Lozanov. (Dia menyebut ini “cadangan pikiran yang tersembunyi”. kesalingterkaitan.dan prestasi kelompok. Dia merasa telah menemukan cara untuk melangkah masuk ke dalam sesuatu jauh di lubuk jiwa yng lebih dalam daripada kesadaran rasional. Buku itu mengundang perhatian banyak pendidik dan guru yang sedang mencari pendekatan belajar yang lebih efektif. Belajar pada Abad Kedua Puluh Satu Kini. dengan menggunakan bahasa asing sebagai materi subjek. agar dapat memperoleh hasil standar yang dapat diramalkan. Di setiap tingkatan. Pendekatan belajar ini mengharuskan penumpulan diri seseorang sepenuhnya. Belajar pada Abad Kesembilan Belas Cita-cita pendidikan abad kesembilan belas (yang masih mempengaruhi pemikiran banyak orang sekarang ini) adalah melatih orang dalam perilaku lahiriah yang didefinisikan secara sempit. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Accelarated Learning . Kita harus membebaskan kecerdasan setiap orang yang unik dan bukan menindasnya atas nama staandardisasi atau “budaya perusahaan”. Pendekatan Lozanov Pada 1970-an. Yang dicari: membuat perilaku sejalan dengan produksi dan pemikiran rutin. tugas pendidikan dan pelatihan adalah mempersiapkan orang untuk hidup di dunia yang pasang surut. yaitu dunia tempat setiap orang harus mengerahkan seluruh kekuatan pikiran dan hati mereka sepenuhnya dan bertindak berdasarkan kreativitas yang penuh kesadaran . Keadaan sudah tidak seperti dahulu lagi. Dengan disponsori pemerintah Bulgaria. statis. dan kita lamban menyadarinya. dia mulai melakukan penelitian mengenai pengaruh musik dan sugesti positif pada pembelajaran. Lozanov mendapati bahwa dengan menenangkan pasien psikiatri dengan musik barok dan memberi mereka sugesti positif mengenai kesembuhan mereka. banyak pasien tersebut mengalami kemajuan besar. Kesulitannya sekarang adalah bahwa dunia semacam itu tidak ada lagi. belajar sebagai aktivitas seluruh pikiran/tubuh.) Lozanov merasa metode ini juga dapat diterapkan pada pendidikan. Bukannya menghasilkan manusia “fotokopi” seperti pada abad ke 19. Tugas pendidikan dan pelatihan adalah mempersiapkan orang untuk menghadapi dunia yang relatif sederhana. kini kita harus menghasilkan “tokoh orisinal” yang dapat mengerahkan sepenuhnya energi mereka yang potensial dan menjanjikan.

seluruh tubuh. 4. 1. Penelitian tentang gaya belajar menunjukkan orang belajar dalam cara yang berbeda-beda dan satu jenis belum tentu tepat untuk semua orang. nonmekanistis. tetapi juga melibatkan seluruh tubuh/pikiran dengan segala emosi. 6. indra. linear. langkah-demi-langkah) dan bangkitnya fisika kuantum telah memberi kita apresiasi baru terhadap kesalingterkaitan dari segala sesuatu dan terhadap hakikat realitas yang nonlinear. dan gerakan Sekolah Summerhill di Inggris yang dipimpin oleh Alexander Sutherland Neill. terutama penelitian mengenai otak dan belajar. Bukan Mengonsumsi. dan Gerakan Sekolah Bebas pada 1960-an. Lenyap sudah pendapat bahwa belajar itu semata-mata aktivitas verbal dan “kognitif”. Gerakan Pendidikan Humanistis yang dimulai pada 1950-an. secara otomatis patuh pada proses yang mandiri. Tumbangnya pandangan-dunia Newtonian (bahwa alam bekerja seperti mesin. dan segenap kedalaman serta keluasaan pribadi (yang disebut oleh Lozanov “cadangan pikiran yang tersembunyi”). metode. kolaboratif.L. Gerakan Pendidikan Confluent yang dimulai pada 1940-an. dan verbal). kreatif. 7. Belajar adalah Berkreasi. Prinsip-prinsip Accelerated Learning. Runtuhnya Behaviorisme sebagai psikologi yang dominan dalam pembelajaran telah mendorong timbulnya keyakinan-keyakinan dan praktik-praktik yang lebih manusiawi dan holistis. dan “hidup”. Ini telah menantang secara serius gagasan kita mengenai pendidikan dan pelatihan formal sebagai proses jalur perakitan atau ban-berjalan. 2. Belajar tidak hanya menggunakan “otak” (sadar. dan sarafnya.Banyak faktor lain telah memberikan sumbangan pada perkembangan yang mantap dan berlangsung terus-menerus dalam filosofi. Kebudayaan dan keadaan di tempat kerja yang selalu berubah telah membuat banyak metode pendidikan dan pelatihan menjadi lamban dan usang dan telah membuka pintu bagi pendekatan alternatif. memakai “otak kiri”. Evolusi yang berlangsung lambat laun (namun tidak sempurna) dari kebudayaan yang didominasi pria menjadi kebudayaan yang menyeimbangkan perasaan pria dan wanita memungkinkan berkembangnya pendekatan yang leih lembut. Beberapa gerakan paralel pada abad ke-20 telah mendukung hidupnya berbagai pendekatan pendidikan alternatif: Gerakan Sekolah Progresif yang dimulai pada 1920an. 2. Pengetahuan bukanlah sesuatu . semua indra. Ilmu kognitif modern. Belajar Melibatkan seluruh Pikiran dan Tubuh. Yang juga berpengaruh besar adalah Sekolah Montessori yang didirikan oleh Maria Montessori. dan aplikasi A. Penelitian mutakhir menunjukkan bahwa belajar yang paling baik melibatkan emosi. rasional. dan bersifat mengasuh pada aktivitas belajar. diantaranya : 1. 5. 3. telah mempertanyakan banyak asumsi lama kita mengenai pembelajaran. Sekolah Waldorf oleh Rudolph Steiner.

(dosen tetap pada Universitas Langlangbuana di Bandung). Pembelajaran yang baik melibatkan orang pada banyak tingkatan secara simultan (sadar dan bawah-sadar. melainkan menyerap banyak hal sekaligus. Belajar Berasal dari Mengerjakan Pekerjaan Itu Sendiri (dengan Umpan Balik). Kita biasanya belajar lebih banyak dengan berinteraksi dengan kawan-kawan daripada yang kita pelajari dengan cara lain manapun. Hal-hal yang dipelari secara terpisah akan sulit diingat dan mudah menguap. Kerja sama di antara mereka mempercepatnya. Semua usaha belajar yang baik mempunyai landasan sosial. dan otak akan berkembang pesat jika ia ditantang untuk melakukan banyak hal sekaligus 5. Emosi Positif Sangat Membantu Pembelajaran. mental dan fisik) dan memanfaatkan seluruh saraf reseptor. cara mengelola sesuatu dengan mengelolanya. melainkan prosesor paralel. Pembelajaran terjadi ketika seorang pembelajar memadukan pengetahuan dan ketrampilan baru ke dalam struktur dirinya sendiri yang telah ada. jaringan saraf baru. Belajar yang penuh tekanan. dan cara memperhatikan kebutuhan konsumen dengan memperhatikan kebutuhannya.Pd. dan bersuasana muram tidak dapat mengungguli hasil belajar yang menyenangkan. santai. melainkan sesuatu yang diciptakan pembelajar. indra. . Pengalaman yang nyata dan konkret dapat menjadi guru yang jauh lebih baik daripada sesuatu yang hipotetis dan abstrakasalkan di dalamnya tersedia peluang untuk terjun langsung secara total. dan menerjunkan diri kembali. cara bernyanyi dengan bernyanyi. Suatu komunitas belajar selalu lebih baik hasilnya daripada beberapa individu yang belajar sendiri-sendiri. 7. Pembelajaran Berlangsung pada Banyak Tingkatan secara Simultan. Belajar paling baik adalah dalam konteks.yang diserap oleh pembelajar. Kerja Sama Membantu Proses Belajar. otak bukanlah prosesor berurutan. Perasaan menentukan kualitas dan juga kuantitas belajar seseorang. Belajar bukan hanya menyerap satu hal kecil pada satu waktu secara linear. dan menarik hati. Bagaimanapun juga. Perasaan positif mempercepatnya. mendapatkan umpan balik. Menerjemahkan abstraksi verbal menjadi berbagai jenis gambar konkret akan membuat abstraksi verbal itu bisa lebih cepat dipejari dan lebih mudah diingat. 3. 6. Sistem saraf manusia lebih merupakan prosesor citra darpada prosesor kata. menyakitkan. cara menual dengan menjual. 4. Perasaan negatif menghalangi belajar. merenung. Otak-Citra Menyerap Informasi secara Langsung dan Otomatis. Aspek Ekonomi dalam Pendidikan Ditulis oleh Cucu Lisnawati Penulis: Cucu Lisnawati. S. Belajar secara harfiah adalah menciptakan makna baru. Kita belajar berenang dengan berenang. Gambar konkret jauh lebih mudah ditangkap dan disimpan darpada abstraksi verbal. Persaingan di antara pembelajar memperlambat pembelajaran. dan pola interaksi elektrokimia baru di dalam sistem otak/tubuh secara menyeluruh. jalan dalam sistem total otak/tubuh seseorang.

kita tidak dapat melepaskan diri dari masalah pembangunan. pendidikan harus dipandang sebagai investasi. Ahli-ahli ekonomi mengembangkan teori pembangunan yang didasari kepada kapasitas produksi tenaga manusia di dalam proses pembangunan. kontribusi pendidikan terhadap ekonomi dan pembangunan harus diakui. Baik secara langsung maupun tidak langsung. Dengan demikian. Selain itu dihipotesiskan pula bahwa faktor utama yang mendukung . Konsep pembangunan dalam bidang sosial ekonomi sangat beragam tergantung konteks pengggunaanya. A.Abstrak: Masalah pendidikan sebenarnya tidak dapat dilepaskan dari masalah ekonomi. pembiayaan dalam pendidikan. Ukuran-ukuran Kontribusi Pendidikan Terhadap Pembangunan dan Pertumbuhan Ekonomi Bagaimanakan keterkaitan pendidikan dan pertumbuhan ekonomi? Secara sederhana. yang kemudian dikenal dengan istilah Invesment in Human Capital. jawaban atas pertanyaan tersebut dapat digambarkan berikut ini. Sudah saatnya. Untuk menjawab hal tersebut di atas. tidak selamanya pendidikan dianggap sebagai konsumsi atau pembiayaan. Kata Kunci: Ekonomi pendidikan. Teori ini didasari pertimbangan bahwa cara yang paling efisien dalam melakukan pembangunan nasional suatu negara terletak pada peningkatan kemampuan masyarakatnya. yang secara jangka panjang kontribusinya dapat dirasakan. investasi dalam pendidikan.

Perubahan peta ketenagakerjaan dari pertanian ke industri 3. Hal inilah yang menyebabkan teori human capital percaya bahwa investasi dalam pendidikan sebagai investasi dalam meningkatkan produktivitas masyarakat. Adannya sumber daya manusia yang dapat memanfaatkan teknologi yang ada. televisi Dengan demikian kriteria untuk menilai keberhasilan pembangunan: 4. Teori human capital mengasumsikan bahwa pendidikan formal merupakan instrumen terpenting untuk menghasilkan masyarakat yang memiliki produktifitas yang tinggi. Terdapat berbagai macam faktor untuk mengukur bagaimana pertumbuhan ekonomi diukur dengan baik. Diantara ukuran-ukuran tersebut. telepon. Peningkatan dalam efisiensi sistem produksi masyarakat yang diukur dengan GDP dan GNP. Konsumsi energi atau pemakaian barang berteknologi tinggi seperti mobil. Dengan kata lain. diantaranya: 1. Sumber daya manusis seperti itu dihasilkan melalui proses pendidikan. Menurut teori ini pertumbuhan dan pembangunan memiliki 2 syarat. Pendapatan per-kapita 2. 5. Pencapaian tujuan-tujuan oleh berbagai kelompok dalam masyarakat. 6. tetapi sekolah bukan satu-satunya tempat dimana keterampilan itu dapat dicapai. Sekolah memang dapat menghasilkan tenaga kerja dengan keterampilan tertentu. pendidikan menyiapkan tenaga-tenaga yang siap bekerja. Namun demikian pada kenyataannya tingat pengangguran di hampir seluruh negara bertambah sekitar 2 % setiap tahunnya (World Bank:1980) Terjadinya pengangguran bukan disebabkan tidak berhasilnya proses pendidikan. Pola keterkaitan antara pendidikan dan pembangunan berbeda sesuai dengan .pembangunan adalah pendidikan masyarakat. Kepuasaan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat. namun pendidikan tidak selalu harus menghasilkan lulusan dengan jenis pekerjaan tertentu. dan 2. Adanya pemanfaatan teknologi tinggi secara efisien. Asumsi dasar yang melandasi keharusan adanya hubungan pendidikan dengan penyiapan tenaga kerja adalah bahwa pendidikan diselenggarakan untuk meningkatkan keterampilan dan pengatahuan untuk bekerja. yang dikaitkan dengan penggunakan sumber daya yang terbatas. yaitu 1.

Hubungan antara pendidikan dan pembangunan di negara maju sangat jelas dilihat dari adanya perubahan karakteristik individu yang berkaitan dengan tingkat pertumbuhan ekonomi. Perubahan peta ketenagakerjaan dari pertanian ke industri 4. bukan ditentukan oleh masing-masing warga negara. 1. Metode yang sering dipakai dalam penelitian evaluasi adalahl linear regresion and the educational production. sebagai akibat dari kelebihan pendapatan setelah dikurangi kebutuhan konsumsi. pemakaian teknologi yang canggih. 1. Kaitan antara pendidikan dengan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan seolah tidak terlihat karena pembangunan sangat diatur oleh negara. Konsumsi energi atau pemakaian barang berteknologi tinggi . Dari uraian di atas. Berdasarkan hal tersebut di atas. perekonomiannya sangat tergantung kepada sektor pertanian sehingga persentase tenaga kerjanya lebih banyak yang bekerja di sektor non-industri.karakteristik khas setiap negara. Teknologi tinggi dan sumberdaya yang mengoperasikannya 2. Ekonomi di negara kapitalis mengasumsikan bahwa model produksinya bebas dari intervensi pemerintah dan mensyaratkan adanya kompetisi terbuka di dalam pemasaran. 2. dengan memperhatikan kerangka berpikirnya dan metodologinya. Di Meksiko persentase di sektor yang sama adalah 23 % dan 33 %. memiliki konteks yang berbeda dalam mengitepretasikan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan. Ekonomi di negara sosialis. Negara Industri vs Non-Industri. Negara Kapitalis vs Negara Sosialis. Pendapatan per-kapita 3. penduduknya memiliki pendapatan perkapita yang lebih tinggi. artinya data diperoleh dari kejadian-kejadian yang telah lampau. Di Amerika Serikat yang sudah maju. Analisis terhadap pendidikan biasanya bersifat ex-post fakto. maka untuk membicarakan lebih lanjut kontribusi pendidikan terhadap pembangunan harus ditemukan kriteria-kriteria atau ukuranukuran pertumbuhan atau hasil pembangunan. Secara ringkas tampak berikut ini. Di negara maju memiliki akumulasi modal yang lebih besar. Pemerintah memiliki peranan di dalam mengontrol jalannya proses produksi dan pemasaran. Di negara non-industri. persentase pekerja yang bekerja di sektor industri sebesar 33 % dan di bidang jasa/service sebesar 66 %. Salah satu alasan banyaknya kontroversi tentang kaitan antara pembangunan dan pendidikan disebabkan karena sedikit sekali kebijakan pendidikan yang dimonitor benar-benar dan juga dievaluasi hasilnya. Sebenarnya konsep bagaimana pendidikan itu harus dievaluasi harus dikembangkan sejak tujuannya ditetapkan. konsumsi energi yang lebih besar dibandingkan negara kurang berkembang. maka dapatlah dirumuskan ukuran-ukuran sebagai berikut. sehingga jumlah tabungan semakin lebih besar dan pada akhirnya akan diinvestasikan lagi pada sistem ekonomi yang telah berjalan. Hubungan antara pendidikan dan pertumbuhan ekonomi sangat erat dan pendidikan merupakan suatu hal yang diperlukan. Jelas bagaimana pentingnya analisis kontribusi pendidikan dalam pembangunan. Di negara maju.

Dalam konteks ini pendidikan ini diapandang sebagai industri pembalajaran manusia. Hal ini berarti bahwa inti pendidikan itu adalah pembelajaran seumur hidup (life long learning). Pendidikan. yang dikaitkan dengan penggunakan sumber daya yang terbatas. artinya melalaui pendidikan dihasilkan manusia-manusia yang mempunyai kemampuan dan keterampilan yang sangat diperlukan bagi perekonomian suatu negara untuk meningkatkan pendapatanindividu dan pendapatan nasional. maupun Pendapatan Perkapita 3. Konsumsi energi A. Investasi dalam pendidikan merupakan penanaman modal dengan cara mengalokasikan biaya untuk penyelenggaraan pendidikan serta mengambil keuntungan dari sumber daya manusia yang dihasilkan melalui pendidikan itu. baik berupa uang atau modal maupun dalam bentuk barang atau jasa. Pencapaian tujuan-tujuan oleh berbagai kelompok dalam masyarakat. Arrow (1962) mengemuikakan bahwa istilah investasi atau investment merupakan alokasi current resources yang mempunyai alternatif produktif yang berguna untuk pelaksanaan kegiatan yang dapat menambah keuntungan yang diperoleh di masa yang akan datang. Pendidikan di sini dimaksud untuk meningkatkan martabat manusia agar mempunyai ketermapilan dan kemampuan sehinggan produktivitasnya meningkat. Peningkatan dalam efisiensi sistem produksi masyarakat yang diukur dengan GDP dan GNP 6. Berdasarkan ukuran tersebut di atas. Pendapatan Domestik Bruto. Pendapatan nasional. Modal atau uang yang ditanamkan bertujuan untuk mendapatkan keuntungan.5. Kepuasaan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat 7. dengan rentangan pertanian-jasa-industri 4. pendidikan non formal (luar sekolah) dan sebagainya hanya merupakan modus operandi dari proses pendidikan. Oleh sebab itu maka hasil pendidikan akan menjadi sumber daya manusia yang sangat berguna dalam pembangunan suatu negara. sementara bentuk pendidikan formal. Konsep Investasi dalam Pendidikan Investasi berarti penanaman modal atau uang. Kenneth J. maka untuk mengetahui keterkaitan antara pendidikan dan pembangunan diperlukan data sebagai berikut. Biaya atau cost suatu investasi merupakan keuntungan yang diperoleh dibagi dengan penggunaan sumber daya dalam berbagai kegiatan lain. 1. Perubahan peta ketenagakerjaan. Sementara itu pendidikan merupakan usaha manusia untuk membangun manusia itu sendiri dengan segala masalah dan spektrumnya yang terlepas dari dimensi waktu dan ruang. yang meliputi partisipasi pendidikan untuk setiap jenis dan jenjang pendidikan 2. Dengan demikian maka investasi dalam . Dengan demikian jelas bahwa investasi merupakan penanaman modal atau uang yang sengaja dilakukan untuk mendatangkan keuntungan melalui produk yang dihasilkan. baik dalam bentuk Pendapatan Nasional Bruto.

kualitas manusia dan pendapatan nasional. 1991: 14). 2. Dalam kaitan ini. Sistem pendidikan menciptakan dan mempertahankan penawaran ketermapilan manusia di pasar pemburuhan yang luwes dan mampu mengakomodasi dan beradaptasi dalam hubungannya dengan perubahan kebutuhan akan tenaga kerja dan masyarakat teknologi modern yang sedang berubah (Komaruddin. Kemampuan tenaga kerja tersebut tidak dapat dipindahkan kepada orang lain. pendidikan memberikan sumbangan yang berarti dalam kenaikan tingkat kehidupan. 2. Model yang dimaksudkan adalah model analisis biaya dan keuntunganpendidikan (cost benefit analysis). Investasi pendidikan dapat mempertahankan keutuhan dan secara konstan menambah persediaan pengetahuan dan memungkinkan riset dan penemuan metode serta teknik baru yang berkelanjutan. Backer. 3. Proses belajar mengajar menjamin masyarakat yang terbuka (yaitu masyarakat yang senantiasa beresedia untuk mempertimbangkan gagasan-gagasan dan harapanharapan baru serta menerima sikap dan proses baru tanpa harus mengorbankan dirinya). Human capital di sini merujuk pada tenaga kerja sebagai suatu faktor produksi yang menghubungkan aspek non-ekonomi pendidikan terhadap aspek ekonomi lainnya yang mempunya dua ciri esensial. Lebih lanjut dikemukakannya bahwa ada model investasi dalam bentuk sumber daya manusia yang secara langsung atau tidak melakukan hubungan antara indikator pendidikan di satu pihak dan indikator ekonomi di lain pihak. Sistem pendidikan menyiapkan landasan yang tepat bagai pembangunan dan hasilhasil rises (jaminan melekat untuk pertumbuhan masyarakat modern yang berkesinambungan). melainkan keuntungan bagi pribagi yang menerima pendidikan dan bagi negara. 1962) berkenaan dengan kegiatan-kegiatan yang mempengaruhi real income masa yang akan datang melalui penempatan sumber daya dalam bentuk manusia. pengetahuan dan produktivitas kerjanya. terutama dalam hal-hal berikut: 1. Ace Suryadi (1991) mengungkapkan bahwa menurut teori human capital yang tercermin dalam keterampilan. kecuali bila struktur sosial yang hidup dalam masyarakat tersebut tidak menguntungkan. maka investasi dalam sektor pendidikan akan menaikan pendapatan perkapita dalam sektor tersebut. Kualitas tenaga kerja sebagai suatu input produktif tidak dapat dibagi dan digunakan secara terpisah. Sebagai fungsi investasi. Model ini merupakan metodologi yang sangat penting dalam melakukan analisis untuk investasi pendidikan dan dapat membantu pengambilan keputusan untuk . Apabila dalam setiap sektor ekonomi kita dapatkan segala faktor yang dibutuhkan masyarakat kecuali tenaga kerja yang terampil. yaitu: 1.pendidikan mempunyai jangka waktu yang panjang untuk dapat mengetahui hasilnya dan hasilnya itupun tidak dalam bentuk keuntungan lansung. 4. Investasi dalam pendidikan memusatkan perhatian pada manusia sebagai sumber daya yang akan menjadi modal (human capital) bagai capital (Gary S.

Pendidikan dan Pertumbungan Ekonomi Mungkinkah ada intervensi pendidikan terhadap pertumbuhan ekonomi? Pendidikan memiliki daya dukung yang representatif atas pertumbuhan ekonomi. atau secara ekstrim tenagra kerja krah biru dan krah putih. Bentuk intervensi lain yaitu menciptakan teknologi baru dan menyiapkan orang-orang yang menggunakannya. Sementara itu Jones (1984) melihat pendidikan sebagai alat untuk menyiapkan tenaga kerja terdidik dan terlatih yang sangat dibutuhkan dalam pertumbuhan ekonomi suatu negara. pendidikan perlu mengantisipasi kebutuhan. Ia harus mampu memprediksi dan mengantisipasi kualifikasi pengetahuan dan keterampilan tenaga kerja. yang secara langsung akan meningkatakan pendapatan nasional. bahwa pendidikan memiliki suatu kemampuan untuk menyiapkan siswa menjadi tenaga kerja potensial. Sementra itu Vaizey (1962) melihat pendidikan menjdi sumber utama bakat-bakat terampil dan terlatih. dan konsumsi. Tyler (1977) mengungkapkan bahwa pendidikan dapat meningkatkan produktivitas kerja seseorang. Ini harus menjadi dasar untuk perencanaan pendidikan.memutuskan danmemilih diantara alternatif alokasi sumber-sumber pendidikan yang terbatas agar mampu memberikan kemampuan yang paling tinggi. Pendidikan memegang peran penting dalam penyediddan tenaga kerja. Intervensi terhadap fungsi konsumsi dilakukan melalui peningkatan produktivitas kerja yang akan mendorong peningkatan pendapatan. Di samping tenaga kerja. Intervensi pendidikan terhadap ekonomi merupakan upaya penyiapan pelaku-pelaku ekonomi dalam melasnakan fungsi-fungsi produksi. dan low management. yang kemudia akanmeningkatakan pendapatannya. Prediksi ketenagakerjaan sebagai dasar dalam perencanaan pendidikan harus mengikuti pertumbuhan ekonomi yang ada kaitannya dengan kebijaksanaan sosial ekonomi dari pemerintah. Intervensi terhadap fungsi produksi berupa penyediaan tenaga kerja untuk berbagai tingkatan yaitu top. Jones melihat. distribusi. Menurutnya. korelasi antara pendidikan dengan pendapatan tampak lebih signifikan di negara yang sedang membngun. B. Peningkatan pendapatan ini berpengaruh pula kepada pendapatan nasional negara yang bersangkutan. untuk kemudian akan meningkatkan pendapatan dan taraf hidup masyarakat berpendapatan rendah. Tabungan ini akan menjadi investasi . karena pranata ekonomi membutuhkan tenaga-tenga terdidik dan terlatih. yang ditunjukan dengan meningkatnya jumlah tabuhan yang berasal dari pendapatan yang disisihkan. Intervensi terhadap fungsi distribusi adalah melalui pengembangan research and development produk yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan masyarakat atau konsumen. midle. Program-program perluasan produksi melalui intensifikasi dan rasionalisasi merupakan salah satu wujud nyata dari peran prangata pendidikan atas fungsi produksi ini. dan menjadi lebih siap latih dalam pekerjaannya yang akan memacu tingkat produktivitas tenaga kerja. Peningkatan pendapatan ini akan mendorong pada peningkatan fungsi konsusmsi. juga pendidikan mengintervensi produksi untuk penyediaan entrepreneur tangguh yang mampu mengambil resiko dalam inovasi teknologi produksi. Oleh karena itu. Permasalahan yang dihadapai adalah jarang ada ekuivalensiyang kuat antara pekerjaan dan pendidikan yang dibutuhkan yang mengakibatkan munculnya pengangguran terdidik dant erlatih.

Kata Kunci: Konflik sosial. Pemikiran ini muncul pada era industrialisasi dalam masayarkaat modern. M. lingkungan yang ada dalam masyarakat itu sendiri kurang kondusif.Pd. tingkat pendalaman agama. Argumen ini memiliki dua sepek. Menciptakan kekurangan pekerja berkeahlian rendah dengan konsekuensi mengingkatkan gaji pekerja golongan ini. Meningkatkan produktivitas kerja dan konsekuensinya terhadap pendapatan 2. Meningkatakan suplai tenaga kerja dengan keahlian tinggi dan konsekuensinya terhadap rendahnya gaji mereka. yang berujung pada bentrokan fisik dengan atau tanpa senjata. C.kapital yang tentunya akan lebih mempercepat laju pertumbuhan ekonomi suatu negara. baik di keluarga. menginkatkan tingkat pendidikan pekerja berpenghasilan rendah akan memberikan tiga pengaruh positif. Pendidikan dan Konflik Sosial Ditulis oleh Elly Retnaningrum Penulis: Dra. yaitu: 1. Pemikiran ini didasarkan pada anggapan bahwa pendidikan merupakan human capital. pendidikan dalam keluarga. Ini mengimplikasikan perlunya pembenahan yang serius pada wilayah moral. dan 2. Kondisi yang digambarkan tersebut menggiring ke arah perlunya mempedulikan persoalan moralitas secara lebih serius. Pertentangan antar kelompok masyarakat telah menjurus pada gejala-gejala disintegrasi bangsa. (dosen tetap pada Universitas Langlangbuana di Bandung). sekolah maupun masyarakat. dan 3. yaitu: 1. Hj. Pendidikan dan Pekerjaan Ukuran yang paling populer dalam melihat kontribusi pendidikan terhadap pertumbuhan ekonomi adalah mempertautkan antara pendidikan dengan pekerjaan. Salah satu aspek yang subtansial adalah pengenalan dan penanaman nilai-nilai kebenaran dan kesalahan atau kebaikan dan keburukan yang terdapat dalam suatu tindakan. tingkat pendidikan. . terbentuknya mentalitas dan moralitas yang dilandasi ketidakdewasaan perilaku sosial psikologis. Sebagai ilustrasi. Elly Retnaningrum. Pendidikan merupakan suatu bentuk investasi nasional untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang dibutuhkan dalam pertumbuhan ekonomi modern. Investasi pendidikan diharapkan menghasilkan suatu peningkatan kesejahteraan dan kesempatan yang lebih luas dalam kehidupan nyata. Abstrak: Sebagian dari akar permasalahan dari konflik sosial adalah kondisi sosialekonomi-politik. Dan ini bisa dilakukan melalui pendidikan.

Lebih jauh. bukankah jumlah orang yang menjalankan perintah agamanya masing-masing relatif lebih tinggi apabila dibandingkan dengan yang tidak? Apakah kegiatan spiritual yang selama ini marak tidak lebih dari seremonial ritual tanpa pendalaman hakikat? Tidak mudah memang menjawab sederet pertanyaan tersebut. Apalagi ada pihak-pihak tertentu yang "mengobok-obok" dengan memancing di air keruh memanfaatkan situasi sesuai dengan kepentingan primordialnya. Bukankah kegiatan-kegiatan yang sifatnya spiritual dapat dikatakan marak dan frekuensinya cukup tinggi? Apabila dilihat secara sepintas. Tatkala kerusuhan bermunculan di pelbagai kawasan nusantara ini. tingkat pendalaman agama yang lebih mengutamakan dimensi ritual seremonial telah menyebabkan kurang terinternalisasikannya nilai-nilai keagamaan dalam pribadi kolektif masyarakat. kondisi ini mengakibatkan munculnya .baik yang bernuansa SARA maupun tidak-. Sambas.dengan tingkat pendidikan masyarakat? Mengapa sebagian masyarakat mudah sekali tersulut isu-isu yang tidak tidak dapat dijamin kesahihannya? Apakah ini bertemali erat dengan tingkat pendidikan masyarakat? Rasanya memang kita sulit untuk percaya semua itu dapat terjadi. baik kepentingan yang berhubungan dengan karir atau petualangan politik maupun sekadar keuntungan ekonomi. Konflik sosial yang telah mengorbankan nyawa dan harta benda seperti yang terjadi di Ambon.Ini telah menjadi 'cara pemecahan masalah' bagi sebagian masyarakat di negeri yang sesungguhnya sangat menjunjung tinggi rasa kemanusiaan serta persatuan dan kesatuan bangsa. beberapa asumsi dapat diketengahkan untuk lebih memahami akar permasalahannya. Akar permasalahan Mencermati pelbagai konflik sosial yang merebak belakangan ini. Tapi setidaknya kita dapat mengkaji kemungkinan yang memicu kejadian-kejadian yang mencoreng muka bangsa Indonesia di mata dunia internasional itu. atau "perang" antarpelajar di Bogor belakangan ini telah menorehkan guratan luka psikologis-sosial dalam lintasan sejarah peradaban masyarakat Indonesia pasca Orde Baru. dari perspektif pendidikan selalu terlontar pertanyaan: adakah kaitan antara pelbagai pertentangan antarkelompok masyarakat itu-. yang hingga saat ini nampaknya masih belum beranjak dari masa transisi. kondisi sosial-ekonomi-politik yang sudah menjurus pada chaos telah membentuk sikap dan perilaku masyarakat yang sulit diduga. Maraknya konflik sosial yang terjadi mengisyaratkan adanya sesuatu yang salah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita. Kedua. Pertama. yang apabila dirunut lebih lanjut akan bermuara pada kegagalan praksis pendidikan dalam masyarakat. Ketiga. Ini sungguh ironis terjadi dalam masyarakat yang berfalsafah hidup Pancasila. tingkat pendidikan sebagian masyarakat yang kurang menyebabkan mudah sekali tersulut isu-isu yang tidak bertanggung jawab dan provokasi-provokasi (baik yang terorganisir maupun yang spontan) dari pihak-pihak yang memanfaatkan situasi untuk memecah belah dan mengambil keuntungan politis dari situasi itu.

memupuk keberanian untuk mengutarakan kebenaran dan mengulurkan tangan pada yang membutuhkan pertolongan agaknya perlu menjadi prioritas. Selain itu. Ini bisa diperkuat di sekolah. masyarakat mudah sekali menghujat kesalahan orang lain hanya berdasarkan isu-isu bahwa tokoh yang bersangkutan adalah figur yang memang layak dihujat. Salah satu aspek yang subtansial adalah pengenalan dan penanaman nilai-nilai kebenaran dan kesalahan atau kebaikan dan keburukan yang terdapat dalam suatu tindakan. yang setiap saat dapat muncul dimana saja dan kapan saja. di lingkungan keluarga para orang tua dan orang dewasa perlu memfungsikan dirinya untuk memupuk keberanian anak dengan mengkondisikannya pada situasi yang memungkinkan anak mengemukakan pendapatnya tanpa kendala hirarki yang berlebihan. Hal ini mengingat telah tergerusnya nilai-nilai kebenaran dengan pelbagai pertimbangan lain yang menyebabkan adanya ketakutan untuk menyuarakan kebenaran itu. Akibat lebih jauh adalah keengganan mengulurkan bantuan karena telah tumpulnya rasa solidaritas sosial serempak dengan makin mengedepannya pertimbangan untung-rugi. menghilangkan nyawa orang lain. Sejalan dengan perubahan yang sangat cepat dalam pelbagai dimensi kehidupan belakangan ini. Antisipasi Kondisi yang digambarkan tersebut menggiring ke arah perlunya mempedulikan persoalan moralitas secara lebih serius. Keempat. merusak fasilitas umum.fanatisme berlebihan atau justru fanatisme semu yang seolah-olah membela kepentingan agama tetapi sesungguhnya yang dibela adalah kepentingan diri sendiri yang jauh dari ajaran agama. dan semacamnya. Kelima. Misalnya. maka penguatan landasan moral menjadi kebutuhan utama. sekolah. baik di lingkungan keluarga. yang tidak jarang memunculkan konflik kepentingan dan konflik sosial dalam arti luas. lingkungan yang ada dalam masyarakat itu sendiri kurang kondusif untuk memberikan ajaran moral kepada individu-individu yang menjadi anggotanya. perlu juga dibiasakan untuk secara langsung mempraktikkan kegiatan-kegiatan yang sifatnya sosial. Dan yang lebih mendasar. serta masyarakat. Untuk mengantisipasi kondisi itu. Ini mengimplikasikan perlunya pembenahan yang serius pada wilayah moral. Ini mengisyaratkan perlunya penelusuran akar permasalahan yang mendasari peristiwa-peristiwa sejenis. . ketiga kondisi tersebut pada gilirannya menggiring ke arah terbentuknya mentalitas dan moralitas yang dilandasi ketidakdewasaan perilaku sosial psikologis. Hanya karena isu yang tidak jelas bisa menyulut gerakan massa yang menjurus pada perilaku destruktif yang merongrong kamtibmas. Mengendurnya kontrol sosial serta langkanya figur yang dapat dijadikan panutan perilaku yang berlandaskan pada kebenaran agaknya dapat dijadikan sebagai salah satu alasan untuk lebih mempedulikan pendidikan moral. Fungsi guru dalam konteks ini adalah sebagai pendidik moral bagi murid-muridnya agar dapat berpihak pada kebenaran dan keharmonisan hidup antarsesama.

Dengan belajar aktif. Standar ini dapat diajarkan dan dipelajari dalam pelbagai situasi. afektif. dan masyarakat dalam menanamkan nilai-nilai moral. Ar. guru seyogianya mengetahui bagaimana cara siswa belajar dan menguasai berbagai cara membelajarkan siswa. Berbagai tindak penyimpangan. tidak saja dalam situasi pengajaran yang formal.Pd. M. sedangkan model pembelajaran akan membahas tentang . yaitu mengkondisikan siswa agar belajar aktif sehingga potensi dirinya (kognitif. Ini mengisyaratkan bahwa melalui pendidikan yang baik dapat dibentuk manusia-manusia yang setia pada rel moralitas religius yang dijadikan sebagai sandaran setiap perilaku serta tidak mudah terhasut desas-desus sehingga mengakibatkan konflik sosial. dan konatif) dapat berkembang dengan maksimal. kekerasan. H. Model belajar akan membahas bagaimana cara siswa belajar. dan pemaksaan kehendak dari satu pihak ke pihak lain. melalui partisipasi dalam setiap kegiatan pembelajaran. pembenahan yang mendasar pada cara-cara dan juga materi pendidikan moral dalam lingkungan keluarga dan masyarakat merupakan kebutuhan mendesak yang semestinya mendapatkan prioritas untuk mengantisipasi perilaku masyarakat yang menyimpang dari nilai-nilai moral. serta konflik sosial pada umumnya menunjukkan adanya persoalan moralitas yang cukup serius. Agar hal tersebut di atas dapat terwujud. akan terlatih dan terbentuk kompetensi yaitu kemampuan siswa untuk melakukan sesuatu yang sifatnya positif yang pada akhirnya akan membentuk life skill sebagai bekal hidup dan penghidupannya. Hal-hal apa saja yang dilakukan oleh seseorang tatkala menghadapi situasi tertentu pada hakikatnya sudah merupakan pertimbangan moral yang paling mendasar. dan ras dapat dihindarkan. lingkungan pendidikan membentuk perilaku peserta didik untuk melakukan sosialisasi di masyarakat agar dapat meminimalkan atau bahkan meniadakan terjadinya konflik sosial. sekolah. Kondisi seperti ini mengisyaratkan belum maksimalnya fungsi keluarga.Demikianlah. Untuk itu. secara langsung maupun tidak langsung. Guru terlibat dalam kegiatan pengajaran yang secara erat berkaitan dengan penanaman nilai-nilai moral yang sesuai dengan standar perilaku yang umum diakui sebagai kebenaran. banyak sekali standar perilaku yang dapat dijadikan sebagai pelajaran moral bagi siapa saja. Manakala praksis pendidikan (tidak hanya di sekolah) dapat difungsikan untuk penanaman nilai moral yang menghargai keberadaan orang lain dapat diwujudkan dan etika sosial yang mengedepankan kewajiban dan tanggung jawab manusia selaku manusia yang saling mengasihi dapat terbina maka prasangka etnis. Ia sekaligus dapat dipergunakan sebagai instrumen untuk mengembangkan nilai moral dan etika sosial yang selaras dengan tuntutan perkembangan peradaban tetapi tetap mengacu pada nilai-nilai religi dan nilai-nilai kemasyarakatan. Dalam situasi sehari-hari. adalah dosen tetap pada FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia di Bandung Abstrak: Tugas utama guru adalah membelajarkan siswa. agama. MODEL BELAJAR DAN PEMBELAJARAN BERORIENTASI KOMPETENSI SISWA Ditulis oleh Erman S. Drs. Pernyataan tersebut mengisyaratkan bahwa praksis pendidikan amat menentukan dalam pembemntukan perilaku masyarakat. Erman Suherman.

mudah-mudahan kebiasaan murid yang bersifat pasif sedikit demi sedikit akan berubah pula menjadi aktif. kompetensi. Permasalahannya adalah bagaimana mengubah kebiasaan prilaku guru dalam kelas.bagaimana cara membelajarkan siswa dengan berbagai variasinya sehingga terhindar dari rasa bosan dan tercipta suasana belajar yang nyaman dan menyenangkan. telah berlaku selama 4 tahun dan semestinya dilaksanakan secara utuh pada setiap sekolah. fasilitas. Padahal. ini berarti bahwa guru sebagai sutradara dan siswa menjadi pemain. life skill. apalagi untuk membeli buku pembelajaran yang inovatif. Guru masih dominan dan siswa resisten. potensi siswa. suasana belajar A. masih kurang memperhatikan ketercapaian kompetensi siswa. model-model belajar agar memahami benar bagaimana siswa belajar yang efektif. Pendahuluan Kurikulum 2004 berbasis kompetensi (KBK). Mereka bukan tidak mau meningkatkan kualitas pemebelajaran. mengubah paradigma mengajar menjadi membelajarkan. . sehingga misi KBK dapat terwujud. Namun pada kenyataannya. pada penyusunan RPP menggunakan istilah skenario pembelajaran untuk pelaksanaan pembelajaran di kelas. yang saya hormati dan saya banggakan. Selain dari karena kebiasaan yang sudah melekat mendarah daging dan sukar diubah. pada pihak siswa. guru aktif dan siswa pasif. mereka sangat sibuk untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. dan guru itu sendiri. karena kebiasaan menjadi penonton dalam kelas. Dengan paradigma yang berubah. untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan. sehingga kualitas amal sholehnya melalui profesi guru menjadi meningkat pula. tuntutan KBK. mereka sudah merasa enjoy dengan kondisi menerima dan tidak biasa memberi. yaitu dominan menggunakan metode ceramah-ekspositori. Karena penghargaan terhadap profesi guru sangat minim. semoga dengan sajian sederhana ini dapat dijadikan bekal untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran. Tulisan sederhana ini sengaja dibuat untuk para guru. guru masih menjadi pemain dan siswa penonton. dan model pembelajaran yang bisa dipilih dan digunakan sesuai dengan situasi dan kondisi siswa. model pembelajaran. Paradigma lama masih melekat karena kebiasaan yang susah diubah. dan memang itu kewajiban utama. kondisi ini kemungkinan disebabkan karena pengetahuan guru yang masih terbatas tentang bagaimana siswa belajar dan bagaimana cara membelajarkan siswa. tetapi situasi dan kondisi kurang memungkinkan. boro-boro sempat waktu untuk membaca buku yang aktual. Tulisan ini membahas tentang kompetensi siswa sesuai tuntutan kurikulum untuk sekedar mengingatkan. Kata Kunci: model belajar. Demikian pula. paradigma mengajar masih tetap dipertahankan dan belum berubah menjadi peradigma membelajarkan siswa. Hal ini tampak pada RPP yang dibuat oleh guru dan dari cara guru mengajar di kelas masih tetap menggunakan cara lama. jadi guru memfasilitasi aktivitas siswa dalam mengembangkan kompetensinya sehingga memiliki kecakapan hidup (life skill) untuk bekal hidup dan penghidupannya sebagai insan mandiri. yang diperbaharui dengan Kurikulum 2006 (KTSP). materi. pelaksanaan pembelajaran di sekolah.

hipotesis. baik di kelas ataupun dalam kehidupannya sehari-hari antar sesama temannya atau orang yang lebih tua. investigasi. yang pada tahap selanjutnya menjadi kecakapan hidup (life skill). Dengan perkataan lain. Model-model Belajar Uraian berikut ini adalah untuk menjawab pertanyaan. presentasi. atau mendengar tentang sesuatu hal berbentuk hubungan fungsional antar bagian (konsep. inkuiri. dan tidak sebaliknya. komunikasi. Siswa yang telah memiliki kompetensi mengandung arti bahwa siswa telah memahami. yaitu membekali siswa untuk bisa hidup mandiri kelak setelah ia dewasa tanpa tergantung pada orang lain. motivasi aktivitas positif. pengelolaan suasana hati. C. Dengan demikian belajar tidak cukup hanya sampai mengetahui dan memahami. membaca. aplikasi. generalisasi. pemecahan masalah). pengendalian impulsi. Ada berbagai model belajar yang akan dibahas. eksplorasi. Inilah hakikat pembelajaran. konjektur.B. yang berkontribusi terhadap sukses individu sebesar 40 % . terutama kognitif) disebut dengan hard skill. sosialisasi. dan pengendalian diri disebut dengan soft skill. Model-model belajar yang dimaksud pada judul di atas adalah berbagai cara-gaya belajar siswa dalam aktivitas pembelajaran. penalaran. yaitu: 1. identifikasi. tidak parsial terpisah satu . memaknai dan memanfaatkan materi pelajaran yang telah dipelajarinya. Istilah psikologi kontemporer. dan kemampuan psikomotorik (sosialisasi dan kepribadian yang mencakup kemampuan argumentasi. diharapkan para guru (kita semua) dapat membelajarkan siswa secara efisien sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif. koneksi. Suatu informasi yang sangat penting dan sekaligus peringatan bagi kita semua. Bukankah pemberian harus diselaraskan dengan mereka yang akan menerima pemberian sehingga dapat bermanfaat secara optimal. kemampuan afektif (pengendalian diri yang mencakup kesadaran diri. analisis. guru (kita) bisa menyesuaikan pelaksanaan pembelajaran dengan kondisi siswa. empati). Kompetensi siswa yang harus dimilki selama proses dan sesudah pembelajaran adalah kemampuan kognitif (pemahaman. Dengan memahami model-model belajar ini. ia telah bisa melakukan (psikomotorik) sesuatu berdasarkan ilmu yang telah dimilikinya. Peta Pikiran Buzan (1993) mengemukakan bahwa otak manusia bekerja mengolah informasi melalui mengamati. kecakapan hidup. kata kunci). observasi. Sedangkan kompetensi lainnya yang berkenaan dengan afektif dan psikomotorik yang berkaitan dengan kemampuan kepribadian. yang berkontribusi sukses individu sebesar 60%. prilaku). kreativitas. Kompetensi Siswa Kompetensi (competency) adalah kata baru dalam bahasa Indonesia yang artinya setara dengan kemampuan atau pangabisa dalam bahasa Sunda. bagaimana siswa belajar? Dengan memahami uraian ini. karena ia telah memiliki komptensi. kompetensi / kecakapan yang berkaitan dengan kemampuan profesional (akademik.

Yang produknya berupa peta konsep. Silakan buat (tulis-gambar) peta pikiran yang terlintas kemudian narasikan secara lisan. Kecerdasan Ganda Goldman (2005) mengemukakan bahwa struktur otak. setiap kesempatan dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran diri dalam segala hal. Dalam bidang studi keahlian anda. 2. sajian guru dalam pembelajaran harus pula dikondisikan berupa sajian peta konsep. terbagi dua menjadi kecerdasan intelektual pada otak kiri dan kecerdasan emosional pada otak kanan. di samping bahasa yang digunakan menggunakan gaya bahasa penulis. sederhana. misalnya berangan-angan. Sebagai contoh. mengobrol atau bercanda tanpa makna. Kalau dibuat narasinya akan ada perbedaan redaksi. dan besar penghargaan untuk perkuliahan per-sks. . maka akan terkait dengan kata lain secara fungsional. jika positif akan mengembangkan penalaran akan tetapi jika diisi dengan aktivitasa negatif. dan lain-lain dengan masing-masing karakternya. atau ke tokoh lain Oneng. Tulisan atau gambar peta pikiran tersebut dinamakan dengan peta konsep (concept map). Agama. misalnya ambil satu materi dalam pelajaran Matematika. kalau dalam pikiran kita ada kata (konsep) Bajuri. Selanjutnya.sama lain dan tidak pula dalam bentuk narasi kalimat lengkap. atau yang lainnya. Silakan anda mencoba menuliskan / menggambarkan peta pikiran tentang Bajuri dan FKIP Unla di atas. guru membumbuinya dengan narasi yang kreatif. Kondisi ini akan bisa dinetralisir dengan relaksasi melalui penciptaan suasana kondusif. Dengan demikian konsep mendapat retensi yang kuat dalam pikiran. Akuntansi. Mengingat hal itu. Ema. Kecerdasan intelektual mengalir-bergerak (flow) antara kebosanan bila tuntutan pemikiran rendah dan kecemasan bila terjadi tuntutan banyak. kemudian dinarasikan dengan gaya bahasa masing-masing. Selanjutnya Buzan mengemukakan bahwa cara belajar siswa yang alami (natural) adalah sesuai dengan cara kerja otak seperti di atas berupa pikiran. Belajar dengan menghafalkan kalimat lengkap tidak akan efektif. seperti gemuk. meskipun dengan makna yang tidak berbeda. Sebaliknya jika tuntutan kerja otak tinggi akan terjadi kecemasan-kelelahan. pejabatnya. mudah diingat dan dikembangkan pada konsep lainnya. sebagai instrumen kecerdasan. menonton. dosen-dosen dan staf administrasi. Ucup. sehingga setiap konsep utama yang dipelajari semuanya teridentifikasi tidak ada yang terlewat dan kaitan fungsionalnya jelas. Dengan demikian belajar akan efektif dengan cara membuat catatan kreatif yang merupakan peta konsep. inlah yang disebut dengan sia-sia atau mubadzir (at tubadziru minasy-syaithon). Bagaimana dengan anda?. Jika benar-benar dimanfaatkan secara optimal. misal kenakalan atau lamunan. Demikian pula kata dalam pikiran kita terlintas FKIP Universitas Langlangbuana Bandung akan terkait alamatnya. Dengan kemampuan otak seperti itu dibandingkan dengan kemampuan komputer sangat tinggi. supir bajay. Buzan mengemukakan bahwa kemampuan otak manusia dapat memproses informasi berupa bahasa sebanyak 600 – 800 kata permenit. Hanya sayang banyak orang yang mengabaikannya atau digunakan untuk hal-hal yang kurang bermanfaat untuk peningkatan kualitas diri. Bila terjadi kebosanan otak akan mengisinya dengan aktivitas lain. Hindun. kocak.

Bukankan ketentraman individu karena keyakinan beragama ini. dan ibadah lainnya. Musical-rithmic. linier. dan strategi berpikir. musik. Body-kinestic. Intrapersonal-reflective. Interpersonalcommunication. pengalaman. Dengan demikian aktivitas otak kiri semestinya dibarengi dengan aktivitas otak kanan. sekuensial. holistic. (2002) mengemukakan bahwa aktivitas metakognitif tergantung pada kesadaran individu. tergantung dari variabel meta kognitif. kelembutan. intuitif. kompleksitas. berpikir tentang apa yang dipikirkan dan bagaimana proses berpikirnya. natural. dan kreativitas. ide. siswanya sebanyak 40% dipengaruhi oleh hal lainnya. teratur. pertanyaan. Gardner (1983) mengemukakan tentang kecerdasan ganda yang sifatnya mulkti dengan akronim Slim n Bill. abstrak. yaitu Kecerdasan Spiritual (nurani-keyakinan) atau kecerdasan fitrah yang berkenaan dengan nilai-nilai kehidupan beragama. bukankah ada ikhtiar dan ada pula taqdir. bantuan. rasional. atau meditasi keheningan dengan prinsip kepasrahan kepada sang Pencipta. yaitu: refleksi kognitif. Sedangkan Holler berpendapat tentang komponen metakognitif. sintesis. kita semestinya berkeyakinan tinggi terhadap kecerdasan ini. pengetahuan. Ary Ginanjar (2002) dan Jalaluddin Rahmat (2006) mengukakan kecerdasan ketiga. dan simbolik. Logic-thinking-reasoning. Metakognitif bisa digolongkan pada kemampuan kognitif tinggi karena memuat unsure analisis. suasana nyaman dan menyenangkan. Sedangkan sela syaraf otak kanan berkaitan dengan kecerdasan yang sifatnya acak. dan regulasi. monitoring. metakognitif bisa diterjemahkan secara bebas sebagai kesadaran berfikir. Komponen meta kognitif menurut Sharples & Mathew ada 7. Sharples & Mathew (1998) mengemukakan pendapat bahwa metakognitrif dapat dimanfaatkan untuk menerapkan pola pikir pada situasi lain yang dihadapi. manfaat. Holler. realitas. Kemampuan metakognitif setiap individu akan berlainan. spasial. Oleh karena itu pelaksanaan pembelajaran . emosional. Penting untuk diketahui bahawa kecerdasan intelkektual berkontribusi untuk sukses individu sebesar 20% sedangkan kecerdasan emosional sebesar 40%. 3. dan evaluasi sebagai cikal bakal tumbuhkembangnya kemampuan inkuiri dan kreativitas. dkk. Metakognitif Secara harfiah. monitoring. yaitu aktivitas individu untuk memikirkan kembali apa yang telah terpikir serta berpikir dampak sebagai akibat dari buah pikiran terdahulu. verbal. yaitu: kesadaran. ada do’a sebagai permintaan dan harapan. koneksi. Sel syaraf pada otak kiri berfungsi sebagai alat kecerdasan yang sifatnya logis. strategi. yaitu Spacial-visual . senyum-tertawa. dan aplikasi. Sebagai orang beragama. dan regulasi. Linguistic-verbal. yaitu kondisi individu. prediksi. kesadaran diri.misalnya keramahan.

keberanian. tentunya akan berhadapan dengan siswa yang berkepribadian negative seperti di atas dan tentunya tidak untuk dibiarkan karena profesi guru adalah amanat. yaitu optimis. seperti pesimis. ing madyo mangun karso (dalam pembelajaran . Komunikasi Siswa dalam belajar tidak akan lepas dari komunikasi antar siswa. sehingga dia tumbuh menjadi penakut. menyimpulkan. Dampak selanjutnya pada waktu bwersekolah. untuk kita simak dan renungkan. Bagaimanakh menghadapi siswa dengan pola pribadi seperti irtu? Caranya anatar lain dengan cara tidak memvonis. tidak hanya berpikir sepintas dengan makna yang dangkal. pembenaran. Perhatikan hasil penelitian Jack Canfield (1992). meng-identifikasi. dan melaksanakan-prak (mengaplikasikan. mengerjakan. menjawab. Kebermaknaan Belajar Dalam belajar apapun. punya alternative. m\udah menyerah. belajar efektif (sesuai tujuan) semestinya bermakna. dan mau memperbaiki diri. menggunakan. Sebagai guru. nada suara. gerak tubuh. tumbuhkan citra positif.presentasi). yang selanjutnya mempengaruhi poses pembelajaran. suka tantangan. bertanya. berkomentar. pribadinya berpola negative. ataupun dengan guru. dan sosok panutan). mengendalikan keadaan. jangan sungkan untuk apologi jika kesalahan. 4. dan jaga komunikasi non verbal (eksprsi wajah. ingin mencoba. mengkomunikasikan. ada individu yang memiliki pribadi positif dan ada pula yang berkpribadian negatif.” bukan katanya. bahwa seorang anak ayang masih polos-natural. prasangka. Dalam bahasa Sunda ada pepatah “pok-pek-prak” yang berarti bahwa belajar mempunya indikator berkata-pok (bertanya-menjawab-diskusi. mengembangkan). Berbeda dengan individu yang memiliki pribadi positif. Agar bermakna. menimpakan kesalahan. belajar menjadi beban dan rasa ercaya dirinya berkurang. Mengapa demikian? Karena cara berkomunikasi akan langsung berkenaan dengan akal dan rasa. dikendalikan keadaan . Makin lama ia makin dewasa. dan cemas. partisipatidf. Kemampuan komunikasi setiap individu akan mempengaruhi proses dan hasil belajar yang bersangkutan dan membentuk kepribadiannya. ingin tahu dengan pengaruh komunikasi negatif yang lebih dominant dari orang sekelilingnya. menemukan). Mencobapek (menyelidiki. memanfaatkan. membiarkan. Tokoh pendidikan nasional Ki Hajar Dewantoro (1908) mengemukakan tiga prinsip pembelajaran ing ngarso sung tulodo (jadi pemimpin-guru jadilah teladan bagi siswanya). setiap hari biasa menerima 460 komentar negatif dan 75 koentar positif dari oarng yang lebih tua dalam kehidupannya. 5. belajar tidak cukup dengan hanya mendengar dan melihat tetapi harus dengan melakukan aktivitas (membaca.semestinya membiasakan siswa untuk melatih kemampuan metakognitif ini. ternyata lama kelamaan keyakinannya terguncang dan rasa percaya dirinya menurun. ragu-ragu. menduga. Akibatnya sungguh mengejutkan. ada kebebasan memilih. dan sibuk dengan alasan. menghindar. anak yang pada awalnya secara alami penuh keyakinan. katakana “saya …. siswa dengan fasilitas belajar. diskusi). bersikap mengajak dan bukan memerintah. presentasi. pemalu.

mengatakan-komunikasi mencapai 70 %. dan sintaks (SOP). koherensi. dari mendengar 20%. menggunakan kesempatan . kontinuitas historical. simbolisasi. Selanjutnya. melainkan lebih bersifat negosiasi sehingga tumbuh suasana fasilitasi. tepai harus dengan hands-on. Dalam kondisi tersebut suasana menjadi kondusif (tut wuri handayani) sehingga dalam belajar siswa bisa mengkonstruksi pengetahuan dan opengalaman yang diperolehnya dengan pemaknaan yang lebih baik. refeleksi-eksplanasi. dan bukan dengan kegiatan mengajar. Vernon A Madnesen (1983) san Peter Sheal (1989) mengemukakan bahwa kebermaknaan belajar tergantung bagaimana cbelajar. Siswa membangun sendiri konsep atau struktur materi yang dipelajarinya. Konstruksivisme Dalam paradigma pembelajaran. Jika belajar hanya dngan membaca kebermaknaan bisa mencapai 10%. jadi harus dihargai karena hal itu cirinya ia sedang belajar. tindak lanjut. dan daily life (kontekstual). Hal inilah yang disebut dengan konstruksivisme dalam pembelajaran. pembelajaran adalah solusi tepat untuk pelaksanaan kurikulum 2006.membangun ide siswa dengan aktivitas sehingga kompetensi siswa terbentuk). Confrey (1990) menyarankan konstruksivisme secara utuh (powerfull constructivism). dan inkuiri dengan cara mereka sendiri untuk menyelesaikan persoalan yang disajikan. melainkan siswa sendiri ang mengemasnya. justifikasi. atau mungkin terjadi eksalahan. keterpaduan. kekonvergenan. 6. da belajar dengan melakukan dan mengkomunikasikan besa mencapai 90%. siswa yang satu dengan siswa lainnya berbeda. Siswa tidak lagi menerima paket-paket konsep atau aturan yang telah dikemas oleh guru. Belajar secara aktif indikatornya adalah belajar pada setiap situasi. Dengan perkataan lain. mengeksplorasi. Sehingga jenis komunikasi yang dilakukan antara gurusiswa tidak lagi bersifat transmisi sehingga menimbulkan imposisi (pembebanan). dan memang pembelajaran pada hakikatnya adalah konstruksivisme. guru menyajikan persoalan dan mendorong (encourage) siswa untuk mengidentifikasi. Drai uraian di atas implikasi terhadap pembelajaran adalah bahwa kegiatan pembelajaran identik dengan aktivitas siswa secara optimal. konstruksivis. mendengar dan melihat 50%. ikut partisipasi dan tidak menghindar dari aktivitas pembelajaran. tidak cukuop dengan mendengar dan melihat. berhipotesis. yaitu: konsistensi internal. yaitu belajar secara aktif dan secara reaktif (pasif). Mungkin saja kemasannya tidak akurat. karena pembelajaran adalah aktivitas siswa yang sifatnbya proaktif dan reaktif dalam membangun pengetahuan. berkonjektur. Agar konstruksicvisme dapat terlaksana secara optimal. tidak melalui pemberitahuan oleh guru. menggeneralisasi. di sinilah tugas guru memberikan bantuan dan arahan (scalfolding) sebagai fasilitator dan pembimbing. 7. dari melihat 30%. Keslahan siswa merupakan bagian dari belajar. minds-on. Prinsip Belajar Aktif Ada dua jenis belajar. tut wuri handayani (jadilah fasilitator kegiatan siswa dalam mengembangkan life skill sehingga mereka menjadi pribadi mandiri).

tanya-jawab. empati dan pengendalian diri. dan rasa senasib. Menurut teori dan pengalaman agar kelompok kohesif (kompak-partisipatif). Oleh karena itu. Dengan memanfaatkan kenyatan itu. structuralistic (terstrutur. sesuai dengan pengertian kegiatan pembelajaran di atas. Pembelajaran koperatif sesuai dengan fitrah manusis sebagai makhluq sosial yang penuh ketergantungan dengan otrang lain. sehingga terpuku rasa tanggung jawab dan disiplin diri. tiap anggota kelompok terdiri dari 4 – 5 orang. Berikut ini disajikan beberapa model pembelajaran. sitematik. Hal ini bisa terlatih melalui kerja individual-kelompok. pembegian tugas. Saling membantu dan berlatih beinteraksi-komunikasi-sosialisasi karena koperatif adalah miniature dari hidup bermasyarakat. dan kondisi guru itu sendiri. Prisip tersebut akan terwujud dengan melaksanakan pembelajaran dengan memperhatikan keterlibatan intelektual-emosional. berupaya terlaksana. menyelesaikan persoalan. seperti kemampuan sosialisasi. dalam memilih model pembelajaran yang tepat haruslah memperhatikan kondisi siswa. tugas. siawa . maka prinsip belajar yang harus diterapkan adalah siswa harus sebaga subjek. mengabaikan kesempatan. Akan tetapi sajian yang dikemukakan pengantarnya berupa pengertian dan rasional serta sintaks (prosedur) yang sifatnya prinsip. pengalaman. kita (guru) harus ingat bahwa tidak ada model pembelajaran yang paling tepat untuk segala situasi dan kondisi. Dalam prakteknya. fasilitas-media yang tersedia. mempunyai tujuan dan tanggung jawab bersama.untuk meraih manfaat. modifikasinya diserahkan kepada guru untuk melakukan penyesuaian. Prinsip belajar yang dikemuakan leh Treffers (1991) adalah memiliki indikatro mechanistic (latihan. Koperatif (CL. Jadi model pembelajaran koperatif adalah kegiatan pembelajaran dengan cara berkelompok untuk bekerja sama saling membantu mengkontruksu konsep. dan partisipatif dalam setiap kegiatan. Dari indikator belajar aktif. konstruksivis-inkuiri.diskusi. D. penulis yakin kreativitas para guru sangat tinggi. belajar dengan melakukan-mengkomunikasikan sehingga kecerdasan emosionalnya dapat berkembang. membiarkan segalanya terjadi. atau inkuiri. siswa dilatih dan dibiasakan untuk saling berbagi (sharing) pengetahuan. belajar berkelompok secara koperatif. mengerjakan). kontekstual-trealistik. dan inklusif life skill. Model-model Pembelajaran Untuk membelajarkan siswa sesuai dengan cara-gaya belajar mereka sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai dengan optimal ada berbagai model pembelajaran. sifat materi bahan ajar. melakukan-mengkomunikasikan. Cooperative Learning). presentasi. dan belajar menyadari kekurangan dan kelebihan masingmasing. dan realistic-human activity (aktivitas kehidupan nyata). Sedangakan belajar reaktif indikatornya adalah tidak dapat melihat adanya kesempatan belajart. aksionmatik). tanggung jawab. menghindar dari kegiatan. untuk dipilih dan dijadikan alternatif sehingga cocok untuk situasi dan kjondisi yang dihadapi. 1. empiristic (pngelaman induktif-deduktif).

realitas (kebermaknaan prosesaplikasi). membimbing. pengarahan-strategi. 2. sajian informasi dan prosedur. yaitu modeling (pemusatan perhatian. motivasi. penilaian seobjektif-objektifnya darei berbagai aspek dengan berbagai cara). prinsip. dan pelaporan. pemahaman (menemukan-informal daam konteks melalui refleksi. mengembangkan. Contextual Teaching and Learning) Pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang dimulai dengan sajian atau tanya jawab lisan (ramah. Sintaks pembelajaran koperatif adalah informasi. penilaian portofolio. informal ke formal). learning community (seluruh siswa partisipatif dalam belajar kelompok atau individual. reflection (reviu. mencoba. aturan uantuk digunakan dalam menyelesaikan persoalan. proses dunia empirik) dan vertikal (reoorganisasi matematik melalui proses dalam dunia rasio. siswa melakukan dan mengalami. yaitu matematika horizontal (tools. hands-on. dan bimbingan (dari guru dalam penemuan). constructivism (membangun pemahaman sendiri. 4. fakta. terbuka. menemukan). evaluasi. konsep. Kontekstual (CTL. investigasi. presentasi hasil kelompok. Realistic Mathematics Education) Realistic Mathematics Education (RME) dikembangkan oleh Freud di Belanda dengan pola guided reinventiondalam mengkontruksi konsep-aturan melalui process of mathematization. tidak hanya menonton dan mencatat. Pensip pembelajaran kontekstual adalah aktivitas siswa. gender. menuntun. ada control dan fasilitasi. inquiry (identifikasi. 3. penilaian terhadap setiap aktvitas-usaha siswa. inter-twinment (keterkaitan-intekoneksi antar konsep). membentuk kelompok heterogen. dan pengembangan kemampuan sosialisasi. negosiasi) yang terkait dengan dunia nyata kehidupan siswa (daily life modeling). generalisasi). minds-on.nyaman dan menyenangkan. dan meminta tanggung jawab hasil kelompok berupa laporan atau presentasi. penyampaian kompetensitujuan. pengemabngan mateastika). dan suasana menjadi kondusif .heterogen (kemampuan. sharing). karekter). Pembelajaran Langsung (DL. interaksi (pembelajaran sebagai aktivitas sosial. pengarahan-petunjuk. mengerjakan). Realistik (RME. mengarahkan. Prinsip RME adalah aktivitas (doing) konstruksivis. sehingga akan terasa manfaat dari materi yang akan disajkan. motivasi belajar muncul. Sintaknya adalah menyiapkan siswa. authentic assessment (penilaian selama proses dan sesudah pembelajaran. mengkonstruksi konsep-aturan. Direct Learning) Pengetahuan yang bersifat informasi dan prosedural yang menjurus pada ketrampilan dasar akan lebih efektif jika disampaikan dengan cara pembelajaran langsung. kerja kelompok. tindak lanjut). hipotesis. rangkuman. questioning (eksplorasi. algoritma. konjektur. generalisasi. analisis-sintesis). rambu-rambu. latihan . Ada tujuh indokator pembelajarn kontekstual sehingga bisa dibedakan dengan model lainnya. contoh). dunia pikiran siswa menjadi konkret. inkuiri.

latihan mandiri. yaitu merumuskan kembali masalah menjadi bagian-bagian yang lebih simple sehingga dipahami. kembangkan peremasalahan sesuai dengan kemampuan berpikir siswa. cari alternative. siswa berkelompok atau individual mengidentifikasi pola atau atuiran yang disajikan. investigasi. identifikasi kekeliruan. Sintaknya adalah: pemahaman. Model pembelajaran ini melatih dan mengembangkan kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang berorientasi pada masalah otentik dari kehidupan aktual siswa. 7. identifikasi. Problem Posing Bentuk lain dari problem posing adaslah problem posing. diagram. demokratis. kreativitas. interpretasi. negosiasi. belum dikenal cara penyelesaiannya. Pembelajaran ini melatih dan menumbuhkan orisinilitas ide. terbuka. kritis. induksi. dan akhirnya menemukan solusi. keterpasuan. Kondisi yang tetap hatrus dipelihara adalah suasana kondusif. 8. Sajian masalah haruslah kontekstual kaya makna secara matematik (gunakan gambar. konjektur. dan ragam berpikir. kognitif tinggi. Pembelajaran Berbasis masalah (PBL. table). refleksi. sharing. Open Ended) Pembelajaran dengan problem (masalah) terbuka artinya pembelajaran yang menyajikan permasalahan dengan pemecahan berbagai cara (flexibility) dan solusinya juga bisa beragam (multi jawab.menginvestigasi. aturan. Denga demikian model pembelajaran ini lebih mementingkan proses daripada produk yang akan membentiuk pola piker. atau pendekatan yang bervariasi dalam memperoleh jawaban. Siswa dituntuk unrtuk berimprovisasi mengembangkan metode. fluency). generalisasi. Indikator model pembelajaran ini adalah metakognitif. mengeksplorasi. yaitu pemecahan masalah dngan melalui elaborasi. dan inkuiri 6. elaborasi (analisis). siswa mengidentifkasi. jalan keluar. cara. menduga.terbimbing. dan evaluasi. eksplorasi. Sintaknya adalah: sajiakn permasalah yang memenuhi criteria di atas. Problem Solving Dalam hal ini masalah didefinisikan sebagai suatu persoalan yang tidak rutin. dan sosialisasi. Problem Terbuka (OE. Justru problem solving adalah mencari atau menemukan cara penyelesaian (menemukan pola. sintesis. 5. Problem Based Learning) Kehidupan adalah identik dengan menghadapi masalah. jawaban siswa beragam. Cara ini sering disebut dengan metode ceramah atau ekspositori (ceramah bervariasi). keterbukaan. keterbukaan. Selanjtynya siswa juda diinta untuk menjelaskan proses mencapai jawaban tersebut. untuk merangsang kemamuan berpikir tingkat tinggi. siapkan rencana bimibingan (sedikit .atau algoritma). menyusun soalpertanyaan. kaitakkan dengan materui selanjutnya. . suasana nyaman dan menyenangkan agar siswa dap[at berpikir optimal. komunikasi-interaksi. menimalisasi tulisan-hitungan.

Probing-prompting Teknik probing-prompting adalah pembelajaran dengan cara guru menyajikan serangkaian petanyaan yang sifatnya menuntun dan menggali sehingga terjadi proses berpikir yang mengaitkan engetahuan sisap siswa dan engalamannya dengan pengetahuan baru yang sedang dipelajari. Istilah SAVI sendiri adalah kependekan dari: Somatic yang bermakna gerakan tubuh (hands-on. bertanya. guru hendaknya serangkaian pertanyaan disertai dengan wajah ramah. yaitu bagaimana siswa belajar. SAVI Pembelajaran SAVI adalah pembelajaran yang menekankan bahwa belajar haruslah memanfaatkan semua alat indar yang dimiliki siswa. berkelompok mengerjakan LKSD-modul. namun demikian bisa dibiasakan. Kemungkinan akan terjadi sausana tegang. Eksplorasi berarti menggali pengetahuan rasyarat. setiap saat ia bisa dilibatkan dalam proses tanya jawab. Jangan lupa. pengorganisasian pembelajaran. Reciprocal Learning Weinstein & Meyer (1998) mengemukakan bahwa dalam pembelajaran harus memperhatikan empat hal. dan diakhiri dengan aplikasi (aduktif). sehingga suasana menjadi nyaman. dengan demikian pengetahuan baru tidak diberitahukan. dan tertawa. 9. ia telah berpartisipasi 10. kemudian eksplanasi (empiric). hipotesis. 12. membaca-merangkum. Selanjutnya siswa memngkonstruksiu konsep-prinsip-aturan menjadi pengetahuan baru. senyum. merangkum. Untuk mewujudkan belajar efektif. yaitu: informasi. Donna Meyer (1999) mengemukakan cara pembelajaran resiprokal. bahwa jawaban siswa yang salah harus dihargai karena salah adalah cirinya dia sedang belajar. dan ceria. eksplnasi berarti menghenalkan konsep baru dan alternative pemecahan. mulai dari eksplorasi (deskripsi). berpikir. aktivitas fisik) di mana belajar dengan mengalami dan melakukan. membuat kesimpulan. perhatikan dan catat reson siswa. Sintaknya adlaha menyajikan masalah. bimbingan dan pengarahan. suara menyejukkan. Pembelajaran Bersiklus (cycle learning) Ramsey (1993) mengemukakan bahwa pembelajaran efektif secara bersiklus. representasi. Untuk mngurang kondisi tersebut. Sedangkan Resnik (1999) mwengemukan bhawa belajar efektif dengan cara membaca bermakna. Ada canda. menyenangkan. 11.demi sedikit dilepas mandiri). dan memotivasi diri. siswa tidak bisa menghindar dari prses pembelajaran. Dengan model pembelajaran ini proses tanya jawab dilakukan dengan menunjuk siswa secara acak sehingga setiap siswa mau tidak mau harus berpartisipasi aktif. nada lembut. dan aplikasi berarti menggunakan konsep dalam konteks yang berbeda. mengingat. pengarahan. Auditory yang bermakna bahwa .

siswa superior dalam kelompok meja turnamen yang sama. atau dalam rangak mengisi waktu sesudah UAS menjelang pembagian raport. Usahakan dinamikia kelompok kohesif dan kompak serta tumbuh rasa kompetisi antar kelompok. Buat kelompok siswa heterogen 4 orang kemudian berikan informasi pokok materi dan \mekanisme kegiatan b. presentasi. Siswa pada tiap meja tunamen sesua dengan skor yang dip[erolehnay diberikan sebutan (gelar) superior. mencipta. TGT (Teams Games Tournament) Penerapan model ini dengan cara mengelompokkan siswa heterogen. membaca. d. tugas tiap kelompok bisa sama bis aberbeda.). Siswa bisda nmngerjakan lebbih dari satu soal dan hasilnya diperik\sa dan dinilai. sehingga diperoleh skor turnamen untuk tiap individu dan sekaligus skor kelompok asal. Bumping. dan menerapkan. pada turnamen kedua ( begitu juga untuk turnamen ketigakeempat dst. menyimak. menyelidiki. menggambar. missal 10 meja dan untuk tiap meja ditempati 4 siswa yang berkemampuan setara. dilakukan pergeseran tempat duduk pada meja turnamen sesuai dengan sebutan gelar tadi. SDetelah memperoleh tugas. Setelah selesai hitunglah skor untuk tiap kelompok asal dan skor individual. c. ramah . menemukan. Penentuan tiap siswa yang duduk pada meja tertentu adalah hasil kesewpakatan kelompok. suasana diskuisi nyaman dan menyenangkan sepeti dalam kondisi permainan (games) yaitu dengan cara guru bersikap terbuka. berbicara. dan Intellectualy yang bermakna bahawa belajar haruslah menggunakan kemampuan berpikir (minds-on) nbelajar haruslah dengan konsentrasi pikiran dan berlatih menggunakannya melalui bernalar. begitu pula untuk meja turnamen yang lainnya diisi oleh siswa dengan gelar yang sama. dan ada sajian bodoran. menggunbakan media dan alat peraga. 13. Jika waktunya memungkinkan TGT bisa dilaksanakan dalam beberapa pertemuan. meja I diisi oleh siswa dengan level tertinggi dari tiap kelompok dan seterusnya sampai meja ke-X ditepati oleh siswa yang levelnya paling rendah. mendemonstrasikan. mengemukakan penndepat. Setelah selesai kerja kelompok sajikan hasil kelompok sehuingga terjadi diskusi kelas. Siapkan meja turnamen secukupnya. lembut. argumentasi. e.belajar haruslah dengan melaluui mendengarkan. Selanjutnya adalah opelaksanaan turnamen. dan mennaggapi. Visualization yang bermakna belajar haruslah menggunakan indra mata melallui mengamati. Sintaknya adalah sebagai berikut: a. . santun. mengidentifikasi. berikan penghargaan kelompok dan individual. memecahkan masalah. good. setiap kelompok bekerja sama dalam bentuk kerja individual dan diskusi. setiap siswa mengambil kartu soal yang telah disediakan pada tiap meja dan mengerjakannya untuk jangka waktu terttentu (misal 3 menit). mengkonstruksi. very good. medium.

(2) siswa belajar kelompok dengan dibantu oleh siswa pandai anggota kelompok secara individual. 17. (3) penghargaan kelompok dan refleksi serta tes formatif. TAI (Team Assisted Individualy) Terjemahan bebas dari istilah di atas adalah Bantuan Individual dalam Kelompok (BidaK) dengan karateristirk bahwa (Driver. Istilah tersebut sama halnya dengan istilah pada SAVI. kuis individual dan buat skor perkembangan tiap siswa atau kelompok. AIR (Auditory. 16. sajian-presentasi kelompok sehingga terjadi diskusi kelas. diskusikan bahan belajar-LKS-modul secara kolabratif. pemantapan dengan cara siswa dilatih melalui pemberian tugas atau quis. . berikan persoalan materi bahan ajar (untuk tiap kelompok sama tapi untuk tiap siswa tidak sama sesuai dengan nomor siswa. Sintaksi BidaK menurut Slavin (1985) adalah: (1) buat kelompok heterogen dan berikan bahan ajar berupak modul. perluasan. buat kelompok heterogen (4-5 orang). dengan somatic ekuivalen dengan kinesthetic. Pola komunikasi guru-siswa adalah negosiasi dan bukan imposisi-intruksi. saling tukar jawaban. kuis individual dan buat skor perkembangan tiap siswa. dengan perkataan lain manfaatkanlah potensi siwa yang telah dimilikinya dengan melatih. presentasi kelompok dengan nomnor siswa yang sama sesuai tugas masing-masing sehingga terjadi diskusi kelas. VAK (Visualization. STAD (Student Teams Achievement Division) STAD adalah salah sati model pembelajaran koperatif dengan sintaks: pengarahan. 1980) tanggung jawab vbelajar adalah pada siswa. Repetition) Model pembelajaran ini mirip dengan SAVI dan VAK.14. Kinestetic) Model pebelajaran ini menganggap bahwa pembelajaran akan efektif dengan memperhatikan ketiga hal tersebut di atas. bedanya hanyalah pada Repetisi yaitu pengulangan yang bermakna pendalama. 15. umumkan rekor tim dan individual dan berikan reward. Intellectualy. saling berbagi sehingga terjadi diskusi. Oleh karena itu siswa harus membangun pengetahuan tidak menerima bentuk jadi dari guru. tiasp siswa dengan nomor sama mendapat tugas yang sama) kemudian bekerja kelompok. mengembangkannya. umumkan hasil kuis dan beri reward. 18. NHT (Numbered Head Together) NHT adalah salah satu tipe dari pembelajaran koperatif dengan sintaks: pengarahan. Auditory. buat kelompok heterogen dan tiap siswa memiliki nomor tertentu.

pengoalahn data penyajian data hasi investigasi. kuis individual. susun sub-sub masalah sehingga terjadli koneksivitas. Sintaksnya adalah: mulai dari fakta aktual sesuai dengan materi bahan ajar melalui tanya jawab lisan. jenis dagangan dan keuntungan di kantin sekolah. Jigsaw Model p[embeajaran ini termasuk pembelajaran koperatif dengan sintaks sepeerti berikut ini.19. kembali ke kelompok aasal. misal mengukur tinggi pohon. presentasi. elaborasi menjadi sub-sub masalah yang lebih sederhana. berikan bahan ajar (LKS) yang terdiri dari beberapa bagian sesuai dengan banyak siswa dalam kelompok. dan kemudian buat laopran hasil presentasi. presentasi kelompok (share). buat skor perkem\angan siswa. identifikasi perbedaan. GI (Group Investigation) Model koperatif tipe GI dengan sintaks: Pengarahan. penyimpulan dan evaluasi. mendata banyak dan jenis kendaraan di dalam sekolah. mengolah pikiran sehingga muncul gagasan orisinil untuk menentukan solusi. MEA (Means-Ends Analysis) Model pembelajaran ini adalah variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah dengan sintaks: sajikan materi dengan pendekatan pemecahan masalah berbasis heuristic. 22. hasil bacaannya dikomunikasikan dengan presentasi. tiap kelompok menginvestigasi proyek tertentu (bisa di luar kelas. rencanakan pelaksanaan investigasi. mengkritisi. 21. diskusi. berikan persoalan kepada siswa dan siswa bekerja kelompok dengan cara berpasangan sebangku-sebangku (think-pairs). umumkan hasil kuis dan berikan reward. presentasi dan diskusi. iformasi bahan ajar. banyak guru dan staf sekolah). tiap anggota kelompok bertugas membahasa bagian tertentu. Sinatknya adalah: . dan alternative solusi). umumkan hasil kuis dan berikan reward. buat kelompok heterogen. identifikasi permasalahan dan fokus-pilih. buat kelompok ahli sesuai bagian bahan ajar yang sama sehingga terjadi kerja sama dan diskusi. tuiap kelompok bahan belajar sama. TPS (Think Pairs Share) Model pembelajaran ini tergolong tipe koperatif dengan sintaks: Guru menyajikan materi klasikal. CPS (Creative Problem Solving) Ini juga merupakan variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah melalui teknik sistematik dalam mengorganisasikan gagasan kreatif untuk menyelesaikan suatu permasalahan. pilih strategi solusi 23. 24. Pengarahan. TTW (Think Talk Write) Pembelajaran ini dimulai dengan berpikir melalui bahan bacaan (menyimak. buat skor perkembangan tiap siswa. 20. pelaksnaa tutorial pada kelompok asal oleh anggotan kelompok ahli. kuis individual. refleksi. buat kelompok heterogen dengan orientasi tugas.

kelompok (membaca-mencatatat-menandai). dengan sintaks: Survey dengan mencermati teks bacaan dan mencatatmenandai kata kunci. Recite dengan pertimbangkan jawaban yang diberikan (cartat-bahas bersama). menggunakan. Question dengan membuat pertanyaan (mengapa-bagaimana. dua siswa bertamu ke kelompok lain dan dua siswa lainnya tetap di kelompoknya untuk menerima dua orang dari kelompok lain. KUASAI Pembelajaran akan efektif dengan melibatkan enam tahap berikut ini. laporan kelompok. kerja kelompok. dan Introspeksi melalui . (0) organisasi ide untuk memahami materi. Question. mendalami. SQ4R (Survey. Sintaknya adalah (1) lead-in dengan melakukan kegiatan yang terkait dengan pengalaman. Ambil pemaknaan (mengetahui-memahami-menggunakan-memaknai). Reflect. SQ3R (Survey. kerja kelompok. 25. MID (Meaningful Instructionnal Design) Model ini adalah pembnelajaran yang mengutyamakan kebermaknaan belajar dan efektifivitas dengan cara membuat kerangka kerja-aktivitas secara konseptual kognitifkonstruktivis. Extending) Sintaknya adalah (C) koneksi informasi lama-baru dan antar konsep. 27. (3) production melalui ekspresi-apresiasi konsep 30. Uraikan fakta sesuai dengan gaya belajar. analisi pengalaman. Read. (E) mengembangkan. 26. melaporkan. CORE (Connecting. Read. yaitu aktivitas memberikan contoh dari bahan bacaan dan membayangkan konteks aktual yang relevan. darimana) tentang bahan bacaan (materi bahan ajar). Recite.informasi. memperluas. dan konsep-ide. dan Review dengan cara meninjau ulang menyeluruh 28. Refleting. diskusi. 29. Sintaknya adalah kerja kelompok. Read dengan membaca teks dan cari jawabanya. dan menemukan. Question. (R) memikirkan kembali. Ajukan pengujian pemahaman. Kerangka pikir untuk sukses. Review) Pembelajaran ini adalah strategi membaca yang dapat mengembangkan meta kognitif siswa. yaitu dengan menugaskan siswa untuk membaca bahan belajar secara seksamacermat. Recite. kembali ke kelompok asal. Organizing. Sertakan ingatan dan hafalkan kata kunci serta koneksinya. presentasi. TS-TS (Two Stay – Two Stray) Pembelajaran model ini adalah dengan cara siswa berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan kelompok lain. (2) reconstruction melakukan fasilitasi pengalaan belajar. Review) SQ4R adalah pengembangan dari SQ3R dengan menambahkan unsur Reflect. dan menggali.

identifikasi kausal utama. Hutnal (2002) mengemukakan bahwa CRI menggunakan rubric dengan penskoran 0 untuk totally guested answer. siswa yang berada di lingkran luar . dan implementasi solusi utama. pengemabangan. 32. mengelompokkan gejala. dan penutup. pendahuluan. Reading. menemukan kata kunci. penggunaan. dan pemanfaatan berbagai representasi dengan setting kelas dan kerja kelompok. separuhnya lagi membentuk lingkaran besar menghadap ke dalam. dan rencana solusi yang terpilih. 3 untuk sure. analisis kausal. 34. siswa bekerja sama (membaca bergantian. Selanutnya menyelesaikan masalah tersebut dengan cara menghilangkan gap uyang menyebabkan munculnya masalah tersebut. penerapan. 1 untuk amost guest. mengidentifikasui kausal. Sintaksnya adalah: Separu dari sjumlah siswa membentuk lingkaran kecil menghadap keluar. CRI (Certainly of Response Index) CRI digunakan untuk mengobservasi proses pembelajaran yang berkenaan dengan tingkat keyakinan siswa tentang kemampuan yang dimilkinya untuk memilih dan menggunakan pengetahuan yang telah dimilikinya. menuliskan pernyataan masalah yang telah direvisi. 33. Sintaksnya adalah: membentuk kelompok heterogen 4 orang. imoplementasi solusi. 4 untuk almost certain. jadi berkenaan dengan jawaban untuk pertanyaan mengapa. guru memberikan wacana bahan bacaan sesuai dengan materi bahan ajar. presentasi hasil kelompok. 35. deteksi kausal lain. refleksi. dn 5 untuk certain.refleksi diri tentang gaya belajar. 31. Integrated. menemukan pilihan solusi utama. pertimbangan solusi. 1993) di mana siswa saling membagi informasi pada saat yang bersamaan dengan pasangan yang berbeda dengan ssingkat dan teratur. CIRC (Cooperative. DLPS (Double Loop Problem Solving) DPLS adalah variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah dengan penekanan pada pencarian kausal (penyebab) utama daritimbulnya masalah. siswa yang berhadapan berbagi informasi secara bersamaan. memberikan tanggapan) terhadap wacana kemudian menuliskan hasil kolaboratifnya. Sintaksnya adalah: persiapan. DMR (Diskursus Multy Reprecentacy) DMR adalah pembelajaran yang berorientasi pada pembentukan. 2 untuk not sure. IOC (Inside Outside Circle) IOC adalah mode pembelajaran dengan sistim lingkaran kecil dan lingkaran besar (Spencer Kagan. deteksi kausal. Langkah penyelesdai maslah sebagai berikurt: menuliskan pernyataan masalah awal. Sintaknya adalah: identifkasi. and Composition) Terjemahan bebas dari CIRC adalah komposisi terpadu membaca dan menulis secara koperatif –kelompok. solusi tentative.

presentasi hasil kelompok. salah satu siswa menyampaikan materi yang baru diterima kepada pasangannya kemudian bergantian. 40. 37. menunjuk siswa untuk melakonkan scenario yang telah dipelajarinya. guru membimbing siswa untuk menyimpulkan. pembentukan kelompok siswa. bekerja . tongkat diberikan kepad siswa lain dan guru memberikan petanyaan lagi dan seterusnya. siswa yang berdiri di ujung salah satui jajaran pindah ke ujunug lainnya pada jajarannya. kelompok siswa membahas peran yang dilakukan oleh pelakon. guru membimbing kesimpulan-refleksi-evaluasi. penyampaian kompetensi. 38. guru membimbing membuat kesimpulan dan menambahkannya biola perlu. pemanggilan ketua dan diberi tugas membahas materi tertentu di kelompok. siswa membaca materi bahan ajar untuk dicermati oleh masing-masing kelompok. membentuk kelompok. 39. sajian materi pokok. sajian materi. siswa yang berhadapan berbagi pengalkaman dan pengetahuan. dan kembali berbagai informasi. 41. Sintaksnya adalah: Sebagian siswa berdiri berjajar di depoan kelas atau di sela bangku-meja dan sebagian siswa lainnya berdiri berhadapan dengan kelompok siswa opertama. Debate Debat adalah model pembalajaranb dengan sisntaks: siswa menjadi 2 kelompok kemudian duduk berhadapan. siswa mebaca materi lengkap pada wacana. guru mengambil tongkat dan memberikan tongkat kepada siswa dan siswa yang kebagian tongkat menjawab pertanyaan dari guru. menunjuk beberapa siswa untuk mempelajari scenario tersebut. Talking Stick Suintak p[embelajana ini adalah: guru menyiapkan tongkat. Tari Bambu Model pembelajaran ini memberuikan kesempatan kepada siswa untuk berbagi informasi pada saat yang bersamaan dengan pasangan yang berbeda secara teratur. Artikulasi Artikulasi adlah mode pembelajaran dengan sintaks: penyampaian konpetensi.berputar keudian berbagi informasi kepada teman (baru) di depannya. Strategi ini cocok untuk bahan ajar yang memerlukan pertukartan pengalaman dan pengetahuan antar siswa. Snowball Throwing Sintaknya adalah: Informasi materi secara umum. dan seterusnya 36. sajian presentasi hasil bacaan oleh perwakilan salah satu kelompok kemudian ditanggapi oleh kelompok lainnya begitu setrusnya secara bergantian. Role Playing Sintak dari model pembelajaran ini adalah: guru menyiapkan scenario pembelajaran. bentuk kelompok berpasangan sebangku. presentasi di depan hasil diskusinya. bimbingan penimpoulan dan refleksi.

sajikan materi. Scramble Sintaknya adalah: buatlah kartu soal sesuai marteri bahan ajar. langkah demi langkah bertahap. refleksi. siswa atau kelompok menuliskan nomor sembarang dan dimasukkan ke dalam kotak. sajian materi. refleksi. mendemontrasikan pengetahuan dan ketrampilan procedural. menunjuk siswa atau kelompok untuk mendemonstrasikan bagiannya. tiap kelompok menuliskan pertanyaan dan diberikan kepada kelompok lain. penyimpulan dan evaluasi. sajian materi. membimbing pelatihan-penerapan. siswa yang punya nomor sama dengan nomor soal yang dibacakan guru berhak menjawab jika jawaban benar diberi skor dan siswa menyambutnya dengan yel hore atau yang lainnya. 44. 47. refleksi. pengecekan kebenaran jawaban. membagi tugas pembahasan materi untuk tiap kelompok. kesimpulan dan evaluasi. Make-A Match . Course Review Horay Langkah-langkahnya: informasi kompetensi. membagikan kartu soal pada kelompok dan kartu jawaban. pemberian reward. 46. guru membacakan soal yang nomornya dipilih acak. penyuimpulan. Demostration Pembelajaran ini khusu untuk materi yang memerlukan peragaan media atau eksperimen. Langkahnya adalah: informasi kompetensi. kelompok lain menjawab secara bergantian. penyimpulan dan evaluasi. mengecek pemahaman dan balikan. siswa berkelompok mengerjakan soal dan mencari kartu soal untuk jawaban yang cocok. Student Facilitator and Explaining Langkah-langkahnya adalah: informasi kompetensi. buat kartu jawaban dengan diacak nomornya. Pair Checks Siswa berkelompok berpasangan sebangku. bertukar peran. 45. refleksi.kelompok. refleksi. tanya jawab untuk pemantapan. siswa mengembangkannya dan menjelaskan lagi ke siswa lainnya. 43. sajian gambaran umum materi bahan ajar. refleksi dan evaluasi 42. dikusi kelas. penyimpulan dan evaluasi. Sintaknya adalah: sajian informasi kompetensi. 48. penyimpulan dan evaluasi. salah seorang menyajikan persoalan dan temannya mengerjakan. Explicit Instruction Pembelajaran ini cocok untuk menyampaikan materi yang sifatnya algoritmaprosedural.

. Improve Improve singkatan dari Introducing new concept. untuk badak berikutnya pembelaarn seperti babak pertama. Mind Mapping Pembelajara ni sangat cocok untuk mereviu pengetahuan awal siswa. rencana. Practicing. evaluasi dan refleksi. siswa (wakil) mengurutkan gambar sehingga sistematik. setiap siswa mencari kartu jawaban yang cocok dengan persoalannya siswa yang benar mendapat nilai-reward. penyimpulan dan evaluasi. Cooperative Script Buat kelompok berpasangan sebangku. LAPS ( Logan Avenue Problem Solving) dengan kata Tanya apa masalahnya. 50. setiap siswa mencari dan mendapatkan sebuah kartu soal dan berusaha menjawabnya. 49. Sintaks: pemahaman masalah. Metakognitive questioning. sajian materi. penyimpulan.Guru menyiapkan kartu yang berisi persoalan-permasalahan dan kartu yang berisi jawabannya. diagram. Enrichment. apakah bermanfaat. solusi. Verivication. LAPS-Heuristik Heuristik adalah rangkaian pertanyaan yang bertisfat tuntunan dalam rangaka solusi masalah. Picture and Picture Sajian informasi kompetensi. siswa berkelompok untuk menanggapi dan membuat berbagai alternatiu jawababn. dan bagaimana sebaiknya mengerjakannya. 52. penyimpulan. balikan-perbnaikan-pengayaan-interaksi. siswa membuat ksimpulan dari hasil setiap kelompok. Obtaining mastery. 51. Reviewing and reducing difficulty. dengan petunjuk guru siswa mencermati sajian. adakah alternative. apakah solusinya. kartu dikumpul lagi dan dikocok. siswa latian dan bertanya. guru mengkonfirmasi urutan gambar tersebut. Sintaknya adalah: informasi kompetensi. presentasi hasil kelompok. perlihatkan gambar kegiatan berkaitan dengan materi. evaluasi dan refleksi. sajikan gambar ditempel atau pakai OHP. 54. sajian hasil diskusi oleh salah seorang dan yang lain menanggapi. diskusi kelompok tentang sajian gambar tadi. refleksi. bagikan wacana materi bahan ajar. Sintaknya adalah sajian pertanyaan untuk mengantarkan konsep. sajian permasalahan terbuka. evaluasi dan refleksi. siswa mempelajari wacana dan membuat rangkuman. 53. valuasi dan refleksi. dan pengecekan. presentasi hasuil diskusi kelompok. guru menanamkan konsep sesuai materi bahan ajar. Examples Non Examples Persiapkan gambar. bimbingan penyimpulan. atau tabel sesuai materi bahan ajar dan kompetensi. bertukar peran.

LKS dibagikan berupa paragraph yang kaliatnya belum lengkap. evaluasi. setelah selesai kupon dikembalikan. aplikasi.55. Sintaksnya adalah ilustrasikan konsep konkret dan gunakan analogi. Time Token Model ini digunakan (Arebds. sajian materi. Sintaknya adalah kondisikan situasi belajar kondusif dan focus. tia kelompok membeuat kalimat berdasarkankata kunci.bahan belajar . membentuk kelompok heterogen. ranguman. sampaikan kompetensi.dan nama yang diberi. siswa berkelompok melengkapi. evaluasi dan refleksi 61. 58. pengungkapan ide-konsep awal. tiap siswa diberi kupon bahan pembicaraan (1 menit). 60. presentasi. berikan latihan soal bertingkat. dan refleksi 56. dan seterusnya dengan siswa lain secara bergantian. informasikan kompetensi. Complette Sentence Pembelajaran dengan model melengkapi kalimat adalah dengan sintakas: sisapkan blanko isian berupa aparagraf yang kalimatnya belum lengkap. guru menyiapkan kata kunci sesuai materi bahan ajar. Superitem Pembelajaran ini dengan cara memberikan tugas kepada siswa secara bertingkatbertahap dari simpel ke kompleks. 1998) untuk melatih dan mengembangkan ketrampilan sosial agar siswa tidak mendominasi pembicaraan atau diam sama sekali. siswa berbicara (pidato-tidak membaca) berdasarkan bahan pada kupon. Circuit Learning Pembelajaran ini adalah dengan memaksimalkan pemberdayaan pikiran dan perasaan dengan pola bertambah dan mengulang. presentasi. siswa ditugaskan membaca wacana. . 59. Take and Give Model pembelajaran menerima dan memberi adalah dengan sintaks. pada tahap pemantapan tiap siswa disuruh berdiri dan mencari teman dan saling informasi tentang materi atau pendalaman-perluasannya kepada siswa lain kemudian mencatatnya pada kartu. tantangan dan restruturisasi sajiankonsep. guru membentuk kelompok. berupa opemecahan masalah. sajian materi. Langkahnya adalah kondisikan kelas untuk melaksanakan diskusi. Concept Sentence Proseduirnya adalah poenyampaian kompetensi. Tanya jawab dan refleksi 57. Generatif Basi gneratif adalah konstruksivisme dengan sintaks orintasi-motivasi. siswa membuat catatan kreatif sesuai dengan pola pikirnya-peta konsep-bahasa khusus. siapkan kartu dengan yang berisi nama siswa .

integrasi. Kumon Pembelajarn dengan mengaitkan antar konsep. namai-buat generalisasi sampai konsep. sebaliknya akan terasa membosankan jika segalanya monoton tak berubah. penggunaan ide kreatif-konflik internal-skill. latihan. reward. penciptaan suasan kondusif perlu dilakukan. partisipatif. Hibrid Model hibrid adalah gabungan dari beberapa metode yang berkenaan dengan cara siswa mengadopsi konsep. kohesif. yaitu mulai dari mengolah informasi-koneksi informasi. ketrampilan. c = communication. Penutup Kehidupan akan terasa indah ap[abila ada variasi. ulangi dengan Tanya jawab-latihan-rangkuman. virtual workshop menggunakan computer-internet. Oleh karena itu . Guru harus menciptakan suasana kondusif. Treffinger Pembelajaran kreatif dengan basis kematangan dan pengetahuan siap. Sintaks: keterbukaan-urun ide-penguatan. lima kali salah guru membimbing. kerja individual. agar segalanya berubah ke arah yang lebih baik dengan ikhtiar mulai dari diri sendiri. E. 62. menciptakan inovasi. Perubahan kea rah perbaikan adalah tuntutan alamiah yang menjadi kebutuhan setiap insane dalam setiap kehidupan. dengan E = energi yang diartikan sukses. 65. kebebasan-terbuka. dan saling menghargai. Strategi quantum adalah tumbuhkan minat dengan AMBak. Begitu pulal dalam pembelajaran. dan menjaga suasana nyaman-menyenangkan. dan hipotesis. jika keliru langsung dikembalikan untuk diperbaiki dan diperiksa lagi. alami-dengan dunia realitas siswa. dan rayakan dengan reward dengan senyum-tawa-ramah-sejuk-nilai-harapan. dinamis. semua mempunyai tujuan. Quantum Memandang pelaksanaan pembelajaran seperti permainan musik orkestra-simfoni. 64.berikan sal tes bentuk super item. interaktif. Prinsip quantum adalah semua berbicara-bermakna. kelompok-kerjasama. tiap siswa selesai tugas langsung diperiksa-dinilai. proses rasa-pikir kreatif dalam pemecahan masalah secara mandiri melalui pemanasan-minatkuriositi-tanya. karena unsur rasa dalam berpikir selalu turut serta dan tak bisa dipisahkan. Sintaknya adalah pembelajaran ekspositori. demonstrasikan melalui presentasikomunikasi. tiap usaha siswa diberi reward. m = massa yaitu potensi diri (akal-rasa-fisik-religi). optimalkan komunikasi + dengan aktivitas optimal. Manusia telah dibekali akal dan rasa untuk berkreasi. konsep harus dialami. Sintaksnya adalah: sajian konsep. Rumus quantum fisika asdalah E = mc2. 63. koperatifinkuiri-solusi-workshop.

tidak lagi takut dalam berpartisipasi. Burton. (2002). Howard (1985). Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Emotional Spritual Quotient (ESQ). New York: Basic Bools. New York: Penguin Books. melainkan memnjadi kesadaran dan kebutuhan. Ditdik SLTP (2002). New York: Dell Publishing. dkk. Cord (2001). Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning. Bandung: JICA-FPMIPA. Erman.. The Constructivist Classroom Education in Profile. Semoga. . S. Jakarta: Arga. Jakarta. Emotional Intelligence. Daftar Pustaka Ary Ginanjar Agustian (2002).penciptaan suasana kondusif perlu dilakukan sehingga dalam belajar siswa tidak lagi merasa cemas. Gardner. Perth: Edith Cowan University. Salah satu cara untuk menciptakan suasan yang nyaman dan menyenangkan sert terhndar dari kevbiosanan adalah dengan memahami dan melaksanakan model belajar yang dilakukan siswa. Buzan. WWI Publishing Texas: Waco. Daniel (1995). De Porter. What is Contextual Learning. dalam suasana perasaan yang nyaman dan menyenangkan. L (1993). Goleman. Quantum Learning.:Depdiknas. 3rd ed. Tony (1989).Ar. Bobbi (1992). komunikasi positif yang efektif. Frame of Mind: The Theory of Multiple Ilntelligences. Use Both Sides of Yoru Brain. tidak lagi dirasakan sebagai kewajiban. dan model pembelajaran yang inovatif. New York: Bantam Books. CTL).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful