P. 1
jurnal-1

jurnal-1

|Views: 2,369|Likes:

More info:

Published by: Cicilia Oktavia Sihotang on Jun 21, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/18/2013

pdf

text

original

Sections

  • 1. Peranan Pertanyaan Dalam pembelajaran Sains
  • 2. Peranan Retensi Dalam Pembelajaran Sains
  • 3. Sikap sabar
  • 4. Konsumsi energi
  • 5. Kebermaknaan Belajar
  • 6. Konstruksivisme
  • 7. Prinsip Belajar Aktif
  • 8. Problem Terbuka (OE, Open Ended)
  • 9. Probing-prompting
  • 10. Pembelajaran Bersiklus (cycle learning)
  • 11. Reciprocal Learning
  • 12. SAVI
  • 13. TGT (Teams Games Tournament)
  • 14. VAK (Visualization, Auditory, Kinestetic)
  • 15. AIR (Auditory, Intellectualy, Repetition)
  • 16. TAI (Team Assisted Individualy)
  • 17. STAD (Student Teams Achievement Division)
  • 18. NHT (Numbered Head Together)
  • 19. Jigsaw
  • 20. TPS (Think Pairs Share)
  • 21. GI (Group Investigation)
  • 22. MEA (Means-Ends Analysis)
  • 23. CPS (Creative Problem Solving)
  • 24. TTW (Think Talk Write)
  • 25. TS-TS (Two Stay – Two Stray)
  • 26. CORE (Connecting, Organizing, Refleting, Extending)
  • 29. MID (Meaningful Instructionnal Design)
  • 30. KUASAI
  • 31. CRI (Certainly of Response Index)
  • 32. DLPS (Double Loop Problem Solving)
  • 33. DMR (Diskursus Multy Reprecentacy)
  • 34. CIRC (Cooperative, Integrated, Reading, and Composition)
  • 35. IOC (Inside Outside Circle)
  • 36. Tari Bambu
  • 37. Artikulasi
  • 38. Debate
  • 39. Role Playing
  • 40. Talking Stick
  • 41. Snowball Throwing
  • 42. Student Facilitator and Explaining
  • 43. Course Review Horay
  • 44. Demostration
  • 45. Explicit Instruction
  • 46. Scramble
  • 47. Pair Checks
  • 48. Make-A Match
  • 49. Mind Mapping
  • 50. Examples Non Examples
  • 51. Picture and Picture
  • 52. Cooperative Script
  • 53. LAPS-Heuristik
  • 54. Improve
  • 55. Generatif
  • 56. Circuit Learning
  • 57. Complette Sentence
  • 58. Concept Sentence
  • 59. Time Token
  • 60. Take and Give
  • 61. Superitem
  • 62. Hibrid
  • 63. Treffinger
  • 64. Kumon
  • 65. Quantum

http://educare.e-fkipunla.net/index.php?

option=com_content&task=view&id=40&Itemid=3 Penelitian Tentang Manfaat Tujuan Pembelajaran Khusus dalam Proses Belajar Mengajar Ditulis oleh Otong Kardisaputra A. Latar belakang masalah Sejak diberlakukannya Kurikulum 1975, yang waktu itu dikenal dengan sebutan Pembakuan Kurikulum, para guru diwajibkan menggunakan tujuan instruksional khusus (TIK) dalam melaksanakan tugasnya dari mulai perencanaan pengajaran, pelaksanaan proses belajar-mengajar sampai evaluasi pengajaran. Kewajiban itu merupakan implikasi dari penggunaan prinsip objective oriented sebagai salah satu asas pengembangan kurikulum. Penerapan prinsip berorientasi pada tujuan ini nampak pada Kurikulum 1975 dengan dicantumkannya berbagai jenis tujuan yang tersusun secara hierarkhis, dari mulai tujuan pendidikan nasional, tujuan institusional, tujuan kurikuler sampai ke tujuan instruksional umum. Atas dasar tujuan-tujuan itu, guru diwajibkan mengembangkan tujuan instruksional khusus untuk diusahakan pencapaiannya pada proses belajar-mengajar yang diselenggarakannya. Tujuan instruksional khusus itu menjadi tujuan antara untuk mencapai tujuan yang berada di atasnya. Sejak diimplementasikannya Kurikulum 1975 sampai dewasa ini para guru telah terbiasa merumuskan tujuan instruksional khusus yang dewasa ini biasa disebut tujuan pembelajaran khusus (TPK), sebagai bagian penting dari tugas menyusun Program Satuan Pelajaran dan Rencana Pelajaran. Jika dihitung-hitung, penggunaan TPK dalam pengajaran (proses belajar-mengajar) telah berlangsung selama lebih dari seperempat abad. Artinya suatu jangka waktu yang cukup panjang dalam menerapkan suatu gagasan, sehingga layak untuk diperiksa hasilnya, dengan mengajukan pertanyaan: apa dampak dari penerapan ide ini? Persoalan lain yang tidak kurang pentingnya adalah masalah: apakah gagasan itu telah diterapkan secara semestinya? Suatu studi kecil yang dilakukan peneliti di kalangan guru yang mengikuti lanjutan studi di IKIP Bandung (sekarang UPI) dan pada beberapa program penataran dengan pengalaman kerja kebanyakan belasan tahun yang seluruhnya berjumlah 164 orang, ternyata hanya 27, 43 % dari mereka mengaku senantiasa menginformasikan TPK pada fase pembukaan pembelajarannya. Selebihnya mengaku hanya kadang-kadang saja dan bahkan sebagian menyatakan tidak pernah sama sekali memberitahukan TPK kepada para siswanya pada waktu mengajar. Informasi lain diperoleh dari Pengawas (Dikbud) di wilayah Bogor, yang menyatakan bahwa kurang lebih 10% dari guruguru di wilayah itu yang terbiasa menginformasikan tujuan pembelajaran khusus kepada para siswanya ketika mereka mengajar. Data dan informasi itu mengindikasikan kekurang pahaman bagian terbesar dari mereka akan fungsi dan manfaat TPK dalam pembelajaran. Itu sebabnya mereka tidak memperlakukan TPK secara semestinya. Konsekuensinya TPK kehilangan fungsinya seperti digagaskan oleh penggagasnya. Jadi apa yang diharapkan dapat dicapai dari penerapan suatu ide, jika ide itu tidak diterapkan sebagaimana mestinya? Persoalan lain adalah bahwa pengunaan prinsip objective oriented dalam pengembangan kurikulum itu nampaknya tidak didahului oleh suatu kajian mendalam dan luas mengenai keampuhan prinsip itu bila diterapkan di Indonesia. Boleh jadi

penerapan prinsip itu hanya didasarkan pada expert judgement semata. Bukankah betapa pun bagusnya sebuah ide di lingkungan tertentu tidak akan serta merta bagus pula untuk diterapkan di lingkungan lainnya. Aspek sosial, budaya, dan sumber daya akan turut menentukan keberhasilan penerapan suatu gagasan. Apa lagi jika kita baca beberapa literatur, ternyata di Amerika Serikat sindiri pun tempat lahirnya gagasan perlunya TPK dalam pembelajaran, sempat menjadi sebuah isyu kontroversial di antara para pakar. Beberapa pakar, misalnya L.T. Dawley dan H.H. Dawley (1974), P.C. Duchastel dan B. Brown (1975), W.E. Hauck dan J.W. Thomas (1972), R.J. Kibler (1977), dan lain-lain, melalui penelitiannya masing-masing menemukan bahwa penggunaan TPK dalam proses belajar-mengajar ternyata dapat meningkatkan keberhasilan siswa belajar. Tetapi sebaliknya H. Hausdorf (1965), R.L. Ebel (1970), E.W. Eisner (1967) memandang penggunaan TPK dalam mengajar tidak jelas manfaatnya. W.J. Popham menulis secara rinci dan mendalam yang esensinya meragukan validitas sejumlah argumen yang diajukan sejumlah pakar mengenai kekurang bermaknaan penggunaan TPK dalam pengajaran. Fenomena yang mengindikasikan belum meratanya kematapan pemahaman guruguru akan fungsi dan kemanfaatan dan cara bagaimana memperlakukan TPK dalam mengajar serta adanya inkonsistensi hasil penelitian dan pandangan yang saling berbeda di antara sejumlah pakar di Amerika Serikat (R.J. Kibler, 1981; W. Dick dkk. 1985; R.I. Arends,1989) telah mendorong dilakukannya penelitian ini. Dengan penelitian ini diharapkan diperoleh pengetahuan empiris mengenai manfaat TPK dalam upaya meningkatkan efektifitas proses belajar-mengajar di sekolah. A. Rumusan Masalah Secara umum, masalah yang hendak diteliti dalam studi ini adalah manfaat penggunaan tujuan pembelajaran khusus dalam proses belajar-mengajar. Secara lebih khusus, masalah itu dapat dirumuskan sebagai berikut: “Apakah penggunaan tujuan pembelajaran khusus meningkatkan efektifitas proses belajar-mengajar?” Tujuan pembelajaran khusus dalam rumusan masalah itu didefinisikan sebagai: “pernyataan yang menjelaskan apa yang diharapkan dapat dilakukan siswa setelah mengikuti satu unit proses belajar-mengajar.” Satu unit proses belajar-mengajar di sini dimaksudkan sebagai satu pertemuan kelas selama dua kali 45 menit dalam mana berlangsung rangkaian hubungan edukatif antara guru dengan siswa dan interaksi antara tindakan pembelajaran guru dengan perbuatan belajar siswa yang ditujukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dimaksudkan dengan kata-kata “penggunaan tujuan pembelajaran khusus” dalam rumusan masalah tersebut adalah perlakuan guru terhadap rumusan tujuan-tujuan pembelajaran khusus yang telah dikembangkan guru sebagaimana yang dicantumkannya dalam program satuan pelajaran dan/atau rencana pelajaran yang dibuatnya. Dalam penelitian ini ditetapkan dua kondisi sebagai berikut: 1. Tujuan pembelajaran khusus telah diperlakukan secara semestinya (benar) apabila tujuan-tujuan pembelajaran khusus yang dibawa guru ke dalam kelas belajar diinformasikan kepada siswa dengan jelas pada fase pembukaan proses belajarmengajar sehingga tujuan pembelajaran khusus menjadi fungsional; 2. Tujuan pembelajaran khusus diperlakukan secara tidak semestinya apabila

Pembentukan Pengetahuan Sains, Teknologoi dan Masyarakat dalam Pandangan Pendidikan IPA Ditulis oleh Reviandari Widyatiningtyas A. Pembentukan Pengetahuan Pengetahuan yang dimiliki seseorang pada dasarnya berupa konsep-konsep. Konsepkonsep ini diproleh individu sebagai hasil berinteraksi dengan lingkungan. Dengan konsep-konsep dapat disusun suatu prinsip, yang dapat digunakan sebagai landasan dalam berpikir. Konsep didefinisikan oleh beberapa ahli sebagai berikut. Menurut Good (1973: 124), konsep adalah gambaran dari ciri-ciri, yang dengan ciri-ciri itu objek-objek dapat dibeda-bedakan. Menurut Yelon et al. (1971: 190), konsep adalah elemen umum dari sekelompok objek, peristiwa atau proses. Sedangkan menurut Kuslan dan Stone (1968: 79), konsep adalah sifat Khas yang diberikan pada sejumlah objek, proses, fenomena, atau peristiwa, yang dapat dikelompokkan berdasarkan sifat khas itu. Rumusan definisi yang dikemukakan diatas mengandung makna yang sama, yaitu konsep merupakan suatu abstraksi yang mengambarkan ciri-ciri umum dari sekelompok objek, proses, peristiwa, atau fenomena lainnya. Gagne (1985 ; III ) dan Gagne and Briggs (1974: 40) menyatakan bahwa konsep dapat digolongkan kedalam dua golongan yaitu konsep konkrit dan konsep terdefinisi. Konsep konkrit adalah konsep yang menunjukkan ciri-ciri atau atribut dari suatu objek, yaitu relatif mudah dikenali dengan indra. Contoh konsep konkrit misalnya konsep warna (merah, hijau), bentuk (bulat, datar), sifat (keras, lunak), dan sebagainya. Konsep terdefinisi adalah konsep yang dapat dikenali (dipahami) melalui definisi, jadi sifatnya abstrak. Contoh konsep terdefinisi misalnya konsep: penduduk, fertilitas, ovulasi, dan sebagainya. Praget (dalam Dahar, 1989: 159) melalui penelitiannya tentang bagaimana anak memperoleh konsep atau pengetahuan, berkesimpulan bahwa konsep atau pengetahuan itu dibangun dalam pikiran anak. Hasil penelitiannya ini yang menyebabkan ia dikenal sebagai konstruktivis pertama. Guston et-al (dalam Poedjiadi, 1995: 15) menyatakan bahwa paham konstruktivisme bertitik tolak dari mempelajari bagaimana individu belajar. Pandangan konstruktivisme dalam belajar adalah bahwa individu membangun maknanya sendiri apabila menerima input melalui sensornya. Dalam pembentukan pengetahuan melibatkan kegiatan berpikir. Ada tiga aspek yang diajukan Piaget (dalam Dahar, 1989: 110) dalam membahas berpikir pada anak, yaitu isi, struktur dan fungsi. Isi ialah pola perilaku anak yang khas yang tercermin pada respons yang diberikannya terhadap berbagai masalah atau situasi yang dihadapinya. Jadi isi mengacu kepada tingkah laku yang nampak sebagai pencerminan dari kegiatan intelektual. Kerana itu isi berbeda dari umur ke umur dan satu anak ke anak lainnya. Isi ditentukan oleh struktur kognitif yang disebut skemata atau skema. Struktur kognitif adalah berupa fakta-fakta, konsep-konsep dan generalisasi-

generalisasi yang ada dalam pikiran siswa. Struktuk mengacu pada sifat-sifat penataan (skemata) yang menjelaskan terjadinya tingkah laku tertentu. Skemata merupakan dasar untuk berpikir, untuk melakukan operasi-operasi logis, atau memahami sesuatu. Fungsi adalah cara yang digunakan organisme untuk membuat kemajuan intelektualnya. Proses terbentuknya pengetahuan pada individu sangat ditentukan oleh struktur kognitifnya, yang berupa konsep-konsep yang ada dalam pikirannya. Dengan konsepkonsep yang ada tersebut, memungkinkan individu dapat memikirkan sesuatu dengan cara adaptasi (baik asimilasi maupun akomodasi), yang kemudian hasil-hasilnya disistematikan dengan proses organisasi sehingga dihasilkan struktur (skemata) baru. Dengan stuktur ini akan dihasilkan pola prilaku yang nampak. Piaget (dalam Dahar, 1989: 159) membedakan tiga bentuk pengetahuan berdasarkan sumber utamanya dan penstrukturannya. Tiga bentuk pengetahuan tersebut adalah pengetahuan fisik, pengetahuan logiko-matematik, dan pengetahuan sosial. Pengatahuan fisik meliputi pengetahuan tentang benda-benda dan sifat-sifatnya. Pengetahuan logiko-matematik diabstraksikan dari kegiatan, atau dari koordinasi kegiatan dan bukan bersumber dari onjek itu sendiri, sumber pengetahuan logikomatematik adalah proses berfikir dari individu itu sendiri. Sedangkan proses pembentukan logiko-matematik ialah mengorganisasi tindakan menjadi pola tindakan yang lebih logis melalui modifikasi tindakan struktur kognitif. Pengetahuan sosial terjadi dari hasil interaksi manusia dengan manusia. Individu tidak mungkin memperoleh pengetahuan sosial tanpa berinteraksi dengan manusia lain. Pengetahuan ini didasarkan pada perjanjian sosial, suatu perjanjian atau kebiasaan yang dibuat manusia. Menurut Piaget (dalam Dahar, 1989: 159) pengetahuan sosial seperti nama hari dalam seminggu, tanda atom unsur-unsur, satuan besaran pokok, dapat dipelajari secara langsung, yaitu dari pikiran guru pindah ke pikiran siswa. Namun pengetahuan fisik dan pengetahuan logiko-matematik tidak secara langsung dan utuh dipindahkan dari pikiran guru ke siswa. Kedua pengetahuan ini tidak dapat diteruskan dalam bentuk sudah jadi, setiap siswa harus membangun sendiri pengetahuan itu.

A. Penguasaan Pengetahuan Sains, Teknologi dan Masysarakat Penguasaan pengetahuan sains dan teknologi akan dikaitkan dengan aspek sosial, hal ini dikarenakan satu sama lain saling berkaitan. Untuk memperjelas hal tersebut, dapat diungkap melalui definisi-definisi yang dikemukakan oleh beberapa ahli. Sains, menurut Titus (1959:78), mengandung tiga definisi yaitu sebagai sejumlah disiplin ilmu, sebagai sekumpulan pengetahuan, dan sebagai metode-metode. Disamping itu ditegaskan pula bahwa sains merupakan suatu rangkaian konsep-

konsep yang berkaitan dan berkembang dari hasil eksperimen dan observasi. Menurut Robert B. Sund (1973: 2), sains merupakan suatu tubuh pengetahuan (body of knowledge) dan proses penemuan pengetahuan. Dengan demikian, pada hakekatnya sains merupakan suatu produk dan proses. Produk sains meliputi fakta, konsep, prinsip, teori dan hukum. Proses sains meliputi cara-cara memperoleh, mengembangkan dan menerapkan pengetahuan yang mencakup cara kerja, cara berfikir, cara memecahkan masalah, dan cara bersikap. Sains dirumuskan secara sistematis, terutama didasarkan atas pengamatan eksperimen dan induksi. Teknologi, menurut Fischer (1975), adalah totalitas alat yang dikembangkan oleh masyarakat untuk memperoleh objek-objek materi bagi makanan dan kenyamanan manusia. Menurut Poerwadarminta (1983), teknologi adalah ilmu pengetahuan dan kepandaian membuat sesuatu yang berkenaan dengan hasil industri atau ilmu pengetahuan tentang cara membuat sesuatu yang berkenaan dengan hasil industri atau ilmu pengetahuan tentang cara membuat sesuatu atau melakukan sesuatu, sedangkan menurut UNESCO (1983), teknologi adalah sebagai berikut: ……..technology is the know-how and creative process that may utilize tools, resources, and systems, to solve problems, to enhance control over the natural an man-made environment in endeavour to improve the human condition. Jadi secara ringkas dapat dikatakan bahwa, teknologi merupakan suatu perangkat keras ataupun perangkat lunak yang digunakan untuk memecahkan masalah bagi pemenuhan kebutuhan manusia. Sains melandasi perkembangan teknologi, sedangkan teknologi menunjang perkembangan sains, sains terutama digunakan untuk aktivitas discovery dalam upaya memperoleh penjelasan tentang objek dan fenomena alam, namun juga untuk aktivitas penemuan (invention), misalnya dalam penemuan rumus-rumus. Pengembangan sains ini tidak selalu dikaitkan dengan aspek kebutuhan masyarakat. Sedangkan teknologi, merupakan aplikasi sains yang terutama untuk kegiatan invention, berupa alat-alat atau barang-barang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Jadi pengembangan teknologi selalu dikaitkan dengan kebutuhan masyarakat. Dengan demikian sains, teknologi dan masyarakat merupakan bagian yang tak terpisahkan (Poedjiadi, 1990 ; Yager, 1992: 4). Masyarakat , menurut Aikenhead (dalam Mariana, 1994: 29), adalah suatu lingkungan pergaulan sosial dan kaidah-kaidah yang dianut oleh suatu kelompok masyarakat. Menurut Poerwadarminta (1983), masyarakat adalah sehimpunan orang yang hidup bersama dalam suatu tempat dengan ikatan-ikatan dan aturan-aturan tertentu. Sedangkan, sosial adalah segala sesuatu yang mengenai masyarakat. Jadi, secara ringkas dapat dikatakan bahwa, masyarakat adalah sekelompok manusia yang memiliki wilayah, kebutuhan, dan norma-norma sosial tertentu. Sains, teknologi dan masyarakat satu sama lain saling berinteraksi. Interaksi ini dapat digambarkan seperti gambar sebagai berikut:

yaitu untuk meningkatkan pengertian terhadap dunia alamiah (Amien. maka kriteria pengembangan evaluasinya dapat mengacu kepada pengembangan evaluasi dalam unit STS atau STM (sains.SAINS TEKNOLOGI MASYARAKAT Untuk mengungkap penguasaan pengetahuan sains dan teknologi tersebut. Untuk penyusunan materi pendidikan sains. 2. masyarakat). 1992: 19-20). 4. 3. penyadaran. teknologi. 1989: 136) menyarankan bahwa sains hendaknya merupakan akumulasi dari content. process. Pembuatan keputusan-keputusan yang berhubungan dengan kesehatan. 1992:87-88) B. Pemahaman prinsip-prinsip sains dan teknologi yang terlibat dalam alat-alat teknologi yang dimamfaatkan masyarakat. dan pengembangan nilai positif tentang hakekat sains melalui pembelajaran. atau hal-hal lain yang didasarkan pada konsep-konsep ilmiah. Pemahaman konsep sains dalam pengalaman kehidupan sehari-hari. STM dan Literasi Sains dan Teknologi Pendidikan IPA atau pendidikan sains pada hakekatnya merupakan upaya pemahaman. Penggunaan proses-proses ilmiah dalam pemecahan masalah-masalah yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Evaluasi dalam STM meliputi ruang lingkup aspek: 1. Sains pada hakekatnya merupakan ilmu dan pengetahuan tentang fenomena alam yang meliputi produk dan proses. (Varella. Kirham (dalam Wellington. . Pendidikan sains merupakan salah satu aspek pendidikan yang menggunakan sains sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan umumnya yakni tujuan pendidikan nasional dan tujuan pendidikan sains khususnya. 5. dapat dilakukan melalui suatu evaluasi. nutrisi. Mengingat penguasaan sains dan teknologi dalam penelitian ini merupakan penguasaan sains dan teknologi yang berkaitan dengan aspek masyarakat. Penerapan konsep-konsep dan keterampilan-keterampilan sains untuk masalahmasalah teknologi sehari-hari. Evaluasi merupakan suatu pengukuran atau penilaian terhadap sesuatu prestasi atau hasil yang telah dicapai.

strategi pertama. Untuk kepentingan itu. konsep. Tantangan pendidikan sains dewasa ini adalah perlu sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. dikenal dengan pengajaran dengan pendekatan STM atau STS. mendefinisikan STS sebagai belajar/mengajar sains dan teknologi dalam konteks pengalaman manusia (Poedjiadi. berkaitan dengan metodologi atau keterampilan untuk memperoleh dan menemukan content. Pada saat membahas konsep-konsep tertentu suatu topik yang relevan telah dirancang sesuai strategi pertama dapat diterapakan dalam . guru memperkenalkan atau menunjukkan kepada peserta didik adanya isu atau masalah dilingkungan peserta didik atu menunjukkan aplikasi sains atau suatu produk teknologi yang ada dilingkungan mereka. isu atau masalah harus diangkat pada awal pembahasan topik yang diajarkan. menyangkut kepada hal-hal yang berkaitan dengan fakta. Melalui kegiatan eksperimen atau diskusi kelompok yang dirancang oleh guru akhirnya dibangun atau dikonstruktur pengetahuan pada peserta didik. pengajaran sains dewasa ini perlu dikaitkan dengan aspek teknologi dan masyarakat. Process. Pengajaran yang mengkaitkan sains dengan teknologi dan masyarakat. Context. sedangkan dalam IPA terpadu tidak mutlak harus dilaksanakan demikian. Berkenaan dengan strategi pelaksanaan pendekatan STM. National Science Teacher Association atau NSTA. Anna Poedjiadi (1995: 4) mengemukakan hal sebagai berikut: Pelaksanaan pendekatan STM dapat dilakukan melalui tiga macam strategi. Pada awal perubahan tiap topik. 1994: 1). dalam hal ini pengetahuan yang berbentuk konsepkonsep . berkaitan dengan kepentingan sosial baik individu maupun masyarakat atau kepentingan-kepentingan lainnya yang berhubungan dengan perlunya pengembangan dan penyesuaian pendidikan sains untuk menghadapi tantangan kemajuan jaman sekarang ini. Masalah atau isu yang ada dilingkungan masyarakat dapat pula diusahakan agar ditemukan oleh peserta didik sendiri setelah guru membimbing dengan cara-cara tertentu. model. selanjutnya dikembangkan pula di Inggris dan Australia. teori. Strategi ini mirip dengan stategi pendidikan IPA terpadu. Perbedaannya ialah bahwa pada program STM. menyusun topik-topik tertentu yang menyangkut konsep-konsep yang ingin ditanamkan pada peserta didik. menyajikan suatu topik yang relevan dengan konsep-konsep tertentu yang termasuk dalam GBPP. Strategi kedua.dan context. Pendekatan ScienceTechnology-Society atau STS ini pertama kali dikembangkan di Amerika Serikat pada tahun 1980-an. prinsip. dan terminologi. serta perlu dapat mengantisipasi masalah-masalah sosial yang berkaitan dengan sains dan teknologi tersebut. Content. definisi.

berpengaruh satu sama lain. STM merupakan salah satu alternatif konsep untuk penyempurnaan dan penyesuaian pendidikan sains dewasa ini. memiliki karakteristik: (a) tahu penggunaan dan pemeliharaan produk teknologi. Konsep ini dapat diwujudkan dalam bentuk pendekatan atau materi pelajaran. atau kemampuan berkomunikasi melalui tulisan dan kata-kata. (c) berpengatahuan luas tentang hasil-hasil riset. tepat. Pengajaran dengan pendekatan STM dapat meningkatkan literasi sains dan teknioplogi individu. Dengan demikian individu tersebut dapat menghargai sains dan teknologi dalam . efesien dan efektif. Krakteristik individu yang memilki literasi ilmiah adalah sebagai berikut: (a) bersikap positif terhadap sains. (d) memilki pengetahuan tentang konsep dan prinsip sains. serta mampu menerapkannya dalam teknologi dan masyarakat. Dyrenfurth (dalam Poedjiadi. (e) memilki pengertian hubungan antara sains. contoh-contoh adanya aplikasi konsep sains. mengenal teknologi yang ada beserta dampaknya di sekitar. Strategi ketiga. (b) sadar tentang proses dan prinsip teknologi. (f) berkemampuan membuat keputusan dan terampil menganalisis nilai untuk pemecahan masalah-masalah masyarakat yang berhubungan dengan sains tersebut (Rubba. dapat diartikan sebagai pemahaman atas sains dan aplikasinya bagi kebutuhan masyarakat. Adapun literasi sains dan teknologi (literasi sains dan teknologi untuk semua orang yang diusulkan untuk pendidikan dasar di Indonesia). sadar akan efek hasil teknologi. (b) mampu menggunakan proses sains. isu atau masalah sebaiknyadperkenalkan pada awal pokok bahasan tertentu untuk meningkatkan motivasi peserta didik mempelajari konsep-konsep selanjutnya atau mengarahkan perhatian peserta didik kepada materi yang akan dibahas sebagai apersepsi. 1994: 34) . dan mampu bersikap serta mampu menggunakan alat secara aman. Sains-Teknologi-Masyarakat (STM) merupakan perekat yang mengkaitkan sains. Literasi teknologi. (e) mampu membuat hasil teknologi alternatif yang sederhana. Literasi sains (scientific literasi).J. dan mampu mengambil keputusan berdasarkan nilai. (c) sadar tentang akibat teknologi terhadap masyarakat. Literasi dapat diartikan sebagai kemampuan untuk membaca dan menulis. serta untuk meningkatkan kemampuan menggunakan pengetahuan didalam membuat keputusan. 1993: 428).pembelajaran. dapat diartikan sebagai kemampuan melaksanakan teknologi yang didasari kemampuan identifikasi. Adapun individu yang literat teknologi menurut M. teknologi dan masyarakat. mengajak peserta didik untuk berpikir dan menemukan aplikasi konsep sains dalam industri atau produk teknologi yang ada di masyarakat di selasela kegiatan belajar berlangsung. STM dikembangkan untuk meningkatkan literasi ilmiah individu agar mengerti bagaimana sains. Dengan demikian program STM merupakan suplemen dari kurikulum. masyarakat dan nilai-nilai manusia. kreatif membuat produk teknologi sederhana. teknologi. dapat diartikan sebagai kemampuan menyelesaikan masalah dengan menggunakan konsep-konsep sains. mampu menggunakan produk teknologi dan memeliharanya. dan masyarakat secara terintegrasi. teknologi. (d) mampu mengevaluasi proses dan produk teknologi.

Rinehort and Winston. Makalah dan Lokakarya tentang Reorientasi dan perubahan Kurikulum Pendidikan Menengah Umum”. (1971). How Thorn Victoria Australia: Longman Australia Pty Limited. (Eds). Gordner. et al. New York: David Mc. (1975). Teori-teori Belajar. P. dan mengerti keterbatasan-keterbatasannya (Yager. Inc..e. R. Carin.(1995).L. Science.I. (1983). Fischer.V. Merrill Publishing. Man and Siciety. Good. A. Kesiapan Guru Mengajarkan Sains di Sekolah Dasar Ditinjau Dari Pengembangan Keterampialan Proses Sains. R..S. New York: Rinehort and Winston. IKIP Bandung: tidak diterbitkan. & Stone. _______.H. (1985). Columbus: Charles E. Hall. (1989).’lay Company. _______. Taxonomy of Educational objectives The Classification of Educational Goal Handbook I Cognitive Domain. R. “Partisipasi FPMIPA IKIP Bandung dalam Menunjang Perkembangan Pendidikan Sains dan Teknologi Dewasa ini “.M. C. 17-19 Januari. DAFTAR PUSTAKA Bloom.masyarakat. Austin: Univercity of Texas. The Condition of Learning and Theory of Instruction. & Briggs. New York: Mc Graw Hill Book Company.J. Disertai Doktor FPS IKIP. R. R. & Sund. Jakarta: Erlangga. Jakarta. 1998: 276).B. A. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Philadelphia: Saunders Co. L. Balai Pustaka. (1974). The Stucture of Science Education.A. (1973). Gagne. Belmount: Wadsworth Publishing Company. Dahar. (1971). et al. Poedjiadi. . L. Gagne. New York: Holt. Makalah Disajikan pada Seminar Staff FPMIPA IKIP Bandung.M. (1968). A.B. (1985). W. Dictionary of Education. (1979). “Kecenderungan Pendidikan Sains dan Teknologi dimasa yang Akan Datang. Teaching Children Science: An Inquiry Approach. Principlesof Instructional Desig. Jakarta: PN. Poerwadarminta.J. G. (1990). Teaching Science Through Discovery.W. Kuslan. 3 Mei. Maesuring Stage of Concern about The Innovation: A Manual foe use of the Sacial Questionnaire. Bandung. (1980).

(1992). & Shoemaker.A. (1992). P. Communication of Innovation: Crosscultural Approach. Tes retensi dilakukan setelah tiga minggu dari pos tes. . Hasil postes dari kedua pembelajaran tidak berbeda..Rogers.F. Sampel diambil secara claster random yang meliputi satu kelas eksperimen menggunakan pertanyaan pengarah dan satu kelas kontrol dengan pertanyaan biasa tanpa pengarah dalam pembelajarannya.H. (1971). New York: Free Press.M. R. F. hendaknya tidak hanya dari penguasaan konsep saja. Titus. Living Issues In Philoshophy. Rubba. E. Science Education. 407-431. A. 2-8. eranan Pertanyaan Terhadap Kekuatan Retensi dalam Pembelajaran Sains pada Siswa SMU Ditulis oleh Taufik Rahman ABSTRAK Telah dilakukan penelitian tentang peranan pertanyaan terhadap retensi dalam pembelajaran sains pada siswa SMU. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil postes siswa dari kedua pembelajaran pada umumnya sangat baik demikian pula retensinya.E. Yager. R. H. Macam pertanyaan yang diajukan oleh guru secara lisan atau tulisan menentukan keberhasilan siswa dalam peningkatan berpikir dan penguasaan konsep (Dahar. Untuk mengetahui efektifnya model pembelajaran. “Science-Technology-Society as Reform”. (1993). Faktor retensi atau lekatnya konsep dalam ingatan kurang mendapat perhatian padahal dapat dijadikan indikator bermutunya hasil belajar atau pembelajaran. New York: American Book Company.W.(1959). Latar Belakang Masalah Keberhasilan belajar Sains di SMU umumnya diukur dari seberapa jauh siswa menguasai konsep yang diajarkan. Pendahuluan 1. G. ICASE YEARBOOK.F. ICASE YEARBOOK. “Greater Ability to Apply Concepts Using and Science/Technology/Sociaty Approach to Teaching Science”. namun retensinya berbeda signifikan. retensi siswa hasil pembelajaran dengan pertanyaan penuntun lebih baik dari pertanyaan biasa. tetapi lebih jauh perlu dianalisis apakah konsep-konsep yang diajarkan dapat lekat dalam ingatan siswa ataukah cepat terlupakan karena pembelajaran yang dilakukan hanya berupa transfer hapalan belaka. 87-92. Varella. “Examination of Preservice and Inservice Secondary Science Teachers Beliefs about Science –Technology-Society Interactions”. Analisis di atas dipandang kurang terungkap padahal merupakan sesuatu yang perlu diketahui dan diteliti. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen.

Lupa bisa dikurangi dengan berbagai cara. dapat membangkitkan minat dan rasa ingin tahu siswa terhadap masalah yang sedang dibahas. tentunya perlu dianalisis pertanyaan-pertanyaan yang bagai mana yang secara baik dapat menggali ingatan dan yang bagaimana pula yang secara baik dapat menguatkan ingatan. mengarahkan atau menuntun pada arah tertentu. mendorong siswa berfikir. dan untuk mengungkap gagasan siswa (Wynne Harlen. 2) Pembelajaran sains meliputi pembelajaran biologi konsep polusi air di satu SMUN di Bandung. Pertanyaan dalam pembelajaran antara lain digunakan untuk menguji daya ingat siswa. karena pertanyaan dapat menggali informasi dari ingatan (Winkel. Batasan Masalah 1) Pertanyaan yang diteliti meliputi pertanyaan penuntun dan pertanyaan biasa atau tidak menuntun. dapat . banyak hal yang telah disimpan dalam ingatan sulit untuk diproduksikan lagi. 2. Kemampuan untuk menyimpan dalam ingatan ini dikenal sebagai retensi. hal ini dikenal sebagai lupa (Abin Syamsudin. 1991: 97). Suatu pertanyaan yang diberikan secara tersusun dengan baik dapat memberikandampak positif sebagai berikut: Dapat meningkatkan partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran. Rumusan Dan Batasan Masalah a. 1996:117). Kuatnya retensi ditentukan dengan perbandingan tes retensi (postes ke-2) dengan postes kali 100 persen.1985:122). B. 1996:458). Bagaimana peranan pertanyaan terhadap kuatnya retensi dalam pembelajaran sains pada siswa SMU? b. Namun. Konsep yang dipahami secara baik oleh siswa dari pembelajaran dapat disimpan dalam ingatan atau memori yang kemudian akan dipergunakan pada saat diperlukan. Pertanyaan penuntun berupa rangkaian pertanyaan yang saling berkaitan untuk menjawab pertanyaan pokok. Pertanyaan biasa adalah pertanyaan-pertanyaan yang berdiri sendiri tanpa menghiraukan kaitannya dengan pertanyaan pokok. salah satunya dengan memberikan pertanyaan. Rumusan Masalah Masalah umum penelitian ini dirumuskan sebagai berikut. Peranan Pertanyaan Dalam pembelajaran Sains Pertanyaan merupakan komponen yang amat diperlukan dalam pembelajaran sains. dapat mengembangkan pola dan cara berfikir aktif siswa. Peranan Pertanyaan Dan Retensi Dalam pembelajaran Sains 1. 3) Retensi adalah kemampuan mengingat konsep setelah selang waktu tiga minggu. Pada kenyataannya.

1997: 43) 2. maka proses belajar siswa tidak berlangsung dengan baik dan sebaliknya jika tidak belajar maka tidak akan ada retensi. baik secara tertulis dalam Lembar Kerja Siswa(LKS) maupun secara lisan oleh guru di kelas. 1993: 305) diantaranya membuktikan bahwa kita menyimpan banyak ingatan terhadap apa yang telah dipelajari di sekolah. Dengan demikian salah satu bentuk promting adalah menanyakan pertanyaan lain yang lebih sederhana yang jawabannya dapat dipakai menuntun siswa untuk menemukan jawaban yang tepat (Suwandi dan Tjetjep S. Retensi dan lupa merupakan dua istilah yang tidak dapat dipisahkan. pertanyaan retoris (rhetorical questions). Retensi mengacu . Pertanyaan pengarah berupa pertanyaan berangkai (lebih dari satu pertanyaan yang satu sama lain berkaitan) yang ditujukan untuk menuntun siswa menguasai konsep. misalnya topik polusi. dalam Nuryani Rustaman. 1996: 18). Peranan Retensi Dalam Pembelajaran Sains Retensi atau ingatan terhadap pengetahuan yang dipelajari merupakan faktor yang penting dalam suatu pembelajaran sains misalnya biologi. Pertanyaan permintaan (compliance questions). banyak hal yang perlu dipahami dan diingat. 2000: 75) Bentuk pertanyaan promting dapat dibedakan menjadi 3. Dengan demikian aspek retensi sangatlah diperlukan. al. Pertanyaan biasa berupa pertanyaan tunggal untuk mengungkap penguasaan konsep. (3) memberikan suatu review informasi yang diberikan dan pertanyaan yang membantu murid untuk mengingat atau melihat jawabannya (E.. Hal ini didukung oleh pernyataan yang dikemukakan oleh James Dese (1959: 236) bahwa jika tidak ada retensi. Bentuk pertanyaan Pengarah berbeda dari pertanyaan biasa.. al. Hursh (1976). Dalam materi tersebut meliputi konsep konkret dan abstrak. 1991: 97).C. yaitu: (1) mengubah susunan pertanyaan dengan kata-kata yang berbeda atau lebih sederhana yang disesuaikan dengan pengetahuan murid-muridnya. dan dapat memusatkan perhatian siswa terhadap masalah yang sedang dibahas (Moh Uzer Usman.1999:4). Dalam mempelajari sains biologi. dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Guskey & Gates (1985). Banyaknya pertanyaan yang diajukan dalam pembelajaran tidak menunjukkan bahwa pembelajaran tersebut lebih berkualitas (Wynne Harlen. Uzer Usman.Wrag dan George Brown 1997: 43).menuntun proses berfikir siswa untuk menentukan jawaban yang baik.1987:72). Pertanyaan produktif dan non produktif (Sheilla Jelly.C. (1978 & 1990) (dalam Semb et. jenis pertanyaan biasa umumnya lebih mendominasi. Retensi erat hubungannya dengan belajar. pertanyaan mengarahkan atau menuntun (promting question) dan pertanyaan menggali (probing questions) ( Moh. (2) menanyakan pertanyaan-pertanyaan sederhana yang membawa mereka kembali pada pertanyaan semula. Kulik et. Banyak penelitian yang telah dilakukan oleh para ahli pendidikan yang berkaitan dengan retensi. Pertanyaan konvergen dan pertanyaan divergen (Conny Semiawan. Wrag dan George Brown . mutu pertanyaan guru sebanding dengan jawaban yang akan diperoleh dari pertanyaan tersebut (E. Dalam pembelajaran sains kedua jenis pertanyaan tersebut senantiasa dipergunakan. Namun. 1995: 74) Berdasarkan karakteristiknya pertanyaan antara lain digolongkan sebagai berikut. Namun.

pada tingkat dimana materi yang telah dipelajari masih melekat dalam ingatan. kecuali bila informasi tersebut ditahan lebih lama melalui proses penyimpanan. menggambarkan tahapan proses tersebut terjadi dengan urutan sebagai berikut: 1) siswa menerima rangsang dari reseptor. Dalam tahap ini retensi merupakan proses penyimpanan pemahaman dan perilaku baru yang diperoleh setelah mengalami proses acquisition (fase menerima informasi). 1959: 236). 5) pada saat diperlukan siswa menggali informasi yang telah dimasukkan dalam LTM untuk dimasukkan kembali ke dalam STM Dengan melihat proses internal yang terjadi dalam siswa. Sedangkan dalam masalah lupa Winkel (1987: 297) menyatakan bahwa gejala lupa mudah terjadi pada pengetahuan kognitif bila individu tidak berhasil mengkonstruksi pengetahuannya sendiri atau tidak berhasil mengaitkan konsep-konsep yang dipelajarinya dengan konsep-konsep yang telah dimilikinya. Dengan demikian dalam pembelajaran dipandang perlu untuk menitik beratkan pada aspek-aspek bernalar sehingga pembelajaran menjadi bermakna. Ilmuwan yang pertama kali meneliti tentang retensi adalah Ebbinghaus pada tahun 1885. Retensi merupakan salah satu fase dalam tahapan belajar. 4) penampungan hasil pengolahan informasi yang berada dalam STM dan menyimpannya dalam ingatan jangka panjang (Long Term Memory / LTM) sebagai informasi yang siap pakai sewaktu-waktu pada saat diperlukan. sehingga membentuk suatu kebulatan perseptual. 1993: 305) menyatakan bahwa faktor-faktor yang dapat mempengaruhi LTM tehadap pengetahuan yang telah dipelajari dalam kelas adalah tingkat dari materi yang dipelajari. metode pembelajaran. dan perbedaan individual. tidak diperlukan individu sehingga tidak dihiraukan. 1959: 241). tugas yang harus dipelajari. 2) rangsang yang masuk ditampung dalam sensori register dan diseleksi. Pembelajaran yang menitik beratkan pada guru (teacher centered) dinilai telah gagal untuk mengembangkan pemahaman yang permanen. 1994: 3) terhadap siswanya di Berkeley membuktikan bahwa dengan menggunakan metode pembelajaran secara tradisional dimana guru bertindak . Sehingga dapat dikatakan bahwa jumlah yang dilupakan sama dengan jumlah yang telah dipelajari dikurangi dengan ingatan yang masih tersimpan (James Dese. 3) pola perseptual tersebut masuk ke dalam ingatan jangka pendek (Short Term Memory / STM) dan tinggal disana selama 20 detik. maka fase ke 3 dan 4 dimana ingatan dimasukkan dan ditahan dalam STM dan kemudian dimasukkan ke dalam LTM merupakan proses yang amat penting bagi retensi. Semb dan Elis (1992) (dalam Semb dan Elis. dalam Susan Hanley. Oleh karena itu tidak mengherankan apabila banyak ilmuwan dibidang pendidikan menyatakan bahwa proses pembelajaran memegang peranan penting terhadap retensi siswa. Lupa akan terjadi apabila materi yang dipelajari tidak menarik. Dalam tahap belajar terjadi proses internal dalam pikiran siswa. Tentu saja yang dimaksud dengan proses penyimpanan ini berkaitan dengan bagaimana informasi ini dapat diterima dan dikonstruksikan dan akhirnya disimpan dalam benak siswa. Dan sebagaimana yang telah disebutkan oleh Winkel di atas informasi tersebut dapat ditahan lebih lama melalui proses penyimpanan. Winkel (1996: 305). sedangkan lupa mengacu pada porsi ingatan yang hilang. Hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Ebinghaus adalah kurva retensi yang menunjukkan bahwa retensi dapat berkurang dengan cepat setelah interval waktu tertentu dan lupa atau berkurangnya retensi ini dapat terjadi beberapa jam pertama setelah proses belajar berlangsung (James Dese. Penelitian yang dilakukan oleh Angelo (1991.

dan Retensi siswa . X2= pembelajaran dengan menggunakan pertanyaan biasa. Bila konsep-konsep tersebut terkait satu sama lain maka akan terbentuk pengetahuan yang bermakna yang tidak mudah untuk dilupakan. Dengan demikian perlu diupayakan pembelajaran yang bermakna bagi siswa. Hasil Penelitian Hasil penelitian dalam bab ini disajikan dalam bentuk tabel-tabel di bawah ini. yang digambarkan dengan tabel sebagai berikut: Tabel 1. dan T2(2)= Tes retensi (pos-test ke-2) D. salah satunya adalah dengan memberikan pertanyaan untuk memacu keterlibatan berpikir siswa sehingga siswa dapat menggunakan dan mengaitkan konsepkonsep yang telah dimilikinya. T2(1)= Pos-tes. Untuk memenuhi hal tersebut guru sedapat mungkin melibatkan siswa dalam proses pembelajaran. yaitu pembelajaran dengan menggunakan pertanyaan pengarah dan pembelajaran dengan menggunakan pertanyaan biasa tanpa pengarah. sehingga dengan demikian memungkinkan kuatnya retensi siswa terhadap konsep-konsep yang diajarkan. Tabel 1. C. Pos-tes. Desain penelitian yang digunakan adalah modifikasi Randomized Control Group Pre-test Post-test Desain. Disain Penelitian Kelompok Eksperimen Kontrol Keterangan: Tes awal T1 T1 Perlakuan X1 X2 Tes akhir 1 Selang Waktu Tes akhir 2 T2(1) 3 minggu T2(2) T2(1) T2(2) T1= Tes awal / pre-test. Pembelajaran yang banyak melibatkan panca indra dalam proses berpikir dapat memungkinkan pembelajaran menjadi lebih bermakna. Mereka terlalu sibuk mencatat dam memasukkan informasi tanpa melalui seleksi ke dalam ingatan mereka. Rekapitulasi Rata-rata Nilai Pre-tes.sebagai penyampai informasi dan siswa penerima informasi didapatkan hasil bahwa kurang dari 20% dari siswanya dapat mengingat apa yang telah disampaikan oleh guru. Metode dan Desain Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen untuk membandingkan dua perlakuan pembelajaran yang berbeda. X1= Pembelajaran dengan menggunakan pertanyaan pengarah.

83 78 100 89 125 67 100 96 116. ngan atara Z Eksperimen hitung & Z tabel Pretes 1.6 7.3%) 16 (44.64 Z hit < Z tab Tidak berbeda secara signifikan Postes 1 1.Konsep/sub Nilai Kontrol konsep Pre.64 Z hit > Z tab Berbeda secara signifikan (Pos tes 2 kel.16 1.6%) 4 (11. Eksperimen > Pos (Postes 2) tes 2 kel. dan Retensi Konsep Polusi Air Batas nilai 100-80 Kriteria Sangat baik Pos tes 1 K E 19 21 (52.Posttest test Polusi Air (LKS Eksp.4 33 52 59 75. Rekapitulasi Predikat Penguasaan Siswa Pada pos test.3%) (8.1%) - Pos tes 2 K E 12 15 (33.7%) 18 (50%) 3 3 (8.8%) 4 (11.58 81.75 8.5 9.) Keterangan: X Sd T R Eksperimen Retensi % Pre-testPos-tes Retensi % Reten-si 1 (Post-test Reten-si 2) (Pos-tes ke-2) 50.8%) 70 – 79 Baik 60 – 69 Sedang 50 – 59 Kurang Keterangan: (41.58 8.3%) Retensi K 33 E 35 (97.3%) 11 (30.25 98.36 80.9 95.03 79 74.07 11.7 X = rata-rata nilai. dan R = nilai terendah Tabel 2.9%) 3 (8.4%) 5 (13. Retensi.1%) 3 (8.3 26 63 63 78.98 50.64 Z hit < Z tab Tidak berbeda secara signifikan Polusi Air Retensi 3.25 1. Rekapitulasi hasil uji dua rata-rata (Uji kesamaan) Konsep/Sub Uji rata-rata kel.3%) (58.93 10. Z hitung Z tabel Hasil perbandi. Sd = standar deviasi.48 1.8%) 10 (27. Kontrol *dilakukan dengan uji t1 Tabel 3.2%) 1 (2.3%) - - .7%) (91.27 8.4 12.Keterangan Konsep Kontrol & kel. T = nilai tertinggi.

1989:159). Peristiwa ini dapat disimpulkan bahwa retensi siswa dengan pembelajaran yang menggunakan pertanyaan pengarah pada lebih baik dibandingkan dengan retensi siswa yang pembelajarannya menggunakan pertanyaan biasa/bukan pengarah. pada struktur kognitif yang tidak stabil. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran dengan pertanyaan pengarah maupun dengan pertanyaan biasa (tanpa pertanyaan pengarah) sama-sama dapat meningkatkan penguasaan konsep siswa. maka struktur kognitif siswa akan lebih terorganisasi. Menurut Slameto (1995:123) makin jelas. Uzer Usman. Dari hasil uji kesamaan dua rata-rata (tabel 2). James Deese (1959:253) mengemukakan bahwa salah satu faktor penting yang dapat mempengaruhi retensi siswa adalah taraf belajar (level of learning) seseorang. maka proses belajar yang bermakna dan retensi akan mudah terjadi pada orang tersebut. Lebih jauh lagi Richard Anderson dan Gerald Faust. (1973:460) berpendapat bahwa taraf belajar menjadi faktor penentu bagi retensi siswa. Melalui pertanyaan yang mengarahkan. Dalam proses belajar yang bermakna ini terjadi proses mengaitkan informasi baru pada konsep-konsep yang relevan yang terdapat dalam struktur kognitif siswa. pembelajaran dengan menggunakan pertanyaan pengarah antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dalamsub konsep polusi air tidak memiliki perbedaan secara signifikan pada pos tes . dan E = kelompok eksperimen E.K= kelompok kontrol. 1999:8) yang dirancang untuk mendorong siswa agar terlibat secara aktif dalam pembelajaran sehingga siswa dirangsang untuk berpikir dan melakukan kegiatan bermakna. . kabur dan tidak terorganisasi dengan baik cenderung merintangi proses belajar bermakna dan retensi. Pertanyaan yang sifatnya mengarahkan ini merupakan salah satu jenis pertanyaan yang baik (Nuryani Rustaman. Pertanyaan baik berupa pertanyaan pengarah maupun pertanyaan biasa merupakan faktor ekstrinsik yang mempengaruhi minat. namun berbeda signifikan pada retensi (pos tes ke-2). sikap dan motivasi siswa untuk mengkonstruksikan pengetahuan mereka sehingga terbentuk konsepsi dan meningkatnya pemahaman siswa terhadap konsep yang mereka pelajari (Ratna Wilis Dahar. 2000:75). sebaliknya. Dalam hal ini pertanyaan yang sifatnya mengarahkan telah menuntun siswa dalam menemukan jawaban yang tepat (Moh. stabil serta terorganisasinya struktur kognitif seseorang. jelas dan stabil. Hasil retensi siswa kelompok eksperimen memiliki nilai yang lebih tinggi dibanding siswa pada kelompok kontrol. Artinya bahwa hasil pembelajaran menggunakan pertanyaan pengarah unggul dalam hal retensi atau lebih kuat dapat diingat. Pembahasan Dilihat dari hasi rata-rata nilai (tabel 1) terdapat peningkatan nilai rata-rata post tes dari pretes. Dari rata-rata hasil yang diperoleh terhadap retensi dapat disimpulkan bahwa siswa yang menggunakan pertanyaan pengarah dalam pembelajarannya berbeda secara signifikan dibanding siswa yang pembelajarannya menggunakan pertanyaan biasa / pertanyaan bukan pengarah.

1975 (dalam Muhibbin Syah. Sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna dan berakibat pada baiknya retensi siswa (Wyne Harlen. 2 dan persentase retensi (tabel 3). mengakomodasikan. Berdasarkan predikat skor pada postes 1. karena postes 2 dilaksanakan dalam selang waktu 3 minggu setelah pos tes 1 diberikan. 1996:158). sedangkan pos tes ke-2(tes retensi) tidak diberi tahu. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan penguasaan konsep dan terutama mengingat dengan baik. umumnya sangat baik dan tidak ada perbedaan yang signifikan antara keduanya. Perbedaan ini disebabkan karena pembelajaran pada kelompok ekperimen menggunakan LKS dengan pertanyaan pengarah yang dapat mempengaruhi proses internal yang terjadi dalam siswa ketika ingatan dimasukkan dan ditahan dalam STM yang kemudian dimasukkan ke dalam LTM (Winkel. F. secara umum jumlah siswa kelompok eksperimen lebih banyak yang menduduki peringkat sangat baik. retensi siswa juga variatif berkisar antara baik dan sangat baik. penggunaan memori. Dengan bantuan pertanyaan pengarah pada LKS eksperimen dapat mengembangkan proses berfikir dan keterampilan proses. mengorganisasikan dan mengkonstruksikan konsep-konsep dalam benak siswa. Kesimpulan Pemberian pertanyaan baik pertanyaan penuntun atau pengarah maupun pertanyaan biasa tanpa penuntun dalam pembelajaran sains (konsep polusi air) pada siswa SMU sama-sama memberikan peranan yang signifikan terhadap kuatnya retensi siswa . 1996:102). Pelaksanaan pos tes 1 diberitahukan sebelumnya kepada siswa sehingga siswa belajar terlebih dahulu menghadapi tes. Dalam selang waktu tiga minggu. Namun. baik dan cukup dibandingkan dengan kelompok kontrol. . Selain itu Hilgard dan Bower. penemuan sendiri. Dengan dilakukannya postes 2 dalam jangka selang waktu dimana siswa telah mendapatkan materi yang baru.Dari tabel 3 dapat dilihat adanya penurunan rata-rata nilai tes dari postes 2 (retensi) dibanding rata-rata nilai postes 1. Hal ini disebabkan karena terjadinya peristiwa lupa. Hasil postes dari kedua pembelajaran variatif berkisar antara kurang dan sangat baik. Terutama penurunan ini terjadi lebih banyak pada kelompok eksperiemen diabandingkan dengan kelompok kontrol. Selain itu juga pertanyaan yang mengarahkan ini mendorong siswa untuk terlibat secara aktif dalam mengasimilasikan. sehingga siswa kemungkinan tidak belajar lagi. 1996:305). 1996:160) mengatakan bahwa lupa dapat terjadi karena materi pelajaran yang telah dikuasai tidak pernah digunakan/dihapalkan oleh siswa. Hal ini dapat diartikan bahwa semakin banyak siswa menguasai konsep semakin banyak ia lupa. Kesimpulan Dan Saran 1. Peristiwa Lupa merupakan hal yang biasa terjadi pada manusia. seperti yang dikatakan oleh Robert Travers (1982:1994) “forgetting is normal everyday and constant reminder of our limitations”. maka materi yang baru tersebut akan mengganggu pemanggilan kembali materi yang sudah tersimpan dalam ingatan (Muhibbin Syah. lupa merupakan kejadian yang biasa karena keterbatan manusia dalam mengingat. umumnya sangat baik. pembelajaran yang menggunakan pertanyaan penuntun memberikan dampak terhadap retensi lebih kuat dari pada hasil pembelajaran yang menggunakan pertanyaan biasa dan berbeda secara signifikan.

M. and Briggs L.. Principoles of Instructional Design. Renehart and Winston. Handout Mta Kuliah SBM: Tidak diterbitkan Osborne. Journal of Education Psychology. Teaching and The Science of Learning. The Psychology of Learning. New York: Holt. b. The condition of Learning and theory of Instruction. Milton Keyners: Open University Press Mohamad Uzer Usman. 1985.2: 305-316 . Semb and Ellis. J. DAFTAR PUSTAKA Anderson. Ratna Wilis Dahar. 1997.2. 1974. maka penelitian yang berkaitan dengan retensi perlu dikembangkan misalnya yang berkaitan dengan faktor internal siswa seperti intelegensi dan faktor eksternalnya seperti jenis materi dan model pembelajaran. Mengingat retensi merupakan hal yang penting dari suatu pembelajaran.C. Gagne.J. 1993. 1995. Practical Statistics for Field Biology. New York: Holt. 1990. R.. Pertanyaan. New York: Renehart and Winston George. 25. James Deese. Teknik Bertanya dan Keterampilan Bertanya. Jakarta: Gramedia George J. Menjadi Guru Profesional. 1993. vol. London: Mc. Bertanya. Agar hasil pembelajaran dapat memberi dampak retensi yang kuat. R. Jim Flower and Lou Cohen. 1992. 1999. dalam pembelajaran guru hendaknya terampil membuat LKS dan memberi pertanyaan pertanyaan untuk siswanya terutama pertanyaan pengarah yang dapat menuntun siswa memahami konsep dengan baik.M. Graw Hill Book Comp. (271): 117-123. R. Saran a. 1973. Dampak Pertanyaan dan Teknik Bertanya Guru Selama PBM IPA Pada Berpikir Siswa. Inc.M. School Science Research. Alternatives to Practical Work. New York: Harper and Row Publishers Gagne.85. Long-term Memory For Knowledge Learned in School. No. 1959. Bandung: Rosdakarya Nuryani Rustaman. Psychology for Effective Teaching. Laporan Penelitian: tidak diterbitkan. B and Wragg. 1967. Rinehart and Winstron.

1995..W. tetapi juga dilihat tingkah lakunya dalam kehidupan sehari-sehari oleh anak didiknya. Karena siikap seorang guru tidak hanya dilihat dalam waktu mengajar saja. 1982. Constructivist Theory. karenanya masalah sikap guru dalam mengajar perlu mendapat perhatian kita semua. Internet Travers.S. 1992. Processing and Learning.M. Pendahuluan Sikap dari seorang guru adalah salah satu faktor yang menentukan bagi perkembangan jiwa anak didik selanjutnya. Pendidikan menurut hakekatnya memang adalah suatu peristiwa yang mempunyai aspek normatif yang artinya. Effect of Keywords on Long-Term Retention: Help or Hindrance?. 1987. Journal of Education Psychology vol. norma atau nilai-nilai yang diyakini sebagai suatu . bahwa di dalam peristiwa pendidikan. Wragg. Keterampilan Mengajar di Sekolah Dasar. Wang and Thomas. 1997. W. E. Menyadari bahwa perubahan yang tak disadari dan tak diarahkan lebih banyak memberikan kemungkinan perubahan tingkah laku yang berada di luar titik tujuan. No. London: David Futton Publishers Sikap Mengajar Guru Serta Pengaruhnya dalam Pendidikan Ditulis oleh Sungging Handoko A.3: 468-475 Winkel. 1987. pendidikan merupakan proses yang berfungsi membimbing pelajar didalam kehidupan.Slameto. Jakarta: Rineka Cipta Susan Hanley. R. Proses pendidikan berlangsung tidak tanpa alasan dan atau tujuan. Bila mana ditinjau secara luas akan jelas nampak bahwa manusia yang hidup dan berkembang adalah manusia yang selalu berubah dan perubahan itu adalah hasil belajar. 1997. dalam mencukupi kebutuhan hidup baik sebagai individu maupun sebagi anggota masyarakat. Information. Mengingat pada saat ini banyak sikap dari seorang guru tidak lagi mencerminkan sikapnya sebagai seorang pendidik karena adanya berbagai faktor yang mestinya tidak terjadi dalam dunia pendidikan. Graw Hill Book Comp. Jakarta: Rasindo Wynne Harlen. Jakarta: Gramedia. The Teaching of Science. Malahan pada dasarnya lebih banyak hal-hal yang dipelajari manusia dengan tak sadar dan terencana .. Psikologi Pengajaran.C. Hanya soalnya tidak semua peristiwa belajar itu berlangsung secara sadar dan terarah. Yakni membimbing perkembangan diri sesuai dengan tugas-tugas perkembangan tersebut. pendidik dan anak didik berlangsung pada ukuran. 87. New York: Mc. Belajar Dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya.

bahwa mulanya tidak dapat dilepaskan dari hadirnya pemangku sikap itu sendiri. Memberi contoh mengenai suatu tindakkan sedang suatu hal yang lain dijauhkan dari alam sekitar anak. Karena dengan mencapai pendidikan yang tinggi manusia akan dihormati.yang baik. A. antara murid dan guru dan dapat juga merupakan rasa kekeluargaan yang berdasarkan kepentingan bersama antara orang-orang yang menurut alamnya bukan satu keluarga dan banyak lagi bentuk lain. bahwa seseorang yang ingin mempengaruhi orang yang belum dewasa. maka sikap itupun tergantung pada manusia itu sendiri bagaimana caranya manusia itu menggunakannya dalam kehidupannya sehari-hari. Memang ada juga pendidikan yang dilakukan oleh orang tua dengan anaknya dan itu terjadi di rumah. Walaupunn tidak semuanya dilakukannya menurut suatu rencana tertentu. . Karena mengingat sikap itu terdapat di dalam diri manusia. belum tentu ia dapat disebut seorang pendidik. Adapun sikap itu muncul dalam hubungan antara manusia yang mempunyai hubungan. Dalam sikap seseorang itu selalu terdapat suatu ketegangan antara milik pribadi yang tunduk pada sikapnya dengan perasaan bersatu dengan pemangku kesikapannya. Dalam pada itu perlu ditegaskan. Sikap-sikap dan pengaruhnya dalam pendidikan Kalau kita tinjau pengertian sikap ini. Pada dasarnya pendidikan ini sangat penting bagi umat manusia dalam mencapai taraf hidup yang mulia. disegani dan dijunjung tinggi martabatnya di masyarakat. bahwa manusia bersama-sama dengan manusia lainnya yang memerlukannya. Bukanlah dengan mudah dapat dilihat bahwa pendidik mengingini atau menolak sesuatu. Jadi bukan hanya bersama-sama pada suatu tempat. memperoleh/mengharuskan atau memberantas atau sikap tertentu. Hanya usaha mempengaruhi yang demikian saja yang dapat disebut “pendidik” dan “mendidik” ialah mempengaruhi dengan maksud mencapai tujuan yang bersesuaian dengan pembentukan pribadi anak. Sebab pendidikan ini sangat mempengaruhi kehidupan manusia. Sebab sifat yang khas pada seorang pendidik ialah bahwa setiap usaha. Karena dalam pendidikan ini biasanya dilakukan dalam keadaan sadar antara pendidik dan anak didik. dan memeberi bantuan kepada anak tertuju kepada pendewasaan anak itu atau lebih cepat “membantu anak agar cukup cakap melaksanakan tugas kehidupannya sendiri”. Perasaan bersatu itu dapat merupakan pengikat antara orang tua dan anak. maka pengertian itu relatif adanya. mempengaruhi. itu sebabnya mengapa sikap itu tidak dapat dilepaskan dari diri/pribadi pemangku sikap itu. Hendaknya turut diperhatikan segala sesuatu yang mengandung arti bagi seorang pendidik atau suatu lingkungan pendidikan. yang mana semuanya ini bersifat memberi bantuan kepada anak dalam perkembangannya mencapai “tujuan hidupnya”. Namun dari sikap dan tindakkanya telah mungkin diperoleh suatu gambaran dari seorang pendidik tidak hanya cukup menguraikan tapi harus memperhatikan sifat lahirnya (bentuk).

Tetapi tidak dengan begitu saja ia akan merubh sikapnya itu tanpa ia mentelaah lagi kesalahan dari sikapnya itu. Bagi seorang guru kita haris berani: . Sikap di muka kelas. Bersikap tegas tidak sama dengan bersikap keras. Kerena itu peganglah teguh disiplin kelas. jangan terlalu banyak menggunakan gerak-gerak tangan waktu berbicara. Akibatnya seorang guru tidak dapat mengajar dengan tenang. Ia merasa bahwa ada sesuatu yang menggelisahkan dan meragukan hatinya dengan sendirinya ia tidak dapat menyatukan segala perhatiannya dan pikirannya pada pelajaran yang sedang ia berikan. Sebaiknya seorang guru berpakaian hendaknya sopan. Ingat bahwa seorang guru yang ganjil dalam berpakaian dapat menerbitkan geli hati dan celaan muridmurid. dan sikap adalah salah satu faktor yang terdapat di dalam diri seseorang. Tunjukkanlah semua pertanyaan kepada semua kelas seluruhnya dan baru kemudian tunjukkanlah seorang murid-murid menjawab. jangan berbicara terlalu keras dan jangan pula berbicara terlalu pelan atau lemah. jangan menggangap. kalau murid-murid belum tenang sungguh-sungguh. bercakap-cakap dan guru terus melanjutkan mengajar. Karena dengan sikap bahwa orang itu mempunyai yang dapat dipertanggung jawabkan. Tak usah berpakaian yang gemerlapan atau dari bahan yang sangat mahal. yaitu. maka percakapan itu akan menjadi menjalar dan kelas akan menjadi gaduh. 1. Jadi sikap itu sangat berpengaruh dalam diri sesorang. berbicaralah dengan tenang dan tegas. Ia makin bertambah bingung dan pelajaran menjadi kacau dan gagal sama sekali. Sebenarnya hal ini tidak perlu dibicarakan akan tetapi mengingat keadaan sekarang. sederhana tetapi terpelihara. Kalau masih ada murid-murid yang bercanda. Jangan bercelana Napoleon atau bergaun you can see di muka kelas. 2. Sikap berpakaian. padahal ia telah membuat persiapan dengan sungguh-sungguh. B. kalau guru ragu-ragu dan kelas menjadi tentang kalau guru bersikap tegas dan bijaksana. kalau guru ribut kelas akan segera ribut pula. Sikap-sikap guru dalam mengajar serta pengaruhnya. sedang susah namun janganlah kesusahannya itu ditunjukkan kepada murid-murid. mereka harus mengidahkan suruhannya. Bergeraklah dengan tengan dan berbicaralah dengan suara yang sedang dan jangan ribut. Sering suasana kelas dipengaruhi oleh sikap guru di muka kelas. Bergembiralah selalu (sebagai seorang guru harus pandai bermain sandiwara). bisa sikap itu berubah bila sikapnya itu dianggap salah olehnya. bersikap tegas berarti begini: kalau guru menyuruh murid-muridnya supaya tenang. dimana orang sering sempat berani dan bebas serta progresif dalam hal berpakaian. Memang sikap adalah hak seseorang untuk menentukan sesuatu. Mengenai sikap di muka kelas perlu diperhatikan hal-hal yang lain. mungkin guru.Sikap sesorang itu susah dipengaruhi oleh orang lain bila ia telah menentukan sikapnya. Kelas menjadi gaduh. maka hal ini kita bicarakan. Kalau mereka belum tenang dan jangan mulai mengajar atau melanjutkan pelajaran.

d. mencela. mengejek. namun demikian hasilnya tidak sesuai dengan apa yang diharapkannya. dan sebagainya. Berani memandang tiap-tiap murid. Guru selalu kecewa dan kekecewaan yang terus menerus dapat menjadikan guru mudah putus asa. yang tolol. Lebih berbahaya lagi kalau seorang murid dijadikan sasaran ejekan teman-temannya. Dan kata-kata demikian ini secara paedagogis dan psychologis tidak dapat dipertanggung jawabkan. 3. Seorang guru ilmu pasti pernah melemparkan kata-kata demikian kepada seorang murid “meskipun kamu bekajar 10 tahun lagi kamu tak akan mengerti juga”. memukulnya dan sebagainya.a. yang kotor. orang yang lekas marah mudah bertindak yang kurang baik. Sikap yang mengejek murid. Usahakanlah murid-murid bekerja sendiri. Ciptakan suasana kelas yang baik. f. karena hasil pengajaran dan pendidikan kita tidak selalu segera kelihatan oleh kita. . yang selalu gaduh. matanya. cintailah muridnurid seperti ibu bapak mencintai anak-anaknya. Banyak anak murid yang menjadi sakit hati dan tak mau berbuat lagi sesuatu. Guru mudah marah menghukum anak. Sikap sabar. mengeluarkan kata-kata yang kasar yang dapat mematahkan semangat belajar murid. Mereka giat bekerja dan merasa suatu keluarga. hal ini sangat merugikan bagi perkembangan anak murid selanjutnya. b. murid-murid dapat bekerja bersma-sama. kata-kata yang demikian dapat membuat murid-murid bersikap acuh tak acuh dan menjadi putus asa. c. 4. Guru yang kecewa mudah berbuat hal-hal yang tidak baik umpamanya mengejek. Jangan mengajak murid-murid. 5. Dalam kelas yang suasananya baik. mencelanya. Sering guru merasa. Karena itu harap sabar. Sikap yang lekas marah Banyak hal yang dapat mengecewakan guru. bahwa ia telah mengajar dengan baik dan sungguh-sungguh. e. Jangan memberi hukuman badan. Asas-asas didaktik teleh diprektekkan Ia mengajar dengan penuh kegembiraan dan enthousianisme. saling tolong menolong. umpamanya: murid yang tidak sopan . Anak-anak tidak selalu segera mengerti akan maksud kita dan mengindahkan keinginan kita. Janganlah guru lekas marah karena itu. Jangan bersikap putus asa.

apakah guru itu bertidak adil dan jujur. dan kedua-duanya tidak baik. guru boleh memberi hukuman badan. 9. Guru yang banyak mengadakan larangan membuktukan bahwa perinta-perintahnya tidak dituruti oleh murid-muridnya. bertanggung jawab penuh atas tindakannya itu. Menurut hemat penulis. bahwa hukuman itu satu-satunya obat yang manjur untuk memperbaiki murid. Dan itu membuktikan bahwa tidak ada ketertiban. Bersikap jujur dan adil. Guru yang baik. mereka lekas melihat. dan hukuman yang diberikan sesungguhnya tidak begitu dipertimbangkan. Secara personlijk sesungguhnya tidak memberi larangan mutlak. ahli hukum. pilih kasih dan sebagainya. Murid yang lebih kecil itu biasanya tidak berani melawan. Sikap guru yang bertanggungjawab Sama halnya dengan dokter. Ada jenis pekerjaan yang lebih banyak menuntut syarat fisik. ini adalah suatu bahaya bagi mereka. artinya: kalau ia sudah mempertimbangkan hukuman itu masak-masak. gurupun membutuhkan sejumlah pengetahuan. jarang melarang. ada yang meminta lebih . menedang. guru dilarang memberi hukuman badan. 8. Larangan biasanya merupakan hal yang tidak menyenangkan bagi murid. Jadi hukuman itu tidak diartikan pada waktu guru bernyala-nyala marahnya. Dengan hukuman yang demikian itu murid dapat dirugikan/disakiti karenanya. Larangan yang banyak dapat menimbulkan kemungkinan besar untuk melanggar peraturan tanpa disadari oleh murid-murid. tetapi dalam hatinya timbul rasa tidak senang terhadap guru. melempar dsb. 7. Sikap yang memberi hukuman badan. dan tidak diberikan untuk membalas dendam. Dan mereka sendiri yang diperlakukan lebih manis itu merasa tidak senang akhirnya. karena itu jangan banyak melarang. metode dan kecakapan dasar lainya yang perlu dapat untuk melaksanakan tugasnya. Yang satu diperlakukan lebih manis dari pada yang lain. tidak jujur. umpamanya: memukul. bukan hak itu tidak jarang dilakukan. montir. Menurut peraturan sekolah. Suasana kelas akan menjadi lebih buruk karena sikap guru yang demikian. Lagi pula kalau guru sudah sering atau biasa memberi hukuman badan ia tidak segansegan memberi hukuman yang lebih berat lagi kepada murid. mereka lekas-lekas mengecap gurunya dengan kata-kata: tidak adil. bahwa guru memperlakukan mereka tidak sama. atau ia menjadi takut kepada guru. sebab biasanya perintahnya dituruti. kalau ia sebagai orang tua terhadap anaknya. Sikap yang banyak memberi larangan. Murid-murid akan lekasa mengerti. untuk memberi hukuman badan.6. Memang masih ada guru-guru yang memberi hukuman badan. insinyur. Memukul murid dengan tongkat kecil.

Yang menyebabkan perbedaan-perbedaan jenis pekerjan itu adalah tuntutan yang terdapat pada setiap jenis pekerjaan. Guru harus menjadi pembimbing dan penyuluh yang segar yang memelihara dan mengarahkan perkembangan pribadi dan keseimbangan mental murid-muridnya. Daftar pustaka Abu Ahmad. Jakarta 1989. Prof. Beknopte Theoretische Paedagogiek. cv. Simanjuntak M. maka dapat diambill beberapa kesimpulan Bahwa pendidikan merupakan unsur yang terpenting dalam kehidupan manusia. VI Januari 1993 M. cv.. P. Pedoman Mengajer Oleh Raga Pendidikan Di sekolah Dasar. Karena seringkali anak didik akan mencontoh apa-apa yang dilakukan oleh pendidiknya. Toha Putra. Mashoed. Dalam pendidikan hendaknya seorang guru harus dapat bertanggung jawab demi masa perkembangan anak didiknya. Majalah Mahasiswa No. Yang kemudian dianalisa dan dikembangkan melalui sebuah masa pendidikan. Begitu pula keadaannya dengan tugas mengajar bila ditinjau sebagi tugas yang memperoleh gambaran mengenai jenis pengetahuan dan ketrampilan dasar yang dibutuhkan setiap orang yang mempersiapakan diri untuk terjun dalam bidang ini.33 Thn. Salah satu caranya ialah dengan mengamati dan menganalisa berbagai situasi pendidikan. Bahwa sikap guru dalam mendidik memiliki pengaruh terhadap perkembangan jiwa anak didik sehinggaGuru.J. Karena dengan tidak adanya rasa tanggung jawab dari guru maka anak didik itu akan berbuat hal-hal yang tidak dibenarkan dalam pendidikan. sosial dan sebagainya. seorang guru harus mempunyai rasa tanggung jawab yang dalam. Semarang 1995.banyak syarat-syarat emosi. Didaktik Metodik. Dan guru memjadi orang tua mereka di dalam mempelajari dan membangun sistem nilai yang dibutuhkan dalam masyarakat. Langevld. C. nasco. DR. dituntut memiliki sikap yang tepat sesuai dengan tuntutan tugas profesionalnya sebagai seorang pendidik yang bertanggung jawab. Baru Jakarta 1996. Memang dalam mendidik. ada pula pada syarat intelek. Bila seorang guru tidak mempunyai rasa tanggung jawab maka banyak pengaruhnya pada anak didik itu. Memang kenyataan-kenyataan itu membenarkan teori didaktik yang meletakkan berbagai pertanggungan jawab pada pundak seorang guru disamping tugasnya mengajar suatu pengetahuan. . I. Penutup Daripembahasan diatas ini. serta menjadikan murid-muridnya menjadi manusia dewasa susial serta bertanggung jawab moral. Dengan tidak adany rasa tanggung jawab dari seorang guru maka tidak mustahil bila tujuan pendidikan yang akan dicapai akan tidak tercapai apa yang diharapkan oleh guru itu sendiri maupun oleh orang tua sekolah dan negara. A. diterjemajkan.. Bambang Laksono.

kontrol birokrasi terpusat. kontrol luar. dan tidak efektif.) adalah cara belajar yang alamiah. Landasan lama didasarkan pada anggapan bahwa pembelajar adalah konsumen. penulis buku The Accelerated Learning Handbook. dan program pelatihan sebagai proses jalur perakitan. kerja sama murni. Alasannya? Belajar bukan lagi persiapan untuk bekerja. Belajar dan Pembelajaran . standardisasi. Revolusi dalam Belajar Kepercayaan-kepercayaan abad kesembilan belas dan awal abad kedua puluh di Barat cenderung membuat pembelajaran muram. cetakan ketiga. yang dilahirkan pada awal era ekonomi industri. Dan teknologi canggih atau “teknik-teknik” cerdas apapun yang dibangun di atas landasan lama ini tidak akan dapat membantu memperbaiki permasalahan. akarnya telah tertanam sejak zaman kuno. fragmentasi. pada prestasi individu. Metode-metode belajar konvensional.L. Winarno Surakhmad. pelatih sebagai pelaksana program.Otang Kardi Saputra.) telah dipraktikkan oleh setiap anak yang dilahirkan. motivasi internal (dan bukan sematamata eksternal). (A. Accelerated Learning: Pendekatan Baru Pembelajaran Ditulis oleh Eki Baihaki Dave Meier. yang diterbitkan oleh McGraw-Hill New York tahun 2000. pengotak-ngotakan (orang dan pokok masalah).L. cenderung menyerupai bentuk dan gaya pabrik: mekanisasi. variasi dan keragaman dalam metode belajar. Yang kita butuhkan adalah landasan yang benar-benar baru. Tarsito. Landasan baru didasarkan pada anggapan bahwa pembelajar adalah kreator. pada kerja sama . Sebagai suatu gerakan modern yang mendobrak cara belajar di dalam pendidikan dan pelatihan terstruktur yang muncul kembali sebagai akibat adanya sejumlah pengaruh pada paro kedua abad ke-20. pengondisian behavioristis (hadiah dan hukuman). Dasar Dan Teknik Instraksi Mengajar dan Belajar. Dan perlu melakukan perubahan yang bersifat sistemis bukan bersifat kosmetik . dan tekanan pada format “Saya-bicara-kau-mendengar” (yang juga dikenal sebagai teknik membosankan). satu-ukuran-untuk-semua. dan integrasi belajar yang lebih menyeluruh ke dalam segenap kehidupan organisasi. mengajak kita untuk memperbarui pendekatan kita terhadap pembelajaran untuk memenuhi tuntutan adanya dinamika kebudayaan yang bermetabolisme tinggi ini. Accelerated Learning (A. organis bukan sekedar mekanis. bahwa pembelajaran terutama bersifat verbal dan kognitif. FKIP-UNLA 2000. belajar adalah bekerja untuk menemukan cara-cara mempercepat dan mengoptimalkan belajar . Dimana Kita merasa bahwa itulah satu-satunya cara untuk mempersiapkan pelajar menjalani kehidupan yang kering dan membosankan Idealnya Belajar ditandai dengan keterlibatan penuh pembelajar. lamban. adanya kegembiraan dan kesenangan dalam belajar. Bandung 1993.

kesalingterkaitan. Lozanov mendapati bahwa dengan menenangkan pasien psikiatri dengan musik barok dan memberi mereka sugesti positif mengenai kesembuhan mereka. Keadaan sudah tidak seperti dahulu lagi. Kabar mengenai temuannya menyulut imajinasi guru bahasa dan pendidik di mana-mana. Tugas pendidikan dan pelatihan adalah mempersiapkan orang untuk menghadapi dunia yang relatif sederhana. statis. kita semua harus menjadi inovator. Dia merasa telah menemukan cara untuk melangkah masuk ke dalam sesuatu jauh di lubuk jiwa yng lebih dalam daripada kesadaran rasional. dan program belajar yang menyediakan lingkungan belajar yang kayapilihan dan cocok untuk seluruh gaya belajar. sugesti. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Accelarated Learning . Di setiap tingkatan. Yang dicari: membuat perilaku sejalan dengan produksi dan pemikiran rutin. tugas pendidikan dan pelatihan adalah mempersiapkan orang untuk hidup di dunia yang pasang surut. Pendekatan belajar ini mengharuskan penumpulan diri seseorang sepenuhnya. dan kita lamban menyadarinya. Belajar pada Abad Kesembilan Belas Cita-cita pendidikan abad kesembilan belas (yang masih mempengaruhi pemikiran banyak orang sekarang ini) adalah melatih orang dalam perilaku lahiriah yang didefinisikan secara sempit. Georgi Lozanov. yaitu dunia tempat setiap orang harus mengerahkan seluruh kekuatan pikiran dan hati mereka sepenuhnya dan bertindak berdasarkan kreativitas yang penuh kesadaran . (Dia menyebut ini “cadangan pikiran yang tersembunyi”. Kesulitannya sekarang adalah bahwa dunia semacam itu tidak ada lagi.) Lozanov merasa metode ini juga dapat diterapkan pada pendidikan. Bukannya menghasilkan manusia “fotokopi” seperti pada abad ke 19. Buku itu mengundang perhatian banyak pendidik dan guru yang sedang mencari pendekatan belajar yang lebih efektif. Dia mendapati bahwa kombinasi musik. Dengan disponsori pemerintah Bulgaria. agar dapat memperoleh hasil standar yang dapat diramalkan. Pendekatan Lozanov Pada 1970-an. kini kita harus menghasilkan “tokoh orisinal” yang dapat mengerahkan sepenuhnya energi mereka yang potensial dan menjanjikan. Kita harus membebaskan kecerdasan setiap orang yang unik dan bukan menindasnya atas nama staandardisasi atau “budaya perusahaan”. Lynn Schroeder dan Sheila Ostrander menerbitkan sebuah buku berjudul Superlearning yang mengemukakan karya psikiater Bulgaria. banyak pasien tersebut mengalami kemajuan besar. dan dapat diramalkan. dan permainan kanak-kanak memungkinkan pelajar untuk belajar jauh lebih cepat dan jauh lebih efektif.dan prestasi kelompok. Belajar pada Abad Kedua Puluh Satu Kini. dengan menggunakan bahasa asing sebagai materi subjek. dia mulai melakukan penelitian mengenai pengaruh musik dan sugesti positif pada pembelajaran. bukan sesuatu yang mudah diramalkan dan tidak membutuhkan pikiran. belajar sebagai aktivitas seluruh pikiran/tubuh.

dan gerakan Sekolah Summerhill di Inggris yang dipimpin oleh Alexander Sutherland Neill. 6. dan bersifat mengasuh pada aktivitas belajar. Ini telah menantang secara serius gagasan kita mengenai pendidikan dan pelatihan formal sebagai proses jalur perakitan atau ban-berjalan. Beberapa gerakan paralel pada abad ke-20 telah mendukung hidupnya berbagai pendekatan pendidikan alternatif: Gerakan Sekolah Progresif yang dimulai pada 1920an. Penelitian tentang gaya belajar menunjukkan orang belajar dalam cara yang berbeda-beda dan satu jenis belum tentu tepat untuk semua orang. dan Gerakan Sekolah Bebas pada 1960-an. dan “hidup”. telah mempertanyakan banyak asumsi lama kita mengenai pembelajaran. Lenyap sudah pendapat bahwa belajar itu semata-mata aktivitas verbal dan “kognitif”.L. metode. Gerakan Pendidikan Confluent yang dimulai pada 1940-an. 2. 2. diantaranya : 1. Pengetahuan bukanlah sesuatu . Penelitian mutakhir menunjukkan bahwa belajar yang paling baik melibatkan emosi. kolaboratif. linear. Runtuhnya Behaviorisme sebagai psikologi yang dominan dalam pembelajaran telah mendorong timbulnya keyakinan-keyakinan dan praktik-praktik yang lebih manusiawi dan holistis. Prinsip-prinsip Accelerated Learning. tetapi juga melibatkan seluruh tubuh/pikiran dengan segala emosi. Sekolah Waldorf oleh Rudolph Steiner. Ilmu kognitif modern. 3. terutama penelitian mengenai otak dan belajar. 4. indra. Belajar Melibatkan seluruh Pikiran dan Tubuh. Yang juga berpengaruh besar adalah Sekolah Montessori yang didirikan oleh Maria Montessori. semua indra. Kebudayaan dan keadaan di tempat kerja yang selalu berubah telah membuat banyak metode pendidikan dan pelatihan menjadi lamban dan usang dan telah membuka pintu bagi pendekatan alternatif. Tumbangnya pandangan-dunia Newtonian (bahwa alam bekerja seperti mesin. 5. Gerakan Pendidikan Humanistis yang dimulai pada 1950-an. secara otomatis patuh pada proses yang mandiri. Belajar adalah Berkreasi. langkah-demi-langkah) dan bangkitnya fisika kuantum telah memberi kita apresiasi baru terhadap kesalingterkaitan dari segala sesuatu dan terhadap hakikat realitas yang nonlinear. dan segenap kedalaman serta keluasaan pribadi (yang disebut oleh Lozanov “cadangan pikiran yang tersembunyi”). dan sarafnya. nonmekanistis. dan aplikasi A. memakai “otak kiri”. dan verbal). rasional. kreatif. seluruh tubuh. 7. 1.Banyak faktor lain telah memberikan sumbangan pada perkembangan yang mantap dan berlangsung terus-menerus dalam filosofi. Bukan Mengonsumsi. Belajar tidak hanya menggunakan “otak” (sadar. Evolusi yang berlangsung lambat laun (namun tidak sempurna) dari kebudayaan yang didominasi pria menjadi kebudayaan yang menyeimbangkan perasaan pria dan wanita memungkinkan berkembangnya pendekatan yang leih lembut.

dan cara memperhatikan kebutuhan konsumen dengan memperhatikan kebutuhannya. Semua usaha belajar yang baik mempunyai landasan sosial. Kita belajar berenang dengan berenang. Perasaan menentukan kualitas dan juga kuantitas belajar seseorang. menyakitkan. Emosi Positif Sangat Membantu Pembelajaran. cara menual dengan menjual. dan bersuasana muram tidak dapat mengungguli hasil belajar yang menyenangkan. Pengalaman yang nyata dan konkret dapat menjadi guru yang jauh lebih baik daripada sesuatu yang hipotetis dan abstrakasalkan di dalamnya tersedia peluang untuk terjun langsung secara total. jalan dalam sistem total otak/tubuh seseorang. Otak-Citra Menyerap Informasi secara Langsung dan Otomatis. Belajar paling baik adalah dalam konteks. Gambar konkret jauh lebih mudah ditangkap dan disimpan darpada abstraksi verbal. 3. Pembelajaran Berlangsung pada Banyak Tingkatan secara Simultan. melainkan prosesor paralel. Menerjemahkan abstraksi verbal menjadi berbagai jenis gambar konkret akan membuat abstraksi verbal itu bisa lebih cepat dipejari dan lebih mudah diingat. dan menarik hati. otak bukanlah prosesor berurutan. Sistem saraf manusia lebih merupakan prosesor citra darpada prosesor kata. merenung. Pembelajaran yang baik melibatkan orang pada banyak tingkatan secara simultan (sadar dan bawah-sadar. melainkan sesuatu yang diciptakan pembelajar. dan pola interaksi elektrokimia baru di dalam sistem otak/tubuh secara menyeluruh. Belajar Berasal dari Mengerjakan Pekerjaan Itu Sendiri (dengan Umpan Balik). Hal-hal yang dipelari secara terpisah akan sulit diingat dan mudah menguap. cara mengelola sesuatu dengan mengelolanya.Pd. dan otak akan berkembang pesat jika ia ditantang untuk melakukan banyak hal sekaligus 5. Pembelajaran terjadi ketika seorang pembelajar memadukan pengetahuan dan ketrampilan baru ke dalam struktur dirinya sendiri yang telah ada. melainkan menyerap banyak hal sekaligus.yang diserap oleh pembelajar. Persaingan di antara pembelajar memperlambat pembelajaran. mental dan fisik) dan memanfaatkan seluruh saraf reseptor. (dosen tetap pada Universitas Langlangbuana di Bandung). indra. Belajar bukan hanya menyerap satu hal kecil pada satu waktu secara linear. Belajar yang penuh tekanan. Perasaan negatif menghalangi belajar. dan menerjunkan diri kembali. Perasaan positif mempercepatnya. Kita biasanya belajar lebih banyak dengan berinteraksi dengan kawan-kawan daripada yang kita pelajari dengan cara lain manapun. Belajar secara harfiah adalah menciptakan makna baru. Suatu komunitas belajar selalu lebih baik hasilnya daripada beberapa individu yang belajar sendiri-sendiri. Bagaimanapun juga. S. Kerja Sama Membantu Proses Belajar. Aspek Ekonomi dalam Pendidikan Ditulis oleh Cucu Lisnawati Penulis: Cucu Lisnawati. 6. jaringan saraf baru. cara bernyanyi dengan bernyanyi. Kerja sama di antara mereka mempercepatnya. 7. 4. . mendapatkan umpan balik. santai.

jawaban atas pertanyaan tersebut dapat digambarkan berikut ini. Untuk menjawab hal tersebut di atas. yang secara jangka panjang kontribusinya dapat dirasakan. Dengan demikian. Ahli-ahli ekonomi mengembangkan teori pembangunan yang didasari kepada kapasitas produksi tenaga manusia di dalam proses pembangunan. pembiayaan dalam pendidikan. Konsep pembangunan dalam bidang sosial ekonomi sangat beragam tergantung konteks pengggunaanya. Baik secara langsung maupun tidak langsung. pendidikan harus dipandang sebagai investasi. A. kontribusi pendidikan terhadap ekonomi dan pembangunan harus diakui. yang kemudian dikenal dengan istilah Invesment in Human Capital. Sudah saatnya. Teori ini didasari pertimbangan bahwa cara yang paling efisien dalam melakukan pembangunan nasional suatu negara terletak pada peningkatan kemampuan masyarakatnya. Ukuran-ukuran Kontribusi Pendidikan Terhadap Pembangunan dan Pertumbuhan Ekonomi Bagaimanakan keterkaitan pendidikan dan pertumbuhan ekonomi? Secara sederhana. investasi dalam pendidikan.Abstrak: Masalah pendidikan sebenarnya tidak dapat dilepaskan dari masalah ekonomi. tidak selamanya pendidikan dianggap sebagai konsumsi atau pembiayaan. Selain itu dihipotesiskan pula bahwa faktor utama yang mendukung . Kata Kunci: Ekonomi pendidikan. kita tidak dapat melepaskan diri dari masalah pembangunan.

Sekolah memang dapat menghasilkan tenaga kerja dengan keterampilan tertentu. Sumber daya manusis seperti itu dihasilkan melalui proses pendidikan. Peningkatan dalam efisiensi sistem produksi masyarakat yang diukur dengan GDP dan GNP. Terdapat berbagai macam faktor untuk mengukur bagaimana pertumbuhan ekonomi diukur dengan baik. Konsumsi energi atau pemakaian barang berteknologi tinggi seperti mobil. 6. Namun demikian pada kenyataannya tingat pengangguran di hampir seluruh negara bertambah sekitar 2 % setiap tahunnya (World Bank:1980) Terjadinya pengangguran bukan disebabkan tidak berhasilnya proses pendidikan. yaitu 1. telepon. Hal inilah yang menyebabkan teori human capital percaya bahwa investasi dalam pendidikan sebagai investasi dalam meningkatkan produktivitas masyarakat. televisi Dengan demikian kriteria untuk menilai keberhasilan pembangunan: 4. Dengan kata lain.pembangunan adalah pendidikan masyarakat. Pendapatan per-kapita 2. Kepuasaan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat. pendidikan menyiapkan tenaga-tenaga yang siap bekerja. yang dikaitkan dengan penggunakan sumber daya yang terbatas. Asumsi dasar yang melandasi keharusan adanya hubungan pendidikan dengan penyiapan tenaga kerja adalah bahwa pendidikan diselenggarakan untuk meningkatkan keterampilan dan pengatahuan untuk bekerja. dan 2. Adannya sumber daya manusia yang dapat memanfaatkan teknologi yang ada. Perubahan peta ketenagakerjaan dari pertanian ke industri 3. Pola keterkaitan antara pendidikan dan pembangunan berbeda sesuai dengan . Adanya pemanfaatan teknologi tinggi secara efisien. tetapi sekolah bukan satu-satunya tempat dimana keterampilan itu dapat dicapai. namun pendidikan tidak selalu harus menghasilkan lulusan dengan jenis pekerjaan tertentu. diantaranya: 1. Diantara ukuran-ukuran tersebut. Teori human capital mengasumsikan bahwa pendidikan formal merupakan instrumen terpenting untuk menghasilkan masyarakat yang memiliki produktifitas yang tinggi. Menurut teori ini pertumbuhan dan pembangunan memiliki 2 syarat. Pencapaian tujuan-tujuan oleh berbagai kelompok dalam masyarakat. 5.

Di Amerika Serikat yang sudah maju. Berdasarkan hal tersebut di atas. Di negara maju. Pendapatan per-kapita 3. Ekonomi di negara sosialis. Analisis terhadap pendidikan biasanya bersifat ex-post fakto. Ekonomi di negara kapitalis mengasumsikan bahwa model produksinya bebas dari intervensi pemerintah dan mensyaratkan adanya kompetisi terbuka di dalam pemasaran. Dari uraian di atas. artinya data diperoleh dari kejadian-kejadian yang telah lampau. Teknologi tinggi dan sumberdaya yang mengoperasikannya 2. penduduknya memiliki pendapatan perkapita yang lebih tinggi. maka dapatlah dirumuskan ukuran-ukuran sebagai berikut. bukan ditentukan oleh masing-masing warga negara. Secara ringkas tampak berikut ini. Sebenarnya konsep bagaimana pendidikan itu harus dievaluasi harus dikembangkan sejak tujuannya ditetapkan. Di negara non-industri. Perubahan peta ketenagakerjaan dari pertanian ke industri 4. Di Meksiko persentase di sektor yang sama adalah 23 % dan 33 %. 1. Metode yang sering dipakai dalam penelitian evaluasi adalahl linear regresion and the educational production. Negara Kapitalis vs Negara Sosialis.karakteristik khas setiap negara. persentase pekerja yang bekerja di sektor industri sebesar 33 % dan di bidang jasa/service sebesar 66 %. memiliki konteks yang berbeda dalam mengitepretasikan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan. pemakaian teknologi yang canggih. Hubungan antara pendidikan dan pertumbuhan ekonomi sangat erat dan pendidikan merupakan suatu hal yang diperlukan. Negara Industri vs Non-Industri. perekonomiannya sangat tergantung kepada sektor pertanian sehingga persentase tenaga kerjanya lebih banyak yang bekerja di sektor non-industri. Konsumsi energi atau pemakaian barang berteknologi tinggi . Jelas bagaimana pentingnya analisis kontribusi pendidikan dalam pembangunan. Hubungan antara pendidikan dan pembangunan di negara maju sangat jelas dilihat dari adanya perubahan karakteristik individu yang berkaitan dengan tingkat pertumbuhan ekonomi. sebagai akibat dari kelebihan pendapatan setelah dikurangi kebutuhan konsumsi. Pemerintah memiliki peranan di dalam mengontrol jalannya proses produksi dan pemasaran. Kaitan antara pendidikan dengan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan seolah tidak terlihat karena pembangunan sangat diatur oleh negara. maka untuk membicarakan lebih lanjut kontribusi pendidikan terhadap pembangunan harus ditemukan kriteria-kriteria atau ukuranukuran pertumbuhan atau hasil pembangunan. Salah satu alasan banyaknya kontroversi tentang kaitan antara pembangunan dan pendidikan disebabkan karena sedikit sekali kebijakan pendidikan yang dimonitor benar-benar dan juga dievaluasi hasilnya. Di negara maju memiliki akumulasi modal yang lebih besar. 2. konsumsi energi yang lebih besar dibandingkan negara kurang berkembang. 1. dengan memperhatikan kerangka berpikirnya dan metodologinya. sehingga jumlah tabungan semakin lebih besar dan pada akhirnya akan diinvestasikan lagi pada sistem ekonomi yang telah berjalan.

pendidikan non formal (luar sekolah) dan sebagainya hanya merupakan modus operandi dari proses pendidikan. Oleh sebab itu maka hasil pendidikan akan menjadi sumber daya manusia yang sangat berguna dalam pembangunan suatu negara. maka untuk mengetahui keterkaitan antara pendidikan dan pembangunan diperlukan data sebagai berikut. Pendidikan di sini dimaksud untuk meningkatkan martabat manusia agar mempunyai ketermapilan dan kemampuan sehinggan produktivitasnya meningkat. Arrow (1962) mengemuikakan bahwa istilah investasi atau investment merupakan alokasi current resources yang mempunyai alternatif produktif yang berguna untuk pelaksanaan kegiatan yang dapat menambah keuntungan yang diperoleh di masa yang akan datang. Sementara itu pendidikan merupakan usaha manusia untuk membangun manusia itu sendiri dengan segala masalah dan spektrumnya yang terlepas dari dimensi waktu dan ruang. Peningkatan dalam efisiensi sistem produksi masyarakat yang diukur dengan GDP dan GNP 6. Biaya atau cost suatu investasi merupakan keuntungan yang diperoleh dibagi dengan penggunaan sumber daya dalam berbagai kegiatan lain. Pendidikan. Pendapatan Domestik Bruto. artinya melalaui pendidikan dihasilkan manusia-manusia yang mempunyai kemampuan dan keterampilan yang sangat diperlukan bagi perekonomian suatu negara untuk meningkatkan pendapatanindividu dan pendapatan nasional.5. Konsumsi energi A. baik dalam bentuk Pendapatan Nasional Bruto. Hal ini berarti bahwa inti pendidikan itu adalah pembelajaran seumur hidup (life long learning). sementara bentuk pendidikan formal. Konsep Investasi dalam Pendidikan Investasi berarti penanaman modal atau uang. 1. Kenneth J. Dengan demikian maka investasi dalam . Investasi dalam pendidikan merupakan penanaman modal dengan cara mengalokasikan biaya untuk penyelenggaraan pendidikan serta mengambil keuntungan dari sumber daya manusia yang dihasilkan melalui pendidikan itu. Modal atau uang yang ditanamkan bertujuan untuk mendapatkan keuntungan. maupun Pendapatan Perkapita 3. Pencapaian tujuan-tujuan oleh berbagai kelompok dalam masyarakat. Perubahan peta ketenagakerjaan. yang dikaitkan dengan penggunakan sumber daya yang terbatas. yang meliputi partisipasi pendidikan untuk setiap jenis dan jenjang pendidikan 2. Dengan demikian jelas bahwa investasi merupakan penanaman modal atau uang yang sengaja dilakukan untuk mendatangkan keuntungan melalui produk yang dihasilkan. Kepuasaan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat 7. baik berupa uang atau modal maupun dalam bentuk barang atau jasa. dengan rentangan pertanian-jasa-industri 4. Dalam konteks ini pendidikan ini diapandang sebagai industri pembalajaran manusia. Berdasarkan ukuran tersebut di atas. Pendapatan nasional.

terutama dalam hal-hal berikut: 1. yaitu: 1. Proses belajar mengajar menjamin masyarakat yang terbuka (yaitu masyarakat yang senantiasa beresedia untuk mempertimbangkan gagasan-gagasan dan harapanharapan baru serta menerima sikap dan proses baru tanpa harus mengorbankan dirinya). Investasi pendidikan dapat mempertahankan keutuhan dan secara konstan menambah persediaan pengetahuan dan memungkinkan riset dan penemuan metode serta teknik baru yang berkelanjutan. Human capital di sini merujuk pada tenaga kerja sebagai suatu faktor produksi yang menghubungkan aspek non-ekonomi pendidikan terhadap aspek ekonomi lainnya yang mempunya dua ciri esensial. Lebih lanjut dikemukakannya bahwa ada model investasi dalam bentuk sumber daya manusia yang secara langsung atau tidak melakukan hubungan antara indikator pendidikan di satu pihak dan indikator ekonomi di lain pihak. 1991: 14). Investasi dalam pendidikan memusatkan perhatian pada manusia sebagai sumber daya yang akan menjadi modal (human capital) bagai capital (Gary S. Backer. kecuali bila struktur sosial yang hidup dalam masyarakat tersebut tidak menguntungkan. Sistem pendidikan menyiapkan landasan yang tepat bagai pembangunan dan hasilhasil rises (jaminan melekat untuk pertumbuhan masyarakat modern yang berkesinambungan). Model yang dimaksudkan adalah model analisis biaya dan keuntunganpendidikan (cost benefit analysis). Sistem pendidikan menciptakan dan mempertahankan penawaran ketermapilan manusia di pasar pemburuhan yang luwes dan mampu mengakomodasi dan beradaptasi dalam hubungannya dengan perubahan kebutuhan akan tenaga kerja dan masyarakat teknologi modern yang sedang berubah (Komaruddin. melainkan keuntungan bagi pribagi yang menerima pendidikan dan bagi negara. Dalam kaitan ini. Model ini merupakan metodologi yang sangat penting dalam melakukan analisis untuk investasi pendidikan dan dapat membantu pengambilan keputusan untuk . Kemampuan tenaga kerja tersebut tidak dapat dipindahkan kepada orang lain. 2. kualitas manusia dan pendapatan nasional. Sebagai fungsi investasi. maka investasi dalam sektor pendidikan akan menaikan pendapatan perkapita dalam sektor tersebut.pendidikan mempunyai jangka waktu yang panjang untuk dapat mengetahui hasilnya dan hasilnya itupun tidak dalam bentuk keuntungan lansung. pengetahuan dan produktivitas kerjanya. pendidikan memberikan sumbangan yang berarti dalam kenaikan tingkat kehidupan. Kualitas tenaga kerja sebagai suatu input produktif tidak dapat dibagi dan digunakan secara terpisah. 2. 3. 1962) berkenaan dengan kegiatan-kegiatan yang mempengaruhi real income masa yang akan datang melalui penempatan sumber daya dalam bentuk manusia. 4. Ace Suryadi (1991) mengungkapkan bahwa menurut teori human capital yang tercermin dalam keterampilan. Apabila dalam setiap sektor ekonomi kita dapatkan segala faktor yang dibutuhkan masyarakat kecuali tenaga kerja yang terampil.

Intervensi terhadap fungsi konsumsi dilakukan melalui peningkatan produktivitas kerja yang akan mendorong peningkatan pendapatan. Sementra itu Vaizey (1962) melihat pendidikan menjdi sumber utama bakat-bakat terampil dan terlatih. Prediksi ketenagakerjaan sebagai dasar dalam perencanaan pendidikan harus mengikuti pertumbuhan ekonomi yang ada kaitannya dengan kebijaksanaan sosial ekonomi dari pemerintah. yang secara langsung akan meningkatakan pendapatan nasional. B. pendidikan perlu mengantisipasi kebutuhan. dan low management.memutuskan danmemilih diantara alternatif alokasi sumber-sumber pendidikan yang terbatas agar mampu memberikan kemampuan yang paling tinggi. dan menjadi lebih siap latih dalam pekerjaannya yang akan memacu tingkat produktivitas tenaga kerja. Intervensi pendidikan terhadap ekonomi merupakan upaya penyiapan pelaku-pelaku ekonomi dalam melasnakan fungsi-fungsi produksi. Peningkatan pendapatan ini akan mendorong pada peningkatan fungsi konsusmsi. Tyler (1977) mengungkapkan bahwa pendidikan dapat meningkatkan produktivitas kerja seseorang. Ini harus menjadi dasar untuk perencanaan pendidikan. distribusi. Peningkatan pendapatan ini berpengaruh pula kepada pendapatan nasional negara yang bersangkutan. untuk kemudian akan meningkatkan pendapatan dan taraf hidup masyarakat berpendapatan rendah. Pendidikan memegang peran penting dalam penyediddan tenaga kerja. Bentuk intervensi lain yaitu menciptakan teknologi baru dan menyiapkan orang-orang yang menggunakannya. Di samping tenaga kerja. atau secara ekstrim tenagra kerja krah biru dan krah putih. yang ditunjukan dengan meningkatnya jumlah tabuhan yang berasal dari pendapatan yang disisihkan. Jones melihat. korelasi antara pendidikan dengan pendapatan tampak lebih signifikan di negara yang sedang membngun. yang kemudia akanmeningkatakan pendapatannya. Program-program perluasan produksi melalui intensifikasi dan rasionalisasi merupakan salah satu wujud nyata dari peran prangata pendidikan atas fungsi produksi ini. bahwa pendidikan memiliki suatu kemampuan untuk menyiapkan siswa menjadi tenaga kerja potensial. Tabungan ini akan menjadi investasi . Intervensi terhadap fungsi distribusi adalah melalui pengembangan research and development produk yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan masyarakat atau konsumen. midle. juga pendidikan mengintervensi produksi untuk penyediaan entrepreneur tangguh yang mampu mengambil resiko dalam inovasi teknologi produksi. karena pranata ekonomi membutuhkan tenaga-tenga terdidik dan terlatih. Oleh karena itu. Intervensi terhadap fungsi produksi berupa penyediaan tenaga kerja untuk berbagai tingkatan yaitu top. Sementara itu Jones (1984) melihat pendidikan sebagai alat untuk menyiapkan tenaga kerja terdidik dan terlatih yang sangat dibutuhkan dalam pertumbuhan ekonomi suatu negara. Menurutnya. Permasalahan yang dihadapai adalah jarang ada ekuivalensiyang kuat antara pekerjaan dan pendidikan yang dibutuhkan yang mengakibatkan munculnya pengangguran terdidik dant erlatih. dan konsumsi. Pendidikan dan Pertumbungan Ekonomi Mungkinkah ada intervensi pendidikan terhadap pertumbuhan ekonomi? Pendidikan memiliki daya dukung yang representatif atas pertumbuhan ekonomi. Ia harus mampu memprediksi dan mengantisipasi kualifikasi pengetahuan dan keterampilan tenaga kerja.

Ini mengimplikasikan perlunya pembenahan yang serius pada wilayah moral. Meningkatkan produktivitas kerja dan konsekuensinya terhadap pendapatan 2. sekolah maupun masyarakat. . Elly Retnaningrum. Pemikiran ini muncul pada era industrialisasi dalam masayarkaat modern. dan 2. Pendidikan merupakan suatu bentuk investasi nasional untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang dibutuhkan dalam pertumbuhan ekonomi modern. Investasi pendidikan diharapkan menghasilkan suatu peningkatan kesejahteraan dan kesempatan yang lebih luas dalam kehidupan nyata. Meningkatakan suplai tenaga kerja dengan keahlian tinggi dan konsekuensinya terhadap rendahnya gaji mereka. pendidikan dalam keluarga. menginkatkan tingkat pendidikan pekerja berpenghasilan rendah akan memberikan tiga pengaruh positif. Salah satu aspek yang subtansial adalah pengenalan dan penanaman nilai-nilai kebenaran dan kesalahan atau kebaikan dan keburukan yang terdapat dalam suatu tindakan. Pemikiran ini didasarkan pada anggapan bahwa pendidikan merupakan human capital. baik di keluarga. tingkat pendidikan. Menciptakan kekurangan pekerja berkeahlian rendah dengan konsekuensi mengingkatkan gaji pekerja golongan ini.Pd. yaitu: 1. yaitu: 1.kapital yang tentunya akan lebih mempercepat laju pertumbuhan ekonomi suatu negara. Argumen ini memiliki dua sepek. M. dan 3. terbentuknya mentalitas dan moralitas yang dilandasi ketidakdewasaan perilaku sosial psikologis. Pendidikan dan Konflik Sosial Ditulis oleh Elly Retnaningrum Penulis: Dra. C. Hj. Dan ini bisa dilakukan melalui pendidikan. Sebagai ilustrasi. Kata Kunci: Konflik sosial. Pendidikan dan Pekerjaan Ukuran yang paling populer dalam melihat kontribusi pendidikan terhadap pertumbuhan ekonomi adalah mempertautkan antara pendidikan dengan pekerjaan. Abstrak: Sebagian dari akar permasalahan dari konflik sosial adalah kondisi sosialekonomi-politik. lingkungan yang ada dalam masyarakat itu sendiri kurang kondusif. tingkat pendalaman agama. yang berujung pada bentrokan fisik dengan atau tanpa senjata. (dosen tetap pada Universitas Langlangbuana di Bandung). Pertentangan antar kelompok masyarakat telah menjurus pada gejala-gejala disintegrasi bangsa. Kondisi yang digambarkan tersebut menggiring ke arah perlunya mempedulikan persoalan moralitas secara lebih serius.

Maraknya konflik sosial yang terjadi mengisyaratkan adanya sesuatu yang salah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita. bukankah jumlah orang yang menjalankan perintah agamanya masing-masing relatif lebih tinggi apabila dibandingkan dengan yang tidak? Apakah kegiatan spiritual yang selama ini marak tidak lebih dari seremonial ritual tanpa pendalaman hakikat? Tidak mudah memang menjawab sederet pertanyaan tersebut. Kedua. Ini sungguh ironis terjadi dalam masyarakat yang berfalsafah hidup Pancasila. tingkat pendalaman agama yang lebih mengutamakan dimensi ritual seremonial telah menyebabkan kurang terinternalisasikannya nilai-nilai keagamaan dalam pribadi kolektif masyarakat. yang hingga saat ini nampaknya masih belum beranjak dari masa transisi.Ini telah menjadi 'cara pemecahan masalah' bagi sebagian masyarakat di negeri yang sesungguhnya sangat menjunjung tinggi rasa kemanusiaan serta persatuan dan kesatuan bangsa. Tapi setidaknya kita dapat mengkaji kemungkinan yang memicu kejadian-kejadian yang mencoreng muka bangsa Indonesia di mata dunia internasional itu. kondisi ini mengakibatkan munculnya . baik kepentingan yang berhubungan dengan karir atau petualangan politik maupun sekadar keuntungan ekonomi. Bukankah kegiatan-kegiatan yang sifatnya spiritual dapat dikatakan marak dan frekuensinya cukup tinggi? Apabila dilihat secara sepintas. beberapa asumsi dapat diketengahkan untuk lebih memahami akar permasalahannya. Akar permasalahan Mencermati pelbagai konflik sosial yang merebak belakangan ini. Pertama. yang apabila dirunut lebih lanjut akan bermuara pada kegagalan praksis pendidikan dalam masyarakat. Apalagi ada pihak-pihak tertentu yang "mengobok-obok" dengan memancing di air keruh memanfaatkan situasi sesuai dengan kepentingan primordialnya. dari perspektif pendidikan selalu terlontar pertanyaan: adakah kaitan antara pelbagai pertentangan antarkelompok masyarakat itu-. Ketiga.dengan tingkat pendidikan masyarakat? Mengapa sebagian masyarakat mudah sekali tersulut isu-isu yang tidak tidak dapat dijamin kesahihannya? Apakah ini bertemali erat dengan tingkat pendidikan masyarakat? Rasanya memang kita sulit untuk percaya semua itu dapat terjadi. Sambas. Lebih jauh. atau "perang" antarpelajar di Bogor belakangan ini telah menorehkan guratan luka psikologis-sosial dalam lintasan sejarah peradaban masyarakat Indonesia pasca Orde Baru. Tatkala kerusuhan bermunculan di pelbagai kawasan nusantara ini. Konflik sosial yang telah mengorbankan nyawa dan harta benda seperti yang terjadi di Ambon. tingkat pendidikan sebagian masyarakat yang kurang menyebabkan mudah sekali tersulut isu-isu yang tidak bertanggung jawab dan provokasi-provokasi (baik yang terorganisir maupun yang spontan) dari pihak-pihak yang memanfaatkan situasi untuk memecah belah dan mengambil keuntungan politis dari situasi itu.baik yang bernuansa SARA maupun tidak-. kondisi sosial-ekonomi-politik yang sudah menjurus pada chaos telah membentuk sikap dan perilaku masyarakat yang sulit diduga.

baik di lingkungan keluarga. Antisipasi Kondisi yang digambarkan tersebut menggiring ke arah perlunya mempedulikan persoalan moralitas secara lebih serius. Keempat. lingkungan yang ada dalam masyarakat itu sendiri kurang kondusif untuk memberikan ajaran moral kepada individu-individu yang menjadi anggotanya. Ini mengimplikasikan perlunya pembenahan yang serius pada wilayah moral. Kelima. Hal ini mengingat telah tergerusnya nilai-nilai kebenaran dengan pelbagai pertimbangan lain yang menyebabkan adanya ketakutan untuk menyuarakan kebenaran itu. Ini bisa diperkuat di sekolah. Hanya karena isu yang tidak jelas bisa menyulut gerakan massa yang menjurus pada perilaku destruktif yang merongrong kamtibmas. Salah satu aspek yang subtansial adalah pengenalan dan penanaman nilai-nilai kebenaran dan kesalahan atau kebaikan dan keburukan yang terdapat dalam suatu tindakan. Fungsi guru dalam konteks ini adalah sebagai pendidik moral bagi murid-muridnya agar dapat berpihak pada kebenaran dan keharmonisan hidup antarsesama. memupuk keberanian untuk mengutarakan kebenaran dan mengulurkan tangan pada yang membutuhkan pertolongan agaknya perlu menjadi prioritas. masyarakat mudah sekali menghujat kesalahan orang lain hanya berdasarkan isu-isu bahwa tokoh yang bersangkutan adalah figur yang memang layak dihujat. . sekolah. ketiga kondisi tersebut pada gilirannya menggiring ke arah terbentuknya mentalitas dan moralitas yang dilandasi ketidakdewasaan perilaku sosial psikologis. Ini mengisyaratkan perlunya penelusuran akar permasalahan yang mendasari peristiwa-peristiwa sejenis. Untuk mengantisipasi kondisi itu. menghilangkan nyawa orang lain. serta masyarakat. Dan yang lebih mendasar.fanatisme berlebihan atau justru fanatisme semu yang seolah-olah membela kepentingan agama tetapi sesungguhnya yang dibela adalah kepentingan diri sendiri yang jauh dari ajaran agama. Misalnya. Akibat lebih jauh adalah keengganan mengulurkan bantuan karena telah tumpulnya rasa solidaritas sosial serempak dengan makin mengedepannya pertimbangan untung-rugi. yang setiap saat dapat muncul dimana saja dan kapan saja. Sejalan dengan perubahan yang sangat cepat dalam pelbagai dimensi kehidupan belakangan ini. merusak fasilitas umum. di lingkungan keluarga para orang tua dan orang dewasa perlu memfungsikan dirinya untuk memupuk keberanian anak dengan mengkondisikannya pada situasi yang memungkinkan anak mengemukakan pendapatnya tanpa kendala hirarki yang berlebihan. Mengendurnya kontrol sosial serta langkanya figur yang dapat dijadikan panutan perilaku yang berlandaskan pada kebenaran agaknya dapat dijadikan sebagai salah satu alasan untuk lebih mempedulikan pendidikan moral. perlu juga dibiasakan untuk secara langsung mempraktikkan kegiatan-kegiatan yang sifatnya sosial. yang tidak jarang memunculkan konflik kepentingan dan konflik sosial dalam arti luas. maka penguatan landasan moral menjadi kebutuhan utama. dan semacamnya. Selain itu.

Erman Suherman. yaitu mengkondisikan siswa agar belajar aktif sehingga potensi dirinya (kognitif. Guru terlibat dalam kegiatan pengajaran yang secara erat berkaitan dengan penanaman nilai-nilai moral yang sesuai dengan standar perilaku yang umum diakui sebagai kebenaran. tidak saja dalam situasi pengajaran yang formal. Kondisi seperti ini mengisyaratkan belum maksimalnya fungsi keluarga. adalah dosen tetap pada FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia di Bandung Abstrak: Tugas utama guru adalah membelajarkan siswa. afektif. banyak sekali standar perilaku yang dapat dijadikan sebagai pelajaran moral bagi siapa saja. akan terlatih dan terbentuk kompetensi yaitu kemampuan siswa untuk melakukan sesuatu yang sifatnya positif yang pada akhirnya akan membentuk life skill sebagai bekal hidup dan penghidupannya. dan masyarakat dalam menanamkan nilai-nilai moral. Dengan belajar aktif.Demikianlah. Standar ini dapat diajarkan dan dipelajari dalam pelbagai situasi. lingkungan pendidikan membentuk perilaku peserta didik untuk melakukan sosialisasi di masyarakat agar dapat meminimalkan atau bahkan meniadakan terjadinya konflik sosial. Berbagai tindak penyimpangan. melalui partisipasi dalam setiap kegiatan pembelajaran. dan konatif) dapat berkembang dengan maksimal. Pernyataan tersebut mengisyaratkan bahwa praksis pendidikan amat menentukan dalam pembemntukan perilaku masyarakat. sekolah. secara langsung maupun tidak langsung. Ini mengisyaratkan bahwa melalui pendidikan yang baik dapat dibentuk manusia-manusia yang setia pada rel moralitas religius yang dijadikan sebagai sandaran setiap perilaku serta tidak mudah terhasut desas-desus sehingga mengakibatkan konflik sosial. MODEL BELAJAR DAN PEMBELAJARAN BERORIENTASI KOMPETENSI SISWA Ditulis oleh Erman S.Pd. dan ras dapat dihindarkan. M. Untuk itu. kekerasan. agama. sedangkan model pembelajaran akan membahas tentang . dan pemaksaan kehendak dari satu pihak ke pihak lain. Ia sekaligus dapat dipergunakan sebagai instrumen untuk mengembangkan nilai moral dan etika sosial yang selaras dengan tuntutan perkembangan peradaban tetapi tetap mengacu pada nilai-nilai religi dan nilai-nilai kemasyarakatan. Drs. Model belajar akan membahas bagaimana cara siswa belajar. Dalam situasi sehari-hari. guru seyogianya mengetahui bagaimana cara siswa belajar dan menguasai berbagai cara membelajarkan siswa. pembenahan yang mendasar pada cara-cara dan juga materi pendidikan moral dalam lingkungan keluarga dan masyarakat merupakan kebutuhan mendesak yang semestinya mendapatkan prioritas untuk mengantisipasi perilaku masyarakat yang menyimpang dari nilai-nilai moral. Hal-hal apa saja yang dilakukan oleh seseorang tatkala menghadapi situasi tertentu pada hakikatnya sudah merupakan pertimbangan moral yang paling mendasar. serta konflik sosial pada umumnya menunjukkan adanya persoalan moralitas yang cukup serius. Agar hal tersebut di atas dapat terwujud. Manakala praksis pendidikan (tidak hanya di sekolah) dapat difungsikan untuk penanaman nilai moral yang menghargai keberadaan orang lain dapat diwujudkan dan etika sosial yang mengedepankan kewajiban dan tanggung jawab manusia selaku manusia yang saling mengasihi dapat terbina maka prasangka etnis. Ar. H.

kompetensi. ini berarti bahwa guru sebagai sutradara dan siswa menjadi pemain. Pendahuluan Kurikulum 2004 berbasis kompetensi (KBK). Paradigma lama masih melekat karena kebiasaan yang susah diubah. mereka sangat sibuk untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. mereka sudah merasa enjoy dengan kondisi menerima dan tidak biasa memberi. semoga dengan sajian sederhana ini dapat dijadikan bekal untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran. potensi siswa. . Kata Kunci: model belajar. guru masih menjadi pemain dan siswa penonton. tuntutan KBK. dan guru itu sendiri. mengubah paradigma mengajar menjadi membelajarkan. pada pihak siswa. Mereka bukan tidak mau meningkatkan kualitas pemebelajaran. jadi guru memfasilitasi aktivitas siswa dalam mengembangkan kompetensinya sehingga memiliki kecakapan hidup (life skill) untuk bekal hidup dan penghidupannya sebagai insan mandiri. Hal ini tampak pada RPP yang dibuat oleh guru dan dari cara guru mengajar di kelas masih tetap menggunakan cara lama. Tulisan ini membahas tentang kompetensi siswa sesuai tuntutan kurikulum untuk sekedar mengingatkan. suasana belajar A. dan memang itu kewajiban utama. telah berlaku selama 4 tahun dan semestinya dilaksanakan secara utuh pada setiap sekolah. yang diperbaharui dengan Kurikulum 2006 (KTSP). pelaksanaan pembelajaran di sekolah. tetapi situasi dan kondisi kurang memungkinkan. model-model belajar agar memahami benar bagaimana siswa belajar yang efektif. yaitu dominan menggunakan metode ceramah-ekspositori. yang saya hormati dan saya banggakan. sehingga kualitas amal sholehnya melalui profesi guru menjadi meningkat pula. Guru masih dominan dan siswa resisten. untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan. fasilitas. pada penyusunan RPP menggunakan istilah skenario pembelajaran untuk pelaksanaan pembelajaran di kelas. model pembelajaran. Padahal. Karena penghargaan terhadap profesi guru sangat minim. karena kebiasaan menjadi penonton dalam kelas. mudah-mudahan kebiasaan murid yang bersifat pasif sedikit demi sedikit akan berubah pula menjadi aktif. Namun pada kenyataannya. Demikian pula. masih kurang memperhatikan ketercapaian kompetensi siswa. kondisi ini kemungkinan disebabkan karena pengetahuan guru yang masih terbatas tentang bagaimana siswa belajar dan bagaimana cara membelajarkan siswa. Selain dari karena kebiasaan yang sudah melekat mendarah daging dan sukar diubah.bagaimana cara membelajarkan siswa dengan berbagai variasinya sehingga terhindar dari rasa bosan dan tercipta suasana belajar yang nyaman dan menyenangkan. apalagi untuk membeli buku pembelajaran yang inovatif. materi. sehingga misi KBK dapat terwujud. Permasalahannya adalah bagaimana mengubah kebiasaan prilaku guru dalam kelas. dan model pembelajaran yang bisa dipilih dan digunakan sesuai dengan situasi dan kondisi siswa. paradigma mengajar masih tetap dipertahankan dan belum berubah menjadi peradigma membelajarkan siswa. Dengan paradigma yang berubah. Tulisan sederhana ini sengaja dibuat untuk para guru. boro-boro sempat waktu untuk membaca buku yang aktual. guru aktif dan siswa pasif. life skill.

C. empati). kata kunci). pemecahan masalah). pengendalian impulsi. kreativitas. yang pada tahap selanjutnya menjadi kecakapan hidup (life skill). prilaku). analisis. dan pengendalian diri disebut dengan soft skill. Dengan perkataan lain. sosialisasi. yang berkontribusi sukses individu sebesar 60%. guru (kita) bisa menyesuaikan pelaksanaan pembelajaran dengan kondisi siswa. Kompetensi siswa yang harus dimilki selama proses dan sesudah pembelajaran adalah kemampuan kognitif (pemahaman. aplikasi. inkuiri. kecakapan hidup. Istilah psikologi kontemporer.B. dan tidak sebaliknya. baik di kelas ataupun dalam kehidupannya sehari-hari antar sesama temannya atau orang yang lebih tua. dan kemampuan psikomotorik (sosialisasi dan kepribadian yang mencakup kemampuan argumentasi. atau mendengar tentang sesuatu hal berbentuk hubungan fungsional antar bagian (konsep. yaitu membekali siswa untuk bisa hidup mandiri kelak setelah ia dewasa tanpa tergantung pada orang lain. pengelolaan suasana hati. observasi. identifikasi. tidak parsial terpisah satu . yang berkontribusi terhadap sukses individu sebesar 40 % . karena ia telah memiliki komptensi. memaknai dan memanfaatkan materi pelajaran yang telah dipelajarinya. investigasi. Sedangkan kompetensi lainnya yang berkenaan dengan afektif dan psikomotorik yang berkaitan dengan kemampuan kepribadian. generalisasi. kemampuan afektif (pengendalian diri yang mencakup kesadaran diri. Inilah hakikat pembelajaran. kompetensi / kecakapan yang berkaitan dengan kemampuan profesional (akademik. bagaimana siswa belajar? Dengan memahami uraian ini. penalaran. Kompetensi Siswa Kompetensi (competency) adalah kata baru dalam bahasa Indonesia yang artinya setara dengan kemampuan atau pangabisa dalam bahasa Sunda. Siswa yang telah memiliki kompetensi mengandung arti bahwa siswa telah memahami. terutama kognitif) disebut dengan hard skill. Bukankah pemberian harus diselaraskan dengan mereka yang akan menerima pemberian sehingga dapat bermanfaat secara optimal. presentasi. eksplorasi. konjektur. Ada berbagai model belajar yang akan dibahas. yaitu: 1. Peta Pikiran Buzan (1993) mengemukakan bahwa otak manusia bekerja mengolah informasi melalui mengamati. Model-model Belajar Uraian berikut ini adalah untuk menjawab pertanyaan. Dengan memahami model-model belajar ini. Model-model belajar yang dimaksud pada judul di atas adalah berbagai cara-gaya belajar siswa dalam aktivitas pembelajaran. Suatu informasi yang sangat penting dan sekaligus peringatan bagi kita semua. membaca. koneksi. diharapkan para guru (kita semua) dapat membelajarkan siswa secara efisien sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif. ia telah bisa melakukan (psikomotorik) sesuatu berdasarkan ilmu yang telah dimilikinya. komunikasi. Dengan demikian belajar tidak cukup hanya sampai mengetahui dan memahami. motivasi aktivitas positif. hipotesis.

misalnya ambil satu materi dalam pelajaran Matematika. Silakan buat (tulis-gambar) peta pikiran yang terlintas kemudian narasikan secara lisan. Hindun. mudah diingat dan dikembangkan pada konsep lainnya. Selanjutnya. mengobrol atau bercanda tanpa makna. misal kenakalan atau lamunan. Sebagai contoh. kocak. Bagaimana dengan anda?. Sebaliknya jika tuntutan kerja otak tinggi akan terjadi kecemasan-kelelahan. dosen-dosen dan staf administrasi. misalnya berangan-angan. Kalau dibuat narasinya akan ada perbedaan redaksi.sama lain dan tidak pula dalam bentuk narasi kalimat lengkap. kalau dalam pikiran kita ada kata (konsep) Bajuri. dan lain-lain dengan masing-masing karakternya. 2. atau yang lainnya. pejabatnya. Kecerdasan Ganda Goldman (2005) mengemukakan bahwa struktur otak. seperti gemuk. Kecerdasan intelektual mengalir-bergerak (flow) antara kebosanan bila tuntutan pemikiran rendah dan kecemasan bila terjadi tuntutan banyak. maka akan terkait dengan kata lain secara fungsional. Tulisan atau gambar peta pikiran tersebut dinamakan dengan peta konsep (concept map). setiap kesempatan dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran diri dalam segala hal. guru membumbuinya dengan narasi yang kreatif. supir bajay. atau ke tokoh lain Oneng. Dengan demikian konsep mendapat retensi yang kuat dalam pikiran. Agama. inlah yang disebut dengan sia-sia atau mubadzir (at tubadziru minasy-syaithon). Kondisi ini akan bisa dinetralisir dengan relaksasi melalui penciptaan suasana kondusif. sederhana. Akuntansi. Mengingat hal itu. Silakan anda mencoba menuliskan / menggambarkan peta pikiran tentang Bajuri dan FKIP Unla di atas. jika positif akan mengembangkan penalaran akan tetapi jika diisi dengan aktivitasa negatif. sajian guru dalam pembelajaran harus pula dikondisikan berupa sajian peta konsep. Jika benar-benar dimanfaatkan secara optimal. kemudian dinarasikan dengan gaya bahasa masing-masing. meskipun dengan makna yang tidak berbeda. Buzan mengemukakan bahwa kemampuan otak manusia dapat memproses informasi berupa bahasa sebanyak 600 – 800 kata permenit. Dalam bidang studi keahlian anda. . Bila terjadi kebosanan otak akan mengisinya dengan aktivitas lain. Demikian pula kata dalam pikiran kita terlintas FKIP Universitas Langlangbuana Bandung akan terkait alamatnya. terbagi dua menjadi kecerdasan intelektual pada otak kiri dan kecerdasan emosional pada otak kanan. sehingga setiap konsep utama yang dipelajari semuanya teridentifikasi tidak ada yang terlewat dan kaitan fungsionalnya jelas. dan besar penghargaan untuk perkuliahan per-sks. Hanya sayang banyak orang yang mengabaikannya atau digunakan untuk hal-hal yang kurang bermanfaat untuk peningkatan kualitas diri. Ucup. Dengan demikian belajar akan efektif dengan cara membuat catatan kreatif yang merupakan peta konsep. Selanjutnya Buzan mengemukakan bahwa cara belajar siswa yang alami (natural) adalah sesuai dengan cara kerja otak seperti di atas berupa pikiran. menonton. Belajar dengan menghafalkan kalimat lengkap tidak akan efektif. Ema. sebagai instrumen kecerdasan. Yang produknya berupa peta konsep. di samping bahasa yang digunakan menggunakan gaya bahasa penulis. Dengan kemampuan otak seperti itu dibandingkan dengan kemampuan komputer sangat tinggi.

manfaat. Intrapersonal-reflective.misalnya keramahan. yaitu aktivitas individu untuk memikirkan kembali apa yang telah terpikir serta berpikir dampak sebagai akibat dari buah pikiran terdahulu. atau meditasi keheningan dengan prinsip kepasrahan kepada sang Pencipta. kompleksitas. dan simbolik. musik. Sel syaraf pada otak kiri berfungsi sebagai alat kecerdasan yang sifatnya logis. holistic. Interpersonalcommunication. suasana nyaman dan menyenangkan. Sharples & Mathew (1998) mengemukakan pendapat bahwa metakognitrif dapat dimanfaatkan untuk menerapkan pola pikir pada situasi lain yang dihadapi. yaitu: kesadaran. siswanya sebanyak 40% dipengaruhi oleh hal lainnya. emosional. natural. monitoring. berpikir tentang apa yang dipikirkan dan bagaimana proses berpikirnya. abstrak. pengetahuan. bantuan. senyum-tertawa. dan evaluasi sebagai cikal bakal tumbuhkembangnya kemampuan inkuiri dan kreativitas. tergantung dari variabel meta kognitif. Dengan demikian aktivitas otak kiri semestinya dibarengi dengan aktivitas otak kanan. ide. yaitu kondisi individu. Sebagai orang beragama. Sedangkan Holler berpendapat tentang komponen metakognitif. dan aplikasi. realitas. linier. sekuensial. Ary Ginanjar (2002) dan Jalaluddin Rahmat (2006) mengukakan kecerdasan ketiga. Linguistic-verbal. pertanyaan. Komponen meta kognitif menurut Sharples & Mathew ada 7. koneksi. yaitu Kecerdasan Spiritual (nurani-keyakinan) atau kecerdasan fitrah yang berkenaan dengan nilai-nilai kehidupan beragama. yaitu: refleksi kognitif. monitoring. Kemampuan metakognitif setiap individu akan berlainan. dan regulasi. strategi. pengalaman. ada do’a sebagai permintaan dan harapan. Sedangkan sela syaraf otak kanan berkaitan dengan kecerdasan yang sifatnya acak. rasional. 3. kita semestinya berkeyakinan tinggi terhadap kecerdasan ini. Logic-thinking-reasoning. Penting untuk diketahui bahawa kecerdasan intelkektual berkontribusi untuk sukses individu sebesar 20% sedangkan kecerdasan emosional sebesar 40%. Bukankan ketentraman individu karena keyakinan beragama ini. Metakognitif bisa digolongkan pada kemampuan kognitif tinggi karena memuat unsure analisis. Oleh karena itu pelaksanaan pembelajaran . bukankah ada ikhtiar dan ada pula taqdir. kesadaran diri. intuitif. verbal. dan regulasi. yaitu Spacial-visual . spasial. (2002) mengemukakan bahwa aktivitas metakognitif tergantung pada kesadaran individu. dan kreativitas. kelembutan. dan ibadah lainnya. prediksi. teratur. sintesis. Musical-rithmic. metakognitif bisa diterjemahkan secara bebas sebagai kesadaran berfikir. Gardner (1983) mengemukakan tentang kecerdasan ganda yang sifatnya mulkti dengan akronim Slim n Bill. dan strategi berpikir. dkk. Body-kinestic. Holler. Metakognitif Secara harfiah.

yaitu optimis. m\udah menyerah. partisipatidf. dan mau memperbaiki diri. dikendalikan keadaan . dan sosok panutan). membiarkan. pemalu. Mencobapek (menyelidiki. Berbeda dengan individu yang memiliki pribadi positif. bertanya. Perhatikan hasil penelitian Jack Canfield (1992). ada kebebasan memilih. Tokoh pendidikan nasional Ki Hajar Dewantoro (1908) mengemukakan tiga prinsip pembelajaran ing ngarso sung tulodo (jadi pemimpin-guru jadilah teladan bagi siswanya). tentunya akan berhadapan dengan siswa yang berkepribadian negative seperti di atas dan tentunya tidak untuk dibiarkan karena profesi guru adalah amanat. ragu-ragu. presentasi. menjawab. Dalam bahasa Sunda ada pepatah “pok-pek-prak” yang berarti bahwa belajar mempunya indikator berkata-pok (bertanya-menjawab-diskusi. menghindar. ingin tahu dengan pengaruh komunikasi negatif yang lebih dominant dari orang sekelilingnya. ingin mencoba. suka tantangan. menimpakan kesalahan. menyimpulkan. anak yang pada awalnya secara alami penuh keyakinan. mengembangkan). Sebagai guru. untuk kita simak dan renungkan. 5. Dampak selanjutnya pada waktu bwersekolah. dan melaksanakan-prak (mengaplikasikan. Komunikasi Siswa dalam belajar tidak akan lepas dari komunikasi antar siswa. dan cemas. yang selanjutnya mempengaruhi poses pembelajaran. sehingga dia tumbuh menjadi penakut. mengerjakan. ada individu yang memiliki pribadi positif dan ada pula yang berkpribadian negatif. bahwa seorang anak ayang masih polos-natural. jangan sungkan untuk apologi jika kesalahan. menemukan). setiap hari biasa menerima 460 komentar negatif dan 75 koentar positif dari oarng yang lebih tua dalam kehidupannya. prasangka. belajar tidak cukup dengan hanya mendengar dan melihat tetapi harus dengan melakukan aktivitas (membaca. keberanian. Bagaimanakh menghadapi siswa dengan pola pribadi seperti irtu? Caranya anatar lain dengan cara tidak memvonis. ing madyo mangun karso (dalam pembelajaran . gerak tubuh. pribadinya berpola negative. pembenaran. Makin lama ia makin dewasa. berkomentar. tumbuhkan citra positif. bersikap mengajak dan bukan memerintah. mengkomunikasikan. Akibatnya sungguh mengejutkan.semestinya membiasakan siswa untuk melatih kemampuan metakognitif ini. Kemampuan komunikasi setiap individu akan mempengaruhi proses dan hasil belajar yang bersangkutan dan membentuk kepribadiannya. belajar menjadi beban dan rasa ercaya dirinya berkurang.presentasi). ternyata lama kelamaan keyakinannya terguncang dan rasa percaya dirinya menurun. mengendalikan keadaan. menggunakan. Mengapa demikian? Karena cara berkomunikasi akan langsung berkenaan dengan akal dan rasa. diskusi). meng-identifikasi.” bukan katanya. ataupun dengan guru. katakana “saya …. nada suara. belajar efektif (sesuai tujuan) semestinya bermakna. memanfaatkan. tidak hanya berpikir sepintas dengan makna yang dangkal. Kebermaknaan Belajar Dalam belajar apapun. siswa dengan fasilitas belajar. menduga. 4. dan sibuk dengan alasan. seperti pesimis. punya alternative. dan jaga komunikasi non verbal (eksprsi wajah. Agar bermakna.

pembelajaran adalah solusi tepat untuk pelaksanaan kurikulum 2006. yaitu belajar secara aktif dan secara reaktif (pasif). Mungkin saja kemasannya tidak akurat. Siswa membangun sendiri konsep atau struktur materi yang dipelajarinya. Hal inilah yang disebut dengan konstruksivisme dalam pembelajaran. melainkan lebih bersifat negosiasi sehingga tumbuh suasana fasilitasi. dan daily life (kontekstual). menggunakan kesempatan . Sehingga jenis komunikasi yang dilakukan antara gurusiswa tidak lagi bersifat transmisi sehingga menimbulkan imposisi (pembebanan). ikut partisipasi dan tidak menghindar dari aktivitas pembelajaran. tidak cukuop dengan mendengar dan melihat. berkonjektur. justifikasi. Siswa tidak lagi menerima paket-paket konsep atau aturan yang telah dikemas oleh guru. Dalam kondisi tersebut suasana menjadi kondusif (tut wuri handayani) sehingga dalam belajar siswa bisa mengkonstruksi pengetahuan dan opengalaman yang diperolehnya dengan pemaknaan yang lebih baik. Confrey (1990) menyarankan konstruksivisme secara utuh (powerfull constructivism). atau mungkin terjadi eksalahan.membangun ide siswa dengan aktivitas sehingga kompetensi siswa terbentuk). dan inkuiri dengan cara mereka sendiri untuk menyelesaikan persoalan yang disajikan. refeleksi-eksplanasi. simbolisasi. mengeksplorasi. jadi harus dihargai karena hal itu cirinya ia sedang belajar. dari melihat 30%. siswa yang satu dengan siswa lainnya berbeda. dan sintaks (SOP). tepai harus dengan hands-on. yaitu: konsistensi internal. Prinsip Belajar Aktif Ada dua jenis belajar. Jika belajar hanya dngan membaca kebermaknaan bisa mencapai 10%. konstruksivis. 6. dan memang pembelajaran pada hakikatnya adalah konstruksivisme. mendengar dan melihat 50%. guru menyajikan persoalan dan mendorong (encourage) siswa untuk mengidentifikasi. kontinuitas historical. di sinilah tugas guru memberikan bantuan dan arahan (scalfolding) sebagai fasilitator dan pembimbing. Belajar secara aktif indikatornya adalah belajar pada setiap situasi. karena pembelajaran adalah aktivitas siswa yang sifatnbya proaktif dan reaktif dalam membangun pengetahuan. tut wuri handayani (jadilah fasilitator kegiatan siswa dalam mengembangkan life skill sehingga mereka menjadi pribadi mandiri). tindak lanjut. melainkan siswa sendiri ang mengemasnya. dari mendengar 20%. koherensi. Agar konstruksicvisme dapat terlaksana secara optimal. 7. mengatakan-komunikasi mencapai 70 %. menggeneralisasi. Vernon A Madnesen (1983) san Peter Sheal (1989) mengemukakan bahwa kebermaknaan belajar tergantung bagaimana cbelajar. tidak melalui pemberitahuan oleh guru. Drai uraian di atas implikasi terhadap pembelajaran adalah bahwa kegiatan pembelajaran identik dengan aktivitas siswa secara optimal. da belajar dengan melakukan dan mengkomunikasikan besa mencapai 90%. berhipotesis. kekonvergenan. dan bukan dengan kegiatan mengajar. keterpaduan. minds-on. Selanjutnya. Dengan perkataan lain. Konstruksivisme Dalam paradigma pembelajaran. Keslahan siswa merupakan bagian dari belajar.

fasilitas-media yang tersedia. D. untuk dipilih dan dijadikan alternatif sehingga cocok untuk situasi dan kjondisi yang dihadapi. Model-model Pembelajaran Untuk membelajarkan siswa sesuai dengan cara-gaya belajar mereka sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai dengan optimal ada berbagai model pembelajaran. Sedangakan belajar reaktif indikatornya adalah tidak dapat melihat adanya kesempatan belajart. structuralistic (terstrutur. dan inklusif life skill. dan realistic-human activity (aktivitas kehidupan nyata). melakukan-mengkomunikasikan. sehingga terpuku rasa tanggung jawab dan disiplin diri. empati dan pengendalian diri. tugas.diskusi. Menurut teori dan pengalaman agar kelompok kohesif (kompak-partisipatif).untuk meraih manfaat. Pembelajaran koperatif sesuai dengan fitrah manusis sebagai makhluq sosial yang penuh ketergantungan dengan otrang lain. dalam memilih model pembelajaran yang tepat haruslah memperhatikan kondisi siswa. Saling membantu dan berlatih beinteraksi-komunikasi-sosialisasi karena koperatif adalah miniature dari hidup bermasyarakat. Dari indikator belajar aktif. mengabaikan kesempatan. maka prinsip belajar yang harus diterapkan adalah siswa harus sebaga subjek. Oleh karena itu. dan kondisi guru itu sendiri. tanggung jawab. sifat materi bahan ajar. seperti kemampuan sosialisasi. kontekstual-trealistik. Berikut ini disajikan beberapa model pembelajaran. Hal ini bisa terlatih melalui kerja individual-kelompok. menghindar dari kegiatan. kita (guru) harus ingat bahwa tidak ada model pembelajaran yang paling tepat untuk segala situasi dan kondisi. mengerjakan). sitematik. penulis yakin kreativitas para guru sangat tinggi. Koperatif (CL. modifikasinya diserahkan kepada guru untuk melakukan penyesuaian. dan rasa senasib. konstruksivis-inkuiri. siawa . pengalaman. atau inkuiri. sesuai dengan pengertian kegiatan pembelajaran di atas. Prisip tersebut akan terwujud dengan melaksanakan pembelajaran dengan memperhatikan keterlibatan intelektual-emosional. siswa dilatih dan dibiasakan untuk saling berbagi (sharing) pengetahuan. Akan tetapi sajian yang dikemukakan pengantarnya berupa pengertian dan rasional serta sintaks (prosedur) yang sifatnya prinsip. menyelesaikan persoalan. Prinsip belajar yang dikemuakan leh Treffers (1991) adalah memiliki indikatro mechanistic (latihan. Cooperative Learning). dan belajar menyadari kekurangan dan kelebihan masingmasing. Jadi model pembelajaran koperatif adalah kegiatan pembelajaran dengan cara berkelompok untuk bekerja sama saling membantu mengkontruksu konsep. tanya-jawab. belajar berkelompok secara koperatif. membiarkan segalanya terjadi. belajar dengan melakukan-mengkomunikasikan sehingga kecerdasan emosionalnya dapat berkembang. Dengan memanfaatkan kenyatan itu. aksionmatik). 1. pembegian tugas. tiap anggota kelompok terdiri dari 4 – 5 orang. Dalam prakteknya. presentasi. dan partisipatif dalam setiap kegiatan. berupaya terlaksana. mempunyai tujuan dan tanggung jawab bersama. empiristic (pngelaman induktif-deduktif).

heterogen (kemampuan. tidak hanya menonton dan mencatat. menemukan). questioning (eksplorasi. pengarahan-strategi. dan pelaporan. karekter). contoh). dan pengembangan kemampuan sosialisasi. authentic assessment (penilaian selama proses dan sesudah pembelajaran. sehingga akan terasa manfaat dari materi yang akan disajkan. Realistic Mathematics Education) Realistic Mathematics Education (RME) dikembangkan oleh Freud di Belanda dengan pola guided reinventiondalam mengkontruksi konsep-aturan melalui process of mathematization. Pensip pembelajaran kontekstual adalah aktivitas siswa. inter-twinment (keterkaitan-intekoneksi antar konsep). dan suasana menjadi kondusif . rangkuman. inkuiri. penyampaian kompetensitujuan. latihan . mengembangkan. inquiry (identifikasi. motivasi. penilaian portofolio. Sintaknya adalah menyiapkan siswa. ada control dan fasilitasi. aturan uantuk digunakan dalam menyelesaikan persoalan. realitas (kebermaknaan prosesaplikasi). tindak lanjut). sharing). algoritma. hands-on. mengarahkan. menuntun. analisis-sintesis). pengemabngan mateastika).nyaman dan menyenangkan. gender. negosiasi) yang terkait dengan dunia nyata kehidupan siswa (daily life modeling). rambu-rambu. yaitu matematika horizontal (tools. interaksi (pembelajaran sebagai aktivitas sosial. sajian informasi dan prosedur. proses dunia empirik) dan vertikal (reoorganisasi matematik melalui proses dalam dunia rasio. mengerjakan). fakta. constructivism (membangun pemahaman sendiri. pengarahan-petunjuk. dan bimbingan (dari guru dalam penemuan). Sintaks pembelajaran koperatif adalah informasi. 3. pemahaman (menemukan-informal daam konteks melalui refleksi. penilaian seobjektif-objektifnya darei berbagai aspek dengan berbagai cara). mencoba. membimbing. learning community (seluruh siswa partisipatif dalam belajar kelompok atau individual. dan meminta tanggung jawab hasil kelompok berupa laporan atau presentasi. minds-on. investigasi. kerja kelompok. presentasi hasil kelompok. Direct Learning) Pengetahuan yang bersifat informasi dan prosedural yang menjurus pada ketrampilan dasar akan lebih efektif jika disampaikan dengan cara pembelajaran langsung. generalisasi. informal ke formal). 4. reflection (reviu. hipotesis. Realistik (RME. penilaian terhadap setiap aktvitas-usaha siswa. membentuk kelompok heterogen. konjektur. Contextual Teaching and Learning) Pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang dimulai dengan sajian atau tanya jawab lisan (ramah. 2. yaitu modeling (pemusatan perhatian. Ada tujuh indokator pembelajarn kontekstual sehingga bisa dibedakan dengan model lainnya. generalisasi). siswa melakukan dan mengalami. evaluasi. Pembelajaran Langsung (DL. dunia pikiran siswa menjadi konkret. konsep. terbuka. prinsip. mengkonstruksi konsep-aturan. Kontekstual (CTL. motivasi belajar muncul. Prinsip RME adalah aktivitas (doing) konstruksivis.

siapkan rencana bimibingan (sedikit . aturan. generalisasi. kembangkan peremasalahan sesuai dengan kemampuan berpikir siswa. untuk merangsang kemamuan berpikir tingkat tinggi. demokratis. belum dikenal cara penyelesaiannya. fluency). identifikasi kekeliruan. Problem Terbuka (OE. diagram. Open Ended) Pembelajaran dengan problem (masalah) terbuka artinya pembelajaran yang menyajikan permasalahan dengan pemecahan berbagai cara (flexibility) dan solusinya juga bisa beragam (multi jawab. komunikasi-interaksi. yaitu pemecahan masalah dngan melalui elaborasi. Denga demikian model pembelajaran ini lebih mementingkan proses daripada produk yang akan membentiuk pola piker. eksplorasi. Justru problem solving adalah mencari atau menemukan cara penyelesaian (menemukan pola. siswa mengidentifkasi.atau algoritma). refleksi. Problem Posing Bentuk lain dari problem posing adaslah problem posing. kritis. negosiasi. dan sosialisasi. dan evaluasi. 5. Sintaknya adalah: pemahaman. sharing. yaitu merumuskan kembali masalah menjadi bagian-bagian yang lebih simple sehingga dipahami. terbuka. menyusun soalpertanyaan. keterbukaan. Pembelajaran Berbasis masalah (PBL. kreativitas. . latihan mandiri. Indikator model pembelajaran ini adalah metakognitif. menimalisasi tulisan-hitungan. jawaban siswa beragam. interpretasi. menduga. cara. Sintaknya adalah: sajiakn permasalah yang memenuhi criteria di atas. Problem Based Learning) Kehidupan adalah identik dengan menghadapi masalah. jalan keluar. Selanjtynya siswa juda diinta untuk menjelaskan proses mencapai jawaban tersebut. identifikasi. siswa berkelompok atau individual mengidentifikasi pola atau atuiran yang disajikan. elaborasi (analisis). induksi. Siswa dituntuk unrtuk berimprovisasi mengembangkan metode. Sajian masalah haruslah kontekstual kaya makna secara matematik (gunakan gambar. 8. kognitif tinggi. sintesis. table). keterbukaan.menginvestigasi. dan akhirnya menemukan solusi. Cara ini sering disebut dengan metode ceramah atau ekspositori (ceramah bervariasi). Model pembelajaran ini melatih dan mengembangkan kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang berorientasi pada masalah otentik dari kehidupan aktual siswa. konjektur. investigasi. mengeksplorasi. keterpasuan.terbimbing. Pembelajaran ini melatih dan menumbuhkan orisinilitas ide. Kondisi yang tetap hatrus dipelihara adalah suasana kondusif. atau pendekatan yang bervariasi dalam memperoleh jawaban. 7. dan ragam berpikir. dan inkuiri 6. kaitakkan dengan materui selanjutnya. cari alternative. suasana nyaman dan menyenangkan agar siswa dap[at berpikir optimal. Problem Solving Dalam hal ini masalah didefinisikan sebagai suatu persoalan yang tidak rutin.

guru hendaknya serangkaian pertanyaan disertai dengan wajah ramah. senyum. Eksplorasi berarti menggali pengetahuan rasyarat. eksplnasi berarti menghenalkan konsep baru dan alternative pemecahan. berkelompok mengerjakan LKSD-modul. Untuk mewujudkan belajar efektif. 12. Reciprocal Learning Weinstein & Meyer (1998) mengemukakan bahwa dalam pembelajaran harus memperhatikan empat hal. SAVI Pembelajaran SAVI adalah pembelajaran yang menekankan bahwa belajar haruslah memanfaatkan semua alat indar yang dimiliki siswa. Untuk mngurang kondisi tersebut. 11. dan diakhiri dengan aplikasi (aduktif). yaitu: informasi. siswa tidak bisa menghindar dari prses pembelajaran. pengorganisasian pembelajaran. kemudian eksplanasi (empiric). Istilah SAVI sendiri adalah kependekan dari: Somatic yang bermakna gerakan tubuh (hands-on. 9. mengingat. Kemungkinan akan terjadi sausana tegang. suara menyejukkan. Donna Meyer (1999) mengemukakan cara pembelajaran resiprokal. yaitu bagaimana siswa belajar. ia telah berpartisipasi 10. Jangan lupa. membaca-merangkum. Sintaknya adlaha menyajikan masalah. menyenangkan. setiap saat ia bisa dilibatkan dalam proses tanya jawab. Selanjutnya siswa memngkonstruksiu konsep-prinsip-aturan menjadi pengetahuan baru. Pembelajaran Bersiklus (cycle learning) Ramsey (1993) mengemukakan bahwa pembelajaran efektif secara bersiklus. dan memotivasi diri. Ada canda. Dengan model pembelajaran ini proses tanya jawab dilakukan dengan menunjuk siswa secara acak sehingga setiap siswa mau tidak mau harus berpartisipasi aktif. hipotesis. bimbingan dan pengarahan. nada lembut. berpikir. bahwa jawaban siswa yang salah harus dihargai karena salah adalah cirinya dia sedang belajar. aktivitas fisik) di mana belajar dengan mengalami dan melakukan. perhatikan dan catat reson siswa. membuat kesimpulan.demi sedikit dilepas mandiri). dan ceria. representasi. dengan demikian pengetahuan baru tidak diberitahukan. dan aplikasi berarti menggunakan konsep dalam konteks yang berbeda. Auditory yang bermakna bahwa . namun demikian bisa dibiasakan. mulai dari eksplorasi (deskripsi). Probing-prompting Teknik probing-prompting adalah pembelajaran dengan cara guru menyajikan serangkaian petanyaan yang sifatnya menuntun dan menggali sehingga terjadi proses berpikir yang mengaitkan engetahuan sisap siswa dan engalamannya dengan pengetahuan baru yang sedang dipelajari. sehingga suasana menjadi nyaman. merangkum. dan tertawa. pengarahan. bertanya. Sedangkan Resnik (1999) mwengemukan bhawa belajar efektif dengan cara membaca bermakna.

Siapkan meja turnamen secukupnya. TGT (Teams Games Tournament) Penerapan model ini dengan cara mengelompokkan siswa heterogen. setiap siswa mengambil kartu soal yang telah disediakan pada tiap meja dan mengerjakannya untuk jangka waktu terttentu (misal 3 menit). mengidentifikasi. suasana diskuisi nyaman dan menyenangkan sepeti dalam kondisi permainan (games) yaitu dengan cara guru bersikap terbuka. good. presentasi. d. mengemukakan penndepat. very good. e. dilakukan pergeseran tempat duduk pada meja turnamen sesuai dengan sebutan gelar tadi. Selanjutnya adalah opelaksanaan turnamen. mencipta. dan menerapkan. c. tugas tiap kelompok bisa sama bis aberbeda. dan mennaggapi. santun. SDetelah memperoleh tugas. Sintaknya adalah sebagai berikut: a. missal 10 meja dan untuk tiap meja ditempati 4 siswa yang berkemampuan setara. medium. Penentuan tiap siswa yang duduk pada meja tertentu adalah hasil kesewpakatan kelompok. pada turnamen kedua ( begitu juga untuk turnamen ketigakeempat dst. Visualization yang bermakna belajar haruslah menggunakan indra mata melallui mengamati. begitu pula untuk meja turnamen yang lainnya diisi oleh siswa dengan gelar yang sama. sehingga diperoleh skor turnamen untuk tiap individu dan sekaligus skor kelompok asal. menggunbakan media dan alat peraga. berikan penghargaan kelompok dan individual. setiap kelompok bekerja sama dalam bentuk kerja individual dan diskusi. membaca. atau dalam rangak mengisi waktu sesudah UAS menjelang pembagian raport. menemukan. mendemonstrasikan. Siswa pada tiap meja tunamen sesua dengan skor yang dip[erolehnay diberikan sebutan (gelar) superior. Buat kelompok siswa heterogen 4 orang kemudian berikan informasi pokok materi dan \mekanisme kegiatan b. dan ada sajian bodoran. Setelah selesai kerja kelompok sajikan hasil kelompok sehuingga terjadi diskusi kelas. ramah . memecahkan masalah. Siswa bisda nmngerjakan lebbih dari satu soal dan hasilnya diperik\sa dan dinilai. 13. meja I diisi oleh siswa dengan level tertinggi dari tiap kelompok dan seterusnya sampai meja ke-X ditepati oleh siswa yang levelnya paling rendah.belajar haruslah dengan melaluui mendengarkan. . menyimak.). menggambar. Jika waktunya memungkinkan TGT bisa dilaksanakan dalam beberapa pertemuan. Setelah selesai hitunglah skor untuk tiap kelompok asal dan skor individual. Bumping. Usahakan dinamikia kelompok kohesif dan kompak serta tumbuh rasa kompetisi antar kelompok. menyelidiki. mengkonstruksi. dan Intellectualy yang bermakna bahawa belajar haruslah menggunakan kemampuan berpikir (minds-on) nbelajar haruslah dengan konsentrasi pikiran dan berlatih menggunakannya melalui bernalar. berbicara. argumentasi. siswa superior dalam kelompok meja turnamen yang sama. lembut.

umumkan hasil kuis dan beri reward. Intellectualy. umumkan rekor tim dan individual dan berikan reward. 16. 17. mengembangkannya. buat kelompok heterogen (4-5 orang). (3) penghargaan kelompok dan refleksi serta tes formatif. berikan persoalan materi bahan ajar (untuk tiap kelompok sama tapi untuk tiap siswa tidak sama sesuai dengan nomor siswa. Pola komunikasi guru-siswa adalah negosiasi dan bukan imposisi-intruksi. Auditory.14. TAI (Team Assisted Individualy) Terjemahan bebas dari istilah di atas adalah Bantuan Individual dalam Kelompok (BidaK) dengan karateristirk bahwa (Driver. (2) siswa belajar kelompok dengan dibantu oleh siswa pandai anggota kelompok secara individual. kuis individual dan buat skor perkembangan tiap siswa atau kelompok. Istilah tersebut sama halnya dengan istilah pada SAVI. bedanya hanyalah pada Repetisi yaitu pengulangan yang bermakna pendalama. 1980) tanggung jawab vbelajar adalah pada siswa. AIR (Auditory. pemantapan dengan cara siswa dilatih melalui pemberian tugas atau quis. dengan perkataan lain manfaatkanlah potensi siwa yang telah dimilikinya dengan melatih. buat kelompok heterogen dan tiap siswa memiliki nomor tertentu. saling berbagi sehingga terjadi diskusi. diskusikan bahan belajar-LKS-modul secara kolabratif. sajian-presentasi kelompok sehingga terjadi diskusi kelas. dengan somatic ekuivalen dengan kinesthetic. 15. kuis individual dan buat skor perkembangan tiap siswa. perluasan. . Kinestetic) Model pebelajaran ini menganggap bahwa pembelajaran akan efektif dengan memperhatikan ketiga hal tersebut di atas. Sintaksi BidaK menurut Slavin (1985) adalah: (1) buat kelompok heterogen dan berikan bahan ajar berupak modul. 18. saling tukar jawaban. Repetition) Model pembelajaran ini mirip dengan SAVI dan VAK. STAD (Student Teams Achievement Division) STAD adalah salah sati model pembelajaran koperatif dengan sintaks: pengarahan. Oleh karena itu siswa harus membangun pengetahuan tidak menerima bentuk jadi dari guru. presentasi kelompok dengan nomnor siswa yang sama sesuai tugas masing-masing sehingga terjadi diskusi kelas. tiasp siswa dengan nomor sama mendapat tugas yang sama) kemudian bekerja kelompok. VAK (Visualization. NHT (Numbered Head Together) NHT adalah salah satu tipe dari pembelajaran koperatif dengan sintaks: pengarahan.

buat skor perkembangan tiap siswa. pilih strategi solusi 23. banyak guru dan staf sekolah). 24. elaborasi menjadi sub-sub masalah yang lebih sederhana. tiap anggota kelompok bertugas membahasa bagian tertentu. 20. umumkan hasil kuis dan berikan reward. dan alternative solusi). refleksi. hasil bacaannya dikomunikasikan dengan presentasi. GI (Group Investigation) Model koperatif tipe GI dengan sintaks: Pengarahan. mengolah pikiran sehingga muncul gagasan orisinil untuk menentukan solusi. Sinatknya adalah: . CPS (Creative Problem Solving) Ini juga merupakan variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah melalui teknik sistematik dalam mengorganisasikan gagasan kreatif untuk menyelesaikan suatu permasalahan. identifikasi permasalahan dan fokus-pilih. 22. tiap kelompok menginvestigasi proyek tertentu (bisa di luar kelas. susun sub-sub masalah sehingga terjadli koneksivitas.19. Pengarahan. Sintaksnya adalah: mulai dari fakta aktual sesuai dengan materi bahan ajar melalui tanya jawab lisan. TPS (Think Pairs Share) Model pembelajaran ini tergolong tipe koperatif dengan sintaks: Guru menyajikan materi klasikal. buat skor perkem\angan siswa. kuis individual. berikan bahan ajar (LKS) yang terdiri dari beberapa bagian sesuai dengan banyak siswa dalam kelompok. pelaksnaa tutorial pada kelompok asal oleh anggotan kelompok ahli. umumkan hasil kuis dan berikan reward. dan kemudian buat laopran hasil presentasi. mengkritisi. buat kelompok heterogen. buat kelompok heterogen dengan orientasi tugas. jenis dagangan dan keuntungan di kantin sekolah. 21. penyimpulan dan evaluasi. diskusi. presentasi. iformasi bahan ajar. Jigsaw Model p[embeajaran ini termasuk pembelajaran koperatif dengan sintaks sepeerti berikut ini. presentasi kelompok (share). kembali ke kelompok aasal. kuis individual. pengoalahn data penyajian data hasi investigasi. rencanakan pelaksanaan investigasi. misal mengukur tinggi pohon. buat kelompok ahli sesuai bagian bahan ajar yang sama sehingga terjadi kerja sama dan diskusi. MEA (Means-Ends Analysis) Model pembelajaran ini adalah variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah dengan sintaks: sajikan materi dengan pendekatan pemecahan masalah berbasis heuristic. tuiap kelompok bahan belajar sama. berikan persoalan kepada siswa dan siswa bekerja kelompok dengan cara berpasangan sebangku-sebangku (think-pairs). identifikasi perbedaan. TTW (Think Talk Write) Pembelajaran ini dimulai dengan berpikir melalui bahan bacaan (menyimak. presentasi dan diskusi. mendata banyak dan jenis kendaraan di dalam sekolah.

Read dengan membaca teks dan cari jawabanya. CORE (Connecting. Extending) Sintaknya adalah (C) koneksi informasi lama-baru dan antar konsep. Ajukan pengujian pemahaman. dan Review dengan cara meninjau ulang menyeluruh 28. Review) Pembelajaran ini adalah strategi membaca yang dapat mengembangkan meta kognitif siswa. 25. Sertakan ingatan dan hafalkan kata kunci serta koneksinya. SQ3R (Survey. melaporkan. Refleting. yaitu dengan menugaskan siswa untuk membaca bahan belajar secara seksamacermat. Uraikan fakta sesuai dengan gaya belajar. Read. presentasi. (0) organisasi ide untuk memahami materi. (R) memikirkan kembali. dan Introspeksi melalui . dua siswa bertamu ke kelompok lain dan dua siswa lainnya tetap di kelompoknya untuk menerima dua orang dari kelompok lain. Recite. Recite. TS-TS (Two Stay – Two Stray) Pembelajaran model ini adalah dengan cara siswa berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan kelompok lain. kerja kelompok. 26. Read. (2) reconstruction melakukan fasilitasi pengalaan belajar. mendalami.informasi. kembali ke kelompok asal. MID (Meaningful Instructionnal Design) Model ini adalah pembnelajaran yang mengutyamakan kebermaknaan belajar dan efektifivitas dengan cara membuat kerangka kerja-aktivitas secara konseptual kognitifkonstruktivis. (E) mengembangkan. Question. dengan sintaks: Survey dengan mencermati teks bacaan dan mencatatmenandai kata kunci. Sintaknya adalah (1) lead-in dengan melakukan kegiatan yang terkait dengan pengalaman. Sintaknya adalah kerja kelompok. menggunakan. dan menggali. 29. memperluas. diskusi. dan konsep-ide. Organizing. Review) SQ4R adalah pengembangan dari SQ3R dengan menambahkan unsur Reflect. laporan kelompok. Kerangka pikir untuk sukses. darimana) tentang bahan bacaan (materi bahan ajar). Ambil pemaknaan (mengetahui-memahami-menggunakan-memaknai). kelompok (membaca-mencatatat-menandai). yaitu aktivitas memberikan contoh dari bahan bacaan dan membayangkan konteks aktual yang relevan. SQ4R (Survey. Reflect. (3) production melalui ekspresi-apresiasi konsep 30. kerja kelompok. Recite dengan pertimbangkan jawaban yang diberikan (cartat-bahas bersama). analisi pengalaman. KUASAI Pembelajaran akan efektif dengan melibatkan enam tahap berikut ini. Question. dan menemukan. Question dengan membuat pertanyaan (mengapa-bagaimana. 27.

deteksi kausal. dan pemanfaatan berbagai representasi dengan setting kelas dan kerja kelompok. 3 untuk sure. dan implementasi solusi utama. identifikasi kausal utama. siswa yang berhadapan berbagi informasi secara bersamaan. 33. CIRC (Cooperative. menemukan kata kunci. pendahuluan. Sintaksnya adalah: Separu dari sjumlah siswa membentuk lingkaran kecil menghadap keluar. menemukan pilihan solusi utama. DMR (Diskursus Multy Reprecentacy) DMR adalah pembelajaran yang berorientasi pada pembentukan. CRI (Certainly of Response Index) CRI digunakan untuk mengobservasi proses pembelajaran yang berkenaan dengan tingkat keyakinan siswa tentang kemampuan yang dimilkinya untuk memilih dan menggunakan pengetahuan yang telah dimilikinya. jadi berkenaan dengan jawaban untuk pertanyaan mengapa. Sintaknya adalah: identifkasi. Reading. menuliskan pernyataan masalah yang telah direvisi. 1993) di mana siswa saling membagi informasi pada saat yang bersamaan dengan pasangan yang berbeda dengan ssingkat dan teratur. dan penutup. separuhnya lagi membentuk lingkaran besar menghadap ke dalam. penerapan. Hutnal (2002) mengemukakan bahwa CRI menggunakan rubric dengan penskoran 0 untuk totally guested answer. memberikan tanggapan) terhadap wacana kemudian menuliskan hasil kolaboratifnya. Selanutnya menyelesaikan masalah tersebut dengan cara menghilangkan gap uyang menyebabkan munculnya masalah tersebut. DLPS (Double Loop Problem Solving) DPLS adalah variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah dengan penekanan pada pencarian kausal (penyebab) utama daritimbulnya masalah. Integrated. siswa bekerja sama (membaca bergantian. siswa yang berada di lingkran luar . and Composition) Terjemahan bebas dari CIRC adalah komposisi terpadu membaca dan menulis secara koperatif –kelompok. 4 untuk almost certain. 32. pertimbangan solusi. Sintaksnya adalah: membentuk kelompok heterogen 4 orang. solusi tentative. pengemabangan.refleksi diri tentang gaya belajar. 31. deteksi kausal lain. mengelompokkan gejala. Langkah penyelesdai maslah sebagai berikurt: menuliskan pernyataan masalah awal. imoplementasi solusi. 34. IOC (Inside Outside Circle) IOC adalah mode pembelajaran dengan sistim lingkaran kecil dan lingkaran besar (Spencer Kagan. 2 untuk not sure. analisis kausal. Sintaksnya adalah: persiapan. guru memberikan wacana bahan bacaan sesuai dengan materi bahan ajar. refleksi. presentasi hasil kelompok. mengidentifikasui kausal. dn 5 untuk certain. dan rencana solusi yang terpilih. 35. 1 untuk amost guest. penggunaan.

dan seterusnya 36. menunjuk siswa untuk melakonkan scenario yang telah dipelajarinya. 39. sajian presentasi hasil bacaan oleh perwakilan salah satu kelompok kemudian ditanggapi oleh kelompok lainnya begitu setrusnya secara bergantian. guru membimbing kesimpulan-refleksi-evaluasi. bekerja .berputar keudian berbagi informasi kepada teman (baru) di depannya. 38. Talking Stick Suintak p[embelajana ini adalah: guru menyiapkan tongkat. bimbingan penimpoulan dan refleksi. guru mengambil tongkat dan memberikan tongkat kepada siswa dan siswa yang kebagian tongkat menjawab pertanyaan dari guru. tongkat diberikan kepad siswa lain dan guru memberikan petanyaan lagi dan seterusnya. Artikulasi Artikulasi adlah mode pembelajaran dengan sintaks: penyampaian konpetensi. siswa membaca materi bahan ajar untuk dicermati oleh masing-masing kelompok. 37. guru membimbing siswa untuk menyimpulkan. siswa yang berhadapan berbagi pengalkaman dan pengetahuan. 40. pemanggilan ketua dan diberi tugas membahas materi tertentu di kelompok. Tari Bambu Model pembelajaran ini memberuikan kesempatan kepada siswa untuk berbagi informasi pada saat yang bersamaan dengan pasangan yang berbeda secara teratur. guru membimbing membuat kesimpulan dan menambahkannya biola perlu. siswa mebaca materi lengkap pada wacana. 41. Sintaksnya adalah: Sebagian siswa berdiri berjajar di depoan kelas atau di sela bangku-meja dan sebagian siswa lainnya berdiri berhadapan dengan kelompok siswa opertama. presentasi di depan hasil diskusinya. Debate Debat adalah model pembalajaranb dengan sisntaks: siswa menjadi 2 kelompok kemudian duduk berhadapan. sajian materi pokok. presentasi hasil kelompok. kelompok siswa membahas peran yang dilakukan oleh pelakon. penyampaian kompetensi. Role Playing Sintak dari model pembelajaran ini adalah: guru menyiapkan scenario pembelajaran. salah satu siswa menyampaikan materi yang baru diterima kepada pasangannya kemudian bergantian. siswa yang berdiri di ujung salah satui jajaran pindah ke ujunug lainnya pada jajarannya. dan kembali berbagai informasi. bentuk kelompok berpasangan sebangku. Snowball Throwing Sintaknya adalah: Informasi materi secara umum. Strategi ini cocok untuk bahan ajar yang memerlukan pertukartan pengalaman dan pengetahuan antar siswa. pembentukan kelompok siswa. menunjuk beberapa siswa untuk mempelajari scenario tersebut. membentuk kelompok. sajian materi.

sajian gambaran umum materi bahan ajar. Course Review Horay Langkah-langkahnya: informasi kompetensi. penyimpulan dan evaluasi. penyimpulan dan evaluasi. Demostration Pembelajaran ini khusu untuk materi yang memerlukan peragaan media atau eksperimen. dikusi kelas. membagi tugas pembahasan materi untuk tiap kelompok. buat kartu jawaban dengan diacak nomornya. refleksi. Langkahnya adalah: informasi kompetensi. siswa atau kelompok menuliskan nomor sembarang dan dimasukkan ke dalam kotak. guru membacakan soal yang nomornya dipilih acak. siswa mengembangkannya dan menjelaskan lagi ke siswa lainnya. menunjuk siswa atau kelompok untuk mendemonstrasikan bagiannya. membagikan kartu soal pada kelompok dan kartu jawaban. siswa berkelompok mengerjakan soal dan mencari kartu soal untuk jawaban yang cocok. kesimpulan dan evaluasi. 44. Pair Checks Siswa berkelompok berpasangan sebangku. tiap kelompok menuliskan pertanyaan dan diberikan kepada kelompok lain. salah seorang menyajikan persoalan dan temannya mengerjakan. pemberian reward. mengecek pemahaman dan balikan. 46. penyimpulan dan evaluasi. refleksi dan evaluasi 42. 47. refleksi. kelompok lain menjawab secara bergantian. Scramble Sintaknya adalah: buatlah kartu soal sesuai marteri bahan ajar. langkah demi langkah bertahap. sajian materi. sajian materi. penyimpulan dan evaluasi. 48.kelompok. Explicit Instruction Pembelajaran ini cocok untuk menyampaikan materi yang sifatnya algoritmaprosedural. refleksi. pengecekan kebenaran jawaban. membimbing pelatihan-penerapan. siswa yang punya nomor sama dengan nomor soal yang dibacakan guru berhak menjawab jika jawaban benar diberi skor dan siswa menyambutnya dengan yel hore atau yang lainnya. Make-A Match . 45. tanya jawab untuk pemantapan. Sintaknya adalah: sajian informasi kompetensi. mendemontrasikan pengetahuan dan ketrampilan procedural. 43. bertukar peran. Student Facilitator and Explaining Langkah-langkahnya adalah: informasi kompetensi. refleksi. penyuimpulan. sajikan materi. refleksi.

Enrichment. 53. Verivication. Sintaks: pemahaman masalah. sajikan gambar ditempel atau pakai OHP. Cooperative Script Buat kelompok berpasangan sebangku. balikan-perbnaikan-pengayaan-interaksi. . Practicing. LAPS ( Logan Avenue Problem Solving) dengan kata Tanya apa masalahnya. LAPS-Heuristik Heuristik adalah rangkaian pertanyaan yang bertisfat tuntunan dalam rangaka solusi masalah. apakah bermanfaat. Sintaknya adalah: informasi kompetensi. adakah alternative. sajian hasil diskusi oleh salah seorang dan yang lain menanggapi. setiap siswa mencari kartu jawaban yang cocok dengan persoalannya siswa yang benar mendapat nilai-reward. setiap siswa mencari dan mendapatkan sebuah kartu soal dan berusaha menjawabnya.Guru menyiapkan kartu yang berisi persoalan-permasalahan dan kartu yang berisi jawabannya. diskusi kelompok tentang sajian gambar tadi. 49. Examples Non Examples Persiapkan gambar. dan pengecekan. untuk badak berikutnya pembelaarn seperti babak pertama. perlihatkan gambar kegiatan berkaitan dengan materi. presentasi hasuil diskusi kelompok. Obtaining mastery. siswa (wakil) mengurutkan gambar sehingga sistematik. apakah solusinya. bagikan wacana materi bahan ajar. 50. refleksi. evaluasi dan refleksi. 51. evaluasi dan refleksi. sajian materi. bimbingan penyimpulan. Improve Improve singkatan dari Introducing new concept. kartu dikumpul lagi dan dikocok. guru menanamkan konsep sesuai materi bahan ajar. sajian permasalahan terbuka. presentasi hasil kelompok. Sintaknya adalah sajian pertanyaan untuk mengantarkan konsep. Mind Mapping Pembelajara ni sangat cocok untuk mereviu pengetahuan awal siswa. atau tabel sesuai materi bahan ajar dan kompetensi. 54. Metakognitive questioning. rencana. Picture and Picture Sajian informasi kompetensi. evaluasi dan refleksi. solusi. penyimpulan. penyimpulan. bertukar peran. siswa membuat ksimpulan dari hasil setiap kelompok. guru mengkonfirmasi urutan gambar tersebut. penyimpulan dan evaluasi. siswa mempelajari wacana dan membuat rangkuman. 52. diagram. siswa latian dan bertanya. valuasi dan refleksi. dan bagaimana sebaiknya mengerjakannya. siswa berkelompok untuk menanggapi dan membuat berbagai alternatiu jawababn. Reviewing and reducing difficulty. dengan petunjuk guru siswa mencermati sajian.

58. tiap siswa diberi kupon bahan pembicaraan (1 menit). Concept Sentence Proseduirnya adalah poenyampaian kompetensi. siswa ditugaskan membaca wacana. Take and Give Model pembelajaran menerima dan memberi adalah dengan sintaks. pengungkapan ide-konsep awal. presentasi.bahan belajar . Sintaknya adalah kondisikan situasi belajar kondusif dan focus. sajian materi. guru menyiapkan kata kunci sesuai materi bahan ajar. 1998) untuk melatih dan mengembangkan ketrampilan sosial agar siswa tidak mendominasi pembicaraan atau diam sama sekali. informasikan kompetensi. Langkahnya adalah kondisikan kelas untuk melaksanakan diskusi. dan refleksi 56. evaluasi dan refleksi 61. Tanya jawab dan refleksi 57. Superitem Pembelajaran ini dengan cara memberikan tugas kepada siswa secara bertingkatbertahap dari simpel ke kompleks. Circuit Learning Pembelajaran ini adalah dengan memaksimalkan pemberdayaan pikiran dan perasaan dengan pola bertambah dan mengulang. 59.dan nama yang diberi. LKS dibagikan berupa paragraph yang kaliatnya belum lengkap. siswa berbicara (pidato-tidak membaca) berdasarkan bahan pada kupon. berikan latihan soal bertingkat. pada tahap pemantapan tiap siswa disuruh berdiri dan mencari teman dan saling informasi tentang materi atau pendalaman-perluasannya kepada siswa lain kemudian mencatatnya pada kartu. Generatif Basi gneratif adalah konstruksivisme dengan sintaks orintasi-motivasi. sampaikan kompetensi. guru membentuk kelompok. evaluasi. siswa berkelompok melengkapi. sajian materi. Complette Sentence Pembelajaran dengan model melengkapi kalimat adalah dengan sintakas: sisapkan blanko isian berupa aparagraf yang kalimatnya belum lengkap. siswa membuat catatan kreatif sesuai dengan pola pikirnya-peta konsep-bahasa khusus. tantangan dan restruturisasi sajiankonsep. siapkan kartu dengan yang berisi nama siswa .55. dan seterusnya dengan siswa lain secara bergantian. tia kelompok membeuat kalimat berdasarkankata kunci. ranguman. membentuk kelompok heterogen. setelah selesai kupon dikembalikan. Sintaksnya adalah ilustrasikan konsep konkret dan gunakan analogi. aplikasi. Time Token Model ini digunakan (Arebds. berupa opemecahan masalah. 60. . presentasi.

sebaliknya akan terasa membosankan jika segalanya monoton tak berubah. koperatifinkuiri-solusi-workshop. kerja individual. Guru harus menciptakan suasana kondusif. 65. agar segalanya berubah ke arah yang lebih baik dengan ikhtiar mulai dari diri sendiri.berikan sal tes bentuk super item. reward. demonstrasikan melalui presentasikomunikasi. Manusia telah dibekali akal dan rasa untuk berkreasi. Treffinger Pembelajaran kreatif dengan basis kematangan dan pengetahuan siap. lima kali salah guru membimbing. ketrampilan. proses rasa-pikir kreatif dalam pemecahan masalah secara mandiri melalui pemanasan-minatkuriositi-tanya. ulangi dengan Tanya jawab-latihan-rangkuman. dan rayakan dengan reward dengan senyum-tawa-ramah-sejuk-nilai-harapan. Kumon Pembelajarn dengan mengaitkan antar konsep. dan menjaga suasana nyaman-menyenangkan. dan saling menghargai. kebebasan-terbuka. c = communication. kohesif. penciptaan suasan kondusif perlu dilakukan. Quantum Memandang pelaksanaan pembelajaran seperti permainan musik orkestra-simfoni. E. Prinsip quantum adalah semua berbicara-bermakna. 62. dengan E = energi yang diartikan sukses. konsep harus dialami. Hibrid Model hibrid adalah gabungan dari beberapa metode yang berkenaan dengan cara siswa mengadopsi konsep. 63. semua mempunyai tujuan. Oleh karena itu . optimalkan komunikasi + dengan aktivitas optimal. tiap siswa selesai tugas langsung diperiksa-dinilai. integrasi. 64. latihan. virtual workshop menggunakan computer-internet. Strategi quantum adalah tumbuhkan minat dengan AMBak. yaitu mulai dari mengolah informasi-koneksi informasi. Penutup Kehidupan akan terasa indah ap[abila ada variasi. Sintaks: keterbukaan-urun ide-penguatan. penggunaan ide kreatif-konflik internal-skill. alami-dengan dunia realitas siswa. m = massa yaitu potensi diri (akal-rasa-fisik-religi). menciptakan inovasi. Rumus quantum fisika asdalah E = mc2. dinamis. interaktif. karena unsur rasa dalam berpikir selalu turut serta dan tak bisa dipisahkan. tiap usaha siswa diberi reward. Sintaksnya adalah: sajian konsep. namai-buat generalisasi sampai konsep. jika keliru langsung dikembalikan untuk diperbaiki dan diperiksa lagi. Perubahan kea rah perbaikan adalah tuntutan alamiah yang menjadi kebutuhan setiap insane dalam setiap kehidupan. partisipatif. Sintaknya adalah pembelajaran ekspositori. dan hipotesis. kelompok-kerjasama. Begitu pulal dalam pembelajaran.

Daniel (1995). New York: Penguin Books. Semoga. Bandung: JICA-FPMIPA. tidak lagi takut dalam berpartisipasi. CTL). melainkan memnjadi kesadaran dan kebutuhan. (2002). Daftar Pustaka Ary Ginanjar Agustian (2002). . New York: Dell Publishing. Use Both Sides of Yoru Brain. Salah satu cara untuk menciptakan suasan yang nyaman dan menyenangkan sert terhndar dari kevbiosanan adalah dengan memahami dan melaksanakan model belajar yang dilakukan siswa. Perth: Edith Cowan University. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Goleman.Ar. Cord (2001).penciptaan suasana kondusif perlu dilakukan sehingga dalam belajar siswa tidak lagi merasa cemas. Frame of Mind: The Theory of Multiple Ilntelligences. Gardner. dkk. tidak lagi dirasakan sebagai kewajiban. Buzan. Emotional Spritual Quotient (ESQ). S. komunikasi positif yang efektif. De Porter. What is Contextual Learning. Ditdik SLTP (2002). 3rd ed..:Depdiknas. Jakarta. Emotional Intelligence. Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning. dalam suasana perasaan yang nyaman dan menyenangkan. Quantum Learning. New York: Bantam Books. dan model pembelajaran yang inovatif. New York: Basic Bools. Erman. WWI Publishing Texas: Waco. Tony (1989). Howard (1985). Burton. Bobbi (1992). L (1993). The Constructivist Classroom Education in Profile. Jakarta: Arga.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->