http://educare.e-fkipunla.net/index.php?

option=com_content&task=view&id=40&Itemid=3 Penelitian Tentang Manfaat Tujuan Pembelajaran Khusus dalam Proses Belajar Mengajar Ditulis oleh Otong Kardisaputra A. Latar belakang masalah Sejak diberlakukannya Kurikulum 1975, yang waktu itu dikenal dengan sebutan Pembakuan Kurikulum, para guru diwajibkan menggunakan tujuan instruksional khusus (TIK) dalam melaksanakan tugasnya dari mulai perencanaan pengajaran, pelaksanaan proses belajar-mengajar sampai evaluasi pengajaran. Kewajiban itu merupakan implikasi dari penggunaan prinsip objective oriented sebagai salah satu asas pengembangan kurikulum. Penerapan prinsip berorientasi pada tujuan ini nampak pada Kurikulum 1975 dengan dicantumkannya berbagai jenis tujuan yang tersusun secara hierarkhis, dari mulai tujuan pendidikan nasional, tujuan institusional, tujuan kurikuler sampai ke tujuan instruksional umum. Atas dasar tujuan-tujuan itu, guru diwajibkan mengembangkan tujuan instruksional khusus untuk diusahakan pencapaiannya pada proses belajar-mengajar yang diselenggarakannya. Tujuan instruksional khusus itu menjadi tujuan antara untuk mencapai tujuan yang berada di atasnya. Sejak diimplementasikannya Kurikulum 1975 sampai dewasa ini para guru telah terbiasa merumuskan tujuan instruksional khusus yang dewasa ini biasa disebut tujuan pembelajaran khusus (TPK), sebagai bagian penting dari tugas menyusun Program Satuan Pelajaran dan Rencana Pelajaran. Jika dihitung-hitung, penggunaan TPK dalam pengajaran (proses belajar-mengajar) telah berlangsung selama lebih dari seperempat abad. Artinya suatu jangka waktu yang cukup panjang dalam menerapkan suatu gagasan, sehingga layak untuk diperiksa hasilnya, dengan mengajukan pertanyaan: apa dampak dari penerapan ide ini? Persoalan lain yang tidak kurang pentingnya adalah masalah: apakah gagasan itu telah diterapkan secara semestinya? Suatu studi kecil yang dilakukan peneliti di kalangan guru yang mengikuti lanjutan studi di IKIP Bandung (sekarang UPI) dan pada beberapa program penataran dengan pengalaman kerja kebanyakan belasan tahun yang seluruhnya berjumlah 164 orang, ternyata hanya 27, 43 % dari mereka mengaku senantiasa menginformasikan TPK pada fase pembukaan pembelajarannya. Selebihnya mengaku hanya kadang-kadang saja dan bahkan sebagian menyatakan tidak pernah sama sekali memberitahukan TPK kepada para siswanya pada waktu mengajar. Informasi lain diperoleh dari Pengawas (Dikbud) di wilayah Bogor, yang menyatakan bahwa kurang lebih 10% dari guruguru di wilayah itu yang terbiasa menginformasikan tujuan pembelajaran khusus kepada para siswanya ketika mereka mengajar. Data dan informasi itu mengindikasikan kekurang pahaman bagian terbesar dari mereka akan fungsi dan manfaat TPK dalam pembelajaran. Itu sebabnya mereka tidak memperlakukan TPK secara semestinya. Konsekuensinya TPK kehilangan fungsinya seperti digagaskan oleh penggagasnya. Jadi apa yang diharapkan dapat dicapai dari penerapan suatu ide, jika ide itu tidak diterapkan sebagaimana mestinya? Persoalan lain adalah bahwa pengunaan prinsip objective oriented dalam pengembangan kurikulum itu nampaknya tidak didahului oleh suatu kajian mendalam dan luas mengenai keampuhan prinsip itu bila diterapkan di Indonesia. Boleh jadi

penerapan prinsip itu hanya didasarkan pada expert judgement semata. Bukankah betapa pun bagusnya sebuah ide di lingkungan tertentu tidak akan serta merta bagus pula untuk diterapkan di lingkungan lainnya. Aspek sosial, budaya, dan sumber daya akan turut menentukan keberhasilan penerapan suatu gagasan. Apa lagi jika kita baca beberapa literatur, ternyata di Amerika Serikat sindiri pun tempat lahirnya gagasan perlunya TPK dalam pembelajaran, sempat menjadi sebuah isyu kontroversial di antara para pakar. Beberapa pakar, misalnya L.T. Dawley dan H.H. Dawley (1974), P.C. Duchastel dan B. Brown (1975), W.E. Hauck dan J.W. Thomas (1972), R.J. Kibler (1977), dan lain-lain, melalui penelitiannya masing-masing menemukan bahwa penggunaan TPK dalam proses belajar-mengajar ternyata dapat meningkatkan keberhasilan siswa belajar. Tetapi sebaliknya H. Hausdorf (1965), R.L. Ebel (1970), E.W. Eisner (1967) memandang penggunaan TPK dalam mengajar tidak jelas manfaatnya. W.J. Popham menulis secara rinci dan mendalam yang esensinya meragukan validitas sejumlah argumen yang diajukan sejumlah pakar mengenai kekurang bermaknaan penggunaan TPK dalam pengajaran. Fenomena yang mengindikasikan belum meratanya kematapan pemahaman guruguru akan fungsi dan kemanfaatan dan cara bagaimana memperlakukan TPK dalam mengajar serta adanya inkonsistensi hasil penelitian dan pandangan yang saling berbeda di antara sejumlah pakar di Amerika Serikat (R.J. Kibler, 1981; W. Dick dkk. 1985; R.I. Arends,1989) telah mendorong dilakukannya penelitian ini. Dengan penelitian ini diharapkan diperoleh pengetahuan empiris mengenai manfaat TPK dalam upaya meningkatkan efektifitas proses belajar-mengajar di sekolah. A. Rumusan Masalah Secara umum, masalah yang hendak diteliti dalam studi ini adalah manfaat penggunaan tujuan pembelajaran khusus dalam proses belajar-mengajar. Secara lebih khusus, masalah itu dapat dirumuskan sebagai berikut: “Apakah penggunaan tujuan pembelajaran khusus meningkatkan efektifitas proses belajar-mengajar?” Tujuan pembelajaran khusus dalam rumusan masalah itu didefinisikan sebagai: “pernyataan yang menjelaskan apa yang diharapkan dapat dilakukan siswa setelah mengikuti satu unit proses belajar-mengajar.” Satu unit proses belajar-mengajar di sini dimaksudkan sebagai satu pertemuan kelas selama dua kali 45 menit dalam mana berlangsung rangkaian hubungan edukatif antara guru dengan siswa dan interaksi antara tindakan pembelajaran guru dengan perbuatan belajar siswa yang ditujukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dimaksudkan dengan kata-kata “penggunaan tujuan pembelajaran khusus” dalam rumusan masalah tersebut adalah perlakuan guru terhadap rumusan tujuan-tujuan pembelajaran khusus yang telah dikembangkan guru sebagaimana yang dicantumkannya dalam program satuan pelajaran dan/atau rencana pelajaran yang dibuatnya. Dalam penelitian ini ditetapkan dua kondisi sebagai berikut: 1. Tujuan pembelajaran khusus telah diperlakukan secara semestinya (benar) apabila tujuan-tujuan pembelajaran khusus yang dibawa guru ke dalam kelas belajar diinformasikan kepada siswa dengan jelas pada fase pembukaan proses belajarmengajar sehingga tujuan pembelajaran khusus menjadi fungsional; 2. Tujuan pembelajaran khusus diperlakukan secara tidak semestinya apabila

Pembentukan Pengetahuan Sains, Teknologoi dan Masyarakat dalam Pandangan Pendidikan IPA Ditulis oleh Reviandari Widyatiningtyas A. Pembentukan Pengetahuan Pengetahuan yang dimiliki seseorang pada dasarnya berupa konsep-konsep. Konsepkonsep ini diproleh individu sebagai hasil berinteraksi dengan lingkungan. Dengan konsep-konsep dapat disusun suatu prinsip, yang dapat digunakan sebagai landasan dalam berpikir. Konsep didefinisikan oleh beberapa ahli sebagai berikut. Menurut Good (1973: 124), konsep adalah gambaran dari ciri-ciri, yang dengan ciri-ciri itu objek-objek dapat dibeda-bedakan. Menurut Yelon et al. (1971: 190), konsep adalah elemen umum dari sekelompok objek, peristiwa atau proses. Sedangkan menurut Kuslan dan Stone (1968: 79), konsep adalah sifat Khas yang diberikan pada sejumlah objek, proses, fenomena, atau peristiwa, yang dapat dikelompokkan berdasarkan sifat khas itu. Rumusan definisi yang dikemukakan diatas mengandung makna yang sama, yaitu konsep merupakan suatu abstraksi yang mengambarkan ciri-ciri umum dari sekelompok objek, proses, peristiwa, atau fenomena lainnya. Gagne (1985 ; III ) dan Gagne and Briggs (1974: 40) menyatakan bahwa konsep dapat digolongkan kedalam dua golongan yaitu konsep konkrit dan konsep terdefinisi. Konsep konkrit adalah konsep yang menunjukkan ciri-ciri atau atribut dari suatu objek, yaitu relatif mudah dikenali dengan indra. Contoh konsep konkrit misalnya konsep warna (merah, hijau), bentuk (bulat, datar), sifat (keras, lunak), dan sebagainya. Konsep terdefinisi adalah konsep yang dapat dikenali (dipahami) melalui definisi, jadi sifatnya abstrak. Contoh konsep terdefinisi misalnya konsep: penduduk, fertilitas, ovulasi, dan sebagainya. Praget (dalam Dahar, 1989: 159) melalui penelitiannya tentang bagaimana anak memperoleh konsep atau pengetahuan, berkesimpulan bahwa konsep atau pengetahuan itu dibangun dalam pikiran anak. Hasil penelitiannya ini yang menyebabkan ia dikenal sebagai konstruktivis pertama. Guston et-al (dalam Poedjiadi, 1995: 15) menyatakan bahwa paham konstruktivisme bertitik tolak dari mempelajari bagaimana individu belajar. Pandangan konstruktivisme dalam belajar adalah bahwa individu membangun maknanya sendiri apabila menerima input melalui sensornya. Dalam pembentukan pengetahuan melibatkan kegiatan berpikir. Ada tiga aspek yang diajukan Piaget (dalam Dahar, 1989: 110) dalam membahas berpikir pada anak, yaitu isi, struktur dan fungsi. Isi ialah pola perilaku anak yang khas yang tercermin pada respons yang diberikannya terhadap berbagai masalah atau situasi yang dihadapinya. Jadi isi mengacu kepada tingkah laku yang nampak sebagai pencerminan dari kegiatan intelektual. Kerana itu isi berbeda dari umur ke umur dan satu anak ke anak lainnya. Isi ditentukan oleh struktur kognitif yang disebut skemata atau skema. Struktur kognitif adalah berupa fakta-fakta, konsep-konsep dan generalisasi-

generalisasi yang ada dalam pikiran siswa. Struktuk mengacu pada sifat-sifat penataan (skemata) yang menjelaskan terjadinya tingkah laku tertentu. Skemata merupakan dasar untuk berpikir, untuk melakukan operasi-operasi logis, atau memahami sesuatu. Fungsi adalah cara yang digunakan organisme untuk membuat kemajuan intelektualnya. Proses terbentuknya pengetahuan pada individu sangat ditentukan oleh struktur kognitifnya, yang berupa konsep-konsep yang ada dalam pikirannya. Dengan konsepkonsep yang ada tersebut, memungkinkan individu dapat memikirkan sesuatu dengan cara adaptasi (baik asimilasi maupun akomodasi), yang kemudian hasil-hasilnya disistematikan dengan proses organisasi sehingga dihasilkan struktur (skemata) baru. Dengan stuktur ini akan dihasilkan pola prilaku yang nampak. Piaget (dalam Dahar, 1989: 159) membedakan tiga bentuk pengetahuan berdasarkan sumber utamanya dan penstrukturannya. Tiga bentuk pengetahuan tersebut adalah pengetahuan fisik, pengetahuan logiko-matematik, dan pengetahuan sosial. Pengatahuan fisik meliputi pengetahuan tentang benda-benda dan sifat-sifatnya. Pengetahuan logiko-matematik diabstraksikan dari kegiatan, atau dari koordinasi kegiatan dan bukan bersumber dari onjek itu sendiri, sumber pengetahuan logikomatematik adalah proses berfikir dari individu itu sendiri. Sedangkan proses pembentukan logiko-matematik ialah mengorganisasi tindakan menjadi pola tindakan yang lebih logis melalui modifikasi tindakan struktur kognitif. Pengetahuan sosial terjadi dari hasil interaksi manusia dengan manusia. Individu tidak mungkin memperoleh pengetahuan sosial tanpa berinteraksi dengan manusia lain. Pengetahuan ini didasarkan pada perjanjian sosial, suatu perjanjian atau kebiasaan yang dibuat manusia. Menurut Piaget (dalam Dahar, 1989: 159) pengetahuan sosial seperti nama hari dalam seminggu, tanda atom unsur-unsur, satuan besaran pokok, dapat dipelajari secara langsung, yaitu dari pikiran guru pindah ke pikiran siswa. Namun pengetahuan fisik dan pengetahuan logiko-matematik tidak secara langsung dan utuh dipindahkan dari pikiran guru ke siswa. Kedua pengetahuan ini tidak dapat diteruskan dalam bentuk sudah jadi, setiap siswa harus membangun sendiri pengetahuan itu.

A. Penguasaan Pengetahuan Sains, Teknologi dan Masysarakat Penguasaan pengetahuan sains dan teknologi akan dikaitkan dengan aspek sosial, hal ini dikarenakan satu sama lain saling berkaitan. Untuk memperjelas hal tersebut, dapat diungkap melalui definisi-definisi yang dikemukakan oleh beberapa ahli. Sains, menurut Titus (1959:78), mengandung tiga definisi yaitu sebagai sejumlah disiplin ilmu, sebagai sekumpulan pengetahuan, dan sebagai metode-metode. Disamping itu ditegaskan pula bahwa sains merupakan suatu rangkaian konsep-

konsep yang berkaitan dan berkembang dari hasil eksperimen dan observasi. Menurut Robert B. Sund (1973: 2), sains merupakan suatu tubuh pengetahuan (body of knowledge) dan proses penemuan pengetahuan. Dengan demikian, pada hakekatnya sains merupakan suatu produk dan proses. Produk sains meliputi fakta, konsep, prinsip, teori dan hukum. Proses sains meliputi cara-cara memperoleh, mengembangkan dan menerapkan pengetahuan yang mencakup cara kerja, cara berfikir, cara memecahkan masalah, dan cara bersikap. Sains dirumuskan secara sistematis, terutama didasarkan atas pengamatan eksperimen dan induksi. Teknologi, menurut Fischer (1975), adalah totalitas alat yang dikembangkan oleh masyarakat untuk memperoleh objek-objek materi bagi makanan dan kenyamanan manusia. Menurut Poerwadarminta (1983), teknologi adalah ilmu pengetahuan dan kepandaian membuat sesuatu yang berkenaan dengan hasil industri atau ilmu pengetahuan tentang cara membuat sesuatu yang berkenaan dengan hasil industri atau ilmu pengetahuan tentang cara membuat sesuatu atau melakukan sesuatu, sedangkan menurut UNESCO (1983), teknologi adalah sebagai berikut: ……..technology is the know-how and creative process that may utilize tools, resources, and systems, to solve problems, to enhance control over the natural an man-made environment in endeavour to improve the human condition. Jadi secara ringkas dapat dikatakan bahwa, teknologi merupakan suatu perangkat keras ataupun perangkat lunak yang digunakan untuk memecahkan masalah bagi pemenuhan kebutuhan manusia. Sains melandasi perkembangan teknologi, sedangkan teknologi menunjang perkembangan sains, sains terutama digunakan untuk aktivitas discovery dalam upaya memperoleh penjelasan tentang objek dan fenomena alam, namun juga untuk aktivitas penemuan (invention), misalnya dalam penemuan rumus-rumus. Pengembangan sains ini tidak selalu dikaitkan dengan aspek kebutuhan masyarakat. Sedangkan teknologi, merupakan aplikasi sains yang terutama untuk kegiatan invention, berupa alat-alat atau barang-barang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Jadi pengembangan teknologi selalu dikaitkan dengan kebutuhan masyarakat. Dengan demikian sains, teknologi dan masyarakat merupakan bagian yang tak terpisahkan (Poedjiadi, 1990 ; Yager, 1992: 4). Masyarakat , menurut Aikenhead (dalam Mariana, 1994: 29), adalah suatu lingkungan pergaulan sosial dan kaidah-kaidah yang dianut oleh suatu kelompok masyarakat. Menurut Poerwadarminta (1983), masyarakat adalah sehimpunan orang yang hidup bersama dalam suatu tempat dengan ikatan-ikatan dan aturan-aturan tertentu. Sedangkan, sosial adalah segala sesuatu yang mengenai masyarakat. Jadi, secara ringkas dapat dikatakan bahwa, masyarakat adalah sekelompok manusia yang memiliki wilayah, kebutuhan, dan norma-norma sosial tertentu. Sains, teknologi dan masyarakat satu sama lain saling berinteraksi. Interaksi ini dapat digambarkan seperti gambar sebagai berikut:

Untuk penyusunan materi pendidikan sains. Sains pada hakekatnya merupakan ilmu dan pengetahuan tentang fenomena alam yang meliputi produk dan proses. Pembuatan keputusan-keputusan yang berhubungan dengan kesehatan. Penggunaan proses-proses ilmiah dalam pemecahan masalah-masalah yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. STM dan Literasi Sains dan Teknologi Pendidikan IPA atau pendidikan sains pada hakekatnya merupakan upaya pemahaman. maka kriteria pengembangan evaluasinya dapat mengacu kepada pengembangan evaluasi dalam unit STS atau STM (sains. Mengingat penguasaan sains dan teknologi dalam penelitian ini merupakan penguasaan sains dan teknologi yang berkaitan dengan aspek masyarakat. Evaluasi merupakan suatu pengukuran atau penilaian terhadap sesuatu prestasi atau hasil yang telah dicapai. yaitu untuk meningkatkan pengertian terhadap dunia alamiah (Amien. . 5. 1992:87-88) B. penyadaran. 2. Pemahaman prinsip-prinsip sains dan teknologi yang terlibat dalam alat-alat teknologi yang dimamfaatkan masyarakat. nutrisi. Pemahaman konsep sains dalam pengalaman kehidupan sehari-hari. Evaluasi dalam STM meliputi ruang lingkup aspek: 1. dan pengembangan nilai positif tentang hakekat sains melalui pembelajaran.SAINS TEKNOLOGI MASYARAKAT Untuk mengungkap penguasaan pengetahuan sains dan teknologi tersebut. 1992: 19-20). dapat dilakukan melalui suatu evaluasi. process. atau hal-hal lain yang didasarkan pada konsep-konsep ilmiah. masyarakat). (Varella. Kirham (dalam Wellington. 3. Penerapan konsep-konsep dan keterampilan-keterampilan sains untuk masalahmasalah teknologi sehari-hari. teknologi. 1989: 136) menyarankan bahwa sains hendaknya merupakan akumulasi dari content. Pendidikan sains merupakan salah satu aspek pendidikan yang menggunakan sains sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan umumnya yakni tujuan pendidikan nasional dan tujuan pendidikan sains khususnya. 4.

Berkenaan dengan strategi pelaksanaan pendekatan STM. Melalui kegiatan eksperimen atau diskusi kelompok yang dirancang oleh guru akhirnya dibangun atau dikonstruktur pengetahuan pada peserta didik. model. dan terminologi. mendefinisikan STS sebagai belajar/mengajar sains dan teknologi dalam konteks pengalaman manusia (Poedjiadi. dikenal dengan pengajaran dengan pendekatan STM atau STS. berkaitan dengan kepentingan sosial baik individu maupun masyarakat atau kepentingan-kepentingan lainnya yang berhubungan dengan perlunya pengembangan dan penyesuaian pendidikan sains untuk menghadapi tantangan kemajuan jaman sekarang ini. selanjutnya dikembangkan pula di Inggris dan Australia. menyusun topik-topik tertentu yang menyangkut konsep-konsep yang ingin ditanamkan pada peserta didik. Strategi ini mirip dengan stategi pendidikan IPA terpadu. pengajaran sains dewasa ini perlu dikaitkan dengan aspek teknologi dan masyarakat. Pada awal perubahan tiap topik. Context. Pada saat membahas konsep-konsep tertentu suatu topik yang relevan telah dirancang sesuai strategi pertama dapat diterapakan dalam . Perbedaannya ialah bahwa pada program STM. strategi pertama. National Science Teacher Association atau NSTA. konsep. Pengajaran yang mengkaitkan sains dengan teknologi dan masyarakat. prinsip. Anna Poedjiadi (1995: 4) mengemukakan hal sebagai berikut: Pelaksanaan pendekatan STM dapat dilakukan melalui tiga macam strategi. serta perlu dapat mengantisipasi masalah-masalah sosial yang berkaitan dengan sains dan teknologi tersebut. Tantangan pendidikan sains dewasa ini adalah perlu sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. 1994: 1). sedangkan dalam IPA terpadu tidak mutlak harus dilaksanakan demikian. Pendekatan ScienceTechnology-Society atau STS ini pertama kali dikembangkan di Amerika Serikat pada tahun 1980-an. Masalah atau isu yang ada dilingkungan masyarakat dapat pula diusahakan agar ditemukan oleh peserta didik sendiri setelah guru membimbing dengan cara-cara tertentu. Untuk kepentingan itu. berkaitan dengan metodologi atau keterampilan untuk memperoleh dan menemukan content.dan context. menyajikan suatu topik yang relevan dengan konsep-konsep tertentu yang termasuk dalam GBPP. teori. Content. Process. guru memperkenalkan atau menunjukkan kepada peserta didik adanya isu atau masalah dilingkungan peserta didik atu menunjukkan aplikasi sains atau suatu produk teknologi yang ada dilingkungan mereka. isu atau masalah harus diangkat pada awal pembahasan topik yang diajarkan. menyangkut kepada hal-hal yang berkaitan dengan fakta. Strategi kedua. dalam hal ini pengetahuan yang berbentuk konsepkonsep . definisi.

Pengajaran dengan pendekatan STM dapat meningkatkan literasi sains dan teknioplogi individu. contoh-contoh adanya aplikasi konsep sains.J. isu atau masalah sebaiknyadperkenalkan pada awal pokok bahasan tertentu untuk meningkatkan motivasi peserta didik mempelajari konsep-konsep selanjutnya atau mengarahkan perhatian peserta didik kepada materi yang akan dibahas sebagai apersepsi. (f) berkemampuan membuat keputusan dan terampil menganalisis nilai untuk pemecahan masalah-masalah masyarakat yang berhubungan dengan sains tersebut (Rubba. Literasi sains (scientific literasi). dapat diartikan sebagai pemahaman atas sains dan aplikasinya bagi kebutuhan masyarakat. (e) memilki pengertian hubungan antara sains. serta mampu menerapkannya dalam teknologi dan masyarakat. kreatif membuat produk teknologi sederhana. sadar akan efek hasil teknologi. tepat. Dengan demikian individu tersebut dapat menghargai sains dan teknologi dalam . STM merupakan salah satu alternatif konsep untuk penyempurnaan dan penyesuaian pendidikan sains dewasa ini. 1993: 428). dan mampu bersikap serta mampu menggunakan alat secara aman. (b) mampu menggunakan proses sains. efesien dan efektif. mampu menggunakan produk teknologi dan memeliharanya. mengenal teknologi yang ada beserta dampaknya di sekitar.pembelajaran. memiliki karakteristik: (a) tahu penggunaan dan pemeliharaan produk teknologi. Adapun individu yang literat teknologi menurut M. (e) mampu membuat hasil teknologi alternatif yang sederhana. Konsep ini dapat diwujudkan dalam bentuk pendekatan atau materi pelajaran. serta untuk meningkatkan kemampuan menggunakan pengetahuan didalam membuat keputusan. mengajak peserta didik untuk berpikir dan menemukan aplikasi konsep sains dalam industri atau produk teknologi yang ada di masyarakat di selasela kegiatan belajar berlangsung. Adapun literasi sains dan teknologi (literasi sains dan teknologi untuk semua orang yang diusulkan untuk pendidikan dasar di Indonesia). 1994: 34) . (d) mampu mengevaluasi proses dan produk teknologi. atau kemampuan berkomunikasi melalui tulisan dan kata-kata. Sains-Teknologi-Masyarakat (STM) merupakan perekat yang mengkaitkan sains. (b) sadar tentang proses dan prinsip teknologi. STM dikembangkan untuk meningkatkan literasi ilmiah individu agar mengerti bagaimana sains. teknologi dan masyarakat. berpengaruh satu sama lain. dapat diartikan sebagai kemampuan menyelesaikan masalah dengan menggunakan konsep-konsep sains. (d) memilki pengetahuan tentang konsep dan prinsip sains. Literasi teknologi. Strategi ketiga. teknologi. dapat diartikan sebagai kemampuan melaksanakan teknologi yang didasari kemampuan identifikasi. (c) berpengatahuan luas tentang hasil-hasil riset. Dyrenfurth (dalam Poedjiadi. masyarakat dan nilai-nilai manusia. Krakteristik individu yang memilki literasi ilmiah adalah sebagai berikut: (a) bersikap positif terhadap sains. (c) sadar tentang akibat teknologi terhadap masyarakat. teknologi. Dengan demikian program STM merupakan suplemen dari kurikulum. dan masyarakat secara terintegrasi. dan mampu mengambil keputusan berdasarkan nilai. Literasi dapat diartikan sebagai kemampuan untuk membaca dan menulis.

A. Gordner. Jakarta: PN.S. Balai Pustaka. L. (1985). Hall. Principlesof Instructional Desig.J. A. & Sund. R. _______. R. & Stone. “Partisipasi FPMIPA IKIP Bandung dalam Menunjang Perkembangan Pendidikan Sains dan Teknologi Dewasa ini “.M. (1973).J. C.L. G. (1989). (1968).I. Makalah dan Lokakarya tentang Reorientasi dan perubahan Kurikulum Pendidikan Menengah Umum”.’lay Company. Fischer.B. Teaching Science Through Discovery. Inc. (1974). Kesiapan Guru Mengajarkan Sains di Sekolah Dasar Ditinjau Dari Pengembangan Keterampialan Proses Sains. Bandung. _______. Merrill Publishing. et al. . The Condition of Learning and Theory of Instruction. Disertai Doktor FPS IKIP. Man and Siciety. Jakarta.(1995). R. Gagne. Teori-teori Belajar.masyarakat. R. The Stucture of Science Education. dan mengerti keterbatasan-keterbatasannya (Yager. L. Rinehort and Winston. Jakarta: Erlangga. 17-19 Januari. Gagne. W. DAFTAR PUSTAKA Bloom. R. Maesuring Stage of Concern about The Innovation: A Manual foe use of the Sacial Questionnaire. Poedjiadi. IKIP Bandung: tidak diterbitkan. (1971). Taxonomy of Educational objectives The Classification of Educational Goal Handbook I Cognitive Domain. Poerwadarminta. & Briggs. Carin.V. Dahar.B. Belmount: Wadsworth Publishing Company. A. New York: David Mc.e. (1990). Teaching Children Science: An Inquiry Approach. Kuslan.H. New York: Rinehort and Winston. (1983). Austin: Univercity of Texas. Science. (1980). 3 Mei. Dictionary of Education. P. Philadelphia: Saunders Co. New York: Holt. 1998: 276). New York: Mc Graw Hill Book Company. How Thorn Victoria Australia: Longman Australia Pty Limited.. (Eds). (1975). Columbus: Charles E. “Kecenderungan Pendidikan Sains dan Teknologi dimasa yang Akan Datang. Good.. (1971).M. (1985).W. et al. Makalah Disajikan pada Seminar Staff FPMIPA IKIP Bandung. A. Kamus Umum Bahasa Indonesia. (1979).

& Shoemaker. namun retensinya berbeda signifikan. A. (1971). (1992). Pendahuluan 1.W. eranan Pertanyaan Terhadap Kekuatan Retensi dalam Pembelajaran Sains pada Siswa SMU Ditulis oleh Taufik Rahman ABSTRAK Telah dilakukan penelitian tentang peranan pertanyaan terhadap retensi dalam pembelajaran sains pada siswa SMU. Science Education. Macam pertanyaan yang diajukan oleh guru secara lisan atau tulisan menentukan keberhasilan siswa dalam peningkatan berpikir dan penguasaan konsep (Dahar. 2-8. Living Issues In Philoshophy. tetapi lebih jauh perlu dianalisis apakah konsep-konsep yang diajarkan dapat lekat dalam ingatan siswa ataukah cepat terlupakan karena pembelajaran yang dilakukan hanya berupa transfer hapalan belaka..H. “Science-Technology-Society as Reform”. New York: Free Press.F. Rubba. Untuk mengetahui efektifnya model pembelajaran. “Greater Ability to Apply Concepts Using and Science/Technology/Sociaty Approach to Teaching Science”.(1959). . Varella.M. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil postes siswa dari kedua pembelajaran pada umumnya sangat baik demikian pula retensinya. (1993). R. 407-431. Analisis di atas dipandang kurang terungkap padahal merupakan sesuatu yang perlu diketahui dan diteliti. Communication of Innovation: Crosscultural Approach.E. Sampel diambil secara claster random yang meliputi satu kelas eksperimen menggunakan pertanyaan pengarah dan satu kelas kontrol dengan pertanyaan biasa tanpa pengarah dalam pembelajarannya. ICASE YEARBOOK. 87-92. R. hendaknya tidak hanya dari penguasaan konsep saja. P.F.A. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen. Titus.Rogers. G. New York: American Book Company. ICASE YEARBOOK. Hasil postes dari kedua pembelajaran tidak berbeda. Faktor retensi atau lekatnya konsep dalam ingatan kurang mendapat perhatian padahal dapat dijadikan indikator bermutunya hasil belajar atau pembelajaran. F. Yager. E. H. “Examination of Preservice and Inservice Secondary Science Teachers Beliefs about Science –Technology-Society Interactions”. (1992). Tes retensi dilakukan setelah tiga minggu dari pos tes. Latar Belakang Masalah Keberhasilan belajar Sains di SMU umumnya diukur dari seberapa jauh siswa menguasai konsep yang diajarkan. retensi siswa hasil pembelajaran dengan pertanyaan penuntun lebih baik dari pertanyaan biasa.

dapat . mengarahkan atau menuntun pada arah tertentu. dan untuk mengungkap gagasan siswa (Wynne Harlen. tentunya perlu dianalisis pertanyaan-pertanyaan yang bagai mana yang secara baik dapat menggali ingatan dan yang bagaimana pula yang secara baik dapat menguatkan ingatan. mendorong siswa berfikir. banyak hal yang telah disimpan dalam ingatan sulit untuk diproduksikan lagi. dapat mengembangkan pola dan cara berfikir aktif siswa. B. Konsep yang dipahami secara baik oleh siswa dari pembelajaran dapat disimpan dalam ingatan atau memori yang kemudian akan dipergunakan pada saat diperlukan. Lupa bisa dikurangi dengan berbagai cara. Pertanyaan penuntun berupa rangkaian pertanyaan yang saling berkaitan untuk menjawab pertanyaan pokok. Peranan Pertanyaan Dan Retensi Dalam pembelajaran Sains 1. Pertanyaan dalam pembelajaran antara lain digunakan untuk menguji daya ingat siswa. 1991: 97). hal ini dikenal sebagai lupa (Abin Syamsudin. Namun. Bagaimana peranan pertanyaan terhadap kuatnya retensi dalam pembelajaran sains pada siswa SMU? b. Suatu pertanyaan yang diberikan secara tersusun dengan baik dapat memberikandampak positif sebagai berikut: Dapat meningkatkan partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran. Rumusan Dan Batasan Masalah a. 1996:458). Kuatnya retensi ditentukan dengan perbandingan tes retensi (postes ke-2) dengan postes kali 100 persen. 2) Pembelajaran sains meliputi pembelajaran biologi konsep polusi air di satu SMUN di Bandung. 1996:117). 3) Retensi adalah kemampuan mengingat konsep setelah selang waktu tiga minggu. Rumusan Masalah Masalah umum penelitian ini dirumuskan sebagai berikut. Kemampuan untuk menyimpan dalam ingatan ini dikenal sebagai retensi. karena pertanyaan dapat menggali informasi dari ingatan (Winkel. Pertanyaan biasa adalah pertanyaan-pertanyaan yang berdiri sendiri tanpa menghiraukan kaitannya dengan pertanyaan pokok. Batasan Masalah 1) Pertanyaan yang diteliti meliputi pertanyaan penuntun dan pertanyaan biasa atau tidak menuntun.1985:122). salah satunya dengan memberikan pertanyaan. dapat membangkitkan minat dan rasa ingin tahu siswa terhadap masalah yang sedang dibahas. 2. Pada kenyataannya. Peranan Pertanyaan Dalam pembelajaran Sains Pertanyaan merupakan komponen yang amat diperlukan dalam pembelajaran sains.

pertanyaan mengarahkan atau menuntun (promting question) dan pertanyaan menggali (probing questions) ( Moh. Retensi dan lupa merupakan dua istilah yang tidak dapat dipisahkan.1999:4).. maka proses belajar siswa tidak berlangsung dengan baik dan sebaliknya jika tidak belajar maka tidak akan ada retensi.C. yaitu: (1) mengubah susunan pertanyaan dengan kata-kata yang berbeda atau lebih sederhana yang disesuaikan dengan pengetahuan murid-muridnya. Uzer Usman. Dalam materi tersebut meliputi konsep konkret dan abstrak. (1978 & 1990) (dalam Semb et. banyak hal yang perlu dipahami dan diingat.C. (3) memberikan suatu review informasi yang diberikan dan pertanyaan yang membantu murid untuk mengingat atau melihat jawabannya (E. Pertanyaan biasa berupa pertanyaan tunggal untuk mengungkap penguasaan konsep. Peranan Retensi Dalam Pembelajaran Sains Retensi atau ingatan terhadap pengetahuan yang dipelajari merupakan faktor yang penting dalam suatu pembelajaran sains misalnya biologi. Hursh (1976). Retensi erat hubungannya dengan belajar. Dengan demikian aspek retensi sangatlah diperlukan. 1991: 97). al. Kulik et. 1996: 18).menuntun proses berfikir siswa untuk menentukan jawaban yang baik. Dalam pembelajaran sains kedua jenis pertanyaan tersebut senantiasa dipergunakan. pertanyaan retoris (rhetorical questions). Pertanyaan permintaan (compliance questions). Pertanyaan pengarah berupa pertanyaan berangkai (lebih dari satu pertanyaan yang satu sama lain berkaitan) yang ditujukan untuk menuntun siswa menguasai konsep. Retensi mengacu . jenis pertanyaan biasa umumnya lebih mendominasi. Hal ini didukung oleh pernyataan yang dikemukakan oleh James Dese (1959: 236) bahwa jika tidak ada retensi. Bentuk pertanyaan Pengarah berbeda dari pertanyaan biasa. 1995: 74) Berdasarkan karakteristiknya pertanyaan antara lain digolongkan sebagai berikut. Pertanyaan produktif dan non produktif (Sheilla Jelly. Namun. Dalam mempelajari sains biologi. Dengan demikian salah satu bentuk promting adalah menanyakan pertanyaan lain yang lebih sederhana yang jawabannya dapat dipakai menuntun siswa untuk menemukan jawaban yang tepat (Suwandi dan Tjetjep S.1987:72).1997: 43) 2. 1993: 305) diantaranya membuktikan bahwa kita menyimpan banyak ingatan terhadap apa yang telah dipelajari di sekolah. Pertanyaan konvergen dan pertanyaan divergen (Conny Semiawan. Banyaknya pertanyaan yang diajukan dalam pembelajaran tidak menunjukkan bahwa pembelajaran tersebut lebih berkualitas (Wynne Harlen. (2) menanyakan pertanyaan-pertanyaan sederhana yang membawa mereka kembali pada pertanyaan semula. 2000: 75) Bentuk pertanyaan promting dapat dibedakan menjadi 3. dalam Nuryani Rustaman..Wrag dan George Brown 1997: 43). Banyak penelitian yang telah dilakukan oleh para ahli pendidikan yang berkaitan dengan retensi. dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Guskey & Gates (1985). mutu pertanyaan guru sebanding dengan jawaban yang akan diperoleh dari pertanyaan tersebut (E. dan dapat memusatkan perhatian siswa terhadap masalah yang sedang dibahas (Moh Uzer Usman. Wrag dan George Brown . baik secara tertulis dalam Lembar Kerja Siswa(LKS) maupun secara lisan oleh guru di kelas. al. Namun. misalnya topik polusi.

1959: 241). Ilmuwan yang pertama kali meneliti tentang retensi adalah Ebbinghaus pada tahun 1885. kecuali bila informasi tersebut ditahan lebih lama melalui proses penyimpanan. Winkel (1996: 305). tidak diperlukan individu sehingga tidak dihiraukan. menggambarkan tahapan proses tersebut terjadi dengan urutan sebagai berikut: 1) siswa menerima rangsang dari reseptor. tugas yang harus dipelajari. Sedangkan dalam masalah lupa Winkel (1987: 297) menyatakan bahwa gejala lupa mudah terjadi pada pengetahuan kognitif bila individu tidak berhasil mengkonstruksi pengetahuannya sendiri atau tidak berhasil mengaitkan konsep-konsep yang dipelajarinya dengan konsep-konsep yang telah dimilikinya. sehingga membentuk suatu kebulatan perseptual.pada tingkat dimana materi yang telah dipelajari masih melekat dalam ingatan. Dalam tahap ini retensi merupakan proses penyimpanan pemahaman dan perilaku baru yang diperoleh setelah mengalami proses acquisition (fase menerima informasi). 1959: 236). Retensi merupakan salah satu fase dalam tahapan belajar. Pembelajaran yang menitik beratkan pada guru (teacher centered) dinilai telah gagal untuk mengembangkan pemahaman yang permanen. Dengan demikian dalam pembelajaran dipandang perlu untuk menitik beratkan pada aspek-aspek bernalar sehingga pembelajaran menjadi bermakna. 2) rangsang yang masuk ditampung dalam sensori register dan diseleksi. Hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Ebinghaus adalah kurva retensi yang menunjukkan bahwa retensi dapat berkurang dengan cepat setelah interval waktu tertentu dan lupa atau berkurangnya retensi ini dapat terjadi beberapa jam pertama setelah proses belajar berlangsung (James Dese. Oleh karena itu tidak mengherankan apabila banyak ilmuwan dibidang pendidikan menyatakan bahwa proses pembelajaran memegang peranan penting terhadap retensi siswa. 1994: 3) terhadap siswanya di Berkeley membuktikan bahwa dengan menggunakan metode pembelajaran secara tradisional dimana guru bertindak . 1993: 305) menyatakan bahwa faktor-faktor yang dapat mempengaruhi LTM tehadap pengetahuan yang telah dipelajari dalam kelas adalah tingkat dari materi yang dipelajari. dalam Susan Hanley. Dalam tahap belajar terjadi proses internal dalam pikiran siswa. 5) pada saat diperlukan siswa menggali informasi yang telah dimasukkan dalam LTM untuk dimasukkan kembali ke dalam STM Dengan melihat proses internal yang terjadi dalam siswa. 3) pola perseptual tersebut masuk ke dalam ingatan jangka pendek (Short Term Memory / STM) dan tinggal disana selama 20 detik. Semb dan Elis (1992) (dalam Semb dan Elis. 4) penampungan hasil pengolahan informasi yang berada dalam STM dan menyimpannya dalam ingatan jangka panjang (Long Term Memory / LTM) sebagai informasi yang siap pakai sewaktu-waktu pada saat diperlukan. Sehingga dapat dikatakan bahwa jumlah yang dilupakan sama dengan jumlah yang telah dipelajari dikurangi dengan ingatan yang masih tersimpan (James Dese. Lupa akan terjadi apabila materi yang dipelajari tidak menarik. Penelitian yang dilakukan oleh Angelo (1991. metode pembelajaran. maka fase ke 3 dan 4 dimana ingatan dimasukkan dan ditahan dalam STM dan kemudian dimasukkan ke dalam LTM merupakan proses yang amat penting bagi retensi. sedangkan lupa mengacu pada porsi ingatan yang hilang. Dan sebagaimana yang telah disebutkan oleh Winkel di atas informasi tersebut dapat ditahan lebih lama melalui proses penyimpanan. Tentu saja yang dimaksud dengan proses penyimpanan ini berkaitan dengan bagaimana informasi ini dapat diterima dan dikonstruksikan dan akhirnya disimpan dalam benak siswa. dan perbedaan individual.

T2(1)= Pos-tes. X1= Pembelajaran dengan menggunakan pertanyaan pengarah. dan T2(2)= Tes retensi (pos-test ke-2) D. X2= pembelajaran dengan menggunakan pertanyaan biasa. Rekapitulasi Rata-rata Nilai Pre-tes. dan Retensi siswa . C. Untuk memenuhi hal tersebut guru sedapat mungkin melibatkan siswa dalam proses pembelajaran. Mereka terlalu sibuk mencatat dam memasukkan informasi tanpa melalui seleksi ke dalam ingatan mereka. Pos-tes. salah satunya adalah dengan memberikan pertanyaan untuk memacu keterlibatan berpikir siswa sehingga siswa dapat menggunakan dan mengaitkan konsepkonsep yang telah dimilikinya. sehingga dengan demikian memungkinkan kuatnya retensi siswa terhadap konsep-konsep yang diajarkan. Disain Penelitian Kelompok Eksperimen Kontrol Keterangan: Tes awal T1 T1 Perlakuan X1 X2 Tes akhir 1 Selang Waktu Tes akhir 2 T2(1) 3 minggu T2(2) T2(1) T2(2) T1= Tes awal / pre-test. Bila konsep-konsep tersebut terkait satu sama lain maka akan terbentuk pengetahuan yang bermakna yang tidak mudah untuk dilupakan. Dengan demikian perlu diupayakan pembelajaran yang bermakna bagi siswa. Tabel 1. Pembelajaran yang banyak melibatkan panca indra dalam proses berpikir dapat memungkinkan pembelajaran menjadi lebih bermakna. yang digambarkan dengan tabel sebagai berikut: Tabel 1.sebagai penyampai informasi dan siswa penerima informasi didapatkan hasil bahwa kurang dari 20% dari siswanya dapat mengingat apa yang telah disampaikan oleh guru. Hasil Penelitian Hasil penelitian dalam bab ini disajikan dalam bentuk tabel-tabel di bawah ini. Metode dan Desain Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen untuk membandingkan dua perlakuan pembelajaran yang berbeda. Desain penelitian yang digunakan adalah modifikasi Randomized Control Group Pre-test Post-test Desain. yaitu pembelajaran dengan menggunakan pertanyaan pengarah dan pembelajaran dengan menggunakan pertanyaan biasa tanpa pengarah.

) Keterangan: X Sd T R Eksperimen Retensi % Pre-testPos-tes Retensi % Reten-si 1 (Post-test Reten-si 2) (Pos-tes ke-2) 50.Konsep/sub Nilai Kontrol konsep Pre. Retensi.58 8.2%) 1 (2.64 Z hit > Z tab Berbeda secara signifikan (Pos tes 2 kel.5 9.27 8.7 X = rata-rata nilai.3%) (8.58 81.25 1.4 33 52 59 75.16 1.4%) 5 (13.25 98. Rekapitulasi Predikat Penguasaan Siswa Pada pos test.64 Z hit < Z tab Tidak berbeda secara signifikan Polusi Air Retensi 3.8%) 4 (11.3 26 63 63 78.7%) 18 (50%) 3 3 (8.6 7. Eksperimen > Pos (Postes 2) tes 2 kel. Sd = standar deviasi. T = nilai tertinggi.3%) 16 (44. dan Retensi Konsep Polusi Air Batas nilai 100-80 Kriteria Sangat baik Pos tes 1 K E 19 21 (52.64 Z hit < Z tab Tidak berbeda secara signifikan Postes 1 1. Rekapitulasi hasil uji dua rata-rata (Uji kesamaan) Konsep/Sub Uji rata-rata kel.9%) 3 (8.9 95.4 12.48 1.8%) 70 – 79 Baik 60 – 69 Sedang 50 – 59 Kurang Keterangan: (41.93 10. Z hitung Z tabel Hasil perbandi.3%) 11 (30.3%) Retensi K 33 E 35 (97.3%) (58.Posttest test Polusi Air (LKS Eksp.8%) 10 (27.6%) 4 (11. dan R = nilai terendah Tabel 2.1%) - Pos tes 2 K E 12 15 (33.3%) - - . Kontrol *dilakukan dengan uji t1 Tabel 3.98 50.1%) 3 (8.03 79 74.36 80.07 11.7%) (91. ngan atara Z Eksperimen hitung & Z tabel Pretes 1.83 78 100 89 125 67 100 96 116.75 8.Keterangan Konsep Kontrol & kel.

maka proses belajar yang bermakna dan retensi akan mudah terjadi pada orang tersebut. Pembahasan Dilihat dari hasi rata-rata nilai (tabel 1) terdapat peningkatan nilai rata-rata post tes dari pretes. 1989:159). Dari rata-rata hasil yang diperoleh terhadap retensi dapat disimpulkan bahwa siswa yang menggunakan pertanyaan pengarah dalam pembelajarannya berbeda secara signifikan dibanding siswa yang pembelajarannya menggunakan pertanyaan biasa / pertanyaan bukan pengarah. Melalui pertanyaan yang mengarahkan. 1999:8) yang dirancang untuk mendorong siswa agar terlibat secara aktif dalam pembelajaran sehingga siswa dirangsang untuk berpikir dan melakukan kegiatan bermakna. sebaliknya. Dalam hal ini pertanyaan yang sifatnya mengarahkan telah menuntun siswa dalam menemukan jawaban yang tepat (Moh. Dalam proses belajar yang bermakna ini terjadi proses mengaitkan informasi baru pada konsep-konsep yang relevan yang terdapat dalam struktur kognitif siswa. Pertanyaan baik berupa pertanyaan pengarah maupun pertanyaan biasa merupakan faktor ekstrinsik yang mempengaruhi minat. kabur dan tidak terorganisasi dengan baik cenderung merintangi proses belajar bermakna dan retensi. 2000:75). Uzer Usman. maka struktur kognitif siswa akan lebih terorganisasi. Artinya bahwa hasil pembelajaran menggunakan pertanyaan pengarah unggul dalam hal retensi atau lebih kuat dapat diingat.K= kelompok kontrol. Dari hasil uji kesamaan dua rata-rata (tabel 2). Hasil retensi siswa kelompok eksperimen memiliki nilai yang lebih tinggi dibanding siswa pada kelompok kontrol. (1973:460) berpendapat bahwa taraf belajar menjadi faktor penentu bagi retensi siswa. Lebih jauh lagi Richard Anderson dan Gerald Faust. pada struktur kognitif yang tidak stabil. Peristiwa ini dapat disimpulkan bahwa retensi siswa dengan pembelajaran yang menggunakan pertanyaan pengarah pada lebih baik dibandingkan dengan retensi siswa yang pembelajarannya menggunakan pertanyaan biasa/bukan pengarah. Menurut Slameto (1995:123) makin jelas. . dan E = kelompok eksperimen E. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran dengan pertanyaan pengarah maupun dengan pertanyaan biasa (tanpa pertanyaan pengarah) sama-sama dapat meningkatkan penguasaan konsep siswa. namun berbeda signifikan pada retensi (pos tes ke-2). James Deese (1959:253) mengemukakan bahwa salah satu faktor penting yang dapat mempengaruhi retensi siswa adalah taraf belajar (level of learning) seseorang. pembelajaran dengan menggunakan pertanyaan pengarah antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dalamsub konsep polusi air tidak memiliki perbedaan secara signifikan pada pos tes . jelas dan stabil. stabil serta terorganisasinya struktur kognitif seseorang. sikap dan motivasi siswa untuk mengkonstruksikan pengetahuan mereka sehingga terbentuk konsepsi dan meningkatnya pemahaman siswa terhadap konsep yang mereka pelajari (Ratna Wilis Dahar. Pertanyaan yang sifatnya mengarahkan ini merupakan salah satu jenis pertanyaan yang baik (Nuryani Rustaman.

F. Peristiwa Lupa merupakan hal yang biasa terjadi pada manusia. mengorganisasikan dan mengkonstruksikan konsep-konsep dalam benak siswa. sehingga siswa kemungkinan tidak belajar lagi. mengakomodasikan. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan penguasaan konsep dan terutama mengingat dengan baik. 1996:158). Kesimpulan Pemberian pertanyaan baik pertanyaan penuntun atau pengarah maupun pertanyaan biasa tanpa penuntun dalam pembelajaran sains (konsep polusi air) pada siswa SMU sama-sama memberikan peranan yang signifikan terhadap kuatnya retensi siswa . seperti yang dikatakan oleh Robert Travers (1982:1994) “forgetting is normal everyday and constant reminder of our limitations”. Dalam selang waktu tiga minggu. Namun. 1996:305). umumnya sangat baik dan tidak ada perbedaan yang signifikan antara keduanya. penemuan sendiri. karena postes 2 dilaksanakan dalam selang waktu 3 minggu setelah pos tes 1 diberikan. pembelajaran yang menggunakan pertanyaan penuntun memberikan dampak terhadap retensi lebih kuat dari pada hasil pembelajaran yang menggunakan pertanyaan biasa dan berbeda secara signifikan. 1975 (dalam Muhibbin Syah. Kesimpulan Dan Saran 1. secara umum jumlah siswa kelompok eksperimen lebih banyak yang menduduki peringkat sangat baik. Dengan bantuan pertanyaan pengarah pada LKS eksperimen dapat mengembangkan proses berfikir dan keterampilan proses. umumnya sangat baik. Sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna dan berakibat pada baiknya retensi siswa (Wyne Harlen. Berdasarkan predikat skor pada postes 1. . Dengan dilakukannya postes 2 dalam jangka selang waktu dimana siswa telah mendapatkan materi yang baru. Selain itu Hilgard dan Bower. Selain itu juga pertanyaan yang mengarahkan ini mendorong siswa untuk terlibat secara aktif dalam mengasimilasikan.Dari tabel 3 dapat dilihat adanya penurunan rata-rata nilai tes dari postes 2 (retensi) dibanding rata-rata nilai postes 1. Terutama penurunan ini terjadi lebih banyak pada kelompok eksperiemen diabandingkan dengan kelompok kontrol. 2 dan persentase retensi (tabel 3). retensi siswa juga variatif berkisar antara baik dan sangat baik. Perbedaan ini disebabkan karena pembelajaran pada kelompok ekperimen menggunakan LKS dengan pertanyaan pengarah yang dapat mempengaruhi proses internal yang terjadi dalam siswa ketika ingatan dimasukkan dan ditahan dalam STM yang kemudian dimasukkan ke dalam LTM (Winkel. sedangkan pos tes ke-2(tes retensi) tidak diberi tahu. Hal ini dapat diartikan bahwa semakin banyak siswa menguasai konsep semakin banyak ia lupa. penggunaan memori. 1996:102). baik dan cukup dibandingkan dengan kelompok kontrol. 1996:160) mengatakan bahwa lupa dapat terjadi karena materi pelajaran yang telah dikuasai tidak pernah digunakan/dihapalkan oleh siswa. maka materi yang baru tersebut akan mengganggu pemanggilan kembali materi yang sudah tersimpan dalam ingatan (Muhibbin Syah. Pelaksanaan pos tes 1 diberitahukan sebelumnya kepada siswa sehingga siswa belajar terlebih dahulu menghadapi tes. Hasil postes dari kedua pembelajaran variatif berkisar antara kurang dan sangat baik. Hal ini disebabkan karena terjadinya peristiwa lupa. lupa merupakan kejadian yang biasa karena keterbatan manusia dalam mengingat.

Milton Keyners: Open University Press Mohamad Uzer Usman. The condition of Learning and theory of Instruction. 1959. Teaching and The Science of Learning. 1990. New York: Holt. Practical Statistics for Field Biology. (271): 117-123. DAFTAR PUSTAKA Anderson. Jakarta: Gramedia George J. 1967. Ratna Wilis Dahar. 1985. 1995. Renehart and Winston.M. Mengingat retensi merupakan hal yang penting dari suatu pembelajaran. Graw Hill Book Comp. Handout Mta Kuliah SBM: Tidak diterbitkan Osborne. New York: Holt. Agar hasil pembelajaran dapat memberi dampak retensi yang kuat. Gagne. Menjadi Guru Profesional. 1999. Bandung: Rosdakarya Nuryani Rustaman. Journal of Education Psychology. Teknik Bertanya dan Keterampilan Bertanya. Pertanyaan. Saran a. R. vol. 1974.C. No. Inc.J. dalam pembelajaran guru hendaknya terampil membuat LKS dan memberi pertanyaan pertanyaan untuk siswanya terutama pertanyaan pengarah yang dapat menuntun siswa memahami konsep dengan baik. J. 1992. School Science Research. New York: Renehart and Winston George. and Briggs L.M. Alternatives to Practical Work. Semb and Ellis. Principoles of Instructional Design. The Psychology of Learning.2: 305-316 . Long-term Memory For Knowledge Learned in School. Bertanya.2. 1993. R. Jim Flower and Lou Cohen. maka penelitian yang berkaitan dengan retensi perlu dikembangkan misalnya yang berkaitan dengan faktor internal siswa seperti intelegensi dan faktor eksternalnya seperti jenis materi dan model pembelajaran. 25. b. 1997. London: Mc. Dampak Pertanyaan dan Teknik Bertanya Guru Selama PBM IPA Pada Berpikir Siswa. 1973. R. 1993. Laporan Penelitian: tidak diterbitkan.85.. B and Wragg. Psychology for Effective Teaching.M. James Deese. Rinehart and Winstron. New York: Harper and Row Publishers Gagne..

Wang and Thomas. Jakarta: Rineka Cipta Susan Hanley. Pendahuluan Sikap dari seorang guru adalah salah satu faktor yang menentukan bagi perkembangan jiwa anak didik selanjutnya.M. Malahan pada dasarnya lebih banyak hal-hal yang dipelajari manusia dengan tak sadar dan terencana . Jakarta: Gramedia. karenanya masalah sikap guru dalam mengajar perlu mendapat perhatian kita semua. R. Yakni membimbing perkembangan diri sesuai dengan tugas-tugas perkembangan tersebut. Bila mana ditinjau secara luas akan jelas nampak bahwa manusia yang hidup dan berkembang adalah manusia yang selalu berubah dan perubahan itu adalah hasil belajar. norma atau nilai-nilai yang diyakini sebagai suatu . W. 1997. 87. 1987.Slameto. London: David Futton Publishers Sikap Mengajar Guru Serta Pengaruhnya dalam Pendidikan Ditulis oleh Sungging Handoko A.. Hanya soalnya tidak semua peristiwa belajar itu berlangsung secara sadar dan terarah.W.C. No. Constructivist Theory. pendidik dan anak didik berlangsung pada ukuran. tetapi juga dilihat tingkah lakunya dalam kehidupan sehari-sehari oleh anak didiknya. The Teaching of Science. Jakarta: Rasindo Wynne Harlen. pendidikan merupakan proses yang berfungsi membimbing pelajar didalam kehidupan. New York: Mc. bahwa di dalam peristiwa pendidikan. Effect of Keywords on Long-Term Retention: Help or Hindrance?. Processing and Learning. Pendidikan menurut hakekatnya memang adalah suatu peristiwa yang mempunyai aspek normatif yang artinya. Karena siikap seorang guru tidak hanya dilihat dalam waktu mengajar saja. Keterampilan Mengajar di Sekolah Dasar. 1997. Internet Travers. Graw Hill Book Comp.3: 468-475 Winkel. 1982. Mengingat pada saat ini banyak sikap dari seorang guru tidak lagi mencerminkan sikapnya sebagai seorang pendidik karena adanya berbagai faktor yang mestinya tidak terjadi dalam dunia pendidikan. 1992. Journal of Education Psychology vol. Menyadari bahwa perubahan yang tak disadari dan tak diarahkan lebih banyak memberikan kemungkinan perubahan tingkah laku yang berada di luar titik tujuan.S. E. Belajar Dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya. 1987. dalam mencukupi kebutuhan hidup baik sebagai individu maupun sebagi anggota masyarakat.. Information. 1995. Psikologi Pengajaran. Wragg. Proses pendidikan berlangsung tidak tanpa alasan dan atau tujuan.

Dalam pada itu perlu ditegaskan.yang baik. Adapun sikap itu muncul dalam hubungan antara manusia yang mempunyai hubungan. Memang ada juga pendidikan yang dilakukan oleh orang tua dengan anaknya dan itu terjadi di rumah. Hendaknya turut diperhatikan segala sesuatu yang mengandung arti bagi seorang pendidik atau suatu lingkungan pendidikan. Pada dasarnya pendidikan ini sangat penting bagi umat manusia dalam mencapai taraf hidup yang mulia. Perasaan bersatu itu dapat merupakan pengikat antara orang tua dan anak. Karena dalam pendidikan ini biasanya dilakukan dalam keadaan sadar antara pendidik dan anak didik. Dalam sikap seseorang itu selalu terdapat suatu ketegangan antara milik pribadi yang tunduk pada sikapnya dengan perasaan bersatu dengan pemangku kesikapannya. Bukanlah dengan mudah dapat dilihat bahwa pendidik mengingini atau menolak sesuatu. bahwa manusia bersama-sama dengan manusia lainnya yang memerlukannya. bahwa seseorang yang ingin mempengaruhi orang yang belum dewasa. belum tentu ia dapat disebut seorang pendidik. memperoleh/mengharuskan atau memberantas atau sikap tertentu. antara murid dan guru dan dapat juga merupakan rasa kekeluargaan yang berdasarkan kepentingan bersama antara orang-orang yang menurut alamnya bukan satu keluarga dan banyak lagi bentuk lain. . Memberi contoh mengenai suatu tindakkan sedang suatu hal yang lain dijauhkan dari alam sekitar anak. itu sebabnya mengapa sikap itu tidak dapat dilepaskan dari diri/pribadi pemangku sikap itu. mempengaruhi. Sebab pendidikan ini sangat mempengaruhi kehidupan manusia. Namun dari sikap dan tindakkanya telah mungkin diperoleh suatu gambaran dari seorang pendidik tidak hanya cukup menguraikan tapi harus memperhatikan sifat lahirnya (bentuk). maka sikap itupun tergantung pada manusia itu sendiri bagaimana caranya manusia itu menggunakannya dalam kehidupannya sehari-hari. Hanya usaha mempengaruhi yang demikian saja yang dapat disebut “pendidik” dan “mendidik” ialah mempengaruhi dengan maksud mencapai tujuan yang bersesuaian dengan pembentukan pribadi anak. Sebab sifat yang khas pada seorang pendidik ialah bahwa setiap usaha. disegani dan dijunjung tinggi martabatnya di masyarakat. Karena dengan mencapai pendidikan yang tinggi manusia akan dihormati. Sikap-sikap dan pengaruhnya dalam pendidikan Kalau kita tinjau pengertian sikap ini. bahwa mulanya tidak dapat dilepaskan dari hadirnya pemangku sikap itu sendiri. maka pengertian itu relatif adanya. A. Walaupunn tidak semuanya dilakukannya menurut suatu rencana tertentu. yang mana semuanya ini bersifat memberi bantuan kepada anak dalam perkembangannya mencapai “tujuan hidupnya”. Jadi bukan hanya bersama-sama pada suatu tempat. Karena mengingat sikap itu terdapat di dalam diri manusia. dan memeberi bantuan kepada anak tertuju kepada pendewasaan anak itu atau lebih cepat “membantu anak agar cukup cakap melaksanakan tugas kehidupannya sendiri”.

jangan berbicara terlalu keras dan jangan pula berbicara terlalu pelan atau lemah. Ia makin bertambah bingung dan pelajaran menjadi kacau dan gagal sama sekali. Tak usah berpakaian yang gemerlapan atau dari bahan yang sangat mahal. Bagi seorang guru kita haris berani: . kalau guru ribut kelas akan segera ribut pula. Kalau mereka belum tenang dan jangan mulai mengajar atau melanjutkan pelajaran. bisa sikap itu berubah bila sikapnya itu dianggap salah olehnya. Sebenarnya hal ini tidak perlu dibicarakan akan tetapi mengingat keadaan sekarang. jangan menggangap. kalau murid-murid belum tenang sungguh-sungguh. padahal ia telah membuat persiapan dengan sungguh-sungguh. Sikap di muka kelas. Sikap berpakaian. Tetapi tidak dengan begitu saja ia akan merubh sikapnya itu tanpa ia mentelaah lagi kesalahan dari sikapnya itu. maka percakapan itu akan menjadi menjalar dan kelas akan menjadi gaduh.Sikap sesorang itu susah dipengaruhi oleh orang lain bila ia telah menentukan sikapnya. Kerena itu peganglah teguh disiplin kelas. kalau guru ragu-ragu dan kelas menjadi tentang kalau guru bersikap tegas dan bijaksana. maka hal ini kita bicarakan. B. Akibatnya seorang guru tidak dapat mengajar dengan tenang. dimana orang sering sempat berani dan bebas serta progresif dalam hal berpakaian. Kalau masih ada murid-murid yang bercanda. Tunjukkanlah semua pertanyaan kepada semua kelas seluruhnya dan baru kemudian tunjukkanlah seorang murid-murid menjawab. Sikap-sikap guru dalam mengajar serta pengaruhnya. 2. Bergeraklah dengan tengan dan berbicaralah dengan suara yang sedang dan jangan ribut. Sering suasana kelas dipengaruhi oleh sikap guru di muka kelas. Bergembiralah selalu (sebagai seorang guru harus pandai bermain sandiwara). berbicaralah dengan tenang dan tegas. Jangan bercelana Napoleon atau bergaun you can see di muka kelas. mereka harus mengidahkan suruhannya. bersikap tegas berarti begini: kalau guru menyuruh murid-muridnya supaya tenang. Sebaiknya seorang guru berpakaian hendaknya sopan. Bersikap tegas tidak sama dengan bersikap keras. Mengenai sikap di muka kelas perlu diperhatikan hal-hal yang lain. dan sikap adalah salah satu faktor yang terdapat di dalam diri seseorang. mungkin guru. sederhana tetapi terpelihara. Ingat bahwa seorang guru yang ganjil dalam berpakaian dapat menerbitkan geli hati dan celaan muridmurid. Ia merasa bahwa ada sesuatu yang menggelisahkan dan meragukan hatinya dengan sendirinya ia tidak dapat menyatukan segala perhatiannya dan pikirannya pada pelajaran yang sedang ia berikan. jangan terlalu banyak menggunakan gerak-gerak tangan waktu berbicara. sedang susah namun janganlah kesusahannya itu ditunjukkan kepada murid-murid. Kelas menjadi gaduh. yaitu. Memang sikap adalah hak seseorang untuk menentukan sesuatu. 1. bercakap-cakap dan guru terus melanjutkan mengajar. Jadi sikap itu sangat berpengaruh dalam diri sesorang. Karena dengan sikap bahwa orang itu mempunyai yang dapat dipertanggung jawabkan.

. memukulnya dan sebagainya. d. murid-murid dapat bekerja bersma-sama. 5. Guru selalu kecewa dan kekecewaan yang terus menerus dapat menjadikan guru mudah putus asa. Ciptakan suasana kelas yang baik. matanya. 4. hal ini sangat merugikan bagi perkembangan anak murid selanjutnya. yang tolol. 3. Jangan mengajak murid-murid.a. dan sebagainya. Karena itu harap sabar. b. Janganlah guru lekas marah karena itu. Lebih berbahaya lagi kalau seorang murid dijadikan sasaran ejekan teman-temannya. namun demikian hasilnya tidak sesuai dengan apa yang diharapkannya. Sikap yang mengejek murid. e. yang kotor. mengeluarkan kata-kata yang kasar yang dapat mematahkan semangat belajar murid. Sikap yang lekas marah Banyak hal yang dapat mengecewakan guru. Mereka giat bekerja dan merasa suatu keluarga. mencela. Dalam kelas yang suasananya baik. Dan kata-kata demikian ini secara paedagogis dan psychologis tidak dapat dipertanggung jawabkan. bahwa ia telah mengajar dengan baik dan sungguh-sungguh. Jangan memberi hukuman badan. mencelanya. umpamanya: murid yang tidak sopan . c. Guru yang kecewa mudah berbuat hal-hal yang tidak baik umpamanya mengejek. yang selalu gaduh. mengejek. Anak-anak tidak selalu segera mengerti akan maksud kita dan mengindahkan keinginan kita. f. kata-kata yang demikian dapat membuat murid-murid bersikap acuh tak acuh dan menjadi putus asa. Guru mudah marah menghukum anak. Sering guru merasa. orang yang lekas marah mudah bertindak yang kurang baik. cintailah muridnurid seperti ibu bapak mencintai anak-anaknya. karena hasil pengajaran dan pendidikan kita tidak selalu segera kelihatan oleh kita. Banyak anak murid yang menjadi sakit hati dan tak mau berbuat lagi sesuatu. Sikap sabar. Jangan bersikap putus asa. Usahakanlah murid-murid bekerja sendiri. Seorang guru ilmu pasti pernah melemparkan kata-kata demikian kepada seorang murid “meskipun kamu bekajar 10 tahun lagi kamu tak akan mengerti juga”. Berani memandang tiap-tiap murid. saling tolong menolong. Asas-asas didaktik teleh diprektekkan Ia mengajar dengan penuh kegembiraan dan enthousianisme.

jarang melarang. melempar dsb. Memang masih ada guru-guru yang memberi hukuman badan. 9. Murid-murid akan lekasa mengerti. umpamanya: memukul. dan kedua-duanya tidak baik. guru boleh memberi hukuman badan. Menurut hemat penulis. Dan mereka sendiri yang diperlakukan lebih manis itu merasa tidak senang akhirnya. gurupun membutuhkan sejumlah pengetahuan. mereka lekas-lekas mengecap gurunya dengan kata-kata: tidak adil. Menurut peraturan sekolah. Murid yang lebih kecil itu biasanya tidak berani melawan. Guru yang baik. metode dan kecakapan dasar lainya yang perlu dapat untuk melaksanakan tugasnya. bahwa hukuman itu satu-satunya obat yang manjur untuk memperbaiki murid. Larangan yang banyak dapat menimbulkan kemungkinan besar untuk melanggar peraturan tanpa disadari oleh murid-murid. dan hukuman yang diberikan sesungguhnya tidak begitu dipertimbangkan. guru dilarang memberi hukuman badan. Secara personlijk sesungguhnya tidak memberi larangan mutlak. Yang satu diperlakukan lebih manis dari pada yang lain. Memukul murid dengan tongkat kecil. Dengan hukuman yang demikian itu murid dapat dirugikan/disakiti karenanya. karena itu jangan banyak melarang. montir. 8. apakah guru itu bertidak adil dan jujur. ahli hukum. Guru yang banyak mengadakan larangan membuktukan bahwa perinta-perintahnya tidak dituruti oleh murid-muridnya. ada yang meminta lebih . atau ia menjadi takut kepada guru. Sikap yang banyak memberi larangan. Jadi hukuman itu tidak diartikan pada waktu guru bernyala-nyala marahnya. dan tidak diberikan untuk membalas dendam. Sikap yang memberi hukuman badan. insinyur. menedang. Suasana kelas akan menjadi lebih buruk karena sikap guru yang demikian. Ada jenis pekerjaan yang lebih banyak menuntut syarat fisik. bahwa guru memperlakukan mereka tidak sama. Sikap guru yang bertanggungjawab Sama halnya dengan dokter. Bersikap jujur dan adil. ini adalah suatu bahaya bagi mereka. bukan hak itu tidak jarang dilakukan. artinya: kalau ia sudah mempertimbangkan hukuman itu masak-masak. untuk memberi hukuman badan. tetapi dalam hatinya timbul rasa tidak senang terhadap guru. sebab biasanya perintahnya dituruti. Larangan biasanya merupakan hal yang tidak menyenangkan bagi murid. tidak jujur. kalau ia sebagai orang tua terhadap anaknya. bertanggung jawab penuh atas tindakannya itu. Dan itu membuktikan bahwa tidak ada ketertiban. Lagi pula kalau guru sudah sering atau biasa memberi hukuman badan ia tidak segansegan memberi hukuman yang lebih berat lagi kepada murid. pilih kasih dan sebagainya. mereka lekas melihat. 7.6.

Baru Jakarta 1996. Mashoed. cv. Penutup Daripembahasan diatas ini. Dengan tidak adany rasa tanggung jawab dari seorang guru maka tidak mustahil bila tujuan pendidikan yang akan dicapai akan tidak tercapai apa yang diharapkan oleh guru itu sendiri maupun oleh orang tua sekolah dan negara. ada pula pada syarat intelek. serta menjadikan murid-muridnya menjadi manusia dewasa susial serta bertanggung jawab moral. Karena dengan tidak adanya rasa tanggung jawab dari guru maka anak didik itu akan berbuat hal-hal yang tidak dibenarkan dalam pendidikan. Beknopte Theoretische Paedagogiek. Toha Putra. A. Bahwa sikap guru dalam mendidik memiliki pengaruh terhadap perkembangan jiwa anak didik sehinggaGuru. Guru harus menjadi pembimbing dan penyuluh yang segar yang memelihara dan mengarahkan perkembangan pribadi dan keseimbangan mental murid-muridnya. maka dapat diambill beberapa kesimpulan Bahwa pendidikan merupakan unsur yang terpenting dalam kehidupan manusia. seorang guru harus mempunyai rasa tanggung jawab yang dalam. Yang kemudian dianalisa dan dikembangkan melalui sebuah masa pendidikan. Jakarta 1989.33 Thn..J. diterjemajkan. Bila seorang guru tidak mempunyai rasa tanggung jawab maka banyak pengaruhnya pada anak didik itu.. Karena seringkali anak didik akan mencontoh apa-apa yang dilakukan oleh pendidiknya. nasco. Memang dalam mendidik. VI Januari 1993 M. P. Begitu pula keadaannya dengan tugas mengajar bila ditinjau sebagi tugas yang memperoleh gambaran mengenai jenis pengetahuan dan ketrampilan dasar yang dibutuhkan setiap orang yang mempersiapakan diri untuk terjun dalam bidang ini. Majalah Mahasiswa No. Semarang 1995. Didaktik Metodik. Memang kenyataan-kenyataan itu membenarkan teori didaktik yang meletakkan berbagai pertanggungan jawab pada pundak seorang guru disamping tugasnya mengajar suatu pengetahuan. Salah satu caranya ialah dengan mengamati dan menganalisa berbagai situasi pendidikan. dituntut memiliki sikap yang tepat sesuai dengan tuntutan tugas profesionalnya sebagai seorang pendidik yang bertanggung jawab.banyak syarat-syarat emosi. sosial dan sebagainya. cv. DR. Prof. Bambang Laksono. Pedoman Mengajer Oleh Raga Pendidikan Di sekolah Dasar. Daftar pustaka Abu Ahmad. Langevld. Dalam pendidikan hendaknya seorang guru harus dapat bertanggung jawab demi masa perkembangan anak didiknya. I. Simanjuntak M. Dan guru memjadi orang tua mereka di dalam mempelajari dan membangun sistem nilai yang dibutuhkan dalam masyarakat. C. Yang menyebabkan perbedaan-perbedaan jenis pekerjan itu adalah tuntutan yang terdapat pada setiap jenis pekerjaan. .

kerja sama murni. FKIP-UNLA 2000. pada kerja sama . Dan perlu melakukan perubahan yang bersifat sistemis bukan bersifat kosmetik . cetakan ketiga. (A. Dan teknologi canggih atau “teknik-teknik” cerdas apapun yang dibangun di atas landasan lama ini tidak akan dapat membantu memperbaiki permasalahan. Metode-metode belajar konvensional. Bandung 1993. akarnya telah tertanam sejak zaman kuno. Winarno Surakhmad. bahwa pembelajaran terutama bersifat verbal dan kognitif. dan tidak efektif.L. satu-ukuran-untuk-semua. belajar adalah bekerja untuk menemukan cara-cara mempercepat dan mengoptimalkan belajar . yang dilahirkan pada awal era ekonomi industri. Accelerated Learning: Pendekatan Baru Pembelajaran Ditulis oleh Eki Baihaki Dave Meier. kontrol luar. Yang kita butuhkan adalah landasan yang benar-benar baru. Landasan lama didasarkan pada anggapan bahwa pembelajar adalah konsumen. Sebagai suatu gerakan modern yang mendobrak cara belajar di dalam pendidikan dan pelatihan terstruktur yang muncul kembali sebagai akibat adanya sejumlah pengaruh pada paro kedua abad ke-20. lamban. adanya kegembiraan dan kesenangan dalam belajar. yang diterbitkan oleh McGraw-Hill New York tahun 2000. kontrol birokrasi terpusat. Tarsito. penulis buku The Accelerated Learning Handbook.) telah dipraktikkan oleh setiap anak yang dilahirkan. Belajar dan Pembelajaran . motivasi internal (dan bukan sematamata eksternal). dan program pelatihan sebagai proses jalur perakitan. cenderung menyerupai bentuk dan gaya pabrik: mekanisasi. pelatih sebagai pelaksana program. dan tekanan pada format “Saya-bicara-kau-mendengar” (yang juga dikenal sebagai teknik membosankan). variasi dan keragaman dalam metode belajar.L. Revolusi dalam Belajar Kepercayaan-kepercayaan abad kesembilan belas dan awal abad kedua puluh di Barat cenderung membuat pembelajaran muram. Dimana Kita merasa bahwa itulah satu-satunya cara untuk mempersiapkan pelajar menjalani kehidupan yang kering dan membosankan Idealnya Belajar ditandai dengan keterlibatan penuh pembelajar.Otang Kardi Saputra. Alasannya? Belajar bukan lagi persiapan untuk bekerja. dan integrasi belajar yang lebih menyeluruh ke dalam segenap kehidupan organisasi. pengondisian behavioristis (hadiah dan hukuman). pada prestasi individu. pengotak-ngotakan (orang dan pokok masalah).) adalah cara belajar yang alamiah. mengajak kita untuk memperbarui pendekatan kita terhadap pembelajaran untuk memenuhi tuntutan adanya dinamika kebudayaan yang bermetabolisme tinggi ini. Dasar Dan Teknik Instraksi Mengajar dan Belajar. organis bukan sekedar mekanis. fragmentasi. standardisasi. Accelerated Learning (A. Landasan baru didasarkan pada anggapan bahwa pembelajar adalah kreator.

Pendekatan Lozanov Pada 1970-an. Pendekatan belajar ini mengharuskan penumpulan diri seseorang sepenuhnya. Belajar pada Abad Kedua Puluh Satu Kini. statis. tugas pendidikan dan pelatihan adalah mempersiapkan orang untuk hidup di dunia yang pasang surut.) Lozanov merasa metode ini juga dapat diterapkan pada pendidikan. Lozanov mendapati bahwa dengan menenangkan pasien psikiatri dengan musik barok dan memberi mereka sugesti positif mengenai kesembuhan mereka. kita semua harus menjadi inovator. Tugas pendidikan dan pelatihan adalah mempersiapkan orang untuk menghadapi dunia yang relatif sederhana. Belajar pada Abad Kesembilan Belas Cita-cita pendidikan abad kesembilan belas (yang masih mempengaruhi pemikiran banyak orang sekarang ini) adalah melatih orang dalam perilaku lahiriah yang didefinisikan secara sempit. Bukannya menghasilkan manusia “fotokopi” seperti pada abad ke 19. yaitu dunia tempat setiap orang harus mengerahkan seluruh kekuatan pikiran dan hati mereka sepenuhnya dan bertindak berdasarkan kreativitas yang penuh kesadaran . dan kita lamban menyadarinya. kini kita harus menghasilkan “tokoh orisinal” yang dapat mengerahkan sepenuhnya energi mereka yang potensial dan menjanjikan. dan program belajar yang menyediakan lingkungan belajar yang kayapilihan dan cocok untuk seluruh gaya belajar. sugesti. Buku itu mengundang perhatian banyak pendidik dan guru yang sedang mencari pendekatan belajar yang lebih efektif. Kabar mengenai temuannya menyulut imajinasi guru bahasa dan pendidik di mana-mana. dengan menggunakan bahasa asing sebagai materi subjek.dan prestasi kelompok. Dia mendapati bahwa kombinasi musik. Kesulitannya sekarang adalah bahwa dunia semacam itu tidak ada lagi. dia mulai melakukan penelitian mengenai pengaruh musik dan sugesti positif pada pembelajaran. (Dia menyebut ini “cadangan pikiran yang tersembunyi”. Lynn Schroeder dan Sheila Ostrander menerbitkan sebuah buku berjudul Superlearning yang mengemukakan karya psikiater Bulgaria. Georgi Lozanov. Kita harus membebaskan kecerdasan setiap orang yang unik dan bukan menindasnya atas nama staandardisasi atau “budaya perusahaan”. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Accelarated Learning . banyak pasien tersebut mengalami kemajuan besar. Dengan disponsori pemerintah Bulgaria. kesalingterkaitan. agar dapat memperoleh hasil standar yang dapat diramalkan. bukan sesuatu yang mudah diramalkan dan tidak membutuhkan pikiran. Yang dicari: membuat perilaku sejalan dengan produksi dan pemikiran rutin. dan dapat diramalkan. Di setiap tingkatan. Dia merasa telah menemukan cara untuk melangkah masuk ke dalam sesuatu jauh di lubuk jiwa yng lebih dalam daripada kesadaran rasional. Keadaan sudah tidak seperti dahulu lagi. dan permainan kanak-kanak memungkinkan pelajar untuk belajar jauh lebih cepat dan jauh lebih efektif. belajar sebagai aktivitas seluruh pikiran/tubuh.

nonmekanistis. Gerakan Pendidikan Humanistis yang dimulai pada 1950-an. metode. Beberapa gerakan paralel pada abad ke-20 telah mendukung hidupnya berbagai pendekatan pendidikan alternatif: Gerakan Sekolah Progresif yang dimulai pada 1920an. dan gerakan Sekolah Summerhill di Inggris yang dipimpin oleh Alexander Sutherland Neill. Evolusi yang berlangsung lambat laun (namun tidak sempurna) dari kebudayaan yang didominasi pria menjadi kebudayaan yang menyeimbangkan perasaan pria dan wanita memungkinkan berkembangnya pendekatan yang leih lembut. Lenyap sudah pendapat bahwa belajar itu semata-mata aktivitas verbal dan “kognitif”. kolaboratif. Belajar adalah Berkreasi. 3. Runtuhnya Behaviorisme sebagai psikologi yang dominan dalam pembelajaran telah mendorong timbulnya keyakinan-keyakinan dan praktik-praktik yang lebih manusiawi dan holistis. secara otomatis patuh pada proses yang mandiri. memakai “otak kiri”. 4. dan sarafnya. tetapi juga melibatkan seluruh tubuh/pikiran dengan segala emosi. Prinsip-prinsip Accelerated Learning. Pengetahuan bukanlah sesuatu . dan aplikasi A. telah mempertanyakan banyak asumsi lama kita mengenai pembelajaran. langkah-demi-langkah) dan bangkitnya fisika kuantum telah memberi kita apresiasi baru terhadap kesalingterkaitan dari segala sesuatu dan terhadap hakikat realitas yang nonlinear. Penelitian mutakhir menunjukkan bahwa belajar yang paling baik melibatkan emosi. Penelitian tentang gaya belajar menunjukkan orang belajar dalam cara yang berbeda-beda dan satu jenis belum tentu tepat untuk semua orang. Kebudayaan dan keadaan di tempat kerja yang selalu berubah telah membuat banyak metode pendidikan dan pelatihan menjadi lamban dan usang dan telah membuka pintu bagi pendekatan alternatif. rasional. 6. dan Gerakan Sekolah Bebas pada 1960-an. Belajar tidak hanya menggunakan “otak” (sadar. dan verbal). dan bersifat mengasuh pada aktivitas belajar. semua indra. Sekolah Waldorf oleh Rudolph Steiner. diantaranya : 1. Bukan Mengonsumsi.Banyak faktor lain telah memberikan sumbangan pada perkembangan yang mantap dan berlangsung terus-menerus dalam filosofi. linear. terutama penelitian mengenai otak dan belajar. Ilmu kognitif modern.L. 2. Belajar Melibatkan seluruh Pikiran dan Tubuh. dan segenap kedalaman serta keluasaan pribadi (yang disebut oleh Lozanov “cadangan pikiran yang tersembunyi”). Ini telah menantang secara serius gagasan kita mengenai pendidikan dan pelatihan formal sebagai proses jalur perakitan atau ban-berjalan. indra. 5. 7. Tumbangnya pandangan-dunia Newtonian (bahwa alam bekerja seperti mesin. Gerakan Pendidikan Confluent yang dimulai pada 1940-an. seluruh tubuh. dan “hidup”. Yang juga berpengaruh besar adalah Sekolah Montessori yang didirikan oleh Maria Montessori. 2. kreatif. 1.

4. Hal-hal yang dipelari secara terpisah akan sulit diingat dan mudah menguap. 7. melainkan menyerap banyak hal sekaligus. Semua usaha belajar yang baik mempunyai landasan sosial. Persaingan di antara pembelajar memperlambat pembelajaran. Pembelajaran Berlangsung pada Banyak Tingkatan secara Simultan. dan menerjunkan diri kembali. cara bernyanyi dengan bernyanyi. jalan dalam sistem total otak/tubuh seseorang. . melainkan sesuatu yang diciptakan pembelajar. Perasaan menentukan kualitas dan juga kuantitas belajar seseorang. otak bukanlah prosesor berurutan. Bagaimanapun juga. Kerja Sama Membantu Proses Belajar. melainkan prosesor paralel. jaringan saraf baru. dan menarik hati. cara menual dengan menjual. 3. Belajar bukan hanya menyerap satu hal kecil pada satu waktu secara linear. Perasaan negatif menghalangi belajar. dan pola interaksi elektrokimia baru di dalam sistem otak/tubuh secara menyeluruh. Otak-Citra Menyerap Informasi secara Langsung dan Otomatis. Belajar yang penuh tekanan. dan otak akan berkembang pesat jika ia ditantang untuk melakukan banyak hal sekaligus 5. Aspek Ekonomi dalam Pendidikan Ditulis oleh Cucu Lisnawati Penulis: Cucu Lisnawati. Suatu komunitas belajar selalu lebih baik hasilnya daripada beberapa individu yang belajar sendiri-sendiri. mendapatkan umpan balik. cara mengelola sesuatu dengan mengelolanya. S. indra. Kerja sama di antara mereka mempercepatnya. Menerjemahkan abstraksi verbal menjadi berbagai jenis gambar konkret akan membuat abstraksi verbal itu bisa lebih cepat dipejari dan lebih mudah diingat. Belajar Berasal dari Mengerjakan Pekerjaan Itu Sendiri (dengan Umpan Balik). Pembelajaran terjadi ketika seorang pembelajar memadukan pengetahuan dan ketrampilan baru ke dalam struktur dirinya sendiri yang telah ada. Gambar konkret jauh lebih mudah ditangkap dan disimpan darpada abstraksi verbal. Kita belajar berenang dengan berenang. Pembelajaran yang baik melibatkan orang pada banyak tingkatan secara simultan (sadar dan bawah-sadar. Perasaan positif mempercepatnya. Belajar paling baik adalah dalam konteks. dan cara memperhatikan kebutuhan konsumen dengan memperhatikan kebutuhannya. Sistem saraf manusia lebih merupakan prosesor citra darpada prosesor kata. Emosi Positif Sangat Membantu Pembelajaran. mental dan fisik) dan memanfaatkan seluruh saraf reseptor.Pd. Belajar secara harfiah adalah menciptakan makna baru. Kita biasanya belajar lebih banyak dengan berinteraksi dengan kawan-kawan daripada yang kita pelajari dengan cara lain manapun. menyakitkan. merenung. 6. dan bersuasana muram tidak dapat mengungguli hasil belajar yang menyenangkan.yang diserap oleh pembelajar. (dosen tetap pada Universitas Langlangbuana di Bandung). Pengalaman yang nyata dan konkret dapat menjadi guru yang jauh lebih baik daripada sesuatu yang hipotetis dan abstrakasalkan di dalamnya tersedia peluang untuk terjun langsung secara total. santai.

investasi dalam pendidikan. jawaban atas pertanyaan tersebut dapat digambarkan berikut ini. pendidikan harus dipandang sebagai investasi. yang secara jangka panjang kontribusinya dapat dirasakan. tidak selamanya pendidikan dianggap sebagai konsumsi atau pembiayaan. Sudah saatnya. Untuk menjawab hal tersebut di atas. Ahli-ahli ekonomi mengembangkan teori pembangunan yang didasari kepada kapasitas produksi tenaga manusia di dalam proses pembangunan. kita tidak dapat melepaskan diri dari masalah pembangunan. Baik secara langsung maupun tidak langsung. Ukuran-ukuran Kontribusi Pendidikan Terhadap Pembangunan dan Pertumbuhan Ekonomi Bagaimanakan keterkaitan pendidikan dan pertumbuhan ekonomi? Secara sederhana. kontribusi pendidikan terhadap ekonomi dan pembangunan harus diakui. Teori ini didasari pertimbangan bahwa cara yang paling efisien dalam melakukan pembangunan nasional suatu negara terletak pada peningkatan kemampuan masyarakatnya. pembiayaan dalam pendidikan. A.Abstrak: Masalah pendidikan sebenarnya tidak dapat dilepaskan dari masalah ekonomi. Dengan demikian. Kata Kunci: Ekonomi pendidikan. Konsep pembangunan dalam bidang sosial ekonomi sangat beragam tergantung konteks pengggunaanya. yang kemudian dikenal dengan istilah Invesment in Human Capital. Selain itu dihipotesiskan pula bahwa faktor utama yang mendukung .

televisi Dengan demikian kriteria untuk menilai keberhasilan pembangunan: 4. Diantara ukuran-ukuran tersebut. tetapi sekolah bukan satu-satunya tempat dimana keterampilan itu dapat dicapai. Dengan kata lain. Namun demikian pada kenyataannya tingat pengangguran di hampir seluruh negara bertambah sekitar 2 % setiap tahunnya (World Bank:1980) Terjadinya pengangguran bukan disebabkan tidak berhasilnya proses pendidikan. Adannya sumber daya manusia yang dapat memanfaatkan teknologi yang ada. Perubahan peta ketenagakerjaan dari pertanian ke industri 3. 6. diantaranya: 1. Pendapatan per-kapita 2. 5. Sekolah memang dapat menghasilkan tenaga kerja dengan keterampilan tertentu. yaitu 1. Adanya pemanfaatan teknologi tinggi secara efisien. namun pendidikan tidak selalu harus menghasilkan lulusan dengan jenis pekerjaan tertentu. Hal inilah yang menyebabkan teori human capital percaya bahwa investasi dalam pendidikan sebagai investasi dalam meningkatkan produktivitas masyarakat. Pola keterkaitan antara pendidikan dan pembangunan berbeda sesuai dengan . Kepuasaan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat. Peningkatan dalam efisiensi sistem produksi masyarakat yang diukur dengan GDP dan GNP. Pencapaian tujuan-tujuan oleh berbagai kelompok dalam masyarakat.pembangunan adalah pendidikan masyarakat. Konsumsi energi atau pemakaian barang berteknologi tinggi seperti mobil. pendidikan menyiapkan tenaga-tenaga yang siap bekerja. Sumber daya manusis seperti itu dihasilkan melalui proses pendidikan. Terdapat berbagai macam faktor untuk mengukur bagaimana pertumbuhan ekonomi diukur dengan baik. Teori human capital mengasumsikan bahwa pendidikan formal merupakan instrumen terpenting untuk menghasilkan masyarakat yang memiliki produktifitas yang tinggi. yang dikaitkan dengan penggunakan sumber daya yang terbatas. Asumsi dasar yang melandasi keharusan adanya hubungan pendidikan dengan penyiapan tenaga kerja adalah bahwa pendidikan diselenggarakan untuk meningkatkan keterampilan dan pengatahuan untuk bekerja. dan 2. telepon. Menurut teori ini pertumbuhan dan pembangunan memiliki 2 syarat.

konsumsi energi yang lebih besar dibandingkan negara kurang berkembang. Teknologi tinggi dan sumberdaya yang mengoperasikannya 2. penduduknya memiliki pendapatan perkapita yang lebih tinggi. Pemerintah memiliki peranan di dalam mengontrol jalannya proses produksi dan pemasaran. Analisis terhadap pendidikan biasanya bersifat ex-post fakto. 1. Pendapatan per-kapita 3. Di negara non-industri. Di Amerika Serikat yang sudah maju. Ekonomi di negara sosialis. artinya data diperoleh dari kejadian-kejadian yang telah lampau. Metode yang sering dipakai dalam penelitian evaluasi adalahl linear regresion and the educational production. Kaitan antara pendidikan dengan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan seolah tidak terlihat karena pembangunan sangat diatur oleh negara. sehingga jumlah tabungan semakin lebih besar dan pada akhirnya akan diinvestasikan lagi pada sistem ekonomi yang telah berjalan. Negara Kapitalis vs Negara Sosialis. Berdasarkan hal tersebut di atas. memiliki konteks yang berbeda dalam mengitepretasikan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan. Di negara maju memiliki akumulasi modal yang lebih besar. perekonomiannya sangat tergantung kepada sektor pertanian sehingga persentase tenaga kerjanya lebih banyak yang bekerja di sektor non-industri. Di negara maju. Ekonomi di negara kapitalis mengasumsikan bahwa model produksinya bebas dari intervensi pemerintah dan mensyaratkan adanya kompetisi terbuka di dalam pemasaran. Hubungan antara pendidikan dan pertumbuhan ekonomi sangat erat dan pendidikan merupakan suatu hal yang diperlukan. maka dapatlah dirumuskan ukuran-ukuran sebagai berikut. Konsumsi energi atau pemakaian barang berteknologi tinggi . sebagai akibat dari kelebihan pendapatan setelah dikurangi kebutuhan konsumsi. Di Meksiko persentase di sektor yang sama adalah 23 % dan 33 %. Dari uraian di atas. Secara ringkas tampak berikut ini. Sebenarnya konsep bagaimana pendidikan itu harus dievaluasi harus dikembangkan sejak tujuannya ditetapkan. pemakaian teknologi yang canggih. Perubahan peta ketenagakerjaan dari pertanian ke industri 4. Jelas bagaimana pentingnya analisis kontribusi pendidikan dalam pembangunan.karakteristik khas setiap negara. Negara Industri vs Non-Industri. bukan ditentukan oleh masing-masing warga negara. Hubungan antara pendidikan dan pembangunan di negara maju sangat jelas dilihat dari adanya perubahan karakteristik individu yang berkaitan dengan tingkat pertumbuhan ekonomi. Salah satu alasan banyaknya kontroversi tentang kaitan antara pembangunan dan pendidikan disebabkan karena sedikit sekali kebijakan pendidikan yang dimonitor benar-benar dan juga dievaluasi hasilnya. 1. persentase pekerja yang bekerja di sektor industri sebesar 33 % dan di bidang jasa/service sebesar 66 %. 2. dengan memperhatikan kerangka berpikirnya dan metodologinya. maka untuk membicarakan lebih lanjut kontribusi pendidikan terhadap pembangunan harus ditemukan kriteria-kriteria atau ukuranukuran pertumbuhan atau hasil pembangunan.

Arrow (1962) mengemuikakan bahwa istilah investasi atau investment merupakan alokasi current resources yang mempunyai alternatif produktif yang berguna untuk pelaksanaan kegiatan yang dapat menambah keuntungan yang diperoleh di masa yang akan datang. Dengan demikian jelas bahwa investasi merupakan penanaman modal atau uang yang sengaja dilakukan untuk mendatangkan keuntungan melalui produk yang dihasilkan. maupun Pendapatan Perkapita 3.5. yang meliputi partisipasi pendidikan untuk setiap jenis dan jenjang pendidikan 2. Sementara itu pendidikan merupakan usaha manusia untuk membangun manusia itu sendiri dengan segala masalah dan spektrumnya yang terlepas dari dimensi waktu dan ruang. maka untuk mengetahui keterkaitan antara pendidikan dan pembangunan diperlukan data sebagai berikut. Pencapaian tujuan-tujuan oleh berbagai kelompok dalam masyarakat. Hal ini berarti bahwa inti pendidikan itu adalah pembelajaran seumur hidup (life long learning). baik dalam bentuk Pendapatan Nasional Bruto. Perubahan peta ketenagakerjaan. sementara bentuk pendidikan formal. Dalam konteks ini pendidikan ini diapandang sebagai industri pembalajaran manusia. artinya melalaui pendidikan dihasilkan manusia-manusia yang mempunyai kemampuan dan keterampilan yang sangat diperlukan bagi perekonomian suatu negara untuk meningkatkan pendapatanindividu dan pendapatan nasional. Pendapatan nasional. Peningkatan dalam efisiensi sistem produksi masyarakat yang diukur dengan GDP dan GNP 6. Kepuasaan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat 7. Konsep Investasi dalam Pendidikan Investasi berarti penanaman modal atau uang. 1. Biaya atau cost suatu investasi merupakan keuntungan yang diperoleh dibagi dengan penggunaan sumber daya dalam berbagai kegiatan lain. Investasi dalam pendidikan merupakan penanaman modal dengan cara mengalokasikan biaya untuk penyelenggaraan pendidikan serta mengambil keuntungan dari sumber daya manusia yang dihasilkan melalui pendidikan itu. Oleh sebab itu maka hasil pendidikan akan menjadi sumber daya manusia yang sangat berguna dalam pembangunan suatu negara. dengan rentangan pertanian-jasa-industri 4. Modal atau uang yang ditanamkan bertujuan untuk mendapatkan keuntungan. Berdasarkan ukuran tersebut di atas. Pendidikan di sini dimaksud untuk meningkatkan martabat manusia agar mempunyai ketermapilan dan kemampuan sehinggan produktivitasnya meningkat. Dengan demikian maka investasi dalam . Kenneth J. pendidikan non formal (luar sekolah) dan sebagainya hanya merupakan modus operandi dari proses pendidikan. baik berupa uang atau modal maupun dalam bentuk barang atau jasa. yang dikaitkan dengan penggunakan sumber daya yang terbatas. Pendapatan Domestik Bruto. Pendidikan. Konsumsi energi A.

2. Sistem pendidikan menyiapkan landasan yang tepat bagai pembangunan dan hasilhasil rises (jaminan melekat untuk pertumbuhan masyarakat modern yang berkesinambungan). Proses belajar mengajar menjamin masyarakat yang terbuka (yaitu masyarakat yang senantiasa beresedia untuk mempertimbangkan gagasan-gagasan dan harapanharapan baru serta menerima sikap dan proses baru tanpa harus mengorbankan dirinya). Lebih lanjut dikemukakannya bahwa ada model investasi dalam bentuk sumber daya manusia yang secara langsung atau tidak melakukan hubungan antara indikator pendidikan di satu pihak dan indikator ekonomi di lain pihak. Human capital di sini merujuk pada tenaga kerja sebagai suatu faktor produksi yang menghubungkan aspek non-ekonomi pendidikan terhadap aspek ekonomi lainnya yang mempunya dua ciri esensial. Apabila dalam setiap sektor ekonomi kita dapatkan segala faktor yang dibutuhkan masyarakat kecuali tenaga kerja yang terampil. melainkan keuntungan bagi pribagi yang menerima pendidikan dan bagi negara. Backer. Model yang dimaksudkan adalah model analisis biaya dan keuntunganpendidikan (cost benefit analysis). Investasi pendidikan dapat mempertahankan keutuhan dan secara konstan menambah persediaan pengetahuan dan memungkinkan riset dan penemuan metode serta teknik baru yang berkelanjutan. 2. Sebagai fungsi investasi. 1991: 14). 1962) berkenaan dengan kegiatan-kegiatan yang mempengaruhi real income masa yang akan datang melalui penempatan sumber daya dalam bentuk manusia. pengetahuan dan produktivitas kerjanya. Sistem pendidikan menciptakan dan mempertahankan penawaran ketermapilan manusia di pasar pemburuhan yang luwes dan mampu mengakomodasi dan beradaptasi dalam hubungannya dengan perubahan kebutuhan akan tenaga kerja dan masyarakat teknologi modern yang sedang berubah (Komaruddin. 3. Ace Suryadi (1991) mengungkapkan bahwa menurut teori human capital yang tercermin dalam keterampilan.pendidikan mempunyai jangka waktu yang panjang untuk dapat mengetahui hasilnya dan hasilnya itupun tidak dalam bentuk keuntungan lansung. Kualitas tenaga kerja sebagai suatu input produktif tidak dapat dibagi dan digunakan secara terpisah. pendidikan memberikan sumbangan yang berarti dalam kenaikan tingkat kehidupan. Investasi dalam pendidikan memusatkan perhatian pada manusia sebagai sumber daya yang akan menjadi modal (human capital) bagai capital (Gary S. Model ini merupakan metodologi yang sangat penting dalam melakukan analisis untuk investasi pendidikan dan dapat membantu pengambilan keputusan untuk . kecuali bila struktur sosial yang hidup dalam masyarakat tersebut tidak menguntungkan. Dalam kaitan ini. Kemampuan tenaga kerja tersebut tidak dapat dipindahkan kepada orang lain. terutama dalam hal-hal berikut: 1. maka investasi dalam sektor pendidikan akan menaikan pendapatan perkapita dalam sektor tersebut. 4. yaitu: 1. kualitas manusia dan pendapatan nasional.

dan menjadi lebih siap latih dalam pekerjaannya yang akan memacu tingkat produktivitas tenaga kerja. yang kemudia akanmeningkatakan pendapatannya. yang secara langsung akan meningkatakan pendapatan nasional. dan low management. Peningkatan pendapatan ini berpengaruh pula kepada pendapatan nasional negara yang bersangkutan. Peningkatan pendapatan ini akan mendorong pada peningkatan fungsi konsusmsi. pendidikan perlu mengantisipasi kebutuhan. Oleh karena itu. dan konsumsi. Intervensi terhadap fungsi konsumsi dilakukan melalui peningkatan produktivitas kerja yang akan mendorong peningkatan pendapatan. Ini harus menjadi dasar untuk perencanaan pendidikan. Bentuk intervensi lain yaitu menciptakan teknologi baru dan menyiapkan orang-orang yang menggunakannya. distribusi. untuk kemudian akan meningkatkan pendapatan dan taraf hidup masyarakat berpendapatan rendah. korelasi antara pendidikan dengan pendapatan tampak lebih signifikan di negara yang sedang membngun. Ia harus mampu memprediksi dan mengantisipasi kualifikasi pengetahuan dan keterampilan tenaga kerja. midle. Tyler (1977) mengungkapkan bahwa pendidikan dapat meningkatkan produktivitas kerja seseorang. Di samping tenaga kerja. karena pranata ekonomi membutuhkan tenaga-tenga terdidik dan terlatih. Intervensi pendidikan terhadap ekonomi merupakan upaya penyiapan pelaku-pelaku ekonomi dalam melasnakan fungsi-fungsi produksi. Permasalahan yang dihadapai adalah jarang ada ekuivalensiyang kuat antara pekerjaan dan pendidikan yang dibutuhkan yang mengakibatkan munculnya pengangguran terdidik dant erlatih. bahwa pendidikan memiliki suatu kemampuan untuk menyiapkan siswa menjadi tenaga kerja potensial. yang ditunjukan dengan meningkatnya jumlah tabuhan yang berasal dari pendapatan yang disisihkan.memutuskan danmemilih diantara alternatif alokasi sumber-sumber pendidikan yang terbatas agar mampu memberikan kemampuan yang paling tinggi. B. juga pendidikan mengintervensi produksi untuk penyediaan entrepreneur tangguh yang mampu mengambil resiko dalam inovasi teknologi produksi. atau secara ekstrim tenagra kerja krah biru dan krah putih. Sementra itu Vaizey (1962) melihat pendidikan menjdi sumber utama bakat-bakat terampil dan terlatih. Pendidikan memegang peran penting dalam penyediddan tenaga kerja. Jones melihat. Intervensi terhadap fungsi distribusi adalah melalui pengembangan research and development produk yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan masyarakat atau konsumen. Sementara itu Jones (1984) melihat pendidikan sebagai alat untuk menyiapkan tenaga kerja terdidik dan terlatih yang sangat dibutuhkan dalam pertumbuhan ekonomi suatu negara. Tabungan ini akan menjadi investasi . Program-program perluasan produksi melalui intensifikasi dan rasionalisasi merupakan salah satu wujud nyata dari peran prangata pendidikan atas fungsi produksi ini. Prediksi ketenagakerjaan sebagai dasar dalam perencanaan pendidikan harus mengikuti pertumbuhan ekonomi yang ada kaitannya dengan kebijaksanaan sosial ekonomi dari pemerintah. Menurutnya. Pendidikan dan Pertumbungan Ekonomi Mungkinkah ada intervensi pendidikan terhadap pertumbuhan ekonomi? Pendidikan memiliki daya dukung yang representatif atas pertumbuhan ekonomi. Intervensi terhadap fungsi produksi berupa penyediaan tenaga kerja untuk berbagai tingkatan yaitu top.

Abstrak: Sebagian dari akar permasalahan dari konflik sosial adalah kondisi sosialekonomi-politik. pendidikan dalam keluarga. tingkat pendidikan. Kata Kunci: Konflik sosial. tingkat pendalaman agama. dan 2. Pemikiran ini muncul pada era industrialisasi dalam masayarkaat modern. C. Pendidikan dan Konflik Sosial Ditulis oleh Elly Retnaningrum Penulis: Dra. Hj. Salah satu aspek yang subtansial adalah pengenalan dan penanaman nilai-nilai kebenaran dan kesalahan atau kebaikan dan keburukan yang terdapat dalam suatu tindakan. sekolah maupun masyarakat. dan 3. Pendidikan dan Pekerjaan Ukuran yang paling populer dalam melihat kontribusi pendidikan terhadap pertumbuhan ekonomi adalah mempertautkan antara pendidikan dengan pekerjaan. (dosen tetap pada Universitas Langlangbuana di Bandung). Pemikiran ini didasarkan pada anggapan bahwa pendidikan merupakan human capital. .Pd. Ini mengimplikasikan perlunya pembenahan yang serius pada wilayah moral. Investasi pendidikan diharapkan menghasilkan suatu peningkatan kesejahteraan dan kesempatan yang lebih luas dalam kehidupan nyata. Elly Retnaningrum. Kondisi yang digambarkan tersebut menggiring ke arah perlunya mempedulikan persoalan moralitas secara lebih serius. terbentuknya mentalitas dan moralitas yang dilandasi ketidakdewasaan perilaku sosial psikologis. menginkatkan tingkat pendidikan pekerja berpenghasilan rendah akan memberikan tiga pengaruh positif. lingkungan yang ada dalam masyarakat itu sendiri kurang kondusif. Argumen ini memiliki dua sepek. yang berujung pada bentrokan fisik dengan atau tanpa senjata. yaitu: 1. M. Pertentangan antar kelompok masyarakat telah menjurus pada gejala-gejala disintegrasi bangsa. yaitu: 1. Sebagai ilustrasi. Pendidikan merupakan suatu bentuk investasi nasional untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang dibutuhkan dalam pertumbuhan ekonomi modern.kapital yang tentunya akan lebih mempercepat laju pertumbuhan ekonomi suatu negara. Dan ini bisa dilakukan melalui pendidikan. Menciptakan kekurangan pekerja berkeahlian rendah dengan konsekuensi mengingkatkan gaji pekerja golongan ini. Meningkatakan suplai tenaga kerja dengan keahlian tinggi dan konsekuensinya terhadap rendahnya gaji mereka. baik di keluarga. Meningkatkan produktivitas kerja dan konsekuensinya terhadap pendapatan 2.

baik kepentingan yang berhubungan dengan karir atau petualangan politik maupun sekadar keuntungan ekonomi.Ini telah menjadi 'cara pemecahan masalah' bagi sebagian masyarakat di negeri yang sesungguhnya sangat menjunjung tinggi rasa kemanusiaan serta persatuan dan kesatuan bangsa. Kedua.baik yang bernuansa SARA maupun tidak-. kondisi ini mengakibatkan munculnya .dengan tingkat pendidikan masyarakat? Mengapa sebagian masyarakat mudah sekali tersulut isu-isu yang tidak tidak dapat dijamin kesahihannya? Apakah ini bertemali erat dengan tingkat pendidikan masyarakat? Rasanya memang kita sulit untuk percaya semua itu dapat terjadi. tingkat pendalaman agama yang lebih mengutamakan dimensi ritual seremonial telah menyebabkan kurang terinternalisasikannya nilai-nilai keagamaan dalam pribadi kolektif masyarakat. Akar permasalahan Mencermati pelbagai konflik sosial yang merebak belakangan ini. yang apabila dirunut lebih lanjut akan bermuara pada kegagalan praksis pendidikan dalam masyarakat. Tatkala kerusuhan bermunculan di pelbagai kawasan nusantara ini. kondisi sosial-ekonomi-politik yang sudah menjurus pada chaos telah membentuk sikap dan perilaku masyarakat yang sulit diduga. Maraknya konflik sosial yang terjadi mengisyaratkan adanya sesuatu yang salah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita. yang hingga saat ini nampaknya masih belum beranjak dari masa transisi. Ini sungguh ironis terjadi dalam masyarakat yang berfalsafah hidup Pancasila. dari perspektif pendidikan selalu terlontar pertanyaan: adakah kaitan antara pelbagai pertentangan antarkelompok masyarakat itu-. atau "perang" antarpelajar di Bogor belakangan ini telah menorehkan guratan luka psikologis-sosial dalam lintasan sejarah peradaban masyarakat Indonesia pasca Orde Baru. bukankah jumlah orang yang menjalankan perintah agamanya masing-masing relatif lebih tinggi apabila dibandingkan dengan yang tidak? Apakah kegiatan spiritual yang selama ini marak tidak lebih dari seremonial ritual tanpa pendalaman hakikat? Tidak mudah memang menjawab sederet pertanyaan tersebut. Pertama. beberapa asumsi dapat diketengahkan untuk lebih memahami akar permasalahannya. tingkat pendidikan sebagian masyarakat yang kurang menyebabkan mudah sekali tersulut isu-isu yang tidak bertanggung jawab dan provokasi-provokasi (baik yang terorganisir maupun yang spontan) dari pihak-pihak yang memanfaatkan situasi untuk memecah belah dan mengambil keuntungan politis dari situasi itu. Tapi setidaknya kita dapat mengkaji kemungkinan yang memicu kejadian-kejadian yang mencoreng muka bangsa Indonesia di mata dunia internasional itu. Lebih jauh. Bukankah kegiatan-kegiatan yang sifatnya spiritual dapat dikatakan marak dan frekuensinya cukup tinggi? Apabila dilihat secara sepintas. Sambas. Ketiga. Apalagi ada pihak-pihak tertentu yang "mengobok-obok" dengan memancing di air keruh memanfaatkan situasi sesuai dengan kepentingan primordialnya. Konflik sosial yang telah mengorbankan nyawa dan harta benda seperti yang terjadi di Ambon.

maka penguatan landasan moral menjadi kebutuhan utama. Salah satu aspek yang subtansial adalah pengenalan dan penanaman nilai-nilai kebenaran dan kesalahan atau kebaikan dan keburukan yang terdapat dalam suatu tindakan. lingkungan yang ada dalam masyarakat itu sendiri kurang kondusif untuk memberikan ajaran moral kepada individu-individu yang menjadi anggotanya. yang tidak jarang memunculkan konflik kepentingan dan konflik sosial dalam arti luas. Ini bisa diperkuat di sekolah. Untuk mengantisipasi kondisi itu. di lingkungan keluarga para orang tua dan orang dewasa perlu memfungsikan dirinya untuk memupuk keberanian anak dengan mengkondisikannya pada situasi yang memungkinkan anak mengemukakan pendapatnya tanpa kendala hirarki yang berlebihan. Mengendurnya kontrol sosial serta langkanya figur yang dapat dijadikan panutan perilaku yang berlandaskan pada kebenaran agaknya dapat dijadikan sebagai salah satu alasan untuk lebih mempedulikan pendidikan moral. dan semacamnya. Selain itu. Antisipasi Kondisi yang digambarkan tersebut menggiring ke arah perlunya mempedulikan persoalan moralitas secara lebih serius. masyarakat mudah sekali menghujat kesalahan orang lain hanya berdasarkan isu-isu bahwa tokoh yang bersangkutan adalah figur yang memang layak dihujat. sekolah. memupuk keberanian untuk mengutarakan kebenaran dan mengulurkan tangan pada yang membutuhkan pertolongan agaknya perlu menjadi prioritas. menghilangkan nyawa orang lain. serta masyarakat. Hal ini mengingat telah tergerusnya nilai-nilai kebenaran dengan pelbagai pertimbangan lain yang menyebabkan adanya ketakutan untuk menyuarakan kebenaran itu. Hanya karena isu yang tidak jelas bisa menyulut gerakan massa yang menjurus pada perilaku destruktif yang merongrong kamtibmas. Misalnya. . Keempat. Dan yang lebih mendasar. baik di lingkungan keluarga.fanatisme berlebihan atau justru fanatisme semu yang seolah-olah membela kepentingan agama tetapi sesungguhnya yang dibela adalah kepentingan diri sendiri yang jauh dari ajaran agama. Ini mengimplikasikan perlunya pembenahan yang serius pada wilayah moral. Fungsi guru dalam konteks ini adalah sebagai pendidik moral bagi murid-muridnya agar dapat berpihak pada kebenaran dan keharmonisan hidup antarsesama. Kelima. Akibat lebih jauh adalah keengganan mengulurkan bantuan karena telah tumpulnya rasa solidaritas sosial serempak dengan makin mengedepannya pertimbangan untung-rugi. yang setiap saat dapat muncul dimana saja dan kapan saja. ketiga kondisi tersebut pada gilirannya menggiring ke arah terbentuknya mentalitas dan moralitas yang dilandasi ketidakdewasaan perilaku sosial psikologis. perlu juga dibiasakan untuk secara langsung mempraktikkan kegiatan-kegiatan yang sifatnya sosial. Sejalan dengan perubahan yang sangat cepat dalam pelbagai dimensi kehidupan belakangan ini. merusak fasilitas umum. Ini mengisyaratkan perlunya penelusuran akar permasalahan yang mendasari peristiwa-peristiwa sejenis.

M. dan masyarakat dalam menanamkan nilai-nilai moral. Untuk itu. sedangkan model pembelajaran akan membahas tentang . Ia sekaligus dapat dipergunakan sebagai instrumen untuk mengembangkan nilai moral dan etika sosial yang selaras dengan tuntutan perkembangan peradaban tetapi tetap mengacu pada nilai-nilai religi dan nilai-nilai kemasyarakatan. pembenahan yang mendasar pada cara-cara dan juga materi pendidikan moral dalam lingkungan keluarga dan masyarakat merupakan kebutuhan mendesak yang semestinya mendapatkan prioritas untuk mengantisipasi perilaku masyarakat yang menyimpang dari nilai-nilai moral. Erman Suherman. serta konflik sosial pada umumnya menunjukkan adanya persoalan moralitas yang cukup serius. agama. Berbagai tindak penyimpangan. secara langsung maupun tidak langsung. dan pemaksaan kehendak dari satu pihak ke pihak lain. Ar. banyak sekali standar perilaku yang dapat dijadikan sebagai pelajaran moral bagi siapa saja. dan konatif) dapat berkembang dengan maksimal. Agar hal tersebut di atas dapat terwujud. afektif. Pernyataan tersebut mengisyaratkan bahwa praksis pendidikan amat menentukan dalam pembemntukan perilaku masyarakat. guru seyogianya mengetahui bagaimana cara siswa belajar dan menguasai berbagai cara membelajarkan siswa. Standar ini dapat diajarkan dan dipelajari dalam pelbagai situasi. Dengan belajar aktif. Drs. Model belajar akan membahas bagaimana cara siswa belajar. MODEL BELAJAR DAN PEMBELAJARAN BERORIENTASI KOMPETENSI SISWA Ditulis oleh Erman S. Manakala praksis pendidikan (tidak hanya di sekolah) dapat difungsikan untuk penanaman nilai moral yang menghargai keberadaan orang lain dapat diwujudkan dan etika sosial yang mengedepankan kewajiban dan tanggung jawab manusia selaku manusia yang saling mengasihi dapat terbina maka prasangka etnis. adalah dosen tetap pada FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia di Bandung Abstrak: Tugas utama guru adalah membelajarkan siswa. lingkungan pendidikan membentuk perilaku peserta didik untuk melakukan sosialisasi di masyarakat agar dapat meminimalkan atau bahkan meniadakan terjadinya konflik sosial. melalui partisipasi dalam setiap kegiatan pembelajaran. Dalam situasi sehari-hari. Kondisi seperti ini mengisyaratkan belum maksimalnya fungsi keluarga. sekolah. Guru terlibat dalam kegiatan pengajaran yang secara erat berkaitan dengan penanaman nilai-nilai moral yang sesuai dengan standar perilaku yang umum diakui sebagai kebenaran. H. kekerasan. dan ras dapat dihindarkan.Demikianlah. yaitu mengkondisikan siswa agar belajar aktif sehingga potensi dirinya (kognitif. akan terlatih dan terbentuk kompetensi yaitu kemampuan siswa untuk melakukan sesuatu yang sifatnya positif yang pada akhirnya akan membentuk life skill sebagai bekal hidup dan penghidupannya. Hal-hal apa saja yang dilakukan oleh seseorang tatkala menghadapi situasi tertentu pada hakikatnya sudah merupakan pertimbangan moral yang paling mendasar. tidak saja dalam situasi pengajaran yang formal.Pd. Ini mengisyaratkan bahwa melalui pendidikan yang baik dapat dibentuk manusia-manusia yang setia pada rel moralitas religius yang dijadikan sebagai sandaran setiap perilaku serta tidak mudah terhasut desas-desus sehingga mengakibatkan konflik sosial.

jadi guru memfasilitasi aktivitas siswa dalam mengembangkan kompetensinya sehingga memiliki kecakapan hidup (life skill) untuk bekal hidup dan penghidupannya sebagai insan mandiri. pelaksanaan pembelajaran di sekolah. suasana belajar A.bagaimana cara membelajarkan siswa dengan berbagai variasinya sehingga terhindar dari rasa bosan dan tercipta suasana belajar yang nyaman dan menyenangkan. life skill. dan memang itu kewajiban utama. Mereka bukan tidak mau meningkatkan kualitas pemebelajaran. Guru masih dominan dan siswa resisten. potensi siswa. model-model belajar agar memahami benar bagaimana siswa belajar yang efektif. materi. fasilitas. dan guru itu sendiri. Dengan paradigma yang berubah. pada penyusunan RPP menggunakan istilah skenario pembelajaran untuk pelaksanaan pembelajaran di kelas. Permasalahannya adalah bagaimana mengubah kebiasaan prilaku guru dalam kelas. ini berarti bahwa guru sebagai sutradara dan siswa menjadi pemain. Selain dari karena kebiasaan yang sudah melekat mendarah daging dan sukar diubah. Hal ini tampak pada RPP yang dibuat oleh guru dan dari cara guru mengajar di kelas masih tetap menggunakan cara lama. Tulisan ini membahas tentang kompetensi siswa sesuai tuntutan kurikulum untuk sekedar mengingatkan. Pendahuluan Kurikulum 2004 berbasis kompetensi (KBK). Tulisan sederhana ini sengaja dibuat untuk para guru. kondisi ini kemungkinan disebabkan karena pengetahuan guru yang masih terbatas tentang bagaimana siswa belajar dan bagaimana cara membelajarkan siswa. apalagi untuk membeli buku pembelajaran yang inovatif. boro-boro sempat waktu untuk membaca buku yang aktual. model pembelajaran. Namun pada kenyataannya. sehingga kualitas amal sholehnya melalui profesi guru menjadi meningkat pula. karena kebiasaan menjadi penonton dalam kelas. Padahal. guru masih menjadi pemain dan siswa penonton. Karena penghargaan terhadap profesi guru sangat minim. sehingga misi KBK dapat terwujud. mengubah paradigma mengajar menjadi membelajarkan. yang saya hormati dan saya banggakan. tuntutan KBK. Demikian pula. pada pihak siswa. yaitu dominan menggunakan metode ceramah-ekspositori. Kata Kunci: model belajar. mereka sangat sibuk untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. tetapi situasi dan kondisi kurang memungkinkan. mudah-mudahan kebiasaan murid yang bersifat pasif sedikit demi sedikit akan berubah pula menjadi aktif. Paradigma lama masih melekat karena kebiasaan yang susah diubah. telah berlaku selama 4 tahun dan semestinya dilaksanakan secara utuh pada setiap sekolah. mereka sudah merasa enjoy dengan kondisi menerima dan tidak biasa memberi. guru aktif dan siswa pasif. masih kurang memperhatikan ketercapaian kompetensi siswa. . kompetensi. untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan. semoga dengan sajian sederhana ini dapat dijadikan bekal untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran. paradigma mengajar masih tetap dipertahankan dan belum berubah menjadi peradigma membelajarkan siswa. dan model pembelajaran yang bisa dipilih dan digunakan sesuai dengan situasi dan kondisi siswa. yang diperbaharui dengan Kurikulum 2006 (KTSP).

Kompetensi siswa yang harus dimilki selama proses dan sesudah pembelajaran adalah kemampuan kognitif (pemahaman. kompetensi / kecakapan yang berkaitan dengan kemampuan profesional (akademik. Dengan memahami model-model belajar ini. Model-model belajar yang dimaksud pada judul di atas adalah berbagai cara-gaya belajar siswa dalam aktivitas pembelajaran. eksplorasi. bagaimana siswa belajar? Dengan memahami uraian ini. membaca. identifikasi. C. atau mendengar tentang sesuatu hal berbentuk hubungan fungsional antar bagian (konsep. penalaran. pemecahan masalah). diharapkan para guru (kita semua) dapat membelajarkan siswa secara efisien sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif. karena ia telah memiliki komptensi. Dengan perkataan lain. konjektur. prilaku). kata kunci). kemampuan afektif (pengendalian diri yang mencakup kesadaran diri. dan tidak sebaliknya. guru (kita) bisa menyesuaikan pelaksanaan pembelajaran dengan kondisi siswa. presentasi. komunikasi. kecakapan hidup. Sedangkan kompetensi lainnya yang berkenaan dengan afektif dan psikomotorik yang berkaitan dengan kemampuan kepribadian. Istilah psikologi kontemporer. dan pengendalian diri disebut dengan soft skill. Inilah hakikat pembelajaran. sosialisasi. tidak parsial terpisah satu . terutama kognitif) disebut dengan hard skill. aplikasi. Siswa yang telah memiliki kompetensi mengandung arti bahwa siswa telah memahami. kreativitas. yang berkontribusi terhadap sukses individu sebesar 40 % . inkuiri.B. yang pada tahap selanjutnya menjadi kecakapan hidup (life skill). generalisasi. Kompetensi Siswa Kompetensi (competency) adalah kata baru dalam bahasa Indonesia yang artinya setara dengan kemampuan atau pangabisa dalam bahasa Sunda. koneksi. yang berkontribusi sukses individu sebesar 60%. Model-model Belajar Uraian berikut ini adalah untuk menjawab pertanyaan. Peta Pikiran Buzan (1993) mengemukakan bahwa otak manusia bekerja mengolah informasi melalui mengamati. baik di kelas ataupun dalam kehidupannya sehari-hari antar sesama temannya atau orang yang lebih tua. observasi. memaknai dan memanfaatkan materi pelajaran yang telah dipelajarinya. pengelolaan suasana hati. ia telah bisa melakukan (psikomotorik) sesuatu berdasarkan ilmu yang telah dimilikinya. pengendalian impulsi. Suatu informasi yang sangat penting dan sekaligus peringatan bagi kita semua. analisis. yaitu: 1. dan kemampuan psikomotorik (sosialisasi dan kepribadian yang mencakup kemampuan argumentasi. motivasi aktivitas positif. investigasi. Bukankah pemberian harus diselaraskan dengan mereka yang akan menerima pemberian sehingga dapat bermanfaat secara optimal. yaitu membekali siswa untuk bisa hidup mandiri kelak setelah ia dewasa tanpa tergantung pada orang lain. empati). Dengan demikian belajar tidak cukup hanya sampai mengetahui dan memahami. hipotesis. Ada berbagai model belajar yang akan dibahas.

atau yang lainnya. Jika benar-benar dimanfaatkan secara optimal. Yang produknya berupa peta konsep. pejabatnya.sama lain dan tidak pula dalam bentuk narasi kalimat lengkap. Dalam bidang studi keahlian anda. sajian guru dalam pembelajaran harus pula dikondisikan berupa sajian peta konsep. Kalau dibuat narasinya akan ada perbedaan redaksi. terbagi dua menjadi kecerdasan intelektual pada otak kiri dan kecerdasan emosional pada otak kanan. kemudian dinarasikan dengan gaya bahasa masing-masing. di samping bahasa yang digunakan menggunakan gaya bahasa penulis. Silakan buat (tulis-gambar) peta pikiran yang terlintas kemudian narasikan secara lisan. dosen-dosen dan staf administrasi. dan besar penghargaan untuk perkuliahan per-sks. misal kenakalan atau lamunan. sehingga setiap konsep utama yang dipelajari semuanya teridentifikasi tidak ada yang terlewat dan kaitan fungsionalnya jelas. Kecerdasan intelektual mengalir-bergerak (flow) antara kebosanan bila tuntutan pemikiran rendah dan kecemasan bila terjadi tuntutan banyak. Sebagai contoh. Ucup. mudah diingat dan dikembangkan pada konsep lainnya. Tulisan atau gambar peta pikiran tersebut dinamakan dengan peta konsep (concept map). kocak. Dengan demikian belajar akan efektif dengan cara membuat catatan kreatif yang merupakan peta konsep. sederhana. Kondisi ini akan bisa dinetralisir dengan relaksasi melalui penciptaan suasana kondusif. Hindun. sebagai instrumen kecerdasan. jika positif akan mengembangkan penalaran akan tetapi jika diisi dengan aktivitasa negatif. atau ke tokoh lain Oneng. Mengingat hal itu. misalnya ambil satu materi dalam pelajaran Matematika. misalnya berangan-angan. Sebaliknya jika tuntutan kerja otak tinggi akan terjadi kecemasan-kelelahan. dan lain-lain dengan masing-masing karakternya. Selanjutnya. inlah yang disebut dengan sia-sia atau mubadzir (at tubadziru minasy-syaithon). Belajar dengan menghafalkan kalimat lengkap tidak akan efektif. Dengan kemampuan otak seperti itu dibandingkan dengan kemampuan komputer sangat tinggi. Akuntansi. setiap kesempatan dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran diri dalam segala hal. Buzan mengemukakan bahwa kemampuan otak manusia dapat memproses informasi berupa bahasa sebanyak 600 – 800 kata permenit. . Agama. meskipun dengan makna yang tidak berbeda. guru membumbuinya dengan narasi yang kreatif. Dengan demikian konsep mendapat retensi yang kuat dalam pikiran. supir bajay. menonton. Silakan anda mencoba menuliskan / menggambarkan peta pikiran tentang Bajuri dan FKIP Unla di atas. 2. mengobrol atau bercanda tanpa makna. Bila terjadi kebosanan otak akan mengisinya dengan aktivitas lain. kalau dalam pikiran kita ada kata (konsep) Bajuri. Ema. maka akan terkait dengan kata lain secara fungsional. Bagaimana dengan anda?. Kecerdasan Ganda Goldman (2005) mengemukakan bahwa struktur otak. Demikian pula kata dalam pikiran kita terlintas FKIP Universitas Langlangbuana Bandung akan terkait alamatnya. seperti gemuk. Hanya sayang banyak orang yang mengabaikannya atau digunakan untuk hal-hal yang kurang bermanfaat untuk peningkatan kualitas diri. Selanjutnya Buzan mengemukakan bahwa cara belajar siswa yang alami (natural) adalah sesuai dengan cara kerja otak seperti di atas berupa pikiran.

musik. manfaat. Musical-rithmic. kesadaran diri. bantuan. ide. monitoring. koneksi. Interpersonalcommunication. berpikir tentang apa yang dipikirkan dan bagaimana proses berpikirnya. spasial. pengalaman. dan regulasi. rasional. tergantung dari variabel meta kognitif. prediksi. Sedangkan sela syaraf otak kanan berkaitan dengan kecerdasan yang sifatnya acak. emosional. dan ibadah lainnya. Dengan demikian aktivitas otak kiri semestinya dibarengi dengan aktivitas otak kanan. ada do’a sebagai permintaan dan harapan. Logic-thinking-reasoning. Sedangkan Holler berpendapat tentang komponen metakognitif. (2002) mengemukakan bahwa aktivitas metakognitif tergantung pada kesadaran individu. teratur. abstrak. dan strategi berpikir. Oleh karena itu pelaksanaan pembelajaran . kita semestinya berkeyakinan tinggi terhadap kecerdasan ini. Holler.misalnya keramahan. Penting untuk diketahui bahawa kecerdasan intelkektual berkontribusi untuk sukses individu sebesar 20% sedangkan kecerdasan emosional sebesar 40%. yaitu kondisi individu. dan simbolik. Bukankan ketentraman individu karena keyakinan beragama ini. intuitif. sintesis. Komponen meta kognitif menurut Sharples & Mathew ada 7. yaitu: refleksi kognitif. Metakognitif Secara harfiah. Linguistic-verbal. Body-kinestic. atau meditasi keheningan dengan prinsip kepasrahan kepada sang Pencipta. dkk. realitas. dan regulasi. 3. metakognitif bisa diterjemahkan secara bebas sebagai kesadaran berfikir. bukankah ada ikhtiar dan ada pula taqdir. dan kreativitas. senyum-tertawa. natural. pengetahuan. dan evaluasi sebagai cikal bakal tumbuhkembangnya kemampuan inkuiri dan kreativitas. suasana nyaman dan menyenangkan. monitoring. holistic. Ary Ginanjar (2002) dan Jalaluddin Rahmat (2006) mengukakan kecerdasan ketiga. pertanyaan. kelembutan. Metakognitif bisa digolongkan pada kemampuan kognitif tinggi karena memuat unsure analisis. verbal. linier. yaitu: kesadaran. yaitu Kecerdasan Spiritual (nurani-keyakinan) atau kecerdasan fitrah yang berkenaan dengan nilai-nilai kehidupan beragama. dan aplikasi. sekuensial. Intrapersonal-reflective. Sharples & Mathew (1998) mengemukakan pendapat bahwa metakognitrif dapat dimanfaatkan untuk menerapkan pola pikir pada situasi lain yang dihadapi. yaitu Spacial-visual . Sebagai orang beragama. Gardner (1983) mengemukakan tentang kecerdasan ganda yang sifatnya mulkti dengan akronim Slim n Bill. kompleksitas. yaitu aktivitas individu untuk memikirkan kembali apa yang telah terpikir serta berpikir dampak sebagai akibat dari buah pikiran terdahulu. siswanya sebanyak 40% dipengaruhi oleh hal lainnya. Kemampuan metakognitif setiap individu akan berlainan. strategi. Sel syaraf pada otak kiri berfungsi sebagai alat kecerdasan yang sifatnya logis.

katakana “saya …. Berbeda dengan individu yang memiliki pribadi positif. ingin tahu dengan pengaruh komunikasi negatif yang lebih dominant dari orang sekelilingnya. menggunakan. menyimpulkan. Tokoh pendidikan nasional Ki Hajar Dewantoro (1908) mengemukakan tiga prinsip pembelajaran ing ngarso sung tulodo (jadi pemimpin-guru jadilah teladan bagi siswanya). Mengapa demikian? Karena cara berkomunikasi akan langsung berkenaan dengan akal dan rasa. memanfaatkan. menimpakan kesalahan. setiap hari biasa menerima 460 komentar negatif dan 75 koentar positif dari oarng yang lebih tua dalam kehidupannya. mengendalikan keadaan. Sebagai guru. partisipatidf. ada individu yang memiliki pribadi positif dan ada pula yang berkpribadian negatif. pribadinya berpola negative. sehingga dia tumbuh menjadi penakut. Bagaimanakh menghadapi siswa dengan pola pribadi seperti irtu? Caranya anatar lain dengan cara tidak memvonis. menemukan). gerak tubuh. menjawab. suka tantangan. Akibatnya sungguh mengejutkan. tidak hanya berpikir sepintas dengan makna yang dangkal. yaitu optimis. ada kebebasan memilih. seperti pesimis. membiarkan. dan melaksanakan-prak (mengaplikasikan. dan sibuk dengan alasan. ingin mencoba. ataupun dengan guru. mengerjakan. 5. punya alternative. bertanya. Komunikasi Siswa dalam belajar tidak akan lepas dari komunikasi antar siswa. bahwa seorang anak ayang masih polos-natural. ternyata lama kelamaan keyakinannya terguncang dan rasa percaya dirinya menurun. belajar menjadi beban dan rasa ercaya dirinya berkurang. 4. bersikap mengajak dan bukan memerintah. belajar efektif (sesuai tujuan) semestinya bermakna. Kebermaknaan Belajar Dalam belajar apapun.semestinya membiasakan siswa untuk melatih kemampuan metakognitif ini. jangan sungkan untuk apologi jika kesalahan. mengembangkan). tumbuhkan citra positif. dikendalikan keadaan . menghindar. Dampak selanjutnya pada waktu bwersekolah. berkomentar. ragu-ragu. Agar bermakna. dan jaga komunikasi non verbal (eksprsi wajah. untuk kita simak dan renungkan. Dalam bahasa Sunda ada pepatah “pok-pek-prak” yang berarti bahwa belajar mempunya indikator berkata-pok (bertanya-menjawab-diskusi. dan cemas. menduga. presentasi. siswa dengan fasilitas belajar. meng-identifikasi. keberanian. pembenaran. anak yang pada awalnya secara alami penuh keyakinan. Perhatikan hasil penelitian Jack Canfield (1992). prasangka. yang selanjutnya mempengaruhi poses pembelajaran. belajar tidak cukup dengan hanya mendengar dan melihat tetapi harus dengan melakukan aktivitas (membaca. tentunya akan berhadapan dengan siswa yang berkepribadian negative seperti di atas dan tentunya tidak untuk dibiarkan karena profesi guru adalah amanat.presentasi). ing madyo mangun karso (dalam pembelajaran . Mencobapek (menyelidiki. pemalu. Makin lama ia makin dewasa. diskusi).” bukan katanya. dan mau memperbaiki diri. nada suara. mengkomunikasikan. Kemampuan komunikasi setiap individu akan mempengaruhi proses dan hasil belajar yang bersangkutan dan membentuk kepribadiannya. dan sosok panutan). m\udah menyerah.

kekonvergenan. Keslahan siswa merupakan bagian dari belajar. berkonjektur. tidak cukuop dengan mendengar dan melihat. da belajar dengan melakukan dan mengkomunikasikan besa mencapai 90%. kontinuitas historical. berhipotesis. melainkan siswa sendiri ang mengemasnya. dan inkuiri dengan cara mereka sendiri untuk menyelesaikan persoalan yang disajikan. menggunakan kesempatan . mendengar dan melihat 50%. justifikasi. dari mendengar 20%. dari melihat 30%. Prinsip Belajar Aktif Ada dua jenis belajar.membangun ide siswa dengan aktivitas sehingga kompetensi siswa terbentuk). siswa yang satu dengan siswa lainnya berbeda. Mungkin saja kemasannya tidak akurat. Vernon A Madnesen (1983) san Peter Sheal (1989) mengemukakan bahwa kebermaknaan belajar tergantung bagaimana cbelajar. konstruksivis. yaitu: konsistensi internal. karena pembelajaran adalah aktivitas siswa yang sifatnbya proaktif dan reaktif dalam membangun pengetahuan. jadi harus dihargai karena hal itu cirinya ia sedang belajar. Siswa tidak lagi menerima paket-paket konsep atau aturan yang telah dikemas oleh guru. ikut partisipasi dan tidak menghindar dari aktivitas pembelajaran. Jika belajar hanya dngan membaca kebermaknaan bisa mencapai 10%. refeleksi-eksplanasi. atau mungkin terjadi eksalahan. keterpaduan. menggeneralisasi. Belajar secara aktif indikatornya adalah belajar pada setiap situasi. tidak melalui pemberitahuan oleh guru. Drai uraian di atas implikasi terhadap pembelajaran adalah bahwa kegiatan pembelajaran identik dengan aktivitas siswa secara optimal. Sehingga jenis komunikasi yang dilakukan antara gurusiswa tidak lagi bersifat transmisi sehingga menimbulkan imposisi (pembebanan). pembelajaran adalah solusi tepat untuk pelaksanaan kurikulum 2006. Hal inilah yang disebut dengan konstruksivisme dalam pembelajaran. Dalam kondisi tersebut suasana menjadi kondusif (tut wuri handayani) sehingga dalam belajar siswa bisa mengkonstruksi pengetahuan dan opengalaman yang diperolehnya dengan pemaknaan yang lebih baik. Konstruksivisme Dalam paradigma pembelajaran. koherensi. melainkan lebih bersifat negosiasi sehingga tumbuh suasana fasilitasi. dan memang pembelajaran pada hakikatnya adalah konstruksivisme. yaitu belajar secara aktif dan secara reaktif (pasif). simbolisasi. mengatakan-komunikasi mencapai 70 %. 7. tindak lanjut. minds-on. Agar konstruksicvisme dapat terlaksana secara optimal. Siswa membangun sendiri konsep atau struktur materi yang dipelajarinya. Dengan perkataan lain. mengeksplorasi. Confrey (1990) menyarankan konstruksivisme secara utuh (powerfull constructivism). Selanjutnya. tepai harus dengan hands-on. tut wuri handayani (jadilah fasilitator kegiatan siswa dalam mengembangkan life skill sehingga mereka menjadi pribadi mandiri). 6. di sinilah tugas guru memberikan bantuan dan arahan (scalfolding) sebagai fasilitator dan pembimbing. guru menyajikan persoalan dan mendorong (encourage) siswa untuk mengidentifikasi. dan bukan dengan kegiatan mengajar. dan sintaks (SOP). dan daily life (kontekstual).

Berikut ini disajikan beberapa model pembelajaran. berupaya terlaksana. Pembelajaran koperatif sesuai dengan fitrah manusis sebagai makhluq sosial yang penuh ketergantungan dengan otrang lain. dalam memilih model pembelajaran yang tepat haruslah memperhatikan kondisi siswa. Prinsip belajar yang dikemuakan leh Treffers (1991) adalah memiliki indikatro mechanistic (latihan. belajar berkelompok secara koperatif. kontekstual-trealistik. dan realistic-human activity (aktivitas kehidupan nyata). tiap anggota kelompok terdiri dari 4 – 5 orang. mempunyai tujuan dan tanggung jawab bersama. dan belajar menyadari kekurangan dan kelebihan masingmasing. presentasi. tanya-jawab. Dari indikator belajar aktif. sitematik. konstruksivis-inkuiri. empiristic (pngelaman induktif-deduktif). Dalam prakteknya. membiarkan segalanya terjadi. Cooperative Learning). D.diskusi. empati dan pengendalian diri. dan partisipatif dalam setiap kegiatan. menyelesaikan persoalan. Akan tetapi sajian yang dikemukakan pengantarnya berupa pengertian dan rasional serta sintaks (prosedur) yang sifatnya prinsip. Menurut teori dan pengalaman agar kelompok kohesif (kompak-partisipatif). sesuai dengan pengertian kegiatan pembelajaran di atas. penulis yakin kreativitas para guru sangat tinggi. kita (guru) harus ingat bahwa tidak ada model pembelajaran yang paling tepat untuk segala situasi dan kondisi. dan kondisi guru itu sendiri. Model-model Pembelajaran Untuk membelajarkan siswa sesuai dengan cara-gaya belajar mereka sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai dengan optimal ada berbagai model pembelajaran. modifikasinya diserahkan kepada guru untuk melakukan penyesuaian. melakukan-mengkomunikasikan. pembegian tugas. atau inkuiri. seperti kemampuan sosialisasi. sehingga terpuku rasa tanggung jawab dan disiplin diri. Saling membantu dan berlatih beinteraksi-komunikasi-sosialisasi karena koperatif adalah miniature dari hidup bermasyarakat. Sedangakan belajar reaktif indikatornya adalah tidak dapat melihat adanya kesempatan belajart. tugas. mengabaikan kesempatan.untuk meraih manfaat. dan rasa senasib. aksionmatik). mengerjakan). 1. Prisip tersebut akan terwujud dengan melaksanakan pembelajaran dengan memperhatikan keterlibatan intelektual-emosional. maka prinsip belajar yang harus diterapkan adalah siswa harus sebaga subjek. Hal ini bisa terlatih melalui kerja individual-kelompok. siawa . dan inklusif life skill. tanggung jawab. Jadi model pembelajaran koperatif adalah kegiatan pembelajaran dengan cara berkelompok untuk bekerja sama saling membantu mengkontruksu konsep. siswa dilatih dan dibiasakan untuk saling berbagi (sharing) pengetahuan. pengalaman. untuk dipilih dan dijadikan alternatif sehingga cocok untuk situasi dan kjondisi yang dihadapi. Dengan memanfaatkan kenyatan itu. Koperatif (CL. Oleh karena itu. sifat materi bahan ajar. fasilitas-media yang tersedia. menghindar dari kegiatan. structuralistic (terstrutur. belajar dengan melakukan-mengkomunikasikan sehingga kecerdasan emosionalnya dapat berkembang.

generalisasi. hipotesis. pengarahan-petunjuk. penilaian portofolio. inter-twinment (keterkaitan-intekoneksi antar konsep). menemukan). negosiasi) yang terkait dengan dunia nyata kehidupan siswa (daily life modeling). mengkonstruksi konsep-aturan. questioning (eksplorasi. prinsip. rangkuman. mencoba. Pembelajaran Langsung (DL. informal ke formal). investigasi. pemahaman (menemukan-informal daam konteks melalui refleksi. mengarahkan. yaitu modeling (pemusatan perhatian. ada control dan fasilitasi. Ada tujuh indokator pembelajarn kontekstual sehingga bisa dibedakan dengan model lainnya. inkuiri. inquiry (identifikasi. Direct Learning) Pengetahuan yang bersifat informasi dan prosedural yang menjurus pada ketrampilan dasar akan lebih efektif jika disampaikan dengan cara pembelajaran langsung. pengarahan-strategi. terbuka. siswa melakukan dan mengalami. tindak lanjut). menuntun. dan pelaporan. aturan uantuk digunakan dalam menyelesaikan persoalan. pengemabngan mateastika). konsep. 3. sehingga akan terasa manfaat dari materi yang akan disajkan.heterogen (kemampuan. Contextual Teaching and Learning) Pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang dimulai dengan sajian atau tanya jawab lisan (ramah. Realistik (RME. sajian informasi dan prosedur. yaitu matematika horizontal (tools. 4. interaksi (pembelajaran sebagai aktivitas sosial. latihan . tidak hanya menonton dan mencatat. Sintaks pembelajaran koperatif adalah informasi.nyaman dan menyenangkan. motivasi. generalisasi). karekter). mengerjakan). dan bimbingan (dari guru dalam penemuan). penilaian terhadap setiap aktvitas-usaha siswa. sharing). algoritma. dan meminta tanggung jawab hasil kelompok berupa laporan atau presentasi. proses dunia empirik) dan vertikal (reoorganisasi matematik melalui proses dalam dunia rasio. 2. evaluasi. konjektur. minds-on. mengembangkan. membentuk kelompok heterogen. Pensip pembelajaran kontekstual adalah aktivitas siswa. gender. dan pengembangan kemampuan sosialisasi. Prinsip RME adalah aktivitas (doing) konstruksivis. reflection (reviu. authentic assessment (penilaian selama proses dan sesudah pembelajaran. Kontekstual (CTL. kerja kelompok. dan suasana menjadi kondusif . contoh). motivasi belajar muncul. dunia pikiran siswa menjadi konkret. presentasi hasil kelompok. penyampaian kompetensitujuan. constructivism (membangun pemahaman sendiri. membimbing. rambu-rambu. analisis-sintesis). learning community (seluruh siswa partisipatif dalam belajar kelompok atau individual. realitas (kebermaknaan prosesaplikasi). Realistic Mathematics Education) Realistic Mathematics Education (RME) dikembangkan oleh Freud di Belanda dengan pola guided reinventiondalam mengkontruksi konsep-aturan melalui process of mathematization. hands-on. penilaian seobjektif-objektifnya darei berbagai aspek dengan berbagai cara). Sintaknya adalah menyiapkan siswa. fakta.

Siswa dituntuk unrtuk berimprovisasi mengembangkan metode. demokratis. 7. table). mengeksplorasi. interpretasi. keterbukaan.menginvestigasi. . Sajian masalah haruslah kontekstual kaya makna secara matematik (gunakan gambar. Pembelajaran Berbasis masalah (PBL. generalisasi. yaitu merumuskan kembali masalah menjadi bagian-bagian yang lebih simple sehingga dipahami. identifikasi kekeliruan. komunikasi-interaksi. Problem Solving Dalam hal ini masalah didefinisikan sebagai suatu persoalan yang tidak rutin. keterbukaan. Problem Based Learning) Kehidupan adalah identik dengan menghadapi masalah. kembangkan peremasalahan sesuai dengan kemampuan berpikir siswa. kognitif tinggi. negosiasi. diagram. kritis. dan inkuiri 6. elaborasi (analisis). kaitakkan dengan materui selanjutnya. eksplorasi. belum dikenal cara penyelesaiannya. kreativitas. investigasi. Indikator model pembelajaran ini adalah metakognitif. sharing. Selanjtynya siswa juda diinta untuk menjelaskan proses mencapai jawaban tersebut. Model pembelajaran ini melatih dan mengembangkan kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang berorientasi pada masalah otentik dari kehidupan aktual siswa. Open Ended) Pembelajaran dengan problem (masalah) terbuka artinya pembelajaran yang menyajikan permasalahan dengan pemecahan berbagai cara (flexibility) dan solusinya juga bisa beragam (multi jawab. keterpasuan. Denga demikian model pembelajaran ini lebih mementingkan proses daripada produk yang akan membentiuk pola piker. cara. fluency). Cara ini sering disebut dengan metode ceramah atau ekspositori (ceramah bervariasi). sintesis. Problem Posing Bentuk lain dari problem posing adaslah problem posing. dan evaluasi. menyusun soalpertanyaan. Sintaknya adalah: pemahaman. aturan. Pembelajaran ini melatih dan menumbuhkan orisinilitas ide.terbimbing. latihan mandiri. siapkan rencana bimibingan (sedikit . yaitu pemecahan masalah dngan melalui elaborasi. Sintaknya adalah: sajiakn permasalah yang memenuhi criteria di atas. induksi. untuk merangsang kemamuan berpikir tingkat tinggi. dan ragam berpikir. suasana nyaman dan menyenangkan agar siswa dap[at berpikir optimal. atau pendekatan yang bervariasi dalam memperoleh jawaban. Kondisi yang tetap hatrus dipelihara adalah suasana kondusif. terbuka. identifikasi. cari alternative. konjektur. 8. Justru problem solving adalah mencari atau menemukan cara penyelesaian (menemukan pola. menduga. refleksi. menimalisasi tulisan-hitungan. jawaban siswa beragam. jalan keluar. 5. dan sosialisasi. dan akhirnya menemukan solusi. siswa berkelompok atau individual mengidentifikasi pola atau atuiran yang disajikan. Problem Terbuka (OE. siswa mengidentifkasi.atau algoritma).

setiap saat ia bisa dilibatkan dalam proses tanya jawab. berkelompok mengerjakan LKSD-modul. menyenangkan. mulai dari eksplorasi (deskripsi). membaca-merangkum. berpikir. dan memotivasi diri. eksplnasi berarti menghenalkan konsep baru dan alternative pemecahan. Selanjutnya siswa memngkonstruksiu konsep-prinsip-aturan menjadi pengetahuan baru. merangkum. senyum. pengarahan. dengan demikian pengetahuan baru tidak diberitahukan. SAVI Pembelajaran SAVI adalah pembelajaran yang menekankan bahwa belajar haruslah memanfaatkan semua alat indar yang dimiliki siswa. namun demikian bisa dibiasakan. suara menyejukkan. siswa tidak bisa menghindar dari prses pembelajaran. 11. pengorganisasian pembelajaran. perhatikan dan catat reson siswa. Ada canda. Istilah SAVI sendiri adalah kependekan dari: Somatic yang bermakna gerakan tubuh (hands-on. dan aplikasi berarti menggunakan konsep dalam konteks yang berbeda. bimbingan dan pengarahan. dan ceria. dan diakhiri dengan aplikasi (aduktif). Dengan model pembelajaran ini proses tanya jawab dilakukan dengan menunjuk siswa secara acak sehingga setiap siswa mau tidak mau harus berpartisipasi aktif. Untuk mewujudkan belajar efektif. Untuk mngurang kondisi tersebut. Donna Meyer (1999) mengemukakan cara pembelajaran resiprokal. Sintaknya adlaha menyajikan masalah. ia telah berpartisipasi 10. membuat kesimpulan. aktivitas fisik) di mana belajar dengan mengalami dan melakukan. guru hendaknya serangkaian pertanyaan disertai dengan wajah ramah.demi sedikit dilepas mandiri). mengingat. Sedangkan Resnik (1999) mwengemukan bhawa belajar efektif dengan cara membaca bermakna. representasi. Eksplorasi berarti menggali pengetahuan rasyarat. 12. nada lembut. Pembelajaran Bersiklus (cycle learning) Ramsey (1993) mengemukakan bahwa pembelajaran efektif secara bersiklus. dan tertawa. bahwa jawaban siswa yang salah harus dihargai karena salah adalah cirinya dia sedang belajar. hipotesis. yaitu bagaimana siswa belajar. sehingga suasana menjadi nyaman. yaitu: informasi. Jangan lupa. Probing-prompting Teknik probing-prompting adalah pembelajaran dengan cara guru menyajikan serangkaian petanyaan yang sifatnya menuntun dan menggali sehingga terjadi proses berpikir yang mengaitkan engetahuan sisap siswa dan engalamannya dengan pengetahuan baru yang sedang dipelajari. Kemungkinan akan terjadi sausana tegang. 9. kemudian eksplanasi (empiric). Auditory yang bermakna bahwa . bertanya. Reciprocal Learning Weinstein & Meyer (1998) mengemukakan bahwa dalam pembelajaran harus memperhatikan empat hal.

medium. menggunbakan media dan alat peraga. Selanjutnya adalah opelaksanaan turnamen. mengkonstruksi. lembut. mencipta. sehingga diperoleh skor turnamen untuk tiap individu dan sekaligus skor kelompok asal. Setelah selesai hitunglah skor untuk tiap kelompok asal dan skor individual. 13. atau dalam rangak mengisi waktu sesudah UAS menjelang pembagian raport. Penentuan tiap siswa yang duduk pada meja tertentu adalah hasil kesewpakatan kelompok. pada turnamen kedua ( begitu juga untuk turnamen ketigakeempat dst. Siswa bisda nmngerjakan lebbih dari satu soal dan hasilnya diperik\sa dan dinilai. Visualization yang bermakna belajar haruslah menggunakan indra mata melallui mengamati. SDetelah memperoleh tugas. ramah . c. dilakukan pergeseran tempat duduk pada meja turnamen sesuai dengan sebutan gelar tadi. menggambar. Setelah selesai kerja kelompok sajikan hasil kelompok sehuingga terjadi diskusi kelas. d. setiap siswa mengambil kartu soal yang telah disediakan pada tiap meja dan mengerjakannya untuk jangka waktu terttentu (misal 3 menit). Sintaknya adalah sebagai berikut: a.belajar haruslah dengan melaluui mendengarkan. dan Intellectualy yang bermakna bahawa belajar haruslah menggunakan kemampuan berpikir (minds-on) nbelajar haruslah dengan konsentrasi pikiran dan berlatih menggunakannya melalui bernalar. berbicara. menemukan. Siswa pada tiap meja tunamen sesua dengan skor yang dip[erolehnay diberikan sebutan (gelar) superior. mengemukakan penndepat. TGT (Teams Games Tournament) Penerapan model ini dengan cara mengelompokkan siswa heterogen. missal 10 meja dan untuk tiap meja ditempati 4 siswa yang berkemampuan setara. Bumping. good. menyimak. menyelidiki. Jika waktunya memungkinkan TGT bisa dilaksanakan dalam beberapa pertemuan. very good. e. santun. begitu pula untuk meja turnamen yang lainnya diisi oleh siswa dengan gelar yang sama. setiap kelompok bekerja sama dalam bentuk kerja individual dan diskusi. siswa superior dalam kelompok meja turnamen yang sama. mengidentifikasi. tugas tiap kelompok bisa sama bis aberbeda. argumentasi. dan mennaggapi. dan menerapkan. memecahkan masalah.). . dan ada sajian bodoran. meja I diisi oleh siswa dengan level tertinggi dari tiap kelompok dan seterusnya sampai meja ke-X ditepati oleh siswa yang levelnya paling rendah. suasana diskuisi nyaman dan menyenangkan sepeti dalam kondisi permainan (games) yaitu dengan cara guru bersikap terbuka. mendemonstrasikan. membaca. berikan penghargaan kelompok dan individual. Siapkan meja turnamen secukupnya. Buat kelompok siswa heterogen 4 orang kemudian berikan informasi pokok materi dan \mekanisme kegiatan b. presentasi. Usahakan dinamikia kelompok kohesif dan kompak serta tumbuh rasa kompetisi antar kelompok.

. Oleh karena itu siswa harus membangun pengetahuan tidak menerima bentuk jadi dari guru. sajian-presentasi kelompok sehingga terjadi diskusi kelas. perluasan. pemantapan dengan cara siswa dilatih melalui pemberian tugas atau quis. STAD (Student Teams Achievement Division) STAD adalah salah sati model pembelajaran koperatif dengan sintaks: pengarahan. dengan somatic ekuivalen dengan kinesthetic. umumkan hasil kuis dan beri reward. Auditory. presentasi kelompok dengan nomnor siswa yang sama sesuai tugas masing-masing sehingga terjadi diskusi kelas. Sintaksi BidaK menurut Slavin (1985) adalah: (1) buat kelompok heterogen dan berikan bahan ajar berupak modul. (3) penghargaan kelompok dan refleksi serta tes formatif. NHT (Numbered Head Together) NHT adalah salah satu tipe dari pembelajaran koperatif dengan sintaks: pengarahan. VAK (Visualization. Intellectualy. Istilah tersebut sama halnya dengan istilah pada SAVI. 1980) tanggung jawab vbelajar adalah pada siswa.14. dengan perkataan lain manfaatkanlah potensi siwa yang telah dimilikinya dengan melatih. (2) siswa belajar kelompok dengan dibantu oleh siswa pandai anggota kelompok secara individual. saling berbagi sehingga terjadi diskusi. Repetition) Model pembelajaran ini mirip dengan SAVI dan VAK. AIR (Auditory. diskusikan bahan belajar-LKS-modul secara kolabratif. 16. Pola komunikasi guru-siswa adalah negosiasi dan bukan imposisi-intruksi. 18. mengembangkannya. saling tukar jawaban. bedanya hanyalah pada Repetisi yaitu pengulangan yang bermakna pendalama. umumkan rekor tim dan individual dan berikan reward. kuis individual dan buat skor perkembangan tiap siswa. berikan persoalan materi bahan ajar (untuk tiap kelompok sama tapi untuk tiap siswa tidak sama sesuai dengan nomor siswa. 17. TAI (Team Assisted Individualy) Terjemahan bebas dari istilah di atas adalah Bantuan Individual dalam Kelompok (BidaK) dengan karateristirk bahwa (Driver. 15. kuis individual dan buat skor perkembangan tiap siswa atau kelompok. Kinestetic) Model pebelajaran ini menganggap bahwa pembelajaran akan efektif dengan memperhatikan ketiga hal tersebut di atas. tiasp siswa dengan nomor sama mendapat tugas yang sama) kemudian bekerja kelompok. buat kelompok heterogen dan tiap siswa memiliki nomor tertentu. buat kelompok heterogen (4-5 orang).

19. presentasi kelompok (share). 20. rencanakan pelaksanaan investigasi. berikan persoalan kepada siswa dan siswa bekerja kelompok dengan cara berpasangan sebangku-sebangku (think-pairs). buat skor perkem\angan siswa. buat kelompok heterogen dengan orientasi tugas. 24. buat kelompok heterogen. Sintaksnya adalah: mulai dari fakta aktual sesuai dengan materi bahan ajar melalui tanya jawab lisan. dan alternative solusi). tiap kelompok menginvestigasi proyek tertentu (bisa di luar kelas. kuis individual. hasil bacaannya dikomunikasikan dengan presentasi. berikan bahan ajar (LKS) yang terdiri dari beberapa bagian sesuai dengan banyak siswa dalam kelompok. 21. mengkritisi. GI (Group Investigation) Model koperatif tipe GI dengan sintaks: Pengarahan. umumkan hasil kuis dan berikan reward. iformasi bahan ajar. identifikasi permasalahan dan fokus-pilih. diskusi. umumkan hasil kuis dan berikan reward. kembali ke kelompok aasal. refleksi. tiap anggota kelompok bertugas membahasa bagian tertentu. mengolah pikiran sehingga muncul gagasan orisinil untuk menentukan solusi. buat kelompok ahli sesuai bagian bahan ajar yang sama sehingga terjadi kerja sama dan diskusi. pelaksnaa tutorial pada kelompok asal oleh anggotan kelompok ahli. misal mengukur tinggi pohon. Sinatknya adalah: . TTW (Think Talk Write) Pembelajaran ini dimulai dengan berpikir melalui bahan bacaan (menyimak. tuiap kelompok bahan belajar sama. susun sub-sub masalah sehingga terjadli koneksivitas. Jigsaw Model p[embeajaran ini termasuk pembelajaran koperatif dengan sintaks sepeerti berikut ini. pilih strategi solusi 23. presentasi. MEA (Means-Ends Analysis) Model pembelajaran ini adalah variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah dengan sintaks: sajikan materi dengan pendekatan pemecahan masalah berbasis heuristic. Pengarahan. dan kemudian buat laopran hasil presentasi. kuis individual. banyak guru dan staf sekolah). mendata banyak dan jenis kendaraan di dalam sekolah. jenis dagangan dan keuntungan di kantin sekolah. elaborasi menjadi sub-sub masalah yang lebih sederhana. CPS (Creative Problem Solving) Ini juga merupakan variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah melalui teknik sistematik dalam mengorganisasikan gagasan kreatif untuk menyelesaikan suatu permasalahan. penyimpulan dan evaluasi. 22. identifikasi perbedaan. TPS (Think Pairs Share) Model pembelajaran ini tergolong tipe koperatif dengan sintaks: Guru menyajikan materi klasikal. presentasi dan diskusi. buat skor perkembangan tiap siswa. pengoalahn data penyajian data hasi investigasi.

presentasi. Question dengan membuat pertanyaan (mengapa-bagaimana. dan Introspeksi melalui . Review) SQ4R adalah pengembangan dari SQ3R dengan menambahkan unsur Reflect. MID (Meaningful Instructionnal Design) Model ini adalah pembnelajaran yang mengutyamakan kebermaknaan belajar dan efektifivitas dengan cara membuat kerangka kerja-aktivitas secara konseptual kognitifkonstruktivis. (R) memikirkan kembali. Uraikan fakta sesuai dengan gaya belajar. dan konsep-ide. menggunakan. Question. Extending) Sintaknya adalah (C) koneksi informasi lama-baru dan antar konsep. Question. dan Review dengan cara meninjau ulang menyeluruh 28. Read. CORE (Connecting. mendalami. laporan kelompok. darimana) tentang bahan bacaan (materi bahan ajar). Recite dengan pertimbangkan jawaban yang diberikan (cartat-bahas bersama). yaitu aktivitas memberikan contoh dari bahan bacaan dan membayangkan konteks aktual yang relevan. analisi pengalaman. Organizing. Kerangka pikir untuk sukses. KUASAI Pembelajaran akan efektif dengan melibatkan enam tahap berikut ini. kerja kelompok. dengan sintaks: Survey dengan mencermati teks bacaan dan mencatatmenandai kata kunci. Sintaknya adalah (1) lead-in dengan melakukan kegiatan yang terkait dengan pengalaman. memperluas. 26. Refleting. SQ4R (Survey. SQ3R (Survey. TS-TS (Two Stay – Two Stray) Pembelajaran model ini adalah dengan cara siswa berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan kelompok lain. dua siswa bertamu ke kelompok lain dan dua siswa lainnya tetap di kelompoknya untuk menerima dua orang dari kelompok lain. (E) mengembangkan. Review) Pembelajaran ini adalah strategi membaca yang dapat mengembangkan meta kognitif siswa. Sertakan ingatan dan hafalkan kata kunci serta koneksinya. (2) reconstruction melakukan fasilitasi pengalaan belajar. kelompok (membaca-mencatatat-menandai).informasi. Ambil pemaknaan (mengetahui-memahami-menggunakan-memaknai). yaitu dengan menugaskan siswa untuk membaca bahan belajar secara seksamacermat. kembali ke kelompok asal. 27. 29. 25. Reflect. (3) production melalui ekspresi-apresiasi konsep 30. (0) organisasi ide untuk memahami materi. Sintaknya adalah kerja kelompok. diskusi. dan menemukan. melaporkan. Read dengan membaca teks dan cari jawabanya. Read. Ajukan pengujian pemahaman. kerja kelompok. Recite. Recite. dan menggali.

deteksi kausal lain. 33. Sintaksnya adalah: Separu dari sjumlah siswa membentuk lingkaran kecil menghadap keluar. penerapan. IOC (Inside Outside Circle) IOC adalah mode pembelajaran dengan sistim lingkaran kecil dan lingkaran besar (Spencer Kagan. Selanutnya menyelesaikan masalah tersebut dengan cara menghilangkan gap uyang menyebabkan munculnya masalah tersebut.refleksi diri tentang gaya belajar. siswa bekerja sama (membaca bergantian. 3 untuk sure. Sintaknya adalah: identifkasi. Integrated. dn 5 untuk certain. 34. 1 untuk amost guest. analisis kausal. CIRC (Cooperative. penggunaan. menemukan kata kunci. 2 untuk not sure. siswa yang berada di lingkran luar . 4 untuk almost certain. and Composition) Terjemahan bebas dari CIRC adalah komposisi terpadu membaca dan menulis secara koperatif –kelompok. guru memberikan wacana bahan bacaan sesuai dengan materi bahan ajar. 32. Sintaksnya adalah: membentuk kelompok heterogen 4 orang. presentasi hasil kelompok. siswa yang berhadapan berbagi informasi secara bersamaan. 31. DLPS (Double Loop Problem Solving) DPLS adalah variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah dengan penekanan pada pencarian kausal (penyebab) utama daritimbulnya masalah. imoplementasi solusi. Hutnal (2002) mengemukakan bahwa CRI menggunakan rubric dengan penskoran 0 untuk totally guested answer. solusi tentative. mengidentifikasui kausal. identifikasi kausal utama. dan implementasi solusi utama. 1993) di mana siswa saling membagi informasi pada saat yang bersamaan dengan pasangan yang berbeda dengan ssingkat dan teratur. memberikan tanggapan) terhadap wacana kemudian menuliskan hasil kolaboratifnya. CRI (Certainly of Response Index) CRI digunakan untuk mengobservasi proses pembelajaran yang berkenaan dengan tingkat keyakinan siswa tentang kemampuan yang dimilkinya untuk memilih dan menggunakan pengetahuan yang telah dimilikinya. dan pemanfaatan berbagai representasi dengan setting kelas dan kerja kelompok. pendahuluan. pertimbangan solusi. jadi berkenaan dengan jawaban untuk pertanyaan mengapa. Reading. separuhnya lagi membentuk lingkaran besar menghadap ke dalam. menemukan pilihan solusi utama. Langkah penyelesdai maslah sebagai berikurt: menuliskan pernyataan masalah awal. deteksi kausal. menuliskan pernyataan masalah yang telah direvisi. DMR (Diskursus Multy Reprecentacy) DMR adalah pembelajaran yang berorientasi pada pembentukan. 35. pengemabangan. Sintaksnya adalah: persiapan. dan penutup. mengelompokkan gejala. dan rencana solusi yang terpilih. refleksi.

Sintaksnya adalah: Sebagian siswa berdiri berjajar di depoan kelas atau di sela bangku-meja dan sebagian siswa lainnya berdiri berhadapan dengan kelompok siswa opertama. sajian materi pokok. menunjuk siswa untuk melakonkan scenario yang telah dipelajarinya. Talking Stick Suintak p[embelajana ini adalah: guru menyiapkan tongkat. presentasi hasil kelompok. bentuk kelompok berpasangan sebangku. dan kembali berbagai informasi. pembentukan kelompok siswa. dan seterusnya 36. pemanggilan ketua dan diberi tugas membahas materi tertentu di kelompok. salah satu siswa menyampaikan materi yang baru diterima kepada pasangannya kemudian bergantian. siswa yang berhadapan berbagi pengalkaman dan pengetahuan. bimbingan penimpoulan dan refleksi. 38. sajian materi. 40. guru membimbing kesimpulan-refleksi-evaluasi.berputar keudian berbagi informasi kepada teman (baru) di depannya. siswa yang berdiri di ujung salah satui jajaran pindah ke ujunug lainnya pada jajarannya. menunjuk beberapa siswa untuk mempelajari scenario tersebut. membentuk kelompok. bekerja . 37. tongkat diberikan kepad siswa lain dan guru memberikan petanyaan lagi dan seterusnya. kelompok siswa membahas peran yang dilakukan oleh pelakon. presentasi di depan hasil diskusinya. sajian presentasi hasil bacaan oleh perwakilan salah satu kelompok kemudian ditanggapi oleh kelompok lainnya begitu setrusnya secara bergantian. guru membimbing siswa untuk menyimpulkan. 41. Strategi ini cocok untuk bahan ajar yang memerlukan pertukartan pengalaman dan pengetahuan antar siswa. Snowball Throwing Sintaknya adalah: Informasi materi secara umum. 39. Debate Debat adalah model pembalajaranb dengan sisntaks: siswa menjadi 2 kelompok kemudian duduk berhadapan. siswa membaca materi bahan ajar untuk dicermati oleh masing-masing kelompok. Tari Bambu Model pembelajaran ini memberuikan kesempatan kepada siswa untuk berbagi informasi pada saat yang bersamaan dengan pasangan yang berbeda secara teratur. penyampaian kompetensi. guru membimbing membuat kesimpulan dan menambahkannya biola perlu. guru mengambil tongkat dan memberikan tongkat kepada siswa dan siswa yang kebagian tongkat menjawab pertanyaan dari guru. Role Playing Sintak dari model pembelajaran ini adalah: guru menyiapkan scenario pembelajaran. Artikulasi Artikulasi adlah mode pembelajaran dengan sintaks: penyampaian konpetensi. siswa mebaca materi lengkap pada wacana.

refleksi dan evaluasi 42. 43. langkah demi langkah bertahap. penyimpulan dan evaluasi. 44. siswa atau kelompok menuliskan nomor sembarang dan dimasukkan ke dalam kotak. membagikan kartu soal pada kelompok dan kartu jawaban. Explicit Instruction Pembelajaran ini cocok untuk menyampaikan materi yang sifatnya algoritmaprosedural. membagi tugas pembahasan materi untuk tiap kelompok. Sintaknya adalah: sajian informasi kompetensi. refleksi. 48. sajian materi. penyimpulan dan evaluasi. penyimpulan dan evaluasi. 47.kelompok. Make-A Match . dikusi kelas. refleksi. penyuimpulan. kesimpulan dan evaluasi. Pair Checks Siswa berkelompok berpasangan sebangku. 46. sajian materi. buat kartu jawaban dengan diacak nomornya. pengecekan kebenaran jawaban. sajikan materi. guru membacakan soal yang nomornya dipilih acak. kelompok lain menjawab secara bergantian. mengecek pemahaman dan balikan. sajian gambaran umum materi bahan ajar. membimbing pelatihan-penerapan. tiap kelompok menuliskan pertanyaan dan diberikan kepada kelompok lain. refleksi. siswa yang punya nomor sama dengan nomor soal yang dibacakan guru berhak menjawab jika jawaban benar diberi skor dan siswa menyambutnya dengan yel hore atau yang lainnya. salah seorang menyajikan persoalan dan temannya mengerjakan. siswa berkelompok mengerjakan soal dan mencari kartu soal untuk jawaban yang cocok. penyimpulan dan evaluasi. Demostration Pembelajaran ini khusu untuk materi yang memerlukan peragaan media atau eksperimen. Course Review Horay Langkah-langkahnya: informasi kompetensi. 45. tanya jawab untuk pemantapan. Langkahnya adalah: informasi kompetensi. mendemontrasikan pengetahuan dan ketrampilan procedural. refleksi. menunjuk siswa atau kelompok untuk mendemonstrasikan bagiannya. Scramble Sintaknya adalah: buatlah kartu soal sesuai marteri bahan ajar. refleksi. Student Facilitator and Explaining Langkah-langkahnya adalah: informasi kompetensi. siswa mengembangkannya dan menjelaskan lagi ke siswa lainnya. pemberian reward. bertukar peran.

guru menanamkan konsep sesuai materi bahan ajar. Reviewing and reducing difficulty. Obtaining mastery. bertukar peran. rencana. LAPS-Heuristik Heuristik adalah rangkaian pertanyaan yang bertisfat tuntunan dalam rangaka solusi masalah. presentasi hasuil diskusi kelompok. 50. siswa latian dan bertanya. valuasi dan refleksi. diagram. balikan-perbnaikan-pengayaan-interaksi. dan bagaimana sebaiknya mengerjakannya. solusi. Sintaks: pemahaman masalah. siswa membuat ksimpulan dari hasil setiap kelompok. 52. dengan petunjuk guru siswa mencermati sajian. penyimpulan. bimbingan penyimpulan. siswa mempelajari wacana dan membuat rangkuman. Improve Improve singkatan dari Introducing new concept. sajian permasalahan terbuka. 54. apakah bermanfaat. sajikan gambar ditempel atau pakai OHP. guru mengkonfirmasi urutan gambar tersebut. Sintaknya adalah sajian pertanyaan untuk mengantarkan konsep. Enrichment. presentasi hasil kelompok. penyimpulan dan evaluasi. bagikan wacana materi bahan ajar. setiap siswa mencari dan mendapatkan sebuah kartu soal dan berusaha menjawabnya. dan pengecekan. 53. siswa berkelompok untuk menanggapi dan membuat berbagai alternatiu jawababn. Verivication.Guru menyiapkan kartu yang berisi persoalan-permasalahan dan kartu yang berisi jawabannya. Metakognitive questioning. 49. Practicing. refleksi. Examples Non Examples Persiapkan gambar. kartu dikumpul lagi dan dikocok. atau tabel sesuai materi bahan ajar dan kompetensi. sajian hasil diskusi oleh salah seorang dan yang lain menanggapi. untuk badak berikutnya pembelaarn seperti babak pertama. LAPS ( Logan Avenue Problem Solving) dengan kata Tanya apa masalahnya. sajian materi. apakah solusinya. siswa (wakil) mengurutkan gambar sehingga sistematik. Picture and Picture Sajian informasi kompetensi. penyimpulan. evaluasi dan refleksi. 51. . diskusi kelompok tentang sajian gambar tadi. setiap siswa mencari kartu jawaban yang cocok dengan persoalannya siswa yang benar mendapat nilai-reward. evaluasi dan refleksi. evaluasi dan refleksi. Sintaknya adalah: informasi kompetensi. Mind Mapping Pembelajara ni sangat cocok untuk mereviu pengetahuan awal siswa. perlihatkan gambar kegiatan berkaitan dengan materi. adakah alternative. Cooperative Script Buat kelompok berpasangan sebangku.

siswa berkelompok melengkapi. setelah selesai kupon dikembalikan. 60. presentasi. sajian materi. Sintaksnya adalah ilustrasikan konsep konkret dan gunakan analogi. ranguman. guru membentuk kelompok.dan nama yang diberi. berikan latihan soal bertingkat. sampaikan kompetensi.55. Take and Give Model pembelajaran menerima dan memberi adalah dengan sintaks. guru menyiapkan kata kunci sesuai materi bahan ajar. dan refleksi 56. tia kelompok membeuat kalimat berdasarkankata kunci. sajian materi. dan seterusnya dengan siswa lain secara bergantian. siswa berbicara (pidato-tidak membaca) berdasarkan bahan pada kupon. 1998) untuk melatih dan mengembangkan ketrampilan sosial agar siswa tidak mendominasi pembicaraan atau diam sama sekali. Concept Sentence Proseduirnya adalah poenyampaian kompetensi.bahan belajar . Complette Sentence Pembelajaran dengan model melengkapi kalimat adalah dengan sintakas: sisapkan blanko isian berupa aparagraf yang kalimatnya belum lengkap. siswa ditugaskan membaca wacana. Tanya jawab dan refleksi 57. LKS dibagikan berupa paragraph yang kaliatnya belum lengkap. tantangan dan restruturisasi sajiankonsep. berupa opemecahan masalah. siswa membuat catatan kreatif sesuai dengan pola pikirnya-peta konsep-bahasa khusus. Time Token Model ini digunakan (Arebds. 58. 59. membentuk kelompok heterogen. Superitem Pembelajaran ini dengan cara memberikan tugas kepada siswa secara bertingkatbertahap dari simpel ke kompleks. pengungkapan ide-konsep awal. evaluasi. Langkahnya adalah kondisikan kelas untuk melaksanakan diskusi. presentasi. aplikasi. . informasikan kompetensi. siapkan kartu dengan yang berisi nama siswa . evaluasi dan refleksi 61. Generatif Basi gneratif adalah konstruksivisme dengan sintaks orintasi-motivasi. pada tahap pemantapan tiap siswa disuruh berdiri dan mencari teman dan saling informasi tentang materi atau pendalaman-perluasannya kepada siswa lain kemudian mencatatnya pada kartu. tiap siswa diberi kupon bahan pembicaraan (1 menit). Sintaknya adalah kondisikan situasi belajar kondusif dan focus. Circuit Learning Pembelajaran ini adalah dengan memaksimalkan pemberdayaan pikiran dan perasaan dengan pola bertambah dan mengulang.

Rumus quantum fisika asdalah E = mc2. Kumon Pembelajarn dengan mengaitkan antar konsep. Hibrid Model hibrid adalah gabungan dari beberapa metode yang berkenaan dengan cara siswa mengadopsi konsep. dinamis. namai-buat generalisasi sampai konsep. semua mempunyai tujuan. ketrampilan. lima kali salah guru membimbing. Strategi quantum adalah tumbuhkan minat dengan AMBak. interaktif. Manusia telah dibekali akal dan rasa untuk berkreasi. demonstrasikan melalui presentasikomunikasi. latihan. c = communication. dan menjaga suasana nyaman-menyenangkan. Prinsip quantum adalah semua berbicara-bermakna. Sintaksnya adalah: sajian konsep. agar segalanya berubah ke arah yang lebih baik dengan ikhtiar mulai dari diri sendiri. koperatifinkuiri-solusi-workshop. Penutup Kehidupan akan terasa indah ap[abila ada variasi. dan rayakan dengan reward dengan senyum-tawa-ramah-sejuk-nilai-harapan. 64. optimalkan komunikasi + dengan aktivitas optimal. penciptaan suasan kondusif perlu dilakukan. sebaliknya akan terasa membosankan jika segalanya monoton tak berubah. 62. Begitu pulal dalam pembelajaran. Perubahan kea rah perbaikan adalah tuntutan alamiah yang menjadi kebutuhan setiap insane dalam setiap kehidupan. yaitu mulai dari mengolah informasi-koneksi informasi. Treffinger Pembelajaran kreatif dengan basis kematangan dan pengetahuan siap. 63. dan saling menghargai. jika keliru langsung dikembalikan untuk diperbaiki dan diperiksa lagi. kelompok-kerjasama. proses rasa-pikir kreatif dalam pemecahan masalah secara mandiri melalui pemanasan-minatkuriositi-tanya. karena unsur rasa dalam berpikir selalu turut serta dan tak bisa dipisahkan. Guru harus menciptakan suasana kondusif. virtual workshop menggunakan computer-internet. konsep harus dialami. tiap siswa selesai tugas langsung diperiksa-dinilai. partisipatif. m = massa yaitu potensi diri (akal-rasa-fisik-religi). tiap usaha siswa diberi reward. dengan E = energi yang diartikan sukses. alami-dengan dunia realitas siswa. penggunaan ide kreatif-konflik internal-skill. dan hipotesis. Sintaks: keterbukaan-urun ide-penguatan. menciptakan inovasi. kebebasan-terbuka. Quantum Memandang pelaksanaan pembelajaran seperti permainan musik orkestra-simfoni. Sintaknya adalah pembelajaran ekspositori.berikan sal tes bentuk super item. kerja individual. kohesif. ulangi dengan Tanya jawab-latihan-rangkuman. reward. Oleh karena itu . E. 65. integrasi.

De Porter.Ar. Emotional Spritual Quotient (ESQ).penciptaan suasana kondusif perlu dilakukan sehingga dalam belajar siswa tidak lagi merasa cemas. Howard (1985). Jakarta: Arga. . Daniel (1995). Jakarta. Erman. Bobbi (1992). Ditdik SLTP (2002). Gardner. Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning. melainkan memnjadi kesadaran dan kebutuhan. (2002). dalam suasana perasaan yang nyaman dan menyenangkan. Buzan. tidak lagi dirasakan sebagai kewajiban. Tony (1989). 3rd ed. dkk. Goleman. WWI Publishing Texas: Waco. Salah satu cara untuk menciptakan suasan yang nyaman dan menyenangkan sert terhndar dari kevbiosanan adalah dengan memahami dan melaksanakan model belajar yang dilakukan siswa. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Frame of Mind: The Theory of Multiple Ilntelligences. Use Both Sides of Yoru Brain. komunikasi positif yang efektif. Perth: Edith Cowan University. New York: Basic Bools. Burton.. Daftar Pustaka Ary Ginanjar Agustian (2002). Quantum Learning. The Constructivist Classroom Education in Profile.:Depdiknas. S. dan model pembelajaran yang inovatif. Bandung: JICA-FPMIPA. Emotional Intelligence. CTL). New York: Dell Publishing. L (1993). New York: Penguin Books. Cord (2001). tidak lagi takut dalam berpartisipasi. What is Contextual Learning. New York: Bantam Books. Semoga.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful