P. 1
BUKU 1 Hukum Perdagangan Internasional Prinsip Prinsip Dan Konsepsi Dasar

BUKU 1 Hukum Perdagangan Internasional Prinsip Prinsip Dan Konsepsi Dasar

|Views: 287|Likes:
Published by Red Borneo
untuk mendapatkan softfile dokumen ini hubungi email : satryawangsa@ymail.com
untuk mendapatkan softfile dokumen ini hubungi email : satryawangsa@ymail.com

More info:

Categories:Types, Business/Law
Published by: Red Borneo on Jun 21, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

03/16/2014

HUKUM PERDAGANGAN

INTERNASIONAL

Prinsip-prinsip dan Konsepsi Dasar


Huala Adolf






ii

Kata Pengantar

Hukum Perdagangan Internasional adalah materi yang relatif baru
diajarkan di perguruan tinggi. Perkembangannya sangat cepat. Hukum ini
sebenarnya sudah ada sejak lama. Ia sudah ada sejak bangsa-bangsa mulai
melintasi sungai, laut, dan daratan luas, untuk berdagang dengan bangsa-
bangsa lainnya.
Buku ini ditulis karena bacaan di bidang hukum perdagangan
internasional masih sangat kurang. Literatur dasar untuk memahami bidang
hukum ini dalam bahasa Indonesia sangatlah minim.
Dalam proses penulisan ini, penulis memperoleh banyak bantuan dari
banyak pihak. Sdr. Bursok Arbenius SH membantu penulis membaca ulang
teks-teks awal buku ini. Sdr. Pitman SH merevisi dan memberi masukan BAB
V mengenai Letter of Credit. Sdr. Amirullah SH meluangkan waktunya
mengecek BAB VI mengenai E-Commerce. Bantuan dari rekan-rekan yang
baik ini penulis ucapkan terima kasih. Bantuan bahan bacaan dari
perpustakaan FH Unpad sangat membantu. Saya ucapkan terima kasih
kepada Sdr Yulius Sarto, pustakawan, yang dengan baik hati memberi segala
bahan yang diperlukan. Dalam kesempatan ini penulis juga mengucapkan
terima kasih kepada penerbit PT Rajawali Pers yang selalu bersedia
menerbitkan buku-buku penulis.
Kepada buah hati dan penghibur penulis yang masih kecil, Magda Pia
Rani, penulis merasa berutang budi atas waktunya yang hilang untuk
bermain bersama. Kepada istri penulis, An-An Chandrawulan, saya ucapkan
terima kasih atas segala bantuannya dalam merampungkan buku ini.
Buku ini masih banyak kekurangan. Kesalahan, kekeliruan atau
kekhilafan dalam penulisan buku ini adalah tanggung jawab pribadi penulis.
Saran perbaikan, komentar atau kritik terhadap muatan buku ini, sangat
penulis nantikan dengan rasa terima kasih.
Bandung, November 2004,



Huala Adolf SH LLM PhD

iii

Daftar Isi

BAB I PENGANTAR HUKUM PERDAGANGAN INTERNASIONAL
A. Pengantar dan Definisi
1. Definisi
a. Definisi Schmitthoff
b. Definisi Rafiqul Islam
c. Definisi Michelle Sanson
d. Definisi Hercules Booysen
2. Pendekatan Hukum Perdagangan Internasional
a. Hubungan Hukum Perdagangan Internasional dan Bidang Hukum
Lainnya
b. Hukum Perdagangan Internasional bersifat Interdisipliner
B. Prinsip-prinsip Hukum Perdagangan Internasional
1. Prinsip Dasar Kebebasan Berkontrak
2. Prinsip Dasar Pacta Sunt Servanda
3. Prinsip Penyelesaian Sengketa Melalui Arbitrase
4. Prinsip Kebebasan Komunikasi (Navigasi)
C. Eksistensi dan Tujuan Hukum Perdagangan Internasional
D. Perkembangan Hukum Perdagangan Internasional
E. Unifikasi dan Harmonisasi Hukum Perdagangan Internasional
1. Perlunya Unifikasi dan Harmonisasi Hukum Perdagangan
Internasional
2. Lembaga-lembaga Yang Bergerak dalam Unifikasi dan Harmonisasi
Hukum
a. World Trade Organization (WTO)
b. The International Institute for the Unification of Private Law
(UNIDROIT)
c. The United Nations Commission on International Trade Law
(UNCITRAL)
d. Kamar Dagang Internasional (ICC)
F. Penutup

BAB II. SUBYEK HUKUM PERDAGANGAN INTERNASIONAL
A. Pengantar
B. Negara
1. Peran Negara
2. Imunitas Negara
C. Organisasi Perdagangan Internasional
D. Individu
1. Perusahaan Multinasional
2. Bank
E. Penutup

BAB III. SUMBER HUKUM PERDAGANGAN INTERNASIONAL
iv
A. Pengantar
B. Sumber Hukum Perdagangan Internasional
1. Perjanjian Internasional
2. Hukum Kebiasaan Internasional
3. Prinsip-prinsip Hukum Umum
4. Putusan Badan Pengadilan dan Doktrin
5. Kontrak
6. Hukum Nasional
C. Penutup

BAB IV. ATURAN-ATURAN HUKUM PERDAGANGAN MENURUT GATT
A. Pengantar
B. Sejarah GATT
C. Ketentuan-ketentuan Perdagangan dalam GATT
D. Prinsip-prinsip GATT
E. Garis-garis besar Ketentuan GATT
F. Penutup

BAB V. LETTER OF CREDIT DALAM HUKUM PERDAGANGAN INTERNASIONAL
A. Pengantar
B. Bentuk-bentuk Pembiayaan Perdagangan Internasional
1. Kredit Berdokumen (Documentary Credit)
2. Bentuk Khusus Kredit Berdokumen
C. Penutup

BAB VI. E-COMMERCE MENURUT UNCITRAL MODEL LAW ON ELECTRONIC COMMERCE
1996
A. Pengantar
B. Masalah Hukum: Pengawasan
C. UNCITRAL Model Law
1. Pengantar
2. Penerapan Persyaratan Hukum terhadap Pesan Data
3. Kekuatan Pembuktian Pesan Data
4. Penyimpanan Pesan Data
5. Komunikasi Pesan Data
6. Bentuk dan Keabsahan Kontrak
7. Pengakuan terhadap Pesan Data
8. Pengakuan Penerimaan
9. Waktu dan Tempat Pengiriman dan Penerimaan Pesan Data
10. Bagian II: Obyek tertentu: Pengiriman Brg
11. Dokumen Pengangkutan (Bill of Lading)
12. Tanda Tangan Digital dan Pejabat Verifikasi
D. Penutup

BaAB VII. PENYELESAIAN SENGKETA DALAM PERDAGANGAN INTERNASIONAL
v
A. Pengantar
B. Para Pihak dalam Sengketa
C. Prinsip-prinsip Penyelesaian Sengketa
1. Prinsip Kesepakatan Para Pihak (Konsensus)
2. Prinsip Kebebasan Memilih Cara-cara Penyelesaian Sengketa
3. Prinsip Kebebasan Memilih Hukum
4. Prinsip Itikad Baik (Good Faith)
5. Prinsip Exhaustion of Local Remedies
D. Forum Penyelesaian Sengketa
1. Negosiasi
2. Mediasi
3. Konsiliasi
4. Arbitrase
5. Pengadilan (Nasional dan Internasional)
E. Hukum Yang Berlaku
1. Pengantar
2. Kebebasan Para Pihak
F. Pelaksaan Putusan Sengketa Dagang
1. Pengantar
1. Pelaksanaan Putusan APS
2. Pelaksanaan Putusan Arbitrase (Asing)
3. Pelaksanaan Putusan Pengadilan
G. Penutup

BAB I
PENGANTAR HUKUM PERDAGANGAN INTERNASIONAL
A. Pengantar dan Definisi
Hukum perdagangan internasional adalah bidang hukum yang
berkembang cepat. Ruang lingkup bidang hukum ini pun cukup luas.
Hubungan-hubungan dagang yang sifatnya lintas batas dapat
mencakup banyak jenisnya. Dari bentuknya yang sederhana, yaitu
dari barter, jual beli barang atau komoditi (produk-produk
pertanian, perkebunan, dan sejenisnya), hingga hubungan atau
transaksi dagang yang kompleks.
Kompleksnya hubungan atau transaksi dagang internasional
ini sedikit banyak disebabkan oleh adanya jasa teknologi
(khususnya teknologi informasi). Sehingga, transaksi-transaksi
dagang semakin berlangsung dengan cepat. Batas-batas negara bukan
lagi halangan dalam bertransaksi. Bahkan dengan pesatnya
teknologi, dewasa ini para pelaku dagang tidak perlu mengetahui
atau mengenal siapa rekanan dagangnya yang berada jauh di belahan
bumi lain. Hal ini tampak dengan lahirnya transaksi-transaksi
yang disebut dengan e-commerce.
Ada berbagai motif atau alasan mengapa negara atau subyek
hukum (pelaku dalam perdagangan) melakukan transaksi dagang
internasional. Yang menjadi fakta adalah bahwa perdagangan
internasional sudah menjadi tulang punggung bagi negara untuk
menjadi makmur, sejahtera dan kuat. Hal ini sudah banyak terbukti
dalam sejarah perkembangan dunia.
Besar dan jayanya negara-negara di dunia tidak terlepas
dari keberhasilan dan aktivitas negara-negara tersebut di dalam
perdagangan internasional. Sebagai satu contoh, kejayaan Cina
masa lalu tidak terlepas dari kebijakan dagang yang terkenal
dengan nama ‘Silk Route’ atau jalan suteranya. Silk Route tidak
lain adalah rute-rute perjalanan yang ditempuh oleh saudagar-
saudagar Cina untuk berdagang dengan bangsa-bangsa lain di
dunia.
1

Setelah kejayaan Cina, menyusul negara-negara lain seperti
Spanyol dengan Spanish Conquistadors-nya, Inggris dengan The
British Empire-nya (beserta perusahaan multinasionalnya yang
pertama di dunia, yakni ‘the East-India Company’, Belanda dengan
VOC-nya, dll. Kejayaan negara-negara ini tidak terlepas dari
kebijakan pemerintahnya untuk melakukan transaksi dagang
internasional.
Kesadaran untuk melakukan transaksi dagang internasional
ini juga telah cukup lama disadari oleh para pelaku pedagang di
tanah air sejak. Adalah Amanna Gappa, seorang kepala suku Bugis
yang sadar akan pentingnya dagang (dan pelayaran) bagi
kesejahteraan sukunya. Keunggulan suku bugis dalam berlayar
dengan hanya menggunakan perahu-perahu bugis yang kecil telah
mengarungi lautan luas hingga ke Malaya (sekarang menjadi wilayah
Singapura dan Malaysia).
2

Yang menjadi esensi untuk bertransaksi dagang ini adalah
dasar filosofinya. Telah dikemukakan bahwa berdagang ini adalah

1
Jonathan Reuvid, (ed.), The Strategic Guide to International Trade,
London: Kogan Page, 1997, para. xv.
2
PH.O.L. Tobing, Hukum Pelayaran dan Perdagangan Amanna Gappa, Ujung
Pandang: Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan, 1977, hlm. 154. Di
Singapura, misalnya, ada suatu daerah yang khusus untuk menghormati
suku Bugis ini karena keunggulan mereka sebagai pelaut dan pedagang.
Pemerintah Singapura memberi nama pada suatu daerah di tengah Singapura
dengan nama Bugis (di wilayah Bugis Junction). Di Bugis Junction ini
kita dapat melihat replika perahu kecil suku Bugis yang berlayar ke
Malaka (sekarang Singapura). Bahkan pernah ada data yang mengungkapkan
bahwa perahu Bugis telah juga mengunjungi wilayah utara benua
Australia. Prestasi ini telah membuat kagum banyak bangsa di dunia.
Bahkan banyak ahli hukum dari berbagai dunia, khususnya Inggris dan
Belanda, yang mempelajari hukum-hukum bangsa Bugis ini yang disalin
oleh Amanna Gappa. Mereka mempelajari hukum-hukum pelayaran dan hukum
dagang bangsa Bugis untuk kemungkinan diterapkan pada keadaan dewasa
ini. Menurut hemat penulis, sesungguhnya, apa yang diperbuat oleh ahli-
ahli hukum Belanda dan ahli hukum Inggris tersebut merupakan pukulan
telak pada ahli hukum di tanah air. Kenapa justru ahli hukum asing yang
mempelajari dan menggali hukum dagang (internasional) Bugis, bukannya
bangsa kita sendiri.
suatu “kebebasan fundamental” (fundamental freedom).
3
Dengan
kebebasan ini siapa saja harus memiliki kebebasan untuk
berdagang. Kebebasan ini tidak boleh dibatasi oleh adanya
perbedaan agama, suku, kepercayaan, politik, sistem hukum, dll.
Piagam Hak-hak dan Kewajiban Negara (Charter of Economic
Rights and Duties of States) juga mengakui bahwa setiap negara
memiliki hak untuk melakukan perdagangan internasional. (“Every
State has the right to engage in international trade”) (Pasal 4).




3
Lihat buku penulis, Huala Adolf, Hukum Ekonomi Internasional: Suatu
Pengantar, Jakarta: Rajawali Pers, cet. 3, 2002, Bab I.
1. Definisi
Cepatnya perkembangan bidang hukum ini ternyata masih belum
ada kesepakatan tentang definisi untuk bidang hukum ini. Hingga
dewasa ini terdapat berbagai definisi yang satu sama lain
berbeda.
a. Definisi Schmitthoff
Definisi pertama adalah definisi yang dikeluarkan oleh
Sekretaris Jenderal PBB dalam laporannya tahun 1966.
4
Definisi
ini sebenarnya adalah definisi buatan seorang guru besar ternama
dalam hukum dagang internasional dari City of London College,
yaitu Professor Clive M. Schmitthoff. Sehingga dapat dikatakan
bahwa definisi yang tercakup dalam Laporan Sekretaris Jenderal
tersebut tidak lain adalah laporan Schmitthoff.
Schmitthoff mendefinisikan hukum perdagangan internasional
sebagai: “... the body of rules governing commercial relationship
of a private law nature involving different nations”.
5

Dari definisi tersebut dapat tampak unsur-unsur berikut:
1) Hukum perdagangan internasional adalah sekumpulan aturan
yang mengatur hubungan-hubungan komersial yang sifatnya
hukum perdata,
2) Aturan-aturan hukum tersebut mengatur transaksi-transaksi
yang berbeda negara.
Definisi di atas menunjukkan dengan jelas bahwa aturan-
aturan tersebut bersifat komersial. Artinya, Schmitthoff dengan
tegas membedakan antara hukum perdata (“private law nature”) dan
hukum publik.
Dalam definisinya itu, Schmitthoff menegaskan bahwa ruang
lingkup bidang hukum ini tidak termasuk hubungan-hubungan
komersial internasional dengan ciri hukum publik. Termasuk dalam

4
United Nations, Progressive Development of the Law of International
Trade: Report of the Secretary General of the United Nations 1966, New
York: United Nations, 1966, hlm. 1. (Selanjutnya disebut Secreatry
General Report).
5
Secretary General Report, op.cit., para. 10.
bidang hukum publik ini yakni aturan-aturan yang mengatur tingkah
laku atau perilaku negara-negara dalam mengatur perilaku
perdagangan yang mempengaruhi wilayahnya.
6

Dengan kata lain, Schmitthoff menegaskan wilayah hukum
perdagangan internasional tidak termasuk atau terlepas dari
aturan-aturan hukum internasional publik yang mengatur hubungan-
hubungan komersial. Misalnya, aturan-aturan hukum internasional
yang mengatur hubungan dagang dalam kerangka GATT atau aturan-
aturan yang mengatur blok-blok perdagangan regional, aturan-
aturan yang mengatur komoditi, dsb.
7
Dalam salah satu tulisannya
Schmitthoff dengan jelas menegaskan sebagai berikut:
“First, the modern law of international trade is not a
branch of international law; it does not form part of the
jus gentium, but it is applied in every national
jurisdiction by tolerance of the national sovereign whose
public policy may override or qualify a particular rule of
that law.”
8


Dari latar belakang definisi tersebut pun berdampak pada
ruang lingkup cakupan hukum dagang internasional. Schmitthoff
menguraikan bidang-bidang berikut sebagai bidang cakupan bidang
hukum ini:
1) Jual beli dagang internasional: (i) pembentukan kontrak; (ii)
perwakilan-perwakilan dagang (agency); (iii) Pengaturan
penjualan eksklusif;

6
Secretary General Report, op.cit., para. 11.
7
Secretary General Report, op.cit., para. 11.
8
Schmitthoff, “The Unification of the Law of International Trade,”
(1968) JBL 109 (pendapat Schmitthoff ini juga adalah pendapat sarjana
terkemuka hukum perdagangan internasional Profesor Aleksander
Goldštajn). Menurut hemat penulis salah satu kelemahan dari definisi
ini adalah sulitnya diterima bahwa berlakunya hukum perdagangan
internasional ke dalam jurisdiksi nasional negara-negara di dunia
adalah berdasarkan apa yang beliau sebut “tolerance of the national
sovereign.” Dalam hukum, sulit diterima adanya toleransi ini. Yang ada
adalah penundukan diri baik secara diam-diam maupun tegas seperti dalam
ratifikasi atau aksesi suatu perjanjian internasional (dalam hal ini
hukum perdagangan internasional) oleh suatu negara. Seperti kita
ketahui, masalah ratifikasi atau aksesi terhadap suatu perjanjian
internasional (tidak terkecuali perjanjian di bidang hukum perdagangan
2) Surat-surat berharga
3) Hukum mengenai kegiatan-kegiatan tentang tingkah laku mengenai
perdagangan internasional
4) Asuransi
5) Pengangkutan melalui darat dan kereta api, laut, udara,
perairan pedalaman
6) Hak milik industri
7) Arbitrase komersial.
9

b. Definisi M. Rafiqul Islam
Dalam upayanya memberi batasan atau definisi hukum
perdagangan internasional, Rafiqul Islam menekankan keterkaitan
erat antara perdagangan internasional dan hubungan keuangan
(financial relations). Dalam hal ini Rafiqul Islam memberi
batasan perdagangan internasional sebagai "... a wide ranging,
transnational, commercial exchange of goods and services between
individual business persons, trading bodies and States".
10

Hubungan finansial terkait erat dengan perdagangan
internasional. keterkaitan erat ini tampak karena hubungan-
hubungan keuangan ini mendampingi transaksi perdagangan antara
para pedagang (dengan pengecualian transaksi barter atau counter-
trade).
11


internasional) tunduk pada prinsip-prinsip hukum internasional publik,
dalam hal ini prinsip hukum perjanjian internasional.
9
Secretary General Report, op.cit., para. 10.
10
Rafiqul Islam, International Trade Law, NSW: LBC, 1999, hlm. 1.
Sarjana-sarjana dewasa ini cenderung untuk membagi ruang lingkup
perdagangan internasional ke dalam dua bagian:perdagangan barang dan
jasa (sebagaimana halnya dengan Rafiqul Islam di atas). Lihat misalnya,
Pablo Vilanueva, "Patterns and Trends in World Trade," dalam: Jonathan
Reuvid (ed.), The Strategic Guide to International Trade, Kogan page
(tt), hlm 3. (Villanueva menggambarkan bidang perdagangan internasional
ke dalam dua bidang: (1) Perdagangan barang (merchandise trade) yang
mencakup mineral, produk pertanian, barang industri; dan (2) jasa
komersial (commercial services) yang mencakup perbankan, konsultasi dan
pariwisata).
11
Pengecualian terhadap kedua bentuk transaksi tersebut karena memang
untuk kedua transasi tersebut tidak terkait dengan adanya hubungan
keuangan. (Rafiqul Islam, op.cit., hlm. 1).
Dengan adanya keterkaitan erat antara perdagangan
internasional dan keuangan, Rafiqul Islam mendefinisikan "hukum
perdagangan dan keuangan ("international trade and finance law")
sebagai suatu kumpulan aturan, prinsip, norma dan praktek yang
menciptakan suatu pengaturan (regulatory regime) untuk transaksi-
transaksi perdagangan transnasional dan sistem pembayarannya,
yang memiliki dampak terhadap perilaku komersial lembaga-lembaga
perdagangan.
12
Kegiatan-kegiatan komersial tersebut dapat dibagi
ke dalam kegiatan "komersial" yang berada dalam ruang lingkup
hukum perdata internasional atau Conflict of Laws; perdagangan
antar pemerintah atau antar negara, yang diatur oleh hukum
internasional publik.
13

Dari batasan tersebut tampak bahwa ruang lingkup hukum
perdagangan internasional sangat luas.
14
Karena ruang lingkup
kajian bidang hukum ini sifatnya adalah lintas batas atau
transnasional, konsekuensinya adalah terkaitnya lebih dari satu
sistem hukum yang berbeda.
c. Definisi Michelle Sanson
Sarjana lainnya yang mencoba memberi batasan bidang hukum
ini adalah sarjana Australia Sanson. Sanson memberi batasan
bidang ini sesuai dengan pengeritan kata-kata dari bidang hukum
ini, yaitu hukum, dagang dan internasional (dengan kata dasar
nasion atau negara).
Hukum perdagangan internasional menurut definisi Sanson
‘can be defined as the regulation of the conduct of parties

12
Rafiqul Islam, op.cit., hlm. 1.
13
Rafiqul Islam, op.cit., hlm. 1. Selengkapanya Rafiqul Islam menulis
sebagai berikut: "international trade and finance law is a body of
rules, principles, norms and their associated payments systems, with a
controlling impact on the commercial behaviour of the trading
entities").
14
Rafiqul Islam, op.cit., hlm. 1.
involved in the exchange of goods, services and technology
between nations.’
15

Definisi di atas sederhana. Ia tidak menyebut secara jelas
bidang hukum ini jatuh ke bidang hukum yang mana: hukum privat,
publik, atau hukum internasional. Sanson hanya menyebut bidang
hukum ini adalah the regulation of the conduct of parties. Para
pihaknya pun dibuat samar, hanya disebut parties. Sedangkan obyek
kajiannya, Sanson agak jelas: yaitu jual beli barang, jasa dan
teknologi.
Meskipun memberi definisi yang mengambang tersebut, Sanson
membagi hukum perdagangan internasional ini ke dalam dua bagian
utama, yaitu hukum perdagangan internasional publik (public
interntional trade law) dan hukum perdagangan internasional
privat (private international trade law).
16

Yang pertama, public international trade law adalah hukum
yang mengatur perilaku dagang antar negara. Sedangkan yang kedua,
private international trade law adalah hukum yang mengatur
perilaku dagang secara orang perorangan (private traders) di
negara-negara yang berbeda.
17

Meskipun ada pembedaan ini, namun para sarjana mengakui
bahwa batas-batas kedua istilah ini pun sangat sulit untuk dibuat
garis batasnya. Sanson menyatakan bahwa ‘the modern development
is that the distinction between publik and privat international
trade law has less meaning.’
18


15
M. Sanson, Essential International Trade Law, Sydney: Cavendish,
2002, hlm. 3.
16
M. Sanson, op.cit., hlm. 4. Lihat pula pendekatan Rafiqul Islam,
supra, dan Schmitthoff, supra..
17
M. Sanson, op.cit., hlm. 4.
18
M. Sanson, op.cit., hlm. 4. Sanson dengan benar memberi contoh
tentang hukum WTO. Perjanjian WTO adalah bidang hukum perdagangan
internasional publik. Tetapi aturan hukumnya terjewantahkan ke dalam
bidang-bidang privat, misalnya saja dalam hal tarif, dumping,
perpajakan. (Ibid).
Mirip dengan Sanson, Rafiqul Islam melihat hubungan atau
keterkaitan ini juga sulit untuk tidak bersentuhan dan saling
mempengaruhi. Beliau menulis:
‘The effect of public international law on private
transactons is indirect but can be very profound in certain
aspects. Some such aspects of private transactions will be
considered merely because public international law has
shaped, or is in the process of reshaping, their legal
order.’
19


d. Definisi Hercules Booysen
Booysen sarjana Afrika Selatan tidak memberi definisi
secara tegas. Beliau menyadari bahwa ilmu hukum sangatlah
kompleks. Karena itu, upaya untuk membuat definisi bidang hukum,
termasuk hukum perdagangan internasional, sangatlah sulit dan
jarang tepat.
20

Karena itu dalam upayanya memberi definisi tersebut, beliau
hanya mengungkapkan unsur-unsur dari definisi hukum perdagangan
internasional. Menurut beliau ada tiga unsur, yakni:
(1) Hukum perdagangan internasional dapat dipandang sebagai suatu
cabang khusus dari hukum internasional (international trade
law may also be regarded as a specialised branch of
international law).
(2) Hukum perdagangan internasional adalah aturan-aturan hukum
internasional yang berlaku terhadap perdagangan barang, jasa
dan perlindungan hak atas kekayaan intelektual (HAKI).
(International trade law can be described as those rules of
international law which are applicable to trade in goods,
services and the protection of intellectual property).
Bentuk-bentuk hukum perdagangan internasional seperti ini

19
Rafiqul Islam, op.cit., hlm. 1.
20
Interlegal's Definitions (http://home.yebro.co.za/~interlegal/
definitions.htm). Bandingkan dengan pendapat Reuvid, bahwa istilah
‘Perdagangan internasional’ mencakup bidang dan teknik dagang yang
sangat luas (‘internasional trade covers a bewildering mumber of
activities and procedures’ (Jonathan Reuvid, (ed.), hlm. xv).)
misalnya saja adalah aturan-aturan WTO, perjanjian
multilateral mengenai perdagnagan mengenai barang seperti
GATT, perjanjian mengenai perdagangan di bidang jasa
(GATS/WTO, dan perjanjia mengenai aspek-aspek yang terkait
dengan HAKI (TRIPS).
21

Dalam lingkup definisi ini diakui bahwa negara bukanlah
semata-mata pelaku utama dalam bidang perdagangan
internasional. Negara lebih berperan sebagai regulator
(pengatur). Karena itu hukum perdagangan internasional juga
mencakup aturan-aturan internasional mengenai transaksi-
transaksi nyata yang bersifat internasional dari para
pedagang (international law merchants). Karenanya,
international law merchants ini adalah bagian dari hukum
perdagangan internasional.
22

(3) Hukum perdagangan internasional terdiri dari aturan-aturan
hukum nasional yang memiliki atau pengaruh langsung terhadap
perdagangan internasional secara umum. Karena sifat aturan-
aturan hukum nasional tersebut, maka atura-aturan tersebut
merupakan bagian dari hukum perdagangan internasional. contoh
dari aturan hukum nasional seperti itu adalah perundang-
undangan yang ekstrateritorial (the extraterritorial
legislation).
23

Dari 4 (empat) definisi di atas tampak semuanya ada
benarnya. Tetapi penulis lebih pro kepada definisi Rafiqul Islam.
Dari batasan Rafiqul Islam di atas, tampak adanya keterkaitan
erat antara hukum perdagangan internasional dengan hukum
internasional publik. Memang sekilas tampak bahwa dampak dan
pengaruh hukum internasional publik ini tidak langsung. Namun
demikian pengaruh ini dapat berdampak cukup luas terhadap

21
Interlegal's Definitions (http://home.yebro.co.za/~interlegal/
definitions.htm).
22
Interlegal's Definitions (http://home.yebro.co.za/~interlegal/
definitions.htm).
23
Interlegal's Definitions (http://home.yebro.co.za/~interlegal/
definitions.htm).
beberapa aspek dari hukum perdagangan internasional. Hal ini
disebabkan karena hukum internasional publik dalam beberapa hal
telah membentuk dan sedang dalam proses pembentukan ketentuan-
ketentuan yang mengatur aspek-aspek perdata dari transaksi
perdagangan internasional.
24



24
Rafiqul Islam, op.cit., hlm. 1.
2. Pendekatan Hukum Perdagangan Internasional
a. Hubungan antara Hukum Perdagangan Internasional dan Bidang
Hukum lainnya
Satu catatan lain yang juga penting adalah hubungan antara
hukum perdagangan internasional dan hukum lainnya yang terkait
dengan perdagangan internasional. Di bagian awal tulisan ini
tampak luasnya bidang cakupan hukum perdagangan internasional
ini. Luasnya bidang cakupan membuat cakupan yang dikajinya sulit
untuk tidak tumpang tindih dengan bidang-bidang lainnya. Misalnya
dengan hukum ekonomi internasional, hukum transaksi bisnis
internasional, hukum komersial internasional, dll.
25

Catatan di atas menunjukkan kedudukan penulis yang mengakui
adanya keterkaitan antara hukum perdagangan internasional dengan
hukum internasional. Di sisi lain, penulis berpendirian bahwa
hukum ekonomi internasional adalah juga bagian atau cabang dari
hukum internasional.
26

Masalahnya adalah di mana letak atau garis batas di antara
hukum perdagangan dengan bidang-bidang hukum lain disebut di
atas, khususnya hukum ekonomi internasional. Ada bidang-bidang
yang sama-sama tunduk pada dua bidang hukum ini. Misalnya saja,
pembahasan mengenai subyek-subyek dan sumber-sumber dari kedua
bidang hukum sedikit banyak hampir sama.
27

Sementara ini pendekatan yang ditempuh untuk membedakan
kedua bidang hukum ini adalah melihat subyek hukum yang tunduk
kepada kedua bidang hukum tersebut. Hukum ekonomi internasonal
lebih banyak mengatur subyek hukum yang bersifat publik (policy),
seperti misalnya hubungan-hubungan di bidang ekonomi yang
dilakukan oleh negara atau organisasi internasional. Sedangkan

25
Cf., M. Sanson, op.cit., hlm. 2.
26
Lihat buku penulis, Hukum Ekonomi Internasional: Suatu Pengantar,
Jakarta: Rajagrafindo, cet. 3, 2003, Bab I.
27
Lihat lebih lanjut mengenai hukum ekonomi internasional ini, buku
penulis, Hukum Ekonomi Internasional: Suatu Pengantar, Jakarta:
Rajagrafindo, cet. 3, 2003, Bab I dst.
hukum perdagangan internasional lebih menekankan kepada hubungan-
hubungan hukum yang dilakukan oleh badan-badan hukum privat.
Dalam kenyataannya pendirian tersebut tidak begitu valid.
Hukum ekonomi internasional dalam kenyataannya juga mengatur
kegiatan-kegiatan atau transaksi-transaksi badan hukum privat
atau yang terkait dengan kepentingan privat, misalnya mengenai
perlindungan dan nasionalisasi atau ekspropriasi perusahaan
asing. Selain itu, meskipun hukum ekonomi internasional mengatur
subyek-subyek hukum publik atau negara, namun aturan-aturan
tersebut bagaimana pun juga akan berdampak pada individu atau
subyek-subyek hukum lainnya di dalam wilayah suatu negara.

b. Hukum Perdagangan Internasional Bersifat Interdisipliner

Karakteristik lain dari hukum perdagangan internasional ini
adalah pendekatannya yang interdisipliner. Untuk dapat memahami
bidang hukum ini secara komprehensif, dibutuhkan sedikit banyak
bantuan disiplin-disiplin (ilmu) lain. Dalam bidang hukum ini
terkait dengan bidang pengangkutan (darat, udara dan khususnya
laut). Hal ini membutuhkan bantuan dan pemahaman disiplin ilmu
pelayaran.
Keterkaitan dengan pembayaran dalam perdagangan
internasional akan terkait dengan praktik perbankan dan lembaga
keuangan lainnya. Hal ini membutuhkan bantuan dan pemahaman
disiplin ilmu perbankan dan keuangan.
Keterkaitan dengan perdagangan itu sendiri akan terkait
dengan praktik dan teknik-teknik perdagangan. Hal ini membutuhkan
bantuan dan pemahaman ilmu praktik perdagangan.
Disiplin-disiplin ilmu lainnya yang terkait lainnya
misalnya adalah teknologi, ekonomi. Yang juga penting adalah ilmu
politik, yaitu bagaimana kebijakan politik suatu negara yang
berpengaruh terhadap kebijakan dagang suatu negara.

B. Prinsip-prinsip Dasar Hukum Perdagangan Internasional
Prinsip-prinsip dasar (fundamental principles) yang dikenal
dalam hukum perdagangan internasional diperkenalkan oleh sarjana
hukum perdagangan internasional Profesor Aleksancer Goldštajn.
Beliau memperkenalkan 3 (tiga) prinsip dasar tersebut, yaitu (1)
prinsip kebebasan para pihak dalam berkontrak (the principle of
the freedom of contract); (2) prinsip pacta sunt servanda; dan
(3) prinsip penggunaan arbitrase.
28

1. Prinsip Dasar Kebebasan Berkontrak
Prinsip pertama, kebebasan berkontrak, sebenarnya adalah
prinsip universal dalam hukum perdagangan internasional. Setiap
sistem hukum pada bidang hukum dagang mengakui kebebasan para
pihak ini untuk membuat kontrak-kontrak dagang (internasional).
Schmitthoff menanggapi secara positif kebebasan pertama
ini. Beliau menyatakan:
“The autonomy of the parties’ will in the law of contract
is the foundation on which an autonomous law of
international trade can be built. The national sovereign
has,..., no objection that in that area an autonomous law
of international trade is developed by the parties,
provided always that that law respects in every national
jurisdiction the limitations imposed by public policy.”
29

Kebebasan tersebut mencakup bidang hukum yang cukup luas.
Ia meliputi kebebasan untuk melakukan jenis-jenis kontrak yang
para pihak sepakati. Ia termasuk pula kebebasan untuk memilih
forum penyelesaian sengketa dagangnya. Ia mencakup pula kebebasan
untuk memilih hukum yang akan berlaku terhadap kontrak, dll.
Kebebasan ini sudah barang tentu tidak boleh bertentangan
dengan UU, kepentingan umum, kesusilaan, kesopanan, dan lain-lain
persyaratan yang ditetapkan oleh masing-masing sistem hukum.
2. Prinsip Dasar Pacta Sunt Servanda

28
Aleksander Goldštajn, “The New Law of Merchant,” (1961) JBL 12.
29
Clive M. Schmitthoff, Commercial Law in a Changing Economic Climate,
London: Sweet and Maxwell, 1981, hlm. 22. (Selanjutnya disebut
“Commercial Law”).
Prinsip kedua, pacta sunt servanda adalah prinsip yang
mensyaratkan bahwa kesepakatan atau kontrak yang telah
ditandatangani harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya (dengan
itikad baik). Prinsip ini pun sifatnya universal. Setiap sistem
hukum di dunia menghormati prinsip ini.
3. Prinsip Dasar Penyelesaian Sengketa Melalui Arbitrase
Prinsip ketiga, prinsip penggunaan arbitrase tampaknya
terdengar agak ganjil. Namun demikian pengakuan Goldštajn
menyebut prinsip ini bukan tanpa alasan yang kuat. Arbitrase
dalam perdagangan internasional adalah forum penyelesaian
sengketa yang semakin umum digunakan. Klausul arbitrase sudah
semakin banyak dicantumkan dalam kontrak-kontrak dagang.
30
Oleh
karena itulah prinsip ketiga ini memang relevan.
Goldštajn menguraikan kelebihan dan alasan mengapa
penggunaan arbitrase ini beliau jadikan prinsip dasar dalam hukum
perdagangan internasional:
“Moreover, to the extent that the settlement of differences
is referred to arbitration, a uniform legal order is being
created. Arbitration tribunals often apply criteria other
than those applied in courts. Arbitrators appear more ready
to interpret rules freely, taking into account customs,
usage and business practice. Further, the fact that the
enforcement of foreign arbitral awards is generally more
easy than the enforcement of foreign court decisions is
conducive to a preference for arbitration.”
31

4. Prinsip Dasar Kebebasan Komunikasi (Navigasi)
Di samping tiga prinsip dasar tersebut, prinsip dasar
lainnya yang menurut penulis relevan adalah prinsip dasar yang
dikenal dalam hukum ekonomi internasonal, yaitu prinsip kebebasan
untuk berkomunikasi (dalam pengertian luas, termasuk di dalamnya
kebebasan bernavigasi). Komunikasi atau navigasi adalah kebebasan
para pihak untuk berkomunikasi untuk keperluan dagang dengan
siapa pun juga dengan melalui berbagai sarana navigasi atau

30
Lihat secara khusus, Rene David, Arbitration in International Trade,
The Hague: Kluwer, 1985 (membahas panjang lebar tentang peran arbitrase
dalam perdagangan internasional).
31
Aleksander Goldštajn, “The New Law of Merchant,” (1961) JBL 12.
komunikasi, baik darat, laut, udara, atau melalui sarana
elektronik. Kebebasan ini sangat esensial bagi terlaksananya
perdagangan internasional. Aturan-aturan hukum (internasional)
memfasilitasi kebebasan ini.
32

Dalam berkomunikasi untuk maksud berdagang ini kebebasan
para pihak tidak boleh dibatasi oleh sistem ekonomi, sistem
politik, atau sistem hukum. Bandingkan dengan pendapat profesor
Goldštajn di bawah ini ketika beliau membahas hubungan antara
sistem ekonomi dan politik dalam kaitannya dengan hukum
perdagangan internasional:
“The law governing trade transactions is neither capitalist
nor socialist; it is a means to an end, and therefore, the
fact that the beneficiaries of such transactions are
different in this or that country is no obstacle to the
development of international trade. The law of
international trade is based on the general principles
accepted in the entire world.”
33
(Huruf miring oleh
penulis).
Pernyataan terakhir Goldštajn di atas, yaitu bahwa hukum
perdagangan internasional didasarkan pada prinsip-prinsip umum
yang diterima di seluruh dunia menyatakan seolah-seolah hukum
perdagangan internasional dapat diterima oleh sistem hukum di
dunia. Pendapat ini benar. Sarjana terkemuka lainnya, Profesor
Tammer, memperkuat pernyataan tersebut:
“The law of external trade of the countries of planned
economy does not differ in its fundamental principles from
the law of external trade of other countries, such as,
e.g., Austria or Switzerland. Consequently, international
trade law specialists of all countries have found without
difficulty that they speak a ‘common language.”
34



32
Lihat lebih lanjut, Huala Adolf, Hukum Ekonomi Internasional: Suatu
Pengantar, Jakarta: Rajawali pers, cet. 3, 2003, hlm. 29.
33
Schmitthoff, op.cit., (Commercial Law), hlm. 19.
34
Schmitthoff, ‘The Unification of the Law of Internatioal Trade,’
(1968) JBL 109 (mengutip Tammer, The Sources of the Law International
Trade, 1964, hlm. 42).
C. Eksistensi dan Tujuan Hukum Perdagangan Internasional
Hubungan-hubungan perdagangan internasional antar negara
sudah ada sejak lama. Hubungan-hubungan ini sudah ada sejak
adanya negara-negara dalam arti negara kebangsaan, yaitu bentuk-
bentuk awal negara dalam arti modern. Perjuangan negara-negara
ini untuk memperoleh kemandirian dan pengawasan (kontrol)
terhadap ekonomi internasional telah memaksa negara-negara ini
untuk mengadakan hubungan-hubungan perdagangan yang mapan dengan
negara-negara lainnya. Mereka menyadari bahwa perdagangan adalah
satu-satunya cara untuk pembangunan ekonomi mereka.
35

Seperti telah dikemukakan di awal tulisan ini, sejak dulu
dan bahkan dewasa ini semakin banyak negara sadar bahwa kebijakan
menutup diri sudah jauh-jauh ditinggalkan. Pendirian ini semakin
mendorong negara untuk memperluas aktivitas perdagangannya.
36

Cara pandang ini sedikit banyak dilatarbelakangi dan
dipengaruhi oleh beberapa aliran atau teori ekonomi. Pada awal
perkembangannya, terutama abad ke 15 dan 16, teori atau aliran
yang mula lahir adalah teori merkantilisme. Para merkantilis
berpendirian perdagangan internasional sebagai instrumen
kebijakan nasional. Mereka menekankan pentingnya ekspor sebesar-
besarnya dan menekan impor serendah-rendahnya. Keuntungan dari
selisih ekspor - impor merupakan keuntungan bagi negara (yang
waktu itu diwujudkan dalam bentuk emas).
Reaksi dari aliran itu adalah teori keunggulan komparatif
yang diperkenalkan oleh David Ricardo (1772-1823). Ricardo
menekankan spesialisasi dari hasil suatu produk. Smith menganggap
perdagangan internasional sebagai salah satu bagian dari
keunggulan komparatif (principle of comparative advantage). Teori
beliau menyatakan bahwa untuk menjadi pemain utama dalam

35
Rafiqul Islam, op.cit., hlm. 1.
36
Lihat antara lain: Ademuni-Odeke, The Law of International Trade,
London: Blackstone, 1999, hlm. 3-4.
perdagangan, faktor yang penting bukanlah ukuran, tetapi
bagaimana memaksimalkan potensi.
37

Contoh klasik adalah Jepang. Dari segi geografis, kekayaan
alam dan luas wilayah, Jepang relatif kurang beruntung. Tetapi
dengan kekuatan manajemen dalam perdagangan internasionalnya,
negeri ini berhasil menjadikannya sebuah negara yang paling
penting di dunia dewasa ini.
Semakin luasnya aktivitas perdagangan ini yang dewasa ini
dikenal dengan "liberalisasi perdagangan", sistem keuangan atau
pasar internasional yang stabil untuk memberikan modal untuk
melaksanakan perdagangan internasional tersebut. Karena itu,
keterkaitan antara perdagangan internasional dan sistem keuangan
atau moneter internasional menjadi semakin penting.
38

Tidak terlalu mengherankan apabila masyarakat internasional
kemudian menyelenggarakan konperensi Bretton Woods guna
mendirikan Bank Dunia - IMF untuk maksud ini. Berdirinya ke-2
lembaga keuangan ini semata-mata untuk menjaga agar sistem
moneter internasional dapat terpelihara (stabil) dan juga memberi
pinjaman jangka pendek guna menanggulangi kesulitan neraca
pembayaran yang disebabkan oleh adanya defisit perdagangan
ekspor-impor negara-negara.
39
Krisis keuangan internasional pada
tahun 1970-an juga telah mempertegas pentingnya hubungan erat
ini.
Dalam upaya negara-negara ini meningkatkan pertumbuhan
ekonomi mereka, dewasa ini mereka cenderung membentuk blok-blok
perdagangan baik bilateral, regional maupun multilateral. Dalam
kecenderungan ini pun peran perjanjian internasional menjadi
semakin penting.
40


37
Lihat misalnya, Ademuni-Odeke, Ibid., hlm. 3-4, M. Sanson, op.cit.,
hlm. 3; Jonathan Reuvid, op.cit., para. xv.
38
Rafiqul Islam, op.cit., hlm. 2.
39
Rafiqul Islam, op.cit., hlm. 2.
40
Rafiqul Islam, op.cit., hlm. 2.
Semakin pentingnya peran perjanjian-perjanjian di bidang
ekonomi atau perdagangan ini pun telah melahirkan aturan-aturan
yang mengatur perdagangan internasional di bidang barang, jasa
dan penamaman modal di antara negara-negara.
41

Tujuan hukum perdagangan internasional sebenarnya tidak
berbeda dengan tujuan GATT (General Agreement on Tariffs and
Trade, 1947) yang termuat dalam Preambule-nya. Tujuan tersebut
adalah:
(a) untuk mencapai perdagangan internasional yang stabil dan
menghindari kebijakan-kebijakan dan praktek-praktek
perdagangan nasional yang merugikan negara lainnya.
(b) untuk meningkatkan volume perdaganan dunia dengan menciptakan
perdagangan yang menarik dan menguntungkan bagi pembangunan
ekonomi semua negara;
(c) meningkatkan standar hidup umat manusia; dan
(d) meningkatkan lapangan tenaga kerja.
Tujuan lainnya yang juga relevan adalah:
(e) untuk mengembangkan sistem perdagangan multilateral, bukan
sepihak suatu negara tertentu, yang akan mengimplementasikan
kebijakan perdagangan terbuka dan adil yang bermanfaat bagi
semua negara;
42
dan
(f) meningkatkan pemanfaatan sumber-sumber kekayaan dunia dan
meningkatkan produk dan transaksi jual beli barang.
43

Ada pula yang menyatakan bahwa aturan-aturan perdagangan
internasional juga pada analisis akhirnya akan menciptakan
perdamaian dan keamanan internasional. Hal ini antara lain
dinyatakan oleh Menteri Luar Negeri AS, Hull. Tesis ini tampaknya

41
Rafiqul Islam, op.cit., hlm. 2.
42
Rafiqul Islam, op.cit., hlm. 2. Lihat pula tujuan menurut Aleksander
Goldštajn yang menyatakan: “only deliberate regulation on the
international level will make it possible to do justice, on the basis
of equality, to the interests and general welfare of all members of the
international community.” (Aleksander Goldštajn, “The New Law of
Merchant,” (1961) JBL 12.
benar. Manakala dua atau lebih negara berhubungan dan
bertransaksi dagang dan mereka memperoleh keuntungan dari
perdagangan tersebut, otomatis keadaan dunia menjadi sedikit
banyak lebih baik. Artinya, situasi dan kondisi dunia akan
semakin kondusif.
Sebenarnya tesis Hull tersebut sudah lama dikumandangkan
oleh Immanuel Kant, yang selama ini dikenal juga sebagi bapak
hukum internasional. Dalam tulisannya berjudul ‘On Eternal
Peace,’ Kant menyatakan bahwa ‘spirit of trade could not co-exist
with war.’
44

Yang juga cukup menarik adalah tesis Hull di atas juga
telah cukup lama disadari di tanah air. Salah seorang kepala suku
Bugis ternama, yaitu Amanna Gappa, juga menyadari bahwa tujuan
(unifikasi) hukum dagang adalah untuk mencegah persaingan di
antara suku bangsanya dan juga memajukan kerjasama di antara
mereka guna kesejahteraan di antara mereka.
45
Terjemahan saduran
hasil penelitian terhadap suku terkenal Bugis ini yang terkenal
dengan hukum pelayaran dan dagangnya tergambarkan sebagai
berikut:
“One of thse chiefs was Amanna Gappa (=father of Gappa) who
headed his countrymen at Makassar. Most probably he was a
very intelligent and energetic man and he may have been the
first to realize the great importance of navigation and
trade for his people as the only fields of endeavour in
which they could earn a living. We may assume that this was
the bacground of his taking initiative in inviting his
colleagues from other parts of Indonesia in order to
collect the different rules which were in force in their
respective regions and to compile a uniform navigation and
trade law. By doing so he tried to prevent heavy
competition among his countrymen and to stimulate co-
operation for their own welfare.”
46
(Huruf miring oleh
kami).

43
Cf., Preamble GATT dan Preamble Perjanjian WTO (Marrakesh Agreement
Establishing The World Trade Organization).
44
Lihat, Lew and Stanbrook, Interational Trade: Law and Practice, Bath:
Euromoney, 1983, hlm. Xxi.
45
Lihat lebih lanjut, PH. O.L. Tobing, op.cit., hlm. 154.
46
Lihat lebih lanjut, PH. O.L. Tobing, op.cit., hlm. 154.
Meskipun adanya tujuan bagus tersebut di atas, hukum
perdagangan internasional masih memiliki cukup banyak kelemahan.
Kelemahan tersebut tampaknya juga dapat ditemui dalam bidang-
bidang hukum lainnya, yakni terdapatnya pengecualian-pengecualian
atau klausul-klausul 'penyelamat' yang bersifat memperlonggar
kewajiban-kewajiban hukum. Kelemahan spesifik tersebut yaitu:
(a) hukum perdagangan internasional sebagian besar bersifat
pragmatis dan permisif. Hal ini mengakibatkan aturan-aturan
hukum perdagangan internasional kurang obyektif di dalam
'memaksakan' negara-negara untuk tunduk pada hukum. Dalam
kenyataannya, negara-negara yang memiliki kekuatan politis dan
ekonomi memanfaatkan perdagangan sebagai sarana kebijakan
politisnya.
(b) Aturan-aturan hukum perdagangan internasional bersifat
mendamaikan dan persuasif (tidak memaksa). Kelemahan ini
sekaligus juga kekuatan bagi perkembangan hukum perdagangan
internasional yang menyebabkan atau memungkinkan perkembangan
hukum ini di tengah krisis.
47




47
Rafiqul Islam, op.cit., hlm. 2-3.
D. Perkembangan Hukum Perdagangan Internasional
Dari uraian di atas tampak bahwa hukum perdagangan
internasional telah ada sejak lahirnya negara dalam arti modern.
Sejak saat itu, hukum perdagangan internasional telah mengalami
perkembangan yang cukup pesat sesuai dengan perkembangan
hubungan-hubungan perdagangan.
Dilihat dari perkembangan sumber hukumnya (dalam arti
materil), maka perkembangan hukum perdagangan internasional dapat
dikelompokkan ke dalam 3 tahap, yakni:
(1) Hukum perdagangan internasional dalam masa awal pertumbuhan.
Hukum perdagangan internasional lahir pada awalnya dari
praktek para pedagang. Hukum yang diciptakan oleh para pedagang
ini lazim disebut pula sebagai lex mercatoria (law of merchant).
48

Pada awal perkembangannya ini Lex Mercatoria tumbuh dari
adanya 4 faktor berikut:
(a) lahirnya aturan-aturan yang timbul dari kebiasaan dalam
berbagai pekan raya (the law of the fairs);
(b) lahirnya kebiasaan-kebiasaan dalam hukum laut;
(c) lahirnya kebiasaan-kebiasaan yang timbul dari praktek
penyelesaian sengketa-sengketa di bidang perdagangan; dan
(d) berperannya notaris (public notary) dalam memberi pelayanan
jasa-jasa hukum(dagang).
49

(2) Hukum perdagangan internasional yang dicantumkan dalam hukum
nasional
Dalam tahap perkembangan ini, negara-negara mulai sadar
perlunya pengaturan hukum perdagangan internasional. Mereka lalu
mencantumkan aturan-aturan perdagangan internasional dalam kitab

48
United Nations, Progressive Development of the Law of Internatoinal
Trade: Report of the Secretary-General of the United Nations, 1966,
para. 20; Chia-Jui Cheng (ed.), Clive M. Schmitthoff's Select Essay on
International Trade Law, Doredrecht/Boston/London: Martinus Nijhoff &
Graham & Trotman, 1988, hlm. 21.
49
Schmitthoff, “The Unification of the Law of International Trade,”
(1968) JBL 106.
undang-undang hukum (perdagangan internasional) mereka. Aturan-
aturan tersebut sedikit banyak adalah aturan-aturan yang mereka
adopsi dari lex mercatoria. Misalnya saja Perancis membuat Kitab
Undang-undang Hukum Dagang-nya (code de commerce) tahun 1807,
Jerman menerbitkan Allgemeine Handelsgezetbuch tahun 1861, dll.
50

(3) Lahirnya aturan-aturan hukum perdagangan internasional dan
Munculnya Lembaga-lembaga Internasional yang mengurusi
Perdagangan Internasional.
Dalam perkembangan ketiga ini, aturan-aturan hukum
perdagangan internasional lahir sebagian besar karena dipengaruhi
oleh semakin banyaknya berbagai perjanjian internasional yang
ditandatangani baik secara bilateral, regional, maupun
multilateral.
51

Secara khusus tahap ketiga ini muncul secara signifikan
setelah berakhirnya Perang Dunia II. Salah satu perjanjian
multilateral yang ditandangani pada masa ini adalah disepakati
lahirnya GATT tahun 1947. Tahap ketiga ini disebut juga dengan
tahap “internationalism”. Schmitthoff menyatakan sebagai berikut:
“We are beginning to rediscover the international character
of commercial law and the circle now contemplates itself:
the general trend of commercial law everywhere is to move
away from the restrictions of national law to a universal,
international conception of the law of international
trade.”
52

Sejak berdiri hingga dewasa ini aturan-aturan perdagangan
GATT telah berkembang dan mengalami pembangunan yang cukup
penting. Bahkan dalam putaran perundingan tahun 1986-1994,
negara-negara anggota GATT telah sepakat untuk membentuk suatu
badan atau lembaga internasional baru, yaitu WTO.
Perubahan dari GATT ke WTO berdampak luas terhadap bidang
hukum perdagangan internasional. Alasannya, bidang pengaturan

50
United Nations, op.cit., para. 20; Chia-Jui Cheng (ed.), op.cit.,
hlm. 48.
51
United Nations, op.cit., para. 20.
52
Schmitthoff, “The Unification of the Law of International Trade,”
(1968) JBL 108.
yang tercakup di dalam WTO sekarang ini adalah kompleks. Ia tidak
semata-mata lagi mengatur tarif dan barang, tetapi juga mengatur
jasa, hak kekayaan intelektual, penanaman modal, lingkungan,
dll.
53

Ciri kedua dalam perkembangan tahap ketiga ini yakni
munculnya organisasi internasional. Salah satu badan yang
menonjol adalah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Sebetulnya
peran PBB di bidang perdagangan internasional tidaklah langsung.
Peran PBB di bidang ekonomi dan perdagangan ini termuat dalam
pasal 1:3 Piagam PBB, yakni aturan tentang tujuan PBB yakni
mencapai kerjasama internasional di dalam antara lain
menyelesaikan masalah-masalah ekonomi internasional.
Tujuan-tujuan PBB di atas diupayakan pemenuhannya melalui
berbagai langkah berikut:
i. Negara-negara anggota PBB mendirikan the United Nations
Conference on Trade and Development (UNCTAD) pada tahun 1964.
Tujuan utamanya adalah untuk memberikan kesempatan yang lebih
besar kepada negara sedang berkembang untuk ikut serta dalam
merumuskan kebijakan-kebijakan perdagangan, dengan memperhatikan
kepentingan-kepentingan khusus negara-negara sedang berkembang
ini.
54

ii. negara-negara anggota PBB mengesahkan the Charter of Economic
Rights and Duties of States pada tahun 1974 (serta disahkannya
the Declaration and Programme of Action on the Establishment of
the New International Economic Order). Pembentukan Piagam ini
diawali dengan langkah Majelis Umum PBB mengesahkan the
International Covenant on Economic, Social and Cultural Rights
pada tahun 1966.

53
Uraian tentang perkembangan dari GATT ke WTO, lihat antara lain: Ray
August, Internatoinal Business Law: Text, Cases and Readings, New
Jersey: Prentice Hall, 3
rd
.ed., 2000, hlm. 355-360.
54
Rafiqul Islam, op.cit., hlm. 6.
Dokumen-dokumen penting ini pada pokoknya mengakui dan
memberi perlakuan khusus kepada negara-negara sedang berkembang
di bidang perdagangan, keuangan dan penanaman modal.
55

Ciri ketiga yang juga menonjol adalah disepakatinya
pendirian badan-badan ekonomi regional di suatu kawasan region
tertentu. Blok perdagangan regional yang mula-mula membawa
pengaaruh cukup luas adalah the European Single Market (1992) dan
segera diikuti oleh blok perdagangan Amerika Utara (The North
American Free Trade Agreeement atau NAFTA) (1994).
Di kawasan Asia Tenggara, negara-negara ASEAN mengikuti
langkah serupa dengan membentuk Asean Free Trade Area (AFTA).
AFTA berlaku efektif sejak 1 Januari 2003.
56

Kecenderungan pembentukan kelompok-kelompok regional ini di
satu sisi positif. Namun di sisi lain organisasi-organisasi
regional tersebut menimbulkan kekhawatiran dari masyarakat
internasional karena terdapatnya blok-blok perdagangan tersebut
melahirkan peraturan-peraturan regional eksklusif yang ternyata
menyimpangi ketentuan-ketentuan umum yang terdapat dalam
GATT/WTO.

55
Rafiqul Islam, op.cit., hlm. 6.
56
Uraian lebih lanjut mengenai AFTA ini lihat: Huala Adolf, Hukum
Ekonomi Internasional ..., op.cit., hlm. 110-124.
E. Unifikasi dan Harmonisasi Hukum Perdagangan Internasional
1. Perlunya Unifikasi dan Harmonisasi Hukum
Di atas dikemukakan bahwa negara-negara mencantumkan
atuaran-aturan hukum perdagangan internasional dalam hukum
nasionalnya. Aturan-aturan hukum nasional di bidang perdagangan
internasional ini karenanya menjadi sumber hukum yang cukup
penting dalam hukum perdagangan internasional.
Tetapi adanya berbagai aturan hukum nasional ini sedikit
banyak kemungkinan dapat berbeda antara satu sama lainnya.
Perbedaan ini kemudian dikhawatirkan akan juga mempengaruhi
kelancaran transaksi perdagangan itu sendiri.
Masalah ini sebelumnya sudah cukup lama disadari oleh
bangsa-bangsa di dunia, termasuk organisasi dunia PBB. Dalam
resolusi Majelis Umum PBB No 2102 (XX), PBB menyatakan bahwa:
"Conflicts and divergencies arising from the laws of different
states in matters relating to international trade constitute an
obstacle to the development of world trade."
57

Untuk menghadapi masalah ini, sebenarnya ada 3 teknik yang
dapat dilakukan. Pertama, negara-negara sepakat untuk tidak
menerapkan hukum nasionalnya. Sebaliknya mereka menerapkan hukum
perdagangan internasional untuk mengatur hubungan-hubungan hukum
perdagangan mereka.
Kedua, apabila aturan hukum perdagangan internasional tidak
ada dan atau tidak disepakati oleh salah satu pihak, maka hukum
nasional suatu negara tertentu dapat digunakan. Cara penentuan
hukum nasional yang akan berlaku dapat digunakan melalui
penerapan prinsip choice of laws. Choice of Laws adalah klausul
pilihan hukum yang disepakati oleh para pihak yang dituangkan
dalam kontrak (internasional) yang mereka buat.
58


57
United Nations, op.cit., para. 14.
58
Klausul choice of law tidak wajib sifatnya untuk harus ada dalam
kontrak-kontrak internasional. Tetapi keberadaan klausul ini akan
sedikit banyak membantu para pihak dalam penyelesaian sengketanya
(apabila sengketa memang timbul) di kemudian hari (Lihat Sudargo
Gautama, Kontrak Dagang Internasional, Bandung: Alumni, 1977, hlm. 26.
Ketiga, teknik yang dapat ditempuh adalah dengan melakukan
unifikasi dan harmonisasi hukum aturan-aturan substantif hukum
perdagangan internasional.
59
Teknik ketiga ini dipandang cukup
efisien. Cara ini memungkinkan terhindarnya konflik di antara
sistem-sistem hukum yang dianut oleh masing-masing negara.
Kedua kata ini hampir sama maksudnya, namun ada nuansa atau
perbedaan yang perlu untuk dicatat. Kedua kata sama-sama berarti
upaya atau proses menyeragamkan substansi pengaturan sistem-
sistem hukum yang ada. Penyeragaman tersebut mencakup
pengintegrasian sistem hukum yang sebelumnya berbeda.
Perbedaan kedua kata tersebut terletak pada derajat
penyeragaman tersebut. Dalam unifikasi hukum, penyeragaman
mencakup penghapusan dan penggantian suatu sistem hukum dengan
sistem hukum yang baru.
60
Contohnya adalah pemberlakuan Perjanjian
TRIPS/WTO.
Dengan diperkenalkannya substansi bidang-bidang perjanjian
TRIPS/WTO yang mencakup ketentuan mengenai hak cipta, merek
dagang, indikasi geografis, disain industri, paten, dll.,
meletakkan kewajiban kepada negara anggota untuk membuat aturan-
aturan HAKI nasionalnya yang sesuai dengan substansi perjanjian
TRIPS/WTO.

(Sudargo Gautama menulis: “Tegaslah apabila tidak dilakukan pilihan
hukum, maka berbagai kemungkinan dan berbagai kesulitan yang akan
timbul tentang hukum yang harus dipakai ii. Maka para lawyers condong
untuk selalu menganjurkan para clientnya jangan lewati kesempatan untuk
menentukan hukum yang berlaku itu. Dan jika mungkin, maka kamu harus
selalu pakai hukum nasional dari negaramu sendiri karena ini adalah
hukum yang paling kamu kenal dan paling dikenal oleh Hakim-Hakim yang
akan mengadili perkaramu itu”).
59
United Nations, op.cit., para. 15.
60
Chia-Jui Cheng (ed.), op.cit., hlm. 109. UNCITRAL, badan PBB yang
mengurus hukum perdagangan internasional menggambarkan perbedaan kedua
kata tersebut: “While the terms are closely interrelated,
"harmonization" may conceptually be thought of as the process through
which domestic laws may modified to enhance predictability in cross-
border commercial transactions; and "unification" may be seen as the
adoption by States of a common legal standard governing particular
aspects of international business transactions.”

(http://www.uncitral.org/en-index.htm).
Harmonisasi hukum tidak sedalam unifiksi hukum. Tujuan
utama harmonisasi hukum hanya berupaya mencari keseragaman atau
titik temu dari prinsip-prinsip yang bersifat fundamental dari
berbagai sistem hukum yang ada (yang akan diharmonisasikan).
61

Untuk dapat melaksanakan unifikasi dan harmonisasi hukum
ini karenanya hanya dapat dicapai oleh para ahli hukum yang
mendalami atau menguasai perbandingan hukum. Upaya ini dapat
dilakukan oleh suatu tim ahli perbandingan hukum yang terdiri
dari para ahli hukum yang berlatar belakang sistem hukum yang
berbeda-beda yang hendak diupayakan unifikasi dan harmonisasi
hukumnya.
Dalam upaya unifikasi dan harmonisasi hukum, masalah
esensialnya adalah bagaimana metode yang akan diterapkannya.
Dalam kaitan itu, masalah-masalah mengenai perbedaan konsepsi dan
perbedaan bahasa yang terdapat dalam berbagai sistem hukum
tersebut hanya dapat ditanggulangi dengan cara menerapkan metoda
komparatif.
62

Menurut Schmitthoff, dalam metode komparatif, dikenal 3
metode, yaitu metode dengan memberlakukan:
a. perjanjian/konvensi internasional (international convention);
b. hukum seragam (uniform laws); dan
c. aturan seragam (uniform rules).
63

Ad. a. Perjanjian atau Konvensi Internasional
Penerapan atau pemberlakuan perjanjian atau konvensi
internasional adalah cara yang paling banyak digunakan dalam

61
Chia-Jui Cheng (ed.), op.cit., hlm. 109.
62
Chia-Jui Cheng (ed.), op.cit., hlm. 109.
63
Chia-Jui Cheng (ed.), op.cit., hlm. 110. Cf., Katerina Pistor
mengemukakan pula (1) perjanjian bilateral sebagai instrumen untuk
unifikasi hukum (bandingkan dengan perjanjian internasional dari konsep
Schmitthoff); dan (2) aturan-aturan yang bersifat rekomendatif
(bandingkan dengan uniform laws and uniform rules-nya Schmitthoff).
(Katerina Pistor, "The Standardization of Law and Its Effect on
Developing Countries," 50 Am.J.Comp.L. 97 (2002). Pistor mengungkapkan
pula, dengan adanya upaya ini maka biaya utnuk transaksi dagang dapat
menjadi berkurang. Selain itu, yang juga penting, unifikasi hukum dapat
mencapai unifikasi hukum. Cara ini dipandang tepat untuk
memperkenalkan suatu ketentuan hukum yang bersifat memaksa ke
dalam sistem hukum nasional.
64
Pemberlakuan perjanjian TRIPS/WTO
di atas merupakan salah satu contoh.
Gambaran lainnya adalah CISG 1980 atau Konvensi mengenai
Kontrak Jual Beli Barang Internasional. Konvensi ini dapat
dipandang sebagai upaya mengunifikasi hukum kontrak jual beli
barang internasional. Para perancang konvensi ini telah berupaya
mengkawinkan prinsip-prinsip kontrak yang dikenal dalam sistem
hukum Civil Law dan sistem hukum Common Law.
Salah satu pembatasan cara ini adalah adanya kehendak dari
sesuatu negara untuk mengikatkan diri atau meratifikasi
perjanjian atau konvensi internasional tersebut. Dalam
kenyataannya, untuk mencapai kehendak tersebut banyak bergantung
pada faktor ekonomi, politis, juridis, dll.
b. Hukum seragam (Uniform Laws)
Hukum seragam tidak lain adalah model-model hukum yang
dapat kita lihat misalnya dalam model hukum arbitrase UNCITRAL
1985 (Model Law on International Commercial Arbitration). Model
hukum ini memberikan keleluasaan kepada negara-negara yang hendak
menerapkannya ke dalam hukum nasionalnya.
Keleluasaan tersebut mencakup keleluasaan kepada negara
yang bersangkutan apakah akan menerapkan secara penuh aturan-
aturan substantif Model Law. Kemungkinan lain, negara tersebut
memutuskan untuk menerapkannya dengan melakukan beberapa revisi
atau menerapkan beberapa pengecualian terhadap aturan-aturan di
dalamnya.
Sifat hukum seragam tidak mengikat. Ia hanya bersifat
persuasif. Karena itu derajat pengadopsian atau penerapannya
sangat bergantung kepada masing-masing negara. Model hukum ini

memberi sumbangan bagi perbaikan kualitas (lembaga-lembaga) hukum di
suatu negara (ibid).
64
Chia-Jui Cheng (ed.), op.cit., hlm. 110.
karena itu berbeda dengan perjanjian atau konvensi internasional.
Pada saat suatu negara turut serta, aksesi atau meratifikasi
suatu perjanjian atau konvensi internasional, maka pada
prinsipnya seluruh aturan perjanjian mengikat negara tersebut.
c. Aturan Seragam (Uniform Rules)
Aturan-aturan seragam lebih rendah tingkatannya daripada
hukum seragam (Uniform Laws). Bentuk aturan seragam tampak antara
lain dalam modal-model kontrak standar atau kontrak baku. Contoh
bentuk aturan seperti ini adalah the Uniform Customs and Practice
for Documentary Credits (1974) yang dikeluarkan oleh ICC. Aturan
hukum ini telah diterapkan dan dipraktekkan oleh para subyek
hukum perdagangan internasional di dunia.
65

Bentuk lainnya adalah klausul standar (baku) yang
dicantumkan oleh para pihak dalam kontrak-kontrak yang mereka
buat.
66
Tidak jarang pula lembaga-lembaga atau asosiasi-asosiasi
memperkenalkan klausul-klausul yang perlu dicantumkan dalam suatu
kontrak apabila para pihak hendak memanfaatkan fasilitas lembaga
atau asosiasi yang bersangkutan.
Hal ini antara lain banyak ditemui dalam klausul-klausul
arbitrase baik nasional maupun asing. Klausul-kluasul standar
arbitrase tersebut dimaksudkan agar para pihak tidak perlu lagi
merancang klausul choice of forum-nya, dalam hal ini arbitrase.
67

Bagaimana unifikasi dan harmonisasi dapat bekerja, agak
sulit untuk dipaparkan di sini. Namun demikian, Katerina Pistor,
guru besar di Columbia Law School, mengemukakan istilah yang
dinamakannya standardization of law (standardisasi hukum).
Maksud standardisasi di sini mengacu kepada suatu tahap
dari kekhususan dari suatu hukum (the level of specificity of
law). Standar hanya mencakup prinsip-prinsip hukum (legal

65
Chia-Jui Cheng (ed.), op.cit., hlm. 111.
66
Chia-Jui Cheng (ed.), op.cit., hlm. 111.
67
Lihat Huala Adolf, Arbitrase Komersial Internasional, Jakarta:
Rajagrafindo, cet. 3, 2003.
principles), bukan atau tidak aturan-aturan hukumnya (legal
rules).
68

Upaya unifikasi dan harmonisasi hukum ini telah cukup
serius dilakukan khususnya oleh the World Trade Organization
(WTO), the International Institute for the Unification of Private
Law (UNIDROIT), The Hague Conference of Private International Law
dan PBB khususnya the United Nations Commission on International
Trade Law (UNCITRAL) dan the United Nations Conference on
International Trade and Law (UNCTAD).
Di samping itu terdapat pula lembaga-lembaga internasional
non-pemerintah yang juga berkepentingan dengan upaya unifikasi
dan harmonisasi hukum perdagangan internasional, yakni, antara
lain, International Chamber of Commerce (ICC atau Kamar Dagang
Internasional), dan International Law Association (ILA atau
Asosiasi Hukum Internasional).
69

2. Lembaga-lembaga yang Bergerak dalam Unfikasi dan Harmoniasi
Hukum
Berikut adalah uraian secara ringkas beserta upaya badan-
badan atau organisasi-organisasi internasional tersebut di bidang
unifikasi dan harmonisasi hukum perdagangan internasional. Tidak
semua upaya badan atau organisasi internasional akan diuraikan.
Pembahasan dibatasi pada WTO, UNCITRAL, UNIDROIT dan ICC.


68
Katarina Pistor, op.cit., hlm 97.
69
Schmitthoff, op.cit., “Commercial Law,” hlm. 24 (beliau mengemukakan
formulating agencies dalam mengupayakan unifikasi hukum perdagangan
internasional, yaitu: (1) UNCITRAL; (2) The International Institute for
the Unification of Private Law (UNIDROIT, Rome); (3) The Hague
Conference on Private International Law (The Hague); dan (4) The
Council for Mutual Economic Assistance (CMEA, Moscow). Sedangkan
organisasi internasional swasta (non pemerintah) yaitu: (5) ICC; (6)
The International Maritime Committee (IMC, Antwerp); dan (7) The
International Law Association (ILA, London).
a. World Trade Organization (WTO)
1. Pengantar
World Trade Organization atau WTO dihasilkan dari Putaran
Uruguay GATT (1986-1993). Organisasi ini memiliki kedudukan yang
unik karena ia berdiri sendiri dan terlepas dari badan kekhususan
PBB.
Pembentukan WTO ini merupakan realisasi dari cita-cita lama
negara-negara pada waktu merundingkan GATT pertama kali (1948).
Yakni hendak mendirikan suatu organisasi perdagangan internasional
(yang dulu namanya adalah International Trade Organization atau
ITO).
Struktur WTO akan dikepalai oleh suatu badan tertinggi yang
disebut Konperensi Tingkat Menteri (Ministerial Conference). Badan
ini akan bersidang sedikitnya sekali dalam dua tahun. Badan ini
terdiri dari para perwakilan dari semua anggota WTO. Semua
keputusan mengenai kebijakan yang berkaitan dengan perdagangan
multilateral dilakukan melalui badan ini.
Untuk pelaksanaan pekerjaannya sehari-hari, badan tertinggi
ini dibantu oleh badan-badan kelengkapan utama, yaitu Dewan Umum
(General Council) yang terdiri dari semua anggota WTO. Badan ini
bertugas memberikan laporan mengenai kegiatan-kegiatannya kepada
the Ministerial Conference.
General Council memiliki dua fungsi lainnya. Pertama, sebagai
suatu Badan Penyelesaian sengketa (Dispute Settlement Body).
Fungsi kedua, sebagai badan peninjau kebijakan perdagangan negara-
negara anggota GATT (Trade Policy Review Body).
Selain itu, badan ini juga bertugas mengamati masalah-masalah
perdagangan yang akan dicakup oleh WTO. Ia akan menetapkan tiga
badan subsider yakni The Council for Trade in Goods, Council for
Trade in Services, dan Council for TRIPs.
The Council for Trade in Goods mengawasi pelaksanaan dan
berfungsinya semua perjanjian mengenai perdagangan barang (Annex
1A Perjanjian WTO) meskipun sebetulnya untuk perjanjian-pejanjian
tertentu umumnya mereka memiliki badan pengawasnya sendiri. Dua
dewan lainnya memiliki tanggung jawabnya masing-masing berkaitan
dengan perjanjian WTO dan badan-badan tersebut dapat mendirikan
badan-badan subsider lainnya manakala dipandang perlu.
Tiga badan lainnya didirikan oleh the Ministerial Conference
dan mereka melaporkan pekerjaannya kepada the General Council.
Ketiga badan tersebut adalah the Committee on Trade and
Development, yakni badan yang bertanggung jawab untuk masalah-
masalah yang terdapat di negara-negara sedang berkembang. Kedua,
the Committee on Balance of Payments bertanggung jawab untuk
menyelenggarakan konsultasi di antara negara-negara anggota WTO
dan negara-negara yang melaksanakan tindakan-tindakan restriktif
perdagangan (Pasal XII dan XVII GATT), yakni tindakan- tindakan
untuk menghadapi kesulitan-kesulitan neraca pembayarannya.
Ketiga, the Committee on Budget, Finance and Administration
bergerak dalam mengatur masalah-masalah keuangan dan anggaran
WTO.
70

Di samping badan-badan tersebut, WTO membentuk pula badan-
badan khusus yang mengawasi pelaksanaan perjanjian-perjanjian
plurilateral (yang sifatnya sukarela), yakni badan untuk
perdagangan pesawat udara sipil, badan untuk pengadaan barang
pemerintah (government procurement), badan untuk produk susu dan
daging (dairy products and bovine meat). Badan-badan khusus ini
melaporkan tugas-tugasnya kepada the General Council.
Sekretariat WTO berkedudukan di Jenewa, Swiss. Sampai tulisan
ini dibuat, Sekretariat WTO memiliki sekitar 450 staf dan diketuai
oleh seorang Direktur Jenderal (Diretor General) dan 4 orang
pembantu Direktur Jenderal.
Dalam membuat putusan, WTO melanjutkan praktek yang telah
lama dilakukan dalam GATT, yaitu melalui konsensus. Namun dalam
hal konsensus ini gagal, maka putusan akan diambil melalui
pemungutan suara atau voting.

70
WTO, Trading into the Future,.Geneva, 1995, hlm. 13.
Di samping itu, ada 4 hal atau situasi dalam perjanjian WTO
yang memungkinkan dilakukannya voting. Pertama, mayoritas 2/3 dari
anggota WTO diperlukan untuk mengesahkan suatu penafsiran
perjanjian perdagangan multilateral.
Kedua, mayoritas 2/3 dari anggota WTO diperlukan bagi the
Ministerial Conference untuk memutuskan penanggalan suatu
kewajiban yang dikenakan terhadap suatu negara oleh suatu
perjanjian multilateral.
Ketiga, keputusan untuk merubah ketentuan perjanjian
multilateral dapat disahkan melalui kesepakatan seluruh anggotanya
atau melalui mayoritas 2/3 dari anggota WTO. Perubahan-perubahan
demikian hanyalah berlaku bagi negara-negara yang menerimanya
saja.
Keempat, suatu mayoritas 2/3 dari negara anggota WTO
diperlukan untuk menerima masuknya suatu negara menjadi anggota
WTO.
71

2. Kebijakan Unifikasi dan Harmonisasi WTO
WTO adalah salah satu contoh yang telah di sebut di atas,
di mana unifikasi aturan-aturan atau hukum perdagangan
internasional diterapkan terhadap negara-negara anggotanya. Pasal
XVI Perjanjian Pembentukan WTO menyatakan: "Each member shall
ensure the conformity of its laws, regulations and administrative
procedures with its obligations as provided in the annexed
Agreements." (Pasal XVI ayat 4 Agreement Establishing the World
Trade Organization).
Ketentuan pasal tersebut menjadi indikator penting
bagaimana WTO mewajibkan negara-negara anggotanya untuk
menyesuaikan aturan-aturan atau hukum perdagangannya dengan
aturan-aturan yang termuat dalam Annex perjanjian WTO. Bahkan
ketentuan pasal XVI tersebut juga mewajibkan negara anggotanya
untuk menyesuaikan administrative procedures-nya (birokrasi)
sesuai dengan administrative procedure-nya WTO.

71
WTO, Trading into the Future, Geneva, 1995, hlm. 14.
3. Perjanjian-perjanjian di Bawah Piagam WTO
Perjanjian-perjanjian yang termuat dalam lampiran (Annex)
WTO adalah perjanjian dalam TRIPS (telah diuraikan secara singkat
di atas). Perjanjian-perjanjian lainnya adalah:
GATT 1994; Agreement on Agriculture; Sanitary and Phytosanitary
Measures; Textiles and Clothing; Technical Barriers to Trade;
Trade-Related Investment Measures (TRIMs); Anti-dumping (Article
VI of GATT 1994); Customs valuation (Article VII of GATT 1994);
Preshipment Inspection; Rules of Origin; Import Licensing;
Subsidies and Countervailing Measures; Safeguards; General
Agreement on Trade in Services (GATS); Trade-Related Aspects of
Intellectual Property Rights (TRIPS); Dispute Settlement
Understanding.
Sebenarnya di samping unifikasi hukum, WTO juga berupaya
mendorong harmonisasi hukum, termasuk harmonisasi standar-standar
teknis-nya. Upaya harmonisasi ini telah lama diupayakan GATT
(pendahulu WTO). Pada tahun 1979, GATT berhasil mengeluarkan The
GATT Code on Technical Standards (Standard Code).
Aturan Standard Code ini mendorong negara-negara anggotanya
untuk mengharmonisasikan standar-standar produk domestiknya.
Upaya ini ditempuh agar kebijakan negara-negara mengenai standar
produk tidak malah menjadi penghalang bagi perdagangan dunia.
72

Perjanjian lainnya yang dapat digolongkan ke dalam
harmonisasi hukum adalah perjanjian-perjanjian yang berada di
bawah 'Plurilateral Agreement'(Annex 4 Perjanjian WTO).
Perjanjian-perjanjian ini adalah: Agreement on Trade in Civil
Aircraft (Annex 4 (a)); Agreement on Government Procurement
(Annex 4 (b)); International Dairy Agreement (Annex 4 (c));
International Bovine Meat Agreement (Annex 4 (d)).

72
Michael Trebilcock and Robert Howse, The Regulation of International
Trade, London: Routledge, 1995, hlm. 29.
b. The International Institute for the Unification of Private Law
(UNIDROIT).
1. Pengantar
The International Institute for the Unification of Private
Law (UNIDROIT) adalah sebuah organisasi antar pemerintah yang
sifatnya independen. UNCITRAL dibentuk pada tahun 1926 sebagai
suatu badan pelengkap Liga Bangsa-Bangsa (LBB). Sewaktu LBB
bubar, UNIDROIT dibentuk kembali pada tahun 1940 berdasarkan
suatu perjanjian multilateral yakni Statuta UNIDROIT (the
UNIDROIT Statute). UNIDROIT berkedudukan di kota Roma.
Tujuan utama pembentukannya adalah melakukan kajian untuk
memodernisasi, mengharmonisasi dan mengkoordinasikan hukum
privat, khususnya hukum komersial (dagang) di antara negara atau
di antara sekelompok negara.
Keanggotaan UNIDROIT terbatas hanya untuk negara-negara
yang menundukkan dirinya kepada Statuta UNIDROIT. Negara-negara
ini berasal dari 5 benua dan mewakili berbagai sistem hukum,
ekonomi, politik dan budaya yang berbeda.
Dewasa ini UNIDROIT memiliki 59 negara anggota, yakni:
Argentina, Australia, Austria, Belanda, Belgium, Bolivia, Brazil,
Bulgaria, Canada, Chile, China, Colombia, Croatia, Cuba, Cyprus,
Republik Czech, Denmark, Mesir, Estonia, Federasi Rusia
Finlandia, Perancis, Jerman, Holy See (Tahta Suci), Hungaria,
India, Iran, Iraq, Ireland, Israel, Italy, Japan, Luxembourg,
Malta, Mexico, Nikaragua, Nigeria, Norwegia, Pakistan, Paraguay,
Poland, Portugal, Republik Korea, Romania, San Marino, Slovakia,
Slovenia, Africa Selatan, Spanyol, Swedia, Swiss, Tunisia, Turki,
Inggris, Amerika Serikat, Uruguay, Venezuela, Yugoslavia (Federal
Republic of), Yunani.
2. Kebijakan Harmonisasi dan Unifikasi UNIDROIT
Tujuan utama UNIDROIT sebenarnya adalah mempersiapkan
harmonisasi aturan-aturan hukum privat. Upaya ini dipandang
penting mengingat perkembangan teknologi baru, praktek-praktek
pedagangan, dll memerlukan aturan hukum yang baru. Biasanya
aturan-aturan baru tersebut juga dibuat oleh negara-negara.
Masalahnya adalah peraturan tersebut bisa saja berbeda antara
satu aturan hukum dengan aturan hukum lainnya. Karen itu aturan
tersebut perlu diharmonisasi, atau bahkan diunifikasi guna
memperlancar perdagangan internasional.
Masalahnya adalah harmonisasi atau unifikasi hukum tersebut
banyak bergantung kepada keinginan dan kerelaan negara-negara
untuk mau menerimanya.
Meskipun menyadari adanya kesulitan upaya tersebut,
UNIDROIT memiliki kedudukannya yang menguntungkan sebagai
organsiasi antar pemerintah. Dalam kaitan ini, UNDIROIT
menerapkan pemberlakuan konvensi atau perjanjian internasional
yang mensyaratkan penerimaan dari negara-negara anggotanya.
Tujuannya adalah menerapkan aturan-aturan konvensi tersebut ke
dalam sistem hukum negara-negara anggota yang menundukkan dirinya
kepada konvensi tersebut.
Penerimaan suatu aturan konvensi oleh negara akan jauh
lebih memudahkan pemberlakuan aturan-aturan konvensi tersebut ke
dalam wilayah negara anggotanya (termasuk kepada warga negara
atau subyek-subyek hukum di wilayah negara tersebut).
3. Konvensi atau Perjanjian Yang Dihasilkan UNIDROIT
Selama berdiri UNIDROIT telah melakukan lebih dari 70
kajian. Kajian-kajian ini ada yang telah menghasilkan berbagai
perjanjian atau konvensi internasional berikut:
(1) Convention relating to a Uniform Law on the Formation of
Contracts for the International Sale of Goods (The Hague
1964);
(2) Convention relating to a Uniform Law on the International
Sale of Goods (The Hague, 1964);
(3) International Convention on the Travel Contract (Brussels,
1970);
(4) Convention providing a Uniform Law on the Form of an
International Will (Washington, 1973);
(5) Convention on Agency in the International Sale of Goods
(Geneva, 1983);
(6) UNIDROIT Convention on International Financial Leasing
(Ottawa, 1988);
(7) UNIDROIT Convention on International Factoring (Ottawa,
1988);
(8) UNIDROIT Convention on Stolen or Illegally Exported Cultural
Objects (Rome, 1995);
(9) Convention on International Interests in Mobile Equipment
(Cape Town, 2001);
(10) Protocol to the Convention on International Interests in
Mobile Equipment on Matters specific to Aircraft Equipment
(Cape Town, 2001).

c. The United Nations Commission on International Trade Law
(UNCITRAL)
73

1. Pengantar
1. The United Nations Commission on International Trade Law
(UNCITRAL) adalah badan kelengkapan khusus dari Majelis Umum PBB.
Badan ini dibentuk pada tahun 1966. Pembentukannya didasarkan
pada Resolusi Majelis Umum PBB Nomor 2205 (XXI) tanggal 17
Desember 1966.
Tugas utamanya adalah mengurangi perbedaan-perbedaan hukum
di antara negara-negara anggota yang dapat menjadi rintangan bagi
perdagangan internasional. Untuk melaksanakan tugas tersebut
UNCITRAL berupaya memajukan perkembangan harmonisasi dan
unifikasi hukum perdagangan internasional secara progresif (the
progressive harmonization and unification of the law of
international trade).
Sejak berdiri UNCITRAL telah mempersiapkan berbagai
Konvensi, Model Hukum dan instrumen hukum lainnya yang mengatur
transaksi perdagangan atau aspek-aspek hukum bisnis lainnya yang
memiliki pengaruh terhadap perdagangan internasional.
2. Kebijakan Harmonisasi dan Unifikasi UNCITRAL
Dua kata harmonisasi dan unifikasi di atas memiliki
pengertian tersendiri bagi UNICTRAL. UNCITRAL beranggapan mandat
"Harmonization" dan "unification" hukum perdagangan
internasional ini dimaksudkan agar perdagangan internasional
dapat berlangsung secara lancar. Hal ini penting mengingat
perdagangan internasional acapkali terhalang atau tidak lancar
karena faktor-faktor seperti tidak adanya kepastian hukum (lack
of a predictable governing law), hukum yang ada sudah tidak
sesuai lagi dengan perkembangan jaman.

73
http://www.uncitral.org/en-index.htm. Lihat pula: Gerold Hermann,
“United Nations Commission on International Trade Law,” dalam: R.
Bernhardt (ed.), Encyclopedia of Public International Law: Instalment
5, 1983, hlm. 298-301; Schmitthoff, op.cit., Commercial Law, hlm. 24-
25.
Karena itu upaya badan ini tidak lain adalah berupaya
membuat produk atau instrumen hukum yang modern yang dapat
memberi kebutuhan hukum untuk memperlancar perdagangan
internasional dan perkembangan ekonomi dunia.
74

UNCITRAL merancang dan mengesahkan setiap instrumen hukum.
Dalam upaya ini, tidak semua negara anggota UNCITRAL turut serta.
Hanya negara-negara tertentu saja yang merupakan wakil dari
region-regiona di dunia.
75

Pihak lain yang juga dapat turut serta dalam proses
perancangan tersebut adalah LSM internasional atau organisasi-
organisasi antar pemerintah yang berminat. Keputusan untuk
mengesahkan instrumen hukum dilakukan secara konsensus.
Instrumen hukum yang dirancang UNCITRAL bisa berupa
legislative texts umumnya berupa Konvensi.
76
Legislative texts

74
Cf., mirip mandatnya dengan UNIDROIT., supra.
75
Terdapat lima kelompok regional yang terwakili dalam UNCITRAL. Mereka
adalah: (1) Negara-negara Afrika, yakni: Benin, Burkina Faso,
Cameroon, Kenya, Morocco, Rwanda, Sierra Leone, Sudan and Uganda; (2)
Negara-negara Asia:- China, Fiji, India, Iran (Islamic Rep. of), Japan,
Singapore, and Thailand; (3) Negara-negara Eropa Timur: Hungary,
Lithuania, Romania, Russian Federation, The former Yugoslav Republic of
Macedonia; (4) Amerika Latin dan Karibia: Argentina, Brazil, Colombia,
Honduras, Mexico, Paraguay and Uruguay; (5) Eropa Barat dan Lainnya:-
Austria, Canada, France, Germany, Italy, Spain, Sweden, United States
of America and United Kingdom.
76
Konvensi tersebut adalah: Convention on the Limitation Period in the
International Sale of Goods (New York, 1974); United Nations Convention
on Contracts for the International Sale of Goods (Vienna, 1980); United
Nations Convention on the Carriage of Goods by Sea, 1978 (Hamburg
Rules); United Nations Convention on the Liability of Operators of
Transport Terminals in International Trade (1991); United Nations
Convention on International Bills of Exchange and International
Promissory Notes (New York, 1988); United Nations Convention on
Independent Guarantees and Stand-by Letters of Credit New York, 1995);
Convention on the Recognition and Enforcement of Foreign Arbitral Awards
(New York 1958) (the "New York" Convention); United Nations Convention
on Contracts for the International Sale of Goods (Vienna 1980) ("CISG");
Convention on the Limitation Period in the International Sale of Goods
(New York 1974); United Nations Convention on International Bills of
Exchange and International Promissory Notes (New York, 1988); United
Nations Convention on Independent Guarantees and Stand-by Letters of
Credit (New York, 1995); United Nations Convention on the Assignment of
Receivables in International Trade (2001); United Nations Convention on
the Carriage of Goods by Sea (1978) (the "Hamburg Rules"); United
misalnya saja: United Nations Convention on Contracts for the
International Sale of Goods; Convention on the Limitation Period
in the International Sale of Goods; United Nations Convention on
Independent Guarantees and Stand-by Letters of Credit; United
Nations Convention on International Bills of Exchange and
International Promissory Notes; United Nations Convention on the
Carriage of Goods by Sea, 1978 (Hamburg); United Nations
Convention on the Liability of Operators of Transport Terminals
in International Trade; and the United Nations Convention on the
Assignment of Receivables in International Trade.
Sedangkan instrumen hukum lainnya berupa legislative guides
dan non-legislative guides. Legislative guides misalnya adalah
instrumen-instrumen hukum berupa model law dan rules. Instrumen
ini merupakan instrumen yang tidak mengikat negara anggota.
Negara anggota bebas untuk mengikui atau tidak mengikuti
legislative guides tersebut.
Non-legislative texts adalah instrumen hukum lainnya yang
sifatnya juga tidak mengikat. Contoh instrumen hukum seperti ini
misalnya saja: UNCITRAL Arbitration Rules; UNCITRAL Conciliation
Rules; UNCITRAL Notes on Organizing Arbitral Proceedings;
UNCITRAL Legal Guide on Drawing Up International Contracts for
the Construction of Industrial Works; and UNCITRAL Legal Guide on
International Countertrade Transactions.



Nations Convention on the Liability of Operators of Transport Terminals
in International Trade (Vienna, 1991).
d. Kamar Dagang Internasional (ICC)
77

1. Pengantar
The International Chamber of Commerce (ICC) didirikan pada
tahun 1919. Badan ini berkedudukan di Paris. Tujuannya pada waktu
itu, dan sampai sekarang masih terus berlaku, adalah melayani
dunia usaha dengan memajukan perdagangan, penanaman modal,
membuka pasar untuk barang dan jasa, serta memajukan aliran modal
(to serve world business by promoting trade and investment, open
markets for goods and services, and the free flow of capital).
Selama ini ICC dipandang sebagai corongnya dunia usaha
(pengusaha) untuk pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja,
dan kemakmuran. Peran ini sangat penting dalam kaitannya dengan
keadaan dunia saat ini. Negara-negara di dunia kerap membuat
kebijakan atau keputusan-keputusan yang dapat mempengaruhi
perdagangan. Karena itulah, peran atau adanya suatu badan dunia
yang menyuarakan para pedagang yang terkena oleh kebijakan atau
keputusan (suatu) negara menjadi sangat penting. Untuk itu, ICC
memiliki akses langsung kepada pemerintah negara-negara di dunia
melalui national committee ICC (KADIN Nasional) yang terdapat
hampir di setiap negara di dunia.
Peran penting lain ICC adalah sebagai badan dalam membuat
kebijakan-kebijakan atau aturan-aturan yang dapat memfasilitasi
perdagangan internasional. Peran lain yang juga cukup penting
adalah:
(1) sebagai forum penyelesaian sengketa khususnya melalui
arbitrase;
78


77
http://www.iccwbo.org/home/menu_what_is_icc.asp; Schmitthoff,
op.cit., Commercial Law, hlm. 24-25.
78
ICC memiliki badan arbitrase serta aturan (rules) arbitrasenya. The
ICC International Court of Arbitration terbentuk pada tahun 1923 atas
jasa Presiden ICC pertama, yaitu Etienne Clémentel, mantan menteri
perdagangan Perancis. Badan arbitrase ICC telah terkenal menjadi badan
penyelesaian sengketa bisnis ternama. Pada tahun 2002 saja badan
arbitrase ICC menerima 590 kasus atau kira-kira 50 kasus per bulan.
(http://www.iccwbo.org/home/menu_what_is_icc.asp).
(2) sebagai forum untuk menyebarluaskan informasi dan kebijakan
serta aturan-aturan hukum dagang internasional di antara
pengusaha-pengusaha di dunia; dan
(3) memberikan pelatihan-pelatihan dan teknik-teknik dalam
merancang kontrak serta keahlian-keahlian praktis lainnya
dalam perdagangan internasional.
2. Kebijakan Harmonisasi Hukum ICC
ICC tidak berupaya menciptakan unifikasi hukum. Kebijakan
yang ditempuhnya adalah memberikan aturan-aturan dan standar-
standar (Rules and Standards) di bidang hukum perdagangan
internasional. Kedua bentuk aturan ini sifatnya tidak mengikat.
Hal ini sebenarnya tidak terlepas dari pendirian ICC bahwa
dunia usaha sebaiknya tidak atau dipengaruhi sedikit mungkin oleh
campur tangan penguasa (pemerintah). ICC karenanya tidak mau
menjadi penguasa seperti itu. Ia berpendirian, biarlah dunia
usaha saja yang mengatur atau membuat aturan bagi mereka sendiri.
Dana turan-aturan yang sifatnya atau yang datang dari luar,
termasuk aturan-aturan yang dibuat ICC, haruslah bersfiat
sukarelah saja.
Namun demikian aturan-aturan ICC (termasuk standar-standar
ICC) ini memiliki pengaruh yang cukup tinggi. Bahkan beberapa
aturan (Rules)-nya telah diikuti dengan sukarela dan seksama oleh
para pelaku dagang, seperti misalnya perbankan. Bahkan standar-
standar yang dikeluarkan oleh ICC telah banyak dimasukkan ke
dalam kontrak-kontrak dagang yang dibuat oleh para pelaku bisnis.

3. Aturan-aturan dan Standar yang Dikeluarkan ICC
Dewasa ini ICC memiliki 16 Komisi para ahli yang berasal
dari sektor swasta. Para ahli ini terdiri berbagai bidang
keahlian di bidang bisnis internasional. Keahlian bidang mereka
antara lain mencakup teknis-teknis perbankan (jasa keuangan),
perpajakan, hukum persaingan, telekomunikasi, HAKI, teknologi
informasi, pengangkutan (udara dan laut), penanaman modal dan
kebijakan perdagangan.
Para ahli dalam komisi-komisi tersebut berperan cukup
penting dalam merumuskan kebijakan, aturan-aturan dan standar-
standar yang digunakan atau diterapkan terhadap perdagangan
internasional, termasuk kontrak internasional, meskipun sifatnya
tidak mengikat.
Maksud utama dengan adanya aturan-aturan tersebut adalah
untuk mempermudah perusahaan-perusahaan atau para pedagang di
seluruh dunia untuk bertransaksi dagang. Selain itu yang juga
penting adalah untuk mempermudah mereka membuat kontrak-kontrak
dagang.
Selama ini, aturan-aturan yang sifatnya tidak mengikat atau
sukarelah tersebut adalah:
79

(1) ICC International Code on Sponsorship (September 2030);
(2) Compendium of ICC Rules on Children and Young People and
Marketing (April 2003);
(3) Rules for Expertise (Januari 2003);
(4) Paction - the online model sales contract application
Create, negotiate and sign your model contracts online, 2002
(5) ICC DOCDEX Rules (Oktober 1997 dan Maret 2002);
(6) ICC International Code of Sales Promotion (Mei 2002);
(7) GUIDEC II: General Usage for International Digitally Ensured
Commerce (Oktober 2001); dan GUIDEC I (6 November 1997);
(8) Compendium of Rules for Users of the Telephone in Sales,
Marketing and Research (Juni 2001);
(9) ICC International Code of Direct Marketing (September 1998
dan Juni 2001);
(10) ICC International Code of Direct Selling (Juni 1999);
(11) ICC Rules of Conduct to Combat Extortion and Bribery (1999);
(12) ICC Recommended Code of Practice for Competition Authorities
on Searches and Subpoenas of Computer Records (16 Oktober
1998);
(13) Model Clauses for use in Contracts involving Transborder Data
Flows (23 September 1998);
(14) ICC Guidelines on Advertising and Marketing on the Internet
(April 1998);
(15) The Rules of Arbitration of the ICC (1 Januari 1998);

79
<http://www.iccwbo.org/home/statements_rules/menu_rules.asp>
(16) ICC International Code of Advertising Practice (April 1997);
(17) ICC International Customs Guidelines (10 Juli 1997);
(18) The Business Charter for Sustainable Development (1996);
(19) Rules for Pre-arbitral referee, (1 Januari 1990);
(20) The Uniform Customs and Practice for Documentary Credits
(UCP) 1933 dan 1994.
(21) The International Commercial Terms (Incoterms) (1936, 2000).
Dua produk hukum ICC yang disebut terakhir, yaitu UCP dan
Incoterms perlu mendapat sedikit catatan. UCP mengalami beberapa
kali revisi. Revisi terakhir adalah UCP 500, yang mulai berlaku
Januari 1994. UCP telah digunakan oleh bank di seluruh dunia.
Suatu tambahan terhadap UCP 500, yaitu the eUCP, ditambahkan pada
tahun 2002. eUCP mengatur penampilan semua atau sebagian doumen
elektronik.
Incoterms dibentuk untuk memberikan definisi baku secara
universal mengenai istilah-istilah yang digunakan dalam transaksi
perdagangan internasional, seperti misalnya Ex quay, CIF dan FOB.
Seperti halnya UCP, Incoterms telah mengalami beberapa revisi.
Revisi terakhir dilakukan pada tahun 2000 (Incoterms 2000), yang
mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 2000.
Schmitthoff memuji peran badan ini dalam upayanya
merumuskan unifikasi hukum perdagangan internasional dengan
menyatakan bahwa “(ICC) contribution to the unification of
international trade law has been singular successful.”
80

Sebagai catatan akhir dari bagian ini, penting pula
mengutip nasihat Schmitthoff. Beliau melihat keberadaan lembaga-
lembaga internaisonal yang berupaya mengunifikasi aturan-aturan
perdagangan internasional ini adalah positif. Namun beliau
mengingatkan agar lembaga-lembaga ini harus saling kerjasama agar
upaya unifikasi efektif.
81



80
Chia-Jui Cheng (ed.), op.cit., hlm. 213.
81
Chia-Jui Cheng (ed.), op.cit., hlm. 214.
F. Penutup
Dari uraian di atas tampak bahwa hukum perdagangan
internasional adalah bidang hukum yang sangat luas ruang
lingkupnya. Hal ini sudah barang tentu merupakan tantangan bagi
para mahasiswa dan sarjana hukum untuk mendalami bidang ini.
Dari perkembangannya, tersirat pula pertumbuhan bidang
hukum ini yang sudah ada sejak manusia mulai merasakan
kekurangannya dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya. Untuk itu
manusia mulai berdagang. Metode transaksi awalnya sangatlah
sederhana: barter atau tukar menukar. Dalam perkembangannya,
orang sudah transaksi dengan menerapkan teknologi canggih:
perdagangan dengan sarana telekomunikasi.
Canggihnya transaksi perdagangan merupakan tantangan bagi
hukum perdagangan internasional. Bidang hukum ini ditantang untuk
mengakomodasi perkembangan cepat ini melalui aturan-aturan
hukumnya. Adanya aturan-aturan ini sangat dibutuhkan bagi pelaku
perdagangan untuk adanya kepastian hukum, sekaligus mendapatkan
perlindungan hukumnya.
Upaya hukum nasional sudah barang tentu sangat terbatas
kewenangan hukumnya untuk mengatur transaksi-tansaksi lintas
batas atau internasional. Peran hukum nasional hanya mencakup
aturan-aturan yang mengikat bagi kegiatan dan transaksi dagang
dalam wilayahnya.
Karena itu, upaya-upaya pengaturan perdagangan
internasional sedikit banyak bergantung pada peran organisasi
internasional baik yang sifatnya antar negara, misalnya WTO,
maupun yang sifatnya privat, misalnya Kamar Dagang Internasional
(International Chamber of Commerce).
Upaya organisasi internasional pun hingga dewasa ini lebih
banyak pada upaya harmonisasi hukum daripada upaya unifikasi
hukum. Upaya ini tampaknya wajar dilakukan mengingat perkembangan
hukum perdagangan internasional yang cukup progresif. Upaya
mengkristalisasi aturan hukum perdagangan internasional dalam
suatu dokumen perjanjian internasional yang sifatnya stabil dan
berlaku lama tampaknya sangat sulit.
Tujuan akhir dari hukum perdagangan internasional
sebenarnya adalah tujuan dari eksistensi hukum perdagangan
internasional itu sendiri. Di bagian awal Bab ini (yaitu bagian
B. Eksistensi dan Tujuan Hukum Perdagangan Internasional),
terungkap beberapa tujuan bidang hukum perdagangan internasional
ini yang terdengar sangat positif, yaitu antara lain,
mensejahterakan negara-negara (dan warga negaranya).
Satu hal yang perlu digaris bawahi di sini adalah bahwa
untuk mencapai tujuan positif tersebut mau tidak mau harus
dibarengi dengan pemahaman terhadap hukum perdagangan itu
sendiri. Artinya, masyarakat atau negara yang tidak mengetahui
aturan-aturan hukum perdagangan internasional janganlah berharap
dapat mengambil manfaat dari hukum perdagangan internasional.

DAFTAR PUSTAKA
Ademuni-Odeke, The Law of International Trade, London: Blackstone,
1999.
August, Ray, Internatoinal Business Law: Text, Cases and Readings, New
Jersey: Prentice Hall, 3
rd
.ed., 2000.
Chia-Jui Cheng (ed.), Clive M. Schmitthoff's Select Essay on
International Trade Law, Doredrecht/Boston/London: Martinus
Nijhoff & Graham & Trotman, 1988.
David, Rene, Arbitration in International Trade, The Hague: Kluwer,
1985.
Goldštajn, Aleksander, “The New Law of Merchant,” (1961) JBL 12.
Hermann, Gerold, “United Nations Commission on International Trade
Law,” dalam: R. Bernhardt (ed.), Encyclopedia of Public
International Law: Instalment 5, 1983.
Huala Adolf, Arbitrase Komersial Internasional, Jakarta: Rajagrafindo,
cet. 3, 2003.
Huala Adolf, Hukum Ekonomi Internasional: Suatu Pengantar, Jakarta:
Rajawali Pers, cet. 3, 2002.
Interlegal's Definitions (http://home.yebro.co.za/~interlegal/
definitions.htm).
Islam, Rafiqul M., International Trade Law, NSW: LBC, 1999.
Lew and Stanbrook, Interational Trade: Law and Practice, Bath:
Euromoney, 1983.
PH.O.L. Tobing, Hukum Pelayaran dan Perdagangan Amanna Gappa, Ujung
Pandang: Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan, 1977.
Reuvid, Jonathan (ed.), The Strategic Guide to International Trade,
London: Kogan Page, 1997.
Sanson, Michelle, Essential International Trade Law, Sydney: Cavendish,
2002.
Schmitthoff, Clive M., ‘The Unification of the Law of Internatioal
Trade,’ (1968) JBL 106.
Schmitthoff, Clive M., Commercial Law in a Changing Economic Climate,
London: Sweet and Maxwell, 1981.
Sudargo Gautama, Kontrak Dagang Internasional, Bandung: Alumni, 1977.
Pistor, Katerina, "The Standardization of Law and Its Effect on
Developing Countries," 50 Am.J.Comp.L. 97 (2002).
Trebilcock, Michael and Robert Howse, The Regulation of International
Trade, London: Routledge, 1995.
United Nations, Progressive Development of the Law of International
Trade: Report of the Secretary-General of the United Nations, New
York: United Nations, 1966.
Vilanueva, Pablo, "Patterns and Trends in World Trade," dalam: Jonathan
Reuvid (ed.), The Strategic Guide to International Trade, Kogan
page (tt),.
WTO, Trading into the Future,.Geneva, 1995.


1
BAB II
SUBYEK HUKUM DALAM HUKUM PERDAGANGAN INTERNASIONAL
A. Pengantar
Dalam aktivitas perdagangan internasional terdapat beberapa
subyek hukum yang berperan penting di dalam perkembangan hukum
perdagangan internasional. Maksud subyek hukum di sini adalah:
(1) para pelaku (stake holders) dalam perdagangan internasional
yang mampu mempertahankan hak dan kewajibannya di hadapan
badan peradilan; dan
(2) para pelaku (stake holders) dalam perdagangan internasional
yang mampu dan berwenang untuk merumuskan aturan-aturan
hukum di bidang hukum perdagangan internasional.
Dari batasan tersebut sebagai tolok ukur, maka subyek hukum
yang dapat tergolong ke dalam lingkup hukum perdagangan
internasional adalah negara, organisasi internasional, individu,
dan bank. Uraian berikut akan menganalisa lebih lanjut tiga
subyek hukum ini.
B. Negara
1. Peran Negara
Negara merupakan subyek hukum terpenting di dalam hukum
perdagangan internasional. Sudah dikenal umum bahwa negara adalah
subyek hukum yang paling sempurna. Pertama, ia satu-satunya
subyek hukum yang memiliki kedaulatan.
Berdasarkan kedaulatan ini, negara memiliki wewenang untuk
menentukan dan mengatur segala sesuatu yang masuk dan keluar dari
wilayahnya.
1
Booysen menggambarkan kedaulatan negara ini sebagai
berikut:

1
Hercules Boosen, International Trade Law on Goods and Services,
Pretoria: Interlegal, 1999, hlm. 2.

2
“... a state can absolutely determine whether anything from
outside the state. The state would also have the power to
determine the conditions on which the goods may be imported
into the state or exported to another country. ... Every
state would have the power to regulate arbitrarily the
conditions of trade.”
2

Dengan atribut kedaulatannya ini, negara antara lain
berwenang membuat hukum (regulator) yang mengikat segala subyek
hukum lainnya (yaitu individu, perusahaan), mengikat benda dan
peristiwa hukum yang terjadi di dalam wilayahnya, termasuk
perdagangan, di wilayahnya.
3

Kedua, negara juga berperan baik secara langsung maupun
tidak langsung dalam pembentukan organisasi-organisasi
(perdagangan) internasional di dunia, misalnya WTO, UNCTAD,
UNCITRAL, dll.
4
Organisasi-organisasi internasional di bidang
perdagangan internasional inilah yang kemudian berperan dalam
membentuk aturan-aturan hukum perdagangan internasional.
Ketiga, peran penting negara lainnya adalah negara juga
bersama-sama dengan negara lain mengadakan perjanjian
internasional guna mengatur transaksi perdagangan di antara
mereka. Contoh perjanjian seperti ini adalah perjanjian
Friendship, Commerce and Navigation, perjanjian penanaman modal
bilateral, perjanjian penghindaran pajak berganda, dll.
5

Keempat, negara berperan juga sebagai subyek hukum dalam
posisinya sebagai pedagang. Dalam posisinya ini, negara adalah
salah satu pelaku utama dalam perdagangan internasional. Dalam
awal tulisan ini, negara dengan perusahaan negaranya mengadakan
transaksi dagang dengan negara lainnya. Negara memiliki sumber
daya alam, perkebunan, pertambangan, dll. Bahan-bahan alam ini
disamping dikelola untuk kebutuhan di dalam negeri juga

2
Hercules Booysen, op.cit., hlm. 2.
3
Hercules Booysen, op.cit., hlm. 2.
4
Hans Van Houtte, The Law of International Trade, London: Sweet and
Maxwell, 1995, hlm. 31.
5
Hans Van Houtte, op.cit., hlm. 31.

3
diperdagangkan (dijual) ke subyek hukum lainnya yang
memerlukannya.
Dalam melaksanakan fungsinya ini, tidak jarang negara
membuat badan-badan hukum milik negara. Di tanah air misalnya,
untuk mengeksplorasi, mengeksploitasi dan memasarkan hasil
pertambangan minyak, negara mendirikan Pertamina. Untuk mengelola
sumber daya air untuk kepentingan rakyat negara mendirikan
perusahaan air minum, dst.
Sebagai suatu institusi yang besar, negara membutuhkan
teknologi, infrastruktur, kendaraan, pesawat kenegaraan, sumber-
sumber kebutuhan yang dibutuhkan rakyatnya (pengadaan barang dan
jasa atau procurement). Untuk memenuhi semua ini, negara
membelinya dari para pihak yang menyediakannya (penjual atau
supplier). Dengan demikian, negara dapat bertindak sebagai pelaku
dalam transaksi perdagangan.
6

Semua transaksi perdagangan tersebut tunduk pada aturan-
aturan hukum yang bentuk dan muatan pengaturannya bergantung pada
jenis transaksi. Manakala negara bertransaksi dagang dengan
negara lain, kemungkinan hukum yang akan mengaturnya adalah hukum
internasional. Manakala negara bertransaksi dengan subyek hukum
lainnya, maka hukum yang mengaturnya adalah hukum nasional (dari
salah satu pihak).
7



6
Hercules Booysen, op.cit., hlm. 4-5.
7
Hercules Booysen, Op.cit., hlm. 4.

4
2. Imunitas Negara
Salah satu masalah yang kerap timbul dalam kaitannya dengan
negara adalah atribut kedaulatan negara itu sendiri. Prinsip umum
yang diakui adalah bahwa dengan atribut kedaulatan, negara
memiliki imunitas terhadap pengadilan negara lain.
Arti imunitas di sini adalah bahwa negara tersebut memiliki
hak untuk mengklaim kekebalannya terhadap tuntutan (klaim)
terhadap dirinya. Sheldrick dengan tepat menggambarkan imunitas
negara ini sebagai berikut:
“Sovereign immunity is a long-established precept of public
international law which requires that a foreign government
or head of state cannot be sued without its consent. In its
traditional form, this rule applied to all types of suit,
criminal and civil, including those arising out of purely
commercial transactions undertaken by the foreign
sovereign.”
8

Dalam perkembangannya, konsep imunitas ini mengalami
pembatasan. Minimal ada 4 pembatasan terhadap muatan imunitas
suatu negara ini.
Pertama, pembatasan oleh hukum internasional. Dalam
bertransaksi dagang, hukum internasional meskipun mengakui
imunitas negara ini, tetapi juga sekaligus membatasinya. Hukum
internasional regional di Eropa misalnya memiliki the European
Convention on State Immunity (16 Mei 1972). Konvensi
beranggotakan Austria, Belgia, Belanda, Siprus, Jerman, Inggris,
Luxemburg, dan Swis.
9

Hukum internasional juga mensyaratkan negara-negara untuk
bekerjasama dengan negara lain untuk memajukan ekonomi. Deklarasi
mengenai prinsip-prinsip hukum internasional antara lain
menyatakan bahwa:

8
Andrew W. Sheldrick, “Capacity, sovereign immunity and acts of state,”
dalam: Lew and Stanbrook, Interational Trade: Law and Practice, Bath:
Euromoney, 1983, hlm. 164.
9
Hans Van Houtte, op.cit., hlm. 33.

5
“... states have the duty to co-operate with one another,
irrespective of the difference in their political, economic
and social system,...”
10

Kedua, pembatasan oleh hukum nasional. Dewasa ini beberapa
negara memiliki UU mengenai imunitas yang sifatnya membatasi
imunitas negara-negara (asing) yang melakukan transaksi dagang di
dalam wilayahnya atau dengan warga negaranya. Negara-negara yang
memiliki UU seperti ini misalnya: Canada (State Immunity Act
1982); Australia (Foreign States Immunity Act 1985), Amerika
Serikat (Foreign Sovereign Immunities Act 1976), dan Inggris
(State Immunity Act 1978).
UU Inggris tahun 1978 menyatakan bahwa suatu negara tidak
dapat lagi mengklaim imunitasnya dalam persidangan yang terkait
dengan:
(a) sengketa-sengketa mengenai transaksi komersial (dagang)
yang dilakukan oleh suatu negara;
(b) sengketa-sengketa yang lahir dari adanya kontrak yang
dilaksanakan sebagian atau seluruhnya di Inggris;
(c) kontrak-kontrak ketenagakerjaan yang dibuat di Inggris
atau yang berkaitan dengan jasa-jasa yang dilaksanakan
sebagian atau seluruhnya di Inggris;
(d) tindakan-tindakan mengenai tort (dalam sistem hukum kita
semacam perbuatan melawan hukum) untuk menuntut ganti
rugi karena meninggal, luka-luka, atau kerugian terhadap
harta benda, di mana tindakan tersebut terjadi di
Inggris;
(e) sengketa-sengketa yang terkait dengan keanggotaan dalam
suatu perusahaan baik yang terdaftar atau yang memiliki
kegiatan usaha utamanya di Inggris;

10
Hercules Booysen, op.cit., hlm. 33 dan 33n.

6
(f) sengketa-sengketa yang terkait dengan klaim-klaim
pengangkutan di laut terhadap kapal atau muatan atau yang
digunakan untuk tujuan-tujuan komersial; dan
(g) sengketa-sengeta yang terkait dengan perpajakan atau
cukai.
11

Ketiga, pembatasan secara diam-diam dan sukarela.
Pembatasan ini dianggap terjadi manakala suatu negara secara
sukarela menundukkan dirinya ke hadapan suatu badan peradilan
yang mengadili sengketanya. Apabila pengadilan memanggil negara
tersebut untuk mengadiri persidangan dan negara tersebut
mematuhinya, maka negara tersebut dianggap telah dengan sukarela
menanggalkan imunitasnya.
12

Keempat, kemungkinan lain yang menjadi indikasi pembatasn
imunitas ini adalah apabila negara memasukkan klausul arbitrase
ke dalam kontrak dagangnya. Dengan demikian dapat dianggap bahwa
negara tersebut telah menanggalkan imunitasnya untuk menghadap ke
badan arbitrase yang dipilihnya untuk menyelesaikan sengketa
dagangnya.
13

Dengan adanya pembatasan-pembatasan tersebut, kekebalan
suatu negara untuk hadir di hadapan badan peradilan (nasional
asing, internasional atau arbitrase) tidak lagi berlaku. Namun
masalah sesungguhnya dalam kaitanya dengan pembatasan negara di
hadapan badan peradilan adalah pelaksanaan putusan pengadilannya.
Hal inilah yang menjadi nasalah utama yang justru sangat krusial.
Percumalah doktrin dan aturan-aturan mengenai imunitas ini

11
Scheldrick, op.cit., hlm. 163 dan 164.
12
Hans van Houtte, op.cit., hlm. 33.
13
Hans van Houtte, op.cit., hlm. 33. Dengan adanya pembatasan-
pembatasan terhadap imunitas ini kemudian lahir teori yang disebut
dengan teori pembatasan imunitas negara (“restrictive theory
doctrine”). (Scheldrick, op.cit., hlm. 163). Teori ini juga menyatakan
bahwa negara dengan melakukan tindakan-tindakan yang bersifat non-
pemerintah (publik) atau ‘non-governmental activities’, negara tersebut
secara implisit telah menanggalkan hak-haknya untuk mengklaim imunitas.
(Scheldrick, op.cit., hlm. 163).

7
apabila di kemudian hari ternyata putusan pengadilan tidak dapat
dilaksanakan.
Berdasarkan hukum internasional, suatu badan peradilan
tidak dapat menyita harta milik negara lain atau memaksakan
putusannya terhadap harta milik negara lain yang digunakan atau
yang memiliki fungsi pelayanan publik (public services).
14
Hukum
internasional melarang suatu negara menahan kapal perang asing
yang sedang menyandar di pelabuhan suatu negara asing atau
menyita bangunan kedutaan negara asing.
15

Menurut Houtte, pelaksanaan putusan pengadilan hanya
memungkinkan terhadap aset-aset yang negara asing yang
bersangkutan tidak dibutuhkan untuk melaksanakan fungsi-fungsi
pelayanan publik.
16



14
Hans van Houtte, op.cit., hlm. 34.
15
Hans van Houtte, op.cit., hlm. 34.
16
Hans van Houtte, op.cit., hlm. 34. (Pendapat ini juga mengutip
berbgai sarjana antara lain C. Schreur).

8
C. Organisasi Perdagangan Internasional
1. Organisasi Internsional Antar Pemerintah (Publik)
17

Organisasi internasional yang bergerak di bidang
perdagangan internasional memainkan peran yang signifikan.
Organisasi internasional dibentuk oleh dua atau lebih ngara guna
mencapai tujuan bersama.
Untuk mendirikan suatu organisasi internasional perlu
dibentuk suatu dasar hukum yang biasanya adalah perjanjian
internasional. Dalam perjanjian inilah termuat tujuan, fungsi,
dan struktur organisasi perdagangan internasional yang
bersangkutan.
Biasanya peran organisasi internasional dalam perdagangan
internasional kurang begitu signifikan. Memang organisasi
internasional membeli kebutuhan-kebutuhannya dari penjual
(procurement). Misalnya komputer, peralatan kantor/administrasi,
telekomunikasi, transportasi, dll.
Namun procurement organisasi internasional tidak terlalu
besar kuantitasnya. Dari segi hukum perdagangan internasional pun
organisasi seperti ini lebih banyak bergerak sebagai regulator.
Dalam kapasitasnya ini organisasi internasional lebih banyak
mengeluarkan peraturan-peraturan yang bersifat rekomendasi dan
guidelines.
18
Biasanya pun aturan-aturan seperti rekomendasi atau
guidelines tersebut lebih banyak ditujukan kepada negara. Jarang
dimaksudkan untuk mengatur individu.
19


17
Kajian ekstensif tentang organisasi internasional publik, lihat
antara lain: M.A.G. Meerhaeghe, International Economic Institutions,
The Netherlands: Kluwer, 1998, 7
th
.ed., 1998.
18
Michael P. Ryan, W.C. Lenhardt and K. Tamai, “International
Governmental Organization: Knowledge Management for Multilateral Trade
Law Making,” 15 Am. U.J.Int’l.L. Rev 1360 (2000) (Ryan et.al., menyebut
pembuatan peraturan ini sebagai fungsi ke-lima dari organisasi
internasional publik. Fungsi lainnya adalah: fungsi administratif,
fungsi penyebarluasan informasi, fungsi penelitian, fungsi dukungan
hukum [legal support]).
19
Michael P. Ryan et.al., ibid.; Booysen, op.cit., hlm. 26.

9
Di antara berbagai organisasi internasional yang ada dewasa
ini, organisasi perdagangan internasional di bawah PBB,
20
seperti
UNCITRAL atau UNCTAD. UNCITRAL adalah organisasi internasional
yang berperan cukup penting dalam perkembangan hukum perdagangan
internasional.
Badan ini didirikan pada tahun 1966 berdasarkan Resolusi
Majelis Umum PBB Nomor 2205 (XXI), 12 Desember 1966. Tujuan atau
mandat utama badan ini adalah mendorong harmonisasi dan unifikasi
hukum perdagangan internasional secara progresif.
Dalam upayanya tersebut UNCITRAL disyaratkan juga untuk
mempertimbangkan kepentingan semua negara khususnya negara sedang
berkembang dalam mengembangkan perdagangan internasional secara
ekstensif. Dalam teks aslinya, mandat dalam Resolusi tahun 1966
tersebut berbunyi:
“With a mandate to further the progressive development of
the law of internatonal trade and in that respect to bear
in mind the interests of all people, in particular those of
developing countries, in the extensive development of
international trade.”
UNCITRAL misalnya, telah melahirkan Vienna Convention on
the International Sale of Goods (1980); Convention on the
international Multi-moda Transport (1980); UNCITRAL Arbitration
Rules (1976); UNCITRAL Model Law on Arbitration (1985), dll.
UNCTAD telah melahirkan berbagai kesepakatan internasional
di bidang perdagangan yang juga cukup penting, antara lain
misalnya: UN Convention on a Code of Conduct for Liner Conference
(1974); GSP (1968); UN Convention on Carriage of Goods by Sea
(1978).
Di luar keluarga PBB, organisasi perdagangan internasional
yang dewasa ini berpengaruh luas adalah GATT (1947). GATT dengan

20
Selama ini PBB lebih dikenal sebagai organisasi internasional yang
bersifat politis. Bab IX Piagam PBB sebenarnya memuat aturan-aturan
khusus untuk pengembangan dan majuan ekonomi dan sosial yang bertujuan,

10
ke-38 pasalnya semula hanya mengatur tarif dan perdagangan.
Perannya pada tahun 1994 digantikan oleh WTO.
Lahirnya WTO, bidang pengaturannya menjadi sangat luas.
Hampir semua sektor perdagangan, jasa, penanaman modal, hingga
hak atas kekayaan intelektual, menjadi bidang cakupan pengaturan
(perjanjian) WTO.


antara lain, meningkatkan standar hidup dan pembangunan ekonomi dan
sosial. (Lihat, Houtte, op.cit., hlm. 39-40).

11
2. Organisasi Internasional Non-Pemerintah
Di samping organisasi internasional antar pemerintah di
atas, terdapat subyek hukum lainnya yang juga cukup penting yaitu
NGO (Non-Governmental Organization) swasta (non-pemerintah atau
yang kerap kali disebut pula dengan LSM internasional).
NGO Internasional dibentuk oleh pihak swasta (pengusaha)
atau asosiasi dagang. Peran penting NGO dalam mengembangkan
aturan-aturan hukum perdagangan internasional tidak dapat
dipandang dengan sebelah mata. Misalnya, ICC (International
Chamber of Commerce atau Kamar Dagang Internasional), telah
berhasil merancang dan melahirkan berbagai bidang hukum
perdagangan dan keuangan internasional, misalnya: INCOTERMS,
Arbitration Rules dan Court of Arbitration, serta Uniform Customs
and Practices for Documentary Credits (UCP).
Khusus untuk UCP, misalnya, aturan-aturannya sekarang sudah
menjadi acuan hukum sangat penting bagi pengusaha dalam
melaksanakan transaksi perdagangan internasional. Aturan-aturan
UCP yang terkait dengan sistem pembayaran melalui perbankan telah
ditaati dan dihormati oleh sebagian besar pengusaha-pengusaha
besar di dunia.
Gambaran lainnya adalah ICC Arbitration Rules. Banyak
pengusaha besar di dunia telah memanfaatkan aturan arbitrase ICC
untuk menyelesaikan sengketa-sengketa dagang mereka. Dalam
klausul-klausul kontrak dagang internasional, para pengusaha
telah cukup banyak mencantumkan klausul arbitrase dengan mengacu
kepada ICC Arbitration Rules untuk hukum acara badan
arbitrasenya.
21


21
Lihat lebih lanjut: George Curmi, “The Role of the Internatonal
Chamber of Commerce,” dalam J. Reuvid (ed.), op.cit., hlm. 79 et.seq.,;
Houtte, op.cit., hlm. 48-49 (memberi contoh NGO lainnya yang cukup
penting. Misalnya saja, FIDIC (Fèdèration Internationale des ingènieurs
des conseils), kumpulan para insinyur dari berbagai negara yang telah
merumuskan berbagai kontrak standar untuk pembangunan konstruksi atau
proyek pembangunan.; atau IATA (International Association of Transport

12
D. Individu
Individu atau perusahaan adalah pelaku utama dalam
perdagangan internasional. Adalah individu yang pada akhirnya
akan terikat oleh aturan-aturan hukum perdagangan internasional.
Selain itu, aturan-aturan hukum yang dibentuk oleh negara
memiliki tujuan untuk memfasilitasi perdagangan internasional
yang dilakukan individu.
22

Dibanding dengan negara atau organisasi internasional,
status individu dalam hukum perdagangan internasional tidaklah
terlalu penting. Biasanya individu dipandang sebagai subyek hukum
dengan sifat hukum perdata (legal persons of a private law
nature).
23

Individu itu sendiri hanya (akan) terikat oleh ketentuan-
ketentuan hukum nasional yang negaranya buat. Karena itu individu
tunduk pada hukum nasionalnya (tidak pada aturan hukum
perdagangan internasional). Dia pun hanya dapat mempertahankan
hak dan kewajibannya yang berasal dari hukum nasionalnya tersebut
di hadapan badan-badan peradilan nasional.
24

Negara jarang sekali membuat kesepakatan-kesepakatan yang
mengikat individu. Umumnya kesepakatan negara-negara hanya
mengikat mereka. AFTA antara lain adalah organisasi yang hanya
mengatur komitmen negara-negara anggotanya saja. Dalam hukum
perdagangan internasional, ia adalah subyek hukum dalam arti yang
terbatas.
Apabila individu merasa bahwa hak-hak dalam bidang
perdagangannya terganggu atau dirugikan, maka yang dapat ia
lakukan adalah meminta bantuan negaranya untuk memajukan klaim
terhadap negara yang merugikannya ke hadapan badan-badan

Association), kumpulan para perusahaan penerbangan, yang merumuskan
misalnya saja aturan-aturan pengangkutan udara dan pengaturan mengenai
tarif penerbangan.
22
Hercules Booysen, op.cit., hlm. 7.
23
Hercules Booysen, op.cit., hlm. 13.
24
Hercules Booysen, op.cit., hlm. 7.

13
peradilan internasional. Mekanisme seperti ini misalnya tampak
pada GATT/ WTO dan Mahkamah Internasional.
Hanya dalam keadaan-keadaan tertentu saja suatu individu
dapat mempertahankan hak-haknya berdasarkan suatu perjanjian
internasional. Individu misalnya diperkenankan untuk mengajukan
tuntutan kepada negara berdasarkan Konvensi ICSID.
Konvensi ICSID mengakui hak-hak individu untuk menjadi
pihak di hadapan badan arbitrase ICSID. Namun demikian hak ini
bersifat terbatas. Pertama, sengketanya hanya dibatasi untuk
sengketa-sengketa di bidang penanaman modal yang sebelumnya
tertuang dalam kontrak.
Kedua, negara dari individu yang bersangkutan harus juga
disyaratkan untuk telah menjadi anggota Konvensi ICSID (Konvensi
Washington 1965). Persyaratan ini sifatnya mutlak. RI telah
meratifikasi dan mengikatkan diri terhadap Konvensi ICSID melalui
UU Nomor 5 tahun 1968.
Status individu sebagai subyek hukum perdagangan
internasional tetaplah tidak boleh dipandang kecil. Aturan-aturan
di bidang perdagangan yang mereka buat sendiri kadang-kadang
memiliki kekuatan mengikat seperti halnya hukum nasional.
Contoh nyata adalah aturan-aturan yang tergolong ke dalam
Lex Mercatoria atau hukum para pedagang. Salah satu wujudnya,
seperti telah diutarakan di atas, adalah the Uniform Customs and
Practice for Documentay Credit (UCP). Meskipun UCP tidak
diundangkan sebagaimana layaknya hukum nasional, namun para
pengusaha sangat menghormati dan menaati ketentuan-ketentuan
dalam UCP.
Disebutkan di atas bahwa individu adalah subyek hukum
dengan sifat hukum perdata (legal persons of a private law
nature). Subyek hukum lainnya yang termasuk ke dalam kategori ini
adalah (a) perusahaan multinasional; dan (b) bank.

14
1 Perusahaan Multinasional
Perusahaan multinasional (MNCs atau Multinational
Corporations) telah lama diakui sebagai subyek hukum yang
berperan penting dalam perdagangan internasional. Peran ini
sangat mungkin karena kekuatan finansial yang dimilikinya. Dengan
kemampuan finansialnya, hukum (perdagangan) internasional
berupaya mengaturnya.
Pasal 2 (2) (b) Piagam Hak dan Kewajiban Ekonomi Negara-
negara antara lain menyebutkan bahwa MNCs tidak boleh campur
tangan terhadap masalah-masalah dalam negeri dari suatu negara.
Pasal 2 (2) (b) Piagam antara lain berbunyi sebagai berikut: “...
Transnational corporation shall not intervene in the internal
affairs of a host State.”
25

Alasan pengaturan ini tampaknya masuk akal. Tidak jarang
MNCs seperti Freport McMoran Company (yang beroperasi di Papua),
Mitsubishi, atau MNCs di bidang telekomunikasi, ABC, CNN,
Singapore Telecommunication (Singtel yang memiliki saham
mayoritas PT Indosat), sedikit banyak dapat mempengaruhi situasi
dan kondisi politik dan ekonomi di Indonesia.
Kekuatan dan kekayaan yang sangat besar ini memang dapat
berdampak yang cukup besar. The Economist menggambarkan dengan
tepat peran dan keberadaan MNCs:
“Many people ... now think of multinationals as more
powerful than nation states, and see them as bent on
destroying livelihoods, the environment, left-wing
political opposition and anything else that stands in the
way of their profits.”
26

Perlunya aturan-aturan yang mengontrol aktivitas MNCs
memang perlu untuk menjembatani perbedaan kepentingan.
kepentingan negara tuan rumah, apalagi negara sedang berkembang,

25
Hercules Booysen, op.cit., hlm. 14.
26
The Economist, “The World’s View of Multinationals,” 29 January 2000,
hlm. 19.

15
biasanya adalah mengharapkan masuknya MNCs ke dalam wilayah
negaranya dapat memberi kontribusi bagi pembangunannya.
Sedangkan perspektif MNCs berbeda. Sebagaimana halnya
dengan perusahaan umumnya, MNCs bertujuan mencapai target utama
perusahaan, yaitu mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya.
27

Karena itu agar kedua kepentingan ini pada titik tertentu dapat
bertemu, maka perlu aturan-aturan hukum untuk menjembataninya.
28

2. Bank
Memang agak mengherankan bahwa para sarjana memasukkan bank
sebagai subyek hukum dengan kategori private law nature. Sama
seperti individu atau MNCs, bank dapat digolongkan sebagai subyek
hukum perdagangan internasional dalam arti yang terbatas. Bank
pun tunduk pada hukum nasional di mana bank tersebut didirikan.
Yang membuat subyek hukum ini penting adalah:
(a) peran bank dalam perdagangan internasional dapat dikatakan
sebagai pemain kunci. Tanpa bank, perdagangan internasional
mungkin tidak dapat berjalan.
29

(b) Bank menjembatani antara penjual dan pembeli yang satu sama
lain mungkin saja tidak mengenal karena mereka berada di
negara yang berbeda. Perannya di sini adalah peran bank dalam
memfasilitasi pembayaran antara penjual dan pembeli.
(c) Bank berperan penting dalam menciptakan aturan-aturan hukum
dalam perdagangan internasional khususnya dalam mengembangkan
hukum perbankan internasional. Salah satu instrumen hukum
yang bank telah kembangkan adalah sistem pembayaran dalam
transaksi perdagangan internasional. Misalnya adalah
terbentuknya ‘kredit berdokumen’ yang disebut ‘documentary
credit’. Mekanisme dan praktek ini kemudian dikodifikasi dan
dirumuskan secara sistematis oleh ICC menjadi UCP (di atas).

27
The Economist, Ibid.
28
Rafiqul Islam, International Trade Law, NSW: LBC, 1999, hlm. 273.
29
Hercules Booysen, op.cit., hlm. 14.

16
E. Penutup
Uraian di atas menggambarkan stake-holders, aktor, atau
subyek hukum dalam hukum perdagangan internasional, yaitu negara,
organisasi internasional dan individu (yang terdiri dari
perusahaan multinasional dan bank).
Subyek-subyek hukum tersebut di atas menunjukkan
terbatasnya subyek hukum dalam hukum perdagangan internasional.
Hal ini tidak terlepas dari realita pragmatis dari perdagangan
internasional.
Imunitas negara dengan statusnya sebagai subyek hukum penuh
atau lengkap dalam hukum perdagangan internasional tampak semakin
terbatas. Hukum nasional, hukum internasional, dan penundukan
diri kepada suatu lembaga peradilan (arbitrase) menghendaki dan
mensyaratkan tidak mungkinnya bagi suatu negara untuk membawa
atribut imunitasnya dalam perdagangan internasional.
Dari ketiga stake-holders hukum perdagangan internasional,
yang paling unik adalah bank. Bank hanyalah suatu lembaga
keuangan. Ia bukan pelaku utama perdagangan internasional.
Fungsinya menjembatani dan memfasilitasi pembayaran antara
penjual dan pembeli. Namun demikian bank telah menciptakan suatu
praktek kebiasaan di bidang perdagangan yang mengikat stake-
holders lainnya yang berhubungan dengannya.


17
DAFTAR PUSTAKA
Booysen, Hercules, International Trade Law on Goods and Services,
Pretoria: Interlegal, 1999.
Curmi, George, “The Role of the Internatonal Chamber of
Commerce,” dalam J. Reuvid (ed.), The Strategic Guide to
International Trade, London: Kogan Page, 1997.
Houtte, Hans Van, The Law of International Trade, London: Sweet
and Maxwell, 1995.
Islam, Rafiqul, International Trade Law, NSW: LBC, 1999.
Meerhaeghe, M.A.G., International Economic Institutions, The
Netherlands: Kluwer, 1998, 7
th
.ed., 1998.
Ryan, Michael P., W.C. Lenhardt and K. Tamai, “International
Governmental Organization: Knowledge Management for
Multilateral Trade Law Making,” 15 Am. U.J.Int’l.L. Rev
1360 (2000).
Sheldrick, Andrew W., “Capacity, sovereign immunity and acts of
state,” dalam: Lew and Stanbrook, Interational Trade: Law
and Practice, Bath: Euromoney, 1983.
The Economist, “The World’s View of Multinationals,” 29 January
2000.


1
BAB III
SUMBER HUKUM PERDAGANGAN INTERNASIONAL
A. Pengantar
Sumber hukum perdagangan internasional merupakan bab yang
penting. Dari sumber hukum inilah kita dapat menemukan hukum
tersebut untuk dapat diterapkan kepada suatu fakta tertentu dalam
perdagangan internasional.
Dalam Bab I buku ini, penulis mengikuti pendirian Houtte,
Rafiqul Islam, dan Booysen. Inti dari pendirian para sarjana
terkemuka ini adalah bahwa ada keterkaitan erat antara hukum
perdagangan internasional dan hukum internasional.
Keterkaitan antara dua bidang hukum ini membawa konsekuensi
bahwa sumber-sumber hukum internasional yang dikenal dalm
lapangan ini, yaitu:(1) perjanjian internasional; (2) hukum
kebiasaan internasional; (3) prinsip-prinsip hukum umum; dan (4)
putusan-putusan pengadilan dan publikasi sarjana-sarjana
terkemuka (doktrin), juga dapat diadopsi sebagai sumber-sumber
hukum dalam hukum perdagangan internasional.
1

Namun demikian, di samping keempat sumber hukum tersebut,
khusus dalam bidang hukum perdagangan internasional, terdapat
satu bidang hukum lainnya yang juga berperan penting dalam
mengatur transaksi perdagangan internasional. Hukum ‘kelima’ ini
adalah hukum nsional.
Hukum nasional dalam banyak hal ternyata justru memiliki
peran ‘lebih’ dibandingkan ke-4 sumber hukum yang tersebut
sebelumnya. peran dan diakuinya hukum nasional sebagai sumber

1
Pasal 38 ayat 1 Statuta Mahkamah Internasional. Cf., Perlu dikemukakan
di sini bahwa dalam literatur hukum perdagangan internasional, apa yang
menjadi sumber hukum perdagangan internasional belum ada kesepakatan.
Sarjana terkemuka hukum perdagangan internasional Profesor Clive
Schmitthoff hanya mengakui 2 (dua) sumber hukum saja, yaitu (1)
perjanjian internasional (istilah beliau: international legislation);
dan (2) hukum kebiasaan internasional (istilah beliau: international
commercial custom). (Clive M. Schmitthoff, Commercial Law in a Changing
Economic Climate, London: Sweet and Maxwell, 1981, hlm. 22 et.seq.).

2
hukum perdagangan internasional tidaklah terelakan karena sejak
awal atau tahap awal suatu pihak akan memulai transaksi-
transaksinya, selalu atau acapkali diawali dengan keterkaitannya
pada hukum nasional negaranya.
2

B. Sumber Hukum Perdagangan Internasional
1. Perjanjian Internasional
Perjanjian internasional adalah salah satu sumber hukum
yang terpenting. Secara umum, perjanjian internasional terbagi ke
dalam tiga bentuk, yaitu perjanjian multilateral, regional dan
bilateral.
Perjanjian internasional atau multilateral adalah
kesepakatan tertulis yang mengikat lebih dari dua pihak (negara)
dan tunduk pada aturan hukum internasional.
3
Beberapa perjanjian
internasional membentuk suatu pengaturan perdagangan yang
sifatnya umum di antara para pihak. Ada juga perjanjian
internasional yang memberikan kekuasaan tertentu di bidang
perdagangan atau keuangan kepada suatu organisasi internasional.
Perjanjian internasional kadang kala juga berupaya mencari suatu
pengaturan yang seragam guna mempercepat transaksi perdagangan.
Perjanjian regional adalah kesepakatan-kesepakatan di
bidang perdagangan internasional yang dibuat oleh negara-negara
yang tergolong atau berada dalam suatu regional tertentu. Di Asia
Tenggara misalnya, perjanjian-perjanjian seperti ini adalah
perjanjian pembentukan AFTA.
Suatu perjanjian adalah bilateral manakala perjanjian
tersebut hanya mengikat hanya dua subyek hukum internasional

2
Lihat lebih lanjut dalam uraian di bawah ini.
3
Pengaturan mengenai perjanjian internasional terdapat dalam Konvensi
Wina tentang Hukum Perjanjian tahun 1969 (the Vienna Convention on the
Law of Treaties of 1969). Pengertian perjanjian termuat dalam Pasal 2
(1) (1) Konvensi: “treaty” means an international agreement concluded
between States in written form and governed by international law,
whether embodied in a single instrument or in two or more related
instrumetns and whatever its particular designation; ….

3
(negara atau organisasi internasional). Termasuk dalam kelompok
perjanjian ini adalah perjanjian penghindaraan pajak berganda.
4

Dalam perjanjian persahabatan bilateral, kedua negara
memberikan beberapa preferensi atau perlakuan khusus tertentu
berkaitan dengan kegiata ekspor-impor kedua negara. Perjanjian
ini bisanya disebut juga dengan nama FCN-Treaties (Friendship,
Navigation and Commerce).
5

a. Daya Mengikat Perjanjian (Perdagangan) Internasional
Suatu perjanjian perdagangan internasional mengikat
berdasarkan kesepakatan para pihak yang membuatnya. Karena itu,
sebagaimana halnya perjanjian internasional pada umumnya,
perjanjian perdagangan internasional pun hanya akan mengikat
suatu negara apabila negara tersebut sepakat untuk menandatangani
atau meratifikasinya.
Manakala suatu negara telah meratifikasinya, maka adalah
kewajiban negara tersebut untuk mengundangkannya ke dalam aturan
hukum nasionalnya. Perjanjian internasional yang telah
diratifikasi tersebut kemudian menjadi bagian dari hukum nasional
negara tersebut.
Kadangkala perjanjian internasional membolehkan suatu
negara untuk tidak menerapkan atau mengecualikan beberapa
pengaturan atau pasal dari perjanjian internasional. Atau
sebaliknya, suatu perjanjian internaisonal tidak mengijinkan
adanya pensyaratan ini. GATT atau Perjanjian WTO misalnya tidak
menghendaki adanya pensyaratan ini. Artinya, GATT dan Perjanjian
WTO mensyaratkan pemberlakuan keseluruhan pasal-pasalnya.
Salah satu cara lainnya bagi suatu negara untuk terikat
kepada suatu perjanjian internasional adalah melalui penundukan

4
Hans Van Houtte, , The Law of International Trade, London: Sweet and
Maxwell, 1995, hlm. 3.
5
Hans Van Houtte, op.cit., hlm. 3. Untuk kumpulan perjanjian-perjanjian
internasional (Konvensi, Protokol, dll., dalam hukum perdagangan
internasional), lihat: Indira Carr and Richard Kidner, Statutes and
Convention on International Trade Law, London: Cavendish, 1993, hlm.
263-446).

4
secara diam-diam. Artinya, tanpa mengikatkan diri secara tegas
melalui penandatanganan dan ratifikasi (yang biasanya instrumen
ratifikasi tersebut didepositkan kepada suatu badan yang
berwenang, misalnya Sekjen PBB), suatu negara dapat saja
mengikatkan dirinya dengan cara mengadopsi muatan suatu
perjanjian internasional ke dalam hukum nasionalnya.
Biasanya penundukan secara diam-diam dilakukan antara lain
karena negara tersebut tidak mau secara tegas terikat terhadap
suatu perjanjian internasional. Misalnya, RI tidak meratifikasi
Konvensi Wina 1969 tentang Hukum Perjanjian. Tetapi dalam UU
Nomor 24 tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional, sebagian
besar muatannya sama dengan Konvensi Win 1969 tersebut.
Tetapi perlu pula diingat bahwa penundukan diri secara
diam-diam ini tidak akan berlaku apabila perjanjian internasional
tersebut secara tegas mensyaratkan demikian. Atau, apabila muatan
perjanjian internasional tersebut memberikan hak-hak (konsesi)
tertentu kepada suatu negara anggotanya, dan tidak kepada non-
anggota. Negara-negara non-anggota yang berupaya secara diam-diam
untuk menundukan dirinya kepada aturan tersebut karenanya tidak
akan efektif.
GATT, Misalnya, adalah suatu kesepakatan umum di bidang
perdagangan dan tarif. Siapa saja yang menjadi anggota harus
terlebih dahulu bernegosiasi dengan negara-negara anggota GATT
mengenai konsesi-konsesi yang akan diberikannya sebelum ia dapat
memanfaatkan ke-38 pasal GATT.
b. Isi Perjanjian
Dari muatan yang terkandung di dalamnya, perjanjian
perdagangan internasional pada umumnya memuat hal-hal berikut:
1) liberalisasi perdagangan
Perjanjian yang memuat liberalisasi perdagangan adalah
meliberalisasi perdagangan. Dalam hal ini, negara-negara anggota
suatu perjanjian internasional berupaya menanggalkan berbagai
rintangan pengaturan atau kebijakan (negara) yang dapat

5
menghambat atau mengganggu kelancaran transaksi perdaganagn
internasional.
2) Integrasi ekonomi
Perjanjian seperti ini berkembang belum begitu lama.
Negara-negara anggota dalam suatu perjanjian internasional
berupaya mencapai suatu integrasi ekonomi melalui pencapaian
kesatuan kepabeanan (customs union), suatu kawasan perdagangan
bebas (free trade zone), atau bahkan suatu kesatuan ekonomi
(economic union). Perjanjian seperti ini biasanya memberi
kewenangan kepada suatu organisasi internasional guna mencapai
tujuan integrasi ekonomi ini.
3) Harmonisasi Hukum
Tujuan utama harmonisasi hukum hanya berupaya mencari
keseragaman atau titik temu dari prinsip-prinsip yang bersifat
fundamental dari berbagai sistem hukum yang ada (yang akan
diharmonisasikan).
6

4) Unifikasi Hukum
Dalam unifikasi hukum, penyeragaman mencakup penghapusan
dan penggantian suatu sistem hukum dengan sistem hukum yang
baru.
7
Contohnya adalah pemberlakuan Perjanjian TRIPS/WTO.
Dengan diperkenalkannya substansi bidang-bidang perjanjian
TRIPS/WTO yang mencakup ketentuan mengenai hak cipta, merek
dagang, indikasi geografis, disain industri, paten, dll.,
meletakkan kewajiban kepada negara anggota untuk membuat aturan-
aturan HAKI nasionalnya yang sesuai dengan substansi perjanjian
TRIPS/WTO.
5) Model Hukum dan Legal Guide
Pembentukan Model Hukum dan Legal Guide sebenarnyat idak
terlepas dari upaya harmonisasi di atas. Bentuk hukum seperti ini
biasanya ditempuh karena didasari sulitnya bidang hukum yang akan

6
Lihat Bab I di atas.
7
Lihat Bab I di atas.

6
disepakati atau diatur. Karena itu mereka membuat Model Hukum ini
yang sifatnya tidak mengikat. Pembuat atau perancang Model Hukum
berharap, meski namanya model hukum atau legal guide, negara-
negara dapat mengacu muatan aturan-aturan model hukum atau legal
guide ini ke dalam hukum nasionalnya.
Dengan (semakin) banyaknya negara yang mengadopsi model
hukum atau legal guide ini, akhirnya diharapkan akan tercipta
keseragaman atau harmonisasi di bidang muatan model hukum atau
legal guide tersebut.
Contoh terkenal Model Hukum seperti ini adalah UNCITRAL
Model Law on International Commercial Arbitration tahun 1985.
Model Hukum 1985 ini memuat aturan-aturan model (acuan) bagi
negara-negara di dunia dalam mengundangkan peraturan
perundangannya di bidang arbitrase komersial internasional.
Dengan diadopsinya model hukum arbitrase ini diharapkan akan
tercipta pengaturan arbitrase yang bersifat universal. Artinya,
diharapkan aturan-aturan UU arbitrase suatu negara sedikit banyak
tidak akan berbeda dengan aturan UU arbitrase negara lainnya.
Legal guide yang cukup terkenal adalah UNCITRAL Legal Guide
on Drawing Up International Contracts for the Construction of
Industrial Works 1988. Legal Guide 1988 bertujuan terciptanya
keseragaman pengaturan klausul-klausul dalam menyusun kontrak di
bidang konstruksi.


7
c. Standar Internasional
Standar internasional adalh norma-norma yang disyaratkan
untuk ada di dalam perjanjian internasional, yang merupakan
syarat penting di dalam tata ekonomi internasional, serta syarat
suatu negara untuk berpartisipasi di dalam transaksi ekonomi
internasional. Syarat-syarat dasar tersebut adalah: i. Minimum-
standard or equitable treatment; ii. Most-favoured nation clause;
iii. Equal Treatment; dan iv. Preferential Treatment.
ad. i. Minimum-standard atau equitable treatment
Minimum-standard atau equitable treatment adalah norma atau
aturan dasar yang semua negara harus taati untuk dapat turut
serta dalam transaksi-transaksi perdagangan internasional.
8

Contoh standar minimum ini antara lain tampak dalam perjanjian-
perjanjian di bidang perlindungan hak kekayaan intelektual.
Misalnya Berne Convention for the Protection of Literary and
Artistic Works. Konvensi ini meletakkan persyaratan standar
minimum mengenai perlindungan hukum bagi karya cipta dan karya
seni.
9

ad. ii. Most-Favoured Nation Clause
Klausul Most-Favoured Nation (MFN) adalah klausul yang
mensyaratkan perlakun non-diskriminasi dari suatu negara terhadap
negara lainnya. Perlakuan ini diberikan karena masing-masing
negara terikat dalam suatu perjanjian internasional. Berdasarkan
klausul ini salah satu negara yang memberikan perlakuan khusus
atau preferensi kepada suatu negara, maka perlakuan tersebut
harus juga diberikan kepada negara-negara lainnya yang tergabung
dalam suatu perjanjian.
10


8
Han Van Houtte, op.cit., hlm. 6.
9
RI meratifikasi Konvensi Bern melalui UU Nomor 18 tahun 1997 (Lembaran
Negara No 35 tahun 1977). Mengenai Konvensi Bern ini, lihat lebih
lanjut: Anthony D’Amato dan Doris Estelle Long, International
Intellectual Property Law, The Hague: Kluwer, 1997, hlm. 241).
10
Han Van Houtte, op.cit., hlm. 6.

8
Peran klausul ini penting. Klausul ini menurut Houtte,
memberikan suatu derajat perlakuan sama (equitable treatment)
dalam hubungan ekonomi internasional. Dengan klausul ini,
hubungan-hubungan perdagangan internasional dapat berkembang.
11

Menurut Houtte, klausul MFN biasanya diikuti oleh dua sifat
cukup penting, yaitu:
(a) reciprocal (timbal balik), artinya pemberian MFN ini
diberikan dan disyaratkan oleh masing-masing negara. Jadi
sifatnya timbal balik; dan
(b) unconditional (tidak bersyarat), artinya negara anggota
lainnya dalam suatu perjanjain berhak atas perlakuan-
perlakuan khusus yang diberikan kepada negara ketiga.
12

Ad. iii. Equal treatment
Equal treatment (perlakuan sama) adalah klausul lainnya
yang juga disyaratkan harus ada dalam perjanjian-perjanjian
internasional. Menurut klausul ini, negara-negara peserta dalam
suatu perjanjian disyaratkan utuk memberikan perlakuan yang sama
satu sama lain. Klausul ini karena itu menyatakan bahwa warga
negara dari suatu negara anggota harus juga diperlakukan sama
halnya seperti warga negara di negara anggota lainnya.
Klausul seperti ini hingga sekarang ini jarang ditemukan
dalam praktek perjanjian antar negara.
13
Memang, sulit untuk
menemukan klausul ini dalam praktik. Suatu negara bagaimana pun
juga memiliki kewajiban utama kepada negaranya daripada kepada
warga negara asing. Adalah kewajiban suatu negara untuk
mensejahterakan warga negaranya (daripada mensejahterakan warga
negara anggota lain yang berada di dalam wilayahnya).
Namun demikian klausul ini tampak nyata dalam kesepakatan-
kesepakatan hukum internasional di bidang penyelesaian sengketa,

11
Han Van Houtte, op.cit., hlm. 7.
12
Han Van Houtte, op.cit., hlm. 8.
13
Han Van Houtte, op.cit., hlm. 8.

9
misalnya arbitrase internasional. Misalnya pasal 18 UNCITRAL
Model Law on International Commercial Arbitration. Pasal 18 ini
yang berada di bawah judul ‘Equal Treatment of Parties’,
menyebutkan: “The parties shall be treated with equality and each
party shall be given a full opportunity of presenting his case.”
Pasal 18 ini menggambarkan prinsip universal mengenai
perlakuan sama di depan hukum. Pasal ini mensyaratkan perlakuan
sama terhadap para pihak yang bersengketa. Mereka pun harus
diberi kesempatan yang sama untuk membela perkaranya di hadapan
badan arbitrase. Dalam berbagai sistem hukum di dunia, tidak ada
ketentuan yang dapat mengenyampingkan prinsip ini.
Ad. iv. Preferential Treatment
Prinsip ini sebenarnya adalah pengecualian terhadap prinsip
non-diskriminasi. Prinsip ini biasanya diterapkan di antara
negara-negara yang memiliki hubungan politis atau ekonomis.
Berdasarkan prinsip ini suatu negara dapat saja memberikan
perlakuan khusus yang lebih menguntungkan (preferential
treatment) kepada suatu negara daripada kepada negara lainnya.
14

Biasanya perlakuan demikian diberikan kepada negara-negara
yang sedang berkembang atau miskin. Perlakuan berbeda dan khusus
biasa juga diberikan kepada negara-negara yang memiliki
keterkaitan sejarah sebelumnya. Misalnya, negara-negara eks
jajahan atau eks-koloninya.
d. Resolusi-resolusi Organisasi Internasional
Dewasa ini berbagai organisasi internasional acap kali pula
mengeluarkan keputusan-keputusan berupa resolusi-resolusi yang
sifatnya tidaklah mengikat. Daya mengikat resolusi-resolusi
seperti ini biasanya disebut juga sebagai soft-law. Karena memang
negara-negara pesertanya tidak menginginkan keputusan-keputusan

14
Han Van Houtte, op.cit., hlm. 8.

10
yang dibuat oleh organisasi internasional tidak mengikat mereka
secara hukum.
Tetapi resolusi-resolusi yang dikeluarkan oleh organisasi
internasional kadang kala juga mengikat. Salah satu contoh
instrumen terkenal yang dipandang soft-law oleh negara-negara
(maju) tetapi ternyata daya berlakunya sangat luas adalah Piagam
Hak-hak dan Kewajiban Ekonomi Negara-negara (Charter on the
Economic Rights and Duties of States atau CERDS). Sepertiga
bagian (11 pasal) dari dari keseluruhan pasal Piagam ini mengatur
mengenai perdagangan internasional.
Meskipun CERDS bersifat soft law, namun jiwa dan nilai-
nilai hukum yang terdapat di dalamnya berpengaruh cukup luas
terhadap aturan-aturan atau perjanjian-perjanjian internasional
yang lahir kemudian.
15



15
Lihat lebih lanjut, Huala Adolf, Hukum Ekonomi Internasional: Suatu
Pengantar, Jakarta: Rajawali Pers, cet. 3, 2003.

11
2. Hukum Kebiasaan Internasional
Sebagai suatu sumber hukum, hukum kebiasaan perdagangan
merupakan sumber hukum yang dapat dianggap sebagai sumber hukum
yang pertama-tama lahir dalam hukum perdagangan internasional.
Dari awal perkembangannya, yang disebut dengan hukum perdagangan
internasional justru lahir dari adanya praktek-praktek para
pedagang yang dilakukan berulang-ulang sedemikian rupa sehingga
kebiasaan yang berulang-ulang dengan waktu yang relatif lama
tersebut menjadi mengikat.
16

Dalam studi hukum perdagangan internasional, sumber hukum
ini disebut juga sebagai lex mercatoria atau hukum para pedagang
(the law of the merchants). Istilah ini logis karena memang para
pedagang-lah yang mula-mula ‘menciptakan’ aturan hukum yang
berlaku bagi mereka untuk transaksi-transaksi dagang mereka.
Contoh (lembaga hukum) yang mula-mula para pedagang lakukan dan
kembangkan adalah barter
17
dan counter-trade.
Suatu kebiasaan tidak selamanya menjadi mengikat dan
karenanya menjadi hukum. Suatu praktek kebiasaan untuk menjadi
mengikat harus memenuhi syarat-syarat berikut:
(1) Suatu praktek yang berulang-ulang dilakukan dan diikuti oleh
lebih dari dua pihak (praktek negara); dan
(2) Praktek ini diterima sebagai mengikat (opnio iuris sive
necessitatis).
Ketentuan Lex Mercatoria dapat ditemukan antara lain di
dalam kebiasaan-kebiasaan yang berkembang dan dituangkan dalam

16
Tetapi, bandingkan dengan pendapat sarjana yang menyatakan bahwa
hukum kebiasaan internasional hanya memiliki peran yang terbatas
(misalnya Zamora atau Heutte, dalam Hans van Houtte, op.cit., hlm. 10).
Houtte berpendapat bahwa “… international customary law has a role
(albeit a limited one) to play in international and finance law”.
Penulis sependapat dengan Booysen yang berpendapat bahwa: “Because of
the frequency of contact between states in international trade,
customary law is and should be very relevant.” (Hercules Booysen,
op.cit., hlm. 58).
17
Michelle Sanson, Essential International Trade Law, Sydney:
Cavendish, 2002, hlm. 6.

12
kontrak-kontrak perdagangan internasional, misalnya berupa
klausul-klausul kontrak standar (baku), atau kontrak-kontrak di
bidang pengangkutan (maritim).
Kontrak-kontrak atau klausul kontrak perdagangan yang
biasanya dirancang oleh asosiasi atau organisasi perdagangan
tertentu (misalnya oleh ICC, FIDIC, dll) dan diikuti oleh anggota
dari organisasi atau asosiasi tersebut.
Kebiasaan-kebiasaan perdagangan memiliki peran yang sangat
penting di dalam sesuatu transaksi perdagangan internasional.
Misalnya, kebiasaan tersebut terkodifikasi dalam kontrak
konstruksi atau pengiriman barang, fob, cif, dll.
Masalah utama yang menjadi ganjalan bagi pemberlakuan lex
mercatoria ini adalah masih disangsikannya kekuatan mengikatnya.
Seperti dapat dimaklumi, bagi para pedagang atau pelaku
perdagangan, daya atau kekuatan mengikat lex mercatoria tidaklah
sulit bagi mereka. Mereka secara sukarelah menaati dan
melaksanakan serta memandangnya mengikat karena merekalah yang
menciptakannya.
Kekuatan mengikat karena kebiasaan praktek perdagangan ini
sebenarnya juga diakui oleh berbagai hukum nasional. Tidaklah
sulit menemukan hukum nasional mengakui kekuatan hukum adanya
praktek kebiasaan ini. Hukum Indonesia misalnya mengakui praktek
kebiasaan ini. Pasal 1339 tentang akibat suatu perjanjian
misalnya menyatakan:
“Suatu perjanjian tidak hanya mengikat untuk hal-hal yang
dengan tegas dinyatakan di dalamnya, tetapi juga untuk
segala sesuatu yang menurut sifat perjanjian, diharuskan
oleh kepatutan, kebiasaan atau undang-undang.” (Huruf
miring oleh penulis).
Bunyi pasal di atas secara tegas mengakui kebiasaan. Tetapi
khusus untuk kebiasaan internasional, banyak negara yang
mengambil jarak. Bahkan untuk kebiasaan dagang internasional
seperti ini, pengadilan tidak jarang masih mempertanyakan
keabsahannya.

13
Pendirian ini antara lain disebabkan karena kebiasaan
perdagangan internasional, meskipun terkodifikasi oleh upaya
lembaga-lembaga internasional seperti ICC atau Kamar Dagang
Internasional, UNCITRAL, dll., bukanlah bersifat perjanjian
internasional. Aturan-aturan internasional yang dibuat oleh ICC
menurut badan pengadilan dapat digolongkan soft-law. Aturannya
tidak mengikat. Misalnya, ICC merumuskan UCP 500 untuk Letter of
Credit. UCP 500 tidak mensyaratkan ratifikasi oleh negara-negara
untuk mengikat.
18
Karena sifatnya itu pula, UCP tidak pernah
meletakkan kewajiban bagi negara untuk terikat terhadapnya.
19



18
Hal ini logis saja karena ICC adalah lembaga yang anggotanya adalah
swasta, bukan negara. Lihat pula: Clive Schmitthoff, op.cit., hlm. 27.
19
Di negara-negara sedang berkembang yang pengadilannya masih kental
menganut aliran positif hukum, kerap kali memandang bahwa setiap aturan
yang tidak dibuat sesuai dengan konstitusi, misalnya melalui proses
pengundangan suatu ketentuan secara formal, misalnya melalui pengumuman
di lembaran negara, bukanlah hukum dan karenanya tidak mengikat. Uraian
lebih lanjut mengenai lex mercatoria lihat: Huala Adolf, Arbitrase
Komersial Internasional, Jakarta: Rajawali pers, cet. 3., 2003.

14
3. Prinsip-prinsip Hukum Umum
Sebenarnya apa yang dimaksud dengan prinsip-prinsip hukum
umum belum ada pengertian yang diterima luas. Peran sumber hukum
ini biasanya diyakini lahir baik dari sistem hukum nasional
maupun hukum internasional.
Sumber hukum ini akan mulai berfungsi manakala hukum
perjanjian (internasional) dan hukum kebiasaan internasional
tidak memberi jawaban atas sesuatu persoalan. Karena itu prinsip-
prinsip hukum umum ini dipandang sebagai sumber hukum penting
dalam upaya mengembangkan hukum,
20
termasuk sudah barang tentu
hukum perdagangan internasional.
Beberapa contoh dari prinsip-prinsip hukum umum ini antara
lain adalah prinsip itikad baik, prinsip pacta sunt servanda, dan
prinsip ganti rugi.
21
Ketiga prinsip ini terdapat dan diakui dalam
hampir semua sistem hukum di dunia,
22
dan terdapat pula dalam
hukum (perdagangan) internasional.



20
Hercules Booysen, International Trade Law on Goods and Services,
Pretoria: Interlegal, 1999, hlm 58.
21
Sanson, op.cit., hlm. 6.
22
Sanson, op.cit., hlm. 6.

15
4. Putusan-putusan Badan Pengadilan dan Doktrin
Sumber hukum ke-4 ini tampaknya memiliki fungsi dan peran
pelengkap seperti halnya prinsip-prinsip hukum umum. Sumber hukum
ini akan memainkan perannya apabila sumber-sumber hukum terdahulu
tidak memberi kepastian atau jawaban atas suatu persoalan hukum
(di bidang perdagangan internasional).
Putusan-putusan pengadilan dalam hukum perdagangan
internasional tidak memiliki kekuatan hukum yang kuat seperti
yang dikenal dalam sistem hukum Common Law (Anglo Saxon).
Statusnya sedikit banyak sama seperti yang kita kenal dalam
sistem hukum kontinental (Civil Law). Bahwa putusan pengadilan
sebelumnya hanya untuk dipertimbangkan. Jadi ada semacam
‘kewajiban’ yang tidak mengikat bagi badan-badan pengadilan untuk
mempertimbangkan putusan-putusan pengadilan sebelumnya (dalam
sengketa yang terkait dengan perdagangan internasional).
Sifat putusan pengadilan ini ditegaskan dalam sengketa
Japan-Taxes on Alcoholic Beverages yang diputus oleh Badan
Penyelesaian Sengketa (DSB atau Dispute Settlement Body) WTO.
Dalam tahap banding di DSB, Badan Banding (Appellate Body) antara
lain menyatakan:
“Adopted panel reports ... are often considered by
subsequent panels. They create legitimate expectations
among WTO members, and, therefore, should be taken into
account where they are relevant to any dispute.”
23
[Huruf
miring oleh penulis].
Begitu pula dengan doktrin, yaitu pendapat-pendapat atau
tulisan-tulisan sarjana terkemuka (dalam hal ini di bidang hukum
perdagangan internasional). Peran dan fungsinya cukup penting
dalam menjelaskan sesuatu hukum perdagangan internasional. Bahkan
doktrin dapat pula digunakan untuk menemukan hukum.
24
Doktrin ini
penting manakala sumber-sumber hukum sebelumnya ternyata juga

23
Japan - Taxes on Alocholic Beverages, [WT/DS8, 10,11/AB/R, 4 October
1996, hlm. 15; terkutip dalam Booysen, op.cit., hlm. 61.
24
Hercules Booysen, op.cit., hlm. 62.

16
tidak jelas atau tidak mengatur sama sekali mengenai suatu hal di
bidang perdagangan internasional.
25



25
Michelle Sanson, op.cit., hlm. 7.

17
5. Kontrak
Sumber hukum perdagangan internasional yang sebenarnya
merupakan sumber utama dan terpenting adalah perjanjian atau
kontrak yang dibuat oleh para pedagang sendiri. Seperti kita
dapat pahami, kontrak tersebut adalah ‘undang-undang’ bagi para
pihak yang membuatnya.
26

Dapat pula kita sadari bahwa para pelaku perdagangan
(pedagang) atau stake-holders dalam hukum perdagangan
internasional dalam melakukan transaksi-transaksi perdagangan
internasional, mereka menuangkannya dalam perjanjian-perjanjian
tertulis (kontrak). Karena itu, kontrak adalah sangat esensial.
Karena itu kontrak berperan sebagai sumber hukum yang perlu dan
terlebih dahulu mereka jadikan acuan penting dalam melaksanakan
hak dan kewajiban mereka dalam perdagangan internasional.
Dalam hukum kontrak, kita mengenal penghormatan dan
pengakuan terhadap prinsip konsensus dan kebebasan para pihak
(party autonomy). Syarat-syarat perdagangan dan hak serta
kewajiban para pihak seluruhnya diserahkan kepada para pihak dan
hukum menghormati kesepakatan ini yang tertuang dalam perjanjian.
Meskipun kebebasan para pihak sangatlah esensial, namun
kebebasan tersebut ada batas-batasnya. Ia tunduk pada berbagai
pembatasan yang melingkupinya. Pertama, pembatasan yang utama
adalah bahwa kebebasan tersebut tidak boleh bertentangan dengan
undang-undang, dan dalam taraf tertentu, dengan ketertiban umum,
kesusilaan, dan kesopanan.
Pembatasan kedua adalah status dari kontrak itu sendiri.
Kontrak dalam perdagangan internasional tidak lain adalah kontrak
nasional yang ada unsur asingnya.
27
Artinya, kontrak tersebut,

26
Cf., Alinea pasal 1 Pasal 1338 KUH Perdata: “Semua perjanjian yang
dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang
membuatnya.”
27
Sudargo Gautama, Kontrak Dagang Internasional, Bandung: Alumni, 1976
(Gautama menyatakan bahwa kontrak dengan orang asing adalah kontrak
yang terdapat unsur asing atau foreign element).

18
meskipun di bidang perdagangan internasional, sedikit banyak
tunduk dan dibatasi oleh hukum nasional (suatu negara tertentu).
28

Ketiga, menurut Sanson, pembatasan lain yang juga penting
dan mengikat para pihak adalah kesepakatan-kesepakatan atau
‘kebiasaan’ dagang yang sebelumnya dilakukan oleh para pihak yang
bersangkutan. Daya mengikat kesepakatan-kesepakatan sebelumnya
ini meskipun tidak tertulis tetapi mengikat ini, digambarkannya
sebagai berikut:
“In addition to the contractual terms agreed by the
parties, the course of past dealings between traders may
result in terms becoming part of an agreement between them.
These past dealings, or trade ‘usages’ between the parties,
may apply to the contractual relationship despite their not
being incorporated into it in written form.”
29




28
Michelle Sanson, op.cit., hlm. 7.
29
Michelle Sanson, op.cit., hlm. 7; lihat pula Hans van Houtte,
op.cit., hlm. 12 (Houtte menekankan bukan kontrak yang dibuat oleh para
pedagang, tetapi kontrak-kontrak negara (state contracts).

19
6. Hukum Nasional
Signifikansi hukum nasional sebagai sumber hukum dalam
hukum perdagangan internasional tampak dalam uraian mengenai
kontrak sebagai sumber hukum perdagangan internasional di atas.
Peran hukum nasional ini antara lain akan mulai lahir manakala
timbul sengketa sebagai pelaksanaan dari kontrak. Dalam hal
demikian ini maka pengadilan (badan arbitrase) pertama-tama akan
melihat klausul pilihan hukum dalam kontrak untuk menentukan
hukum yang akan digunakan untuk menyelesaikan sengketanya.
Peran hukum nasional sebenarnya sangatlah luas dari sekedar
mengatur kontrak dagang internasional. Peran signifikan dari
hukum nasional lahir dari adanya jurisdiksi (kewenangan) negara.
Kewenangan ini sifatnya mutlak dan eksklusif. Artinya, apabila
tidak ada pengecualian lain, maka kekuasaan itu tidak dapat
diganggu gugat.
Jurisdiksi atau kewenangan tersebut adalah kewenangan suatu
negara untuk mengatur segala (a) peristiwa hukum, (b) subyek
hukum, dan (c) benda yang berada di dalam wilayahnya. Kewenangan
mengatur ini mencakup membuat hukum (nasional) baik yang sifatnya
hukum publik maupun hukum perdata (privat).
Kewenangan atas peristiwa hukum di sini dapat berupa
transaksi jual beli dagang internasional, atau transaksi dagang
internasional. Dalam hal ini maka hukum nasional yang dibuat
suatu negara dapat mencakup hukum perpajakan, kepabeanan,
ketenaga-kerjaan, persaingan sehat, perlindungan konsumen,
kesehatan, perlindungan HAKI (intellectual property rights),
hingga perizinan ekspor-impor suatu produk.
Kewenangan atas subyek hukum (pelaku atau stake-holders)
dalam perdagangan internasional, mencakup kewenangan negara dalam
membuat dan meletakkan syarat-syarat (dan izin) berdirinya suatu
perusahaan, bentuk-bentuk perusahaan beserta syarat-syaratnya,
hingga pengaturan pengakhiran perusahaan (dalam hal perusahaan
pailit, dsb).

20
Kewenangan suatu negara untuk mengatur atas suatu benda
yang berada di dalam wilayahnya mencakup pengaturan obyek-obyek
apa saja yang dapat atau tidak dapat untuk diperjual-belikan.
Termasuk di dalamnya adalah larangan untuk masuknya produk-produk
yang dianggap membahayakan moral, kesehatan manusia, tanaman,
lingkungan, produk tiruan, dll.


21
C. Penutup
Sumber-sumber hukum perdagangan internasional adalah materi
bahasan yang penting. Dari sumber-sumber inilah kita dapat
menemukan hukum perdagangan internasional. Dari sumber-sumber
inilah kita dapat mengomentari, menganalisis dan menilai sesuatu
persoalan dalam hukum perdagangan internasional.
Dibanding dengan sumber-sumber hukum konvensional yang
terdapat dalam hukum internasional, dalam hukum perdagangan
internasional dapat ditemui sumber-sumber yang dibuat secara
khusus oleh para pihak (aktor) dalam perdagangan internasional.
Sumber hukum ini yaitu kontrak (dan kebiasaan-kebiasaan dagang)
memang sesungguhnya adalah hukum bagi para pihak yang membuatnya.
Pengakuan terhadap kontrak sebagai salah satu sumber dalam
hukum perdagangan internasional mencerminkan dua hal berikut.
Pertama, kontrak sebagai salah satu sumber hukum perdagangan
internasional merefleksikan unsur private law nature dari hukum
perdagangan internasional.
Kedua, kontrak sebagai salah satu sumber dari hukum
perdagangan internasional mencerminkan saling keterkaitan antara
bidang hukum perdagangan internasional dengan bidang hukum lain,
khususnya hukum kontrak internasional di samping hukum
internasional, hukum ekonomi internasional, hukum penanaman
modal, dll.



22

DAFTAR PUSTAKA
Booysen, Hercules Booysen, International Trade Law on Goods and
Services, Pretoria: Interlegal, 1999.
Carr, Indira and Richard Kidner, Statutes and Convention on
International Trade Law, London: Cavendish, 1993.
D’Amato, Anthnoy, dan Doris Estelle Long, International
Intellectual Property Law, The Hague: Kluwer, 1997.
Houtte, Hans Van, The Law of International Trade, London: Sweet
and Maxwell, 1995.
Huala Adolf, Arbitrase Komersial Internasional, Jakarta: Rajawali
pers, cet. 3., 2003.
Huala Adolf, Hukum Ekonomi Internasional: Suatu Pengantar,
Jakarta: Rajawali Pers, cet. 3, 2003.
Sanson, Michelle, Essential International Trade Law, Sydney:
Cavendish, 2002.
Schmitthoff, Clive M., Commercial Law in a Changing Economic
Climate, London: Sweet and Maxwell, 1981.
Sudargo Gautama, Kontrak Dagang Internasional, Bandung: Alumni,
1976.

1
BAB IV
ATURAN-ATURAN HUKUM PERDAGANGAN MENURUT GATT
A. Pengantar
Salah satu sumber hukum yang penting dalam hukum
perdagangan internasional adalah Persetujuan Umum mengenai Tarif
dan Perdagangan (General Agreement on Tariff and Trade atau
GATT). Muatan di dalamnya tidak saja penting dalam mengatur
kebijakan perdagangan antar negara tetapi juga dalam taraf
tertentu aturannya menyangkut pula aturan perdagangan antara
pengusaha. Contoh yang terakhir ini adalah pengaturan mengenai
barang tiruan atau kepabeanan.
GATT dibentuk pada Oktober tahun 1947. Lahirnya WTO pada
tahun 1994 membawa dua perubahan yang cukup penting bagi GATT.
Pertama, WTO mengambil alih GATT dan menjadikannya salah satu
lampiran aturan WTO. Kedua, prinsip-prinsip GATT menjadi kerangka
aturan bagi bidang-bidang baru dalam perjanjian WTO, khususnya
Perjanjian mengenai Jasa (GATS), Penanaman Modal (TRIMs), dan
juga dalam Perjanjian mengenai Perdagangan yang terkait dengan
Hak Atas Kekayaan Intelektual (TRIPs).
Tujuan pembentukan GATT adalah untuk menciptkan suatu iklim
perdagangan internasional yang aman dan jelas bagi masyarakat
bisnis, serta untuk menciptakan liberalisasi perdagangan yang
berkelanjutan, lapangan kerja dan iklim perdagangan yang sehat.
Untuk mencapai tujuan itu, sistem perdagangan internasional yang
diupayakan GATT adalah sistem yang dapat meningkatkan pertumbuhan
ekonomi dan pembangunan di seluruh dunia.
1

Tujuan utama GATT dapat tampak dengan jelas pada preambule-
nya. Pada pokoknya ada empat tujuan penting yang hendak dicapai
GATT:
1) meningkatkan taraf hidup umat manusia;

1
Olivier Long, Law and Its Limitations in the GATT Multilateral Trade
System, Martinus Nijhoff Publishers, 1987, hlm. 101.
2
2) meningkatkan kesempatan kerja;
3) meningkatkan pemanfaatan kekayaan alam dunia; dan
4) meningkatkan produksi dan tukar menukar barang.
Ada tiga fungsi utama GATT dalam mencapai tujuannya:
pertama, sebagai suatu perangkat ketentuan (aturan) multilateral
yang mengatur transaksi perdagangan yang dilakukan oleh negara-
negara anggota GATT dengan memberikan suatu perangkat ketentuan
perdagangan (the ‘rules of the road’ for trade).
Kedua, sebagai suatu forum (wadah) perundingan perdagangan.
Di sini diupayakan agar praktek perdagangan dapat dibebaskan dari
rintangan-rintangan yang mengganggu (liberalisasi perdagangan).
Selain itu, GATT mengupayakan agar aturan atau praktek
perdagangan demikian itu menjadi jelas (predictable) baik melalui
pembukaan pasar nasional atau melalui penegakan dan
penyebarluasan pemberlakuan peraturannya.
Dalam perundingan tersebut, keputusan-keputusan mengenai
materi-materi yang penting khususnya yang menyangkut ketentuan-
ketentuan atau pasal-pasal GATT, keputusannya dibuat berdasarkan
mayoritas biasa (Pasal XXV). Namun pada umumnya keputusan-
keputusan demikian diambil tanpa harus mengikuti suatu cara
pengambilan putusan yang formal: umumnya keputusan diambil
berdasarkan konsensus.
2

Sejak berdiri, GATT telah mensponsori berbagai macam
perundingan-perundingan utama/pokok yang biasanya disebut juga
dengan istilah putaran (rounds). Tujuan dari putaran atau
perundingan ini bertujuan untuk mempercepat liberalisasi
perdagangan internasional.
Putaran perundingan perdagangan ini mempunyai keuntungan-
keuntungan sebagai berikut:

2
Gunther Jaenicke, “General Agreement om Tariffs and Trade (1946),
dalam Bernhard (ed)., Encyclopedia of Public International Law,
Instalment 5 (1983), hlm. 21.
3
Pertama, perundingan perdagangan memungkinkan para pihak
secara bersama-sama dapat memecahkan masalah-masalah perdagangan
yang cukup luas;
Kedua, para pihak akan lebih mudah membahas komitmen-
komitmen perdagangan di suatu putaran perundingan daripada
membahasnya dalam lingkup bilateral;
Ketiga, negara-negara sedang berkembang dan negara-negara
kurang maju akan lebih memiliki kesempatan yang lebih luas dalam
membahas sistem perdagangan multilateral dalam lingkup suatu
perundingan dan akan lebih menguntungkan negara-negara sedang
berkembang dibandingkan apabila mereka berunding langsung dengan
negara-negara maju; dan
Keempat, dalam merundingkan sektor perdagangan dunia yang
sensitif, pembahasan atau perundingan akan relatif dapat lebih
mudah dalam konteks suatu forum yang sifatnya global. Misalnya
adalah pembahasan isu pertanian dalam Perundingan Uruguay.
3

Putaran-putaran pertama GATT pada umumnya difokuskan kepada
upaya penurunan tarif. Penurunan tarif ini sudah berlangsung
sejak pembentukan GATT pada tahun 1947. Sejak tahun 1947, putaran
yang telah dilaksanakan adalah Putaran Jenewa (1947 – diikuti
oleh 23 negara); Putaran Annecy-Perancis (1947 – 13 negara);
Putaran Torquay-Inggris (1951 – 38 negara); Putaran Jenewa (1956
– 26 negara); Putaran Jenewa atau Putaran Dillon (1960-61 – 26
negara). Proses liberalisasi perdagangan ini terus berlanjut
dalam putaran-putaran berikutnya, yaitu Putaran Kennedy (1964-67
diikuti oleh 62 negara yang khusus membahas tarif dan anti-
dumping), Putaran Tokyo (1973-1979, diikuti 102 negara) dan
Putaran Uruguay (1986 – 1994 diikuti oleh 123 negara).
Putaran Tokyo (1973 – 1979) dapat pula dianggap sebagai
putaran yang terpenting sebelum Putaran Uruguay. Putaran Tokyo
dipandang sebagai suatu ‘percobaan pertama’ yang berupaya
mereformasi sistem perdagangan internasional.

3
WTO, The Roots of the WTO, No. Publ., 1996, hlm. 1.
4
Seperti umumnya putaran-putaran perdagangan GATT
sebelumnya, Putaran Tokyo bertujuan untuk terus menurunkan tarif
secara progresif. Di akhir perundingan, negara-negara sepakat
untuk memotong 1/3 dari tingkat tarif yang berlaku pada waktu
itu. Putaran Tokyo mengalami kegagalan dan beberapa kesepakatan.
Kegagalan yang dialaminya antara lain, tidak tercapainya
kesepakatan negara-negara mengenai masalah-masalah yang melilit
sektor pertanian dan kegagalan untuk membuat rumusan aturan
mengenai ‘safeguards’, (tindakan-tindakan pengamanan).
Keberhasilan Putaran Tokyo yang patut dicatat antara lain
tercapainya serangkaian kesepakatan aturan-aturan GATT, dan
berhasilnya dicapainya 9 kesepakatan lainnya yakni :
1) Subsidi dan tindakan balasan (Subsidies and countervalling
measures), yakni kesepakatan yang menafsirkan Pasal VI,
XVI dan XXIII GATT;
2) Rintangan-rintangan teknik terhadap perdagangan (technical
barrier to trade), yang kadang-kala disebut pula sebagai
‘Standard Code’);
3) Prosedur lisensi impor;
4) Kesepakatan mengenai pengadaan barang dan jasa pemerintah
(Government procurement);
5) Penaksiran bea cukai (Customs Valuation) yang menafsirkan
pasal VII GATT;
6) Anti-Dumping, yang menafsirkan Pasal VI dan menggantikan
the Kennedy Round Anti-Dumping Code;
7) Pengaturan mengenai daging olahan (Bovine Meat
Arrangement);
8) Perdagangan dalam pesawat udara sipil (Trade in Civil
Aircraft).
Pada waktu putaran Tokyo dirampungkan, hanya sedikit negara
yang mengikatkan diri kepada perjanjian-perjanjian atau
5
kesepakatan hasil putaran Tokyo tersebut. Itu pun umumnya adalah
negara-negara maju saja.
Di putaran Uruguay, sebagian dari kesepakatan tersebut di
atas telah mengalami pembahasan dan perluasan. Kesepakatan-
kesepakatan mengenai subsidi dan countervailing measures,
rintangan-rintangan teknis terhadap perdagangan, lisensi impor,
penaksiran bea cukai dan kesepakatan anti-dumping sekarang telah
terlebur ke dalam komitmen WTO.

Hal tersebut berarti bahwa semua negara anggota WTO mau
tidak mau tunduk dan terikat terhadap semua kesepakatan atau
perjanjian tersebut. Sedangkan kesepakatan mengenai pengadaan
barang-barang bagi pemerintah (government procurement), bovine
meat, dairy products dan pesawat udara sipil masih tetap berada
di bawah kesepakatan ‘plurilateral’ yang sifatnya terbuka bagi
negara anggota WTO untuk tunduk atau tidak (sukarela) terhadap
kesepakatan-kesepakatan yang disebut terakhir tersebut. Fungsi
ketiga GATT adalah sebagai suatu ‘pengadilan’ internasional
dimana para anggotanya menyelesaikan sengketa dagangnya dengan
anggota-anggota GATT lainnya.
Fungsi penyelesaian sengketa ini sifatnya penting dan
pengaturannya mengalami perkembangan yang menarik. Telah
dikemukakan di atas, GATT semula hanyalah aturan kesepakatan
mengenai perdagangan internasional. GATT bukan lembaga khusus
yang dilengkapi dengan badan khusus atau aturan khusus tentang
penyelesaian sengketa perdagangan multilateral.

B. Sejarah GATT
GATT dibentuk sebagai suatu dasar (atau wadah) yang
sifatnya sementara setelah Perang Dunia II. Pada masa itu timbul
6
kesadaran masyarakat internasional akan perlunya suatu lembaga
multilateral di samping Bank Dunia dan IMF.
4

Kebutuhan akan adanya suatu lembaga multilateral yang
khusus ini pada waktu itu sangat dirasakan benar. Pada waktu itu
masyarakat internasional menemui kesulitan untuk mencapai kata
sepakat mengenai pengurangan dan penghapusan berbagai pembatasan
kuantitatif serta diskriminasi perdagangan. Hal ini dilakukan
untuk mencegah terulangnya praktek proteksionisme yang
berlangsung pada tahun 1930-an yang memukul perekonomian dunia.
5

Seperti disebutkan di muka, pada waktu pembentukannya,
negara-negara yang pertama kali menjadi anggota adalah 23 negara.
Ke-23 ini juga yang membuat dan merancang Piagam International
Trade Organization (Organisasi Perdagangan Internasional) yang
pada waktu itu direncanakan sebagai suatu badan khusus PBB.
Piagam tersebut dimaksudkan bukan saja untuk memberikan
ketentuan-ketentuan atau aturan-aturan dalam perdagangan dunia
tetapi juga membuat keputusan-keputusan mengenai ketenagakerjaan
(employment), persetujuan komoditi, praktek-praktek restriktif
(pembatasan) perdagangan, penanaman modal internasional dan jasa.
Benih sejarah pembentukan GATT sebenarnya berawal dari pada waktu
ditandatanganinya Piagam Atlantik (Atlantic Charter) pada bulan
Agustus 1941. Salah satu tujuan dari piagam ini adalah
menciptakan suatu sistem perdagangan dunia yang didasarkan pada
non-diskriminasi dan kebebasan tukar menukar barang dan jasa.
Dengan tujuan tersebut, serangkaian pembahasan dan
perundingan telah berlangsung antara tahun 1943-1944, khususnya
antara Amerika Serikat, Inggris dan Kanada. Pada tanggal 6
Desember, Amerika Serikat pertama kalinya mengusulkan perlunya
pembentukan suatu Organisasi Perdagangan Internasional (ITO).
Tujuan organisasi ini, menurut versi Amerika Serikat pada
waktu itu, adalah untuk menciptakan liberalisasi perdagangan

4
Lihat Olivier Long,, Op.cit., hlm. 1.
7
secara bertahap, memerangi monopoli, memperluas permintaan
komoditi dan mengkoordinasi kebijakan perdagangan negara-negara.
6

Usul pembentukan suatu organisasi perdagangan ini disambut
baik oleh ECOSOC (Economic and Social Council). Badan khusus PBB
ini menyatakan keinginannya untuk menyelenggarakan suatu
konperensi. Untuk maksud itu, negara-negara berhasil membentuk
suatu komisi persiapan. Persidangan-persidangan komisi
berlangsung di London dari tanggal 18 Oktober sampai dengan 26
Desember 1946.
7
Komisi berhasil mengeluarkan suatu Rancangan
Piagam London (the London Draft Charter). Namun para anggota
peserta pertemuan ini gagal mencapai kata sepakat untuk
mengesahkan Rancangan Piagam tersebut.
Dengan adanya kegagalan ini kemudian negara-negara besar
tersebut membentuk suatu komisi perancang yang beranggotakan
Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Perancis dan negara-negara
Benelux. Tugas komisi ini adalah mencari rumusan baru untuk
merancang suatu organisasi perdagangan baru.
8

Komisi baru ini mengadakan pertemuan kedua yang berlangsung
di Lake Succes, New York dari tanggal 20 Januari sampai 25
Februari 1947. Pertemuan ini membahas masalah-masalah tertentu
atau terbatas saja. Pertemuan tidak membahas hal-hal penting.
9

Pertemuan penting diselenggarakan di Jenewa dari bulan
April sampai November 1947. Dari tanggal 10 April sampai dengan
22 Agustus, panitia persiapan melanjutkan tugasnya membuat
rancangan Piagam ITO, dan dari tanggal 10 April sampai 30
Oktober, perundingan-perundingan bilateral berlangsung antar
negara-negara anggota komisi, antara lain, Brazil, Burma, Ceylon,
Pakistan dan Rhodesia Selatan.

5
Lihat, M.A.G. Van Meerghaeghe, International Economic institutions,
The Netherlands: Kluwer, 1987, hlm. 101.
6
M.A.G. Van Meerghaeghe, Op.cit., hlm. 101.
7
M.A.G. Van Meerghaeghe, Op.cit., hlm. 101.
8
M.A.G. Van Meerghaeghe, Op.cit., hlm. 101.
9
John H. Jackson, et.al., The Legal Problems of International Economic
Relations,.St Paul Minn.: West, 1995, hlm. 32.
8
Hasil perundingan mengenai konsesi timbal balik (reciprocal
tariff concession) dicantumkan ke dalam GATT yang ditandatangani
pada tanggal 30 Oktober 1947. Hasil perundingan tersebut berisi
pula suatu kodifikasi sementara mengenai hubungan-hubungan
perdagangan di antara negara-negara penandatangan. Berdasarkan
persyaratan-persyaratan protokol tanggal 30 Oktober 1947, GATT
ditetapkan sejak tanggal 1 Januari 1948, sambil berlakunya ITO.
10

Pertemuan penting keempat berlangsung di Havana (21
November 1947 – 24 Maret 1948). Pertemuan ini membahas Piagam ITO
oleh delegasi dari 66 negara. Pertemuan berhasil mengesahkan
Piagam Havana. Namun sampai dengan pertengahan tahun 1950-an,
negara-negara peserta menemui kesulitan dalam meratifikasinya.
11

Hal ini lebih disebabkan karena Amerika Seriakt, pelaku
utama dalam perdagangan dunia, pada tahun 1958, menyatakan bahwa
negaranya tidak akan meratifikasi Piagam tersebut. Sejak itu
pulalah ITO secara efektif menjadi tidak berfungsi sama sekali.
Meskipun tidak pernah berlaku, namun minimnya ratifikasi
tersebut tidak menyebabkan GATT menjadi tidak berlaku. Para
perunding GATT mengeluarkan suatu perjanjian internasional baru
yaitu the Protocol of Provisional Application, yaitu suatu
protokol (perjanjian) yang memberlakukan GATT untuk sementara
(provisional). Sejak dikeluarkannya protokol inilah, GATT
kemudian terus berlaku sampai saat ini.
Pada tahun 1954 – 1955, teks GATT mengalami perubahan. Ada
dua perubahan penting yang terjadi. Pertama, dikeluarkannya
protokol yang merubah bagian 1 dan Pasal XXIX dan XXX dan
protokol yang merubah preambule dan bagian 2 dan 3. Protokol
pertama mensyaratkan penerimaan oleh semua negara peserta. Namun
karena Uruguay tidak meratifikasinya, protokol ini menjadi tidak

10
M.A.G. Van Meerghaeghe, Loc.cit.
11
Sampai dengan tahuan 1950-an, hanya dua negara saja yang
meratifikasi Piagam ini, yakni Liberia dan Australian (M.A.G. Van
Meerghaeghe, Op.cit., hlm. 102).
9
berlaku sejak tanggal 1 Januari 1968. Sedangkan protokol kedua
mulai berlaku sejak tanggal 28 November 1957.
Pada tahun 1965, GATT mendapat tambahan bagian baru, yaitu
bagian keempat. Bagian ini berlaku secara de facto tanggal 8
Februari 1965 dan mulai berlaku efektif tanggal 27 Juni 1965.
Bagian ini khusus mengatur kepentingan perluasan ekspor bagi
negara-negara sedang berkembang (Pasal XXXVI – XXXVIII).
12


C. Ketentuan-ketentuan Perdagangan dalam GATT.
Ketentuan-ketentuan perdagangan yang membentuk suatu sistem
perdagangan multilateral yang terkandung dalam GATT, memiliki 3
ketentuan utama. Pertama, dan yang paling penting adalah GATT itu
sendiri beserta ke-38 pasalnya.
Ketentuan kedua, yang dihasilkan dari perundingan putaran
Tokyo (Tokyo Round 1973-1979) adalah ketentuan-ketentuan yang
mencakup anti-dumping, subsidi dan ketentuan non-tarif atau
masalah-masalah sektoral. Meskipun keanggotaan pada ketentuan ke-
2 ini terbatas sifatnya, yaitu berkisar 30-an negara, namun
demikian negara-negara ini menguasai sebagian besar perdagangan
dunia.
13


12
M.A.G. Van Meerhaeghe, Op.cit., hlm. 103.
13
Putaran Tokyo menghasilkan 6 kesepakatan yang tertuang dalam dokumen
berjudul the Tokyo Round Codes. Keenam kesepakatan tersebut yaitu 1)
the Agreement on technical Barrier to Trade (Standards Code); yaitu
kesepakatan bahwa pemerintah maupun badan-badan lainnya dalam membuat
dan menerapkan peraturan dan standar teknis, tidak menimbulkan hambatan
terhadap perdagangan; 2) the Agreement on Government Procurement, yaitu
kesepakatan mengenai jaminan terlaksananya kesempatan secara
internasional yang lebih luas dalam tender untuk mendapatkan kontrak-
kontrak pemerintah; 3) the Agreement on Interpretation and Application
of Article VI, XVI and XXIII (Subsidies Codes), yaitu kesepakatan untuk
menjamin bahwa setiap pelaksanaan kebijakan subsidi tidak menimbulkan
akibat negatif terhadap perdagangan negara lain; 4) the Agreement on
Implementation of Article VII (Customs Valuation Code), yaitu
kesepakatan mengenai sistem penilaian barang yang netral, seragam dan
adil untuk kepentingan bea dan cukai; 5) the Agreement on Import
Licensing Procedures, yaitu kesepakatan mengenai jaminan bahwa
pemberian lisensi tidak menimbulkan hambatan terhadap impor; dan
terakhir, 6) the Agreement on Implementation of Article VI (Anti
Dumping Code), yakni kesepakatan mengenai perubahan Anti Dumping Code
10
Yang ketiga adalah ketentuan mengenai “multi fibre
arrangements”. Ketentuan ini merupakan pengecualian terhadap
ketentuan-ketentuan GATT umumnya terutama menyangkut tekstil dan
pakaian.

D. Prinsip-prinsip GATT.
Untuk mencapai tujuan-tujuannya, GATT berpedoman pada 5
prinsip utama. Prinsip yang dimaksud adalah:
1. Prinsip most-favoured-nation.
Prinsip ‘most-favoured-nation (MFN) ini termuat dalam pasal
I GATT. Prinsip ini menyatakan bahwa suatu kebijakan perdagangan
harus dilaksanakan atas dasar non-diskriminatif. Menurut prinsip
ini, semua negara anggota terikat untuk memberikan negara-negara
lainnya perlakuan yang sama dalam pelaksanaan dan kebijakan impor
dan ekspor serta yang menyangkut biaya-biaya lainnya.
14

Perlakuan yang sama tersebut harus dijalankan dengan segera
dan tanpa syarat (‘immediately and unconditionally’) terhadap
produk yang berasal atau yang diajukan kepada semua anggota
GATT.
15
Karena itu sesuatu negara tidak boleh memberikan perlakuan
istimewa kepada negara lainnya atau melakukan tindakan
diskriminasi terhadapnya. Prinsip ini tampak dalam pasal 4
perjanjian yang terkait dengan hak kekayaan intelektual (TRIPS)
dan tercantum pula dalam pasal 2 Perjanjian mengenai Jasa (GATS).
Pendek kata, semua negara harus diperlakukan atas dasar
yang sama dan semua negara menikmati keuntungan dari suatu
kebijaksanaan perdagangan. Namun demikian, dalam pelaksanaannya

yang dihasilkan pada Putaran Kennedy (1964 – 1967). (Departemen
Perdagangan RI, GATT dan Uruguay Round, Seri Informasi Perdagangan
Internasional no. 14, 1993/1994, hlm. 7-9).
14
Cf. Olivier Long, Op.cit., hlm. 8-11.
15
Gunther Jaenicke, Op.cit., hlm. 22. Namun demikian prinsip ini tidak
berlaku terhadap transaksi-transaksi komersial di antara anggota GATT
yang secara teknis bukan merupakan impor atau ekspor ‘produk-produk’
seperti pengangkutan internasional, pengalihan paten, lisensi dan hak-
hak tak berwujud lainnya atau aliran modal.
11
prinsip ini mendapat pengecualian-pengecualiannya, khususnya
dalam menyangkut kepentingan negara sedang berkembang.
Jadi, berdasarkan prinsip itu, suatu negara anggota pada
pokoknya dapat menuntut untuk diperlakukan sama terhadap produk
impor dan ekspornya di negara-negara anggota lain. Namun demikian
ada beberapa pengecualian terhadap prinsip ini.
Pengecualian tersebut sebagian ada yang ditetapkan dalam
pasal-pasal GATT itu sendiri dan sebagian lagi ada yang
ditetapkan dalam putusan-putusan dalam konperensi-konperensi GATT
melalui suatu penanggalan (waiver) dan prinsip-prinsip GATT
berdasarkan Pasal XXV. Pengecualian yang dimaksud adalah:
(a) keuntungan yang diperoleh karena jarak lalu lintas
(frontier traffic advantage), tidak boleh dikenakan
terhadap anggota GATT lainnya (Pasal VI);
(b) perlakuan preferensi di wilayah-wilayah tertentu
yang sudah ada (misalnya kerjasama ekonomi dalam ‘British
Commonwealth’; the French Union (Perancis dengan negara-
negara bekas koloninya); dan Banelux (Banelux Economic
Union), tetap boleh terus dilaksanakan namun tingkat
batas preferensinya tidak boleh dinaikan (Pasal I ayat 2-
4);
(c) anggota-anggota GATT yang membentuk suatu Customs
Union atau Free Trade Area yang memenuhi persyaratan
Pasal XXIV tidak harus memberikan perlakuan yang sama
kepada negara anggota lainnya.
Untuk negara-negara yang membentuk pengaturan-
pengaturan preferensial regional dan bilateral yang tidak
memenuhi persyaratan Pasal XXIV, dapat membentuk
pengecualian dengan menggunakan alasan ‘penanggalan’
(waiver) terhadap ketentuan GATT.
Penanggalan ini dapat pula dilakukan atau diminta oleh
suatu negara anggota. Menurut prinsip ini suatu negara
dapat, manakala ekonominya atau keadaan perdagangannya
12
dalam keadaan yang sulit, dapat memohon pengecualian dari
kewajiban tertentu yang ditetapkan oleh GATT.
(d) pemberian prefensi tarif olef negara-negara maju
kepada produk impor dari negara yang sedang berkembang
atau negara-negara yang kurang beruntung (least
developed) melalui fasilitas Generalised System of
Preference (sistem preferensi umum).
16

Pengecualian lainnya adalah apa yang disebut dengan
ketentuan ‘pengamanan’ (safeguard rule). Pengecualian ini
mengakui bahwa suatu pemerintah, apabila tidak mempunyai upaya
lain, dapat melindungi atau memproteksi untuk sementara waktu
industri dalam negerinya.
Pengaturan ‘safeguard’ ini yang diatur dalam Pasal XIX,
memperbolehkan kebijakan demikian namun hanya dipakai dalam
keadaan-keadaan tertentu saja. Suatu negara anggota dapat
membatasi atau menangguhkan suatu konsesi tarif pada produk-
produk yang diimpor dalam suatu jumlah (kuantitas) yang meningkat
dan yang menyebabkan kerusakan serius (serious injury) terhadap
produsen dalam negeri.
Dalam tahun-tahun belakangan ini, cukup banyak anggota GATT
yang menerapkan pengaturan bilateral diskriminatif yang juga
seringkali disebut dengan ‘voluntary export restraints’ (VERs).
Kebijakan perdagangan ini dilakukan untuk menghindari salah satu
isu yang cukup hangat dibahas dalam Putaran Uruguay yakni
perdagangan tekstil.
VERs adalah cara 'halus' negara maju untuk menekan negara
sedang berkembang yang umumnya adalah penghasil tekstil. Untuk
membatasi masuknya produk tekstil ke dalam pasar dalam negerinya,
negara maju secara halus menyatakan kepada negara berkembang
untuk mengekspor tekstilnya dalam jumlah tertentu saja. Dalam hal
ini, negara maju menekankan bahwa pembatasan jumlah tersebut

16
Gunther Jaenicke, Op.cit., hlm. 23.
13
semata-mata haruslah sukarela sifatnya yang datang atau berasal
dari kehendak negara berkembang.

2. Prinsip National Treatment.
Prinsip National Treatment terdapat dalam pasal III GATT.
Menurut prinsip ini, produk dari suatu negara yang diimpor ke
dalam suatu negara harus diperlakukan sama seperti halnya produk
dalam negeri.
17
Prinsip ini sifatnya berlaku luas. Prinsip ini
juga berlaku terhadap semua macam pajak dan pungutan-pungutan
lainnya. Ia berlaku pula terhadap perundang-undangan, pengaturan
dan persyaratan-persyaratan (hukum) yang mempengaruhi penjualan,
pembelian, pengangkutan, distribusi atau penggunaan produk-produk
di pasar dalam negeri. Prinsip ini juga memberikan perlindungan
terhadap proteksionisme sebagai akibat upaya-upaya atau kebijakan
administratif atau legislatif.
18

Prinsip national treatment dan prinsip MFN merupakan
prinsip sentral dibandingkan dengan prinsip-prinsip lainnya dalam
GATT. Kedua prinsip ini menjadi prinsip pada pengaturan bidang-
bidang perdagangan yang kelak lahir di dalam perjanjian putaran
Uruguay. Misalnya, prinsip ini tercantum dalam pasal 3 Perjanjian
TRIPs. Kedua prinsip diberlakukan pula dalam the General
Agreement on Trade in Service (GATS). Dalam GATS, negara-negara
anggota WTO diwajibkan untuk memberlakukan perlakuan yang sama
(MFN treatment) terhadap jasa-jasa atau para pemberi jasa dari
suatu negara dengan negara lainnya.
Meskipun demikian, perjanjian WTO membolehkan suatu negara
untuk meminta pembebasan dari penerapan kewajiban MFN ini yang
mencakup upaya-upaya tertentu (specific measures) yang pada
mulanya tidak dapat menawarkan perlakuan demikian.
Untuk maksud tersebut, manakala suatu negara meminta
pembebasan kewajiban MFN, maka permintaan tersebut akan ditinjau

17
Olivier Long, Op.cit., hlm. 9.
18
Ibid.
14
setiap lima tahun. Pembebasan dari penerapan kewajiban MFN ini
hanya boleh dilakukan untuk jangka waktu 10 tahun.
Prinsip national treatment merupakan suatu kewajiban dalam
GATS yang mana negara-negara secara eksplisit harus menerapkan
prinsip ini terhadap jasa-jasa atau kegiatan jasa-jasa tertentu.
Oleh karena itulah prinsip national treatment atau perlakuan
nasional ini pada umumnya merupakan hasil dari negosiasi atau
perundingan di antara negara-negara anggota.
15
3. Prinsip Larangan Restriksi (Pembatasan) Kuantitatif.
Yang menjadi ketentuan dasar GATT adalah larangan restriksi
kuantitatif yang merupakan rintangan terbesar terhadap GATT.
Restriksi kuantitatif terhadap ekspor atau impor dalam bentuk
apapun (misalnya penetapan kuota impor atau ekspor, restriksi
penggunaan lisensi impor atau ekspor, pengawasan pembayaran
produk-produk impor atau ekspor), pada umumnya dilarang (Pasal
IX). Hal ini disebabkan karena praktek demikian mengganggu
praktek perdagangan yang normal.
Restriksi kuantitatif dewasa ini tidak begitu meluas di
negara maju. Namun demikian, tekstil, logam, dan beberapa produk
tertentu, yang kebanyakan berasal dari negara-negara sedang
berkembang masih acapkali terkena rintangan ini.
Namun demikian dalam pelaksanaannya, hal tersebut dapat
dilakukan dalam hal: pertama, untuk mencegah terkurasnya produk-
produk esensial di negara pengekspor; kedua, untuk melindungi
pasal dalam negeri khususnya yang menyangkut produk pertanian dan
perikanan;
ketiga, untuk mengamankan, berdasarkan escape clause (Pasal XIX),
meningkatnya impor yang berlebihan (increase of imports) di dalam
negeri sebagai upaya untuk melindungi, misalnya, terancamnya
produksi dalam negeri.
keempat, untuk melindungi neraca pembayaran (luar negerinya)
(Pasal XII).
Meskipun demikian restriksi tersebut tidak boleh diterapkan
di luar yang diperlukan untuk melindungi neraca pembayarannya.
Restriksi itu pun secara progesif harus dikurangi bahkan
dihilangkan apabila tidak dibutuhkan kembali.
Dengan adanya pengakuan sebagaimana diatur dalam Pasal
XVII, pengecualian itu telah diperluas pada negara-negara sedang
berkembang. Dalam hal ini negara tersebut dapat memberlakukan
restriksi kuantitatif untuk mencegah terkurasnya valuta asing
(devisa) mereka yang disebabkan oleh adanya permintaan untuk
16
impor yang diperlukan bagi pembayaran atau karena mereka sedang
mendirikan atau memperluas produksi dalam negerinya.
Bagi kepentingan negara tersebut, GATT menyelenggararakan
konsultasi secara reguler yang diadakan dengan negara yang
mengajukan restriksi impor untuk melindungi neraca pembayarannya.
Menurut Pasal XIII, restriksi kuantitatif ini, meskipun
diperbolehkan, tidak boleh diterapkan secara diskriminatif.
4. Prinsip Perlindungan melalui Tarif.
Pada prinsipnya GATT hanya memperkenankan tindakan proteksi
terhadap industri domestik melalui tarif (menaikan tingkat tarif
bea masuk) dan tidak melalui upaya-upaya perdagangan lainnya
(non-tarif commercial measures).
19

Perlindungan melalui tarif ini menunjukan dengan jelas
tingkat perlindungan yang diberikan dan masih memungkinkan adanya
kompetisi yang sehat.
20

Sebagai kebijakan untuk mengatur masuknya barang ekspor
dari luar negeri, pengenaan tarif ini masih dibolehkan dalam
GATT. Negara-negara GATT umumnya banyak menggunakan cara ini
untuk melindungi industri dalam negerinya dan juga untuk menarik
pemasukan bagi negara yang bersangkutan.
Meskipun dibolehkan, penggunaan tarif ini tetap tunduk pada
ketentuan-ketentuan GATT. Misalnya saja, pengenaan atau penerapan
tarif tersebut sifatnya tidak boleh diskriminatif dan tunduk pada
komitmen tarifnya kepada GATT/WTO.
Komitmen tarif ini maksudnya adalah tingkat tarif dari
suatu negara terhadap suatu produk tertentu. Tingkat tarif ini
menjadi komitmen negara tersebut yang sifatnya mengikat. Karena
itu, suatu negara yang telah menyatakan komitmennya atas suatu
tarif, ia tidak dapat semena-mena menaikkan tingkat tarif yang
telah ia sepakati, kecuali diikuti dengan negoisasi mengenai

19
Departement Perdagangan RI, Op.cit., hlm. 3.
20
Olivier Long, Op.cit., hlm. 10.
17
pemberian mengenai kompensasi dengan mitra-mitra dagangnya (Pasal
XXVII).
Perlu dikemukakan di sini bahwa negoisasi tarif di antara
negara-negara merupakan salah satu pekerjaan GATT (yang juga
sekarang dilanjutkan oleh WTO). Tujuan GATT dalam hal ini adalah
berupaya menurunkan tingkat tarif ke titik atau level yang
serendah-rendahnya.
Ketika GATT terbentuk pada tahun 1948 sampai dengan
disahkannya perjanjian hasil Putaran Uruguay, tingkat tarif yang
diterapkan negara-negara telah turun cukup tajam. Dari rata-rata
sebesar 38% di tahun 1948, pada tahun 1994 telah jatuh menjadi
sekitar 4% saja.
Dalam putaran Uruguay, komitmen negara-negara terhadap
akses pasar yang lebih besar dicapai, antara lain, melalui
penurunan suku bunga yang dilakukan oleh lebih dari 120 negara.
Komitmen negara-negara ini dituangkan dalam 22.500 halaman
national tarif schedules.
Dalam pengurangan tarif ini, WTO mensyaratkan agar
pengurangan tersebut dapat diturunkan sampai 40% (khususnya
terhadap produk-produk industri di negara-negara maju) untuk
jangka waktu 5 tahun (tahun 2000). Pada waktu putaran Uruguay
ditutup (1994), tingkat tarif yang umumnya berlaku adalah sekitar
6,8%. Dengan tingkat tarif yang menurun demikian, diharapkan akan
terjadi peningkatan penerimaan produk-produk industri maju yang
memperoleh pembebasan bea masuk (yakni dari 20% menjadi 4% di
negara-negara maju).
Seperti halnya tarif, GATT juga mensyaratkan negara-negara
anggotanya untuk menerapkan prinsip transparansi. Prinsip ini
pula yang menjadi kunci bagi prasyarat perdagangan yang pasti
(predictable).
Prinsip transparansi ini mensyaratkan keterbukaan atau
transparansi hukum atau perundang-undangan nasional dan praktek
perdagangan suatu negara. Cukup banyak aturan dalam perjanjian
18
WTO memuat prinsip transparansi yang mensyaratkan negara-negara
anggotanya untuk mengumumkan pada lingkup nasional dengan
menerbitkan pada lembaran-lembaran resmi negara atau dengan cara
memberitahukannya secara formal kepada WTO.
5. Prinsip Resiprositas.
Prinsip ini merupakan prinsip fundamental dalam GATT.
Prinsip ini tampak pada preambule GATT dan berlaku dalam
perundingan-perundingan tarif yang didasarkan atas dasar timbal
balik dan saling menguntungkan kedua belah pihak.
21
Paragraph 3
Preambul GATT menyatakan:
"Being desirous of contributing to these objectives by
entering into reciprocal and mutually advantageous
arrangements directed to the substantial reduction of
tarifs and other varriers to trade and to the eliminations
of discriminatory treatment in international commerce."


21
Lihat lebih lanjut: Olivier Long, Op.cit., hlm. 10-11.
19
6. Perlakuan Khusus Bagi Negara Sedang Berkembang.
Sekitar dua pertiga negara-negara anggota GATT adalah
negara-negara sedang berkembang yang masih berada dalam tahap
awal pembangunan ekonominya. Untuk membantu pembangunan mereka,
pada tahun 1965, suatu bagian baru yaitu Part IV yang memuat tiga
pasal (Pasal XXXVI-XXXVIII), ditambahkan ke dalam GATT.

Tiga
pasal baru dalam bagian tersebut dimaksudkan untuk mendorong
negara-negara industri membantu pertumbuhan ekonomi negara-negara
sedang berkembang.
Bagian IV ini mengakui kebutuhan negara sedang berkembang
untuk menikmati akses pasar yang lebih menguntungkan. Bagian ini
juga melarang negara-negara maju untuk membuat rintangan-
rintangan baru terhadap ekspor negara-negara sedang berkembang.
Negara-negara industri juga mau menerima bahwa mereka tidak akan
meminta balasan dalam perundingan mengenai penurunan atau
penghilangan tarif dan rintangan-rintangan lain terhadap
perdagangan negara-negara sedang berkembang.
Pada waktu Putaran Tokyo 1979 berakhir, negara-negara
sepakat dan mengeluarkan putusan mengenai pemberian perlakuan
yang lebih menguntungkan dan partisipasi yang lebih besar bagi
negara sedang berkembang dalam perdagangan dunia (‘enabling
clause’). Keputusan tersebut mengakui bahwa negara sedang
berkembang juga adalah pelaku yang permanen dalam sistem
perdagangan dunia. Pengakuan ini juga merupakan dasar hukum bagi
negara industri untuk memberikan GSP (Generalized System of
Preferences atau sistem preferensi umum) kepada negara-negara
sedang berkembang.

20
E. Garis-garis Besar Ketentuan GATT
22

GATT memiliki 38 pasal. Secara garis besarnya, dari pasal-
pasal tersebut dibagi ke dalam 4 bagian:
Bagian Pertama mengandung dua pasal, yaitu:
a) Pasal I, berisi pasal utama yang menetapkan prinsip
utama GATT, yaitu keharusan negara anggota untuk
menerapkan klausul ‘most favoured nation’ treatment,
kepada semua anggotanya.
b) Pasal II berisi tentang penurunan tarif yang
disepakati berdasarkan penurunan tarif yang disepakati.
Kesepakatan penurunan tarif dicantumkan dalam lampiran
ketentuan GATT dan menjadi bagian dari GATT.
Bagian dua memuat 30 pasal, dari Pasal III sampai Pasal
XXII. Pasal III berisi larangan pengenaan pajak dan upaya-upaya
lainnya yang diskriminatif terhadap produk-produk impor dengan
tujuan untuk melindungi produksi dalam negeri. Pengertian upaya-
upaya lainnya disini adalah segala upaya, apa itu pungutan di
dalam negeri atau penerbitan Undang-undang, peraturan atau
persyaratan-persyaratan administratif yang mempengaruhi
penjualan, penawaran pembelian, pengangkutan, distribusi atau
penggunaan produk.
Berdasarkan prinsip perlakuan nasional ini, semua produk
impor yang sudah memenuhi aturan-aturan kepabeanan harus mendapat
perlakuan yang sama seperti halnya produk-produk dalam negeri di
negara tersebut.
Pasal IV berada di bawah judul ketentuan-ketentuan khusus
mengenai film sinematografi (cinematograph film). Pasal ini
membolehkan suatu negara untuk menetapkan kuota terhadap film-
film melalui peraturan tentang pembatasan film. Namun demukian
pembatasan-pembatasan atau kuota ini harus tetap tunduk kepada

22
Lihat GATT, Op.cit., hlm. 19 et.seqq.
21
negoisasi dengan pihak-pihak yang terpengaruh oleh adanya
pembatasan-pembatasan dalam bentuk kuota ini.
Pasal V mengatur kebebasan transit. Pasal ini mengakui
adanya kebebasan transit barang-barang, termasuk perahu dan
sarana angkutan lainnya melalui wilayah suatu negara anggota
dengan menggunakan rute-rute yang digunakan untuk transit
internasional guna melakukan transit ke atau dari wilayah negara
anggota GATT lainnya (ayat 2).
Dalam hal adanya transit ini, setiap negara anggota dapat
mengenakan bea-bea dan menetapkan peraturan-peraturan terhadap
transit ke dan dari wilayah-wilayah negara anggota lainnya.
Pengenaan biaya dan pembuatan peraturan tersebut haruslah wajar
dengan memperhatikan keadaan-keadaan atau kondisi dari lalu
lintas transit (ayat 4).
Pasal VI mengatur anti-dumping dan bea masuk tambahan.
Pasal ini berperan cukup penting dan cukup banyak digunakan oleh
negara-negara maju terhadap produk-produk negara sedang
berkembang. Negara maju menuduh negara sedang berkembang
(tertentu) telah memasukkan barangnya ke pasar mereka dengan
harga dumping. Dumping adalah praktek suatu negara yang menjual
produknya di negara lain dengan harga yang lebih murah (di bawah
harga normal) dengan maksud untuk merebut pasar (persaingan tidak
jujur). Pasal VI ini dengan tegas memberikan batasan mengenai
pengertian harga di bawah harga normal, yaitu:
a. lebih rendah dari harga untuk produk di negara di mana
produk tersebut akan dikonsumsi di negara pengekspor (harga
domesik); b. manakala tidak ada petunjuk mengenai harga
domestik, maka harga normal adalah harga tertinggi untuk
produk tersebut yang ditunjuk atau diekspor ke negara
ketiga; atau c. biaya produksi untuk produk tersebut
ditambah biaya tambahan (ongkos-ongkos) dan keuntungan yang
layak.
22
Apabila suatu negara menemukan bukti-bukti positif bahwa
suatu produk tertentu adalah dumping, maka negara tersebut dapat
mengenakan bea masuk anti dumping dan bea masuk tambahan atas
produk tersebut.
Pasal VII (valuation for custom purposes atau penilaian
atas barang impor untuk maksud-maksud kepabeanan). Pasal ini
menetapkan kriteria mengenai penilaian atas barang impor oleh
pejabat-pejabat (bea cukai) dari negara-negara anggota GATT
terhadap barang impor.
Pasal ini mensyaratkan bahwa nilai barang-barang impor
untuk maksud kepabeanan harus didasarkan pada nilai nyata barang
(actual value of the imported merchandise), bukan pada nilai asal
barang atau pada nilai yang tanpa dasar atau dibuat-buat
(arbitrary or fictitious values).
Pasal VIII berada di bawah judul fees and formalities
(biaya-biaya dan formalitas-formalitas). Pasal ini mensyaratkan
agar semua biaya dan pungutan (selain daripada bea masuk impor
dan ekspor serta pajak yang diatur dalam pasal III) yang
dikenakan atas atau dalam hubungannya dengan impor atau ekspor
harus dibatasi.
Pasal ini menegaskan bahwa pungutan-pungutan seperti itu
tidak boleh dijadikan sebagai proteksi tidak langsung terhadap
produk-produk domestik atau merupakan suatu pemajakan terhadap
impor atau ekspor untuk maksud fiskal (Pasal VIII ayat 1 (a).
Ayat 1 (b) pasal ini mensyaratkan negara-negara anggota untuk
mengurangi jumlah-jumlah biaya dan pungutan seperti itu.
Pasal VIII ayat 1 (c) mensyaratkan negara-negara anggota
untuk: 1) menyederhanakan pengaturan dan rumitnya formalitas-
formalitas impor dan ekspor; 2) mengurangi dan menyederhanakan
persyaratan-persyaratan dokumentasi impor dan ekspor.
Ketentuan-ketentuan pasal ini berlaku pula terhadap biaya-
biaya, pungutan, formalitas dan persyaratan-persyaratan yang
23
dikenakan oleh pejabat-pejabat pemerintah berkaitan dengan impor
dan ekspor, termasuk:
a) transaksi-transaksi konsuler, seperti faktur-faktur dan
sertifikat konsuler; b) pembatasan kuantitatif; c) lisensi;
d) pengawasan devisa (exchange control); e) jasa-jasa
statistik; f) dokumen, dokumentasi dan sertifikasi; g)
analisis dan inspeksi; h) karantina atau sanitasi.
Pasal IX mengatur tanda asal (marks of origin). Pada
prinsipnya pasal ini mensyaratkan agar semua negara anggota harus
memberikan perlakuan yang sama (no lees favourable treatment)
berkaitan dengan persyaratan asal barang ini terhadap semua
produk dari negara-negara anggota seperti halnya perlakuan
terhadap produk serupa dari negara ketiga (ayat 1).
Ayat 6 pasal IX ini mensyaratkan agar negara-negara anggota
harus bekerja sama dalam mencegah penggunaan nama dagang yang
tidak menggambarkan asal barang suatu produk, dengan merugikan
nama-nama regional atau geografis dari produk suatu negara
anggota yang dilindungi oleh hukum.
Pasal X mengatur persyaratan publikasi dan administrasi
pengaturan-pengaturan perdagangan. Pasal ini menegaskan bahwa
Undang-undang, peraturan-peraturan, putusan-putusan pengadilan
dan administratif mengenai klasifikasi atau penilaian produk
untuk tujuan kepabeanan, pajak, pungutan, atau segala persyaratan
yang mempengaruhi penjualan, distribusi, transportasi, asuransi,
inspeksi, pemrosesan, penggunaan, dll., harus dipublikasikan
secara wajar sehingga para negara anggota dan para pedagang
mengetahuinya.
Pasal XI sampai XV mengatur restriksi atau pembatasan
kuantitatif. Restriksi kuantitatif yang sering dipraktekkan
adalah pengenaan kuota, lisensi impor atau ekspor atau upaya
lainnya disamping bea masuk, pajak atau pungutan lainnya.
Pasal XI menegaskan bahwa praktek seperti ini dilarang.
Pasal XII membolehkan suatu negara untuk menerapkan pembatasan-
24
pembatasan masuknya produk impor demi untuk mengamankan neraca
pembayarannya (restriction to safeguard the balance of payment).
Pasal XIII mensyaratkan bahwa penerapan restriksi
kuantitatif tersebut harus dilaksanakan tanpa diskriminasi. Jadi,
misalnya suatu negara membatasi masuknya suatu produk dari suatu
negara, misalnya dari B, maka pembatasan tersebut harus juga
diberlakukan terhadap negara ketiga, misalnya C.
Pasal XIV mengatur pengecualian-pengecualian penerapan
restriksi kuantitatif dalam hal pembatasan masuknya produk-produk
impor karena alasan-alasan moneter tertentu.
Pasal XV mengatur pengaturan mengenai pembayaran. Pasal ini
mensyaratkan perlunya kerjasama antara GATT dengan IMF.
Pasal XVI mengatur subsidi. Pasal ini mengakui adanya
praktek negara-negara yang masih memberikan subsidi terhadap
produk-produk dalam negerinya dengan maksud agar dapat bersaing
di pasar internasional. Namun pasal ini mewajibkan negara
tersebut untuk memberitahu GATT tentang adanya subsidi ini.
Dalam perkembangan pengaturan GATT sebagaimana kemudian
tercantum dalam ayat 2, 3, dan 4 pasal XVI ini, GATT mensyaratkan
negara-negara anggotanya untuk menghapus subsidi ini.
23

Pasal XVII mengatur perusahaan dagang negara (state trading
enterprises). GATT menyadari bahwa perusahaan dagang negara dapat
menimbulkan praktek-praktek perdagangan yang tidak ‘fair’. Oleh
karena itu, pasal ini dengan tegas menyatakan bahwa perusahaan-
perusahaan seperti ini harus bertindak sesuai dengan prinsip-
prinsip umum mengenai perlakuan non-diskriminatif dalam kaitannya
dengan upaya-upaya pemerintah yang mempengaruhi impor dan ekspor
oleh para pedagang.
Pasal XVIII berada di bawah judul ‘governmental assistance
to economic development’ (bantuan pemerintah kepada pembangunan

23
Dalam perkembangan mengenai pengaturan mengenai subsidi ini, Putaran
Uruguay berhasil merumuskan aturan mengenai isu ini yang termuat dalam
the Agreement on Subsidy.
25
ekonomi). Pasal ini mengakui bahwa negara-negara sedang
berkembang membutuhkan tarif yang fleksibel dan dapat menerapkan
beberapa restriksi kuantitatif untuk mempertahankan alat tukar
luar negerinya untuk kebutuhan pembangunannya.
Pasal XIX mengatur tindakan darurat atas impor produk-
produk tertentu. Pasal ini memberi hak atau pembenaran bagi suatu
negara untuk menangguhkan sebagian atau seluruh kewajibannya
berdasarkan GATT atau menarik atau memodifikasi sebagian atau
seluruh konsesinya. Pasal baru ini dapat diterapkan apabila suatu
produk impor masuk ke dalam suatu negara yang kehadiran jumlah
produk tersebut telah mengakibatkan atau mengancam akan memukul
secara serius produsen dalam negerinya. Ayat 2 pasal ini
mensyaratkan negara yang hendak menerapkan pasal ini untuk
terlebih dahulu memberitahu dan mengkonsultasikannya dengan GATT.
Pasal XX mengatur pengecualian umum (general exeptions),
yakni pengecualian-pengecualian yang dimungkinkan untuk
menanggalkan aturan-aturan atau kewajiban-kewajiban suatu negara
terhadap GATT, khususnya dalam kaitannya dengan tindakan-tindakan
yang diperlukan untuk:
(a) m elindungi moral masyarakat;
(b) melindungi kehidupan atau kesehatan manusia, hewan atau
tanaman;
(c) impor atau ekspor emas atau perak;
(d) perlindungan terhadap hak atas kekayaan intelektual;
(e) produk-produk yang berasal dari hasil kerja para narapidana;
(f) perlindungan kekayaan nasional, kesenian, sejarah atau
purbakala;
(g) konservasi kekayaan alam yang dapat habis;
(h) dalam kaitannya dengan adanya kewajiban-kewajiban yang timbul
dari perjanjian-perjanjian komoditi antar pemerintah; dll.
26
Pasal XXI GATT membenarkan suatu negara untuk menanggalkan
kewajibannya berdasar GATT dengan alasan keamanan (security
exeption).
Pasal XXII dan XXIII mengatur penyelesaian sengketa di
dalam GATT.
Bagian ketiga berisi 11 pasal. Pasal XXIV mengatur
bagaimana customs union and free trade area dapat memanfaatkan
pengecualian-pengecualian terhadap prinsip most-favored-nation.
Pasal XXV menetapkan tindakan-tindakan yang dilakukan oleh para
pemerintah dari negara-negara anggota GATT. Pasal ini mengakui
pula diperbolehkannya beberapa pengecualian (waiver) terhadap
aturan GATT.
Pasal XXVI sampai XXXV adalah pasal-pasal berisi tentang
pemberlakuan GATT, berupa penerimaan dan berlakunya ketentuan
GATT (Pasal XXVI); status (kondisi) tarif dari negara bukan
anggota (Pasal XXVII); ketentuan untuk perundingan tarif dan
perubahan-perubahan dalam daftar tarif (Pasal XXVIII), hubungan
antara GATT dengan Piagam Havana (Pasal XXIX), perubahan terhadap
GATT (Pasal XXX), penarikan atau pengunduran diri anggota dari
GATT (Pasal XXXI), batasan contracting parties (keanggotaan GATT)
(Pasal XXXII), masuknya menjadi anggota GATT (Pasal XXXIV), dan
tidak diterapkannya beberapa aturan GATT di antara anggota-
anggota GATT tertentu (Pasal XXXV).
Bagian keempat terdiri dari 3 pasal (Pasal XXXVI-XXXVIII)
yang ditambahkan pada tahun 1965. pasal XXXVI menyadari adanya
kebutuhan-kebutuhan khusus negara-negara sedang Berkembang di
bidang perdagangan internasional. Pasal XXXVII mengatur komitmen
negara-negara (maju), kecuali ada alasan-alasan mendesak untuk
tidak melaksanakan pasal ini, untuk memberikan bantuan ekonomi
dan perdagangan kepada negara sedang berkembang. Pasal XXXVIII
mengatur tindakan bersama oleh para anggota untuk membantu
perdagangan negara sedang berkembang.

27
F. Penutup
Uraian di atas menyiratkan beberapa catatan berikut.
GATT sebagai aturan perdagangan yang dibuat pada tahun 1947
ternyata masih relevan bahkan masih terus relevan untuk masa yang
akan datang. Aturan dan prinsip yang diaturnya memuat aturan-
aturan yang dapat diterima oleh hampir banyak negara (meskipun
dari keanggotaannya masing-masing negara memiliki sistem hukum
yang berbeda). Khususnya prinsip non-diskriminasi merupakan
prinsip yang memang dapat diterima universal.
Sebenarnya masalah utama dari adanya aturan GATT ini adalah
bagaimana dapat memanfaatkannya, khususnya bagi negara sedang
berkembang. Dari preambul GATT tersirat tujuan pentingnya, yaitu
meningkatkan taraf hidup umat manusia; meningkatkan kesempatan
kerja; meningkatkan pemanfaatan kekayaan alam dunia; dan
meningkatkan produksi dan tukar menukar barang.
Aturan-aturan GATT tampaknya telah memberi aturan yang
seimbang, antara hak dan kewajiban bagi negara-negara para
pesertanya. Bagi negara sedang berkembang, meskipun aturannya
tidak jelas dan tidak memberi ‘muatan’ yang jelas, tetapi yang
penting aturan khusus untuk negara sedang berkembang sudah ada.
24

Tujuan penting itu menyiratkan satu hal penting. Tujuan
tersebut hanya akan dapat terealisasi apabila negara (berkembang)
yang bersangkutan memahami aturan-aturan GATT. Pemahaman yang
baik akan memungkinkan negara tersebut untuk dapat memanfaatkan
aturan-aturan GATT bagi kepentingan perdagangannya.
Sebaliknya kekurang-pahaman aturan-aturan GATT akan
mengakibatkan sulitnya pemanfaatan aturan-aturan tersebut bagi
kepentingan perdagangan negara yang bersangkutan. Artinya,
tujuan-tujuan yang baik di atas, tidak akan tercapai.


24
Ketidak-tegasan pengaturan untuk kepentingan negara sedang berkembang
sebenarnya juga adalah kelemahan dari aturan GATT itu sendiri.
28
Daftar Pustaka
Departemen Perdagangan RI, GATT dan Uruguay Round, Seri Informasi
Perdagangan Internasional no. 14, 1993/1994.
Jackson, John H. Jackson, et.al., The Legal Problems of International
Economic Relations,.St Paul Minn.: West, 1995.
Jaenicke, Gunther, “General Agreement om Tariffs and Trade (1946),
dalam Bernhard (ed)., Encyclopedia of Public International Law,
Instalment 5 (1983).
Long, Olivier, Law and Its Limitations in the GATT Multilateral Trade
System, Martinus Nijhoff Publishers, 1987.
Meerghaeghe, M.A.G. Van, International Economic institutions, The
Netherlands: Kluwer, 1987.
WTO, The Roots of the WTO, No. Publ., 1996.


BAB V
LETTER OF CREDIT DALAM HUKUM PERDAGANGAN INTERNASIONAL
A. Pengantar
Perdagangan internasional terwujud karena adanya kesepakatan
antara penjual dan pembeli yang mereka tuangkan dalam kontrak.
Dalam kontrak ini biasanya mereka juga cantumkan bagaimana cara,
sistem atau klausul pembayarannya.
Sistem pembayaran ini merupakan salah satu hal yang penting
dalam transaksi perdagangan. Dalam transaksi dagang yang sifatnya
terbatas di mana penjual dan pembeli berada dalam wilayah atau
tempat yang sama, pembayaran dan penyerahan barang dapat
dilakukan secara langsung. Lain halnya dengan perdagangan
internasional. Para pihak mungkin kurang begitu saling kenal.
Domisili mereka berjauhan.
Di samping sistem pembayaran, sistem pembiayaannya pun akan
sangat berpengaruh terhadap kelancaran perdagangan internasional.
Karena itu pula dapat dinyatakan bahwa perdagangan Internasional
akan lebih berjalan lancar dengan tersedianya fasilitas
pembiayaan (kredit) bagi jual-beli barang dalam perdagangan
internasional.
1

Dalam perdagangan Internasional, pembeli dan penjual
terpisah oleh jarak yang jauh. Mereka juga acap kali memiliki
praktek pembiayaan yang berbeda di masing-masing negara.
Di samping itu pula, terdapat kepentingan para pihak yang
berbeda dalam perdagangan internasional. Penjual berupaya dan
berkepentingan untuk menguasai dan mengontrol barangnya sampai ia
menerima harga yang disepakati dalam kontrak. Selain itu penjual
juga berkepentingan agar pembayaran (proceeds atau dana hasil
ekspor) dapat segera diterimanya tanpa harus menunggu berbulan-
bulan lamanya tatkala barangnya masih dalam perjalanan di kapal
(in transit).

1
Hans Van Houtte, The Law of International Trade, London: Sweet and
Maxwell, 1995, 257; Amir M.S., Letter of Credit: Dalam Bisnis Ekspor
Impor, Jakarta: PPM, Edisi 2, Juli 2001, hlm. 2.
Di pihak lain, pembeli berkepentingan untuk tidak segera
membayar sejumlah uang yang dia janjikan sesuai kontrak selama ia
belum memeriksa barangnya apakah sesuai dengan spesifikasi yang
dicantumkan dalam kontrak, atau setidaknya ada bukti tertulis
bahwa barangnya telah dikapalkan.
Hal ini berarti menimbulkan kesulitan bagi penjual untuk
menentukan cara pembayaran yang akan digunakan oleh pembeli
asing. Demikian juga bagi pembeli mengalami kesulitan untuk
mempercayai reputasi dan integritas penjual asing.
Dalam hal demikian, Bank memainkan peran penting yang dapat
menjembatani kedua kepentingan yang berbeda antara penjual dan
pembeli. Dalam hal ini Bank memberi jaminan kelaikan kredit
sebagai jaminan untuk transaski jual beli barang tersebut.
Peran bank ini tampak pula pada upayanya dalam mengembangkan
sistem pembiayaan dan pembayaran selama bertahun-tahun lamanya
dengan semakin meningkatnya permintaan kredit bagi perdagangan
internasional.
2




2
Hans Van Houtte, op.cit., hlm. 257.
B. Bentuk-bentuk Pembiayaan Perdagangan Internasional
Disebutkan di atas bahwa Bank telah mengembangkan berbagai
sistem pembiayaan dalam perdagangan internasional. Di antara
berbagai sistem yang cukup banyak tersebut, berikut adalah
sistem-sistem yang umum digunakan:
1. Kredit berdokumen (Documentary Credit);
2. Kredit komersial jangka pendek, menengah dan panjang
(Short, Medium and Long term commercial credit);
3. Bentuk-bentuk pembiayaan khusus (Particular financing
techniques), terutama: (i) factoring internasional
(Intenasional factoring); (ii) Forfaiting; dan (iii)
Leasing internasional (International leasing).
4. Jaminan Bank (Bank Guarantee atau Auotonomous Guarantee)
Dalam bab ini, pembahasan hanya akan mengkonsentrasikan pada
ad. 1 di atas, yaitu kredit berdokumen. Alasan utama dan alasan
praktis adalah kredit berdokumen ini lebih banyak digunakan
(penting) dan telah lama mengalami perkembangan pengaturannya.
Praktil menggunakan kredit berdokumen ini telah lama
dilakukan, khususnya sejak awal tahun 1700-an.
3
Pengaturannya pun
telah berkembang lama. Ellinger menyatakan bahwa aturan mengenai
kredit berdokujmen ini telah sedikit banyak mencapai harmoniasi
dan keseragaman pengaturan.
4




3
E.P. Ellinger, “Letters of Credit” dalam: Norbert Horn and Clive M.
Schmitthoff (eds.), The Transnational Law of International Commercial
Transactions, Deventer: Kluwer, 1982, hlm. 242.
4
E.P. Ellinger, op.cit., hlm. 271.
1. Kredit Berdokumen (Documentary Credit)
a. Pendahuluan
Di atas dikemukakan tentang beda kepentingan antara pembeli
dan penjual. Pembeli (importir) tidak mau membayar sebelum ia
memiliki barangnya dan memeriksa barangnya apakah barang tersebut
sesuai dengan kontrak. Penjual (eksportir) juga tidak akan
mengirim barangnya selama ia belum mendapat kepastian bahwa harga
yang telah disepakati dalam kontrak dibayar.
Karena jarak kedua pihak, praktek perdagangan yang mungkin
berbeda dan mungkin saja satu sama lain tidak kenal, maka semua
perbedaan ini dapat menjadi hambatan bagi perdagangan
internasional.
Namun dengan lahirnya sistem kredit berdokumen (documentary
credits), yang juga dikenal dengan Letters of Credit (L/C),
perbedaan-perbedaan itu dapat dijembatani. Kredit berdokumen ini
terus berkembang. Sistem inilah yang paling banyak digunakan dan
berperan penting sangat penting untuk membayar barang-barang
dalam perdagangan internasional.
5

Dalam kaitannya dengan perdagangan internasional, L/C
memainkan peran yang cukup penting. Pengadilan Inggris misalnya
telah lama mengakui bahwa L/C adalah mekanisme pembayara yang
paling penting dalam perdagangan internasional.
6
Pengadilan
Inggris memandang L/C sebagai “the life blood of international
commerce.”
7
Peran tersebut adalah:
(1) memudahkan pelunasan pembayaran transaksi ekspor;
(2) mengamankan dana yang disediakan importir untuk membayar
barang impor;

5
Amir M.S., Letter of Credit: Dalam Bisnis Ekspor Impor, Jakarta: PPM,
Edisi 2, Juli 2001, hlm. 1 Ramlan Ginting, Letter of Credit: Tinjauan
Aspek Hukum dan Bisnis, Jakarta: Penerbit Salemba Empat, 2000, hlm 1.
(Ramlan Ginting menyebutkan pula bahwa L/C ini adalah primadona dalam
pembayaran transaksi ekspor-impor. Dari sini tergambar bahwa L/C
mempunyai fungsi sebagai suatu sistem pembayaran).
6
Chia-Jui Cheng (ed.), Clive M. Schmitthoff's Select Essays on
International Trade Law, London: Martinus Nijhoff Publ., 1988, hlm. 574.
7
Chia-Jui Cheng (ed.), op.cit., hlm. 574.
(3) menjamin kelengkapan dokumen pengapalan.
8

Karena itu tampak bahwa L/C merupakan jaminan atas pelunasan
barang yang akan dikirim oleh penjual (eksportir). Jadi untuk
kepentingan eksportir, L/C harus dibuka terlebih dahulu sebelum
barang dikirim.
Di pihak lain, pembukaan L/C merupakan jaminan pula bagi
importir untuk memperoleh pengapalan barang secara utuh sesuai
dengan kontrak. Sedangkan dana L/C tersebut tidak akan dicairkan
tanpa penyerahan dokumen pengapalan. Dengan demikian L/C tampak
sebagai suatu instrumen yang ditawarkan bank devisa untuk
memudahkan lalu lintas pembiayaan dalam transaksi dagang
internasional.
9

Dari uraian di atas, tampak bahwa sangatlah wajar bila L/C
kemudian menjadi lebih banyak disukai oleh para pihak, khususnya
penjual dan pembeli dalam bertransaksi dagang secara lintas
batas. Alasan utama para pedagang menyukai sistem ini, adalah
karena adanya unsur janji bayar yang ada pada sistem ini.
10
Ramlan
Ginting menggambarkan sebagai berikut:
“Penerima yang menjual barang kepada pemohon merasa aman
dibayar dengan cara L/C karena adanya janji pembayaran dari
bank penerbit kepadanya. Sebaliknya, pemohon juga merasa
aman membeli barang dengan cara L/C karena akan menerima
dokumen-dokumen yang dikehendakinya sebab pemenuhannya
merupakan syarat pembayaran langsung.”
11



8
Amir M.S., Letter of Credit: Dalam Bisnis Ekspor Impor, Jakarta: PPM,
edisi 2, Juli 2001, hlm. 1; M. Rafiqul Islam, International Trade Law,
Sydney: LBC, 1999, hlm. 340-341.
9
Amir M.S., op.cit., hlm. 2.
10
Ramlan Ginting, Op.cit., hlm. 18
11
Ramlan Ginting, Op.cit., hlm. 18
b. Batasan
Hans van Houtte mendefinisikan kredit berdokumen ini sebagai
berikut:
"... an arrangement in which the bank, acting for and on
behalf of the buyer (customer), undertakes to pay the seller
(beneficiary) a sum of money or to accept a bill of exchange
drawn by the seller, or to authorize another bank to do so
on presentation by the seller of specified document and on
condition that all other credit terms are met."
12

Amir M.S. menggambarkan L/C sebagai berikut:
"L/C adalah suatu surat yang dikeluarkan oleh bank devisa
atas permintaan importir nasabah bank devisa bersangkutan
dan ditujukan kepada eksportir di luar negara yang menjadi
relasi dari importir tersebut. Isi surat itu menyatakan
bahwa eksportir penerma L/C diberi hak oleh importir untuk
menarik wewel (surat perintah untuk melunasi utang) atas
importir bersangkutan untuk sejumlah uang yang disebut dalam
surat itu. Bank yang bersangkutan menjamin untuk
megnakseptir atau menghonorir wesel yang ditarik tersebut
asal sesuai dan memenuhi semua syarat yang tercantum di
dalam surat itu."
13

UCP (Pasal 2 UCP 500) memberi definisi L/C sebagai berikut:
"L/C adalah janji membayar dari bank penerbit kepada
penerima yang pembayarannya hanya dapat dilakukan oleh bank
penerbit jika penerima menyerahkan kepada bank penerbit
dokumen-dokumen yang sesuai dengan persyaratan L/C.”
14


12
Hans Van Houtte, 258. Definisi ini disarikan beliau dari batasan yang
terdapat dalam Pasal 2 the Uniform Customs and Practice for Documentary
Credits (UCP) yang berbunyi sebagai berikut: "Any arrangement, however
named or described, whereby a bank (the Issuing Bank), acting at the
request and on the instructions of a customer (the Applicant) or on its
own behalf,
(i) is to make a payment to or to the order of a third party (the
Beneficiary), or is to accept and pay bills of exchange (draft(s)) drawn
by the Beneficiary; or
(ii) authorises another bank to effect such payment, or to accept and
pay such bills of exchange (draft(s)); or
(iii) authorises another bank to negotiate;
against stipulated document(s), provided that the terms and conditions
of the Credit are complied with."
13
Amir M.S., op.cit., 2001, hlm. 1.
14
Ramlan Ginting, Op.cit., hlm. 11 (Ramlan Ginting juga memberikan
aneka definisi yang diberikan oleh para sarjana, op.cit., hlm. 11 dst.
Teks inggris Pasal 2 UCP berbunyi: "For the purposes of these articles,
the expressions "Documentary /credit(s)" and "Standby Letter(s) of
Credit" (hereinafter referred to as "Credit(s)", means any arrangement,
however, named or described, whereby a bank (the "issuing bank") acting
Beberapa hal penting dari definisi di atas yaitu:
(a) Bank yang memberikan jaminan pembayaran tersebut adalah bank
yang menerbitkan Kredit Dokumenter L/C tersebut (bank penerbit
atau Issuing Bank).
(b) Dokumen-dokumen yang disyaratkan dapat berupa dokumen
perdagangan ataupun dokumen yang diterbitkan instansi-instansi
pemerintah, asuransi maupun pengangkutan.
15

(c) Karena Kredit Dokumenter (L/C) merupakan Jaminan bersyarat,
maka pembayaran sudah tentu dilakukan atas nama Buyer
(pembeli), dan pembayaran itu dilaksanakan bila dokumen-
dokumen yang disyaratkan telah diserahkan.
(d) Karena dokumen-dokumen tersebut mewakili barang, maka
penyerahan dokumen itu berarti memberikan hak kepada buyer
(pembeli) atas pemilikan barang-barang yang dikapalkan
tersebut.
(e) Karena Kredit Dokumenter (L/C) merupakan jaminan bank, maka
segera setelah pengapalan barang, Seller akan meminta
pembayaran dari Bank, bukan mengandalkan kemampuan dan
kesediaan Buyer (pembeli) untuk membayar.
Namun sekalipun demikian, berhubung jaminan tersebut adalah
jaminan bersyarat, maka seller (penjual) hanya berhak meminta
pembayaran apabila dia sudah memenuhi semua syarat yang telah
ditetapkan dalam Kredit Dokumenter tersebut.
f. Untuk kelancaran pembayaran atas dasar Kredit Berdokumen (L/C)
diperlukan paling tidak dua buah bank, yaitu Bank pembeli

at the request and on the instructions of a customer (the "Applicant")
or on its own behalf, i. is to make a payment to or to the order of a
third party (the "beneficiary") or is to accept and pay bills of
exchange (Draft(s)) drawn by the Benficiary, or ii. authorises another
bank to effect such payment, or to accept and pay such bills of
exchangge (Draft(s)), or iii. authorises another bank to negotiate,
against stipulated document(s), provided that the terms and conditions
of the Credit are complied with. For the purpose of these Articles,
branches of a bank in different countries are considered another bank.
15
Secara umum dokumen-dokumen itu antara lain: Commercial Invoice
(Faktur Dagang), Packing and Weight List, Certificate of Origin,
Polis/Sertifikat Asuransi serta Bill of Lading/Airway Bill (dokumen
pengangkutan) atau dokumen pengangkutan lainnya, seperti Certificate of
Inspection. (khusus di Indonesia dengan penambahan LKP yang dikeluarkan
SGS untuk impor dan ekspor barang-barang tertentu), dll.
sebagai penerbit L/C (Issuing Bank atau bank penerbit) dan
Bank penjual yang terletak di negara penjual itu sendiri.

c. Kontrak Penjualan Sebagai Dasar Terbitnya L/C
Persiapan yang harus ada untuk terbitnya L/C adalah
kesepakatan antara Seller dan Buyer untuk membuat dan
menandatangani sebuah sales contract (kontrak penjualan).
Yang mendasari terbitnya sebuah L/C adalah kontrak jual beli
atau sales contract yang sudah disepakati bersama dan kemudian
disahkan dengan penandatanganan oleh masing-masing pihak antara
penjual dan pembeli.
Kontrak penjualan tersebut biasanya mencantumkan pula
bagaimana barang tersebut akan dikirim: apakah melalui darat,
laut atau udara; dan pihak mana yang akan menutup asuransi.
Kredit berdokumen juga dikeluarkan untuk proyek-proyek
konstruksi internasional jangka panjang dan proyek-proyek
investasi.
16
Pasal 4 UCP memberlakukan kredit berdokumen ini
terhadap bukan saja untuk barang tetapi juga terhadap jasa dan
bentuk-bentuk lainnya ('services and/or other performances'),
meskipun untuk hal-hal yang terakhir ini lebih banyak digunakan
Standby L/C atau Bank Garansi.
17

L/C sendiri adalah dokumen kontrak. Namun demikian,
kedudukan L/C sebagai suatu kontrak dan kontrak jual belinya
sifatnya adalah terpisah atau independen.
18
Sifat independen L/C
tampak pada aplikasi L/C dan realisasi pembayaran L/C.
Dalam aplikasi L/C, bank penerbit (issuing bank) tidak
meminta atau mensyaratkan diperlihatkannya kontrak penjualan dari
pemohon (buyer atau pembeli). Dalam realisasi pembayaran L/C,
bank hanya memeriksa apakah dokumen-dokumen yang dipersyaratkan

16
Hans Van Houtte, op.cit., 257.
17
Hans Van Houtte, op.cit., 258n.
18
Ramlan Ginting, op.cit., hlm. 15; Hans van Houtte, op.cit., hlm 259.
(Menurut van Houtte, dengan tidak adanya hubungan antara kontrak
penjualan atau jual beli dengan L/C, seorang nasabah (penjual) tidak
dapat meminta bank penerbit untuk tidak melakukan pembayaran dengan
alasan bahwa barang yang dikirim kepadanya tidak sesuai dengan kontrak).
L/C telah terpenuhi.
19
Hal inilah yang disebut juga sebagai
prinsip otonomi dari L/C.
20

Pasal 3 UCP 500 menegaskan sifat independen ini:
"Credits, by their nature, are separate transactions from
the sales or other contract(s) on which they may be based
and banks are in no way concerned with or bound by such
contract(s), even if any reference whatsoever to such
contract(s) is included in the Credit. Consequently, the
undertaking of a bank to pay, accept and pay Draft(s) or
negotiate and/or to fulfill any other obligation under the
Credit, is not subject to claims or defences by the
Applicant resulting from his relationships with the issuing
bank or the beneficiary." (Huruf miring oleh penulis).


19
Ramlan Ginting, op.cit., hlm. 15.
20
E.P. Ellinger, op.cit., hlm. 263 (menyebutkan ‘the principle of the
autonomy of the L/C’. Prinsip ini didasarkan pada fakta bahwa bank lebih
berkepentingan atau lebih peduli dengan dokumen-dokumen, bukan denga
barang-barang yang tercantum di dalamnya).
d. Hubungan Hukum antara Para Pihak dalam Transaksi L/C

Pada umumnya, para pihak yang terlibat dalam pembukaan
transaksi L/C adalah:
(1) Applicant (buyer atau pembeli): adalah pihak yang meminta
kepada sebuah bank untuk membuka L/C atas namanya (sebagai
pembeli).
(2) Penerima (Beneficiary) adalah pihak yang disebutkan dalam L/C
(sebagai penjual).
(3) Bank penerbit (Opening Bank atau issuing bank) adalah bank
yang membuka atau menerbitkan L/C (Bank pembeli).
(4) Bank penerus atau Advising Bank adalah Bank yang meneruskan
L/C yang diterima dari opening bank kepada beneficiary (bisa
Bank penjual).
21

Di antara para pihak tersebut di atas, hubungan hukum yang
timbul adalah sebagai berikut:
(1) Nasabah dengan Bank
Nasabah atau disebut juga pemohon dengan banknya biasanya
menandantangani kesepakatan atau perjanjian tentang permintaan
penerbitan L/C. Kesepakatan ini sudah barang tentu tunduk pada
syarat yang ditetapkan oleh pihak bank. Dalam hal ini biasanya
bank mensyaratkan adanya jaminan dari nasabahnya. Misalnya, bank
mensyaratkan dokumen-dokumen pengapalan (bill of lading atau

21
Di samping 4 pihak tersebut di atas, pihak-phak lain yang dapat
terkait adalah:
(1) Negotiating Bank adalah Bank yang melakukan negosiasi atas draft
(wesel) dan dokumen pengapalan milik seller (biasanya advising bank juga
merupakan negotiating bank).
(2) Reimbursing Bank adalah Bank kepada siapa penagihan atas pengapalan
barang dilakukan (bisa opening bank atau bank lain yang berfungsi
sebagai imbursing bank). Penunjukan bank ini biasanya terjadi apabila
antara eksportir dan importir tidak ada hubungan rekening untuk
menyelesaikan pembayarannya.
(3)Confirming Bank (bank pengkonfirmasi) adalah Bank yang diminta oleh
bank untuk menambahkan konfirmasi pada L/C.
(4) Pihak lainnya yang tidak langsung terlibat dalam pelaksanaan L/C,
yakni: Perusahaan Pelayaran/Perkapalan; Bea dan Cukai/Pabean; Perusahaan
Asuransi; Badan-badan pemeriksa (perwakilan Sucofindo); Badan-badan
penelitian lainnya. (Amir M.S., op.cit. (note 1), hlm. 3,4).
konosemen). Bank, jika menurutnya diperlukan, menahan dokumen-
dokumen ini sampai klien telah membayar.
22

(2) Bank Penerbit dan Penerima
Bank penerbit menandatangani L/C untuk kepentingan penjual.
L/C di dalamnya mengandung persyaratan dari Bank untuk membayar
atau menerima atau menegosiasikan suatu bill of exchange segera
setelah dokumen yang dipersyaratkan dalam kontrak dasar
diperlihatkan. L/C menetapkan tanggal jatuh tempo dan tempat
untuk mengajukan dokumen untuk pembayaran.
23

Dalam hal ini, hukum nasional negara-negara berbeda mengenai
hubungan hukum antara bank penerbit dan penerima ini. Misalnya,
menurut negara-negara Common Law (misalnya hukum Inggris dan
Amerika Serikat), hubungan hukum antara bank penerbit dan
penerima termuat dalam kontrak (kontraktual).
24

Sedangkan menurut negara dengan sistem hukum Civil, misalnya
hukum Belgia dan Belanda, hubungan hukum tersebut tampak pada
kehendak tegas dari para pihak. Perbedaan dalam sistem hukum ini
menjadi penting dalam praktek.
25

Jika prestasi bank bersifat kontraktual, maka dalam hal
demikian itu prestasi tersebut harus diperlihatkan bahwa penerima
telah menerima usulan tersebut. Eksportir atau penjual dapat
mengajukan gugatan terhadap bank penerbit berasarkan L/C. Dalam
hal ini ia berhak atas pembayaran jika ia telah memenuhi syarat-
syarat dalam L/C.
26

(3) Bank Penerbit dan Bank Penerus
Hubungan hukum antara bank penerbit dan bank penerus seperti
halnya antara seorang prinsipal dan agen. Dalam hal ini bank
penerbit bertindak atas nama dan untuk bank penerbit. Jika bank
penerbit telah membayar sejumlah uang kepada penerima sesuai

22
Hans Van Houtte, op.cit., 263; Chia-Jui Cheng, op.cit., hlm. 581.
23
Hans Van Houtte, op.cit., 263; Chia-Jui Cheng, op.cit., hlm. 581.
24
Hans Van Houtte, op.cit., 264.
25
Hans Van Houtte, op.cit., 264.
26
Hans Van Houtte, op.cit., 264; lihat pula Ramlan Ginting, op.cit.,
hlm. 88-89; Chia-Jui Cheng, op.cit., hlm. 582.
dengan mandatnya, atau telah menerima suatu bill of exchange
(wesel) yang ditarik oleh penerima, maka ia berhak atas
pembayaran dari bank penerbit.
27

(4) Penerima dan Bank Penerus
Terhadap penerima, bank penerus seolah-olah bertindak
sebagai agen dari bank penerbit. Karenanya, penerima tidak berhak
untuk menggugat bank penerbit.
28

(5) Bank Penerbit dan Bank Pengkonfirmasi
Jika bank lain menjadi Confirming Bank (Bank
Pengkonfirmasi), yakni bank yang turut menjamin pembayaran L/C,
maka ia bersama-sama dengan bank penerbit bertanggung jawab untuk
membayar suatu bill of exchange.
29



27
Hans Van Houtte, op.cit., 264; lihat pula Ramlan Ginting, op.cit.,
hlm. 89.
28
Hans Van Houtte, op.cit., 264; lihat pula Ramlan Ginting, op.cit.,
hlm. 92.
29
Hans Van Houtte, op.cit., 264.
e. Pembukaan L/C
1). Aplikasi (Application)
Segera setelah penjual dan pembeli menandatangani kontrak
penjualan. Dalam kontrak tersebut memuat kesepakatan bahwa
transaksi akan diselesaikan dengan Letter of Credit (L/C), maka
pembeli akan meminta kepada banknya untuk membuka L/C.
Data-data yang harus tercantum dalam formulir aplikasi
terdiri dari:
(1) Nama dan alamat Beneficiary;
(2) Nama dan alamat pembeli/pemohon;
(3) Nilai L/C yang dibuka dengan shipping terms yang talah
disetujui (FOB/CIF/C&F);
(4) Jenis L/C (Revocable/Irrevocable);
(5) Syarat pembayaran (Sight/Usance);
(6) Uraian barang;
(7) Dokumen-dokumen yang diperlukan, baik jenis maupun jumlahnya;
(8) Masa berlakunya L/C (Validity of the Credit) dengan
menetapkan “expire date”;
(9) Tanggal pengapalan terakhir;
(10) Pelabuhan bongkar muat;
(11) Persyaratan barang yang harus dikirim oleh penjual;
(12) Ketentuan-ketentuan khusus yang diperlukan (misalnya: boleh
tidaknya penggantian kapal; atau boleh tidaknya pengapalan
sebagian);
(13) Cara penyampaian L/C lewat surat atau teleks, dan sebagainya.
2) Pembukaan/Penerbitan L/C (Opening/Issuing of the Credit)
Atas dasar aplikasi pembukaan L/C yang telah disetujui, bank
penerbit membuka dan menerbitkan L/C yang ditujukan kepada
penerima, yang isinya sesuai benar dengan apa yang telah
tercantum pada formulir aplikasi.
Ketentuan-ketentuan yang ditambahkan oleh bank penerbit
tersebut umumnya terdiri dari:
(1) Syarat pengapalan, seperti: larangan terhadap penggunaan
kapal-kapal berbendera negara tertentu;
(2) jangka waktu penyerahan dokumen;
(3) ketentuan-ketentuan tentang endorsement terhadap dokumen-
dokumen yang negotiable seperti B/L, Draft dan sebagainya;
(4) reimbursement instruction (perintah kepada negotiating bank
untuk penagihan terhadapnya);
(5) ketentuan pengiriman dokumen, ke mana dan berapa kali
pengiriman,.
3) Syarat-syarat L/C
L/C yang dibuka oleh suatu bank harus memenuhi syarat-syarat
umum yaitu:
(1) Menyebutkan nama dan alamat penerima dan pemohon dengan jelas;
(2) Menyebutkan masa berlakunya L/C;
(3) mencantumkan nama bank penerus (advising bank) yang dituju;
(4) Mencantumkan dengan tegas jenis L/C;
(5) Uraian barang harus jelas dan tegas;
(6) Ketentuan-ketentuan atau syarat-syarat dalam L/C harus jelas
tidak berbelit-belit dan tidak mensyaratkan hal-hal yang tidak
mungkin dipenuhi oleh penerima (beneficiary); dan
(7) Menyatakan bahwa L/C tunduk pada UCPDC dengan mencantumkan
klausul yang berbunyi: “This credit is subject to Uniform
Costums and Practice for Documentary Credit 1993 revision, ICC
Publication 500.”

f. Aturan Hukum Yang Berlaku (Applicable Rules)
Kredit berdokumen digunakan untuk membiayai transaksi
perdagangan internasional. Karena itu masalah hukum apa yang akan
mengaturnya merupakan salah satu persoalan yang penting.
Di samping itu, ada juga negara-negara yang mengeluarkan
hukumnya sendiri guna mengatur Kredit Dokumenter. Dalam hal
demikian, dapat saja antara hukum nasional suatu negara akan
menjadi konflik dengan hukum nasional negara lainnya.
30

Guna mencegah agar konflik tersebut tidak menjadi hambatan
bagi perdagangan internasional, suatu pemecahan atau jalan keluar
perlu ditempuh. Salah satu pemecahan yang acapkali ditempuh
adalah dengan mengacu kepada prinsip-prinsip hukum perdata
internasional yang relevan dalam mengatur L/C.
Ada juga keinginan agar hukum yang mengatur kredit
berdokumen itu tercipta adanya suatu keseragaman hukum. Salah
satu upaya ke arah unifikasi hukum tersebut adalah lahirnya UCP
oleh ICC.
Berdasarkan uraian di atas, aturan hukum yang mengatur
kredit berdokumen ini adalah: (1) Ketentuan-ketentuan Hukum
Perdata Internasional; dan (2) The Uniform Customs and Practice
(UCP).
31

(1) Hukum Perdata Internasional
Hukum yang berlaku terhadap L/C sebenarnya harus dibedakan
dengan hukum yang berlaku terhadap kontrak induk (yakni kontrak
penjualan yang menjadi dasar lahirnya L/C). Menurut van Houtte,
prinsip-prinsip berikut adalah yang biasanya berlaku dalam
praktek:
(a) Dalam hubungan antara nasabah dan bank penerbit (the issuing
bank), jika kesepakatan atau perjanjian kredit memuat klausul
pilihan hukum, maka hukum yang dipilih para pihaklah yang akan
berlaku terhadap kontrak.

30
Chia-Jui Cheng (ed.), op.cit., hlm. 574 (Schmitthoff menggambarkan
hukum nasional Inggris tentang L/C, yakni Section 72 dari the Bills of
Exchange Act 1882).
Bila tidak ada hukum yang dipilih, maka hubungan hukum antara
nasabah dan bank penerbit (the issuing bank) pada umumnya
diatur oleh hukum di negara di mana 'the most characteristic
performance' (pelaksanaan kontrak yang paling
berkarakteristik) adalah yang akan digunakan, atau di mana
pihak melaksanakan performance (prestasi) berdomisi, yaitu
biasanya negara di mana bank yang memberikan kredit berada;
32

(b) dalam hal kaitannya antara bank penerbit (the issuing bank),
bank penerus (the adivising bank) dan penerima (the
beneficiary), maka hukum yang berlaku adalah hukum yang
dipilih mereka.
33

Bila tidak ada hukum yang dipilih, maka hukum yang berlaku
adallah hukum di negara di mana kredit tersebut dicairkan. Hal
ini adalah hukum di (negara) mana penerima (beneficiary) atau
penjual menerima dokumen dan menerima pembayaran, yaitu
biasanya negara dari bank penerus (the adivising bank) atau
bank pengkonfirmasi (confirming bank).
34

(c) Jika tidak ada hukum yang dipilih oleh bank, maka hubungan
antara bank penerbit (the issuing bank) dan bank penerus (the
advising bank) diatur oleh hukum di mana bank penerbit
(advising bank) berada (didirikan). Hal ini biasanya berlaku
terhadap hubungan antara bank penerus (the advising bank) dan
penerima (the beneficiary). Sulit untuk diterima bila sistem
hukum yang berbeda diterapkan terhadap dua aspek dari satu
atau transaksi yang sama.
35



31
Ramlan Ginting, op.cit., hlm. 25; Hans Van Houtte, op.cit., 265.
32
Hans Van Houtte, op.cit., 264. Di negara-negara Common Law, penerapan
hukum perdata internasional menunjukkan bahwa dalam hubungan hukum antar
para pemohon (nasabah) dengan bank penerbit prinsip hukum perdata
interansional yang akan diterapkan adalah the law of the closest
connection and most real connection (Chia-Jui Cheng (ed.), op.cit., hlm.
580.
33
M. Rafiqul Islam, op.cit., hlm. 350 (mengaskan bahwa “... the parties
to the underlying transaction specify a choice of law and forum and
submit themselves to the law and jurisdictions of that country in the
case of a dispute”); Lihat pula Ramlan Ginting, op.cit., 25.
34
Hans Van Houtte, op.cit., 265.
(2) Uniform Customs and Practice
36

International Chamber of Commerce (ICC) yaitu Kamar Dagang
International telah menerbitkan ketentuan mengenai kredit
berdokumen. Ketentuan tersebut yakni Uniform Customs and Practice
for Documentary Credit (UCPDC). Aturan-aturan yang termuat di
dalamnya merupakan kodifikasi dari praktek-praktek perdagangan
internasional dan praktek perbankan.
37

ICC untuk pertama kali menerbitkan UCP pada tahun 1933. UCP
mengalami beberapa kali revisi. Revisi dilakukan pada tahun 1951,
1962, 1974, 1983 dan terakhir 1993 (UCP DC No 500 tahun 1993 yang
berlaku mulai tanggal 1 Januari 1994). Revisi ini dilakukan untuk
mengakomodasi perkembangan teknologi, perkembangan teknik dan
perkembangan di bidang pengangkutan.
Dalam pelaksanaan Kredit Dokumenter, bank-bank pada umumnya
di lebih dari 170 negara telah menundukkan diri kepada UCP. Dalam
dokumen L/C mereka mencantumkan klausul berbunyi: "This credit is
subject to Uniform Custems and practice for Documentary Credit,
ICC Publication No 500 1993 Revision."
38

UCP 500 memuat ketentuan-ketentuan dan penjelasan -
penjelasan tentang Kredit Dokumenter (L/C). UCP terdiri dari 49
pasal, yang dikelompokkan ke dalam sub bagian berikut:
A. General provisions and definitions
B. Form and notification of credits
C. Liabilities and responsibilities
D. Documents
E. Miscellaneuous provisions
F. Transferable credits
G. Assignment of proceeds.


35
Han van Houte, op.cit., hlm. 265.
36
Lihat antara lain, E.P. Ellinger, op.cit., hlm. 248 et.seq., George
Curmi, "Documentary Credits and Their Administration," dalam Jonathan
Reuvid (ed.), Strategic Guide to International Trade, Kogan Page, 1997,
hlm. 133 et.seqq.; M. Rafiqul Islam, op.cit., hlm. 350-351.
37
Ellinger mengungkapkan bahwa praktik awal penggunaan kredit
berdokumen in bermula pada praktik perbankan Amerika Serikat, yaitu
ketika dilangsungkannya the New American Commercial Credit Conference di
New York pada tahun 1920. (E.P. Ellinger, op.cit., hlm. 248).
38
Sesuai dengan bunyi ketentuan pasal 1 UCP.
Aturan-turan UCP sifat atau kekuatan hukumnya semata-mata
mengatur. Kesepakatan para pihak masih tetap berlaku. Bahkan
kesepakatan para pihak dapat mengenyampingkan beberapa aturan
ketentuan dari UCP. Hal ini dapat terjadi manakala mereka
beranggapan bahwa aturan tertentu dari UCP tidak sesuai dengan
keinginan mereka.
39

Meskipun UCP telah diimplementasikan di banyak negara, UCP
sendiri memiliki beberapa kelemahan sebagai berikut:
(1) UCP pada prinsipnya akan berlaku hanya atau sepanjang bank
penerbit mencantumkan atau memilih UCP secara tegas sebagai
aturan yang mengatur L/C.
40
Dalam kaitan ini Ellinger
menyatakan bahwa:
“... it would appear advisable to regard the Code ... as being
applicable by reason of its incorporation in documentary
credit transaction. It would, thus, constitute a contractual
document and would not enjoy the status of a set of norms
consecreated by usage.”
41


(2) UCP tidak mengatur masalah penipuan dalam transaksi L/C.
Menurut Ginting, unsur penipuan ini merupakan alasan hukum
bagi bank penerbit atau kuasanya untuk menolak melakukan
pembayaran L/C kepada penerima meskipun semua dokumen yang
disyaratkan sesuai dengan persyaratan.
42

(3) UCP tidak memuat aturan mengenai pilihan hukum. Disebutkan di
atas, bahwa negara-negara pun kadang kala memiliki aturan
hukum nasional yang mengatur kredit berdokumen. Dalam hal
terjadinya konflik hukum, UCP tidak memuat aturan tegas
mengenai penyelesaiannya.


39
Ademuni-Odeke, The Law of International Trade, London: Blackstone,
1999, hlm. 271. (Beliau menegaskan bahwa "... the UCP is subject to the
express terms of the credit"); lihat pula E.P. Ellinger, op.cit., hlm.
251 et.seq. (mengungkapkan kekuatan mengikat UCP di berbagai negara yang
ternyata berbeda-beda).
40
Lihat pasal 1 UCP; Lihat pula Clive M. Schmitthoff, “The New Uniform
Customs for Letters of Credit,” dalam: Chia-Jui Chen (ed.), op.cit.,
hlm. 449.
41
E.P. Ellinger, op.cit., hlm. 252-253.
42
Ramlan Ginting, op.cit., hlm. 3.

g. Klasifikasi L/C
(1). Jenis-jenis L/C.
(1) Revocable L/C
Jenis L/C dapat berupa Irrevocable L/C dan Revocable L/C.
43

Menurut UCP, para pihak harus menegaska apakah suatu L/C adalah
Revocable atau Irrevocable.
44

Revocable L/C adalah L/C yang dapat diubah atau dibatalkan
oleh penerbit secara sepihak tanpa persetujuan dari pihak
penerima. Pasal 8 UCP menyatakan: “A revocable credit may be
amended or cancelled by the Issuing Bank at any moment and
without prior notice to the Beneficiary.”
Dalam hal ini, kedudukan penerima lemah. Ia menanggung
resiko yang tidak ringan. Hal ini antara lain karena sifatnya,
maka L/C tersebut tiba-tiba dibatalkan atau diubah oleh penerbit.
Namun demikian UCP tetap melindungi penerima (bank penerima) yang
beritikad baik. Bank penerima (negotiating bank) yang telah
membayar L/C kepada penerima sebelum ia diberitahu adanya
pembatalan sepihak dari penerbit, ia tetap berhak atas pembayaran
dari penerbit. Pembayaran L/C dapat dilakukan dengan cara
pembayaran secara unjuk (sight payment), akseptasi (acceptance),
negosiasi (negotiation), dan pembayaan kemudian (deferred
payment).
45
Pasal 8 UCP menyatakan:
“...the Issuing Bank must:
i. reimburse another bank with which revocable Credit has
been made available for sight payment, acceptance or
negotiation – for any payment, acceptance or
negotiation made by such bank – prior to receipt by it
of notice of amendment or cancellation against
documents which appear on their face to be in
compliance with the terms and conditions of the
Credit;
ii. reimburse another bank with which a revocable Credit
has been made available for deferred payment, if such
a bank has, prior to receipt by it of notice of
amndment or cancellation, taken up documents which

43
Pasal 6 (a) UCP.
44
Pasal 6 (b) UCP.
45
Ramlan Ginting, op.cit., hlm. 36.
appear on their face to be in compliance with the
terms and conditions of the Credit.


(2) Irrevocable L/C
Disebutkan di atas bahwa para pihak harus menegaskan jenis
L/C-nya. Dalam hal tidak ada penegasan tersebut, maka suatu L/C
dianggap sebagai Irrevocable L/C.
46
Contoh klausul Irrevocable L/C
memuat ketentuan atau bunyi klausul berikut:
“We undertake to honour such drafts on presentation provided
that they are drawn and presented in conformity with the
terms of this credit.”
47

Irrevocable L/C adalah L/C yang tidak dapat dibatalkan atau
diubah secara sepihak tanpa persetujuan dari pihak-pihak yang
terlibat dalam transaksi L/C yaitu penerima dan bank penerbit.
Kedudukan penerima lebih terjamin dari risiko. Tiap-tiap
perubahan harus ada persetujuannya. Karena sifatnya yang tidak
dapat diubah secara sepihak, maka jenis L/C ini yang paling
banyak disukai oleh penerima dan bank (bank penerima yang
menyediakan kredit ekspor).




46
Pasal 6 (c) UCP.
47
Ademuni-Odeke, op.cit., hlm. 277.
(3) Irrevocable Confirmed L/C
Jenis L/C adalah Irrevocable apabila L/C tersebut
mendapatkan konfirmasi sebuah bank pengkonfirmasi (Confirming
Bank). Dalam hal ini bank pengkonfirmasi turut menjamin kewajiban
bank penerbit dengan memberikan konfirmassi atau janjinya untuk
membayar L/C.
Tampak bahwa jenis L/C ini memberi kepastian jaminan kepada
penerima. Jika bank penerbit tidak melakukan pembayaran atas
barang yang dikapalkan, maka bank pengkonfirmasi akan membayar
barang yang telah dikapalkan.
Permintaan demikian demikian biasanya dituliskan dengan
kata-kata sebagai berikut dalam L/C: “Please advice beneficiary
with adding your confirmation”.
Yang dapat menjadi bank pengkonfirmasi bisa bank penerus
atau bank lain yang diminta oleh bank penerbit. Dengan adanya
permohonan korfirmasi tersebut, dan jika bank yang diminta
confirm L/C tersebut menyepakatinya, maka ia akan menambahkan
konfirmasinya dalam L/C, sebelum L/C diserahkan kepada penerima.

(4) Sight (Payment) L/C
Jenis Sight L/C (Payment L/C) adalah L/C yang pembayaranya
dilakukan secara tunai segera setelah dokumen-dokumen yang
disyaratkan diajukan atau diserahkan.
Setelah penerima mengapalkan barang, maka dia dapat langsung
minta pembayaran kepada negotiating bank dengan menyerahkan
dokoumen-dokumen pengapalan yang diperlukan disertai dengan
wesel/draf-nya.
Atas pembayaran yang dilakukan, maka bank penegosiasi
(negotiating bank) segera melakukan penagihan/reimbursement
kepada bank penerbit (opening/issuing bank). Bank penerbit akan
segera pula melakukan pembayaran pada saat menerima dokumen-
dokumen tersebut.

(5) Acceptance L/C
Jenis Acceptance L/C atau L/C berjangka adalah L/C yang
pembayarannya dilakukan pada suatu jangka waktu tertentu setelah
wesel diunjukan atau setelah barang dikapalkan.
Acceptance L/C merupakan pemberian kredit kepada pembeli
oleh penjual sebab pembeli di luar negeri akan menerima barang-
barang tanpa melakukan pembayaran pada saat yang sama melainkan
pada jangka waktu tertentu sesuai dengan yang ditetapkan dalam
L/C.


2. Bentuk Khusus Kredit Berdokumen
(1) Standby L/C
Jenis Standby L/C lebih dikenal sebagai alat atau sarana
penjamin. Jenis L/C ini acapkali disebut pula sebagai Guarantee
L/C. Jenis ini cenderung digunakan di wilayah suatu negara di
mana isu jaminan itu tidak dimungkinkan atau tidak dibolehkan.
48

Jenis L/C ini dimaksudkan untuk melindungi penerima jika pihak
lainnya wanresptasi (berdasarkan kontrak).
Menurut Ginting, jenis L/C ini adalah “bahwa bank penerbit
bersiap-siap untuk melaksanakan kewajibannya dalam hal pemohon
wanprestasi.”
49

Perlu pula dinyatakan di sini bahwa Standby L/C dalam hal
tertentu berbeda dengan bank guarantee (garansi bank). Perbedaan
tersebut Standby L/C merupakan kewajiban utama dari bank
penerbit.
50
Yang membedakan jenis L/C ini dengan jaminan bank
adalah bahwa Standby L/C tunduk pada UCP.
51
Sedangkan Bank garansi
tunduk pada hukum nasional. Di samping itu, dalam hal adanya
default (non-performance), pencairan dana langsung dilaksanakan
oleh Bank berdasarkan klaim yang diterima. Sedangkan pada bank
garansi, bank penerbit garansi bank baru mencairkan dana atau
membayar penerima (beneficiary) setelah berhasil dibuktikan
adanya default (non performance).
52




48
George Curmi, op.cit., hlm. 134.
49
Ramlan Ginting, op.cit., hlm. 50. Cf., Ellinger menyatakan bahwa
standby credit ini “... is furnished at the instruction of the seller to
protect the buyer if the goods turn out to be faulty” (E.P. Ellinger,
op.cit., hlm. 247).
50
Ramlan Ginting, op.cit., hlm. 50.
51
George Curmi, op.cit., hlm. 134.
52
Masukan dari Sdr. Pitman, 23 Oktober 2004.
(2) Transferable L/C
Transferable L/C adalah jenis L/C yang dapat dialihkan dari
penerima I kepada satu atau lebih penerima lainnya. Kredit yang
dialihkan dapat seluruh atau sebagiannya.
53
Dalam hal ini penerima
1 hanya dapat mengajukan permohonan. Ia tidak dapat memerintah
bank-nya untuk mengalihkan kredit. Keputusan untuk mengahlihkan
atau tidak tetap berada pada keputusan bank penerus (atau bank
pengkonfirmasi).
54

Jenis L/C ini diatur dalam pasal 48 UCP. Pasal ini
menyatakan:
“A transferable Credit is a Credit under which the
Beneficiary (First Beneficiary) may request the bank
authorised to pay, incur a deferred payment undertaking,
accept or negotiate (the “Transferring Bank” or in the case
of a freely negotiable Credit, the bank specifically
authorised in the Credit as a Transferring Bank, to make the
Credit available in whole or in part to one or more other
Beneficiary(ies) (Second Beneficiary(ies)).”




53
George Curmi, op.cit., hlm. 133.
54
George Curmi, op.cit., hlm. 134.
(3) Back to Back L/C
Back to Back L/C adalah L/C yang dibuka oleh penerima I dari
sebuah L/C kepada penerima lainnya. Di dalam jenis ini, transaksi
L/C melibatkan dua L/C, L/C induk (Master L/C) dan L/C anak (Baby
L/C).
Dalam L/C back to Back penerima I semata-mata bertindak
sebagai pemohon. Ia bertanggung jawab penuh terhadap
pembayarannya kepada penerima II. Kewajiban penerima II adalah
memenuhi ketentuan-ketentuan sesuai dengan yang ditetapkan dalam
Back to Back L/C, tanpa melihat syarat dan ketentuan yang ada
pada L/C induknya (Master L/C).
L/C induk dan L/C anak masing-masing terpisah, meskipun
persyaratannya sama. Yang berbeda adalah nilai L/C dan tanggal
jatuh tempo L/C. L/C induk lainnya relatif lebih besar daripada
L/C anak. L/C Induk memiliki jatuh tempo yang lebih lama
dibandingkan jatuh tempo L/C anak.
55

Jenis L/C ini lebih banyak digunakan jika kredit yang
ditransfer tidak dapat digunakan karena berbagai alasan. Misalnya
adanya perbedaan dalam nilai mata uang pembelian dan nilai mata
uang penjualan barang dan dokumen-dokumen pengapalan barang yang
harus diubah atau diganti.
56




55
Ramlan Ginting, op.cit., hlm. 47.
56
George Curmi, op.cit., hlm. 134.
(4) Revolving L/C
Revolving L/C adalah L/C yang secara otomatis berlaku secara
berulang-ulang oleh penerima dalam jumlah tertentu selama jangka
waktu tertentu, tanpa harus memasukkan permohonan penerbitan L/C
baru atau memohon perubahan terhadap L/C.
57

Revolving L/C dapat bersifat Kummulatif atau Non-kummulatif.
Dalam hal Revolving L/C kumulatif, bila nilai L/C tidak
direalisasi seluruhnya, maka sisa nilai L/C tersebut akan
ditambahkan dengan nilai L/C semula untuk pengapalan periode
berikutnya. Dalam hal Non-kummulatif, sisa L/C yang tidak
direalisasi dihapus, dan untuk masa berlaku/ periode berikutnya
adalah sebesar nilai L/C semula.
58



57
Lihat pula George Curmi, op.cit., hlm. 134.
58
Amir M.S., op.cit., hlm. [FIND PLS].
(5) Red Clause L/C
Red Clause L/C adalah jenis L/C yang dibayar di muka setelah
terpenuhinya syarat-syarat tertentu. Misalnya, dengan
diperlihatkannya tanda terima yang sederhana (yang ada), invoice
dan dokumen pengapalan. Nilai pembayaran di muka ini dinyatakan
dalam L/C. misalnya, 30 % atau 40 % dari nilai barang.
59

Jenis L/C ini memuat klausul khusus yang memberi wewenang
kepada bank penerus (advising bank) untuk melakukan pembayaran
sejumlah uang muka kepada penerima sebelum dokumen-dokumen
diserahkan atau pun sebelum barang dikapalkan. Klausul Red Clause
yang dicantumkan dan dicetak dengan “warna merah” (red clause)
yang isinya memungkinkan penerima menarik pembayaran L/C di
muka.
60



59
George Curmi, op.cit., hlm. 134. Jenis yang sama dengan Red Clause
L/C adalah Green Clause L/C. Kedua jenis L/C ini pada prinsipnya adalah
sama. Hanya dalam Green Clause, biasanya bank mensyaratkan dokumen-
dokumen tambahan yang membuktikan lebih kuat adanya barang yang
diperjual-belikan. Misalnya saja, tanda terima gudang barang, dsb.
(George Curmi, op.cit., hlm. 134).
60
Ramlan Ginting, op.cit., hlm. 47.
C. Penutup
Dari uraian di atas dapat dikemukakan beberapa catatan
berikut:
(1) Kredit berdokumen (L/C) merupakan salah satu instrumen
pembayaran yang lahir dari praktek kebiasaan yang sangat
dibutuhkan oleh para pihak (penjual dan pembeli).
(2) Kredit berdokumen merupakan salah satu instrumen yang lahir
karena peran perbankan dalam memfasilitasi transaksi
perdagangan internasional. Peran inilah yang menjadikan
indikasi mengapa dalam hukum perdagangan internasional bank
dipandang pula sebagai salah satu subyek hukum yang cukup
penting.
61

(3) Sebagai sarana pembayaran, salah satu keunikan dari L/C ini
adalah sifatnya yang independen atau terlepas dari kontrak
penjualan. Dengan sifatnya ini, ketidakabsahan suatu kontrak
penjualan tidak mengakibatkan tidak sahnya pembayaran yang
dilakukan melalui L/C.
(4) Yang dapat menjadi masalah dalam L/C ini adalah kekuatan
hukumnya, khususnya aturan-aturan L/C yang tercantum dalam
UCPDC (UCP). UCP pun sebenarnya adalah instrumen hukum yang
lahir karena kebiasaan dagang. Kebiasaan dagang yang
dilakukan terus menerus dan kemudian adanya perasaan atau
anggapan bahwa kebiasaan tersebut mengikat, maka sebenarnya
kebiasaan tersebut adalah hukum. Namun khusus untuk UCP ini,
meskipun hukum, tetapi masih perlu adanya penegasan dari para
pihak untuk menundukkan dirinya secara tegas pada UCP.
(5) Yang mungkin dapat pula menjadi masalah adalah bagaimana
posisi badan peradilan terhadap penundukan diri para pihak
terhadap UCP. Sesuai dengan prinsip hukum perdagangan
internasional, khususnya prinsip kebebasan para pihak, maka
seyogyanyalah badan peradilan menghormati kehendak para pihak
tersebut terhadap aturan-aturan UCP yang mengikat mereka.

61
Lihat Bab 2 buku ini mengenai subyek hukum perdagangan
internasional,supra.
DAFTAR PUSTAKA
Ademuni-Odeke, The Law of International Trade, London: Blackstone, 1999.
Amir M.S., Letter of Credit: Dalam Bisnis Ekspor Impor, Jakarta: PPM,
Edisi 2, Juli 2001.
Bugeja, John, "Trade Finance and Its Sources," dalam: Jonathan Reuvid
(ed.), The Strategic Guide to International Trade, Kogan Page,
1997.
Chia-Jui Cheng (ed.), Clive M. Schmitthoff's Select Essays on
International Trade Law, London: Martinus Nijhoff Publ., 1988.
Curmi, George, "Demand Guarantees and Contracts Bonds," dalam: Jonathan
Reuvid (ed.), The Strategic Guide to International Trade, Kogan
Page, 1997.
Ellinger, E.P., ‘Letter of Credit,’ dalam: Norbert Horn and Clive M.
Schmitthoff (eds.), The Transnational Law of International
Commercial Transactions, Deventer: Kluwer, 1982.
Islam, Rafiqul M., International Trade Law, Sydney: LDC, 1999.
Ramlan Ginting, Letter of Credit: Tinjauan Aspek Hukum dan Bisnis,
Jakarta: Penerbit Salemba Empat, 2000.
Siswanto Sutojo, Membiayai Perdagangan Ekspor Impor: International Trade
Financing. Seri Manajemen No. 3, Jakarta: PT Damar Mulia Pustaka,
2001.
Van Houtte, Hans, The Law of International Trade, London: Sweet and
Maxwell, 1995.


1
BAB VI
E-COMMERCE MENURUT UNCITRAL MODEL LAW ON ELECTRONIC
COMMERCE 1996

A. Pengantar
Perkembangan perdagangan internasional tidak akan pernah
terlepas dari perkembangan teknologi.
1
Karenanya dalam upaya
bangsa-bangsa mencapai kemakmuran, teknologi tidak terlepas dari
upaya tersebut.
Perkembangan aturan-aturan perdagangan juga tidak terlepas
dari pengaruh perkembangan teknologi. Pengaruh tersebut dewasa
ini semakin nyata dengan lahirnya e-commerce (electronic
commerce). Perkembangan ini cukup signifikan antara lain tampak
dari kuantitas transaksi melalui sarana ini. John Nielson, salah
seorang pimpinan perusahaan Microsoft, menyatakan bahwa dalam
kurun waktu 30 tahun, 30 % dari transaksi penjualan kepada
konsumen akan dilakukan melalui e-commerce.
2

Batasan e-commerce adalah transaksi-transaksi dalam
perdagangan internasional yang dilakukan melalui pertukaran data
elektronik dan cara-cara komunikasi lainnya.
3
Pertukaran data
elektronik tersebut dilakukan melalui berbagai teknologi. Salah
satunya adalah melalui electronic data interchange (EDI).
4

Perkembangan e-commerce mulai berkembang secara signifikan
ketika internet mulai diperkenalkan. Perkembangan internet ini

1
Cf., Assafa Endeshaw, Internet and E-commerce Law, Singapore: Prentice
Hall, 2001, hlm. 3 (mengutip Nathan Rosenberg, 1982, bahwa “the history
of mankind is also a history of the development of artefacts, the
history of technology”).
2
Abu Bakar Munir, Cyber Law: Policies and Challenges, Malaysia,
Singapore, Hong Kong: Butterworths Asia, 1999, hlm. 205.
3
Definisi UNCITRAL, dalam Resolusi Majelis Umum-PBB, 51/162
(“transactions in international trade which are carried out by means of
electonic data interchange and other means of communications”).
4
EDI mulai digunakan di Amerika Serikat pada akhir tahun 1960-an.
Sistem ini menghemat biaya, waktu dan kertas. Namun penggunaan EDI
kurang begitu populer. Hanya 5 % dari perusahaan-perusahaan di dunia
yang menggunakan EDI. (Abu Bakar Munir, op.cit., hlm. 205); Assafa
Endeshaw, op.cit., hlm. 243, et.seq.

2
mendorong transaksi-transaksi perdagangan internasional semakin
cepat. Dengan internet batas-batas wilayah negara dalam melakukan
transkasi dagang menjadi tidak lagi signifikan. Praktek
perdagangan melalui internet digambarkan juga sebagai 'final
frontiers of commerce' pada abad ke-21 ini.
5

Transaksi melalui e-commerce ini memiliki beberapa ciri
berikut:
(1) transaksi secara e-commerce memungkinkan para pihak memasuki
pasar global secara cepat tanpa dirintangi oleh batas-batas
negara;
(2) transaksi secara e-commerce memungkinkan para pihak
berhubungan tanpa mengenal satu sama lainnya;
(3) transaksi melalui e-commerce sangat bergantung pada sarana
(teknologi) yang keandalannya kurang dijamin. Karena itu
transaksi secara e-commerce ini keamanannya belum atau tidak
begitu dapat diandalkan.
6

Transaksi melalui e-commerce memiliki beberapa keuntungan:
(1) transaksi dagang menjadi lebih efektif dan cepat;
(2) transaksi dagang menjadi lebih efisien, produktif dan
bersaing;
(3) lebih memberi kecepatan dan ketepatan kepada konsumen;
(4) mengurangi biaya administratif;
(5) memperkecil masalah-masalah sebagai akibat perbedaan budaya,
bahasa dan praktek perdagangan;
(6) meningkatkan pendistribusian logistik;
7
dan
(7) Memungkinkan perusahaan-perusahaan kecil untuk menjual
produknya secara global.
8


5
Abu Bakar Munir, op.cit., hlm. 205.
6
Abu Bakar Munir, op.cit., hlm. 205; Sanson, op.cit., hlm. 144 (Sanson
mengungkapkan pula 4 masalah dalam bertransaksi secara e-commerce, ini:
(1) kerahasiaan; (2) keaslian data (authentication); (3) integritas
data; dan (4) masalah non-repudiation, yaitu masalah pengakuan pengirim
data bahwa memang ia telah mengirim data tersebut).
7
Rafiqul Islam, International Trade Law, London: LBC, 1999, hlm. 426.

3
B. Masalah Hukum: Pengawasan
Meningkatnya transaksi-transaksi dagang melalui e-commerce
ternyata juga telah melahirkan berbagai masalah lain dalam hukum
perdagangan internasional. Masalah ini timbul mengingat transaksi
secara e-commerce adalah praktik baru di bidang perdagangan dan
berkembang progresif. Sedangkan aturan-aturan hukum dibuat untuk
mengatur hal-hal atau hubungan-hubungan hukum yang sedang atau
telah terjadi sehingga sifatnya agak statis.
Masalah utamanya adalah apakah ketentuan-ketentuan atau
aturan-aturan hukum yang ada dapat mengakomodasi lahirnya
transaksi-transkasi yang dilahirkan melalui media e-commerce ini
yang sifatnya transnasional ini.
Di samping itu masalah lain yang juga penting adalah apakah
peraturan hukum perdagangan inernasional yang ada sekarang dapat
memberi perlindungan atau keseimbangan pengaturan antara
pengusaha, konsumen dan pemerintah.
Secara khusus masalah-masalah tersebut dapat diuraikan
lebih lanjut menjadi masalah-maalah berikut:
(1) masalah pembuktian mengenai data-data yang terdapat dalam e-
commerce;
(2) masalah keabsahan suatu kontrak dan bentuk kontrak e-commerce
ini, khususnya mengenai pembuktian orisinalitas data
(originality); syarat tertulis (writing); dan masalah tanda
tangan (signature);
(3) masalah kapan kata sepakat telah terjadi dalam transaksi-
transaksi yang dilakukan secara e-commerce;
(4) masalah pengesahan, pengakuan penerimaan, penyimpanan data
elektronik;
(5) masalah hilangnya wewenang bank sentral untuk mengawasi nilai
tukar mata uang dan penerimaan pemerintah dari transaksi-
transaksi dagang yang dikeluarkan secara elektronik;
9
dan

8
Sanson, op.cit., hlm. 143.
9
Rafiqul Islam, Op.cit., hlm. 426.

4
(6) masalah rintangan-rintangan (perdagangan) dari adanya
kebijakan-kebijakan (perdagangan) negara yang mengakibatkan
transaksi-transaksi e-commerce ini menjadi tidak lancar
(terganggu).
Negara-negara di dunia menjadi semakin sadar tentang
masalah-masalah yang lahir dari transaksi-transaksi e-commerce
ini. Kekhawatiran ini tidak bisa tidak harus segera diantisipasi
mengingat transaksi-transkasi e-commerce menjadi semakin
meningkat sehubungan dengan meningkatnya globalisasi ekonomi dan
hubungan-hubungan dagang.
Menghadapi perkembangan ini, umumnya negara-negara di dunia
mengeluarkan aturan-aturan hukum nasionalnya untuk
mengantisipasinya. Namun aturan hukum nasional tersebut yang
cenderung berbeda dengan aturan hukum nasional negara lainnya
dapat menjadi rintangan cukup serius terhadap perdagangan
internasional.
10

Sebenarnya ada cara efektif yang dapat ditempuh negara-
negara untuk membuat atau menciptakan aturan internasional di
bidang e-commerce. Cara tersebut adalah membuat suatu perjanjian
atau konvensi internasional yang berlaku bagi negara-negara di
dunia. (Sudah barang tentu setelah menempuh cara-cara atau
prosedur normal untuk terikatnya suatu perjanjian internasional
terhadap suatu negara).
Badan atau organisasi internasional yang berkpentingan
dengan aturan internasional antara lain adalah UNCITRAL.
11
Tetapi
yang ditempuh UNCITRAL adalah justru menempuh cara yang tidak
tersebut di atas, tetapi merumuskan suatu Model Law.
Sesuai dengan namanya, yaitu Model Law, aturan-aturannya
tidak mengikat negara. Negara-negara bebas untuk mengikuti
sepenuhnya mengikuti sebagian atau menolak Model Law tersebut.

10
Negara yang mula-mula berinisiatif menyusun aturan-aturan hukum di
bidang e-commerce ini adalah Amerika Serikat yang kemudian diikuti
negara-negara Eropa Barat.

5
Pada tahun 1996,UNCITRAL berhasil merumuskan suatu aturan
hukum cukup penting yakni UNCITRAL Model Law on Electronic
Commerce.
12
Tujuan dari Model Law ini adalah menggalakkan aturan-
aturan hukum yang seragam dalam penggunaan jaringan komputer guna
transaksi-transaksi komersial.
Alasan utama digunakannya instrumen Model Law tampak dalam
resolusi No 51/162 tahun 1996 yang menyatakan sebagai berikut:
“Convinced that the establishment of a model law
facilitating the use of electronic commerce that is
acceptable to States with different legal, social and
economic systems, could contribute significantly to the
development of harmonious international economic relations,
Noting that the Model Law on Electronic Commerce was
adopted by the Commission at its twenty-ninth session after
consideration of the observations of Governments and
interested organizations,
Believing that the adoption of the Model Law on Electronic
Commerce by the Commission will assist all States
significantly in enhancing their legislation governing the
use of alternatives to paper-based methods of communication
and storage of information and in formulating such
legislation where none currently exists,...”.
Dari bunyi resolusi di atas, terdapat 3 (tujuan) alasan
utama pemilihan Model Law ini, yaitu:
(1) Model Law yang sifatnya dapat diterima oleh negara-negara
dengan sistem hukum, sosial dan ekonomi yang berbeda. Model
Law dapat pula memberi perkembangan secara signifikan
terhadap perkembangan hubungan-hubungan ekonomi
internasional yang harmonis;
(2) Model Law dipilih karena memang sebelumnya negara-negara
(dan organisasi internasional yang berkepentingan)
mengusulkan digunakannya instrumen hukum ini; dan
(3) Digunakannya Model Law dapat membantu negara-negara di
dalam membuat perundangan nasionalnya di bidang e-commerce.

11
Lihat Bab I di atas mengenai upaya UNCITRAL dalam mengupayakan
harmonisasi (dan unifikasi) hukum perdagangan internasional.
12
UNCITRAL Model Law on Electronic Commerce with Guide to Enactment,
1996, with additional article 5 bis as adopted in 1998. (Selanjutnya
disebut “Guide to Enactment”).

6
Sebenarnya organisasi internasional yang memperhatikan
masalah hukum e-commerce ini tidak hanya UNCITRAL. Berbagai
lembaga internasional yang juga menjadikan masalah (hukum) e-
commerce ini dalam agendanya antara lain adalah WTO,
International Telecommunication Union (ITU); World Intellectual
Property Organization (WIPO); Kamar Dagang Internasional
(International Chamber of Commerce atau ICC), dll.
13


C. UNCITRAL MODEL LAW
1. Pengantar
Majelis Umum PBB mengesahkan UNCITRAL Model Law dengan
Resolusi 51/162 tanggal 16 Desember 1996. UNCITRAL Model Law ini
dibentuk sebagai aturan dasar untuk mengatur keabsahan,
pengakuan, dan akibat dari pesan-pesan elektronik (electronic
messaging) yang didasarkan pada penggunaan komputer dalam
perdagangan.
14

Tujuan utama atau tujuan khusus dari Model Law ini adalah:
(1) memberikan aturan-aturan mengenai e-commerce yang ditujukan
kepada badan-badan legislatif nasional atau badan pembuat UU
suatu negara;
(2) memberikan aturan-aturan yang besifat lebih pasti untuk
transaksi-transaksi perdagangan secara elektronik.
15

Model Law terdiri dari 17 pasal yang terbagi ke dalam 2
bagian dan 4 Bab. Bagian I Bab 1 memuat ketentuan umum. Bab 2
mengatur penerapan persyaratan-persyaratan hukum terhadap pesan
data. Bab 3 mengatur komunikasi pesan data. Bagian II mengatur e-

13
Lihat lebih lanjut: E. Saefullah dan Danrivanto Budhijanto,
’Perspektif Hukum Internasional tentang Cyber Law,’ dalam: Mieke Komar
Kantaatmadja, et.al. (eds.), op.cit., hlm. 93-94; Sanson, op.cit., hlm.
145.
14
Rafiqul Islam, Op.cit., hlm. 426.
15
Abdul Bakar Munir, Op.cit., hlm. 213.

7
commerce dalam bidang-bidang khusus. Bagian II ini hanya terdiri
dari 1 bab saja, yaitu bab mengenai pengangkutan barang.
16

Maksud "pesan data elektronik (electronic data message)
adalah pengiriman dan penerimaan dan penyimpananan informasi
melalui cara-cara elektronik, optik atau cara-cara lainnya
seperti EDI, electronic mail, telegram, telex atau telecopy.
(Dalam tulisan ini selanjutnya, penggunaan data elektronik dan
pesan data mempunyai pengertian yang sama).
Sedangkan kata perdagangan (commerce) mengandung pengertian
luas, yakni semua hubungan yang bersifat komersial. Hubungan-
hubungan tersebut dapat lahir karena adanya hubungan-hubungan
yang bersifat kontraktual atau bukan. Lebih lanjut Model Law
memberikan ilustrasi hubungan-hubungan komersial (dagang) yang
luas tersebut, yakni:
“Relationships of a commercial nature include, but are not
limited to, the following transactions: any trade
transaction for the supply or exchange of goods or
services; distribution agreement; commercial representation
or agency; factoring; leasing; construction of works;
consulting; engineering; licensing; investment; financing;
banking; insurance; exploitation agreement or concession;
joint venture and other forms of industrial or business
cooperation; carriage of goods or passengers by air, sea,
rail or road.”
17


Model Law mensyaratkan penafsiran secara itikad baik
terhadap aturan-aturannya. Penafsiran tersebut harus sesuai
dengan:

16
Dari struktur atau komposisi Bab yang diaturnya tampak sekilas bahwa
bab-bab UNCITRAL Model Law tidak lengkap. Khususnya bab terakhir yaitu
bidang-bidang khusus (specific areas), ternyata hanya memuat 1 bab saja
yaitu bab mengenai pengangkutan barang. Hal ini memang oleh perancang
Model Law sengaja dibuat demikian. Perancang Model Law sebenarnya
berharap bahwa di kemudian hari ada perkembangan pengaturan yang khusus
mengenai bidang-bidang lainnya. Sehingga Model Law memuat ketentuan
demikian. Lihat pula para. 11 dan 12 Guide to Enactment. Sebagai contoh
pada tahun 1998, UNCITRAL memasukkan pasal tambahan baru untuk pasal 5
yaitu pasal 5 bis.
17
Pasal 1 Model Law.

8
(1) prinsip hukum internasional tentang penafsiran;
18

(2) kebutuhan-kebutuhan khusus untuk memajukan keseragaman dalam
penerapannya.
19

Dalam mengesahkan Model Law ini, para pihak dapat mengubah
atau menyesuaikan aturan-aturan muatan Model Law berdasarkan
kesepakatan, sesuai dengan kebutuhannya, terutama Bab II dan III.
UNCITRAL Model Law memuat dua prinsip pendekatan penting
yang menjadi landasan pengaturannya. Dua prinsip pendekatan
tersebut adalah (i) functional equivalence approach; dan (ii)
technology neutrality approach.
Maksud functional equivalence approach (pendekatan yang
secara fungsinya sama) adalah bahwa dokumen dan komunikasi-
komunikasi elektronik memiliki fungsi dan tujuan yang sama
seperti halnya dokumen-dokumen kertas dan komunikasi.
20

Maksud technology neutrality approach (pendekatan
kenetralan suatu teknologi) berarti bahwa suatu komunikasi
elektronik diperlakukan sama terhadap teknologi komunikasi
elektronik lainnya. Dengan demikian persyaratan-persyaratan umum
untuk dianggap sebagai teknologi berlaku secara umum.
21


18
Cf., lihat Bab III di atas mengenai sumber-sumber hukum perdagangan
internasional. Dalam hal mengenai penafsiran, hukum internasional telah
memberi aturan mengenai penafsiran dalam Konvensi Wina 1969 tentang
Hukum Perjanjian (the Vienna Convention on the Law of Treaties of
1969).
19
Pasal 3 UNCITRAL Model Law tidak secara tegas menjelaskan apa yang
dimaksud dengan kebutuhan-kebutuhan khusus ini. Tetapi dalam Guide to
Enactment kita dapat pahami bahwa yang dimaksud dengan kebutuhan-
kebutuhan khusus tersebut tidak lain adalah Model Law itu sendiri. Para.
5 Guide to Enactment berbunyi sebagai berikut: “... Furthermore, at an
international level, the Model Law may be useful in certain cases as a
tool for interpreting existing international conventions and other
international instruments that create legal obstacles to the use of
electronic commerce, for example by prescribing that certain documents
or contractual clauses be made in written form. As between those States
parties to such international instruments, the adoption of the Model Law
as a rule of interpretation might provide the means to recognize the use
of electronic commerce and obviate the need to negotiate a protocol to
the international instrument involved.” (Huruf tebal oleh penulis).
20
Para. 16 Guide to Enactment; Sanson, Op.cit., hlm. 145.
21
Sanson, Op.cit., hlm. 145.

9
Pada intinya muatan UNCITRAL Model Law memuat ketentuan-
ketentuan umum berikut:
(1) suatu data elektronik seperti halnya dokumen-dokumen hukum
lainnya harus mengikat secara hukum;
(2) suatu data elektronik dapat berisikan informasi yang dapat
digunakan sebagai referensi;
(3) suata data elektronik adalah suatu tulisan untuk tujuan
hukum, apabila dapat diakses sebagai referensi di kemudian
hari;
(4) suatu data elektronik mencakup suatu tanda tangan, apabila
dapat diidentifikasi orang yang mengirim pesan tersebut dan
indikasi bahwa orang tersebut telah menyetujui informasi
dalam data tersebut;
(5) suatu data elektronik merupakan suatu dokumen asli
(original) apabila informasi yang dikandung dapat secara
terpercaya dipertahankan dalam bentuk aslinya; dan
(6) suatu pertukaran data elektronik dapat menimbulkan suatu
penawaran (offer) dan penerimaan (acceptance) dan karenanya
membentuk suatu kontrak yang sah.
22




22
Mieke Komar Kantaatmadja, “Pengaturan Kontrak Untuk Perdagangan
Elektronik (E-Contracts),” dalam: Mieke Komar Kantaatmadja, et.al.
(eds.), Cyber Law: Suatu Pengantar, Jakarta: ELIPS, 2002, hlm. 3-4
(mengacu kepada Gerald R. Ferrera, et.al., Cyber Law, Ohio: South-
Western College, 2001, hlm. 363.

10
2. Penerapan Persyaratan Hukum Terhadap Pesan Data
Bab 2 Model Law diawali dengan judul ‘Penerapan Persyaratan
Hukum terhadap Pesan Data.’ Bab ini diawali dengan pasal 5 yang
juga dianggap sebagai inti dari Model Law. Pasal ini mengakui
akibat hukum, keabsahan dan dapat dipaksanakannya informasi dalam
bentuk pesan/data elektronik (electronic message) yang digunakan
dalam transaksi-transaksi dagang.
23

Model Law meletakkan aturan-aturan hukum mengenai kapan
suatu pesan data elektronik (electornic data messages) memenuhi
persyaratan hukum mengenai syarat "tertulis", tanda tangan atau
keasliannya (original). Ketiga syarat ini termuat dalam pasal 6 –
8 Model Law. Dan ketiga pasal tersebut harus dibaca bersama-sama
(satu kesatuan).
24

Maksud dari pengaturan-pengaturan ini adalah untuk
memecahkan masalah pembuktian, khususnya bukti-bukti dokumen atau
persyaratan dokumen asli dalam sistem hukum di dunia. Model Law
mengakui atau memperbolehkan dokumen-dokumen elektronik ini
sebagai bukti yang diakui keabsahannya (menurut hukum).

a. Syarat Tertulis
Persyaratan hukum tertulis terpenuhi oleh adanya pesan data
ini apabila informasi yang terkandung di dalamnya dapat diakses
("accessible") setiap saat. Selain itu pula, pesan data tersebut
selanjutnya atau dapat digunakan dan dirujuk sebagai referensi
(bahan acuan) selanjutnya.
25

b. Syarat Tanda Tangan
Persyaratan tanda tangan terpenuhi oleh adanya pesan data
apabila:
(1) si pembuat (originator) dapat mengenali informasi yang
terdapat di dalamnya oleh suatu metode tertentu; dan

23
Pasal 5 UNCITRAL Model Law.
24
Para. 47 Guide to Enactment.

11
(2) Metoda tertentu tersebut dapat diandalkan dan layak untuk
dapat mengetahui pesan data tersebut.
26

c. Syarat Keaslian
Persyaratan hukum dari presentasi (penampilan) atau
penyimpanan suatu informasi dalam bentuk aslinya terpenuhi pada
suatu pesan data, apabila:
(1) Terdapat jaminan mengenai integritas informasi pada waktu
pertama kali dituangkan dalam bentuk akhir sebagai suatu pesan
data; dan
(2) informasi dapat ditampilkan kepada suatu pihak yang
disyaratkan untuk ditampilkan terhadapnya.
Integritas suatu informasi ditentukan berdasarkan pada
sifat pesan data tersebut yaitu, bahwa informasi tersebut tetap
atau tidak berubah. Jadi di sini yang ditekankan adalah status
atau kestabilan muatan dari pesan data tersebut. Model Law di
sini mensyaratkan bahwa pesan data atau data elektronik tersebut
harus tidak dapat diubah.
Model Law melihat ke-3 syarat ini cukup sulit sebab syarat
keaslian suatu ‘dokumen’ dari suatu pesan data sudah barang tentu
sangat berbeda denga dokumen-dokumen asli yang pada umumnya
disyaratkan untuk transaksi-transaksi tertentu, misalnya akte
tanah, polis asuransi, dll. Dokumen-dokumen tertulis terakhir ini
relatif agak sulit untuk dipalsukan atau diubah oleh salah satu
pihak. Hal ini berbeda dengan pesan data atau data elektronik.
Oleh karena itu, pendekatan yang ditempuh oleh Model Law
adalah mengenakan persyaratan minim (‘minimum requirement’),
seperti tampak dalam pasal 8 tersebut di atas. Pendekatan ini
dianggap juga sama sebagai ‘functional equivalent” dari suatu
sifat atau tujuan dari keaslian dokumen.
27



25
Pasal 6 UNCITRAL Model Law.
26
Pasal 7 UNCITRAL Model Law.
27
Para. 63 dan 64 Guide To Enactment.

12
3. Kekuatan Pembuktian Pesan Data
Model Law secara tegas menyatakan bahwa untuk masalah
pembuktian, pengadilan nasional tidak boleh mempermasalahkan
pesan data ini sebagai bukti semata-mata karena bukti tersebut
terdapat dalam bentuk pesan data.
Pengaturan ini tampaknya sederhana. Tetapi justru inilah
yang akan menjadi masalah khususnya di negara-negara yang secara
tradisional telah lama mengakui bukti-bukti konvensional yang
diakui oleh sistem hukum nasionalnya.
28

Kriteria yang dapat digunakan untuk menentukan nilai-nilai
dari suatu pesan data adalah:
(1) asal dari pesan data, disimpan atau dikomunikasikan;
(2) integritas dari informasi;
(3) dikenalnya si pembuat aslinya (originator);
(4) faktor-faktor lainnya yang relevan dengan informasi.
29

4. Penyimpanan Pesan Data
Manakala suatu informasi atau dokumen disimpan dan dibuka
(ditampilkan) melalui media elektronik, Model Law meletakkan
kritieria atau syarat-syarat hukum mengenai penyimpanan data
(record retention) dan penampilannya (kembali).
30
Kriteria-
kriteria ini adalah:
(1) informasi yang terkandung di dalamnya dapat diakses sehingga
dapat digunakan untuk rujukan (referensi) selanjutnya;

28
Di Indonesia misalnya, tidaklah gampang untuk menyatakan bahwa data
elektronik dapat dijadikan bukti sebagaimana dinyatakan dalam UNCITRAL
Model Law tersebut. Cf., lihat Danrivanto Budhijanto, Op.cit., hlm. 67
(mengungkapkan kemungkinan timbulnya masalah dalam pembuktian pesan
data elektronik sebagai alat bukti, yaitu: (1) pesan data tidak banyak
berbeda dari salinan pesan itu sendiri; (2) pesan data tidak terdapat
tanda tangan; (3) pesan data itu tidak termuat dalam secarik kertas
(paperless); dan (4) masih dimungkinkannya penipuan pesan data); Cf.,
masalah-masalah dalam e-commerce, supra, khususnya Sanson, op.cit.,
hlm. 144.
29
Pasal 9 UNCITRAL Model Law.
30
Pasal 10 UNCITRAL Model Law.

13
(2) pesan data disimpan dalam format yang sama dengan semula,
dikirim atau diterima, atau dalam bentuk yang dapat
ditampilkan sehingga informasi yang akurat sejak awal, dikirim
atau diterima; dan
(3) informasi tersebut disimpan guna memungkinkan atau
mengidentifikasi asal mula dan tujuan dari suatu pesan data,
dan tanggal dan waktu data tersebut dikirim atau diterima.

5. Komunikasi Pesan Data
Bab III menguraikan aturan-aturan mengenai masalah-masalah
kontraktual yang timbul dalam penggunaan teknologi komputer dalam
transaksi internasional. Maksud Bab ini sebenarnya tidak untuk
mempermasalahkan hukum mengenai pembentukan suatu kontrak. Bab
ini hanya menyinggung isu-isu pembentukan kontrak dan bagaimana
para pihak dalam kontrak dapat mengemukakan offer dan acceptance
mereka dalam kontrak melalui berbagai cara (khususnya melalui
sarana elektronik).
Tujuan Bab ini adalah untuk menciptakan kepastian dalam
hubungan-hubungan komersial dan kepercayaan dalam perdagangan
secara elektronik. Dengan tujuan ini diharapkan perdagangan
internasional dapat berkembang.
Model Law bermaksud menghapus keragu-raguan yang mungkin
timbul dari pengungkapan offer dan acceptance melalui sarana
elektronik tersebut. Masalahnya adalah penyampaian kehendak
(offer dan acceptance) tersebut tidak diungkapkan secara langsung
oleh para pihak tetapi diungkapkan melalui ‘cara’ lain (yaitu
komunikasi elektronik dan tidak adanya dokumen tertulis).
31




31
Para. 76 Guide to Enactment.

14
6. Bentuk dan Keabsahan Kontrak
Model Law mengakui prinsip otonomi para pihak (party
autonomy) dan kebebasan berkontrak. Para pihak berhak untuk
membuat kontrak mereka melalui offer dan acceptance yang
dinyatakan oleh cara-cara elektronik.
32

Pembuatan kontrak melalui e-commerce adalah sah dan
mengikat (valid and enforceable contract).
33
Penegasan tentang
keabsahan berkontrak ini ditegaskan dalam pasal 11 ayat (1) yang
berbunyi:
“(1) In the context of contract formation, unless otherwise
agreed by the parties, an offer and the acceptance of an
offer may be expressed by means of data messages. Where a
data message is used in the formation of a contract, that
contract shall not be denied validity or enforceability on
the sole ground that a data message was used for that
purpose.

Begitu pula suatu pernyataan kehendak atau pernyataan
lainnya yang dinyatakan dalam bentuk suatu pesan data oleh si
pembuat (originator) dan alamat si penerima (addressee) dari
suatu pesan harus mempunyai akibat hukum, keabsahan dan daya
mengikatnya (enforceability).
34



32
Dilihat dari syarat-syarat yang ditetapkannya, tampak bahwa Model Law
lebih cenderung mengacu kepada syarat-syarat sahnya suatu kontrak
berdasarkan sistem Common Law. Berdasarkan Common Law, syarat sahnya
suatu kontrak adalah: (1) kesepakatan para pihak untuk mengikatkan
diri. Syarat ini mencakup: “(a) adanya suatu penawaran (offer) dari
pihak offeror sebagai pihak pertama; (b) adanya penyampaian penawaran
tersebut kepada offeree sebagai pihak kedua; (c) adanya penerimaan
penawaran oleh pihak kedua yang menyatakan kehendaknya untuk terikat
pada persyaratan dalam penawaran tersebut; dan (d) adanya penyampaian
penerimaan (acceptance) oleh pihak kedua kepada pihak pertama; (2)
Consideration (‘something of value’) yang dipertukarkan antara para
pihak; (3) kecakapan untuk membuat perjanjian; dan (4) suatu obyek yang
halal.” (Mieke Komar Kantaatmadja, op.cit., hlm. 4-5; mengutip Henry R.
Cheeseman, Business Law, Prentice Hall, hlm 180-181).
33
Pasal 11 UNCITRAL Model Law.
34
Pasal 12 UNCITRAL Model Law. Pasal ini disusun pada tahap akhir
perumusan Model Law. Pasal ini dibuat untuk menegaskan prinsip dari
akibat dari suatu kontrak yang sah. (Para. 81 Guide to Enactment).

15
7. Pengakuan terhadap Pesan Data
Masalah pengakuan terhadap pesan data menjadi relevan
manakala timbul masalah mengenai apakah suatu pesan data benar-
benar dikirim oleh si pembuat asli (originator). Untuk menjawab
masalah ini Model Law memberi jawabannya dalam pasal 13.
35
Pasal
ini menyatakan bahwa suatu pesan data dianggap berasal dari orang
yang membuatnya manakala:
(1) pesan data tersebut dikirim oleh: (a) pihak pembuat sendiri;
(b) orang yang memiliki wewenang atau kuasa untuk bertindak
atas nama pihak originator (pembuat asli) atau (c) suatu
sistem informasi yang terprogram oleh atau atas nama pihak
pembuat asli (originator) untuk mengoperasikannya secara
otomatis;
(2) bahwa pihak penerima (addressee) sebelumnya memberikan
persetujuan mengenai suatu prosedur untuk memastikan bahwa
suatu pesan data berasal dari pembuat asli (originator); atau
(3) bahwa pesan data yang diterima oleh pihak penerima (addressee)
berasal dari tindakan-tindakan agent dari pembuat asli yang
memungkinkan agent tersebut untuk memperoleh akses terhadap
suatu metoda yang digunakan oleh pihak originator untuk
mengidentifikasi data-data sebagai miliknya.
36

Ketentuan terakhir pasal 13, yaitu ayat (6) memuat aturan
mengenai duplikasi pesan data yang salah. Ayat ini meletakkan
kewajiban kepada pihak penerima untuk melakukan tindakan kehati-
hatian (‘standard of care’) untuk membedakan apakah suatu pesan
data duplikasi yang keliru (salah) dan pesan data yang terpisah
(‘separate data message’). Model Law dalam hal ini menyatakan

35
Bunyi pasal ini sebenarnya mengacu kepada pasal 5 dari Model Law
UNCITRAL mengenai transfer kredit internasional (UNCITRAL Model Law on
International Credit Transfer). Pasal ini meletakkan kewajiban-
kewajiban dari pengirim dalam melakukan tansfer kredit. (Para. 83 Guide
to Enactment).
36
Rafiqul Islam, Op.cit., hlm. 429. Maksud utama pasal ini bukan untuk
menentukan siapa yang akan bertanggung jawab tetapi untuk memberi
kriteria mengenai pengiriman pesan-pesan data denga menetapkan suatu
praduga kapan suatu pesan data berasal dari pengirim asli (originator).
[CEK APA BENAR INI PENJELASANNYA, BUKANNYA MASUK KE FN No 35].

16
bahwa pihak penerima (addressee) berhak untuk menduga bahwa suatu
pesan data berasal/milik pemilik asli yang bermaksud untuk
mengirimnya kepadanya. Pihak penerima berhak untuk memperlakukan
setiap pesan data yang diterimanya sebagai suatu pesan data yang
terpisah, kecuali pesan data tersebut adalah atau berupa salinan
dari yang aslinya tersebut. Namun si penerima menjadi tidak
berhak manakala:
(1) ia telah menerima pemberitahuan dari originator (pihak pembuat
asli) bahwa pesan datanya bukan berasal darinya, dan waktu
yang layak tidak digunakannya untuk pesan data; atau
(2) ia mengetahui atau seharusnya telah mengetahui dengan
menggunakan tata cara dan prosedur yang disepakati bahwa: (a)
pesan data tidak berasal dari pembuat asli (originator); (2)
transmisi pengirim pesan data gagal; atau (c) pesan data
merupakan salinan.
37



37
Pasal 13 UNCITRAL Model Law.

17
8. Pengakuan Penerimaan
Ketentuan mengenai pengakuan penerimaan suatu pesan data
semata-mata merupakan masalah persyaratan mengenai adanya bukti
bahwa offer telah diterima. Masalah ini bukan mengenai akibat
hukum dari adanya penerimaan suatu pesan data (dalam hal ini
adalah offer).
38

Pihak originator dapat meminta pada saat atau sebelum
mengirim suatu data atau telah setuju dengan pihak penerima
(addressee), bahwa penerimaan pesan data diakuinya dan bahwa
mereka masing-masing sepakat mengenai bentuk khusus atau metode
tertentu untuk maksud itu.
Dalam hal tidak adanya bentuk atau metode, suatu pengakuan
dapat diberikan oleh setiap alat komunikasi tertentu itu, yang
cukup untuk menunjukkan kepada originator bahwa pesan data telah
diterima. Jika pesan data dibuat dengan persyaratan mengenai
penerima pengakuan, maka pesan data dianggap tidak pernah
dikirimkan sampai pengakuan telah diterima.
Dalam hal tidak adanya persyaratan atau kesepakatan yang
ditentukan/disepakati, orginator yang belum menerima suatu
pengakuan dapat memberikan pemberitahuan dalam jangka waktu yang
layak kepada pihak penerima bahwa ia akan mengirim pemberitahuan
kepada pihak penerima. Dan dengan memberikan jangka waktu yang
layak, ia mengharapkan penerimaan pengakuan dari penerima.
Kelalaian untuk memenuhi jangka waktu ini akan dianggap
bahwa pesan data dianggap belum pernah dikirim oleh pihak
originator.
39

Dalam hal suatu pengakuan diterima oleh pihak originator,
asumsinya adalah bahwa pesan data diterima oleh pihak penerima.
Apabila pengakuan menunjukkan bahwa pesan data diterima telah

38
Para. 93 Guide to Enactment. Lihat pula Rafiqul Islam, Op.cit., hlm.
430; lihat pula Assafa Endeshaw, op.cit., hlm. 254 (beliau menyatakan
bahwa Model Law tidak mengatur ... ”which party will have the rights
and which party bears the liabiities in the specific contractual
arrangement”).
39
Rafiqul Islam, Op.cit., hlm. 429.

18
memenuhi standar atau persyaratan teknis yang berlaku, asumsinya
adalah bahwa standar dan persyaratan-persyaratan tersebut telah
terpenuhi.
9. Waktu dan Tempat Pengiriman dan Penerimaan Pesan Data
Model Law mengangkat masalah waktu dan tempat pengiriman
dan penerimaan pesan data ini dalam pasal 15. Diaturnya masalah
ini sebab transaksi-transaksi melalui elektronik ini sangatlah
sulit untuk menentukan kapan secara pasti mengenai di mana dan
kapan salah satu pihak telah menerima suatu pesan data.
Seperti kita maklumi dalam sistem hukum pada umumnya,
termasuk RI, kapan terjadinya kesepakatan dan dimana kesepakatan
terjadi adalah faktor-faktor yang relevan yang dapat mempengaruhi
terjadinya suatu perikatan.
Kesulitan transaksi melalui elektronik ini adalah bahwa
salah satu pihak tidak tahu di mana pihak lainnya berada. Apa
yang diupayakan oleh Model Law di sini adalah bahwa lokasi di
mana sistem informasi berada tidaklah relevan. Model Law hanya
menyatakan bahwa kriteria obyektif untuk menentukan tempat adalah
tempat usaha para pihak. Oleh karena itu ketentuan pasal mengenai
waktu dan tempat tidak menjadi acuan bagi pengaturan dalam hukum
perdata internasional.
40

Menurut pasal 15 Model Law, suatu pesan data dianggap telah
dikirim ketika pesan data tersebut memasuki suatu sistem
informasi di luar kontrol dari originator atau agen yang
disepakati untuk bertindak atas namanya. Waktu penerimaan suatu
pesan data terjadi karena keadaan-keadaan berikut:
(1) Segera setelah pesan data memasuki suatu sistem informasi yang
dibuat/ditetapkan oleh pihak penerima (addressee) untuk maksud
menerima pesan data tersebut;
(2) Jika pesan data dikirim kepada suatu sistem informasi dari
pihak penerima yang tidak dibuat/ditetapkan untuk maksud itu,

40
Para. 100 Guide to Enactment.

19
maka penerimaan suatu pesan data terjadi segera setelah pesan
data dibuka (retrieved) olehnya; dan
(3) Jika tidak ada sistem informasi yang dibuat/ditetapkan oleh
pihak penerima, maka waktu penerimaan pesan data terjadi
segera setelah pesan data memasuki sistem informasi dari pihak
penerima.
41

Aturan-aturan ini berlaku meski lokasi dari sistem
informasi dan tempat di mana pesan data tersebut yang akan
diterima ternyata berbeda. Tempat pengiriman dan penerimaan pesan
data adalah tempat usaha dari pihak originator dan juga si
penerima (addressee).
42

Dalam hal terdapat lebih dari satu tempat usaha (place of
business), tempat usaha adalah tempat yang memiliki hubungan
terdekat (closest link) dengan transaksi yang bersangkutan. Dalam
hal tidak ada hubungan terdekat tersebut, maka tempat usahanya
adalah tempat usaha pokoknya (the principal place of business).
Dalam hal tidak adanya tempat usaha, maka pengiriman dan
penerimaan suatu pesan data akan berlangsung di tempat kediaman
biasanya (their habitual residence). Namun demikian baik pihak
originator dan pihak penerima (addressee) dapat menyepakati untuk
membuat aturan-aturan tersendiri bagi mereka. Para pihak tidak
perlu untuk menetapkan kriteria-kriteria tersebut di atas.


41
Rafiqul Islam, Op.cit., hlm. 430.
42
Perlu untuk dikemukakan di sini bahwa suatu pesan data tidak boleh
dipertimbangkan isinya apabila pesan data tersebut sekedar sampai pada
sistem informasi si penerima, tetapi gagal untuk masuk ke dalamnya.
Dalam hal ini Model Law tidak secara tegas mengatur masalah kemungkinan
tidak berfungsinya (rusaknya) sistem informasi sebagai dasar untuk
lahirnya tanggung jawab, khususnya manakala sistem informasi penerima
tidak berfungsi sama sekali atau berfungsi tetapi ada kerusakan atau
meskipun dapat berfungsi dengan baik namun tidak dapat dimasuki oleh
adanya pesan data. Karena itu pengiriman berdasarkan Model Law tidak
terjadi. (Para. 104 Guide to Enactment).

20
10. Bagian II: Obyek Tertentu: Pengiriman Barang
Bagian I Model Law di atas memuat aturan-aturan umum dari
e-commerce. Dalam bagian kedua sekarang ini, Model Law memuat
aturan-aturan khusus mengenai pengiriman barang yang dilakukan
melalui pesan data melalui sistem komunikasi komputer
(elektronik). Informasi yang dikomputerkan dapat digunakan dalam
hubungannya dengan suatu kontrak pengiriman barang dan dokumen-
dokumen pengangkutan terkait.
Perlu ditekankan di sini bahwa bagian dua ini sifatnya
tidaklah eksklusif atau berdiri sendiri. Aturan dalam bagian I,
khususnya aturan-aturan mengenai persyaratan tertulis, tanda
tangan dan keaslian suatu ‘dokumen’ (pasal 6 – 8 Model Law) juga
berlaku terhadap bagian II ini.
43

Pasal 16 memuat daftar mengenai hal-hal pesan data secara
elektronik (electronic data message) yang dapat berlaku. Daftar
tersebut adalah:
(1) pemberian tanda, angka, jumlah dan berat barang;
(2) memuat sifat atau nilai barang;
(3) penerbitan surat penerimaan untuk barang;
(4) perintah kepada kapal pengangkut;
(5) klaim pengiriman barang;
(6) perintah/kuasa untuk melepaskan barang
(7) memuat pemberitahuan mengenai hilang atau kerusakan terhadap
barang;
(8) memberikan pemberitahuan lainnya mengenai pelaksanaan
kontrak;
(9) upaya untuk mengirim barang kepada orang yang telah
ditentukan atau seseorang yang mengklaim pengiriman; dan

43
Model Law menyatakan: “... Part two of the Model Law does not in any
way limit or restrict the field of application of the general
provisions of the Model Law.” (Para. 109 Guide to Enactment).

21
(10) hal-hal lain yang terkait dengan hak atas barang, hak dan
kewajiban berdasarkan kontrak.
44

11. Dokumen Pengangkutan (Bill of Lading)
Pasal 17 memuat aturan-aturan untuk memfasilitasi
penggunaan bill of lading elektronis yang dapat digunakan untuk
moda-moda pengangkutan lainnya di samping pengangkutan laut.
Termasuk di dalamnya moda angkutan melalui jalan raya, kereta
api, dan pengangkutan udara.
45

Persyaratan hukum mengenai syarat tertulis dan penggunaan
suatu dokumen kertas, dapat terpenuhi dengan penggunaan satu atau
lebih pesan data. Model Law hanya mensyaratkan bahwa metode atau
cara pengiriman pesan data tersebut dapat diandalkan.
Model Law mengakui dokumen-dokumen pengangkutan secara
elektronik ini. Dalam Model Law ternyata yang menjadi aturan(-
aturan) khusus di sini baru atau hanya dokumen pengangkutan
(laut, darat, kereta api, udara).
Dilihat dari kata yang digunakannya, yaitu areas, jelas
bahwa Model Law masih melihat adanya kemungkinan pengaturan-
pengaturan untuk bidang-bidang khusus lainnya di samping dokumen
pengangkutan secara elektronik (e-bill of lading).



44
Daftar-daftar di atas tidak bersifat sebagai ilustrasi semata. Daftar
tersebut juga tidak hanya untuk sektor pengangkutan laut (maritim),
tetapi juga moda-moda angkutan lainnya (Para. 122 Guide to Enactment).
45
Para. 110 Guide to Enactment.

22
12. Tanda Tangan Digital dan Pejabat Verifikasi
a. Tanda Tangan Digital (Digital Signature)
Di samping Model Law 1996 tersebut di atas, UNCITRAL telah
pula secara aktif merancang aturan-aturan untuk tanda tangan
digital dan pejabat verifikasi. Untuk itu, UNCITRAL membentuk
suatu badan khusus, yaitu UNCITRAL Working Group.
Sejak bulan Februari 1997, UNCITRAL Working Group telah
mempersiapkan aturan-aturan mengenai 'digital signature' dan
'Certifying Authority' (CA atau pejabat atau lembaga
sertifikasi). Pembentukan kelompok kerja ini sebagai implementasi
dari pasal 7 Model Law 1996.
Digital signature adalah ‘sejumlah karakter alphanumerik
yang dihasilkan dari operasi matematik dan kriptografi’.
46
Hingga
saat ini "cryptography" masih dipandang cara terbaik untuk
memproteksi data dari kemungkinan perubahan-perubahan yang tidak
diinginkan.
47

Cryptography telah digunakan secara umum. Penggunaannya
acapkali didasarkan pada penggunaan fungsi-fungsi 'algorithmic'
(algoritma). Pada prinsipnya cara kerja cryptograhy sederhana
saja. Cryptography mengubah informasi menjadi kode. Pengirim
mengirim informasi melalui kode-kode. Penerima kode (informasi)
kemudian membuka kode tersebut untuk dapat membacanya. Dalam
mengirim-menerima code, dilakukan dengan menggunakan 2 kunci.
Kunci ini tidak lain adalah angka-angka.
Satu kunci digunakan untuk menerjemahkan data dan untuk
mengkonfirmasi digital signature (kunci privat atau private
keys).
Kunci lainnya, yaitu kunci publik (public keys), digunakan
untuk meverifikasi suatu tanda tangan digital dari pesan yang
kembali ke bentuk aslinya (public key).
48


46
Danrivanto Budhijanto, Op.cit., hlm. 67.
47
Danrivanto Budhijanto, Op.cit., hlm. 67.
48
Rafiqul Islam, Op.cit., hlm. 431; Danrivanto Budhijanto, op.cit.,
hlm. 68 dan 72; Sanson, op.cit., hlm. 144.

23
b. Certification Authority
Certification Authority (CA) adalah konsep yang baru
berkembang, yakni suatu provider jasa pihak ke-3 yang netral dan
independen. CA mengeluarkan serifikat 'untuk menghubungkan suatu
kunci dengan si penandantangan. CA juga bertugas mendaftarkan
suatu public key bersama-sama dengan nama dari pelanggan
(pengguna) sertifikat sebagai 'subyek' sertifikat.
Dengan dimulainya diskusi secara umum mengenai isu yang
dibahas, Working Group mempersiapkan teks-teks mengenai aturan-
aturan seragam pada akhir 1997. Aturan-aturan hukum seragam ini
disahkan oleh Working Group pada sidangnya yang ke-32 di Wina
pada tangggal 19-30 Januari 1998. UNCITRAL mengesahkannya pada
sidangnya yang ke 31 di New York, pada tanggal 1 - 12 Juni 1998.
Aturan-aturan hukum seragam ini antara lain mengatur ruang
lingkup berlakunya aturan (Bab I), tanda tangan elektronik (Bab
2), pejabat sertifikasi dan isu-isu terkait (Bab 3), dan
pengakuan tanda tangan elektronik asing (Bab 4).
49



49
Digital Signatures, Certification Authorities and Related Legal
Issues, Doc. Nos. A/CV.9/WG.IV/WP/73 dan A/CN.9/457); Rafiqul Islam,
Op.cit., hlm. 431.

24
D. Penutup
UNCITRAL telah menempuh suatu pendekatan fungsional dalam
Model Law. UNCITRAL tidak menempuh upaya menyusun kembali aturan-
aturan yang ada untuk mengakomodasi e-commerce. Namun yang
dilakukan UNCITRAL adalah menemukan pemecahan secara teknis untuk
memenuhi persyaratan-persyaratan hukum yang ada (dengan sedikit
penyesuaian). Misalnya, masalah integritas dan keaslian
(authenticity) dari suatu pesan data dari tanda tangan elektronis
telah diselesaikan dengan penggunaan metode cryptography.
50

Di samping penggunaan cryptography, sebenarnya apa yang
Model Law sumbangkan secara signifikan adalah pengakuan hukum
terhadap pesan data.
51
Endeshaw mentakan bahwa Model Law ini
semata-mata menetapkan “legal recognition of data message
transmitted via electronic or other form.”
Oleh karena itulah mengapa beberapa negara telah membuat
rancangan UU-nya mengenai perdagangan secara e-commerce ini
dengan didasarkan kepada seluruh atau sebagian ketentuan dari
Model Law ini. Termasuk antara lain Amerika Serikat dalam
'Uniform Commercial Code'-nya, the Illinois Electronic Commerce
Security Act, dan the Danish Bill for an Act on Digital
Signature. Malaysia telah mengundangkan perundang-undangannya
mengenai electronic commerce dan tanda tangan digital. Negara-
negara lainnya telah pula mempertimbangkan UU nasionalnya untuk
bidang electronic commerce dan tanda tangan digital ini. Sejak
bulan Oktober 1997, Inggris telah memperkenalkan perdagangan
elektronik-nya di pasar modalnya (Stock Exchange). Di Jerman
telah pula mengundangkan the Digital Signature Ordinance pada
tahun 1997 (mulai berlaku pada tanggal 1 November 1997).
52


50
Rafiqul Islam, Op.cit., hlm. 431.
51
Rafiqul Islam, Op.cit., hlm. 431.
52
Rafiqul Islam, Op.cit., hlm. 431; lihat pula: Mieke Komar
Kantaatmadja, op.cit., hlm. 3 dan 9 (mengungkapkan upaya Amerika
Serikat dan Uni Eropa dalam mempersiapkan aturan-aturan hukum di bidang
e-commercenya).

25
Salah satu tantangan yang dihadapi Indonesia adalah
menyikapi hadirnya e-commerce ini. Sebenarnya masalah utamanya
adalah sederhana, aturan hukum RI hanya perlu mengakui keabsahan
transaksi-transaksi melalui e-commerce.
53

Yang juga tidak kalah pentingnya adalah pengakuan terhadap
data elektronik sebagai alat bukti di hadapan pengadilan. Alat
bukti yang diakui hukum Indonesia adalah: (1) bukti tulisan; (2)
bukti saksi-saksi; (3) persangkaan-persangkaan; (4) pengakuan;
dan (5) bukti sumpah.
54
Bukti data elektronik hingga tulisan ini
dibuat belum ada pengakuan.
55

Sebagai perbandingan, negara berkembang lainnya adalah
Cina. Pada bulan Maret 1999, Cina mengeluarkan hukum kontrak
yaitu the Contract Law of the People’s Republic of China. UU
tahun 1999 ini menyatakan bahwa tulisan dapat berupa berbagai
wujud atau bentuk, termasuk tulisan-tulisan yang ‘disimpan secara
visual’ (‘visually recorded’). Dalam pengertian tersebut yang
tercakup ke dalamnya adalah kontrak-kontrak elektronik. Karena
kontrak-kontrak tersebut dapat ‘dilihat’, maka kontrak demikian
sah menurut hukum kontrak Cina.



53
Cf., Mieke Komar Kantaatmadja, op.cit., hlm. 1 (pengakuan ini perlu
untuk menciptakan kepastian hukum dalam bertransaksi melalui e-commerce
di Indonesia).
54
Pasal 1866 BW dan 154 HIR.
55
Sebenarnya UU kita secara tidak langsung mengakui dokumen perusahaan
sebagai alat bukti tertulis otentik. UU Nomor 8 tahun 1997 tentang
Dokumen Perusahaan telah mengakui adanya data elektronik ini. (Lihat
lebih lanjut: Isis Ikhwansyah, ‘Prinsip-prinsip Universal Bagi Kontrak
Melalui E-Commerce dan Sistem Hukum pembuktian Perdata dalam Teknologi
Informasi,’ dalam: Mieke Komar Kantaatmadja, op.cit., hlm. 33).

26
DAFTAR PUSTAKA
Abu Bakar Munir, Cyber Law: Policies and Challenges, Malaysia,
Singapore, Hong kong: Butterworths Asia, 1999.
Danrivanto Budhijanto, ‘Aspek Hukum “Digital Signature” dan
“Certification Authority” dalam Transaksi E-Commerce,”
dalam: Mieke Komar Kantaatmadja, et.al. (eds.), Cyber Law:
Suatu Pengantar, Jakarta: Elips, 2002.
Endeshaw, Assafa, Internet and Ecommerce Law, Singapore: prentice
Hall, 2001.
Isis Ikhwansyah, ‘Prinsip-prinsip Universal Bagi Kontrak Melalui
E-Commerce dan Sistem Hukum pembuktian Perdata dalam
Teknologi Informasi,’ dalam: Mieke Komar Kantaatmadja,
et.al. (eds.), Cyber Law: Suatu Pengantar, Jakarta: Elips,
2002.
Islam, Rafiqul, International Trade Law, London: LBC, 1999.
Mieke Komar Kantaatmadja, “Pengaturan Kontrak Untuk Perdagangan
Elektronik (E-Contracts),” dalam: Mieke Komar Kantaatmadka,
et.al. (eds.), Cyber Law: Suatu Pengantar, Jakarta: Elips,
2002.
Mieke Komar Kantaatmadja, et.al. (eds.), Cyber Law: Suatu
Pengantar, Jakarta: Elips, 2002.
UNCITRAL Model Law on Electronic Commerce with Guide to
Enactment, 1996, with additional Article 5 bis as adopted in
1998.


1
BAB VII
PENYELESAIAN SENGKETA DALAM PERDAGANGAN INTERNASIONAL

A. Pengantar
Transaksi-tansaksi atau hubungan dagang banyak bentuknya.
Dari berupa hubungan jual beli barang, pengiriman dan penerimaan
barang, produksi barang dan jasa berdasarkan suatu kontrak, dll.
Semua transaksi tersebut sarat dengan potensi melahirkan sengketa.
Umumnya sengketa-sengketa dagang kerap didahului oleh
penyelesaian oleh negosiasi. Manakala cara penyelesaian ini gagal
atau tidak berhasil, barulah ditempuh cara-cara lainnya seperti
penyelesaian melalui pengadilan atau arbitrase.
1

Penyerahan sengketa baik kepada pengadilan maupun ke
arbitrase kerap kali didasarkan pada suatu perjanjian di antara
para pihak. Langkah yang biasa ditempuh adalah dengan membuat
suatu perjanjian atau memasukkan suatu klausul penyelesaian
sengketa ke dalam kontrak atau perjanjian yang mereka buat, baik
ke pengadilan atau ke badan arbitrase.
2

Yang menjadi dasar hukum bagi forum atau badan penyelesaian
sengketa yang akan menangani sengketa adalah kesepakatan para
pihak. Kesepakatan inilah hukum. Kesepakatan tersebut diletakkan
baik pada waktu kontrak ditandatangani atau setelah sengketa
timbul.
Biasanya pula kelalaian para pihak untuk menentukan forum ini
akan berakibat pada kesulitan dalam penyelesaian sengketanya.
Karena, dengan adanya kekosongan pilihan forum tersebut akan
menjadi alasan yang kuat bagi setiap forum untuk menyatakan
dirinya berwewenang untuk memeriksa suatu sengketa.

1
Gerald Cooke, ‘Disputes Resolution in International Trading,’ in:
Jonathan Reuvid (ed)., The Strategic Guide to International Trade,
London: Kogan Page, 1997, p. 193.
2
Pada umumnya di samping menyepakati lembaga atau forum yang akan
menyelesaikan sengketa, para pihak perlu juga menyepakati hokum apa yang
akan diterapkan oleh badan peradilan yang baru disepakati para pihak.
(Gerald Cooke, op. cit., p. 193).

2
Lazimnya dalam sistem hukum (Common Law) dikenal dengan
konsep 'long arm' jurisdiction. Dengan konsep ini, pengadilan
dapat menyatakan kewenangannya untuk menerima setiap sengketa yang
dibawa ke hadapannya meskipun hubungan antara pengadilan dengan
sengketa tersebut tipis sekali.
3
Misalnya, badan peradilan di
Amerika Serikat dan Inggris kerapkali selalu menerima sengketa
yang para pihak serahkan kehadapannya meskipun hubungan atau
keterkaitan sengketa dengan badan peradilan sangatlah kecil.
Misalnya, pihak termohon memiliki usaha di Amerika Serikat atau
dalam kontrak tersebut secara tegas atau diam-diam mengacu kepada
salah satu negara bagian Amerika Serikat atau hukum Inggris.
4

Di samping forum pengadilan atau badan arbitrase, para pihak
dapat pula menyerahkan sengketanya kepada cara alternatif
penyelesaian sengketa, yang lazim dikenal sebagai ADR (alternative
dispute resolution) atau APS (alternatif penyelesaian sengketa).
5

Pengaturan alternatif di sini dapat berupa cara altrnatif di
samping pengadilan. Bisa juga berarti alternatif penyelesaian
secara umum, yaitu berbagai alternatif penyelesaian sengketa yang
para pihak dapat gunakan, termasuk alternatif penyelesaian melalui
pengadilan.
6

Biasanya pula dalam klausul tersebut dimasukkan atau
dinyatakan pula hukum yang akan diterapkan oleh badan penyelesaian
sengketa.


3
Bandingkan pula dengan prinsip hukum di Indonesia, bahwa badan peradilan
tidak boleh menolak setiap sengketa yang dibawa ke hadapannya.
4
Gerald Cooke, op. cit., p. 194.
5
Gerald Cooke, op. cit., p. 194.
6
Penulis berpandangan pada yang luas ini. Kata alternatif mencakup semua
alternatif penyelesaian sengketa yang dapat digunakan para pihak,
termasuk di dalamnya pengadilan.

3
B. Para Pihak dalam Sengketa
Bab 3 memuat beberapa stake-holders atau subyek hukum dalam
hukum perdagangan internasional, yaitu negara, perusahaan atau
individu, dll. Dalam uraian berikut, para pihak yang menjadi
pembahasan dibatasi pada pihak pedagang (badan hukum atau
individu) dan negara. Karena sifat dari hukum perdagangan
internasional adalah lintas batas, pembahasan pun dibatasi hanya
antara 1. pedagang dan pedagang; dan 2. Pedagang dan negara asing.
Ad. 1. Sengketa antara pedagang dan pedagang.
Sengketa antara dua pedagang adalah sengketa yang sering dan
paling banyak terjadi. Sengketa seperti ini terjadi hampir setiap
hari. Sengketanya diselesaikan melalui berbagai cara. Cara
tersebut semuanya bergantung pada kebebasan dan kesepakatan para
pihak.
Kesepakatan dan kebebasan akan pula menentukan forum
pengadilan apa yang akan menyelesaian sengketa mereka. Kesepakatan
dan kebebasan pula yang akan menentukan hukum apa yang akan
diberlakukan dan diterapkan oleh badan pengadilan yang mengadili
sengketanya.
Kesepakatan dan kebebasan para pihak adalah esensil. Hukum
menghormati kesepakatan dan kebebasan tersebut. Sudah barang
tentu, kesepakatan dan kebebasan tersebut ada batas-batasnya.
Biasanya batas-batas tersebut adalah tidak melanggar UU dan
ketertiban umum.

Ad.2. Sengketa antara pedagang dan negara asing
Sengketa antara pedagang dan negara juga bukan merupakan
kekecualian. Kontrak-kontrak dagang antara pedagang dan negara
sudah lazim ditandatangani. Kontrak-kontrak seperti ini biasanya
dalam jumlah (nilai) yang relatif besar. Termasuk di dalamnya
adalah kontrak-kontrak pembangunan (development contracts).
Misalnya, kontrak di bidang pertambangan.

4
yang menjadi masalah adalah adanya konsep imunitas negara
yang diakui hukum internasional. Dengan adanya konsep iimunitas
inilah yang sedikit banyak berpengaruh terhadap keputusan pedagang
untuk menentukan penyelesain sengketanya. Masalah utamnya adalah
dengan adanya konsep imunitas ini, suatu negara dalam situasi
apapun, tidak akan pernah dapat diadili di hadapan badan-badan
peradilan asing.
Namun demikian hukum internasional ternyata fleksibel. Hukum
internasional tidak semata-mata mengakui atribut negara sebagai
subyek hukum internasional yang sempurna (par excellence). Hukum
internasional menghormati pula individu (pedagang) sebagai subyek
hukum internasional terbatas.
Karena itu dalam hukum internasional berkembang pengertian
jure imperii dan jure gestiones. Yang pertama adalah tindakan-
tindakan negara di bidang publik dalam kapasitasnya sebagai suatu
negara yang berdaulat. Karena itu tindakan-tindakan seperti itu
tidak akan pernah dapat diuji atau diadili di hadapan badan
peradilan.
Konsep kedua, jure gesiones, yaitu tindakan-tindaka negara di
bidang keperdataan atau dagang. Karena itu, tindakan-tindakan
seperti itu tidak lain adalah tindakan-tindakan negara dalam
kapasitasnya seperti orang-perorangan (pedagang atau privat).
Sehingga tindakan-tindakan seperti itu dapat dianggap sebagai
tindakan-tindakan sebagaimana layaknya para pedagang biasa. Karena
itu tindakan-tindakan seperti itu yang kemudian menimbulkan
sengketa, dapat saja diselesaikan di hadapan badan-badan peradilan
umum, arbitrase, dll.
Sebaliknya negara-negara yang mengajukan bantahannya bahwa
suatu badan peradilan tidak memiliki jurisdiksi untuk mengadili
neggara sebagai pihak dalam sengketa bisnis, biasanya ditolak.
Badan peradilan umumnya menganut adanya konsep jure gestiones ini.
7


7
Lihat selanjutnya, Huala Adolf, Aspek-aspek Negara dalam Hukum
Internasional, Jakarta: Rajawali pers, cet. 3, 2002, hlm. 255 et.seq.

5

C. Prinsip-prinsip Penyelesaian Sengketa
Dalam hukum perdagangan internasional, dapat dikemukakan di
sini prinsip-prinsip mengenai penyelesaian sengketa perdagangan
internasional.
1. Prinsip Kesepakatan Para Pihak (Konsensus)
Prinsip kesepakatan para pihak merupakan prinsip fundamental
dalam penyelesaian sengketa perdagangan internasional. Prinsip
inilah yang menjadi dasar untuk dilaksanakan atau tidaknya suatu
proses penyelesaian sengketa.
Prinsip ini pula dapat menjadi dasar apakah suatu proses
penyelesaian sengketa yang sudah berlangsung diakhiri. Jadi
prinsip ini sangat esensial. Badan-badan peradilan (termasuk
arbitrase) harus menghormati apa yang para pihak sepakati.
Termasuk dalam lingkup pengertian kesepaktan ini adalah:
(1) bahwa salah satu pihak atau kedua belah pihak tidak berupaya
menipu, menekan atau menyesatkan pihak lainnya;
(2) bahwa perubahan atas kesepakatan harus berasal dari
kesepakatan kedua belah pihak. Artinya, pengakhiran
kesepakatan atau revisi terhadap muatan kesepakatan harus
pula berdasarkan pada kesepakatan kedua belah pihak.
8

2. Prinsip Kebebasan Memilih Cara-cara Penyelesaian Sengketa
Prinsip penting kedua adalah prinsip dimana para pihak
memiliki kebebasan penuh untuk menentukan dan memilih cara atau
mekanisme bagaimana sengketanya diselesaikan (principle of free
choice of means).
Prinsip ini termuat antara lain dalam Pasal 7 The UNCITRAL
Model Law on International Commercial Arbitration. Pasal ini
memuat definisi mengenai perjanjian arbitrase, yaitu perjanjian
penyerahan sengketa ke suatu badan arbitrase. Menurut pasal ini

6
penyerahan sengketa kepada arbitrase merupakan kesepakatan atau
perjanjian para pihak. Artinya, penyerahan suatu sengketa ke badan
arbitrase haruslah berdasarkan pada kebebasan para pihak untuk
memilihnya.
9

3. Prinsip Kebebasan Memilih Hukum
Prinsip penting lainnya adalah prinsip kebebasan para pihak
untuk menentukan sendiri hukum apa yang akan diterapkan (bila
sengketanya diselesaikan) oleh badan peradilan (arbitrase)
terhadap pokok sengketa. Kebebasan para pihak untuk menentukan
hukum ini termasuk kebebasan untuk memilih kepatutan dan kelayakan
(ex aequo et bono).
10

Yang terakhir ini adalah sumber di mana pengadilan akan
memutus sengketa berdasarkan prinsip-prinsip keadilan, kepatutan
atau kelayakan suatu penyelesaian sengketa. Contoh kebebasan
memilih ini yang harus dihormati oleh badan peradilan adalah pasal
28 ayat (1) UNCITRAL Model Law on International Commercial
Arbitration:
“The arbitral tribunal shall decide the dispute in accordance
with such rules of law as are chosen by the parties as
applicable to the substance of the dispute. Any designation
of the law or legal system of a given State shall be
construed, unless otherwise expressed, as directly referring
to the substantive law of that State and not to its conflict
of laws rules.”

8
Cf., Pasal 1338 KUH Perdata Indonesia.
9
Pasal 7 UNCITRAL Model Law on International Commercial Arbtration:
‘“Arbitration Agreement” is an agreement by the parties to submit to
arbitration all or certain disputes which have arisen or which may arise
between them in respect of a defined legal relationship , whether
contractual or not. An arbitration agreement may be in the form of an
arbitration clause in a contract or in the form of a separate agreement.’
10
Pasal 38:2 Statuta Mahkamah Internasional: "This provision shall not
prejudice the power of the Court to decide a case ex aequo et bono, if
the parties agree hereon."

7
4. Prinsip Itikad Baik (Good Faith)
Prinsi itikad baik dapat dikatakan sebagai prinsip
fundamental dan paling sentral dalam penyelesaian sengketa.
Prinsip ini mensyaratkan dan mewajibkan adanya itikad baik dari
para pihak dalam menyelesaikan sengketanya.
Dalam penyelesaian sengketa, prinsip ini tercemin dalam dua
tahap. Pertama, prinsip itikad baik disyaratkan untuk mencegah
timbulnya sengketa yang dapat mempengaruhi hubungan-hubungan baik
di antara negara.
Kedua, prinsip ini disyaratkan harus ada ketika para pihak
menyelesaikan sengketanya melalui cara-cara penyelesaian sengketa
yang dikenal dalam hukum (perdagangan) internasional, yakni
negosiasi, mediasi, konsiliasi, arbitrase, pengadilan atau cara-
cara pilihan para pihak lainnya.
11

5. Prinsip Exhaustion of Local Remedies
Prinsip Exhaustion of Local Remedies sebenarnya semula lahir
dari prinsip hukum kebiasaan internasional. Dalam upayanya
merumuskan pengaturan mengenai prinsip ini, Komisi Hukum
Internasional PBB (International Law Commission) memuat aturan
khusus mengenai prinsip ini dalam pasal 22 mengenai ILC Draft
Articles on State Responsibility. Pasal 22 ini menyatakan sebagai
berikut:
“When the conduct of a State has created a situation not in
conformity with the result of it by an international
obligation concerning the treatment too be accorded to

11
Dalam instrumen-instrumen hukum internasional, prinsip ini jarang
sekali ditemui. Hal ini mungkin disebabkan karena sulitnya patokan yang
dapat digunakan untuk mengukur sesuatu pihak telah atau tidak
melaksanakan sesuatu perbuatan dengan itikad baik. Dalam hukum naisonal,
prinsip ini antara lain tampak dalam pasal 1338 KUH Perdata dan UU Nomor
30 tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa.
Pasal 6 ayat (1) UU No 30 tahun 1999 menyatakan: “(1) Sengketa atau beda
pendapat perdata dapat diselesaikan oleh para pihak melalui alternatif
penyelesaian sengketa yang didasarkan pada itikad baik dengan
mengesampingkan penyelesaian secara litigasi di Pengadilan Negeri.“

8
aliens, whether natural or juridical persons, but the
obligation allows that this or an equivalent result may
nevertheless be achieved by subsequent conduct of the State,
there is a breach of the obligation only if the aliens
concerned have exhausted the effective local remedies
available to them without obtaining the treatment called for
by the obligation or, where that is not possible, an
equivalent treatment.”
12

Menurut prinsip ini, hukum kebiasaan internasional menetapkan
bahwa sebelum para pihak mengajukan sengketanya ke pengadilan
internasional, maka langkah-langkah penyelesaian sengketa yang
tersedia atau diberikan oleh hukum nasional suatu negara harus
terlebih dahulu ditempuh (exhausted). Dalam sengketa the
Interhandel Case (1959), Mahkamah Internasional menegaskan:
"Before resort may be had to an international court... the
state where the violation occured should have an opportunity
to redress it by its own means, within the framework of its
own domestic legal system."
13




12
Terkutip dari D.J. Harris, Cases and Materials on International Law,
London: Sweet and Maxwell, 5
th
.ed., 1998, hlm. 617.
13
Lihat lebih lanjut uraian tentang exhaustion of local remedies ini
dalam tulisan kami: Huala Adolf, Aspek-aspek Negara dalam Hukum
Internasional, Jakarta: Rajawali Pers, cet. 3, 2002, hlm. 276 et.seq.

9
D. Forum Penyelesaian Sengketa
Forum penyelesaian sengketa dalam hukum perdagangan
internasional pada prinsipnya juga sama dengan forum yang dikenal
dalam hukum penyelesaian sengketa (internasional) pada umumnya.
Forum tersebut adalah negosiasi, penyelidikan fakta-fakta
(inquiry), mediasi, konsiliasi, arbitrase, penyelesaian melalui
hukum atau melalui pengadilan, atau cara-cara penyelesaian
sengketa lainnya yang dipilih dan disepakati para pihak.
14

Cara-cara sengketa di atas telah dikenal dalam berbagai
negara dan sistem hukum di dunia. Cara-cara tersebut dipandang
sebagai bagian integral dari penyelesaian sengketa yang diakui
dalam sistem hukumnya. Misalnya, hukum nasional Ri yang dapat
ditemukan dalam pasal 6 UU Nomor 30 tahun 1999 tentang Arbitrase
dan Alternatif Penyelesaian Sengketa. Negara lainnya adalah
Amerika Serikat, Inggris dan Australia.
15

Berikut adalah uraian singkat mengenai forum-forum tersebut.
Tidak semua forum dibahas, tetapi akan dibatasi pada negosiasi,
mediasi, konsiliasi, pengadilan dan arbitrase. Sedangkan
penyelidikan fakta (inquiry) atau cara-cara lainnya yang para
pihak sepakati tidak termasuk dalam bahasan.
1. Negosiasi
Negosiasi adalah cara penyelesaian sengketa yang paling dasar
dan yang paling tua digunakan.
16
Penyelesaian melalui negosiasi
merupakan cara yang paling penting. Banyak sengketa diselesaikan

14
Cf., pasal 33 Piagam PBB: “The parties to any dispute, the continuance
of which is likely to endanger the maintenance of international peace and
security, shall, first of all, seek a solution be negotiation, enquiry,
mediation, conciliation, arbitration, judicial settlement, resort to
regional agencies or arrangements, or other peaceful means of their own
choice.” (Huruf tebal oleh kami).
15
Gerald Cooke, op.cit., hlm. 200.
16
W. Poeggel and E. Oeser, "Methods of Diplomatic Settlement," dalam
Mohammed Bedjaoui (ed)., International Law: Achievements and Prospects,
Paris: UNESCO and Martinus Nijhoff, 1991, hlm. 514.

10
setiap hari oleh negosiasi ini tanpa adanya publisitas atau
menarik perhatian publik.
17

Alasan utamanya adalah karena dengan cara ini, para pihak
dapat mengawasi prosedur penyelesaian sengketanya. Setiap
penyelesaiannya pun didasarkan pada kesepakatan atau konsensus
para pihak.
18
Senada dengan itu Kohona mengatakan bahwa negosiasi
adalah "an efficacious means of settling disputes relating to an
agreement, because they enable parties to arrive at conclusions
having regard to the wishes of all the disputants."
19

Kelemahan utama dalam penggunaan cara ini dalam menyelesaikan
sengketa adalah: pertama, manakala para pihak berkedudukan tidak
seimbang. Salah satu pihak kuat, yang lain lemah. Dalam keadaan
ini, salah satu pihak kuat berada dalam posisi untuk menekan pihak
lainnya. Hal ini acapkali terjadi manakala dua pihak bernegosiasi
untuk menyelesaikan sengketanya di antara mereka.
20

Kelemahan kedua adalah bahwa proses berlangsungnya negosiasi
acapkali lambat dan bisa memakan waktu lama. Ini terutama karena
sulitnya permasalahan-prmasalahan yang timbul di antara para
pihak. Selain itu jarang sekali adanya persyaratan penatapan batas
waktu bagi para pihak untuk menyelesaian sengketanya melalui
negosiasi ini.
21


17
F.V. Garcia-Amador, The Canging Law of International Claims, USA:
Oceana Publications, Inc., 1984, hlm. 518.
18
Peter Behrens, "Alternative Methods of Dispute Settlement in
International Economic Relations," dalam: Ernst-Ulrich Petersmann and
Gunther Jaenicke, Adjudication of International Trade Dispute in
International and National Economic Law, Fribourg U.P., 1992.op.cit.,
hlm. 14.
19
Palitha TB. Kohona, , The Regulation of International Economic
Relations through Law, the Netherlands: Martinus Nijhoff Publ.,
1985op.cit., hlm. 161.
20
G. Malinverni, "The Settlement of Disputes within International
Organizations," dalam Mohammed Bedjaoui, op.cit., hlm. 550; Palitha TB
Kohona, op.cit., hlm. 159.
21
G. Malirveni, "The Settlement of Disputes within International
Organizations," dalam Mohammed Bedjaoui (ed)., International Law:

11
Kelemahan ketiga, adalah manakala suatu pihak terlalu keras
dengan pendiriannya. Keadaan ini dapat mengakibatkan proses
negosiasi ini menjadi tidak produktif.
22

Mengenai pelaksanaan negosiasi, prosedur-prosedur yang
terdapat di dalamnya perlu dibedakan sebagai berikut: pertama,
negosiasi digunakan manakala suatu sengketa belum lahir (disebut
pula sebagai konsultasi); dan kedua, negosiasi digunakan manakala
suatu sengketa telah lahir, maka prosedur negosiasi ini merupakan
proses penyelesaian sengketa oleh para pihak (dalam arti
negosiasi).


Achievements and Prospects, Dordrecht: Martinus Nijhoff Publishers and
UNESCO, 1991, hlm. 159.
22
Palitha TB Kohona, op.cit., hlm. 159.

12
2. Mediasi
Mediasi adalah suatu cara penyelesaian melalui pihak ketiga.
Ia bisa individu (pengusaha) atau lembaga atau organisasi profesi
atau dagang. Mediator ikut serta secara aktif dalam proses
negosiasi. Biasanya ia dengan kapasitasnya sebagai pihak yang
netral berupa mendamaikan para pihak dengan memberikan saran
penyelesaian sengketa.
23

Usulah-usulan penyelesaian melalui mediasi dibuat agak tidak
resmi (informal). Usulan ini dibuat berdasarkan informasi-
informasi yang diberikan oleh para pihak. Bukan atas
penyelidikannya.
24

Jika usulan tersebut tidak diterima, mediator masih dapat
tetap melanjutkan fungsi mediasinya dengan membuat usulan-usulan
baru. Karena itu, salah satu fungsi utama mediator adalah mencari
berbagai solusi (penyelesaian), mengidentifikasi hal-hal yang
dapat disepakati para pihak serta membuat usulah-usulan yang dapat
mengakhiri sengketa.
25

Seperti halnya dalam negosiasi, tidak ada prosedur-prosedur
khusus yang harus ditempuh dalam proses mediasi. Para pihak bebas
menentukan prosedurnya. Yang penting adalah kesepakatan para pihak
mulai dari proses (pemilihan) cara mediasi, menerima atau tidaknya
usulah-usulan yang diberikan oleh mediator, sampai kepada
pengakhiran tugas mediator.
Gerald Cooke menggambarkan kelebihan mediasi ini sebagai
berikut:
26


23
W. Poeggel and E. Oeser, op.cit., hlm. 515.
24
Peter Behrens, op. cit., hlm. 22.
25
ibid., hlm. 23.
26
Gerald Cooke, op. cit., p. 200. Lihat pula Michelle Sanson, Essential
International Trade Law, Sydney: Cavendish, 2002, hlm. 132. (Sanson
menyatakan bahwa mediasi lebih banyak dipraktekkan oleh negara-negara di
Asia khususnya Taiwan dan Vietnam), Hong Kong dan Filipina). Di Indonesia
cara mediasi juga cukup aktif diterapkan untuk sengketa-sengketa bisnis
khususnya oleh pengadilan dan badan arbitrase. Dalam pengadilan dan

13
“Where mediation is successfully used, it generally provides
a quick, cheap and effective result. It is clearly
appropriate, therefore, to consider providing for mediation
or other alternative dispute resolution techniques in the
contractual dispute resolution clause.” (Huruf tebal oleh
penulis).

Cooke juga dengan benar mengingatkan bahwa penyelesaian
melalui mediasi ini tidaklah mengikat. Artinya, para pihak meski
telah sepakat untuk menyelesaikan senketanya melalui mendiasi,
namun mereka tidak wajib atau harus menyelesaikan sengketanya
melalui mediasi.
Manakala para pihak gagal menyelesaikan sengketanya melalui
mediasi, mereka masih dapat menyerahkan ke forum yang mengikat
yaitu penyelesaian melalui hukum, yaitu pengadilan atau arbitrase.



arbitrase, adalah suatu ‘kewajiban’ bagi hakim dan arbiter untuk
menawarkan terlebih dahulu kepada para pihak yang bersengketa untuk
menyelesaikan sengketanya melalui arbitrase. Mediasi juga aktif
diperkenalkan untuk menyelesaikan sengketa-sengketa lingkungan antara
pengusaha dan penduduk setempat.

14
3. Konsiliasi
Konsiliasi memiliki kesamaan dengan mediasi. Kedua cara ini
adalah melibatkan pihak ketiga untuk menyelesaikan sengketanya
secara damai. Konsiliasi dan mediasi sulit untuk dibedakan.
Istilahnya acapkali digunakan dengan bergantian.
27
Namun menurut
Behrens, ada perbedaan antara kedua istilah ini: konsiliasi lebih
formal daripada mediasi.
28

Konsiliasi bisa juga diselesaikan oleh seroang individu atau
suatu badan yang disebut dengan badan atau komisi konsiliasi.
Komisi konsiliasi bisa yang sudah terlembaga atau ad hoc
(sementara) yang berfungsi untuk menetapkan persyaratan-
persyaratan penyelesaian yang diterima oleh para pihak. Namun
putusannya tidaklah mengikat para pihak.
29

Persidangan suatu komisi konsiliasi biasanya terdiri dari dua
tahap: tahap tertulis dan tahap lisan. Pertama, sengketa (yang
diuraikan secara tertulis) diserahkan kepada badan konsiliasi.
Kemudian badan ini akan mendengarkan keterangan lisan dari para
pihak. Para pihak dapat hadir pada tahap pendengaran tersebut,
tetapi bisa juga diwakili oleh kuasanya.
Berdasarkan fakta-fakta yang diperolehnya, konsiliator atau
badan konsiliasi akan menyerahkan laporannya kepada para pihak
disertai dengan kesimpulan dan usulan-usulan penyelesaian
sengketanya. Sekali lagi, usulan ini sifatnya tidaklah mengikat.
Karenanya diterima tidaknya usulan tersebut bergantung sepenuhnya
kepada para pihak.
30

Contoh komisi konsiliasi yang terlembaga adalah badan yang
dibentuk oleh Bank Dunia untuk menyelesaikan sengketa-sengketa

27
Sanson, op. cit., hlm. 132.
28
Peter Behrens, op. cit., hlm. 22.
29
Peter Behrens, op. cit., hlm. 24.
30
Peter Behrens, op.cit., hlm. 23.

15
penanaman modal asing, yaitu the ICSID Rules of Procedure for
Conciliaiton Proceedings (Conciliaiton Rules).
31
Namun dalam
prakteknya, penggunaan cara ini kurang populer.
Sejak berdiri (1966), badan konsiliasi ICSID hanya menerima
dua kasus. Kasus pertama diterima pada 5 Oktober 1982. (Jadi
selama 16 tahun kosong). Namun sebelum badan konsiliasi terbentuk,
para pihak sepakat mengakhiri persengketaannya.
Kasus kedua yaitu Tesoro Petroleum Corp. v. Government of
Trinidad and Tobago diterima tahun 1983.
32
Kasus ini berhasil
diselesaikan pada tahun 1985 setelah para pihak sepakat untuk
menerima usulan-usulan yang diberikan oleh konsiliator.
33



31
Cf. I. Seidl-Hohenveldern, "General Course on Public International
Law," 198 Recueil des Cours 198 (1986): Sanson, op.cit., hlm. 132-133.
32
ICSID Case No. CONC/83/1.
33
Huala Adolf, “The Settlement of Investment Disputes under the ICSID
Arbitration”, Thesis, Department of Law, Sheffield University, 1995, hlm.
1.

16
4. Arbitrase.
34

a. Mengapa Arbitrase Dipilih?
Arbitrase adalah penyerahan sengketa secara sukarela kepada
pihak ketiga yang netral. Pihak ketiga ini bisa individu,
arbitrase terlembaga atau arbitrase sementara (ad hoc). Badan
arbitrase dewasa ini sudah semakin populer. Dewasa ini arbitrase
semakin banyak digunakan dalam menyelesaikan sengketa-sengketa
dagang nasional maupun internasional.
Adapun alasan utama mengapa badan arbitrase ini semakin
banyak dimanfaatkan adalah sebagai berikut:
(1) kelebihan penyelesaian sengketa melalui arbitrase yang pertama
dan terpenting adalah penyelesaiannya yang relatif lebih cepat
daripada proses berperkara melalui pengadilan. Dalam arbitrase
tidak dikenal upaya banding, kasasi atau peninjauan kembali
seperti yang kita kenal dalam sistem peradilan kita. Putusan
arbitrase sifatnya final dan mengikat. Kecepatan penyelesaian
ini sangat dibutuhkan oleh dunia usaha.
(2) Keuntungan lainnya dari penyelesaian sengketa melalui arbitrase
ini adalah sifat kerahasiaannya. Baik kerahasiaan mengenai
persidangannya maupun kerahasiaan putusan arbitrasenya.
(3) Dalam penyelesaian melalui arbitrase, para pihak memiliki
kebebasan untuk memilih ‘hakimnya’ (arbiter) yang menurut
mereka netral dan akhli atau spesialis mengenai pokok sengketa
yang mereka hadapi. Pemilihan arbiter sepenuhnya berada pada
kesepakatan para pihak. Biasanya arbiter yang dipilih adalah
mereka yang tidak saja ahli tetapi juga ia tidak selalu harus
ahli hukum. Bisa saja ia menguasai bidang-bidang lainnya. Ia

34
Pembahasan mengenai hal ini lihat lebih lanjut antara lain: Huala
Adolf, Arbitrase Komersial Internasional, Jakarta: Rajawali Pers, cet.2.,
1994; Huala Adolf, Hukum Arbitrase Komersial Internasional, Jakarta:
Rajawali pers, 1994.

17
bisa insinyur, pimpinan perusahaan (manajer), ahli asuransi,
ahli perbankan, dll.
35

(4) Keuntungan lainnya dari badan arbitrase ini adalah
dimungkinkannya para arbiter untuk menerapkan sengketanya
berdasarkan kelayakan dan kepatutan (apabila memang para pihak
menghendakinya).
36

(5) Dalam hal arbitrase internasional, putusan arbitrasenya relatif
lebih dapat dilaksanakan di negara lain dibandingkan apabila
sengketa tersebut diselesaikan melalui misalnya pengadilan. Hal
ini dapat terwujud antara lain karena dalam lingkup arbitrase
internasional ada perjanjian khusus mengenai hal ini, yaitu
Konvensi New York 1958 mengenai Pengakuan dan Pelaksanaan
Putusan Arbitrase Asing.
37

b. Perjanjian Arbitrase
Dalam praktik, biasanya penyerahan sengketa ke suatu badan
peradilan tertentu, termasuk arbitrase, termuat dalam klausul
penyelesaian sengketa dalam suatu kontrak. Biasanya judul klausul
tersebut ditulis secara langsung dengan ‘Arbitrase’. Kadang-kadang
istilah lain yang digunakan adalah ‘choice of forum’ atau ‘choice
of jurisdiction’.
Kedua istilah tersebut mengandung pengertian yang agak
berbeda. Istilah choice of forum berarti pilihan cara untuk
menadili sengketa, dalam hal ini pengadilan atau badan arbitrase.
Istilah choice of jurisdiction berarti pilihan tempat dimana

35
Namun dalam praktek, dewan arbitrase yang menangani kasus, peranan ahli
hukum tetap minimal ada dalam komposisi dewan. Misalnya, dalam kasus
terkenal dalam GATT, yaitu the DISC, Panel GATT yang mengadili kasus ini
terdiri dari 2 orang ahli ekonomi dan seorang ahli hukum. Peranan ahli
hukum bagaimana pun juga tetap signifikan dalam proses beracara,
penentuan hak dan kewajiban para pihak dan penentuan prinsip-prinsip
hukum dalam suatu sengketa.
36
Hans Bagner, op.cit., hlm. 173.
37
Indonesia meratifikasi Konvensi New York 1958 dengan Keppres Nomor 34
tahun 1981.

18
pengadilan memiliki kewenangan untuk menangani sengketa. Tempat
yang dimaksud misalnya Inggris, Belanda, Indonesia, dll.
38

Penyerahan suatu sengketa kepada arbitrase dapat dilakukan
dengan pembuatan suatu submission clause, yaitu penyerahan kepada
arbitrase suatu sengketa yang telah lahir. Alternatif lainnya,
atau melalui pembuatan suatu klausul arbitrase dalam suatu
perjanjian sebelum sengketanya lahir (klausul arbitrase atau
arbitration clause).
Baik submission clause atau arbitration clause harus
tertulis. Syarat ini sangat esensial. Sistem hukum nasional dan
internasional mensyaratkan ini sebagai suatu syarat utama untuk
arbitrase. Dalam hukum nasional kita, syarat ini tertuang dalam
pasal 1 (3) UU Nomor 3 tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif
Penyelesaian Sengketa. Dalam instrumen hukum internasional,
termuat dalam Pasal 7 ayat (2) UNCITRAL Model Law on International
Commercial Arbitration 1985, atau pasal II Konvensi New York 1958.
Yang perlu ditekankan di sini adalah bahwa klausul arbitrase
melahirkan jurisdiksi arbitrase. Artinya, klausul tersebut memberi
kewenangan kepada arbitrator untuk menyelesaikan sengketa. Apabila
pengadilan menerima suatu sengketa yang di dalam kontraknya
terdapat klausul arbitrase, maka pengadilan harus menolak untuk
menangani sengketa.
39

c. Lembaga-lembaga Arbitrase

38
Gerald Cooke, op.cit., hlm. 194.
39
Lihat, misalnya, pasal 3 dan pasal 11 UU Nomor 30 tahun 1999; pasal 8
ayat (1) UNCITRAL Model Law mengenai Arbitrase Komersial Internaisonal
1985; dan pasal II ayat (3) Konvensi New York 1958. Pasal II ayat (3)
Konvensi 1958 ini dipandang penting mengingat ketentuan ini dibuat sudah
cukup relatif lama (sejak 1958). Pengakuan kewenangan arbitrase ini dalam
suatu klausul arbitrase ini berbunyi sebagai berikut: “3. The court of a
Contracting State, when seized of an action in a matter in respect of
which the parties have made an agreement within the meaning of this
article, shall, at the request of one of the parties, refer the parties
to arbitration, unless it finds that the said agreement is null and void,
inoperative or incapable of being performed.”

19
Peran arbitrase difasilitasi oleh adanya lembaga-lembaga
arbitrase internasional terkemuka. Badan-badan tersebut misalnya
adalah the London Court of International Arbitration (LCIA), the
Court of Arbitration of the International Chamber of Commerce
(ICC) dan the Arbitration Institute of the Stockholm Chamber of
Commerce (SCC).
Di samping kelembagaan, pengaturan arbitrase sekarang ini
ditunjang pula oleh adanya sutau aturan berabitrase yang menjadi
acuan bagi banyak negara di dunia, yaitu Model Law on
International Commercial Arbitration yang dibuat oleh the United
Nations Commission on International Trade Law (UNCITRAL).
40



40
Gerald Cooke, op. cit., p. 196.

20
5. Pengadilan (Nasional dan Internasional)
Metode yang memungkinkan untuk menyelesaikan sengketa selain
cara-cara tersebut di atas adalah melalui pengadilan nasional atau
internasional. Penggunaan cara ini biasanya ditempuh apabila cara-
cara penyelesaian yang ada ternyata tidak berhasil.
41

Penyelesaian sengketa dagang melalui badan peradilan biasanya
hanya dimungkinkan manakala para pihak sepakat. Kesepakatan ini
tertuang dalam klausul penyelesaian sengketa dalam kontrak dagang
para pihak. Dalam klausul tersebut biasanya ditegaskan bahwa
manakala timbul sengketa dari hubungan dagang mereka, maka mereka
sepakat untuk menyerahkan sengketanya kepada suatu pengadilan
(negeri) suatu negara tertentu.
Kemungkinan kedua, para pihak dapat menyerahkan sengketanya
kepada badan pengadilan internasional. Salah satu badan peradilan
yang menangani sengketa dagang ini misalnya saja adalah WTO. Namun
perlu ditekankan di sini, WTO hanya menangani sengketa antar
negara anggota WTO. Umumnya pun sengketanya lahir karena adanya
suatu pihak (pengusaha atau negara) yang dirugikan karena adanya
kebijakan perdagangan negara lain anggota WTO yang merugikannya.
Alternatif badan peradilan lain adalah Mahkamah Internasional
(International Court of Justice). Namun penyerahan sengketa ke
Mahkamah Internasional, menurut hasil pengamatan beberapa sarjana,
kurang begitu diminati oleh negara-negara.
42

Sebagai ilustrasi adalah peranan Mahkamah Internasional (the
International Court of Justice). Peranan Mahkamah dalam
menyelesaikan sengketa-sengketa ekonomi (termasuk perdagangan),

41
Cf. Prinsip exhaustion of local remedies, di atas.
42
Palith TB. Kohona, op.cit., hlm. 192; Verloren van Themaat, The
Changing Structure of International Economic Law, the Netherlands:
Martinus Nijhoff Publishers, 1981, hlm. 189.

21
menurut Mann, sangatlah 'suram'.
43
Selama berdiri (sejak 1945)
sampai tulisan ini dibuat, Mahkamah Internasional hanya mengadili
2 kasus di bidang ekonomi internasional, yakni the ELSI Case
antara Amerika Serikat melawan Italia,
44
dan the Barcelona Traction
Case antara Belgia melawan Spanyol.
45

Sengketa The Barcelona Traction adalah sengketa terkenal.
Dalam sengketa ini sebuah perusahaan Kanada, Barcelona Traction,
Light and Power, Co., didirikan pada tahun 1911. Perusahaan ini
mengoperasilan pembangunan dan pengadaan tenaga listrik di
Spanyol.
Pada tahun 1968, pengadilan Spanyol memutuskan perusahaan
tersebut pailit. Keputusan ini ditindak-lanjuti oleh serangkaian
tindakan dalam rangka kepailitan tersebut. Pemerintah Kanada
kemudian turut campur dalam sengketa ini dalam upayanya melindungi
kepentingan warga negaranya. Masalahnya menjadi rumit karena
ternyata pemegang saham mayoritas dalam perusahaan tersebut
dimiliki warga negara Belgia, yaitu sebesar 88 %. Pemerintah
Belgia dalam upaya melindungi warga negaranya yang dirugikan oleh
tindakan pemerintah Spanyol itu membawa sengketanya ke Mahkamah
Internasional. Spanyol menolak gugatan pemerintah Belgia dengan
dalil bahwa Belgia tidak memiliki dasar hukum yang sah (locus
standi) untuk membawa kasus ini. Dalam putusannya, Mahkamah
Internasional setuju dengan Spanyol.
46

Alasan F.A. Mann menyatakan 'hasil kerja' Mahkamah
Internasional ini 'suram', pada dasarnya karena dua alasan.
Pertama, kurang adanya penghargaan terhadap fakta-fakta spesifik
mengenai duduk perkaranya. Kedua, kurangnya keahlian atau

43
F.A. Mann, "Foreign Investment in the International Court of Justice:
the ELSI Case," 86 AJIL 92 (1992).
44
1989 ICJ Rep. 15 (Judgment of July 20).
45
1970 ICJ Rep. 3, (Judgment of Feb. 5).
46
Lihat lebih lanjut, D.J. Harris, op.cit., (Cases and Materials on
International Law), hlm. 604, et.seq.

22
kemampuan Mahkamah pada permasalahan-permasalahan bidang (hukum)
ekonomi atau perdagangan internasional.
47

Selain itu, pengadilan-pengadilan permanen internasional ini
juga jurisdiksinya kadangkala terbatas hanya kepada negara saja,
misalnya Mahkamah Internasional. Sedangkan kegiatan-kegiatan atau
hubungan-hubungan perdagangan internasional dewasa ini peranan
subyek-subyek hukum perdagangan internasional non-negara juga
penting.
48

Bentuk kedua adalah pengadilan ad hoc atau pengadilan khusus.
Dibandingkan dengan pengadilan permanen, pengadilan ad hoc atau
khusus ini lebih populer, terutama dalam kerangka suatu organisasi
perdagangan internasional. Badan pengadilan ini berfungsi cukup
penting dalam menyelesaikan sengketa-sengketa yang timbul dari
perjanjian-perjanjian perdagangan internasional.
49

Contoh yang menonjol adalah peranan badan-badan pengadilan
khusus dalam kerangka GATT (kemudian digantikan oleh WTO), yakni
dengan adanya badan-badan panel yang menyelesaikan sengketa-
sengketa ekonomi internasional antar negara-negara anggota
GATT/WTO.
Faktor penting yang mendorong negara-negara untuk menyerahkan
sengketanya kepada badan-badan peradilan seperti ini adalah karena
hakim-hakimnya yang tidak harus seorang ahli hukum. Ia bisa saja
seorang ahli atau spesialis mengenai pokok sengketa. Kedua, adanya
perasaan dari sebagian besar negara yang kurang percaya kepada
suatu badan peradilan (internasional) yang dianggap kurang tepat
untuk menyelesaikan sengketa-sengketa dalam bidang perdagangan
internasional.
50


47
F.A. Mann, loc.cit.
48
Cf., I. Seidl-Hohenveldern, op.cit., hlm. 199.
49
Palitha TB Kohona, op.cit., hlm. 197.
50
Cf., Palitha TB Kohona, op.cit., hlm. 152. Cf., supra, mengenai
keengganan masyarakat internasional menyerahkan sengketanya kepada
Mahkamah Internasional.

23
E. Hukum Yang Berlaku
1. Pengantar
Masalah hukum yang akan diberlakukan atau diterapkan oleh
badan peradilan termasuk arbitrase adalah salah satu masalah
krusial dalam hukum kontrak internasional, termasuk dalam hukum
perdagangan internasional.
51

Masalahnya adalah hukum yang berlaku ini menjadi penentu
kepastian hukum terutama bagi badan peradilan bahwa ia telah
menerapkan hukumnya dengan benar. Dalam hal ini, badan peradilan
tidak mengambil jalan pintas dalam menerapkan suatu hukum terhadap
suatu sengketa yang dibawa ke hadapannya.
Perlu ditegaskan di sini bahwa pilihan hukum (choice of law,
proper law atau applicable law) suatu hukum nasional dari suatu
negara tertentu tidak berarti bahwa badan peradilan negara tesebut
secara otomatis yang berwenang menyelesaikan sengketanya. Yang
terakhir ini disebut juga choice of forum (pembahasan di atas).
Artinya, choice of law tidak sama dengan choice of forum.
52

Peran choice of law di sini adalah hukum yang akan digunakan
oleh badan peradilan (pengadilan atau arbitrase) untuk:
(1) menentukan keabsahan suatu kontrak dagang;
(2) menafsirkan suatu kesepakatan-kesepakatan dalam kontrak;
(3) menentukan telah dilaksanakan atau tidak dilaksanakannya suatu
prestasi (pelaksanaan suatu kontrak dagang); dan
(4) menentukan akibat-akibat hukum dari adanya pelanggaran terhadap
kontrak.
53


51
Mauro Rubino-Sammartano, International Arbitration Law, Deventer,
Boston: Kluwer Law, 1990, hlm. 251.
52
Gerald Cooke, op.cit., hlm. 195.
53
Tetapi perlu dicatat di sini bahwa praktek negara (badan peradilannya)
berbeda mengenai pandangannya terhadap choice of law dan choice of forum
ini. Di Inggris dan Wales, pemilihan suatu hukum tertentu, dalam hal ini
hukum Inggris atau Wales, mensyaratkan jurisdiksi pengadilan tersebut
untuk mengadili suatu sengketa. Dasarnya dalah bahwa para pihak dianggap
secara diam-diam telah memilih jurisdiksi (keweangan badan peradilan
Inggris atau Wales) dengan memilih hukum Inggris atau hukum Wales untuk
mengatur kontraknya. (Gerald Cooke, op.cit., hlm. 195).

24
Hukum yang akan berlaku ini dapat mencakup beberapa macam
hukum. Hukum-hukum tersebut adalah:
(1) hukum yang akan diterapkan terhadap pokok sengketa (applicable
substantive law atau lex causae);
(2) hukum yang akan berlaku untuk persidangan (procedural law);
Hukum yang akan berlaku akan sedikit banyak bergantung pada
kesepakatan para pihak. Hukum yang akan berlaku tersebut dapat
berupa hukum nasional suatu negara tertentu. Biasanya hukum
nasional tersebut ada atau terkait dengan nasionalitas salah satu
pihak. Cara pemilihan inilah yang lazim diterapkan dewasa ini.
Apabila salah satu pihak atau kedua belah pihak tidak sepakat
mengenai salah satu hukum nasional tersebut, biasanya kemudian
mereka akan berupaya mencari hukum nasional yang relatif lebih
netral.
Alternatif lainnya yang memungkinkan dalam hukum perdagangan
internasional adalah menerapkan prinsip-prinsip kepatutan dan
kelayakan (ex aequo et bono). Namun demikian penerapan prinsip ini
pun harus berdasarkan pada kesepakatan para pihak.
54

2. Kebebasan Para Pihak
Di atas telah dikemukakan bahwa dalam menentukan hukum yang
akan berlaku, prinsip yang berlaku adalah kesepakatan para pihak
yang didasarkan pada kebebasan para pihak dalam membuat perjanjian
atau kesepakatan (party autonomy).
Kebebasan para pihak ini tampaknya sudah menjadi prinsip
hukum umum. Artinya, hampir setiap sistem hukum di dunia, yaitu
Common Law, Civil Law, dll., mengakui eksistensinya.
Bahkan, praktek para pelaku bisnis atau pedagang melihat
prinsip kebebasan para pihak untuk menetapkan aturan-aturan dagang
yang berlaku di antara mereka, merupakan suatu prinsip yang telah
terkristalisasi. Prinsip inilah yang antara lain melahirkan
prinsip atau doktrin lex mercatoria.

54
Lihat Mauro Rubino-Sammartano, International Arbitration Law, Deventer,
Boston: Kluwer Law and Taxation Publsihers, 1990, hlm. 251-255.

25
Kebebasan dalam memilih hukum yang berlaku ini (lex causae)
sudah barang tentu ada batas-batasnya. Yang paling umum dikenal
adalah bahwa kebebasan memilih hukum tersebut adalah:
(1) tidak bertentangan dengan UU atau ketertiban umum;
(2) kebebasan tersebut harus dilaksanakan dengan itikad baik;
55

(3) hanya berlaku untuk hubungan dagang;
(4) hanya berlaku dalam bidang hukum kontrak (dagang);
(5) tidak berlaku untuk menyelesaikan sengketa tanah; dan
(6) tidak untuk menyelundupkan hukum.
Menurut Cooke, kebebasan para pihak ini pun akan banyak
dipengaruhi oleh sistem hukum nasional yang akan dipilih (baik
oleh salah satu pihak atau kedua pihak). Tidak sekedar hanya
menentukan hukum suatu negara, tetapi juga mempertimbangkan apakah
hukum di negara tersebut konsisten atau tidak. Artinya, apakah
hukum di sesuatu negara tertentu sering berubah-ubah tidak. Gerald
Cooke dengan tepas menyatakan sebagai berikut:
“The significance of needing to provide for the 'proper' law
is that the parties will frequently prefer to have their
disputes dealt with by a legal system which is perhaps
independent of each of the parties or which is recognised to
have highly sophisticated and consistent trading laws.”
56

Dalam hukum nasional Indonesia mengenai arbitrase, yaitu UU
Nomor 30 tahun 1999 mengenai Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian
Sengketa, hukum yang akan diberlakukan oleh para pihak diserahkan
sepenuhnya kepada mereka. Pasal 56 UU tersebut menyatakan:
"(1) Arbiter atau majelis arbitrase mengambil putusan
berdasarkan ketentuan hukum, atau berdasarkan keadilan
dan kepatutan.
(2) Para pihak berhak menentukan pilihan hukum yang akan
berlaku terhadap penyelesaian sengketa yang mungkin
telah timbul antara para pihak."


55
M. Hulieatt-James and N. Gould, International Commercial Arbitration,
London: LLP, 1996, hlm. 16.
56
Gerald Cooke, op. cit., p. 195.

26
Model Arbitration Law 1985 juga menghormati kebebasan para
pihak untuk memilih hukum yang akan berlaku. Pasal 28 Model Law
menggariskan sebagai berikut:

"(1) The arbitral tribunal shall decide the dispute in
accordance with such rules of law as are chosen by the
parties as applicable to the substance of the dispute. Any
designation of the law or legal system of a given State shall
be construed, unless otherwise expressed, as directly
referring to the substantive law of that State and not to its
conflict of laws rules."
(2) Failing any designation by the parties, the arbitral
tribunal shall apply the law determined by the conflict of
laws rules which it considers applicable.
(3) The arbitral tribunal shall decide ex aequo et bono or
amiable compositeur only if the parties expressly authorized
to do so.
(4) In all cases, the arbitral tribunal shall decide in
accordance with the terms of the contract and shall take into
account the usages of the trade applicable to the
transaction.'

Dari kedua instrumen hukum di atas, terdapat beberapa catatan
pinggir yang cukup penting. Pertama, yang menonjol adalah bahwa
kedua instrumen berbeda di dalam hal prioritas pengaturan mengenai
hukum yang berlaku terhadap kontrak. UU Nomor 30 tahun 1999
menekankan bahwa arbitrator atau badan arbitrase harus
menyandarkan pada hukum untuk mengambil putusan. Pasal ini tidak
menentukan atau mensyaratkan bahwa hukum yang akan diterapkan
tersebut haruslah pilihan hukum para pihak. Sedangkan Model Law
dengan tegas menyatakan bahwa badan arbitrase harus menerapkan
hukum yang dipilih para pihak. Tampaknya, ketentuan UU Nomor 30
tahun 1999 ini perlu disempurnakan dengan mengacu atau
mencantumkan klausul Model Law ini.
Kedua, UU Nomor 30 tahun 1999 membolehkan arbitrator atau
badan arbitrase untuk menerapkan ex aequo et bono (pasal 56 ayat
1). Ketentuan yang sama dalam Model Law tercantum dalam pasal 28
ayat 3. Bedanya adalah, UU nasional kita tidak tegas bahwa
penerapan keadilan dan kepatutan ini hanya akan boleh dilakukan

27
apabila para pihak dengan tegas diperintahkan oleh para pihak.
Penjelasan pasal 56 hanya menyebut: 'Dalam hal arbiter diberi
kebebasan...'). Rumusan ini tidak tegas siapa yang memberi
kebebasan untuk memberikan putusan berdasarkan keadilan dan
kepatutan.
Ketiga, adalah masalah manakala para pihak tidak memilih
hukum yang akan berlaku terhadap kontrak. Dalam hal ini, UU
nasional kita dan Model Law memuat aturan yang berbeda. UU
nasional kita tampaknya menganut jalan pintas. Penjelasan pasal 56
UU Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa menyebutkan,
apabila para pihak tidak menentukan pilihan hukum, maka arbitrator
atau badan arbitrase harus menerapkan hukum tempat arbitrase
dilakukan.
Sedangkan Model Law menyatakan bahwa apabila para pihak tidak
memilih hukum, maka badan arbitrase atau arbitrator harus mengacu
kepada hukum yang ditentukan berdasarkan aturan-aturan hukum
perdata internasional (conflict of laws rules) yang oleh
arbitrator atau badan arbitrase dianggap berlaku.


28
F. Pelaksanaan Putusan Sengketa Dagang
1. Pengantar
Masalah pelaksanaan putusan penyelesaian sengketa (khususnya
yang dibuat di luar negeri) hingga kini masih menjadi suatu
masalah yang tidak mudah. Hal ini disebabkan karena pihak yang
kalah di dalam suatu sengketa tidak jarang merasa keberatan
melaksanakan putusan tersebut. Bersamaan dengan itu, pengadilan di
dalam negeri tersebut yang diharapkan dapat membantu proses
pelaksanaan putusan ternyata kurang memberikan respon yang
konstruktif.
Masalah ini pula yang saat ini menjadi ciri utama kelemahan
dari putusan-putusan penyelesaian sengketa oleh badan-badan
penyelesaian sengketa asing. Inti masalahnya adalah dilaksanakan
sutau putusan mencerminkan efektivitas suatu putusan.
57

Dalam bagian ini, uraian akan melihat secara singkat
pelaksanaan putusan dari masing-masing cara penyelesaian sengketa,
yaitu putusan melalui alternatif penyelesaian sengketa, arbitrase
asing dan pengadilan (asing).
2. Pelaksanaan Putusan APS
Penyelesaian sengketa melalui alternatif penyelesaian
sengketa (APS) memiliki risiko yang cukup tinggi dalam hal pihak
yang kalah tidak mau melaksanakan putusan yang dikeluarkan.
Pelaksanaan putusan melalui APS lebih banyak bergantung kepada
itikad baik para pihaknya. Hal ini semata-mata karena sifat
putusannya yang sejak awal dilandasi oleh asas konsensuil.
Masalahnya akan menjadi lebih sulit apabila putusan APS
tersebut dibuat di luar negeri. Upaya pihak yang menang yang
berupaya agar putusan APS dapat dilaksanakan semakin sangat
bergantung kepada itikad baik ini. Tidak ada kepastian hukum kapan
dan apakah pihak yang kalah mau melaksanakan putusan APS tersebut.

57
Hans Van Houtte, The Law of International Trade, London: Sweet and
Maxwell, 1995, p. 369.

29
3. Pelaksanaan Putusan Arbitrase (Asing)
Pelaksanaan putusan arbitrase asing sudah menjadi isu yang
lama. Masalah ini pula yang menjadi kelemahan utama dari cara
penyelesaian melalui pengadilan atau hakim partikelir ini. Seperti
telah disebut di muka, umumnya yang menjadi kendala dalam masalah
ini adalah pelaksanaan (eksekusi) putusan oleh pihak yang kalah.
Upaya masyarakat internasional dalam mengurangi dan
memperbaiki kelemahan ini telah lama dilakukan, yaitu sejak tahun
1927. Waktu itu masyarakat internasional mengeluarkan Konvensi
Jenewa tentang Pengakuan dan Pelaksanaan Putusan Arbitrase.
Konvensi ini kemudian direvisi oleh Konvensi New York 1958.
Sebenarnya timbulnya masalah ini merupakan refleksi dari
konvensi-konvensi internasional pada umumnya, termasuk Konvensi
New York 1958 ini. Masalahnya adalah konvensi internasional
seperti ini tidak mengatur peraturan-peraturan yang detail. Ia
hanya mengatur hal-hal pokoknya saja. Dalam lingkup nasional,
Konvensi internasional ini ibarat Undang-undang Pokok yang
pelaksanaannya dijabarkan oleh Peraturan Pemerintah, Keputusan
Presiden, dan seterusnya (implementing legislation-nya).
Kalau di dalam lingkup nasional ada hierarki pengaturan yang
jelas, sebaliknya dalam lingkup internasional tidak ada. Masin-
masing negara memiliki cara melaksanakan implementing legislation-
nya. Keadaan demikian jelas menambah ruwetnya masalah pelaksanaan
suatu putusan arbitrase asing.
58

Konvensi New York 1958 (Convention on the Recognition and
Enforcement of Foreign Arbitral Awards) ditandatangani 10 Juni
1958 di kota New York. Konvensi New York mulai berlaku pada 2 Juni
1959. Konvensi ini hanya mensyaratkan tiga ratifikasi agar

58
Lihat hasil penelitian yang dilakukan oleh Karl Heinz Boockstiegel yang
menyimpulkan sebagai berikut: “if we now turn to the enforcement of
arbitration awards ... the information collected shows many variations
between national laws. (Karl Heinz Bockstiegel, Arbitration and State
Enterprises, KlUwer Law and Taxation Publishers, 1989, h1m. 50).

30
berlaku. Selanjutnya Konvensi akan berlaku tiga bulan sejak jumlah
ratifikasi ketiga terpenuhi.
59

Konvensi mengandung 16 pasal. Dari pasal-pasal ini dapat
ditarik 5 (lima) prinsip berikut di bawah ini:
(1) Konvensi ini menerapkan prinsip pengakuan dan pelaksanaan
putusan arbitrase luar negeri dan menempatkan putusan tersebut
pada kedudukan yang sama dengan putusan peradilan nasional.
(2) Konvensi ini mengakui prinsip putusan arbitrase yang mengikat
tanpa perlu dicantumkan dalam putusannya.
(3) Konvensi ini menghindari proses pelaksanaan ganda (double
enforcement process).
(4) Konvensi New York mensyaratkan penyederhanaan dokumentasi yang
diberikan oleh pihak yang mencari pengakuan dan pelaksanaan
putusan. Dalam hal ini Konvensi hanya mensyaratkan dua dokumen
saja untuk dapat melaksanakan suatu putusan, yaitu: (a) Dokumen
putusan atau salinannya yang sah dan (b) dokumen perjanjian
arbitrase atau salinannya yang sah (pasal IV).
60

(5) Konvensi New York lebih lengkap dan komprehensif daripada hukum
nasional pada umumnya. Konvensi New York di samping mengatur
pelaksanaan, juga mengatur pengakuan (recognition) terhadap
suatu putusan arbirase asing.
61

Indonesia adalah anggota Konvensi New York dengan aksesi
melalui Keputusan Presiden No. 34 tahun 1981, 5 Agustus 1981.
Aksesi ini didaftar di Sekretaris Jenderal PBB 7 Oktober 1981.


59
Lihat, pasal XII Konvensi.
60
Rene David berpendapat bahwa pasal ini memberi keuntungan kepada pihak
yang menang di dalam memohon eksekusi karena ia cukup menunjukkan dua
dokumen tersebut kepada Pengadilan (Rene David, Arbitration in
International Trade, Netherlands: Kluwer, 1985, h1m. 96).
61
Samir Saleh, "The Recognition and Enforcement of Foreign Arbitral
Awards in the States of the Arab Middle East", dalam Julian DM Lew,
(ed)., Contemporary Problems in International Arbitration, Netherlands:
Martinus Nijhoff Publ., 1986, h1m. 344.

31
3. Pelaksanaan Putusan Pengadilan
Masalah pelaksanaan putusan pengadilan juga masih menjadi
masalah yang cukup serius. Pengadilan adalah refleksi kedaulatan
negara dalam mengadili sesuatu sengketa. Putusan pengadilan
karenanya tidak secara otomatis dapat dilaksanakan di wilayah
kedaulatan negara lain.
Untuk supaya putusan tersebut dapat dilaksanakan di suatu
negara lain, ada dua kemungkinan berikut:
(1) menyidangkan kembali kasus tersebut dari awal sebagai suatu
sengketa baru di pengadilan tersebut (di mana putusan
dimintakan pelaksanaannya);
(2) pelaksanaan putusan pengadilan di suatu negara dapat
dilaksanakan apabila negara-negara yang terkait (ke-dua
negara, dimana pelaksanaa putusan dimintakan) terikat baik
apda suatu perjanjian bilateral atau perjanjian multilateral
mengenai pelaksanaan putusan pengadilan di bidang sengketa-
sengketa dagang (padanan kata asingnya yaitu sengketa-sengketa
komersial).
Untuk hal yang pertama, sudah barang tentu sulit. Prosesnya
jadi panjang dan berlarut-larut. Belum lagi pertimbangan biaya
yang akan dikeluarkan untuk proses tersebut. Biasanya proses
berperkara di pengadilan di luar negeri tidaklah murah. Belum lagi
timbul ketidak-pastian apakah putusannya akan sama dengan putusan
yang dikeluarkan oleh badan peradilan sebelumnya.
Untuk hal yang kedua, adalah alternatif yang cukup layak.
Sayangnya, perjanjian-perjanjian seperti ini baru berupa
perjanjian bilateral dan regional di Eropa Barat. Perjanjian
bilateral dapat ditemukan di antara negara-negara Eropa Barat
dalam hal pengakuan dan pelaksanaan putusan pengadilan secara
bilateral.
62


62
Hans Van Houtte, op. cit., p. 356. (Biasanya perjanjian bilateral ini
memuat hal-hal yang tidak tercakup dalam Perjanjian Regional mengenai

32
a. Konvensi Brussel 1968
Perjanjian regional di Eropa Barat mengenai pelaksanaan
putusan pengadilan ini adalah the Convention on Jurisdiction and
the Enforcement of Judgment in Civil and Commercial Matters
(Konvensi Brussel), 27 september 1968. Konvensi Brussel ini
beranggotakan Belgia, Belanda, Luxembourg, Perancis, Jerman, dan
Italia). Selanjutnya negara-negara yang bergabung adalah Inggris,
Irlandia, dan Denmark (1978), Spanyol dan Portugal (26 Mei 1989).
Konvensi Brussel bertujuan:
(1) mengatur jurisdiksi pengadilan di negara-negara anggotanya;
(2) memperkenalkan prosedur sederhana untuk pengakuan dan
pelaksanaan putusan; dan
(3) mengatur pengakuan terhadap dokumen-dokumen otentik dari
negara-negara anggotanya.
63

b. Konvensi Lugano 1988
Konvensi kedua yaitu the Convention on Jurisdiction and the
Enforcement of Judgment in Civil and Commercial Matters (Konvensi
Lugano) ditandatangani di Lugano, 16 September 1988. Negara
anggota Konvensi ini adalah 12 negara Masyarakat Eropa dan 6
negara anggota European Free Trade Area (EFTA) yaitu Finlandia,
Islandia, Norwegia, Austria, Swedia dan Swis.
Tujuan Konvensi ini adalah sama dengan Konvensi Brussel,
yaitu mendorong pengakuan dan pelaksanaan putusan pengadilan di
antara negara anggotanya. Fungsi ini umumnya berkaitan dengan hal-
hal yang tidak diatur dalam Konvensi Brussel.
64



masalah pelaksanaan putusan dagang oleh pengadilan di antara negara-
negara anggota Konvensi Brussel dan Konvensi Lugano, lihat infra).
63
Hans Van Houtte, op. cit., p. 355.
64
Hans Van Houtte, op. cit., p. 356 (menurut Houtte, hal lain yang
membedakannya adalah bahwa Konvensi Lugano tidak memberikan jaminan
penafsiran yang seragam dibandingkan dengan Konvensi Brussel. Houtte,
op.cit., hlm. 356).

33
G. Penutup
Dari uraian di atas tampak bahwa hukum perdagagan
internasional memberi kebebasan dan peluang yang cukup besar
kepada para pihak untuk menyelesaikan sengketanya. Dalam kebebasan
memilih cara-cara penyelesaian sengketa termasuk pula kebebasan
untuk memilih hukum yang akan diterapkan untuk menyelesaikan
sengketa. Untuk kedua hal ini badan peradilan harus
menghormatinya.
Mengenai forum penyelesaian sengketa yang tersedia, tampak
masing-masing memiliki kekuatan dan kelemahannya. Baik itu APS
atau pengadilan masing-masing memiliki cirinya. Hal inilah yang
perlu dipertimbangkan dengan seksama oleh para pihak yang hendak
menyelesaikan sengketanya.
Mengenai kebebasan para pihak untuk menentukan hukumnya,
faktor yang penting adalah kestabilan hukum tersebut. Di dalam
pengertian ini adalah pengetahuan para pihak terhadap hukum
tersebut. Selain itu pula perlu diperhatikan praktik dan
pendekatan yang diterapkan badan peradilan yang akan
menyelesaikannya. Seperti diuraikan di atas, para pihak perlu
menyadari adanya praktik yang berbeda-beda antara badan peradilan
di suatu negara dengan badan peradilan di negara lainnya.
Pertimbangan penting lainnya yang justru sangat esensial
adalah pertimbangan kemungkinan dapat atau tidak dapatnya
dilaksanakannya putusan (ekseskusi). Kegagalan atau kealpaan untuk
mempertimbangkan faktor ini akan membuat upaya-upaya penyelesaian
sengketa yang dipilih berdasarkan kebebasan para pihak menjadi
tidak berarti.



34

DAFTAR PUSTAKA
Bagner, Hans, “Dispute Settlement,” dalam: Julian D.M. Lew and
Clive Stanbrook (eds.), International Trade: Law and Practice,
London: Euromoney, 1983.
Beherens, Peter, "Alternative Methods of Dispute Settlement in
International Economic Relations," dalam: Ernst-Ulrich
Petersmann and Gunther Jaenicke, Adjudication of International
Trade Dispute in International and National Economic Law,
Fribourg U.P., 1992.
Cooke, Gerald, “Disputes Resolution in International Trading,”
dalam: Jonathan Reuvid (ed.), The Strategic Guide to
International Trade, London: Kogan Page, 1997.
David, Rene, Arbitration in International Trade, Netherlands:
Kluwer, 1985.
Garcia-Amador, F.V., The Canging Law of International Claims, USA:
Oceana Publications, Inc., 1984.
Harris, D.J., Cases and Materials on International Law, London:
Sweet and Maxwell, 5
th
.ed., 1998.
Houtte, Hans Van, The Law of International Trade, London: Sweet
and Maxwell, 1995.
Huala Adolf, “The Settlement of Investment Disputes under the
ICSID Arbitration”, Thesis, Department of Law, Sheffield
University, 1995.
Huala Adolf, Arbitrase Komersial Internasional, Jakarta: Rajawali
Pers, cet.2., 1994.
Huala Adolf, Aspek-aspek Negara dalam Hukum Internasional,
Jakarta: Rajawali Pers, cet. 3, 2002.
Hulieatt-James M., and N. Gould, International Commercial
Arbitration, London: LLP, 1996.
Islam, M. Rafiqul, International Trade Law, Sydney: LBC, 1999.
Kohona, Palitha TB., , The Regulation of International Economic
Relations through Law, the Netherlands: Martinus Nijhoff
Publ., 1985.
Malirveni, G., "The Settlement of Disputes within International
Organizations," dalam Mohammed Bedjaoui (ed)., International
Law: Achievements and Prospects, Dordrecht: Martinus Nijhoff
Publishers and UNESCO, 1991.
Mann, F.A., "Foreign Investment in the International Court of
Justice: the ELSI Case," 86 AJIL 92 (1992).
Poeggel W., and E. Oeser, "Methods of Diplomatic Settlement,"
dalam Mohammed Bedjaoui (ed)., International Law: Achievements
and Prospects, Paris: UNESCO and Martinus Nijhoff, 1991.

35
Rubino-Sammartano, Mauro, International Arbitration Law, Deventer,
Boston: Kluwer Law and Taxation Publsihers, 1990.
Saleh, Samir, "The Recognition and Enforcement of Foreign Arbitral
Awards in the States of the Arab Middle East", dalam Julian DM
Lew, (ed)., Contemporary Problems in International
Arbitration, Netherlands: Martinus Nijhoff Publ., 1986.
Sanson, Michelle, Essential International Trade Law, Sydney:
Cavendish, 2002.
Seidl-Hohenveldern, I., "General Course on Public International
Law," 198 Recueil des Cours 198 (1986).
Themaat, Verloren van, The Changing Structure of International
Economic Law, the Netherlands: Martinus Nijhoff Publishers,
1981.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->