P. 1
Buku - Insider Trading - Kejahatan Bisnis Di Pasar Modal Indonesia

Buku - Insider Trading - Kejahatan Bisnis Di Pasar Modal Indonesia

|Views: 1,587|Likes:
Published by Red Borneo
untuk mendapatkan softfile dokumen ini hubungi email : satryawangsa@ymail.com
untuk mendapatkan softfile dokumen ini hubungi email : satryawangsa@ymail.com

More info:

Categories:Types, Business/Law
Published by: Red Borneo on Jun 21, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

04/29/2013

Insider Trading

:

Kejahatan Bisnis di Pasar Modal Indonesia

Arif Rahman, S.H., M.H.

Insider Trading:

Kejahatan Bisnis di Pasar Modal Indonesia

Universitas Malikussaleh Press Nanggroe Aceh Darussalam 2006

Perpustakaan Nasional : Katalog Dalam Terbitan (KDT) Rahman, Arif Insider Trading: Kejahatan Bisnis di Pasar Modal Indonesia Rahman, Arif Universitas Malikussaleh Press xviii, 124 hlm; 21 cm ISBN 000-0000-00-0 1. Ekonomi 2. Hukum 3. Bisnis I. Judul I. Rahman, Arif

Hak Cipta © 2006, Arif Rahman, S.H., M.H. All rights reserved Transformasi Sosial dan Kepemimpinan di Aceh Editor : M. Muntasir Alwy, Hermandar Puteh, SE. Alamat Penerbit: Universitas Malikussaleh Jl. Tgk. Chik Ditiro No. 26, Lhokseumawe P.O. Box 141, Nanggroe Aceh Darussalam INDONESIA ( +62-0645-41373-40915 7 +62-0645-44450 Hak Penerbitan : Universitas Malikussaleh Press Design Cover dan Layout : Idwan Nas’am Sinaga (Madani Press, PT) Dicetak oleh: Madani Press, PT Cetakan Pertama, 05 Februari 2008.

No parts of this book may be reproduced by any means, electronic or mechanical, including photocopy, recording, or information storage and retrieval system, without permission in writing from the publisher.
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh isi buku ini dengan cara apa pun, termasuk dengan cara penggunaan mesin fotokopi, tanpa izin sah dari penerbit

Abstrak

U

U Nomor 9 Tahun 1985 tentang Pasar Modal merupakan pencerminan kehendak dari UUD 1945 dan GBHN yang menghendaki terciptanya suatu sistem pasar modal yang sehat, transparan, dan efisien, yang mengandalkan keterbukaan informasi dari setiap pelaku di pasar modal. Insider trading merupakan kebalikan dari prinsip yang dianut oleh pasar modal, karena menimbulkan ketidakadilan informasi dan ekonomi bagi sebagian pelaku pasar modal. Di lain pihak, ketentuan dalam UU Pasar Modal belum mengatur seluruhnya tentang pelaku insider trading karena tidak dapat menjangkau semua pelaku insider trading di luar batasan yang diberikan oleh UU Pasar Modal. Permasalahannya adalah bagaimana menentukan suatu perbuatan yang termasuk dalam kategori insider trading, hambatan apakah yang timbul dalam mengungkap praktik insider trading, dan bagaimanakah pengaturan hukum di Indonesia dalam menghadapi praktik insider trading.

vi

Insider Trading : Kejahatan Bisnis di Pasar Modal Indonesia

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitis melalui pendekatan yuridis normatif. Pendekatan deskriptif analitis digunakan untuk mengetahui peraturan perundang-undangan nasional dan negara lain, khususnya yang mengatur tentang pasar modal. Pendekatan yuridis normatif menitikberatkan pada penelitian data sekunder, melalui asas hukum dan perbandingan hukum yang diperoleh dari hasil penelitian kepustakaan dan didukung data primer hasil penelitian lapangan. Data yang telah dikumpulkan selanjutnya dianalisis secara kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa suatu perbuatan dapat dikategorikan sebagai insider trading jika telah memenuhi persyaratan: adanya inside information, informasi tersebut belum terbuka untuk umum, adanya transaksi perdagangan yang dimotivasi oleh informasi tersebut, dan adanya motivasi untuk memperoleh keuntungan yang tidak layak sebagai hasil dari transaksi perdagangan tersebut. UU Pasar Modal mempunyai kelemahan dalam penegakan hukum terhadap pelanggaran dalam bidang pasar modal yang disebabkan oleh perbedaan sistem hukum Anglo-Saxon yang dianut oleh UU Pasar Modal. Kesulitan UU Pasar Modal dalam menjangkau pelaku insider trading yang termasuk dalam konsep misappropriation theory, oleh karena UU Pasar Modal masih menganut konsep fiduciary duty. Selain itu, tidak ada kemauan yang kuat dari Bapepam untuk menjerakan pelaku insider trading dengan upaya menjatuhkan hukuman secara kumulatif seperti yang telah diatur dalam UU Pasar Modal sendiri. Kasus-kasus insider trading yang terjadi di Pasar Modal Indonesia tidak pernah diselesaikan melalui pengadilan, melainkan hanya diselesaikan secara administratif di lingkungan Badan Pengawas Pasar Modal sendiri. ***

Abstract

L

aw Number 9 Year 1985 concerning Capital Market represent willingness of UUD 1945 and GBHN in order to creation a healthy capital market system, transparent, and efficient, which rely on openness of information from every participants in capital market. Insider trading represent reverse of principle embraced by capital market, because it’s generate unfair of economics and information to some of participants of capital market. On the other hand, provisions in Law Capital Market not yet arranged entirely about insider trading perpetrators, because it can not reach all perpetrator of insider trading outside definition given by Law Capital Market. The problem is how to determine an action which is included in category of insider trading; what barrier is arise in expressing insider trading practice, and how arrangement of law in Indonesia to face the insider trading practice.

viii

Insider Trading : Kejahatan Bisnis di Pasar Modal Indonesia

This research use analytical descriptive method through approach of normative juridis. It’s used analytical descriptive approach to know law and regulations of the other state and national, specially arranging about capital market. These approach is stretching normative juridis at research of data of sekunder, passing principle of justice and comparison of obtained law from result of research of bibliography and supported by primary data result of research of field. The data which have been collected is hereinafter analysed qualitatively. Pursuant to the results of research, it’s known that an action can be categorized as insider trading if it have fulfilled conditions: the existence of inside information, the information not yet opened generally, the existence of commerce transaction which is motivated by the information, and the existence of motivation to obtain advantage which improper as the results from commerce transaction. Law Capital Market have weaknesses in straightening of law to collisions in the field of capital market which because of difference of system punish Anglo-Saxon embraced by Law Capital Market. Difficulty of Law Capital Market in reaching perpetrator of insider trading which included in concept of missappropriation theory, because Law Capital Market still embrace concept of fiduciary duty theory. Besides, there are no strong willingness of Bapepam to discourage perpetrator of insider trading with effort bring to justice cumulatively such as those which have been arranged in Law Capital Market alone. Cases of insider trading that happened in the Indonesian Capital Market never been finished through justice, but only finished administratively in The Capital Market Supervisory Agency itself. ***

Kata Pengantar

erkat rahmat, taufiq, dan hidayah dari Allah swt. serta do’a yang tiada putusnya dari berbagai pihak, terutama dari kedua orang tua, dan isteri tercinta, akhirnya penulis dapat menyelesaikan karya tulis yang berjudul, “INSIDER TRADING: KEJAHATAN BISNIS DI PASAR MODAL INDONESIA”. Penulis menyadari bahwa penyusunan buku ini tidak mungkin berhasil diselesaikan tanpa bantuan, bimbingan, arahan, masukan, dan dorongan semangat dari berbagai pihak yang diperoleh penulis. Oleh karena itu, penghargaan tertinggi dan tulus ikhlas serta ucapan terima kasih yang tidak terhingga, penulis sampaikan kepada pihak-pihak tersebut. Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Ibu Prof. Dr. Djuhaendah Hasan, S.H., Bapak Prof. Dr. H. Yudha Bhakti A, S.H., M.H. dan Ibu An-an Chandrawulan, S.H., LL.M. yang dengan penuh kesabaran telah begitu banyak mencurahkan perhatian, ilmu pengetahuan, dan

B

x

Insider Trading : Kejahatan Bisnis di Pasar Modal Indonesia

nasihat kepada penulis. Hal itu sangat berarti bagi penulis dalam menyelesaikan buku ini. Tiada kata yang dapat diucapkan atas jasa Ibu dan Bapak pembimbing. Kepada Allah swt. penulis memanjatkan do’a, agar apa yang telah diberikan mendapat balasan yang setimpal.. Penulis menyampaikan terima kasih kepada Rektor Universitas Malikussaleh Lhokseumawe dan Dekan Fakultas Hukum Universitas Malikussaleh Lhokseumawe yang telah memberikan kesempatan melanjutkan Program Pascasarjana di Unpad Bandung. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada teman-teman penulis dalam menempuh Program Pascasarjana Prodi Ilmu Hukum, khususnya Hukum Bisnis juga teman-teman penulis lainnya yang tidak penulis sebutkan satu persatu, yang telah memberikan bantuan kepada penulis baik materil maupun moril semoga Allah SWT. membalas semua kebaikan yang telah diberikan kepada penulis. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan karya tulis ini masih ada kekurangan-kekurangan, untuk itu penulis menerima saran dan kritikan dari para pembaca dalam rangka menambah khasanah penulisan ini. Penulis,

Arif Rahman

Daftar Isi

Halaman

ABSTRAK .................................................................................................... ABSTRACT .................................................................................................. KATA PENGANTAR ................................................................................. DAFTAR ISI ................................................................................................. DAFTAR GAMBAR ................................................................................... DAFTAR SINGKATAN ............................................................................. BAB I PENDAHULUAN .................................................................... 1.1 Latar Belakang Penelitian ............................................ 1.2 Identifikasi Masalah ....................................................... 1.3 Tujuan Penelitian ........................................................... 1.4 Kegunaan Penelitian ..................................................... 1.5 Kerangka Pemikiran ...................................................... 1.6 Metode Penelitian ......................................................... 1.6.1 Metode Pendekatan .......................................... 1.6.2 Spesifikasi Penelitian ......................................... 1.6.3 Tahap Penelitian ................................................. 1.6.4 Teknik Pengumpulan Data .............................. 1.6.5 Metode Analisis Data ........................................ 1.6.6 Lokasi Penelitian ................................................. 1.7 Sistematika Penulisan ...................................................

v vii ix xi xv xvii 1 1 8 8 8 9 20 20 21 21 22 23 23 23

xii

Insider Trading : Kejahatan Bisnis di Pasar Modal Indonesia

Halaman

BAB

II SISTEM PASAR MODAL DI INDONESIA ....................... 2.1 Pengertian Umum Pasar Modal ................................ 2.2 Sejarah Pasar Modal ...................................................... 2.2.1 Tahap Permulaan ............................................... 2.2.2 Tahap Institusionalisasi Konvensional ......... 2.2.3 Tahap Kebangkitan Kembali ........................... 2.2.4 Tahap Institusionalisasi Modern .................... 2.2.5 Tahap Sosialisasi ................................................. 2.2.6 Tahap Kepastian Hukum .................................. 2.3 Fungsi, Tujuan, Serta Motif Berdirinya Pasar Modal 2.4 Instrumen Pasar Modal ................................................ 2.4.1 Saham .................................................................... 2.4.2 Obligasi ................................................................. 2.4.3 Obligasi Konversi ................................................ 2.4.4 Waran ..................................................................... 2.4.5 Klaim ...................................................................... 2.4.6 Opsi ........................................................................ 2.5 Pelaku Pasar Modal ....................................................... 2.5.1 Emiten ................................................................... 2.5.2 Investor ................................................................. 2.5.3 Penjamin Emisi Efek (Underwriter) ............... 2.5.4 Biro Administrasi Efek ....................................... 2.5.5 Bank Kustodian ................................................... 2.5.6 Wali Amanat ........................................................ 2.6 Mekanisme Perdagangan di Pasar Modal ..............

25 25 29 32 32 33 34 34 35 35 39 41 43 45 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55

BAB III KEWAJIBAN KETERBUKAAN INFORMASI DAN PENERAPAN GOOD CORPORATE GOVERNANCE DALAM KEGIATAN PERUSAHAAN DI PASAR MODAL ..................................................................................... 3.1 Prinsip Keterbukaan Dalam Perdagangan Saham 3.2 Kewajiban Disclosure Emiten Pada Saat Go Publik 3.2.1 Keterbukaan Melalui Prospektus ................... 3.2.2 Kedudukan Yuridis Prospektus Dalam Proses Go Publik ................................................. 3.2.3 Keterbukaan Melalui Dokumen Lain ............

59 59 64 64 68 69

Pendahuluan

xiii

Halaman

3.3 Kewajiban Disclosure Emiten Setelah Go Publik . 3.4 Penerapan Good Governance Dalam Kegiatan Perusahaan ...................................................................... 3.4.1 Pengertian Good Corporate Governance ... 3.4.2 Prinsip-prinsip Good Corporate Governance BAB IV INSIDER TRADING DALAM KEGIATAN DI PASAR MODAL 4.1 Praktik Insider Trading di Indonesia ......................... 4.1.1 Ketentuan Insider Trading Dalam UU Pasar Modal ..................................................................... 4.1.2 Jenis-jenis Keterkaitan Orang Dalam (Insider) ................................................................. 4.1.3 Sifat Inside Information .................................... 4.1.4 Bentuk-bentuk Insider Trading ...................... 4.2 Hambatan Dalam Mengungkap Kasus Insider Trading .............................................................................. 4.2.1 Perbedaan Sistem Hukum ............................... 4.2.2 Lemahnya Pengaturan Hukum ...................... 4.2.3 Tidak Adanya Batasan Mengenai Kapan Orang Dalam Dapat Melakukan Transaksi Setelah Fakta Material Didisclose ................. 4.3 Penegakan Hukum di Pasar Modal ........................... 4.3.1 Peran Bapepam Dalam Menegakkan Hukum di Pasar Modal ...................................... 4.3.1.1 Kewenangan Bapepam Sebagai Lembaga Pemeriksa .......................... 4.3.1.2 Kewenangan Bapepam Sebagai Lembaga Penyidik .............................. 4.3.2 Sanksi-sanksi Hukum Di Pasar Modal .......... 4.3.2.1 Sanksi Perdata Dalam UU Pasar Modal ..................................................... 4.3.2.2 Sanksi Pidana Dalam UU Pasar Modal ..................................................... 4.3.2.3 Sanksi Administratif Dalam UU Pasar Modal ..........................................

70 71 71 74 83 83 83 85 88 89 94 94 95 97 98 98 102 104 106 106 108 110

xiv

Insider Trading : Kejahatan Bisnis di Pasar Modal Indonesia

Halaman

BAB V PENUTUP ................................................................................. 5.1 Kesimpulan ...................................................................... 5.2 Saran-saran ...................................................................... DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. RIWAYAT HIDUP ......................................................................................

115 115 116 117 123

***

Daftar Gambar

Halaman

Gambar 1 :
Prosedur Penawaran Umum di Pasar Modal ..................................... 57

Gambar 2 :
Perbandingan Model Legal Governance Sistem Indonesia dan Amerika Serikat .......................................................................................... 78

xvi

Insider Trading : Kejahatan Bisnis di Pasar Modal Indonesia

Daftar Singkatan

ASCS BAE Bapepam BAPMI BEJ BES BMU BUMD BUMN EFC FSB GBHN GCG IOD KPPU KUH Perdata KUHAP

: : : : : : : : : : : : : : : : :

American Society of Corporate Secretaries (ASCS) Biro Administrasi Efek Badan Pengawas Pasar Modal Badan Arbitrase Pasar Modal Indonesia Bursa Efek Jakarta Bursa Efek Surabaya Bank Mashill Utama Badan Usaha Milik Daerah Badan Usaha Milik Negara Equity Funding Corporation Financial Services Board Garis-garis Besar Haluan Negara Good Corporate Governance Informasi Orang Dalam Komisi Pengawas Persaingan Usaha Kitab Undang-undang Hukum Perdata Kitab Undang-undang Hukum Acara Perdata

xviii

Insider Trading : Kejahatan Bisnis di Pasar Modal Indonesia

LPP OECD PELITA RUPO RUPS SEA SEC SRO UI Unpad UUD 1945 UUPM

: : : : : : : : : : : :

Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian Organization for Economic Cooperation and Development Pembangunan Lima Tahun Rapat Umum Pemegang Obligasi Rapat Umum Pemegang Saham Securities Exchange Act Securities and Exchange Commission Self Regulatory Organization Universitas Indonesia Universitas Padjadjaran Bandung Undang-undang Dasar 1945 Undang-undang Pasar Modal

***

Bab I

Pendahuluan

1.1 Latar Belakang Penelitian Pembangunan nasional merupakan pencerminan kehendak untuk terus-menerus meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat Indonesia secara adil dan merata, serta mengembangkan kehidupan masyarakat dan penyelenggaraan negara yang maju dan demokratis berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Pencerminan kehendak ini antara lain dituangkan dalam Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) dalam TAP MPR-RI Nomor IV/MPR/1999 tentang GBHN yang menegaskan bahwa: “Pembangunan nasional merupakan usaha peningkatan kualitas manusia, dan masyarakat Indonesia yang dilakukan secara berkelanjutan, berlandaskan kemampuan nasional, dengan memanfaatkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta memperhatikan tantangan perkembangan global. Dalam pelaksanaannya mengacu pada kepribadian bangsa dan nilai luhur yang universal untuk mewujudkan kehidupan bangsa yang berdaulat, mandiri, berkeadilan, sejahtera, maju, dan kukuh kekuatan moral dan etikanya”.

2

Insider Trading : Kejahatan Bisnis di Pasar Modal Indonesia

Dalam bidang ekonomi, arah kebijakan pengembangannya adalah: “Mengembangkan sistem ekonomi kerakyatan yang bertumpu pada mekanisme pasar yang berkeadilan dengan prinsip persaingan sehat dan memperhatikan pertumbuhan ekonomi, nilai-nilai keadilan, kepentingan sosial, kualitas hidup, pembangunan berwawasan lingkungan dan berkelanjutan sehingga terjamin kesempatan yang sama dalam berusaha dan bekerja, perlindungan hak-hak konsumen, serta perlakuan yang adil bagi seluruh masyarakat”.1 UUD 1945 sendiri, mengamanatkan bahwa tujuan pembangunan ekonomi Indonesia harus didasarkan atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional.2 Dalam rangka mencapai sasaran tersebut diperlukan berbagai sarana penunjang, antara lain berupa tatanan hukum yang mendorong, menggerakkan, dan mengendalikan berbagai kegiatan di bidang ekonomi. Salah satu tatanan hukum yang diperlukan dalam upaya meningkatkan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan tersebut adalah dengan mengembangkan pasar modal yang sehat, transparan, dan efisien. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal yang mulai berlaku efektif pada tanggal 1 Januari 1996, merupakan momentum yang sangat berarti bagi dunia pasar modal Indonesia, karena dengan diundangkannya undangundang tersebut diharapkan pasar modal Indonesia dapat berkembang dengan iklim yang kondusif. Undang-undang Pasar Modal (selanjutnya disingkat UU PM) tersebut selain mengatur masalah kewajiban untuk memenuhi prinsip keterbukaan, yang merupakan suatu hal yang penting dalam dunia pasar modal, karena informasi tersebut merupakan
1 TAP MPR No. IV/MPR/1999 Tentang Garis-garis Besar Haluan Negara Tahun 1999 – 2004 dalam Bab Pendahuluan. 2 Pasal 33 ayat (4) UUD 1945 setelah Amandemen Ke 4.

Pendahuluan

3

bahan pertimbangan dalam berinvestasi, juga mengatur tentang konsekuensi dan tanggung jawab atas kerugian serta ancaman pidana bagi pelaku pasar modal yang tidak melakukan kewajiban prinsip keterbukaan sesuai dengan undang-undang tersebut. Ketentuan yang mengatur pasar modal Indonesia pada awalnya adalah Undang-undang No. 15 Tahun 1952 tentang Penetapan Undang-undang Darurat tentang Bursa (Lembaran Negara Tahun 1951 No. 67), dirasakan sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan yang terjadi dalam dekade terakhir ini. Undang-undang Darurat tentang Bursa tersebut tidak mengatur mengenai hal-hal yang sangat penting dalam kegiatan pasar modal, yaitu kewajiban pihak-pihak dalam suatu penawaran umum untuk memenuhi prinsip keterbukaan serta ketentuanketentuan yang mengatur tentang perlindungan hukum terhadap investor. Pasar modal mempunyai peran strategis dalam pembangunan nasional dalam rangka meningkatkan pemerataan, pertumbuhan, dan stabilitas ekonomi nasional ke arah peningkatan kesejahteraan rakyat. Berdasarkan hal ini, pemerintah mempunyai alasan untuk ikut serta mengatur jalannya dinamika pasar modal.3 Dalam rangka mencapai tujuan tersebut, pasar modal mempunyai peran strategis sebagai salah satu sumber pembiayaan bagi dunia usaha dan wahana investasi masyarakat kecil dan menengah. Hal ini menjadi tujuan utama pasar modal seperti yang tertuang dalam penjelasan UU PM. Berlaku efektifnya UU PM tersebut memberikan kepastian hukum bagi para pelaku pasar modal Indonesia, yang pada akhirnya dapat memberikan kontribusi yang besar dalam pembangunan dan juga berarti selangkah lebih maju dalam era globalisasi. Pasar modal dapat memainkan peranan penting dalam suatu perkembangan ekonomi di suatu negara. Karena pasar modal dapat berfungsi sebagai:4
3 Asril Sitompul, Pasar Modal: Penawaran Umum dan Permasalahannya, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1995, hlm. 7. 4 Departemen Keuangan RI, Seluk Beluk Pasar Modal, tt., hal. 5 dalam Munir Fuady, Pasar Modal Modern: Tinjauan Hukum, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2001, hlm. 11.

4

Insider Trading : Kejahatan Bisnis di Pasar Modal Indonesia

(1) Sarana untuk menghimpun dana-dana masyarakat untuk disalurkan dalam kegiatan-kegiatan yang produktif. (2) Sumber pembiayaan yang mudah, murah, dan cepat bagi dunia usaha dan pembangunan nasional. (3) Mendorong terciptanya kesempatan berusaha dan sekaligus menciptakan kesempatan kerja. (4) Mempertinggi efisiensi alokasi sumber produksi. (5) Memperkokoh beroperasinya mekanisme finansial market dalam menata sumber moneter, karena pasar modal dapat menjadi sarana “open market operation” sewaktu-waktu diperlukan. (6) Menekan tingginya tingkat bunga menuju suatu tingkatan yang wajar. (7) Sebagai alternatif investasi bagi para pemilik modal. Keteraturan pada perdagangan efek di pasar modal yang teratur tidak cukup hanya dilihat pada peraturan, tetapi juga dari praktik yang berlaku di pasar modal sendiri, terutama adanya konsistensi penegakan peraturan bursa itu sendiri. Keteraturan tersebut mencerminkan perilaku para pihak yang terlibat dalam perdagangan efek, perilaku perusahaan efek dan organ-organnya, perilaku perusahaan penunjang serta para profesional di pasar modal dan investor itu sendiri. Dalam keteraturan itu, insider trading mencuat menjadi masalah yang mengganggu harmonisasi perdagangan efek yang mengandalkan sistem keterbukaan. Hal ini disebabkan insider trading tersebut melanggar asas-asas keterbukaan yang menjadi isu utama dalam pasar modal. Insider trading dalam UU PM tidak diartikan secara tegas, namun hanya diberikan batasan sebagai “transaksi yang dilarang antara lain yaitu orang dalam dari emiten yang mepunyai informasi orang dalam dilarang melakukan transaksi penjualan atau pembelian atas efek emiten atau perusahaan lain yang melakukan transaksi dengan emiten atau perusahaan publik yang bersangkutan”.5
5 Pasal 98 UU PM. Batasan pada UU PM tersebut adalah sama dengan insider trading, sebagaimana dikenal dalam transaksi efek yang dilarang di Amerika.

Pendahuluan

5

Dengan adanya insider trading ini, menyebabkan terjadinya ketidakadilan informasi yang hanya diperoleh sejumlah orang tertentu dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan yang bukan merupakan haknya. Hal ini bertentangan prinsip keterbukaan yang dianut oleh UU PM, yang mensyaratkan bahwa setiap pelaku pasar modal dalam setiap penawaran sahamnya harus memuat informasi material yang benar dan tidak memberikan gambaran yang menyesatkan.6 Dengan demikian, calon investor dapat menentukan sendiri sikapnya dalam melakukan investasi di pasar modal. Jika keterbukaan informasi tersebut tidak dipenuhi, maka pihak yang dirugikan adalah masyarakat calon investor. Karena dengan terjadinya insider trading tersebut, mereka tidak memperoleh kesempatan yang sama untuk membeli atau berinvestasi terhadap suatu efek atau saham tertentu, karena hanya pihak tertentu saja yang memperoleh keuntungan karena mempunyai informasi material yang tidak dimiliki oleh calon investor lain. Bursa efek adalah pihak yang menyelenggarakan dan menyediakan sistem dan atau sarana untuk mempertemukan penawaran jual dan beli efek pihak-pihak lain dengan tujuan memperdagangkan efek di antara mereka. 7 Bursa efek didirikan dengan tujuan menyelenggarakan perdagangan efek yang teratur, wajar, dan efisien.8 Praktek insider trading pada dasarnya bertentangan dengan prinsip keterbukaan. Keterbukaan merupakan suatu kewajiban bagi setiap perusahaan yang akan menjual sahamnya melalui lantai bursa. Prinsip keterbukaan (disclosure principle) merupakan sesuatu yang harus ada pada setiap pelaku pasar modal, seperti PT Bursa Efek Jakarta, PT Bursa Efek Surabaya, Bapepam, emiten maupun investor. Keterbukaan dalam transaksi efek adalah seluruh informasi mengenai keadaan perusahaan yang meliputi aspek keuangan,
Pasal 48 ayat (1) UU PM. Pasal 7 ayat (1) UU PM. 8 Pasal 7 ayat (2) UU PM.
6 7

6

Insider Trading : Kejahatan Bisnis di Pasar Modal Indonesia

hukum, manajemen, dan harta kekayaannya kepada masyarakat. Keterbukaan terhadap kondisi perusahaan yang akan melakukan emisi saham menyebabkan calon investor dapat memahami dan memutuskan kebijakan untuk investasinya.9 Tujuan dari prinsip keterbukaan tersebut adalah untuk terciptanya efisiensi dalam transaksi efek. Perdagangan yang efisien adalah perdagangan di mana para pihak yang berkepentingan dengan perdagangan efek tersebut dapat melakukan perdagangan dengan mudah, cepat, dan dengan biaya yang relatif murah. Pasar modal dikatakan efisien berkenaan dengan informasi mengenai harga saham yang tersedia di lantai bursa. Hal tersebut berarti bahwa seluruh strategi perdagangan di bursa berdasarkan informasi yang tersedia, sehingga calon investor dapat memperhitungkan mengenai keuntungan serta risiko yang terdapat didalamnya. Bursa dikatakan efisien apabila memenuhi dua kriteria, yaitu: (1) Harga saham mencerminkan semua informasi yang relevan saat itu. (2) Karena informasi menyebar secara merata, maka reaksi harga terhadap informasi baru terjadi seketika karena semua pemain di pasar telah memiliki antisipasi yang cukup.10 Kesulitan yang terjadi adalah upaya untuk menjaga keseimbangan antara kepentingan perusahaan untuk menjaga rahasia perusahaan di satu pihak dan hak-hak pemegang saham untuk melindungi investasi mereka di pihak lain, sehingga hal itu merupakan dilema. Hukum dari satu pihak terus mengejar dengan memerinci sedetil-detilnya tentang hal-hal apa saja yang mesti didisclose oleh pihak-pihak penyandang kewajiban disclosure. Di pihak lain, hukum juga harus memproteksi kepentingan-

9 David L. Ratner (et al), Securities Regulation: Cases and Materials, 4th Edition, West Publishing Co., St. Paul, Minnesota, 1991, hlm. 97. 10 Nindyo Pramono, “Menyongsong Undang-Undang Pasar Modal Indonesia”, makalah seminar Menyongsong Undang-undang Pasar Modal Indonesia, PT Total Mega Inovatif, Jakarta, 1995.

Pendahuluan

7

kepentingan tertentu dari pihak yang diwajibkan membuka informasi tersebut.11 Keselarasan di antara kedua kepentingan yang kontradiktif tersebut tercermin dalam prinsip yuridis yang menyatakan bahwa suatu disclosure di pasar modal tidak semata-mata full tetapi juga fair, seperti yang tersimpul dalam istilah “full and fair disclosure”.12 Pasal 95 UU No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal memberikan peluang bagi pihak lain yang tidak termasuk kategori orang dalam, melakukan transaksi perusahaan yang bersangkutan berdasarkan informasi tidak langsung atau disebut dengan istilah tippee. Pengertian insider trading dalam UU PM tersebut secara tidak langsung menerapkan pengertian insider trading berdasarkan Fiduciary Duty Theory, seperti yang berlaku di Amerika Serikat.13 Teori tersebut tidak menjaring praktik insider trading yang dilakukan oleh bukan orang dalam, yang memperoleh informasi secara tidak langsung atau tidak sengaja dari orang dalam. Keadaan tersebut merupakan salah satu faktor sulitnya membuktikan terjadinya praktik insider trading. Selain itu, kesulitan dalam pemeriksaan transaksi efek apakah telah terjadinya suatu insider trading adalah faktor “waktu”, yakni tidak adanya batasan kepastian kapan orang dalam dapat melakukan suatu transaksi setelah suatu fakta material didisclose, selain faktor lemahnya penegakan hukum tentang insider trading ini di Indonesia. Contoh kasus insider trading yang pernah terjadi di pasar modal Indonesia seperti kasus PT Argo Pantes dan PT Bank Mashill Utama. Dalam kasus Argo Pantes, walaupun telah terbukti telah terjadi praktik insider trading, namun tidak ada sanksi yang dijatuhkan kepada mereka. Sementara pada kasus Bank Mashill Utama, hukuman yang dijatuhkan juga tidak sepadan karena hanya dijatuhkan hukuman denda saja,
11 Munir Fuady, Pasar Modal Modern: Tinjauan Hukum, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2001, hlm. 78. 12 Ibid. 13 Munir Fuady, op. cit., hlm. 179.

8

Insider Trading : Kejahatan Bisnis di Pasar Modal Indonesia

sedangkan menurut ketentuan hukum praktik insider trading hukuman yang seharusnya adalah hukuman kumulatif, yakni gabungan antara denda dan pidana. Bukan hanya salah satu jenis hukuman saja yang dijatuhkan.14 Berdasarkan hal-hal di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian terhadap masalah ini dan menulisnya dalam bentuk tesis dengan judul: INSIDER TRADING SEBAGAI SUATU KEJAHATAN BISNIS DI PASAR MODAL INDONESIA. 1.2 Identifikasi Masalah Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka penulis dapat merumuskan tiga permasalahan, yaitu: (1) Bagaimana menentukan perbuatan yang dapat dikategorikan sebagai praktik insider trading? (2) Hambatan-hambatan apakah yang timbul dalam mengungkap praktik insider trading? (3) Bagaimanakah penegakan hukum di Indonesia dalam menghadapi praktik insider trading? 1.3 Tujuan Penelitian Adapun yang menjadi tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) Untuk menjelaskan perbuatan dan pelaku yang dapat dikategorikan sebagai praktik insider trading. (2) Untuk menjelaskan hambatan-hambatan yang timbul dalam mengungkapkan praktik insider trading. (3) Untuk menjelaskan penegakan hukum di Indonesia dalam menghadapi praktik insider trading. 1.4 Kegunaan Penelitian Kegunaan penelitian ini secara teoretis, hasil penelitian ini diharapkan menjadi sumbangan pemikiran bagi perkembangan hukum tentang pasar modal, juga menjadi pelengkap literatur pada pengajaran hukum bisnis dan menjadi bahan penelitian
14

Pasal 104 UU PM.

Pendahuluan

9

lebih lanjut, khususnya tentang kejahatan bisnis dalam pasar modal. Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan memberi manfaat kepada Bapepam, PT Bursa Efek Jakarta, PT Bursa Efek Surabaya, emiten, dan investor. Juga memberi manfaat kepada pemerintah khususnya aparat penegak hukum, dan juga kepada masyarakat luas selaku konsumen atau investor yang ikut berkecimpung dalam bidang perdagangan saham. 1.5 Kerangka Pemikiran UU PM yang mulai berlaku pada 1 Januari 1996 merupakan momentum yang sangat berarti bagi dunia pasar modal Indonesia, karena dengan diundangkannya undang-undang ini diharapkan pasar modal Indonesia berkembang dalam iklim yang kondusif. Dalam UU PM ini selain diatur tentang kewajiban untuk memenuhi prinsip keterbukaan, yang merupakan hal penting dalam dunia pasar modal, juga mengatur tentang konsekuensi dan tanggung jawab serta ancaman pidana bagi pelaku pasar modal yang tidak melakukan kewajiban prinsipprinsip keterbukaan pasar modal sesuai dengan ketentuan undang-undang tersebut. Pasar modal Indonesia sebagai salah satu lembaga yang memobilisasi dana masyarakat dengan menyediakan sarana atau tempat untuk mempertemukan penjual dan pembeli dana-dana jangka panjang yang disebut efek, dewasa ini telah berkembang sebagai salah satu pasar modal negara berkembang yang tumbuh secara fantastis dan dinamis.15 Pasar modal, dalam pengertian klasik diartikan sebagai suatu usaha perdagangan surat-surat berharga seperti saham, sertifikat saham, dan obligasi atau efek-efek pada umumnya. Pengertian pasar modal sebagaimana pasar umumnya yaitu merupakan tempat bertemunya penjual dan pembeli, tetapi pasar modal berbeda dengan pasar konkrit. Dalam pasar modal yang diperjualbelikan adalah modal atau dana.16 Pasar modal
Syahrir, Tinjauan Pasar Modal, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1995, hlm. 25. Sumantoro, Pengantar Tentang Pasar Modal di Indonesia, Cet. I, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1990, hlm. 9.
15 16

10

Insider Trading : Kejahatan Bisnis di Pasar Modal Indonesia

merupakan sarana untuk mempertemukan penawar dan peminta dana jangka panjang dalam bentuk efek.17 Dilihat dari sudut pandang hukum perjanjian, maka kegiatan jual beli efek di pasar modal lebih merupakan suatu perjanjian jual beli pada umumnya. Dalam suatu perjanjian jual beli pihak yang satu (penjual) berjanji untuk menyerahkan hak milik atas suatu barang, sedangkan pihak yang lain (pembeli) berjanji untuk membayar harga yang terdiri atas sejumlah uang sebagai imbalan dari perolehan hak milik tersebut.18 Dalam perjanjian jual beli terkandung suatu asas “konsesualisme”, yang artinya perjanjian jual beli itu terjadi pada saat terjadinya kata sepakat dari dua belah pihak mengenai harga dan barang.19 Sifat konsensual tersebut ditegaskan dalam Pasal 1458 KUH Perdata yang berbunyi: “Jual beli dianggap sudah terjadi antara kedua belah pihak seketika setelah mereka mencapai sepakat tentang barang dan harga, meskipun barang itu belum diserahkan maupun harganya belum dibayar”. Dilihat dari pelaksanaan jual beli efek di pasar modal, jual beli tersebut lebih merupakan suatu perjanjian untuk melakukan suatu pekerjaan. Undang-undang membagi perjanjian macam ini ke dalam tiga macam, yaitu: a. perjanjian untuk melakukan jasa-jasa tertentu; b. perjanjian kerja/perburuhan; dan c. perjanjian pemborongan.20 Jual beli efek di pasar modal termasuk dalam jenis perjanjian melakukan suatu pekerjaan/usaha. Dalam perjanjian jenis ini, suatu pihak menghendaki pihak lawannya untuk melakukan suatu pekerjaan untuk mencapai suatu tujuan tertentu, yang untuk pekerjaan tersebut ia bersedia untuk membayar upah. Biasanya pihak lawannya tersebut, adalah seorang ahli dalam

17 18

Pasal 1 Keppres No. 60 Tahun 1988 tentang Pasar Modal. R. Subekti, Aneka Perjanjian, Cet. Kesepuluh, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1995, Ibid., hlm. 2 Pasal 1601 Bab VIIA KUH Perdata.

hlm. 1.
19 20

Pendahuluan

11

melakukan pekerjaan tersebut dan biasanya sudah memasang tarif untuk pekerjaannya tersebutt.21 Disebut sebagai perjanjian melakukan usaha, karena pihak investor tidak melakukan pembelian saham secara langsung dengan perusahaan yang mengeluarkan efek, akan tetapi harus melalui pihak pialang atau broker atau perantara di mana ia terdaftar sebagai anggota. Hal ini didasarkan pada ketentuan UU PM sendiri, yang menyatakan bahwa: “Perantara Pedagang Efek adalah pihak yang melakukan kegiatan usaha jual beli efek untuk kepentingan sendiri atau pihak lain”.22 Dalam ketentuan tersebut terkandung dua makna, yaitu: (1) Perantara dalam jual beli efek; Artinya bertindak sebagai perantara dalam aktivitas jual beli efek, karena investor tidak boleh melakukan kegiatan jual beli secara langsung tanpa melalui perantara atau broker atau pialang. Jadi setiap transaksi jual dan beli harus melalui perantara. Untuk jasa sebagai perantara tersebut, maka perantara mendapatkan komisi dari investor baik untuk kegiatan jual maupun beli. (2) Pedagang Efek; Artinya di samping bertindak sebagai perantara, maka perusahaan efek juga dapat melakukan aktivitas jual beli saham untuk kepentingan perusahaan efek tersebut.23 Dalam hal terjadi benturan kepentingan atas suatu transaksi, maka kepentingan nasabah harus didahulukan atas kepentingan perusahaan efek tersebut. Hugh T. Patrick dan U Tun Wai, sebagaimana dikutip oleh Abdulbasith Anwar, membedakan tiga arti pasar modal sebagai berikut: Arti Luas: “Pasar Modal adalah keseluruhan sistem keuangan yang terorganisir, termasuk bank-bank komersil dan semua perantara di bidang keuangan, surat berharga/klaim panjang pendek primer dan yang tidak langsung”.
R. Subekti, op. cit., hlm. 57-58. Pasal 1 angka 18 UU PM. 23 Tjiptono Darmadji & Hendy M. Fakhruddin, Pasar Modal Indonesia: Pendekatan Tanya Jawab, Salemba Empat, Jakarta, 2001, hlm. 22.
21 22

12

Insider Trading : Kejahatan Bisnis di Pasar Modal Indonesia

Arti Menengah: “Pasar Modal adalah semua pasar yang terorganisir dan lembaga-lembaga yang memperdagangkan warkat-warkat kredit (biasanya berjangka lebih dari satu tahun) termasuk saham, obligasi, pinjaman berjangka, hipotik, tabungan dan deposito berjangka”. Arti Sempit: “Pasar Modal adalah tempat pasar uang terorganisir yang memperdagangkan saham dan obligasi dengan menggunakan jasa makelar dan underwriter”.24 UU PM memberikan batasan pasar modal yaitu merupakan “Kegiatan yang bersangkutan dengan penawaran umum dan perdagangan efek, perusahaan publik yang berkaitan dengan efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan efek”.25 Praktik-praktik perdagangan saham seperti yang terjadi di Eropa maupun di Amerika Serikat, merupakan kegiatan perusahaan-perusahaan swasta yang semakin berkembang bidang usahanya. Motif utamanya adalah pemupukan bagi perusahaan kepada investor pemilik uang lebih, baik perorangan maupun lembaga.26 Dengan demikian, pasar modal mempunyai peranan penting di sektor keuangan, karena pasar modal menawarkan alternatif baru bagi dunia usaha untuk memperoleh sumber pembiayaan usahanya di samping menambah alternatif baru bagi investor untuk melakukan investasi di luar bidang perbankan dan bentuk-bentuk investasi yang lain.27 Kegiatan pasar modal, apabila dikaji lebih jauh, lebih merupakan objek hukum. Artinya para ahli hukum perlu lebih
24 Hugh T. Patrick dan U Tun Wai, “Stock and Bond Issues and Capital Market in Less Develop Countries”, dalam Abdulbasith Anwar, artikel pada Manajemen dan Usahawan Indonesia No. 9 Tahun XIX, September 1990, hlm. 12. 25 Pasal 1 angka 13 UU PM. 26 Departemen Penerangan RI, Pasar Modal Pembangunan Indonesia, Jakarta, 1984, hlm. 7. 27 Nindyo Pramono, ibid.

Pendahuluan

13

banyak tampil. Komoditas pasar modal, baik dalam bentuk saham, obligasi, ataupun sertifikat adalah suatu kertas yang nilai intrinsiknya tidak ada, namun harganya sangat besar. Di pasar modal sebenarnya yang diperdagangkan adalah kepercayaan. Kepercayaan masyarakat pada nilai saham, kebenaran laporan perusahaan, kebijaksanaan pemerintah, sampai kepada proses jaminan bahwa hukum akan dipatuhi para pihak. Hukum yang mengatur kegiatan pasar modal mencakup ketentuan mengenai persyaratan perusahaan yang menawarkan saham atau obligasinya kepada masyarakat, ketentuan mengenai pedagang perantara, profesi penunjang, lembaga penunjang, perlindungan investor serta aturan main di pasar modal. Persyaratan tersebut dibuat dalam rangka memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang keadaan perusahaan atau emiten. Perusahaan tersebut harus menyampaikan segala fakta material atau harus terbuka kepada masyarakat. Hal ini terkait dengan kewajiban keterbukaan yang dianut oleh UU PM 1995. Keterbukaan informasi ini sangat penting karena informasi tersebut merupakan bahan pertimbangan dalam berinvestasi, juga mengatur konsekuensi dan tanggung jawab atas kerugian serta ancaman pidana bagi pelaku pasar modal yang tidak melakukan kewajiban prinsip keterbukaan sesuai dengan ketentuan undang-undang tersebut. Doktrin hukum tentang kewajiban keterbukaan bagi suatu perusahaan publik, mempunyai karakteristik sebagai berikut:28 (1) Prinsip ketinggian derajat akurasi informasi. (2) Prinsip ketinggian derajat kelengkapan informasi. (3) Prinsip keseimbangan antara efek negatif kepada emiten di satu pihak dan di pihak lain efek positif kepada publik, jika dibukanya informasi tersebut. Perdagangan efek yang wajar adalah penyelenggaraan perdagangan yang berlangsung secara alamiah, dalam pengertian bahwa setiap kekuatan penawaran atau permintaan dilakukan berdasarkan mekanisme pasar yang bebas dari adanya
28

Munir Fuady, op. cit, hlm. 78.

14

Insider Trading : Kejahatan Bisnis di Pasar Modal Indonesia

keadaan yang tidak mendukung terciptanya keadaan pasar sesuai keinginan pelakunya, seperti adanya sistem penyampaian informasi yang akurat dan tepat waktu dari emiten, terhindarnya pasar dari usaha pihak-pihak tertentu untuk memperoleh keuntungan dari ketidaktahuan pihak lainnya, dan adanya sistem dan tata cara pelaksanaan perdagangan yang mendukung terciptanya kewajaran dalam melakukan perdagangan di bursa efek. Keterbukaan merupakan suatu kewajiban bagi setiap perusahaan yang akan menjual sahamnya melalui bursa. Prinsip ini harus dilaksanakan oleh setiap pelaku pasar modal (BEJ, BES, Bapepam, dan emiten serta investor). Informasi yang harus didisclose adalah seluruh informasi mengenai keadaan usahanya yang meliputi aspek keuangan, hukum, manajemen, dan harta kekayaannya kepada masyarakat. Keterbukaan terhadap kondisi perusahaan yang melakukan emisi saham menyebabkan calon investor dapat memahami dan memutuskan kebijakan investasinya. Pasar modal dikatakan efisien berkenaan dengan informasi mengenai harga saham yang tersedia di lantai bursa. Hal tersebut berarti seluruh strategi perdagangan di bursa berdasarkan informasi yang tersedia, sehingga dapat diperkirakan mengenai keuntungan serta risiko yang terdapat di dalamnya.29 Di lain pihak, berlawanan dengan prinsip keterbukaan dalam informasi di pasar modal, terdapat kegiatan perdagangan saham yang tidak wajar yang disebut insider trading. Insider trading adalah perdagangan efek yang dilakukan oleh mereka yang tergolong “orang dalam” perusahaan (dalam arti luas), perdagangan mana didasarkan atau dimotivasi karena adanya suatu “informasi orang dalam” (insider information) yang penting dan belum terbuka untuk umum, dengan perdagangan mana, pihak pedagang insider tersebut mengharapkan akan mendapatkan keuntungan ekonomi secara pribadi, langsung atau tidak
29 F.H. Buckley (et al), Corporation: Principles and Policies, Edmond Montgomery Publication Ltd., Toronto, Canada, 1988, hlm. 260.

Pendahuluan

15

langsung, atau yang merupakan keuntungan jalan pintas (short swing profits). Satu dan lain hal selama tidak dikecualikan oleh undang-undang yang berlaku. Keuntungan jalan pintas tersebut lebih dari keuntungan yang sepatutnya diterima, karena keuntungan yang demikian disebut juga dengan excess return. Dalam hukum, hal ini merupakan tindakan memperkaya diri sendiri secara tidak sah, atau memiliki apa yang sebenarnya bukan merupakan haknya.30 Inside information adalah “Informasi yang belum dibuka untuk publik, suatu sifat asal yang tepat berkenaan dengan satu atau beberapa persoalan pokok surat-surat berharga, yang jika diumumkan kepada publik, mempunyai suatu pengaruh penting atas harga saham yang dapat dialihkan atau saham yang diragukan”.31 Inside information biasanya dijelaskan sebagai informasi yang belum dipublikasikan dan material, 32 sehingga ketika hendak membicarakan inside information hendaknya ditujukan kepada: 1) Confidentiality; dan 2) Materiality.33 Konsep inside information tersebut ditentukan oleh kombinasi kumulatif dari beberapa parameter yang berbeda yang menggambarkan lingkupnya sebagai berikut:34 (a) Status; Status informasi tersebut belum diumumkan kepada publik. Hal tersebut tidak dipersoalkan apakah informasi tersebut adalah rahasia, tidak untuk diterbitkan atau untuk diungkapkan di kemudian hari. Akan tetapi hal ini tidak membuat orang dalam dapat melakukan perdagangan begitu informasi
Munir Fuady, op. cit., hlm. 167. Bernhard Bergmans, Inside Information and Securities Trading, Graham & Trotman Limited, London, 1991, hlm. 71. 32 OICV – IOSCO, Insider Trading How Jurisdiction Regulate It, Report of The Emerging Markets Committee of The International Organization of Securities Commissions, March 2003, hlm. 2-3. (http://www.iosco.org/gallery/library/download.asp/IOSCO Documents No.145). 33 Inside information itu bersifat rahasia (confidential) sampai ia diumumkan kepada publik. Sifat materialitas dari informasi itu ditentukan oleh: 1) Sifat penting dari informasi yang bersangkutan, 2) Ruang lingkup informasi, dan 3) Sumber informasi tersebut. 34 Ibid., hlm. 72-74.
30 31

16

Insider Trading : Kejahatan Bisnis di Pasar Modal Indonesia

tersebut diumumkan ke publik. Hal ini didasarkan pada pemikiran bahwa pasar belum cukup mempunyai waktu untuk bereaksi secara wajar terhadap pengumuman informasi tersebut. Orang dalam harus menghormati waktu tunggu tertentu yang cukup sampai pasar menyesuaikan reaksinya. (b) Sifat Dasar; Informasi tersebut harus bersifat material, mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap harga saham yang bersangkutan jika informasi tersebut diumumkan. (c) Isi; Isi dari informasi tersebut harus berhubungan dengan satu atau beberapa masalah pokok dari saham yang ditawarkan. Informasi tersebut mempengaruhi harga saham di pasar modal. Ini membuatnya beralasan, jika dikaitkan dengan adanya berita ekonomi terbaru seperti tingkat nilai discount, nilai tukar uang, atau peraturan perpajakan yang baru. Akan tetapi mungkin saja tidak dapat diterapkan terhadap insider trading yang didasarkan pada berita politik atau bahkan berita ekonomi suatu negara asing. (d) Sumber; Meskipun informasi tersebut disebut inside information, akan tetapi pada kenyataannya informasi tersebut bisa datang dari pemegang saham atau sumber lain di luar perusahaan. Menurut David L. Ratner, insider trading adalah, “Purchases or sales by persons who have acces to information which is not available to those whom they deal or to traders generally”35 (Pembelian atau penjualan oleh orang yang mempunyai akses terhadap informasi yang belum tersedia bagi mereka yang melakukan jual beli pada umumnya). Batasan pengertian insider trading pada mulanya hanya mengenai transaksi yang
35 David L. Ratner, Securities Regulation In a Nutshell, 4th Edition, West Publishing Co., St. Paul, Minnesotta, 1992, hlm. 147.

Pendahuluan

17

dilakukan oleh orang dalam. Menurut Henry Campbell Black, insider trading adalah: “Buying or selling of corporate shares by officers, directors and stockholders who own more than 10% of the stock of a corporation listed on a national exchange. Such transactions must be reported monthly to Securities and Exchange Commission”36 (Pembelian atau penjualan saham perusahaan oleh pegawai, direksi atau pihak terkait lainnya yang memiliki lebih dari 10% saham perusahaan yang tercatat di bursa nasional. Transaksi seperti itu harus dilaporkan dalam waktu satu bulan kepada SEC). F.H. Buckley dan Mark Q. Connely,37 memberikan batasan bahwa insider trading adalah menunjuk kepada transaksi sekuritas yang dilakukan minimum oleh pegawai dan direktur perusahaan. Batasan tersebut hanya menyebutkan pelakunya, tetapi tidak menjelaskan mengapa para karyawan, direktur atau pemegang saham lebih dari 10% tersebut melakukan transaksi jual atau beli saham. Rogers E. Meiners38 memberikan batasan insider trading sebagai berikut: “Buying or selling of stock by persons who have acces to information affecting the value of the stock that has not yet been revealed to the public” (Pembelian atau penjualan saham oleh seseorang yang mempunyai akses terhadap informasi yang mempengaruhi nilai saham, sementara informasi tersebut belum dikeluarkan terhadap masyarakat investor). Donald C. Langevoort39 memberikan batasan insider trading yaitu “A term of art that refers to unlawful trading in securities by person who poses material nonpublic information about company whose shares are traded or the market for it shares” (Sebuah batasan yang menunjuk kepada perdagangan saham yang tidak sah oleh seseorang yang memegang informasi mate36 Henry Campbell Black, Black’s Law Dictionary, 5th Edition, West Publishing Company, St. Paul, Minnesotta, 1979, hlm. 715-716. 37 F.H. Buckley (et al), op. cit., hlm. 657. 38 Roger E. Meiners (et al), The Legal Environment of Business, West Publishing Co., St. Paul, 1990, hlm. 594. 39 Donald C. Langevoort, Insider Trading Regulation, Clark Boardman Co. Ltd., Nashville, Tennessee, 1989, hlm. 4.

18

Insider Trading : Kejahatan Bisnis di Pasar Modal Indonesia

rial tentang perusahaan yang belum dikeluarkan dimana saham perusahaan tersebut diperjualbelikan). Batasan-batasan insider trading tersebut di atas adalah merujuk kepada batasan dalam SEA of 1934 di Amerika Serikat. Insider trading merupakan istilah teknis yang hanya dikenal dan dipraktikkan dalam pasar modal. Istilah tersebut mengacu kepada praktik di mana orang dalam (corporate insider),40 melakukan transaksi sekuritas dengan menggunakan informasi ekslusif yang mereka miliki yang belum tersedia bagi masyarakat atau investor. Insider trading adalah istilah yang dipinjam dari praktik perdagangan saham yang tidak fair di Amerika yang dihubungkan dengan penggunaan informasi-informasi yang masih rahasia oleh pejabat perusahaan yang karena jabatannya dapat menarik keuntungan, sebab informasi tersebut tidak diberikan kepada masyarakat luas.41 Pengertian insider (orang dalam) untuk tujuan yang dimaksud dalam Section 10(b) dan 10b-5 SEA of 1934 adalah:42 (1) Officer, Directors, anda Employees at all level of company; (2) Lawyer, Accountants, Consultants, and other agent and representative who are hired by company on a temporary and nonemployee status to provide services or work to the company; and (3) Others who owe a fiduciary duty to the company. Informasi atau fakta material adalah informasi atau fakta penting dan relevan mengenai peristiwa, kejadian, atau fakta yang dapat mempengaruhi harga efek pada bursa efek dan atau keputusan pemodal, calon pemodal, atau pihak lain yang

40 Sofyan A. Jalil, “Manipulation and Insider Trading”, makalah pada Pendidikan dan Pelatihan bagi Profesi Penunjang untuk Konsultan Hukum Pasar Modal, Jakarta, 1996, hlm. 4. 41 Erman Rajagukguk, “Mekanisme Pasar Modal dan Persoalan-persoalan Hukum yang Timbul”, makalah pada kuliah Masalah Hukum di Pasar Modal Fakultas Hukum UII, Yogyakarta, 1992, hlm. 6. 42 Henry S. Cheeseman, Business Law: The Legal, Ethic, and International Environment, 2nd Edition, Prentice Hall, Englewood Cliffs, New Jersey, 1995, hlm. 704.

Pendahuluan

19

berkepentingan dengan informasi atau fakta tersebut. 43 Informasi atau fakta material itu antara lain:44 a. Penggabungan usaha (merger), pengambilalihan (acquisition), peleburan usaha (consolidation) atau pembentukan usaha; b. Pemecahan saham (share split) atau pembagian dividen saham (stock dividen); c. Pendapatan dan dividen yang luar biasa; d. Perolehan atau kehilangan kontrak penting; e. Produk atau penemuan baru yang berarti; f. Perubahan tahun buku perusahaan; atau g. Perubahan dalam pengendalian atau perubahan penting dalam manajemen. Sedangkan melalui Surat Keputusan Ketua Bapepam No. KEP-86/PM/1996 tentang Keterbukaan Informasi yang Harus Diumumkan Segera Kepada Publik, memberikan contoh-contoh bukti fakta material sebagai berikut: a. Pengumuman pembelian kembali atau pembayaran efek yang bersifat hutang; b. Penjualan tambahan efek kepada masyarakat atau secara terbatas yang material jumlahnya; c. Pembelian atau kerugian penjualan aktiva yang material; d. Perselisihan tenaga kerja yang relatif penting; e. Tuntutan hukum yang penting terhadap perusahaan dan atau direktur dan komisaris perusahaan; f. Pengajuan tawaran untuk pembelian efek perusahaan lain; g. Penggantian akuntan yang mengaudit perusahaan; h. Penggantian wali amanat; i. Perubahan tahun fiskal. Selain hal di atas, keterbukaan informasi ada juga yang sering dilarang yaitu:45

Pasal 1 angka 7 UU PM. Penjelasan Pasal 1 angka 7 UU PM. 45 Munir Fuady, op. cit., hlm. 79.
43 44

20
a. b. c. d.

Insider Trading : Kejahatan Bisnis di Pasar Modal Indonesia

Memberikan informasi yang salah sama sekali. Memberikan informasi yang setengah benar. Memberikan informasi yang tidak lengkap. Sama sekali diam terhadap fakta atau informasi material.

Informasi tersebut merupakan contoh dari informasi atau fakta material yang ada, artinya masih ada fakta material lainnya yaitu, apabila perusahaan mengambil pinjaman (loan), atau kehilangan aset dalam jumlah material seperti kebakaran, kecurian atau kalah dalam perdagangan valas. Dalam perdagangan di lantai bursa, harga yang tercatat di bursa dan perdagangan sekuritas secara luas lainnya selalu merefleksikan kesepakatan antar investor mengenai harga yang wajar berdasarkan informasi yang tersedia. Informasi material yang ada harus dapat menimbulkan perubahan harga sekuritas. Tidak adanya perubahan terhadap harga saham, maka tidak memenuhi kategori sebagai informasi material. Adanya informasi material akan memberikan gambaran kepada investor beli dan jual untuk menentukan kebijakan investasinya. 46 Fakta menunjukkan bahwa harga sekuritas ditentukan oleh informasi yang tersedia. Apabila informasi mengenai perusahaan atau emiten adalah positif, misalnya emiten memperoleh laba yang luar biasa, maka harga sahamnya akan naik, demikian pula sebaliknya jika informasi negatif yang terjadi. Informasi material yang ekslusif yang dimiliki oleh seseorang akan menempatkan dirinya pada posisi yang diuntungkan (informational advantage). Apabila berdasarkan informasi tersebut seseorang kemudian melakukan transaksi efek, maka akan menimbulkan ketidakadilan di lantai bursa. 1.6 Metode Penelitian 1.6.1 Metode Pendekatan: Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode yuridis normatif, yaitu suatu metode yang menitikberatkan penelitian pada terhadap data kepustakaan,
46

Donal C. Langevoort, op. cit., hlm. 133.

Pendahuluan

21

atau disebut data sekunder melalui asas-asas hukum,47 dan menggunakan pendekatan komparatif. Pendekatan melalui asas-asas hukum adalah penelitian terhadap norma-norma hukum yang merupakan patokanpatokan untuk bertingkah laku yang pantas. 48 Pendekatan perbandingan hukum digunakan sebagai upaya studi banding atas berbagai peraturan perundang-undangan di Indonesia dan peraturan perundang-undangan di negara-negara Amerika Serikat dan Eropa, khususnya yang menyangkut tentang hukum pasar modal. 1.6.2 Spesifikasi Penelitian Spesifikasi penelitian yang digunakan bersifat deskriptif analitis, yaitu memberikan data atau gambaran seteliti mungkin mengenai objek dari permasalahan.49 Gambaran tersebut berupa fakta-fakta disertai analisis yang akurat mengenai peraturan perundang-undangan yang berlaku dihubungkan dengan teoriteori hukum dan praktik dari penegakan hukum di pasar modal berkenaan dengan masalah insider trading. 1.6.3 Tahap Penelitian Penelitian ini dilakukan dalam dua tahap, yaitu : (1) Penelitian Kepustakaan (Library Research) Penelitian ini dilakukan guna memperoleh data sekunder, yaitu melalui studi bahan-bahan hukum yang bersifat mengikat terhadap masalah yang akan diteliti, yang terdiri atas: (a) bahan hukum primer yaitu antara lain UU PM 1995, Securities Act of 1933, Securities Exchange Act of 1934 Amerika Serikat, dan berbagai peraturan tentang insider trading di negara-negara Eropa;

47 Ronny Hanitijo Soemitro, Metodologi Penelitian Hukum dan Jurimetri, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1990, hlm. 11. 48 Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum: Suatu Tinjauan Singkat, PT RadjaGrafindo Persada, Jakarta, 1995, hlm. 15. 49 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, UI Press, 1986, hlm. 10

22

Insider Trading : Kejahatan Bisnis di Pasar Modal Indonesia

(b) bahan hukum sekunder, berupa buku-buku, hasil penelitian, makalah, tesis, dan disertasi yang ada hubungannya dengan penelitian; dan (c) bahan hukum tersier berupa majalah, jurnal, artikel, surat kabar, dan kamus. (2) Penelitian Lapangan (Field Research) Penelitian lapangan dilakukan guna menunjang data sekunder yaitu, dengan cara mengumpulkan, meneliti, dan menyeleksi data melalui wawancara secara terarah dengan responden. Penentuan responden ditentukan berdasarkan tingkat akurasi sumber informasi, yaitu mereka yang mempunyai keterkaitan baik secara langsung maupun tidak langsung dengan penelitian ini. Responden tersebut adalah: 1. Kepala Bagian Hukum Bapepam; 2. Kepala Bagian Hukum PT BEJ; 3. Kepala Bagian Hukum PT BES; 4. Emiten. 5. Investor 1.6.4 Teknik Pengumpulan Data (1) Studi Dokumen; Dilakukan terhadap data sekunder untuk mendapatkan landasan teoretis, berupa pendapat-pendapat atau tulisantulisan para ahli atau pihak lain berupa informasi, baik dalam bentuk formal maupun data melalui naskah resmi. (2) Wawancara; Teknik wawancara digunakan dalam mengumpulkan data primer. Wawancara yaitu mengadakan tanya jawab langsung dengan responden, seperti yang tersebut pada angka 6.3, dengan mempersiapkan daftar pertanyaan (questioner) berupa tipe jawaban terbuka atau tertutup sebagai pedoman.50

50

Ronny Hanitijo Soemitro, op. cit., hlm. 62

Pendahuluan

23

1.6.5 Metode Analisis Data Untuk menganalisis data dan menarik kesimpulan dari hasil penelitian, kedua bahan hukum yaitu data primer dan sekunder dianalisis dengan metode kualitatif, selanjutnya disajikan dalam bentuk deskriptif analitis. 1.6.6 Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di Bandung dan Jakarta. Prosedur dalam mendapatkan data sekunder berupa bahan hukum primer, sekunder dan tersier diperoleh pada beberapa perpustakaan yang berlokasi di: (1) Perpustakaan Fakultas Hukum Unpad, Perpustakaan Pascasarjana Unpad, Perpustakaan Pusat Unpad, dan Perpustakaan Pascasarjana Universitas Indonesia Jakarta; (2) Badan Pengawas Pasar Modal; (3) Bursa Efek Jakarta; (4) Perwakilan Bursa Efek Surabaya di Jakarta. 1.7 Sistematika Penulisan Hasil penelitian akan disusun dalam bentuk tesis, dengan menggunakan sistematika sebagai berikut: Bab I Pendahuluan memberikan gambaran umum dan menyeluruh secara sistematis, terdiri atas Latar Belakang Penelitian, Identifikasi Masalah, Tujuan dan Kegunaan Penelitian, Kerangka Pemikiran, Metode Penelitian, dan Sistematika Penulisan. Bab II menguraikan tentang Sistem Pasar Modal di Indonesia, yang diperinci dalam sub-sub bab Pengertian Umum Pasar Modal; Sejarah Pasar Modal; Fungsi, Tujuan, dan Motif Berdirinya Pasar Modal; Instrumen Pasar Modal; Pelaku Pasar Modal; dan Mekanisme Perdagangan di Pasar Modal. Bab III akan diuraikan tentang Kewajiban Keterbukaan Informasi dan Penerapan Good Corporate Governance Dalam Kegiatan Perusahaan di Pasar Modal. Bab ini selanjutnya dirinci dalam sub-bab tentang Prinsip Keterbukaan Dalam Perdagangan Saham; Kewajiban Disclosure Emiten Pada Saat Akan Go Publik;

24

Insider Trading : Kejahatan Bisnis di Pasar Modal Indonesia

Kewajiban Disclosure Emiten Setelah Go Publik; dan Penerapan Good Corporate Governance Dalam Perusahaan. Bab IV akan mengulas dan menganalisis mengenai Insider Trading Dalam Kegiatan di Pasar Modal, yang terdiri atas subsub bab tentang Praktik Insider Trading di Indonesia; Bentukbentuk Insider Trading; Hambatan Dalam Mengungkap Kasus Insider Trading; dan terakhir tentang Penegakan Hukum di Pasar Modal, yang akan menjelaskan tentang Peran Bapepam Dalam Menegakkan Hukum di Pasar Modal; dan Sanksi-sanksi Hukum di Pasar Modal. Bab V adalah Penutup yang berisikan kesimpulan yang merupakan jawaban dari identifikasi masalah, serta saran-saran yang relevan dalam penyelesaian pokok permasalahan. ***

Bab II

Sistem Pasar Modal di Indonesia

2.1 Pengertian Umum Pasar Modal Pengertian pasar modal secara umum adalah suatu sistem keuangan yang terorganisasi, termasuk di dalamnya adalah bank-bank komersial dan semua lembaga perantara di bidang keuangan, serta keseluruhan surat-surat berharga yang beredar.1 Dalam arti sempit, pasar modal adalah suatu pasar (tempat, berupa gedung) yang disiapkan guna memperdagangkan sahamsaham, obligasi-obligasi, dan jenis-jenis surat berharga lainnya dengan memakai jasa para perantara pedagang efek.2 Secara sederhana, dapat dikatakan bahwa pasar modal sama dengan pasar tradisional, yaitu tempat berlangsungnya jual beli. Akan tetapi, dari kedua pasar ini terdapat perbedaan yang prinsip, yaitu objek yang ditransaksikan, tempat transaksi, proses serta penyelesaian transaksi.3
Keputusan Menteri Keuangan RI No. 1548/KMK/90 tentang Peraturan Pasar Modal. Sunariyah, Pengantar Pengetahuan Pasar Modal, Edisi Kedua, UPP Akademi Manajemen Perusahaan YKPN, Yogyakarta, 2000, hlm. 6. 3 Hulwati, Transaksi Saham di Pasar Modal Indonesia: Perspektif Hukum Ekonomi Islam, UII Press, Yogyakarta, 2001, hlm. 5.
1 2

26

Insider Trading : Kejahatan Bisnis di Pasar Modal Indonesia

Secara teoretis, pasar modal (capital market) didefinisikan sebagai perdagangan instrumen keuangan (sekuritas) jangka panjang, baik dalam bentuk modal sendiri (stocks) maupun utang (bonds), baik yang diterbitkan oleh pemerintah (public authorities) maupun oleh perusahaan swasta (private sectors).4 Dengan demikian, pasar modal merupakan konsep yang lebih sempit dari pasar keuangan (financial market). Dalam pasar keuangan, diperdagangkan semua bentuk utang dan modal sendiri, baik dana jangka pendek maupun jangka panjang, baik bersifat negotiable maupun yang non-negotiable.5 Dalam pengertian yang lebih operasional, pasar modal dipahami sebagai “bursa”, yang merupakan sarana mempertemukan penawar dan peminta dana jangka panjang (lebih dari satu tahun) dalam bentuk efek.6 Walaupun demikian, pada dasarnya terdapat perbedaan antara pasar modal (capital market) dan bursa efek (stock exchange). Rosenberg menyatakan bahwa pasar modal adalah “the place through which the buying and selling of stock for the purpose of profit for both buyers and sellers of the security take place” (suatu tempat dimana penjual dan pembeli kedua-duanya memperjualbelikan saham dengan tujuan keuntungan berlangsung), dan bursa efek dipahami sebagai “the organization that provide a market for the trading of bonds and stocks”7 (suatu organisasi yang menyediakan pasar untuk memperdagangkan obligasi dan saham). Sementara itu, Muhammad Akram Khan menjelaskan bahwa pasar modal atau stock market merupakan “a market where securities and shares are bought and sold”8 (sebuah pasar dimana efek dan saham diperjualbelikan).

4 Marzuki Usman (et al)., Pengetahuan Dasar Pasar Modal, Kerjasama Institut Bankir Indonesia dengan Jurnal Keuangan dan Moneter Bank Indonesia, Jakarta, 1997, hlm. 11. 5 Tjiptono Darmadji & Hendy M. Fakhruddin, Pasar Modal di Indonesia: Pendekatan Tanya Jawab, Salemba Empat, Jakarta, 2001, hlm. 1. 6 Keppres No. 60 Tahun 1988. 7 Rosenberg dalam Marzuki Usman (et al), op. cit., hlm. 11. 8 Muhammad Akram Khan dalam Abdul Hasan Muhammad Sadeq (et al), Development and Finance in Islam, International University Press, Malaysia, 1991, hlm. 224.

Sistem Pasar Modal di Indonesia

27

Pasal 1 angka 4 UU PM mendefinisikan bursa sebagai: “Pihak yang menyelenggarakan dan menyediakan sistem dan atau sarana untuk mempertemukan penawaran jual dan beli efek pihak-pihak lain dengan tujuan memperdagangkan efek di antara mereka”. Efek yang dimaksud adalah surat berharga berupa surat pengakuan utang, surat berharga komersial, saham, obligasi, tanda bukti utang, unit penyertaan kontrak kolektif, kontrak berjangka atas efek, dan setiap derivatif dari efek.9 UU PM sendiri memberikan pengertian pasar modal yang lebih spesifik sebagai: “Kegiatan yang bersangkutan dengan Penawaran Umum dan Perdagangan Efek, Perusahaan Publik yang berkaitan dengan Efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan Efek”.10 Dari definisi di atas, maka secara umum dapat dijelaskan bahwa pasar modal merupakan pasar, baik dalam pengertian yang abstrak maupun pengertian yang konkrit. Dalam pengertian abstrak, pasar modal adalah perdagangan surat berharga (bonds dan stocks). Bursa efek itu tidak mempunyai saham sendiri dan tidak menentukan harga dengan cara apapun. Semata-mata hanya hukum permintaan dan penawaranlah yang menentukan harga. Pada hakikatnya suatu bursa hanya menyediakan dua hal, yaitu pertama tempat bagi para penjual dan pembeli untuk melaksanakan perdagangan; dan kedua memberikan jasa dalam penyusunan laporan harga untuk memberikan informasi tentang perubahan harga.11 Informasi ini tersedia bagi para pembeli, penjual maupun masyarakat umum. Selain itu, suatu bursa efek sebenarnya adalah suatu pasar lelang (auction market) yaitu suatu pasar tempat barang-barang yang diperdagangkan dijual pada harga yang tertinggi. Tidak satupun yang berhubungan dengan perdagangan boleh dirahasiakan.12
Pasal 1 angka 5 UU PM. Pasal 1 Angka 1 UU PM. 11 Sumantoro, op. cit., hlm. 18. 12 Janet Low, Memahami Pasar Modal, terj. oleh Hasan Zein Mahmud, “Understanding Stock Market”, Upaya Swadaya Aksara, Jakarta, 1989, hlm. 156.
9 10

28

Insider Trading : Kejahatan Bisnis di Pasar Modal Indonesia

Sebagai gambaran perbandingan tentang pengertian pasar modal, maka berikut ini diberikan pengertian pasar modal di beberapa negara asing. Menurut Securities Exchange Act (SEA) of 1934 Amerika Serikat, pengertian pasar modal adalah: “The term “exchange” means, any organization, association, or groups of persons, whether incorporated or unincorporated, which constitute, maintains or provides a market place or facilities for bringing together purchasers and sellers of securities or for otherwise performing with respect to securities the function commonly performed by a stock exchange as that term is generally understood, and includes the market place and the market facilities maintained by such exchange”.13 “”Bursa” berarti, setiap organisasi, asosiasi atau grup perorangan, baik berbadan hukum atau tidak, yang dibentuk, memelihara atau menyediakan sebuah tempat atau fasilitas dimana pembeli dan penjual saham berkumpul, atau tujuan lain yang berhubungan dengan saham dimana fungsinya secara umum dilaksanakan oleh sebuah pasar modal, termasuk di dalamnya tempat transaksi dan fasilitas yang dipelihara oleh bursa tersebut”. Japanese Securities Laws and Relating Orders menyatakan bahwa: “The term “securities market” means a market provided by securities exchange for the transaction of securities. And the securities exchange means, any person incorporated for the purpose of providing a market necessary for the transaction of securities”.14 (Pengertian “pasar modal” berarti sebuah pasar yang disediakan oleh bursa efek untuk melakukan transaksi jual beli saham. Bursa efek berarti, setiap badan hukum yang bertujuan menyediakan sebuah pasar yang diperlukan untuk melakukan transaksi efek) Securities and Exchange Law Korea menyatakan bahwa: “Securities market means a market which is provided by the KoSection 3(1) Securities Exchange Act of 1934, Amerika Serikat. Pasal 2 No. 11 dan 12, Japanese Securities Laws and Relating Orders, Japan Securities Research Institute, Tokyo, Japan, 1982.
13 14

Sistem Pasar Modal di Indonesia

29

rean Stock Exchange established under the provision of Article 71 for the purpose of security transaction”.15 (Pasar modal berarti sebuah pasar yang disediakan oleh Bursa Efek Korea yang dibentuk berdasar Pasal 71 dengan tujuan untuk melakukan transaksi efek). Dari definisi-definisi tersebut baik definisi pasar modal Indonesia maupun negara asing, terlihat bahwa pengertian pasar modal atau bursa efek tersebut pada prinsipnya adalah sama yaitu sebagai tempat atau pasar di mana terjadi jual beli atau transaksi dari efek-efek. Hanya saja pada definisi dari SEA of 1934, disebutkan pengelola bursa adalah organisasi, asosiasi atau kumpulan orang, baik yang berbentuk badan hukum maupun yang tidak berbentuk badan hukum. Sedangkan pada bursabursa efek lainnya termasuk bursa efek Indonesia, pada prinsipnya hanya bisa dikelola oleh suatu badan hukum. 2.2 Sejarah Pasar Modal Di negara Amerika Serikat, pengaturan tentang pasar modal dimulai dari pengaturan tingkat negara bagian. Negara bagian yang pertama kali mempunyai peraturan demikian adalah Kansas, dengan Undang-undang Tahun 1911, yang merupakan pionir terhadap pengaturan tentang Licensing System, yang antara lain mengatur tentang persyaratan registrasi terhadap securities dan securities salesman. Pelanggaran terhadap kewajiban registrasi tersebut dianggap sebagai suatu perbuatan kriminal. Kemudian sejak saat itu mulai populer istilah “Undang-undang Langit Biru (Blue Sky Law), suatu istilah yang ditujukan terhadap Undangundang Pasar Modal yang dikeluarkan oleh negara bagian di Amerika Serikat. Tujuan utamanya adalah untuk melindungi pihak investor dari saham-saham di perusahaan yang tidak benar. Selanjutnya, dengan mengikuti perkembangan undangundang negara bagian di Amerika Serikat, maka pada 2 Juli
15 Pasal 2 No. 10 Securities and Exchange Law as Amended 1982, Laws and Regulation on Securities Market, Vol. 1, The Korean Securities Dealers Association, Seoul, South Korea, 1982.

30

Insider Trading : Kejahatan Bisnis di Pasar Modal Indonesia

1934, Kongres Federal membentuk suatu badan nasional yang mengurus pasar modal yang disebut dengan Securities Exchange Commission (SEC) melalui undang-undang yang dikenal sebagai The Securities Exchange Act of 1934.16 Secara keseluruhan, perkembangan undang-undang nasional di Amerika Serikat yang mengatur tentang pasar modal adalah sebagai berikut: a. Securities Act 1933; UU ini bertujuan antara lain terhadap dua hal sebagai berikut: (1) untuk menyuguhkan kepada para investor tentang informasi mengenai keadaan finansial dan hal-hal lainnya yang bersifat material mengenai penawaran suatu sekuritas; dan (2) melarang setiap misrepresentasi, penipuan atau setiap perbuatan dan praktek yang tidak layak lainnya dalam praktik penjualan sekuritas, baik yang terkena wajib registrasi atau tidak. b. Securities Exchange Act of 1934; UU ini antara lain mengatur tentang hal-hal sebagai berikut: (1) Corporate reporting. (2) Proxy solicitation. (3) Tender offer solicitation. (4) Insider trading. (5) Margin trading. (6) Market surveilance. (7) Exchange Registration. (8) Registrasi terhadap broker – dealer. (9) Investigasi dan investment. (10) Sanksi-sanksi terhadap pelanggaran. (11) Securities Exchange Commission. Public Utility Holding Act 1935; UU ini bertujuan mengatur masalah holding company terhadap perusahaan yang bergerak di bidang publik seperti gas dan listrik. c.
16

Munir Fuady, op. cit., hlm. 16.

Sistem Pasar Modal di Indonesia

31

d. Trust Indenture Act 1934; UU ini bertujuan mengatur dan melindungi hak dan kepentingan dari pihak pembeli dari suatu utang berupa bonds, debenture, notes dan lain-lainnya yang ditawarkan kepada publik. Investment Company Act 1940; UU ini mempunyai tujuan dan mengatur perlindungan terhadap hak dan kepentingan dari investor khususnya dan masyarakat pada umumnya dari tindakan-tindakan yang diambil oleh perusahaan investasi. Antara lain diatur tentang kewajiban disclosure terhadap kondisi keuangan, melarang transaksi dengan orang dalam, mengatur kualifikasi bagi pemimpin perusahaan, dan lain-lain. e. Investment Advisor Act 1940; UU ini mengatur dan mengawasi tentang tata kerja dan tingkah laku dari broker dan dealer di pasar modal. Mereka diharuskan melakukan registrasi kegiatan usaha kepada SEC. f. g. Insider Trading Sanctions Act of 1984; UU ini berupaya memberikan hukuman tiga kali lipat dari keuntungan yang diperoleh atau kerugian yang coba dihindari akibat insider trading. UU ini memberikan penghalang yang kuat bagi calon pelanggar untuk melakukan kegiatan insider trading. Sementara itu, perkembangan pasar modal di Indonesia sendiri, menurut Munir Fuady, dapat dikategorikan dalam 6 tahapan sebagai berikut:17 1. Tahap Permulaan (1878 – 1912). 2. Tahap Institusionalisasi Konvensional (1912 – 1952). 3. Tahap Kebangkitan Kembali (1952 – 1976). 4. Tahap Institusionalisasi Modern (1976 – 1988). 5. Tahap Sosialisasi (1988 – 1996). 6. Tahap Kepastian Hukum (1996 – sekarang).

17

Munir Fuady, op. cit., hlm. 20-27.

32

Insider Trading : Kejahatan Bisnis di Pasar Modal Indonesia

Untuk lebih jelasnya tentang sejarah dan perkembangan dari masing-masing tahap di atas, berikut ini akan dijelaskan lebih luas dari masing-masing tahap tersebut. 2.2.1 Tahap Permulaan (1878 – 1912) Dalam tahap permulaan, sebelum 1878, belum ada tandatanda dan catatan-catatan tentang telah adanya kegiatankegiatan di bidang bisnis pasar modal di Indonesia. Awal dari terbentuknya pasar modal di Indonesia adalah dengan berdirinya perusahaan Dunlop & Koff pada tahun 1878 (kemudian menjadi PT Perdanas), yakni perusahaan yang bergerak dalam bidang pedagang perantara dalam perdagangan komoditi dan sekuritas. Hal ini merupakan tonggak sejarah lahirnya kegiatan di bidang pasar modal sekaligus merupakan era permulaan dari sejarah hukum mengenai pasar modal di Indonesia. 2.2.2 Tahap Institusionalisasi Konvensional (1912 – 1952) Tahap ini ditandai dengan pembentukan institusi terpenting di bidang pasar modal, yaitu dengan terbentuknya pasar modal Indonesia. Dalam membentuk bursa efek ini, pemerintah Hindia Belanda mengambil contoh dari bursa efek yang ada di negeri Belanda pada waktu itu. Tujuan pembentukan bursa efek di Indonesia waktu itu adalah untuk mendorong perekonomian dan menjaring danadana yang ada, terutama untuk pembangunan di bidang perkebunan yang waktu itu memang sedang dilakukan secara besar-besaran. Pada tanggal 14 Desember 1912 dibentuk dan mulai beroperasinya bursa efek pertama di Indonesia, yaitu Bursa Efek Batavia yang beranggotakan 13 makelar sebagai anggota bursa. Pada waktu itu, sekuritas yang diperjualbelikan adalah: a. Saham yang diterbitkan oleh perusahaan perkebunan Belanda. b. Obligasi yang diterbitkan oleh perusahaan perkebunan Belanda. c. Obligasi pemerintah Hindia Belanda (oleh pemerintah pusat dan kotapraja).

Sistem Pasar Modal di Indonesia

33

d. Sertifikat saham dan efek-efek perusahaan di negeri Belanda. Setelah berdirinya Bursa Efek Batavia, maka dalam tahap ini pula terbentuknya Bursa Efek Surabaya pada 11 Januari 1925 dan diikuti dengan pembentukan Bursa Efek Semarang pada 1 Agustus 1925. Akan tetapi, perdagangan efek di dalam tahap ini tidak berlangsung lama disebabkan munculnya resesi dunia pada tahun 1929 yang terkenal dengan “zaman malayse”, dan diikuti dengan Perang Dunia I dan II sampai dengan masuknya Jepang ke Indonesia. Bursa Efek Jakarta resmi ditutup pada 10 Mei 1940, sedangkan Bursa Efek Surabaya dan Semarang sudah lebih dahulu ditutup. 2.2.3 Tahap Kebangkitan Kembali (1952 – 1976) Setelah penyerahan kembali kedaulatan kepada Republik Indonesia, perdagangan sekuritas mulai digiatkan kembali, akan tetapi berlangsung tanpa kontrol dan tanpa suatu bursa efek sama sekali. Menyadari perlunya suatu bursa efek yang tertib, dan juga karena pemerintah Republik Indonesia telah mulai menerbitkan obligasi, yang terbit pertama kali pada tahun 1950, maka pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan Undangundang Darurat Nomor 13 Tahun 1951 pada 1 September 1952, yang kemudian menjadi Undang-undang Nomor 15 Tahun 1952 yang mengatur tentang Bursa Efek. Selanjutnya pada tanggal 3 Juni 1952, Bursa Efek Jakarta pun dibuka kembali. Pelaksanaan bursa pada waktu itu dilakukan oleh Perserikatan Perdagangan Uang dan Efek (PPUE) yang beranggotakan beberapa bank negara dan para pialang efek. Adapun efek yang diperdagangkan di bursa pada waktu itu adalah obligasi pemerintah Republik Indonesia, obligasi pemerintah Hindia Belanda dan obligasi serta efek dari perusahaan yang umumnya merupakan perusahaan Belanda. Kemudian dengan adanya nasionalisasi perusahaanperusahaan Belanda dengan keluarnya Undang-undang Nomor 86 Tahun 1956, sengketa Indonesia dengan Belanda tentang Irian Barat, dan pembangunan ekonomi nasional yang tidak

34

Insider Trading : Kejahatan Bisnis di Pasar Modal Indonesia

mendukung, perkembangan bursa efek pada tahap ini tidak mencapai hasil seperti yang diharapkan. 2.2.4 Tahap Institusionalisasi Modern (1976 – 188) Memasuki era pemerintahan Orde Baru, pembangunan ekonomi mulai digalakkan secara lebih serius dan berkesinambungan serta mulai terfokus, yang dikenal dengan nama Program Pembangunan Lima Tahun (PELITA). Sejak saat itu, mulai dipikirkan kembali tentang pentingnya peran serta pasar modal dalam kancah pembangunan ekonomi. Sejalan dengan itu, peran bursa efek mulai diaktifkan kembali dengan dikeluarkannya Keppres Nomor 52 Tahun 1976 tentang Pembentukan Badan Pelaksana Pasar Modal, serta Keppres Nomor 25 Tahun 1976 mengenai Pembentukan Dana Reksa. Dengan terbentuknya Bapepam dan Dana Reksa tersebut, maka pelaksanaan bursa efek pun mulai lebih ditertibkan dan didayagunakan. Selanjutnya juga dikeluarkan beberapa keputusan Menteri Keuangan yang mengatur lebih rinci dan lebih operasional tentang pelaksanaan bursa efek tersebut, antara lain sebagai berikut: 1) SK Menkeu No. 1670/1976 tentang Penyelenggaraan Bursa. 2) SK Menkeu No. 1672/1976 tentang Tatacara Menawarkan Efek Kepada Masyarakat Melalui Bursa. 3) SK Menkeu No. 1673/1976 tentang Peraturan Perdagangan Efek di Bursa. 4) dan lain-lain. Dengan adanya berbagai peraturan dan kebijaksanaan tersebut, maka bursa efek mulai terus berkembang sampai akhirnya tiba era baru dalam perekonomian Indonesia, yaitu era liberalisasi perdagangan, yang ditandai dengan dilakukannya berbagai deregulasi perekonomian yang semakin liberal dan terbuka. 2.2.5 Tahap Sosialisasi (1988 – 1996) Telah disebutkan di atas, bahwa perekonomian Indonesia telah memasuki fase liberalisasi perekonomian. Dalam fase ini,

Sistem Pasar Modal di Indonesia

35

banyak dikeluarkan paket-paket deregulasi ekonomi. Diantaranya yang berpengaruh langsung terhadap kehidupan pasar modal adalah Paket Deregulasi Ekonomi dan Moneter 1988.18 Dalam tahap sosialisasi ini antara lain terjadi hal-hal sebagai berikut: 1. Swastanisasi Bursa Efek Jakarta (pada awalnya Bursa Efek dikelola oleh Bapepam. 2. Otomasi bursa efek.19 3. Bapepam lebih diberi prioritas sebagai otoritas lembaga pengawas dengan diubah namanya dari Badan Pelaksana Pasar Modal menjadi Badan Pengawas Pasar Modal. 2.2.6 Tahap Kepastian Hukum (1996 – sekarang) Momentum selanjutnya yang merupakan awal dari perkembangan pasar modal Indonesia yang modern adalah dengan dikeluarkannya undang-undang yang khusus mengatur tentang pasar modal, yaitu UU Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Salah satu hal penting dalam undang-undang ini adalah dengan diberikannya kekuasaan yang cukup besar kepada Bapepam selaku pengawas dan Self Regulatory Organization (SRO) dengan kewenangan melakukan penyidikan dan penyelidikan, suatu kewenangan yang belum pernah ada sebelumnya.20 2.3 Fungsi, Tujuan Serta Motif Berdirinya Pasar Modal Dalam penjelasan umum UU PM dijelaskan bahwa fungsi pasar modal secara umum adalah:21
18 Salah satu isi paket deregulasi tersebut adalah dikenakannya pajak penghasilan atas bunga deposito dan tabungan berjangka lainnya. Sehingga hal ini menimbulkan reaksi positif masyarakat terhadap keberadaan pasar modal sebagai alternatif untuk menginvestasikan uangnya, karena pendapatan mereka melalui tabungan menjadi menurun. Lebih jelasnya dalam Marzuki Usman (et al), op. cit., hlm. 5. 19 Otomasi perdagangan ini dengan menggunakan sistem komputer yang dinamakan dengan JATS (Jakarta Automatic Trading System), yang mulai beroperasi pada 22 Mei 1995. 20 Munir Fuady, op. cit., hlm. 27. 21 Leffler, op. cit., hlm. 71-83.

36

Insider Trading : Kejahatan Bisnis di Pasar Modal Indonesia

1. Menciptakan pasar secara terus menerus (creation of a continous market) bagi efek yang telah ditawarkan kepada masyarakat. 2. Menciptakan harga yang wajar (fair price determination) bagi efek, melalui mekanisme penawaran dan permintaan. 3. Membantu pembelanjaan dunia usaha (aid in financing industry). Pasar modal memiliki beberapa fungsi strategis yang membuat lembaga ini memiliki daya tarik, tidak saja bagi pihak yang memerlukan dana (issuer) dan pihak yang meminjamkan dana (lenders), akan tetapi juga bagi pemerintah. Dalam era globalisasi ini, hampir semua negara menaruh perhatian yang besar terhadap pasar modal karena memiliki peranan strategis bagi penguatan ketahanan ekonomi suatu negara.22 Terjadinya pelarian modal ke luar negeri (capital flight) bukan hanya akibat dari merosotnya nilai mata uang, akan tetapi juga diakibatkan karena tidak tersedianya alternatif investasi yang menguntungkan di negara tersebut, dan pada saat yang sama, investasi di bursa negara lain menjanjikan keuntungan yang lebih tinggi dibandingkan di negara asalnya.23 Motif serta tujuan berdirinya pasar modal tersebut, bagi perusahaan yang menjual saham, adalah untuk memperoleh dana yang murah bagi pengembangan usahanya. Bagi pemodal adalah untuk mendapatkan tambahan penghasilan bagi modalnya dalam bentuk dividen atau capital gain. Sedangkan bagi pemerintah adalah untuk mencari dana bagi peningkatan perekonomian negara. Peranan besar yang dimiliki oleh pasar modal dalam suatu negara dapat dilihat dalam lima aspek berikut ini:24 1. Sebagai fasilitas melakukan interaksi antara pembeli dengan penjual untuk menentukan harga saham atau surat-surat berharga yang diperjualbelikan. Ditinjau dari segi lain, pasar
Marzuki Usman (et al), op. cit., hlm. 13. Ibid. 24 Sunariyah, op. cit., hlm. 6-8.
22 23

Sistem Pasar Modal di Indonesia

37

2.

3.

4.

5.

modal memberikan kemudahan dalam melakukan transaksi sehingga kedua belah pihak dapat melakukan transaksi tanpa melakukan tatap muka (pembeli dan penjual tidak bertemu secara langsung). Kemudahan tersebut dapat dilakukan dengan lebih sempurna berkat adanya fasilitas perdagangan efek melalui komputer. Pasar modal memberikan kesempatan kepada para investor untuk memperoleh hasil (return) yang diharapkan. Keadaan tersebut akan mendorong perusahaan (emiten) untuk memenuhi kebutuhan investor untuk memperoleh hasil yang diharapkan. Pasar modal memberi kesempatan kepada investor untuk menjual kembali saham yang dimilikinya atau surat berharga lainnya. Dengan beroperasinya pasar modal, para investor dapat melikuidasi surat berharga yang dimilikinya tersebut setiap saat. Apabila pasar modal tidak ada, maka investor terpaksa harus menunggu pencairan surat berharga yang dimilikinya sampai dengan saat perusahaan dilikuidasi. Keadaan semacam ini akan menjadikan investor kesulitan mendapatkan uangnya kembali, yang mengakibatkan risiko kerugian yang sulit diprediksi sebelumnya. Eksistensi pasar modal memberikan kepastian dalam menghindarkan risiko kerugian, yang pada dasarnya tidak ada satu pun investor yang bersedia menanggung kerugian tersebut. Pasar modal menciptakan kesempatan kepada masyarakat untuk berpartisipasi dalam perkembangan suatu perekonomian. Masyarakat umum mempunyai kesempatan untuk memilih dan mempertimbangkan alternatif cara penggunaan uang mereka. Selain menabung, mereka dapat melakukan investasi melalui pasar modal, yaitu dengan membeli sebagian kecil saham perusahaan publik. Pasar modal mengurangi biaya informasi dan transaksi surat berharga. Bagi para investor, keputusan investasi harus didasarkan pada tersedianya informasi yang akurat dan dapat dipercaya. Pasar modal dapat menyediakan kebutuhan terhadap informasi secara lengkap, yang apabila hal tersebut dicari sendiri akan memerlukan biaya yang sangat mahal.

38

Insider Trading : Kejahatan Bisnis di Pasar Modal Indonesia

Dengan adanya pasar modal, biaya memperoleh informasi ditanggung oleh seluruh pelaku pasar modal sehingga biayanya menjadi murah. Biaya informasi tersebut dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu: (1) Biaya pencarian (search costs) informasi tentang perusahaan (emiten). Termasuk di dalamnya adalah biaya eksplisit, seperti biaya iklan untuk mengumumkan jual/beli saham. Di samping itu, harus diperhitungkan pula biaya implisit seperti waktu mencari calon pembeli atau calon investor. (2) Biaya informasi (information costs) termasuk mencari informasi tentang kelebihan atau kelemahan surat berharga suatu perusahaan publik. Informasi tersebut misalnya, bagaimana dividen suatu perusahaan. Sunariyah menjelaskan bahwa ke lima aspek tersebut di atas merupakan aspek mikro dalam perekonomian suatu negara. Adapun secara makro, peranan pasar modal dalam perekonomian suatu negara menurut beliau adalah sebagai berikut:25 1. Fungsi Tabungan (Savings Function); Menabung dapat dilakukan dengan berbagai cara, akan tetapi yang harus diingat adalah bahwa nilai mata uang cenderung menurun pada masa yang akan datang. Bagi penabung, metode yang digunakan sangat mempengaruhi oleh kemungkinan rugi sebagai akibat penurunan nilai mata uang, inflasi, dan risiko kehilangan. 2. Fungsi Kekayaan (Wealth Function); Pasar modal adalah suatu cara untuk menyimpan kekayaan dalam jangka panjang dan jangka pendek, sampai dengan kekayaan tersebut digunakan kembali. Cara ini lebih baik karena kekayaan tidak mengalami depresiasi (penyusutan nilai) seperti harta kekayaan lainnya. Misalnya mobil, gedung, kapal dan sebagainya. Semakin bertambah umur kekayaan tersebut akan semakin besar nilai penyusutannya.
25

Sunariyah, op. cit., hlm. 9-10.

Sistem Pasar Modal di Indonesia

39

Akan tetapi obligasi, saham, deposito, dan instrumen surat berharga lainnya tidak akan mengalami depresiasi nilai. Surat berharga mempunyai kekuatan beli (purchasing power) pada masa yang akan datang. 3. Fungsi Likuiditas (Liquidity Function); Kekayaan yang disimpan dalam bentuk surat berharga dapat dilikuidasi melalui pasar modal dengan risiko yang lebih kecil dibandingkan dengan jenis lainnya. Proses likuidasi surat berharga dengan biaya relatif murah dan lebih cepat. Dengan kata lain, pasar modal adalah suatu ready market untuk melayani pemenuhan likuiditas para pemegang surat berharga. 4. Fungsi Pinjaman (Credit Function); Pasar modal merupakan fungsi pinjaman untuk konsumsi atau investasi. Pinjaman merupakan utang kepada masyarakat. Pasar modal bagi suatu perekonomian negara merupakan sumber pembiayaan pembangunan dari dana yang dihimpun dari masyarakat. Pemerintah lebih mendorong pertumbuhan pasar modal untuk mendapatkan dana yang lebih mudah dan lebih murah. 2.4 Instrumen Pasar Modal Instrumen pasar modal terdiri atas semua surat-surat berharga atau efek (securities) yang diperdagangkan, baik di bursa (on floor) maupun di luar bursa (over the counter/off floor).26 Sebagaimana dijelaskan dalam Pasal 1 angka 5 UU PM, yang dimaksud dengan efek adalah “Surat berharga, yaitu surat pengakuan utang, surat berharga komersial, saham, obligasi, tanda bukti utang, unit penyertaan kontrak investasi kolektif, kontrak berjangka atas efek, dan setiap derivatif dari efek”. Secara umum, instrumen pasar modal dapat digolongkan dalam 3 kelompok, yaitu: 27
26 Panji Anoraga & Ninik Widiyanti, Pasar Modal: Keberadaan dan Manfaatnya Bagi Pembangunan, Jakarta, Rineka Cipta, 1995, hlm. 51. 27 Marzuki Usman (et al), ABC Pasar Modal Indonesia, Jakarta, Institut Bankir Indonesia, 1994, hlm. 62-81.

40

Insider Trading : Kejahatan Bisnis di Pasar Modal Indonesia

1. Instrumen utang (debt instrument), termasuk dalam instrumen ini adalah jenis obligasi. 2. Instrumen penyertaan (equity instrument) seperti saham. 3. Instrumen lain (others instrument), seperti option, warran dan right. Sementara Munir Fuady mengemukakan, dari keseluruhan jenis efek tersebut, dapat dikategorikan sebagai berikut: 28 1. Efek penyertaan yaitu efek yang memberikan hak kepada pemegangnya untuk ikut serta dalam equity suatu perusahaan. Termasuk dalam efek penyertaan ini adalah (1) saham serta jenisnya, (2) setiap derivatifnya, seperti bukti right, warran, dan option (put atau call), (3) unit penyertaan kontrak investasi kolektif, (4) kontrak berjangka atas efek. 2. Efek utang yaitu efek yang penerbitnya mengeluarkan atau menjual surat utang, pada suatu waktu wajib menebus kembali sesuai dengan kesepakatan di antara para pihak. Termasuk dalam efek jenis ini adalah obligasi, commercial paper, surat pengakuan utang, dan bukti utang. 3. Efek konversi disebut juga dengan obligasi konversi, yaitu efek yang sebenarnya termasuk dalam efek utang, tetapi pada saat yang ditentukan dapat menukarkan efek utang tersebut dengan efek penyertaan. Baik diwajibkan atau pilihan dari pemegang efek yang bersangkutan. 4. Efek derivatif yaitu beberapa jenis efek yang ditawarkan kepada publik, sebenarnya melanjutkan efek yang telah dahulu dipasarkan, seperti bukti right, warran, dan option. Dari gambaran di atas, dapat disimpulkan bahwa secara garis besar instrumen atau efek yang diperjualbelikan di pasar modal Indonesia hanya terdiri atas dua kelompok besar, yaitu instrumen kepemilikan (equity) seperti saham, dan instrumen utang (obligasi atau bond) seperti obligasi perusahaan dan obligasi yang dapat dikonversikan menjadi saham.29
28 29

Munir Fuady, loc. cit., hlm. 7-8. Panji Anoraga & Ninik Widiyanti, op. cit., hlm. 7.

Sistem Pasar Modal di Indonesia

41

Surat berharga dalam arti umum terbagi dalam:30 1. Surat berharga pasar uang (money market securities) yaitu: wesel (bill of exchange), promes (promisory note) serta sertifikat deposito (certificate deposit). 2. Surat berharga pasar modal (capital market securities) atau efek-efek, yaitu: saham (share), obligasi (bond/notes), sekuritas kredit/penyertaan dana, klaim (right), dan waran. Menurut T.H. Limperg, efek adalah: “Bukti tentang hak menerima bagian di dalam suatu modal, di dalam perusahaan dan di dalam utang jangka panjang”.31 Adapun jenis-jenis efek yang diperdagangkan di pasar modal Indonesia hingga saat ini adalah: 1. Saham (stock); 2. Saham Preferen (preferred stock); 3. Obligasi (bond); 4. Obligasi Konversi (convertible bond); 5. Klaim (right); dan 6. Waran (warrant) Sementara surat berharga jenis opsi (option) belum diterapkan atau diperdagangkan di pasar modal Indonesia, hanya diperdagangkan terhadap efek yang terdaftar di Bursa Efek New York.32 2.4.1 Saham Saham adalah tanda bukti kepemilikan terhadap suatu perusahaan,33 bahkan dikatakan juga sebagai suatu hak terhadap harta kekayaan perseroan terbatas, karena pada masing-masing akta pendirian perseroan terbatas pasti disebutkan jumlah modal

30 R. Ali Ridho (et al), Hukum Dagang Tentang Surat-surat Berharga, Perseroan Firma, Perseroan Komanditer, Keseimbangan Kekuatan PT dan Penswastaan BUMN, Remaja Karya, Bandung, 1988, hlm. 27-35. 31 T.H. Limperg dalam Leffler, op. cit., hlm. 85. 32 Tjiptono Darmadji & Hendy M. Fakhruddin, op. cit., hlm. 5. 33 Hulwati, op. cit., hlm. 11.

42

Insider Trading : Kejahatan Bisnis di Pasar Modal Indonesia

perseroan yang terbagi dalam jumlah saham-saham.34 Adapun jenis saham sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 1 UU PT 1995 adalah saham atas nama dan saham atas unjuk.35 Dalam penjelasan Pasal 24 UU PT 1995, diuraikan bahwa saham atas nama adalah saham yang mencantumkan nama pemilik pemegang dari saham tersebut. Saham atas nama apabila akan dipindah tangankan, harus sepengetahuan pengurus perseroan. Saham atas unjuk adalah saham yang dikeluarkan itu tidak tertulis nama pemiliknya. Saham ini disebut juga dengan saham blanco. Saham blanco ini dapat dipindah tangankan kepada siapa saja.36 Menurut Pasal 42 ayat 3 UU PT 1995, saham atas unjuk baru dapat dikeluarkan apabila nilai nominal saham yang diperjanjikan disetor penuh. Hal ini didasarkan bahwa saham atas unjuk tidak perlu didaftarkan, cukup dengan penyerahan surat saham. Dengan tidak terdaftarnya pemilik saham tersebut, apabila dikeluarkan tidak dengan setoran penuh akan menyulitkan perseroan menagih sisa pembayaran dari saham tersebut. Dalam Pasal 46 UU PT 1995 dijelaskan perbedaan jenis saham ditinjau dari segi hak tagihan (klaim), saham tersebut dapat dibedakan antara saham biasa (common stocks) dan saham preferen (prefered stocks). Perbedaan antara keduanya adalah, saham biasa tidak mempunyai hak istimewa; dividen hanya bisa diperoleh sepanjang perusahaan untung. Jumlahnya tidak tetap, tergantung dari besarnya keuntungan yang diperoleh; mempunyai hak suara dalam pemilihan Dewan Komisaris; dan bila perusahaan dibubarkan, baru mendapat bagian setelah pelunasan terhadap utang-utang serta pembayaran terhadap saham preferen.
34 Nindyo Pramono, Sertifikasi Saham PT Go Public dan Hukum Pasar Modal di Indonesia, Bandung, Citra Aditya Bakti, 1996, hlm. 72. Bandingkan dengan ketentuan dalam Pasal 1 ayat (1) UU PT 1995 yang menentukan bahwa “…melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham…”. 35 Pasal 24 ayat (2) UU PT 1995. 36 Moch. Faisal Salam, Perseroan Terbatas Di Indonesia Menurut Undang-undang Perseroan Terbatas No. 1 Tahun 1995, Bandung, Penerbit Pustaka, 2003, hlm. 71.

Sistem Pasar Modal di Indonesia

43

Saham preferen mempunyai hak istimewa, yaitu mempunyai hak terdahulu dari saham biasa. Apabila perusahaan dibubarkan, berhak mendapat dividen atau bagian kekayaan lebih dahulu dari pemegang saham biasa. Selain itu, mempunyai preferensi untuk mengajukan usul pencalonan direksi/komisaris; jumlah dividen yang akan diterima tidak bisa melebihi jumlah yang telah ditetapkan sebelumnya; mempunyai hak untuk menerima dividen yang belum dibayar pada tahun-tahun yang lalu secara kumulatif (saham preferen kumulatif). Di Amerika Serikat, pemegang saham preferen tidak mempunyai hak suara dalam RUPS, misalnya dalam hal pengangkatan atau pemberhentian anggota direksi dan anggota dewan komisaris. Di Indonesia, semua pemegang saham termasuk pemegang saham preferen suaranya tetap diperhitungkan dalam RUPS. Sifat-sifat keistimewaan saham preferen, selain juga kumulatif, juga dapat bersifat partisipatif dan campuran partisipatif dengan kumulatif. Saham preferen partisipatif yaitu sesudah pemegang saham preferen mendapatkan hak pembagian dividen, pemegang saham tersebut masih berhak mendapatkan sisa laba bersama-sama dengan pemegang saham biasa. Kemudian partisipatif dan kumulatif artinya pemegang saham preferen bisa saja memiliki dua sifat keistimewaan tersebut dalam hal pembagian dividen sesuai dengan perjanjian dari awal.37 2.4.2 Obligasi Obligasi pada dasarnya merupakan surat pengakuan utang atas pinjaman yang diterima oleh perusahaan penerbit obligasi dari masyarakat. Jangka waktu obligasi telah ditetapkan dan disertai dengan pemberian imbalan bunga yang jumlah dan saat pembayarannya juga telah ditetapkan dalam perjanjian. Obligasi ini dapat diterbitkan baik oleh badan usaha milik negara (BUMN), badan usaha swasta, pemerintah pusat atau daerah (BUMD).

37

Sunariyah, op. cit., hlm. 121.

44

Insider Trading : Kejahatan Bisnis di Pasar Modal Indonesia

Jenis-jenis obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah atau swasta ditentukan oleh kontrak perjanjian yang dibuat pada saat transaksi jual beli obligasi. Jenis-jenis obligasi tersebut adalah: 38 a. Collateral: Perusahaan penerbit membuat suatu janji, apabila pada saat jatuh tempo obligasi perusahaan penerbit tidak dapat membayar nilai nominal obligasi, maka perusahaan penerbit menyediakan sejumlah aset milik perusahaan sebagai jaminan. Hal tersebut akan menjamin tingkat kepercayaan pemodal, yang menjamin bahwa pemodal tidak akan mengalami kerugian. b. Debenture: Dalam tipe obligasi ini perusahaan penerbit obligasi tidak menjamin dengan aset perusahaan tertentu, tetapi dijamin oleh tingkat likuiditas perusahaan. Pemodal berharap bahwa perusahaan dapat mencapai laba untuk membayar bunga dan nilai nominal obligasi. c. Subordinate debenture: Dalam perjanjian kontrak obligasi, pemegang obligasi diklasifikasikan berdasarkan siapa yang dibayar terlebih dahulu. Jika perusahaan bangkrut, siapa yang mendapat prioritas untuk dibayar terlebih dahulu. Tipe subordinate debenture dibayar setelah tipe debenture. Oleh karena itu, subordinate debenture merupakan obligasi yang mempunyai risiko tinggi. d. Obligasi pendapatan: Obligasi tipe ini tidak dijamin dengan aset tertentu. Di samping itu, perusahaan penerbit tidak mempunyai kewajiban untuk membayar bunga secara periodik kepada pemegang obligasi. Dalam tipe ini, perusahaan akan membayar bunga apabila laba yang dicapai cukup untuk membayar bunga. Perusahaan penerbit tidak mempunyai utang bunga apabila pada periode yang lalu tidak mampu membayar bunga. e. Obligasi hipotik (mortgage): Obligasi tipe ini dijamin dengan aset tertentu dan aset yang dijadikan agunan disebutkan secara jelas. Aset tersebut merupakan aset yang tidak bergerak, misalnya tanah dan gedung. Apabila perusahaan melalaikan janjinya, agunan tersebut dapat dijual untuk
38

Op. cit., hlm. 201-202.

Sistem Pasar Modal di Indonesia

45

menutupi kewajiban perusahaan tersebut. Dalam obligasi tipe ini, aset perusahaan yang baru secara langsung menjadi agunan. f. Call provision: Dalam tipe obligasi ini dalam kontrak perjanjiannya, pada saat tertentu perusahaan penerbit dapat menarik (memanggil) obligasi kembali. Perusahaan penerbit mempunyai kesempatan untuk memanggil obligasi apabila tingkat bunga turun dan menerbitkan obligasi baru dengan tingkat bunga yang lebih rendah. Konsep ini sering disebut refunding. Perusahaan penerbit dapat memanggil kembali obligasi yang beredar apabila hal tersebut dianggap dapat mengun-tungkan perusahaan. Apabila perusahaan menerbitkan obligasi dengan call provision, perusahaan penerbit harus mengungkapkan call price (harga panggil). Call price adalah harga yang harus dibayar pada saat obligasi dipanggil oleh perusahaan penerbit dari pemegang obligasi sesuai dengan kontrak dalam perjanjian yang telah ditetapkan. g. Sinking fund provision: Sinking fund provision adalah peraturan yang ditetapkan oleh lembaga yang berwenang (Bapepam) yang ditujukan kepada perusahaan penerbit agar melunasi sebagian obligasi dalam waktu tertentu. Untuk melunasi obligasi tersebut, perusahaan harus menyisihkan dana khusus untuk membayar kewajiban yang disebut sinking fund. 2.4.3 Obligasi Konversi Obligasi konversi adalah obligasi yang setelah jangka waktu tertentu dan selama masa tertentu, dapat ditukarkan menjadi saham dari perusahaan emiten. 2.4.4 Waran Pasal 1 angka 5 UU PM menjelaskan bahwa waran adalah “Efek yang diterbitkan oleh suatu perusahaan, yang memberi hak kepada pemegang Efek untuk memesan saham dari perusahaan tersebut pada harga tertentu, dengan jangka waktu 6 (enam) bulan atau lebih”. Harga dari saham baru tersebut

46

Insider Trading : Kejahatan Bisnis di Pasar Modal Indonesia

diberikan tanpa menghiraukan harga pasar saham dan masa berlakunya bervariasi antara lima sampai sepuluh tahun. Di dalam praktik, jarang terjadi suatu waran dinyatakan berlaku untuk seterusnya. Selama hak yang tercantum di dalam waran belum direalisasikan, maka tidak ada hak-hak yang terbit dari waran tersebut seperti hak atas dividen serta hak untuk mengeluarkan suara dalam RUPS. Waran itu akan menarik minat bagi pemodal bila perusahaan yang menerbitkan tersebut berkembang di kemudian hari sehingga harga sahamnya bergerak naik di pasar modal. Pada saat itulah pemegang waran menggunakan haknya untuk membeli saham dengan harga yang telah ditentukan sebelumnya dan menjualnya di pasar dengan mendapatkan keuntungan. Warrant out biasanya disertakan dalam penjualan surat berharga lain seperti pada obligasi misalnya, convertible bond. Pemilik convertible bond yang ingin memiliki saham tidak perlu menyerahkan uang tunai, tetapi cukup menyerahkan obligasinya saja. Obligasi akan ditukar dengan sejumlah saham sesuai dengan perjanjian sebelumnya. Waran dapat dijual tanpa menyertakan surat berharga lain, terutama bagi perusahaanperusahaan yang masih muda, yang ingin menarik minat pemodal membeli sahamnya. 2.4.5 Klaim (Rights) Klaim adalah “Hak terdahulu yang diberikan oleh perusahaan kepada pemegang saham lama untuk membeli saham yang baru diterbitkan dengan harga di bawah harga pasar (bursa) untuk jangka waktu tertentu”.39 Hak ini biasanya dicantumkan dalam anggaran dasar perusahaan. Ada dua hal tujuan diterbitkannya klaim ini; Pertama, agar pemilik saham lama dapat mempertahankan pengendaliannya atas perusahaan; dan Kedua, untuk mencegah penurunan nilai kekayaan pemilik saham lama. Klaim ini sering pula disebut “subscription right” (hak langganan), yaitu pemegang saham dapat memilih apakah akan menggunakan
39

Janet Low, op. cit., hlm. 145.

Sistem Pasar Modal di Indonesia

47

haknya untuk membeli saham baru tersebut hingga sahamnya bertambah atau menjual haknya kepada pialang.40 2.4.6 Opsi Pasal 1 angka 5 UU PM menjelaskan opsi sebagai “Hak yang dimiliki oleh pihak untuk membeli atau menjual kepada pihak lain atas sejumlah efek pada harga dan dalam waktu tertentu”. Opsi merupakan suatu kontrak dimana hak diberikan kepada individu, tetapi bukan merupakan suatu kewajiban untuk membeli instrumen keuangan seperti halnya utang atau kekayaan lainnya, pada harga khusus tanpa waktu yang tertentu atau tanggal tertentu. Selain itu, kontrak dapat memberi hak tetapi bukan kewajiban untuk membeli kekayaan tertentu atau instrumen keuangan pada harga tertentu tanpa tanggal dan waktu tertentu. Jika hak yang diberikan kepada individu tidak dilaksanakan, maka hak akan hilang. Opsi, seperti halnya perdagangan instrumen keuangan lainnya, harus memperoleh ijin dari pemerintah atau badan yang bertanggung jawab terhadap operasional pasar uang.41 Untuk memperoleh hak tersebut harus membayar sejumlah harga tertentu (fee). Dikenal ada dua pengertian, yaitu “put option” dan “call option”. Put Option terjadi apabila pembeli opsi (option buyer) menerima hak untuk menjual sejumlah saham tertentu dari suatu perusahaan tertentu dengan tanggal dan periode tertentu. Contohnya, para investor mengharapkan harga saham akan turun dalam waktu tiga bulan kemudian. Investor dapat membeli hak untuk menjual saham pada harga tertentu dan waktu tertentu. Ada empat hal yang biasanya dinyatakan dalam tipe kontrak put option, yaitu: 1. Sejumlah saham yang dapat dibeli; 2. Nama perusahaan saham yang dibeli; 3. Harga pembayaran, umumnya harga yang ditetapkan (exercise price), yaitu harga suatu instrumen keuangan atau aset dapat dijual atau dibeli oleh pembeli hak pada suatu kontrak;
40 41

Hulwati, op. cit., hlm. 15 Sunariyah, op. cit., hlm. 233.

48

Insider Trading : Kejahatan Bisnis di Pasar Modal Indonesia

4. Tanggal jatuh tempo, yaitu tanggal dimana hak kontrak dipertimbangkan habis masa berlakunya. Call option terjadi apabila pembeli opsi (option buyer) diberikan hak untuk membeli sejumlah saham tertentu dari perusahaan pada harga tertentu dalam periode dan tanggal dan tertentu. Suatu kontrak opsi biasanya meliputi empat hal yang dinyatakan secara jelas, yaitu: 1. Sejumlah saham yang dapat dibeli; 2. Nama perusahaan; 3. Harga saham yang diberikan kepada pembeli hak dalam kontrak opsi disebut exercise price; 4. Tanggal jatuh tempo, yaitu jangka waktu hak pada suatu kontrak yang menyangkut kapan dimulainya suatu hak dan kapan berakhirnya.42 2.5 Pelaku Pasar Modal Pelaku pasar modal merupakan orang atau lembaga yang melakukan kegiatan secara kontinyu, dimana kegiatan para pelaku pasar modal itu tidak dapat dipisahkan dengan lembaga itu sendiri. Bahkan dapat dikatakan bahwa tanpa pelaku pasar modal, maka pasar modal tidak dapat hidup sebagaimana mestinya. Demikian sebaliknya, tanpa pasar modal para pelaku pasar modal tidak dapat mengembangkan usahanya dengan baik dan wajar. 43 Lembaga-lembaga yang berperan sebagai pelaku pasar modal adalah: perusahaan yang go public (emiten), pemodal (investor), penjamin emisi (underwriter), penanggung (guarantor), wali amanat (trustee), perantara pedagang efek (pialang, broker), pedagang efek (dealer), perusahaan sekuritas (securities company), perusahaan pengelola dana (investment company), perusahaan penilai (appraisal), dan biro administrasi efek.44 Berikut ini akan dijelaskan pengertian dan peranan dari
Sunariyah, op. cit., hlm. 235. Marzuki Usman, op. cit., hlm. 41 44 Munir Fuady, op. cit., hlm. 39-45.
42 43

Sistem Pasar Modal di Indonesia

49

lembaga-lembaga yang disebut sebagai pelaku utama dari pasar modal tersebut. 2.5.1 Emiten Pasal 1 angka 6 UU PM menjelaskan bahwa emiten adalah “Pihak yang melakukan kegiatan penawaran umum”. Dengan demikian istilah emiten mengacu kepada kegiatan yang dilakukan perusahaan yang menjual sebagian sahamnya kepada masyarakat investor melalui penawaran umum (pasar perdana). Saham yang telah dijual kepada investor diperjualbelikan kembali antarinvestor melalui bursa efek (pasar sekunder). Dengan kata lain, emiten adalah pihak yang menawarkan atau menjual efek kepada masyarakat melalui pasar modal.45 Marzuki Usman mengatakan bahwa emiten adalah perusahaanperusahaan yang memperoleh dana melalui pasar modal yang menerbitkan dan menjual saham kepada masyarakat.46 Perusahaan yang membutuhkan modal biasanya dapat menempuh berbagai jalan yaitu:47 1. mengeluarkan saham baru. 2. mengeluarkan obligasi. 3. mengadakan peminjaman. Dalam hal penambahan modal perusahaan dengan mengeluarkan saham baru, hal ini berarti mengubah Modal Dasar Perseroan. Perubahan ini harus berdasar pada ketentuan dalam Pasal 34 ayat (1) UU PT 1995 yang menyatakan bahwa “Penambahan modal perseroan hanya dapat dilakukan berdasarkan keputusan RUPS”. Dengan dikeluarkannya saham baru, artinya perusahaan tersebut harus mencatatkan sahamnya di pasar modal. Pendanaan melalui mekanisme pengeluaran saham baru atau menjual saham perusahaan kepada masyarakat sering dikenal dengan go public. 48
Ibid. Marzuki Usman (et al), op. cit., hlm. 28-29. 47 Moch. Faisal Salam, op. cit., hlm. 61 48 Tjiptono Darmadji & Hendy M. Fakhruddin, op. cit., hlm. 40-41.
45 46

50

Insider Trading : Kejahatan Bisnis di Pasar Modal Indonesia

Melalui pasar modal, perusahaan dapat memperoleh dana jangka panjang, baik berupa modal sendiri (equity) maupun modal pinjaman (bonds). Apabila ingin memperoleh modal sendiri, maka perusahaan yang bersangkutan dapat menjual saham, dan bila ingin memperoleh pinjaman, maka perusahaan menjual obligasi. Untuk mendapatkan modal dari penjualan saham atau pinjaman obligasi, maka perusahaan tersebut harus mencatatkan efeknya di pasar modal melalui go public. Dana tersebut bukan diperoleh dari Bapepam, melainkan dari masyarakat, baik perorangan (individu) atau lembaga (institusi). Masyarakat (individu atau lembaga) yang memberikan dananya kepada perusahaan dengan membeli saham atau obligasi yang diterbitkan selanjutnya disebut sebagai pemodal (investor).49 Adapun tujuan dari emiten menarik modal dari masyarakat adalah untuk: (a) perluasan usaha atau ekspansi; (b) memperbaiki struktur modal; dan (c) divestment atau pengalihan pemegang saham.50 2.5.2 Investor Investor adalah masyarakat (lembaga atau individu) yang ikut menanamkan modalnya dalam suatu perusahaan. Mereka ini kemudian ikut membeli dan menjual saham yang diterbitkan oleh perusahaan. Dengan sendirinya yang bersangkutan menjadi pemilik dan pemegang saham perusahaan itu.51 Pada dasarnya investor adalah pihak yang memiliki kelebihan dana, akan tetapi hanya sedikit di antara mereka yang mampu melakukan alokasi investasi secara lebih menguntungkan. Perbedaan pengelolaan kelebihan dana ini disebabkan perbedaan dalam tingkat pendidikan, akses terhadap informasi dan berbagai kebijakan pemerintah yang mengatur mengenai masalah-masalah yang berhubungan dengan investasi.52

Marzuki Usman (et al), op. cit., hlm. 42. Ibid. 51 Ibid. 52 Thomas C. Newkirk & Melissa A. Robertson, dapat ditemukan pada alamat: http:// www.sec.gov/news/speech/speecharchive/1998/spch221.htm
49 50

Sistem Pasar Modal di Indonesia

51

Dilihat dari motivasi investor dalam memasukkan modalnya dalam perusahaan, investor ini dapat dikategorikan dalam empat kelompok, yakni: a) untuk memperoleh dividen, b) untuk berdagang, c) untuk memiliki perusahaan, dan d) untuk berspekulasi.53 2.5.3 Penjamin Emisi Efek (Underwriter). Pasal 1 angka 17 UU PM menyatakan bahwa penjamin emisi efek adalah “Pihak yang membuat kontrak dengan emiten untuk melakukan penawaran umum bagi kepentingan emiten dengan atau tanpa kewajiban untuk membeli sisa efek yang tidak terjual”. Setiap perusahaan yang menjual efek pada dasarnya menginginkan agar efek yang dikeluarkannya terjamin laku penjualannya. Namun demikian, tidak selamanya hal tersebut dapat terpenuhi disebabkan adanya risiko penurunan harga atau risiko lain yang bisa terjadi setiap saat. Untuk menjamin lakunya penjualan efek tersebut, maka dalam proses penjualan efek biasanya dimanfaatkan jasa penjamin emisi. Penjamin emisi inilah yang akan membeli semua efek yang yang dijual emiten dan menanggung risikonya dengan konsekuensi memperoleh imbalan.54 Mengingat risiko yang dihadapi oleh penjamin emisi cukup besar, biasanya penjamin emisi akan menentukan secara bersama-sama dengan emiten dalam menentukan harga jual efek dalam upaya mengurangi risiko tidak lakunya efek yang akan ditawarkan. Jika harga efek ditawarkan terlalu tinggi, maka hal ini akan menguntungkan pihak emiten. Sementara di pihak lain, penjamin emisi akan kesulitan untuk menjual efek tersebut yang bisa saja disebabkan keterbatasan modal dari investor.55 Pasal 39 UU PM dalam penjelasannya memberikan beberapa bentuk penjaminan emisi yang didasarkan pada bentuk kontrak yang diperjanjikan. Hal ini didasarkan pada bentuk tanggung
53 54

Marzuki Usman (et al), op. cit., hlm. 48. Ibid., hlm. 73. 55 Ibid.

52

Insider Trading : Kejahatan Bisnis di Pasar Modal Indonesia

jawab penjamin emisi terhadap kerugian yang menimpa investor dalam penjualan sahamnya apabila terdapat kesalahan dalam proses penawaran umumnya. Bentuk tanggung jawab penjamin emisi dibedakan dalam dua bentuk, yaitu penjaminan emisi dengan kesanggupan penuh (full of commitment underwriting), dan penjaminan emisi dengan kesanggupan terbaik (best effort underwriting). Dalam jenis penjaminan emisi dengan kesanggupan penuh atau sering disebut dengan firm commitment underwriting, penjamin emisi mengikatkan diri untuk menawarkan efek kepada publik dan membeli sisa efek yang tidak laku terjual. Di sini, terlihat bahwa penjamin emisi tidak membeli efek terlebih dahulu baru kemudian menjualnya kepada publik. Akan tetapi penjamin emisi menawarkan efek tersebut terlebih dahulu kepada publik, kemudian baru membelinya jika ada sisa efek yang tidak laku terjual. Suatu variasi dari bentuk full commitment underwring adalah adanya bentuk penjaminan dengan kesanggupan siaga (standby underwriting). Penjamin emisi jenis ini mengikatkan diri untuk membeli sisa efek yang tidak laku terjual pada suatu tingkat harga tertentu berdasarkan syarat-syarat yang telah diperjanjikan. Biasanya efek yang tidak laku terjual tersebut dibeli dengan harga yang lebih rendah dibandingkan harga pada waktu efek tersebut ditawarkan pada masyarakat dalam pasar perdana.56 Dalam bentuk best effort underwriting, penjamin emisi hanya bertindak sebagai agen dari emiten, dimana ia akan berusaha semaksimal mungkin untuk menjual efek tersebut tanpa dikenakan risiko tanggung jawab untuk membelinya jika ada sisa efek yang tidak laku terjual. 2.5.4 Biro Administrasi Efek; Pasal 1 angka 3 UU PM menyatakan bahwa Biro Administrasi Efek adalah “Pihak yang berdasarkan kontrak dengan

56

Marzuki Usman (et al), ibid., hlm. 76.

Sistem Pasar Modal di Indonesia

53

Emiten melaksanakan pencatatan pemilikan Efek dan pembagian hak yang berkaitan dengan Efek.” Biro Administrasi Efek (BAE) merupakan lembaga penunjang pasar modal yang berperan dalam administrasi efek, baik pada saat pasar perdana maupun pada pasar sekunder. BAE menyediakan jasa untuk emiten dalam bentuk pencatatan dan pemindahan kepemilikan efek-efek emiten.57 Penyerahan efek kepada yang berhak dan menerima efek untuk disimpan, merupakan aktivitas rutin yang dilakukan oleh BAE, selain juga menyampaikan laporan tahunan kepada emiten tentang posisi efek-efek yang ditanganinya. Dalam persiapan penawaran umum di pasar perdana, BAE juga membantu emiten dalam pencatatan efek.58 2.5.5 Bank Kustodian (Tempat Penitipan Harta); Pasal 1 angka 8 UU PM menjelaskan bahwa Kustodian adalah “Pihak yang memberikan jasa penitipan Efek dan harta lain yang berkaitan dengan Efek serta jasa lain, termasuk menerima dividen, bunga, dan hak-hak lain, menyelesaikan transaksi Efek, dan mewakili pemegang rekening yang menjadi nasabahnya.” Berdasarkan UU PM tersebut, pihak yang dapat menyelenggarakan kegiatan usaha sebagai kustodian adalah Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian (LPP), perusahaan efek atau bank umum yang telah disetujui oleh Bapepam.59 Adapun jasa-jasa yang diberikan kustodian sebagai lembaga penunjang pasar modal, antara lain: a. Menyediakan tempat penitipan harta yang aman bagi suratsurat berharga (efek). b. Mencatat/membukukan semua titipan pihak lain secara cermat. c. Mengamankan semua penerimaan dan penyerahan efek untuk kepentingan pihak yang diwakilinya.
Op. cit., hlm. 52. Tjiptono Darmadji & Hendy M. Fakhruddin, op. cit., hlm. 24. 59 Hulwati, op. cit., hlm. 17.
57 58

54

Insider Trading : Kejahatan Bisnis di Pasar Modal Indonesia

d. Menagih dividen saham, bunga obligasi dan hak-hak lain yang berkaitan dengan surat berharga yang dititipkan. Kehadiran tempat penitipan harta ini sangat berguna bagi reksa dana, karena dana yang dihimpun reksa dana dari para pemodal (investor) tidak disimpan oleh reksa dana maupun manajer investasi, melainkan disimpan oleh tempat penitipan harta. Baik uang maupun harta berupa surat-surat berharga milik reksa dana harus dititipkan kepada tempat penitipan harta dengan perjanjian kontrak antara reksa dana dengan tempat penitipan harta. 2.5.6 Wali Amanat (Trustee) Pasal 1 angka 30 UU PM menyatakan bahwa wali amanat adalah “Pihak yang mewakili kepentingan pemegang Efek yang bersifat utang.” Wali amanat (trustee atau trust agent) adalah lembaga yang dipercaya untuk mewakili kepentingan seluruh pemegang obligasi atau sekuritas kredit. Peranan wali amanat sangat diperlukan dalam emisi obligasi. Selain peranan tersebut, wali amanat juga berperan sebagai pemimpin dalam Rapat Umum Pemegang Obligasi (RUPO).60 Kewajiban wali amanat adalah mewakili para pemegang obligasi dan sekuritas kredit, baik di dalam maupun di luar pengadilan mengenai pelaksanaan hak-hak pemegang obligasi atau sekuritas kredit sesuai dengan syarat-syarat emisi, kontrak perwaliamanatan, atau berdasarkan peraturan perundangundangan yang berlaku. Wali amanat juga wajib melaksanakan kewajiban sebagaimana dimaksud dalam kewajiban di atas dengan penuh tanggung jawab dan wajib bertindak secara bijaksana, semata-mata demi kepentingan para pemegang obligasi atau sekuritas kredit. Wali amanat bertanggung jawab kepada para pemegang obligasi atau sekuritas kredit untuk setiap kerugian yang diderita akibat kelalaian, kecerobohan atau tindakan-tindakan yang disebabkan karena adanya per-

60

Keputusan Ketua Bapepam Nomor KEP-02/PM/1988.

Sistem Pasar Modal di Indonesia

55

tentangan kepentingan dengan tugas-tugas wali amanat sebagaimana tercantum dalam kontrak perwaliamanatan. Di dalam melaksanakan peranannya, wali amanat melakukan kegiatan antara lain meliputi: (i) menganalisa kemampuan dan kredibilitas emiten; (ii) melakukan penilaian terhadap harta kekayaan emiten yang dijadikan jaminan; (iii) memberikan nasehat kepada emiten; (iv) melakukan pengawasan terhadap pembayaran pokok pinjaman tepat pada waktunya; (v) melaksanakan tugas selaku agen utama pembayaran; (vi) mengikuti secara terus menerus perkembangan pengelolaan perusahaan emiten; dan (vii) mempersiapkan dokumen yang diperlukan bersama pihak emiten dan penjamin emisi.61 2.6 Mekanisme Perdagangan di Pasar Modal Pasal 1 angka 15 UU PM menjelaskan bahwa penawaran umum adalah suatu kegiatan penawaran efek yang dilakukan oleh emiten untuk menjual efek kepada masyarakat, berdasarkan tata cara yang diatur dalam UU PM dan peraturan pelaksanaannya. Mekanisme penawaran umum di pasar modal Indonesia secara garis besar terbagi dalam tiga tahap, yaitu proses sebelum emisi efek, tahap emisi (go public), dan tahap sesudah emisi efek. Secara umum dapat dikatakan, untuk setiap penerbitan surat berharga melalui pasar modal (emisi) ditetapkan syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh emiten. Syarat-syarat tersebut tergantung dari jenis efek yang akan diterbitkan, jenis bursa dimana efek akan didaftarkan serta jenis usaha emiten. Perusahaan yang akan melakukan emisi efek harus melalui tahapan-tahapan yang telah ditentukan, diantaranya adalah:62 1. Tahap persiapan. Pada tingkat persiapan ini terdapat beberapa kegiatan penting yang harus dilaksanakan seperti konsultasi antara dewan komisaris atau direksi dengan pemegang saham, tujuannya adalah untuk mendiskusikan beberapa alternatif yang tersedia bagi perusahaan untuk memenuhi kebutuhan dana apabila
61 62

Marzuki Usman (et al), op. cit., hlm. 56. Hulwati, op. cit., hlm. 18-22.

56

Insider Trading : Kejahatan Bisnis di Pasar Modal Indonesia

konsultasi tersebut telah memiliki alternatif tertentu, maka diadakan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). 2. Penyampaian letter of intent. Letter of intent merupakan surat penyampaian kehendak dari emiten untuk menerbitkan efek melalui pasar modal. Secara garis besar pernyataan itu mencakup beberapa informasi yaitu: a) pernyataan masuk menjadi emisi, b) perkiraan jumlah nominal, jenis efek, dan waktu emisi efek yang direncanakan, c) tujuan dan penggunaan dana emisi, d) data mengenai perusahaan, f) nama dan alamat bank yang menjadi relasi perusahaan, g) nama dan alamat notaris, penasehat hukum dan akuntan publik perusahaan. Letter of intent tersebut diajukan kepada Bapepam agar memberikan tanggapan terhadap keinginan perusahaan untuk melakukan emisi efek. 3. Penyampaian pernyataan pendaftaran. Berdasarkan tanggapan yang diberikan oleh Bapepam, kemudian perusahaan menunjuk lembaga penunjang serta mempersiapkan surat pernyataan pendaftaran emisi efek yang ditujukan kepada Menteri Keuangan cq. Ketua Bapepam. 4. Evaluasi oleh Bapepam. Menurut Pasal 75 UU PM, dalam proses evaluasi tersebut dijelaskan bahwa Bapepam wajib memperhatikan kelengkapan, kecukupan, objektivitas, kemudahan untuk dimengerti, dan kejelasan dokumen pernyataan pendaftaran untuk memastikan bahwa pernyataan pendaftaran memenuhi prinsip disclosure (keterbukaan). Dalam melakukan evaluasi tersebut, Bapepam tidak memberikan penilaian kelebihan dan kelemahan terhadap suatu efek. Kemudian menurut Pasal 74 ayat (1) UU PM, Bapepam memberikan pernyataan bahwa pendaftaran itu menjadi efektif setelah 40 hari sejak diterima pernyataan pendaftaran secara lengkap.

Sistem Pasar Modal di Indonesia

57

5. Dengar pendapat terbatas. Dalam tahap ini dilakukan dengar pendapat terbatas antara emiten, lembaga penunjang dan Bapepam yang merupakan tahap akhir sebelum izin untuk emisi efek diberikan oleh Bapepam. Pemberian izin emisi ini merupakan tahap yang menentukan apakah efek yang akan diterbitkan oleh perusahaan dapat ditawarkan kepada masyarakat. Hal yang harus diperhatikan oleh perusahaan yang akan go public adalah adanya kewajiban disclosure atau full and fair disclosure. Mekanisme transparansi yang wajib dipergunakan akan menjamin kebenaran semua informasi secara implisit dan mengandung unsur perlindungan terhadap investor. Bapepam, dalam hal ini selaku SRO, selalu mewajibkan kepada emiten untuk memberikan informasi kepada publik yang jelas, lengkap, dan tepat waktu. Ada tiga tahap informasi yang wajib disebarkan oleh emiten, yaitu: 1) informasi pada saat perusahaan akan go public; 2) informasi reguler berupa laporan triwulan dan tahunan; 3) informasi mengenai kejadian penting yang terjadi.63 Adapun tahapan-tahapan dalam proses tersebut di atas, gambaran secara garis besarnya adalah sebagai berikut: Gambar 1. Prosedur Penawaran Umum di Pasar Modal
Sebelum Emisi Emisi Sesudah Emisi

Intern Perusahaan

BAPEPAM

Primary Market

Secondary Market

Pelaporan

1. Rencana Go Public 2. RUPS 3. Penunjukan: - Underwriter (jika ada) - Profesi Penunjang - Lembaga Penunjang 4. Mempersiapkan dokumen-dokumen 5. Konfirmasi sebagai Agen Penjual oleh Penjamin Emisi 6. Kontrak pendahuluan dengan Bursa Efek 7. Public Expose 8. Penandatangan Perjanjian-perjanjian

1. Emiten menyampaikan Pernyataan Pendaftaran 2. Expose Terbatas di BAPEPAM 3. Evaluasi: - Kelengkapan Dokumen - Kecukupan dan Kejelasan Informasi - Keterbukaan (aspek hukum, akuntansi, keuangan, dan manajemen) 4. Komentar tertulis dalam 30 hari 5. Pernyataan Pendaftaran dinyatakan Efektif

1. Penawaran Oleh Sindikasi Penjamin Emisi dan Agen Penjual 2. Penjatahan kepada Investor oleh Sindikasi Penjamin Emisi dan Emiten 3. Penyerahan Efek kepada Investor

1. Emiten mencatatkan Efeknya di Bursa 2. Perdagangan Efek di Bursa

1. Laporan Berkala, misalnya Laporan Tahunan dan Laporan Tengah Tahunan 2. Laporan Kejadian Penting dan Relevan, misalnya akuisisi, pergantian Direksi

Sumber: Klinik Go Public & Investasi, BEJ, 1995.
63 Munir Fuady, Hukum Bisnis Dalam Teori dan Praktek, Buku Ketiga, Bandung, Citra Aditya Bakti, 1996, hlm. 51-53.

58

Insider Trading : Kejahatan Bisnis di Pasar Modal Indonesia

Setelah tahap sebelum emisi, tahapan selanjutnya yang harus dilakukan adalah tahapan emisi, dimana emiten untuk pertama kalinya melakukan penawaran saham secara terbatas di pasar perdana, selama jangka waktu yang ditentukan oleh Bapepam. Harga saham pada pasar perdana merupakan harga pasti yang tidak dapat ditawar-tawar, dan ketentuan harga ini telah disepakati bersama antara perusahaan penjamin emisi dan emiten pada tahap sebelumnya.64 Proses penawaran saham pada pasar perdana itu sendiri meliputi beberapa tahapan, yaitu:65 a. Pengumuman dan pendistribusian prospektus. b. Masa penawaran. c. Masa penjatahan. d. Masa pengembalian dana. e. Penyerahan efek. f. Pencatatan efek. Setelah masa penawaran umum di pasar perdana selesai, maka langkah terakhir yang harus dilakukan adalah pencatatan efek yang bersangkutan di bursa. Dengan pencatatan tersebut, artinya saham tersebut mulai diperdagangkan di pasar sekunder. Pasar sekunder merupakan pasar bagi efek yang telah dicatatkan di bursa. 66 Dengan kata lain, pasar sekunder merupakan kelanjutan dari pasar perdana. Begitu efek tersebut telah dicatatkan di di bursa, berarti secara resmi sudah diperdagangkan di pasar sekunder secara terus menerus. Pada pasar sekunder, harga saham bukan lagi didasarkan pada kesepakatan antara emiten dan penjamin emisi, melainkan sudah sepenuhnya ditentukan oleh hukum permintaan dan penawaran, di samping kondisi dari perusahaan yang menerbitkan saham itu sendiri.67 ***
Hulwati, op. cit., hlm 22. Marzuki Usman (et al), op. cit., hlm. 162-174. 66 Tjiptono Darmadji & Hendy M. Fakhrudin, op. cit., hlm. 77. 67 Hulwati, op. cit., hlm. 28.
64 65

Bab III

Kewajiban Keterbukaan Informasi Dan Penerapan Good Corporate Governance Dalam Kegiatan Perusahaan Di Pasar Modal

3.1 Prinsip Keterbukaan Dalam Perdagangan Saham. Kewajiban keterbukaan informasi dalam sebuah sistem pasar modal merupakan persyaratan utama untuk dapat berjalannya pasar modal dengan efisien dan transparan. UU PM Indonesia, di dalam pasal-pasalnya juga telah mengatur tentang kewajiban untuk memenuhi prinsip keterbukaan, yang merupakan suatu hal penting dalam dunia pasar modal, karena informasi tersebut merupakan bahan pertimbangan dalam berinvestasi, juga mengatur konsekuensi dan tanggung jawab atas kerugian serta ancaman pidana bagi pelaku pasar modal yang tidak melakukan kewajiban prinsip keterbukaan sesuai dengan ketentuan undang-undang tersebut.1
1 Cyril Noerhadi, “Pencatatan dan Perdagangan Saham di Bursa Efek Jakarta”, makalah Seminar Nasional Hukum Ekonomi, Program Magister Ilmu Hukum Universitas Diponegoro, 25 Oktober 1996, hlm. 1

60

Insider Trading : Kejahatan Bisnis di Pasar Modal Indonesia

Perdagangan efek yang wajar adalah penyelenggaraan perdagangan berlangsung secara alamiah, dalam pengertian, setiap kekuatan penawaran dan permintaan dilakukan berdasarkan mekanisme pasar yang bebas dari adanya keadaan yang tidak mendukung terciptanya keadaan pasar yang sesuai dengan keinginan para pelakunya, seperti adanya penyampaian sistem informasi yang akurat dan tepat waktu dari emiten, terhindarnya pasar dari usahan-usaha pihak tertentu untuk memperoleh keuntungan dari ketidaktahuan pihak lainnya dan adanya sistem serta tata cara pelaksanaan perdagangan yang mendukung terciptanya kewajaran dalam melakukan perdagangan di bursa efek. Sesuai dengan prinsip keterbukaan tersebut, sebuah perusahaan yang akan go publik, pada dasarnya harus siap dengan segala konsekuensi keterbukaan yang dituntut dalam UU PM. Keterbukaan perusahaan sangat diperlukan, sehingga masyarakat investor mengetahui dengan pasti apa yang dikerjakan oleh perusahaan dan ke arah mana perusahaan tersebut bergerak. Kewajiban membuka informasi bagi perusahaan publik terhadap masyarakat ditujukan demi pertumbuhan pasar modal yang sehat, transparan, dan efisien.2 Keterbukaan merupakan suatu kewajiban bagi setiap perusahaan yang akan menjual sahamnya melalui pasar modal. Informasi yang harus didisclose adalah seluruh informasi mengenai keadaan perusahaannya yang meliputi aspek keuangan, hukum, manajemen, dan harta kekayaannya kepada masyarakat.3 Keterbukaan terhadap kondisi perusahaan yang akan melakukan emisi saham akan membuat calon investor dapat memahami dan kemudian memutuskan kebijakan investasinya.4
2 Noorjahan Meurling, “Disclosure Obligation”, dalam makalah “Kebutuhan Akan Penataan Pasar Modal di Indonesia Melalui Perangkat Hukum”, Yayasan Pusat Pengkajian Hukum, Jakarta, 1992, hlm. 42 3 I Nyoman Tjager, “Pokok-pokok Materi Undang-undang Pasar Modal”, makalah seminar Potensi-potensi Kejahatan di Bursa Efek, Fakultas Hukum UGM, Yogyakarta, 1996, hlm. 3. 4 David L. Ratner, op. cit., hlm. 254.

Kewajiban Keterbukaan Informasi dan Penerapan Good Corporate Governance Dalam Kegiatan Perusahaan di Pasar Modal

61

Emiten atau perusahaan yang akan melakukan emisi saham harus memberikan prospektus kepada calon investor mengenai segala fakta material yang dapat mempengaruhi pilihan calon investor tersebut. Setiap prospektus yang dikeluarkan oleh emiten, dilarang untuk memuat keterangan yang tidak benar tentang fakta material atau tidak memuat keterangan yang benar tentang fakta material yang diperlakukan agar prospektus tidak memberikan gambaran yang menyesatkan.5 Pernyataan pendaftaran yang dilakukan dalam rangka penawaran umum, apabila memuat informasi yang tidak benar mengenai fakta material, maka setiap pihak yang terlibat di dalamnya baik direksi, komisaris, profesi penunjang dan lembaga penunjang dalam pasar modal, bertanggung jawab baik secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama terhadap kerugian yang ditimbulkan dari perbuatan tersebut.6 Fakta material yang diperoleh masyarakat investor secara benar dari pihak emiten, maka hal tersebut memposisikan calon investor pada posisi yang adil, artinya setiap pihak di pasar modal mempunyai hak yang sama dalam memutuskan untuk menjual atau membeli saham perusahaan tertentu. Posisi berimbang tersebut secara langsung akan dapat mengontrol pasar modal dari praktek penipuan, manipulasi pasar maupun insider trading yang hanya akan menguntungkan pihak tertentu saja. Keterbukaan informasi ini diwajibkan karena pada dasarnya calon investor mempunyai hak untuk mengetahui secara detail mengenai segala sesuatu tentang bisnis perusahaan, di mana mereka nantinya akan menempatkan uang. Untuk itu harus dapat dimengerti, bahwa hal tersebut juga merupakan suatu tahap peralihan dari perusahaan privat menjadi suatu perusahaan publik. Aspek terpenting dalam proses go publik adalah pengertian mengenai informasi apa yang diperlukan dan kemudian menyediakannya dalam keadaan yang jelas, terbuka dan benar.7
Penjelasan Pasal 78 ayat (1) UU PM. Penjelasan Pasal 80 ayat (1) UU PM. 7 Asril Sitompul, Pasar Modal (Penawaran Umum dan Permasalahannya), Citra Aditya Bakti, Bandung, 2000, hlm. 56
5 6

62

Insider Trading : Kejahatan Bisnis di Pasar Modal Indonesia

Emiten atau perusahaan publik merupakan entitas bisnis yang diwajibkan untuk menerapkan prinsip-prinsip corporate governance atau good corporate governance. Seperti kita ketahui bahwa prinsip-prinsip tersebut mengembangkan adanya kontrol dan tanggung jawab antara pengurus perseroan dengan pemegang saham (shareholders) dan pihak yang terkait (stakeholder) seperti pegawai dan pihak-pihak yang langsung atau tidak langsung berkepentingan dengan perseroan. Implikasi yang langsung terhadap emiten sehubungan dengan penerapan prinsip-prinsip tersebut pada umumnya berhubungan dengan kewajiban-kewajiban untuk memasukkan, mendefinisikan, memformulasikan serta menerapkan kaidah-kaidah akuntansi serta kewajiban untuk menjalankan keterbukaan kepada publik.8 Konsekuensi yang dihadapi oleh perusahaan yang akan melakukan go publik diantaranya adalah jumlah pemegang saham menjadi banyak, tuntutan terhadap fairness dan fairplay semakin tinggi, adanya kewajiban membuka diri, dan pemisahan yang tegas antara pemilik dengan manajemen perusahaan. Hal ini berbeda sekali dengan suatu perusahaan yang belum go publik, yang di Indonesia mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: (1) Controlling interest berada pada satu tangan (pendiri); (2) Tidak ada pemisahan yang tegas antara pemilik dan manajemen, sehingga tidak ada yang namanya manajemen profesional; (3) Adanya hubungan afiliasi sehingga potensial menimbulkan conflict of interest; dan (4) Umumnya bersifat perusahaan keluarga.9 Dalam keterbukaan perusahaan tersebut, muncul suatu pertanyaan yakni sejauh manakah keterbukaan ini dimungkinkan, yaitu hal-hal apa saja yang dapat diinformasikan oleh suatu perusahaan kepada masyarakat dan sebaliknya, hal-hal mana saja yang diperlukan oleh masyarakat sebelum mengambil
8 Indra Safitri, Hukum Pasar Modal, makalah pada seminar Hukum Pasar Modal, Jakarta, 20 September 1999, hlm. 31. 9 Munir Fuady, loc. cit., hlm. 2

Kewajiban Keterbukaan Informasi dan Penerapan Good Corporate Governance Dalam Kegiatan Perusahaan di Pasar Modal

63

keputusan untuk membeli atau menjual saham yang dimilikinya.10 Hukum dalam satu sisi terus mengejar dan memerinci sedetil-detilnya tentang hal apa saja yang harus didisclose oleh pihak-pihak penyandang kewajiban disclosure. Akan tetapi, di sisi lain, hukum juga harus memproteksi kepentingankepentingan tertentu dari pihak yang diwajibkan membuka informasi tersebut. Kepentingan tersebut seringkali bertentangan dengan kewajiban disclosure. Misalnya kepentingan suatu emiten untuk tidak mendisclose tentang informasi yang tergolong rahasia perusahaan. Pada dasarnya, perusahaan yang akan melakukan proses go publik akan menempuh upaya sebagai berikut:11 a. Manajemen perusahaan (emiten) menetapkan terlebih dahulu rencana mencari dana melalui go publik. b. Rencana tersebut kemudian dimintakan persetujuan pemegang saham dan perubahan anggaran dasar dalam RUPS. c. Penunjukan profesi penunjang dan lembaga penunjang untuk membantu menyiapkan kelengkapan dokumen: 1) Penjamin emisi untuk membantu emiten dalam proses emisi saham; 2) Akuntan publik untuk melakukan audit atas laporan keuangan emiten untuk dua tahun terakhir dengan pendapat wajar tanpa syarat (unqualified opnion); 3) Notaris untuk melakukan perubahan Anggaran Dasar, membuat akta-akta perjanjian dalam rangka penawaran umum dan juga notulen-notulen rapat; 4) Konsultan hukum untuk memberikan pendapat dari segi hukum (legal opinion);12
Ibid. Najib, Pelaksanaan Akuisisi Perusahaan yang Telah Go Public Melalui Pasar Modal Indonesia: Studi Kasus pada Bursa Efek Jakarta, Skripsi, FH UII, Yogyakarta, 1993, hlm. 40-52. 12 Legal opinion adalah surat yang dibuat dan dikeluarkan oleh konsultan hukum mengenai kondisi dan posisi para pihak dalam suatu transaksi serta konsekuensi hukum yang timbul dari tindakan yang akan dilakukan oleh para pihak. A. Zen Umar Purba, “Pendapat Hukum dan Pemeriksaan Dalam Rangka Pasar Modal Indonesia”, makalah dalam seminar Legal Audit dan Legal Opinion Dalam Aktivitas Bisnis, Senat Mahasiswa Unpar, Bandung, 1994, hlm. 1.
10 11

64

Insider Trading : Kejahatan Bisnis di Pasar Modal Indonesia

5) Perusahaan penilai untuk melakukan penilaian atas aktiva yang dimiliki oleh emiten (jika diperlukan); 6) Wali amanat, sebagai wali bagi emiten yang akan melakukan emisi obligasi; 7) Penanggung (trustee); 8) Biro Administrasi Efek; 9) Tempat penitipan harta (kustodian); 3.2 Kewajiban Disclosure Emiten Pada Saat Go Publik Pada saat seorang investor membeli saham di pasar modal, dia sudah harus mengetahui dengan pasti segala sesuatu tentang saham yang bersangkutan. Ia harus mengetahui informasi halhal penting yang menyangkut dengan perusahaan penerbit saham yang bersangkutan, yang disebut juga dengan emiten. Hal ini didasarkan bahwa dari informasi itulah pihak investor dapat memprediksikan apakah saham yang akan dibelinya itu bagus atau tidak, yang tujuannya adalah apakah dengan membeli saham tersebut investor akan diuntungkan atau tidak. Oleh karena itu, hukum menempatkan kewajiban keterbukaan ini menjadi kewajiban hukum, bahkan seringkali menjadi titik fokus utama dari pengaturan hukum tentang pasar modal yang sehat dan transparan. Adapun cara-cara suatu perusahaan melakukan disclosure tentang kinerja dan kekayaan perusahaannya dalam proses go publik, dapat menempuh langkah-langkah sebagai berikut: 3.2.1 Keterbukaan Melalui Prospektus Salah satu mekanisme untuk menjamin keterbukaan informasi bagi investor adalah adanya keharusan untuk menyediakan suatu dokumen yang disebut dengan “prospektus” bagi suatu perusahaan yang dalam proses go publik. Prospektus merupakan salah satu dokumen pokok dalam rangka penawaran umum. Oleh karena itu, informasi yang terkandung di dalamnya harus memuat hal-hal yang benar-benar menggambarkan keadaan emiten yang bersangkutan sehingga keterangan atau informasi tersebut dapat dijadikan dasar pertimbangan untuk menetapkan keputusan investasinya. Apabila informasi yang

Kewajiban Keterbukaan Informasi dan Penerapan Good Corporate Governance Dalam Kegiatan Perusahaan di Pasar Modal

65

disajikan tidak benar tentang fakta yang material, atau tidak mengungkapkan informasi yang benar tentang fakta material, hal tersebut dapat mengakibatkan pemodal mengambil keputusan investasi yang tidak tepat. Suatu prospektus harus benar-benar berisikan informasi penting apa adanya. Pada saat sekarang ini, banyak tuduhan yang ditujukan kepada emiten yang akan melakukan go publik yang menyediakan prospektus secara tidak layak, yang bertujuan hanya untuk: (1) Sekedar memenuhi kewajiban yuridisnya (2) Sekedar menjadi pengangkat citra suatu perusahaan. (3) Sekedar menjadi iklan bagi suatu perusahaan agar sahamsahamnya laku dijual di pasar modal.13 Akibat yang ditimbulkan pada akhirnya menempatkan prospektus tidak lain hanya sebagai dokumen rutin dalam perusahaan yang tidak mempunyai peran dan arti apa-apa lagi. Kedudukan prospektus itu sendiri, dalam proses go publiknya suatu perusahaan, bersifat sebagai suatu informasi yang berbedabeda tingkatannya. Sikap dari calon investor menempatkan kedudukan prospektus berbeda-beda, tergantung kepada keperluan mereka. Hal ini tidak lain dari sifat prospektus itu sendiri yang hanya memberikan informasi awal tentang kinerja dan kekayaan suatu perusahaan yang tidak terlalu mempengaruhi harga saham dari perusahaan itu sendiri di pasar modal. Keadaan ekonomi dan situasi pasar secara makro justeru lebih penting dan mempengaruhi harga pasar dibandingkan informasi tertentu yang terkandung dalam prospektus itu sendiri. Jenis-jenis prospektus dalam praktik di pasar modal Indonesia terdiri atas: (a) Prospektus biasa. (b) Prospektus ringkas (wajib dimuat dalam dua surat kabar). (c) Prospektus dalam rangka penawaran umum oleh perusahaan menengah atau kecil.14
13 14

Munir Fuady, op. cit., hlm. 81 Tjiptono Darmadji & Hendy M. Fakhruddin, op. cit., hlm. 53.

66

Insider Trading : Kejahatan Bisnis di Pasar Modal Indonesia

UU PM memberikan rambu-rambu yuridis bagi suatu prospektus, yaitu sebagai berikut: (1) Dilarang memuat hal-hal: (a) Keterangan yang tidak benar tentang fakta material. (b) Tidak memuat keterangan yang benar tentang fakta material. (2) Memuat semua rincian tentang fakta material yang dapat mempengaruhi keputusan pemodal. (3) Fakta dan pertimbangan yang paling penting ditempatkan pada tempat yang awal. (4) Ekstra hati-hati dalam menggunakan foto, diagram, atau tabel karena sangat potensial untuk terjadinya penyesatan informasi. (5) Diungkapkan dalam bahasa yang jelas dan komunikatif. (6) Pengungkapan fakta material harus ditekankan sesuai dengan bidang usaha atau sektor industrinya. (7) Mesti terdapat pernyataan dari lembaga dan profesi penunjang pasar modal yang disebut dalam prospektus tersebut dan bertanggung jawab sepenuhnya terhadap data yang disajikan, sesuai dengan fungsi mereka dan peraturan yang berlaku di wilayah Republik Indonesia. (8) Dalam hubungannya dengan proses penawaran umum, harus dinyatakan bahwa pihak yang terafiliasi dilarang memberikan keterangan atau pernyataan mengenai data yang tidak diungkapkan dalam prospektus tanpa persetujuan tertulis dari emiten dan penjamin pelaksana emisi. (9) Dalam suatu prospektus, sekurang-kurangnya memuat: (a) Uraian tentang penawaran umum. (b) Tujuan dan penggunaan dana penawaran umum. (c) Analisis dan pembahasan mengenai kegiatan dan keuangan perusahaan. (d) Risiko usaha. (e) Data keuangan. (f) Keterangan dari segi hukum. (g) Informasi mengenai pemesanan pembelian efek, dan (h) Keterangan tentang Anggaran Dasar.

Kewajiban Keterbukaan Informasi dan Penerapan Good Corporate Governance Dalam Kegiatan Perusahaan di Pasar Modal

67

(10)Harus ada klausula huruf besar (yakni klausula yang dicetak dengan huruf besar), yaitu terhadap hal-hal sebagai berikut:15 (a) Bapepam tidak memberikan pernyataan menyetujui atau tidak menyetujui efek ini. Tidak juga menyatakan kebenaran atau kecukupan isi prospektus ini. Setiap pernyataan yang bertentangan dengan hal-hal tersebut adalah perbuatan melanggar hukum. (b) Emiten dan penjamin emisi efek (jika ada) bertanggung jawab sepenuhnya atas kebenaran semua informasi atau fakta material serta kejujuran pendapat yang tercantum dalam prospektus ini. (c) Jika direncanakan untuk menstabilisasikan harga efek tertentu, maka mesti ada klausula huruf besar sebagai berikut: Dalam rangka mempertahankan harga pasar efek yang sama, baik jenis maupun kelasnya, dengan yang ditawarkan pada penawaran umum ini, penjamin emisi dapat melakukan stabilisasi harga pada tingkat harga yang lebih tinggi dari yang mungkin terjadi di bursa efek sekiranya tidak dilakukan stabilisasi harga. Jika penjamin emisi melakukan stabilisasi harga, maka baik stabilisasi harga maupun penawaran umum tersebut dapat dihentikan sewaktu-waktu. Akan tetapi, pada kenyataannya isi dari suatu prospektus tidak lain hanya berisikan: 1) informasi bersifat kualitatif, 2) berisi taksiran-taksiran umum, 3) belum siap pakai, 4) rentang waktu yang cukup panjang antara pembuatan prospektus dengan saat penawaran saham, dan 5) risiko-risiko yang harus disebutkan dalam prospektus itu sendiri, yang mempunyai dampak langsung terhadap perusahaan seperti risiko bisnis, risiko terhadap industri dan risiko tidak likuidnya saham.16
15 Menurut penjelasan Pasal 78 ayat (2), ketentuan ini dimaksudkan untuk mencegah adanya pihak-pihak yang menggunakan keterangan yang tidak benar dengan menyebutkan bahwa Bapepam telah memberikan persetujuan, izin, pengesahan, penelitian, atau penilaian atas berbagai segi keunggulan suatu efek dengan maksud untuk mempengaruhi masyarakat agar membeli efek yang ditawarkan. 16 Munir Fuady, op. cit., hlm. 86

68

Insider Trading : Kejahatan Bisnis di Pasar Modal Indonesia

Menurut Tjiptono Darmadji dan Hendy M. Fakhruddin,17 prospektus merupakan “Setiap informasi tertulis sehubungan dengan penawaran umum dengan tujuan agar pihak lain membeli efek.” Menurut mereka, penyusunan prospektus harus mengacu kepada hal-hal sebagai berikut: 1) Prospektus harus memuat semua rincian dan fakta material mengenai penawaran umum dari emiten. 2) Prospektus harus dibuat sedemikian rupa sehingga jelas dan komunikatif. 3) Fakta-fakta dan pertimbangan-pertimbangan yang paling penting harus dibuat ringkasannya dan diungkapkan dalam bagian awal prospektus. 4) Emiten, penjamin pelaksana emisi, dan lembaga serta profesi penunjang pasar modal bertanggung jawab untuk menentukan dan mengungkapkan fakta secara jelas dan mudah dibaca. Ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan oleh calon investor dalam mencermati prospektus yang dikeluarkan oleh emiten, yaitu:18 1) Bidang usaha; 2) Jumlah saham yang ditawarkan; 3) Nilai nominal dan harga penawaran; 4) Riwayat singkat perusahaan; 5) Tujuan go publik (rencana penggunaan dana) 6) Kegiatan dan prospek usaha 7) Risiko usaha; 8) Kebijakan dividen; 9) Kinerja keuangan perusahaan; dan 10) Agen-agen penjual. 3.2.2 Kedudukan Yuridis Prospektus Dalam Proses Go Publik UU PM Indonesia dengan tegas memberlakukan prinsip bahwa prospektus adalah suatu dokumen hukum. Akibat yang ditimbulkannya adalah, apabila ada seseorang menawarkan atau
Tjiptono Darmadji dan Hendy M. Fakhruddin, op. cit., hlm 53 Wawancara penulis dengan Robinson Simbolon, tanggal 16 Oktober 2003 di Jakarta.
17 18

Kewajiban Keterbukaan Informasi dan Penerapan Good Corporate Governance Dalam Kegiatan Perusahaan di Pasar Modal

69

menjual suatu efek dengan menggunakan prospektus yang memuat informasi yang tidak sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku, sedangkan pihak tersebut mengetahui atau sepatutnya mengetahui hal yang bersangkutan, maka dia wajib bertanggung jawab secara hukum atas kerugian yang timbul sebagai akibat dari perbuatan tersebut. Untuk menerapkan aturan tanggung jawab tersebut, hukum mensyaratkan bahwa sewaktu membeli efek, pihak pembeli efek yang bersangkutan tidak mengetahui kebenaran isi prospektus tersebut. Jadi, jika pihak investor telah mengetahui ketidakbenaran isi prospektus tersebut tetapi masih mau membeli efeknya, maka tentunya dia tidak dapat meminta ganti kerugian. Sebab hal ini berarti pembeli tersebut sewaktu membeli efek tersebut telah melakukan suatu tindakan yang disebut risk assumption, yaitu siap untuk ambil risiko.19 Pasal 81 UU PM menyatakan bahwa pihak-pihak yang harus bertanggung jawab secara yuridis terhadap pihak-pihak yang menderita kerugian yang diakibatkan oleh adanya prospektus yang menyesatkan tersebut, adalah setiap pihak yang menawarkan atau menjual efek dengan menggunakan prospektus yang menyesatkan tersebut. Pihak-pihak ini dapat terdiri atas emiten, underwriter, pialang, dan bahkan pihak investor yang menjual kembali efek yang telah dibelinya berdasarkan prospektus yang menyesatkan tersebut. Mereka ini semua harus bertanggung jawab secara hukum. 3.2.3 Keterbukaan Melalui Dokumen Lain Selain melalui informasi yang tersedia dalam prospektus, pihak calon investor juga dapat memperoleh informasi di luar prospektus yang tersedia bagi publik. Informasi tersebut disediakan oleh pihak Bapepam yang dapat diperoleh oleh siapa saja yang berminat untuk memperoleh informasi tentang efek suatu perusahaan tertentu sebelum melakukan investasinya.
19 Pasal 81 ayat (2) UU PM menyatakan bahwa pembeli efek yang telah mengetahui bahwa informasi yang dikandung dalam suatu prospektus yang tidak benar dan menyesatkan tetapi tetap melakukan transaksi pembelian saham, tidak dapat mengajukan tuntutan ganti rugi terhadap kerugian yang ditimbulkan dari transaksi efek dimaksud.

70

Insider Trading : Kejahatan Bisnis di Pasar Modal Indonesia

Informasi ini misalnya legal audit (pemeriksaan hukum) yang dilakukan dengan tujuan untuk kepentingan merger dan akuisisi. Selain itu, juga berupa laporan keuangan yang dihasilkan oleh akuntan publik yang hasilnya diumumkan secara luas melalui sarana percetakan atau lainnya. 3.3 Kewajiban Disclosure Emiten Setelah Go Publik Perusahaan yang telah melakukan penjualan sahamnya kepada masyarakat maka disebut sebagai perusahaan publik.20 Terbukanya kepemilikan saham suatu perusahaan menimbulkan beberapa perubahan yang mau tidak mau harus dilakukan oleh pihak emiten. Perubahan tersebut biasanya tampak dari pola dan misi manajemen perusahaan, dari tradisional menjadi modern dan profesional, perubahan gaya manajemen dari informal menjadi formal. Perubahan tersebut merupakan konsekuensi logis bagi emiten, sehingga emiten tidak dapat dengan semaunya sendiri mengelola perusahaan. Selain persoalan manajemen dan misi perusahaan, emiten berkewajiban memberitahukan kepada pemegang saham, investor serta kepada pihak pengawas bursa efek, dalam hal ini kepada Bapepam.21 Kewajiban ini terus berlangsung selama perusahaan yang bersangkutan masih merupakan perseroan terbuka. Kewajiban-kewajiban tersebut adalah: 1. Membuat laporan berkala yaitu:22 a. Laporan keuangan tahunan, dengan ketentuan: 1) Laporan keuangan yang telah diaudit; 2) Disampaikan dalam rangkap enam; 3) Jangka waktu penyampaian paling lambat 120 hari setelah tanggal laporan keuangan. b. Laporan keuangan tengah tahunan, dengan ketentuan: 1) disampaikan dalam rangkap enam; 2) jangka waktu penyampaian yaitu 60 hari untuk laporan unaudited; 90 hari untuk laporan limited review; dan 120 hari untuk laporan audited. c. Laporan penggunaan dana hasil remisi disampaikan setiap tiga bulan sekali.

Kewajiban Keterbukaan Informasi dan Penerapan Good Corporate Governance Dalam Kegiatan Perusahaan di Pasar Modal

71

2. Laporan kejadian penting dan material, yaitu kewajiban untuk melaporkan setiap kejadian penting yang diperkirakan dapat mempengaruhi harga efek di bursa.23 3. Laporan penjualan saham lebih dari 5%, yaitu pemegang saham menjual sahamnya lebih dari 5% dari jumlah saham yang tercatat wajib melaporkannya kepada Bapepam.24 Laporan yang wajib disampaikan emiten kepada Bapepam tersebut dapat dipergunakan oleh umum, artinya masyarakat selain pemegang saham perusahaan emiten dapat juga mengikuti perkembangan kinerja emiten dan menjadi bahan pertimbangan dalam keputusan berinvestasi di pasar modal. 3.4 Penerapan Good Corporate Governance Dalam Kegiatan Perusahaan 3.4.1 Pengertian Good Corporate Governance Pengertian Good Corporate Governance (selanjutnya disingkat GCG) menurut Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) adalah “Corporate governance is the system by which business corporations are directed and controlled. The corporate governance structure specifies the distribution of rights and responsibilities among different participants in the corporation, such as, the board managers, shareholders, and other stakeholder, and spells out the rules and procedures for making decisions on corporate affairs. By doing this, it also provides the structure through
20 Perusahaan publik adalah perseroan yang sahamnya telah dimiliki sekurangkurangnya oleh 300 (tiga ratus) pemegang saham dan memiliki modal disetor sekurangkurangnya Rp 3.000.000.000 (tiga milyar rupiah) atau suatu jumlah pemegang saham dan modal disetor yang ditetapkan dengan peraturan pemerintah. Pasal 1 angka 22 UU PM. 21 Di Amerika Serikat adalah kepada Security Exchange Commission. 22 Pasal 86 huruf (a) UU PM 23 Dalam pasal 1 angka 7 UU PM, informasi atau fakta material adalah informasi atau fakta penting dan relevan mengenai peristiwa, kejadian, atau fakta yang dapat mempengaruhi harga efek pada bursa efek dan atau keputusan pemodal, calon pemodal, atau pihak lain yang berkepentingan atas informasi atau fakta tersebut. Lebih lanjut hal ini dijabarkan dalam Surat Keputusan Ketua Bapepam No.Kep-86/PM/1996 tentang Keterbukaan Informasi yang Harus Segera Diumumkan Kepada Publik. 24 Pasal 87 UU PM.

72

Insider Trading : Kejahatan Bisnis di Pasar Modal Indonesia

which the company objectives are set, and the means of attaining those objectives and monitoring performance.25 Pengertian GCG menurut OECD tersebut menjelaskan corporate governance sebagai sekumpulan hubungan antara pihak manajemen perusahaan, komisaris dan pemegang saham, dan pihak lain yang mempunyai kepentingan dengan perusahaan. Corporate governance juga mensyaratkan adanya struktur, perangkat untuk mencapai tujuan, dan pengawasan atas kinerja. Corporate governance yang baik dapat memberikan perangsang atau insentif yang baik bagi pengurus dan manajemen untuk mencapai tujuan yang merupakan kepentingan perusahaan dan pemegang saham dan harus memfasilitasi pemonitoran yang efektif, sehingga mendorong perusahaan untuk menggunakan sumber daya dengan lebih efisien. Indonesia telah mempunyai aturan tentang GCG yang dituangkan dalam Indonesian Code of Corporate Governance yang disusun oleh Komite Nasional Bagi Pengelolaan Perusahaan, yang dibentuk sebagai lembaga non-pemerintah berdasarkan Keputusan Menteri Koordinator Ekonomi, Keuangan dan Industri Nomor Kep-10/M.EKUIN/08/1999 tanggal 19 Agustus 1999. Badan ini telah merancang dan merumuskan pedoman tentang pengelolaan perusahaan yang bertujuan untuk memaksimalkan nilai perusahaan dan pemegang saham dengan mengembangkan transparansi, kepercayaan, dan pertanggungjawaban dan dengan menetapkan sistem pengelolaan yang mendorong dan mempromosikan kreativitas dan kewirausahaan yang progresif.26 Sebuah perusahaan yang berstatus sebagai perusahaan publik merupakan perusahaan terbuka dan jenis perseroan yang menjadi subyek utama dalam hal diterapkannya GCG. Dengan karakteristik sebagai perusahaan publik yang kepemilikan sahamnya serta komposisinya tersebar pada banyak pemegang saham, maka menimbulkan banyak perbedaan kepentingan. Kepentingan yang
25 Iman Syahputra Tunggal & Amin Widjaja Tunggal, Membangun Good Corporate Governance, Jakarta, Harvarindo, 2002, hlm. 1. 26 Indra Safitri, op. cit., hlm. 36.

Kewajiban Keterbukaan Informasi dan Penerapan Good Corporate Governance Dalam Kegiatan Perusahaan di Pasar Modal

73

menyangkut hak dan tanggung jawab komisaris dan direksi di dalam menjalankan usaha perseroan, kepentingan pemegang saham mayoritas yang umumnya banyak mempengaruhi berbagai langkah perseroan dan yang terakhir menyangkut kepentingan pemegang saham minoritas atau investor yang membeli sahamsaham perseroan melalui meka-nisme pasar modal. Sepanjang kaidah-kaidah GCG dikembangkan untuk menciptakan sinergi usaha antara perseroan dan pemegang saham, maka mekanisme yang harus dibentuk adalah mekanisme yang menetapkan adanya standar kontrol yang kuat ditambah dengan berbagai penerapan hukum yang dapat memberikan kepastian hukum kepada prilaku usaha perseroan dan pemegang saham. Perseroan yang mampu menerapkan kaedah-kaedah corporate governance memiliki kesempatan untuk mengakses sumber-sumber dana murah. Menurut The Forum for Corporate Governance in Indonesia, jika GCG diterapkan dengan baik maka hasil yang akan diperoleh adalah:27 1. Lebih mudah untuk memperoleh modal. 2. Biaya modal yang lebih rendah. 3. Memperbaiki kinerja usaha. 4. Mempengaruhi harga saham. 5. Memperbaiki situasi ekonomi. Corporate governance yang baik merupakan langkah yang penting dalam membangun kepercayaan pasar dan mendorong arus investasi yang lebih stabil dan bersifat jangka panjang. Definisi yang berkaitan dengan corporate governance dalam arti yang sempit adalah “Corporate governance refers to internal relations within the corporate entity that determine decision making power and accountability” (corporate governance merujuk kepada hubungan internal di dalam suatu entitas perusahaan yang mencerminkan kekuasaan pengambilan keputusan dan pertanggungjawaban), sedangkan dalam arti yang lebih luas didefinisikan sebagai berikut: “In it’s most com27 Iman Sjahputra Tunggal & Amin Widjaja Tunggal, Memahami Konsep Corporate Governance, Jakarta, Harvarindo, 2002, hlm. 10.

74

Insider Trading : Kejahatan Bisnis di Pasar Modal Indonesia

prehensive sense, “corporate governance” includes every force that bears on decision making of the firm. That would encompass not only the control rights of shareholder, but also the contractual convenants and insolvency powers of debt holders, the commitments entered into with employee and customer and suppliers, the regulations issued by governmental agencies, and statues enacted by parlementary bodies. In addition, the firms decision are powerfully affected by competitive condition in the various market in which operates”28. Definisi tersebut mencerminkan bahwa praktik yang berkaitan dengan corporate governance adalah menyangkut hal-hal yang berhubungan dengan hubungan internal yang terjadi di dalam perseroan dalam hal menentukan hak dan kewajiban serta aspek akuntabilitas. Hubungan internal tersebut tidak hanya sekedar tanggung jawab pengurus perseroan kepada pemegang sahamnya, namun juga tanggung jawab terhadap ketidakmampuan perseroan untuk melunasi pembayaran hutang, kewajiban terhadap pegawai konsumen serta pemasok dan pelanggaran yang dilakukan terhadap ketentuan hukum yang berlaku. Pedoman ini juga bertujuan bahwa perusahaan harus memperhatikan berbagai kepentingan yang berbeda dari para pihak yang mempunyai kepentingan terhadap perusahaan. Perusahaan harus meminimalkan beban biaya untuk menengahi berbagai kepentingan yang berbeda dari para pihak yang berkepentingan, dimana hal ini harus dicapai melalui cara yang rasional dan adil. Para pemegang saham harus melakukan segala usaha untuk memutuskan dan melakukan tindakan-tindakan berdasarkan moralitas yang baik dan prinsip-prinsip warga perusahaan yang baik dan tanggung jawab sosial. 3.4.2 Prinsip-prinsip Good Corporate Governance OECD, sebagai organisasi internasional kerjasama ekonomi dan pembangunan, memprakarsai lahirnya GCG yang di

28

Indra Safitri, op. cit., hlm. 28.

Kewajiban Keterbukaan Informasi dan Penerapan Good Corporate Governance Dalam Kegiatan Perusahaan di Pasar Modal

75

dalamnya terkandung prinsip-prinsip (Principles of Corporate Governance) yang mencakup lima bidang, yaitu:29 1. Prinsip atas hak-hak pemegang saham (The Rights of Shareholders), yaitu hak untuk menerima setiap informasi yang relevan dan penting, memiliki kesempatan untuk berpatisipasi di dalam setiap keputusan yang berkaitan dengan perubahan kebijaksanaan perseroan yang bersifat fundamental, dan hak untuk menikmati pembagian keuntungan perseroan di antara pemegang saham. Terdapat mekanisme kontrol yang transparan dan efisien dan setiap pemegang saham wajib mengetahui dan menyadari bahwa akan timbul biaya dan keuntungan bila mereka menjalankan setiap hak dan kewajiban yang melekat pada saham atau efek. 2. Prinsip atas perlakuan yang sama (The Equitable Treatment of Shareholders). Para pemegang saham harus diperlakukan secara adil berdasarkan prinsip kesetaraan, khususnya bagi pemegang saham minoritas dan pemegang saham asing, yaitu perlakuan atas informasi material dan larangan atas praktek perdagangan orang dalam (insider trading dan self dealing) baik yang dilakukan antar orang dalam maupun dengan orang luar, serta semua pemegang saham harus dilakukan sama. Setiap komisaris dan pengurus perseroan wajib untuk menyampaikan setiap kepentingan mereka di dalam setiap transaksi yang mereka lakukan. Perseroan harus memberikan kepada para pemegang saham informasi yang diperlukan mengenai perseroan sehingga memungkinkan pemberian suara yang bermanfaat. Perseroan tidak boleh berpihak kepada salah satu pihak manapun. 3. Peraturan tentang pihak terkait dengan perusahaan (The Role of Stakeholder in Corporate). Wajib diformulasikan ke dalam peraturan hukum dan kerangka hukum yang disusun hendaknya dapat mendorong kegiatan yang berkaitan dengan kerjasama antara perseroan dan pemegang saham

29 Indra Safitri, op. cit., hlm. 15. Iman Sjahputra Tunggal & Amin Widjaja Tunggal, op. cit., hlm. 11.

76

Insider Trading : Kejahatan Bisnis di Pasar Modal Indonesia

lainnya sehingga menghasilkan kesejahteraan, kesempatan kerja dan pertumbuhan usaha yang positif. 4. Penyampaian keterbukaan informasi yang tepat dan transparan (Timely and Accurate Disclosure and Transparancy) untuk semua informasi material yang berhubungan dengan perkembangan usaha perseroan, kepemilikan dan pengeloaan serta aspek-aspek lainnya yang berkaitan dengan pegawai dan stakeholder yang lainnya, untuk itu menjamin semua itu maka informasi keuangan harus diaudit secara independen dan dipersiapkan dengan kualitas yang baik. 5. Prinsip yang berhubungan dengan tanggung jawab pengurus (The Responsibility of The Board), di mana kerangka corporate governance harus dapat memandu perseroan dalam hak kontrol atas prilaku manajemen sehingga memiliki akuntabilitas bagi perseroan dan pemegang saham. Prinsip-prinsip GCG yang dikembangkan oleh OECD bermaksud untuk membantu anggota dan non-anggota OECD dalam usaha untuk menilai dan memperbaiki kerangka kerja legal, institusional, dan pengaturan untuk corporate governance di negara-negara mereka. Juga bertujuan memberikan petunjuk dan usulan untuk pasar modal, investor, korporasi, dan pihak lain yang mempunyai peranan dalam proses mengembangkan GCG. Prinsip-prinsip tersebut berfokus pada perusahaan yang sahamnya diperdagangkan di pasar modal. Namun, prinsipprinsip tersebut dapat berlaku dan berguna sebagai alat untuk memperbaiki corporate governance di perusahaan perorangan dan perusahaan milik negara. Selain kelima prinsip tersebut di atas, corporate governance juga mempunyai prinsip-prinsip lain, yaitu keadilan (fairness), transparansi (transparency), akuntabilitas (accountability), dan tanggung jawab (responsibility). Dari prinsip-prinsip yang dijelaskan di atas, dapat ditemukan unsur-unsur dari suatu corporate governance yang baik, yang terdiri atas:30

30

Iman Sjahputra Tunggal & Amin Widjaja Tunggal, loc.cit., hlm 36.

Kewajiban Keterbukaan Informasi dan Penerapan Good Corporate Governance Dalam Kegiatan Perusahaan di Pasar Modal

77

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Pemegang saham; Komisaris; Direksi; Komite Audit; Sekretaris perusahaan; Manajer dan karyawan; Auditor eksternal; Auditor internal; dan Stakeholder lainnya.

Unsur-unsur dari corporate governance di atas dapat dijelaskan lebih lanjut sebagai berikut: 1. Pemegang Saham dan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Pemegang saham (shareholders) adalah individu atau institusi yang mempunyai taruhan vital dalam perusahaan. Corporate governance harus melindungi hak-hak pemegang saham. Organ perseroan menurut UU No. 1 Tahun 1995 tentang PT adalah Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), Direksi, dan Komisaris. RUPS adalah organ perseroan yang memegang kekuasaan tertinggi dalam perseroan dan memegang segala wewenang yang tidak diserahkan kepada Direksi dan Komisaris dalam batas yang ditentukan dalam UU PT dan atau Anggaran Dasar. RUPS berhak memperoleh segala keterangan yang berkaitan dengan kepentingan perseroan dari Direksi dan Komisaris.31 2. Komisaris dan Direksi. UU PT Indonesia menganut two board system, yaitu direksi dan komisaris. Ini merupakan sistem yang dianut dari sistem negara Kontinental, yang membagi direksi sebagai pengurus dan komisaris sebagai pengawas. Amerika Serikat menganut single board system, yang disebut dengan Board of Directors. Berdasarkan UU PT tersebut, perkataan “komisaris” mengandung pengertian baik sebagai organ maupun sebagai orang perseorangan. Sebagai organ, komisaris lazim disebut sebagai
31

Moch. Faisal Salam, op. cit., hlm. 83.

78

Insider Trading : Kejahatan Bisnis di Pasar Modal Indonesia

“Dewan Komisaris”, sedangkan sebagai orang perorangan disebut “anggota komisaris”. Fungsi komisaris adalah sebagai wakil pemegang saham dalam melakukan pengawasan dan memberikan nasihat kepada direksi dalam rangka menjalankan GCG. 32 Jika dalam melaksanakan tugasnya, komisaris menemukan pekerjaan direksi yang menyimpang atau kurang sesuai dengan yang ditetapkan oleh UU PT, maka komisaris diwajibkan memberi nasihat kepada direksi agar tugasnya dilakukan sebagaimana yang digariskan dalam Pasal 85 ayat (1) UU PT. Berbeda dengan komisaris, direksi adalah organ perseroan yang bertanggung jawab penuh atas pengurusan perseroan untuk kepentingan dan tujuan perseroan, serta mewakili perseroan baik di dalam maupun di luar pengadilan sesuai dengan ketentuan Anggaran Dasar. Anggota direksi diangkat oleh RUPS. Dalam hal anggota direksi lebih dari satu orang, maka yang berwenang mewakili perseroan adalah setiap anggota direksi, kecuali ditentukan lain dalam UU PT dan Anggaran Dasar. Untuk lebih jelasnya perbedaan sistem corporate governance antara Indonesia dengan Amerika Serikat, dapat dilihat dalam gambar berikut ini. Gambar 2. Perbandingan Model Legal Governance Sistem Indonesia dan Amerika Serikat. Legal Governance Models Indonesia/Kontinental Law Shareholders Commisioners Directors Management
Sumber: Iman Sjahputra Tunggal, 2002.
32

Amerika Serikat/Anglo Saxon Shareholders Board of Directors

Management

Pasal 97 UU PT.

Kewajiban Keterbukaan Informasi dan Penerapan Good Corporate Governance Dalam Kegiatan Perusahaan di Pasar Modal

79

3. Komite Audit. Komite audit diatur dalam Surat Keputusan Direksi Bursa Efek Jakarta Nomor Kep-339/BEJ/07-2001 tentang Ketentuan Umum Pencatatan Efek Bersifat Ekuitas di Bursa, dalam poin C mengatur tentang komisaris independen, komite audit dan sekretaris perusahaan. Tugas dan fungsi komite audit adalah memberikan pendapat profesional yang independen kepada dewan komisaris terhadap laporan atau hal-hal yang disampaikan oleh direksi kepada dewan komisaris serta mengidentifikasi hal-hal yang memerlukan perhatian khusus dewan komisaris, yang antara lain meliputi:33 a. Melakukan penelaahan atas informasi keuangan yang akan dikeluarkan perusahaan seperti laporan keuangan, proyeksi dan informasi keuangan lainnya; b. Menelaah independensi dan objektivitas akuntan publik; c. Melakukan penelaahan atas kecukupan pemeriksaan yang dilakukan oleh akuntan publik untuk memastikan semua risiko yang penting telah dipertimbangkan; d. Melakukan pemeriksaan terhadap dugaan adanya kesalahan dalam keputusan rapat direksi atau penyimpangan dalam pelaksanaan hasil keputusan rapat direksi. Pemeriksaan tersebut dapat dilakukan oleh komite audit atau pihak independen yang ditunjuk oleh komite audit atas biaya perusahaan yang bersangkutan. Sekretaris perusahaan (Corporate Secretary) merupakan profesi penting yang tidak dikenal dalam perundang-undangan tentang Perseroan Terbatas maupun Pasar Modal. Keberadaan fungsi sekretaris perusahaan didasarkan pada peraturan Bapepam sehubungan dengan tuntutan perkembangan dan kebutuhan pasar modal Indonesia.34 Suatu perseroan terbuka diharuskan untuk mengangkat seorang sekretaris perusahaan yang bertindak sebagai penghubung dengan para investor.
Iman Sjahputra Tunggal & Amin Widjaja Tunggal, loc. cit., hlm. 42. Sekretaris Perusahaan diatur dalam Peraturan Bapepam No. IX.I.4 tentang Pembentukan Sekretaris Perusahaan.
33 34

80

Insider Trading : Kejahatan Bisnis di Pasar Modal Indonesia

Sekretaris perusahaan juga bertindak sebagai pejabat yang memastikan kepatuhan perseroan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku.35 Menurut American Society of Corporate Secretaries (ASCS), yaitu organisasi profesi corporate secretary di Amerika Serikat, tugas dan tanggung jawab corporate secretary dapat dikelompokkan ke dalam tiga bagian penting, yaitu:36 (1) Hal-hal yang berkaitan dengan corporate governance; (2) Hal-hal yang berkenaan dengan dengan komisaris, direksi, dan pemegang saham; dan (3) Hal-hal yang berkenaan dengan kepatuhan terhadap peraturan (regulatory compliance). 4. Auditor internal dan eksternal. Auditor eksternal dan internal ditunjuk oleh RUPS dan kualifikasi, persyaratan dan imbalan mereka akan ditentukan oleh komisaris dengan syarat bahwa auditor yang ditetapkan tersebut memiliki izin yang dipersyaratkan dari Menteri Keuangan dan terdaftar pada Bapepam. Auditor eksternal harus melakukan audit yang adil dan akurat dan sepenuhnya menjaga kemandirian mereka terhadap manajemen, direksi, komisaris, para pemegang saham dan para pihak yang mempunyai kepentingan terhadap perseroan. 5. Stakeholder lainnya. Hak-hak para pihak yang berkepentingan berdasarkan undang-undang dan berdasarkan perjanjian harus dilindungi dan para pihak yang mempunyai kepentingan harus diberikan perangkat yang layak untuk menuntut jika terjadi pelanggaran terhadap hak mereka. Para pihak yang berkepentingan ini termasuk di mana perseroan berlokasi, karyawan perseroan, pelanggan, pemasok, kreditur, dan kelompok-kelompok
35 Diatur dalam Indonesian Code of Good Corporate Governance. Aturan ini mengusulkan agar kedudukan sekretaris perusahaan dapat diatur dalam UUPT, dan sebelum diatur dalam UUPT diusulkan agar kedudukan sekretaris perusahaan merupakan keharusan dalam Anggaran Dasar. 36 Tjiptono Darmadji & Hendy M. Fakhruddin, op.cit., hlm. 33

Kewajiban Keterbukaan Informasi dan Penerapan Good Corporate Governance Dalam Kegiatan Perusahaan di Pasar Modal

81

lingkungan yang terkena dampaknya. Pihak-pihak seperti karyawan (sebagai suatu kesatuan) dan pihak-pihak lain yang mempunyai kepentingan dalam perseroan harus diberikan perangkat yang layak untuk mengawasi dan memberikan masukan terhadap pengurusan perseroan. Perseroan dan pihakpihak yang mempunyai kepentingan harus bekerja sama untuk kepentingan mereka bersama. ***

82

Insider Trading : Kejahatan Bisnis di Pasar Modal Indonesia

Bab IV

Insider Trading Dalam Kegiatan di Pasar Modal

4.1 Praktik Insider Trading Di Indonesia 4.1.1 Ketentuan Insider Trading Dalam UU Pasar Modal Undang-undang Pasar Modal Indonesia tidak menyebutkan batasan pengertian insider trading secara tegas. Dalam UU PM hanya disebutkan bahwa transaksi yang dilarang, antara lain yaitu orang dalam dari emiten yang mempunyai informasi orang dalam dilarang melakukan transaksi penjualan atau pembelian atas efek emiten atau perusahaan lain yang melakukan transaksi dengan emiten atau perusahaan publik yang bersangkutan.1 Dari pengertian Pasal 95 tersebut, dapat ditarik suatu batasan tentang perdagangan efek yang dapat digolongkan sebagai suatu perbuatan insider trading, apabila memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
1

Pasal 95 UU PM

84
(1) (2) (3) (4)

Insider Trading : Kejahatan Bisnis di Pasar Modal Indonesia

Adanya perdagangan efek; Dilakukan oleh orang dalam perusahaan; Adanya inside information; Inside information tersebut belum terbuka bagi masyarakat umum; (5) Perdagangan terjadi karena motivasi inside information tersebut; dan (6) Tujuan untuk memperoleh keuntungan yang tidak layak. Orang dalam yang dimaksud oleh Pasal 95 UU PM adalah:2 (a) Komisaris, direktur, atau pegawai emiten; (b) Pemegang saham utama emiten; (c) Orang perorangan yang karena kedudukan atau profesinya atau karena hubungan usahanya dengan emiten atau perusahaan publik memungkinkan orang tersebut memperoleh informasi; dan (d) Pihak yang dalam 6 (enam) bulan terakhir tidak lagi menjadi sebagaimana dimaksud dalam huruf (a), (b), atau huruf (c) di atas. Kata “kedudukan” dalam penjelasan huruf (c) tersebut adalah jabatan pada lembaga, institusi, atau badan pemerintah. “Hubungan usaha” yang dimaksud dalam huruf (c) adalah hubungan kerja atau kemitraan dalam kegiatan usaha, antara lain hubungan nasabah, pemasok, kontraktor, pelanggan, dan kreditur. Profesi yang dimaksud dalam huruf (c) adalah misalnya konsultan hukum atau pengacara. Menurut Victor CS. Yeo,3 insider trading dapat diartikan sebagai “suatu perdagangan yang dilakukan oleh orang dalam dalam suatu pasar modal dimana orang dalam tersebut berada dalam posisi memegang suatu informasi yang sensitif yang belum tersedia bagi umum (inside information).” Insider trading merupakan perbuatan curang yang merusak kepercayaan investor dalam perdagangan saham, terutama dalam keadilan informasi dan integritas dari pelaku pasar modal.
Penjelasan Pasal 32 UU PM Victor CS. Yeo, A Comparative Analysis of Insider Trading Regulation, Work Paper, Nanyang Technology University, Singapore, 15th January 2001, hlm. 2.
2 3

Insider Trading Dalam Kegiatan di Pasar Modal

85

Menurut Robinson Simbolon, suatu perbuatan dapat dikategorikan sebagai insider trading jika memenuhi beberapa syarat, yakni: 1) Adanya Informasi Orang Dalam (IOD). 2) Adanya transaksi perdagangan. 3) Adanya keuntungan yang diperoleh sebagai hasil transaksi tersebut.4 Dari penjelasan di atas, dapat dikatakan bahwa insider trading merupakan suatu perbuatan yang melibatkan seseorang (bisa orang luar ataupun pegawai dari suatu perusahaan) yang melakukan perdagangan saham berdasarkan penguasaan suatu informasi material, dimana informasi tersebut belum diumumkan secara luas kepada masyarakat investor lain, dan orang tersebut mengetahui bahwa informasi tersebut belum tersedia bagi masyarakat investor.5 4.1.2 Jenis-jenis Keterkaitan Orang Dalam (Insider) Dalam mendefinisikan pelaku insider trading, dapat dibagi dalam dua kategori, yaitu primary insider dan secondary insider. Primary insider secara umum termasuk seluruh anggota manajemen perusahaan, dewan komisaris dan pegawai emiten dari perusahaan efek. Termasuk di dalam kategori ini adalah pegawai perusahaan dan pihak-pihak yang menyediakan jasa kepada perusahaan efek yang bersangkutan (termasuk di dalamnya pengacara, akuntan, dan penasihat keuangan). Di beberapa negara, pemegang saham besar dalam perusahaan termasuk dalam kategori primary insider. Jumlah saham yang dikuasai oleh pemegang saham besar ini berbeda di tiap negara, misalnya Cina sebesar 5%, Hungaria sebesar 25%, dan Amerika Serikat sebesar 10%.6 Pemegang saham besar termasuk dalam kategori ini, karena mereka (secara formal maupun informal)

4

Wawancara penulis dengan Robinson Simbolon, Karo PBH Bapepam, 16 Oktober

2003.
5 Douglas Whitman & John William Gergacz, The Legal and Social Environtment of Business, 4th Edition, McGraw-Hill, Inc., New York, 1994, hlm. 636. 6 OICV – IOSCO, op.cit., hlm. 6.

86

Insider Trading : Kejahatan Bisnis di Pasar Modal Indonesia

mempunyai akses langsung terhadap informasi lebih daripada investor biasa. Konsep primary insider di negara Amerika Serikat berkaitan dengan fiduciary duty dari tiap-tiap orang yang mempunyai hubungan dengan perusahaan, seperti petugas, direktur, dan pegawai. Fiduciary duty ini juga diwajibkan kepada orang-orang yang menyediakan jasa khusus kepada perusahaan, misalnya pengacara, konsultan, manajer investasi (biasanya disebut temporary insider), mereka juga diwajibkan untuk menjaga agar informasi perusahaan tetap rahasia. Secondary insider adalah orang yang memperoleh inside information dari orang lain (tidak mesti orang dalam). Mereka memperoleh inside information tersebut melalui hubungan khusus terhadap orang yang mempunyai inside information tersebut. Kategori khusus selain dua tipe tersebut di atas adalah temporary insider, yakni merupakan bagian dari primary insider adalah mereka yang tidak bekerja pada perusahaan efek tertentu, akan tetapi mempunyai akses terhadap inside information lebih dari yang disediakan oleh perusahaan. Mereka ini biasanya pengacara, akuntan, konsultan atau manajer investasi yang bisa mempengaruhi keputusan perusahaan (misalnya merger) dan mempunyai pengetahuan yang cukup untuk mengetahui materialitas dari tindakan yang diambil oleh perusahaan. Untuk itu, biasanya mereka terkena kewajiban larangan dalam penggunaan informasi tersebut untuk kepentingan mereka sendiri maupun memberikan rekomendasi kepada orang lain. Selain primary dan secondary insider, juga dikenal adanya tippee. Memberikan informasi yang belum diumumkan kepada pihak kedua oleh insider, dengan tujuan agar pihak kedua tersebut dapat melakukan kegiatan perdagangan berdasarkan informasi tersebut disebut dengan tipping. Pihak yang menerima informasi dari insider disebut dengan tippee. Pengaturan di beberapa negara menunjukkan bahwa tipping dan tippee ini dilarang untuk melakukan kegiatan perdagangan berdasarkan informasi tersebut.

Insider Trading Dalam Kegiatan di Pasar Modal

87

Selain tippee, juga dikenal adanya accidental insider, yaitu mereka yang memperoleh informasi bukan karena mempunyai akses terhadap informasi tersebut atau diberikan informasi oleh insider (tipping), melainkan memperolehnya karena suatu keadaan yang khusus. Keadaan ini misalnya mendengarkan secara tidak sengaja suatu pembicaraan di telepon atau di dalam lift, menemukan suatu dokumen rahasia dalam tempat sampah, menerima fax yang dikirimkan ke suatu nomor yang salah, dan lain-lain. Tidak ada suatu pengaturan yang khusus tentang hal ini di negara-negara Eropa maupun Amerika. Biasanya mereka ini digabungkan dengan pengertian umum secondary insider dan mempunyai tanggung jawab yang sama terhadap penggunaan informasi tersebut jika mereka melakukan perdagangan berdasarkan informasi tersebut. Dalam jenis tippee, perilaku perdagangan para investor dapat menunjukkan apakah mereka melakukan perdagangan berdasarkan inside information atau tidak. Beberapa negara di Eropa, melarang penggunaan inside information untuk melakukan kegiatan perdagangan dengan menyebutkan secara khusus aturannya. Misalnya Republik Chechnya mengatur “…prohibiting a person’s improper “use” of inside information “for his or her own benefit of for the benefit of other person” or a person’s receipt of any benefit from the possesion of inside information”7 (Melarang seseorang untuk menyalahgunakan informasi orang dalam untuk keuntungannya sendiri atau orang lain atau seseorang yang menerima setiap jenis keuntungan dari penguasan informasi orang dalam). Sementara di Singapura melarang penggunaan inside information untuk melakukan pembelian atau penjualan serta memberikan rekomendasi melakukan transaksi perdagangan di pasar modal (“…procure another person to subscribe for, purchase or sell, or enter into an agreement to subscribe for, purchase or sell, any securities” based on the inside information”)8.

7 8

OICV – IOSCO, ibid., hlm. 11. Ibid., hlm. 14 – 16.

88

Insider Trading : Kejahatan Bisnis di Pasar Modal Indonesia

Dalam UU PM, yang termasuk dalam kategori insider adalah:9 1) Orang dalam yang melakukan pembelian atau penjualan atas: 2) Orang dalam yang mempengaruhi pihak lain untuk melakukan pembelian atau penjualan atas efek tersebut. 3) Orang dalam yang memberikan informasi orang dalam kepada pihak lain manapun yang patut diduga dapat menggunakan informasi tersebut untuk melakukan pembelian atau penjualan efek. 4) Orang lain yang secara melawan hukum memperoleh informasi orang dalam dari orang dalam tersebut. 5) Orang lain yang berusaha memperoleh informasi orang dalam secara tidak melawan hukum, tetapi penyediaan informasi tersebut dengan pembatasan-pembatasan tertentu (misalnya kewajiban untuk merahasiakan). Dari ketentuan di atas, tampak bahwa ada satu pihak yang tidak dapat dijangkau oleh UU PM, yakni pihak luar yang memperoleh inside information secara tidak sengaja. Sementara dalam UU PM, ada ketentuan yang menyatakan bahwa pihak luar yang dapat dikategorikan sebagai insider adalah mereka yang “berusaha secara aktif”10 untuk memperoleh inside information tersebut. 4.1.3 Sifat Inside Information Inside information merupakan informasi yang belum dibuka untuk umum dan bersifat material. Jika merujuk kepada sifatnya, inside information ini bersifat:11 1) Confidential. Informasi bersifat rahasia sampai ia diumumkan kepada masyarakat. Suatu informasi yang akan dibuka umum, harus dilakukan melalui cara-cara yang telah diatur menurut prosedur perundang-undangan. Cara-cara itu harus diikuti, yang meliputi:
Pasal 95 - 97 UU PM. Cetak miring dari penulis. Hal ini ditunjukkan dalam Pasal 97 UU PM yang mempergunakan kalimat “berusaha untuk memperoleh informasi”. 11 OICV – IOSCO, Ibid.
9 10

Insider Trading Dalam Kegiatan di Pasar Modal

89

a. Prosedur pembukaan informasi kepada masyarakat. b. Waktu yang dibutuhkan bahwa suatu informasi telah diserap oleh masyarakat. c. Kesadaran tentang kerahasiaan suatu informasi. d. Pembukaan informasi oleh pihak yang berwenang. 2) Materiality. Materialitas suatu informasi secara umum berbeda pengaturannya di setiap negara. Hal ini didasarkan pada ruang lingkup: a. Nilai penting informasi, b. Ruang lingkup informasi, dan c. Sumber informasi. Nilai materialitas dari suatu informasi adalah ketika dibuka untuk masyarakat, secara substansial, hal itu akan mempengaruhi harga nilai suatu saham. Dari informasi tersebut, seorang investor mampu memutuskan apakah ia akan melakukan investasi terhadap suatu saham atau tidak. UU PM menentukan bahwa yang termasuk dalam informasi material adalah seperti yang tersebut dalam penjelasan Pasal 1 angka 7 UU PM dan juga seperti yang diatur dalam SK Ketua Bapepam No. KEP-86/PM/1996 tentang Keterbukaan Informasi yang Harus Segera Diumumkan Kepada Publik. Pengaturan tersebut menunjukkan bahwa informasi material yang disebut dalam kedua aturan tersebut harus dapat menimbulkan perubahan harga saham, jika tidak ada perubahan harga terhadap saham maka tidak memenuhi kategori informasi material. 4.1.4 Bentuk-bentuk Insider Trading UU PM Indonesia dengan jelas mengatur bahwa praktik insider trading dilarang dalam transaksi perdagangan di pasar modal.12 UU PM menentukan bahwa yang termasuk dalam praktik insider trading adalah seperti yang dinyatakan dalam Pasal 90 – 98 UU PM. Di luar penjelasan pasal-pasal tersebut,
12

Pasal 93 – 98 UU PM.

90

Insider Trading : Kejahatan Bisnis di Pasar Modal Indonesia

praktik insider trading yang dilakukan oleh orang luar yang memperoleh informasi material tidak melalui jalan yang diatur dalam Pasal 97 UU PM, tidak dapat dikenakan tuduhan melakukan praktik insider trading. Larangan yang sama juga terdapat dalam Rule 10b dan 10b-5 SEA of 1934 yang diberlakukan di Amerika Serikat. Rule 10b dan 10b-5 SEA of 1934 tersebut dapat dikatakan telah teruji dalam “menjaring” pelaku insider trading dalam berbagai bentuknya. Isi dari Rule 10b-5 SEA of 1934 adalah sebagai berikut: “It shall be unlawful for any person, directly or indirectly, by the use of any means or instrumentality of interstate commerce, or of the mails, or of any facility of national securities exchange, a. To employ any device, scheme, or artifice defraud, b. To make any untrue statement of a material fact or to omit to state a material fact necessary in order to make statement made, in the light of circumstances under which there were made, not misleading, or c. To engage in any act, practice or course of business which operate as a fraud or deceit upon any person, in connection with the purchase or sale of any securitiy”. Kemudian pada tahun 1984, Kongres Amerika Serikat, atas permohonan SEC mengumumkan Insider Trading Sanction Act of 1984 untuk mendukung penegakan ketentuan dari rule tersebut. Kasus-kasus insider trading yang terjadi di Indonesia dan Amerika Serikat, merupakan suatu pelajaran yang menarik sekali untuk dikaji dan diperbandingkan guna menemukan dan menentukan suatu sikap yang tegas dan jelas untuk mengungkap kasus insider trading yang terjadi atau akan terjadi di Indonesia khususnya. Kasus-kasus yang akan dikaji dalam tesis ini lebih ditekankan pada pengkajian disclose or abstain theory, fiduciary duty theory, dan misappropriation theory. Dalam kasus Bank Mashill Utama (BMU),13 Jensen Kohardjo, salah seorang direktur BMU memutuskan untuk menjual saham yang dimilikinya karena menerima informasi material bahwa
13

Warta Ekonomi, No. 3 Tahun VIII/10 Juni 1996, hlm. 16-22.

Insider Trading Dalam Kegiatan di Pasar Modal

91

Titi Prabowo (putri mantan presiden Soeharto) akan duduk sebagai salah satu direktur pada BMU. Bapepam memutuskan bahwa direktur tersebut melakukan insider trading karena menyembunyikan fakta material berupa kemungkinan perubahan manajemen dalam BMU dengan masuknya Titi Prabowo, yang menyebabkan kenaikan harga saham BMU di pasar modal. 14 Bapepam menjatuhkan hukuman denda sebesar Rp 500.000.000,00, sementara BMU sendiri dikenakan hukuman denda sebesar Rp 7.000.000,00 karena dianggap terlambat menyampaikan laporan tentang fakta material yang terjadi. Hukuman yang dijatuhkan terhadap Jensen Kohardjo maupun BMU tersebut menurut penulis masih terlalu ringan daripada ketentuan sebenarnya yaitu pidana penjara paling lama 10 tahun dan denda paling banyak Rp 15.000.000.000. Sanksi hukuman yang dijatuhkan tersebut hanya denda saja, padahal sanksi hukuman dalam kasus insider trading adalah kumulatif artinya hukuman denda dan penjara, bukan hukuman denda atau pidana penjara saja sehingga tidak menimbulkan efek jera bagi pelaku insider trading untuk tidak melakukan lagi tindakan tersebut pada masa mendatang. Dalam kasus PT Argo Pantes,15 ada pihak orang dalam yang melakukan order penjualan saham milik PT Argo Pantes setelah mengetahui informasi material berupa turunnya perolehan laba perusahaan yang belum dibuka kepada masyarakat. Setelah informasi tersebut dibuka, harga saham milik PT Argo Pantes mengalami penurunan harga yang cukup signifikan. Hal ini merupakan praktik insider trading karena telah melanggar ketentuan Pasal 95 UU PM yang menentukan bahwa orang dalam dari emiten maupun perusahaan publik yang mempunyai informasi orang dalam dilarang melakukan kegiatan pembelian
14 Dalam RUPS yang diselenggarakan oleh BMU pada 3 Juni 1996, Titi Prabowo tidak masuk dalam manajemen BMU. Namun demikian Jensen Kohardjo telah melakukan kecurangan dengan memanfaatkan isu tersebut untuk kepentingannya sendiri melakukan penjualan saham sehingga memperoleh sejumlah keuntungan dari hasil penjualan saham miliknya. 15 Kompas, 9 September 1991.

92

Insider Trading : Kejahatan Bisnis di Pasar Modal Indonesia

dan atau penjualan saham milik perusahaan tersebut atau perusahaan lain yang terkait dengan perusahaan yang bersangkutan. Bapepam tidak menjatuhkan hukuman terhadap PT Argo Pantes dalam kasus ini. PT Argo Pantes hanya menyampaikan permohonan maaf kepada Bapepam, BEJ dan masyarakat tanpa ada sanksi yang dijatuhkan kepadanya. Di Amerika Serikat, dalam kasus Cady Roberts,16 seorang rekanan dari agen pialang menerima pesan bahwa seorang direktur perusahaan Curtiss-Wright, bahwa dewan perusahaan tersebut telah memutuskan untuk memotong dividen. Berdasarkan informasi tersebut, secara tiba-tiba ia memutuskan untuk menjual sejumlah saham Curtiss-Wright untuk beberapa orang pelanggannya, dan penjualan itu dilakukan sebelum informasi pemotongan dividen tersebut diumumkan. Dalam kasus Texas Gulf Sulfur, 17 beberapa pejabat dan pegawai dari perusahaan tersebut melakukan pembelian saham milik perusahaan yang substansial setelah mempelajari bahwa eksplorasi pertambangan milik perusahaan tersebut menunjukkan hasil yang sangat luar biasa (meskipun hasil eksplorasi tersebut belum selesai dilakukan). Dalam kasus Chiarella,18 seorang pegawai financial printing dari sebuah firma, di mana ia bekerja berhubungan dengan dokumen tentang penawaran akuisisi suatu perusahaan, dapat memastikan identitas dari perusahaan yang akan diakuisisi, melakukan pembelian saham perusahaan tersebut, dan kemudian menjualnya kembali dengan memperoleh sejumlah keuntungan setelah penawaran akuisisi tersebut diumumkan. Dalam ketiga kasus di atas, Mahkamah Agung Amerika Serikat memutuskan bahwa pelaku insider trading tersebut telah melanggar Rule 10b-5. Dalam kasus Dirks,19 seorang analis pasar modal menerima suatu informasi rahasia dari seorang mantan pegawai Equity
16 Richard A. Posner & Kenneth E. Scott, Economics of Corporation Law And Securities Regulation, Litle, Brown and Company, Canada, 1980, hlm. 120-121. 17 Ibid., hlm. 121. 18 Ibid., hlm. 122. 19 David L. Ratner, op. cit., hlm. 151.

Insider Trading Dalam Kegiatan di Pasar Modal

93

Funding Corporation (EFC) bahwa sebagian besar keuntungan yang diperoleh EFC berasal dari penipuan. Motivasi dari mantan pegawai memberikan informasi tersebut agar Dirks membantu membuka penipuan tersebut. Ketika Dirks berusaha untuk memastikan kebenaran informasi tersebut, ia memberikan sejumlah informasi kepada sejumlah kliennya, yang kemudian menjual sejumlah besar saham milik EFC. Setelah pernyataan itu terbukti, EFC menjadi bangkrut. SEC kemudian membawa kasus tersebut ke pengadilan dan menuntut Dirks telah melanggar kewajibannya tidak menyimpan kerahasiaan informasi tersebut atau mengumumkannya kepada publik, akan tetapi malah memberikan sejumlah informasi kepada sejumlah kliennya. Mahkamah Agung kemudian membatalkan tuntutan SEC dengan alasan: a) Dirks tidak mempunyai kewajiban apapun terhadap pembelian atau penjualan saham EFC; dan b) Tidak ditemukan alasan bahwa Dirks telah membantu dan melanggar aturan karena motivasi dari insider memberikan informasi tersebut kepadanya adalah untuk membuka kasus penipuan tersebut. Dari penjelasan kasus-kasus yang terjadi di Amerika Serikat di atas, tampak bahwa ada perubahan dalam menetapkan pelaku insider trading. Penerapan fiduciary duty tidak dapat menjangkau pelaku insider trading yang tidak termasuk dalam kategori orang dalam.20 Dengan adanya misappropriation theory, seseorang dapat dituduh melakukan praktik insider trading, meskipun ia bukan orang dalam dan tidak memperoleh inside information secara melawan hukum. Sementara di Indonesia, upaya hukum untuk menuduh seseorang telah melakukan praktik insider trading hanya dengan mengandalkan ketentuan dalam UU PM yang di satu sisi masih mengandung kelemahan dalam menentukan pelaku insider trading yang tidak termasuk dalam kategori yang telah ditentukan oleh UU PM tersebut.

20 Kasus Carpenter v. United States (USA, 2nd Circuit 316, 1987), dimana Winan, yang bukan orang dalam perusahaan saham tempat ia bekerja dan juga tidak memperoleh informasi orang dalam. Ia hanya mengolah informasi milik perusahaan tempat ia bekerja dan kemudian menggunakannya untuk melakukan pembelian saham dan memperoleh keuntungan.

94

Insider Trading : Kejahatan Bisnis di Pasar Modal Indonesia

4.2 Hambatan Dalam Mengungkap Kasus Insider Trading 4.2.1 Perbedaan Sistem Hukum UU Pasar Modal merupakan suatu sistem hukum yang berasal dari sistem Anglo Saxon. Hal ini dapat terlihat adanya lembaga hukum yang tidak terdapat dalam sistem Hukum Perdata (Eropa Kontinental) Indonesia yang tidak mengenal istilah kepemilikan ganda dalam saham, perdagangan tanpa warkat (scripless trading), margin trading, hedging, dan lainlain. Tidak dikenalnya lembaga ini dalam sistem hukum Indonesia, menimbulkan kendala yang cukup besar bagi hakim-hakim di pengadilan negeri Indonesia dalam memutuskan kasus-kasus yang berhubungan dengan pasar modal. Hal ini didasarkan pada tingkat pengetahuan hakim-hakim tersebut terhadap bidang pasar modal itu sendiri yang masih rendah, sehingga para pelaku pasar modal lebih mempercayakan penyelesaian masalah yang berhubungan dengan sesama mereka melalui lembaga tersendiri. Ketidakpuasan para pelaku pasar modal ini dalam mencari keadilan bagi penyelesaian sengketa ini yang mendorong mereka untuk mencari lembaga lain yang lebih efisien dan cepat dalam memutuskan perkara dengan biaya yang relatif lebih rendah daripada berhubungan pengadilan. Salah satu lembaga yang didirikan dengan tujuan tersebut adalah dengan terbentuknya Badan Arbitrase Pasar Modal Indonesia (BAPMI), yang berdiri pada 9 Agustus 2002. BAPMI didirikan dengan tujuan untuk menyelesaikan sengketa masalah pasar modal di kalangan pelaku pasar modal sendiri dalam rangka menyediakan sarana alternatif penyelesaian sengketa di bidang pasar modal yang cepat, transparan, mandiri dan adil. Peran BAPMI ini juga tidak terlepas dengan pengadilan, terutama dalam hal eksekusi terhadap putusan BAPMI. Ini disebabkan sifat dari BAPMI yang hanya berupa komplemeter terhadap pengadilan bagi para pihak yang ingin mencari alternatif penyelesaian sengketa di pasar modal. Para pelaku pasar modal menganggap bahwa penyelesaian sengketa melalui jalur pengadilan di negara mana pun, tidak hanya di Indonesia, tak efektif dan efisien untuk menyelesaikan sengketa. Bahkan,

Insider Trading Dalam Kegiatan di Pasar Modal

95

pengadilan sering kali tidak memecahkan masalah, melainkan justru menambah persoalan.21 Terkait dengan masalah insider trading, lembaga BAPMI tidak berhak melakukan pemeriksaan oleh karena tujuan pembentukan lembaga ini adalah untuk menyelesaikan sengketa antara para pelaku pasar modal, khususnya sengketa masalah pasar modal antara mereka, sementara insider trading merupakan kejahatan yang terjadi di pasar modal. Dengan demikian, penyelesaian masalah insider trading hanya menjadi wewenang dari Bapepam selaku lembaga pengawas di pasar modal. 4.2.2 Lemahnya Pengaturan Hukum Di dalam penjelasan Pasal 95 UU PM hanya disebutkan bahwa yang dimaksud orang dalam, dalam pasal ini antara lain adalah: komisaris, direktur, atau pegawai emiten atau perusahaan publik. Dalam penjelasan Pasal 95 huruf a, secara sepintas terlihat cukup jelas. Tidak ada penafsiran yang berbeda mengenai komisaris dan direktur. Persoalan lain yang cukup bermasalah adalah status emiten. Penjelasan Pasal 95 huruf a tersebut tidak memberikan penjelasan yang lebih jauh mengenai siapa yang dimaksud dengan pegawai emiten. Ketidakjelasan tersebut dapat menimbulkan penafsiran yaitu “apakah pegawai emiten tersebut ditujukan kepada pegawai tetapnya saja atau termasuk juga pegawai tidak tetapnya”. Apabila yang dimaksud pasal tersebut hanya ditujukan kepada pegawai tetapnya saja, maka undangundang tersebut tidak akan mampu menjatuhkan sanksi terhadap pegawai tidak tetapnya karena melakukan transaksi yang didasarkan atas fakta material yang belum terbuka untuk masyarakat yang diperoleh secara tidak sengaja. Artinya tidak diperoleh melalui informasi orang dalam. Pasal 95 maupun penjelasannya tidak mengamanatkan peraturan lebih lanjut dalam bentuk peraturan pemerintah
21 Yahya Harahap, “Sistem Peradilan Indonesia dan Alternatif Penyelesaian Sengketa”, dalam seminar Undang-Undang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa, Hotman Paris Hutapea, Law Education and Training Center, Jakarta, 5 Juli 1999.

96

Insider Trading : Kejahatan Bisnis di Pasar Modal Indonesia

mengenai orang dalam. Untuk mencegah praktik insider trading dalam berbagai bentuknya yang tidak tercakup dalam UU PM, maka perlu diatur dalam suatu surat keputusan Bapepam, seperti Surat Keputusan tentang Informasi yang Harus Segera Diumumkan Kepada Masyarakat.22 UU PM juga mengandung suatu celah hukum dalam menjangkau pelaku insider trading yang didasarkan penggunaan atau penyalahgunaan informasi oleh orang luar untuk melakukan transaksi. Undang-undang tersebut hanya menjangkau pelaku insider trading karena pelanggaran dari fiduciary duty saja. Undang-undang Pasar Modal dapat menjatuhkan sanksi bagi pemberi maupun penerima tip dari orang dalam mengenai fakta material.23 Namun demikian, undang-undang tersebut tidak mampu menjatuhkan sanksi terhadap seseorang (bukan orang dalam) yang mendapatkan informasi secara tidak sengaja, yaitu misalnya secara kebetulan mendengar pembicaraan di sebuah rumah makan, mengenai kebijakan perusahaan yang merupakan suatu fakta material, misalnya rencana tentang akuisisi perusahaan saingan. UU PM menyebutkan bahwa pihak luar yang dapat dijerat sebagai insider adalah mereka yang berusaha secara aktif untuk mendapatkan inside information.24 Kasus-kasus insider trading yang terjadi di Amerika Serikat pada awalnya adalah mengenai pelanggaran terhadap kewajiban penyampaian informasi kepada masyarakat, seperti kasus Texas Gulf Sulfur Company dan Cady, Robert & Co. Pada perkembangan kasus berikutnya, SEC dengan Securities Exchange Act of 1934 maupun dengan Undang-undang Federal-nya mampu menjangkau setiap orang yang mempergunakan informasi yang belum terbuka kepada masyarakat untuk melakukan transaksi efek. Ketentuan ini dikenal dengan nama misappropriation theory. Pertimbangan yang dipergunakan dalam teori tersebut bukan hanya mengenai adanya pelanggaran terhadap fiduciary
SK Bapepam No: KEP-86/PM/1996. Pasal 96 huruf b UU PM 24 Pasal 97 UU PM
22 23

Insider Trading Dalam Kegiatan di Pasar Modal

97

duty, tetapi pada persoalan adanya informasi yang diperoleh seseorang dan informasi tersebut disalahgunakan untuk melakukan transaksi efek. Berdasarkan pertimbangan tersebut akhirnya insider trading yang terjadi karena pelanggaran terhadap misappropriation theory dapat dikenakan sanksi. Contohnya adalah kasus Carpenter v. United States, United States v. Newman, dan SEC v. Musella.25 Kasus insider trading karena mendapatkan informasi orang dalam atau tippe akhirnya juga terjerat hukum. Dalam kasus Dirk v SEC, Mahkamah Agung Amerika Serikat menyatakan bahwa tippe harus melakukan disclose or abstain terhadap informasi yang diperoleh dari orang dalam. 4.2.3 Tidak Adanya Batasan Mengenai Kapan Orang Dalam Dapat Melakukan Transaksi Setelah Fakta Material Didisclose Batasan waktu yang dimaksudkan adalah apabila suatu fakta material yang oleh emiten akan diinformasikan, maka apakah sejak saat itu orang dalam dapat melakukan transaksi efek atau masih harus menunggu sampai waktu tertentu. Permasalahan tersebut merupakan faktor yang menghambat penelusuran praktik insider trading. Dalam UU PM, pada penjelasan Pasal 95 huruf d hanya menyatakan bahwa pihak yang tersebut dalam huruf-huruf a, b, dan c, tidak boleh melakukan kegiatan pembelian dan atau penjualan efek. Ketentuan tersebut hanya mengatur mengenai tidak bolehnya orang dalam melakukan transaksi efeknya untuk kepentingannya sendiri dalam jangka waktu enam bulan, tetapi tidak mengatur mengenai kapan suatu fakta material dianggap efektif setelah dibuka kepada masyarakat. Informasi material yang dibuka oleh emiten untuk kepentingan masyarakat, merupakan dasar bagi investor untuk
25 Sofyan A. Jalil, op.cit., hal. 9. Setelah kasus Chiarella, Kongres Amerika Serikat menyetujui Insider Trading Sanction Act of 1984 dan Insider Trading and Securities Fraud Enforcement Act of 1988, dengan tujuan agar SEC mampu memberikan sanksi yang tegas kepada pelaku perdagangan orang dalam. Lebih lanjut lihat Donald C. Langervoort, op. cit., hlm. 57-68.

98

Insider Trading : Kejahatan Bisnis di Pasar Modal Indonesia

menentukan kebijakan investasinya apakah akan melakukan transaksi jual atau beli. Kebijakan investasi tersebut dapat dilakukan dengan cepat atau lambat. Cepat atau lambatnya dalam menentukan pilihan transaksi disebabkan antara lain: a. Tersedianya data yang lengkap mengenai informasi yang dikeluarkan oleh emiten, apakah akurat atau tidak. b. Latar belakang kebijakan emiten dalam melakukan sesuatu yang bersifat material, misalnya rencana melakukan akuisisi perusahaan saingan. c. Kondisi keuangan internal investor ketika informasi material dibuka oleh emiten. Ketiga sebab tersebut di atas dapat menimbulkan sentimen pasar yang pada akhirnya membuat harga suatu efek menjadi naik atau turun. Dengan demikian, tampak jelas bahwa tidak adanya batasan waktu tertentu tentang kapan informasi yang didisclose oleh emiten dapat berlaku efektif bagi masyarakat dapat mengakibatkan misleading information, yang pada akhirnya akan mengakibatkan berkurangnya kepercayaan masyarakat investor kepada Pasar Modal.26 Di Amerika Serikat, dikenal adanya short swing profits, yaitu orang dalam perusahaan, pemegang saham 10% atau lebih dilarang melakukan transaksi jual beli efek perusahaannya untuk kepentingannya dalam jangka waktu enam bulan. Apabila hal tersebut terjadi, maka harus dilaporkan kepada SEC 10 hari setelah akhir bulan transaksi tersebut. Ketentuan ini diatur dalam Section 16a, 16b SEA of 1934.27 4.3 Penegakan Hukum di Pasar Modal. 4.3.1 Peran Bapepam Dalam Menegakkan Hukum di Pasar Modal Bapepam merupakan salah satu palang pintu dalam penegakan hukum di pasar modal. Lembaga ini merupakan
26 Menurut penulis, ini disebabkan adanya perbedaan antara orang dalam yang telah menguasai informasi yang dibuka dengan matang, sementara pada waktu yang sama masyarakat investor masih harus mempertimbangkan keputusan investasinya. 27 Henry R. Cheeseman, op. cit., hlm. 709.

Insider Trading Dalam Kegiatan di Pasar Modal

99

unjung tombak dalam melakukan law enforcement dari kaidahkaidah hukum pasar modal. Ketertiban dan kepatuhan para pelaku pasar modal terhadap aturan-aturan hukum yang berlaku di pasar modal, tergantung kepada kemauan lembaga tersebut dalam menerapkan hukuman terhadap pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh pelaku pasar modal tersebut. UU PM memerinci kedudukan dan fungsi Bapepam secara multiformasi, yaitu secara (1) pengaturan umum, (2) pengaturan terperinci, dan (3) pengaturan sporadis. 1. Pengaturan Umum. Secara umum, UU PM mengatur kewenangan dan tugas Bapepam sebagai:28 (a) Lembaga pembina; (b) Lembaga pengatur; (c) Lembaga pengawas. Ketiga kewenangan tersebut tersebut harus dilaksanakan oleh Bapepam dengan tujuan terciptanya suatu pasar modal yang teratur, wajar, efisien, dan melindungi kepentingan pemodal dan masyarakat. Sementara itu, pelaksanaan kewenangan Bapepam sebagai lembaga pengawas dapat dilakukan secara: (a) Preventif, yakni dalam bentuk aturan, pedoman, bimbingan dan pengarahan; dan (b) Represif, yakni dalam bentuk pemeriksaan, penyidikan dan penerapan sanksi-sanksi. Fungsi Bapepam seperti tersebut, apabila dilaksanakan dengan benar sebenarnya memang sudah sesuai dengan prinsip-prinsip hukum pasar modal secara global. Otoritas pasar modal Indonesia, seperti halnya juga SEC di Amerika Serikat, selalu mempunyai 3 fungsi utama, yaitu:29 (1) Fungsi Rule Making. Dalam hal ini Otoritas Pengawas dapat membuat aturan-aturan main untuk pasar modal.
28 29

Munir Fuady, op. cit., hlm. 116. Munir Fuady, ibid., hlm 118.

100

Insider Trading : Kejahatan Bisnis di Pasar Modal Indonesia

Fungsi seperti ini disebut juga sebagai quasi legislative power. Jadi seperti merupakan kewenangan legislatif. (2) Fungsi Adjudicatory. Ini merupakan fungsi otoritas pengawas untuk melakukan fungsinya sebagai quasi judicial power. Jadi seperti merupakan kewenangan judisial seperti yang dilakukan oleh suatu badan peradilan. Termasuk ke dalam fungsi ini misalnya mengadili dan memecat atau mencabut izin ataupun melarang pihak-pihak pelaku di pasar modal untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan di pasar modal. (3) Fungsi Investigatory–Enforcement. Fungsi ini membuat otoritas pengawas mempunyai wewenang investigasi dan sekaligus pelaksanaannya. Hal ini dilakukan dengan memberikan kepada Bapepam kewenangan penyelidikan dan penyidikan, yang membuatnya menjadi semacam polisi khusus. 2. Pengaturan Terperinci. Kewenangan Bapepam diatur secara terperinci dalam UU PM, yaitu sebagai berikut:30 (1) Memberikan izin usaha kepada para pelaku pasar modal, dalam hal ini kepada: a. Bursa Efek, Lembaga Kliring dan Penjaminan, Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian, Reksa Dana, Perusahaan Efek, Penasihat Investasi, dan Biro Administrasi Efek. b. Izin orang perseorangan bagi Wakil Penjamin Emisi Efek, Wakil Perantara Pedagang Efek, dan Wakil Manajer Investasi. c. Persetujuan bagi Bank Kustodian. (2) Mewajibkan pendaftaran profesi penunjang pasar modal (notaris, konsultan hukum, akuntan, penilai) dan wali amanat. (3) Menetapkan persyaratan dan tata pencalonan dan memberhentikan untuk sementara komisaris dan/atau
30

Pasal 5 UU PM.

Insider Trading Dalam Kegiatan di Pasar Modal

101

direksi serta menunjuk manajemen sementara Bursa Efek, Lembaga Kliring dan Penjaminan, serta Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian sampai dengan dipilihnya komisaris dan/atau direksi yang baru. (4) Menentukan persyaratan dan prosedur pernyataan pendaftaran serta menyatakan, menunda atau membatalkan efektifnya pernyataan pendaftaran. (5) Melakukan pemeriksaan dan penyidikan terhadap setiap pihak dalam hal terjadinya peristiwa yang diduga merupakan pelanggaran terhadap Undang-undang Pasar Modal atau peraturan perundang-undangan pelaksanaan lainnya. (6) Mewajibkan setiap pihak yang bersangkutan untuk: a. Menghentikan atau memperbaiki iklan atau promosi yang berhubungan dengan kegiatan di pasar modal, atau b. Mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mengatasi akibat yang timbul dari iklan atau promosi tersebut. (7) Melakukan pemeriksaan terhadap: a. Setiap emiten atau perusahaan publik yang telah atau diwajibkan menyampaikan pernyataan pendaftaran kepada Bapepam. b. Pihak yang dipersyaratkan memiliki izin usaha, izim orang perseorangan, persetujuan, atau pendaftaran profesi berdasarkan undang-undang ini. (8) Menunjuk pihak lain untuk melakukan pemeriksaan tertentu dalam rangka pelaksanaan wewenang Bapepam sebagaimana dimaksud dalam poin 7 di atas. (9) Mengumumkan hasil pemeriksaan. (10) Guna kepentingan pemodal, membatalkan dan membekukan pencatatan suatu efek pada bursa efek atau menghentikan transaksi bursa atas efek tertentu untuk jangka waktu tertentu. (11) Menghentikan kegiatan perdagangan bursa efek untuk jangka waktu tertentu dalam hal keadaan darurat.

102

Insider Trading : Kejahatan Bisnis di Pasar Modal Indonesia

(12) Memeriksa keberatan yang diajukan oleh pihak yang dikenakan sanksi oleh Bursa Efek, Lembaga Kliring dan Penjaminan atau Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian serta memberikan keputusan membatalkan atau menguatkan pengenaan sanksi tersebut. (13) Menetapkan biaya perizinan, persetujuan, pendaftaran, pemeriksaan dan penelitian serta biaya lain dalam rangka kegiatan pasar modal. (14) Melakukan tindakan yang diperlukan untuk mencegah kerugian masyarakat sebagai akibat pelanggaran atas ketentuan di bidang pasar modal. (15) Memberikan penjelasan lebih lanjut yang bersifat teknik atas perundang-undangan pasar modal. (16) Menetapkan instrumen lain sebagai efek selain dari surat pengakuan utang, surat berharga komersil, saham, obligasi, tanda bukti utang, unit penyertaan kontrak investasi kolektif, kontrak berjangka atas efek, dan setiap derivatif dari efek. (17) Melakukan hal-hal lain yang diberikan berdasarkan Undang-undang Pasar Modal. 3. Pengaturan Secara Sporadis. Selain dari kewenangan seperti yang telah disebutkan di atas, masih ada lagi kewenangan Bapepam yang lain yang tersebar secara sporadis, baik diberikan oleh UU PM maupun peraturan perundangan lain yang pada prinsipnya merupakan penjabaran lebih lanjut dari kewenangan Bapepam seperti yang telah disebutkan.

4.3.1.1 Kewenangan Bapepam Sebagai Lembaga Pemeriksa. Sebagai lembaga yang diberikan wewenang yang besar oleh UU PM, salah satunya adalah sebagai lembaga pengawas, adalah kewenangan Bapepam untuk melakukan pemeriksaan. Kewenangan ini diberikan untuk melakukan pemeriksaan terhadap setiap pihak yang diduga melakukan pelanggaran atau terlibat dalam pelanggaran terhadap perundang-undangan di

Insider Trading Dalam Kegiatan di Pasar Modal

103

bidang pasar modal.31 Seperti juga telah diatur dalam PP Nomor 46 Tahun 1986 tentang Tata Cara Pemeriksaan di Bidang Pasar Modal, bahwa yang dimaksud dengan pemeriksaan adalah kegiatan mencari, mengumpulkan, dan mengolah data dan atau keterangan lain yang dilakukan oleh pemeriksa untuk membuktikan ada atau tidaknya pelanggaran atas perundangundangan di bidang pasar modal. Selain Bapepam, lembaga lain yang dapat memeriksa anggota pasar modal adalah lembaga Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), yang dibentuk berdasarkan UU Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Lembaga KPPU ini mempunyai kaitan yang erat dengan lembaga pasar modal. Ini terlihat dari ketentuan UU PM tentang kepemilikan saham. Pasal 27 UU Anti Monopoli melarang pelaku usaha memililiki saham mayoritas pada beberapa perusahaan sejenis yang melakukan kegiatan usaha dalam bidang yang sama atau mendirikan beberapa perusahaan yang memiliki kegiatan usaha yang sama pada pasar bersangkutan yang sama apabila kepemilikan tersebut membuat ia menguasai lebih dari 50% (75% untuk grup) pangsa pasar suatu barang/jasa tertentu. Sementara pada Pasal 87 ayat (2) UU Pasar Modal hanya diatur tentang kewajiban setiap pihak atau pemegang saham dengan kepemilikan minimal 5% atas saham emiten atau perusahaan publik, untuk melaporkan setiap kepemilikan dan perubahan kepemilikannya atas saham perusahaan tersebut kepada Bapepam. Dengan UU Pasar Modal tersebut, Bapepam tidak dapat melarang pelaku usaha untuk memiliki saham mayoritas pada beberapa perusahaan, walaupun perusahaan tersebut berada pada industri dan bidang usaha yang sama. Dalam hal kepemilikan saham ini, diperlukan peranan KPPU dan Bapepam untuk mengawasi setiap perubahan saham kepemilikan mayoritas di pasar modal. Dalam rangka pelaksanaan tugasnya selaku lembaga pemeriksa, Bapepam dapat melakukan hal-hal sebagai berikut: 32
31 32

Pasal 100 UU PM. Pasal 100 ayat (2) UU PM

104

Insider Trading : Kejahatan Bisnis di Pasar Modal Indonesia

(1) Meminta keterangan dan/atau konfirmasi dari pihak yang diduga melakukan atau terlibat dalam pelanggaran terhadap perundang-undangan di pasar modal atau pihak lain jika dianggap perlu. (2) Mewajibkan pihak yang diduga melakukan atau terlibat dalam pelanggaran terhadap perundang-undangan di bidang pasar modal untuk melakukan atau tidak melakukan kegiatan tertentu. (3) Memeriksa dan/atau membuat salinan terhadap catatan, pembukuan, dan/atau dokumen lain, baik milik pihak yang diduga melakukan atau terlibat dalam pelanggaran perundang-undangan di bidang pasar modal, ataupun pihak lain jika dianggap perlu. (4) Menentukan syarat dan/atau mengizinkan pihak yang diduga melakukan atau terlibat dalam pelanggaran terhadap perundang-undangan di bidang pasar modal untuk melakukan tindakan tertentu yang diperlukan dalam rangka penyelesaian kerugian yang timbul. Di lain pihak, KPPU dalam melakukan penyelidikannya hanya memeriksa dan melakukan penelitian tentang dugaan adanya kegiatan usaha dan atau tindakan pelaku usaha yang dapat mengakibatkan monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat yang kemudian memberikan rekomendasi hasilnya kepada pemerintah, apakah akan memutuskan menuntut pelaku usaha yang melakukan perbuatan tersebut di pengadilan atau tidak. Hal ini karena merupakan kewenangan dari pengadilan yang menentukan apakah pelaku usaha tertentu telah melakukan persaingan usaha yang tidak sehat (insider trading juga termasuk dalam hal ini) bersalah atau tidak. Kemudian berdasarkan keputusan tersebut dapat dijatuhkan hukuman pidana atau perdata atau kedua-duanya. 4.3.1.2 Kewenangan Bapepam Sebagai Lembaga Penyidik Salah satu kewenangan Bapepam yang diatur dalam UU PM adalah kewenangannya untuk melakukan penyidikan di pasar modal. Kewenangan penyidikan ini merupakan pelaksanaan dari

Insider Trading Dalam Kegiatan di Pasar Modal

105

kewenangan Bapepam selaku lembaga pengawas. Kewenangan ini digunakan oleh Bapepam, apabila dalam pandangannya telah terjadi suatu pelanggaran terhadap perundang-undangan di bidang pasar modal, yang mengakibatkan kerugian bagi kepentingan pasar modal dan atau masyarakat. UU PM memberikan wewenang khusus kepada Bapepam sebagai penyidik, yang dalam praktik sering disebut dengan Polisi Khusus. Hal ini dapat dimungkinkan, sesuai dengan ketentuan Pasal 6 ayat (1) huruf b KUHAP, yang menjelaskan bahwa pejabat pegawai negeri sipil tertentu dapat diberi wewenang khusus oleh undang-undang untuk menjadi penyidik. Kewenangan penyidikan oleh Bapepam ini merupakan wewenang yang bersifat mandiri, bukan kewenangan terusan dari kedudukannya sebagai lembaga pengawas. Oleh karena itu, Bapepam dapat langsung menggunakan kewenangan penyidikan, tanpa harus melakukan tindakan pemeriksaan terlebih dahulu, jika ada alasan untuk itu. Kewenangan penyidikan Bapepam ini dapat dijelaskan sebagai berikut:33 (1) Menerima laporan, pemberitahuan, atau pengaduan dari seseorang tentang adanya tindak pidana di bidang pasar modal. (2) Melakukan penelitian atas kebenaran laporan atau keterangan berkenaan dengan tindak pidana di bidang pasar modal. (3) Melakukan penelitian terhadap pihak yang diduga melakukan atau terlibat dalam tindak pidana di bidang pasar modal. (4) Memanggil, memeriksa dan meminta keterangan dan barang bukti dari setiap pihak yang disangka melakukan, atau sebagai saksi dalam tindak pidana di bidang pasar modal. (5) Melakukan pemeriksaan atas pembukuan, catatan, dan dokumen lain berkenaan dengan tindak pidana di bidang pasar modal.

33

Pasal 101 ayat (3) UU PM.

106

Insider Trading : Kejahatan Bisnis di Pasar Modal Indonesia

(6) Melakukan pemeriksaan di setiap tempat tertentu yang diduga terdapat setiap barang bukti pembukuan, pencatatan, dan dokumen lain serta melakukan penyitaan terhadap barang yang dapat dijadikan bahan bukti dalam perkara tindak pidana di bidang pasar modal. (7) Memblokir rekening pada bank atau lembaga keuangan lain dan pihak yang diduga melakukan atau terlibat dalam tindak pidana di bidang pasar modal. (8) Meminta bantuan ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana di bidang pasar modal. (9) Menyatakan saat dimulai dan dihentikannya penyidikan. (10)Mengajukan permohonan izin kepada menteri untuk memperoleh keterangan dari bank tentang keadaan keuangan dari tersangka pada bank sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. (11)Memberitahukan dimulainya penyidikan dan menyampaikan hasil penyidikan kepada penuntut umum sesuai dengan KUHAP (12)Meminta bantuan aparat penegak hukum lainnya. 4.3.2 Sanksi-sanksi Hukum Di Pasar Modal Salah satu hal yang dianggap sulit untuk diwujudkan adalah masalah yang berkenaan dengan penegakan hukum dan penerapan hukuman di bidang pasar modal terhadap pelaku insider trading. Sanksi-sanksi hukum yang dapat dikenakan terhadap aktivitas insider trading ini dapat diklasifikasikan menjadi sanksi perdata, sanksi pidana, dan sanksi administratif. UU PM Indonesia sendiri hanya mengenal sanksi pidana dan administratif. Dalam Pasal 103 sampai dengan Pasal 110 UU PM, mengkategorikan tindak pidana dalam pasar modal itu menjadi dua bagian, yaitu (1) tindak pidana kejahatan, dan (2) tindak pidana pelanggaran. 4.3.2.1 Sanksi Perdata Dalam UU Pasar Modal UU PM tidak mengatur secara langsung sanksi perdata terhadap pelanggaran yang dilakukan dalam praktik insider trading. Namun demikian, suatu prinsip umum dalam hukum

Insider Trading Dalam Kegiatan di Pasar Modal

107

“setiap orang dapat menuntut orang lain” dapat digunakan dalam menghadapi praktik insider trading. Menurut prinsip ini, memungkinkan seseorang yang merasa dirinya dirugikan oleh praktik insider trading untuk memperoleh ganti kerugian oleh pelaku. Dengan demikian, pihak yang merasa dirugikan dapat menuntut pihak yang melakukan praktik insider trading atau tindakan lain yang telah merugikan mereka. Dalam hal ini, gugatan dapat didasarkan pada beberapa dasar hukum, seperti sebagai berikut: 1) Gugatan berdasarkan kepada adanya pelanggaran perundang-undangan pasar modal itu sendiri; 2) Gugatan berdasarkan atas perbuatan melawan hukum, berdasarkan Pasal 1365 KUH Perdata; dan 3) Gugatan berdasarkan atas tindakan wanprestasi atas suatu perjanjian. Dalam sanksi perdata ini, contohnya adalah adanya kewajiban dari perusahaan untuk menerbitkan prospektus berdasarkan fakta material, dan dilarang memuat isi prospektus yang tidak benar berdasarkan fakta material. Jika terjadi hal demikian, maka pihak investor yang telah membeli saham berdasarkan isi prospektus yang tidak benar tersebut dapat menuntut ganti rugi kepada direksi dari perusahaan tersebut, baik secara sendiri-sendiri maupun kolektif terhadap kerugian yang diakibatkan penerbitan isi prospektus yang tidak benar tersebut. Dalam kasus insider trading, hal ini menghadapi beberapa kendala, antara lain: 1) Ketidaksiapan sistem peradilan dan juga hakim dalam menghadapi perkembangan sistem pasar modal di banyak negara. 2) Lamanya waktu yang dibutuhkan untuk memeriksa kasus tersebut, dan adanya kemungkinan pihak yang dituntut sudah menghilang dari pasar modal. 3) Tidak seimbangnya antara tuntutan yang diajukan oleh penuntut dengan jumlah kerugian yang diderita (hal ini disebabkan pelaku juga harus membayar sejumlah uang kepada pihak lain yang juga dirugikan). 4) Biaya persidangan yang cukup tinggi.

108

Insider Trading : Kejahatan Bisnis di Pasar Modal Indonesia

Untuk menghadapi masalah ini, di beberapa negara dimungkinkan untuk mewakili kepentingan investor oleh negara. Misalnya di Afrika Selatan, ada Financial Services Board (FSB) yang mewakili kepentingan para investor untuk menuntut pihak yang dicurigai melakukan insider trading. Jika pihak yang menuntut ganti kerugian memenangkan kasus tersebut, maka investor akan mendapatkan sejumlah kompensasi atas kerugian mereka. 4.3.2.2 Sanksi Pidana Dalam UU Pasar Modal Sanksi yang berkaitan dengan tindak pidana dapat dilakukan oleh Bapepam dengan menetapkan sanksi-sanksi yang berkaitan dengan sanksi denda atau penjara yang mana sesuai dengan jenis pelanggaran yang telah secara tegas diatur di dalam Pasal 103 sampai dengan Pasal 109 UU No.8 Tahun 1995. Di dalam Pasal 103 ayat 1 disebutkan bahwa: “Setiap pihak yang melakukan kegiatan di Pasar Modal tanpa izin, persetujuan atau pendaftaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, Pasal 13, Pasal 18, Pasal 30, Pasal 34, Pasal 43, Pasal 48, Pasal 50 dan Pasal 64 diancam dengan pidana penjara palng lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp.5.000.000.000,00,-(lima milyar rupiah).” Pelanggaran yang diancam oleh Pasal 103 ayat (1) ini berkaitan dengan kegiatan yang wajib mendapatkan persetujuan dari Bapepam yang dilakukan oleh Bursa Efek, Lembaga Kliring dan Penjamin, Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian, Reksadana, Perusahaan Efek, Penasehat Investasi, Lembaga Penunjang Pasar Modal dan Profesi Penunjang Pasar Modal. Kemudian Pasal 104 menyebutkan bahwa “Setiap pihak yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 90, Pasal 92, Pasal 93, Pasal 95, Pasal 96, Pasal 97 ayat 1 dan Pasal 98 diancam dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp 15.000.000.000,00,- (lima belas milyar rupiah)”. Pasal ini berkaitan dengan pelanggaran yang berhubungan dengan kejahatan yang berkaitan dengan penipuan, manipulasi pasar dan insider trading. Sejumlah pasal-pasal yang berkaitan dengan larangan bagi perusahaan efek yang bertindak

Insider Trading Dalam Kegiatan di Pasar Modal

109

sebagai manajer investasi atau pihak terafiliasinya dilarang menerima imbalan dalam bentuk apapun, baik langsung maupun tidak langsung, yang dapat mempengaruhi manajer investasi yang bersangkutan untuk membeli atau menjual efek untuk reksadana, diancam dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp 1.000.000.000 (satu milyar rupiah) seperti yang ditegaskan di dalam Pasal 105 UU PM. Sehubungan dengan persyaratan yang diwajibkan bagi perusahaan yang akan melakukan penawaran umum atau go public untuk menyampaikan pernyataan pendaftaran (registration statement) kepada Bapepam, sehingga bagi yang melanggar ketentuan tentang kewajiban ini diancam dengan ancaman penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak sebesar Rp 15.000.000.000,00,- (lima belas milyar rupiah) seperti yang tertuang didalam Pasal 106 UU PM. Ketentuan tentang ancaman bagi pihak-pihak yang dengan sengaja menghilangkan barang bukti atas kejahatannya diancam seperti yang tertuang di dalam Pasal 107 UU PM, yang berbunyi “Setiap pihak dengan sengaja bertujuan menipu atau merugikan pihak lain atau menyesatkan Bapepam, menghilangkan, memusnahkan, menghapuskan, mengubah, mengaburkan, menyembunyikan atau memalsukan catatan dari pihak yang memperoleh izin, persetujuan atau pendaftaran termasuk emiten dan perusahaan publik diancam dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp 5.000.000.000,00,- (lima milyar rupiah).” Meski demikian, diakui bahwa sangat sulit untuk membuktikan telah terjadinya suatu praktik insider trading. Menemukan “the smoking gun”34 dalam kasus insider trading sangat jarang dan bukti yang diperoleh juga sangat sulit. Selain hal tersebut, pihak yang berwenang menentukan bahwa telah terjadi suatu pelanggaran pidana pada dasarnya adalah pihak pengadilan negeri, dalam hal ini melalui jalur penuntutan dalam persidangan. Akan tetapi, pihak Bapepam tidak pernah melimpahkan kasus-kasus pelanggaran hukum di pasar modal kepada pihak kejaksaan dan pengadilan negeri untuk
34

Richard A. Posner & Kenneth E. Scott, op. cit., hlm. 76.

110

Insider Trading : Kejahatan Bisnis di Pasar Modal Indonesia

menyelesaikan masalah yang terjadi di pasar modal. Hal ini dapat disebabkan lembaga peradilan Indonesia belum mengerti sepenuhnya tentang sistem pasar modal Indonesia, yang berasal dari sistem hukum yang berbeda dari yang diketahui oleh hakimhakim dalam lembaga peradilan tersebut. Dengan demikian, kasus-kasus pelanggaran yang terjadi di pasar modal akan terjadi terus karena para pelaku ini tidak pernah mendapat hukuman yang maksimal seperti yang diatur dalam UU PM, sehingga mereka tidak pernah jera untuk mengulanginya kembali. Harus ada kemauan yang kuat dari Bapepam selaku otoritas pengawas di pasar modal untuk menyerahkan kewenangan penyelidikan dan penuntutan hukum terhadap pelanggaran yang terjadi di pasar modal. 4.3.2.3 Sanksi Administratif Dalam UU Pasar Modal Badan pengawas dan pengatur pasar modal di tiap negara mempunyai kekuasaan untuk mengenakan sanksi administrasi dalam kasus insider trading. Sanksi-sanksi terhadap praktik insider trading dapat berupa penarikan izin usaha, pembatasan tindakan atau operasional dari perusahaan yang tercatat di pasar modal, dan penundaan pendaftaran. Pihak yang terlibat langsung dalam praktik insider trading juga dapat dicabut keanggotaan tetapnya dalam perusahaan untuk jangka waktu tertentu, memerintahkan untuk membayar sejumlah keuntungan yang diperoleh melalui insider trading dan denda untuk jumlah tertentu. Dalam beberapa hal, pihak pengawas dan pengatur pasar modal dapat memberikan wewenang kepada pengadilan negeri untuk mengenakan sanksi pidana setelah menjatuhkan sanksi administratif tersebut.35 Dalam Pasal 102 UU PM, ditentukan bahwa pihak yang melanggar ketentuan perundang-undangan Pasar Modal dapat dikenakan sanksi administratif oleh pihak Bapepam. Pihak yang dapat dikenakan sanksi administratif tersebut adalah:36

35 36

OICV – IOSCO, op. cit., hlm 18. Pasal 102 Ayat (1) UU PM.

Insider Trading Dalam Kegiatan di Pasar Modal

111

1) Pihak yang memperoleh izin dari Bapepam. 2) Pihak yang memperoleh persetujuan dari Bapepam. 3) Pihak yang melakukan pendaftaran kepada Bapepam. Adapun sanksi administratif yang dapat dijatuhkan kepada mereka yang tersebut di atas adalah:37 1) Peringatan tertulis; 2) Denda pembayaran sejumlah uang tertentu (bukan denda pidana); 3) Pembatasan kegiatan usaha; 4) Pembekuan kegiatan usaha; 5) Pencabutan izin usaha; 6) Pembatalan persetujuan; dan 7) Pembatalan pendaftaran. Penerapan sanksi hukum di pasar modal Indonesia terhadap pelanggaran hukum, dapat menjatuhkan hukuman secara parsial ataupun gabungan dari sanksi pidana maupun administratif tersebut.38 Dalam menghadapi praktik insider trading, merupakan kewajiban dari perusahaan dan juga Bapepam untuk mencegah hal tersebut. Hal ini dapat dijalankan dengan upaya sebagai berikut: (1) Kewajiban disclosure oleh perusahaan. (2) Perlindungan terhadap inside information. (3) Keterbukaan tentang perdagangan oleh perusahaan sendiri. (4) Membatasi kemungkinan perdagangan oleh orang dalam. (5) Tindakan yang dapat dilakukan jika terdapat praktik insider trading. Insider trading sangat berbahaya bagi mekanisme pasar modal yang sangat mengandalkan keterbukaan informasi dalam setiap transaksi perdagangan efek yang dilakukan. Hal ini disebabkan beberapa hal berikut ini:
37 38

Pasal 102 Ayat (2) UU PM Pasal 102 – 110 UU PM.

112

Insider Trading : Kejahatan Bisnis di Pasar Modal Indonesia

1. Pembentukan harga yang tidak fair (Informed Market theory); Jika ada insider trading, akan tidak terbentuk harga yang tidak fair berhubung kurangnya informasi tentang keadaan barang yang sebenarnya. Padahal harga yang fair tersebut merupakan sinyal yang akurat mengenai jumlah sumberdaya yang perlu dialokasi. 2. Perlakuan yang tidak adil di antara para pelaku pasar (Market Egaliterism atau Fair Play theory); Suatu pasar yang baik adalah pasar di mana semua anggota pasar diperlakukan secara sama dan adil. Dalam pasar modal, semua pelaku berhak memperoleh informasi yang sama. Sedangkan dengan insider trading, maka hanya sebagian kecil atau bahkan satu orang saja yang mempunyai informasi tertentu. 3. Berbahaya bagi kelangsungan hidup pasar modal; Jika keadaan pasar modal tidak fair dan transparan, akan banyak orang meninggalkan pasar modal yang bersangkutan untuk beralih ke pasar modal di negara lain ataupun ke jenis-jenis investasi lainnya. Dengan begitu, eksistensi pasar modal yang bersangkutan akan terancam. 4. Berdampak negatif bagi emiten; Dengan adanya insider trading, pihak investor akan hilang kepercayaannya terhadap emiten itu sendiri. Sekali nama baik investor jatuh, akan sulit baginya untuk berkembang atau menambah pemodalan selanjutnya. Bahkan mungkin saja pihak pelaku insider trading tersebut berbuat hal-hal yang merugikan emiten agar harga berfluktuasi, sehingga dia dapat mengambil keuntungan dari hal tersebut. Padahal keuntungan tersebut dapat digolongkan sebagai Unjust Enrichment (memperkaya diri secara tidak sah dengan memiliki apa yang bukan haknya). 5. Kerugian materil bagi investor; Dengan terjadinya perbuatan yang dapat digolongkan ke dalam insider trading ini, maka pihak investor akan mengalami

Insider Trading Dalam Kegiatan di Pasar Modal

113

kerugian secara langsung. Mungkin dia telah membeli suatu surat berharga yang terlalu mahal, ataupun menjualnya dengan harga yang terlalu murah. Bahkan investor dapat dikatakan telah dikhianati atau ditipu oleh pihak pelaku insider trading tersebut. Padahal, perlindungan publik (investor) selalu menjadi fokus utama dari pengaturan hukum di bidang pasar modal. 6. Kerahasiaan itu miliknya perusahaan; Informasi rahasia itu miliknya perusahaan sesuai dengan asas pengakuan hak milik intelektual. Oleh karena itu, tidaklah pada tempatnya milik perusahaan tersebut dimanfaatkan oleh pihak lain selain oleh perusahaan itu sendiri.39 ***

39

Munir Fuady, op. cit., hlm. 168-169

114

Insider Trading : Kejahatan Bisnis di Pasar Modal Indonesia

Bab V

Penutup

5.1 Kesimpulan Berdasarkan uraian dan pembahasan yang telah dikemukakan dalam bab-bab sebelumnya, dapat ditarik suatu kesimpulan dari permasalahan sebagai berikut: 5.1.1 Suatu perbuatan dapat dikategorikan sebagai insider trading jika memenuhi syarat-syarat adanya inside information, informasi tersebut belum terbuka untuk umum, adanya transaksi perdagangan efek karena motivasi informasi tersebut, dan adanya motivasi untuk memperoleh keuntungan yang tidak layak dari transaksi perdagangan tersebut. Selain itu, dengan mempergunakan missaproppriation theory dapat memperluas pengertian pelaku insider trading daripada yang diatur dalam UU Pasar Modal. 5.1.2 Hambatan yang ditemukan adalah adanya perbedaan sistem hukum yang dianut oleh pasar modal yang berasal dari sistem hukum Anglo Saxon, sementara di pihak lain Indonesia menganut sistem Eropa Kontinental. Hal ini dapat menimbulkan kendala tertentu bagi hakim-hakim di pengadilan untuk memeriksa pelanggaran hukum di pasar modal secara cepat, transparan dan adil karena kurangnya pengetahuan hakim secara umum terhadap sistem Pasar Modal. Adanya kelemahan UU Pasar Modal dalam hal menjangkau pelaku insider trading di luar

116

Insider Trading : Kejahatan Bisnis di Pasar Modal Indonesia

5.1.3

pengertian yang diberikan oleh UU Pasar Modal. UU Pasar Modal tidak dapat menjangkau pelaku insider trading yang termasuk dalam kategori misappropriation theory, karena UU Pasar Modal masih menganut konsep fiduciary duty. Hambatan lainnya adalah tidak adanya batasan waktu yang diperlukan oleh orang dalam untuk melakukan suatu transaksi perdagangan setelah suatu fakta material dibuka untuk umum. Penegakan hukum di bidang pasar modal masih rendah, hal ini terlihat dari tidak adanya upaya dari Bapepam untuk mengajukan pelanggaran terhadap bidang pasar modal ke badan peradilan biasa dalam upaya menjerakan pelaku insider trading, melainkan hanya diselesaikan secara administratif di dalam Badan Pengawas Pasar Modal sendiri. Selain itu hukuman yang dijatuhkan hanya bersifat parsial saja, tidak memberikan hukuman kumulatif sesuai dengan ketentuan dalam UU Pasar Modal.

5.2 Saran Adapun saran-saran yang dapat diberikan dalam tulisan tesis ini adalah: 5.2.1 Perlu penjelasan lebih lanjut dalam bentuk peraturan perundang-undangan tersendiri yang mengatur tentang insider trading, termasuk perluasan ruang lingkup pelaku insider trading dengan menggunakan misappropriation theory, seperti yang dianut dalam Rule 10b-5 dan Insider Trading and Securities Fraud Enforcement Act of 1988 di Amerika Serikat yang cukup efektif dalam mengatasi masalah insider trading. 5.2.2 Lembaga-lembaga yang terkait dalam bidang pasar modal harus lebih benar-benar menerapkan prinsip keterbukaan dalam setiap kegiatannya di pasar modal untuk terciptanya pasar modal yang efektif dan untuk mencegah terjadinya praktik insider trading. ***

Daftar Pustaka

A. Buku Abdul Hasan Muhammad Sadeq (et al), Development and Finance in Islam, International University Press, Malaysia, 1991. Asril Sitompul, Pasar Modal (Penawaran Umum dan Permasalahannya), Citra Aditya Bakti, Bandung, 2000. Bernhard Bergmans, Inside Information and Securities Trading, Graham & Trotman Limited, London, 1991. David L. Ratner (et al), Securities Regulation: Cases and Materials, 4th Edition, West Publishing Co., St. Paul, Minnesota, 1991. David L. Ratner, Securities Regulation In a Nutshell, 4th Edition, West Publishing Co., St. Paul, Minnesotta, 1992. Departemen Keuangan Republik Indonesia, Seluk Beluk Pasar Modal, tanpa tahun.

118

Insider Trading : Kejahatan Bisnis di Pasar Modal Indonesia

Departemen Penerangan Republik Indonesia, Pasar Modal Pembangunan Indonesia, Jakarta, 1984. Donald C. Langevoort, Insider Trading Regulation, Clark Boardman Co. Ltd., Nashville, Tennessee, 1989. Douglas Whitman & John William Gergacz, The Legal and Social Environtment of Business, 4 th Edition, McGraw-Hill, Inc., New York, 1994. F.H. Buckley (et al), Corporation: Principles and Policies, Edmond Montgomery Publication Ltd., Toronto Canada, 1988. Henry S. Cheeseman, Business Law: The Legal, Ethic, and International Environment, 2nd Edition, Prentice Hall, Englewood Cliffs, New Jersey, 1995. Hulwati, Transaksi Saham di Pasar Modal Indonesia: Perspektif Hukum Ekonomi Islam, UII Press, Yogyakarta, 2001. Iman Sjahputra Tunggal & Amin Widjaja Tunggal, Memahami Konsep Corporate Governance, Jakarta, Harvarindo, 2002. —————, Membangun Good Corporate Governance, Jakarta, Harvarindo, 2002. Janet Low, Memahami Pasar Modal, terj. oleh Hasan Zein Mahmud, “Understanding Stock Market”, Upaya Swadaya Aksara, Jakarta, 1989. Marzuki Usman (et al), ABC Pasar Modal Indonesia, Jakarta, Institut Bankir Indonesia, 1994. —————, Pengetahuan Dasar Pasar Modal, Kerjasama Institut Bankir Indonesia dengan Jurnal Keuangan dan Moneter Bank Indonesia, Jakarta, 1997. Moch. Faisal Salam, Perseroan Terbatas Di Indonesia Menurut Undang-undang Perseroan Terbatas No. 1 Tahun 1995, Bandung, Penerbit Pustaka, 2003. Munir Fuady, Hukum Bisnis Dalam Teori dan Praktek, Buku Ketiga, Bandung, Citra Aditya Bakti, 1996.

Daftar Pustaka

119

—————, Pasar Modal Modern: Tinjauan Hukum, Buku Pertama, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2001. Nindyo Pramono, Sertifikasi Saham PT Go Public dan Hukum Pasar Modal di Indonesia, Bandung, Citra Aditya Bakti, 1996. Panji Anoraga & Ninik Widiyanti, Pasar Modal: Keberadaan dan Manfaatnya Bagi Pembangunan, Jakarta, Rineka Cipta, 1995. R. Ali Ridho (et al), Hukum Dagang Tentang Surat-surat Berharga, Perseroan Firma, Perseroan Komanditer, Keseimbangan Kekuatan PT dan Penswastaan BUMN, Remaja Karya, Bandung, 1988. R. Subekti, Aneka Perjanjian, Cet. Kesepuluh, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1995. Richard A. Posner & Kenneth E. Scott, Economics of Corporation Law And Securities Regulation, Litle, Brown and Company, Canada, 1980. Roger E. Meiners (et al), The Legal Environment of Business, West Publishing Co., St. Paul, 1990. Ronny Hanitijo Soemitro, Metodologi Penelitian Hukum dan Jurimetri, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1990. Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum: Suatu Tinjauan Singkat, PT RadjaGrafindo Persada, Jakarta, 1995. Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, UI Press, Jakarta, 1986. Sumantoro, Pengantar Tentang Pasar Modal di Indonesia, Cet. I, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1990. Sunariyah, Pengantar Pengetahuan Pasar Modal, Edisi Kedua, UPP Akademi Manajemen Perusahaan YKPN, Yogyakarta, 2000.

120

Insider Trading : Kejahatan Bisnis di Pasar Modal Indonesia

Syahrir, Tinjauan Pasar Modal, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1995. Tjiptono Darmadji & Hendy M. Fakhruddin, Pasar Modal Indonesia: Pendekatan Tanya Jawab, Salemba Empat, Jakarta, 2001. B. Disertasi, Skripsi, Makalah, dan Sumber Lainnya Cyril Noerhadi, “Pencatatan dan Perdagangan Saham di Bursa Efek Jakarta”, makalah Seminar Nasional Hukum Ekonomi, Program Magister Ilmu Hukum Universitas Diponegoro, 25 Oktober 1996. Erman Rajagukguk, “Mekanisme Pasar Modal dan Persoalanpersoalan Hukum yang Timbul”, makalah Masalah Hukum di Pasar Modal, Fakultas Hukum UII, Yogyakarta, 1992. Hugh T. Patrick dan U Tun Wai, “Stock and Bond Issues and Capital Market in Less Develop Countries”, dalam Abdulbasith Anwar, artikel pada Manajemen dan Usahawan Indonesia No. 9 Tahun XIX, September 1990. I Nyoman Tjager, “Pokok-pokok Materi Undang-undang Pasar Modal”, makalah seminar Potensi-potensi Kejahatan di Bursa Efek, Fakultas Hukum UGM, Yogyakarta, 1996. Indra Safitri, Hukum Pasar Modal, makalah pada seminar Hukum Pasar Modal, Jakarta, 20 September 1999. Najib, Pelaksanaan Akuisisi Perusahaan yang Telah Go Public Melalui Pasar Modal Indonesia: Studi Kasus pada Bursa Efek Jakarta, Skripsi, FH UII, Yogyakarta, 1993. Nindyo Pramono, “Menyongsong Undang-Undang Pasar Modal Indonesia”, makalah seminar Menyongsong Undangundang Pasar Modal Indonesia, PT Total Mega Inovatif, Jakarta, 1995.

Daftar Pustaka

121

Noorjahan Meurling, “Disclosure Obligation”, dalam makalah “Kebutuhan Akan Penataan Pasar Modal di Indonesia Melalui Perangkat Hukum”, Yayasan Pusat Pengkajian Hukum, Jakarta, 1992. OICV – IOSCO, Insider Trading How Jurisdiction Regulate It, Report of The Emerging Markets Committee of The International Organization of Securities Commissions, March 2003. Sofyan A. Jalil, “Manipulation and Insider Trading”, makalah pada Pendidikan dan Pelatihan bagi Profesi Penunjang untuk Konsultan Hukum Pasar Modal, Jakarta, 1996. Victor CS. Yeo, A Comparative Analysis of Insider Trading Regulation, Work Paper, Nanyang Technology University, Singapore, 15th January 2001. Yahya Harahap, “Sistem Peradilan Indonesia dan Alternatif Penyelesaian Sengketa”, dalam seminar Undang-Undang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa, Hotman Paris Hutapea, Law Education and Training Center, Jakarta, 5 Juli 1999. Kompas, 9 September 1991. Warta Ekonomi, No. 3 Tahun VIII/10 Juni 1996. C. Perundang-undangan Undang Undang Dasar Republik Indonesia 1945 Amandemen Ke-4. Ketetapan MPR Republik Indonesia Nomor IV/MPR/1999 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara Tahun 1999 – 2004. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal.

122

Insider Trading : Kejahatan Bisnis di Pasar Modal Indonesia

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 45 Tahun 1995 tentang Penyelenggaraan Kegiatan di Bidang Pasar Modal. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 46 Tahun 1995 tentang Tata Cara Pemeriksaan Pasar Modal. Securities Act of 1933 United States of America. Securities Exchange Act of 1934 United States of America. Japanese Securities Laws and Relating Orders, Japan Securities Research Institute, Tokyo, Japan, 1982. Securities and Exchange Law as Amended 1982, Laws and Regulation on Securities Market, The Korean Securities Dealers Association, Seoul, South Korea, 1982. D. Kamus Henry Campbell Black, Black’s Law Dictionary, 5th Edition, West Publishing Company, St. Paul, Minnesotta, 1979. ***

Riwayat Penulis

124

Insider Trading : Kejahatan Bisnis di Pasar Modal Indonesia

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->