P. 1
Proposal Skripsi

Proposal Skripsi

|Views: 5,322|Likes:
Published by Sena Pamuji
Tugas Ekonomi Wilayah dan Perkotaan.
Terdiri dari bab I dan II
merangkum beberapa sumber: skripsi, buku referensi dan internet
Tugas Ekonomi Wilayah dan Perkotaan.
Terdiri dari bab I dan II
merangkum beberapa sumber: skripsi, buku referensi dan internet

More info:

Published by: Sena Pamuji on Jun 21, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/27/2013

pdf

text

original

Otonomi daerah merupakan tema lama yang nampaknya selalu menemukan

aktualisasi dan relevansinya. Dikatakan tema lama karena pasal 18 Undang – Undang

Dasar 1945 sendiri telah memberikan landasan yang jelas tentang eksistensi daerah.

Seiring dengan ditetapkannya Undang – Undang Dasar itu, sejak itupula pengaturan

tentang otonomi daerah dalam perundang – undangan mulai diperdebatkan. Pertama kali

dengan Undang – Undang Nomor I Tahun 1945, kemudian Undang – Undang Nomor 22

Tahun 1948 dan seterusnya sampai terakhir Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999

tentang pemerintah daerah, yang akan memberikan landasan yuridis kepada otonomi

daerah secara proporsional (Ryaas Rasyid, 1999).

Pembangunan jangka panjang Negara Indonesia telah mengalami beberapa kali

pergeseran. Pergeseran – pergeseran ini antara lain terlihat pada adanya pergeseran

wacana dari proses perencanaan top – down menuju proses perencanaan bottom – up

(perencanaan yang interaktif), dari pembangunan untuk rakyat menjadi pembangunan

bersama rakyat, dan dari pendekatan politik yang terbatas menuju pendekatan politik

yang lebih terbuka.

2

Sejalan dengan pergeseran tersebut, dalam bidang Pemerintah Daerah, pemerintah

telah menyusun sebuah gagasan tentang Rencana Strategis Pengembangan Pemerintah

Daerah (Restra Pemda). Dalam rencana pengembangan Pemerintah Daerah tersebut

terdapat enam bidang yang akan dirancang perencanaannya; yaitu penataan wilayah,

distribusi urusan pemerintahan, kelembagaan dan personalia, system keuangan daerah,

pemerintahan perkotaan dan lembaga ekonomi daerah.

Bidang – bidang yang direncanakan dalam rencana strategis tersebut memang

menyangkut salah satu isu yang paling strategis dalam pendekatan pembangunan yang

terdesentralisasi, yaitu tentang perlunya penataan kembali otonomi daerah.

Prinsip otonomi daerah menggunakan prinsip otonomi seluas – luasnya, dalam arti

daerah diberi kewenangan untuk mengurus dan mengatur semua urusan pemerintahan di

luar yang menjadi urusan pemerintah pusat. Daerah memiliki kewenangan membuat

kebijakan daerah untuk member pelayanan, peningkatan peran serta, prakarsa, dan

pemberdayaan masyarakat yang bertujuan pada peningkatan kesejahteraan rakyat. Sejalan

dengan prinsip tersebut dilaksanakan pula prinsip otonomi yang nyata dan

bertanggungjawab. Prinsip otonomi nyata adalah suatu prinsip bahwa untuk menangani

urusan pemerintahan dilaksanakan berdasarkan tugas, wewenang, dan kewajiban yang

telah ada dan berpotensi untuk tumbuh, hidup dan berkembang sesuai dengan potensi dan

kekhasan daerah. Dengan demikian isi dan jenis otonomi bagi setiap daerah tidak selalu

3

sama dengan daerah lainnya, adapun yyang dimaksud dengan otonomi yang

bertanggungjawab adalah otonomi yang dalam penyelenggaraannya harus benar – benar

sejalan dengan tujuan dan maksud pemberian otonomi, yang pada dasarnya untuk

memberdayakan daerah termasuk meningkatkan kesejahteraan rakyat yang merupakan

bagian utama dari tujuan nasional (Penjelasan UU No. 32 Th. 2004 Tentang

Pemerintahan Daerah: 167).

Untuk penyelenggaraan otonomi daerah yang nyata dan bertangguangjawab,

diperlukan kewenangan dan kemampuan menggali sumber keuangan sendiri yang

didukung oleh perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah, serta antara

propinsi dan kabupaten/kota yang merupakan prasyarat dalam system pemerintah daerah

(Bratakusumah dan Solihin, 2001: 169)

Penerapan otonomi daerah yang luas saat ini bertujuan untuk mengembangkan

seluruh potensi ekonomi yang ada sehingga dapat memacu peningkatan aktivitas

perekonomian di daerah yang pada akhirnya meningkatkan perekonomian nasional.

Penerapan otonomi daerah yang telah digariskan dalam UU No. 33/2004, mensyaratkan

adanya suatu perimbangan keuangan antarapemerintah pusat dan daerah. Perimbangan

keuangan antara pemerintah pusat dan daerah adalah suatu system pembiayaan

pemerintah dalam rangka Negara kesatuan yang mencakup pembagian keuangan antara

4

pemerintah pusat dan daerah, serta pemerataan antar daerah secara proporsional, adil,

demokratis dan transparan.

Desentralisasi fiscal tidak akan berguna jika tidak diikuti dengan kemampuan

financial yang cukup memadai oleh pemerintah daerah. Oleh karena itu melalui UU No.

33/2004, diharapkan nantinya akan dapat menyelesaikan permasalahan tersebut. Sumber

penerimaan daerah yang digunakan untuk pendanaan daerah menurut UU No. 33/2004

dalam pelaksanaan desentralisasi meliputi: Pendapatan Asli Daerah (PAD), Danna

Alokasi Khusus (DAK), Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Bagi Hasil (DBH), pinjaman

daerah dan lain – lain penerimaan yang sah. Dalam UU No. 33/2004 memberikan

kewenangan bagi daerah untuk meningkatkan kemampuan pendapatannya, yaitu dengan

meluaskan jangkauan dari bagian pajak dan bagi hasil sumber daya alam dengan

pemerintah pusat.

Fenomena yang muncul pada pelaksanaan otonomi daerah adalah ketergantungan

pemerintah daerah yang tinggi terhadap pemerintah pusat. Ketergantungan ini terlihat

jelas dari aspek keuangan, pemerintah daerah kehilangan keleluasaan bertindak untuk

mengambil keputusan – keputusan yang penting, dan adanya campur tangan pemerintah

pusat yang tinggi terhadap pemerintah daerah. Pembangunan daerah terutama fisik

memang cukup pesat, tetapi tingkat ketergantungann fiscal antara daerah terhadap pusat

sebagai akibat dari pembangunan juga semakin besar. Ketergantungan terlihat dari

5

dominan transfer dari pusat dan relative rendahnya Pendapatan Asli Daerah (PAD). Akan

sangat ironis jika pelaksanaan otonomi menitikberatkan pada kabupaten/kota sebagai

ujung tombak, namun justru kabupaten/kota-lah yang mengalami tingkat ketergantungan

yang lebih tinggi dibanding propinsi (Mudrajad, 2004:18).

Dalam masalah keuangan daerah, perimbangan pembiayaan pemerintah pusat dan

daerah dengan pendapatan yang secara leluasa digali sendiri untuk mencukupi

kebutuhannya masih mempunyai kelemahan sehingga keterbatasan dalam potensi

penerimaan daerah tersebut bisa menjadikan ketergantungan terhadap transfer pusat.

Pemerintah daerah selama ini memiliki keterbatasan pembiayaan dari potensi sendiri

(PAD). Selama ini komponen pembiayaan terbesar berasal dari dana transfer pemerintah

pusat yaitu Dana Alokasi Umum dan hanya sebagian kecil dari PAD, potensi

pembiiayaan lain yang belum dikelola yaitu dari pinjaman daerah (Rokhedi P. Santoso,

2003:148)

Kebijakan Dana Alokasi Umum (DAU) mempunyai tujuan utama untuk memperkuat

kondisi fiscal daerah dan mengurangi ketimpangan antar daerah (horizontal imbalance).

Penggunaan DAU, DBHP dan DBH SDA diserahkan pada kebijakan masing – masing

daerah.

Dana Alokasi Khusus (DAK) bertujuan untuk membantu mendanai kegiatan khusus

yang merupakan urusan daerah dan sesuai dengan prioritas nasional.

6

Pemerintah daerah harus dapat meningkatkan penerimaannya untuk membiayai

kegiatan pembangunan namun di era desentralisasi fiscal, harapan itu belum optimal yang

tercermin dalam pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Pertumbuhan

PDRB menunjukkan pertumbuhan ekonomi di daerah Tangerang Selatan setelah

pelaksanaan desentralisasi fiscal.

Hakikat otonomi adalah adanya kewenangan daerah bukan pendelegasian (Adi,

2005:1). Daerah tidak lagi sekadar menjalankan instruksi pemerintah pusat, tetapi benar –

benar mempunyai keleluasaan untuk meningkatkan kreatifitas dalam mengembangkan

potensi yang selama era sentralisasi bisa dikatakan terpasung (Adi, 2002:1). Sebagian

kalangan bahkan menyatakan bahwa pelaksanaan desentralisasi sebagai pendekatan Big

Bang karena jangka waktu persiapan yang terlalu pendek untuk ukuran Negara yang

begitu besar dengan kondisi geografis yang cukup menyulitkan ( Adi, 2005:2). Terlebih

di tengah – tengah upaya bangsa melepaskan diri dari krisis ekonomi moneter yang

berkepanjangan dari pertengahan 1997. Akibatnya kebijakan ini memunculkan kesiapan

(fiskal) daerah yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Kebijakan ini justru

dilakukan pada saat terjadi disparitas pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi.

Sebagai solusi, pemerintah menetapkan alokasi transfer dana (DAU) yang berbeda.

Daerah yang mempunyai kapasitas fiscal tinggi akan mendapat dana yang lebih kecil

daripada daerah yang kapasitas fiskalnya rendah. Pemberian transfer ini bertujuan untuk

7

menjamin tercapainya standar pelayanan public dan mengurangi kesenjangan antar

daerah dan kesenjangan antara pusat – daerah (Adi, 2005:2).

Dalam penelitian ini, daerah yang diteliti adalah kota Tangerang Selatan. Wilayah ini

merupakan pemekaran dari Kabupaten Tangerang. Di mana terdiri dari 7 kecamatan,

Pertama, kecamatan Serpong. Kedua, kecamatan Serpong Utara. Ketiga, kecamatan Setu.

Keempat, kecamatan Pamulang, Kelima, kecamatan Ciputat. Keenam, kecamatan Ciputat

Timur. Ketujuh, kecamatan Pondik Aren.

Pertumbuhan ekonomi adalah sebagian dari perkembangan kesejahteraan masyarakat

yang diukur dengan besarnya pertumbuhan produk domestic regional bruto per kapita

(PDRB per kapita) (Zaris, 1987:82). Tingginya tingkat pertumbuhan ekonomi yang

ditunjukkan dengan tingginya nilai PDRB menunjukkan bahwa daerah tersebut

mengalami kemajuan dalam perekonomian. Salah satu indicator keberhasilan

pelaksanaan pembangunan yang dapat dijadikan tolak ukur secara makro adalah

pertumbuhan ekonomi. Akan tetapi, meskipun demikian telah digunakan sebagai

indicator pembangunan, pertumbuhan ekonomi masih bersifat umum dan belum

mencerminkan kemampuan masyarakat secara individual. Pertumbuhan ekonomi suatu

daerah dapat dicerminkan dari PDRB. Pertumbuhan ekonomi di kota Tangerang Selatan

selama kurun waktu beberapa tahun terakhir ini selalu mengalami kenaikan, walaupun

kenaikan itu tidak signifikan. Kondisi tersebut dapat dilihat dari tabel 1.1

8

Tabel 1.1
Perkembangan Produk Domestik Regional Bruto
A.D.H Konstan 2000 Menurut Kecamatan
Tahun 2004 - 2007 (Juta Rupiah)

Sumber: Pemerintah Kota Tangerang Selatan, diolah

Tabel 1.2
Perkembangan nilai PDRB Atas Dasar Harga Konstan
Tahun 2000 Tahun 2004 – 2007

9

Tabel 1.3
Laju Pertumbuhan Ekonomi Kota Tangerang Selatan
Tahun 2004 – 2007 (Juta Rupiah)

Sumber: PemKot Tang-Sel, diolah

Kecamatan

Tahun

Serpong

Serpong

Utara

Setu

Pamulang

Ciputat

Ciputat

Timur

Pondok

Aren

Kota

Tangerang

Selatan

Laju

Pertumbuhan

(%)

2004

179.550,09

303.232,52

22.559,15 189.287,91

216.106,

22

542.445,07

277.010,

84

1.730.191,80

-

2005

443.493,77

326.763,73

25.220,12 199.994,19

234.788,8

4

514.289,40

283.591,9

6

2.028.142,01

14,7

2006

541.774,23

330.612,91

35.702,43 301.838,10

277.804,2

2

739.030,08

372.839,4

6

2.599.601,43

28,17

2007

578.021,98

267.623,91

34.858,68 333.208,65

290.068,1

9

890.351,92

374.653,8

4

2.768.787,17

6,51

10

Tabel 1.4
Laju Pertumbuhan Ekonomi Kota Tangerang Selatan
Menurut Kecamatan
Tahun 2004 - 2007 (Juta Rupiah)

Kecamatan

Tahun

2004/

2005

2005/

2006

2006/

2007

2004

2005

2006

2007

%

%

%

Serpong

179.550,09

443.493,77

541.774,23

578.021,98

147 22,16 6,69

Serpong

Utara

303.232,52

326.763,73

330.612,91

267.623,91

7,76

1,18 -0,19

Setu

22.559,15

25.220,12

35.702,43

34.858,68

11,79 41,56 -2,3

Pamulang

189.287,91

199.994,19

301.838,10

333.208,65

5,65 50,92 10,39

Ciputat

216.106,22

234.788,84

277.804,22

290.068,19

8,64 18,32 4,41

Ciputat

Timur

542.445,07

514.289,40

739.030,08

890.351,92

-5,19 43,7 20,48

Pondok Aren

277.010,84

283.591,96

372.839,46

374.653,84

2,38 31,47 0,48

Kota

Tangerang

Selatan

1.730.191,80

2.028.142,01

2.599.601,43

2.768.787,17

14,7 28,17 6,51

Sumber: PemKot Tang-Sel, diolah

11

Pada Tabel 1.1 terlihat bahwa kenaikan PDRB atas dasar harga konstan dari tahun ke

tahun setiap kecamatan relative mengalami kenaikan. Ini menunjukkan bahwa

pertumbuhan ekonomi di kota Tangerang Selatan selalu mengalami kenaikan. Pada tabel

1.2 terlihat grafik perkembangan PDRB ADH konstan kota Tangerang Selatan

mmengalami peningkatan. Dari tabel 1.3 terlihat bahwa laju pertumbuhan ekonomi pada

tahun 2005 terjadi peningkatan sebesar 14,7%, pada tahun 2006 terjadi kenaikan sebesar

28,17%, pada tahun 2007 terjadi kenaikan sebesar 6,51%.

Dengan latar belakang di atas dan mengingat betapa pentingnya hubungan antara

otonomi daerah dengan pertumbuhan ekonomi daerah. Dalam hal ini, peneliti mencoba

mengetahui variabel apa saja yang mempengaruhi konsep otonomi daerah dan konsep

pertumbuhan ekonomi daerah. Maka peneliti memilih judul “Analisis Pengaruh

Desentralisasi Fiskal Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Regional”.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->